P. 1
BLUD RUMAH SAKIT

BLUD RUMAH SAKIT

|Views: 3,642|Likes:
Published by Farah Elfita

More info:

Published by: Farah Elfita on May 01, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/31/2012

pdf

text

original

BLUD RUMAH SAKIT Artikel kali ini akan membahas tentang Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).

Pada beberapa daerah banyak yang masih keliru memahami BLUD. Ada beberapa pertanyaan yang sering dilontarkan oleh pegawai di daerah yang mana satuan kerjanya mau dijadikan BLUD . Salah satu pertanyaannya adalah apakah BLUD hanya untuk Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dan apakah BLUD tersebut sama dengan BUMD? Pengertian BLUD diatur dalam Pasal 1 angka 1 Permendagri No. 61 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah. BLUD adalah Satuan Kerja Perangkat Daerah atau Unit Kerja pada Satuan Kerja Perangkat Daerah di lingkungan pemerintah daerah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan, dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas. BLUD bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa dengan memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan keuangan berdasarkan prinsip ekonomi dan produktivitas, dan penerapan praktek bisnis yang sehat. BLUD menurut jenisnya terbagi menjadi 3 kelompok, yaitu: 1. 2. 3. BLU yang kegiatannya menyediakan barang atau jasa meliputi rumah sakit, lembaga pendidikan, pelayanan lisensi, penyiaran, dan lain-lain; BLU yang kegiatannya mengelola wilayah atau kawasan meliputi otorita pengembangan wilayah dan kawasan ekonomi terpadu (Kapet); dan BLU yang kegiatannya mengelola dana khusus meliputi pengelola dana bergulir, dana UKM, penerusan pinjaman dan tabungan pegawai. Pembahasan ini dipersempit menjadi pembahasan mengenai BLUD khusus RSUD tentang pedoman akuntansi dan pelaporan keuangan BLUD. Sebagaimana diatur berdasarkan PP No. 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum, PMK No. 76/PMK.05/2008 tentang Pedoman Akuntansi Dan Pelaporan Keuangan Badan Layanan Umum, dan khusus untuk RSUD, pengelolaan keuangannya harus mengacu dan berdasarkan Permendagri No. 61 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah. RSUD yang telah menjadi BLUD menggunakan standar pelayanan minimum yang ditetapkan oleh Kepala Daerah dan harus mempertimbangkan kualitas layanan, pemerataan dan kesetaraan layanan, biaya serta kemudahan untuk mendapatkan layanan. Standar pelayanan minimal tersebut harus memenuhi persyaratan, yaitu : 1. 2. 3. 4. 5. Fokus pada jenis pelayanan, dalam arti mengutamakan kegiatan pelayanan yang menunjang terwujudnya tugas dan fungsi BLUD; Terukur, merupakan kegiatan yang pencapaiannya dapat dinilai sesuai dengan standar yang telah ditetapkan; Dapat dicapai, merupakan kegiatan nyata yang dapat dihitung tingkat pencapaiannya, rasional sesuai kemampuan dan tingkat pemanfaatannya; Relevan dan dapat diandalkan, merupakan kegiatan yang sejalan, berkaitan dan dapat dipercaya untuk menunjang tugas dan fungsi BLUD; Tepat waktu, merupakan kesesuaian jadwal dan kegiatan pelayanan yang telah ditetapkan.

RSUD yang telah menjadi BLUD dapat memungut biaya kepada masyarakat sebagai imbalan atas barang/jasa layanan yang diberikan. Imbalan atas barang/jasa layanan yang diberikan tersebut ditetapkan dalam bentuk tarif yang disusun atas dasar perhitungan biaya per unit layanan atau hasil per investasi dana. Tarif layanan diusulkan

23 Tahun 2005 dan Permendagri No. transparansi dan efisiensi. laporan keuangan rumah sakit pemerintah daerah mencakup sebagai berikut: 1. 2. Penyusunan anggaran rumah sakit harus berbasis akuntansi biaya yang didasari dari indikator input. Sebagai organisasi kepemerintahan yang bersifat nirlaba. indikator proses dan indikator output. Laporan keuangan RSUD yang disusun oleh manajemen sebagai bentuk penyampaian laporan keuangan suatu entitas. utang dan aktiva bersih. tidak disebut neraca).oleh RSUD kepada Kepala Daerah dan kemudian ditetapkan dengan peraturan kepala daerah. Sedangkan aktiva bersih diklasifikasikan aktiva bersih tidak terikat. RSUD mengalami perubahan menjadi BLUD. Mengetahui perubahan aktiva bersih (disajikan dalam bentuk laporan aktivitas). Mengetahui kontinuitas pemberian jasa (disajikan dalam bentuk laporan posisi keuangan). Daya beli masyarakat. dan Kompetisi yang sehat. Anggaran yang akan disusun pun harus berbasis kinerja. yaitu sebagai organisasi nirlaba (PSAK No. 23 Tahun 2005 . 3. 4. sehingga isi pelaporan keuangan RSUD harus mengikuti ketentuan untuk pelaporan keuangan sebagaimana diatur menurut SAK.PMK No. 23 Tahun 2005. terikat kontemporer dan terikat permanen. Laporan posisi keuangan (aktiva. 4. BLUD sebagai satuan kerja atau unit kerja dalam satuan kerja di lingkungan Pemerintah Daerah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan merupakan organisasi pemerintahan yang bersifat nirlaba. 45) dan menyanggupi untuk laporan keuangannya tersebut diaudit oleh auditor independen. Sesuai dengan Pasal 26 ayat (2) PP No. 2. 23 Tahun 2005 yang menyebutkan bahwa “Akuntansi dan laporan keuangan BLU diselenggarakan sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan yang diterbitkan oleh asosiasi profesi akuntansi Indonesia” dan dipertegas lagi dalam pasal 116 ayat (1) Permendagri 61 Tahun 2007 yang menyatakan bahwa BLUD menyelenggarakan akuntansi dan laporan keuangan sesuai dengan standar akuntansi keuangan yang diterbitkan oleh asosiasi profesi akuntansi Indonesia untuk manajemen bisnis yang sehat Ketentuan ini menimbulkan inkonsistensi. Yang dimaksud pembatasan permanen adalah pembatasan penggunaan sumber daya yang ditetapkan oleh penyumbang. Sehingga. Pertanggungjawaban manajemen rumah sakit (disajikan dalam bentuk laporan aktivitas dan laporan arus kas). Adapun Laporan Keuangan RSUD sebagai BLUD yang disusun harus menyediakan informasi untuk: 1. Dengan terbitnya PP No. 3. sebagaimana diatur berdasarkan PP No. Asas keadilan dan kepatutan.05/2008 dan Permendagri No. 61 Tahun 2007. Kontinuitas dan pengembangan layanan. 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. karena BLUD merupakan satuan kerja pemerintahan yang seharusnya menggunakan PSAP atau Standar Akuntansi Pemerintahan sebagaimana diatur menurut PP No. 76/PMK.61 Tahun 2007 menggunakan PSAK (Standar Akuntansi Keuangan) yang berasal dari IAI. namun dalam PP No. Laporan keuangan tersebut merupakan penyampaian informasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan terhadap entitas tersebut. Klasifikasi aktiva dan kewajiban sesuai dengan perusahaan pada umumnya. maka RSUD semestinya juga menggunakan SAP bukan SAK. Tarif layanan yang diusulkan dan ditetapkan tersebut harus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: 1. Perubahan ini berimbas pada pertanggungjawaban keuangan sehingga harus mengikuti standar akuntansi keuangan yang pengelolaannya mengacu pada prinsip-prinsip akuntabilitas. Sedangkan pembatasan temporer adalah pembatasan penggunaan sumber daya oleh penyumbang yang . Mengukur jasa atau manfaat bagi entitas yang bersangkutan.

Laporan Keuangan. Laporan Arus Kas. Berdasarkan PMK No. Laporan Realisasi Anggaran dan/atau Laporan Operasional. namun dalam hal tidak terdapat satuan pemeriksaan intern. antara lain sifat dan jumlah pembatasan permanen atau temporer. Neraca. maka RSUD sebagai BLUD mengembangkan sub sistem akuntansi keuangan yang menghasilkan Laporan Keuangan sesuai dengan SAP hal ini dijelaskan dalam Pasal 6 ayat (4) PMK No. Laporan Keuangan RSUD sebelum disampaikan kepada Pemerintah Daerah sebagai entitas pelaporan harus direviu oleh satuan pemeriksaan intern. 3. dan Laporan Kinerja. Laporan aktivitas (yaitu penghasilan. reviu dilakukan oleh aparat pengawasan intern pemerintah daerah (Inspektorat Daerah). 23 tahun 2005. Reviu ini dilaksanakan secara bersamaan dengan penyusunan Laporan Keuangan BLUD. dan perubahan klasifikasi aktiva bersih. menyusun dan menyajikan: 1. Kesimpulan bagi RSUD yang menerapkan BLUD adalah: 1.05/2008 sesuai pula dengan Pasal 27 PP No. 4. Dalam artikel selanjutnya saya akan membahas pengelolaan keuangan BLUD berdasarkan Permendagri No. . 3. 4.76/PMK. RSUD juga harus membuat sub sistem akuntansi berdasarkan SAP Laporan Keuangan harus diaudit oleh eksternal auditor dalam hal ini adalah BPK-RI Demikian pemahaman tentang BLUD khususnya untuk RSUD.menetapkan agar sumber daya tersebut dipertahankan sampai pada periode tertentu atau sampai dengan terpenuhinya keadaan tertentu. Catatan atas laporan keuangan. 76/PMK. 4. 2. 3. Sedangkan Laporan Keuangan tahunan BLUD diaudit oleh BPK-RI. 2. Membuat standar pelayanan minimal yang ditetapkan dengan peraturan kepala daerah Menyusun standar biaya bagi kegiatan yang ditetapkan dengan peraturan kepala daerah Menyusun laporan keuangan menggunakan dasar accrual yang mengacu kepada PSAK 45 yang dikeluarkan oleh IAI Untuk konsolidasi laporan keuangan dengan laporan keuangan Pemerintah Daerah. Laporan Keuangan tersebut paling sedikit terdiri dari: 1.05/2008. 2. maka RSUD dalam rangka pertanggungjawaban atas pengelolaan keuangan dan kegiatan pelayanannya. 61 Tahun 2007. 2. dan Catatan atas Laporan Keuangan. 5. aktivitas investasi dan aktivitas pendanaan. Laporan arus kas yang mencakup arus kas dari aktivitas operasi. beban dan kerugian dan perubahan dalan aktiva bersih). Dalam hal konsolidasi laporan keuangan RSUD dengan laporan keuangan pemerintah daerah.

Kemudian lanjutkan dengan melihat jumlah seluruh kas dalam neraca harus sama dengan saldo akhir kas yang disajikan dalam LAK. 4. 7. 5. Lakukan pengecekan hitungan kesamping dan kebawah dari laporan keuangan yang disajikan oleh auditee. Neraca dan Laporan Arus Kas (LAK) serta melakukan pengujian Silpa. Lihat silpa yang disajikan dalam LRA harus sama dengan silpa yang disajikan dalam Neraca. Hal ini untuk memastikan laporan keuangan yang disajikan telah benar dari sisi hitungan yaitu penjumlahan. 6. Kas dalam akuntansi pemerintahan identik dengan Silpa. Lakukan pengujian lagi untuk silpa dengan rumusan (Kas di Kasda + Kas Di Bendahara Pengeluaran + Kas Di Bendahara Penerimaan + Kas Di Badan Layanan Umum (BLU) – Perhitungan Pihak Ketiga – Pendapatan Yang Ditangguhkan). Langkah Pemeriksaan Kas secara sederhana berikut dapat membantu kita untuk menentukan silpa secara cepat. 1. Kalau penyajian nilai-nilai seperti arahan diatas berbeda maka laporan keuangan tersebut PASTI ada kekeliruan dan lakukan konfirmasi kepada bagian yang menyusun laporan keuangan. Artikel kali ini akan mengulas mengenai pemeriksaan kas sebagai patokan untuk menentukan selisih lebih perhitungan anggaran (SILPA). Karena Silpa merupakan hal terpenting dalam laporan keuangan pemerintah daerah maka dalam melakukan pemeriksaan silpa harus mendapat perhatian yang lebih mendalam.Sebelumnya saya ucapkan terima kasih banyak telah mengakses blog ini dan tidak lupa mengucapkan Dirgahayu Republik Indonesia Ke 64. pengurangan. Hal ini berguna untuk memberikan gambaran umum awal terhadap kondisi keuangan Pemerintah Daerah. perkalian dan pembagian. Silpa menjadi acuan dalam penyusunan APBD. 2. 3. Lakukan pengujian Kas di Kasda dengan langkah: . Lakukan pengujian awal untuk mengetahui silpa yang disajikan telah sesuai. Jika jumlah dari rumusan silpa tersebut berbeda dengan silpa yang disajikan dalam laporan keuangan PASTI ada kekeliruan dan lakukan konfirmasi kepada bagian yang menyusun laporan keuangan. Terkait dengan dua artikel sebelumnya yang banyak membicarakan kas. Lakukan scanning yaitu melihat sepintas dan menyeluruh laporan keuangan yang disajikan oleh auditee (Pemerintah Daerah). Posisikan berjejeran ketiga laporan keuangan tersebut. Hal ini berguna bagi auditor pemula untuk lebih memudahkan melihat keterkaitan antara Laporan Realisasi Anggaran (LRA).

• Total nilai SP2D diluar SP2D Nihil harus sama dengan mutasi debet rekening koran dan jika berbeda konfirmasi ke Kuasa BUD. • Saldo Buku Bantu Pajak dan Buku Bantu Potongan IWP harus sama dengan Bukti Setoran Pajak dan Setoran IWP dan jika berbeda harus sama dengan PFK di Kuasa BUD. • Buku Kas Umum. • Saldo Buku Kas Umum harus sama dengan Saldo Rekening Koran ditambah dengan Kas Tunai yang dimiliki Kuasa BUD. • Total nilai STS dan Nota Kredit Bank diluar bunga bank harus sama dengan mutasi kredit rekening koran dan jika berbeda konfirmasi ke Kuasa BUD. Buku Bantu Potongan IWP harus dimiliki oleh Kuasa BUD. • Mintalah rekening koran seluruh rekening bank yang menjadi rekening kas daerah. Nota kredit bank yang diterima oleh Bagian Perbendaharaan (Kuasa BUD). Buku Bantu Pajak. INGAT rekening bank yang menjadi rekening kas daerah harus didukung oleh Surat Keputusan (SK) Kepala Daerah dan jangan lupa minta bank statement (pernyataan bank) bahwa rekening bank yang dimiliki oleh Pemerintah Daerah telah sesuai dengan SK Kepala Daerah. hal umum terjadi biasanya ada pengeluran tanpa menggunakan SP2D. lakukanlah penghitungan jumlah dan nilainya serta tanyakan sumber uang tersebut. hal umum terjadi biasanya ada penerimaan yang belum dicatat. • Pastikan Kuasa BUD tidak menyimpan uang diluar rekening bank dan jika ada menyimpan uang tunai di Brankas.• Dapatkan Daftar SP2D yang dikeluarkan dan daftar STS. • . Lakukan pengujian Kas di Bendahara Pengeluaran dengan langkah: • Daftar SP2D yang diterima oleh Bendahara Pengeluaran harus sama dengan yang dikeluarkan oleh Bagian Perbendaharaan (Kuasa BUD).

• Saldo Buku Kas Umum Penerimaan harus sama dengan Kas Di Bendahara Penerimaan. Lakukan pengujian Kas di Bendahara Penerimaan dengan langkah: • Total nilai STS dalam daftar STS yang dibuat Bendahara Penerimaan harus cocok dengan daftar STS yang diterima oleh Bagian Perbendaharaan (Kuasa BUD) dan jika terjadi selisih maka nilainya harus sama dengan nilai Pendapatan Yang Ditangguhkan yang tersaji dalam neraca. Demikian langkah pemeriksaan kas sebagai patokan penentuan silpa.Buku Kas Umum Pengeluaran. • Kas di Neraca BLU harus sama dengan nilai Kas di BLU yang disajikan dalam Neraca Konsolidasian. Lakukan pengujian kas di BLU dengan langkah: • Mintalah Laporan Keuangan BLU. Karena BLU memiliki karakteristik berbeda dengan unit kerja yang lain. • Langkah yang dilakukan sama dengan pemeriksaan kas di Kas Daerah secara umum. dalam artikel berikutnya akan dibahas mengenai pemahaman terhadap BLU . • Saldo Buku Kas Umum harus sama dengan Kas di Bendahara Pengeluaran. • Buku Bantu Pajak harus sama dengan Setoran Pajak dan jika berbeda harus sama dengan PFK di Bendahara Pengeluaran. Buku Bantu Pajak harus dimiliki oleh Bendahara Pengeluaran. Semoga artikel diatas yang berisi langkah sederhana dalam pemeriksaan kas dapat bermanfaat. • Buku Kas Umum Penerimaan harus dimiliki oleh Bendahara Penerimaan. • Total nilai SP2D yang diterima oleh Bendahara Pengeluaran harus dicocokan dengan total belanja (SPJ) yang dibuatnya dan selisihnya harus sama Uang Untuk Dipertanggungjawabkan (UUDP).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->