Teater berasal dari kata Yunani, “theatron” (bahasa Inggris, Seeing Place) yang artinya tempat atau gedung

pertunjukan. Dalam perkembangannya, dalam pengertian lebih luas kata teater diartikan sebagai segala hal yang dipertunjukkan di depan orang banyak. Dengan sintren, demikian, janger, dalam rumusan dagelan, sederhana sulap, teater adalah lain pertunjukan, misalnya ketoprak, ludruk, wayang, wayang wong, mamanda, akrobat, dan sebagainya. Teater dapat dikatakan sebagai manifestasi dari aktivitas naluriah, seperti misalnya, anak-anak bermain sebagai ayah dan ibu, bermain tokohg-tokohgan, dan lain sebagainya. Selain itu, teater merupakan manifestasi pembentukan strata sosial kemanusiaan yang berhubungan dengan masalah ritual. Misalnya, upacara adat maupun upacara kenegaraan, keduanya memiliki unsur-unsur teatrikal dan bermakna filosofis. Berdasarkan paparan di atas, kemungkinan perluasan definisi teater itu bisa terjadi. Tetapi batasan tentang teater dapat dilihat dari sudut pandang sebagai berikut: “tidak ada teater tanpa aktor, baik berwujud riil manusia maupun boneka, terungkap di layar maupun pertunjukan langsung yang dihadiri penonton, serta laku di dalamnya merupakan realitas fiktif”, (Harymawan, 1993). Kata “drama” juga dianggap telah ada sejak era Mesir Kuno (4000-1580 SM), sebelum era Yunani Kuno (800-277 SM). Hubungan kata “teater” dan “drama” bersandingan sedemikian erat seiring dengan perlakuan terhadap teater yang mempergunakan drama lebih identik sebagai teks atau naskah atau lakon atau karya sastra (Bakdi Soemanto, 2001). Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa istilah “teater” berkaitan langsung dengan pertunjukan, sedangkan “drama” berkaitan dengan lakon atau naskah cerita yang akan dipentaskan. Jadi, teater adalah visualisasi dari drama atau drama yang dipentaskan di atas panggung dan disaksikan oleh penonton. Jika “drama” adalah lakon dan “teater” adalah pertunjukan maka “drama” merupakan bagian atau salah satu unsur dari “teater”.

Dengan kata lain, secara khusus teater mengacu kepada aktivitas melakukan kegiatan dalam seni pertunjukan (to act) sehingga tindaktanduk pemain di atas pentas disebut acting. Istilah acting diambil dari kata Yunani “dran” yang berarti, berbuat, berlaku, atau beraksi. Karena aktivitas beraksi ini maka para pemain pria dalam teater disebut actor dan pemain wanita disebut actress (Harymawan, 1993). Meskipun istilah teater sekarang lebih umum digunakan tetapi sebelum itu istilah drama lebih populer sehingga pertunjukan teater di atas panggung disebut sebagai pentas drama. Hal ini menandakan digunakannya naskah lakon yang biasa disebut sebagai karya sastra drama dalam pertujukan teater. Di Indonesia, pada tahun 1920-an, belum muncul istilah teater. Yang ada adalah sandiwara atau tonil (dari bahasa Belanda: Het Toneel). Istilah Sandiwara konon dikemukakan oleh Sri Paduka Mangkunegoro VII dari Surakarta. Kata sandiwara berasal dari bahasa Jawa “sandi” berarti “rahasia”, dan “wara” atau “warah” yang berarti, “pengajaran”. Menurut Ki Hajar Dewantara “sandiwara” berarti “pengajaran yang dilakukan dengan perlambang” (Harymawan, 1993). Rombongan teater pada masa itu menggunakan nama Sandiwara, sedangkan cerita yang disajikan dinamakan drama. Sampai pada Zaman Jepang dan permulaan Zaman Kemerdekaan, istilah sandiwara masih sangat populer. Istilah teater bagi masyarakat Indonesia baru dikenal setelah Zaman Kemerdekaan (Kasim Achmad, 2006). Keterikatan antara teater dan drama sangat kuat. Teater tidak mungkin dipentaskan tanpa lakon (drama). Oleh karena itu pula dramaturgi menjadi bagian penting dari seni teater. Dramaturgi berasal dari bahasa Inggris dramaturgy yang berarti seni atau tekhnik penulisan drama dan penyajiannya dalam bentuk teater. Berdasar pengertian ini, maka dramaturgi membahas proses penciptaan teater mulai dari penulisan naskah hingga pementasannya. Harymawan (1993) menyebutkan tahapan dasar untuk mempelajari dramaturgi yang disebut dengan formula dramaturgi. Formula ini disebut dengan

fromula 4 M yang terdiri dari, menghayalkan, menuliskan, memainkan, dan menyaksikan. M1 atau menghayal, dapat dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang karena menemukan sesuatu gagasan yang merangsang daya cipta. Gagasan itu timbul karena perhatian ditujukan pada suatu persitiwa baik yang disaksikan, didengar maupun dibaca dari literatur tertentu. Bisa juga gagasan itu timbul karena perhatian ditujukan pada kehidupan seseorang. Gagasan atau daya cipta tersebut kemudian diwujudkan ke dalam besaran cerita yang pada akhirnya berkembang menjadi sebuah lakon untuk dipentaskan. M2 atau menulis, adalah proses seleksi atau pemilihan situasi yang harus dihidupkan begi keseluruhan lakon oleh pengarang. Dalam sebuah lakon, situasi merupakan kunci aksi. Setelah menemukan kunci aksi ini, pengarang mulai mengatur dan menyusun kembali situasi dan peristiwa menjadi pola lakon tertentu. Di sini seorang pengarang memiliki kisah untuk diceritakan, kesan untuk digambarkan, suasana hati para tokoh untuk diciptakan, dan semua unsur pembentuk lakon untuk dikomunikasikan. M3 atau memainkan, merupakan proses para aktor memainkan kisah lakon di atas pentas. Tugas aktor dalam hal ini adalah mengkomunikasikan ide serta gagasan pengarang secara hidup kepada penonton. Proses ini melibatkan banyak orang yaitu, sutradara sebagai penafsir pertama ide dan gagasan pengarang, aktor sebagai komunitakor, penata artsitik sebagai orang yang mewujudkan ide dan gagasan secara visual serta penonton sebagai komunikan. M4 atau menyaksikan, merupakan proses penerimaan dan penyerapan informasi atau pesan yang disajikan oleh para pemain di atas pentas oleh para penonton. Pementasan teater dapat dikatakan berhasil jika pesan yang hendak disampaikan dapat diterima dengan baik oleh penonton. Penonton pergi menyaksikan pertunjukan dengan maksud pertama untuk memperoleh kepuasan atas kebutuhan dan

Adapun yang dapat diketahui hanyalah teori tentang asal mulanya. sudah bisa membuat kalender. menyebutkan bahwa naskah teater tertua di dunia yang pernah ditemukan ditulis seorang pendeta Mesir.1 Asal Mula Teater Waktu dan tempat pertunjukan teater yang pertama kali dimulai tidak diketahui. sudah mengenal ilmu bedah. Pada zaman itu peradaban Mesir Kuno sudah maju. Unsur cerita ditambahkan pada upacara semacam teater.keinginannya terhadap tontonan tersebut. • Berasal dari nyanyian untuk menghormati seorang pahlawan di kuburannya. • Berasal dari kegemaran manusia mendengarkan cerita. 2. dan juga sudah mengenal tulis menulis. Di antaranya teori tentang asal mula teater adalah sebagai berikut. sudah mengerti irigasi. tokoh. . Formula dramaturgi seperti disebutkan di atas merupakan tahap mendasar yang harus dipahami dan dilakukan oleh para pelaku teater.1. itu yang akhirnya upacara berkembang agama menjadi lama pertunjukan Meskipun telah ditinggalkan. kepahlawanan. Oleh karena itu.1 Teater Barat 2. • Berasal dari upacara agama primitif. Rendra dalam Seni Drama Untuk Remaja (1993). pemahaman dasar formula dramaturgi dapat dijadikan acuan proses penciptaan karya seni teater. Jika salah satu tahap dan unsur yang ada dalam setiap tahapan diabaikan. Sejarah Singkat Teater 2. Dalam acara ini seseorang mengisahkan riwayat hidup sang pahlawan yang lama kelamaan diperagakan dalam bentuk teater. di zaman peradaban Mesir Kuno kira-kira 2000 tahun sebelum tarikh Masehi. dan lain sebagainya). maka pertunjukan yang digelar bisa dipastikan kurang sempurna. Cerita itu kemudian juga dibuat dalam bentuk teater (kisah perburuan. tapi teater ini hidup terus hingga sekarang. Mereka sudah bisa membuat piramida. I Kher-nefert.

Teater pertama kali dipertunjukkan di kota Roma pada tahun 240 SM (Brockett.1. • Cerita yang dimainkan adalah tragedi yang membuat penonton tegang.2 Teater Yunani Klasik Tempat pertunjukan teater Yunani pertama yang permanen dibangun sekitar 2300 tahun yang lalu. begitu juga Teater. Ciri-ciri khusus pertunjukan teater pada masa Yunani Kuno adalah: • Pertunjukan dilakukan di amphitheater. takut. mengunjungi amphitheater untuk menonton teater-teater. • Selain pemeran utama juga ada pemain khusus untuk kelompok koor (penyanyi). kasar dan sering mengeritik tokoh terkenal pada waktu itu. penari. Namun mutu teater Romawi tak lebih baik daripada teater Yunani. dan narator (pemain yang menceritakan jalannya pertunjukan). dan kasihan serta cerita komedi yang lucu. seniman Yunani. Teater Romawi menjadi penting karena pengaruhnya kelak pada Zaman Renaissance. 1964). Teater ini dibangun tanpa atap dalam bentuk setengah lingkaran dengan tempat duduk penonton melengkung (Jakob dan berundak-undak 1984). Teater Romawi merupakan hasil adaptasi bentuk teater . Naskah lakon teater Yunani merupakan naskah lakon teater pertama yang menciptakan dialog diantara para karakternya.1. • Sudah menggunakan naskah lakon.2. Pertunjukan ini dikenalkan oleh Livius Andronicus.3 Teater Romawi Klasik Setelah tahun 200 Sebelum Masehi kegiatan kesenian beralih dari Yunani ke Roma. • Seluruh pemainnya pria bahkan tokoh wanitanya dimainkan pria dan memakai topeng karena setiap pemain memerankan lebih dari satu tokoh. dan hadiah diberikan bagi teater terbaik. yang Ribuan disebut orang amphitheater Soemardjo. Teatron pada zaman Yunani 2.

2. banyak kota di Eropa mementaskan drama untuk merayakan hari-hari besar umat Kristen. bukan bahasa Latin yang merupakan bahasa resmi gereja-gereja Kristen (Wisnuwardhono. menggantikannya. • Musik menjadi pelengkap seluruh adegan.1.4 Teater Abad Pertengahan Dalam tahun 1400-an dan 1500-an. Hampir di setiap unsur panggungnya terdapat unsur pemanggungan teater Yunani. Drama-drama dibuat berdasarkan cerita-cerita Alkitab dan dipertunjukkan di atas kereta. 2002). dan ditarik keliling kota. lalu berjalan lagi. yang disebut pageant. anak muda yang melawan kekuasaan orang tua dan lain sebagainya. • Koor tidak lagi berfungsi mengisi setiap adegan. Tidak hanya menjadi tema cerita tetapi juga menjadi ilustrasi cerita. . Aktor-aktor pageant seringkali adalah para perajin setempat yang memainkan adegan yag menunjukan keahlian mereka. • Karakteristik tokoh tergantung kelas yaitu orang tua yang bermasalah dengan anak-anaknya atau kekayaan. • Tema berkisar pada masalah hidup kesenjangan golongan menengah. Namun demikian teater Romawi pun memiliki kebaruan-kebaruan dalam penggarapan dan penikmatan yang asli dimiliki oleh masyarakat Romawi dengan ciri-ciri sebagi berikut. drama ini populer karena pemainnya berbicara dalam bahasa sehari-hari. seperti menurunkan seorang aktor dari atas ke panggung. Bahkan kini pertunjukan jalan dan prosesi penuh warna diselenggarakan di seluruh dunia untuk merayakan berbagai hari besar keagamaan. Para pemain drama pageant menggunakan tempat di bawah kereta untuk menyembunyikan peralatan. Pageant lain dari aktor-aktor lain untuk adegan berikutnya.Yunani. Orang berkerumun untuk menyaksikan drama pageant religius di Eropa. Peralatan ini digunakan untuk efek tipuan. Para pemain pegeant memainkan satu adegan dari kisah dalam Alkitab.

Drama dilangsungkan dengan mengikuti struktur yang ada. Sejarah abad 15 dan 16 ditentukan oleh penemuanpenemuan penting yaitu mesin.Ciri-ciri teater abad Pertengahan adalah sebagai berikut: • Drama dimainkan oleh aktor-aktor yang belajar di universitas sehingga dikaitkan dengan masalah filsafat dan agama. kompas. Ciri-ciri teater Zaman Renaissance yakni sebagai berikut. • Drama banyak disisipi cerita kepahlawanan yang dibumbui cerita percintaan. . • Drama dimainkan di tempat umum dengan memungut bayaran. komedi. Pusat-pusat aktivitas teater di Italia adalah istana-istana dan akademi. Ada tiga jenis drama yang dikembangkan. Namun nilai seni ketiganya masih rendah. • Aktor bermain di panggung di atas kereta yang bisa dibawa berkeliling menyusuri jalanan.1. Semangat baru muncul untuk menyelidiki kebudayaan Yunani dan Romawi klasik. Meskipun demikian gerakan mereka memiliki arti penting karena Eropa menjadi mengenal drama yang jelas struktur dan bentuknya. yaitu tragedi. Gerakan yang menyelidiki semangat ini disebut gerakan humanisme. Semangat ini disebut semangat Renaissance yang berasal dari kata “renaitre” yang berarti kelahiran kembali manusia untuk mendapatkan semangat hidup baru. dan mesin cetak.5 Renaissance Abad 17 memberi sumbangan yang sangat berarti bagi kebudayaan Barat. Para aktor kebanyakan pegawai-pegawai istana dan pertunjukan diselenggarakan dalam pesta-pesta istana. Di gedung-gedung teater milik para bangsawan inilah dipentaskan naskah-naskah yang meniru drama-drama klasik. • Drama tidak memiliki nama pengarang. dan pastoral atau drama yang membawakan kisah-kisah percintaan antara dewa-dewa dengan para gembala di daerah pedesaan. 2.

• Naskah lakon yang dipertunjukkan meniru teater Zaman Yunani klasik. Gedung teater ini sangat sukses sehingga . dan lapangan. Gedung ini dibangun seperti lingkaran sehingga penonton bisa duduk dihampir seluruh sisi panggung. selama pemerintahan Ratu Elizabeth I. • Cerita yang dimainkan bersumber pada cerita yang diceritakan secara turun menurun. yaitu tokoh penguasa. • Pelaksanaan bentuk teater diatur oleh kerajaan maupun universitas. yaitu rumah. • Peristiwa cerita berlangsung dan berpindah secara cepat. • Cerita terdiri dari tiga babak didahului prolog panjang. Pada tahun 1575 bentuk ini sudah populer di Italia.6 Teater Zaman Elizabeth Pada tahun 1576. jalan. tokoh penggoda. Ciri khas commedia dell’arte adalah: Para pemain dibebaskan berimprovisasi mengikuti jalannya cerita dan dituntut memiliki pengetahuan luas yang dapat mendukung permainan improvisasinya. • Setting panggung sederhana. gedung teater besar dari kayu dibangun di London Inggris. • Menggunakan naskah lakon yang berisi garis besar cerita. • Terdapat tiga tokoh yang selalu muncul. • Tempat pertunjukannya di lapangan kota dan panggungpanggung sederhana. Plot cerita berlangsung dalam suasana adegan lucu. • Tata busana dan seting yang dipergunakan sangat inovatif. dan tokoh pembantu.1. Kemudian menyebar luas di Eropa dan mempengaruhi semua bentuk komedi yang diciptakan pada tahun 1600. 2. Merupakan bentuk teater rakyat Italia yang berkembang di luar lingkungan istana dan akademisi. • Pada zaman ini juga melahirkan satu bentuk teater yang disebut commedia dell’arte. • Menggunakan panggung proscenium yaitu bentuk panggung yang memisahkan area panggung dengan penonton. • Cerita bertema mitologi atau kehidupan sehari-hari.

• Penontonnya berbagai lapisan masyarakat dan diramaikan oleh penjual makanan dan minuman. Teater telah berubah selama berabadabad. Gedung-gedung pertunjukan modern memiliki efek-efek khusus dan teknologi baru. Ia biasanya menulis dalam bentuk puisi atau sajak. Ciri-ciri teater Zaman Elizabeth adalah: • Pertunjukan dilaksanakan siang hari dan tidak mengenal waktu istirahat. hiburan. • Tempat adegan ditandai dengan ucapan dengan disampaikan dalam dialog para tokoh. Ia adalah seorang aktor dan penyair. Globe mementaskan drama-drama karya William Shakespeare. Tidak pemain wanita. yang disebut solilokui. 2. Orang datang ke gedung pertunjukan tidak hanya untuk menyaksikan teater melainkan juga untuk menikmati musik. mulai dari pembunuhan dan tokohg sampai cinta dan kecemburuan. beberapa cara untuk mengekspresikan karakter-karakter berbeda . dan mempelajari hal-hal baru. Ia menulis 37 (tiga puluh tujuh) drama dengan berbagai tema. • Corak pertunjukannya merupakan perpaduan antara teater keliling dengan teater sekolah dan akademi yang keklasik-klasikan. penulis drama terkenal dari Inggris yang hidup dari tahun 1564 sampai tahun 1616. Dewasa ini.7 Teater Abad 20 Pementasan Teater di Broadway. Penonton yang mampu membeli tiket duduk di sisi-sisi panggung. Salah satunya yang disebut Globe. • Menggunakan naskah lakon. selain penulis drama.banyak gedung sejenis dibangun di sekitarnya. gedung teater ini bisa menampung 3. Beberapa ceritanya berisi monolog panjang. Rancanganrancangan panggung termasuk pengaturan panggung arena. • Tokoh wanita dimainkan oleh pemain anak-anak laki-laki.1. Mereka yang tidak mampu membeli tiket berdiri di sekitar panggung. Teater di Tengah-Tengah Gedung. pendidikan.000 penonton. atau yang disebut saat ini. dan menceritakan gagasan-gagasan mereka kepada penonton.

sutradara. dan efek elektronik. Pada zaman itu. Teater tradisional merupakan bagian dari suatu upacara keagamaan ataupun upacara adat-istiadat dalam tata cara kehidupan masyarakat kita. Pada saat itu. Seiring dengan perkembangan waktu. Setelah melepaskan diri dari kaitan upacara. ada tanda-tanda bahwa unsur-unsur teater tradisional banyak digunakan untuk mendukung upacara ritual. tata cahaya. Pada awal abad 20 inilah istilah teater eksperimental berkembang. sebenarnya baru merupakan unsurunsur teater. 2. kualitas pertunjukan realis oleh beberapa seniman dianggap semakin menurun dan membosankan. Wilayah jelajah artistik dibuka selebar-lebarnya untuk kemungkinan perkembangan bentuk pementasan seni teater. Hal ini mendorong para pemikir teater untuk menemukan satu bentuk ekspresi baru yang lepas dari konvensi yang sudah ada. Dengan semangat melawan pesona realisme. para seniman mencari bentuk pertunjukannya sendiri. dekorasi.dalam pertunjukan-pertunjukan (di samping nada suara) dapat melalui musik. sejarah teater tradisional di Indonesia dimulai sejak sebelum Zaman Hindu. Tetapi tidak jarang pula usaha mereka berhenti pada produksi pertama. Gaya-gaya teater pertunjukan realistis dan eksperimental ditemukan dalam Amerika saat ini. dan belum merupakan suatu bentuk kesatuan teater yang utuh. Banyak gaya baru yang lahir baik dari sudut pandang pengarang.2. unsur- . epik.1 Teater Tradisional Kasim Achmad dalam bukunya Mengenal Teater Tradisional di Indonesia (2006) mengatakan. aktor ataupun penata artistik.2 Teater Indonesia 2. surealisme. usaha pencarian kaidah artistik yang dilakukan oleh seniman teater modern patut diacungi jempol karena usaha-usaha tersebut mengantarkan pada keberagaman bentuk ekspresi dan makna keindahan. dan absurd. Lepas dari hal itu. Tidak jarang usaha mereka berhasil dan mampu memberikan pengaruh seperti gaya simbolisme. yang disebut “teater”.

Pada periode transisi inilah teater tradisional berkenalan dengan teater non-tradisi.2. Cara penyajian cerita dengan menggunakan panggung dan dekorasi. Macammacam teater tradisional Indonesia adalah: wayang kulit. yang pementasannya secara teknik telah banyak mengikuti budaya dan teater Barat (Eropa). sumber dan tata-cara di mana teater tradisional lahir. randai. 2.2. Kelompok teater yang masih tergolong kelompok teater tradisional dengan model garapan memasukkan unsur-unsur teknik teater Barat. dinamakan teater bangsawan. Perkenalan masyarakat Indonesia pada teater non-tradisi dimulai sejak Agust Mahieu mendirikan Komedie Stamboel di Surabaya pada tahun 1891. Proses terjadinya atau munculnya teater tradisional di Indonesia sangat bervariasi dari satu daerah dengan daerah lainnya.unsur teater tersebut membentuk suatu seni pertunjukan yang lahir dari spontanitas rakyat dalam masyarakat lingkungannya. lenong. wayang wong.1 Teater Transisi Teater transisi adalah penamaan atas kelompok teater pada periode saat teater tradisional mulai mengalami perubahan karena pengaruh budaya lain. dan sebagainya. ketoprak. Perubahan tersebut terletak pada cerita yang sudah mulai ditulis. ludruk . arja. Hal ini disebabkan oleh unsur-unsur pembentuk teater tradisional itu berbedabeda. ubrug. Selain pengaruh dari teater bangsawan.2 Teater Modern 2. drama gong.2. meskipun masih dalam wujud cerita ringkas atau outline story (garis besar cerita per adegan). yang pada saat itu masih belum menggunakan naskah drama/lakon. . Mulai memperhitungkan teknik yang mendukung pertunjukan. teater tradisional berkenalan juga dengan teater Barat yang dipentaskan oleh orang-orang Belanda di Indonesia sekitar tahun 1805 yang kemudian berkembang hingga di Betawi (Batavia) dan mengawali berdirinya gedung Schouwburg pada tahun 1821 (Sekarang Gedung Kesenian Jakarta). tergantung kondisi dan sikap budaya masyarakat.

Wiggers yang berjudul Lelakon Raden Beij Soerio Retno. Kemudian lahirlah kelompok sandiwara lain. Setelah sandiwara Komedie seperti Stamboel didirikan muncul (The kelompok Opera Sandiwara Dardanella Malay Dardanella) yang didirikan Willy Klimanoff alias A. yang menggunakan bahasa Melayu Rendah. mulai mengenal sastra lakon dengan diperkenalkannya lakon yang pertama yang ditulis oleh orang Belanda F.Dilihat dari segi sastra. Bentuk sastra drama yang pertamakali menggunakan bahasa Indonesia dan disusun dengan model dialog antar tokoh dan berbentuk sajak adalah Bebasari (artinya kebebasan yang sesungguhnya atau inti kebebasan) karya Rustam Efendi (1926). dan lain sebagainya. Sampai pada Zaman Jepang dan permulaan Zaman Kemerdekaan. pada tahun 1901.2. 2.2 Teater Indonesia tahun 1920-an Teater pada masa kesusasteraaan angkatan Pujangga Baru kurang berarti jika dilihat dari konteks sejarah teater modern Indonesia tetapi cukup penting dilihat dari sudut kesusastraan.2. Naskah-naskah drama tersebut belum mencapai bentuk sebagai drama karena masih menekankan unsur sastra dan sulit untuk dipentaskan. Lakon ini menceritakan perjuangan . Sandiwara Orion. Istilah teater bagi masyarakat Indonesia baru dikenal setelah Zaman Kemerdekaan. Opera Abdoel Moeloek. Komidi Bangsawan. Sandiwara Tjahaja Timoer. dan lainlainnya. Kemudian disusul oleh Lauw Giok Lan lewat Karina Adinda. seperti Opera Stambul. Pedro pada tanggal 21 Juni 1926. Karenanya rombongan teater pada masa itu menggunakan nama sandiwara. Yang ada adalah sandiwara. Pada masa teater transisi belum muncul istilah teater. istilah sandiwara masih sangat populer. Indra Bangsawan. Lakon Bebasari merupakan sastra drama yang menjadi pelopor semangat kebangsaan. Drama-drama Pujangga Baru ditulis sebagai ungkapan ketertekanan kaum intelektual dimasa itu karena penindasan pemerintahan Belanda yang amat keras terhadap kaum pergerakan sekitar tahun 1930-an. Lelakon Komedia Hindia Timoer (1913). sedangkan cerita yang disajikan dinamakan drama.

pada tahun 1927 menulis dan menyutradarai teater di Bengkulu (saat di pengasingan). yaitu Sanusi Pane menulis Kertajaya (1932) dan Sandyakalaning Majapahit (1933) Muhammad Yamin menulis Ken Arok dan Ken Dedes (1934).2. dua orang tokoh. Mr. Namun demikian. yaitu Anjar Asmara dan Kamajaya masih sempat berpikir bahwa perlu didirikan Pusat Kesenian Indonesia yang bertujuan menciptakan pembaharuan kesenian yang selaras dengan perkembangan zaman sebagai upaya untuk melahirkan kreasi – kreasi baru dalam wujud kesenian nasional Indonesia. Maka pada tanggal 6 oktober 1942.2. persoalan. yang membebaskan puteri Bebasari dari niat jahat Rahwana. Sanusi Pane (Ketua). Armiijn Pane mengolah roman Swasta Setahun di Bedahulu karangan I Gusti Nyoman Panji Tisna menjadi naskah drama. Mr. Sutan Takdir Alisjabana. menulis dengan menggunakan bahasa Indonesia dan berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Bahkan Presiden pertama Indonesia. Penulis-penulis ini adalah cendekiawan Indonesia. Armijn Pane. dan sebagai anggota antara lain. Imam Supardi menulis drama dengan judul Keris Mpu Gandring. Lakon-lakon ini ditulis berdasarkan tema kebangsaan. Beberapa lakon yang ditulisnya antara lain. Singgih menulis drama berjudul Hantu. dengan judul Si Bachil. Segala daya kreasi seni secara sistematis di arahkan untuk menyukseskan pemerintahan totaliter Jepang. 2. Ir Soekarno. Rainbow. Nur Sutan Iskandar menyadur karangan Molliere. Sumanang (Sekretaris). dan Kama Jaya. Satiman Wirjosandjojo menulis drama berjudul Nyai Blorong.tokoh utama Bujangga. Krukut Bikutbi. dan harapan serta misi mewujudkan Indonesia sebagai negara merdeka.3 Teater Indonesia tahun 1940-an Semua unsur kesenian dan kebudayaan pada kurun waktu penjajahan Jepang dikonsentrasikan untuk mendukung pemerintahan totaliter Jepang. Penulis lakon lainnya. di rumah Bung Karno dibentuklah Badan Pusat Kesenian Indonesia dengan pengurus sebagai berikut. Badan Pusat Kesenian Indonesia bermaksud . Dr. Setan. dan Dr. dalam situasi yang sulit dan gawat serupa itu.

Dahlia. dan sebagainya. Intensitas kerja Djawa Eiga Kosya yang ingin menghambat langkah Badan Pusat Kesenian Indonesia nampak ketika mereka membuka sekolah tonil dan drama Putra Asia. Bengawan Solo. yang dipimpin oleh orang Jepang S. Oya. ternyata mengalami hambatan yang datangnya dari barisan propaganda Jepang. antara lain Astaman. Secara istimewa selingannya kemudian ditambah dengan mode show. Langkah-langkah yang telah diambil oleh Badan Pusat Kesenian Indonesia untuk mewujudkan cita-cita kemajuan kesenian Indonesia. Mis Tjitjih. Komedi Bangsawan. Mis Ribut. Pancawarna. dan Merah Delima. Rombongan Sandiwara Bintang Surabaya menyuguhkan pementasan-pementasan dramanya dengan cara lama seperti pada masa Dardanella. di antaranya dengan jalan memperbaiki dan menyesuaikan kesenian daerah menuju kesenian Indonesia baru. Sija. dengan peragawati gadis-gadis Indo Belanda yang cantik-cantik. R. yaitu di antara satu dan lain babak diselingi oleh tarian-tarian.A Murdiati.menciptakan kesenian Indonesia baru. yang kesemuanya merupakan corong propaganda Jepang. Kris Bali. yaitu Sendenbu yang membentuk badan perfilman dengan nama Djawa Eiga Kosy’. Rombongan sandiwara keliling komersial. . maupun Sunda. dan lawak. Dalam kurun waktu ini semua bentuk seni hiburan yang berbau Belanda lenyap karena pemerintah penjajahan Jepang anti budaya Barat. dan Bolero. seperti misalnya Bintang Surabaya. nyanyian. Jawa. Tjahaya Asia. Tan Ceng Bok (Si Item). Mata Hari. Pendekar Asia. Ali Yugo. Air Mata Ibu (sudah difilmkan). Warna Sari. Pengarang Nyoo Cheong Seng. Dalam masa pendudukan Jepang kelompok rombongan sandiwara yang mula-mula berkembang adalah rombongan sandiwara profesional. Ratu Asia. Dewi Mada. Rombongan sandiwara Bintang Surabaya tampil dengan aktor dan aktris kenamaan. Fifi Young. dan lain-lain kembali berkembang dengan mementaskan cerita dalam bahasa Indonesia. yang dikenal dengan nama samarannya Mon Siour D’amour ini dalam rombongan sandiwara Bintang Surabaya menulis lakon antara lain.

Rombongan sandiwara Dewi Mada lebih mengutamakan tari-tarian dalam pementasan teater mereka karena Dewi Mada adalah penari terkenal sejak masa rombongan sandiwara Bolero. dan Rencong Aceh. Cerita yang dipentaskan antara lain. Ratna Asmara. Hingga tahun 1943 rombongan sandiwara hanya dikelola pengusaha Cina atau dibiayai Sendenbu karena bisnis pertunjukan itu masih asing bagi para pengusaha Indonesia. Baru kemudian Muchsin sebagai pengusaha besar tertarik dan membiayai rombongan sandiwara Warna Sari. adalah Garsia penampilan musiknya yang mewah yang dipimpin oleh Garsia. Bulan Punama. Keistimewaan Filipina. Panggilan Tanah Air. Ia menabuh drum-drum tersebut sambil meloncat ke kanan–ke kiri sehingga menarik minat penonton. sandiwara rombongan Tjahaya sandiwara Asia yang ini terpaksa berlindung di bawah barisan propaganda Jepang dan berganti nama rombongan mementaskan ceritacerita baru untuk kepentingan propaganda Jepang. Hanya kalangan terpelajar yang menyukai pertunjukan Matahari yang menampilakan hiburan berupa tari-tarian pada awal pertunjukan baru kemudian dihidangkan lakon sandiwara dari awal hingga akhir. dengan bintang-bintang eks Bolero. Bentuk penyajian semacam ini di anggap kaku oleh penonton umum yang lebih suka unsur hiburan disajikan sebagai selingan babak satu dengan babak lain . dan lain sebagainya. Ni Parini. Anjar Asmara. Kembang Kaca. seorang keturunan terkenal menempatkan deretan drumnya yang berbagai ukuran itu memenuhi lebih dari separuh panggung. yaitu rombongan sandiwara yang digemari rakyat jelata. rombongan yang sandiwara sebagi Warna Raja Sari Drum. Rombongan sandiwara terkenal lainnya adalah rombongan sandiwara Sunda Mis Tjitjih. dan Kama Jaya pada tanggal 6 April 1943. Cerita-cerita yang dipentaskan antara lain. yaitu Dewi Mada dengan suaminya Ferry Kok. Kusumahadi. Dewi Rani. yang sekaligus sebagai pemimpinnya. Ida Ayu.Menyusul kemudian muncul rombongan sandiwara Dewi Mada. mendirikan rombongan sandiwara angkatan muda Matahari. menjadi Dalam perjalanannya.

Sensor Sendenbu malah menjadi titik awal dikenalkannya naskah dalam setiap pementasan sandiwara. Huyung (Hei Natsu Eitaroo). Sang Pek Engtay. Solo di Waktu Malam dan Nusa Penida. ahli seni drama atas nama Sendenbu memprakarsai berdirinya POSD (Perserikatan Oesaha Sandiwara Djawa) yang beranggotakan semua rombongan sandiwara profesional. Para pemain tidak boleh menambah atau melebih-lebihkan dari apa yang sudah ditulis dalam naskah. dan lain-lain). Teater tidak hanya sebagai hiburan tetapi juga untuk ekspresi kebudayaan berdasarkan kesadaran nasional dengan cita-cita menuju humanisme dan religiositas dan memandang teater sebagai seni serius dan ilmu pengetahuan. dan Jauh di Mata. Pada saat inilah pengembangan ke arah pencapaian teater nasional dilakukan. Dari semua lakon tersebut ada yang sudah di filmkan yaitu. Nusa Penida. dan Abu Hanifah dengan para anggota cendekiawan muda. apoteker.sehingga akhirnya dengan terpaksa rombongan sandiwara tersebut mengikuti selera penonton. Kotot Sukardi menulis lakon. Pertumbuhan sandiwara profesional tidak luput dari perhatian Sendenbu. Guna-guna. Pecah Sebagai Ratna. Oleh karena ada sensor Sendenbu maka lakon harus ditulis lengkap berikut dialognya. Lakon Ibu Prajurit ditulis oleh Natsusaki Tani. Benteng Ngawi. Bende Mataram. Solo di Waktu Malam. Kelompok ini berprinsip menegakkan nasionalisme. Potong Padi. Bahwa . Hei Natsu Eitaroo menulis Hantu. Menjelang akhir pendudukan Jepang muncul rombongan sandiwara yang melahirkan karya ssatra yang berarti. Jepang menugaskan Dr. Sendenbu menyiapkan naskah lakon yang harus dimainkan oleh setiap rombongan sandiwara karangan penulis lakon Indonesia dan Jepang. humanisme dan agama. Amat Heiho. Kama Jaya menulis lakon antara lain. Si Bongkok. dan D. Musim Bunga di Slabintana. yaitu Penggemar Maya (1944) pimpinan Usmar Ismail. Pancaroba. Rosihan Anwar. nasionalis dan para profesional (dokter. lakon Nora karya Henrik Ibsen diterjemahkan dan judulnya diganti dengan Jinak-jinak Merpati oleh Armijn Pane. Kupu-kupu. Djajakusuma dengan dukungan Suryo Sumanto. Lakon-lakon yang ditulis Anjar Asmara antara lain.

Pakaian dan Kepalsuan oleh Akhdiat Kartamiharja (1956) berdasarkan The Man In Grey Suit karya Averchenko dan Hanya Satu Kali (1956). kepahlawanan dan tindakan pengecut. oportunisme politis.teori teater perlu dipelajari secara serius. ATNI menggalakkan dan memapankan realisme dengan mementaskan lakon-lakon terjemahan dari Barat. erosi ideologi. mereka merenungkan peristiwa tokohg kemerdekaan. Kapten Syaf (Aoh Kartahadimaja. seperti korupsi. Pertahanan Akhir (Sitor Situmorang. kekecewaan. berdasarkan Justice karya John Galsworthy. keberanian dan nilai kemanusiaan. Realisme konvensional dan naturalisme tampaknya menjadi pilihan generasi yang terbiasa dengan teater barat dan dipengaruhi oleh idiom Hendrik Ibsen dan Anton Chekhov. dan lain-lain.2. Peristiwa tokohg secara khas dilukiskan dalam lakon Fajar Sidik (Emil Sanossa. 1959). bahkan lakon adaptasi. keiklasan sendiri dan pengorbanan. penderitaan. Penggemar Maya menjadi pemicu berdirinya Akademi Teater Nasional Indonesia di Jakarta. juga sebaliknya. 1951).2. peluang terbuka bagi seniman untuk merenungkan perjuangan dalam tokohg kemerdekaan. melainkan sampai ke Malaysia. seperti karyakarya . Sayang Ada Orang Lain (1953) karya Utuy Tatang Sontani. 1954). kemiskinan. Utuy Tatang Sontani dipandang sebagai tonggak penting menandai awal dari maraknya drama realis di Indonesia dengan lakonlakonnya yang sering menyiratkan dengan kuat alienasi sebagai ciri kehidupan moderen. 2. 1955). Islam dan Komunisme. Tema itu terungkap dalam lakon-lakon seperti Awal dan Mira (1952). dan lain-lain. 1956) Sekelumit Nyanyian Sunda (Nasyah Jamin. kemunafikan. Kelak.4 Teater Indonesia Tahun 1950-an Setelah tokoh kemerdekaan. melalaikan penderitaan korban tokohg. Kedua seniman teater Barat dengan idiom realisme konvensional ini menjadi tonggak didirikannya Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) pada tahun 1955 oleh Usmar Ismail dan Asrul Sani. pengkhianatan. Sementara ada lakon yang bercerita tentang kekecewaan paska tokohg. Lakon Awal dan Mira (1952) tidak hanya terkenal di Indonesia. Titiktitik Hitam (Nasyah Jamin.

Galib Husein. Sedangkan metode pementasan dan pemeranan yang dikembangkan oleh ATNI adalah Stanislavskian. dan Biduanita Botak (Ionesco. Ketika Rendra kembali . Mengadaptasi lakon Hamlet dan diubah judulnya menjadi Jaka Tumbal (1963/1964). Menurut Brandon (1997). Pada tahun 1960. 1961). (Misbach Yusa Biran) dengan gaya longser. 1945). Jim Lim menyutradari Bung Besar. melanjutkan apa yang sudah dilakukan Jim Lim yaitu mencampurkan unsur-unsur teater Barat dengan teater etnis. Pada akhir 1950-an JIm Lim mulai dikenal oleh para aktor terbaik dan para sutradara realisme konvensional. Wahyu Sihombing. Teguh Karya. Karya penyutradaraanya.. dan dagelan dengan teater Barat. teater rakyat Sunda. longser. Bermain dengan akting realistis dalam lakon The Glass Menagerie (Tennesse William. Sontani) dan Paman Vanya (Anton Chekhov). dan Chekov. Gogol. 1962).5 Teater Indonesia Tahun 1970-an Pementasan: Mengapa Leonardo oleh Teater Koma Jim Adi Limas mendirikan Studiklub Teater Bandung dan mulai mengadakan eksperimen dengan menggabungkan unsur-unsur teater etnis seperti gamelan. salah satu aktor dan juga teman Jim Lim. 1960). Menyutradarai dengan gaya realistis tetapi isinya absurditas pada lakon Caligula (Albert Camus. Alumni Akademi Teater Nasional yang menjadi aktor dan sutradara antara lain. Tatiek Malyati. Himpunan Seni Budaya Surakarta (HBS) didirikan di Surakarta. Pada tahun 1967 Jim Lim belajar teater dan menetap di Paris. 1950).Moliere. dan Kasim Achmad. yaitu Awal dan Mira (Utuy T. Tahun 1962 Jim Lim menggabungkan unsur wayang kulit dan musik dalam karya penyutradaraannya yang berjudul Pangeran Geusan Ulun (Saini KM. tari topeng Cirebon. Di Yogyakarta tahun 1955 Harymawan dan Sri Murtono mendirikan Akademi Seni Drama dan Film Indonesia (ASDRAFI). Pramana Padmadarmaya. 2.2. Suyatna Anirun. Peristiwa penting dalam usaha membebaskan teater dari batasan realisme konvensional terjadi pada tahun 1967. ATNI inilah akademi teater modern yang pertama di Asia Tenggara.2. Badak-badak (Ionesco. The Bespoke Overcoat (Wolf mankowitz ).

tata cahaya. kostum dan verbalisme naskah. dan lain-lain. Putu Wijaya (teater Mandiri) dengan ciri penampilan menggunakan . Noor (Teater Kecil) dengan gaya pementasan yang kaya irama dari blocking. Pertunjukannya misalnya. Ujung Pandang. musik. Tidak hanya Stanislavsky tetapi nama-nama seperti Brecht. Yogyakarta. Wahyu Sihombing. Akan tetapi. Artaud dan Grotowsky juga diperbincangkan. Taman Ismail Marzuki menerbitkan 67 (enam puluh tujuh) judul lakon yang ditulis oleh 17 (tujuh belas) pengarang sandiwara. menjadi pemicu meningkatnya aktivitas. Pramana Padmodarmaya (Teater Lembaga). Rahman Arge dan Aspar Patturusi mendirikan Teater Makasar. Lalu Teater Nasional Medan didirikan oleh Djohan A Nasution dan Burhan Piliang.ke Indonesia. Arifin C. Teater Melarat Malang). Di Makasar. juga lokakarya dan diskusi teater secara umum atau khusus. Padang. Palembang. Hasyim Amir (Bengkel Muda Surabaya. Danarto (Teater Tanpa Penonton). vokal. Luthfi Rahman. Medan. gubernur DKI jakarta tahun1970. pertunjukan bermula dari improvisasi dan eksplorasi bahasa tubuh dan bebunyian mulut tertentu atas suatu tema yang diistilahkan dengan teater mini kata (menggunakan kata seminimal mungkin). dan kreativitas berteater tidak hanya di Jakarta. Bib Bop dan Rambate Rate Rata (1967. Teguh Karya (Teater Populer). tetapi juga di kota besar seperti Bandung. Didirikannya pusat kesenian Taman Ismail Marzuki oleh Ali Sadikin. D. Mohammad Diponegoro dan Syubah Asa mendirikan Teater Muslim. Surabaya. menyelenggarakan festival pertunjukan secara teratur. Djajakusuma. Di Padang ada Wisran Hadi dengan teater Padang. Di Surabaya muncul bentuk pertunjukan teater yang mengacu teater epik (Brecht) dengan idiom teater rakyat (kentrung dan ludruk) melalui Basuki Rahmat. Adi Kurdi (Teater Hitam Putih). Tokoh-tokoh teater yang muncul tahun 1970-an lainnya adalah. Di Yogyakarta Azwar AN mendirikan teater Alam. Rendra mendirikan Bengkel Teater Yogya yang kemudian menciptakan pertunjukan pendek improvisatoris yang tidak berdasarkan naskah jadi (wellmade play) seperti dalam drama-drama realisme. Ikranegara (Teater Saja). Akhudiat. Teater Lektur.1968).

di Solo ada juga Teater Gidag-gidig. Salah satu lakonnya berjudul Tuk. dan Teater Gandrik. Upeti. Pada saat itu lahirlah kelompok-kelompok teater baru di berbagai kota di Indonesia. Di Tegal lahir teater RSPD. Kontrang. Di Surabaya ada Festival Drama Lima Kota yang digagas oleh Luthfi Rahman. Di Bandung muncul Teater Bel. Riantiarno (Teater Koma) dengan ciri pertunjukan yang mengutamakan tata artistik glamor.6 Teater Indonesia Tahun 1980 – 1990-an Teater Gandrik: Orde Tabung. Di Solo (Surakarta) muncul Teater Gapit yang menggunakan bahasa Jawa dan latar cerita yang meniru lingkungan kehidupan rakyat pinggiran.kantring. N.kostum yang meriah dan vokal keras. Beberapa jenis festival di Yogyakarta. Menampilkan manusia sebagai gerombolan dan aksi. Di Jakarta dikenal dengan Festival Teater Jakarta (sebelumnya disebut Festival Teater Remaja). Sinden. Dalam latar situasi seperti itu lahir beberapa kelompok teater yang sebagian merupakan produk festival teater. Meh. Fokus tidak terletak pada aktor tetapi gerombolan yang menciptakan situasi dan aksi sehingga lebih dikenal sebagai teater teror. Di samping Gapit.2. Ditiadakannya kehidupan politik kampus sebagai akibat peristiwa Malari 1974. Tahun 1980-1990-an situasi politik Indonesia kian seragam melalui pembentukan lembaga-lembaga tunggal di tingkat nasional. Di Yogyakarta muncul Teater Dynasti. Teater Gandrik menonjol dengan warna teater yang mengacu kepada roh teater tradisional kerakyatan dan menyusun berita-berita yang aktual di masyarakat menjadi bangunan cerita. dan Teater Payung Hitam. Teater Republik. Lakon yang dipentaskan antra lain. Pasar Seret. Teater Tikar. Teater Jeprik. Dhemit.2. Teater Shima. di antaranya Festival Seni Pertunjukan Rakyat yang diselenggarakan Departemen Penerangan Republik Indonesia (1983). 2. Kholiq Dimyati dan Mukid F. Dewan-dewan Mahasiswa ditiadakan. dan Orde Tabung. Festival Drama Lima Kota Surabaya memunculkan .

drama tidak pernah luput dari masalah hidup dan kehidupan manusia.Teater Pavita. Aktivitas teater kampus mampu menghidupkan dan membuka kemungkinan baru gagasan-gagasan artistik. Jurusan teater dibuka di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada tahun 1985. Teater Tetas selain teater Studio Oncor. Teater Api.7 Teater Kontemporer Indonesia Teater Kontemporer Indonesia mengalami perkembangan yang sangat membanggakan. Meksipun seni teater konvensional tidak pernah mati tetapi teater eksperimental terus juga tumbuh. Sanggar Suroboyo. . kemungkinan ekspresi artistik dikembangkan dengan gaya khas masing-masing seniman. wilayah jelajah ekspresi menjadi semakin luas dan kemungkinan bentuk garap semakin banyak. Teater Sae yang berbeda sikap dalam menghadapi naskah yaitu posisinya sejajar dengan cara-cara pencapaian idiom akting melalui eksplorasi latihan. Ada pula Teater Luka. ISI menjadi satu-satunya perguruan tinggi seni yang memiliki program Strata 1 untuk bidang seni teater pada saat itu. 2.2. Di Medan muncul Teater Que dan di Palembang muncul Teater Potlot. Gerakan ini terus berkembang sejak tahun 80an sampai saat ini. Teater Kubur. dan Teater Kami yang lahir di luar produk festival (Afrizal Malna. Teater Institut.1999). Semangat kolaboratif yang terkandung dalam seni teater dimanfaatkan secara optimal dengan menggandeng beragam unsur pertunjukan yang lain. Teater Bandar Jakarta. Aktivitas teater terjadi juga di kampus-kampus perguruan tinggi. Teater Rajawali. Teater Tobong. Sejak munculnya eksponen 70 dalam seni teater. Teater Nol. Karenanya. Di Semarang muncul Teater Lingkar.2. Dari Festival Teater Jakarta muncul kelompok teater seperti. Salah satu teater kampus yang menonjol adalah teater Gadjah Mada dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Teater Kanvas. Rangkuman Perkembangan teater mulai muncul sejak adanya manusia. Dengan demikian. Teater Ragil. Konsep dan gaya baru saling bermunculan.

Peristiwa lakon tersebut menuntun seseorang untuk mengikuti laku kejadian mulai dari pemaparan. tetapi semakin lama semakin gawat sehingga akhirnya ia sampai ke puncak yang disebut klimaks. Penting sekali bahwa dalam menyusun kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa seorang penulis haruslah bersabar untuk melangkah dari satu kejadian ke kejadian lain dalam suatu perkembangan yang logis. yaitu pertama. Tugas Secara Kelompok buatlah kliping gambar-gambar pementasan teater dan berikanlah uraian singkat tentangnya! (hubungkan dengan sejarah perkembangan teater.) BAB II SENI SASTRA DALAM TEATER Teater memiliki sekurang-kurangnya empat unsur penting dalam setiap pementasan. Ketiga.Perkembangan Teater Barat dan Timur dapat dikatakan berjalan sejajar dengan perkembangan keberadaban manusia. Peristiwa atau kejadian dibuat oleh penulis naskah sebagai kerangka besar yang mendasari terjadinya suatu lakon. semakin lama semakin rumit. yaitu pertama. skenario tak tertulis (dalam teater kerakyatan). Keempat. sehingga pada puncaknya masuk ke dalam penyelesaian cerita. dan apa yang dibaca atau diceritakan kepadanya oleh orang lain. Konflik dalam lakon merupakan inti cerita. Dalam lakon akan dijumpai dua hal yang sangat penting. lakon Kedua. konflik. sutradara sebagai pertunjukan di panggung. konlfik hingga penyelesaian. Kedua. apa yang dialami. Lakon ditulis oleh seorang penulis naskah lakon berdasarkan apa yang dilihat. tokoh atau tokoh yang terlibat dalam kejadiankejadian dalam lakon. lakon atau cerita yang ditampilkan. Penulis kemudian menyusun rangkaian kejadian. bisa berwujud sebuah naskah atau skenario tertulis. penonton adalah sekelompok orang yang menyerahkan sebagian dari kemerdekaannya untuk menjadi bagian dari tokoh yang tampil dalam suatu lakon dan menikmatinya. pemain adalah orang yang penata membawakan tersebut. Tidaklah menarik sebuah cerita .

Jadi. Seorang penulis terkadang mengemukakan tema dengan jelas tetapi ada juga yang secara tersirat. tema harus dirumuskan dengan jelas. tetapi juga menyampaikan suatu pesan tentang persoalan kehidupan manusia. Pengarang atau penulis lakon menciptakan sebuah lakon bukan hanya sekedar mencipta. Pesan itu bisa mengenai kehidupan lahiriah maupun batiniah.1 Tema Tema ada yang menyebutnya sebagai premis. Sementara. Gagasan utama atau pesan lakon termaktub dalam konflik yang merupakan pertentangan antara satu pihak terhadap pihak lain mengenai sesuatu hal. dia mempunyai kepekaan terhadap lingkungan sekelilingnya. Konflik dalam lakon bisa rumit bisa juga sederhana. root idea. Akan tetapi. Ketika tema tidak terumuskan dengan jelas maka lakon tersebut akan kabur dan tidak jelas apa yang hendak disampaikan. Terkadang konflik yang kecil dan sederhana jika diselesaikan secara cerdas akan membuat penonton takjub. yaitu konflik dan tokoh yang terlibat dalam kejadian. Tidak ada acuan yang pasti terhadap konflik dalam lakon yang dapat membuat cerita menjadi menarik. dan dari lingkungan tersebut dia menyerap segala persoalan yang menjadi ide-ide dalam penulisan lakonnya. Jalinan cerita menuju konflik dan cara penyelesainnya inilah yang menjadikan lakon menarik. berliku. central idea. 2. kalau ada anggapan bahwa semakin rumit konflik lakon semakin menarik adalah anggapan yang salah. Keunggulan dari seorang pengarang ialah. goal. karena tema merupakan sasaran yang hendak dicapai oleh seorang penulis lakon. konflik yang berat. karena peristiwa yang mengarahkan cerita kepada konflik membutuhkan tokoh sebagai pelaku. Jadi dalam lakon ada dua hal penting yang diciptakan oleh seorang penulis lakon.disajikan di atas panggung tanpa adanya konflik. aim. Pengarang adalah seorang warga masyarakat yang tentunya mempunyai pendapat tentang masalah-masalah politik . Tokoh adalah orang yang menghidupkan kejadian atau peristiwa yang dibuat oleh penulis naskah. thought. driving force dan sebagainya. dan bercabang-cabang jika tidak disajikan secara baik justru akan membosankan dan membuat laku lakon menjadi lamban.

dan sosial yang penting serta mengikuti isu-isu zamannya (Rene Wellek dan Austin Warren, 1989). Ide-ide, pesan atau pandangan terhadap persoalan yang ada dijadikan ide sentral atau tema dalam menulis naskah lakonnya. Tema adalah suatu amanat utama yang disampaikan oleh pengarang atau penulis melalui karangannya (Gorys Keraf, 1994). Tema bisa juga disebut muatan intelektual dalam sebuah permainan, ini mungkin bisa diuraikan sebagai keseluruhan pernyataan dalam sebuah permainan: topik, ide utama atau pesan, mungkin juga sebuah keadaan (Robert Cohen, 1983). Adhy Asmara (1983) menyebut tema sebagai premis yaitu rumusan intisari cerita sebagai landasan ideal dalam menentukan arah tujuan cerita. Dengan demikian bisa ditarik kesimpulan bahwa tema adalah ide dasar, gagasan atau pesan yang ada dalam naskah lakon dan ini menentukan arah jalannya cerita. Tema dalam naskah lakon ada yang secara jelas dikemukakan dan ada yang samar-samar atau tersirat. Tema sebuah lakon bisa tunggal dan bisa juga lebih dari satu. Tema dapat diketahui dengan dua cara : • Apa yang diucapkan tokoh-tokohnya melalui dialog-dialog yang disampaikan. • Apa yang dilakukan tokoh-tokohnya. Dengan berpedoman dua hal tersebut analisis tema lakon dapat dikerjakan. Misalnya, lakon Raja Lear karya William Shakespeare terjemahan Trisno Sumardjo. Dialog yang disampaikan tokoh dapat dijadikan acuan untuk menganalisis tema lakon. Masing-masing tokoh mengucapkan kalimat dialognya. Dari dialog tersebut dapat diketahui perihal atau soalan yang dibahas. Dengan merangkai setiap persoalan melalui dialog para tokohnya maka gambaran tema akan didapatkan. Detil tema selalu dapat ditemukan dari baris-baris kalimat dialog tokoh cerita. Semua analisis lakon dikerjakan dengan mencermati kalimat dialog tersebut serta hubungan antara kalimat satu dengan yang lain. Jika hanya membaca cerita secara keseluruhan tanpa meninjau kalimat dialog dengan teliti maka hasil akhir dari analisis yang dilakukan belum tentu benar. Kadangkadang, dialog kecil memiliki arti yang luas dan

sanggup mempengaruhi tema cerita. Misalnya, dalam kalimat dialog Raja Lear dapat ditarik satu simpulan bahwa meskipun sebagai raja ia disegani oleh anak-anaknya, tetapi karena sikapnya yang keras maka ia juga dibenci. Perhatikan kutipan dialog di bawah ini. LEAR : ………….. kendalikan lidahmu sedikit; nanti kuhambat untungmu…. LEAR : ………………. Sekarang kulempar tiap kewajiban orang tua, tiap pertalian keluarga dan darah; mulai kini sampai selamanya kaulah asing bagiku dan bagi hatiku…………………. KENT : Silakan. Bunuhlah tabib tuan, supaya hama jahat berupah. Batalkan anugerah tuan; kalau tidak, rangkung saya berteriak meyerukan tuanlah lalim……… RAJA TOKOHCIS : Cordelia jelita, ternyata paling kaya meski miskin; terpillih meski, meski dibuang; tercinta meski dihina……………. CORDELIA : Andaikan bukan seorang ayah, namun uban ini sudah menuntut belas-kasih. Ah wajah benginikah dipaksa menempuh pergolakan badai? Dan melawan guntur bercakra garang, petir dahsyat yang pesat,, cepat menyambar-nyabar? Bagai prajurit yang terbuang, berjaga dengan topi tipis ini? Anjing musuhku pun, walau menggigit aku, di malam begitu takkan kuusir untuk dari tempat berdiang………………. Melalui laku atau aksi tokoh dalam lakon yang biasanya diterangkan (dituliskan) dalam arahan lakon gambaran tema semakin jelas. Laku aksi memberikan penegasan kalimat dialog. Dalam lakon Raja Lear, laku tokoh dapat memberikan penjelasan sebagai berikut. • Raja Lear membagi kerajaan pada ketiga anaknya sesuai dengan pujian yang disampaikan anaknya. • Raja Lear murka pada Cordelia karena tidak memujinya. • Raja Lear marah-marah ketika tidak dilayani hidupnya pada anak yang semula disayangi. • Raja Lear marah-marah dan mengusir bawahannya ketika ada yang menentang.

• Anak-anak Raja Lear yang disayangi berubah memusuhi orang tuanya sehingga Raja Lear sakit. Dari kutipan dialog dan laku serta perbuatan tokoh dalam lakon Raja Lear di atas bisa ditarik sebuah kejelasan bahwa Raja Lear adalah orang yang gila hormat, tidak bijaksana, lalim, dan harus dipuji. Atas sikapnya itu Raja Lear menuai hasil, yaitu kehancuran diri dan keluarganya. 2.2 Plot Plot (ada yang menyebutnya sebagai alur) dalam pertunjukan teater mempunyai kedudukan yang sangat penting. Hal ini berhubungan dengan pola pengadeganan dalam permainan teater, dan merupakan dasar struktur irama keseluruhan adegan permainan. atau Plot dapat terus dibagi tanpa berdasarkan babak dan berlangsung

pembagian. Plot merupakan jalannya peristiwa dalam lakon yang terus bergulir hinga lakon tersebut selesai. Jadi plot merupakan susunan peristiwa lakon yang terjadi di atas panggung. Plot menurut Panuti Sudjiman dalam bukunya Kamus Istilah Sastra (1984) memberi batasan adalah jalinan peristiwa di dalam karya sastra (termasuk naskah drama atau lakon) untuk mencapai efek-efek tertentu. Pautannya dapat diwujudkan oleh hubungan temporal (waktu) dan oleh hubungan kausal (sebab-akibat). Plot atau alur adalah rangkaian peristiwa yang direka dan dijalin dengan seksama, yang menggerakkan jalan cerita melalui perumitan (penggawatan atau komplikasi) ke arah klimaks penyelesaian. Menurut J.A. Cuddon dalam Dictionary of Literaray Terms (1977), plot atau alur adalah kontruksi atau bagan atau skema atau pola dari peristiwa-peristiwa dalam lakon, puisi atau prosa dan selanjutnya bentuk peristiwa dan perwatakan itu menyebabkan pembaca atau penonton tegang dan ingin tahu. Plot atau alur menurut Hubert C. Heffner, Samuel Selden dan Hunton D. Sellman dalam Modern Theatre Practice (1963), ialah seluruh persiapan dalam permainan. Jadi plot berfungsi sebagi pengatur seluruh bagian permainan, pengawas utama dimana seorang penulis naskah dapat menentukan bagaimana cara mengatur lima bagian yang lain, yaitu

• Krisis adalah penjelasan yang terperinci dari perjuangan karakterkarakter atau satu karakter untuk mengatasi konflik. pelaku-pelakunya. dan bagian akhir. Pada bagian tengah biasanya berisi tentang kejadian-kejadian yang bersangkut paut dengan masalah pokok yang telah disodorkan kepada penonton dan membutuhkan jawaban. bagian awal. tema. diksi. • Aksi Pendorong adalah saat memperkenalkan sumber konflik di antara karakter-karakter atau di dalam diri seorang karakter. bagian tengah. 2. musik. misalnya tempat lakon tersebut terjadi. • Resolusi adalah proses penempatan kembali kepada suasana baru. • Klimaks adalah proses identifikasi atau proses pengusiran dari rasa tertekan melalui perbuatan yang mungkin saja sifatnya jahat. atau argumentative atau kejenakaan atau melalui cara-cara lain. Plot juga berfungsi sebagai bagian dasar yang membangun dalam sebuah teater dan keseluruhan perintah dari seluruh laku maupun semua bagian dari kenyataan teater serta bagian paling penting dan bagian yang utama dalam drama atau teater. Bagian akhir berisi tentang satu persatu pertanyaan penonton terjawab atau sebuah lakon telah mencapai klimaks besar. Bagian ini merupakan kejadian akhir dari lakon dan terkadang memberikan jawaban atas segala persoalan dan konflik-konflik yang terjadi. waktu kejadiannya. Secara umum pembagian plot terkadang menggunakan tipe sebab akibat yang dibagi dalam lima pembagian sebagai berikut.karakter. dan spektakel. dan bagaimana peristiwa itu terjadi. Seorang penulis seringkali meletakkan berbagai informasi penting pada bagian awal lakon. Pembagian plot dalam lakon klasik atau konvensional biasanya sudah jelas yaitu.1 Jenis Plot . • Eksposisi adalah saat memperkenalkan dan membeberkan materimateri yang relevan atau memberi informasi pada penonton tentang masalah yang dialami atau konflik yang terjadi dalam diri karakterkarakter yang ada di lakon.

terdiri dari alur menanjak atau rising plot. alur menurun atau falling plot. alur maju atau progressive plot.1 Simple Plot Simple plot atau plot lakon yang sederhana adalah lakon yang memiliki satu alur cerita dan satu konflik yang bergerak dari awal sampai akhir. Alur menurun atau falling plot adalah alur dengan emosi lakon mulai dari tingkat emosi yang paling tinggi menuju tingkat emosi lakon yang paling rendah. Alur ini merupakan kebalikan dari alur menanjak atau rising plot. Alur ini adalah alur cerita paling umum pada alur lakon. Alur mundur atau regresive plot adalah alur cerita yang dimulai dari inti cerita kemudian dipaparkan bagaimana . lihat. Simple plot ini terdiri dari plot linear dan linear-circular. alur mundur atau regressive plot. Jalinan jalan cerita dalam lakon bergerak mulai dari awal sampai akhir tanpa ada kilas balik. Alur maju atau progresive plot adalah alur cerita yang dimulai dari pemaparan peristiwa lakon sampai menuju inti peristiwa lakon. Alur linear ini masih bisa dibagi-bagi lagi sesuai dengan sifat emosi yang terkandung dari plot linear ini. Plot linear adalah alur cerita mulai dari awal sampai akhir cerita bergerak lurus sedangkan linear-circular adalah alur cerita mulai dari awal sampai akhir bergerak lurus secara melingkar sehingga awal dan akhir cerita akan bertemu dalam satu titik. Alur menanjak atau rising plot adalah alur dengan emosi lakon mulai dari tingkat emosi yang paling rendah menuju tingkat emosi lakon yang paling tinggi. Jalinan peristiwa dan jalannya cerita inilah yang dimaksud dengan plot.1. dan alur melingkar atau circular plot. Emosi ini timbul karena terpengaruh oleh jalinan peristiwaperistiwa dan jalannya cerita yang ditulis oleh penulis. atau baca tersebut. Secara sederhana plot dapat dibagi menjadi dua yaitu simple plot (plot yang sederhana) dan multi plot (plot yang lebih dari satu) 2.Ketika menonton atau melihat atau membaca sebuah lakon fiksi maka emosi kita akan terpengaruh dengan apa yang kita tonton. alur lurus atau straight plot. Plot lakon banyak sekali ragamnya tergantung dari penulis lakon mempermainkan emosi kita.

1. 2. Rendra. Alur ini merupakan kebalikan dari progressive plot. Plot-plot yang ada dalam cerita tersebut memiliki permasalah yang harus diselesaikan. Contoh lakon dengan alur episode atau episodic plot adalah lakon Panembahan Reso karya W. tema. Alur lurus atau straight plot hampir sama dengan alur maju. dimana pada akhir cerita semua tokoh yang terlibat dalam cerita yang terpisah tadi akhirnya menyatu guna menyelesaikan cerita. Multi plot ini terdiri dari dua tipe yaitu alur episode atau episodic plot dan alur terpusat atau concentric plot. Plot disusun oleh pengarang dengan tujuan untuk mengungkapkan buah pikirannya yang secara khas. Contoh lakon dengan alur mundur adalah Opera Primadona karya Nano Riantiarno yang dimainkan oleh Teater Koma. Setiap episode dalam lakon tersebut sebenarnya tidak ada hubungan sebab akibat dalam rangkaian cerita. Raja Lear karya William Shakespeare dan lain-lain. Concentric plot adalah cerita lakon yang memiliki beberapa plot yang berdiri sendiri. 2.S. plot atau alur cerita merupakan rangkaian peristiwa yang satu dengan yang lain dihubungkan dengan hukum sebab akibat. • Gimmick. Pengungkapan ini lewat jalinan peristiwa yang baik sehingga menciptakan dan mampu menggerakkan alur cerita itu sendiri. di mana setiap episode memiliki alur cerita sendiri. Alur episode atau episodic plot adalah plot cerita yang terdiri dari bagian perbagian secara mandiri. tokoh.2 Multi Plot Multi plot adalah lakon yang memiliki satu alur utama dengan beberapa sub plot yang saling bersambungan.sampai terjadi peristiwa tersebut.2 Anatomi Plot Menurut Rikrik El Saptaria (2006). bagian 5 menit pertama yang sengaja dibuat menarik untuk memikat penikmat . Dengan demikian plot memiliki anatomi atau bagian-bagian yang menyusun plot tersebut yang disebut dengan anatomi plot sebagai berikut. Tetapi pada akhir cerita alur cerita yang terdiri dari episodeepisode ini akan bertemu.

Kalau pemeran atau sutradara tidak cermat dalam menganalisisnya maka kemungkinan suspen terlewati dan tidak tergarap dengan baik. • Dramatic Irony. tetapi kilas balik pada film biasanya berupa nukilannukilan gambar. supaya penonton bertanyatanya apa akibat yang ditimbulkan dari peristiwa sebelumnya ke peristiwa selanjutnya. • Suspen. Kilas balik biasanya diceritakan • melalui dialog tokoh. Kalau cerita itu bisa ditebak oleh penonton maka perhatian pertunjukan dipikirkan. • Flashback. kilas balik peristiwa lampau yang dikisahkan kembali pada saat ini. dan biasanya tidak disadari oleh tokoh tersebut. Kilas balik ini berfungsi untuk mengingatkan kembali ingatan penonton pada peristiwa yang telah lampau tetapi masih dalam satu rangkaian peristiwa lakon. Hal ini akan menyebabkan kualitas pertunjukan dinilai tidak terlalu bagus. Suspen ini biasanya dibangun melalui dialog-dialog serta laku para tokoh yang ada dalam naskah lakon. karena semuanya sudah bisa ditebak oleh penonton.• Fore Shadowing. Dengan menimbulkan pertanyaanpertanyaan ini penonton akan betah mengikuti cerita sampai selesai. Dalam lakon banyak dijumpai tokoh-tokoh ini. aksi seorang tokoh yang berkata atau bertindak sesuatu. Suspen ini biasanya diciptakan dan dijaga oleh penulis lakon dari awal sampai akhir cerita. penonton tersebut akan tidak berkurang dan menganggap sesuatu untuk menyuguhkan . dan tanpa disadari akan menimpa dirinya sendiri. pembayangan ke depan yang terjadi ketika tokoh meramalkan atau membayangkan keadaan yang akan datang. berisi dugaan dan prasangka yang dibangun dari rangkaian ketegangan yang mengundang akan pertanyaan dan dan keingintahuan penonton. Suspen menumbuhkan memelihara keingintahuan penonton dari awal sampai akhir cerita.

di dalam gedung atau di dalam rumah? Jam berapa kira-kira terjadi? Tanggal. aksi atau ucapan tokoh utama yang beritikad tentang sesuatu persoalan yang menimbulkan pertentangan atau konflik antartokoh.3 Setting Membicarakan tentang setting dalam mengkaji lakon tidak ada kaitan langsung dengan tata teknik pentas. suatu peristiwa yang terjadi diluar dugaan penonton sebelumnya dan memancing perasaan dan pikiran penonton agar menimbulkan dugaan-dugaan yang tidak pasti. karena memang bukan persoalan scenery yang hendak dibahas. Peristiwa dalam lakon adalah peristiwa fiktif yang menjadi hasil rekaan penulis lakon. Pertanyaan untuk setting atau latar cerita untuk adalah kapan dan dimana pasti persitiwa dan terjadi. Namun peristiwa yang diharapkan tersebut. Dalam sebuah lakon terkadang dijumpai aksi-aksi yang seperti ini dan akan menimbulkan suatu rasa simpati penonton kepada korbannya.• Surprise. Seperti . atau sore hari? Jika terjadi dalam ruang lalu di mana letak ruang itu. atau sudah lain hari? Pertanyaan-pertanyaan seputar waktu dan tempat kejadian ini akan memberikan gambaran peristiwa lakon yang komplit (David Groote. bulan. 1997). pada akhirnya mengarah ke sesuatu yang tidak disangka-sangka sebelumnya. dan tahun berapa? Apakah waktu kejadiannya berkaitan dengan waktu kejadian peristiwa di adegan lain. tempat Pertanyaan tidak serta merta dijawab secara global tetapi harus lebih mendetil mengetahui secara waktu kejadiannya. 2.3.1 Latar Tempat Latar tempat adalah tempat yang menjadi latar peristiwa lakon itu terjadi. 2. • Gestus. Analisis setting lakon ini merupakan suatu usaha untuk menjawab sebuah pertanyaan apakah peristiwa terjadi di luar ruang atau di dalam ruang? Apakah terjadi pada waktu malam. Menurut Aristoteles peristiwa dalam lakon adalah mimesis atau tiruan dari kehidupan manusia keseharian. pagi hari.

2 Latar Waktu Latar waktu adalah waktu yang menjadi latar belakang peristiwa. interpretasi tempat kejadian peristiwa ini terletak pada keterangan yang diberikan oleh penulis naskah lakon dan dalam imajinasi pembaca. Misalnya. Tugas seorang sutradara dan pemeran ketika menghadapi sebuah naskah lakon adalah menginterprestasi latar waktu dalam lakon tersebut. babak atau dalam keseluruhan lakon tersebut. Sebagai bahan bacaan sastra.diketahui bahwa sifat dari naskah lakon bisa berdiri sendiri sebagai bahan bacaan sastra. sore). Analisis latar waktu perlu dilakukan baik oleh seorang sutradara maupun oleh pemeran. Sedangkan sebagai bahan dasar pertunjukan. Analisis latar waktu yang dilakukan oleh sutradara biasanya berhubungan dengan tata teknik pentas. Analisis latar tempat dapat dilakukan dengan mencermati dialog-dialog tokoh yang sedang berlangsung dalam satu adegan. malam. tempat peristiwa ini harus dikomunikasikan atau diceritakan oleh para pemeran sebagai komunikator kepada penonton. Dengan menggetahui latar waktu yang terjadi pada maka semua pihak akan bisa mengerjakan lakon tersebut. pagi. Gambaran tempat peristiwa dalam lakon kadang sudah diberikan oleh penulis lakon. sedangkan yang dilakukan oleh pemeran biasanya berhubungan dengan akting dan bisnis akting. tetapi banyak latar waktu ini tidak diberikan oleh penulis lakon. adegan. musim kemarau. waktu yang menunjukkan sebuah musim (musim hujan. Latar waktu terkadang sudah diberikan`atau sudah diberi rambu-rambu oleh penulis lakon.3. tetapi kadang tidak diberikan oleh penulis lakon. dan babak itu terjadi. Analisis ini perlu dilakukan guna memberi suatu gambaran pada penonton tentang tempat peristiwa itu terjadi. 2. Latar waktu dalam naskah lakon bisa menunjukkan waktu dalam arti yang sebenarnya (siang. tetapi bisa sebagai bahan dasar dari pertunjukan. Analisis ini juga sangat penting dilakukan karena berhubungan dengan tata teknik pentas. penata artistik akan menata perabot dan mendekorasi pementasan sesuai dengan latar waktu. musim dingin dan lain-lain). dan waktu yang menunjukkan suatu zaman atau .

tabrakan .abad (Zaman Klasik. Analisis latar waktu bisa dilakukan dengan mencermati dialog-dialog yang disampaikan oleh tokoh dalam adegan atau babak yang sedang berlangsung. Misalnya. atau yang mengakibatkan adegan atau lakon itu terjadi. Misalnya. tanpa perwatakan tidak bakal ada plot. lakon Raja Lear. Bahkan Lajos Egri berpendapat bahwa berperwatakanlah yang paling utama dalam lakon. Latar peristiwa yang nyata digunakan oleh penulis lakon untuk menggambar peristiwa yang terjadi secara nyata pada waktu itu sebagai dasar dari lakonnya.3. Latar peristiwa pada adegan atau lakon adalah peristiwa yang mendahului adegan atau lakon tersebut. Jika proses identifikasi ini berhasil. Perbedaan-perbedaan tokoh ini diharapkan akan diidentifikasi oleh penonton. 2. yaitu seolah-olah terjadi kiamat karena lakon ini dialegorikan sebagai kiamat kecil.4. adegan awal pada lakon 2. zaman tokohg dan lain-lain). Padahal ketidaksamaan watak akan melahirkan pergeseran. Karakterisasi Karakterisasi merupakan usaha untuk membedakan tokoh satu dengan tokoh yang lain. mungkin saja William Shakespeare terinspirasi oleh bencana yang melanda Inggris pada waktu itu. Lakon pada waktu itu mengambil latar peristiwa pada Zaman Tokohg Revolusi di Indonesia. Latar peristiwa ini bisa sebagai realita bisa juga fiktif yang menjadi imajinasi penulis lakon. Tanpa perwatakan tidak akan ada cerita. Karakterisasi atau perwatakan dalam sebuah lakon memegang tokohan yang sangat penting. berbarti kita telah mengadopsi pikiran-pikiran dan perasaan tokoh tersebut menjadi perasaan dan pikiran kita. maka perasaan penonton akan merasa terwakili oleh perasaan tokoh yang diidentifikasi tersebut. Suatu misal kita mengidentifisasi satu tokoh.3 Latar Peristiwa Latar peristiwa adalah peristiwa yang melatari adegan itu terjadi dan bisa juga yang melatari lakon itu terjadi. Zaman Romantik. Lakon-lakon dengan latar peristiwa yang riil juga terjadi pada lakonlakon di Indonesia pada tahun 1950 sampai tahun 1970.

Dalam teater. dan pertikaian itu harus berkembang mencapai klimaks. Contoh. Konflik dapat dikembangkan oleh penulis lakon melalui ucapan dan tingkah laku tokoh. Persoalan ini bisa dari tokoh lain. Cordelia dalam lakon Raja Lear karya William Shakespeare. Deutragonis Deutragonis adalah tokoh lain yang berada di pihak tokoh protagonis. 2. Tokoh ini juga menentukan jalannya cerita. Tokoh ini ikut mendukung menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh tokoh protaganis.1 Jenis-jenis Tokoh Tokoh merupakan sarana utama dalam sebuah lakon. konflik yang akhirnya melahirkan cerita (A. Tokoh protagonis dan antagonis harus memungkinkan menjalin pertikaian. Adjib Hamzah. Antagonis Antagonis adalah tokoh lawan.4. Motivasi-motivasi tokoh inilah yang dapat melahirkan suatu perbuatan tokoh. Tokoh-tokoh tersebut adalah sebagai berikut. tokoh Tumenggung Kent. tokoh dapat dibagi-bagi sesuai dengan motivasi-motivasi yang diberikan oleh penulis lakon. bisa juga karena kekurangan dirinya sendiri. Tritagonis .kepentingan. 1985). Edgar. Keberadaan tokoh adalah untuk mengatasi persoalanpersoalan yang muncul ketika mencapai suatu citacita. Contoh tokoh protagonis pada lakon Raja Lear karya William Shakespeare terjemahan Trisno Sumardjo adalah tokoh Raja Lear itu sendiri. Contoh tokoh antagonis pada lakon Raja Lear karya William Shakespeare terjemahan Trisno Sumardjo adalah tokoh Gonerill dan tokoh Regan. Tokoh antagonis harus memiliki watak yang kuat dan kontradiktif terhadap tokoh protagonis. dan cita-cita Raja Lear. sebab dengan adanya tokoh maka timbul konflik. bisa dari alam. Protagonis Protagonis adalah tokoh utama yang merupakan pusat atau sentral dari cerita. Kedua tokoh inilah yang menentang perkembangan. keinginan. karena dia seringkali menjadi musuh yang menyebabkan konflik itu terjadi.

yaitu flat character. Contoh: tokoh Badut dalam lakon Raja Lear karya William Shakespeare. Utility Utility adalah tokoh pembantu atau sebagai tokoh pelengkap untuk mendukung rangkaian cerita dan kesinambungan dramatik. Oswald. teatrikal. round charakter.Tritagonis adalah tokoh penengah yang bertugas menjadi pendamai atau pengantara protagonis dan antagonis. Contoh. 2. Menurut Rikrik El Saptaria (2006). Curan dalam lakon Raja Lear karya William Shakespeare. Contoh. yang merupakan akumulasi dari pengalaman-pengalaman dan interaksi-interaksi yang dilakukannya dan terus berkembang. Biasanya dia berpihak pada tokoh antagonis. • Flat Character (perwatakan dasar) Flat character atau karakter datar adalah karakter tokoh yang ditulis oleh penulis lakon secara datar dan biasanya bersifat hitam putih. tokoh Perwira.4. Penokohan ini biasanya didahului dengan menganalisis tokoh tersebut sehingga bisa dimainkan. Foil Foil adalah tokoh yang tidak secara langsung terlibat dalam konflik yang terjadi tetapi ia diperlukan guna menyelesaikan cerita. Dia adalah pengawal dari Cordelia.2 Jenis Karakter Karakter adalah jenis tokoh yang akan dimainkan. tokoh Bangsawan pada lakon Raja Lear karya Willliam Sahkespeare. dan karikatural. jenis karakter dalam teater ada empat macam. Karakter tokoh dalam lakon mengacu pada pribadi manusia yang berkembang sesuai dengan perkembangan lingkungan. Penulis lakon adalah orang yang memiliki dunia sendiri yaitu dunia fiktif. sehingga . sedangkan penokohan adalah proses kerja untuk memainkan tokoh yang ada dalam naskah lakon. Jadi perkembangan karakter seharusnya mengacu pada pribadi manusia. Biasanya tokoh ini mewakili jiwa penulis. Ketika masih kecil dia bereksplorasi dengan dirinya sendiri untuk mengetahui perkembangan dirinya. dan ketika sudah dewasa maka pribadinya berkembang melalui hubungan dengan lingkungan sosial.

Karakter-karakter teatrikal jarang dijumpai pada lakon-lakon realis. . unik.ketika mencipta sebuah karakter dia bebas menentukan suatu perkembangan karakter. tetapi diperlukan dalam sebuah lakon. Round karakter adalah karakter tokoh dalam lakon yang mengalami perubahan dan perkembangan baik secara kepribadian maupun status sosialnya. Perkembangan inilah yang menjadikan karakter ini menarik dan mampu untuk mengerakkan jalan cerita. C. Misalnya karakter yang diciptakan oleh Putu Wijaya pada lakonlakonnya yang bergaya post-realistic. D. Kawan. tetapi sangat banyak dijumpai pada lakon-lakon klasik dan non realis. Karakter ini hanya simbol dari psikologi masyarakat. seperti tokoh A. antara ketegangan dengan keriangan suasana. Pemimpin (lakon LOS) dan lain-lain. dan cenderung menyindir. Flat character biasanya ada pada karakter tokoh yang tidak terlalu penting atau karakter tokoh pembantu. keadaan jaman dan lain-lain yang tidak bersifat manusiawi tetapi dilakukan oleh manusia. Si Gembrot. • Round Character (perwatakan bulat) Karakter tokoh yang ditulis oleh penulis secara sempurna. bisa juga dengan tingkah laku. Sifat karikatural ini bisa berupa dialog-dialog yang diucapkan oleh karakter tokoh. dan lebih bersifat simbolis. Karakter ini segaja diciptakan oleh penulis lakon sebagai penyeimbang antara kesedihan dan kelucuan. karakteristiknya kaya dengan pesan-pesan dramatik. Si Tua. suasana. satiris. bahkan perpaduan antara ucapan dengan tingkah laku. Perkembangan dan perubahan ini mengacu pada perkembangan pribadi orang dalam kehidupan sehari-hari. • Teatrikal Teatrikal adalah karakter tokoh yang tidak wajar. Karakter ini biasanya terdapat karakter tokoh utama baik tokoh protagonis maupun tokoh antagonis. • Karikatural Karikatural adalah karakter tokoh yang tidak wajar.. Flat character ini ditulis dengan tidak mengalami perkembangan emosi maupun derajat status sosial dalam sebuah lakon.

Sejalan dengan kebutuhan akan yang semakin meningkat. plot. Meskipun demikian. Sularto BAB III DASAR SENI PENYUTRADARAAN DALAM TEATER Pada mulanya pementasan teater tidak mengenal sutradara. setting. dan karakterisasi. produksi pementasan teater Saxe-Meiningen masih mengutamakan kerja bersama antarpemain yang dengan giat berlatih untuk meningkatkan kemampuan berakting mereka (Robert Cohen. Proses mengajar dijadikan tonggak awal lahirnya “sutradara”. Model penyutradaraan seperti yang dilakukan oleh George II diteruskan pada masa lahir dan berkembangnya gaya realisme. Dengan banyaknya jumlah pentas yang harus dilakukan. Dalam terminologi Yunani sutradara (director) disebut didaskalos yang berarti guru dan pada abad pertengahan di seluruh Eropa istilah yang digunakan untuk seorang sutradara dapat diartikan sebagai master. Tugas Analisislah naskah “Domba-domba Revolusi” karya B. Andre Antoine di Tokohcis dengan Teater Libre serta Stansilavsky di Rusia adalah dua sutradara berbakat yang mulai menekankan idealisme dalam setiap . Seorang bangsawan (duke) dari Saxe-Meiningen yang memimpin sebuah grup teater dan menyelenggarakan pementasan keliling Eropa pada akhir tahun 1870-1880.Rangkuman Drama yang merupakan unsur seni sastra dalam teater terbagi atas: tema. Istilah sutradara seperti yang dipahami dewasa ini baru muncul pada jaman Geroge II. maka kehadiran seorang sutradara yang mampu mengatur dan mengharmonisasikan keseluruhan unsur artistik pementasan dibutuhkan. Pementasan teater muncul dari sekumpulan pemain yang memiliki gagasan untuk mementaskan pementasan sebuah teater cerita. Kemudian mereka berlatih para dan aktor memainkkannya di hadapan penonton. maka memerlukan peremajaan pemain. Para aktor yang telah memiliki banyak pengalaman mengajarkan pengetahuannya kepada aktor muda. 1994).

3. Naskah yang tidak dikehendaki akan . yaitu menentukan lakon. Oleh karena kedudukannya yang tinggi.1. Gordon Craig merupakan seorang sutradara yang menanamkan gagasannya untuk para aktor sehingga ia menjadikan sutradara sebagai pemegang kendali penuh sebuah pertunjukan teater (Herman J. maka seorang sutradara harus mengerti dengan baik hal-hal yang berhubungan dengan pementasan. Nskah tersebut harus memenuhi kreteria yang diinginkan serta sesuai dengan kondisi yang ada di lapangan. Oleh karena itu. Jika sutradara memilih naskah yang akan ditampilkan dalam keadaan terpaksa maka bisa dipastikan hasil pementasan menjadi kurang baik. • Sutradara menyukai naskah yang dipilih. menentukan pemain. Max Reinhart mengembangkan penyutradaraan dengan mengorganisasi proses latihan para aktor dalam waktu yang panjang. Dengan demikian sutradara menjadi salah satu elemen pokok dalam teater modern. Sutradara bisa memilih lakon yang sudah tersedia (naskah jadi) karya orang lain atau membuat naskah lakon sendiri.1. Setelah itu tugas berikutnya adalah menganalisis lakon. kerja sutradara dimulai sejak merencanakan sebuah pementasan. Ada beberapa pertimbangan yang dapat dilakukan oleh sutradara dalam memilih naskah.produksinya. menentukan bentuk dan gaya pementasan.1 Naskah Jadi Mementaskan teater dengan naskah yang sudah tersedia memiliki kerumitan tersendiri terutama pada saat hendak memilih naskah yang akan dipentaskan. seperti tertulis di bawah ini. Waluyo. Pemilihan Naskah Proses atau tahap pertama yang harus dilakukan oleh sutradara adalah menentukan lakon yang akan dimainkan. 3. Berhasil tidaknya sebuah pertunjukan teater mencapai takaran artistik yang diinginkan sangat tergantung kepiawaian sutradara. memahami dan mengatur blocking serta melakukan serangkaian latihan dengan para pemain dan seluruh pekerja artistik hingga karya teater benarbenar siap untuk dipentaskan. 2001).

sutradara harus mampu membuat naskah yang sesuai dengan kualitas sumber daya yang ada. Hal ini membawa dampak tersendiri dalam bidang pendanaan. keseluruhan kerja menjadi tidak optimal. Oleh karena itu. tetapi semua orang yang terlibat menjadi senang karena dapat mengerjakannya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. • Sutradara merasa mampu mementaskan naskah yang telah dipilih. sutradara harus mampu melakukan adaptasi sehingga pendanaan bisa dikurangi tanpa mengurangi nilai artistik lakon. • Sutradara wajib mempertimbangkan sisi pendanaan secara khusus. Semua sumber daya dimiliki seperti pemain.1. Akan tetapi berkenaan dengan sumber daya yang dimiliki. membuat naskah sendiri dapat menjadi pilihan yang tepat. • Sutradara mampu menemukan pemain yang tepat. sutradara harus mampu mengukur kualitas sumber daya pemain yang dimiliki dalam menentukan naskah yang akan dipentaskan. naskah yang dipilih memoiliki latar cerita di rumah mewah dengan segala perabot yang indah. Untuk itu. Naskah semacam ini bersifat situasional. Sutradara dengan segenap kemampuannya harus mampu meyakinkan pemain dan mengusahakan pertunjukan agar tetap digelar sehingga proses yang telah dilakukan tidak menjadi sia-sia.Tidak ada gunanya berlatih naskah lakon tertentu dalam waktu lama jika di tengah proses tiba-tiba hal itu terhenti karena alasan tertentu. pemilihan pemain yang asal-asalan. maka naskah tersebut bisa dipilih.2 Membuat Naskah Sendiri Membuat naskah lakon sendiri tidak menguntungkan karena akan memperpanjang proses pengerjaan. Beberapa . • Sutradara mampu tetap mementaskan naskah yang dipilih. 3. seperti analisis yang kurang detil. Jika sutradara merasa mampu mengusahakan pendanaan secara optimal untuk mewujudkan tuntutan artistik lakon. penata artsitik. dan pendanaan menjadi pertimbangan dalam memilih naskah yang akan dipentaskan. Beberapa naskah yang baik terkadang memiliki konsekuensi logis dengan pendanaan. tetapi juga dengan unsur pendukung yang lain. Jika tidak. Mampu mementaskan sebuah naskah tentunya tidak hanya berkaitan dengan kecakapan sutradara. Misalnya. Naskah lakon yang baik tidak ada gunanya jika dimainkan oleh aktor yang kurang baik.membawa pengaruh dan masalah tersendiri bagi sutradara dalam mengerjakannya.

pangkal persoalan yang dibicarakan adalah sikap licik seseorang yang selalu memfitnah orang lain demi kepentingannya sendiri. • Menentukan persoalan. Tema adalah gagasan dasar cerita atau pesan yang akan disampaikan oleh pengarang kepada penonton. serta jujur. berkecukupan. yaitu pembuka yang berisi pengantar cerita atau sebab awal. membuat kerangka cerita (skenario) dengan empat bagian. Dengan membuat kerangka cerita maka penulis akan memiliki batasan yang jelas sehingga cerita tidak berteletele. Bagian tengah adalah konflik yang meruncing hingga sampai klimaks. tengah. Tokoh protagonis adalah tokoh yang membawa laku keseluruhan cerita. titik balik cerita dimulai dan konflik diselesaikan. William Froug (1993) misalnya. Dengan menulis lawan dari sifat protagonis maka karakter antagonis dengan sendirinya terbentuk. dermawan. konflik hingga klimaks. sutradara sekaligus penulis naskah Teater Koma. menentukan kerangka lakon dalam tiga bagian. isi yang berisi pemaparan. Dengan menentukan tokoh protagonis secara mendetil. maka tokoh lain baik yang berada di pihak protagonis atau antagonis akan mudah diciptakan. • Menentukan tema. konflik. Semakin detil sifat atau karakter protagonis. Misalnya dengan tema “kebaikan akan mengalahkan kejahatan”. senang membantu orang lain. maka tokoh protagonis dapat diwujudkan sebagi orang yang rajin.langkah di bawah ini dapat dijadikan acuan untuk menulis naskah lakon. Misalnya tema yang dipilih adalah “kebaikan akan mengalahkan kejahatan”. klimaks sampai penyelesaian. • Menentukan kerangka cerita. • Menentukan protagonis. dalam persoalan tentang kelicikan. maka dalam cerita hal tersebut harus dimunculkan melalui aksi tokoh-tokohnya sehingga penonton dapat menangkap maksud dari cerita bahwa sehebat apapun kejahatan pasti akan dikalahkan oleh kebaikan. Gambaran cerita secara global dari awal sampai akhir hendaknya dituliskan. dan akhir. Oleh karena itupangkal persoalan atau titik awal konflik perlu dibuat dan disesuaikan dengan tema yang dikehendaki. maka tokoh lainnya mudah ditemukan. bagian awal. akan menuntun laku cerita dari awal sampai akhir. dan penutup yang merupakan simpulan cerita atau akibat. Persoalan atau konflik adalah inti daricerita teater. Jika tokoh protagonis dan antagonis sudah ditemukan. Bagian awal adalah bagian pengenalan secara lebih rinci masing-masing tokoh dan titik konflik awal muncul. Misalnya. Kerangka cerita akan membingkai jalannya cerita dari awal sampai akhir. Tidak ada cerita teater tanpa konflik. . • Membuat sinopsis (ringkasan cerita). yaitu pembukaan. semangat dalam bekerja. Pada bagian pembukaan memaparkan sketsa singkat tokoh-tokoh cerita. Sinopsis digunakan pemandu proses penulisan naskah sehingga alur dan persoalan tidak melebar. maka semakin jelas pula karakter tokoh antagonis. Riantiarno (2003). Tema. Persoalan ini kemudian diikembangkan dalam cerita yang hendak dituliskan. Dengan adanya sinopsis maka penulisan lakon menjadi terarah dan tidak mengadaada. Pada bagian akhir. Kerangka ini membagi jalannya cerita mulai dari pemaparan.

Dinamika percintaan Romeo dan Juliet yang berakhir dengan kematian inilah yang harus ditekankan oleh sutradara kepada penonton. dan memahami konflik lakon. • Konflik dan Penyelesaian. Semua ini akan memberi sudut pandang bagi sutradara dalam melihat. dalam tahap ini sutradara hanya membaca kehendak pengarang melalui lakonnya. sutradara memepelajari seluruh isi lakon dan menangkap gambaran lengkap lakon seperti apa yang tertulis. Lakon yang telah ditentukan harus segera dipelajari sehingga gambaran 100% lengkap cerita didapatkan. Karena tidak banyak arahan dan keterangan yang dituliskan . dan pada akhirnya bagaimana konflik itu diselesaikan. Selain itu sudut pandang pengarang dalam menyelesaikan konflik dapat menegaskan pesan yang hendak disampaikan. Jadi. Di bagian mana konflik itu muncul dan bagaimana aksi dan reaksi para tokohnya. sutradara wajib menemukan pesan utama dari lakon yang telah ditentukan. Analisis karakter tokoh sangat penting dan harus dilakukan secara mendetil agar sutradara mendapatkan gambaran watak sejelas-jelasnya. menilai. Oleh karena itu. sutradara akan lebih mudah menerjemahkan kehendak pengarang dalam pertunjukan. Pesan ini ingin disampaikan oleh pengarang dengan akhir yang tragis dimana tokoh Romeo dan Juliet akhirnya mati bersama. Oleh karena itu. dan tidak tergesa-gesa. 3.• Menentukan cara penyelesaian. Oleh karena itu tentukan akhir cerita dengan baik.2 Analisis Lakon Menganalisis lakon adalah salah satu tugas utama sutradara. pada bagian mana konflik itu memuncak.2. Apa yang hendak disampaikan oleh pengarang melalui naskah lakon disebut pesan. • Menulis. Mencari dan mengembangkan gagasan memang tidak mudah. • Pesan Lakon. Romeo and Juliet karya Shakespeare mengandung pesan bahwa seseorang yang telah menemukan cinta sejati tidak takut terhadap risiko apapun termasuk mati. logis. • Karakter Tokoh. 3. Akhir cerita yang mengesankan selalu akan dinanti oleh penonton. Unsur-unsur pokok yang harus dianalisis oleh sutradara adalah senagai berikut. Dalam proses analisis ini. Berhasil atau tidaknya sebuah pertunjukan teater diukur dari sampai tidaknya pesan lakon kepada penonton. Dengan analisis yang baik. Penting mengetahui dasar persoalan (konflik) dalam sebuah lakon karena hal tersebut akan membawa laku aksi para tokohnya. Dalam beberapa lakon ada cerita yang diakhiri dengan baik tetapi ada yang diakhiri secara tergesa-gesa. Merupakan bahan komunikasi utama yang hendak disampaikan kepada penonton.1 Analisis Dasar Analisis dasar adalah telaah unsur-unsur pokok yang membentuk lakon. Mengakhiri sebuah persoalan yang dimunculkan tidaklah mudah. bahkan ada yang bingung mengakhirinya. Setelah semua hal disiapkan maka proses berikutnya adalah menulis. gunakan dan manfaatkan waktu sebaik mungkin. tetapi lebih tidak mudah lagi memindahkan gagasan dalam bentuk tulisan.

Proses interpretasi biasanya menyangkut unsur latar. Penyesuaian inipun berkaitan langsung dengan latar waktu dan peristiwa. artinya. • Latar Cerita. Di gedung tersebut cerita terjadi di ruang aula. apartemen mewah disimbolkan sebagai pusat kekuasaan maka tata panggungnya disesuaikan dengan simbolisasi tersebut. Misalnya. Akan tetapi sangat mungkin seorang sutradara memiliki gagasan astistik tertentu yang akan ditampilkandalam pementasan setelah menganalisa sebuah lakon. dewan kota. Hal ini berlaku juga untuk latar peristiwa dan waktu. sutradara dapat menafsirkan tempat kejadian secara simbolis. • Pesan. atau ciri khas daerah tertentu. Cara menyampaikan pesan antara sutradara satu dengan yang lain bisa berbeda . museum. atau gedung pertunjukan. Untuk mewujudkan keadaan peristiwa seperti dikehendaki lakon di atas panggung maka informasi yang jelas mengenai latar cerita harus didapatkan. Gambaran tempat kejadian. gaya spanyol. Dengan demikian penonton akan mendapatkan gambaran yang jelas latar cerita yang dimainkan. Proses ini bisa disebut sebagai proses asimilasi (perpaduan) antara gagasan sutradara dan pengarang.Berdasarkan hasil analisis. sederhana atau mewah. Misalnya. Secara artistik. dan waktu kejadian harus diungkapkan dengan jelas karena hal ini berkaitan dengan tata artistik.2. Intinya informasi sekecil apapun harus didapatkan. dan karakterisasi. Jika apartemen disimbolkan sebagai pusat kekuasaan maka peristiwa yang terjadi di dalamnya juga harus mengikuti simbolisasi ini sedangkan latar waktunya bisa ditarik ke masa lalu atau masa kini seperti yang dikehendaki oleh sutradara. Romeo and Juliet masih aktual dipentaskan sekarang ini. atau di salah satu ruang khusus.mengenai karakter tokoh dalam sebuah lakon.2 Interpretasi Setelah menganalisis lakon dan mendapatkan informasi lengkap mengenai lakon. Oleh karena itulah pentas teater dengan lakonlakon yang sudah berusia lama seperti Oedipus. tetapi karena ketersediaan sumber daya yang kurang memadahi maka bentuk penampilan apartemen mewah disesuaikan. teras gedung. dapur umum. dalam lakon mengehendaki tempat kejadian di sebuah apartemen yang mewah. Oleh karena itu analisis karakter ini harus dilakukan dengan teliti dan hati-hati sehingga setiap perubahan karakter yang dialami oleh tokoh tidak lepas dari pengamatan sutradara. ia hanya sekedar melakukan apa yang dikehendaki oleh lakon apa adanya sesuai dengan hasil analisis. pesan. Adaptasi terhadap tempat kejadian peristiwa sering dilakukan oleh sutradara. peristiwa. gambaran tempat kejadian persitiwa adalah di sebuah gedung maka harus dijelaskan apakah terjadi di sebuah gedung megah. Secara teknis hal ini berkaitan dengan sumber daya yang dimiliki. sutradara memberi sentuhan dan atau penyesuaian artistik terhadap lakon yang akan dipentaskan. Antigone. maka sutradara perlu melakukan tafsir atau interpretasi. Seorang sutradara sebetulnya boleh tidak melakukan interpretasi terhadap lakon. 3. Semua informasi dikumpulkan dan diseleksi untuk kemudian diwujudkan dalam pementasan. Ketika adaptasi ini dilakukan maka unsur-unsur lain pun seperti tata rias dan busana akan ikut terkait dan mengalami penyesuaian. Perjalanan sebuah karakter terkadang tidak mengalami perubahan yang berarti tetapi beberapa tokoh dalam lakon (biasanya protagonis dan antagonis) bisa saja mengalami perubahan. Hal yang paling menarik mengenai penyampaian pesan kepada penonton adalah caranya. • Latar. maka sutradara harus menggalinya melalui kalimat-kalimat dialog. Misalnya. Apakah gedung tersebut merupakan gedung pertemuan. Arsitektur gedung itu apakah menggunakan arsitektur kolonial.

Semuanya memliki keterkaitan. pranata sosial) di luar hal utama yang dipikirkan. Dewasa ini hampir tidak bisa ditemukan gaya pementasan murni yang dihasilkan seorang sutradara atau pemikir teater. hal yang paling bisa adalah mendekatkan gaya pementasan dengan gaya tertentu yang sudah ada. karena menggunakan pendekatan gaya presentasional. sebuah lakon yang tokohtokohnya memiliki latar belakang budaya Eropa hendak diadaptasi ke dalam budaya Indonesia. Secara umum.3 Konsep Pementasan Hasil akhir dari analisis naskah adalah konsep pementasan. maka bahasa dialog antaraktor menggunakan bahasa yang puitis. pandangan hidup. Hal ini biasanya berkaitan dengan isu atau topik yang sedang hangat terjadi di masyarakat. Hal ini sangat berguna bagi aktor. Konvensi atau aturan main sebuah pertunjukan diungkapkan dalam poin ini. Seniman teater dunia telah banyak berusaha melahirkan gaya pementasan. Sutradara harus membuat metode tertentu dalam sesi latihan pemeranan untuk mencapai apa yang dinginkan. misalnya warna-warna yang digunakan di atas panggung. penggunaan bahasa puitis dengan sendirinya membuat aktor harus mau memahami dan melakukan latihan teknik-teknik membaca puisi agar dalam pengucapan dialog tidak seperti percakapan sehari-hari. Dengan demikian sutradara harus benarbenar memikirkan cara menyampaikan pesan lakon dengan mempertimbangkan unsur-unsur lakon dan sumber daya yang dimiliki. Meski tidak secara mendetil. Hal ini mempengaruhi bentuk dan gaya penampilan aktor dalam beraksi. Oleh karena itu. Untuk itu. Misalnya. • Karakterisasi.. Misalnya. Aktor boleh berbicara secara langsung kepada penonton. yaitu cara berbicara.Dalam konsep ini sutradara menjelaskan secara lengkap mengenai cara menyampaikan pesan yang berkaitan dengan pendekatan gaya pementasan dan pendekatan pemeranan serta memberikan gambaran global tata artistik. emosi. Misalnya. takaran emosi dan cara berpikir. misalnya. Gerak laku aktor distilisasi atau diperindah. Setelah menetapkan pendekatan gaya. Masing-masing cara penonjolan pesan ini mempengaruhi unsur-unsur lain dalam pementasan. Tafsir ulang tokoh tidak hanya sekedar mengubah nama dan menyesuaikan bentuk penampilan fisik. dalam budaya Eropa orang bepikir secara bebas sementara orang Indonesia cenderung mempertimbangkan hal-hali lain (tata krama. gaya berjalan. Dengan demikian pendekatan yang dilakukan tidak salah sasaran. Cara menyampaikan pesan ini menjadi titik tafsir lakon yang penting karena pesan inilah inti dari keseluruhan lakon. Setiap kelahiran gaya baru memiliki keterkaitan atau perlawanan terhadap gaya tertentu (baca bagian sejarah teater). maka ia bisa memberikan gambaran . Ada juga sutradara yang menonjolkan laku aksi aktor di atas pentas sehingga adegan dibuat dan dikerjakan secara detil. Hal ini mempengaruhi hasil pemikiran dan cara mengungkapkan hasil pikiran tersebut. Metode akting berkaitan dengan pencapaian aktor (standar) sesuai dengan pendekatan gaya pementasannya. 3. maka metode pemeranan yang dilakukan perlu dituliskan. • Pendekatan pemeranan. Istilah pendekatan di sini digunakan dalam arti sutradara tidak hanya sekedar melaksanakan sebuah gaya secara wantah (utuh) tetapi ada pengembangan atau penyesuaian di dalamnya. Tafsir ulang terhadap tokoh lakon paling sering dilakukan. tetapi juga mental.meskipun lakon yang dipentaskan sama. • Gambaran tata artistik. tata krama. sutradara harus menuliskan gambaran (pandangan) tata artistiknya. Banyak hal yang harus dilakukan selain mengganti nama dan penampilan fisik.Dengan demikian cara pandang sutradara terhadap keseluruhan lakon pun harus diubah atau mengalami penyesuaian. • Pendekatan gaya pementasan. tetapi gambaran tata artisitk berguna bagi para desainer untuk mewujudkannya dalam desain. Untuk menekankan pesan yang dimaksud ada sutradara yang memberi penonjolan pada tata artistik. sutradara harus memahami gaya-gaya pementasan. Jika sutradara mampu. dan keseluruhan watak tokoh.

sutradara dapat memberikan penggalan adegan atau dialog karakter untuk diujikan. Tidak ada gunanya seorang aktor bermain dengan baik jika fisiknya lemah. Misalnya. Hal ini juga sama dengan ukuran tubuh. Misalnya. sutradara sudah mengetahui karakter pemainpemainnya (anggota).1 Fisik Penampilan fisik seorang pemain dapat dijadikan dasar menentukan tokoh. Akan tetapi. Kemampuan dasar wicara merupakan syarat utama yang lain. tokoh Bagong memiliki ukuran tubuh tambun (gemuk). diksi. sutradara dapat menilai kecakapan pemain melalui portofolio tetapi proses audisi tetap penting untuk menilai kecakapan aktor secara langsung. Menghayati sebuah tokoh berarti mampu menerjemahkan laku aksi karakter tokoh dalam bahasa verbal dan ekspresi tubuh secara bersamaan. Tidak masuk akal jika Bagong tampil dengan tubuh kurus. dan pelafalan yang baik. Untuk menilai kesiapan tubuh pemain. Seorang yang memiliki kumis. Calon aktor. Meskipun kekurangan wajah bisa ditutupi dengan tata rias. karena tidak sesuai dengan karakter dan akan menyalahi laku lakon secara keseluruhan. misalnya tokoh-tokoh dalam lakon pewayangan. Untuk menilai hal ini. harus mampu menyajikannya dengan penuh penghayatan. Dalam sebuah grup atau sanggar. 3. intonasi. 3. misalnya dalam wayang orang atau ketoprak. Dalam teater yang menggunakan ekspresi bahasa verbal kejelasan ucapan adalah kunci ketersampaian pesan dialog. Misalnya. Tokoh Werkudara (Bima) harus ditokohkan oleh orang yang bertubuh tinggi besar. dalam sebuah grup teater sekolah yang pemainnya selalu berganti atau kelompok teater kecil yang membutuhkan banyak pemain lain sutradara harus jeli memilih sesuai kualifikasi yang dinginkan. • Penghayatan.4. • Ciri Wajah.tata artistik melalui sketsa. maka latihan katahanan tubuh dapat diujikan. calon aktor dapat dinilai kemampuan dasar wicaranya. 3. maka pemain harus memiliki ciri wajah yang tampak tolol. Grup teater tradisional biasanya memilih pemain sesuai dengan penampilan fisik dengan ciri fisik tokoh lakon. Untuk menguji lebih mendalam sutrdara . dalam teater modern.4 Memilih Pemain Menentukan pemain yang tepat tidaklah mudah. Oleh karena itu pemain harus memiliki kemampuan wicara yang baik. Sutradara akan diprotes oleh penonton jika menampilkan Bima bertubuh kurus dan pendek. Akan tetapi. Dengan memberikan teks bacaan tertentu. janggut. Dalam sebuah produksi yang membutuhkan latihan rutin dan intens dalam kurun waktu yang lama ketahanan tubuh yang lemah sangatlah tidak menguntungkan. memilih pemain biasanya berdasar kecapakan pemain tersebut. • Tubuh. seorang yang tinggi tapi bungkuk dianggap tepat memainkan tokoh pendeta. Meskipun dalam khasanah teater modern. maka ia cukup menuliskannya. • Ukuran Tubuh. Jika tidak. Kesiapan tubuh seorang pemain merupakan faktor utama. tetapi ciri wajah pemain harus diusahakan semirip mungkin dengan ciri wajah tokoh dalam lakon. Biasanya.. dan brewok tebal cocok diberi tokoh sebagai warok atau jagoan. Ciri fisik dapat pula dijadikan acuan untuk menentukan pemain.4. • Tinggi Tubuh. • Ciri Tertentu. • Wicara. dalam cerita Kabayan.2 Kecakapan Menentukan pemain berdasar kecapakan biasanya dilakukan melalui audisi. dalam ketoprak. penentuan pemain berdasar ciri fisik ini menjadi acuan utama. Berkaitan langsung dengan penampilan mimik aktor. dalam lakon yang gambaran tokohnya sudah melekat di masyarakat. dalam wayang wong. Dalam kasus tertentu. Hal ini dianggap dapat mampu melahirkan ekspresi wajah yang natural. maka pemain yang dipilih pun harus memiliki tubuh gemuk. Penilaian yang dapat dilakukan adalah penguasan. ukuran tubuh merupakan harga mati bagi sebuah tokoh.

Karena tidak ada impovisasi. Hal ini memiliki kelebihan tersendiri. • Durasi waktu dapat ditentukan dengan pasti. 3. di antaranya adalah sebagai berikut. • Arahan dialog sudah ada. Dengan demikian. seorang calon aktor yang memiliki kemampuan menari. arahan laku permainan dari awal sampai akhir dapat ditemukan. • Gambaran bentuk latar kejadian dapat ditemukan dalam naskah. Sutradara tidak perlu menambah atau mengurangi dialog yang sudah tertulis dalam lakon kecuali punya keinginan mengadaptasinya. lamanya adegan. Penting bagi sutradara untuk menentukan dengan tepat bentuk dan gaya pementasan. tetapi bisa dipilih sebagai seorang penari latar dalam adegan tertentu.5 Menentukan Bentuk dan Gaya Pementasan Bentuk dan gaya pementasan membingkai keseluruhan penampilan pementasan. • Konflik dan penyelesaian tidak bekembang. teater modern menggunakan naskah lakon sebagai sumber penuturan. dan gaya penyajian. Sutradara menjadi mudah menentukan penekanan permasalahan lakon.Dengan mempelajari naskah. Mungkin dalam sebuah produksi ia tidak memenuhi kriteria sebagai pemain utama. Catatan prestasi dan kemampuan yang dimiliki hendaknya ditulis dalam portofolio sehingga bisa menjadi pertimbangan sutradara. menyanyi atau bermain musik memiliki nilai lebih. Meskipun beberapa kelompok teater modern tertentu memperbolehkan improvisasi (biasanya lakon komedi situasi) tetapi sumber utama dialognya diambil dari naskah lakon. Dalam lakon terkadang arahan emosi berkaitan dengan dialog juga dituliskan sehingga sutrdara lebih mudah dalam memantau emosi tokoh yang ditokohkan aktor. Lakon telah menyediakan gambaran lengkap laku perisitiwa melalui dialog tokoh-tokohnya. portofolio sangat penting bagi seorang aktor profesional. 3. dan tanda keluar-masuk ilustrasi musik atau pencahayaan ditentukan waktunya sehingga setiap detik sangat berharga dan menentukan berhasil tidaknya pertunjukan tersebut. Teater tradisional biasanya memilih imporivisasi karena semua pemain telah memahami dengan baik cerita yang akan dilakonkan dan karakter tokoh yang akan ditokohkan. maka konflik dan penyelesaian lakon pasti. Kehatihatian dalam memilih bentuk dan gaya bukan saja karena tingkat kesulitan tertentu. Tugas aktor adalah menghapalkan dialog tersebut dan mengucapkannya dalam pementasan.juga dapat memberikan penggalan dialog karakter lain dengan muatan emosi yang berbeda. Karena dialog tokoh sudah ditentukan dan tidak boleh ditambah atau dikurangi maka durasi pementasan dapat ditentukan. Dari serangkaian latihan yang dikerjakan secara rutin dan kontinyu ditambah dengan unsur artistik dan teknis maka lamanya pertunjukan teater berdasar naskah dapat ditetapkan. • Arahan laku permainan dapat ditemukan dalam naskah. 3. tetapi latar belakang pengetahuan dan kemampuan sutradara sangat menentukan. Misalnya. Gambaran ini sangat penting . Masingmasing memiliki kelebihan dan kekurangan serta membutuhkan kecakapan sutradara dalam bidang tertentu untuk melaksanakannya. perpindahan antaradegan. Pengembangan yang dilakukan hanyalah persoalan sudut pandang. Bahkan dalam produksi teater profesional yang semuanya dirancang dengan baik.5.1 Berdasar Naskah Lakon Mementaskan teater berdasarkan naskah lakon menjadi ciri umum teater modern. Kemampuan lain selain bermain tokoh terkadang dibutuhkan.5. yaitu berdasar naskah lakon dan improvisasi. Sebaliknya. Bentuk dan gaya yang dipilih secara serampangan akan mempengaruhi kualitas penampilan. sutradara mudah dalam membuat perencanaan blocking. • Fokus permasalahan telah ditentukan. • Kecakapan lain. Untuk itu. Di bawah ini akan dibahas bentuk dan gaya pementasan menurut penuturan cerita.1 Menurut Penuturan Cerita Ada dua jenis pertunjukan teater menurut penuturan ceritanya. bentuk penyajian.1.

Beberapa kelebihan pentas teater improvisasi adalah. Dalam teater tradisional. • Cerita bisa disesuaikan dengan sumber daya yang dimiliki. • Jika sumber daya yang dimiliki tidak sesuai dengan kehendak lakon harus dilakukan adaptasi. Cerita yang telah dituliskan oleh pengarang harus ditaati. Dalam teater improvisasi gaya pementasan juga terbuka. tetapi karya teater menjadi karya sutradara. Pesan ini dengan luwes dapat diselipkan dalam lakon.5. mereka biasanya menerima pesan tertentu dari penyelenggara. konflik dan mengubah cara penyelesaian. maka kerja sutradara akan semakin keras. Sutradara perlu meluangkan waktu untuk melakukannya. maka sutradara telah melanggar kode etik dan hak karya artistik. Dalam proses latihan terkadang sutradara mendapat inspirasi dari laku aksi pemain demikian pula sebaliknya. Kalaupun hendak melakukan adaptasi atau penyesuaian. Sutradara dapat mengembangkan cerita dengan bebas dan aktor dapat mengembangkan kemungkinan gayapermainan dengan bebas pula. Meskipun secara artistik tidak masalah. Dengan berkembangnya cerita maka aktor mendapatkan arahan laku lain yang bisa dicobakan. Salah satu kelebihan utama teater improvisasi adalah cerita dan pemeran dapat dibuat berdasarkan sumber daya yang dimiliki. • Tidak memungkinkan pengembangan cerita. • Kreativitas sutradara dan aktor dapat dikembangkan seoptimal mungkin. Di samping kelebihan tersebut di atas. sutradara harus mengikutinya. tetapi di adegan lain menggunakan gaya realis (adegan dagelan). Misalnya. maka cerita penuh aksi dapat dijadikan pilihan. Pencampuran gaya ini dimaksudkan untuk memenuhi selera penonton. • Arahan laku terbuka. Terkadang hal ini dapat menimbulkan efek artistik yang alami dan menarik. Jika sumber daya manusia (aktor) yang kurang. maka sutradara memerlukan waktu ekstra untuk membimbing para aktornya. Jika sumber dana yang kurang maka tim poruduksi harus berusaha keras untuk memenuhi tuntutan tersebut. Jika sutradara hendak mengembangkan cerita. 3. Dengan ditentukannya arah laku maka kreativitas aktor di atas panggung menjadi terbatas. Kemampuan sumber daya ini bisa dijadikan strategi untuk membuat pertunjukan menarik dan . Setelah konflik ini diselesaikan dengan cara yang khas dan lucu maka cerita kembali ke konflik semula.Sifat teater improvisasi yang terbuka memungkinkan pengembangan konflik dan penyelesaian. Sutradara hanya menyediakan gambaran cerita selanjutnya aktor yang mengembangkannya dalam permainan. Tergantung dari kekurangan sumber daya yang dimiliki. • Konflik dan sudut pandang penyelesaian bisa dikembangkan. dalam pertunjukan ketoprak sebuah adegan dilakukan mengikuti kaidah gaya presentasional (adegan Istana). Hal ini perlu dilakukan. maka aktor dapat mengembangkannya. • Kreativitas aktor terbatas. Jika ia tetap melakukannya. Terkadang untuk menyampaikan pesan titipan tersebut konflik minor baru dimunculkan. maka adaptasi lakon harus dilakukan. Jika hendak menyesuaikan dengan ketersediaan sumber daya. Oleh karena tidak ada petunjuk arah laku yang jelas. sutradara telah mendapatkan gambarannya. dan penyelesaian konflik.bagi sutradara untuk mewujudkannya di atas pentas. Jika memaksakan kehendak harus sesuai dengan gagasan lakon. pementasan teater berdasar naskah lakon juga memiliki kekurangan dan problem tersendiri. Jika banyak pemain yang bisa melucu maka cerita komedi akan efektif. Jika naskah lakon tersebut telah dipublikasikan dalam bentuk buku dan memiliki hak cipta maka sutradara bisa dituntut di muka hukum. tetapi jika jumlah pemain yang memiliki kemampuan laga banyak. konflik. ia harus mendapatkan ijin dari penulis naskah lakon. Setuju atau tidak setuju terhadap cerita.1. • Memungkinkan percampuran bentuk gaya.2 Improvisasi Mementaskan teater secara improvisasi memiliki keunikan tersendiri. Aktor tidak memiliki kebebasan penuh selain menerjemahkan konsep artistik sutradara.

Jika dalam teater berbasis naskah. sutradara akan kerepotan sendiri.5. Untuk itu. Bagi aktor yang memiliki kemampuan sastra memadai tidak jadi masalah. maka akan membosankan. Sutradara tidak bisa lagi mengendalikan jalannya pertunjukan. Oleh karena cerita bisa dikembangkan. • Sutradara tidak bisa sepenuhnya mengendalikan jalannya pementasan. Dalam sebuah grup teater. maka maknanya akan • kabur. 3. suasana. • Kemungkinan aktor melakukan kesalahan lebih besar. Oleh karena itu. 3.Semua tergantung dari improvisasi aktor di atas pentas. jika sutradara tidak jeli memahami hal ini. Akibatnya. aktor bisa mengembangkan cerita dan gaya permainan di atas pentas dan sutradara tidak bisa lagi mengarahkan secara langung. Aktor mengambil tokoh penuh.2 Menurut Bentuk Penyajian Banyaknya pilihan bentuk penyajian pementasan teater membuat sutradara harus jeli dalam menentukannya. Pesan yang tidak disampaikan secara verbal membutuhkan keahlian tersendiri untuk mengelolanya. maka teori komposisi dan koreografi dasar wajib dimiliki oleh sutradara. Sifat akting adalah aksi dan reaksi. teater improvisasi juga memiliki kekurangan yang patut diperhatikan oleh sutradara. Karena tidak ada arahan dialog yang baku. Karena sifatnya yang serba terbuka. Sutradara bisa memotong sebuah adegan yang berjalan cukup lama dengan membunyikan tanda agar musik dimainkan dan adegan segera diselesaikan. kesalahan ucap atau penyampaian informasi tertentu bisa saja salah karena memang tidak dicatat dan hanya diingat garis besarnya saja. • Improvisasi dialog tidak berimbang. Karena arahan laku yang terbuka maka reaksi ucapan sering dilakukan spontan dan belum tentu benar. Di bawah ini beberapa langkah yang bisa diambil oleh sutradara dalam menggarap teater gerak • Sutradara mampu mengeksplorasi dan menciptakan gerak. Oleh karena setiap bentuk penyajian memiliki kekhasan dan membutuhkan prasyarat tertentu yang harus dipenuhi. Jika hal ini terjadi cukup lama. Penataan gerak tidak bisa dikerjakan dengan serampangan. Jika tidak. Kekurangan dari pemotongan adegan ini adalah jika inti dialog (persoalan) belum sempat terucapkan maka inti dialog harus diucapkan pada adegan berikutnya. Jika pementasan sudah berjalan. tetapi bagi aktor yang kualitas sastranya pas-pasan hal ini menjadi masalah besar. • Durasi waktu tidak tertentu. Jika seorang aktor beraksi. latihan adegan tetap harus sering dilakukan. dalam adegan tersebut aktor yang satu terlalu aktif dan yang lain pasif. . harus mempertimbangkan makna pesan. Di balik semua kelebihan di atas. maka durasi pementasan bisa berubah-ubah. bisa jadi ia memasangkan aktor yang memilliki kemampuan tak berimbang dalam improvisasi.2. Di samping itu. lakon sebagai pengendali cerita maka dalam teater imrpovisasi aktor harus mampu mengendalikan jalannya cerita.memiliki ciri khas tertentu. • Kualitas dialog tidak dapat distandarkan. Simbol dan makna yang disampaikan melalui gerak harus dikerjakan dengan teliti.1 Teater Gerak Teater gerak lebih banyak membutuhkan ekspresi gerak tubuh dan mimik muka daripada wicara. dan terutama musik ilustrasinya. Jika tidak. Karena bekerja dengan gerak. maka aktor lawan mainnya harus bereaksi. maka sutradara wajib mempelajari dan memahami langkah-langkah dalam melaksanakannya. maka panggung sepenuhnya adalah milik aktor.5. Sutrdara harus mampu mengeksplorasi dan menciptakan gerak sesuai dengan makna pesan yang hendak disampaikan. meskipun improvisasi. • Memahami komposisi dan koreografi. kemampuan setiap aktor pasti tidak sama. maka kualitas dialog tidak bisa distandarkan.

Jika gerak terlalu sulit. terutama menyangkut komposisi. Boneka dua dimensi seperti wayang kulit memiliki teknik memainkan berbeda dengan boneka tiga dimensi seperti wayang golek. sutradara harus bisa mewujudkan bahasa verbal dalam simbol gerak. maka pengaturan blocking harus lebih teliti. • Mampu mengisi suara sesuai dengan karakter boneka. pengaturan pemain perlu dilakukan. • Mampu menghidupkan ekspresi boneka yang dimainkan. seorang pengendali biasanya hanya bisa mengendalikan maksimal dua boneka. Mengisi suara sesuai karakter boneka menjadi prasyarat utama. • Mampu memainkan boneka dengan baik. kapan musik hadir sebagai latar suasana. Meskipun rangkaian gerak yang dihasilkan sangat indah. Banyak jenis boneka dan masing-masing membutuhkan teknik khusus dalam memperagakannya. Boneka wayang golek memiliki teknik permainan yang berbeda dengan boneka marionette yang dimainkan dengan tali. Jika lakon yang dimainkan membutuhkan banyak tokoh.2.5. . Oleh karena keterbatasan bahasa verbal dalam pertunjukan teater gerak. • Mewujudkan ekspresi melalui mimik para aktor. Jumlah pemain yang banyak menimbulkan persoalan tersendiri. Di bawah ini beberapa langkah yang bisa dikerjakan oleh sutradara yang hendak mementaskan teater boneka. 3. tetapi juga mengatur permainan boneka. Biasanya seorang pemain boneka bisa membuat beberapa karakter suara yang berbeda. • Jika pemain sedikit maka motif gerak harus lebih variatif. Selain itu. maka irama rampak gerak yang diharapkan bisa kacau. • Mewujudkan bahasa dalam simbol gerak. maka dianjurkan untuk mengkreasi gerak sederhana yang mudah dilakukan. Motif gerak yang kaya akan membuat tampilan menjadi variatif dan menyegarkan. tetapi jika komposisi (tata letak) pemainnya tidak berubah akan melahirkan kejenuhan. Karakter suara harus bisa tampil secara konsisten dari awal hingga akhir pertunjukan. Apalagi jika sudah menyangkut makna. Memainkan boneka bisa saja dipelajari. maka banyaknya jumlah pemain justru akan memenuhi panggung dan membuat suasana menjadi sesak. maka karakter boneka harus benarbenar melekat sehingga pengendali boneka seolah-olah bisa memberikan nafas hidup di dalamnya. Ekspresi emosi atau karakter tokoh harus bisa diwujudkan melalui mimik para aktor. Oleh karena itu. Boneka yang dimainkan dengan hidup akan menarik dan tampak nyata. tetapi memberikan ekspresi hidup adalah hal yang lain. maka pengaturan adegan harus dikerjakan dengan teliti. Sutradara harus bisa memainkan boneka tersebut. Jumlah pemain bisa disiasati dengan menambah perbendaharaan gerak. Tempat pertunjukan teater boneka yang terbatas harus disesuaikan dengan jumlah boneka yang tampil. Menempatkan pemain dalam posisi dan gerak yang tepat akan membuat pertunjukan semakin menarik. Kapan musik mengikuti gerak pemain. • Jika pemain boneka banyak maka harus mampu mengatur adegan agar pergerakan boneka tidak saling mengganggu. Jika tidak pintar mengelola.Untuk mendukung rangkaian gerak yang telah diciptakan. kapan pemain harus menyesuaikan dengan alunan musik. Kewajiban sutradara tidak hanya mengatur pemain manusia. dan perbedaannya harus dimengerti oleh sutradara.2 Teater Boneka Teater boneka memiliki karakter yang khas tergantung jenis boneka yang dimainkan. sutradara teater gerak harus mengerti kaidah musik ilustrasi. Ekspresi selalu menyangkut penghayatan dan konsentrasi. maka ekspresi mimik menjadi sangat penting. Meskipun tidak bisa memainkan musik. • Mengerti musik ilustrasi. maka penampilan boneka yang terlalu banyak juga akan merepotkan para pengendalinya. • Jika pemain dalam jumlah banyak. Karena tokoh diperagakan oleh boneka. Jika jumlah pemain banyak dan harus bergerak secara serempak. Mengubah bahasa dalam simbol gerak tidaklah mudah.

2. Di sinilah letak kesulitannya. aktor diharuskan berakting tetapi seolah-olah ia tidak berakting melainkan melakukan kenyataan hidup. Jika dianalogikan dengan nilai 1 sampai dengan 10. tetapi juga menyangkut hal-hal teknis. semua harus tampak natural. Hasil akhirnya adalah anti klimaks di mana pada adegan yang seharusnya memiliki tensi tinggi justru melemah karena energi para aktornya telah habis. Beberapa langkah yang dapat dikerjakan oleh sutradara dalam menggarap teater dramatik adalah sebagai berikut.3 Teater Dramatik Mementaskan teater dramatik membutuhkan kerja keras sutradara terutama terkait dengan akting pemeran. maka penonton harus dibawa dalam suasana yang suka-ria. Sisi kejiwaan yang menyangkut perasaan karakter tokoh harus dapat ditampilkan senatural mungkin sehingga penonton menganggap hal itu benar-benar nyata terjadi. Angka tertinggi dari deret tegangan yang harus dicapai oleh aktor adalah 8 atau 9. Hal yang paling sulit dilakukan oleh sutradara adalah membongkar kejiwaan karakter tokoh dan mewujudkannya dalam laku aktor di ataspentas. maka sutradara harus benar-benar jeli dalam menilai setiap aksi para aktor. Jika demikian. menghayati dan memerankan karakter dengan baik. Demikian juga dengan suasana kejadian. Oleh karena itu. Laku lakon dari awal sampai akhir mengalami dinamika atau ketegangan yang turun naik. Dalam teater boneka kerjasama antarpemain tidak hanya menyangkut emosi. Keluar masuknya boneka di atas pentas berkaitan langsung dengan pengendali bonekanya. Banyak sutradara yang mengadakan semacam pemusatan latihan dalam kurun waktu yang cukup lama dengan tujuan agar para aktornya berada dalam suasana lakon yang akan dipentaskan. maka pergantian adegan bisa semrawut sehingga para pemain kewalahan. bijaksanalah dalam menentukan tegangan dramatik adegan dan buatlah klimaks yang mengesankan dan penyelesaian yang dramatis. • Mampu menghadirkan laku cerita seperti sebuah kenyataan hidup. Berkaitan dengan karakter tokoh. • Membuat penonton terkesima dengan pertunjukan tidaklah mudah. • Memahami sisi kejiwaan karakter tokoh. Intinya. Oleh karena tuntutan pertunjukan teater dramatik yang mensyaratkan laku aksi seperti kisah nyata. Sutradara harus memahami bobot tegangan (tensi) dramatik dalam setiap adegan yang ada pada lakon. maka sutradara harus menetapkan tegangan optimal dan minimal. tidak dibuat-buat. Jika pada bagian awal konflik tegangan terlalu tinggi. Jika tidak ada kerjasama yang baik antarpemain (pengendali boneka).• Jika pemain sedikit harus memiliki kemampuan mengisi suara dengan karakter yang berbeda. Untuk mencapai hasil maksimal maka kejelian sutradara dalam mengamati dan . sehingga ketika dalam adegan tertentu membutuhkan tegangan yang lebih aktor masih bisa mengejarnya. • Mampu membangun kerjasama antarpemain boneka. Demikian pula dengan cerita suka-ria. jika melakonkan cerita yang sedih ukuran keberhasilannya adalah membuat penonton ikut terhanyut sedih. maka efek dramatik yang diharapkan dari aksi aktor menjadi gagal. 3. maka aktor akan kesulitan meninggikan tegangan pada saat klimaks. Jumlah pengendali boneka yang sedikit tidak masalah asal setiap orang mampu menciptakan beberapa karakter suara. • Memahami tensi dramatik (dinamika lakon). Yang terpenting dan perlu dicatat adalah setiap boneka mempunyai karakter suaranya sendiri.5. Jika sutradara tidak memahami kejiwaan • karakter tokoh dengan baik maka penilaiannya terhadap kualitas penghayatan aktor pun kurang baik. sutradara harus dapat menentukan metode yang tepat agar para aktornya dapat memahami. Dalam teater dramatik. Langkah pamungkas yang dapat dijadikan patokan adalah menghadirkan pentas seperti sebuah kenyataan hidup. pengaturan adegan boneka disesuaikan dengan kemampuan pengendali. • Mampu meningkatkan kualitas pemeranan aktor untuk menghayati tokoh secara optimal. Untuk menghindari hal tersebut sutradara harus benar-benar teliti dalam mengukur tegangan dramatik adegan per adegan dalam lakon.

maka sutradara harus benar-benar piawai dalam mengolah visualisasinya di atas pentas. dan musikal harus dirangkai secara harmonis untuk mencapai hasil maksimal. Meskipun sutradara bekerja dengan seorang koreografer. Bukan hanya akting tetapi juga blocking. Secara mendasar blocking adalah gerakan fisik atau proses penataan (pembentukan) sikap tubuh seluruh aktor di atas panggung. Makna cerita sepenuhnya dituangkan dalam wujud gerak. lagu. gerak. sehingga lalulintas aktor di atas panggung berjalan dengan lancar. Memilih pelaku yang tepat dan membuat komposisi atau koreografi berdasar karya musik yang ada. Jika blocking dibuat terlalu rumit.5. Kepiawaian sutradara dalam menentukan kegunaan karya musik yang satu dengan yang lain benarbenar dibutuhkan. • demikian pula sebaliknya. Bahasa ungkap yang beragam antara bahasa verbal. • Mampu membuat gerak. Jadi. Teater dramatik adalah teater yang mencoba meniru peristiwa kehidupan secara total dan sempurna. Ekspresi cerita melalui nada-nada musik harus benar-benar bisa divisualisasikan dengan tepat. Banyak penyanyi yang memiliki suara baik tetapi ekspresinya datar.2. Koreografer bisa saja mencipta gerak. Artinya. Sutradara harus mampu memecahkan masalah dasar tersebut. Pada adegan dimana musik bercerita secara mandiri maka sutradara harus mampu memvisualisasikan cerita tersebut di • atas pentas.menangani keseluruhan unsur pertunjukan sangat dibutuhkan. dan ilustrasi suasana kejadian. Blocking Sutradara diwajibkan memahami cara mengatur pemain di atas pentas. tokoh musik bisa menjadi pengiring lagu yang bercerita. Dalam satu adegan saat cerita diungkapkan melalui gerak. maka perpindahan . Dituntut kepiawaian sutradara dalam memilih dan merangkai motif gerak. tetapi pada akhirnya sutradara yang memutuskan. 3. tetapi makna dan atau simbolisasi cerita harus benar-benar bisa diwujudkan dalam gerak tarian yang dilakukan. Tokohan dialog verbal yang digubah dalam bentuk lagu dan diucapkan melalui nyanyian adalah satu hal yang membutuhkan perhatian tersendiri. Dalam hal ini musik bertindak sebagai pengiring. komposisi. Blocking dapat diartikan sebagai aturan berpindah tempat dari titik (area) satu ke titik (area) yang lainnya bagi aktor di atas panggung. hindarilah kesalahan atau hal yang tidak lumrah dan berada di luar jangkauan nalar penonton. dan koreografi. Lagu dan nyanyian harus bisa ditampilkan secara baik dan harmonis. 3.4 Drama Musikal Kemampuan multi harus dimiliki oleh seorang sutradara jika hendak mementaskan drama musikal.6. Sutradara tidak harus bisa memainkan musik. Pada adegan lain. Kejanggalan-kejanggalan kecil yang dirasa kurang masuk akal oleh penonton akan mengurangi kualitas dramatika lakon yang dihadirkan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan sutradara dalam drama musikal adalah sebagai berikut. maka sutradara harus mampu menciptkan koreografinya. • Mengerti lagu dan nyanyian. • Mampu membuat gerak dan ekspresi berdasar karya musik. pengiring gerak. Jika karya drama musikal tersebut berawal dari karya musik murni (musik yang bercerita) seperti The Cats karya Andrew Lloyd Webber. Tokohan musik sangat doniman dalam drama musikal bahkan musik bisa hadir secara mandiri untuk menceritakan sesuatu. tetapi memahami karya musik merupakan keharusan dalam drama musikal. Untuk mendapatkan hasil yang baik. maka perlu diperhatikan agar blocking yang dibuat tidak terlalu rumit. musik itu sendiri sudah bercerita sehingga pemain atau penari yang berada di atas panggung hanyalah pelengkap gambaran peristiwa. • Mengerti karya musik dramatik. Ketepatan nada dalam nyanyian serta ekspresi wajah ketika menyanyi juga tidak boleh luput dari pengamatan.

UC = Atas Tengah. maka karakter tokoh yang dimainkan oleh para aktor akan tampak lebih hidup. DL = Bawah Kiri Untuk membuat atau merencanakan blocking bagi para pemain. tengah kiri. atas kanan. Panggung pertunjukan secara kompleks dibagi dalam lima belas area. kanan. Jika blocking dikerjakan dengan baik. 3. DR = Bawah Kanan.6. dan atas kiri. tengah kanan. • Menciptakan lukisan panggung yang baik. atas tengah. .dari satu aksi menuju aksi yang lain menjadi kabur. DC = Bawah Tengah. bawah kiri.1 Pembagian Area Panggung UR UC UL RC C LC DR DC DL Gb. yaitu tengah. Pembagian sembilan area juga memudahkan sutradara dalam memberikan arah gerak kepada para aktornya. Kanan adalah kanan pemain dan bukan kanan penonton dan kiri adalah kiri pemain. Secara sederhana dan umum panggung dibagi sembilan area. atas tengah. bawah kiri tengah. Panggung yang tidak terlalu luas jika dibagi menjadi lima belas area. bawah kanan tengah. maka luas masing-masing area akan terlalu sempit sehingga tidak memungkinkan sebuah pergerakan yang leluasa baik untuk pemain maupun perabot. bawah kanan. bawah kanan. kalimat yang diucapkan oleh aktor menjadi lebih mudah dipahami oleh penonton. UL = Atas Kiri. sedangkan kanan adalah posisi kanan arah hadap aktor atau sisi kiri penonton. blocking dapat mempertegas isi kalimat tersebut. yaitu tengah. tengah kiri. RC = Tengah Kanan. Pembagian panggung dalam lima belas area ini biasanya digunakan untuk panggung yang berukuran besar. Atas adalah jarak terjauh dari penonton. Letak kanan dan kiri atau atas dan bawah ditentukan berdasar pada arah hadap aktor ke penonton. tengah kanan. Yang terpenting dalam hal ini adalah fokus atau penekanan bagian yang akan ditampilkan. atas kanan tengah. Fungsi blocking secara mendasar adalah sebagai berikut. atas kiri tengah. LC = Tengah Kiri. perlu diketahui terlebih dahulu pembagian area panggung. Dengan blocking yang tepat. bawah tengah.52 Pembagian sembilan area panggung UR = Atas Kanan. sedangkan bawah adalah jarak terdekat dengan penonton. atas kanan. kiri. bawah kiri. dan atas kiri. Di samping itu. • Memberikan pondasi yang praktis bagi aktor untuk membangun karakter dalam pertunjukan. C = Tengah. bawah tengah. • Menerjemahkan naskah lakon ke dalam sikap tubuh aktor sehingga penonton dapat melihat dan mengerti.

pose.3.2 Komposisi Komposisi dapat diartikan sebagai pengaturan atau penyusunan pemain di atas pentas. Usahakan pemain menghadap diagonal (kurang lebih 45 derajat) ke arah penonton.1 Prinsip Dasar Pada dasarnya fokus adalah membuat pemain menjadi terlihat jelas oleh mata penonton. Jika digambarkan komposisi ini mirip cermin. 3.6. • Jika pemain hendak melangkah. maka dimensi dan keutuhan tubuh pemain akan dilihat dengan jelas oleh mata penonton. Hal ini dapat dikerjakan dengan menempatkan pemain dalam posisi dan situasi tertentu sehingga ia lebih menonjol atau lebih kuat dari yang lainnya. maka awali dan akhiri langkah tersebut dengan kaki panggung atas (yang jauh dari mata penonton). 3. 3. Dengan menghadap secara diagonal. blocking memiliki arti yang lebih luas karena setiap gerak. prinsip-prinsip dasar di bawah ini dapat digunakan sebagai petunjuk dalam menempatkan posisi dan mengatur pose pemain. maka hal ini akan menimbulkan pemandangan yang kurang menarik dan jika hal ini berlangsung lama.3 Keseimbangan Dalam menata komposisi pemain di atas pentas hal yang paling penting untuk diperhatikan adalah keseimbangan. Sekilas komposisi mirip dengan blocking. Hal ini menjadikan gerak pemain kurang terlihat dengan jelas. sedangkan menyamping penuh akan menyembunyikan bagian tubuh yang lain.6. arah laku. maka penonton akan menjadi jenuh. lebih mengatur posisi. Oleh karena itu. perubahan ekspresi dan aksi di atas pentas harus dapat ditangkap mata penonton dengan jelas. tetapi membagi pemain dalam dua bagian atau lebih dengan tujuan memberi penonjolan (penekanan) bagian tertentu.6. Setiap aktivitas. Bedanya.1 Simetris Komposisi simetris adalah komposisi yang membagi pemain dalam dua bagian dan menempatkan bagian-bagian tersebut dalam posisi yang benar-benar sama dan seimbang. maka kaki yang jauh akan tertutup dan wajah pemain secara otomatis akan menjauh dari mata penonton. karakter.3. Jika melangkah dengan kaki panggung bawah (yang dekat dari mata penonton). 3. Ada dua ragam komposisi pemain. Pengaturan posisi pemain seperti ini dilakukan agar semua pemain di atas pentas dapat dilihat dengan jelas oleh penonton. dan tinggirendah pemain dalam keadaan diam (statis). hal yang paling utama untuk diperhatikan sutradara adalah perhatian penonton.3 Fokus Dalam mengatur blocking. • Kurangilah menempatkan pemain dalam posisi menghadap lurus ke arah penonton atau menyamping penuh.2. Keseimbangan adalah pengaturan atau pengelompokan aktor di atas pentas yang ditata sedemikian rupa sehingga tidak menghasilkan ketimpangan. Hal ini diperlukan untuk memenuhi ruang dan menghindari komposisi aktor yang berat sebelah. 3. Sedangkan komposisi. Bagian yang satu merupakan cerminan bagian yang lain.6.2 Asimetris Komposisi asimetris tidak membagi pemain dalam dua bagian yang sama persis. yaitu komposisi simetris dan komposisi asimetris yang ditata dengan mempertimbangkan keseimbangan. perpindahan pemain serta perubahan posisi pemain dapat disebut blocking. Oleh karena itu. Menghadap lurus ke arah penonton akan memberikan efek datar dan kurang memberikan dimensi kepada pemain. pengaturan blocking harus mempertimbangkan pusat perhatian (fokus) penonton.2. Jika salah satu ruang dibiarkan kosong sementara ruang yang lain terisi penuh. Di bawah ini adalah contoh komposisi simetris.6.6.2. • Gunakan lengan atau tangan panggung atas (yang jauh dari mata penonton) untuk menunjuk ke .

dan latihan pendinginan. SENI BERPERAN DALAM TEATER Teater Koma : Mengapa Leonardo Aktor merupakan manusia yang mengorbankan dirinya untuk menjadi orang lain. • Jangan pernah memegang benda atau piranti tangan di depan wajah ketika sedang berbicara. Cara penghitungan denyut nada yang ada di pergelangan tangan.1 Persiapan Sebelum melakukan latihan harus memperhatikan denyut nadi. yaitu serial pendek gerakan tubuh untuk mengembalikan kesegaran tubuh setelah menjalani latihan inti. karena hal ini akan menutupi suara dan pandangan penonton. Untuk itu seorang pemeran harus menjaga kelenturan peralatan tubuhnya. Selebihnya. Olah tubuh dilakukan dalam tiga tahap. Latihanlatihan olah tubuh dapat dilakukan dengan tahap-tahap sebagai berikut. 4. Latihan pemanasan (warm-up). maka gerakan lengan dan tangan akan menutupi bagian tubuh lain. Selama menghitung denyut nadi mata selalu melihat jam (jam tangan maupun jam dinding yang ada di dalam ruangan). atau penghitungan dilakukan selama sepuluh detik dan hasilnya dikalikan enam. Karena itu dia harus mempersiapkan dirinya secara utuh penuh baik fisik maupun psikis. yaitu latihan pemanasan. • Usahakan agar para aktor saling menatap (berkontak mata) pada saat mengawali dan mengakhiri dialog (percakapan). Jika tangan yang digunakan adalah tangan yang tidak menganggu pandangan penonton. Cara untuk menghitung denyut nadi. usahakan untuk berbicara kepada penonton atau kepada aktor lain yang berada di atas panggung. 4. Membagi arah pandangan ini sangat penting untuk menegaskan dan memberi kejelasan ekspresi karakter kepada penonton. yaitu dengan meletakkan jari tengah di atas pergelangan tangan dalam segaris dengan ibu jari atau jari jempol. Jika yang dilakukan sebaliknya. yaitu serial latihan gerakan tubuh untuk meningkatkan sirkulasi dan meregangkan otot dengan cara bertahap. latihan inti. Hal ini mempertegas laku aksi yang sedang dikerjakan. maka gerak laku aktor dalam menggunakan telepon akan kelihatan. Mengetahui denyut nadi sebelum latihan fisik dianjurkan karena berhubungan dengan kerja jantung. yaitu dengan menghitung denyut nadi yang ada di leher atau denyut nadi yang ada di pergelangan tangan dalam.1 Latihan Olah Tubuh Latihan olah tubuh melatih kesadaran tubuh dan cara mendayagunakan tubuh. Latihan pendinginan atau peredaan (warm-down).arah panggung atas dan gunakan lengan atau tangan panggung bawah (yang dekat dengan mata penonton) untuk menunjuk ke panggung bawah. • Pemanasan • Latihan ketahanan • Latihan Kelenturan • Latihan ketangkasan . Penghitungan denyut nadi yang ada dipergelangan tangan lebih dianjurkan untuk menghasilkan perhitungan yang tepat. yaitu serial pokok dari inti gerakan yang akan dilatihkan.1. Latihan inti. Penghitungan dilakukan selama enam detik dan hasilnya dikalikan sepuluh.

Suara merupakan produk manusia untuk membentuk katakata. Kegiatan mengucapkan dialog ini menjadi sifat teater yang khas. bisa juga bahasa tubuh sebagai penguat bahasa verbal. memang.• Latihan pendinginan • Latihan relaksasi 4. Suara adalah lambang komunikasi yang dijadikan media untuk mengungkapkan rasa dan buah pikiran. Dalam kegiatan teater. Suara merupakan unsur yang harus diperhatikan oleh seseorang yang akan mempelajari teater. “Yah.. suara dan bunyi itu sama. kamu sekarang sudah hebat…. Bahasa tubuh bisa berdiri sendiri. dalam konvensi dunia teater kedua istilah tersebut dibedakan. Dialog yang diucapkan oleh seorang pemeran mempunyai tokohan yang sangat penting dalam pementasan naskah drama atau teks lakon. sedangkan bunyi merupakan produk benda-benda. Misalnya. sehingga secara tidak sadar mengungkapkan sesuatu yang sebenarnya tidak dikehendaki. maka nilai yang terkandung tidak dapat dikomunikasikan kepada penonton. ”. nada suara yang terlontarkan. Selanjutnya. dan cepat lambatnya sesuai dengan situasi dan kondisi emosi.2 OLAH SUARA Suara adalah unsur penting dalam kegiatan seni teater yang menyangkut segi auditif atau sesuatu yang berhubungan dengan pendengaran. suara dijadikan kata dan kata-kata disusun menjadi frasa serta kalimat yang semuanya dimanfaatkan dengan aturan tertentu yang disebut gramatika atau paramasastra. suara tidak hanya dilontarkan begitu saja tetapi dilihat dari keras lembutnya. menunjukkan maksud memuji atau sebenarnya ingin mengatakan. tinggi rendahnya. Hal ini . Maka. Kata-kata yang membawa informasi yang bermakna. suara mempunyai tokohan penting. karena digunakan sebagai bahan komunikasi yang berwujud dialog. Pemilihan kata-kata memiliki tokohan dalam aturan yang dikenal dengan istilah diksi. Itulah yang disebut intonasi. Makna katakata dipengaruhi oleh nada. yaitu bahasa tubuh dan bahasa verbal yang berupa dialog. Dalam kenyataannya. Banyak lagi contoh yang menunjukkan tentang makna suara. Unsur dasar bahasa lisan adalah suara. Dialog merupakan salah satu daya tarik dalam membina konflik-konflik dramatik. Suara dihasilkan oleh proses mengencang dan mengendornya pita suara sehingga udara yang lewat berubah menjadi bunyi. Seorang pemeran dalam pementasan teater menggunakan dua bahasa. Akan tetapi. Hal ini disebabkan karena dalam dialog banyak terdapat nilai-nilai yang bermakna. dalam arti tidak dibarengi dengan bahasa verbal. Misalnya. Jika lontaran dialog tidak sesuai sebagaimana mestinya. Maksud tersembunyi seperti itu disebut subtext. “kamu belum bisa apaapa”. yaitu hasil getaran udara yang datang dan menyentuh selaput gendang telinga. Prosesnya. kalimat. Akan tetapi. dalam situasi tertentu tidak mampu mengungkapkan maksud yang sebenarnya.

Latihan Kejelasa Diksi l. a. semua emosi tokoh yang ditokohkan harus mampu diwujudkan. Jika pemeran melontarkan dialognya hanya sekedar hasil hafalan saja. Ekspresi yang disampaikan melalui nada suara membentuk satu pemaknaan berkaitan dengan kalimat dialog.3 OLAH RASA Pemeran teater membutuhkan kepekaan rasa. Senam Rahang Bawah f. Bersenandung j. Intonasi m. Persiapan b. marah. dan sebagainya. a. Pemanasan c. Nada p. Bergumam i. tetapi juga harus memberikan respon terhadap ekspresi tokoh lain. Oleh karena itu. latihan olah rasa tidak hanya berfungsi untuk . Tempo o. Padahal akting adalah kerja aksi dan reaksi. Banyak pemeran yang hanya mementingkan ekspresi yang ditokohkan sehingga dalam benaknya hanya melakukan aksi. Latihan Pernafasan k. e. kedudukan sosial. latihan-latihan yang mendukung kepekaan rasa perlu dilakukan.merupakan kesalahan fatal bagi seorang pemeran. Ketika pemeran mengucapkan dialog harus mempertimbangkan pikiranpikiran penulis. Ditutup dengan relaksasi 4. Mengendalikan perasaan penonton seperti yang dilakukan oleh musik. Ucapan yang dilontarkan oleh pemeran bertujuan untuk menyalurkan kata dari teks lakon kepada penonton. Terlebih dalam konteks aksi dan reaksi. Latihan-latihan untuk melenturkan peralatan suara dapat dilakukan menggunakan tahap-tahap sebagai berikut. Seorang pemeran tidak hanya memikirkan ekspresi karakter tokoh yang ditokohkan saja. Jeda n. misalnya: umur. Dalam menghayatai karakter tokoh. Wicara q. Berbisik h. kekuatan. Melengkapi variasi. Memuat informasi tentang sifat dan perasaan tokoh. c. maka dia mencabut makna yang ada dalam kata-kata. putus asa. Seorang pemeran yang hanya melakukan aksi berarti baru mengerjakan separuh dari tugasnya. Dengan demikian. Proses pengucapan dialog mempengaruhi ketersampaian pesan yang hendak dikomunikasikan kepada penonton. Tugas yang lain adalah memberikan reaksi. b. Latihan Tenggorokan g. d. kegembiraan. Ada beberapa hal yang perlu diketahui oleh seorang pemeran tentang fungsi ucapan. yaitu sebagai berikut. Memberi arti khusus pada kata-kata tertentu melalui modulasi suara. Senam Wajah d. Senam Lidah e.

yaitu tokoh yang dimainkan. Bahasa tubuh dilakukan oleh seseorang terkadang tanpa disadari dan keluar mendahului bahasa verbal. orang India. dan imajinasi. Segala sesuatu yang mengalihkan perhatian seorang pemeran. Pemakaian gesture ini mengajak seseorang untuk menampilkan variasi bahasa atau bermacam-macam cara mengungkapkan perasaan dan pemikiran. Dunia teater adalah dunia imajiner atau dunia rekaan. Bahasa ini mendukung dan berpengaruh dalam proses komunikasi. baik bahasa tubuh budaya sendiri maupun bahasa tubuh budaya lainnya.1 Konsentrasi Pengertian konsentrasi secara harfiah adalah pemusatan pikiran atau perhatian. Seorang pemeran harus dapat mengontrol tubuhnya setiap saat. gesture tidak dapat menggantikan bahasa verbal sepenuhnya.3. Dengan konsentrasi pemeran akan dapat mengubah dirinya menjadi orang lain. dengan mempelajari bahasa tubuh. Dunia ini harus diwujudkan menjadi sesuatu yang seolah-olah nyata dan dapat dinikmati serta menyakinkan penonton. Kalau pemeran dengan tingkat konsentrasi yang rendah maka dia tidak akan dapat menyakinkan penonton. gesture . tetapi juga perasaan terhadap karakter lawan main. Latihan olah rasa dimulai dari konsentrasi. Pusat perhatian seorang pemeran adalah sukma atau jiwa tokoh atau karakter yang akan dimainkan. Manfaat mempelajari dan melatih gesture adalah mengerti apa yang tidak terkatakan dan yang ada dalam pikiran lawan bicara. Selain itu. Ada korelasi yang sangat dekat antara pikiran dan tubuh.meningkatkan kepekaan rasa dalam diri sendiri. makin tinggi kesanggupan memusatkan perhatian. Hal ini berlawanan dengan bangsa-bangsa lain. Jadi bahasa tubuh harus dipahami oleh pemeran sebagai pendukung bahasa verbal. Akan tetapi. Misalnya seorang pemeran melihat sesuatu yang menjijikan (meskipun sesuatu itu tidak ada di atas pentas) maka ia harus menyakinkan kepada penonton bahwa sesuatu yang dilihat benarbenar menjijikkan. Dunia tidak nyata yang diciptakan seorang penulis lakon dan diwujudkan oleh pekerja teater. 4. Latihan gesture dapat digunakan untuk mempelajari dan melahirkan bahasa tubuh. sedangkan kalau selaras dengan bahasa verbal akan menguatkan proses komunikasi. Ada juga yang mengatakan bahwa gesture adalah bentuk komunikasi non verbal yang diciptakan oleh bagian-bagian tubuh yang dapat dikombinasikan dengan bahasa verbal. bagi orangtokohcis artinya nol. Tangan mengacung dengan jari telunjuk dan jempol membentuk lingkaran. mempelajari gesture. Seorang pemeran harus memahami bahasa tubuh. Sedang beberapa orang menggunakan gesture sebagai tambahan dalam katakata ketika melakukan proses komunikasi. Langkah awal yang perlu diperhatikan adalah mengasah kesadaran dan mampu menggunakan tubuhnya dengan efisien. Sebagai seorang pemeran. Jika berlawanan dengan bahasa verbal akan mengurangi kekuatan komunikasi. konsentrasi menjadi sesuatu hal yang penting untuk pemeran.2 Gesture Gesture adalah sikap atau pose tubuh pemeran yang mengandung makna. Makin menarik pusat perhatian. tetapi bagi orang Amerika artinya bagus. Kekuatan pemeran untuk mewujudkan dunia rekaan ini hanya bias dilakukan dengan kekuatan daya konsentrasi. Tujuan dari konsentrasi ini adalah untuk mencapai kondisi kontrol mental maupun fisik di atas panggung. 4. Maka. Sifat bahasa tubuh adalah tidak universal. Macam-macam gesture yang dapat dipahami orang lain adalah gesture dengan tangan.3. gesture harus disadari dan diciptakan sebagai penguat komunikasi dengan bahasa verbal. akan diketahui tanda kebohongan atau tanda-tanda kebosanan pada proses komunikasi yang sedang berlangsung. mengangguk tandanya tidak setuju sedangkan mengeleng artinya setuju. bagi orang Yunani berarti penghinaan. cenderung dapat merusak proses pemeranan. Misalnya. Bahasa tubuh semacam respon atau impuls dalam batin seseorang yang keluar tanpa disadari.

Hal-hal yang perlu diketahui ketika berlatih imajinasi. maka akan terjadi proses imajinasi. siapa. dan gesture dengan kaki. sedangkan fantasi membuat hal-hal yang tidak ada. maka akan memunculkan gambaran pengandaiannya. • Imajinasi tidak bisa dipaksa. dimana. Imajinasi tidak akan muncul jika direnungkan tanpa suatu objek yang menarik. “siapakah Hamlet itu?”.1. Sedangkan bahasa tubuh dengan kaki adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh posisi dan bagaimana meletakkan kaki. Bahasa tubuh dengan kepala dan wajah adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh posisi kepala maupun ekspresi wajah. dimana gambaran tersebut tidak pernah dialami sebelumnya. Misalnya. Dengan berpikir. sebelum melaksanakan penataan panggung seorang penata panggung perlu mempelajari panggung pertunjukan. • Pikiran bisa disuruh untuk mempertanyakan segala sesuatu. seni teater memiliki berbagai macam jenis panggung yang dijadikan tempat pementasan. tidak pernah ada. tetapi segala tata letak perabot atau piranti yang akan digunakan oleh aktor disediakan oleh penata panggung. TATA PANGGUNG Tata panggung disebut juga dengan istilah scenery (tata dekorasi). Melatih imajinasi sama dengan memperkerjakan pikiran-pikiran untuk terus berpikir. Usaha menjawab pertanyaan itu akan membawa pikiran untuk mengimajinasikan sosok Hamlet. 4. dan tidak akan pernah ada. maka pikiran dipaksa untuk menjawab pertanyaan tersebut. • Imajinasi tidak akan muncul dengan pikiran yang pasif. tetapi harus dengan pikiran yang aktif. tetapi harus dibujuk untuk bisa digunakan. Latihan imajinasi bagi pemeran berfungsi mengidentifikasi tokoh yang akan dimainkan. kehendak artistik sutradara. Bahasa tubuh yang tercipta oleh kedua tangan merupakan bahasa tubuh yang paling banyak jenisnya. Oleh karena itu. dan panggung tempat pementasan dilaksanakan. 5. Baik hal yang logis maupun yang tidak logis. Belajar imajinasi dapat menggunakan fungsi ”jika” atau dalam istilah metode pemeranan Stanislavski disebut magic-if. Bentuk panggung yang berbeda memiliki prinsip artistik yang berbeda.1 Mempelajari Panggung Dalam sejarah perkembangannya. Belajar imajinasi harus menggunakan plot yang logis. dan apa. dan jangan menggambarkan suatu objek yang tidak pasti (perkiraan). dalam panggung yang penontonnya melingkar.3 Imajinasi Imajinasi adalah proses pembentukan gambaran-gambaran baru dalam pikiran. • Imajinasi menciptakan hal-hal yang mungkin ada atau mungkin terjadi. Perbedaan jenis panggung ini dipengaruhi oleh tempat dan zaman dimana teater itu berada serta gaya pementasan yang dilakukan. Selain itu.3. Bahasa tubuh atau gesture dengan tangan adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh posisi maupun gerak kedua tangan. Penataan panggung disesuaikan dengan tuntutan cerita. Objek berfungsi untuk menstimulasi atau merangsang pikiran.1. seorang pemeran juga harus berimajinasi tentang pengalaman hidup tokoh yang akan dimainkan. SENI RUPA DALAM TEATER 5. Dengan stimulus pertanyaanpertanyaan atau menggunakan stimulus ”seandainya”. gesture dengan kepala dan wajah. Bahasa tubuh dengan tubuh adalah bahasa tubuh yang tercipta oleh pose atau sikap tubuh seseorang.dengan badan. Tidak hanya sekedar dekorasi (hiasan) semata. membutuhkan tata letak perabot yang dapat enak . Gambaran tempat kejadian lakon diwujudkan oleh tata panggung dalam pementasan. Untuk membangkitkan imajinasi tokoh gunakan pertanyaan. Misalnya.

5.1. 5. Jika bentuk ukiran yang ditampilkan tidak nampak sempurna – berbeda satu dengan yang lain – maka penonton akan dengan mudah melihatnya.2 Proscenium Panggung proscenium bisa juga disebut sebagai panggung bingkai karena penonton menyaksikan . panggun arena sering menjadi pilihan utama bagi teater tradisional. Panggung arena biasanya dibuat secara terbuka (tanpa atap) dan tertutup. detil perabot yang diletakkan di atas panggung harus benar-benar sempurna sebab jika tidak maka cacat sedikit saja akan nampak. penata panggung dapat merancangkan karyanya berdasar lakon yang akan disajikan dengan baik. Lepas dari kesulitan yang dihadapi. Beberapa pengembangan desain dari teater arena melingkar dilakukan sehingga bentuk teater arena menjadi bermacammacam. Untuk menyampaikan maksud tersebut pekerja teater mengolah dan menata panggung sedemikian rupa untuk mencapai maksud yang dinginkan. dan penempatannya. Kedekatan jarak ini membawa konsekuensi artistik tersendiri baik bagi pemain dan (terutama) tata panggung.2. sutradara. Dengan memahami bentuk dari masingmasing panggung inilah.dilihat dari setiap sisi. Untuk memperoleh hasil terbaik. Karena bentuknya yang dikelilingi oleh penonton. Misalnya. 5. Di atas panggung inilah semua laku lakon disajikan dengan maksud agar penonton menangkap maksud cerita yang ditampilkan.2.1. maka penata panggung dituntut kreativitasnya untuk mewujudkan set dekor. Aspek kedekatan inilah yang dieksplorasi untuk menimbulkan daya tarik penonton. Seperti telah disebutkan di atas bahwa banyak sekali jenis panggung tetapi dewasa ini hanya tiga jenis panggung yang sering digunakan. Kedekatan jarak antara pemain dan penonton dimanfaatkan untuk melakukan komunikasi langsung di tengah-tengah pementasan yang menjadi ciri khas teater tersebut.1. dan panggung arena. panggung thrust. penata panggung diharuskan memahami karakter jenis panggung yang akan digunakan serta bagian-bagian panggung tersebut. di atas panggung diletakkan kursi dan meja berukir. Segala perabot yang digunakan dalam panggung arena harus benar-benar dipertimbangkan dan dicermati secara hati-hati baik bentuk. ukuran. Banyak usaha yang dilakukan untuk mendekatkan pertunjukan dengan penonton. Jenis-jenis Panggung Panggung adalah tempat berlangsungnya sebuah pertunjukan dimana interaksi antara kerja penulis lakon. Agar semua pemain dapat terlihat dari setiap sisi maka penggunaan set dekor berupa bangunan tertutup vertikal tidak diperbolehkan karena dapat menghalangi pandangan penonton. Semua ditata agar enak dipandang dari berbagai sisi. dan aktor ditampilkan di hadapan penonton. Berbeda dengan panggung yang penontonnya hanya satu arah dari depan. Inti dari pangung arena baik terbuka atau tertutup adalah mendekatkan penonton dengan pemain.2. Kemungkinan berkomunikasi secara langsung atau bahkan bermain di tengah-tengah penonton ini menjadi tantangan kreatif bagi teater modern. Ketiganya adalah panggung proscenium. Karena jaraknya yang dekat.1 Arena Teater Arena Panggung arena adalah panggung yang penontonnya melingkar atau duduk mengelilingi panggung. Hal ini mempengaruhi nilai artistik pementasan. salah satunya adalah penggunaan panggung arena. Penonton sangat dekat sekali dengan pemain.

Bentangan jarak dapat menciptakan bayangan arstisitk tersendiri yang mampu menghadirkan kesan. penata panggung juga bertanggungjawab terhadap segala perabot yang digunakan. imajinasi dapat dituangkan sepenuhnya ke dalam gambar desain tanpa lebih dulu berpikir tentang kemungkinan visualisasinya. Tata cahaya yang memproduksi sinar dapat dihadirkan dengan tanpa terlihat oleh penonton dimana posisi lampu berada. Sebelum menjelaskan semua itu.3 Fungsi Tata Panggung Dalam perancangan tata panggung selain mempertimbangkan jenis panggung yang akan digunakan ada beberapa elemen komposisi yang perlu diperhatikan. Penonton disuguhi gambaran melalui bingkai tersebut. bingkai proscenium menjadi batas tepinya. 5. Procenium Stage Tata panggung pun sangat diuntungkan dengan adanya jarak dan pandangan satu arah dari penonton. Jarak yang sengaja diciptakan untuk memisahkan pemain dan penonton ini dapat digunakan untuk menyajikan cerita seperti apa adanya. dan memanipulasi elemen komposisi yang menjadi dasar dari seluruh kerja desain. Panggung proscenium sudah lama digunakan dalam dunia teater. Perabot dan piranti sangat penting dalam mencipta lukisan panggung. Gambar dekorasi dan perabot tidak begitu menuntut kejelasan detil sampai hal-hal terkecil.1. Pesona inilah yang membuat penggunaan panggung proscenium bertahan sampai sekarang. Intinya semua yang di atas panggung dapat diciptakan untuk mengelabui pandangan penonton dan mengarahkan mereka pada pemikiran bahwa apa yang terjadi di atas pentas adalah kenyataan. Tata perabot kemudian menjadi unsur pokok pada tata panggung arena.1. Karena keseluruhan objek yang ada di atas panggung dan digunakan oleh aktor membentuk satu lukisan secara menyeluruh. . 5. terutama pada panggung arena dimana lukisan dekor atau bentuk bangunan vertikal tertutup seperti dinding atau kamar (karena akan menghalangi pandangan sebagian penonton) tidak memungkinkan diletakkan di atas panggung. Unsurunsur ini ditata sedemikian rupa sehingga bisa memberikan gambaran lengkap yang berfungsi untuk menjelaskan suasana dan semangat lakon.276). status karakter peran. Bingkai yang dipasangi layar atau gorden inilah yang memisahkan wilayah akting pemain dengan penonton yang menyaksikan pertunjukan dari satu arah (Gb. fungsi tata panggung perlu dibahas terlebih dahulu. Dengan pemisahan ini maka pergantian tata panggung dapat dilakukan tanpa sepengetahuan penonton. Selain merencanakan gambar dekor. Aktor dapat bermain dengan leluasa seolah-olah tidak ada penonton yang hadir melihatnya. dan musim dalam tahun dimana lakon dilangsungkan. Kesan inilah yang diolah penata panggung untuk mewujudkan kreasinya di atas panggung proscenium. Pemikiran lain di luar desain akan menghambat imajinasi dan akhrinya memberikan batasan. menata. Jarak antara penonton dan panggung adalah jarak yang dapat dimanfaatkan untuk menciptakan gambaran kreatif pemangungan.4 Elemen Komposisi Desain tata panggung sebaiknya dibuat dengan mudah dan bebas. Pembelajaran tata panggung untuk menciptakan ilusi (tipuan) imajinatif sangat dimungkinkan dalam panggung proscenium. Dalam pembuatan desain gambar tata panggung yang terpenting adalah cara mengatur. Perspektif dapat ditampilkan dengan memanfaatkan kedalaman panggung (luas panggung ke belakang). lokasi kejadian. periode sejarah lakon. Semua yang ada di atas panggung dapat disajikan secara sempurna seolah-olah gambar nyata. Seperti sebuah lukisan. Hampir semua sekolah teater memiliki jenis panggung proscenium.aksi aktor dalam lakon melalui sebuah bingkai atau lengkung proscenium (proscenium arch). Penyuntingan atau pengolahan bisa dilakukan setelah gagasan tertuang. Artinya. Pemisahan ini dapat membantu efek artistik yang dinginkan terutama dalam gaya realisme yang menghendaki lakon seolah-olah benar-benar terjadi dalam kehidupan nyata.

• Penerangan. Banyak hal yang bisa dikerjakan bekaitan dengan peran tata cahaya tetapi fungsi dasar tata cahaya ada empat. Artinya. • Dimensi. Beberapa fungsi . Tidak semua area di atas panggung memiliki tingkat terang yang sama tetapi diatur dengan tujuan dan maksud tertentu sehingga menegaskan pesan yang hendak disampaikan melalui laku aktor di atas pentas. Seorang penata cahaya perlu mempelajari pengetahuan dasar dan penguasaan peralatan tata cahaya. dan atmosfir (Mark Carpenter. Dimensi dapat diciptakan dengan membagi sisi gelap dan terang atas objek yang disinari sehingga membantu perspektif tata panggung. masing-masing fungsi memiliki interaksi (saling mempengaruhi). untuk memberikan fokus perhatian pada area atau aksi tertentu sutradara memanfaatkan cahaya.5. Tata cahaya dapat dimanfaatkan untuk menentukan objek dan area yang hendak disinari. bulan atau api untuk menerangi. yaitu penerangan. tata cahaya memiliki fungsi pendukung yang dikembangkan secara berlainan oleh masing-masing ahli tata cahaya.2. Dengan cahaya. Dalam pertunjukan era primitif manusia hanya menggunakan cahaya matahari. Pengetahuan dasar ini selanjutnya dapat diterapkan dan dikembangkan dalam penataan cahaya untuk kepentingan artistik pemanggungan. Dengan tata cahaya kedalaman sebuah objek dapat dicitrakan. Sinar mentari pagi membawa kehangatan sedangkan sinar mentari siang hari terasa panas.2. dan emosi peristiwa. 1988). Semua objek yang disinari memberikan gambaran yang jelas kepada penonton tentang segala sesuatu yang akan dikomunikasikan. dimensi. Jika semua objek diterangi dengan intensitas yang sama maka gambar yang akan tertangkap oleh mata penonton menjadi datar. Sejak ditemukannya lampu penerangan manusia menciptakan modifikasi dan menemukan hal-hal baru yang dapat digunakan untuk menerangi panggung pementasan. Dengan pengaturan tingkat intensitas serta pemilahan sisi gelap dan terang maka dimensi objek akan muncul. pemilihan. suasana. Pemilihan ini tidak hanya berpengaruh bagi perhatian penonton tetapi juga bagi para aktor di atas pentas serta keindahan tata panggung yang dihadirkan. penonton secara normal dapat melihat seluruh area panggung. Inilah fungsi paling mendasar dari tata cahaya. Lampu memberi penerangan pada pemain dan setiap objek yang ada di atas panggung. 5. Tanpa adanya cahaya maka penonton tidak akan dapat menyaksikan apa-apa. Keempat fungsi pokok tata cahaya di atas tidak berdiri sendiri. • Atmosfir. Kata “atmosfir” digunakan untuk menjelaskan suasana serta emosi yang terkandung dalam peristiwa lakon. efek lampu dapat diciptakan untuk menirukan cahaya bulan dan matahari pada waktu-waktu tertentu. Sejak ditemukannya teknologi pencahayaan panggung. TATA CAHAYA Cahaya adalah unsur tata artistik yang paling penting dalam pertunjukan teater.1 Fungsi Tata Cahaya Tata cahaya yang hadir di atas panggung dan menyinari semua objek sesungguhnya menghadirkan kemungkinan bagi sutradara. Inilah gambaran suasana dan emosi yang dapat dimunculkan oleh tata cahaya. Dalam teater. Fungsi penerangan dilakukan dengan memilih area tertentu untuk memberikan gambaran dimensional objek. Jika dalam film dan televisi sutradara dapat memilih adegan menggunakan kamera maka sutradara panggung melakukannya dengan cahaya. warna cahaya matahari pagi berbeda dengan siang hari. dan penonton untuk saling melihat dan berkomunikasi. Tata cahaya mampu menghadirkan suasana yang dikehendaki oleh lakon. Yang paling menarik dari fungsi tata cahaya adalah kemampuannya menghadirkan suasana yang mempengaruhi emosi penonton. sutradara dapat menghadirkan ilusi imajinatif. aktor. • Pemilihan. Istilah penerangan dalam tata cahaya panggung bukan hanya sekedar memberi efek terang sehingga bisa dilihat tetapi memberi penerangan bagian tertentu dengan intensitas tertentu. Selain keempat fungsi pokok di atas. Misalnya.

yaitu seni mengubah wajah untuk menggambarkan karakter tokoh.3. Cahaya berfungsi untuk memberi tanda selama pertunjukan berlangsung. Tetapi pergantian cahaya dalam satu area ketika adegan tengah berlangsung terkadang tidak secara langsung disadari. bulan atau lampu meja. • Penekanan. mata yang tidak ekspresif. Contohnya. Seorang pemain. Tata cahaya tidaklah statis. Misalnya. Pemakaian tata rias akhirnya menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari peristiwa teater. Penampilan tokoh yang berbeda-beda membutuhkan penampilan yang berbeda sesuai karakternya. dan sebagainya.pendukung yang dapat ditemukan dalam tata cahaya adalah sebagai berikut. tumbuhan. Beberapa teater primitif menggunakan bedak tebal yang biasa dibuat dari bahan-bahan alam. Tata rias merupakan salah satu cara menampilkan karakter tokoh yang berbeda-beda tersebut. Cahaya dapat dimanfaatkan untuk menciptakan lukisan panggung melalui tatanan warna yang dihasilkannya. bibir yang kurang tegas.tulang. seperti tanah. Tata Rias dalam teater bermula dari pemakaian kedok atau topeng untuk menggambarkan karakter tokoh. Gaya realis atau naturalis yang mensyaratkan detil kenyataan mengharuskan tata cahaya mengikuti cahaya alami seperti matahari. cahaya selalu bergerak dan berpindah dari area satu ke area lain.1 Fungsi Tata Rias Tokoh dalam teater memiliki karakter berbeda-beda. memiliki hidung yang kurang mancung. Gerak perpindahan cahaya ini mengalir sehingga kadang-kadang perubahannya disadari oleh penonton dan kadang tidak. Tata rias bisa . 5. • Menyempurnakan penampilan wajah • Menggambarkan karakter tokoh • Memberi efek gerak pada ekspresi pemain • Menegaskan dan menghasilkan garis-garis wajah sesuai dengan tokoh • Menambah aspek dramatik. misalnya. dan lemak binatang. Tanpa • sadar penonton dibawa ke dalam suasana yang berbeda melalui perubahan cahaya. 5. Jika perpindahan cahaya bergerak dari aktor satu ke aktor lain dalam area yang berbeda.1. Cahaya dapat menunjukkan gaya pementasan yang sedang dilakonkan. Dalam gaya Surealis tata cahaya diproyeksikan untuk menyajikan imajinasi atau fantasi di luar kenyataan seharihari.1 Menyempurnakan Penampilan Wajah Wajah seorang pemain memiliki kekurangan yang bisa disempurnakan dengan mengaplikasikan tata rias. • Gerak. • Gaya. black out biasanya digunakan sebagai tanda ganti adegan diiringi dengan pergantian set. Dalam pementasan komedi atau dagelan tata cahaya membutuhkan tingkat penerangan yang tinggi sehingga setiap gerak lucu yang dilakukan oleh aktor dapat tertangkap jelas oleh penonton. penonton dapat melihatnya dengan jelas. Tata rias dalam teater memiliki fungsi sebagai berikut. teater Yunani yang memakai topeng lebih besar dari wajah pemain dengan garis tegas agar ekspresinya dapat dilihat oleh penonton. Dalam pementasan teater tradisional. Sepanjang pementasan.3. Tata cahaya dapat memberikan penekanan tertentu pada adegan atau objek yang dinginkan. fade out untuk mengakhiri sebuah adegan. 5. Tata rias dalam teater mempunyai arti lebih spesifik. Penggunaan warna serta intensitas dapat menarik perhatian penonton sehingga membantu pesan yang hendak disampaikan. dari objek satu ke objek lain. TATA RIAS Tata rias secara umum dapat diartikan sebagai seni mengubah penampilan wajah menjadi lebih sempurna. • Komposisi. fade in untuk memulai adegan dan black out sebagai akhir dari cerita. Sebuah bagian bangunan yang tinggi yang senantiasa disinari cahaya sepanjang pertunjukan akan menarik perhatian penonton dan menimbulkan pertanyaan sehingga membuat penonton menyelidiki maksud dari hal tersebut.3. • Pemberian tanda.

mata menjadi lebih ekspresif. ras. Pemain yang tidak menggunakan rias.3. Misalnya. Sebaliknya.2 Jenis Tata Rias 5. sehingga saat berekspresi muncul efek gerak yang tegas dan dapat ditangkap oleh penonton. misalnya dahi terlalu lebar. dan menonjolkan bagian-bagian wajah sesuai dengan tokoh yang dimainkan. tampak datar ketika tertimpa cahaya lampu. bentuk wajah dan tubuh. 5. tidak memiliki dimensi. tetapi juga menambahkan sehingga terbentuk tampilan yang berbeda dengan wajah asli pemain. Misalnya. tertembak. wajahnya akan tampak datar.3.2 Menggambarkan Karakter Tokoh Karakter berarti watak. tokoh yang pesimistis cenderung memiliki karakter garis mata yang menurun. tetapi cukup menyempurnakan dengan mengoreksi kekurangan yang ada untuk disempurnakan. Seorang yang berperan menjadi tokoh binatang. 5. Tata rias memiliki kemampuan dalam mengubah sekaligus menampilkan karakter yang berbeda dari seorang pemeran.5 Menambah Aspek Dramatik Peristiwa teater selalu tumbuh dan berkembang. menegaskan.1. 5. Wajah pemain cukup disempurnakan dengan menyamarkan. Tata rias ini menyembunyikan kekurangan-kekurangan yang ada pada wajah dan menonjolkan hal-hal yang menarik dari wajah.1 Tata Rias Korektif Tata rias korektif (corective make-up) merupakan suatu bentuk tata rias yang bersifat menyempurnakan (koreksi). maka perlu membuat garis-garis baru sesuai dengan karakter wajah binatang yang diperankan. Penyempurnaan wajah dilakukan pada pemain yang secara fisik telah sesuai dengan tokoh yang dimainkan.1. Tokoh-tokoh mengalami berbagai peristiwa sehingga terjadi perubahan dan penambahan tata rias. Tata rias berfungsi menegaskan garis-garis wajah karakter. Biasanya pemeran memiliki kesesuaian dengan tokoh yang diperankan.3.menyempurnakan kekurangan tersebut sehingga muncul kesan hidung tampak mancung. maka dibutuhkan tata rias yang memberikan efek sesuai dengan kebutuhan. seorang tokoh tertusuk belati.dapat disempurnakan dengan make up korektif.2.2 Tata Rias Fantasi Tata rias fantasi dikenal juga dengan istilah tata rias karakter khusus. Karakter wajah merupakan cermin psikologis dan latar sosial tokoh yang hadir secara nyata. Tata rias berfungsi melukiskan watak tokoh dengan mengubah wajah pemeran menyangkut aspek umur.3.1.1. Seorang penata rias harus mencermati gerak ekspresi wajah untuk menentukan garis yang akan dibuat. Tata rias bisa memberikan efek dramatik dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dengan menciptakan efek tertentu sesuai dengan kebutuhan. Misalnya.3 Memberi Efek Gerak Pada Ekspresi Pemain Wajah seorang pemain di atas pentas. Oleh karena itu dibutuhkan tata rias untuk menampilkan dimensi wajah pemain. seorang yang optimis digambarkan dengan tarikan sudut mata cenderung ke atas.3.2. 5. Seseorang yang memiliki bentuk wajah kurang sempurna. Fungsi garis tidak sekedar menegaskan. seorang remaja yang memerankan seorang yang telah berumur 50 tahun. 5.4 Menghadirkan Garis Wajah Sesuai Dengan Tokoh Menampilkan wajah sesuai dengan tokoh membutuhkan garis baru yang membentuk wajah baru. Tata rias tidak perlu mengubah usia. ras. Wajah perlu ditambahkan garis-garis kerutan sesuai wajah seorang yang berusia 50 tahun.3. Disebut tata rias karakter . dan perubahan bentuk wajah. Setiap wajah memiliki kekuarangan dan kelebihan. Seorang pemain membutuhkan tata rias korektif ketika tampilannya tidak membutuhkan perubahan usia. seorang remaja memerankan siswa sekolah.3. tersayat wajahnya. 5. Misalnya. dan bibir bergaris tegas. hidung kurang mancung dan sebagainya.

Tata rias fantasi menggambarkan tokoh-tokoh yang tidak riil keberadaannya dan lahir berdasarkan daya khayal semata. Masing-masing memiliki ciri khasnya. kulit binatang. Artinya. Tata rias karakter tidak sekedar menyempurnakan. karena menampilkan wujud rekaan dengan mengubah wajah tidak realistik. seperti tumbuhan. Sementara itu tata busana menurut jamannya bisa digeneralisasi.1. busana yang dipakai berasal dari bahan-bahan alami. Tata rias karakter dibutuhkan ketika karakter wajah pemeran tidak sesuai dengan karakter tokoh. Renaissance.2. Periode busana teater dengan demikian mengikuti periode teater tersebut. mengubah umur pemeran dari muda menjadi lebih tua . misalnya memanjangkan telinga.3. dan ciri-ciri khusus yang melekat pada tokoh.1 Fungsi Tata Busana Busana yang dipakai manusia beraneka ragam bentuk dan fungsinya. sifat. 5. Ketika manusia menemukan tekstil dengan teknologi pengolahan yang tinggi. Dalam masa ini. tetapi lebih pada konsep yang melatarbelakangi penciptaan teater. karena semua tergantung latar cerita yang ditampilkan. Fungsi busana dalam kehidupan sehari-hari untuk melindungi tubuh.4. Demikian juga dengan teater pada jaman Yunani. Misalnya.1 Mencitrakan Keindahan Penampilan Manusia memiliki hasrat untuk mengungkapkan rasa keindahan dalam berbagai aspek . dalam teater Romawi Kuno maka lakon yang ditampilkan berlatar jaman tersebut sehingga busananya pun seperti busana keseharian penduduk jaman Romawi Kuno. Elizabethan.khusus. sepatu. Busana pun mengikuti konsep tersebut.3 Tata Rias karakter Tata rias karaker adalah tata rias yang mengubah penampilan wajah seseorang dalam hal umur. yaitu. dan segala unsur yang melekat pada pakaian. Pada era teater primitif. 5. Tata busana termasuk segala asesoris seperti topi. gelang . Tata busana dengan demikian sudah tidak lagi terpaku pada jaman. Busana teater mengalami perkembangan pesat seiring lahirnya teater modern pada akhir abad 19. Semua terserah pada gagasan seniman. syal. dan Abad 18.4. watak. • Mencitrakan keindahan penampilan • Membedakan satu pemain dengan pemain yang lain • Menggambarkan karakter tokoh • Memberikan efek gerak pemain • Memberikan efek dramatik 5. TATA BUSANA Tata busana adalah seni pakaian dan segala perlengkapan yang menyertai untuk menggambarkan tokoh.4. Tata busana dalam teater memiliki peranan penting untuk menggambarkan tokoh. dan memenuhi hasrat manusia akan keindahan. Contohnya. Abad Pertengahan. beragam aliran teater bermunculan. maka busana berkembang menjadi lebih baik. Jenis busana ini tidak bisa disamakan antara daerah satu dengan daerah lain. Tata busana dapat dibuat berdasar budaya atau jaman tertentu. bangsa. Busana dalam teater memiliki fungsi yang lebih kompleks. kalung. Masing-masing memiliki kospenya tersendiri dan lakon tidak harus berlatar jaman dimana lakon itu dibuat. dan batu-batuan untuk asesoris. mencitrakan kesopanan. Tidak ada periode tata busana secara khusus di teater. Restorasi. Untuk membuat tata busana sesuai dengan adat dan kebudayaan daerah tertentu maka diperlukan referensi khusus berkaitan dengan adat dan kebudayaan tersebut. Tokoh tersebut memiliki latar Suku Dayak Kalimantan yang memiliki tradisi memanjangkan telinga. 5. Mengubah anatomi wajah pemain untuk memenuhi tuntutan tokoh dapat juga digolongkan sebagai tata rias karakter. busana pada jaman atau dekade tertentu memiliki ciri yang sama. tetapi mengubah tampilan wajah.

busananya cenderung rapi. Saling berbicara.4. dan tanpa asesoris yang berlebihan. Karena prinsip teater adalah kerjasama maka belajar teater tidaklah hanya mempelajari elemen-elem yang ada di dalamnya tetapi juga mempelajari kerja pengabungan di antaranya. Sebaliknya. Teater di Inggris pada masa pemerintahan Ratu Elizabeth (1580 – 1640). busananya dilengkapi asesoris dan cara pemakaiannya seenaknya tidak sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan sekolah. Karena sifatnya yang kolaboratif maka seni teater akan kehilangan spiritnya jika masing-masing bidang berusaha untuk menonjol dan mengalahkan bidang lain. tokoh seorang pelajar yang bandel. rajin. Kualitas karya yang dihasilkan menggambarkan semangat dan keadaan jiwa pembuatnya. Satu proses kerja bidang tertentu bahkan dinilai lebih tinggi dari bidang lain. Perbedaan karakter dalam busana dapat ditampilkan melalui model. sehingga penonton mampu mengidentifikasikan tokoh dengan mudah 5. Membaca referensi atau buku teater tidaklah hanya untuk menambah wawasan. dan sering membuat onar.3 Menggambarkan Karakter Tokoh Fungsi penting busana dalam teater adalah untuk menggambarkan karakter tokoh. 5. pengetahuan. Melalui busana.2 Membedakan Satu Pemain Dengan Pemain Yang Lain Pementasan teater menampilkan tokoh yang bermacam-macam karakter dan latar belakang sosialnya. Penonton membutuhkan suatu penampilan yang berbeda-beda antara satu tokoh dengan tokoh yang lain. Berbicara teater tidak hanya berbicara naskah atau sutradara yang merajut proses atau aktor terkenal yang ikut terlibat di dalamnya. hasrat untuk tampil berbeda dan lebih indah dari tampilan sehari-hari telah muncul. motif.1. warna. Busana menjadi salah satu tanda penting untuk membedakan satu tokoh dengan tokoh yang lain. Contohnya. kerja sekecil apapun dalam teater sangatlah penting. . Dalam teater hal itu tidak berlaku. Pemaknaan ini akan membawa satu sikap penghargaan profesi baik bagi diri sendiri atau bagi orang yang bekerja pada bidang lain. Jika kualitas kerja salah satu bidang tidak baik maka keseluruhan pertunjukan menjadi terpengaruh. sederhana. seni memang tidak hanya menghasilkan sesuatu yang tampak (produk) tetapi juga mental atau jiwa para pelakunya. Memecahkan persoalan bersama dan menentukan satu keputusan yang secara artistik adil bagi semua pihak. Dengan demikin dalam satu karya teater. Apalagi ketika proses tersebut dinilai dan memiliki konsekuensi langsung bagi pelakunya. dan peningkatan kompetensi tetapi juga untuk mengungkap makna kerja yang ada di sebalik ilmu. Akhirnya menjadi maklumlah kita ketika seseorang berbicara tentang teater maka ia akan membicarakan semua elemen yang ada di dalamnya. Pada era teater primitif. penonton terbantu dalam menangkap karakter yang berbeda dari setiap tokoh. PENUTUP Sebuah karya teater lahir dari satu proses pembelajaran yang padu. Berdiskusi. Satu bidang harus mampu dan mau menghargai bidang lain.1. Satu bidang kecil memiliki makna yang sama dengan bidang lain. bentuk. Dalam satu proses pembelajaran hal semacam itu sering tejadi. tokoh seorang pelajar yang pendiam. Sebuah langkah yang besar selalu dimulai dari langkah kecil. Secara mendalam. Pementasan teater adalah suatu tontonan yang mengandung aspek keindahan.kehidupan. dan garis yang diciptakan. memakai busana sehari-hari yang dibuat lebih indah dengan mengaplikasikan perhiasan dan penambahan bahanbahan yang mahal dan mewah. Penampilan busana yang berbeda akan menunjukkan ciri khusus seorang tokoh. brutal. Tata busana dalam teater berfungsi sebagai bentuk ekspresi untuk tampil lebih indah dari penampilan seharihari. tidak hanya tergambar keindahan karya seni tetapi juga prinsip kebersamaan. Sebuah karya teater yang besar merupakan penyatuan kerja elemen-elemen yang kecil. dan alim. Busana pementesan teater dibuat secara khusus dan dilengkapi dengan asesoris sesuai kebutuhan pemensan.4. Oleh karena itu.

Memiliki tujuan yang sama. Semua itu tidak berada dalam bingkai saling meniru akan tetapi bingkai kreativitas yang terus berkembang dan berkembang. Sesuatu yang sangat berarti bagi si penggagas. Oleh sebab itu. Semua elemen harus besatu. Oleh karena itulah. Jika satu saja elemen berada di luar garis ini maka kesatuan makna menjadi kabur. Karya seni yang lahir dari kreativitas dapat dialirkan kepada generasi berikutnya melalui catatancatatan. mempelajari teater tidak hanya mempelajari satu bidang dan mengabaikan bidang lain. Demikian pula penata panggung harus mau memahami pola laku dan gerak para aktor di atas pentas sehingga ruang yang diciptakan tidak mengganggu bagi pergerakan aktor ketika bemain. pelajarilah semuanya sesuai dengan tahapan yang benar. Dramaturgi atau pengetahuan teater dasar merupakan pokok pemahaman yang harus diperhatikan. bahkan penonton yang hadir di dalamnya. Jadi. semua saling membantu. konsep. Kualitas ketersampaian pesan yang diramu oleh para pekerja teater (pengarang. Seorang aktor yang baik harus mengerti fungsi tata panggung karena ia akan bermain di antara objek yang ditata di atas pentas. tata panggung dan cahaya. ketersampaian cerita. dan penyelesaian. Semua elemen harus memahami hal ini. maka cerita yang satu kalimat itu pun dapat dikembangkan. . Demikian berjalan secara berkesambungan. semua saling mendukung. Dengan berdasar pengetahuan dan keingintahuan dari membaca catatan tersebut. Catatan inti akan terus berkembang seiring dengan perkembangan teater itu sendiri. Begitu pentingnya pesan yang hendak disampaikan sehingga semua elemen pendukung pementasan bekerja keras mewujudkannya. membaca untuk menilhami. Satu gagasan atau perwujudan karya menjadi indah dan menarik serta memiliki kesatuan makna jika semua elemennya memiliki tujuan artistik yang sama.Berbicara teater adalah berbicara tentang semua hal yang ada di dalamnya. Karena itu pulalah penonton merupkan kunci keberhasilan sebuah pertunjukan. Disitulah sebetulnya letak fungsi hakiki dari sebuah pengetahuan. Karya seni yang lebih mementingkan proses. maka semua komponen bekerja untuk memenuhi atmosfir kesedihan yang diharapkan. lebih menghargai pengalaman dari pada hasil akhir. apapun kualitasnya gagasan tersebut harus menjadi sesuatu. Saling mendukung demi tercapaiya tujuan tersebut. Dalam teater. sebuah gagasan dapat diwujudkan. tata rias dan busana. Respon atau tanggapan yang diberikan penonton terhadap pertunjukan yang dilangsungkan merupakan tanda bagi keberhasilan atau kegagalan pertunjukan tesebut dalam menyampaikan pesan. Apapun bentuknya. Membaca catatan karya orang lain bukan dipahami sebagai bentuk plagiarisme tetapi membaca untuk mempelajari. sutradara. konflik. maka ia perlu dinyatakan. Karya baru yang dihasilkan oleh seniman itupun pada nantinya juga akan menginspirasi karya yang lain. semua bermula dari sebuah cerita. Minimal menjadi tiga kalimat yang masing-masing mewakili pemaparan. Satu karya mempengaruhi atau terpengaruh oleh karya lain. Dramaturgi adalah catatan-catatan proses penciptaan seni drama hingga sampai pementasannya. semua saling belajar. penata artistik) akan diketahui langsung oleh para penonton dalam sebuah pertunjukan. wujud awal dari sebuah gagasan harus mengalami proses pembentukan. aktor. Hal itu akan menyangkut soal cerita. Tidak peduli berapa panjang cerita tersebut. Memang perlu belajar satu bidang secara khusus tetapi pemahaman atas bidang lain tidak bisa diabaikan. Bahkan mungkin cerita itu hanya merupakan satu rangkaian kalimat. Akan tetapi. Ketika sebuah gagasan muncul. Ia akan bermain dalam area yang diciptakan oleh penata panggung. dengan memahami dasar-dasar penciptaan lakon yang mengedepankan pentingnya arti konflik dalam teater. Banyak seniman yang lahir karena membaca atau mempelajari karya (catatan) seniman yang lainnya. Dalam sebuah lakon yang menceritakan tentang kesedihan. Untuk kepentingan inilah buku ini disusun. membaca untuk menginspirasi sehingga seni baru senantiasa lahir. Gagasan hanya akan menjadi gagasan jika tidak diwujudkan.

Oleh karena itu maka tidak ada kata lain selain belajar. Tidak perlu seorang diri mengerjakan semuanya. Cari Bottom of Form Kajian Drama 22 Apr 2009 Tinggalkan sebuah Komentar by mbahbrata in Kajian Teori .Hanya dengan cerita yang sangat sederhana semacam ini. Semangat belajar dalam teater tidak akan pernah bisa berhenti karena teater senantiasa hidup dan berkembang.. Joglo Drama – Mbah Brata Seni memanusiakan manusia.. sebuah karya teater dapat dilahirkan. Pengetahuan tentang dasar-dasar penyutradaraan. Teater adalah kolketif. cerita yang sudah berhasil dicipta dapat diwujudkan ke dalam sebuah pementasan. dan tata artistik dapat diaplikasikan untuk mendukung karya yang akan ditampilkan. dan berkarya. berkarya. Kerjasama sebagai semangat seni teater dapat dijadikan acuan proses penciptaan. Dengan semangat dan ketekunan berlatih. Semua berjalan dalam satu proses. Catatan kecil yang kami sampaikan ini semoga dapat menjadi pemicu semangat untuk terus belajar dan berkarya. Ilmu yang didapatkan sekarang tidak akan pernah cukup. dan proses adalah belajar. belajar. akan tetapi lebih berarti jika semua bidang bersinergi. Masing-masing bidang dalam teater dapat dikerjakan oleh orang-orang tertentu yang tertarik di bidang-bidang tersebut. dan belajar. Semua bisa dipelajari secara mandiri. Jika semuanya berbuat dalam semangat kerjasama maka pergelaran karaya teater menjadi karya bersama yang memiliki satu makna. Semua secara harmonis bekerja bersama mendukung makna yang satu. pemeranan. Sebuah pertunjukan dapat digelar. menjadikan manusia lebih manusiawi • • • Beranda Jeda Malam Tentang Blog ‘Joglo Drama’ Top of Form Search. teater adalah kerjasama. Masing-masing bidang yang dibahas dalam buku ini memberikan gambaran harmonisasi tersebut. Berkarya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful