P. 1
robekan jalan lahir 1

robekan jalan lahir 1

|Views: 417|Likes:
Published by Erna Septiana

More info:

Published by: Erna Septiana on Apr 29, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/23/2013

pdf

text

original

SELASA, 25 JANUARI 2 011

ASKEB 2 (PATOLOGI) ROBEKAN JALAN LAHIR MAKALAH ASKEB II (PATOLOGI) ROBEKAN JALAN LAHIR
DISUSUN OLEH: Tim
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Saat persalinan merupakan saat-saat yang paling ditunggu-tunggu oleh para ibu namun, ini juga merupakan saat yang paling meneganggangkan dimana pada saat itu ibu harus berjuang hidup dan mati demi kelahiran sang bayi. Setiap ibu yang melahirkan pasti menginginkan kelahiran yang normal, sehingga sang ibu bisaseakan menjadi ibu yang seutuhnya. Pada saat persalinan ibu memiliki resiko terjadinya perdarahan bisa akibat robekan jalan lahir (biasanya robekan serviks/leher rahim), atau karena kontraksi rahim kurang baik (atonia uteri). Jika ibu mengalami perdarahan pasca bersalin sebaiknya ibu harus di beri penanganan khusus apalagi jika perdarahan tersebut terjadi begitu banyak karena ini bisa mengakibatkan kematian ibu. Penanganan setiap keadaan (robekan jalan lahir atau atonia uteri), memerlukan pengelolaan yang berlainan. Apabila ternyata perdarahan yang terjadi bukan akibat robekan jalan lahir, maka harus diperiksa kembali plasentanya apakah sudah lahir atau belum. Perdarahan pada kala III (kala uri) sebelum atau sesudah lahirnya plasenta, merupakan penyebab utama kematian ibu bersalin. Salah satu upaya mengatasi perdarahan pasca persalinan ini adalah dengan obat. Namun bila perdarahan terjadi sebelum plasenta lahir (Retensia plasenta), bidan harus segera minta pertolongan dokter rumah sakit terdekat. Untuk mengurangi adanya luka yang tidak bagus pasca persalinan biasanya bidan akan melakukan episiotomi, tujuan melakukan episiotomy ini adalah untuk memperlebar jalan lahir sehingga mempermudah persalinan pervaginam. Namun episiotomi tidak boleh dilakukan rutin tapi hanya pada ibu dengan indikasi tertentu saja yang boleh dilakukan tindakan episiotomi. B. Tujuan Penulisan 1. Tujuan Umum

Sistematika Penulisan Sistematika dari makalah ini terdiri dari. sehingga pada saat kontraksi mudah lepas dan berdarah. Setelah kelahiran bayi. Pelepasan dan pengeluaran terjadi karena kontraksi. Untuk mengetahui macam-macam kebutuhan dasar ibu pada kal III C. Kemudian BAB II PEMBAHASAN yang terdiri dari pengertian kala III persalinan. Untuk mengetahui tentang pemantauan kontraksi pada ibu bersalin b.5 menit selama kala dua persalinan.Kelahiran plasenta merupakan lepasnya plasenta dari insersi pada dinding uterus. Lepasnya plasenta dari insersinya bisa terjadi dari sentral (schultze) ditandai dengan perdarahan baru. PEMANTAUAN KONTRAKSI Kala tiga persalinan terdiri dari dua fase berurutan yaitu pelepasan plasenta dan pengeluaran plasenta. Kontraksi kurang lebih setiap 2 sampai 2. Selanjutnya yang diakhiri dengan BAB III PENUTUP yang terdiri dari simpulan dan saran. B. atau dari tepi / marginal (matthews-duncan) jika tidak disertai perdarahan. fase ini dimulai pada saat bayi telah lahir lengkap dan berakhir dengan lahirnya plasenta. Plasenta lepas spontan 5-15 menit setelah bayi lahir. tanda vital. robekan jalan lahir (perineum. c. kontraksi berikutnya mungkin tidak terjadi selama 3 sampai 5 menit. Pada keadaan normal.Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Asuhan Kebidanan II (Persalinan) 2. BAB II PEMBAHASAN A. atau mungkin juga serempak sentral dan marginal. Tujuan Khusus a. Untuk mengetahui berbagai macam tentang robekan jalan lahir pada ibu bersalin dan penanganannya. dan hygiene) serta kebutuhan dasar ibu pada kala III. fundus setinggi sekitar / di atas pusat. kontraksi uterus bertambah keras. yang mulai terjadi lagi setelah terhenti singkat setelah kelahiran bayi. Kontraksi kemudian berlanjut setiap 4 sampai 5 menit . pemantauan kontraksi. serta pengeluaran plasenta dari kavum uteri. PENGERTIAN Persalinan kala III merupakan fase pengeluaran plasenta. Pelepasan plasenta terjadi karena perlekatan plasenta di dinding uterus adalah bersifat adhesi. BAB I PENDAHULUAN yang berisikan latar belakang dan tujuan penulisan.

keras dan mengecil. Pelepasan plasenta Langkah pertama dalam mengelola kala tiga adalah mengevaluasi kemajuan persalinan dan kondisi ibu.sampai plasenta telah lepas dan keluar. Pelepasan plasenta ini terjadi mulai 10-15 menit setelah kelahiran bayi. lemah. Setelah itu. Dalam hal ini tanda-tanda plasenta lepas antara lain tali pusat bertambah panjang dan adanya semburan darah tiba-tiba. Robekan jalan lahir (robekan jaringan lunak). seorang wanita akan mengalami peningkatan aliran lokia dan kontraksi uterus berulang sewaktu uterus relaksasi. Sumber perdarahan dapat berasal dari perineum. b. . yang berat berupa robekan jalan lahir. ROBEKAN JALAN LAHIR Robekan jalan lahir selalu memberikan perdarahan dalam jumlah bervariasi banyaknya. a. Satu tangan ditempatkan di abdomen ibu untuk merasakan adanya kontraksi ini bisa dilakukan tanpa masase. 2. Perdarahan yang berasal dari jalan lahir selalu harus dievaluasi yaitu sumber dan jumlah perdaraha sehingga dapat diatasi. dan membesar (fundus uteri masih tinggi. Hal ini menyebabkan nyeri setelah melahirkan. uterus kosong berkontraksi dengan sendirinya dan tetap berkontraksi jika tonus otot baik. Bila kontraksi lembek setelah masase atau pemberian uterotonika. C. Perdarahan bisa berbentuk hematoma dan robekan jalan lahir dengan perdarahan bersifat arterial atau pecahnya pembuluh darah vena. Jenis perlukaan ringan berupa lecet. Kontraksi uterus lembek. serviks. Kontraksi uterus kuat. Atonia uteri (sebelum/sesudah plasenta lahir). Pengeluaran plasenta maximal terjadi 30 menit. Perdarahan terjadi beberapa menit setelah anak lahir. Perbedaan perdarahan pasca persalinan karena atonia uteri dan robekan jalan lahir adalah: 1. pada saat yang sama tangan yang lain menarik tali pusat. c. Apabila tonus otot tidak baik. kontraksi tidak atau lambat menjadi keras. dan robekan uterus ( rupture uteri). a. Pengeluaran plasenta Pada saat proses pengeluaran plasenta gunakan satu tangan untuk memegang abdomen ibu untuk meyakinkan kontraksi baik. Perlu diperhatikan jika kontraksi lemah jangan melakukan penarikan karena dapat mengakibatkan inversio uteri. Untuk dapat menetapkan sumber perdarahan dapat dilakukan dengan pemeriksaan dalam dan pemeriksaan speculum. vagina.

akan tetapi jika robekan lebar dan dalam. 5) Sebagai akibat lepasnya tulang simfisis pubis (simfisiolisis) bentuk robekan vagina bisa memanjang atau melintang. Untuk dapat menilai keadaan bagian dalam vagina. umpanya pada letak oksipto posterior. Bila terjadi perlukaan pada dindin vagina . Robekan vagina sepertiga bagian atas umumnya merupakan lanjutan robekan serviks uteri. Kadang-kadang perdarahan tersebut tidak dapat diatasi hanya dengan jahitan. tetapi diperlukan penjepitan dengan cunam selama beberapa hari. atau merupakan lanjutan robekan perineum.b. Perdarahan ini terus-menerus. Robekan jalan lahir dan perineum dapat terjadi antara lain : a. Baik kepala maupun bahu janin dapat menimbulkan robekan pada dinding vagina. Perdarahan terjadi langsung setelah anak lahir. Pada umumnya robekan vagina terjadi karena regangan jalan lahir yang berlebih-lebihan dan tiba-tiba ketika janin dilahirkan. Perlukaan pada dinding depan vagina sering kali terjadi terjadi di sekitar orifisium urethrae eksternum dan klitoris. Penanganannya. Robekan pada vagina dapat bersifat luka tersendiri. Komplikasi robekan vagina antara lain : 1) Perdarahan pada umumnya pada luka robek yang kecil dan superfisial terjadi perdarahan yang banyak. Perlukaan pada klitoris dapat menimbulkan perdarahan banyak. c. Vagina Perlukaan vagina sering terjadi sewaktu : 1) Melahirkan janin dengan cnam. lebih-lebih jika mengenai pembuluh darah dapat menimbulkan perdarahan yang hebat. 2) Ekstraksi bokong 3) Ekstraksi vakum 4) Reposisi presintasi kepala janin. Diagnose ditegakan dengan mengadakan pemeriksaan langsung. Perdarahan pada keadaan ini umumnya adalah perdarahan arterial sehingga perlu dijahait. Kadang-kadang robekan terjadi akibat ekstrasi dengan forceps. akan timbul perdarahan segera setelah jalan lahir. . ambil spekulum dan cari robekan. perlu diadakan pemeriksaan dengan speculum. 2) Infeksi jika robekan tidak ditangani dengan semestinya dapat terjadi infiksi bahkan dapat timbul septikami. Setelah dilakukan masase atau pemberian uterotonika langsung mengeras tapi perdarahan tidak berkurang.

Kemudian rongga tersebut diisi dengan kasa streil sampai padat dengan meninggalkan ujung kasa tersebut di luar. Robekan keci. vestibulum atau bagianbelakang vulva. Keadaan ini disebut kolporelasis. Tersebut apakah ada sumber perdarahan. Pada luka robek yang kecil dan superfisal. Hal ini dapat terjadi pada kala pengeluaran. robekan ini dapat melebar ke arah rongga panggul. atau setelah penjahitan luka robekan yang senbrono atau pecahnya vasises yang terdapat di dinding vagina dan vuluz. Jika luka robekan terdapat disekitar orifisium uretra atau diduga mengenai vesika urinaria. Luka-luka robekan diahit dengan catgut secara terputus-putus ataupun secara jelujur. pembuluh darah terutama vena yang terikat di bawah kulit alat kelamin luar dan selaput lendir vagna. Jika robekan atau lecet hanya kecil dan tidak menimbulkan perdarahan banyak. akan sering terlihat robekan. Jika diperiksa dengan cermat. dilakukan penghentian perdarahan. perlu dilakukan penghentian perdarahan dan penjahitan luka robekan. Kolporeksis adalah suatu keadaan dimana menjadi robekan pada vagina bagian atas. Perlukaan Vulva Perlukaan vulva terdiri atas 2 jenis yaitu : 1) Robekan Vulva Perlukaan vulva sering dijumpai pada waktu persalinan. sebaiknya sebelum dilakukan penjahitan. sehingga sebagian serviks uteri dan sebagian uterus terlepas dari vagina. Jika ada. sehingga kauum dougias menjadi terbuka. Robekan ini dapat memanjang dan melintang. tidak diperlukan penangan khusus pada luka robek yang lebar dan dalam. Bisanya robekan pada vagina sering diiringi dengan robekan pada vulva maupun perinium. Tetapi jika luka robekan terjadi pada pembuluh darah. dimulai dari ujung luka sampai luka terjahit rapi. lebihlebih jika robekan terjadi pada pembuluh darah di daerah klitoris. pada labium minus. b.Penjahitan secara simpul dengan benang catgut kromik no. Kemudian . Sering terjadi bahwa penjahitan luka episiotomi yang tidak sempurna atau robekan pada dinding vagina yang tidak dikenali merupakan sebab terjadinya hematome. perlu dilakukan penjahitan secara terputus-putus atau jelujur. 2) Hematoma Vulva Terjadinya robekan vulva disebabkan oleh karena robeknya. Jika robekan mengenai puncak vagina. Perdarahan tersebut dengan mengikat pembuluh darah vena atau arteri yang terputus.0 atau 00. tidak perlu dilakkan tindakan apa-apa. dipasang dulu kateter tetap.

Jika belum lepas. L okasi robekan dapat korpus uteri atau sgmen bawah uterus. Selain itu penyebab lainrobekan serviks adalan persalinan presipitatus. dapat pula dipakai drain c.Dalam beberapa hal setelah summer perdarahan ditutup. terus ke bawah. Diagnose perlukaan serviks dilakukan dengan speculum bibir servika dapat di jepit dengan cunam atromatik. Perlukaan ini dapat terjadi pada persalinan normal tapi lebih sering terjadi pada persalinan dengan tindakan ± tindakan pada pembukaan persalinan belum lengkap. bagian yang belumlepas itu dipotong dari serviks.luka sayatan dijahit dengan jahitan terputus-putus atau jahitan jelujur. d. Bila ditemukan robekan serviks yang memanjang. Kemudian diperiksa secara cermat sifat. namun yang aling seting terjadi ialah robekanketika persalinan. Perlukaan dirawat untuk menghentikan perdarahan. Serviks Uteri Bibir serviks uteri merupakan jaringan yang mudah mengalami perlukaan saat persalinan karena perlukaan itu portio vaginalis uteri pda seorang multipara terbagi menjadi bibir depan dan belakang. Pda perlukaan serviks yang berbentuk melingkar. Robekan bisa terjadi pada tempat yang lemah pada dinding uterus misalnya pada parut bekas operasi seksio sesareaatau bekas miomektomi. misalnya pada estrasi dengan cunam atau pada versi dan ekstrasi. maka lukaa dijahit dari ujung yang paling atas. dan ada pula yang terjadi akibat ruda paksa. Secara anatomi robekan uterus dapat dibagi dalam dua jenis yaitu: .sifat robekan tersebut. Korpus uteri Perlukaan yang paling berat pada waktu persalianan ialah robekan uterus. Dorongan Kristeller bila tidak dikerjakan sebagaimana mestinya dapat menimbulkan robekan uterus. apabila segman bawah uterus sangat tipis dan regang karena janin megalami kesulitan untuk melalui jalan lahir. diperiksa dahulu apakah sebagian besar dari serviks sudah lepas atau tidak. jika yang lepas hanya sebagian kecil saja itu dijahit lagi pada serviks. Pada partus ini kontraksi rahim kuat dan sering didorong keluar dan pembukaan belum lengkap. Robekan bisa pula terjadi tanpa ada parut bekas operasi. Robekan ini dap at terjadi pada waktu kehamilan atau pada waktu persalianan. Robekan serviks dapat menimbulkan perdarahan banyak khususnya bila jauh ke lateral sebab di temapat terdapat ramus desenden dari arateria uterina. Robekan uterus akibat ruda paksa umumnya terjadi pada persalinana buatan . Mekanisme terjadinya robekan uterus bernacam -macam. Ada yang terjadi secara spontan.

sedang pada bentuk tersembunyi. pernafasan cepat dan dangkal. lapisan serosa (pertoneum) juga robek sehingga janin dapat berada dalam rongga perut. Umumnya janin sudah meninggal. . syok dan hilangnya kontraksi. miometrium dan perimetrium sehingga terdapat hubungan langsung antara kavum uteri dan rongga perut. tumor jalan lahir. enukkasi mioma/meomektomi. ada nyeri tekan. Secara anatomik reptura uteri dibagi atas : 1) Reptura uteri komplit. gelisah atau seperti ketakutan. vanggul sempit. y Robekan komplet. nyeri waktu ditekan. Reptura uteri pada jaringan parut ini dapat dijumpai dalam bentuk tersembunyi (occult) yang dimaksud dengan bentuk nyata/jelas adalah apabila jaringan perut terbuka seluruhnya dan disertai pula dengan robeknya ketuban. anemia. rasa nyeri yang hebat di perut bagian bawah. yakni robekan yang mengenai endometrium dan miometrium tetapi perimetrium masih utuh. Uterus Ruptura uteri disebabkan oleh his yang kuat dan terus menerus. Ruptura uteri spontan dapat terjadi pada keadaan di mana terdapat rintangan pada waktu persalinan. kelainan panggul. hanya jaringan perut yang terbuka. nadi dan pernafasan cepar. seperti parut bekas seksio sesarea. nadi cepat dan halus. 2) Ruptura uteri traumatik dalam hal ini reptura uteri terjadi oleh karena adanya lucus minoris pada dinding uteus sebagai akibat bekas operasi sebelumnya pada uterus. Pada keadaan ini detak jantung janin tidak terdengar lagi. dan lain-lain. disproporsi sefalopelvik. yakni robekan yang mengenai endometrium. yaitu pada kelainan letak dan presentasi janin. Dalam hal ini selain dinding uterus robek. perdarahan (bisa keluar melalui vagina atau pun ke dalam rongga perut). cincin van bandi meninggi. 1) Ruptura uteri spontan. pucat. histerorafi. Pada palpasi sering bagian bagian janin dapat diraba langsung dbawah dinding perut. serta bagian-bagian janin dengan mudah dapat teraba dibawah dinding perut ibu. sedang selaput ketuban tetap utuh. akan timbul gejala-gejala metwarisme dan defenci musculare sehingga sulit untuk dapat meraba bagian janin. Setelah terjadi ruptura uteri dijumpai gejala-gejala syok. tekanan darah turun. Robekan uterus komplet yang terjadi ketika persalianan berlangsung menyebabakan gejala yang khas yaitu nyeri perut mendadak. histerotomi.dan di perut bagian bawah teraba uterus kira-kira sebesar kepala bayi.y Robekan inkomplet. Ruptur uteri dibedakan menjadi dua yaitu. e. Jika kejadian ruptura uteri lebih lama terjadi.

2) Reptura uteri inkomplit dalam hal ini hanya dinding uterus yang robek. Robekan Perineum Robekan perinium umumnya terjadi persalinan di mana : 1) Kepala janin terlalu cepat lahir. sehingga ruptura uteri dicegah terjadinya pada waktu yang tepat. 3) Tingkat 3 . Hal ini perlu dilakukan agar tindakan dapat segera dilakukan jika timbul gejala-gejala ruptura uteri membakar. Histerorofi pada ibuibu yang sudah mempunyai cukup anak dianjurkan untuk dilakkan pula tubektomi pada kedua tuba (primary). Penjahitan luka robekan hanya dilakukan pada kasus-kasus khusus. 2) Persalinan tidak dipimpin sebagaimana mestinya 3) Sebelumnya perinium terdapat banyak jaringan parut 4) Pada persalinan terjadi distosia. sedangkan lapisan serosa tetap utuh. Robekan perinium dapat dibagi atas 3 tingkat : 1) Tingkat 1 Robekan hanya terjadi pada selaput lendir vagina dengan atau tanpa mengenai kulit perinium sedikit. dimana pinggir robekan masih segar dan rata. Pertolongan yang tepat untuk ruptura uteri adalah laporotomi sebelumnya penderita diberi trasfusi darah atau sekurang-kurangnya infus cairan garam fisiologik/ringer laktat untuk mencegah terjadinnya syok hipovolemik. serta tidak terlihat adanya tanda-tanda infeksi dan tidak terdapat jaringan yang rapuh dan nekrosis. memektomi dan lain-lain. karena kelainan letak janin. harus diawali dengan cermat. vagina juga mengenai sfingter ani. atau pernah mengalami tindakan operatif pada uterus seperti seksio sesarea. 2) Tingkat 2 Robekan yang terjadi lebih dalam yaitu selain mengenai selaput lendir. Ruptura uteri merupakan malapetaka untuk ibu maupun janin oleh karena itu tindakan pencegahan sangat penting dilakukan setiap ibu bersalin yang disangka akan mengalami distosia. sedang bagi ibu-ibu yang belum mempunyai anak atau belum merasa lengkap keluarganya dianjurkan untuk orang pada persalinan berikutnya untuk dilakukan seksio sesaria primer. Umumyna histerektomi dilakukan setelah janin yang berada dalam rongga perut dikeluarkan. f.

Robekan ini dapat dihindari atau dikurangi dengan menjaga dasar panggul di lalui kepala janin dengan cepat. Kejadian ini melemahkan diafragma pelvis dan menimbulkan predosposisi untuk terjadinya prolapsus uteri di kemudian hari. tetapi lebih baik tindakan itu ditunda sampai plasenta lahir. Menjahit robekan tingkat tiga harus dilakukan dengan teliti. kemudian vasia prarektal ditutup dan muskulus sfingter ani eksternus yang robek dijahit. Robekan perineum sering terjadi hampir setiap terjadinya persalinan pertama maupun berikutnya. kepala janin melewati pintu bawah panggul dengan ukuran yang lebih besar dari sirkumferensia suboksipito-bregmatik atau anak dilahirkan dengan pembedahan vaginal. Hal ini dapat dilakukan sebelum plasenta lahir.jaringan di bawahnya. Pada robekan tingkat dua dinding belakang vagina dan jaringan ikat yang menghubungkan otot-otot diafragma uregonitalis pada garis tengah terluka dan pada robekan tingkat tiga atau robekan atau robekan total muskulus sfingter ani ikut terputus dan kadang dinding depan rectum ikut robek pula.Robekan yang terjadi mengenai seluruh perinium sampai mengenai otot-otot sfingter ani. sudut arkus pubis lebih kecil dari biasa sehingga memaksa kepala janin lahir lebih ke belakang. Robekan perineum yang melebihi tingkat satu harus dijahit. tetapi apabila ada kemungkinan plasenta harus dilakukan secara manual. Jarang terjadi robekan yang mulai dari dinding belakang vagina di atas intritus vagina dan anak dilahirkkan melalui robekan itu . Selanjutnya dilakukan penutupan robekan perineum tingkat dua. sedangkan ( dengan meninggalkan ) perineum sebelah depan tetap utuh ( robekan perineum sentral ). Untuk . Robekan perineum umumnya terjadi di garis tengah dan bisa menjadi luas apabila kepala janin lahir terlalu cepat. mula-mula dinding depan rectum yang robek dijahit. dapat pula terjadi kerusakan dan keregangan muskulus puborektalis kanan dan kiri serta berhubungannya di tengah. Apabila hanya kulit perineum dan mukosa vagina yang robek dinamakan robekan perineum tingkat satu. Pasien dianjurkan untuk berbaring dalam posisi litotomi dilakukan pembersihan luka dengan cairan antiseptic dan luas robekan ditentuka denga seksama. Pada robekan perineum tingkat dua. setelah di beri anestesi local otot-otot diafragma urogenetalis dihubungkan di garis tengah dengan jahitan dan kemudian luka pada vagina dan kulit perineum ditutup dengan mengikut sertakan jaringan. Pada persalinan sulit di samping robekan perineum yangdapat dilihat. karena akan menyebabkan asfiksia dan perdarahan dalam tengkorak janin dan melemahkan otot-otot dan fasia pada dasr panggul karena diregangkan terlalu lama. Sebaiknya kepala janin yang akan lahir jangan ditahan terlampau kuat dan lama.

menghasilkan jahitan yang baik. kontraksi rahim berhenti antara 5 ± 10 menit. sistolik dan distolik mulai kembali pada tingkat sebelum persalinan. Nadi. pre eklamsia dan perdarahan hebat yang mungkin terjadi ( bisa mengarah pada syok). Pemantauan tanda-tanda vital berguna untuk mengetahui kegawatan misalnya terjadi syok. Dalam masa istirahat ini sebaiknya observasi kondisi ibu dengan cara:  Status lokalis obstetric dengan cara palpasi fundus uteri dan konsistensinya. a) Keadaan umum dari kondisi ibu Segera setelah anak lahir. Pemantauan ini tidak hanya dilakukan setelah evaluasi peningkatan sebelumnya tetapi penting sebagai sarana penapisan syok pada kejadian perdarahan. E. secara bertahap kembali ketingkat sebelum melahirkan Suhu. dimana kondisi fisik ini juga didukung oleh adanya support dari keluarga terdekat seperti suami. karena apabila terjadi perdarahan dapat langsung diberikan asuhan yang sesuai dengan kebutuhan pasien. Penderita tidak diperbolehkan memakanan makanan yang mengandung selulosa dan mulai hari kedua diberi paraffinum liquidum sesendok 2 kali sehari dan jika perlu pada hari ke 6 diberi klisma minyak. untuk memeriksa apakah pasien terjadi perdarahan atau tidak. D. Tekanan darah dan nadi ibu sebaiknya 1 kali selama kala III dan lebih sering jika kala III memenjang dari pada rata-rata atau tekanan darah dan nadi berada pada batas atau dalam kisaran abnormal. Untuk mengantisipasi itu bidan harus segera memeriksa tekanan darah ibu dan denyut nadi setiap 30 menit serta memeriksa suhu tubuh setiap 4 jam. Pada tahap ini yang harus diperhatikan adalah. KEBUTUHAN DASAR IBU KALA III Kebutuhan dasar ibu pada kala III meliputi: 1) Kebutuhan pada awal kala III atau setelah bayi lahir dan sebelum plasenta lahir. PEMANTAUAN TANDA-TANDA VITAL KALA III Pada kala III persalinan perubahan tanda-tanda vital tergantung pada kondisi fisik ibu sendiri. perdarahan). kontraksi. . Kontraksi ini berfungsi untuk mengetahui bagaimana kontraksi pasien jelek atau tidak. terapi pada robekan perineum total. tubuh kembali meningkat perlahan.  Memeriksa keadaan vital ibu Memantau keadaan ibu (tanda vital. perlu diadakan penanganan pasca pembedahan yang sempurna. Sebaiknya setelah ibu melahirkan bidan harus segera memperhatikan tanda-tanda infeksi. Tekanan darah.

jalan keluar uri tidak . Apabila kumpulan darah (retroplacental pooling) dalam ruang di antara dinding uterus dan permukaan dalam plasenta melebihi kapasitas tampungnya maka darah tersebut akan keluar dari tepi plasenta yang terlepas. Dr. motalitas lambung dan absorpsi kembali mulai ke aktifitas normal. kembali bernapas normal Aktivitas gastrointestinal. 2) Bila uri belum lepas anjurkan ibu untuk kencing dan langsung menyusui bayinya. 3) Semburan darah mendadak dan singkat. Asuhan yang diberikan pada saat terjadi pelepasan plasenta antara lain : 1) Jika terjadi perdarahan yang cukup banyak setelah janin lahir. Setelah bayi lahir dan sebelum miometrium mulai berkontraksi. gejala-gejala diatas timbul di dalam 5 menit setelah anak lahir. jika tidak terpengaruh obat-obatan. Karena dengan mengosongkan kandung kencing.Diharapkan uri bisa segera lepas. 2) Tali pusat memanjang. periksalah apakah uri sudah lepas. Perdarahan abnormal bila melebihi 500 cc dan darah yang keluar setelah anak lahir harus ditakar.(sering kali mengarah ke sisi kanan). Rustam Mochtar. uterus berbentuk bulat penuh dan tinggi fundus biasanya dibawah pusat. wanita mengalami mual dan muntah selama kala III adalah tidak wajar. kalau dilakukan pada uterus yang lunak dapat menimbulkan inversio uteri (uterus terputar balik). Menurut Prf. Kalau placenta sudah pasti lepas. uterus berbentuk segitiga atau seperti buah pear atau alpukat dan fundus berada diatas pusat. Darah yang terkumpul di belakang plasenta akan membantu mendorong plasenta keluar dibantu oleh gaya gravitasi. maka ditentukan dulu apakah rahim berkontraksi baik dan kemudian diusahakan melahirkan placenta : 1) Dengan menyuruh pasien mengejan 2) Dengan tekanan pada fundus uteri Tekanan pada fundus uteri hanya boleh dilakukan pada rahim yang berkontraksi baik. b) Pelepasan plasenta Setelah kala pengeluaran janin perhatikan tanda-tanda pelepasan plasenta: 1) Perubahan bentuk dan tinggi fundus. Setelah uterus berkontraksi dan plasenta terdorong ke bawah.Pernapasan. Tali pusat terlihat menjulur keluar dari vulva (tanda ahfeld) .

b) Mengecek plasenta yang sudah lepas .awasi keadaan ibu. Pada tahap ini yang harus diperhatikan adalah a) Mewaspadai adanya perdarahan yang berlebihan Perdarahan kala tiga terjadi akibat pelepasan plasenta sebagian.karena dengan menyusui.istirahatkan agar tenaga ibu pulih kembali. ketika terdapat aliran darah yang menetap dan telah diketahui lokasi plasenta dalam uterus dan menetapkan bahwa plasenta belum terlepas secara utuh maka perlu dilakukan tindakan-tindakan untuk penanganan perdarahan kala tiga. sedangkan sedikit aliran atau tetesan darah atau sedikit semburan darah secara mendadak adalah tanda pelepasan plasenta. Alasan paling umum terjadi pelepasan plasenta sebagian adalah kesalahan penatalaksanaan pada kala tiga. 3) Apakah uri dapat lepas atau tidak. Pada kondisi normal terjadi sejumlah kehilangan darah selama kala tiga. apakah perdarahan berhenti atau tidak.beri lanjutan tepung ubijalar.Susui bayi sesering mungkin karena dapat merangsang keluarnya air susu ibu dan menghentikan perdarahan. biasanya mencakup masase uterus yang dilakukan sebelum pelepasan plasenta. Jika belum berhenti lakukan pijat rahim dengan menekan telapak tangan penolong dan membuat gerakan berputar di atas berputar di atas perut ibu secara perlahan. Pelepasan sebagian dapat terjadi secara alami selama pelepasan plasenta fisiologis. 7) Perdarahan berhenti atau belum. Akan tetapi. Jika belum beri pasien makanan/minuman secukupnya.rahim akan berkontraksi dan dapat menghentikan perdarahan. 6) Uri akan lepas. Pelepasan sebagian akibat masase uterus sebelum plasenta lepas dari dinding uterus tidak fisiologis. dan akibatnya hamper dapat dipastikan adalah perdarahan kal tiga. tetapi biasanya kondisi ini bersifat sangat sementara. 8) Perdarahan sudah berhenti. 2) Kebutuhan pada akhir kala III atau setelah plasenta lahir.terhalang dan dengan menyusui bayinya rahim akan berkontraksi sehingga dapat menekan uri keluar.sangat dianjurkan untuk meminum larutan tepung ubi jalar karena sangat bergizi sehingga pasien akan mendapat tenaga yg cukup segera merujuk pasien ke puskesmas terdekat/rumah sakit terdekat dan siapkan orang untuk menjadi donor darah. 4) Uri dapat lepas atau tidak 5) Jika perdarahan terjadi setelah janin lahir dan uri sudah lepas segeralah susui bayinya.

meningkatkan kecerdasan dan meningkatkan kasih sayang antara ibu dan anak. Dalam perawatan jangan membungkus tali pusat dan mengoleskan cairan pada tali pusat dan jangan lupa untuk mengganti balutan tali pusat selama 2 kali sehari. Biasanya IMD ini dilakukan selama 1 jam pertama setelah kelahiran bayi. a) Pencegahan infeksi Bayi baru lahir sangat rentang terhadap infeksi yang disebabkan oleh paparan atau kontaminasi mikroorganisme selama proses persalinan berlangsung maupun beberapa saat setelah lahir. Lengkap atau tidak lengkap Caranya dengan memeriksa plasenta bagian fetal dan maternal dengan menggunakan kassa kering. e) Melakukan IMD Setalah melakukan kontak kulit maka segera lakukan IMD karena ASI yang pertama kali keluar (kolostrum) sangat baik bagi bayi terutama untuk kekebalan tubuh. . Sebelum menangani bayi baru lahir pastikan penolong persalinan telah melakukan upaya pencegahan infeksi seperti cuci tangan. d) Melakukan kontak kulit dengan ibu Untuk mencegah terjadiya hipotermi pada bayi lahir maka segera dilakukan kontak kulit dengan ibu serta untuk mempererat ikatan kedekatan kasih sayang antara ibu dan bayi baru lahir. 3) Perawatan bayi baru lahir. c) Perawatan tali pusat Setelah plasenta lahir dan kondisi ibu sudah stabil maka segera lakukan pengikatan tali pusat denganbenang steril.  Kemudian plasenta ditahan dengan kedua telapak tangan dan selaput ketuban disisihkan untuk dapat memeriksa keadaan pars maternalis apakah tidak ada kotiledon yang tertinggal didalam uterus.  Pastikan bahwa jumlah kotiledon dan selaput ketuban dalam keadaan lengkap:  Selaput ketuban diperiksa dengan menggantung plasenta sedemikian rupa dengan memegang talipusat sehingga selaput ketuban tergantung kebawah. memakai alat pelindung diri dan menggunakan alat yang steril b) Penilaian bayi baru lahir Segera setalah lahir lakukan penilaian apakah bayi menangis kuat atau tidak dan apakah bayi bergerak aktif atau tidak.

Jakarta : Yayasan Bina Pustaka medicastore. Jakarta : IGC Prawihardjo. Pada saat persalianan sering terjadi perdarahan yang dapat berasal dari laserasi perineum. fase ini dimulai pada saat bayi telah lahir lengkap dan berakhir dengan lahirnya plasenta. DAFTAR PUSTAKA Klien. Asuhan yang dapat dilakukan pada ibu pada kala III misalnya memberikan kesempatan kepada ibu untuk memeluk bayinya dan menyusui segera. dan robekan uterus ( rupture uteri). 2002. pre eklamsia dan perdarahan hebat yang mungkin terjadi ( bisa mengarah pada syok). segera lakukan rujukan ke tempat pelayanan kesehatan terdekat jika terjadi perdarahan abnormal. KESIMPULAN Persalinan kala III merupakan fase pengeluaran plasenta. SARAN 1) Sebaiknya bidan selalu memperhatikan kebersihan diri dan alat-alat yang digunakan dalam menolong persalinan untuk mencegah infeksi. B. Untuk mengantisipasi itu bidan harus segera memeriksa tekanan darah ibu dan denyut nadi setiap 30 menit serta memeriksa suhu tubuh setiap 4 jam.com/index. 2008. serviks. 1998. pencegahan infeksi pada kala III dan memberikan motivasi dan pendampingan selama kala III. 2) Bidan sebaiknya selalu memantau kontraksi ibu selama kala III. vagina. di lapisan Nitabusch.or. Panduan Lengkap Kebidanan. Setelah bayi lahir rahim istirahat sekitar 8 sampai 10 menit kemudian berkontraksi kembali untuk melepaskan plasenta dari insersinya. Ilmu Kebidanan. Sarwono. Ilmu Kebidanan.php?mod=penyakit&id=573 pusdiknakes. Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. Susan. Sebaiknya setelah ibu melahirkan bidan harus segera memperhatikan tanda-tanda infeksi.BAB III PENUTUP A.id/persinew/?show=detai lnews&kode=507&tbl=biaswanita . Pelepasan plasenta dapat mulai dari pinggir atau dari sentral dan terdorong ke bagian bawahrahim. 3) Sebaiknya bidan selalu waspada terjadinya perdarahan abnormal yang berlebihan setelah kelahiran bayi. Ida Bagus Gde. Untuk melahirkan plasenta di perlukan dorongan ringan secara Crede. Yogjakarta : Palmall Manuaba.

mail-archive.com/ .gramedia-majalah.com/milis-nakita@news.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->