P. 1
birrul walidain

birrul walidain

|Views: 116|Likes:
Published by Ahmad Faruq
makalah
makalah

More info:

Published by: Ahmad Faruq on Apr 29, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as TXT, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/13/2012

original

BAB II P E M B A H A S A N A.

Pengertian Birrul Walidain Surat Luqman 12-15 Dan Sesungguhnya Telah kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah k epada Allah. dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, Maka Ses ungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji". Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajar an kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya me mpersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya ; ibunya Telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan men yapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu , Hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan perga ulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepa da-Ku, Kemudian Hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan.

B. Mufrodat Q.S. Luqman 12-15 Memberi pelajaran : keadaan lemah yang bertambah- tambah memaksamu :

:

C. Munasabah Surat Luqman 12-15 Ayat 12 -15 terdapat kesesuaian yang dapat memberikan pemahaman yang utuh dalam memaknai perintah untuk birrul walidain. Atur perintah yang terdapat pada ayat 1 2, 13 dan ayat sesudanya yaitu ayat ke 15 mengandung maksud yang sama yaitu keha rusan mengungkankan dan berperilaku syukur terhadap allah. Dalam hal ini allah m emberi i’tibar tentang keharusan birrul walidain sebagai bukti ungkapan dan perila ku sykur terhadap allah. D. Kandungan hukum surat luqman 12-15 Masa meneteki yang menyebabkan mahram Berdasarkan ayat diatas, para ahli fiqih berpendapat, bahwa masa meneteki yang m enyebabkan menjadi mahram, yaitu dua tahun (yakni si anak yang diteteki itu belu m lebih dari dua tahun), karena tegas ayat tersebut mengatakan : “dan menyapihnya itu dalam dua tahun”. Jadi dua tahun ini adalah sempurnanya masa meneteki. Mereka berdalil juga dengan firman allah : • Artinya : dan ibu-ibu hendaknya meneteki anak-anaknya dua tahun penuh, bagi oran g yang berkehendak untuk menggenapkan / menyempurnakan penyusuan.(QS. Al-baqarah 233) Dua ayat tersebut menunjukkan, bahwa maksimal waktu meneteki hanyalah dua tahun. Demikian pendapat jumhur (malik, syafi’I, dan ahmad) Sedang abu hnaifah berpendapat, bahwa masa meneteki yang menyebabkan menjadi mah ram ialah dua tahun setengah. Dalilnya, firman allah : • Artinya : ibunya mengandung dengan susah payah dan melahirkan pun dengan susah p ayah pula, sedangkan waktu mengandung dan menyapihnya itu tiga puluh bulan. (QS. Al-ahqaf 15). Dalam beristidlal (mengambil dalil) dari ayat ini, abu hanifah melihat dari dua

sisi : Pertama : bahwa yang dimaksud mengandung disini, bukan mengandung janin dalam ra him, tetapi yang dimaksud ialah menggendong karena hendak diteteki. Jadi seolaholah Allah mengatakan : si ibu menggendong anaknya sesudah anak itu lahir untuk diteteki selama tiga puluh bulan. Jadi masa yang tersebut dalam ayat itu, adalah satu keperluan yaitu meneteki. Kedua : bahwa allah swt. Dalam ayat tersebut menyebutkan dua perkara : mengandun g dan menyapih, yang kemudian diiringi dengna menerangkan masa. Jadi “masa” untuk ke dua hal tersebut, masing-masing berdiri sendiri. Jadi maksud dari penafsiran ini adalah sebagai berikut : mengandungnya itu selama tiga puluh bulan dan menyapih nya pun tiga puluh bulan. Jadi masing-masing dua setengah tahun. Dengan demikian jelas sekali, bahwa masa meneteki itu adalah dua setengah tahun. Ini sama denga n perkataan orang yang berpiutang : “saya mempunyai tanggungan hutang seratus kepa da si anu, selama setahun”. Maka “setahun” itu adalah limit waktu untuk masing-masing hutang. Demikian pula kata ‘tiga puluh tahun’ disini, adalah waktu untuk masing-masi ng mengandung dan menyusui. Pendapat abu hanifah ini tidak disetujui oleh muridnya abu yusuf dan imam Muhamm ad, bahkan mereka ini berpendapat seperti jumhur, bahwa menyusui yang bisa menja dikan mahram itu hanya du tahun. E. Tafsir Surat Luqman 12-15 Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam QS. Luqman : 14 • "Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang Ibu Bapakny a, Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan meny apihnya dalam dua tahun. Maka bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang Ibu Bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu." Berkata Ibnu Abbas mudah-mudahan Allah meridhoi mereka berdua "Tiga ayat dalam A l Qur’an yang saling berkaitan dimana tidak diterima salah satu tanpa yang lainnya , kemudian Allah menyebutkan diantaranya firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala (artinya ) : "Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang Ibu Bapakmu", Berkata beliau. " Maka, barangsiapa yang bersyukur kepada Allah akan tetapi dia tidak bersyukur pa da kedua Ibu Bapaknya, tidak akan diterima (rasa syukurnya) dengan sebab itu." ( Al Kabaair milik Imam Adz Dzahabi hal 40). 1. Dalam perintah-Nya untuk berbuat baik kepada orang tua, Allah menyebutka n dengan kata “Walidain, tetapi kemudian disusul dengan menyebut Ibu secara khusus . Ini dalam istilah bahasa disebut “dzikrul khash ba’dal ‘am” (menyebutkan yang khusus s esudah yang umum), gunanya untuk menambah perhatian dan memandangnya sebagai hal yang penting, disamping untuk menerangkan, bahwa hak ibu atas anak adalah lebih besar daripada hak ayah. Sebab kalimat “ibunya mengandung dalam kedaan lemah bertambah lemah” itu, adalah mer upakan Jumlah Mutaridhah. Zamahsyari berkata : jika engkau bertanya :kalimat”ibunya mengandungnya dalam kead aan lemah bertambah lemah: itu bagaimana mungkin bisa dikatakan mu’taridhah antara yang ditafsiri dan yang menafsiri? Maka saya jawab : Allah memerintahkan anak b erbuat baik kepada kedua orang tua, lalu dilanjutkan dengan meyebutkan kesusahan dan kepayahan demi kepayahan yang dialami oleh ibu, baik di waktu mengandung at aupun di waktu sudah lahir sampai menyapihkannya yang memakan waktu cukup lama i tu, gunanya untuk menkonkrit perintah-Nya itu, khususnya kepada ibu dan untuk me ngingatkan betapa besarnya hak ibu ini. Dalam hal ini rasuullah saw. Juga pernah ditanya: Artinya : siapakah yang lebih patut kuperlakukan dengan baik? Rasulullah saw. Me njawab: ibumu, kemudian ibumu, kemudian ibumu. Setelah itu rasulullah saw. Baru menyambung : kemudian ayahmu. Diriwayatkan dari sebagian orang-orang arab, bahwa ia pernah menggendong ibunya pergi haji, sambil bersenadung: Kugendong ibuku Padahal dia penggendong Dia meneteki aku dengan air yang banyak sekali di pagi hari, di siang hari dan di sore hari.

Sedang ayah Tidak dibalas pekerjaan-pekerjaanya nan susah payah 2. Ketika Allah menyuruh berterima kasih kepada kedua orang tua, ia dahulu dengan perintah syukur kepada-nya, yaitu “hendaklah engkau bersyukur kepada-ku dan kepada kedua orang tuamu”, adalah memberi isyarat bahwa hak allah adalah lebih b esar dari pada hak kedua orang tua dan bersyukur kepada-nya lebih wajib dan lebi h pasti, sebab dialah pemberi naikamt yang sebenarnya dan pemberi anugerah kepad a hamba-hamba-nya. Sedang berterima kasih kepada kedua orang tua adalah salah sa tu bagian dari bersyukur kepada pemberi nikmat itu. Allah adalah penyebab pertam a adanya makhluk ini. Sedang kedua orang tua sekedar perantara. Oleh karena itu penyebab pertamalah yang harus didahulukan daripada perantara. 3. Mendahulukan sesuatu yang mestinya diakhirkan adalah menunjukkan arti te rbatas (lilhashr) sebagaiamana firman allah (kepada-ku tempat kembali), yakni ha ada-ku kembali. (kemudian kepada-ku tempat kembalimu), yakni: hanya kepada kembalimu. Di dini jar majrur ( ) didahulukan daripada , yang semula seharusnya ‘mas lukan daripada ‘ila’. 4. disebutkan kata “fid dun-ya” dalam ayat tersebut adalah memberi isyarat rend ahnya bergelimang dalam urusan dunia dan sebentarnya waktu serta masa habisnya s udah diambang pintu. Oleh karena itu manusia tidak boleh terlalu bersusah payah dalam mengarungi dunia ini. Kiranya tepat apa yang dikatakan seorang penyair: Getaran jantung seseorang itu seola-ola memberitahukan kepasanya bahwa hidup itu hanya beberapa menit dan beberapa detik belaka. 5. perkataan “dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-ku” dalam ayat terse but, menunjukkan, bahwa kita diserukan untuk mengikuti jalan orang-orang yang sh aleh, dulu maupun sekarang. Sementara ada yang menafsirkan, bahwa orang-orang ya ng kembali kepada-ku itu aialah abu baker ash-shiddiq, sebab masuk islamnya sa’ad itu adalah karena abu baker. Tetapi yang betul ialah seperti yang dikatakan al-alusi, bahwa ayat ini umum, me liputi semua orang yang disifati oleh ayat di atas. F. Kesimpulan Surat Luqman 12-15 1. Hikmah adalah pemberian Allah yang tidak dapat diperoleh keuali dengan j alan taqwa dan amal shaleh 2. Syukur nikmat adalah wajib atas setiap orang, dan barang siapa yang tida k berterima kasih kepada seseorang, berarti tidak bersyukur kepada allah. 3. Syirik adalah dosa yang teramat besar dan kejahatan yang dapat menggugur kan amal. 4. Taat kepada kedua orang tua berartitaat kepada allah (dalam arti melaksa nakan perintah allah) dan berbuat baik kepada kedua orang tua ada hubungna denga n ibadah kepada allah. 5. Hak ibu lebih besar daripada hak bapak, sebab kepayahan ibu justru lebih banyak. 6. Tidak boleh taat dalam hal kedurhakaan kepada allah, taat itu hanya dala m hal kebajikan, seperti yang diterangkan oleh rasulullah saw. G. Hikmah tasyri’ birrul walidain dalam Surat Luqman 12-15 Allah swt. Memerintahkan kepada anak untuk berbuat baik kepada kedua orang tua d engan mengutamakan ibu, sehingga hak ibu ditetapkan lebih besar daripada hak bap ak, kerana jerih payah ibu ditetapkan lebih besar daripada hak bapak, karena jer ih payah ibu lebih besar, sejak mengandung, melahirkan sampai mengasuhnya. Ibu t elah memberikan air susunya, kasih sayangnya dan seluruh jiwanya demi kebahagiaa n anak. Dia sendiri merasakan letih, demi ketenangan anak. Diterimanya seluruh b eban dan penderitaan, dengan harapan ia ingin melihat anaknya bagaikan bunga yan g indah, yang tumbuh dan hidup diantara bunga-bunga di musim semi. Dimalam hari ia bangun untuk ketenangan anaknya, dijaganya anaknya dari setiap gangguan yang mengancamnya. Bahkan berjam-jam ia bersandar di dinding rumahnya sambil menggend ong anaknya, batapapun payahnya dan letihnya. Kalau begitu, patutkah seseorang a kan mendurhakainya atau cenderung untuk menyakitinya.

Jadi hak ibu dan keutamaannya adalah lebih besar dan lebih mulia, sebab dia adal ah penyebab utama bagi kehidupan anak, sesudah allah azza wa jalla. Seandainya b ukan karena pemeliharaan dan kasih saying ibu serta penderitaan-penderitaan yang ditanggungnya, niscaya si anak tidak akan terdidik dan manusia tidak akan hidup . Perintah allah untuk berterima kasih dan taat serta berbuat baik kepda kedua ora ng tua ini, tidak pandang agama, sampai pun seandainya orang tuanya itu musyrik. Hanya yang perlu diperhatikan oleh seorang anak, ialah jangan sampai ketaatanny a itu menjurus pada keusyrikan dan kekufuran : “jika kedua orang itu bersungguh-sungguh mengajakmu supaya engkau menyekutukan aku dengan sesuatu yang engkau tidak mengetahui, maka janganlah engkau taat kepada keduanya”. Sebab prinsip ketaata – dalam islam – hanyalah dalam kebajikan dan tidak ada ketaata n dalam hal berdurhaka kepada allah. Jika ketaatan ini dibarengi dengan suatu pe rsyaratan demi taat kepada allah dan dalam batas-batas yang diakui oleh syara’. Ja di tidak terdapat dalam hal yang mengabaikan hak alla atau haka manusia lain. Berterima kasih kepada kedua orang tua, termasuk bersyukur kepada allah dan taat kepada kedua orang tua. Dalam hal yang bukan durhaka kepada allah – adalah termas uk taat kepada allah jua. Sungguh benar allah dengan firman-nya: “ kami perintahkan manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya te lah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkan dengan susah payah pula. Mas a mengandung dan menyapihnya tiga puluh bulan”. Selain itu ada beberapa hikmah yang terkandung dalam pesan surat luqman ayat 1215, anatara lain adalah Menanamkan Aqidah Pada Anak Ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya pada waktu ia memberi pelajaran ke padanya, “Anakku sayang, janganlah kamu mempersekutukan Allah, karena sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (Q.S. Luqman: 13) Redaksi ayat di atas berbicara tentang nasihat Luqman kepada putranya yang dimul ai dari peringatan terhadap perbuatan syirik. Kata ya’izhu terambil dari kata wa’zh yaitu nasihat menyangkut berbagai kebajikan dengan cara yang menyentuh hati. Ada juga yang mengartikannya sebagai ucapan yang mengandung peringatan dan ancaman. Penggunaan kata ini, memberikan gambaran tentang bagaimana perkataan atau nasih at itu beliau sampaikan, yakni tidak membentak, tetapi penuh kasih sayang sebaga imana dipahami dari panggilan mesranya kepada anak. Kata ini juga mengisyaratkan bahwa nasehat itu dilakukannya dari saat kesaat, se bagaimana dipahami dari redaksi kata kerja ya’izhu yang mengambil bentuk fi’il mudha ri’ yang menunjukkan makna rutinitas (li ad-dawam). Kata bunayya (anakku) dalam bentuk tasghir (pemungilan) dari kata ibny, mengisya ratkan sebutan atau ungkapan kasih sayang. Jadi bunayya disini dapat diterjemahk an dengan ungkapan ”anakku sayang”. Dari sini dapat disimpulkan bahwa ayat diatas me mberi isyarat bahwa mendidik hendaknya didasari oleh rasa kasih sayang terhadap peserta didik begitupun pendidik hendaknya senantiasa memberikan nasihat yang ba ik setiap saat. Lukman memulai nasehatnya dengan menekankan perlunya menghindari syirik/memperse kutukan Allah. Isyarat ini terlihat ketika Luqman menggambarkan syirik sebagai ”ke zaholiman yang besar”. Isyarat ini dapat dipahami dari penyebutan kata (zhulmun az him) yang dirangkai dengan lam at-tawkid. Kesan lain yang dapat diambil dari pen ggunaan redaksi pesan yang menggunakan fi’il nahi (bentuk larangan), yakni ”janganla h kamu mempersekutukan Allah” menunjukkan bahwa meninggalkan sesuatu yang buruk le bih layak didahulukan sebelum melaksanakan yang baik. Menurut M. Ali ash-Shabuni, perbuatan syirik merupakan sesuatu yang buruk dan ti ndak kezhaliman yang nyata. Karena itu, siapa saja yang menyerupakan antara Khal ik dengan makhluk, tanpa ragu-ragu, orang tersebut bisa dipastikan masuk ke dala m golongan manusia yang paling bodoh. Sebab, perbuatan syirik menjauhkan seseora ng dari akal sehat dan hikmah sehingga pantas digolongkan ke dalam sifat zalim; bahkan pantas disetarakan dengan binatang. Dengan demikian menghindarkan anak dari syirik dengan memberikan pemahaman kepad a mereka tentang syirik pada hakikatnya adalah menjauhkan mereka terjatuh dalam

kezaliman dan kebodohan yang terbesar. Larangan syirik pada dasarnya merupakan pengajaran tentang tauhid. Perlunya tauh id diajarkan pada anak sedini mungkin adalah agar ia tumbuh dengan kejernihan pi kiran dan kekuatan iman sesuai dengan fithrah yang Allah berikan padanya sejak l ahir. Jadi, pendidikan tauhid usia dini pada hakikatnya adalah melanjutkan dan m enggiring fithrah anak yang terlahir dalam keadaan suci kepada agama yang hanif. Disinilah letak peranan orang tua sebagai pendidik pertama bagi anaknya setelah ia lahir kedunia. Kelalaian orang tua dalam fase ini dengan membiarkan mereka l ebih dahulu menerima seruan syaithan ketimbang tauhid merupakan kesalahan fatal. Karena itu Rasulullah mengingatkan: Oleh karena itu, Nabi saw menekankan pentingnya pendidikan Aqidah pada usia dini bahkan pada saat detik-detik kelahirannya ke dunia meskipun hal tersebut terkes an sederhana. Hal ini sebagaimana diisyaratkan oleh hadis Nabi saw. yang diriway atkan oleh al-Hakim dari Ibnu Abbas r.a. : Bacakanlah kalimat pertama kepada anak-anak kalian kalimat Lâ ilâha illâ Allâh dan talqi nlah mereka ketika menjelang mati dengan Lâ ilâha illâ Allâh. (HR al-Hakim). Berdasarkan hadis di atas, kalimat tauhid (Lâ ilâha illâ Allâh) hendaknya merupakan sesu atu yang pertama masuk ke dalam pendengaran anak dan kalimat pertama yang dipaha mi anak. Hal ini seiring pula dengan anjuran azan di telinga kanan anak dan iqam ah di telinga kirinya sesaat setelah kelahirannya di dunia ini. : : Menurut Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah, rahasia dianjurkannya mengumandangkan adzan ke pada bayi yang baru lahir adalah supaya ucapan yang pertama kali didengar oleh s eseorang manusia adalah kalimat-kalimat adzan. Kalimat-kalimat tersebut meliputi kebesaran dan keagungan Allah. Didalamnya terdapat kalimat syahadat (persaksian ) yang merupakan ikrar pertama bagi seseorang yang masuk Islam. Tidak diragukan bahwa dampak dari kalimat-kalimat adzan tersebut akan sampai pad anya dan membekas di hatinya, mekipun saat itu ia tidak merasakannya. Hikmah lai nnya, masih menurutnya, yaitu agar ajakan untuk beribadah kepada Allah dan berik rar untuk memeluk Islam lebih dulu diterima oleh seorang anak dari ajakan dan bu juk rayu setan sebagaimana halnya fitrah (agama) Allah lebih dulu diterima oleh seorang anak dari ajakan dan bujuk rayu setan dan sebagaimana halnya fithrah All ah lebih dulu mewatak pada diri seorang anak dari usaha setan untuk merubahnya.[ 14] Salah satu usaha agar anak terhindar dari gangguan syaithan adalah dengan doa. I mam Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadis tentang doa Nabi saw untuk Hasan dan Hu sein agar mereka dilindungi Allah SWT dari syaithan. Doa itu adalah doa Nabi Ibr ahim buat kedua putranya Ismail dan Ishaq. : “ Selanjutnya, upaya menanamkan kalimat tauhid dapat ditempuh dengan berbagai cara dan media. Di antaranya mendengar, mengucapkan, dan menghapalkan kalimat-kalima t tauhid, ayat-ayat al-Quran, serta al-Hadis yang terkait dengannya; kemudian me mahamkan maknanya serta menjelaskan berbagai jenis perbuatan syirik yang pernah dilakukan manusia, khususnya yang terjadi saat ini; selanjutnya menceritakan ber bagai azab yang ditimpakan Allah kepada umat-umat terdahulu akibat perbuatan syi rik mereka. Adapun mengenai metode pendidikan Aqidah, Imam Al-Ghazali berpandangan bahwa pen didikan akidah bagi anak harus dilakukan step by step. Upaya menanamkan Aqidah k epada anak pada masa pertumbuhannya sepatutnya diawali dengan menghafal. Kemudia n seiring dengan kedewasaannya pemahaman tentang Aqidah akan tersingkap dengan s endirinya sedikit demi sedikit. Setelah menghafal akan muncul pemahaman yang dii ringi oleh i’tikad, keyakinan, dan pembenaran. Semua itu akan terwujud dengan send irinya dalam diri anak tanpa memerlukan dalil-dalil filosofis. Al-Ghazali juga mengakui bahwa metode talqin yang meniscayakan taklid dalam akid ah anak atau pun orang awam masih memiliki kelemahan dan rentan menerima hal-hal yang dapat merusaknya jika dilontarkan kepadanya pemahaman-pemahaman akidah yan

g keliru. Untuk memperkuat akidah anak ataupun orang awam, al-Ghazali tidak setu ju digunakannya metode kalam dan jadal (debat) karena metode ini justru dapat me nggoncangkan keyakinannya dan menambah keraguannya. Oleh karena itu, menurutnya, metode yang tepat untuk memperkuat dan memantapkan akidah mereka adalah menyibu kkan mereka dengan membaca al-Qur’an dan mengkaji tafsirnya serta membaca hadis da n mendalami maknanya. Akidah mereka akan senantiasa bertambah mantap dengan seba b mendengar dalil-dalil maupun hujjah Al-Qur’an begitu pula dengan bukti-bukti dan pesan-pesan yang disampaikan hadits. Selain itu, anak juga harus digemarkan mel akukan praktek-praktek ibadah dan bergaul dengan orang-orang shaleh sehingga mer eka dapat meneladani sikap tanduk dan akhlak mereka yang mulia. Penggunaan cara dan media belajar hendaknya disesuaikan dengan usia dan perkemba ngan anak. Pendidiknya hendaknya lebih arif dalam memilih cara yang memudahkan a nak untuk mengingat dan memahami pelajaran yang hendak diberikan serta memilih m edia yang disukai anak-anak agar mereka tidak merasa terpaksa menerima suatu pen gajaran yang diberikan. Dengan begitu, pembelajaran akidah tauhid ini berjalan d engan lancar dan anak tidak merasa dibebani sesuatu. Contohnya adalah dengan car a memperdengarkan nyanyian yang di dalamnya terkandung pemahaman tauhid, membaca kan ayat-ayat al-Quran maupun Hadis Nabi saw. yang menjelaskan pemahaman tauhid, serta mengajak anak untuk sama-sama melafalkannya bila anak sudah mampu berbica ra. Oleh karena itu, menanamkan tauhid kepada anak tidak harus dalam suasana bel ajar, bisa dilakukan kapan saja; pada saat anak bermain, makan, ataupun ketika m enidurkannya. Dengan demikian, para orangtua sangat dibutuhkan perannya untuk me nanamkan pemahaman tauhid ini di sepanjang hari-hari dan aktivitas anak.

Referensi Al-Qur’an dan Terjemah Terbitan Departemen Agama RI Qur’an in word ver 1.0.0 Syaikh ‘Ali Ash-Shobuni, Rowai’ul Bayan, Darul

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->