Teater berasal dari kata Yunani, “theatron” (bahasa Inggris, Seeing Place) yang artinya tempat atau gedung

pertunjukan. Dalam perkembangannya, dalam pengertian lebih luas kata teater diartikan sebagai segala hal yang dipertunjukkan di depan orang banyak. Dengan sintren, demikian, janger, dalam rumusan dagelan, sederhana sulap, teater adalah lain pertunjukan, misalnya ketoprak, ludruk, wayang, wayang wong, mamanda, akrobat, dan sebagainya. Teater dapat dikatakan sebagai manifestasi dari aktivitas naluriah, seperti misalnya, anak-anak bermain sebagai ayah dan ibu, bermain tokohg-tokohgan, dan lain sebagainya. Selain itu, teater merupakan manifestasi pembentukan strata sosial kemanusiaan yang berhubungan dengan masalah ritual. Misalnya, upacara adat maupun upacara kenegaraan, keduanya memiliki unsur-unsur teatrikal dan bermakna filosofis. Berdasarkan paparan di atas, kemungkinan perluasan definisi teater itu bisa terjadi. Tetapi batasan tentang teater dapat dilihat dari sudut pandang sebagai berikut: “tidak ada teater tanpa aktor, baik berwujud riil manusia maupun boneka, terungkap di layar maupun pertunjukan langsung yang dihadiri penonton, serta laku di dalamnya merupakan realitas fiktif”, (Harymawan, 1993). Kata “drama” juga dianggap telah ada sejak era Mesir Kuno (4000-1580 SM), sebelum era Yunani Kuno (800-277 SM). Hubungan kata “teater” dan “drama” bersandingan sedemikian erat seiring dengan perlakuan terhadap teater yang mempergunakan drama lebih identik sebagai teks atau naskah atau lakon atau karya sastra (Bakdi Soemanto, 2001). Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa istilah “teater” berkaitan langsung dengan pertunjukan, sedangkan “drama” berkaitan dengan lakon atau naskah cerita yang akan dipentaskan. Jadi, teater adalah visualisasi dari drama atau drama yang dipentaskan di atas panggung dan disaksikan oleh penonton. Jika “drama” adalah lakon dan “teater” adalah pertunjukan maka “drama” merupakan bagian atau salah satu unsur dari “teater”.

Dengan kata lain, secara khusus teater mengacu kepada aktivitas melakukan kegiatan dalam seni pertunjukan (to act) sehingga tindaktanduk pemain di atas pentas disebut acting. Istilah acting diambil dari kata Yunani “dran” yang berarti, berbuat, berlaku, atau beraksi. Karena aktivitas beraksi ini maka para pemain pria dalam teater disebut actor dan pemain wanita disebut actress (Harymawan, 1993). Meskipun istilah teater sekarang lebih umum digunakan tetapi sebelum itu istilah drama lebih populer sehingga pertunjukan teater di atas panggung disebut sebagai pentas drama. Hal ini menandakan digunakannya naskah lakon yang biasa disebut sebagai karya sastra drama dalam pertujukan teater. Di Indonesia, pada tahun 1920-an, belum muncul istilah teater. Yang ada adalah sandiwara atau tonil (dari bahasa Belanda: Het Toneel). Istilah Sandiwara konon dikemukakan oleh Sri Paduka Mangkunegoro VII dari Surakarta. Kata sandiwara berasal dari bahasa Jawa “sandi” berarti “rahasia”, dan “wara” atau “warah” yang berarti, “pengajaran”. Menurut Ki Hajar Dewantara “sandiwara” berarti “pengajaran yang dilakukan dengan perlambang” (Harymawan, 1993). Rombongan teater pada masa itu menggunakan nama Sandiwara, sedangkan cerita yang disajikan dinamakan drama. Sampai pada Zaman Jepang dan permulaan Zaman Kemerdekaan, istilah sandiwara masih sangat populer. Istilah teater bagi masyarakat Indonesia baru dikenal setelah Zaman Kemerdekaan (Kasim Achmad, 2006). Keterikatan antara teater dan drama sangat kuat. Teater tidak mungkin dipentaskan tanpa lakon (drama). Oleh karena itu pula dramaturgi menjadi bagian penting dari seni teater. Dramaturgi berasal dari bahasa Inggris dramaturgy yang berarti seni atau tekhnik penulisan drama dan penyajiannya dalam bentuk teater. Berdasar pengertian ini, maka dramaturgi membahas proses penciptaan teater mulai dari penulisan naskah hingga pementasannya. Harymawan (1993) menyebutkan tahapan dasar untuk mempelajari dramaturgi yang disebut dengan formula dramaturgi. Formula ini disebut dengan

fromula 4 M yang terdiri dari, menghayalkan, menuliskan, memainkan, dan menyaksikan. M1 atau menghayal, dapat dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang karena menemukan sesuatu gagasan yang merangsang daya cipta. Gagasan itu timbul karena perhatian ditujukan pada suatu persitiwa baik yang disaksikan, didengar maupun dibaca dari literatur tertentu. Bisa juga gagasan itu timbul karena perhatian ditujukan pada kehidupan seseorang. Gagasan atau daya cipta tersebut kemudian diwujudkan ke dalam besaran cerita yang pada akhirnya berkembang menjadi sebuah lakon untuk dipentaskan. M2 atau menulis, adalah proses seleksi atau pemilihan situasi yang harus dihidupkan begi keseluruhan lakon oleh pengarang. Dalam sebuah lakon, situasi merupakan kunci aksi. Setelah menemukan kunci aksi ini, pengarang mulai mengatur dan menyusun kembali situasi dan peristiwa menjadi pola lakon tertentu. Di sini seorang pengarang memiliki kisah untuk diceritakan, kesan untuk digambarkan, suasana hati para tokoh untuk diciptakan, dan semua unsur pembentuk lakon untuk dikomunikasikan. M3 atau memainkan, merupakan proses para aktor memainkan kisah lakon di atas pentas. Tugas aktor dalam hal ini adalah mengkomunikasikan ide serta gagasan pengarang secara hidup kepada penonton. Proses ini melibatkan banyak orang yaitu, sutradara sebagai penafsir pertama ide dan gagasan pengarang, aktor sebagai komunitakor, penata artsitik sebagai orang yang mewujudkan ide dan gagasan secara visual serta penonton sebagai komunikan. M4 atau menyaksikan, merupakan proses penerimaan dan penyerapan informasi atau pesan yang disajikan oleh para pemain di atas pentas oleh para penonton. Pementasan teater dapat dikatakan berhasil jika pesan yang hendak disampaikan dapat diterima dengan baik oleh penonton. Penonton pergi menyaksikan pertunjukan dengan maksud pertama untuk memperoleh kepuasan atas kebutuhan dan

pemahaman dasar formula dramaturgi dapat dijadikan acuan proses penciptaan karya seni teater. . Unsur cerita ditambahkan pada upacara semacam teater.1 Teater Barat 2. itu yang akhirnya upacara berkembang agama menjadi lama pertunjukan Meskipun telah ditinggalkan. • Berasal dari nyanyian untuk menghormati seorang pahlawan di kuburannya. Adapun yang dapat diketahui hanyalah teori tentang asal mulanya.keinginannya terhadap tontonan tersebut. sudah bisa membuat kalender. I Kher-nefert. tokoh. Rendra dalam Seni Drama Untuk Remaja (1993). maka pertunjukan yang digelar bisa dipastikan kurang sempurna. • Berasal dari upacara agama primitif. dan juga sudah mengenal tulis menulis. Sejarah Singkat Teater 2. Pada zaman itu peradaban Mesir Kuno sudah maju. Oleh karena itu. Jika salah satu tahap dan unsur yang ada dalam setiap tahapan diabaikan. Cerita itu kemudian juga dibuat dalam bentuk teater (kisah perburuan. kepahlawanan. di zaman peradaban Mesir Kuno kira-kira 2000 tahun sebelum tarikh Masehi. • Berasal dari kegemaran manusia mendengarkan cerita.1. tapi teater ini hidup terus hingga sekarang. sudah mengenal ilmu bedah. Mereka sudah bisa membuat piramida. 2. Formula dramaturgi seperti disebutkan di atas merupakan tahap mendasar yang harus dipahami dan dilakukan oleh para pelaku teater. menyebutkan bahwa naskah teater tertua di dunia yang pernah ditemukan ditulis seorang pendeta Mesir. Di antaranya teori tentang asal mula teater adalah sebagai berikut. Dalam acara ini seseorang mengisahkan riwayat hidup sang pahlawan yang lama kelamaan diperagakan dalam bentuk teater.1 Asal Mula Teater Waktu dan tempat pertunjukan teater yang pertama kali dimulai tidak diketahui. dan lain sebagainya). sudah mengerti irigasi.

Pertunjukan ini dikenalkan oleh Livius Andronicus. Namun mutu teater Romawi tak lebih baik daripada teater Yunani. Naskah lakon teater Yunani merupakan naskah lakon teater pertama yang menciptakan dialog diantara para karakternya. 1964). yang Ribuan disebut orang amphitheater Soemardjo. • Seluruh pemainnya pria bahkan tokoh wanitanya dimainkan pria dan memakai topeng karena setiap pemain memerankan lebih dari satu tokoh.2.1. Teater ini dibangun tanpa atap dalam bentuk setengah lingkaran dengan tempat duduk penonton melengkung (Jakob dan berundak-undak 1984).1. begitu juga Teater. kasar dan sering mengeritik tokoh terkenal pada waktu itu. seniman Yunani. takut. Teater Romawi merupakan hasil adaptasi bentuk teater . • Selain pemeran utama juga ada pemain khusus untuk kelompok koor (penyanyi).3 Teater Romawi Klasik Setelah tahun 200 Sebelum Masehi kegiatan kesenian beralih dari Yunani ke Roma. Teater pertama kali dipertunjukkan di kota Roma pada tahun 240 SM (Brockett. • Sudah menggunakan naskah lakon. Teater Romawi menjadi penting karena pengaruhnya kelak pada Zaman Renaissance. dan narator (pemain yang menceritakan jalannya pertunjukan). Teatron pada zaman Yunani 2. dan hadiah diberikan bagi teater terbaik. mengunjungi amphitheater untuk menonton teater-teater. • Cerita yang dimainkan adalah tragedi yang membuat penonton tegang. dan kasihan serta cerita komedi yang lucu. penari. Ciri-ciri khusus pertunjukan teater pada masa Yunani Kuno adalah: • Pertunjukan dilakukan di amphitheater.2 Teater Yunani Klasik Tempat pertunjukan teater Yunani pertama yang permanen dibangun sekitar 2300 tahun yang lalu.

• Tema berkisar pada masalah hidup kesenjangan golongan menengah.1. seperti menurunkan seorang aktor dari atas ke panggung. Para pemain pegeant memainkan satu adegan dari kisah dalam Alkitab. banyak kota di Eropa mementaskan drama untuk merayakan hari-hari besar umat Kristen. 2. Pageant lain dari aktor-aktor lain untuk adegan berikutnya. . Drama-drama dibuat berdasarkan cerita-cerita Alkitab dan dipertunjukkan di atas kereta. anak muda yang melawan kekuasaan orang tua dan lain sebagainya. Orang berkerumun untuk menyaksikan drama pageant religius di Eropa. drama ini populer karena pemainnya berbicara dalam bahasa sehari-hari. lalu berjalan lagi. 2002). Aktor-aktor pageant seringkali adalah para perajin setempat yang memainkan adegan yag menunjukan keahlian mereka. • Musik menjadi pelengkap seluruh adegan. Bahkan kini pertunjukan jalan dan prosesi penuh warna diselenggarakan di seluruh dunia untuk merayakan berbagai hari besar keagamaan.4 Teater Abad Pertengahan Dalam tahun 1400-an dan 1500-an. • Koor tidak lagi berfungsi mengisi setiap adegan. Hampir di setiap unsur panggungnya terdapat unsur pemanggungan teater Yunani. Para pemain drama pageant menggunakan tempat di bawah kereta untuk menyembunyikan peralatan. Peralatan ini digunakan untuk efek tipuan.Yunani. Namun demikian teater Romawi pun memiliki kebaruan-kebaruan dalam penggarapan dan penikmatan yang asli dimiliki oleh masyarakat Romawi dengan ciri-ciri sebagi berikut. menggantikannya. bukan bahasa Latin yang merupakan bahasa resmi gereja-gereja Kristen (Wisnuwardhono. yang disebut pageant. dan ditarik keliling kota. Tidak hanya menjadi tema cerita tetapi juga menjadi ilustrasi cerita. • Karakteristik tokoh tergantung kelas yaitu orang tua yang bermasalah dengan anak-anaknya atau kekayaan.

Semangat baru muncul untuk menyelidiki kebudayaan Yunani dan Romawi klasik. Semangat ini disebut semangat Renaissance yang berasal dari kata “renaitre” yang berarti kelahiran kembali manusia untuk mendapatkan semangat hidup baru. Sejarah abad 15 dan 16 ditentukan oleh penemuanpenemuan penting yaitu mesin. kompas. yaitu tragedi. • Drama tidak memiliki nama pengarang. • Aktor bermain di panggung di atas kereta yang bisa dibawa berkeliling menyusuri jalanan. • Drama dimainkan di tempat umum dengan memungut bayaran.Ciri-ciri teater abad Pertengahan adalah sebagai berikut: • Drama dimainkan oleh aktor-aktor yang belajar di universitas sehingga dikaitkan dengan masalah filsafat dan agama. Di gedung-gedung teater milik para bangsawan inilah dipentaskan naskah-naskah yang meniru drama-drama klasik. Pusat-pusat aktivitas teater di Italia adalah istana-istana dan akademi. Gerakan yang menyelidiki semangat ini disebut gerakan humanisme. . komedi. Para aktor kebanyakan pegawai-pegawai istana dan pertunjukan diselenggarakan dalam pesta-pesta istana.5 Renaissance Abad 17 memberi sumbangan yang sangat berarti bagi kebudayaan Barat. Ada tiga jenis drama yang dikembangkan. Ciri-ciri teater Zaman Renaissance yakni sebagai berikut. Namun nilai seni ketiganya masih rendah. dan pastoral atau drama yang membawakan kisah-kisah percintaan antara dewa-dewa dengan para gembala di daerah pedesaan.1. Drama dilangsungkan dengan mengikuti struktur yang ada. 2. • Drama banyak disisipi cerita kepahlawanan yang dibumbui cerita percintaan. Meskipun demikian gerakan mereka memiliki arti penting karena Eropa menjadi mengenal drama yang jelas struktur dan bentuknya. dan mesin cetak.

1. • Menggunakan naskah lakon yang berisi garis besar cerita. dan lapangan. • Cerita yang dimainkan bersumber pada cerita yang diceritakan secara turun menurun. selama pemerintahan Ratu Elizabeth I.6 Teater Zaman Elizabeth Pada tahun 1576. Gedung ini dibangun seperti lingkaran sehingga penonton bisa duduk dihampir seluruh sisi panggung.• Naskah lakon yang dipertunjukkan meniru teater Zaman Yunani klasik. • Setting panggung sederhana. Ciri khas commedia dell’arte adalah: Para pemain dibebaskan berimprovisasi mengikuti jalannya cerita dan dituntut memiliki pengetahuan luas yang dapat mendukung permainan improvisasinya. • Cerita terdiri dari tiga babak didahului prolog panjang. dan tokoh pembantu. • Pelaksanaan bentuk teater diatur oleh kerajaan maupun universitas. yaitu rumah. Plot cerita berlangsung dalam suasana adegan lucu. gedung teater besar dari kayu dibangun di London Inggris. • Terdapat tiga tokoh yang selalu muncul. 2. • Tempat pertunjukannya di lapangan kota dan panggungpanggung sederhana. • Peristiwa cerita berlangsung dan berpindah secara cepat. Pada tahun 1575 bentuk ini sudah populer di Italia. • Menggunakan panggung proscenium yaitu bentuk panggung yang memisahkan area panggung dengan penonton. • Cerita bertema mitologi atau kehidupan sehari-hari. • Pada zaman ini juga melahirkan satu bentuk teater yang disebut commedia dell’arte. • Tata busana dan seting yang dipergunakan sangat inovatif. Gedung teater ini sangat sukses sehingga . Kemudian menyebar luas di Eropa dan mempengaruhi semua bentuk komedi yang diciptakan pada tahun 1600. jalan. Merupakan bentuk teater rakyat Italia yang berkembang di luar lingkungan istana dan akademisi. yaitu tokoh penguasa. tokoh penggoda.

mulai dari pembunuhan dan tokohg sampai cinta dan kecemburuan. • Tempat adegan ditandai dengan ucapan dengan disampaikan dalam dialog para tokoh. • Penontonnya berbagai lapisan masyarakat dan diramaikan oleh penjual makanan dan minuman. Salah satunya yang disebut Globe.1. 2. Ciri-ciri teater Zaman Elizabeth adalah: • Pertunjukan dilaksanakan siang hari dan tidak mengenal waktu istirahat. penulis drama terkenal dari Inggris yang hidup dari tahun 1564 sampai tahun 1616. Dewasa ini. • Menggunakan naskah lakon. dan menceritakan gagasan-gagasan mereka kepada penonton. Mereka yang tidak mampu membeli tiket berdiri di sekitar panggung.000 penonton. pendidikan. Rancanganrancangan panggung termasuk pengaturan panggung arena. beberapa cara untuk mengekspresikan karakter-karakter berbeda . yang disebut solilokui. Ia biasanya menulis dalam bentuk puisi atau sajak. Ia menulis 37 (tiga puluh tujuh) drama dengan berbagai tema. • Corak pertunjukannya merupakan perpaduan antara teater keliling dengan teater sekolah dan akademi yang keklasik-klasikan. Teater di Tengah-Tengah Gedung.7 Teater Abad 20 Pementasan Teater di Broadway. gedung teater ini bisa menampung 3.banyak gedung sejenis dibangun di sekitarnya. Gedung-gedung pertunjukan modern memiliki efek-efek khusus dan teknologi baru. Penonton yang mampu membeli tiket duduk di sisi-sisi panggung. selain penulis drama. hiburan. Orang datang ke gedung pertunjukan tidak hanya untuk menyaksikan teater melainkan juga untuk menikmati musik. Tidak pemain wanita. • Tokoh wanita dimainkan oleh pemain anak-anak laki-laki. atau yang disebut saat ini. Ia adalah seorang aktor dan penyair. Beberapa ceritanya berisi monolog panjang. Globe mementaskan drama-drama karya William Shakespeare. Teater telah berubah selama berabadabad. dan mempelajari hal-hal baru.

Wilayah jelajah artistik dibuka selebar-lebarnya untuk kemungkinan perkembangan bentuk pementasan seni teater. dan absurd. Gaya-gaya teater pertunjukan realistis dan eksperimental ditemukan dalam Amerika saat ini. Pada saat itu. Pada awal abad 20 inilah istilah teater eksperimental berkembang. surealisme. Setelah melepaskan diri dari kaitan upacara. sebenarnya baru merupakan unsurunsur teater. kualitas pertunjukan realis oleh beberapa seniman dianggap semakin menurun dan membosankan. tata cahaya. Teater tradisional merupakan bagian dari suatu upacara keagamaan ataupun upacara adat-istiadat dalam tata cara kehidupan masyarakat kita. dan efek elektronik.dalam pertunjukan-pertunjukan (di samping nada suara) dapat melalui musik. unsur- . Tetapi tidak jarang pula usaha mereka berhenti pada produksi pertama. Seiring dengan perkembangan waktu. dan belum merupakan suatu bentuk kesatuan teater yang utuh. sutradara. Banyak gaya baru yang lahir baik dari sudut pandang pengarang. Tidak jarang usaha mereka berhasil dan mampu memberikan pengaruh seperti gaya simbolisme. aktor ataupun penata artistik.2 Teater Indonesia 2. 2. Hal ini mendorong para pemikir teater untuk menemukan satu bentuk ekspresi baru yang lepas dari konvensi yang sudah ada. epik. Lepas dari hal itu. Pada zaman itu. sejarah teater tradisional di Indonesia dimulai sejak sebelum Zaman Hindu. para seniman mencari bentuk pertunjukannya sendiri.2. yang disebut “teater”.1 Teater Tradisional Kasim Achmad dalam bukunya Mengenal Teater Tradisional di Indonesia (2006) mengatakan. ada tanda-tanda bahwa unsur-unsur teater tradisional banyak digunakan untuk mendukung upacara ritual. dekorasi. usaha pencarian kaidah artistik yang dilakukan oleh seniman teater modern patut diacungi jempol karena usaha-usaha tersebut mengantarkan pada keberagaman bentuk ekspresi dan makna keindahan. Dengan semangat melawan pesona realisme.

Perubahan tersebut terletak pada cerita yang sudah mulai ditulis. 2. yang pada saat itu masih belum menggunakan naskah drama/lakon. Kelompok teater yang masih tergolong kelompok teater tradisional dengan model garapan memasukkan unsur-unsur teknik teater Barat. dan sebagainya. Macammacam teater tradisional Indonesia adalah: wayang kulit.2.2 Teater Modern 2.unsur teater tersebut membentuk suatu seni pertunjukan yang lahir dari spontanitas rakyat dalam masyarakat lingkungannya. Mulai memperhitungkan teknik yang mendukung pertunjukan. lenong. wayang wong. sumber dan tata-cara di mana teater tradisional lahir. ubrug. drama gong. tergantung kondisi dan sikap budaya masyarakat. . Selain pengaruh dari teater bangsawan. Cara penyajian cerita dengan menggunakan panggung dan dekorasi. Proses terjadinya atau munculnya teater tradisional di Indonesia sangat bervariasi dari satu daerah dengan daerah lainnya. Perkenalan masyarakat Indonesia pada teater non-tradisi dimulai sejak Agust Mahieu mendirikan Komedie Stamboel di Surabaya pada tahun 1891. teater tradisional berkenalan juga dengan teater Barat yang dipentaskan oleh orang-orang Belanda di Indonesia sekitar tahun 1805 yang kemudian berkembang hingga di Betawi (Batavia) dan mengawali berdirinya gedung Schouwburg pada tahun 1821 (Sekarang Gedung Kesenian Jakarta). arja.2.2.1 Teater Transisi Teater transisi adalah penamaan atas kelompok teater pada periode saat teater tradisional mulai mengalami perubahan karena pengaruh budaya lain. ludruk . meskipun masih dalam wujud cerita ringkas atau outline story (garis besar cerita per adegan). dinamakan teater bangsawan. ketoprak. Hal ini disebabkan oleh unsur-unsur pembentuk teater tradisional itu berbedabeda. randai. yang pementasannya secara teknik telah banyak mengikuti budaya dan teater Barat (Eropa). Pada periode transisi inilah teater tradisional berkenalan dengan teater non-tradisi.

sedangkan cerita yang disajikan dinamakan drama.Dilihat dari segi sastra. Lakon Bebasari merupakan sastra drama yang menjadi pelopor semangat kebangsaan. istilah sandiwara masih sangat populer. Pada masa teater transisi belum muncul istilah teater. dan lain sebagainya. Lelakon Komedia Hindia Timoer (1913). Indra Bangsawan. Komidi Bangsawan. Naskah-naskah drama tersebut belum mencapai bentuk sebagai drama karena masih menekankan unsur sastra dan sulit untuk dipentaskan.2. Kemudian lahirlah kelompok sandiwara lain.2. Opera Abdoel Moeloek. Kemudian disusul oleh Lauw Giok Lan lewat Karina Adinda. Setelah sandiwara Komedie seperti Stamboel didirikan muncul (The kelompok Opera Sandiwara Dardanella Malay Dardanella) yang didirikan Willy Klimanoff alias A. Lakon ini menceritakan perjuangan . Sandiwara Tjahaja Timoer. pada tahun 1901. Sandiwara Orion. Karenanya rombongan teater pada masa itu menggunakan nama sandiwara. Istilah teater bagi masyarakat Indonesia baru dikenal setelah Zaman Kemerdekaan. 2.Wiggers yang berjudul Lelakon Raden Beij Soerio Retno. seperti Opera Stambul. Drama-drama Pujangga Baru ditulis sebagai ungkapan ketertekanan kaum intelektual dimasa itu karena penindasan pemerintahan Belanda yang amat keras terhadap kaum pergerakan sekitar tahun 1930-an. dan lainlainnya. Yang ada adalah sandiwara.2 Teater Indonesia tahun 1920-an Teater pada masa kesusasteraaan angkatan Pujangga Baru kurang berarti jika dilihat dari konteks sejarah teater modern Indonesia tetapi cukup penting dilihat dari sudut kesusastraan. Pedro pada tanggal 21 Juni 1926. yang menggunakan bahasa Melayu Rendah. Bentuk sastra drama yang pertamakali menggunakan bahasa Indonesia dan disusun dengan model dialog antar tokoh dan berbentuk sajak adalah Bebasari (artinya kebebasan yang sesungguhnya atau inti kebebasan) karya Rustam Efendi (1926). mulai mengenal sastra lakon dengan diperkenalkannya lakon yang pertama yang ditulis oleh orang Belanda F. Sampai pada Zaman Jepang dan permulaan Zaman Kemerdekaan.

Armiijn Pane mengolah roman Swasta Setahun di Bedahulu karangan I Gusti Nyoman Panji Tisna menjadi naskah drama. Rainbow.2. pada tahun 1927 menulis dan menyutradarai teater di Bengkulu (saat di pengasingan). Sumanang (Sekretaris). Dr. Segala daya kreasi seni secara sistematis di arahkan untuk menyukseskan pemerintahan totaliter Jepang. Imam Supardi menulis drama dengan judul Keris Mpu Gandring. Sutan Takdir Alisjabana. Mr. yaitu Anjar Asmara dan Kamajaya masih sempat berpikir bahwa perlu didirikan Pusat Kesenian Indonesia yang bertujuan menciptakan pembaharuan kesenian yang selaras dengan perkembangan zaman sebagai upaya untuk melahirkan kreasi – kreasi baru dalam wujud kesenian nasional Indonesia. 2. dengan judul Si Bachil. Beberapa lakon yang ditulisnya antara lain.3 Teater Indonesia tahun 1940-an Semua unsur kesenian dan kebudayaan pada kurun waktu penjajahan Jepang dikonsentrasikan untuk mendukung pemerintahan totaliter Jepang.tokoh utama Bujangga. dan sebagai anggota antara lain. yang membebaskan puteri Bebasari dari niat jahat Rahwana. Setan. Ir Soekarno. Satiman Wirjosandjojo menulis drama berjudul Nyai Blorong. dan Kama Jaya. Bahkan Presiden pertama Indonesia. Krukut Bikutbi. Singgih menulis drama berjudul Hantu. Nur Sutan Iskandar menyadur karangan Molliere. Maka pada tanggal 6 oktober 1942.2. Namun demikian. dan Dr. yaitu Sanusi Pane menulis Kertajaya (1932) dan Sandyakalaning Majapahit (1933) Muhammad Yamin menulis Ken Arok dan Ken Dedes (1934). Badan Pusat Kesenian Indonesia bermaksud . Sanusi Pane (Ketua). dan harapan serta misi mewujudkan Indonesia sebagai negara merdeka. persoalan. Penulis lakon lainnya. Lakon-lakon ini ditulis berdasarkan tema kebangsaan. Penulis-penulis ini adalah cendekiawan Indonesia. dua orang tokoh. menulis dengan menggunakan bahasa Indonesia dan berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Mr. Armijn Pane. di rumah Bung Karno dibentuklah Badan Pusat Kesenian Indonesia dengan pengurus sebagai berikut. dalam situasi yang sulit dan gawat serupa itu.

A Murdiati. Dahlia. ternyata mengalami hambatan yang datangnya dari barisan propaganda Jepang. Kris Bali. Air Mata Ibu (sudah difilmkan). di antaranya dengan jalan memperbaiki dan menyesuaikan kesenian daerah menuju kesenian Indonesia baru. . Dalam masa pendudukan Jepang kelompok rombongan sandiwara yang mula-mula berkembang adalah rombongan sandiwara profesional. yaitu di antara satu dan lain babak diselingi oleh tarian-tarian. Pengarang Nyoo Cheong Seng. dan Merah Delima. Rombongan sandiwara Bintang Surabaya tampil dengan aktor dan aktris kenamaan. Secara istimewa selingannya kemudian ditambah dengan mode show. nyanyian. Rombongan Sandiwara Bintang Surabaya menyuguhkan pementasan-pementasan dramanya dengan cara lama seperti pada masa Dardanella. dan Bolero. Mis Ribut. Oya. Ali Yugo. Pancawarna. dan lain-lain kembali berkembang dengan mementaskan cerita dalam bahasa Indonesia. Ratu Asia. Sija. Bengawan Solo. Rombongan sandiwara keliling komersial. Jawa. yang dikenal dengan nama samarannya Mon Siour D’amour ini dalam rombongan sandiwara Bintang Surabaya menulis lakon antara lain. Mata Hari. Fifi Young. Langkah-langkah yang telah diambil oleh Badan Pusat Kesenian Indonesia untuk mewujudkan cita-cita kemajuan kesenian Indonesia. Intensitas kerja Djawa Eiga Kosya yang ingin menghambat langkah Badan Pusat Kesenian Indonesia nampak ketika mereka membuka sekolah tonil dan drama Putra Asia. Tjahaya Asia. dengan peragawati gadis-gadis Indo Belanda yang cantik-cantik.menciptakan kesenian Indonesia baru. R. Warna Sari. Tan Ceng Bok (Si Item). seperti misalnya Bintang Surabaya. antara lain Astaman. Dalam kurun waktu ini semua bentuk seni hiburan yang berbau Belanda lenyap karena pemerintah penjajahan Jepang anti budaya Barat. yang dipimpin oleh orang Jepang S. Pendekar Asia. Dewi Mada. dan sebagainya. dan lawak. Mis Tjitjih. yang kesemuanya merupakan corong propaganda Jepang. yaitu Sendenbu yang membentuk badan perfilman dengan nama Djawa Eiga Kosy’. maupun Sunda. Komedi Bangsawan.

Rombongan sandiwara terkenal lainnya adalah rombongan sandiwara Sunda Mis Tjitjih. Ida Ayu. menjadi Dalam perjalanannya. yang sekaligus sebagai pemimpinnya. Cerita-cerita yang dipentaskan antara lain. Dewi Rani. sandiwara rombongan Tjahaya sandiwara Asia yang ini terpaksa berlindung di bawah barisan propaganda Jepang dan berganti nama rombongan mementaskan ceritacerita baru untuk kepentingan propaganda Jepang. seorang keturunan terkenal menempatkan deretan drumnya yang berbagai ukuran itu memenuhi lebih dari separuh panggung. yaitu rombongan sandiwara yang digemari rakyat jelata. dengan bintang-bintang eks Bolero. Bulan Punama. Kembang Kaca. Kusumahadi. Keistimewaan Filipina.Menyusul kemudian muncul rombongan sandiwara Dewi Mada. Anjar Asmara. Hingga tahun 1943 rombongan sandiwara hanya dikelola pengusaha Cina atau dibiayai Sendenbu karena bisnis pertunjukan itu masih asing bagi para pengusaha Indonesia. Hanya kalangan terpelajar yang menyukai pertunjukan Matahari yang menampilakan hiburan berupa tari-tarian pada awal pertunjukan baru kemudian dihidangkan lakon sandiwara dari awal hingga akhir. mendirikan rombongan sandiwara angkatan muda Matahari. rombongan yang sandiwara sebagi Warna Raja Sari Drum. Cerita yang dipentaskan antara lain. Ratna Asmara. Ia menabuh drum-drum tersebut sambil meloncat ke kanan–ke kiri sehingga menarik minat penonton. Baru kemudian Muchsin sebagai pengusaha besar tertarik dan membiayai rombongan sandiwara Warna Sari. adalah Garsia penampilan musiknya yang mewah yang dipimpin oleh Garsia. yaitu Dewi Mada dengan suaminya Ferry Kok. dan Kama Jaya pada tanggal 6 April 1943. Rombongan sandiwara Dewi Mada lebih mengutamakan tari-tarian dalam pementasan teater mereka karena Dewi Mada adalah penari terkenal sejak masa rombongan sandiwara Bolero. Panggilan Tanah Air. dan lain sebagainya. Bentuk penyajian semacam ini di anggap kaku oleh penonton umum yang lebih suka unsur hiburan disajikan sebagai selingan babak satu dengan babak lain . Ni Parini. dan Rencong Aceh.

Bende Mataram. Hei Natsu Eitaroo menulis Hantu. Kupu-kupu. Sensor Sendenbu malah menjadi titik awal dikenalkannya naskah dalam setiap pementasan sandiwara. yaitu Penggemar Maya (1944) pimpinan Usmar Ismail. Solo di Waktu Malam dan Nusa Penida. Huyung (Hei Natsu Eitaroo). apoteker. dan lain-lain). Solo di Waktu Malam. Sang Pek Engtay. Si Bongkok. nasionalis dan para profesional (dokter. Guna-guna. Kotot Sukardi menulis lakon. Menjelang akhir pendudukan Jepang muncul rombongan sandiwara yang melahirkan karya ssatra yang berarti. Para pemain tidak boleh menambah atau melebih-lebihkan dari apa yang sudah ditulis dalam naskah. Oleh karena ada sensor Sendenbu maka lakon harus ditulis lengkap berikut dialognya. Pertumbuhan sandiwara profesional tidak luput dari perhatian Sendenbu. dan Jauh di Mata.sehingga akhirnya dengan terpaksa rombongan sandiwara tersebut mengikuti selera penonton. Djajakusuma dengan dukungan Suryo Sumanto. Kelompok ini berprinsip menegakkan nasionalisme. Musim Bunga di Slabintana. humanisme dan agama. dan D. Potong Padi. Bahwa . Lakon Ibu Prajurit ditulis oleh Natsusaki Tani. Pada saat inilah pengembangan ke arah pencapaian teater nasional dilakukan. ahli seni drama atas nama Sendenbu memprakarsai berdirinya POSD (Perserikatan Oesaha Sandiwara Djawa) yang beranggotakan semua rombongan sandiwara profesional. dan Abu Hanifah dengan para anggota cendekiawan muda. Pecah Sebagai Ratna. Benteng Ngawi. Sendenbu menyiapkan naskah lakon yang harus dimainkan oleh setiap rombongan sandiwara karangan penulis lakon Indonesia dan Jepang. Dari semua lakon tersebut ada yang sudah di filmkan yaitu. Pancaroba. Teater tidak hanya sebagai hiburan tetapi juga untuk ekspresi kebudayaan berdasarkan kesadaran nasional dengan cita-cita menuju humanisme dan religiositas dan memandang teater sebagai seni serius dan ilmu pengetahuan. Kama Jaya menulis lakon antara lain. lakon Nora karya Henrik Ibsen diterjemahkan dan judulnya diganti dengan Jinak-jinak Merpati oleh Armijn Pane. Lakon-lakon yang ditulis Anjar Asmara antara lain. Nusa Penida. Jepang menugaskan Dr. Amat Heiho. Rosihan Anwar.

Titiktitik Hitam (Nasyah Jamin. kekecewaan. Sayang Ada Orang Lain (1953) karya Utuy Tatang Sontani. Pertahanan Akhir (Sitor Situmorang. 2. melainkan sampai ke Malaysia. Peristiwa tokohg secara khas dilukiskan dalam lakon Fajar Sidik (Emil Sanossa. kemiskinan. Pakaian dan Kepalsuan oleh Akhdiat Kartamiharja (1956) berdasarkan The Man In Grey Suit karya Averchenko dan Hanya Satu Kali (1956). Sementara ada lakon yang bercerita tentang kekecewaan paska tokohg. Kelak. 1954). penderitaan. mereka merenungkan peristiwa tokohg kemerdekaan. bahkan lakon adaptasi. Realisme konvensional dan naturalisme tampaknya menjadi pilihan generasi yang terbiasa dengan teater barat dan dipengaruhi oleh idiom Hendrik Ibsen dan Anton Chekhov. keiklasan sendiri dan pengorbanan.4 Teater Indonesia Tahun 1950-an Setelah tokoh kemerdekaan. dan lain-lain. berdasarkan Justice karya John Galsworthy. dan lain-lain. Kedua seniman teater Barat dengan idiom realisme konvensional ini menjadi tonggak didirikannya Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) pada tahun 1955 oleh Usmar Ismail dan Asrul Sani. 1959). seperti karyakarya . Islam dan Komunisme. 1956) Sekelumit Nyanyian Sunda (Nasyah Jamin. juga sebaliknya. seperti korupsi. 1955). pengkhianatan. ATNI menggalakkan dan memapankan realisme dengan mementaskan lakon-lakon terjemahan dari Barat.teori teater perlu dipelajari secara serius. Lakon Awal dan Mira (1952) tidak hanya terkenal di Indonesia. kemunafikan. melalaikan penderitaan korban tokohg.2.2. erosi ideologi. keberanian dan nilai kemanusiaan. oportunisme politis. Utuy Tatang Sontani dipandang sebagai tonggak penting menandai awal dari maraknya drama realis di Indonesia dengan lakonlakonnya yang sering menyiratkan dengan kuat alienasi sebagai ciri kehidupan moderen. peluang terbuka bagi seniman untuk merenungkan perjuangan dalam tokohg kemerdekaan. Penggemar Maya menjadi pemicu berdirinya Akademi Teater Nasional Indonesia di Jakarta. Tema itu terungkap dalam lakon-lakon seperti Awal dan Mira (1952). kepahlawanan dan tindakan pengecut. Kapten Syaf (Aoh Kartahadimaja. 1951).

Sedangkan metode pementasan dan pemeranan yang dikembangkan oleh ATNI adalah Stanislavskian. 2. Himpunan Seni Budaya Surakarta (HBS) didirikan di Surakarta. Menurut Brandon (1997). longser. Badak-badak (Ionesco. dan Chekov.5 Teater Indonesia Tahun 1970-an Pementasan: Mengapa Leonardo oleh Teater Koma Jim Adi Limas mendirikan Studiklub Teater Bandung dan mulai mengadakan eksperimen dengan menggabungkan unsur-unsur teater etnis seperti gamelan. ATNI inilah akademi teater modern yang pertama di Asia Tenggara.. Suyatna Anirun. Pada tahun 1967 Jim Lim belajar teater dan menetap di Paris. Wahyu Sihombing. dan dagelan dengan teater Barat. Ketika Rendra kembali . Tatiek Malyati. 1961). (Misbach Yusa Biran) dengan gaya longser. Jim Lim menyutradari Bung Besar. Pada tahun 1960. Alumni Akademi Teater Nasional yang menjadi aktor dan sutradara antara lain. dan Kasim Achmad. Sontani) dan Paman Vanya (Anton Chekhov). Pada akhir 1950-an JIm Lim mulai dikenal oleh para aktor terbaik dan para sutradara realisme konvensional. tari topeng Cirebon. Teguh Karya. Gogol. melanjutkan apa yang sudah dilakukan Jim Lim yaitu mencampurkan unsur-unsur teater Barat dengan teater etnis. yaitu Awal dan Mira (Utuy T. The Bespoke Overcoat (Wolf mankowitz ).2. salah satu aktor dan juga teman Jim Lim. 1960). 1945). teater rakyat Sunda. dan Biduanita Botak (Ionesco. 1950). Karya penyutradaraanya. Menyutradarai dengan gaya realistis tetapi isinya absurditas pada lakon Caligula (Albert Camus. 1962). Tahun 1962 Jim Lim menggabungkan unsur wayang kulit dan musik dalam karya penyutradaraannya yang berjudul Pangeran Geusan Ulun (Saini KM.Moliere. Pramana Padmadarmaya. Mengadaptasi lakon Hamlet dan diubah judulnya menjadi Jaka Tumbal (1963/1964). Galib Husein. Di Yogyakarta tahun 1955 Harymawan dan Sri Murtono mendirikan Akademi Seni Drama dan Film Indonesia (ASDRAFI). Bermain dengan akting realistis dalam lakon The Glass Menagerie (Tennesse William.2. Peristiwa penting dalam usaha membebaskan teater dari batasan realisme konvensional terjadi pada tahun 1967.

1968). Yogyakarta. Adi Kurdi (Teater Hitam Putih). Bib Bop dan Rambate Rate Rata (1967. menjadi pemicu meningkatnya aktivitas. Artaud dan Grotowsky juga diperbincangkan. Di Makasar. tata cahaya. Hasyim Amir (Bengkel Muda Surabaya. Noor (Teater Kecil) dengan gaya pementasan yang kaya irama dari blocking. menyelenggarakan festival pertunjukan secara teratur. Luthfi Rahman. Akhudiat. Rahman Arge dan Aspar Patturusi mendirikan Teater Makasar. dan lain-lain. pertunjukan bermula dari improvisasi dan eksplorasi bahasa tubuh dan bebunyian mulut tertentu atas suatu tema yang diistilahkan dengan teater mini kata (menggunakan kata seminimal mungkin). Medan. Akan tetapi. Padang. Taman Ismail Marzuki menerbitkan 67 (enam puluh tujuh) judul lakon yang ditulis oleh 17 (tujuh belas) pengarang sandiwara. Di Padang ada Wisran Hadi dengan teater Padang. gubernur DKI jakarta tahun1970. Tokoh-tokoh teater yang muncul tahun 1970-an lainnya adalah. Rendra mendirikan Bengkel Teater Yogya yang kemudian menciptakan pertunjukan pendek improvisatoris yang tidak berdasarkan naskah jadi (wellmade play) seperti dalam drama-drama realisme. D. Teguh Karya (Teater Populer). Pramana Padmodarmaya (Teater Lembaga).ke Indonesia. Ikranegara (Teater Saja). Teater Lektur. kostum dan verbalisme naskah. dan kreativitas berteater tidak hanya di Jakarta. Palembang. Danarto (Teater Tanpa Penonton). Wahyu Sihombing. Di Yogyakarta Azwar AN mendirikan teater Alam. Pertunjukannya misalnya. Putu Wijaya (teater Mandiri) dengan ciri penampilan menggunakan . Ujung Pandang. Tidak hanya Stanislavsky tetapi nama-nama seperti Brecht. Di Surabaya muncul bentuk pertunjukan teater yang mengacu teater epik (Brecht) dengan idiom teater rakyat (kentrung dan ludruk) melalui Basuki Rahmat. vokal. Surabaya. tetapi juga di kota besar seperti Bandung. Djajakusuma. Lalu Teater Nasional Medan didirikan oleh Djohan A Nasution dan Burhan Piliang. Teater Melarat Malang). Arifin C. musik. juga lokakarya dan diskusi teater secara umum atau khusus. Mohammad Diponegoro dan Syubah Asa mendirikan Teater Muslim. Didirikannya pusat kesenian Taman Ismail Marzuki oleh Ali Sadikin.

Pasar Seret. di Solo ada juga Teater Gidag-gidig. Riantiarno (Teater Koma) dengan ciri pertunjukan yang mengutamakan tata artistik glamor. Teater Jeprik. Upeti. Di Yogyakarta muncul Teater Dynasti. Teater Gandrik menonjol dengan warna teater yang mengacu kepada roh teater tradisional kerakyatan dan menyusun berita-berita yang aktual di masyarakat menjadi bangunan cerita. Sinden. Di Tegal lahir teater RSPD. Teater Tikar. Ditiadakannya kehidupan politik kampus sebagai akibat peristiwa Malari 1974. Di Surabaya ada Festival Drama Lima Kota yang digagas oleh Luthfi Rahman. Dewan-dewan Mahasiswa ditiadakan. Menampilkan manusia sebagai gerombolan dan aksi.kantring. Salah satu lakonnya berjudul Tuk. Di Jakarta dikenal dengan Festival Teater Jakarta (sebelumnya disebut Festival Teater Remaja). 2. dan Teater Payung Hitam. di antaranya Festival Seni Pertunjukan Rakyat yang diselenggarakan Departemen Penerangan Republik Indonesia (1983).2. Dhemit. N.2. Lakon yang dipentaskan antra lain. dan Orde Tabung. Festival Drama Lima Kota Surabaya memunculkan . dan Teater Gandrik. Di samping Gapit.kostum yang meriah dan vokal keras.6 Teater Indonesia Tahun 1980 – 1990-an Teater Gandrik: Orde Tabung. Di Bandung muncul Teater Bel. Kholiq Dimyati dan Mukid F. Kontrang. Teater Republik. Fokus tidak terletak pada aktor tetapi gerombolan yang menciptakan situasi dan aksi sehingga lebih dikenal sebagai teater teror. Di Solo (Surakarta) muncul Teater Gapit yang menggunakan bahasa Jawa dan latar cerita yang meniru lingkungan kehidupan rakyat pinggiran. Dalam latar situasi seperti itu lahir beberapa kelompok teater yang sebagian merupakan produk festival teater. Teater Shima. Meh. Tahun 1980-1990-an situasi politik Indonesia kian seragam melalui pembentukan lembaga-lembaga tunggal di tingkat nasional. Pada saat itu lahirlah kelompok-kelompok teater baru di berbagai kota di Indonesia. Beberapa jenis festival di Yogyakarta.

7 Teater Kontemporer Indonesia Teater Kontemporer Indonesia mengalami perkembangan yang sangat membanggakan. Di Semarang muncul Teater Lingkar. Ada pula Teater Luka. Meksipun seni teater konvensional tidak pernah mati tetapi teater eksperimental terus juga tumbuh. 2. Teater Tobong. Teater Sae yang berbeda sikap dalam menghadapi naskah yaitu posisinya sejajar dengan cara-cara pencapaian idiom akting melalui eksplorasi latihan. Salah satu teater kampus yang menonjol adalah teater Gadjah Mada dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. kemungkinan ekspresi artistik dikembangkan dengan gaya khas masing-masing seniman. Teater Tetas selain teater Studio Oncor. Aktivitas teater kampus mampu menghidupkan dan membuka kemungkinan baru gagasan-gagasan artistik.2. Teater Kanvas. Di Medan muncul Teater Que dan di Palembang muncul Teater Potlot. Gerakan ini terus berkembang sejak tahun 80an sampai saat ini. Sanggar Suroboyo. Teater Nol. Dari Festival Teater Jakarta muncul kelompok teater seperti. Teater Rajawali. Sejak munculnya eksponen 70 dalam seni teater.1999). Teater Bandar Jakarta. Teater Kubur. Rangkuman Perkembangan teater mulai muncul sejak adanya manusia. dan Teater Kami yang lahir di luar produk festival (Afrizal Malna. Karenanya. Dengan demikian.2.Teater Pavita. Aktivitas teater terjadi juga di kampus-kampus perguruan tinggi. . Jurusan teater dibuka di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada tahun 1985. drama tidak pernah luput dari masalah hidup dan kehidupan manusia. Teater Ragil. ISI menjadi satu-satunya perguruan tinggi seni yang memiliki program Strata 1 untuk bidang seni teater pada saat itu. Teater Api. wilayah jelajah ekspresi menjadi semakin luas dan kemungkinan bentuk garap semakin banyak. Teater Institut. Semangat kolaboratif yang terkandung dalam seni teater dimanfaatkan secara optimal dengan menggandeng beragam unsur pertunjukan yang lain. Konsep dan gaya baru saling bermunculan.

sutradara sebagai pertunjukan di panggung. yaitu pertama. Peristiwa lakon tersebut menuntun seseorang untuk mengikuti laku kejadian mulai dari pemaparan. Peristiwa atau kejadian dibuat oleh penulis naskah sebagai kerangka besar yang mendasari terjadinya suatu lakon. dan apa yang dibaca atau diceritakan kepadanya oleh orang lain. sehingga pada puncaknya masuk ke dalam penyelesaian cerita.Perkembangan Teater Barat dan Timur dapat dikatakan berjalan sejajar dengan perkembangan keberadaban manusia. apa yang dialami. lakon Kedua. skenario tak tertulis (dalam teater kerakyatan). lakon atau cerita yang ditampilkan. penonton adalah sekelompok orang yang menyerahkan sebagian dari kemerdekaannya untuk menjadi bagian dari tokoh yang tampil dalam suatu lakon dan menikmatinya. Konflik dalam lakon merupakan inti cerita. Penulis kemudian menyusun rangkaian kejadian. yaitu pertama. semakin lama semakin rumit.) BAB II SENI SASTRA DALAM TEATER Teater memiliki sekurang-kurangnya empat unsur penting dalam setiap pementasan. tokoh atau tokoh yang terlibat dalam kejadiankejadian dalam lakon. Kedua. Dalam lakon akan dijumpai dua hal yang sangat penting. konlfik hingga penyelesaian. Penting sekali bahwa dalam menyusun kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa seorang penulis haruslah bersabar untuk melangkah dari satu kejadian ke kejadian lain dalam suatu perkembangan yang logis. Tugas Secara Kelompok buatlah kliping gambar-gambar pementasan teater dan berikanlah uraian singkat tentangnya! (hubungkan dengan sejarah perkembangan teater. Ketiga. Keempat. konflik. tetapi semakin lama semakin gawat sehingga akhirnya ia sampai ke puncak yang disebut klimaks. Tidaklah menarik sebuah cerita . bisa berwujud sebuah naskah atau skenario tertulis. Lakon ditulis oleh seorang penulis naskah lakon berdasarkan apa yang dilihat. pemain adalah orang yang penata membawakan tersebut.

Pengarang atau penulis lakon menciptakan sebuah lakon bukan hanya sekedar mencipta. dia mempunyai kepekaan terhadap lingkungan sekelilingnya. 2. Pengarang adalah seorang warga masyarakat yang tentunya mempunyai pendapat tentang masalah-masalah politik . dan dari lingkungan tersebut dia menyerap segala persoalan yang menjadi ide-ide dalam penulisan lakonnya. dan bercabang-cabang jika tidak disajikan secara baik justru akan membosankan dan membuat laku lakon menjadi lamban. Ketika tema tidak terumuskan dengan jelas maka lakon tersebut akan kabur dan tidak jelas apa yang hendak disampaikan. driving force dan sebagainya. Konflik dalam lakon bisa rumit bisa juga sederhana. tetapi juga menyampaikan suatu pesan tentang persoalan kehidupan manusia. root idea. karena tema merupakan sasaran yang hendak dicapai oleh seorang penulis lakon. Pesan itu bisa mengenai kehidupan lahiriah maupun batiniah. Gagasan utama atau pesan lakon termaktub dalam konflik yang merupakan pertentangan antara satu pihak terhadap pihak lain mengenai sesuatu hal. goal. kalau ada anggapan bahwa semakin rumit konflik lakon semakin menarik adalah anggapan yang salah. Akan tetapi. Seorang penulis terkadang mengemukakan tema dengan jelas tetapi ada juga yang secara tersirat.1 Tema Tema ada yang menyebutnya sebagai premis. berliku. konflik yang berat. Terkadang konflik yang kecil dan sederhana jika diselesaikan secara cerdas akan membuat penonton takjub.disajikan di atas panggung tanpa adanya konflik. Tokoh adalah orang yang menghidupkan kejadian atau peristiwa yang dibuat oleh penulis naskah. Tidak ada acuan yang pasti terhadap konflik dalam lakon yang dapat membuat cerita menjadi menarik. karena peristiwa yang mengarahkan cerita kepada konflik membutuhkan tokoh sebagai pelaku. Jadi dalam lakon ada dua hal penting yang diciptakan oleh seorang penulis lakon. Jalinan cerita menuju konflik dan cara penyelesainnya inilah yang menjadikan lakon menarik. Keunggulan dari seorang pengarang ialah. thought. Jadi. tema harus dirumuskan dengan jelas. Sementara. central idea. aim. yaitu konflik dan tokoh yang terlibat dalam kejadian.

dan sosial yang penting serta mengikuti isu-isu zamannya (Rene Wellek dan Austin Warren, 1989). Ide-ide, pesan atau pandangan terhadap persoalan yang ada dijadikan ide sentral atau tema dalam menulis naskah lakonnya. Tema adalah suatu amanat utama yang disampaikan oleh pengarang atau penulis melalui karangannya (Gorys Keraf, 1994). Tema bisa juga disebut muatan intelektual dalam sebuah permainan, ini mungkin bisa diuraikan sebagai keseluruhan pernyataan dalam sebuah permainan: topik, ide utama atau pesan, mungkin juga sebuah keadaan (Robert Cohen, 1983). Adhy Asmara (1983) menyebut tema sebagai premis yaitu rumusan intisari cerita sebagai landasan ideal dalam menentukan arah tujuan cerita. Dengan demikian bisa ditarik kesimpulan bahwa tema adalah ide dasar, gagasan atau pesan yang ada dalam naskah lakon dan ini menentukan arah jalannya cerita. Tema dalam naskah lakon ada yang secara jelas dikemukakan dan ada yang samar-samar atau tersirat. Tema sebuah lakon bisa tunggal dan bisa juga lebih dari satu. Tema dapat diketahui dengan dua cara : • Apa yang diucapkan tokoh-tokohnya melalui dialog-dialog yang disampaikan. • Apa yang dilakukan tokoh-tokohnya. Dengan berpedoman dua hal tersebut analisis tema lakon dapat dikerjakan. Misalnya, lakon Raja Lear karya William Shakespeare terjemahan Trisno Sumardjo. Dialog yang disampaikan tokoh dapat dijadikan acuan untuk menganalisis tema lakon. Masing-masing tokoh mengucapkan kalimat dialognya. Dari dialog tersebut dapat diketahui perihal atau soalan yang dibahas. Dengan merangkai setiap persoalan melalui dialog para tokohnya maka gambaran tema akan didapatkan. Detil tema selalu dapat ditemukan dari baris-baris kalimat dialog tokoh cerita. Semua analisis lakon dikerjakan dengan mencermati kalimat dialog tersebut serta hubungan antara kalimat satu dengan yang lain. Jika hanya membaca cerita secara keseluruhan tanpa meninjau kalimat dialog dengan teliti maka hasil akhir dari analisis yang dilakukan belum tentu benar. Kadangkadang, dialog kecil memiliki arti yang luas dan

sanggup mempengaruhi tema cerita. Misalnya, dalam kalimat dialog Raja Lear dapat ditarik satu simpulan bahwa meskipun sebagai raja ia disegani oleh anak-anaknya, tetapi karena sikapnya yang keras maka ia juga dibenci. Perhatikan kutipan dialog di bawah ini. LEAR : ………….. kendalikan lidahmu sedikit; nanti kuhambat untungmu…. LEAR : ………………. Sekarang kulempar tiap kewajiban orang tua, tiap pertalian keluarga dan darah; mulai kini sampai selamanya kaulah asing bagiku dan bagi hatiku…………………. KENT : Silakan. Bunuhlah tabib tuan, supaya hama jahat berupah. Batalkan anugerah tuan; kalau tidak, rangkung saya berteriak meyerukan tuanlah lalim……… RAJA TOKOHCIS : Cordelia jelita, ternyata paling kaya meski miskin; terpillih meski, meski dibuang; tercinta meski dihina……………. CORDELIA : Andaikan bukan seorang ayah, namun uban ini sudah menuntut belas-kasih. Ah wajah benginikah dipaksa menempuh pergolakan badai? Dan melawan guntur bercakra garang, petir dahsyat yang pesat,, cepat menyambar-nyabar? Bagai prajurit yang terbuang, berjaga dengan topi tipis ini? Anjing musuhku pun, walau menggigit aku, di malam begitu takkan kuusir untuk dari tempat berdiang………………. Melalui laku atau aksi tokoh dalam lakon yang biasanya diterangkan (dituliskan) dalam arahan lakon gambaran tema semakin jelas. Laku aksi memberikan penegasan kalimat dialog. Dalam lakon Raja Lear, laku tokoh dapat memberikan penjelasan sebagai berikut. • Raja Lear membagi kerajaan pada ketiga anaknya sesuai dengan pujian yang disampaikan anaknya. • Raja Lear murka pada Cordelia karena tidak memujinya. • Raja Lear marah-marah ketika tidak dilayani hidupnya pada anak yang semula disayangi. • Raja Lear marah-marah dan mengusir bawahannya ketika ada yang menentang.

• Anak-anak Raja Lear yang disayangi berubah memusuhi orang tuanya sehingga Raja Lear sakit. Dari kutipan dialog dan laku serta perbuatan tokoh dalam lakon Raja Lear di atas bisa ditarik sebuah kejelasan bahwa Raja Lear adalah orang yang gila hormat, tidak bijaksana, lalim, dan harus dipuji. Atas sikapnya itu Raja Lear menuai hasil, yaitu kehancuran diri dan keluarganya. 2.2 Plot Plot (ada yang menyebutnya sebagai alur) dalam pertunjukan teater mempunyai kedudukan yang sangat penting. Hal ini berhubungan dengan pola pengadeganan dalam permainan teater, dan merupakan dasar struktur irama keseluruhan adegan permainan. atau Plot dapat terus dibagi tanpa berdasarkan babak dan berlangsung

pembagian. Plot merupakan jalannya peristiwa dalam lakon yang terus bergulir hinga lakon tersebut selesai. Jadi plot merupakan susunan peristiwa lakon yang terjadi di atas panggung. Plot menurut Panuti Sudjiman dalam bukunya Kamus Istilah Sastra (1984) memberi batasan adalah jalinan peristiwa di dalam karya sastra (termasuk naskah drama atau lakon) untuk mencapai efek-efek tertentu. Pautannya dapat diwujudkan oleh hubungan temporal (waktu) dan oleh hubungan kausal (sebab-akibat). Plot atau alur adalah rangkaian peristiwa yang direka dan dijalin dengan seksama, yang menggerakkan jalan cerita melalui perumitan (penggawatan atau komplikasi) ke arah klimaks penyelesaian. Menurut J.A. Cuddon dalam Dictionary of Literaray Terms (1977), plot atau alur adalah kontruksi atau bagan atau skema atau pola dari peristiwa-peristiwa dalam lakon, puisi atau prosa dan selanjutnya bentuk peristiwa dan perwatakan itu menyebabkan pembaca atau penonton tegang dan ingin tahu. Plot atau alur menurut Hubert C. Heffner, Samuel Selden dan Hunton D. Sellman dalam Modern Theatre Practice (1963), ialah seluruh persiapan dalam permainan. Jadi plot berfungsi sebagi pengatur seluruh bagian permainan, pengawas utama dimana seorang penulis naskah dapat menentukan bagaimana cara mengatur lima bagian yang lain, yaitu

Pada bagian tengah biasanya berisi tentang kejadian-kejadian yang bersangkut paut dengan masalah pokok yang telah disodorkan kepada penonton dan membutuhkan jawaban. • Krisis adalah penjelasan yang terperinci dari perjuangan karakterkarakter atau satu karakter untuk mengatasi konflik. atau argumentative atau kejenakaan atau melalui cara-cara lain. dan bagian akhir. Bagian ini merupakan kejadian akhir dari lakon dan terkadang memberikan jawaban atas segala persoalan dan konflik-konflik yang terjadi.1 Jenis Plot . bagian awal. • Aksi Pendorong adalah saat memperkenalkan sumber konflik di antara karakter-karakter atau di dalam diri seorang karakter. Bagian akhir berisi tentang satu persatu pertanyaan penonton terjawab atau sebuah lakon telah mencapai klimaks besar. misalnya tempat lakon tersebut terjadi. waktu kejadiannya. tema. pelaku-pelakunya. bagian tengah. dan spektakel. Plot juga berfungsi sebagai bagian dasar yang membangun dalam sebuah teater dan keseluruhan perintah dari seluruh laku maupun semua bagian dari kenyataan teater serta bagian paling penting dan bagian yang utama dalam drama atau teater. Pembagian plot dalam lakon klasik atau konvensional biasanya sudah jelas yaitu.karakter. musik. • Resolusi adalah proses penempatan kembali kepada suasana baru. diksi. Secara umum pembagian plot terkadang menggunakan tipe sebab akibat yang dibagi dalam lima pembagian sebagai berikut. • Eksposisi adalah saat memperkenalkan dan membeberkan materimateri yang relevan atau memberi informasi pada penonton tentang masalah yang dialami atau konflik yang terjadi dalam diri karakterkarakter yang ada di lakon. • Klimaks adalah proses identifikasi atau proses pengusiran dari rasa tertekan melalui perbuatan yang mungkin saja sifatnya jahat. 2. Seorang penulis seringkali meletakkan berbagai informasi penting pada bagian awal lakon. dan bagaimana peristiwa itu terjadi.

alur lurus atau straight plot. atau baca tersebut. alur maju atau progressive plot. dan alur melingkar atau circular plot. terdiri dari alur menanjak atau rising plot. Alur menanjak atau rising plot adalah alur dengan emosi lakon mulai dari tingkat emosi yang paling rendah menuju tingkat emosi lakon yang paling tinggi. Jalinan peristiwa dan jalannya cerita inilah yang dimaksud dengan plot. alur mundur atau regressive plot. Secara sederhana plot dapat dibagi menjadi dua yaitu simple plot (plot yang sederhana) dan multi plot (plot yang lebih dari satu) 2. Plot lakon banyak sekali ragamnya tergantung dari penulis lakon mempermainkan emosi kita.1 Simple Plot Simple plot atau plot lakon yang sederhana adalah lakon yang memiliki satu alur cerita dan satu konflik yang bergerak dari awal sampai akhir. Plot linear adalah alur cerita mulai dari awal sampai akhir cerita bergerak lurus sedangkan linear-circular adalah alur cerita mulai dari awal sampai akhir bergerak lurus secara melingkar sehingga awal dan akhir cerita akan bertemu dalam satu titik. Jalinan jalan cerita dalam lakon bergerak mulai dari awal sampai akhir tanpa ada kilas balik.1. Simple plot ini terdiri dari plot linear dan linear-circular.Ketika menonton atau melihat atau membaca sebuah lakon fiksi maka emosi kita akan terpengaruh dengan apa yang kita tonton. Alur menurun atau falling plot adalah alur dengan emosi lakon mulai dari tingkat emosi yang paling tinggi menuju tingkat emosi lakon yang paling rendah. Alur ini merupakan kebalikan dari alur menanjak atau rising plot. Alur ini adalah alur cerita paling umum pada alur lakon. alur menurun atau falling plot. lihat. Alur mundur atau regresive plot adalah alur cerita yang dimulai dari inti cerita kemudian dipaparkan bagaimana . Emosi ini timbul karena terpengaruh oleh jalinan peristiwaperistiwa dan jalannya cerita yang ditulis oleh penulis. Alur linear ini masih bisa dibagi-bagi lagi sesuai dengan sifat emosi yang terkandung dari plot linear ini. Alur maju atau progresive plot adalah alur cerita yang dimulai dari pemaparan peristiwa lakon sampai menuju inti peristiwa lakon.

Multi plot ini terdiri dari dua tipe yaitu alur episode atau episodic plot dan alur terpusat atau concentric plot.S. Contoh lakon dengan alur episode atau episodic plot adalah lakon Panembahan Reso karya W. Alur ini merupakan kebalikan dari progressive plot. Rendra. Concentric plot adalah cerita lakon yang memiliki beberapa plot yang berdiri sendiri. • Gimmick. Contoh lakon dengan alur mundur adalah Opera Primadona karya Nano Riantiarno yang dimainkan oleh Teater Koma. bagian 5 menit pertama yang sengaja dibuat menarik untuk memikat penikmat . plot atau alur cerita merupakan rangkaian peristiwa yang satu dengan yang lain dihubungkan dengan hukum sebab akibat. Tetapi pada akhir cerita alur cerita yang terdiri dari episodeepisode ini akan bertemu.1. 2. Plot-plot yang ada dalam cerita tersebut memiliki permasalah yang harus diselesaikan.sampai terjadi peristiwa tersebut. Plot disusun oleh pengarang dengan tujuan untuk mengungkapkan buah pikirannya yang secara khas. 2. Alur lurus atau straight plot hampir sama dengan alur maju. Raja Lear karya William Shakespeare dan lain-lain. Pengungkapan ini lewat jalinan peristiwa yang baik sehingga menciptakan dan mampu menggerakkan alur cerita itu sendiri. dimana pada akhir cerita semua tokoh yang terlibat dalam cerita yang terpisah tadi akhirnya menyatu guna menyelesaikan cerita. tema. tokoh. Dengan demikian plot memiliki anatomi atau bagian-bagian yang menyusun plot tersebut yang disebut dengan anatomi plot sebagai berikut.2 Anatomi Plot Menurut Rikrik El Saptaria (2006).2 Multi Plot Multi plot adalah lakon yang memiliki satu alur utama dengan beberapa sub plot yang saling bersambungan. di mana setiap episode memiliki alur cerita sendiri. Alur episode atau episodic plot adalah plot cerita yang terdiri dari bagian perbagian secara mandiri. Setiap episode dalam lakon tersebut sebenarnya tidak ada hubungan sebab akibat dalam rangkaian cerita.

Suspen ini biasanya diciptakan dan dijaga oleh penulis lakon dari awal sampai akhir cerita. dan tanpa disadari akan menimpa dirinya sendiri. • Flashback. aksi seorang tokoh yang berkata atau bertindak sesuatu. berisi dugaan dan prasangka yang dibangun dari rangkaian ketegangan yang mengundang akan pertanyaan dan dan keingintahuan penonton. tetapi kilas balik pada film biasanya berupa nukilannukilan gambar. karena semuanya sudah bisa ditebak oleh penonton. Kilas balik biasanya diceritakan • melalui dialog tokoh. Dalam lakon banyak dijumpai tokoh-tokoh ini. Kilas balik ini berfungsi untuk mengingatkan kembali ingatan penonton pada peristiwa yang telah lampau tetapi masih dalam satu rangkaian peristiwa lakon. kilas balik peristiwa lampau yang dikisahkan kembali pada saat ini. Kalau cerita itu bisa ditebak oleh penonton maka perhatian pertunjukan dipikirkan. Suspen ini biasanya dibangun melalui dialog-dialog serta laku para tokoh yang ada dalam naskah lakon. Kalau pemeran atau sutradara tidak cermat dalam menganalisisnya maka kemungkinan suspen terlewati dan tidak tergarap dengan baik. Dengan menimbulkan pertanyaanpertanyaan ini penonton akan betah mengikuti cerita sampai selesai. • Dramatic Irony. Suspen menumbuhkan memelihara keingintahuan penonton dari awal sampai akhir cerita. Hal ini akan menyebabkan kualitas pertunjukan dinilai tidak terlalu bagus. supaya penonton bertanyatanya apa akibat yang ditimbulkan dari peristiwa sebelumnya ke peristiwa selanjutnya. dan biasanya tidak disadari oleh tokoh tersebut. penonton tersebut akan tidak berkurang dan menganggap sesuatu untuk menyuguhkan .• Fore Shadowing. • Suspen. pembayangan ke depan yang terjadi ketika tokoh meramalkan atau membayangkan keadaan yang akan datang.

• Surprise. tempat Pertanyaan tidak serta merta dijawab secara global tetapi harus lebih mendetil mengetahui secara waktu kejadiannya. 2. karena memang bukan persoalan scenery yang hendak dibahas. 1997). Peristiwa dalam lakon adalah peristiwa fiktif yang menjadi hasil rekaan penulis lakon. Dalam sebuah lakon terkadang dijumpai aksi-aksi yang seperti ini dan akan menimbulkan suatu rasa simpati penonton kepada korbannya.3. pada akhirnya mengarah ke sesuatu yang tidak disangka-sangka sebelumnya. aksi atau ucapan tokoh utama yang beritikad tentang sesuatu persoalan yang menimbulkan pertentangan atau konflik antartokoh. atau sore hari? Jika terjadi dalam ruang lalu di mana letak ruang itu. pagi hari. Analisis setting lakon ini merupakan suatu usaha untuk menjawab sebuah pertanyaan apakah peristiwa terjadi di luar ruang atau di dalam ruang? Apakah terjadi pada waktu malam. Seperti . bulan. 2. Menurut Aristoteles peristiwa dalam lakon adalah mimesis atau tiruan dari kehidupan manusia keseharian. Pertanyaan untuk setting atau latar cerita untuk adalah kapan dan dimana pasti persitiwa dan terjadi. • Gestus. di dalam gedung atau di dalam rumah? Jam berapa kira-kira terjadi? Tanggal. Namun peristiwa yang diharapkan tersebut. dan tahun berapa? Apakah waktu kejadiannya berkaitan dengan waktu kejadian peristiwa di adegan lain. atau sudah lain hari? Pertanyaan-pertanyaan seputar waktu dan tempat kejadian ini akan memberikan gambaran peristiwa lakon yang komplit (David Groote.1 Latar Tempat Latar tempat adalah tempat yang menjadi latar peristiwa lakon itu terjadi.3 Setting Membicarakan tentang setting dalam mengkaji lakon tidak ada kaitan langsung dengan tata teknik pentas. suatu peristiwa yang terjadi diluar dugaan penonton sebelumnya dan memancing perasaan dan pikiran penonton agar menimbulkan dugaan-dugaan yang tidak pasti.

Latar waktu terkadang sudah diberikan`atau sudah diberi rambu-rambu oleh penulis lakon. malam. Sedangkan sebagai bahan dasar pertunjukan. Analisis ini juga sangat penting dilakukan karena berhubungan dengan tata teknik pentas. tetapi bisa sebagai bahan dasar dari pertunjukan. tempat peristiwa ini harus dikomunikasikan atau diceritakan oleh para pemeran sebagai komunikator kepada penonton. babak atau dalam keseluruhan lakon tersebut. Analisis latar waktu yang dilakukan oleh sutradara biasanya berhubungan dengan tata teknik pentas. Tugas seorang sutradara dan pemeran ketika menghadapi sebuah naskah lakon adalah menginterprestasi latar waktu dalam lakon tersebut. interpretasi tempat kejadian peristiwa ini terletak pada keterangan yang diberikan oleh penulis naskah lakon dan dalam imajinasi pembaca. Sebagai bahan bacaan sastra.2 Latar Waktu Latar waktu adalah waktu yang menjadi latar belakang peristiwa.3. Misalnya. tetapi banyak latar waktu ini tidak diberikan oleh penulis lakon. waktu yang menunjukkan sebuah musim (musim hujan. musim dingin dan lain-lain). tetapi kadang tidak diberikan oleh penulis lakon. Gambaran tempat peristiwa dalam lakon kadang sudah diberikan oleh penulis lakon. Dengan menggetahui latar waktu yang terjadi pada maka semua pihak akan bisa mengerjakan lakon tersebut. Latar waktu dalam naskah lakon bisa menunjukkan waktu dalam arti yang sebenarnya (siang. adegan. sore). pagi. Analisis ini perlu dilakukan guna memberi suatu gambaran pada penonton tentang tempat peristiwa itu terjadi. sedangkan yang dilakukan oleh pemeran biasanya berhubungan dengan akting dan bisnis akting. Analisis latar tempat dapat dilakukan dengan mencermati dialog-dialog tokoh yang sedang berlangsung dalam satu adegan. Analisis latar waktu perlu dilakukan baik oleh seorang sutradara maupun oleh pemeran. dan waktu yang menunjukkan suatu zaman atau . musim kemarau. dan babak itu terjadi. penata artistik akan menata perabot dan mendekorasi pementasan sesuai dengan latar waktu. 2.diketahui bahwa sifat dari naskah lakon bisa berdiri sendiri sebagai bahan bacaan sastra.

Bahkan Lajos Egri berpendapat bahwa berperwatakanlah yang paling utama dalam lakon. yaitu seolah-olah terjadi kiamat karena lakon ini dialegorikan sebagai kiamat kecil. Tanpa perwatakan tidak akan ada cerita.abad (Zaman Klasik. maka perasaan penonton akan merasa terwakili oleh perasaan tokoh yang diidentifikasi tersebut. mungkin saja William Shakespeare terinspirasi oleh bencana yang melanda Inggris pada waktu itu.3 Latar Peristiwa Latar peristiwa adalah peristiwa yang melatari adegan itu terjadi dan bisa juga yang melatari lakon itu terjadi. Latar peristiwa pada adegan atau lakon adalah peristiwa yang mendahului adegan atau lakon tersebut. Latar peristiwa ini bisa sebagai realita bisa juga fiktif yang menjadi imajinasi penulis lakon. Zaman Romantik. tanpa perwatakan tidak bakal ada plot. Karakterisasi Karakterisasi merupakan usaha untuk membedakan tokoh satu dengan tokoh yang lain. Jika proses identifikasi ini berhasil. 2. atau yang mengakibatkan adegan atau lakon itu terjadi. Analisis latar waktu bisa dilakukan dengan mencermati dialog-dialog yang disampaikan oleh tokoh dalam adegan atau babak yang sedang berlangsung. Lakon-lakon dengan latar peristiwa yang riil juga terjadi pada lakonlakon di Indonesia pada tahun 1950 sampai tahun 1970.4. Padahal ketidaksamaan watak akan melahirkan pergeseran.3. lakon Raja Lear. Latar peristiwa yang nyata digunakan oleh penulis lakon untuk menggambar peristiwa yang terjadi secara nyata pada waktu itu sebagai dasar dari lakonnya. Lakon pada waktu itu mengambil latar peristiwa pada Zaman Tokohg Revolusi di Indonesia. berbarti kita telah mengadopsi pikiran-pikiran dan perasaan tokoh tersebut menjadi perasaan dan pikiran kita. zaman tokohg dan lain-lain). Karakterisasi atau perwatakan dalam sebuah lakon memegang tokohan yang sangat penting. Perbedaan-perbedaan tokoh ini diharapkan akan diidentifikasi oleh penonton. Suatu misal kita mengidentifisasi satu tokoh. Misalnya. Misalnya. adegan awal pada lakon 2. tabrakan .

2. Tokoh-tokoh tersebut adalah sebagai berikut. Protagonis Protagonis adalah tokoh utama yang merupakan pusat atau sentral dari cerita. dan cita-cita Raja Lear. tokoh dapat dibagi-bagi sesuai dengan motivasi-motivasi yang diberikan oleh penulis lakon. konflik yang akhirnya melahirkan cerita (A. Contoh.kepentingan. Tokoh protagonis dan antagonis harus memungkinkan menjalin pertikaian. Tritagonis . Tokoh ini ikut mendukung menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh tokoh protaganis. Kedua tokoh inilah yang menentang perkembangan.4. Cordelia dalam lakon Raja Lear karya William Shakespeare. bisa juga karena kekurangan dirinya sendiri. bisa dari alam. Motivasi-motivasi tokoh inilah yang dapat melahirkan suatu perbuatan tokoh. Tokoh antagonis harus memiliki watak yang kuat dan kontradiktif terhadap tokoh protagonis. Keberadaan tokoh adalah untuk mengatasi persoalanpersoalan yang muncul ketika mencapai suatu citacita. tokoh Tumenggung Kent. sebab dengan adanya tokoh maka timbul konflik. karena dia seringkali menjadi musuh yang menyebabkan konflik itu terjadi. Edgar. 1985). Konflik dapat dikembangkan oleh penulis lakon melalui ucapan dan tingkah laku tokoh. Dalam teater. Contoh tokoh antagonis pada lakon Raja Lear karya William Shakespeare terjemahan Trisno Sumardjo adalah tokoh Gonerill dan tokoh Regan. Tokoh ini juga menentukan jalannya cerita. Deutragonis Deutragonis adalah tokoh lain yang berada di pihak tokoh protagonis. Antagonis Antagonis adalah tokoh lawan. dan pertikaian itu harus berkembang mencapai klimaks.1 Jenis-jenis Tokoh Tokoh merupakan sarana utama dalam sebuah lakon. Contoh tokoh protagonis pada lakon Raja Lear karya William Shakespeare terjemahan Trisno Sumardjo adalah tokoh Raja Lear itu sendiri. Persoalan ini bisa dari tokoh lain. keinginan. Adjib Hamzah.

Dia adalah pengawal dari Cordelia. Curan dalam lakon Raja Lear karya William Shakespeare. dan ketika sudah dewasa maka pribadinya berkembang melalui hubungan dengan lingkungan sosial. sehingga .4. 2. Contoh. Ketika masih kecil dia bereksplorasi dengan dirinya sendiri untuk mengetahui perkembangan dirinya. Contoh: tokoh Badut dalam lakon Raja Lear karya William Shakespeare. dan karikatural. yang merupakan akumulasi dari pengalaman-pengalaman dan interaksi-interaksi yang dilakukannya dan terus berkembang. Jadi perkembangan karakter seharusnya mengacu pada pribadi manusia. Contoh. round charakter. • Flat Character (perwatakan dasar) Flat character atau karakter datar adalah karakter tokoh yang ditulis oleh penulis lakon secara datar dan biasanya bersifat hitam putih. Karakter tokoh dalam lakon mengacu pada pribadi manusia yang berkembang sesuai dengan perkembangan lingkungan. Menurut Rikrik El Saptaria (2006). Penulis lakon adalah orang yang memiliki dunia sendiri yaitu dunia fiktif. Foil Foil adalah tokoh yang tidak secara langsung terlibat dalam konflik yang terjadi tetapi ia diperlukan guna menyelesaikan cerita.Tritagonis adalah tokoh penengah yang bertugas menjadi pendamai atau pengantara protagonis dan antagonis. Penokohan ini biasanya didahului dengan menganalisis tokoh tersebut sehingga bisa dimainkan. Oswald. teatrikal. yaitu flat character. Biasanya tokoh ini mewakili jiwa penulis. jenis karakter dalam teater ada empat macam. Biasanya dia berpihak pada tokoh antagonis. tokoh Bangsawan pada lakon Raja Lear karya Willliam Sahkespeare. sedangkan penokohan adalah proses kerja untuk memainkan tokoh yang ada dalam naskah lakon. Utility Utility adalah tokoh pembantu atau sebagai tokoh pelengkap untuk mendukung rangkaian cerita dan kesinambungan dramatik. tokoh Perwira.2 Jenis Karakter Karakter adalah jenis tokoh yang akan dimainkan.

dan cenderung menyindir. Si Gembrot. bahkan perpaduan antara ucapan dengan tingkah laku. Karakter ini hanya simbol dari psikologi masyarakat. • Round Character (perwatakan bulat) Karakter tokoh yang ditulis oleh penulis secara sempurna. D. Perkembangan inilah yang menjadikan karakter ini menarik dan mampu untuk mengerakkan jalan cerita. antara ketegangan dengan keriangan suasana. • Karikatural Karikatural adalah karakter tokoh yang tidak wajar. bisa juga dengan tingkah laku. unik. Misalnya karakter yang diciptakan oleh Putu Wijaya pada lakonlakonnya yang bergaya post-realistic. keadaan jaman dan lain-lain yang tidak bersifat manusiawi tetapi dilakukan oleh manusia. • Teatrikal Teatrikal adalah karakter tokoh yang tidak wajar. Si Tua.. Sifat karikatural ini bisa berupa dialog-dialog yang diucapkan oleh karakter tokoh. Flat character ini ditulis dengan tidak mengalami perkembangan emosi maupun derajat status sosial dalam sebuah lakon. suasana. Pemimpin (lakon LOS) dan lain-lain. Round karakter adalah karakter tokoh dalam lakon yang mengalami perubahan dan perkembangan baik secara kepribadian maupun status sosialnya. tetapi diperlukan dalam sebuah lakon. C. Perkembangan dan perubahan ini mengacu pada perkembangan pribadi orang dalam kehidupan sehari-hari. tetapi sangat banyak dijumpai pada lakon-lakon klasik dan non realis. Karakter ini biasanya terdapat karakter tokoh utama baik tokoh protagonis maupun tokoh antagonis. Karakter-karakter teatrikal jarang dijumpai pada lakon-lakon realis. Kawan. Karakter ini segaja diciptakan oleh penulis lakon sebagai penyeimbang antara kesedihan dan kelucuan. satiris. karakteristiknya kaya dengan pesan-pesan dramatik. .ketika mencipta sebuah karakter dia bebas menentukan suatu perkembangan karakter. Flat character biasanya ada pada karakter tokoh yang tidak terlalu penting atau karakter tokoh pembantu. seperti tokoh A. dan lebih bersifat simbolis.

dan karakterisasi. maka kehadiran seorang sutradara yang mampu mengatur dan mengharmonisasikan keseluruhan unsur artistik pementasan dibutuhkan. Kemudian mereka berlatih para dan aktor memainkkannya di hadapan penonton. Proses mengajar dijadikan tonggak awal lahirnya “sutradara”. Tugas Analisislah naskah “Domba-domba Revolusi” karya B. produksi pementasan teater Saxe-Meiningen masih mengutamakan kerja bersama antarpemain yang dengan giat berlatih untuk meningkatkan kemampuan berakting mereka (Robert Cohen. maka memerlukan peremajaan pemain. Meskipun demikian. Sularto BAB III DASAR SENI PENYUTRADARAAN DALAM TEATER Pada mulanya pementasan teater tidak mengenal sutradara. Andre Antoine di Tokohcis dengan Teater Libre serta Stansilavsky di Rusia adalah dua sutradara berbakat yang mulai menekankan idealisme dalam setiap . setting. plot. Seorang bangsawan (duke) dari Saxe-Meiningen yang memimpin sebuah grup teater dan menyelenggarakan pementasan keliling Eropa pada akhir tahun 1870-1880. Dengan banyaknya jumlah pentas yang harus dilakukan. Istilah sutradara seperti yang dipahami dewasa ini baru muncul pada jaman Geroge II. 1994). Pementasan teater muncul dari sekumpulan pemain yang memiliki gagasan untuk mementaskan pementasan sebuah teater cerita. Model penyutradaraan seperti yang dilakukan oleh George II diteruskan pada masa lahir dan berkembangnya gaya realisme. Para aktor yang telah memiliki banyak pengalaman mengajarkan pengetahuannya kepada aktor muda. Dalam terminologi Yunani sutradara (director) disebut didaskalos yang berarti guru dan pada abad pertengahan di seluruh Eropa istilah yang digunakan untuk seorang sutradara dapat diartikan sebagai master.Rangkuman Drama yang merupakan unsur seni sastra dalam teater terbagi atas: tema. Sejalan dengan kebutuhan akan yang semakin meningkat.

produksinya. 2001). 3.1 Naskah Jadi Mementaskan teater dengan naskah yang sudah tersedia memiliki kerumitan tersendiri terutama pada saat hendak memilih naskah yang akan dipentaskan. Max Reinhart mengembangkan penyutradaraan dengan mengorganisasi proses latihan para aktor dalam waktu yang panjang. Waluyo. seperti tertulis di bawah ini. • Sutradara menyukai naskah yang dipilih. Pemilihan Naskah Proses atau tahap pertama yang harus dilakukan oleh sutradara adalah menentukan lakon yang akan dimainkan.1. Naskah yang tidak dikehendaki akan . Berhasil tidaknya sebuah pertunjukan teater mencapai takaran artistik yang diinginkan sangat tergantung kepiawaian sutradara. memahami dan mengatur blocking serta melakukan serangkaian latihan dengan para pemain dan seluruh pekerja artistik hingga karya teater benarbenar siap untuk dipentaskan. Sutradara bisa memilih lakon yang sudah tersedia (naskah jadi) karya orang lain atau membuat naskah lakon sendiri. Ada beberapa pertimbangan yang dapat dilakukan oleh sutradara dalam memilih naskah. Oleh karena kedudukannya yang tinggi. menentukan pemain. 3.1. menentukan bentuk dan gaya pementasan. Setelah itu tugas berikutnya adalah menganalisis lakon. Dengan demikian sutradara menjadi salah satu elemen pokok dalam teater modern. Nskah tersebut harus memenuhi kreteria yang diinginkan serta sesuai dengan kondisi yang ada di lapangan. kerja sutradara dimulai sejak merencanakan sebuah pementasan. Gordon Craig merupakan seorang sutradara yang menanamkan gagasannya untuk para aktor sehingga ia menjadikan sutradara sebagai pemegang kendali penuh sebuah pertunjukan teater (Herman J. Oleh karena itu. Jika sutradara memilih naskah yang akan ditampilkan dalam keadaan terpaksa maka bisa dipastikan hasil pementasan menjadi kurang baik. yaitu menentukan lakon. maka seorang sutradara harus mengerti dengan baik hal-hal yang berhubungan dengan pementasan.

Beberapa naskah yang baik terkadang memiliki konsekuensi logis dengan pendanaan. Beberapa . pemilihan pemain yang asal-asalan.1. Semua sumber daya dimiliki seperti pemain.Tidak ada gunanya berlatih naskah lakon tertentu dalam waktu lama jika di tengah proses tiba-tiba hal itu terhenti karena alasan tertentu. Jika sutradara merasa mampu mengusahakan pendanaan secara optimal untuk mewujudkan tuntutan artistik lakon. Oleh karena itu. Naskah semacam ini bersifat situasional. seperti analisis yang kurang detil. maka naskah tersebut bisa dipilih. Jika tidak. membuat naskah sendiri dapat menjadi pilihan yang tepat. sutradara harus mampu mengukur kualitas sumber daya pemain yang dimiliki dalam menentukan naskah yang akan dipentaskan. Untuk itu. • Sutradara mampu menemukan pemain yang tepat. sutradara harus mampu melakukan adaptasi sehingga pendanaan bisa dikurangi tanpa mengurangi nilai artistik lakon. sutradara harus mampu membuat naskah yang sesuai dengan kualitas sumber daya yang ada. tetapi juga dengan unsur pendukung yang lain. Naskah lakon yang baik tidak ada gunanya jika dimainkan oleh aktor yang kurang baik. 3. • Sutradara mampu tetap mementaskan naskah yang dipilih. • Sutradara merasa mampu mementaskan naskah yang telah dipilih. • Sutradara wajib mempertimbangkan sisi pendanaan secara khusus. Akan tetapi berkenaan dengan sumber daya yang dimiliki.2 Membuat Naskah Sendiri Membuat naskah lakon sendiri tidak menguntungkan karena akan memperpanjang proses pengerjaan. Mampu mementaskan sebuah naskah tentunya tidak hanya berkaitan dengan kecakapan sutradara. penata artsitik. naskah yang dipilih memoiliki latar cerita di rumah mewah dengan segala perabot yang indah. dan pendanaan menjadi pertimbangan dalam memilih naskah yang akan dipentaskan. Hal ini membawa dampak tersendiri dalam bidang pendanaan. Sutradara dengan segenap kemampuannya harus mampu meyakinkan pemain dan mengusahakan pertunjukan agar tetap digelar sehingga proses yang telah dilakukan tidak menjadi sia-sia. Misalnya. tetapi semua orang yang terlibat menjadi senang karena dapat mengerjakannya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.membawa pengaruh dan masalah tersendiri bagi sutradara dalam mengerjakannya. keseluruhan kerja menjadi tidak optimal.

Bagian awal adalah bagian pengenalan secara lebih rinci masing-masing tokoh dan titik konflik awal muncul. membuat kerangka cerita (skenario) dengan empat bagian.langkah di bawah ini dapat dijadikan acuan untuk menulis naskah lakon. Tidak ada cerita teater tanpa konflik. menentukan kerangka lakon dalam tiga bagian. akan menuntun laku cerita dari awal sampai akhir. semangat dalam bekerja. isi yang berisi pemaparan. maka tokoh lainnya mudah ditemukan. Dengan menentukan tokoh protagonis secara mendetil. konflik hingga klimaks. senang membantu orang lain. Tokoh protagonis adalah tokoh yang membawa laku keseluruhan cerita. Gambaran cerita secara global dari awal sampai akhir hendaknya dituliskan. • Membuat sinopsis (ringkasan cerita). berkecukupan. Riantiarno (2003). dermawan. maka tokoh lain baik yang berada di pihak protagonis atau antagonis akan mudah diciptakan. Kerangka cerita akan membingkai jalannya cerita dari awal sampai akhir. konflik. Bagian tengah adalah konflik yang meruncing hingga sampai klimaks. dan akhir. Misalnya tema yang dipilih adalah “kebaikan akan mengalahkan kejahatan”. maka dalam cerita hal tersebut harus dimunculkan melalui aksi tokoh-tokohnya sehingga penonton dapat menangkap maksud dari cerita bahwa sehebat apapun kejahatan pasti akan dikalahkan oleh kebaikan. Tema adalah gagasan dasar cerita atau pesan yang akan disampaikan oleh pengarang kepada penonton. . Semakin detil sifat atau karakter protagonis. maka tokoh protagonis dapat diwujudkan sebagi orang yang rajin. dalam persoalan tentang kelicikan. yaitu pembukaan. Persoalan ini kemudian diikembangkan dalam cerita yang hendak dituliskan. Kerangka ini membagi jalannya cerita mulai dari pemaparan. Dengan membuat kerangka cerita maka penulis akan memiliki batasan yang jelas sehingga cerita tidak berteletele. Pada bagian akhir. • Menentukan tema. Misalnya dengan tema “kebaikan akan mengalahkan kejahatan”. maka semakin jelas pula karakter tokoh antagonis. bagian awal. • Menentukan protagonis. Tema. tengah. William Froug (1993) misalnya. titik balik cerita dimulai dan konflik diselesaikan. Jika tokoh protagonis dan antagonis sudah ditemukan. Oleh karena itupangkal persoalan atau titik awal konflik perlu dibuat dan disesuaikan dengan tema yang dikehendaki. dan penutup yang merupakan simpulan cerita atau akibat. pangkal persoalan yang dibicarakan adalah sikap licik seseorang yang selalu memfitnah orang lain demi kepentingannya sendiri. klimaks sampai penyelesaian. Pada bagian pembukaan memaparkan sketsa singkat tokoh-tokoh cerita. Sinopsis digunakan pemandu proses penulisan naskah sehingga alur dan persoalan tidak melebar. serta jujur. sutradara sekaligus penulis naskah Teater Koma. Dengan adanya sinopsis maka penulisan lakon menjadi terarah dan tidak mengadaada. Persoalan atau konflik adalah inti daricerita teater. • Menentukan kerangka cerita. Misalnya. yaitu pembuka yang berisi pengantar cerita atau sebab awal. Dengan menulis lawan dari sifat protagonis maka karakter antagonis dengan sendirinya terbentuk. • Menentukan persoalan.

Pesan ini ingin disampaikan oleh pengarang dengan akhir yang tragis dimana tokoh Romeo dan Juliet akhirnya mati bersama. dan tidak tergesa-gesa. gunakan dan manfaatkan waktu sebaik mungkin. dan pada akhirnya bagaimana konflik itu diselesaikan. • Karakter Tokoh. Karena tidak banyak arahan dan keterangan yang dituliskan . Merupakan bahan komunikasi utama yang hendak disampaikan kepada penonton. dalam tahap ini sutradara hanya membaca kehendak pengarang melalui lakonnya. Akhir cerita yang mengesankan selalu akan dinanti oleh penonton. Jadi.2. • Pesan Lakon. Selain itu sudut pandang pengarang dalam menyelesaikan konflik dapat menegaskan pesan yang hendak disampaikan. Oleh karena itu tentukan akhir cerita dengan baik. Berhasil atau tidaknya sebuah pertunjukan teater diukur dari sampai tidaknya pesan lakon kepada penonton. Lakon yang telah ditentukan harus segera dipelajari sehingga gambaran 100% lengkap cerita didapatkan. Di bagian mana konflik itu muncul dan bagaimana aksi dan reaksi para tokohnya.2 Analisis Lakon Menganalisis lakon adalah salah satu tugas utama sutradara. Dengan analisis yang baik. sutradara akan lebih mudah menerjemahkan kehendak pengarang dalam pertunjukan. pada bagian mana konflik itu memuncak. bahkan ada yang bingung mengakhirinya. Setelah semua hal disiapkan maka proses berikutnya adalah menulis. logis. Mengakhiri sebuah persoalan yang dimunculkan tidaklah mudah. Unsur-unsur pokok yang harus dianalisis oleh sutradara adalah senagai berikut. Dalam proses analisis ini. Penting mengetahui dasar persoalan (konflik) dalam sebuah lakon karena hal tersebut akan membawa laku aksi para tokohnya. • Menulis. menilai. 3. Mencari dan mengembangkan gagasan memang tidak mudah. 3. Analisis karakter tokoh sangat penting dan harus dilakukan secara mendetil agar sutradara mendapatkan gambaran watak sejelas-jelasnya. Oleh karena itu. tetapi lebih tidak mudah lagi memindahkan gagasan dalam bentuk tulisan. sutradara wajib menemukan pesan utama dari lakon yang telah ditentukan. Semua ini akan memberi sudut pandang bagi sutradara dalam melihat. Apa yang hendak disampaikan oleh pengarang melalui naskah lakon disebut pesan.• Menentukan cara penyelesaian. Romeo and Juliet karya Shakespeare mengandung pesan bahwa seseorang yang telah menemukan cinta sejati tidak takut terhadap risiko apapun termasuk mati.1 Analisis Dasar Analisis dasar adalah telaah unsur-unsur pokok yang membentuk lakon. Oleh karena itu. Dinamika percintaan Romeo dan Juliet yang berakhir dengan kematian inilah yang harus ditekankan oleh sutradara kepada penonton. sutradara memepelajari seluruh isi lakon dan menangkap gambaran lengkap lakon seperti apa yang tertulis. Dalam beberapa lakon ada cerita yang diakhiri dengan baik tetapi ada yang diakhiri secara tergesa-gesa. • Konflik dan Penyelesaian. dan memahami konflik lakon.

maka sutradara perlu melakukan tafsir atau interpretasi. Intinya informasi sekecil apapun harus didapatkan. Secara teknis hal ini berkaitan dengan sumber daya yang dimiliki. Ketika adaptasi ini dilakukan maka unsur-unsur lain pun seperti tata rias dan busana akan ikut terkait dan mengalami penyesuaian. Misalnya. Apakah gedung tersebut merupakan gedung pertemuan. Jika apartemen disimbolkan sebagai pusat kekuasaan maka peristiwa yang terjadi di dalamnya juga harus mengikuti simbolisasi ini sedangkan latar waktunya bisa ditarik ke masa lalu atau masa kini seperti yang dikehendaki oleh sutradara. Semua informasi dikumpulkan dan diseleksi untuk kemudian diwujudkan dalam pementasan. artinya. Cara menyampaikan pesan antara sutradara satu dengan yang lain bisa berbeda . dalam lakon mengehendaki tempat kejadian di sebuah apartemen yang mewah. Adaptasi terhadap tempat kejadian peristiwa sering dilakukan oleh sutradara. dan waktu kejadian harus diungkapkan dengan jelas karena hal ini berkaitan dengan tata artistik.2. Seorang sutradara sebetulnya boleh tidak melakukan interpretasi terhadap lakon. dan karakterisasi. gaya spanyol. dewan kota. Arsitektur gedung itu apakah menggunakan arsitektur kolonial. Hal yang paling menarik mengenai penyampaian pesan kepada penonton adalah caranya.Berdasarkan hasil analisis. Proses ini bisa disebut sebagai proses asimilasi (perpaduan) antara gagasan sutradara dan pengarang. Oleh karena itu analisis karakter ini harus dilakukan dengan teliti dan hati-hati sehingga setiap perubahan karakter yang dialami oleh tokoh tidak lepas dari pengamatan sutradara. atau di salah satu ruang khusus. Romeo and Juliet masih aktual dipentaskan sekarang ini. sederhana atau mewah. atau ciri khas daerah tertentu.2 Interpretasi Setelah menganalisis lakon dan mendapatkan informasi lengkap mengenai lakon. Penyesuaian inipun berkaitan langsung dengan latar waktu dan peristiwa. • Latar. Misalnya. teras gedung. Secara artistik. Misalnya. gambaran tempat kejadian persitiwa adalah di sebuah gedung maka harus dijelaskan apakah terjadi di sebuah gedung megah. Hal ini berlaku juga untuk latar peristiwa dan waktu. Akan tetapi sangat mungkin seorang sutradara memiliki gagasan astistik tertentu yang akan ditampilkandalam pementasan setelah menganalisa sebuah lakon. peristiwa. Proses interpretasi biasanya menyangkut unsur latar. apartemen mewah disimbolkan sebagai pusat kekuasaan maka tata panggungnya disesuaikan dengan simbolisasi tersebut. Perjalanan sebuah karakter terkadang tidak mengalami perubahan yang berarti tetapi beberapa tokoh dalam lakon (biasanya protagonis dan antagonis) bisa saja mengalami perubahan. maka sutradara harus menggalinya melalui kalimat-kalimat dialog. atau gedung pertunjukan. tetapi karena ketersediaan sumber daya yang kurang memadahi maka bentuk penampilan apartemen mewah disesuaikan. Di gedung tersebut cerita terjadi di ruang aula. • Pesan. 3. pesan. sutradara dapat menafsirkan tempat kejadian secara simbolis. Untuk mewujudkan keadaan peristiwa seperti dikehendaki lakon di atas panggung maka informasi yang jelas mengenai latar cerita harus didapatkan. ia hanya sekedar melakukan apa yang dikehendaki oleh lakon apa adanya sesuai dengan hasil analisis. dapur umum. • Latar Cerita. Antigone.mengenai karakter tokoh dalam sebuah lakon. Oleh karena itulah pentas teater dengan lakonlakon yang sudah berusia lama seperti Oedipus. Dengan demikian penonton akan mendapatkan gambaran yang jelas latar cerita yang dimainkan. sutradara memberi sentuhan dan atau penyesuaian artistik terhadap lakon yang akan dipentaskan. Gambaran tempat kejadian. museum.

Hal ini mempengaruhi hasil pemikiran dan cara mengungkapkan hasil pikiran tersebut. Seniman teater dunia telah banyak berusaha melahirkan gaya pementasan. dan keseluruhan watak tokoh. karena menggunakan pendekatan gaya presentasional. Setelah menetapkan pendekatan gaya. tetapi gambaran tata artisitk berguna bagi para desainer untuk mewujudkannya dalam desain. sutradara harus memahami gaya-gaya pementasan. Untuk menekankan pesan yang dimaksud ada sutradara yang memberi penonjolan pada tata artistik. • Pendekatan pemeranan. Banyak hal yang harus dilakukan selain mengganti nama dan penampilan fisik. hal yang paling bisa adalah mendekatkan gaya pementasan dengan gaya tertentu yang sudah ada. • Pendekatan gaya pementasan. tetapi juga mental. penggunaan bahasa puitis dengan sendirinya membuat aktor harus mau memahami dan melakukan latihan teknik-teknik membaca puisi agar dalam pengucapan dialog tidak seperti percakapan sehari-hari. Gerak laku aktor distilisasi atau diperindah. sebuah lakon yang tokohtokohnya memiliki latar belakang budaya Eropa hendak diadaptasi ke dalam budaya Indonesia. 3. Misalnya. Tafsir ulang terhadap tokoh lakon paling sering dilakukan. Misalnya. sutradara harus menuliskan gambaran (pandangan) tata artistiknya. Setiap kelahiran gaya baru memiliki keterkaitan atau perlawanan terhadap gaya tertentu (baca bagian sejarah teater).Dengan demikian cara pandang sutradara terhadap keseluruhan lakon pun harus diubah atau mengalami penyesuaian. takaran emosi dan cara berpikir. emosi. Dewasa ini hampir tidak bisa ditemukan gaya pementasan murni yang dihasilkan seorang sutradara atau pemikir teater. Tafsir ulang tokoh tidak hanya sekedar mengubah nama dan menyesuaikan bentuk penampilan fisik. • Karakterisasi. misalnya warna-warna yang digunakan di atas panggung. Untuk itu. Metode akting berkaitan dengan pencapaian aktor (standar) sesuai dengan pendekatan gaya pementasannya. Misalnya. maka ia bisa memberikan gambaran . dalam budaya Eropa orang bepikir secara bebas sementara orang Indonesia cenderung mempertimbangkan hal-hali lain (tata krama. Cara menyampaikan pesan ini menjadi titik tafsir lakon yang penting karena pesan inilah inti dari keseluruhan lakon. yaitu cara berbicara. maka metode pemeranan yang dilakukan perlu dituliskan. Ada juga sutradara yang menonjolkan laku aksi aktor di atas pentas sehingga adegan dibuat dan dikerjakan secara detil. pranata sosial) di luar hal utama yang dipikirkan. Dengan demikian sutradara harus benarbenar memikirkan cara menyampaikan pesan lakon dengan mempertimbangkan unsur-unsur lakon dan sumber daya yang dimiliki. Hal ini mempengaruhi bentuk dan gaya penampilan aktor dalam beraksi. tata krama. • Gambaran tata artistik.Dalam konsep ini sutradara menjelaskan secara lengkap mengenai cara menyampaikan pesan yang berkaitan dengan pendekatan gaya pementasan dan pendekatan pemeranan serta memberikan gambaran global tata artistik. Secara umum. misalnya. Jika sutradara mampu. Masing-masing cara penonjolan pesan ini mempengaruhi unsur-unsur lain dalam pementasan. Semuanya memliki keterkaitan.. Dengan demikian pendekatan yang dilakukan tidak salah sasaran. Istilah pendekatan di sini digunakan dalam arti sutradara tidak hanya sekedar melaksanakan sebuah gaya secara wantah (utuh) tetapi ada pengembangan atau penyesuaian di dalamnya. pandangan hidup. gaya berjalan.meskipun lakon yang dipentaskan sama. Konvensi atau aturan main sebuah pertunjukan diungkapkan dalam poin ini. Sutradara harus membuat metode tertentu dalam sesi latihan pemeranan untuk mencapai apa yang dinginkan.3 Konsep Pementasan Hasil akhir dari analisis naskah adalah konsep pementasan. Hal ini biasanya berkaitan dengan isu atau topik yang sedang hangat terjadi di masyarakat. Aktor boleh berbicara secara langsung kepada penonton. maka bahasa dialog antaraktor menggunakan bahasa yang puitis. Oleh karena itu. Meski tidak secara mendetil. Hal ini sangat berguna bagi aktor.

maka ia cukup menuliskannya. Biasanya. misalnya tokoh-tokoh dalam lakon pewayangan. dan pelafalan yang baik. Menghayati sebuah tokoh berarti mampu menerjemahkan laku aksi karakter tokoh dalam bahasa verbal dan ekspresi tubuh secara bersamaan. dalam ketoprak. Untuk menilai kesiapan tubuh pemain. memilih pemain biasanya berdasar kecapakan pemain tersebut. • Tubuh. dalam cerita Kabayan. • Ciri Tertentu. dalam sebuah grup teater sekolah yang pemainnya selalu berganti atau kelompok teater kecil yang membutuhkan banyak pemain lain sutradara harus jeli memilih sesuai kualifikasi yang dinginkan. Kesiapan tubuh seorang pemain merupakan faktor utama. Oleh karena itu pemain harus memiliki kemampuan wicara yang baik. tetapi ciri wajah pemain harus diusahakan semirip mungkin dengan ciri wajah tokoh dalam lakon. Dalam sebuah produksi yang membutuhkan latihan rutin dan intens dalam kurun waktu yang lama ketahanan tubuh yang lemah sangatlah tidak menguntungkan. Berkaitan langsung dengan penampilan mimik aktor.. Seorang yang memiliki kumis. intonasi. Akan tetapi. misalnya dalam wayang orang atau ketoprak. Misalnya. harus mampu menyajikannya dengan penuh penghayatan. dalam teater modern. penentuan pemain berdasar ciri fisik ini menjadi acuan utama. Penilaian yang dapat dilakukan adalah penguasan. Dengan memberikan teks bacaan tertentu. tokoh Bagong memiliki ukuran tubuh tambun (gemuk). maka pemain harus memiliki ciri wajah yang tampak tolol. maka latihan katahanan tubuh dapat diujikan. Untuk menguji lebih mendalam sutrdara . Tokoh Werkudara (Bima) harus ditokohkan oleh orang yang bertubuh tinggi besar. Dalam sebuah grup atau sanggar. Jika tidak. Hal ini dianggap dapat mampu melahirkan ekspresi wajah yang natural. • Ukuran Tubuh. dan brewok tebal cocok diberi tokoh sebagai warok atau jagoan. Untuk menilai hal ini. • Tinggi Tubuh. dalam lakon yang gambaran tokohnya sudah melekat di masyarakat. Misalnya. • Penghayatan. ukuran tubuh merupakan harga mati bagi sebuah tokoh. Akan tetapi. calon aktor dapat dinilai kemampuan dasar wicaranya. Dalam kasus tertentu. 3. Hal ini juga sama dengan ukuran tubuh. Dalam teater yang menggunakan ekspresi bahasa verbal kejelasan ucapan adalah kunci ketersampaian pesan dialog. Grup teater tradisional biasanya memilih pemain sesuai dengan penampilan fisik dengan ciri fisik tokoh lakon.4 Memilih Pemain Menentukan pemain yang tepat tidaklah mudah. Meskipun kekurangan wajah bisa ditutupi dengan tata rias. Tidak ada gunanya seorang aktor bermain dengan baik jika fisiknya lemah. Ciri fisik dapat pula dijadikan acuan untuk menentukan pemain. • Ciri Wajah. sutradara sudah mengetahui karakter pemainpemainnya (anggota).2 Kecakapan Menentukan pemain berdasar kecapakan biasanya dilakukan melalui audisi.4. sutradara dapat menilai kecakapan pemain melalui portofolio tetapi proses audisi tetap penting untuk menilai kecakapan aktor secara langsung.1 Fisik Penampilan fisik seorang pemain dapat dijadikan dasar menentukan tokoh. karena tidak sesuai dengan karakter dan akan menyalahi laku lakon secara keseluruhan. 3. • Wicara. janggut. maka pemain yang dipilih pun harus memiliki tubuh gemuk. Meskipun dalam khasanah teater modern. Kemampuan dasar wicara merupakan syarat utama yang lain.4. Tidak masuk akal jika Bagong tampil dengan tubuh kurus. seorang yang tinggi tapi bungkuk dianggap tepat memainkan tokoh pendeta. Calon aktor.tata artistik melalui sketsa. Misalnya. sutradara dapat memberikan penggalan adegan atau dialog karakter untuk diujikan. Sutradara akan diprotes oleh penonton jika menampilkan Bima bertubuh kurus dan pendek. diksi. dalam wayang wong. 3.

Dalam lakon terkadang arahan emosi berkaitan dengan dialog juga dituliskan sehingga sutrdara lebih mudah dalam memantau emosi tokoh yang ditokohkan aktor. 3. Untuk itu. sutradara mudah dalam membuat perencanaan blocking. di antaranya adalah sebagai berikut. Dari serangkaian latihan yang dikerjakan secara rutin dan kontinyu ditambah dengan unsur artistik dan teknis maka lamanya pertunjukan teater berdasar naskah dapat ditetapkan.1. tetapi bisa dipilih sebagai seorang penari latar dalam adegan tertentu. Karena dialog tokoh sudah ditentukan dan tidak boleh ditambah atau dikurangi maka durasi pementasan dapat ditentukan. • Gambaran bentuk latar kejadian dapat ditemukan dalam naskah. Meskipun beberapa kelompok teater modern tertentu memperbolehkan improvisasi (biasanya lakon komedi situasi) tetapi sumber utama dialognya diambil dari naskah lakon. Hal ini memiliki kelebihan tersendiri. • Arahan dialog sudah ada.1 Berdasar Naskah Lakon Mementaskan teater berdasarkan naskah lakon menjadi ciri umum teater modern. Sebaliknya. Gambaran ini sangat penting . Sutradara menjadi mudah menentukan penekanan permasalahan lakon.1 Menurut Penuturan Cerita Ada dua jenis pertunjukan teater menurut penuturan ceritanya. 3. seorang calon aktor yang memiliki kemampuan menari. Bahkan dalam produksi teater profesional yang semuanya dirancang dengan baik. Karena tidak ada impovisasi. perpindahan antaradegan. Di bawah ini akan dibahas bentuk dan gaya pementasan menurut penuturan cerita. dan gaya penyajian. Tugas aktor adalah menghapalkan dialog tersebut dan mengucapkannya dalam pementasan.juga dapat memberikan penggalan dialog karakter lain dengan muatan emosi yang berbeda. teater modern menggunakan naskah lakon sebagai sumber penuturan.5. Kemampuan lain selain bermain tokoh terkadang dibutuhkan. Kehatihatian dalam memilih bentuk dan gaya bukan saja karena tingkat kesulitan tertentu. Bentuk dan gaya yang dipilih secara serampangan akan mempengaruhi kualitas penampilan. maka konflik dan penyelesaian lakon pasti. Masingmasing memiliki kelebihan dan kekurangan serta membutuhkan kecakapan sutradara dalam bidang tertentu untuk melaksanakannya.Dengan mempelajari naskah. Misalnya. • Arahan laku permainan dapat ditemukan dalam naskah.5 Menentukan Bentuk dan Gaya Pementasan Bentuk dan gaya pementasan membingkai keseluruhan penampilan pementasan. Catatan prestasi dan kemampuan yang dimiliki hendaknya ditulis dalam portofolio sehingga bisa menjadi pertimbangan sutradara.5. Penting bagi sutradara untuk menentukan dengan tepat bentuk dan gaya pementasan. Lakon telah menyediakan gambaran lengkap laku perisitiwa melalui dialog tokoh-tokohnya. Dengan demikian. yaitu berdasar naskah lakon dan improvisasi. • Kecakapan lain. Pengembangan yang dilakukan hanyalah persoalan sudut pandang. Sutradara tidak perlu menambah atau mengurangi dialog yang sudah tertulis dalam lakon kecuali punya keinginan mengadaptasinya. Mungkin dalam sebuah produksi ia tidak memenuhi kriteria sebagai pemain utama. lamanya adegan. Teater tradisional biasanya memilih imporivisasi karena semua pemain telah memahami dengan baik cerita yang akan dilakonkan dan karakter tokoh yang akan ditokohkan. bentuk penyajian. 3. arahan laku permainan dari awal sampai akhir dapat ditemukan. • Fokus permasalahan telah ditentukan. • Durasi waktu dapat ditentukan dengan pasti. menyanyi atau bermain musik memiliki nilai lebih. portofolio sangat penting bagi seorang aktor profesional. • Konflik dan penyelesaian tidak bekembang. dan tanda keluar-masuk ilustrasi musik atau pencahayaan ditentukan waktunya sehingga setiap detik sangat berharga dan menentukan berhasil tidaknya pertunjukan tersebut. tetapi latar belakang pengetahuan dan kemampuan sutradara sangat menentukan.

sutradara harus mengikutinya. Meskipun secara artistik tidak masalah. • Jika sumber daya yang dimiliki tidak sesuai dengan kehendak lakon harus dilakukan adaptasi. dan penyelesaian konflik. Jika hendak menyesuaikan dengan ketersediaan sumber daya. tetapi jika jumlah pemain yang memiliki kemampuan laga banyak. mereka biasanya menerima pesan tertentu dari penyelenggara. maka adaptasi lakon harus dilakukan. • Tidak memungkinkan pengembangan cerita. Jika sumber dana yang kurang maka tim poruduksi harus berusaha keras untuk memenuhi tuntutan tersebut. Misalnya. Sutradara dapat mengembangkan cerita dengan bebas dan aktor dapat mengembangkan kemungkinan gayapermainan dengan bebas pula. • Konflik dan sudut pandang penyelesaian bisa dikembangkan. Pencampuran gaya ini dimaksudkan untuk memenuhi selera penonton. Setelah konflik ini diselesaikan dengan cara yang khas dan lucu maka cerita kembali ke konflik semula. • Cerita bisa disesuaikan dengan sumber daya yang dimiliki. Hal ini perlu dilakukan. Cerita yang telah dituliskan oleh pengarang harus ditaati. tetapi di adegan lain menggunakan gaya realis (adegan dagelan). Jika naskah lakon tersebut telah dipublikasikan dalam bentuk buku dan memiliki hak cipta maka sutradara bisa dituntut di muka hukum. 3. Salah satu kelebihan utama teater improvisasi adalah cerita dan pemeran dapat dibuat berdasarkan sumber daya yang dimiliki. Dalam proses latihan terkadang sutradara mendapat inspirasi dari laku aksi pemain demikian pula sebaliknya. Setuju atau tidak setuju terhadap cerita. Jika banyak pemain yang bisa melucu maka cerita komedi akan efektif.5. Dalam teater tradisional. • Kreativitas aktor terbatas. dalam pertunjukan ketoprak sebuah adegan dilakukan mengikuti kaidah gaya presentasional (adegan Istana). Kalaupun hendak melakukan adaptasi atau penyesuaian.Sifat teater improvisasi yang terbuka memungkinkan pengembangan konflik dan penyelesaian.bagi sutradara untuk mewujudkannya di atas pentas. • Kreativitas sutradara dan aktor dapat dikembangkan seoptimal mungkin. sutradara telah mendapatkan gambarannya. • Arahan laku terbuka. Terkadang untuk menyampaikan pesan titipan tersebut konflik minor baru dimunculkan. Beberapa kelebihan pentas teater improvisasi adalah. Aktor tidak memiliki kebebasan penuh selain menerjemahkan konsep artistik sutradara. Jika ia tetap melakukannya. • Memungkinkan percampuran bentuk gaya. Jika memaksakan kehendak harus sesuai dengan gagasan lakon. Dengan berkembangnya cerita maka aktor mendapatkan arahan laku lain yang bisa dicobakan. pementasan teater berdasar naskah lakon juga memiliki kekurangan dan problem tersendiri.1. maka aktor dapat mengembangkannya. maka cerita penuh aksi dapat dijadikan pilihan. tetapi karya teater menjadi karya sutradara. Sutradara hanya menyediakan gambaran cerita selanjutnya aktor yang mengembangkannya dalam permainan. Dalam teater improvisasi gaya pementasan juga terbuka. Pesan ini dengan luwes dapat diselipkan dalam lakon. Di samping kelebihan tersebut di atas. Sutradara perlu meluangkan waktu untuk melakukannya. ia harus mendapatkan ijin dari penulis naskah lakon. konflik dan mengubah cara penyelesaian. Kemampuan sumber daya ini bisa dijadikan strategi untuk membuat pertunjukan menarik dan . maka sutradara memerlukan waktu ekstra untuk membimbing para aktornya. Dengan ditentukannya arah laku maka kreativitas aktor di atas panggung menjadi terbatas. Tergantung dari kekurangan sumber daya yang dimiliki. maka kerja sutradara akan semakin keras. Jika sutradara hendak mengembangkan cerita. maka sutradara telah melanggar kode etik dan hak karya artistik. Jika sumber daya manusia (aktor) yang kurang.2 Improvisasi Mementaskan teater secara improvisasi memiliki keunikan tersendiri. konflik. Terkadang hal ini dapat menimbulkan efek artistik yang alami dan menarik. Oleh karena tidak ada petunjuk arah laku yang jelas.

Jika seorang aktor beraksi.2. • Memahami komposisi dan koreografi. Pesan yang tidak disampaikan secara verbal membutuhkan keahlian tersendiri untuk mengelolanya. tetapi bagi aktor yang kualitas sastranya pas-pasan hal ini menjadi masalah besar. Oleh karena cerita bisa dikembangkan. latihan adegan tetap harus sering dilakukan. Oleh karena itu. Sifat akting adalah aksi dan reaksi. • Improvisasi dialog tidak berimbang.2 Menurut Bentuk Penyajian Banyaknya pilihan bentuk penyajian pementasan teater membuat sutradara harus jeli dalam menentukannya.1 Teater Gerak Teater gerak lebih banyak membutuhkan ekspresi gerak tubuh dan mimik muka daripada wicara. • Sutradara tidak bisa sepenuhnya mengendalikan jalannya pementasan. . kesalahan ucap atau penyampaian informasi tertentu bisa saja salah karena memang tidak dicatat dan hanya diingat garis besarnya saja. suasana. Di bawah ini beberapa langkah yang bisa diambil oleh sutradara dalam menggarap teater gerak • Sutradara mampu mengeksplorasi dan menciptakan gerak. Jika hal ini terjadi cukup lama. • Durasi waktu tidak tertentu. meskipun improvisasi. Jika tidak. Kekurangan dari pemotongan adegan ini adalah jika inti dialog (persoalan) belum sempat terucapkan maka inti dialog harus diucapkan pada adegan berikutnya. Sutrdara harus mampu mengeksplorasi dan menciptakan gerak sesuai dengan makna pesan yang hendak disampaikan. Karena arahan laku yang terbuka maka reaksi ucapan sering dilakukan spontan dan belum tentu benar. Aktor mengambil tokoh penuh. maka maknanya akan • kabur. aktor bisa mengembangkan cerita dan gaya permainan di atas pentas dan sutradara tidak bisa lagi mengarahkan secara langung. sutradara akan kerepotan sendiri.5. Simbol dan makna yang disampaikan melalui gerak harus dikerjakan dengan teliti. Karena sifatnya yang serba terbuka. Jika tidak. Oleh karena setiap bentuk penyajian memiliki kekhasan dan membutuhkan prasyarat tertentu yang harus dipenuhi. • Kemungkinan aktor melakukan kesalahan lebih besar. lakon sebagai pengendali cerita maka dalam teater imrpovisasi aktor harus mampu mengendalikan jalannya cerita. maka durasi pementasan bisa berubah-ubah. maka sutradara wajib mempelajari dan memahami langkah-langkah dalam melaksanakannya. kemampuan setiap aktor pasti tidak sama. Sutradara bisa memotong sebuah adegan yang berjalan cukup lama dengan membunyikan tanda agar musik dimainkan dan adegan segera diselesaikan.memiliki ciri khas tertentu. Akibatnya. harus mempertimbangkan makna pesan. dan terutama musik ilustrasinya. Di balik semua kelebihan di atas. maka kualitas dialog tidak bisa distandarkan. Karena tidak ada arahan dialog yang baku. Dalam sebuah grup teater. maka teori komposisi dan koreografi dasar wajib dimiliki oleh sutradara. bisa jadi ia memasangkan aktor yang memilliki kemampuan tak berimbang dalam improvisasi. Di samping itu.Semua tergantung dari improvisasi aktor di atas pentas. maka akan membosankan. teater improvisasi juga memiliki kekurangan yang patut diperhatikan oleh sutradara. Untuk itu. 3. Bagi aktor yang memiliki kemampuan sastra memadai tidak jadi masalah.5. maka panggung sepenuhnya adalah milik aktor. jika sutradara tidak jeli memahami hal ini. Karena bekerja dengan gerak. Jika pementasan sudah berjalan. 3. Sutradara tidak bisa lagi mengendalikan jalannya pertunjukan. dalam adegan tersebut aktor yang satu terlalu aktif dan yang lain pasif. Penataan gerak tidak bisa dikerjakan dengan serampangan. • Kualitas dialog tidak dapat distandarkan. Jika dalam teater berbasis naskah. maka aktor lawan mainnya harus bereaksi.

Biasanya seorang pemain boneka bisa membuat beberapa karakter suara yang berbeda. Jika gerak terlalu sulit. maka ekspresi mimik menjadi sangat penting. • Jika pemain boneka banyak maka harus mampu mengatur adegan agar pergerakan boneka tidak saling mengganggu. maka pengaturan adegan harus dikerjakan dengan teliti.2 Teater Boneka Teater boneka memiliki karakter yang khas tergantung jenis boneka yang dimainkan. sutradara harus bisa mewujudkan bahasa verbal dalam simbol gerak. maka banyaknya jumlah pemain justru akan memenuhi panggung dan membuat suasana menjadi sesak. Meskipun rangkaian gerak yang dihasilkan sangat indah. Boneka yang dimainkan dengan hidup akan menarik dan tampak nyata. terutama menyangkut komposisi. Jika tidak pintar mengelola. • Jika pemain dalam jumlah banyak. seorang pengendali biasanya hanya bisa mengendalikan maksimal dua boneka. Jumlah pemain bisa disiasati dengan menambah perbendaharaan gerak. Sutradara harus bisa memainkan boneka tersebut. • Mengerti musik ilustrasi. Selain itu. Motif gerak yang kaya akan membuat tampilan menjadi variatif dan menyegarkan.Untuk mendukung rangkaian gerak yang telah diciptakan. Jika lakon yang dimainkan membutuhkan banyak tokoh. maka irama rampak gerak yang diharapkan bisa kacau. Apalagi jika sudah menyangkut makna. • Jika pemain sedikit maka motif gerak harus lebih variatif. Mengisi suara sesuai karakter boneka menjadi prasyarat utama. Jika jumlah pemain banyak dan harus bergerak secara serempak. • Mewujudkan ekspresi melalui mimik para aktor. • Mampu mengisi suara sesuai dengan karakter boneka. Banyak jenis boneka dan masing-masing membutuhkan teknik khusus dalam memperagakannya. • Mampu menghidupkan ekspresi boneka yang dimainkan. maka penampilan boneka yang terlalu banyak juga akan merepotkan para pengendalinya. maka pengaturan blocking harus lebih teliti. Oleh karena itu. maka dianjurkan untuk mengkreasi gerak sederhana yang mudah dilakukan. . Ekspresi selalu menyangkut penghayatan dan konsentrasi. Karena tokoh diperagakan oleh boneka. • Mampu memainkan boneka dengan baik. Boneka dua dimensi seperti wayang kulit memiliki teknik memainkan berbeda dengan boneka tiga dimensi seperti wayang golek. kapan musik hadir sebagai latar suasana. maka karakter boneka harus benarbenar melekat sehingga pengendali boneka seolah-olah bisa memberikan nafas hidup di dalamnya. Menempatkan pemain dalam posisi dan gerak yang tepat akan membuat pertunjukan semakin menarik. Ekspresi emosi atau karakter tokoh harus bisa diwujudkan melalui mimik para aktor. sutradara teater gerak harus mengerti kaidah musik ilustrasi. Jumlah pemain yang banyak menimbulkan persoalan tersendiri. tetapi memberikan ekspresi hidup adalah hal yang lain. Boneka wayang golek memiliki teknik permainan yang berbeda dengan boneka marionette yang dimainkan dengan tali. dan perbedaannya harus dimengerti oleh sutradara. 3. tetapi juga mengatur permainan boneka. Di bawah ini beberapa langkah yang bisa dikerjakan oleh sutradara yang hendak mementaskan teater boneka. Kewajiban sutradara tidak hanya mengatur pemain manusia. • Mewujudkan bahasa dalam simbol gerak. kapan pemain harus menyesuaikan dengan alunan musik. Oleh karena keterbatasan bahasa verbal dalam pertunjukan teater gerak. tetapi jika komposisi (tata letak) pemainnya tidak berubah akan melahirkan kejenuhan. Memainkan boneka bisa saja dipelajari. Kapan musik mengikuti gerak pemain. pengaturan pemain perlu dilakukan. Tempat pertunjukan teater boneka yang terbatas harus disesuaikan dengan jumlah boneka yang tampil. Meskipun tidak bisa memainkan musik.2. Mengubah bahasa dalam simbol gerak tidaklah mudah. Karakter suara harus bisa tampil secara konsisten dari awal hingga akhir pertunjukan.5.

tetapi juga menyangkut hal-hal teknis. Langkah pamungkas yang dapat dijadikan patokan adalah menghadirkan pentas seperti sebuah kenyataan hidup. maka efek dramatik yang diharapkan dari aksi aktor menjadi gagal. 3. Keluar masuknya boneka di atas pentas berkaitan langsung dengan pengendali bonekanya. jika melakonkan cerita yang sedih ukuran keberhasilannya adalah membuat penonton ikut terhanyut sedih. Intinya. maka aktor akan kesulitan meninggikan tegangan pada saat klimaks. Sutradara harus memahami bobot tegangan (tensi) dramatik dalam setiap adegan yang ada pada lakon. Dalam teater dramatik.2. sehingga ketika dalam adegan tertentu membutuhkan tegangan yang lebih aktor masih bisa mengejarnya.• Jika pemain sedikit harus memiliki kemampuan mengisi suara dengan karakter yang berbeda. Yang terpenting dan perlu dicatat adalah setiap boneka mempunyai karakter suaranya sendiri. • Mampu menghadirkan laku cerita seperti sebuah kenyataan hidup. pengaturan adegan boneka disesuaikan dengan kemampuan pengendali. Oleh karena itu. Untuk mencapai hasil maksimal maka kejelian sutradara dalam mengamati dan . maka sutradara harus benar-benar jeli dalam menilai setiap aksi para aktor. Dalam teater boneka kerjasama antarpemain tidak hanya menyangkut emosi. Jika demikian. Di sinilah letak kesulitannya. Oleh karena tuntutan pertunjukan teater dramatik yang mensyaratkan laku aksi seperti kisah nyata. Banyak sutradara yang mengadakan semacam pemusatan latihan dalam kurun waktu yang cukup lama dengan tujuan agar para aktornya berada dalam suasana lakon yang akan dipentaskan. Sisi kejiwaan yang menyangkut perasaan karakter tokoh harus dapat ditampilkan senatural mungkin sehingga penonton menganggap hal itu benar-benar nyata terjadi. • Memahami sisi kejiwaan karakter tokoh. maka penonton harus dibawa dalam suasana yang suka-ria. Demikian pula dengan cerita suka-ria. Jumlah pengendali boneka yang sedikit tidak masalah asal setiap orang mampu menciptakan beberapa karakter suara. aktor diharuskan berakting tetapi seolah-olah ia tidak berakting melainkan melakukan kenyataan hidup. Berkaitan dengan karakter tokoh. Hal yang paling sulit dilakukan oleh sutradara adalah membongkar kejiwaan karakter tokoh dan mewujudkannya dalam laku aktor di ataspentas. Jika sutradara tidak memahami kejiwaan • karakter tokoh dengan baik maka penilaiannya terhadap kualitas penghayatan aktor pun kurang baik. • Membuat penonton terkesima dengan pertunjukan tidaklah mudah. • Mampu membangun kerjasama antarpemain boneka. Beberapa langkah yang dapat dikerjakan oleh sutradara dalam menggarap teater dramatik adalah sebagai berikut.3 Teater Dramatik Mementaskan teater dramatik membutuhkan kerja keras sutradara terutama terkait dengan akting pemeran. maka pergantian adegan bisa semrawut sehingga para pemain kewalahan. Angka tertinggi dari deret tegangan yang harus dicapai oleh aktor adalah 8 atau 9. semua harus tampak natural. Jika pada bagian awal konflik tegangan terlalu tinggi. Hasil akhirnya adalah anti klimaks di mana pada adegan yang seharusnya memiliki tensi tinggi justru melemah karena energi para aktornya telah habis. • Memahami tensi dramatik (dinamika lakon). Untuk menghindari hal tersebut sutradara harus benar-benar teliti dalam mengukur tegangan dramatik adegan per adegan dalam lakon. Jika dianalogikan dengan nilai 1 sampai dengan 10.5. Jika tidak ada kerjasama yang baik antarpemain (pengendali boneka). • Mampu meningkatkan kualitas pemeranan aktor untuk menghayati tokoh secara optimal. menghayati dan memerankan karakter dengan baik. Laku lakon dari awal sampai akhir mengalami dinamika atau ketegangan yang turun naik. tidak dibuat-buat. maka sutradara harus menetapkan tegangan optimal dan minimal. bijaksanalah dalam menentukan tegangan dramatik adegan dan buatlah klimaks yang mengesankan dan penyelesaian yang dramatis. sutradara harus dapat menentukan metode yang tepat agar para aktornya dapat memahami. Demikian juga dengan suasana kejadian.

Bahasa ungkap yang beragam antara bahasa verbal. gerak. dan ilustrasi suasana kejadian. 3. sehingga lalulintas aktor di atas panggung berjalan dengan lancar. Koreografer bisa saja mencipta gerak. maka sutradara harus benar-benar piawai dalam mengolah visualisasinya di atas pentas. Tokohan musik sangat doniman dalam drama musikal bahkan musik bisa hadir secara mandiri untuk menceritakan sesuatu. Tokohan dialog verbal yang digubah dalam bentuk lagu dan diucapkan melalui nyanyian adalah satu hal yang membutuhkan perhatian tersendiri. Ketepatan nada dalam nyanyian serta ekspresi wajah ketika menyanyi juga tidak boleh luput dari pengamatan. Sutradara harus mampu memecahkan masalah dasar tersebut. 3. maka perlu diperhatikan agar blocking yang dibuat tidak terlalu rumit. Pada adegan dimana musik bercerita secara mandiri maka sutradara harus mampu memvisualisasikan cerita tersebut di • atas pentas. • Mengerti lagu dan nyanyian. Secara mendasar blocking adalah gerakan fisik atau proses penataan (pembentukan) sikap tubuh seluruh aktor di atas panggung. Makna cerita sepenuhnya dituangkan dalam wujud gerak. Dalam satu adegan saat cerita diungkapkan melalui gerak. Beberapa hal yang perlu diperhatikan sutradara dalam drama musikal adalah sebagai berikut. Bukan hanya akting tetapi juga blocking. Jika karya drama musikal tersebut berawal dari karya musik murni (musik yang bercerita) seperti The Cats karya Andrew Lloyd Webber. Ekspresi cerita melalui nada-nada musik harus benar-benar bisa divisualisasikan dengan tepat. Dalam hal ini musik bertindak sebagai pengiring. Pada adegan lain. Blocking Sutradara diwajibkan memahami cara mengatur pemain di atas pentas. • Mengerti karya musik dramatik. pengiring gerak. • demikian pula sebaliknya. tetapi memahami karya musik merupakan keharusan dalam drama musikal. dan koreografi. Blocking dapat diartikan sebagai aturan berpindah tempat dari titik (area) satu ke titik (area) yang lainnya bagi aktor di atas panggung. Kejanggalan-kejanggalan kecil yang dirasa kurang masuk akal oleh penonton akan mengurangi kualitas dramatika lakon yang dihadirkan. Sutradara tidak harus bisa memainkan musik. lagu. maka sutradara harus mampu menciptkan koreografinya. tetapi makna dan atau simbolisasi cerita harus benar-benar bisa diwujudkan dalam gerak tarian yang dilakukan. komposisi. tetapi pada akhirnya sutradara yang memutuskan.5.6. Memilih pelaku yang tepat dan membuat komposisi atau koreografi berdasar karya musik yang ada. dan musikal harus dirangkai secara harmonis untuk mencapai hasil maksimal.2. • Mampu membuat gerak dan ekspresi berdasar karya musik. hindarilah kesalahan atau hal yang tidak lumrah dan berada di luar jangkauan nalar penonton. Meskipun sutradara bekerja dengan seorang koreografer. Banyak penyanyi yang memiliki suara baik tetapi ekspresinya datar. tokoh musik bisa menjadi pengiring lagu yang bercerita. Teater dramatik adalah teater yang mencoba meniru peristiwa kehidupan secara total dan sempurna. Kepiawaian sutradara dalam menentukan kegunaan karya musik yang satu dengan yang lain benarbenar dibutuhkan. Untuk mendapatkan hasil yang baik. • Mampu membuat gerak. Lagu dan nyanyian harus bisa ditampilkan secara baik dan harmonis. maka perpindahan . musik itu sendiri sudah bercerita sehingga pemain atau penari yang berada di atas panggung hanyalah pelengkap gambaran peristiwa. Dituntut kepiawaian sutradara dalam memilih dan merangkai motif gerak. Jika blocking dibuat terlalu rumit.menangani keseluruhan unsur pertunjukan sangat dibutuhkan. Artinya.4 Drama Musikal Kemampuan multi harus dimiliki oleh seorang sutradara jika hendak mementaskan drama musikal. Jadi.

yaitu tengah. tengah kiri. bawah kiri. Di samping itu. Kanan adalah kanan pemain dan bukan kanan penonton dan kiri adalah kiri pemain. kalimat yang diucapkan oleh aktor menjadi lebih mudah dipahami oleh penonton. C = Tengah. Atas adalah jarak terjauh dari penonton. yaitu tengah. . bawah kiri. kanan. kiri. atas tengah. DR = Bawah Kanan. blocking dapat mempertegas isi kalimat tersebut. tengah kiri. bawah kanan. Yang terpenting dalam hal ini adalah fokus atau penekanan bagian yang akan ditampilkan. Pembagian sembilan area juga memudahkan sutradara dalam memberikan arah gerak kepada para aktornya. • Memberikan pondasi yang praktis bagi aktor untuk membangun karakter dalam pertunjukan. Letak kanan dan kiri atau atas dan bawah ditentukan berdasar pada arah hadap aktor ke penonton. UC = Atas Tengah. UL = Atas Kiri. sedangkan kanan adalah posisi kanan arah hadap aktor atau sisi kiri penonton.dari satu aksi menuju aksi yang lain menjadi kabur. bawah tengah. maka luas masing-masing area akan terlalu sempit sehingga tidak memungkinkan sebuah pergerakan yang leluasa baik untuk pemain maupun perabot. maka karakter tokoh yang dimainkan oleh para aktor akan tampak lebih hidup. DC = Bawah Tengah. Pembagian panggung dalam lima belas area ini biasanya digunakan untuk panggung yang berukuran besar. Dengan blocking yang tepat. Secara sederhana dan umum panggung dibagi sembilan area. tengah kanan. atas kiri tengah. • Menerjemahkan naskah lakon ke dalam sikap tubuh aktor sehingga penonton dapat melihat dan mengerti. atas kanan. tengah kanan.6. bawah kanan. atas kanan. Panggung yang tidak terlalu luas jika dibagi menjadi lima belas area. 3. perlu diketahui terlebih dahulu pembagian area panggung. sedangkan bawah adalah jarak terdekat dengan penonton. Panggung pertunjukan secara kompleks dibagi dalam lima belas area. dan atas kiri. RC = Tengah Kanan. atas tengah. DL = Bawah Kiri Untuk membuat atau merencanakan blocking bagi para pemain. dan atas kiri. Fungsi blocking secara mendasar adalah sebagai berikut. • Menciptakan lukisan panggung yang baik.52 Pembagian sembilan area panggung UR = Atas Kanan. bawah kanan tengah. Jika blocking dikerjakan dengan baik.1 Pembagian Area Panggung UR UC UL RC C LC DR DC DL Gb. LC = Tengah Kiri. bawah kiri tengah. atas kanan tengah. bawah tengah.

2. Oleh karena itu.2. Ada dua ragam komposisi pemain. Bedanya. • Gunakan lengan atau tangan panggung atas (yang jauh dari mata penonton) untuk menunjuk ke .3 Fokus Dalam mengatur blocking.1 Simetris Komposisi simetris adalah komposisi yang membagi pemain dalam dua bagian dan menempatkan bagian-bagian tersebut dalam posisi yang benar-benar sama dan seimbang. Oleh karena itu. maka dimensi dan keutuhan tubuh pemain akan dilihat dengan jelas oleh mata penonton.3.2 Asimetris Komposisi asimetris tidak membagi pemain dalam dua bagian yang sama persis.6. maka kaki yang jauh akan tertutup dan wajah pemain secara otomatis akan menjauh dari mata penonton. Bagian yang satu merupakan cerminan bagian yang lain. perubahan ekspresi dan aksi di atas pentas harus dapat ditangkap mata penonton dengan jelas. maka awali dan akhiri langkah tersebut dengan kaki panggung atas (yang jauh dari mata penonton).3. tetapi membagi pemain dalam dua bagian atau lebih dengan tujuan memberi penonjolan (penekanan) bagian tertentu. Di bawah ini adalah contoh komposisi simetris. Dengan menghadap secara diagonal. • Jika pemain hendak melangkah.6. pengaturan blocking harus mempertimbangkan pusat perhatian (fokus) penonton. perpindahan pemain serta perubahan posisi pemain dapat disebut blocking. prinsip-prinsip dasar di bawah ini dapat digunakan sebagai petunjuk dalam menempatkan posisi dan mengatur pose pemain. Sedangkan komposisi. Keseimbangan adalah pengaturan atau pengelompokan aktor di atas pentas yang ditata sedemikian rupa sehingga tidak menghasilkan ketimpangan. lebih mengatur posisi. Jika digambarkan komposisi ini mirip cermin.1 Prinsip Dasar Pada dasarnya fokus adalah membuat pemain menjadi terlihat jelas oleh mata penonton. Sekilas komposisi mirip dengan blocking.2. Hal ini menjadikan gerak pemain kurang terlihat dengan jelas.6. 3. Menghadap lurus ke arah penonton akan memberikan efek datar dan kurang memberikan dimensi kepada pemain. karakter. 3. pose. maka penonton akan menjadi jenuh. 3. dan tinggirendah pemain dalam keadaan diam (statis). Hal ini diperlukan untuk memenuhi ruang dan menghindari komposisi aktor yang berat sebelah. yaitu komposisi simetris dan komposisi asimetris yang ditata dengan mempertimbangkan keseimbangan.2 Komposisi Komposisi dapat diartikan sebagai pengaturan atau penyusunan pemain di atas pentas.3 Keseimbangan Dalam menata komposisi pemain di atas pentas hal yang paling penting untuk diperhatikan adalah keseimbangan. arah laku. maka hal ini akan menimbulkan pemandangan yang kurang menarik dan jika hal ini berlangsung lama. Jika salah satu ruang dibiarkan kosong sementara ruang yang lain terisi penuh.6. sedangkan menyamping penuh akan menyembunyikan bagian tubuh yang lain. Usahakan pemain menghadap diagonal (kurang lebih 45 derajat) ke arah penonton. Hal ini dapat dikerjakan dengan menempatkan pemain dalam posisi dan situasi tertentu sehingga ia lebih menonjol atau lebih kuat dari yang lainnya. hal yang paling utama untuk diperhatikan sutradara adalah perhatian penonton. • Kurangilah menempatkan pemain dalam posisi menghadap lurus ke arah penonton atau menyamping penuh. Jika melangkah dengan kaki panggung bawah (yang dekat dari mata penonton). blocking memiliki arti yang lebih luas karena setiap gerak. 3.6. Pengaturan posisi pemain seperti ini dilakukan agar semua pemain di atas pentas dapat dilihat dengan jelas oleh penonton. 3. Setiap aktivitas.6.

Selama menghitung denyut nadi mata selalu melihat jam (jam tangan maupun jam dinding yang ada di dalam ruangan). Jika yang dilakukan sebaliknya. • Pemanasan • Latihan ketahanan • Latihan Kelenturan • Latihan ketangkasan .1. Latihan inti. Olah tubuh dilakukan dalam tiga tahap.1 Persiapan Sebelum melakukan latihan harus memperhatikan denyut nadi. yaitu dengan menghitung denyut nadi yang ada di leher atau denyut nadi yang ada di pergelangan tangan dalam. usahakan untuk berbicara kepada penonton atau kepada aktor lain yang berada di atas panggung. yaitu serial pokok dari inti gerakan yang akan dilatihkan. Penghitungan dilakukan selama enam detik dan hasilnya dikalikan sepuluh. maka gerakan lengan dan tangan akan menutupi bagian tubuh lain. 4. Selebihnya. yaitu serial latihan gerakan tubuh untuk meningkatkan sirkulasi dan meregangkan otot dengan cara bertahap. • Usahakan agar para aktor saling menatap (berkontak mata) pada saat mengawali dan mengakhiri dialog (percakapan). yaitu dengan meletakkan jari tengah di atas pergelangan tangan dalam segaris dengan ibu jari atau jari jempol. Hal ini mempertegas laku aksi yang sedang dikerjakan. • Jangan pernah memegang benda atau piranti tangan di depan wajah ketika sedang berbicara. Latihan pendinginan atau peredaan (warm-down). 4. Jika tangan yang digunakan adalah tangan yang tidak menganggu pandangan penonton. Penghitungan denyut nadi yang ada dipergelangan tangan lebih dianjurkan untuk menghasilkan perhitungan yang tepat. Mengetahui denyut nadi sebelum latihan fisik dianjurkan karena berhubungan dengan kerja jantung. dan latihan pendinginan. yaitu latihan pemanasan.1 Latihan Olah Tubuh Latihan olah tubuh melatih kesadaran tubuh dan cara mendayagunakan tubuh. Latihanlatihan olah tubuh dapat dilakukan dengan tahap-tahap sebagai berikut. latihan inti. atau penghitungan dilakukan selama sepuluh detik dan hasilnya dikalikan enam. SENI BERPERAN DALAM TEATER Teater Koma : Mengapa Leonardo Aktor merupakan manusia yang mengorbankan dirinya untuk menjadi orang lain. Karena itu dia harus mempersiapkan dirinya secara utuh penuh baik fisik maupun psikis. Untuk itu seorang pemeran harus menjaga kelenturan peralatan tubuhnya. maka gerak laku aktor dalam menggunakan telepon akan kelihatan. Cara untuk menghitung denyut nadi.arah panggung atas dan gunakan lengan atau tangan panggung bawah (yang dekat dengan mata penonton) untuk menunjuk ke panggung bawah. Membagi arah pandangan ini sangat penting untuk menegaskan dan memberi kejelasan ekspresi karakter kepada penonton. karena hal ini akan menutupi suara dan pandangan penonton. Latihan pemanasan (warm-up). Cara penghitungan denyut nada yang ada di pergelangan tangan. yaitu serial pendek gerakan tubuh untuk mengembalikan kesegaran tubuh setelah menjalani latihan inti.

Unsur dasar bahasa lisan adalah suara. bisa juga bahasa tubuh sebagai penguat bahasa verbal. Itulah yang disebut intonasi. Dalam kenyataannya. “Yah. Dialog merupakan salah satu daya tarik dalam membina konflik-konflik dramatik. Prosesnya. Suara dihasilkan oleh proses mengencang dan mengendornya pita suara sehingga udara yang lewat berubah menjadi bunyi. Makna katakata dipengaruhi oleh nada. memang. dalam konvensi dunia teater kedua istilah tersebut dibedakan. Kegiatan mengucapkan dialog ini menjadi sifat teater yang khas. nada suara yang terlontarkan. Dalam kegiatan teater. dalam arti tidak dibarengi dengan bahasa verbal. Dialog yang diucapkan oleh seorang pemeran mempunyai tokohan yang sangat penting dalam pementasan naskah drama atau teks lakon. Hal ini disebabkan karena dalam dialog banyak terdapat nilai-nilai yang bermakna. “kamu belum bisa apaapa”. Seorang pemeran dalam pementasan teater menggunakan dua bahasa. Pemilihan kata-kata memiliki tokohan dalam aturan yang dikenal dengan istilah diksi. Hal ini . Akan tetapi. sedangkan bunyi merupakan produk benda-benda. dalam situasi tertentu tidak mampu mengungkapkan maksud yang sebenarnya. suara dijadikan kata dan kata-kata disusun menjadi frasa serta kalimat yang semuanya dimanfaatkan dengan aturan tertentu yang disebut gramatika atau paramasastra. sehingga secara tidak sadar mengungkapkan sesuatu yang sebenarnya tidak dikehendaki. suara tidak hanya dilontarkan begitu saja tetapi dilihat dari keras lembutnya. karena digunakan sebagai bahan komunikasi yang berwujud dialog. Kata-kata yang membawa informasi yang bermakna..• Latihan pendinginan • Latihan relaksasi 4. Misalnya. Jika lontaran dialog tidak sesuai sebagaimana mestinya. ”. yaitu hasil getaran udara yang datang dan menyentuh selaput gendang telinga. Banyak lagi contoh yang menunjukkan tentang makna suara. suara dan bunyi itu sama. Bahasa tubuh bisa berdiri sendiri. Maka. Suara merupakan produk manusia untuk membentuk katakata. kalimat. kamu sekarang sudah hebat…. yaitu bahasa tubuh dan bahasa verbal yang berupa dialog. Selanjutnya. Akan tetapi. Suara adalah lambang komunikasi yang dijadikan media untuk mengungkapkan rasa dan buah pikiran. suara mempunyai tokohan penting. tinggi rendahnya. Misalnya. menunjukkan maksud memuji atau sebenarnya ingin mengatakan. dan cepat lambatnya sesuai dengan situasi dan kondisi emosi.2 OLAH SUARA Suara adalah unsur penting dalam kegiatan seni teater yang menyangkut segi auditif atau sesuatu yang berhubungan dengan pendengaran. Maksud tersembunyi seperti itu disebut subtext. Suara merupakan unsur yang harus diperhatikan oleh seseorang yang akan mempelajari teater. maka nilai yang terkandung tidak dapat dikomunikasikan kepada penonton.

putus asa. Dengan demikian. Wicara q. tetapi juga harus memberikan respon terhadap ekspresi tokoh lain. misalnya: umur.3 OLAH RASA Pemeran teater membutuhkan kepekaan rasa. Senam Rahang Bawah f. Ketika pemeran mengucapkan dialog harus mempertimbangkan pikiranpikiran penulis. e. Persiapan b. a. d. Oleh karena itu. Seorang pemeran yang hanya melakukan aksi berarti baru mengerjakan separuh dari tugasnya. Seorang pemeran tidak hanya memikirkan ekspresi karakter tokoh yang ditokohkan saja. Banyak pemeran yang hanya mementingkan ekspresi yang ditokohkan sehingga dalam benaknya hanya melakukan aksi. Tempo o. Latihan Pernafasan k. Nada p. Senam Lidah e. Ekspresi yang disampaikan melalui nada suara membentuk satu pemaknaan berkaitan dengan kalimat dialog. Intonasi m. semua emosi tokoh yang ditokohkan harus mampu diwujudkan. latihan olah rasa tidak hanya berfungsi untuk . a. Bergumam i. Jika pemeran melontarkan dialognya hanya sekedar hasil hafalan saja. Bersenandung j. maka dia mencabut makna yang ada dalam kata-kata. kegembiraan. Latihan-latihan untuk melenturkan peralatan suara dapat dilakukan menggunakan tahap-tahap sebagai berikut. marah. latihan-latihan yang mendukung kepekaan rasa perlu dilakukan. Melengkapi variasi. Latihan Kejelasa Diksi l. Ada beberapa hal yang perlu diketahui oleh seorang pemeran tentang fungsi ucapan.merupakan kesalahan fatal bagi seorang pemeran. Pemanasan c. kedudukan sosial. Senam Wajah d. Memberi arti khusus pada kata-kata tertentu melalui modulasi suara. c. Memuat informasi tentang sifat dan perasaan tokoh. Terlebih dalam konteks aksi dan reaksi. kekuatan. Berbisik h. Ucapan yang dilontarkan oleh pemeran bertujuan untuk menyalurkan kata dari teks lakon kepada penonton. Dalam menghayatai karakter tokoh. Tugas yang lain adalah memberikan reaksi. Proses pengucapan dialog mempengaruhi ketersampaian pesan yang hendak dikomunikasikan kepada penonton. Latihan Tenggorokan g. yaitu sebagai berikut. dan sebagainya. Jeda n. Ditutup dengan relaksasi 4. b. Padahal akting adalah kerja aksi dan reaksi. Mengendalikan perasaan penonton seperti yang dilakukan oleh musik.

1 Konsentrasi Pengertian konsentrasi secara harfiah adalah pemusatan pikiran atau perhatian. Sedang beberapa orang menggunakan gesture sebagai tambahan dalam katakata ketika melakukan proses komunikasi. Pusat perhatian seorang pemeran adalah sukma atau jiwa tokoh atau karakter yang akan dimainkan. sedangkan kalau selaras dengan bahasa verbal akan menguatkan proses komunikasi. Langkah awal yang perlu diperhatikan adalah mengasah kesadaran dan mampu menggunakan tubuhnya dengan efisien. Dunia tidak nyata yang diciptakan seorang penulis lakon dan diwujudkan oleh pekerja teater. Seorang pemeran harus dapat mengontrol tubuhnya setiap saat. Kalau pemeran dengan tingkat konsentrasi yang rendah maka dia tidak akan dapat menyakinkan penonton. Latihan gesture dapat digunakan untuk mempelajari dan melahirkan bahasa tubuh. Jadi bahasa tubuh harus dipahami oleh pemeran sebagai pendukung bahasa verbal. Kekuatan pemeran untuk mewujudkan dunia rekaan ini hanya bias dilakukan dengan kekuatan daya konsentrasi. Maka. Jika berlawanan dengan bahasa verbal akan mengurangi kekuatan komunikasi. 4. Manfaat mempelajari dan melatih gesture adalah mengerti apa yang tidak terkatakan dan yang ada dalam pikiran lawan bicara. Dunia ini harus diwujudkan menjadi sesuatu yang seolah-olah nyata dan dapat dinikmati serta menyakinkan penonton. dengan mempelajari bahasa tubuh. Misalnya. makin tinggi kesanggupan memusatkan perhatian. Sifat bahasa tubuh adalah tidak universal. Makin menarik pusat perhatian. konsentrasi menjadi sesuatu hal yang penting untuk pemeran. mengangguk tandanya tidak setuju sedangkan mengeleng artinya setuju. orang India. tetapi juga perasaan terhadap karakter lawan main. Hal ini berlawanan dengan bangsa-bangsa lain. Akan tetapi. Sebagai seorang pemeran. Pemakaian gesture ini mengajak seseorang untuk menampilkan variasi bahasa atau bermacam-macam cara mengungkapkan perasaan dan pemikiran. Misalnya seorang pemeran melihat sesuatu yang menjijikan (meskipun sesuatu itu tidak ada di atas pentas) maka ia harus menyakinkan kepada penonton bahwa sesuatu yang dilihat benarbenar menjijikkan. yaitu tokoh yang dimainkan.3.meningkatkan kepekaan rasa dalam diri sendiri. dan imajinasi. Ada korelasi yang sangat dekat antara pikiran dan tubuh. Tangan mengacung dengan jari telunjuk dan jempol membentuk lingkaran. Bahasa ini mendukung dan berpengaruh dalam proses komunikasi. 4. gesture . Latihan olah rasa dimulai dari konsentrasi.3. gesture tidak dapat menggantikan bahasa verbal sepenuhnya. Segala sesuatu yang mengalihkan perhatian seorang pemeran. Tujuan dari konsentrasi ini adalah untuk mencapai kondisi kontrol mental maupun fisik di atas panggung. Dengan konsentrasi pemeran akan dapat mengubah dirinya menjadi orang lain. akan diketahui tanda kebohongan atau tanda-tanda kebosanan pada proses komunikasi yang sedang berlangsung. bagi orangtokohcis artinya nol. mempelajari gesture. Seorang pemeran harus memahami bahasa tubuh.2 Gesture Gesture adalah sikap atau pose tubuh pemeran yang mengandung makna. Selain itu. cenderung dapat merusak proses pemeranan. tetapi bagi orang Amerika artinya bagus. baik bahasa tubuh budaya sendiri maupun bahasa tubuh budaya lainnya. Ada juga yang mengatakan bahwa gesture adalah bentuk komunikasi non verbal yang diciptakan oleh bagian-bagian tubuh yang dapat dikombinasikan dengan bahasa verbal. gesture harus disadari dan diciptakan sebagai penguat komunikasi dengan bahasa verbal. bagi orang Yunani berarti penghinaan. Macam-macam gesture yang dapat dipahami orang lain adalah gesture dengan tangan. Dunia teater adalah dunia imajiner atau dunia rekaan. Bahasa tubuh semacam respon atau impuls dalam batin seseorang yang keluar tanpa disadari. Bahasa tubuh dilakukan oleh seseorang terkadang tanpa disadari dan keluar mendahului bahasa verbal.

sedangkan fantasi membuat hal-hal yang tidak ada. Dengan stimulus pertanyaanpertanyaan atau menggunakan stimulus ”seandainya”. Untuk membangkitkan imajinasi tokoh gunakan pertanyaan. “siapakah Hamlet itu?”. Selain itu. membutuhkan tata letak perabot yang dapat enak . sebelum melaksanakan penataan panggung seorang penata panggung perlu mempelajari panggung pertunjukan. • Pikiran bisa disuruh untuk mempertanyakan segala sesuatu.3 Imajinasi Imajinasi adalah proses pembentukan gambaran-gambaran baru dalam pikiran. 4. Sedangkan bahasa tubuh dengan kaki adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh posisi dan bagaimana meletakkan kaki. maka pikiran dipaksa untuk menjawab pertanyaan tersebut. dan panggung tempat pementasan dilaksanakan. • Imajinasi tidak akan muncul dengan pikiran yang pasif. kehendak artistik sutradara. SENI RUPA DALAM TEATER 5. Tidak hanya sekedar dekorasi (hiasan) semata. Bahasa tubuh atau gesture dengan tangan adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh posisi maupun gerak kedua tangan. • Imajinasi menciptakan hal-hal yang mungkin ada atau mungkin terjadi. dan jangan menggambarkan suatu objek yang tidak pasti (perkiraan).1. seorang pemeran juga harus berimajinasi tentang pengalaman hidup tokoh yang akan dimainkan. Penataan panggung disesuaikan dengan tuntutan cerita. Melatih imajinasi sama dengan memperkerjakan pikiran-pikiran untuk terus berpikir.1 Mempelajari Panggung Dalam sejarah perkembangannya. maka akan terjadi proses imajinasi. Latihan imajinasi bagi pemeran berfungsi mengidentifikasi tokoh yang akan dimainkan. Bahasa tubuh dengan tubuh adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh pose atau sikap tubuh seseorang. maka akan memunculkan gambaran pengandaiannya. Perbedaan jenis panggung ini dipengaruhi oleh tempat dan zaman dimana teater itu berada serta gaya pementasan yang dilakukan. tetapi harus dengan pikiran yang aktif. Bahasa tubuh dengan kepala dan wajah adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh posisi kepala maupun ekspresi wajah. Dengan berpikir. • Imajinasi tidak bisa dipaksa.dengan badan. Baik hal yang logis maupun yang tidak logis. siapa. Hal-hal yang perlu diketahui ketika berlatih imajinasi. tidak pernah ada. dan tidak akan pernah ada. Objek berfungsi untuk menstimulasi atau merangsang pikiran. dan apa. dimana. dalam panggung yang penontonnya melingkar. dan gesture dengan kaki. dimana gambaran tersebut tidak pernah dialami sebelumnya. Belajar imajinasi harus menggunakan plot yang logis. Bahasa tubuh yang tercipta oleh kedua tangan merupakan bahasa tubuh yang paling banyak jenisnya.3.1. Oleh karena itu. Bentuk panggung yang berbeda memiliki prinsip artistik yang berbeda. tetapi harus dibujuk untuk bisa digunakan. Gambaran tempat kejadian lakon diwujudkan oleh tata panggung dalam pementasan. tetapi segala tata letak perabot atau piranti yang akan digunakan oleh aktor disediakan oleh penata panggung. gesture dengan kepala dan wajah. Usaha menjawab pertanyaan itu akan membawa pikiran untuk mengimajinasikan sosok Hamlet. seni teater memiliki berbagai macam jenis panggung yang dijadikan tempat pementasan. TATA PANGGUNG Tata panggung disebut juga dengan istilah scenery (tata dekorasi). Imajinasi tidak akan muncul jika direnungkan tanpa suatu objek yang menarik. Belajar imajinasi dapat menggunakan fungsi ”jika” atau dalam istilah metode pemeranan Stanislavski disebut magic-if. Misalnya. 5. Misalnya.

maka penata panggung dituntut kreativitasnya untuk mewujudkan set dekor. Segala perabot yang digunakan dalam panggung arena harus benar-benar dipertimbangkan dan dicermati secara hati-hati baik bentuk. panggun arena sering menjadi pilihan utama bagi teater tradisional.1 Arena Teater Arena Panggung arena adalah panggung yang penontonnya melingkar atau duduk mengelilingi panggung. sutradara.2. Inti dari pangung arena baik terbuka atau tertutup adalah mendekatkan penonton dengan pemain. Kedekatan jarak antara pemain dan penonton dimanfaatkan untuk melakukan komunikasi langsung di tengah-tengah pementasan yang menjadi ciri khas teater tersebut. 5. salah satunya adalah penggunaan panggung arena. Hal ini mempengaruhi nilai artistik pementasan. Panggung arena biasanya dibuat secara terbuka (tanpa atap) dan tertutup. Beberapa pengembangan desain dari teater arena melingkar dilakukan sehingga bentuk teater arena menjadi bermacammacam. dan panggung arena. Lepas dari kesulitan yang dihadapi. Ketiganya adalah panggung proscenium.2. detil perabot yang diletakkan di atas panggung harus benar-benar sempurna sebab jika tidak maka cacat sedikit saja akan nampak. 5. di atas panggung diletakkan kursi dan meja berukir.1. Kedekatan jarak ini membawa konsekuensi artistik tersendiri baik bagi pemain dan (terutama) tata panggung. Misalnya. penata panggung diharuskan memahami karakter jenis panggung yang akan digunakan serta bagian-bagian panggung tersebut. penata panggung dapat merancangkan karyanya berdasar lakon yang akan disajikan dengan baik. Jenis-jenis Panggung Panggung adalah tempat berlangsungnya sebuah pertunjukan dimana interaksi antara kerja penulis lakon. Untuk memperoleh hasil terbaik. Seperti telah disebutkan di atas bahwa banyak sekali jenis panggung tetapi dewasa ini hanya tiga jenis panggung yang sering digunakan. dan penempatannya. Banyak usaha yang dilakukan untuk mendekatkan pertunjukan dengan penonton. dan aktor ditampilkan di hadapan penonton. Dengan memahami bentuk dari masingmasing panggung inilah. Di atas panggung inilah semua laku lakon disajikan dengan maksud agar penonton menangkap maksud cerita yang ditampilkan.1. Karena bentuknya yang dikelilingi oleh penonton. Semua ditata agar enak dipandang dari berbagai sisi. Jika bentuk ukiran yang ditampilkan tidak nampak sempurna – berbeda satu dengan yang lain – maka penonton akan dengan mudah melihatnya. Karena jaraknya yang dekat. Untuk menyampaikan maksud tersebut pekerja teater mengolah dan menata panggung sedemikian rupa untuk mencapai maksud yang dinginkan.dilihat dari setiap sisi. panggung thrust. ukuran. Aspek kedekatan inilah yang dieksplorasi untuk menimbulkan daya tarik penonton.2.2 Proscenium Panggung proscenium bisa juga disebut sebagai panggung bingkai karena penonton menyaksikan . Penonton sangat dekat sekali dengan pemain. Agar semua pemain dapat terlihat dari setiap sisi maka penggunaan set dekor berupa bangunan tertutup vertikal tidak diperbolehkan karena dapat menghalangi pandangan penonton.1. Kemungkinan berkomunikasi secara langsung atau bahkan bermain di tengah-tengah penonton ini menjadi tantangan kreatif bagi teater modern. Berbeda dengan panggung yang penontonnya hanya satu arah dari depan. 5.

Tata perabot kemudian menjadi unsur pokok pada tata panggung arena.3 Fungsi Tata Panggung Dalam perancangan tata panggung selain mempertimbangkan jenis panggung yang akan digunakan ada beberapa elemen komposisi yang perlu diperhatikan. Intinya semua yang di atas panggung dapat diciptakan untuk mengelabui pandangan penonton dan mengarahkan mereka pada pemikiran bahwa apa yang terjadi di atas pentas adalah kenyataan. Sebelum menjelaskan semua itu. Pesona inilah yang membuat penggunaan panggung proscenium bertahan sampai sekarang.4 Elemen Komposisi Desain tata panggung sebaiknya dibuat dengan mudah dan bebas. 5. Aktor dapat bermain dengan leluasa seolah-olah tidak ada penonton yang hadir melihatnya. penata panggung juga bertanggungjawab terhadap segala perabot yang digunakan. Jarak antara penonton dan panggung adalah jarak yang dapat dimanfaatkan untuk menciptakan gambaran kreatif pemangungan. Dalam pembuatan desain gambar tata panggung yang terpenting adalah cara mengatur. lokasi kejadian. fungsi tata panggung perlu dibahas terlebih dahulu. Kesan inilah yang diolah penata panggung untuk mewujudkan kreasinya di atas panggung proscenium. Perabot dan piranti sangat penting dalam mencipta lukisan panggung.276). Jarak yang sengaja diciptakan untuk memisahkan pemain dan penonton ini dapat digunakan untuk menyajikan cerita seperti apa adanya. Gambar dekorasi dan perabot tidak begitu menuntut kejelasan detil sampai hal-hal terkecil. status karakter peran. Pembelajaran tata panggung untuk menciptakan ilusi (tipuan) imajinatif sangat dimungkinkan dalam panggung proscenium. menata. bingkai proscenium menjadi batas tepinya. Perspektif dapat ditampilkan dengan memanfaatkan kedalaman panggung (luas panggung ke belakang). dan musim dalam tahun dimana lakon dilangsungkan. Artinya. . Karena keseluruhan objek yang ada di atas panggung dan digunakan oleh aktor membentuk satu lukisan secara menyeluruh. imajinasi dapat dituangkan sepenuhnya ke dalam gambar desain tanpa lebih dulu berpikir tentang kemungkinan visualisasinya. Unsurunsur ini ditata sedemikian rupa sehingga bisa memberikan gambaran lengkap yang berfungsi untuk menjelaskan suasana dan semangat lakon. Penyuntingan atau pengolahan bisa dilakukan setelah gagasan tertuang. 5. Penonton disuguhi gambaran melalui bingkai tersebut. Tata cahaya yang memproduksi sinar dapat dihadirkan dengan tanpa terlihat oleh penonton dimana posisi lampu berada. Procenium Stage Tata panggung pun sangat diuntungkan dengan adanya jarak dan pandangan satu arah dari penonton.1. Semua yang ada di atas panggung dapat disajikan secara sempurna seolah-olah gambar nyata. Bingkai yang dipasangi layar atau gorden inilah yang memisahkan wilayah akting pemain dengan penonton yang menyaksikan pertunjukan dari satu arah (Gb.aksi aktor dalam lakon melalui sebuah bingkai atau lengkung proscenium (proscenium arch). Pemikiran lain di luar desain akan menghambat imajinasi dan akhrinya memberikan batasan. Bentangan jarak dapat menciptakan bayangan arstisitk tersendiri yang mampu menghadirkan kesan. Selain merencanakan gambar dekor. terutama pada panggung arena dimana lukisan dekor atau bentuk bangunan vertikal tertutup seperti dinding atau kamar (karena akan menghalangi pandangan sebagian penonton) tidak memungkinkan diletakkan di atas panggung. Seperti sebuah lukisan. Pemisahan ini dapat membantu efek artistik yang dinginkan terutama dalam gaya realisme yang menghendaki lakon seolah-olah benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata. Hampir semua sekolah teater memiliki jenis panggung proscenium.1. Dengan pemisahan ini maka pergantian tata panggung dapat dilakukan tanpa sepengetahuan penonton. dan memanipulasi elemen komposisi yang menjadi dasar dari seluruh kerja desain. periode sejarah lakon. Panggung proscenium sudah lama digunakan dalam dunia teater.

Misalnya. dan atmosfir (Mark Carpenter. Lampu memberi penerangan pada pemain dan setiap objek yang ada di atas panggung. Banyak hal yang bisa dikerjakan bekaitan dengan peran tata cahaya tetapi fungsi dasar tata cahaya ada empat. 5.1 Fungsi Tata Cahaya Tata cahaya yang hadir di atas panggung dan menyinari semua objek sesungguhnya menghadirkan kemungkinan bagi sutradara. • Dimensi. dan penonton untuk saling melihat dan berkomunikasi. Tidak semua area di atas panggung memiliki tingkat terang yang sama tetapi diatur dengan tujuan dan maksud tertentu sehingga menegaskan pesan yang hendak disampaikan melalui laku aktor di atas pentas. bulan atau api untuk menerangi. tata cahaya memiliki fungsi pendukung yang dikembangkan secara berlainan oleh masing-masing ahli tata cahaya.2. Selain keempat fungsi pokok di atas. yaitu penerangan. pemilihan.5. Inilah gambaran suasana dan emosi yang dapat dimunculkan oleh tata cahaya. Sinar mentari pagi membawa kehangatan sedangkan sinar mentari siang hari terasa panas. Istilah penerangan dalam tata cahaya panggung bukan hanya sekedar memberi efek terang sehingga bisa dilihat tetapi memberi penerangan bagian tertentu dengan intensitas tertentu. Pengetahuan dasar ini selanjutnya dapat diterapkan dan dikembangkan dalam penataan cahaya untuk kepentingan artistik pemanggungan. TATA CAHAYA Cahaya adalah unsur tata artistik yang paling penting dalam pertunjukan teater. Kata “atmosfir” digunakan untuk menjelaskan suasana serta emosi yang terkandung dalam peristiwa lakon. Sejak ditemukannya teknologi pencahayaan panggung. penonton secara normal dapat melihat seluruh area panggung. Sejak ditemukannya lampu penerangan manusia menciptakan modifikasi dan menemukan hal-hal baru yang dapat digunakan untuk menerangi panggung pementasan. Jika semua objek diterangi dengan intensitas yang sama maka gambar yang akan tertangkap oleh mata penonton menjadi datar. Fungsi penerangan dilakukan dengan memilih area tertentu untuk memberikan gambaran dimensional objek. Tanpa adanya cahaya maka penonton tidak akan dapat menyaksikan apa-apa. Dimensi dapat diciptakan dengan membagi sisi gelap dan terang atas objek yang disinari sehingga membantu perspektif tata panggung. • Penerangan. Artinya. 1988). dan emosi peristiwa. dimensi. untuk memberikan fokus perhatian pada area atau aksi tertentu sutradara memanfaatkan cahaya. • Atmosfir. Dalam pertunjukan era primitif manusia hanya menggunakan cahaya matahari. • Pemilihan. Inilah fungsi paling mendasar dari tata cahaya. Seorang penata cahaya perlu mempelajari pengetahuan dasar dan penguasaan peralatan tata cahaya. suasana. Dengan cahaya. Tata cahaya dapat dimanfaatkan untuk menentukan objek dan area yang hendak disinari. Tata cahaya mampu menghadirkan suasana yang dikehendaki oleh lakon. sutradara dapat menghadirkan ilusi imajinatif. Pemilihan ini tidak hanya berpengaruh bagi perhatian penonton tetapi juga bagi para aktor di atas pentas serta keindahan tata panggung yang dihadirkan. Dengan pengaturan tingkat intensitas serta pemilahan sisi gelap dan terang maka dimensi objek akan muncul. aktor. Keempat fungsi pokok tata cahaya di atas tidak berdiri sendiri. Beberapa fungsi . masing-masing fungsi memiliki interaksi (saling mempengaruhi). Dengan tata cahaya kedalaman sebuah objek dapat dicitrakan.2. Yang paling menarik dari fungsi tata cahaya adalah kemampuannya menghadirkan suasana yang mempengaruhi emosi penonton. efek lampu dapat diciptakan untuk menirukan cahaya bulan dan matahari pada waktu-waktu tertentu. Jika dalam film dan televisi sutradara dapat memilih adegan menggunakan kamera maka sutradara panggung melakukannya dengan cahaya. Dalam teater. warna cahaya matahari pagi berbeda dengan siang hari. Semua objek yang disinari memberikan gambaran yang jelas kepada penonton tentang segala sesuatu yang akan dikomunikasikan.

Penggunaan warna serta intensitas dapat menarik perhatian penonton sehingga membantu pesan yang hendak disampaikan. • Penekanan. black out biasanya digunakan sebagai tanda ganti adegan diiringi dengan pergantian set.3. fade out untuk mengakhiri sebuah adegan. dari objek satu ke objek lain.1 Fungsi Tata Rias Tokoh dalam teater memiliki karakter berbeda-beda. Sebuah bagian bangunan yang tinggi yang senantiasa disinari cahaya sepanjang pertunjukan akan menarik perhatian penonton dan menimbulkan pertanyaan sehingga membuat penonton menyelidiki maksud dari hal tersebut. Penampilan tokoh yang berbeda-beda membutuhkan penampilan yang berbeda sesuai karakternya.3. 5. Dalam gaya Surealis tata cahaya diproyeksikan untuk menyajikan imajinasi atau fantasi di luar kenyataan seharihari. bibir yang kurang tegas. 5. Tata cahaya dapat memberikan penekanan tertentu pada adegan atau objek yang dinginkan. teater Yunani yang memakai topeng lebih besar dari wajah pemain dengan garis tegas agar ekspresinya dapat dilihat oleh penonton. TATA RIAS Tata rias secara umum dapat diartikan sebagai seni mengubah penampilan wajah menjadi lebih sempurna. cahaya selalu bergerak dan berpindah dari area satu ke area lain. Dalam pementasan teater tradisional. Cahaya dapat menunjukkan gaya pementasan yang sedang dilakonkan. • Gaya.tulang. Jika perpindahan cahaya bergerak dari aktor satu ke aktor lain dalam area yang berbeda. penonton dapat melihatnya dengan jelas. Tata rias bisa . Tata Rias dalam teater bermula dari pemakaian kedok atau topeng untuk menggambarkan karakter tokoh. Contohnya. tumbuhan.1. • Menyempurnakan penampilan wajah • Menggambarkan karakter tokoh • Memberi efek gerak pada ekspresi pemain • Menegaskan dan menghasilkan garis-garis wajah sesuai dengan tokoh • Menambah aspek dramatik. Cahaya dapat dimanfaatkan untuk menciptakan lukisan panggung melalui tatanan warna yang dihasilkannya. Sepanjang pementasan. • Komposisi.1 Menyempurnakan Penampilan Wajah Wajah seorang pemain memiliki kekurangan yang bisa disempurnakan dengan mengaplikasikan tata rias. • Pemberian tanda. Tata rias merupakan salah satu cara menampilkan karakter tokoh yang berbeda-beda tersebut. Gaya realis atau naturalis yang mensyaratkan detil kenyataan mengharuskan tata cahaya mengikuti cahaya alami seperti matahari. memiliki hidung yang kurang mancung. 5. Gerak perpindahan cahaya ini mengalir sehingga kadang-kadang perubahannya disadari oleh penonton dan kadang tidak.3. bulan atau lampu meja. Misalnya. dan lemak binatang. dan sebagainya. Beberapa teater primitif menggunakan bedak tebal yang biasa dibuat dari bahan-bahan alam. Tanpa • sadar penonton dibawa ke dalam suasana yang berbeda melalui perubahan cahaya. misalnya. mata yang tidak ekspresif. Tata rias dalam teater mempunyai arti lebih spesifik. Seorang pemain. fade in untuk memulai adegan dan black out sebagai akhir dari cerita.pendukung yang dapat ditemukan dalam tata cahaya adalah sebagai berikut. Dalam pementasan komedi atau dagelan tata cahaya membutuhkan tingkat penerangan yang tinggi sehingga setiap gerak lucu yang dilakukan oleh aktor dapat tertangkap jelas oleh penonton. seperti tanah. Tata rias dalam teater memiliki fungsi sebagai berikut. • Gerak. yaitu seni mengubah wajah untuk menggambarkan karakter tokoh. Cahaya berfungsi untuk memberi tanda selama pertunjukan berlangsung. Pemakaian tata rias akhirnya menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari peristiwa teater. Tata cahaya tidaklah statis. Tetapi pergantian cahaya dalam satu area ketika adegan tengah berlangsung terkadang tidak secara langsung disadari.

maka perlu membuat garis-garis baru sesuai dengan karakter wajah binatang yang diperankan. Wajah perlu ditambahkan garis-garis kerutan sesuai wajah seorang yang berusia 50 tahun. Karakter wajah merupakan cermin psikologis dan latar sosial tokoh yang hadir secara nyata. sehingga saat berekspresi muncul efek gerak yang tegas dan dapat ditangkap oleh penonton. Pemain yang tidak menggunakan rias.3.1 Tata Rias Korektif Tata rias korektif (corective make-up) merupakan suatu bentuk tata rias yang bersifat menyempurnakan (koreksi). Sebaliknya. Seorang penata rias harus mencermati gerak ekspresi wajah untuk menentukan garis yang akan dibuat. tampak datar ketika tertimpa cahaya lampu.4 Menghadirkan Garis Wajah Sesuai Dengan Tokoh Menampilkan wajah sesuai dengan tokoh membutuhkan garis baru yang membentuk wajah baru. bentuk wajah dan tubuh.1. tertembak. 5.menyempurnakan kekurangan tersebut sehingga muncul kesan hidung tampak mancung.2.dapat disempurnakan dengan make up korektif. 5. seorang remaja memerankan siswa sekolah. Seseorang yang memiliki bentuk wajah kurang sempurna. Misalnya.3.1. wajahnya akan tampak datar. Biasanya pemeran memiliki kesesuaian dengan tokoh yang diperankan. dan bibir bergaris tegas. Disebut tata rias karakter . Tata rias bisa memberikan efek dramatik dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dengan menciptakan efek tertentu sesuai dengan kebutuhan. ras.3. Tata rias memiliki kemampuan dalam mengubah sekaligus menampilkan karakter yang berbeda dari seorang pemeran.3 Memberi Efek Gerak Pada Ekspresi Pemain Wajah seorang pemain di atas pentas. dan perubahan bentuk wajah. tetapi cukup menyempurnakan dengan mengoreksi kekurangan yang ada untuk disempurnakan. ras.3. tersayat wajahnya.1. mata menjadi lebih ekspresif. hidung kurang mancung dan sebagainya. Penyempurnaan wajah dilakukan pada pemain yang secara fisik telah sesuai dengan tokoh yang dimainkan. menegaskan. Tata rias berfungsi menegaskan garis-garis wajah karakter. seorang tokoh tertusuk belati. tokoh yang pesimistis cenderung memiliki karakter garis mata yang menurun. misalnya dahi terlalu lebar. 5.3. Fungsi garis tidak sekedar menegaskan. Tokoh-tokoh mengalami berbagai peristiwa sehingga terjadi perubahan dan penambahan tata rias. seorang yang optimis digambarkan dengan tarikan sudut mata cenderung ke atas. maka dibutuhkan tata rias yang memberikan efek sesuai dengan kebutuhan. Tata rias tidak perlu mengubah usia. Seorang pemain membutuhkan tata rias korektif ketika tampilannya tidak membutuhkan perubahan usia. Misalnya. Seorang yang berperan menjadi tokoh binatang. 5. Setiap wajah memiliki kekuarangan dan kelebihan. Tata rias ini menyembunyikan kekurangan-kekurangan yang ada pada wajah dan menonjolkan hal-hal yang menarik dari wajah. tetapi juga menambahkan sehingga terbentuk tampilan yang berbeda dengan wajah asli pemain. tidak memiliki dimensi. 5. Misalnya.2.1. Misalnya. 5.2 Jenis Tata Rias 5. dan menonjolkan bagian-bagian wajah sesuai dengan tokoh yang dimainkan.2 Menggambarkan Karakter Tokoh Karakter berarti watak. Tata rias berfungsi melukiskan watak tokoh dengan mengubah wajah pemeran menyangkut aspek umur. Oleh karena itu dibutuhkan tata rias untuk menampilkan dimensi wajah pemain. Wajah pemain cukup disempurnakan dengan menyamarkan.3.2 Tata Rias Fantasi Tata rias fantasi dikenal juga dengan istilah tata rias karakter khusus.3.5 Menambah Aspek Dramatik Peristiwa teater selalu tumbuh dan berkembang. seorang remaja yang memerankan seorang yang telah berumur 50 tahun.

Fungsi busana dalam kehidupan sehari-hari untuk melindungi tubuh. misalnya memanjangkan telinga. bangsa. Restorasi. TATA BUSANA Tata busana adalah seni pakaian dan segala perlengkapan yang menyertai untuk menggambarkan tokoh. Busana dalam teater memiliki fungsi yang lebih kompleks. Ketika manusia menemukan tekstil dengan teknologi pengolahan yang tinggi. Demikian juga dengan teater pada jaman Yunani. Renaissance.1. Tata busana termasuk segala asesoris seperti topi. Busana pun mengikuti konsep tersebut. Mengubah anatomi wajah pemain untuk memenuhi tuntutan tokoh dapat juga digolongkan sebagai tata rias karakter. kalung.3.1 Mencitrakan Keindahan Penampilan Manusia memiliki hasrat untuk mengungkapkan rasa keindahan dalam berbagai aspek . dan ciri-ciri khusus yang melekat pada tokoh. Masing-masing memiliki ciri khasnya. kulit binatang. Tata busana dalam teater memiliki peranan penting untuk menggambarkan tokoh. tetapi lebih pada konsep yang melatarbelakangi penciptaan teater. Tata rias fantasi menggambarkan tokoh-tokoh yang tidak riil keberadaannya dan lahir berdasarkan daya khayal semata. Tata busana dengan demikian sudah tidak lagi terpaku pada jaman. beragam aliran teater bermunculan. dan Abad 18. Tata rias karakter dibutuhkan ketika karakter wajah pemeran tidak sesuai dengan karakter tokoh. tetapi mengubah tampilan wajah. Untuk membuat tata busana sesuai dengan adat dan kebudayaan daerah tertentu maka diperlukan referensi khusus berkaitan dengan adat dan kebudayaan tersebut. gelang . Contohnya. Busana teater mengalami perkembangan pesat seiring lahirnya teater modern pada akhir abad 19. Abad Pertengahan. busana pada jaman atau dekade tertentu memiliki ciri yang sama. dan memenuhi hasrat manusia akan keindahan. Tidak ada periode tata busana secara khusus di teater. watak. Jenis busana ini tidak bisa disamakan antara daerah satu dengan daerah lain. Tokoh tersebut memiliki latar Suku Dayak Kalimantan yang memiliki tradisi memanjangkan telinga. yaitu. 5. Semua terserah pada gagasan seniman. dalam teater Romawi Kuno maka lakon yang ditampilkan berlatar jaman tersebut sehingga busananya pun seperti busana keseharian penduduk jaman Romawi Kuno. Artinya. Tata rias karakter tidak sekedar menyempurnakan. maka busana berkembang menjadi lebih baik. sepatu. karena semua tergantung latar cerita yang ditampilkan. sifat.4.2.4. Masing-masing memiliki kospenya tersendiri dan lakon tidak harus berlatar jaman dimana lakon itu dibuat. dan segala unsur yang melekat pada pakaian.khusus. Misalnya. Dalam masa ini. 5. karena menampilkan wujud rekaan dengan mengubah wajah tidak realistik.3 Tata Rias karakter Tata rias karaker adalah tata rias yang mengubah penampilan wajah seseorang dalam hal umur. syal. Periode busana teater dengan demikian mengikuti periode teater tersebut. Pada era teater primitif. mencitrakan kesopanan. Elizabethan. seperti tumbuhan. Sementara itu tata busana menurut jamannya bisa digeneralisasi. dan batu-batuan untuk asesoris.4. Tata busana dapat dibuat berdasar budaya atau jaman tertentu. busana yang dipakai berasal dari bahan-bahan alami. mengubah umur pemeran dari muda menjadi lebih tua .1 Fungsi Tata Busana Busana yang dipakai manusia beraneka ragam bentuk dan fungsinya. • Mencitrakan keindahan penampilan • Membedakan satu pemain dengan pemain yang lain • Menggambarkan karakter tokoh • Memberikan efek gerak pemain • Memberikan efek dramatik 5. 5.

3 Menggambarkan Karakter Tokoh Fungsi penting busana dalam teater adalah untuk menggambarkan karakter tokoh. Pemaknaan ini akan membawa satu sikap penghargaan profesi baik bagi diri sendiri atau bagi orang yang bekerja pada bidang lain. Melalui busana. Busana pementesan teater dibuat secara khusus dan dilengkapi dengan asesoris sesuai kebutuhan pemensan.1. Pementasan teater adalah suatu tontonan yang mengandung aspek keindahan. memakai busana sehari-hari yang dibuat lebih indah dengan mengaplikasikan perhiasan dan penambahan bahanbahan yang mahal dan mewah.1. Berdiskusi. Dalam satu proses pembelajaran hal semacam itu sering tejadi. Penampilan busana yang berbeda akan menunjukkan ciri khusus seorang tokoh. Perbedaan karakter dalam busana dapat ditampilkan melalui model. bentuk. penonton terbantu dalam menangkap karakter yang berbeda dari setiap tokoh. Contohnya. dan peningkatan kompetensi tetapi juga untuk mengungkap makna kerja yang ada di sebalik ilmu. Teater di Inggris pada masa pemerintahan Ratu Elizabeth (1580 – 1640). Saling berbicara. Akhirnya menjadi maklumlah kita ketika seseorang berbicara tentang teater maka ia akan membicarakan semua elemen yang ada di dalamnya. Karena sifatnya yang kolaboratif maka seni teater akan kehilangan spiritnya jika masing-masing bidang berusaha untuk menonjol dan mengalahkan bidang lain. PENUTUP Sebuah karya teater lahir dari satu proses pembelajaran yang padu.2 Membedakan Satu Pemain Dengan Pemain Yang Lain Pementasan teater menampilkan tokoh yang bermacam-macam karakter dan latar belakang sosialnya. Memecahkan persoalan bersama dan menentukan satu keputusan yang secara artistik adil bagi semua pihak. Pada era teater primitif. Satu proses kerja bidang tertentu bahkan dinilai lebih tinggi dari bidang lain. Apalagi ketika proses tersebut dinilai dan memiliki konsekuensi langsung bagi pelakunya. dan alim. motif. Satu bidang harus mampu dan mau menghargai bidang lain. seni memang tidak hanya menghasilkan sesuatu yang tampak (produk) tetapi juga mental atau jiwa para pelakunya. warna. busananya cenderung rapi. Sebuah karya teater yang besar merupakan penyatuan kerja elemen-elemen yang kecil. Jika kualitas kerja salah satu bidang tidak baik maka keseluruhan pertunjukan menjadi terpengaruh. Sebuah langkah yang besar selalu dimulai dari langkah kecil. Penonton membutuhkan suatu penampilan yang berbeda-beda antara satu tokoh dengan tokoh yang lain. sederhana. Oleh karena itu. pengetahuan. tokoh seorang pelajar yang bandel.4. tokoh seorang pelajar yang pendiam. hasrat untuk tampil berbeda dan lebih indah dari tampilan sehari-hari telah muncul.kehidupan. Secara mendalam. . dan sering membuat onar. Karena prinsip teater adalah kerjasama maka belajar teater tidaklah hanya mempelajari elemen-elem yang ada di dalamnya tetapi juga mempelajari kerja pengabungan di antaranya. Dalam teater hal itu tidak berlaku. kerja sekecil apapun dalam teater sangatlah penting. rajin. Busana menjadi salah satu tanda penting untuk membedakan satu tokoh dengan tokoh yang lain. Sebaliknya. Dengan demikin dalam satu karya teater. Tata busana dalam teater berfungsi sebagai bentuk ekspresi untuk tampil lebih indah dari penampilan seharihari. Berbicara teater tidak hanya berbicara naskah atau sutradara yang merajut proses atau aktor terkenal yang ikut terlibat di dalamnya. busananya dilengkapi asesoris dan cara pemakaiannya seenaknya tidak sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan sekolah. tidak hanya tergambar keindahan karya seni tetapi juga prinsip kebersamaan. Satu bidang kecil memiliki makna yang sama dengan bidang lain. brutal. dan tanpa asesoris yang berlebihan. Kualitas karya yang dihasilkan menggambarkan semangat dan keadaan jiwa pembuatnya. sehingga penonton mampu mengidentifikasikan tokoh dengan mudah 5.4. dan garis yang diciptakan. Membaca referensi atau buku teater tidaklah hanya untuk menambah wawasan. 5.

maka ia perlu dinyatakan. Gagasan hanya akan menjadi gagasan jika tidak diwujudkan. konflik. Satu gagasan atau perwujudan karya menjadi indah dan menarik serta memiliki kesatuan makna jika semua elemennya memiliki tujuan artistik yang sama. Begitu pentingnya pesan yang hendak disampaikan sehingga semua elemen pendukung pementasan bekerja keras mewujudkannya.Berbicara teater adalah berbicara tentang semua hal yang ada di dalamnya. Semua itu tidak berada dalam bingkai saling meniru akan tetapi bingkai kreativitas yang terus berkembang dan berkembang. dengan memahami dasar-dasar penciptaan lakon yang mengedepankan pentingnya arti konflik dalam teater. maka cerita yang satu kalimat itu pun dapat dikembangkan. Jika satu saja elemen berada di luar garis ini maka kesatuan makna menjadi kabur. bahkan penonton yang hadir di dalamnya. membaca untuk menilhami. Seorang aktor yang baik harus mengerti fungsi tata panggung karena ia akan bermain di antara objek yang ditata di atas pentas. Saling mendukung demi tercapaiya tujuan tersebut. mempelajari teater tidak hanya mempelajari satu bidang dan mengabaikan bidang lain. Semua elemen harus memahami hal ini. aktor. ketersampaian cerita. pelajarilah semuanya sesuai dengan tahapan yang benar. Dramaturgi atau pengetahuan teater dasar merupakan pokok pemahaman yang harus diperhatikan. konsep. Dalam teater. Ia akan bermain dalam area yang diciptakan oleh penata panggung. Karya seni yang lebih mementingkan proses. Catatan inti akan terus berkembang seiring dengan perkembangan teater itu sendiri. sutradara. . Demikian berjalan secara berkesambungan. Membaca catatan karya orang lain bukan dipahami sebagai bentuk plagiarisme tetapi membaca untuk mempelajari. lebih menghargai pengalaman dari pada hasil akhir. semua saling belajar. Disitulah sebetulnya letak fungsi hakiki dari sebuah pengetahuan. Dalam sebuah lakon yang menceritakan tentang kesedihan. maka semua komponen bekerja untuk memenuhi atmosfir kesedihan yang diharapkan. Sesuatu yang sangat berarti bagi si penggagas. Semua elemen harus besatu. Satu karya mempengaruhi atau terpengaruh oleh karya lain. Banyak seniman yang lahir karena membaca atau mempelajari karya (catatan) seniman yang lainnya. Respon atau tanggapan yang diberikan penonton terhadap pertunjukan yang dilangsungkan merupakan tanda bagi keberhasilan atau kegagalan pertunjukan tesebut dalam menyampaikan pesan. tata panggung dan cahaya. wujud awal dari sebuah gagasan harus mengalami proses pembentukan. Dramaturgi adalah catatan-catatan proses penciptaan seni drama hingga sampai pementasannya. tata rias dan busana. Karya seni yang lahir dari kreativitas dapat dialirkan kepada generasi berikutnya melalui catatancatatan. Karya baru yang dihasilkan oleh seniman itupun pada nantinya juga akan menginspirasi karya yang lain. sebuah gagasan dapat diwujudkan. Akan tetapi. Bahkan mungkin cerita itu hanya merupakan satu rangkaian kalimat. penata artistik) akan diketahui langsung oleh para penonton dalam sebuah pertunjukan. Demikian pula penata panggung harus mau memahami pola laku dan gerak para aktor di atas pentas sehingga ruang yang diciptakan tidak mengganggu bagi pergerakan aktor ketika bemain. Untuk kepentingan inilah buku ini disusun. Ketika sebuah gagasan muncul. Tidak peduli berapa panjang cerita tersebut. semua bermula dari sebuah cerita. dan penyelesaian. Dengan berdasar pengetahuan dan keingintahuan dari membaca catatan tersebut. Hal itu akan menyangkut soal cerita. semua saling membantu. Oleh sebab itu. Minimal menjadi tiga kalimat yang masing-masing mewakili pemaparan. Oleh karena itulah. semua saling mendukung. Memang perlu belajar satu bidang secara khusus tetapi pemahaman atas bidang lain tidak bisa diabaikan. membaca untuk menginspirasi sehingga seni baru senantiasa lahir. Kualitas ketersampaian pesan yang diramu oleh para pekerja teater (pengarang. Apapun bentuknya. Jadi. apapun kualitasnya gagasan tersebut harus menjadi sesuatu. Karena itu pulalah penonton merupkan kunci keberhasilan sebuah pertunjukan. Memiliki tujuan yang sama.

Tidak perlu seorang diri mengerjakan semuanya. Cari Bottom of Form Kajian Drama 22 Apr 2009 Tinggalkan sebuah Komentar by mbahbrata in Kajian Teori . Teater adalah kolketif. Semua secara harmonis bekerja bersama mendukung makna yang satu. menjadikan manusia lebih manusiawi • • • Beranda Jeda Malam Tentang Blog ‘Joglo Drama’ Top of Form Search.. belajar.Hanya dengan cerita yang sangat sederhana semacam ini. Masing-masing bidang yang dibahas dalam buku ini memberikan gambaran harmonisasi tersebut. teater adalah kerjasama. Kerjasama sebagai semangat seni teater dapat dijadikan acuan proses penciptaan. Berkarya. dan berkarya. Pengetahuan tentang dasar-dasar penyutradaraan. Jika semuanya berbuat dalam semangat kerjasama maka pergelaran karaya teater menjadi karya bersama yang memiliki satu makna. Semua bisa dipelajari secara mandiri. pemeranan. dan tata artistik dapat diaplikasikan untuk mendukung karya yang akan ditampilkan. Semangat belajar dalam teater tidak akan pernah bisa berhenti karena teater senantiasa hidup dan berkembang. Ilmu yang didapatkan sekarang tidak akan pernah cukup. dan belajar. dan proses adalah belajar. sebuah karya teater dapat dilahirkan. Catatan kecil yang kami sampaikan ini semoga dapat menjadi pemicu semangat untuk terus belajar dan berkarya.. Joglo Drama – Mbah Brata Seni memanusiakan manusia. akan tetapi lebih berarti jika semua bidang bersinergi. Dengan semangat dan ketekunan berlatih. Oleh karena itu maka tidak ada kata lain selain belajar. Masing-masing bidang dalam teater dapat dikerjakan oleh orang-orang tertentu yang tertarik di bidang-bidang tersebut. Sebuah pertunjukan dapat digelar. Semua berjalan dalam satu proses. cerita yang sudah berhasil dicipta dapat diwujudkan ke dalam sebuah pementasan. berkarya.