Teater berasal dari kata Yunani, “theatron” (bahasa Inggris, Seeing Place) yang artinya tempat atau gedung

pertunjukan. Dalam perkembangannya, dalam pengertian lebih luas kata teater diartikan sebagai segala hal yang dipertunjukkan di depan orang banyak. Dengan sintren, demikian, janger, dalam rumusan dagelan, sederhana sulap, teater adalah lain pertunjukan, misalnya ketoprak, ludruk, wayang, wayang wong, mamanda, akrobat, dan sebagainya. Teater dapat dikatakan sebagai manifestasi dari aktivitas naluriah, seperti misalnya, anak-anak bermain sebagai ayah dan ibu, bermain tokohg-tokohgan, dan lain sebagainya. Selain itu, teater merupakan manifestasi pembentukan strata sosial kemanusiaan yang berhubungan dengan masalah ritual. Misalnya, upacara adat maupun upacara kenegaraan, keduanya memiliki unsur-unsur teatrikal dan bermakna filosofis. Berdasarkan paparan di atas, kemungkinan perluasan definisi teater itu bisa terjadi. Tetapi batasan tentang teater dapat dilihat dari sudut pandang sebagai berikut: “tidak ada teater tanpa aktor, baik berwujud riil manusia maupun boneka, terungkap di layar maupun pertunjukan langsung yang dihadiri penonton, serta laku di dalamnya merupakan realitas fiktif”, (Harymawan, 1993). Kata “drama” juga dianggap telah ada sejak era Mesir Kuno (4000-1580 SM), sebelum era Yunani Kuno (800-277 SM). Hubungan kata “teater” dan “drama” bersandingan sedemikian erat seiring dengan perlakuan terhadap teater yang mempergunakan drama lebih identik sebagai teks atau naskah atau lakon atau karya sastra (Bakdi Soemanto, 2001). Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa istilah “teater” berkaitan langsung dengan pertunjukan, sedangkan “drama” berkaitan dengan lakon atau naskah cerita yang akan dipentaskan. Jadi, teater adalah visualisasi dari drama atau drama yang dipentaskan di atas panggung dan disaksikan oleh penonton. Jika “drama” adalah lakon dan “teater” adalah pertunjukan maka “drama” merupakan bagian atau salah satu unsur dari “teater”.

Dengan kata lain, secara khusus teater mengacu kepada aktivitas melakukan kegiatan dalam seni pertunjukan (to act) sehingga tindaktanduk pemain di atas pentas disebut acting. Istilah acting diambil dari kata Yunani “dran” yang berarti, berbuat, berlaku, atau beraksi. Karena aktivitas beraksi ini maka para pemain pria dalam teater disebut actor dan pemain wanita disebut actress (Harymawan, 1993). Meskipun istilah teater sekarang lebih umum digunakan tetapi sebelum itu istilah drama lebih populer sehingga pertunjukan teater di atas panggung disebut sebagai pentas drama. Hal ini menandakan digunakannya naskah lakon yang biasa disebut sebagai karya sastra drama dalam pertujukan teater. Di Indonesia, pada tahun 1920-an, belum muncul istilah teater. Yang ada adalah sandiwara atau tonil (dari bahasa Belanda: Het Toneel). Istilah Sandiwara konon dikemukakan oleh Sri Paduka Mangkunegoro VII dari Surakarta. Kata sandiwara berasal dari bahasa Jawa “sandi” berarti “rahasia”, dan “wara” atau “warah” yang berarti, “pengajaran”. Menurut Ki Hajar Dewantara “sandiwara” berarti “pengajaran yang dilakukan dengan perlambang” (Harymawan, 1993). Rombongan teater pada masa itu menggunakan nama Sandiwara, sedangkan cerita yang disajikan dinamakan drama. Sampai pada Zaman Jepang dan permulaan Zaman Kemerdekaan, istilah sandiwara masih sangat populer. Istilah teater bagi masyarakat Indonesia baru dikenal setelah Zaman Kemerdekaan (Kasim Achmad, 2006). Keterikatan antara teater dan drama sangat kuat. Teater tidak mungkin dipentaskan tanpa lakon (drama). Oleh karena itu pula dramaturgi menjadi bagian penting dari seni teater. Dramaturgi berasal dari bahasa Inggris dramaturgy yang berarti seni atau tekhnik penulisan drama dan penyajiannya dalam bentuk teater. Berdasar pengertian ini, maka dramaturgi membahas proses penciptaan teater mulai dari penulisan naskah hingga pementasannya. Harymawan (1993) menyebutkan tahapan dasar untuk mempelajari dramaturgi yang disebut dengan formula dramaturgi. Formula ini disebut dengan

fromula 4 M yang terdiri dari, menghayalkan, menuliskan, memainkan, dan menyaksikan. M1 atau menghayal, dapat dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang karena menemukan sesuatu gagasan yang merangsang daya cipta. Gagasan itu timbul karena perhatian ditujukan pada suatu persitiwa baik yang disaksikan, didengar maupun dibaca dari literatur tertentu. Bisa juga gagasan itu timbul karena perhatian ditujukan pada kehidupan seseorang. Gagasan atau daya cipta tersebut kemudian diwujudkan ke dalam besaran cerita yang pada akhirnya berkembang menjadi sebuah lakon untuk dipentaskan. M2 atau menulis, adalah proses seleksi atau pemilihan situasi yang harus dihidupkan begi keseluruhan lakon oleh pengarang. Dalam sebuah lakon, situasi merupakan kunci aksi. Setelah menemukan kunci aksi ini, pengarang mulai mengatur dan menyusun kembali situasi dan peristiwa menjadi pola lakon tertentu. Di sini seorang pengarang memiliki kisah untuk diceritakan, kesan untuk digambarkan, suasana hati para tokoh untuk diciptakan, dan semua unsur pembentuk lakon untuk dikomunikasikan. M3 atau memainkan, merupakan proses para aktor memainkan kisah lakon di atas pentas. Tugas aktor dalam hal ini adalah mengkomunikasikan ide serta gagasan pengarang secara hidup kepada penonton. Proses ini melibatkan banyak orang yaitu, sutradara sebagai penafsir pertama ide dan gagasan pengarang, aktor sebagai komunitakor, penata artsitik sebagai orang yang mewujudkan ide dan gagasan secara visual serta penonton sebagai komunikan. M4 atau menyaksikan, merupakan proses penerimaan dan penyerapan informasi atau pesan yang disajikan oleh para pemain di atas pentas oleh para penonton. Pementasan teater dapat dikatakan berhasil jika pesan yang hendak disampaikan dapat diterima dengan baik oleh penonton. Penonton pergi menyaksikan pertunjukan dengan maksud pertama untuk memperoleh kepuasan atas kebutuhan dan

• Berasal dari nyanyian untuk menghormati seorang pahlawan di kuburannya. Rendra dalam Seni Drama Untuk Remaja (1993). kepahlawanan. Oleh karena itu. Di antaranya teori tentang asal mula teater adalah sebagai berikut. Jika salah satu tahap dan unsur yang ada dalam setiap tahapan diabaikan. Sejarah Singkat Teater 2. Pada zaman itu peradaban Mesir Kuno sudah maju. sudah mengenal ilmu bedah.keinginannya terhadap tontonan tersebut. dan lain sebagainya). Formula dramaturgi seperti disebutkan di atas merupakan tahap mendasar yang harus dipahami dan dilakukan oleh para pelaku teater.1. • Berasal dari kegemaran manusia mendengarkan cerita. . dan juga sudah mengenal tulis menulis. sudah bisa membuat kalender. di zaman peradaban Mesir Kuno kira-kira 2000 tahun sebelum tarikh Masehi. maka pertunjukan yang digelar bisa dipastikan kurang sempurna. Unsur cerita ditambahkan pada upacara semacam teater. Cerita itu kemudian juga dibuat dalam bentuk teater (kisah perburuan. • Berasal dari upacara agama primitif. Mereka sudah bisa membuat piramida. I Kher-nefert.1 Teater Barat 2. sudah mengerti irigasi. tokoh. pemahaman dasar formula dramaturgi dapat dijadikan acuan proses penciptaan karya seni teater. Dalam acara ini seseorang mengisahkan riwayat hidup sang pahlawan yang lama kelamaan diperagakan dalam bentuk teater. itu yang akhirnya upacara berkembang agama menjadi lama pertunjukan Meskipun telah ditinggalkan. menyebutkan bahwa naskah teater tertua di dunia yang pernah ditemukan ditulis seorang pendeta Mesir. Adapun yang dapat diketahui hanyalah teori tentang asal mulanya.1 Asal Mula Teater Waktu dan tempat pertunjukan teater yang pertama kali dimulai tidak diketahui. 2. tapi teater ini hidup terus hingga sekarang.

• Cerita yang dimainkan adalah tragedi yang membuat penonton tegang. dan kasihan serta cerita komedi yang lucu. Namun mutu teater Romawi tak lebih baik daripada teater Yunani. penari.2 Teater Yunani Klasik Tempat pertunjukan teater Yunani pertama yang permanen dibangun sekitar 2300 tahun yang lalu. Pertunjukan ini dikenalkan oleh Livius Andronicus. • Selain pemeran utama juga ada pemain khusus untuk kelompok koor (penyanyi). Ciri-ciri khusus pertunjukan teater pada masa Yunani Kuno adalah: • Pertunjukan dilakukan di amphitheater. Teater Romawi menjadi penting karena pengaruhnya kelak pada Zaman Renaissance.1. mengunjungi amphitheater untuk menonton teater-teater. Teater pertama kali dipertunjukkan di kota Roma pada tahun 240 SM (Brockett. Teatron pada zaman Yunani 2. • Seluruh pemainnya pria bahkan tokoh wanitanya dimainkan pria dan memakai topeng karena setiap pemain memerankan lebih dari satu tokoh. kasar dan sering mengeritik tokoh terkenal pada waktu itu.2. 1964). begitu juga Teater. dan hadiah diberikan bagi teater terbaik. yang Ribuan disebut orang amphitheater Soemardjo. Teater ini dibangun tanpa atap dalam bentuk setengah lingkaran dengan tempat duduk penonton melengkung (Jakob dan berundak-undak 1984). Naskah lakon teater Yunani merupakan naskah lakon teater pertama yang menciptakan dialog diantara para karakternya. seniman Yunani. takut. • Sudah menggunakan naskah lakon.3 Teater Romawi Klasik Setelah tahun 200 Sebelum Masehi kegiatan kesenian beralih dari Yunani ke Roma. Teater Romawi merupakan hasil adaptasi bentuk teater . dan narator (pemain yang menceritakan jalannya pertunjukan).1.

2002). lalu berjalan lagi. seperti menurunkan seorang aktor dari atas ke panggung. Peralatan ini digunakan untuk efek tipuan. banyak kota di Eropa mementaskan drama untuk merayakan hari-hari besar umat Kristen. anak muda yang melawan kekuasaan orang tua dan lain sebagainya.Yunani. yang disebut pageant. • Tema berkisar pada masalah hidup kesenjangan golongan menengah.4 Teater Abad Pertengahan Dalam tahun 1400-an dan 1500-an. • Musik menjadi pelengkap seluruh adegan. menggantikannya. Orang berkerumun untuk menyaksikan drama pageant religius di Eropa. • Karakteristik tokoh tergantung kelas yaitu orang tua yang bermasalah dengan anak-anaknya atau kekayaan.1. Aktor-aktor pageant seringkali adalah para perajin setempat yang memainkan adegan yag menunjukan keahlian mereka. Para pemain pegeant memainkan satu adegan dari kisah dalam Alkitab. Hampir di setiap unsur panggungnya terdapat unsur pemanggungan teater Yunani. 2. • Koor tidak lagi berfungsi mengisi setiap adegan. . Tidak hanya menjadi tema cerita tetapi juga menjadi ilustrasi cerita. drama ini populer karena pemainnya berbicara dalam bahasa sehari-hari. Drama-drama dibuat berdasarkan cerita-cerita Alkitab dan dipertunjukkan di atas kereta. Bahkan kini pertunjukan jalan dan prosesi penuh warna diselenggarakan di seluruh dunia untuk merayakan berbagai hari besar keagamaan. Para pemain drama pageant menggunakan tempat di bawah kereta untuk menyembunyikan peralatan. dan ditarik keliling kota. Pageant lain dari aktor-aktor lain untuk adegan berikutnya. Namun demikian teater Romawi pun memiliki kebaruan-kebaruan dalam penggarapan dan penikmatan yang asli dimiliki oleh masyarakat Romawi dengan ciri-ciri sebagi berikut. bukan bahasa Latin yang merupakan bahasa resmi gereja-gereja Kristen (Wisnuwardhono.

• Drama tidak memiliki nama pengarang. Meskipun demikian gerakan mereka memiliki arti penting karena Eropa menjadi mengenal drama yang jelas struktur dan bentuknya. Di gedung-gedung teater milik para bangsawan inilah dipentaskan naskah-naskah yang meniru drama-drama klasik. 2.5 Renaissance Abad 17 memberi sumbangan yang sangat berarti bagi kebudayaan Barat. Pusat-pusat aktivitas teater di Italia adalah istana-istana dan akademi.Ciri-ciri teater abad Pertengahan adalah sebagai berikut: • Drama dimainkan oleh aktor-aktor yang belajar di universitas sehingga dikaitkan dengan masalah filsafat dan agama. • Drama banyak disisipi cerita kepahlawanan yang dibumbui cerita percintaan. kompas. • Aktor bermain di panggung di atas kereta yang bisa dibawa berkeliling menyusuri jalanan. Semangat ini disebut semangat Renaissance yang berasal dari kata “renaitre” yang berarti kelahiran kembali manusia untuk mendapatkan semangat hidup baru. Ada tiga jenis drama yang dikembangkan.1. • Drama dimainkan di tempat umum dengan memungut bayaran. yaitu tragedi. komedi. . Ciri-ciri teater Zaman Renaissance yakni sebagai berikut. dan pastoral atau drama yang membawakan kisah-kisah percintaan antara dewa-dewa dengan para gembala di daerah pedesaan. Drama dilangsungkan dengan mengikuti struktur yang ada. Semangat baru muncul untuk menyelidiki kebudayaan Yunani dan Romawi klasik. Namun nilai seni ketiganya masih rendah. dan mesin cetak. Gerakan yang menyelidiki semangat ini disebut gerakan humanisme. Sejarah abad 15 dan 16 ditentukan oleh penemuanpenemuan penting yaitu mesin. Para aktor kebanyakan pegawai-pegawai istana dan pertunjukan diselenggarakan dalam pesta-pesta istana.

yaitu rumah. selama pemerintahan Ratu Elizabeth I. Kemudian menyebar luas di Eropa dan mempengaruhi semua bentuk komedi yang diciptakan pada tahun 1600. Gedung teater ini sangat sukses sehingga . • Pelaksanaan bentuk teater diatur oleh kerajaan maupun universitas. • Peristiwa cerita berlangsung dan berpindah secara cepat. Pada tahun 1575 bentuk ini sudah populer di Italia. • Setting panggung sederhana. • Cerita yang dimainkan bersumber pada cerita yang diceritakan secara turun menurun. • Tata busana dan seting yang dipergunakan sangat inovatif. Gedung ini dibangun seperti lingkaran sehingga penonton bisa duduk dihampir seluruh sisi panggung. dan lapangan. yaitu tokoh penguasa.6 Teater Zaman Elizabeth Pada tahun 1576. dan tokoh pembantu. Merupakan bentuk teater rakyat Italia yang berkembang di luar lingkungan istana dan akademisi. • Tempat pertunjukannya di lapangan kota dan panggungpanggung sederhana. • Terdapat tiga tokoh yang selalu muncul. jalan.• Naskah lakon yang dipertunjukkan meniru teater Zaman Yunani klasik. • Cerita bertema mitologi atau kehidupan sehari-hari. tokoh penggoda. • Menggunakan naskah lakon yang berisi garis besar cerita. Plot cerita berlangsung dalam suasana adegan lucu.1. gedung teater besar dari kayu dibangun di London Inggris. 2. • Menggunakan panggung proscenium yaitu bentuk panggung yang memisahkan area panggung dengan penonton. • Pada zaman ini juga melahirkan satu bentuk teater yang disebut commedia dell’arte. • Cerita terdiri dari tiga babak didahului prolog panjang. Ciri khas commedia dell’arte adalah: Para pemain dibebaskan berimprovisasi mengikuti jalannya cerita dan dituntut memiliki pengetahuan luas yang dapat mendukung permainan improvisasinya.

hiburan. 2. Ia adalah seorang aktor dan penyair. pendidikan. Mereka yang tidak mampu membeli tiket berdiri di sekitar panggung. • Tempat adegan ditandai dengan ucapan dengan disampaikan dalam dialog para tokoh. Orang datang ke gedung pertunjukan tidak hanya untuk menyaksikan teater melainkan juga untuk menikmati musik.000 penonton. Rancanganrancangan panggung termasuk pengaturan panggung arena. • Corak pertunjukannya merupakan perpaduan antara teater keliling dengan teater sekolah dan akademi yang keklasik-klasikan. beberapa cara untuk mengekspresikan karakter-karakter berbeda . Beberapa ceritanya berisi monolog panjang. Gedung-gedung pertunjukan modern memiliki efek-efek khusus dan teknologi baru. Tidak pemain wanita. yang disebut solilokui.7 Teater Abad 20 Pementasan Teater di Broadway. dan mempelajari hal-hal baru. • Tokoh wanita dimainkan oleh pemain anak-anak laki-laki. • Menggunakan naskah lakon. Globe mementaskan drama-drama karya William Shakespeare. Teater di Tengah-Tengah Gedung. Dewasa ini. dan menceritakan gagasan-gagasan mereka kepada penonton. atau yang disebut saat ini. penulis drama terkenal dari Inggris yang hidup dari tahun 1564 sampai tahun 1616.banyak gedung sejenis dibangun di sekitarnya. Teater telah berubah selama berabadabad. gedung teater ini bisa menampung 3.1. Ia biasanya menulis dalam bentuk puisi atau sajak. Salah satunya yang disebut Globe. selain penulis drama. Ciri-ciri teater Zaman Elizabeth adalah: • Pertunjukan dilaksanakan siang hari dan tidak mengenal waktu istirahat. • Penontonnya berbagai lapisan masyarakat dan diramaikan oleh penjual makanan dan minuman. Ia menulis 37 (tiga puluh tujuh) drama dengan berbagai tema. Penonton yang mampu membeli tiket duduk di sisi-sisi panggung. mulai dari pembunuhan dan tokohg sampai cinta dan kecemburuan.

Banyak gaya baru yang lahir baik dari sudut pandang pengarang. Wilayah jelajah artistik dibuka selebar-lebarnya untuk kemungkinan perkembangan bentuk pementasan seni teater.dalam pertunjukan-pertunjukan (di samping nada suara) dapat melalui musik. Lepas dari hal itu. Tetapi tidak jarang pula usaha mereka berhenti pada produksi pertama. yang disebut “teater”. Setelah melepaskan diri dari kaitan upacara. ada tanda-tanda bahwa unsur-unsur teater tradisional banyak digunakan untuk mendukung upacara ritual. Pada saat itu. aktor ataupun penata artistik. Teater tradisional merupakan bagian dari suatu upacara keagamaan ataupun upacara adat-istiadat dalam tata cara kehidupan masyarakat kita. usaha pencarian kaidah artistik yang dilakukan oleh seniman teater modern patut diacungi jempol karena usaha-usaha tersebut mengantarkan pada keberagaman bentuk ekspresi dan makna keindahan.1 Teater Tradisional Kasim Achmad dalam bukunya Mengenal Teater Tradisional di Indonesia (2006) mengatakan. sutradara. Dengan semangat melawan pesona realisme. Pada zaman itu. tata cahaya. para seniman mencari bentuk pertunjukannya sendiri. Pada awal abad 20 inilah istilah teater eksperimental berkembang. sejarah teater tradisional di Indonesia dimulai sejak sebelum Zaman Hindu. dekorasi.2 Teater Indonesia 2. unsur- . Hal ini mendorong para pemikir teater untuk menemukan satu bentuk ekspresi baru yang lepas dari konvensi yang sudah ada. Gaya-gaya teater pertunjukan realistis dan eksperimental ditemukan dalam Amerika saat ini. Seiring dengan perkembangan waktu. dan absurd. surealisme. sebenarnya baru merupakan unsurunsur teater. epik. dan efek elektronik. 2. kualitas pertunjukan realis oleh beberapa seniman dianggap semakin menurun dan membosankan. dan belum merupakan suatu bentuk kesatuan teater yang utuh.2. Tidak jarang usaha mereka berhasil dan mampu memberikan pengaruh seperti gaya simbolisme.

yang pementasannya secara teknik telah banyak mengikuti budaya dan teater Barat (Eropa). ketoprak.2.2.1 Teater Transisi Teater transisi adalah penamaan atas kelompok teater pada periode saat teater tradisional mulai mengalami perubahan karena pengaruh budaya lain.2 Teater Modern 2. teater tradisional berkenalan juga dengan teater Barat yang dipentaskan oleh orang-orang Belanda di Indonesia sekitar tahun 1805 yang kemudian berkembang hingga di Betawi (Batavia) dan mengawali berdirinya gedung Schouwburg pada tahun 1821 (Sekarang Gedung Kesenian Jakarta). 2. tergantung kondisi dan sikap budaya masyarakat. Perkenalan masyarakat Indonesia pada teater non-tradisi dimulai sejak Agust Mahieu mendirikan Komedie Stamboel di Surabaya pada tahun 1891.2. randai. yang pada saat itu masih belum menggunakan naskah drama/lakon. Kelompok teater yang masih tergolong kelompok teater tradisional dengan model garapan memasukkan unsur-unsur teknik teater Barat. Proses terjadinya atau munculnya teater tradisional di Indonesia sangat bervariasi dari satu daerah dengan daerah lainnya. meskipun masih dalam wujud cerita ringkas atau outline story (garis besar cerita per adegan). ubrug. Macammacam teater tradisional Indonesia adalah: wayang kulit. Selain pengaruh dari teater bangsawan. Mulai memperhitungkan teknik yang mendukung pertunjukan. sumber dan tata-cara di mana teater tradisional lahir. wayang wong. Hal ini disebabkan oleh unsur-unsur pembentuk teater tradisional itu berbedabeda. ludruk . Perubahan tersebut terletak pada cerita yang sudah mulai ditulis. dan sebagainya. arja. drama gong. dinamakan teater bangsawan. Pada periode transisi inilah teater tradisional berkenalan dengan teater non-tradisi.unsur teater tersebut membentuk suatu seni pertunjukan yang lahir dari spontanitas rakyat dalam masyarakat lingkungannya. Cara penyajian cerita dengan menggunakan panggung dan dekorasi. lenong. .

dan lainlainnya. Karenanya rombongan teater pada masa itu menggunakan nama sandiwara.Wiggers yang berjudul Lelakon Raden Beij Soerio Retno. Kemudian lahirlah kelompok sandiwara lain.2. sedangkan cerita yang disajikan dinamakan drama. Drama-drama Pujangga Baru ditulis sebagai ungkapan ketertekanan kaum intelektual dimasa itu karena penindasan pemerintahan Belanda yang amat keras terhadap kaum pergerakan sekitar tahun 1930-an. seperti Opera Stambul. mulai mengenal sastra lakon dengan diperkenalkannya lakon yang pertama yang ditulis oleh orang Belanda F. Sandiwara Tjahaja Timoer. Indra Bangsawan. Sandiwara Orion. pada tahun 1901. Istilah teater bagi masyarakat Indonesia baru dikenal setelah Zaman Kemerdekaan. Bentuk sastra drama yang pertamakali menggunakan bahasa Indonesia dan disusun dengan model dialog antar tokoh dan berbentuk sajak adalah Bebasari (artinya kebebasan yang sesungguhnya atau inti kebebasan) karya Rustam Efendi (1926). Yang ada adalah sandiwara. Lelakon Komedia Hindia Timoer (1913). 2. Lakon Bebasari merupakan sastra drama yang menjadi pelopor semangat kebangsaan. Kemudian disusul oleh Lauw Giok Lan lewat Karina Adinda. Pada masa teater transisi belum muncul istilah teater. Pedro pada tanggal 21 Juni 1926.2 Teater Indonesia tahun 1920-an Teater pada masa kesusasteraaan angkatan Pujangga Baru kurang berarti jika dilihat dari konteks sejarah teater modern Indonesia tetapi cukup penting dilihat dari sudut kesusastraan. Sampai pada Zaman Jepang dan permulaan Zaman Kemerdekaan. Opera Abdoel Moeloek.2. Setelah sandiwara Komedie seperti Stamboel didirikan muncul (The kelompok Opera Sandiwara Dardanella Malay Dardanella) yang didirikan Willy Klimanoff alias A. Komidi Bangsawan. dan lain sebagainya. Naskah-naskah drama tersebut belum mencapai bentuk sebagai drama karena masih menekankan unsur sastra dan sulit untuk dipentaskan. yang menggunakan bahasa Melayu Rendah. istilah sandiwara masih sangat populer. Lakon ini menceritakan perjuangan .Dilihat dari segi sastra.

3 Teater Indonesia tahun 1940-an Semua unsur kesenian dan kebudayaan pada kurun waktu penjajahan Jepang dikonsentrasikan untuk mendukung pemerintahan totaliter Jepang. Mr. Beberapa lakon yang ditulisnya antara lain.2. dalam situasi yang sulit dan gawat serupa itu. dua orang tokoh. yaitu Sanusi Pane menulis Kertajaya (1932) dan Sandyakalaning Majapahit (1933) Muhammad Yamin menulis Ken Arok dan Ken Dedes (1934). Imam Supardi menulis drama dengan judul Keris Mpu Gandring. Armiijn Pane mengolah roman Swasta Setahun di Bedahulu karangan I Gusti Nyoman Panji Tisna menjadi naskah drama. Mr. persoalan. Sutan Takdir Alisjabana. yang membebaskan puteri Bebasari dari niat jahat Rahwana. dan Kama Jaya. Namun demikian. Setan. dan harapan serta misi mewujudkan Indonesia sebagai negara merdeka. Sumanang (Sekretaris). dan sebagai anggota antara lain. Armijn Pane.tokoh utama Bujangga. Dr. Satiman Wirjosandjojo menulis drama berjudul Nyai Blorong. Maka pada tanggal 6 oktober 1942. Badan Pusat Kesenian Indonesia bermaksud . Nur Sutan Iskandar menyadur karangan Molliere. Segala daya kreasi seni secara sistematis di arahkan untuk menyukseskan pemerintahan totaliter Jepang. dan Dr. Lakon-lakon ini ditulis berdasarkan tema kebangsaan. dengan judul Si Bachil. Sanusi Pane (Ketua).2. Rainbow. Penulis-penulis ini adalah cendekiawan Indonesia. Singgih menulis drama berjudul Hantu. di rumah Bung Karno dibentuklah Badan Pusat Kesenian Indonesia dengan pengurus sebagai berikut. 2. pada tahun 1927 menulis dan menyutradarai teater di Bengkulu (saat di pengasingan). Bahkan Presiden pertama Indonesia. menulis dengan menggunakan bahasa Indonesia dan berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Penulis lakon lainnya. yaitu Anjar Asmara dan Kamajaya masih sempat berpikir bahwa perlu didirikan Pusat Kesenian Indonesia yang bertujuan menciptakan pembaharuan kesenian yang selaras dengan perkembangan zaman sebagai upaya untuk melahirkan kreasi – kreasi baru dalam wujud kesenian nasional Indonesia. Krukut Bikutbi. Ir Soekarno.

Rombongan sandiwara Bintang Surabaya tampil dengan aktor dan aktris kenamaan. Jawa. yaitu Sendenbu yang membentuk badan perfilman dengan nama Djawa Eiga Kosy’. Pancawarna. dan lawak. R. dengan peragawati gadis-gadis Indo Belanda yang cantik-cantik. dan Merah Delima. Ali Yugo. antara lain Astaman. seperti misalnya Bintang Surabaya. maupun Sunda.menciptakan kesenian Indonesia baru. yang kesemuanya merupakan corong propaganda Jepang. Intensitas kerja Djawa Eiga Kosya yang ingin menghambat langkah Badan Pusat Kesenian Indonesia nampak ketika mereka membuka sekolah tonil dan drama Putra Asia. dan Bolero. Tjahaya Asia.A Murdiati. Mis Ribut. Warna Sari. nyanyian. dan sebagainya. di antaranya dengan jalan memperbaiki dan menyesuaikan kesenian daerah menuju kesenian Indonesia baru. Fifi Young. Dalam kurun waktu ini semua bentuk seni hiburan yang berbau Belanda lenyap karena pemerintah penjajahan Jepang anti budaya Barat. yang dikenal dengan nama samarannya Mon Siour D’amour ini dalam rombongan sandiwara Bintang Surabaya menulis lakon antara lain. Dahlia. yang dipimpin oleh orang Jepang S. Rombongan Sandiwara Bintang Surabaya menyuguhkan pementasan-pementasan dramanya dengan cara lama seperti pada masa Dardanella. Tan Ceng Bok (Si Item). Secara istimewa selingannya kemudian ditambah dengan mode show. Ratu Asia. Mis Tjitjih. ternyata mengalami hambatan yang datangnya dari barisan propaganda Jepang. Sija. yaitu di antara satu dan lain babak diselingi oleh tarian-tarian. . Pendekar Asia. Dalam masa pendudukan Jepang kelompok rombongan sandiwara yang mula-mula berkembang adalah rombongan sandiwara profesional. Bengawan Solo. Dewi Mada. Langkah-langkah yang telah diambil oleh Badan Pusat Kesenian Indonesia untuk mewujudkan cita-cita kemajuan kesenian Indonesia. Rombongan sandiwara keliling komersial. Pengarang Nyoo Cheong Seng. Oya. Komedi Bangsawan. Kris Bali. dan lain-lain kembali berkembang dengan mementaskan cerita dalam bahasa Indonesia. Mata Hari. Air Mata Ibu (sudah difilmkan).

Menyusul kemudian muncul rombongan sandiwara Dewi Mada. Baru kemudian Muchsin sebagai pengusaha besar tertarik dan membiayai rombongan sandiwara Warna Sari. Panggilan Tanah Air. Hanya kalangan terpelajar yang menyukai pertunjukan Matahari yang menampilakan hiburan berupa tari-tarian pada awal pertunjukan baru kemudian dihidangkan lakon sandiwara dari awal hingga akhir. Cerita-cerita yang dipentaskan antara lain. dan lain sebagainya. Ratna Asmara. Cerita yang dipentaskan antara lain. Ni Parini. rombongan yang sandiwara sebagi Warna Raja Sari Drum. Rombongan sandiwara terkenal lainnya adalah rombongan sandiwara Sunda Mis Tjitjih. yaitu rombongan sandiwara yang digemari rakyat jelata. mendirikan rombongan sandiwara angkatan muda Matahari. yang sekaligus sebagai pemimpinnya. dan Rencong Aceh. Bentuk penyajian semacam ini di anggap kaku oleh penonton umum yang lebih suka unsur hiburan disajikan sebagai selingan babak satu dengan babak lain . seorang keturunan terkenal menempatkan deretan drumnya yang berbagai ukuran itu memenuhi lebih dari separuh panggung. Dewi Rani. Bulan Punama. sandiwara rombongan Tjahaya sandiwara Asia yang ini terpaksa berlindung di bawah barisan propaganda Jepang dan berganti nama rombongan mementaskan ceritacerita baru untuk kepentingan propaganda Jepang. yaitu Dewi Mada dengan suaminya Ferry Kok. adalah Garsia penampilan musiknya yang mewah yang dipimpin oleh Garsia. dan Kama Jaya pada tanggal 6 April 1943. Kembang Kaca. Hingga tahun 1943 rombongan sandiwara hanya dikelola pengusaha Cina atau dibiayai Sendenbu karena bisnis pertunjukan itu masih asing bagi para pengusaha Indonesia. Kusumahadi. dengan bintang-bintang eks Bolero. Ida Ayu. Keistimewaan Filipina. menjadi Dalam perjalanannya. Ia menabuh drum-drum tersebut sambil meloncat ke kanan–ke kiri sehingga menarik minat penonton. Rombongan sandiwara Dewi Mada lebih mengutamakan tari-tarian dalam pementasan teater mereka karena Dewi Mada adalah penari terkenal sejak masa rombongan sandiwara Bolero. Anjar Asmara.

humanisme dan agama. dan Jauh di Mata. Pada saat inilah pengembangan ke arah pencapaian teater nasional dilakukan. Dari semua lakon tersebut ada yang sudah di filmkan yaitu. Si Bongkok. Sang Pek Engtay. Solo di Waktu Malam. Lakon-lakon yang ditulis Anjar Asmara antara lain. Bahwa . Pecah Sebagai Ratna. Amat Heiho. dan lain-lain). dan Abu Hanifah dengan para anggota cendekiawan muda. lakon Nora karya Henrik Ibsen diterjemahkan dan judulnya diganti dengan Jinak-jinak Merpati oleh Armijn Pane. Potong Padi. Djajakusuma dengan dukungan Suryo Sumanto. Rosihan Anwar. Oleh karena ada sensor Sendenbu maka lakon harus ditulis lengkap berikut dialognya. nasionalis dan para profesional (dokter. Kotot Sukardi menulis lakon. Bende Mataram. Huyung (Hei Natsu Eitaroo). apoteker. dan D. Sensor Sendenbu malah menjadi titik awal dikenalkannya naskah dalam setiap pementasan sandiwara. Pancaroba. Lakon Ibu Prajurit ditulis oleh Natsusaki Tani. Musim Bunga di Slabintana. Menjelang akhir pendudukan Jepang muncul rombongan sandiwara yang melahirkan karya ssatra yang berarti. Kupu-kupu. Benteng Ngawi. Guna-guna. Kama Jaya menulis lakon antara lain. Jepang menugaskan Dr. Sendenbu menyiapkan naskah lakon yang harus dimainkan oleh setiap rombongan sandiwara karangan penulis lakon Indonesia dan Jepang. Para pemain tidak boleh menambah atau melebih-lebihkan dari apa yang sudah ditulis dalam naskah. ahli seni drama atas nama Sendenbu memprakarsai berdirinya POSD (Perserikatan Oesaha Sandiwara Djawa) yang beranggotakan semua rombongan sandiwara profesional. Nusa Penida.sehingga akhirnya dengan terpaksa rombongan sandiwara tersebut mengikuti selera penonton. Pertumbuhan sandiwara profesional tidak luput dari perhatian Sendenbu. yaitu Penggemar Maya (1944) pimpinan Usmar Ismail. Hei Natsu Eitaroo menulis Hantu. Teater tidak hanya sebagai hiburan tetapi juga untuk ekspresi kebudayaan berdasarkan kesadaran nasional dengan cita-cita menuju humanisme dan religiositas dan memandang teater sebagai seni serius dan ilmu pengetahuan. Kelompok ini berprinsip menegakkan nasionalisme. Solo di Waktu Malam dan Nusa Penida.

seperti korupsi. Sayang Ada Orang Lain (1953) karya Utuy Tatang Sontani. berdasarkan Justice karya John Galsworthy. Lakon Awal dan Mira (1952) tidak hanya terkenal di Indonesia. keberanian dan nilai kemanusiaan. ATNI menggalakkan dan memapankan realisme dengan mementaskan lakon-lakon terjemahan dari Barat. Utuy Tatang Sontani dipandang sebagai tonggak penting menandai awal dari maraknya drama realis di Indonesia dengan lakonlakonnya yang sering menyiratkan dengan kuat alienasi sebagai ciri kehidupan moderen. mereka merenungkan peristiwa tokohg kemerdekaan. 1956) Sekelumit Nyanyian Sunda (Nasyah Jamin. pengkhianatan. bahkan lakon adaptasi. Pertahanan Akhir (Sitor Situmorang. kemunafikan. 2. Kapten Syaf (Aoh Kartahadimaja.2. Kedua seniman teater Barat dengan idiom realisme konvensional ini menjadi tonggak didirikannya Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) pada tahun 1955 oleh Usmar Ismail dan Asrul Sani. 1954). kekecewaan. melainkan sampai ke Malaysia. Titiktitik Hitam (Nasyah Jamin. melalaikan penderitaan korban tokohg. Pakaian dan Kepalsuan oleh Akhdiat Kartamiharja (1956) berdasarkan The Man In Grey Suit karya Averchenko dan Hanya Satu Kali (1956). erosi ideologi. seperti karyakarya . 1951). Realisme konvensional dan naturalisme tampaknya menjadi pilihan generasi yang terbiasa dengan teater barat dan dipengaruhi oleh idiom Hendrik Ibsen dan Anton Chekhov. kepahlawanan dan tindakan pengecut. juga sebaliknya. Sementara ada lakon yang bercerita tentang kekecewaan paska tokohg. Islam dan Komunisme.4 Teater Indonesia Tahun 1950-an Setelah tokoh kemerdekaan. Kelak. Penggemar Maya menjadi pemicu berdirinya Akademi Teater Nasional Indonesia di Jakarta. penderitaan. peluang terbuka bagi seniman untuk merenungkan perjuangan dalam tokohg kemerdekaan. Tema itu terungkap dalam lakon-lakon seperti Awal dan Mira (1952). kemiskinan. dan lain-lain. dan lain-lain. 1959). oportunisme politis.teori teater perlu dipelajari secara serius.2. 1955). keiklasan sendiri dan pengorbanan. Peristiwa tokohg secara khas dilukiskan dalam lakon Fajar Sidik (Emil Sanossa.

Gogol. 1950). Badak-badak (Ionesco. Pada tahun 1967 Jim Lim belajar teater dan menetap di Paris. dan Kasim Achmad. Mengadaptasi lakon Hamlet dan diubah judulnya menjadi Jaka Tumbal (1963/1964). Tahun 1962 Jim Lim menggabungkan unsur wayang kulit dan musik dalam karya penyutradaraannya yang berjudul Pangeran Geusan Ulun (Saini KM. Pramana Padmadarmaya. Suyatna Anirun. Tatiek Malyati. Teguh Karya. 1945). ATNI inilah akademi teater modern yang pertama di Asia Tenggara.Moliere. dan Chekov. dan dagelan dengan teater Barat. Menyutradarai dengan gaya realistis tetapi isinya absurditas pada lakon Caligula (Albert Camus. Karya penyutradaraanya. The Bespoke Overcoat (Wolf mankowitz ). Jim Lim menyutradari Bung Besar. Peristiwa penting dalam usaha membebaskan teater dari batasan realisme konvensional terjadi pada tahun 1967. salah satu aktor dan juga teman Jim Lim. Ketika Rendra kembali . Alumni Akademi Teater Nasional yang menjadi aktor dan sutradara antara lain. Wahyu Sihombing. tari topeng Cirebon.2. Bermain dengan akting realistis dalam lakon The Glass Menagerie (Tennesse William. dan Biduanita Botak (Ionesco. (Misbach Yusa Biran) dengan gaya longser. 1961). 1962). longser. Himpunan Seni Budaya Surakarta (HBS) didirikan di Surakarta. Menurut Brandon (1997). Sontani) dan Paman Vanya (Anton Chekhov). yaitu Awal dan Mira (Utuy T. Sedangkan metode pementasan dan pemeranan yang dikembangkan oleh ATNI adalah Stanislavskian. teater rakyat Sunda. Galib Husein.. Pada tahun 1960. melanjutkan apa yang sudah dilakukan Jim Lim yaitu mencampurkan unsur-unsur teater Barat dengan teater etnis. Pada akhir 1950-an JIm Lim mulai dikenal oleh para aktor terbaik dan para sutradara realisme konvensional.5 Teater Indonesia Tahun 1970-an Pementasan: Mengapa Leonardo oleh Teater Koma Jim Adi Limas mendirikan Studiklub Teater Bandung dan mulai mengadakan eksperimen dengan menggabungkan unsur-unsur teater etnis seperti gamelan. 1960). 2. Di Yogyakarta tahun 1955 Harymawan dan Sri Murtono mendirikan Akademi Seni Drama dan Film Indonesia (ASDRAFI).2.

Djajakusuma. Di Surabaya muncul bentuk pertunjukan teater yang mengacu teater epik (Brecht) dengan idiom teater rakyat (kentrung dan ludruk) melalui Basuki Rahmat. Yogyakarta. Hasyim Amir (Bengkel Muda Surabaya. Adi Kurdi (Teater Hitam Putih). Teater Melarat Malang). Putu Wijaya (teater Mandiri) dengan ciri penampilan menggunakan . Pramana Padmodarmaya (Teater Lembaga). Di Yogyakarta Azwar AN mendirikan teater Alam. Danarto (Teater Tanpa Penonton). dan kreativitas berteater tidak hanya di Jakarta. Didirikannya pusat kesenian Taman Ismail Marzuki oleh Ali Sadikin. Luthfi Rahman. Medan. Palembang.1968). musik. Teater Lektur. Surabaya. Lalu Teater Nasional Medan didirikan oleh Djohan A Nasution dan Burhan Piliang. Bib Bop dan Rambate Rate Rata (1967.ke Indonesia. kostum dan verbalisme naskah. Taman Ismail Marzuki menerbitkan 67 (enam puluh tujuh) judul lakon yang ditulis oleh 17 (tujuh belas) pengarang sandiwara. Tidak hanya Stanislavsky tetapi nama-nama seperti Brecht. Pertunjukannya misalnya. D. Artaud dan Grotowsky juga diperbincangkan. vokal. Arifin C. pertunjukan bermula dari improvisasi dan eksplorasi bahasa tubuh dan bebunyian mulut tertentu atas suatu tema yang diistilahkan dengan teater mini kata (menggunakan kata seminimal mungkin). Akhudiat. Di Makasar. Wahyu Sihombing. Di Padang ada Wisran Hadi dengan teater Padang. Rendra mendirikan Bengkel Teater Yogya yang kemudian menciptakan pertunjukan pendek improvisatoris yang tidak berdasarkan naskah jadi (wellmade play) seperti dalam drama-drama realisme. menjadi pemicu meningkatnya aktivitas. dan lain-lain. Teguh Karya (Teater Populer). Ujung Pandang. Noor (Teater Kecil) dengan gaya pementasan yang kaya irama dari blocking. Padang. Tokoh-tokoh teater yang muncul tahun 1970-an lainnya adalah. gubernur DKI jakarta tahun1970. tata cahaya. tetapi juga di kota besar seperti Bandung. Rahman Arge dan Aspar Patturusi mendirikan Teater Makasar. Akan tetapi. Ikranegara (Teater Saja). Mohammad Diponegoro dan Syubah Asa mendirikan Teater Muslim. menyelenggarakan festival pertunjukan secara teratur. juga lokakarya dan diskusi teater secara umum atau khusus.

Riantiarno (Teater Koma) dengan ciri pertunjukan yang mengutamakan tata artistik glamor. Teater Jeprik. Teater Republik. Fokus tidak terletak pada aktor tetapi gerombolan yang menciptakan situasi dan aksi sehingga lebih dikenal sebagai teater teror. Teater Gandrik menonjol dengan warna teater yang mengacu kepada roh teater tradisional kerakyatan dan menyusun berita-berita yang aktual di masyarakat menjadi bangunan cerita. Di samping Gapit. Upeti. di Solo ada juga Teater Gidag-gidig. dan Teater Payung Hitam. Lakon yang dipentaskan antra lain. Dhemit. Kholiq Dimyati dan Mukid F. Pada saat itu lahirlah kelompok-kelompok teater baru di berbagai kota di Indonesia. Beberapa jenis festival di Yogyakarta. Dalam latar situasi seperti itu lahir beberapa kelompok teater yang sebagian merupakan produk festival teater. Festival Drama Lima Kota Surabaya memunculkan . Di Surabaya ada Festival Drama Lima Kota yang digagas oleh Luthfi Rahman. Di Solo (Surakarta) muncul Teater Gapit yang menggunakan bahasa Jawa dan latar cerita yang meniru lingkungan kehidupan rakyat pinggiran. Pasar Seret.kantring. di antaranya Festival Seni Pertunjukan Rakyat yang diselenggarakan Departemen Penerangan Republik Indonesia (1983). dan Orde Tabung. Di Bandung muncul Teater Bel. Di Tegal lahir teater RSPD. Kontrang. dan Teater Gandrik. Sinden. Meh. Tahun 1980-1990-an situasi politik Indonesia kian seragam melalui pembentukan lembaga-lembaga tunggal di tingkat nasional. Teater Shima. Di Yogyakarta muncul Teater Dynasti. 2. Dewan-dewan Mahasiswa ditiadakan. Menampilkan manusia sebagai gerombolan dan aksi.2. Ditiadakannya kehidupan politik kampus sebagai akibat peristiwa Malari 1974.6 Teater Indonesia Tahun 1980 – 1990-an Teater Gandrik: Orde Tabung.kostum yang meriah dan vokal keras. Salah satu lakonnya berjudul Tuk. Di Jakarta dikenal dengan Festival Teater Jakarta (sebelumnya disebut Festival Teater Remaja).2. Teater Tikar. N.

2. Teater Nol. Gerakan ini terus berkembang sejak tahun 80an sampai saat ini. Teater Kubur. Dengan demikian.7 Teater Kontemporer Indonesia Teater Kontemporer Indonesia mengalami perkembangan yang sangat membanggakan. Teater Tobong. drama tidak pernah luput dari masalah hidup dan kehidupan manusia. Jurusan teater dibuka di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada tahun 1985. Sejak munculnya eksponen 70 dalam seni teater. Ada pula Teater Luka.1999). Konsep dan gaya baru saling bermunculan. Dari Festival Teater Jakarta muncul kelompok teater seperti.Teater Pavita. Semangat kolaboratif yang terkandung dalam seni teater dimanfaatkan secara optimal dengan menggandeng beragam unsur pertunjukan yang lain. wilayah jelajah ekspresi menjadi semakin luas dan kemungkinan bentuk garap semakin banyak. Teater Institut. Teater Ragil. Karenanya. Teater Bandar Jakarta. kemungkinan ekspresi artistik dikembangkan dengan gaya khas masing-masing seniman. Teater Api. Rangkuman Perkembangan teater mulai muncul sejak adanya manusia. Teater Kanvas. Di Medan muncul Teater Que dan di Palembang muncul Teater Potlot. Aktivitas teater terjadi juga di kampus-kampus perguruan tinggi. . Aktivitas teater kampus mampu menghidupkan dan membuka kemungkinan baru gagasan-gagasan artistik. Teater Tetas selain teater Studio Oncor. 2. Teater Sae yang berbeda sikap dalam menghadapi naskah yaitu posisinya sejajar dengan cara-cara pencapaian idiom akting melalui eksplorasi latihan.2. Sanggar Suroboyo. dan Teater Kami yang lahir di luar produk festival (Afrizal Malna. Di Semarang muncul Teater Lingkar. ISI menjadi satu-satunya perguruan tinggi seni yang memiliki program Strata 1 untuk bidang seni teater pada saat itu. Teater Rajawali. Salah satu teater kampus yang menonjol adalah teater Gadjah Mada dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Meksipun seni teater konvensional tidak pernah mati tetapi teater eksperimental terus juga tumbuh.

penonton adalah sekelompok orang yang menyerahkan sebagian dari kemerdekaannya untuk menjadi bagian dari tokoh yang tampil dalam suatu lakon dan menikmatinya. Peristiwa lakon tersebut menuntun seseorang untuk mengikuti laku kejadian mulai dari pemaparan. Dalam lakon akan dijumpai dua hal yang sangat penting. Tidaklah menarik sebuah cerita . sehingga pada puncaknya masuk ke dalam penyelesaian cerita. Konflik dalam lakon merupakan inti cerita. tokoh atau tokoh yang terlibat dalam kejadiankejadian dalam lakon. Tugas Secara Kelompok buatlah kliping gambar-gambar pementasan teater dan berikanlah uraian singkat tentangnya! (hubungkan dengan sejarah perkembangan teater. yaitu pertama. apa yang dialami. Kedua. Penulis kemudian menyusun rangkaian kejadian. Peristiwa atau kejadian dibuat oleh penulis naskah sebagai kerangka besar yang mendasari terjadinya suatu lakon. konflik. lakon Kedua. Lakon ditulis oleh seorang penulis naskah lakon berdasarkan apa yang dilihat. tetapi semakin lama semakin gawat sehingga akhirnya ia sampai ke puncak yang disebut klimaks.Perkembangan Teater Barat dan Timur dapat dikatakan berjalan sejajar dengan perkembangan keberadaban manusia. yaitu pertama. sutradara sebagai pertunjukan di panggung. bisa berwujud sebuah naskah atau skenario tertulis.) BAB II SENI SASTRA DALAM TEATER Teater memiliki sekurang-kurangnya empat unsur penting dalam setiap pementasan. Ketiga. lakon atau cerita yang ditampilkan. semakin lama semakin rumit. Keempat. dan apa yang dibaca atau diceritakan kepadanya oleh orang lain. skenario tak tertulis (dalam teater kerakyatan). konlfik hingga penyelesaian. Penting sekali bahwa dalam menyusun kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa seorang penulis haruslah bersabar untuk melangkah dari satu kejadian ke kejadian lain dalam suatu perkembangan yang logis. pemain adalah orang yang penata membawakan tersebut.

root idea. yaitu konflik dan tokoh yang terlibat dalam kejadian. Seorang penulis terkadang mengemukakan tema dengan jelas tetapi ada juga yang secara tersirat. karena peristiwa yang mengarahkan cerita kepada konflik membutuhkan tokoh sebagai pelaku. Sementara. Pengarang adalah seorang warga masyarakat yang tentunya mempunyai pendapat tentang masalah-masalah politik . tetapi juga menyampaikan suatu pesan tentang persoalan kehidupan manusia. Jadi dalam lakon ada dua hal penting yang diciptakan oleh seorang penulis lakon. goal. Keunggulan dari seorang pengarang ialah.disajikan di atas panggung tanpa adanya konflik. Jalinan cerita menuju konflik dan cara penyelesainnya inilah yang menjadikan lakon menarik. kalau ada anggapan bahwa semakin rumit konflik lakon semakin menarik adalah anggapan yang salah. Tidak ada acuan yang pasti terhadap konflik dalam lakon yang dapat membuat cerita menjadi menarik. Konflik dalam lakon bisa rumit bisa juga sederhana. Gagasan utama atau pesan lakon termaktub dalam konflik yang merupakan pertentangan antara satu pihak terhadap pihak lain mengenai sesuatu hal. Jadi. Pengarang atau penulis lakon menciptakan sebuah lakon bukan hanya sekedar mencipta. Ketika tema tidak terumuskan dengan jelas maka lakon tersebut akan kabur dan tidak jelas apa yang hendak disampaikan. dan bercabang-cabang jika tidak disajikan secara baik justru akan membosankan dan membuat laku lakon menjadi lamban. dan dari lingkungan tersebut dia menyerap segala persoalan yang menjadi ide-ide dalam penulisan lakonnya. Tokoh adalah orang yang menghidupkan kejadian atau peristiwa yang dibuat oleh penulis naskah. 2. driving force dan sebagainya. tema harus dirumuskan dengan jelas. karena tema merupakan sasaran yang hendak dicapai oleh seorang penulis lakon. central idea. berliku. thought. Terkadang konflik yang kecil dan sederhana jika diselesaikan secara cerdas akan membuat penonton takjub. aim. konflik yang berat. Akan tetapi. Pesan itu bisa mengenai kehidupan lahiriah maupun batiniah.1 Tema Tema ada yang menyebutnya sebagai premis. dia mempunyai kepekaan terhadap lingkungan sekelilingnya.

dan sosial yang penting serta mengikuti isu-isu zamannya (Rene Wellek dan Austin Warren, 1989). Ide-ide, pesan atau pandangan terhadap persoalan yang ada dijadikan ide sentral atau tema dalam menulis naskah lakonnya. Tema adalah suatu amanat utama yang disampaikan oleh pengarang atau penulis melalui karangannya (Gorys Keraf, 1994). Tema bisa juga disebut muatan intelektual dalam sebuah permainan, ini mungkin bisa diuraikan sebagai keseluruhan pernyataan dalam sebuah permainan: topik, ide utama atau pesan, mungkin juga sebuah keadaan (Robert Cohen, 1983). Adhy Asmara (1983) menyebut tema sebagai premis yaitu rumusan intisari cerita sebagai landasan ideal dalam menentukan arah tujuan cerita. Dengan demikian bisa ditarik kesimpulan bahwa tema adalah ide dasar, gagasan atau pesan yang ada dalam naskah lakon dan ini menentukan arah jalannya cerita. Tema dalam naskah lakon ada yang secara jelas dikemukakan dan ada yang samar-samar atau tersirat. Tema sebuah lakon bisa tunggal dan bisa juga lebih dari satu. Tema dapat diketahui dengan dua cara : • Apa yang diucapkan tokoh-tokohnya melalui dialog-dialog yang disampaikan. • Apa yang dilakukan tokoh-tokohnya. Dengan berpedoman dua hal tersebut analisis tema lakon dapat dikerjakan. Misalnya, lakon Raja Lear karya William Shakespeare terjemahan Trisno Sumardjo. Dialog yang disampaikan tokoh dapat dijadikan acuan untuk menganalisis tema lakon. Masing-masing tokoh mengucapkan kalimat dialognya. Dari dialog tersebut dapat diketahui perihal atau soalan yang dibahas. Dengan merangkai setiap persoalan melalui dialog para tokohnya maka gambaran tema akan didapatkan. Detil tema selalu dapat ditemukan dari baris-baris kalimat dialog tokoh cerita. Semua analisis lakon dikerjakan dengan mencermati kalimat dialog tersebut serta hubungan antara kalimat satu dengan yang lain. Jika hanya membaca cerita secara keseluruhan tanpa meninjau kalimat dialog dengan teliti maka hasil akhir dari analisis yang dilakukan belum tentu benar. Kadangkadang, dialog kecil memiliki arti yang luas dan

sanggup mempengaruhi tema cerita. Misalnya, dalam kalimat dialog Raja Lear dapat ditarik satu simpulan bahwa meskipun sebagai raja ia disegani oleh anak-anaknya, tetapi karena sikapnya yang keras maka ia juga dibenci. Perhatikan kutipan dialog di bawah ini. LEAR : ………….. kendalikan lidahmu sedikit; nanti kuhambat untungmu…. LEAR : ………………. Sekarang kulempar tiap kewajiban orang tua, tiap pertalian keluarga dan darah; mulai kini sampai selamanya kaulah asing bagiku dan bagi hatiku…………………. KENT : Silakan. Bunuhlah tabib tuan, supaya hama jahat berupah. Batalkan anugerah tuan; kalau tidak, rangkung saya berteriak meyerukan tuanlah lalim……… RAJA TOKOHCIS : Cordelia jelita, ternyata paling kaya meski miskin; terpillih meski, meski dibuang; tercinta meski dihina……………. CORDELIA : Andaikan bukan seorang ayah, namun uban ini sudah menuntut belas-kasih. Ah wajah benginikah dipaksa menempuh pergolakan badai? Dan melawan guntur bercakra garang, petir dahsyat yang pesat,, cepat menyambar-nyabar? Bagai prajurit yang terbuang, berjaga dengan topi tipis ini? Anjing musuhku pun, walau menggigit aku, di malam begitu takkan kuusir untuk dari tempat berdiang………………. Melalui laku atau aksi tokoh dalam lakon yang biasanya diterangkan (dituliskan) dalam arahan lakon gambaran tema semakin jelas. Laku aksi memberikan penegasan kalimat dialog. Dalam lakon Raja Lear, laku tokoh dapat memberikan penjelasan sebagai berikut. • Raja Lear membagi kerajaan pada ketiga anaknya sesuai dengan pujian yang disampaikan anaknya. • Raja Lear murka pada Cordelia karena tidak memujinya. • Raja Lear marah-marah ketika tidak dilayani hidupnya pada anak yang semula disayangi. • Raja Lear marah-marah dan mengusir bawahannya ketika ada yang menentang.

• Anak-anak Raja Lear yang disayangi berubah memusuhi orang tuanya sehingga Raja Lear sakit. Dari kutipan dialog dan laku serta perbuatan tokoh dalam lakon Raja Lear di atas bisa ditarik sebuah kejelasan bahwa Raja Lear adalah orang yang gila hormat, tidak bijaksana, lalim, dan harus dipuji. Atas sikapnya itu Raja Lear menuai hasil, yaitu kehancuran diri dan keluarganya. 2.2 Plot Plot (ada yang menyebutnya sebagai alur) dalam pertunjukan teater mempunyai kedudukan yang sangat penting. Hal ini berhubungan dengan pola pengadeganan dalam permainan teater, dan merupakan dasar struktur irama keseluruhan adegan permainan. atau Plot dapat terus dibagi tanpa berdasarkan babak dan berlangsung

pembagian. Plot merupakan jalannya peristiwa dalam lakon yang terus bergulir hinga lakon tersebut selesai. Jadi plot merupakan susunan peristiwa lakon yang terjadi di atas panggung. Plot menurut Panuti Sudjiman dalam bukunya Kamus Istilah Sastra (1984) memberi batasan adalah jalinan peristiwa di dalam karya sastra (termasuk naskah drama atau lakon) untuk mencapai efek-efek tertentu. Pautannya dapat diwujudkan oleh hubungan temporal (waktu) dan oleh hubungan kausal (sebab-akibat). Plot atau alur adalah rangkaian peristiwa yang direka dan dijalin dengan seksama, yang menggerakkan jalan cerita melalui perumitan (penggawatan atau komplikasi) ke arah klimaks penyelesaian. Menurut J.A. Cuddon dalam Dictionary of Literaray Terms (1977), plot atau alur adalah kontruksi atau bagan atau skema atau pola dari peristiwa-peristiwa dalam lakon, puisi atau prosa dan selanjutnya bentuk peristiwa dan perwatakan itu menyebabkan pembaca atau penonton tegang dan ingin tahu. Plot atau alur menurut Hubert C. Heffner, Samuel Selden dan Hunton D. Sellman dalam Modern Theatre Practice (1963), ialah seluruh persiapan dalam permainan. Jadi plot berfungsi sebagi pengatur seluruh bagian permainan, pengawas utama dimana seorang penulis naskah dapat menentukan bagaimana cara mengatur lima bagian yang lain, yaitu

• Resolusi adalah proses penempatan kembali kepada suasana baru. Plot juga berfungsi sebagai bagian dasar yang membangun dalam sebuah teater dan keseluruhan perintah dari seluruh laku maupun semua bagian dari kenyataan teater serta bagian paling penting dan bagian yang utama dalam drama atau teater. Pada bagian tengah biasanya berisi tentang kejadian-kejadian yang bersangkut paut dengan masalah pokok yang telah disodorkan kepada penonton dan membutuhkan jawaban. waktu kejadiannya. • Klimaks adalah proses identifikasi atau proses pengusiran dari rasa tertekan melalui perbuatan yang mungkin saja sifatnya jahat. bagian tengah. • Krisis adalah penjelasan yang terperinci dari perjuangan karakterkarakter atau satu karakter untuk mengatasi konflik. atau argumentative atau kejenakaan atau melalui cara-cara lain. Bagian akhir berisi tentang satu persatu pertanyaan penonton terjawab atau sebuah lakon telah mencapai klimaks besar.karakter. Bagian ini merupakan kejadian akhir dari lakon dan terkadang memberikan jawaban atas segala persoalan dan konflik-konflik yang terjadi. • Aksi Pendorong adalah saat memperkenalkan sumber konflik di antara karakter-karakter atau di dalam diri seorang karakter.1 Jenis Plot . pelaku-pelakunya. dan spektakel. tema. dan bagaimana peristiwa itu terjadi. bagian awal. Pembagian plot dalam lakon klasik atau konvensional biasanya sudah jelas yaitu. • Eksposisi adalah saat memperkenalkan dan membeberkan materimateri yang relevan atau memberi informasi pada penonton tentang masalah yang dialami atau konflik yang terjadi dalam diri karakterkarakter yang ada di lakon. 2. misalnya tempat lakon tersebut terjadi. musik. Seorang penulis seringkali meletakkan berbagai informasi penting pada bagian awal lakon. dan bagian akhir. diksi. Secara umum pembagian plot terkadang menggunakan tipe sebab akibat yang dibagi dalam lima pembagian sebagai berikut.

Ketika menonton atau melihat atau membaca sebuah lakon fiksi maka emosi kita akan terpengaruh dengan apa yang kita tonton. Emosi ini timbul karena terpengaruh oleh jalinan peristiwaperistiwa dan jalannya cerita yang ditulis oleh penulis. Plot lakon banyak sekali ragamnya tergantung dari penulis lakon mempermainkan emosi kita. terdiri dari alur menanjak atau rising plot. Plot linear adalah alur cerita mulai dari awal sampai akhir cerita bergerak lurus sedangkan linear-circular adalah alur cerita mulai dari awal sampai akhir bergerak lurus secara melingkar sehingga awal dan akhir cerita akan bertemu dalam satu titik. Secara sederhana plot dapat dibagi menjadi dua yaitu simple plot (plot yang sederhana) dan multi plot (plot yang lebih dari satu) 2. Alur ini adalah alur cerita paling umum pada alur lakon. Jalinan peristiwa dan jalannya cerita inilah yang dimaksud dengan plot. alur mundur atau regressive plot. Alur mundur atau regresive plot adalah alur cerita yang dimulai dari inti cerita kemudian dipaparkan bagaimana . dan alur melingkar atau circular plot. Simple plot ini terdiri dari plot linear dan linear-circular.1 Simple Plot Simple plot atau plot lakon yang sederhana adalah lakon yang memiliki satu alur cerita dan satu konflik yang bergerak dari awal sampai akhir. Alur maju atau progresive plot adalah alur cerita yang dimulai dari pemaparan peristiwa lakon sampai menuju inti peristiwa lakon. Alur menanjak atau rising plot adalah alur dengan emosi lakon mulai dari tingkat emosi yang paling rendah menuju tingkat emosi lakon yang paling tinggi. Alur linear ini masih bisa dibagi-bagi lagi sesuai dengan sifat emosi yang terkandung dari plot linear ini. Jalinan jalan cerita dalam lakon bergerak mulai dari awal sampai akhir tanpa ada kilas balik.1. atau baca tersebut. lihat. alur lurus atau straight plot. Alur menurun atau falling plot adalah alur dengan emosi lakon mulai dari tingkat emosi yang paling tinggi menuju tingkat emosi lakon yang paling rendah. alur menurun atau falling plot. alur maju atau progressive plot. Alur ini merupakan kebalikan dari alur menanjak atau rising plot.

Contoh lakon dengan alur episode atau episodic plot adalah lakon Panembahan Reso karya W. 2. Multi plot ini terdiri dari dua tipe yaitu alur episode atau episodic plot dan alur terpusat atau concentric plot.S. Pengungkapan ini lewat jalinan peristiwa yang baik sehingga menciptakan dan mampu menggerakkan alur cerita itu sendiri.2 Multi Plot Multi plot adalah lakon yang memiliki satu alur utama dengan beberapa sub plot yang saling bersambungan. Raja Lear karya William Shakespeare dan lain-lain. Alur episode atau episodic plot adalah plot cerita yang terdiri dari bagian perbagian secara mandiri. Plot-plot yang ada dalam cerita tersebut memiliki permasalah yang harus diselesaikan.2 Anatomi Plot Menurut Rikrik El Saptaria (2006). tokoh. tema. Concentric plot adalah cerita lakon yang memiliki beberapa plot yang berdiri sendiri. Setiap episode dalam lakon tersebut sebenarnya tidak ada hubungan sebab akibat dalam rangkaian cerita. di mana setiap episode memiliki alur cerita sendiri. Tetapi pada akhir cerita alur cerita yang terdiri dari episodeepisode ini akan bertemu. Alur ini merupakan kebalikan dari progressive plot. bagian 5 menit pertama yang sengaja dibuat menarik untuk memikat penikmat . Plot disusun oleh pengarang dengan tujuan untuk mengungkapkan buah pikirannya yang secara khas.sampai terjadi peristiwa tersebut. Rendra. Dengan demikian plot memiliki anatomi atau bagian-bagian yang menyusun plot tersebut yang disebut dengan anatomi plot sebagai berikut. • Gimmick. dimana pada akhir cerita semua tokoh yang terlibat dalam cerita yang terpisah tadi akhirnya menyatu guna menyelesaikan cerita. Alur lurus atau straight plot hampir sama dengan alur maju. plot atau alur cerita merupakan rangkaian peristiwa yang satu dengan yang lain dihubungkan dengan hukum sebab akibat. Contoh lakon dengan alur mundur adalah Opera Primadona karya Nano Riantiarno yang dimainkan oleh Teater Koma. 2.1.

• Fore Shadowing. karena semuanya sudah bisa ditebak oleh penonton. tetapi kilas balik pada film biasanya berupa nukilannukilan gambar. Dalam lakon banyak dijumpai tokoh-tokoh ini. • Suspen. • Flashback. supaya penonton bertanyatanya apa akibat yang ditimbulkan dari peristiwa sebelumnya ke peristiwa selanjutnya. aksi seorang tokoh yang berkata atau bertindak sesuatu. Hal ini akan menyebabkan kualitas pertunjukan dinilai tidak terlalu bagus. kilas balik peristiwa lampau yang dikisahkan kembali pada saat ini. penonton tersebut akan tidak berkurang dan menganggap sesuatu untuk menyuguhkan . Kilas balik biasanya diceritakan • melalui dialog tokoh. dan biasanya tidak disadari oleh tokoh tersebut. Kalau pemeran atau sutradara tidak cermat dalam menganalisisnya maka kemungkinan suspen terlewati dan tidak tergarap dengan baik. pembayangan ke depan yang terjadi ketika tokoh meramalkan atau membayangkan keadaan yang akan datang. • Dramatic Irony. Suspen ini biasanya dibangun melalui dialog-dialog serta laku para tokoh yang ada dalam naskah lakon. berisi dugaan dan prasangka yang dibangun dari rangkaian ketegangan yang mengundang akan pertanyaan dan dan keingintahuan penonton. dan tanpa disadari akan menimpa dirinya sendiri. Dengan menimbulkan pertanyaanpertanyaan ini penonton akan betah mengikuti cerita sampai selesai. Kilas balik ini berfungsi untuk mengingatkan kembali ingatan penonton pada peristiwa yang telah lampau tetapi masih dalam satu rangkaian peristiwa lakon. Kalau cerita itu bisa ditebak oleh penonton maka perhatian pertunjukan dipikirkan. Suspen menumbuhkan memelihara keingintahuan penonton dari awal sampai akhir cerita. Suspen ini biasanya diciptakan dan dijaga oleh penulis lakon dari awal sampai akhir cerita.

aksi atau ucapan tokoh utama yang beritikad tentang sesuatu persoalan yang menimbulkan pertentangan atau konflik antartokoh. pada akhirnya mengarah ke sesuatu yang tidak disangka-sangka sebelumnya.3. di dalam gedung atau di dalam rumah? Jam berapa kira-kira terjadi? Tanggal. karena memang bukan persoalan scenery yang hendak dibahas. • Gestus. Dalam sebuah lakon terkadang dijumpai aksi-aksi yang seperti ini dan akan menimbulkan suatu rasa simpati penonton kepada korbannya. Menurut Aristoteles peristiwa dalam lakon adalah mimesis atau tiruan dari kehidupan manusia keseharian. Pertanyaan untuk setting atau latar cerita untuk adalah kapan dan dimana pasti persitiwa dan terjadi. Peristiwa dalam lakon adalah peristiwa fiktif yang menjadi hasil rekaan penulis lakon. suatu peristiwa yang terjadi diluar dugaan penonton sebelumnya dan memancing perasaan dan pikiran penonton agar menimbulkan dugaan-dugaan yang tidak pasti. 1997). atau sore hari? Jika terjadi dalam ruang lalu di mana letak ruang itu. bulan. atau sudah lain hari? Pertanyaan-pertanyaan seputar waktu dan tempat kejadian ini akan memberikan gambaran peristiwa lakon yang komplit (David Groote. 2. Analisis setting lakon ini merupakan suatu usaha untuk menjawab sebuah pertanyaan apakah peristiwa terjadi di luar ruang atau di dalam ruang? Apakah terjadi pada waktu malam. 2.3 Setting Membicarakan tentang setting dalam mengkaji lakon tidak ada kaitan langsung dengan tata teknik pentas. dan tahun berapa? Apakah waktu kejadiannya berkaitan dengan waktu kejadian peristiwa di adegan lain. Seperti . tempat Pertanyaan tidak serta merta dijawab secara global tetapi harus lebih mendetil mengetahui secara waktu kejadiannya. pagi hari. Namun peristiwa yang diharapkan tersebut.• Surprise.1 Latar Tempat Latar tempat adalah tempat yang menjadi latar peristiwa lakon itu terjadi.

tetapi kadang tidak diberikan oleh penulis lakon. Analisis ini juga sangat penting dilakukan karena berhubungan dengan tata teknik pentas. Dengan menggetahui latar waktu yang terjadi pada maka semua pihak akan bisa mengerjakan lakon tersebut. sore). musim kemarau. interpretasi tempat kejadian peristiwa ini terletak pada keterangan yang diberikan oleh penulis naskah lakon dan dalam imajinasi pembaca. babak atau dalam keseluruhan lakon tersebut. Analisis latar tempat dapat dilakukan dengan mencermati dialog-dialog tokoh yang sedang berlangsung dalam satu adegan. Gambaran tempat peristiwa dalam lakon kadang sudah diberikan oleh penulis lakon. penata artistik akan menata perabot dan mendekorasi pementasan sesuai dengan latar waktu. dan waktu yang menunjukkan suatu zaman atau . Analisis latar waktu yang dilakukan oleh sutradara biasanya berhubungan dengan tata teknik pentas. Misalnya. Analisis ini perlu dilakukan guna memberi suatu gambaran pada penonton tentang tempat peristiwa itu terjadi. waktu yang menunjukkan sebuah musim (musim hujan.3. tempat peristiwa ini harus dikomunikasikan atau diceritakan oleh para pemeran sebagai komunikator kepada penonton. musim dingin dan lain-lain). sedangkan yang dilakukan oleh pemeran biasanya berhubungan dengan akting dan bisnis akting. malam. tetapi banyak latar waktu ini tidak diberikan oleh penulis lakon. Analisis latar waktu perlu dilakukan baik oleh seorang sutradara maupun oleh pemeran. 2. tetapi bisa sebagai bahan dasar dari pertunjukan. Tugas seorang sutradara dan pemeran ketika menghadapi sebuah naskah lakon adalah menginterprestasi latar waktu dalam lakon tersebut. Latar waktu dalam naskah lakon bisa menunjukkan waktu dalam arti yang sebenarnya (siang.diketahui bahwa sifat dari naskah lakon bisa berdiri sendiri sebagai bahan bacaan sastra. Sedangkan sebagai bahan dasar pertunjukan. Sebagai bahan bacaan sastra. adegan. Latar waktu terkadang sudah diberikan`atau sudah diberi rambu-rambu oleh penulis lakon.2 Latar Waktu Latar waktu adalah waktu yang menjadi latar belakang peristiwa. dan babak itu terjadi. pagi.

Suatu misal kita mengidentifisasi satu tokoh. Misalnya. Jika proses identifikasi ini berhasil. atau yang mengakibatkan adegan atau lakon itu terjadi. Misalnya. Lakon-lakon dengan latar peristiwa yang riil juga terjadi pada lakonlakon di Indonesia pada tahun 1950 sampai tahun 1970. Perbedaan-perbedaan tokoh ini diharapkan akan diidentifikasi oleh penonton.3. zaman tokohg dan lain-lain). yaitu seolah-olah terjadi kiamat karena lakon ini dialegorikan sebagai kiamat kecil. Bahkan Lajos Egri berpendapat bahwa berperwatakanlah yang paling utama dalam lakon. Lakon pada waktu itu mengambil latar peristiwa pada Zaman Tokohg Revolusi di Indonesia. maka perasaan penonton akan merasa terwakili oleh perasaan tokoh yang diidentifikasi tersebut. Analisis latar waktu bisa dilakukan dengan mencermati dialog-dialog yang disampaikan oleh tokoh dalam adegan atau babak yang sedang berlangsung. berbarti kita telah mengadopsi pikiran-pikiran dan perasaan tokoh tersebut menjadi perasaan dan pikiran kita.4. Padahal ketidaksamaan watak akan melahirkan pergeseran. Latar peristiwa pada adegan atau lakon adalah peristiwa yang mendahului adegan atau lakon tersebut. Karakterisasi atau perwatakan dalam sebuah lakon memegang tokohan yang sangat penting. Latar peristiwa ini bisa sebagai realita bisa juga fiktif yang menjadi imajinasi penulis lakon. tanpa perwatakan tidak bakal ada plot. Zaman Romantik.abad (Zaman Klasik. Karakterisasi Karakterisasi merupakan usaha untuk membedakan tokoh satu dengan tokoh yang lain. tabrakan . lakon Raja Lear. adegan awal pada lakon 2.3 Latar Peristiwa Latar peristiwa adalah peristiwa yang melatari adegan itu terjadi dan bisa juga yang melatari lakon itu terjadi. Latar peristiwa yang nyata digunakan oleh penulis lakon untuk menggambar peristiwa yang terjadi secara nyata pada waktu itu sebagai dasar dari lakonnya. mungkin saja William Shakespeare terinspirasi oleh bencana yang melanda Inggris pada waktu itu. 2. Tanpa perwatakan tidak akan ada cerita.

Tritagonis . 2. dan cita-cita Raja Lear. Dalam teater.4. tokoh Tumenggung Kent. Adjib Hamzah. Protagonis Protagonis adalah tokoh utama yang merupakan pusat atau sentral dari cerita. Cordelia dalam lakon Raja Lear karya William Shakespeare. 1985). Motivasi-motivasi tokoh inilah yang dapat melahirkan suatu perbuatan tokoh. Contoh tokoh protagonis pada lakon Raja Lear karya William Shakespeare terjemahan Trisno Sumardjo adalah tokoh Raja Lear itu sendiri. Deutragonis Deutragonis adalah tokoh lain yang berada di pihak tokoh protagonis. tokoh dapat dibagi-bagi sesuai dengan motivasi-motivasi yang diberikan oleh penulis lakon. karena dia seringkali menjadi musuh yang menyebabkan konflik itu terjadi. Konflik dapat dikembangkan oleh penulis lakon melalui ucapan dan tingkah laku tokoh. Tokoh antagonis harus memiliki watak yang kuat dan kontradiktif terhadap tokoh protagonis. Persoalan ini bisa dari tokoh lain. Contoh tokoh antagonis pada lakon Raja Lear karya William Shakespeare terjemahan Trisno Sumardjo adalah tokoh Gonerill dan tokoh Regan. Tokoh-tokoh tersebut adalah sebagai berikut. dan pertikaian itu harus berkembang mencapai klimaks. Keberadaan tokoh adalah untuk mengatasi persoalanpersoalan yang muncul ketika mencapai suatu citacita. konflik yang akhirnya melahirkan cerita (A. Tokoh ini ikut mendukung menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh tokoh protaganis. bisa dari alam. Edgar. keinginan. bisa juga karena kekurangan dirinya sendiri. Tokoh protagonis dan antagonis harus memungkinkan menjalin pertikaian. Antagonis Antagonis adalah tokoh lawan. Tokoh ini juga menentukan jalannya cerita. Kedua tokoh inilah yang menentang perkembangan. sebab dengan adanya tokoh maka timbul konflik.kepentingan.1 Jenis-jenis Tokoh Tokoh merupakan sarana utama dalam sebuah lakon. Contoh.

Penulis lakon adalah orang yang memiliki dunia sendiri yaitu dunia fiktif. tokoh Bangsawan pada lakon Raja Lear karya Willliam Sahkespeare.2 Jenis Karakter Karakter adalah jenis tokoh yang akan dimainkan. 2. Contoh. sehingga . dan ketika sudah dewasa maka pribadinya berkembang melalui hubungan dengan lingkungan sosial. jenis karakter dalam teater ada empat macam. Foil Foil adalah tokoh yang tidak secara langsung terlibat dalam konflik yang terjadi tetapi ia diperlukan guna menyelesaikan cerita. teatrikal. Dia adalah pengawal dari Cordelia.Tritagonis adalah tokoh penengah yang bertugas menjadi pendamai atau pengantara protagonis dan antagonis. sedangkan penokohan adalah proses kerja untuk memainkan tokoh yang ada dalam naskah lakon. Menurut Rikrik El Saptaria (2006). Ketika masih kecil dia bereksplorasi dengan dirinya sendiri untuk mengetahui perkembangan dirinya. Curan dalam lakon Raja Lear karya William Shakespeare. round charakter. tokoh Perwira. Utility Utility adalah tokoh pembantu atau sebagai tokoh pelengkap untuk mendukung rangkaian cerita dan kesinambungan dramatik. • Flat Character (perwatakan dasar) Flat character atau karakter datar adalah karakter tokoh yang ditulis oleh penulis lakon secara datar dan biasanya bersifat hitam putih. Contoh. Biasanya dia berpihak pada tokoh antagonis. Contoh: tokoh Badut dalam lakon Raja Lear karya William Shakespeare. Penokohan ini biasanya didahului dengan menganalisis tokoh tersebut sehingga bisa dimainkan. Karakter tokoh dalam lakon mengacu pada pribadi manusia yang berkembang sesuai dengan perkembangan lingkungan. yang merupakan akumulasi dari pengalaman-pengalaman dan interaksi-interaksi yang dilakukannya dan terus berkembang. yaitu flat character. Oswald. dan karikatural. Biasanya tokoh ini mewakili jiwa penulis.4. Jadi perkembangan karakter seharusnya mengacu pada pribadi manusia.

ketika mencipta sebuah karakter dia bebas menentukan suatu perkembangan karakter. dan cenderung menyindir. Si Tua. Karakter-karakter teatrikal jarang dijumpai pada lakon-lakon realis. keadaan jaman dan lain-lain yang tidak bersifat manusiawi tetapi dilakukan oleh manusia. Kawan. Si Gembrot. suasana. antara ketegangan dengan keriangan suasana. • Round Character (perwatakan bulat) Karakter tokoh yang ditulis oleh penulis secara sempurna. C. dan lebih bersifat simbolis. D. • Karikatural Karikatural adalah karakter tokoh yang tidak wajar. karakteristiknya kaya dengan pesan-pesan dramatik. Perkembangan dan perubahan ini mengacu pada perkembangan pribadi orang dalam kehidupan sehari-hari. . bisa juga dengan tingkah laku.. Karakter ini segaja diciptakan oleh penulis lakon sebagai penyeimbang antara kesedihan dan kelucuan. Pemimpin (lakon LOS) dan lain-lain. satiris. Sifat karikatural ini bisa berupa dialog-dialog yang diucapkan oleh karakter tokoh. Karakter ini biasanya terdapat karakter tokoh utama baik tokoh protagonis maupun tokoh antagonis. Perkembangan inilah yang menjadikan karakter ini menarik dan mampu untuk mengerakkan jalan cerita. tetapi diperlukan dalam sebuah lakon. Round karakter adalah karakter tokoh dalam lakon yang mengalami perubahan dan perkembangan baik secara kepribadian maupun status sosialnya. • Teatrikal Teatrikal adalah karakter tokoh yang tidak wajar. Flat character biasanya ada pada karakter tokoh yang tidak terlalu penting atau karakter tokoh pembantu. Karakter ini hanya simbol dari psikologi masyarakat. bahkan perpaduan antara ucapan dengan tingkah laku. seperti tokoh A. tetapi sangat banyak dijumpai pada lakon-lakon klasik dan non realis. unik. Misalnya karakter yang diciptakan oleh Putu Wijaya pada lakonlakonnya yang bergaya post-realistic. Flat character ini ditulis dengan tidak mengalami perkembangan emosi maupun derajat status sosial dalam sebuah lakon.

maka memerlukan peremajaan pemain. Dalam terminologi Yunani sutradara (director) disebut didaskalos yang berarti guru dan pada abad pertengahan di seluruh Eropa istilah yang digunakan untuk seorang sutradara dapat diartikan sebagai master. plot. Seorang bangsawan (duke) dari Saxe-Meiningen yang memimpin sebuah grup teater dan menyelenggarakan pementasan keliling Eropa pada akhir tahun 1870-1880. Dengan banyaknya jumlah pentas yang harus dilakukan. produksi pementasan teater Saxe-Meiningen masih mengutamakan kerja bersama antarpemain yang dengan giat berlatih untuk meningkatkan kemampuan berakting mereka (Robert Cohen. maka kehadiran seorang sutradara yang mampu mengatur dan mengharmonisasikan keseluruhan unsur artistik pementasan dibutuhkan. Tugas Analisislah naskah “Domba-domba Revolusi” karya B. setting. Sejalan dengan kebutuhan akan yang semakin meningkat. Meskipun demikian. Andre Antoine di Tokohcis dengan Teater Libre serta Stansilavsky di Rusia adalah dua sutradara berbakat yang mulai menekankan idealisme dalam setiap . Proses mengajar dijadikan tonggak awal lahirnya “sutradara”. 1994). Pementasan teater muncul dari sekumpulan pemain yang memiliki gagasan untuk mementaskan pementasan sebuah teater cerita. Kemudian mereka berlatih para dan aktor memainkkannya di hadapan penonton. Model penyutradaraan seperti yang dilakukan oleh George II diteruskan pada masa lahir dan berkembangnya gaya realisme. Istilah sutradara seperti yang dipahami dewasa ini baru muncul pada jaman Geroge II.Rangkuman Drama yang merupakan unsur seni sastra dalam teater terbagi atas: tema. dan karakterisasi. Para aktor yang telah memiliki banyak pengalaman mengajarkan pengetahuannya kepada aktor muda. Sularto BAB III DASAR SENI PENYUTRADARAAN DALAM TEATER Pada mulanya pementasan teater tidak mengenal sutradara.

• Sutradara menyukai naskah yang dipilih.produksinya. menentukan bentuk dan gaya pementasan. yaitu menentukan lakon. Max Reinhart mengembangkan penyutradaraan dengan mengorganisasi proses latihan para aktor dalam waktu yang panjang. Oleh karena itu. Nskah tersebut harus memenuhi kreteria yang diinginkan serta sesuai dengan kondisi yang ada di lapangan. Berhasil tidaknya sebuah pertunjukan teater mencapai takaran artistik yang diinginkan sangat tergantung kepiawaian sutradara. Ada beberapa pertimbangan yang dapat dilakukan oleh sutradara dalam memilih naskah. Sutradara bisa memilih lakon yang sudah tersedia (naskah jadi) karya orang lain atau membuat naskah lakon sendiri. seperti tertulis di bawah ini. 3. menentukan pemain. Waluyo.1. Dengan demikian sutradara menjadi salah satu elemen pokok dalam teater modern. Pemilihan Naskah Proses atau tahap pertama yang harus dilakukan oleh sutradara adalah menentukan lakon yang akan dimainkan. Naskah yang tidak dikehendaki akan .1 Naskah Jadi Mementaskan teater dengan naskah yang sudah tersedia memiliki kerumitan tersendiri terutama pada saat hendak memilih naskah yang akan dipentaskan. 3. kerja sutradara dimulai sejak merencanakan sebuah pementasan. Oleh karena kedudukannya yang tinggi. 2001). Gordon Craig merupakan seorang sutradara yang menanamkan gagasannya untuk para aktor sehingga ia menjadikan sutradara sebagai pemegang kendali penuh sebuah pertunjukan teater (Herman J. Setelah itu tugas berikutnya adalah menganalisis lakon. maka seorang sutradara harus mengerti dengan baik hal-hal yang berhubungan dengan pementasan. memahami dan mengatur blocking serta melakukan serangkaian latihan dengan para pemain dan seluruh pekerja artistik hingga karya teater benarbenar siap untuk dipentaskan.1. Jika sutradara memilih naskah yang akan ditampilkan dalam keadaan terpaksa maka bisa dipastikan hasil pementasan menjadi kurang baik.

2 Membuat Naskah Sendiri Membuat naskah lakon sendiri tidak menguntungkan karena akan memperpanjang proses pengerjaan. sutradara harus mampu mengukur kualitas sumber daya pemain yang dimiliki dalam menentukan naskah yang akan dipentaskan. penata artsitik. • Sutradara wajib mempertimbangkan sisi pendanaan secara khusus. maka naskah tersebut bisa dipilih. sutradara harus mampu melakukan adaptasi sehingga pendanaan bisa dikurangi tanpa mengurangi nilai artistik lakon. tetapi semua orang yang terlibat menjadi senang karena dapat mengerjakannya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.membawa pengaruh dan masalah tersendiri bagi sutradara dalam mengerjakannya. Mampu mementaskan sebuah naskah tentunya tidak hanya berkaitan dengan kecakapan sutradara. Sutradara dengan segenap kemampuannya harus mampu meyakinkan pemain dan mengusahakan pertunjukan agar tetap digelar sehingga proses yang telah dilakukan tidak menjadi sia-sia. keseluruhan kerja menjadi tidak optimal. Naskah semacam ini bersifat situasional. sutradara harus mampu membuat naskah yang sesuai dengan kualitas sumber daya yang ada. Jika sutradara merasa mampu mengusahakan pendanaan secara optimal untuk mewujudkan tuntutan artistik lakon. • Sutradara merasa mampu mementaskan naskah yang telah dipilih. naskah yang dipilih memoiliki latar cerita di rumah mewah dengan segala perabot yang indah. Oleh karena itu. • Sutradara mampu menemukan pemain yang tepat. membuat naskah sendiri dapat menjadi pilihan yang tepat. Jika tidak. Akan tetapi berkenaan dengan sumber daya yang dimiliki. Semua sumber daya dimiliki seperti pemain. Untuk itu.Tidak ada gunanya berlatih naskah lakon tertentu dalam waktu lama jika di tengah proses tiba-tiba hal itu terhenti karena alasan tertentu. dan pendanaan menjadi pertimbangan dalam memilih naskah yang akan dipentaskan. • Sutradara mampu tetap mementaskan naskah yang dipilih. Naskah lakon yang baik tidak ada gunanya jika dimainkan oleh aktor yang kurang baik. Beberapa . seperti analisis yang kurang detil. tetapi juga dengan unsur pendukung yang lain. Misalnya. pemilihan pemain yang asal-asalan. Beberapa naskah yang baik terkadang memiliki konsekuensi logis dengan pendanaan.1. 3. Hal ini membawa dampak tersendiri dalam bidang pendanaan.

Misalnya. konflik. yaitu pembuka yang berisi pengantar cerita atau sebab awal. Dengan membuat kerangka cerita maka penulis akan memiliki batasan yang jelas sehingga cerita tidak berteletele. Semakin detil sifat atau karakter protagonis. Persoalan ini kemudian diikembangkan dalam cerita yang hendak dituliskan. Riantiarno (2003). maka tokoh lain baik yang berada di pihak protagonis atau antagonis akan mudah diciptakan. maka semakin jelas pula karakter tokoh antagonis. . Kerangka cerita akan membingkai jalannya cerita dari awal sampai akhir. Kerangka ini membagi jalannya cerita mulai dari pemaparan. Bagian awal adalah bagian pengenalan secara lebih rinci masing-masing tokoh dan titik konflik awal muncul. Pada bagian akhir. maka tokoh protagonis dapat diwujudkan sebagi orang yang rajin. serta jujur. • Menentukan protagonis. yaitu pembukaan.langkah di bawah ini dapat dijadikan acuan untuk menulis naskah lakon. pangkal persoalan yang dibicarakan adalah sikap licik seseorang yang selalu memfitnah orang lain demi kepentingannya sendiri. Dengan adanya sinopsis maka penulisan lakon menjadi terarah dan tidak mengadaada. dan akhir. senang membantu orang lain. William Froug (1993) misalnya. Tidak ada cerita teater tanpa konflik. • Menentukan persoalan. • Menentukan tema. Tema. Oleh karena itupangkal persoalan atau titik awal konflik perlu dibuat dan disesuaikan dengan tema yang dikehendaki. dermawan. • Menentukan kerangka cerita. Gambaran cerita secara global dari awal sampai akhir hendaknya dituliskan. dalam persoalan tentang kelicikan. isi yang berisi pemaparan. Persoalan atau konflik adalah inti daricerita teater. sutradara sekaligus penulis naskah Teater Koma. Dengan menentukan tokoh protagonis secara mendetil. titik balik cerita dimulai dan konflik diselesaikan. Misalnya tema yang dipilih adalah “kebaikan akan mengalahkan kejahatan”. semangat dalam bekerja. Tema adalah gagasan dasar cerita atau pesan yang akan disampaikan oleh pengarang kepada penonton. bagian awal. berkecukupan. Bagian tengah adalah konflik yang meruncing hingga sampai klimaks. akan menuntun laku cerita dari awal sampai akhir. Misalnya dengan tema “kebaikan akan mengalahkan kejahatan”. dan penutup yang merupakan simpulan cerita atau akibat. tengah. Tokoh protagonis adalah tokoh yang membawa laku keseluruhan cerita. • Membuat sinopsis (ringkasan cerita). konflik hingga klimaks. klimaks sampai penyelesaian. maka tokoh lainnya mudah ditemukan. membuat kerangka cerita (skenario) dengan empat bagian. Jika tokoh protagonis dan antagonis sudah ditemukan. Sinopsis digunakan pemandu proses penulisan naskah sehingga alur dan persoalan tidak melebar. menentukan kerangka lakon dalam tiga bagian. Dengan menulis lawan dari sifat protagonis maka karakter antagonis dengan sendirinya terbentuk. Pada bagian pembukaan memaparkan sketsa singkat tokoh-tokoh cerita. maka dalam cerita hal tersebut harus dimunculkan melalui aksi tokoh-tokohnya sehingga penonton dapat menangkap maksud dari cerita bahwa sehebat apapun kejahatan pasti akan dikalahkan oleh kebaikan.

Pesan ini ingin disampaikan oleh pengarang dengan akhir yang tragis dimana tokoh Romeo dan Juliet akhirnya mati bersama. Lakon yang telah ditentukan harus segera dipelajari sehingga gambaran 100% lengkap cerita didapatkan. Selain itu sudut pandang pengarang dalam menyelesaikan konflik dapat menegaskan pesan yang hendak disampaikan. Dalam proses analisis ini. Apa yang hendak disampaikan oleh pengarang melalui naskah lakon disebut pesan. 3. • Karakter Tokoh. Penting mengetahui dasar persoalan (konflik) dalam sebuah lakon karena hal tersebut akan membawa laku aksi para tokohnya.1 Analisis Dasar Analisis dasar adalah telaah unsur-unsur pokok yang membentuk lakon. bahkan ada yang bingung mengakhirinya. Mencari dan mengembangkan gagasan memang tidak mudah. Analisis karakter tokoh sangat penting dan harus dilakukan secara mendetil agar sutradara mendapatkan gambaran watak sejelas-jelasnya. Berhasil atau tidaknya sebuah pertunjukan teater diukur dari sampai tidaknya pesan lakon kepada penonton. Akhir cerita yang mengesankan selalu akan dinanti oleh penonton. sutradara wajib menemukan pesan utama dari lakon yang telah ditentukan. logis. sutradara memepelajari seluruh isi lakon dan menangkap gambaran lengkap lakon seperti apa yang tertulis. menilai. tetapi lebih tidak mudah lagi memindahkan gagasan dalam bentuk tulisan. Dinamika percintaan Romeo dan Juliet yang berakhir dengan kematian inilah yang harus ditekankan oleh sutradara kepada penonton. Merupakan bahan komunikasi utama yang hendak disampaikan kepada penonton. dan pada akhirnya bagaimana konflik itu diselesaikan. Karena tidak banyak arahan dan keterangan yang dituliskan .2 Analisis Lakon Menganalisis lakon adalah salah satu tugas utama sutradara. Dengan analisis yang baik. dan memahami konflik lakon. • Menulis. Oleh karena itu. sutradara akan lebih mudah menerjemahkan kehendak pengarang dalam pertunjukan.• Menentukan cara penyelesaian. Mengakhiri sebuah persoalan yang dimunculkan tidaklah mudah. Dalam beberapa lakon ada cerita yang diakhiri dengan baik tetapi ada yang diakhiri secara tergesa-gesa. gunakan dan manfaatkan waktu sebaik mungkin. • Pesan Lakon. Semua ini akan memberi sudut pandang bagi sutradara dalam melihat. Jadi. dalam tahap ini sutradara hanya membaca kehendak pengarang melalui lakonnya. Romeo and Juliet karya Shakespeare mengandung pesan bahwa seseorang yang telah menemukan cinta sejati tidak takut terhadap risiko apapun termasuk mati. • Konflik dan Penyelesaian. 3. Oleh karena itu. Oleh karena itu tentukan akhir cerita dengan baik. Di bagian mana konflik itu muncul dan bagaimana aksi dan reaksi para tokohnya.2. Unsur-unsur pokok yang harus dianalisis oleh sutradara adalah senagai berikut. dan tidak tergesa-gesa. pada bagian mana konflik itu memuncak. Setelah semua hal disiapkan maka proses berikutnya adalah menulis.

Antigone. Secara teknis hal ini berkaitan dengan sumber daya yang dimiliki. Hal ini berlaku juga untuk latar peristiwa dan waktu. maka sutradara harus menggalinya melalui kalimat-kalimat dialog. atau ciri khas daerah tertentu. Semua informasi dikumpulkan dan diseleksi untuk kemudian diwujudkan dalam pementasan. dapur umum. • Latar. dan karakterisasi. Perjalanan sebuah karakter terkadang tidak mengalami perubahan yang berarti tetapi beberapa tokoh dalam lakon (biasanya protagonis dan antagonis) bisa saja mengalami perubahan. Gambaran tempat kejadian.2 Interpretasi Setelah menganalisis lakon dan mendapatkan informasi lengkap mengenai lakon. Intinya informasi sekecil apapun harus didapatkan. Oleh karena itulah pentas teater dengan lakonlakon yang sudah berusia lama seperti Oedipus. Jika apartemen disimbolkan sebagai pusat kekuasaan maka peristiwa yang terjadi di dalamnya juga harus mengikuti simbolisasi ini sedangkan latar waktunya bisa ditarik ke masa lalu atau masa kini seperti yang dikehendaki oleh sutradara.2. Akan tetapi sangat mungkin seorang sutradara memiliki gagasan astistik tertentu yang akan ditampilkandalam pementasan setelah menganalisa sebuah lakon. museum. ia hanya sekedar melakukan apa yang dikehendaki oleh lakon apa adanya sesuai dengan hasil analisis. atau gedung pertunjukan. artinya. Misalnya. maka sutradara perlu melakukan tafsir atau interpretasi. Seorang sutradara sebetulnya boleh tidak melakukan interpretasi terhadap lakon. Apakah gedung tersebut merupakan gedung pertemuan. Misalnya. Cara menyampaikan pesan antara sutradara satu dengan yang lain bisa berbeda . Ketika adaptasi ini dilakukan maka unsur-unsur lain pun seperti tata rias dan busana akan ikut terkait dan mengalami penyesuaian. Secara artistik. Untuk mewujudkan keadaan peristiwa seperti dikehendaki lakon di atas panggung maka informasi yang jelas mengenai latar cerita harus didapatkan. Misalnya. Di gedung tersebut cerita terjadi di ruang aula. Adaptasi terhadap tempat kejadian peristiwa sering dilakukan oleh sutradara. dewan kota. apartemen mewah disimbolkan sebagai pusat kekuasaan maka tata panggungnya disesuaikan dengan simbolisasi tersebut. peristiwa. 3. dan waktu kejadian harus diungkapkan dengan jelas karena hal ini berkaitan dengan tata artistik.Berdasarkan hasil analisis. Dengan demikian penonton akan mendapatkan gambaran yang jelas latar cerita yang dimainkan. sutradara dapat menafsirkan tempat kejadian secara simbolis. gaya spanyol. tetapi karena ketersediaan sumber daya yang kurang memadahi maka bentuk penampilan apartemen mewah disesuaikan. gambaran tempat kejadian persitiwa adalah di sebuah gedung maka harus dijelaskan apakah terjadi di sebuah gedung megah. pesan. • Latar Cerita. • Pesan. atau di salah satu ruang khusus. Penyesuaian inipun berkaitan langsung dengan latar waktu dan peristiwa.mengenai karakter tokoh dalam sebuah lakon. Romeo and Juliet masih aktual dipentaskan sekarang ini. Oleh karena itu analisis karakter ini harus dilakukan dengan teliti dan hati-hati sehingga setiap perubahan karakter yang dialami oleh tokoh tidak lepas dari pengamatan sutradara. dalam lakon mengehendaki tempat kejadian di sebuah apartemen yang mewah. Hal yang paling menarik mengenai penyampaian pesan kepada penonton adalah caranya. sederhana atau mewah. Proses ini bisa disebut sebagai proses asimilasi (perpaduan) antara gagasan sutradara dan pengarang. teras gedung. Arsitektur gedung itu apakah menggunakan arsitektur kolonial. Proses interpretasi biasanya menyangkut unsur latar. sutradara memberi sentuhan dan atau penyesuaian artistik terhadap lakon yang akan dipentaskan.

Konvensi atau aturan main sebuah pertunjukan diungkapkan dalam poin ini. Dengan demikian pendekatan yang dilakukan tidak salah sasaran. maka metode pemeranan yang dilakukan perlu dituliskan.3 Konsep Pementasan Hasil akhir dari analisis naskah adalah konsep pementasan. sutradara harus menuliskan gambaran (pandangan) tata artistiknya. Untuk menekankan pesan yang dimaksud ada sutradara yang memberi penonjolan pada tata artistik. tata krama. Gerak laku aktor distilisasi atau diperindah. Semuanya memliki keterkaitan. Masing-masing cara penonjolan pesan ini mempengaruhi unsur-unsur lain dalam pementasan. karena menggunakan pendekatan gaya presentasional. pandangan hidup. Hal ini mempengaruhi hasil pemikiran dan cara mengungkapkan hasil pikiran tersebut. Secara umum.meskipun lakon yang dipentaskan sama. Hal ini biasanya berkaitan dengan isu atau topik yang sedang hangat terjadi di masyarakat. Misalnya.Dengan demikian cara pandang sutradara terhadap keseluruhan lakon pun harus diubah atau mengalami penyesuaian. Setiap kelahiran gaya baru memiliki keterkaitan atau perlawanan terhadap gaya tertentu (baca bagian sejarah teater). maka bahasa dialog antaraktor menggunakan bahasa yang puitis. pranata sosial) di luar hal utama yang dipikirkan. gaya berjalan. Untuk itu. Misalnya. sebuah lakon yang tokohtokohnya memiliki latar belakang budaya Eropa hendak diadaptasi ke dalam budaya Indonesia. sutradara harus memahami gaya-gaya pementasan. maka ia bisa memberikan gambaran . Hal ini mempengaruhi bentuk dan gaya penampilan aktor dalam beraksi. misalnya. Dewasa ini hampir tidak bisa ditemukan gaya pementasan murni yang dihasilkan seorang sutradara atau pemikir teater. hal yang paling bisa adalah mendekatkan gaya pementasan dengan gaya tertentu yang sudah ada. yaitu cara berbicara. takaran emosi dan cara berpikir. misalnya warna-warna yang digunakan di atas panggung. Dengan demikian sutradara harus benarbenar memikirkan cara menyampaikan pesan lakon dengan mempertimbangkan unsur-unsur lakon dan sumber daya yang dimiliki. Misalnya. penggunaan bahasa puitis dengan sendirinya membuat aktor harus mau memahami dan melakukan latihan teknik-teknik membaca puisi agar dalam pengucapan dialog tidak seperti percakapan sehari-hari. • Pendekatan pemeranan. Sutradara harus membuat metode tertentu dalam sesi latihan pemeranan untuk mencapai apa yang dinginkan. • Gambaran tata artistik. tetapi juga mental. • Karakterisasi. Seniman teater dunia telah banyak berusaha melahirkan gaya pementasan. • Pendekatan gaya pementasan. tetapi gambaran tata artisitk berguna bagi para desainer untuk mewujudkannya dalam desain. Ada juga sutradara yang menonjolkan laku aksi aktor di atas pentas sehingga adegan dibuat dan dikerjakan secara detil. Tafsir ulang tokoh tidak hanya sekedar mengubah nama dan menyesuaikan bentuk penampilan fisik.Dalam konsep ini sutradara menjelaskan secara lengkap mengenai cara menyampaikan pesan yang berkaitan dengan pendekatan gaya pementasan dan pendekatan pemeranan serta memberikan gambaran global tata artistik. Hal ini sangat berguna bagi aktor. Banyak hal yang harus dilakukan selain mengganti nama dan penampilan fisik. dalam budaya Eropa orang bepikir secara bebas sementara orang Indonesia cenderung mempertimbangkan hal-hali lain (tata krama. Jika sutradara mampu. Cara menyampaikan pesan ini menjadi titik tafsir lakon yang penting karena pesan inilah inti dari keseluruhan lakon.. Aktor boleh berbicara secara langsung kepada penonton. Metode akting berkaitan dengan pencapaian aktor (standar) sesuai dengan pendekatan gaya pementasannya. 3. emosi. Oleh karena itu. Meski tidak secara mendetil. Istilah pendekatan di sini digunakan dalam arti sutradara tidak hanya sekedar melaksanakan sebuah gaya secara wantah (utuh) tetapi ada pengembangan atau penyesuaian di dalamnya. Setelah menetapkan pendekatan gaya. Tafsir ulang terhadap tokoh lakon paling sering dilakukan. dan keseluruhan watak tokoh.

intonasi. maka pemain yang dipilih pun harus memiliki tubuh gemuk. Dalam teater yang menggunakan ekspresi bahasa verbal kejelasan ucapan adalah kunci ketersampaian pesan dialog. Tidak ada gunanya seorang aktor bermain dengan baik jika fisiknya lemah. Biasanya.tata artistik melalui sketsa. Berkaitan langsung dengan penampilan mimik aktor. harus mampu menyajikannya dengan penuh penghayatan. Hal ini juga sama dengan ukuran tubuh.4. Tidak masuk akal jika Bagong tampil dengan tubuh kurus. Hal ini dianggap dapat mampu melahirkan ekspresi wajah yang natural.2 Kecakapan Menentukan pemain berdasar kecapakan biasanya dilakukan melalui audisi. dalam sebuah grup teater sekolah yang pemainnya selalu berganti atau kelompok teater kecil yang membutuhkan banyak pemain lain sutradara harus jeli memilih sesuai kualifikasi yang dinginkan. Grup teater tradisional biasanya memilih pemain sesuai dengan penampilan fisik dengan ciri fisik tokoh lakon. sutradara dapat memberikan penggalan adegan atau dialog karakter untuk diujikan. Untuk menilai kesiapan tubuh pemain.1 Fisik Penampilan fisik seorang pemain dapat dijadikan dasar menentukan tokoh. • Penghayatan. Dengan memberikan teks bacaan tertentu. dalam lakon yang gambaran tokohnya sudah melekat di masyarakat. penentuan pemain berdasar ciri fisik ini menjadi acuan utama. Kemampuan dasar wicara merupakan syarat utama yang lain. janggut. dan pelafalan yang baik. sutradara sudah mengetahui karakter pemainpemainnya (anggota). ukuran tubuh merupakan harga mati bagi sebuah tokoh. calon aktor dapat dinilai kemampuan dasar wicaranya. • Ukuran Tubuh. Calon aktor. dalam wayang wong. Seorang yang memiliki kumis. Misalnya. dalam ketoprak. Oleh karena itu pemain harus memiliki kemampuan wicara yang baik. dalam cerita Kabayan. Ciri fisik dapat pula dijadikan acuan untuk menentukan pemain.4 Memilih Pemain Menentukan pemain yang tepat tidaklah mudah. maka ia cukup menuliskannya. Jika tidak. maka pemain harus memiliki ciri wajah yang tampak tolol.. • Ciri Tertentu. maka latihan katahanan tubuh dapat diujikan.4. Dalam sebuah produksi yang membutuhkan latihan rutin dan intens dalam kurun waktu yang lama ketahanan tubuh yang lemah sangatlah tidak menguntungkan. Untuk menilai hal ini. Misalnya. karena tidak sesuai dengan karakter dan akan menyalahi laku lakon secara keseluruhan. Untuk menguji lebih mendalam sutrdara . memilih pemain biasanya berdasar kecapakan pemain tersebut. Tokoh Werkudara (Bima) harus ditokohkan oleh orang yang bertubuh tinggi besar. sutradara dapat menilai kecakapan pemain melalui portofolio tetapi proses audisi tetap penting untuk menilai kecakapan aktor secara langsung. misalnya dalam wayang orang atau ketoprak. 3. Sutradara akan diprotes oleh penonton jika menampilkan Bima bertubuh kurus dan pendek. 3. Akan tetapi. tetapi ciri wajah pemain harus diusahakan semirip mungkin dengan ciri wajah tokoh dalam lakon. • Ciri Wajah. dalam teater modern. Kesiapan tubuh seorang pemain merupakan faktor utama. Menghayati sebuah tokoh berarti mampu menerjemahkan laku aksi karakter tokoh dalam bahasa verbal dan ekspresi tubuh secara bersamaan. Penilaian yang dapat dilakukan adalah penguasan. Meskipun dalam khasanah teater modern. • Tubuh. tokoh Bagong memiliki ukuran tubuh tambun (gemuk). Dalam sebuah grup atau sanggar. • Wicara. Meskipun kekurangan wajah bisa ditutupi dengan tata rias. misalnya tokoh-tokoh dalam lakon pewayangan. • Tinggi Tubuh. Akan tetapi. seorang yang tinggi tapi bungkuk dianggap tepat memainkan tokoh pendeta. Dalam kasus tertentu. 3. diksi. dan brewok tebal cocok diberi tokoh sebagai warok atau jagoan. Misalnya.

3. lamanya adegan. • Gambaran bentuk latar kejadian dapat ditemukan dalam naskah. Bentuk dan gaya yang dipilih secara serampangan akan mempengaruhi kualitas penampilan. yaitu berdasar naskah lakon dan improvisasi. Lakon telah menyediakan gambaran lengkap laku perisitiwa melalui dialog tokoh-tokohnya. bentuk penyajian. Teater tradisional biasanya memilih imporivisasi karena semua pemain telah memahami dengan baik cerita yang akan dilakonkan dan karakter tokoh yang akan ditokohkan. 3. portofolio sangat penting bagi seorang aktor profesional. Kemampuan lain selain bermain tokoh terkadang dibutuhkan. • Arahan dialog sudah ada. Gambaran ini sangat penting .5.1. teater modern menggunakan naskah lakon sebagai sumber penuturan.1 Berdasar Naskah Lakon Mementaskan teater berdasarkan naskah lakon menjadi ciri umum teater modern. Tugas aktor adalah menghapalkan dialog tersebut dan mengucapkannya dalam pementasan. perpindahan antaradegan. Karena dialog tokoh sudah ditentukan dan tidak boleh ditambah atau dikurangi maka durasi pementasan dapat ditentukan. Pengembangan yang dilakukan hanyalah persoalan sudut pandang. Misalnya. dan gaya penyajian. menyanyi atau bermain musik memiliki nilai lebih. Bahkan dalam produksi teater profesional yang semuanya dirancang dengan baik. Penting bagi sutradara untuk menentukan dengan tepat bentuk dan gaya pementasan. • Durasi waktu dapat ditentukan dengan pasti. • Fokus permasalahan telah ditentukan. • Arahan laku permainan dapat ditemukan dalam naskah.juga dapat memberikan penggalan dialog karakter lain dengan muatan emosi yang berbeda. sutradara mudah dalam membuat perencanaan blocking. Sutradara menjadi mudah menentukan penekanan permasalahan lakon. Untuk itu.5 Menentukan Bentuk dan Gaya Pementasan Bentuk dan gaya pementasan membingkai keseluruhan penampilan pementasan. maka konflik dan penyelesaian lakon pasti. Dari serangkaian latihan yang dikerjakan secara rutin dan kontinyu ditambah dengan unsur artistik dan teknis maka lamanya pertunjukan teater berdasar naskah dapat ditetapkan. Dengan demikian. di antaranya adalah sebagai berikut.Dengan mempelajari naskah. Dalam lakon terkadang arahan emosi berkaitan dengan dialog juga dituliskan sehingga sutrdara lebih mudah dalam memantau emosi tokoh yang ditokohkan aktor. seorang calon aktor yang memiliki kemampuan menari.1 Menurut Penuturan Cerita Ada dua jenis pertunjukan teater menurut penuturan ceritanya. Karena tidak ada impovisasi. Hal ini memiliki kelebihan tersendiri.5. • Konflik dan penyelesaian tidak bekembang. Kehatihatian dalam memilih bentuk dan gaya bukan saja karena tingkat kesulitan tertentu. Meskipun beberapa kelompok teater modern tertentu memperbolehkan improvisasi (biasanya lakon komedi situasi) tetapi sumber utama dialognya diambil dari naskah lakon. Sutradara tidak perlu menambah atau mengurangi dialog yang sudah tertulis dalam lakon kecuali punya keinginan mengadaptasinya. tetapi latar belakang pengetahuan dan kemampuan sutradara sangat menentukan. Catatan prestasi dan kemampuan yang dimiliki hendaknya ditulis dalam portofolio sehingga bisa menjadi pertimbangan sutradara. 3. • Kecakapan lain. tetapi bisa dipilih sebagai seorang penari latar dalam adegan tertentu. Mungkin dalam sebuah produksi ia tidak memenuhi kriteria sebagai pemain utama. Masingmasing memiliki kelebihan dan kekurangan serta membutuhkan kecakapan sutradara dalam bidang tertentu untuk melaksanakannya. Sebaliknya. arahan laku permainan dari awal sampai akhir dapat ditemukan. dan tanda keluar-masuk ilustrasi musik atau pencahayaan ditentukan waktunya sehingga setiap detik sangat berharga dan menentukan berhasil tidaknya pertunjukan tersebut. Di bawah ini akan dibahas bentuk dan gaya pementasan menurut penuturan cerita.

Jika sumber daya manusia (aktor) yang kurang. Misalnya. Beberapa kelebihan pentas teater improvisasi adalah. maka kerja sutradara akan semakin keras. Jika hendak menyesuaikan dengan ketersediaan sumber daya. • Memungkinkan percampuran bentuk gaya. • Cerita bisa disesuaikan dengan sumber daya yang dimiliki. Pencampuran gaya ini dimaksudkan untuk memenuhi selera penonton. Aktor tidak memiliki kebebasan penuh selain menerjemahkan konsep artistik sutradara. Kalaupun hendak melakukan adaptasi atau penyesuaian. Dengan berkembangnya cerita maka aktor mendapatkan arahan laku lain yang bisa dicobakan. Oleh karena tidak ada petunjuk arah laku yang jelas. Dengan ditentukannya arah laku maka kreativitas aktor di atas panggung menjadi terbatas. maka cerita penuh aksi dapat dijadikan pilihan. Dalam teater tradisional. Pesan ini dengan luwes dapat diselipkan dalam lakon. Jika memaksakan kehendak harus sesuai dengan gagasan lakon. 3. dan penyelesaian konflik. Sutradara hanya menyediakan gambaran cerita selanjutnya aktor yang mengembangkannya dalam permainan.bagi sutradara untuk mewujudkannya di atas pentas. maka sutradara memerlukan waktu ekstra untuk membimbing para aktornya. sutradara harus mengikutinya. dalam pertunjukan ketoprak sebuah adegan dilakukan mengikuti kaidah gaya presentasional (adegan Istana).2 Improvisasi Mementaskan teater secara improvisasi memiliki keunikan tersendiri. tetapi jika jumlah pemain yang memiliki kemampuan laga banyak. maka adaptasi lakon harus dilakukan. ia harus mendapatkan ijin dari penulis naskah lakon. Sutradara dapat mengembangkan cerita dengan bebas dan aktor dapat mengembangkan kemungkinan gayapermainan dengan bebas pula.1. Terkadang untuk menyampaikan pesan titipan tersebut konflik minor baru dimunculkan. Setelah konflik ini diselesaikan dengan cara yang khas dan lucu maka cerita kembali ke konflik semula. • Tidak memungkinkan pengembangan cerita. Hal ini perlu dilakukan. Kemampuan sumber daya ini bisa dijadikan strategi untuk membuat pertunjukan menarik dan . • Kreativitas aktor terbatas. • Jika sumber daya yang dimiliki tidak sesuai dengan kehendak lakon harus dilakukan adaptasi. Salah satu kelebihan utama teater improvisasi adalah cerita dan pemeran dapat dibuat berdasarkan sumber daya yang dimiliki. Terkadang hal ini dapat menimbulkan efek artistik yang alami dan menarik. konflik dan mengubah cara penyelesaian. • Kreativitas sutradara dan aktor dapat dikembangkan seoptimal mungkin. Jika ia tetap melakukannya. mereka biasanya menerima pesan tertentu dari penyelenggara. • Konflik dan sudut pandang penyelesaian bisa dikembangkan.Sifat teater improvisasi yang terbuka memungkinkan pengembangan konflik dan penyelesaian. Jika naskah lakon tersebut telah dipublikasikan dalam bentuk buku dan memiliki hak cipta maka sutradara bisa dituntut di muka hukum. Setuju atau tidak setuju terhadap cerita. pementasan teater berdasar naskah lakon juga memiliki kekurangan dan problem tersendiri. • Arahan laku terbuka. maka aktor dapat mengembangkannya. Tergantung dari kekurangan sumber daya yang dimiliki. tetapi di adegan lain menggunakan gaya realis (adegan dagelan). sutradara telah mendapatkan gambarannya. Jika banyak pemain yang bisa melucu maka cerita komedi akan efektif. tetapi karya teater menjadi karya sutradara. Cerita yang telah dituliskan oleh pengarang harus ditaati. Di samping kelebihan tersebut di atas. konflik. Dalam proses latihan terkadang sutradara mendapat inspirasi dari laku aksi pemain demikian pula sebaliknya. Jika sumber dana yang kurang maka tim poruduksi harus berusaha keras untuk memenuhi tuntutan tersebut. Sutradara perlu meluangkan waktu untuk melakukannya.5. Dalam teater improvisasi gaya pementasan juga terbuka. Jika sutradara hendak mengembangkan cerita. maka sutradara telah melanggar kode etik dan hak karya artistik. Meskipun secara artistik tidak masalah.

Semua tergantung dari improvisasi aktor di atas pentas. • Memahami komposisi dan koreografi. Jika tidak. Oleh karena itu.5. • Kualitas dialog tidak dapat distandarkan. maka durasi pementasan bisa berubah-ubah. harus mempertimbangkan makna pesan. dan terutama musik ilustrasinya. Penataan gerak tidak bisa dikerjakan dengan serampangan. maka sutradara wajib mempelajari dan memahami langkah-langkah dalam melaksanakannya. • Improvisasi dialog tidak berimbang. jika sutradara tidak jeli memahami hal ini. Untuk itu. meskipun improvisasi.2. • Kemungkinan aktor melakukan kesalahan lebih besar. Jika pementasan sudah berjalan. Karena tidak ada arahan dialog yang baku. aktor bisa mengembangkan cerita dan gaya permainan di atas pentas dan sutradara tidak bisa lagi mengarahkan secara langung. tetapi bagi aktor yang kualitas sastranya pas-pasan hal ini menjadi masalah besar. Aktor mengambil tokoh penuh. Jika dalam teater berbasis naskah. Sutradara tidak bisa lagi mengendalikan jalannya pertunjukan. kemampuan setiap aktor pasti tidak sama. maka aktor lawan mainnya harus bereaksi. • Durasi waktu tidak tertentu. Akibatnya. Sutrdara harus mampu mengeksplorasi dan menciptakan gerak sesuai dengan makna pesan yang hendak disampaikan. Sifat akting adalah aksi dan reaksi. maka akan membosankan. dalam adegan tersebut aktor yang satu terlalu aktif dan yang lain pasif. Pesan yang tidak disampaikan secara verbal membutuhkan keahlian tersendiri untuk mengelolanya. Bagi aktor yang memiliki kemampuan sastra memadai tidak jadi masalah. maka panggung sepenuhnya adalah milik aktor. 3. Di bawah ini beberapa langkah yang bisa diambil oleh sutradara dalam menggarap teater gerak • Sutradara mampu mengeksplorasi dan menciptakan gerak. Di balik semua kelebihan di atas. Kekurangan dari pemotongan adegan ini adalah jika inti dialog (persoalan) belum sempat terucapkan maka inti dialog harus diucapkan pada adegan berikutnya. Sutradara bisa memotong sebuah adegan yang berjalan cukup lama dengan membunyikan tanda agar musik dimainkan dan adegan segera diselesaikan. maka maknanya akan • kabur.2 Menurut Bentuk Penyajian Banyaknya pilihan bentuk penyajian pementasan teater membuat sutradara harus jeli dalam menentukannya. bisa jadi ia memasangkan aktor yang memilliki kemampuan tak berimbang dalam improvisasi. suasana. latihan adegan tetap harus sering dilakukan. Jika tidak. sutradara akan kerepotan sendiri. maka teori komposisi dan koreografi dasar wajib dimiliki oleh sutradara. Di samping itu. Jika hal ini terjadi cukup lama.5.memiliki ciri khas tertentu. maka kualitas dialog tidak bisa distandarkan. lakon sebagai pengendali cerita maka dalam teater imrpovisasi aktor harus mampu mengendalikan jalannya cerita.1 Teater Gerak Teater gerak lebih banyak membutuhkan ekspresi gerak tubuh dan mimik muka daripada wicara. teater improvisasi juga memiliki kekurangan yang patut diperhatikan oleh sutradara. Oleh karena cerita bisa dikembangkan. Karena sifatnya yang serba terbuka. Karena arahan laku yang terbuka maka reaksi ucapan sering dilakukan spontan dan belum tentu benar. • Sutradara tidak bisa sepenuhnya mengendalikan jalannya pementasan. Simbol dan makna yang disampaikan melalui gerak harus dikerjakan dengan teliti. Oleh karena setiap bentuk penyajian memiliki kekhasan dan membutuhkan prasyarat tertentu yang harus dipenuhi. Karena bekerja dengan gerak. 3. kesalahan ucap atau penyampaian informasi tertentu bisa saja salah karena memang tidak dicatat dan hanya diingat garis besarnya saja. . Dalam sebuah grup teater. Jika seorang aktor beraksi.

Sutradara harus bisa memainkan boneka tersebut. dan perbedaannya harus dimengerti oleh sutradara. tetapi juga mengatur permainan boneka. • Mewujudkan ekspresi melalui mimik para aktor. Jumlah pemain yang banyak menimbulkan persoalan tersendiri. Karena tokoh diperagakan oleh boneka.2. Jika lakon yang dimainkan membutuhkan banyak tokoh. Banyak jenis boneka dan masing-masing membutuhkan teknik khusus dalam memperagakannya. maka banyaknya jumlah pemain justru akan memenuhi panggung dan membuat suasana menjadi sesak. Meskipun tidak bisa memainkan musik. Jumlah pemain bisa disiasati dengan menambah perbendaharaan gerak. • Mampu memainkan boneka dengan baik. . Kapan musik mengikuti gerak pemain. Karakter suara harus bisa tampil secara konsisten dari awal hingga akhir pertunjukan. Oleh karena itu.Untuk mendukung rangkaian gerak yang telah diciptakan. 3. kapan musik hadir sebagai latar suasana. Biasanya seorang pemain boneka bisa membuat beberapa karakter suara yang berbeda. Boneka wayang golek memiliki teknik permainan yang berbeda dengan boneka marionette yang dimainkan dengan tali. kapan pemain harus menyesuaikan dengan alunan musik. • Jika pemain boneka banyak maka harus mampu mengatur adegan agar pergerakan boneka tidak saling mengganggu. terutama menyangkut komposisi. Ekspresi selalu menyangkut penghayatan dan konsentrasi. maka karakter boneka harus benarbenar melekat sehingga pengendali boneka seolah-olah bisa memberikan nafas hidup di dalamnya. Boneka dua dimensi seperti wayang kulit memiliki teknik memainkan berbeda dengan boneka tiga dimensi seperti wayang golek. Meskipun rangkaian gerak yang dihasilkan sangat indah. Selain itu. sutradara teater gerak harus mengerti kaidah musik ilustrasi. Tempat pertunjukan teater boneka yang terbatas harus disesuaikan dengan jumlah boneka yang tampil. maka pengaturan adegan harus dikerjakan dengan teliti. maka dianjurkan untuk mengkreasi gerak sederhana yang mudah dilakukan. • Mewujudkan bahasa dalam simbol gerak. • Mampu mengisi suara sesuai dengan karakter boneka. Menempatkan pemain dalam posisi dan gerak yang tepat akan membuat pertunjukan semakin menarik. • Jika pemain dalam jumlah banyak. Apalagi jika sudah menyangkut makna. Mengisi suara sesuai karakter boneka menjadi prasyarat utama. maka pengaturan blocking harus lebih teliti. pengaturan pemain perlu dilakukan. Jika gerak terlalu sulit. Oleh karena keterbatasan bahasa verbal dalam pertunjukan teater gerak. tetapi jika komposisi (tata letak) pemainnya tidak berubah akan melahirkan kejenuhan. Di bawah ini beberapa langkah yang bisa dikerjakan oleh sutradara yang hendak mementaskan teater boneka. • Jika pemain sedikit maka motif gerak harus lebih variatif. seorang pengendali biasanya hanya bisa mengendalikan maksimal dua boneka. maka penampilan boneka yang terlalu banyak juga akan merepotkan para pengendalinya. Ekspresi emosi atau karakter tokoh harus bisa diwujudkan melalui mimik para aktor. Jika tidak pintar mengelola. tetapi memberikan ekspresi hidup adalah hal yang lain. Kewajiban sutradara tidak hanya mengatur pemain manusia. Boneka yang dimainkan dengan hidup akan menarik dan tampak nyata. Memainkan boneka bisa saja dipelajari.5. maka ekspresi mimik menjadi sangat penting. maka irama rampak gerak yang diharapkan bisa kacau. • Mengerti musik ilustrasi. • Mampu menghidupkan ekspresi boneka yang dimainkan. Motif gerak yang kaya akan membuat tampilan menjadi variatif dan menyegarkan. Jika jumlah pemain banyak dan harus bergerak secara serempak. sutradara harus bisa mewujudkan bahasa verbal dalam simbol gerak.2 Teater Boneka Teater boneka memiliki karakter yang khas tergantung jenis boneka yang dimainkan. Mengubah bahasa dalam simbol gerak tidaklah mudah.

Angka tertinggi dari deret tegangan yang harus dicapai oleh aktor adalah 8 atau 9. • Mampu menghadirkan laku cerita seperti sebuah kenyataan hidup. Demikian pula dengan cerita suka-ria. Banyak sutradara yang mengadakan semacam pemusatan latihan dalam kurun waktu yang cukup lama dengan tujuan agar para aktornya berada dalam suasana lakon yang akan dipentaskan. Jika tidak ada kerjasama yang baik antarpemain (pengendali boneka). tidak dibuat-buat. Oleh karena tuntutan pertunjukan teater dramatik yang mensyaratkan laku aksi seperti kisah nyata. bijaksanalah dalam menentukan tegangan dramatik adegan dan buatlah klimaks yang mengesankan dan penyelesaian yang dramatis.3 Teater Dramatik Mementaskan teater dramatik membutuhkan kerja keras sutradara terutama terkait dengan akting pemeran. Jika pada bagian awal konflik tegangan terlalu tinggi. Untuk mencapai hasil maksimal maka kejelian sutradara dalam mengamati dan . semua harus tampak natural. Hal yang paling sulit dilakukan oleh sutradara adalah membongkar kejiwaan karakter tokoh dan mewujudkannya dalam laku aktor di ataspentas. tetapi juga menyangkut hal-hal teknis.• Jika pemain sedikit harus memiliki kemampuan mengisi suara dengan karakter yang berbeda. pengaturan adegan boneka disesuaikan dengan kemampuan pengendali. maka aktor akan kesulitan meninggikan tegangan pada saat klimaks. menghayati dan memerankan karakter dengan baik. maka sutradara harus benar-benar jeli dalam menilai setiap aksi para aktor. • Memahami sisi kejiwaan karakter tokoh. Di sinilah letak kesulitannya. Hasil akhirnya adalah anti klimaks di mana pada adegan yang seharusnya memiliki tensi tinggi justru melemah karena energi para aktornya telah habis. sehingga ketika dalam adegan tertentu membutuhkan tegangan yang lebih aktor masih bisa mengejarnya. 3. maka sutradara harus menetapkan tegangan optimal dan minimal. maka penonton harus dibawa dalam suasana yang suka-ria. Jumlah pengendali boneka yang sedikit tidak masalah asal setiap orang mampu menciptakan beberapa karakter suara.5. sutradara harus dapat menentukan metode yang tepat agar para aktornya dapat memahami. Keluar masuknya boneka di atas pentas berkaitan langsung dengan pengendali bonekanya. Sutradara harus memahami bobot tegangan (tensi) dramatik dalam setiap adegan yang ada pada lakon. • Memahami tensi dramatik (dinamika lakon). Intinya. Langkah pamungkas yang dapat dijadikan patokan adalah menghadirkan pentas seperti sebuah kenyataan hidup. Oleh karena itu. • Membuat penonton terkesima dengan pertunjukan tidaklah mudah. Demikian juga dengan suasana kejadian. Laku lakon dari awal sampai akhir mengalami dinamika atau ketegangan yang turun naik. Jika demikian. Berkaitan dengan karakter tokoh.2. maka pergantian adegan bisa semrawut sehingga para pemain kewalahan. Untuk menghindari hal tersebut sutradara harus benar-benar teliti dalam mengukur tegangan dramatik adegan per adegan dalam lakon. Yang terpenting dan perlu dicatat adalah setiap boneka mempunyai karakter suaranya sendiri. aktor diharuskan berakting tetapi seolah-olah ia tidak berakting melainkan melakukan kenyataan hidup. • Mampu membangun kerjasama antarpemain boneka. Dalam teater dramatik. Beberapa langkah yang dapat dikerjakan oleh sutradara dalam menggarap teater dramatik adalah sebagai berikut. jika melakonkan cerita yang sedih ukuran keberhasilannya adalah membuat penonton ikut terhanyut sedih. Jika dianalogikan dengan nilai 1 sampai dengan 10. maka efek dramatik yang diharapkan dari aksi aktor menjadi gagal. Sisi kejiwaan yang menyangkut perasaan karakter tokoh harus dapat ditampilkan senatural mungkin sehingga penonton menganggap hal itu benar-benar nyata terjadi. • Mampu meningkatkan kualitas pemeranan aktor untuk menghayati tokoh secara optimal. Jika sutradara tidak memahami kejiwaan • karakter tokoh dengan baik maka penilaiannya terhadap kualitas penghayatan aktor pun kurang baik. Dalam teater boneka kerjasama antarpemain tidak hanya menyangkut emosi.

Jika blocking dibuat terlalu rumit. Jika karya drama musikal tersebut berawal dari karya musik murni (musik yang bercerita) seperti The Cats karya Andrew Lloyd Webber. Ketepatan nada dalam nyanyian serta ekspresi wajah ketika menyanyi juga tidak boleh luput dari pengamatan. Lagu dan nyanyian harus bisa ditampilkan secara baik dan harmonis. Banyak penyanyi yang memiliki suara baik tetapi ekspresinya datar. • Mengerti lagu dan nyanyian. Teater dramatik adalah teater yang mencoba meniru peristiwa kehidupan secara total dan sempurna.menangani keseluruhan unsur pertunjukan sangat dibutuhkan. Bukan hanya akting tetapi juga blocking. sehingga lalulintas aktor di atas panggung berjalan dengan lancar. Sutradara tidak harus bisa memainkan musik. komposisi. Memilih pelaku yang tepat dan membuat komposisi atau koreografi berdasar karya musik yang ada. Meskipun sutradara bekerja dengan seorang koreografer. 3. • Mampu membuat gerak dan ekspresi berdasar karya musik. Koreografer bisa saja mencipta gerak. Secara mendasar blocking adalah gerakan fisik atau proses penataan (pembentukan) sikap tubuh seluruh aktor di atas panggung. Tokohan musik sangat doniman dalam drama musikal bahkan musik bisa hadir secara mandiri untuk menceritakan sesuatu. maka perpindahan . tetapi memahami karya musik merupakan keharusan dalam drama musikal. maka sutradara harus benar-benar piawai dalam mengolah visualisasinya di atas pentas. dan ilustrasi suasana kejadian. tetapi pada akhirnya sutradara yang memutuskan. Kepiawaian sutradara dalam menentukan kegunaan karya musik yang satu dengan yang lain benarbenar dibutuhkan. Sutradara harus mampu memecahkan masalah dasar tersebut. dan musikal harus dirangkai secara harmonis untuk mencapai hasil maksimal. Ekspresi cerita melalui nada-nada musik harus benar-benar bisa divisualisasikan dengan tepat. Blocking Sutradara diwajibkan memahami cara mengatur pemain di atas pentas. Dalam hal ini musik bertindak sebagai pengiring.5. • Mengerti karya musik dramatik. Beberapa hal yang perlu diperhatikan sutradara dalam drama musikal adalah sebagai berikut. gerak. Dituntut kepiawaian sutradara dalam memilih dan merangkai motif gerak. Blocking dapat diartikan sebagai aturan berpindah tempat dari titik (area) satu ke titik (area) yang lainnya bagi aktor di atas panggung. Kejanggalan-kejanggalan kecil yang dirasa kurang masuk akal oleh penonton akan mengurangi kualitas dramatika lakon yang dihadirkan. hindarilah kesalahan atau hal yang tidak lumrah dan berada di luar jangkauan nalar penonton. • Mampu membuat gerak. Pada adegan lain. Makna cerita sepenuhnya dituangkan dalam wujud gerak.4 Drama Musikal Kemampuan multi harus dimiliki oleh seorang sutradara jika hendak mementaskan drama musikal. 3. • demikian pula sebaliknya. Bahasa ungkap yang beragam antara bahasa verbal. pengiring gerak. maka perlu diperhatikan agar blocking yang dibuat tidak terlalu rumit.6. lagu. Artinya. maka sutradara harus mampu menciptkan koreografinya. dan koreografi. Dalam satu adegan saat cerita diungkapkan melalui gerak. Jadi. Pada adegan dimana musik bercerita secara mandiri maka sutradara harus mampu memvisualisasikan cerita tersebut di • atas pentas. Tokohan dialog verbal yang digubah dalam bentuk lagu dan diucapkan melalui nyanyian adalah satu hal yang membutuhkan perhatian tersendiri. musik itu sendiri sudah bercerita sehingga pemain atau penari yang berada di atas panggung hanyalah pelengkap gambaran peristiwa. tetapi makna dan atau simbolisasi cerita harus benar-benar bisa diwujudkan dalam gerak tarian yang dilakukan. Untuk mendapatkan hasil yang baik. tokoh musik bisa menjadi pengiring lagu yang bercerita.2.

sedangkan bawah adalah jarak terdekat dengan penonton.dari satu aksi menuju aksi yang lain menjadi kabur. bawah kanan. maka luas masing-masing area akan terlalu sempit sehingga tidak memungkinkan sebuah pergerakan yang leluasa baik untuk pemain maupun perabot. tengah kiri. kanan. dan atas kiri. C = Tengah. dan atas kiri. Yang terpenting dalam hal ini adalah fokus atau penekanan bagian yang akan ditampilkan. bawah kanan. bawah kiri. Panggung pertunjukan secara kompleks dibagi dalam lima belas area. yaitu tengah. kiri. sedangkan kanan adalah posisi kanan arah hadap aktor atau sisi kiri penonton. Di samping itu. bawah tengah. atas kiri tengah. atas tengah. DR = Bawah Kanan. atas kanan. atas tengah. Letak kanan dan kiri atau atas dan bawah ditentukan berdasar pada arah hadap aktor ke penonton. bawah kiri. • Menerjemahkan naskah lakon ke dalam sikap tubuh aktor sehingga penonton dapat melihat dan mengerti. 3. yaitu tengah. tengah kiri. Fungsi blocking secara mendasar adalah sebagai berikut.6. Panggung yang tidak terlalu luas jika dibagi menjadi lima belas area. perlu diketahui terlebih dahulu pembagian area panggung. Atas adalah jarak terjauh dari penonton. tengah kanan. atas kanan. . atas kanan tengah. Pembagian sembilan area juga memudahkan sutradara dalam memberikan arah gerak kepada para aktornya. kalimat yang diucapkan oleh aktor menjadi lebih mudah dipahami oleh penonton. Dengan blocking yang tepat. • Memberikan pondasi yang praktis bagi aktor untuk membangun karakter dalam pertunjukan. Pembagian panggung dalam lima belas area ini biasanya digunakan untuk panggung yang berukuran besar. UL = Atas Kiri.52 Pembagian sembilan area panggung UR = Atas Kanan. Kanan adalah kanan pemain dan bukan kanan penonton dan kiri adalah kiri pemain. bawah kanan tengah. • Menciptakan lukisan panggung yang baik. tengah kanan. bawah kiri tengah. DL = Bawah Kiri Untuk membuat atau merencanakan blocking bagi para pemain. Secara sederhana dan umum panggung dibagi sembilan area. blocking dapat mempertegas isi kalimat tersebut. maka karakter tokoh yang dimainkan oleh para aktor akan tampak lebih hidup. bawah tengah. DC = Bawah Tengah. Jika blocking dikerjakan dengan baik. UC = Atas Tengah.1 Pembagian Area Panggung UR UC UL RC C LC DR DC DL Gb. LC = Tengah Kiri. RC = Tengah Kanan.

2.1 Simetris Komposisi simetris adalah komposisi yang membagi pemain dalam dua bagian dan menempatkan bagian-bagian tersebut dalam posisi yang benar-benar sama dan seimbang. Setiap aktivitas. Hal ini menjadikan gerak pemain kurang terlihat dengan jelas. Usahakan pemain menghadap diagonal (kurang lebih 45 derajat) ke arah penonton. 3.3.6. perpindahan pemain serta perubahan posisi pemain dapat disebut blocking. 3. Jika salah satu ruang dibiarkan kosong sementara ruang yang lain terisi penuh.2 Asimetris Komposisi asimetris tidak membagi pemain dalam dua bagian yang sama persis. • Kurangilah menempatkan pemain dalam posisi menghadap lurus ke arah penonton atau menyamping penuh.6. maka kaki yang jauh akan tertutup dan wajah pemain secara otomatis akan menjauh dari mata penonton. Ada dua ragam komposisi pemain. arah laku. karakter. Sekilas komposisi mirip dengan blocking.6.3 Keseimbangan Dalam menata komposisi pemain di atas pentas hal yang paling penting untuk diperhatikan adalah keseimbangan. Bedanya. 3. maka awali dan akhiri langkah tersebut dengan kaki panggung atas (yang jauh dari mata penonton). sedangkan menyamping penuh akan menyembunyikan bagian tubuh yang lain. Oleh karena itu. Jika digambarkan komposisi ini mirip cermin. hal yang paling utama untuk diperhatikan sutradara adalah perhatian penonton.2. Dengan menghadap secara diagonal. prinsip-prinsip dasar di bawah ini dapat digunakan sebagai petunjuk dalam menempatkan posisi dan mengatur pose pemain. maka dimensi dan keutuhan tubuh pemain akan dilihat dengan jelas oleh mata penonton. lebih mengatur posisi. maka penonton akan menjadi jenuh.2. Menghadap lurus ke arah penonton akan memberikan efek datar dan kurang memberikan dimensi kepada pemain. • Gunakan lengan atau tangan panggung atas (yang jauh dari mata penonton) untuk menunjuk ke .3 Fokus Dalam mengatur blocking. Bagian yang satu merupakan cerminan bagian yang lain. pose. perubahan ekspresi dan aksi di atas pentas harus dapat ditangkap mata penonton dengan jelas.3. Hal ini diperlukan untuk memenuhi ruang dan menghindari komposisi aktor yang berat sebelah. blocking memiliki arti yang lebih luas karena setiap gerak. 3. maka hal ini akan menimbulkan pemandangan yang kurang menarik dan jika hal ini berlangsung lama. Jika melangkah dengan kaki panggung bawah (yang dekat dari mata penonton). Keseimbangan adalah pengaturan atau pengelompokan aktor di atas pentas yang ditata sedemikian rupa sehingga tidak menghasilkan ketimpangan. Di bawah ini adalah contoh komposisi simetris.6. Pengaturan posisi pemain seperti ini dilakukan agar semua pemain di atas pentas dapat dilihat dengan jelas oleh penonton. pengaturan blocking harus mempertimbangkan pusat perhatian (fokus) penonton.2 Komposisi Komposisi dapat diartikan sebagai pengaturan atau penyusunan pemain di atas pentas. tetapi membagi pemain dalam dua bagian atau lebih dengan tujuan memberi penonjolan (penekanan) bagian tertentu. Sedangkan komposisi.1 Prinsip Dasar Pada dasarnya fokus adalah membuat pemain menjadi terlihat jelas oleh mata penonton. 3. Hal ini dapat dikerjakan dengan menempatkan pemain dalam posisi dan situasi tertentu sehingga ia lebih menonjol atau lebih kuat dari yang lainnya. • Jika pemain hendak melangkah. dan tinggirendah pemain dalam keadaan diam (statis). yaitu komposisi simetris dan komposisi asimetris yang ditata dengan mempertimbangkan keseimbangan.6.6. Oleh karena itu.

latihan inti. Penghitungan dilakukan selama enam detik dan hasilnya dikalikan sepuluh.1. maka gerakan lengan dan tangan akan menutupi bagian tubuh lain. Latihanlatihan olah tubuh dapat dilakukan dengan tahap-tahap sebagai berikut. yaitu serial pendek gerakan tubuh untuk mengembalikan kesegaran tubuh setelah menjalani latihan inti.1 Persiapan Sebelum melakukan latihan harus memperhatikan denyut nadi.arah panggung atas dan gunakan lengan atau tangan panggung bawah (yang dekat dengan mata penonton) untuk menunjuk ke panggung bawah. Jika yang dilakukan sebaliknya. Jika tangan yang digunakan adalah tangan yang tidak menganggu pandangan penonton. usahakan untuk berbicara kepada penonton atau kepada aktor lain yang berada di atas panggung. maka gerak laku aktor dalam menggunakan telepon akan kelihatan. Mengetahui denyut nadi sebelum latihan fisik dianjurkan karena berhubungan dengan kerja jantung. • Jangan pernah memegang benda atau piranti tangan di depan wajah ketika sedang berbicara. Hal ini mempertegas laku aksi yang sedang dikerjakan. Membagi arah pandangan ini sangat penting untuk menegaskan dan memberi kejelasan ekspresi karakter kepada penonton. Latihan pemanasan (warm-up). Untuk itu seorang pemeran harus menjaga kelenturan peralatan tubuhnya. yaitu serial pokok dari inti gerakan yang akan dilatihkan. atau penghitungan dilakukan selama sepuluh detik dan hasilnya dikalikan enam. yaitu latihan pemanasan. Penghitungan denyut nadi yang ada dipergelangan tangan lebih dianjurkan untuk menghasilkan perhitungan yang tepat. • Usahakan agar para aktor saling menatap (berkontak mata) pada saat mengawali dan mengakhiri dialog (percakapan). Latihan pendinginan atau peredaan (warm-down). karena hal ini akan menutupi suara dan pandangan penonton. Karena itu dia harus mempersiapkan dirinya secara utuh penuh baik fisik maupun psikis. Latihan inti. Selama menghitung denyut nadi mata selalu melihat jam (jam tangan maupun jam dinding yang ada di dalam ruangan). dan latihan pendinginan. 4. SENI BERPERAN DALAM TEATER Teater Koma : Mengapa Leonardo Aktor merupakan manusia yang mengorbankan dirinya untuk menjadi orang lain. 4. yaitu dengan menghitung denyut nadi yang ada di leher atau denyut nadi yang ada di pergelangan tangan dalam. • Pemanasan • Latihan ketahanan • Latihan Kelenturan • Latihan ketangkasan . Selebihnya. Cara penghitungan denyut nada yang ada di pergelangan tangan. yaitu serial latihan gerakan tubuh untuk meningkatkan sirkulasi dan meregangkan otot dengan cara bertahap. Cara untuk menghitung denyut nadi.1 Latihan Olah Tubuh Latihan olah tubuh melatih kesadaran tubuh dan cara mendayagunakan tubuh. Olah tubuh dilakukan dalam tiga tahap. yaitu dengan meletakkan jari tengah di atas pergelangan tangan dalam segaris dengan ibu jari atau jari jempol.

. dan cepat lambatnya sesuai dengan situasi dan kondisi emosi. Jika lontaran dialog tidak sesuai sebagaimana mestinya. nada suara yang terlontarkan. Misalnya.• Latihan pendinginan • Latihan relaksasi 4. Suara adalah lambang komunikasi yang dijadikan media untuk mengungkapkan rasa dan buah pikiran. kamu sekarang sudah hebat…. Makna katakata dipengaruhi oleh nada. Prosesnya. Dialog yang diucapkan oleh seorang pemeran mempunyai tokohan yang sangat penting dalam pementasan naskah drama atau teks lakon. Maksud tersembunyi seperti itu disebut subtext. yaitu hasil getaran udara yang datang dan menyentuh selaput gendang telinga. suara dijadikan kata dan kata-kata disusun menjadi frasa serta kalimat yang semuanya dimanfaatkan dengan aturan tertentu yang disebut gramatika atau paramasastra. tinggi rendahnya. bisa juga bahasa tubuh sebagai penguat bahasa verbal. sehingga secara tidak sadar mengungkapkan sesuatu yang sebenarnya tidak dikehendaki. Dalam kenyataannya. Maka. ”. Suara merupakan unsur yang harus diperhatikan oleh seseorang yang akan mempelajari teater. Selanjutnya. suara mempunyai tokohan penting. Misalnya. Suara merupakan produk manusia untuk membentuk katakata. Itulah yang disebut intonasi. Hal ini disebabkan karena dalam dialog banyak terdapat nilai-nilai yang bermakna. yaitu bahasa tubuh dan bahasa verbal yang berupa dialog. Pemilihan kata-kata memiliki tokohan dalam aturan yang dikenal dengan istilah diksi. menunjukkan maksud memuji atau sebenarnya ingin mengatakan. Kegiatan mengucapkan dialog ini menjadi sifat teater yang khas. Banyak lagi contoh yang menunjukkan tentang makna suara. Dialog merupakan salah satu daya tarik dalam membina konflik-konflik dramatik. memang. dalam arti tidak dibarengi dengan bahasa verbal. Hal ini . maka nilai yang terkandung tidak dapat dikomunikasikan kepada penonton. Unsur dasar bahasa lisan adalah suara. Seorang pemeran dalam pementasan teater menggunakan dua bahasa. kalimat. “kamu belum bisa apaapa”. Akan tetapi. Kata-kata yang membawa informasi yang bermakna. Akan tetapi. suara dan bunyi itu sama. dalam konvensi dunia teater kedua istilah tersebut dibedakan.2 OLAH SUARA Suara adalah unsur penting dalam kegiatan seni teater yang menyangkut segi auditif atau sesuatu yang berhubungan dengan pendengaran. karena digunakan sebagai bahan komunikasi yang berwujud dialog. Dalam kegiatan teater. suara tidak hanya dilontarkan begitu saja tetapi dilihat dari keras lembutnya. sedangkan bunyi merupakan produk benda-benda. dalam situasi tertentu tidak mampu mengungkapkan maksud yang sebenarnya. Suara dihasilkan oleh proses mengencang dan mengendornya pita suara sehingga udara yang lewat berubah menjadi bunyi. “Yah. Bahasa tubuh bisa berdiri sendiri.

Ada beberapa hal yang perlu diketahui oleh seorang pemeran tentang fungsi ucapan. Latihan Kejelasa Diksi l. Pemanasan c. a. Senam Rahang Bawah f. Persiapan b. Banyak pemeran yang hanya mementingkan ekspresi yang ditokohkan sehingga dalam benaknya hanya melakukan aksi. Proses pengucapan dialog mempengaruhi ketersampaian pesan yang hendak dikomunikasikan kepada penonton. Terlebih dalam konteks aksi dan reaksi. b. Latihan-latihan untuk melenturkan peralatan suara dapat dilakukan menggunakan tahap-tahap sebagai berikut. c. yaitu sebagai berikut. Dalam menghayatai karakter tokoh. dan sebagainya. Bersenandung j. Ditutup dengan relaksasi 4. Senam Wajah d. Ketika pemeran mengucapkan dialog harus mempertimbangkan pikiranpikiran penulis.merupakan kesalahan fatal bagi seorang pemeran. Seorang pemeran tidak hanya memikirkan ekspresi karakter tokoh yang ditokohkan saja.3 OLAH RASA Pemeran teater membutuhkan kepekaan rasa. kekuatan. latihan olah rasa tidak hanya berfungsi untuk . Tugas yang lain adalah memberikan reaksi. d. Melengkapi variasi. Tempo o. Nada p. Jika pemeran melontarkan dialognya hanya sekedar hasil hafalan saja. e. Jeda n. Seorang pemeran yang hanya melakukan aksi berarti baru mengerjakan separuh dari tugasnya. Intonasi m. maka dia mencabut makna yang ada dalam kata-kata. Wicara q. Latihan Tenggorokan g. Berbisik h. Bergumam i. Memuat informasi tentang sifat dan perasaan tokoh. latihan-latihan yang mendukung kepekaan rasa perlu dilakukan. marah. Ekspresi yang disampaikan melalui nada suara membentuk satu pemaknaan berkaitan dengan kalimat dialog. kegembiraan. Padahal akting adalah kerja aksi dan reaksi. Senam Lidah e. Oleh karena itu. Mengendalikan perasaan penonton seperti yang dilakukan oleh musik. Ucapan yang dilontarkan oleh pemeran bertujuan untuk menyalurkan kata dari teks lakon kepada penonton. a. kedudukan sosial. Dengan demikian. Latihan Pernafasan k. misalnya: umur. Memberi arti khusus pada kata-kata tertentu melalui modulasi suara. semua emosi tokoh yang ditokohkan harus mampu diwujudkan. putus asa. tetapi juga harus memberikan respon terhadap ekspresi tokoh lain.

Langkah awal yang perlu diperhatikan adalah mengasah kesadaran dan mampu menggunakan tubuhnya dengan efisien. dengan mempelajari bahasa tubuh. Jika berlawanan dengan bahasa verbal akan mengurangi kekuatan komunikasi. Makin menarik pusat perhatian. sedangkan kalau selaras dengan bahasa verbal akan menguatkan proses komunikasi. gesture harus disadari dan diciptakan sebagai penguat komunikasi dengan bahasa verbal. akan diketahui tanda kebohongan atau tanda-tanda kebosanan pada proses komunikasi yang sedang berlangsung. Kalau pemeran dengan tingkat konsentrasi yang rendah maka dia tidak akan dapat menyakinkan penonton. Sebagai seorang pemeran. tetapi juga perasaan terhadap karakter lawan main. yaitu tokoh yang dimainkan. Dunia ini harus diwujudkan menjadi sesuatu yang seolah-olah nyata dan dapat dinikmati serta menyakinkan penonton. Tujuan dari konsentrasi ini adalah untuk mencapai kondisi kontrol mental maupun fisik di atas panggung. Ada juga yang mengatakan bahwa gesture adalah bentuk komunikasi non verbal yang diciptakan oleh bagian-bagian tubuh yang dapat dikombinasikan dengan bahasa verbal. gesture tidak dapat menggantikan bahasa verbal sepenuhnya.meningkatkan kepekaan rasa dalam diri sendiri. Tangan mengacung dengan jari telunjuk dan jempol membentuk lingkaran. Misalnya seorang pemeran melihat sesuatu yang menjijikan (meskipun sesuatu itu tidak ada di atas pentas) maka ia harus menyakinkan kepada penonton bahwa sesuatu yang dilihat benarbenar menjijikkan. Macam-macam gesture yang dapat dipahami orang lain adalah gesture dengan tangan. makin tinggi kesanggupan memusatkan perhatian. 4. Ada korelasi yang sangat dekat antara pikiran dan tubuh. Bahasa tubuh semacam respon atau impuls dalam batin seseorang yang keluar tanpa disadari. dan imajinasi.1 Konsentrasi Pengertian konsentrasi secara harfiah adalah pemusatan pikiran atau perhatian. Manfaat mempelajari dan melatih gesture adalah mengerti apa yang tidak terkatakan dan yang ada dalam pikiran lawan bicara. Seorang pemeran harus memahami bahasa tubuh. Dengan konsentrasi pemeran akan dapat mengubah dirinya menjadi orang lain. baik bahasa tubuh budaya sendiri maupun bahasa tubuh budaya lainnya. Dunia tidak nyata yang diciptakan seorang penulis lakon dan diwujudkan oleh pekerja teater. Akan tetapi. Pemakaian gesture ini mengajak seseorang untuk menampilkan variasi bahasa atau bermacam-macam cara mengungkapkan perasaan dan pemikiran. Sedang beberapa orang menggunakan gesture sebagai tambahan dalam katakata ketika melakukan proses komunikasi. Segala sesuatu yang mengalihkan perhatian seorang pemeran. bagi orang Yunani berarti penghinaan. bagi orangtokohcis artinya nol. Kekuatan pemeran untuk mewujudkan dunia rekaan ini hanya bias dilakukan dengan kekuatan daya konsentrasi. 4. Selain itu. Latihan olah rasa dimulai dari konsentrasi. orang India. mengangguk tandanya tidak setuju sedangkan mengeleng artinya setuju. Seorang pemeran harus dapat mengontrol tubuhnya setiap saat. gesture . Bahasa ini mendukung dan berpengaruh dalam proses komunikasi. konsentrasi menjadi sesuatu hal yang penting untuk pemeran. Sifat bahasa tubuh adalah tidak universal. tetapi bagi orang Amerika artinya bagus.2 Gesture Gesture adalah sikap atau pose tubuh pemeran yang mengandung makna. Maka. Dunia teater adalah dunia imajiner atau dunia rekaan. Bahasa tubuh dilakukan oleh seseorang terkadang tanpa disadari dan keluar mendahului bahasa verbal. Hal ini berlawanan dengan bangsa-bangsa lain.3. Jadi bahasa tubuh harus dipahami oleh pemeran sebagai pendukung bahasa verbal. mempelajari gesture. Misalnya. Latihan gesture dapat digunakan untuk mempelajari dan melahirkan bahasa tubuh. Pusat perhatian seorang pemeran adalah sukma atau jiwa tokoh atau karakter yang akan dimainkan.3. cenderung dapat merusak proses pemeranan.

4. Untuk membangkitkan imajinasi tokoh gunakan pertanyaan. Bahasa tubuh dengan tubuh adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh pose atau sikap tubuh seseorang. dimana gambaran tersebut tidak pernah dialami sebelumnya. tetapi harus dengan pikiran yang aktif. sebelum melaksanakan penataan panggung seorang penata panggung perlu mempelajari panggung pertunjukan. Perbedaan jenis panggung ini dipengaruhi oleh tempat dan zaman dimana teater itu berada serta gaya pementasan yang dilakukan. Imajinasi tidak akan muncul jika direnungkan tanpa suatu objek yang menarik. dan tidak akan pernah ada.1 Mempelajari Panggung Dalam sejarah perkembangannya. Belajar imajinasi dapat menggunakan fungsi ”jika” atau dalam istilah metode pemeranan Stanislavski disebut magic-if. “siapakah Hamlet itu?”. Misalnya. Oleh karena itu. Tidak hanya sekedar dekorasi (hiasan) semata. Bahasa tubuh atau gesture dengan tangan adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh posisi maupun gerak kedua tangan. • Pikiran bisa disuruh untuk mempertanyakan segala sesuatu. • Imajinasi tidak akan muncul dengan pikiran yang pasif. maka pikiran dipaksa untuk menjawab pertanyaan tersebut. Dengan berpikir. sedangkan fantasi membuat hal-hal yang tidak ada. maka akan memunculkan gambaran pengandaiannya. tetapi segala tata letak perabot atau piranti yang akan digunakan oleh aktor disediakan oleh penata panggung. Penataan panggung disesuaikan dengan tuntutan cerita. tidak pernah ada. seni teater memiliki berbagai macam jenis panggung yang dijadikan tempat pementasan. Sedangkan bahasa tubuh dengan kaki adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh posisi dan bagaimana meletakkan kaki. Misalnya. Selain itu. Objek berfungsi untuk menstimulasi atau merangsang pikiran. tetapi harus dibujuk untuk bisa digunakan. Gambaran tempat kejadian lakon diwujudkan oleh tata panggung dalam pementasan. TATA PANGGUNG Tata panggung disebut juga dengan istilah scenery (tata dekorasi). Baik hal yang logis maupun yang tidak logis. dan apa.dengan badan. dimana. kehendak artistik sutradara. SENI RUPA DALAM TEATER 5. dalam panggung yang penontonnya melingkar. 5. dan jangan menggambarkan suatu objek yang tidak pasti (perkiraan). gesture dengan kepala dan wajah. maka akan terjadi proses imajinasi. dan gesture dengan kaki. seorang pemeran juga harus berimajinasi tentang pengalaman hidup tokoh yang akan dimainkan.3 Imajinasi Imajinasi adalah proses pembentukan gambaran-gambaran baru dalam pikiran. Bahasa tubuh yang tercipta oleh kedua tangan merupakan bahasa tubuh yang paling banyak jenisnya. dan panggung tempat pementasan dilaksanakan. Latihan imajinasi bagi pemeran berfungsi mengidentifikasi tokoh yang akan dimainkan. membutuhkan tata letak perabot yang dapat enak . • Imajinasi menciptakan hal-hal yang mungkin ada atau mungkin terjadi. Belajar imajinasi harus menggunakan plot yang logis.1. Hal-hal yang perlu diketahui ketika berlatih imajinasi. Melatih imajinasi sama dengan memperkerjakan pikiran-pikiran untuk terus berpikir. • Imajinasi tidak bisa dipaksa. Bahasa tubuh dengan kepala dan wajah adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh posisi kepala maupun ekspresi wajah. Dengan stimulus pertanyaanpertanyaan atau menggunakan stimulus ”seandainya”.3. Bentuk panggung yang berbeda memiliki prinsip artistik yang berbeda. Usaha menjawab pertanyaan itu akan membawa pikiran untuk mengimajinasikan sosok Hamlet.1. siapa.

Kemungkinan berkomunikasi secara langsung atau bahkan bermain di tengah-tengah penonton ini menjadi tantangan kreatif bagi teater modern. Jika bentuk ukiran yang ditampilkan tidak nampak sempurna – berbeda satu dengan yang lain – maka penonton akan dengan mudah melihatnya. Hal ini mempengaruhi nilai artistik pementasan. panggun arena sering menjadi pilihan utama bagi teater tradisional. penata panggung diharuskan memahami karakter jenis panggung yang akan digunakan serta bagian-bagian panggung tersebut. Agar semua pemain dapat terlihat dari setiap sisi maka penggunaan set dekor berupa bangunan tertutup vertikal tidak diperbolehkan karena dapat menghalangi pandangan penonton. Penonton sangat dekat sekali dengan pemain. 5. Berbeda dengan panggung yang penontonnya hanya satu arah dari depan. Panggung arena biasanya dibuat secara terbuka (tanpa atap) dan tertutup. Semua ditata agar enak dipandang dari berbagai sisi. Untuk memperoleh hasil terbaik. Kedekatan jarak antara pemain dan penonton dimanfaatkan untuk melakukan komunikasi langsung di tengah-tengah pementasan yang menjadi ciri khas teater tersebut. salah satunya adalah penggunaan panggung arena.1. Aspek kedekatan inilah yang dieksplorasi untuk menimbulkan daya tarik penonton. Inti dari pangung arena baik terbuka atau tertutup adalah mendekatkan penonton dengan pemain.2 Proscenium Panggung proscenium bisa juga disebut sebagai panggung bingkai karena penonton menyaksikan . Jenis-jenis Panggung Panggung adalah tempat berlangsungnya sebuah pertunjukan dimana interaksi antara kerja penulis lakon. maka penata panggung dituntut kreativitasnya untuk mewujudkan set dekor.2.dilihat dari setiap sisi. detil perabot yang diletakkan di atas panggung harus benar-benar sempurna sebab jika tidak maka cacat sedikit saja akan nampak. dan penempatannya. Karena bentuknya yang dikelilingi oleh penonton. Seperti telah disebutkan di atas bahwa banyak sekali jenis panggung tetapi dewasa ini hanya tiga jenis panggung yang sering digunakan.1. Ketiganya adalah panggung proscenium.1.1 Arena Teater Arena Panggung arena adalah panggung yang penontonnya melingkar atau duduk mengelilingi panggung. dan aktor ditampilkan di hadapan penonton. panggung thrust. ukuran. Segala perabot yang digunakan dalam panggung arena harus benar-benar dipertimbangkan dan dicermati secara hati-hati baik bentuk. di atas panggung diletakkan kursi dan meja berukir. dan panggung arena.2. Dengan memahami bentuk dari masingmasing panggung inilah. sutradara. Kedekatan jarak ini membawa konsekuensi artistik tersendiri baik bagi pemain dan (terutama) tata panggung. 5. Di atas panggung inilah semua laku lakon disajikan dengan maksud agar penonton menangkap maksud cerita yang ditampilkan.2. Misalnya. penata panggung dapat merancangkan karyanya berdasar lakon yang akan disajikan dengan baik. Karena jaraknya yang dekat. 5. Banyak usaha yang dilakukan untuk mendekatkan pertunjukan dengan penonton. Beberapa pengembangan desain dari teater arena melingkar dilakukan sehingga bentuk teater arena menjadi bermacammacam. Untuk menyampaikan maksud tersebut pekerja teater mengolah dan menata panggung sedemikian rupa untuk mencapai maksud yang dinginkan. Lepas dari kesulitan yang dihadapi.

menata. Jarak antara penonton dan panggung adalah jarak yang dapat dimanfaatkan untuk menciptakan gambaran kreatif pemangungan. Seperti sebuah lukisan. Perspektif dapat ditampilkan dengan memanfaatkan kedalaman panggung (luas panggung ke belakang). Tata perabot kemudian menjadi unsur pokok pada tata panggung arena. Intinya semua yang di atas panggung dapat diciptakan untuk mengelabui pandangan penonton dan mengarahkan mereka pada pemikiran bahwa apa yang terjadi di atas pentas adalah kenyataan. Dengan pemisahan ini maka pergantian tata panggung dapat dilakukan tanpa sepengetahuan penonton. dan musim dalam tahun dimana lakon dilangsungkan. Pembelajaran tata panggung untuk menciptakan ilusi (tipuan) imajinatif sangat dimungkinkan dalam panggung proscenium. Procenium Stage Tata panggung pun sangat diuntungkan dengan adanya jarak dan pandangan satu arah dari penonton. Pemisahan ini dapat membantu efek artistik yang dinginkan terutama dalam gaya realisme yang menghendaki lakon seolah-olah benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata. Bentangan jarak dapat menciptakan bayangan arstisitk tersendiri yang mampu menghadirkan kesan. .1. Penonton disuguhi gambaran melalui bingkai tersebut. Kesan inilah yang diolah penata panggung untuk mewujudkan kreasinya di atas panggung proscenium.aksi aktor dalam lakon melalui sebuah bingkai atau lengkung proscenium (proscenium arch). Sebelum menjelaskan semua itu. Bingkai yang dipasangi layar atau gorden inilah yang memisahkan wilayah akting pemain dengan penonton yang menyaksikan pertunjukan dari satu arah (Gb.3 Fungsi Tata Panggung Dalam perancangan tata panggung selain mempertimbangkan jenis panggung yang akan digunakan ada beberapa elemen komposisi yang perlu diperhatikan. penata panggung juga bertanggungjawab terhadap segala perabot yang digunakan. Unsurunsur ini ditata sedemikian rupa sehingga bisa memberikan gambaran lengkap yang berfungsi untuk menjelaskan suasana dan semangat lakon. Panggung proscenium sudah lama digunakan dalam dunia teater. Pesona inilah yang membuat penggunaan panggung proscenium bertahan sampai sekarang.1. status karakter peran. lokasi kejadian. Hampir semua sekolah teater memiliki jenis panggung proscenium. bingkai proscenium menjadi batas tepinya.276). imajinasi dapat dituangkan sepenuhnya ke dalam gambar desain tanpa lebih dulu berpikir tentang kemungkinan visualisasinya. Pemikiran lain di luar desain akan menghambat imajinasi dan akhrinya memberikan batasan. terutama pada panggung arena dimana lukisan dekor atau bentuk bangunan vertikal tertutup seperti dinding atau kamar (karena akan menghalangi pandangan sebagian penonton) tidak memungkinkan diletakkan di atas panggung.4 Elemen Komposisi Desain tata panggung sebaiknya dibuat dengan mudah dan bebas. Artinya. 5. 5. Perabot dan piranti sangat penting dalam mencipta lukisan panggung. fungsi tata panggung perlu dibahas terlebih dahulu. Karena keseluruhan objek yang ada di atas panggung dan digunakan oleh aktor membentuk satu lukisan secara menyeluruh. Tata cahaya yang memproduksi sinar dapat dihadirkan dengan tanpa terlihat oleh penonton dimana posisi lampu berada. Gambar dekorasi dan perabot tidak begitu menuntut kejelasan detil sampai hal-hal terkecil. Selain merencanakan gambar dekor. dan memanipulasi elemen komposisi yang menjadi dasar dari seluruh kerja desain. Jarak yang sengaja diciptakan untuk memisahkan pemain dan penonton ini dapat digunakan untuk menyajikan cerita seperti apa adanya. Semua yang ada di atas panggung dapat disajikan secara sempurna seolah-olah gambar nyata. periode sejarah lakon. Penyuntingan atau pengolahan bisa dilakukan setelah gagasan tertuang. Aktor dapat bermain dengan leluasa seolah-olah tidak ada penonton yang hadir melihatnya. Dalam pembuatan desain gambar tata panggung yang terpenting adalah cara mengatur.

5. TATA CAHAYA Cahaya adalah unsur tata artistik yang paling penting dalam pertunjukan teater. dan atmosfir (Mark Carpenter. Dalam teater.1 Fungsi Tata Cahaya Tata cahaya yang hadir di atas panggung dan menyinari semua objek sesungguhnya menghadirkan kemungkinan bagi sutradara. dan emosi peristiwa. • Atmosfir. pemilihan. Sinar mentari pagi membawa kehangatan sedangkan sinar mentari siang hari terasa panas. Beberapa fungsi . 1988). Inilah fungsi paling mendasar dari tata cahaya. Semua objek yang disinari memberikan gambaran yang jelas kepada penonton tentang segala sesuatu yang akan dikomunikasikan. Jika semua objek diterangi dengan intensitas yang sama maka gambar yang akan tertangkap oleh mata penonton menjadi datar. Banyak hal yang bisa dikerjakan bekaitan dengan peran tata cahaya tetapi fungsi dasar tata cahaya ada empat. tata cahaya memiliki fungsi pendukung yang dikembangkan secara berlainan oleh masing-masing ahli tata cahaya.2. 5. Dengan cahaya. Dimensi dapat diciptakan dengan membagi sisi gelap dan terang atas objek yang disinari sehingga membantu perspektif tata panggung. sutradara dapat menghadirkan ilusi imajinatif. dan penonton untuk saling melihat dan berkomunikasi. Tata cahaya dapat dimanfaatkan untuk menentukan objek dan area yang hendak disinari. aktor. Fungsi penerangan dilakukan dengan memilih area tertentu untuk memberikan gambaran dimensional objek. untuk memberikan fokus perhatian pada area atau aksi tertentu sutradara memanfaatkan cahaya. Dengan tata cahaya kedalaman sebuah objek dapat dicitrakan. efek lampu dapat diciptakan untuk menirukan cahaya bulan dan matahari pada waktu-waktu tertentu. Keempat fungsi pokok tata cahaya di atas tidak berdiri sendiri. bulan atau api untuk menerangi. Artinya. Jika dalam film dan televisi sutradara dapat memilih adegan menggunakan kamera maka sutradara panggung melakukannya dengan cahaya. Seorang penata cahaya perlu mempelajari pengetahuan dasar dan penguasaan peralatan tata cahaya. Sejak ditemukannya lampu penerangan manusia menciptakan modifikasi dan menemukan hal-hal baru yang dapat digunakan untuk menerangi panggung pementasan.2. Inilah gambaran suasana dan emosi yang dapat dimunculkan oleh tata cahaya. Sejak ditemukannya teknologi pencahayaan panggung. Dalam pertunjukan era primitif manusia hanya menggunakan cahaya matahari. Tidak semua area di atas panggung memiliki tingkat terang yang sama tetapi diatur dengan tujuan dan maksud tertentu sehingga menegaskan pesan yang hendak disampaikan melalui laku aktor di atas pentas. masing-masing fungsi memiliki interaksi (saling mempengaruhi). dimensi. • Pemilihan. Istilah penerangan dalam tata cahaya panggung bukan hanya sekedar memberi efek terang sehingga bisa dilihat tetapi memberi penerangan bagian tertentu dengan intensitas tertentu. Pengetahuan dasar ini selanjutnya dapat diterapkan dan dikembangkan dalam penataan cahaya untuk kepentingan artistik pemanggungan. Misalnya. Pemilihan ini tidak hanya berpengaruh bagi perhatian penonton tetapi juga bagi para aktor di atas pentas serta keindahan tata panggung yang dihadirkan. Yang paling menarik dari fungsi tata cahaya adalah kemampuannya menghadirkan suasana yang mempengaruhi emosi penonton. Tata cahaya mampu menghadirkan suasana yang dikehendaki oleh lakon. Tanpa adanya cahaya maka penonton tidak akan dapat menyaksikan apa-apa. warna cahaya matahari pagi berbeda dengan siang hari. Lampu memberi penerangan pada pemain dan setiap objek yang ada di atas panggung. suasana. Kata “atmosfir” digunakan untuk menjelaskan suasana serta emosi yang terkandung dalam peristiwa lakon. • Penerangan. Selain keempat fungsi pokok di atas. Dengan pengaturan tingkat intensitas serta pemilahan sisi gelap dan terang maka dimensi objek akan muncul. penonton secara normal dapat melihat seluruh area panggung. yaitu penerangan. • Dimensi.

1.1 Fungsi Tata Rias Tokoh dalam teater memiliki karakter berbeda-beda. misalnya. Tata rias dalam teater memiliki fungsi sebagai berikut. Tanpa • sadar penonton dibawa ke dalam suasana yang berbeda melalui perubahan cahaya. Contohnya. Sepanjang pementasan. Tata rias bisa .1 Menyempurnakan Penampilan Wajah Wajah seorang pemain memiliki kekurangan yang bisa disempurnakan dengan mengaplikasikan tata rias. Tata rias dalam teater mempunyai arti lebih spesifik. 5. Cahaya dapat menunjukkan gaya pementasan yang sedang dilakonkan. Tata Rias dalam teater bermula dari pemakaian kedok atau topeng untuk menggambarkan karakter tokoh. Penggunaan warna serta intensitas dapat menarik perhatian penonton sehingga membantu pesan yang hendak disampaikan. • Gaya. Beberapa teater primitif menggunakan bedak tebal yang biasa dibuat dari bahan-bahan alam. mata yang tidak ekspresif.3. TATA RIAS Tata rias secara umum dapat diartikan sebagai seni mengubah penampilan wajah menjadi lebih sempurna. Sebuah bagian bangunan yang tinggi yang senantiasa disinari cahaya sepanjang pertunjukan akan menarik perhatian penonton dan menimbulkan pertanyaan sehingga membuat penonton menyelidiki maksud dari hal tersebut. • Komposisi. 5. Dalam pementasan teater tradisional. black out biasanya digunakan sebagai tanda ganti adegan diiringi dengan pergantian set.tulang. Dalam gaya Surealis tata cahaya diproyeksikan untuk menyajikan imajinasi atau fantasi di luar kenyataan seharihari. Gaya realis atau naturalis yang mensyaratkan detil kenyataan mengharuskan tata cahaya mengikuti cahaya alami seperti matahari. bulan atau lampu meja.pendukung yang dapat ditemukan dalam tata cahaya adalah sebagai berikut. Tata cahaya dapat memberikan penekanan tertentu pada adegan atau objek yang dinginkan. cahaya selalu bergerak dan berpindah dari area satu ke area lain. Pemakaian tata rias akhirnya menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari peristiwa teater. bibir yang kurang tegas. • Menyempurnakan penampilan wajah • Menggambarkan karakter tokoh • Memberi efek gerak pada ekspresi pemain • Menegaskan dan menghasilkan garis-garis wajah sesuai dengan tokoh • Menambah aspek dramatik. Seorang pemain. Jika perpindahan cahaya bergerak dari aktor satu ke aktor lain dalam area yang berbeda. Penampilan tokoh yang berbeda-beda membutuhkan penampilan yang berbeda sesuai karakternya. dari objek satu ke objek lain. tumbuhan. Cahaya berfungsi untuk memberi tanda selama pertunjukan berlangsung. teater Yunani yang memakai topeng lebih besar dari wajah pemain dengan garis tegas agar ekspresinya dapat dilihat oleh penonton. • Gerak. Dalam pementasan komedi atau dagelan tata cahaya membutuhkan tingkat penerangan yang tinggi sehingga setiap gerak lucu yang dilakukan oleh aktor dapat tertangkap jelas oleh penonton. • Penekanan. Tata cahaya tidaklah statis. 5. Gerak perpindahan cahaya ini mengalir sehingga kadang-kadang perubahannya disadari oleh penonton dan kadang tidak. fade in untuk memulai adegan dan black out sebagai akhir dari cerita. Tata rias merupakan salah satu cara menampilkan karakter tokoh yang berbeda-beda tersebut. yaitu seni mengubah wajah untuk menggambarkan karakter tokoh.3.3. seperti tanah. fade out untuk mengakhiri sebuah adegan. memiliki hidung yang kurang mancung. penonton dapat melihatnya dengan jelas. Cahaya dapat dimanfaatkan untuk menciptakan lukisan panggung melalui tatanan warna yang dihasilkannya. Tetapi pergantian cahaya dalam satu area ketika adegan tengah berlangsung terkadang tidak secara langsung disadari. Misalnya. dan lemak binatang. dan sebagainya. • Pemberian tanda.

Seorang pemain membutuhkan tata rias korektif ketika tampilannya tidak membutuhkan perubahan usia.dapat disempurnakan dengan make up korektif. Tata rias berfungsi melukiskan watak tokoh dengan mengubah wajah pemeran menyangkut aspek umur. 5. seorang remaja memerankan siswa sekolah. Pemain yang tidak menggunakan rias.3. tokoh yang pesimistis cenderung memiliki karakter garis mata yang menurun.3. mata menjadi lebih ekspresif. wajahnya akan tampak datar.1. Biasanya pemeran memiliki kesesuaian dengan tokoh yang diperankan.1.3.2.2 Jenis Tata Rias 5. Karakter wajah merupakan cermin psikologis dan latar sosial tokoh yang hadir secara nyata. Seorang penata rias harus mencermati gerak ekspresi wajah untuk menentukan garis yang akan dibuat. Seseorang yang memiliki bentuk wajah kurang sempurna.1.2 Menggambarkan Karakter Tokoh Karakter berarti watak. tersayat wajahnya. misalnya dahi terlalu lebar.3 Memberi Efek Gerak Pada Ekspresi Pemain Wajah seorang pemain di atas pentas. Tokoh-tokoh mengalami berbagai peristiwa sehingga terjadi perubahan dan penambahan tata rias. dan menonjolkan bagian-bagian wajah sesuai dengan tokoh yang dimainkan. 5. Misalnya. Disebut tata rias karakter . ras. hidung kurang mancung dan sebagainya. ras. Misalnya.3. Wajah perlu ditambahkan garis-garis kerutan sesuai wajah seorang yang berusia 50 tahun. bentuk wajah dan tubuh. dan perubahan bentuk wajah. tampak datar ketika tertimpa cahaya lampu. Setiap wajah memiliki kekuarangan dan kelebihan. seorang yang optimis digambarkan dengan tarikan sudut mata cenderung ke atas. Tata rias bisa memberikan efek dramatik dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dengan menciptakan efek tertentu sesuai dengan kebutuhan.5 Menambah Aspek Dramatik Peristiwa teater selalu tumbuh dan berkembang. 5.2. Misalnya. Seorang yang berperan menjadi tokoh binatang.3. Tata rias tidak perlu mengubah usia.1 Tata Rias Korektif Tata rias korektif (corective make-up) merupakan suatu bentuk tata rias yang bersifat menyempurnakan (koreksi).1.menyempurnakan kekurangan tersebut sehingga muncul kesan hidung tampak mancung. 5. Penyempurnaan wajah dilakukan pada pemain yang secara fisik telah sesuai dengan tokoh yang dimainkan. menegaskan. maka perlu membuat garis-garis baru sesuai dengan karakter wajah binatang yang diperankan. Misalnya. Fungsi garis tidak sekedar menegaskan. seorang remaja yang memerankan seorang yang telah berumur 50 tahun. seorang tokoh tertusuk belati.4 Menghadirkan Garis Wajah Sesuai Dengan Tokoh Menampilkan wajah sesuai dengan tokoh membutuhkan garis baru yang membentuk wajah baru. Tata rias berfungsi menegaskan garis-garis wajah karakter. tetapi cukup menyempurnakan dengan mengoreksi kekurangan yang ada untuk disempurnakan. Sebaliknya. 5.3. maka dibutuhkan tata rias yang memberikan efek sesuai dengan kebutuhan.2 Tata Rias Fantasi Tata rias fantasi dikenal juga dengan istilah tata rias karakter khusus. tidak memiliki dimensi. Tata rias memiliki kemampuan dalam mengubah sekaligus menampilkan karakter yang berbeda dari seorang pemeran. Wajah pemain cukup disempurnakan dengan menyamarkan. tetapi juga menambahkan sehingga terbentuk tampilan yang berbeda dengan wajah asli pemain. sehingga saat berekspresi muncul efek gerak yang tegas dan dapat ditangkap oleh penonton. tertembak. 5. Tata rias ini menyembunyikan kekurangan-kekurangan yang ada pada wajah dan menonjolkan hal-hal yang menarik dari wajah.3. dan bibir bergaris tegas. Oleh karena itu dibutuhkan tata rias untuk menampilkan dimensi wajah pemain.

Tata rias karakter dibutuhkan ketika karakter wajah pemeran tidak sesuai dengan karakter tokoh. 5.3. misalnya memanjangkan telinga. Ketika manusia menemukan tekstil dengan teknologi pengolahan yang tinggi. sepatu. gelang . 5. Demikian juga dengan teater pada jaman Yunani. busana pada jaman atau dekade tertentu memiliki ciri yang sama.khusus. 5. Jenis busana ini tidak bisa disamakan antara daerah satu dengan daerah lain. Contohnya. • Mencitrakan keindahan penampilan • Membedakan satu pemain dengan pemain yang lain • Menggambarkan karakter tokoh • Memberikan efek gerak pemain • Memberikan efek dramatik 5. dan memenuhi hasrat manusia akan keindahan. kalung. tetapi lebih pada konsep yang melatarbelakangi penciptaan teater. Tata rias fantasi menggambarkan tokoh-tokoh yang tidak riil keberadaannya dan lahir berdasarkan daya khayal semata. Tata busana termasuk segala asesoris seperti topi. dan segala unsur yang melekat pada pakaian. busana yang dipakai berasal dari bahan-bahan alami. Misalnya. Masing-masing memiliki kospenya tersendiri dan lakon tidak harus berlatar jaman dimana lakon itu dibuat. beragam aliran teater bermunculan. syal.2. Tata busana dengan demikian sudah tidak lagi terpaku pada jaman. Semua terserah pada gagasan seniman. karena semua tergantung latar cerita yang ditampilkan.1. dan Abad 18. karena menampilkan wujud rekaan dengan mengubah wajah tidak realistik. Periode busana teater dengan demikian mengikuti periode teater tersebut. Masing-masing memiliki ciri khasnya.3 Tata Rias karakter Tata rias karaker adalah tata rias yang mengubah penampilan wajah seseorang dalam hal umur. Tata busana dapat dibuat berdasar budaya atau jaman tertentu. Sementara itu tata busana menurut jamannya bisa digeneralisasi.1 Fungsi Tata Busana Busana yang dipakai manusia beraneka ragam bentuk dan fungsinya. Tata busana dalam teater memiliki peranan penting untuk menggambarkan tokoh. bangsa. seperti tumbuhan. mengubah umur pemeran dari muda menjadi lebih tua . dan ciri-ciri khusus yang melekat pada tokoh. Mengubah anatomi wajah pemain untuk memenuhi tuntutan tokoh dapat juga digolongkan sebagai tata rias karakter. dalam teater Romawi Kuno maka lakon yang ditampilkan berlatar jaman tersebut sehingga busananya pun seperti busana keseharian penduduk jaman Romawi Kuno. Pada era teater primitif. Fungsi busana dalam kehidupan sehari-hari untuk melindungi tubuh.4. Busana dalam teater memiliki fungsi yang lebih kompleks. Tata rias karakter tidak sekedar menyempurnakan. Elizabethan. tetapi mengubah tampilan wajah. Restorasi. Untuk membuat tata busana sesuai dengan adat dan kebudayaan daerah tertentu maka diperlukan referensi khusus berkaitan dengan adat dan kebudayaan tersebut.1 Mencitrakan Keindahan Penampilan Manusia memiliki hasrat untuk mengungkapkan rasa keindahan dalam berbagai aspek .4. Tidak ada periode tata busana secara khusus di teater. kulit binatang. Tokoh tersebut memiliki latar Suku Dayak Kalimantan yang memiliki tradisi memanjangkan telinga. dan batu-batuan untuk asesoris. Dalam masa ini. yaitu. Renaissance.4. Busana pun mengikuti konsep tersebut. mencitrakan kesopanan. maka busana berkembang menjadi lebih baik. Abad Pertengahan. TATA BUSANA Tata busana adalah seni pakaian dan segala perlengkapan yang menyertai untuk menggambarkan tokoh. sifat. Busana teater mengalami perkembangan pesat seiring lahirnya teater modern pada akhir abad 19. Artinya. watak.

warna. Saling berbicara. Apalagi ketika proses tersebut dinilai dan memiliki konsekuensi langsung bagi pelakunya. Sebuah langkah yang besar selalu dimulai dari langkah kecil. dan alim. Berdiskusi. sehingga penonton mampu mengidentifikasikan tokoh dengan mudah 5. 5. tokoh seorang pelajar yang bandel. Pementasan teater adalah suatu tontonan yang mengandung aspek keindahan. busananya dilengkapi asesoris dan cara pemakaiannya seenaknya tidak sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan sekolah. busananya cenderung rapi. Dengan demikin dalam satu karya teater. pengetahuan. sederhana. PENUTUP Sebuah karya teater lahir dari satu proses pembelajaran yang padu. Karena prinsip teater adalah kerjasama maka belajar teater tidaklah hanya mempelajari elemen-elem yang ada di dalamnya tetapi juga mempelajari kerja pengabungan di antaranya. Memecahkan persoalan bersama dan menentukan satu keputusan yang secara artistik adil bagi semua pihak. Satu proses kerja bidang tertentu bahkan dinilai lebih tinggi dari bidang lain. Melalui busana.4. tokoh seorang pelajar yang pendiam. Teater di Inggris pada masa pemerintahan Ratu Elizabeth (1580 – 1640). rajin. . dan peningkatan kompetensi tetapi juga untuk mengungkap makna kerja yang ada di sebalik ilmu. Akhirnya menjadi maklumlah kita ketika seseorang berbicara tentang teater maka ia akan membicarakan semua elemen yang ada di dalamnya. motif. Tata busana dalam teater berfungsi sebagai bentuk ekspresi untuk tampil lebih indah dari penampilan seharihari. Dalam satu proses pembelajaran hal semacam itu sering tejadi. Karena sifatnya yang kolaboratif maka seni teater akan kehilangan spiritnya jika masing-masing bidang berusaha untuk menonjol dan mengalahkan bidang lain. Kualitas karya yang dihasilkan menggambarkan semangat dan keadaan jiwa pembuatnya. kerja sekecil apapun dalam teater sangatlah penting. Oleh karena itu. Satu bidang kecil memiliki makna yang sama dengan bidang lain. Perbedaan karakter dalam busana dapat ditampilkan melalui model.1. Berbicara teater tidak hanya berbicara naskah atau sutradara yang merajut proses atau aktor terkenal yang ikut terlibat di dalamnya.4. Busana pementesan teater dibuat secara khusus dan dilengkapi dengan asesoris sesuai kebutuhan pemensan. hasrat untuk tampil berbeda dan lebih indah dari tampilan sehari-hari telah muncul. tidak hanya tergambar keindahan karya seni tetapi juga prinsip kebersamaan. Penampilan busana yang berbeda akan menunjukkan ciri khusus seorang tokoh. dan garis yang diciptakan. Pada era teater primitif. penonton terbantu dalam menangkap karakter yang berbeda dari setiap tokoh. Sebuah karya teater yang besar merupakan penyatuan kerja elemen-elemen yang kecil. Jika kualitas kerja salah satu bidang tidak baik maka keseluruhan pertunjukan menjadi terpengaruh. Contohnya. dan tanpa asesoris yang berlebihan. Pemaknaan ini akan membawa satu sikap penghargaan profesi baik bagi diri sendiri atau bagi orang yang bekerja pada bidang lain. brutal. Satu bidang harus mampu dan mau menghargai bidang lain. Busana menjadi salah satu tanda penting untuk membedakan satu tokoh dengan tokoh yang lain. Penonton membutuhkan suatu penampilan yang berbeda-beda antara satu tokoh dengan tokoh yang lain. Sebaliknya. bentuk. Membaca referensi atau buku teater tidaklah hanya untuk menambah wawasan. Secara mendalam. memakai busana sehari-hari yang dibuat lebih indah dengan mengaplikasikan perhiasan dan penambahan bahanbahan yang mahal dan mewah.kehidupan. dan sering membuat onar.1.3 Menggambarkan Karakter Tokoh Fungsi penting busana dalam teater adalah untuk menggambarkan karakter tokoh. seni memang tidak hanya menghasilkan sesuatu yang tampak (produk) tetapi juga mental atau jiwa para pelakunya. Dalam teater hal itu tidak berlaku.2 Membedakan Satu Pemain Dengan Pemain Yang Lain Pementasan teater menampilkan tokoh yang bermacam-macam karakter dan latar belakang sosialnya.

. Ia akan bermain dalam area yang diciptakan oleh penata panggung. apapun kualitasnya gagasan tersebut harus menjadi sesuatu. membaca untuk menginspirasi sehingga seni baru senantiasa lahir. konsep. lebih menghargai pengalaman dari pada hasil akhir. Minimal menjadi tiga kalimat yang masing-masing mewakili pemaparan. Respon atau tanggapan yang diberikan penonton terhadap pertunjukan yang dilangsungkan merupakan tanda bagi keberhasilan atau kegagalan pertunjukan tesebut dalam menyampaikan pesan. Demikian berjalan secara berkesambungan. Satu gagasan atau perwujudan karya menjadi indah dan menarik serta memiliki kesatuan makna jika semua elemennya memiliki tujuan artistik yang sama. Karya seni yang lebih mementingkan proses. Banyak seniman yang lahir karena membaca atau mempelajari karya (catatan) seniman yang lainnya. Jika satu saja elemen berada di luar garis ini maka kesatuan makna menjadi kabur. Saling mendukung demi tercapaiya tujuan tersebut. dengan memahami dasar-dasar penciptaan lakon yang mengedepankan pentingnya arti konflik dalam teater. Semua elemen harus besatu. Sesuatu yang sangat berarti bagi si penggagas. Dalam teater. Dalam sebuah lakon yang menceritakan tentang kesedihan. Untuk kepentingan inilah buku ini disusun. bahkan penonton yang hadir di dalamnya. tata rias dan busana. Dramaturgi adalah catatan-catatan proses penciptaan seni drama hingga sampai pementasannya. semua saling belajar. Membaca catatan karya orang lain bukan dipahami sebagai bentuk plagiarisme tetapi membaca untuk mempelajari. wujud awal dari sebuah gagasan harus mengalami proses pembentukan. Apapun bentuknya. Gagasan hanya akan menjadi gagasan jika tidak diwujudkan. Semua elemen harus memahami hal ini. pelajarilah semuanya sesuai dengan tahapan yang benar. membaca untuk menilhami. Hal itu akan menyangkut soal cerita. Ketika sebuah gagasan muncul. sutradara. Tidak peduli berapa panjang cerita tersebut. Catatan inti akan terus berkembang seiring dengan perkembangan teater itu sendiri. Memang perlu belajar satu bidang secara khusus tetapi pemahaman atas bidang lain tidak bisa diabaikan. sebuah gagasan dapat diwujudkan. Disitulah sebetulnya letak fungsi hakiki dari sebuah pengetahuan. Seorang aktor yang baik harus mengerti fungsi tata panggung karena ia akan bermain di antara objek yang ditata di atas pentas. Bahkan mungkin cerita itu hanya merupakan satu rangkaian kalimat. semua bermula dari sebuah cerita. ketersampaian cerita. Memiliki tujuan yang sama. Demikian pula penata panggung harus mau memahami pola laku dan gerak para aktor di atas pentas sehingga ruang yang diciptakan tidak mengganggu bagi pergerakan aktor ketika bemain. Dramaturgi atau pengetahuan teater dasar merupakan pokok pemahaman yang harus diperhatikan. semua saling mendukung. Begitu pentingnya pesan yang hendak disampaikan sehingga semua elemen pendukung pementasan bekerja keras mewujudkannya. Karena itu pulalah penonton merupkan kunci keberhasilan sebuah pertunjukan. mempelajari teater tidak hanya mempelajari satu bidang dan mengabaikan bidang lain. Satu karya mempengaruhi atau terpengaruh oleh karya lain. dan penyelesaian. Dengan berdasar pengetahuan dan keingintahuan dari membaca catatan tersebut. Akan tetapi. Semua itu tidak berada dalam bingkai saling meniru akan tetapi bingkai kreativitas yang terus berkembang dan berkembang. Oleh karena itulah. Karya seni yang lahir dari kreativitas dapat dialirkan kepada generasi berikutnya melalui catatancatatan. Oleh sebab itu. Kualitas ketersampaian pesan yang diramu oleh para pekerja teater (pengarang. aktor. maka ia perlu dinyatakan. Karya baru yang dihasilkan oleh seniman itupun pada nantinya juga akan menginspirasi karya yang lain.Berbicara teater adalah berbicara tentang semua hal yang ada di dalamnya. tata panggung dan cahaya. konflik. Jadi. semua saling membantu. maka cerita yang satu kalimat itu pun dapat dikembangkan. maka semua komponen bekerja untuk memenuhi atmosfir kesedihan yang diharapkan. penata artistik) akan diketahui langsung oleh para penonton dalam sebuah pertunjukan.

Semua secara harmonis bekerja bersama mendukung makna yang satu.. Teater adalah kolketif. dan proses adalah belajar. Pengetahuan tentang dasar-dasar penyutradaraan. Dengan semangat dan ketekunan berlatih. Masing-masing bidang dalam teater dapat dikerjakan oleh orang-orang tertentu yang tertarik di bidang-bidang tersebut. berkarya. Masing-masing bidang yang dibahas dalam buku ini memberikan gambaran harmonisasi tersebut. cerita yang sudah berhasil dicipta dapat diwujudkan ke dalam sebuah pementasan. Joglo Drama – Mbah Brata Seni memanusiakan manusia. akan tetapi lebih berarti jika semua bidang bersinergi. dan belajar. pemeranan. Semua bisa dipelajari secara mandiri. Sebuah pertunjukan dapat digelar. sebuah karya teater dapat dilahirkan. Semangat belajar dalam teater tidak akan pernah bisa berhenti karena teater senantiasa hidup dan berkembang. Jika semuanya berbuat dalam semangat kerjasama maka pergelaran karaya teater menjadi karya bersama yang memiliki satu makna. Berkarya. Catatan kecil yang kami sampaikan ini semoga dapat menjadi pemicu semangat untuk terus belajar dan berkarya.Hanya dengan cerita yang sangat sederhana semacam ini. Cari Bottom of Form Kajian Drama 22 Apr 2009 Tinggalkan sebuah Komentar by mbahbrata in Kajian Teori .. teater adalah kerjasama. dan berkarya. Semua berjalan dalam satu proses. Ilmu yang didapatkan sekarang tidak akan pernah cukup. belajar. Kerjasama sebagai semangat seni teater dapat dijadikan acuan proses penciptaan. Tidak perlu seorang diri mengerjakan semuanya. menjadikan manusia lebih manusiawi • • • Beranda Jeda Malam Tentang Blog ‘Joglo Drama’ Top of Form Search. dan tata artistik dapat diaplikasikan untuk mendukung karya yang akan ditampilkan. Oleh karena itu maka tidak ada kata lain selain belajar.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful