P. 1
Pancasila Sebagai Sistem Filsafat

Pancasila Sebagai Sistem Filsafat

|Views: 1,775|Likes:
Published by Jey Ghafez

More info:

Published by: Jey Ghafez on Apr 30, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/10/2013

pdf

text

original

PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT

Oleh : ST Khadijah Tinni Umiyati Mursinah 20100510112 20100510107 20100510108

Prodi : Hubungan Internasional

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta 2010 / 2011

0

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Negara sebagai organisasi kemasyarakatan, hanya dapat dikudikan secara terarah dan efisien apabila ada gambaran yang jelas tentang khakikat, tujuan, dan susunannya. Dalam proses penyusunan Undang-undang Dasar Negara harus senantiasa berlandaskan pada satu konsepsi dasar yang jelas tentang Negara dan tujuannya sesta asas kerohanian Negara. Dengan perkataan lain realisasi pembentukan Negara beserta konstitusinya harus berlandaskan pada suatu asa kerohanian, dasar dan iseologi Negara yang dibentuk (Kirdi Dipoyudo, 1984: 9) Indonesia pun sebagai Negara yang terbentuk dari sejarah yang panjang memperlihatkan bahwa landasan Negara berdasarkan atas UUD dan pancasila sebagai falsafa Negara. Sebagai dasar filsafat Negara Indonesia maka pancasila sebagai satu asa kerohanian dan pemersatu bangsa, yang dimana pancasila dalam dirinya sendiri adalah satu kesatuan antara sila yang satu dan lainnya, sehingga pancasila mengandung persatuan yang memperkokoh Indonesia dan segala aspek pendukungnya. Oleh karena itu, kami membahas persoalan pancasila sebagai system filsafat guna bermaksud agar segala golongan dapat memahami dengan betul posisi dari pancasila dalam tatanan Negara Indonesia, dan bagaimana selayaknya sikap bangsa dalam menjadikan pancasila sebagai landasan berkelakuan di kehidupan berbangsa dan bernegara.

B. Rumusan Masalah
1) 2) 3) 4) 5) 6) Apakah pengertian dari sistem? Apakah unsur-unsur dari system? Bagaimana Kesatuan Sila-sila Pancasila? Apakah pengertian dari filsafat? Bagaimana pancasila sebagai system filsafat Indonesia? Apa inti-inti sila pancasila?

C. Tujuan
1) Mahasiswa dapat mendefinisikan pengertian filsafat dan Pancasila sebagai system filsafat.
1

2) Mahasiswa dapat memahami pengertian system dan unsur-unsur dari system tersebut. 3) Mahasiswa dapat menganalisis sila-sila Pancasila sebagai suatu sistem filsafat. 4) Mahasiswa dapat memahami inti dari setiap sila Pancasila.

D. Manfaat
Dengan Membaca paper yang kami susun, diharapkan agar kita bias mengambil manfaat yang kemudian akan mengarahkan kita kepada pemahaman yang baik mengenai Pancasila sebagai Sistem Filsafat, sehingga kita bias lebih mencintai dan mengamalkan nilainilai yang terkandung di setiap sila-sila pancasila disetiap kelakuan kita dikehidupan seharihari, dan memacu sifat patriotism.

2

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian sistem
Istilah system paling sering digunakan untuk menunjuk pengertian metode atau cara dan sesuatu himpunan unsur atau komponen yang saling berhubungan satu sama lain menjadi satu kesatuan yang utuh. Sebenanya penggunaannya lebih dari itu, tetapi kurang dikenal. Sebagai suatu himpunan, sistempun didefinisikan bermacam-macam pula. Istilah system berasal dai bahasa Yunani “systema” yang mempunyai arti demikian : 1. Suatu keseluruhan yang tesusun dari sekian banyak bagian (“hole compounded of several parts”-shrode dan voich, 1974:115). 2. Hubungan yang berlangsung diantara satuan-satuan atau komponen secara teratur (an organized, functioning relationship among units of components”-Awad,1979:44). Jadi, dengan kata lain istilah “systema” itu mengandung arti sehimpunan bagian atau komponen yang saling berhubungan secara teratur dan merupakan satu keseluruhan (a whole). Pengertian sistem menurut sejumlah para ahli : 1. L. James Havery, Menurutnya sistem adalah prosedur logis dan rasional untuk merancang suatu rangkaian komponen yang berhubungan satu dengan yang lainnya dengan maksud untuk berfungsi sebagai suatu kesatuan dalam usaha mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan. 2. John Mc Manama, Menurutnya sistem adalah sebuah struktur konseptual yang tersusun dari fungsi-fungsi yang saling berhubungan yang bekerja sebagai suatu kesatuan organik untuk mencapai suatu hasil yang diinginkan secara efektif dan efesien. 3. C.W. Churchman. Menurutnya sistem adalah seperangkat bagian-bagian yang dikoordinasikan untuk melaksanakan seperangkat tujuan. 4. J.C. Hinggins, Menurutnya sistem adalah seperangkat bagian-bagian yang saling berhubungan. 5. Edgar F Huse dan James L. Bowdict, Menurutnya sistem adalah suatu seri atau rangkaian bagian-bagian yang saling berhubungan dan bergantung sedemikian rupa sehingga interaksi dan saling pengaruh dari satu bagian akan mempengaruhi keseluruhan. Pengertian serupa itu pada perkembangannya kemudian hanya merupakan salah satu pengertian saja. Sebab ternyata istilah itu dipergunakan untuk menunjuk banyak hal. Optner
3

(1978:18-20) misalnya mengatakan bahwa N. Jordan di dalam tulisannya yang berjudul some thinking about system (1960) telah mengemukakan tidak kurang dari 15 macam cara orang mempergunakan istilah system tersebut. Optner sendiri mengatakan bahwa tidak semua pengertian atau penggunaan istilah system tersebut penting untuk diketahui. Yang dianggap penting mengapa dikemukakan adalah agar tahu bahwa istilah system itu ternyata dipakai menunjukkan bukan hanya satu dua pengertian saja, melainkan banyak sekali. Dalam tulisan ini tidak semua kelima belas macam penggunaan itu diketengahkan, melainkan hanya sebagian saja yang dianggap di Indonesiapun agak dikenal, karenanya contohcontohnyapun disesuaikan dengan yang biasa dijumpai disini. Penggunaan istilah itu adalah : 1. System yang digunakan untuk menunjuk suatu kumpulan atau himpunan benda-benda yang di satukan atau dipadukan oleh suatu bentuk saling berhubungan atau saling ketergantungan yang teratur, suatu himpunan bagian-bagian yang tergabungkan secara ilmiah maupun oleh budi daya manusia sehigga menjadi suatu kesatuan yang bulat dan terpadu , suatu keseluruhan yang terorganisasikan, atau sesuatu yang organik, atau juga yang berfungsi, bekerja atau bergeraksecara serentak bersama-sama, bahkan sering bergeraknya itu mengikuti suatu kontrol tertentu. Contoh : system tata surya dan ekosistem. 2. System yang digunakan untuk menyebut alat-alat atau organ tubuh secara keseluruhan yang secara khusus memberikan andil atau sumbangan terhadap berfungsinya fungsi tubuh tertentu yang rumit tetapi amat vital. Contoh : system syaraf. 3. System yang menunjuk system gagasan (ide) yang tersusun terorganisasikan, suatu himpunan gagasan, prinsip, doktrin, hokum, dan sebagainya yang membentuk satu kesatuan yang logik dan dikenal sebagai isi buah pikiran filsafat tertentu, agama, atau bentuk pemerintahan tertentu. Contoh : system pemerintahan demokratik, system masyarakat islam. 4. System yang digunakan untuk menunjuk suatu hipotesis atau suatu teori (yang dilawankan dengan praktik). Kita kenal misalnya pendidikan sistematik. 5. System yang dipergunakan dalam arti metode atau tata cara. Misalnya saja system mengetik sepuluh jari. 6. System yang dipergunakan untuk menunjuk pengertian skema atau metd pengaturan organisasi atau susunan sesuatu, atau mode tata cara. Dapat juga dalam arti suatu bentuk atau pola pengaturan, pelaksanaan atau pemrosesan. Dan juga dalam pengertian metode pengelompokan, pengkodifikasian, dsb. Contoh: system pengelompokan bahan pustaka menurut Dewey (Dewey Decimal Clasification). Secara singkat, menurut Shrode dan Voich, istilah system itu menunjuk pada dua hal, yaitu pada sesuatu wujud (entitas) atau benda ang memiliki tata aturan atau susunan structural dari bagian-bagiannya, dan kedua menunjuk pada suatu rencana, metode, alat, atau tata cara untuk mencapai sesuatu. Dan dikatakan oleh keduanya bahwa kedua pengertian atau penggunaan tidaklah mempunyai perbedaan yang berarti, sebab keteraturan, ketertiban, atau adnya struktur itu merupakan hal yang fundamental (mendasar) bagi keduanya.
4

SebLeum pembicaraan kita beranjak pada pembicaraan mengenai berbagai definisi (rumusan atau batasan) system, ada baiknya jika diketengahkan terlebih dahulu penjelasan penggunaan istilah system sebagai benda dan sebagai metode menurut paparan Shrode dan Voichi walaupun hanya pokok-pokoknya saja yang dikemukakan. 1. System sebagai suatu wujud (entitas) Suatu system biasa dianggap merupakan “suatu himpunan bagian yang saling berkaitan yang saling membentuk satu keseluruhan yang rumit atau kompleks tetapi merupakan satu kesatuan”. Contoh wujud benda yang sesuai dengan definisi itu adalah mobil, jam, paguyuban, lembaga pemerintah, manusia dll. 2. System sebagai metode Kata-kata system yang mempunyai makna metodologik banyak sekali dijumpai, misalnya, system control yang baik, system investasi keuangan saya pasti meyakinkan. Kesemua penggunaan istilah system ini jelas berbeda sekali dari penggunaan system seperti dalam pembicaraan dahulu. Dalam hal ini system itu dipergunakan menunjuk tata cara. Selain keteraturan, ketertiban, yang bersifat metologik ini juga mengandung makna adanya pendekatan yang rasional dan logic dalam mencapai suatu tujuan.

B. Unsur-unsur system
Seperti telah diketahui, secara sederhana system itu merupakan sehimpunan unsur-unsur yang saling berkaitan untuk mencapai tujuan bersama. Pengertian ini dapat digambarkan dengan beberapa contoh sIstem, unsur-unsurnya seperti yang terlihat dalam bagan dibawah ini. SISTEM Tubuh Manusia Klab Rekreasi Pabrik Sistem peluru (rudal) Kepolisian Komputer Cakrawala Filsafat UNSUR-UNSUR Organ-organ, kerangka, susunan urat saraf, system peredaran darah, dll Anggota Orang, Mesin, Bagunan, Bahan Material kendali Peluru kendali dan tempat pelontarannya, manusia, jaringan pelacak atau deteksi dan komunikasi Manusia, Perlengkapan, Bangunan, Jaringan komunikasi Komponen fisik dan hubungan Bintang, Planet, Energi Ide-ide (Buah Pikiran) TUJUAN Homeostasis (Keadaan Selaras) Rekseasi Produksi Barang Serangan Balik

Pengendalian Keamanan Pengolahan data Tidak jelas Kepahaman

5

C. Kesatuan sila-sila pancasila
Nilai-nilai pancasila yang merupakan suatu kesatuan dan memiliki sifat dasar monodualis, yaitu sifat kodrat manusia sebagai perseorangan dan makhluk social, yang masingmasing mengandung unsur-unsur ketubuhan dan kewajiban akan senantiasa menjelma dalam segala aspek kehidupan dan penyelenggaraan Negara. Oleh karena itu hal-hal yang berkaitan dengan sifat dasar kemanusiaan senantiasa menduduki tempat yang amat sentral dalam setiap pelaksanaan dan penyelenggaraan Negara. Maka dalam kaitannya dengan bentuk Negara, sifat kodrat manusia merupakan suatu dasar pemikiran yang pokok bahkan sangat menentukan. Negara indonesia yang berdasarkan pada pancasila, mendasarkan segala aspek penyelenggara Negara pada sifat kodrat manusia monodualis, maka kebebasan manusia sebagai individu (perseorangan) dan sebagai makhluk sosial bersama-sama harus berjalan secara selaras, serasi dan seimbang. Dalam kaitannya dengan sifat-sifat dan bentuk Negara Indonesia, yaitu bersifat modulitas, nilai-nilainya tersimpul dalam pembukaan UUD 1945 sebagai suatu naskah pernyataan kemerdekaan yang lebih terinci. Pembukaan UUD 1945 mengamanatkan bahwa hak kodrat dan hak moral segala bangsa di dunia ini didasarkan pada perikemanusiaan dan perikeadilan (pembukaanUUD 1945 alenia I). hak kodrat setiap bangsa didunia atas kemerdekaan adalah bersifat mutlak, oleh karena itu pelanggaran atas hak kodrat tersebut berarti pelanggaran terhadap hak kodrat manusia yang paling mutlak, selain itu setiap bangsa berhak hidup sesuai dengan hak moralnya yaitu hidup sesuai dengan perikeadilan. Untuk lebih memperjelas tentang kaitan sifat dasar kodrat manusia monodualis yang terkandung dalam pancasila, dalam kaitannya dengan bentuk dan sifat Negara, maka dapat diamati isi dan makna yang terkandung dalam pembukaan UUD 1945 sebagai berikut: Pertama, dalam pembukaan UUD 1945 diterima aliran pengertian Negara persatuan, yaitu Negara yang melindungi dan meliputi segenap bangsa seluruhnya. Jadi Negara mengatasi segala paham golongan, segala paham perseorangan. Negara menurut pengertian pembukaan UUD 1945 itu menghendaki persatuan seluruh bangsa Indonesia secara keseluruhan. Dalam masalah ini pengertian persatuan lebih ditekankan dalam kaitannya dengan bentuk Negara. Kedua, yang terkandung dalam pembukaan adalah Negara yang berkedaulatan rakyat , berdasar atas kerakyatan dan permusyawaratan /perwakilan . begitulah makna yang terkandung dalam penjelasan resmi, jadi dalam masalah ini menekankan pada sifat kodrat individu dalam kaitannya dengan bangsa. Tidak dikehendaki bentuk Negara yang berdasarkan paham individualism dan juga tidak dikehendaki bentuk Negara klassa (klasse staat), yang hanya menekankan klassa atau golongan. Negara Indonesia adalah Negara kekeluargaan baik yang bersifat
6

Ketiga,

kedalam maupun keluar. Maka dalam relisasinya asas kekeluargaan ini baik yang menyangkut lingkup nasional maupun internasional atas dasar keadilan social. Dengan demikian maka menjadi jelas bagi kita bahwa Negara Indonesia adalah Negara demokrasi, yang tidak hanya berdasar atas kebebasan individu dan juga tidak hanya berdasarkan pada golongan (klassa) , namun berdasarkan pada sifat kodrat manusia „monodualis‟ yaitu sebagai makhluk individu dan makhluk social yang terkandung dalam pancasila. Maka Negara Indonesia yang berdasarkan pancasila adalah Negara demokrasi monodualis, jadi bukan demokrasi perseorangan atau liberal. Dan juga bukan demokrasi klassa. Demokrasi monodialis yang terkandung dalam pancasila adalah demokrasi perseorangan bersama, berasas kekeluargaan yang berkeadilan social demokrasi rakyat perseorangan maupun rakyat bersama. (notonagoro, 1975 : 27,28). Bilamana kita ringkas hubungan isi arti pancasila yang abstrak, umum universal, umum kolektif dan khusus kongkrit adalah sebagai berikut: 1. Isi arti pancasila yang abstrak umum universal Isi arti pancasila yang abstrak, umum universal merupakan hakikat dari pancasila merupakan esensi yaitu merupaan intinya yang terdalam dari sila-sila pancasila. Isi arti ini merupakan nilai yang fundamental, merupakan dasar filsafat, sehingga merupakan sumber nilai seluruh aspek penyelenggaraan Negara. 2. Isi arti pancasila yang umum kolektif Isi arti pancasila sebagai dasar fisafat nrgara republic Indonesia adalah bersifat abstrak umum universal. Karena sifatnya yang abstrak umum universal, maka bersifat tetap dan tidak . namun isi arti pancasila yang umum universal tersebut perlu dijabarkan lebih lanjutdalam pelaksanaan dan penyelenggaraan Negara yaitu berupa pedoman dalam penyelenggaraan Negara maupun garis-garis besar haluan Negara. Maka pengertian inilah isi arti pancasila bersifat umum kolektif. Iai arti pancasila yang umum kolektif , pada hakikatnya merupakan wujud pelaksanaan pancasila dasar filsafat Negara secara kongkrit, yaitu yang diterapkan dalam lingkungan kehidupan yang nyata berlaku secara umum dan kolektif . disebut umum kolektif karena hanya berlaku dalam batas-batas kolektifitas bangsa Indonesia. Sebagai realisasi isi arti pancasila yang umum kolektif , terutama yang merupakan suatu ketentuan hokum positif, yang selanjutnya merupakan pedoman bagi pelaksaan secara khusus dan kongkrit dalam pelaksanaan dan penyelenggaraan Negara secara operasional. Hal ini sangat penting terutama dalam menentukan kebijaksanaan secara operasional

7

D. Pengertian filsafat
1. Arti Istilah “Filsafat” Istilah “filsafat” dalam bahasa Indonesia mempunyai padanan “falsafah” dalam kata Arab. Sedangkan menurut kata Inggris “philosophy”, kata latin “philosophia”, kata Belanda “philosophie”, kata Jerman “philosophie”, kata Prancis “philosophie”, yang kesemuanya itu diterjemahkan dalam kata Indonesia “filsafat”. “Philosophia” ini adalah kata benda yang merupakan hasil dari kegiatan “philosophein” sebagai kata kerjanya. Sedangkan kegiatan ini dilakukan oleh philosophos atau filsuf sebagai subyek yang berfilsafat. Menurut Dr. Harun Nasution, istilah “falsafat” berasal dari bahasa Yunani “philein” dan kata mengandung arti “cinta” dan “shopos” dalam arti hikmat (wisdom) (Dr. Harun Nasution, 1973). Istilah “filsafat” berasal dari bahasa Yunani. Bangsa Yunanilah yang mula-mula berfilsafat seperti lazimnya dipahami orang sampai sekarang . kata ini bersifat majemuk , berasal dari kata “philos” yang berarti “sahabat” dan kata “Sophia” yang berarti “pengetahuan yang bijaksana” (ished dalam bahasa belanda, atau wisdom kata inggris , dan hikmat menurut kata arab) maka philosophia menurut arti katanya berarti cinta pada pengetahuan yang bijaksana , oleh Karena itu mengusahakannya. (sidi gzalba, 1977) . Jadi terdapat sedikit perbedaan arti, disatu pihak menyatakan bahwa filsafat merupakan bentuk majemuk dari “philein” dan “shopos”, (Dr. Harun Nasution, 1973), dilain pihak filsafat dinyatakan dalam bentuk majemuk dari “philos” dan “shopia” . (sidi gazalba, 1977), namun secara sistimantis mengandung makna yang sama. 2. Arti filsafat Sesuai dengan latar belakangnya masing-masing, setiap filsuf maupun ahli filsafat meninjau filsafat dari titik tolak dan sudut pandang yang berbeda satu dengan yang lainnya. Akibatnya rumusan pengertan filsafat menjadi berlain-lainan pula, sehingga pengertian filsafatpun pada gilirannya juga mengalami perkembangan. Sebenarnya untuk mendiskripsikan pengertian filsafat akan lebih mudah dipahami lewat pendekatan secara operasional. Berfilsafat dapat mengandung arti melakukan aktivitas filsafat, dengan demikian akan menggunakan seperangkat metode-metode filsafat, dan segaligus mempunyai filsafat. Jadi manusia mempunyai problema khas yang diusahakan untuk dipecahkan dengan cara berfikir yang khas sehingga menghasilkan kesimpulan-kesimpulan pemecahan persoalan tersebut dalam suatu himpunan pengetahuan yang khas pula. Tetapi ternyata himpunan pengetahuan yang khas ini kemudian berfungsi ganda bagi subyek (manusia) yang berfilsafat.

8

1. Himpunan pengetahuan merupakan umpan balik dalam rangka menghadapi dan mengusahakan pemecahan problema yang semula dihadapi itu agar dapat diselesaikan dengan memuaskan. 2. Himpunan pengetahuan khas ini ternyata juga dapat dan selalu dipergunakan sebagai masukan (input) baru yang dipakai untuk titik tolak dan kerangka aduan dalam menghadapi dan mengusahakan pemecahan problema yang dihadapi oleh subyek persoalan tersebut dapat berupa persoalan hidup sehari-hari, persoalan monodial nasional maupun universal dan social kemasyarakatan Dari hasil penelitian terhadap konsep-konsep pengertian filsafat dari para filsuf maupun para ahli filsafat tersebut, pengertian filsafat dapat disederhanakan menjadi dua pengertian pokok, yaitu mencakup pengertian filsafat sebagai produk (hasil pemikiran manusia) dan dalam hal ini bersifat statis, dan filsafat sebagai proses sehingga dalam hal ini filsafat bersifat dinamis.

E. Pancasila Sebagai Sistem Filsafat
Pembahasan mengenai Pancasila sebagai sistem filsafat dapat dilakukan dengan cara deduktif dan induktif. a. Cara deduktif yaitu dengan mencari hakikat Pancasila serta menganalisis dan menyusunnya secara sistematis menjadi keutuhan pandangan yang komprehensif. b. Cara induktif yaitu dengan mengamati gejala-gejala sosial budaya masyarakat, merefleksikannya, dan menarik arti dan makna yang hakiki dari gejala-gejala itu. Pancasila yang terdiri atas lima sila pada hakikatnya merupakan sistem filsafat. Yang dimaksud sistem adalah suatu kesatuan bagian-bagian yang saling berhubungan, saling bekerjasama untuk tujuan tertentu dan secara keseluruhan merupakan suatu kesatuan yang utuh. Sila-sila Pancasila yang merupakan sistem filsafat pada hakikatnya merupakan suatu kesatuan organis. Artinya, antara sila-sila Pancasila itu saling berkaitan, saling berhubungan bahkan saling mengkualifikasi. Pemikiran dasar yang terkandung dalam Pancasila, yaitu pemikiran tentang manusia yang berhubungan dengan Tuhan, dengan diri sendiri, dengan sesama, dengan masyarakat bangsa yang nilai-nilai itu dimiliki oleh bangsa Indonesia. Dengan demikian Pancasila sebagai sistem filsafat memiliki ciri khas yang berbeda dengan sistem-sistem filsafat lainnya, seperti materialisme, idealisme, rasionalisme, liberalisme, komunisme dan sebagainya. Ciri sistem Filsafat Pancasila itu antara lain:

9

1. Sila-sila Pancasila merupakan satu-kesatuan sistem yang bulat dan utuh. Dengan kata lain, apabila tidak bulat dan utuh atau satu sila dengan sila lainnya terpisah-pisah maka itu bukan Pancasila. 2. Susunan Pancasila dengan suatu sistem yang bulat dan utuh itu dapat digambarkan sebagai berikut: Sila 1, meliputi, mendasari dan menjiwai sila 2,3,4 dan 5; Sila 2, diliputi, didasari, dijiwai sila 1, dan mendasari dan menjiwai sila 3, 4 dan 5; Sila 3, diliputi, didasari, dijiwai sila 1, 2, dan mendasari dan menjiwai sila 4, 5; Sila 4, diliputi, didasari, dijiwai sila 1,2,3, dan mendasari dan menjiwai sila 5; Sila 5, diliputi, didasari, dijiwai sila 1,2,3,4.

F. Inti Sila Pertama
Sila Ketuhana yang Maha Esa. Inti sila ketuhanan yang mahaesa adalah kesesuaian sifat-sifat dan hakikat Negara dengan hakikat Tuhan. Kesesuaian itu dalam arti kesesuaian sebab-akibat. Maka dalam segala aspek penyelenggaraan Negara Indonesia harus sesuai dengan hakikat nila-nilai yang berasal dari tuhan, yaitu nila-nilai agama. Telah dijelaskan di muka bahwa pendukung pokok dalam penyelenggaraan Negara adalah manusia, sedangkan hakikat kedudukan kodrat manusia adalah sebagai makhluk berdiri sendiri dan sebagai makhluk tuhan. Dalam pengertian ini hubungan antara manusia dengan tuhan juga memiliki hubungan sebab-akibat. Tuhan adalah sebagai sebab yang pertama atau kausa prima, maka segala sesuatu termasuk manusia adalah merupakan ciptaan tuhan (Notonagoro). Hubungan manusia dengan tuhan, yang menyangkut segala sesuatu yang berkaitan dengan kewajiban manusia sebagai makhluk tuhan terkandung dalam nilai-nilai agama. Maka menjadi suatu kewajiban manusia sebagai makhluk tuhan, untuk merealisasikan nilai-nilai agama yang hakikatnya berupa nila-nilai kebaikan, kebenaran dan kedamaian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Disis lain Negara adalah suatu lembaga kemanusiaan suatu lembaga kemasyarakatan yang anggota-anggotanya terdiri atas manusia, diadakan oleh manusia untuk manusia, bertujuan untuk melindungi dan mensejahterakan manusia sebagai warganya. Maka Negara berkewajiban untuk merealisasikan kebaikan, kebenaran, kesejahteraan, keadilan perdamaian untuk seluruh warganya.

10

Maka dapatlah disimpulkan bahwa Negara adalah sebagai akibat dari manusia, karena Negara adalah lembaga masyarakat dan masyarakat adalah terdiri atas manusia-manusi adapun keberadaan nilai-nilai yang berasal dari tuhan. Jadi hubungan Negara dengan tuhan memiliki hubungan kesesuaian dalam arti sebab akibat yang tidak langsung, yaitu Negara sebagai akibat langsung dari manusia dan manusia sebagai akibat adanya tuhan. Maka sudah menjadi suatu keharusan bagi Negara untuk merealisasikan nilai-nilai agama yang berasal dari tuhan. Jadi hubungan antara Negara dengan landasan sila pertama, yaitu ini sila ketuhanan yang mahaesa adalah berupa hubungan yang bersifat mutlak dan tidak langsung. Hal ini sesuai dengan asal mula bahan pancasila yaitu berupa nilai-nilai agama , nilai-nilai kebudayaan, yang telah ada pada bangsa Indonesia sejak zaman dahulu kala yang konsekuensinya harus direalisasikan dalam setiap aspek penyelenggaraan Negara

G. Inti Sila Kedua
Sila kemanusiaan yang adil dan beradab. Inti sila kemanusiaan yang adil dan beradab adalah landasan manusia. Maka konsekuensinya dalam setiap aspek penyelengaraan Negara antara lain hakikat Negara, bentuk Negara, tujuan Negara , kekuasaan Negara, moral Negara dan para penyelenggara Negara dan lain-lainnya harus sesuai dengan sifat-sifat dan hakikat manusia. Hal ini dapat dipahami karena Negara adalah lembaga masyarakat yang terdiri atas manusia-manusia, dibentuk oleh anusia untuk memanusia dan mempunyai suatu tujuan bersama untuk manusia pula. Maka segala aspek penyelenggaraan Negara harus sesuai dengan hakikat dan sifat-sifat manusia Indonesia yang monopluralis , terutama dalam pengertian yang lebih sentral pendukung pokok Negara berdasarkan sifat kodrat manusia monodualis yaitu manusia sebagai individu dan makhluk social. Oleh karena itu dalam kaitannya dengan hakikat Negara harus sesuai dengan hakikat sifat kodrat manusia yaitu sebagai makhluk individu dan makhluk social. Maka bentuk dan sifat Negara Indonesia bukanlah Negara individualis yang hanya menekankan sifat makhluk individu, namaun juga bukan Negara klass yang hanya menekankan sifat mahluk social , yang berarti manusia hanya berarti bila ia dalam masyarakat secara keseluruhan . maka sifat dan hakikat Negara Indonesia adalah monodualis yaitu baik sifat kodrat individu maupun makhluk social secara serasi, harmonis dan seimbang. Selain itu hakikat dan sifat Negara Indonesia bukan hanya menekan kan segi kerja jasmani belaka, atau juga bukan hanya menekankan segi rohani nya saja, namun sifat Negara harus sesuai dengan kedua sifat tersebut yaitu baik kerja jasmani maupun kejiwaan secara serasi dan seimbang, karena dalam praktek pelaksanaannya hakikat dan sifat Negara harus sesuai dengan hakikat kedudukan kodrat manusia sebagai makhluk berdiri seniri dan makhluk tuhan.

11

H. Inti Sila Ketiga
Sila persatuan Indonesia. Inti sila persatuan Indonesia yaitu hakikat dan sifat Negara dengan hakikat dan sifat-sifat satu. Kesesuaian ini meliputi sifat-sifat dan keadaan Negara Indonesia yang pada hakekatnya merupakan suatu kesatuan yang utuh, setiap bagiannya tidak berdiri sendiri-sendiri. Jadi Negara merupakan suatu kesatuan yang utuh , setiap bagiannya tidak berdiri sendiri-sendiri. Jadi Negara Indonesia ini merupakan suatu kesatuan yang mutlak tidak terbagi-bagi , merupakan suatu Negara yang mempunyai eksistensi sendiri, yang mempunyai bentuk dan susunan sendiri. Mempunyai suatu sifat-sifat dankeadaan sendiri. Kesuaian Negara dengan hakikat satu tersebut meliputi semua unsur-unsur kenegaraan baik yang bersifat jasmaniah maupun rohania, baik yang bersifat kebendaan maupun kejiwaan. Hal itu antara lain meliputi rakyat yang senantiasa merupakan suatu kesatuan bangsa Indonesia, wilayah yaitu satu tumpah darah Indonesia, pemerintah yaitu satu pemerintahan Indonesia yang tidak bergantung pada Negara lain, satu bahasa yaitu bahasa nasional indoneisa,satu nasib dalam sejarah, satu jiwa atau satu asas kerokhanian pancasila. Kesatuan dan persatuan Negara, bangsa dan wilayah Indonesia tersebut, membuat Negara dan bangsa indoneisa mempunyai keberadaan sendiri di antara Negara-negara lain di dunia ini. Dalam kaitannya dengan sila persatuan Indonesia ini segala aspek penyelenggaraan Negara secara mutlak harus sesuai dengan sifat-sifat dan hakikat satu. Oleh karena itu dalamn realisasi penyelenggaraan negaranya, baik bentuk Negara, penguasa Negara, lembaga Negara, tertib hukum, rakyat dan lain sebagainya harus sesuai dengan hakikat satu serta konsekuensinya harus senantiasa merealisakan kesatuan dan persatuan. Dalam pelaksanaannya realisasi persatuan dan kesatuan ini bukan hanya sekedarberkaitan dengan hal persatuannya namun juga senantiasa bersifat dinamis yaitu harus sebagaimana telah dipahami bahwa Negara pada hakekatnya berkembang secara dinamis sejalan dengan perkembangan zaman, waktu dan keadaan.

I. Inti sila Keempat
Sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Sila keempat didasari dan dijiwai oleh sila ketuhanan yang mahaesa,kemanusiaan yang adil dan beradab serta persatuan indonesia,dan mendasari serta menjiwai sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sila keempat ini mengandung makna suatu pemerintahan dari rakyat,oleh rakyat,untuk rakyat.dengan cara musyawarah mufakat melalui lembaga-lembaga perwakilan.Maka dari nilai ini,diakui paham demokrasi yang lebih mengutamakan pengambilan keputusan melalui

12

musyawarah mufakat.Oleh karena itu,dalam sila keempat ini terkandung nilai-nilai demokrasi yang secara mutlak harus dilaksanakan dalam hidup bernegara. Nilai-nilai tersebut antara lain sebagai berikut: a) Adanya kebebasan yang disertai tanggug jawab baik kepada masyarakat bangsa maupun secara moral terhadap Tuhan yang mahaesa. b) Menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan. c) Menjamin dan memperkukuh persatuan dan kesatuan dalam hidup bersama. d) Mengakui atas perbedaan individu,kelompok,ras,suku,agama,karena perbedaan merupakan suatu bawaan kodrat manusia. e) Mengakui adanya persamaan hak yang melekat pada suatu individu,kelompok,suku,maupun agama. f) Mengarahkan perbedaan dalam suatu kerjasama kemanusiaan yang beradab. g) Menjunjung tinggi asas musyawarah sebagai moral kemanusiaan yang beradab. h) Mewujudkan dan mendasarkan suatu keadilan dalam kehidupan sosial agar tercapainya tujuan bersama. Nilai yang terkandung dalam sila keempat merupakan nilai kebersamaan,kekeluargaan dan bergotong royong.musyawarah merupakan cerminan sikap dan pandangan hidup bahwa kemauan rakyat adalah kebenaran dan keabsahan yang tinggi.Dalam musyawarah pun terdapat pemahaman bahwa kita senantiasa mendahulukan kepentingan umum,menghargai kesukarelaan dan kesadaran daripada memaksakan kehendak kepada orang lain.Selain itu,juga harus melaksanakan hasil musyawarah dengan penuh keikhlasan dan tanggumg jawab. Demikianlah nilai-nilai yang terkandung dalam sila keempat.Seterusnya nilai-nilai tesebut dikongkritisasikan dalam kehidupan bersama yaitu kehidupan kenegaraan baik menyangkut aspak moralitas kenegaraan,politik,maupun aspek hukum dan perundang-undangan.

J. Inti Sila Kelima
Sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia Sila kelima ini didasari dan dijiwai oleh sila ketuhanan yang mahaesa,kemanusiaan yang adil dan beradap,persatuan Indonesia,serta kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.Didalam sila kelima ini,terkandung nilai-nilai yang merupakan tujuan negara sebagai tujuan dalam hidup bersama.Maka,dalam sila kelima tersebut terkandung nilai keadilan yang harus terwujud dalam kehidupan bersama(kehidupan sosial).Keadilan tersebut didasari dan dijiwai oleh hakikat keadialan kemanusiaan,yaitu keadilan dalam hubungan manusia dengan dirinya sendiri,manusia dengan manusia lain,manusia dengan masyarakat,bangsa dan Negara serta hubungan manusia dengan Tuhannya. Oleh karena itu,sebagai perwujudan nilai-nilai keadilan,maka setiap rakyat Indonesia harus mendapat perlakuan yang adil dan merata dalam berbagai bidang kehidupan baik itu
13

politik,hukum,ekonomi,maupun social budaya.Selain itu harus ada keselarasan antara hak dan kewajiban.Untuk menjamin keadilan dalam pelaksanaan hak dan kewajiban pemerintah telah membentuk berbagai peraturan perundang-undangan. Nilai-nilai keadilan yang harus terwujud dalam kehidupan bersama meliputi sebagai berikut: a) Keadilan distribusi Yaitu suatu hubungan keadilan dari Negara terhadap warganya,dalam arti pihak negaralah yang wajib memenuhi keadilan dalam bentuk keadilan membagi,dalam kesejahteraan,bantuan,subsidi,serta kesempatan dalam hidup bersama yang didasarkan atas hak dn kewajiban. b) Keadilan legal atau keadilan bertaat Yaitu suatu hubungan keadilan dari warga Negara tehadap Negara,dalam arti pihak negaralah yang wajib memenuhi keadilan dalam bentuk mentaati peraturan perundang-undangan yang berlakudalam Negara. c) Keadilan komuntatif Yaitu suatu hubungan keadilan antara warga satu dengan lainnya secara timbal balik. Nilai-nilai keadilan tersebut haruslah merupakan suatu dasar yang harus diwujudkan dalam hidup bersama kenegaraan untuk mewujudkan tujuan Negara yaitu mewujudkan kesejahteraan seluruh warganya serta melindungi seluruh warganya dan seluruh wilayahnya,mencerdaskan seluruh warganya.Demikian pula nilai-nilai keadilan tersebut sebagai dasar dalam pergaulan antar Negara sesama bangsa didunia dan prinsip ingin menciptakan ketertiban hidup bersama dalam suatu pergaulan antar bangsa didunia dengan berdasarkan suatu prinsip kemerdekaan bagi setiap bangsa,perdamaian abadi serta keadilan dalam hidup bersama(keadilan social).

14

BAB III KESIMPULAN
Menurut dictionary of philosophy, (Dagoben D. Runes, 1975) “philosophy:philein , to love --- Sophia, wisdom”. Menurut the concise oxford dictionary dapat di baca : “philocombination from of root phil , in greek phielen = to love , philos = friend.” “sophist, n.ancient greek….sophos wise”. Berdasarkan arti yang dihimpun dalam kamus-kamus tersebut dapatlah disimpulkan bahwa makna dari masing-masing istilahnya dapat dirinci sebagai berikut : „‟philein‟‟ mengandung arti mencintai (to love) „‟philos‟‟ mengandung arti teman, sahabat (friend) „‟sophos‟‟ mengandung arti bijaksana (wise) „‟sophia” bermakna kebikjasanaan (wisdom) Dengan demikian istilah “filsafat” yang dimaksudkan sebagai kata majemuk dari “philein” dan “sophos” mengandung arti , mencintai hal-hal yang sifatnya bijaksana, sedangkan “filsafat” yang merupakan bentuk majemuk dari “philos” dan “sophie” berkonotasi teman dari kebijaksanaan. Dan adapun pembahasan mengenai Pancasila sebagai sistem filsafat dapat dilakukan dengan cara deduktif dan induktif, yaitu: a. Cara deduktif dengan mencari hakikat Pancasila serta menganalisis dan menyusunnya secara sistematis menjadi keutuhan pandangan yang komprehensif. b. Cara induktif dengan mengamati gejala-gejala sosial budaya masyarakat, merefleksikannya, dan menarik arti dan makna yang hakiki dari gejala-gejala itu. Inti sila-sila Pancasila meliputi: c. Tuhan, yaitu sebagai kausa prima d. Manusia, yaitu makhluk individu dan makhluk sosial e. Satu, yaitu kesatuan memiliki kepribadian sendiri f. Rakyat, yaitu unsur mutlak negara, harus bekerja sama dan gotong royong g. Adil, yaitu memberi keadilan kepada diri sendiri dan orang lain yang menjadi haknya.

15

DAFTAR PUSTAKA

Kaelan. Filsafat Pancasila. Yogyakarta. Paradikma, 1993 Kaelan. Pendidikan Pancasila. Yogyakarta. Paradikma, 2008 M. Amirin, Tatang. Pokok-pokok Teori Sistem, Jakarta, Rajawali Pers , 2001

16

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->