P. 1
Kajian Drama

Kajian Drama

|Views: 1,370|Likes:
Published by Endang Daruqutni

More info:

Published by: Endang Daruqutni on Apr 29, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/12/2013

pdf

text

original

Teater berasal dari kata Yunani, “theatron” (bahasa Inggris, Seeing Place) yang artinya tempat atau gedung

pertunjukan. Dalam perkembangannya, dalam pengertian lebih luas kata teater diartikan sebagai segala hal yang dipertunjukkan di depan orang banyak. Dengan sintren, demikian, janger, dalam rumusan dagelan, sederhana sulap, teater adalah lain pertunjukan, misalnya ketoprak, ludruk, wayang, wayang wong, mamanda, akrobat, dan sebagainya. Teater dapat dikatakan sebagai manifestasi dari aktivitas naluriah, seperti misalnya, anak-anak bermain sebagai ayah dan ibu, bermain tokohg-tokohgan, dan lain sebagainya. Selain itu, teater merupakan manifestasi pembentukan strata sosial kemanusiaan yang berhubungan dengan masalah ritual. Misalnya, upacara adat maupun upacara kenegaraan, keduanya memiliki unsur-unsur teatrikal dan bermakna filosofis. Berdasarkan paparan di atas, kemungkinan perluasan definisi teater itu bisa terjadi. Tetapi batasan tentang teater dapat dilihat dari sudut pandang sebagai berikut: “tidak ada teater tanpa aktor, baik berwujud riil manusia maupun boneka, terungkap di layar maupun pertunjukan langsung yang dihadiri penonton, serta laku di dalamnya merupakan realitas fiktif”, (Harymawan, 1993). Kata “drama” juga dianggap telah ada sejak era Mesir Kuno (4000-1580 SM), sebelum era Yunani Kuno (800-277 SM). Hubungan kata “teater” dan “drama” bersandingan sedemikian erat seiring dengan perlakuan terhadap teater yang mempergunakan drama lebih identik sebagai teks atau naskah atau lakon atau karya sastra (Bakdi Soemanto, 2001). Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa istilah “teater” berkaitan langsung dengan pertunjukan, sedangkan “drama” berkaitan dengan lakon atau naskah cerita yang akan dipentaskan. Jadi, teater adalah visualisasi dari drama atau drama yang dipentaskan di atas panggung dan disaksikan oleh penonton. Jika “drama” adalah lakon dan “teater” adalah pertunjukan maka “drama” merupakan bagian atau salah satu unsur dari “teater”.

Dengan kata lain, secara khusus teater mengacu kepada aktivitas melakukan kegiatan dalam seni pertunjukan (to act) sehingga tindaktanduk pemain di atas pentas disebut acting. Istilah acting diambil dari kata Yunani “dran” yang berarti, berbuat, berlaku, atau beraksi. Karena aktivitas beraksi ini maka para pemain pria dalam teater disebut actor dan pemain wanita disebut actress (Harymawan, 1993). Meskipun istilah teater sekarang lebih umum digunakan tetapi sebelum itu istilah drama lebih populer sehingga pertunjukan teater di atas panggung disebut sebagai pentas drama. Hal ini menandakan digunakannya naskah lakon yang biasa disebut sebagai karya sastra drama dalam pertujukan teater. Di Indonesia, pada tahun 1920-an, belum muncul istilah teater. Yang ada adalah sandiwara atau tonil (dari bahasa Belanda: Het Toneel). Istilah Sandiwara konon dikemukakan oleh Sri Paduka Mangkunegoro VII dari Surakarta. Kata sandiwara berasal dari bahasa Jawa “sandi” berarti “rahasia”, dan “wara” atau “warah” yang berarti, “pengajaran”. Menurut Ki Hajar Dewantara “sandiwara” berarti “pengajaran yang dilakukan dengan perlambang” (Harymawan, 1993). Rombongan teater pada masa itu menggunakan nama Sandiwara, sedangkan cerita yang disajikan dinamakan drama. Sampai pada Zaman Jepang dan permulaan Zaman Kemerdekaan, istilah sandiwara masih sangat populer. Istilah teater bagi masyarakat Indonesia baru dikenal setelah Zaman Kemerdekaan (Kasim Achmad, 2006). Keterikatan antara teater dan drama sangat kuat. Teater tidak mungkin dipentaskan tanpa lakon (drama). Oleh karena itu pula dramaturgi menjadi bagian penting dari seni teater. Dramaturgi berasal dari bahasa Inggris dramaturgy yang berarti seni atau tekhnik penulisan drama dan penyajiannya dalam bentuk teater. Berdasar pengertian ini, maka dramaturgi membahas proses penciptaan teater mulai dari penulisan naskah hingga pementasannya. Harymawan (1993) menyebutkan tahapan dasar untuk mempelajari dramaturgi yang disebut dengan formula dramaturgi. Formula ini disebut dengan

fromula 4 M yang terdiri dari, menghayalkan, menuliskan, memainkan, dan menyaksikan. M1 atau menghayal, dapat dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang karena menemukan sesuatu gagasan yang merangsang daya cipta. Gagasan itu timbul karena perhatian ditujukan pada suatu persitiwa baik yang disaksikan, didengar maupun dibaca dari literatur tertentu. Bisa juga gagasan itu timbul karena perhatian ditujukan pada kehidupan seseorang. Gagasan atau daya cipta tersebut kemudian diwujudkan ke dalam besaran cerita yang pada akhirnya berkembang menjadi sebuah lakon untuk dipentaskan. M2 atau menulis, adalah proses seleksi atau pemilihan situasi yang harus dihidupkan begi keseluruhan lakon oleh pengarang. Dalam sebuah lakon, situasi merupakan kunci aksi. Setelah menemukan kunci aksi ini, pengarang mulai mengatur dan menyusun kembali situasi dan peristiwa menjadi pola lakon tertentu. Di sini seorang pengarang memiliki kisah untuk diceritakan, kesan untuk digambarkan, suasana hati para tokoh untuk diciptakan, dan semua unsur pembentuk lakon untuk dikomunikasikan. M3 atau memainkan, merupakan proses para aktor memainkan kisah lakon di atas pentas. Tugas aktor dalam hal ini adalah mengkomunikasikan ide serta gagasan pengarang secara hidup kepada penonton. Proses ini melibatkan banyak orang yaitu, sutradara sebagai penafsir pertama ide dan gagasan pengarang, aktor sebagai komunitakor, penata artsitik sebagai orang yang mewujudkan ide dan gagasan secara visual serta penonton sebagai komunikan. M4 atau menyaksikan, merupakan proses penerimaan dan penyerapan informasi atau pesan yang disajikan oleh para pemain di atas pentas oleh para penonton. Pementasan teater dapat dikatakan berhasil jika pesan yang hendak disampaikan dapat diterima dengan baik oleh penonton. Penonton pergi menyaksikan pertunjukan dengan maksud pertama untuk memperoleh kepuasan atas kebutuhan dan

keinginannya terhadap tontonan tersebut. Rendra dalam Seni Drama Untuk Remaja (1993). kepahlawanan. • Berasal dari kegemaran manusia mendengarkan cerita. sudah mengerti irigasi. dan juga sudah mengenal tulis menulis. • Berasal dari nyanyian untuk menghormati seorang pahlawan di kuburannya. Pada zaman itu peradaban Mesir Kuno sudah maju. . Di antaranya teori tentang asal mula teater adalah sebagai berikut. tokoh.1. maka pertunjukan yang digelar bisa dipastikan kurang sempurna. sudah bisa membuat kalender. Dalam acara ini seseorang mengisahkan riwayat hidup sang pahlawan yang lama kelamaan diperagakan dalam bentuk teater. dan lain sebagainya). Unsur cerita ditambahkan pada upacara semacam teater. Adapun yang dapat diketahui hanyalah teori tentang asal mulanya.1 Asal Mula Teater Waktu dan tempat pertunjukan teater yang pertama kali dimulai tidak diketahui. menyebutkan bahwa naskah teater tertua di dunia yang pernah ditemukan ditulis seorang pendeta Mesir. Oleh karena itu. Jika salah satu tahap dan unsur yang ada dalam setiap tahapan diabaikan. Cerita itu kemudian juga dibuat dalam bentuk teater (kisah perburuan. 2. Formula dramaturgi seperti disebutkan di atas merupakan tahap mendasar yang harus dipahami dan dilakukan oleh para pelaku teater. di zaman peradaban Mesir Kuno kira-kira 2000 tahun sebelum tarikh Masehi. pemahaman dasar formula dramaturgi dapat dijadikan acuan proses penciptaan karya seni teater. sudah mengenal ilmu bedah. itu yang akhirnya upacara berkembang agama menjadi lama pertunjukan Meskipun telah ditinggalkan. • Berasal dari upacara agama primitif.1 Teater Barat 2. tapi teater ini hidup terus hingga sekarang. Mereka sudah bisa membuat piramida. Sejarah Singkat Teater 2. I Kher-nefert.

1. mengunjungi amphitheater untuk menonton teater-teater. • Cerita yang dimainkan adalah tragedi yang membuat penonton tegang. • Selain pemeran utama juga ada pemain khusus untuk kelompok koor (penyanyi). • Seluruh pemainnya pria bahkan tokoh wanitanya dimainkan pria dan memakai topeng karena setiap pemain memerankan lebih dari satu tokoh. Ciri-ciri khusus pertunjukan teater pada masa Yunani Kuno adalah: • Pertunjukan dilakukan di amphitheater. Naskah lakon teater Yunani merupakan naskah lakon teater pertama yang menciptakan dialog diantara para karakternya. takut.2. dan hadiah diberikan bagi teater terbaik.2 Teater Yunani Klasik Tempat pertunjukan teater Yunani pertama yang permanen dibangun sekitar 2300 tahun yang lalu. begitu juga Teater. Teater ini dibangun tanpa atap dalam bentuk setengah lingkaran dengan tempat duduk penonton melengkung (Jakob dan berundak-undak 1984). dan narator (pemain yang menceritakan jalannya pertunjukan). kasar dan sering mengeritik tokoh terkenal pada waktu itu.1. seniman Yunani. yang Ribuan disebut orang amphitheater Soemardjo. Teater pertama kali dipertunjukkan di kota Roma pada tahun 240 SM (Brockett. Teater Romawi menjadi penting karena pengaruhnya kelak pada Zaman Renaissance. Teatron pada zaman Yunani 2. penari. Pertunjukan ini dikenalkan oleh Livius Andronicus.3 Teater Romawi Klasik Setelah tahun 200 Sebelum Masehi kegiatan kesenian beralih dari Yunani ke Roma. dan kasihan serta cerita komedi yang lucu. Teater Romawi merupakan hasil adaptasi bentuk teater . • Sudah menggunakan naskah lakon. 1964). Namun mutu teater Romawi tak lebih baik daripada teater Yunani.

banyak kota di Eropa mementaskan drama untuk merayakan hari-hari besar umat Kristen. lalu berjalan lagi. menggantikannya. 2. • Karakteristik tokoh tergantung kelas yaitu orang tua yang bermasalah dengan anak-anaknya atau kekayaan. yang disebut pageant. • Koor tidak lagi berfungsi mengisi setiap adegan. Para pemain drama pageant menggunakan tempat di bawah kereta untuk menyembunyikan peralatan. Peralatan ini digunakan untuk efek tipuan. Aktor-aktor pageant seringkali adalah para perajin setempat yang memainkan adegan yag menunjukan keahlian mereka. Para pemain pegeant memainkan satu adegan dari kisah dalam Alkitab. anak muda yang melawan kekuasaan orang tua dan lain sebagainya. drama ini populer karena pemainnya berbicara dalam bahasa sehari-hari. bukan bahasa Latin yang merupakan bahasa resmi gereja-gereja Kristen (Wisnuwardhono. . 2002). Bahkan kini pertunjukan jalan dan prosesi penuh warna diselenggarakan di seluruh dunia untuk merayakan berbagai hari besar keagamaan.4 Teater Abad Pertengahan Dalam tahun 1400-an dan 1500-an. seperti menurunkan seorang aktor dari atas ke panggung. Pageant lain dari aktor-aktor lain untuk adegan berikutnya. Namun demikian teater Romawi pun memiliki kebaruan-kebaruan dalam penggarapan dan penikmatan yang asli dimiliki oleh masyarakat Romawi dengan ciri-ciri sebagi berikut. dan ditarik keliling kota. Orang berkerumun untuk menyaksikan drama pageant religius di Eropa. Tidak hanya menjadi tema cerita tetapi juga menjadi ilustrasi cerita. • Tema berkisar pada masalah hidup kesenjangan golongan menengah.Yunani.1. Drama-drama dibuat berdasarkan cerita-cerita Alkitab dan dipertunjukkan di atas kereta. Hampir di setiap unsur panggungnya terdapat unsur pemanggungan teater Yunani. • Musik menjadi pelengkap seluruh adegan.

5 Renaissance Abad 17 memberi sumbangan yang sangat berarti bagi kebudayaan Barat. • Drama dimainkan di tempat umum dengan memungut bayaran. Semangat baru muncul untuk menyelidiki kebudayaan Yunani dan Romawi klasik. Meskipun demikian gerakan mereka memiliki arti penting karena Eropa menjadi mengenal drama yang jelas struktur dan bentuknya. . Gerakan yang menyelidiki semangat ini disebut gerakan humanisme. yaitu tragedi. Drama dilangsungkan dengan mengikuti struktur yang ada. Di gedung-gedung teater milik para bangsawan inilah dipentaskan naskah-naskah yang meniru drama-drama klasik. dan mesin cetak.Ciri-ciri teater abad Pertengahan adalah sebagai berikut: • Drama dimainkan oleh aktor-aktor yang belajar di universitas sehingga dikaitkan dengan masalah filsafat dan agama. Ada tiga jenis drama yang dikembangkan.1. kompas. Semangat ini disebut semangat Renaissance yang berasal dari kata “renaitre” yang berarti kelahiran kembali manusia untuk mendapatkan semangat hidup baru. • Drama banyak disisipi cerita kepahlawanan yang dibumbui cerita percintaan. Ciri-ciri teater Zaman Renaissance yakni sebagai berikut. 2. dan pastoral atau drama yang membawakan kisah-kisah percintaan antara dewa-dewa dengan para gembala di daerah pedesaan. Namun nilai seni ketiganya masih rendah. komedi. • Aktor bermain di panggung di atas kereta yang bisa dibawa berkeliling menyusuri jalanan. Para aktor kebanyakan pegawai-pegawai istana dan pertunjukan diselenggarakan dalam pesta-pesta istana. • Drama tidak memiliki nama pengarang. Pusat-pusat aktivitas teater di Italia adalah istana-istana dan akademi. Sejarah abad 15 dan 16 ditentukan oleh penemuanpenemuan penting yaitu mesin.

• Peristiwa cerita berlangsung dan berpindah secara cepat. • Pelaksanaan bentuk teater diatur oleh kerajaan maupun universitas. • Cerita terdiri dari tiga babak didahului prolog panjang. Plot cerita berlangsung dalam suasana adegan lucu. yaitu rumah. Ciri khas commedia dell’arte adalah: Para pemain dibebaskan berimprovisasi mengikuti jalannya cerita dan dituntut memiliki pengetahuan luas yang dapat mendukung permainan improvisasinya. Kemudian menyebar luas di Eropa dan mempengaruhi semua bentuk komedi yang diciptakan pada tahun 1600.1. • Terdapat tiga tokoh yang selalu muncul. jalan. Merupakan bentuk teater rakyat Italia yang berkembang di luar lingkungan istana dan akademisi. • Setting panggung sederhana. dan tokoh pembantu. 2. yaitu tokoh penguasa. • Menggunakan naskah lakon yang berisi garis besar cerita. • Tata busana dan seting yang dipergunakan sangat inovatif. Gedung ini dibangun seperti lingkaran sehingga penonton bisa duduk dihampir seluruh sisi panggung. Gedung teater ini sangat sukses sehingga .6 Teater Zaman Elizabeth Pada tahun 1576. • Menggunakan panggung proscenium yaitu bentuk panggung yang memisahkan area panggung dengan penonton. gedung teater besar dari kayu dibangun di London Inggris. • Cerita yang dimainkan bersumber pada cerita yang diceritakan secara turun menurun. selama pemerintahan Ratu Elizabeth I. tokoh penggoda. • Cerita bertema mitologi atau kehidupan sehari-hari. • Pada zaman ini juga melahirkan satu bentuk teater yang disebut commedia dell’arte.• Naskah lakon yang dipertunjukkan meniru teater Zaman Yunani klasik. dan lapangan. • Tempat pertunjukannya di lapangan kota dan panggungpanggung sederhana. Pada tahun 1575 bentuk ini sudah populer di Italia.

Ia menulis 37 (tiga puluh tujuh) drama dengan berbagai tema. gedung teater ini bisa menampung 3. Teater telah berubah selama berabadabad. yang disebut solilokui. Orang datang ke gedung pertunjukan tidak hanya untuk menyaksikan teater melainkan juga untuk menikmati musik. • Tempat adegan ditandai dengan ucapan dengan disampaikan dalam dialog para tokoh. selain penulis drama. Gedung-gedung pertunjukan modern memiliki efek-efek khusus dan teknologi baru. • Corak pertunjukannya merupakan perpaduan antara teater keliling dengan teater sekolah dan akademi yang keklasik-klasikan. dan mempelajari hal-hal baru. beberapa cara untuk mengekspresikan karakter-karakter berbeda .7 Teater Abad 20 Pementasan Teater di Broadway. Dewasa ini. Tidak pemain wanita.000 penonton. • Tokoh wanita dimainkan oleh pemain anak-anak laki-laki. Mereka yang tidak mampu membeli tiket berdiri di sekitar panggung. 2. atau yang disebut saat ini. penulis drama terkenal dari Inggris yang hidup dari tahun 1564 sampai tahun 1616. Penonton yang mampu membeli tiket duduk di sisi-sisi panggung. • Penontonnya berbagai lapisan masyarakat dan diramaikan oleh penjual makanan dan minuman. Teater di Tengah-Tengah Gedung. pendidikan. dan menceritakan gagasan-gagasan mereka kepada penonton. Beberapa ceritanya berisi monolog panjang. Ciri-ciri teater Zaman Elizabeth adalah: • Pertunjukan dilaksanakan siang hari dan tidak mengenal waktu istirahat. Ia biasanya menulis dalam bentuk puisi atau sajak. Rancanganrancangan panggung termasuk pengaturan panggung arena.banyak gedung sejenis dibangun di sekitarnya. Ia adalah seorang aktor dan penyair. hiburan.1. mulai dari pembunuhan dan tokohg sampai cinta dan kecemburuan. • Menggunakan naskah lakon. Salah satunya yang disebut Globe. Globe mementaskan drama-drama karya William Shakespeare.

2. Hal ini mendorong para pemikir teater untuk menemukan satu bentuk ekspresi baru yang lepas dari konvensi yang sudah ada. Pada zaman itu. Wilayah jelajah artistik dibuka selebar-lebarnya untuk kemungkinan perkembangan bentuk pementasan seni teater. para seniman mencari bentuk pertunjukannya sendiri. epik. Teater tradisional merupakan bagian dari suatu upacara keagamaan ataupun upacara adat-istiadat dalam tata cara kehidupan masyarakat kita.1 Teater Tradisional Kasim Achmad dalam bukunya Mengenal Teater Tradisional di Indonesia (2006) mengatakan. dekorasi. Seiring dengan perkembangan waktu. Tidak jarang usaha mereka berhasil dan mampu memberikan pengaruh seperti gaya simbolisme. Setelah melepaskan diri dari kaitan upacara. dan efek elektronik. yang disebut “teater”. unsur- . ada tanda-tanda bahwa unsur-unsur teater tradisional banyak digunakan untuk mendukung upacara ritual. dan absurd. usaha pencarian kaidah artistik yang dilakukan oleh seniman teater modern patut diacungi jempol karena usaha-usaha tersebut mengantarkan pada keberagaman bentuk ekspresi dan makna keindahan. Pada saat itu. Banyak gaya baru yang lahir baik dari sudut pandang pengarang. Tetapi tidak jarang pula usaha mereka berhenti pada produksi pertama. sejarah teater tradisional di Indonesia dimulai sejak sebelum Zaman Hindu. sebenarnya baru merupakan unsurunsur teater. Pada awal abad 20 inilah istilah teater eksperimental berkembang. Gaya-gaya teater pertunjukan realistis dan eksperimental ditemukan dalam Amerika saat ini. Lepas dari hal itu. 2. kualitas pertunjukan realis oleh beberapa seniman dianggap semakin menurun dan membosankan. aktor ataupun penata artistik.2 Teater Indonesia 2. Dengan semangat melawan pesona realisme. surealisme. tata cahaya. dan belum merupakan suatu bentuk kesatuan teater yang utuh. sutradara.dalam pertunjukan-pertunjukan (di samping nada suara) dapat melalui musik.

2. ubrug. randai. Proses terjadinya atau munculnya teater tradisional di Indonesia sangat bervariasi dari satu daerah dengan daerah lainnya. meskipun masih dalam wujud cerita ringkas atau outline story (garis besar cerita per adegan).2 Teater Modern 2. Selain pengaruh dari teater bangsawan. Cara penyajian cerita dengan menggunakan panggung dan dekorasi. teater tradisional berkenalan juga dengan teater Barat yang dipentaskan oleh orang-orang Belanda di Indonesia sekitar tahun 1805 yang kemudian berkembang hingga di Betawi (Batavia) dan mengawali berdirinya gedung Schouwburg pada tahun 1821 (Sekarang Gedung Kesenian Jakarta). ketoprak. dan sebagainya. Macammacam teater tradisional Indonesia adalah: wayang kulit. Pada periode transisi inilah teater tradisional berkenalan dengan teater non-tradisi. yang pada saat itu masih belum menggunakan naskah drama/lakon. ludruk . wayang wong. yang pementasannya secara teknik telah banyak mengikuti budaya dan teater Barat (Eropa).1 Teater Transisi Teater transisi adalah penamaan atas kelompok teater pada periode saat teater tradisional mulai mengalami perubahan karena pengaruh budaya lain. .unsur teater tersebut membentuk suatu seni pertunjukan yang lahir dari spontanitas rakyat dalam masyarakat lingkungannya. arja. Perubahan tersebut terletak pada cerita yang sudah mulai ditulis.2. Hal ini disebabkan oleh unsur-unsur pembentuk teater tradisional itu berbedabeda. tergantung kondisi dan sikap budaya masyarakat.2. dinamakan teater bangsawan. sumber dan tata-cara di mana teater tradisional lahir. lenong. Perkenalan masyarakat Indonesia pada teater non-tradisi dimulai sejak Agust Mahieu mendirikan Komedie Stamboel di Surabaya pada tahun 1891. drama gong. Mulai memperhitungkan teknik yang mendukung pertunjukan.2. Kelompok teater yang masih tergolong kelompok teater tradisional dengan model garapan memasukkan unsur-unsur teknik teater Barat.

2 Teater Indonesia tahun 1920-an Teater pada masa kesusasteraaan angkatan Pujangga Baru kurang berarti jika dilihat dari konteks sejarah teater modern Indonesia tetapi cukup penting dilihat dari sudut kesusastraan. sedangkan cerita yang disajikan dinamakan drama.2. dan lain sebagainya. seperti Opera Stambul. Sandiwara Orion. Lelakon Komedia Hindia Timoer (1913). Indra Bangsawan. Karenanya rombongan teater pada masa itu menggunakan nama sandiwara. Sampai pada Zaman Jepang dan permulaan Zaman Kemerdekaan.2. Opera Abdoel Moeloek.Dilihat dari segi sastra. Kemudian lahirlah kelompok sandiwara lain. Bentuk sastra drama yang pertamakali menggunakan bahasa Indonesia dan disusun dengan model dialog antar tokoh dan berbentuk sajak adalah Bebasari (artinya kebebasan yang sesungguhnya atau inti kebebasan) karya Rustam Efendi (1926). istilah sandiwara masih sangat populer. Pada masa teater transisi belum muncul istilah teater. Drama-drama Pujangga Baru ditulis sebagai ungkapan ketertekanan kaum intelektual dimasa itu karena penindasan pemerintahan Belanda yang amat keras terhadap kaum pergerakan sekitar tahun 1930-an. dan lainlainnya. Yang ada adalah sandiwara. Naskah-naskah drama tersebut belum mencapai bentuk sebagai drama karena masih menekankan unsur sastra dan sulit untuk dipentaskan. Komidi Bangsawan. mulai mengenal sastra lakon dengan diperkenalkannya lakon yang pertama yang ditulis oleh orang Belanda F. 2. Lakon ini menceritakan perjuangan . Sandiwara Tjahaja Timoer. pada tahun 1901. yang menggunakan bahasa Melayu Rendah. Kemudian disusul oleh Lauw Giok Lan lewat Karina Adinda.Wiggers yang berjudul Lelakon Raden Beij Soerio Retno. Setelah sandiwara Komedie seperti Stamboel didirikan muncul (The kelompok Opera Sandiwara Dardanella Malay Dardanella) yang didirikan Willy Klimanoff alias A. Istilah teater bagi masyarakat Indonesia baru dikenal setelah Zaman Kemerdekaan. Pedro pada tanggal 21 Juni 1926. Lakon Bebasari merupakan sastra drama yang menjadi pelopor semangat kebangsaan.

dan sebagai anggota antara lain. pada tahun 1927 menulis dan menyutradarai teater di Bengkulu (saat di pengasingan). dalam situasi yang sulit dan gawat serupa itu. Krukut Bikutbi. yaitu Anjar Asmara dan Kamajaya masih sempat berpikir bahwa perlu didirikan Pusat Kesenian Indonesia yang bertujuan menciptakan pembaharuan kesenian yang selaras dengan perkembangan zaman sebagai upaya untuk melahirkan kreasi – kreasi baru dalam wujud kesenian nasional Indonesia. Setan.tokoh utama Bujangga. dan Kama Jaya. Nur Sutan Iskandar menyadur karangan Molliere. Maka pada tanggal 6 oktober 1942. Badan Pusat Kesenian Indonesia bermaksud . Sumanang (Sekretaris). dan Dr. dengan judul Si Bachil. Rainbow. Beberapa lakon yang ditulisnya antara lain. Mr.3 Teater Indonesia tahun 1940-an Semua unsur kesenian dan kebudayaan pada kurun waktu penjajahan Jepang dikonsentrasikan untuk mendukung pemerintahan totaliter Jepang. 2. Segala daya kreasi seni secara sistematis di arahkan untuk menyukseskan pemerintahan totaliter Jepang. Mr. Imam Supardi menulis drama dengan judul Keris Mpu Gandring. yaitu Sanusi Pane menulis Kertajaya (1932) dan Sandyakalaning Majapahit (1933) Muhammad Yamin menulis Ken Arok dan Ken Dedes (1934). dan harapan serta misi mewujudkan Indonesia sebagai negara merdeka. Armiijn Pane mengolah roman Swasta Setahun di Bedahulu karangan I Gusti Nyoman Panji Tisna menjadi naskah drama. menulis dengan menggunakan bahasa Indonesia dan berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Namun demikian.2. Dr. di rumah Bung Karno dibentuklah Badan Pusat Kesenian Indonesia dengan pengurus sebagai berikut. Singgih menulis drama berjudul Hantu. Penulis-penulis ini adalah cendekiawan Indonesia. Sutan Takdir Alisjabana. Penulis lakon lainnya. yang membebaskan puteri Bebasari dari niat jahat Rahwana. Satiman Wirjosandjojo menulis drama berjudul Nyai Blorong. Lakon-lakon ini ditulis berdasarkan tema kebangsaan. Ir Soekarno.2. Armijn Pane. Bahkan Presiden pertama Indonesia. dua orang tokoh. Sanusi Pane (Ketua). persoalan.

Tjahaya Asia. Air Mata Ibu (sudah difilmkan). antara lain Astaman. dengan peragawati gadis-gadis Indo Belanda yang cantik-cantik. yang dipimpin oleh orang Jepang S. yaitu di antara satu dan lain babak diselingi oleh tarian-tarian. Rombongan sandiwara Bintang Surabaya tampil dengan aktor dan aktris kenamaan. yang kesemuanya merupakan corong propaganda Jepang. Bengawan Solo. . dan lain-lain kembali berkembang dengan mementaskan cerita dalam bahasa Indonesia. Pengarang Nyoo Cheong Seng. dan lawak. Jawa. dan sebagainya. R. Langkah-langkah yang telah diambil oleh Badan Pusat Kesenian Indonesia untuk mewujudkan cita-cita kemajuan kesenian Indonesia. ternyata mengalami hambatan yang datangnya dari barisan propaganda Jepang. dan Bolero.menciptakan kesenian Indonesia baru. Intensitas kerja Djawa Eiga Kosya yang ingin menghambat langkah Badan Pusat Kesenian Indonesia nampak ketika mereka membuka sekolah tonil dan drama Putra Asia. Tan Ceng Bok (Si Item). Ratu Asia. Dewi Mada. maupun Sunda. Pendekar Asia. Mis Ribut. Rombongan sandiwara keliling komersial. di antaranya dengan jalan memperbaiki dan menyesuaikan kesenian daerah menuju kesenian Indonesia baru. Sija. Warna Sari. seperti misalnya Bintang Surabaya. yaitu Sendenbu yang membentuk badan perfilman dengan nama Djawa Eiga Kosy’. Mata Hari. Komedi Bangsawan. Pancawarna. Oya. dan Merah Delima.A Murdiati. Dalam kurun waktu ini semua bentuk seni hiburan yang berbau Belanda lenyap karena pemerintah penjajahan Jepang anti budaya Barat. Ali Yugo. Rombongan Sandiwara Bintang Surabaya menyuguhkan pementasan-pementasan dramanya dengan cara lama seperti pada masa Dardanella. Secara istimewa selingannya kemudian ditambah dengan mode show. Kris Bali. nyanyian. Mis Tjitjih. yang dikenal dengan nama samarannya Mon Siour D’amour ini dalam rombongan sandiwara Bintang Surabaya menulis lakon antara lain. Dalam masa pendudukan Jepang kelompok rombongan sandiwara yang mula-mula berkembang adalah rombongan sandiwara profesional. Dahlia. Fifi Young.

yaitu rombongan sandiwara yang digemari rakyat jelata.Menyusul kemudian muncul rombongan sandiwara Dewi Mada. adalah Garsia penampilan musiknya yang mewah yang dipimpin oleh Garsia. rombongan yang sandiwara sebagi Warna Raja Sari Drum. Kusumahadi. dan Kama Jaya pada tanggal 6 April 1943. dan Rencong Aceh. Panggilan Tanah Air. sandiwara rombongan Tjahaya sandiwara Asia yang ini terpaksa berlindung di bawah barisan propaganda Jepang dan berganti nama rombongan mementaskan ceritacerita baru untuk kepentingan propaganda Jepang. Rombongan sandiwara terkenal lainnya adalah rombongan sandiwara Sunda Mis Tjitjih. Baru kemudian Muchsin sebagai pengusaha besar tertarik dan membiayai rombongan sandiwara Warna Sari. Hanya kalangan terpelajar yang menyukai pertunjukan Matahari yang menampilakan hiburan berupa tari-tarian pada awal pertunjukan baru kemudian dihidangkan lakon sandiwara dari awal hingga akhir. mendirikan rombongan sandiwara angkatan muda Matahari. seorang keturunan terkenal menempatkan deretan drumnya yang berbagai ukuran itu memenuhi lebih dari separuh panggung. Ida Ayu. Keistimewaan Filipina. yaitu Dewi Mada dengan suaminya Ferry Kok. Ratna Asmara. Bulan Punama. Anjar Asmara. yang sekaligus sebagai pemimpinnya. Cerita-cerita yang dipentaskan antara lain. Bentuk penyajian semacam ini di anggap kaku oleh penonton umum yang lebih suka unsur hiburan disajikan sebagai selingan babak satu dengan babak lain . Ni Parini. Dewi Rani. Kembang Kaca. Rombongan sandiwara Dewi Mada lebih mengutamakan tari-tarian dalam pementasan teater mereka karena Dewi Mada adalah penari terkenal sejak masa rombongan sandiwara Bolero. Cerita yang dipentaskan antara lain. dan lain sebagainya. Hingga tahun 1943 rombongan sandiwara hanya dikelola pengusaha Cina atau dibiayai Sendenbu karena bisnis pertunjukan itu masih asing bagi para pengusaha Indonesia. dengan bintang-bintang eks Bolero. menjadi Dalam perjalanannya. Ia menabuh drum-drum tersebut sambil meloncat ke kanan–ke kiri sehingga menarik minat penonton.

Kama Jaya menulis lakon antara lain. Sensor Sendenbu malah menjadi titik awal dikenalkannya naskah dalam setiap pementasan sandiwara. Bende Mataram. Pecah Sebagai Ratna. Dari semua lakon tersebut ada yang sudah di filmkan yaitu. Benteng Ngawi. Menjelang akhir pendudukan Jepang muncul rombongan sandiwara yang melahirkan karya ssatra yang berarti. Sendenbu menyiapkan naskah lakon yang harus dimainkan oleh setiap rombongan sandiwara karangan penulis lakon Indonesia dan Jepang. Solo di Waktu Malam dan Nusa Penida. dan lain-lain). Kelompok ini berprinsip menegakkan nasionalisme. Pada saat inilah pengembangan ke arah pencapaian teater nasional dilakukan. Sang Pek Engtay. Guna-guna. Hei Natsu Eitaroo menulis Hantu. dan D.sehingga akhirnya dengan terpaksa rombongan sandiwara tersebut mengikuti selera penonton. nasionalis dan para profesional (dokter. Djajakusuma dengan dukungan Suryo Sumanto. Teater tidak hanya sebagai hiburan tetapi juga untuk ekspresi kebudayaan berdasarkan kesadaran nasional dengan cita-cita menuju humanisme dan religiositas dan memandang teater sebagai seni serius dan ilmu pengetahuan. Bahwa . Para pemain tidak boleh menambah atau melebih-lebihkan dari apa yang sudah ditulis dalam naskah. Lakon-lakon yang ditulis Anjar Asmara antara lain. yaitu Penggemar Maya (1944) pimpinan Usmar Ismail. Amat Heiho. Huyung (Hei Natsu Eitaroo). Oleh karena ada sensor Sendenbu maka lakon harus ditulis lengkap berikut dialognya. ahli seni drama atas nama Sendenbu memprakarsai berdirinya POSD (Perserikatan Oesaha Sandiwara Djawa) yang beranggotakan semua rombongan sandiwara profesional. Nusa Penida. Jepang menugaskan Dr. humanisme dan agama. dan Abu Hanifah dengan para anggota cendekiawan muda. Kotot Sukardi menulis lakon. Potong Padi. Pertumbuhan sandiwara profesional tidak luput dari perhatian Sendenbu. Pancaroba. Solo di Waktu Malam. Kupu-kupu. Musim Bunga di Slabintana. Si Bongkok. dan Jauh di Mata. apoteker. Lakon Ibu Prajurit ditulis oleh Natsusaki Tani. Rosihan Anwar. lakon Nora karya Henrik Ibsen diterjemahkan dan judulnya diganti dengan Jinak-jinak Merpati oleh Armijn Pane.

ATNI menggalakkan dan memapankan realisme dengan mementaskan lakon-lakon terjemahan dari Barat. kekecewaan. Kedua seniman teater Barat dengan idiom realisme konvensional ini menjadi tonggak didirikannya Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) pada tahun 1955 oleh Usmar Ismail dan Asrul Sani. Titiktitik Hitam (Nasyah Jamin.2.2. keiklasan sendiri dan pengorbanan. Kapten Syaf (Aoh Kartahadimaja. 2. penderitaan. Penggemar Maya menjadi pemicu berdirinya Akademi Teater Nasional Indonesia di Jakarta. kepahlawanan dan tindakan pengecut. 1955). Kelak. 1956) Sekelumit Nyanyian Sunda (Nasyah Jamin. kemunafikan. berdasarkan Justice karya John Galsworthy. kemiskinan. melalaikan penderitaan korban tokohg. mereka merenungkan peristiwa tokohg kemerdekaan. erosi ideologi. 1954). bahkan lakon adaptasi. seperti karyakarya .4 Teater Indonesia Tahun 1950-an Setelah tokoh kemerdekaan. seperti korupsi. Realisme konvensional dan naturalisme tampaknya menjadi pilihan generasi yang terbiasa dengan teater barat dan dipengaruhi oleh idiom Hendrik Ibsen dan Anton Chekhov. 1951). Peristiwa tokohg secara khas dilukiskan dalam lakon Fajar Sidik (Emil Sanossa. Lakon Awal dan Mira (1952) tidak hanya terkenal di Indonesia. pengkhianatan. Sayang Ada Orang Lain (1953) karya Utuy Tatang Sontani. Sementara ada lakon yang bercerita tentang kekecewaan paska tokohg. peluang terbuka bagi seniman untuk merenungkan perjuangan dalam tokohg kemerdekaan. Pakaian dan Kepalsuan oleh Akhdiat Kartamiharja (1956) berdasarkan The Man In Grey Suit karya Averchenko dan Hanya Satu Kali (1956). melainkan sampai ke Malaysia. keberanian dan nilai kemanusiaan. Utuy Tatang Sontani dipandang sebagai tonggak penting menandai awal dari maraknya drama realis di Indonesia dengan lakonlakonnya yang sering menyiratkan dengan kuat alienasi sebagai ciri kehidupan moderen. 1959). dan lain-lain.teori teater perlu dipelajari secara serius. Tema itu terungkap dalam lakon-lakon seperti Awal dan Mira (1952). dan lain-lain. Islam dan Komunisme. oportunisme politis. Pertahanan Akhir (Sitor Situmorang. juga sebaliknya.

Suyatna Anirun. Menurut Brandon (1997). The Bespoke Overcoat (Wolf mankowitz ). 1945). Pada tahun 1967 Jim Lim belajar teater dan menetap di Paris.2. salah satu aktor dan juga teman Jim Lim. teater rakyat Sunda.2. dan Biduanita Botak (Ionesco. Ketika Rendra kembali . Alumni Akademi Teater Nasional yang menjadi aktor dan sutradara antara lain. Menyutradarai dengan gaya realistis tetapi isinya absurditas pada lakon Caligula (Albert Camus. 2. Wahyu Sihombing. Galib Husein. Peristiwa penting dalam usaha membebaskan teater dari batasan realisme konvensional terjadi pada tahun 1967. Gogol. ATNI inilah akademi teater modern yang pertama di Asia Tenggara. 1961).5 Teater Indonesia Tahun 1970-an Pementasan: Mengapa Leonardo oleh Teater Koma Jim Adi Limas mendirikan Studiklub Teater Bandung dan mulai mengadakan eksperimen dengan menggabungkan unsur-unsur teater etnis seperti gamelan. 1950). 1962). Pramana Padmadarmaya. Teguh Karya. Himpunan Seni Budaya Surakarta (HBS) didirikan di Surakarta. Sedangkan metode pementasan dan pemeranan yang dikembangkan oleh ATNI adalah Stanislavskian. Pada tahun 1960. dan dagelan dengan teater Barat. Pada akhir 1950-an JIm Lim mulai dikenal oleh para aktor terbaik dan para sutradara realisme konvensional. (Misbach Yusa Biran) dengan gaya longser. Sontani) dan Paman Vanya (Anton Chekhov). tari topeng Cirebon. Tatiek Malyati. dan Chekov. longser. melanjutkan apa yang sudah dilakukan Jim Lim yaitu mencampurkan unsur-unsur teater Barat dengan teater etnis. Badak-badak (Ionesco. Mengadaptasi lakon Hamlet dan diubah judulnya menjadi Jaka Tumbal (1963/1964). Tahun 1962 Jim Lim menggabungkan unsur wayang kulit dan musik dalam karya penyutradaraannya yang berjudul Pangeran Geusan Ulun (Saini KM. yaitu Awal dan Mira (Utuy T.. dan Kasim Achmad. Karya penyutradaraanya. Di Yogyakarta tahun 1955 Harymawan dan Sri Murtono mendirikan Akademi Seni Drama dan Film Indonesia (ASDRAFI). Jim Lim menyutradari Bung Besar. 1960).Moliere. Bermain dengan akting realistis dalam lakon The Glass Menagerie (Tennesse William.

dan kreativitas berteater tidak hanya di Jakarta. Taman Ismail Marzuki menerbitkan 67 (enam puluh tujuh) judul lakon yang ditulis oleh 17 (tujuh belas) pengarang sandiwara. Teguh Karya (Teater Populer). Di Makasar. kostum dan verbalisme naskah. tata cahaya.1968). Di Yogyakarta Azwar AN mendirikan teater Alam. Mohammad Diponegoro dan Syubah Asa mendirikan Teater Muslim. vokal. Artaud dan Grotowsky juga diperbincangkan. Medan. Di Padang ada Wisran Hadi dengan teater Padang. Arifin C. D. Djajakusuma. Lalu Teater Nasional Medan didirikan oleh Djohan A Nasution dan Burhan Piliang. Surabaya. Ujung Pandang. Wahyu Sihombing. gubernur DKI jakarta tahun1970. Danarto (Teater Tanpa Penonton). Rahman Arge dan Aspar Patturusi mendirikan Teater Makasar. musik. menyelenggarakan festival pertunjukan secara teratur. Putu Wijaya (teater Mandiri) dengan ciri penampilan menggunakan .ke Indonesia. tetapi juga di kota besar seperti Bandung. Bib Bop dan Rambate Rate Rata (1967. Tidak hanya Stanislavsky tetapi nama-nama seperti Brecht. Yogyakarta. Adi Kurdi (Teater Hitam Putih). Akan tetapi. juga lokakarya dan diskusi teater secara umum atau khusus. Tokoh-tokoh teater yang muncul tahun 1970-an lainnya adalah. pertunjukan bermula dari improvisasi dan eksplorasi bahasa tubuh dan bebunyian mulut tertentu atas suatu tema yang diistilahkan dengan teater mini kata (menggunakan kata seminimal mungkin). Di Surabaya muncul bentuk pertunjukan teater yang mengacu teater epik (Brecht) dengan idiom teater rakyat (kentrung dan ludruk) melalui Basuki Rahmat. Hasyim Amir (Bengkel Muda Surabaya. dan lain-lain. menjadi pemicu meningkatnya aktivitas. Akhudiat. Teater Lektur. Palembang. Padang. Ikranegara (Teater Saja). Rendra mendirikan Bengkel Teater Yogya yang kemudian menciptakan pertunjukan pendek improvisatoris yang tidak berdasarkan naskah jadi (wellmade play) seperti dalam drama-drama realisme. Pertunjukannya misalnya. Luthfi Rahman. Didirikannya pusat kesenian Taman Ismail Marzuki oleh Ali Sadikin. Noor (Teater Kecil) dengan gaya pementasan yang kaya irama dari blocking. Pramana Padmodarmaya (Teater Lembaga). Teater Melarat Malang).

Dalam latar situasi seperti itu lahir beberapa kelompok teater yang sebagian merupakan produk festival teater. Meh. Lakon yang dipentaskan antra lain.6 Teater Indonesia Tahun 1980 – 1990-an Teater Gandrik: Orde Tabung. Teater Jeprik. Teater Tikar. Di Bandung muncul Teater Bel. Beberapa jenis festival di Yogyakarta. Fokus tidak terletak pada aktor tetapi gerombolan yang menciptakan situasi dan aksi sehingga lebih dikenal sebagai teater teror.2. Sinden. di antaranya Festival Seni Pertunjukan Rakyat yang diselenggarakan Departemen Penerangan Republik Indonesia (1983). dan Teater Gandrik. Riantiarno (Teater Koma) dengan ciri pertunjukan yang mengutamakan tata artistik glamor. Teater Republik. Di Solo (Surakarta) muncul Teater Gapit yang menggunakan bahasa Jawa dan latar cerita yang meniru lingkungan kehidupan rakyat pinggiran. Teater Gandrik menonjol dengan warna teater yang mengacu kepada roh teater tradisional kerakyatan dan menyusun berita-berita yang aktual di masyarakat menjadi bangunan cerita. Upeti. N. Pada saat itu lahirlah kelompok-kelompok teater baru di berbagai kota di Indonesia. Dewan-dewan Mahasiswa ditiadakan. Di Yogyakarta muncul Teater Dynasti. Di samping Gapit. di Solo ada juga Teater Gidag-gidig. Salah satu lakonnya berjudul Tuk. dan Teater Payung Hitam. Menampilkan manusia sebagai gerombolan dan aksi. Di Jakarta dikenal dengan Festival Teater Jakarta (sebelumnya disebut Festival Teater Remaja). Festival Drama Lima Kota Surabaya memunculkan . Pasar Seret. Di Tegal lahir teater RSPD. Teater Shima. Kontrang.2.kostum yang meriah dan vokal keras. Kholiq Dimyati dan Mukid F.kantring. Ditiadakannya kehidupan politik kampus sebagai akibat peristiwa Malari 1974. Tahun 1980-1990-an situasi politik Indonesia kian seragam melalui pembentukan lembaga-lembaga tunggal di tingkat nasional. dan Orde Tabung. Dhemit. Di Surabaya ada Festival Drama Lima Kota yang digagas oleh Luthfi Rahman. 2.

Salah satu teater kampus yang menonjol adalah teater Gadjah Mada dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. 2. Teater Tobong. Sanggar Suroboyo. ISI menjadi satu-satunya perguruan tinggi seni yang memiliki program Strata 1 untuk bidang seni teater pada saat itu. Di Medan muncul Teater Que dan di Palembang muncul Teater Potlot. Gerakan ini terus berkembang sejak tahun 80an sampai saat ini. Teater Institut.2.7 Teater Kontemporer Indonesia Teater Kontemporer Indonesia mengalami perkembangan yang sangat membanggakan. Di Semarang muncul Teater Lingkar. Aktivitas teater terjadi juga di kampus-kampus perguruan tinggi.1999). kemungkinan ekspresi artistik dikembangkan dengan gaya khas masing-masing seniman. Karenanya. Teater Api. Teater Sae yang berbeda sikap dalam menghadapi naskah yaitu posisinya sejajar dengan cara-cara pencapaian idiom akting melalui eksplorasi latihan. drama tidak pernah luput dari masalah hidup dan kehidupan manusia. Teater Rajawali. dan Teater Kami yang lahir di luar produk festival (Afrizal Malna. Teater Nol. Ada pula Teater Luka.Teater Pavita. Teater Bandar Jakarta. Teater Kubur. Sejak munculnya eksponen 70 dalam seni teater. Teater Tetas selain teater Studio Oncor. Jurusan teater dibuka di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada tahun 1985. Semangat kolaboratif yang terkandung dalam seni teater dimanfaatkan secara optimal dengan menggandeng beragam unsur pertunjukan yang lain. Meksipun seni teater konvensional tidak pernah mati tetapi teater eksperimental terus juga tumbuh. Dari Festival Teater Jakarta muncul kelompok teater seperti.2. Teater Ragil. wilayah jelajah ekspresi menjadi semakin luas dan kemungkinan bentuk garap semakin banyak. Dengan demikian. Aktivitas teater kampus mampu menghidupkan dan membuka kemungkinan baru gagasan-gagasan artistik. . Teater Kanvas. Konsep dan gaya baru saling bermunculan. Rangkuman Perkembangan teater mulai muncul sejak adanya manusia.

sutradara sebagai pertunjukan di panggung.Perkembangan Teater Barat dan Timur dapat dikatakan berjalan sejajar dengan perkembangan keberadaban manusia. konflik. Penulis kemudian menyusun rangkaian kejadian. yaitu pertama. pemain adalah orang yang penata membawakan tersebut. Konflik dalam lakon merupakan inti cerita. konlfik hingga penyelesaian. Ketiga. Kedua. semakin lama semakin rumit. sehingga pada puncaknya masuk ke dalam penyelesaian cerita. Peristiwa lakon tersebut menuntun seseorang untuk mengikuti laku kejadian mulai dari pemaparan. tetapi semakin lama semakin gawat sehingga akhirnya ia sampai ke puncak yang disebut klimaks. tokoh atau tokoh yang terlibat dalam kejadiankejadian dalam lakon.) BAB II SENI SASTRA DALAM TEATER Teater memiliki sekurang-kurangnya empat unsur penting dalam setiap pementasan. dan apa yang dibaca atau diceritakan kepadanya oleh orang lain. Tidaklah menarik sebuah cerita . bisa berwujud sebuah naskah atau skenario tertulis. Penting sekali bahwa dalam menyusun kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa seorang penulis haruslah bersabar untuk melangkah dari satu kejadian ke kejadian lain dalam suatu perkembangan yang logis. Lakon ditulis oleh seorang penulis naskah lakon berdasarkan apa yang dilihat. penonton adalah sekelompok orang yang menyerahkan sebagian dari kemerdekaannya untuk menjadi bagian dari tokoh yang tampil dalam suatu lakon dan menikmatinya. apa yang dialami. Keempat. yaitu pertama. Tugas Secara Kelompok buatlah kliping gambar-gambar pementasan teater dan berikanlah uraian singkat tentangnya! (hubungkan dengan sejarah perkembangan teater. Peristiwa atau kejadian dibuat oleh penulis naskah sebagai kerangka besar yang mendasari terjadinya suatu lakon. skenario tak tertulis (dalam teater kerakyatan). lakon atau cerita yang ditampilkan. lakon Kedua. Dalam lakon akan dijumpai dua hal yang sangat penting.

Pengarang atau penulis lakon menciptakan sebuah lakon bukan hanya sekedar mencipta. root idea. Konflik dalam lakon bisa rumit bisa juga sederhana. goal. Jadi. thought. central idea. dan bercabang-cabang jika tidak disajikan secara baik justru akan membosankan dan membuat laku lakon menjadi lamban. yaitu konflik dan tokoh yang terlibat dalam kejadian. berliku. dan dari lingkungan tersebut dia menyerap segala persoalan yang menjadi ide-ide dalam penulisan lakonnya. Seorang penulis terkadang mengemukakan tema dengan jelas tetapi ada juga yang secara tersirat. 2. Pengarang adalah seorang warga masyarakat yang tentunya mempunyai pendapat tentang masalah-masalah politik . kalau ada anggapan bahwa semakin rumit konflik lakon semakin menarik adalah anggapan yang salah. Tokoh adalah orang yang menghidupkan kejadian atau peristiwa yang dibuat oleh penulis naskah. Tidak ada acuan yang pasti terhadap konflik dalam lakon yang dapat membuat cerita menjadi menarik. dia mempunyai kepekaan terhadap lingkungan sekelilingnya. Ketika tema tidak terumuskan dengan jelas maka lakon tersebut akan kabur dan tidak jelas apa yang hendak disampaikan. Gagasan utama atau pesan lakon termaktub dalam konflik yang merupakan pertentangan antara satu pihak terhadap pihak lain mengenai sesuatu hal. Keunggulan dari seorang pengarang ialah. karena tema merupakan sasaran yang hendak dicapai oleh seorang penulis lakon. Sementara. aim.1 Tema Tema ada yang menyebutnya sebagai premis. driving force dan sebagainya. tetapi juga menyampaikan suatu pesan tentang persoalan kehidupan manusia. konflik yang berat. Pesan itu bisa mengenai kehidupan lahiriah maupun batiniah. Jalinan cerita menuju konflik dan cara penyelesainnya inilah yang menjadikan lakon menarik. Akan tetapi. Terkadang konflik yang kecil dan sederhana jika diselesaikan secara cerdas akan membuat penonton takjub. Jadi dalam lakon ada dua hal penting yang diciptakan oleh seorang penulis lakon.disajikan di atas panggung tanpa adanya konflik. karena peristiwa yang mengarahkan cerita kepada konflik membutuhkan tokoh sebagai pelaku. tema harus dirumuskan dengan jelas.

dan sosial yang penting serta mengikuti isu-isu zamannya (Rene Wellek dan Austin Warren, 1989). Ide-ide, pesan atau pandangan terhadap persoalan yang ada dijadikan ide sentral atau tema dalam menulis naskah lakonnya. Tema adalah suatu amanat utama yang disampaikan oleh pengarang atau penulis melalui karangannya (Gorys Keraf, 1994). Tema bisa juga disebut muatan intelektual dalam sebuah permainan, ini mungkin bisa diuraikan sebagai keseluruhan pernyataan dalam sebuah permainan: topik, ide utama atau pesan, mungkin juga sebuah keadaan (Robert Cohen, 1983). Adhy Asmara (1983) menyebut tema sebagai premis yaitu rumusan intisari cerita sebagai landasan ideal dalam menentukan arah tujuan cerita. Dengan demikian bisa ditarik kesimpulan bahwa tema adalah ide dasar, gagasan atau pesan yang ada dalam naskah lakon dan ini menentukan arah jalannya cerita. Tema dalam naskah lakon ada yang secara jelas dikemukakan dan ada yang samar-samar atau tersirat. Tema sebuah lakon bisa tunggal dan bisa juga lebih dari satu. Tema dapat diketahui dengan dua cara : • Apa yang diucapkan tokoh-tokohnya melalui dialog-dialog yang disampaikan. • Apa yang dilakukan tokoh-tokohnya. Dengan berpedoman dua hal tersebut analisis tema lakon dapat dikerjakan. Misalnya, lakon Raja Lear karya William Shakespeare terjemahan Trisno Sumardjo. Dialog yang disampaikan tokoh dapat dijadikan acuan untuk menganalisis tema lakon. Masing-masing tokoh mengucapkan kalimat dialognya. Dari dialog tersebut dapat diketahui perihal atau soalan yang dibahas. Dengan merangkai setiap persoalan melalui dialog para tokohnya maka gambaran tema akan didapatkan. Detil tema selalu dapat ditemukan dari baris-baris kalimat dialog tokoh cerita. Semua analisis lakon dikerjakan dengan mencermati kalimat dialog tersebut serta hubungan antara kalimat satu dengan yang lain. Jika hanya membaca cerita secara keseluruhan tanpa meninjau kalimat dialog dengan teliti maka hasil akhir dari analisis yang dilakukan belum tentu benar. Kadangkadang, dialog kecil memiliki arti yang luas dan

sanggup mempengaruhi tema cerita. Misalnya, dalam kalimat dialog Raja Lear dapat ditarik satu simpulan bahwa meskipun sebagai raja ia disegani oleh anak-anaknya, tetapi karena sikapnya yang keras maka ia juga dibenci. Perhatikan kutipan dialog di bawah ini. LEAR : ………….. kendalikan lidahmu sedikit; nanti kuhambat untungmu…. LEAR : ………………. Sekarang kulempar tiap kewajiban orang tua, tiap pertalian keluarga dan darah; mulai kini sampai selamanya kaulah asing bagiku dan bagi hatiku…………………. KENT : Silakan. Bunuhlah tabib tuan, supaya hama jahat berupah. Batalkan anugerah tuan; kalau tidak, rangkung saya berteriak meyerukan tuanlah lalim……… RAJA TOKOHCIS : Cordelia jelita, ternyata paling kaya meski miskin; terpillih meski, meski dibuang; tercinta meski dihina……………. CORDELIA : Andaikan bukan seorang ayah, namun uban ini sudah menuntut belas-kasih. Ah wajah benginikah dipaksa menempuh pergolakan badai? Dan melawan guntur bercakra garang, petir dahsyat yang pesat,, cepat menyambar-nyabar? Bagai prajurit yang terbuang, berjaga dengan topi tipis ini? Anjing musuhku pun, walau menggigit aku, di malam begitu takkan kuusir untuk dari tempat berdiang………………. Melalui laku atau aksi tokoh dalam lakon yang biasanya diterangkan (dituliskan) dalam arahan lakon gambaran tema semakin jelas. Laku aksi memberikan penegasan kalimat dialog. Dalam lakon Raja Lear, laku tokoh dapat memberikan penjelasan sebagai berikut. • Raja Lear membagi kerajaan pada ketiga anaknya sesuai dengan pujian yang disampaikan anaknya. • Raja Lear murka pada Cordelia karena tidak memujinya. • Raja Lear marah-marah ketika tidak dilayani hidupnya pada anak yang semula disayangi. • Raja Lear marah-marah dan mengusir bawahannya ketika ada yang menentang.

• Anak-anak Raja Lear yang disayangi berubah memusuhi orang tuanya sehingga Raja Lear sakit. Dari kutipan dialog dan laku serta perbuatan tokoh dalam lakon Raja Lear di atas bisa ditarik sebuah kejelasan bahwa Raja Lear adalah orang yang gila hormat, tidak bijaksana, lalim, dan harus dipuji. Atas sikapnya itu Raja Lear menuai hasil, yaitu kehancuran diri dan keluarganya. 2.2 Plot Plot (ada yang menyebutnya sebagai alur) dalam pertunjukan teater mempunyai kedudukan yang sangat penting. Hal ini berhubungan dengan pola pengadeganan dalam permainan teater, dan merupakan dasar struktur irama keseluruhan adegan permainan. atau Plot dapat terus dibagi tanpa berdasarkan babak dan berlangsung

pembagian. Plot merupakan jalannya peristiwa dalam lakon yang terus bergulir hinga lakon tersebut selesai. Jadi plot merupakan susunan peristiwa lakon yang terjadi di atas panggung. Plot menurut Panuti Sudjiman dalam bukunya Kamus Istilah Sastra (1984) memberi batasan adalah jalinan peristiwa di dalam karya sastra (termasuk naskah drama atau lakon) untuk mencapai efek-efek tertentu. Pautannya dapat diwujudkan oleh hubungan temporal (waktu) dan oleh hubungan kausal (sebab-akibat). Plot atau alur adalah rangkaian peristiwa yang direka dan dijalin dengan seksama, yang menggerakkan jalan cerita melalui perumitan (penggawatan atau komplikasi) ke arah klimaks penyelesaian. Menurut J.A. Cuddon dalam Dictionary of Literaray Terms (1977), plot atau alur adalah kontruksi atau bagan atau skema atau pola dari peristiwa-peristiwa dalam lakon, puisi atau prosa dan selanjutnya bentuk peristiwa dan perwatakan itu menyebabkan pembaca atau penonton tegang dan ingin tahu. Plot atau alur menurut Hubert C. Heffner, Samuel Selden dan Hunton D. Sellman dalam Modern Theatre Practice (1963), ialah seluruh persiapan dalam permainan. Jadi plot berfungsi sebagi pengatur seluruh bagian permainan, pengawas utama dimana seorang penulis naskah dapat menentukan bagaimana cara mengatur lima bagian yang lain, yaitu

misalnya tempat lakon tersebut terjadi. Secara umum pembagian plot terkadang menggunakan tipe sebab akibat yang dibagi dalam lima pembagian sebagai berikut. Bagian ini merupakan kejadian akhir dari lakon dan terkadang memberikan jawaban atas segala persoalan dan konflik-konflik yang terjadi. waktu kejadiannya. pelaku-pelakunya. Bagian akhir berisi tentang satu persatu pertanyaan penonton terjawab atau sebuah lakon telah mencapai klimaks besar. bagian awal. bagian tengah. 2. • Resolusi adalah proses penempatan kembali kepada suasana baru. Pembagian plot dalam lakon klasik atau konvensional biasanya sudah jelas yaitu. Plot juga berfungsi sebagai bagian dasar yang membangun dalam sebuah teater dan keseluruhan perintah dari seluruh laku maupun semua bagian dari kenyataan teater serta bagian paling penting dan bagian yang utama dalam drama atau teater. • Aksi Pendorong adalah saat memperkenalkan sumber konflik di antara karakter-karakter atau di dalam diri seorang karakter. diksi. atau argumentative atau kejenakaan atau melalui cara-cara lain. • Eksposisi adalah saat memperkenalkan dan membeberkan materimateri yang relevan atau memberi informasi pada penonton tentang masalah yang dialami atau konflik yang terjadi dalam diri karakterkarakter yang ada di lakon. dan bagian akhir. Seorang penulis seringkali meletakkan berbagai informasi penting pada bagian awal lakon.karakter. Pada bagian tengah biasanya berisi tentang kejadian-kejadian yang bersangkut paut dengan masalah pokok yang telah disodorkan kepada penonton dan membutuhkan jawaban. • Klimaks adalah proses identifikasi atau proses pengusiran dari rasa tertekan melalui perbuatan yang mungkin saja sifatnya jahat.1 Jenis Plot . dan spektakel. • Krisis adalah penjelasan yang terperinci dari perjuangan karakterkarakter atau satu karakter untuk mengatasi konflik. musik. tema. dan bagaimana peristiwa itu terjadi.

Alur linear ini masih bisa dibagi-bagi lagi sesuai dengan sifat emosi yang terkandung dari plot linear ini. alur menurun atau falling plot. lihat.1. dan alur melingkar atau circular plot. Plot lakon banyak sekali ragamnya tergantung dari penulis lakon mempermainkan emosi kita. terdiri dari alur menanjak atau rising plot. atau baca tersebut. Alur maju atau progresive plot adalah alur cerita yang dimulai dari pemaparan peristiwa lakon sampai menuju inti peristiwa lakon.1 Simple Plot Simple plot atau plot lakon yang sederhana adalah lakon yang memiliki satu alur cerita dan satu konflik yang bergerak dari awal sampai akhir. Alur ini adalah alur cerita paling umum pada alur lakon. Alur ini merupakan kebalikan dari alur menanjak atau rising plot. Alur menanjak atau rising plot adalah alur dengan emosi lakon mulai dari tingkat emosi yang paling rendah menuju tingkat emosi lakon yang paling tinggi. Jalinan jalan cerita dalam lakon bergerak mulai dari awal sampai akhir tanpa ada kilas balik. Plot linear adalah alur cerita mulai dari awal sampai akhir cerita bergerak lurus sedangkan linear-circular adalah alur cerita mulai dari awal sampai akhir bergerak lurus secara melingkar sehingga awal dan akhir cerita akan bertemu dalam satu titik. alur lurus atau straight plot. Simple plot ini terdiri dari plot linear dan linear-circular. alur mundur atau regressive plot. Alur mundur atau regresive plot adalah alur cerita yang dimulai dari inti cerita kemudian dipaparkan bagaimana . alur maju atau progressive plot. Emosi ini timbul karena terpengaruh oleh jalinan peristiwaperistiwa dan jalannya cerita yang ditulis oleh penulis. Jalinan peristiwa dan jalannya cerita inilah yang dimaksud dengan plot. Alur menurun atau falling plot adalah alur dengan emosi lakon mulai dari tingkat emosi yang paling tinggi menuju tingkat emosi lakon yang paling rendah.Ketika menonton atau melihat atau membaca sebuah lakon fiksi maka emosi kita akan terpengaruh dengan apa yang kita tonton. Secara sederhana plot dapat dibagi menjadi dua yaitu simple plot (plot yang sederhana) dan multi plot (plot yang lebih dari satu) 2.

dimana pada akhir cerita semua tokoh yang terlibat dalam cerita yang terpisah tadi akhirnya menyatu guna menyelesaikan cerita. tokoh. Pengungkapan ini lewat jalinan peristiwa yang baik sehingga menciptakan dan mampu menggerakkan alur cerita itu sendiri. Rendra. bagian 5 menit pertama yang sengaja dibuat menarik untuk memikat penikmat . 2. Multi plot ini terdiri dari dua tipe yaitu alur episode atau episodic plot dan alur terpusat atau concentric plot. Setiap episode dalam lakon tersebut sebenarnya tidak ada hubungan sebab akibat dalam rangkaian cerita. Alur ini merupakan kebalikan dari progressive plot. 2.S. Plot disusun oleh pengarang dengan tujuan untuk mengungkapkan buah pikirannya yang secara khas. tema. Tetapi pada akhir cerita alur cerita yang terdiri dari episodeepisode ini akan bertemu. • Gimmick. plot atau alur cerita merupakan rangkaian peristiwa yang satu dengan yang lain dihubungkan dengan hukum sebab akibat. Plot-plot yang ada dalam cerita tersebut memiliki permasalah yang harus diselesaikan. Contoh lakon dengan alur mundur adalah Opera Primadona karya Nano Riantiarno yang dimainkan oleh Teater Koma. Alur lurus atau straight plot hampir sama dengan alur maju. Alur episode atau episodic plot adalah plot cerita yang terdiri dari bagian perbagian secara mandiri.sampai terjadi peristiwa tersebut. Raja Lear karya William Shakespeare dan lain-lain. Contoh lakon dengan alur episode atau episodic plot adalah lakon Panembahan Reso karya W. Dengan demikian plot memiliki anatomi atau bagian-bagian yang menyusun plot tersebut yang disebut dengan anatomi plot sebagai berikut. Concentric plot adalah cerita lakon yang memiliki beberapa plot yang berdiri sendiri.1.2 Anatomi Plot Menurut Rikrik El Saptaria (2006).2 Multi Plot Multi plot adalah lakon yang memiliki satu alur utama dengan beberapa sub plot yang saling bersambungan. di mana setiap episode memiliki alur cerita sendiri.

dan tanpa disadari akan menimpa dirinya sendiri. pembayangan ke depan yang terjadi ketika tokoh meramalkan atau membayangkan keadaan yang akan datang. Suspen menumbuhkan memelihara keingintahuan penonton dari awal sampai akhir cerita. aksi seorang tokoh yang berkata atau bertindak sesuatu. Kilas balik ini berfungsi untuk mengingatkan kembali ingatan penonton pada peristiwa yang telah lampau tetapi masih dalam satu rangkaian peristiwa lakon. • Dramatic Irony. Kilas balik biasanya diceritakan • melalui dialog tokoh. • Suspen. Dengan menimbulkan pertanyaanpertanyaan ini penonton akan betah mengikuti cerita sampai selesai. karena semuanya sudah bisa ditebak oleh penonton.• Fore Shadowing. tetapi kilas balik pada film biasanya berupa nukilannukilan gambar. penonton tersebut akan tidak berkurang dan menganggap sesuatu untuk menyuguhkan . kilas balik peristiwa lampau yang dikisahkan kembali pada saat ini. Kalau cerita itu bisa ditebak oleh penonton maka perhatian pertunjukan dipikirkan. Kalau pemeran atau sutradara tidak cermat dalam menganalisisnya maka kemungkinan suspen terlewati dan tidak tergarap dengan baik. dan biasanya tidak disadari oleh tokoh tersebut. Hal ini akan menyebabkan kualitas pertunjukan dinilai tidak terlalu bagus. berisi dugaan dan prasangka yang dibangun dari rangkaian ketegangan yang mengundang akan pertanyaan dan dan keingintahuan penonton. • Flashback. Suspen ini biasanya diciptakan dan dijaga oleh penulis lakon dari awal sampai akhir cerita. Dalam lakon banyak dijumpai tokoh-tokoh ini. Suspen ini biasanya dibangun melalui dialog-dialog serta laku para tokoh yang ada dalam naskah lakon. supaya penonton bertanyatanya apa akibat yang ditimbulkan dari peristiwa sebelumnya ke peristiwa selanjutnya.

2. Seperti . aksi atau ucapan tokoh utama yang beritikad tentang sesuatu persoalan yang menimbulkan pertentangan atau konflik antartokoh. 2. Peristiwa dalam lakon adalah peristiwa fiktif yang menjadi hasil rekaan penulis lakon.3. dan tahun berapa? Apakah waktu kejadiannya berkaitan dengan waktu kejadian peristiwa di adegan lain. bulan.1 Latar Tempat Latar tempat adalah tempat yang menjadi latar peristiwa lakon itu terjadi. Namun peristiwa yang diharapkan tersebut. di dalam gedung atau di dalam rumah? Jam berapa kira-kira terjadi? Tanggal. atau sore hari? Jika terjadi dalam ruang lalu di mana letak ruang itu. • Gestus. suatu peristiwa yang terjadi diluar dugaan penonton sebelumnya dan memancing perasaan dan pikiran penonton agar menimbulkan dugaan-dugaan yang tidak pasti. pagi hari. atau sudah lain hari? Pertanyaan-pertanyaan seputar waktu dan tempat kejadian ini akan memberikan gambaran peristiwa lakon yang komplit (David Groote. pada akhirnya mengarah ke sesuatu yang tidak disangka-sangka sebelumnya. Pertanyaan untuk setting atau latar cerita untuk adalah kapan dan dimana pasti persitiwa dan terjadi.3 Setting Membicarakan tentang setting dalam mengkaji lakon tidak ada kaitan langsung dengan tata teknik pentas. 1997). karena memang bukan persoalan scenery yang hendak dibahas. tempat Pertanyaan tidak serta merta dijawab secara global tetapi harus lebih mendetil mengetahui secara waktu kejadiannya. Dalam sebuah lakon terkadang dijumpai aksi-aksi yang seperti ini dan akan menimbulkan suatu rasa simpati penonton kepada korbannya. Menurut Aristoteles peristiwa dalam lakon adalah mimesis atau tiruan dari kehidupan manusia keseharian. Analisis setting lakon ini merupakan suatu usaha untuk menjawab sebuah pertanyaan apakah peristiwa terjadi di luar ruang atau di dalam ruang? Apakah terjadi pada waktu malam.• Surprise.

Sebagai bahan bacaan sastra. penata artistik akan menata perabot dan mendekorasi pementasan sesuai dengan latar waktu. Misalnya. Dengan menggetahui latar waktu yang terjadi pada maka semua pihak akan bisa mengerjakan lakon tersebut.diketahui bahwa sifat dari naskah lakon bisa berdiri sendiri sebagai bahan bacaan sastra. tetapi banyak latar waktu ini tidak diberikan oleh penulis lakon. tempat peristiwa ini harus dikomunikasikan atau diceritakan oleh para pemeran sebagai komunikator kepada penonton. dan babak itu terjadi. malam.2 Latar Waktu Latar waktu adalah waktu yang menjadi latar belakang peristiwa. tetapi bisa sebagai bahan dasar dari pertunjukan. Analisis ini perlu dilakukan guna memberi suatu gambaran pada penonton tentang tempat peristiwa itu terjadi. dan waktu yang menunjukkan suatu zaman atau . 2. Sedangkan sebagai bahan dasar pertunjukan. babak atau dalam keseluruhan lakon tersebut. Analisis ini juga sangat penting dilakukan karena berhubungan dengan tata teknik pentas. Latar waktu terkadang sudah diberikan`atau sudah diberi rambu-rambu oleh penulis lakon. musim kemarau. adegan. Analisis latar waktu yang dilakukan oleh sutradara biasanya berhubungan dengan tata teknik pentas. sedangkan yang dilakukan oleh pemeran biasanya berhubungan dengan akting dan bisnis akting. pagi.3. Analisis latar waktu perlu dilakukan baik oleh seorang sutradara maupun oleh pemeran. musim dingin dan lain-lain). interpretasi tempat kejadian peristiwa ini terletak pada keterangan yang diberikan oleh penulis naskah lakon dan dalam imajinasi pembaca. Analisis latar tempat dapat dilakukan dengan mencermati dialog-dialog tokoh yang sedang berlangsung dalam satu adegan. tetapi kadang tidak diberikan oleh penulis lakon. sore). Tugas seorang sutradara dan pemeran ketika menghadapi sebuah naskah lakon adalah menginterprestasi latar waktu dalam lakon tersebut. waktu yang menunjukkan sebuah musim (musim hujan. Gambaran tempat peristiwa dalam lakon kadang sudah diberikan oleh penulis lakon. Latar waktu dalam naskah lakon bisa menunjukkan waktu dalam arti yang sebenarnya (siang.

maka perasaan penonton akan merasa terwakili oleh perasaan tokoh yang diidentifikasi tersebut. atau yang mengakibatkan adegan atau lakon itu terjadi.3. Perbedaan-perbedaan tokoh ini diharapkan akan diidentifikasi oleh penonton. Latar peristiwa ini bisa sebagai realita bisa juga fiktif yang menjadi imajinasi penulis lakon. Lakon pada waktu itu mengambil latar peristiwa pada Zaman Tokohg Revolusi di Indonesia. Jika proses identifikasi ini berhasil. Karakterisasi Karakterisasi merupakan usaha untuk membedakan tokoh satu dengan tokoh yang lain.4. adegan awal pada lakon 2. Misalnya. mungkin saja William Shakespeare terinspirasi oleh bencana yang melanda Inggris pada waktu itu. lakon Raja Lear. Latar peristiwa pada adegan atau lakon adalah peristiwa yang mendahului adegan atau lakon tersebut. zaman tokohg dan lain-lain). Suatu misal kita mengidentifisasi satu tokoh. 2. Analisis latar waktu bisa dilakukan dengan mencermati dialog-dialog yang disampaikan oleh tokoh dalam adegan atau babak yang sedang berlangsung. Karakterisasi atau perwatakan dalam sebuah lakon memegang tokohan yang sangat penting. berbarti kita telah mengadopsi pikiran-pikiran dan perasaan tokoh tersebut menjadi perasaan dan pikiran kita. Lakon-lakon dengan latar peristiwa yang riil juga terjadi pada lakonlakon di Indonesia pada tahun 1950 sampai tahun 1970. Latar peristiwa yang nyata digunakan oleh penulis lakon untuk menggambar peristiwa yang terjadi secara nyata pada waktu itu sebagai dasar dari lakonnya. tabrakan . Tanpa perwatakan tidak akan ada cerita. Padahal ketidaksamaan watak akan melahirkan pergeseran. Zaman Romantik. yaitu seolah-olah terjadi kiamat karena lakon ini dialegorikan sebagai kiamat kecil. Bahkan Lajos Egri berpendapat bahwa berperwatakanlah yang paling utama dalam lakon.abad (Zaman Klasik. tanpa perwatakan tidak bakal ada plot. Misalnya.3 Latar Peristiwa Latar peristiwa adalah peristiwa yang melatari adegan itu terjadi dan bisa juga yang melatari lakon itu terjadi.

4. tokoh dapat dibagi-bagi sesuai dengan motivasi-motivasi yang diberikan oleh penulis lakon. keinginan. karena dia seringkali menjadi musuh yang menyebabkan konflik itu terjadi. Deutragonis Deutragonis adalah tokoh lain yang berada di pihak tokoh protagonis. konflik yang akhirnya melahirkan cerita (A. Motivasi-motivasi tokoh inilah yang dapat melahirkan suatu perbuatan tokoh. Contoh. Cordelia dalam lakon Raja Lear karya William Shakespeare. Contoh tokoh antagonis pada lakon Raja Lear karya William Shakespeare terjemahan Trisno Sumardjo adalah tokoh Gonerill dan tokoh Regan. sebab dengan adanya tokoh maka timbul konflik. Adjib Hamzah. Protagonis Protagonis adalah tokoh utama yang merupakan pusat atau sentral dari cerita. 1985). Tokoh antagonis harus memiliki watak yang kuat dan kontradiktif terhadap tokoh protagonis. Edgar.kepentingan. Dalam teater. Tokoh-tokoh tersebut adalah sebagai berikut. 2. Tokoh ini juga menentukan jalannya cerita. bisa juga karena kekurangan dirinya sendiri. Contoh tokoh protagonis pada lakon Raja Lear karya William Shakespeare terjemahan Trisno Sumardjo adalah tokoh Raja Lear itu sendiri. bisa dari alam. Antagonis Antagonis adalah tokoh lawan. Tritagonis . dan pertikaian itu harus berkembang mencapai klimaks. Persoalan ini bisa dari tokoh lain. dan cita-cita Raja Lear.1 Jenis-jenis Tokoh Tokoh merupakan sarana utama dalam sebuah lakon. Kedua tokoh inilah yang menentang perkembangan. Tokoh protagonis dan antagonis harus memungkinkan menjalin pertikaian. Tokoh ini ikut mendukung menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh tokoh protaganis. Konflik dapat dikembangkan oleh penulis lakon melalui ucapan dan tingkah laku tokoh. Keberadaan tokoh adalah untuk mengatasi persoalanpersoalan yang muncul ketika mencapai suatu citacita. tokoh Tumenggung Kent.

4. round charakter. Foil Foil adalah tokoh yang tidak secara langsung terlibat dalam konflik yang terjadi tetapi ia diperlukan guna menyelesaikan cerita. yaitu flat character.2 Jenis Karakter Karakter adalah jenis tokoh yang akan dimainkan. sedangkan penokohan adalah proses kerja untuk memainkan tokoh yang ada dalam naskah lakon. yang merupakan akumulasi dari pengalaman-pengalaman dan interaksi-interaksi yang dilakukannya dan terus berkembang. dan ketika sudah dewasa maka pribadinya berkembang melalui hubungan dengan lingkungan sosial. teatrikal. Biasanya dia berpihak pada tokoh antagonis. tokoh Bangsawan pada lakon Raja Lear karya Willliam Sahkespeare. Utility Utility adalah tokoh pembantu atau sebagai tokoh pelengkap untuk mendukung rangkaian cerita dan kesinambungan dramatik. Jadi perkembangan karakter seharusnya mengacu pada pribadi manusia. jenis karakter dalam teater ada empat macam. Contoh. sehingga . Contoh. 2. dan karikatural. Oswald. Penulis lakon adalah orang yang memiliki dunia sendiri yaitu dunia fiktif. Menurut Rikrik El Saptaria (2006).Tritagonis adalah tokoh penengah yang bertugas menjadi pendamai atau pengantara protagonis dan antagonis. • Flat Character (perwatakan dasar) Flat character atau karakter datar adalah karakter tokoh yang ditulis oleh penulis lakon secara datar dan biasanya bersifat hitam putih. Penokohan ini biasanya didahului dengan menganalisis tokoh tersebut sehingga bisa dimainkan. Karakter tokoh dalam lakon mengacu pada pribadi manusia yang berkembang sesuai dengan perkembangan lingkungan. tokoh Perwira. Ketika masih kecil dia bereksplorasi dengan dirinya sendiri untuk mengetahui perkembangan dirinya. Dia adalah pengawal dari Cordelia. Biasanya tokoh ini mewakili jiwa penulis. Contoh: tokoh Badut dalam lakon Raja Lear karya William Shakespeare. Curan dalam lakon Raja Lear karya William Shakespeare.

Si Tua. Si Gembrot. Karakter ini hanya simbol dari psikologi masyarakat. seperti tokoh A.ketika mencipta sebuah karakter dia bebas menentukan suatu perkembangan karakter. Perkembangan dan perubahan ini mengacu pada perkembangan pribadi orang dalam kehidupan sehari-hari. Perkembangan inilah yang menjadikan karakter ini menarik dan mampu untuk mengerakkan jalan cerita. Karakter ini biasanya terdapat karakter tokoh utama baik tokoh protagonis maupun tokoh antagonis. bisa juga dengan tingkah laku. dan lebih bersifat simbolis.. • Teatrikal Teatrikal adalah karakter tokoh yang tidak wajar. Pemimpin (lakon LOS) dan lain-lain. tetapi sangat banyak dijumpai pada lakon-lakon klasik dan non realis. antara ketegangan dengan keriangan suasana. Round karakter adalah karakter tokoh dalam lakon yang mengalami perubahan dan perkembangan baik secara kepribadian maupun status sosialnya. Flat character biasanya ada pada karakter tokoh yang tidak terlalu penting atau karakter tokoh pembantu. D. Sifat karikatural ini bisa berupa dialog-dialog yang diucapkan oleh karakter tokoh. C. unik. • Karikatural Karikatural adalah karakter tokoh yang tidak wajar. keadaan jaman dan lain-lain yang tidak bersifat manusiawi tetapi dilakukan oleh manusia. Misalnya karakter yang diciptakan oleh Putu Wijaya pada lakonlakonnya yang bergaya post-realistic. Flat character ini ditulis dengan tidak mengalami perkembangan emosi maupun derajat status sosial dalam sebuah lakon. bahkan perpaduan antara ucapan dengan tingkah laku. Kawan. dan cenderung menyindir. tetapi diperlukan dalam sebuah lakon. satiris. suasana. • Round Character (perwatakan bulat) Karakter tokoh yang ditulis oleh penulis secara sempurna. . Karakter-karakter teatrikal jarang dijumpai pada lakon-lakon realis. karakteristiknya kaya dengan pesan-pesan dramatik. Karakter ini segaja diciptakan oleh penulis lakon sebagai penyeimbang antara kesedihan dan kelucuan.

maka kehadiran seorang sutradara yang mampu mengatur dan mengharmonisasikan keseluruhan unsur artistik pementasan dibutuhkan. Para aktor yang telah memiliki banyak pengalaman mengajarkan pengetahuannya kepada aktor muda. produksi pementasan teater Saxe-Meiningen masih mengutamakan kerja bersama antarpemain yang dengan giat berlatih untuk meningkatkan kemampuan berakting mereka (Robert Cohen. Kemudian mereka berlatih para dan aktor memainkkannya di hadapan penonton. Andre Antoine di Tokohcis dengan Teater Libre serta Stansilavsky di Rusia adalah dua sutradara berbakat yang mulai menekankan idealisme dalam setiap . Pementasan teater muncul dari sekumpulan pemain yang memiliki gagasan untuk mementaskan pementasan sebuah teater cerita. Proses mengajar dijadikan tonggak awal lahirnya “sutradara”. Sejalan dengan kebutuhan akan yang semakin meningkat. dan karakterisasi. setting. Dengan banyaknya jumlah pentas yang harus dilakukan. Tugas Analisislah naskah “Domba-domba Revolusi” karya B. plot. Sularto BAB III DASAR SENI PENYUTRADARAAN DALAM TEATER Pada mulanya pementasan teater tidak mengenal sutradara. Seorang bangsawan (duke) dari Saxe-Meiningen yang memimpin sebuah grup teater dan menyelenggarakan pementasan keliling Eropa pada akhir tahun 1870-1880. Model penyutradaraan seperti yang dilakukan oleh George II diteruskan pada masa lahir dan berkembangnya gaya realisme. 1994).Rangkuman Drama yang merupakan unsur seni sastra dalam teater terbagi atas: tema. Dalam terminologi Yunani sutradara (director) disebut didaskalos yang berarti guru dan pada abad pertengahan di seluruh Eropa istilah yang digunakan untuk seorang sutradara dapat diartikan sebagai master. Meskipun demikian. maka memerlukan peremajaan pemain. Istilah sutradara seperti yang dipahami dewasa ini baru muncul pada jaman Geroge II.

Setelah itu tugas berikutnya adalah menganalisis lakon. 3. Max Reinhart mengembangkan penyutradaraan dengan mengorganisasi proses latihan para aktor dalam waktu yang panjang. Nskah tersebut harus memenuhi kreteria yang diinginkan serta sesuai dengan kondisi yang ada di lapangan. Oleh karena kedudukannya yang tinggi. Gordon Craig merupakan seorang sutradara yang menanamkan gagasannya untuk para aktor sehingga ia menjadikan sutradara sebagai pemegang kendali penuh sebuah pertunjukan teater (Herman J. Oleh karena itu. Jika sutradara memilih naskah yang akan ditampilkan dalam keadaan terpaksa maka bisa dipastikan hasil pementasan menjadi kurang baik. 2001). Naskah yang tidak dikehendaki akan . Berhasil tidaknya sebuah pertunjukan teater mencapai takaran artistik yang diinginkan sangat tergantung kepiawaian sutradara. Pemilihan Naskah Proses atau tahap pertama yang harus dilakukan oleh sutradara adalah menentukan lakon yang akan dimainkan. Ada beberapa pertimbangan yang dapat dilakukan oleh sutradara dalam memilih naskah. yaitu menentukan lakon. menentukan bentuk dan gaya pementasan. memahami dan mengatur blocking serta melakukan serangkaian latihan dengan para pemain dan seluruh pekerja artistik hingga karya teater benarbenar siap untuk dipentaskan.1.produksinya. • Sutradara menyukai naskah yang dipilih. seperti tertulis di bawah ini.1 Naskah Jadi Mementaskan teater dengan naskah yang sudah tersedia memiliki kerumitan tersendiri terutama pada saat hendak memilih naskah yang akan dipentaskan. maka seorang sutradara harus mengerti dengan baik hal-hal yang berhubungan dengan pementasan. menentukan pemain. 3. Waluyo.1. Dengan demikian sutradara menjadi salah satu elemen pokok dalam teater modern. Sutradara bisa memilih lakon yang sudah tersedia (naskah jadi) karya orang lain atau membuat naskah lakon sendiri. kerja sutradara dimulai sejak merencanakan sebuah pementasan.

Akan tetapi berkenaan dengan sumber daya yang dimiliki. sutradara harus mampu melakukan adaptasi sehingga pendanaan bisa dikurangi tanpa mengurangi nilai artistik lakon. pemilihan pemain yang asal-asalan. Misalnya.2 Membuat Naskah Sendiri Membuat naskah lakon sendiri tidak menguntungkan karena akan memperpanjang proses pengerjaan. tetapi juga dengan unsur pendukung yang lain. keseluruhan kerja menjadi tidak optimal.Tidak ada gunanya berlatih naskah lakon tertentu dalam waktu lama jika di tengah proses tiba-tiba hal itu terhenti karena alasan tertentu. Beberapa naskah yang baik terkadang memiliki konsekuensi logis dengan pendanaan. penata artsitik. Sutradara dengan segenap kemampuannya harus mampu meyakinkan pemain dan mengusahakan pertunjukan agar tetap digelar sehingga proses yang telah dilakukan tidak menjadi sia-sia. • Sutradara merasa mampu mementaskan naskah yang telah dipilih. Beberapa . Naskah lakon yang baik tidak ada gunanya jika dimainkan oleh aktor yang kurang baik.membawa pengaruh dan masalah tersendiri bagi sutradara dalam mengerjakannya. Mampu mementaskan sebuah naskah tentunya tidak hanya berkaitan dengan kecakapan sutradara. tetapi semua orang yang terlibat menjadi senang karena dapat mengerjakannya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Jika tidak. Semua sumber daya dimiliki seperti pemain. • Sutradara mampu menemukan pemain yang tepat. dan pendanaan menjadi pertimbangan dalam memilih naskah yang akan dipentaskan. membuat naskah sendiri dapat menjadi pilihan yang tepat. sutradara harus mampu mengukur kualitas sumber daya pemain yang dimiliki dalam menentukan naskah yang akan dipentaskan. • Sutradara mampu tetap mementaskan naskah yang dipilih. Jika sutradara merasa mampu mengusahakan pendanaan secara optimal untuk mewujudkan tuntutan artistik lakon. seperti analisis yang kurang detil. maka naskah tersebut bisa dipilih.1. Oleh karena itu. • Sutradara wajib mempertimbangkan sisi pendanaan secara khusus. Untuk itu. sutradara harus mampu membuat naskah yang sesuai dengan kualitas sumber daya yang ada. Hal ini membawa dampak tersendiri dalam bidang pendanaan. Naskah semacam ini bersifat situasional. 3. naskah yang dipilih memoiliki latar cerita di rumah mewah dengan segala perabot yang indah.

dan akhir. • Menentukan protagonis. titik balik cerita dimulai dan konflik diselesaikan. konflik. Kerangka ini membagi jalannya cerita mulai dari pemaparan. dalam persoalan tentang kelicikan. Misalnya dengan tema “kebaikan akan mengalahkan kejahatan”. yaitu pembuka yang berisi pengantar cerita atau sebab awal. Tokoh protagonis adalah tokoh yang membawa laku keseluruhan cerita. semangat dalam bekerja. Gambaran cerita secara global dari awal sampai akhir hendaknya dituliskan. Dengan adanya sinopsis maka penulisan lakon menjadi terarah dan tidak mengadaada. maka tokoh lain baik yang berada di pihak protagonis atau antagonis akan mudah diciptakan. • Menentukan tema. Dengan membuat kerangka cerita maka penulis akan memiliki batasan yang jelas sehingga cerita tidak berteletele. Pada bagian pembukaan memaparkan sketsa singkat tokoh-tokoh cerita. pangkal persoalan yang dibicarakan adalah sikap licik seseorang yang selalu memfitnah orang lain demi kepentingannya sendiri. dermawan. isi yang berisi pemaparan. Tidak ada cerita teater tanpa konflik. Tema adalah gagasan dasar cerita atau pesan yang akan disampaikan oleh pengarang kepada penonton. maka dalam cerita hal tersebut harus dimunculkan melalui aksi tokoh-tokohnya sehingga penonton dapat menangkap maksud dari cerita bahwa sehebat apapun kejahatan pasti akan dikalahkan oleh kebaikan. . Misalnya. Jika tokoh protagonis dan antagonis sudah ditemukan. Persoalan ini kemudian diikembangkan dalam cerita yang hendak dituliskan. Misalnya tema yang dipilih adalah “kebaikan akan mengalahkan kejahatan”. Tema. • Menentukan kerangka cerita. Pada bagian akhir. akan menuntun laku cerita dari awal sampai akhir. Persoalan atau konflik adalah inti daricerita teater. Bagian awal adalah bagian pengenalan secara lebih rinci masing-masing tokoh dan titik konflik awal muncul. sutradara sekaligus penulis naskah Teater Koma. yaitu pembukaan. Dengan menentukan tokoh protagonis secara mendetil. dan penutup yang merupakan simpulan cerita atau akibat. Dengan menulis lawan dari sifat protagonis maka karakter antagonis dengan sendirinya terbentuk. menentukan kerangka lakon dalam tiga bagian. William Froug (1993) misalnya. • Membuat sinopsis (ringkasan cerita). Semakin detil sifat atau karakter protagonis. konflik hingga klimaks. Riantiarno (2003).langkah di bawah ini dapat dijadikan acuan untuk menulis naskah lakon. Oleh karena itupangkal persoalan atau titik awal konflik perlu dibuat dan disesuaikan dengan tema yang dikehendaki. • Menentukan persoalan. maka tokoh lainnya mudah ditemukan. maka semakin jelas pula karakter tokoh antagonis. klimaks sampai penyelesaian. serta jujur. berkecukupan. Kerangka cerita akan membingkai jalannya cerita dari awal sampai akhir. bagian awal. tengah. senang membantu orang lain. maka tokoh protagonis dapat diwujudkan sebagi orang yang rajin. Bagian tengah adalah konflik yang meruncing hingga sampai klimaks. membuat kerangka cerita (skenario) dengan empat bagian. Sinopsis digunakan pemandu proses penulisan naskah sehingga alur dan persoalan tidak melebar.

Dinamika percintaan Romeo dan Juliet yang berakhir dengan kematian inilah yang harus ditekankan oleh sutradara kepada penonton. • Konflik dan Penyelesaian. • Menulis. 3.• Menentukan cara penyelesaian. Di bagian mana konflik itu muncul dan bagaimana aksi dan reaksi para tokohnya. Lakon yang telah ditentukan harus segera dipelajari sehingga gambaran 100% lengkap cerita didapatkan. Analisis karakter tokoh sangat penting dan harus dilakukan secara mendetil agar sutradara mendapatkan gambaran watak sejelas-jelasnya. Semua ini akan memberi sudut pandang bagi sutradara dalam melihat. Mengakhiri sebuah persoalan yang dimunculkan tidaklah mudah.2 Analisis Lakon Menganalisis lakon adalah salah satu tugas utama sutradara. sutradara wajib menemukan pesan utama dari lakon yang telah ditentukan. Karena tidak banyak arahan dan keterangan yang dituliskan . Selain itu sudut pandang pengarang dalam menyelesaikan konflik dapat menegaskan pesan yang hendak disampaikan. sutradara memepelajari seluruh isi lakon dan menangkap gambaran lengkap lakon seperti apa yang tertulis. Dalam beberapa lakon ada cerita yang diakhiri dengan baik tetapi ada yang diakhiri secara tergesa-gesa. pada bagian mana konflik itu memuncak. Mencari dan mengembangkan gagasan memang tidak mudah. Akhir cerita yang mengesankan selalu akan dinanti oleh penonton. tetapi lebih tidak mudah lagi memindahkan gagasan dalam bentuk tulisan. Pesan ini ingin disampaikan oleh pengarang dengan akhir yang tragis dimana tokoh Romeo dan Juliet akhirnya mati bersama. Merupakan bahan komunikasi utama yang hendak disampaikan kepada penonton. dan memahami konflik lakon. • Pesan Lakon. Oleh karena itu tentukan akhir cerita dengan baik. 3. Dengan analisis yang baik.1 Analisis Dasar Analisis dasar adalah telaah unsur-unsur pokok yang membentuk lakon. dan tidak tergesa-gesa. Oleh karena itu. Berhasil atau tidaknya sebuah pertunjukan teater diukur dari sampai tidaknya pesan lakon kepada penonton. sutradara akan lebih mudah menerjemahkan kehendak pengarang dalam pertunjukan. Apa yang hendak disampaikan oleh pengarang melalui naskah lakon disebut pesan. Oleh karena itu. Dalam proses analisis ini. gunakan dan manfaatkan waktu sebaik mungkin. Unsur-unsur pokok yang harus dianalisis oleh sutradara adalah senagai berikut. Setelah semua hal disiapkan maka proses berikutnya adalah menulis. Penting mengetahui dasar persoalan (konflik) dalam sebuah lakon karena hal tersebut akan membawa laku aksi para tokohnya. logis. bahkan ada yang bingung mengakhirinya.2. • Karakter Tokoh. Romeo and Juliet karya Shakespeare mengandung pesan bahwa seseorang yang telah menemukan cinta sejati tidak takut terhadap risiko apapun termasuk mati. menilai. dalam tahap ini sutradara hanya membaca kehendak pengarang melalui lakonnya. Jadi. dan pada akhirnya bagaimana konflik itu diselesaikan.

apartemen mewah disimbolkan sebagai pusat kekuasaan maka tata panggungnya disesuaikan dengan simbolisasi tersebut. Oleh karena itulah pentas teater dengan lakonlakon yang sudah berusia lama seperti Oedipus. Misalnya. dan waktu kejadian harus diungkapkan dengan jelas karena hal ini berkaitan dengan tata artistik. Dengan demikian penonton akan mendapatkan gambaran yang jelas latar cerita yang dimainkan. museum. Romeo and Juliet masih aktual dipentaskan sekarang ini. Apakah gedung tersebut merupakan gedung pertemuan. atau gedung pertunjukan. sederhana atau mewah. Cara menyampaikan pesan antara sutradara satu dengan yang lain bisa berbeda .2. Gambaran tempat kejadian. maka sutradara perlu melakukan tafsir atau interpretasi. teras gedung. Di gedung tersebut cerita terjadi di ruang aula. sutradara dapat menafsirkan tempat kejadian secara simbolis.mengenai karakter tokoh dalam sebuah lakon. sutradara memberi sentuhan dan atau penyesuaian artistik terhadap lakon yang akan dipentaskan. Penyesuaian inipun berkaitan langsung dengan latar waktu dan peristiwa. Oleh karena itu analisis karakter ini harus dilakukan dengan teliti dan hati-hati sehingga setiap perubahan karakter yang dialami oleh tokoh tidak lepas dari pengamatan sutradara. Misalnya. gaya spanyol. gambaran tempat kejadian persitiwa adalah di sebuah gedung maka harus dijelaskan apakah terjadi di sebuah gedung megah. Semua informasi dikumpulkan dan diseleksi untuk kemudian diwujudkan dalam pementasan. Arsitektur gedung itu apakah menggunakan arsitektur kolonial. pesan. Secara artistik. Jika apartemen disimbolkan sebagai pusat kekuasaan maka peristiwa yang terjadi di dalamnya juga harus mengikuti simbolisasi ini sedangkan latar waktunya bisa ditarik ke masa lalu atau masa kini seperti yang dikehendaki oleh sutradara. Akan tetapi sangat mungkin seorang sutradara memiliki gagasan astistik tertentu yang akan ditampilkandalam pementasan setelah menganalisa sebuah lakon. Intinya informasi sekecil apapun harus didapatkan. maka sutradara harus menggalinya melalui kalimat-kalimat dialog. Ketika adaptasi ini dilakukan maka unsur-unsur lain pun seperti tata rias dan busana akan ikut terkait dan mengalami penyesuaian. artinya. Proses ini bisa disebut sebagai proses asimilasi (perpaduan) antara gagasan sutradara dan pengarang. 3. dewan kota. atau ciri khas daerah tertentu. dapur umum. peristiwa. tetapi karena ketersediaan sumber daya yang kurang memadahi maka bentuk penampilan apartemen mewah disesuaikan. Misalnya. Proses interpretasi biasanya menyangkut unsur latar. Antigone. Untuk mewujudkan keadaan peristiwa seperti dikehendaki lakon di atas panggung maka informasi yang jelas mengenai latar cerita harus didapatkan.Berdasarkan hasil analisis. dan karakterisasi. • Latar. atau di salah satu ruang khusus. Hal yang paling menarik mengenai penyampaian pesan kepada penonton adalah caranya.2 Interpretasi Setelah menganalisis lakon dan mendapatkan informasi lengkap mengenai lakon. Adaptasi terhadap tempat kejadian peristiwa sering dilakukan oleh sutradara. Perjalanan sebuah karakter terkadang tidak mengalami perubahan yang berarti tetapi beberapa tokoh dalam lakon (biasanya protagonis dan antagonis) bisa saja mengalami perubahan. dalam lakon mengehendaki tempat kejadian di sebuah apartemen yang mewah. ia hanya sekedar melakukan apa yang dikehendaki oleh lakon apa adanya sesuai dengan hasil analisis. • Pesan. Secara teknis hal ini berkaitan dengan sumber daya yang dimiliki. Seorang sutradara sebetulnya boleh tidak melakukan interpretasi terhadap lakon. Hal ini berlaku juga untuk latar peristiwa dan waktu. • Latar Cerita.

emosi. Misalnya. Sutradara harus membuat metode tertentu dalam sesi latihan pemeranan untuk mencapai apa yang dinginkan. Hal ini mempengaruhi bentuk dan gaya penampilan aktor dalam beraksi. Hal ini mempengaruhi hasil pemikiran dan cara mengungkapkan hasil pikiran tersebut.meskipun lakon yang dipentaskan sama. maka ia bisa memberikan gambaran . misalnya warna-warna yang digunakan di atas panggung. penggunaan bahasa puitis dengan sendirinya membuat aktor harus mau memahami dan melakukan latihan teknik-teknik membaca puisi agar dalam pengucapan dialog tidak seperti percakapan sehari-hari. Masing-masing cara penonjolan pesan ini mempengaruhi unsur-unsur lain dalam pementasan. maka metode pemeranan yang dilakukan perlu dituliskan. • Pendekatan gaya pementasan. hal yang paling bisa adalah mendekatkan gaya pementasan dengan gaya tertentu yang sudah ada. Gerak laku aktor distilisasi atau diperindah. Untuk itu. Aktor boleh berbicara secara langsung kepada penonton. Misalnya.Dalam konsep ini sutradara menjelaskan secara lengkap mengenai cara menyampaikan pesan yang berkaitan dengan pendekatan gaya pementasan dan pendekatan pemeranan serta memberikan gambaran global tata artistik. • Karakterisasi. 3. Oleh karena itu. Konvensi atau aturan main sebuah pertunjukan diungkapkan dalam poin ini. Istilah pendekatan di sini digunakan dalam arti sutradara tidak hanya sekedar melaksanakan sebuah gaya secara wantah (utuh) tetapi ada pengembangan atau penyesuaian di dalamnya. Secara umum. tetapi gambaran tata artisitk berguna bagi para desainer untuk mewujudkannya dalam desain. Dewasa ini hampir tidak bisa ditemukan gaya pementasan murni yang dihasilkan seorang sutradara atau pemikir teater.3 Konsep Pementasan Hasil akhir dari analisis naskah adalah konsep pementasan. Metode akting berkaitan dengan pencapaian aktor (standar) sesuai dengan pendekatan gaya pementasannya. Ada juga sutradara yang menonjolkan laku aksi aktor di atas pentas sehingga adegan dibuat dan dikerjakan secara detil. Setelah menetapkan pendekatan gaya. Setiap kelahiran gaya baru memiliki keterkaitan atau perlawanan terhadap gaya tertentu (baca bagian sejarah teater). pandangan hidup. misalnya. Untuk menekankan pesan yang dimaksud ada sutradara yang memberi penonjolan pada tata artistik. Meski tidak secara mendetil. Jika sutradara mampu. Seniman teater dunia telah banyak berusaha melahirkan gaya pementasan. Tafsir ulang tokoh tidak hanya sekedar mengubah nama dan menyesuaikan bentuk penampilan fisik. • Gambaran tata artistik. pranata sosial) di luar hal utama yang dipikirkan.Dengan demikian cara pandang sutradara terhadap keseluruhan lakon pun harus diubah atau mengalami penyesuaian. dalam budaya Eropa orang bepikir secara bebas sementara orang Indonesia cenderung mempertimbangkan hal-hali lain (tata krama. Hal ini sangat berguna bagi aktor. gaya berjalan. Hal ini biasanya berkaitan dengan isu atau topik yang sedang hangat terjadi di masyarakat. sutradara harus menuliskan gambaran (pandangan) tata artistiknya. sebuah lakon yang tokohtokohnya memiliki latar belakang budaya Eropa hendak diadaptasi ke dalam budaya Indonesia. maka bahasa dialog antaraktor menggunakan bahasa yang puitis. tata krama. karena menggunakan pendekatan gaya presentasional. Semuanya memliki keterkaitan. • Pendekatan pemeranan. Misalnya. dan keseluruhan watak tokoh. Tafsir ulang terhadap tokoh lakon paling sering dilakukan. Dengan demikian pendekatan yang dilakukan tidak salah sasaran. sutradara harus memahami gaya-gaya pementasan. takaran emosi dan cara berpikir. Dengan demikian sutradara harus benarbenar memikirkan cara menyampaikan pesan lakon dengan mempertimbangkan unsur-unsur lakon dan sumber daya yang dimiliki.. tetapi juga mental. yaitu cara berbicara. Banyak hal yang harus dilakukan selain mengganti nama dan penampilan fisik. Cara menyampaikan pesan ini menjadi titik tafsir lakon yang penting karena pesan inilah inti dari keseluruhan lakon.

dalam lakon yang gambaran tokohnya sudah melekat di masyarakat. Jika tidak. 3. Dalam teater yang menggunakan ekspresi bahasa verbal kejelasan ucapan adalah kunci ketersampaian pesan dialog. harus mampu menyajikannya dengan penuh penghayatan. tetapi ciri wajah pemain harus diusahakan semirip mungkin dengan ciri wajah tokoh dalam lakon. Dalam sebuah produksi yang membutuhkan latihan rutin dan intens dalam kurun waktu yang lama ketahanan tubuh yang lemah sangatlah tidak menguntungkan. Misalnya. 3. dalam teater modern.4. Calon aktor. Kemampuan dasar wicara merupakan syarat utama yang lain. janggut. Dalam sebuah grup atau sanggar. Menghayati sebuah tokoh berarti mampu menerjemahkan laku aksi karakter tokoh dalam bahasa verbal dan ekspresi tubuh secara bersamaan. dalam sebuah grup teater sekolah yang pemainnya selalu berganti atau kelompok teater kecil yang membutuhkan banyak pemain lain sutradara harus jeli memilih sesuai kualifikasi yang dinginkan.tata artistik melalui sketsa. intonasi. Meskipun kekurangan wajah bisa ditutupi dengan tata rias. Tidak masuk akal jika Bagong tampil dengan tubuh kurus. misalnya tokoh-tokoh dalam lakon pewayangan.4 Memilih Pemain Menentukan pemain yang tepat tidaklah mudah. Dalam kasus tertentu. Biasanya. Misalnya. dalam ketoprak. memilih pemain biasanya berdasar kecapakan pemain tersebut. ukuran tubuh merupakan harga mati bagi sebuah tokoh. Akan tetapi. Berkaitan langsung dengan penampilan mimik aktor. • Ciri Wajah. Tokoh Werkudara (Bima) harus ditokohkan oleh orang yang bertubuh tinggi besar. Hal ini dianggap dapat mampu melahirkan ekspresi wajah yang natural. • Tubuh. karena tidak sesuai dengan karakter dan akan menyalahi laku lakon secara keseluruhan. Dengan memberikan teks bacaan tertentu.2 Kecakapan Menentukan pemain berdasar kecapakan biasanya dilakukan melalui audisi. Kesiapan tubuh seorang pemain merupakan faktor utama. diksi. misalnya dalam wayang orang atau ketoprak. maka pemain harus memiliki ciri wajah yang tampak tolol. dan pelafalan yang baik. calon aktor dapat dinilai kemampuan dasar wicaranya. Tidak ada gunanya seorang aktor bermain dengan baik jika fisiknya lemah. Seorang yang memiliki kumis. Ciri fisik dapat pula dijadikan acuan untuk menentukan pemain.. maka ia cukup menuliskannya. Hal ini juga sama dengan ukuran tubuh. maka latihan katahanan tubuh dapat diujikan. sutradara dapat menilai kecakapan pemain melalui portofolio tetapi proses audisi tetap penting untuk menilai kecakapan aktor secara langsung. dan brewok tebal cocok diberi tokoh sebagai warok atau jagoan.4. seorang yang tinggi tapi bungkuk dianggap tepat memainkan tokoh pendeta. Untuk menilai kesiapan tubuh pemain. Sutradara akan diprotes oleh penonton jika menampilkan Bima bertubuh kurus dan pendek. sutradara dapat memberikan penggalan adegan atau dialog karakter untuk diujikan. Oleh karena itu pemain harus memiliki kemampuan wicara yang baik. Meskipun dalam khasanah teater modern. • Penghayatan. Untuk menilai hal ini. Grup teater tradisional biasanya memilih pemain sesuai dengan penampilan fisik dengan ciri fisik tokoh lakon. • Wicara. maka pemain yang dipilih pun harus memiliki tubuh gemuk.1 Fisik Penampilan fisik seorang pemain dapat dijadikan dasar menentukan tokoh. • Ukuran Tubuh. penentuan pemain berdasar ciri fisik ini menjadi acuan utama. 3. tokoh Bagong memiliki ukuran tubuh tambun (gemuk). • Tinggi Tubuh. • Ciri Tertentu. Untuk menguji lebih mendalam sutrdara . Akan tetapi. Misalnya. sutradara sudah mengetahui karakter pemainpemainnya (anggota). Penilaian yang dapat dilakukan adalah penguasan. dalam wayang wong. dalam cerita Kabayan.

lamanya adegan. Catatan prestasi dan kemampuan yang dimiliki hendaknya ditulis dalam portofolio sehingga bisa menjadi pertimbangan sutradara. seorang calon aktor yang memiliki kemampuan menari. Kehatihatian dalam memilih bentuk dan gaya bukan saja karena tingkat kesulitan tertentu. Hal ini memiliki kelebihan tersendiri. Dengan demikian. Untuk itu. Sutradara tidak perlu menambah atau mengurangi dialog yang sudah tertulis dalam lakon kecuali punya keinginan mengadaptasinya. arahan laku permainan dari awal sampai akhir dapat ditemukan. dan gaya penyajian. Bentuk dan gaya yang dipilih secara serampangan akan mempengaruhi kualitas penampilan. di antaranya adalah sebagai berikut.1 Menurut Penuturan Cerita Ada dua jenis pertunjukan teater menurut penuturan ceritanya. Lakon telah menyediakan gambaran lengkap laku perisitiwa melalui dialog tokoh-tokohnya. Sebaliknya. Teater tradisional biasanya memilih imporivisasi karena semua pemain telah memahami dengan baik cerita yang akan dilakonkan dan karakter tokoh yang akan ditokohkan. Meskipun beberapa kelompok teater modern tertentu memperbolehkan improvisasi (biasanya lakon komedi situasi) tetapi sumber utama dialognya diambil dari naskah lakon.5 Menentukan Bentuk dan Gaya Pementasan Bentuk dan gaya pementasan membingkai keseluruhan penampilan pementasan. menyanyi atau bermain musik memiliki nilai lebih. • Konflik dan penyelesaian tidak bekembang. Gambaran ini sangat penting . sutradara mudah dalam membuat perencanaan blocking. 3. 3.5. • Gambaran bentuk latar kejadian dapat ditemukan dalam naskah. • Durasi waktu dapat ditentukan dengan pasti. Karena dialog tokoh sudah ditentukan dan tidak boleh ditambah atau dikurangi maka durasi pementasan dapat ditentukan. Tugas aktor adalah menghapalkan dialog tersebut dan mengucapkannya dalam pementasan. • Fokus permasalahan telah ditentukan. Misalnya. tetapi bisa dipilih sebagai seorang penari latar dalam adegan tertentu. tetapi latar belakang pengetahuan dan kemampuan sutradara sangat menentukan. • Kecakapan lain. teater modern menggunakan naskah lakon sebagai sumber penuturan. • Arahan laku permainan dapat ditemukan dalam naskah. yaitu berdasar naskah lakon dan improvisasi. dan tanda keluar-masuk ilustrasi musik atau pencahayaan ditentukan waktunya sehingga setiap detik sangat berharga dan menentukan berhasil tidaknya pertunjukan tersebut. Pengembangan yang dilakukan hanyalah persoalan sudut pandang. Masingmasing memiliki kelebihan dan kekurangan serta membutuhkan kecakapan sutradara dalam bidang tertentu untuk melaksanakannya. 3.1 Berdasar Naskah Lakon Mementaskan teater berdasarkan naskah lakon menjadi ciri umum teater modern. bentuk penyajian. Penting bagi sutradara untuk menentukan dengan tepat bentuk dan gaya pementasan.juga dapat memberikan penggalan dialog karakter lain dengan muatan emosi yang berbeda. perpindahan antaradegan.1. Bahkan dalam produksi teater profesional yang semuanya dirancang dengan baik. Mungkin dalam sebuah produksi ia tidak memenuhi kriteria sebagai pemain utama. Dari serangkaian latihan yang dikerjakan secara rutin dan kontinyu ditambah dengan unsur artistik dan teknis maka lamanya pertunjukan teater berdasar naskah dapat ditetapkan. Sutradara menjadi mudah menentukan penekanan permasalahan lakon. Di bawah ini akan dibahas bentuk dan gaya pementasan menurut penuturan cerita. Karena tidak ada impovisasi.5.Dengan mempelajari naskah. • Arahan dialog sudah ada. Dalam lakon terkadang arahan emosi berkaitan dengan dialog juga dituliskan sehingga sutrdara lebih mudah dalam memantau emosi tokoh yang ditokohkan aktor. portofolio sangat penting bagi seorang aktor profesional. maka konflik dan penyelesaian lakon pasti. Kemampuan lain selain bermain tokoh terkadang dibutuhkan.

Sutradara dapat mengembangkan cerita dengan bebas dan aktor dapat mengembangkan kemungkinan gayapermainan dengan bebas pula. maka cerita penuh aksi dapat dijadikan pilihan. Dalam teater improvisasi gaya pementasan juga terbuka. Kalaupun hendak melakukan adaptasi atau penyesuaian. • Kreativitas aktor terbatas. konflik dan mengubah cara penyelesaian. Jika sumber daya manusia (aktor) yang kurang. Sutradara hanya menyediakan gambaran cerita selanjutnya aktor yang mengembangkannya dalam permainan. Oleh karena tidak ada petunjuk arah laku yang jelas. Hal ini perlu dilakukan. sutradara harus mengikutinya. Jika memaksakan kehendak harus sesuai dengan gagasan lakon. Pencampuran gaya ini dimaksudkan untuk memenuhi selera penonton. Terkadang hal ini dapat menimbulkan efek artistik yang alami dan menarik. Jika sumber dana yang kurang maka tim poruduksi harus berusaha keras untuk memenuhi tuntutan tersebut. • Kreativitas sutradara dan aktor dapat dikembangkan seoptimal mungkin. Jika ia tetap melakukannya. Dengan berkembangnya cerita maka aktor mendapatkan arahan laku lain yang bisa dicobakan. Pesan ini dengan luwes dapat diselipkan dalam lakon.5. maka aktor dapat mengembangkannya. Di samping kelebihan tersebut di atas. Terkadang untuk menyampaikan pesan titipan tersebut konflik minor baru dimunculkan. Jika banyak pemain yang bisa melucu maka cerita komedi akan efektif. pementasan teater berdasar naskah lakon juga memiliki kekurangan dan problem tersendiri.2 Improvisasi Mementaskan teater secara improvisasi memiliki keunikan tersendiri. • Konflik dan sudut pandang penyelesaian bisa dikembangkan. Misalnya. maka sutradara telah melanggar kode etik dan hak karya artistik. Dengan ditentukannya arah laku maka kreativitas aktor di atas panggung menjadi terbatas. • Cerita bisa disesuaikan dengan sumber daya yang dimiliki. dan penyelesaian konflik. sutradara telah mendapatkan gambarannya. Kemampuan sumber daya ini bisa dijadikan strategi untuk membuat pertunjukan menarik dan . Cerita yang telah dituliskan oleh pengarang harus ditaati. • Jika sumber daya yang dimiliki tidak sesuai dengan kehendak lakon harus dilakukan adaptasi. Meskipun secara artistik tidak masalah. tetapi karya teater menjadi karya sutradara. mereka biasanya menerima pesan tertentu dari penyelenggara. Tergantung dari kekurangan sumber daya yang dimiliki. Beberapa kelebihan pentas teater improvisasi adalah. Jika sutradara hendak mengembangkan cerita. dalam pertunjukan ketoprak sebuah adegan dilakukan mengikuti kaidah gaya presentasional (adegan Istana). Jika naskah lakon tersebut telah dipublikasikan dalam bentuk buku dan memiliki hak cipta maka sutradara bisa dituntut di muka hukum. Jika hendak menyesuaikan dengan ketersediaan sumber daya. • Arahan laku terbuka. • Memungkinkan percampuran bentuk gaya. konflik.1. Aktor tidak memiliki kebebasan penuh selain menerjemahkan konsep artistik sutradara. ia harus mendapatkan ijin dari penulis naskah lakon.bagi sutradara untuk mewujudkannya di atas pentas. maka adaptasi lakon harus dilakukan. Dalam teater tradisional. tetapi jika jumlah pemain yang memiliki kemampuan laga banyak. maka kerja sutradara akan semakin keras. tetapi di adegan lain menggunakan gaya realis (adegan dagelan). maka sutradara memerlukan waktu ekstra untuk membimbing para aktornya. Dalam proses latihan terkadang sutradara mendapat inspirasi dari laku aksi pemain demikian pula sebaliknya. Salah satu kelebihan utama teater improvisasi adalah cerita dan pemeran dapat dibuat berdasarkan sumber daya yang dimiliki. 3. Setuju atau tidak setuju terhadap cerita. • Tidak memungkinkan pengembangan cerita. Sutradara perlu meluangkan waktu untuk melakukannya.Sifat teater improvisasi yang terbuka memungkinkan pengembangan konflik dan penyelesaian. Setelah konflik ini diselesaikan dengan cara yang khas dan lucu maka cerita kembali ke konflik semula.

Penataan gerak tidak bisa dikerjakan dengan serampangan. • Memahami komposisi dan koreografi. Karena tidak ada arahan dialog yang baku.2 Menurut Bentuk Penyajian Banyaknya pilihan bentuk penyajian pementasan teater membuat sutradara harus jeli dalam menentukannya. bisa jadi ia memasangkan aktor yang memilliki kemampuan tak berimbang dalam improvisasi. latihan adegan tetap harus sering dilakukan. Akibatnya.memiliki ciri khas tertentu. Sutradara tidak bisa lagi mengendalikan jalannya pertunjukan. suasana. Karena arahan laku yang terbuka maka reaksi ucapan sering dilakukan spontan dan belum tentu benar. Jika tidak. maka akan membosankan. Aktor mengambil tokoh penuh. Kekurangan dari pemotongan adegan ini adalah jika inti dialog (persoalan) belum sempat terucapkan maka inti dialog harus diucapkan pada adegan berikutnya. • Improvisasi dialog tidak berimbang. Karena sifatnya yang serba terbuka. Jika pementasan sudah berjalan.2. teater improvisasi juga memiliki kekurangan yang patut diperhatikan oleh sutradara. Jika tidak. Jika dalam teater berbasis naskah. Jika seorang aktor beraksi. Di samping itu. maka teori komposisi dan koreografi dasar wajib dimiliki oleh sutradara.5. maka maknanya akan • kabur. 3.1 Teater Gerak Teater gerak lebih banyak membutuhkan ekspresi gerak tubuh dan mimik muka daripada wicara. maka panggung sepenuhnya adalah milik aktor. . harus mempertimbangkan makna pesan. 3. Di balik semua kelebihan di atas. maka aktor lawan mainnya harus bereaksi. Untuk itu. sutradara akan kerepotan sendiri. • Durasi waktu tidak tertentu. Oleh karena setiap bentuk penyajian memiliki kekhasan dan membutuhkan prasyarat tertentu yang harus dipenuhi. dan terutama musik ilustrasinya. Sutrdara harus mampu mengeksplorasi dan menciptakan gerak sesuai dengan makna pesan yang hendak disampaikan. meskipun improvisasi. lakon sebagai pengendali cerita maka dalam teater imrpovisasi aktor harus mampu mengendalikan jalannya cerita. Oleh karena itu. tetapi bagi aktor yang kualitas sastranya pas-pasan hal ini menjadi masalah besar. Karena bekerja dengan gerak. kesalahan ucap atau penyampaian informasi tertentu bisa saja salah karena memang tidak dicatat dan hanya diingat garis besarnya saja. aktor bisa mengembangkan cerita dan gaya permainan di atas pentas dan sutradara tidak bisa lagi mengarahkan secara langung. Bagi aktor yang memiliki kemampuan sastra memadai tidak jadi masalah. Sutradara bisa memotong sebuah adegan yang berjalan cukup lama dengan membunyikan tanda agar musik dimainkan dan adegan segera diselesaikan. maka sutradara wajib mempelajari dan memahami langkah-langkah dalam melaksanakannya.Semua tergantung dari improvisasi aktor di atas pentas. • Sutradara tidak bisa sepenuhnya mengendalikan jalannya pementasan. Dalam sebuah grup teater. Simbol dan makna yang disampaikan melalui gerak harus dikerjakan dengan teliti. Sifat akting adalah aksi dan reaksi. • Kualitas dialog tidak dapat distandarkan. • Kemungkinan aktor melakukan kesalahan lebih besar. maka kualitas dialog tidak bisa distandarkan. jika sutradara tidak jeli memahami hal ini. Pesan yang tidak disampaikan secara verbal membutuhkan keahlian tersendiri untuk mengelolanya. kemampuan setiap aktor pasti tidak sama. dalam adegan tersebut aktor yang satu terlalu aktif dan yang lain pasif. Oleh karena cerita bisa dikembangkan.5. Di bawah ini beberapa langkah yang bisa diambil oleh sutradara dalam menggarap teater gerak • Sutradara mampu mengeksplorasi dan menciptakan gerak. Jika hal ini terjadi cukup lama. maka durasi pementasan bisa berubah-ubah.

• Mewujudkan ekspresi melalui mimik para aktor. maka penampilan boneka yang terlalu banyak juga akan merepotkan para pengendalinya. maka ekspresi mimik menjadi sangat penting.2. maka karakter boneka harus benarbenar melekat sehingga pengendali boneka seolah-olah bisa memberikan nafas hidup di dalamnya. tetapi memberikan ekspresi hidup adalah hal yang lain. Boneka yang dimainkan dengan hidup akan menarik dan tampak nyata. pengaturan pemain perlu dilakukan. • Mampu menghidupkan ekspresi boneka yang dimainkan. • Jika pemain boneka banyak maka harus mampu mengatur adegan agar pergerakan boneka tidak saling mengganggu. • Jika pemain sedikit maka motif gerak harus lebih variatif. Jika lakon yang dimainkan membutuhkan banyak tokoh. • Mampu memainkan boneka dengan baik. • Mengerti musik ilustrasi. terutama menyangkut komposisi. Memainkan boneka bisa saja dipelajari. kapan musik hadir sebagai latar suasana. tetapi juga mengatur permainan boneka.Untuk mendukung rangkaian gerak yang telah diciptakan. Ekspresi emosi atau karakter tokoh harus bisa diwujudkan melalui mimik para aktor. maka banyaknya jumlah pemain justru akan memenuhi panggung dan membuat suasana menjadi sesak. Kewajiban sutradara tidak hanya mengatur pemain manusia. • Mampu mengisi suara sesuai dengan karakter boneka. Apalagi jika sudah menyangkut makna. Biasanya seorang pemain boneka bisa membuat beberapa karakter suara yang berbeda. dan perbedaannya harus dimengerti oleh sutradara. Banyak jenis boneka dan masing-masing membutuhkan teknik khusus dalam memperagakannya. Boneka wayang golek memiliki teknik permainan yang berbeda dengan boneka marionette yang dimainkan dengan tali. Meskipun rangkaian gerak yang dihasilkan sangat indah. Boneka dua dimensi seperti wayang kulit memiliki teknik memainkan berbeda dengan boneka tiga dimensi seperti wayang golek. Karakter suara harus bisa tampil secara konsisten dari awal hingga akhir pertunjukan. Tempat pertunjukan teater boneka yang terbatas harus disesuaikan dengan jumlah boneka yang tampil. Motif gerak yang kaya akan membuat tampilan menjadi variatif dan menyegarkan. Kapan musik mengikuti gerak pemain. kapan pemain harus menyesuaikan dengan alunan musik. maka irama rampak gerak yang diharapkan bisa kacau. • Mewujudkan bahasa dalam simbol gerak. sutradara teater gerak harus mengerti kaidah musik ilustrasi. tetapi jika komposisi (tata letak) pemainnya tidak berubah akan melahirkan kejenuhan. Karena tokoh diperagakan oleh boneka. . Meskipun tidak bisa memainkan musik. Oleh karena itu. Oleh karena keterbatasan bahasa verbal dalam pertunjukan teater gerak.2 Teater Boneka Teater boneka memiliki karakter yang khas tergantung jenis boneka yang dimainkan. Jika jumlah pemain banyak dan harus bergerak secara serempak. Mengubah bahasa dalam simbol gerak tidaklah mudah. Di bawah ini beberapa langkah yang bisa dikerjakan oleh sutradara yang hendak mementaskan teater boneka. Sutradara harus bisa memainkan boneka tersebut. Selain itu.5. Jika tidak pintar mengelola. Mengisi suara sesuai karakter boneka menjadi prasyarat utama. maka pengaturan blocking harus lebih teliti. Ekspresi selalu menyangkut penghayatan dan konsentrasi. 3. sutradara harus bisa mewujudkan bahasa verbal dalam simbol gerak. Jumlah pemain bisa disiasati dengan menambah perbendaharaan gerak. • Jika pemain dalam jumlah banyak. seorang pengendali biasanya hanya bisa mengendalikan maksimal dua boneka. maka pengaturan adegan harus dikerjakan dengan teliti. maka dianjurkan untuk mengkreasi gerak sederhana yang mudah dilakukan. Jumlah pemain yang banyak menimbulkan persoalan tersendiri. Jika gerak terlalu sulit. Menempatkan pemain dalam posisi dan gerak yang tepat akan membuat pertunjukan semakin menarik.

Yang terpenting dan perlu dicatat adalah setiap boneka mempunyai karakter suaranya sendiri. Jika sutradara tidak memahami kejiwaan • karakter tokoh dengan baik maka penilaiannya terhadap kualitas penghayatan aktor pun kurang baik. maka efek dramatik yang diharapkan dari aksi aktor menjadi gagal. Beberapa langkah yang dapat dikerjakan oleh sutradara dalam menggarap teater dramatik adalah sebagai berikut. • Membuat penonton terkesima dengan pertunjukan tidaklah mudah. Oleh karena itu. Langkah pamungkas yang dapat dijadikan patokan adalah menghadirkan pentas seperti sebuah kenyataan hidup. maka pergantian adegan bisa semrawut sehingga para pemain kewalahan. Keluar masuknya boneka di atas pentas berkaitan langsung dengan pengendali bonekanya. Dalam teater dramatik. • Mampu meningkatkan kualitas pemeranan aktor untuk menghayati tokoh secara optimal. menghayati dan memerankan karakter dengan baik. Angka tertinggi dari deret tegangan yang harus dicapai oleh aktor adalah 8 atau 9. Demikian juga dengan suasana kejadian.5. Demikian pula dengan cerita suka-ria. • Memahami tensi dramatik (dinamika lakon). • Mampu menghadirkan laku cerita seperti sebuah kenyataan hidup. Jumlah pengendali boneka yang sedikit tidak masalah asal setiap orang mampu menciptakan beberapa karakter suara. Untuk mencapai hasil maksimal maka kejelian sutradara dalam mengamati dan . jika melakonkan cerita yang sedih ukuran keberhasilannya adalah membuat penonton ikut terhanyut sedih. Untuk menghindari hal tersebut sutradara harus benar-benar teliti dalam mengukur tegangan dramatik adegan per adegan dalam lakon. • Mampu membangun kerjasama antarpemain boneka. semua harus tampak natural. 3. maka sutradara harus benar-benar jeli dalam menilai setiap aksi para aktor. sutradara harus dapat menentukan metode yang tepat agar para aktornya dapat memahami. maka aktor akan kesulitan meninggikan tegangan pada saat klimaks. Di sinilah letak kesulitannya. Banyak sutradara yang mengadakan semacam pemusatan latihan dalam kurun waktu yang cukup lama dengan tujuan agar para aktornya berada dalam suasana lakon yang akan dipentaskan. pengaturan adegan boneka disesuaikan dengan kemampuan pengendali. Hasil akhirnya adalah anti klimaks di mana pada adegan yang seharusnya memiliki tensi tinggi justru melemah karena energi para aktornya telah habis.3 Teater Dramatik Mementaskan teater dramatik membutuhkan kerja keras sutradara terutama terkait dengan akting pemeran. maka penonton harus dibawa dalam suasana yang suka-ria. aktor diharuskan berakting tetapi seolah-olah ia tidak berakting melainkan melakukan kenyataan hidup. Intinya. Jika dianalogikan dengan nilai 1 sampai dengan 10.2. Dalam teater boneka kerjasama antarpemain tidak hanya menyangkut emosi. • Memahami sisi kejiwaan karakter tokoh. tetapi juga menyangkut hal-hal teknis. Jika tidak ada kerjasama yang baik antarpemain (pengendali boneka). maka sutradara harus menetapkan tegangan optimal dan minimal. Sutradara harus memahami bobot tegangan (tensi) dramatik dalam setiap adegan yang ada pada lakon. Berkaitan dengan karakter tokoh. Jika pada bagian awal konflik tegangan terlalu tinggi. sehingga ketika dalam adegan tertentu membutuhkan tegangan yang lebih aktor masih bisa mengejarnya. bijaksanalah dalam menentukan tegangan dramatik adegan dan buatlah klimaks yang mengesankan dan penyelesaian yang dramatis. Jika demikian. Hal yang paling sulit dilakukan oleh sutradara adalah membongkar kejiwaan karakter tokoh dan mewujudkannya dalam laku aktor di ataspentas. tidak dibuat-buat. Laku lakon dari awal sampai akhir mengalami dinamika atau ketegangan yang turun naik. Sisi kejiwaan yang menyangkut perasaan karakter tokoh harus dapat ditampilkan senatural mungkin sehingga penonton menganggap hal itu benar-benar nyata terjadi.• Jika pemain sedikit harus memiliki kemampuan mengisi suara dengan karakter yang berbeda. Oleh karena tuntutan pertunjukan teater dramatik yang mensyaratkan laku aksi seperti kisah nyata.

• demikian pula sebaliknya. 3. Jika karya drama musikal tersebut berawal dari karya musik murni (musik yang bercerita) seperti The Cats karya Andrew Lloyd Webber. Untuk mendapatkan hasil yang baik. Blocking Sutradara diwajibkan memahami cara mengatur pemain di atas pentas. Ketepatan nada dalam nyanyian serta ekspresi wajah ketika menyanyi juga tidak boleh luput dari pengamatan. Sutradara tidak harus bisa memainkan musik. • Mampu membuat gerak. Lagu dan nyanyian harus bisa ditampilkan secara baik dan harmonis. Ekspresi cerita melalui nada-nada musik harus benar-benar bisa divisualisasikan dengan tepat. tetapi memahami karya musik merupakan keharusan dalam drama musikal. Tokohan dialog verbal yang digubah dalam bentuk lagu dan diucapkan melalui nyanyian adalah satu hal yang membutuhkan perhatian tersendiri. hindarilah kesalahan atau hal yang tidak lumrah dan berada di luar jangkauan nalar penonton. Dituntut kepiawaian sutradara dalam memilih dan merangkai motif gerak. Koreografer bisa saja mencipta gerak. Dalam hal ini musik bertindak sebagai pengiring. Artinya. Memilih pelaku yang tepat dan membuat komposisi atau koreografi berdasar karya musik yang ada. Tokohan musik sangat doniman dalam drama musikal bahkan musik bisa hadir secara mandiri untuk menceritakan sesuatu. Teater dramatik adalah teater yang mencoba meniru peristiwa kehidupan secara total dan sempurna. maka sutradara harus mampu menciptkan koreografinya. Makna cerita sepenuhnya dituangkan dalam wujud gerak.4 Drama Musikal Kemampuan multi harus dimiliki oleh seorang sutradara jika hendak mementaskan drama musikal. dan koreografi. maka perlu diperhatikan agar blocking yang dibuat tidak terlalu rumit. Kepiawaian sutradara dalam menentukan kegunaan karya musik yang satu dengan yang lain benarbenar dibutuhkan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan sutradara dalam drama musikal adalah sebagai berikut. 3. Jika blocking dibuat terlalu rumit. sehingga lalulintas aktor di atas panggung berjalan dengan lancar. pengiring gerak. dan musikal harus dirangkai secara harmonis untuk mencapai hasil maksimal. Pada adegan lain. maka sutradara harus benar-benar piawai dalam mengolah visualisasinya di atas pentas. Blocking dapat diartikan sebagai aturan berpindah tempat dari titik (area) satu ke titik (area) yang lainnya bagi aktor di atas panggung. Pada adegan dimana musik bercerita secara mandiri maka sutradara harus mampu memvisualisasikan cerita tersebut di • atas pentas. komposisi. tetapi makna dan atau simbolisasi cerita harus benar-benar bisa diwujudkan dalam gerak tarian yang dilakukan. Bahasa ungkap yang beragam antara bahasa verbal. tetapi pada akhirnya sutradara yang memutuskan. Banyak penyanyi yang memiliki suara baik tetapi ekspresinya datar.5. dan ilustrasi suasana kejadian. Kejanggalan-kejanggalan kecil yang dirasa kurang masuk akal oleh penonton akan mengurangi kualitas dramatika lakon yang dihadirkan. Sutradara harus mampu memecahkan masalah dasar tersebut.6. • Mengerti lagu dan nyanyian. Secara mendasar blocking adalah gerakan fisik atau proses penataan (pembentukan) sikap tubuh seluruh aktor di atas panggung.2. tokoh musik bisa menjadi pengiring lagu yang bercerita. Meskipun sutradara bekerja dengan seorang koreografer. gerak.menangani keseluruhan unsur pertunjukan sangat dibutuhkan. maka perpindahan . Jadi. Bukan hanya akting tetapi juga blocking. lagu. musik itu sendiri sudah bercerita sehingga pemain atau penari yang berada di atas panggung hanyalah pelengkap gambaran peristiwa. Dalam satu adegan saat cerita diungkapkan melalui gerak. • Mampu membuat gerak dan ekspresi berdasar karya musik. • Mengerti karya musik dramatik.

atas kiri tengah. sedangkan bawah adalah jarak terdekat dengan penonton. dan atas kiri. Pembagian panggung dalam lima belas area ini biasanya digunakan untuk panggung yang berukuran besar. atas kanan tengah. bawah kanan. • Menerjemahkan naskah lakon ke dalam sikap tubuh aktor sehingga penonton dapat melihat dan mengerti. kanan. bawah kiri. maka karakter tokoh yang dimainkan oleh para aktor akan tampak lebih hidup. Panggung yang tidak terlalu luas jika dibagi menjadi lima belas area. bawah kiri. blocking dapat mempertegas isi kalimat tersebut. Yang terpenting dalam hal ini adalah fokus atau penekanan bagian yang akan ditampilkan. UC = Atas Tengah. • Memberikan pondasi yang praktis bagi aktor untuk membangun karakter dalam pertunjukan. kalimat yang diucapkan oleh aktor menjadi lebih mudah dipahami oleh penonton. 3. Kanan adalah kanan pemain dan bukan kanan penonton dan kiri adalah kiri pemain. maka luas masing-masing area akan terlalu sempit sehingga tidak memungkinkan sebuah pergerakan yang leluasa baik untuk pemain maupun perabot. bawah tengah. Fungsi blocking secara mendasar adalah sebagai berikut.52 Pembagian sembilan area panggung UR = Atas Kanan.dari satu aksi menuju aksi yang lain menjadi kabur. dan atas kiri. kiri. bawah kanan. sedangkan kanan adalah posisi kanan arah hadap aktor atau sisi kiri penonton. bawah tengah. Panggung pertunjukan secara kompleks dibagi dalam lima belas area. Atas adalah jarak terjauh dari penonton. atas tengah. DC = Bawah Tengah. Pembagian sembilan area juga memudahkan sutradara dalam memberikan arah gerak kepada para aktornya. yaitu tengah. tengah kanan. atas kanan.1 Pembagian Area Panggung UR UC UL RC C LC DR DC DL Gb. DR = Bawah Kanan. yaitu tengah. Letak kanan dan kiri atau atas dan bawah ditentukan berdasar pada arah hadap aktor ke penonton. tengah kiri. DL = Bawah Kiri Untuk membuat atau merencanakan blocking bagi para pemain. Di samping itu. • Menciptakan lukisan panggung yang baik. UL = Atas Kiri. atas kanan. tengah kiri. perlu diketahui terlebih dahulu pembagian area panggung. bawah kanan tengah. RC = Tengah Kanan.6. atas tengah. Jika blocking dikerjakan dengan baik. Secara sederhana dan umum panggung dibagi sembilan area. C = Tengah. Dengan blocking yang tepat. . LC = Tengah Kiri. tengah kanan. bawah kiri tengah.

prinsip-prinsip dasar di bawah ini dapat digunakan sebagai petunjuk dalam menempatkan posisi dan mengatur pose pemain. Setiap aktivitas.2. Usahakan pemain menghadap diagonal (kurang lebih 45 derajat) ke arah penonton. maka hal ini akan menimbulkan pemandangan yang kurang menarik dan jika hal ini berlangsung lama. Ada dua ragam komposisi pemain. pose.6. Dengan menghadap secara diagonal.1 Simetris Komposisi simetris adalah komposisi yang membagi pemain dalam dua bagian dan menempatkan bagian-bagian tersebut dalam posisi yang benar-benar sama dan seimbang. Jika digambarkan komposisi ini mirip cermin. blocking memiliki arti yang lebih luas karena setiap gerak. pengaturan blocking harus mempertimbangkan pusat perhatian (fokus) penonton.6. 3. Oleh karena itu. dan tinggirendah pemain dalam keadaan diam (statis). Bedanya. perubahan ekspresi dan aksi di atas pentas harus dapat ditangkap mata penonton dengan jelas. tetapi membagi pemain dalam dua bagian atau lebih dengan tujuan memberi penonjolan (penekanan) bagian tertentu. 3. maka dimensi dan keutuhan tubuh pemain akan dilihat dengan jelas oleh mata penonton. Keseimbangan adalah pengaturan atau pengelompokan aktor di atas pentas yang ditata sedemikian rupa sehingga tidak menghasilkan ketimpangan. arah laku. Hal ini menjadikan gerak pemain kurang terlihat dengan jelas. 3. maka penonton akan menjadi jenuh. 3. yaitu komposisi simetris dan komposisi asimetris yang ditata dengan mempertimbangkan keseimbangan.3 Fokus Dalam mengatur blocking.2. Hal ini diperlukan untuk memenuhi ruang dan menghindari komposisi aktor yang berat sebelah. Pengaturan posisi pemain seperti ini dilakukan agar semua pemain di atas pentas dapat dilihat dengan jelas oleh penonton. Menghadap lurus ke arah penonton akan memberikan efek datar dan kurang memberikan dimensi kepada pemain.3 Keseimbangan Dalam menata komposisi pemain di atas pentas hal yang paling penting untuk diperhatikan adalah keseimbangan. hal yang paling utama untuk diperhatikan sutradara adalah perhatian penonton. karakter. 3.2 Komposisi Komposisi dapat diartikan sebagai pengaturan atau penyusunan pemain di atas pentas. Jika salah satu ruang dibiarkan kosong sementara ruang yang lain terisi penuh. Di bawah ini adalah contoh komposisi simetris. Hal ini dapat dikerjakan dengan menempatkan pemain dalam posisi dan situasi tertentu sehingga ia lebih menonjol atau lebih kuat dari yang lainnya.6. Oleh karena itu.6. • Gunakan lengan atau tangan panggung atas (yang jauh dari mata penonton) untuk menunjuk ke . Sedangkan komposisi.1 Prinsip Dasar Pada dasarnya fokus adalah membuat pemain menjadi terlihat jelas oleh mata penonton. lebih mengatur posisi.2 Asimetris Komposisi asimetris tidak membagi pemain dalam dua bagian yang sama persis. Jika melangkah dengan kaki panggung bawah (yang dekat dari mata penonton). maka awali dan akhiri langkah tersebut dengan kaki panggung atas (yang jauh dari mata penonton).3. perpindahan pemain serta perubahan posisi pemain dapat disebut blocking. • Jika pemain hendak melangkah. • Kurangilah menempatkan pemain dalam posisi menghadap lurus ke arah penonton atau menyamping penuh. sedangkan menyamping penuh akan menyembunyikan bagian tubuh yang lain.2.6. Bagian yang satu merupakan cerminan bagian yang lain.6. maka kaki yang jauh akan tertutup dan wajah pemain secara otomatis akan menjauh dari mata penonton. Sekilas komposisi mirip dengan blocking.3.

4. karena hal ini akan menutupi suara dan pandangan penonton. Hal ini mempertegas laku aksi yang sedang dikerjakan. Latihan pemanasan (warm-up).1. yaitu serial latihan gerakan tubuh untuk meningkatkan sirkulasi dan meregangkan otot dengan cara bertahap. yaitu latihan pemanasan. Latihan pendinginan atau peredaan (warm-down). • Pemanasan • Latihan ketahanan • Latihan Kelenturan • Latihan ketangkasan . latihan inti. yaitu serial pendek gerakan tubuh untuk mengembalikan kesegaran tubuh setelah menjalani latihan inti.arah panggung atas dan gunakan lengan atau tangan panggung bawah (yang dekat dengan mata penonton) untuk menunjuk ke panggung bawah.1 Persiapan Sebelum melakukan latihan harus memperhatikan denyut nadi. SENI BERPERAN DALAM TEATER Teater Koma : Mengapa Leonardo Aktor merupakan manusia yang mengorbankan dirinya untuk menjadi orang lain. Membagi arah pandangan ini sangat penting untuk menegaskan dan memberi kejelasan ekspresi karakter kepada penonton. Selama menghitung denyut nadi mata selalu melihat jam (jam tangan maupun jam dinding yang ada di dalam ruangan). Karena itu dia harus mempersiapkan dirinya secara utuh penuh baik fisik maupun psikis. dan latihan pendinginan. Latihanlatihan olah tubuh dapat dilakukan dengan tahap-tahap sebagai berikut. yaitu serial pokok dari inti gerakan yang akan dilatihkan. • Usahakan agar para aktor saling menatap (berkontak mata) pada saat mengawali dan mengakhiri dialog (percakapan). • Jangan pernah memegang benda atau piranti tangan di depan wajah ketika sedang berbicara. Cara penghitungan denyut nada yang ada di pergelangan tangan. Jika tangan yang digunakan adalah tangan yang tidak menganggu pandangan penonton. yaitu dengan meletakkan jari tengah di atas pergelangan tangan dalam segaris dengan ibu jari atau jari jempol. yaitu dengan menghitung denyut nadi yang ada di leher atau denyut nadi yang ada di pergelangan tangan dalam. Jika yang dilakukan sebaliknya. Selebihnya. Penghitungan denyut nadi yang ada dipergelangan tangan lebih dianjurkan untuk menghasilkan perhitungan yang tepat. Penghitungan dilakukan selama enam detik dan hasilnya dikalikan sepuluh. Cara untuk menghitung denyut nadi. Latihan inti. 4. Untuk itu seorang pemeran harus menjaga kelenturan peralatan tubuhnya. Olah tubuh dilakukan dalam tiga tahap. maka gerak laku aktor dalam menggunakan telepon akan kelihatan. atau penghitungan dilakukan selama sepuluh detik dan hasilnya dikalikan enam. usahakan untuk berbicara kepada penonton atau kepada aktor lain yang berada di atas panggung.1 Latihan Olah Tubuh Latihan olah tubuh melatih kesadaran tubuh dan cara mendayagunakan tubuh. Mengetahui denyut nadi sebelum latihan fisik dianjurkan karena berhubungan dengan kerja jantung. maka gerakan lengan dan tangan akan menutupi bagian tubuh lain.

. nada suara yang terlontarkan. memang. sehingga secara tidak sadar mengungkapkan sesuatu yang sebenarnya tidak dikehendaki. maka nilai yang terkandung tidak dapat dikomunikasikan kepada penonton. dan cepat lambatnya sesuai dengan situasi dan kondisi emosi. kalimat.• Latihan pendinginan • Latihan relaksasi 4. Maka. dalam situasi tertentu tidak mampu mengungkapkan maksud yang sebenarnya. Hal ini disebabkan karena dalam dialog banyak terdapat nilai-nilai yang bermakna. Dalam kegiatan teater. Prosesnya. Dalam kenyataannya. tinggi rendahnya. Suara adalah lambang komunikasi yang dijadikan media untuk mengungkapkan rasa dan buah pikiran. yaitu hasil getaran udara yang datang dan menyentuh selaput gendang telinga. suara tidak hanya dilontarkan begitu saja tetapi dilihat dari keras lembutnya. dalam arti tidak dibarengi dengan bahasa verbal. dalam konvensi dunia teater kedua istilah tersebut dibedakan. Suara merupakan produk manusia untuk membentuk katakata. Akan tetapi. Kegiatan mengucapkan dialog ini menjadi sifat teater yang khas. “kamu belum bisa apaapa”. bisa juga bahasa tubuh sebagai penguat bahasa verbal. Pemilihan kata-kata memiliki tokohan dalam aturan yang dikenal dengan istilah diksi. Seorang pemeran dalam pementasan teater menggunakan dua bahasa. suara dan bunyi itu sama. Hal ini . sedangkan bunyi merupakan produk benda-benda. Dialog merupakan salah satu daya tarik dalam membina konflik-konflik dramatik. yaitu bahasa tubuh dan bahasa verbal yang berupa dialog. Suara dihasilkan oleh proses mengencang dan mengendornya pita suara sehingga udara yang lewat berubah menjadi bunyi. Dialog yang diucapkan oleh seorang pemeran mempunyai tokohan yang sangat penting dalam pementasan naskah drama atau teks lakon. “Yah. Itulah yang disebut intonasi. ”. Banyak lagi contoh yang menunjukkan tentang makna suara. kamu sekarang sudah hebat…. Jika lontaran dialog tidak sesuai sebagaimana mestinya. suara mempunyai tokohan penting. Selanjutnya. Unsur dasar bahasa lisan adalah suara. Akan tetapi. Misalnya. karena digunakan sebagai bahan komunikasi yang berwujud dialog. Makna katakata dipengaruhi oleh nada. Misalnya. Kata-kata yang membawa informasi yang bermakna. Suara merupakan unsur yang harus diperhatikan oleh seseorang yang akan mempelajari teater. suara dijadikan kata dan kata-kata disusun menjadi frasa serta kalimat yang semuanya dimanfaatkan dengan aturan tertentu yang disebut gramatika atau paramasastra. Maksud tersembunyi seperti itu disebut subtext. menunjukkan maksud memuji atau sebenarnya ingin mengatakan. Bahasa tubuh bisa berdiri sendiri.2 OLAH SUARA Suara adalah unsur penting dalam kegiatan seni teater yang menyangkut segi auditif atau sesuatu yang berhubungan dengan pendengaran.

putus asa. Senam Lidah e. Ditutup dengan relaksasi 4. Senam Rahang Bawah f. Memuat informasi tentang sifat dan perasaan tokoh. Latihan Pernafasan k. Dalam menghayatai karakter tokoh. Latihan Tenggorokan g. Melengkapi variasi. a. Memberi arti khusus pada kata-kata tertentu melalui modulasi suara. Berbisik h.merupakan kesalahan fatal bagi seorang pemeran. Tempo o. e. yaitu sebagai berikut. c. a. tetapi juga harus memberikan respon terhadap ekspresi tokoh lain. Pemanasan c. Ada beberapa hal yang perlu diketahui oleh seorang pemeran tentang fungsi ucapan. Oleh karena itu. Nada p. Ekspresi yang disampaikan melalui nada suara membentuk satu pemaknaan berkaitan dengan kalimat dialog. maka dia mencabut makna yang ada dalam kata-kata. Wicara q. Banyak pemeran yang hanya mementingkan ekspresi yang ditokohkan sehingga dalam benaknya hanya melakukan aksi. kegembiraan. kekuatan. Persiapan b. Bergumam i. latihan-latihan yang mendukung kepekaan rasa perlu dilakukan. Ketika pemeran mengucapkan dialog harus mempertimbangkan pikiranpikiran penulis. Seorang pemeran tidak hanya memikirkan ekspresi karakter tokoh yang ditokohkan saja. Latihan-latihan untuk melenturkan peralatan suara dapat dilakukan menggunakan tahap-tahap sebagai berikut. misalnya: umur. Jeda n. Latihan Kejelasa Diksi l. dan sebagainya. Padahal akting adalah kerja aksi dan reaksi.3 OLAH RASA Pemeran teater membutuhkan kepekaan rasa. Bersenandung j. Mengendalikan perasaan penonton seperti yang dilakukan oleh musik. marah. Terlebih dalam konteks aksi dan reaksi. Senam Wajah d. Ucapan yang dilontarkan oleh pemeran bertujuan untuk menyalurkan kata dari teks lakon kepada penonton. b. Dengan demikian. latihan olah rasa tidak hanya berfungsi untuk . Seorang pemeran yang hanya melakukan aksi berarti baru mengerjakan separuh dari tugasnya. Intonasi m. d. Tugas yang lain adalah memberikan reaksi. Proses pengucapan dialog mempengaruhi ketersampaian pesan yang hendak dikomunikasikan kepada penonton. Jika pemeran melontarkan dialognya hanya sekedar hasil hafalan saja. kedudukan sosial. semua emosi tokoh yang ditokohkan harus mampu diwujudkan.

gesture harus disadari dan diciptakan sebagai penguat komunikasi dengan bahasa verbal. Seorang pemeran harus dapat mengontrol tubuhnya setiap saat. Sedang beberapa orang menggunakan gesture sebagai tambahan dalam katakata ketika melakukan proses komunikasi. mengangguk tandanya tidak setuju sedangkan mengeleng artinya setuju. tetapi juga perasaan terhadap karakter lawan main. Selain itu. Dunia ini harus diwujudkan menjadi sesuatu yang seolah-olah nyata dan dapat dinikmati serta menyakinkan penonton. Maka. Tangan mengacung dengan jari telunjuk dan jempol membentuk lingkaran. Manfaat mempelajari dan melatih gesture adalah mengerti apa yang tidak terkatakan dan yang ada dalam pikiran lawan bicara. bagi orang Yunani berarti penghinaan. 4. Hal ini berlawanan dengan bangsa-bangsa lain. baik bahasa tubuh budaya sendiri maupun bahasa tubuh budaya lainnya. Pemakaian gesture ini mengajak seseorang untuk menampilkan variasi bahasa atau bermacam-macam cara mengungkapkan perasaan dan pemikiran. tetapi bagi orang Amerika artinya bagus. Misalnya. Makin menarik pusat perhatian. Ada korelasi yang sangat dekat antara pikiran dan tubuh.3. dengan mempelajari bahasa tubuh. Latihan olah rasa dimulai dari konsentrasi. Kekuatan pemeran untuk mewujudkan dunia rekaan ini hanya bias dilakukan dengan kekuatan daya konsentrasi. Jika berlawanan dengan bahasa verbal akan mengurangi kekuatan komunikasi. Latihan gesture dapat digunakan untuk mempelajari dan melahirkan bahasa tubuh. konsentrasi menjadi sesuatu hal yang penting untuk pemeran. Pusat perhatian seorang pemeran adalah sukma atau jiwa tokoh atau karakter yang akan dimainkan. mempelajari gesture.meningkatkan kepekaan rasa dalam diri sendiri. Akan tetapi. Sebagai seorang pemeran. Dengan konsentrasi pemeran akan dapat mengubah dirinya menjadi orang lain. Jadi bahasa tubuh harus dipahami oleh pemeran sebagai pendukung bahasa verbal. orang India. Misalnya seorang pemeran melihat sesuatu yang menjijikan (meskipun sesuatu itu tidak ada di atas pentas) maka ia harus menyakinkan kepada penonton bahwa sesuatu yang dilihat benarbenar menjijikkan. gesture . sedangkan kalau selaras dengan bahasa verbal akan menguatkan proses komunikasi. 4.2 Gesture Gesture adalah sikap atau pose tubuh pemeran yang mengandung makna. Ada juga yang mengatakan bahwa gesture adalah bentuk komunikasi non verbal yang diciptakan oleh bagian-bagian tubuh yang dapat dikombinasikan dengan bahasa verbal. akan diketahui tanda kebohongan atau tanda-tanda kebosanan pada proses komunikasi yang sedang berlangsung. Tujuan dari konsentrasi ini adalah untuk mencapai kondisi kontrol mental maupun fisik di atas panggung. Macam-macam gesture yang dapat dipahami orang lain adalah gesture dengan tangan. yaitu tokoh yang dimainkan.3. makin tinggi kesanggupan memusatkan perhatian. Bahasa tubuh dilakukan oleh seseorang terkadang tanpa disadari dan keluar mendahului bahasa verbal. cenderung dapat merusak proses pemeranan.1 Konsentrasi Pengertian konsentrasi secara harfiah adalah pemusatan pikiran atau perhatian. dan imajinasi. Segala sesuatu yang mengalihkan perhatian seorang pemeran. Bahasa tubuh semacam respon atau impuls dalam batin seseorang yang keluar tanpa disadari. Bahasa ini mendukung dan berpengaruh dalam proses komunikasi. Langkah awal yang perlu diperhatikan adalah mengasah kesadaran dan mampu menggunakan tubuhnya dengan efisien. bagi orangtokohcis artinya nol. Dunia teater adalah dunia imajiner atau dunia rekaan. Kalau pemeran dengan tingkat konsentrasi yang rendah maka dia tidak akan dapat menyakinkan penonton. gesture tidak dapat menggantikan bahasa verbal sepenuhnya. Dunia tidak nyata yang diciptakan seorang penulis lakon dan diwujudkan oleh pekerja teater. Sifat bahasa tubuh adalah tidak universal. Seorang pemeran harus memahami bahasa tubuh.

Usaha menjawab pertanyaan itu akan membawa pikiran untuk mengimajinasikan sosok Hamlet. TATA PANGGUNG Tata panggung disebut juga dengan istilah scenery (tata dekorasi). Belajar imajinasi dapat menggunakan fungsi ”jika” atau dalam istilah metode pemeranan Stanislavski disebut magic-if. “siapakah Hamlet itu?”. dan jangan menggambarkan suatu objek yang tidak pasti (perkiraan). 5. dan apa. maka akan memunculkan gambaran pengandaiannya. Bahasa tubuh dengan tubuh adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh pose atau sikap tubuh seseorang.1. sedangkan fantasi membuat hal-hal yang tidak ada. • Imajinasi menciptakan hal-hal yang mungkin ada atau mungkin terjadi. maka akan terjadi proses imajinasi. dan panggung tempat pementasan dilaksanakan. Objek berfungsi untuk menstimulasi atau merangsang pikiran. tetapi harus dibujuk untuk bisa digunakan. Bahasa tubuh atau gesture dengan tangan adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh posisi maupun gerak kedua tangan. sebelum melaksanakan penataan panggung seorang penata panggung perlu mempelajari panggung pertunjukan. Gambaran tempat kejadian lakon diwujudkan oleh tata panggung dalam pementasan. Baik hal yang logis maupun yang tidak logis.1 Mempelajari Panggung Dalam sejarah perkembangannya. Latihan imajinasi bagi pemeran berfungsi mengidentifikasi tokoh yang akan dimainkan. Bahasa tubuh yang tercipta oleh kedua tangan merupakan bahasa tubuh yang paling banyak jenisnya. Bentuk panggung yang berbeda memiliki prinsip artistik yang berbeda. Dengan berpikir. Perbedaan jenis panggung ini dipengaruhi oleh tempat dan zaman dimana teater itu berada serta gaya pementasan yang dilakukan. • Imajinasi tidak akan muncul dengan pikiran yang pasif. SENI RUPA DALAM TEATER 5. tetapi harus dengan pikiran yang aktif. dan tidak akan pernah ada. dimana gambaran tersebut tidak pernah dialami sebelumnya.dengan badan. Hal-hal yang perlu diketahui ketika berlatih imajinasi. dimana. gesture dengan kepala dan wajah. siapa. Belajar imajinasi harus menggunakan plot yang logis. Selain itu. tidak pernah ada. dalam panggung yang penontonnya melingkar. Bahasa tubuh dengan kepala dan wajah adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh posisi kepala maupun ekspresi wajah. Untuk membangkitkan imajinasi tokoh gunakan pertanyaan.1.3 Imajinasi Imajinasi adalah proses pembentukan gambaran-gambaran baru dalam pikiran. • Imajinasi tidak bisa dipaksa. dan gesture dengan kaki. Sedangkan bahasa tubuh dengan kaki adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh posisi dan bagaimana meletakkan kaki. 4. kehendak artistik sutradara. Dengan stimulus pertanyaanpertanyaan atau menggunakan stimulus ”seandainya”. membutuhkan tata letak perabot yang dapat enak . Misalnya. maka pikiran dipaksa untuk menjawab pertanyaan tersebut. Penataan panggung disesuaikan dengan tuntutan cerita. Misalnya. Oleh karena itu. Imajinasi tidak akan muncul jika direnungkan tanpa suatu objek yang menarik. tetapi segala tata letak perabot atau piranti yang akan digunakan oleh aktor disediakan oleh penata panggung.3. Melatih imajinasi sama dengan memperkerjakan pikiran-pikiran untuk terus berpikir. seorang pemeran juga harus berimajinasi tentang pengalaman hidup tokoh yang akan dimainkan. • Pikiran bisa disuruh untuk mempertanyakan segala sesuatu. Tidak hanya sekedar dekorasi (hiasan) semata. seni teater memiliki berbagai macam jenis panggung yang dijadikan tempat pementasan.

1. Agar semua pemain dapat terlihat dari setiap sisi maka penggunaan set dekor berupa bangunan tertutup vertikal tidak diperbolehkan karena dapat menghalangi pandangan penonton. maka penata panggung dituntut kreativitasnya untuk mewujudkan set dekor.2. panggun arena sering menjadi pilihan utama bagi teater tradisional. penata panggung diharuskan memahami karakter jenis panggung yang akan digunakan serta bagian-bagian panggung tersebut.2 Proscenium Panggung proscenium bisa juga disebut sebagai panggung bingkai karena penonton menyaksikan . 5. dan penempatannya.2. Segala perabot yang digunakan dalam panggung arena harus benar-benar dipertimbangkan dan dicermati secara hati-hati baik bentuk. ukuran. penata panggung dapat merancangkan karyanya berdasar lakon yang akan disajikan dengan baik.2. salah satunya adalah penggunaan panggung arena. panggung thrust. dan panggung arena. Banyak usaha yang dilakukan untuk mendekatkan pertunjukan dengan penonton.1. Semua ditata agar enak dipandang dari berbagai sisi. Penonton sangat dekat sekali dengan pemain. Kemungkinan berkomunikasi secara langsung atau bahkan bermain di tengah-tengah penonton ini menjadi tantangan kreatif bagi teater modern. Ketiganya adalah panggung proscenium. dan aktor ditampilkan di hadapan penonton. Kedekatan jarak ini membawa konsekuensi artistik tersendiri baik bagi pemain dan (terutama) tata panggung.1. Aspek kedekatan inilah yang dieksplorasi untuk menimbulkan daya tarik penonton. Dengan memahami bentuk dari masingmasing panggung inilah. Lepas dari kesulitan yang dihadapi. Kedekatan jarak antara pemain dan penonton dimanfaatkan untuk melakukan komunikasi langsung di tengah-tengah pementasan yang menjadi ciri khas teater tersebut. detil perabot yang diletakkan di atas panggung harus benar-benar sempurna sebab jika tidak maka cacat sedikit saja akan nampak. Untuk memperoleh hasil terbaik. Seperti telah disebutkan di atas bahwa banyak sekali jenis panggung tetapi dewasa ini hanya tiga jenis panggung yang sering digunakan. Misalnya. sutradara. Beberapa pengembangan desain dari teater arena melingkar dilakukan sehingga bentuk teater arena menjadi bermacammacam. Berbeda dengan panggung yang penontonnya hanya satu arah dari depan. 5.dilihat dari setiap sisi. Hal ini mempengaruhi nilai artistik pementasan. Jenis-jenis Panggung Panggung adalah tempat berlangsungnya sebuah pertunjukan dimana interaksi antara kerja penulis lakon. di atas panggung diletakkan kursi dan meja berukir. Untuk menyampaikan maksud tersebut pekerja teater mengolah dan menata panggung sedemikian rupa untuk mencapai maksud yang dinginkan. Karena bentuknya yang dikelilingi oleh penonton. 5. Jika bentuk ukiran yang ditampilkan tidak nampak sempurna – berbeda satu dengan yang lain – maka penonton akan dengan mudah melihatnya. Panggung arena biasanya dibuat secara terbuka (tanpa atap) dan tertutup.1 Arena Teater Arena Panggung arena adalah panggung yang penontonnya melingkar atau duduk mengelilingi panggung. Inti dari pangung arena baik terbuka atau tertutup adalah mendekatkan penonton dengan pemain. Karena jaraknya yang dekat. Di atas panggung inilah semua laku lakon disajikan dengan maksud agar penonton menangkap maksud cerita yang ditampilkan.

Dalam pembuatan desain gambar tata panggung yang terpenting adalah cara mengatur. terutama pada panggung arena dimana lukisan dekor atau bentuk bangunan vertikal tertutup seperti dinding atau kamar (karena akan menghalangi pandangan sebagian penonton) tidak memungkinkan diletakkan di atas panggung. Tata cahaya yang memproduksi sinar dapat dihadirkan dengan tanpa terlihat oleh penonton dimana posisi lampu berada. Panggung proscenium sudah lama digunakan dalam dunia teater. Pemikiran lain di luar desain akan menghambat imajinasi dan akhrinya memberikan batasan. Bentangan jarak dapat menciptakan bayangan arstisitk tersendiri yang mampu menghadirkan kesan. Pesona inilah yang membuat penggunaan panggung proscenium bertahan sampai sekarang. bingkai proscenium menjadi batas tepinya. Jarak antara penonton dan panggung adalah jarak yang dapat dimanfaatkan untuk menciptakan gambaran kreatif pemangungan. Tata perabot kemudian menjadi unsur pokok pada tata panggung arena.aksi aktor dalam lakon melalui sebuah bingkai atau lengkung proscenium (proscenium arch). dan musim dalam tahun dimana lakon dilangsungkan. fungsi tata panggung perlu dibahas terlebih dahulu. Perspektif dapat ditampilkan dengan memanfaatkan kedalaman panggung (luas panggung ke belakang). periode sejarah lakon.3 Fungsi Tata Panggung Dalam perancangan tata panggung selain mempertimbangkan jenis panggung yang akan digunakan ada beberapa elemen komposisi yang perlu diperhatikan. imajinasi dapat dituangkan sepenuhnya ke dalam gambar desain tanpa lebih dulu berpikir tentang kemungkinan visualisasinya.1. Jarak yang sengaja diciptakan untuk memisahkan pemain dan penonton ini dapat digunakan untuk menyajikan cerita seperti apa adanya. 5. lokasi kejadian. Karena keseluruhan objek yang ada di atas panggung dan digunakan oleh aktor membentuk satu lukisan secara menyeluruh.4 Elemen Komposisi Desain tata panggung sebaiknya dibuat dengan mudah dan bebas. Gambar dekorasi dan perabot tidak begitu menuntut kejelasan detil sampai hal-hal terkecil. penata panggung juga bertanggungjawab terhadap segala perabot yang digunakan. Penyuntingan atau pengolahan bisa dilakukan setelah gagasan tertuang. Perabot dan piranti sangat penting dalam mencipta lukisan panggung. Selain merencanakan gambar dekor.276). menata. Unsurunsur ini ditata sedemikian rupa sehingga bisa memberikan gambaran lengkap yang berfungsi untuk menjelaskan suasana dan semangat lakon. Penonton disuguhi gambaran melalui bingkai tersebut. Aktor dapat bermain dengan leluasa seolah-olah tidak ada penonton yang hadir melihatnya. Hampir semua sekolah teater memiliki jenis panggung proscenium. Artinya. 5. Kesan inilah yang diolah penata panggung untuk mewujudkan kreasinya di atas panggung proscenium.1. status karakter peran. Procenium Stage Tata panggung pun sangat diuntungkan dengan adanya jarak dan pandangan satu arah dari penonton. Seperti sebuah lukisan. Sebelum menjelaskan semua itu. Bingkai yang dipasangi layar atau gorden inilah yang memisahkan wilayah akting pemain dengan penonton yang menyaksikan pertunjukan dari satu arah (Gb. Dengan pemisahan ini maka pergantian tata panggung dapat dilakukan tanpa sepengetahuan penonton. . Pemisahan ini dapat membantu efek artistik yang dinginkan terutama dalam gaya realisme yang menghendaki lakon seolah-olah benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata. dan memanipulasi elemen komposisi yang menjadi dasar dari seluruh kerja desain. Pembelajaran tata panggung untuk menciptakan ilusi (tipuan) imajinatif sangat dimungkinkan dalam panggung proscenium. Semua yang ada di atas panggung dapat disajikan secara sempurna seolah-olah gambar nyata. Intinya semua yang di atas panggung dapat diciptakan untuk mengelabui pandangan penonton dan mengarahkan mereka pada pemikiran bahwa apa yang terjadi di atas pentas adalah kenyataan.

Keempat fungsi pokok tata cahaya di atas tidak berdiri sendiri. Inilah fungsi paling mendasar dari tata cahaya. pemilihan. dan penonton untuk saling melihat dan berkomunikasi. Dalam teater. Sejak ditemukannya teknologi pencahayaan panggung. Dimensi dapat diciptakan dengan membagi sisi gelap dan terang atas objek yang disinari sehingga membantu perspektif tata panggung. Tidak semua area di atas panggung memiliki tingkat terang yang sama tetapi diatur dengan tujuan dan maksud tertentu sehingga menegaskan pesan yang hendak disampaikan melalui laku aktor di atas pentas.2. • Dimensi. Dalam pertunjukan era primitif manusia hanya menggunakan cahaya matahari. Dengan cahaya. Artinya. Sejak ditemukannya lampu penerangan manusia menciptakan modifikasi dan menemukan hal-hal baru yang dapat digunakan untuk menerangi panggung pementasan. dan emosi peristiwa. dimensi. • Atmosfir. Lampu memberi penerangan pada pemain dan setiap objek yang ada di atas panggung. TATA CAHAYA Cahaya adalah unsur tata artistik yang paling penting dalam pertunjukan teater. yaitu penerangan. Tata cahaya dapat dimanfaatkan untuk menentukan objek dan area yang hendak disinari. Sinar mentari pagi membawa kehangatan sedangkan sinar mentari siang hari terasa panas. Dengan tata cahaya kedalaman sebuah objek dapat dicitrakan.5. • Pemilihan. sutradara dapat menghadirkan ilusi imajinatif. Banyak hal yang bisa dikerjakan bekaitan dengan peran tata cahaya tetapi fungsi dasar tata cahaya ada empat. Misalnya. efek lampu dapat diciptakan untuk menirukan cahaya bulan dan matahari pada waktu-waktu tertentu. Dengan pengaturan tingkat intensitas serta pemilahan sisi gelap dan terang maka dimensi objek akan muncul. bulan atau api untuk menerangi. Selain keempat fungsi pokok di atas.1 Fungsi Tata Cahaya Tata cahaya yang hadir di atas panggung dan menyinari semua objek sesungguhnya menghadirkan kemungkinan bagi sutradara. Jika dalam film dan televisi sutradara dapat memilih adegan menggunakan kamera maka sutradara panggung melakukannya dengan cahaya. 5. aktor. Pengetahuan dasar ini selanjutnya dapat diterapkan dan dikembangkan dalam penataan cahaya untuk kepentingan artistik pemanggungan. Beberapa fungsi . warna cahaya matahari pagi berbeda dengan siang hari. • Penerangan.2. Inilah gambaran suasana dan emosi yang dapat dimunculkan oleh tata cahaya. tata cahaya memiliki fungsi pendukung yang dikembangkan secara berlainan oleh masing-masing ahli tata cahaya. Seorang penata cahaya perlu mempelajari pengetahuan dasar dan penguasaan peralatan tata cahaya. Tata cahaya mampu menghadirkan suasana yang dikehendaki oleh lakon. Yang paling menarik dari fungsi tata cahaya adalah kemampuannya menghadirkan suasana yang mempengaruhi emosi penonton. Kata “atmosfir” digunakan untuk menjelaskan suasana serta emosi yang terkandung dalam peristiwa lakon. dan atmosfir (Mark Carpenter. untuk memberikan fokus perhatian pada area atau aksi tertentu sutradara memanfaatkan cahaya. Fungsi penerangan dilakukan dengan memilih area tertentu untuk memberikan gambaran dimensional objek. Istilah penerangan dalam tata cahaya panggung bukan hanya sekedar memberi efek terang sehingga bisa dilihat tetapi memberi penerangan bagian tertentu dengan intensitas tertentu. 1988). Semua objek yang disinari memberikan gambaran yang jelas kepada penonton tentang segala sesuatu yang akan dikomunikasikan. Pemilihan ini tidak hanya berpengaruh bagi perhatian penonton tetapi juga bagi para aktor di atas pentas serta keindahan tata panggung yang dihadirkan. Tanpa adanya cahaya maka penonton tidak akan dapat menyaksikan apa-apa. suasana. Jika semua objek diterangi dengan intensitas yang sama maka gambar yang akan tertangkap oleh mata penonton menjadi datar. masing-masing fungsi memiliki interaksi (saling mempengaruhi). penonton secara normal dapat melihat seluruh area panggung.

Tata cahaya dapat memberikan penekanan tertentu pada adegan atau objek yang dinginkan. seperti tanah. Seorang pemain.1 Fungsi Tata Rias Tokoh dalam teater memiliki karakter berbeda-beda. penonton dapat melihatnya dengan jelas. Jika perpindahan cahaya bergerak dari aktor satu ke aktor lain dalam area yang berbeda. Tata rias merupakan salah satu cara menampilkan karakter tokoh yang berbeda-beda tersebut. fade out untuk mengakhiri sebuah adegan. bibir yang kurang tegas. Tanpa • sadar penonton dibawa ke dalam suasana yang berbeda melalui perubahan cahaya. teater Yunani yang memakai topeng lebih besar dari wajah pemain dengan garis tegas agar ekspresinya dapat dilihat oleh penonton. black out biasanya digunakan sebagai tanda ganti adegan diiringi dengan pergantian set. Tata cahaya tidaklah statis. Sebuah bagian bangunan yang tinggi yang senantiasa disinari cahaya sepanjang pertunjukan akan menarik perhatian penonton dan menimbulkan pertanyaan sehingga membuat penonton menyelidiki maksud dari hal tersebut. • Gaya. dan sebagainya. bulan atau lampu meja. dari objek satu ke objek lain. 5. • Menyempurnakan penampilan wajah • Menggambarkan karakter tokoh • Memberi efek gerak pada ekspresi pemain • Menegaskan dan menghasilkan garis-garis wajah sesuai dengan tokoh • Menambah aspek dramatik.3. cahaya selalu bergerak dan berpindah dari area satu ke area lain.3. 5.tulang. Tata rias dalam teater memiliki fungsi sebagai berikut. Sepanjang pementasan. Dalam gaya Surealis tata cahaya diproyeksikan untuk menyajikan imajinasi atau fantasi di luar kenyataan seharihari. • Gerak. misalnya. Misalnya. Tata rias dalam teater mempunyai arti lebih spesifik. Pemakaian tata rias akhirnya menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari peristiwa teater. • Pemberian tanda.pendukung yang dapat ditemukan dalam tata cahaya adalah sebagai berikut. Tetapi pergantian cahaya dalam satu area ketika adegan tengah berlangsung terkadang tidak secara langsung disadari.1. Cahaya berfungsi untuk memberi tanda selama pertunjukan berlangsung. Contohnya.1 Menyempurnakan Penampilan Wajah Wajah seorang pemain memiliki kekurangan yang bisa disempurnakan dengan mengaplikasikan tata rias. fade in untuk memulai adegan dan black out sebagai akhir dari cerita. Beberapa teater primitif menggunakan bedak tebal yang biasa dibuat dari bahan-bahan alam. dan lemak binatang. • Penekanan. Penggunaan warna serta intensitas dapat menarik perhatian penonton sehingga membantu pesan yang hendak disampaikan. 5. tumbuhan. yaitu seni mengubah wajah untuk menggambarkan karakter tokoh. Dalam pementasan komedi atau dagelan tata cahaya membutuhkan tingkat penerangan yang tinggi sehingga setiap gerak lucu yang dilakukan oleh aktor dapat tertangkap jelas oleh penonton. mata yang tidak ekspresif. Dalam pementasan teater tradisional. • Komposisi. Gaya realis atau naturalis yang mensyaratkan detil kenyataan mengharuskan tata cahaya mengikuti cahaya alami seperti matahari. memiliki hidung yang kurang mancung. TATA RIAS Tata rias secara umum dapat diartikan sebagai seni mengubah penampilan wajah menjadi lebih sempurna. Tata rias bisa . Penampilan tokoh yang berbeda-beda membutuhkan penampilan yang berbeda sesuai karakternya.3. Tata Rias dalam teater bermula dari pemakaian kedok atau topeng untuk menggambarkan karakter tokoh. Gerak perpindahan cahaya ini mengalir sehingga kadang-kadang perubahannya disadari oleh penonton dan kadang tidak. Cahaya dapat dimanfaatkan untuk menciptakan lukisan panggung melalui tatanan warna yang dihasilkannya. Cahaya dapat menunjukkan gaya pementasan yang sedang dilakonkan.

tetapi cukup menyempurnakan dengan mengoreksi kekurangan yang ada untuk disempurnakan.3 Memberi Efek Gerak Pada Ekspresi Pemain Wajah seorang pemain di atas pentas. dan bibir bergaris tegas. Wajah perlu ditambahkan garis-garis kerutan sesuai wajah seorang yang berusia 50 tahun. 5. seorang remaja memerankan siswa sekolah. bentuk wajah dan tubuh. tertembak. dan menonjolkan bagian-bagian wajah sesuai dengan tokoh yang dimainkan.1. Fungsi garis tidak sekedar menegaskan.1 Tata Rias Korektif Tata rias korektif (corective make-up) merupakan suatu bentuk tata rias yang bersifat menyempurnakan (koreksi).1. seorang tokoh tertusuk belati. Sebaliknya.1. Seorang penata rias harus mencermati gerak ekspresi wajah untuk menentukan garis yang akan dibuat. Tata rias tidak perlu mengubah usia. Tata rias bisa memberikan efek dramatik dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dengan menciptakan efek tertentu sesuai dengan kebutuhan.3.2 Jenis Tata Rias 5.dapat disempurnakan dengan make up korektif.3. hidung kurang mancung dan sebagainya. ras. Misalnya.3.menyempurnakan kekurangan tersebut sehingga muncul kesan hidung tampak mancung.5 Menambah Aspek Dramatik Peristiwa teater selalu tumbuh dan berkembang. Oleh karena itu dibutuhkan tata rias untuk menampilkan dimensi wajah pemain. menegaskan. Disebut tata rias karakter .2 Tata Rias Fantasi Tata rias fantasi dikenal juga dengan istilah tata rias karakter khusus.3. tidak memiliki dimensi. maka perlu membuat garis-garis baru sesuai dengan karakter wajah binatang yang diperankan. 5. Misalnya. mata menjadi lebih ekspresif. dan perubahan bentuk wajah. sehingga saat berekspresi muncul efek gerak yang tegas dan dapat ditangkap oleh penonton. Misalnya. Karakter wajah merupakan cermin psikologis dan latar sosial tokoh yang hadir secara nyata. 5. maka dibutuhkan tata rias yang memberikan efek sesuai dengan kebutuhan. Seorang yang berperan menjadi tokoh binatang. tokoh yang pesimistis cenderung memiliki karakter garis mata yang menurun. Seseorang yang memiliki bentuk wajah kurang sempurna. Penyempurnaan wajah dilakukan pada pemain yang secara fisik telah sesuai dengan tokoh yang dimainkan. Tata rias ini menyembunyikan kekurangan-kekurangan yang ada pada wajah dan menonjolkan hal-hal yang menarik dari wajah. misalnya dahi terlalu lebar. 5.2. Tokoh-tokoh mengalami berbagai peristiwa sehingga terjadi perubahan dan penambahan tata rias. tampak datar ketika tertimpa cahaya lampu. seorang yang optimis digambarkan dengan tarikan sudut mata cenderung ke atas. Tata rias berfungsi melukiskan watak tokoh dengan mengubah wajah pemeran menyangkut aspek umur. Biasanya pemeran memiliki kesesuaian dengan tokoh yang diperankan. 5. Tata rias memiliki kemampuan dalam mengubah sekaligus menampilkan karakter yang berbeda dari seorang pemeran. Pemain yang tidak menggunakan rias. 5.3. seorang remaja yang memerankan seorang yang telah berumur 50 tahun. ras. Misalnya. Wajah pemain cukup disempurnakan dengan menyamarkan.2 Menggambarkan Karakter Tokoh Karakter berarti watak. Setiap wajah memiliki kekuarangan dan kelebihan.3.3.2.1. Tata rias berfungsi menegaskan garis-garis wajah karakter. Seorang pemain membutuhkan tata rias korektif ketika tampilannya tidak membutuhkan perubahan usia. tersayat wajahnya.4 Menghadirkan Garis Wajah Sesuai Dengan Tokoh Menampilkan wajah sesuai dengan tokoh membutuhkan garis baru yang membentuk wajah baru. wajahnya akan tampak datar. tetapi juga menambahkan sehingga terbentuk tampilan yang berbeda dengan wajah asli pemain.

kalung. Tata rias karakter tidak sekedar menyempurnakan. tetapi lebih pada konsep yang melatarbelakangi penciptaan teater. Tata rias karakter dibutuhkan ketika karakter wajah pemeran tidak sesuai dengan karakter tokoh. Demikian juga dengan teater pada jaman Yunani. Untuk membuat tata busana sesuai dengan adat dan kebudayaan daerah tertentu maka diperlukan referensi khusus berkaitan dengan adat dan kebudayaan tersebut. beragam aliran teater bermunculan.3 Tata Rias karakter Tata rias karaker adalah tata rias yang mengubah penampilan wajah seseorang dalam hal umur. bangsa. dan memenuhi hasrat manusia akan keindahan. syal.4. Restorasi. Tata rias fantasi menggambarkan tokoh-tokoh yang tidak riil keberadaannya dan lahir berdasarkan daya khayal semata. Periode busana teater dengan demikian mengikuti periode teater tersebut. Dalam masa ini. TATA BUSANA Tata busana adalah seni pakaian dan segala perlengkapan yang menyertai untuk menggambarkan tokoh. 5. 5. Pada era teater primitif.1. mengubah umur pemeran dari muda menjadi lebih tua . 5. mencitrakan kesopanan. maka busana berkembang menjadi lebih baik. Tata busana dapat dibuat berdasar budaya atau jaman tertentu. Tidak ada periode tata busana secara khusus di teater. busana yang dipakai berasal dari bahan-bahan alami. Tata busana dalam teater memiliki peranan penting untuk menggambarkan tokoh. seperti tumbuhan. yaitu. Mengubah anatomi wajah pemain untuk memenuhi tuntutan tokoh dapat juga digolongkan sebagai tata rias karakter. Elizabethan. busana pada jaman atau dekade tertentu memiliki ciri yang sama. kulit binatang. dan ciri-ciri khusus yang melekat pada tokoh.2. Busana teater mengalami perkembangan pesat seiring lahirnya teater modern pada akhir abad 19. sifat. tetapi mengubah tampilan wajah.4. dan Abad 18. • Mencitrakan keindahan penampilan • Membedakan satu pemain dengan pemain yang lain • Menggambarkan karakter tokoh • Memberikan efek gerak pemain • Memberikan efek dramatik 5.3. Masing-masing memiliki ciri khasnya.1 Mencitrakan Keindahan Penampilan Manusia memiliki hasrat untuk mengungkapkan rasa keindahan dalam berbagai aspek . dan segala unsur yang melekat pada pakaian. Tata busana termasuk segala asesoris seperti topi. Busana dalam teater memiliki fungsi yang lebih kompleks. Semua terserah pada gagasan seniman.khusus. dan batu-batuan untuk asesoris. Masing-masing memiliki kospenya tersendiri dan lakon tidak harus berlatar jaman dimana lakon itu dibuat. karena semua tergantung latar cerita yang ditampilkan. watak. Misalnya. karena menampilkan wujud rekaan dengan mengubah wajah tidak realistik. Tokoh tersebut memiliki latar Suku Dayak Kalimantan yang memiliki tradisi memanjangkan telinga. gelang . sepatu. misalnya memanjangkan telinga. Tata busana dengan demikian sudah tidak lagi terpaku pada jaman. Abad Pertengahan. Ketika manusia menemukan tekstil dengan teknologi pengolahan yang tinggi. Contohnya. dalam teater Romawi Kuno maka lakon yang ditampilkan berlatar jaman tersebut sehingga busananya pun seperti busana keseharian penduduk jaman Romawi Kuno.1 Fungsi Tata Busana Busana yang dipakai manusia beraneka ragam bentuk dan fungsinya.4. Busana pun mengikuti konsep tersebut. Artinya. Renaissance. Jenis busana ini tidak bisa disamakan antara daerah satu dengan daerah lain. Sementara itu tata busana menurut jamannya bisa digeneralisasi. Fungsi busana dalam kehidupan sehari-hari untuk melindungi tubuh.

Dalam satu proses pembelajaran hal semacam itu sering tejadi. dan tanpa asesoris yang berlebihan. motif. Kualitas karya yang dihasilkan menggambarkan semangat dan keadaan jiwa pembuatnya. rajin.2 Membedakan Satu Pemain Dengan Pemain Yang Lain Pementasan teater menampilkan tokoh yang bermacam-macam karakter dan latar belakang sosialnya. Perbedaan karakter dalam busana dapat ditampilkan melalui model. Contohnya. brutal. Sebuah langkah yang besar selalu dimulai dari langkah kecil. Karena sifatnya yang kolaboratif maka seni teater akan kehilangan spiritnya jika masing-masing bidang berusaha untuk menonjol dan mengalahkan bidang lain. . pengetahuan. Pada era teater primitif.3 Menggambarkan Karakter Tokoh Fungsi penting busana dalam teater adalah untuk menggambarkan karakter tokoh.1. Satu proses kerja bidang tertentu bahkan dinilai lebih tinggi dari bidang lain. Penampilan busana yang berbeda akan menunjukkan ciri khusus seorang tokoh. Tata busana dalam teater berfungsi sebagai bentuk ekspresi untuk tampil lebih indah dari penampilan seharihari. Satu bidang kecil memiliki makna yang sama dengan bidang lain. hasrat untuk tampil berbeda dan lebih indah dari tampilan sehari-hari telah muncul. Oleh karena itu. sederhana. Dengan demikin dalam satu karya teater. dan garis yang diciptakan. tidak hanya tergambar keindahan karya seni tetapi juga prinsip kebersamaan. penonton terbantu dalam menangkap karakter yang berbeda dari setiap tokoh. dan peningkatan kompetensi tetapi juga untuk mengungkap makna kerja yang ada di sebalik ilmu. PENUTUP Sebuah karya teater lahir dari satu proses pembelajaran yang padu. dan alim. Penonton membutuhkan suatu penampilan yang berbeda-beda antara satu tokoh dengan tokoh yang lain. Akhirnya menjadi maklumlah kita ketika seseorang berbicara tentang teater maka ia akan membicarakan semua elemen yang ada di dalamnya. warna.1. Teater di Inggris pada masa pemerintahan Ratu Elizabeth (1580 – 1640). Karena prinsip teater adalah kerjasama maka belajar teater tidaklah hanya mempelajari elemen-elem yang ada di dalamnya tetapi juga mempelajari kerja pengabungan di antaranya. busananya cenderung rapi. Jika kualitas kerja salah satu bidang tidak baik maka keseluruhan pertunjukan menjadi terpengaruh. Busana menjadi salah satu tanda penting untuk membedakan satu tokoh dengan tokoh yang lain. Pemaknaan ini akan membawa satu sikap penghargaan profesi baik bagi diri sendiri atau bagi orang yang bekerja pada bidang lain. Sebuah karya teater yang besar merupakan penyatuan kerja elemen-elemen yang kecil.kehidupan.4. Melalui busana. 5. Secara mendalam.4. Memecahkan persoalan bersama dan menentukan satu keputusan yang secara artistik adil bagi semua pihak. Busana pementesan teater dibuat secara khusus dan dilengkapi dengan asesoris sesuai kebutuhan pemensan. dan sering membuat onar. tokoh seorang pelajar yang pendiam. Membaca referensi atau buku teater tidaklah hanya untuk menambah wawasan. Apalagi ketika proses tersebut dinilai dan memiliki konsekuensi langsung bagi pelakunya. tokoh seorang pelajar yang bandel. Satu bidang harus mampu dan mau menghargai bidang lain. seni memang tidak hanya menghasilkan sesuatu yang tampak (produk) tetapi juga mental atau jiwa para pelakunya. memakai busana sehari-hari yang dibuat lebih indah dengan mengaplikasikan perhiasan dan penambahan bahanbahan yang mahal dan mewah. Pementasan teater adalah suatu tontonan yang mengandung aspek keindahan. busananya dilengkapi asesoris dan cara pemakaiannya seenaknya tidak sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan sekolah. kerja sekecil apapun dalam teater sangatlah penting. Sebaliknya. Berbicara teater tidak hanya berbicara naskah atau sutradara yang merajut proses atau aktor terkenal yang ikut terlibat di dalamnya. sehingga penonton mampu mengidentifikasikan tokoh dengan mudah 5. Saling berbicara. Dalam teater hal itu tidak berlaku. bentuk. Berdiskusi.

Kualitas ketersampaian pesan yang diramu oleh para pekerja teater (pengarang. Semua elemen harus besatu. wujud awal dari sebuah gagasan harus mengalami proses pembentukan. Saling mendukung demi tercapaiya tujuan tersebut. Karya seni yang lebih mementingkan proses. semua bermula dari sebuah cerita. penata artistik) akan diketahui langsung oleh para penonton dalam sebuah pertunjukan. Banyak seniman yang lahir karena membaca atau mempelajari karya (catatan) seniman yang lainnya. konflik. Oleh karena itulah. Disitulah sebetulnya letak fungsi hakiki dari sebuah pengetahuan. Bahkan mungkin cerita itu hanya merupakan satu rangkaian kalimat. maka ia perlu dinyatakan. semua saling mendukung. Seorang aktor yang baik harus mengerti fungsi tata panggung karena ia akan bermain di antara objek yang ditata di atas pentas. semua saling membantu. Demikian berjalan secara berkesambungan. Dalam sebuah lakon yang menceritakan tentang kesedihan. sutradara. Dramaturgi adalah catatan-catatan proses penciptaan seni drama hingga sampai pementasannya. Respon atau tanggapan yang diberikan penonton terhadap pertunjukan yang dilangsungkan merupakan tanda bagi keberhasilan atau kegagalan pertunjukan tesebut dalam menyampaikan pesan. maka semua komponen bekerja untuk memenuhi atmosfir kesedihan yang diharapkan. Akan tetapi. Dalam teater. Satu karya mempengaruhi atau terpengaruh oleh karya lain. Oleh sebab itu. ketersampaian cerita. mempelajari teater tidak hanya mempelajari satu bidang dan mengabaikan bidang lain. membaca untuk menilhami. sebuah gagasan dapat diwujudkan. konsep.Berbicara teater adalah berbicara tentang semua hal yang ada di dalamnya. Jadi. Memiliki tujuan yang sama. Jika satu saja elemen berada di luar garis ini maka kesatuan makna menjadi kabur. pelajarilah semuanya sesuai dengan tahapan yang benar. Begitu pentingnya pesan yang hendak disampaikan sehingga semua elemen pendukung pementasan bekerja keras mewujudkannya. Minimal menjadi tiga kalimat yang masing-masing mewakili pemaparan. tata rias dan busana. membaca untuk menginspirasi sehingga seni baru senantiasa lahir. Semua itu tidak berada dalam bingkai saling meniru akan tetapi bingkai kreativitas yang terus berkembang dan berkembang. Ia akan bermain dalam area yang diciptakan oleh penata panggung. Satu gagasan atau perwujudan karya menjadi indah dan menarik serta memiliki kesatuan makna jika semua elemennya memiliki tujuan artistik yang sama. Semua elemen harus memahami hal ini. Ketika sebuah gagasan muncul. maka cerita yang satu kalimat itu pun dapat dikembangkan. Catatan inti akan terus berkembang seiring dengan perkembangan teater itu sendiri. Memang perlu belajar satu bidang secara khusus tetapi pemahaman atas bidang lain tidak bisa diabaikan. Dramaturgi atau pengetahuan teater dasar merupakan pokok pemahaman yang harus diperhatikan. Gagasan hanya akan menjadi gagasan jika tidak diwujudkan. Dengan berdasar pengetahuan dan keingintahuan dari membaca catatan tersebut. dengan memahami dasar-dasar penciptaan lakon yang mengedepankan pentingnya arti konflik dalam teater. Untuk kepentingan inilah buku ini disusun. Apapun bentuknya. lebih menghargai pengalaman dari pada hasil akhir. tata panggung dan cahaya. bahkan penonton yang hadir di dalamnya. aktor. Sesuatu yang sangat berarti bagi si penggagas. semua saling belajar. dan penyelesaian. Karya seni yang lahir dari kreativitas dapat dialirkan kepada generasi berikutnya melalui catatancatatan. Tidak peduli berapa panjang cerita tersebut. Membaca catatan karya orang lain bukan dipahami sebagai bentuk plagiarisme tetapi membaca untuk mempelajari. . apapun kualitasnya gagasan tersebut harus menjadi sesuatu. Hal itu akan menyangkut soal cerita. Demikian pula penata panggung harus mau memahami pola laku dan gerak para aktor di atas pentas sehingga ruang yang diciptakan tidak mengganggu bagi pergerakan aktor ketika bemain. Karya baru yang dihasilkan oleh seniman itupun pada nantinya juga akan menginspirasi karya yang lain. Karena itu pulalah penonton merupkan kunci keberhasilan sebuah pertunjukan.

pemeranan. Berkarya. Kerjasama sebagai semangat seni teater dapat dijadikan acuan proses penciptaan. belajar. dan proses adalah belajar. Oleh karena itu maka tidak ada kata lain selain belajar. Tidak perlu seorang diri mengerjakan semuanya.. Semangat belajar dalam teater tidak akan pernah bisa berhenti karena teater senantiasa hidup dan berkembang. dan belajar. Semua secara harmonis bekerja bersama mendukung makna yang satu. Pengetahuan tentang dasar-dasar penyutradaraan. menjadikan manusia lebih manusiawi • • • Beranda Jeda Malam Tentang Blog ‘Joglo Drama’ Top of Form Search. cerita yang sudah berhasil dicipta dapat diwujudkan ke dalam sebuah pementasan. Masing-masing bidang dalam teater dapat dikerjakan oleh orang-orang tertentu yang tertarik di bidang-bidang tersebut. berkarya.Hanya dengan cerita yang sangat sederhana semacam ini. Cari Bottom of Form Kajian Drama 22 Apr 2009 Tinggalkan sebuah Komentar by mbahbrata in Kajian Teori . Masing-masing bidang yang dibahas dalam buku ini memberikan gambaran harmonisasi tersebut. Joglo Drama – Mbah Brata Seni memanusiakan manusia. Dengan semangat dan ketekunan berlatih.. Teater adalah kolketif. dan berkarya. Sebuah pertunjukan dapat digelar. Semua berjalan dalam satu proses. teater adalah kerjasama. Semua bisa dipelajari secara mandiri. Jika semuanya berbuat dalam semangat kerjasama maka pergelaran karaya teater menjadi karya bersama yang memiliki satu makna. Catatan kecil yang kami sampaikan ini semoga dapat menjadi pemicu semangat untuk terus belajar dan berkarya. dan tata artistik dapat diaplikasikan untuk mendukung karya yang akan ditampilkan. akan tetapi lebih berarti jika semua bidang bersinergi. Ilmu yang didapatkan sekarang tidak akan pernah cukup. sebuah karya teater dapat dilahirkan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->