KHULU’ DAN FASAKH DALAM HUKUM ISALM\ BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Akhir-akhir ini sering terlihat di televisi, seorang isteri mengajukan gugat cerai terhadap suaminya. Berita tersebut semakin hangat, karena si penggugat yang sering diekspos di media televisi adalah figure atau artis-artis terkenal. Gugat cerai tersebut ada yang berhasil, yaitu jatuhnya talak, atau karena keahlian hakim dan pengacara, gugat cerai urung dilanjutkan, sehingga rumah tangga mereka terselamatkan. Padahal mereka mengikatkan diri dalam lembaga perkawinan adalah dalam rangka melaksanakan perintah Allah s.w.t. sebagaimana banyak dikutip dalam setiap undangan walimahan (resepsi pernikahan), yaitu termaktub dalam surat Ar-Rum ayat 21 yang berbunyi: “Dan di antara tanda-tandaNya bahwa Dia menciptakan jodoh untuknya dari dirimu (bangsamu) supaya kamu bersenang-senang kepadanya, dan Dia mengadakan sesama kamu kasih saying dan rahmat. Sesungguhnya yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang berfikir”. Berdasarkan ayat ini pula, maka tujuan perkawinan dalam Islam adalah untuk membentuk keluarga sakinah, mawaddah wa-rahmah. Bisa jadi, karena mereka sudah tidak dapat mempertahankan keluarga yang sakinah, mawaddah wa-rahmah, maka salah satu pihak menggunakan haknya, baik suami atau isteri untuk mengajukan gugatan cerai, padahal dalam Islam, cerai memang dihalalkan Allah, namun sangat dibenci olehNya (“Sesungguhnya perbuatan yang boleh, tetapi sangat dibenci Allah adalah talak”, hadits riwayat Abu Daud dan Ibn Majah). B. Rumusan Masalah Dalam makalah ini agar pembahasan lebih terfokus ada beberapa rumusan masalah di antaranya: 1. Apa penrertian khulu dan fasakh? 2. apa akibat hokum khuli’ dan fasakh? BAB II PEMBAHASAN 1. KHULU’ A. Pengertian Khulu’ Al-Khulu, dalam bahasa Indonesia disebut Gugatan cerai. Kata Al-Khulu dengan didhommahkan hurup kha’nya dan disukunkan huruf Lam-nya, berasal dari kata ‘khul’u ats-tsauwbi. Maknanya melepas pakaian. Lalu digunakan untuk istilah wanita yang meminta kepada suaminya untuk melepas dirinya dari ikatan pernikahan yang dijelaskan Allah sebagai pakaian. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman. “Mereka itu adalah pakaian, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka”[Al-Baqarah : 187] Sedangkan menurut pengertian syari’at, para ulama mengatakan dalam banyak defenisi, yang semuanya kembali kepada pengertian, bahwasanya Al-Khulu ialah terjadinya perpisahan (perceraian) antara sepasang suami-isteri dengan keridhaan dari keduanya dan dengan

Hukum AL-Khulu’ Al-Khulu disyariatkan dalam syari’at Islam berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. dalam memandang masalah Al-Khulu terdapat hukum-hukum taklifi sebagai berikut. maka ia mengembalikan kepadanya dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya. Muhammad bin Ali Asy-Syaukani menyatakan. Itulah hukum-hukum Allah. maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya. Ibnu Taimiyyah [4]. Ketentuannya. “Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka. “Isteri Tsabit bin Qais bin Syammas mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata . atau selainnya dengan lafazh yang khusus” B. kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. “Ya”. “Wahai Rasulullah. ialah seorang suami menceraikan isterinya dengan penyerahan pembayaran ganti kepada suami. Demikian juga larangan ini hilang. karena khawatir dosa yang menyebabkan timbulnya Al-Bainunah AlKubra (Perceraian besar atau Talak Tiga) [10] Syaikh Al-Bassam mengatakan. Adapaun Syaikh Al-Bassam berpendapat. Hal ini bisa muncul karena adanya ketidaksukaan dalam pergaulan rumah tangga. kecuali jika keduanya membutuhkan penceraian. dan Syaikh Abdullah Al-Basam [7]. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami-isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Ini dilarang. diperbolehkan Al-Khulu (gugat cerai) bagi wanita. mereka itulah orang-orang yang zhalim’ [Al-Baqarah : 229] Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma. maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya” [Al-Baqarah : 229] Al-Hafizh Ibnu Hajar memberikan ketentuan dalam masalah Al-Khulu ini dengan pernyataannya. Aku hanya takut kufur”. C. Mubah (Diperbolehkan). Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah. para ulama berijma tentang syari’at Al-Khulu. apabila sang . Ketentuan Hukum Al-Khulu Menurut tinjauan fikih. aku tidak membenci Tsabit dalam agama dan akhlaknya. dan Tsabit pun menceraikannya” [HR Al-Bukhari] Demikian juga kaum muslimin telah berijma’ pada masalah tersebut. sebagaimana dinukilkan Ibnu Qudamah [3]. sang wanta sudah benci tinggal bersama suaminya karena kebencian dan takut tidak dapat menunaikan hak suaminya tersebut dan tidak dapat menegakkan batasan-batasan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ketaatan kepadanya. bahwasanya Al-Khulu. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Maukah kamu mengembalikan kepadanya kebunnya?”. Al-Hafizh Ibnu Hajar [5]. kecuali jika keduanya atau salah satunya merasa khawatir tidak dapat melaksanakan apa yang diperintahkan Allah. Ia menjawab.pembayaran diserahkan isteri kepada suaminya . dengan dasar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. [1]. maka janganlah kamu melanggarnya. AlKhulu ialah perceraian suami-isteri dengan pembayaran yang diambil suami dari isterinya. “Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami-isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah. bisa jadi karena jeleknya akhlak atau bentuk fisiknya. Asy-Syaukani [6].

dan ketiga dengan kiasan yang di sertaio dengan niat. Dari Sisi Isteri Apabila seorang isteri meminta cerai padahal hubungan rumah tangganya baik dan tidak terjadi perselisihan maupun pertengkaran di antara pasangan suami isteri tersebut. “Janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian kecil dari apa yang telah kamu berikan kepadanya. Wajib Terkadang Al-Khulu hukumnya menjadi wajib pada sebagiaan keadaan. maka Al-Khulu itu batil. Apabila suami menyusahkan isteri dan memutus hubungan komunikasi dengannya. no. dan tebusannya dikembalikan kepada wanita. Dan akad pernikahan tidak berlaku. “Semua wanita yang minta cerai (gugat cerai) kepada suaminya tanpa alasan. terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata” [An-Nisa : 19] [12] Apabila suami menceraikannya. maka ia tidak memiliki hak mengambil tebusan tersebut. Yaitu perkawinan itu batal dengan sendirinya. [15] [4]. maka diperbolehkan berdasarkan ayat di atas” [13] b). At-Tirmidzi. maka disunnahkan bagi sang isteri untuk bersabar dan tidak memilih perceraian. Apabila suami berlaku mufarrith (meremehkan) hak-hak Allah. Apabila sang suami mencintainya. Demikian menurut madzhab Ahmad bin Hanbal. berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal Ini Karena Dua Keadaan. Karena seorang muslimah tidak patut menjadi isteri seorang yang memiliki keyakinan dan perbuatan kufur . D. maka haram baginya aroma surga” [HR Abu Dawud. Misalnya terhadap orang yang tidak pernah melakukan shalat. Diharamkan Khulu’. Namun. padahal telah diingatkan. seorang wanita wajib untuk meminta dari suaminya tersebut Al-Khulu walaupun harus menyerahkan harta. Sedangkan status wanita itu tetap seperti asalnya jika Al-Khulu tidak dilakukan dengan lafazh thalak. karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman. Dari Sisi Suami. kedua menggunakan kata cerai (thalak). namun hakim peradilan tidak menghukuminya murtad dan tidak juga kewajiban bepisah. Sedangkan dalam qaul jadid beliau berpendapat bahwa khulu yang dilakukan dengan menggunakan kata kiasan tidak mengakibatkan . maka ini dilarang. Demikian juga seandainya sang suami memiliki keyakinan atau perbuatan yang dapat menyebabkan keyakinan sang isteri keluar dari Islam dan menjadikannya murtad. [11] [2]. maka sang isteri disunnahkan AlKhulu. atau dengan sengaja tidak memberikan hak-haknya dan sejenisnya agar sang isteri membayar tebusan kepadanya dengan jalan gugatan cerai. Mustahabbah (Sunnah) Wanita Minta Cerai (Al-Khulu). Ibnu Majah dan Ahmad. maka dalam keadaan seperti itu. 2035] [14] [3].isteri membenci akhlak suaminya atau khawatir berbuat dosa karena tidak dapat menunaikan haknya. Cara Menjatuhkan Khulu Secara umum khulu dapat dilakukan denghan tiga cara: pertama menggunakan kata khulu’. dan dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam kitab Irwa’ul Ghalil. a). Sang wanita tidak mampu membuktikannya di hadapan hakim peradilan untuk dihukumi berpisah atau mampu membuktikannya. bila isteri berzina lalu suami membuatnya susah agar isteri tersebut membayar terbusan dengan Al-Khulu. Serta tidak ada alasan syar’i yang membenarkan adanya Al-Khulu. Dalam qaul qodim imam syafi’I berpendapat bahwa khulu yang dilakukan denghan menggunakan kata-kata kiasan mengakibatkan fasakh perkawinan.

maka tidak ada mahar bagi istri.fasakh perkawinan karena kata-kata kinayah dalam talak tidak memerlukan niat begitu pula khulu. Pengertian Fasakh adalah surak atau putusnya perkawinan melaluoi pengadilan yang hakikatnya hak suamiistri di sebabkan sesuati yang diketahui setelah akad berlangsung. Jadi kalau yang telah bercerai itu kemudian kembnali melalui pernikahan yang baru setelah menyadari dan rela dengan keadaan seperti apa adanya. hal itu disebabkan misalnya tidak terpenuhinya persyaratan atau rukun nukah atau disebabkan di langgarnya ketentuan yang mengharamkan perkawinan tersebut. B. Semua akal sehat dan perasaan sehat menolak khulu’ hanya saja Allah Yang Maha Bijaksana memperbolehkannya untuk menolak bahaya ketika tidak mampu menegakan hokum-hukum Allah. Jiaka pemisahan itu terjadi sebelum terjadi hubugan suami istri. Akibat Hukum Perceraian yang diakibatkan fasakh tidak mengurangi bilangan talak sebab fasakh bukan bagian dari talak. Hikmah Khulu’ Mengenai hikmah khulu al Jurjawi menuturkan: Khulu sendiri sebenarnya di benci oleh syariat yang mulia seperti halnya talak. maka khulu dengan cara yang telah di tetapkan oleh Allah merupakan penolakan terjadinya permusuhan dan untuk menegakan hokum-hukum Allah. Hikmah yang terkandung di dalamnya adalah manolak bahaya yaitu apabila perpecahan antara suami istri telah memuncak dan dikhawatirkan keduanya tidak dapat menjaga syari’at-syariat dalam kehidupan suami istri. sebab jika fasakh itu dari pihak istri maka haknya gugur dan jika pemisahan itu datang dari pihak suami dan hal itu di sebabkan cacat yang di sembunyikan oleh istri terhadap suaminya maka ia tidak berhak mendapatkan mahar. Yang Menyebabkan Faskh Para ulama telah sepakat bahwa apabila salah satu pihak dari suami istri mengetahui ada ‘aib pada pihak lain sebelum ‘aqad nikah itu diketahuinya sesudah ‘aqad tetapi ia sudah rela secara tegas ata8u ada tanda yang menunjukan kerelaanny maka ia tidak mempunyai hak lagi untuk meminya fasakh dengan alas an ‘aib itu bagaimanapun. E. . Apakah pemisalah itu dari puhak suami atau pihak istri. Misalnnya suatu penyakit yang muncul setelsah akad yang menyebabkan pihak lain tidak dapat merasakan arti dan hakikat sebuah perkawinan . Namun jika pemisahan dilakukan sesudah terjadi hubungan suami istri maka ia berhak mendapatkan mahar dan pemisahan dilakukan oleh hakim (pengadilan) Dan seorang suami tidak boleh dengan sengaja berlaku buruk di dalam mempergauli istrinya dengan maksud agara istri menyerahkan harta(mahar) nya. Ada 8 (delapan) aib atau cacat yang membolehkan khiyar di antaranya: Tiga berada dalam keduanya (suami-istri) yaitu: gila. Maksud dari fasid adalah merupakan siuatu putusanb pengadilan yang diwajibkan melalui persidangan bahwa perkawinan yang telah dilangsungkan tersebut mempunyai cacat hokum. Selain fasakh ada juga istilah yang hampir sama dengan fasakh yaitu fasid. penyekit kusta dan supak. talak yang dia kiliki masih utuh. FASAKH A.kepada suami sebagai ganti rugi atas permintaannya (ayat surat an-Nisa 19) C. 2.

Dua terdapat dalam laki-laki yaitu: ‘unah (lemah tenaga persetubuhannya). Khulu’ Khulu’ adalah kesepakatan penceraian antara suami istri atas permintaan istri dengan imbalan sejumlah uang (harta) yang diserahkan kepada suami. Rajawali Pers. merupakan wanita pertama yang melakukan khulu’ dalam Islam. istri dari Tsabit bin Qais. Jakarta: 2006 Jaih Mubarok. Jakarta: 2003 Rahmat Hakim Hokum Perkawinan Isalm. juz 5 Hasby Ash-Sidiqi. yaitu dapat melakukan gugatan cerai terhadap suaminya melalui khulu’ maupun fasakh. isteri juga mempunyai hak yang sama. Jamilah binti Sahal. DAFTAR PUSTAKA Sa’id Abdul Aziz Al-Jandul. Pustaka Setia. Kencana. tumbuh kemaluan dan tumbuh dagingdalam kemaluan. Ini sebagai bukti bahwa Islam tetap mengakomodasi hak-hak wanita (isteri). walaupun hak dasar talak ada pada suami. Begitu juga dalam fasakh. Hokum khuliu tergantung situasi yang ada pada saat itu. Modifikasi Hokum Islam. Wanita Diantara Fitrah. Hak Dan Kewajiban. Bandung: 2000 Abdurrahman Ghazali. atau terlaluy basah yang menyebabkan hilangnya kenikmatan persetubuhamn Ketika suami pergi tidak tahu kemana istri tidak boleh di fasakhkan sebelum benar-benar diketahui kemana suaminya itu pergi. Pustaka Dariul Haq. Jakarta:2002 Sayyid sabiq Shahih Fiqhis Sunnah Taudhihul Ahkam. Penceraian semacam ini pernah terjadi pada masa Rasulullah. Bulan Bintang. Dikisahkan oleh Ibnu Abbas: . Paling baikdi tunggu 4 tahun mengingat perhubungan di masa itu sukar dan sulit KESIMPULAN Dari uraian di atas dapat di ambil beberapa kesimpulan dantaranya: Khulu’ maupun fasakh adalah dua bentuk talak yang dikategorikan atas inisiatif isteri. impoten Tiga lagi berasal dari perempuan yaitu: tumbuh tulang dalam lubang kemaluan yang menghalangi persetubuhan. Akan tetapi menurut maliki di tangguhkan sampai 4 tahun sesudah itu difasakhkan oleh hakim atas tuntutan istri Sebagian ulama berpendapat hakim boleh memasakhkan sesudah di beri masa tenggang yang dipandang perlu oleh hakim. Jakarta: 1991 2. namun dalam keadaan tertentu. Fiqh Munakahat. dan tak ada perbedaan yang jelas. Hukum-Hukum Fiqih Islam.

“(QS Al-Baqarah[2]:229) Berdasarkan hadits dan ayat di atas. adanya kekhawatiran istri bahwa perubahan perasaannya terhadap suami akan menjerumuskannya ke dalam dosa dan fitnah. seperti membuatnya bersikap kasar. apabila lelaki tersebut ingin kembali kepada mantan istrinya maka ia diharuskan melamar dan menikah kembali dengan perempuan tersebut. timbulnya rasa tidak suka terhadap suami disebabkan oleh kekurangan fisiknya atau keburukan akhlaknya. lalu Rasulullah berkata kepada suaminya: “Ambilah kebun itu dan ceraikan istrimu”.a. istri wajib menunggu sampai masa ‘iddahnya berakhir apabila ingin menikah dengan laki-laki yang lain. Imam Malik bahkan membolehkan khulu’ dalam kondisi istri tidak dapat mencintai dan melayani suaminya disebabkan kekurangan fisiknya. minimnya ilmu agamanya. baik dengan sepengetahuan Hakim ataupun tidak. Besarnya ‘iwadh (kompensasi) yang diberikan istri kepada suami tergantung kesepakatan mereka dan disunatkan tidak melebihi jumlah mahar yang telah diberikan kepada istri. yaitu hilangnya hak rujuk pada suami selama masa ‘iddah. serta tindakan-tindakan lain yang dapat melukai dan menyakiti hati suaminya. . kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Efek Hukum Fasakh dan Khulu’ Efek hukum yang ditimbulkan fasakh dan khulu’ adalah talak ba-in sughra. diceritakan: Istri Tsabit bin Qais datang menemui Rasulullah SAW dan ia berkata: “Wahai Rasulullah.“Dari Ibnu Abbas r.Bukhari) Dalam surat al-Baqarah Allah berfirman: ” …Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka. Hanya saja aku khawatir akan terjerumus ke dalam kekufuran setelah (memeluk) Islam (karena tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai istri)”. (HR. kelalaiannya menjalankan perintah agama. maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya…. aku tidak mencela suamiku Tsabit bin Qais baik dalam hal akhlak maupun agamanya. dalam kasus khulu’ ini yang berhak menjatuhkan dan mengucapkan lafadh talak adalah suami. Artinya. kelanjutan usianya ataupun kondisinya yang lemah dan dikhawatirkan tidak dapat memenuhi kewajibannya sebagai suami. Sementara itu. Berbeda dengan fasakh. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami istri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah. para ulama seperti Ibnu hajar al-’Asqalaniy dan ath-Thibiy mengaitkan pembolehan khulu’ dengan: • • • adanya kekhawatiran istri akan ketidakmampuannya menjalankan kewajiban sebagai istri bila terus tinggal bersama suami yang tidak dicintainya bahkan yang dibencinya. sehingga menelantarkan hak-hak istri. membangkang. Rasulullah bersabda:” Apakah kamu bersedia mengembalikan kebun itu kepada suamimu? Wanita itu menjawab: “Saya bersedia”.

syarat-syarat terjadinya. Khulu' 1. Kedua. Kesabaran dan saling pengertian adalah kunci kesuksesan yang akan berbuah kebahagian dan kesenangan. dan mubara’ah. seperti untuk mendapatkan kebebasan. (HR. Shuluh adalah pemberian sebagian harta. ia berkata bahwa Nabi SAW bersabda. kebolehan terjadinya khulu’. Nabi bersabda: “Dari Tsauban r. Hanya saja. fidyah. Pertama. Rusli Hasbi May 28. Mudah-mudahan perasaannya terhadap suaminya dapat berubah seiring dengan berjalannya waktu. Allah akan selalu berada di sisi orang-orang yang sabar. Keempat. ditempuh sebagai legitimasi untuk melakukan hal-hal yang dilarang agama. adalah hal yang dilarang dan pelakunya akan menerima laknat Allah SWT. Khulu’ Kata-kata khulu’. Wallahu Ta’ala a’lam. serta tidak adanya hal-hal yang mendesak terjadinya perceraian. Pembicaraan mengenai pokok-pokok persoalan pemutusan ikatan perkawinan ini meliputi empat pembahasan. Fidyah adalah pemberian sebagian besar harta. '08 6:40 AM for everyone Diambil dari kitab Bidayatul Mujtahid C. Khulu’ adalah pemberian seorang istri kepada suami semua harta yang diberikan oleh suami kepadanya. yakni syarat-syarat kebolehan terjadinya khulu’. Pada saat bersamaan. Abu Daud) Jumhur ulama juga melarang khulu’ ketika rumah tangga dalam kondisi stabil. yakni apakah termasuk talak atau fasakh. maka diharamkan baginya (mencium harumnya) bau syurga”. Dan mubara’ah adalah penghapusan oleh istri atas suami dari hak-hak yang dimilikinya. semuanya mengacu pada satu makna. hukum-hukum yang mengikutinya. shulh.Bersabar dan Memperbaiki Diri Fasakh dan khulu’ tanpa alasan yang dibolehkan syara’. Kebolehan Terjadinya khulu’ . Innallaha ma’a ash-shabirin. Jika suami sangat mencintai istrinya dan menolak khulu’ maka dianjurkan bagi istri untuk bersabar dan tetap tinggal bersamanya. Bersabar merupakan jalan terbaik yang dapat ditempuh oleh istri dalam menghadapi segala cobaan yang menimpa kehidupan rumah tangganya.) Menghancurkan perkawinan memang lebih mudah daripada menjaganya. adanya hubungan baik antara suami istri. yaitu pemberian ganti rugi oleh seorang perempuan atas talak yang diperolehnya. (Lihat kitab Kasysyaf al-Qina’. dan dampak yang ditimbulkannya sangat merugikan kedua belah pihak. jenis khulu’. “Perempuan mana saja yang menuntut cerai dari suaminya tanpa sebab-sebab yang mendesak.a. suami juga hendaknya memperbaiki dirinya agar kesabaran istri mudah diwujudkan dan rumah tangga harmonis kembali terbina. Khulu’ dalam kondisi ini akan menghancurkan tujuan dan maslahat dari perkawinan itu sendiri. Ketiga. masingmasing kata tersebut mempunyai arti khusus. Perceraian adalah sesuatu yang sangat dibenci Allah.

a.a : ‫أن امرأة ثابت بن قيس أتت النبي صلى الله عليه وسلم فقالت: يا رسول الله ! ثابت بن قييس ل‬ ‫ي‬ ‫أعيب عليه في خلق ول دين، ولكن أكره الكفر بعد الدخول في السلمن فقال رسول الل يه ص يلى‬ ‫ي‬ ‫ي‬ ‫الله عليه وسلم: أتردين عليه حديقته؟ قالت: نعم، قال رسول الله صلى الل يه علي يه وس يلم: اقب يل‬ ‫ي‬ ‫ي‬ ‫ي‬ ‫ي‬ ﴾‫الحديقة وطلقها طلقة واحدة. Jadi. apakah engkau hendakmengembalikan kebunnya kepadanya? Jawabnya. wahai Rasululla. terimalah kebun itu dan ceraikan dia satu kali” (HR. dan ada pula yang berkaitan dengan keadaan wanita yang melakukan khulu’ atau keadaan wali-wali bagi wanita-wanita yang tidak boleh bertindak sendiri. baik dalam segi akhlak maupun agamanya. Maka disini terdapat empat persoalan. Akan tetapi saya membenci kekafiran sesudah masuk Islam. ia mengatakan bahwa firman Allah “.maka tidak ada dosa atas keduanya berkenaan dengan bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya” (QS. ada yang berkaitan dengan sifat (keadaan) dimana khulu’ boleh dilakukan. al-Baqoroh: 229) Dan hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas r. berkata. Anu Bakar bin Abdullah al-Mazini berpendapat nyeleneh (berbeda jauh) dengan pendapat jumhur fuqaha dengan mengatakan. dan hadits ini telah disepakati kesahihannya. 2. kemudian berkata. an-Nisa’: 20) Jumhur fuqaha berpendapat bahwa pengertian ayat in adalah apabila pengambilan tersebut tanpa kerelaan istri. ﴿النساء‬ “Dan jika kamu ingin mengganti istri(mu) dengan istri yang lain. yaitu: ﴾20 :‫وإن أردتم استبدال زوج مكان زوج وأتيتم إحد يهن قنطارا فل تأخذوا منه شيئا. maka jaganlah kamu mengambil kembali darinya barang sedikitpun” (QS. maka hal itu dibolehkan. Syarat-syarat terjadinya khulu’ Mengenai syarat-syarat kebolehan terjadinya khulu’. silang pendapat ini disebabkan oleh persoalan dalam mengartikan kata-kata alQur'an.Mengenai kebolehan terjadinya khulu’ ini dipegangi oleh kebanyakan ulama. sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak. Bukhori dan Nasai) Lafal hadits ini di riwayatkan oleh Bukhari. ﴿البقرة‬ “…maka tidak ada dosa atas keduanya berkenaan dengan bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya” (QS. Abu Dawud. al-Baqarah: 226) telah dibatalkan oleh firman Allah yang lain. ﴿أخرجه البخاري والنسائي‬ “Sesungguhnya istri Tsabit bin Qais datang kepada Nabi saw. apakah diartikan kepada keumumannya atau kepada kekhususannya. Rasulullah saw lalu berkata kepada Tsabit. Akan halnya jika dengan kerelaannya.. berdasarkan firman Allah: ﴾229 :‫فل جناح عليهما فيما افتدت به. di antaranya ada yang berkaitan dengan kadar harta yang boleh dipakai untuk khulu’. Kadar harta yang boleh dipakai untuk khulu’ . Dalam hal ini. Dalam memberikan alasan bagi pendapatnya. dan Nasai. suami tidak boleh mengambil sesuatu pun dari istri. Tsabit bin Qais saya tidak mencelanya. Ya. Rasulullah saw.

barang-barang hibah. jika kedurhakaan datang dari pihaknya. c. Fuqaha berselisih pendapat dengan khulu’ yang dijatuhkan dengan imbalan barang haram. Dan keduanya mengartikan kata “keji” sebagai perbuatan zina. Silang pendapat ini disebabkan adanya kemiripan harta pengganti disini dengan harta pengganti dalam jual beli. Sedang malik membolehkan harta yang tidak diketahui wujud dan kadarnya serta harta yang belum ada. dan barang-barang yang diwasiatkan. Bagi fuqaha yang menyamakan kadar harta dalam khulu’dengan semua alat tukar yang digunakan dalam mua’malat. dan hamba yang diketahui sifat-sifatnya.Mengenai hal ini. selama kerelaan itu tidak mengakibatkan kerugian pada pihak istri. Malik berpendapat bahwa istri tidak wajib mengganti. atau memberikan yang sebanding dengan mahar atau lebih sedikit. Segolongan fuqaha berpendapat bahwa suami tidak boleh mengambil lebih banyak dari maskawin yang diberikan kepada istrinya sesuai dengan lahir hadits Tsabit. Seolah mereka menganggap perbuatan tersebut termasuk pengambilan harta tanpa hak. maka tidak ada dosa atas keduanya berkenaan dengan bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya” (QS. buah yang belum dipetik/panen. Dari Abu Hanifah diriwayatkan tentang kebolehan memberikan barang yang tidak jelas. Sedang bagi fuqaha yang memegangi lahir hadits tidak membolehkan pengambilan yang lebih banyak dari maskawin. . seperti khamar atau babi. b. Sedang Syafi’i berpendapat bahwa wajib mengeluarkan maskawin mitsil. seperti hewan yang lepas atau lari. setelah mereka sependapat bahwa talak dapat terjadi. Dasar kebolehan ini adalah firman Allah: ﴾19 :‫ول تعضلوهن لتذهبوا ببعض ما آتيتموهن إل أن يأتين بفاحشة مبينة. ﴿النساء‬ “Jika kamu khawatir bahwa jika keduanya (suami istri) tidak menjalankan hukum-hukum alla. apakah istri harus mengganti atau tidak. berpendapat bahwa kadar harta tersebut didasarkan atas kerelaan. Sedang bagi fuqaha yang menyamakan harta pengganti dalam khulu’ dengan hibah. jumhur fuqaha berpendapat bahwa khulu’ boleh diadakan berdasarkan kerelaan suami istri. an-Nisa’: 19) Abu Qilabah dan Hasan al-Bashri aneh (syad) pendapatnya ketika mengatakan bahwa suami tidak boleh menjatuhkan khulu’ atas istri kecuali jika ia melihat istri berbuat zina. Sifat harta pengganti Syafi’I dan abu hanifah mensyaratkan diketahuinya sifat dan wujud harta tersebut. maka mereka tidak menetapkan syarat-syarat tersebut. Malik. Berdamai untuk khulu’ Mengenai keadaan-keadaan yang dapat dan yang tidak dapat dipakai untuk menjatuhkan khulu’. tetapi melarang memberikan barang yang belum ada. Syafi’I. dan segolongan fuqaha berpendapat bahwa seorang istri boleh melakukan khulu’ dengan memberikan harta yang lebih banyak dari mahar yang diterimanya dari suaminya. Pendapat ini dikemukakan oleh abu hanifah. Bagi fuqaha yang menyamakan harta pengganti dalam khulu’ dengan jual beli mengharuskan adanya syarat-syarat seperti jual beli dan nilai tukarnya.

Ini adalah pendapat yang terkenal. tebusan itu diberikan kepada istri sebagai imbalan talak yang menjadi otoritas suami. Demikian pula untuk anak lelakinya yang masih kecil. Ibn Qasim berpendapat bahwa ia boleh mengadakan khulu’ atas dirinya sebesar mahar mitsilnya. Berdasarkan aturan fiqh. bagi fuqaha yang menetapkan bahwa istri yang bodoh harus berada dalam pengampunan walinya. Syafi’i berpendapat. apabila istri mengadakan khulu’ sebesar mahar mitsilnya. Kedua. Keempat. pendapat yang membolehkan. Pertama. kecuali dengan izin tuannya. meski merugikan. pendapat yang membolehkan sama sekali. karena bagi Malik ayah tersebut dapat menceraikan atas namanya. Ketiga. Syafi’I dan abu Hanifah berpendapat bahwa ayah tidak boleh mengadakan khulu’ atas namanya. Kelima. Malik berpendapat bahwa istri yang sedang sakit berat boleh mengadakan khulu’ jika nilai harta tebusannya itu sebesar warisan suami yang didapat istri. Apabila lebih dari maskawin mitsil. Silang pendapat terjadi berkenaan dengan anak lelaki yang masih kecil. maka hal itu di bolehkan. Malik berpendapat bahwa seorang ayah boleh mengadakan khulu’ untuk anak perempuannya yang masih kecil sebagaimana ia boleh menikahkannya. yakni yang tidak punya washi dan ayah. An-Nu’man juga aneh pendapatnya dengan mengatakan bahwa khulu’dapat dijatuhkan meski merugikan. Disepakati pula bahwa istri yang bodoh dan walinya secara bersamaan boleh melakukan akad khulu’. Istri yang boleh mengadakan khulu’ Telah disepakati di kalangan jumhur fuqaha bahwa istri yang cakap boleh mengadakan khulu’ untuk dirinya. maka khulu’ diberikan kepada istri jika ia membenci suami. maka tambahan tersebut harus diambilkan dari yang sepertiga. berdasarkan lahir ayat. karena mereka berpendapat bahwa ayah tersebut tidak boleh menjatuhkan talak atas namanya. Akan tetapi al-Hasan dan Ibn Sirin aneh (syad) pendapatnya dengan mengatakan bahwa ia tidak boleh mengadakan khulu’ kecuali dengan izin penguasa. Kedudukan khulu’ . pendapat yang tidak membolehkan kecuali salah seorang menyaksikan pasangannya berbuat zina. dalam khulu’ terdapat lima pemdapat. pendapat yang tidak membolehkan sama sekali. dan harta tersebut dihitung sebagai bagian dari harta pokok. e. sedang hamba perempuan tidak boleh mengadakan khulu’ untuk dirinya. Tetapi Ibn Nafi’ juga meriwayatkan dari Malik bahwa istri 557 yang sakit tersebut dapat mengadakan khulu’ dengan nilai sepertiga harta seluruhnya.Dawud berpendapat bahwa suami tidak boleh mnejatuhkan khulu’ kecuali didasarkan pada kekhawatiran suami istri itu tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah. pendapat yang membolehkan secara mutlak. Akan halnya istri yang terlantar. Jumhur fuqaha berpendapat bahwa istri yang dapat menguasai dirinya boleh mengadakan khulu’. Karena talak diberikan kepada suami jika ia membenci istri. jika terdapat kekhawatiran bahwa suami istri itu tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah. kecuali jika disertai kerugian. Dengan demikian. d. Wallahu a’lam.

Demikian itu karena apabila suami dapat merujuk istrinya pada masa iddah. berarti yang menyebabkan istri tidak halal lagi bagi suami kecuali sesudah ia kawin lagi dengan lelaki yang lain itu menjadi talak yang keempat. Jumhur fuqaha yang menganggap khulu’ itu talak. Mereka berpendapat bahwa fasakh itu dapat terjadi dengan suka sama suka karena disamakan dengan fasakh dalam jual beli. yakni kegagalan atau pengunduran diri. Pendapat ini dikemukakan pula oleh Malik. abu Tsaur berpendapat bahwa apabila khulu’ tidak meng558 gunakan kata-kata talak. menjadi jenis pemutusan perkawinan karena fasakh atau tidak? c. maka suami dapat merujuk istrinya. dan jika tidak maka fasakh. Abu hanifah menyamakan khulu’ dengan talak dan fasakh secara bersamaan. jika dengan kata-kata sindiran tersebut menghendaki talak. dan selanjutnya Dia berfirman: ﴾230 :‫فإن طلقها فل تحل له من بعد حتى تنكح زوجا غيره ﴿البقرة‬ “Jika suami menalaknya (sesudah talak yang kedua). Diriwayatkan dari Syafi’I bahwa khulu’ itu kata-kata sindiran. al-Baqarah: 229) Kemudian Dia menyebutkan tentang tebusan (khulu’). Tetapi akan kami sebutkan saja yang terkenal. terdapat cabang persoalan yang banyak. Sedang khulu’ ini berpangkal pada kehendak[1]. apakah adanya imbalan untuk memutus ikatan perkawinan ini dapat dianggap keluar dari jenis pemutusan perkawinan karena talak. 559 Fuqaha yang menentang pendapat ini mengatakan bahwa ayat tersebut memuat kedudukan tebusan sebagai suatu tindakan yang disamakan dengan talak. mula-mula Allah swt. maka talak pun terjadi. bahwa fasakh itu tidak lain merupakan perkara yang menjadikan suami sebagai pihak yang kuat dalam pemutusan ikatan perkawinan tetapi berasal dari kehendaknya. khulu’ itu bukan fasakh. Sedang apabila khulu’ tersebut menggunakan kata-kata talak. antara lain apakah wanita yang menerima khulu’ dapat diikuti dengan talak atau tidak? . dan sahabat yang berpendapat demikian adalah Ibn Abbas r. maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga ia kawin dengan suami yang lain” (QS. menjadikannya sebagai bain. Fuqaha yang menganggap khulu’ sebagai talak mengemukakan alasan. Kegunaan pemisahan tersebut untuk mengetahui apakah khulu’ dihitung dalam bilangan talak atau tidak?.Jumhur fuqaha berpendapat bahwa khulu’ adalah talak. maka penebusannya itu tidak berarti lagi.a. Menyebutkan tentang talak: ﴾229 :‫الطلق مرتان. Oleh karenanya. al-Baqarah: 230) Jika tebusan tersebut adalah talak. Jadi. Pendapat ini juga dikemukakan oleh Ahmad dan Dawud. Akan halnya fuqaha yang tidak menganggap khulu’ sebagai talak mengemukakan alasan bahwa dalam al-Qur'an. Tetapi dalam pendapat barunya (al-qaul al-jadid) ia menyatakan bahwa khulu’ itu talak. silang pendapat ini terjadi disebabkan. ﴿البقرة‬ “Talak yang dapat dirujuki itu dua kali” (QS. bukan tindakan yang berbeda dengan talak. Akibat-akibat hukum khulu’ Mengenai hal ini. Jadi. maka suami tidak dapat merujuk istrinya. Sedang Syafi’I berpendapat bahwa khulu’ adalah fasakh.

ini talak. apakah larangan nikah pada masa iddah termasuk perkara ibadah atau tidak. tanpa memisahmisahkan antara segera atau ada tenggang waktu. 560 Mengenai pemisahan yang kami sebutkan dari abu Tsaur adalah antara menggunakan katakata talak atau tidak menggunakan kata-kata tersebut. Silang pendapat ini disebabkan oleh persoalan. yakni tentang kebolehan perka561 winan itu sendiri. Syafi’I berpendapat tidak dapat diikuti meski pembicaraan bersambung. Dalam bab ini terdapat banyak persoalan. perbedaan antara talak dan fasakh Malik berbeda-beda pendapatnya mengenai perbedaan antara fasakh yang tidak termasuk dalam bilangan talak tiga dengan talak yang termasuk dalam bilangan talak tiga. Fuqaha juga berselisish pendapat mengenai apabila terjadi persengketaan antara suami istri berkenaan dengan kadar bilangan harta yang dipakai untuk terjadinya khulu’. dan pembicaraan mengenai masalah ini akan disebutkan pada uraian mendatang. . persoalan lain lagi adalah kesepakatan jumhur fuqaha bahwa suami dapat mengawini bekas istrinya pada masa iddahnya dengan persetujuan. Maka bagi fuqaha yang menganggap iddah masuk dalam hukum nikah berpendapat bahwa khulu’ tersebut dapat diikuti dengan talak. perkawinan-walaupun terjadi silang pendapat di luar madzhabnya.Malik berpendapat bahwa khulu’ tersebut tidak dapat diikuti dengan talak. Malik berpendapat bahwa yang dipegangi ialah kata-kata suami jika tidak ada saksi. kecuali pembicaraan bersambung. Pendapat pertama. tetapi hal itu bukan menjadi tujuan kami. dan istri dikenai senilai mahar mitsil Syafi’I menyamakan persengketaan antara suami istri itu dengan persengketaan antara penjual dan pembeli. apabila suami mengembalikan imbalan yang telah diambil dari istrinya_menurut saya_ wanita itu dapat dirujuk. Persoalan lain adalah kesepakatan jumhur fuqaha bahwa suami yang menjatuhkan khulu’ tidak dapat merujuk bekas istrinya pada masa idda. Sedang Malik memandang istri sebagai pihak yang tergugat dan suami sebagai pihak penggugat. sedang perselisihan ini terkenal—menurut Malik putusnya ikatan perkawinan itu. seperti hukum tindakan seseorang perempuan yang mengawinkan dirinya sendiri. yang bahkan dapat dijelaskan alasannya? Fuqaha berselisih pendapat dalam hal iddah wanita yang dikhulu’. Karena itu ia tidak membolehkan seseorang mengawini wanita yang saudara perempuannya masih dalammasa iddah dari talak bain. Silang pendapat itu karena golongan pertama berpendapat bahwa iddah termasuk hukum talak. Syafi’I berpendapat bahwa suami istri saling bersumpah. Dalam hal ini terdapat dua pendapat. D. sedang Abu Hanifah berpendapat termasuk hukum nikah. Segolongan fuqaha mutaakhirin berpendapat bahwa suami maupun orang lain tidak boleh mengawininya pada masa iddahnya. Sedang bagi fuqaha yang tidak menganggap demikian mengatakan bahwa khulu’ tersebut tidak dapat diikuti dengan talak. Sedang Abu Hanifah berpendapat dapat diikuti. kecuali pendapat yang diriwayatkan dari said bin al Musayyab dan ibn Syihab. yang mengatakan.

562 [1] Yang dimaksud kehendak istri. Pendapat kedua. bukan fasakh. dalam arti jika suami istri itu hendak melanjutkan perkawinannya maka tidak sah jika sebab itu masih ada. sebab yang menjadikan putusnya perkawinan. Seperti mengawini orang perempuan yang sesusuan atau kawin dalam masa iddah. Sedang fasakh diluar kehendak suami. maka putusnya perkawinan dalam hal ini fasakh. pemutusan perkawinan tersebut adalah talak.dan perkawinan orang yang sedang berihram. tetapi dilakukan oleh penguasa (pengadilan) Prev: Pembaruan Kompilasi Hukum Islam Next: Hati tak Bertuan . Berdasarkan riwayat ini. seperti putusnya perkawinan karena adanya cacat—maka pemutusan perkawinan tersebut adalah talak. yang menjadi pertimbangan adalah. Jika sebab putusnya perkawinan itu bukan dari suami istri. Tetapi jika keduanya dapat melanjutkan perkawinan—meski sebab tersebut masih ada.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful