Teater berasal dari kata Yunani, “theatron” (bahasa Inggris, Seeing Place) yang artinya tempat atau gedung

pertunjukan. Dalam perkembangannya, dalam pengertian lebih luas kata teater diartikan sebagai segala hal yang dipertunjukkan di depan orang banyak. Dengan sintren, demikian, janger, dalam rumusan dagelan, sederhana sulap, teater adalah lain pertunjukan, misalnya ketoprak, ludruk, wayang, wayang wong, mamanda, akrobat, dan sebagainya. Teater dapat dikatakan sebagai manifestasi dari aktivitas naluriah, seperti misalnya, anak-anak bermain sebagai ayah dan ibu, bermain tokohg-tokohgan, dan lain sebagainya. Selain itu, teater merupakan manifestasi pembentukan strata sosial kemanusiaan yang berhubungan dengan masalah ritual. Misalnya, upacara adat maupun upacara kenegaraan, keduanya memiliki unsur-unsur teatrikal dan bermakna filosofis. Berdasarkan paparan di atas, kemungkinan perluasan definisi teater itu bisa terjadi. Tetapi batasan tentang teater dapat dilihat dari sudut pandang sebagai berikut: “tidak ada teater tanpa aktor, baik berwujud riil manusia maupun boneka, terungkap di layar maupun pertunjukan langsung yang dihadiri penonton, serta laku di dalamnya merupakan realitas fiktif”, (Harymawan, 1993). Kata “drama” juga dianggap telah ada sejak era Mesir Kuno (4000-1580 SM), sebelum era Yunani Kuno (800-277 SM). Hubungan kata “teater” dan “drama” bersandingan sedemikian erat seiring dengan perlakuan terhadap teater yang mempergunakan drama lebih identik sebagai teks atau naskah atau lakon atau karya sastra (Bakdi Soemanto, 2001). Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa istilah “teater” berkaitan langsung dengan pertunjukan, sedangkan “drama” berkaitan dengan lakon atau naskah cerita yang akan dipentaskan. Jadi, teater adalah visualisasi dari drama atau drama yang dipentaskan di atas panggung dan disaksikan oleh penonton. Jika “drama” adalah lakon dan “teater” adalah pertunjukan maka “drama” merupakan bagian atau salah satu unsur dari “teater”.

Dengan kata lain, secara khusus teater mengacu kepada aktivitas melakukan kegiatan dalam seni pertunjukan (to act) sehingga tindaktanduk pemain di atas pentas disebut acting. Istilah acting diambil dari kata Yunani “dran” yang berarti, berbuat, berlaku, atau beraksi. Karena aktivitas beraksi ini maka para pemain pria dalam teater disebut actor dan pemain wanita disebut actress (Harymawan, 1993). Meskipun istilah teater sekarang lebih umum digunakan tetapi sebelum itu istilah drama lebih populer sehingga pertunjukan teater di atas panggung disebut sebagai pentas drama. Hal ini menandakan digunakannya naskah lakon yang biasa disebut sebagai karya sastra drama dalam pertujukan teater. Di Indonesia, pada tahun 1920-an, belum muncul istilah teater. Yang ada adalah sandiwara atau tonil (dari bahasa Belanda: Het Toneel). Istilah Sandiwara konon dikemukakan oleh Sri Paduka Mangkunegoro VII dari Surakarta. Kata sandiwara berasal dari bahasa Jawa “sandi” berarti “rahasia”, dan “wara” atau “warah” yang berarti, “pengajaran”. Menurut Ki Hajar Dewantara “sandiwara” berarti “pengajaran yang dilakukan dengan perlambang” (Harymawan, 1993). Rombongan teater pada masa itu menggunakan nama Sandiwara, sedangkan cerita yang disajikan dinamakan drama. Sampai pada Zaman Jepang dan permulaan Zaman Kemerdekaan, istilah sandiwara masih sangat populer. Istilah teater bagi masyarakat Indonesia baru dikenal setelah Zaman Kemerdekaan (Kasim Achmad, 2006). Keterikatan antara teater dan drama sangat kuat. Teater tidak mungkin dipentaskan tanpa lakon (drama). Oleh karena itu pula dramaturgi menjadi bagian penting dari seni teater. Dramaturgi berasal dari bahasa Inggris dramaturgy yang berarti seni atau tekhnik penulisan drama dan penyajiannya dalam bentuk teater. Berdasar pengertian ini, maka dramaturgi membahas proses penciptaan teater mulai dari penulisan naskah hingga pementasannya. Harymawan (1993) menyebutkan tahapan dasar untuk mempelajari dramaturgi yang disebut dengan formula dramaturgi. Formula ini disebut dengan

fromula 4 M yang terdiri dari, menghayalkan, menuliskan, memainkan, dan menyaksikan. M1 atau menghayal, dapat dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang karena menemukan sesuatu gagasan yang merangsang daya cipta. Gagasan itu timbul karena perhatian ditujukan pada suatu persitiwa baik yang disaksikan, didengar maupun dibaca dari literatur tertentu. Bisa juga gagasan itu timbul karena perhatian ditujukan pada kehidupan seseorang. Gagasan atau daya cipta tersebut kemudian diwujudkan ke dalam besaran cerita yang pada akhirnya berkembang menjadi sebuah lakon untuk dipentaskan. M2 atau menulis, adalah proses seleksi atau pemilihan situasi yang harus dihidupkan begi keseluruhan lakon oleh pengarang. Dalam sebuah lakon, situasi merupakan kunci aksi. Setelah menemukan kunci aksi ini, pengarang mulai mengatur dan menyusun kembali situasi dan peristiwa menjadi pola lakon tertentu. Di sini seorang pengarang memiliki kisah untuk diceritakan, kesan untuk digambarkan, suasana hati para tokoh untuk diciptakan, dan semua unsur pembentuk lakon untuk dikomunikasikan. M3 atau memainkan, merupakan proses para aktor memainkan kisah lakon di atas pentas. Tugas aktor dalam hal ini adalah mengkomunikasikan ide serta gagasan pengarang secara hidup kepada penonton. Proses ini melibatkan banyak orang yaitu, sutradara sebagai penafsir pertama ide dan gagasan pengarang, aktor sebagai komunitakor, penata artsitik sebagai orang yang mewujudkan ide dan gagasan secara visual serta penonton sebagai komunikan. M4 atau menyaksikan, merupakan proses penerimaan dan penyerapan informasi atau pesan yang disajikan oleh para pemain di atas pentas oleh para penonton. Pementasan teater dapat dikatakan berhasil jika pesan yang hendak disampaikan dapat diterima dengan baik oleh penonton. Penonton pergi menyaksikan pertunjukan dengan maksud pertama untuk memperoleh kepuasan atas kebutuhan dan

kepahlawanan. Dalam acara ini seseorang mengisahkan riwayat hidup sang pahlawan yang lama kelamaan diperagakan dalam bentuk teater. Jika salah satu tahap dan unsur yang ada dalam setiap tahapan diabaikan. tokoh. dan lain sebagainya). Di antaranya teori tentang asal mula teater adalah sebagai berikut. Unsur cerita ditambahkan pada upacara semacam teater. Oleh karena itu. Cerita itu kemudian juga dibuat dalam bentuk teater (kisah perburuan. Mereka sudah bisa membuat piramida. sudah bisa membuat kalender. sudah mengenal ilmu bedah. maka pertunjukan yang digelar bisa dipastikan kurang sempurna.1.keinginannya terhadap tontonan tersebut.1 Asal Mula Teater Waktu dan tempat pertunjukan teater yang pertama kali dimulai tidak diketahui. . itu yang akhirnya upacara berkembang agama menjadi lama pertunjukan Meskipun telah ditinggalkan. Adapun yang dapat diketahui hanyalah teori tentang asal mulanya. menyebutkan bahwa naskah teater tertua di dunia yang pernah ditemukan ditulis seorang pendeta Mesir. Formula dramaturgi seperti disebutkan di atas merupakan tahap mendasar yang harus dipahami dan dilakukan oleh para pelaku teater. • Berasal dari kegemaran manusia mendengarkan cerita. Pada zaman itu peradaban Mesir Kuno sudah maju. dan juga sudah mengenal tulis menulis. • Berasal dari nyanyian untuk menghormati seorang pahlawan di kuburannya. di zaman peradaban Mesir Kuno kira-kira 2000 tahun sebelum tarikh Masehi. pemahaman dasar formula dramaturgi dapat dijadikan acuan proses penciptaan karya seni teater. • Berasal dari upacara agama primitif.1 Teater Barat 2. Rendra dalam Seni Drama Untuk Remaja (1993). tapi teater ini hidup terus hingga sekarang. 2. sudah mengerti irigasi. I Kher-nefert. Sejarah Singkat Teater 2.

Ciri-ciri khusus pertunjukan teater pada masa Yunani Kuno adalah: • Pertunjukan dilakukan di amphitheater.2 Teater Yunani Klasik Tempat pertunjukan teater Yunani pertama yang permanen dibangun sekitar 2300 tahun yang lalu. Teater ini dibangun tanpa atap dalam bentuk setengah lingkaran dengan tempat duduk penonton melengkung (Jakob dan berundak-undak 1984).1. mengunjungi amphitheater untuk menonton teater-teater.3 Teater Romawi Klasik Setelah tahun 200 Sebelum Masehi kegiatan kesenian beralih dari Yunani ke Roma. • Cerita yang dimainkan adalah tragedi yang membuat penonton tegang. dan narator (pemain yang menceritakan jalannya pertunjukan). Naskah lakon teater Yunani merupakan naskah lakon teater pertama yang menciptakan dialog diantara para karakternya. • Selain pemeran utama juga ada pemain khusus untuk kelompok koor (penyanyi). yang Ribuan disebut orang amphitheater Soemardjo.1. Teater Romawi menjadi penting karena pengaruhnya kelak pada Zaman Renaissance.2. Teater Romawi merupakan hasil adaptasi bentuk teater . Namun mutu teater Romawi tak lebih baik daripada teater Yunani. seniman Yunani. • Seluruh pemainnya pria bahkan tokoh wanitanya dimainkan pria dan memakai topeng karena setiap pemain memerankan lebih dari satu tokoh. begitu juga Teater. • Sudah menggunakan naskah lakon. dan hadiah diberikan bagi teater terbaik. Teater pertama kali dipertunjukkan di kota Roma pada tahun 240 SM (Brockett. penari. dan kasihan serta cerita komedi yang lucu. takut. Teatron pada zaman Yunani 2. Pertunjukan ini dikenalkan oleh Livius Andronicus. kasar dan sering mengeritik tokoh terkenal pada waktu itu. 1964).

• Karakteristik tokoh tergantung kelas yaitu orang tua yang bermasalah dengan anak-anaknya atau kekayaan. Hampir di setiap unsur panggungnya terdapat unsur pemanggungan teater Yunani. 2002).1. Pageant lain dari aktor-aktor lain untuk adegan berikutnya. Orang berkerumun untuk menyaksikan drama pageant religius di Eropa.4 Teater Abad Pertengahan Dalam tahun 1400-an dan 1500-an. Tidak hanya menjadi tema cerita tetapi juga menjadi ilustrasi cerita. . • Tema berkisar pada masalah hidup kesenjangan golongan menengah. yang disebut pageant. menggantikannya. Para pemain pegeant memainkan satu adegan dari kisah dalam Alkitab. Namun demikian teater Romawi pun memiliki kebaruan-kebaruan dalam penggarapan dan penikmatan yang asli dimiliki oleh masyarakat Romawi dengan ciri-ciri sebagi berikut. drama ini populer karena pemainnya berbicara dalam bahasa sehari-hari. Bahkan kini pertunjukan jalan dan prosesi penuh warna diselenggarakan di seluruh dunia untuk merayakan berbagai hari besar keagamaan. anak muda yang melawan kekuasaan orang tua dan lain sebagainya. Para pemain drama pageant menggunakan tempat di bawah kereta untuk menyembunyikan peralatan.Yunani. banyak kota di Eropa mementaskan drama untuk merayakan hari-hari besar umat Kristen. 2. seperti menurunkan seorang aktor dari atas ke panggung. Peralatan ini digunakan untuk efek tipuan. • Musik menjadi pelengkap seluruh adegan. bukan bahasa Latin yang merupakan bahasa resmi gereja-gereja Kristen (Wisnuwardhono. Drama-drama dibuat berdasarkan cerita-cerita Alkitab dan dipertunjukkan di atas kereta. Aktor-aktor pageant seringkali adalah para perajin setempat yang memainkan adegan yag menunjukan keahlian mereka. dan ditarik keliling kota. • Koor tidak lagi berfungsi mengisi setiap adegan. lalu berjalan lagi.

komedi. Sejarah abad 15 dan 16 ditentukan oleh penemuanpenemuan penting yaitu mesin. Ada tiga jenis drama yang dikembangkan. • Drama banyak disisipi cerita kepahlawanan yang dibumbui cerita percintaan. Gerakan yang menyelidiki semangat ini disebut gerakan humanisme. dan mesin cetak. Ciri-ciri teater Zaman Renaissance yakni sebagai berikut.1. dan pastoral atau drama yang membawakan kisah-kisah percintaan antara dewa-dewa dengan para gembala di daerah pedesaan. Namun nilai seni ketiganya masih rendah. yaitu tragedi. Pusat-pusat aktivitas teater di Italia adalah istana-istana dan akademi.5 Renaissance Abad 17 memberi sumbangan yang sangat berarti bagi kebudayaan Barat. Meskipun demikian gerakan mereka memiliki arti penting karena Eropa menjadi mengenal drama yang jelas struktur dan bentuknya. Semangat baru muncul untuk menyelidiki kebudayaan Yunani dan Romawi klasik. • Drama tidak memiliki nama pengarang. Di gedung-gedung teater milik para bangsawan inilah dipentaskan naskah-naskah yang meniru drama-drama klasik.Ciri-ciri teater abad Pertengahan adalah sebagai berikut: • Drama dimainkan oleh aktor-aktor yang belajar di universitas sehingga dikaitkan dengan masalah filsafat dan agama. Semangat ini disebut semangat Renaissance yang berasal dari kata “renaitre” yang berarti kelahiran kembali manusia untuk mendapatkan semangat hidup baru. • Drama dimainkan di tempat umum dengan memungut bayaran. kompas. Drama dilangsungkan dengan mengikuti struktur yang ada. . Para aktor kebanyakan pegawai-pegawai istana dan pertunjukan diselenggarakan dalam pesta-pesta istana. • Aktor bermain di panggung di atas kereta yang bisa dibawa berkeliling menyusuri jalanan. 2.

dan lapangan. dan tokoh pembantu. yaitu tokoh penguasa. gedung teater besar dari kayu dibangun di London Inggris. • Tempat pertunjukannya di lapangan kota dan panggungpanggung sederhana. Pada tahun 1575 bentuk ini sudah populer di Italia. Plot cerita berlangsung dalam suasana adegan lucu. • Setting panggung sederhana. • Cerita bertema mitologi atau kehidupan sehari-hari. • Terdapat tiga tokoh yang selalu muncul. yaitu rumah. Kemudian menyebar luas di Eropa dan mempengaruhi semua bentuk komedi yang diciptakan pada tahun 1600. • Tata busana dan seting yang dipergunakan sangat inovatif. • Menggunakan naskah lakon yang berisi garis besar cerita. • Pada zaman ini juga melahirkan satu bentuk teater yang disebut commedia dell’arte. selama pemerintahan Ratu Elizabeth I. • Pelaksanaan bentuk teater diatur oleh kerajaan maupun universitas. • Cerita yang dimainkan bersumber pada cerita yang diceritakan secara turun menurun. • Menggunakan panggung proscenium yaitu bentuk panggung yang memisahkan area panggung dengan penonton. 2.6 Teater Zaman Elizabeth Pada tahun 1576. • Peristiwa cerita berlangsung dan berpindah secara cepat. Gedung teater ini sangat sukses sehingga . • Cerita terdiri dari tiga babak didahului prolog panjang. tokoh penggoda. jalan.1. Merupakan bentuk teater rakyat Italia yang berkembang di luar lingkungan istana dan akademisi. Ciri khas commedia dell’arte adalah: Para pemain dibebaskan berimprovisasi mengikuti jalannya cerita dan dituntut memiliki pengetahuan luas yang dapat mendukung permainan improvisasinya. Gedung ini dibangun seperti lingkaran sehingga penonton bisa duduk dihampir seluruh sisi panggung.• Naskah lakon yang dipertunjukkan meniru teater Zaman Yunani klasik.

Dewasa ini. Gedung-gedung pertunjukan modern memiliki efek-efek khusus dan teknologi baru. Teater di Tengah-Tengah Gedung. hiburan. penulis drama terkenal dari Inggris yang hidup dari tahun 1564 sampai tahun 1616. Mereka yang tidak mampu membeli tiket berdiri di sekitar panggung. Ia biasanya menulis dalam bentuk puisi atau sajak. Beberapa ceritanya berisi monolog panjang. dan mempelajari hal-hal baru. • Menggunakan naskah lakon. Tidak pemain wanita. dan menceritakan gagasan-gagasan mereka kepada penonton. • Tokoh wanita dimainkan oleh pemain anak-anak laki-laki.banyak gedung sejenis dibangun di sekitarnya. • Tempat adegan ditandai dengan ucapan dengan disampaikan dalam dialog para tokoh. Rancanganrancangan panggung termasuk pengaturan panggung arena. • Corak pertunjukannya merupakan perpaduan antara teater keliling dengan teater sekolah dan akademi yang keklasik-klasikan. Orang datang ke gedung pertunjukan tidak hanya untuk menyaksikan teater melainkan juga untuk menikmati musik. Salah satunya yang disebut Globe. pendidikan. • Penontonnya berbagai lapisan masyarakat dan diramaikan oleh penjual makanan dan minuman. Globe mementaskan drama-drama karya William Shakespeare. mulai dari pembunuhan dan tokohg sampai cinta dan kecemburuan. yang disebut solilokui. Ia menulis 37 (tiga puluh tujuh) drama dengan berbagai tema. selain penulis drama.000 penonton. Ciri-ciri teater Zaman Elizabeth adalah: • Pertunjukan dilaksanakan siang hari dan tidak mengenal waktu istirahat. atau yang disebut saat ini. gedung teater ini bisa menampung 3. Teater telah berubah selama berabadabad. Penonton yang mampu membeli tiket duduk di sisi-sisi panggung. 2. beberapa cara untuk mengekspresikan karakter-karakter berbeda .1.7 Teater Abad 20 Pementasan Teater di Broadway. Ia adalah seorang aktor dan penyair.

dekorasi. Seiring dengan perkembangan waktu. kualitas pertunjukan realis oleh beberapa seniman dianggap semakin menurun dan membosankan. 2.dalam pertunjukan-pertunjukan (di samping nada suara) dapat melalui musik. Gaya-gaya teater pertunjukan realistis dan eksperimental ditemukan dalam Amerika saat ini. Pada awal abad 20 inilah istilah teater eksperimental berkembang.2 Teater Indonesia 2. tata cahaya. Setelah melepaskan diri dari kaitan upacara. yang disebut “teater”. ada tanda-tanda bahwa unsur-unsur teater tradisional banyak digunakan untuk mendukung upacara ritual. dan belum merupakan suatu bentuk kesatuan teater yang utuh. Wilayah jelajah artistik dibuka selebar-lebarnya untuk kemungkinan perkembangan bentuk pementasan seni teater. aktor ataupun penata artistik. dan absurd. Teater tradisional merupakan bagian dari suatu upacara keagamaan ataupun upacara adat-istiadat dalam tata cara kehidupan masyarakat kita. dan efek elektronik.2. para seniman mencari bentuk pertunjukannya sendiri. Hal ini mendorong para pemikir teater untuk menemukan satu bentuk ekspresi baru yang lepas dari konvensi yang sudah ada. epik. sejarah teater tradisional di Indonesia dimulai sejak sebelum Zaman Hindu. sebenarnya baru merupakan unsurunsur teater. Banyak gaya baru yang lahir baik dari sudut pandang pengarang. usaha pencarian kaidah artistik yang dilakukan oleh seniman teater modern patut diacungi jempol karena usaha-usaha tersebut mengantarkan pada keberagaman bentuk ekspresi dan makna keindahan. surealisme. Dengan semangat melawan pesona realisme.1 Teater Tradisional Kasim Achmad dalam bukunya Mengenal Teater Tradisional di Indonesia (2006) mengatakan. unsur- . Pada zaman itu. Tidak jarang usaha mereka berhasil dan mampu memberikan pengaruh seperti gaya simbolisme. sutradara. Pada saat itu. Tetapi tidak jarang pula usaha mereka berhenti pada produksi pertama. Lepas dari hal itu.

wayang wong. ketoprak. teater tradisional berkenalan juga dengan teater Barat yang dipentaskan oleh orang-orang Belanda di Indonesia sekitar tahun 1805 yang kemudian berkembang hingga di Betawi (Batavia) dan mengawali berdirinya gedung Schouwburg pada tahun 1821 (Sekarang Gedung Kesenian Jakarta). Perubahan tersebut terletak pada cerita yang sudah mulai ditulis. 2. sumber dan tata-cara di mana teater tradisional lahir. Macammacam teater tradisional Indonesia adalah: wayang kulit.2. dan sebagainya. ludruk . Proses terjadinya atau munculnya teater tradisional di Indonesia sangat bervariasi dari satu daerah dengan daerah lainnya.unsur teater tersebut membentuk suatu seni pertunjukan yang lahir dari spontanitas rakyat dalam masyarakat lingkungannya. Cara penyajian cerita dengan menggunakan panggung dan dekorasi. dinamakan teater bangsawan.2. ubrug. Hal ini disebabkan oleh unsur-unsur pembentuk teater tradisional itu berbedabeda. drama gong.2 Teater Modern 2.1 Teater Transisi Teater transisi adalah penamaan atas kelompok teater pada periode saat teater tradisional mulai mengalami perubahan karena pengaruh budaya lain. Pada periode transisi inilah teater tradisional berkenalan dengan teater non-tradisi. tergantung kondisi dan sikap budaya masyarakat. yang pada saat itu masih belum menggunakan naskah drama/lakon.2. arja. randai. . Selain pengaruh dari teater bangsawan. Mulai memperhitungkan teknik yang mendukung pertunjukan. yang pementasannya secara teknik telah banyak mengikuti budaya dan teater Barat (Eropa). lenong. meskipun masih dalam wujud cerita ringkas atau outline story (garis besar cerita per adegan). Kelompok teater yang masih tergolong kelompok teater tradisional dengan model garapan memasukkan unsur-unsur teknik teater Barat. Perkenalan masyarakat Indonesia pada teater non-tradisi dimulai sejak Agust Mahieu mendirikan Komedie Stamboel di Surabaya pada tahun 1891.

Lelakon Komedia Hindia Timoer (1913). dan lain sebagainya. Komidi Bangsawan. Naskah-naskah drama tersebut belum mencapai bentuk sebagai drama karena masih menekankan unsur sastra dan sulit untuk dipentaskan.Dilihat dari segi sastra. Karenanya rombongan teater pada masa itu menggunakan nama sandiwara. Sandiwara Orion.2. Kemudian disusul oleh Lauw Giok Lan lewat Karina Adinda. istilah sandiwara masih sangat populer. Pada masa teater transisi belum muncul istilah teater. mulai mengenal sastra lakon dengan diperkenalkannya lakon yang pertama yang ditulis oleh orang Belanda F. Sandiwara Tjahaja Timoer. Kemudian lahirlah kelompok sandiwara lain. Yang ada adalah sandiwara. Lakon Bebasari merupakan sastra drama yang menjadi pelopor semangat kebangsaan. seperti Opera Stambul. Lakon ini menceritakan perjuangan . Indra Bangsawan. Istilah teater bagi masyarakat Indonesia baru dikenal setelah Zaman Kemerdekaan. 2. Bentuk sastra drama yang pertamakali menggunakan bahasa Indonesia dan disusun dengan model dialog antar tokoh dan berbentuk sajak adalah Bebasari (artinya kebebasan yang sesungguhnya atau inti kebebasan) karya Rustam Efendi (1926). sedangkan cerita yang disajikan dinamakan drama. dan lainlainnya. pada tahun 1901.2 Teater Indonesia tahun 1920-an Teater pada masa kesusasteraaan angkatan Pujangga Baru kurang berarti jika dilihat dari konteks sejarah teater modern Indonesia tetapi cukup penting dilihat dari sudut kesusastraan. Drama-drama Pujangga Baru ditulis sebagai ungkapan ketertekanan kaum intelektual dimasa itu karena penindasan pemerintahan Belanda yang amat keras terhadap kaum pergerakan sekitar tahun 1930-an.2. Pedro pada tanggal 21 Juni 1926. Opera Abdoel Moeloek. Sampai pada Zaman Jepang dan permulaan Zaman Kemerdekaan.Wiggers yang berjudul Lelakon Raden Beij Soerio Retno. Setelah sandiwara Komedie seperti Stamboel didirikan muncul (The kelompok Opera Sandiwara Dardanella Malay Dardanella) yang didirikan Willy Klimanoff alias A. yang menggunakan bahasa Melayu Rendah.

dengan judul Si Bachil. Penulis-penulis ini adalah cendekiawan Indonesia. Segala daya kreasi seni secara sistematis di arahkan untuk menyukseskan pemerintahan totaliter Jepang.3 Teater Indonesia tahun 1940-an Semua unsur kesenian dan kebudayaan pada kurun waktu penjajahan Jepang dikonsentrasikan untuk mendukung pemerintahan totaliter Jepang. Mr. yaitu Anjar Asmara dan Kamajaya masih sempat berpikir bahwa perlu didirikan Pusat Kesenian Indonesia yang bertujuan menciptakan pembaharuan kesenian yang selaras dengan perkembangan zaman sebagai upaya untuk melahirkan kreasi – kreasi baru dalam wujud kesenian nasional Indonesia. Nur Sutan Iskandar menyadur karangan Molliere. Imam Supardi menulis drama dengan judul Keris Mpu Gandring. Bahkan Presiden pertama Indonesia. Badan Pusat Kesenian Indonesia bermaksud . Satiman Wirjosandjojo menulis drama berjudul Nyai Blorong. Sumanang (Sekretaris). Sanusi Pane (Ketua). dan sebagai anggota antara lain. Rainbow. menulis dengan menggunakan bahasa Indonesia dan berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. di rumah Bung Karno dibentuklah Badan Pusat Kesenian Indonesia dengan pengurus sebagai berikut. Sutan Takdir Alisjabana. Beberapa lakon yang ditulisnya antara lain. persoalan. pada tahun 1927 menulis dan menyutradarai teater di Bengkulu (saat di pengasingan). Lakon-lakon ini ditulis berdasarkan tema kebangsaan. dan Kama Jaya. Penulis lakon lainnya. dalam situasi yang sulit dan gawat serupa itu. Armijn Pane. 2. Dr. dua orang tokoh. Mr. Krukut Bikutbi. Namun demikian. Setan. yang membebaskan puteri Bebasari dari niat jahat Rahwana. Armiijn Pane mengolah roman Swasta Setahun di Bedahulu karangan I Gusti Nyoman Panji Tisna menjadi naskah drama. dan Dr.2. Ir Soekarno. Maka pada tanggal 6 oktober 1942. yaitu Sanusi Pane menulis Kertajaya (1932) dan Sandyakalaning Majapahit (1933) Muhammad Yamin menulis Ken Arok dan Ken Dedes (1934). Singgih menulis drama berjudul Hantu. dan harapan serta misi mewujudkan Indonesia sebagai negara merdeka.tokoh utama Bujangga.2.

Tan Ceng Bok (Si Item). Rombongan sandiwara keliling komersial. Ali Yugo. dengan peragawati gadis-gadis Indo Belanda yang cantik-cantik. antara lain Astaman. dan lain-lain kembali berkembang dengan mementaskan cerita dalam bahasa Indonesia. yang dipimpin oleh orang Jepang S. Komedi Bangsawan. ternyata mengalami hambatan yang datangnya dari barisan propaganda Jepang. Oya. Mis Ribut. dan Bolero. Mata Hari. dan lawak. Pancawarna. Kris Bali. yaitu di antara satu dan lain babak diselingi oleh tarian-tarian. Dalam kurun waktu ini semua bentuk seni hiburan yang berbau Belanda lenyap karena pemerintah penjajahan Jepang anti budaya Barat. dan Merah Delima. Warna Sari. Tjahaya Asia.menciptakan kesenian Indonesia baru. Dalam masa pendudukan Jepang kelompok rombongan sandiwara yang mula-mula berkembang adalah rombongan sandiwara profesional. R. Pendekar Asia. Rombongan Sandiwara Bintang Surabaya menyuguhkan pementasan-pementasan dramanya dengan cara lama seperti pada masa Dardanella. Rombongan sandiwara Bintang Surabaya tampil dengan aktor dan aktris kenamaan. Bengawan Solo. yaitu Sendenbu yang membentuk badan perfilman dengan nama Djawa Eiga Kosy’. yang dikenal dengan nama samarannya Mon Siour D’amour ini dalam rombongan sandiwara Bintang Surabaya menulis lakon antara lain. yang kesemuanya merupakan corong propaganda Jepang. Dahlia. Mis Tjitjih. . Ratu Asia. Sija. Pengarang Nyoo Cheong Seng. Air Mata Ibu (sudah difilmkan). Intensitas kerja Djawa Eiga Kosya yang ingin menghambat langkah Badan Pusat Kesenian Indonesia nampak ketika mereka membuka sekolah tonil dan drama Putra Asia. Dewi Mada. Langkah-langkah yang telah diambil oleh Badan Pusat Kesenian Indonesia untuk mewujudkan cita-cita kemajuan kesenian Indonesia. nyanyian. Secara istimewa selingannya kemudian ditambah dengan mode show. Fifi Young. seperti misalnya Bintang Surabaya. maupun Sunda.A Murdiati. dan sebagainya. di antaranya dengan jalan memperbaiki dan menyesuaikan kesenian daerah menuju kesenian Indonesia baru. Jawa.

Baru kemudian Muchsin sebagai pengusaha besar tertarik dan membiayai rombongan sandiwara Warna Sari. Rombongan sandiwara terkenal lainnya adalah rombongan sandiwara Sunda Mis Tjitjih. Cerita yang dipentaskan antara lain. Keistimewaan Filipina. Ni Parini. Anjar Asmara. Ratna Asmara. Cerita-cerita yang dipentaskan antara lain. rombongan yang sandiwara sebagi Warna Raja Sari Drum. dengan bintang-bintang eks Bolero. Hanya kalangan terpelajar yang menyukai pertunjukan Matahari yang menampilakan hiburan berupa tari-tarian pada awal pertunjukan baru kemudian dihidangkan lakon sandiwara dari awal hingga akhir. Bentuk penyajian semacam ini di anggap kaku oleh penonton umum yang lebih suka unsur hiburan disajikan sebagai selingan babak satu dengan babak lain . yaitu Dewi Mada dengan suaminya Ferry Kok. dan Kama Jaya pada tanggal 6 April 1943. Kusumahadi. Rombongan sandiwara Dewi Mada lebih mengutamakan tari-tarian dalam pementasan teater mereka karena Dewi Mada adalah penari terkenal sejak masa rombongan sandiwara Bolero. dan lain sebagainya. Ida Ayu. mendirikan rombongan sandiwara angkatan muda Matahari. dan Rencong Aceh. seorang keturunan terkenal menempatkan deretan drumnya yang berbagai ukuran itu memenuhi lebih dari separuh panggung. Dewi Rani. Panggilan Tanah Air. yang sekaligus sebagai pemimpinnya. Hingga tahun 1943 rombongan sandiwara hanya dikelola pengusaha Cina atau dibiayai Sendenbu karena bisnis pertunjukan itu masih asing bagi para pengusaha Indonesia. Ia menabuh drum-drum tersebut sambil meloncat ke kanan–ke kiri sehingga menarik minat penonton. sandiwara rombongan Tjahaya sandiwara Asia yang ini terpaksa berlindung di bawah barisan propaganda Jepang dan berganti nama rombongan mementaskan ceritacerita baru untuk kepentingan propaganda Jepang. menjadi Dalam perjalanannya. adalah Garsia penampilan musiknya yang mewah yang dipimpin oleh Garsia.Menyusul kemudian muncul rombongan sandiwara Dewi Mada. yaitu rombongan sandiwara yang digemari rakyat jelata. Bulan Punama. Kembang Kaca.

Pecah Sebagai Ratna. Kelompok ini berprinsip menegakkan nasionalisme. ahli seni drama atas nama Sendenbu memprakarsai berdirinya POSD (Perserikatan Oesaha Sandiwara Djawa) yang beranggotakan semua rombongan sandiwara profesional. dan Abu Hanifah dengan para anggota cendekiawan muda. yaitu Penggemar Maya (1944) pimpinan Usmar Ismail. Huyung (Hei Natsu Eitaroo). Amat Heiho.sehingga akhirnya dengan terpaksa rombongan sandiwara tersebut mengikuti selera penonton. lakon Nora karya Henrik Ibsen diterjemahkan dan judulnya diganti dengan Jinak-jinak Merpati oleh Armijn Pane. Menjelang akhir pendudukan Jepang muncul rombongan sandiwara yang melahirkan karya ssatra yang berarti. Kotot Sukardi menulis lakon. Oleh karena ada sensor Sendenbu maka lakon harus ditulis lengkap berikut dialognya. dan D. dan lain-lain). Djajakusuma dengan dukungan Suryo Sumanto. apoteker. Rosihan Anwar. Lakon Ibu Prajurit ditulis oleh Natsusaki Tani. dan Jauh di Mata. Potong Padi. Sensor Sendenbu malah menjadi titik awal dikenalkannya naskah dalam setiap pementasan sandiwara. Solo di Waktu Malam. Pancaroba. Musim Bunga di Slabintana. Pada saat inilah pengembangan ke arah pencapaian teater nasional dilakukan. Jepang menugaskan Dr. Pertumbuhan sandiwara profesional tidak luput dari perhatian Sendenbu. Para pemain tidak boleh menambah atau melebih-lebihkan dari apa yang sudah ditulis dalam naskah. Hei Natsu Eitaroo menulis Hantu. Teater tidak hanya sebagai hiburan tetapi juga untuk ekspresi kebudayaan berdasarkan kesadaran nasional dengan cita-cita menuju humanisme dan religiositas dan memandang teater sebagai seni serius dan ilmu pengetahuan. Si Bongkok. Sendenbu menyiapkan naskah lakon yang harus dimainkan oleh setiap rombongan sandiwara karangan penulis lakon Indonesia dan Jepang. nasionalis dan para profesional (dokter. Lakon-lakon yang ditulis Anjar Asmara antara lain. Bende Mataram. Kupu-kupu. Bahwa . Benteng Ngawi. humanisme dan agama. Dari semua lakon tersebut ada yang sudah di filmkan yaitu. Solo di Waktu Malam dan Nusa Penida. Guna-guna. Sang Pek Engtay. Nusa Penida. Kama Jaya menulis lakon antara lain.

2. keiklasan sendiri dan pengorbanan. kepahlawanan dan tindakan pengecut. keberanian dan nilai kemanusiaan. melalaikan penderitaan korban tokohg. Peristiwa tokohg secara khas dilukiskan dalam lakon Fajar Sidik (Emil Sanossa.teori teater perlu dipelajari secara serius. ATNI menggalakkan dan memapankan realisme dengan mementaskan lakon-lakon terjemahan dari Barat. peluang terbuka bagi seniman untuk merenungkan perjuangan dalam tokohg kemerdekaan. Pakaian dan Kepalsuan oleh Akhdiat Kartamiharja (1956) berdasarkan The Man In Grey Suit karya Averchenko dan Hanya Satu Kali (1956). 1956) Sekelumit Nyanyian Sunda (Nasyah Jamin. berdasarkan Justice karya John Galsworthy. Pertahanan Akhir (Sitor Situmorang. kemiskinan.4 Teater Indonesia Tahun 1950-an Setelah tokoh kemerdekaan.2. erosi ideologi. 1954). Sementara ada lakon yang bercerita tentang kekecewaan paska tokohg. seperti karyakarya . Kelak. Utuy Tatang Sontani dipandang sebagai tonggak penting menandai awal dari maraknya drama realis di Indonesia dengan lakonlakonnya yang sering menyiratkan dengan kuat alienasi sebagai ciri kehidupan moderen. kemunafikan. Islam dan Komunisme. dan lain-lain. Lakon Awal dan Mira (1952) tidak hanya terkenal di Indonesia. bahkan lakon adaptasi. Realisme konvensional dan naturalisme tampaknya menjadi pilihan generasi yang terbiasa dengan teater barat dan dipengaruhi oleh idiom Hendrik Ibsen dan Anton Chekhov. melainkan sampai ke Malaysia. 1955). 1951). penderitaan. oportunisme politis. Penggemar Maya menjadi pemicu berdirinya Akademi Teater Nasional Indonesia di Jakarta. Sayang Ada Orang Lain (1953) karya Utuy Tatang Sontani. Kapten Syaf (Aoh Kartahadimaja. Kedua seniman teater Barat dengan idiom realisme konvensional ini menjadi tonggak didirikannya Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) pada tahun 1955 oleh Usmar Ismail dan Asrul Sani. juga sebaliknya. kekecewaan. Tema itu terungkap dalam lakon-lakon seperti Awal dan Mira (1952). pengkhianatan. 2. Titiktitik Hitam (Nasyah Jamin. seperti korupsi. dan lain-lain. 1959). mereka merenungkan peristiwa tokohg kemerdekaan.

Suyatna Anirun. Teguh Karya. Pada akhir 1950-an JIm Lim mulai dikenal oleh para aktor terbaik dan para sutradara realisme konvensional. yaitu Awal dan Mira (Utuy T. dan dagelan dengan teater Barat. Sedangkan metode pementasan dan pemeranan yang dikembangkan oleh ATNI adalah Stanislavskian. Jim Lim menyutradari Bung Besar. Mengadaptasi lakon Hamlet dan diubah judulnya menjadi Jaka Tumbal (1963/1964). tari topeng Cirebon. Pramana Padmadarmaya. Sontani) dan Paman Vanya (Anton Chekhov). (Misbach Yusa Biran) dengan gaya longser. dan Chekov. 1961).. The Bespoke Overcoat (Wolf mankowitz ). Pada tahun 1960. Peristiwa penting dalam usaha membebaskan teater dari batasan realisme konvensional terjadi pada tahun 1967. 2. Menurut Brandon (1997).2. Galib Husein. ATNI inilah akademi teater modern yang pertama di Asia Tenggara. Di Yogyakarta tahun 1955 Harymawan dan Sri Murtono mendirikan Akademi Seni Drama dan Film Indonesia (ASDRAFI). Bermain dengan akting realistis dalam lakon The Glass Menagerie (Tennesse William. 1960). Karya penyutradaraanya. 1950). dan Biduanita Botak (Ionesco. Tahun 1962 Jim Lim menggabungkan unsur wayang kulit dan musik dalam karya penyutradaraannya yang berjudul Pangeran Geusan Ulun (Saini KM. Wahyu Sihombing. Menyutradarai dengan gaya realistis tetapi isinya absurditas pada lakon Caligula (Albert Camus.5 Teater Indonesia Tahun 1970-an Pementasan: Mengapa Leonardo oleh Teater Koma Jim Adi Limas mendirikan Studiklub Teater Bandung dan mulai mengadakan eksperimen dengan menggabungkan unsur-unsur teater etnis seperti gamelan. salah satu aktor dan juga teman Jim Lim. dan Kasim Achmad. Himpunan Seni Budaya Surakarta (HBS) didirikan di Surakarta. Alumni Akademi Teater Nasional yang menjadi aktor dan sutradara antara lain.2. Tatiek Malyati.Moliere. Pada tahun 1967 Jim Lim belajar teater dan menetap di Paris. teater rakyat Sunda. 1962). longser. Badak-badak (Ionesco. Gogol. 1945). Ketika Rendra kembali . melanjutkan apa yang sudah dilakukan Jim Lim yaitu mencampurkan unsur-unsur teater Barat dengan teater etnis.

gubernur DKI jakarta tahun1970. juga lokakarya dan diskusi teater secara umum atau khusus. Tokoh-tokoh teater yang muncul tahun 1970-an lainnya adalah. Djajakusuma. tetapi juga di kota besar seperti Bandung.1968). Ujung Pandang. Teater Lektur. menyelenggarakan festival pertunjukan secara teratur. Medan. Teguh Karya (Teater Populer). dan lain-lain. Danarto (Teater Tanpa Penonton). Adi Kurdi (Teater Hitam Putih). Wahyu Sihombing. Pertunjukannya misalnya. Didirikannya pusat kesenian Taman Ismail Marzuki oleh Ali Sadikin. Arifin C. Hasyim Amir (Bengkel Muda Surabaya. Di Yogyakarta Azwar AN mendirikan teater Alam. Palembang. tata cahaya. Rahman Arge dan Aspar Patturusi mendirikan Teater Makasar. D. Akan tetapi. Di Surabaya muncul bentuk pertunjukan teater yang mengacu teater epik (Brecht) dengan idiom teater rakyat (kentrung dan ludruk) melalui Basuki Rahmat. Luthfi Rahman. Noor (Teater Kecil) dengan gaya pementasan yang kaya irama dari blocking. vokal. Di Padang ada Wisran Hadi dengan teater Padang.ke Indonesia. Padang. Yogyakarta. Surabaya. Akhudiat. Putu Wijaya (teater Mandiri) dengan ciri penampilan menggunakan . dan kreativitas berteater tidak hanya di Jakarta. Di Makasar. Pramana Padmodarmaya (Teater Lembaga). Ikranegara (Teater Saja). pertunjukan bermula dari improvisasi dan eksplorasi bahasa tubuh dan bebunyian mulut tertentu atas suatu tema yang diistilahkan dengan teater mini kata (menggunakan kata seminimal mungkin). Mohammad Diponegoro dan Syubah Asa mendirikan Teater Muslim. menjadi pemicu meningkatnya aktivitas. Lalu Teater Nasional Medan didirikan oleh Djohan A Nasution dan Burhan Piliang. Rendra mendirikan Bengkel Teater Yogya yang kemudian menciptakan pertunjukan pendek improvisatoris yang tidak berdasarkan naskah jadi (wellmade play) seperti dalam drama-drama realisme. Teater Melarat Malang). kostum dan verbalisme naskah. musik. Taman Ismail Marzuki menerbitkan 67 (enam puluh tujuh) judul lakon yang ditulis oleh 17 (tujuh belas) pengarang sandiwara. Artaud dan Grotowsky juga diperbincangkan. Bib Bop dan Rambate Rate Rata (1967. Tidak hanya Stanislavsky tetapi nama-nama seperti Brecht.

Teater Tikar. 2. Teater Shima. Teater Gandrik menonjol dengan warna teater yang mengacu kepada roh teater tradisional kerakyatan dan menyusun berita-berita yang aktual di masyarakat menjadi bangunan cerita. dan Teater Gandrik. Pada saat itu lahirlah kelompok-kelompok teater baru di berbagai kota di Indonesia. Kholiq Dimyati dan Mukid F. Di Jakarta dikenal dengan Festival Teater Jakarta (sebelumnya disebut Festival Teater Remaja). Di Bandung muncul Teater Bel. Ditiadakannya kehidupan politik kampus sebagai akibat peristiwa Malari 1974. Sinden. Dalam latar situasi seperti itu lahir beberapa kelompok teater yang sebagian merupakan produk festival teater.6 Teater Indonesia Tahun 1980 – 1990-an Teater Gandrik: Orde Tabung. Di Surabaya ada Festival Drama Lima Kota yang digagas oleh Luthfi Rahman. Meh.kantring. Festival Drama Lima Kota Surabaya memunculkan . Tahun 1980-1990-an situasi politik Indonesia kian seragam melalui pembentukan lembaga-lembaga tunggal di tingkat nasional. Di Yogyakarta muncul Teater Dynasti. Teater Jeprik. dan Teater Payung Hitam. di Solo ada juga Teater Gidag-gidig. Teater Republik. Salah satu lakonnya berjudul Tuk. di antaranya Festival Seni Pertunjukan Rakyat yang diselenggarakan Departemen Penerangan Republik Indonesia (1983).kostum yang meriah dan vokal keras. Dewan-dewan Mahasiswa ditiadakan.2.2. Lakon yang dipentaskan antra lain. Pasar Seret. Upeti. Riantiarno (Teater Koma) dengan ciri pertunjukan yang mengutamakan tata artistik glamor. dan Orde Tabung. Menampilkan manusia sebagai gerombolan dan aksi. Di Tegal lahir teater RSPD. Fokus tidak terletak pada aktor tetapi gerombolan yang menciptakan situasi dan aksi sehingga lebih dikenal sebagai teater teror. Beberapa jenis festival di Yogyakarta. Di samping Gapit. Dhemit. N. Di Solo (Surakarta) muncul Teater Gapit yang menggunakan bahasa Jawa dan latar cerita yang meniru lingkungan kehidupan rakyat pinggiran. Kontrang.

Aktivitas teater terjadi juga di kampus-kampus perguruan tinggi. wilayah jelajah ekspresi menjadi semakin luas dan kemungkinan bentuk garap semakin banyak. Teater Ragil. Teater Sae yang berbeda sikap dalam menghadapi naskah yaitu posisinya sejajar dengan cara-cara pencapaian idiom akting melalui eksplorasi latihan. Teater Api. 2. Sanggar Suroboyo. Teater Nol. Dengan demikian. Teater Tobong. Sejak munculnya eksponen 70 dalam seni teater. Jurusan teater dibuka di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada tahun 1985. Teater Tetas selain teater Studio Oncor. dan Teater Kami yang lahir di luar produk festival (Afrizal Malna. ISI menjadi satu-satunya perguruan tinggi seni yang memiliki program Strata 1 untuk bidang seni teater pada saat itu. Rangkuman Perkembangan teater mulai muncul sejak adanya manusia. Karenanya. kemungkinan ekspresi artistik dikembangkan dengan gaya khas masing-masing seniman. Gerakan ini terus berkembang sejak tahun 80an sampai saat ini. . Teater Kubur. Konsep dan gaya baru saling bermunculan. Salah satu teater kampus yang menonjol adalah teater Gadjah Mada dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.2. Teater Institut. Meksipun seni teater konvensional tidak pernah mati tetapi teater eksperimental terus juga tumbuh. Dari Festival Teater Jakarta muncul kelompok teater seperti.Teater Pavita. Di Semarang muncul Teater Lingkar. Ada pula Teater Luka.7 Teater Kontemporer Indonesia Teater Kontemporer Indonesia mengalami perkembangan yang sangat membanggakan. Teater Bandar Jakarta. Teater Kanvas. Aktivitas teater kampus mampu menghidupkan dan membuka kemungkinan baru gagasan-gagasan artistik. Semangat kolaboratif yang terkandung dalam seni teater dimanfaatkan secara optimal dengan menggandeng beragam unsur pertunjukan yang lain.2.1999). Teater Rajawali. drama tidak pernah luput dari masalah hidup dan kehidupan manusia. Di Medan muncul Teater Que dan di Palembang muncul Teater Potlot.

) BAB II SENI SASTRA DALAM TEATER Teater memiliki sekurang-kurangnya empat unsur penting dalam setiap pementasan. penonton adalah sekelompok orang yang menyerahkan sebagian dari kemerdekaannya untuk menjadi bagian dari tokoh yang tampil dalam suatu lakon dan menikmatinya. Dalam lakon akan dijumpai dua hal yang sangat penting. pemain adalah orang yang penata membawakan tersebut. Keempat. Tugas Secara Kelompok buatlah kliping gambar-gambar pementasan teater dan berikanlah uraian singkat tentangnya! (hubungkan dengan sejarah perkembangan teater. Lakon ditulis oleh seorang penulis naskah lakon berdasarkan apa yang dilihat. yaitu pertama. Konflik dalam lakon merupakan inti cerita. skenario tak tertulis (dalam teater kerakyatan). dan apa yang dibaca atau diceritakan kepadanya oleh orang lain. tokoh atau tokoh yang terlibat dalam kejadiankejadian dalam lakon. Penulis kemudian menyusun rangkaian kejadian. yaitu pertama.Perkembangan Teater Barat dan Timur dapat dikatakan berjalan sejajar dengan perkembangan keberadaban manusia. Peristiwa lakon tersebut menuntun seseorang untuk mengikuti laku kejadian mulai dari pemaparan. sutradara sebagai pertunjukan di panggung. tetapi semakin lama semakin gawat sehingga akhirnya ia sampai ke puncak yang disebut klimaks. apa yang dialami. Kedua. Penting sekali bahwa dalam menyusun kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa seorang penulis haruslah bersabar untuk melangkah dari satu kejadian ke kejadian lain dalam suatu perkembangan yang logis. konflik. lakon Kedua. konlfik hingga penyelesaian. Ketiga. Peristiwa atau kejadian dibuat oleh penulis naskah sebagai kerangka besar yang mendasari terjadinya suatu lakon. bisa berwujud sebuah naskah atau skenario tertulis. Tidaklah menarik sebuah cerita . semakin lama semakin rumit. lakon atau cerita yang ditampilkan. sehingga pada puncaknya masuk ke dalam penyelesaian cerita.

yaitu konflik dan tokoh yang terlibat dalam kejadian. aim. Sementara. root idea. karena tema merupakan sasaran yang hendak dicapai oleh seorang penulis lakon. dan dari lingkungan tersebut dia menyerap segala persoalan yang menjadi ide-ide dalam penulisan lakonnya. Terkadang konflik yang kecil dan sederhana jika diselesaikan secara cerdas akan membuat penonton takjub. tetapi juga menyampaikan suatu pesan tentang persoalan kehidupan manusia. Pesan itu bisa mengenai kehidupan lahiriah maupun batiniah. 2. Tokoh adalah orang yang menghidupkan kejadian atau peristiwa yang dibuat oleh penulis naskah. konflik yang berat. central idea.disajikan di atas panggung tanpa adanya konflik. driving force dan sebagainya. Pengarang adalah seorang warga masyarakat yang tentunya mempunyai pendapat tentang masalah-masalah politik . dia mempunyai kepekaan terhadap lingkungan sekelilingnya. Akan tetapi. dan bercabang-cabang jika tidak disajikan secara baik justru akan membosankan dan membuat laku lakon menjadi lamban. kalau ada anggapan bahwa semakin rumit konflik lakon semakin menarik adalah anggapan yang salah.1 Tema Tema ada yang menyebutnya sebagai premis. karena peristiwa yang mengarahkan cerita kepada konflik membutuhkan tokoh sebagai pelaku. Pengarang atau penulis lakon menciptakan sebuah lakon bukan hanya sekedar mencipta. Keunggulan dari seorang pengarang ialah. thought. berliku. Gagasan utama atau pesan lakon termaktub dalam konflik yang merupakan pertentangan antara satu pihak terhadap pihak lain mengenai sesuatu hal. tema harus dirumuskan dengan jelas. Jadi. Konflik dalam lakon bisa rumit bisa juga sederhana. Tidak ada acuan yang pasti terhadap konflik dalam lakon yang dapat membuat cerita menjadi menarik. Ketika tema tidak terumuskan dengan jelas maka lakon tersebut akan kabur dan tidak jelas apa yang hendak disampaikan. Jalinan cerita menuju konflik dan cara penyelesainnya inilah yang menjadikan lakon menarik. Jadi dalam lakon ada dua hal penting yang diciptakan oleh seorang penulis lakon. goal. Seorang penulis terkadang mengemukakan tema dengan jelas tetapi ada juga yang secara tersirat.

dan sosial yang penting serta mengikuti isu-isu zamannya (Rene Wellek dan Austin Warren, 1989). Ide-ide, pesan atau pandangan terhadap persoalan yang ada dijadikan ide sentral atau tema dalam menulis naskah lakonnya. Tema adalah suatu amanat utama yang disampaikan oleh pengarang atau penulis melalui karangannya (Gorys Keraf, 1994). Tema bisa juga disebut muatan intelektual dalam sebuah permainan, ini mungkin bisa diuraikan sebagai keseluruhan pernyataan dalam sebuah permainan: topik, ide utama atau pesan, mungkin juga sebuah keadaan (Robert Cohen, 1983). Adhy Asmara (1983) menyebut tema sebagai premis yaitu rumusan intisari cerita sebagai landasan ideal dalam menentukan arah tujuan cerita. Dengan demikian bisa ditarik kesimpulan bahwa tema adalah ide dasar, gagasan atau pesan yang ada dalam naskah lakon dan ini menentukan arah jalannya cerita. Tema dalam naskah lakon ada yang secara jelas dikemukakan dan ada yang samar-samar atau tersirat. Tema sebuah lakon bisa tunggal dan bisa juga lebih dari satu. Tema dapat diketahui dengan dua cara : • Apa yang diucapkan tokoh-tokohnya melalui dialog-dialog yang disampaikan. • Apa yang dilakukan tokoh-tokohnya. Dengan berpedoman dua hal tersebut analisis tema lakon dapat dikerjakan. Misalnya, lakon Raja Lear karya William Shakespeare terjemahan Trisno Sumardjo. Dialog yang disampaikan tokoh dapat dijadikan acuan untuk menganalisis tema lakon. Masing-masing tokoh mengucapkan kalimat dialognya. Dari dialog tersebut dapat diketahui perihal atau soalan yang dibahas. Dengan merangkai setiap persoalan melalui dialog para tokohnya maka gambaran tema akan didapatkan. Detil tema selalu dapat ditemukan dari baris-baris kalimat dialog tokoh cerita. Semua analisis lakon dikerjakan dengan mencermati kalimat dialog tersebut serta hubungan antara kalimat satu dengan yang lain. Jika hanya membaca cerita secara keseluruhan tanpa meninjau kalimat dialog dengan teliti maka hasil akhir dari analisis yang dilakukan belum tentu benar. Kadangkadang, dialog kecil memiliki arti yang luas dan

sanggup mempengaruhi tema cerita. Misalnya, dalam kalimat dialog Raja Lear dapat ditarik satu simpulan bahwa meskipun sebagai raja ia disegani oleh anak-anaknya, tetapi karena sikapnya yang keras maka ia juga dibenci. Perhatikan kutipan dialog di bawah ini. LEAR : ………….. kendalikan lidahmu sedikit; nanti kuhambat untungmu…. LEAR : ………………. Sekarang kulempar tiap kewajiban orang tua, tiap pertalian keluarga dan darah; mulai kini sampai selamanya kaulah asing bagiku dan bagi hatiku…………………. KENT : Silakan. Bunuhlah tabib tuan, supaya hama jahat berupah. Batalkan anugerah tuan; kalau tidak, rangkung saya berteriak meyerukan tuanlah lalim……… RAJA TOKOHCIS : Cordelia jelita, ternyata paling kaya meski miskin; terpillih meski, meski dibuang; tercinta meski dihina……………. CORDELIA : Andaikan bukan seorang ayah, namun uban ini sudah menuntut belas-kasih. Ah wajah benginikah dipaksa menempuh pergolakan badai? Dan melawan guntur bercakra garang, petir dahsyat yang pesat,, cepat menyambar-nyabar? Bagai prajurit yang terbuang, berjaga dengan topi tipis ini? Anjing musuhku pun, walau menggigit aku, di malam begitu takkan kuusir untuk dari tempat berdiang………………. Melalui laku atau aksi tokoh dalam lakon yang biasanya diterangkan (dituliskan) dalam arahan lakon gambaran tema semakin jelas. Laku aksi memberikan penegasan kalimat dialog. Dalam lakon Raja Lear, laku tokoh dapat memberikan penjelasan sebagai berikut. • Raja Lear membagi kerajaan pada ketiga anaknya sesuai dengan pujian yang disampaikan anaknya. • Raja Lear murka pada Cordelia karena tidak memujinya. • Raja Lear marah-marah ketika tidak dilayani hidupnya pada anak yang semula disayangi. • Raja Lear marah-marah dan mengusir bawahannya ketika ada yang menentang.

• Anak-anak Raja Lear yang disayangi berubah memusuhi orang tuanya sehingga Raja Lear sakit. Dari kutipan dialog dan laku serta perbuatan tokoh dalam lakon Raja Lear di atas bisa ditarik sebuah kejelasan bahwa Raja Lear adalah orang yang gila hormat, tidak bijaksana, lalim, dan harus dipuji. Atas sikapnya itu Raja Lear menuai hasil, yaitu kehancuran diri dan keluarganya. 2.2 Plot Plot (ada yang menyebutnya sebagai alur) dalam pertunjukan teater mempunyai kedudukan yang sangat penting. Hal ini berhubungan dengan pola pengadeganan dalam permainan teater, dan merupakan dasar struktur irama keseluruhan adegan permainan. atau Plot dapat terus dibagi tanpa berdasarkan babak dan berlangsung

pembagian. Plot merupakan jalannya peristiwa dalam lakon yang terus bergulir hinga lakon tersebut selesai. Jadi plot merupakan susunan peristiwa lakon yang terjadi di atas panggung. Plot menurut Panuti Sudjiman dalam bukunya Kamus Istilah Sastra (1984) memberi batasan adalah jalinan peristiwa di dalam karya sastra (termasuk naskah drama atau lakon) untuk mencapai efek-efek tertentu. Pautannya dapat diwujudkan oleh hubungan temporal (waktu) dan oleh hubungan kausal (sebab-akibat). Plot atau alur adalah rangkaian peristiwa yang direka dan dijalin dengan seksama, yang menggerakkan jalan cerita melalui perumitan (penggawatan atau komplikasi) ke arah klimaks penyelesaian. Menurut J.A. Cuddon dalam Dictionary of Literaray Terms (1977), plot atau alur adalah kontruksi atau bagan atau skema atau pola dari peristiwa-peristiwa dalam lakon, puisi atau prosa dan selanjutnya bentuk peristiwa dan perwatakan itu menyebabkan pembaca atau penonton tegang dan ingin tahu. Plot atau alur menurut Hubert C. Heffner, Samuel Selden dan Hunton D. Sellman dalam Modern Theatre Practice (1963), ialah seluruh persiapan dalam permainan. Jadi plot berfungsi sebagi pengatur seluruh bagian permainan, pengawas utama dimana seorang penulis naskah dapat menentukan bagaimana cara mengatur lima bagian yang lain, yaitu

dan spektakel. dan bagian akhir.1 Jenis Plot . tema. musik. atau argumentative atau kejenakaan atau melalui cara-cara lain. bagian tengah. diksi. Pembagian plot dalam lakon klasik atau konvensional biasanya sudah jelas yaitu.karakter. Secara umum pembagian plot terkadang menggunakan tipe sebab akibat yang dibagi dalam lima pembagian sebagai berikut. • Eksposisi adalah saat memperkenalkan dan membeberkan materimateri yang relevan atau memberi informasi pada penonton tentang masalah yang dialami atau konflik yang terjadi dalam diri karakterkarakter yang ada di lakon. • Resolusi adalah proses penempatan kembali kepada suasana baru. misalnya tempat lakon tersebut terjadi. Plot juga berfungsi sebagai bagian dasar yang membangun dalam sebuah teater dan keseluruhan perintah dari seluruh laku maupun semua bagian dari kenyataan teater serta bagian paling penting dan bagian yang utama dalam drama atau teater. • Krisis adalah penjelasan yang terperinci dari perjuangan karakterkarakter atau satu karakter untuk mengatasi konflik. Seorang penulis seringkali meletakkan berbagai informasi penting pada bagian awal lakon. Pada bagian tengah biasanya berisi tentang kejadian-kejadian yang bersangkut paut dengan masalah pokok yang telah disodorkan kepada penonton dan membutuhkan jawaban. pelaku-pelakunya. Bagian akhir berisi tentang satu persatu pertanyaan penonton terjawab atau sebuah lakon telah mencapai klimaks besar. waktu kejadiannya. Bagian ini merupakan kejadian akhir dari lakon dan terkadang memberikan jawaban atas segala persoalan dan konflik-konflik yang terjadi. • Aksi Pendorong adalah saat memperkenalkan sumber konflik di antara karakter-karakter atau di dalam diri seorang karakter. 2. • Klimaks adalah proses identifikasi atau proses pengusiran dari rasa tertekan melalui perbuatan yang mungkin saja sifatnya jahat. bagian awal. dan bagaimana peristiwa itu terjadi.

lihat. alur lurus atau straight plot. Emosi ini timbul karena terpengaruh oleh jalinan peristiwaperistiwa dan jalannya cerita yang ditulis oleh penulis. Jalinan jalan cerita dalam lakon bergerak mulai dari awal sampai akhir tanpa ada kilas balik. Alur linear ini masih bisa dibagi-bagi lagi sesuai dengan sifat emosi yang terkandung dari plot linear ini.1 Simple Plot Simple plot atau plot lakon yang sederhana adalah lakon yang memiliki satu alur cerita dan satu konflik yang bergerak dari awal sampai akhir. Simple plot ini terdiri dari plot linear dan linear-circular. alur maju atau progressive plot.Ketika menonton atau melihat atau membaca sebuah lakon fiksi maka emosi kita akan terpengaruh dengan apa yang kita tonton. Alur maju atau progresive plot adalah alur cerita yang dimulai dari pemaparan peristiwa lakon sampai menuju inti peristiwa lakon. Plot lakon banyak sekali ragamnya tergantung dari penulis lakon mempermainkan emosi kita. Jalinan peristiwa dan jalannya cerita inilah yang dimaksud dengan plot. atau baca tersebut. Alur menurun atau falling plot adalah alur dengan emosi lakon mulai dari tingkat emosi yang paling tinggi menuju tingkat emosi lakon yang paling rendah. Alur ini merupakan kebalikan dari alur menanjak atau rising plot. alur mundur atau regressive plot. Alur mundur atau regresive plot adalah alur cerita yang dimulai dari inti cerita kemudian dipaparkan bagaimana . alur menurun atau falling plot. Secara sederhana plot dapat dibagi menjadi dua yaitu simple plot (plot yang sederhana) dan multi plot (plot yang lebih dari satu) 2. dan alur melingkar atau circular plot.1. Plot linear adalah alur cerita mulai dari awal sampai akhir cerita bergerak lurus sedangkan linear-circular adalah alur cerita mulai dari awal sampai akhir bergerak lurus secara melingkar sehingga awal dan akhir cerita akan bertemu dalam satu titik. Alur menanjak atau rising plot adalah alur dengan emosi lakon mulai dari tingkat emosi yang paling rendah menuju tingkat emosi lakon yang paling tinggi. terdiri dari alur menanjak atau rising plot. Alur ini adalah alur cerita paling umum pada alur lakon.

bagian 5 menit pertama yang sengaja dibuat menarik untuk memikat penikmat .1. Alur ini merupakan kebalikan dari progressive plot. tokoh. Setiap episode dalam lakon tersebut sebenarnya tidak ada hubungan sebab akibat dalam rangkaian cerita. Plot disusun oleh pengarang dengan tujuan untuk mengungkapkan buah pikirannya yang secara khas. Rendra. tema. Concentric plot adalah cerita lakon yang memiliki beberapa plot yang berdiri sendiri. 2. Multi plot ini terdiri dari dua tipe yaitu alur episode atau episodic plot dan alur terpusat atau concentric plot. Alur lurus atau straight plot hampir sama dengan alur maju. Contoh lakon dengan alur episode atau episodic plot adalah lakon Panembahan Reso karya W. di mana setiap episode memiliki alur cerita sendiri. 2. • Gimmick. Raja Lear karya William Shakespeare dan lain-lain. Tetapi pada akhir cerita alur cerita yang terdiri dari episodeepisode ini akan bertemu.sampai terjadi peristiwa tersebut.2 Multi Plot Multi plot adalah lakon yang memiliki satu alur utama dengan beberapa sub plot yang saling bersambungan. Dengan demikian plot memiliki anatomi atau bagian-bagian yang menyusun plot tersebut yang disebut dengan anatomi plot sebagai berikut.2 Anatomi Plot Menurut Rikrik El Saptaria (2006). plot atau alur cerita merupakan rangkaian peristiwa yang satu dengan yang lain dihubungkan dengan hukum sebab akibat. Alur episode atau episodic plot adalah plot cerita yang terdiri dari bagian perbagian secara mandiri. Contoh lakon dengan alur mundur adalah Opera Primadona karya Nano Riantiarno yang dimainkan oleh Teater Koma.S. Pengungkapan ini lewat jalinan peristiwa yang baik sehingga menciptakan dan mampu menggerakkan alur cerita itu sendiri. Plot-plot yang ada dalam cerita tersebut memiliki permasalah yang harus diselesaikan. dimana pada akhir cerita semua tokoh yang terlibat dalam cerita yang terpisah tadi akhirnya menyatu guna menyelesaikan cerita.

supaya penonton bertanyatanya apa akibat yang ditimbulkan dari peristiwa sebelumnya ke peristiwa selanjutnya. tetapi kilas balik pada film biasanya berupa nukilannukilan gambar. • Suspen. Suspen ini biasanya diciptakan dan dijaga oleh penulis lakon dari awal sampai akhir cerita. • Dramatic Irony.• Fore Shadowing. Suspen ini biasanya dibangun melalui dialog-dialog serta laku para tokoh yang ada dalam naskah lakon. kilas balik peristiwa lampau yang dikisahkan kembali pada saat ini. Kilas balik ini berfungsi untuk mengingatkan kembali ingatan penonton pada peristiwa yang telah lampau tetapi masih dalam satu rangkaian peristiwa lakon. dan tanpa disadari akan menimpa dirinya sendiri. Dalam lakon banyak dijumpai tokoh-tokoh ini. aksi seorang tokoh yang berkata atau bertindak sesuatu. Suspen menumbuhkan memelihara keingintahuan penonton dari awal sampai akhir cerita. • Flashback. Kalau cerita itu bisa ditebak oleh penonton maka perhatian pertunjukan dipikirkan. dan biasanya tidak disadari oleh tokoh tersebut. Kilas balik biasanya diceritakan • melalui dialog tokoh. berisi dugaan dan prasangka yang dibangun dari rangkaian ketegangan yang mengundang akan pertanyaan dan dan keingintahuan penonton. Kalau pemeran atau sutradara tidak cermat dalam menganalisisnya maka kemungkinan suspen terlewati dan tidak tergarap dengan baik. penonton tersebut akan tidak berkurang dan menganggap sesuatu untuk menyuguhkan . karena semuanya sudah bisa ditebak oleh penonton. Dengan menimbulkan pertanyaanpertanyaan ini penonton akan betah mengikuti cerita sampai selesai. Hal ini akan menyebabkan kualitas pertunjukan dinilai tidak terlalu bagus. pembayangan ke depan yang terjadi ketika tokoh meramalkan atau membayangkan keadaan yang akan datang.

atau sudah lain hari? Pertanyaan-pertanyaan seputar waktu dan tempat kejadian ini akan memberikan gambaran peristiwa lakon yang komplit (David Groote. tempat Pertanyaan tidak serta merta dijawab secara global tetapi harus lebih mendetil mengetahui secara waktu kejadiannya. karena memang bukan persoalan scenery yang hendak dibahas. atau sore hari? Jika terjadi dalam ruang lalu di mana letak ruang itu.3.3 Setting Membicarakan tentang setting dalam mengkaji lakon tidak ada kaitan langsung dengan tata teknik pentas. pagi hari. Pertanyaan untuk setting atau latar cerita untuk adalah kapan dan dimana pasti persitiwa dan terjadi.1 Latar Tempat Latar tempat adalah tempat yang menjadi latar peristiwa lakon itu terjadi. 2. Namun peristiwa yang diharapkan tersebut. pada akhirnya mengarah ke sesuatu yang tidak disangka-sangka sebelumnya. Dalam sebuah lakon terkadang dijumpai aksi-aksi yang seperti ini dan akan menimbulkan suatu rasa simpati penonton kepada korbannya. suatu peristiwa yang terjadi diluar dugaan penonton sebelumnya dan memancing perasaan dan pikiran penonton agar menimbulkan dugaan-dugaan yang tidak pasti. Menurut Aristoteles peristiwa dalam lakon adalah mimesis atau tiruan dari kehidupan manusia keseharian. 1997). Peristiwa dalam lakon adalah peristiwa fiktif yang menjadi hasil rekaan penulis lakon. • Gestus. aksi atau ucapan tokoh utama yang beritikad tentang sesuatu persoalan yang menimbulkan pertentangan atau konflik antartokoh. di dalam gedung atau di dalam rumah? Jam berapa kira-kira terjadi? Tanggal. 2.• Surprise. Analisis setting lakon ini merupakan suatu usaha untuk menjawab sebuah pertanyaan apakah peristiwa terjadi di luar ruang atau di dalam ruang? Apakah terjadi pada waktu malam. Seperti . dan tahun berapa? Apakah waktu kejadiannya berkaitan dengan waktu kejadian peristiwa di adegan lain. bulan.

tetapi banyak latar waktu ini tidak diberikan oleh penulis lakon. musim kemarau. interpretasi tempat kejadian peristiwa ini terletak pada keterangan yang diberikan oleh penulis naskah lakon dan dalam imajinasi pembaca. Sedangkan sebagai bahan dasar pertunjukan. Analisis latar waktu perlu dilakukan baik oleh seorang sutradara maupun oleh pemeran.diketahui bahwa sifat dari naskah lakon bisa berdiri sendiri sebagai bahan bacaan sastra. Latar waktu dalam naskah lakon bisa menunjukkan waktu dalam arti yang sebenarnya (siang. adegan. malam. Analisis ini perlu dilakukan guna memberi suatu gambaran pada penonton tentang tempat peristiwa itu terjadi. Misalnya. dan babak itu terjadi. Dengan menggetahui latar waktu yang terjadi pada maka semua pihak akan bisa mengerjakan lakon tersebut. tetapi kadang tidak diberikan oleh penulis lakon. waktu yang menunjukkan sebuah musim (musim hujan. tempat peristiwa ini harus dikomunikasikan atau diceritakan oleh para pemeran sebagai komunikator kepada penonton. Tugas seorang sutradara dan pemeran ketika menghadapi sebuah naskah lakon adalah menginterprestasi latar waktu dalam lakon tersebut. penata artistik akan menata perabot dan mendekorasi pementasan sesuai dengan latar waktu. sedangkan yang dilakukan oleh pemeran biasanya berhubungan dengan akting dan bisnis akting. Sebagai bahan bacaan sastra. Gambaran tempat peristiwa dalam lakon kadang sudah diberikan oleh penulis lakon. 2. musim dingin dan lain-lain). dan waktu yang menunjukkan suatu zaman atau . sore). Analisis ini juga sangat penting dilakukan karena berhubungan dengan tata teknik pentas. babak atau dalam keseluruhan lakon tersebut.3.2 Latar Waktu Latar waktu adalah waktu yang menjadi latar belakang peristiwa. Analisis latar waktu yang dilakukan oleh sutradara biasanya berhubungan dengan tata teknik pentas. Latar waktu terkadang sudah diberikan`atau sudah diberi rambu-rambu oleh penulis lakon. Analisis latar tempat dapat dilakukan dengan mencermati dialog-dialog tokoh yang sedang berlangsung dalam satu adegan. pagi. tetapi bisa sebagai bahan dasar dari pertunjukan.

Analisis latar waktu bisa dilakukan dengan mencermati dialog-dialog yang disampaikan oleh tokoh dalam adegan atau babak yang sedang berlangsung. 2.abad (Zaman Klasik. Suatu misal kita mengidentifisasi satu tokoh. Latar peristiwa ini bisa sebagai realita bisa juga fiktif yang menjadi imajinasi penulis lakon. Tanpa perwatakan tidak akan ada cerita. Lakon pada waktu itu mengambil latar peristiwa pada Zaman Tokohg Revolusi di Indonesia.4. zaman tokohg dan lain-lain). atau yang mengakibatkan adegan atau lakon itu terjadi. Misalnya. maka perasaan penonton akan merasa terwakili oleh perasaan tokoh yang diidentifikasi tersebut. Karakterisasi atau perwatakan dalam sebuah lakon memegang tokohan yang sangat penting. berbarti kita telah mengadopsi pikiran-pikiran dan perasaan tokoh tersebut menjadi perasaan dan pikiran kita.3 Latar Peristiwa Latar peristiwa adalah peristiwa yang melatari adegan itu terjadi dan bisa juga yang melatari lakon itu terjadi. Padahal ketidaksamaan watak akan melahirkan pergeseran.3. mungkin saja William Shakespeare terinspirasi oleh bencana yang melanda Inggris pada waktu itu. Bahkan Lajos Egri berpendapat bahwa berperwatakanlah yang paling utama dalam lakon. lakon Raja Lear. Lakon-lakon dengan latar peristiwa yang riil juga terjadi pada lakonlakon di Indonesia pada tahun 1950 sampai tahun 1970. Misalnya. Latar peristiwa pada adegan atau lakon adalah peristiwa yang mendahului adegan atau lakon tersebut. Zaman Romantik. yaitu seolah-olah terjadi kiamat karena lakon ini dialegorikan sebagai kiamat kecil. Karakterisasi Karakterisasi merupakan usaha untuk membedakan tokoh satu dengan tokoh yang lain. adegan awal pada lakon 2. tanpa perwatakan tidak bakal ada plot. Latar peristiwa yang nyata digunakan oleh penulis lakon untuk menggambar peristiwa yang terjadi secara nyata pada waktu itu sebagai dasar dari lakonnya. tabrakan . Jika proses identifikasi ini berhasil. Perbedaan-perbedaan tokoh ini diharapkan akan diidentifikasi oleh penonton.

bisa dari alam. Persoalan ini bisa dari tokoh lain. karena dia seringkali menjadi musuh yang menyebabkan konflik itu terjadi. Tokoh antagonis harus memiliki watak yang kuat dan kontradiktif terhadap tokoh protagonis. Deutragonis Deutragonis adalah tokoh lain yang berada di pihak tokoh protagonis. dan pertikaian itu harus berkembang mencapai klimaks. Contoh. Dalam teater. Tokoh protagonis dan antagonis harus memungkinkan menjalin pertikaian. 1985). dan cita-cita Raja Lear. Motivasi-motivasi tokoh inilah yang dapat melahirkan suatu perbuatan tokoh. Keberadaan tokoh adalah untuk mengatasi persoalanpersoalan yang muncul ketika mencapai suatu citacita. Tokoh-tokoh tersebut adalah sebagai berikut. bisa juga karena kekurangan dirinya sendiri. Cordelia dalam lakon Raja Lear karya William Shakespeare. Antagonis Antagonis adalah tokoh lawan. Tokoh ini juga menentukan jalannya cerita. tokoh dapat dibagi-bagi sesuai dengan motivasi-motivasi yang diberikan oleh penulis lakon. Konflik dapat dikembangkan oleh penulis lakon melalui ucapan dan tingkah laku tokoh. Edgar. keinginan. Contoh tokoh antagonis pada lakon Raja Lear karya William Shakespeare terjemahan Trisno Sumardjo adalah tokoh Gonerill dan tokoh Regan. Tokoh ini ikut mendukung menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh tokoh protaganis. sebab dengan adanya tokoh maka timbul konflik. Adjib Hamzah. Protagonis Protagonis adalah tokoh utama yang merupakan pusat atau sentral dari cerita. tokoh Tumenggung Kent. konflik yang akhirnya melahirkan cerita (A. 2. Contoh tokoh protagonis pada lakon Raja Lear karya William Shakespeare terjemahan Trisno Sumardjo adalah tokoh Raja Lear itu sendiri.1 Jenis-jenis Tokoh Tokoh merupakan sarana utama dalam sebuah lakon. Kedua tokoh inilah yang menentang perkembangan.kepentingan. Tritagonis .4.

yang merupakan akumulasi dari pengalaman-pengalaman dan interaksi-interaksi yang dilakukannya dan terus berkembang. Contoh.2 Jenis Karakter Karakter adalah jenis tokoh yang akan dimainkan. dan karikatural.Tritagonis adalah tokoh penengah yang bertugas menjadi pendamai atau pengantara protagonis dan antagonis. Penulis lakon adalah orang yang memiliki dunia sendiri yaitu dunia fiktif. Curan dalam lakon Raja Lear karya William Shakespeare. Ketika masih kecil dia bereksplorasi dengan dirinya sendiri untuk mengetahui perkembangan dirinya. 2. Contoh: tokoh Badut dalam lakon Raja Lear karya William Shakespeare. Foil Foil adalah tokoh yang tidak secara langsung terlibat dalam konflik yang terjadi tetapi ia diperlukan guna menyelesaikan cerita. jenis karakter dalam teater ada empat macam. tokoh Bangsawan pada lakon Raja Lear karya Willliam Sahkespeare. dan ketika sudah dewasa maka pribadinya berkembang melalui hubungan dengan lingkungan sosial. Oswald. teatrikal. Biasanya dia berpihak pada tokoh antagonis. round charakter. sedangkan penokohan adalah proses kerja untuk memainkan tokoh yang ada dalam naskah lakon. yaitu flat character. Utility Utility adalah tokoh pembantu atau sebagai tokoh pelengkap untuk mendukung rangkaian cerita dan kesinambungan dramatik. sehingga . • Flat Character (perwatakan dasar) Flat character atau karakter datar adalah karakter tokoh yang ditulis oleh penulis lakon secara datar dan biasanya bersifat hitam putih. Contoh. Penokohan ini biasanya didahului dengan menganalisis tokoh tersebut sehingga bisa dimainkan. Biasanya tokoh ini mewakili jiwa penulis.4. Jadi perkembangan karakter seharusnya mengacu pada pribadi manusia. Dia adalah pengawal dari Cordelia. tokoh Perwira. Menurut Rikrik El Saptaria (2006). Karakter tokoh dalam lakon mengacu pada pribadi manusia yang berkembang sesuai dengan perkembangan lingkungan.

• Karikatural Karikatural adalah karakter tokoh yang tidak wajar. seperti tokoh A. dan cenderung menyindir. Sifat karikatural ini bisa berupa dialog-dialog yang diucapkan oleh karakter tokoh. Si Gembrot. Perkembangan inilah yang menjadikan karakter ini menarik dan mampu untuk mengerakkan jalan cerita. unik. satiris. Flat character biasanya ada pada karakter tokoh yang tidak terlalu penting atau karakter tokoh pembantu. Flat character ini ditulis dengan tidak mengalami perkembangan emosi maupun derajat status sosial dalam sebuah lakon. keadaan jaman dan lain-lain yang tidak bersifat manusiawi tetapi dilakukan oleh manusia. tetapi sangat banyak dijumpai pada lakon-lakon klasik dan non realis. antara ketegangan dengan keriangan suasana. C. bisa juga dengan tingkah laku. • Round Character (perwatakan bulat) Karakter tokoh yang ditulis oleh penulis secara sempurna. Karakter ini biasanya terdapat karakter tokoh utama baik tokoh protagonis maupun tokoh antagonis. tetapi diperlukan dalam sebuah lakon. Kawan.ketika mencipta sebuah karakter dia bebas menentukan suatu perkembangan karakter. Pemimpin (lakon LOS) dan lain-lain.. Karakter ini segaja diciptakan oleh penulis lakon sebagai penyeimbang antara kesedihan dan kelucuan. . • Teatrikal Teatrikal adalah karakter tokoh yang tidak wajar. Karakter-karakter teatrikal jarang dijumpai pada lakon-lakon realis. D. bahkan perpaduan antara ucapan dengan tingkah laku. Round karakter adalah karakter tokoh dalam lakon yang mengalami perubahan dan perkembangan baik secara kepribadian maupun status sosialnya. Misalnya karakter yang diciptakan oleh Putu Wijaya pada lakonlakonnya yang bergaya post-realistic. Si Tua. Karakter ini hanya simbol dari psikologi masyarakat. suasana. dan lebih bersifat simbolis. karakteristiknya kaya dengan pesan-pesan dramatik. Perkembangan dan perubahan ini mengacu pada perkembangan pribadi orang dalam kehidupan sehari-hari.

Sularto BAB III DASAR SENI PENYUTRADARAAN DALAM TEATER Pada mulanya pementasan teater tidak mengenal sutradara. Tugas Analisislah naskah “Domba-domba Revolusi” karya B. Seorang bangsawan (duke) dari Saxe-Meiningen yang memimpin sebuah grup teater dan menyelenggarakan pementasan keliling Eropa pada akhir tahun 1870-1880. dan karakterisasi. Andre Antoine di Tokohcis dengan Teater Libre serta Stansilavsky di Rusia adalah dua sutradara berbakat yang mulai menekankan idealisme dalam setiap . maka memerlukan peremajaan pemain. Dengan banyaknya jumlah pentas yang harus dilakukan. Kemudian mereka berlatih para dan aktor memainkkannya di hadapan penonton. produksi pementasan teater Saxe-Meiningen masih mengutamakan kerja bersama antarpemain yang dengan giat berlatih untuk meningkatkan kemampuan berakting mereka (Robert Cohen. Sejalan dengan kebutuhan akan yang semakin meningkat. maka kehadiran seorang sutradara yang mampu mengatur dan mengharmonisasikan keseluruhan unsur artistik pementasan dibutuhkan. 1994). Model penyutradaraan seperti yang dilakukan oleh George II diteruskan pada masa lahir dan berkembangnya gaya realisme. Dalam terminologi Yunani sutradara (director) disebut didaskalos yang berarti guru dan pada abad pertengahan di seluruh Eropa istilah yang digunakan untuk seorang sutradara dapat diartikan sebagai master. Pementasan teater muncul dari sekumpulan pemain yang memiliki gagasan untuk mementaskan pementasan sebuah teater cerita. Istilah sutradara seperti yang dipahami dewasa ini baru muncul pada jaman Geroge II.Rangkuman Drama yang merupakan unsur seni sastra dalam teater terbagi atas: tema. Para aktor yang telah memiliki banyak pengalaman mengajarkan pengetahuannya kepada aktor muda. plot. setting. Meskipun demikian. Proses mengajar dijadikan tonggak awal lahirnya “sutradara”.

Gordon Craig merupakan seorang sutradara yang menanamkan gagasannya untuk para aktor sehingga ia menjadikan sutradara sebagai pemegang kendali penuh sebuah pertunjukan teater (Herman J. seperti tertulis di bawah ini. Nskah tersebut harus memenuhi kreteria yang diinginkan serta sesuai dengan kondisi yang ada di lapangan. Jika sutradara memilih naskah yang akan ditampilkan dalam keadaan terpaksa maka bisa dipastikan hasil pementasan menjadi kurang baik. 3. maka seorang sutradara harus mengerti dengan baik hal-hal yang berhubungan dengan pementasan. menentukan bentuk dan gaya pementasan. • Sutradara menyukai naskah yang dipilih. Ada beberapa pertimbangan yang dapat dilakukan oleh sutradara dalam memilih naskah. yaitu menentukan lakon. Sutradara bisa memilih lakon yang sudah tersedia (naskah jadi) karya orang lain atau membuat naskah lakon sendiri.1.1. kerja sutradara dimulai sejak merencanakan sebuah pementasan. Waluyo. Dengan demikian sutradara menjadi salah satu elemen pokok dalam teater modern. Pemilihan Naskah Proses atau tahap pertama yang harus dilakukan oleh sutradara adalah menentukan lakon yang akan dimainkan. Max Reinhart mengembangkan penyutradaraan dengan mengorganisasi proses latihan para aktor dalam waktu yang panjang. Berhasil tidaknya sebuah pertunjukan teater mencapai takaran artistik yang diinginkan sangat tergantung kepiawaian sutradara.1 Naskah Jadi Mementaskan teater dengan naskah yang sudah tersedia memiliki kerumitan tersendiri terutama pada saat hendak memilih naskah yang akan dipentaskan. Oleh karena itu. Naskah yang tidak dikehendaki akan .produksinya. memahami dan mengatur blocking serta melakukan serangkaian latihan dengan para pemain dan seluruh pekerja artistik hingga karya teater benarbenar siap untuk dipentaskan. 3. Setelah itu tugas berikutnya adalah menganalisis lakon. Oleh karena kedudukannya yang tinggi. menentukan pemain. 2001).

tetapi semua orang yang terlibat menjadi senang karena dapat mengerjakannya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Oleh karena itu. • Sutradara mampu tetap mementaskan naskah yang dipilih. tetapi juga dengan unsur pendukung yang lain. Beberapa naskah yang baik terkadang memiliki konsekuensi logis dengan pendanaan. • Sutradara wajib mempertimbangkan sisi pendanaan secara khusus. Semua sumber daya dimiliki seperti pemain. sutradara harus mampu membuat naskah yang sesuai dengan kualitas sumber daya yang ada.1. membuat naskah sendiri dapat menjadi pilihan yang tepat. keseluruhan kerja menjadi tidak optimal. Mampu mementaskan sebuah naskah tentunya tidak hanya berkaitan dengan kecakapan sutradara. seperti analisis yang kurang detil. Akan tetapi berkenaan dengan sumber daya yang dimiliki. Beberapa . Jika sutradara merasa mampu mengusahakan pendanaan secara optimal untuk mewujudkan tuntutan artistik lakon. • Sutradara mampu menemukan pemain yang tepat. Jika tidak. Naskah lakon yang baik tidak ada gunanya jika dimainkan oleh aktor yang kurang baik. dan pendanaan menjadi pertimbangan dalam memilih naskah yang akan dipentaskan. penata artsitik. naskah yang dipilih memoiliki latar cerita di rumah mewah dengan segala perabot yang indah. sutradara harus mampu melakukan adaptasi sehingga pendanaan bisa dikurangi tanpa mengurangi nilai artistik lakon.Tidak ada gunanya berlatih naskah lakon tertentu dalam waktu lama jika di tengah proses tiba-tiba hal itu terhenti karena alasan tertentu.membawa pengaruh dan masalah tersendiri bagi sutradara dalam mengerjakannya. maka naskah tersebut bisa dipilih. sutradara harus mampu mengukur kualitas sumber daya pemain yang dimiliki dalam menentukan naskah yang akan dipentaskan. pemilihan pemain yang asal-asalan. Sutradara dengan segenap kemampuannya harus mampu meyakinkan pemain dan mengusahakan pertunjukan agar tetap digelar sehingga proses yang telah dilakukan tidak menjadi sia-sia. Misalnya. 3. Untuk itu. Hal ini membawa dampak tersendiri dalam bidang pendanaan. Naskah semacam ini bersifat situasional.2 Membuat Naskah Sendiri Membuat naskah lakon sendiri tidak menguntungkan karena akan memperpanjang proses pengerjaan. • Sutradara merasa mampu mementaskan naskah yang telah dipilih.

Dengan adanya sinopsis maka penulisan lakon menjadi terarah dan tidak mengadaada. maka tokoh lainnya mudah ditemukan. William Froug (1993) misalnya. dan akhir. Misalnya tema yang dipilih adalah “kebaikan akan mengalahkan kejahatan”. Gambaran cerita secara global dari awal sampai akhir hendaknya dituliskan. Pada bagian akhir. Dengan menulis lawan dari sifat protagonis maka karakter antagonis dengan sendirinya terbentuk. akan menuntun laku cerita dari awal sampai akhir. Tema adalah gagasan dasar cerita atau pesan yang akan disampaikan oleh pengarang kepada penonton. • Menentukan persoalan. isi yang berisi pemaparan. semangat dalam bekerja. • Menentukan tema. Dengan menentukan tokoh protagonis secara mendetil. yaitu pembuka yang berisi pengantar cerita atau sebab awal. klimaks sampai penyelesaian. Kerangka ini membagi jalannya cerita mulai dari pemaparan. bagian awal. • Membuat sinopsis (ringkasan cerita). Bagian tengah adalah konflik yang meruncing hingga sampai klimaks. maka dalam cerita hal tersebut harus dimunculkan melalui aksi tokoh-tokohnya sehingga penonton dapat menangkap maksud dari cerita bahwa sehebat apapun kejahatan pasti akan dikalahkan oleh kebaikan. Jika tokoh protagonis dan antagonis sudah ditemukan. Sinopsis digunakan pemandu proses penulisan naskah sehingga alur dan persoalan tidak melebar. Semakin detil sifat atau karakter protagonis. • Menentukan protagonis. Misalnya dengan tema “kebaikan akan mengalahkan kejahatan”. Dengan membuat kerangka cerita maka penulis akan memiliki batasan yang jelas sehingga cerita tidak berteletele. Bagian awal adalah bagian pengenalan secara lebih rinci masing-masing tokoh dan titik konflik awal muncul. • Menentukan kerangka cerita. Riantiarno (2003). Persoalan ini kemudian diikembangkan dalam cerita yang hendak dituliskan. dan penutup yang merupakan simpulan cerita atau akibat. Persoalan atau konflik adalah inti daricerita teater. Oleh karena itupangkal persoalan atau titik awal konflik perlu dibuat dan disesuaikan dengan tema yang dikehendaki.langkah di bawah ini dapat dijadikan acuan untuk menulis naskah lakon. menentukan kerangka lakon dalam tiga bagian. Tokoh protagonis adalah tokoh yang membawa laku keseluruhan cerita. Misalnya. konflik. maka semakin jelas pula karakter tokoh antagonis. senang membantu orang lain. Pada bagian pembukaan memaparkan sketsa singkat tokoh-tokoh cerita. yaitu pembukaan. Kerangka cerita akan membingkai jalannya cerita dari awal sampai akhir. Tema. maka tokoh lain baik yang berada di pihak protagonis atau antagonis akan mudah diciptakan. membuat kerangka cerita (skenario) dengan empat bagian. pangkal persoalan yang dibicarakan adalah sikap licik seseorang yang selalu memfitnah orang lain demi kepentingannya sendiri. Tidak ada cerita teater tanpa konflik. dermawan. berkecukupan. titik balik cerita dimulai dan konflik diselesaikan. dalam persoalan tentang kelicikan. maka tokoh protagonis dapat diwujudkan sebagi orang yang rajin. tengah. konflik hingga klimaks. . serta jujur. sutradara sekaligus penulis naskah Teater Koma.

dan tidak tergesa-gesa. bahkan ada yang bingung mengakhirinya. Dengan analisis yang baik. menilai. Romeo and Juliet karya Shakespeare mengandung pesan bahwa seseorang yang telah menemukan cinta sejati tidak takut terhadap risiko apapun termasuk mati. Lakon yang telah ditentukan harus segera dipelajari sehingga gambaran 100% lengkap cerita didapatkan. logis.• Menentukan cara penyelesaian. Oleh karena itu tentukan akhir cerita dengan baik. dan pada akhirnya bagaimana konflik itu diselesaikan. 3. Merupakan bahan komunikasi utama yang hendak disampaikan kepada penonton. Berhasil atau tidaknya sebuah pertunjukan teater diukur dari sampai tidaknya pesan lakon kepada penonton. Dinamika percintaan Romeo dan Juliet yang berakhir dengan kematian inilah yang harus ditekankan oleh sutradara kepada penonton. • Pesan Lakon. dalam tahap ini sutradara hanya membaca kehendak pengarang melalui lakonnya. pada bagian mana konflik itu memuncak. Jadi. Dalam proses analisis ini. Apa yang hendak disampaikan oleh pengarang melalui naskah lakon disebut pesan. Akhir cerita yang mengesankan selalu akan dinanti oleh penonton. • Menulis.2. Karena tidak banyak arahan dan keterangan yang dituliskan . Analisis karakter tokoh sangat penting dan harus dilakukan secara mendetil agar sutradara mendapatkan gambaran watak sejelas-jelasnya.1 Analisis Dasar Analisis dasar adalah telaah unsur-unsur pokok yang membentuk lakon. Mengakhiri sebuah persoalan yang dimunculkan tidaklah mudah.2 Analisis Lakon Menganalisis lakon adalah salah satu tugas utama sutradara. dan memahami konflik lakon. Dalam beberapa lakon ada cerita yang diakhiri dengan baik tetapi ada yang diakhiri secara tergesa-gesa. Semua ini akan memberi sudut pandang bagi sutradara dalam melihat. Penting mengetahui dasar persoalan (konflik) dalam sebuah lakon karena hal tersebut akan membawa laku aksi para tokohnya. gunakan dan manfaatkan waktu sebaik mungkin. 3. sutradara akan lebih mudah menerjemahkan kehendak pengarang dalam pertunjukan. Mencari dan mengembangkan gagasan memang tidak mudah. Selain itu sudut pandang pengarang dalam menyelesaikan konflik dapat menegaskan pesan yang hendak disampaikan. • Konflik dan Penyelesaian. Di bagian mana konflik itu muncul dan bagaimana aksi dan reaksi para tokohnya. Oleh karena itu. Oleh karena itu. Setelah semua hal disiapkan maka proses berikutnya adalah menulis. • Karakter Tokoh. sutradara memepelajari seluruh isi lakon dan menangkap gambaran lengkap lakon seperti apa yang tertulis. tetapi lebih tidak mudah lagi memindahkan gagasan dalam bentuk tulisan. sutradara wajib menemukan pesan utama dari lakon yang telah ditentukan. Unsur-unsur pokok yang harus dianalisis oleh sutradara adalah senagai berikut. Pesan ini ingin disampaikan oleh pengarang dengan akhir yang tragis dimana tokoh Romeo dan Juliet akhirnya mati bersama.

atau gedung pertunjukan. Gambaran tempat kejadian. Jika apartemen disimbolkan sebagai pusat kekuasaan maka peristiwa yang terjadi di dalamnya juga harus mengikuti simbolisasi ini sedangkan latar waktunya bisa ditarik ke masa lalu atau masa kini seperti yang dikehendaki oleh sutradara. Cara menyampaikan pesan antara sutradara satu dengan yang lain bisa berbeda . Penyesuaian inipun berkaitan langsung dengan latar waktu dan peristiwa. teras gedung. museum. Di gedung tersebut cerita terjadi di ruang aula. dewan kota. Hal ini berlaku juga untuk latar peristiwa dan waktu. Proses interpretasi biasanya menyangkut unsur latar. atau ciri khas daerah tertentu.2. Akan tetapi sangat mungkin seorang sutradara memiliki gagasan astistik tertentu yang akan ditampilkandalam pementasan setelah menganalisa sebuah lakon. maka sutradara harus menggalinya melalui kalimat-kalimat dialog. Apakah gedung tersebut merupakan gedung pertemuan. Secara artistik. ia hanya sekedar melakukan apa yang dikehendaki oleh lakon apa adanya sesuai dengan hasil analisis. Romeo and Juliet masih aktual dipentaskan sekarang ini. sutradara dapat menafsirkan tempat kejadian secara simbolis. Arsitektur gedung itu apakah menggunakan arsitektur kolonial. Proses ini bisa disebut sebagai proses asimilasi (perpaduan) antara gagasan sutradara dan pengarang. Secara teknis hal ini berkaitan dengan sumber daya yang dimiliki. Misalnya.2 Interpretasi Setelah menganalisis lakon dan mendapatkan informasi lengkap mengenai lakon. sutradara memberi sentuhan dan atau penyesuaian artistik terhadap lakon yang akan dipentaskan. 3. Oleh karena itulah pentas teater dengan lakonlakon yang sudah berusia lama seperti Oedipus. Semua informasi dikumpulkan dan diseleksi untuk kemudian diwujudkan dalam pementasan. peristiwa.mengenai karakter tokoh dalam sebuah lakon. dan karakterisasi. Seorang sutradara sebetulnya boleh tidak melakukan interpretasi terhadap lakon. Hal yang paling menarik mengenai penyampaian pesan kepada penonton adalah caranya. dan waktu kejadian harus diungkapkan dengan jelas karena hal ini berkaitan dengan tata artistik. Oleh karena itu analisis karakter ini harus dilakukan dengan teliti dan hati-hati sehingga setiap perubahan karakter yang dialami oleh tokoh tidak lepas dari pengamatan sutradara. Perjalanan sebuah karakter terkadang tidak mengalami perubahan yang berarti tetapi beberapa tokoh dalam lakon (biasanya protagonis dan antagonis) bisa saja mengalami perubahan. tetapi karena ketersediaan sumber daya yang kurang memadahi maka bentuk penampilan apartemen mewah disesuaikan. artinya. Untuk mewujudkan keadaan peristiwa seperti dikehendaki lakon di atas panggung maka informasi yang jelas mengenai latar cerita harus didapatkan. Misalnya. apartemen mewah disimbolkan sebagai pusat kekuasaan maka tata panggungnya disesuaikan dengan simbolisasi tersebut. Antigone. dalam lakon mengehendaki tempat kejadian di sebuah apartemen yang mewah. gambaran tempat kejadian persitiwa adalah di sebuah gedung maka harus dijelaskan apakah terjadi di sebuah gedung megah. Dengan demikian penonton akan mendapatkan gambaran yang jelas latar cerita yang dimainkan. dapur umum. sederhana atau mewah. • Latar Cerita. Intinya informasi sekecil apapun harus didapatkan. Ketika adaptasi ini dilakukan maka unsur-unsur lain pun seperti tata rias dan busana akan ikut terkait dan mengalami penyesuaian. gaya spanyol. Adaptasi terhadap tempat kejadian peristiwa sering dilakukan oleh sutradara. atau di salah satu ruang khusus. pesan. • Latar. maka sutradara perlu melakukan tafsir atau interpretasi. Misalnya.Berdasarkan hasil analisis. • Pesan.

maka bahasa dialog antaraktor menggunakan bahasa yang puitis. pandangan hidup. Meski tidak secara mendetil. • Pendekatan gaya pementasan. Konvensi atau aturan main sebuah pertunjukan diungkapkan dalam poin ini. Setiap kelahiran gaya baru memiliki keterkaitan atau perlawanan terhadap gaya tertentu (baca bagian sejarah teater). 3.Dengan demikian cara pandang sutradara terhadap keseluruhan lakon pun harus diubah atau mengalami penyesuaian. • Pendekatan pemeranan. Tafsir ulang tokoh tidak hanya sekedar mengubah nama dan menyesuaikan bentuk penampilan fisik. karena menggunakan pendekatan gaya presentasional. Hal ini biasanya berkaitan dengan isu atau topik yang sedang hangat terjadi di masyarakat. Sutradara harus membuat metode tertentu dalam sesi latihan pemeranan untuk mencapai apa yang dinginkan. Secara umum. • Gambaran tata artistik. Dengan demikian pendekatan yang dilakukan tidak salah sasaran. takaran emosi dan cara berpikir. Dengan demikian sutradara harus benarbenar memikirkan cara menyampaikan pesan lakon dengan mempertimbangkan unsur-unsur lakon dan sumber daya yang dimiliki. Aktor boleh berbicara secara langsung kepada penonton. maka metode pemeranan yang dilakukan perlu dituliskan. Masing-masing cara penonjolan pesan ini mempengaruhi unsur-unsur lain dalam pementasan. Jika sutradara mampu. Ada juga sutradara yang menonjolkan laku aksi aktor di atas pentas sehingga adegan dibuat dan dikerjakan secara detil. Seniman teater dunia telah banyak berusaha melahirkan gaya pementasan. sebuah lakon yang tokohtokohnya memiliki latar belakang budaya Eropa hendak diadaptasi ke dalam budaya Indonesia. yaitu cara berbicara. • Karakterisasi. gaya berjalan. Semuanya memliki keterkaitan. Cara menyampaikan pesan ini menjadi titik tafsir lakon yang penting karena pesan inilah inti dari keseluruhan lakon. Misalnya. tetapi juga mental. Metode akting berkaitan dengan pencapaian aktor (standar) sesuai dengan pendekatan gaya pementasannya. Misalnya. Hal ini mempengaruhi bentuk dan gaya penampilan aktor dalam beraksi. Tafsir ulang terhadap tokoh lakon paling sering dilakukan. emosi. Hal ini mempengaruhi hasil pemikiran dan cara mengungkapkan hasil pikiran tersebut. tata krama. dalam budaya Eropa orang bepikir secara bebas sementara orang Indonesia cenderung mempertimbangkan hal-hali lain (tata krama. pranata sosial) di luar hal utama yang dipikirkan. penggunaan bahasa puitis dengan sendirinya membuat aktor harus mau memahami dan melakukan latihan teknik-teknik membaca puisi agar dalam pengucapan dialog tidak seperti percakapan sehari-hari. Oleh karena itu. Untuk menekankan pesan yang dimaksud ada sutradara yang memberi penonjolan pada tata artistik. misalnya. tetapi gambaran tata artisitk berguna bagi para desainer untuk mewujudkannya dalam desain. Banyak hal yang harus dilakukan selain mengganti nama dan penampilan fisik.3 Konsep Pementasan Hasil akhir dari analisis naskah adalah konsep pementasan. dan keseluruhan watak tokoh. Istilah pendekatan di sini digunakan dalam arti sutradara tidak hanya sekedar melaksanakan sebuah gaya secara wantah (utuh) tetapi ada pengembangan atau penyesuaian di dalamnya. hal yang paling bisa adalah mendekatkan gaya pementasan dengan gaya tertentu yang sudah ada.meskipun lakon yang dipentaskan sama. sutradara harus memahami gaya-gaya pementasan. sutradara harus menuliskan gambaran (pandangan) tata artistiknya.Dalam konsep ini sutradara menjelaskan secara lengkap mengenai cara menyampaikan pesan yang berkaitan dengan pendekatan gaya pementasan dan pendekatan pemeranan serta memberikan gambaran global tata artistik. maka ia bisa memberikan gambaran . Untuk itu. Misalnya. Dewasa ini hampir tidak bisa ditemukan gaya pementasan murni yang dihasilkan seorang sutradara atau pemikir teater. Hal ini sangat berguna bagi aktor. Gerak laku aktor distilisasi atau diperindah. Setelah menetapkan pendekatan gaya.. misalnya warna-warna yang digunakan di atas panggung.

ukuran tubuh merupakan harga mati bagi sebuah tokoh. intonasi. Ciri fisik dapat pula dijadikan acuan untuk menentukan pemain.1 Fisik Penampilan fisik seorang pemain dapat dijadikan dasar menentukan tokoh. 3. maka latihan katahanan tubuh dapat diujikan. Tokoh Werkudara (Bima) harus ditokohkan oleh orang yang bertubuh tinggi besar.4 Memilih Pemain Menentukan pemain yang tepat tidaklah mudah. Biasanya. Akan tetapi. Meskipun kekurangan wajah bisa ditutupi dengan tata rias. dalam lakon yang gambaran tokohnya sudah melekat di masyarakat. Dengan memberikan teks bacaan tertentu. 3. Tidak ada gunanya seorang aktor bermain dengan baik jika fisiknya lemah. tokoh Bagong memiliki ukuran tubuh tambun (gemuk). • Ciri Wajah. seorang yang tinggi tapi bungkuk dianggap tepat memainkan tokoh pendeta. • Ciri Tertentu. diksi.2 Kecakapan Menentukan pemain berdasar kecapakan biasanya dilakukan melalui audisi. maka pemain yang dipilih pun harus memiliki tubuh gemuk. Dalam sebuah grup atau sanggar. • Tinggi Tubuh.tata artistik melalui sketsa. • Ukuran Tubuh.. misalnya dalam wayang orang atau ketoprak. Untuk menguji lebih mendalam sutrdara . Dalam kasus tertentu. • Penghayatan. dalam wayang wong. Misalnya. Misalnya. dalam ketoprak. Akan tetapi. dan pelafalan yang baik. Penilaian yang dapat dilakukan adalah penguasan. sutradara dapat menilai kecakapan pemain melalui portofolio tetapi proses audisi tetap penting untuk menilai kecakapan aktor secara langsung. 3. maka pemain harus memiliki ciri wajah yang tampak tolol. Jika tidak. Oleh karena itu pemain harus memiliki kemampuan wicara yang baik. Tidak masuk akal jika Bagong tampil dengan tubuh kurus. Seorang yang memiliki kumis. penentuan pemain berdasar ciri fisik ini menjadi acuan utama. tetapi ciri wajah pemain harus diusahakan semirip mungkin dengan ciri wajah tokoh dalam lakon. Untuk menilai kesiapan tubuh pemain. dan brewok tebal cocok diberi tokoh sebagai warok atau jagoan. harus mampu menyajikannya dengan penuh penghayatan.4. Kemampuan dasar wicara merupakan syarat utama yang lain. • Tubuh. Dalam teater yang menggunakan ekspresi bahasa verbal kejelasan ucapan adalah kunci ketersampaian pesan dialog. Misalnya. sutradara sudah mengetahui karakter pemainpemainnya (anggota). dalam teater modern. Sutradara akan diprotes oleh penonton jika menampilkan Bima bertubuh kurus dan pendek.4. calon aktor dapat dinilai kemampuan dasar wicaranya. Kesiapan tubuh seorang pemain merupakan faktor utama. Grup teater tradisional biasanya memilih pemain sesuai dengan penampilan fisik dengan ciri fisik tokoh lakon. Hal ini juga sama dengan ukuran tubuh. dalam sebuah grup teater sekolah yang pemainnya selalu berganti atau kelompok teater kecil yang membutuhkan banyak pemain lain sutradara harus jeli memilih sesuai kualifikasi yang dinginkan. Meskipun dalam khasanah teater modern. Untuk menilai hal ini. janggut. • Wicara. Dalam sebuah produksi yang membutuhkan latihan rutin dan intens dalam kurun waktu yang lama ketahanan tubuh yang lemah sangatlah tidak menguntungkan. misalnya tokoh-tokoh dalam lakon pewayangan. maka ia cukup menuliskannya. dalam cerita Kabayan. memilih pemain biasanya berdasar kecapakan pemain tersebut. sutradara dapat memberikan penggalan adegan atau dialog karakter untuk diujikan. Calon aktor. karena tidak sesuai dengan karakter dan akan menyalahi laku lakon secara keseluruhan. Menghayati sebuah tokoh berarti mampu menerjemahkan laku aksi karakter tokoh dalam bahasa verbal dan ekspresi tubuh secara bersamaan. Hal ini dianggap dapat mampu melahirkan ekspresi wajah yang natural. Berkaitan langsung dengan penampilan mimik aktor.

Pengembangan yang dilakukan hanyalah persoalan sudut pandang. Kehatihatian dalam memilih bentuk dan gaya bukan saja karena tingkat kesulitan tertentu. teater modern menggunakan naskah lakon sebagai sumber penuturan. yaitu berdasar naskah lakon dan improvisasi. Catatan prestasi dan kemampuan yang dimiliki hendaknya ditulis dalam portofolio sehingga bisa menjadi pertimbangan sutradara. Penting bagi sutradara untuk menentukan dengan tepat bentuk dan gaya pementasan.Dengan mempelajari naskah.5 Menentukan Bentuk dan Gaya Pementasan Bentuk dan gaya pementasan membingkai keseluruhan penampilan pementasan.1 Menurut Penuturan Cerita Ada dua jenis pertunjukan teater menurut penuturan ceritanya. • Fokus permasalahan telah ditentukan. tetapi bisa dipilih sebagai seorang penari latar dalam adegan tertentu. Lakon telah menyediakan gambaran lengkap laku perisitiwa melalui dialog tokoh-tokohnya. Di bawah ini akan dibahas bentuk dan gaya pementasan menurut penuturan cerita. Mungkin dalam sebuah produksi ia tidak memenuhi kriteria sebagai pemain utama. maka konflik dan penyelesaian lakon pasti. perpindahan antaradegan. Teater tradisional biasanya memilih imporivisasi karena semua pemain telah memahami dengan baik cerita yang akan dilakonkan dan karakter tokoh yang akan ditokohkan. Bahkan dalam produksi teater profesional yang semuanya dirancang dengan baik. Sutradara tidak perlu menambah atau mengurangi dialog yang sudah tertulis dalam lakon kecuali punya keinginan mengadaptasinya. Sebaliknya. Hal ini memiliki kelebihan tersendiri. Bentuk dan gaya yang dipilih secara serampangan akan mempengaruhi kualitas penampilan. di antaranya adalah sebagai berikut. Meskipun beberapa kelompok teater modern tertentu memperbolehkan improvisasi (biasanya lakon komedi situasi) tetapi sumber utama dialognya diambil dari naskah lakon. Karena dialog tokoh sudah ditentukan dan tidak boleh ditambah atau dikurangi maka durasi pementasan dapat ditentukan.1. • Konflik dan penyelesaian tidak bekembang. bentuk penyajian. 3. Gambaran ini sangat penting . Untuk itu. tetapi latar belakang pengetahuan dan kemampuan sutradara sangat menentukan. • Arahan dialog sudah ada. dan gaya penyajian. • Gambaran bentuk latar kejadian dapat ditemukan dalam naskah. menyanyi atau bermain musik memiliki nilai lebih. sutradara mudah dalam membuat perencanaan blocking.1 Berdasar Naskah Lakon Mementaskan teater berdasarkan naskah lakon menjadi ciri umum teater modern. Karena tidak ada impovisasi. Tugas aktor adalah menghapalkan dialog tersebut dan mengucapkannya dalam pementasan. Masingmasing memiliki kelebihan dan kekurangan serta membutuhkan kecakapan sutradara dalam bidang tertentu untuk melaksanakannya. Dalam lakon terkadang arahan emosi berkaitan dengan dialog juga dituliskan sehingga sutrdara lebih mudah dalam memantau emosi tokoh yang ditokohkan aktor. seorang calon aktor yang memiliki kemampuan menari. Dengan demikian. 3. Dari serangkaian latihan yang dikerjakan secara rutin dan kontinyu ditambah dengan unsur artistik dan teknis maka lamanya pertunjukan teater berdasar naskah dapat ditetapkan. • Durasi waktu dapat ditentukan dengan pasti. Sutradara menjadi mudah menentukan penekanan permasalahan lakon.5.5. 3. lamanya adegan. arahan laku permainan dari awal sampai akhir dapat ditemukan.juga dapat memberikan penggalan dialog karakter lain dengan muatan emosi yang berbeda. Kemampuan lain selain bermain tokoh terkadang dibutuhkan. • Arahan laku permainan dapat ditemukan dalam naskah. dan tanda keluar-masuk ilustrasi musik atau pencahayaan ditentukan waktunya sehingga setiap detik sangat berharga dan menentukan berhasil tidaknya pertunjukan tersebut. portofolio sangat penting bagi seorang aktor profesional. • Kecakapan lain. Misalnya.

Jika banyak pemain yang bisa melucu maka cerita komedi akan efektif. Jika sumber dana yang kurang maka tim poruduksi harus berusaha keras untuk memenuhi tuntutan tersebut. mereka biasanya menerima pesan tertentu dari penyelenggara. Dengan berkembangnya cerita maka aktor mendapatkan arahan laku lain yang bisa dicobakan. tetapi jika jumlah pemain yang memiliki kemampuan laga banyak. maka kerja sutradara akan semakin keras. • Kreativitas aktor terbatas.bagi sutradara untuk mewujudkannya di atas pentas. • Memungkinkan percampuran bentuk gaya. Beberapa kelebihan pentas teater improvisasi adalah. Sutradara perlu meluangkan waktu untuk melakukannya. Dalam teater improvisasi gaya pementasan juga terbuka. Pesan ini dengan luwes dapat diselipkan dalam lakon. Hal ini perlu dilakukan. Jika sumber daya manusia (aktor) yang kurang. Sutradara dapat mengembangkan cerita dengan bebas dan aktor dapat mengembangkan kemungkinan gayapermainan dengan bebas pula. Setelah konflik ini diselesaikan dengan cara yang khas dan lucu maka cerita kembali ke konflik semula. Cerita yang telah dituliskan oleh pengarang harus ditaati. Jika hendak menyesuaikan dengan ketersediaan sumber daya. konflik dan mengubah cara penyelesaian. Pencampuran gaya ini dimaksudkan untuk memenuhi selera penonton. Terkadang hal ini dapat menimbulkan efek artistik yang alami dan menarik. Misalnya. Di samping kelebihan tersebut di atas. Sutradara hanya menyediakan gambaran cerita selanjutnya aktor yang mengembangkannya dalam permainan. Aktor tidak memiliki kebebasan penuh selain menerjemahkan konsep artistik sutradara. Setuju atau tidak setuju terhadap cerita. maka aktor dapat mengembangkannya. • Kreativitas sutradara dan aktor dapat dikembangkan seoptimal mungkin. Terkadang untuk menyampaikan pesan titipan tersebut konflik minor baru dimunculkan. tetapi karya teater menjadi karya sutradara. Jika memaksakan kehendak harus sesuai dengan gagasan lakon.5. Jika sutradara hendak mengembangkan cerita. Jika ia tetap melakukannya. • Konflik dan sudut pandang penyelesaian bisa dikembangkan. Kemampuan sumber daya ini bisa dijadikan strategi untuk membuat pertunjukan menarik dan . Jika naskah lakon tersebut telah dipublikasikan dalam bentuk buku dan memiliki hak cipta maka sutradara bisa dituntut di muka hukum. maka cerita penuh aksi dapat dijadikan pilihan. Tergantung dari kekurangan sumber daya yang dimiliki. Salah satu kelebihan utama teater improvisasi adalah cerita dan pemeran dapat dibuat berdasarkan sumber daya yang dimiliki. Meskipun secara artistik tidak masalah. Dalam proses latihan terkadang sutradara mendapat inspirasi dari laku aksi pemain demikian pula sebaliknya. Kalaupun hendak melakukan adaptasi atau penyesuaian. 3. Dalam teater tradisional. sutradara harus mengikutinya. • Cerita bisa disesuaikan dengan sumber daya yang dimiliki.2 Improvisasi Mementaskan teater secara improvisasi memiliki keunikan tersendiri. pementasan teater berdasar naskah lakon juga memiliki kekurangan dan problem tersendiri. konflik. Oleh karena tidak ada petunjuk arah laku yang jelas. dan penyelesaian konflik. • Jika sumber daya yang dimiliki tidak sesuai dengan kehendak lakon harus dilakukan adaptasi. ia harus mendapatkan ijin dari penulis naskah lakon. • Arahan laku terbuka. maka sutradara telah melanggar kode etik dan hak karya artistik. Dengan ditentukannya arah laku maka kreativitas aktor di atas panggung menjadi terbatas. • Tidak memungkinkan pengembangan cerita. dalam pertunjukan ketoprak sebuah adegan dilakukan mengikuti kaidah gaya presentasional (adegan Istana).Sifat teater improvisasi yang terbuka memungkinkan pengembangan konflik dan penyelesaian. sutradara telah mendapatkan gambarannya. maka adaptasi lakon harus dilakukan.1. tetapi di adegan lain menggunakan gaya realis (adegan dagelan). maka sutradara memerlukan waktu ekstra untuk membimbing para aktornya.

• Kualitas dialog tidak dapat distandarkan. maka kualitas dialog tidak bisa distandarkan. Di balik semua kelebihan di atas. aktor bisa mengembangkan cerita dan gaya permainan di atas pentas dan sutradara tidak bisa lagi mengarahkan secara langung. Sifat akting adalah aksi dan reaksi. maka panggung sepenuhnya adalah milik aktor. Di samping itu. Karena arahan laku yang terbuka maka reaksi ucapan sering dilakukan spontan dan belum tentu benar. Untuk itu. maka sutradara wajib mempelajari dan memahami langkah-langkah dalam melaksanakannya. • Durasi waktu tidak tertentu. Akibatnya. Sutradara bisa memotong sebuah adegan yang berjalan cukup lama dengan membunyikan tanda agar musik dimainkan dan adegan segera diselesaikan. Jika seorang aktor beraksi. • Improvisasi dialog tidak berimbang. Oleh karena cerita bisa dikembangkan. maka akan membosankan. Oleh karena setiap bentuk penyajian memiliki kekhasan dan membutuhkan prasyarat tertentu yang harus dipenuhi. • Kemungkinan aktor melakukan kesalahan lebih besar. Pesan yang tidak disampaikan secara verbal membutuhkan keahlian tersendiri untuk mengelolanya. 3. maka teori komposisi dan koreografi dasar wajib dimiliki oleh sutradara. maka aktor lawan mainnya harus bereaksi. kesalahan ucap atau penyampaian informasi tertentu bisa saja salah karena memang tidak dicatat dan hanya diingat garis besarnya saja. lakon sebagai pengendali cerita maka dalam teater imrpovisasi aktor harus mampu mengendalikan jalannya cerita.5. Sutrdara harus mampu mengeksplorasi dan menciptakan gerak sesuai dengan makna pesan yang hendak disampaikan. dan terutama musik ilustrasinya.5. meskipun improvisasi. Jika hal ini terjadi cukup lama. Karena sifatnya yang serba terbuka.1 Teater Gerak Teater gerak lebih banyak membutuhkan ekspresi gerak tubuh dan mimik muka daripada wicara. bisa jadi ia memasangkan aktor yang memilliki kemampuan tak berimbang dalam improvisasi. Jika tidak.memiliki ciri khas tertentu. suasana. sutradara akan kerepotan sendiri.2. Aktor mengambil tokoh penuh. Karena bekerja dengan gerak. Kekurangan dari pemotongan adegan ini adalah jika inti dialog (persoalan) belum sempat terucapkan maka inti dialog harus diucapkan pada adegan berikutnya. harus mempertimbangkan makna pesan. 3. . • Sutradara tidak bisa sepenuhnya mengendalikan jalannya pementasan. kemampuan setiap aktor pasti tidak sama. dalam adegan tersebut aktor yang satu terlalu aktif dan yang lain pasif. Sutradara tidak bisa lagi mengendalikan jalannya pertunjukan. Jika pementasan sudah berjalan. Di bawah ini beberapa langkah yang bisa diambil oleh sutradara dalam menggarap teater gerak • Sutradara mampu mengeksplorasi dan menciptakan gerak.Semua tergantung dari improvisasi aktor di atas pentas. Dalam sebuah grup teater. Karena tidak ada arahan dialog yang baku.2 Menurut Bentuk Penyajian Banyaknya pilihan bentuk penyajian pementasan teater membuat sutradara harus jeli dalam menentukannya. tetapi bagi aktor yang kualitas sastranya pas-pasan hal ini menjadi masalah besar. Jika tidak. maka durasi pementasan bisa berubah-ubah. Oleh karena itu. latihan adegan tetap harus sering dilakukan. Penataan gerak tidak bisa dikerjakan dengan serampangan. Bagi aktor yang memiliki kemampuan sastra memadai tidak jadi masalah. maka maknanya akan • kabur. teater improvisasi juga memiliki kekurangan yang patut diperhatikan oleh sutradara. Simbol dan makna yang disampaikan melalui gerak harus dikerjakan dengan teliti. Jika dalam teater berbasis naskah. jika sutradara tidak jeli memahami hal ini. • Memahami komposisi dan koreografi.

Jika jumlah pemain banyak dan harus bergerak secara serempak. • Mengerti musik ilustrasi. Menempatkan pemain dalam posisi dan gerak yang tepat akan membuat pertunjukan semakin menarik. dan perbedaannya harus dimengerti oleh sutradara. Jika lakon yang dimainkan membutuhkan banyak tokoh. Jumlah pemain yang banyak menimbulkan persoalan tersendiri. • Jika pemain sedikit maka motif gerak harus lebih variatif. maka karakter boneka harus benarbenar melekat sehingga pengendali boneka seolah-olah bisa memberikan nafas hidup di dalamnya. Motif gerak yang kaya akan membuat tampilan menjadi variatif dan menyegarkan. Jumlah pemain bisa disiasati dengan menambah perbendaharaan gerak. terutama menyangkut komposisi. seorang pengendali biasanya hanya bisa mengendalikan maksimal dua boneka. Kewajiban sutradara tidak hanya mengatur pemain manusia. maka banyaknya jumlah pemain justru akan memenuhi panggung dan membuat suasana menjadi sesak. Karakter suara harus bisa tampil secara konsisten dari awal hingga akhir pertunjukan. Jika tidak pintar mengelola. Jika gerak terlalu sulit. kapan pemain harus menyesuaikan dengan alunan musik. Karena tokoh diperagakan oleh boneka.2 Teater Boneka Teater boneka memiliki karakter yang khas tergantung jenis boneka yang dimainkan. Banyak jenis boneka dan masing-masing membutuhkan teknik khusus dalam memperagakannya. Tempat pertunjukan teater boneka yang terbatas harus disesuaikan dengan jumlah boneka yang tampil. Memainkan boneka bisa saja dipelajari. maka penampilan boneka yang terlalu banyak juga akan merepotkan para pengendalinya. sutradara harus bisa mewujudkan bahasa verbal dalam simbol gerak. Ekspresi selalu menyangkut penghayatan dan konsentrasi. maka irama rampak gerak yang diharapkan bisa kacau. Ekspresi emosi atau karakter tokoh harus bisa diwujudkan melalui mimik para aktor. 3. • Mewujudkan ekspresi melalui mimik para aktor. pengaturan pemain perlu dilakukan. Boneka dua dimensi seperti wayang kulit memiliki teknik memainkan berbeda dengan boneka tiga dimensi seperti wayang golek. Kapan musik mengikuti gerak pemain. Mengubah bahasa dalam simbol gerak tidaklah mudah.Untuk mendukung rangkaian gerak yang telah diciptakan. • Mewujudkan bahasa dalam simbol gerak. sutradara teater gerak harus mengerti kaidah musik ilustrasi. maka pengaturan blocking harus lebih teliti. • Jika pemain dalam jumlah banyak. Apalagi jika sudah menyangkut makna. tetapi jika komposisi (tata letak) pemainnya tidak berubah akan melahirkan kejenuhan. . Oleh karena itu. Mengisi suara sesuai karakter boneka menjadi prasyarat utama. • Mampu mengisi suara sesuai dengan karakter boneka. Biasanya seorang pemain boneka bisa membuat beberapa karakter suara yang berbeda. kapan musik hadir sebagai latar suasana. Meskipun rangkaian gerak yang dihasilkan sangat indah. • Mampu memainkan boneka dengan baik. Oleh karena keterbatasan bahasa verbal dalam pertunjukan teater gerak. Boneka yang dimainkan dengan hidup akan menarik dan tampak nyata. Di bawah ini beberapa langkah yang bisa dikerjakan oleh sutradara yang hendak mementaskan teater boneka. Selain itu. tetapi juga mengatur permainan boneka. Meskipun tidak bisa memainkan musik. tetapi memberikan ekspresi hidup adalah hal yang lain. • Mampu menghidupkan ekspresi boneka yang dimainkan. Boneka wayang golek memiliki teknik permainan yang berbeda dengan boneka marionette yang dimainkan dengan tali. maka pengaturan adegan harus dikerjakan dengan teliti. • Jika pemain boneka banyak maka harus mampu mengatur adegan agar pergerakan boneka tidak saling mengganggu. maka ekspresi mimik menjadi sangat penting. maka dianjurkan untuk mengkreasi gerak sederhana yang mudah dilakukan.5.2. Sutradara harus bisa memainkan boneka tersebut.

• Memahami tensi dramatik (dinamika lakon). Untuk menghindari hal tersebut sutradara harus benar-benar teliti dalam mengukur tegangan dramatik adegan per adegan dalam lakon. Jika sutradara tidak memahami kejiwaan • karakter tokoh dengan baik maka penilaiannya terhadap kualitas penghayatan aktor pun kurang baik. maka sutradara harus benar-benar jeli dalam menilai setiap aksi para aktor. Langkah pamungkas yang dapat dijadikan patokan adalah menghadirkan pentas seperti sebuah kenyataan hidup. Demikian juga dengan suasana kejadian. Banyak sutradara yang mengadakan semacam pemusatan latihan dalam kurun waktu yang cukup lama dengan tujuan agar para aktornya berada dalam suasana lakon yang akan dipentaskan. Berkaitan dengan karakter tokoh. Untuk mencapai hasil maksimal maka kejelian sutradara dalam mengamati dan . maka pergantian adegan bisa semrawut sehingga para pemain kewalahan. • Mampu membangun kerjasama antarpemain boneka. Jika dianalogikan dengan nilai 1 sampai dengan 10. maka penonton harus dibawa dalam suasana yang suka-ria. semua harus tampak natural. aktor diharuskan berakting tetapi seolah-olah ia tidak berakting melainkan melakukan kenyataan hidup. Hal yang paling sulit dilakukan oleh sutradara adalah membongkar kejiwaan karakter tokoh dan mewujudkannya dalam laku aktor di ataspentas. maka efek dramatik yang diharapkan dari aksi aktor menjadi gagal. sutradara harus dapat menentukan metode yang tepat agar para aktornya dapat memahami. Oleh karena tuntutan pertunjukan teater dramatik yang mensyaratkan laku aksi seperti kisah nyata. Jika tidak ada kerjasama yang baik antarpemain (pengendali boneka). Hasil akhirnya adalah anti klimaks di mana pada adegan yang seharusnya memiliki tensi tinggi justru melemah karena energi para aktornya telah habis. Di sinilah letak kesulitannya. • Membuat penonton terkesima dengan pertunjukan tidaklah mudah. Dalam teater dramatik. Angka tertinggi dari deret tegangan yang harus dicapai oleh aktor adalah 8 atau 9. Oleh karena itu. Beberapa langkah yang dapat dikerjakan oleh sutradara dalam menggarap teater dramatik adalah sebagai berikut. • Memahami sisi kejiwaan karakter tokoh. sehingga ketika dalam adegan tertentu membutuhkan tegangan yang lebih aktor masih bisa mengejarnya. Laku lakon dari awal sampai akhir mengalami dinamika atau ketegangan yang turun naik. Intinya.3 Teater Dramatik Mementaskan teater dramatik membutuhkan kerja keras sutradara terutama terkait dengan akting pemeran.5. Keluar masuknya boneka di atas pentas berkaitan langsung dengan pengendali bonekanya. • Mampu meningkatkan kualitas pemeranan aktor untuk menghayati tokoh secara optimal. Jika demikian. maka aktor akan kesulitan meninggikan tegangan pada saat klimaks. Yang terpenting dan perlu dicatat adalah setiap boneka mempunyai karakter suaranya sendiri. bijaksanalah dalam menentukan tegangan dramatik adegan dan buatlah klimaks yang mengesankan dan penyelesaian yang dramatis. Jika pada bagian awal konflik tegangan terlalu tinggi. Sutradara harus memahami bobot tegangan (tensi) dramatik dalam setiap adegan yang ada pada lakon. tetapi juga menyangkut hal-hal teknis. • Mampu menghadirkan laku cerita seperti sebuah kenyataan hidup. tidak dibuat-buat. pengaturan adegan boneka disesuaikan dengan kemampuan pengendali.2.• Jika pemain sedikit harus memiliki kemampuan mengisi suara dengan karakter yang berbeda. Dalam teater boneka kerjasama antarpemain tidak hanya menyangkut emosi. jika melakonkan cerita yang sedih ukuran keberhasilannya adalah membuat penonton ikut terhanyut sedih. menghayati dan memerankan karakter dengan baik. Jumlah pengendali boneka yang sedikit tidak masalah asal setiap orang mampu menciptakan beberapa karakter suara. Sisi kejiwaan yang menyangkut perasaan karakter tokoh harus dapat ditampilkan senatural mungkin sehingga penonton menganggap hal itu benar-benar nyata terjadi. maka sutradara harus menetapkan tegangan optimal dan minimal. 3. Demikian pula dengan cerita suka-ria.

3. pengiring gerak. dan koreografi.menangani keseluruhan unsur pertunjukan sangat dibutuhkan. maka perpindahan . musik itu sendiri sudah bercerita sehingga pemain atau penari yang berada di atas panggung hanyalah pelengkap gambaran peristiwa. tetapi pada akhirnya sutradara yang memutuskan. Memilih pelaku yang tepat dan membuat komposisi atau koreografi berdasar karya musik yang ada. komposisi. Kejanggalan-kejanggalan kecil yang dirasa kurang masuk akal oleh penonton akan mengurangi kualitas dramatika lakon yang dihadirkan. Lagu dan nyanyian harus bisa ditampilkan secara baik dan harmonis. Jika blocking dibuat terlalu rumit. Makna cerita sepenuhnya dituangkan dalam wujud gerak. gerak. Koreografer bisa saja mencipta gerak. Jika karya drama musikal tersebut berawal dari karya musik murni (musik yang bercerita) seperti The Cats karya Andrew Lloyd Webber. • Mengerti lagu dan nyanyian. Jadi. Pada adegan dimana musik bercerita secara mandiri maka sutradara harus mampu memvisualisasikan cerita tersebut di • atas pentas. tetapi makna dan atau simbolisasi cerita harus benar-benar bisa diwujudkan dalam gerak tarian yang dilakukan. Blocking Sutradara diwajibkan memahami cara mengatur pemain di atas pentas. Artinya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan sutradara dalam drama musikal adalah sebagai berikut. dan ilustrasi suasana kejadian. Dituntut kepiawaian sutradara dalam memilih dan merangkai motif gerak. Tokohan dialog verbal yang digubah dalam bentuk lagu dan diucapkan melalui nyanyian adalah satu hal yang membutuhkan perhatian tersendiri. Teater dramatik adalah teater yang mencoba meniru peristiwa kehidupan secara total dan sempurna. Dalam hal ini musik bertindak sebagai pengiring. tetapi memahami karya musik merupakan keharusan dalam drama musikal. Sutradara tidak harus bisa memainkan musik. sehingga lalulintas aktor di atas panggung berjalan dengan lancar. Secara mendasar blocking adalah gerakan fisik atau proses penataan (pembentukan) sikap tubuh seluruh aktor di atas panggung.2. maka perlu diperhatikan agar blocking yang dibuat tidak terlalu rumit. • Mampu membuat gerak dan ekspresi berdasar karya musik. Ketepatan nada dalam nyanyian serta ekspresi wajah ketika menyanyi juga tidak boleh luput dari pengamatan.4 Drama Musikal Kemampuan multi harus dimiliki oleh seorang sutradara jika hendak mementaskan drama musikal. Meskipun sutradara bekerja dengan seorang koreografer. Blocking dapat diartikan sebagai aturan berpindah tempat dari titik (area) satu ke titik (area) yang lainnya bagi aktor di atas panggung. • demikian pula sebaliknya. Ekspresi cerita melalui nada-nada musik harus benar-benar bisa divisualisasikan dengan tepat. Sutradara harus mampu memecahkan masalah dasar tersebut. lagu. maka sutradara harus mampu menciptkan koreografinya. • Mengerti karya musik dramatik. maka sutradara harus benar-benar piawai dalam mengolah visualisasinya di atas pentas. Banyak penyanyi yang memiliki suara baik tetapi ekspresinya datar. 3.5. Kepiawaian sutradara dalam menentukan kegunaan karya musik yang satu dengan yang lain benarbenar dibutuhkan. tokoh musik bisa menjadi pengiring lagu yang bercerita. Bukan hanya akting tetapi juga blocking. Bahasa ungkap yang beragam antara bahasa verbal.6. • Mampu membuat gerak. dan musikal harus dirangkai secara harmonis untuk mencapai hasil maksimal. Dalam satu adegan saat cerita diungkapkan melalui gerak. Pada adegan lain. Tokohan musik sangat doniman dalam drama musikal bahkan musik bisa hadir secara mandiri untuk menceritakan sesuatu. Untuk mendapatkan hasil yang baik. hindarilah kesalahan atau hal yang tidak lumrah dan berada di luar jangkauan nalar penonton.

perlu diketahui terlebih dahulu pembagian area panggung. Jika blocking dikerjakan dengan baik. Kanan adalah kanan pemain dan bukan kanan penonton dan kiri adalah kiri pemain. dan atas kiri. bawah kanan tengah. bawah tengah. Fungsi blocking secara mendasar adalah sebagai berikut. .6. • Memberikan pondasi yang praktis bagi aktor untuk membangun karakter dalam pertunjukan. atas kanan tengah. DC = Bawah Tengah. bawah kiri. blocking dapat mempertegas isi kalimat tersebut. atas kanan. tengah kanan. bawah kanan. maka karakter tokoh yang dimainkan oleh para aktor akan tampak lebih hidup.dari satu aksi menuju aksi yang lain menjadi kabur. yaitu tengah. atas kiri tengah. bawah tengah. DR = Bawah Kanan. Letak kanan dan kiri atau atas dan bawah ditentukan berdasar pada arah hadap aktor ke penonton. • Menciptakan lukisan panggung yang baik. Secara sederhana dan umum panggung dibagi sembilan area. Pembagian sembilan area juga memudahkan sutradara dalam memberikan arah gerak kepada para aktornya. bawah kiri. Panggung pertunjukan secara kompleks dibagi dalam lima belas area. tengah kiri. Di samping itu. maka luas masing-masing area akan terlalu sempit sehingga tidak memungkinkan sebuah pergerakan yang leluasa baik untuk pemain maupun perabot. atas tengah. yaitu tengah. tengah kiri. DL = Bawah Kiri Untuk membuat atau merencanakan blocking bagi para pemain. kanan. 3. tengah kanan. RC = Tengah Kanan. atas tengah. bawah kanan. C = Tengah. sedangkan kanan adalah posisi kanan arah hadap aktor atau sisi kiri penonton.52 Pembagian sembilan area panggung UR = Atas Kanan. Yang terpenting dalam hal ini adalah fokus atau penekanan bagian yang akan ditampilkan. kalimat yang diucapkan oleh aktor menjadi lebih mudah dipahami oleh penonton. Panggung yang tidak terlalu luas jika dibagi menjadi lima belas area. UC = Atas Tengah. Atas adalah jarak terjauh dari penonton. Dengan blocking yang tepat. kiri. • Menerjemahkan naskah lakon ke dalam sikap tubuh aktor sehingga penonton dapat melihat dan mengerti. sedangkan bawah adalah jarak terdekat dengan penonton. bawah kiri tengah. atas kanan.1 Pembagian Area Panggung UR UC UL RC C LC DR DC DL Gb. LC = Tengah Kiri. Pembagian panggung dalam lima belas area ini biasanya digunakan untuk panggung yang berukuran besar. dan atas kiri. UL = Atas Kiri.

3.6.2 Asimetris Komposisi asimetris tidak membagi pemain dalam dua bagian yang sama persis. • Jika pemain hendak melangkah. Pengaturan posisi pemain seperti ini dilakukan agar semua pemain di atas pentas dapat dilihat dengan jelas oleh penonton. Menghadap lurus ke arah penonton akan memberikan efek datar dan kurang memberikan dimensi kepada pemain. pengaturan blocking harus mempertimbangkan pusat perhatian (fokus) penonton. Hal ini diperlukan untuk memenuhi ruang dan menghindari komposisi aktor yang berat sebelah. lebih mengatur posisi. dan tinggirendah pemain dalam keadaan diam (statis). karakter.2 Komposisi Komposisi dapat diartikan sebagai pengaturan atau penyusunan pemain di atas pentas.3. hal yang paling utama untuk diperhatikan sutradara adalah perhatian penonton.3 Keseimbangan Dalam menata komposisi pemain di atas pentas hal yang paling penting untuk diperhatikan adalah keseimbangan. Jika digambarkan komposisi ini mirip cermin. Sekilas komposisi mirip dengan blocking. Hal ini dapat dikerjakan dengan menempatkan pemain dalam posisi dan situasi tertentu sehingga ia lebih menonjol atau lebih kuat dari yang lainnya. arah laku.6. Oleh karena itu. tetapi membagi pemain dalam dua bagian atau lebih dengan tujuan memberi penonjolan (penekanan) bagian tertentu. 3. maka hal ini akan menimbulkan pemandangan yang kurang menarik dan jika hal ini berlangsung lama.6. Hal ini menjadikan gerak pemain kurang terlihat dengan jelas.1 Simetris Komposisi simetris adalah komposisi yang membagi pemain dalam dua bagian dan menempatkan bagian-bagian tersebut dalam posisi yang benar-benar sama dan seimbang. 3. Keseimbangan adalah pengaturan atau pengelompokan aktor di atas pentas yang ditata sedemikian rupa sehingga tidak menghasilkan ketimpangan. Dengan menghadap secara diagonal. prinsip-prinsip dasar di bawah ini dapat digunakan sebagai petunjuk dalam menempatkan posisi dan mengatur pose pemain.6. 3. Bedanya. perpindahan pemain serta perubahan posisi pemain dapat disebut blocking.2. maka awali dan akhiri langkah tersebut dengan kaki panggung atas (yang jauh dari mata penonton). Setiap aktivitas. yaitu komposisi simetris dan komposisi asimetris yang ditata dengan mempertimbangkan keseimbangan.3 Fokus Dalam mengatur blocking.2. pose. Sedangkan komposisi. Bagian yang satu merupakan cerminan bagian yang lain. perubahan ekspresi dan aksi di atas pentas harus dapat ditangkap mata penonton dengan jelas. Usahakan pemain menghadap diagonal (kurang lebih 45 derajat) ke arah penonton.1 Prinsip Dasar Pada dasarnya fokus adalah membuat pemain menjadi terlihat jelas oleh mata penonton. • Kurangilah menempatkan pemain dalam posisi menghadap lurus ke arah penonton atau menyamping penuh. maka kaki yang jauh akan tertutup dan wajah pemain secara otomatis akan menjauh dari mata penonton. Jika salah satu ruang dibiarkan kosong sementara ruang yang lain terisi penuh. Jika melangkah dengan kaki panggung bawah (yang dekat dari mata penonton). Oleh karena itu.3. maka penonton akan menjadi jenuh. blocking memiliki arti yang lebih luas karena setiap gerak.2. maka dimensi dan keutuhan tubuh pemain akan dilihat dengan jelas oleh mata penonton. sedangkan menyamping penuh akan menyembunyikan bagian tubuh yang lain.6. Ada dua ragam komposisi pemain. • Gunakan lengan atau tangan panggung atas (yang jauh dari mata penonton) untuk menunjuk ke . Di bawah ini adalah contoh komposisi simetris.6. 3.

dan latihan pendinginan. Hal ini mempertegas laku aksi yang sedang dikerjakan. karena hal ini akan menutupi suara dan pandangan penonton. 4. Penghitungan dilakukan selama enam detik dan hasilnya dikalikan sepuluh. atau penghitungan dilakukan selama sepuluh detik dan hasilnya dikalikan enam. SENI BERPERAN DALAM TEATER Teater Koma : Mengapa Leonardo Aktor merupakan manusia yang mengorbankan dirinya untuk menjadi orang lain. yaitu dengan menghitung denyut nadi yang ada di leher atau denyut nadi yang ada di pergelangan tangan dalam. yaitu dengan meletakkan jari tengah di atas pergelangan tangan dalam segaris dengan ibu jari atau jari jempol.1 Persiapan Sebelum melakukan latihan harus memperhatikan denyut nadi. • Pemanasan • Latihan ketahanan • Latihan Kelenturan • Latihan ketangkasan . yaitu latihan pemanasan. Jika tangan yang digunakan adalah tangan yang tidak menganggu pandangan penonton. usahakan untuk berbicara kepada penonton atau kepada aktor lain yang berada di atas panggung. Membagi arah pandangan ini sangat penting untuk menegaskan dan memberi kejelasan ekspresi karakter kepada penonton.arah panggung atas dan gunakan lengan atau tangan panggung bawah (yang dekat dengan mata penonton) untuk menunjuk ke panggung bawah.1. Jika yang dilakukan sebaliknya. Latihan inti.1 Latihan Olah Tubuh Latihan olah tubuh melatih kesadaran tubuh dan cara mendayagunakan tubuh. maka gerak laku aktor dalam menggunakan telepon akan kelihatan. Latihanlatihan olah tubuh dapat dilakukan dengan tahap-tahap sebagai berikut. Latihan pendinginan atau peredaan (warm-down). Olah tubuh dilakukan dalam tiga tahap. yaitu serial pendek gerakan tubuh untuk mengembalikan kesegaran tubuh setelah menjalani latihan inti. maka gerakan lengan dan tangan akan menutupi bagian tubuh lain. latihan inti. Mengetahui denyut nadi sebelum latihan fisik dianjurkan karena berhubungan dengan kerja jantung. 4. • Jangan pernah memegang benda atau piranti tangan di depan wajah ketika sedang berbicara. Karena itu dia harus mempersiapkan dirinya secara utuh penuh baik fisik maupun psikis. Untuk itu seorang pemeran harus menjaga kelenturan peralatan tubuhnya. yaitu serial pokok dari inti gerakan yang akan dilatihkan. Selebihnya. yaitu serial latihan gerakan tubuh untuk meningkatkan sirkulasi dan meregangkan otot dengan cara bertahap. Penghitungan denyut nadi yang ada dipergelangan tangan lebih dianjurkan untuk menghasilkan perhitungan yang tepat. Selama menghitung denyut nadi mata selalu melihat jam (jam tangan maupun jam dinding yang ada di dalam ruangan). Latihan pemanasan (warm-up). • Usahakan agar para aktor saling menatap (berkontak mata) pada saat mengawali dan mengakhiri dialog (percakapan). Cara penghitungan denyut nada yang ada di pergelangan tangan. Cara untuk menghitung denyut nadi.

Selanjutnya. dan cepat lambatnya sesuai dengan situasi dan kondisi emosi. menunjukkan maksud memuji atau sebenarnya ingin mengatakan. suara dan bunyi itu sama. dalam konvensi dunia teater kedua istilah tersebut dibedakan. Suara merupakan unsur yang harus diperhatikan oleh seseorang yang akan mempelajari teater. yaitu hasil getaran udara yang datang dan menyentuh selaput gendang telinga. Kegiatan mengucapkan dialog ini menjadi sifat teater yang khas. dalam situasi tertentu tidak mampu mengungkapkan maksud yang sebenarnya. Prosesnya. Kata-kata yang membawa informasi yang bermakna. Unsur dasar bahasa lisan adalah suara. Misalnya. Pemilihan kata-kata memiliki tokohan dalam aturan yang dikenal dengan istilah diksi. Seorang pemeran dalam pementasan teater menggunakan dua bahasa. Maksud tersembunyi seperti itu disebut subtext. Makna katakata dipengaruhi oleh nada. tinggi rendahnya. dalam arti tidak dibarengi dengan bahasa verbal. ”. “Yah. Akan tetapi. Suara adalah lambang komunikasi yang dijadikan media untuk mengungkapkan rasa dan buah pikiran.. Dalam kenyataannya. Banyak lagi contoh yang menunjukkan tentang makna suara. suara dijadikan kata dan kata-kata disusun menjadi frasa serta kalimat yang semuanya dimanfaatkan dengan aturan tertentu yang disebut gramatika atau paramasastra. karena digunakan sebagai bahan komunikasi yang berwujud dialog. nada suara yang terlontarkan. Misalnya. “kamu belum bisa apaapa”. Bahasa tubuh bisa berdiri sendiri. Dialog yang diucapkan oleh seorang pemeran mempunyai tokohan yang sangat penting dalam pementasan naskah drama atau teks lakon. Maka. maka nilai yang terkandung tidak dapat dikomunikasikan kepada penonton.• Latihan pendinginan • Latihan relaksasi 4. sehingga secara tidak sadar mengungkapkan sesuatu yang sebenarnya tidak dikehendaki. Suara merupakan produk manusia untuk membentuk katakata. sedangkan bunyi merupakan produk benda-benda.2 OLAH SUARA Suara adalah unsur penting dalam kegiatan seni teater yang menyangkut segi auditif atau sesuatu yang berhubungan dengan pendengaran. Hal ini . suara mempunyai tokohan penting. Hal ini disebabkan karena dalam dialog banyak terdapat nilai-nilai yang bermakna. Dalam kegiatan teater. kalimat. Dialog merupakan salah satu daya tarik dalam membina konflik-konflik dramatik. Jika lontaran dialog tidak sesuai sebagaimana mestinya. yaitu bahasa tubuh dan bahasa verbal yang berupa dialog. Akan tetapi. suara tidak hanya dilontarkan begitu saja tetapi dilihat dari keras lembutnya. Itulah yang disebut intonasi. Suara dihasilkan oleh proses mengencang dan mengendornya pita suara sehingga udara yang lewat berubah menjadi bunyi. memang. bisa juga bahasa tubuh sebagai penguat bahasa verbal. kamu sekarang sudah hebat….

Ada beberapa hal yang perlu diketahui oleh seorang pemeran tentang fungsi ucapan. Pemanasan c. Intonasi m.merupakan kesalahan fatal bagi seorang pemeran. Memuat informasi tentang sifat dan perasaan tokoh. Dengan demikian. Dalam menghayatai karakter tokoh. Tugas yang lain adalah memberikan reaksi. Seorang pemeran yang hanya melakukan aksi berarti baru mengerjakan separuh dari tugasnya. Tempo o. d. Ekspresi yang disampaikan melalui nada suara membentuk satu pemaknaan berkaitan dengan kalimat dialog. Senam Lidah e. Memberi arti khusus pada kata-kata tertentu melalui modulasi suara. Bersenandung j. kekuatan. Latihan Tenggorokan g. b. tetapi juga harus memberikan respon terhadap ekspresi tokoh lain. Proses pengucapan dialog mempengaruhi ketersampaian pesan yang hendak dikomunikasikan kepada penonton. latihan-latihan yang mendukung kepekaan rasa perlu dilakukan. Jeda n. Latihan-latihan untuk melenturkan peralatan suara dapat dilakukan menggunakan tahap-tahap sebagai berikut. Ditutup dengan relaksasi 4. a. latihan olah rasa tidak hanya berfungsi untuk . misalnya: umur. Mengendalikan perasaan penonton seperti yang dilakukan oleh musik. Jika pemeran melontarkan dialognya hanya sekedar hasil hafalan saja. semua emosi tokoh yang ditokohkan harus mampu diwujudkan. Terlebih dalam konteks aksi dan reaksi. e.3 OLAH RASA Pemeran teater membutuhkan kepekaan rasa. Oleh karena itu. Latihan Pernafasan k. yaitu sebagai berikut. Senam Rahang Bawah f. marah. putus asa. Latihan Kejelasa Diksi l. Padahal akting adalah kerja aksi dan reaksi. Senam Wajah d. Seorang pemeran tidak hanya memikirkan ekspresi karakter tokoh yang ditokohkan saja. c. Ketika pemeran mengucapkan dialog harus mempertimbangkan pikiranpikiran penulis. Nada p. Melengkapi variasi. dan sebagainya. Persiapan b. Ucapan yang dilontarkan oleh pemeran bertujuan untuk menyalurkan kata dari teks lakon kepada penonton. kegembiraan. maka dia mencabut makna yang ada dalam kata-kata. Berbisik h. Bergumam i. a. Wicara q. Banyak pemeran yang hanya mementingkan ekspresi yang ditokohkan sehingga dalam benaknya hanya melakukan aksi. kedudukan sosial.

akan diketahui tanda kebohongan atau tanda-tanda kebosanan pada proses komunikasi yang sedang berlangsung. gesture harus disadari dan diciptakan sebagai penguat komunikasi dengan bahasa verbal. Jadi bahasa tubuh harus dipahami oleh pemeran sebagai pendukung bahasa verbal. Bahasa tubuh semacam respon atau impuls dalam batin seseorang yang keluar tanpa disadari. 4.3. Ada juga yang mengatakan bahwa gesture adalah bentuk komunikasi non verbal yang diciptakan oleh bagian-bagian tubuh yang dapat dikombinasikan dengan bahasa verbal. Seorang pemeran harus memahami bahasa tubuh. gesture tidak dapat menggantikan bahasa verbal sepenuhnya. bagi orangtokohcis artinya nol. Ada korelasi yang sangat dekat antara pikiran dan tubuh.1 Konsentrasi Pengertian konsentrasi secara harfiah adalah pemusatan pikiran atau perhatian. Manfaat mempelajari dan melatih gesture adalah mengerti apa yang tidak terkatakan dan yang ada dalam pikiran lawan bicara. Bahasa ini mendukung dan berpengaruh dalam proses komunikasi.3. tetapi bagi orang Amerika artinya bagus. yaitu tokoh yang dimainkan. bagi orang Yunani berarti penghinaan. makin tinggi kesanggupan memusatkan perhatian. Makin menarik pusat perhatian. Macam-macam gesture yang dapat dipahami orang lain adalah gesture dengan tangan. Selain itu. Bahasa tubuh dilakukan oleh seseorang terkadang tanpa disadari dan keluar mendahului bahasa verbal. Tujuan dari konsentrasi ini adalah untuk mencapai kondisi kontrol mental maupun fisik di atas panggung. Dengan konsentrasi pemeran akan dapat mengubah dirinya menjadi orang lain. orang India. Akan tetapi. baik bahasa tubuh budaya sendiri maupun bahasa tubuh budaya lainnya. Dunia tidak nyata yang diciptakan seorang penulis lakon dan diwujudkan oleh pekerja teater. mengangguk tandanya tidak setuju sedangkan mengeleng artinya setuju. Sifat bahasa tubuh adalah tidak universal. Latihan olah rasa dimulai dari konsentrasi. dengan mempelajari bahasa tubuh. Jika berlawanan dengan bahasa verbal akan mengurangi kekuatan komunikasi. Misalnya. Kekuatan pemeran untuk mewujudkan dunia rekaan ini hanya bias dilakukan dengan kekuatan daya konsentrasi. Tangan mengacung dengan jari telunjuk dan jempol membentuk lingkaran. Pusat perhatian seorang pemeran adalah sukma atau jiwa tokoh atau karakter yang akan dimainkan. Hal ini berlawanan dengan bangsa-bangsa lain. Latihan gesture dapat digunakan untuk mempelajari dan melahirkan bahasa tubuh. gesture . Dunia ini harus diwujudkan menjadi sesuatu yang seolah-olah nyata dan dapat dinikmati serta menyakinkan penonton. Dunia teater adalah dunia imajiner atau dunia rekaan. Sedang beberapa orang menggunakan gesture sebagai tambahan dalam katakata ketika melakukan proses komunikasi.2 Gesture Gesture adalah sikap atau pose tubuh pemeran yang mengandung makna. cenderung dapat merusak proses pemeranan. sedangkan kalau selaras dengan bahasa verbal akan menguatkan proses komunikasi. 4. Seorang pemeran harus dapat mengontrol tubuhnya setiap saat. Pemakaian gesture ini mengajak seseorang untuk menampilkan variasi bahasa atau bermacam-macam cara mengungkapkan perasaan dan pemikiran. Maka. tetapi juga perasaan terhadap karakter lawan main. Kalau pemeran dengan tingkat konsentrasi yang rendah maka dia tidak akan dapat menyakinkan penonton. Langkah awal yang perlu diperhatikan adalah mengasah kesadaran dan mampu menggunakan tubuhnya dengan efisien. Sebagai seorang pemeran. konsentrasi menjadi sesuatu hal yang penting untuk pemeran.meningkatkan kepekaan rasa dalam diri sendiri. Segala sesuatu yang mengalihkan perhatian seorang pemeran. mempelajari gesture. dan imajinasi. Misalnya seorang pemeran melihat sesuatu yang menjijikan (meskipun sesuatu itu tidak ada di atas pentas) maka ia harus menyakinkan kepada penonton bahwa sesuatu yang dilihat benarbenar menjijikkan.

Misalnya. dimana gambaran tersebut tidak pernah dialami sebelumnya. Bahasa tubuh dengan kepala dan wajah adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh posisi kepala maupun ekspresi wajah. 4.1. Bahasa tubuh atau gesture dengan tangan adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh posisi maupun gerak kedua tangan. Untuk membangkitkan imajinasi tokoh gunakan pertanyaan. maka pikiran dipaksa untuk menjawab pertanyaan tersebut.1 Mempelajari Panggung Dalam sejarah perkembangannya. Sedangkan bahasa tubuh dengan kaki adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh posisi dan bagaimana meletakkan kaki. Bahasa tubuh dengan tubuh adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh pose atau sikap tubuh seseorang. membutuhkan tata letak perabot yang dapat enak . Penataan panggung disesuaikan dengan tuntutan cerita. SENI RUPA DALAM TEATER 5. Imajinasi tidak akan muncul jika direnungkan tanpa suatu objek yang menarik. dimana. kehendak artistik sutradara. gesture dengan kepala dan wajah. • Imajinasi tidak bisa dipaksa. maka akan memunculkan gambaran pengandaiannya. Hal-hal yang perlu diketahui ketika berlatih imajinasi. tetapi harus dengan pikiran yang aktif. sedangkan fantasi membuat hal-hal yang tidak ada. dan jangan menggambarkan suatu objek yang tidak pasti (perkiraan). Dengan berpikir. dan apa. seorang pemeran juga harus berimajinasi tentang pengalaman hidup tokoh yang akan dimainkan. dan tidak akan pernah ada. tidak pernah ada. Bahasa tubuh yang tercipta oleh kedua tangan merupakan bahasa tubuh yang paling banyak jenisnya. maka akan terjadi proses imajinasi.3. Belajar imajinasi harus menggunakan plot yang logis. tetapi harus dibujuk untuk bisa digunakan. seni teater memiliki berbagai macam jenis panggung yang dijadikan tempat pementasan. Dengan stimulus pertanyaanpertanyaan atau menggunakan stimulus ”seandainya”. • Pikiran bisa disuruh untuk mempertanyakan segala sesuatu. siapa. Misalnya. Tidak hanya sekedar dekorasi (hiasan) semata. • Imajinasi tidak akan muncul dengan pikiran yang pasif.3 Imajinasi Imajinasi adalah proses pembentukan gambaran-gambaran baru dalam pikiran. Gambaran tempat kejadian lakon diwujudkan oleh tata panggung dalam pementasan. sebelum melaksanakan penataan panggung seorang penata panggung perlu mempelajari panggung pertunjukan. • Imajinasi menciptakan hal-hal yang mungkin ada atau mungkin terjadi. Bentuk panggung yang berbeda memiliki prinsip artistik yang berbeda. Latihan imajinasi bagi pemeran berfungsi mengidentifikasi tokoh yang akan dimainkan. dalam panggung yang penontonnya melingkar. Melatih imajinasi sama dengan memperkerjakan pikiran-pikiran untuk terus berpikir. Usaha menjawab pertanyaan itu akan membawa pikiran untuk mengimajinasikan sosok Hamlet. TATA PANGGUNG Tata panggung disebut juga dengan istilah scenery (tata dekorasi). Belajar imajinasi dapat menggunakan fungsi ”jika” atau dalam istilah metode pemeranan Stanislavski disebut magic-if. Oleh karena itu. dan panggung tempat pementasan dilaksanakan.1.dengan badan. tetapi segala tata letak perabot atau piranti yang akan digunakan oleh aktor disediakan oleh penata panggung. “siapakah Hamlet itu?”. Objek berfungsi untuk menstimulasi atau merangsang pikiran. Perbedaan jenis panggung ini dipengaruhi oleh tempat dan zaman dimana teater itu berada serta gaya pementasan yang dilakukan. Baik hal yang logis maupun yang tidak logis. dan gesture dengan kaki. Selain itu. 5.

5. Untuk memperoleh hasil terbaik. Karena jaraknya yang dekat. Jika bentuk ukiran yang ditampilkan tidak nampak sempurna – berbeda satu dengan yang lain – maka penonton akan dengan mudah melihatnya. ukuran. Dengan memahami bentuk dari masingmasing panggung inilah. Panggung arena biasanya dibuat secara terbuka (tanpa atap) dan tertutup.2. di atas panggung diletakkan kursi dan meja berukir. Beberapa pengembangan desain dari teater arena melingkar dilakukan sehingga bentuk teater arena menjadi bermacammacam. Di atas panggung inilah semua laku lakon disajikan dengan maksud agar penonton menangkap maksud cerita yang ditampilkan.1.2. sutradara. penata panggung dapat merancangkan karyanya berdasar lakon yang akan disajikan dengan baik. Agar semua pemain dapat terlihat dari setiap sisi maka penggunaan set dekor berupa bangunan tertutup vertikal tidak diperbolehkan karena dapat menghalangi pandangan penonton. dan panggung arena. Hal ini mempengaruhi nilai artistik pementasan. Segala perabot yang digunakan dalam panggung arena harus benar-benar dipertimbangkan dan dicermati secara hati-hati baik bentuk. salah satunya adalah penggunaan panggung arena. Inti dari pangung arena baik terbuka atau tertutup adalah mendekatkan penonton dengan pemain. detil perabot yang diletakkan di atas panggung harus benar-benar sempurna sebab jika tidak maka cacat sedikit saja akan nampak. 5.1 Arena Teater Arena Panggung arena adalah panggung yang penontonnya melingkar atau duduk mengelilingi panggung.1. Seperti telah disebutkan di atas bahwa banyak sekali jenis panggung tetapi dewasa ini hanya tiga jenis panggung yang sering digunakan. Misalnya. dan penempatannya. panggun arena sering menjadi pilihan utama bagi teater tradisional.1. Jenis-jenis Panggung Panggung adalah tempat berlangsungnya sebuah pertunjukan dimana interaksi antara kerja penulis lakon. maka penata panggung dituntut kreativitasnya untuk mewujudkan set dekor. panggung thrust. Berbeda dengan panggung yang penontonnya hanya satu arah dari depan. Karena bentuknya yang dikelilingi oleh penonton. Kedekatan jarak ini membawa konsekuensi artistik tersendiri baik bagi pemain dan (terutama) tata panggung. Lepas dari kesulitan yang dihadapi. Penonton sangat dekat sekali dengan pemain.2. dan aktor ditampilkan di hadapan penonton.2 Proscenium Panggung proscenium bisa juga disebut sebagai panggung bingkai karena penonton menyaksikan . Aspek kedekatan inilah yang dieksplorasi untuk menimbulkan daya tarik penonton. Ketiganya adalah panggung proscenium. 5. Kedekatan jarak antara pemain dan penonton dimanfaatkan untuk melakukan komunikasi langsung di tengah-tengah pementasan yang menjadi ciri khas teater tersebut.dilihat dari setiap sisi. Banyak usaha yang dilakukan untuk mendekatkan pertunjukan dengan penonton. Semua ditata agar enak dipandang dari berbagai sisi. penata panggung diharuskan memahami karakter jenis panggung yang akan digunakan serta bagian-bagian panggung tersebut. Kemungkinan berkomunikasi secara langsung atau bahkan bermain di tengah-tengah penonton ini menjadi tantangan kreatif bagi teater modern. Untuk menyampaikan maksud tersebut pekerja teater mengolah dan menata panggung sedemikian rupa untuk mencapai maksud yang dinginkan.

Dalam pembuatan desain gambar tata panggung yang terpenting adalah cara mengatur. lokasi kejadian. terutama pada panggung arena dimana lukisan dekor atau bentuk bangunan vertikal tertutup seperti dinding atau kamar (karena akan menghalangi pandangan sebagian penonton) tidak memungkinkan diletakkan di atas panggung. Sebelum menjelaskan semua itu.4 Elemen Komposisi Desain tata panggung sebaiknya dibuat dengan mudah dan bebas. bingkai proscenium menjadi batas tepinya. Penyuntingan atau pengolahan bisa dilakukan setelah gagasan tertuang. imajinasi dapat dituangkan sepenuhnya ke dalam gambar desain tanpa lebih dulu berpikir tentang kemungkinan visualisasinya. Panggung proscenium sudah lama digunakan dalam dunia teater. Semua yang ada di atas panggung dapat disajikan secara sempurna seolah-olah gambar nyata. Pesona inilah yang membuat penggunaan panggung proscenium bertahan sampai sekarang. Pembelajaran tata panggung untuk menciptakan ilusi (tipuan) imajinatif sangat dimungkinkan dalam panggung proscenium. status karakter peran. Intinya semua yang di atas panggung dapat diciptakan untuk mengelabui pandangan penonton dan mengarahkan mereka pada pemikiran bahwa apa yang terjadi di atas pentas adalah kenyataan. Tata cahaya yang memproduksi sinar dapat dihadirkan dengan tanpa terlihat oleh penonton dimana posisi lampu berada. Tata perabot kemudian menjadi unsur pokok pada tata panggung arena. Pemikiran lain di luar desain akan menghambat imajinasi dan akhrinya memberikan batasan. Aktor dapat bermain dengan leluasa seolah-olah tidak ada penonton yang hadir melihatnya. Penonton disuguhi gambaran melalui bingkai tersebut. penata panggung juga bertanggungjawab terhadap segala perabot yang digunakan. Unsurunsur ini ditata sedemikian rupa sehingga bisa memberikan gambaran lengkap yang berfungsi untuk menjelaskan suasana dan semangat lakon. Seperti sebuah lukisan. Kesan inilah yang diolah penata panggung untuk mewujudkan kreasinya di atas panggung proscenium. 5. Artinya.3 Fungsi Tata Panggung Dalam perancangan tata panggung selain mempertimbangkan jenis panggung yang akan digunakan ada beberapa elemen komposisi yang perlu diperhatikan. Jarak antara penonton dan panggung adalah jarak yang dapat dimanfaatkan untuk menciptakan gambaran kreatif pemangungan. Bentangan jarak dapat menciptakan bayangan arstisitk tersendiri yang mampu menghadirkan kesan.aksi aktor dalam lakon melalui sebuah bingkai atau lengkung proscenium (proscenium arch). Pemisahan ini dapat membantu efek artistik yang dinginkan terutama dalam gaya realisme yang menghendaki lakon seolah-olah benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata. Perabot dan piranti sangat penting dalam mencipta lukisan panggung. Bingkai yang dipasangi layar atau gorden inilah yang memisahkan wilayah akting pemain dengan penonton yang menyaksikan pertunjukan dari satu arah (Gb. Procenium Stage Tata panggung pun sangat diuntungkan dengan adanya jarak dan pandangan satu arah dari penonton. 5.276). dan musim dalam tahun dimana lakon dilangsungkan.1. fungsi tata panggung perlu dibahas terlebih dahulu. Dengan pemisahan ini maka pergantian tata panggung dapat dilakukan tanpa sepengetahuan penonton. . Gambar dekorasi dan perabot tidak begitu menuntut kejelasan detil sampai hal-hal terkecil. Jarak yang sengaja diciptakan untuk memisahkan pemain dan penonton ini dapat digunakan untuk menyajikan cerita seperti apa adanya. Perspektif dapat ditampilkan dengan memanfaatkan kedalaman panggung (luas panggung ke belakang). periode sejarah lakon. Hampir semua sekolah teater memiliki jenis panggung proscenium. Selain merencanakan gambar dekor. Karena keseluruhan objek yang ada di atas panggung dan digunakan oleh aktor membentuk satu lukisan secara menyeluruh. dan memanipulasi elemen komposisi yang menjadi dasar dari seluruh kerja desain. menata.1.

Jika semua objek diterangi dengan intensitas yang sama maka gambar yang akan tertangkap oleh mata penonton menjadi datar. pemilihan. Inilah gambaran suasana dan emosi yang dapat dimunculkan oleh tata cahaya. Tata cahaya mampu menghadirkan suasana yang dikehendaki oleh lakon. Sejak ditemukannya teknologi pencahayaan panggung. penonton secara normal dapat melihat seluruh area panggung.2. • Dimensi. Sinar mentari pagi membawa kehangatan sedangkan sinar mentari siang hari terasa panas. • Atmosfir. Dengan tata cahaya kedalaman sebuah objek dapat dicitrakan. Lampu memberi penerangan pada pemain dan setiap objek yang ada di atas panggung. yaitu penerangan. Banyak hal yang bisa dikerjakan bekaitan dengan peran tata cahaya tetapi fungsi dasar tata cahaya ada empat. • Pemilihan. Pemilihan ini tidak hanya berpengaruh bagi perhatian penonton tetapi juga bagi para aktor di atas pentas serta keindahan tata panggung yang dihadirkan. Inilah fungsi paling mendasar dari tata cahaya. aktor. Yang paling menarik dari fungsi tata cahaya adalah kemampuannya menghadirkan suasana yang mempengaruhi emosi penonton. Kata “atmosfir” digunakan untuk menjelaskan suasana serta emosi yang terkandung dalam peristiwa lakon. Tanpa adanya cahaya maka penonton tidak akan dapat menyaksikan apa-apa. bulan atau api untuk menerangi. Dengan cahaya. Selain keempat fungsi pokok di atas.5. Artinya. TATA CAHAYA Cahaya adalah unsur tata artistik yang paling penting dalam pertunjukan teater. efek lampu dapat diciptakan untuk menirukan cahaya bulan dan matahari pada waktu-waktu tertentu. Beberapa fungsi . dan penonton untuk saling melihat dan berkomunikasi. masing-masing fungsi memiliki interaksi (saling mempengaruhi). dan atmosfir (Mark Carpenter. Seorang penata cahaya perlu mempelajari pengetahuan dasar dan penguasaan peralatan tata cahaya. 1988). • Penerangan. Dalam pertunjukan era primitif manusia hanya menggunakan cahaya matahari.1 Fungsi Tata Cahaya Tata cahaya yang hadir di atas panggung dan menyinari semua objek sesungguhnya menghadirkan kemungkinan bagi sutradara. sutradara dapat menghadirkan ilusi imajinatif. tata cahaya memiliki fungsi pendukung yang dikembangkan secara berlainan oleh masing-masing ahli tata cahaya. Tata cahaya dapat dimanfaatkan untuk menentukan objek dan area yang hendak disinari. untuk memberikan fokus perhatian pada area atau aksi tertentu sutradara memanfaatkan cahaya. Istilah penerangan dalam tata cahaya panggung bukan hanya sekedar memberi efek terang sehingga bisa dilihat tetapi memberi penerangan bagian tertentu dengan intensitas tertentu. 5. Keempat fungsi pokok tata cahaya di atas tidak berdiri sendiri. Misalnya. dan emosi peristiwa. Fungsi penerangan dilakukan dengan memilih area tertentu untuk memberikan gambaran dimensional objek. Dimensi dapat diciptakan dengan membagi sisi gelap dan terang atas objek yang disinari sehingga membantu perspektif tata panggung. warna cahaya matahari pagi berbeda dengan siang hari. Tidak semua area di atas panggung memiliki tingkat terang yang sama tetapi diatur dengan tujuan dan maksud tertentu sehingga menegaskan pesan yang hendak disampaikan melalui laku aktor di atas pentas. Pengetahuan dasar ini selanjutnya dapat diterapkan dan dikembangkan dalam penataan cahaya untuk kepentingan artistik pemanggungan. Dengan pengaturan tingkat intensitas serta pemilahan sisi gelap dan terang maka dimensi objek akan muncul. Semua objek yang disinari memberikan gambaran yang jelas kepada penonton tentang segala sesuatu yang akan dikomunikasikan.2. Sejak ditemukannya lampu penerangan manusia menciptakan modifikasi dan menemukan hal-hal baru yang dapat digunakan untuk menerangi panggung pementasan. suasana. Dalam teater. Jika dalam film dan televisi sutradara dapat memilih adegan menggunakan kamera maka sutradara panggung melakukannya dengan cahaya. dimensi.

Tata Rias dalam teater bermula dari pemakaian kedok atau topeng untuk menggambarkan karakter tokoh. Pemakaian tata rias akhirnya menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari peristiwa teater. Tata cahaya tidaklah statis.pendukung yang dapat ditemukan dalam tata cahaya adalah sebagai berikut. Dalam gaya Surealis tata cahaya diproyeksikan untuk menyajikan imajinasi atau fantasi di luar kenyataan seharihari. bulan atau lampu meja. Dalam pementasan teater tradisional. Dalam pementasan komedi atau dagelan tata cahaya membutuhkan tingkat penerangan yang tinggi sehingga setiap gerak lucu yang dilakukan oleh aktor dapat tertangkap jelas oleh penonton. Sepanjang pementasan. fade out untuk mengakhiri sebuah adegan. • Gerak. Misalnya. Cahaya dapat dimanfaatkan untuk menciptakan lukisan panggung melalui tatanan warna yang dihasilkannya.3. bibir yang kurang tegas. Cahaya berfungsi untuk memberi tanda selama pertunjukan berlangsung. Jika perpindahan cahaya bergerak dari aktor satu ke aktor lain dalam area yang berbeda. 5. • Penekanan. Seorang pemain. tumbuhan. memiliki hidung yang kurang mancung.tulang. Gerak perpindahan cahaya ini mengalir sehingga kadang-kadang perubahannya disadari oleh penonton dan kadang tidak. Tetapi pergantian cahaya dalam satu area ketika adegan tengah berlangsung terkadang tidak secara langsung disadari. Beberapa teater primitif menggunakan bedak tebal yang biasa dibuat dari bahan-bahan alam. dan lemak binatang. • Pemberian tanda. mata yang tidak ekspresif. 5. Tata rias dalam teater mempunyai arti lebih spesifik. Tata rias merupakan salah satu cara menampilkan karakter tokoh yang berbeda-beda tersebut. teater Yunani yang memakai topeng lebih besar dari wajah pemain dengan garis tegas agar ekspresinya dapat dilihat oleh penonton. black out biasanya digunakan sebagai tanda ganti adegan diiringi dengan pergantian set. • Komposisi. Gaya realis atau naturalis yang mensyaratkan detil kenyataan mengharuskan tata cahaya mengikuti cahaya alami seperti matahari. fade in untuk memulai adegan dan black out sebagai akhir dari cerita. misalnya. yaitu seni mengubah wajah untuk menggambarkan karakter tokoh. Sebuah bagian bangunan yang tinggi yang senantiasa disinari cahaya sepanjang pertunjukan akan menarik perhatian penonton dan menimbulkan pertanyaan sehingga membuat penonton menyelidiki maksud dari hal tersebut. Contohnya.3. seperti tanah. Penggunaan warna serta intensitas dapat menarik perhatian penonton sehingga membantu pesan yang hendak disampaikan. Penampilan tokoh yang berbeda-beda membutuhkan penampilan yang berbeda sesuai karakternya. Cahaya dapat menunjukkan gaya pementasan yang sedang dilakonkan. Tata cahaya dapat memberikan penekanan tertentu pada adegan atau objek yang dinginkan. dan sebagainya. • Gaya. penonton dapat melihatnya dengan jelas. Tata rias dalam teater memiliki fungsi sebagai berikut.1 Fungsi Tata Rias Tokoh dalam teater memiliki karakter berbeda-beda.1 Menyempurnakan Penampilan Wajah Wajah seorang pemain memiliki kekurangan yang bisa disempurnakan dengan mengaplikasikan tata rias. Tata rias bisa . • Menyempurnakan penampilan wajah • Menggambarkan karakter tokoh • Memberi efek gerak pada ekspresi pemain • Menegaskan dan menghasilkan garis-garis wajah sesuai dengan tokoh • Menambah aspek dramatik. TATA RIAS Tata rias secara umum dapat diartikan sebagai seni mengubah penampilan wajah menjadi lebih sempurna.1. dari objek satu ke objek lain. cahaya selalu bergerak dan berpindah dari area satu ke area lain.3. Tanpa • sadar penonton dibawa ke dalam suasana yang berbeda melalui perubahan cahaya. 5.

seorang remaja yang memerankan seorang yang telah berumur 50 tahun. Seorang penata rias harus mencermati gerak ekspresi wajah untuk menentukan garis yang akan dibuat.1.1. sehingga saat berekspresi muncul efek gerak yang tegas dan dapat ditangkap oleh penonton. Misalnya. 5.1 Tata Rias Korektif Tata rias korektif (corective make-up) merupakan suatu bentuk tata rias yang bersifat menyempurnakan (koreksi). Wajah pemain cukup disempurnakan dengan menyamarkan. Seseorang yang memiliki bentuk wajah kurang sempurna. Seorang yang berperan menjadi tokoh binatang. dan bibir bergaris tegas.3. Tata rias berfungsi melukiskan watak tokoh dengan mengubah wajah pemeran menyangkut aspek umur. Misalnya. Pemain yang tidak menggunakan rias. ras. menegaskan.3.3. tetapi cukup menyempurnakan dengan mengoreksi kekurangan yang ada untuk disempurnakan.3. tokoh yang pesimistis cenderung memiliki karakter garis mata yang menurun. Wajah perlu ditambahkan garis-garis kerutan sesuai wajah seorang yang berusia 50 tahun. tertembak.2.3 Memberi Efek Gerak Pada Ekspresi Pemain Wajah seorang pemain di atas pentas. 5.3. 5. Fungsi garis tidak sekedar menegaskan. Disebut tata rias karakter . Tata rias bisa memberikan efek dramatik dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dengan menciptakan efek tertentu sesuai dengan kebutuhan. bentuk wajah dan tubuh.3.1. misalnya dahi terlalu lebar. Sebaliknya.5 Menambah Aspek Dramatik Peristiwa teater selalu tumbuh dan berkembang. maka perlu membuat garis-garis baru sesuai dengan karakter wajah binatang yang diperankan. Karakter wajah merupakan cermin psikologis dan latar sosial tokoh yang hadir secara nyata. seorang yang optimis digambarkan dengan tarikan sudut mata cenderung ke atas.dapat disempurnakan dengan make up korektif. seorang tokoh tertusuk belati. wajahnya akan tampak datar. 5.3. Penyempurnaan wajah dilakukan pada pemain yang secara fisik telah sesuai dengan tokoh yang dimainkan.2. tidak memiliki dimensi. ras. tampak datar ketika tertimpa cahaya lampu.4 Menghadirkan Garis Wajah Sesuai Dengan Tokoh Menampilkan wajah sesuai dengan tokoh membutuhkan garis baru yang membentuk wajah baru. tetapi juga menambahkan sehingga terbentuk tampilan yang berbeda dengan wajah asli pemain. tersayat wajahnya. dan menonjolkan bagian-bagian wajah sesuai dengan tokoh yang dimainkan. seorang remaja memerankan siswa sekolah. Tokoh-tokoh mengalami berbagai peristiwa sehingga terjadi perubahan dan penambahan tata rias. Tata rias berfungsi menegaskan garis-garis wajah karakter.2 Tata Rias Fantasi Tata rias fantasi dikenal juga dengan istilah tata rias karakter khusus. 5. hidung kurang mancung dan sebagainya.1.2 Menggambarkan Karakter Tokoh Karakter berarti watak. 5. Tata rias ini menyembunyikan kekurangan-kekurangan yang ada pada wajah dan menonjolkan hal-hal yang menarik dari wajah. maka dibutuhkan tata rias yang memberikan efek sesuai dengan kebutuhan.menyempurnakan kekurangan tersebut sehingga muncul kesan hidung tampak mancung. Misalnya. Biasanya pemeran memiliki kesesuaian dengan tokoh yang diperankan. Tata rias memiliki kemampuan dalam mengubah sekaligus menampilkan karakter yang berbeda dari seorang pemeran. Oleh karena itu dibutuhkan tata rias untuk menampilkan dimensi wajah pemain. mata menjadi lebih ekspresif. Misalnya. Tata rias tidak perlu mengubah usia. Setiap wajah memiliki kekuarangan dan kelebihan. dan perubahan bentuk wajah.2 Jenis Tata Rias 5. Seorang pemain membutuhkan tata rias korektif ketika tampilannya tidak membutuhkan perubahan usia.

karena menampilkan wujud rekaan dengan mengubah wajah tidak realistik. maka busana berkembang menjadi lebih baik. Masing-masing memiliki kospenya tersendiri dan lakon tidak harus berlatar jaman dimana lakon itu dibuat.1 Mencitrakan Keindahan Penampilan Manusia memiliki hasrat untuk mengungkapkan rasa keindahan dalam berbagai aspek . mengubah umur pemeran dari muda menjadi lebih tua . Busana dalam teater memiliki fungsi yang lebih kompleks. Tidak ada periode tata busana secara khusus di teater. Mengubah anatomi wajah pemain untuk memenuhi tuntutan tokoh dapat juga digolongkan sebagai tata rias karakter. watak. Sementara itu tata busana menurut jamannya bisa digeneralisasi. syal. Pada era teater primitif. gelang . seperti tumbuhan. misalnya memanjangkan telinga. Contohnya. busana pada jaman atau dekade tertentu memiliki ciri yang sama. Renaissance.khusus. dan memenuhi hasrat manusia akan keindahan. Tata busana dapat dibuat berdasar budaya atau jaman tertentu. kalung.2. yaitu. Busana teater mengalami perkembangan pesat seiring lahirnya teater modern pada akhir abad 19. bangsa. sifat. Tata rias karakter dibutuhkan ketika karakter wajah pemeran tidak sesuai dengan karakter tokoh. dalam teater Romawi Kuno maka lakon yang ditampilkan berlatar jaman tersebut sehingga busananya pun seperti busana keseharian penduduk jaman Romawi Kuno.4. Masing-masing memiliki ciri khasnya. dan ciri-ciri khusus yang melekat pada tokoh. Demikian juga dengan teater pada jaman Yunani. Busana pun mengikuti konsep tersebut. sepatu. Untuk membuat tata busana sesuai dengan adat dan kebudayaan daerah tertentu maka diperlukan referensi khusus berkaitan dengan adat dan kebudayaan tersebut. Tokoh tersebut memiliki latar Suku Dayak Kalimantan yang memiliki tradisi memanjangkan telinga. beragam aliran teater bermunculan. tetapi mengubah tampilan wajah. 5. dan segala unsur yang melekat pada pakaian. 5. Jenis busana ini tidak bisa disamakan antara daerah satu dengan daerah lain. mencitrakan kesopanan.4. karena semua tergantung latar cerita yang ditampilkan. Semua terserah pada gagasan seniman.4. Fungsi busana dalam kehidupan sehari-hari untuk melindungi tubuh. Restorasi. 5. Elizabethan. dan Abad 18.1 Fungsi Tata Busana Busana yang dipakai manusia beraneka ragam bentuk dan fungsinya. Abad Pertengahan. • Mencitrakan keindahan penampilan • Membedakan satu pemain dengan pemain yang lain • Menggambarkan karakter tokoh • Memberikan efek gerak pemain • Memberikan efek dramatik 5. TATA BUSANA Tata busana adalah seni pakaian dan segala perlengkapan yang menyertai untuk menggambarkan tokoh.1. Tata busana termasuk segala asesoris seperti topi. Misalnya. Tata rias fantasi menggambarkan tokoh-tokoh yang tidak riil keberadaannya dan lahir berdasarkan daya khayal semata.3. Tata rias karakter tidak sekedar menyempurnakan. Periode busana teater dengan demikian mengikuti periode teater tersebut. Ketika manusia menemukan tekstil dengan teknologi pengolahan yang tinggi. busana yang dipakai berasal dari bahan-bahan alami. Tata busana dalam teater memiliki peranan penting untuk menggambarkan tokoh. Artinya. tetapi lebih pada konsep yang melatarbelakangi penciptaan teater.3 Tata Rias karakter Tata rias karaker adalah tata rias yang mengubah penampilan wajah seseorang dalam hal umur. Tata busana dengan demikian sudah tidak lagi terpaku pada jaman. kulit binatang. dan batu-batuan untuk asesoris. Dalam masa ini.

4. Satu bidang kecil memiliki makna yang sama dengan bidang lain. Penampilan busana yang berbeda akan menunjukkan ciri khusus seorang tokoh. Contohnya. sehingga penonton mampu mengidentifikasikan tokoh dengan mudah 5. brutal. dan peningkatan kompetensi tetapi juga untuk mengungkap makna kerja yang ada di sebalik ilmu. dan alim. Secara mendalam. Oleh karena itu. hasrat untuk tampil berbeda dan lebih indah dari tampilan sehari-hari telah muncul. 5. kerja sekecil apapun dalam teater sangatlah penting. Teater di Inggris pada masa pemerintahan Ratu Elizabeth (1580 – 1640). penonton terbantu dalam menangkap karakter yang berbeda dari setiap tokoh. tokoh seorang pelajar yang pendiam. Satu proses kerja bidang tertentu bahkan dinilai lebih tinggi dari bidang lain. PENUTUP Sebuah karya teater lahir dari satu proses pembelajaran yang padu. Karena sifatnya yang kolaboratif maka seni teater akan kehilangan spiritnya jika masing-masing bidang berusaha untuk menonjol dan mengalahkan bidang lain. Pemaknaan ini akan membawa satu sikap penghargaan profesi baik bagi diri sendiri atau bagi orang yang bekerja pada bidang lain. dan garis yang diciptakan. Perbedaan karakter dalam busana dapat ditampilkan melalui model.2 Membedakan Satu Pemain Dengan Pemain Yang Lain Pementasan teater menampilkan tokoh yang bermacam-macam karakter dan latar belakang sosialnya. Melalui busana. busananya cenderung rapi. busananya dilengkapi asesoris dan cara pemakaiannya seenaknya tidak sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan sekolah. dan sering membuat onar. Apalagi ketika proses tersebut dinilai dan memiliki konsekuensi langsung bagi pelakunya. Busana menjadi salah satu tanda penting untuk membedakan satu tokoh dengan tokoh yang lain. Satu bidang harus mampu dan mau menghargai bidang lain. Dalam teater hal itu tidak berlaku. Sebuah langkah yang besar selalu dimulai dari langkah kecil. pengetahuan.3 Menggambarkan Karakter Tokoh Fungsi penting busana dalam teater adalah untuk menggambarkan karakter tokoh. Busana pementesan teater dibuat secara khusus dan dilengkapi dengan asesoris sesuai kebutuhan pemensan. Pada era teater primitif. dan tanpa asesoris yang berlebihan. tokoh seorang pelajar yang bandel. tidak hanya tergambar keindahan karya seni tetapi juga prinsip kebersamaan. Berdiskusi. Akhirnya menjadi maklumlah kita ketika seseorang berbicara tentang teater maka ia akan membicarakan semua elemen yang ada di dalamnya. Pementasan teater adalah suatu tontonan yang mengandung aspek keindahan. .1. Saling berbicara. Karena prinsip teater adalah kerjasama maka belajar teater tidaklah hanya mempelajari elemen-elem yang ada di dalamnya tetapi juga mempelajari kerja pengabungan di antaranya. rajin. Jika kualitas kerja salah satu bidang tidak baik maka keseluruhan pertunjukan menjadi terpengaruh. Dengan demikin dalam satu karya teater. Sebaliknya. warna. bentuk.4. Sebuah karya teater yang besar merupakan penyatuan kerja elemen-elemen yang kecil. Membaca referensi atau buku teater tidaklah hanya untuk menambah wawasan. Memecahkan persoalan bersama dan menentukan satu keputusan yang secara artistik adil bagi semua pihak. memakai busana sehari-hari yang dibuat lebih indah dengan mengaplikasikan perhiasan dan penambahan bahanbahan yang mahal dan mewah. Penonton membutuhkan suatu penampilan yang berbeda-beda antara satu tokoh dengan tokoh yang lain. Dalam satu proses pembelajaran hal semacam itu sering tejadi. seni memang tidak hanya menghasilkan sesuatu yang tampak (produk) tetapi juga mental atau jiwa para pelakunya. Tata busana dalam teater berfungsi sebagai bentuk ekspresi untuk tampil lebih indah dari penampilan seharihari.1. Kualitas karya yang dihasilkan menggambarkan semangat dan keadaan jiwa pembuatnya.kehidupan. sederhana. Berbicara teater tidak hanya berbicara naskah atau sutradara yang merajut proses atau aktor terkenal yang ikut terlibat di dalamnya. motif.

membaca untuk menilhami. tata rias dan busana. Catatan inti akan terus berkembang seiring dengan perkembangan teater itu sendiri. Dalam sebuah lakon yang menceritakan tentang kesedihan. apapun kualitasnya gagasan tersebut harus menjadi sesuatu. Banyak seniman yang lahir karena membaca atau mempelajari karya (catatan) seniman yang lainnya. Seorang aktor yang baik harus mengerti fungsi tata panggung karena ia akan bermain di antara objek yang ditata di atas pentas. Dengan berdasar pengetahuan dan keingintahuan dari membaca catatan tersebut. Karya seni yang lebih mementingkan proses. Bahkan mungkin cerita itu hanya merupakan satu rangkaian kalimat. ketersampaian cerita. Begitu pentingnya pesan yang hendak disampaikan sehingga semua elemen pendukung pementasan bekerja keras mewujudkannya. Tidak peduli berapa panjang cerita tersebut. maka cerita yang satu kalimat itu pun dapat dikembangkan. Dramaturgi atau pengetahuan teater dasar merupakan pokok pemahaman yang harus diperhatikan. Jika satu saja elemen berada di luar garis ini maka kesatuan makna menjadi kabur. konsep. Karena itu pulalah penonton merupkan kunci keberhasilan sebuah pertunjukan. Gagasan hanya akan menjadi gagasan jika tidak diwujudkan. Dramaturgi adalah catatan-catatan proses penciptaan seni drama hingga sampai pementasannya. mempelajari teater tidak hanya mempelajari satu bidang dan mengabaikan bidang lain. semua bermula dari sebuah cerita. Ia akan bermain dalam area yang diciptakan oleh penata panggung. lebih menghargai pengalaman dari pada hasil akhir. penata artistik) akan diketahui langsung oleh para penonton dalam sebuah pertunjukan. Respon atau tanggapan yang diberikan penonton terhadap pertunjukan yang dilangsungkan merupakan tanda bagi keberhasilan atau kegagalan pertunjukan tesebut dalam menyampaikan pesan. pelajarilah semuanya sesuai dengan tahapan yang benar. Ketika sebuah gagasan muncul. Semua itu tidak berada dalam bingkai saling meniru akan tetapi bingkai kreativitas yang terus berkembang dan berkembang. Apapun bentuknya. Untuk kepentingan inilah buku ini disusun. Kualitas ketersampaian pesan yang diramu oleh para pekerja teater (pengarang. semua saling belajar. Disitulah sebetulnya letak fungsi hakiki dari sebuah pengetahuan. Saling mendukung demi tercapaiya tujuan tersebut. Dalam teater. maka semua komponen bekerja untuk memenuhi atmosfir kesedihan yang diharapkan. Satu gagasan atau perwujudan karya menjadi indah dan menarik serta memiliki kesatuan makna jika semua elemennya memiliki tujuan artistik yang sama. Karya seni yang lahir dari kreativitas dapat dialirkan kepada generasi berikutnya melalui catatancatatan. Oleh sebab itu. Jadi. sebuah gagasan dapat diwujudkan. . Demikian pula penata panggung harus mau memahami pola laku dan gerak para aktor di atas pentas sehingga ruang yang diciptakan tidak mengganggu bagi pergerakan aktor ketika bemain. semua saling mendukung. Sesuatu yang sangat berarti bagi si penggagas. Hal itu akan menyangkut soal cerita. Demikian berjalan secara berkesambungan. Memiliki tujuan yang sama.Berbicara teater adalah berbicara tentang semua hal yang ada di dalamnya. konflik. tata panggung dan cahaya. Akan tetapi. dengan memahami dasar-dasar penciptaan lakon yang mengedepankan pentingnya arti konflik dalam teater. Satu karya mempengaruhi atau terpengaruh oleh karya lain. Semua elemen harus besatu. sutradara. aktor. semua saling membantu. Semua elemen harus memahami hal ini. Oleh karena itulah. dan penyelesaian. Minimal menjadi tiga kalimat yang masing-masing mewakili pemaparan. Karya baru yang dihasilkan oleh seniman itupun pada nantinya juga akan menginspirasi karya yang lain. Membaca catatan karya orang lain bukan dipahami sebagai bentuk plagiarisme tetapi membaca untuk mempelajari. wujud awal dari sebuah gagasan harus mengalami proses pembentukan. maka ia perlu dinyatakan. membaca untuk menginspirasi sehingga seni baru senantiasa lahir. Memang perlu belajar satu bidang secara khusus tetapi pemahaman atas bidang lain tidak bisa diabaikan. bahkan penonton yang hadir di dalamnya.

sebuah karya teater dapat dilahirkan. dan proses adalah belajar. Dengan semangat dan ketekunan berlatih.Hanya dengan cerita yang sangat sederhana semacam ini. belajar. Masing-masing bidang yang dibahas dalam buku ini memberikan gambaran harmonisasi tersebut. teater adalah kerjasama. Semangat belajar dalam teater tidak akan pernah bisa berhenti karena teater senantiasa hidup dan berkembang. Ilmu yang didapatkan sekarang tidak akan pernah cukup.. Kerjasama sebagai semangat seni teater dapat dijadikan acuan proses penciptaan. Oleh karena itu maka tidak ada kata lain selain belajar. Joglo Drama – Mbah Brata Seni memanusiakan manusia. Semua secara harmonis bekerja bersama mendukung makna yang satu. cerita yang sudah berhasil dicipta dapat diwujudkan ke dalam sebuah pementasan. dan tata artistik dapat diaplikasikan untuk mendukung karya yang akan ditampilkan. Semua bisa dipelajari secara mandiri. menjadikan manusia lebih manusiawi • • • Beranda Jeda Malam Tentang Blog ‘Joglo Drama’ Top of Form Search. Berkarya. pemeranan. Semua berjalan dalam satu proses. Tidak perlu seorang diri mengerjakan semuanya. akan tetapi lebih berarti jika semua bidang bersinergi. Sebuah pertunjukan dapat digelar. Catatan kecil yang kami sampaikan ini semoga dapat menjadi pemicu semangat untuk terus belajar dan berkarya. berkarya. Teater adalah kolketif. Masing-masing bidang dalam teater dapat dikerjakan oleh orang-orang tertentu yang tertarik di bidang-bidang tersebut. Jika semuanya berbuat dalam semangat kerjasama maka pergelaran karaya teater menjadi karya bersama yang memiliki satu makna. Cari Bottom of Form Kajian Drama 22 Apr 2009 Tinggalkan sebuah Komentar by mbahbrata in Kajian Teori . dan berkarya.. Pengetahuan tentang dasar-dasar penyutradaraan. dan belajar.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful