Teater berasal dari kata Yunani, “theatron” (bahasa Inggris, Seeing Place) yang artinya tempat atau gedung

pertunjukan. Dalam perkembangannya, dalam pengertian lebih luas kata teater diartikan sebagai segala hal yang dipertunjukkan di depan orang banyak. Dengan sintren, demikian, janger, dalam rumusan dagelan, sederhana sulap, teater adalah lain pertunjukan, misalnya ketoprak, ludruk, wayang, wayang wong, mamanda, akrobat, dan sebagainya. Teater dapat dikatakan sebagai manifestasi dari aktivitas naluriah, seperti misalnya, anak-anak bermain sebagai ayah dan ibu, bermain tokohg-tokohgan, dan lain sebagainya. Selain itu, teater merupakan manifestasi pembentukan strata sosial kemanusiaan yang berhubungan dengan masalah ritual. Misalnya, upacara adat maupun upacara kenegaraan, keduanya memiliki unsur-unsur teatrikal dan bermakna filosofis. Berdasarkan paparan di atas, kemungkinan perluasan definisi teater itu bisa terjadi. Tetapi batasan tentang teater dapat dilihat dari sudut pandang sebagai berikut: “tidak ada teater tanpa aktor, baik berwujud riil manusia maupun boneka, terungkap di layar maupun pertunjukan langsung yang dihadiri penonton, serta laku di dalamnya merupakan realitas fiktif”, (Harymawan, 1993). Kata “drama” juga dianggap telah ada sejak era Mesir Kuno (4000-1580 SM), sebelum era Yunani Kuno (800-277 SM). Hubungan kata “teater” dan “drama” bersandingan sedemikian erat seiring dengan perlakuan terhadap teater yang mempergunakan drama lebih identik sebagai teks atau naskah atau lakon atau karya sastra (Bakdi Soemanto, 2001). Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa istilah “teater” berkaitan langsung dengan pertunjukan, sedangkan “drama” berkaitan dengan lakon atau naskah cerita yang akan dipentaskan. Jadi, teater adalah visualisasi dari drama atau drama yang dipentaskan di atas panggung dan disaksikan oleh penonton. Jika “drama” adalah lakon dan “teater” adalah pertunjukan maka “drama” merupakan bagian atau salah satu unsur dari “teater”.

Dengan kata lain, secara khusus teater mengacu kepada aktivitas melakukan kegiatan dalam seni pertunjukan (to act) sehingga tindaktanduk pemain di atas pentas disebut acting. Istilah acting diambil dari kata Yunani “dran” yang berarti, berbuat, berlaku, atau beraksi. Karena aktivitas beraksi ini maka para pemain pria dalam teater disebut actor dan pemain wanita disebut actress (Harymawan, 1993). Meskipun istilah teater sekarang lebih umum digunakan tetapi sebelum itu istilah drama lebih populer sehingga pertunjukan teater di atas panggung disebut sebagai pentas drama. Hal ini menandakan digunakannya naskah lakon yang biasa disebut sebagai karya sastra drama dalam pertujukan teater. Di Indonesia, pada tahun 1920-an, belum muncul istilah teater. Yang ada adalah sandiwara atau tonil (dari bahasa Belanda: Het Toneel). Istilah Sandiwara konon dikemukakan oleh Sri Paduka Mangkunegoro VII dari Surakarta. Kata sandiwara berasal dari bahasa Jawa “sandi” berarti “rahasia”, dan “wara” atau “warah” yang berarti, “pengajaran”. Menurut Ki Hajar Dewantara “sandiwara” berarti “pengajaran yang dilakukan dengan perlambang” (Harymawan, 1993). Rombongan teater pada masa itu menggunakan nama Sandiwara, sedangkan cerita yang disajikan dinamakan drama. Sampai pada Zaman Jepang dan permulaan Zaman Kemerdekaan, istilah sandiwara masih sangat populer. Istilah teater bagi masyarakat Indonesia baru dikenal setelah Zaman Kemerdekaan (Kasim Achmad, 2006). Keterikatan antara teater dan drama sangat kuat. Teater tidak mungkin dipentaskan tanpa lakon (drama). Oleh karena itu pula dramaturgi menjadi bagian penting dari seni teater. Dramaturgi berasal dari bahasa Inggris dramaturgy yang berarti seni atau tekhnik penulisan drama dan penyajiannya dalam bentuk teater. Berdasar pengertian ini, maka dramaturgi membahas proses penciptaan teater mulai dari penulisan naskah hingga pementasannya. Harymawan (1993) menyebutkan tahapan dasar untuk mempelajari dramaturgi yang disebut dengan formula dramaturgi. Formula ini disebut dengan

fromula 4 M yang terdiri dari, menghayalkan, menuliskan, memainkan, dan menyaksikan. M1 atau menghayal, dapat dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang karena menemukan sesuatu gagasan yang merangsang daya cipta. Gagasan itu timbul karena perhatian ditujukan pada suatu persitiwa baik yang disaksikan, didengar maupun dibaca dari literatur tertentu. Bisa juga gagasan itu timbul karena perhatian ditujukan pada kehidupan seseorang. Gagasan atau daya cipta tersebut kemudian diwujudkan ke dalam besaran cerita yang pada akhirnya berkembang menjadi sebuah lakon untuk dipentaskan. M2 atau menulis, adalah proses seleksi atau pemilihan situasi yang harus dihidupkan begi keseluruhan lakon oleh pengarang. Dalam sebuah lakon, situasi merupakan kunci aksi. Setelah menemukan kunci aksi ini, pengarang mulai mengatur dan menyusun kembali situasi dan peristiwa menjadi pola lakon tertentu. Di sini seorang pengarang memiliki kisah untuk diceritakan, kesan untuk digambarkan, suasana hati para tokoh untuk diciptakan, dan semua unsur pembentuk lakon untuk dikomunikasikan. M3 atau memainkan, merupakan proses para aktor memainkan kisah lakon di atas pentas. Tugas aktor dalam hal ini adalah mengkomunikasikan ide serta gagasan pengarang secara hidup kepada penonton. Proses ini melibatkan banyak orang yaitu, sutradara sebagai penafsir pertama ide dan gagasan pengarang, aktor sebagai komunitakor, penata artsitik sebagai orang yang mewujudkan ide dan gagasan secara visual serta penonton sebagai komunikan. M4 atau menyaksikan, merupakan proses penerimaan dan penyerapan informasi atau pesan yang disajikan oleh para pemain di atas pentas oleh para penonton. Pementasan teater dapat dikatakan berhasil jika pesan yang hendak disampaikan dapat diterima dengan baik oleh penonton. Penonton pergi menyaksikan pertunjukan dengan maksud pertama untuk memperoleh kepuasan atas kebutuhan dan

• Berasal dari upacara agama primitif. Oleh karena itu.1. 2. Jika salah satu tahap dan unsur yang ada dalam setiap tahapan diabaikan. pemahaman dasar formula dramaturgi dapat dijadikan acuan proses penciptaan karya seni teater. kepahlawanan. Dalam acara ini seseorang mengisahkan riwayat hidup sang pahlawan yang lama kelamaan diperagakan dalam bentuk teater. Cerita itu kemudian juga dibuat dalam bentuk teater (kisah perburuan. dan lain sebagainya). . Sejarah Singkat Teater 2. I Kher-nefert. di zaman peradaban Mesir Kuno kira-kira 2000 tahun sebelum tarikh Masehi. sudah mengerti irigasi. tapi teater ini hidup terus hingga sekarang. Mereka sudah bisa membuat piramida. • Berasal dari nyanyian untuk menghormati seorang pahlawan di kuburannya. Unsur cerita ditambahkan pada upacara semacam teater.keinginannya terhadap tontonan tersebut. Di antaranya teori tentang asal mula teater adalah sebagai berikut. sudah mengenal ilmu bedah. tokoh.1 Asal Mula Teater Waktu dan tempat pertunjukan teater yang pertama kali dimulai tidak diketahui.1 Teater Barat 2. menyebutkan bahwa naskah teater tertua di dunia yang pernah ditemukan ditulis seorang pendeta Mesir. dan juga sudah mengenal tulis menulis. Formula dramaturgi seperti disebutkan di atas merupakan tahap mendasar yang harus dipahami dan dilakukan oleh para pelaku teater. • Berasal dari kegemaran manusia mendengarkan cerita. Rendra dalam Seni Drama Untuk Remaja (1993). itu yang akhirnya upacara berkembang agama menjadi lama pertunjukan Meskipun telah ditinggalkan. maka pertunjukan yang digelar bisa dipastikan kurang sempurna. Adapun yang dapat diketahui hanyalah teori tentang asal mulanya. sudah bisa membuat kalender. Pada zaman itu peradaban Mesir Kuno sudah maju.

• Sudah menggunakan naskah lakon. Teater ini dibangun tanpa atap dalam bentuk setengah lingkaran dengan tempat duduk penonton melengkung (Jakob dan berundak-undak 1984). • Cerita yang dimainkan adalah tragedi yang membuat penonton tegang.2 Teater Yunani Klasik Tempat pertunjukan teater Yunani pertama yang permanen dibangun sekitar 2300 tahun yang lalu. dan kasihan serta cerita komedi yang lucu. Namun mutu teater Romawi tak lebih baik daripada teater Yunani. dan narator (pemain yang menceritakan jalannya pertunjukan).1. penari. Teater pertama kali dipertunjukkan di kota Roma pada tahun 240 SM (Brockett.1. kasar dan sering mengeritik tokoh terkenal pada waktu itu. Naskah lakon teater Yunani merupakan naskah lakon teater pertama yang menciptakan dialog diantara para karakternya. Teatron pada zaman Yunani 2.3 Teater Romawi Klasik Setelah tahun 200 Sebelum Masehi kegiatan kesenian beralih dari Yunani ke Roma. dan hadiah diberikan bagi teater terbaik. 1964). mengunjungi amphitheater untuk menonton teater-teater. seniman Yunani. Pertunjukan ini dikenalkan oleh Livius Andronicus. takut. Teater Romawi merupakan hasil adaptasi bentuk teater . • Selain pemeran utama juga ada pemain khusus untuk kelompok koor (penyanyi). Ciri-ciri khusus pertunjukan teater pada masa Yunani Kuno adalah: • Pertunjukan dilakukan di amphitheater. begitu juga Teater. yang Ribuan disebut orang amphitheater Soemardjo.2. Teater Romawi menjadi penting karena pengaruhnya kelak pada Zaman Renaissance. • Seluruh pemainnya pria bahkan tokoh wanitanya dimainkan pria dan memakai topeng karena setiap pemain memerankan lebih dari satu tokoh.

banyak kota di Eropa mementaskan drama untuk merayakan hari-hari besar umat Kristen. • Musik menjadi pelengkap seluruh adegan. 2. Namun demikian teater Romawi pun memiliki kebaruan-kebaruan dalam penggarapan dan penikmatan yang asli dimiliki oleh masyarakat Romawi dengan ciri-ciri sebagi berikut. dan ditarik keliling kota. • Karakteristik tokoh tergantung kelas yaitu orang tua yang bermasalah dengan anak-anaknya atau kekayaan. menggantikannya.Yunani.1. • Koor tidak lagi berfungsi mengisi setiap adegan. Peralatan ini digunakan untuk efek tipuan.4 Teater Abad Pertengahan Dalam tahun 1400-an dan 1500-an. Drama-drama dibuat berdasarkan cerita-cerita Alkitab dan dipertunjukkan di atas kereta. bukan bahasa Latin yang merupakan bahasa resmi gereja-gereja Kristen (Wisnuwardhono. Bahkan kini pertunjukan jalan dan prosesi penuh warna diselenggarakan di seluruh dunia untuk merayakan berbagai hari besar keagamaan. lalu berjalan lagi. Orang berkerumun untuk menyaksikan drama pageant religius di Eropa. anak muda yang melawan kekuasaan orang tua dan lain sebagainya. seperti menurunkan seorang aktor dari atas ke panggung. Tidak hanya menjadi tema cerita tetapi juga menjadi ilustrasi cerita. Hampir di setiap unsur panggungnya terdapat unsur pemanggungan teater Yunani. Pageant lain dari aktor-aktor lain untuk adegan berikutnya. • Tema berkisar pada masalah hidup kesenjangan golongan menengah. 2002). Para pemain pegeant memainkan satu adegan dari kisah dalam Alkitab. . Para pemain drama pageant menggunakan tempat di bawah kereta untuk menyembunyikan peralatan. drama ini populer karena pemainnya berbicara dalam bahasa sehari-hari. yang disebut pageant. Aktor-aktor pageant seringkali adalah para perajin setempat yang memainkan adegan yag menunjukan keahlian mereka.

yaitu tragedi. Di gedung-gedung teater milik para bangsawan inilah dipentaskan naskah-naskah yang meniru drama-drama klasik. 2. Semangat baru muncul untuk menyelidiki kebudayaan Yunani dan Romawi klasik. • Drama banyak disisipi cerita kepahlawanan yang dibumbui cerita percintaan.Ciri-ciri teater abad Pertengahan adalah sebagai berikut: • Drama dimainkan oleh aktor-aktor yang belajar di universitas sehingga dikaitkan dengan masalah filsafat dan agama. . Namun nilai seni ketiganya masih rendah. • Drama dimainkan di tempat umum dengan memungut bayaran. Ciri-ciri teater Zaman Renaissance yakni sebagai berikut. dan mesin cetak. Drama dilangsungkan dengan mengikuti struktur yang ada. Semangat ini disebut semangat Renaissance yang berasal dari kata “renaitre” yang berarti kelahiran kembali manusia untuk mendapatkan semangat hidup baru. Sejarah abad 15 dan 16 ditentukan oleh penemuanpenemuan penting yaitu mesin.5 Renaissance Abad 17 memberi sumbangan yang sangat berarti bagi kebudayaan Barat. Meskipun demikian gerakan mereka memiliki arti penting karena Eropa menjadi mengenal drama yang jelas struktur dan bentuknya. Ada tiga jenis drama yang dikembangkan. • Aktor bermain di panggung di atas kereta yang bisa dibawa berkeliling menyusuri jalanan. Gerakan yang menyelidiki semangat ini disebut gerakan humanisme. dan pastoral atau drama yang membawakan kisah-kisah percintaan antara dewa-dewa dengan para gembala di daerah pedesaan. Pusat-pusat aktivitas teater di Italia adalah istana-istana dan akademi. • Drama tidak memiliki nama pengarang. kompas. Para aktor kebanyakan pegawai-pegawai istana dan pertunjukan diselenggarakan dalam pesta-pesta istana. komedi.1.

yaitu rumah. • Pada zaman ini juga melahirkan satu bentuk teater yang disebut commedia dell’arte. Ciri khas commedia dell’arte adalah: Para pemain dibebaskan berimprovisasi mengikuti jalannya cerita dan dituntut memiliki pengetahuan luas yang dapat mendukung permainan improvisasinya. Pada tahun 1575 bentuk ini sudah populer di Italia. • Tata busana dan seting yang dipergunakan sangat inovatif. • Pelaksanaan bentuk teater diatur oleh kerajaan maupun universitas. tokoh penggoda. Gedung ini dibangun seperti lingkaran sehingga penonton bisa duduk dihampir seluruh sisi panggung.6 Teater Zaman Elizabeth Pada tahun 1576. jalan. • Cerita bertema mitologi atau kehidupan sehari-hari. • Menggunakan panggung proscenium yaitu bentuk panggung yang memisahkan area panggung dengan penonton.1. • Menggunakan naskah lakon yang berisi garis besar cerita. • Cerita terdiri dari tiga babak didahului prolog panjang. 2. • Peristiwa cerita berlangsung dan berpindah secara cepat. • Cerita yang dimainkan bersumber pada cerita yang diceritakan secara turun menurun. dan tokoh pembantu. • Terdapat tiga tokoh yang selalu muncul. • Tempat pertunjukannya di lapangan kota dan panggungpanggung sederhana. Gedung teater ini sangat sukses sehingga . Kemudian menyebar luas di Eropa dan mempengaruhi semua bentuk komedi yang diciptakan pada tahun 1600. Merupakan bentuk teater rakyat Italia yang berkembang di luar lingkungan istana dan akademisi. gedung teater besar dari kayu dibangun di London Inggris. selama pemerintahan Ratu Elizabeth I.• Naskah lakon yang dipertunjukkan meniru teater Zaman Yunani klasik. yaitu tokoh penguasa. dan lapangan. Plot cerita berlangsung dalam suasana adegan lucu. • Setting panggung sederhana.

• Penontonnya berbagai lapisan masyarakat dan diramaikan oleh penjual makanan dan minuman. penulis drama terkenal dari Inggris yang hidup dari tahun 1564 sampai tahun 1616. selain penulis drama. Salah satunya yang disebut Globe. beberapa cara untuk mengekspresikan karakter-karakter berbeda .000 penonton. Ia menulis 37 (tiga puluh tujuh) drama dengan berbagai tema. dan menceritakan gagasan-gagasan mereka kepada penonton. Ciri-ciri teater Zaman Elizabeth adalah: • Pertunjukan dilaksanakan siang hari dan tidak mengenal waktu istirahat. Teater di Tengah-Tengah Gedung. dan mempelajari hal-hal baru. Beberapa ceritanya berisi monolog panjang. Ia adalah seorang aktor dan penyair. Tidak pemain wanita.7 Teater Abad 20 Pementasan Teater di Broadway. Globe mementaskan drama-drama karya William Shakespeare.banyak gedung sejenis dibangun di sekitarnya. Teater telah berubah selama berabadabad. Gedung-gedung pertunjukan modern memiliki efek-efek khusus dan teknologi baru. pendidikan. Ia biasanya menulis dalam bentuk puisi atau sajak. • Tempat adegan ditandai dengan ucapan dengan disampaikan dalam dialog para tokoh. Dewasa ini. Rancanganrancangan panggung termasuk pengaturan panggung arena. hiburan. mulai dari pembunuhan dan tokohg sampai cinta dan kecemburuan. • Tokoh wanita dimainkan oleh pemain anak-anak laki-laki. Penonton yang mampu membeli tiket duduk di sisi-sisi panggung. • Menggunakan naskah lakon. gedung teater ini bisa menampung 3. Mereka yang tidak mampu membeli tiket berdiri di sekitar panggung. 2. yang disebut solilokui. • Corak pertunjukannya merupakan perpaduan antara teater keliling dengan teater sekolah dan akademi yang keklasik-klasikan. Orang datang ke gedung pertunjukan tidak hanya untuk menyaksikan teater melainkan juga untuk menikmati musik. atau yang disebut saat ini.1.

2. Dengan semangat melawan pesona realisme. dan absurd. usaha pencarian kaidah artistik yang dilakukan oleh seniman teater modern patut diacungi jempol karena usaha-usaha tersebut mengantarkan pada keberagaman bentuk ekspresi dan makna keindahan. Pada saat itu. unsur- . para seniman mencari bentuk pertunjukannya sendiri. surealisme.dalam pertunjukan-pertunjukan (di samping nada suara) dapat melalui musik. Lepas dari hal itu. Pada awal abad 20 inilah istilah teater eksperimental berkembang. Seiring dengan perkembangan waktu. Gaya-gaya teater pertunjukan realistis dan eksperimental ditemukan dalam Amerika saat ini. tata cahaya. sebenarnya baru merupakan unsurunsur teater. Teater tradisional merupakan bagian dari suatu upacara keagamaan ataupun upacara adat-istiadat dalam tata cara kehidupan masyarakat kita. Banyak gaya baru yang lahir baik dari sudut pandang pengarang. Tidak jarang usaha mereka berhasil dan mampu memberikan pengaruh seperti gaya simbolisme. Tetapi tidak jarang pula usaha mereka berhenti pada produksi pertama.2 Teater Indonesia 2.2. epik. Pada zaman itu. Hal ini mendorong para pemikir teater untuk menemukan satu bentuk ekspresi baru yang lepas dari konvensi yang sudah ada. Wilayah jelajah artistik dibuka selebar-lebarnya untuk kemungkinan perkembangan bentuk pementasan seni teater. kualitas pertunjukan realis oleh beberapa seniman dianggap semakin menurun dan membosankan. dan efek elektronik. sutradara.1 Teater Tradisional Kasim Achmad dalam bukunya Mengenal Teater Tradisional di Indonesia (2006) mengatakan. sejarah teater tradisional di Indonesia dimulai sejak sebelum Zaman Hindu. dekorasi. dan belum merupakan suatu bentuk kesatuan teater yang utuh. yang disebut “teater”. ada tanda-tanda bahwa unsur-unsur teater tradisional banyak digunakan untuk mendukung upacara ritual. aktor ataupun penata artistik. Setelah melepaskan diri dari kaitan upacara.

ludruk . yang pada saat itu masih belum menggunakan naskah drama/lakon. Perubahan tersebut terletak pada cerita yang sudah mulai ditulis. wayang wong. drama gong. Proses terjadinya atau munculnya teater tradisional di Indonesia sangat bervariasi dari satu daerah dengan daerah lainnya.2. Selain pengaruh dari teater bangsawan. Perkenalan masyarakat Indonesia pada teater non-tradisi dimulai sejak Agust Mahieu mendirikan Komedie Stamboel di Surabaya pada tahun 1891. Cara penyajian cerita dengan menggunakan panggung dan dekorasi.unsur teater tersebut membentuk suatu seni pertunjukan yang lahir dari spontanitas rakyat dalam masyarakat lingkungannya. tergantung kondisi dan sikap budaya masyarakat. Kelompok teater yang masih tergolong kelompok teater tradisional dengan model garapan memasukkan unsur-unsur teknik teater Barat. sumber dan tata-cara di mana teater tradisional lahir. lenong. teater tradisional berkenalan juga dengan teater Barat yang dipentaskan oleh orang-orang Belanda di Indonesia sekitar tahun 1805 yang kemudian berkembang hingga di Betawi (Batavia) dan mengawali berdirinya gedung Schouwburg pada tahun 1821 (Sekarang Gedung Kesenian Jakarta).2. ubrug. . 2. meskipun masih dalam wujud cerita ringkas atau outline story (garis besar cerita per adegan). Pada periode transisi inilah teater tradisional berkenalan dengan teater non-tradisi. dinamakan teater bangsawan. Hal ini disebabkan oleh unsur-unsur pembentuk teater tradisional itu berbedabeda.1 Teater Transisi Teater transisi adalah penamaan atas kelompok teater pada periode saat teater tradisional mulai mengalami perubahan karena pengaruh budaya lain. ketoprak. Mulai memperhitungkan teknik yang mendukung pertunjukan. randai.2 Teater Modern 2.2. yang pementasannya secara teknik telah banyak mengikuti budaya dan teater Barat (Eropa). Macammacam teater tradisional Indonesia adalah: wayang kulit. arja. dan sebagainya.

istilah sandiwara masih sangat populer.Wiggers yang berjudul Lelakon Raden Beij Soerio Retno. Lelakon Komedia Hindia Timoer (1913). Indra Bangsawan. Opera Abdoel Moeloek.2. Kemudian disusul oleh Lauw Giok Lan lewat Karina Adinda. yang menggunakan bahasa Melayu Rendah. Komidi Bangsawan. Drama-drama Pujangga Baru ditulis sebagai ungkapan ketertekanan kaum intelektual dimasa itu karena penindasan pemerintahan Belanda yang amat keras terhadap kaum pergerakan sekitar tahun 1930-an. Pedro pada tanggal 21 Juni 1926. Lakon ini menceritakan perjuangan . Lakon Bebasari merupakan sastra drama yang menjadi pelopor semangat kebangsaan. Yang ada adalah sandiwara. Sandiwara Orion. Bentuk sastra drama yang pertamakali menggunakan bahasa Indonesia dan disusun dengan model dialog antar tokoh dan berbentuk sajak adalah Bebasari (artinya kebebasan yang sesungguhnya atau inti kebebasan) karya Rustam Efendi (1926). pada tahun 1901. dan lain sebagainya. Pada masa teater transisi belum muncul istilah teater.2 Teater Indonesia tahun 1920-an Teater pada masa kesusasteraaan angkatan Pujangga Baru kurang berarti jika dilihat dari konteks sejarah teater modern Indonesia tetapi cukup penting dilihat dari sudut kesusastraan. mulai mengenal sastra lakon dengan diperkenalkannya lakon yang pertama yang ditulis oleh orang Belanda F.2. 2. Istilah teater bagi masyarakat Indonesia baru dikenal setelah Zaman Kemerdekaan. Sandiwara Tjahaja Timoer. seperti Opera Stambul. dan lainlainnya. Sampai pada Zaman Jepang dan permulaan Zaman Kemerdekaan. Karenanya rombongan teater pada masa itu menggunakan nama sandiwara. Setelah sandiwara Komedie seperti Stamboel didirikan muncul (The kelompok Opera Sandiwara Dardanella Malay Dardanella) yang didirikan Willy Klimanoff alias A. sedangkan cerita yang disajikan dinamakan drama. Naskah-naskah drama tersebut belum mencapai bentuk sebagai drama karena masih menekankan unsur sastra dan sulit untuk dipentaskan. Kemudian lahirlah kelompok sandiwara lain.Dilihat dari segi sastra.

Rainbow. Segala daya kreasi seni secara sistematis di arahkan untuk menyukseskan pemerintahan totaliter Jepang. yaitu Anjar Asmara dan Kamajaya masih sempat berpikir bahwa perlu didirikan Pusat Kesenian Indonesia yang bertujuan menciptakan pembaharuan kesenian yang selaras dengan perkembangan zaman sebagai upaya untuk melahirkan kreasi – kreasi baru dalam wujud kesenian nasional Indonesia. dan Dr. dalam situasi yang sulit dan gawat serupa itu. Setan. Krukut Bikutbi. Penulis-penulis ini adalah cendekiawan Indonesia. yaitu Sanusi Pane menulis Kertajaya (1932) dan Sandyakalaning Majapahit (1933) Muhammad Yamin menulis Ken Arok dan Ken Dedes (1934). Armiijn Pane mengolah roman Swasta Setahun di Bedahulu karangan I Gusti Nyoman Panji Tisna menjadi naskah drama. Beberapa lakon yang ditulisnya antara lain. Badan Pusat Kesenian Indonesia bermaksud . dengan judul Si Bachil. pada tahun 1927 menulis dan menyutradarai teater di Bengkulu (saat di pengasingan).2. Namun demikian. Mr. Lakon-lakon ini ditulis berdasarkan tema kebangsaan. 2. Sumanang (Sekretaris). di rumah Bung Karno dibentuklah Badan Pusat Kesenian Indonesia dengan pengurus sebagai berikut. dan Kama Jaya.tokoh utama Bujangga. Mr. Sanusi Pane (Ketua). dan harapan serta misi mewujudkan Indonesia sebagai negara merdeka. Satiman Wirjosandjojo menulis drama berjudul Nyai Blorong.3 Teater Indonesia tahun 1940-an Semua unsur kesenian dan kebudayaan pada kurun waktu penjajahan Jepang dikonsentrasikan untuk mendukung pemerintahan totaliter Jepang. Sutan Takdir Alisjabana. Ir Soekarno. Dr. dan sebagai anggota antara lain. Nur Sutan Iskandar menyadur karangan Molliere. Singgih menulis drama berjudul Hantu. Bahkan Presiden pertama Indonesia. Maka pada tanggal 6 oktober 1942. menulis dengan menggunakan bahasa Indonesia dan berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. yang membebaskan puteri Bebasari dari niat jahat Rahwana. Armijn Pane. Imam Supardi menulis drama dengan judul Keris Mpu Gandring. persoalan.2. dua orang tokoh. Penulis lakon lainnya.

dan lain-lain kembali berkembang dengan mementaskan cerita dalam bahasa Indonesia. Kris Bali. Dewi Mada. Pendekar Asia.menciptakan kesenian Indonesia baru. maupun Sunda. Pancawarna. Oya. Rombongan sandiwara Bintang Surabaya tampil dengan aktor dan aktris kenamaan. Mata Hari. seperti misalnya Bintang Surabaya. yang dikenal dengan nama samarannya Mon Siour D’amour ini dalam rombongan sandiwara Bintang Surabaya menulis lakon antara lain. yaitu Sendenbu yang membentuk badan perfilman dengan nama Djawa Eiga Kosy’. antara lain Astaman. Rombongan Sandiwara Bintang Surabaya menyuguhkan pementasan-pementasan dramanya dengan cara lama seperti pada masa Dardanella. Komedi Bangsawan. Bengawan Solo. dan Bolero. yang kesemuanya merupakan corong propaganda Jepang. dan Merah Delima. dan sebagainya. di antaranya dengan jalan memperbaiki dan menyesuaikan kesenian daerah menuju kesenian Indonesia baru. Langkah-langkah yang telah diambil oleh Badan Pusat Kesenian Indonesia untuk mewujudkan cita-cita kemajuan kesenian Indonesia. dengan peragawati gadis-gadis Indo Belanda yang cantik-cantik. Fifi Young. Tan Ceng Bok (Si Item). dan lawak. Intensitas kerja Djawa Eiga Kosya yang ingin menghambat langkah Badan Pusat Kesenian Indonesia nampak ketika mereka membuka sekolah tonil dan drama Putra Asia. R. Air Mata Ibu (sudah difilmkan). Warna Sari. Dalam kurun waktu ini semua bentuk seni hiburan yang berbau Belanda lenyap karena pemerintah penjajahan Jepang anti budaya Barat. Jawa. Ratu Asia. ternyata mengalami hambatan yang datangnya dari barisan propaganda Jepang. Secara istimewa selingannya kemudian ditambah dengan mode show. yang dipimpin oleh orang Jepang S. Tjahaya Asia. Rombongan sandiwara keliling komersial. .A Murdiati. Mis Ribut. Ali Yugo. yaitu di antara satu dan lain babak diselingi oleh tarian-tarian. Pengarang Nyoo Cheong Seng. Sija. Dalam masa pendudukan Jepang kelompok rombongan sandiwara yang mula-mula berkembang adalah rombongan sandiwara profesional. nyanyian. Mis Tjitjih. Dahlia.

Menyusul kemudian muncul rombongan sandiwara Dewi Mada. Cerita yang dipentaskan antara lain. Rombongan sandiwara terkenal lainnya adalah rombongan sandiwara Sunda Mis Tjitjih. Keistimewaan Filipina. Kusumahadi. Anjar Asmara. dengan bintang-bintang eks Bolero. Ratna Asmara. seorang keturunan terkenal menempatkan deretan drumnya yang berbagai ukuran itu memenuhi lebih dari separuh panggung. Ia menabuh drum-drum tersebut sambil meloncat ke kanan–ke kiri sehingga menarik minat penonton. adalah Garsia penampilan musiknya yang mewah yang dipimpin oleh Garsia. sandiwara rombongan Tjahaya sandiwara Asia yang ini terpaksa berlindung di bawah barisan propaganda Jepang dan berganti nama rombongan mementaskan ceritacerita baru untuk kepentingan propaganda Jepang. Bulan Punama. mendirikan rombongan sandiwara angkatan muda Matahari. Panggilan Tanah Air. Hingga tahun 1943 rombongan sandiwara hanya dikelola pengusaha Cina atau dibiayai Sendenbu karena bisnis pertunjukan itu masih asing bagi para pengusaha Indonesia. Ida Ayu. dan Rencong Aceh. dan lain sebagainya. Cerita-cerita yang dipentaskan antara lain. yang sekaligus sebagai pemimpinnya. Dewi Rani. Rombongan sandiwara Dewi Mada lebih mengutamakan tari-tarian dalam pementasan teater mereka karena Dewi Mada adalah penari terkenal sejak masa rombongan sandiwara Bolero. Ni Parini. Kembang Kaca. yaitu rombongan sandiwara yang digemari rakyat jelata. Hanya kalangan terpelajar yang menyukai pertunjukan Matahari yang menampilakan hiburan berupa tari-tarian pada awal pertunjukan baru kemudian dihidangkan lakon sandiwara dari awal hingga akhir. menjadi Dalam perjalanannya. Baru kemudian Muchsin sebagai pengusaha besar tertarik dan membiayai rombongan sandiwara Warna Sari. dan Kama Jaya pada tanggal 6 April 1943. yaitu Dewi Mada dengan suaminya Ferry Kok. Bentuk penyajian semacam ini di anggap kaku oleh penonton umum yang lebih suka unsur hiburan disajikan sebagai selingan babak satu dengan babak lain . rombongan yang sandiwara sebagi Warna Raja Sari Drum.

yaitu Penggemar Maya (1944) pimpinan Usmar Ismail. Sensor Sendenbu malah menjadi titik awal dikenalkannya naskah dalam setiap pementasan sandiwara. Kama Jaya menulis lakon antara lain. Pertumbuhan sandiwara profesional tidak luput dari perhatian Sendenbu. nasionalis dan para profesional (dokter. dan Abu Hanifah dengan para anggota cendekiawan muda. Musim Bunga di Slabintana. Guna-guna. Oleh karena ada sensor Sendenbu maka lakon harus ditulis lengkap berikut dialognya. Kelompok ini berprinsip menegakkan nasionalisme. Lakon Ibu Prajurit ditulis oleh Natsusaki Tani. apoteker. Jepang menugaskan Dr. ahli seni drama atas nama Sendenbu memprakarsai berdirinya POSD (Perserikatan Oesaha Sandiwara Djawa) yang beranggotakan semua rombongan sandiwara profesional. Teater tidak hanya sebagai hiburan tetapi juga untuk ekspresi kebudayaan berdasarkan kesadaran nasional dengan cita-cita menuju humanisme dan religiositas dan memandang teater sebagai seni serius dan ilmu pengetahuan. Solo di Waktu Malam. Pancaroba. Bende Mataram. dan Jauh di Mata. Pada saat inilah pengembangan ke arah pencapaian teater nasional dilakukan. dan lain-lain). Pecah Sebagai Ratna. Dari semua lakon tersebut ada yang sudah di filmkan yaitu. Benteng Ngawi. lakon Nora karya Henrik Ibsen diterjemahkan dan judulnya diganti dengan Jinak-jinak Merpati oleh Armijn Pane. humanisme dan agama. Menjelang akhir pendudukan Jepang muncul rombongan sandiwara yang melahirkan karya ssatra yang berarti. Sendenbu menyiapkan naskah lakon yang harus dimainkan oleh setiap rombongan sandiwara karangan penulis lakon Indonesia dan Jepang. Potong Padi. Sang Pek Engtay. Amat Heiho. Bahwa . dan D. Kupu-kupu. Rosihan Anwar. Solo di Waktu Malam dan Nusa Penida. Hei Natsu Eitaroo menulis Hantu. Si Bongkok. Djajakusuma dengan dukungan Suryo Sumanto. Kotot Sukardi menulis lakon. Huyung (Hei Natsu Eitaroo). Para pemain tidak boleh menambah atau melebih-lebihkan dari apa yang sudah ditulis dalam naskah. Lakon-lakon yang ditulis Anjar Asmara antara lain.sehingga akhirnya dengan terpaksa rombongan sandiwara tersebut mengikuti selera penonton. Nusa Penida.

1954). kepahlawanan dan tindakan pengecut. 1955). seperti korupsi. Penggemar Maya menjadi pemicu berdirinya Akademi Teater Nasional Indonesia di Jakarta. Sementara ada lakon yang bercerita tentang kekecewaan paska tokohg. kemiskinan.4 Teater Indonesia Tahun 1950-an Setelah tokoh kemerdekaan. 1951).2. keiklasan sendiri dan pengorbanan. Islam dan Komunisme. Kedua seniman teater Barat dengan idiom realisme konvensional ini menjadi tonggak didirikannya Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) pada tahun 1955 oleh Usmar Ismail dan Asrul Sani. kekecewaan. peluang terbuka bagi seniman untuk merenungkan perjuangan dalam tokohg kemerdekaan. Pakaian dan Kepalsuan oleh Akhdiat Kartamiharja (1956) berdasarkan The Man In Grey Suit karya Averchenko dan Hanya Satu Kali (1956). bahkan lakon adaptasi. Tema itu terungkap dalam lakon-lakon seperti Awal dan Mira (1952). keberanian dan nilai kemanusiaan. penderitaan. Lakon Awal dan Mira (1952) tidak hanya terkenal di Indonesia. Sayang Ada Orang Lain (1953) karya Utuy Tatang Sontani. berdasarkan Justice karya John Galsworthy. mereka merenungkan peristiwa tokohg kemerdekaan. Utuy Tatang Sontani dipandang sebagai tonggak penting menandai awal dari maraknya drama realis di Indonesia dengan lakonlakonnya yang sering menyiratkan dengan kuat alienasi sebagai ciri kehidupan moderen. Peristiwa tokohg secara khas dilukiskan dalam lakon Fajar Sidik (Emil Sanossa. melalaikan penderitaan korban tokohg. juga sebaliknya. 1956) Sekelumit Nyanyian Sunda (Nasyah Jamin. pengkhianatan. kemunafikan. melainkan sampai ke Malaysia. ATNI menggalakkan dan memapankan realisme dengan mementaskan lakon-lakon terjemahan dari Barat. seperti karyakarya .2. Realisme konvensional dan naturalisme tampaknya menjadi pilihan generasi yang terbiasa dengan teater barat dan dipengaruhi oleh idiom Hendrik Ibsen dan Anton Chekhov. dan lain-lain. dan lain-lain. erosi ideologi. Pertahanan Akhir (Sitor Situmorang.teori teater perlu dipelajari secara serius. 2. Titiktitik Hitam (Nasyah Jamin. 1959). Kelak. Kapten Syaf (Aoh Kartahadimaja. oportunisme politis.

Tahun 1962 Jim Lim menggabungkan unsur wayang kulit dan musik dalam karya penyutradaraannya yang berjudul Pangeran Geusan Ulun (Saini KM. Pramana Padmadarmaya. Peristiwa penting dalam usaha membebaskan teater dari batasan realisme konvensional terjadi pada tahun 1967. Wahyu Sihombing. Tatiek Malyati. Himpunan Seni Budaya Surakarta (HBS) didirikan di Surakarta. dan Kasim Achmad. (Misbach Yusa Biran) dengan gaya longser. The Bespoke Overcoat (Wolf mankowitz ). dan dagelan dengan teater Barat. salah satu aktor dan juga teman Jim Lim. 2. Di Yogyakarta tahun 1955 Harymawan dan Sri Murtono mendirikan Akademi Seni Drama dan Film Indonesia (ASDRAFI). Ketika Rendra kembali . teater rakyat Sunda. longser. Sedangkan metode pementasan dan pemeranan yang dikembangkan oleh ATNI adalah Stanislavskian. Menyutradarai dengan gaya realistis tetapi isinya absurditas pada lakon Caligula (Albert Camus. Teguh Karya. 1961).. dan Biduanita Botak (Ionesco. Bermain dengan akting realistis dalam lakon The Glass Menagerie (Tennesse William. Pada akhir 1950-an JIm Lim mulai dikenal oleh para aktor terbaik dan para sutradara realisme konvensional. Galib Husein. 1960).5 Teater Indonesia Tahun 1970-an Pementasan: Mengapa Leonardo oleh Teater Koma Jim Adi Limas mendirikan Studiklub Teater Bandung dan mulai mengadakan eksperimen dengan menggabungkan unsur-unsur teater etnis seperti gamelan. Karya penyutradaraanya. melanjutkan apa yang sudah dilakukan Jim Lim yaitu mencampurkan unsur-unsur teater Barat dengan teater etnis. Jim Lim menyutradari Bung Besar. Gogol. 1945). Alumni Akademi Teater Nasional yang menjadi aktor dan sutradara antara lain. 1962).2. tari topeng Cirebon.2. Pada tahun 1960.Moliere. yaitu Awal dan Mira (Utuy T. Menurut Brandon (1997). Badak-badak (Ionesco. Mengadaptasi lakon Hamlet dan diubah judulnya menjadi Jaka Tumbal (1963/1964). Pada tahun 1967 Jim Lim belajar teater dan menetap di Paris. ATNI inilah akademi teater modern yang pertama di Asia Tenggara. dan Chekov. Suyatna Anirun. 1950). Sontani) dan Paman Vanya (Anton Chekhov).

Di Surabaya muncul bentuk pertunjukan teater yang mengacu teater epik (Brecht) dengan idiom teater rakyat (kentrung dan ludruk) melalui Basuki Rahmat. Ujung Pandang. Palembang. Arifin C. Padang. Tidak hanya Stanislavsky tetapi nama-nama seperti Brecht. Bib Bop dan Rambate Rate Rata (1967. kostum dan verbalisme naskah.1968). musik. pertunjukan bermula dari improvisasi dan eksplorasi bahasa tubuh dan bebunyian mulut tertentu atas suatu tema yang diistilahkan dengan teater mini kata (menggunakan kata seminimal mungkin). Yogyakarta. tata cahaya. Hasyim Amir (Bengkel Muda Surabaya. Di Makasar. Lalu Teater Nasional Medan didirikan oleh Djohan A Nasution dan Burhan Piliang. Noor (Teater Kecil) dengan gaya pementasan yang kaya irama dari blocking. Wahyu Sihombing. Rendra mendirikan Bengkel Teater Yogya yang kemudian menciptakan pertunjukan pendek improvisatoris yang tidak berdasarkan naskah jadi (wellmade play) seperti dalam drama-drama realisme. Adi Kurdi (Teater Hitam Putih). Teguh Karya (Teater Populer). Teater Lektur. menjadi pemicu meningkatnya aktivitas. Surabaya. Djajakusuma. dan lain-lain. tetapi juga di kota besar seperti Bandung. Luthfi Rahman. Teater Melarat Malang). Danarto (Teater Tanpa Penonton). Didirikannya pusat kesenian Taman Ismail Marzuki oleh Ali Sadikin. gubernur DKI jakarta tahun1970. Ikranegara (Teater Saja). vokal. Artaud dan Grotowsky juga diperbincangkan. juga lokakarya dan diskusi teater secara umum atau khusus. Pertunjukannya misalnya. Putu Wijaya (teater Mandiri) dengan ciri penampilan menggunakan . Rahman Arge dan Aspar Patturusi mendirikan Teater Makasar. Taman Ismail Marzuki menerbitkan 67 (enam puluh tujuh) judul lakon yang ditulis oleh 17 (tujuh belas) pengarang sandiwara.ke Indonesia. dan kreativitas berteater tidak hanya di Jakarta. Pramana Padmodarmaya (Teater Lembaga). D. Akan tetapi. Di Padang ada Wisran Hadi dengan teater Padang. Tokoh-tokoh teater yang muncul tahun 1970-an lainnya adalah. Di Yogyakarta Azwar AN mendirikan teater Alam. Akhudiat. Medan. menyelenggarakan festival pertunjukan secara teratur. Mohammad Diponegoro dan Syubah Asa mendirikan Teater Muslim.

Dhemit. Salah satu lakonnya berjudul Tuk. Teater Tikar. Festival Drama Lima Kota Surabaya memunculkan . Meh. dan Orde Tabung. Di Surabaya ada Festival Drama Lima Kota yang digagas oleh Luthfi Rahman. Di Jakarta dikenal dengan Festival Teater Jakarta (sebelumnya disebut Festival Teater Remaja).6 Teater Indonesia Tahun 1980 – 1990-an Teater Gandrik: Orde Tabung. Teater Republik. Fokus tidak terletak pada aktor tetapi gerombolan yang menciptakan situasi dan aksi sehingga lebih dikenal sebagai teater teror.kostum yang meriah dan vokal keras. Di samping Gapit. Beberapa jenis festival di Yogyakarta. dan Teater Payung Hitam. di antaranya Festival Seni Pertunjukan Rakyat yang diselenggarakan Departemen Penerangan Republik Indonesia (1983). Teater Gandrik menonjol dengan warna teater yang mengacu kepada roh teater tradisional kerakyatan dan menyusun berita-berita yang aktual di masyarakat menjadi bangunan cerita. Di Solo (Surakarta) muncul Teater Gapit yang menggunakan bahasa Jawa dan latar cerita yang meniru lingkungan kehidupan rakyat pinggiran. Kholiq Dimyati dan Mukid F. di Solo ada juga Teater Gidag-gidig. 2. Teater Shima. Tahun 1980-1990-an situasi politik Indonesia kian seragam melalui pembentukan lembaga-lembaga tunggal di tingkat nasional. dan Teater Gandrik. Teater Jeprik. Kontrang. Pada saat itu lahirlah kelompok-kelompok teater baru di berbagai kota di Indonesia. Riantiarno (Teater Koma) dengan ciri pertunjukan yang mengutamakan tata artistik glamor. Di Bandung muncul Teater Bel.2. Dalam latar situasi seperti itu lahir beberapa kelompok teater yang sebagian merupakan produk festival teater. Ditiadakannya kehidupan politik kampus sebagai akibat peristiwa Malari 1974.2. Upeti. Menampilkan manusia sebagai gerombolan dan aksi. Sinden. Pasar Seret. Lakon yang dipentaskan antra lain.kantring. Di Yogyakarta muncul Teater Dynasti. Di Tegal lahir teater RSPD. Dewan-dewan Mahasiswa ditiadakan. N.

Di Semarang muncul Teater Lingkar.2. Konsep dan gaya baru saling bermunculan. Gerakan ini terus berkembang sejak tahun 80an sampai saat ini. Meksipun seni teater konvensional tidak pernah mati tetapi teater eksperimental terus juga tumbuh. Dengan demikian. dan Teater Kami yang lahir di luar produk festival (Afrizal Malna. . Teater Kubur. Rangkuman Perkembangan teater mulai muncul sejak adanya manusia. Dari Festival Teater Jakarta muncul kelompok teater seperti. wilayah jelajah ekspresi menjadi semakin luas dan kemungkinan bentuk garap semakin banyak. kemungkinan ekspresi artistik dikembangkan dengan gaya khas masing-masing seniman. Di Medan muncul Teater Que dan di Palembang muncul Teater Potlot. Teater Bandar Jakarta. drama tidak pernah luput dari masalah hidup dan kehidupan manusia. ISI menjadi satu-satunya perguruan tinggi seni yang memiliki program Strata 1 untuk bidang seni teater pada saat itu. Ada pula Teater Luka. Teater Tetas selain teater Studio Oncor. Semangat kolaboratif yang terkandung dalam seni teater dimanfaatkan secara optimal dengan menggandeng beragam unsur pertunjukan yang lain. Teater Rajawali. Teater Institut. Teater Kanvas. Teater Sae yang berbeda sikap dalam menghadapi naskah yaitu posisinya sejajar dengan cara-cara pencapaian idiom akting melalui eksplorasi latihan. Karenanya. Teater Ragil. Teater Tobong. Jurusan teater dibuka di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada tahun 1985.2. Teater Nol. Aktivitas teater terjadi juga di kampus-kampus perguruan tinggi. Sejak munculnya eksponen 70 dalam seni teater. Sanggar Suroboyo. Teater Api. Aktivitas teater kampus mampu menghidupkan dan membuka kemungkinan baru gagasan-gagasan artistik.1999).7 Teater Kontemporer Indonesia Teater Kontemporer Indonesia mengalami perkembangan yang sangat membanggakan.Teater Pavita. Salah satu teater kampus yang menonjol adalah teater Gadjah Mada dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. 2.

Dalam lakon akan dijumpai dua hal yang sangat penting. lakon Kedua.) BAB II SENI SASTRA DALAM TEATER Teater memiliki sekurang-kurangnya empat unsur penting dalam setiap pementasan.Perkembangan Teater Barat dan Timur dapat dikatakan berjalan sejajar dengan perkembangan keberadaban manusia. Tidaklah menarik sebuah cerita . pemain adalah orang yang penata membawakan tersebut. bisa berwujud sebuah naskah atau skenario tertulis. konlfik hingga penyelesaian. skenario tak tertulis (dalam teater kerakyatan). Konflik dalam lakon merupakan inti cerita. Peristiwa lakon tersebut menuntun seseorang untuk mengikuti laku kejadian mulai dari pemaparan. yaitu pertama. tokoh atau tokoh yang terlibat dalam kejadiankejadian dalam lakon. sehingga pada puncaknya masuk ke dalam penyelesaian cerita. dan apa yang dibaca atau diceritakan kepadanya oleh orang lain. Penulis kemudian menyusun rangkaian kejadian. lakon atau cerita yang ditampilkan. Ketiga. yaitu pertama. konflik. tetapi semakin lama semakin gawat sehingga akhirnya ia sampai ke puncak yang disebut klimaks. sutradara sebagai pertunjukan di panggung. Kedua. Peristiwa atau kejadian dibuat oleh penulis naskah sebagai kerangka besar yang mendasari terjadinya suatu lakon. apa yang dialami. Lakon ditulis oleh seorang penulis naskah lakon berdasarkan apa yang dilihat. Keempat. Tugas Secara Kelompok buatlah kliping gambar-gambar pementasan teater dan berikanlah uraian singkat tentangnya! (hubungkan dengan sejarah perkembangan teater. semakin lama semakin rumit. penonton adalah sekelompok orang yang menyerahkan sebagian dari kemerdekaannya untuk menjadi bagian dari tokoh yang tampil dalam suatu lakon dan menikmatinya. Penting sekali bahwa dalam menyusun kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa seorang penulis haruslah bersabar untuk melangkah dari satu kejadian ke kejadian lain dalam suatu perkembangan yang logis.

thought. dan dari lingkungan tersebut dia menyerap segala persoalan yang menjadi ide-ide dalam penulisan lakonnya. dan bercabang-cabang jika tidak disajikan secara baik justru akan membosankan dan membuat laku lakon menjadi lamban. Akan tetapi. Pesan itu bisa mengenai kehidupan lahiriah maupun batiniah. karena peristiwa yang mengarahkan cerita kepada konflik membutuhkan tokoh sebagai pelaku. konflik yang berat. Gagasan utama atau pesan lakon termaktub dalam konflik yang merupakan pertentangan antara satu pihak terhadap pihak lain mengenai sesuatu hal. dia mempunyai kepekaan terhadap lingkungan sekelilingnya. tema harus dirumuskan dengan jelas. kalau ada anggapan bahwa semakin rumit konflik lakon semakin menarik adalah anggapan yang salah. Jadi dalam lakon ada dua hal penting yang diciptakan oleh seorang penulis lakon. Tidak ada acuan yang pasti terhadap konflik dalam lakon yang dapat membuat cerita menjadi menarik. Jadi.disajikan di atas panggung tanpa adanya konflik. berliku. Tokoh adalah orang yang menghidupkan kejadian atau peristiwa yang dibuat oleh penulis naskah. Konflik dalam lakon bisa rumit bisa juga sederhana. driving force dan sebagainya. karena tema merupakan sasaran yang hendak dicapai oleh seorang penulis lakon. Jalinan cerita menuju konflik dan cara penyelesainnya inilah yang menjadikan lakon menarik. Terkadang konflik yang kecil dan sederhana jika diselesaikan secara cerdas akan membuat penonton takjub. yaitu konflik dan tokoh yang terlibat dalam kejadian. Keunggulan dari seorang pengarang ialah. central idea.1 Tema Tema ada yang menyebutnya sebagai premis. 2. Seorang penulis terkadang mengemukakan tema dengan jelas tetapi ada juga yang secara tersirat. Sementara. root idea. aim. goal. Ketika tema tidak terumuskan dengan jelas maka lakon tersebut akan kabur dan tidak jelas apa yang hendak disampaikan. tetapi juga menyampaikan suatu pesan tentang persoalan kehidupan manusia. Pengarang adalah seorang warga masyarakat yang tentunya mempunyai pendapat tentang masalah-masalah politik . Pengarang atau penulis lakon menciptakan sebuah lakon bukan hanya sekedar mencipta.

dan sosial yang penting serta mengikuti isu-isu zamannya (Rene Wellek dan Austin Warren, 1989). Ide-ide, pesan atau pandangan terhadap persoalan yang ada dijadikan ide sentral atau tema dalam menulis naskah lakonnya. Tema adalah suatu amanat utama yang disampaikan oleh pengarang atau penulis melalui karangannya (Gorys Keraf, 1994). Tema bisa juga disebut muatan intelektual dalam sebuah permainan, ini mungkin bisa diuraikan sebagai keseluruhan pernyataan dalam sebuah permainan: topik, ide utama atau pesan, mungkin juga sebuah keadaan (Robert Cohen, 1983). Adhy Asmara (1983) menyebut tema sebagai premis yaitu rumusan intisari cerita sebagai landasan ideal dalam menentukan arah tujuan cerita. Dengan demikian bisa ditarik kesimpulan bahwa tema adalah ide dasar, gagasan atau pesan yang ada dalam naskah lakon dan ini menentukan arah jalannya cerita. Tema dalam naskah lakon ada yang secara jelas dikemukakan dan ada yang samar-samar atau tersirat. Tema sebuah lakon bisa tunggal dan bisa juga lebih dari satu. Tema dapat diketahui dengan dua cara : • Apa yang diucapkan tokoh-tokohnya melalui dialog-dialog yang disampaikan. • Apa yang dilakukan tokoh-tokohnya. Dengan berpedoman dua hal tersebut analisis tema lakon dapat dikerjakan. Misalnya, lakon Raja Lear karya William Shakespeare terjemahan Trisno Sumardjo. Dialog yang disampaikan tokoh dapat dijadikan acuan untuk menganalisis tema lakon. Masing-masing tokoh mengucapkan kalimat dialognya. Dari dialog tersebut dapat diketahui perihal atau soalan yang dibahas. Dengan merangkai setiap persoalan melalui dialog para tokohnya maka gambaran tema akan didapatkan. Detil tema selalu dapat ditemukan dari baris-baris kalimat dialog tokoh cerita. Semua analisis lakon dikerjakan dengan mencermati kalimat dialog tersebut serta hubungan antara kalimat satu dengan yang lain. Jika hanya membaca cerita secara keseluruhan tanpa meninjau kalimat dialog dengan teliti maka hasil akhir dari analisis yang dilakukan belum tentu benar. Kadangkadang, dialog kecil memiliki arti yang luas dan

sanggup mempengaruhi tema cerita. Misalnya, dalam kalimat dialog Raja Lear dapat ditarik satu simpulan bahwa meskipun sebagai raja ia disegani oleh anak-anaknya, tetapi karena sikapnya yang keras maka ia juga dibenci. Perhatikan kutipan dialog di bawah ini. LEAR : ………….. kendalikan lidahmu sedikit; nanti kuhambat untungmu…. LEAR : ………………. Sekarang kulempar tiap kewajiban orang tua, tiap pertalian keluarga dan darah; mulai kini sampai selamanya kaulah asing bagiku dan bagi hatiku…………………. KENT : Silakan. Bunuhlah tabib tuan, supaya hama jahat berupah. Batalkan anugerah tuan; kalau tidak, rangkung saya berteriak meyerukan tuanlah lalim……… RAJA TOKOHCIS : Cordelia jelita, ternyata paling kaya meski miskin; terpillih meski, meski dibuang; tercinta meski dihina……………. CORDELIA : Andaikan bukan seorang ayah, namun uban ini sudah menuntut belas-kasih. Ah wajah benginikah dipaksa menempuh pergolakan badai? Dan melawan guntur bercakra garang, petir dahsyat yang pesat,, cepat menyambar-nyabar? Bagai prajurit yang terbuang, berjaga dengan topi tipis ini? Anjing musuhku pun, walau menggigit aku, di malam begitu takkan kuusir untuk dari tempat berdiang………………. Melalui laku atau aksi tokoh dalam lakon yang biasanya diterangkan (dituliskan) dalam arahan lakon gambaran tema semakin jelas. Laku aksi memberikan penegasan kalimat dialog. Dalam lakon Raja Lear, laku tokoh dapat memberikan penjelasan sebagai berikut. • Raja Lear membagi kerajaan pada ketiga anaknya sesuai dengan pujian yang disampaikan anaknya. • Raja Lear murka pada Cordelia karena tidak memujinya. • Raja Lear marah-marah ketika tidak dilayani hidupnya pada anak yang semula disayangi. • Raja Lear marah-marah dan mengusir bawahannya ketika ada yang menentang.

• Anak-anak Raja Lear yang disayangi berubah memusuhi orang tuanya sehingga Raja Lear sakit. Dari kutipan dialog dan laku serta perbuatan tokoh dalam lakon Raja Lear di atas bisa ditarik sebuah kejelasan bahwa Raja Lear adalah orang yang gila hormat, tidak bijaksana, lalim, dan harus dipuji. Atas sikapnya itu Raja Lear menuai hasil, yaitu kehancuran diri dan keluarganya. 2.2 Plot Plot (ada yang menyebutnya sebagai alur) dalam pertunjukan teater mempunyai kedudukan yang sangat penting. Hal ini berhubungan dengan pola pengadeganan dalam permainan teater, dan merupakan dasar struktur irama keseluruhan adegan permainan. atau Plot dapat terus dibagi tanpa berdasarkan babak dan berlangsung

pembagian. Plot merupakan jalannya peristiwa dalam lakon yang terus bergulir hinga lakon tersebut selesai. Jadi plot merupakan susunan peristiwa lakon yang terjadi di atas panggung. Plot menurut Panuti Sudjiman dalam bukunya Kamus Istilah Sastra (1984) memberi batasan adalah jalinan peristiwa di dalam karya sastra (termasuk naskah drama atau lakon) untuk mencapai efek-efek tertentu. Pautannya dapat diwujudkan oleh hubungan temporal (waktu) dan oleh hubungan kausal (sebab-akibat). Plot atau alur adalah rangkaian peristiwa yang direka dan dijalin dengan seksama, yang menggerakkan jalan cerita melalui perumitan (penggawatan atau komplikasi) ke arah klimaks penyelesaian. Menurut J.A. Cuddon dalam Dictionary of Literaray Terms (1977), plot atau alur adalah kontruksi atau bagan atau skema atau pola dari peristiwa-peristiwa dalam lakon, puisi atau prosa dan selanjutnya bentuk peristiwa dan perwatakan itu menyebabkan pembaca atau penonton tegang dan ingin tahu. Plot atau alur menurut Hubert C. Heffner, Samuel Selden dan Hunton D. Sellman dalam Modern Theatre Practice (1963), ialah seluruh persiapan dalam permainan. Jadi plot berfungsi sebagi pengatur seluruh bagian permainan, pengawas utama dimana seorang penulis naskah dapat menentukan bagaimana cara mengatur lima bagian yang lain, yaitu

Pembagian plot dalam lakon klasik atau konvensional biasanya sudah jelas yaitu. Secara umum pembagian plot terkadang menggunakan tipe sebab akibat yang dibagi dalam lima pembagian sebagai berikut. diksi. waktu kejadiannya. Plot juga berfungsi sebagai bagian dasar yang membangun dalam sebuah teater dan keseluruhan perintah dari seluruh laku maupun semua bagian dari kenyataan teater serta bagian paling penting dan bagian yang utama dalam drama atau teater. Bagian akhir berisi tentang satu persatu pertanyaan penonton terjawab atau sebuah lakon telah mencapai klimaks besar. Pada bagian tengah biasanya berisi tentang kejadian-kejadian yang bersangkut paut dengan masalah pokok yang telah disodorkan kepada penonton dan membutuhkan jawaban. dan spektakel. atau argumentative atau kejenakaan atau melalui cara-cara lain. Seorang penulis seringkali meletakkan berbagai informasi penting pada bagian awal lakon. dan bagaimana peristiwa itu terjadi. misalnya tempat lakon tersebut terjadi. • Krisis adalah penjelasan yang terperinci dari perjuangan karakterkarakter atau satu karakter untuk mengatasi konflik. • Resolusi adalah proses penempatan kembali kepada suasana baru. 2. bagian tengah.karakter. • Aksi Pendorong adalah saat memperkenalkan sumber konflik di antara karakter-karakter atau di dalam diri seorang karakter. bagian awal. pelaku-pelakunya. tema.1 Jenis Plot . • Eksposisi adalah saat memperkenalkan dan membeberkan materimateri yang relevan atau memberi informasi pada penonton tentang masalah yang dialami atau konflik yang terjadi dalam diri karakterkarakter yang ada di lakon. musik. dan bagian akhir. • Klimaks adalah proses identifikasi atau proses pengusiran dari rasa tertekan melalui perbuatan yang mungkin saja sifatnya jahat. Bagian ini merupakan kejadian akhir dari lakon dan terkadang memberikan jawaban atas segala persoalan dan konflik-konflik yang terjadi.

terdiri dari alur menanjak atau rising plot. dan alur melingkar atau circular plot.Ketika menonton atau melihat atau membaca sebuah lakon fiksi maka emosi kita akan terpengaruh dengan apa yang kita tonton. Alur ini merupakan kebalikan dari alur menanjak atau rising plot. alur menurun atau falling plot. alur maju atau progressive plot. Simple plot ini terdiri dari plot linear dan linear-circular. Alur mundur atau regresive plot adalah alur cerita yang dimulai dari inti cerita kemudian dipaparkan bagaimana . alur mundur atau regressive plot.1. Jalinan jalan cerita dalam lakon bergerak mulai dari awal sampai akhir tanpa ada kilas balik. Alur ini adalah alur cerita paling umum pada alur lakon. Alur menurun atau falling plot adalah alur dengan emosi lakon mulai dari tingkat emosi yang paling tinggi menuju tingkat emosi lakon yang paling rendah. Alur maju atau progresive plot adalah alur cerita yang dimulai dari pemaparan peristiwa lakon sampai menuju inti peristiwa lakon. Jalinan peristiwa dan jalannya cerita inilah yang dimaksud dengan plot. Emosi ini timbul karena terpengaruh oleh jalinan peristiwaperistiwa dan jalannya cerita yang ditulis oleh penulis. Secara sederhana plot dapat dibagi menjadi dua yaitu simple plot (plot yang sederhana) dan multi plot (plot yang lebih dari satu) 2. alur lurus atau straight plot. Alur linear ini masih bisa dibagi-bagi lagi sesuai dengan sifat emosi yang terkandung dari plot linear ini. atau baca tersebut. lihat.1 Simple Plot Simple plot atau plot lakon yang sederhana adalah lakon yang memiliki satu alur cerita dan satu konflik yang bergerak dari awal sampai akhir. Plot lakon banyak sekali ragamnya tergantung dari penulis lakon mempermainkan emosi kita. Plot linear adalah alur cerita mulai dari awal sampai akhir cerita bergerak lurus sedangkan linear-circular adalah alur cerita mulai dari awal sampai akhir bergerak lurus secara melingkar sehingga awal dan akhir cerita akan bertemu dalam satu titik. Alur menanjak atau rising plot adalah alur dengan emosi lakon mulai dari tingkat emosi yang paling rendah menuju tingkat emosi lakon yang paling tinggi.

dimana pada akhir cerita semua tokoh yang terlibat dalam cerita yang terpisah tadi akhirnya menyatu guna menyelesaikan cerita. 2.1. tema. 2.2 Multi Plot Multi plot adalah lakon yang memiliki satu alur utama dengan beberapa sub plot yang saling bersambungan. Multi plot ini terdiri dari dua tipe yaitu alur episode atau episodic plot dan alur terpusat atau concentric plot. tokoh. Rendra. • Gimmick. plot atau alur cerita merupakan rangkaian peristiwa yang satu dengan yang lain dihubungkan dengan hukum sebab akibat. Pengungkapan ini lewat jalinan peristiwa yang baik sehingga menciptakan dan mampu menggerakkan alur cerita itu sendiri. Plot disusun oleh pengarang dengan tujuan untuk mengungkapkan buah pikirannya yang secara khas. Alur ini merupakan kebalikan dari progressive plot.sampai terjadi peristiwa tersebut. Alur episode atau episodic plot adalah plot cerita yang terdiri dari bagian perbagian secara mandiri. Concentric plot adalah cerita lakon yang memiliki beberapa plot yang berdiri sendiri. Raja Lear karya William Shakespeare dan lain-lain. Setiap episode dalam lakon tersebut sebenarnya tidak ada hubungan sebab akibat dalam rangkaian cerita. Plot-plot yang ada dalam cerita tersebut memiliki permasalah yang harus diselesaikan. Contoh lakon dengan alur mundur adalah Opera Primadona karya Nano Riantiarno yang dimainkan oleh Teater Koma. Tetapi pada akhir cerita alur cerita yang terdiri dari episodeepisode ini akan bertemu. Contoh lakon dengan alur episode atau episodic plot adalah lakon Panembahan Reso karya W.2 Anatomi Plot Menurut Rikrik El Saptaria (2006). di mana setiap episode memiliki alur cerita sendiri.S. bagian 5 menit pertama yang sengaja dibuat menarik untuk memikat penikmat . Dengan demikian plot memiliki anatomi atau bagian-bagian yang menyusun plot tersebut yang disebut dengan anatomi plot sebagai berikut. Alur lurus atau straight plot hampir sama dengan alur maju.

• Dramatic Irony. supaya penonton bertanyatanya apa akibat yang ditimbulkan dari peristiwa sebelumnya ke peristiwa selanjutnya. Kilas balik ini berfungsi untuk mengingatkan kembali ingatan penonton pada peristiwa yang telah lampau tetapi masih dalam satu rangkaian peristiwa lakon. kilas balik peristiwa lampau yang dikisahkan kembali pada saat ini. Dengan menimbulkan pertanyaanpertanyaan ini penonton akan betah mengikuti cerita sampai selesai. Kalau pemeran atau sutradara tidak cermat dalam menganalisisnya maka kemungkinan suspen terlewati dan tidak tergarap dengan baik. Hal ini akan menyebabkan kualitas pertunjukan dinilai tidak terlalu bagus. tetapi kilas balik pada film biasanya berupa nukilannukilan gambar.• Fore Shadowing. Kilas balik biasanya diceritakan • melalui dialog tokoh. berisi dugaan dan prasangka yang dibangun dari rangkaian ketegangan yang mengundang akan pertanyaan dan dan keingintahuan penonton. Suspen menumbuhkan memelihara keingintahuan penonton dari awal sampai akhir cerita. • Flashback. dan tanpa disadari akan menimpa dirinya sendiri. pembayangan ke depan yang terjadi ketika tokoh meramalkan atau membayangkan keadaan yang akan datang. Dalam lakon banyak dijumpai tokoh-tokoh ini. • Suspen. Suspen ini biasanya diciptakan dan dijaga oleh penulis lakon dari awal sampai akhir cerita. aksi seorang tokoh yang berkata atau bertindak sesuatu. penonton tersebut akan tidak berkurang dan menganggap sesuatu untuk menyuguhkan . karena semuanya sudah bisa ditebak oleh penonton. dan biasanya tidak disadari oleh tokoh tersebut. Suspen ini biasanya dibangun melalui dialog-dialog serta laku para tokoh yang ada dalam naskah lakon. Kalau cerita itu bisa ditebak oleh penonton maka perhatian pertunjukan dipikirkan.

3 Setting Membicarakan tentang setting dalam mengkaji lakon tidak ada kaitan langsung dengan tata teknik pentas. tempat Pertanyaan tidak serta merta dijawab secara global tetapi harus lebih mendetil mengetahui secara waktu kejadiannya. atau sore hari? Jika terjadi dalam ruang lalu di mana letak ruang itu. Dalam sebuah lakon terkadang dijumpai aksi-aksi yang seperti ini dan akan menimbulkan suatu rasa simpati penonton kepada korbannya. bulan. • Gestus. di dalam gedung atau di dalam rumah? Jam berapa kira-kira terjadi? Tanggal. 2. Analisis setting lakon ini merupakan suatu usaha untuk menjawab sebuah pertanyaan apakah peristiwa terjadi di luar ruang atau di dalam ruang? Apakah terjadi pada waktu malam. dan tahun berapa? Apakah waktu kejadiannya berkaitan dengan waktu kejadian peristiwa di adegan lain.1 Latar Tempat Latar tempat adalah tempat yang menjadi latar peristiwa lakon itu terjadi.3. aksi atau ucapan tokoh utama yang beritikad tentang sesuatu persoalan yang menimbulkan pertentangan atau konflik antartokoh. suatu peristiwa yang terjadi diluar dugaan penonton sebelumnya dan memancing perasaan dan pikiran penonton agar menimbulkan dugaan-dugaan yang tidak pasti. Seperti . 2. karena memang bukan persoalan scenery yang hendak dibahas. atau sudah lain hari? Pertanyaan-pertanyaan seputar waktu dan tempat kejadian ini akan memberikan gambaran peristiwa lakon yang komplit (David Groote. pagi hari. Namun peristiwa yang diharapkan tersebut. Peristiwa dalam lakon adalah peristiwa fiktif yang menjadi hasil rekaan penulis lakon. Menurut Aristoteles peristiwa dalam lakon adalah mimesis atau tiruan dari kehidupan manusia keseharian.• Surprise. 1997). Pertanyaan untuk setting atau latar cerita untuk adalah kapan dan dimana pasti persitiwa dan terjadi. pada akhirnya mengarah ke sesuatu yang tidak disangka-sangka sebelumnya.

2 Latar Waktu Latar waktu adalah waktu yang menjadi latar belakang peristiwa. adegan. tetapi bisa sebagai bahan dasar dari pertunjukan. Sebagai bahan bacaan sastra. Analisis latar waktu perlu dilakukan baik oleh seorang sutradara maupun oleh pemeran. Latar waktu terkadang sudah diberikan`atau sudah diberi rambu-rambu oleh penulis lakon. tempat peristiwa ini harus dikomunikasikan atau diceritakan oleh para pemeran sebagai komunikator kepada penonton. Latar waktu dalam naskah lakon bisa menunjukkan waktu dalam arti yang sebenarnya (siang. 2. Dengan menggetahui latar waktu yang terjadi pada maka semua pihak akan bisa mengerjakan lakon tersebut. sore). Sedangkan sebagai bahan dasar pertunjukan. Tugas seorang sutradara dan pemeran ketika menghadapi sebuah naskah lakon adalah menginterprestasi latar waktu dalam lakon tersebut.3. penata artistik akan menata perabot dan mendekorasi pementasan sesuai dengan latar waktu. Analisis latar tempat dapat dilakukan dengan mencermati dialog-dialog tokoh yang sedang berlangsung dalam satu adegan. dan babak itu terjadi. waktu yang menunjukkan sebuah musim (musim hujan. Analisis ini juga sangat penting dilakukan karena berhubungan dengan tata teknik pentas. tetapi banyak latar waktu ini tidak diberikan oleh penulis lakon. sedangkan yang dilakukan oleh pemeran biasanya berhubungan dengan akting dan bisnis akting. Analisis latar waktu yang dilakukan oleh sutradara biasanya berhubungan dengan tata teknik pentas. malam. Gambaran tempat peristiwa dalam lakon kadang sudah diberikan oleh penulis lakon. interpretasi tempat kejadian peristiwa ini terletak pada keterangan yang diberikan oleh penulis naskah lakon dan dalam imajinasi pembaca. Misalnya. dan waktu yang menunjukkan suatu zaman atau . musim dingin dan lain-lain). tetapi kadang tidak diberikan oleh penulis lakon. musim kemarau.diketahui bahwa sifat dari naskah lakon bisa berdiri sendiri sebagai bahan bacaan sastra. babak atau dalam keseluruhan lakon tersebut. pagi. Analisis ini perlu dilakukan guna memberi suatu gambaran pada penonton tentang tempat peristiwa itu terjadi.

Lakon-lakon dengan latar peristiwa yang riil juga terjadi pada lakonlakon di Indonesia pada tahun 1950 sampai tahun 1970. zaman tokohg dan lain-lain). Tanpa perwatakan tidak akan ada cerita. Karakterisasi atau perwatakan dalam sebuah lakon memegang tokohan yang sangat penting.abad (Zaman Klasik. Latar peristiwa yang nyata digunakan oleh penulis lakon untuk menggambar peristiwa yang terjadi secara nyata pada waktu itu sebagai dasar dari lakonnya.3. berbarti kita telah mengadopsi pikiran-pikiran dan perasaan tokoh tersebut menjadi perasaan dan pikiran kita. Karakterisasi Karakterisasi merupakan usaha untuk membedakan tokoh satu dengan tokoh yang lain. 2. Zaman Romantik. mungkin saja William Shakespeare terinspirasi oleh bencana yang melanda Inggris pada waktu itu. Misalnya. Misalnya. Padahal ketidaksamaan watak akan melahirkan pergeseran.4. Lakon pada waktu itu mengambil latar peristiwa pada Zaman Tokohg Revolusi di Indonesia. Jika proses identifikasi ini berhasil. tabrakan . Suatu misal kita mengidentifisasi satu tokoh. maka perasaan penonton akan merasa terwakili oleh perasaan tokoh yang diidentifikasi tersebut. Perbedaan-perbedaan tokoh ini diharapkan akan diidentifikasi oleh penonton. atau yang mengakibatkan adegan atau lakon itu terjadi. Bahkan Lajos Egri berpendapat bahwa berperwatakanlah yang paling utama dalam lakon.3 Latar Peristiwa Latar peristiwa adalah peristiwa yang melatari adegan itu terjadi dan bisa juga yang melatari lakon itu terjadi. Latar peristiwa ini bisa sebagai realita bisa juga fiktif yang menjadi imajinasi penulis lakon. yaitu seolah-olah terjadi kiamat karena lakon ini dialegorikan sebagai kiamat kecil. Latar peristiwa pada adegan atau lakon adalah peristiwa yang mendahului adegan atau lakon tersebut. adegan awal pada lakon 2. tanpa perwatakan tidak bakal ada plot. Analisis latar waktu bisa dilakukan dengan mencermati dialog-dialog yang disampaikan oleh tokoh dalam adegan atau babak yang sedang berlangsung. lakon Raja Lear.

Contoh tokoh antagonis pada lakon Raja Lear karya William Shakespeare terjemahan Trisno Sumardjo adalah tokoh Gonerill dan tokoh Regan. Dalam teater. Konflik dapat dikembangkan oleh penulis lakon melalui ucapan dan tingkah laku tokoh. Contoh. karena dia seringkali menjadi musuh yang menyebabkan konflik itu terjadi. Tokoh protagonis dan antagonis harus memungkinkan menjalin pertikaian. Protagonis Protagonis adalah tokoh utama yang merupakan pusat atau sentral dari cerita.4. dan pertikaian itu harus berkembang mencapai klimaks. Tritagonis . tokoh Tumenggung Kent. dan cita-cita Raja Lear. Antagonis Antagonis adalah tokoh lawan. Edgar. 2. Deutragonis Deutragonis adalah tokoh lain yang berada di pihak tokoh protagonis. Contoh tokoh protagonis pada lakon Raja Lear karya William Shakespeare terjemahan Trisno Sumardjo adalah tokoh Raja Lear itu sendiri. tokoh dapat dibagi-bagi sesuai dengan motivasi-motivasi yang diberikan oleh penulis lakon.kepentingan. Tokoh-tokoh tersebut adalah sebagai berikut. Tokoh ini ikut mendukung menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh tokoh protaganis. Kedua tokoh inilah yang menentang perkembangan. Tokoh ini juga menentukan jalannya cerita. Adjib Hamzah. Cordelia dalam lakon Raja Lear karya William Shakespeare. keinginan. Tokoh antagonis harus memiliki watak yang kuat dan kontradiktif terhadap tokoh protagonis. Persoalan ini bisa dari tokoh lain. Motivasi-motivasi tokoh inilah yang dapat melahirkan suatu perbuatan tokoh.1 Jenis-jenis Tokoh Tokoh merupakan sarana utama dalam sebuah lakon. konflik yang akhirnya melahirkan cerita (A. sebab dengan adanya tokoh maka timbul konflik. 1985). bisa dari alam. bisa juga karena kekurangan dirinya sendiri. Keberadaan tokoh adalah untuk mengatasi persoalanpersoalan yang muncul ketika mencapai suatu citacita.

Biasanya dia berpihak pada tokoh antagonis. Contoh: tokoh Badut dalam lakon Raja Lear karya William Shakespeare. Ketika masih kecil dia bereksplorasi dengan dirinya sendiri untuk mengetahui perkembangan dirinya. jenis karakter dalam teater ada empat macam. tokoh Bangsawan pada lakon Raja Lear karya Willliam Sahkespeare. Foil Foil adalah tokoh yang tidak secara langsung terlibat dalam konflik yang terjadi tetapi ia diperlukan guna menyelesaikan cerita. dan karikatural. tokoh Perwira. 2. Penokohan ini biasanya didahului dengan menganalisis tokoh tersebut sehingga bisa dimainkan. Menurut Rikrik El Saptaria (2006). dan ketika sudah dewasa maka pribadinya berkembang melalui hubungan dengan lingkungan sosial. sedangkan penokohan adalah proses kerja untuk memainkan tokoh yang ada dalam naskah lakon. Karakter tokoh dalam lakon mengacu pada pribadi manusia yang berkembang sesuai dengan perkembangan lingkungan. Contoh.2 Jenis Karakter Karakter adalah jenis tokoh yang akan dimainkan. Biasanya tokoh ini mewakili jiwa penulis. Curan dalam lakon Raja Lear karya William Shakespeare. yang merupakan akumulasi dari pengalaman-pengalaman dan interaksi-interaksi yang dilakukannya dan terus berkembang. Contoh. Utility Utility adalah tokoh pembantu atau sebagai tokoh pelengkap untuk mendukung rangkaian cerita dan kesinambungan dramatik. round charakter. Jadi perkembangan karakter seharusnya mengacu pada pribadi manusia. Oswald. yaitu flat character. • Flat Character (perwatakan dasar) Flat character atau karakter datar adalah karakter tokoh yang ditulis oleh penulis lakon secara datar dan biasanya bersifat hitam putih. Dia adalah pengawal dari Cordelia. teatrikal.Tritagonis adalah tokoh penengah yang bertugas menjadi pendamai atau pengantara protagonis dan antagonis. sehingga .4. Penulis lakon adalah orang yang memiliki dunia sendiri yaitu dunia fiktif.

• Round Character (perwatakan bulat) Karakter tokoh yang ditulis oleh penulis secara sempurna. karakteristiknya kaya dengan pesan-pesan dramatik. Flat character biasanya ada pada karakter tokoh yang tidak terlalu penting atau karakter tokoh pembantu.ketika mencipta sebuah karakter dia bebas menentukan suatu perkembangan karakter. Misalnya karakter yang diciptakan oleh Putu Wijaya pada lakonlakonnya yang bergaya post-realistic. Karakter ini hanya simbol dari psikologi masyarakat. Si Tua. satiris. Sifat karikatural ini bisa berupa dialog-dialog yang diucapkan oleh karakter tokoh. . Karakter-karakter teatrikal jarang dijumpai pada lakon-lakon realis. Perkembangan dan perubahan ini mengacu pada perkembangan pribadi orang dalam kehidupan sehari-hari. Pemimpin (lakon LOS) dan lain-lain. bahkan perpaduan antara ucapan dengan tingkah laku. Flat character ini ditulis dengan tidak mengalami perkembangan emosi maupun derajat status sosial dalam sebuah lakon. C. unik. Si Gembrot.. D. Kawan. bisa juga dengan tingkah laku. suasana. dan cenderung menyindir. seperti tokoh A. keadaan jaman dan lain-lain yang tidak bersifat manusiawi tetapi dilakukan oleh manusia. tetapi sangat banyak dijumpai pada lakon-lakon klasik dan non realis. Perkembangan inilah yang menjadikan karakter ini menarik dan mampu untuk mengerakkan jalan cerita. Karakter ini biasanya terdapat karakter tokoh utama baik tokoh protagonis maupun tokoh antagonis. antara ketegangan dengan keriangan suasana. dan lebih bersifat simbolis. • Teatrikal Teatrikal adalah karakter tokoh yang tidak wajar. Round karakter adalah karakter tokoh dalam lakon yang mengalami perubahan dan perkembangan baik secara kepribadian maupun status sosialnya. Karakter ini segaja diciptakan oleh penulis lakon sebagai penyeimbang antara kesedihan dan kelucuan. • Karikatural Karikatural adalah karakter tokoh yang tidak wajar. tetapi diperlukan dalam sebuah lakon.

Istilah sutradara seperti yang dipahami dewasa ini baru muncul pada jaman Geroge II. maka memerlukan peremajaan pemain. Kemudian mereka berlatih para dan aktor memainkkannya di hadapan penonton. Pementasan teater muncul dari sekumpulan pemain yang memiliki gagasan untuk mementaskan pementasan sebuah teater cerita. 1994). setting. plot. Sularto BAB III DASAR SENI PENYUTRADARAAN DALAM TEATER Pada mulanya pementasan teater tidak mengenal sutradara. Para aktor yang telah memiliki banyak pengalaman mengajarkan pengetahuannya kepada aktor muda. Seorang bangsawan (duke) dari Saxe-Meiningen yang memimpin sebuah grup teater dan menyelenggarakan pementasan keliling Eropa pada akhir tahun 1870-1880.Rangkuman Drama yang merupakan unsur seni sastra dalam teater terbagi atas: tema. produksi pementasan teater Saxe-Meiningen masih mengutamakan kerja bersama antarpemain yang dengan giat berlatih untuk meningkatkan kemampuan berakting mereka (Robert Cohen. maka kehadiran seorang sutradara yang mampu mengatur dan mengharmonisasikan keseluruhan unsur artistik pementasan dibutuhkan. Andre Antoine di Tokohcis dengan Teater Libre serta Stansilavsky di Rusia adalah dua sutradara berbakat yang mulai menekankan idealisme dalam setiap . Dengan banyaknya jumlah pentas yang harus dilakukan. Tugas Analisislah naskah “Domba-domba Revolusi” karya B. Proses mengajar dijadikan tonggak awal lahirnya “sutradara”. Model penyutradaraan seperti yang dilakukan oleh George II diteruskan pada masa lahir dan berkembangnya gaya realisme. Meskipun demikian. dan karakterisasi. Sejalan dengan kebutuhan akan yang semakin meningkat. Dalam terminologi Yunani sutradara (director) disebut didaskalos yang berarti guru dan pada abad pertengahan di seluruh Eropa istilah yang digunakan untuk seorang sutradara dapat diartikan sebagai master.

Naskah yang tidak dikehendaki akan . Nskah tersebut harus memenuhi kreteria yang diinginkan serta sesuai dengan kondisi yang ada di lapangan. Sutradara bisa memilih lakon yang sudah tersedia (naskah jadi) karya orang lain atau membuat naskah lakon sendiri. Jika sutradara memilih naskah yang akan ditampilkan dalam keadaan terpaksa maka bisa dipastikan hasil pementasan menjadi kurang baik. memahami dan mengatur blocking serta melakukan serangkaian latihan dengan para pemain dan seluruh pekerja artistik hingga karya teater benarbenar siap untuk dipentaskan. Gordon Craig merupakan seorang sutradara yang menanamkan gagasannya untuk para aktor sehingga ia menjadikan sutradara sebagai pemegang kendali penuh sebuah pertunjukan teater (Herman J. 3. yaitu menentukan lakon. Berhasil tidaknya sebuah pertunjukan teater mencapai takaran artistik yang diinginkan sangat tergantung kepiawaian sutradara. • Sutradara menyukai naskah yang dipilih. Waluyo. Dengan demikian sutradara menjadi salah satu elemen pokok dalam teater modern.1.1 Naskah Jadi Mementaskan teater dengan naskah yang sudah tersedia memiliki kerumitan tersendiri terutama pada saat hendak memilih naskah yang akan dipentaskan.1. seperti tertulis di bawah ini. menentukan bentuk dan gaya pementasan. Oleh karena itu.produksinya. Setelah itu tugas berikutnya adalah menganalisis lakon. menentukan pemain. 3. Pemilihan Naskah Proses atau tahap pertama yang harus dilakukan oleh sutradara adalah menentukan lakon yang akan dimainkan. 2001). Oleh karena kedudukannya yang tinggi. maka seorang sutradara harus mengerti dengan baik hal-hal yang berhubungan dengan pementasan. kerja sutradara dimulai sejak merencanakan sebuah pementasan. Max Reinhart mengembangkan penyutradaraan dengan mengorganisasi proses latihan para aktor dalam waktu yang panjang. Ada beberapa pertimbangan yang dapat dilakukan oleh sutradara dalam memilih naskah.

Jika tidak. tetapi semua orang yang terlibat menjadi senang karena dapat mengerjakannya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Beberapa naskah yang baik terkadang memiliki konsekuensi logis dengan pendanaan.2 Membuat Naskah Sendiri Membuat naskah lakon sendiri tidak menguntungkan karena akan memperpanjang proses pengerjaan. maka naskah tersebut bisa dipilih. • Sutradara mampu tetap mementaskan naskah yang dipilih. Naskah lakon yang baik tidak ada gunanya jika dimainkan oleh aktor yang kurang baik. sutradara harus mampu mengukur kualitas sumber daya pemain yang dimiliki dalam menentukan naskah yang akan dipentaskan. sutradara harus mampu melakukan adaptasi sehingga pendanaan bisa dikurangi tanpa mengurangi nilai artistik lakon. tetapi juga dengan unsur pendukung yang lain. Oleh karena itu. Semua sumber daya dimiliki seperti pemain. • Sutradara wajib mempertimbangkan sisi pendanaan secara khusus.membawa pengaruh dan masalah tersendiri bagi sutradara dalam mengerjakannya. keseluruhan kerja menjadi tidak optimal. 3.1. sutradara harus mampu membuat naskah yang sesuai dengan kualitas sumber daya yang ada. pemilihan pemain yang asal-asalan. Untuk itu. Beberapa . • Sutradara mampu menemukan pemain yang tepat. seperti analisis yang kurang detil. dan pendanaan menjadi pertimbangan dalam memilih naskah yang akan dipentaskan. Naskah semacam ini bersifat situasional. • Sutradara merasa mampu mementaskan naskah yang telah dipilih. Akan tetapi berkenaan dengan sumber daya yang dimiliki. naskah yang dipilih memoiliki latar cerita di rumah mewah dengan segala perabot yang indah. penata artsitik. Sutradara dengan segenap kemampuannya harus mampu meyakinkan pemain dan mengusahakan pertunjukan agar tetap digelar sehingga proses yang telah dilakukan tidak menjadi sia-sia. membuat naskah sendiri dapat menjadi pilihan yang tepat. Jika sutradara merasa mampu mengusahakan pendanaan secara optimal untuk mewujudkan tuntutan artistik lakon. Hal ini membawa dampak tersendiri dalam bidang pendanaan.Tidak ada gunanya berlatih naskah lakon tertentu dalam waktu lama jika di tengah proses tiba-tiba hal itu terhenti karena alasan tertentu. Mampu mementaskan sebuah naskah tentunya tidak hanya berkaitan dengan kecakapan sutradara. Misalnya.

Semakin detil sifat atau karakter protagonis. berkecukupan. Dengan adanya sinopsis maka penulisan lakon menjadi terarah dan tidak mengadaada. Gambaran cerita secara global dari awal sampai akhir hendaknya dituliskan. Tokoh protagonis adalah tokoh yang membawa laku keseluruhan cerita. akan menuntun laku cerita dari awal sampai akhir. menentukan kerangka lakon dalam tiga bagian. dan penutup yang merupakan simpulan cerita atau akibat. Riantiarno (2003). William Froug (1993) misalnya. maka tokoh protagonis dapat diwujudkan sebagi orang yang rajin. senang membantu orang lain. dalam persoalan tentang kelicikan. isi yang berisi pemaparan. • Menentukan tema. maka tokoh lainnya mudah ditemukan. semangat dalam bekerja. Sinopsis digunakan pemandu proses penulisan naskah sehingga alur dan persoalan tidak melebar. Dengan membuat kerangka cerita maka penulis akan memiliki batasan yang jelas sehingga cerita tidak berteletele. • Menentukan protagonis. konflik hingga klimaks. • Menentukan persoalan. yaitu pembuka yang berisi pengantar cerita atau sebab awal. Misalnya dengan tema “kebaikan akan mengalahkan kejahatan”. klimaks sampai penyelesaian. Bagian tengah adalah konflik yang meruncing hingga sampai klimaks. • Menentukan kerangka cerita. Dengan menulis lawan dari sifat protagonis maka karakter antagonis dengan sendirinya terbentuk. Jika tokoh protagonis dan antagonis sudah ditemukan. maka dalam cerita hal tersebut harus dimunculkan melalui aksi tokoh-tokohnya sehingga penonton dapat menangkap maksud dari cerita bahwa sehebat apapun kejahatan pasti akan dikalahkan oleh kebaikan. Misalnya. Bagian awal adalah bagian pengenalan secara lebih rinci masing-masing tokoh dan titik konflik awal muncul. Persoalan ini kemudian diikembangkan dalam cerita yang hendak dituliskan. membuat kerangka cerita (skenario) dengan empat bagian. Misalnya tema yang dipilih adalah “kebaikan akan mengalahkan kejahatan”. dan akhir. Pada bagian akhir.langkah di bawah ini dapat dijadikan acuan untuk menulis naskah lakon. yaitu pembukaan. serta jujur. . pangkal persoalan yang dibicarakan adalah sikap licik seseorang yang selalu memfitnah orang lain demi kepentingannya sendiri. maka tokoh lain baik yang berada di pihak protagonis atau antagonis akan mudah diciptakan. dermawan. Persoalan atau konflik adalah inti daricerita teater. Dengan menentukan tokoh protagonis secara mendetil. Kerangka cerita akan membingkai jalannya cerita dari awal sampai akhir. Oleh karena itupangkal persoalan atau titik awal konflik perlu dibuat dan disesuaikan dengan tema yang dikehendaki. • Membuat sinopsis (ringkasan cerita). konflik. tengah. Tidak ada cerita teater tanpa konflik. Kerangka ini membagi jalannya cerita mulai dari pemaparan. maka semakin jelas pula karakter tokoh antagonis. bagian awal. Tema adalah gagasan dasar cerita atau pesan yang akan disampaikan oleh pengarang kepada penonton. sutradara sekaligus penulis naskah Teater Koma. Pada bagian pembukaan memaparkan sketsa singkat tokoh-tokoh cerita. Tema. titik balik cerita dimulai dan konflik diselesaikan.

• Konflik dan Penyelesaian. • Pesan Lakon. Unsur-unsur pokok yang harus dianalisis oleh sutradara adalah senagai berikut. dan memahami konflik lakon. Mencari dan mengembangkan gagasan memang tidak mudah. Selain itu sudut pandang pengarang dalam menyelesaikan konflik dapat menegaskan pesan yang hendak disampaikan. • Karakter Tokoh. dalam tahap ini sutradara hanya membaca kehendak pengarang melalui lakonnya.2 Analisis Lakon Menganalisis lakon adalah salah satu tugas utama sutradara. Lakon yang telah ditentukan harus segera dipelajari sehingga gambaran 100% lengkap cerita didapatkan. Apa yang hendak disampaikan oleh pengarang melalui naskah lakon disebut pesan. Dinamika percintaan Romeo dan Juliet yang berakhir dengan kematian inilah yang harus ditekankan oleh sutradara kepada penonton. Akhir cerita yang mengesankan selalu akan dinanti oleh penonton. gunakan dan manfaatkan waktu sebaik mungkin. Dalam proses analisis ini. 3.1 Analisis Dasar Analisis dasar adalah telaah unsur-unsur pokok yang membentuk lakon. dan pada akhirnya bagaimana konflik itu diselesaikan. • Menulis. 3. Jadi.• Menentukan cara penyelesaian. Pesan ini ingin disampaikan oleh pengarang dengan akhir yang tragis dimana tokoh Romeo dan Juliet akhirnya mati bersama. sutradara wajib menemukan pesan utama dari lakon yang telah ditentukan. tetapi lebih tidak mudah lagi memindahkan gagasan dalam bentuk tulisan. sutradara memepelajari seluruh isi lakon dan menangkap gambaran lengkap lakon seperti apa yang tertulis. Berhasil atau tidaknya sebuah pertunjukan teater diukur dari sampai tidaknya pesan lakon kepada penonton. Merupakan bahan komunikasi utama yang hendak disampaikan kepada penonton. menilai. logis. Di bagian mana konflik itu muncul dan bagaimana aksi dan reaksi para tokohnya. Analisis karakter tokoh sangat penting dan harus dilakukan secara mendetil agar sutradara mendapatkan gambaran watak sejelas-jelasnya. Dengan analisis yang baik. Oleh karena itu tentukan akhir cerita dengan baik.2. Karena tidak banyak arahan dan keterangan yang dituliskan . Semua ini akan memberi sudut pandang bagi sutradara dalam melihat. Dalam beberapa lakon ada cerita yang diakhiri dengan baik tetapi ada yang diakhiri secara tergesa-gesa. sutradara akan lebih mudah menerjemahkan kehendak pengarang dalam pertunjukan. Romeo and Juliet karya Shakespeare mengandung pesan bahwa seseorang yang telah menemukan cinta sejati tidak takut terhadap risiko apapun termasuk mati. Penting mengetahui dasar persoalan (konflik) dalam sebuah lakon karena hal tersebut akan membawa laku aksi para tokohnya. dan tidak tergesa-gesa. bahkan ada yang bingung mengakhirinya. Oleh karena itu. Setelah semua hal disiapkan maka proses berikutnya adalah menulis. Oleh karena itu. Mengakhiri sebuah persoalan yang dimunculkan tidaklah mudah. pada bagian mana konflik itu memuncak.

Jika apartemen disimbolkan sebagai pusat kekuasaan maka peristiwa yang terjadi di dalamnya juga harus mengikuti simbolisasi ini sedangkan latar waktunya bisa ditarik ke masa lalu atau masa kini seperti yang dikehendaki oleh sutradara. dan waktu kejadian harus diungkapkan dengan jelas karena hal ini berkaitan dengan tata artistik. Oleh karena itulah pentas teater dengan lakonlakon yang sudah berusia lama seperti Oedipus. Di gedung tersebut cerita terjadi di ruang aula. 3. atau di salah satu ruang khusus. Cara menyampaikan pesan antara sutradara satu dengan yang lain bisa berbeda . Antigone. Arsitektur gedung itu apakah menggunakan arsitektur kolonial. Proses ini bisa disebut sebagai proses asimilasi (perpaduan) antara gagasan sutradara dan pengarang. Untuk mewujudkan keadaan peristiwa seperti dikehendaki lakon di atas panggung maka informasi yang jelas mengenai latar cerita harus didapatkan.Berdasarkan hasil analisis. • Pesan. Misalnya. Proses interpretasi biasanya menyangkut unsur latar. Adaptasi terhadap tempat kejadian peristiwa sering dilakukan oleh sutradara. Misalnya. Penyesuaian inipun berkaitan langsung dengan latar waktu dan peristiwa. artinya. Hal yang paling menarik mengenai penyampaian pesan kepada penonton adalah caranya. dewan kota. Ketika adaptasi ini dilakukan maka unsur-unsur lain pun seperti tata rias dan busana akan ikut terkait dan mengalami penyesuaian. Intinya informasi sekecil apapun harus didapatkan. maka sutradara harus menggalinya melalui kalimat-kalimat dialog. dapur umum. Hal ini berlaku juga untuk latar peristiwa dan waktu. museum. gaya spanyol. Secara teknis hal ini berkaitan dengan sumber daya yang dimiliki. teras gedung. • Latar Cerita.2 Interpretasi Setelah menganalisis lakon dan mendapatkan informasi lengkap mengenai lakon. Perjalanan sebuah karakter terkadang tidak mengalami perubahan yang berarti tetapi beberapa tokoh dalam lakon (biasanya protagonis dan antagonis) bisa saja mengalami perubahan. Gambaran tempat kejadian. Apakah gedung tersebut merupakan gedung pertemuan. maka sutradara perlu melakukan tafsir atau interpretasi. tetapi karena ketersediaan sumber daya yang kurang memadahi maka bentuk penampilan apartemen mewah disesuaikan. dalam lakon mengehendaki tempat kejadian di sebuah apartemen yang mewah. peristiwa. pesan.mengenai karakter tokoh dalam sebuah lakon. sederhana atau mewah. atau gedung pertunjukan. Romeo and Juliet masih aktual dipentaskan sekarang ini. dan karakterisasi. atau ciri khas daerah tertentu. ia hanya sekedar melakukan apa yang dikehendaki oleh lakon apa adanya sesuai dengan hasil analisis. sutradara dapat menafsirkan tempat kejadian secara simbolis. apartemen mewah disimbolkan sebagai pusat kekuasaan maka tata panggungnya disesuaikan dengan simbolisasi tersebut. sutradara memberi sentuhan dan atau penyesuaian artistik terhadap lakon yang akan dipentaskan. • Latar. Seorang sutradara sebetulnya boleh tidak melakukan interpretasi terhadap lakon. Oleh karena itu analisis karakter ini harus dilakukan dengan teliti dan hati-hati sehingga setiap perubahan karakter yang dialami oleh tokoh tidak lepas dari pengamatan sutradara.2. Semua informasi dikumpulkan dan diseleksi untuk kemudian diwujudkan dalam pementasan. Dengan demikian penonton akan mendapatkan gambaran yang jelas latar cerita yang dimainkan. Akan tetapi sangat mungkin seorang sutradara memiliki gagasan astistik tertentu yang akan ditampilkandalam pementasan setelah menganalisa sebuah lakon. Misalnya. gambaran tempat kejadian persitiwa adalah di sebuah gedung maka harus dijelaskan apakah terjadi di sebuah gedung megah. Secara artistik.

misalnya warna-warna yang digunakan di atas panggung.Dengan demikian cara pandang sutradara terhadap keseluruhan lakon pun harus diubah atau mengalami penyesuaian. Tafsir ulang terhadap tokoh lakon paling sering dilakukan. Jika sutradara mampu. karena menggunakan pendekatan gaya presentasional. Ada juga sutradara yang menonjolkan laku aksi aktor di atas pentas sehingga adegan dibuat dan dikerjakan secara detil. Setelah menetapkan pendekatan gaya. Dewasa ini hampir tidak bisa ditemukan gaya pementasan murni yang dihasilkan seorang sutradara atau pemikir teater.. Oleh karena itu. Misalnya. takaran emosi dan cara berpikir. yaitu cara berbicara. • Karakterisasi. dalam budaya Eropa orang bepikir secara bebas sementara orang Indonesia cenderung mempertimbangkan hal-hali lain (tata krama. maka bahasa dialog antaraktor menggunakan bahasa yang puitis. tetapi juga mental. dan keseluruhan watak tokoh. Untuk menekankan pesan yang dimaksud ada sutradara yang memberi penonjolan pada tata artistik. pranata sosial) di luar hal utama yang dipikirkan. Tafsir ulang tokoh tidak hanya sekedar mengubah nama dan menyesuaikan bentuk penampilan fisik. Hal ini mempengaruhi bentuk dan gaya penampilan aktor dalam beraksi. • Gambaran tata artistik. Misalnya. Setiap kelahiran gaya baru memiliki keterkaitan atau perlawanan terhadap gaya tertentu (baca bagian sejarah teater). • Pendekatan pemeranan. pandangan hidup. Aktor boleh berbicara secara langsung kepada penonton. Dengan demikian sutradara harus benarbenar memikirkan cara menyampaikan pesan lakon dengan mempertimbangkan unsur-unsur lakon dan sumber daya yang dimiliki. Meski tidak secara mendetil. Untuk itu. Seniman teater dunia telah banyak berusaha melahirkan gaya pementasan. Gerak laku aktor distilisasi atau diperindah. Konvensi atau aturan main sebuah pertunjukan diungkapkan dalam poin ini. Istilah pendekatan di sini digunakan dalam arti sutradara tidak hanya sekedar melaksanakan sebuah gaya secara wantah (utuh) tetapi ada pengembangan atau penyesuaian di dalamnya. sutradara harus menuliskan gambaran (pandangan) tata artistiknya.Dalam konsep ini sutradara menjelaskan secara lengkap mengenai cara menyampaikan pesan yang berkaitan dengan pendekatan gaya pementasan dan pendekatan pemeranan serta memberikan gambaran global tata artistik. sebuah lakon yang tokohtokohnya memiliki latar belakang budaya Eropa hendak diadaptasi ke dalam budaya Indonesia. maka ia bisa memberikan gambaran . tetapi gambaran tata artisitk berguna bagi para desainer untuk mewujudkannya dalam desain. gaya berjalan. Banyak hal yang harus dilakukan selain mengganti nama dan penampilan fisik. maka metode pemeranan yang dilakukan perlu dituliskan.meskipun lakon yang dipentaskan sama. Dengan demikian pendekatan yang dilakukan tidak salah sasaran. Cara menyampaikan pesan ini menjadi titik tafsir lakon yang penting karena pesan inilah inti dari keseluruhan lakon. Misalnya. Masing-masing cara penonjolan pesan ini mempengaruhi unsur-unsur lain dalam pementasan. hal yang paling bisa adalah mendekatkan gaya pementasan dengan gaya tertentu yang sudah ada. Sutradara harus membuat metode tertentu dalam sesi latihan pemeranan untuk mencapai apa yang dinginkan. Hal ini biasanya berkaitan dengan isu atau topik yang sedang hangat terjadi di masyarakat. emosi. misalnya. Hal ini sangat berguna bagi aktor. Hal ini mempengaruhi hasil pemikiran dan cara mengungkapkan hasil pikiran tersebut. sutradara harus memahami gaya-gaya pementasan. tata krama. 3. penggunaan bahasa puitis dengan sendirinya membuat aktor harus mau memahami dan melakukan latihan teknik-teknik membaca puisi agar dalam pengucapan dialog tidak seperti percakapan sehari-hari.3 Konsep Pementasan Hasil akhir dari analisis naskah adalah konsep pementasan. • Pendekatan gaya pementasan. Metode akting berkaitan dengan pencapaian aktor (standar) sesuai dengan pendekatan gaya pementasannya. Secara umum. Semuanya memliki keterkaitan.

calon aktor dapat dinilai kemampuan dasar wicaranya. Untuk menguji lebih mendalam sutrdara . Akan tetapi. Grup teater tradisional biasanya memilih pemain sesuai dengan penampilan fisik dengan ciri fisik tokoh lakon. Calon aktor. Tokoh Werkudara (Bima) harus ditokohkan oleh orang yang bertubuh tinggi besar. Dalam sebuah produksi yang membutuhkan latihan rutin dan intens dalam kurun waktu yang lama ketahanan tubuh yang lemah sangatlah tidak menguntungkan. • Tubuh. sutradara dapat memberikan penggalan adegan atau dialog karakter untuk diujikan. Dalam sebuah grup atau sanggar. Untuk menilai kesiapan tubuh pemain. maka pemain harus memiliki ciri wajah yang tampak tolol. • Ciri Tertentu.2 Kecakapan Menentukan pemain berdasar kecapakan biasanya dilakukan melalui audisi. Sutradara akan diprotes oleh penonton jika menampilkan Bima bertubuh kurus dan pendek. Biasanya.1 Fisik Penampilan fisik seorang pemain dapat dijadikan dasar menentukan tokoh. Oleh karena itu pemain harus memiliki kemampuan wicara yang baik. 3. Akan tetapi. Berkaitan langsung dengan penampilan mimik aktor. harus mampu menyajikannya dengan penuh penghayatan. • Wicara. sutradara dapat menilai kecakapan pemain melalui portofolio tetapi proses audisi tetap penting untuk menilai kecakapan aktor secara langsung. Dengan memberikan teks bacaan tertentu. • Ciri Wajah. Dalam kasus tertentu. memilih pemain biasanya berdasar kecapakan pemain tersebut. intonasi. Misalnya. • Penghayatan. Penilaian yang dapat dilakukan adalah penguasan. Meskipun dalam khasanah teater modern. 3. Dalam teater yang menggunakan ekspresi bahasa verbal kejelasan ucapan adalah kunci ketersampaian pesan dialog.4 Memilih Pemain Menentukan pemain yang tepat tidaklah mudah. Untuk menilai hal ini. tetapi ciri wajah pemain harus diusahakan semirip mungkin dengan ciri wajah tokoh dalam lakon. janggut. Meskipun kekurangan wajah bisa ditutupi dengan tata rias. Jika tidak. dan brewok tebal cocok diberi tokoh sebagai warok atau jagoan. Misalnya. diksi.4. dalam cerita Kabayan. • Ukuran Tubuh. tokoh Bagong memiliki ukuran tubuh tambun (gemuk). Seorang yang memiliki kumis. Tidak ada gunanya seorang aktor bermain dengan baik jika fisiknya lemah. misalnya tokoh-tokoh dalam lakon pewayangan. Kemampuan dasar wicara merupakan syarat utama yang lain. Hal ini dianggap dapat mampu melahirkan ekspresi wajah yang natural. misalnya dalam wayang orang atau ketoprak. dalam lakon yang gambaran tokohnya sudah melekat di masyarakat. Hal ini juga sama dengan ukuran tubuh. dalam teater modern. maka pemain yang dipilih pun harus memiliki tubuh gemuk.. seorang yang tinggi tapi bungkuk dianggap tepat memainkan tokoh pendeta. Kesiapan tubuh seorang pemain merupakan faktor utama. Misalnya. dan pelafalan yang baik. dalam ketoprak. • Tinggi Tubuh. dalam sebuah grup teater sekolah yang pemainnya selalu berganti atau kelompok teater kecil yang membutuhkan banyak pemain lain sutradara harus jeli memilih sesuai kualifikasi yang dinginkan.4. dalam wayang wong. karena tidak sesuai dengan karakter dan akan menyalahi laku lakon secara keseluruhan. Ciri fisik dapat pula dijadikan acuan untuk menentukan pemain. maka latihan katahanan tubuh dapat diujikan. sutradara sudah mengetahui karakter pemainpemainnya (anggota). maka ia cukup menuliskannya. ukuran tubuh merupakan harga mati bagi sebuah tokoh. 3. Tidak masuk akal jika Bagong tampil dengan tubuh kurus.tata artistik melalui sketsa. Menghayati sebuah tokoh berarti mampu menerjemahkan laku aksi karakter tokoh dalam bahasa verbal dan ekspresi tubuh secara bersamaan. penentuan pemain berdasar ciri fisik ini menjadi acuan utama.

Gambaran ini sangat penting . • Durasi waktu dapat ditentukan dengan pasti. • Fokus permasalahan telah ditentukan. Pengembangan yang dilakukan hanyalah persoalan sudut pandang. arahan laku permainan dari awal sampai akhir dapat ditemukan. Tugas aktor adalah menghapalkan dialog tersebut dan mengucapkannya dalam pementasan. Sebaliknya. Misalnya. bentuk penyajian. Dalam lakon terkadang arahan emosi berkaitan dengan dialog juga dituliskan sehingga sutrdara lebih mudah dalam memantau emosi tokoh yang ditokohkan aktor. Dari serangkaian latihan yang dikerjakan secara rutin dan kontinyu ditambah dengan unsur artistik dan teknis maka lamanya pertunjukan teater berdasar naskah dapat ditetapkan. tetapi bisa dipilih sebagai seorang penari latar dalam adegan tertentu.1. Karena tidak ada impovisasi. Penting bagi sutradara untuk menentukan dengan tepat bentuk dan gaya pementasan. teater modern menggunakan naskah lakon sebagai sumber penuturan. Untuk itu.5. menyanyi atau bermain musik memiliki nilai lebih. Sutradara tidak perlu menambah atau mengurangi dialog yang sudah tertulis dalam lakon kecuali punya keinginan mengadaptasinya. Bentuk dan gaya yang dipilih secara serampangan akan mempengaruhi kualitas penampilan. dan tanda keluar-masuk ilustrasi musik atau pencahayaan ditentukan waktunya sehingga setiap detik sangat berharga dan menentukan berhasil tidaknya pertunjukan tersebut.1 Menurut Penuturan Cerita Ada dua jenis pertunjukan teater menurut penuturan ceritanya. dan gaya penyajian. Teater tradisional biasanya memilih imporivisasi karena semua pemain telah memahami dengan baik cerita yang akan dilakonkan dan karakter tokoh yang akan ditokohkan. 3. portofolio sangat penting bagi seorang aktor profesional. • Kecakapan lain. Hal ini memiliki kelebihan tersendiri. yaitu berdasar naskah lakon dan improvisasi. Catatan prestasi dan kemampuan yang dimiliki hendaknya ditulis dalam portofolio sehingga bisa menjadi pertimbangan sutradara. 3.Dengan mempelajari naskah.1 Berdasar Naskah Lakon Mementaskan teater berdasarkan naskah lakon menjadi ciri umum teater modern. Karena dialog tokoh sudah ditentukan dan tidak boleh ditambah atau dikurangi maka durasi pementasan dapat ditentukan. Lakon telah menyediakan gambaran lengkap laku perisitiwa melalui dialog tokoh-tokohnya. Kemampuan lain selain bermain tokoh terkadang dibutuhkan. • Konflik dan penyelesaian tidak bekembang. Masingmasing memiliki kelebihan dan kekurangan serta membutuhkan kecakapan sutradara dalam bidang tertentu untuk melaksanakannya. Bahkan dalam produksi teater profesional yang semuanya dirancang dengan baik. di antaranya adalah sebagai berikut. • Arahan laku permainan dapat ditemukan dalam naskah. sutradara mudah dalam membuat perencanaan blocking. Sutradara menjadi mudah menentukan penekanan permasalahan lakon. maka konflik dan penyelesaian lakon pasti. seorang calon aktor yang memiliki kemampuan menari. • Gambaran bentuk latar kejadian dapat ditemukan dalam naskah. Meskipun beberapa kelompok teater modern tertentu memperbolehkan improvisasi (biasanya lakon komedi situasi) tetapi sumber utama dialognya diambil dari naskah lakon. Dengan demikian. lamanya adegan.5. perpindahan antaradegan.juga dapat memberikan penggalan dialog karakter lain dengan muatan emosi yang berbeda. Di bawah ini akan dibahas bentuk dan gaya pementasan menurut penuturan cerita. Mungkin dalam sebuah produksi ia tidak memenuhi kriteria sebagai pemain utama. • Arahan dialog sudah ada. 3. Kehatihatian dalam memilih bentuk dan gaya bukan saja karena tingkat kesulitan tertentu.5 Menentukan Bentuk dan Gaya Pementasan Bentuk dan gaya pementasan membingkai keseluruhan penampilan pementasan. tetapi latar belakang pengetahuan dan kemampuan sutradara sangat menentukan.

Jika naskah lakon tersebut telah dipublikasikan dalam bentuk buku dan memiliki hak cipta maka sutradara bisa dituntut di muka hukum.5. maka adaptasi lakon harus dilakukan. maka cerita penuh aksi dapat dijadikan pilihan. Pencampuran gaya ini dimaksudkan untuk memenuhi selera penonton. Dengan ditentukannya arah laku maka kreativitas aktor di atas panggung menjadi terbatas. Setuju atau tidak setuju terhadap cerita. konflik. Jika sumber daya manusia (aktor) yang kurang. Dalam teater tradisional. maka aktor dapat mengembangkannya. Terkadang hal ini dapat menimbulkan efek artistik yang alami dan menarik. tetapi karya teater menjadi karya sutradara. • Kreativitas aktor terbatas. • Jika sumber daya yang dimiliki tidak sesuai dengan kehendak lakon harus dilakukan adaptasi. • Memungkinkan percampuran bentuk gaya. Sutradara dapat mengembangkan cerita dengan bebas dan aktor dapat mengembangkan kemungkinan gayapermainan dengan bebas pula. Dalam proses latihan terkadang sutradara mendapat inspirasi dari laku aksi pemain demikian pula sebaliknya. Sutradara hanya menyediakan gambaran cerita selanjutnya aktor yang mengembangkannya dalam permainan. Cerita yang telah dituliskan oleh pengarang harus ditaati. 3. Kalaupun hendak melakukan adaptasi atau penyesuaian. ia harus mendapatkan ijin dari penulis naskah lakon. Dalam teater improvisasi gaya pementasan juga terbuka. Terkadang untuk menyampaikan pesan titipan tersebut konflik minor baru dimunculkan. maka sutradara memerlukan waktu ekstra untuk membimbing para aktornya. Jika sutradara hendak mengembangkan cerita. dalam pertunjukan ketoprak sebuah adegan dilakukan mengikuti kaidah gaya presentasional (adegan Istana). Jika sumber dana yang kurang maka tim poruduksi harus berusaha keras untuk memenuhi tuntutan tersebut.Sifat teater improvisasi yang terbuka memungkinkan pengembangan konflik dan penyelesaian. • Konflik dan sudut pandang penyelesaian bisa dikembangkan. konflik dan mengubah cara penyelesaian. • Tidak memungkinkan pengembangan cerita. Misalnya. maka sutradara telah melanggar kode etik dan hak karya artistik. Oleh karena tidak ada petunjuk arah laku yang jelas. tetapi di adegan lain menggunakan gaya realis (adegan dagelan). Jika ia tetap melakukannya. Tergantung dari kekurangan sumber daya yang dimiliki.1. Salah satu kelebihan utama teater improvisasi adalah cerita dan pemeran dapat dibuat berdasarkan sumber daya yang dimiliki. Aktor tidak memiliki kebebasan penuh selain menerjemahkan konsep artistik sutradara. Sutradara perlu meluangkan waktu untuk melakukannya. dan penyelesaian konflik. maka kerja sutradara akan semakin keras. tetapi jika jumlah pemain yang memiliki kemampuan laga banyak. Jika hendak menyesuaikan dengan ketersediaan sumber daya. mereka biasanya menerima pesan tertentu dari penyelenggara. • Cerita bisa disesuaikan dengan sumber daya yang dimiliki.bagi sutradara untuk mewujudkannya di atas pentas. pementasan teater berdasar naskah lakon juga memiliki kekurangan dan problem tersendiri. Dengan berkembangnya cerita maka aktor mendapatkan arahan laku lain yang bisa dicobakan. Meskipun secara artistik tidak masalah. sutradara harus mengikutinya. Jika banyak pemain yang bisa melucu maka cerita komedi akan efektif. Pesan ini dengan luwes dapat diselipkan dalam lakon. • Arahan laku terbuka. Setelah konflik ini diselesaikan dengan cara yang khas dan lucu maka cerita kembali ke konflik semula. Jika memaksakan kehendak harus sesuai dengan gagasan lakon. Beberapa kelebihan pentas teater improvisasi adalah. Hal ini perlu dilakukan.2 Improvisasi Mementaskan teater secara improvisasi memiliki keunikan tersendiri. • Kreativitas sutradara dan aktor dapat dikembangkan seoptimal mungkin. Kemampuan sumber daya ini bisa dijadikan strategi untuk membuat pertunjukan menarik dan . sutradara telah mendapatkan gambarannya. Di samping kelebihan tersebut di atas.

kesalahan ucap atau penyampaian informasi tertentu bisa saja salah karena memang tidak dicatat dan hanya diingat garis besarnya saja. Jika tidak. tetapi bagi aktor yang kualitas sastranya pas-pasan hal ini menjadi masalah besar. Jika pementasan sudah berjalan. Oleh karena setiap bentuk penyajian memiliki kekhasan dan membutuhkan prasyarat tertentu yang harus dipenuhi. Pesan yang tidak disampaikan secara verbal membutuhkan keahlian tersendiri untuk mengelolanya. jika sutradara tidak jeli memahami hal ini. maka sutradara wajib mempelajari dan memahami langkah-langkah dalam melaksanakannya. .2 Menurut Bentuk Penyajian Banyaknya pilihan bentuk penyajian pementasan teater membuat sutradara harus jeli dalam menentukannya. bisa jadi ia memasangkan aktor yang memilliki kemampuan tak berimbang dalam improvisasi. maka durasi pementasan bisa berubah-ubah. Karena sifatnya yang serba terbuka. aktor bisa mengembangkan cerita dan gaya permainan di atas pentas dan sutradara tidak bisa lagi mengarahkan secara langung. • Improvisasi dialog tidak berimbang. Oleh karena cerita bisa dikembangkan. suasana. 3. Aktor mengambil tokoh penuh. Penataan gerak tidak bisa dikerjakan dengan serampangan. Di balik semua kelebihan di atas. maka kualitas dialog tidak bisa distandarkan. • Memahami komposisi dan koreografi. Sutrdara harus mampu mengeksplorasi dan menciptakan gerak sesuai dengan makna pesan yang hendak disampaikan. • Kemungkinan aktor melakukan kesalahan lebih besar. maka akan membosankan. maka maknanya akan • kabur. latihan adegan tetap harus sering dilakukan. kemampuan setiap aktor pasti tidak sama. Karena bekerja dengan gerak. maka aktor lawan mainnya harus bereaksi. Jika dalam teater berbasis naskah. Sutradara tidak bisa lagi mengendalikan jalannya pertunjukan. sutradara akan kerepotan sendiri. maka panggung sepenuhnya adalah milik aktor. Karena tidak ada arahan dialog yang baku. Di bawah ini beberapa langkah yang bisa diambil oleh sutradara dalam menggarap teater gerak • Sutradara mampu mengeksplorasi dan menciptakan gerak. teater improvisasi juga memiliki kekurangan yang patut diperhatikan oleh sutradara. • Durasi waktu tidak tertentu.1 Teater Gerak Teater gerak lebih banyak membutuhkan ekspresi gerak tubuh dan mimik muka daripada wicara. Dalam sebuah grup teater. • Sutradara tidak bisa sepenuhnya mengendalikan jalannya pementasan.Semua tergantung dari improvisasi aktor di atas pentas. Oleh karena itu. Jika seorang aktor beraksi. Jika hal ini terjadi cukup lama. Di samping itu. meskipun improvisasi.5. lakon sebagai pengendali cerita maka dalam teater imrpovisasi aktor harus mampu mengendalikan jalannya cerita. Sifat akting adalah aksi dan reaksi. Simbol dan makna yang disampaikan melalui gerak harus dikerjakan dengan teliti. dan terutama musik ilustrasinya. Akibatnya. 3. • Kualitas dialog tidak dapat distandarkan. Karena arahan laku yang terbuka maka reaksi ucapan sering dilakukan spontan dan belum tentu benar. Kekurangan dari pemotongan adegan ini adalah jika inti dialog (persoalan) belum sempat terucapkan maka inti dialog harus diucapkan pada adegan berikutnya. dalam adegan tersebut aktor yang satu terlalu aktif dan yang lain pasif. maka teori komposisi dan koreografi dasar wajib dimiliki oleh sutradara. harus mempertimbangkan makna pesan. Bagi aktor yang memiliki kemampuan sastra memadai tidak jadi masalah.memiliki ciri khas tertentu. Sutradara bisa memotong sebuah adegan yang berjalan cukup lama dengan membunyikan tanda agar musik dimainkan dan adegan segera diselesaikan.2. Untuk itu. Jika tidak.5.

Oleh karena keterbatasan bahasa verbal dalam pertunjukan teater gerak. Biasanya seorang pemain boneka bisa membuat beberapa karakter suara yang berbeda. pengaturan pemain perlu dilakukan. Meskipun rangkaian gerak yang dihasilkan sangat indah. sutradara teater gerak harus mengerti kaidah musik ilustrasi. kapan musik hadir sebagai latar suasana. • Mewujudkan ekspresi melalui mimik para aktor. . maka dianjurkan untuk mengkreasi gerak sederhana yang mudah dilakukan. Banyak jenis boneka dan masing-masing membutuhkan teknik khusus dalam memperagakannya. • Mengerti musik ilustrasi. maka banyaknya jumlah pemain justru akan memenuhi panggung dan membuat suasana menjadi sesak. Tempat pertunjukan teater boneka yang terbatas harus disesuaikan dengan jumlah boneka yang tampil. seorang pengendali biasanya hanya bisa mengendalikan maksimal dua boneka. • Jika pemain boneka banyak maka harus mampu mengatur adegan agar pergerakan boneka tidak saling mengganggu. kapan pemain harus menyesuaikan dengan alunan musik. maka pengaturan adegan harus dikerjakan dengan teliti. 3. Ekspresi selalu menyangkut penghayatan dan konsentrasi. Kewajiban sutradara tidak hanya mengatur pemain manusia. Mengisi suara sesuai karakter boneka menjadi prasyarat utama. Motif gerak yang kaya akan membuat tampilan menjadi variatif dan menyegarkan.2 Teater Boneka Teater boneka memiliki karakter yang khas tergantung jenis boneka yang dimainkan. Jika jumlah pemain banyak dan harus bergerak secara serempak. • Mewujudkan bahasa dalam simbol gerak. Jumlah pemain bisa disiasati dengan menambah perbendaharaan gerak. Jika tidak pintar mengelola. dan perbedaannya harus dimengerti oleh sutradara.2. sutradara harus bisa mewujudkan bahasa verbal dalam simbol gerak. • Mampu mengisi suara sesuai dengan karakter boneka. Boneka dua dimensi seperti wayang kulit memiliki teknik memainkan berbeda dengan boneka tiga dimensi seperti wayang golek. tetapi jika komposisi (tata letak) pemainnya tidak berubah akan melahirkan kejenuhan. Kapan musik mengikuti gerak pemain. Mengubah bahasa dalam simbol gerak tidaklah mudah. maka pengaturan blocking harus lebih teliti. Jika lakon yang dimainkan membutuhkan banyak tokoh. • Mampu menghidupkan ekspresi boneka yang dimainkan. Ekspresi emosi atau karakter tokoh harus bisa diwujudkan melalui mimik para aktor. Sutradara harus bisa memainkan boneka tersebut. tetapi juga mengatur permainan boneka. Jika gerak terlalu sulit. maka ekspresi mimik menjadi sangat penting. • Jika pemain sedikit maka motif gerak harus lebih variatif. Oleh karena itu. tetapi memberikan ekspresi hidup adalah hal yang lain. Selain itu. terutama menyangkut komposisi. Di bawah ini beberapa langkah yang bisa dikerjakan oleh sutradara yang hendak mementaskan teater boneka. Boneka yang dimainkan dengan hidup akan menarik dan tampak nyata. maka irama rampak gerak yang diharapkan bisa kacau. Menempatkan pemain dalam posisi dan gerak yang tepat akan membuat pertunjukan semakin menarik. Memainkan boneka bisa saja dipelajari. • Mampu memainkan boneka dengan baik. Karakter suara harus bisa tampil secara konsisten dari awal hingga akhir pertunjukan. Apalagi jika sudah menyangkut makna. maka penampilan boneka yang terlalu banyak juga akan merepotkan para pengendalinya. Karena tokoh diperagakan oleh boneka.Untuk mendukung rangkaian gerak yang telah diciptakan. Boneka wayang golek memiliki teknik permainan yang berbeda dengan boneka marionette yang dimainkan dengan tali.5. Meskipun tidak bisa memainkan musik. • Jika pemain dalam jumlah banyak. maka karakter boneka harus benarbenar melekat sehingga pengendali boneka seolah-olah bisa memberikan nafas hidup di dalamnya. Jumlah pemain yang banyak menimbulkan persoalan tersendiri.

Jumlah pengendali boneka yang sedikit tidak masalah asal setiap orang mampu menciptakan beberapa karakter suara. Keluar masuknya boneka di atas pentas berkaitan langsung dengan pengendali bonekanya. tetapi juga menyangkut hal-hal teknis. maka aktor akan kesulitan meninggikan tegangan pada saat klimaks.3 Teater Dramatik Mementaskan teater dramatik membutuhkan kerja keras sutradara terutama terkait dengan akting pemeran. • Mampu menghadirkan laku cerita seperti sebuah kenyataan hidup. Jika pada bagian awal konflik tegangan terlalu tinggi. Demikian juga dengan suasana kejadian. Dalam teater dramatik. Berkaitan dengan karakter tokoh. • Mampu meningkatkan kualitas pemeranan aktor untuk menghayati tokoh secara optimal. aktor diharuskan berakting tetapi seolah-olah ia tidak berakting melainkan melakukan kenyataan hidup. pengaturan adegan boneka disesuaikan dengan kemampuan pengendali. maka pergantian adegan bisa semrawut sehingga para pemain kewalahan. sehingga ketika dalam adegan tertentu membutuhkan tegangan yang lebih aktor masih bisa mengejarnya. 3. Laku lakon dari awal sampai akhir mengalami dinamika atau ketegangan yang turun naik. Dalam teater boneka kerjasama antarpemain tidak hanya menyangkut emosi. • Memahami tensi dramatik (dinamika lakon). Beberapa langkah yang dapat dikerjakan oleh sutradara dalam menggarap teater dramatik adalah sebagai berikut. maka sutradara harus menetapkan tegangan optimal dan minimal. Oleh karena itu. Banyak sutradara yang mengadakan semacam pemusatan latihan dalam kurun waktu yang cukup lama dengan tujuan agar para aktornya berada dalam suasana lakon yang akan dipentaskan. menghayati dan memerankan karakter dengan baik. tidak dibuat-buat. Jika demikian. Sisi kejiwaan yang menyangkut perasaan karakter tokoh harus dapat ditampilkan senatural mungkin sehingga penonton menganggap hal itu benar-benar nyata terjadi. Jika dianalogikan dengan nilai 1 sampai dengan 10. Angka tertinggi dari deret tegangan yang harus dicapai oleh aktor adalah 8 atau 9. Untuk mencapai hasil maksimal maka kejelian sutradara dalam mengamati dan . bijaksanalah dalam menentukan tegangan dramatik adegan dan buatlah klimaks yang mengesankan dan penyelesaian yang dramatis. • Memahami sisi kejiwaan karakter tokoh. Demikian pula dengan cerita suka-ria. sutradara harus dapat menentukan metode yang tepat agar para aktornya dapat memahami. • Membuat penonton terkesima dengan pertunjukan tidaklah mudah. Sutradara harus memahami bobot tegangan (tensi) dramatik dalam setiap adegan yang ada pada lakon. maka sutradara harus benar-benar jeli dalam menilai setiap aksi para aktor. Hal yang paling sulit dilakukan oleh sutradara adalah membongkar kejiwaan karakter tokoh dan mewujudkannya dalam laku aktor di ataspentas.2. Intinya. Untuk menghindari hal tersebut sutradara harus benar-benar teliti dalam mengukur tegangan dramatik adegan per adegan dalam lakon. Jika sutradara tidak memahami kejiwaan • karakter tokoh dengan baik maka penilaiannya terhadap kualitas penghayatan aktor pun kurang baik. Yang terpenting dan perlu dicatat adalah setiap boneka mempunyai karakter suaranya sendiri. Di sinilah letak kesulitannya. Oleh karena tuntutan pertunjukan teater dramatik yang mensyaratkan laku aksi seperti kisah nyata. jika melakonkan cerita yang sedih ukuran keberhasilannya adalah membuat penonton ikut terhanyut sedih. semua harus tampak natural. • Mampu membangun kerjasama antarpemain boneka. maka penonton harus dibawa dalam suasana yang suka-ria. maka efek dramatik yang diharapkan dari aksi aktor menjadi gagal. Hasil akhirnya adalah anti klimaks di mana pada adegan yang seharusnya memiliki tensi tinggi justru melemah karena energi para aktornya telah habis.5. Jika tidak ada kerjasama yang baik antarpemain (pengendali boneka).• Jika pemain sedikit harus memiliki kemampuan mengisi suara dengan karakter yang berbeda. Langkah pamungkas yang dapat dijadikan patokan adalah menghadirkan pentas seperti sebuah kenyataan hidup.

hindarilah kesalahan atau hal yang tidak lumrah dan berada di luar jangkauan nalar penonton. Pada adegan lain. Kejanggalan-kejanggalan kecil yang dirasa kurang masuk akal oleh penonton akan mengurangi kualitas dramatika lakon yang dihadirkan. • Mampu membuat gerak. Meskipun sutradara bekerja dengan seorang koreografer. dan koreografi. maka perlu diperhatikan agar blocking yang dibuat tidak terlalu rumit.menangani keseluruhan unsur pertunjukan sangat dibutuhkan. Ekspresi cerita melalui nada-nada musik harus benar-benar bisa divisualisasikan dengan tepat. dan ilustrasi suasana kejadian. tokoh musik bisa menjadi pengiring lagu yang bercerita. Untuk mendapatkan hasil yang baik. Dituntut kepiawaian sutradara dalam memilih dan merangkai motif gerak. Beberapa hal yang perlu diperhatikan sutradara dalam drama musikal adalah sebagai berikut. Makna cerita sepenuhnya dituangkan dalam wujud gerak. tetapi pada akhirnya sutradara yang memutuskan. Pada adegan dimana musik bercerita secara mandiri maka sutradara harus mampu memvisualisasikan cerita tersebut di • atas pentas. Artinya. pengiring gerak. tetapi makna dan atau simbolisasi cerita harus benar-benar bisa diwujudkan dalam gerak tarian yang dilakukan. Dalam hal ini musik bertindak sebagai pengiring. Banyak penyanyi yang memiliki suara baik tetapi ekspresinya datar. Jika blocking dibuat terlalu rumit. tetapi memahami karya musik merupakan keharusan dalam drama musikal.4 Drama Musikal Kemampuan multi harus dimiliki oleh seorang sutradara jika hendak mementaskan drama musikal. Secara mendasar blocking adalah gerakan fisik atau proses penataan (pembentukan) sikap tubuh seluruh aktor di atas panggung. Blocking dapat diartikan sebagai aturan berpindah tempat dari titik (area) satu ke titik (area) yang lainnya bagi aktor di atas panggung. Jika karya drama musikal tersebut berawal dari karya musik murni (musik yang bercerita) seperti The Cats karya Andrew Lloyd Webber. • Mengerti karya musik dramatik. Kepiawaian sutradara dalam menentukan kegunaan karya musik yang satu dengan yang lain benarbenar dibutuhkan. Tokohan musik sangat doniman dalam drama musikal bahkan musik bisa hadir secara mandiri untuk menceritakan sesuatu. maka perpindahan . maka sutradara harus benar-benar piawai dalam mengolah visualisasinya di atas pentas. gerak. Memilih pelaku yang tepat dan membuat komposisi atau koreografi berdasar karya musik yang ada. komposisi. maka sutradara harus mampu menciptkan koreografinya. Lagu dan nyanyian harus bisa ditampilkan secara baik dan harmonis. • demikian pula sebaliknya. Teater dramatik adalah teater yang mencoba meniru peristiwa kehidupan secara total dan sempurna. sehingga lalulintas aktor di atas panggung berjalan dengan lancar. Ketepatan nada dalam nyanyian serta ekspresi wajah ketika menyanyi juga tidak boleh luput dari pengamatan. Bukan hanya akting tetapi juga blocking. musik itu sendiri sudah bercerita sehingga pemain atau penari yang berada di atas panggung hanyalah pelengkap gambaran peristiwa. Jadi. • Mengerti lagu dan nyanyian. Sutradara harus mampu memecahkan masalah dasar tersebut. Sutradara tidak harus bisa memainkan musik. dan musikal harus dirangkai secara harmonis untuk mencapai hasil maksimal. Dalam satu adegan saat cerita diungkapkan melalui gerak. Koreografer bisa saja mencipta gerak.6. 3. lagu. • Mampu membuat gerak dan ekspresi berdasar karya musik. Blocking Sutradara diwajibkan memahami cara mengatur pemain di atas pentas. Bahasa ungkap yang beragam antara bahasa verbal.2.5. Tokohan dialog verbal yang digubah dalam bentuk lagu dan diucapkan melalui nyanyian adalah satu hal yang membutuhkan perhatian tersendiri. 3.

sedangkan kanan adalah posisi kanan arah hadap aktor atau sisi kiri penonton. tengah kanan. DC = Bawah Tengah. bawah kanan. • Menerjemahkan naskah lakon ke dalam sikap tubuh aktor sehingga penonton dapat melihat dan mengerti. RC = Tengah Kanan. dan atas kiri. maka luas masing-masing area akan terlalu sempit sehingga tidak memungkinkan sebuah pergerakan yang leluasa baik untuk pemain maupun perabot.dari satu aksi menuju aksi yang lain menjadi kabur. bawah kanan. tengah kiri. bawah tengah. perlu diketahui terlebih dahulu pembagian area panggung. atas tengah. blocking dapat mempertegas isi kalimat tersebut. • Menciptakan lukisan panggung yang baik. bawah kiri tengah.52 Pembagian sembilan area panggung UR = Atas Kanan. bawah kanan tengah. maka karakter tokoh yang dimainkan oleh para aktor akan tampak lebih hidup. dan atas kiri. LC = Tengah Kiri. Panggung pertunjukan secara kompleks dibagi dalam lima belas area. . Atas adalah jarak terjauh dari penonton. atas kanan. Fungsi blocking secara mendasar adalah sebagai berikut.6. bawah kiri. Dengan blocking yang tepat. atas tengah. atas kanan. Panggung yang tidak terlalu luas jika dibagi menjadi lima belas area. Jika blocking dikerjakan dengan baik. kalimat yang diucapkan oleh aktor menjadi lebih mudah dipahami oleh penonton. sedangkan bawah adalah jarak terdekat dengan penonton. UL = Atas Kiri. atas kiri tengah. yaitu tengah.1 Pembagian Area Panggung UR UC UL RC C LC DR DC DL Gb. DR = Bawah Kanan. kiri. Pembagian sembilan area juga memudahkan sutradara dalam memberikan arah gerak kepada para aktornya. tengah kiri. yaitu tengah. bawah kiri. DL = Bawah Kiri Untuk membuat atau merencanakan blocking bagi para pemain. kanan. Pembagian panggung dalam lima belas area ini biasanya digunakan untuk panggung yang berukuran besar. C = Tengah. bawah tengah. Yang terpenting dalam hal ini adalah fokus atau penekanan bagian yang akan ditampilkan. tengah kanan. atas kanan tengah. Letak kanan dan kiri atau atas dan bawah ditentukan berdasar pada arah hadap aktor ke penonton. Di samping itu. • Memberikan pondasi yang praktis bagi aktor untuk membangun karakter dalam pertunjukan. UC = Atas Tengah. Kanan adalah kanan pemain dan bukan kanan penonton dan kiri adalah kiri pemain. Secara sederhana dan umum panggung dibagi sembilan area. 3.

Jika digambarkan komposisi ini mirip cermin. 3.3.2 Asimetris Komposisi asimetris tidak membagi pemain dalam dua bagian yang sama persis. Setiap aktivitas. maka awali dan akhiri langkah tersebut dengan kaki panggung atas (yang jauh dari mata penonton).2.1 Simetris Komposisi simetris adalah komposisi yang membagi pemain dalam dua bagian dan menempatkan bagian-bagian tersebut dalam posisi yang benar-benar sama dan seimbang.3. Sekilas komposisi mirip dengan blocking. Bagian yang satu merupakan cerminan bagian yang lain. Jika melangkah dengan kaki panggung bawah (yang dekat dari mata penonton). Hal ini dapat dikerjakan dengan menempatkan pemain dalam posisi dan situasi tertentu sehingga ia lebih menonjol atau lebih kuat dari yang lainnya. karakter. perpindahan pemain serta perubahan posisi pemain dapat disebut blocking. yaitu komposisi simetris dan komposisi asimetris yang ditata dengan mempertimbangkan keseimbangan. maka penonton akan menjadi jenuh. dan tinggirendah pemain dalam keadaan diam (statis). Hal ini menjadikan gerak pemain kurang terlihat dengan jelas. Dengan menghadap secara diagonal. 3. pengaturan blocking harus mempertimbangkan pusat perhatian (fokus) penonton. 3. Usahakan pemain menghadap diagonal (kurang lebih 45 derajat) ke arah penonton. prinsip-prinsip dasar di bawah ini dapat digunakan sebagai petunjuk dalam menempatkan posisi dan mengatur pose pemain.6. Di bawah ini adalah contoh komposisi simetris. Jika salah satu ruang dibiarkan kosong sementara ruang yang lain terisi penuh. 3. blocking memiliki arti yang lebih luas karena setiap gerak. Hal ini diperlukan untuk memenuhi ruang dan menghindari komposisi aktor yang berat sebelah.2 Komposisi Komposisi dapat diartikan sebagai pengaturan atau penyusunan pemain di atas pentas. 3. lebih mengatur posisi.6. arah laku. maka kaki yang jauh akan tertutup dan wajah pemain secara otomatis akan menjauh dari mata penonton.2. maka dimensi dan keutuhan tubuh pemain akan dilihat dengan jelas oleh mata penonton.6.2. Bedanya. maka hal ini akan menimbulkan pemandangan yang kurang menarik dan jika hal ini berlangsung lama. Oleh karena itu. • Gunakan lengan atau tangan panggung atas (yang jauh dari mata penonton) untuk menunjuk ke .6.3 Fokus Dalam mengatur blocking. sedangkan menyamping penuh akan menyembunyikan bagian tubuh yang lain. Keseimbangan adalah pengaturan atau pengelompokan aktor di atas pentas yang ditata sedemikian rupa sehingga tidak menghasilkan ketimpangan. Menghadap lurus ke arah penonton akan memberikan efek datar dan kurang memberikan dimensi kepada pemain. Ada dua ragam komposisi pemain. tetapi membagi pemain dalam dua bagian atau lebih dengan tujuan memberi penonjolan (penekanan) bagian tertentu.6. Oleh karena itu. hal yang paling utama untuk diperhatikan sutradara adalah perhatian penonton. pose. • Kurangilah menempatkan pemain dalam posisi menghadap lurus ke arah penonton atau menyamping penuh. Sedangkan komposisi. perubahan ekspresi dan aksi di atas pentas harus dapat ditangkap mata penonton dengan jelas. • Jika pemain hendak melangkah.6.1 Prinsip Dasar Pada dasarnya fokus adalah membuat pemain menjadi terlihat jelas oleh mata penonton.3 Keseimbangan Dalam menata komposisi pemain di atas pentas hal yang paling penting untuk diperhatikan adalah keseimbangan. Pengaturan posisi pemain seperti ini dilakukan agar semua pemain di atas pentas dapat dilihat dengan jelas oleh penonton.

yaitu dengan meletakkan jari tengah di atas pergelangan tangan dalam segaris dengan ibu jari atau jari jempol. • Pemanasan • Latihan ketahanan • Latihan Kelenturan • Latihan ketangkasan .1. Olah tubuh dilakukan dalam tiga tahap. Mengetahui denyut nadi sebelum latihan fisik dianjurkan karena berhubungan dengan kerja jantung. Cara untuk menghitung denyut nadi. dan latihan pendinginan. yaitu dengan menghitung denyut nadi yang ada di leher atau denyut nadi yang ada di pergelangan tangan dalam. Latihan pemanasan (warm-up). karena hal ini akan menutupi suara dan pandangan penonton. yaitu serial latihan gerakan tubuh untuk meningkatkan sirkulasi dan meregangkan otot dengan cara bertahap. • Usahakan agar para aktor saling menatap (berkontak mata) pada saat mengawali dan mengakhiri dialog (percakapan). SENI BERPERAN DALAM TEATER Teater Koma : Mengapa Leonardo Aktor merupakan manusia yang mengorbankan dirinya untuk menjadi orang lain. usahakan untuk berbicara kepada penonton atau kepada aktor lain yang berada di atas panggung. Cara penghitungan denyut nada yang ada di pergelangan tangan.1 Persiapan Sebelum melakukan latihan harus memperhatikan denyut nadi. Jika tangan yang digunakan adalah tangan yang tidak menganggu pandangan penonton. Untuk itu seorang pemeran harus menjaga kelenturan peralatan tubuhnya. Latihan pendinginan atau peredaan (warm-down). Membagi arah pandangan ini sangat penting untuk menegaskan dan memberi kejelasan ekspresi karakter kepada penonton. 4. maka gerakan lengan dan tangan akan menutupi bagian tubuh lain.1 Latihan Olah Tubuh Latihan olah tubuh melatih kesadaran tubuh dan cara mendayagunakan tubuh.arah panggung atas dan gunakan lengan atau tangan panggung bawah (yang dekat dengan mata penonton) untuk menunjuk ke panggung bawah. • Jangan pernah memegang benda atau piranti tangan di depan wajah ketika sedang berbicara. maka gerak laku aktor dalam menggunakan telepon akan kelihatan. latihan inti. Karena itu dia harus mempersiapkan dirinya secara utuh penuh baik fisik maupun psikis. Hal ini mempertegas laku aksi yang sedang dikerjakan. Penghitungan denyut nadi yang ada dipergelangan tangan lebih dianjurkan untuk menghasilkan perhitungan yang tepat. Latihanlatihan olah tubuh dapat dilakukan dengan tahap-tahap sebagai berikut. Selebihnya. yaitu serial pendek gerakan tubuh untuk mengembalikan kesegaran tubuh setelah menjalani latihan inti. yaitu serial pokok dari inti gerakan yang akan dilatihkan. Penghitungan dilakukan selama enam detik dan hasilnya dikalikan sepuluh. Selama menghitung denyut nadi mata selalu melihat jam (jam tangan maupun jam dinding yang ada di dalam ruangan). 4. atau penghitungan dilakukan selama sepuluh detik dan hasilnya dikalikan enam. Latihan inti. yaitu latihan pemanasan. Jika yang dilakukan sebaliknya.

karena digunakan sebagai bahan komunikasi yang berwujud dialog. Pemilihan kata-kata memiliki tokohan dalam aturan yang dikenal dengan istilah diksi. Akan tetapi. Jika lontaran dialog tidak sesuai sebagaimana mestinya. Misalnya. Maka. Dalam kenyataannya. ”. Prosesnya. sehingga secara tidak sadar mengungkapkan sesuatu yang sebenarnya tidak dikehendaki.. Banyak lagi contoh yang menunjukkan tentang makna suara. Hal ini disebabkan karena dalam dialog banyak terdapat nilai-nilai yang bermakna. sedangkan bunyi merupakan produk benda-benda. Dialog yang diucapkan oleh seorang pemeran mempunyai tokohan yang sangat penting dalam pementasan naskah drama atau teks lakon. tinggi rendahnya. Itulah yang disebut intonasi.2 OLAH SUARA Suara adalah unsur penting dalam kegiatan seni teater yang menyangkut segi auditif atau sesuatu yang berhubungan dengan pendengaran. Akan tetapi. memang. Seorang pemeran dalam pementasan teater menggunakan dua bahasa. Dialog merupakan salah satu daya tarik dalam membina konflik-konflik dramatik. suara dan bunyi itu sama. dalam arti tidak dibarengi dengan bahasa verbal. dalam situasi tertentu tidak mampu mengungkapkan maksud yang sebenarnya. Bahasa tubuh bisa berdiri sendiri. Dalam kegiatan teater. Makna katakata dipengaruhi oleh nada. Maksud tersembunyi seperti itu disebut subtext. Unsur dasar bahasa lisan adalah suara.• Latihan pendinginan • Latihan relaksasi 4. maka nilai yang terkandung tidak dapat dikomunikasikan kepada penonton. Selanjutnya. yaitu hasil getaran udara yang datang dan menyentuh selaput gendang telinga. Kata-kata yang membawa informasi yang bermakna. nada suara yang terlontarkan. suara dijadikan kata dan kata-kata disusun menjadi frasa serta kalimat yang semuanya dimanfaatkan dengan aturan tertentu yang disebut gramatika atau paramasastra. Suara merupakan unsur yang harus diperhatikan oleh seseorang yang akan mempelajari teater. Misalnya. bisa juga bahasa tubuh sebagai penguat bahasa verbal. Suara merupakan produk manusia untuk membentuk katakata. suara mempunyai tokohan penting. yaitu bahasa tubuh dan bahasa verbal yang berupa dialog. Suara dihasilkan oleh proses mengencang dan mengendornya pita suara sehingga udara yang lewat berubah menjadi bunyi. “Yah. suara tidak hanya dilontarkan begitu saja tetapi dilihat dari keras lembutnya. Hal ini . kamu sekarang sudah hebat…. menunjukkan maksud memuji atau sebenarnya ingin mengatakan. dalam konvensi dunia teater kedua istilah tersebut dibedakan. dan cepat lambatnya sesuai dengan situasi dan kondisi emosi. Kegiatan mengucapkan dialog ini menjadi sifat teater yang khas. kalimat. Suara adalah lambang komunikasi yang dijadikan media untuk mengungkapkan rasa dan buah pikiran. “kamu belum bisa apaapa”.

Memberi arti khusus pada kata-kata tertentu melalui modulasi suara. kegembiraan. Senam Wajah d. Latihan Pernafasan k. Wicara q. tetapi juga harus memberikan respon terhadap ekspresi tokoh lain. Ucapan yang dilontarkan oleh pemeran bertujuan untuk menyalurkan kata dari teks lakon kepada penonton. putus asa. Seorang pemeran yang hanya melakukan aksi berarti baru mengerjakan separuh dari tugasnya. kedudukan sosial. Tugas yang lain adalah memberikan reaksi. a. e. Melengkapi variasi. Intonasi m. maka dia mencabut makna yang ada dalam kata-kata. Terlebih dalam konteks aksi dan reaksi. Ada beberapa hal yang perlu diketahui oleh seorang pemeran tentang fungsi ucapan. Ketika pemeran mengucapkan dialog harus mempertimbangkan pikiranpikiran penulis. Banyak pemeran yang hanya mementingkan ekspresi yang ditokohkan sehingga dalam benaknya hanya melakukan aksi. Bersenandung j. latihan olah rasa tidak hanya berfungsi untuk . Latihan Kejelasa Diksi l. Padahal akting adalah kerja aksi dan reaksi. Dengan demikian. Pemanasan c. kekuatan. Oleh karena itu. Jika pemeran melontarkan dialognya hanya sekedar hasil hafalan saja. c. Berbisik h. Seorang pemeran tidak hanya memikirkan ekspresi karakter tokoh yang ditokohkan saja. yaitu sebagai berikut. Ekspresi yang disampaikan melalui nada suara membentuk satu pemaknaan berkaitan dengan kalimat dialog. Bergumam i. semua emosi tokoh yang ditokohkan harus mampu diwujudkan. misalnya: umur. Mengendalikan perasaan penonton seperti yang dilakukan oleh musik. Senam Rahang Bawah f. b. dan sebagainya. Dalam menghayatai karakter tokoh. Persiapan b. latihan-latihan yang mendukung kepekaan rasa perlu dilakukan. Latihan Tenggorokan g.3 OLAH RASA Pemeran teater membutuhkan kepekaan rasa. Senam Lidah e. Memuat informasi tentang sifat dan perasaan tokoh. Nada p. Proses pengucapan dialog mempengaruhi ketersampaian pesan yang hendak dikomunikasikan kepada penonton. Jeda n. a. Ditutup dengan relaksasi 4. Tempo o.merupakan kesalahan fatal bagi seorang pemeran. d. Latihan-latihan untuk melenturkan peralatan suara dapat dilakukan menggunakan tahap-tahap sebagai berikut. marah.

Macam-macam gesture yang dapat dipahami orang lain adalah gesture dengan tangan. Jadi bahasa tubuh harus dipahami oleh pemeran sebagai pendukung bahasa verbal. Misalnya. Kalau pemeran dengan tingkat konsentrasi yang rendah maka dia tidak akan dapat menyakinkan penonton. Jika berlawanan dengan bahasa verbal akan mengurangi kekuatan komunikasi. akan diketahui tanda kebohongan atau tanda-tanda kebosanan pada proses komunikasi yang sedang berlangsung. sedangkan kalau selaras dengan bahasa verbal akan menguatkan proses komunikasi. gesture . Hal ini berlawanan dengan bangsa-bangsa lain. dan imajinasi. Bahasa ini mendukung dan berpengaruh dalam proses komunikasi. Bahasa tubuh semacam respon atau impuls dalam batin seseorang yang keluar tanpa disadari. tetapi bagi orang Amerika artinya bagus. Makin menarik pusat perhatian. Latihan olah rasa dimulai dari konsentrasi. Bahasa tubuh dilakukan oleh seseorang terkadang tanpa disadari dan keluar mendahului bahasa verbal. Sebagai seorang pemeran. Dunia teater adalah dunia imajiner atau dunia rekaan. Maka. Misalnya seorang pemeran melihat sesuatu yang menjijikan (meskipun sesuatu itu tidak ada di atas pentas) maka ia harus menyakinkan kepada penonton bahwa sesuatu yang dilihat benarbenar menjijikkan. Seorang pemeran harus memahami bahasa tubuh. Pemakaian gesture ini mengajak seseorang untuk menampilkan variasi bahasa atau bermacam-macam cara mengungkapkan perasaan dan pemikiran. Sifat bahasa tubuh adalah tidak universal. Pusat perhatian seorang pemeran adalah sukma atau jiwa tokoh atau karakter yang akan dimainkan. gesture tidak dapat menggantikan bahasa verbal sepenuhnya. Akan tetapi. dengan mempelajari bahasa tubuh. Segala sesuatu yang mengalihkan perhatian seorang pemeran. mengangguk tandanya tidak setuju sedangkan mengeleng artinya setuju. Dengan konsentrasi pemeran akan dapat mengubah dirinya menjadi orang lain. baik bahasa tubuh budaya sendiri maupun bahasa tubuh budaya lainnya. orang India. Kekuatan pemeran untuk mewujudkan dunia rekaan ini hanya bias dilakukan dengan kekuatan daya konsentrasi. bagi orang Yunani berarti penghinaan. yaitu tokoh yang dimainkan. 4. Selain itu. cenderung dapat merusak proses pemeranan. Tujuan dari konsentrasi ini adalah untuk mencapai kondisi kontrol mental maupun fisik di atas panggung.3.meningkatkan kepekaan rasa dalam diri sendiri.2 Gesture Gesture adalah sikap atau pose tubuh pemeran yang mengandung makna. Manfaat mempelajari dan melatih gesture adalah mengerti apa yang tidak terkatakan dan yang ada dalam pikiran lawan bicara. Ada juga yang mengatakan bahwa gesture adalah bentuk komunikasi non verbal yang diciptakan oleh bagian-bagian tubuh yang dapat dikombinasikan dengan bahasa verbal. Sedang beberapa orang menggunakan gesture sebagai tambahan dalam katakata ketika melakukan proses komunikasi. Latihan gesture dapat digunakan untuk mempelajari dan melahirkan bahasa tubuh. Dunia tidak nyata yang diciptakan seorang penulis lakon dan diwujudkan oleh pekerja teater. tetapi juga perasaan terhadap karakter lawan main. konsentrasi menjadi sesuatu hal yang penting untuk pemeran. Tangan mengacung dengan jari telunjuk dan jempol membentuk lingkaran.3.1 Konsentrasi Pengertian konsentrasi secara harfiah adalah pemusatan pikiran atau perhatian. Langkah awal yang perlu diperhatikan adalah mengasah kesadaran dan mampu menggunakan tubuhnya dengan efisien. Dunia ini harus diwujudkan menjadi sesuatu yang seolah-olah nyata dan dapat dinikmati serta menyakinkan penonton. gesture harus disadari dan diciptakan sebagai penguat komunikasi dengan bahasa verbal. bagi orangtokohcis artinya nol. Ada korelasi yang sangat dekat antara pikiran dan tubuh. 4. Seorang pemeran harus dapat mengontrol tubuhnya setiap saat. makin tinggi kesanggupan memusatkan perhatian. mempelajari gesture.

• Pikiran bisa disuruh untuk mempertanyakan segala sesuatu. Misalnya. maka akan memunculkan gambaran pengandaiannya. dan gesture dengan kaki. Dengan berpikir. dan jangan menggambarkan suatu objek yang tidak pasti (perkiraan).3. Imajinasi tidak akan muncul jika direnungkan tanpa suatu objek yang menarik. Bahasa tubuh atau gesture dengan tangan adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh posisi maupun gerak kedua tangan. “siapakah Hamlet itu?”. 5. dimana. Usaha menjawab pertanyaan itu akan membawa pikiran untuk mengimajinasikan sosok Hamlet. tetapi segala tata letak perabot atau piranti yang akan digunakan oleh aktor disediakan oleh penata panggung. siapa. Dengan stimulus pertanyaanpertanyaan atau menggunakan stimulus ”seandainya”. • Imajinasi menciptakan hal-hal yang mungkin ada atau mungkin terjadi. Bahasa tubuh dengan kepala dan wajah adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh posisi kepala maupun ekspresi wajah. tetapi harus dibujuk untuk bisa digunakan.dengan badan. • Imajinasi tidak akan muncul dengan pikiran yang pasif.1 Mempelajari Panggung Dalam sejarah perkembangannya. dan tidak akan pernah ada. Bahasa tubuh yang tercipta oleh kedua tangan merupakan bahasa tubuh yang paling banyak jenisnya. dan panggung tempat pementasan dilaksanakan. dan apa. Objek berfungsi untuk menstimulasi atau merangsang pikiran. Melatih imajinasi sama dengan memperkerjakan pikiran-pikiran untuk terus berpikir.1. membutuhkan tata letak perabot yang dapat enak .1. Penataan panggung disesuaikan dengan tuntutan cerita. Selain itu. tidak pernah ada. Misalnya. Belajar imajinasi dapat menggunakan fungsi ”jika” atau dalam istilah metode pemeranan Stanislavski disebut magic-if. dalam panggung yang penontonnya melingkar. TATA PANGGUNG Tata panggung disebut juga dengan istilah scenery (tata dekorasi). Hal-hal yang perlu diketahui ketika berlatih imajinasi. seni teater memiliki berbagai macam jenis panggung yang dijadikan tempat pementasan. • Imajinasi tidak bisa dipaksa. Sedangkan bahasa tubuh dengan kaki adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh posisi dan bagaimana meletakkan kaki. kehendak artistik sutradara. gesture dengan kepala dan wajah. sebelum melaksanakan penataan panggung seorang penata panggung perlu mempelajari panggung pertunjukan. 4. SENI RUPA DALAM TEATER 5.3 Imajinasi Imajinasi adalah proses pembentukan gambaran-gambaran baru dalam pikiran. Latihan imajinasi bagi pemeran berfungsi mengidentifikasi tokoh yang akan dimainkan. Belajar imajinasi harus menggunakan plot yang logis. seorang pemeran juga harus berimajinasi tentang pengalaman hidup tokoh yang akan dimainkan. dimana gambaran tersebut tidak pernah dialami sebelumnya. Untuk membangkitkan imajinasi tokoh gunakan pertanyaan. maka pikiran dipaksa untuk menjawab pertanyaan tersebut. Perbedaan jenis panggung ini dipengaruhi oleh tempat dan zaman dimana teater itu berada serta gaya pementasan yang dilakukan. maka akan terjadi proses imajinasi. Bentuk panggung yang berbeda memiliki prinsip artistik yang berbeda. Oleh karena itu. Baik hal yang logis maupun yang tidak logis. Bahasa tubuh dengan tubuh adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh pose atau sikap tubuh seseorang. Tidak hanya sekedar dekorasi (hiasan) semata. Gambaran tempat kejadian lakon diwujudkan oleh tata panggung dalam pementasan. tetapi harus dengan pikiran yang aktif. sedangkan fantasi membuat hal-hal yang tidak ada.

5. Ketiganya adalah panggung proscenium. Di atas panggung inilah semua laku lakon disajikan dengan maksud agar penonton menangkap maksud cerita yang ditampilkan. Karena bentuknya yang dikelilingi oleh penonton. Agar semua pemain dapat terlihat dari setiap sisi maka penggunaan set dekor berupa bangunan tertutup vertikal tidak diperbolehkan karena dapat menghalangi pandangan penonton. Jenis-jenis Panggung Panggung adalah tempat berlangsungnya sebuah pertunjukan dimana interaksi antara kerja penulis lakon. Berbeda dengan panggung yang penontonnya hanya satu arah dari depan. salah satunya adalah penggunaan panggung arena.2.dilihat dari setiap sisi. penata panggung diharuskan memahami karakter jenis panggung yang akan digunakan serta bagian-bagian panggung tersebut. 5. Untuk memperoleh hasil terbaik.2 Proscenium Panggung proscenium bisa juga disebut sebagai panggung bingkai karena penonton menyaksikan . Inti dari pangung arena baik terbuka atau tertutup adalah mendekatkan penonton dengan pemain. Kedekatan jarak ini membawa konsekuensi artistik tersendiri baik bagi pemain dan (terutama) tata panggung. detil perabot yang diletakkan di atas panggung harus benar-benar sempurna sebab jika tidak maka cacat sedikit saja akan nampak. Karena jaraknya yang dekat. dan aktor ditampilkan di hadapan penonton. Penonton sangat dekat sekali dengan pemain. dan panggung arena.1.2. Untuk menyampaikan maksud tersebut pekerja teater mengolah dan menata panggung sedemikian rupa untuk mencapai maksud yang dinginkan.2. Semua ditata agar enak dipandang dari berbagai sisi. Kedekatan jarak antara pemain dan penonton dimanfaatkan untuk melakukan komunikasi langsung di tengah-tengah pementasan yang menjadi ciri khas teater tersebut. di atas panggung diletakkan kursi dan meja berukir.1.1 Arena Teater Arena Panggung arena adalah panggung yang penontonnya melingkar atau duduk mengelilingi panggung. Hal ini mempengaruhi nilai artistik pementasan. maka penata panggung dituntut kreativitasnya untuk mewujudkan set dekor. Beberapa pengembangan desain dari teater arena melingkar dilakukan sehingga bentuk teater arena menjadi bermacammacam. ukuran. Segala perabot yang digunakan dalam panggung arena harus benar-benar dipertimbangkan dan dicermati secara hati-hati baik bentuk. sutradara. panggun arena sering menjadi pilihan utama bagi teater tradisional. dan penempatannya. Banyak usaha yang dilakukan untuk mendekatkan pertunjukan dengan penonton. Seperti telah disebutkan di atas bahwa banyak sekali jenis panggung tetapi dewasa ini hanya tiga jenis panggung yang sering digunakan. Aspek kedekatan inilah yang dieksplorasi untuk menimbulkan daya tarik penonton. Kemungkinan berkomunikasi secara langsung atau bahkan bermain di tengah-tengah penonton ini menjadi tantangan kreatif bagi teater modern. Dengan memahami bentuk dari masingmasing panggung inilah. Misalnya.1. Panggung arena biasanya dibuat secara terbuka (tanpa atap) dan tertutup. panggung thrust. Jika bentuk ukiran yang ditampilkan tidak nampak sempurna – berbeda satu dengan yang lain – maka penonton akan dengan mudah melihatnya. Lepas dari kesulitan yang dihadapi. penata panggung dapat merancangkan karyanya berdasar lakon yang akan disajikan dengan baik. 5.

terutama pada panggung arena dimana lukisan dekor atau bentuk bangunan vertikal tertutup seperti dinding atau kamar (karena akan menghalangi pandangan sebagian penonton) tidak memungkinkan diletakkan di atas panggung. Pemisahan ini dapat membantu efek artistik yang dinginkan terutama dalam gaya realisme yang menghendaki lakon seolah-olah benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata. Intinya semua yang di atas panggung dapat diciptakan untuk mengelabui pandangan penonton dan mengarahkan mereka pada pemikiran bahwa apa yang terjadi di atas pentas adalah kenyataan. Jarak antara penonton dan panggung adalah jarak yang dapat dimanfaatkan untuk menciptakan gambaran kreatif pemangungan. Selain merencanakan gambar dekor. Bentangan jarak dapat menciptakan bayangan arstisitk tersendiri yang mampu menghadirkan kesan.1. Artinya. Tata perabot kemudian menjadi unsur pokok pada tata panggung arena. Dalam pembuatan desain gambar tata panggung yang terpenting adalah cara mengatur. Penonton disuguhi gambaran melalui bingkai tersebut. Perspektif dapat ditampilkan dengan memanfaatkan kedalaman panggung (luas panggung ke belakang). Hampir semua sekolah teater memiliki jenis panggung proscenium. dan memanipulasi elemen komposisi yang menjadi dasar dari seluruh kerja desain.276). Penyuntingan atau pengolahan bisa dilakukan setelah gagasan tertuang. Semua yang ada di atas panggung dapat disajikan secara sempurna seolah-olah gambar nyata. Dengan pemisahan ini maka pergantian tata panggung dapat dilakukan tanpa sepengetahuan penonton. Kesan inilah yang diolah penata panggung untuk mewujudkan kreasinya di atas panggung proscenium. imajinasi dapat dituangkan sepenuhnya ke dalam gambar desain tanpa lebih dulu berpikir tentang kemungkinan visualisasinya. Jarak yang sengaja diciptakan untuk memisahkan pemain dan penonton ini dapat digunakan untuk menyajikan cerita seperti apa adanya. periode sejarah lakon. Unsurunsur ini ditata sedemikian rupa sehingga bisa memberikan gambaran lengkap yang berfungsi untuk menjelaskan suasana dan semangat lakon. fungsi tata panggung perlu dibahas terlebih dahulu. lokasi kejadian. Pesona inilah yang membuat penggunaan panggung proscenium bertahan sampai sekarang. 5. Gambar dekorasi dan perabot tidak begitu menuntut kejelasan detil sampai hal-hal terkecil. bingkai proscenium menjadi batas tepinya. Aktor dapat bermain dengan leluasa seolah-olah tidak ada penonton yang hadir melihatnya. Seperti sebuah lukisan. Procenium Stage Tata panggung pun sangat diuntungkan dengan adanya jarak dan pandangan satu arah dari penonton.4 Elemen Komposisi Desain tata panggung sebaiknya dibuat dengan mudah dan bebas. menata. status karakter peran. Sebelum menjelaskan semua itu. penata panggung juga bertanggungjawab terhadap segala perabot yang digunakan. . Tata cahaya yang memproduksi sinar dapat dihadirkan dengan tanpa terlihat oleh penonton dimana posisi lampu berada.3 Fungsi Tata Panggung Dalam perancangan tata panggung selain mempertimbangkan jenis panggung yang akan digunakan ada beberapa elemen komposisi yang perlu diperhatikan. Karena keseluruhan objek yang ada di atas panggung dan digunakan oleh aktor membentuk satu lukisan secara menyeluruh. Pembelajaran tata panggung untuk menciptakan ilusi (tipuan) imajinatif sangat dimungkinkan dalam panggung proscenium.1. Panggung proscenium sudah lama digunakan dalam dunia teater.aksi aktor dalam lakon melalui sebuah bingkai atau lengkung proscenium (proscenium arch). Bingkai yang dipasangi layar atau gorden inilah yang memisahkan wilayah akting pemain dengan penonton yang menyaksikan pertunjukan dari satu arah (Gb. Pemikiran lain di luar desain akan menghambat imajinasi dan akhrinya memberikan batasan. Perabot dan piranti sangat penting dalam mencipta lukisan panggung. 5. dan musim dalam tahun dimana lakon dilangsungkan.

Tidak semua area di atas panggung memiliki tingkat terang yang sama tetapi diatur dengan tujuan dan maksud tertentu sehingga menegaskan pesan yang hendak disampaikan melalui laku aktor di atas pentas. dimensi. • Atmosfir. tata cahaya memiliki fungsi pendukung yang dikembangkan secara berlainan oleh masing-masing ahli tata cahaya. Tata cahaya dapat dimanfaatkan untuk menentukan objek dan area yang hendak disinari. Dengan pengaturan tingkat intensitas serta pemilahan sisi gelap dan terang maka dimensi objek akan muncul. Misalnya. Beberapa fungsi . Pengetahuan dasar ini selanjutnya dapat diterapkan dan dikembangkan dalam penataan cahaya untuk kepentingan artistik pemanggungan. Selain keempat fungsi pokok di atas. Dengan cahaya. 1988). Dengan tata cahaya kedalaman sebuah objek dapat dicitrakan. • Penerangan. dan atmosfir (Mark Carpenter. Istilah penerangan dalam tata cahaya panggung bukan hanya sekedar memberi efek terang sehingga bisa dilihat tetapi memberi penerangan bagian tertentu dengan intensitas tertentu. Pemilihan ini tidak hanya berpengaruh bagi perhatian penonton tetapi juga bagi para aktor di atas pentas serta keindahan tata panggung yang dihadirkan. yaitu penerangan. • Pemilihan. Seorang penata cahaya perlu mempelajari pengetahuan dasar dan penguasaan peralatan tata cahaya. 5. Dalam pertunjukan era primitif manusia hanya menggunakan cahaya matahari. Dimensi dapat diciptakan dengan membagi sisi gelap dan terang atas objek yang disinari sehingga membantu perspektif tata panggung. dan penonton untuk saling melihat dan berkomunikasi. efek lampu dapat diciptakan untuk menirukan cahaya bulan dan matahari pada waktu-waktu tertentu.2. Artinya. penonton secara normal dapat melihat seluruh area panggung. Tata cahaya mampu menghadirkan suasana yang dikehendaki oleh lakon. TATA CAHAYA Cahaya adalah unsur tata artistik yang paling penting dalam pertunjukan teater. Keempat fungsi pokok tata cahaya di atas tidak berdiri sendiri. masing-masing fungsi memiliki interaksi (saling mempengaruhi). Jika semua objek diterangi dengan intensitas yang sama maka gambar yang akan tertangkap oleh mata penonton menjadi datar. Jika dalam film dan televisi sutradara dapat memilih adegan menggunakan kamera maka sutradara panggung melakukannya dengan cahaya.1 Fungsi Tata Cahaya Tata cahaya yang hadir di atas panggung dan menyinari semua objek sesungguhnya menghadirkan kemungkinan bagi sutradara. Dalam teater. Semua objek yang disinari memberikan gambaran yang jelas kepada penonton tentang segala sesuatu yang akan dikomunikasikan. Lampu memberi penerangan pada pemain dan setiap objek yang ada di atas panggung. Sejak ditemukannya teknologi pencahayaan panggung. Banyak hal yang bisa dikerjakan bekaitan dengan peran tata cahaya tetapi fungsi dasar tata cahaya ada empat. Tanpa adanya cahaya maka penonton tidak akan dapat menyaksikan apa-apa. Sinar mentari pagi membawa kehangatan sedangkan sinar mentari siang hari terasa panas. bulan atau api untuk menerangi.2. Sejak ditemukannya lampu penerangan manusia menciptakan modifikasi dan menemukan hal-hal baru yang dapat digunakan untuk menerangi panggung pementasan. Fungsi penerangan dilakukan dengan memilih area tertentu untuk memberikan gambaran dimensional objek. Kata “atmosfir” digunakan untuk menjelaskan suasana serta emosi yang terkandung dalam peristiwa lakon. pemilihan.5. Yang paling menarik dari fungsi tata cahaya adalah kemampuannya menghadirkan suasana yang mempengaruhi emosi penonton. suasana. Inilah gambaran suasana dan emosi yang dapat dimunculkan oleh tata cahaya. • Dimensi. dan emosi peristiwa. sutradara dapat menghadirkan ilusi imajinatif. aktor. untuk memberikan fokus perhatian pada area atau aksi tertentu sutradara memanfaatkan cahaya. Inilah fungsi paling mendasar dari tata cahaya. warna cahaya matahari pagi berbeda dengan siang hari.

3. penonton dapat melihatnya dengan jelas. • Gerak. teater Yunani yang memakai topeng lebih besar dari wajah pemain dengan garis tegas agar ekspresinya dapat dilihat oleh penonton. Tata cahaya dapat memberikan penekanan tertentu pada adegan atau objek yang dinginkan. dari objek satu ke objek lain. • Penekanan. Tanpa • sadar penonton dibawa ke dalam suasana yang berbeda melalui perubahan cahaya. Tata cahaya tidaklah statis. fade in untuk memulai adegan dan black out sebagai akhir dari cerita. Penggunaan warna serta intensitas dapat menarik perhatian penonton sehingga membantu pesan yang hendak disampaikan. Penampilan tokoh yang berbeda-beda membutuhkan penampilan yang berbeda sesuai karakternya. Tetapi pergantian cahaya dalam satu area ketika adegan tengah berlangsung terkadang tidak secara langsung disadari. Pemakaian tata rias akhirnya menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari peristiwa teater. fade out untuk mengakhiri sebuah adegan. • Komposisi. Jika perpindahan cahaya bergerak dari aktor satu ke aktor lain dalam area yang berbeda. Sebuah bagian bangunan yang tinggi yang senantiasa disinari cahaya sepanjang pertunjukan akan menarik perhatian penonton dan menimbulkan pertanyaan sehingga membuat penonton menyelidiki maksud dari hal tersebut. bibir yang kurang tegas. Cahaya dapat dimanfaatkan untuk menciptakan lukisan panggung melalui tatanan warna yang dihasilkannya. Gaya realis atau naturalis yang mensyaratkan detil kenyataan mengharuskan tata cahaya mengikuti cahaya alami seperti matahari. cahaya selalu bergerak dan berpindah dari area satu ke area lain. Tata rias merupakan salah satu cara menampilkan karakter tokoh yang berbeda-beda tersebut. Cahaya dapat menunjukkan gaya pementasan yang sedang dilakonkan. Contohnya.1.1 Fungsi Tata Rias Tokoh dalam teater memiliki karakter berbeda-beda. Cahaya berfungsi untuk memberi tanda selama pertunjukan berlangsung. Dalam pementasan teater tradisional. Seorang pemain. TATA RIAS Tata rias secara umum dapat diartikan sebagai seni mengubah penampilan wajah menjadi lebih sempurna. • Menyempurnakan penampilan wajah • Menggambarkan karakter tokoh • Memberi efek gerak pada ekspresi pemain • Menegaskan dan menghasilkan garis-garis wajah sesuai dengan tokoh • Menambah aspek dramatik. yaitu seni mengubah wajah untuk menggambarkan karakter tokoh. • Pemberian tanda. Gerak perpindahan cahaya ini mengalir sehingga kadang-kadang perubahannya disadari oleh penonton dan kadang tidak. Tata rias bisa . tumbuhan. 5. • Gaya. black out biasanya digunakan sebagai tanda ganti adegan diiringi dengan pergantian set. 5. dan lemak binatang. memiliki hidung yang kurang mancung. Tata Rias dalam teater bermula dari pemakaian kedok atau topeng untuk menggambarkan karakter tokoh. 5. Tata rias dalam teater mempunyai arti lebih spesifik.pendukung yang dapat ditemukan dalam tata cahaya adalah sebagai berikut.3.1 Menyempurnakan Penampilan Wajah Wajah seorang pemain memiliki kekurangan yang bisa disempurnakan dengan mengaplikasikan tata rias. Sepanjang pementasan. bulan atau lampu meja. misalnya. dan sebagainya. seperti tanah.tulang. Misalnya. mata yang tidak ekspresif.3. Tata rias dalam teater memiliki fungsi sebagai berikut. Dalam pementasan komedi atau dagelan tata cahaya membutuhkan tingkat penerangan yang tinggi sehingga setiap gerak lucu yang dilakukan oleh aktor dapat tertangkap jelas oleh penonton. Dalam gaya Surealis tata cahaya diproyeksikan untuk menyajikan imajinasi atau fantasi di luar kenyataan seharihari. Beberapa teater primitif menggunakan bedak tebal yang biasa dibuat dari bahan-bahan alam.

ras. Wajah pemain cukup disempurnakan dengan menyamarkan. sehingga saat berekspresi muncul efek gerak yang tegas dan dapat ditangkap oleh penonton. Setiap wajah memiliki kekuarangan dan kelebihan.2 Tata Rias Fantasi Tata rias fantasi dikenal juga dengan istilah tata rias karakter khusus.2. tersayat wajahnya. maka dibutuhkan tata rias yang memberikan efek sesuai dengan kebutuhan. dan menonjolkan bagian-bagian wajah sesuai dengan tokoh yang dimainkan. 5. tampak datar ketika tertimpa cahaya lampu.1.3.5 Menambah Aspek Dramatik Peristiwa teater selalu tumbuh dan berkembang. Seseorang yang memiliki bentuk wajah kurang sempurna.3. tetapi juga menambahkan sehingga terbentuk tampilan yang berbeda dengan wajah asli pemain. Seorang penata rias harus mencermati gerak ekspresi wajah untuk menentukan garis yang akan dibuat. misalnya dahi terlalu lebar. 5. tertembak. hidung kurang mancung dan sebagainya.3. tetapi cukup menyempurnakan dengan mengoreksi kekurangan yang ada untuk disempurnakan. dan bibir bergaris tegas. tidak memiliki dimensi.1 Tata Rias Korektif Tata rias korektif (corective make-up) merupakan suatu bentuk tata rias yang bersifat menyempurnakan (koreksi). Fungsi garis tidak sekedar menegaskan. Misalnya.1. Tata rias memiliki kemampuan dalam mengubah sekaligus menampilkan karakter yang berbeda dari seorang pemeran. Penyempurnaan wajah dilakukan pada pemain yang secara fisik telah sesuai dengan tokoh yang dimainkan. seorang remaja memerankan siswa sekolah. dan perubahan bentuk wajah.1. mata menjadi lebih ekspresif. Tata rias bisa memberikan efek dramatik dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dengan menciptakan efek tertentu sesuai dengan kebutuhan. Misalnya. Misalnya.1. Tata rias tidak perlu mengubah usia.2. Pemain yang tidak menggunakan rias. 5. seorang remaja yang memerankan seorang yang telah berumur 50 tahun. Misalnya. Sebaliknya. Oleh karena itu dibutuhkan tata rias untuk menampilkan dimensi wajah pemain. Tata rias berfungsi menegaskan garis-garis wajah karakter.3 Memberi Efek Gerak Pada Ekspresi Pemain Wajah seorang pemain di atas pentas.dapat disempurnakan dengan make up korektif.3.3. wajahnya akan tampak datar. 5. tokoh yang pesimistis cenderung memiliki karakter garis mata yang menurun.3. menegaskan.menyempurnakan kekurangan tersebut sehingga muncul kesan hidung tampak mancung. seorang yang optimis digambarkan dengan tarikan sudut mata cenderung ke atas. Biasanya pemeran memiliki kesesuaian dengan tokoh yang diperankan. 5. seorang tokoh tertusuk belati. maka perlu membuat garis-garis baru sesuai dengan karakter wajah binatang yang diperankan. Wajah perlu ditambahkan garis-garis kerutan sesuai wajah seorang yang berusia 50 tahun. Seorang pemain membutuhkan tata rias korektif ketika tampilannya tidak membutuhkan perubahan usia. Karakter wajah merupakan cermin psikologis dan latar sosial tokoh yang hadir secara nyata. 5. bentuk wajah dan tubuh. Tata rias berfungsi melukiskan watak tokoh dengan mengubah wajah pemeran menyangkut aspek umur. Tokoh-tokoh mengalami berbagai peristiwa sehingga terjadi perubahan dan penambahan tata rias.3. ras. Seorang yang berperan menjadi tokoh binatang.2 Jenis Tata Rias 5.4 Menghadirkan Garis Wajah Sesuai Dengan Tokoh Menampilkan wajah sesuai dengan tokoh membutuhkan garis baru yang membentuk wajah baru. Tata rias ini menyembunyikan kekurangan-kekurangan yang ada pada wajah dan menonjolkan hal-hal yang menarik dari wajah.2 Menggambarkan Karakter Tokoh Karakter berarti watak. Disebut tata rias karakter .

4. Busana dalam teater memiliki fungsi yang lebih kompleks. Abad Pertengahan. Tokoh tersebut memiliki latar Suku Dayak Kalimantan yang memiliki tradisi memanjangkan telinga. dalam teater Romawi Kuno maka lakon yang ditampilkan berlatar jaman tersebut sehingga busananya pun seperti busana keseharian penduduk jaman Romawi Kuno. Semua terserah pada gagasan seniman. Masing-masing memiliki kospenya tersendiri dan lakon tidak harus berlatar jaman dimana lakon itu dibuat. 5. Mengubah anatomi wajah pemain untuk memenuhi tuntutan tokoh dapat juga digolongkan sebagai tata rias karakter. gelang . dan segala unsur yang melekat pada pakaian. dan Abad 18. yaitu. Dalam masa ini. Elizabethan.4. Renaissance. dan memenuhi hasrat manusia akan keindahan.1 Fungsi Tata Busana Busana yang dipakai manusia beraneka ragam bentuk dan fungsinya. busana pada jaman atau dekade tertentu memiliki ciri yang sama. Demikian juga dengan teater pada jaman Yunani. Misalnya. mencitrakan kesopanan. Tata busana dengan demikian sudah tidak lagi terpaku pada jaman. Tata busana dalam teater memiliki peranan penting untuk menggambarkan tokoh. tetapi mengubah tampilan wajah. Jenis busana ini tidak bisa disamakan antara daerah satu dengan daerah lain. karena semua tergantung latar cerita yang ditampilkan. dan batu-batuan untuk asesoris. Ketika manusia menemukan tekstil dengan teknologi pengolahan yang tinggi. Tata busana termasuk segala asesoris seperti topi. karena menampilkan wujud rekaan dengan mengubah wajah tidak realistik.1. Busana teater mengalami perkembangan pesat seiring lahirnya teater modern pada akhir abad 19. Untuk membuat tata busana sesuai dengan adat dan kebudayaan daerah tertentu maka diperlukan referensi khusus berkaitan dengan adat dan kebudayaan tersebut. Fungsi busana dalam kehidupan sehari-hari untuk melindungi tubuh. maka busana berkembang menjadi lebih baik. Tidak ada periode tata busana secara khusus di teater. syal. sifat. Periode busana teater dengan demikian mengikuti periode teater tersebut. Masing-masing memiliki ciri khasnya. misalnya memanjangkan telinga. Sementara itu tata busana menurut jamannya bisa digeneralisasi. 5. busana yang dipakai berasal dari bahan-bahan alami. tetapi lebih pada konsep yang melatarbelakangi penciptaan teater.1 Mencitrakan Keindahan Penampilan Manusia memiliki hasrat untuk mengungkapkan rasa keindahan dalam berbagai aspek . mengubah umur pemeran dari muda menjadi lebih tua . Tata busana dapat dibuat berdasar budaya atau jaman tertentu.4. 5. watak. TATA BUSANA Tata busana adalah seni pakaian dan segala perlengkapan yang menyertai untuk menggambarkan tokoh. kulit binatang. • Mencitrakan keindahan penampilan • Membedakan satu pemain dengan pemain yang lain • Menggambarkan karakter tokoh • Memberikan efek gerak pemain • Memberikan efek dramatik 5. bangsa. Contohnya. beragam aliran teater bermunculan.khusus. kalung. sepatu.2. dan ciri-ciri khusus yang melekat pada tokoh. seperti tumbuhan. Tata rias karakter dibutuhkan ketika karakter wajah pemeran tidak sesuai dengan karakter tokoh. Pada era teater primitif. Restorasi. Tata rias fantasi menggambarkan tokoh-tokoh yang tidak riil keberadaannya dan lahir berdasarkan daya khayal semata. Artinya. Tata rias karakter tidak sekedar menyempurnakan.3 Tata Rias karakter Tata rias karaker adalah tata rias yang mengubah penampilan wajah seseorang dalam hal umur.3. Busana pun mengikuti konsep tersebut.

Melalui busana. brutal. busananya cenderung rapi.1. kerja sekecil apapun dalam teater sangatlah penting. Dalam satu proses pembelajaran hal semacam itu sering tejadi. Apalagi ketika proses tersebut dinilai dan memiliki konsekuensi langsung bagi pelakunya.2 Membedakan Satu Pemain Dengan Pemain Yang Lain Pementasan teater menampilkan tokoh yang bermacam-macam karakter dan latar belakang sosialnya. Satu bidang kecil memiliki makna yang sama dengan bidang lain. Teater di Inggris pada masa pemerintahan Ratu Elizabeth (1580 – 1640). dan garis yang diciptakan. Saling berbicara.4. Sebuah karya teater yang besar merupakan penyatuan kerja elemen-elemen yang kecil. Kualitas karya yang dihasilkan menggambarkan semangat dan keadaan jiwa pembuatnya. 5. bentuk. Busana pementesan teater dibuat secara khusus dan dilengkapi dengan asesoris sesuai kebutuhan pemensan. Penonton membutuhkan suatu penampilan yang berbeda-beda antara satu tokoh dengan tokoh yang lain. memakai busana sehari-hari yang dibuat lebih indah dengan mengaplikasikan perhiasan dan penambahan bahanbahan yang mahal dan mewah.1.kehidupan. Contohnya. tokoh seorang pelajar yang bandel. dan peningkatan kompetensi tetapi juga untuk mengungkap makna kerja yang ada di sebalik ilmu. dan tanpa asesoris yang berlebihan. Akhirnya menjadi maklumlah kita ketika seseorang berbicara tentang teater maka ia akan membicarakan semua elemen yang ada di dalamnya. Pemaknaan ini akan membawa satu sikap penghargaan profesi baik bagi diri sendiri atau bagi orang yang bekerja pada bidang lain. dan alim. hasrat untuk tampil berbeda dan lebih indah dari tampilan sehari-hari telah muncul. penonton terbantu dalam menangkap karakter yang berbeda dari setiap tokoh. Pada era teater primitif. rajin. sehingga penonton mampu mengidentifikasikan tokoh dengan mudah 5. tokoh seorang pelajar yang pendiam.3 Menggambarkan Karakter Tokoh Fungsi penting busana dalam teater adalah untuk menggambarkan karakter tokoh. Memecahkan persoalan bersama dan menentukan satu keputusan yang secara artistik adil bagi semua pihak. Oleh karena itu. pengetahuan. Sebuah langkah yang besar selalu dimulai dari langkah kecil. Berbicara teater tidak hanya berbicara naskah atau sutradara yang merajut proses atau aktor terkenal yang ikut terlibat di dalamnya. Dalam teater hal itu tidak berlaku. Satu bidang harus mampu dan mau menghargai bidang lain. Jika kualitas kerja salah satu bidang tidak baik maka keseluruhan pertunjukan menjadi terpengaruh. dan sering membuat onar. tidak hanya tergambar keindahan karya seni tetapi juga prinsip kebersamaan. Karena prinsip teater adalah kerjasama maka belajar teater tidaklah hanya mempelajari elemen-elem yang ada di dalamnya tetapi juga mempelajari kerja pengabungan di antaranya. seni memang tidak hanya menghasilkan sesuatu yang tampak (produk) tetapi juga mental atau jiwa para pelakunya. Perbedaan karakter dalam busana dapat ditampilkan melalui model. Dengan demikin dalam satu karya teater. Berdiskusi. motif. PENUTUP Sebuah karya teater lahir dari satu proses pembelajaran yang padu. Satu proses kerja bidang tertentu bahkan dinilai lebih tinggi dari bidang lain. Busana menjadi salah satu tanda penting untuk membedakan satu tokoh dengan tokoh yang lain. Secara mendalam. Karena sifatnya yang kolaboratif maka seni teater akan kehilangan spiritnya jika masing-masing bidang berusaha untuk menonjol dan mengalahkan bidang lain. Membaca referensi atau buku teater tidaklah hanya untuk menambah wawasan. Pementasan teater adalah suatu tontonan yang mengandung aspek keindahan. Penampilan busana yang berbeda akan menunjukkan ciri khusus seorang tokoh. busananya dilengkapi asesoris dan cara pemakaiannya seenaknya tidak sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan sekolah. Sebaliknya. . sederhana. Tata busana dalam teater berfungsi sebagai bentuk ekspresi untuk tampil lebih indah dari penampilan seharihari. warna.4.

Begitu pentingnya pesan yang hendak disampaikan sehingga semua elemen pendukung pementasan bekerja keras mewujudkannya. apapun kualitasnya gagasan tersebut harus menjadi sesuatu. Oleh karena itulah. Jika satu saja elemen berada di luar garis ini maka kesatuan makna menjadi kabur. dengan memahami dasar-dasar penciptaan lakon yang mengedepankan pentingnya arti konflik dalam teater. ketersampaian cerita. Demikian berjalan secara berkesambungan. Bahkan mungkin cerita itu hanya merupakan satu rangkaian kalimat. mempelajari teater tidak hanya mempelajari satu bidang dan mengabaikan bidang lain. Semua itu tidak berada dalam bingkai saling meniru akan tetapi bingkai kreativitas yang terus berkembang dan berkembang. maka cerita yang satu kalimat itu pun dapat dikembangkan. dan penyelesaian. aktor. Memiliki tujuan yang sama. Catatan inti akan terus berkembang seiring dengan perkembangan teater itu sendiri. Dalam teater. Disitulah sebetulnya letak fungsi hakiki dari sebuah pengetahuan. bahkan penonton yang hadir di dalamnya. Untuk kepentingan inilah buku ini disusun. Jadi. Ia akan bermain dalam area yang diciptakan oleh penata panggung. Dalam sebuah lakon yang menceritakan tentang kesedihan. Dramaturgi adalah catatan-catatan proses penciptaan seni drama hingga sampai pementasannya. Banyak seniman yang lahir karena membaca atau mempelajari karya (catatan) seniman yang lainnya. Semua elemen harus besatu. semua bermula dari sebuah cerita. pelajarilah semuanya sesuai dengan tahapan yang benar. Memang perlu belajar satu bidang secara khusus tetapi pemahaman atas bidang lain tidak bisa diabaikan. Kualitas ketersampaian pesan yang diramu oleh para pekerja teater (pengarang. Ketika sebuah gagasan muncul. Satu gagasan atau perwujudan karya menjadi indah dan menarik serta memiliki kesatuan makna jika semua elemennya memiliki tujuan artistik yang sama. Respon atau tanggapan yang diberikan penonton terhadap pertunjukan yang dilangsungkan merupakan tanda bagi keberhasilan atau kegagalan pertunjukan tesebut dalam menyampaikan pesan. sutradara. Karya seni yang lahir dari kreativitas dapat dialirkan kepada generasi berikutnya melalui catatancatatan. Oleh sebab itu. penata artistik) akan diketahui langsung oleh para penonton dalam sebuah pertunjukan. wujud awal dari sebuah gagasan harus mengalami proses pembentukan. Saling mendukung demi tercapaiya tujuan tersebut. Demikian pula penata panggung harus mau memahami pola laku dan gerak para aktor di atas pentas sehingga ruang yang diciptakan tidak mengganggu bagi pergerakan aktor ketika bemain. lebih menghargai pengalaman dari pada hasil akhir. Akan tetapi. membaca untuk menilhami. Karena itu pulalah penonton merupkan kunci keberhasilan sebuah pertunjukan. Karya seni yang lebih mementingkan proses. Semua elemen harus memahami hal ini. . konflik. semua saling membantu. Apapun bentuknya. tata panggung dan cahaya. maka ia perlu dinyatakan. Gagasan hanya akan menjadi gagasan jika tidak diwujudkan. konsep. sebuah gagasan dapat diwujudkan. Seorang aktor yang baik harus mengerti fungsi tata panggung karena ia akan bermain di antara objek yang ditata di atas pentas. membaca untuk menginspirasi sehingga seni baru senantiasa lahir. semua saling belajar. Hal itu akan menyangkut soal cerita. semua saling mendukung. Satu karya mempengaruhi atau terpengaruh oleh karya lain. Karya baru yang dihasilkan oleh seniman itupun pada nantinya juga akan menginspirasi karya yang lain. tata rias dan busana. Tidak peduli berapa panjang cerita tersebut. maka semua komponen bekerja untuk memenuhi atmosfir kesedihan yang diharapkan. Minimal menjadi tiga kalimat yang masing-masing mewakili pemaparan. Membaca catatan karya orang lain bukan dipahami sebagai bentuk plagiarisme tetapi membaca untuk mempelajari. Dramaturgi atau pengetahuan teater dasar merupakan pokok pemahaman yang harus diperhatikan. Sesuatu yang sangat berarti bagi si penggagas. Dengan berdasar pengetahuan dan keingintahuan dari membaca catatan tersebut.Berbicara teater adalah berbicara tentang semua hal yang ada di dalamnya.

menjadikan manusia lebih manusiawi • • • Beranda Jeda Malam Tentang Blog ‘Joglo Drama’ Top of Form Search. Masing-masing bidang yang dibahas dalam buku ini memberikan gambaran harmonisasi tersebut. belajar. dan proses adalah belajar. Semua berjalan dalam satu proses.. Masing-masing bidang dalam teater dapat dikerjakan oleh orang-orang tertentu yang tertarik di bidang-bidang tersebut. Dengan semangat dan ketekunan berlatih. Joglo Drama – Mbah Brata Seni memanusiakan manusia. Jika semuanya berbuat dalam semangat kerjasama maka pergelaran karaya teater menjadi karya bersama yang memiliki satu makna. Tidak perlu seorang diri mengerjakan semuanya. Pengetahuan tentang dasar-dasar penyutradaraan. dan berkarya. Semua bisa dipelajari secara mandiri. Catatan kecil yang kami sampaikan ini semoga dapat menjadi pemicu semangat untuk terus belajar dan berkarya. Sebuah pertunjukan dapat digelar. Cari Bottom of Form Kajian Drama 22 Apr 2009 Tinggalkan sebuah Komentar by mbahbrata in Kajian Teori . Teater adalah kolketif. berkarya. Semua secara harmonis bekerja bersama mendukung makna yang satu. Kerjasama sebagai semangat seni teater dapat dijadikan acuan proses penciptaan. Oleh karena itu maka tidak ada kata lain selain belajar. teater adalah kerjasama.Hanya dengan cerita yang sangat sederhana semacam ini. dan tata artistik dapat diaplikasikan untuk mendukung karya yang akan ditampilkan. dan belajar. akan tetapi lebih berarti jika semua bidang bersinergi. sebuah karya teater dapat dilahirkan. Berkarya. Ilmu yang didapatkan sekarang tidak akan pernah cukup. pemeranan.. cerita yang sudah berhasil dicipta dapat diwujudkan ke dalam sebuah pementasan. Semangat belajar dalam teater tidak akan pernah bisa berhenti karena teater senantiasa hidup dan berkembang.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful