Kajian Drama

Teater berasal dari kata Yunani, “theatron” (bahasa Inggris, Seeing Place) yang artinya tempat atau gedung

pertunjukan. Dalam perkembangannya, dalam pengertian lebih luas kata teater diartikan sebagai segala hal yang dipertunjukkan di depan orang banyak. Dengan sintren, demikian, janger, dalam rumusan dagelan, sederhana sulap, teater adalah lain pertunjukan, misalnya ketoprak, ludruk, wayang, wayang wong, mamanda, akrobat, dan sebagainya. Teater dapat dikatakan sebagai manifestasi dari aktivitas naluriah, seperti misalnya, anak-anak bermain sebagai ayah dan ibu, bermain tokohg-tokohgan, dan lain sebagainya. Selain itu, teater merupakan manifestasi pembentukan strata sosial kemanusiaan yang berhubungan dengan masalah ritual. Misalnya, upacara adat maupun upacara kenegaraan, keduanya memiliki unsur-unsur teatrikal dan bermakna filosofis. Berdasarkan paparan di atas, kemungkinan perluasan definisi teater itu bisa terjadi. Tetapi batasan tentang teater dapat dilihat dari sudut pandang sebagai berikut: “tidak ada teater tanpa aktor, baik berwujud riil manusia maupun boneka, terungkap di layar maupun pertunjukan langsung yang dihadiri penonton, serta laku di dalamnya merupakan realitas fiktif”, (Harymawan, 1993). Kata “drama” juga dianggap telah ada sejak era Mesir Kuno (4000-1580 SM), sebelum era Yunani Kuno (800-277 SM). Hubungan kata “teater” dan “drama” bersandingan sedemikian erat seiring dengan perlakuan terhadap teater yang mempergunakan drama lebih identik sebagai teks atau naskah atau lakon atau karya sastra (Bakdi Soemanto, 2001). Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa istilah “teater” berkaitan langsung dengan pertunjukan, sedangkan “drama” berkaitan dengan lakon atau naskah cerita yang akan dipentaskan. Jadi, teater adalah visualisasi dari drama atau drama yang dipentaskan di atas panggung dan disaksikan oleh penonton. Jika “drama” adalah lakon dan “teater” adalah pertunjukan maka “drama” merupakan bagian atau salah satu unsur dari “teater”.

Dengan kata lain, secara khusus teater mengacu kepada aktivitas melakukan kegiatan dalam seni pertunjukan (to act) sehingga tindaktanduk pemain di atas pentas disebut acting. Istilah acting diambil dari kata Yunani “dran” yang berarti, berbuat, berlaku, atau beraksi. Karena aktivitas beraksi ini maka para pemain pria dalam teater disebut actor dan pemain wanita disebut actress (Harymawan, 1993). Meskipun istilah teater sekarang lebih umum digunakan tetapi sebelum itu istilah drama lebih populer sehingga pertunjukan teater di atas panggung disebut sebagai pentas drama. Hal ini menandakan digunakannya naskah lakon yang biasa disebut sebagai karya sastra drama dalam pertujukan teater. Di Indonesia, pada tahun 1920-an, belum muncul istilah teater. Yang ada adalah sandiwara atau tonil (dari bahasa Belanda: Het Toneel). Istilah Sandiwara konon dikemukakan oleh Sri Paduka Mangkunegoro VII dari Surakarta. Kata sandiwara berasal dari bahasa Jawa “sandi” berarti “rahasia”, dan “wara” atau “warah” yang berarti, “pengajaran”. Menurut Ki Hajar Dewantara “sandiwara” berarti “pengajaran yang dilakukan dengan perlambang” (Harymawan, 1993). Rombongan teater pada masa itu menggunakan nama Sandiwara, sedangkan cerita yang disajikan dinamakan drama. Sampai pada Zaman Jepang dan permulaan Zaman Kemerdekaan, istilah sandiwara masih sangat populer. Istilah teater bagi masyarakat Indonesia baru dikenal setelah Zaman Kemerdekaan (Kasim Achmad, 2006). Keterikatan antara teater dan drama sangat kuat. Teater tidak mungkin dipentaskan tanpa lakon (drama). Oleh karena itu pula dramaturgi menjadi bagian penting dari seni teater. Dramaturgi berasal dari bahasa Inggris dramaturgy yang berarti seni atau tekhnik penulisan drama dan penyajiannya dalam bentuk teater. Berdasar pengertian ini, maka dramaturgi membahas proses penciptaan teater mulai dari penulisan naskah hingga pementasannya. Harymawan (1993) menyebutkan tahapan dasar untuk mempelajari dramaturgi yang disebut dengan formula dramaturgi. Formula ini disebut dengan

fromula 4 M yang terdiri dari, menghayalkan, menuliskan, memainkan, dan menyaksikan. M1 atau menghayal, dapat dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang karena menemukan sesuatu gagasan yang merangsang daya cipta. Gagasan itu timbul karena perhatian ditujukan pada suatu persitiwa baik yang disaksikan, didengar maupun dibaca dari literatur tertentu. Bisa juga gagasan itu timbul karena perhatian ditujukan pada kehidupan seseorang. Gagasan atau daya cipta tersebut kemudian diwujudkan ke dalam besaran cerita yang pada akhirnya berkembang menjadi sebuah lakon untuk dipentaskan. M2 atau menulis, adalah proses seleksi atau pemilihan situasi yang harus dihidupkan begi keseluruhan lakon oleh pengarang. Dalam sebuah lakon, situasi merupakan kunci aksi. Setelah menemukan kunci aksi ini, pengarang mulai mengatur dan menyusun kembali situasi dan peristiwa menjadi pola lakon tertentu. Di sini seorang pengarang memiliki kisah untuk diceritakan, kesan untuk digambarkan, suasana hati para tokoh untuk diciptakan, dan semua unsur pembentuk lakon untuk dikomunikasikan. M3 atau memainkan, merupakan proses para aktor memainkan kisah lakon di atas pentas. Tugas aktor dalam hal ini adalah mengkomunikasikan ide serta gagasan pengarang secara hidup kepada penonton. Proses ini melibatkan banyak orang yaitu, sutradara sebagai penafsir pertama ide dan gagasan pengarang, aktor sebagai komunitakor, penata artsitik sebagai orang yang mewujudkan ide dan gagasan secara visual serta penonton sebagai komunikan. M4 atau menyaksikan, merupakan proses penerimaan dan penyerapan informasi atau pesan yang disajikan oleh para pemain di atas pentas oleh para penonton. Pementasan teater dapat dikatakan berhasil jika pesan yang hendak disampaikan dapat diterima dengan baik oleh penonton. Penonton pergi menyaksikan pertunjukan dengan maksud pertama untuk memperoleh kepuasan atas kebutuhan dan

dan juga sudah mengenal tulis menulis. Dalam acara ini seseorang mengisahkan riwayat hidup sang pahlawan yang lama kelamaan diperagakan dalam bentuk teater. Pada zaman itu peradaban Mesir Kuno sudah maju. sudah mengenal ilmu bedah. Formula dramaturgi seperti disebutkan di atas merupakan tahap mendasar yang harus dipahami dan dilakukan oleh para pelaku teater. pemahaman dasar formula dramaturgi dapat dijadikan acuan proses penciptaan karya seni teater. sudah bisa membuat kalender. I Kher-nefert.1 Teater Barat 2. Mereka sudah bisa membuat piramida. Oleh karena itu. di zaman peradaban Mesir Kuno kira-kira 2000 tahun sebelum tarikh Masehi.keinginannya terhadap tontonan tersebut.1. tokoh. maka pertunjukan yang digelar bisa dipastikan kurang sempurna. Jika salah satu tahap dan unsur yang ada dalam setiap tahapan diabaikan. Cerita itu kemudian juga dibuat dalam bentuk teater (kisah perburuan. • Berasal dari nyanyian untuk menghormati seorang pahlawan di kuburannya. • Berasal dari upacara agama primitif. Adapun yang dapat diketahui hanyalah teori tentang asal mulanya. kepahlawanan. 2. menyebutkan bahwa naskah teater tertua di dunia yang pernah ditemukan ditulis seorang pendeta Mesir. tapi teater ini hidup terus hingga sekarang. • Berasal dari kegemaran manusia mendengarkan cerita. Unsur cerita ditambahkan pada upacara semacam teater. sudah mengerti irigasi. itu yang akhirnya upacara berkembang agama menjadi lama pertunjukan Meskipun telah ditinggalkan. Sejarah Singkat Teater 2. . dan lain sebagainya). Rendra dalam Seni Drama Untuk Remaja (1993). Di antaranya teori tentang asal mula teater adalah sebagai berikut.1 Asal Mula Teater Waktu dan tempat pertunjukan teater yang pertama kali dimulai tidak diketahui.

• Sudah menggunakan naskah lakon. Naskah lakon teater Yunani merupakan naskah lakon teater pertama yang menciptakan dialog diantara para karakternya. 1964). • Cerita yang dimainkan adalah tragedi yang membuat penonton tegang. dan kasihan serta cerita komedi yang lucu. Teater Romawi merupakan hasil adaptasi bentuk teater . begitu juga Teater. Teater pertama kali dipertunjukkan di kota Roma pada tahun 240 SM (Brockett. yang Ribuan disebut orang amphitheater Soemardjo.2 Teater Yunani Klasik Tempat pertunjukan teater Yunani pertama yang permanen dibangun sekitar 2300 tahun yang lalu.1. penari.2. kasar dan sering mengeritik tokoh terkenal pada waktu itu. mengunjungi amphitheater untuk menonton teater-teater. Namun mutu teater Romawi tak lebih baik daripada teater Yunani. Teater Romawi menjadi penting karena pengaruhnya kelak pada Zaman Renaissance. Teatron pada zaman Yunani 2. dan narator (pemain yang menceritakan jalannya pertunjukan). dan hadiah diberikan bagi teater terbaik. Ciri-ciri khusus pertunjukan teater pada masa Yunani Kuno adalah: • Pertunjukan dilakukan di amphitheater.1. • Seluruh pemainnya pria bahkan tokoh wanitanya dimainkan pria dan memakai topeng karena setiap pemain memerankan lebih dari satu tokoh. seniman Yunani. Pertunjukan ini dikenalkan oleh Livius Andronicus. takut. • Selain pemeran utama juga ada pemain khusus untuk kelompok koor (penyanyi). Teater ini dibangun tanpa atap dalam bentuk setengah lingkaran dengan tempat duduk penonton melengkung (Jakob dan berundak-undak 1984).3 Teater Romawi Klasik Setelah tahun 200 Sebelum Masehi kegiatan kesenian beralih dari Yunani ke Roma.

4 Teater Abad Pertengahan Dalam tahun 1400-an dan 1500-an. yang disebut pageant. Peralatan ini digunakan untuk efek tipuan. lalu berjalan lagi. menggantikannya. Aktor-aktor pageant seringkali adalah para perajin setempat yang memainkan adegan yag menunjukan keahlian mereka. banyak kota di Eropa mementaskan drama untuk merayakan hari-hari besar umat Kristen. Pageant lain dari aktor-aktor lain untuk adegan berikutnya. bukan bahasa Latin yang merupakan bahasa resmi gereja-gereja Kristen (Wisnuwardhono. • Karakteristik tokoh tergantung kelas yaitu orang tua yang bermasalah dengan anak-anaknya atau kekayaan. Para pemain pegeant memainkan satu adegan dari kisah dalam Alkitab. Hampir di setiap unsur panggungnya terdapat unsur pemanggungan teater Yunani. seperti menurunkan seorang aktor dari atas ke panggung. Tidak hanya menjadi tema cerita tetapi juga menjadi ilustrasi cerita.1. 2002). • Musik menjadi pelengkap seluruh adegan. Para pemain drama pageant menggunakan tempat di bawah kereta untuk menyembunyikan peralatan. • Tema berkisar pada masalah hidup kesenjangan golongan menengah.Yunani. Namun demikian teater Romawi pun memiliki kebaruan-kebaruan dalam penggarapan dan penikmatan yang asli dimiliki oleh masyarakat Romawi dengan ciri-ciri sebagi berikut. drama ini populer karena pemainnya berbicara dalam bahasa sehari-hari. dan ditarik keliling kota. • Koor tidak lagi berfungsi mengisi setiap adegan. Bahkan kini pertunjukan jalan dan prosesi penuh warna diselenggarakan di seluruh dunia untuk merayakan berbagai hari besar keagamaan. Drama-drama dibuat berdasarkan cerita-cerita Alkitab dan dipertunjukkan di atas kereta. . Orang berkerumun untuk menyaksikan drama pageant religius di Eropa. 2. anak muda yang melawan kekuasaan orang tua dan lain sebagainya.

yaitu tragedi. Para aktor kebanyakan pegawai-pegawai istana dan pertunjukan diselenggarakan dalam pesta-pesta istana.1. . Drama dilangsungkan dengan mengikuti struktur yang ada. 2. Pusat-pusat aktivitas teater di Italia adalah istana-istana dan akademi. Gerakan yang menyelidiki semangat ini disebut gerakan humanisme. dan mesin cetak.5 Renaissance Abad 17 memberi sumbangan yang sangat berarti bagi kebudayaan Barat. Sejarah abad 15 dan 16 ditentukan oleh penemuanpenemuan penting yaitu mesin.Ciri-ciri teater abad Pertengahan adalah sebagai berikut: • Drama dimainkan oleh aktor-aktor yang belajar di universitas sehingga dikaitkan dengan masalah filsafat dan agama. Meskipun demikian gerakan mereka memiliki arti penting karena Eropa menjadi mengenal drama yang jelas struktur dan bentuknya. Ada tiga jenis drama yang dikembangkan. Semangat baru muncul untuk menyelidiki kebudayaan Yunani dan Romawi klasik. Ciri-ciri teater Zaman Renaissance yakni sebagai berikut. kompas. Di gedung-gedung teater milik para bangsawan inilah dipentaskan naskah-naskah yang meniru drama-drama klasik. Namun nilai seni ketiganya masih rendah. • Drama tidak memiliki nama pengarang. komedi. • Drama dimainkan di tempat umum dengan memungut bayaran. • Aktor bermain di panggung di atas kereta yang bisa dibawa berkeliling menyusuri jalanan. Semangat ini disebut semangat Renaissance yang berasal dari kata “renaitre” yang berarti kelahiran kembali manusia untuk mendapatkan semangat hidup baru. • Drama banyak disisipi cerita kepahlawanan yang dibumbui cerita percintaan. dan pastoral atau drama yang membawakan kisah-kisah percintaan antara dewa-dewa dengan para gembala di daerah pedesaan.

Plot cerita berlangsung dalam suasana adegan lucu. Gedung teater ini sangat sukses sehingga . Ciri khas commedia dell’arte adalah: Para pemain dibebaskan berimprovisasi mengikuti jalannya cerita dan dituntut memiliki pengetahuan luas yang dapat mendukung permainan improvisasinya. tokoh penggoda. gedung teater besar dari kayu dibangun di London Inggris. yaitu rumah. Merupakan bentuk teater rakyat Italia yang berkembang di luar lingkungan istana dan akademisi. 2.1. Kemudian menyebar luas di Eropa dan mempengaruhi semua bentuk komedi yang diciptakan pada tahun 1600. • Cerita bertema mitologi atau kehidupan sehari-hari.• Naskah lakon yang dipertunjukkan meniru teater Zaman Yunani klasik. selama pemerintahan Ratu Elizabeth I. Gedung ini dibangun seperti lingkaran sehingga penonton bisa duduk dihampir seluruh sisi panggung. • Menggunakan naskah lakon yang berisi garis besar cerita. • Terdapat tiga tokoh yang selalu muncul. • Tata busana dan seting yang dipergunakan sangat inovatif. • Peristiwa cerita berlangsung dan berpindah secara cepat. • Pada zaman ini juga melahirkan satu bentuk teater yang disebut commedia dell’arte.6 Teater Zaman Elizabeth Pada tahun 1576. jalan. • Setting panggung sederhana. yaitu tokoh penguasa. Pada tahun 1575 bentuk ini sudah populer di Italia. • Pelaksanaan bentuk teater diatur oleh kerajaan maupun universitas. • Tempat pertunjukannya di lapangan kota dan panggungpanggung sederhana. dan lapangan. dan tokoh pembantu. • Menggunakan panggung proscenium yaitu bentuk panggung yang memisahkan area panggung dengan penonton. • Cerita terdiri dari tiga babak didahului prolog panjang. • Cerita yang dimainkan bersumber pada cerita yang diceritakan secara turun menurun.

1. Ia menulis 37 (tiga puluh tujuh) drama dengan berbagai tema. beberapa cara untuk mengekspresikan karakter-karakter berbeda . penulis drama terkenal dari Inggris yang hidup dari tahun 1564 sampai tahun 1616. dan mempelajari hal-hal baru. • Tokoh wanita dimainkan oleh pemain anak-anak laki-laki. • Tempat adegan ditandai dengan ucapan dengan disampaikan dalam dialog para tokoh.000 penonton. • Menggunakan naskah lakon. pendidikan. 2. Mereka yang tidak mampu membeli tiket berdiri di sekitar panggung. gedung teater ini bisa menampung 3.banyak gedung sejenis dibangun di sekitarnya. dan menceritakan gagasan-gagasan mereka kepada penonton. Beberapa ceritanya berisi monolog panjang. mulai dari pembunuhan dan tokohg sampai cinta dan kecemburuan. Teater di Tengah-Tengah Gedung. Tidak pemain wanita. Rancanganrancangan panggung termasuk pengaturan panggung arena. Globe mementaskan drama-drama karya William Shakespeare. Salah satunya yang disebut Globe. yang disebut solilokui. Penonton yang mampu membeli tiket duduk di sisi-sisi panggung. Ia biasanya menulis dalam bentuk puisi atau sajak. • Corak pertunjukannya merupakan perpaduan antara teater keliling dengan teater sekolah dan akademi yang keklasik-klasikan. • Penontonnya berbagai lapisan masyarakat dan diramaikan oleh penjual makanan dan minuman. atau yang disebut saat ini. Orang datang ke gedung pertunjukan tidak hanya untuk menyaksikan teater melainkan juga untuk menikmati musik. selain penulis drama. Gedung-gedung pertunjukan modern memiliki efek-efek khusus dan teknologi baru. Teater telah berubah selama berabadabad. Ia adalah seorang aktor dan penyair. Dewasa ini. Ciri-ciri teater Zaman Elizabeth adalah: • Pertunjukan dilaksanakan siang hari dan tidak mengenal waktu istirahat.7 Teater Abad 20 Pementasan Teater di Broadway. hiburan.

Pada awal abad 20 inilah istilah teater eksperimental berkembang. Teater tradisional merupakan bagian dari suatu upacara keagamaan ataupun upacara adat-istiadat dalam tata cara kehidupan masyarakat kita. Dengan semangat melawan pesona realisme. Wilayah jelajah artistik dibuka selebar-lebarnya untuk kemungkinan perkembangan bentuk pementasan seni teater. Seiring dengan perkembangan waktu. Setelah melepaskan diri dari kaitan upacara. unsur- . dan belum merupakan suatu bentuk kesatuan teater yang utuh. sebenarnya baru merupakan unsurunsur teater. epik. ada tanda-tanda bahwa unsur-unsur teater tradisional banyak digunakan untuk mendukung upacara ritual. surealisme. Hal ini mendorong para pemikir teater untuk menemukan satu bentuk ekspresi baru yang lepas dari konvensi yang sudah ada. dekorasi. dan efek elektronik. usaha pencarian kaidah artistik yang dilakukan oleh seniman teater modern patut diacungi jempol karena usaha-usaha tersebut mengantarkan pada keberagaman bentuk ekspresi dan makna keindahan. tata cahaya. Banyak gaya baru yang lahir baik dari sudut pandang pengarang.2 Teater Indonesia 2. Tidak jarang usaha mereka berhasil dan mampu memberikan pengaruh seperti gaya simbolisme. sejarah teater tradisional di Indonesia dimulai sejak sebelum Zaman Hindu. Gaya-gaya teater pertunjukan realistis dan eksperimental ditemukan dalam Amerika saat ini. sutradara.dalam pertunjukan-pertunjukan (di samping nada suara) dapat melalui musik. Tetapi tidak jarang pula usaha mereka berhenti pada produksi pertama.2. yang disebut “teater”. aktor ataupun penata artistik. kualitas pertunjukan realis oleh beberapa seniman dianggap semakin menurun dan membosankan. 2. para seniman mencari bentuk pertunjukannya sendiri. Lepas dari hal itu.1 Teater Tradisional Kasim Achmad dalam bukunya Mengenal Teater Tradisional di Indonesia (2006) mengatakan. Pada saat itu. Pada zaman itu. dan absurd.

randai. yang pada saat itu masih belum menggunakan naskah drama/lakon. tergantung kondisi dan sikap budaya masyarakat. 2.2. sumber dan tata-cara di mana teater tradisional lahir.1 Teater Transisi Teater transisi adalah penamaan atas kelompok teater pada periode saat teater tradisional mulai mengalami perubahan karena pengaruh budaya lain. Hal ini disebabkan oleh unsur-unsur pembentuk teater tradisional itu berbedabeda.2 Teater Modern 2. dinamakan teater bangsawan. Mulai memperhitungkan teknik yang mendukung pertunjukan.2.2. Macammacam teater tradisional Indonesia adalah: wayang kulit. dan sebagainya. arja. drama gong. ludruk . teater tradisional berkenalan juga dengan teater Barat yang dipentaskan oleh orang-orang Belanda di Indonesia sekitar tahun 1805 yang kemudian berkembang hingga di Betawi (Batavia) dan mengawali berdirinya gedung Schouwburg pada tahun 1821 (Sekarang Gedung Kesenian Jakarta). ketoprak. Cara penyajian cerita dengan menggunakan panggung dan dekorasi. Perkenalan masyarakat Indonesia pada teater non-tradisi dimulai sejak Agust Mahieu mendirikan Komedie Stamboel di Surabaya pada tahun 1891. Pada periode transisi inilah teater tradisional berkenalan dengan teater non-tradisi.unsur teater tersebut membentuk suatu seni pertunjukan yang lahir dari spontanitas rakyat dalam masyarakat lingkungannya. Perubahan tersebut terletak pada cerita yang sudah mulai ditulis. yang pementasannya secara teknik telah banyak mengikuti budaya dan teater Barat (Eropa). Proses terjadinya atau munculnya teater tradisional di Indonesia sangat bervariasi dari satu daerah dengan daerah lainnya. meskipun masih dalam wujud cerita ringkas atau outline story (garis besar cerita per adegan). ubrug. lenong. Selain pengaruh dari teater bangsawan. Kelompok teater yang masih tergolong kelompok teater tradisional dengan model garapan memasukkan unsur-unsur teknik teater Barat. wayang wong. .

2 Teater Indonesia tahun 1920-an Teater pada masa kesusasteraaan angkatan Pujangga Baru kurang berarti jika dilihat dari konteks sejarah teater modern Indonesia tetapi cukup penting dilihat dari sudut kesusastraan. sedangkan cerita yang disajikan dinamakan drama. pada tahun 1901. Komidi Bangsawan. yang menggunakan bahasa Melayu Rendah. Sandiwara Tjahaja Timoer. Setelah sandiwara Komedie seperti Stamboel didirikan muncul (The kelompok Opera Sandiwara Dardanella Malay Dardanella) yang didirikan Willy Klimanoff alias A. Yang ada adalah sandiwara. 2. Opera Abdoel Moeloek. dan lain sebagainya.2. mulai mengenal sastra lakon dengan diperkenalkannya lakon yang pertama yang ditulis oleh orang Belanda F. Indra Bangsawan. Lakon Bebasari merupakan sastra drama yang menjadi pelopor semangat kebangsaan.Dilihat dari segi sastra. Istilah teater bagi masyarakat Indonesia baru dikenal setelah Zaman Kemerdekaan. Sampai pada Zaman Jepang dan permulaan Zaman Kemerdekaan. Pada masa teater transisi belum muncul istilah teater. seperti Opera Stambul. dan lainlainnya. Drama-drama Pujangga Baru ditulis sebagai ungkapan ketertekanan kaum intelektual dimasa itu karena penindasan pemerintahan Belanda yang amat keras terhadap kaum pergerakan sekitar tahun 1930-an. Pedro pada tanggal 21 Juni 1926.2. Kemudian disusul oleh Lauw Giok Lan lewat Karina Adinda. Naskah-naskah drama tersebut belum mencapai bentuk sebagai drama karena masih menekankan unsur sastra dan sulit untuk dipentaskan. Bentuk sastra drama yang pertamakali menggunakan bahasa Indonesia dan disusun dengan model dialog antar tokoh dan berbentuk sajak adalah Bebasari (artinya kebebasan yang sesungguhnya atau inti kebebasan) karya Rustam Efendi (1926). istilah sandiwara masih sangat populer.Wiggers yang berjudul Lelakon Raden Beij Soerio Retno. Karenanya rombongan teater pada masa itu menggunakan nama sandiwara. Lakon ini menceritakan perjuangan . Sandiwara Orion. Kemudian lahirlah kelompok sandiwara lain. Lelakon Komedia Hindia Timoer (1913).

Bahkan Presiden pertama Indonesia. Sutan Takdir Alisjabana. Krukut Bikutbi. di rumah Bung Karno dibentuklah Badan Pusat Kesenian Indonesia dengan pengurus sebagai berikut. Armijn Pane. dalam situasi yang sulit dan gawat serupa itu. yaitu Sanusi Pane menulis Kertajaya (1932) dan Sandyakalaning Majapahit (1933) Muhammad Yamin menulis Ken Arok dan Ken Dedes (1934). 2. Armiijn Pane mengolah roman Swasta Setahun di Bedahulu karangan I Gusti Nyoman Panji Tisna menjadi naskah drama. Sanusi Pane (Ketua). Lakon-lakon ini ditulis berdasarkan tema kebangsaan.2. dan Kama Jaya. Satiman Wirjosandjojo menulis drama berjudul Nyai Blorong. Penulis lakon lainnya. Mr. Mr. Rainbow. Imam Supardi menulis drama dengan judul Keris Mpu Gandring. dua orang tokoh. Dr. Badan Pusat Kesenian Indonesia bermaksud .tokoh utama Bujangga. Sumanang (Sekretaris). Namun demikian.3 Teater Indonesia tahun 1940-an Semua unsur kesenian dan kebudayaan pada kurun waktu penjajahan Jepang dikonsentrasikan untuk mendukung pemerintahan totaliter Jepang. Ir Soekarno. Setan. Segala daya kreasi seni secara sistematis di arahkan untuk menyukseskan pemerintahan totaliter Jepang. dengan judul Si Bachil. persoalan.2. pada tahun 1927 menulis dan menyutradarai teater di Bengkulu (saat di pengasingan). Penulis-penulis ini adalah cendekiawan Indonesia. Nur Sutan Iskandar menyadur karangan Molliere. dan Dr. menulis dengan menggunakan bahasa Indonesia dan berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. dan sebagai anggota antara lain. dan harapan serta misi mewujudkan Indonesia sebagai negara merdeka. yaitu Anjar Asmara dan Kamajaya masih sempat berpikir bahwa perlu didirikan Pusat Kesenian Indonesia yang bertujuan menciptakan pembaharuan kesenian yang selaras dengan perkembangan zaman sebagai upaya untuk melahirkan kreasi – kreasi baru dalam wujud kesenian nasional Indonesia. yang membebaskan puteri Bebasari dari niat jahat Rahwana. Beberapa lakon yang ditulisnya antara lain. Singgih menulis drama berjudul Hantu. Maka pada tanggal 6 oktober 1942.

Dahlia. ternyata mengalami hambatan yang datangnya dari barisan propaganda Jepang. Pancawarna. seperti misalnya Bintang Surabaya. Intensitas kerja Djawa Eiga Kosya yang ingin menghambat langkah Badan Pusat Kesenian Indonesia nampak ketika mereka membuka sekolah tonil dan drama Putra Asia. yaitu di antara satu dan lain babak diselingi oleh tarian-tarian. Ratu Asia. yang kesemuanya merupakan corong propaganda Jepang. Pendekar Asia.menciptakan kesenian Indonesia baru. Air Mata Ibu (sudah difilmkan). antara lain Astaman.A Murdiati. Langkah-langkah yang telah diambil oleh Badan Pusat Kesenian Indonesia untuk mewujudkan cita-cita kemajuan kesenian Indonesia. dan Merah Delima. R. nyanyian. Dalam masa pendudukan Jepang kelompok rombongan sandiwara yang mula-mula berkembang adalah rombongan sandiwara profesional. dan lain-lain kembali berkembang dengan mementaskan cerita dalam bahasa Indonesia. Rombongan Sandiwara Bintang Surabaya menyuguhkan pementasan-pementasan dramanya dengan cara lama seperti pada masa Dardanella. Warna Sari. dan lawak. . maupun Sunda. yaitu Sendenbu yang membentuk badan perfilman dengan nama Djawa Eiga Kosy’. Tan Ceng Bok (Si Item). di antaranya dengan jalan memperbaiki dan menyesuaikan kesenian daerah menuju kesenian Indonesia baru. Ali Yugo. Rombongan sandiwara keliling komersial. Dalam kurun waktu ini semua bentuk seni hiburan yang berbau Belanda lenyap karena pemerintah penjajahan Jepang anti budaya Barat. Bengawan Solo. Secara istimewa selingannya kemudian ditambah dengan mode show. Mis Tjitjih. Mata Hari. Mis Ribut. Sija. Kris Bali. dengan peragawati gadis-gadis Indo Belanda yang cantik-cantik. Fifi Young. Rombongan sandiwara Bintang Surabaya tampil dengan aktor dan aktris kenamaan. dan Bolero. Dewi Mada. dan sebagainya. Oya. yang dikenal dengan nama samarannya Mon Siour D’amour ini dalam rombongan sandiwara Bintang Surabaya menulis lakon antara lain. Jawa. Komedi Bangsawan. Tjahaya Asia. yang dipimpin oleh orang Jepang S. Pengarang Nyoo Cheong Seng.

Ratna Asmara. yaitu rombongan sandiwara yang digemari rakyat jelata. Baru kemudian Muchsin sebagai pengusaha besar tertarik dan membiayai rombongan sandiwara Warna Sari. Ni Parini. Cerita yang dipentaskan antara lain. dan Rencong Aceh. dengan bintang-bintang eks Bolero. Bulan Punama. Bentuk penyajian semacam ini di anggap kaku oleh penonton umum yang lebih suka unsur hiburan disajikan sebagai selingan babak satu dengan babak lain . Anjar Asmara. Ia menabuh drum-drum tersebut sambil meloncat ke kanan–ke kiri sehingga menarik minat penonton. Hanya kalangan terpelajar yang menyukai pertunjukan Matahari yang menampilakan hiburan berupa tari-tarian pada awal pertunjukan baru kemudian dihidangkan lakon sandiwara dari awal hingga akhir. sandiwara rombongan Tjahaya sandiwara Asia yang ini terpaksa berlindung di bawah barisan propaganda Jepang dan berganti nama rombongan mementaskan ceritacerita baru untuk kepentingan propaganda Jepang.Menyusul kemudian muncul rombongan sandiwara Dewi Mada. mendirikan rombongan sandiwara angkatan muda Matahari. adalah Garsia penampilan musiknya yang mewah yang dipimpin oleh Garsia. Ida Ayu. Kembang Kaca. menjadi Dalam perjalanannya. yaitu Dewi Mada dengan suaminya Ferry Kok. yang sekaligus sebagai pemimpinnya. seorang keturunan terkenal menempatkan deretan drumnya yang berbagai ukuran itu memenuhi lebih dari separuh panggung. rombongan yang sandiwara sebagi Warna Raja Sari Drum. Rombongan sandiwara Dewi Mada lebih mengutamakan tari-tarian dalam pementasan teater mereka karena Dewi Mada adalah penari terkenal sejak masa rombongan sandiwara Bolero. Keistimewaan Filipina. Panggilan Tanah Air. Dewi Rani. Rombongan sandiwara terkenal lainnya adalah rombongan sandiwara Sunda Mis Tjitjih. Kusumahadi. Hingga tahun 1943 rombongan sandiwara hanya dikelola pengusaha Cina atau dibiayai Sendenbu karena bisnis pertunjukan itu masih asing bagi para pengusaha Indonesia. Cerita-cerita yang dipentaskan antara lain. dan Kama Jaya pada tanggal 6 April 1943. dan lain sebagainya.

Pertumbuhan sandiwara profesional tidak luput dari perhatian Sendenbu. nasionalis dan para profesional (dokter. Solo di Waktu Malam dan Nusa Penida. Potong Padi. Rosihan Anwar. Benteng Ngawi. Hei Natsu Eitaroo menulis Hantu. dan lain-lain). lakon Nora karya Henrik Ibsen diterjemahkan dan judulnya diganti dengan Jinak-jinak Merpati oleh Armijn Pane. Bende Mataram. humanisme dan agama. dan D. Jepang menugaskan Dr. Guna-guna. Pada saat inilah pengembangan ke arah pencapaian teater nasional dilakukan. Kupu-kupu. Nusa Penida. Kelompok ini berprinsip menegakkan nasionalisme. Pecah Sebagai Ratna. Teater tidak hanya sebagai hiburan tetapi juga untuk ekspresi kebudayaan berdasarkan kesadaran nasional dengan cita-cita menuju humanisme dan religiositas dan memandang teater sebagai seni serius dan ilmu pengetahuan. ahli seni drama atas nama Sendenbu memprakarsai berdirinya POSD (Perserikatan Oesaha Sandiwara Djawa) yang beranggotakan semua rombongan sandiwara profesional. Menjelang akhir pendudukan Jepang muncul rombongan sandiwara yang melahirkan karya ssatra yang berarti. dan Jauh di Mata. Oleh karena ada sensor Sendenbu maka lakon harus ditulis lengkap berikut dialognya. Lakon-lakon yang ditulis Anjar Asmara antara lain. Musim Bunga di Slabintana. Si Bongkok. Amat Heiho. Djajakusuma dengan dukungan Suryo Sumanto. Lakon Ibu Prajurit ditulis oleh Natsusaki Tani. dan Abu Hanifah dengan para anggota cendekiawan muda. Bahwa . Sensor Sendenbu malah menjadi titik awal dikenalkannya naskah dalam setiap pementasan sandiwara. Solo di Waktu Malam.sehingga akhirnya dengan terpaksa rombongan sandiwara tersebut mengikuti selera penonton. Pancaroba. Para pemain tidak boleh menambah atau melebih-lebihkan dari apa yang sudah ditulis dalam naskah. apoteker. Kama Jaya menulis lakon antara lain. Huyung (Hei Natsu Eitaroo). Sang Pek Engtay. Kotot Sukardi menulis lakon. Sendenbu menyiapkan naskah lakon yang harus dimainkan oleh setiap rombongan sandiwara karangan penulis lakon Indonesia dan Jepang. Dari semua lakon tersebut ada yang sudah di filmkan yaitu. yaitu Penggemar Maya (1944) pimpinan Usmar Ismail.

1956) Sekelumit Nyanyian Sunda (Nasyah Jamin. Islam dan Komunisme.2. peluang terbuka bagi seniman untuk merenungkan perjuangan dalam tokohg kemerdekaan. penderitaan. oportunisme politis. seperti korupsi. Kapten Syaf (Aoh Kartahadimaja. 2. kekecewaan. kemiskinan. Kelak. dan lain-lain. Realisme konvensional dan naturalisme tampaknya menjadi pilihan generasi yang terbiasa dengan teater barat dan dipengaruhi oleh idiom Hendrik Ibsen dan Anton Chekhov. Lakon Awal dan Mira (1952) tidak hanya terkenal di Indonesia. melainkan sampai ke Malaysia. Pakaian dan Kepalsuan oleh Akhdiat Kartamiharja (1956) berdasarkan The Man In Grey Suit karya Averchenko dan Hanya Satu Kali (1956). keberanian dan nilai kemanusiaan. mereka merenungkan peristiwa tokohg kemerdekaan.2. seperti karyakarya .4 Teater Indonesia Tahun 1950-an Setelah tokoh kemerdekaan. Titiktitik Hitam (Nasyah Jamin. bahkan lakon adaptasi. Pertahanan Akhir (Sitor Situmorang. ATNI menggalakkan dan memapankan realisme dengan mementaskan lakon-lakon terjemahan dari Barat. kemunafikan. Utuy Tatang Sontani dipandang sebagai tonggak penting menandai awal dari maraknya drama realis di Indonesia dengan lakonlakonnya yang sering menyiratkan dengan kuat alienasi sebagai ciri kehidupan moderen.teori teater perlu dipelajari secara serius. 1955). Peristiwa tokohg secara khas dilukiskan dalam lakon Fajar Sidik (Emil Sanossa. Penggemar Maya menjadi pemicu berdirinya Akademi Teater Nasional Indonesia di Jakarta. pengkhianatan. 1959). berdasarkan Justice karya John Galsworthy. Tema itu terungkap dalam lakon-lakon seperti Awal dan Mira (1952). 1951). Sayang Ada Orang Lain (1953) karya Utuy Tatang Sontani. keiklasan sendiri dan pengorbanan. Kedua seniman teater Barat dengan idiom realisme konvensional ini menjadi tonggak didirikannya Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) pada tahun 1955 oleh Usmar Ismail dan Asrul Sani. melalaikan penderitaan korban tokohg. 1954). erosi ideologi. dan lain-lain. juga sebaliknya. Sementara ada lakon yang bercerita tentang kekecewaan paska tokohg. kepahlawanan dan tindakan pengecut.

1945). Karya penyutradaraanya. Tahun 1962 Jim Lim menggabungkan unsur wayang kulit dan musik dalam karya penyutradaraannya yang berjudul Pangeran Geusan Ulun (Saini KM. Menyutradarai dengan gaya realistis tetapi isinya absurditas pada lakon Caligula (Albert Camus. 1960). Pada tahun 1960. Peristiwa penting dalam usaha membebaskan teater dari batasan realisme konvensional terjadi pada tahun 1967. Mengadaptasi lakon Hamlet dan diubah judulnya menjadi Jaka Tumbal (1963/1964). Suyatna Anirun. longser.5 Teater Indonesia Tahun 1970-an Pementasan: Mengapa Leonardo oleh Teater Koma Jim Adi Limas mendirikan Studiklub Teater Bandung dan mulai mengadakan eksperimen dengan menggabungkan unsur-unsur teater etnis seperti gamelan. Galib Husein. Ketika Rendra kembali . Sontani) dan Paman Vanya (Anton Chekhov). Jim Lim menyutradari Bung Besar. Himpunan Seni Budaya Surakarta (HBS) didirikan di Surakarta.. Menurut Brandon (1997). 1950). Tatiek Malyati. Alumni Akademi Teater Nasional yang menjadi aktor dan sutradara antara lain. The Bespoke Overcoat (Wolf mankowitz ). (Misbach Yusa Biran) dengan gaya longser. Bermain dengan akting realistis dalam lakon The Glass Menagerie (Tennesse William. Pramana Padmadarmaya. dan Chekov. melanjutkan apa yang sudah dilakukan Jim Lim yaitu mencampurkan unsur-unsur teater Barat dengan teater etnis. dan dagelan dengan teater Barat. Wahyu Sihombing. ATNI inilah akademi teater modern yang pertama di Asia Tenggara. Sedangkan metode pementasan dan pemeranan yang dikembangkan oleh ATNI adalah Stanislavskian. teater rakyat Sunda. tari topeng Cirebon. dan Biduanita Botak (Ionesco. Badak-badak (Ionesco.Moliere.2. 1961). yaitu Awal dan Mira (Utuy T. Gogol.2. Pada akhir 1950-an JIm Lim mulai dikenal oleh para aktor terbaik dan para sutradara realisme konvensional. Pada tahun 1967 Jim Lim belajar teater dan menetap di Paris. salah satu aktor dan juga teman Jim Lim. dan Kasim Achmad. Di Yogyakarta tahun 1955 Harymawan dan Sri Murtono mendirikan Akademi Seni Drama dan Film Indonesia (ASDRAFI). 2. 1962). Teguh Karya.

Teater Melarat Malang). Luthfi Rahman. Di Surabaya muncul bentuk pertunjukan teater yang mengacu teater epik (Brecht) dengan idiom teater rakyat (kentrung dan ludruk) melalui Basuki Rahmat. dan lain-lain. Djajakusuma. Hasyim Amir (Bengkel Muda Surabaya. Di Padang ada Wisran Hadi dengan teater Padang. Ujung Pandang. menjadi pemicu meningkatnya aktivitas. vokal. Teguh Karya (Teater Populer). Rahman Arge dan Aspar Patturusi mendirikan Teater Makasar. Akan tetapi. kostum dan verbalisme naskah. Lalu Teater Nasional Medan didirikan oleh Djohan A Nasution dan Burhan Piliang. Surabaya. tata cahaya. Adi Kurdi (Teater Hitam Putih). Tidak hanya Stanislavsky tetapi nama-nama seperti Brecht. Tokoh-tokoh teater yang muncul tahun 1970-an lainnya adalah. Pertunjukannya misalnya. Yogyakarta. Artaud dan Grotowsky juga diperbincangkan. Arifin C. Danarto (Teater Tanpa Penonton). D. Palembang. Di Makasar. Ikranegara (Teater Saja). Didirikannya pusat kesenian Taman Ismail Marzuki oleh Ali Sadikin. Pramana Padmodarmaya (Teater Lembaga). dan kreativitas berteater tidak hanya di Jakarta. juga lokakarya dan diskusi teater secara umum atau khusus. Teater Lektur. Padang. gubernur DKI jakarta tahun1970. Di Yogyakarta Azwar AN mendirikan teater Alam. Akhudiat. menyelenggarakan festival pertunjukan secara teratur. Putu Wijaya (teater Mandiri) dengan ciri penampilan menggunakan . Mohammad Diponegoro dan Syubah Asa mendirikan Teater Muslim.ke Indonesia. Wahyu Sihombing. Rendra mendirikan Bengkel Teater Yogya yang kemudian menciptakan pertunjukan pendek improvisatoris yang tidak berdasarkan naskah jadi (wellmade play) seperti dalam drama-drama realisme. Bib Bop dan Rambate Rate Rata (1967. pertunjukan bermula dari improvisasi dan eksplorasi bahasa tubuh dan bebunyian mulut tertentu atas suatu tema yang diistilahkan dengan teater mini kata (menggunakan kata seminimal mungkin). tetapi juga di kota besar seperti Bandung. Taman Ismail Marzuki menerbitkan 67 (enam puluh tujuh) judul lakon yang ditulis oleh 17 (tujuh belas) pengarang sandiwara. Medan. musik.1968). Noor (Teater Kecil) dengan gaya pementasan yang kaya irama dari blocking.

2. Teater Republik. Di Surabaya ada Festival Drama Lima Kota yang digagas oleh Luthfi Rahman.2.kostum yang meriah dan vokal keras. Festival Drama Lima Kota Surabaya memunculkan . Tahun 1980-1990-an situasi politik Indonesia kian seragam melalui pembentukan lembaga-lembaga tunggal di tingkat nasional.kantring.6 Teater Indonesia Tahun 1980 – 1990-an Teater Gandrik: Orde Tabung. Dalam latar situasi seperti itu lahir beberapa kelompok teater yang sebagian merupakan produk festival teater. Upeti. Dhemit. Dewan-dewan Mahasiswa ditiadakan. Fokus tidak terletak pada aktor tetapi gerombolan yang menciptakan situasi dan aksi sehingga lebih dikenal sebagai teater teror. 2. Lakon yang dipentaskan antra lain. Ditiadakannya kehidupan politik kampus sebagai akibat peristiwa Malari 1974. Sinden. Teater Gandrik menonjol dengan warna teater yang mengacu kepada roh teater tradisional kerakyatan dan menyusun berita-berita yang aktual di masyarakat menjadi bangunan cerita. Di Tegal lahir teater RSPD. Di Solo (Surakarta) muncul Teater Gapit yang menggunakan bahasa Jawa dan latar cerita yang meniru lingkungan kehidupan rakyat pinggiran. Kontrang. N. Pada saat itu lahirlah kelompok-kelompok teater baru di berbagai kota di Indonesia. Meh. Kholiq Dimyati dan Mukid F. Di Jakarta dikenal dengan Festival Teater Jakarta (sebelumnya disebut Festival Teater Remaja). Di Bandung muncul Teater Bel. Beberapa jenis festival di Yogyakarta. dan Orde Tabung. Teater Jeprik. Teater Shima. di antaranya Festival Seni Pertunjukan Rakyat yang diselenggarakan Departemen Penerangan Republik Indonesia (1983). Riantiarno (Teater Koma) dengan ciri pertunjukan yang mengutamakan tata artistik glamor. Di samping Gapit. Di Yogyakarta muncul Teater Dynasti. Menampilkan manusia sebagai gerombolan dan aksi. Salah satu lakonnya berjudul Tuk. di Solo ada juga Teater Gidag-gidig. dan Teater Payung Hitam. Pasar Seret. dan Teater Gandrik. Teater Tikar.

Aktivitas teater kampus mampu menghidupkan dan membuka kemungkinan baru gagasan-gagasan artistik. Teater Rajawali. Teater Ragil.1999). Dari Festival Teater Jakarta muncul kelompok teater seperti. Teater Bandar Jakarta. kemungkinan ekspresi artistik dikembangkan dengan gaya khas masing-masing seniman. Sanggar Suroboyo. Di Medan muncul Teater Que dan di Palembang muncul Teater Potlot. ISI menjadi satu-satunya perguruan tinggi seni yang memiliki program Strata 1 untuk bidang seni teater pada saat itu.7 Teater Kontemporer Indonesia Teater Kontemporer Indonesia mengalami perkembangan yang sangat membanggakan. Aktivitas teater terjadi juga di kampus-kampus perguruan tinggi. Meksipun seni teater konvensional tidak pernah mati tetapi teater eksperimental terus juga tumbuh. Konsep dan gaya baru saling bermunculan.Teater Pavita. 2. Teater Kanvas. Dengan demikian. Karenanya.2. Rangkuman Perkembangan teater mulai muncul sejak adanya manusia. Teater Api. Teater Tobong. Teater Tetas selain teater Studio Oncor.2. drama tidak pernah luput dari masalah hidup dan kehidupan manusia. Sejak munculnya eksponen 70 dalam seni teater. dan Teater Kami yang lahir di luar produk festival (Afrizal Malna. . Gerakan ini terus berkembang sejak tahun 80an sampai saat ini. Teater Nol. Teater Kubur. wilayah jelajah ekspresi menjadi semakin luas dan kemungkinan bentuk garap semakin banyak. Jurusan teater dibuka di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada tahun 1985. Di Semarang muncul Teater Lingkar. Semangat kolaboratif yang terkandung dalam seni teater dimanfaatkan secara optimal dengan menggandeng beragam unsur pertunjukan yang lain. Teater Institut. Salah satu teater kampus yang menonjol adalah teater Gadjah Mada dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Teater Sae yang berbeda sikap dalam menghadapi naskah yaitu posisinya sejajar dengan cara-cara pencapaian idiom akting melalui eksplorasi latihan. Ada pula Teater Luka.

semakin lama semakin rumit. Ketiga. Kedua. Peristiwa atau kejadian dibuat oleh penulis naskah sebagai kerangka besar yang mendasari terjadinya suatu lakon. Tidaklah menarik sebuah cerita .Perkembangan Teater Barat dan Timur dapat dikatakan berjalan sejajar dengan perkembangan keberadaban manusia. Dalam lakon akan dijumpai dua hal yang sangat penting. Konflik dalam lakon merupakan inti cerita. yaitu pertama. penonton adalah sekelompok orang yang menyerahkan sebagian dari kemerdekaannya untuk menjadi bagian dari tokoh yang tampil dalam suatu lakon dan menikmatinya. yaitu pertama. sehingga pada puncaknya masuk ke dalam penyelesaian cerita. Penting sekali bahwa dalam menyusun kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa seorang penulis haruslah bersabar untuk melangkah dari satu kejadian ke kejadian lain dalam suatu perkembangan yang logis. tokoh atau tokoh yang terlibat dalam kejadiankejadian dalam lakon. dan apa yang dibaca atau diceritakan kepadanya oleh orang lain. lakon atau cerita yang ditampilkan.) BAB II SENI SASTRA DALAM TEATER Teater memiliki sekurang-kurangnya empat unsur penting dalam setiap pementasan. apa yang dialami. bisa berwujud sebuah naskah atau skenario tertulis. tetapi semakin lama semakin gawat sehingga akhirnya ia sampai ke puncak yang disebut klimaks. lakon Kedua. Peristiwa lakon tersebut menuntun seseorang untuk mengikuti laku kejadian mulai dari pemaparan. pemain adalah orang yang penata membawakan tersebut. konlfik hingga penyelesaian. konflik. Penulis kemudian menyusun rangkaian kejadian. Tugas Secara Kelompok buatlah kliping gambar-gambar pementasan teater dan berikanlah uraian singkat tentangnya! (hubungkan dengan sejarah perkembangan teater. sutradara sebagai pertunjukan di panggung. skenario tak tertulis (dalam teater kerakyatan). Lakon ditulis oleh seorang penulis naskah lakon berdasarkan apa yang dilihat. Keempat.

Akan tetapi. aim. konflik yang berat. Jalinan cerita menuju konflik dan cara penyelesainnya inilah yang menjadikan lakon menarik. Keunggulan dari seorang pengarang ialah. dan bercabang-cabang jika tidak disajikan secara baik justru akan membosankan dan membuat laku lakon menjadi lamban. Pengarang adalah seorang warga masyarakat yang tentunya mempunyai pendapat tentang masalah-masalah politik . Seorang penulis terkadang mengemukakan tema dengan jelas tetapi ada juga yang secara tersirat. karena tema merupakan sasaran yang hendak dicapai oleh seorang penulis lakon. Sementara. Tokoh adalah orang yang menghidupkan kejadian atau peristiwa yang dibuat oleh penulis naskah. berliku. driving force dan sebagainya.disajikan di atas panggung tanpa adanya konflik. dan dari lingkungan tersebut dia menyerap segala persoalan yang menjadi ide-ide dalam penulisan lakonnya. karena peristiwa yang mengarahkan cerita kepada konflik membutuhkan tokoh sebagai pelaku. central idea. Tidak ada acuan yang pasti terhadap konflik dalam lakon yang dapat membuat cerita menjadi menarik. root idea. yaitu konflik dan tokoh yang terlibat dalam kejadian. dia mempunyai kepekaan terhadap lingkungan sekelilingnya. Konflik dalam lakon bisa rumit bisa juga sederhana. Pengarang atau penulis lakon menciptakan sebuah lakon bukan hanya sekedar mencipta. Jadi dalam lakon ada dua hal penting yang diciptakan oleh seorang penulis lakon. tema harus dirumuskan dengan jelas. Jadi. tetapi juga menyampaikan suatu pesan tentang persoalan kehidupan manusia. Pesan itu bisa mengenai kehidupan lahiriah maupun batiniah.1 Tema Tema ada yang menyebutnya sebagai premis. Terkadang konflik yang kecil dan sederhana jika diselesaikan secara cerdas akan membuat penonton takjub. Gagasan utama atau pesan lakon termaktub dalam konflik yang merupakan pertentangan antara satu pihak terhadap pihak lain mengenai sesuatu hal. 2. Ketika tema tidak terumuskan dengan jelas maka lakon tersebut akan kabur dan tidak jelas apa yang hendak disampaikan. thought. goal. kalau ada anggapan bahwa semakin rumit konflik lakon semakin menarik adalah anggapan yang salah.

dan sosial yang penting serta mengikuti isu-isu zamannya (Rene Wellek dan Austin Warren, 1989). Ide-ide, pesan atau pandangan terhadap persoalan yang ada dijadikan ide sentral atau tema dalam menulis naskah lakonnya. Tema adalah suatu amanat utama yang disampaikan oleh pengarang atau penulis melalui karangannya (Gorys Keraf, 1994). Tema bisa juga disebut muatan intelektual dalam sebuah permainan, ini mungkin bisa diuraikan sebagai keseluruhan pernyataan dalam sebuah permainan: topik, ide utama atau pesan, mungkin juga sebuah keadaan (Robert Cohen, 1983). Adhy Asmara (1983) menyebut tema sebagai premis yaitu rumusan intisari cerita sebagai landasan ideal dalam menentukan arah tujuan cerita. Dengan demikian bisa ditarik kesimpulan bahwa tema adalah ide dasar, gagasan atau pesan yang ada dalam naskah lakon dan ini menentukan arah jalannya cerita. Tema dalam naskah lakon ada yang secara jelas dikemukakan dan ada yang samar-samar atau tersirat. Tema sebuah lakon bisa tunggal dan bisa juga lebih dari satu. Tema dapat diketahui dengan dua cara : • Apa yang diucapkan tokoh-tokohnya melalui dialog-dialog yang disampaikan. • Apa yang dilakukan tokoh-tokohnya. Dengan berpedoman dua hal tersebut analisis tema lakon dapat dikerjakan. Misalnya, lakon Raja Lear karya William Shakespeare terjemahan Trisno Sumardjo. Dialog yang disampaikan tokoh dapat dijadikan acuan untuk menganalisis tema lakon. Masing-masing tokoh mengucapkan kalimat dialognya. Dari dialog tersebut dapat diketahui perihal atau soalan yang dibahas. Dengan merangkai setiap persoalan melalui dialog para tokohnya maka gambaran tema akan didapatkan. Detil tema selalu dapat ditemukan dari baris-baris kalimat dialog tokoh cerita. Semua analisis lakon dikerjakan dengan mencermati kalimat dialog tersebut serta hubungan antara kalimat satu dengan yang lain. Jika hanya membaca cerita secara keseluruhan tanpa meninjau kalimat dialog dengan teliti maka hasil akhir dari analisis yang dilakukan belum tentu benar. Kadangkadang, dialog kecil memiliki arti yang luas dan

sanggup mempengaruhi tema cerita. Misalnya, dalam kalimat dialog Raja Lear dapat ditarik satu simpulan bahwa meskipun sebagai raja ia disegani oleh anak-anaknya, tetapi karena sikapnya yang keras maka ia juga dibenci. Perhatikan kutipan dialog di bawah ini. LEAR : ………….. kendalikan lidahmu sedikit; nanti kuhambat untungmu…. LEAR : ………………. Sekarang kulempar tiap kewajiban orang tua, tiap pertalian keluarga dan darah; mulai kini sampai selamanya kaulah asing bagiku dan bagi hatiku…………………. KENT : Silakan. Bunuhlah tabib tuan, supaya hama jahat berupah. Batalkan anugerah tuan; kalau tidak, rangkung saya berteriak meyerukan tuanlah lalim……… RAJA TOKOHCIS : Cordelia jelita, ternyata paling kaya meski miskin; terpillih meski, meski dibuang; tercinta meski dihina……………. CORDELIA : Andaikan bukan seorang ayah, namun uban ini sudah menuntut belas-kasih. Ah wajah benginikah dipaksa menempuh pergolakan badai? Dan melawan guntur bercakra garang, petir dahsyat yang pesat,, cepat menyambar-nyabar? Bagai prajurit yang terbuang, berjaga dengan topi tipis ini? Anjing musuhku pun, walau menggigit aku, di malam begitu takkan kuusir untuk dari tempat berdiang………………. Melalui laku atau aksi tokoh dalam lakon yang biasanya diterangkan (dituliskan) dalam arahan lakon gambaran tema semakin jelas. Laku aksi memberikan penegasan kalimat dialog. Dalam lakon Raja Lear, laku tokoh dapat memberikan penjelasan sebagai berikut. • Raja Lear membagi kerajaan pada ketiga anaknya sesuai dengan pujian yang disampaikan anaknya. • Raja Lear murka pada Cordelia karena tidak memujinya. • Raja Lear marah-marah ketika tidak dilayani hidupnya pada anak yang semula disayangi. • Raja Lear marah-marah dan mengusir bawahannya ketika ada yang menentang.

• Anak-anak Raja Lear yang disayangi berubah memusuhi orang tuanya sehingga Raja Lear sakit. Dari kutipan dialog dan laku serta perbuatan tokoh dalam lakon Raja Lear di atas bisa ditarik sebuah kejelasan bahwa Raja Lear adalah orang yang gila hormat, tidak bijaksana, lalim, dan harus dipuji. Atas sikapnya itu Raja Lear menuai hasil, yaitu kehancuran diri dan keluarganya. 2.2 Plot Plot (ada yang menyebutnya sebagai alur) dalam pertunjukan teater mempunyai kedudukan yang sangat penting. Hal ini berhubungan dengan pola pengadeganan dalam permainan teater, dan merupakan dasar struktur irama keseluruhan adegan permainan. atau Plot dapat terus dibagi tanpa berdasarkan babak dan berlangsung

pembagian. Plot merupakan jalannya peristiwa dalam lakon yang terus bergulir hinga lakon tersebut selesai. Jadi plot merupakan susunan peristiwa lakon yang terjadi di atas panggung. Plot menurut Panuti Sudjiman dalam bukunya Kamus Istilah Sastra (1984) memberi batasan adalah jalinan peristiwa di dalam karya sastra (termasuk naskah drama atau lakon) untuk mencapai efek-efek tertentu. Pautannya dapat diwujudkan oleh hubungan temporal (waktu) dan oleh hubungan kausal (sebab-akibat). Plot atau alur adalah rangkaian peristiwa yang direka dan dijalin dengan seksama, yang menggerakkan jalan cerita melalui perumitan (penggawatan atau komplikasi) ke arah klimaks penyelesaian. Menurut J.A. Cuddon dalam Dictionary of Literaray Terms (1977), plot atau alur adalah kontruksi atau bagan atau skema atau pola dari peristiwa-peristiwa dalam lakon, puisi atau prosa dan selanjutnya bentuk peristiwa dan perwatakan itu menyebabkan pembaca atau penonton tegang dan ingin tahu. Plot atau alur menurut Hubert C. Heffner, Samuel Selden dan Hunton D. Sellman dalam Modern Theatre Practice (1963), ialah seluruh persiapan dalam permainan. Jadi plot berfungsi sebagi pengatur seluruh bagian permainan, pengawas utama dimana seorang penulis naskah dapat menentukan bagaimana cara mengatur lima bagian yang lain, yaitu

• Aksi Pendorong adalah saat memperkenalkan sumber konflik di antara karakter-karakter atau di dalam diri seorang karakter. Bagian ini merupakan kejadian akhir dari lakon dan terkadang memberikan jawaban atas segala persoalan dan konflik-konflik yang terjadi. dan bagian akhir. • Resolusi adalah proses penempatan kembali kepada suasana baru.1 Jenis Plot . dan bagaimana peristiwa itu terjadi. pelaku-pelakunya. tema. • Klimaks adalah proses identifikasi atau proses pengusiran dari rasa tertekan melalui perbuatan yang mungkin saja sifatnya jahat. 2. waktu kejadiannya. Seorang penulis seringkali meletakkan berbagai informasi penting pada bagian awal lakon. Plot juga berfungsi sebagai bagian dasar yang membangun dalam sebuah teater dan keseluruhan perintah dari seluruh laku maupun semua bagian dari kenyataan teater serta bagian paling penting dan bagian yang utama dalam drama atau teater. • Krisis adalah penjelasan yang terperinci dari perjuangan karakterkarakter atau satu karakter untuk mengatasi konflik.karakter. Pada bagian tengah biasanya berisi tentang kejadian-kejadian yang bersangkut paut dengan masalah pokok yang telah disodorkan kepada penonton dan membutuhkan jawaban. Pembagian plot dalam lakon klasik atau konvensional biasanya sudah jelas yaitu. • Eksposisi adalah saat memperkenalkan dan membeberkan materimateri yang relevan atau memberi informasi pada penonton tentang masalah yang dialami atau konflik yang terjadi dalam diri karakterkarakter yang ada di lakon. diksi. misalnya tempat lakon tersebut terjadi. musik. dan spektakel. atau argumentative atau kejenakaan atau melalui cara-cara lain. bagian tengah. bagian awal. Bagian akhir berisi tentang satu persatu pertanyaan penonton terjawab atau sebuah lakon telah mencapai klimaks besar. Secara umum pembagian plot terkadang menggunakan tipe sebab akibat yang dibagi dalam lima pembagian sebagai berikut.

alur lurus atau straight plot. Alur ini adalah alur cerita paling umum pada alur lakon.Ketika menonton atau melihat atau membaca sebuah lakon fiksi maka emosi kita akan terpengaruh dengan apa yang kita tonton. terdiri dari alur menanjak atau rising plot. Secara sederhana plot dapat dibagi menjadi dua yaitu simple plot (plot yang sederhana) dan multi plot (plot yang lebih dari satu) 2. Alur mundur atau regresive plot adalah alur cerita yang dimulai dari inti cerita kemudian dipaparkan bagaimana . Alur maju atau progresive plot adalah alur cerita yang dimulai dari pemaparan peristiwa lakon sampai menuju inti peristiwa lakon. Alur menurun atau falling plot adalah alur dengan emosi lakon mulai dari tingkat emosi yang paling tinggi menuju tingkat emosi lakon yang paling rendah. atau baca tersebut. Simple plot ini terdiri dari plot linear dan linear-circular. dan alur melingkar atau circular plot. alur menurun atau falling plot. alur mundur atau regressive plot. Alur ini merupakan kebalikan dari alur menanjak atau rising plot. lihat. Emosi ini timbul karena terpengaruh oleh jalinan peristiwaperistiwa dan jalannya cerita yang ditulis oleh penulis. Plot lakon banyak sekali ragamnya tergantung dari penulis lakon mempermainkan emosi kita. Alur linear ini masih bisa dibagi-bagi lagi sesuai dengan sifat emosi yang terkandung dari plot linear ini. Plot linear adalah alur cerita mulai dari awal sampai akhir cerita bergerak lurus sedangkan linear-circular adalah alur cerita mulai dari awal sampai akhir bergerak lurus secara melingkar sehingga awal dan akhir cerita akan bertemu dalam satu titik.1 Simple Plot Simple plot atau plot lakon yang sederhana adalah lakon yang memiliki satu alur cerita dan satu konflik yang bergerak dari awal sampai akhir. Jalinan peristiwa dan jalannya cerita inilah yang dimaksud dengan plot. Jalinan jalan cerita dalam lakon bergerak mulai dari awal sampai akhir tanpa ada kilas balik. Alur menanjak atau rising plot adalah alur dengan emosi lakon mulai dari tingkat emosi yang paling rendah menuju tingkat emosi lakon yang paling tinggi. alur maju atau progressive plot.1.

Plot-plot yang ada dalam cerita tersebut memiliki permasalah yang harus diselesaikan. tokoh.2 Anatomi Plot Menurut Rikrik El Saptaria (2006). Plot disusun oleh pengarang dengan tujuan untuk mengungkapkan buah pikirannya yang secara khas. Setiap episode dalam lakon tersebut sebenarnya tidak ada hubungan sebab akibat dalam rangkaian cerita. bagian 5 menit pertama yang sengaja dibuat menarik untuk memikat penikmat . Rendra. di mana setiap episode memiliki alur cerita sendiri. Pengungkapan ini lewat jalinan peristiwa yang baik sehingga menciptakan dan mampu menggerakkan alur cerita itu sendiri. 2. Alur episode atau episodic plot adalah plot cerita yang terdiri dari bagian perbagian secara mandiri. dimana pada akhir cerita semua tokoh yang terlibat dalam cerita yang terpisah tadi akhirnya menyatu guna menyelesaikan cerita. Alur ini merupakan kebalikan dari progressive plot. tema. 2. Multi plot ini terdiri dari dua tipe yaitu alur episode atau episodic plot dan alur terpusat atau concentric plot. Alur lurus atau straight plot hampir sama dengan alur maju.2 Multi Plot Multi plot adalah lakon yang memiliki satu alur utama dengan beberapa sub plot yang saling bersambungan. Raja Lear karya William Shakespeare dan lain-lain.1. Dengan demikian plot memiliki anatomi atau bagian-bagian yang menyusun plot tersebut yang disebut dengan anatomi plot sebagai berikut. Tetapi pada akhir cerita alur cerita yang terdiri dari episodeepisode ini akan bertemu. Contoh lakon dengan alur mundur adalah Opera Primadona karya Nano Riantiarno yang dimainkan oleh Teater Koma. plot atau alur cerita merupakan rangkaian peristiwa yang satu dengan yang lain dihubungkan dengan hukum sebab akibat. Contoh lakon dengan alur episode atau episodic plot adalah lakon Panembahan Reso karya W.S. Concentric plot adalah cerita lakon yang memiliki beberapa plot yang berdiri sendiri.sampai terjadi peristiwa tersebut. • Gimmick.

Suspen ini biasanya diciptakan dan dijaga oleh penulis lakon dari awal sampai akhir cerita. Suspen menumbuhkan memelihara keingintahuan penonton dari awal sampai akhir cerita. Kilas balik ini berfungsi untuk mengingatkan kembali ingatan penonton pada peristiwa yang telah lampau tetapi masih dalam satu rangkaian peristiwa lakon. tetapi kilas balik pada film biasanya berupa nukilannukilan gambar. Dengan menimbulkan pertanyaanpertanyaan ini penonton akan betah mengikuti cerita sampai selesai. aksi seorang tokoh yang berkata atau bertindak sesuatu. Suspen ini biasanya dibangun melalui dialog-dialog serta laku para tokoh yang ada dalam naskah lakon. Dalam lakon banyak dijumpai tokoh-tokoh ini. Hal ini akan menyebabkan kualitas pertunjukan dinilai tidak terlalu bagus. • Dramatic Irony. dan biasanya tidak disadari oleh tokoh tersebut. berisi dugaan dan prasangka yang dibangun dari rangkaian ketegangan yang mengundang akan pertanyaan dan dan keingintahuan penonton. Kalau pemeran atau sutradara tidak cermat dalam menganalisisnya maka kemungkinan suspen terlewati dan tidak tergarap dengan baik. • Suspen. Kalau cerita itu bisa ditebak oleh penonton maka perhatian pertunjukan dipikirkan. • Flashback. kilas balik peristiwa lampau yang dikisahkan kembali pada saat ini. penonton tersebut akan tidak berkurang dan menganggap sesuatu untuk menyuguhkan .• Fore Shadowing. Kilas balik biasanya diceritakan • melalui dialog tokoh. pembayangan ke depan yang terjadi ketika tokoh meramalkan atau membayangkan keadaan yang akan datang. dan tanpa disadari akan menimpa dirinya sendiri. karena semuanya sudah bisa ditebak oleh penonton. supaya penonton bertanyatanya apa akibat yang ditimbulkan dari peristiwa sebelumnya ke peristiwa selanjutnya.

aksi atau ucapan tokoh utama yang beritikad tentang sesuatu persoalan yang menimbulkan pertentangan atau konflik antartokoh. 2. dan tahun berapa? Apakah waktu kejadiannya berkaitan dengan waktu kejadian peristiwa di adegan lain. tempat Pertanyaan tidak serta merta dijawab secara global tetapi harus lebih mendetil mengetahui secara waktu kejadiannya. Pertanyaan untuk setting atau latar cerita untuk adalah kapan dan dimana pasti persitiwa dan terjadi. 1997). Seperti .3 Setting Membicarakan tentang setting dalam mengkaji lakon tidak ada kaitan langsung dengan tata teknik pentas. atau sudah lain hari? Pertanyaan-pertanyaan seputar waktu dan tempat kejadian ini akan memberikan gambaran peristiwa lakon yang komplit (David Groote.1 Latar Tempat Latar tempat adalah tempat yang menjadi latar peristiwa lakon itu terjadi. Analisis setting lakon ini merupakan suatu usaha untuk menjawab sebuah pertanyaan apakah peristiwa terjadi di luar ruang atau di dalam ruang? Apakah terjadi pada waktu malam. pagi hari.• Surprise. bulan. Peristiwa dalam lakon adalah peristiwa fiktif yang menjadi hasil rekaan penulis lakon.3. suatu peristiwa yang terjadi diluar dugaan penonton sebelumnya dan memancing perasaan dan pikiran penonton agar menimbulkan dugaan-dugaan yang tidak pasti. Dalam sebuah lakon terkadang dijumpai aksi-aksi yang seperti ini dan akan menimbulkan suatu rasa simpati penonton kepada korbannya. di dalam gedung atau di dalam rumah? Jam berapa kira-kira terjadi? Tanggal. 2. Menurut Aristoteles peristiwa dalam lakon adalah mimesis atau tiruan dari kehidupan manusia keseharian. pada akhirnya mengarah ke sesuatu yang tidak disangka-sangka sebelumnya. Namun peristiwa yang diharapkan tersebut. atau sore hari? Jika terjadi dalam ruang lalu di mana letak ruang itu. • Gestus. karena memang bukan persoalan scenery yang hendak dibahas.

sore). Dengan menggetahui latar waktu yang terjadi pada maka semua pihak akan bisa mengerjakan lakon tersebut. tetapi bisa sebagai bahan dasar dari pertunjukan.3. dan waktu yang menunjukkan suatu zaman atau . Gambaran tempat peristiwa dalam lakon kadang sudah diberikan oleh penulis lakon. babak atau dalam keseluruhan lakon tersebut. tempat peristiwa ini harus dikomunikasikan atau diceritakan oleh para pemeran sebagai komunikator kepada penonton. Latar waktu dalam naskah lakon bisa menunjukkan waktu dalam arti yang sebenarnya (siang. Sedangkan sebagai bahan dasar pertunjukan.diketahui bahwa sifat dari naskah lakon bisa berdiri sendiri sebagai bahan bacaan sastra. musim kemarau. tetapi kadang tidak diberikan oleh penulis lakon. Analisis latar waktu yang dilakukan oleh sutradara biasanya berhubungan dengan tata teknik pentas. Latar waktu terkadang sudah diberikan`atau sudah diberi rambu-rambu oleh penulis lakon. Analisis latar waktu perlu dilakukan baik oleh seorang sutradara maupun oleh pemeran. Misalnya. waktu yang menunjukkan sebuah musim (musim hujan.2 Latar Waktu Latar waktu adalah waktu yang menjadi latar belakang peristiwa. Tugas seorang sutradara dan pemeran ketika menghadapi sebuah naskah lakon adalah menginterprestasi latar waktu dalam lakon tersebut. adegan. Analisis latar tempat dapat dilakukan dengan mencermati dialog-dialog tokoh yang sedang berlangsung dalam satu adegan. tetapi banyak latar waktu ini tidak diberikan oleh penulis lakon. pagi. 2. penata artistik akan menata perabot dan mendekorasi pementasan sesuai dengan latar waktu. interpretasi tempat kejadian peristiwa ini terletak pada keterangan yang diberikan oleh penulis naskah lakon dan dalam imajinasi pembaca. Analisis ini juga sangat penting dilakukan karena berhubungan dengan tata teknik pentas. Sebagai bahan bacaan sastra. dan babak itu terjadi. malam. musim dingin dan lain-lain). sedangkan yang dilakukan oleh pemeran biasanya berhubungan dengan akting dan bisnis akting. Analisis ini perlu dilakukan guna memberi suatu gambaran pada penonton tentang tempat peristiwa itu terjadi.

Perbedaan-perbedaan tokoh ini diharapkan akan diidentifikasi oleh penonton.4. Misalnya. Tanpa perwatakan tidak akan ada cerita. Misalnya. Analisis latar waktu bisa dilakukan dengan mencermati dialog-dialog yang disampaikan oleh tokoh dalam adegan atau babak yang sedang berlangsung. adegan awal pada lakon 2.3. tanpa perwatakan tidak bakal ada plot. Zaman Romantik. Jika proses identifikasi ini berhasil. Latar peristiwa yang nyata digunakan oleh penulis lakon untuk menggambar peristiwa yang terjadi secara nyata pada waktu itu sebagai dasar dari lakonnya. maka perasaan penonton akan merasa terwakili oleh perasaan tokoh yang diidentifikasi tersebut. tabrakan . yaitu seolah-olah terjadi kiamat karena lakon ini dialegorikan sebagai kiamat kecil. Lakon-lakon dengan latar peristiwa yang riil juga terjadi pada lakonlakon di Indonesia pada tahun 1950 sampai tahun 1970. Latar peristiwa ini bisa sebagai realita bisa juga fiktif yang menjadi imajinasi penulis lakon. Padahal ketidaksamaan watak akan melahirkan pergeseran. 2. Suatu misal kita mengidentifisasi satu tokoh. Latar peristiwa pada adegan atau lakon adalah peristiwa yang mendahului adegan atau lakon tersebut.3 Latar Peristiwa Latar peristiwa adalah peristiwa yang melatari adegan itu terjadi dan bisa juga yang melatari lakon itu terjadi. Karakterisasi atau perwatakan dalam sebuah lakon memegang tokohan yang sangat penting. atau yang mengakibatkan adegan atau lakon itu terjadi. mungkin saja William Shakespeare terinspirasi oleh bencana yang melanda Inggris pada waktu itu. Bahkan Lajos Egri berpendapat bahwa berperwatakanlah yang paling utama dalam lakon. zaman tokohg dan lain-lain). berbarti kita telah mengadopsi pikiran-pikiran dan perasaan tokoh tersebut menjadi perasaan dan pikiran kita.abad (Zaman Klasik. Lakon pada waktu itu mengambil latar peristiwa pada Zaman Tokohg Revolusi di Indonesia. lakon Raja Lear. Karakterisasi Karakterisasi merupakan usaha untuk membedakan tokoh satu dengan tokoh yang lain.

tokoh Tumenggung Kent. sebab dengan adanya tokoh maka timbul konflik. Konflik dapat dikembangkan oleh penulis lakon melalui ucapan dan tingkah laku tokoh. dan cita-cita Raja Lear. Deutragonis Deutragonis adalah tokoh lain yang berada di pihak tokoh protagonis.kepentingan. tokoh dapat dibagi-bagi sesuai dengan motivasi-motivasi yang diberikan oleh penulis lakon. Contoh. Tokoh ini juga menentukan jalannya cerita. Protagonis Protagonis adalah tokoh utama yang merupakan pusat atau sentral dari cerita. Keberadaan tokoh adalah untuk mengatasi persoalanpersoalan yang muncul ketika mencapai suatu citacita.4. Persoalan ini bisa dari tokoh lain. Cordelia dalam lakon Raja Lear karya William Shakespeare. 1985). konflik yang akhirnya melahirkan cerita (A. 2. bisa dari alam. Tokoh-tokoh tersebut adalah sebagai berikut. Adjib Hamzah.1 Jenis-jenis Tokoh Tokoh merupakan sarana utama dalam sebuah lakon. keinginan. dan pertikaian itu harus berkembang mencapai klimaks. Tokoh antagonis harus memiliki watak yang kuat dan kontradiktif terhadap tokoh protagonis. Dalam teater. Tritagonis . Contoh tokoh protagonis pada lakon Raja Lear karya William Shakespeare terjemahan Trisno Sumardjo adalah tokoh Raja Lear itu sendiri. Tokoh protagonis dan antagonis harus memungkinkan menjalin pertikaian. karena dia seringkali menjadi musuh yang menyebabkan konflik itu terjadi. Tokoh ini ikut mendukung menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh tokoh protaganis. Edgar. Kedua tokoh inilah yang menentang perkembangan. Motivasi-motivasi tokoh inilah yang dapat melahirkan suatu perbuatan tokoh. bisa juga karena kekurangan dirinya sendiri. Contoh tokoh antagonis pada lakon Raja Lear karya William Shakespeare terjemahan Trisno Sumardjo adalah tokoh Gonerill dan tokoh Regan. Antagonis Antagonis adalah tokoh lawan.

Jadi perkembangan karakter seharusnya mengacu pada pribadi manusia. tokoh Bangsawan pada lakon Raja Lear karya Willliam Sahkespeare. sehingga . Biasanya dia berpihak pada tokoh antagonis. Oswald. Foil Foil adalah tokoh yang tidak secara langsung terlibat dalam konflik yang terjadi tetapi ia diperlukan guna menyelesaikan cerita. Menurut Rikrik El Saptaria (2006). Penulis lakon adalah orang yang memiliki dunia sendiri yaitu dunia fiktif. Karakter tokoh dalam lakon mengacu pada pribadi manusia yang berkembang sesuai dengan perkembangan lingkungan. Curan dalam lakon Raja Lear karya William Shakespeare. Contoh. Ketika masih kecil dia bereksplorasi dengan dirinya sendiri untuk mengetahui perkembangan dirinya. 2. teatrikal. yang merupakan akumulasi dari pengalaman-pengalaman dan interaksi-interaksi yang dilakukannya dan terus berkembang. Contoh: tokoh Badut dalam lakon Raja Lear karya William Shakespeare. dan karikatural. Dia adalah pengawal dari Cordelia.Tritagonis adalah tokoh penengah yang bertugas menjadi pendamai atau pengantara protagonis dan antagonis. yaitu flat character. jenis karakter dalam teater ada empat macam. Utility Utility adalah tokoh pembantu atau sebagai tokoh pelengkap untuk mendukung rangkaian cerita dan kesinambungan dramatik. dan ketika sudah dewasa maka pribadinya berkembang melalui hubungan dengan lingkungan sosial. sedangkan penokohan adalah proses kerja untuk memainkan tokoh yang ada dalam naskah lakon. tokoh Perwira. Penokohan ini biasanya didahului dengan menganalisis tokoh tersebut sehingga bisa dimainkan.4. Biasanya tokoh ini mewakili jiwa penulis. • Flat Character (perwatakan dasar) Flat character atau karakter datar adalah karakter tokoh yang ditulis oleh penulis lakon secara datar dan biasanya bersifat hitam putih.2 Jenis Karakter Karakter adalah jenis tokoh yang akan dimainkan. round charakter. Contoh.

Flat character biasanya ada pada karakter tokoh yang tidak terlalu penting atau karakter tokoh pembantu. dan lebih bersifat simbolis. antara ketegangan dengan keriangan suasana. Si Tua. karakteristiknya kaya dengan pesan-pesan dramatik. Karakter-karakter teatrikal jarang dijumpai pada lakon-lakon realis. Si Gembrot. bahkan perpaduan antara ucapan dengan tingkah laku. . Karakter ini segaja diciptakan oleh penulis lakon sebagai penyeimbang antara kesedihan dan kelucuan. Round karakter adalah karakter tokoh dalam lakon yang mengalami perubahan dan perkembangan baik secara kepribadian maupun status sosialnya. Perkembangan inilah yang menjadikan karakter ini menarik dan mampu untuk mengerakkan jalan cerita. Flat character ini ditulis dengan tidak mengalami perkembangan emosi maupun derajat status sosial dalam sebuah lakon. seperti tokoh A. dan cenderung menyindir.ketika mencipta sebuah karakter dia bebas menentukan suatu perkembangan karakter. • Karikatural Karikatural adalah karakter tokoh yang tidak wajar. tetapi sangat banyak dijumpai pada lakon-lakon klasik dan non realis. Perkembangan dan perubahan ini mengacu pada perkembangan pribadi orang dalam kehidupan sehari-hari. Sifat karikatural ini bisa berupa dialog-dialog yang diucapkan oleh karakter tokoh. C. tetapi diperlukan dalam sebuah lakon.. Karakter ini hanya simbol dari psikologi masyarakat. suasana. Kawan. Misalnya karakter yang diciptakan oleh Putu Wijaya pada lakonlakonnya yang bergaya post-realistic. • Teatrikal Teatrikal adalah karakter tokoh yang tidak wajar. satiris. • Round Character (perwatakan bulat) Karakter tokoh yang ditulis oleh penulis secara sempurna. bisa juga dengan tingkah laku. Pemimpin (lakon LOS) dan lain-lain. keadaan jaman dan lain-lain yang tidak bersifat manusiawi tetapi dilakukan oleh manusia. Karakter ini biasanya terdapat karakter tokoh utama baik tokoh protagonis maupun tokoh antagonis. D. unik.

Model penyutradaraan seperti yang dilakukan oleh George II diteruskan pada masa lahir dan berkembangnya gaya realisme. maka memerlukan peremajaan pemain.Rangkuman Drama yang merupakan unsur seni sastra dalam teater terbagi atas: tema. Dalam terminologi Yunani sutradara (director) disebut didaskalos yang berarti guru dan pada abad pertengahan di seluruh Eropa istilah yang digunakan untuk seorang sutradara dapat diartikan sebagai master. Andre Antoine di Tokohcis dengan Teater Libre serta Stansilavsky di Rusia adalah dua sutradara berbakat yang mulai menekankan idealisme dalam setiap . Sularto BAB III DASAR SENI PENYUTRADARAAN DALAM TEATER Pada mulanya pementasan teater tidak mengenal sutradara. Meskipun demikian. Pementasan teater muncul dari sekumpulan pemain yang memiliki gagasan untuk mementaskan pementasan sebuah teater cerita. Proses mengajar dijadikan tonggak awal lahirnya “sutradara”. Para aktor yang telah memiliki banyak pengalaman mengajarkan pengetahuannya kepada aktor muda. 1994). Istilah sutradara seperti yang dipahami dewasa ini baru muncul pada jaman Geroge II. Dengan banyaknya jumlah pentas yang harus dilakukan. maka kehadiran seorang sutradara yang mampu mengatur dan mengharmonisasikan keseluruhan unsur artistik pementasan dibutuhkan. Seorang bangsawan (duke) dari Saxe-Meiningen yang memimpin sebuah grup teater dan menyelenggarakan pementasan keliling Eropa pada akhir tahun 1870-1880. produksi pementasan teater Saxe-Meiningen masih mengutamakan kerja bersama antarpemain yang dengan giat berlatih untuk meningkatkan kemampuan berakting mereka (Robert Cohen. setting. dan karakterisasi. Sejalan dengan kebutuhan akan yang semakin meningkat. Kemudian mereka berlatih para dan aktor memainkkannya di hadapan penonton. Tugas Analisislah naskah “Domba-domba Revolusi” karya B. plot.

kerja sutradara dimulai sejak merencanakan sebuah pementasan. menentukan bentuk dan gaya pementasan. Berhasil tidaknya sebuah pertunjukan teater mencapai takaran artistik yang diinginkan sangat tergantung kepiawaian sutradara. Nskah tersebut harus memenuhi kreteria yang diinginkan serta sesuai dengan kondisi yang ada di lapangan. Waluyo. maka seorang sutradara harus mengerti dengan baik hal-hal yang berhubungan dengan pementasan. yaitu menentukan lakon. Dengan demikian sutradara menjadi salah satu elemen pokok dalam teater modern. Pemilihan Naskah Proses atau tahap pertama yang harus dilakukan oleh sutradara adalah menentukan lakon yang akan dimainkan. Ada beberapa pertimbangan yang dapat dilakukan oleh sutradara dalam memilih naskah. menentukan pemain. memahami dan mengatur blocking serta melakukan serangkaian latihan dengan para pemain dan seluruh pekerja artistik hingga karya teater benarbenar siap untuk dipentaskan. Gordon Craig merupakan seorang sutradara yang menanamkan gagasannya untuk para aktor sehingga ia menjadikan sutradara sebagai pemegang kendali penuh sebuah pertunjukan teater (Herman J. 3. Oleh karena kedudukannya yang tinggi. Max Reinhart mengembangkan penyutradaraan dengan mengorganisasi proses latihan para aktor dalam waktu yang panjang. Jika sutradara memilih naskah yang akan ditampilkan dalam keadaan terpaksa maka bisa dipastikan hasil pementasan menjadi kurang baik. Naskah yang tidak dikehendaki akan . 2001). • Sutradara menyukai naskah yang dipilih. Setelah itu tugas berikutnya adalah menganalisis lakon. Oleh karena itu.1 Naskah Jadi Mementaskan teater dengan naskah yang sudah tersedia memiliki kerumitan tersendiri terutama pada saat hendak memilih naskah yang akan dipentaskan. Sutradara bisa memilih lakon yang sudah tersedia (naskah jadi) karya orang lain atau membuat naskah lakon sendiri.produksinya. seperti tertulis di bawah ini.1.1. 3.

sutradara harus mampu melakukan adaptasi sehingga pendanaan bisa dikurangi tanpa mengurangi nilai artistik lakon. Hal ini membawa dampak tersendiri dalam bidang pendanaan. • Sutradara merasa mampu mementaskan naskah yang telah dipilih. tetapi semua orang yang terlibat menjadi senang karena dapat mengerjakannya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.2 Membuat Naskah Sendiri Membuat naskah lakon sendiri tidak menguntungkan karena akan memperpanjang proses pengerjaan. Oleh karena itu. Beberapa naskah yang baik terkadang memiliki konsekuensi logis dengan pendanaan. Akan tetapi berkenaan dengan sumber daya yang dimiliki. keseluruhan kerja menjadi tidak optimal. Naskah lakon yang baik tidak ada gunanya jika dimainkan oleh aktor yang kurang baik. sutradara harus mampu membuat naskah yang sesuai dengan kualitas sumber daya yang ada. seperti analisis yang kurang detil. • Sutradara wajib mempertimbangkan sisi pendanaan secara khusus. tetapi juga dengan unsur pendukung yang lain. Naskah semacam ini bersifat situasional. Mampu mementaskan sebuah naskah tentunya tidak hanya berkaitan dengan kecakapan sutradara.1. Sutradara dengan segenap kemampuannya harus mampu meyakinkan pemain dan mengusahakan pertunjukan agar tetap digelar sehingga proses yang telah dilakukan tidak menjadi sia-sia.Tidak ada gunanya berlatih naskah lakon tertentu dalam waktu lama jika di tengah proses tiba-tiba hal itu terhenti karena alasan tertentu. dan pendanaan menjadi pertimbangan dalam memilih naskah yang akan dipentaskan. 3. Jika tidak. penata artsitik. pemilihan pemain yang asal-asalan. Semua sumber daya dimiliki seperti pemain. Misalnya. • Sutradara mampu tetap mementaskan naskah yang dipilih. membuat naskah sendiri dapat menjadi pilihan yang tepat.membawa pengaruh dan masalah tersendiri bagi sutradara dalam mengerjakannya. • Sutradara mampu menemukan pemain yang tepat. Jika sutradara merasa mampu mengusahakan pendanaan secara optimal untuk mewujudkan tuntutan artistik lakon. Beberapa . naskah yang dipilih memoiliki latar cerita di rumah mewah dengan segala perabot yang indah. sutradara harus mampu mengukur kualitas sumber daya pemain yang dimiliki dalam menentukan naskah yang akan dipentaskan. Untuk itu. maka naskah tersebut bisa dipilih.

Dengan menulis lawan dari sifat protagonis maka karakter antagonis dengan sendirinya terbentuk. pangkal persoalan yang dibicarakan adalah sikap licik seseorang yang selalu memfitnah orang lain demi kepentingannya sendiri. dalam persoalan tentang kelicikan. bagian awal. • Menentukan persoalan. Tema. Bagian awal adalah bagian pengenalan secara lebih rinci masing-masing tokoh dan titik konflik awal muncul. William Froug (1993) misalnya. Dengan adanya sinopsis maka penulisan lakon menjadi terarah dan tidak mengadaada. dermawan. sutradara sekaligus penulis naskah Teater Koma. konflik. maka tokoh lainnya mudah ditemukan. Tema adalah gagasan dasar cerita atau pesan yang akan disampaikan oleh pengarang kepada penonton. Tidak ada cerita teater tanpa konflik. Kerangka ini membagi jalannya cerita mulai dari pemaparan. maka tokoh protagonis dapat diwujudkan sebagi orang yang rajin. Persoalan ini kemudian diikembangkan dalam cerita yang hendak dituliskan. dan akhir. membuat kerangka cerita (skenario) dengan empat bagian. Pada bagian akhir. • Menentukan tema. Misalnya. semangat dalam bekerja. Riantiarno (2003). yaitu pembuka yang berisi pengantar cerita atau sebab awal. Bagian tengah adalah konflik yang meruncing hingga sampai klimaks. titik balik cerita dimulai dan konflik diselesaikan. Persoalan atau konflik adalah inti daricerita teater. Misalnya tema yang dipilih adalah “kebaikan akan mengalahkan kejahatan”. Gambaran cerita secara global dari awal sampai akhir hendaknya dituliskan. yaitu pembukaan. menentukan kerangka lakon dalam tiga bagian. berkecukupan. dan penutup yang merupakan simpulan cerita atau akibat.langkah di bawah ini dapat dijadikan acuan untuk menulis naskah lakon. maka semakin jelas pula karakter tokoh antagonis. maka dalam cerita hal tersebut harus dimunculkan melalui aksi tokoh-tokohnya sehingga penonton dapat menangkap maksud dari cerita bahwa sehebat apapun kejahatan pasti akan dikalahkan oleh kebaikan. Dengan membuat kerangka cerita maka penulis akan memiliki batasan yang jelas sehingga cerita tidak berteletele. • Menentukan protagonis. Dengan menentukan tokoh protagonis secara mendetil. akan menuntun laku cerita dari awal sampai akhir. Misalnya dengan tema “kebaikan akan mengalahkan kejahatan”. Pada bagian pembukaan memaparkan sketsa singkat tokoh-tokoh cerita. Semakin detil sifat atau karakter protagonis. Tokoh protagonis adalah tokoh yang membawa laku keseluruhan cerita. Oleh karena itupangkal persoalan atau titik awal konflik perlu dibuat dan disesuaikan dengan tema yang dikehendaki. konflik hingga klimaks. Kerangka cerita akan membingkai jalannya cerita dari awal sampai akhir. Jika tokoh protagonis dan antagonis sudah ditemukan. • Membuat sinopsis (ringkasan cerita). serta jujur. • Menentukan kerangka cerita. isi yang berisi pemaparan. . klimaks sampai penyelesaian. maka tokoh lain baik yang berada di pihak protagonis atau antagonis akan mudah diciptakan. senang membantu orang lain. tengah. Sinopsis digunakan pemandu proses penulisan naskah sehingga alur dan persoalan tidak melebar.

Pesan ini ingin disampaikan oleh pengarang dengan akhir yang tragis dimana tokoh Romeo dan Juliet akhirnya mati bersama. Dalam proses analisis ini. Dalam beberapa lakon ada cerita yang diakhiri dengan baik tetapi ada yang diakhiri secara tergesa-gesa. logis. Apa yang hendak disampaikan oleh pengarang melalui naskah lakon disebut pesan. Merupakan bahan komunikasi utama yang hendak disampaikan kepada penonton. sutradara memepelajari seluruh isi lakon dan menangkap gambaran lengkap lakon seperti apa yang tertulis.2. Semua ini akan memberi sudut pandang bagi sutradara dalam melihat. gunakan dan manfaatkan waktu sebaik mungkin. Mengakhiri sebuah persoalan yang dimunculkan tidaklah mudah. Oleh karena itu. sutradara wajib menemukan pesan utama dari lakon yang telah ditentukan. Dinamika percintaan Romeo dan Juliet yang berakhir dengan kematian inilah yang harus ditekankan oleh sutradara kepada penonton. Dengan analisis yang baik. dalam tahap ini sutradara hanya membaca kehendak pengarang melalui lakonnya. Penting mengetahui dasar persoalan (konflik) dalam sebuah lakon karena hal tersebut akan membawa laku aksi para tokohnya. Oleh karena itu. menilai. pada bagian mana konflik itu memuncak. • Konflik dan Penyelesaian. Di bagian mana konflik itu muncul dan bagaimana aksi dan reaksi para tokohnya. Jadi.1 Analisis Dasar Analisis dasar adalah telaah unsur-unsur pokok yang membentuk lakon. Lakon yang telah ditentukan harus segera dipelajari sehingga gambaran 100% lengkap cerita didapatkan. Akhir cerita yang mengesankan selalu akan dinanti oleh penonton. Setelah semua hal disiapkan maka proses berikutnya adalah menulis. dan pada akhirnya bagaimana konflik itu diselesaikan. dan tidak tergesa-gesa. 3. Analisis karakter tokoh sangat penting dan harus dilakukan secara mendetil agar sutradara mendapatkan gambaran watak sejelas-jelasnya. • Pesan Lakon. bahkan ada yang bingung mengakhirinya. dan memahami konflik lakon. Berhasil atau tidaknya sebuah pertunjukan teater diukur dari sampai tidaknya pesan lakon kepada penonton. • Menulis.2 Analisis Lakon Menganalisis lakon adalah salah satu tugas utama sutradara. tetapi lebih tidak mudah lagi memindahkan gagasan dalam bentuk tulisan. Mencari dan mengembangkan gagasan memang tidak mudah. Selain itu sudut pandang pengarang dalam menyelesaikan konflik dapat menegaskan pesan yang hendak disampaikan. sutradara akan lebih mudah menerjemahkan kehendak pengarang dalam pertunjukan. 3. Romeo and Juliet karya Shakespeare mengandung pesan bahwa seseorang yang telah menemukan cinta sejati tidak takut terhadap risiko apapun termasuk mati.• Menentukan cara penyelesaian. Unsur-unsur pokok yang harus dianalisis oleh sutradara adalah senagai berikut. Karena tidak banyak arahan dan keterangan yang dituliskan . • Karakter Tokoh. Oleh karena itu tentukan akhir cerita dengan baik.

Gambaran tempat kejadian. Di gedung tersebut cerita terjadi di ruang aula. Jika apartemen disimbolkan sebagai pusat kekuasaan maka peristiwa yang terjadi di dalamnya juga harus mengikuti simbolisasi ini sedangkan latar waktunya bisa ditarik ke masa lalu atau masa kini seperti yang dikehendaki oleh sutradara. Proses interpretasi biasanya menyangkut unsur latar. maka sutradara perlu melakukan tafsir atau interpretasi. Oleh karena itu analisis karakter ini harus dilakukan dengan teliti dan hati-hati sehingga setiap perubahan karakter yang dialami oleh tokoh tidak lepas dari pengamatan sutradara. Adaptasi terhadap tempat kejadian peristiwa sering dilakukan oleh sutradara. pesan. gaya spanyol. Antigone. atau ciri khas daerah tertentu. Secara teknis hal ini berkaitan dengan sumber daya yang dimiliki. 3. dapur umum. dan karakterisasi. sutradara memberi sentuhan dan atau penyesuaian artistik terhadap lakon yang akan dipentaskan. Proses ini bisa disebut sebagai proses asimilasi (perpaduan) antara gagasan sutradara dan pengarang. Cara menyampaikan pesan antara sutradara satu dengan yang lain bisa berbeda . artinya. Apakah gedung tersebut merupakan gedung pertemuan. apartemen mewah disimbolkan sebagai pusat kekuasaan maka tata panggungnya disesuaikan dengan simbolisasi tersebut.Berdasarkan hasil analisis. Akan tetapi sangat mungkin seorang sutradara memiliki gagasan astistik tertentu yang akan ditampilkandalam pementasan setelah menganalisa sebuah lakon. Untuk mewujudkan keadaan peristiwa seperti dikehendaki lakon di atas panggung maka informasi yang jelas mengenai latar cerita harus didapatkan.2. Seorang sutradara sebetulnya boleh tidak melakukan interpretasi terhadap lakon.2 Interpretasi Setelah menganalisis lakon dan mendapatkan informasi lengkap mengenai lakon. museum. teras gedung. atau di salah satu ruang khusus. Dengan demikian penonton akan mendapatkan gambaran yang jelas latar cerita yang dimainkan. Misalnya. maka sutradara harus menggalinya melalui kalimat-kalimat dialog. • Latar. Oleh karena itulah pentas teater dengan lakonlakon yang sudah berusia lama seperti Oedipus. Hal ini berlaku juga untuk latar peristiwa dan waktu. • Latar Cerita. Semua informasi dikumpulkan dan diseleksi untuk kemudian diwujudkan dalam pementasan.mengenai karakter tokoh dalam sebuah lakon. • Pesan. Misalnya. dan waktu kejadian harus diungkapkan dengan jelas karena hal ini berkaitan dengan tata artistik. Ketika adaptasi ini dilakukan maka unsur-unsur lain pun seperti tata rias dan busana akan ikut terkait dan mengalami penyesuaian. sutradara dapat menafsirkan tempat kejadian secara simbolis. sederhana atau mewah. dewan kota. atau gedung pertunjukan. Arsitektur gedung itu apakah menggunakan arsitektur kolonial. tetapi karena ketersediaan sumber daya yang kurang memadahi maka bentuk penampilan apartemen mewah disesuaikan. Hal yang paling menarik mengenai penyampaian pesan kepada penonton adalah caranya. Misalnya. gambaran tempat kejadian persitiwa adalah di sebuah gedung maka harus dijelaskan apakah terjadi di sebuah gedung megah. peristiwa. ia hanya sekedar melakukan apa yang dikehendaki oleh lakon apa adanya sesuai dengan hasil analisis. Penyesuaian inipun berkaitan langsung dengan latar waktu dan peristiwa. Perjalanan sebuah karakter terkadang tidak mengalami perubahan yang berarti tetapi beberapa tokoh dalam lakon (biasanya protagonis dan antagonis) bisa saja mengalami perubahan. Secara artistik. dalam lakon mengehendaki tempat kejadian di sebuah apartemen yang mewah. Intinya informasi sekecil apapun harus didapatkan. Romeo and Juliet masih aktual dipentaskan sekarang ini.

takaran emosi dan cara berpikir. Misalnya. dalam budaya Eropa orang bepikir secara bebas sementara orang Indonesia cenderung mempertimbangkan hal-hali lain (tata krama. Sutradara harus membuat metode tertentu dalam sesi latihan pemeranan untuk mencapai apa yang dinginkan. Misalnya. • Pendekatan pemeranan. pandangan hidup. Hal ini sangat berguna bagi aktor. maka ia bisa memberikan gambaran .meskipun lakon yang dipentaskan sama. sebuah lakon yang tokohtokohnya memiliki latar belakang budaya Eropa hendak diadaptasi ke dalam budaya Indonesia. Hal ini biasanya berkaitan dengan isu atau topik yang sedang hangat terjadi di masyarakat. Meski tidak secara mendetil. Setelah menetapkan pendekatan gaya. Untuk itu. dan keseluruhan watak tokoh. maka metode pemeranan yang dilakukan perlu dituliskan. Aktor boleh berbicara secara langsung kepada penonton. Banyak hal yang harus dilakukan selain mengganti nama dan penampilan fisik. hal yang paling bisa adalah mendekatkan gaya pementasan dengan gaya tertentu yang sudah ada. pranata sosial) di luar hal utama yang dipikirkan. Secara umum. Semuanya memliki keterkaitan. Istilah pendekatan di sini digunakan dalam arti sutradara tidak hanya sekedar melaksanakan sebuah gaya secara wantah (utuh) tetapi ada pengembangan atau penyesuaian di dalamnya. Gerak laku aktor distilisasi atau diperindah. emosi. tata krama. penggunaan bahasa puitis dengan sendirinya membuat aktor harus mau memahami dan melakukan latihan teknik-teknik membaca puisi agar dalam pengucapan dialog tidak seperti percakapan sehari-hari. Hal ini mempengaruhi hasil pemikiran dan cara mengungkapkan hasil pikiran tersebut. Dengan demikian sutradara harus benarbenar memikirkan cara menyampaikan pesan lakon dengan mempertimbangkan unsur-unsur lakon dan sumber daya yang dimiliki. Konvensi atau aturan main sebuah pertunjukan diungkapkan dalam poin ini. misalnya warna-warna yang digunakan di atas panggung. yaitu cara berbicara. tetapi gambaran tata artisitk berguna bagi para desainer untuk mewujudkannya dalam desain. gaya berjalan. Setiap kelahiran gaya baru memiliki keterkaitan atau perlawanan terhadap gaya tertentu (baca bagian sejarah teater). Dewasa ini hampir tidak bisa ditemukan gaya pementasan murni yang dihasilkan seorang sutradara atau pemikir teater. karena menggunakan pendekatan gaya presentasional.. Cara menyampaikan pesan ini menjadi titik tafsir lakon yang penting karena pesan inilah inti dari keseluruhan lakon. Tafsir ulang tokoh tidak hanya sekedar mengubah nama dan menyesuaikan bentuk penampilan fisik. • Gambaran tata artistik.Dengan demikian cara pandang sutradara terhadap keseluruhan lakon pun harus diubah atau mengalami penyesuaian. Jika sutradara mampu. Oleh karena itu. Masing-masing cara penonjolan pesan ini mempengaruhi unsur-unsur lain dalam pementasan. Untuk menekankan pesan yang dimaksud ada sutradara yang memberi penonjolan pada tata artistik. 3.3 Konsep Pementasan Hasil akhir dari analisis naskah adalah konsep pementasan. Hal ini mempengaruhi bentuk dan gaya penampilan aktor dalam beraksi. Misalnya. Dengan demikian pendekatan yang dilakukan tidak salah sasaran. Metode akting berkaitan dengan pencapaian aktor (standar) sesuai dengan pendekatan gaya pementasannya. sutradara harus menuliskan gambaran (pandangan) tata artistiknya.Dalam konsep ini sutradara menjelaskan secara lengkap mengenai cara menyampaikan pesan yang berkaitan dengan pendekatan gaya pementasan dan pendekatan pemeranan serta memberikan gambaran global tata artistik. • Karakterisasi. Tafsir ulang terhadap tokoh lakon paling sering dilakukan. Ada juga sutradara yang menonjolkan laku aksi aktor di atas pentas sehingga adegan dibuat dan dikerjakan secara detil. • Pendekatan gaya pementasan. Seniman teater dunia telah banyak berusaha melahirkan gaya pementasan. sutradara harus memahami gaya-gaya pementasan. misalnya. tetapi juga mental. maka bahasa dialog antaraktor menggunakan bahasa yang puitis.

4. dan pelafalan yang baik. tetapi ciri wajah pemain harus diusahakan semirip mungkin dengan ciri wajah tokoh dalam lakon. maka latihan katahanan tubuh dapat diujikan. Meskipun dalam khasanah teater modern. maka ia cukup menuliskannya. Sutradara akan diprotes oleh penonton jika menampilkan Bima bertubuh kurus dan pendek. Misalnya. karena tidak sesuai dengan karakter dan akan menyalahi laku lakon secara keseluruhan. Grup teater tradisional biasanya memilih pemain sesuai dengan penampilan fisik dengan ciri fisik tokoh lakon.4. seorang yang tinggi tapi bungkuk dianggap tepat memainkan tokoh pendeta. • Tinggi Tubuh. 3. calon aktor dapat dinilai kemampuan dasar wicaranya. janggut. tokoh Bagong memiliki ukuran tubuh tambun (gemuk).tata artistik melalui sketsa. Dengan memberikan teks bacaan tertentu. Hal ini dianggap dapat mampu melahirkan ekspresi wajah yang natural. Dalam teater yang menggunakan ekspresi bahasa verbal kejelasan ucapan adalah kunci ketersampaian pesan dialog.4 Memilih Pemain Menentukan pemain yang tepat tidaklah mudah. maka pemain yang dipilih pun harus memiliki tubuh gemuk. • Wicara.. Untuk menilai hal ini. Misalnya. dan brewok tebal cocok diberi tokoh sebagai warok atau jagoan. Hal ini juga sama dengan ukuran tubuh. diksi. Calon aktor.1 Fisik Penampilan fisik seorang pemain dapat dijadikan dasar menentukan tokoh. Kesiapan tubuh seorang pemain merupakan faktor utama. sutradara sudah mengetahui karakter pemainpemainnya (anggota). sutradara dapat memberikan penggalan adegan atau dialog karakter untuk diujikan. Oleh karena itu pemain harus memiliki kemampuan wicara yang baik. Berkaitan langsung dengan penampilan mimik aktor. misalnya dalam wayang orang atau ketoprak. • Ukuran Tubuh. • Ciri Tertentu. intonasi. dalam cerita Kabayan. 3. Akan tetapi. Jika tidak. sutradara dapat menilai kecakapan pemain melalui portofolio tetapi proses audisi tetap penting untuk menilai kecakapan aktor secara langsung. Untuk menilai kesiapan tubuh pemain. dalam ketoprak. Misalnya. ukuran tubuh merupakan harga mati bagi sebuah tokoh. misalnya tokoh-tokoh dalam lakon pewayangan. • Ciri Wajah. memilih pemain biasanya berdasar kecapakan pemain tersebut. Tidak ada gunanya seorang aktor bermain dengan baik jika fisiknya lemah. harus mampu menyajikannya dengan penuh penghayatan. • Tubuh. Menghayati sebuah tokoh berarti mampu menerjemahkan laku aksi karakter tokoh dalam bahasa verbal dan ekspresi tubuh secara bersamaan. Biasanya. dalam teater modern. • Penghayatan. penentuan pemain berdasar ciri fisik ini menjadi acuan utama. dalam sebuah grup teater sekolah yang pemainnya selalu berganti atau kelompok teater kecil yang membutuhkan banyak pemain lain sutradara harus jeli memilih sesuai kualifikasi yang dinginkan.2 Kecakapan Menentukan pemain berdasar kecapakan biasanya dilakukan melalui audisi. Dalam sebuah grup atau sanggar. Dalam sebuah produksi yang membutuhkan latihan rutin dan intens dalam kurun waktu yang lama ketahanan tubuh yang lemah sangatlah tidak menguntungkan. Dalam kasus tertentu. Tokoh Werkudara (Bima) harus ditokohkan oleh orang yang bertubuh tinggi besar. Meskipun kekurangan wajah bisa ditutupi dengan tata rias. Penilaian yang dapat dilakukan adalah penguasan. Seorang yang memiliki kumis. dalam wayang wong. Akan tetapi. 3. Ciri fisik dapat pula dijadikan acuan untuk menentukan pemain. Kemampuan dasar wicara merupakan syarat utama yang lain. Untuk menguji lebih mendalam sutrdara . Tidak masuk akal jika Bagong tampil dengan tubuh kurus. dalam lakon yang gambaran tokohnya sudah melekat di masyarakat. maka pemain harus memiliki ciri wajah yang tampak tolol.

bentuk penyajian. • Fokus permasalahan telah ditentukan. Teater tradisional biasanya memilih imporivisasi karena semua pemain telah memahami dengan baik cerita yang akan dilakonkan dan karakter tokoh yang akan ditokohkan. portofolio sangat penting bagi seorang aktor profesional. Karena tidak ada impovisasi. yaitu berdasar naskah lakon dan improvisasi. di antaranya adalah sebagai berikut. Pengembangan yang dilakukan hanyalah persoalan sudut pandang. Misalnya. tetapi bisa dipilih sebagai seorang penari latar dalam adegan tertentu.juga dapat memberikan penggalan dialog karakter lain dengan muatan emosi yang berbeda.Dengan mempelajari naskah. teater modern menggunakan naskah lakon sebagai sumber penuturan. 3. lamanya adegan. • Gambaran bentuk latar kejadian dapat ditemukan dalam naskah. • Kecakapan lain. Sutradara tidak perlu menambah atau mengurangi dialog yang sudah tertulis dalam lakon kecuali punya keinginan mengadaptasinya. dan gaya penyajian. arahan laku permainan dari awal sampai akhir dapat ditemukan. Hal ini memiliki kelebihan tersendiri. Lakon telah menyediakan gambaran lengkap laku perisitiwa melalui dialog tokoh-tokohnya. • Konflik dan penyelesaian tidak bekembang. Catatan prestasi dan kemampuan yang dimiliki hendaknya ditulis dalam portofolio sehingga bisa menjadi pertimbangan sutradara. Dalam lakon terkadang arahan emosi berkaitan dengan dialog juga dituliskan sehingga sutrdara lebih mudah dalam memantau emosi tokoh yang ditokohkan aktor. seorang calon aktor yang memiliki kemampuan menari. Meskipun beberapa kelompok teater modern tertentu memperbolehkan improvisasi (biasanya lakon komedi situasi) tetapi sumber utama dialognya diambil dari naskah lakon. Sebaliknya. Bahkan dalam produksi teater profesional yang semuanya dirancang dengan baik. sutradara mudah dalam membuat perencanaan blocking. Mungkin dalam sebuah produksi ia tidak memenuhi kriteria sebagai pemain utama. Masingmasing memiliki kelebihan dan kekurangan serta membutuhkan kecakapan sutradara dalam bidang tertentu untuk melaksanakannya. maka konflik dan penyelesaian lakon pasti.5. Di bawah ini akan dibahas bentuk dan gaya pementasan menurut penuturan cerita.1.1 Menurut Penuturan Cerita Ada dua jenis pertunjukan teater menurut penuturan ceritanya. Untuk itu. menyanyi atau bermain musik memiliki nilai lebih. Sutradara menjadi mudah menentukan penekanan permasalahan lakon. 3. 3. Dengan demikian. Gambaran ini sangat penting .1 Berdasar Naskah Lakon Mementaskan teater berdasarkan naskah lakon menjadi ciri umum teater modern. Kehatihatian dalam memilih bentuk dan gaya bukan saja karena tingkat kesulitan tertentu. • Durasi waktu dapat ditentukan dengan pasti. Karena dialog tokoh sudah ditentukan dan tidak boleh ditambah atau dikurangi maka durasi pementasan dapat ditentukan. Penting bagi sutradara untuk menentukan dengan tepat bentuk dan gaya pementasan. Bentuk dan gaya yang dipilih secara serampangan akan mempengaruhi kualitas penampilan. • Arahan laku permainan dapat ditemukan dalam naskah. perpindahan antaradegan. Tugas aktor adalah menghapalkan dialog tersebut dan mengucapkannya dalam pementasan. Dari serangkaian latihan yang dikerjakan secara rutin dan kontinyu ditambah dengan unsur artistik dan teknis maka lamanya pertunjukan teater berdasar naskah dapat ditetapkan. dan tanda keluar-masuk ilustrasi musik atau pencahayaan ditentukan waktunya sehingga setiap detik sangat berharga dan menentukan berhasil tidaknya pertunjukan tersebut. tetapi latar belakang pengetahuan dan kemampuan sutradara sangat menentukan.5. • Arahan dialog sudah ada. Kemampuan lain selain bermain tokoh terkadang dibutuhkan.5 Menentukan Bentuk dan Gaya Pementasan Bentuk dan gaya pementasan membingkai keseluruhan penampilan pementasan.

Jika sumber daya manusia (aktor) yang kurang. Kemampuan sumber daya ini bisa dijadikan strategi untuk membuat pertunjukan menarik dan . Misalnya. maka cerita penuh aksi dapat dijadikan pilihan. Jika banyak pemain yang bisa melucu maka cerita komedi akan efektif. Jika hendak menyesuaikan dengan ketersediaan sumber daya. • Konflik dan sudut pandang penyelesaian bisa dikembangkan. Jika naskah lakon tersebut telah dipublikasikan dalam bentuk buku dan memiliki hak cipta maka sutradara bisa dituntut di muka hukum. Aktor tidak memiliki kebebasan penuh selain menerjemahkan konsep artistik sutradara. Setelah konflik ini diselesaikan dengan cara yang khas dan lucu maka cerita kembali ke konflik semula. sutradara harus mengikutinya. tetapi di adegan lain menggunakan gaya realis (adegan dagelan). tetapi karya teater menjadi karya sutradara. dan penyelesaian konflik. sutradara telah mendapatkan gambarannya. Dalam proses latihan terkadang sutradara mendapat inspirasi dari laku aksi pemain demikian pula sebaliknya. maka kerja sutradara akan semakin keras. Pencampuran gaya ini dimaksudkan untuk memenuhi selera penonton. Terkadang hal ini dapat menimbulkan efek artistik yang alami dan menarik. Setuju atau tidak setuju terhadap cerita.2 Improvisasi Mementaskan teater secara improvisasi memiliki keunikan tersendiri. ia harus mendapatkan ijin dari penulis naskah lakon. Jika memaksakan kehendak harus sesuai dengan gagasan lakon. • Kreativitas aktor terbatas. Cerita yang telah dituliskan oleh pengarang harus ditaati. • Kreativitas sutradara dan aktor dapat dikembangkan seoptimal mungkin. Tergantung dari kekurangan sumber daya yang dimiliki. Dalam teater improvisasi gaya pementasan juga terbuka. Salah satu kelebihan utama teater improvisasi adalah cerita dan pemeran dapat dibuat berdasarkan sumber daya yang dimiliki. pementasan teater berdasar naskah lakon juga memiliki kekurangan dan problem tersendiri. • Jika sumber daya yang dimiliki tidak sesuai dengan kehendak lakon harus dilakukan adaptasi. Terkadang untuk menyampaikan pesan titipan tersebut konflik minor baru dimunculkan. Jika sutradara hendak mengembangkan cerita. tetapi jika jumlah pemain yang memiliki kemampuan laga banyak.Sifat teater improvisasi yang terbuka memungkinkan pengembangan konflik dan penyelesaian.1. konflik. Dalam teater tradisional. Di samping kelebihan tersebut di atas. Hal ini perlu dilakukan. 3. Sutradara hanya menyediakan gambaran cerita selanjutnya aktor yang mengembangkannya dalam permainan. • Memungkinkan percampuran bentuk gaya.5. • Arahan laku terbuka. Jika sumber dana yang kurang maka tim poruduksi harus berusaha keras untuk memenuhi tuntutan tersebut. Kalaupun hendak melakukan adaptasi atau penyesuaian. Jika ia tetap melakukannya. maka sutradara telah melanggar kode etik dan hak karya artistik. • Cerita bisa disesuaikan dengan sumber daya yang dimiliki. Beberapa kelebihan pentas teater improvisasi adalah. maka sutradara memerlukan waktu ekstra untuk membimbing para aktornya. maka adaptasi lakon harus dilakukan. Oleh karena tidak ada petunjuk arah laku yang jelas. Sutradara perlu meluangkan waktu untuk melakukannya. dalam pertunjukan ketoprak sebuah adegan dilakukan mengikuti kaidah gaya presentasional (adegan Istana). konflik dan mengubah cara penyelesaian. Dengan ditentukannya arah laku maka kreativitas aktor di atas panggung menjadi terbatas. maka aktor dapat mengembangkannya. Meskipun secara artistik tidak masalah. Sutradara dapat mengembangkan cerita dengan bebas dan aktor dapat mengembangkan kemungkinan gayapermainan dengan bebas pula.bagi sutradara untuk mewujudkannya di atas pentas. Pesan ini dengan luwes dapat diselipkan dalam lakon. Dengan berkembangnya cerita maka aktor mendapatkan arahan laku lain yang bisa dicobakan. • Tidak memungkinkan pengembangan cerita. mereka biasanya menerima pesan tertentu dari penyelenggara.

Di samping itu. dalam adegan tersebut aktor yang satu terlalu aktif dan yang lain pasif. Di balik semua kelebihan di atas. aktor bisa mengembangkan cerita dan gaya permainan di atas pentas dan sutradara tidak bisa lagi mengarahkan secara langung. Karena bekerja dengan gerak. . • Memahami komposisi dan koreografi. maka durasi pementasan bisa berubah-ubah.5. 3. Karena tidak ada arahan dialog yang baku. Dalam sebuah grup teater. Di bawah ini beberapa langkah yang bisa diambil oleh sutradara dalam menggarap teater gerak • Sutradara mampu mengeksplorasi dan menciptakan gerak. maka teori komposisi dan koreografi dasar wajib dimiliki oleh sutradara. Kekurangan dari pemotongan adegan ini adalah jika inti dialog (persoalan) belum sempat terucapkan maka inti dialog harus diucapkan pada adegan berikutnya. 3.Semua tergantung dari improvisasi aktor di atas pentas.2. Sutradara bisa memotong sebuah adegan yang berjalan cukup lama dengan membunyikan tanda agar musik dimainkan dan adegan segera diselesaikan. meskipun improvisasi. • Durasi waktu tidak tertentu. Akibatnya. Untuk itu. Penataan gerak tidak bisa dikerjakan dengan serampangan. maka panggung sepenuhnya adalah milik aktor. kesalahan ucap atau penyampaian informasi tertentu bisa saja salah karena memang tidak dicatat dan hanya diingat garis besarnya saja. Karena arahan laku yang terbuka maka reaksi ucapan sering dilakukan spontan dan belum tentu benar. tetapi bagi aktor yang kualitas sastranya pas-pasan hal ini menjadi masalah besar. Bagi aktor yang memiliki kemampuan sastra memadai tidak jadi masalah. Jika tidak. dan terutama musik ilustrasinya. maka maknanya akan • kabur. Jika dalam teater berbasis naskah. jika sutradara tidak jeli memahami hal ini. lakon sebagai pengendali cerita maka dalam teater imrpovisasi aktor harus mampu mengendalikan jalannya cerita. Sutrdara harus mampu mengeksplorasi dan menciptakan gerak sesuai dengan makna pesan yang hendak disampaikan. Jika pementasan sudah berjalan. Sifat akting adalah aksi dan reaksi. maka sutradara wajib mempelajari dan memahami langkah-langkah dalam melaksanakannya.1 Teater Gerak Teater gerak lebih banyak membutuhkan ekspresi gerak tubuh dan mimik muka daripada wicara. maka aktor lawan mainnya harus bereaksi. Jika seorang aktor beraksi. Jika hal ini terjadi cukup lama. suasana. • Improvisasi dialog tidak berimbang.memiliki ciri khas tertentu. • Sutradara tidak bisa sepenuhnya mengendalikan jalannya pementasan. Pesan yang tidak disampaikan secara verbal membutuhkan keahlian tersendiri untuk mengelolanya. Oleh karena cerita bisa dikembangkan. Karena sifatnya yang serba terbuka. teater improvisasi juga memiliki kekurangan yang patut diperhatikan oleh sutradara. maka kualitas dialog tidak bisa distandarkan. • Kemungkinan aktor melakukan kesalahan lebih besar. • Kualitas dialog tidak dapat distandarkan. Aktor mengambil tokoh penuh. sutradara akan kerepotan sendiri. Oleh karena setiap bentuk penyajian memiliki kekhasan dan membutuhkan prasyarat tertentu yang harus dipenuhi. maka akan membosankan. Simbol dan makna yang disampaikan melalui gerak harus dikerjakan dengan teliti. bisa jadi ia memasangkan aktor yang memilliki kemampuan tak berimbang dalam improvisasi.2 Menurut Bentuk Penyajian Banyaknya pilihan bentuk penyajian pementasan teater membuat sutradara harus jeli dalam menentukannya. latihan adegan tetap harus sering dilakukan. Sutradara tidak bisa lagi mengendalikan jalannya pertunjukan.5. Oleh karena itu. harus mempertimbangkan makna pesan. Jika tidak. kemampuan setiap aktor pasti tidak sama.

Di bawah ini beberapa langkah yang bisa dikerjakan oleh sutradara yang hendak mementaskan teater boneka. Memainkan boneka bisa saja dipelajari. Karakter suara harus bisa tampil secara konsisten dari awal hingga akhir pertunjukan. maka irama rampak gerak yang diharapkan bisa kacau. Banyak jenis boneka dan masing-masing membutuhkan teknik khusus dalam memperagakannya. 3. Mengisi suara sesuai karakter boneka menjadi prasyarat utama. kapan musik hadir sebagai latar suasana. Jumlah pemain bisa disiasati dengan menambah perbendaharaan gerak. sutradara harus bisa mewujudkan bahasa verbal dalam simbol gerak. maka pengaturan adegan harus dikerjakan dengan teliti. • Mewujudkan ekspresi melalui mimik para aktor.2.Untuk mendukung rangkaian gerak yang telah diciptakan. Boneka wayang golek memiliki teknik permainan yang berbeda dengan boneka marionette yang dimainkan dengan tali. tetapi jika komposisi (tata letak) pemainnya tidak berubah akan melahirkan kejenuhan. kapan pemain harus menyesuaikan dengan alunan musik. Jumlah pemain yang banyak menimbulkan persoalan tersendiri. Ekspresi selalu menyangkut penghayatan dan konsentrasi. maka ekspresi mimik menjadi sangat penting. Meskipun rangkaian gerak yang dihasilkan sangat indah. Kapan musik mengikuti gerak pemain. seorang pengendali biasanya hanya bisa mengendalikan maksimal dua boneka. pengaturan pemain perlu dilakukan. • Mampu menghidupkan ekspresi boneka yang dimainkan. Karena tokoh diperagakan oleh boneka. Kewajiban sutradara tidak hanya mengatur pemain manusia. tetapi memberikan ekspresi hidup adalah hal yang lain. Boneka dua dimensi seperti wayang kulit memiliki teknik memainkan berbeda dengan boneka tiga dimensi seperti wayang golek.2 Teater Boneka Teater boneka memiliki karakter yang khas tergantung jenis boneka yang dimainkan.5. Mengubah bahasa dalam simbol gerak tidaklah mudah. Apalagi jika sudah menyangkut makna. maka karakter boneka harus benarbenar melekat sehingga pengendali boneka seolah-olah bisa memberikan nafas hidup di dalamnya. Jika jumlah pemain banyak dan harus bergerak secara serempak. maka pengaturan blocking harus lebih teliti. • Jika pemain boneka banyak maka harus mampu mengatur adegan agar pergerakan boneka tidak saling mengganggu. dan perbedaannya harus dimengerti oleh sutradara. Jika lakon yang dimainkan membutuhkan banyak tokoh. sutradara teater gerak harus mengerti kaidah musik ilustrasi. • Mampu mengisi suara sesuai dengan karakter boneka. • Mampu memainkan boneka dengan baik. Meskipun tidak bisa memainkan musik. maka dianjurkan untuk mengkreasi gerak sederhana yang mudah dilakukan. maka penampilan boneka yang terlalu banyak juga akan merepotkan para pengendalinya. • Jika pemain dalam jumlah banyak. . Tempat pertunjukan teater boneka yang terbatas harus disesuaikan dengan jumlah boneka yang tampil. • Mewujudkan bahasa dalam simbol gerak. maka banyaknya jumlah pemain justru akan memenuhi panggung dan membuat suasana menjadi sesak. tetapi juga mengatur permainan boneka. • Jika pemain sedikit maka motif gerak harus lebih variatif. Biasanya seorang pemain boneka bisa membuat beberapa karakter suara yang berbeda. terutama menyangkut komposisi. Jika gerak terlalu sulit. • Mengerti musik ilustrasi. Jika tidak pintar mengelola. Oleh karena keterbatasan bahasa verbal dalam pertunjukan teater gerak. Oleh karena itu. Ekspresi emosi atau karakter tokoh harus bisa diwujudkan melalui mimik para aktor. Menempatkan pemain dalam posisi dan gerak yang tepat akan membuat pertunjukan semakin menarik. Sutradara harus bisa memainkan boneka tersebut. Motif gerak yang kaya akan membuat tampilan menjadi variatif dan menyegarkan. Boneka yang dimainkan dengan hidup akan menarik dan tampak nyata. Selain itu.

• Jika pemain sedikit harus memiliki kemampuan mengisi suara dengan karakter yang berbeda. Berkaitan dengan karakter tokoh. Untuk mencapai hasil maksimal maka kejelian sutradara dalam mengamati dan . Angka tertinggi dari deret tegangan yang harus dicapai oleh aktor adalah 8 atau 9.3 Teater Dramatik Mementaskan teater dramatik membutuhkan kerja keras sutradara terutama terkait dengan akting pemeran. Oleh karena itu. Jika sutradara tidak memahami kejiwaan • karakter tokoh dengan baik maka penilaiannya terhadap kualitas penghayatan aktor pun kurang baik. Jika tidak ada kerjasama yang baik antarpemain (pengendali boneka). sehingga ketika dalam adegan tertentu membutuhkan tegangan yang lebih aktor masih bisa mengejarnya. Oleh karena tuntutan pertunjukan teater dramatik yang mensyaratkan laku aksi seperti kisah nyata. Yang terpenting dan perlu dicatat adalah setiap boneka mempunyai karakter suaranya sendiri.2. maka pergantian adegan bisa semrawut sehingga para pemain kewalahan. Jika pada bagian awal konflik tegangan terlalu tinggi. maka efek dramatik yang diharapkan dari aksi aktor menjadi gagal. semua harus tampak natural. Dalam teater dramatik. sutradara harus dapat menentukan metode yang tepat agar para aktornya dapat memahami. • Mampu membangun kerjasama antarpemain boneka. Sutradara harus memahami bobot tegangan (tensi) dramatik dalam setiap adegan yang ada pada lakon. Laku lakon dari awal sampai akhir mengalami dinamika atau ketegangan yang turun naik. Keluar masuknya boneka di atas pentas berkaitan langsung dengan pengendali bonekanya. Hasil akhirnya adalah anti klimaks di mana pada adegan yang seharusnya memiliki tensi tinggi justru melemah karena energi para aktornya telah habis. Beberapa langkah yang dapat dikerjakan oleh sutradara dalam menggarap teater dramatik adalah sebagai berikut. Dalam teater boneka kerjasama antarpemain tidak hanya menyangkut emosi. tetapi juga menyangkut hal-hal teknis. Sisi kejiwaan yang menyangkut perasaan karakter tokoh harus dapat ditampilkan senatural mungkin sehingga penonton menganggap hal itu benar-benar nyata terjadi. Demikian pula dengan cerita suka-ria. maka penonton harus dibawa dalam suasana yang suka-ria. menghayati dan memerankan karakter dengan baik. • Mampu menghadirkan laku cerita seperti sebuah kenyataan hidup. Hal yang paling sulit dilakukan oleh sutradara adalah membongkar kejiwaan karakter tokoh dan mewujudkannya dalam laku aktor di ataspentas. • Memahami tensi dramatik (dinamika lakon). Demikian juga dengan suasana kejadian. pengaturan adegan boneka disesuaikan dengan kemampuan pengendali. • Memahami sisi kejiwaan karakter tokoh. • Membuat penonton terkesima dengan pertunjukan tidaklah mudah. Intinya. Untuk menghindari hal tersebut sutradara harus benar-benar teliti dalam mengukur tegangan dramatik adegan per adegan dalam lakon. Jika demikian. Banyak sutradara yang mengadakan semacam pemusatan latihan dalam kurun waktu yang cukup lama dengan tujuan agar para aktornya berada dalam suasana lakon yang akan dipentaskan. Di sinilah letak kesulitannya. maka aktor akan kesulitan meninggikan tegangan pada saat klimaks. aktor diharuskan berakting tetapi seolah-olah ia tidak berakting melainkan melakukan kenyataan hidup. • Mampu meningkatkan kualitas pemeranan aktor untuk menghayati tokoh secara optimal. Jika dianalogikan dengan nilai 1 sampai dengan 10.5. jika melakonkan cerita yang sedih ukuran keberhasilannya adalah membuat penonton ikut terhanyut sedih. Jumlah pengendali boneka yang sedikit tidak masalah asal setiap orang mampu menciptakan beberapa karakter suara. 3. bijaksanalah dalam menentukan tegangan dramatik adegan dan buatlah klimaks yang mengesankan dan penyelesaian yang dramatis. tidak dibuat-buat. maka sutradara harus benar-benar jeli dalam menilai setiap aksi para aktor. maka sutradara harus menetapkan tegangan optimal dan minimal. Langkah pamungkas yang dapat dijadikan patokan adalah menghadirkan pentas seperti sebuah kenyataan hidup.

maka sutradara harus mampu menciptkan koreografinya. maka sutradara harus benar-benar piawai dalam mengolah visualisasinya di atas pentas. dan ilustrasi suasana kejadian. komposisi. Sutradara harus mampu memecahkan masalah dasar tersebut. Secara mendasar blocking adalah gerakan fisik atau proses penataan (pembentukan) sikap tubuh seluruh aktor di atas panggung. Artinya. Blocking dapat diartikan sebagai aturan berpindah tempat dari titik (area) satu ke titik (area) yang lainnya bagi aktor di atas panggung. Kejanggalan-kejanggalan kecil yang dirasa kurang masuk akal oleh penonton akan mengurangi kualitas dramatika lakon yang dihadirkan. Sutradara tidak harus bisa memainkan musik. dan musikal harus dirangkai secara harmonis untuk mencapai hasil maksimal.2. Lagu dan nyanyian harus bisa ditampilkan secara baik dan harmonis. Dalam satu adegan saat cerita diungkapkan melalui gerak. • Mengerti karya musik dramatik. tokoh musik bisa menjadi pengiring lagu yang bercerita. musik itu sendiri sudah bercerita sehingga pemain atau penari yang berada di atas panggung hanyalah pelengkap gambaran peristiwa. • Mampu membuat gerak. sehingga lalulintas aktor di atas panggung berjalan dengan lancar. Tokohan musik sangat doniman dalam drama musikal bahkan musik bisa hadir secara mandiri untuk menceritakan sesuatu. tetapi pada akhirnya sutradara yang memutuskan. Teater dramatik adalah teater yang mencoba meniru peristiwa kehidupan secara total dan sempurna. Tokohan dialog verbal yang digubah dalam bentuk lagu dan diucapkan melalui nyanyian adalah satu hal yang membutuhkan perhatian tersendiri. Pada adegan dimana musik bercerita secara mandiri maka sutradara harus mampu memvisualisasikan cerita tersebut di • atas pentas. Memilih pelaku yang tepat dan membuat komposisi atau koreografi berdasar karya musik yang ada. Blocking Sutradara diwajibkan memahami cara mengatur pemain di atas pentas. Banyak penyanyi yang memiliki suara baik tetapi ekspresinya datar. • demikian pula sebaliknya. • Mampu membuat gerak dan ekspresi berdasar karya musik. lagu. maka perpindahan . hindarilah kesalahan atau hal yang tidak lumrah dan berada di luar jangkauan nalar penonton. 3. • Mengerti lagu dan nyanyian. tetapi memahami karya musik merupakan keharusan dalam drama musikal. Koreografer bisa saja mencipta gerak. tetapi makna dan atau simbolisasi cerita harus benar-benar bisa diwujudkan dalam gerak tarian yang dilakukan. Dalam hal ini musik bertindak sebagai pengiring.menangani keseluruhan unsur pertunjukan sangat dibutuhkan. 3. dan koreografi. Dituntut kepiawaian sutradara dalam memilih dan merangkai motif gerak. Untuk mendapatkan hasil yang baik.5. maka perlu diperhatikan agar blocking yang dibuat tidak terlalu rumit.6. Makna cerita sepenuhnya dituangkan dalam wujud gerak. Jika blocking dibuat terlalu rumit. Ekspresi cerita melalui nada-nada musik harus benar-benar bisa divisualisasikan dengan tepat. Jadi. Kepiawaian sutradara dalam menentukan kegunaan karya musik yang satu dengan yang lain benarbenar dibutuhkan. Jika karya drama musikal tersebut berawal dari karya musik murni (musik yang bercerita) seperti The Cats karya Andrew Lloyd Webber. Beberapa hal yang perlu diperhatikan sutradara dalam drama musikal adalah sebagai berikut. gerak.4 Drama Musikal Kemampuan multi harus dimiliki oleh seorang sutradara jika hendak mementaskan drama musikal. Bahasa ungkap yang beragam antara bahasa verbal. Ketepatan nada dalam nyanyian serta ekspresi wajah ketika menyanyi juga tidak boleh luput dari pengamatan. Bukan hanya akting tetapi juga blocking. Meskipun sutradara bekerja dengan seorang koreografer. pengiring gerak. Pada adegan lain.

Letak kanan dan kiri atau atas dan bawah ditentukan berdasar pada arah hadap aktor ke penonton. tengah kiri.dari satu aksi menuju aksi yang lain menjadi kabur. UL = Atas Kiri. UC = Atas Tengah. maka karakter tokoh yang dimainkan oleh para aktor akan tampak lebih hidup. atas kanan tengah. bawah kiri. Panggung pertunjukan secara kompleks dibagi dalam lima belas area.1 Pembagian Area Panggung UR UC UL RC C LC DR DC DL Gb. atas kiri tengah. atas tengah. tengah kiri. Fungsi blocking secara mendasar adalah sebagai berikut. blocking dapat mempertegas isi kalimat tersebut. DL = Bawah Kiri Untuk membuat atau merencanakan blocking bagi para pemain. C = Tengah. Jika blocking dikerjakan dengan baik. bawah kiri. • Menciptakan lukisan panggung yang baik. Atas adalah jarak terjauh dari penonton. Yang terpenting dalam hal ini adalah fokus atau penekanan bagian yang akan ditampilkan. DR = Bawah Kanan. sedangkan bawah adalah jarak terdekat dengan penonton. bawah kanan. DC = Bawah Tengah.52 Pembagian sembilan area panggung UR = Atas Kanan. Pembagian sembilan area juga memudahkan sutradara dalam memberikan arah gerak kepada para aktornya. kiri. LC = Tengah Kiri. dan atas kiri. bawah kanan. bawah kanan tengah. bawah tengah. • Menerjemahkan naskah lakon ke dalam sikap tubuh aktor sehingga penonton dapat melihat dan mengerti. Kanan adalah kanan pemain dan bukan kanan penonton dan kiri adalah kiri pemain. dan atas kiri. Di samping itu. bawah kiri tengah. atas kanan. yaitu tengah. Panggung yang tidak terlalu luas jika dibagi menjadi lima belas area. kanan. . Secara sederhana dan umum panggung dibagi sembilan area. kalimat yang diucapkan oleh aktor menjadi lebih mudah dipahami oleh penonton. maka luas masing-masing area akan terlalu sempit sehingga tidak memungkinkan sebuah pergerakan yang leluasa baik untuk pemain maupun perabot.6. yaitu tengah. 3. atas tengah. sedangkan kanan adalah posisi kanan arah hadap aktor atau sisi kiri penonton. • Memberikan pondasi yang praktis bagi aktor untuk membangun karakter dalam pertunjukan. tengah kanan. Pembagian panggung dalam lima belas area ini biasanya digunakan untuk panggung yang berukuran besar. RC = Tengah Kanan. perlu diketahui terlebih dahulu pembagian area panggung. tengah kanan. atas kanan. Dengan blocking yang tepat. bawah tengah.

2 Komposisi Komposisi dapat diartikan sebagai pengaturan atau penyusunan pemain di atas pentas.6. 3. Jika melangkah dengan kaki panggung bawah (yang dekat dari mata penonton). Bedanya.2. Setiap aktivitas. perpindahan pemain serta perubahan posisi pemain dapat disebut blocking. karakter. Jika salah satu ruang dibiarkan kosong sementara ruang yang lain terisi penuh. Pengaturan posisi pemain seperti ini dilakukan agar semua pemain di atas pentas dapat dilihat dengan jelas oleh penonton. Menghadap lurus ke arah penonton akan memberikan efek datar dan kurang memberikan dimensi kepada pemain. prinsip-prinsip dasar di bawah ini dapat digunakan sebagai petunjuk dalam menempatkan posisi dan mengatur pose pemain. Sekilas komposisi mirip dengan blocking.6. pose. maka hal ini akan menimbulkan pemandangan yang kurang menarik dan jika hal ini berlangsung lama.6.3. hal yang paling utama untuk diperhatikan sutradara adalah perhatian penonton.3 Keseimbangan Dalam menata komposisi pemain di atas pentas hal yang paling penting untuk diperhatikan adalah keseimbangan. tetapi membagi pemain dalam dua bagian atau lebih dengan tujuan memberi penonjolan (penekanan) bagian tertentu. Dengan menghadap secara diagonal. arah laku.2.3 Fokus Dalam mengatur blocking. Oleh karena itu. Keseimbangan adalah pengaturan atau pengelompokan aktor di atas pentas yang ditata sedemikian rupa sehingga tidak menghasilkan ketimpangan. dan tinggirendah pemain dalam keadaan diam (statis). perubahan ekspresi dan aksi di atas pentas harus dapat ditangkap mata penonton dengan jelas. Hal ini diperlukan untuk memenuhi ruang dan menghindari komposisi aktor yang berat sebelah.2 Asimetris Komposisi asimetris tidak membagi pemain dalam dua bagian yang sama persis. • Gunakan lengan atau tangan panggung atas (yang jauh dari mata penonton) untuk menunjuk ke . maka awali dan akhiri langkah tersebut dengan kaki panggung atas (yang jauh dari mata penonton). Usahakan pemain menghadap diagonal (kurang lebih 45 derajat) ke arah penonton. pengaturan blocking harus mempertimbangkan pusat perhatian (fokus) penonton.2. Ada dua ragam komposisi pemain.3. yaitu komposisi simetris dan komposisi asimetris yang ditata dengan mempertimbangkan keseimbangan. Oleh karena itu.6. Hal ini menjadikan gerak pemain kurang terlihat dengan jelas.6. sedangkan menyamping penuh akan menyembunyikan bagian tubuh yang lain. lebih mengatur posisi. maka dimensi dan keutuhan tubuh pemain akan dilihat dengan jelas oleh mata penonton. Sedangkan komposisi. Hal ini dapat dikerjakan dengan menempatkan pemain dalam posisi dan situasi tertentu sehingga ia lebih menonjol atau lebih kuat dari yang lainnya. 3. Bagian yang satu merupakan cerminan bagian yang lain. 3. Di bawah ini adalah contoh komposisi simetris. blocking memiliki arti yang lebih luas karena setiap gerak. 3.1 Prinsip Dasar Pada dasarnya fokus adalah membuat pemain menjadi terlihat jelas oleh mata penonton. • Jika pemain hendak melangkah. Jika digambarkan komposisi ini mirip cermin. • Kurangilah menempatkan pemain dalam posisi menghadap lurus ke arah penonton atau menyamping penuh.6. maka kaki yang jauh akan tertutup dan wajah pemain secara otomatis akan menjauh dari mata penonton.1 Simetris Komposisi simetris adalah komposisi yang membagi pemain dalam dua bagian dan menempatkan bagian-bagian tersebut dalam posisi yang benar-benar sama dan seimbang. 3. maka penonton akan menjadi jenuh.

Mengetahui denyut nadi sebelum latihan fisik dianjurkan karena berhubungan dengan kerja jantung. latihan inti. maka gerak laku aktor dalam menggunakan telepon akan kelihatan. karena hal ini akan menutupi suara dan pandangan penonton. Cara penghitungan denyut nada yang ada di pergelangan tangan. Penghitungan dilakukan selama enam detik dan hasilnya dikalikan sepuluh. Penghitungan denyut nadi yang ada dipergelangan tangan lebih dianjurkan untuk menghasilkan perhitungan yang tepat. Olah tubuh dilakukan dalam tiga tahap. Jika yang dilakukan sebaliknya.1. Latihan pendinginan atau peredaan (warm-down). maka gerakan lengan dan tangan akan menutupi bagian tubuh lain. Karena itu dia harus mempersiapkan dirinya secara utuh penuh baik fisik maupun psikis. atau penghitungan dilakukan selama sepuluh detik dan hasilnya dikalikan enam. Latihanlatihan olah tubuh dapat dilakukan dengan tahap-tahap sebagai berikut. 4. Membagi arah pandangan ini sangat penting untuk menegaskan dan memberi kejelasan ekspresi karakter kepada penonton. Latihan inti. yaitu dengan meletakkan jari tengah di atas pergelangan tangan dalam segaris dengan ibu jari atau jari jempol.1 Persiapan Sebelum melakukan latihan harus memperhatikan denyut nadi. yaitu latihan pemanasan. Cara untuk menghitung denyut nadi. usahakan untuk berbicara kepada penonton atau kepada aktor lain yang berada di atas panggung. yaitu dengan menghitung denyut nadi yang ada di leher atau denyut nadi yang ada di pergelangan tangan dalam.1 Latihan Olah Tubuh Latihan olah tubuh melatih kesadaran tubuh dan cara mendayagunakan tubuh. yaitu serial pokok dari inti gerakan yang akan dilatihkan. • Pemanasan • Latihan ketahanan • Latihan Kelenturan • Latihan ketangkasan . • Jangan pernah memegang benda atau piranti tangan di depan wajah ketika sedang berbicara.arah panggung atas dan gunakan lengan atau tangan panggung bawah (yang dekat dengan mata penonton) untuk menunjuk ke panggung bawah. Selama menghitung denyut nadi mata selalu melihat jam (jam tangan maupun jam dinding yang ada di dalam ruangan). yaitu serial pendek gerakan tubuh untuk mengembalikan kesegaran tubuh setelah menjalani latihan inti. Hal ini mempertegas laku aksi yang sedang dikerjakan. dan latihan pendinginan. Selebihnya. 4. yaitu serial latihan gerakan tubuh untuk meningkatkan sirkulasi dan meregangkan otot dengan cara bertahap. • Usahakan agar para aktor saling menatap (berkontak mata) pada saat mengawali dan mengakhiri dialog (percakapan). Jika tangan yang digunakan adalah tangan yang tidak menganggu pandangan penonton. Untuk itu seorang pemeran harus menjaga kelenturan peralatan tubuhnya. Latihan pemanasan (warm-up). SENI BERPERAN DALAM TEATER Teater Koma : Mengapa Leonardo Aktor merupakan manusia yang mengorbankan dirinya untuk menjadi orang lain.

memang. dalam situasi tertentu tidak mampu mengungkapkan maksud yang sebenarnya. Dalam kenyataannya. suara dijadikan kata dan kata-kata disusun menjadi frasa serta kalimat yang semuanya dimanfaatkan dengan aturan tertentu yang disebut gramatika atau paramasastra. Suara dihasilkan oleh proses mengencang dan mengendornya pita suara sehingga udara yang lewat berubah menjadi bunyi.2 OLAH SUARA Suara adalah unsur penting dalam kegiatan seni teater yang menyangkut segi auditif atau sesuatu yang berhubungan dengan pendengaran. nada suara yang terlontarkan. Banyak lagi contoh yang menunjukkan tentang makna suara. Seorang pemeran dalam pementasan teater menggunakan dua bahasa. Hal ini . menunjukkan maksud memuji atau sebenarnya ingin mengatakan. Prosesnya. Misalnya. Bahasa tubuh bisa berdiri sendiri. “kamu belum bisa apaapa”. suara tidak hanya dilontarkan begitu saja tetapi dilihat dari keras lembutnya. yaitu hasil getaran udara yang datang dan menyentuh selaput gendang telinga. Dialog merupakan salah satu daya tarik dalam membina konflik-konflik dramatik. ”. dan cepat lambatnya sesuai dengan situasi dan kondisi emosi. Makna katakata dipengaruhi oleh nada. Suara adalah lambang komunikasi yang dijadikan media untuk mengungkapkan rasa dan buah pikiran. Maksud tersembunyi seperti itu disebut subtext. “Yah. Maka. tinggi rendahnya. Itulah yang disebut intonasi. yaitu bahasa tubuh dan bahasa verbal yang berupa dialog. Pemilihan kata-kata memiliki tokohan dalam aturan yang dikenal dengan istilah diksi. Unsur dasar bahasa lisan adalah suara. Misalnya. kamu sekarang sudah hebat…. Suara merupakan unsur yang harus diperhatikan oleh seseorang yang akan mempelajari teater. Kata-kata yang membawa informasi yang bermakna. bisa juga bahasa tubuh sebagai penguat bahasa verbal. dalam konvensi dunia teater kedua istilah tersebut dibedakan. Kegiatan mengucapkan dialog ini menjadi sifat teater yang khas. Jika lontaran dialog tidak sesuai sebagaimana mestinya. Hal ini disebabkan karena dalam dialog banyak terdapat nilai-nilai yang bermakna. sedangkan bunyi merupakan produk benda-benda. Dalam kegiatan teater.• Latihan pendinginan • Latihan relaksasi 4. Selanjutnya. maka nilai yang terkandung tidak dapat dikomunikasikan kepada penonton. Dialog yang diucapkan oleh seorang pemeran mempunyai tokohan yang sangat penting dalam pementasan naskah drama atau teks lakon. Akan tetapi. sehingga secara tidak sadar mengungkapkan sesuatu yang sebenarnya tidak dikehendaki. dalam arti tidak dibarengi dengan bahasa verbal. Akan tetapi. suara dan bunyi itu sama. karena digunakan sebagai bahan komunikasi yang berwujud dialog. kalimat.. suara mempunyai tokohan penting. Suara merupakan produk manusia untuk membentuk katakata.

a. Ketika pemeran mengucapkan dialog harus mempertimbangkan pikiranpikiran penulis. Tugas yang lain adalah memberikan reaksi. Bergumam i. d. tetapi juga harus memberikan respon terhadap ekspresi tokoh lain. e. Melengkapi variasi. Jeda n. Latihan-latihan untuk melenturkan peralatan suara dapat dilakukan menggunakan tahap-tahap sebagai berikut. kekuatan. putus asa. Berbisik h. kegembiraan. Ada beberapa hal yang perlu diketahui oleh seorang pemeran tentang fungsi ucapan. yaitu sebagai berikut. latihan olah rasa tidak hanya berfungsi untuk . Proses pengucapan dialog mempengaruhi ketersampaian pesan yang hendak dikomunikasikan kepada penonton. Senam Lidah e. Dengan demikian. Senam Rahang Bawah f. misalnya: umur. Bersenandung j. b. Latihan Kejelasa Diksi l. c. Latihan Tenggorokan g. Terlebih dalam konteks aksi dan reaksi. Seorang pemeran tidak hanya memikirkan ekspresi karakter tokoh yang ditokohkan saja. Banyak pemeran yang hanya mementingkan ekspresi yang ditokohkan sehingga dalam benaknya hanya melakukan aksi. Jika pemeran melontarkan dialognya hanya sekedar hasil hafalan saja. semua emosi tokoh yang ditokohkan harus mampu diwujudkan. Ekspresi yang disampaikan melalui nada suara membentuk satu pemaknaan berkaitan dengan kalimat dialog. marah. Latihan Pernafasan k. Seorang pemeran yang hanya melakukan aksi berarti baru mengerjakan separuh dari tugasnya. a. Senam Wajah d. Mengendalikan perasaan penonton seperti yang dilakukan oleh musik. Tempo o. Oleh karena itu. kedudukan sosial. Nada p. Ucapan yang dilontarkan oleh pemeran bertujuan untuk menyalurkan kata dari teks lakon kepada penonton. Memberi arti khusus pada kata-kata tertentu melalui modulasi suara. Dalam menghayatai karakter tokoh. Pemanasan c. Persiapan b. latihan-latihan yang mendukung kepekaan rasa perlu dilakukan. dan sebagainya. Wicara q.merupakan kesalahan fatal bagi seorang pemeran.3 OLAH RASA Pemeran teater membutuhkan kepekaan rasa. Padahal akting adalah kerja aksi dan reaksi. Ditutup dengan relaksasi 4. Intonasi m. Memuat informasi tentang sifat dan perasaan tokoh. maka dia mencabut makna yang ada dalam kata-kata.

Maka. Kalau pemeran dengan tingkat konsentrasi yang rendah maka dia tidak akan dapat menyakinkan penonton. Manfaat mempelajari dan melatih gesture adalah mengerti apa yang tidak terkatakan dan yang ada dalam pikiran lawan bicara. Jadi bahasa tubuh harus dipahami oleh pemeran sebagai pendukung bahasa verbal. Hal ini berlawanan dengan bangsa-bangsa lain. gesture . Dunia ini harus diwujudkan menjadi sesuatu yang seolah-olah nyata dan dapat dinikmati serta menyakinkan penonton. dengan mempelajari bahasa tubuh. akan diketahui tanda kebohongan atau tanda-tanda kebosanan pada proses komunikasi yang sedang berlangsung. tetapi juga perasaan terhadap karakter lawan main. Dunia teater adalah dunia imajiner atau dunia rekaan. Ada korelasi yang sangat dekat antara pikiran dan tubuh. bagi orang Yunani berarti penghinaan. konsentrasi menjadi sesuatu hal yang penting untuk pemeran. dan imajinasi. Tujuan dari konsentrasi ini adalah untuk mencapai kondisi kontrol mental maupun fisik di atas panggung.meningkatkan kepekaan rasa dalam diri sendiri. Seorang pemeran harus dapat mengontrol tubuhnya setiap saat. Langkah awal yang perlu diperhatikan adalah mengasah kesadaran dan mampu menggunakan tubuhnya dengan efisien. bagi orangtokohcis artinya nol. Seorang pemeran harus memahami bahasa tubuh. Bahasa tubuh dilakukan oleh seseorang terkadang tanpa disadari dan keluar mendahului bahasa verbal. Makin menarik pusat perhatian. Sebagai seorang pemeran. mempelajari gesture. orang India. sedangkan kalau selaras dengan bahasa verbal akan menguatkan proses komunikasi. Tangan mengacung dengan jari telunjuk dan jempol membentuk lingkaran. Misalnya. 4.3. mengangguk tandanya tidak setuju sedangkan mengeleng artinya setuju. Sedang beberapa orang menggunakan gesture sebagai tambahan dalam katakata ketika melakukan proses komunikasi. Selain itu. Latihan gesture dapat digunakan untuk mempelajari dan melahirkan bahasa tubuh. Pemakaian gesture ini mengajak seseorang untuk menampilkan variasi bahasa atau bermacam-macam cara mengungkapkan perasaan dan pemikiran. gesture harus disadari dan diciptakan sebagai penguat komunikasi dengan bahasa verbal. Macam-macam gesture yang dapat dipahami orang lain adalah gesture dengan tangan. yaitu tokoh yang dimainkan. Jika berlawanan dengan bahasa verbal akan mengurangi kekuatan komunikasi. Akan tetapi. Segala sesuatu yang mengalihkan perhatian seorang pemeran.1 Konsentrasi Pengertian konsentrasi secara harfiah adalah pemusatan pikiran atau perhatian. Pusat perhatian seorang pemeran adalah sukma atau jiwa tokoh atau karakter yang akan dimainkan. Bahasa tubuh semacam respon atau impuls dalam batin seseorang yang keluar tanpa disadari. Kekuatan pemeran untuk mewujudkan dunia rekaan ini hanya bias dilakukan dengan kekuatan daya konsentrasi. 4. Misalnya seorang pemeran melihat sesuatu yang menjijikan (meskipun sesuatu itu tidak ada di atas pentas) maka ia harus menyakinkan kepada penonton bahwa sesuatu yang dilihat benarbenar menjijikkan. tetapi bagi orang Amerika artinya bagus. Latihan olah rasa dimulai dari konsentrasi.2 Gesture Gesture adalah sikap atau pose tubuh pemeran yang mengandung makna. Sifat bahasa tubuh adalah tidak universal. Bahasa ini mendukung dan berpengaruh dalam proses komunikasi. makin tinggi kesanggupan memusatkan perhatian. Ada juga yang mengatakan bahwa gesture adalah bentuk komunikasi non verbal yang diciptakan oleh bagian-bagian tubuh yang dapat dikombinasikan dengan bahasa verbal. Dunia tidak nyata yang diciptakan seorang penulis lakon dan diwujudkan oleh pekerja teater.3. baik bahasa tubuh budaya sendiri maupun bahasa tubuh budaya lainnya. gesture tidak dapat menggantikan bahasa verbal sepenuhnya. Dengan konsentrasi pemeran akan dapat mengubah dirinya menjadi orang lain. cenderung dapat merusak proses pemeranan.

tetapi segala tata letak perabot atau piranti yang akan digunakan oleh aktor disediakan oleh penata panggung. Bahasa tubuh yang tercipta oleh kedua tangan merupakan bahasa tubuh yang paling banyak jenisnya. sedangkan fantasi membuat hal-hal yang tidak ada. dan jangan menggambarkan suatu objek yang tidak pasti (perkiraan).3. maka akan terjadi proses imajinasi. “siapakah Hamlet itu?”. Oleh karena itu.dengan badan. Tidak hanya sekedar dekorasi (hiasan) semata. dan tidak akan pernah ada. • Imajinasi menciptakan hal-hal yang mungkin ada atau mungkin terjadi. Imajinasi tidak akan muncul jika direnungkan tanpa suatu objek yang menarik. kehendak artistik sutradara. membutuhkan tata letak perabot yang dapat enak . Melatih imajinasi sama dengan memperkerjakan pikiran-pikiran untuk terus berpikir. Penataan panggung disesuaikan dengan tuntutan cerita. maka pikiran dipaksa untuk menjawab pertanyaan tersebut. Bahasa tubuh dengan tubuh adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh pose atau sikap tubuh seseorang. Hal-hal yang perlu diketahui ketika berlatih imajinasi. Misalnya. dalam panggung yang penontonnya melingkar. Belajar imajinasi harus menggunakan plot yang logis. 5. Bentuk panggung yang berbeda memiliki prinsip artistik yang berbeda. siapa. Dengan stimulus pertanyaanpertanyaan atau menggunakan stimulus ”seandainya”. Dengan berpikir. Untuk membangkitkan imajinasi tokoh gunakan pertanyaan. • Imajinasi tidak akan muncul dengan pikiran yang pasif. 4.1. maka akan memunculkan gambaran pengandaiannya.1. Perbedaan jenis panggung ini dipengaruhi oleh tempat dan zaman dimana teater itu berada serta gaya pementasan yang dilakukan. Gambaran tempat kejadian lakon diwujudkan oleh tata panggung dalam pementasan.3 Imajinasi Imajinasi adalah proses pembentukan gambaran-gambaran baru dalam pikiran. seni teater memiliki berbagai macam jenis panggung yang dijadikan tempat pementasan. Misalnya. • Pikiran bisa disuruh untuk mempertanyakan segala sesuatu. dimana. dan apa. Objek berfungsi untuk menstimulasi atau merangsang pikiran. • Imajinasi tidak bisa dipaksa. Sedangkan bahasa tubuh dengan kaki adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh posisi dan bagaimana meletakkan kaki. dimana gambaran tersebut tidak pernah dialami sebelumnya. Selain itu. dan gesture dengan kaki. Baik hal yang logis maupun yang tidak logis. gesture dengan kepala dan wajah. tetapi harus dengan pikiran yang aktif. Latihan imajinasi bagi pemeran berfungsi mengidentifikasi tokoh yang akan dimainkan. TATA PANGGUNG Tata panggung disebut juga dengan istilah scenery (tata dekorasi). SENI RUPA DALAM TEATER 5. Usaha menjawab pertanyaan itu akan membawa pikiran untuk mengimajinasikan sosok Hamlet. seorang pemeran juga harus berimajinasi tentang pengalaman hidup tokoh yang akan dimainkan. sebelum melaksanakan penataan panggung seorang penata panggung perlu mempelajari panggung pertunjukan.1 Mempelajari Panggung Dalam sejarah perkembangannya. tidak pernah ada. Bahasa tubuh dengan kepala dan wajah adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh posisi kepala maupun ekspresi wajah. Bahasa tubuh atau gesture dengan tangan adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh posisi maupun gerak kedua tangan. Belajar imajinasi dapat menggunakan fungsi ”jika” atau dalam istilah metode pemeranan Stanislavski disebut magic-if. dan panggung tempat pementasan dilaksanakan. tetapi harus dibujuk untuk bisa digunakan.

1 Arena Teater Arena Panggung arena adalah panggung yang penontonnya melingkar atau duduk mengelilingi panggung.1. dan panggung arena. Karena bentuknya yang dikelilingi oleh penonton. Misalnya. penata panggung diharuskan memahami karakter jenis panggung yang akan digunakan serta bagian-bagian panggung tersebut. 5. Di atas panggung inilah semua laku lakon disajikan dengan maksud agar penonton menangkap maksud cerita yang ditampilkan. penata panggung dapat merancangkan karyanya berdasar lakon yang akan disajikan dengan baik. Jenis-jenis Panggung Panggung adalah tempat berlangsungnya sebuah pertunjukan dimana interaksi antara kerja penulis lakon. Inti dari pangung arena baik terbuka atau tertutup adalah mendekatkan penonton dengan pemain. maka penata panggung dituntut kreativitasnya untuk mewujudkan set dekor. Hal ini mempengaruhi nilai artistik pementasan. Karena jaraknya yang dekat. Untuk menyampaikan maksud tersebut pekerja teater mengolah dan menata panggung sedemikian rupa untuk mencapai maksud yang dinginkan. Banyak usaha yang dilakukan untuk mendekatkan pertunjukan dengan penonton. panggun arena sering menjadi pilihan utama bagi teater tradisional. Berbeda dengan panggung yang penontonnya hanya satu arah dari depan.dilihat dari setiap sisi. 5. Seperti telah disebutkan di atas bahwa banyak sekali jenis panggung tetapi dewasa ini hanya tiga jenis panggung yang sering digunakan. Kedekatan jarak ini membawa konsekuensi artistik tersendiri baik bagi pemain dan (terutama) tata panggung. Jika bentuk ukiran yang ditampilkan tidak nampak sempurna – berbeda satu dengan yang lain – maka penonton akan dengan mudah melihatnya. salah satunya adalah penggunaan panggung arena.2 Proscenium Panggung proscenium bisa juga disebut sebagai panggung bingkai karena penonton menyaksikan . di atas panggung diletakkan kursi dan meja berukir. Dengan memahami bentuk dari masingmasing panggung inilah. Aspek kedekatan inilah yang dieksplorasi untuk menimbulkan daya tarik penonton. Segala perabot yang digunakan dalam panggung arena harus benar-benar dipertimbangkan dan dicermati secara hati-hati baik bentuk. dan penempatannya. Untuk memperoleh hasil terbaik. panggung thrust. Penonton sangat dekat sekali dengan pemain. Semua ditata agar enak dipandang dari berbagai sisi. dan aktor ditampilkan di hadapan penonton.1.2. detil perabot yang diletakkan di atas panggung harus benar-benar sempurna sebab jika tidak maka cacat sedikit saja akan nampak.1. Beberapa pengembangan desain dari teater arena melingkar dilakukan sehingga bentuk teater arena menjadi bermacammacam. Lepas dari kesulitan yang dihadapi. Panggung arena biasanya dibuat secara terbuka (tanpa atap) dan tertutup. ukuran. Kedekatan jarak antara pemain dan penonton dimanfaatkan untuk melakukan komunikasi langsung di tengah-tengah pementasan yang menjadi ciri khas teater tersebut. Ketiganya adalah panggung proscenium. 5. Kemungkinan berkomunikasi secara langsung atau bahkan bermain di tengah-tengah penonton ini menjadi tantangan kreatif bagi teater modern. Agar semua pemain dapat terlihat dari setiap sisi maka penggunaan set dekor berupa bangunan tertutup vertikal tidak diperbolehkan karena dapat menghalangi pandangan penonton.2.2. sutradara.

fungsi tata panggung perlu dibahas terlebih dahulu. Seperti sebuah lukisan. Tata perabot kemudian menjadi unsur pokok pada tata panggung arena.1. Penonton disuguhi gambaran melalui bingkai tersebut. dan memanipulasi elemen komposisi yang menjadi dasar dari seluruh kerja desain. Pesona inilah yang membuat penggunaan panggung proscenium bertahan sampai sekarang. imajinasi dapat dituangkan sepenuhnya ke dalam gambar desain tanpa lebih dulu berpikir tentang kemungkinan visualisasinya. status karakter peran. Tata cahaya yang memproduksi sinar dapat dihadirkan dengan tanpa terlihat oleh penonton dimana posisi lampu berada. Hampir semua sekolah teater memiliki jenis panggung proscenium.4 Elemen Komposisi Desain tata panggung sebaiknya dibuat dengan mudah dan bebas. Bingkai yang dipasangi layar atau gorden inilah yang memisahkan wilayah akting pemain dengan penonton yang menyaksikan pertunjukan dari satu arah (Gb. Perabot dan piranti sangat penting dalam mencipta lukisan panggung. Unsurunsur ini ditata sedemikian rupa sehingga bisa memberikan gambaran lengkap yang berfungsi untuk menjelaskan suasana dan semangat lakon. Karena keseluruhan objek yang ada di atas panggung dan digunakan oleh aktor membentuk satu lukisan secara menyeluruh. menata. periode sejarah lakon.1. Jarak yang sengaja diciptakan untuk memisahkan pemain dan penonton ini dapat digunakan untuk menyajikan cerita seperti apa adanya. Intinya semua yang di atas panggung dapat diciptakan untuk mengelabui pandangan penonton dan mengarahkan mereka pada pemikiran bahwa apa yang terjadi di atas pentas adalah kenyataan. Pembelajaran tata panggung untuk menciptakan ilusi (tipuan) imajinatif sangat dimungkinkan dalam panggung proscenium. 5. Dalam pembuatan desain gambar tata panggung yang terpenting adalah cara mengatur. Kesan inilah yang diolah penata panggung untuk mewujudkan kreasinya di atas panggung proscenium.aksi aktor dalam lakon melalui sebuah bingkai atau lengkung proscenium (proscenium arch).3 Fungsi Tata Panggung Dalam perancangan tata panggung selain mempertimbangkan jenis panggung yang akan digunakan ada beberapa elemen komposisi yang perlu diperhatikan. Dengan pemisahan ini maka pergantian tata panggung dapat dilakukan tanpa sepengetahuan penonton. Bentangan jarak dapat menciptakan bayangan arstisitk tersendiri yang mampu menghadirkan kesan. Selain merencanakan gambar dekor. Sebelum menjelaskan semua itu. 5. Panggung proscenium sudah lama digunakan dalam dunia teater. Artinya. bingkai proscenium menjadi batas tepinya. dan musim dalam tahun dimana lakon dilangsungkan. Jarak antara penonton dan panggung adalah jarak yang dapat dimanfaatkan untuk menciptakan gambaran kreatif pemangungan. Procenium Stage Tata panggung pun sangat diuntungkan dengan adanya jarak dan pandangan satu arah dari penonton. Penyuntingan atau pengolahan bisa dilakukan setelah gagasan tertuang. Pemisahan ini dapat membantu efek artistik yang dinginkan terutama dalam gaya realisme yang menghendaki lakon seolah-olah benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata. . penata panggung juga bertanggungjawab terhadap segala perabot yang digunakan. Aktor dapat bermain dengan leluasa seolah-olah tidak ada penonton yang hadir melihatnya. Semua yang ada di atas panggung dapat disajikan secara sempurna seolah-olah gambar nyata. Pemikiran lain di luar desain akan menghambat imajinasi dan akhrinya memberikan batasan.276). terutama pada panggung arena dimana lukisan dekor atau bentuk bangunan vertikal tertutup seperti dinding atau kamar (karena akan menghalangi pandangan sebagian penonton) tidak memungkinkan diletakkan di atas panggung. Perspektif dapat ditampilkan dengan memanfaatkan kedalaman panggung (luas panggung ke belakang). Gambar dekorasi dan perabot tidak begitu menuntut kejelasan detil sampai hal-hal terkecil. lokasi kejadian.

Yang paling menarik dari fungsi tata cahaya adalah kemampuannya menghadirkan suasana yang mempengaruhi emosi penonton. efek lampu dapat diciptakan untuk menirukan cahaya bulan dan matahari pada waktu-waktu tertentu. Dengan cahaya. penonton secara normal dapat melihat seluruh area panggung. Jika semua objek diterangi dengan intensitas yang sama maka gambar yang akan tertangkap oleh mata penonton menjadi datar. suasana. Kata “atmosfir” digunakan untuk menjelaskan suasana serta emosi yang terkandung dalam peristiwa lakon.2. dan penonton untuk saling melihat dan berkomunikasi. masing-masing fungsi memiliki interaksi (saling mempengaruhi). tata cahaya memiliki fungsi pendukung yang dikembangkan secara berlainan oleh masing-masing ahli tata cahaya. bulan atau api untuk menerangi. Banyak hal yang bisa dikerjakan bekaitan dengan peran tata cahaya tetapi fungsi dasar tata cahaya ada empat. Sejak ditemukannya teknologi pencahayaan panggung. Selain keempat fungsi pokok di atas. Inilah fungsi paling mendasar dari tata cahaya. • Penerangan.2. aktor. Pengetahuan dasar ini selanjutnya dapat diterapkan dan dikembangkan dalam penataan cahaya untuk kepentingan artistik pemanggungan. • Atmosfir. Istilah penerangan dalam tata cahaya panggung bukan hanya sekedar memberi efek terang sehingga bisa dilihat tetapi memberi penerangan bagian tertentu dengan intensitas tertentu. Dalam pertunjukan era primitif manusia hanya menggunakan cahaya matahari. Dimensi dapat diciptakan dengan membagi sisi gelap dan terang atas objek yang disinari sehingga membantu perspektif tata panggung. Pemilihan ini tidak hanya berpengaruh bagi perhatian penonton tetapi juga bagi para aktor di atas pentas serta keindahan tata panggung yang dihadirkan. yaitu penerangan. Jika dalam film dan televisi sutradara dapat memilih adegan menggunakan kamera maka sutradara panggung melakukannya dengan cahaya. Tanpa adanya cahaya maka penonton tidak akan dapat menyaksikan apa-apa. sutradara dapat menghadirkan ilusi imajinatif. Sejak ditemukannya lampu penerangan manusia menciptakan modifikasi dan menemukan hal-hal baru yang dapat digunakan untuk menerangi panggung pementasan. 5.1 Fungsi Tata Cahaya Tata cahaya yang hadir di atas panggung dan menyinari semua objek sesungguhnya menghadirkan kemungkinan bagi sutradara. Seorang penata cahaya perlu mempelajari pengetahuan dasar dan penguasaan peralatan tata cahaya. Dengan tata cahaya kedalaman sebuah objek dapat dicitrakan. Dengan pengaturan tingkat intensitas serta pemilahan sisi gelap dan terang maka dimensi objek akan muncul. Misalnya. • Dimensi. untuk memberikan fokus perhatian pada area atau aksi tertentu sutradara memanfaatkan cahaya. Dalam teater. warna cahaya matahari pagi berbeda dengan siang hari. dan atmosfir (Mark Carpenter. dimensi.5. dan emosi peristiwa. 1988). Artinya. Tata cahaya mampu menghadirkan suasana yang dikehendaki oleh lakon. TATA CAHAYA Cahaya adalah unsur tata artistik yang paling penting dalam pertunjukan teater. Keempat fungsi pokok tata cahaya di atas tidak berdiri sendiri. Sinar mentari pagi membawa kehangatan sedangkan sinar mentari siang hari terasa panas. Semua objek yang disinari memberikan gambaran yang jelas kepada penonton tentang segala sesuatu yang akan dikomunikasikan. pemilihan. Inilah gambaran suasana dan emosi yang dapat dimunculkan oleh tata cahaya. Fungsi penerangan dilakukan dengan memilih area tertentu untuk memberikan gambaran dimensional objek. Tata cahaya dapat dimanfaatkan untuk menentukan objek dan area yang hendak disinari. Lampu memberi penerangan pada pemain dan setiap objek yang ada di atas panggung. • Pemilihan. Beberapa fungsi . Tidak semua area di atas panggung memiliki tingkat terang yang sama tetapi diatur dengan tujuan dan maksud tertentu sehingga menegaskan pesan yang hendak disampaikan melalui laku aktor di atas pentas.

5. dari objek satu ke objek lain. bulan atau lampu meja. Tata rias merupakan salah satu cara menampilkan karakter tokoh yang berbeda-beda tersebut. teater Yunani yang memakai topeng lebih besar dari wajah pemain dengan garis tegas agar ekspresinya dapat dilihat oleh penonton. Tetapi pergantian cahaya dalam satu area ketika adegan tengah berlangsung terkadang tidak secara langsung disadari. Tata rias bisa . Penggunaan warna serta intensitas dapat menarik perhatian penonton sehingga membantu pesan yang hendak disampaikan. Tata rias dalam teater memiliki fungsi sebagai berikut. Dalam pementasan teater tradisional. Tanpa • sadar penonton dibawa ke dalam suasana yang berbeda melalui perubahan cahaya. Tata cahaya dapat memberikan penekanan tertentu pada adegan atau objek yang dinginkan. Tata Rias dalam teater bermula dari pemakaian kedok atau topeng untuk menggambarkan karakter tokoh. Contohnya. Cahaya dapat dimanfaatkan untuk menciptakan lukisan panggung melalui tatanan warna yang dihasilkannya. tumbuhan. Cahaya berfungsi untuk memberi tanda selama pertunjukan berlangsung.1.1 Menyempurnakan Penampilan Wajah Wajah seorang pemain memiliki kekurangan yang bisa disempurnakan dengan mengaplikasikan tata rias. Beberapa teater primitif menggunakan bedak tebal yang biasa dibuat dari bahan-bahan alam. Gaya realis atau naturalis yang mensyaratkan detil kenyataan mengharuskan tata cahaya mengikuti cahaya alami seperti matahari.tulang. • Gaya. Gerak perpindahan cahaya ini mengalir sehingga kadang-kadang perubahannya disadari oleh penonton dan kadang tidak. Tata cahaya tidaklah statis. Dalam gaya Surealis tata cahaya diproyeksikan untuk menyajikan imajinasi atau fantasi di luar kenyataan seharihari. seperti tanah. Misalnya. dan lemak binatang. • Pemberian tanda. 5. • Gerak. Dalam pementasan komedi atau dagelan tata cahaya membutuhkan tingkat penerangan yang tinggi sehingga setiap gerak lucu yang dilakukan oleh aktor dapat tertangkap jelas oleh penonton. mata yang tidak ekspresif. memiliki hidung yang kurang mancung. misalnya. Seorang pemain. penonton dapat melihatnya dengan jelas. TATA RIAS Tata rias secara umum dapat diartikan sebagai seni mengubah penampilan wajah menjadi lebih sempurna. Pemakaian tata rias akhirnya menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari peristiwa teater. cahaya selalu bergerak dan berpindah dari area satu ke area lain. Tata rias dalam teater mempunyai arti lebih spesifik. • Komposisi. • Penekanan.3. yaitu seni mengubah wajah untuk menggambarkan karakter tokoh.pendukung yang dapat ditemukan dalam tata cahaya adalah sebagai berikut. Sepanjang pementasan. dan sebagainya. fade in untuk memulai adegan dan black out sebagai akhir dari cerita.1 Fungsi Tata Rias Tokoh dalam teater memiliki karakter berbeda-beda. Cahaya dapat menunjukkan gaya pementasan yang sedang dilakonkan. Penampilan tokoh yang berbeda-beda membutuhkan penampilan yang berbeda sesuai karakternya. Jika perpindahan cahaya bergerak dari aktor satu ke aktor lain dalam area yang berbeda. bibir yang kurang tegas. 5.3. black out biasanya digunakan sebagai tanda ganti adegan diiringi dengan pergantian set.3. Sebuah bagian bangunan yang tinggi yang senantiasa disinari cahaya sepanjang pertunjukan akan menarik perhatian penonton dan menimbulkan pertanyaan sehingga membuat penonton menyelidiki maksud dari hal tersebut. • Menyempurnakan penampilan wajah • Menggambarkan karakter tokoh • Memberi efek gerak pada ekspresi pemain • Menegaskan dan menghasilkan garis-garis wajah sesuai dengan tokoh • Menambah aspek dramatik. fade out untuk mengakhiri sebuah adegan.

Tata rias berfungsi melukiskan watak tokoh dengan mengubah wajah pemeran menyangkut aspek umur. Misalnya. Tata rias tidak perlu mengubah usia.2.1. seorang remaja yang memerankan seorang yang telah berumur 50 tahun. dan perubahan bentuk wajah. 5.menyempurnakan kekurangan tersebut sehingga muncul kesan hidung tampak mancung. tetapi cukup menyempurnakan dengan mengoreksi kekurangan yang ada untuk disempurnakan.4 Menghadirkan Garis Wajah Sesuai Dengan Tokoh Menampilkan wajah sesuai dengan tokoh membutuhkan garis baru yang membentuk wajah baru. Wajah perlu ditambahkan garis-garis kerutan sesuai wajah seorang yang berusia 50 tahun. sehingga saat berekspresi muncul efek gerak yang tegas dan dapat ditangkap oleh penonton.2. Misalnya.5 Menambah Aspek Dramatik Peristiwa teater selalu tumbuh dan berkembang. seorang remaja memerankan siswa sekolah. Setiap wajah memiliki kekuarangan dan kelebihan. Seorang yang berperan menjadi tokoh binatang.2 Tata Rias Fantasi Tata rias fantasi dikenal juga dengan istilah tata rias karakter khusus.3. tokoh yang pesimistis cenderung memiliki karakter garis mata yang menurun.1. tampak datar ketika tertimpa cahaya lampu. Tata rias ini menyembunyikan kekurangan-kekurangan yang ada pada wajah dan menonjolkan hal-hal yang menarik dari wajah. Fungsi garis tidak sekedar menegaskan. Tata rias berfungsi menegaskan garis-garis wajah karakter. menegaskan. mata menjadi lebih ekspresif. Seorang penata rias harus mencermati gerak ekspresi wajah untuk menentukan garis yang akan dibuat.2 Menggambarkan Karakter Tokoh Karakter berarti watak. hidung kurang mancung dan sebagainya. dan bibir bergaris tegas. seorang tokoh tertusuk belati. 5. 5. tidak memiliki dimensi. Misalnya. tersayat wajahnya. maka perlu membuat garis-garis baru sesuai dengan karakter wajah binatang yang diperankan. misalnya dahi terlalu lebar. Seseorang yang memiliki bentuk wajah kurang sempurna. wajahnya akan tampak datar.3.2 Jenis Tata Rias 5. Biasanya pemeran memiliki kesesuaian dengan tokoh yang diperankan. seorang yang optimis digambarkan dengan tarikan sudut mata cenderung ke atas. Oleh karena itu dibutuhkan tata rias untuk menampilkan dimensi wajah pemain. Tokoh-tokoh mengalami berbagai peristiwa sehingga terjadi perubahan dan penambahan tata rias. 5. bentuk wajah dan tubuh.dapat disempurnakan dengan make up korektif. Disebut tata rias karakter .1. tertembak. Penyempurnaan wajah dilakukan pada pemain yang secara fisik telah sesuai dengan tokoh yang dimainkan. ras. tetapi juga menambahkan sehingga terbentuk tampilan yang berbeda dengan wajah asli pemain.1. Sebaliknya. 5.1 Tata Rias Korektif Tata rias korektif (corective make-up) merupakan suatu bentuk tata rias yang bersifat menyempurnakan (koreksi). maka dibutuhkan tata rias yang memberikan efek sesuai dengan kebutuhan.3. Pemain yang tidak menggunakan rias.3. ras.3. Wajah pemain cukup disempurnakan dengan menyamarkan. Tata rias bisa memberikan efek dramatik dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dengan menciptakan efek tertentu sesuai dengan kebutuhan. dan menonjolkan bagian-bagian wajah sesuai dengan tokoh yang dimainkan. Karakter wajah merupakan cermin psikologis dan latar sosial tokoh yang hadir secara nyata.3.3. 5. Seorang pemain membutuhkan tata rias korektif ketika tampilannya tidak membutuhkan perubahan usia. Misalnya. Tata rias memiliki kemampuan dalam mengubah sekaligus menampilkan karakter yang berbeda dari seorang pemeran.3 Memberi Efek Gerak Pada Ekspresi Pemain Wajah seorang pemain di atas pentas.

Semua terserah pada gagasan seniman. Mengubah anatomi wajah pemain untuk memenuhi tuntutan tokoh dapat juga digolongkan sebagai tata rias karakter. Tidak ada periode tata busana secara khusus di teater. Periode busana teater dengan demikian mengikuti periode teater tersebut. karena menampilkan wujud rekaan dengan mengubah wajah tidak realistik. Busana teater mengalami perkembangan pesat seiring lahirnya teater modern pada akhir abad 19. Busana pun mengikuti konsep tersebut. 5. Contohnya. Sementara itu tata busana menurut jamannya bisa digeneralisasi. Tata busana termasuk segala asesoris seperti topi. maka busana berkembang menjadi lebih baik.4. Dalam masa ini.1 Fungsi Tata Busana Busana yang dipakai manusia beraneka ragam bentuk dan fungsinya. watak. Ketika manusia menemukan tekstil dengan teknologi pengolahan yang tinggi. Tata rias fantasi menggambarkan tokoh-tokoh yang tidak riil keberadaannya dan lahir berdasarkan daya khayal semata. dan segala unsur yang melekat pada pakaian. Renaissance. beragam aliran teater bermunculan. Masing-masing memiliki ciri khasnya. busana yang dipakai berasal dari bahan-bahan alami. Busana dalam teater memiliki fungsi yang lebih kompleks. seperti tumbuhan. Tokoh tersebut memiliki latar Suku Dayak Kalimantan yang memiliki tradisi memanjangkan telinga.khusus. dan memenuhi hasrat manusia akan keindahan. Abad Pertengahan. busana pada jaman atau dekade tertentu memiliki ciri yang sama. 5. Tata rias karakter dibutuhkan ketika karakter wajah pemeran tidak sesuai dengan karakter tokoh. gelang . Pada era teater primitif.2. dan batu-batuan untuk asesoris. karena semua tergantung latar cerita yang ditampilkan. dalam teater Romawi Kuno maka lakon yang ditampilkan berlatar jaman tersebut sehingga busananya pun seperti busana keseharian penduduk jaman Romawi Kuno. 5. kulit binatang.3 Tata Rias karakter Tata rias karaker adalah tata rias yang mengubah penampilan wajah seseorang dalam hal umur. Elizabethan. Fungsi busana dalam kehidupan sehari-hari untuk melindungi tubuh.1 Mencitrakan Keindahan Penampilan Manusia memiliki hasrat untuk mengungkapkan rasa keindahan dalam berbagai aspek . kalung. • Mencitrakan keindahan penampilan • Membedakan satu pemain dengan pemain yang lain • Menggambarkan karakter tokoh • Memberikan efek gerak pemain • Memberikan efek dramatik 5. sepatu. bangsa. Tata busana dengan demikian sudah tidak lagi terpaku pada jaman. sifat. dan ciri-ciri khusus yang melekat pada tokoh. yaitu. misalnya memanjangkan telinga. Restorasi. Masing-masing memiliki kospenya tersendiri dan lakon tidak harus berlatar jaman dimana lakon itu dibuat. tetapi mengubah tampilan wajah.1. Tata busana dalam teater memiliki peranan penting untuk menggambarkan tokoh. Tata rias karakter tidak sekedar menyempurnakan. Misalnya. Jenis busana ini tidak bisa disamakan antara daerah satu dengan daerah lain. Artinya.4. dan Abad 18. syal. Untuk membuat tata busana sesuai dengan adat dan kebudayaan daerah tertentu maka diperlukan referensi khusus berkaitan dengan adat dan kebudayaan tersebut. TATA BUSANA Tata busana adalah seni pakaian dan segala perlengkapan yang menyertai untuk menggambarkan tokoh. mengubah umur pemeran dari muda menjadi lebih tua .3. tetapi lebih pada konsep yang melatarbelakangi penciptaan teater. Tata busana dapat dibuat berdasar budaya atau jaman tertentu. Demikian juga dengan teater pada jaman Yunani.4. mencitrakan kesopanan.

Sebuah langkah yang besar selalu dimulai dari langkah kecil. sederhana. Jika kualitas kerja salah satu bidang tidak baik maka keseluruhan pertunjukan menjadi terpengaruh. Dalam satu proses pembelajaran hal semacam itu sering tejadi. busananya cenderung rapi. Saling berbicara. Oleh karena itu. Kualitas karya yang dihasilkan menggambarkan semangat dan keadaan jiwa pembuatnya. busananya dilengkapi asesoris dan cara pemakaiannya seenaknya tidak sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan sekolah. Karena sifatnya yang kolaboratif maka seni teater akan kehilangan spiritnya jika masing-masing bidang berusaha untuk menonjol dan mengalahkan bidang lain. rajin.3 Menggambarkan Karakter Tokoh Fungsi penting busana dalam teater adalah untuk menggambarkan karakter tokoh. penonton terbantu dalam menangkap karakter yang berbeda dari setiap tokoh. Satu bidang harus mampu dan mau menghargai bidang lain. sehingga penonton mampu mengidentifikasikan tokoh dengan mudah 5. memakai busana sehari-hari yang dibuat lebih indah dengan mengaplikasikan perhiasan dan penambahan bahanbahan yang mahal dan mewah. Sebuah karya teater yang besar merupakan penyatuan kerja elemen-elemen yang kecil. dan tanpa asesoris yang berlebihan. Busana menjadi salah satu tanda penting untuk membedakan satu tokoh dengan tokoh yang lain. Apalagi ketika proses tersebut dinilai dan memiliki konsekuensi langsung bagi pelakunya. tokoh seorang pelajar yang bandel. Karena prinsip teater adalah kerjasama maka belajar teater tidaklah hanya mempelajari elemen-elem yang ada di dalamnya tetapi juga mempelajari kerja pengabungan di antaranya. Pemaknaan ini akan membawa satu sikap penghargaan profesi baik bagi diri sendiri atau bagi orang yang bekerja pada bidang lain. Satu bidang kecil memiliki makna yang sama dengan bidang lain. Sebaliknya. Teater di Inggris pada masa pemerintahan Ratu Elizabeth (1580 – 1640). hasrat untuk tampil berbeda dan lebih indah dari tampilan sehari-hari telah muncul. .1.2 Membedakan Satu Pemain Dengan Pemain Yang Lain Pementasan teater menampilkan tokoh yang bermacam-macam karakter dan latar belakang sosialnya. Berbicara teater tidak hanya berbicara naskah atau sutradara yang merajut proses atau aktor terkenal yang ikut terlibat di dalamnya. Perbedaan karakter dalam busana dapat ditampilkan melalui model. brutal. Pada era teater primitif.4. Berdiskusi. 5. Penampilan busana yang berbeda akan menunjukkan ciri khusus seorang tokoh. Contohnya. Akhirnya menjadi maklumlah kita ketika seseorang berbicara tentang teater maka ia akan membicarakan semua elemen yang ada di dalamnya. PENUTUP Sebuah karya teater lahir dari satu proses pembelajaran yang padu. Tata busana dalam teater berfungsi sebagai bentuk ekspresi untuk tampil lebih indah dari penampilan seharihari. dan sering membuat onar.1. dan alim. Busana pementesan teater dibuat secara khusus dan dilengkapi dengan asesoris sesuai kebutuhan pemensan. Satu proses kerja bidang tertentu bahkan dinilai lebih tinggi dari bidang lain. Memecahkan persoalan bersama dan menentukan satu keputusan yang secara artistik adil bagi semua pihak. Secara mendalam.kehidupan. tokoh seorang pelajar yang pendiam. Membaca referensi atau buku teater tidaklah hanya untuk menambah wawasan. Dengan demikin dalam satu karya teater. warna. motif. seni memang tidak hanya menghasilkan sesuatu yang tampak (produk) tetapi juga mental atau jiwa para pelakunya. tidak hanya tergambar keindahan karya seni tetapi juga prinsip kebersamaan.4. Dalam teater hal itu tidak berlaku. dan peningkatan kompetensi tetapi juga untuk mengungkap makna kerja yang ada di sebalik ilmu. Melalui busana. Penonton membutuhkan suatu penampilan yang berbeda-beda antara satu tokoh dengan tokoh yang lain. dan garis yang diciptakan. bentuk. Pementasan teater adalah suatu tontonan yang mengandung aspek keindahan. pengetahuan. kerja sekecil apapun dalam teater sangatlah penting.

. apapun kualitasnya gagasan tersebut harus menjadi sesuatu. Semua elemen harus memahami hal ini. wujud awal dari sebuah gagasan harus mengalami proses pembentukan. Demikian pula penata panggung harus mau memahami pola laku dan gerak para aktor di atas pentas sehingga ruang yang diciptakan tidak mengganggu bagi pergerakan aktor ketika bemain. semua saling membantu. konsep. maka semua komponen bekerja untuk memenuhi atmosfir kesedihan yang diharapkan. Dengan berdasar pengetahuan dan keingintahuan dari membaca catatan tersebut. Disitulah sebetulnya letak fungsi hakiki dari sebuah pengetahuan. Ketika sebuah gagasan muncul. Dalam teater. penata artistik) akan diketahui langsung oleh para penonton dalam sebuah pertunjukan. mempelajari teater tidak hanya mempelajari satu bidang dan mengabaikan bidang lain. Gagasan hanya akan menjadi gagasan jika tidak diwujudkan. Demikian berjalan secara berkesambungan. Minimal menjadi tiga kalimat yang masing-masing mewakili pemaparan. semua saling belajar. Memang perlu belajar satu bidang secara khusus tetapi pemahaman atas bidang lain tidak bisa diabaikan. Ia akan bermain dalam area yang diciptakan oleh penata panggung. sutradara. aktor. membaca untuk menginspirasi sehingga seni baru senantiasa lahir. Semua itu tidak berada dalam bingkai saling meniru akan tetapi bingkai kreativitas yang terus berkembang dan berkembang. ketersampaian cerita. Saling mendukung demi tercapaiya tujuan tersebut. Catatan inti akan terus berkembang seiring dengan perkembangan teater itu sendiri. Karya seni yang lebih mementingkan proses. Semua elemen harus besatu. Dalam sebuah lakon yang menceritakan tentang kesedihan. maka cerita yang satu kalimat itu pun dapat dikembangkan. Memiliki tujuan yang sama. Jika satu saja elemen berada di luar garis ini maka kesatuan makna menjadi kabur. Kualitas ketersampaian pesan yang diramu oleh para pekerja teater (pengarang. maka ia perlu dinyatakan. Begitu pentingnya pesan yang hendak disampaikan sehingga semua elemen pendukung pementasan bekerja keras mewujudkannya. semua bermula dari sebuah cerita. Untuk kepentingan inilah buku ini disusun. tata rias dan busana. Tidak peduli berapa panjang cerita tersebut. Satu gagasan atau perwujudan karya menjadi indah dan menarik serta memiliki kesatuan makna jika semua elemennya memiliki tujuan artistik yang sama. lebih menghargai pengalaman dari pada hasil akhir. Apapun bentuknya. Bahkan mungkin cerita itu hanya merupakan satu rangkaian kalimat. Membaca catatan karya orang lain bukan dipahami sebagai bentuk plagiarisme tetapi membaca untuk mempelajari. dan penyelesaian. bahkan penonton yang hadir di dalamnya. Respon atau tanggapan yang diberikan penonton terhadap pertunjukan yang dilangsungkan merupakan tanda bagi keberhasilan atau kegagalan pertunjukan tesebut dalam menyampaikan pesan. Karya baru yang dihasilkan oleh seniman itupun pada nantinya juga akan menginspirasi karya yang lain. konflik. pelajarilah semuanya sesuai dengan tahapan yang benar. Karya seni yang lahir dari kreativitas dapat dialirkan kepada generasi berikutnya melalui catatancatatan. Banyak seniman yang lahir karena membaca atau mempelajari karya (catatan) seniman yang lainnya. Oleh karena itulah. Hal itu akan menyangkut soal cerita. membaca untuk menilhami. Karena itu pulalah penonton merupkan kunci keberhasilan sebuah pertunjukan. Dramaturgi adalah catatan-catatan proses penciptaan seni drama hingga sampai pementasannya. sebuah gagasan dapat diwujudkan. Akan tetapi. Seorang aktor yang baik harus mengerti fungsi tata panggung karena ia akan bermain di antara objek yang ditata di atas pentas. Satu karya mempengaruhi atau terpengaruh oleh karya lain.Berbicara teater adalah berbicara tentang semua hal yang ada di dalamnya. Oleh sebab itu. tata panggung dan cahaya. dengan memahami dasar-dasar penciptaan lakon yang mengedepankan pentingnya arti konflik dalam teater. Jadi. Dramaturgi atau pengetahuan teater dasar merupakan pokok pemahaman yang harus diperhatikan. semua saling mendukung. Sesuatu yang sangat berarti bagi si penggagas.

Masing-masing bidang dalam teater dapat dikerjakan oleh orang-orang tertentu yang tertarik di bidang-bidang tersebut. Dengan semangat dan ketekunan berlatih. teater adalah kerjasama. Catatan kecil yang kami sampaikan ini semoga dapat menjadi pemicu semangat untuk terus belajar dan berkarya. Semangat belajar dalam teater tidak akan pernah bisa berhenti karena teater senantiasa hidup dan berkembang. Tidak perlu seorang diri mengerjakan semuanya. Berkarya. berkarya. pemeranan. Joglo Drama – Mbah Brata Seni memanusiakan manusia. sebuah karya teater dapat dilahirkan. dan berkarya. akan tetapi lebih berarti jika semua bidang bersinergi.. Oleh karena itu maka tidak ada kata lain selain belajar. dan tata artistik dapat diaplikasikan untuk mendukung karya yang akan ditampilkan. Semua berjalan dalam satu proses. Semua bisa dipelajari secara mandiri. dan proses adalah belajar. cerita yang sudah berhasil dicipta dapat diwujudkan ke dalam sebuah pementasan. Kerjasama sebagai semangat seni teater dapat dijadikan acuan proses penciptaan. Teater adalah kolketif. dan belajar.. Semua secara harmonis bekerja bersama mendukung makna yang satu. Ilmu yang didapatkan sekarang tidak akan pernah cukup. Sebuah pertunjukan dapat digelar. Masing-masing bidang yang dibahas dalam buku ini memberikan gambaran harmonisasi tersebut. Pengetahuan tentang dasar-dasar penyutradaraan. belajar.Hanya dengan cerita yang sangat sederhana semacam ini. Jika semuanya berbuat dalam semangat kerjasama maka pergelaran karaya teater menjadi karya bersama yang memiliki satu makna. Cari Bottom of Form Kajian Drama 22 Apr 2009 Tinggalkan sebuah Komentar by mbahbrata in Kajian Teori . menjadikan manusia lebih manusiawi • • • Beranda Jeda Malam Tentang Blog ‘Joglo Drama’ Top of Form Search.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful