P. 1
086D4d01

086D4d01

|Views: 347|Likes:
Published by Iqy Pratama

More info:

Published by: Iqy Pratama on May 01, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/08/2012

pdf

text

original

Sections

  • BAB I
  • BAB II
  • BAB III
  • BAB IV
  • BAB V

STUDI ANALISIS PENDAPAT AL-SYAFI'I

TENTANG PERKAWINAN ANTAR AGAMA

SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Dan Melengkapi Syarat
Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu (S1)
Dalam Ilmu Syari’ah

















Oleh:
ARIFIN
NIM. 2199096



JURUSAN AHWAL SYAHSIYAH
FAKULTAS SYARI’AH
IAIN WALISONGO SEMARANG
2006
ii
DEPARTEMEN AGAMA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
FAKULTAS SYARI’AH SEMARANG
JL. Raya Boja Km. 2 Ngalian Telp./ Fax. (024) 7601291 Semarang 50185


BERITA ACARA MUNAQASYAH SKRIPSI

Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo Semarang pada:
Hari : Kamis
Tanggal : 27 Juli 2006
Jam : 11.00-12.00 WIB

Telah mengadakan Ujian Munaqasyah Skripsi dengan judul:
STUDI ANALISIS PENDAPAT AL-SYAFI'I TENTANG PERKAWINAN
ANTAR AGAMA
Atas Nama :
Nama : Arifin
NIM : 2199096
Jurusan : Ahwal Syahsiyah
Keterangan : UTAMA/ULANG …………………………………………..
LULUS/TIDAK LULUS

Semarang, 27 Juli 2006
Ketua Sidang, Sekretaris Sidang,



H.Khoirul Anwar, S.Ag, M.Ag. M.Solek, MA.
NIP. 150 276 114 NIP. 150 262 648


Penguji I, Penguji II,


Dr.H.Abd. Hadi, MA. Ade Yusuf Mujaddid, M.Ag.
NIP. 150 209 744 NIP. 150 289 443

Pembimbing,



M.Solek, MA.
NIP. 150 262 648
iii
ABSTRAK



Dalam prakteknya tidak sedikit adanya hubungan muda-mudi yang
berbeda agama yaitu muslim dengan non muslim. Hubungan itu tidak
menutup kemungkinan sampai pada jenjang pernikahan. Masalah yang
muncul, bagaimana pendapat Al-Syafi'i tentang perkawinan antar agama?
Bagaimana metode istinbath hukum Al-Syafi'i tentang perkawinan antar
agama? Penulisan ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dan penelitian
kepustakaan (Library research). Sedangkan Pendekatannya menggunakan
pendekatan deskriptif analisis. Adapun data primer yaitu karya al-Syafi’i yang
berhubungan dengan judul di atas di antaranya: (1) Al-Umm, dan al-Risalah.
Sedangkan data sekunder, yaitu literatur lainnya yang relevan dengan judul di
atas. Sebagai tknik pengumpulan data menggunakan teknik library research
(penelitian kepustakaan), dengan analisis data kualitatif.
Hasil dari pembahasan dapat diterangkan bahwa dalam perkawinan
antar agama menurut Imam Syafi'i, laki-laki muslim tidak boleh menikah
dengan wanita non muslim dengan alasan surat al-Baqarah 221: walâ tankihul
musyrikâti hatta yukminna walâmatun mu'minatun khairun min musyrikatin
walau a'jabatkum. Wanita muslimah tidak boleh menikah dengan laki-laki
non muslim dengan alasan surat al-Baqarah 221: walâ tunkihul musyrikîna
hatta yukminu wala'abdun mu'minun khairun min musyrikin walau a'jabakum.
Laki-Laki muslim tidak boleh menikah dengan wanita non muslim kecuali
dengan wanita non muslim yang berasal dari ahli kitab. Menurut al-Syafi'i
yang dimaksud dengan ahli kitab tersebut adalah keturunan Bani Israil atau
orang-orang yang berpegang teguh pada kitab Taurat pada masa Nabi Musa
dan orang-orang yang berpegang teguh pada kitab Injil pada masa Nabi Isa.
Sedangkan Istinbath hukum al-Syafi’i yang membolehkan laki-laki muslim
menikah dengan wanita non muslim dari ahli kitab didasarkan atas di takhsis
surat al-Baqarah ayat 221 oleh surat al-Maidah ayat 5. Adapun ahli kitab yang
dimaksud oleh al-Syafi'i hanya terbatas kepada keturunan Bani Israil atau
orang-orang yang berpegang teguh pada kitab Taurat pada masa Nabi Musa
dan orang-orang yang berpegang teguh pada kitab Injil pada masa Nabi Isa.
Disebabkan: (a) Dalam ayat 5 al-Ma'idah terdapat lafal min qablikum yang
berarti orang-orang Bani Israil atau orang-orang yang berpegang teguh pada
kitab Taurat pada masa Nabi Musa dan orang-orang yang berpegang teguh
pada kitab Injil pada masa Nabi Isa. (b). Nabi Musa dan Nabi Isa hanya diutus
kepada Bani Israil. Dalam kaitan ini, penulis kurang sependapat dengan
pendapat al-Syafi'i yang mengkategorikan ahlul kitab seperti tersebut di atas.
Alasan penulis kurang setuju karena bila diaplikasikan di Indonesia, maka
orang-orang Indonesia yang menganut agama Yahudi atau Nasrani sesudah
turunnya al-Qur’an maka mereka tidaklah termasuk di dalam ahlul kitab,
konsekuensinya maka tidak halal bagi muslim menikahi perempuan-
perempuan mereka.
iv
DAFTAR ISI

BAB I : PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penelitian
D. Telaah Pustaka
E. Metode Penelitian
F. Sistematika Penulisan

BAB II: TINJAUAN UMUM TENTANG PERKAWINAN

A. Pengertian Nikah dan Dasar Hukumnya
B. Syarat dan Rukun Nikah
C. Pendapat Para Ulama tentang Perkawinan Antar Agama

BABIII: PENDAPAT AL-SYAFI'I TENTANG PERKAWINAN ANTAR
AGAMA
A. Biografi Al-Syafi'i, Pendidikan dan Karya-Karyanya
B. Pendapat Al-Syafi'i tentang perkawinan Antar Agama
C. Metode Istinbath Hukum Al-Syafi'i

BABIV: ANALISIS PENDAPAT AL-SYAFI'I TENTANG PERKAWINAN
ANTAR AGAMA
A. Pendapat Al-Syafi'i tentang perkawinan Antar Agama
B. Metode Istinbath Hukum Al-Syafi'i tentang perkawinan Antar
Agama

BAB V : PENUTUP

A. Kesimpulan
B. Saran-saran
C. Penutup
1

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah
Allah SWT menciptakan dunia dan seluruh makhluk yang mendiami
jagad raya ini dibentuk dan dibangun dalam kondisi berpasang-pasangan. Ada
gelap dan terang, ada kaya dan miskin. Demikian pula manusia diciptakan
dalam berpasangan yaitu ada pria dan wanita. Pria dan wanita diciptakan
dengan disertai kebutuhan biologis.
Dalam memenuhi kebutuhan biologis ada aturan-aturan tertentu yang
harus dipenuhi dan bila dilanggar mempunyai sanksi baik di dunia maupun di
akhirat. Sanksi yang dimaksud yaitu manakala pria dan wanita dalam
memenuhi kebutuhan biologisnya tanpa diikat oleh suatu tali pernikahan.
Pernikahan itu terjadi melalui sebuah proses yaitu kedua belah pihak
saling menyukai dan merasa akan mampu hidup bersama dalam menempuh
bahtera rumah tangga. Namun demikian, pernikahan itu sendiri mempunyai
syarat dan rukun yang sudah ditetapkan baik dalam al-Qur’an maupun dalam
Hadis.
2
Menurut Sayuti Thalib perkawinan ialah perjanjian suci membentuk
keluarga antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan.
1
Sementara
Mahmud Yunus menegaskan, perkawinan ialah akad antara calon laki istri
untuk memenuhi hajat jenisnya menurut yang diatur oleh syariat.
2

Sedangkan Zahry Hamid merumuskan nikah menurut syara ialah akad (ijab
qabul) antara wali calon istri dan mempelai laki-laki dengan ucapan tertentu
dan memenuhi rukun serta syaratnya.
3
Syekh Kamil Muhammad ‘Uwaidah
mengungkapkan menurut bahasa, nikah berarti penyatuan. Diartikan juga
sebagai akad atau hubungan badan. Selain itu, ada juga yang mengartikannya
dengan percampuran.
4

As Shan’ani dalam kitabnya memaparkan bahwa an-nikah menurut
pengertian bahasa ialah penggabungan dan saling memasukkan serta
percampuran. Kata “nikah” itu dalam pengertian “persetubuhan” dan “akad”.
Ada orang yang mengatakan “nikah” ini kata majaz dari ungkapan secara
umum bagi nama penyebab atas sebab. Ada juga yang mengatakan bahwa
“nikah” adalah pengertian hakekat bagi keduanya, dan itulah yang
dimaksudkan oleh orang yang mengatakan bahwa kata “nikah” itu musytarak
bagi keduanya. Kata nikah banyak dipergunakan dalam akad. Ada pula yang
mengatakan bahwa dalam kata nikah itu terkandung pengertian hakekat yang

1
Sayuti Thalib, Hukum Kekeluargaan Indonesia, Jakarta: UI Press, Cet. 5, 1986, hlm.
47.
2
Mahmud Yunus, Hukum Perkawinan dalam Islam, Jakarta: PT Hidakarya Agung,
Cet. 12, 1990, hlm. 1.
3
Zahry Hamid, Pokok-Pokok Hukum Perkawinan Islam dan Undang-Undang
Perkawinan di Indonesia, Yogyakarta: Bina Cipta, 1978, hlm. 1.
4
Syekh Kamil Muhammad ‘Uwaidah, Al-Jami' Fi Fiqhi an-Nisa, terj. M. Abdul
Ghofar, "Fiqih Wanita', (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2002, hlm. 375.
3
bersifat syar’i. Tidak dimaksudkan kata nikah itu dalam al-Qur’an kecuali
dalam hal akad.
5


Dari berbagai pengertian di atas, meskipun redaksinya berbeda akan
tetapi ada pula kesamaannya. Karena itu dapat disimpulkan perkawinan ialah
suatu akad atau perikatan untuk menghalalkan hubungan kelamin antara laki-
laki dan perempuan dalam rangka mewujudkan kebahagiaan hidup
berkeluarga yang diliputi rasa ketentraman serta kasih sayang dengan cara
yang diridhai Allah SWT. Dalam konteks ini Rasulullah bersabda:
` ﺑ ` ﺪ` ﻤ ﺤ` ﻣ ﺎ ﻧ ﺮ ﺒ` ﺧﹶ ﺃ ﻢ ﻳ` ﺮ ﻣ ﻲﹺ ﺑﹶ ﺃ ` ﻦ` ﺑ ` ﺪﻴ ﻌ ﺳ ﺎ ﻨﹶ ﺛ` ﺪ ﺣ ﻲﹺ ﺑﹶ ﺃ ` ﻦ` ﺑ ` ﺪ` ﻴ ﻤ` ﺣ ﺎ ﻧ ﺮ ﺒ` ﺧﹶ ﺃ ﹴ ﺮﹶ ﻔ` ﻌ ﺟ ` ﻦ
ﹸ ﺔﹶ ﺛﺎﹶ ﻠﹶ ﺛ َ ﺀﺎ ﺟ ﹸ ﻝﻮﹸ ﻘ ﻳ ﻪ` ﻨ ﻋ ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ﻲ ﺿ ﺭ ﻚ ﻟﺎ ﻣ ﻦ` ﺑ ﺲ ﻧﹶ ﺃ ﻊ ﻤ ﺳ ` ﻪ` ﻧﹶ ﺃ ﹸ ﻞﻳﹺ ﻮﱠ ﻄﻟﺍ ﺪ` ﻴ ﻤ` ﺣ
ﺓ ﺩﺎ ﺒ ﻋ ` ﻦ ﻋ ﹶ ﻥﻮﹸ ﻟﹶ ﺄ` ﺴ ﻳ ﻢﱠ ﻠ ﺳ ﻭ ﻪ` ﻴﹶ ﻠ ﻋ ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ﻰﱠ ﻠ ﺻ ` ﻲﹺ ﺒ` ﻨﻟﺍ ﹺ ﺝﺍ ﻭ` ﺯﹶ ﺃ ﺕﻮ` ﻴ` ﺑ ﻰﹶ ﻟﹺ ﺇ ﻂ` ﻫ ﺭ
ﺻ ` ﻲﹺ ﺒ` ﻨﻟﺍ ` ﻦ` ﺤ ﻧ ﻦ` ﻳﹶ ﺃ ﻭ ﺍﻮﹸ ﻟﺎﹶ ﻘﹶ ﻓ ﺎ ﻫﻮﱡ ﻟﺎﹶ ﻘ ﺗ ` ﻢ` ﻬ` ﻧﹶ ﺄﹶ ﻛ ﺍﻭ` ﺮﹺ ﺒ` ﺧﹸ ﺃ ﺎ` ﻤﹶ ﻠﹶ ﻓ ﻢﱠ ﻠ ﺳ ﻭ ﻪ` ﻴﹶ ﻠ ﻋ ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ﻰﱠ ﻠ
ﹶ ﻝﺎﹶ ﻗ ﺮ` ﺧﹶ ﺄ ﺗ ﺎ ﻣ ﻭ ﻪﹺ ﺒ` ﻧﹶ ﺫ ` ﻦ ﻣ ﻡ` ﺪﹶ ﻘ ﺗ ﺎ ﻣ ` ﻪﹶ ﻟ ﺮ ﻔﹸ ﻏ ` ﺪﹶ ﻗ ﻢﱠ ﻠ ﺳ ﻭ ﻪ` ﻴﹶ ﻠ ﻋ ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ﻰﱠ ﻠ ﺻ ` ﻲﹺ ﺒ` ﻨﻟﺍ ﻦ ﻣ
ﺻﹸ ﺃ ﻲ` ﻧﹺ ﺈﹶ ﻓ ﺎ ﻧﹶ ﺃ ﺎ` ﻣﹶ ﺃ ` ﻢ` ﻫ` ﺪ ﺣﹶ ﺃ ` ﺮ ﻄﹾ ﻓﹸ ﺃ ﺎﹶ ﻟ ﻭ ﺮ` ﻫ` ﺪﻟﺍ ` ﻡﻮ` ﺻﹶ ﺃ ﺎ ﻧﹶ ﺃ ` ﺮ ﺧﺁ ﹶ ﻝﺎﹶ ﻗﻭ ﺍ ﺪ ﺑﹶ ﺃ ﹶ ﻞ` ﻴﱠ ﻠﻟﺍ ﻲﱢ ﻠ
ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ﻰﱠ ﻠ ﺻ ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ﹸ ﻝﻮ` ﺳ ﺭ َ ﺀﺎ ﺠﹶ ﻓ ﺍ ﺪ ﺑﹶ ﺃ ` ﺝ` ﻭ ﺰﺗﹶ ﺃ ﺎﹶ ﻠﹶ ﻓ َ ﺀﺎ ﺴ` ﻨﻟﺍ ﹸ ﻝﹺ ﺰ ﺘ` ﻋﹶ ﺃ ﺎ ﻧﹶ ﺃ ` ﺮ ﺧﺁ ﹶ ﻝﺎﹶ ﻗ ﻭ
ﻭ ﺍﹶ ﺬﹶ ﻛ ` ﻢ` ﺘﹾ ﻠﹸ ﻗ ﻦﻳ ﺬﱠ ﻟﺍ ` ﻢ` ﺘ` ﻧﹶ ﺃ ﹶ ﻝﺎﹶ ﻘﹶ ﻓ ` ﻢﹺ ﻬ` ﻴﹶﻟﹺ ﺇ ﻢﱠ ﻠ ﺳ ﻭ ﻪ` ﻴﹶ ﻠ ﻋ ` ﻢﹸ ﻛﺎ ﺸ` ﺧﹶ ﺄﹶ ﻟ ﻲ` ﻧﹺ ﺇ ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ﻭ ﺎ ﻣﹶ ﺃ ﺍﹶ ﺬﹶ ﻛ
` ﻦ ﻤﹶ ﻓ َ ﺀﺎ ﺴ` ﻨﻟﺍ ` ﺝ` ﻭ ﺰ ﺗﹶ ﺃ ﻭ ` ﺪﹸ ﻗ` ﺭﹶ ﺃ ﻭ ﻲﱢ ﻠ ﺻﹸ ﺃ ﻭ ` ﺮ ﻄﹾ ﻓﹸ ﺃ ﻭ ` ﻡﻮ` ﺻﹶ ﺃ ﻲ` ﻨ ﻜﹶ ﻟ ` ﻪﹶ ﻟ ` ﻢﹸ ﻛﺎﹶ ﻘ` ﺗﹶ ﺃ ﻭ ﻪﱠ ﻠ ﻟ
ﻲ` ﻨ ﻣ ﺲ` ﻴﹶ ﻠﹶ ﻓ ﻲ ﺘ` ﻨ` ﺳ ` ﻦ ﻋ ﺐ ﻏ ﺭ , ﻯﺭﺎﺨﺒﻟﺍ ﻩﺍﻭﺭ .
6


5
Sayyid al-Iman Muhammad ibn Ismail as-San’ani , Subul al-Salam Sarh Bulugh al-
Maram Min Jami Adillati al-Ahkam, Juz 3, Kairo: Dar Ikhya’ al-Turas al-Islami, 1960, hlm.
350.
6
Al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Juz 3, Beirut Libanon: Dar al-Fikr, 1410 H/1990 M,
hlm. 251
4
Artinya: Telah mengabarkan kepada kami dari Sa'id bin Abi Maryam
telah memberitahu kepada kami dari Muhammad bin Ja'far
dari Himaid bin Abi Humaid ath-Thawail, sesungguhnya dia
telah mendengar dari Anas bin Malik r.a., katanya: Ada tiga
orang laki-laki datang berkunjung ke rumah isteri-isteri Nabi
saw; bertanya tentang ibadat beliau. Setelah diterangkan
kepada mereka, kelihatan bahwa mereka menganggap bahwa
apa yang dilakukan Nabi itu terlalu sedikit. Mereka berkata:
"Kita tidak dapat disamakan dengan Nabi. Semua dosa
beliau yang telah lalu dan yang akan datang telah diampuni,
Allah." Salah seorang dari mereka berkata: "Untuk saya,
saya akan selalu sembahyang sepanjang malam selama-
lamanya." Orang kedua berkata: "Saya akan berpuasa setiap
hari, tidak pernah berbuka." Orang ketiga berkata: "Saya
tidak akan pernah mendekati wanita. Saya tidak akan kawin
selama-lamanya." Setelah itu Rasulullah saw. datang. Beliau
berkata: "Kamukah orangnya yang berkata begini dan
begitu? Demi Allah! Saya lebih takut dan lebih bertaqwa
kepada Tuhan dibandingkan dengan kamu. Tetapi saya
berpuasa dan berbuka. Saya sembahyang dan tidur, dan saya
kawin. Barangsiapa yang tidak mau mengikuti sunnahku,
tidak termasuk ke dalam golonganku." (HR. al-Bhukhari)

Dari hadis di atas mengisyaratkan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak
menyukai seseorang yang berprinsip anti menikah. Namun demikian dalam
prakteknya tidak sedikit adanya hubungan muda-mudi yang berbeda agama
yaitu muslim dengan non muslim. Hubungan itu tidak menutup kemungkinan
sampai pada jenjang pernikahan. Masalah yang muncul, apakah hukumnya
sah perkawinan muslim dengan non muslim?
Peristiwa di atas berarti menyangkut perkawinan antar agama yang
menurut Masjfuk Zuhdi, yaitu perkawinan antarorang yang berlainan agama,
dalam hal ini, perkawinan orang beragama Islam (pria/wanita) dengan orang
5
beragama non Islam (pria/wanita).
7
Perkawinan antaragama yang dimaksud
ini dapat terjadi antara
1. Calon istri beragama Islam dan calon suami tidak beragama Islam, baik
"ahlulkitab" maupun musyrik.
2. Calon suami beragama Islam dan calon istri tidak beragama Islam, baik
ahlulkitab maupun musyrik.
Akibat hukum dari perkawinan antaragama adalah sebagai berikut: apabila
perkawinan antaragama terjadi antara perempuan yang beragama Islam dan
laki-laki yang tidak beragama Islam, baik musyrik maupun ahlul kitab, maka
para ulama imamiyah – sebagaimana halnya dengan keempat mazhab lainnya
– sepakat bahwa wanita muslimah tidak boleh kawin dengan laki-laki non
muslim meskipun ahli kitab.
8
Hal ini berarti apabila perkawinan antaragama
terjadi antara perempuan yang beragama Islam dan laki-laki yang tidak
beragama Islam, baik musyrik maupun ahlulkitab, maka ulama fikih sepakat
hukumnya tidak sah.
9
Alasannya adalah firman Allah SWT dalam al-Baqarah
(2) ayat 221:
... ﹶ ﻟ ﻭ ﹾ ﺍﻮ` ﻨ ﻣ` ﺆ` ﻳ ﻰ` ﺘ ﺣ ﲔ ﻛﹺ ﺮ ﺸ` ﻤﹾ ﻟﺍ ﹾ ﺍﻮ` ﺤ ﻜﻨ` ﺗ ﹶ ﻻﻭ ` ﻮﹶ ﻟ ﻭ ﻙﹺ ﺮ` ﺸ' ﻣ ﻦ` ﻣ ` ﺮ` ﻴ ﺧ ` ﻦ ﻣ` ﺆ' ﻣ ` ﺪ` ﺒ ﻌ
` ﻢﹸ ﻜ ﺒ ﺠ` ﻋﹶ ﺃ ,... ﺓﺮﻘﺒﻟﺍ · 221 .

7
Masjfuk Zuhdi, Masail Fikhiyah, Jakarta: PT Gunung Agung, 1997, hlm. 4.
8
Muhammad Jawad Mughniyah, Al-Fiqh 'ala al-Mazahib al-Khamsah, Terj.
Masykur AB, et al, "Fiqih Lima Mazhab", Jakarta: PT Lentera Basritama, 2000, hlm. 336.
9
Abdul Aziz Dahlan, et.al, Ensiklopedi Hukum Islam, Jilid 4, Jakarta: PT. Ichtiar
Baru Van Hoeve, 1997, hlm. 1409.
6
Artinya: Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik
sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang
mu'min lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik
hatimu.
10



... ﹶ ﻻ ﻭ ` ﻢ` ﻬﱠ ﻟ ﱞ ﻞ ﺣ ` ﻦ` ﻫ ﹶ ﻻ ` ﻦ` ﻬﹶ ﻟ ﹶ ﻥﻮﱡ ﻠ ﺤ ﻳ ` ﻢ` ﻫ ,... ﺔﻨﺤﺘﻤﳌﺍ · 10 .

Artinya: …Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-
orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka… (Q.S.
Mumtahanah: 10).
11

Apabila perkawinan terjadi antara laki-laki muslim dengan perempuan
musyrik, ulama fikih sepakat menyatakan bahwa hukumnya tidak sah.
Argumen yang dikemukakan adalah firman Allah SWT dalam al-Baqarah (2)
ayat 221. Ulama berbeda pendapat mengenai siapa yang disebut perempuan
musyrik itu. Selanjutnya apabila perkawinan terjadi antara laki-laki beragama
Islam dan perempuan yang tergolong ahlul kitab, terdapat beberapa pendapat
di antara ulama fikih:
a. Umar bin al-Khattab (42 SH/581 M-23 H/644 M) melarang perkawinan
antara laki-laki muslim dan perempuan ahlul kitab. Sebab, menurutnya,
Allah SWT telah mengharamkan laki-laki muslim menikahi perempuan
musyrik dan ia tidak pernah tahu adakah syirik yang lebih besar dari
seseorang yang beriktikad bahwa Nabi Isa AS atau hamba Allah SWT
yang lainnya adalah Tuhannya.
b. Jumhur ulama fikih membolehkan perkawinan laki-laki muslim dengan
perempuan ahlul kitab. Argumen mereka adalah pertama, penjelasan yang

10
Depag RI, Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an, Al-Qur’an
dan Terjemahnya, 1986, hlm. 53.
11
Ibid, hlm. 924
7
terdapat dalam Al-Qur'an dalam surah al-Ma'idah ayat 5 dan kedua,
pendapat Sayid Sabiq, ahli fikih di Mesir, yang menjelaskan bahwa
sekalipun boleh mengawini wanita ahlul kitab. namun hukumnya makruh.
Sekalipun jumhur ulama fikih sepakat tentang kebolehan seorang laki-laki
beragama Islam mengawini wanita ahlul kitab, namun mereka berbeda
pendapat dalam menentukan wanita ahlul kitab itu sendiri.
Dalam hubungannya dengan perkawinan antar agama, menurut al-
Syafi'i bahwa wanita muslimah tidak boleh menikah dengan laki-laki non
muslim, akan tetapi dibolehkan menikah antara laki-laki muslim dengan ahli
kitab. Hal ini ia nyatakan dalam kitabnya yaitu:
ﻥﺃ ﻰﻫﻭ ﻝﺎﲝ ﻢﻠﺴﻤﻠﻟ ﻞﲢ ` ﺪﻗ ﺔﻛﺮﺸﳌﺍ ﺓﺃﺮﳌﺍﻭ ﻝﺎﲝ ﻙﺮﺸﳌ ﻞﲢ ﻻ ﺔﻤﻠﺴﳌﺍ
ﺔﻴﺑﺎﺘﻛ ﻥﻮﻜﺗ
12

Artinya: wanita muslimah tidak halal (menikah) dengan laki-laki
musyrik dengan keadaan apa pun, dan wanita musyrik itu
kadang-kadang halal (boleh menikah) bagi lelaki Islam
dengan sesuatu hal dan wanita itu wanita kitabi.

Dalam kaitannya dengan ahli kitab, menurut Al-Syafi'i, yang termasuk
ahlul kitab adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani keturunan orang-orang
Israel, tidak termasuk bangsa-bangsa lain sekalipun penganut agama Yahudi
dan atau Nasrani. Di antara alasan yang diajukan adalah
(1). Karena Nabi Musa AS dan Nabi Isa AS hanya diutus untuk orang-orang
bangsa Israel; dan

12
Al-Imam Abi Abdullah Muhammad bin Idris al-Syafi’i, Al-Umm, Beirut Libanon:
Dar al-Kutub al-Ilmiah, tth, juz 4, hlm. 287
8
(2). Lafal min qablikum (umat sebelum kamu) dalam surah al-Ma'idah (5)
ayat 5 menunjuk kepada kedua kelompok Yahudi dan Nasrani bangsa
Israel.
Pendapat al-Syafi'i di atas dapat dijumpai dalam kitabnya yang pada
intinya menyatakan:
ﻞﺣﻭ ﻪﺘﺤﻴﺑﺫ ﺖﻠﻛﺃ ﺓﺮﻣﺎﺴﻟﺍﻭ ﲔﺌﺑﺎﺼﻟﺍ ﻦﻣ ﻱﺭﺎﺼﻨﻟﺍﻭ ﺩﻮﻬﻴﻟﺍ ﻦﻳﺩ ﻥﺍﺩ ﻦﻣ
ﻩﺅﺎﺴﻧ
13

Artinya: siapa yang beragama dengan agama Yahudi dan Nasrani dari
orang Sabiin dan Samiri, maka boleh dimakan
sembelihannya dan halal dikawini wanitanya.
14


Mengingat kondisi yang demikian, maka terasa masih relevan
membicarakan perkawinan antar agama, karena perkawinan merupakan
sesuatu yang penting. Kecuali itu, masih banyak orang yang belum
memahaminya secara tepat, terutama di kalangan generasi muda. Di sinilah
terletak, antara lain urgennya mengkaji pendapat al-Syafi'i.
Berdasarkan uraian di atas mendorong diangkatnya tema ini dengan
judul: Studi Analisis Pendapat Al-Syafi'i dalam Kitab al-Umm tentang
Perkawinan Antar Agama

13
Ibid, hlm. 289
14
Sabi'in adalah nama golongan yang mengikuti nabi-nabi zaman dahulu. Sedangkan
Samiri adalah nama suatu suku dari bangsa Israil.
9
A. Perumusan Masalah
Permasalahan merupakan upaya untuk menyatakan secara tersurat
pertanyaan-pertanyaan apa saja yang ingin dicarikan jawabannya.
15
Bertitik
tolak pada keterangan itu, maka yang menjadi pokok permasalahan:
1. Bagaimana pendapat Al-Syafi'i tentang perkawinan antar agama?
2. Bagaimana metode istinbath hukum Al-Syafi'i tentang perkawinan antar
agama?
B. Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pendapat Al-Syafi'i tentang perkawinan antar agama
2. Untuk mengetahui metode istinbath hukum Al-Syafi'i tentang perkawinan
antar agama
C. Telaah Pustaka
Berdasarkan penelitian di perpustakaan Fakultas Syari’ah ditemukan
kajian khusus berupa skripsi yang judulnya ada hubungan dengan penelitian
ini. Demikian pula ada beberapa buku yang membahas perkawinan antar
agama, walaupun secara khusus belum membahas konsep Al-Syafi'i secara
mendalam. Skripsi dan buku-buku yang dimaksud di antaranya:
1. Skripsi yang disusun oleh M. Rodli (NIM 2195143 IAIN Wali Songo
Semarang) berjudul: Analisis Pendapat Muhammad Rasyid Ridlo tentang
Kebolehan Laki-Laki Muslim Menikahi Wanita Kristen/Nasrani (Ahlul

15
Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Cet. 7, Jakarta;
Pustaka Sinar Harapan, 1993, hlm. 312.
10
Kitab) dalam Al-Manar. Dalam skripsinya dijelaskan bahwa pada intinya
M. Rasyid Ridho membolehkan laki-laki muslim menikahi wanita ahlul
kitab dengan syarat laki-laki muslim tidak terpengaruh dan ikut ke agama
istrinya, yang ia khawatirkan wanita ahlul kitab tersebut akan menarik
laki-laki muslim untuk masuk ke agamanya dengan kepandaiannya,
kecantikannya, dan hartanya. Terhadap pemikiran M. Rasyid Ridho di
atas, maka penulis mendukung karena Islam sebagai rahmat sekalian alam
tidak membedakan antara manusia satu dengan lainnya, demikian juga
terhadap penganut agama lain.
2. Skripsi yang disusun oleh Thoifah (NIM 2196073 IAIN Wali Songo
Semarang) dengan judul: Study Pemikiran Quraisy Syihab tentang Ahlul
Kitab dan Implikasinya pada pernikahan Beda Agama di Indonesia.
Dalam skripsinya dijelaskan bahwa M. Quraisy Shihab membolehkan
seorang pria menikah dengan ahlul kitab dengan catatan wanita itu yang
muhsonat yaitu perempuan yang dapat menjaga kehormatan diri dan
sangat menghormati serta mengagungkan kitab sucinya. Muhammad
Quraish Shihab, ahli tafsir kontemporer dari Indonesia, lebih cenderung
berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ahlul kitab adalah semua
penganut agama Yahudi dan Nasrani, kapanpun, di mana pun, dan
keturunan siapa pun mereka. Pendapatnya ini didasarkan kepada firman
Allah SWT dalam surah al-An 'am (6) ayat 156:
ﻦ ﻋ ﺎ` ﻨﹸ ﻛ ﻥﹺ ﺇ ﻭ ﺎ ﻨ ﻠ` ﺒﹶ ﻗ ﻦ ﻣ ﹺ ﻦ` ﻴ ﺘﹶ ﻔ ﺋﺂﹶ ﻃ ﻰﹶ ﻠ ﻋ `ﺏﺎ ﺘ ﻜﹾ ﻟﺍ ﹶ ﻝﹺ ﺰﻧﹸ ﺃ ﺎ ﻤ` ﻧﹺ ﺇ ﹾ ﺍﻮﹸ ﻟﻮﹸ ﻘ ﺗ ﻥﹶ ﺃ
ﲔ ﻠ ﻓﺎ ﻐﹶ ﻟ ` ﻢﹺ ﻬ ﺘ ﺳﺍ ﺭ ﺩ , ﻡﺎﻌﻧﻷﺍ · 156 .
11
Artinya: (Kami turunkan Al-Qur'an itu) agar kamu (tidak)
mengatakan: Bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua
golongan saja sebelum kami, dan sesungguhnya kami tidak
memperhatikan apa yang mereka baca. (Q.S. al-An'am: 156)

Penulis kurang sependapat dengan klasifikasi Quraish Shihab,
karena ia hanya membolehkan pada penganut agama Yahudi dan Nasrani.
Hal ini mengandung arti ia membedakan antara penganut agama yang satu
dengan lainnya. Padahal Shihab tidak memberi ukuran apa sehingga
agama Yahudi dan Nasrani dibolehkan. Di sini pula ia tidak memberi
argumentasi yang detail kenapa untuk penganut agama lain tidak boleh.
3. Hamka, dalam Tafsir Al-Azhar, terhadap surat al-Baqarah ayat 221,
menegaskan tentang perkawinan antar agama, khususnya perkawinan
wanita muslimah dengan pria non muslim. Menurut Hamka bahwa dalam
ajaran Islam, perempuan muslimah tidak boleh bersuamikan ahlul kitab
karena perempuan tidak akan melebihi kekuasaan suaminya dalam rumah
tangga. Apalagi dalam agama-agama lain yang tidak memberikan jaminan
kebebasan yang luas dalam peraturan agamanya terhadap perempuan,
sebagaimana dimiliki oleh Islam. Alhasil pada pokoknya bahwa orang
Islam laki-laki jodohnya ialah orang Islam perempuan, meskipun
perempuan itu masih budak, di zaman negeri-negeri masih mengakui
adanya budak. Orang perempuan Islam jodohnya laki-laki Islam.
Janganlah mencari jodoh karena hanya tertarik pada kecantikan, padahal
12
orangnya musyrik. Jangan tertarik oleh kekayaan atau keturunan kalau
laki-lakinya tidak beragama.
16

4. Yusuf Qardhawi, dalam Hadyul Islam Fatawi Mu’ashirah berpendapat
bahwa hukum asal mengawini wanita ahli kitab menurut jumhur ulama
adalah mubah. Namun demikian di antara sahabat yang tidak berpendapat
demikian adalah Umar bin al-Khattab.
17
Umar bin al-Khattab (42 SH/581
M-23 H/644 M) melarang perkawinan antara laki-laki muslim dan
perempuan ahlul kitab. Sebab, menurutnya, Allah SWT telah
mengharamkan laki-laki muslim menikahi perempuan musyrik dan ia
tidak pernah tahu adakah syirik yang lebih besar dari seseorang yang
beriktikad bahwa Nabi Isa AS atau hamba Allah SWT yang lainnya
adalah Tuhannya.
18

5. Syekh Hasan Khalid, al-Zawaj Bighair al-Muslimin. Menurut Syekh
Hasan Khalid bahwa jumhur ulama fikih membolehkan perkawinan laki-
laki muslim dengan perempuan ahlul kitab.
19
Argumen mereka yang
menyatakan boleh adalah penjelasan yang terdapat dalam Al-Qur'an
dalam surah al-Ma'idah ayat 5
6. Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah. Ulama ahli fiqih ini menguraikan, para
ulama sepakat bahwa perempuan Muslim tidak halal kawin dengan laki-
laki bukan Muslim, baik dia musyrik ataupun Ahli Kitab.

16
Hamka, Tafsir Al Azhar, Jakarta: PT Pustaka Panji Mas, juz 2, 1999, hlm. 257
17
Yusuf Qardhawi, Hadyul Islam Fatawi Mu’ashirah, Terj. As’ad Yasin, “Fatwa-
Fatwa Kontemporer”, jilid 1, Jakarta: Gema Insani, 2001, hlm. 585
18
bid
19
Syekh Hasan Khalid, al-Zawaj Bighair al-Muslimin, Terj. Zaenal Abidin
Syamsudin, “Menikah Dengan Non Muslim”, Jakarta: Pustaka al-Sofwa, 2004, hlm. 145
13
Alasannya ialah firman Allah:
ﻮ` ﻨ ﺤ ﺘ` ﻣﺎﹶ ﻓ ﺕﺍ ﺮﹺ ﺟﺎ ﻬ` ﻣ ` ﺕﺎ ﻨ ﻣ` ﺆ` ﻤﹾ ﻟﺍ ` ﻢﹸ ﻛﺀﺎ ﺟ ﺍﹶ ﺫﹺ ﺇ ﺍﻮ` ﻨ ﻣﺁ ﻦﻳ ﺬﱠ ﻟﺍ ﺎ ﻬ' ﻳﹶ ﺃ ﺎ ﻳ
ﺕﺎ ﻨ ﻣ` ﺆ` ﻣ ` ﻦ` ﻫﻮ` ﻤ` ﺘ` ﻤ ﻠ ﻋ ﹾ ﻥﹺ ﺈﹶ ﻓ ` ﻦﹺ ﻬﹺ ﻧﺎ ﳝﹺ ﺈﹺ ﺑ `ﻢﹶ ﻠ` ﻋﹶ ﺃ ` ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ` ﻦ` ﻫ ﹶ ﻓ ﻰﹶ ﻟﹺ ﺇ ` ﻦ` ﻫﻮ` ﻌﹺ ﺟ` ﺮ ﺗ ﹶ ﻼ
` ﻦ` ﻬﹶ ﻟ ﹶ ﻥﻮﱡ ﻠ ﺤ ﻳ ` ﻢ` ﻫ ﺎﹶ ﻟ ﻭ ` ﻢ` ﻬﱠ ﻟ ﱞ ﻞ ﺣ ` ﻦ` ﻫ ﹶ ﻻ ﹺ ﺭﺎﱠ ﻔﹸ ﻜﹾ ﻟﺍ . ,.. ﺔﻨﺤﺘﻤﳌﺍ · 10 .
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman jika datang kepadamu
perempuan-perempuan Mukmin yang berhijrah hendaklah
mereka kamu uji lebih dulu. Allah lebih mengetahui iman
mereka. Jika kamu telah dapat membuktikan bahwa mereka
itu benar-benar beriman, maka janganlah mereka
kembalikan kepada orang-orang kafir. Mereka ini
(perempuan-perempuan Mukmin) tidak halal bagi laki-laki
kafir. Dan laki-laki kafir pun tidak halal bagi mereka. " (Al-
Mumtahanah: 10)

Pertimbangan daripada ketentuan ini adalah bahwa di tangan suamilah
kekuasaan terhadap istrinya, dan bagi istri wajib taat kepada perintahnya
yang baik. Dalam pengertian seperti inilah maksud daripada kekuasaan
suami terhadap istri. Akan tetapi bagi orang kafir tidak ada kekuasaan
terhadap laki-laki atau perempuan Muslim.
Allah berfirman:
... ﹰ ﻼﻴﹺ ﺒ ﺳ ﲔﹺ ﻨ ﻣ` ﺆ` ﻤﹾ ﻟﺍ ﻰﹶ ﻠ ﻋ ﻦﻳﹺ ﺮ ﻓﺎﹶ ﻜﹾ ﻠ ﻟ ` ﻪﹼ ﻠﻟﺍ ﹶﻞ ﻌ` ﺠ ﻳ ﻦﹶ ﻟ ﻭ , ﺀﺎﺴﻨﻟﺍ · 141 .
Artinya: Dan Allah tidak akan memberikan jalan kepada orang-orang
kafir untuk menguasai orang-orang Mukmin. (An-Nisa':
141)

Selain itu seorang suami kafir tidak mau tahu akan agama istrinya yang
Muslim bahkan ia mendustakan Kitab Sucinya dan mengingkari ajaran
Nabinya. Di samping itu dalam rumah yang terdapat perbedaan paham
14
begitu jauh dan keyakinan begitu prinsip, maka rumah tangganya tidak
akan dapat tegak dengan baik dan berjalan langgeng. Akan tetapi hal ini
berbeda jika laki-laki Muslim kawin dengan perempuan Ahli Kitab, sebab
ia mau tahu agama istrinya, dan menganggap bahwa percaya kepada Kitab
Suci dan Nabi-nabi agama istrinya sebagai bagian daripada rukun iman,
dimana keimanan Islamnya ini tidak akan sempurna kalau tidak
mempercayai Kitab dan para Nabi Ahli Kitab.
20

7. Abd al-Rahman al-Jaziri, dalam Kitab al-Fiqh ala Majahib al-Arba’ah.
Kitab ini berisi pendapat dari empat mazhab yaitu mazhab Maliki, Hanafi,
Hambali dan Syafi’i. Pada dasarnya pengarang kitab ini hanya
mengetengahkan pandangan berbagai mazhab dengan memberi komentar
di sana sini. Dalam kitab ini dijelaskan bahwa telah sepakat mazhab yang
empat, bahwa laki-laki Muslim boleh mengawini perempuan
Yahudi/Nasrani. Tetapi Imam Syafi'i dan Hanbali mensyaratkan, ibu bapa
perempuan itu harus orang Yahudi/Nasrani juga. Kalau bapak/nenek
perempuan itu menyembah berhala dan bukan ahli kitab (Taurat/Injil),
kemudian ia memeluk agama. Yahudi/Nasrani, maka tidak boleh
mengawini Perempuan itu. Menurut Hanafi dan Maliki asal perempuan itu
beragama Yahudi/Nasrani, boleh mengawininya, meskipun ibu bapaknya.
Menyembah .berhala.
21

8. Ahmad Asy-Syarbashi, Yas'alunaka fi ad-Din wa al-Hayah. Menurutnya

20
Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah, Kairo: Maktabah Dar al-Turas, juz 2, tth, hlm. 182.
21
Abdurrahman al-Jaziri, Kitab al-Fiqh ‘ala al-Mazahib al-Arba’ah, juz 4, Beirut:
Dar al-Fikr, 1972, hlm. 147
15
umat Islam dengan segenap fukaha dan ulamanya sepakat bahwa tidak
boleh seorang Muslimah menikah dengan seorang laki-laki non-Muslim.
Baik laki-laki non-Muslim tersebut termasuk kelompok Ahlulkitab,
seperti Yahudi dan Nasrani, kelompok musyrikin, maupun kelompok
ateis. Allah SWT telah berfirman, "Dan janganlah kamu menikahkan
orang-orang musyrik (dengan wanita- wanita mukmin) sehingga mereka
beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin itu lebih baik dan orang
musyrik, walaupun dia menarik hatimu." (QS. al-Baqarah: 221).
22

9. Mahmud Yunus, Hukum Perkawinan Dalam Islam. Dalam buku ini
Mahmud Yunus menjelaskan bahwa laki-laki muslim dibolehkan menikah
dengan perempuan Yahudi atau Nasrani. Tetapi perempuan muslimah
tidak boleh menikah dengan laki-laki Yahudi atau Nasrani.
23

10. Wirjono Prodjodikoro, Hukum Perkawinan Di Indonesia. Pengarang buku
ini menyatakan sekiranya tiap-tiap agama dalam peraturannya melarang
seorang pemeluk agama itu kawin dengan orang yang memeluk agama
lain, maka biasanya salah seorang dari mereka mengalah dan beralih
kepada agama dari pihak lain. Bila ini terjadi, tentunya tidak ada kesulitan
dalam hal perkawinan. Akan tetapi manakala kedua belah pihak masing-
masing mempertahankan agamanya maka akan muncul masalah.
24


22
Ahmad Asy-Syarbashi, Yas'alunaka fi ad-Din wa al-Hayah, Terj. Ahmad Subandi,
"Tanya Jawab Lengkap tentang Agama dan Kehidupan", Jakarta: Lentera, 1997, hlm. 238-241
23
Mahmud Yunus, Hukum Perkawinan Dalam Islam, Jakarta: PT Hidayakarya
Agung, 1990, hlm. 50.
24
Wirjono Prodjodikoro, Hukum Perkawinan Di Indonesia, Bandung: PT Sumur
Bandung, 1981, hlm. 46.
16
Spesifikasi skripsi ini dibandingkan dengan kepustakaan di atas,
yaitu membahas pendapat seorang tokoh Islam yaitu Imam Syafi’i tentang
perkawinan laki-laki muslim dengan ahlul kitab.
D. Metode Penelitian
Metode penelitan bermakna seperangkat pengetahuan tentang langkah-
langkah sistematis dan logis tentang pencarian data yang berkenaan dengan
masalah tertentu untuk diolah, dianalisis, diambil kesimpulan dan selanjutnya
dicarikan cara pemecahannya.
25
Dalam versi lain dirumuskan, metode
penelitian adalah cara yang dipakai dalam mengumpulkan data, sedangkan
instrumen adalah alat bantu yang digunakan dalam mengumpulkan data itu,
26

maka metode penelitian skripsi ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
27


Jenis Data
Penulisan ini menggunakan jenis penelitian kualitatif yaitu jenis
penelitian yang tidak menggunakan angka-angka statistik, melainkan
dalam bentuk kata-kata. Di samping itu penelitian ini hanya menggunakan
penelitian kepustakaan (Library research). Yang dimaksud dengan
penelitian kepustakaan adalah penelitian yang menggunakan data-data
dari buku sebagai sumber kajian.

25
Wardi Bacthiar, Metodologi Penelitian Ilmu Dakwah, Jakarta: Logos Wacana Ilmu,
1997, hlm. 1.
26
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Cet. 12,
Jakarta: PT Rineka Cipta, 2002, hlm. 194.
27
Menurut Hadari Nawawi, metode penelitian atau metodologi research adalah ilmu
yang memperbincangkan tentang metode-metode ilmiah dalam menggali kebenaran
pengetahuan. Hadari Nawawi, Metode Penelitian Bidang Sosial, Yogyakarta: Gajah Mada
University Press, 1991, hlm. 24.
17
Pendekatan
Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif
analisis yakni menggambarkan dan menganalisis pemikiran Al-Syafi'i
tentang perkawinan antar agama, khususnya dalam perkawinan antara pria
muslim dengan wanita ahli kitab.
Sumber Data
Data Primer, dari karya-karya Al-Syafi’i yang berhubungan dengan judul
di atas di antaranya: (1) Al-Umm. Kitab ini disusun langsung oleh Al-
Syafi’i secara sistematis sesuai dengan bab-bab fikih dan menjadi
rujukan utama dalam Mazhab Syafi'i. Kitab ini memuat pendapat Al-
Syafi’i dalam berbagai masalah fikih. Dalam kitab ini juga dimuat
pendapat Al-Syafi’i yang dikenal dengan sebutan al-qaul al-qadim
(pendapat lama) dan al-qaul al-jadid (pendapat baru). Kitab ini
dicetak berulang kali dalam delapan jilid bersamaan dengan kitab usul
fikih Al-Syafi’i yang berjudul Ar-Risalah. Pada tahun 1321 H kitab ini
dicetak oleh Dar asy-Sya'b Mesir, kemudian dicetak ulang pada tahun
1388H/1968M. (2) Kitab al-Risalah. Ini merupakan kitab ushul fiqh
yang pertama kali dikarang dan karenanya Al-Syafi’i dikenal sebagai
peletak ilmu ushul fiqh. Di dalamnya diterangkan pokok-pokok
pikiran beliau dalam menetapkan hukum.
28
(3) Kitab Imla al-Shagir;
Amali al-Kubra; Mukhtasar al-Buwaithi;
29
Mukhtasar al-Rabi;
Mukhtasar al-Muzani; kitab Jizyah dan lain-lain kitab tafsir dan

28
Djazuli, Ilmu Fiqh, Jakarta: Prenada Media, 2005, hlm. 131-132
29
Ahmad Asy Syarbasy, Al-Aimmah al-Arba'ah, Terj. Futuhal Arifin, "Biografi
Empat Imam Mazhab", Jakarta: Pustaka Qalami, 2003, hlm. 144.
18
sastra.
30
Siradjuddin Abbas dalam bukunya telah mengumpulkan 97
(sembilan puluh tujuh) buah kitab dalam fiqih Syafi’i. Namun dalam
bukunya itu tidak diulas masing dari karya Syafi’i tersebut.
31
Ahmad
Nahrawi Abd al-Salam menginformasikan bahwa kitab-kitab Imam al-
Syafi'i adalah Musnad li al-syafi'i; al-Hujjah; al-Mabsuth, al-Risalah,
dan al-Umm.
32

Data Sekunder, yaitu literatur lainnya yang relevan dengan judul di atas.
Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data menggunakan teknik library research
(penelitian kepustakaan). Pemilihan kepustakaan dilakukan secermat
mungkin dengan mempertimbangkan otoritas pengarangnya terhadap
bidang yang dikaji.
Teknik Analisis Data
Dalam menganalisis data,
33
peneliti menggunakan analisis data
kualitatif, yaitu data yang tidak bisa diukur atau dinilai dengan angka secara
langsung.
34
Dalam hal ini hendak diuraikan pemikiran Al-Syafi'i tentang

30
Ali Fikri, Ahsan al-Qashash, Terj. Abd.Aziz MR: "Kisah-Kisah Para Imam
Madzhab", Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2003, hlm. 109-110
31
Siradjuddin Abbas, Sejarah dan Keagungan Madzhab Syafi’i, Jakarta: Pustaka
Tarbiyah, 2004, hlm. 182-186.
32
Jaih Mubarok, Modifikasi Hukum Islam, Studi tentang Qaul Qadim dan Qaul
Jadid, Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2002, hlm. 44
33
Menurut Moh. Nazir, Analisa adalah mengelompokkan, membuat suatu urutan,
memanipulasi serta menyingkatkan data sehingga mudah untuk dibaca. Moh. Nazir. Metode
Penelitian, Cet. 4, Jakarta: Ghalia Indonesia,1999, hlm, 419.
34
Tatang M. Amirin, Menyusun Rencana Penelitian, Cet. 3. Jakarta: PT. Raja
grafindo persada, 1995, hlm. 134. Bandingkan dengan Lexy J. Moleong, Metode Penelitian
19
makna ahli kitab dalam perkawinan antar agama
E. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan skripsi ini terdiri dari lima bab yang masing-
masing menampakkan titik berat yang berbeda, namun dalam satu kesatuan
yang saling mendukung dan melengkapi.
Bab pertama berisi pendahuluan, merupakan gambaran umum secara
global namun integral komprehensif dengan memuat: latar belakang masalah,
perumusan masalah, tujuan penelitian, telaah pustaka, metode penelitian dan
sistematika Penulisan. Dalam bab pertama ini di ketengahkan keseluruhan isi
isi skripsi secara global namun dalam satu kesatuan yang utuh dan jelas.
Bab kedua berisi tinjauan umum tentang perkawinan yang meliputi
pengertian nikah dan dasar hukumnya, syarat dan rukun nikah, akibat hukum
pernikahan, pendapat para ulama tentang perkawinan antar agama
Bab ketiga berisi pendapat Al-Syafi'i tentang perkawinan antar agama
yang meliputi biografi Al-Syafi'i, pendidikan dan karya-karyanya, pendapat
Al-Syafi'i tentang perkawinan antar agama, metode istinbath hukum Al-Syafi'i
Bab keempat berisi analisis pendapat Al-Syafi'i tentang perkawinan
antar agama yang meliputi: pendapat Al-Syafi'i tentang perkawinan antar
agama, metode istinbath hukum Al-Syafi'i tentang perkawinan antar agama.
Bab kelima merupakan penutup yang berisi kesimpulan, saran dan
penutup.

Kulitatif, Cet. 14, Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2001, hlm. 2. Koencaraningrat, Metode-
Metode Penelitian Masyarakat, Cet. 14, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1970, hlm.
269.
20
BAB II
TINJAUAN UMUM TENTANG PERKAWINAN

A. Pengertian Nikah dan Dasar Hukumnya
Perkawinan merupakan kebutuhan fitri setiap manusia yang
memberikan banyak hasil yang penting.
35
Perkawinan amat penting dalam
kehidupan manusia, perseorangan maupun kelompok. Dengan jalan
perkawinan yang sah, pergaulan laki-laki dan perempuan terjadi secara
terhormat sesuai kedudukan manusia sebagai makhluk yang berkehormatan.
Pergaulan hidup berumah tangga dibina dalam suasana damai, tenteram, dan
rasa kasih sayang antara suami dan istri. Anak keturunan dari hasil
perkawinan yang sah menghiasi kehidupan keluarga dan sekaligus merupakan
kelangsungan hidup manusia secara bersih dan berkehormatan.
36

Oleh karena itu, pada tempatnyalah apabila Islam mengatur masalah
perkawinan dengan amat teliti dan terperinci, untuk membawa umat manusia
hidup berkehormatan, sesuai kedudukannya yang amat mulia di tengah-tengah
makhluk Allah yang lain. Hubungan manusia laki-laki dan perempuan
ditentukan agar didasarkan atas rasa pengabdian kepada Allah sebagai Al
Khaliq (Tuhan Maha Pencipta) dan kebaktian kepada kemanusiaan guna
melangsungkan kehidupan jenisnya. Perkawinan dilaksanakan atas dasar
kerelaan pihak-pihak bersangkutan, yang dicerminkan dalam adanya
ketentuan peminangan sebelum kawin dan ijab-kabul dalam akad nikah yang
dipersaksikan pula di hadapan masyarakat dalam suatu perhelatan (walimah).
Hak dan kewajiban suami istri timbal-balik diatur amat rapi dan tertib;
demikian pula hak dan kewajiban antara orang tua dan anak-anaknya. Apabila

35
Ibrahim Amini, Principles of Marriage Family Ethics, terj. Alwiyah Abdurrahman,
"Bimbingan Islam Untuk Kehidupan Suami Istri", Bandung: al-Bayan, 1999, hlm. 17.
36
Ahmad Azhar Basyir, Hukum Perkawinan Islam, Yogyakarta: UII Press, 2004,
hlm. 1.
21
terjadi perselisihan antara suami dan istri, diatur pula bagaimana cara
mengatasinya. Dituntunkan pula adat sopan santun pergaulan dalam keluarga
dengan sebaik-baiknya agar keserasian hidup tetap terpelihara dan terjamin.
Hukum perkawinan mempunyai kedudukan amat penting dalam Islam
sebab hukum perkawinan mengatur tata-cara kehidupan keluarga yang
merupakan inti kehidupan masyarakat sejalan dengan kedudukan manusia
sebagai makhluk yang berkehormatan melebihi makhluk-makhluk lainnya.
Hukum perkawinan merupakan bagian dari ajaran agama Islam yang wajib
ditaati dan dilaksanakan sesuai ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam Al-
qur’an dan Sunah Rasul.
37

Kata kawin menurut bahasa sama dengan kata nikah, atau kata, zawaj.
Dalam Kamus al-Munawwir, kata nikah disebut dengan an-nikh ( ) ح'´-'ا dan
az-ziwaj/az-zawj atau az-zijah جاو·'ا - جاو·'ا - ª=-·'ا ( ). Secara harfiah, an-
nikh berarti al- wath'u (ءط·'ا ), adh-dhammu ( »-'ا ) dan al-jam'u ( ·-='ا ).
Al-wath'u berasal dari kata wathi'a - yatha'u - wath'an '=و - '=- - '=و ( ),
artinya berjalan di atas, melalui, memijak, menginjak, memasuki, menaiki,
menggauli dan bersetubuh atau bersenggama.
38
Adh-dhammu, yang terambil
dari akar kata dhamma - yadhummu – dhamman ( »- - »-- - '-- ) secara
harfiah berarti mengumpulkan, memegang, menggenggam, menyatukan,
menggabungkan, menyandarkan, merangkul, memeluk dan menjumlahkan.
Juga berarti bersikap lunak dan ramah.
39

Sedangkan al-jam 'u yang berasal dari akar kata jama’a - yajma'u -
jam'an ·-= - ·-=- - '·-= ( ) berarti: mengumpulkan, menghimpun,
menyatukan, menggabungkan, menjumlahkan dan menyusun. Itulah sebabnya
mengapa bersetubuh atau bersenggama dalam istilah fiqih disebut dengan al-

37
Ibid., hlm. 1-2.
38
Ahmad Warson Al-Munawwir, Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap,
Yogyakarta: Pustaka Progressif, 1997, hlm. 1461.
39
Muhammad Amin Suma, Hukum Keluarga Islam di Dunia Islam, Jakarta: PT.Raja
Grafindo Persada, 2004, hlm.42-43
22
jima' mengingat persetubuhan secara langsung mengisyaratkan semua
aktivitas yang terkandung dalam makna-makna harfiah dari kata al-jam'u.
40

Sebutan lain buat perkawinan (pernikahan) ialah az-zawaj/az-ziwaj dan
az-zijah. Terambil dari akar kata zaja-yazuju-zaujan جاز - جو·- - '=وز ( ) yang
secara harfiah berarti: menghasut, menaburkan benih perselisihan dan
mengadu domba. Namun yang dimaksud dengan az-zawaj/az-ziwaj di sini
ialah at-tazwij yang mulanya terambil dari kata zawwaja- yuzawwiju-
tazwijan ) جّ وز - جّ و·- - =-و·- ' ( dalam bentuk timbangan "fa'ala-yufa'ilu-
taf'ilan" ) .ّ ·· - .ّ ·-- - `-·-- ( yang secara harfiah berarti mengawinkan,
mencampuri, menemani, mempergauli, menyertai dan memperistri.
41

Syeikh Zainuddin Ibn Abd Aziz al-Malibary dalam kitabnya
mengupas tentang pernikahan dan tentang wali. Pengarang kitab tersebut
menyatakan nikah adalah suatu akad yang berisi pembolehan melakukan
persetubuhan dengan menggunakan lafadz menikahkan atau mengawinkan.
Kata nikah itu sendiri secara hakiki bermakna persetubuhan.
42

Kitab Fath al-Qarib yang disusun oleh Syekh Muhammad bin Qasim
al-Ghazzi menerangkan pula tentang masalah hukum-hukum pernikahan di
antaranya dijelaskan kata nikah diucapkan menurut makna bahasanya yaitu
kumpul, wati, jimak dan akad. Dan diucapkan menurut pengertian syara’ yaitu
suatu akad yang mengandung beberapa rukun dan syarat.
43


40
Ibid, hlm. 43.
41
Ibid, hlm. 43-44.
42
Syaikh Zainuddin Ibn Abd Aziz al-Malibary, Fath al- Mu’in Bi Sarkh Qurrah al-
‘Uyun, Semarang: Maktabah wa Matbaah, karya Toha Putera , tth, hlm. 72.
43
Syekh Muhammad bin Qasim al-Ghazzi, Fath al-Qarib, Indonesia: Maktabah al-
lhya at-Kutub al-Arabiah, tth, hlm. 48.
23
Menurut Zakiah Daradjat, perkawinan adalah suatu aqad atau perikatan untuk
menghalalkan hubungan kelamin antara laki-laki dan perempuan dalam
rangka mewujudkan kebahagiaan hidup berkeluarga yang diliputi rasa
ketenteraman serta kasih sayang dengan cara yang diridhai Allah SWT.
44

Menurut Zahry Hamid, yang dinamakan nikah menurut Syara' ialah: "Akad
(ijab qabul) antara wali colon isteri dan mempelai laki-laki dengan ucapan-
ucapan tertentu dan memenuhi rukun dan syaratnya.
45

Dari segi pengertian ini maka jika dikatakan: "Si A belum pernah nikah atau
belum pernah kawin", artinya bahwa si A belum pernah mengkabulkan untuk
dirinya terhadap ijab akad nikah yang memenuhi rukun dan syaratnya. Jika
dikatakan: "Anak itu lahir diluar kawin", artinya bahwa anak tersebut
dilahirkan oleh seorang wanita yang tidak berada dalam atau terikat oleh
ikatan perkawinan berdasarkan akad nikah yang sah menurut hukum.
Menurut Hukum Islam, pernikahan atau perkawinan ialah: "Suatu ikatan lahir
batin antara seorang laki-laki dan seorang perempuan untuk hidup bersama
dalam suatu rumah tangga dan untuk berketurunan, yang dilaksanakan
menurut ketentuan-ketentuan Hukum Syari'at Islam".
46

Dalam pasal 1 Bab I Undang-undang No. : 1 tahun 1974 tanggal 2 Januari
1974 dinyatakan; "Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria
dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk
keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan
Yang Maha Esa".
47


44
Zakiah Daradjat, Ilmu Fiqh, jilid 2, Yogyakarta: Dana Bhakti Wakaf, 1995, hlm.
38.
45
Zahry Hamid, Pokok-Pokok Hukum Perkawinan Islam dan Undang-Undang
Perkawinan di Indonesia, Yogyakarta: Bina Cipta, 1978, hlm. 1. beberapa definisi perkawinan
dapat dilihat pula dalam Moh. Idris Ramulyo, Hukum Perkawinan Islam, Suatu Analisis dari
Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam, Jakarta: Bumi Aksara,
2002, hlm. 1-4.
46
Ibid.
47
Muhammad Amin Suma, op. cit, hlm. 203. Dalam pasal 2 Kompilasi Hukum Islam
(INPRES No 1 Tahun 1991), perkawinan miitsaaqan ghalizhan menurut hukum Islam adalah
pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat atau ghalizhan untuk mentaati perintah Allah dan
melaksanakannya merupakan ibadah. Lihat Saekan dan Erniati Effendi, Sejarah Penyusunan
Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, Surabaya: Arkola, 1977, hlm. 76.
24
Di antara pengertian-pengertian tersebut tidak terdapat pertentangan satu sama
lain, bahkan jiwanya adalah sama dan seirama, karena pada hakikatnya
Syari'at Islam itu bersumber kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa. Hukum
Perkawinan merupakan bahagian dari Hukum Islam yang, memuat ketentuan-
ketentuan tentang hal ihwal perkawinan, yakni bagaimana proses dan prosedur
menuju terbentuknya ikatan perkawinan, bagaimana cara menyelenggarakan
akad perkawinan menurut hukum, bagaimana cara memelihara ikatan lahir
batin yang telah diikrarkan dalam akad perkawinan sebagai akibat yuridis dari
adanya akad itu, bagaimana cara mengatasi krisis rumah tangga yang
mengancam ikatan lahir batin antara suami isteri, bagaimana proses dan
prosedur berakhirnya ikatan perkawinan, serta akibat yuridis dari berakhirnya
perkawinan, baik yang menyangkut hubungan hukum antara bekas suami dan
isteri, anak-anak mereka dan harta mereka. Istilah yang lazim dikenal di
kalangan para ahli hukum Islam atau Fuqaha ialah Fiqih Munakahat atau
Hukum Pernikahan Islam atau Hukum Perkawinan Islam.
Masing-masing orang yang akan melaksanakan perkawinan, hendaklah
memperhatikan inti sari dari sabda Rasulullah SAW. yang menggariskan,
bahwa semua amal perbuatan itu disandarkan atas niat dari yang beramal itu,
dan bahwa setiap orang akan memperoleh hasil dari apa yang diniatkannya.
Oleh karenanya maka orang yang akan melangsungkan akad perkawinan
hendaklah mengetahui benar-benar maksud dan tujuan perkawinan. Maksud
dan tujuan itu adalah sebagai berikut:
a. Mentaati perintah Allah SWT. dan mengikuti jejak para Nabi dan Rasul,
terutama meneladani Sunnah Rasulullah Muhammad SAW., karena hidup
beristri, berumah tangga dan berkeluarga adalah termasuk 'Sunnah beliau. ,
b. Memelihara pandangan mata, menenteramkan jiwa, memelihara nafsu
seksualita, menenangkan fikiran, membina kasih sayang serta menjaga
kehormatan dan memelihara kepribadian.
25
c. Melaksanakan pembangunan materiil dan spirituil dalam kehidupan
keluarga dan rumah tangga sebagai sarana terwujudnya keluarga sejahtera
dalam rangka pembangunan masyarakat dan bangsa.
d. Memelihara dan membina kwalitas dan kwantitas keturunan untuk
mewujudkan kelestarian kehidupan keluarga di sepanjang masa dalam
rangka pembinaan mental spirituil dan phisik materiil yang diridlai Allah
Tuhan Yang Maha Esa.
Mempererat dan memperkokoh tali kekeluargaan antara keluarga suami dan
keluarga istri sebagai sarana terwujudnya kehidupan masyarakat yang aman
dan sejahtera lahir batin di bawah naungan Rahmat Allah Subhanahu wa
Ta'ala.
48

Adapun dasar hukum melaksanakan akad perkawinan sebagai berikut:
Pada dasarnya perkawinan merupakan suatu hal yang diperintahkan dan
dianjurkan oleh Syara'. Beberapa firman Allah yang bertalian dengan
disyari'atkannya perkawinan ialah:
1) Firman Allah ayat 3 Surah 4 (An-Nisa'):
ﺀﺎ ﺴ` ﻨﻟﺍ ﻦ` ﻣ ﻢﹸ ﻜﹶ ﻟ ﺏﺎﹶ ﻃ ﺎ ﻣ ﹾ ﺍﻮ` ﺤ ﻜﻧﺎﹶ ﻓ ﻰ ﻣﺎ ﺘ ﻴﹾ ﻟﺍ ﻲ ﻓ ﹾ ﺍﻮﹸ ﻄِ ﺴﹾ ﻘ` ﺗ ﱠ ﻻﹶ ﺃ ` ﻢ` ﺘﹾ ﻔ ﺧ ﹾ ﻥﹺ ﺇ ﻭ
ﹰ ﺓ ﺪ ﺣﺍ ﻮﹶ ﻓ ﹾ ﺍﻮﹸ ﻟ ﺪ` ﻌ ﺗ ﱠ ﻻﹶ ﺃ ` ﻢ` ﺘﹾ ﻔ ﺧ ﹾ ﻥﹺ ﺈﹶ ﻓ ﻉﺎ ﺑ`ﺭ ﻭ ﹶ ﺙﹶ ﻼﹸ ﺛ ﻭ ﻰ ﻨﹾ ﺜ ﻣ .. .ْ , ﺀﺎﺴﻨﻟﺍ · 3 .
49

Artinya:Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-
hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya),
maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga
atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan berlaku adil,
maka (kawinlah) seorang saja (Q.S.An-Nisa': 3).


48
Zahry Hamid, op. cit, hlm. 2.
49
Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an, Al-Qur’an dan
Terjemahnya, Jakarta: Depag RI, 1986, hlm. 115.
26
2) Firman Allah ayat 32 Surah 24 (An-Nur): .
ﺍﻮ` ﻧﻮﹸ ﻜ ﻳ ﻥﹺ ﺇ ` ﻢﹸ ﻜ ﺋﺎ ﻣﹺ ﺇ ﻭ ` ﻢﹸ ﻛ ﺩﺎ ﺒ ﻋ ` ﻦ ﻣ ﲔ ﺤﻟﺎ` ﺼﻟﺍ ﻭ ` ﻢﹸ ﻜﻨ ﻣ ﻰ ﻣﺎ ﻳﹶ ﺄﹾ ﻟﺍ ﺍﻮ` ﺤ ﻜﻧﹶ ﺃ ﻭ
` ﻢﻴ ﻠ ﻋ ` ﻊ ﺳﺍ ﻭ ` ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ﻭ ﻪ ﻠ` ﻀﹶ ﻓ ﻦ ﻣ ` ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ` ﻢﹺ ﻬﹺﻨ` ﻐ` ﻳ ﺀﺍ ﺮﹶ ﻘﹸ ﻓ , ﺭﻮﻨﻟﺍ · 32 .
50

Artinya: Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan
orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu
yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan
mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas pemberian-Nya
lagi Maha Mengetahui (Q.S.An-Nuur': 32)..
.
3) Firman Allah ayat 21 Surah 30 (Ar-Rum):
ﻣ ﻭ ﹶ ﻞ ﻌ ﺟ ﻭ ﺎ ﻬ` ﻴﹶ ﻟﹺ ﺇ ﺍﻮ` ﻨﹸ ﻜ` ﺴ ﺘﱢ ﻟ ﹰ ﺎﺟﺍ ﻭ` ﺯﹶ ﺃ ` ﻢﹸ ﻜِ ﺴﹸﻔﻧﹶ ﺃ ` ﻦ` ﻣ ﻢﹸ ﻜﹶ ﻟ ﻖﹶ ﻠ ﺧ ﹾ ﻥﹶ ﺃ ﻪ ﺗﺎ ﻳﺁ ` ﻦ
ﹶ ﻥﻭ` ﺮﱠ ﻜﹶ ﻔ ﺘ ﻳ ﹴ ﻡ` ﻮﹶ ﻘﱢ ﻟ ﺕﺎ ﻳﺂﹶ ﻟ ﻚ ﻟﹶ ﺫ ﻲ ﻓ ﱠ ﻥﹺ ﺇ ﹰ ﺔ ﻤ` ﺣ ﺭ ﻭ ﹰ ﺓ` ﺩ ﻮ` ﻣ ﻢﹸ ﻜ ﻨ` ﻴ ﺑ , ﻡﻭﺮﻟﺍ · 21 .
51

Artinya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan
untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung
dan merasa tenteram kepadanya, dari dijadikan di antaramu rasa
kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-
benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir (Q.S.Ar-
Rum: 21)

Beberapa hadis yang bertalian dengan disyari'atkannya perkawinan ialah:
ﺩﻮﻌﺴﻣ ﻦﺑﺍ ﻦﻋ ﻪﻨﻋ ﱃﺎﻌﺗ ﷲﺍ ﻲﺿﺭ – ﻝﺎﻗ · ﻰﹼ ﻠﺻ ﷲﺍ ﻝﻮﺳﺭ ﻝﺎﻗ
ﻢﹼ ﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﷲﺍ '· ﺝ` ﻭﺰﺘﻴﻠﻓ ﺓﺀﺎﺒﻟﺍ ﻢﻜﻨﻣ ﻉﺎﻄﺘﺳﺍ ﻦﻣ ﺏﺎﺒ` ﺸﻟﺍ ﺮﺸﻌﻣ ﺎﻳ
ﻪ` ﻧﺈﻓ ﻡﻮ` ﺼﻟﺎﺑ ﻪﻴﻠﻌﻓ ﻊﻄﺘﺴﻳ ﱂ ﻦﻣﻭ ﺮﺠﻔﻠﻟ ﻦﺼﺣﺃﻭ ﺮﺼﺒﻠﻟ ` ﺾﻏﺃ ﻪ` ﻧﺈﻓ
ﺀﺎﺟﻭ ﻪﻟ .' ﺔﻋﺎﻤﳉﺍ ﻩﺍﻭﺭ .


50
Ibid, hlm. 549.
51
Ibid, hlm. 644.
27
52

Artinya: Dari Ibnu Mas'ud ra. dia berkata: "Rasulullah saw. bersabda:
"Wahai golongan kaum muda, barangsiapa diantara kamu
telah mampu akan beban nikah, maka hendaklah dia
menikah, karena sesungguhnya menikah itu lebih dapat
memejamkan pandangan mata dan lebih dapat menjaga
kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu (menikah),
maka hendaklah dia (rajin) berpuasa, karena sesungguhnya
puasa itu menjadi penahan nafsu baginya". (HR. Al-
Jama'ah).

ﻝﺎﻗ ﺹﺎﹼ ﻗﻭ ﰊﺃ ﻦﺑ ﺪﻌﺳ ﻦﻋﻭ ' · ﻰﻠﻋ ﻢﹼ ﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﷲﺍ ﻰﹼ ﻠﺻ ﷲﺍ ﻝﻮﺳﺭ ` ﺩﺭ
ﺎﻨﻴﺼﺘﺧﻻ ﻪﻟ ﻥﺫﺃ ﻮﻟﻭ ﻞ` ﺘﺒ` ﺘﻟﺍ ﻥﻮﻌﻈﻣ ﻦﺑ ﻥﺎﻤﺜﻋ , ' ﻢﻠﺴﳌﺍﻭ ﻱﺭﺎﺨﺒﻟﺍ ﻩﺍﻭﺭ .
53

Artinya: Dari Sa’ad bin Abu Waqqash, dia berkata: “Rasulullah saw.
pernah melarang Utsman bin mazh'un membujang. Dan
kalau sekiranya Rasulullah saw. mengizinkan, niscaya kami
akan mengebiri". (HR. Al Bukhari dan Muslim).

` ﻨﻟﺍ ﺏﺎﺤﺻﺃ ﻦﻣ ﺍﺮﻔﻧ ﹼ ﻥﺃ ﺲﻧﺃ ﻦﻋﻭ ﻢﻬﻀﻌﺑ ﻝﺎﻗ ﻢﹼ ﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﷲﺍ ﻰﹼ ﻠﺻ ` ﱯ ·
ﺝ` ﻭﺰﺗﺃ ﻻ , ﻢﻬﻀﻌﺑ ﻝﺎﻗﻭ · ﻡﺎﻧﺃ ﻻﻭ ﻲﹼ ﻠﺻﺃ , ﻢﻬﻀﻌﺑ ﻝﺎﻗﻭ · ﻡﻮﺻﺃ
ﺮﻄﻓﺃﻻﻭ , ﻰﹼ ﻠﺻ ` ﱯ` ﻨﻟﺍ ﻚﻟﺫ ﻎﻠﺒﻓ ﻝﺎﻘﻓ ﻢﹼ ﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﷲﺍ '· ﺍﻮﻟﺎﻗ ﻡﺍﻮﻗﺃ ﻝﺎﺑ ﺎﻣ
ﻡﻮﺻﺃ ﻲ` ﻨﻜﻟ ﺍﺬﻛﻭ ﺍﺬﻛ ﺮﻄﻓﺃﻭ , ﻡﺎﻧﺃﻭ ﻲﹼ ﻠﺻﺃﻭ , ﻦﻤﻓ ﺀﺎﺴ` ﻨﻟﺍ ﺝ` ﻭﺰﺗﺃﻭ
ﻲ` ﻨﻣ ﺲﻴﻠﻓ ﻲ` ﺘﻨﺳ ﻦﻋ ﺐﻏﺭ .' ﺎﻤﻬﻴﻠﻋ ﻖﻔﺘﻣ .
54

Artinya: Dari Anas: "Sesungguhnya beberapa orang dari sahabat Nabi
saw. sebagian dari mereka ada yang mengatakan: "Aku tidak
akan menikah". Sebagian dari mereka lagi mengatakan:
"Aku akan selalu bersembahyang dan tidak tidur". Dan

52
Muhammad Asy Syaukani, Nail al–Autar, Beirut: Daar al-Qutub al-Arabia, juz 4,
1973, hlm. 171.
53
Ibid, hlm. 171
54
Ibid, hlm. 171
28
sebagian dari mereka juga ada yang mengatakan: "Aku akan
selalu berpuasa dan tidak akan berbuka". Ketika hal itu
didengar oleh Nabi saw. beliau bersabda: "Apa maunya
orang-orang itu, mereka bilang begini dan begitu?. Padahal
disamping berpuasa aku juga berbuka. Disamping
sembahyang aku juga tidur. Dan aku juga menikah dengan
wanita. Barangsiapa yang tidak suka akan sunnahku, maka
dia bukan termasuk dari (golongan) ku".(HR. Al Bukhari
dan Muslim)

ﻝﺎﻗ ﲑﺒﺟ ﻦﺑ ﺪﻴﻌﺳ ﻦﻋﻭ · ﺱﺎ` ﺒﻋ ﻦﺑﺍ ﱄ ﻝﺎﻗ · ﺖﻠﻗ ؟ﺖﺟ` ﻭﺰﺗ ﻞﻫ ·
ﻻ , ﻝﺎﻗ · ﺀﺎﺴﻧ ﺎﻫﺮﺜﻛﺃ ﺔ` ﻣﻷﺍ ﻩﺬﻫ ﲑﺧ ﹼ ﻥﺎﻓ ﺝ` ﻭﺰﺗ ,. ﺪﲪﺃ ﻩﺍﻭﺭ
` ﻱﺭﺎﺨﺒﻟﺍﻭ .
55

Artinya: Dari Sa'id bin Jubair, dia berkata: "Ibnu Abbas pernah
bertanya kepadaku: "Apakah kamu telah menikah?". Aku
menjawab: "Belum". Ibnu Abbas berkata: "Menikahlah,
karena sesungguhnya sebaik-baiknya ummat ini adalah yang
paling banyak kaum wanitanya". (HR. Ahmad dan Al-
Bukhari).

ﺓﺮﲰ ﻦﻋ ﻦﺴﳊﺍ ﻦﻋ ﺓﺩﺎﺘﻗ ﻦﻋﻭ ' · ` ﻨﻟﺍ ﹼ ﻥﺃ ﻢﹼ ﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﷲﺍ ﻰﹼ ﻠﺻ ` ﱯ
ﻞ` ﺘﺒ` ﺘﻟﺍ ﻦﻋ ﻰ· ' , ﺓﺩﺎﺘﻗ ﺃﺮﻗﻭ , · ﺎ ﻨﹾ ﻠ ﻌ ﺟ ﻭ ﻚ ﻠ` ﺒﹶ ﻗ ﻦ` ﻣ ﹰ ﻼ` ﺳ` ﺭ ﺎ ﻨﹾ ﻠ ﺳ` ﺭﹶ ﺃ ` ﺪﹶ ﻘﹶ ﻟ ﻭ
ﹰ ﺔ` ﻳ` ﺭﹸ ﺫ ﻭ ﹰ ﺎﺟﺍ ﻭ` ﺯﹶ ﺃ ` ﻢ` ﻬﹶ ﻟ , . ﺪﻋﺮﻟﺍ · 38 , .. ﻪﺟﺎﻣ ﻦﺑﺍﻭ ` ﻱﺬﻣﺮﺘﻟﺍ ﻩﺍﻭﺭ ..
56

Artinya: dari Qatadah dari Al Hasan dari Samurah: "Sesungguhnya
Nabi saw. melarang membujang. Selanjutnya Qatadah
membaca (ayat): "Dan sesungguhnya kami telah mengutus
beberapa orang Rasul sebelum kamu dan kami berikan

55
Ibid
56
Ibid. Lihat juga TM.Hasbi ash Shiddieqy, Koleksi Hadis-Hadis Hukum, Semarang:
PT.Pustaka Rizki Putra, jilid 8, 2001, hlm. 3-8. TM.Hasbi Ash Shiddieqy, Mutiara Hadis, jilid
5, Semarang; PT.Pustaka Rizki Putra, 2003, hlm. 3-8
29
kepada mereka beberapa istri dan anak cucu". (HR. Tirmidzi
dan Ibnu Majah).

Menurut At Tirmidzi, hadis Samurah tersebut adalah hadis Hasan yang
gharib (aneh). Al Asy'ats bin Abdul Mulk meriwayatkan hadis ini dari Hasan
dari Sa'ad bin Hisyam dari Aisyah dan ia dari Nabi saw. Dikatakan bahwa
kedua hadis tersebut adalah shaheh.
Hadis senada diketengahkan oleh Ad Darimi dalam Musnad Al Firdaus dari
Ibnu Umar, dia mengatakan: "Rasulullah saw. bersabda: "Berhajilah nanti
kamu akan kaya. Bepergianlah nanti kamu akan sehat. Dan menikahlah nanti
kamu akan banyak. Sesungguhnya aku akan dapat membanggakan kamu
dihadapan umat-umat lain". Dalam isnad hadis tersebut terdapat nama
Muhammad bin Al Hants dari Muhammad bin Abdurrahman Al Bailamni,
keduanya adalah perawi yang sama-sama lemah.
Hadis senada juga diketengahkan oleh Al Baihaqi dari Abu Umamah
dengan redaksi: "Menikahlah kamu, karena sesungguhnya aku akan
membanggakan kalian dihadapan ummat-ummat lain. Dan janganlah kalian
seperti para pendeta kaum Nasrani". Namun dalam sanadnya terdapat nama-
nama Muhammad bin Tsabit, seorang perawi yang lemah.
Hadis senada lagi diriwayatkan oleh Daraquthni dalam Al Mu'talaf
dari Harmalah bin Nu'man dengan redaksi: "Wanita yang produktif anak itu
lebih disukai oleh Allah ketimbang wanita cantik namun tidak beranak.
Sesungguhnya aku akan membanggakan kalian di hadapan ummat-ummat lain
30
pada hari kiamat kelak". Namun menurut Al Hafizh Ibnu Hajar, sanad hadis
ini lemah.
Para Fukaha berbeda pendapat tentang status hukum asal dari
perkawinan. Menurut pendapat yang terbanyak dari fuqaha madzhab Syafi'i,
hukum nikah adalah mubah (boleh), menurut madzhab Hanafi, Maliki, dan
Hambali hukum nikah adalah sunnat, sedangkan menurut madzhab Dhahiry
dan Ibn. Hazm hukum nikah adalah wajib dilakukan sekali seumur hidup.
57

Adapun Hukum melaksanakan pernikahan jika dihubungkan dengan kondisi
seseorang serta niat dan akibat-akibatnya, maka tidak terdapat perselisihan di
antara para ulama, bahwa hukumnya ada beberapa macam, yaitu:
58

Perkawinan hukumnya wajib bagi orang yang telah mempunyai keinginan
kuat untuk kawin dan telah mempunyai kemampuan untuk melaksanakan dan
memikul beban kewajiban dalam hidup perkawinan serta ada kekhawatiran,
apabila tidak kawin, ia akan mudah tergelincir untuk berbuat zina.
Alasan ketentuan tersebut adalah sebagai berikut. Menjaga diri dari
perbuatan zina adalah wajib. Apabila bagi seseorang tertentu penjagaan diri
itu hanya akan terjamin dengan jalan kawin, bagi orang itu, melakukan
perkawinan hukumnya adalah wajib. Qa'idah fiqhiyah mengatakan, "Sesuatu
yang mutlak diperlukan untuk menjalankan suatu kewajiban, hukumnya
adalah wajib"; atau dengan kata lain, "Apabila suatu kewajiban tidak akan
terpenuhi tanpa adanya suatu hal, hal itu wajib pula hukumnya." Penerapan

57
Zahry Hamid, op, cit., hlm. 3-4.
58
Ahmad Azhar Basyir, op. cit, hlm. 14-16
31
kaidah tersebut dalam masalah perkawinan adalah apabila seseorang hanya
dapat menjaga diri dari perbuatan zina dengan jalan perkawinan, baginya
perkawinan itu wajib hukumnya.
Perkawinan hukumnya sunah bagi orang yang telah berkeinginan kuat untuk
kawin dan telah mempunyai kemampuan untuk melaksanakan dan memikul
kewajiban-kewajiban dalam perkawinan, tetapi apabila tidak kawin juga tidak
ada kekhawatiran akan berbuat zina.
Alasan hukum sunah ini diperoleh dari ayat-ayat Al-qur’an dan hadis-
hadis Nabi sebagaimana telah disebutkan dalam hal Islam menganjurkan
perkawinan di atas. Kebanyakan ulama berpendapat bahwa beralasan ayat-
ayat Al-qur’an dan hadis-hadis Nabi itu, hukum dasar perkawinan adalah
sunah. Ulama mazhab Syafi’i berpendapat bahwa hukum asal perkawinan
adalah mubah. Ulama-ulama mazhab Dhahiri berpendapat bahwa perkawinan
wajib dilakukan bagi orang yang telah mampu tanpa dikaitkan adanya
kekhawatiran akan berbuat zina apabila tidak kawin.
59

Perkawinan hukumnya haram bagi orang yang belum berkeinginan
serta tidak mempunyai kemampuan untuk melaksanakan dan memikul
kewajiban-kewajiban hidup perkawinan sehingga apabila kawin juga akan
berakibat menyusahkan istrinya. Hadis Nabi mengajarkan agar orang jangan
sampai berbuat yang berakibat menyusahkan diri sendiri dan orang lain.
Al-Qurthubi dalam kitabnya Jami li Ahkam al-Qur’an (Tafsir al-
Qurthubi) berpendapat bahwa apabila calon suami menyadari tidak akan

59
Ibid, hlm. 14.
32
mampu memenuhi kewajiban nafkah dan membayar mahar (maskawin) untuk
istrinya, atau kewajiban lain yang menjadi hak istri, tidak halal mengawini
seseorang kecuali apabila ia menjelaskan peri keadaannya itu kepada calon
istri; atau ia bersabar sampai merasa akan dapat memenuhi hak-hak istrinya,
barulah ia boleh melakukan perkawinan. Lebih lanjut Al-Qurthubi dalam
kitabnya Jami li Ahkam al-Qur’an mengatakan juga bahwa orang yang
mengetahui pada dirinya terdapat penyakit yang dapat menghalangi
kemungkinan melakukan hubungan dengan calon istri hams memberi
keterangan kepada calon istri agar pihak istri tidak akan merasa tertipu. Apa
yang dikatakan Al-Qurthubi itu amat penting artinya bagi sukses atau
gagalnya hidup perkawinan. Dalam bentuk apa pun, penipuan itu harus
dihindari. Bukan saja cacat atau penyakit yang dialami calon suami, tetapi
juga nasab keturunan. kekayaan. kedudukan, dan pekerjaan jangan sampai
tidak dijelaskan agar tidak berakibat pihak istri merasa tertipu.
60

Hal yang disebutkan mengenai calon suami itu berlaku juga bagi calon
isteri. Calon istri yang tahu bahwa ia tidak akan dapat memenuhi
kewajibannya terhadap suami, karena adanya kelainan atau penyakit, harus
memberikan keterangan kepada calon suami agar jangan sampai terjadi pihak
suami merasa tertipu. Bila ia mencoba menutupi cacad yang ada pada dirinya,
maka suatu hari masalah ini akan berkembang dengan pertengkaran dan
penyesalan.

60
Al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an (Tafsir al-Qurthubi), Beirut: Dar al-
Ma’rifah, Juz 1, t.th, hlm. 265
33
Bahkan kekurangan-kekurangan yang terdapat pada diri calon istri, yang
apabila diketahui oleh pihak colon suami, mungkin akan mempengaruhi
maksudnya untuk mengawini, misalnya giginya palsu sepenuhnya, rambutnya
habis yang tidak mungkin akan tumbuh lagi hingga terpaksa memakai rambut
palsu atau wig dan sebagainya, harus dijelaskan kepada colon suami untuk
menghindari jangan sampai akhirnya pihak suami merasa tertipu.
Perkawinan hukumnya makruh bagi seorang yang mampu dalam segi
materiil, cukup mempunyai daya tahan mental dan agama hingga tidak
khawatir akan terseret dalam perbuatan zina, tetapi mempunyai kekhawatiran
tidak dapat memenuhi kewajiban-kewajibannya terhadap istrinya, meskipun
tidak akan berakibat menyusahkan pihak istri; misalnya, calon istri tergolong
orang kaya atau calon suami belum mempunyai keinginan untuk kawin.
Imam Ghazali berpendapat bahwa apabila suatu perkawinan dikhawatirkan
akan berakibat mengurangi semangat beribadah kepada Allah dan semangat
bekerja dalam bidang ilmiah, hukumnya lebih makruh daripada yang telah
disebutkan di atas.
61

Perkawinan hukumnya mubah bagi orang yang mempunyai harta,
tetapi apabila tidak kawin tidak merasa khawatir akan berbuat zina dan
andaikata kawin pun tidak merasa khawatir akan menyia-nyiakan
kewajibannya terhadap istri. Perkawinan dilakukan sekedar untuk memenuhi

61
Ahmad Azhar Basyir, op. cit, hlm. 16
34
syahwat dan kesenangan bukan dengan tujuan membina keluarga dan menjaga
keselamatan hidup beragama.
62

B. Syarat dan Rukun Nikah
Menurut UU No 1/1974 Tentang Perkawinan Bab: 1 pasal 2 ayat 1
dinyatakan, bahwa perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum
masing-masing agamanya dan kepercayaannya.
63

Bagi ummat Islam, perkawinan itu sah apabila dilakukan menurut Hukum
Perkawinan Islam, Suatu Akad Perkawinan dipandang sah apabila telah
memenuhi segala rukun dan syaratnya sehingga keadaan akad itu diakui oleh
Hukum Syara'.
Rukun Akad Perkawinan ada lima, yaitu:
1. Calon suami, syarat-syaratnya:
a. Beragama Islam.
b. Jelas ia laki-laki.
c. Tertentu orangnya.
d. Tidak sedang berihram haji/umrah.
e. Tidak mempunyai isteri empat, termasuk isteri yang masih dalam
menjalani iddah thalak raj'iy. ,

62
Ibid, hlm. 16.
63
Arso Sosroatmodjo dan A.Wasit Aulawi, Hukum Perkawinan di Indonesia, Jakarta;
Bulan Bintang, 1975, hlm. 80
35
f. Tidak mempunyai isteri yang haram dimadu dengan mempelai
perempuan, termasuk isteri yang masih dalam menjalani iddah thalak
raj'iy.
g. Tidak dipaksa.
h. Bukan Mahram calon isteri.
2. Calon Isteri, syarat-syaratnya:
a. Beragama Islam, atau Ahli Kitab.
b. Jelas ia perempuan.
c. Tertentu orangnya.
d. Tidak sedang berihram haji/umrah.
e. Belum pernah disumpah li'an oleh calon suami.
f. Tidak bersuami, atau tidak sedang menjalani iddah .dari lelaki lain.
g. Telah memberi idzin atau menunjukkan kerelaan kepada wali untuk
menikahkannya.
h. Bukan Mahram calon suami.
3. Wali. Syarat-syaratnya:
a. Beragama Islam jika calon isteri beragama Islam.
b. Jelas ia laki-laki.
c. Sudah baligh (telah dewasa).
d. Berakal (tidak gila).
e. Tidak sedang berihram Haji/Umrah.
f. Tidak mahjur bissafah (dicabut hak kewajibannya).
g. Tidak dipaksa.
36
h. Tidak rusak fikirannya sebab terlalu tua atau sebab lainnya.
i. Tidak fasiq.
64

4. Dua orang saksi laki-laki. Syarat-syaratnya:
a. Beragama Islam.
b. Jelas ia laki-laki.
c. Sudah baligh (telah dewasa).
d. Berakal (tidak gila),:
e. Dapat menjaga harga diri (bermuru’ah)
f. Tidak fasiq.
g. Tidak pelupa.
h. Melihat (tidak buta atau tuna netra).
i. Mendengar (tidak tuli atau tuna rungu).
j. Dapat berbicara (tidak bisu atau tuna wicara).
k. Tidak ditentukan menjadi wali nikah.
l. Memahami arti kalimat dalam ijab qabul.
5. Ijab dan Qabul.
Ijab akad perkawinan ialah: "Serangkaian kata yang diucapkan oleh wali nikah
atau wakilnya dalam akad nikah, untuk menerimakan nikah calon suami atau
wakilnya".
Syarat-syarat ijab akad nikah ialah:

64
Zahry Hamid, op. cit, hlm. 24-28. Tentang syarat dan rukun perkawinan dapat
dilihat juga dalam Ahmad Rofiq, Hukum Islam di Indonesia, Jakarta: PT.Raja Grafindo
Persada, 1977, hlm. 71.
37
a. Dengan kata-kata tertentu dan tegas, yaitu diambil dari "nikah" atau
"tazwij" atau terjemahannya, misalnya: "Saya nikahkan Fulanah, atau saya
kawinkan Fulanah, atau saya perjodohkan - Fulanah"
b. Diucapkan oleh wali atau wakilnya.
c. Tidak dibatasi dengan waktu tertentu, misalnya satu bulan, satu tahun dan
sebagainya.
d. Tidak dengan kata-kata sindiran, termasuk sindiran ialah tulisan yang tidak
diucapkan.
65

e. Tidak digantungkan dengan sesuatu hal, misalnya: "Kalau anakku.
Fatimah telah lulus sarjana muda maka saya menikahkan Fatimah dengan
engkau Ali dengan maskawin seribu rupiah".
f. Ijab harus didengar oleh pihak-pihak yang bersangkutan, baik yang
berakad maupun saksi-saksinya. Ijab tidak boleh dengan bisik-bisik
sehingga tidak terdengar oleh orang lain. Qabul akad perkawinan ialah:
"Serangkaian kata yang diucapkan oleh calon suami atau wakilnya dalam
akad nikah, untuk menerima nikah yang disampaikan oleh wali nikah atau
wakilnya.
Syarat-syarat Qabul akad nikah ialah:
a. Dengan kata-kata tertentu dan tegas, yaitu diambil dari kata "nikah" atau
"tazwij" atau terjemahannya, misalnya: "Saya terima nikahnya Fulanah".
b. Diucapkan oleh calon suami atau wakilnya.

65
Zahry Hamid, op. cit, hlm. 24-25. lihat pula Achmad Kuzari, Nikah Sebagai
Perikatan, Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 1995, hlm.34-40.
38
c. Tidak dibatasi dengan waktu tertentu, misalnya "Saya terima nikah si
Fulanah untuk masa satu bulan" dan sebagainya.
d. Tidak dengan kata-kata sindiran, termasuk sindiran ialah tulisan yang tidak
diucapkan.
e. Tidak digantungkan dengan sesuatu hal, misalnya "Kalau saya telah
diangkat menjadi pegawai negeri maka saya terima nikahnya si Fulanah".
f. Beruntun dengan ijab, artinya Qabul diucapkan segera setelah ijab
diucapkan, tidak boleh mendahuluinya, atau berjarak waktu, atau diselingi
perbuatan lain sehingga dipandang terpisah dari ijab.
g. Diucapkan dalam satu majelis dengan ijab.
h. Sesuai dengan ijab, artinya tidak bertentangan dengan ijab.
i. Qabul harus didengar oleh pihak-pihak yang bersangkutan, baik yang
berakad maupun saksi-saksinya. Qabul tidak boleh dengan bisik-bisik
sehingga tidak didengar oleh orang lain.
Contoh ijab qabul akad perkawinan
1). Wali mengijabkan dan mempelai laki-laki meng-qabulkan.
a. Ijab: “Ya Ali, ankahtuka Fatimata binti bimahri alfi rubiyatin halan".
Dalam bahasa Indonesia: "Hai Ali, aku nikahkan (kawinkan) Fatimah
anak perempuanku dengan engkau dengan maskawin seribu rupiah
secara tunai".
b. Qabul: "Qabiltu nikahaha bil mahril madzkurihalan". Dalam bahasa
Indonesia: "Saya terima nikahnya Fatimah anak perempuan saudara
dengan saya dengan maskawin tersebut secara tunai".
2). Wali mewakilkan ijabnya dan mempelai laki-laki meng-qabulkan.
39
a. Ijab: "Ya Ali, ankahtuka Fathimata binta Muhammadin muwakili
bimahri alfi rubiyatinhalan". Dalam bahasa Indonesia: "Hai Ali, aku
nikahkan (kawinkan) Fatimah anak perempuan Muhammad yang telah
mewakilkan kepada saya dengan engkau dengan maskawin seribu
rupiah secara tunai".
b. Qabul: "Qabiltu nikahaha bimahri alfi rubiyatinhalan". Dalam bahasa
Indonesia: "Saya terima nikahnya Fatimah anak perempuan
Muhammad dengan saya dengan maskawin seribu rupiah secara
tunai".
3). Wali mengijabkan dan mempelai laki-laki mewakilkan kabulnya.
a. Ijab: "Ya Umar, Ankahtu Fathimata binti Aliyyin muwakkilaka
bimahri alfi rubiyatin halan". Dalam bahasa Indonesia: "Hai Umar,
Aku nikahkan (kawinkan) Fathimah anak perempuan saya dengan Ali
yang telah mewakilkan kepadamu dengan maskawin seribu rupiah
secara tunai".
b. Qabul: "Qabiltu nikahaha li Aliyyin muwakkili bimahri alfi rubiyatin
halan", Dalam bahasa Indonesia: "Saya terima nikahnya Fatimah
dengan Ali yang telah mewakilkan kepada saya dengan maskawin
seribu rupiah secara tunai"
4). Wali mewakilkan Ijabnya dan mempelai laki-laki mewakilkan Qabulnya.
a. Ijab: "Ya Umar, Ankahtu Fathimata binta Muhammadin muwakkilii,
Aliyyan muwakkilaka bimahri alfi Rubiyyatin halan". Dalam bahasa
Indonesia: "Hai Umar, Aku nikahkan (kawinkan) Fathimah anak
perempuan Muhammad yang telah mewakilkan kepada saya, dengan
40
Ali yang telah mewakilkan kepada engkau dengan maskawin seribu
rupiah secara tunai".
b. Qabul: "Qabiltu Nikahaha lahu bimahri alfi rubiyatin halan". Dalam
bahasa Indonesia: "Saya terima nikahnya (Fathimah anak perempuan
Muhammad) dengan Ali yang telah mewakilkan kepada saya dengan
maskawin seribu rupiah secara tunai".

C. Pendapat Para Ulama tentang Perkawinan Antar Agama
Berbicara perkawinan antar agama, ada yang menyebut sama dengan
perkawinan campuran, dan ada pula yang berpendapat bahwa perkawinan
antar agama tidak masuk dalam perkawinan campuran melainkan istilah
tersebut berdiri sendiri. Istilah perkawinan campuran yang sering dinyatakan
anggota masyarakat sehari-hari, ialah perkawinan campuran karena perbedaan
adat/suku bangsa yang bhineka, atau karena perbedaan agama antara kedua
insan yang akan melakukan perkawinan. Perbedaan adat misalnya perkawinan
antara pria/wanita Jawa dengan pria/wanita Batak, pria/wanita Minangkabau
dengan pria/wanita Sunda, pria/wanita Sunda dengan pria/wanita Bali, dan
sebagainya. Sedangkan perkawinan campuran antara agama, misalnya antara
pria/wanita beragama Kristen dengan pria/wanita beragama Islam, pria/wanita
beragama Hindu/Buddha dengan pria/wanita Islam dan seterusnya.
66

Dalam pasal 57 Undang-Undang Nomor 1/1974 Tentang Perkawinan,
yang dimaksud perkawinan campuran dalam undang-undang ini ialah

66
Hilman Hadikusuma, Hukum Perkawinan Indonesia Menurut Perundangan,
Hukum Adat, Hukum Agama, Bandung: Mandar Maju, Bandung, 1990, hlm. 13-14
41
perkawinan antara dua orang yang di Indonesia tunduk pada hukum yang
berlainan, karena perbedaan kewarganegaraan dan salah satu pihak
berkewarganegaraan Indonesia. Dengan demikian berdasarkan undang-
undang ini, maka perkawinan antar agama tidak termasuk perkawinan
campuran melainkan memiliki pengertian yang berdiri sendiri.
Adapun perkawinan antar agama dirumuskan oleh abdurrahman yang
dikutip Eoh yaitu suatu perkawinan yang dilakukan oleh orang-orang yang
memeluk agama dan kepercayaan yang berbeda satu dengan yang lainnya.
67

Dari rumusan pengertian perkawinan antar agama tersebut, dapat disimpulkan
bahwa yang dimaksud perkawinan antar agama adalah perkawinan antara dua
orang yang berbeda agama dan masing-masing tetap mempertahankan agama
yang dianutnya. Namun demikian, oleh karena UU Nomor 1/1974 Tentang
Perkawinan tidak mengatur tentang perkawinan antar agama, maka kenyataan
yang sering terjadi dalam masyarakat apabila ada dua orang yang berbeda
agama akan mengadakan perkawinan sering mengalami hambatan. Hal ini
disebabkan antara lain karena para pejabat pelaksana perkawinan dan
pemimpin agama/ulama menganggap bahwa perkawinan yang demikian
dilarang oleh agama dan karenanya bertentangan dengan UU Perkawinan.
Perkawinan antar agama ini menyangkut perkawinan antara orang
Islam (pria/wanita) dengan orang bukan Islam (pria/wanita). Mengenai
masalah ini, Islam membedakan hukumnya sebagai berikut:
1. Perkawinan antar seorang pria Muslim dengan wanita musyrik;

67
O.S.Eoh, Perkawinan Antar Agama Dalam Teori dan Praktek, Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada, 1998, hlm. 35
42
2. Perkawinan antar seorang pria Muslim dengan wanita Ahlul Kitab;
3. Perkawinan antara seorang wanita Muslimah dengan pria non-Muslim.
Pertama, perkawinan antara seorang pria Muslim dengan wanita
musyrik. Islam melarang perkawinan antara seorang pria Muslim dengan
wanita musyrik, berdasarkan firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 221:
ﻦ` ﻣ ` ﺮ` ﻴ ﺧ ﹲ ﺔ ﻨ ﻣ` ﺆ' ﻣ ﹲ ﺔ ﻣَ ﻷ ﻭ ` ﻦ ﻣ` ﺆ` ﻳ ﻰ` ﺘ ﺣ ﺕﺎﹶﻛﹺ ﺮ` ﺸ` ﻤﹾ ﻟﺍ ﹾ ﺍﻮ` ﺤ ﻜﻨ ﺗ ﹶ ﻻ ﻭ
` ﻢﹸ ﻜ` ﺘ ﺒ ﺠ` ﻋﹶ ﺃ ` ﻮﹶ ﻟ ﻭ ﺔﹶ ﻛﹺ ﺮ` ﺸ' ﻣ ,... ﺓﺮﻘﺒﻟﺍ · 221 .
Artinya: Janganlah kamu mengawini wanita-wanita musyrik,
sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak
yang beriman lebih baik daripada wanita musyrik,
walaupun dia menarik hatimu… (Q.S. al-Baqarah: 221)

Hanya di kalangan ulama timbul beberapa pendapat tentang siapa
musyrikah (wanita musyrik) yang haram dikawini itu? Menurut Ibnu Jarir
al-Thabari seorang ahli tafsir dalam kitabnya, al-Jami’al-Bayan fi Tafsir
al-Qur'an yang dikutip Rasyid Ridha, bahwa musyrikah yang dilarang
untuk dikawini itu ialah musyrikah dari bangsa Arab saja, karena bangsa
Arab pada waktu turunnya Al-Qur'an memang tidak mengenal kitab suci
dan mereka menyembah berhala. Maka menurut pendapat ini, seorang
Muslim boleh kawin dengan wanita musyrik dari bangsa non-Arab, seperti
wanita Cina, India dan Jepang, yang diduga dahulu mempunyai kitab suci
atau serupa kitab suci, seperti pemeluk agama Budha, Hindu, Konghucu,
yang percaya pada Tuhan Yang Maha Esa, percaya adanya hidup sesudah
mati, dan sebagainya. Muhammad Abduh juga sependapat dengan ini.
68


68
Rasyid Ridha, Tafsir al-Manar, Cairo: Dar al-Manar, 1367 H, hlm. 187 – 193.
43
Tetapi kebanyakan ulama berpendapat, bahwa semua musyrikah
baik dari bangsa Arab ataupun bangsa non-Arab, selain Ahlul Kitab, yakni
Yahudi (Yudaisme) dan Kristen tidak boleh dikawini, dan jika
mengawinya maka berarti menentang syara. Menurut pendapat ini bahwa
wanita yang bukan Islam, dan bukan pula Yahudi/Kristen tidak boleh
dikawini oleh pria Muslim, apa pun agama ataupun kepercayaannya,
seperti Budha, Hindu, Konghucu, Majusi/Zoroaster, karena pemeluk
agama selain Islam, Kristen, dan Yahudi itu termasuk kategori
"musyrikah".
Dengan demikian para ulama sepakat bahwa laki-laki muslim tidak
halal kawin dengan perempuan penyembah berhala, perempuan zindiq,
perempuan keluar dari Islam, penyembah sapi, perempuan beragama
politeisme (menunggaling kawula lan Gusti). Alasannya, firman Allah
sebagaimana disebut di atas.
69

Kedua, perkawinan antara seorang pria Muslim dengan wanita
Ahlul Kitab. Kebanyakan ulama berpendapat, bahwa seorang pria Muslim
boleh kawin dengan wanita Ahlul Kitab (Yahudi atau Kristen),
berdasarkan firman Allah dalam Surat Al-Maidah ayat 5.
` ﻢﹸ ﻜﱠ ﻟ ﱞ ﻞ ﺣ ﺏﺎ ﺘ ﻜﹾ ﻟﺍ ﹾ ﺍﻮ` ﺗﻭﹸ ﺃ ﻦﻳ ﺬﱠ ﻟﺍ ` ﻡﺎ ﻌﹶ ﻃ ﻭ ` ﺕﺎ ﺒ` ﻴﱠ ﻄﻟﺍ ` ﻢﹸ ﻜﹶ ﻟ ﱠ ﻞ ﺣﹸ ﺃ ﻡ` ﻮ ﻴﹾ ﻟﺍ
` ﺕﺎ ﻨ ﺼ` ﺤ` ﻤﹾ ﻟﺍ ﻭ ﺕﺎ ﻨ ﻣ` ﺆ` ﻤﹾ ﻟﺍ ﻦ ﻣ ` ﺕﺎ ﻨ ﺼ` ﺤ` ﻤﹾ ﻟﺍ ﻭ ` ﻢ` ﻬﱠ ﻟ ﱡ ﻞ ﺣ ` ﻢﹸ ﻜ` ﻣﺎ ﻌﹶ ﻃ ﻭ
ﹺ ﺇ ` ﻢﹸ ﻜ ﻠ` ﺒﹶ ﻗ ﻦ ﻣ ﺏﺎ ﺘ ﻜﹾ ﻟﺍ ﹾ ﺍﻮ` ﺗﻭﹸ ﺃ ﻦﻳ ﺬﱠ ﻟﺍ ﻦ ﻣ ` ﻦ` ﻫ ﺭﻮ` ﺟﹸ ﺃ ` ﻦ` ﻫﻮ` ﻤ` ﺘ` ﻴ ﺗﺁ ﺍﹶ ﺫ

69
Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah, Kairo: Maktabah Dar al-Turas, juz 2, tth, hlm. 178
44
ﻥﺎ ﳝِ ﻹﺎﹺ ﺑ ` ﺮﹸ ﻔﹾ ﻜ ﻳ ﻦ ﻣ ﻭ ﻥﺍ ﺪ` ﺧﹶ ﺃ ﻱ ﺬ ﺨ` ﺘ` ﻣ ﹶ ﻻ ﻭ ﲔ ﺤ ﻓﺎ ﺴ` ﻣ ﺮ` ﻴﹶ ﻏ ﲔﹺ ﻨ ﺼ` ﺤ` ﻣ
ﻦﻳﹺ ﺮ ﺳﺎ ﺨﹾ ﻟﺍ ﻦ ﻣ ﺓ ﺮ ﺧﻵﺍ ﻲ ﻓ ﻮ` ﻫ ﻭ ` ﻪﹸ ﻠ ﻤ ﻋ ﹶ ﻂﹺﺒ ﺣ ` ﺪﹶ ﻘﹶ ﻓ , ﺓﺪﺋﺎﳌﺍ · 5 .

Artinya: Pada hari ini dihalalkan bagi kamu yang baik-baik.
Makanan [sembelihan] orang-orang yang diberi al-Kitab
itu halal bagi kamu, dan mahanan kamu halal [pula] bagi
mereka. [Dan dihalalkan bagi kamu menikahi] wanita-
wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-
wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga
kehormatan di antara orang-orang yang diberi al-Kitab
sebelum kamu, bila kamu telah membayar mahar mereka
dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud
berzina dan tidak [pula] menjadikannya gundik-gundik.
Barangsiapa yang kafir sesudah beriman maka hapuslah
amalannya dan di hari akhirat dia termasuk orang-orang
yang merugi. (Q.S. al-Maidah: 5)

Selain berdasarkan Al-Qur'an Surat Al-Maidah ayat 5, juga
berdasarkan sunah Nabi, di mana Nabi pernah kawin dengan wanita Ahlul
Kitab, yakni Mariah al-Qibtiyah (Kristen). Demikian pula seorang Sahabat
Nabi yang termasuk senior bernama Hudzaifah bin Al-Yaman pernah
kawin dengan seorang wanita Yahudi, sedang para Sahabat tidak ada yang
menentangnya. Namun demikian, ada sebagian ulama yang melarang
perkawinan antara seorang pria Muslim dengan wanita Kristen atau
Yahudi, karena pada hakikatnya doktrin dan praktek ibadah Kristen dan
Yahudi itu mengandung unsur syirik yang cukup jelas, misalnya ajaran
trinitas dan mengkultuskan Nabi Isa dan ibunya Maryam (Maria) bagi
umat Kristen, dan kepercayaan Uzair putra Allah dan mengkultuskan
Haikal Nabi Sulaiman bagi umat Yahudi.
70


70
Rasyid Ridha sependapat dengan Jumhur yang membedakan musyrikin musyrikah
di satu pihak dengan Ahlul Kitab (Kristen dan Yahudi) di pihak lain, sesuai dengan
45
Menurut Yusuf Qardhawi, hukum asal mengawini wanita ahli kitab
menurut jumhur ulama adalah mubah. Namun demikian di antara sahabat
yang tidak berpendapat demikian adalah Umar bin al-Khattab.
71
Umar bin
al-Khattab (42 SH/581 M-23 H/644 M) melarang perkawinan antara laki-
laki muslim dan perempuan ahlul kitab. Sebab, menurutnya, Allah SWT
telah mengharamkan laki-laki muslim menikahi perempuan musyrik dan ia
tidak pernah tahu adakah syirik yang lebih besar dari seseorang yang
beriktikad bahwa Nabi Isa AS atau hamba Allah SWT yang lainnya adalah
Tuhannya. Dalam konteks ini, menurut Qardawi, perkawinan antara laki-
laki muslim dengan wanita non muslim boleh saja sepanjang wanita itu
berama tauhid. Menurut Qardawi, saat ini sulit untuk mengukur agama
mana yang selain Islam yang memiliki keyakinan tauhid. Dengan
demikian tampaknya Qardawi menganggap perkawinan yang demikian
tidak semudah itu.
72

Menurut Syekh Hasan Khalid, jumhur ulama fikih membolehkan perkawinan
laki-laki muslim dengan perempuan ahlul kitab.
73
Argumen mereka yang
menyatakan boleh adalah pertama, penjelasan yang terdapat dalam Al-Qur'an
dalam surah al-Ma'idah ayat 5, dan dari ayat ini maka menurut Ahmad Asy-

pengelompokan yang dibuat oleh Al-Qur'an, sekalipun pada hakikatnya Ahlul Kitab, Kristen
dan Yahudi itu sudah melakukan "syirik" menurut pandangan tauhid Islam. Karena itu,
perkawinan antara seorang pria Muslim dengan wanita Kristen/Yahudi diperbolehkan agama,
berdasarkan Surat Al-Maidah ayat 5, sunah dan ijma'. Lihat Rasyid Ridha, Tafsir al-Manar,
Cairo: Dar al-Manar, 1367 H, hlm. 186. Mengenai perkawinan Sahabat Nabi Hudzaifah bin
Al-Yaman dengan seorang wanita Yahudi, Ibid., hlm. 180.
71
Yusuf Qardhawi, Hadyul Islam Fatawi Mu’ashirah, Terj. As’ad Yasin, “Fatwa-
Fatwa Kontemporer”, jilid 1, Jakarta: Gema Insani, 2001, hlm. 585
72
bid
73
Syekh Hasan Khalid, al-Zawaj Bighair al-Muslimin, Terj. Zaenal Abidin
Syamsudin, “Menikah Dengan Non Muslim”, Jakarta: Pustaka al-Sofwa, 2004, hlm. 145
46
Syarbashi dapat ditarik kesimpulan bahwa seorang laki-laki Muslim boleh
menikahi Ahlul kitab, selama wanita Ahlul kitab tersebut layak untuk
dinikahi. Hikmah yang terkandung di dalam hukum bolehnya seorang laki-laki
Muslim menikahi wanita Ahlul kitab ialah tersedianya kesempatan supaya
terciptanya hubungan dan kerjasama di antara mereka; dan di samping itu agar
dengan keinginannya, wanita Ahlul kitab itu dapat mempelajari ajaran-ajaran
mulia yang terdapat dalam ajaran Islam.
74
Kedua, pendapat Sayid Sabiq, ahli
fikih di Mesir, yang menjelaskan bahwa laki-laki muslim halal kawin dengan
perempuan ahli kitab yang merdeka.
75
Sekalipun boleh mengawini wanita
ahlul kitab, namun kemudian Sayyid Sabiq menganggap hukumnya makruh.
76

Ketiga, perkawinan antara seorang wanita Muslimah dengan pria
non-Muslim. Menurut Muhammad Jawad Mughniyah, ulama telah
sepakat, bahwa Islam melarang perkawinan antara seorang wanita
Muslimah dengan pria non-Muslim, baik calon suaminya itu termasuk
pemeluk agama yang mempunyai kitab suci, seperti Kristen dan Yahudi
(revealed religion), ataupun pemeluk agama yang mempunyai kitab serupa
kitab suci, seperti Budhisme, Hinduisme, maupun pemeluk agama atau
kepercayaan yang tidak punya kitab suci dan juga kitab yang serupa kitab
suci. Termasuk pula di sini penganut Animisme, Ateisme, Politeisme dan
sebagainya.
77


74
Ahmad Asy-Syarbashi, Yas'alunaka fi ad-Din wa al-Hayah, Terj. Ahmad Subandi,
"Tanya Jawab Lengkap tentang Agama dan Kehidupan", Jakarta: Lentera, 1997, hlm. 244
75
Sayyid Sabiq, op. cit, hlm. 179
76
Ibid
77
Muhammad Jawad Mughniyah, Al-Fiqh 'ala al-Mazahib al-Khamsah, Terj.
Masykur AB, et al, "Fiqih Lima Mazhab", Jakarta: PT Lentera Basritama, 2000, hlm. 336.
47
Adapun dalil yang menjadi dasar hukum untuk larangan kawin
antara wanita Muslimah dengan pria non-Muslim, ialah:
a. Firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 221:
... ﻦ` ﻣ ` ﺮ` ﻴ ﺧ ` ﻦ ﻣ` ﺆ' ﻣ ` ﺪ` ﺒ ﻌﹶ ﻟ ﻭ ﹾ ﺍﻮ` ﻨ ﻣ` ﺆ` ﻳ ﻰ` ﺘ ﺣ ﲔ ﻛﹺ ﺮ ﺸ` ﻤﹾ ﻟﺍ ﹾ ﺍﻮ` ﺤ ﻜﻨ` ﺗ ﹶ ﻻ ﻭ
` ﻢﹸ ﻜ ﺒ ﺠ` ﻋﹶ ﺃ ` ﻮﹶ ﻟ ﻭ ﻙﹺ ﺮ` ﺸ' ﻣ ,... ﺓﺮﻘﺒﻟﺍ · 221 .
Artinya: Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik
sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang
mu'min lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia
menarik hatimu.
78


b. Ijma' para ulama tentang larangan perkawinan antara wanita
Muslimah dengan pria non-Muslim.
Adapun hikmah dilarangnya perkawinan antara orang Islam
(pria/wanita) dengan orang yang bukan Islam (pria/wanita, selain Ahlul
Kitab), ialah bahwa antara orang Islam dengan orang kafir selain Kristen
dan Yahudi itu terdapat way of life dan filsafat hidup yang sangat berbeda.
Sebab orang Islam percaya sepenuhnya kepada Allah sebagai pencipta
alam semesta, percaya kepada para nabi, kitab suci, malaikat, dan percaya
pula pada hari kiamat; sedangkan orang musyrik/kafir pada umumnya
tidak percaya pada semuanya itu. Kepercayaan mereka penuh dengan
khurafat dan irasional. Bahkan mereka selalu mengajak orang-orang yang
telah beragama/beriman untuk meninggalkan agamanya dan kemudian
diajak mengikuti "kepercayaan/ideologi" mereka.

78
Depag RI, Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an, Al-Qur’an
dan Terjemahnya, 1986, hlm. 53.
48
Mengenai hikmah dibolehkannya perkawinan antara seorang pria
Muslim dengan wanita Kristen atau Yahudi, ialah karena pada hakikatnya
agama Kristen dan Yahudi itu satu rumpun dengan agama Islam, sebab
sama-sama agama wahyu (revealed religion). Maka kalau seorang wanita
Kristen/Yahudi kawin dengan pria Muslim yang baik, yang taat pada
ajaran-ajaran agamanya, dapat diharapkan atas kesadaran dan kemauannya
sendiri masuk Islam, karena ia dapat menyaksikan dan merasakan
kebaikan dan kesempurnaan ajaran agama Islam, setelah ia hidup di
tengah-tengah keluarga Islam. Sebab agama Islam mempunyai
panutan/pedoman hidup yang lengkap, mudah/praktis, flexible,
demokratis, menghargai kedudukan wanita Islam dalam keluarga,
masyarakat, dan negara, toleran terhadap agama/kepercayaan lain yang
hidup di masyarakat, dan menghargai pula hak-hak asasi manusia terutama
kebebasan beragama, serta ajaran-ajarannya yang rasionable.
Fakta-fakta menunjukkan bahwa wanita-wanita Barat dan Timur
yang kawin dengan pria Muslim yang baik dan taat pada ajaran agamanya,
dapat terbuka hatinya dan dengan kesadaran sendiri si istri masuk agama
Islam.
Namun, kalau seorang pemuda Muslim itu kualitas iman dan
islamnya masih belum baik, misalnya islamnya masih Islam K.TP atau
Islam Abangan, maka seharusnya ia tidak berani kawin dengan pemudi
Kristen/Yahudi yang militan, karena ia dapat terseret kepada agama
istrinya. Dan hal ini sesuai dengan taktik dan strategi Ahlul Kitab untuk
49
memurtadkan umat Islam dan kemudian menariknya ke agama mereka
dengan berbagai cara.
79

Adapun hikmah dilarangnya perkawinan antara seorang wanita
Islam dengan pria Kristen atau Yahudi, karena dikhawatirkan wanita Islam
itu kehilangan kebebasan beragama dan menjalankan ajaran agamanya,
kemudian terseret kepada agama suaminya. Demikian pula anak-anak
yang lahir dari hasil perkawinannya dikhawatirkan pula mereka akan
mengikuti agama bapaknya, karena bapak sebagai kepala keluarga
terhadap anak-anak melebihi ibunya. Dalam hal ini, fakta-fakta sejarah
menunjukkan bahwa tiada sesuatu agama dan sesuatu ideologi di muka
bumi ini yang memberikan kebebasan beragama dan bersikap toleran
terhadap agama/kepercayaan lain, seperti agama Islam. Sebagaimana
firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 120:
` ﻢ` ﻬ ﺘﱠ ﻠ ﻣ ﻊﹺ ﺒ` ﺘ ﺗ ﻰ` ﺘ ﺣ ﻯ ﺭﺎ ﺼ` ﻨﻟﺍ ﹶ ﻻ ﻭ ` ﺩﻮ` ﻬ ﻴﹾ ﻟﺍ ﻚﻨ ﻋ ﻰ ﺿ` ﺮ ﺗ ﻦﹶ ﻟ ﻭ ,... ﺓﺮﻘﺒﻟﺍ · 120 .
Artinya: Orang Yahudi dan Kristen tidak akan senang kepada
kamu, hingga kamu mengikuti agama mereka.

Dan berfirman Allah dalam Surat Al-Nisa ayat 141:
... ﹰ ﻼﻴﹺ ﺒ ﺳ ﲔﹺ ﻨ ﻣ` ﺆ` ﻤﹾ ﻟﺍ ﻰﹶ ﻠ ﻋ ﻦﻳﹺ ﺮ ﻓﺎﹶ ﻜﹾ ﻠ ﻟ ` ﻪﹼ ﻠﻟﺍ ﹶﻞ ﻌ` ﺠ ﻳ ﻦﹶ ﻟ ﻭ ,... ﺀﺎﺴﻨﻟﺍ · 141 .
Artinya: Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada
orang-orang kafir untuk melenyapkan orang-orang yang
beriman.


79
Muhammad Rasyid Ridha, op. cit, hlm. 193.

50
Firman tersebut mengingatkan kepada umat Islam, hendaknya selalu berhati-
hati dan waspada terhadap tipu muslihat orang-orang kafir termasuk Yahudi
dan Kristen, yang selalu berusaha melenyapkan Islam dan umat Islam dengan
berbagai cara. Dan hendaknya umat Islam tidak memberi jalan/kesempatan
kepada mereka untuk mencapai maksudnya. Misalnya dengan jalan
perkawinan seorang wanita Islam dengan pria non-Muslim.




























51
BAB III
PENDAPAT AL-SYAFI'I TENTANG
PERKAWINAN ANTAR AGAMA

A. Biografi Al-Syafi'i, Pendidikan dan Karya-Karyanya

1. Latar Belakang Keluarga
Kebanyakan ahli sejarah berpendapat bahwa Al-Syafi’i lahir di
Kota Gaza, Palestina,
80
Nama lengkapnya adalah Muhammad ibn Idris ibn
al-Abbas ibn Utsman ibn Syafi’i ibn al-Sa’ib ibn Ubaid ibn Abd Yazid ibn
Hasyim ibn Abd al-Muthalib ibn Abd Manaf.
81

Lahir di Gaza pada tahun 150 H, kemudian dibawa oleh ibunya ke
Makkah. Beliau lahir pada zaman Dinasti Bani Abbas, tepatnya pada
zaman kekuasaan Abu Ja’far al Manshur (137-159 H./754-774 M.), dan ia
meninggal di Mesir pada tahun 204 H
82

Al-Syafi’i berasal dari keturunan bangsawan yang paling tinggi di
masanya. Walaupun hidup dalam keadaan sangat sederhana, namun
kedudukannya sebagai putra bangsawan, menyebabkan ia terpelihara dari
perangai-perangai buruk, tidak mau merendahkan diri dan berjiwa besar.

80
Muhammad Abu Zahrah, Hayatuhu wa Asruhu wa Fikruhu ara-Uhu wa Fiqhuhu,
Terj. Abdul Syukur dan Ahmad Rivai Uthman, “Al-Syafi’i Biografi dan Pemikirannya Dalam
Masalah Akidah, Politik dan Fiqih”, Jakarta: PT Lentera Basritama, 2005, hlm. 27
81
Jaih Mubarok, Sejarah dan Perkembangan Hukum Islam, Bandung: PT.Remaja
Rosdakarya, 2000, hlm.101. Lihat juga Abdul Mun’im Saleh, Madzhab Syafi’i Kajian Konsep
Al-Maslahah, Yogyakarta: Ittaqa Press, 2001, hlm. 7. Lihat juga Ali Fikri, Kisah-Kisah Para
Imam Madzhab, Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2003, hlm. 76.
82
Jaih Mubarok, Modifikasi Hukum Islam Studi tentang Qaul Qadim dan Qaul Jadid,
Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2002, hlm. 27.
52
Ia bergaul rapat dalam masyarakat dan merasakan penderitaan-penderitaan
mereka.
Al-Syafi’i dengan usaha ibunya telah dapat menghafal al-Qur'an
dalam umur yang masih sangat muda. Kemudian ia memusatkan perhatian
menghafal hadis. Ia menerima hadis dengan jalan membaca dari atas
tembikar dan kadang-kadang di kulit-kulit binatang. Seringkali pergi ke
tempat buangan kertas untuk memilih mana-mana yang masih dapat
dipakai.
83

Di samping itu ia mendalami bahasa Arab untuk menjauhkan diri
dari pengaruh Ajamiyah yang sedang melanda bahasa Arab pada masa itu.
Ia pergi ke Kabilah Hudzail yang tinggal di pedusunan untuk mempelajari
bahasa Arab yang fasih. Sepuluh tahun lamanya Al-Syafi’i tinggal di
Badiyah itu, mempelajari syair, sastra dan sejarah. Ia terkenal ahli dalam
bidang syair yang digubah golongan Hudzail itu, amat indah susunan
bahasanya. Di sana pula ia belajar memanah dan mahir dalam bermain
panah. Dalam masa itu Al-Syafi’i menghafal al-Qur'an, menghafal hadis,
mempelajari sastra Arab dan memahirkan diri dalam mengendarai kuda
dan meneliti keadaan penduduk-penduduk Badiyah dan penduduk-
penduduk kota.
Al-Syafi’i belajar pada ulama-ulama Makah, baik pada ulama-ulam
fiqih, maupun ulama-ulama hadis, sehingga ia terkenal dalam bidang fiqh
dan memperoleh kedudukan yang tinggi dalam bidang itu. Gurunya

83
Mahmud Syalthut, Fiqih Tujuh Madzhab, terj. Abdullah Zakiy al-Kaaf, Bandung:
CV Pustaka Setia, 2000, hlm. 17.
53
Muslim Ibn Khalid Az-Zamzi, menganjurkan supaya Al-Syafi’i bertindak
sebagai mufti. Sungguhpun ia telah memperoleh kedudukan yang tinggi
itu namun ia terus juga mencari ilmu.
Sampai kabar kepadanya bahwa di Madinah ada seorang ulama
besar yaitu Malik, yang memang pada masa itu terkenal di mana-mana
dan mempunyai kedudukan tinggi dalam bidang ilmu dan hadis. Al-Syafi’i
ingin pergi belajar kepadanya, akan tetapi sebelum pergi ke Madinah ia
lebih dahulu menghafal al-Muwatha’, susunan Malik yang telah
berkembang pada masa itu. Kemudian ia berangkat ke Madinah untuk
belajar kepada Malik dengan membawa sebuah surat dari gubernur
Makah. Mulai ketika itu ia memusatkan perhatian mendalami fiqh di
samping mempelajari al-Muwatha’. Al-Syafi’i mengadakan mudarasah
dengan Malik dalam masalah-masalah yang difatwakan Malik. Di waktu
Malik meninggal tahun 179 H, Al-Syafi’i telah mencapai usia dewasa dan
matang.
84

2. Pendidikan dan Karir
Al-Syafi’i menerima fiqh dan hadis dari banyak guru yang masing-
masingnya mempunyai manhaj sendiri dan tinggal di tempat-tempat
berjauhan bersama lainnya. Ada di antara gurunya yang mu’tazili yang
memperkatakan ilmu kalam yang tidak disukainya. Dia mengambil mana
yang perlu diambil dan dia tinggalkan mana yang perlu ditinggalkan. Al-

84
TM. Hasbi Ash Shiddieqy, Pokok-Pokok Pegangan Imam Mazhab, Semarang: PT
Putaka Rizki Putra, 1997, hlm. 480 – 481.
54
Syafi’i menerima ilmunya dari ulama-ulama Makah, ulama-ulama
Madinah, ulama-ulama Iraq dan ulama-ulama Yaman.
Ulama Makah yang menjadi gurunya ialah: Sufyan Ibn Uyainah,
Mualim Ibn Khalid az-Zamzi, Said Ibn Salim al-Kaddlah, Daud Ibn abd-
Rahman al-Atthar, dan Abdul Hamid Ibn Abdul Azizi Ibn Abi Zuwad.
Ulama-ulama Madinah yang menjadi gurunya, ialah: Malik Ibn
Annas, Ibrahim Ibn Saad al-Anshari Abdul Aziz Ibn Muhammad ad-
Dahrawardi, Ibrahim Ibn Abi Yahya al-Asami, Muhammad Ibn Said Ibn
Abi Fudaik, Abdullah Ibn Nafi’ teman Ibn Abi Zuwaib.
Ulama-ulama Yaman yang menjadi gurunya ialah: Mutharraf Ibn
Mazim, Hisyam Ibn Yusuf, Umar Ibn abi Salamah, teman Auza’in dan
Yahya Ibn Hasan teman Al-Laits.
Ulama-ulama Iraq yang menjadi gurunya ialah: Waki’ Ibn Jarrah,
Abu Usamah, Hammad Ibn Usamah, dua ulama Kuffah Ismail Ibn
‘Ulaiyah dan Abdul Wahab Ibn Abdul Majid, dua ulama Basrah. Juga
menerima ilmu dari Muhammad Ibn al-Hasan yaitu dengan mempelajari
kitab-kitabnya yang didengar langsung dari padanya. Dari padanyalah
dipelajari fiqh Iraqi.85
Setelah sekian lama mengembara menuntut ilmu, pada tahun 186 H
Al-Syafi’i kembali ke Makah, dalam masjidil Haram ia mulai mengajar
dan mengembangkan ilmunya dan mulai berijtihad secara mandiri dalam
membentuk fatwa-fatwa fiqihnya. Tugas mengajar dalam rangka

85
Ibid, hlm, 486-487
55
menyampaikan hasil-hasil ijtihadnya ia tekuni dengan berpindah-pindah
tempat. Selain di Makah, ia juga pernah mengajar di Baghdad (195-197
H), dan akhirnya di Mesir 198-204 H). Dengan demikian ia sempat
membentuk kader-kader yang akan menyebarluaskan ide-idenya dan
bergerak dalam bidang hukum Islam. Di antara murid-muridnya yang
terkenal ialah Imam Ahmad Bin Hanbal (pendiri madzhab Hanbali), Yusuf
Bin Yahya al-Buwaiti (w. 231 H), Abi Ibrahim Ismail Bin Yahya al-
Muzani (w. 264 H), dan Imam Ar-Rabi Bin Suliaman al-Marawi (174-270
H). tiga muridnya yang disebut terakhir ini, mempunyai peranan penting
dalam menghimpun dan menyebarluaskan faham fiqih Al-Syafi’i.86
Al-Syafi’i wafat di Mesir, tepatnya pada hari Jum’at tanggal 30
Rajab 204 H, setelah menyebarkan ilmu dan manfaat kepada banyak
orang. Kitab-kitab beliau hingga saat ini masih banyak dibaca orang, dan
makam beliau di Mesir sampai detik ini masih diziarahi orang.87
3. Karya-karya Al-Syafi’i
Karya-karya Al-Syafi’i yang berhubungan dengan judul di atas di
antaranya: (1) Al-Umm. Kitab ini disusun langsung oleh Al-Syafi’i secara
sistematis sesuai dengan bab-bab fikih dan menjadi rujukan utama dalam
Mazhab Syafi'i. Kitab ini memuat pendapat Al-Syafi’i dalam berbagai
masalah fikih. Dalam kitab ini juga dimuat pendapat Al-Syafi’i yang
dikenal dengan sebutan al-qaul al-qadim (pendapat lama) dan al-qaul al-

86
Abdul Aziz Dahlan, et.al, Ensiklopedi Hukum Islam, Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van
Hoeve, 1997, hlm.1680.
87
Ibid, hlm. 18.
56
jadid (pendapat baru). Kitab ini dicetak berulang kali dalam delapan jilid
bersamaan dengan kitab usul fikih Al-Syafi’i yang berjudul Ar-Risalah.
Pada tahun 1321 H kitab ini dicetak oleh Dar asy-Sya'b Mesir, kemudian
dicetak ulang pada tahun 1388H/1968M.
(2) Kitab al-Risalah. Ini merupakan kitab ushul fiqh yang pertama
kali dikarang dan karenanya Al-Syafi’i dikenal sebagai peletak ilmu ushul
fiqh.
88
(3) Kitab Imla al-Shagir; Amali al-Kubra; Mukhtasar al-Buwaithi;
89

Mukhtasar al-Rabi; Mukhtasar al-Muzani; kitab Jizyah dan lain-lain kitab
tafsir dan sastra.
90
Siradjuddin Abbas dalam bukunya telah mengumpulkan
sembilan puluh tujuh buah kitab dalam fiqih Syafi’i. Namun dalam
bukunya itu tidak diulas karya-karya Syafi’i tersebut.
91
Ahmad Nahrawi
Abd al-Salam menginformasikan bahwa kitab-kitab Imam al-Syafi'i
adalah Musnad li al-syafi'i; al-Hujjah; al-Mabsuth, al-Risalah, dan al-
Umm.
92


B. Pendapat Al-Syafi'i tentang Perkawinan Antar Agama

Al-Syafi’i dalam kitabnya al-Umm Juz V mengatakan, dihalalkan
menikahi wanita-wanita merdeka ahli kitab bagi setiap orang Islam. Karena
sesungguhnya Allah Ta'ala menghalalkan wanita-wanita tersebut, dengan

88
Djazuli, Ilmu Fiqh, Jakarta: Prenada Media, 2005, hlm. 131-132
89
Ahmad Asy Syarbasy, Al-Aimmah al-Arba'ah, Terj. Futuhal Arifin, "Biografi
Empat Imam Mazhab", Jakarta: Pustaka Qalami, 2003, hlm. 144.
90
Ali Fikri, Ahsan al-Qashash, Terj. Abd.Aziz MR: "Kisah-Kisah Para Imam
Madzhab", Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2003, hlm. 109-110
91
Siradjuddin Abbas, Sejarah dan Keagungan Madzhab Syafi’i, Jakarta: Pustaka
Tarbiyah, 2004, hlm. 182-186.
92
Munawar Khalil, Biografi Empat Serangkai Imam Mazhab, Jakarta: Bulan Bintang,
1977 217 - 219
57
tanpa kecuali. Menurut Syafi'i bahwa ia lebih menyukai, jikalau wanita-wanita
itu tidak dikawini oleh orang Islam. Dikabarkan kepada kami oleh Abdul-
majid dari Ibnu Juraij, dari Abiz-Zubair, bahwa sesungguhnya ia mendengar
Jabir bin Abdullah ditanyakan tentang pernikahan orang Islam dengan wanita
Yahudi dan wanita Nasrani. Maka beliau menjawab: "Kami menikahi wanita-
wanita itu pada zaman pembukaan (penaklukan) kota Kofah bersama Sa'ad
bin Abi Waqqash. Dan kami hampir tiada mendapati wanita-wanita Islam
yang banyak. Maka tatkala kami kembali, kami ceraikan (talaq) mereka".
Jabir bin Abdullah berkata ; "Wanita-wanita kitabi itu tiada mewarisi dari
orang Islam. Dan orang-orang Islam itu tiada mewarisi dari mereka. Wanita
mereka itu bagi kita halal dan wanita kita haram kepada mereka".
93

Menurut Syafi'i, ahli kitab (yang berpegang dan beriman kepada kitab)
yang halal mengawini wanita-wanita mereka yang merdeka, ialah: ahli dua
kitab yang termasyhur : Taurat dan Injil. Mereka itu, ialah: orang Yahudi dan
orang Nasrani, tidak majusi. Orang Sabi-in dan Samiri itu dari Yahudi dan
Nasrani, yang halal mengawini wanita mereka dan memakan sembelihan
mereka. Kecuali, bahwa yang diketahui, mereka itu berselisih dengan ahli
kitab tersebut pada pokok yang mereka menghalalkan dari kitab dan yang
mereka mengharamkan. Maka haramlah mengawini wanita mereka,
sebagaimana haram mengawini wanita majusi. Dan mereka itu menta'wilkan,
lalu mereka itu berselisih. Maka tidak diharamkan oleh yang demikian akan
wanita mereka. Dan mereka itu daripadanya, yang halal mengawini wanita

93
Al-Imam Abi Abdullah Muhammad bin Idris al-Syafi’i, Al-Umm, Beirut Libanon:
Dar al-Kutub al-Ilmiah, tth, juz 5, hlm. 7
58
mereka, dengan yang halal mengawini wanita lain, dari orang yang tidak
lazim disebut nama Sabi,in dan Samiri. Tidak halal mengawini wanita-wanita
merdeka dari orang Arab, orang yang beragama dengan agama Yahudi dan
agama Nasrani. Karena asal agama mereka adalah agama yang benar.
Kemudian, mereka itu sesat dengan menyembah berhala. Sesungguhnya
mereka itu berpindah kepada agama ahli kitab sesudahnya itu. Tidak bahwa
mereka itu adalah orang-orang yang beragama dengan Taurat dan Injil, lalu
mereka itu sesat daripadanya. Dan mereka mengada-adakan padanya.
94

Menurut Al-Syafi'i, saya tidak mengiranya dan yang lain, selain telah
disampaikan itu oleh Ali bin Abi Thalib ra., dengan isnad ini. Dikabarkan
kepada kami oleh Abdul Majid dari Ibnu Juraij, yang mengatakan: "kata Atha'
bahwa tidaklah Nasrani Arab itu ahli kitab. Sesungguhnya ahli kitab itu ialah
keturunan Bani Israil (dari agama Yahudi dan Nasrani) yang berpegang pada
Taurat pada masa Nabi Musa dan orang-orang yang berpegang teguh pada
Injil pada masa Nabi Isa. Adapun orang yang masuk pada mereka itu dari
orang banyak maka tidaklah mereka ini dari mereka itu".
95

Dikawini wanita Islam atas wanita kitabi dan wanita kitabi atas wanita
Islam. Dikawini empat wanita kitabi, sebagaimana dikawini empat wanita
Islam. Wanita kitabi pada semua perkawinannya dan hukum-hukumnya yang
halal dan yang haram dengan wanita kitabi itu, adalah seperti wanita Islam.
Tiada berselisih pada sesuatu pun dan pada yang harus atas suami baginya.
Tidak dikawini wanita kitabi, selain dengan dua orang saksi, yang adil, yang

94
Ibid, hlm. 7.
95
Ibid, hlm. 8.
59
Islam dan dengan wali dari ahli agamanya, seperti wali wanita Islam. Boleh
pada agama mereka yang lain dari itu atau tidak boleh. Tidaklah saya
memandang padanya, selain kepada hukum Islam.
Kalau wanita kitabi itu kawin dengan perkawinan yang shah dalam
Islam dan itu pada mereka perkawinan yang batal. Maka adalah
perkawinannya itu shah. Tidak ditolak perkawinan wanita Islam dari sesuatu,
melainkan ditolak perkawinan wanita kitabi dari yang seperti demikian.
Tidak boleh perkawinan wanita Islam dengan sesuatu, melainkan
boleh perkawinan wanita kitabi dengan seperti yang demikian. Dan tidaklah
wali wanita dzimmi itu muslim. Walau pun dia itu bapak wanita tersebut.
Karena Allah Ta'ala memutuskan ke-wali-an di antara orang Islam dan orang
musyrik.
Rasulullah Saw. kawin dengan Ummu Habibah binti Abi Sufyan. Dan
wali akad nikahnya Ibnu Sa'id bin Al-'Ash (namanya Khalid). Dan dia ini
muslim.
Dan Abi Sufyan masih hidup, maka yang demikian menunjukkan
bahwa tak ada ke-wali-an di antara kerabat, apabila berbeda agama. Walau
pun dia itu bapak. Bahwa ke-wali-an itu dengan kerabat dan bersamaan
agama.
96

Dibagikan waktu untuk isteri kitabi, seperti pembagiannya untuk isteri
Islam (1). Tidak ada perbedaan di antara keduanya. Bagi isteri kitabi, apa yang

96
Ibid, hlm. 8.
60
bagi isteri Islam. Dan bagi suami atas isteri kitabi, apa yang baginya atas isteri
Islam. Kecuali bahwa keduanya tiada pusaka-mempusakai, disebabkan
perbedaan agama. Kalau ia mentalakkan isteri kitabi atau ia me-illa'-kan atau
ber-dhihar atau ber-qadzaf (2), maka harus atas suami pada yang demikian itu
semua, apa yang harus atasnya pada isteri Islam. Kecuali, bahwa tiada
hukuman hadd atas orang yang ber-qadzaf kepada isteri kitabi. Dan dia itu
didera. Apabila suami mentalakkan isteri kitabi, maka boleh baginya ruju'
kepada isteri kitabi itu dalam iddah. Dan iddahnya, ialah iddah isteri Islam.
Kalau ditalakkannya isteri kitabi itu tiga talak, lalu isteri kitabi itu kawin
dengan orang lain sebelum lalu iddah dan dia disetubuhi, maka tidak halal dia
bagi suaminya yang pertama dahulu. Kalau isteri kitabi itu kawin dengan
perkawinan yang shah sesudah berlalu iddah, dengan seseorang suami
dzimmi. Lalu suami ini menyetubuhinya. Kemudian isteri itu diceraikan atau
suaminya yang kedua itu meninggal dan telah cukup iddahnya. Niscaya halal
isteri ini bagi suami pertama. Dihalalkan wanita itu bagi suami pertama oleh
setiap suami yang kedua yang telah menyetubuhinya, yang shah nikahnya.
Dan harus atas isteri itu iddah dan membatasi dirt karena kematian suami
(ihdad berkabung). Sebagaimana ada yang demikian itu atas isteri Islam.
Apabila isteri itu meninggal, maka kalau suami itu menghendaki, maka
ia menghadiri janazahnya, memandikan dan masuk ke kuburannya. Dan ia
tidak mengerjakan shalat kepada isterinya itu. Saya berpendapat makruh bagi
isteri memandikan suaminya, kalau suami itu yang meninggal. Kalau isteri itu
memandikan suaminya, maka memadailah pemandian isteri akan suami itu,
61
insya Allah Ta'ala.
97
Bagi suami boleh memaksakan isterinya itu mandi dari
haid. Dan tidaklah bagi suami itu menyetubuhi isterinya, apabila sudah suci
dari haid, sehingga ia mandi. Karena Allah 'Azza wa Jalla berfirman :
ﹶ ﻥ ﺮ ﻬﹾ ﻄ ﻳ  ﻰﺘ ﺣ ﻦ ﻫﻮ ﺑ ﺮﹾ ﻘ ﺗ ﹶ ﻻ ﻭ ) ﺓﺮﻘﺒﻟﺍ : 222 (
Artinya: "Janganlah dekati mereka, sebelum suci!". S. Al-Baqarah,
ayat 222.

Berkata sebagian ahli ilmu Al-Qur'an: "Sehingga engkau melihat suci".
Apabila wanita itu sudah bersuci, yakni: dengan air, kecuali bahwa ia berada
dalam bermusafir, yang ia tiada memperoleh air, maka ia bertayammum.
Apabila isteri itu dari orang yang halal baginya shalat dengan suci,
maka halallah isteri itu bagi suaminya. Bagi suami itu, menurut saya dan Allah
Ta'ala Yang Maha tahu dapat memaksakan isterinya untuk mandi dari janabat,
kepada kebersihan dengan menggantikan pakaian baru, mengerat kuku dan
membersihkan diri dengan air, tanpa ada janabat, selama tidaklah yang
demikian itu, dan isteri itu sakit - mendatangkan melarat baginya dengan air,
atau dalam kesangatan dingin, yang air itu mendatangkan melarat baginya.
Suami dapat melarangnya ke gereja, keluar kepada perayaan-perayaan
dan yang lain dari itu, daripada yang isteri itu bermaksud keluar kepadanya.
Apabila boleh bagi suami itu melarang isterinya yang Islam untuk pergi ke
masjid dan itu adalah benar, maka bagi suami itu pada isterinya yang Nasrani,
dapat melarang pergi ke gereja. Karena itu adalah perbuatan batil. Bagi suami

97
Ibid, hlm. 8.
62
dapat melarang isterinya meminum khamar. Karena minum itu
menghilangkan akal isteri.
98
Dan melarangnya memakan daging babi, apabila
suami itu merasa jijik dengan daging babi itu. Melarangnya memakan yang
halal, apabila suami itu merasa terganggu dengan baunya, dari bawang putih
dan bawang merah, apabila tidak ada darurat (kepentingan) bagi isterinya
kepada memakannya. Kalau diumpamakan yang demikian dari yang halal,
yang tidak terdapat baunya, maka tidak boleh bagi suami melarangnya. Seperti
demikian juga, tidak boleh bagi suami melarang isterinyamemakai apa yang
dikehendakinya dari kain, selama ia tidak memakai kulit bangkai atau kain
yang berbau busuk, yang menyakiti oleh bau keduanya itu. Maka suami itu
melarang isterinya dari dua yang tersebut itu.
Apabila lelaki Islam mengawini wanita kitabi. Lalu wanita itu murtad
kepada agama majusi atau agama yang bukan agama ahli kitab. Maka kalau
wanita itu kembali kepada Islam atau kepada agama ahli kitab, sebelum
berlalu iddah. Maka kedua suami-isteri itu tetap atas perkawinan. Kalau isteri
itu tidak kembali kepada Islam, sehingga berlalu iddah. Maka sesungguhnya
telah putus ikatan di antara isteri itu dan suaminya. Tiada wajib nafkah bagi
isteri tersebut dalam iddah. Karena ia melarang dirinya bagi suami dengan
kemurtadan. Tidak dibunuh dengan sebab murtad, orang yang berpindah dari
agama kafir kepada agama kafir yang lain. Sesungguhnya yang dibunuh, ialah
orang yang keluar dari agama Islam ke agama syirik. Ada pun orang yang

98
Ibid, hlm. 8.
63
keluar dari agama yang batil ke agama yang batil, maka tidak dibunuh.
99
la
dibuang dari negeri Islam, kecuali bahwa ia masuk Islam atau ia kembali
kepada salah satu agama yang diambil dari pemeluknya jizyah, Yahudi atau
Nasrani atau majusi. Lalu ia tetap dalam negeri Islam.
Kalau murtad wanita itu dari Yahudi ke Nasrani atau nasrani ke
Yahudi, Maka tidak haram isteri itu kepada suaminya, karena adalah patut
baginya bahwa ia memulai mengawini wanita itu, kalau adalah wanita tersebut
dari pemeluk agama yang ia keluar kepada agama itu. Kata Ar-Rabi' : "Yang
saya hafal dari perkataan Asy-Syafi'i r.a. bahwa beliau berkata : "Apabila
suami itu orang Nasrani. Lalu ia keluar kepada agama Yahudi, bahwa
dikatakan kepada suami itu : "Tidak boleh bagi engkau, bahwa mendatangkan
agama baru, yang tidaklah engkau pada agama itu sebelum turun Al-Qur'an.
Kalau engkau masuk Islam atau engkau kembali kepada agama engkau, yang
kami ambil dari engkau atas agama itu akan jizyah. Maka kami membiarkan
engkau. Kalau tidak, maka kami mengeluarkan engkau dari negeri Islam. Dan
kami serahkan engkau kepada diri engkau sendiri. Maka manakala kami
kuasai engkau, niscaya kami bunuh engkau". Qaul ini lebih disukai oleh Ar-
Rabi'.
Tidak boleh mengawinkan budak wanita kitabi dengan budak lelaki
muslim dan dengan orang lelaki merdeka, dengan hal apa pun. Karena yang
saya terangkan dari nash Al-Qur-an dan petunjuknya. Jenis mana pun dari
orang-orang musyrik, yang halal mengawini wanita-wanita mereka yang

99
Ibid, hlm. 9.
64
merdeka, maka halal menyetubuhi budak-budak wanita mereka dengan jalan
milik.
100
Jenis mana pun yang haram mengawini wanita-wanita mereka yang
merdeka, maka haram menyetubuhi budak-budak wanita mereka dengan jalan
milik. Halal menyetubuhi budak wanita kitabi dengan jalan milik,
sebagaimana halal wanita-wanita mereka yang merdeka dengan perkawinan.
Tidak halal menyetubuhi budak wanita .musyrik yang bukan kitabi, dengan
jalan milik. Sebagaimana tidak halal mengawini wanita mereka.
Kalau adalah asal keturunan seorang budak wanita itu dari bukan ahli
kitab. Kemudian, budak wanita tersebut beragama dengan agama ahli kitab.
Niscaya tidak halal menyetubuhinya. Sebagaimana tidak halal mengawini
wanita-wanita merdeka dari mereka. Tidak halal mengawini budak wanita
kitabi bagi orang Islam, dengan hal apa pun. Karena budak wanita itu masuk
pada makna wanita musyrik yang diharamkan. Dan tidak halal itu dinashkan
dengan penghalalan. Sebagaimana dinashkan wanita-wanita merdeka ahli
kitab mengenai perkawinan. Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta'ala
menghalalkan perkawinan budak-budak wanita Islam itu dengan dua makna.
Sama saja bahwa tidak diperoleh oleh orang yang kawin itu akan perbelanjaan
yang cukup bagi wanita merdeka dan takut kepada perbuatan zina. Dan dua
syarat pada budak wanita Islam itu menunjukkan, bahwa pernikahan mereka
itu dihalalkan dengan suatu makna, tidak dengan suatu makna.
Pada yang demikian itu menunjukkan kepada pengharaman wanita-
wanita budak musyrik yang menyalahi dengan mereka. Dan Allah Yang Maha

100
Ibid, hlm. 9.
65
tahu. Karena Islam itu syarat ke tiga. Dan budak wanita musyrik itu keluar
daripadanya.
101
Kalau seseorang mengawini budak wanita kitabi, maka adalah
perkawinan itu batal, yang dibatalkan atas lelaki itu, sebelum bersetubuh dan
sesudahnya. Kalau dia belum bersetubuh, maka tiada mas kawin bagi budak
wanita itu. Dan kalau sudah bersetubuh, maka bagi isteri tersebut mas kawin
yang sepertinya. Dan dihubungkan anak dengan yang mengawini dan dia itu
Islam. Dan dijualkan atas tanggungan pemiliknya kalau pemilik itu orang
kitabi. Kalau dia itu orang Islam, maka tidak dijual anak itu atas
tanggungannya. Kalau suami itu menyetubuhi budak wanita yang bukan
kitabi, maka dilarang suami itu kembali kepada isterinya itu, sudah
mengandung atau belum mengandung. Dan kalau sudah mengandung, lalu ia
melahirkan. Maka budak wanita itu menjadi gundiknya. Dan tidak halal
baginya menyetubuhinya, karena agamanya. Sebagaimana ada itu budak
wanitanya. Tidak halal baginya menyetubuhinya, karena agamanya. Apabila
lelaki itu meninggal, maka budak wanita tersebut menjadi merdeka dengan
kematiannya. Dan tidak boleh baginya menjual budak wanita tersebut. Tidak
boleh baginya mengawininya dan budak itu tidak menyukai. Dan ia menerima
pelayanannya, pada yang disanggupi oleh budak wanita tersebut. Sebagaimana
ia menerima pelayanan dari budak wanita yang lain.

101
Ibid, hlm. 9.
66
Kalau budak wanita itu mempunyai saudara perempuan, yang
merdeka, yang Islam. Maka halal bagi lelaki itu mengawini saudara
perempuan yang tersebut.
102

Begitu juga kalau budak wanita itu mempunyai saudara perempuan
seibu yang merdeka, yang kitabi, yang bapaknya kitabi. Lalu ia membeli
saudara perempuan itu. Niscaya halal baginya menyetubuhi wanita itu dengan
jalan memilikinya sebagai budak. Dan tidaklah ini mengumpulkan diantara
dua wanita yang bersaudara. Karena penyetubuhan bagi wanita pertama itu,
yang dia itu bukan kitabi, adalah tidak boleh baginya. Sesungguhnya
mengumpulkan, ialah bahwa dikumpulkan diantara orang yang halal
penyetubuhannya atas sendiri-sendiri. Kalau budak wanita itu mempunyai
saudara perempuan se bapak, yang beragama dengan agama ahli kitab, niscaya
tidak halal wanita itu baginya dengan jalan milik. Karena keturunannya
kepada bapaknya. Dan bapaknya itu bukan kitabi.
Sesungguhnya saya memperhatikan pada yang halal dari wanita-
wanita musyrik itu kepada keturunan bapak. Tidaklah ini, seperti wanita, yang
Islam salah seorang dari ibu-bapaknya. Dan dia itu masih kecil. Karena Islam
tidak dapat dikongsikan oleh syirik. Dan syirik itu berkongsi dengan syirik.
Dan keturunan itu kepada bapak. Seperti demikian juga agama bagi bapak,
selama budak wanita itu belum dewasa.
Kalau saudara perempuannya sudah dewasa dan beragama dengan
agama ahli kitab. Dan bapaknya watsani atau majusi. Maka tidak halal

102
Ibid, hlm. 9.
67
menyetubuhinya dengan milik perbudakan. Sebagaimana tidak halal
menyetubuhi wanita watsani, yang berpindah kepada agama ahli kitab.
Karena asal agamanya itu bukan agama ahli kitab, kalau ia mengawini
budak wanita kitabi dan budak wanita ini mempunyai saudara perempuan,
yang merdeka, yang kitabi atau Islam.
103
Kemudian lelaki itu mengawini
saudara perempuan wanita tersebut, yang merdeka, sebelum bercerai antara
dia dan budak wanita kitabi itu. Niscaya adalah perkawinan wanita merdeka
yang Islam atau yang kitabi itu boleh. Karena itu halal, yang tidak dibatalkan
oleh pernikahan budak wanita yang kitabi, yang dia itu saudara perempuan
wanita yang dinikahi sesudahnya. Karena pernikahan dengan wanita yang
pertama itu bukan perkawinan. Dan kalau disetubuhinya, maka adalah seperti
yang demikian. Karena persetubuhan itu pada perkawinan yang batal.
Hukumnya tidak mengharamkan akan sesuatu. Karena wanita itu bukan isteri
dan tidak yang dimiliki dengan jalan budak. Lalu mengharamkan
dikumpulkan di antaranya dan saudara perempuannya.
Kalau orang mengawini seorang wanita, dengan syarat bahwa wanita
itu Islam. Tiba-tiba wanita tersebut itu kafir kitabi. Maka boleh bagi lelaki
tersebut membatalkan perkawinan, dengan tanpa membayar setengah mas
kawin. Kalau ia mengawininya dengan syarat bahwa wanita itu kitabi, lalu
tiba-tiba wanita itu Islam. Maka tidak boleh bagi lelaki tersebut membatalkan
perkawinan. Karena wanita Islam itu lebih baik dari wanita kitabi. Kalau ia
mengawini seorang wanita dan ia tidak mengabarkan bahwa wanita itu Islam

103
Ibid, hlm. 9.
68
atau kitabi. Lalu tiba-tiba wanita itu kitabi. Dan ia berkata : "Sesungguhnya
saya mengawininya, dengan syarat wanita itu Islam. Maka yang didengar ialah
perkataan lelaki itu. Baginya boleh melakukan pilihan. Dan atasnya sumpah
akan apa yang dikawininya. Dan ia mengetahuinya wanita kitabi.
104

Al-Syafi’i dalam kitabnya al-Umm Juz IV mengatakan,
ﻥﺃ ﻰﻫﻭ ﻝﺎﲝ ﻢﻠﺴﻤﻠﻟ ﻞﲢ  ﺪﻗ ﺔﻛﺮﺸﳌﺍ ﺓﺃﺮﳌﺍﻭ ﻝﺎﲝ ﻙﺮﺸﳌ ﻞﲢ ﻻ ﺔﻤﻠﺴﳌﺍ
ﺔﻴﺑﺎﺘﻛ ﻥﻮﻜﺗ
105

Artinya: wanita muslimah tidak halal (menikah) dengan laki-laki
musyrik dengan keadaan apa pun, dan wanita musyrik itu
kadang-kadang halal (boleh menikah) bagi lelaki Islam
dengan sesuatu hal dan wanita itu wanita kitabi.

Pada halaman lain, Al-Syafi’i mengatakan:


ﻞﺣﻭ ﻪﺘﺤﻴﺑﺫ ﺖﻠﻛﺃ ﺓﺮﻣﺎﺴﻟﺍﻭ ﲔﺌﺑﺎﺼﻟﺍ ﻦﻣ ﻱﺭﺎﺼﻨﻟﺍﻭ ﺩﻮﻬﻴﻟﺍ ﻦﻳﺩ ﻥﺍﺩ ﻦﻣ
ﻩﺅﺎﺴﻧ
106


Artinya: siapa yang beragama dengan agama Yahudi dan Nasrani dari
orang Sabiin dan Samiri, maka boleh dimakan
sembelihannya dan halal dikawini wanitanya.

C. Metode Istinbath Hukum Al-Syafi'i

Al-Syafi’i menyusun konsep pemikiran ushul fiqihnya dalam karya
monumental yang berjudul al-Risalah. Di samping dalam kitab tersebut,
dalam kitabnya al-Umm banyak pula ditemukan prinsip-prinsip ushul fiqh
sebagai pedoman dalam ber istimbath. Di atas landasan ushul fiqh yang

104
Ibid, hlm. 9.
105
Al-Imam Abi Abdullah Muhammad bin Idris al-Syafi’i, Al-Umm, Beirut Libanon:
Dar al-Kutub al-Ilmiah, tth, juz 4, hlm. 287
106
Ibid, hlm. 289
69
dirumuskannya sendiri itulah ia membangun fatwa-fatwa fiqihnya yang
kemudian dikenal dengan mazhab Syafi’i. Menurut Al-Syafi’i “ilmu itu
bertingkat-tingkat”, sehingga dalam mendasarkan pemikirannya beliau
membagi tingkatan sumber-sumber itu sebagai berikut:
1. Ilmu yang diambil dari kitab (al-Qur’an) dan sunnah Rasulullah SAW
apabila telah tetap kesahihannya.
2. Ilmu yang didapati dari ijma dalam hal-hal yang tidak ditegaskan dalam
al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW.
3. Fatwa sebagian sahabat yang tidak diketahui adanya sahabat yang
menyalahinya.
4. Pendapat yang diperselisihkan di kalangan sahabat.
5. Qiyas apabila tidak dijumpai hukumnya dalam keempat dalil di atas.
107

Tidak boleh berpegang kepada selain al-Qur’an dan sunnah dari
beberapa tingkatan tadi selama hukumnya terdapat dalam dua sumber tersebut.
Ilmu secara berurutan diambil dari tingkatan yang lebih di atas dari tingkatan-
tingkatan tersebut.
Nukilan otentik dari Al-Syafi’i ini (dalam kitab al-Risalah)
menjelaskan landasannya dalam berfatwa. Seperti halnya pada mazhab
lainnya, bagi Al-Syafi’i Al-Qur’an adalah sumber pertama dan utama dalam
membangun fiqih, kemudian sunnah Rasulullah SAW bilamana teruji
kesahihannya.

107
Al-Imam Abi Abdillah Muhammad Ibn Idris Al-Syafi’i, al-Umm. Juz 7, Dar al-
Kutub, Ijtimaiyah, Beirut, Libanon, tt, hlm. 246
70
Dalam urutan sumber hukum di atas, Al-Syafi’i meletakkan sunnah
sejajar dengan al-Qur’an pada urutan pertama, sebagai gambaran betapa
penting sunnah dalam pandangan Al-Syafi’i sebagai penjelasan langsung dari
keterangan-keterangan dalam al-Qur’an.
Masdar-masdar istidlal
108
walaupun banyak namun kembali kepada
dua dasar pokok yaitu: al-kitab dan as-sunnah. Akan tetapi dalam sebagian
kitab Al-Syafi’i, dijumpai bahwa as-sunnah tidak semartabat dengan al-kitab.
Mengapa ada dua pendapat Al-Syafi’i tentang ini.
109

Al-Syafi’i menjawab sendiri pertanyaan ini. Ia berkata; al-kitab dalam
as- sunnah kedua-duanya dari Allah dan kedua-duanya merupakan dua sumber
yang membentuk syariat Islam. Mengingat hal ini tetaplah as-sunnah
semartabat dengan al-Qur’an. Pandangan Al-Syafi’i sebenarnya adalah sama
dengan pandangan kebanyakan sahabat.
110
Al-Syafi’i menetapkan bahwa as-
Sunnah harus diikuti sebagaimana mengikuti al-Qur’an. Namun demikian,
tidak memberi pengertian bahwa hadis-hadis yang diriwayatkan dari nabi
semuanya berfaedah yakin. Ia menempatkan as-Sunnah semartabat dengan al-
kitab pada saat mengistimbathkan hukum, tidak memberi pengertian bahwa
as-Sunnah juga mempunyai kekuatan dalam menetapkan aqidah. Orang yang
mengingkari hadis dalam bidang aqidah, tidaklah dikafirkan.
Al-Syafi’i menyamakan as-Sunnah dengan al-Qur’an dalam

108
Masdar berarti sumber, sedang istidlal artinya mengambil dailil, menjadikan dalil,
berdalil. Lihat TM. Hasbi Ash Shiddieqy, Pokok-Pokok Pegangan Imam Madzhab, PT Putaka
Rizki Putra, Semarang, 1997, hlm. 588, dan 585.
109
Ibid, hlm. 239.
110
Al-Imam Abi Abdillah Muhammad Ibn Idris Al-Syafi’i, al-Risalah, Mesir: al-
Ilmiyah, 1312H. hlm. 32.
71
mengeluarkan hukum furu’, tidak berarti bahwa as-Sunnah bukan merupakan
cabang dari al-Qur’an. Oleh karenanya apabila hadis menyalahi al-Qur'an
hendaklah mengambil al-Qur'an. Al-Syafi’i menetapkan bahwa al-Qur'an
adalah kitab yang diturunkan dalam bahasa Arab yang murni, yang tidak
bercampur dengan bahasa-bahasa lain.
Adapun yang menjadi alasan ditetapkannya kedua sumber hukum
hukum itu sebagai sumber dari segala sumber hukum adalah karena Al-Qur'an
memiliki kebenaran yang mutlak dan as-sunnah sebagai penjelas atau
ketentuan yang memerinci Al-Qur'an.
Ijma menurutnya adalah kesepakatan para mujtahid di suatu masa,
yang bilamana benar-benar terjadi adalah mengikat seluruh kaum muslimin.
Oleh karena ijma itu baru mengikat bilamana disepakati seluruh para mujtahid
di suatu masa, maka dengan gigih Al-Syafi’i menolak ijma penduduk
Madinah (amal ahl al-Madinah), karena penduduk Madinah hanya sebagian
kecil dari ulama mujtahid yang ada pada saat itu. Alasan Al-Syafi’i menolak
ijma penduduk Madinah adalah karena ijma harus merupakan kesepakatan
dari seluruh umat Islam yang tidak hanya terbatas pada satu negara apalagi
hanya satu kota.
111

Al-Syafi’i berpegang kepada fatwa-fatwa sahabat Rasulullah SAW
dalam membentuk mazhabnya, baik yang diketahui ada perbedaan pendapat,

111
Menurut Abd Wahab Khalaf, ijma’ menurut istilah para ahli ushul fiqh adalah
kesepakatan seluruh para mujtahid di kalangan umat Islam pada suatu masa setelah Rasulullah
SAW wafat atas hukum syara’ mengenai suatu kejadian. Lihat Abd Wahab Khalaf, ‘Ilm Ushul
al-Fiqh, Maktabah al-Wal-Matbaah al-Islamiyah, Syabab al-Azhar, Jakarta: 1410 H/1990M.
hlm.45.
72
apalagi yang tidak diketahui adanya perbedaan pendapat di kalangan mereka.
Al-Syafi’i berkata:
112

'-~-- V '-- ءر ó- :-= '-- -+- ءار
Artinya: Pendapat para sahabat lebih baik dari pendapat diri kita
sendiri

Bilamana hukum suatu masalah tidak ditemukan secara tersurat dalam
sumber-sumber hukum tersebut di atas, dalam membentuk mazhabnya ia
melakukan ijtihad. Dengan ijtihad, menurutnya seorang mujtahid akan mampu
mengangkat kandungan al-Qur'an dan sunnah rasulullah SAW secara lebih
maksimal ke dalam bentuk siap untuk diamalkan. Oleh karena demikian
penting fungsinya, maka melakukan ijtihad dalam pandangan Al-Syafi’i
adalah merupakan kewajiban bagi ahlinya. Dalam kitabnya al-Risalah, Al-
Syafi’i pernah mengatakan, “Allah mewajibkan kepada hambanya untuk
berijtihad dalam upaya menemukan hukum yang terkandung dalam al-Qur'an
dan as-Sunnah”. Metode utama yang digunakannya dalam berijtihad adalah
qiyas.
Al-Syafi’i membuat kaidah-kaidah yang harus dipegangi dalam
menentukan mana ar-rayu yang sahih dan mana yang tidak sahih. Ia
membuat kriteria bagi istimbath-istimbath yang salah. Ia menentukan batas-
batas qiyas, martabat-martabatnya, dan kekuatan hukum yang ditetapkan
dengan qiyas. Juga diterangkan syarat-syarat yang harus sempurna pada qiyas.
Sesudah itu diterangkan pula perbedaan antara qiyas dengan macam-macam
istimbath yang lain yang dipandang, kecuali qiyas. Dengan demikian Al-

112
TM. Hasbi Ash shiddieqy, op. cit, hlm. 271.
73
Syafi’i merupakan orang pertama dalam menerangkan hakikat qiyas. Al-
Syafi’i sendiri tidak membuat ta’rif qiyas. Akan tetapi penjelasan-
penjelasannya, contoh-contoh, bagian-bagian dan syarat-syarat menjelaskan
hakikat qiyas, yang kemudian dibuat ta’rifnya oleh ulama ushul.
113

Terhadap istihsan, Al-Syafi’i hanya membenarkan qiyas saja dari
antara cara-cara ijtihad, ia menolak istihsan. Khusus mengenai istihsan ia
mengarang kitab yang berjudul Ibthalul Istikhsan. Dalil-dalil yang
dikemukakan Al-Syafi’i untuk menolak istihsan, disebutkan dalam kitab ini,
kitab Jima’ul Ilmi, al-Risalah dan dalam al-Umm. Kesimpulan yang dapat
ditarik dari uraian-uraian Al-Syafi’i, ialah setiap ijtihad yang tidak bersumber
al-kitab, as-Sunnah, atsar atau ijma’ atau qiyas dipandang istihsan, dan ijtihad
dengan jalan istihsan, adalah ijtihad yang batal.
114
Jadi alasan Al-Syafi’i
menolak istihsan adalah karena kurang bisa dipertanggungjawabkan
kebenarannya.
115

Dalil hukum lainnya yang digunakan Al-Syafi’i adalah maslahah
mursalah, yaitu yang mutlaq, menurut istilah para ahli ilmu ushul fiqh ialah:
suatu kemaslahatan di mana syari’ tidak mensyariatkan suatu hukum untuk
merealisir kemaslahatan itu, dan tidak ada dalil yang menunjukkan atas

113
Al-Imam Abi Abdillah Muhammad Ibn Idris Al-Syafi’i, al-Risalah, op.cit, hlm.
477-497.
114
Al-Imam Abi Abdillah Muhammad Ibn Idris Al-Syafi’i, al-Risalah, op.cit, hlm.
146.
115
Ijtihad dari segi bahasa ialah mengerjakan sesuatu dengan segala kesungguhan.
Perkataan “ijtihad” tidak digunakan kecuali untuk perbuatan yang harus dilakukan dengan
susah payah. Menurut istilah ijtihad ialah menggunakan seluruh kesanggupan untuk
menetapkan hukum-hukum syari’at. Lihat A. Hanafie, ushul Fiqh, Cet. 14, Jakarta: Wijaya,
2001, hlm.151. lihat juga Abd Wahab kalaf, op.cit, hlm. 216
74
pengakuannya atau pembatalannya.
116

Dalam kaitannya dengan perkawinan antar agama, khususnya
mengenai makna ahlul kitab dalam versi al-Syafi'i, ia menggunakan metode
istinbath hukum yaitu Al-Qur'an surat Al-Maidah ayat 5.
ﱞ ﻞ ﺣ  ﺏﺎ ﺘ ﻜﹾ ﻟﺍ ﹾ ﺍﻮ ﺗﻭﹸ ﺃ  ﻦﻳ ﺬﱠﻟﺍ  ﻡﺎ ﻌﹶ ﻃ ﻭ  ﺕﺎ ﺒﻴﱠﻄﻟﺍ  ﻢﹸ ﻜﹶ ﻟ ﱠﻞ ﺣﹸ ﺃ  ﻡ ﻮ ﻴﹾ ﻟﺍ
ﹾ ﻟﺍ ﻭ  ﻢ ﻬﱠﻟ ﱡ ﻞ ﺣ  ﻢﹸ ﻜ ﻣﺎ ﻌﹶ ﻃ ﻭ  ﻢﹸ ﻜﱠﻟ  ﺕﺎ ﻨ ﻣ ﺆ ﻤﹾ ﻟﺍ  ﻦ ﻣ  ﺕﺎ ﻨ ﺼ ﺤ ﻤ
ﺍﹶ ﺫﹺ ﺇ  ﻢﹸ ﻜ ﻠ ﺒﹶ ﻗ ﻦ ﻣ  ﺏﺎ ﺘ ﻜﹾ ﻟﺍ ﹾ ﺍﻮ ﺗﻭﹸ ﺃ  ﻦﻳ ﺬﱠﻟﺍ  ﻦ ﻣ  ﺕﺎ ﻨ ﺼ ﺤ ﻤﹾ ﻟﺍ ﻭ
ﻱ ﺬ ﺨﺘ ﻣ ﹶ ﻻ ﻭ  ﲔ ﺤ ﻓﺎ ﺴ ﻣ  ﺮ ﻴﹶ ﻏ  ﲔﹺ ﻨ ﺼ ﺤ ﻣ ﻦ ﻫﺭﻮ ﺟﹸ ﺃ ﻦ ﻫﻮ ﻤ ﺘ ﻴ ﺗﺁ
ﺍ ﻲ ﻓ  ﻮ ﻫ ﻭ  ﻪﹸ ﻠ ﻤ ﻋ ﹶ ﻂﹺ ﺒ ﺣ  ﺪﹶ ﻘﹶ ﻓ  ﻥﺎ ﳝِ ﻹﺎﹺ ﺑ  ﺮﹸ ﻔﹾﻜ ﻳ ﻦ ﻣ ﻭ  ﻥﺍ ﺪ ﺧﹶ ﺃ  ﺓ ﺮ ﺧﻵ
 ﻦﻳﹺ ﺮ ﺳﺎ ﺨﹾ ﻟﺍ  ﻦ ﻣ ) ﺓﺪﺋﺎﳌﺍ : 5 (

Artinya: Pada hari ini dihalalkan bagi kamu yang baik-baik.
Makanan [sembelihan] orang-orang yang diberi al-Kitab
itu halal bagi kamu, dan mahanan kamu halal [pula] bagi
mereka. [Dan dihalalkan bagi kamu menikahi] wanita-
wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita
yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga
kehormatan di antara orang-orang yang diberi al-Kitab
sebelum kamu, bila kamu telah membayar mahar mereka
dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud
berzina dan tidak [pula] menjadikannya gundik-gundik.
Barangsiapa yang kafir sesudah beriman maka hapuslah
amalannya dan di hari akhirat dia termasuk orang-orang
yang merugi. (Q.S. al-Maidah: 5)

Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa para ahli tafsir dan para
ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan ayat wal muhsanâtî minal lazîna
ûtul kitâb min qablikum menurut Ibnu Jarir yang dimaksud dengan muhsanat
adalah wanita baik-baik dari ahli kitab baik merdeka atau budak. Imam Syafi'i

116
Abd Wahab Khalaf, ‘Ilm ushul al-Fiqh, Jakarta: Maktabah al-Dak’wah al-
Islamiyah Syabab al-Azhar, 1410 H/1990M. hlm. 84. Cf. Sobhi Mahmassani, op.cit, hlm.184.
75
yang dimaksud ahli kitab di sini adalah wanita baik-baik dari Bani Israil. Dan
menurut yang lain muhsanat adalah wanita ahli kitab yang baik-baik tadi yang
merupakan penduduk Negeri Islam (Kafir Zimmi),
117
karena berdasarkan
firman Allah yang mengatakan:
ﹺ ﺮ ﺧﻵﺍ ﹺ ﻡ ﻮ ﻴﹾ ﻟﺎﹺ ﺑ ﹶ ﻻ ﻭ  ﻪﹼﻠﻟﺎﹺ ﺑ ﹶ ﻥﻮ ﻨ ﻣ ﺆ ﻳ ﹶ ﻻ  ﻦﻳ ﺬﱠﻟﺍ ﹾ ﺍﻮﹸ ﻠ ﺗﺎﹶ ﻗ

Artinya: Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan
tidak pula pada hari kemudian.
118



























117
Ismâ'îl ibn Katsîr al-Qurasyî al-Dimasyqî, Tafsîr al-Qur’an al-Azîm., Beirut: Dâr
al-Ma’rifah, 1978, Juz 6, hlm. 252.
118
Depag RI, Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an, Al-Qur’an
dan Terjemahnya, 1986, hlm. 282.
76
BAB IV
ANALISIS PENDAPAT AL-SYAFI'I TENTANG
PERKAWINAN ANTAR AGAMA

C. Pendapat Al-Syafi'i tentang Perkawinan Antar Agama

Perkawinan antaragama dapat terjadi antara
3. Calon istri beragama Islam dan calon suami tidak beragama Islam, baik
"ahlulkitab" maupun musyrik.
4. Calon suami beragama Islam dan calon istri tidak beragama Islam, baik
ahlulkitab maupun musyrik.
Dalam konteksnya dengan perkawinan antaragama, Allah berfirman
dalam Surat Al-Baqarah ayat 221:
ﻦ` ﻣ ` ﺮ` ﻴ ﺧ ﹲ ﺔ ﻨ ﻣ` ﺆ' ﻣ ﹲ ﺔ ﻣَ ﻷ ﻭ ` ﻦ ﻣ` ﺆ` ﻳ ﻰ` ﺘ ﺣ ﺕﺎﹶﻛﹺ ﺮ` ﺸ` ﻤﹾ ﻟﺍ ﹾ ﺍﻮ` ﺤ ﻜﻨ ﺗ ﹶ ﻻ ﻭ
` ﻢﹸ ﻜ` ﺘ ﺒ ﺠ` ﻋﹶ ﺃ ` ﻮﹶ ﻟ ﻭ ﺔﹶ ﻛﹺ ﺮ` ﺸ' ﻣ ,... ﺓﺮﻘﺒﻟﺍ · 221 .
Artinya: Janganlah kamu mengawini wanita-wanita musyrik,
sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak
yang beriman lebih baik daripada wanita musyrik,
walaupun dia menarik hatimu… (Q.S. al-Baqarah:
221).

Terhadap ayat ini, Imam Jalaluddin al-Mahalli, Imam Jalaluddin as-
Suyuti menjelaskan tentang Asbab an Nuzul Surat al-Baqarah ayat 221: di
ketengahkan oleh Ibnu Munzir, Ibnu Abi Hatim dan al-Wahidi dari Muqatil,
katanya: ayat ini diturunkan mengenai Ibnu Abu Marsad al-Ganawi yang
meminta izin kepad Nabi Muhammad SAW untuk mengawini seorang wanita
musyrik yang cantik dan mempunyai kedudukan tinggi. Maka turunlah ayat
77
ini.
119
Demikian pula dalam Tafsir Ibnu Kasir dijelaskan tentang tafsir surat
al-Baqarah ayat 221 sebagai berikut: melalui ayat ini Allah mengharamkan
atas orang-orang mukmin menikahi wanita-wanita yang musyrik dari kalangan
penyembah berhala. Kemudian jika makna yang dimaksud bersifat umum,
berarti termasuk ke dalam pengertian setiap wanita musyrik kitabiyah dan
wasaniyah. Akan tetapi dikecualikan dari hal tersebut wanita ahli kitab oleh
Firmannya dalam surah al-Ma’idah ayat 5.
120

Akibat hukum dari perkawinan antaragama adalah sebagai berikut:
1. Apabila perkawinan antaragama terjadi antara perempuan yang beragama
Islam dan laki-laki yang tidak beragama Islam, baik musyrik maupun
ahlulkitab, maka ulama fikih sepakat hukumnya tidak sah. Alasannya
adalah firman Allah SWT dalam al-Baqarah (2) ayat 221
2. Apabila perkawinan terjadi antara laki-laki muslim dengan perempuan
musyrik, ulama fikih sepakat menyatakan bahwa hukumnya tidak sah.
Argumen yang dikemukakan adalah firman Allah SWT dalam al-Baqarah
(2) ayat 221. Namun ulama berbeda pendapat mengenai siapa yang
disebut perempuan musyrik itu.
3. Apabila perkawinan terjadi antara laki-laki beragama Islam dan
perempuan yang tergolong ahlul kitab, terdapat beberapa pendapat di
antara ulama fikih, namun jumhur ulama fikih membolehkan perkawinan
laki-laki muslim dengan perempuan ahlul kitab. Argumen mereka adalah

119
Imam Jalaluddin al-Mahalli, Imam Jalaluddin as-Suyuti, Tafsir Jalalain, Kairo:
Dar al-Fikr, t.th, juz 1, hlm. 6
120
Al-Imam al-Hafizh Imaduddin Abul Fida Ismail ibn Kasir, Tafsir al-Qur’an al-
‘Azhim, Dar Ihya’ al-Kutub al-Arabiyah, juz 2, Cairo, tth, hlm. 417
78
pertama, penjelasan yang terdapat dalam Al-Qur'an dalam surah al-
Ma'idah ayat 5 dan kedua, pendapat Sayid Sabiq, ahli fikih di Mesir, yang
menjelaskan bahwa sekalipun boleh mengawini wanita ahlul kitab. namun
hukumnya makruh.
Sekalipun jumhur ulama fikih sepakat tentang kebolehan seorang laki-
laki beragama Islam mengawini wanita ahlul kitab, namun mereka berbeda
pendapat dalam menentukan wanita ahlul kitab itu sendiri.
Dengan demikian persoalan yang paling menonjol sehingga
menimbulkan perbedaan pendapat dalam kasus perkawinan antar agama
adalah masalah makna istilah “ahli Kitab” dan “Musyrik:”
Menurut Al-Syafi'i, yang termasuk ahlul kitab adalah orang-orang
Yahudi dan Nasrani keturunan orang-orang Israel, tidak termasuk bangsa-
bangsa lain sekalipun penganut agama Yahudi dan atau Nasrani. Di antara
alasan yang diajukan adalah
(3). Karena Nabi Musa AS dan Nabi Isa AS hanya diutus untuk orang-orang
bangsa Israel; dan
(4). Lafal min qablikum (umat sebelum kamu) dalam surah al-Ma'idah (5) ayat
5 menunjuk kepada kedua kelompok Yahudi dan Nasrani bangsa Israel.
Pendapat al-Syafi'i di atas dapat dijumpai dalam kitabnya yang pada
intinya menyatakan:
79
ﻞﺣﻭ ﻪﺘﺤﻴﺑﺫ ﺖﻠﻛﺃ ﺓﺮﻣﺎﺴﻟﺍﻭ ﲔﺌﺑﺎﺼﻟﺍ ﻦﻣ ﻱﺭﺎﺼﻨﻟﺍﻭ ﺩﻮﻬﻴﻟﺍ ﻦﻳﺩ ﻥﺍﺩ ﻦﻣ
ﻩﺅﺎﺴﻧ
121

Artinya: siapa yang beragama dengan agama Yahudi dan Nasrani dari
orang Sabiin dan Samiri, maka boleh dimakan
sembelihannya dan halal dikawini wanitanya.
122


ﳌﺍﻭ ﻝﺎﲝ ﻙﺮﺸﳌ ﻞﲢ ﻻ ﺔﻤﻠﺴﳌﺍ ﻥﺃ ﻰﻫﻭ ﻝﺎﲝ ﻢﻠﺴﻤﻠﻟ ﻞﲢ ` ﺪﻗ ﺔﻛﺮﺸﳌﺍ ﺓﺃﺮ
ﺔﻴﺑﺎﺘﻛ ﻥﻮﻜﺗ
123

Artinya: wanita muslimah tidak halal (menikah) dengan laki-laki
musyrik dengan keadaan apa pun, dan wanita musyrik itu
kadang-kadang halal (boleh menikah) bagi lelaki Islam
dengan sesuatu hal dan wanita itu wanita kitabi.

Dalam perspektif Imam al-Syafi’i bahwa perempuan ahlul kitab yang
halal dinikahi oleh orang muslim ialah perempuan yang menganut agama
Nasrani atau Yahudi sebagai agama keturunan dari orang–orang (nenek
moyang mereka) yang menganut agama tersebut semenjak masa sebelum Nabi
Muhammad dibangkitkan menjadi Rasul (yakni sebelum al-Qur’an
diturunkan. Tegasnya dalam pandangan al-Syafi’i bahwa orang yang baru
menganut agama Yahudi atau Nasrani sesudah al-Qur’an diturunkan, tidaklah
dianggap ahlul kitab, karena terdapat perkataan min qablikum (dari sebelum
kamu) dalam ayat 5 surah al-Maidah. Perkataan min qablikum tersebut
menjadi qayid bagi ahlul kitab yang dimaksud. Jalan pikiran al-Syafi’i ini

121
Al-Imam Abi Abdullah Muhammad bin Idris al-Syafi’i, Al-Umm, Beirut Libanon:
Dar al-Kutub al-Ilmiah, tth, juz 4, hlm. 287 dan 289
122
Sabi'in adalah nama golongan yang mengikuti nabi-nabi zaman dahulu. Sedangkan
Samiri adalah nama suatu suku dari bangsa Israil.
123
Al-Imam Abi Abdullah Muhammad bin Idris al-Syafi’i, Al-Umm, Beirut Libanon:
Dar al-Kutub al-Ilmiah, tth, juz 4, hlm. 287
80
mengakui ahlul kitab itu bukan karena agamanya, tetapi karena menghormati
keturunannya.
Dalam kaitan ini, penulis di satu segi kurang sependapat dengan
pendapat al-Syafi'i yang mengkategorikan ahlul kitab seperti tersebut di atas.
Alasan penulis kurang setuju karena bila diaplikasikan di Indonesia, maka
orang-orang Indonesia yang menganut agama Yahudi atau Nasrani sesudah
turunnya al-Qur’an maka mereka tidaklah termasuk di dalam ahlul kitab,
konsekuensinya maka tidak halal bagi muslim menikahi perempuan-
perempuan mereka.
Di segi lain, penulis setuju dengan pendapat al-Syafi’i yang
membolehkan pria muslim menikah dengan perempuan ahlul kitab. Alasan
penulis setuju karena surah al-Maidah ayat 5 merupakan petunjuk yang qath’i
(tegas) tentang bolehnya menikahi wanita ahlul kitab. Dengan kata lain,
menikahi wanita ahlul kitab boleh karena ayat ke-5 dari al-Maidah itu secara
qath'i (tegas) menyatakan kehalalannya.
Kata al-Zamakhsyari, ayat ´ .ِ -ْ·ُ - ´ -َ = ِ ت'َ آِ ·ْ -ُ -ْ 'ا ْا·ُ =ِ ´-َ - َ `َ و dinasikhkan
oleh ayat 5 dari al-Maidah itu. Ini pendapat orang yang menganggap ahli kitab
termasuk musyrik, sesuai dengan penegasan ayat 72 dari al-Maidah yang
berbunyi:
... ﻦ ﻣ ` ﻪ` ﻧﹺ ﺇ ` ﻢﹸ ﻜ` ﺑ ﺭ ﻭ ﻲ` ﺑ ﺭ ﻪﹼ ﻠﻟﺍ ﹾ ﺍﻭ` ﺪ` ﺒ` ﻋﺍ ﹶ ﻞﻴﺋﺍ ﺮ` ﺳﹺ ﺇ ﻲﹺ ﻨ ﺑ ﺎ ﻳ ` ﺢﻴِ ﺴ ﻤﹾ ﻟﺍ ﹶ ﻝﺎﹶ ﻗ ﻭ
ﻭﹾ ﺄ ﻣ ﻭ ﹶ ﺔ` ﻨ ﺠﹾ ﻟﺍ ﻪﻴﹶ ﻠ ﻋ ` ﻪﹼ ﻠﻟﺍ ﻡ` ﺮ ﺣ ` ﺪﹶ ﻘﹶ ﻓ ﻪﹼﻠﻟﺎﹺ ﺑ ` ﻙﹺ ﺮ` ﺸ` ﻳ ` ﺭﺎ` ﻨﻟﺍ ` ﻩﺍ ,... ﺓﺪﺋﺎﳌﺍ · 72 .

81
Artinya: ... Isa al-Masih berkata: "Hai Bani Israil sembahlah Allah
[yaitu] Tuhanku dan Tuhanmu; Sesungguhnya siapa saja
menyekutukan Allah, maka Allah telah mengharamkannya
masuk surga; dan tempatnya adalah neraka...) (Q.S. al-
Maidah: 72)

Tapi bagi orang yang menganggap bahwa ahli kitab tidak termasuk
musyrik agaknya mereka akan berkata, bahwa syirik dalam al-Maidah 72 ini
berkonotasi umum atau pengertian syirik secara lughawi bukan pengertian
secara khusus yang penyembah berhala seperti tampak dalam al-Bayyinah: 1,
al-Hajj: 17 ataupun al-Maidah 82. Adapun al-Baqarah: 221 menurut mereka
membicarakan kaum musyrik selain ahli kitab; sedangkan al-Maidah: 5,
menjelaskan hukum perkawinan khusus mengenai ahli kitab. Menurut jumhur
ulama, ahli kitab ialah kaum Yahudi dan Nasrani, sementara musyrik ialah
para penyembah berhala. Pemilahan pengertian ini berawal dari redaksi ayat
Al-Qur'an sendiri yang menyebut kaum musyrik tersendiri di samping kaum
ahli kitab, yang dihubungkan dengan huruf 'athf (waw), yang menurut kaidah
bahasa Arab, antara lain menunjukkan bahwa mathuf berlainan dari
ma'thuf'alaih, sebagaimana tampak di dalam ayat-ayat berikut:
ﻰ` ﺘ ﺣ ﲔﱢ ﻜﹶ ﻔﻨ` ﻣ ﲔ ﻛﹺ ﺮ` ﺸ` ﻤﹾ ﻟﺍ ﻭ ﹺ ﺏﺎ ﺘ ﻜﹾ ﻟﺍ ﹺ ﻞ` ﻫﹶ ﺃ ` ﻦ ﻣ ﺍﻭ` ﺮﹶ ﻔﹶ ﻛ ﻦﻳ ﺬﱠ ﻟﺍ ﹺ ﻦﹸ ﻜ ﻳ ` ﻢﹶ ﻟ
ﺔ ﻨ` ﻴ ﺒﹾ ﻟﺍ ` ﻢ` ﻬ ﻴ ﺗﹾ ﺄ ﺗ , ﺔﻨﻴﺒﻟﺍ · 1 .

Artinya: Dan orang-orang kafir di antara ahli kitab (Yahudi, Nasrani)
dan orang-orang yang musyrik tidak mau meninggalkan
agama mereka sehingga datang keterangan kepada mereka
(Q.S. al-Bayyinah: 1).

82
ﹾ ﺍﻮﹸ ﻛ ﺮ` ﺷﹶ ﺃ ﻦﻳ ﺬﱠ ﻟﺍ ﻭ ﺩﻮ` ﻬ ﻴﹾ ﻟﺍ ﹾ ﺍﻮ` ﻨ ﻣﺁ ﻦﻳ ﺬﱠ ﻠﱢ ﻟ ﹰ ﺓ ﻭﺍ ﺪ ﻋ ﹺ ﺱﺎ` ﻨﻟﺍ ` ﺪ ﺷﹶ ﺃ ﱠ ﻥ ﺪﹺ ﺠ ﺘﹶ ﻟ
ﺎ` ﻧﹺ ﺇ ﹾ ﺍ ﻮﹸ ﻟﺎﹶ ﻗ ﻦﻳ ﺬﱠ ﻟﺍ ﹾ ﺍﻮ` ﻨ ﻣﺁ ﻦﻳ ﺬﱠ ﻠﱢ ﻟ ﹰ ﺓ` ﺩ ﻮ` ﻣ ` ﻢ` ﻬ ﺑ ﺮﹾ ﻗﹶ ﺃ ﱠ ﻥ ﺪﹺ ﺠ ﺘﹶ ﻟ ﻭ
ﻧ ﻯ ﺭﺎ ﺼ ,... ﺓﺪﺋﺎﳌﺍ · 82 .
Artinya: Sesungguhnya kamu [Muhammad] niscaya menemukan
orang-orang yang sangat keras memusuhi orang-orang
beriman, ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik
(mempersekutukan Allah). Dan kamu menemukan pula
orang-orang yang kasih kepada orang-orang yang beriman,
yaitu orang-orang yang berkata, "Kami adalah orang-orang
Nasrani ...") (Q.S. al-Maidah: 82)

ﺱﻮ` ﺠ ﻤﹾ ﻟﺍ ﻭ ﻯ ﺭﺎ ﺼ` ﻨﻟﺍ ﻭ ﲔ ﺌﹺ ﺑﺎ` ﺼﻟﺍ ﻭ ﺍﻭ` ﺩﺎ ﻫ ﻦﻳ ﺬﱠ ﻟﺍ ﻭ ﺍﻮ` ﻨ ﻣﺁ ﻦﻳ ﺬﱠ ﻟﺍ ﱠ ﻥﹺ ﺇ
ﻳ ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ﱠ ﻥﹺ ﺇ ﺍﻮﹸ ﻛ ﺮ` ﺷﹶ ﺃ ﻦﻳ ﺬﱠ ﻟﺍ ﻭ ﱢ ﻞﹸ ﻛ ﻰﹶ ﻠ ﻋ ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ﱠ ﻥﹺ ﺇ ﺔ ﻣﺎ ﻴ ﻘﹾ ﻟﺍ ﻡ` ﻮ ﻳ ` ﻢ` ﻬ ﻨ`ﻴ ﺑ ﹸ ﻞ ﺼﹾ ﻔ
` ﺪﻴﹺ ﻬ ﺷ ٍ ﺀ` ﻲ ﺷ , ﺞﳊﺍ · 17 .

Artinya: Sesungguhnya orang-orang beriman dan orang-orang Yahudi,
orang-orang Shabi'in (penyembah bintang), orang-orang
Nasrani dan Majusi, begitu pun orang-orang yang
mempersekutukan Allah sungguh Allah bakal memberikan
keputusan yang tegas di antara mereka pada hari kiamat.
Adalah Allah saksi pada tiap-tiap sesuatu (Q.S. al-Hajj: 17).

Di dalam ayat-ayat yang dinukilkan di atas tampak dengan jelas
berbagai golongan dan aliran agama yang dianut umat manusia. Pada urutan
pertama disebutkan kaum Yahudi, musyrik, Nasrani; dan pada urutan ketiga
lebih banyak lagi disebutkan, mulai dari kaum Yahudi terus Shabi'in, Nasrani,
Majusi, dan terakhir kaum musyrik. Akhir ayat ketiga Tuhan tutup dengan
suatu pernyataan tegas bahwa Dia akan memberikan keputusan di antara
mereka kelak pada hari kiamat. Seandainya mereka berada pada posisi yang
sama, tentu pernyataan Tuhan yang terakhir itu tidak diperlukan.
83
Jadi berdasarkan pola susunan redaksi ayat dan ditambah pula dengan
pernyataan Tuhan yang tercantum pada akhir ayat ketiga itu, maka dapat
disimpulkan bahwa masing-masing golongan itu mempunyai perbedaan
meskipun sama-sama kufur. Sekiranya mereka mempunyai status yang sama
di sisi Allah, tentu pernyataan tersebut tak akan diberikan, sebagaimana tak
perlu menyebutnya satu persatu melainkan cukup dengan sebutan kafir atau
musyrik saja. Dengan demikian maka kaum Shabiin dan Majusi, misalnya,
tidak dapat digolongkan ke dalam kelompok orang-orang yang musyrik
(ا·ُ آَ ·ْ -َ أ َ .-ِ -´ 'اَ و ) yang disebut Allah bersama dengan dua kelompok itu pada
ayat ketiga tersebut.
Sekarang muncul persoalan berikutnya: jika mereka tidak musyrik
apakah mereka mempunyai nabi dan kitab suci? Memang tidak ada
keterangan yang tegas tentang itu. Tapi Sayyid Muhammad Rasyid Ridha,
cenderung berpendapat bahwa mereka dulunya mempunyai kitab dan nabi.
Namun karena masanya telah terlalu lama dan jarak mereka dari nabi tersebut
sangat jauh, maka kitab aslinya tidak dapat diketahui lagi.
124
Pendapat ini
didasarkannya pada firman Allah berikut:
... ` ﺮﻳ ﺬ ﻧ ﺎ ﻬﻴ ﻓ ﺎﹶ ﻠﺧ ﺎﱠ ﻟﹺ ﺇ ﺔ` ﻣﹸ ﺃ ` ﻦ` ﻣ ﻥﹺ ﺇ ﻭ , ﺮﻃﺎﻓ · 24 .
Artinya: "... Dan tidak ada suatu umat pun melainkan telah ada pada
mereka seorang pemberi peringatan. " (Fathir: 24)

... ﺩﺎ ﻫ ﹴ ﻡ` ﻮﹶ ﻗ ﱢ ﻞﹸ ﻜ ﻟ ﻭ ` ﺭ ﺬﻨ` ﻣ ﺖﻧﹶ ﺃ ﺎ ﻤ` ﻧﹺ ﺇ , ﺪﻋﺮﻟﺍ · 7 .

124
Sayyid Muhammad Rasyid Ridha, Tafsir al-Manar, Kairo: Maktabah al-Qahirah,
cet. Ke-4, 1380 H, juz VI, hlm. 186-187.
84
Artinya: "... Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi
peringatan dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi
petunjuk." (al-Ra'd: 7)

... ` ﺪ ﻣﹶ ﺄﹾ ﻟﺍ ` ﻢﹺ ﻬ` ﻴﹶ ﻠ ﻋ ﹶ ﻝﺎﹶ ﻄﹶ ﻓ ﹸ ﻞ` ﺒﹶ ﻗ ﻦ ﻣ ﺏﺎ ﺘ ﻜﹾ ﻟﺍ ﺍﻮ` ﺗﻭﹸ ﺃ ﻦﻳ ﺬﱠ ﻟﺎﹶ ﻛ ﺍﻮ` ﻧﻮﹸ ﻜ ﻳ ﻻ ﻭ
ﺳﺎﹶ ﻓ ` ﻢ` ﻬ` ﻨ` ﻣ ` ﲑ ﺜﹶ ﻛ ﻭ ` ﻢ` ﻬ` ﺑﻮﹸ ﻠﹸ ﻗ ` ﺖ ﺴﹶ ﻘﹶ ﻓ ﹶ ﻥﻮﹸ ﻘ , ﺪﻳﺪﳊﺍ · 16 .

Artinya: "... Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang
sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepada mereka,
kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati
mereka menjadi keras, dan kebanyakan di antara mereka,
adalah orang-orang yang fasik." (al-Hadid: 16)

ﻚ` ﻴﹶ ﻠ ﻋ ﺎ ﻨ` ﺼ ﺼﹶ ﻗ ﻦ` ﻣ ﻢ` ﻬ` ﻨ ﻣ ﻚ ﻠ` ﺒﹶ ﻗ ﻦ` ﻣ ﹰ ﻼ` ﺳ` ﺭ ﺎ ﻨﹾ ﻠ ﺳ` ﺭﹶ ﺃ ` ﺪﹶ ﻘﹶ ﻟ ﻭ ,... ﺮﻓﺎﻏ ·
78 .
Artinya: "Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul
sebelum kamu, di antara mereka, ada yang telah Kami
ceritakan kepadamu dan ada pula yang tidak pernah Kami
ceritakan kepadamu ..." (Ghafir: 78)

Andaikata pemahaman Ridha itu benar, maka pengertian syirik
menjadi sangat sempit; tidak seperti pemahaman Ibn 'Umar, bahwa selain
mukmin adalah musyrik; sebagaimana telah dijelaskan. Namun bila dikaitkan
dengan kajian skripsi ini (perkawinan antar agama), maka timbul pertanyaan:
apakah seorang muslim boleh menikahi wanita non muslim selain ahli kitab
yang tidak disebutkan oleh Al-Qur'an dan sebaliknya?
Timbul berbagai pendapat dalam menetapkan kasus tersebut. Hal itu
membuktikan bahwa para ulama tidak mempunyai kata sepakat (ijma') atas
pengertian lafal (َ .-ِ آِ ·ِ -ُ -ْ 'ا ) dan َ ب'َ -ِ ´ْ 'ا ا·ُ -وُ أ َ .-ِ -´ 'اَ. Apakah mencakup semua
mereka yang ingkar kepada Nabi Muhammad atau tidak? Ataukah ayat itu
juga menunjuk kepada pemeluk-pemeluk agama non Islam secara umum?
85
Tidak dijumpai penjelasan yang tegas dalam hal ini. Kondisi inilah yang
membuat munculnya berbagai pendapat di kalangan ulama. Dengan demikian
tidak dapat disalahkan bila ada di antara ulama yang mengatakan bahwa lafal
itu ditujukan kepada kaum musyrik dari bangsa Arab yang menyembah
berhala; kemudian dikiaskan kepadanya para penganut agama (aliran) lain
yang juga tak mempunyai nabi dan kitab suci atau yang semisalnya,
sebagaimana dapat dikiaskan kepada kaum Yahudi dan Nasrani, para pemeluk
agama-agama lain yang tidak diketahui lagi asal-usul kitab suci mereka seperti
para penganut Majusi, dan lain-lain. Qatadah, seorang tokoh mufasir di
kalangan tabi'in sebagai dikutip Ridha, memang berpendapat bahwa yang
dimaksud dengan musyrik di dalam ayat itu ialah bangsa Arab (penyembah
berhala) yang ada pada waktu Al-Qur'an diturunkan.
125

Oleh karena itu, tulis Ridha lagi, ayat: ´ -َ = ِ ت'َ آِ ·ْ -ُ -ْ 'ا ْا·ُ =ِ ´-َ - َ `َ و
´ .ِ -ْ·ُ -tidak tegas melarang menikahi wanita-wanita musyrik selain bangsa Arab
seperti Cina (penganut Kong Hu Cu, Budha, dan lain-lain).
126
Asbab (latar
belakang) turun ayat 221 dari al-Baqarah memang berkenaan dengan wanita
musyrik bukan ahli kitab, yang hendak kawin dengan seorang pria muslim,
Abu Martsad al-Ghanawi; lalu turunlah ayat tersebut melarangnya.
Jika "khusus sebab" itu saja yang dijadikan dasar dalam menetapkan
suatu hukum, maka memang masuk akal bahwa yang diharamkan Tuhan
mengawininya adalah wanita-wanita musyrik di kalangan bangsa Arab saja

125
Ibid., hlm. 190
126
Ibid.,
86
ketika Al-Qur'an diturunkan. Itu berarti, sekarang tidak haram lagi menikahi
wanita-wanita musyrik. Agaknya pemahaman serupa ini terlalu longgar.
Apabila umat Islam menganut sikap ini, maka budaya permissive
(serba boleh) yang diterapkan di Barat akan melanda kehidupan Timur (Islam)
yang tenang dan damai. Akibatnya akan menimbulkan kerancuan tatanan
sosial dan kerawanan di tengah masyarakat. Dampak semua ini dapat
menghancurkan masa depan umat Islam itu sendiri.
Untuk mengantisipasi pemahaman yang demikian, maka dalam
menafsirkan suatu ayat berbagai disiplin ilmu perlu diperhatikan. Di samping
menguasai bahasa Arab, kaidah-kaidah, dan balaghah serta aspek-aspek yang
berhubungan dengannya, seorang mufasir diharuskan pula menguasai ilmu
ushul fikih dan kaidah-kaidah yang berkaitan dengannya, Dalam kajian di sini,
misalnya, kaidah: -ّ --'ا ص·-=-` =-''ا م·-·- ة·-·'ا
Artinya: Yang menjadi ukuran ialah umum lafal, bukan khusus sebab.
Kalau kaidah ini diterapkan terhadap ayat 221 maka konotasi kata
syirik menjadi amat luas, sehingga masuklah ke dalamnya penganut agama
(aliran) Majusi, penyembah berhala, penganut animisme, Budhisme,
Hinduisme, Shintoisme, dan sebagainya. Apakah para pemeluk agama atau
aliran itu dianggap musyrik sehingga terlarang bagi pria muslim, mengikat
perkawinan dengan wanita-wanita mereka?
Sebagian ulama seperti Ridha, sebagaimana telah disebut, memang
menganggap mereka masuk golongan ahli kitab. Namun generasi salaf dan
pada umumnya ulama menyatakan mereka bukan ahli kitab karena tak ada
87
ketegasan dari Al-Qur'an tentang hal itu; sementara kaum Yahudi dan Nasrani
dengan tegas dinyatakan Allah sebagai ahli kitab seperti dijumpai di dalam
berbagai ayat Al-Qur'an mereka disebut dengan panggilan "ahli kitab".
Berdasarkan pendapat ulama salaf dan jumhur itu, maka Ibrahim
Husen menyatakan bahwa pemeluk agama non Islam seperti Hindu, Budha,
Kong Hu Cu, Shinto, dan Aliran Kepercayaan di Indonesia, sama statusnya
dengan Majusi. "Dus menikahi wanita-wanita mereka [bagi pria muslim]
adalah hal terlarang". Untuk mendukung pendapatnya itu, Ibrahim Husen
mengutip isi surat Rasul Allah kepada orang-orang Majusi. Antara lain
berbunyi: "Jika kamu menolak, kamu diwajibkan membayar fidyah dan
tidaklah halal bagi kami sembelihanmu, dan menikahi wanita-wanitamu." Di
dalam surat ini mereka tidak disebut 'ahli kitab'; padahal suratnya kepada
Kisra Rumawi, memanggilnya dengan sebutan 'ahli kitab'.
Di samping berbagai pendapat itu, ada pendapat lain dari ulama
Syafi'iyah yang menegaskan bahwa wanita-wanita ahli kitab yang halal
dinikahi itu ialah keturunan dari nenek moyang mereka yang memeluk agama
tersebut sebelum Muhammad saw ada/diutus. Tegasnya mereka yang
memeluknya setelah itu tidak halal lagi karena bukan ahli kitab sebagaimana
yang dimaksud oleh ayat dari al-Maidah itu.
Apabila pendapat ini diikuti, maka mereka yang masuk agama Kristen
atau Yahudi setelah Nabi Muhammad saw diutus tidak halal mengawininya.
Ibrahim Husen dengan tegas menganut pendapat ini karena konotasi kata
ُ ت'َ -َ -ْ =ُ -ْ 'ا di dalam ayat ke-5 dari al-Maidah itu, menurutnya dibatasi ruang
88
lingkupnya oleh lafal ْ»ُ ´ِ 'ْ -َ · .ِ - yang terletak sesudahnya. Jadi yang dimaksud
dengan wanita kitabiyah, tegasnya, ialah yang beragama dengan agama nenek
moyangnya sejak sebelum Nabi saw diutus.
Semua uraian di atas khusus menyangkut perkawinan lelaki muslim
dengan wanita non Islam, tidak sebaliknya. Ada pendapat yang melarangnya
sama sekali seperti yang dianut oleh Ibn 'Umar; ada yang membolehkannya
dengan syarat: sang suami tidak dikhawatirkan akan terpengaruh oleh istrinya
yang bukan Islam itu kelak; ini difatwakan oleh Mahmud Syaltut dalam kitab
al-Fatawa. Selain itu ada pendapat keempat yang dimajukan oleh ulama
Syafi'iyah. Mereka membolehkan menikahi wanita khitabiyah yang
merupakan anak cucu dari pemeluk agama ahli kitab sebelum Nabi
Muhammad saw diutus. Sebaliknya mengharamkan nikah dengan wanita yang
menjadi ahli kitab setelah kebangkitan tersebut.
Terjadi perbedaan pendapat sebagaimana dijelaskan itu, pada dasarnya
bermula dari berbedanya prinsip yang mereka anut dalam menetapkan batasan
'musyrik' dan 'ahli kitab'. Perkawinan yang dilarang Allah ialah dengan orang
musyrik; baik laki-laki, maupun perempuan. Sedangkan menikahi wanita ahli
kitab dibolehkan-Nya. Jadi para pemeluk agama non Islam yang dianggap
tidak masuk kategori ahli kitab maka haram nikah dengan wanita-wanita
mereka karena dianggap musyrik; sebaliknya, jika ahli kitab dikategorikan
sebagai musyrik, maka haram pula menikahi wanita-wanita mereka,
sebagaimana telah dijelaskan di muka.
89
Jika mayoritas ulama membolehkan pria muslim menikahi wanita ahli
kitab, maka dalam kasus wanita muslim dinikahi oleh pria non Islam, mereka
sepakat mengharamkannya. Di dalam ayat 5 dari al-Maidah di atas, kata
mereka, Allah hanya menegaskan: "makananmu halal bagi mereka, dan tidak
dikatakan-Nya wanita-wanitamu halal bagi mereka. Perbedaan redaksi ini,
kata al-Shabuni, dapat dijadikan indikator bahwa hukum kedua kasus ini tidak
sama; artinya, dalam masalah makanan, mereka boleh saling memberi dan
menerima, serta masing-masing boleh memakan makanan pihak lain; tidak
demikian halnya dengan kasus perkawinan karena jika memang dibolehkan
menikahkan wanita-wanita Islam dengan pria non Islam, niscaya Allah tidak
akan mendiamkannya begitu saja sebab persoalan 'kawin' jauh lebih urgen
ketimbang masalah 'makan'. Dampak perkawinan akan merambat tidak hanya
pada generasi sekarang, melainkan akan berlanjut pada generasi selanjutnya.
Sebaliknya makanan tidak memberikan dampak yang seluas itu. Permasalahan
makanan yang tidak begitu besar sengaja Tuhan sebutkan secara tegas, tentu
seyogyanya, masalah perkawinan lebih pantas diterangkan secara tegas dan
jelas, sehingga tidak menimbulkan kerancuan dalam pemahaman. Tapi
ternyata Allah tidak memberikan penegasan. Oleh karena itu dalam kasus
serupa ini dapat diberlakukan kaidah ushul fikih yang berbunyi:
ن'--ْ 'ا ·ه ن'--'ا .= ت·´ّ -'ا
Artinya: Diam dari memberi keterangan adalah suatu keterangan.
Dengan demikian, maka jika diterima bahwa ayat 221 dari al-Baqarah
itu dinasikhkan oleh ayat 5 dari al-Maidah, maka yang dinasikhkan itu ialah
kata "musyrikah'" tidak "musyrik" karena yang disebut terakhir itu tidak
90
tercantum di dalam al-Maidah: 5 sebagaimana dinukilkan di atas. Berdasarkan
kenyataan itu, maka dapat disimpulkan bahwa wanita-wanita Islam selamanya
tidak dikawinkan dengan pria bukan Islam sesuai dengan penegasan ayat dari
al-Baqarah yang telah dikutip di atas.
Al-Maraghi dalam mengomentari ayat ini berkata, bahwa menikahkan
wanita Islam dengan laki-laki non muslim adalah: haram, berdasarkan Sunnah
(hadis) Nabi dan Ijma' umat. Rahasia pelarangan ini, tulisnya lagi, ialah
karena istri tak punya wewenang seperti yang dimiliki oleh suami. Oleh
karena itu tak ada artinya ia dikawinkan dengan non muslim, bahkan
sebaliknya, keyakinan istri dapat rusak oleh wibawa suaminya, dan tidak
mustahil pula seorang suami yang sangat fanatik akan selalu berusaha agar
istrinya menukar iman dengan keyakinan suami.
127
Kekhawatiran al-Maraghi
itu memang cukup beralasan, terutama bila dikaitkan dengan firman Allah
berikut:
... ﺔ` ﻨ ﺠﹾ ﻟﺍ ﻰﹶ ﻟﹺ ﺇ ﻮ` ﻋ` ﺪ ﻳ ` ﻪﹼ ﻠﻟﺍ ﻭ ﹺ ﺭﺎ` ﻨﻟﺍ ﻰﹶ ﻟﹺ ﺇ ﹶ ﻥﻮ` ﻋ` ﺪ ﻳ ﻚ ﺌـﹶ ﻟ` ﻭﹸ ﺃ
ﺓ ﺮ ﻔ` ﻐ ﻤﹾ ﻟﺍ ﻭ ... . , ﺓﺮﻘﺒﻟﺍ · 221 .
Artinya: Mereka itu (orang kafir) mengajak ke neraka, sedangkan
Allah mengajak ke surga dan keampunan.

Kekalutan di rumah tangga akan semakin mencekam, bila masing-masing
pihak (suami istri) ingin saling mempengaruhi dan sama-sama berusaha
menanamkan keyakinan kepada anak-anaknya. Bila hal ini terjadi jelas
keretakan rumah tangga tak dapat dihindarkan, suasana "surgawi" segera

127
Ahmad Mustafa Al-Maragi, Tafsir al-Maragi, Mesir: Mustafa Al-Babi Al-Halabi,
1394 H/1974 M, juz 2, hlm. 153
91
berganti dengan gejolak api pertengkaran dan permusuhan, dan pada
gilirannya mengantarkan rumah tangga itu kepada kehancuran. Tidak hanya
itu, anak-anak yang lahir dari perkawinan itu, akan digerogoti terus-menerus
oleh kebimbangan, kerancuan pemikiran mengenai keyakinan agama, karena
tak tertanam secara mendalam di hatinya sejak kecil. Keyakinan semacam
inilah yang menjadi lahan yang subur bagi paham syirik, anti Tuhan, dan
sebagainya.
Kembali pada persoalan ahli kitab, Imam Abu Hanifah dan mayoritas ulama
fikih berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ahlul kitab adalah siapa saja
yang mempercayai seorang nabi atau kitab yang pernah diturunkan Allah
SWT. Berdasarkan kriteria ini berarti apabila ada orang yang percaya kepada
Nabi Ibrahim AS dengan suhufnya, atau kepada Nabi Daud AS dengan Kitab
Zabur-nya, maka orang tersebut adalah tergolong ahlul kitab dan wanitanya
boleh dikawini. Sebagian kecil ulama salaf berpendapat bahwa setiap umat
yang memiliki kitab yang dapat diduga sebagai suci (samawi), seperti orang
Majusi, penyembah berhala di India, Cina, dan sebagainya, termasuk sebagai
ahlul kitab. Bahkan menurut Abu al-A'la al-Maududi, cakupan ahlul kitab
diperluas lagi oleh ulama fikih kontemporer sehingga menjangkau agama
Budha dan Hindu.
Muhammad Quraish Shihab, ahli tafsir kontemporer dari Indonesia, lebih
cenderung berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ahlul kitab adalah
semua penganut agama Yahudi dan Nasrani, kapanpun, di mana pun, dan
92
keturunan siapa pun mereka. Pendapatnya ini didasarkan kepada firman Allah
SWT dalam surah al-An 'am (6) ayat 156:
ﻦ ﻣ ﹺ ﻦ` ﻴ ﺘﹶ ﻔ ﺋﺂﹶ ﻃ ﻰﹶ ﻠ ﻋ ` ﺏﺎ ﺘ ﻜﹾ ﻟﺍ ﹶ ﻝﹺ ﺰﻧﹸ ﺃ ﺎ ﻤ` ﻧﹺ ﺇ ﹾ ﺍﻮﹸ ﻟﻮﹸ ﻘ ﺗ ﻥﹶ ﺃ ﻦ ﻋ ﺎ` ﻨﹸ ﻛ ﻥﹺ ﺇ ﻭ ﺎ ﻨ ﻠ` ﺒﹶ ﻗ
ﲔ ﻠ ﻓﺎ ﻐﹶ ﻟ ` ﻢﹺ ﻬ ﺘ ﺳﺍ ﺭ ﺩ , ﻡﺎﻌﻧﻷﺍ · 156 .
Artinya: (Kami turunkan Al-Qur'an itu) agar kamu (tidak)
mengatakan: Bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua
golongan saja sebelum kami, dan sesungguhnya kami tidak
memperhatikan apa yang mereka baca. (Q.S. al-An'am: 156)

Majlis Ulama Indonesia (MU1) pada tahun 1980 mengeluarkan fatwa bahwa
seorang wanita beragama Islam tidak boleh (haram) dinikahkan dengan pria
yang bukan beragama Islam; dan tidak diizinkan laki-laki beragama Islam
mengawini perempuan yang bukan beragama Islam. Alasan yang diajukan
antara lain firman Allah SWT dalam surah al-Baqarah (2) ayat 221; surah al-
Ma'idah (5) ayat 5; surah at-Tahrim (66) ayat 6. Adapun pertimbangan fatwa
melarang laki-laki beragama Islam mengawini perempuan ahlul kitab yang
oleh Al-Qur'an secara tegas dibolehkan-adalah karena dampak negatifnya
lebih besar dari dampak positifnya.
Setelah mengkaji beberapa ayat Al-Qur'an, sebagaimana dikutip di
muka, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Haram mengikat perkawinan antara muslim dengan musyrik baik laki-laki
maupun perempuan.
2. Pada umumnya ulama membolehkan pria muslim menikahi wanita ahli
kitab, tidak sebaliknya.
93
Untuk menjelaskan silsilah Bani Israil dalam konteksnya dengan
makna ahli kitab, maka di sini penulis hendak memperjelasnya bahwa
Ahli kitab adalah orang-orang yang berasal dari pemeluk agama Musa
dan Isa As., serta pembawa kitab samawi baik Taurat atau Injil. Pertama
adalah orang-orang Yahudi dan terakhir orang-orang Nasrani. Setelah Nabi
Musa di utus kepada kaum Yahudi datanglah Nabi Isa membawa Injil kepada
mereka untuk meluruskan penyelewengan yang mereka perbuat dan
menunjukkan kepada jalan yang lurus namun mereka tidak memenuhi
panggilan itu, tidak mendengar ajakan dan nasehat serta peringatan beliau,
bahkan mereka menolak dan terus dalam kesesatan mereka, bahkan
menampakkan permusuhan secara terang-terangan serta menghalang-halangi
setiap orang yang teguh di atas jalan Allah. Mereka menebarkan ancaman dan
memasang perangkap untuk melunturkan istiqamah di atas kebenaran dan
tidak segan-segan membuat kedustaan dan tuduhan palsu kepada Nabi Isa
bahkan di antara mereka ada yang melakukan percobaan pembunuhan, namun
Allah menyelamatkan beliau dari maksud jahat mereka.
Allah menyelamatkan Nabi Isa dengan cara yang penuh muatan
mu'jizat dan sangat rapi serta rahasia agar mereka kesulitan menemukan
keberadaan beliau hingga selamat dari niat buruk mereka. Namun kerahasiaan
dan kesamaran itu justru membuka peluang bagi orang-orang Yahudi untuk
membuat cerita palsu dan berita bohong serta mengaburkan kebenaran dalam
rangka menyesatkan manusia dari jalan kebenaran.
94
Misteri itu tetap dibuat komoditi utama bagi para pendusta dan
pemalsu untuk menebarkan kesesatan kepada orang-orang yang lemah jiwa
dan akalnya serta dangkal ilmu pengetahuan dan hujjahnya hingga Allah
mengutus Nabi Muhammad Saw dengan membawa wahyu al-Qur'an yang
mampu menyingkap misteri dan membongkar kepalsuan dan kedustaan
Yahudi terhadap Nabi Isa As.
Allah Swt berfirman:
ﹸ ﻟﹶ ﺄ` ﺴ ﻳ ﹾ ﺍﻮﹸ ﻟﹶ ﺄ ﺳ ` ﺪﹶ ﻘﹶ ﻓ ِ ﺀﺎ ﻤ` ﺴﻟﺍ ﻦ` ﻣ ﹰ ﺎﺑﺎ ﺘ ﻛ ` ﻢﹺ ﻬ` ﻴﹶ ﻠﻋ ﹶ ﻝ` ﺰ ﻨ` ﺗ ﻥﹶ ﺃ ﹺ ﺏﺎ ﺘ ﻜﹾ ﻟﺍ ﹸ ﻞ` ﻫﹶ ﺃ ﻚ
ﹸ ﺔﹶ ﻘ ﻋﺎ` ﺼﻟﺍ ` ﻢ` ﻬ` ﺗﹶ ﺬ ﺧﹶ ﺄﹶ ﻓ ﹰ ﺓ ﺮ` ﻬ ﺟ ﻪﹼ ﻠﻟﺍ ﺎ ﻧﹺ ﺭﹶ ﺃ ﹾ ﺍﻮﹸ ﻟﺎﹶ ﻘﹶ ﻓ ﻚ ﻟﹶ ﺫ ﻦ ﻣ ﺮ ﺒﹾ ﻛﹶ ﺃ ﻰ ﺳﻮ` ﻣ
ﻨ` ﻴ ﺒﹾ ﻟﺍ ` ﻢ` ﻬ` ﺗﺀﺎ ﺟ ﺎ ﻣ ﺪ` ﻌ ﺑ ﻦ ﻣ ﹶ ﻞ` ﺠ ﻌﹾ ﻟﺍ ﹾ ﺍﻭﹸ ﺬ ﺨ` ﺗﺍ ` ﻢﹸ ﺛ ` ﻢﹺ ﻬ ﻤﹾ ﻠﹸ ﻈﹺ ﺑ ﻦ ﻋ ﺎ ﻧ` ﻮﹶ ﻔ ﻌﹶ ﻓ ` ﺕﺎ
ﹰ ﺎﻨﻴﹺ ﺒ' ﻣ ﹰ ﺎﻧﺎﹶ ﻄﹾ ﻠ` ﺳ ﻰ ﺳﻮ` ﻣ ﺎ ﻨ` ﻴ ﺗﺁ ﻭ ﻚ ﻟﹶ ﺫ ¦ 153 ¦ ﺭﻮﱡ ﻄﻟﺍ ` ﻢ` ﻬﹶ ﻗ` ﻮﹶ ﻓ ﺎ ﻨ` ﻌﹶ ﻓ ﺭ ﻭ
ﻲ ﻓ ﹾ ﺍﻭ` ﺪ` ﻌ ﺗ ﹶ ﻻ ` ﻢ` ﻬﹶ ﻟ ﺎ ﻨﹾ ﻠﹸ ﻗ ﻭ ﹰ ﺍﺪ` ﺠ` ﺳ ﺏﺎ ﺒﹾ ﻟﺍ ﹾ ﺍﻮﹸ ﻠ` ﺧ` ﺩﺍ ` ﻢ` ﻬﹶ ﻟ ﺎ ﻨﹾ ﻠﹸ ﻗ ﻭ ` ﻢﹺ ﻬ ﻗﺎﹶ ﺜﻴ ﻤﹺ ﺑ
ﹰ ﺎﻈﻴ ﻠﹶ ﻏ ﹰ ﺎﻗﺎﹶ ﺜﻴ` ﻣ ﻢ` ﻬ` ﻨ ﻣ ﺎ ﻧﹾ ﺬ ﺧﹶ ﺃ ﻭ ﺖ` ﺒ` ﺴﻟﺍ ¦ 154 ¦ ` ﻢ` ﻬﹶ ﻗﺎﹶ ﺜﻴ` ﻣ ﻢﹺ ﻬ ﻀﹾ ﻘ ﻧ ﺎ ﻤﹺ ﺒﹶ ﻓ
` ﻒﹾ ﻠﹸ ﻏ ﺎ ﻨ` ﺑﻮﹸ ﻠﹸ ﻗ ` ﻢﹺ ﻬ ﻟ` ﻮﹶ ﻗ ﻭ ' ﻖ ﺣ ﹺ ﺮ` ﻴ ﻐﹺ ﺑ َ ﺀﺎ ﻴﹺ ﺒ` ﻧَ ﻷﺍ ` ﻢﹺ ﻬ ﻠ` ﺘﹶ ﻗ ﻭ ﻪﹼ ﻠﻟﺍ ﺕﺎ ﻳﺂ ﺑ ﻢ ﻫﹺ ﺮﹾ ﻔﹸ ﻛ ﻭ
ﹰ ﻼﻴ ﻠﹶ ﻗ ﱠ ﻻﹺ ﺇ ﹶ ﻥﻮ` ﻨ ﻣ` ﺆ` ﻳ ﹶ ﻼﹶ ﻓ ` ﻢ ﻫﹺ ﺮﹾ ﻔﹸ ﻜﹺ ﺑ ﺎ ﻬ` ﻴﹶ ﻠ ﻋ ` ﻪﹼ ﻠﻟﺍ ﻊ ﺒﹶ ﻃ ﹾ ﻞ ﺑ ¦ 155 ¦
ﻳ` ﺮ ﻣ ﻰﹶ ﻠ ﻋ ` ﻢﹺ ﻬ ﻟ` ﻮﹶ ﻗ ﻭ ` ﻢ ﻫﹺ ﺮﹾ ﻔﹸ ﻜﹺ ﺑ ﻭ ﹰ ﺎﻤﻴ ﻈ ﻋ ﹰ ﺎﻧﺎ ﺘ` ﻬ` ﺑ ﻢ ¦ 156 ¦ ﺎ` ﻧﹺ ﺇ ` ﻢﹺ ﻬ ﻟ` ﻮﹶ ﻗ ﻭ
` ﻩﻮ` ﺒﹶ ﻠ ﺻ ﺎ ﻣ ﻭ ` ﻩﻮﹸ ﻠ ﺘﹶ ﻗ ﺎ ﻣ ﻭ ﻪﹼ ﻠﻟﺍ ﹶ ﻝﻮ` ﺳ ﺭ ﻢﻳ` ﺮ ﻣ ﻦ` ﺑﺍ ﻰ ﺴﻴ ﻋ ﺢﻴِ ﺴ ﻤﹾ ﻟﺍ ﺎ ﻨﹾ ﻠ ﺘﹶ ﻗ
ﻪﹺ ﺑ ﻢ` ﻬﹶ ﻟ ﺎ ﻣ ` ﻪ` ﻨ` ﻣ ´ ﻚ ﺷ ﻲ ﻔﹶ ﻟ ﻪﻴ ﻓ ﹾ ﺍﻮﹸ ﻔﹶ ﻠ ﺘ` ﺧﺍ ﻦﻳ ﺬﱠ ﻟﺍ ﱠ ﻥﹺ ﺇ ﻭ ` ﻢ` ﻬﹶ ﻟ ﻪ` ﺒ` ﺷ ﻦ ﻜـﹶ ﻟ ﻭ
ﺍ ﱠ ﻻﹺ ﺇ ﹴ ﻢﹾ ﻠ ﻋ ` ﻦ ﻣ ﹰ ﺎﻨﻴ ﻘ ﻳ ` ﻩﻮﹸ ﻠ ﺘﹶ ﻗ ﺎ ﻣ ﻭ ` ﻦﱠ ﻈﻟﺍ ﻉﺎ ﺒ` ﺗ ¦ 157 ¦ ﻪ` ﻴﹶ ﻟﹺ ﺇ ` ﻪﹼ ﻠﻟﺍ ` ﻪ ﻌﹶ ﻓ` ﺭ ﻞ ﺑ
ﹰ ﺎﻤﻴ ﻜ ﺣ ﹰ ﺍﺰﻳﹺ ﺰ ﻋ ` ﻪﹼ ﻠﻟﺍ ﹶ ﻥﺎﹶ ﻛ ﻭ ¦ 158 ¦
Artinya: Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan
kepada mereka sebuah Kitab dari langit. Maka
sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang
lebih besar dari itu. Mereka berkata : "Perlihatkanlah Allah
95
kepada kami dengan nyata". Maka mereka disambar petir
karena kezalimannya, dan mereka menyembah anak sapi ,
sesudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata, lalu
Kami ma'afkan dari yang demikian. Dan telah Kami berikan
kepada Musa keterangan yang nyata. Dan telah Kami angkat
ke atas mereka bukit Thursina untuk perjanjian mereka.
Dan kami perintahkan kepada mereka : "Masuklah pintu
gerbang itu sambil bersujud ", dan Kami perintahkan
kepada mereka : "Janganlah kamu melanggar peraturan
mengenai hari Sabtu ", dan Kami telah mengambil dari
mereka perjanjian yang kokoh. Maka , disebabkan mereka
melanggar perjanjian itu, dan karena kekafiran mereka
terhadap keterangan-keterangan Allah dan mereka
membunuh nabi-nabi tanpa yang benar dan mengatakan :
"Hati kami tertutup." Bahkan, sebenarnya Allah telah
mengunci mati hati mereka karena kekafirannya, karena itu
mereka tidak beriman kecuali sebahagian kecil dari mereka.
Dan karena kekafiran mereka dan tuduhan mereka terhadap
Maryam dengan kedustaan besar , dan karena ucapan
mereka : "Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih,
'Isa putra Maryam, Rasul Allah ", padahal mereka tidak
membunuhnya dan tidak menyalibnya, tetapi orang yang
diserupakan dengan 'Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-
orang yang berselisih paham tentang 'Isa, benar-benar dalam
keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak
mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu,
kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak yakin
bahwa yang mereka bunuh itu adalah 'Isa. Tetapi , Allah
telah mengangkat 'Isa kepada-Nya . Dan adalah Allah Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS an-Nisa ayat 153 – 158).


Meskipun telah banyak orang yang mendapat petunjuk dan kembali
kepada kebenaran namun ada sebagian kecil orang yang terus menjalani
kesesatan dan kebimbangan aqidah hingga terjerumus ke dalam kesyirikan
dan penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya, mereka membuat kepalsuan
dengan menganggap bahwa Nabi Isa disalib dan berstatus menjadi anak Allah.
Menurut anggapan mereka, setelah Nabi Isa disalib kemudian dikubur lalu
diangkat ke atas langit. Apa pun yang terjadi, mereka tetap dianggap sebagai
96
pemegang kitab samawi dan masih ada sisa-sisa ajaran dan nasehat samawi
seperti iman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab, para rasul, hari Akhir,
takdir, kebangkitan, hisab, surga dan neraka serta perkara-perkara ghaib yang
dibawa oleh para rasul.
Dalam konteksnya dengan perkawinan antara agama, bahwa tidak ada
hadis yang secara eksplisit menegaskan tentang masalah itu, yang ada adalah
beberapa hadis yang secara implisit menunjuk ke arah itu. Hadis yang
dimaksud di antaranya:

` ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ﻰﱠ ﻠ ﺻ ` ﻲﹺ ﺒ` ﻨﻟﺍ ﹺ ﻦ ﻋ ﻪ` ﻨ ﻋ ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ﻲ ﺿ ﺭ ﹶ ﺓ ﺮ` ﻳ ﺮ` ﻫ ﻲﹺ ﺑﹶ ﺃ ` ﻦ ﻋ ﹶ ﻝﺎﹶ ﻗ ﻢﱠ ﻠ ﺳ ﻭ ﻪ` ﻴﹶ ﻠ ﻋ
ﹶ ﻜ` ﻨ` ﺗ ﺕﺍﹶ ﺬﹺ ﺑ ` ﺮﹶ ﻔﹾ ﻇﺎﹶ ﻓ ﺎ ﻬﹺ ﻨﻳ ﺪ ﻟ ﻭ ﺎ ﻬ ﻟﺎ ﻤ ﺟ ﻭ ﺎ ﻬﹺ ﺒﺴ ﺤ ﻟ ﻭ ﺎ ﻬ ﻟﺎ ﻤ ﻟ ﹴ ﻊ ﺑ` ﺭﹶ ﺄ ﻟ ﹸ ﺓﹶ ﺃ` ﺮ ﻤﹾ ﻟﺍ ` ﺢ
ﻙﺍ ﺪ ﻳ ` ﺖ ﺑﹺ ﺮ ﺗ ﹺ ﻦﻳ` ﺪﻟﺍ , ﻯﺭﺎﺨﺒﻟﺍ ﻩﺍﻭﺭ .
128


Artinya: Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah Saw. bersabda: "Wanita
dikawini karena empat hal: karena harta-bendanya, karena
status sosialnya, karena keindahan, wajahnya, dan karena
ketaatannya kepada agama. Pilihlah wanita yang taat kepada
agama, maka kamu akan berbahagia (H.R. al-Bukhari).

ﺎ ﺟ ﻲﹺ ﻧ ﺮ ﺒ` ﺧﹶ ﺃ ٍ ﺀﺎﹶ ﻄ ﻋ ` ﻦ ﻋ ﹶ ﻥﺎ ﻤ` ﻴﹶ ﻠ` ﺳ ﻲﹺ ﺑﹶ ﺃ ` ﻦ` ﺑ ﻚ ﻠ ﻤﹾ ﻟﺍ ` ﺪ` ﺒ ﻋ ﺎ ﻨﹶ ﺛ` ﺪ ﺣ ﺪ` ﺒ ﻋ ` ﻦ` ﺑ ` ﺮﹺ ﺑ
ﻢﱠ ﻠ ﺳ ﻭ ﻪ` ﻴﹶ ﻠ ﻋ ` ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ﻰﱠ ﻠ ﺻ ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ﹺ ﻝﻮ` ﺳ ﺭ ﺪ` ﻬ ﻋ ﻲ ﻓ ﹰ ﺓﹶ ﺃ ﺮ` ﻣﺍ ` ﺖ` ﺟ` ﻭ ﺰ ﺗ ﹶ ﻝﺎﹶ ﻗ ﻪﱠ ﻠﻟﺍ
` ﻢ ﻌ ﻧ ` ﺖﹾ ﻠﹸ ﻗ ﺖ` ﺟ` ﻭ ﺰ ﺗ ` ﺮﹺ ﺑﺎ ﺟ ﺎ ﻳ ﹶ ﻝﺎﹶ ﻘﹶ ﻓ ﻢﱠ ﻠﺳ ﻭ ﻪ` ﻴﹶ ﻠ ﻋ ` ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ﻰﱠ ﻠ ﺻ ` ﻲﹺ ﺒ` ﻨﻟﺍ ` ﺖﻴ ﻘﹶ ﻠﹶ ﻓ
` ﺐ` ﻴﹶ ﺛ ` ﺖﹾ ﻠﹸ ﻗ ` ﺐ` ﻴﹶ ﺛ ` ﻡﹶ ﺃ ` ﺮﹾ ﻜﹺ ﺑ ﹶ ﻝﺎﹶ ﻗ ﹶ ﻝﻮ` ﺳ ﺭ ﺎ ﻳ ` ﺖﹾ ﻠﹸ ﻗ ﺎ ﻬ` ﺒ ﻋﺎﹶ ﻠ` ﺗ ﺍ ﺮﹾ ﻜﹺ ﺑ ﺎﱠ ﻠ ﻬﹶ ﻓ ﹶ ﻝﺎﹶ ﻗ
ﹾ ﻥﹶ ﺫﹺ ﺇ ﻙﺍﹶ ﺬﹶ ﻓ ﹶ ﻝﺎﹶ ﻗ ` ﻦ` ﻬ ﻨ` ﻴ ﺑ ﻭ ﻲﹺ ﻨ` ﻴ ﺑ ﹶ ﻞ` ﺧ` ﺪ ﺗ ﹾ ﻥﹶ ﺃ ` ﺖﻴ ﺸ ﺨﹶ ﻓ ﺕﺍ ﻮ ﺧﹶ ﺃ ﻲ ﻟ ﱠ ﻥﹺ ﺇ ﻪﱠ ﻠﻟﺍ

128
Al-Imam Abu Abdillah Muhammad ibn Ismail ibn al-Mugirah ibn Bardizbah al-
Bukhari, Sahih al-Bukhari, Juz. 3, Beirut: Dar al-Fikr, 1410 H/1990 M, hlm. 256
97
ﹺ ﻦﻳّ ﺪﻟﺍ ﺕﺍﹶ ﺬﹺ ﺑ ﻚ` ﻴﹶ ﻠ ﻌﹶ ﻓ ﺎ ﻬ ﻟﺎ ﻤ ﺟ ﻭ ﺎ ﻬ ﻟﺎ ﻣﻭ ﺎ ﻬﹺ ﻨﻳ ﺩ ﻰﹶ ﻠ ﻋ ` ﺢﹶ ﻜ` ﻨ` ﺗ ﹶ ﺓﹶ ﺃ` ﺮ ﻤﹾ ﻟﺍ ﱠ ﻥﹺ ﺇ
ﺪ ﻳ ` ﺖ ﺑﹺ ﺮ ﺗ ﻙﺍ , ﻢﻠﺴﻣ ﻩﺍﻭﺭ .
129


Artinya: Telah mengabarkan kepada kami dari Abdul Malik bin Abiu
Sulaiman dari Atha': "Jabir bin Abdullah bercerita kepadaku;
"Pada zaman Rasulallah Saw. aku menikahi seorang wanita.
Suatu hari ketika bertemu dengan nabi Saw. beliau bertanya
kepadaku: "Wahai Jabir, kamu sudah menikah?" Aku
menjawab: "Benar." Beliau bertanya: ."Gadis atau janda?"
Aku menjawab: "Janda". Beliau bertanya: "Kenapa tidak
kamu cari saja yang gadis supaya kamu bisa bermain
dengannya?" Aku mencoba menjelaskan: "Wahai
Rasulallah, sesungguhnya aku ini memiliki beberapa orang
saudara perempuan. Aku "merasa khawatir ia mengganggu
hubunganku dengan saudara-saudara perempuanku itu
Rasulallah Saw. bersabda: "Baiklah kalau begitu.
Sesungguhnya wanita itu dinikahi karena agamanya,
hartanya, dan kecantikannya. Tetapi carilah wanita yang
punya agama, niscaya kamu akan bahagia." (HR. Muslim).


` ﺪ` ﺒ ﻋ ﺎ ﻨﹶ ﺛ` ﺪ ﺣ ' ﻲﹺ ﻧﺍ ﺪ` ﻤ ﻬﹾ ﻟﺍ ﹴ ﺮ` ﻴ ﻤ` ﻧ ﹺ ﻦ` ﺑ ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ﺪ` ﺒ ﻋ ` ﻦ` ﺑ ` ﺪ` ﻤ ﺤ` ﻣ ﻲﹺ ﻨﹶ ﺛ` ﺪ ﺣ ` ﻦ` ﺑ ﻪﱠ ﻠﻟﺍ
ﺪ` ﺒ ﻋ ﺎ ﺑﹶ ﺃ ﻊ ﻤ ﺳ ` ﻪ` ﻧﹶ ﺃ ﻚﻳﹺ ﺮ ﺷ ` ﻦ` ﺑ ﹸ ﻞﻴﹺ ﺒ` ﺣ ﺮ`ﺷ ﻲﹺ ﻧ ﺮ ﺒ` ﺧﹶ ﺃ ﹸ ﺓ ﻮ` ﻴ ﺣ ﺎ ﻨﹶ ﺛ` ﺪ ﺣ ﺪﻳﹺ ﺰ ﻳ
ﻰﱠ ﻠ ﺻ ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ﹶ ﻝﻮ` ﺳ ﺭ ﱠ ﻥﹶ ﺃ ﻭﹴ ﺮ` ﻤ ﻋ ﹺ ﻦ` ﺑ ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ﺪ` ﺒ ﻋ ` ﻦ ﻋ ﹸ ﺙ` ﺪ ﺤ` ﻳ ` ﻲ ﻠ` ﺒ` ﺤﹾ ﻟﺍ ﹺ ﻦ ﻤ` ﺣ` ﺮﻟﺍ
` ﻉﺎ ﺘ ﻣ ﺎ ﻴ` ﻧ' ﺪﻟﺍ ﹶ ﻝﺎﹶ ﻗ ﻢﱠ ﻠ ﺳ ﻭ ﻪ` ﻴﹶ ﻠ ﻋ ` ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ﹸ ﺔ ﺤ ﻟﺎ` ﺼﻟﺍ ﹸ ﺓﹶ ﺃ` ﺮ ﻤﹾ ﻟﺍ ﺎ ﻴ` ﻧ' ﺪﻟﺍ ﹺ ﻉﺎ ﺘ ﻣ ` ﺮ` ﻴ ﺧ ﻭ
, ﻢﻠﺴﻣ ﻩﺍﻭﺭ .
130


Artinya: Telah mengabarkan kepadaku dari Muhammad bin Abdullah
bin Numair al-Hamdani dari Abdullah bin Yazid dari
Haiwatun dari Syurajil bin Syarik sesungguhnya dia
mendengar Abu Abdurrahman al-Khubuli dapat kabar dari
Abdullah bin Umar; sesungguhnya Rasulallah Saw.
bersabda: "Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baiknya
perhiasan dunia ialah wanita yang saleh

129
Al-Imam Abul Husain Muslim ibn al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi, Sahih
Muslim, Juz. 2, Mesir: Tijariah Kubra, tth., hlm. 175.
130
Ibid., hlm. 178.
98
D. Metode Istinbath Hukum Al-Syafi'i tentang Perkawinan Antar Agama

Posisi "tengah" Al-Syafi’i terlihat dalam dasar-dasar mazhabnya.
Dalam buku metodologisnya, al-Risalah, ia menjelaskan kerangka dan dasar-
dasar mazhabnya dan beberapa contoh bagaimana merumuskan hukum-
hukum far'iyyah dengan menggunakan dasar-dasar tadi. Baginya, Al-Qur'an
dan Sunnah berada dalam satu tingkat, dan bahkan merupakan satu-kesatuan
sumber syariat Islam. Sedangkan teori-teori istidlal seperti qiyas, istihsan,
istishab dan lain-lain hanyalah merupakan suatu metode merumuskan dan
menyimpulkan hukum-hukum dari sumber utamanya tadi.
Pemahaman integral Al-Qur'an-Sunnah ini merupakan karakteristik
menarik dari pemikiran fiqih Syafi’i. Menurut Syafi’i, kedudukan Sunnah,
dalam banyak hal, menjelaskan dan menafsirkan sesuatu yang tidak jelas dari
Al-Qur'an, memerinci yang global, mengkhususkan yang umum, dan bahkan
membuat hukum tersendiri yang tidak ada dalam Al-Qur'an. Karenanya,
Sunnah Nabi saw. tidak berdiri sendiri, tetapi punya keterkaitan erat dengan
Al-Qur'an. Hal itu dapat dipahami karena Al-Qur'an dan Sunnah adalah
Kalamullah; Nabi Muhammad saw. tidak berbicara dengan hawa nafsu, semua
ucapannya adalah wahyu yang diturunkan oleh Allah.
Hipotesa menarik lainnya dalam pemikiran metodologis Syafi’i adalah
pernyataannya, "Setiap persoalan yang muncul akan ditemukan ketentuan
hukumnya dalam Al-Qur'an." Untuk membuktikan hipotesanya itu Syafi’i
menyebut empat cara Al-Qur'an dalam menerangkan suatu hukum.
99
Pertama, Al-Qur'an menerangkan suatu hukum dengan nash-nash
hukum yang jelas, seperti nash yang mewajibkan salat, zakat, puasa dan haji,
atau nash yang mengharamkan zina, minum khamar, makan bangkai, darah
dan lainnya.
Kedua, suatu hukum yang disebut secara global dalam Al-Qur'an dan
dirinci dalam Sunnah Nabi. Misalnya, jumlah rakaat salat, waktu
pelaksanaannya, demikian pula zakat, apa dan berapa kadar yang harus
dikeluarkan. Semua itu hanya disebut global dalam Al-Qur'an dan Nabilah
yang menerangkan secara terinci.
Ketiga, Nabi Muhammad saw. juga sering menentukan suatu hukum
yang tidak ada nash hukumnya dalam Al-Qur'an. Bentuk penjelasan Al-Qur'an
untuk masalah seperti ini dengan mewajibkan taat kepada perintah Nabi dan
menjauhi larangannya. Dalam Al-Qur'an disebutkan: "Barangsiapa yang taat
kepada Rasul, berarti ia taat kepada Allah." Dengan demikian, suatu hukum
yang ditetapkan oleh Sunnah berarti juga ditetapkan oleh Al-Qur'an, karena
Al-Qur'an memerintahkan untuk mengambil apa yang diperintahkan oleh Nabi
menjauhi yang dilarang.
Keempat, Allah juga mewajibkan kepada hamba-Nya untuk berijtihad
terhadap berbagai persoalan yang tidak ada ketentuan nashnya dalam Al-
Qur'an dan hadis. Penjelasan Al-Qur'an terhadap masalah seperti ini yaitu
dengan membolehkan ijtihad (bahkan mewajibkan) sesuai dengan kapasitas
pemahaman terhadap maqashid al-Syari'ah (tujuan-tujuan umum syariat),
100
misalnya dengan qiyas atau penalaran analogis. Dalam Al-Qur'an disebutkan,
yang artinya:
"Hai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul dan
orang-orang yang mempunyai kekuasaan di antara kamu. Maka apabila kamu
berselisih tentang sesuatu kembalikanlah kepada Allah dan Rasul."
Menurut Al-Syafi’i, "Kembalikanlah kepada Allah dan Rasul", artinya
kembalikan pada Al-Qur'an dan Sunnah. Dan pengembalian itu hanya dapat
dilakukan dengan qiyas. Dengan landasan ayat ini, dan ayat- ayat lainnya, ia
ingin menyebutkan bahwa ijtihad merupakan perintah Al-Qur'an itu sendiri
dan bukan merekayasa hukum.
Dari keterangan di atas dapat diketahui "posisi tengah" pemikiran
metodologis Syafi’i. la begitu teguh dalam berpegang pada Al-Qur'an dan
Sunnah dan pada saat yang sama memandang penting penggunaan rasio dan
ijtihad.
Menurut Syafi’i, struktur hukum Islam dibangun di atas empat dasar
yang disebut "sumber-sumber hukum". Sumber-sumber hukum tersebut
adalah Al-Qur'an, Sunnah, ijma' dan qiyas. Meskipun ulama sebelumnya juga
menggunakan keempat dasar di atas, tetapi rumusan Syafi’i punya nuansa dan
paradigma baru. Penggunaan ijma', misalnya, tidak sepenuhnya mencaplok
rumusan Imam Malik yang sangat umum dan tanpa batas yang jelas.
Bagi Syafi’i, ijma' merupakan metode dan prinsip, dan karenanya, ia
tidak memandang konsensus orang-orang umum sebagai ijma', sebagaimana
dinyatakan oleh Imam Malik dan ulama-ulama Madinah. Ini dengan jelas
101
terlihat dalam percakapan dengan sekelompok ahli hukum Madinah dalam
bukunya Al-Umm dan dikutip lengkap oleh Fazlur Rahman:
Al-Syafi’i:
"Akankah kita katakan bahwa anda menganggap, misalnya Ibnu
Musayyib sebagai ulama yang otoritatif di Madinah, Atha' yang otoritatif di
Mekkah, Hasan di Bashrah dan Sya'bi di Kufah semuanya dari generasi
tabi'ien dan memandang apa yang mereka sepakati sebagai ijma'?"
Lawan: "Ya."
Al-Syafi’i:
"Tetapi anda menyatakan bahwa mereka tidak pernah bertemu dalam
pertemuan mana pun yang anda ketahui. Karena itu, anda menyimpulkan ijma'
mereka dari laporan-laporan tentang mereka, dan, sesungguhnya, karena anda
telah melihat bahwa ulama-ulama tersebut membuat pernyataan-pernyataan
mengenai masalah-masalah yang tidak anda temui pembahasannya dalam Al-
Qur'an dan Sunnah, maka anda menyimpulkan bahwa mereka telah melakukan
qiyas terhadap masalah-masalah tersebut dan anda berargumentasi bahwa
qiyas adalah kumpulan pengetahuan yang benar dan mapan yang disepakati
oleh para ulama."
Lawan: "Itulah yang kami katakan. Pengetahuan datang dalam
beberapa bentuk.
Pertama, apa yang dituturkan oleh seluruh masyarakat dari seluruh
masyarakat generasi-generasi yang telah lalu (pengetahuan yang dibentuk)
dengan kepastian yang dapat saya sumpahkan dengan nama Allah dan Rasul-
102
Nya. Contoh dari pengetahuan semacam ini adalah kewajiban-kewajiban
agama.
Kedua, bagian dari Al-Qur'an yang mengakui perbedaan-perbedaan
penafsiran haruslah diterima dalam artinya yang langsung dan sesuai dengan
akal sehat: ia tidak bisa diberi "batiniyah" dan allegoris walaupun ia mungkin
dapat menerima arti seperti itu kecuali bila hal itu menjadi konsensus
masyarakat.
Ketiga, pengetahuan yang disepakati oleh kaum Muslimin dan mereka
telah menyatakan persetujuan sebelumnya terhadapnya. Bahkan apabila yang
disebut terakhir ini mungkin tidak datang dari Al-Qur'an ataupun Sunnah, bagi
saya ia memiliki kedudukan yang sama dengan Sunnah yang telah disepakati.
Ini disebabkan karena kesepakatan kaum Muslimin tidak dapat dicapai
semata-mata dengan pendapat-pendapat pribadi (tapi hanya dengan melalui
qiyas), karena pendapat-pendapat pribadi hanya membawa pada perselisihan.
Keempat, pengetahuan para ahli yang merupakan argumen yang
konklusif kecuali bila disampaikan dengan cara kebal terhadap kekeliruan.
Terakhir, qiyas. Tidak ada perselisihan yang dapat memasuki
pengetahuan dalam bentuk-bentuk yang telah saya uraikan tadi, dan segala
sesuatu akan tetap berakar pada prinsip-prinsipnya kecuali bila masyarakat
umum setuju untuk melepaskannya dari prinsip-prinsipnya. Ijma' adalah
argumen final mengenai segala sesuatu, karena ia kebal terhadap kekeliruan."
Al-Syafi’i: Mengenai jenis pengetahuan yang pertama yang anda
jelaskan tadi, yakni transmisi dari seluruh masyarakat generasi sebelumnya,
103
memang dapat diterima. Tapi apakah anda tahu, dan dapatkah anda
menjelaskan pengetahuan jenis kedua yang sehubungan dengannya, dimana
anda mengatakan bahwa seluruh masyarakat bersepakat atasnya dan
mentransmisikan kesepakatan umum yang sama mengenai hal itu pada
generasi-generasi sebelumnya? Dan apa yang anda maksud dengan seluruh
masyarakat itu? Apakah ia meliputi baik ulama maupun non-ulama...?
Lawan: "Ini adalah ijma' para ulama saja ... karena hanya merekalah
orang- orang yang dapat mengetahui dan bersepakat pendapat tentang masalah
itu. Jadi, ketika mereka bersepakat pendapat, maka hal ini menjadi otoritatif
bagi mereka yang tidak mengetahuinya (yakni bagi non-ulama); tetapi jika
mereka tidak bersepakat pendapat, maka pendapat-pendapat mereka tidak
mempunyai otoritas bagi siapa pun, dan masalah-masalah seperti itu harus
dirujuk pada suatu qiyas (penalaran analogis) yang baru berdasarkan apa yang
telah disepakati bersama ... Tidaklah penting apakah ijma' didasarkan pada
sebuah hadis verbal yang mereka riwayatkan ataukah tanpa sebuah hadis pun
..., dan bahkan bila mereka berselisih, tidaklah penting apakah hadis verbal
yang sesuai dengan pendapat sebagian dari mereka ataukah tidak ada. Karena
saya tidak menerima sesuatu hadits pun ..., dan bahkan bila mereka berselisih,
tidaklah penting apakah ada hadits verbal yang sesuai dengan sebagian dari
mereka ataukah tidak ada. Karena saya tidak menerima sesuatu hadis pun
kecuali ada kesepakatan pendapat atasnya ..."
Selanjutnya, pada periode ini, interaksi antara qiyas dan ijma'
dipandang tidak sebagai sebuah prinsip yang statis, tapi sebagai suatu proses
104
asimilasi, interpretasi dan adaptasi yang dinamis dan wajar. Hal ini terlihat
dengan jelas dalam bagian lain dari tulisan Syafi’i yang, walaupun agak
berkepanjangan, adalah yang paling komprehensif mengenai masalah tersebut
dan mengungkapkan sikap sebenarnya dan yang serba meliputi dari ijma'.
Nuansa dan paradigma pemikiran Syafi’i itu selalu terlihat dalam
pemikiran-pemikirannya yang dibangun di atas pemikiran-pemikiran ulama
sebelumnya. Penalaran analogis (qiyas) Al-Syafi’i, juga, menawarkan
pernahaman baru. Apa yang dirumuskan oleh ulama-ulama sebelumnya oleh
Syafi’i disebut qiyas bilfuru', penalaran analogis terhadap masalah-masalah
partikular dengan berpijak pada suatu prinsip tertentu yang terkandung dalam
suatu preseden.
Sebuah kasus yang baru dapat dimasukkan ke dalam prinsip ini, atau
disamakan dengan preseden tersebut dengan kekuatan suatu sifat esensial
umum yang disebut 'illat. Sedangkan metode-metode yang lain, seperti
istihsan, istishab, sadd al-zarai' dan metode lainnya dimasukkan ke dalam
qiyas bil qawa'id (penalaran analogis terhadap prinsip umum yang terkandung
dalam suatu preseden itu sendiri).
Dalam hubungannya dengan perkawinan antar agama, bahwa dalam
perspektif Al-Syafi’i bahwa siapa yang beragama dengan agama Yahudi dan
Nasrani dari orang Sabiin dan Samiri, maka boleh dimakan sembelihannya
dan halal dikawini wanitanya. Selanjutnya menurut Al-Syafi’i, wanita
105
muslimah tidak boleh menikah dengan laki-laki non muslim, akan tetapi
dibolehkan menikah antara laki-laki muslim dengan ahli kitab.
131

Dalam kaitannya dengan ahli kitab, menurut Al-Syafi'i, yang termasuk
ahlul kitab adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani keturunan orang-orang
Israel, tidak termasuk bangsa-bangsa lain sekalipun penganut agama Yahudi
dan atau Nasrani. Di antara alasan yang diajukan adalah pertama, karena Nabi
Musa AS dan Nabi Isa AS hanya diutus untuk orang-orang bangsa Israel; dan
kedua, lafal min qablikum (umat sebelum kamu) dalam surah al-Ma'idah (5)
ayat 5 menunjuk kepada kedua kelompok Yahudi dan Nasrani bangsa Israel.
Dalam hal ini metode istinbath hukumnya Al-Syafi’i didasarkan pada
beberapa ayat dan surat di bawah ini:
ﻰ` ﺘ ﺣ ﲔﱢ ﻜﹶ ﻔﻨ` ﻣ ﲔ ﻛﹺ ﺮ` ﺸ` ﻤﹾ ﻟﺍ ﻭ ﹺ ﺏﺎ ﺘ ﻜﹾ ﻟﺍ ﹺ ﻞ` ﻫﹶ ﺃ ` ﻦ ﻣ ﺍﻭ` ﺮﹶ ﻔﹶ ﻛ ﻦﻳ ﺬﱠ ﻟﺍ ﹺ ﻦﹸ ﻜ ﻳ ` ﻢﹶ ﻟ
ﹸ ﺔ ﻨ` ﻴ ﺒﹾ ﻟﺍ ` ﻢ` ﻬ ﻴ ﺗﹾ ﺄ ﺗ , ﺔﻨﻴﺒﻟﺍ · 1 .

Artinya: Dan orang-orang kafir di antara ahli kitab (Yahudi, Nasrani)
dan orang-orang yang musyrik tidak mau meninggalkan
agama mereka sehingga datang keterangan kepada mereka
(Q.S. al-Bayyinah: 1).

ﹾ ﺍﻮﹸ ﻛ ﺮ` ﺷﹶ ﺃ ﻦﻳ ﺬﱠ ﻟﺍ ﻭ ﺩﻮ` ﻬ ﻴﹾ ﻟﺍ ﹾ ﺍﻮ` ﻨ ﻣﺁ ﻦﻳ ﺬﱠ ﻠﱢ ﻟ ﹰ ﺓ ﻭﺍ ﺪ ﻋ ﹺ ﺱﺎ` ﻨﻟﺍ ` ﺪ ﺷﹶ ﺃ ﱠ ﻥ ﺪﹺ ﺠ ﺘﹶ ﻟ
ﺎ` ﻧﹺ ﺇ ﹾ ﺍ ﻮﹸ ﻟﺎﹶ ﻗ ﻦﻳ ﺬﱠ ﻟﺍ ﹾ ﺍﻮ` ﻨ ﻣﺁ ﻦﻳ ﺬﱠ ﻠﱢ ﻟ ﹰ ﺓ` ﺩ ﻮ` ﻣ ` ﻢ` ﻬ ﺑ ﺮﹾ ﻗﹶ ﺃ ﱠ ﻥ ﺪﹺ ﺠ ﺘﹶ ﻟ ﻭ
ﻧ ﻯ ﺭﺎ ﺼ ,... ﺓﺪﺋﺎﳌﺍ · 82 .
Artinya: Sesungguhnya kamu [Muhammad] niscaya menemukan
orang-orang yang sangat keras memusuhi orang-orang
beriman, ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik
(mempersekutukan Allah). Dan kamu menemukan pula

131
Al-Imam Abi Abdullah Muhammad bin Idris al-Syafi’i, Al-Umm, Beirut Libanon:
Dar al-Kutub al-Ilmiah, tth, juz 4, hlm. 287 dan 289

106
orang-orang yang kasih kepada orang-orang yang beriman,
yaitu orang-orang yang berkata, "Kami adalah orang-orang
Nasrani ...") (Q.S. al-Maidah: 82)

ﺱﻮ` ﺠ ﻤﹾ ﻟﺍ ﻭ ﻯ ﺭﺎ ﺼ` ﻨﻟﺍ ﻭ ﲔ ﺌﹺ ﺑﺎ` ﺼﻟﺍ ﻭ ﺍﻭ` ﺩﺎ ﻫ ﻦﻳ ﺬﱠ ﻟﺍ ﻭ ﺍﻮ` ﻨ ﻣﺁ ﻦﻳ ﺬﱠ ﻟﺍ ﱠ ﻥﹺ ﺇ
ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ﱠ ﻥﹺ ﺇ ﺍﻮﹸ ﻛ ﺮ` ﺷﹶ ﺃ ﻦﻳ ﺬﱠ ﻟﺍ ﻭ ﱢ ﻞﹸ ﻛ ﻰﹶ ﻠ ﻋ ﻪﱠ ﻠﻟﺍ ﱠ ﻥﹺ ﺇ ﺔ ﻣﺎ ﻴ ﻘﹾ ﻟﺍ ﻡ` ﻮ ﻳ ` ﻢ` ﻬ ﻨ`ﻴ ﺑ ﹸ ﻞ ﺼﹾ ﻔ ﻳ
` ﺪﻴﹺ ﻬ ﺷ ٍ ﺀ` ﻲ ﺷ , ﺞﳊﺍ · 17 .

Artinya: Sesungguhnya orang-orang beriman dan orang-orang Yahudi,
orang-orang Shabi'in (penyembah bintang), orang-orang
Nasrani dan Majusi, begitu pun orang-orang yang
mempersekutukan Allah sungguh Allah bakal memberikan
keputusan yang tegas di antara mereka pada hari kiamat.
Adalah Allah saksi pada tiap-tiap sesuatu (Q.S. al-Hajj: 17).

Dalam kaitan ini, penulis di satu segi kurang sependapat dengan
pendapat al-Syafi'i yang mengkategorikan ahlul kitab seperti tersebut di atas.
Alasan penulis kurang setuju karena bila diaplikasikan di Indonesia, maka
orang-orang Indonesia yang menganut agama Yahudi atau Nasrani sesudah
turunnya al-Qur’an maka mereka tidaklah termasuk di dalam ahlul kitab,
konsekuensinya maka tidak halal bagi muslim menikahi perempuan-
perempuan mereka.
Pembatasan pengertian yang hanya dalam dua komunitas agama:
Yahudi dan Nasrani versi Syafi’i, maka menurut penulis jelas akan melahirkan
implikasi sosiologis dalam konteks kehidupan sosial yang serius di Indonesia.
Karena, realitas keragaman agama, tidak hanya terbatas pada dua agama Semit
tersebut.
107
Di segi lain, penulis setuju dengan pendapat al-Syafi’i yang
membolehkan pria muslim menikah dengan perempuan ahlul kitab. Alasan
penulis setuju karena surah al-Maidah ayat 5 merupakan petunjuk yang qath’i
(tegas) tentang bolehnya menikahi wanita ahlul kitab. Dengan kata lain,
menikahi wanita ahlul kitab boleh karena ayat ke-5 dari al-Maidah itu secara
qath'i (tegas) menyatakan kehalalannya.
Dalam kaitannya dengan perkawinan antar agama, khususnya
mengenai makna ahlul kitab dalam versi al-Syafi'i, ia menggunakan metode
istinbath hukum yaitu Al-Qur'an surat Al-Maidah ayat 5.
` ﻢﹸ ﻜﱠ ﻟ ﱞ ﻞ ﺣ ﺏﺎ ﺘ ﻜﹾ ﻟﺍ ﹾ ﺍﻮ` ﺗﻭﹸ ﺃ ﻦﻳ ﺬﱠ ﻟﺍ ` ﻡﺎ ﻌﹶ ﻃ ﻭ ` ﺕﺎ ﺒ` ﻴﱠ ﻄﻟﺍ ` ﻢﹸ ﻜﹶ ﻟ ﱠ ﻞ ﺣﹸ ﺃ ﻡ` ﻮ ﻴﹾ ﻟﺍ
` ﺕﺎ ﻨ ﺼ` ﺤ` ﻤﹾ ﻟﺍ ﻭ ﺕﺎ ﻨ ﻣ` ﺆ` ﻤﹾ ﻟﺍ ﻦ ﻣ ` ﺕﺎ ﻨ ﺼ` ﺤ` ﻤﹾ ﻟﺍ ﻭ ` ﻢ` ﻬﱠ ﻟ ﱡ ﻞ ﺣ ` ﻢﹸ ﻜ` ﻣﺎ ﻌﹶ ﻃ ﻭ
` ﻫ ﺭﻮ` ﺟﹸ ﺃ ` ﻦ` ﻫﻮ` ﻤ` ﺘ` ﻴ ﺗﺁ ﺍﹶ ﺫﹺ ﺇ ` ﻢﹸ ﻜ ﻠ` ﺒﹶ ﻗ ﻦ ﻣ ﺏﺎ ﺘ ﻜﹾ ﻟﺍ ﹾ ﺍﻮ` ﺗﻭﹸ ﺃ ﻦﻳ ﺬﱠ ﻟﺍ ﻦ ﻣ ` ﻦ
ﻥﺎ ﳝِ ﻹﺎﹺ ﺑ ` ﺮﹸ ﻔﹾ ﻜ ﻳ ﻦ ﻣ ﻭ ﻥﺍ ﺪ` ﺧﹶ ﺃ ﻱ ﺬ ﺨ` ﺘ` ﻣ ﹶ ﻻ ﻭ ﲔ ﺤ ﻓﺎ ﺴ` ﻣ ﺮ` ﻴﹶ ﻏ ﲔﹺ ﻨ ﺼ` ﺤ` ﻣ
ﻦﻳﹺ ﺮ ﺳﺎ ﺨﹾ ﻟﺍ ﻦ ﻣ ﺓ ﺮ ﺧﻵﺍ ﻲ ﻓ ﻮ` ﻫ ﻭ ` ﻪﹸ ﻠ ﻤ ﻋ ﹶ ﻂﹺﺒ ﺣ ` ﺪﹶ ﻘﹶ ﻓ , ﺓﺪﺋﺎﳌﺍ · 5 .

Artinya: Pada hari ini dihalalkan bagi kamu yang baik-baik.
Makanan [sembelihan] orang-orang yang diberi al-Kitab
itu halal bagi kamu, dan mahanan kamu halal [pula] bagi
mereka. [Dan dihalalkan bagi kamu menikahi] wanita-
wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita
yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga
kehormatan di antara orang-orang yang diberi al-Kitab
sebelum kamu, bila kamu telah membayar mahar mereka
dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud
berzina dan tidak [pula] menjadikannya gundik-gundik.
Barangsiapa yang kafir sesudah beriman maka hapuslah
amalannya dan di hari akhirat dia termasuk orang-orang
yang merugi. (Q.S. al-Maidah: 5)

108
Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa para ahli tafsir dan para
ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan ayat wal muhsanâtî minal lazîna
ûtul kitâb min qablikum menurut Ibnu Jarir yang dimaksud dengan muhsanat
adalah wanita baik-baik dari ahli kitab baik merdeka atau budak. Imam Syafi'i
yang dimaksud ahli kitab di sini adalah wanita baik-baik dari Bani Israil. Dan
menurut yang lain muhsanat adalah wanita ahli kitab yang baik-baik tadi yang
merupakan penduduk Negeri Islam (Kafir Zimmi),
132
karena berdasarkan
firman Allah yang mengatakan:
ﹺ ﺮ ﺧﻵﺍ ﹺ ﻡ` ﻮ ﻴﹾ ﻟﺎﹺ ﺑ ﹶ ﻻ ﻭ ﻪﹼ ﻠﻟﺎﹺ ﺑ ﹶ ﻥﻮ` ﻨ ﻣ` ﺆ` ﻳ ﹶ ﻻ ﻦﻳ ﺬﱠ ﻟﺍ ﹾ ﺍﻮﹸ ﻠ ﺗﺎﹶ ﻗ

Artinya: Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan
tidak pula pada hari kemudian.
133


Menurut analisis penulis seorang laki-laki Muslim boleh menikahi
Ahlul kitab, selama wanita Ahlul kitab tersebut layak untuk dinikahi. Hikmah
yang terkandung di dalam hukum bolehnya seorang laki-laki Muslim
menikahi wanita Ahlul kitab ialah tersedianya kesempatan supaya terciptanya
hubungan dan kerjasama di antara mereka; dan di samping itu agar dengan
keinginannya, wanita Ahlul kitab itu dapat mempelajari ajaran-ajaran mulia
yang terdapat dalam ajaran Islam.
Tentang makna ahlul kitab, maka penulis lebih cenderung berpendapat
bahwa yang dimaksud dengan ahlul kitab adalah semua penganut agama
Yahudi dan Nasrani, kapanpun, di mana pun, dan keturunan siapa pun mereka.

132
Ismâ'îl ibn Katsîr al-Qurasyî al-Dimasyqî, Tafsîr al-Qur’an al-Azîm., Beirut: Dâr
al-Ma’rifah, 1978, Juz 6, hlm. 252.
133
Depag RI, Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an, Al-Qur’an
dan Terjemahnya, 1986, hlm. 282.
109
Pendapatnya ini didasarkan kepada firman Allah SWT dalam surah al-An 'am
(6) ayat 156:
ﻦ ﻋ ﺎ` ﻨﹸ ﻛ ﻥﹺ ﺇ ﻭ ﺎ ﻨ ﻠ` ﺒﹶ ﻗ ﻦ ﻣ ﹺ ﻦ` ﻴ ﺘﹶ ﻔ ﺋﺂﹶ ﻃ ﻰﹶ ﻠ ﻋ ` ﺏﺎ ﺘ ﻜﹾ ﻟﺍ ﹶ ﻝﹺ ﺰﻧﹸ ﺃ ﺎ ﻤ` ﻧﹺ ﺇ ﹾ ﺍﻮﹸ ﻟﻮﹸ ﻘ ﺗ ﻥﹶ ﺃ
ﲔ ﻠ ﻓﺎ ﻐﹶ ﻟ ` ﻢﹺ ﻬ ﺘ ﺳﺍ ﺭ ﺩ , ﻡﺎﻌﻧﻷﺍ · 156 .
Artinya: (Kami turunkan Al-Qur'an itu) agar kamu (tidak)
mengatakan: Bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua
golongan saja sebelum kami, dan sesungguhnya kami tidak
memperhatikan apa yang mereka baca. (Q.S. al-An' am 156)










110
BAB V
PENUTUP

D. Kesimpulan
Berdasarkan uraian sebelumnya, dan dengan mengacu pada rumusan
masalah sebagaimana termuat dalam bab pertama sampai bab keempat skripsi
ini, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Dalam perkawinan antar agama menurut Imam Safi'i:
- Laki-laki muslim tidak boleh menikah dengan wanita non muslim
dengan alasan surat Al-Baqarah 221: walâ tankihul musyrikâti hatta
yukminna walâmatun mu'minatun khairun min musyrikatin walau
a'jabatkum.
- Wanita muslimah tidak boleh menikah dengan laki-laki non muslim
dengan alasan surat al-Baqarah 221:
walâ tunkihul musyrikîna hatta yukminu wala'abdun mu'minun khairun
min musyrikin walau a'jabakum.
2. Laki-Laki muslim tidak boleh menikah dengan wanita non muslim kecuali
dengan wanita non muslim yang berasal dari ahli kitab. Menurut al-Syafi'i
yang dimaksud dengan ahli kitab tersebut adalah keturunan Bani Israil
atau orang-orang yang berpegang teguh pada kitab Taurat pada masa Nabi
111
Musa dan orang-orang yang berpegang teguh pada kitab Injil pada masa
Nabi Isa.
3. Istinbath hukum Al-Syafi’i yang membolehkan laki-laki muslim menikah
dengan wanita non muslim dari ahli kitab didasarkan atas di takhsis surat
al-Baqarah ayat 221 oleh surat al-Maidah ayat 5. Adapun ahli kitab yang
dimaksud oleh al-Syafi'i hanya terbatas kepada keturunan Bani Israil atau
orang-orang yang berpegang teguh pada Kitab Taurat pada masa Nabi
Musa dan orang-orang yang berpegang teguh pada kitab Injil pada masa
Nabi Isa. Disebabkan:
(a) Dalam ayat 5 al-Ma'idah terdapat lafal min qablikum yang berarti
orang-orang Bani Israil atau orang-orang yang berpegang teguh pada
Kitab Taurat pada masa Nabi Musa dan orang-orang yang berpegang
teguh pada kitab Injil pada masa Nabi Isa.
(b). Nabi Musa dan Nabi Isa hanya diutus kepada Bani Israil.
E. Saran-Saran
Meskipun pendapat al-Syafi’i dibuat dalam kurun waktu yang sudah
lama, namun hendaknya dijadikan studi banding oleh peneliti lainnya, ketika
membahas perkawinan dengan non muslim. Di samping itu pendapat al-Syafi'i
memperkaya wacana perkawinan dengan non muslim. Oleh karena itu kita
perlu menghargai pendapat al-Syafi'i tersebut.
F. Penutup
112
Meskipun tulisan ini telah diupayakan secermat mungkin namun
mungkin saja masih ada kekurangan dan kekeliruannya. Menyadari akan hal
itu, penulis mengharap kritik dan saran menuju kesempurnaan tulisan ini,
semoga Allah SWT meridhoi, Âmîn.





















113
DAFTAR PUSTAKA

Abbas, Siradjuddin, Sejarah dan Keagungan Madzhab Syafi’i, Jakarta: Pustaka
Tarbiyah, 2004
Abd al-Salam, Ahmad Nahrawi, Al-Imam al-Syafi'i fi Madzhabaih fi al-Qadim wa
al-Jadid, Kairo: Dar al-Kutub, 1994
Abu Hasan, Ali al-Walid, Asbab Nuzul al-Qur'an, (ed) Sayyid Ahmad Shaqr, Dar
al-Qiblat, tt
Abu Zahrah, Muhammad, Hayatuhu wa Asruhu wa Fikruhu ara-Uhu wa Fiqhuhu,
Terj. Abdul Syukur dan Ahmad Rivai Uthman, “Al-Syafi’i Biografi dan
Pemikirannya Dalam Masalah Akidah, Politik dan Fiqih”, Jakarta: PT
Lentera Basritama, 2005
Al-Bukhari, Al-Imam Abu Abdillah Muhammad ibn Ismail ibn al-Mugirah ibn
Bardizbah, Sahih al-Bukhari, Juz 3, Beirut Libanon: Dar al-Fikr, 1410
H/1990 M
Al-Ghazzi, Syekh Muhammad bin Qasim, Fath al-Qarib, Indonesia: Maktabah al-
lhya at-Kutub al-Arabiah, tth
Al-Jauziyah, Ibn Qayyim, I’lamul Muwaqi’in ‘an Rabbil ‘Alamin, Juz 2, al-
Muniriyyah
Al-Jaziri, Abdurrahman, Kitab al-Fiqh ‘ala al-Mazahib al-Arba’ah, juz 4, Beirut:
Dar al-Fikr, 1972
Al-Malibary, Syaikh Zainuddin Ibn Abd Aziz, Fath al-Mu’in Bi Sarkh Qurrah al-
‘Uyun, Semarang: Maktabah wa Matbaah, karya Toha Putera , tth
Al-Maragi, Ahmad Mustafa, Tafsir al-Maragi, Mesir: Mustafa Al-Babi Al-
Halabi, 1394 H/1974 M, juz 2
Al-Qardhawi, Yusuf, Hadyul Islam Fatawi Mu’ashirah, Terj. As’ad Yasin,
“Fatwa-Fatwa Kontemporer”, jilid 1, Jakarta: Gema Insani, 2001
Al-Shabuni, Muhammad Ali, Tafsir Ayat al-Ahkam, Dar al-Qur'an al-Karim, 1972
Al-Syafi’i, Al-Imam Abi Abdillah Muhammad Ibn Idris, al-Risalah fi’ Ilmu al-
ushul , al-Ilmiyah, Mesir, 1312 H
____________, Al-Imam Abi Abdullah Muhammad bin Idris, Al-Umm, Beirut
Libanon: Dar al-Kutub al-Ilmiah, tth, juz 4
Al-Zamakhsyari, Tafsir al-Kasyaf, Beirut: Dar al-Ma'rifah, tth
114
Amini, Ibrahim, Principles of Marriage Family Ethics, terj. Alwiyah
Abdurrahman, "Bimbingan Islam Untuk Kehidupan Suami Istri",
Bandung: al-Bayan, 1999
Amirin, Tatang M., Menyusun Rencana Penelitian, Cet. 3. Jakarta: PT. Raja
grafindo persada, 1995
Ash Shiddieqy, TM. Hasbi, Pokok-Pokok Pegangan Imam Madzhab, PT Putaka
Rizki Putra, Semarang, 1997
_____________, Koleksi Hadis-Hadis Hukum, Semarang: PT.Pustaka Rizki
Putra, jilid 8, 2001
_____________, Mutiara Hadis, jilid 5, Semarang; PT.Pustaka Rizki Putra, 2003
As-San’ani, Sayyid al-Iman Muhammad ibn Ismail Subul al-Salam Sarh Bulugh
al-Maram Min Jami Adillati al-Ahkam, Juz 3, Kairo: Dar Ikhya’ al-Turas
al-Islami, 1960
As-Suyuti, Imam Jalaluddin, Tafsir Jalalain, Kairo: Dar al-Fikr, t.th
Asy Syarbasy, Ahmad, Al-Aimmah al-Arba'ah, Terj. Futuhal Arifin, "Biografi
Empat Imam Mazhab", Jakarta: Pustaka Qalami, 2003
______________, Yas'alunaka fi ad-Din wa al-Hayah, Terj. Ahmad Subandi,
"Tanya Jawab Lengkap tentang Agama dan Kehidupan", Jakarta: Lentera,
1997
Asy Syaukani, Muhammad, Nail al–Autar, Beirut: Daar al-Qutub al-Arabia, juz
4, 1973
Basyir, Ahmad Azhar, Hukum Perkawinan Islam, Yogyakarta: UII Press, 2004
Dahlan, Abdul Aziz, et.al, Ensiklopedi Hukum Islam, Jilid 4, Jakarta: PT. Ichtiar
Baru Van Hoeve, 1997
Daradjat, Zakiah, Ilmu Fiqh, jilid 2, Yogyakarta: Dana Bhakti Wakaf, 1995
Depag RI, Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an, Al-Qur’an
dan Terjemahnya, 1986
Djazuli, Ilmu Fiqh, Jakarta: Prenada Media, 2005
Eoh, O.S., Perkawinan Antar Agama Dalam Teori dan Praktek, Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada, 1998
Fikri, Ali, Kisah-Kisah Para Imam Madzhab, Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2003
115
Hadikusuma, Hilman, Hukum Perkawinan Indonesia Menurut Perundangan,
Hukum Adat, Hukum Agama, Bandung: Mandar Maju, 1990
Hamid, Zahry, Pokok-Pokok Hukum Perkawinan Islam dan Undang-Undang
Perkawinan di Indonesia, Yogyakarta: Bina Cipta, 1978
Hamka, Tafsir Al Azhar, Jakarta: PT Pustaka Panji Mas, juz 2, 1999
Hanafie, A., Ushul Fiqh, Cet. 14, Jakarta: Wijaya, 2001
Ibn Kasir, Al-Imam al-Hafizh Imaduddin Abul Fida Ismail, Tafsir al-Qur’an al-
‘Azhim, Cairo: Dar Ihya’ al-Kutub al-Arabiyah, juz 2, tth
Khalaf, Abd Wahab, ‘Ilm ushul al-Fiqh, Jakarta: Maktabah al-Dak’wah al-
Islamiyah Syabab al-Azhar, 1410 H/1990M
Khalid, Syekh Hasan, al-Zawaj Bighair al-Muslimin, Terj. Zaenal Abidin
Syamsudin, “Menikah Dengan Non Muslim”, Jakarta: Pustaka al-Sofwa,
2004
Khalil, Munawar, Biografi Empat Serangkai Imam Mazhab, Jakarta: Bulan
Bintang
Koencaraningrat, Metode-Metode Penelitian Masyarakat, Cet. 14, Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama, 1970
Kuzari, Achmad, Nikah Sebagai Perikatan, Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada,
1995
Moleong, Lexy J., Metode Penelitian Kulitatif, Cet. 14, Bandung: PT Remaja
Rosda Karya, 2001
Mubarok, Jaih, Modifikasi Hukum Islam Studi tentang Qaul Qadim dan Qaul
Jadid, Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2002
____________, Sejarah dan Perkembangan Hukum Islam, Bandung: PT.Remaja
Rosdakarya, 2000
Mughniyah, Muhammad Jawad, Al-Fiqh 'ala al-Mazahib al-Khamsah, Terj.
Masykur AB, et al, "Fiqih Lima Mazhab", Jakarta: PT Lentera Basritama,
2000
Nawawi, Hadari, Metode Penelitian Bidang Sosial, Cet. 5, Yogyakarta: Gajah
Mada University Press, 1991
Nazir, Moh., Metode Penelitian, Cet. 4, Jakarta: Ghalia Indonesia,1999
116
Prodjodikoro, Wirjono, Hukum Perkawinan Di Indonesia, Bandung: PT Sumur
Bandung, 1981
Ramulyo, Moh. Idris, Hukum Perkawinan Islam, Suatu Analisis dari Undang-
Undang No. 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam, Jakarta: Bumi
Aksara, 2002
Rasyid Ridha, Sayyid Muhammad, Tafsir al-Manar, Kairo: Maktabah al-Qahirah,
cet. Ke-4, 1380 H
Razak, Nasruddin, Dienul Islam, Cet. 9, Bandung: PT. Al-Ma’arif, 1986
Ridha, Rasyid, Tafsir al-Manar, juz 6, Cairo: Dar al-Manar, 1367 H
Rofiq, Ahmad, Hukum Islam di Indonesia, Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada,
1977
Sabiq, Sayyid, Fiqh al-Sunnah, Kairo: Maktabah Dar al-Turas, juz 2, tth
Saekan dan Erniati Effendi, Sejarah Penyusunan Kompilasi Hukum Islam di
Indonesia, Surabaya: Arkola, 1977
Saleh, Abdul Mun’im, Madzhab Syafi’i Kajian Konsep Al-Maslahah, Yogyakarta:
Ittaqa Press, 2001
Sosroatmodjo, Arso, dan A.Wasit Aulawi, Hukum Perkawinan di Indonesia,
Jakarta: Bulan Bintang, 1975
Suma, Muhammad Amin, Hukum Keluarga Islam di Dunia Islam, Jakarta:
PT.Raja Grafindo Persada, 2004
Suriasumantri, Jujun S., Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Cet. 7, Jakarta;
Pustaka Sinar Harapan, 1993
Syalthut, Mahmud, Fiqih Tujuh Madzhab, terj. Abdullah Zakiy al-Kaaf, Bandung:
CV Pustaka Setia, 2000
Thalib, Sayuti, Hukum Kekeluargaan Indonesia, Jakarta: UI Press, Cet. 5, 1986
Uwaidah, Syekh Kamil Muhammad, Al-Jami' Fi Fiqhi an-Nisa, terj. M. Abdul
Ghofar, "Fiqih Wanita', (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2002
Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an, Al-Qur’an dan
Terjemahnya, Jakarta: Depag RI, 1986
Yunus, Mahmud, Hukum Perkawinan dalam Islam, Jakarta: PT Hidakarya
Agung, Cet. 12, 1990
117
Zuhdi, Masjfuk, Masail Fikhiyah, Jakarta: PT Gunung Agung, 1997


DEPARTEMEN AGAMA

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO FAKULTAS SYARI’AH SEMARANG
JL. Raya Boja Km. 2 Ngalian Telp./ Fax. (024) 7601291 Semarang 50185

BERITA ACARA MUNAQASYAH SKRIPSI
Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo Semarang pada: Hari : Kamis Tanggal : 27 Juli 2006 Jam : 11.00-12.00 WIB Telah mengadakan Ujian Munaqasyah Skripsi dengan judul: STUDI ANALISIS PENDAPAT AL-SYAFI'I TENTANG PERKAWINAN ANTAR AGAMA Atas Nama Nama NIM Jurusan Keterangan : : : : : Arifin 2199096 Ahwal Syahsiyah UTAMA/ULANG ………………………………………….. LULUS/TIDAK LULUS Semarang, 27 Juli 2006 Sekretaris Sidang,

Ketua Sidang,

H.Khoirul Anwar, S.Ag, M.Ag. NIP. 150 276 114

M.Solek, MA. NIP. 150 262 648

Penguji I,

Penguji II,

Dr.H.Abd. Hadi, MA. NIP. 150 209 744 Pembimbing,

Ade Yusuf Mujaddid, M.Ag. NIP. 150 289 443

M.Solek, MA. NIP. 150 262 648 ii

ABSTRAK

Dalam prakteknya tidak sedikit adanya hubungan muda-mudi yang berbeda agama yaitu muslim dengan non muslim. Hubungan itu tidak menutup kemungkinan sampai pada jenjang pernikahan. Masalah yang muncul, bagaimana pendapat Al-Syafi'i tentang perkawinan antar agama? Bagaimana metode istinbath hukum Al-Syafi'i tentang perkawinan antar agama? Penulisan ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dan penelitian kepustakaan (Library research). Sedangkan Pendekatannya menggunakan pendekatan deskriptif analisis. Adapun data primer yaitu karya al-Syafi’i yang berhubungan dengan judul di atas di antaranya: (1) Al-Umm, dan al-Risalah. Sedangkan data sekunder, yaitu literatur lainnya yang relevan dengan judul di atas. Sebagai tknik pengumpulan data menggunakan teknik library research (penelitian kepustakaan), dengan analisis data kualitatif. Hasil dari pembahasan dapat diterangkan bahwa dalam perkawinan antar agama menurut Imam Syafi'i, laki-laki muslim tidak boleh menikah dengan wanita non muslim dengan alasan surat al-Baqarah 221: walâ tankihul musyrikâti hatta yukminna walâmatun mu'minatun khairun min musyrikatin walau a'jabatkum. Wanita muslimah tidak boleh menikah dengan laki-laki non muslim dengan alasan surat al-Baqarah 221: walâ tunkihul musyrikîna hatta yukminu wala'abdun mu'minun khairun min musyrikin walau a'jabakum. Laki-Laki muslim tidak boleh menikah dengan wanita non muslim kecuali dengan wanita non muslim yang berasal dari ahli kitab. Menurut al-Syafi'i yang dimaksud dengan ahli kitab tersebut adalah keturunan Bani Israil atau orang-orang yang berpegang teguh pada kitab Taurat pada masa Nabi Musa dan orang-orang yang berpegang teguh pada kitab Injil pada masa Nabi Isa. Sedangkan Istinbath hukum al-Syafi’i yang membolehkan laki-laki muslim menikah dengan wanita non muslim dari ahli kitab didasarkan atas di takhsis surat al-Baqarah ayat 221 oleh surat al-Maidah ayat 5. Adapun ahli kitab yang dimaksud oleh al-Syafi'i hanya terbatas kepada keturunan Bani Israil atau orang-orang yang berpegang teguh pada kitab Taurat pada masa Nabi Musa dan orang-orang yang berpegang teguh pada kitab Injil pada masa Nabi Isa. Disebabkan: (a) Dalam ayat 5 al-Ma'idah terdapat lafal min qablikum yang berarti orang-orang Bani Israil atau orang-orang yang berpegang teguh pada kitab Taurat pada masa Nabi Musa dan orang-orang yang berpegang teguh pada kitab Injil pada masa Nabi Isa. (b). Nabi Musa dan Nabi Isa hanya diutus kepada Bani Israil. Dalam kaitan ini, penulis kurang sependapat dengan pendapat al-Syafi'i yang mengkategorikan ahlul kitab seperti tersebut di atas. Alasan penulis kurang setuju karena bila diaplikasikan di Indonesia, maka orang-orang Indonesia yang menganut agama Yahudi atau Nasrani sesudah turunnya al-Qur’an maka mereka tidaklah termasuk di dalam ahlul kitab, konsekuensinya maka tidak halal bagi muslim menikahi perempuanperempuan mereka.

iii

Latar Belakang Masalah B. Pendidikan dan Karya-Karyanya B. Biografi Al-Syafi'i. Saran-saran C. Kesimpulan B. Sistematika Penulisan BAB II: TINJAUAN UMUM TENTANG PERKAWINAN A. Penutup iv . Pendapat Al-Syafi'i tentang perkawinan Antar Agama C. Metode Penelitian F. Rumusan Masalah C. Syarat dan Rukun Nikah C. Telaah Pustaka E. Tujuan Penelitian D. Metode Istinbath Hukum Al-Syafi'i BABIV: ANALISIS PENDAPAT AL-SYAFI'I TENTANG PERKAWINAN ANTAR AGAMA A. Pengertian Nikah dan Dasar Hukumnya B. Pendapat Al-Syafi'i tentang perkawinan Antar Agama B. Pendapat Para Ulama tentang Perkawinan Antar Agama BABIII: PENDAPAT AL-SYAFI'I TENTANG PERKAWINAN ANTAR AGAMA A. Metode Istinbath Hukum Al-Syafi'i tentang perkawinan Antar Agama BAB V : PENUTUP A.DAFTAR ISI BAB I : PENDAHULUAN A.

Demikian pula manusia diciptakan dalam berpasangan yaitu ada pria dan wanita. ada kaya dan miskin.BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Allah SWT menciptakan dunia dan seluruh makhluk yang mendiami jagad raya ini dibentuk dan dibangun dalam kondisi berpasang-pasangan. Namun demikian. Pernikahan itu terjadi melalui sebuah proses yaitu kedua belah pihak saling menyukai dan merasa akan mampu hidup bersama dalam menempuh bahtera rumah tangga. Sanksi yang dimaksud yaitu manakala pria dan wanita dalam memenuhi kebutuhan biologisnya tanpa diikat oleh suatu tali pernikahan. Ada gelap dan terang. Pria dan wanita diciptakan dengan disertai kebutuhan biologis. Dalam memenuhi kebutuhan biologis ada aturan-aturan tertentu yang harus dipenuhi dan bila dilanggar mempunyai sanksi baik di dunia maupun di akhirat. 1 . pernikahan itu sendiri mempunyai syarat dan rukun yang sudah ditetapkan baik dalam al-Qur’an maupun dalam Hadis.

Kata nikah banyak dipergunakan dalam akad. 375. "Fiqih Wanita'. Ada juga yang mengatakan bahwa “nikah” adalah pengertian hakekat bagi keduanya. Ada orang yang mengatakan “nikah” ini kata majaz dari ungkapan secara umum bagi nama penyebab atas sebab. Cet. 12. 3 Zahry Hamid. nikah berarti penyatuan. 2002. 1990. 1. hlm. Hukum Perkawinan dalam Islam.2 Sedangkan Zahry Hamid merumuskan nikah menurut syara ialah akad (ijab qabul) antara wali calon istri dan mempelai laki-laki dengan ucapan tertentu dan memenuhi rukun serta syaratnya. dan itulah yang dimaksudkan oleh orang yang mengatakan bahwa kata “nikah” itu musytarak bagi keduanya.4 As Shan’ani dalam kitabnya memaparkan bahwa an-nikah menurut pengertian bahasa ialah penggabungan dan saling memasukkan serta percampuran. Diartikan juga sebagai akad atau hubungan badan. 2 2 . Al-Jami' Fi Fiqhi an-Nisa. 1986. Ada pula yang mengatakan bahwa dalam kata nikah itu terkandung pengertian hakekat yang 1 Sayuti Thalib. 4 Syekh Kamil Muhammad ‘Uwaidah. hlm. 1.Menurut Sayuti Thalib perkawinan ialah perjanjian suci membentuk keluarga antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan. Jakarta: PT Hidakarya Agung. Hukum Kekeluargaan Indonesia. 47. Cet. terj. Abdul Ghofar. Jakarta: UI Press. Pokok-Pokok Hukum Perkawinan Islam dan Undang-Undang Perkawinan di Indonesia. Selain itu. hlm. perkawinan ialah akad antara calon laki istri untuk memenuhi hajat jenisnya menurut yang diatur oleh syariat. (Jakarta: Pustaka al-Kautsar. hlm. 5. ada juga yang mengartikannya dengan percampuran. M.3 Syekh Kamil Muhammad ‘Uwaidah mengungkapkan menurut bahasa. Yogyakarta: Bina Cipta. Mahmud Yunus.1 Sementara Mahmud Yunus menegaskan. 1978. Kata “nikah” itu dalam pengertian “persetubuhan” dan “akad”.

meskipun redaksinya berbeda akan tetapi ada pula kesamaannya. hlm. 251 5 3 . Dalam konteks ini Rasulullah bersabda: ‫ﺑﻦ ﹶﺃﺑﹺﻲ‬ ‫ﻴﺪ‬‫ﺎ ﺣﻤ‬‫ﺒﺮﻧ‬‫ﺑﻦ ﺟﻌﻔﺮ ﹶﺃﺧ‬ ‫ﺎ ﻣﺤﻤﺪ‬‫ﺒﺮﻧ‬‫ﻳﻢ ﹶﺃﺧ‬‫ﺑﻦ ﹶﺃﺑﹺﻲ ﻣﺮ‬ ‫ﻴﺪ‬‫ﺎ ﺳﻌ‬‫ﺣﺪﹶﺛﻨ‬       ‫ﹶﹴ‬                ‫ﺎﺀ ﹶﺛﻠﹶﺎﹶﺛﺔ‬‫ﻳ ﹸﻮﻝ ﺟ‬ ‫ﻪ‬‫ﻲ ﺍﻟﱠﻪ ﻋﻨ‬‫ﻟﻚ ﺭﺿ‬‫ﺎ‬‫ﺑﻦ ﻣ‬ ‫ﻧﺲ‬‫ﻧﻪ ﺳﻤﻊ ﹶﺃ‬‫ﻴﺪ ﺍﻟﻄﻮﹺﻳﻞ ﹶﺃ‬‫ﺣﻤ‬ ‫ ﻘ ﹸ َ ﹸ‬ ‫ﻠ‬       ‫ ﱠ ﹸ‬  ‫ﺎﺩﺓ‬‫ﻳﺴﺄﹸﻮﻥ ﻋﻦ ﻋﺒ‬ ‫ﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ‬‫ﻨﹺﺒﻲ ﺻﱠﻰ ﺍﻟﱠﻪ ﻋﻠ‬‫ﺍﺝ ﺍﻟ‬‫ﻮﺕ ﹶﺃﺯﻭ‬‫ﺑ‬ ‫ﺭﻫﻂ ﹺﺇﻟﹶﻰ‬      ‫ ﹶ ﻟ ﹶ‬  ‫ ﱠ‬   ‫ ﹶ‬ ‫ﻠ ﻠ‬  ‫ ﹺ‬  ‫ﻴ‬   ‫ﻧﺤﻦ‬ ‫ﻳﻦ‬‫ﺎ ﻓﻘﹶﺎﹸﻮﺍ ﻭﹶﺃ‬‫ﺗﻘﹶﺎﱡﻮﻫ‬ ‫ﻧﻬﻢ‬‫ﻭﺍ ﻛﺄ‬ ‫ﺎ ﹸﺃﺧﹺﺒ‬ ‫ﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻠ‬‫ﻨﹺﺒﻲ ﺻﱠﻰ ﺍﻟﱠﻪ ﻋﻠ‬‫ﺍﻟ‬     ‫ ﻟ ﹶ ﻟ‬  ‫ ﺮ ﹶ ﹶ‬ ‫ ﹶ ﹶ ﻤ‬ ‫ﱠ‬   ‫ ﹶ‬ ‫ ﻠ ﻠ‬  ‫ﺗﺄﺧﺮ ﻗﹶﺎﻝ‬ ‫ﺎ‬‫ﻧﹺﺒﻪ ﻭﻣ‬‫ﺗﻘﺪﻡ ﻣﻦ ﺫ‬ ‫ﺎ‬‫ﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺪ ﻏﻔﺮ ﹶﻟﻪ ﻣ‬‫ﻨﹺﺒﻲ ﺻﱠﻰ ﺍﻟﱠﻪ ﻋﻠ‬‫ﻣﻦ ﺍﻟ‬ ‫ ﹶ‬  ‫ ﹶ‬  ‫ ﹶ‬    ‫ ﹶ‬   ‫ ﹸ‬ ‫ ﹶ‬ ‫ ﱠ‬   ‫ ﹶ‬ ‫ﻠ ﻠ‬    ‫ﻮﻡ ﺍﻟﺪﻫﺮ ﻭﻟﹶﺎ ﹸﺃﻓﻄﺮ‬ ‫ﺎ ﹶﺃ‬‫ﻗﹶﺎﻝ ﺁﺧﺮ ﹶﺃﻧ‬‫ﺍ ﻭ‬‫ﺑﺪ‬‫ﻴﻞ ﹶﺃ‬‫ﻲ ﹸﺃﺻﱢﻲ ﺍﻟﻠ‬‫ﺎ ﻓﺈ‬‫ﺎ ﹶﺃﻧ‬ ‫ﹶﺃﺣﺪﻫﻢ ﹶﺃ‬  ‫ ﹾ‬    ‫ ﺻ‬ ‫ﹶ‬ ‫ ﻠ ﱠ ﹶ‬ ‫ ﻣ ﹶ ﹺﻧ‬    ‫ﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﱠﻰ ﺍﻟﱠﻪ‬ ‫ﺎﺀ ﺭ‬‫ﺍ ﻓﺠ‬‫ﺑﺪ‬‫ﺰﻭﺝ ﹶﺃ‬‫ﺎﺀ ﻓﻠﹶﺎ ﹶﺃﺗ‬‫ﻨﺴ‬‫ﺘﺰﻝ ﺍﻟ‬‫ﺎ ﹶﺃﻋ‬‫ﻭﻗﹶﺎﻝ ﺁﺧﺮ ﹶﺃﻧ‬ ‫ ﻠ ﻠ‬  ‫ﺳ ﹸ ﱠ‬ َ ‫ﹶ‬   ‫َ ﹶ‬ ‫ﹺﹸ‬  ‫ ﹶ‬ ‫ﺎﻛﻢ‬‫ﻲ ﹶﻟﺄﺧﺸ‬‫ﺍﻟﻠﻪ ﹺﺇ‬‫ﺎ ﻭ‬‫ﺘﻢ ﻛﺬﹶﺍ ﻭﻛﺬﹶﺍ ﹶﺃﻣ‬‫ﻳﻦ ﻗﻠ‬‫ﺘﻢ ﺍﱠﻟﺬ‬‫ﻧ‬‫ﻴﻬﻢ ﻓﻘﹶﺎﻝ ﹶﺃ‬‫ﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﹺﺇﻟﹶ‬‫ﻋﻠ‬  ‫ ﹸ‬ ‫ ﻧ ﹶ‬‫ﱠ‬ ‫ ﹶ‬ ‫ ﹶ‬ ‫ ﹸ ﹾ‬  ‫ ﹶ ﹶ‬ ‫ ﹺ‬ ‫ﱠ‬   ‫ﹶ‬ ‫ﺎﺀ ﻓﻤﻦ‬‫ﻨﺴ‬‫ﺗﺰﻭﺝ ﺍﻟ‬‫ﻮﻡ ﻭﹸﺃﻓﻄﺮ ﻭﹸﺃﺻﱢﻲ ﻭﹶﺃﺭﻗﺪ ﻭﹶﺃ‬ ‫ﻲ ﹶﺃ‬‫ﺗﻘﹶﺎﻛﻢ ﹶﻟﻪ ﹶﻟﻜ‬‫ﻟﻠﻪ ﻭﹶﺃ‬  ‫َ ﹶ‬      ‫ ﹸ‬  ‫ﻠ‬    ‫ ﹾ‬  ‫ﻨ ﺻ‬   ‫ ﹸ‬  ‫ﱠ‬ ‫ﻨ‬  ‫ ﹶ ﹶ‬      (‫ﻲ )ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻯ‬‫ﻴﺲ ﻣ‬‫ﻲ ﻓﻠ‬‫ﻨﺘ‬‫ﺭﻏﺐ ﻋﻦ ﺳ‬ 6 Sayyid al-Iman Muhammad ibn Ismail as-San’ani . 350. Sahih al-Bukhari. Juz 3. Beirut Libanon: Dar al-Fikr. Tidak dimaksudkan kata nikah itu dalam al-Qur’an kecuali dalam hal akad.5 Dari berbagai pengertian di atas. Subul al-Salam Sarh Bulugh alMaram Min Jami Adillati al-Ahkam.bersifat syar’i. Kairo: Dar Ikhya’ al-Turas al-Islami. 1960. Karena itu dapat disimpulkan perkawinan ialah suatu akad atau perikatan untuk menghalalkan hubungan kelamin antara lakilaki dan perempuan dalam rangka mewujudkan kebahagiaan hidup berkeluarga yang diliputi rasa ketentraman serta kasih sayang dengan cara yang diridhai Allah SWT. 1410 H/1990 M. hlm. 6 Al-Bukhari. Juz 3.

perkawinan orang beragama Islam (pria/wanita) dengan orang 4 . sesungguhnya dia telah mendengar dari Anas bin Malik r. dan saya kawin." Orang kedua berkata: "Saya akan berpuasa setiap hari. al-Bhukhari) Dari hadis di atas mengisyaratkan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak menyukai seseorang yang berprinsip anti menikah.a. tidak termasuk ke dalam golonganku. katanya: Ada tiga orang laki-laki datang berkunjung ke rumah isteri-isteri Nabi saw. Namun demikian dalam prakteknya tidak sedikit adanya hubungan muda-mudi yang berbeda agama yaitu muslim dengan non muslim.Artinya: Telah mengabarkan kepada kami dari Sa'id bin Abi Maryam telah memberitahu kepada kami dari Muhammad bin Ja'far dari Himaid bin Abi Humaid ath-Thawail. Mereka berkata: "Kita tidak dapat disamakan dengan Nabi. Tetapi saya berpuasa dan berbuka. bertanya tentang ibadat beliau." Salah seorang dari mereka berkata: "Untuk saya. saya akan selalu sembahyang sepanjang malam selamalamanya. Masalah yang muncul." Setelah itu Rasulullah saw. Setelah diterangkan kepada mereka.. Saya tidak akan kawin selama-lamanya. dalam hal ini. apakah hukumnya sah perkawinan muslim dengan non muslim? Peristiwa di atas berarti menyangkut perkawinan antar agama yang menurut Masjfuk Zuhdi. Hubungan itu tidak menutup kemungkinan sampai pada jenjang pernikahan. Beliau berkata: "Kamukah orangnya yang berkata begini dan begitu? Demi Allah! Saya lebih takut dan lebih bertaqwa kepada Tuhan dibandingkan dengan kamu. yaitu perkawinan antarorang yang berlainan agama. Saya sembahyang dan tidur. Barangsiapa yang tidak mau mengikuti sunnahku." Orang ketiga berkata: "Saya tidak akan pernah mendekati wanita. tidak pernah berbuka." (HR. Allah. Semua dosa beliau yang telah lalu dan yang akan datang telah diampuni. kelihatan bahwa mereka menganggap bahwa apa yang dilakukan Nabi itu terlalu sedikit. datang.

1997.7 Perkawinan antaragama yang dimaksud ini dapat terjadi antara 1. Jakarta: PT Lentera Basritama. Masail Fikhiyah.9 Alasannya adalah firman Allah SWT dalam al-Baqarah (2) ayat 221: ‫ﻦ ﻣﺸﺮﻙ ﻭﹶﻟﻮ‬ ‫ﻴﺮ‬‫ﺒﺪ ﻣﺆﻣﻦ ﺧ‬‫ﻮﹾﺍ ﻭﹶﻟﻌ‬‫ﻳﺆﻣ‬ ‫ﻰ‬‫ﻮﹾﺍ ﺍﹾﻟﻤﺸﺮﻛﲔ ﺣ‬ ‫ﻨﻜ‬ ‫ﻻ‬‫. 4. Al-Fiqh 'ala al-Mazahib al-Khamsah. Jilid 4.) ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ‬‫ﹶﺃﻋﺠ‬ ‫ ﹸ‬  Masjfuk Zuhdi. 2. hlm. Muhammad Jawad Mughniyah. Ichtiar Baru Van Hoeve. "Fiqih Lima Mazhab".al. baik musyrik maupun ahlulkitab.beragama non Islam (pria/wanita).. 9 Abdul Aziz Dahlan. Jakarta: PT.ﻭ‬    ‫ ﹺ‬  ‫ ﻣ‬         ‫ﻨ‬  ‫ﺘ‬   ‫ ﹺ‬  ‫ ﺤ‬ ‫ﹶ ﺗ‬ (221 :‫ﺒﻜﻢ.. Calon suami beragama Islam dan calon istri tidak beragama Islam. 1409. 336. maka para ulama imamiyah – sebagaimana halnya dengan keempat mazhab lainnya – sepakat bahwa wanita muslimah tidak boleh kawin dengan laki-laki non muslim meskipun ahli kitab. et. Akibat hukum dari perkawinan antaragama adalah sebagai berikut: apabila perkawinan antaragama terjadi antara perempuan yang beragama Islam dan laki-laki yang tidak beragama Islam. Masykur AB. 2000. maka ulama fikih sepakat hukumnya tidak sah.. Terj. hlm. Calon istri beragama Islam dan calon suami tidak beragama Islam. Jakarta: PT Gunung Agung. 1997. baik musyrik maupun ahlul kitab. hlm. baik "ahlulkitab" maupun musyrik. 8 7 5 . et al.8 Hal ini berarti apabila perkawinan antaragama terjadi antara perempuan yang beragama Islam dan laki-laki yang tidak beragama Islam. baik ahlulkitab maupun musyrik.. Ensiklopedi Hukum Islam.

Allah SWT telah mengharamkan laki-laki muslim menikahi perempuan musyrik dan ia tidak pernah tahu adakah syirik yang lebih besar dari seseorang yang beriktikad bahwa Nabi Isa AS atau hamba Allah SWT yang lainnya adalah Tuhannya. Mumtahanah: 10). Al-Qur’an dan Terjemahnya. Sebab.ﻻ ﻫﻦ ﺣﻞ ﱠﻟﻬﻢ ﻭﻻ ﻫﻢ‬   ‫ﻠ ﹶ‬   ‫ ﹶ‬   ‫ ﱞ‬   ‫ﹶ‬ Artinya: …Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orangorang kafir itu tiada halal pula bagi mereka… (Q. 11 Ibid. Argumen mereka adalah pertama. Sesungguhnya budak yang mu'min lebih baik dari orang musyrik. menurutnya. terdapat beberapa pendapat di antara ulama fikih: a.S.. Umar bin al-Khattab (42 SH/581 M-23 H/644 M) melarang perkawinan antara laki-laki muslim dan perempuan ahlul kitab.) ﺍﳌﻤﺘﺤﻨﺔ‬ ‫. Jumhur ulama fikih membolehkan perkawinan laki-laki muslim dengan perempuan ahlul kitab. hlm.. walaupun dia menarik hatimu. Selanjutnya apabila perkawinan terjadi antara laki-laki beragama Islam dan perempuan yang tergolong ahlul kitab.. 1986. hlm. ulama fikih sepakat menyatakan bahwa hukumnya tidak sah. penjelasan yang 10 Depag RI. 10 (10 :‫ﻳﺤﱡﻮﻥ ﹶﻟﻬﻦ. Argumen yang dikemukakan adalah firman Allah SWT dalam al-Baqarah (2) ayat 221. b.11 Apabila perkawinan terjadi antara laki-laki muslim dengan perempuan musyrik. 924 6 . 53.Artinya: Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik sebelum mereka beriman.. Ulama berbeda pendapat mengenai siapa yang disebut perempuan musyrik itu. Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an.

hlm. juz 4. Karena Nabi Musa AS dan Nabi Isa AS hanya diutus untuk orang-orang bangsa Israel. namun mereka berbeda pendapat dalam menentukan wanita ahlul kitab itu sendiri. menurut alSyafi'i bahwa wanita muslimah tidak boleh menikah dengan laki-laki non muslim. Dalam hubungannya dengan perkawinan antar agama. 287 12 7 .terdapat dalam Al-Qur'an dalam surah al-Ma'idah ayat 5 dan kedua. tth. Beirut Libanon: Dar al-Kutub al-Ilmiah. akan tetapi dibolehkan menikah antara laki-laki muslim dengan ahli kitab. Sekalipun jumhur ulama fikih sepakat tentang kebolehan seorang laki-laki beragama Islam mengawini wanita ahlul kitab. Al-Umm. tidak termasuk bangsa-bangsa lain sekalipun penganut agama Yahudi dan atau Nasrani. Di antara alasan yang diajukan adalah (1). dan Al-Imam Abi Abdullah Muhammad bin Idris al-Syafi’i. Dalam kaitannya dengan ahli kitab. yang termasuk ahlul kitab adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani keturunan orang-orang Israel. dan wanita musyrik itu kadang-kadang halal (boleh menikah) bagi lelaki Islam dengan sesuatu hal dan wanita itu wanita kitabi. yang menjelaskan bahwa sekalipun boleh mengawini wanita ahlul kitab. namun hukumnya makruh. Hal ini ia nyatakan dalam kitabnya yaitu: ‫ﺍﳌﺴﻠﻤﺔ ﻻ ﲢﻞ ﳌﺸﺮﻙ ﲝﺎﻝ ﻭﺍﳌﺮﺃﺓ ﺍﳌﺸﺮﻛﺔ ﻗﺪ ﲢﻞ ﻟﻠﻤﺴﻠﻢ ﲝﺎﻝ ﻭﻫﻰ ﺃﻥ‬  12 ‫ﺗﻜﻮﻥ ﻛﺘﺎﺑﻴﺔ‬ Artinya: wanita muslimah tidak halal (menikah) dengan laki-laki musyrik dengan keadaan apa pun. menurut Al-Syafi'i. ahli fikih di Mesir. pendapat Sayid Sabiq.

(2). Lafal min qablikum (umat sebelum kamu) dalam surah al-Ma'idah (5) ayat 5 menunjuk kepada kedua kelompok Yahudi dan Nasrani bangsa Israel. Pendapat al-Syafi'i di atas dapat dijumpai dalam kitabnya yang pada intinya menyatakan:

‫ﻣﻦ ﺩﺍﻥ ﺩﻳﻦ ﺍﻟﻴﻬﻮﺩ ﻭﺍﻟﻨﺼﺎﺭﻱ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﺎﺑﺌﲔ ﻭﺍﻟﺴﺎﻣﺮﺓ ﺃﻛﻠﺖ ﺫﺑﻴﺤﺘﻪ ﻭﺣﻞ‬ 13 ‫ﻧﺴﺎﺅﻩ‬
Artinya: siapa yang beragama dengan agama Yahudi dan Nasrani dari orang Sabiin dan Samiri, maka boleh dimakan sembelihannya dan halal dikawini wanitanya.14 Mengingat kondisi yang demikian, maka terasa masih relevan membicarakan perkawinan antar agama, karena perkawinan merupakan sesuatu yang penting. Kecuali itu, masih banyak orang yang belum memahaminya secara tepat, terutama di kalangan generasi muda. Di sinilah terletak, antara lain urgennya mengkaji pendapat al-Syafi'i. Berdasarkan uraian di atas mendorong diangkatnya tema ini dengan judul: Studi Analisis Pendapat Al-Syafi'i dalam Kitab al-Umm tentang Perkawinan Antar Agama

Ibid, hlm. 289 Sabi'in adalah nama golongan yang mengikuti nabi-nabi zaman dahulu. Sedangkan Samiri adalah nama suatu suku dari bangsa Israil.
14

13

8

A. Perumusan Masalah Permasalahan merupakan upaya untuk menyatakan secara tersurat pertanyaan-pertanyaan apa saja yang ingin dicarikan jawabannya.15 Bertitik tolak pada keterangan itu, maka yang menjadi pokok permasalahan: 1. Bagaimana pendapat Al-Syafi'i tentang perkawinan antar agama? 2. Bagaimana metode istinbath hukum Al-Syafi'i tentang perkawinan antar agama? B. Tujuan Penelitian Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui pendapat Al-Syafi'i tentang perkawinan antar agama 2. Untuk mengetahui metode istinbath hukum Al-Syafi'i tentang perkawinan antar agama C. Telaah Pustaka Berdasarkan penelitian di perpustakaan Fakultas Syari’ah ditemukan kajian khusus berupa skripsi yang judulnya ada hubungan dengan penelitian ini. Demikian pula ada beberapa buku yang membahas perkawinan antar agama, walaupun secara khusus belum membahas konsep Al-Syafi'i secara mendalam. Skripsi dan buku-buku yang dimaksud di antaranya: 1. Skripsi yang disusun oleh M. Rodli (NIM 2195143 IAIN Wali Songo Semarang) berjudul: Analisis Pendapat Muhammad Rasyid Ridlo tentang Kebolehan Laki-Laki Muslim Menikahi Wanita Kristen/Nasrani (Ahlul
Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Cet. 7, Jakarta; Pustaka Sinar Harapan, 1993, hlm. 312.
15

9

Kitab) dalam Al-Manar. Dalam skripsinya dijelaskan bahwa pada intinya M. Rasyid Ridho membolehkan laki-laki muslim menikahi wanita ahlul kitab dengan syarat laki-laki muslim tidak terpengaruh dan ikut ke agama istrinya, yang ia khawatirkan wanita ahlul kitab tersebut akan menarik laki-laki muslim untuk masuk ke agamanya dengan kepandaiannya, kecantikannya, dan hartanya. Terhadap pemikiran M. Rasyid Ridho di atas, maka penulis mendukung karena Islam sebagai rahmat sekalian alam tidak membedakan antara manusia satu dengan lainnya, demikian juga terhadap penganut agama lain. 2. Skripsi yang disusun oleh Thoifah (NIM 2196073 IAIN Wali Songo Semarang) dengan judul: Study Pemikiran Quraisy Syihab tentang Ahlul Kitab dan Implikasinya pada pernikahan Beda Agama di Indonesia. Dalam skripsinya dijelaskan bahwa M. Quraisy Shihab membolehkan seorang pria menikah dengan ahlul kitab dengan catatan wanita itu yang muhsonat yaitu perempuan yang dapat menjaga kehormatan diri dan sangat menghormati serta mengagungkan kitab sucinya. Muhammad Quraish Shihab, ahli tafsir kontemporer dari Indonesia, lebih cenderung berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ahlul kitab adalah semua penganut agama Yahudi dan Nasrani, kapanpun, di mana pun, dan keturunan siapa pun mereka. Pendapatnya ini didasarkan kepada firman Allah SWT dalam surah al-An 'am (6) ayat 156:

‫ﻦ‬‫ﺎ ﻋ‬‫ﺎ ﻭﺇﹺﻥ ﻛ‬‫ﺒﻠﻨ‬‫ﻦ ﻗ‬‫ﻴﻦ ﻣ‬‫ﺘ‬‫ﺋﻔ‬‫ ﻋﻠﹶﻰ ﻃﹶﺂ‬‫ﺎﺏ‬‫ﺎ ﹸﻧﺰﻝ ﺍﹾﻟﻜﺘ‬‫ﻧﻤ‬‫ﺗ ﹸﻮﹸﻮﹾﺍ ﹺﺇ‬ ‫ﺃﹶﻥ‬ ‫ ﹸﻨ‬  ‫ﹶ ﹺ ﹶ‬   ‫ﺃﹺﹶ‬ ‫ﻘﻟ‬ (156 :‫ﺎﻓﻠﲔ )ﺍﻷﻧﻌﺎﻡ‬‫ﺘﻬﻢ ﹶﻟﻐ‬‫ﺍﺳ‬‫ﺩﺭ‬    ‫ ﹺ‬ 
10

al-An'am: 156) Penulis kurang sependapat dengan klasifikasi Quraish Shihab. sebagaimana dimiliki oleh Islam.Artinya: (Kami turunkan Al-Qur'an itu) agar kamu (tidak) mengatakan: Bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan saja sebelum kami. karena ia hanya membolehkan pada penganut agama Yahudi dan Nasrani. padahal 11 . Hal ini mengandung arti ia membedakan antara penganut agama yang satu dengan lainnya. dan sesungguhnya kami tidak memperhatikan apa yang mereka baca. khususnya perkawinan wanita muslimah dengan pria non muslim. di zaman negeri-negeri masih mengakui adanya budak. perempuan muslimah tidak boleh bersuamikan ahlul kitab karena perempuan tidak akan melebihi kekuasaan suaminya dalam rumah tangga. meskipun perempuan itu masih budak. terhadap surat al-Baqarah ayat 221. Menurut Hamka bahwa dalam ajaran Islam. Apalagi dalam agama-agama lain yang tidak memberikan jaminan kebebasan yang luas dalam peraturan agamanya terhadap perempuan. menegaskan tentang perkawinan antar agama. Di sini pula ia tidak memberi argumentasi yang detail kenapa untuk penganut agama lain tidak boleh. Alhasil pada pokoknya bahwa orang Islam laki-laki jodohnya ialah orang Islam perempuan. (Q. dalam Tafsir Al-Azhar. Hamka.S. Janganlah mencari jodoh karena hanya tertarik pada kecantikan. 3. Orang perempuan Islam jodohnya laki-laki Islam. Padahal Shihab tidak memberi ukuran apa sehingga agama Yahudi dan Nasrani dibolehkan.

“Menikah Dengan Non Muslim”. hlm. baik dia musyrik ataupun Ahli Kitab. Allah SWT telah mengharamkan laki-laki muslim menikahi perempuan musyrik dan ia tidak pernah tahu adakah syirik yang lebih besar dari seseorang yang beriktikad bahwa Nabi Isa AS atau hamba Allah SWT yang lainnya adalah Tuhannya.orangnya musyrik. Fiqh al-Sunnah. Zaenal Abidin Syamsudin. al-Zawaj Bighair al-Muslimin. Jakarta: PT Pustaka Panji Mas. jilid 1. Syekh Hasan Khalid.19 Argumen mereka yang menyatakan boleh adalah penjelasan yang terdapat dalam Al-Qur'an dalam surah al-Ma'idah ayat 5 6. Namun demikian di antara sahabat yang tidak berpendapat demikian adalah Umar bin al-Khattab. Sayyid Sabiq. Jakarta: Gema Insani. Yusuf Qardhawi. 585 18 bid 19 Syekh Hasan Khalid. menurutnya.16 4. Ulama ahli fiqih ini menguraikan. Jakarta: Pustaka al-Sofwa. hlm. Jangan tertarik oleh kekayaan atau keturunan kalau laki-lakinya tidak beragama.18 5. hlm.17 Umar bin al-Khattab (42 SH/581 M-23 H/644 M) melarang perkawinan antara laki-laki muslim dan perempuan ahlul kitab. 257 Yusuf Qardhawi. Hadyul Islam Fatawi Mu’ashirah. Terj. para ulama sepakat bahwa perempuan Muslim tidak halal kawin dengan lakilaki bukan Muslim. Terj. Tafsir Al Azhar. Menurut Syekh Hasan Khalid bahwa jumhur ulama fikih membolehkan perkawinan lakilaki muslim dengan perempuan ahlul kitab. Hamka. “FatwaFatwa Kontemporer”. 145 17 16 12 . al-Zawaj Bighair al-Muslimin. 2004. 2001. Sebab. juz 2. 1999. dalam Hadyul Islam Fatawi Mu’ashirah berpendapat bahwa hukum asal mengawini wanita ahli kitab menurut jumhur ulama adalah mubah. As’ad Yasin.

Dalam pengertian seperti inilah maksud daripada kekuasaan suami terhadap istri. Mereka ini (perempuan-perempuan Mukmin) tidak halal bagi laki-laki kafir. (An-Nisa': 141) Selain itu seorang suami kafir tidak mau tahu akan agama istrinya yang Muslim bahkan ia mendustakan Kitab Sucinya dan mengingkari ajaran Nabinya. dan bagi istri wajib taat kepada perintahnya yang baik. maka janganlah mereka kembalikan kepada orang-orang kafir..Alasannya ialah firman Allah: ‫ﻮ‬‫ﺘﺤ‬‫ﺍﺕ ﻓﹶﺎﻣ‬‫ﺎﺟﺮ‬‫ﺎﺕ ﻣﻬ‬‫ﺎﺀﻛﻢ ﺍﹾﻟﻤﺆﻣﻨ‬‫ﻮﺍ ﹺﺇﺫﹶﺍ ﺟ‬‫ﻳﻦ ﺁﻣ‬‫ﺎ ﺍﱠﻟﺬ‬‫ﻳﻬ‬‫ﺎ ﹶﺃ‬‫ﻳ‬ ‫ﻨ‬   ‫ ﹺ‬      ‫ﹸ‬ ‫ﻨ‬  ‫ﻮﻫﻦ ﹺﺇﻟﹶﻰ‬ ‫ﺗﺮﺟ‬ ‫ﺎﺕ ﻓﻼ‬‫ﻮﻫﻦ ﻣﺆﻣﻨ‬ ‫ﺘ‬‫ﺎﹺﻧﻬﻦ ﻓﺈﻥ ﻋﻠﻤ‬‫ ﹺﺑﺈﳝ‬‫ﻫﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﹶﺃﻋﻠﻢ‬   ‫ ﹺﻌ‬ ‫ ﹶ ﹶ‬      ‫ ﻤ‬  ‫ ﹶﹺ ﹾ‬ ‫ﹶ ﹺ ﹺ‬  ‫ ﱠ‬  (10 :‫ﻳﺤﱡﻮﻥ ﹶﻟﻬﻦ.. Jika kamu telah dapat membuktikan bahwa mereka itu benar-benar beriman.) ﺍﳌﻤﺘﺤﻨﺔ‬ ‫ﺍﹾﻟﻜ ﱠﺎﺭ ﻻ ﻫﻦ ﺣﻞ ﱠﻟﻬﻢ ﻭﻟﹶﺎ ﻫﻢ‬   ‫ﻠ ﹶ‬      ‫ ﱞ‬   ‫ﹸﻔ ﹺ ﹶ‬ Artinya: Wahai orang-orang yang beriman jika datang kepadamu perempuan-perempuan Mukmin yang berhijrah hendaklah mereka kamu uji lebih dulu. Di samping itu dalam rumah yang terdapat perbedaan paham 13 . ﻭﻟﹶﻦ‬ ‫ ﹰ‬       ‫ ﹾ‬‫ ﹼ‬  Artinya: Dan Allah tidak akan memberikan jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang Mukmin. Dan laki-laki kafir pun tidak halal bagi mereka. Akan tetapi bagi orang kafir tidak ada kekuasaan terhadap laki-laki atau perempuan Muslim. Allah lebih mengetahui iman mereka. " (AlMumtahanah: 10) Pertimbangan daripada ketentuan ini adalah bahwa di tangan suamilah kekuasaan terhadap istrinya.. Allah berfirman: (141 :‫ﻟﻠﻜﹶﺎﻓﺮﹺﻳﻦ ﻋﻠﹶﻰ ﺍﹾﻟﻤﺆﻣﹺﻨﲔ ﺳﺒﹺﻴﻼ )ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ‬ ‫ﻳﺠﻌﻞﹶ ﺍﻟﻠﻪ‬ ‫..

juz 4.20 7. Yas'alunaka fi ad-Din wa al-Hayah.begitu jauh dan keyakinan begitu prinsip. tth. Abdurrahman al-Jaziri.21 8. ibu bapa perempuan itu harus orang Yahudi/Nasrani juga. bahwa laki-laki Muslim boleh mengawini perempuan Yahudi/Nasrani. Beirut: Dar al-Fikr. maka tidak boleh mengawini Perempuan itu. Akan tetapi hal ini berbeda jika laki-laki Muslim kawin dengan perempuan Ahli Kitab.berhala. Kairo: Maktabah Dar al-Turas. Pada dasarnya pengarang kitab ini hanya mengetengahkan pandangan berbagai mazhab dengan memberi komentar di sana sini. Dalam kitab ini dijelaskan bahwa telah sepakat mazhab yang empat. maka rumah tangganya tidak akan dapat tegak dengan baik dan berjalan langgeng. Menurut Hanafi dan Maliki asal perempuan itu beragama Yahudi/Nasrani. Fiqh al-Sunnah. Hambali dan Syafi’i. sebab ia mau tahu agama istrinya. Yahudi/Nasrani. Kitab al-Fiqh ‘ala al-Mazahib al-Arba’ah. Tetapi Imam Syafi'i dan Hanbali mensyaratkan. hlm. hlm. Abd al-Rahman al-Jaziri. Ahmad Asy-Syarbashi. dalam Kitab al-Fiqh ala Majahib al-Arba’ah. dimana keimanan Islamnya ini tidak akan sempurna kalau tidak mempercayai Kitab dan para Nabi Ahli Kitab. 1972. Kitab ini berisi pendapat dari empat mazhab yaitu mazhab Maliki. Hanafi. dan menganggap bahwa percaya kepada Kitab Suci dan Nabi-nabi agama istrinya sebagai bagian daripada rukun iman. boleh mengawininya. Kalau bapak/nenek perempuan itu menyembah berhala dan bukan ahli kitab (Taurat/Injil). Menurutnya Sayyid Sabiq. Menyembah . meskipun ibu bapaknya. kemudian ia memeluk agama. 147 21 20 14 . juz 2. 182.

Mahmud Yunus. 1981. 1997. hlm. "Tanya Jawab Lengkap tentang Agama dan Kehidupan". kelompok musyrikin. "Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita. Bandung: PT Sumur Bandung. walaupun dia menarik hatimu. Pengarang buku ini menyatakan sekiranya tiap-tiap agama dalam peraturannya melarang seorang pemeluk agama itu kawin dengan orang yang memeluk agama lain. Wirjono Prodjodikoro. Baik laki-laki non-Muslim tersebut termasuk kelompok Ahlulkitab. Akan tetapi manakala kedua belah pihak masingmasing mempertahankan agamanya maka akan muncul masalah. al-Baqarah: 221). 24 Wirjono Prodjodikoro.23 10. Allah SWT telah berfirman." (QS. hlm. Bila ini terjadi. Jakarta: PT Hidayakarya Agung. 22 15 .22 9. Ahmad Subandi.24 Ahmad Asy-Syarbashi.umat Islam dengan segenap fukaha dan ulamanya sepakat bahwa tidak boleh seorang Muslimah menikah dengan seorang laki-laki non-Muslim. Jakarta: Lentera. 46. 238-241 23 Mahmud Yunus. seperti Yahudi dan Nasrani. 1990.wanita mukmin) sehingga mereka beriman. Hukum Perkawinan Dalam Islam. tentunya tidak ada kesulitan dalam hal perkawinan. maka biasanya salah seorang dari mereka mengalah dan beralih kepada agama dari pihak lain. Sesungguhnya budak yang mukmin itu lebih baik dan orang musyrik. Dalam buku ini Mahmud Yunus menjelaskan bahwa laki-laki muslim dibolehkan menikah dengan perempuan Yahudi atau Nasrani. Yas'alunaka fi ad-Din wa al-Hayah. maupun kelompok ateis. Hukum Perkawinan Di Indonesia. Tetapi perempuan muslimah tidak boleh menikah dengan laki-laki Yahudi atau Nasrani. 50. Hukum Perkawinan Di Indonesia. hlm. Hukum Perkawinan Dalam Islam. Terj.

1997. 16 .25 Dalam versi lain dirumuskan. Jakarta: Logos Wacana Ilmu. 12. D. Jakarta: PT Rineka Cipta. metode penelitian atau metodologi research adalah ilmu yang memperbincangkan tentang metode-metode ilmiah dalam menggali kebenaran pengetahuan. yaitu membahas pendapat seorang tokoh Islam yaitu Imam Syafi’i tentang perkawinan laki-laki muslim dengan ahlul kitab. 24. hlm. hlm. 25 Wardi Bacthiar. 1. dianalisis. 26 Suharsimi Arikunto. 2002. hlm. metode penelitian adalah cara yang dipakai dalam mengumpulkan data. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Metode Penelitian Metode penelitan bermakna seperangkat pengetahuan tentang langkahlangkah sistematis dan logis tentang pencarian data yang berkenaan dengan masalah tertentu untuk diolah. sedangkan instrumen adalah alat bantu yang digunakan dalam mengumpulkan data itu. 1991. Yang dimaksud dengan penelitian kepustakaan adalah penelitian yang menggunakan data-data dari buku sebagai sumber kajian. Hadari Nawawi. Di samping itu penelitian ini hanya menggunakan penelitian kepustakaan (Library research). Cet. Metodologi Penelitian Ilmu Dakwah.Spesifikasi skripsi ini dibandingkan dengan kepustakaan di atas. 194.26 maka metode penelitian skripsi ini dapat dijelaskan sebagai berikut:27 Jenis Data Penulisan ini menggunakan jenis penelitian kualitatif yaitu jenis penelitian yang tidak menggunakan angka-angka statistik. melainkan dalam bentuk kata-kata. diambil kesimpulan dan selanjutnya dicarikan cara pemecahannya. 27 Menurut Hadari Nawawi. Metode Penelitian Bidang Sosial.

Kitab ini dicetak berulang kali dalam delapan jilid bersamaan dengan kitab usul fikih Al-Syafi’i yang berjudul Ar-Risalah. (2) Kitab al-Risalah. Amali al-Kubra. Jakarta: Prenada Media. 29 28 17 . Mukhtasar al-Muzani. Terj.Pendekatan Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif analisis yakni menggambarkan dan menganalisis pemikiran Al-Syafi'i tentang perkawinan antar agama.28 (3) Kitab Imla al-Shagir.29 Mukhtasar al-Rabi. Mukhtasar al-Buwaithi. Pada tahun 1321 H kitab ini dicetak oleh Dar asy-Sya'b Mesir. Ini merupakan kitab ushul fiqh yang pertama kali dikarang dan karenanya Al-Syafi’i dikenal sebagai peletak ilmu ushul fiqh. Futuhal Arifin. 2003. hlm. Jakarta: Pustaka Qalami. "Biografi Empat Imam Mazhab". dari karya-karya Al-Syafi’i yang berhubungan dengan judul di atas di antaranya: (1) Al-Umm. Di dalamnya diterangkan pokok-pokok pikiran beliau dalam menetapkan hukum. hlm. Sumber Data Data Primer. Kitab ini disusun langsung oleh AlSyafi’i secara sistematis sesuai dengan bab-bab fikih dan menjadi rujukan utama dalam Mazhab Syafi'i. Ilmu Fiqh. khususnya dalam perkawinan antara pria muslim dengan wanita ahli kitab. 144. 131-132 Ahmad Asy Syarbasy. Dalam kitab ini juga dimuat pendapat Al-Syafi’i yang dikenal dengan sebutan al-qaul al-qadim (pendapat lama) dan al-qaul al-jadid (pendapat baru). kitab Jizyah dan lain-lain kitab tafsir dan Djazuli. 2005. kemudian dicetak ulang pada tahun 1388H/1968M. Al-Aimmah al-Arba'ah. Kitab ini memuat pendapat AlSyafi’i dalam berbagai masalah fikih.

2003.1999. memanipulasi serta menyingkatkan data sehingga mudah untuk dibaca.30 Siradjuddin Abbas dalam bukunya telah mengumpulkan 97 (sembilan puluh tujuh) buah kitab dalam fiqih Syafi’i. 44 33 Menurut Moh. hlm.32 Data Sekunder. hlm. Amirin. 34 Tatang M. membuat suatu urutan. Jakarta: PT. Sejarah dan Keagungan Madzhab Syafi’i. Ahsan al-Qashash. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data menggunakan teknik library research (penelitian kepustakaan). Pemilihan kepustakaan dilakukan secermat mungkin dengan mempertimbangkan otoritas pengarangnya terhadap bidang yang dikaji. Metode Penelitian. 4. Studi tentang Qaul Qadim dan Qaul Jadid. al-Mabsuth. Modifikasi Hukum Islam. Nazir. Cet. Menyusun Rencana Penelitian. Moh. yaitu data yang tidak bisa diukur atau dinilai dengan angka secara langsung. 1995. Metode Penelitian 30 18 .34 Dalam hal ini hendak diuraikan pemikiran Al-Syafi'i tentang Ali Fikri. dan al-Umm. Analisa adalah mengelompokkan. Nazir. Cet. al-Hujjah.sastra. hlm. 2004. 134. 109-110 31 Siradjuddin Abbas. 3. hlm.Raja Grafindo Persada. Terj. 2002.33 peneliti menggunakan analisis data kualitatif.Aziz MR: "Kisah-Kisah Para Imam Madzhab".31 Ahmad Nahrawi Abd al-Salam menginformasikan bahwa kitab-kitab Imam alSyafi'i adalah Musnad li al-syafi'i. Bandingkan dengan Lexy J. 182-186. Moleong. Abd. 419. Jakarta: Ghalia Indonesia. Raja grafindo persada. yaitu literatur lainnya yang relevan dengan judul di atas. Jakarta: PT. Namun dalam bukunya itu tidak diulas masing dari karya Syafi’i tersebut. hlm. 32 Jaih Mubarok. Jakarta: Pustaka Tarbiyah. Teknik Analisis Data Dalam menganalisis data. Yogyakarta: Mitra Pustaka. al-Risalah.

Bab kelima merupakan penutup yang berisi kesimpulan. 269. 2001. Dalam bab pertama ini di ketengahkan keseluruhan isi isi skripsi secara global namun dalam satu kesatuan yang utuh dan jelas. hlm. Cet. pendidikan dan karya-karyanya. Bab pertama berisi pendahuluan. Koencaraningrat. perumusan masalah. MetodeMetode Penelitian Masyarakat. saran dan penutup. Kulitatif. merupakan gambaran umum secara global namun integral komprehensif dengan memuat: latar belakang masalah. metode istinbath hukum Al-Syafi'i Bab keempat berisi analisis pendapat Al-Syafi'i tentang perkawinan antar agama yang meliputi: pendapat Al-Syafi'i tentang perkawinan antar agama. metode penelitian dan sistematika Penulisan. telaah pustaka. hlm. namun dalam satu kesatuan yang saling mendukung dan melengkapi. pendapat para ulama tentang perkawinan antar agama Bab ketiga berisi pendapat Al-Syafi'i tentang perkawinan antar agama yang meliputi biografi Al-Syafi'i. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Bab kedua berisi tinjauan umum tentang perkawinan yang meliputi pengertian nikah dan dasar hukumnya. 19 . tujuan penelitian. akibat hukum pernikahan. Sistematika Penulisan Sistematika penulisan skripsi ini terdiri dari lima bab yang masingmasing menampakkan titik berat yang berbeda. 14. pendapat Al-Syafi'i tentang perkawinan antar agama. 2.makna ahli kitab dalam perkawinan antar agama E. syarat dan rukun nikah. Bandung: PT Remaja Rosda Karya. Cet. 1970. 14. metode istinbath hukum Al-Syafi'i tentang perkawinan antar agama.

demikian pula hak dan kewajiban antara orang tua dan anak-anaknya. 1999. Bandung: al-Bayan. 2004. Hak dan kewajiban suami istri timbal-balik diatur amat rapi dan tertib. dan rasa kasih sayang antara suami dan istri. 36 Ahmad Azhar Basyir. Anak keturunan dari hasil perkawinan yang sah menghiasi kehidupan keluarga dan sekaligus merupakan kelangsungan hidup manusia secara bersih dan berkehormatan. Pengertian Nikah dan Dasar Hukumnya Perkawinan merupakan kebutuhan fitri setiap manusia yang memberikan banyak hasil yang penting. "Bimbingan Islam Untuk Kehidupan Suami Istri". pada tempatnyalah apabila Islam mengatur masalah perkawinan dengan amat teliti dan terperinci. Principles of Marriage Family Ethics. tenteram. Yogyakarta: UII Press. hlm.36 Oleh karena itu.BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PERKAWINAN A. 35 20 . untuk membawa umat manusia hidup berkehormatan. Dengan jalan perkawinan yang sah. sesuai kedudukannya yang amat mulia di tengah-tengah makhluk Allah yang lain. Alwiyah Abdurrahman. hlm. Hukum Perkawinan Islam.35 Perkawinan amat penting dalam kehidupan manusia. Hubungan manusia laki-laki dan perempuan ditentukan agar didasarkan atas rasa pengabdian kepada Allah sebagai Al Khaliq (Tuhan Maha Pencipta) dan kebaktian kepada kemanusiaan guna melangsungkan kehidupan jenisnya. yang dicerminkan dalam adanya ketentuan peminangan sebelum kawin dan ijab-kabul dalam akad nikah yang dipersaksikan pula di hadapan masyarakat dalam suatu perhelatan (walimah). Apabila Ibrahim Amini. Perkawinan dilaksanakan atas dasar kerelaan pihak-pihak bersangkutan. Pergaulan hidup berumah tangga dibina dalam suasana damai. pergaulan laki-laki dan perempuan terjadi secara terhormat sesuai kedudukan manusia sebagai makhluk yang berkehormatan. 17. terj. 1. perseorangan maupun kelompok.

wath'an ( artinya berjalan di atas. memasuki. menyandarkan. an‫ ) ا‬dan al-jam'u ( ‫و‬‫.yadhummu – dhamman ( - - ) secara harfiah berarti mengumpulkan. menyatukan.42-43 38 37 21 . 1997. 1-2.39 Sedangkan al-jam 'u yang berasal dari akar kata jama’a . kata nikah disebut dengan an-nikh ( ‫ح‬ az-ziwaj/az-zawj atau az-zijah ( ‫ ) ا‬dan ‫ . hlm. 2004. menggauli dan bersetubuh atau bersenggama. Yogyakarta: Pustaka Progressif. memegang. hlm. Jakarta: PT. melalui. menghimpun. menggabungkan.. menaiki. Hukum perkawinan mempunyai kedudukan amat penting dalam Islam sebab hukum perkawinan mengatur tata-cara kehidupan keluarga yang merupakan inti kehidupan masyarakat sejalan dengan kedudukan manusia sebagai makhluk yang berkehormatan melebihi makhluk-makhluk lainnya. 37 Kata kawin menurut bahasa sama dengan kata nikah. menginjak.) ا واج. Dituntunkan pula adat sopan santun pergaulan dalam keluarga dengan sebaik-baiknya agar keserasian hidup tetap terpelihara dan terjamin.yajma'u jam'an ( - - ) berarti: mengumpulkan. hlm. menggabungkan. diatur pula bagaimana cara mengatasinya. Itulah sebabnya mengapa bersetubuh atau bersenggama dalam istilah fiqih disebut dengan alIbid.wath'u (‫ . menyatukan. Dalam Kamus al-Munawwir. 1461. memijak. menjumlahkan dan menyusun. zawaj.terjadi perselisihan antara suami dan istri.Raja Grafindo Persada. Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap. Juga berarti bersikap lunak dan ramah.‫. merangkul.ا‬Secara harfiah. 39 Muhammad Amin Suma. yang terambil dari akar kata dhamma .) ا‬ . Ahmad Warson Al-Munawwir. atau kata.38 Adh-dhammu.) و‬ nikh berarti al.ا واج. Hukum perkawinan merupakan bagian dari ajaran agama Islam yang wajib ditaati dan dilaksanakan sesuai ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam Alqur’an dan Sunah Rasul. Hukum Keluarga Islam di Dunia Islam.yatha'u . memeluk dan menjumlahkan.) ا طء‬adh-dhammu ( Al-wath'u berasal dari kata wathi'a . menggenggam.

hlm.زو‬yang secara harfiah berarti: menghasut. menyertai dan memperistri. 42 Syaikh Zainuddin Ibn Abd Aziz al-Malibary. Namun yang dimaksud dengan az-zawaj/az-ziwaj di sini ialah at-tazwij yang mulanya terambil dari kata zawwaja. Semarang: Maktabah wa Matbaah. hlm. Kata nikah itu sendiri secara hakiki bermakna persetubuhan. 72. jimak dan akad. 43 Syekh Muhammad bin Qasim al-Ghazzi. Ibid. mencampuri. 41 40 22 .41 Syeikh Zainuddin Ibn Abd Aziz al-Malibary dalam kitabnya mengupas tentang pernikahan dan tentang wali. Fath al-Qarib. menemani. Fath al. 43-44. menaburkan benih perselisihan dan mengadu domba.Mu’in Bi Sarkh Qurrah al‘Uyun. karya Toha Putera . hlm. tth.jima' mengingat persetubuhan secara langsung mengisyaratkan semua aktivitas yang terkandung dalam makna-makna harfiah dari kata al-jam'u. Terambil dari akar kata zaja-yazuju-zaujan ( ‫ ) زاج. 48. wati. hlm. 43.43 Ibid. Indonesia: Maktabah allhya at-Kutub al-Arabiah.yuzawwijutazwijan ( taf'ilan"( ‫و‬ . mempergauli.ّ -‫ّج‬ ‫و‬ . Dan diucapkan menurut pengertian syara’ yaitu suatu akad yang mengandung beberapa rukun dan syarat. Pengarang kitab tersebut menyatakan nikah adalah suatu akad yang berisi pembolehan melakukan persetubuhan dengan menggunakan lafadz menikahkan atau mengawinkan.40 Sebutan lain buat perkawinan (pernikahan) ialah az-zawaj/az-ziwaj dan az-zijah. tth.ّ -‫ )ز ّج‬dalam bentuk timbangan "fa'ala-yufa'ilu‫و‬ ) yang secara harfiah berarti mengawinkan.42 Kitab Fath al-Qarib yang disusun oleh Syekh Muhammad bin Qasim al-Ghazzi menerangkan pula tentang masalah hukum-hukum pernikahan di antaranya dijelaskan kata nikah diucapkan menurut makna bahasanya yaitu kumpul.وج.

Zahry Hamid. artinya bahwa si A belum pernah mengkabulkan untuk dirinya terhadap ijab akad nikah yang memenuhi rukun dan syaratnya. "Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa". Jakarta: Bumi Aksara.Menurut Zakiah Daradjat. jilid 2. pernikahan atau perkawinan ialah: "Suatu ikatan lahir batin antara seorang laki-laki dan seorang perempuan untuk hidup bersama dalam suatu rumah tangga dan untuk berketurunan. Idris Ramulyo. Lihat Saekan dan Erniati Effendi. 76. artinya bahwa anak tersebut dilahirkan oleh seorang wanita yang tidak berada dalam atau terikat oleh ikatan perkawinan berdasarkan akad nikah yang sah menurut hukum. 1. Ilmu Fiqh. 1-4. 45 23 . hlm. 2002. hlm.45 Dari segi pengertian ini maka jika dikatakan: "Si A belum pernah nikah atau belum pernah kawin". 1977. perkawinan adalah suatu aqad atau perikatan untuk menghalalkan hubungan kelamin antara laki-laki dan perempuan dalam rangka mewujudkan kebahagiaan hidup berkeluarga yang diliputi rasa ketenteraman serta kasih sayang dengan cara yang diridhai Allah SWT. 1995. Surabaya: Arkola.47 44 Zakiah Daradjat. hlm. Suatu Analisis dari Undang-Undang No. yang dinamakan nikah menurut Syara' ialah: "Akad (ijab qabul) antara wali colon isteri dan mempelai laki-laki dengan ucapanucapan tertentu dan memenuhi rukun dan syaratnya. op. Dalam pasal 2 Kompilasi Hukum Islam (INPRES No 1 Tahun 1991). : 1 tahun 1974 tanggal 2 Januari 1974 dinyatakan. Yogyakarta: Bina Cipta. Jika dikatakan: "Anak itu lahir diluar kawin". 46 Ibid. Hukum Perkawinan Islam. perkawinan miitsaaqan ghalizhan menurut hukum Islam adalah pernikahan. cit. 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam. Yogyakarta: Dana Bhakti Wakaf. Menurut Hukum Islam. beberapa definisi perkawinan dapat dilihat pula dalam Moh. yang dilaksanakan menurut ketentuan-ketentuan Hukum Syari'at Islam".46 Dalam pasal 1 Bab I Undang-undang No. Sejarah Penyusunan Kompilasi Hukum Islam di Indonesia. yaitu akad yang sangat kuat atau ghalizhan untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah. 47 Muhammad Amin Suma. 38. Pokok-Pokok Hukum Perkawinan Islam dan Undang-Undang Perkawinan di Indonesia. 203. 1978. hlm. hlm.44 Menurut Zahry Hamid.

terutama meneladani Sunnah Rasulullah Muhammad SAW. bahwa semua amal perbuatan itu disandarkan atas niat dari yang beramal itu. memelihara nafsu seksualita. Memelihara pandangan mata. berumah tangga dan berkeluarga adalah termasuk 'Sunnah beliau.. dan mengikuti jejak para Nabi dan Rasul. yakni bagaimana proses dan prosedur menuju terbentuknya ikatan perkawinan. 24 . yang menggariskan. menenteramkan jiwa. hendaklah memperhatikan inti sari dari sabda Rasulullah SAW. b. karena pada hakikatnya Syari'at Islam itu bersumber kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa. Istilah yang lazim dikenal di kalangan para ahli hukum Islam atau Fuqaha ialah Fiqih Munakahat atau Hukum Pernikahan Islam atau Hukum Perkawinan Islam. anak-anak mereka dan harta mereka.Di antara pengertian-pengertian tersebut tidak terdapat pertentangan satu sama lain. Oleh karenanya maka orang yang akan melangsungkan akad perkawinan hendaklah mengetahui benar-benar maksud dan tujuan perkawinan. karena hidup beristri. Hukum Perkawinan merupakan bahagian dari Hukum Islam yang. serta akibat yuridis dari berakhirnya perkawinan. baik yang menyangkut hubungan hukum antara bekas suami dan isteri. . dan bahwa setiap orang akan memperoleh hasil dari apa yang diniatkannya. Masing-masing orang yang akan melaksanakan perkawinan. Mentaati perintah Allah SWT. menenangkan fikiran. memuat ketentuanketentuan tentang hal ihwal perkawinan. membina kasih sayang serta menjaga kehormatan dan memelihara kepribadian. bagaimana cara memelihara ikatan lahir batin yang telah diikrarkan dalam akad perkawinan sebagai akibat yuridis dari adanya akad itu. Maksud dan tujuan itu adalah sebagai berikut: a. bagaimana cara mengatasi krisis rumah tangga yang mengancam ikatan lahir batin antara suami isteri. bahkan jiwanya adalah sama dan seirama. bagaimana cara menyelenggarakan akad perkawinan menurut hukum. bagaimana proses dan prosedur berakhirnya ikatan perkawinan.

maka (kawinlah) seorang saja (Q.. Al-Qur’an dan Terjemahnya. hlm. cit. tiga atau empat. Melaksanakan pembangunan materiil dan spirituil dalam kehidupan keluarga dan rumah tangga sebagai sarana terwujudnya keluarga sejahtera dalam rangka pembangunan masyarakat dan bangsa.An-Nisa': 3). Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an. Jakarta: Depag RI. maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua. 115. Kemudian jika kamu takut tidak akan berlaku adil. Memelihara dan membina kwalitas dan kwantitas keturunan untuk mewujudkan kelestarian kehidupan keluarga di sepanjang masa dalam rangka pembinaan mental spirituil dan phisik materiil yang diridlai Allah Tuhan Yang Maha Esa.48 Adapun dasar hukum melaksanakan akad perkawinan sebagai berikut: Pada dasarnya perkawinan merupakan suatu hal yang diperintahkan dan dianjurkan oleh Syara'. )ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ‬‫ﺗﻌﺪﹸﻮﹾﺍ ﻓﻮ‬ ‫ﺘﻢ ﹶﺃﻻ‬‫ﺎﻉ ﻓﺈﻥ ﺧﻔ‬‫ﺑ‬‫ﻰ ﻭﹸﺛﻼﺙ ﻭﺭ‬‫ﻣﹾﺜﻨ‬ ‫ ﹰ‬  ‫ﻟ ﹶ‬  ‫ ﱠ‬ ‫ ﹾ‬ ‫ ﹶ ﹺ ﹾ‬  ‫ ﹶ ﹶ‬  49 Artinya:Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hakhak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya). Mempererat dan memperkokoh tali kekeluargaan antara keluarga suami dan keluarga istri sebagai sarana terwujudnya kehidupan masyarakat yang aman dan sejahtera lahir batin di bawah naungan Rahmat Allah Subhanahu wa Ta'ala. 2. ْ.c. op. 1986. Beberapa firman Allah yang bertalian dengan disyari'atkannya perkawinan ialah: 1) Firman Allah ayat 3 Surah 4 (An-Nisa'): ‫ﺎﺀ‬‫ﻨﺴ‬‫ﺎ ﻃﹶﺎﺏ ﹶﻟ ﹸﻢ ﻣﻦ ﺍﻟ‬‫ﻮﹾﺍ ﻣ‬ ‫ﻰ ﻓﹶﺎﻧﻜ‬‫ﺎﻣ‬‫ﻴﺘ‬‫ﻲ ﺍﹾﻟ‬‫ﺗﻘﺴ ﹸﻮﹾﺍ ﻓ‬ ‫ﺘﻢ ﹶﺃﻻ‬‫ﻭﹺﺇﻥ ﺧﻔ‬  ‫ ﻜ‬ ‫ﺤ‬ ‫ ﱠ ﹾ ِﻄ‬ ‫ ﹾ‬ ‫ ﹾ‬ (3 :‫ﺍﺣﺪﺓ.S. Zahry Hamid. 49 48 25 . d. hlm.

Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Jika mereka miskin. 644. 3) Firman Allah ayat 21 Surah 30 (Ar-Rum): ‫ﺎ ﻭﺟﻌﻞ‬‫ﻴﻬ‬‫ﻮﺍ ﹺﺇﹶﻟ‬‫ﺘﺴﻜ‬‫ﺍﺟﺎ ﱢﻟ‬‫ﺗﻪ ﹶﺃﻥ ﺧﻠﻖ ﹶﻟ ﹸﻢ ﻣﻦ ﺃﹶﻧﻔﹸﺴﻜﻢ ﹶﺃﺯﻭ‬‫ﺎ‬‫ﻭﻣﻦ ﺁﻳ‬ ‫ ﹶ‬  ‫ ﹸﻨ‬ ‫ ﹰ‬  ‫ ِ ﹸ‬  ‫ ﻜ‬ ‫ﹶ‬ ‫ ﹾ‬    (21 :‫ﻭﻥ )ﺍﻟﺮﻭﻡ‬ ‫ﺘﻔﻜ‬‫ﻳ‬ ‫ﺎﺕ ﱢﻟﻘﻮﻡ‬‫ﻟﻚ ﻟﹶﺂﻳ‬‫ﻲ ﺫ‬‫ﻨ ﹸﻢ ﻣﻮﺩﺓ ﻭﺭﺣﻤﺔ ﹺﺇﻥ ﻓ‬‫ﻴ‬‫ﺑ‬ ‫ ﹴ ﹶ ﱠﺮ ﹶ‬ ‫ ﹶ‬  ‫ ﹰ ﱠ ﹶ‬    ‫ﹰ‬   ‫ﻜ‬ 51 Artinya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri.S. . dari dijadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.ﺭﺿﻲ ﺍﷲ ﺗﻌﺎﱃ ﻋﻨﻪ – ﻗﺎﻝ: ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﹼﻰ‬ ‫ﻠ‬ ‫ﺝ‬ ‫ﺒﺎﺏ ﻣﻦ ﺍﺳﺘﻄﺎﻉ ﻣﻨﻜﻢ ﺍﻟﺒﺎﺀﺓ ﻓﻠﻴﺘﺰ‬ ‫ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﹼﻢ:" ﻳﺎ ﻣﻌﺸﺮ ﺍﻟ‬ ‫ﻭ‬ ‫ﺸ‬ ‫ﻠ‬ ‫ﻪ‬‫ﻮﻡ ﻓﺈ‬ ‫ﻪ ﺃﻏﺾ ﻟﻠﺒﺼﺮ ﻭﺃﺣﺼﻦ ﻟﻠﻔﺠﺮ ﻭﻣﻦ ﱂ ﻳﺴﺘﻄﻊ ﻓﻌﻠﻴﻪ ﺑﺎﻟ‬‫ﻓﺈ‬ ‫ﺼ ﻧ‬  ‫ﻧ‬ . supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya.. hlm.An-Nuur': 32). 549. Sesungguhnya pada yang demikian itu benarbenar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir (Q. ‫ﻮﺍ‬‫ﻳ ﹸﻮ‬ ‫ﺋﻜﻢ ﺇﹺﻥ‬‫ﺎ‬‫ﺎﺩﻛﻢ ﻭﹺﺇﻣ‬‫ﺤﲔ ﻣﻦ ﻋﺒ‬‫ﺎﻟ‬ ‫ﺍﻟ‬‫ﻨﻜﻢ ﻭ‬‫ﻰ ﻣ‬‫ﺎﻣ‬‫ﻮﺍ ﺍﹾﻟﺄﻳ‬ ‫ﻭﺃﹶﻧﻜ‬ ‫ ﻜ ﻧ‬‫ ﹸ‬ ‫ﹸ‬     ‫ ﺼ‬‫ﹸ‬ ‫ﺤ ﹶ‬  (32 :‫ﻴﻢ )ﺍﻟﻨﻮﺭ‬‫ﺍﺳﻊ ﻋﻠ‬‫ﺍﻟﻠﻪ ﻭ‬‫ﻦ ﻓﻀﻠﻪ ﻭ‬‫ﻳﻐﻨﹺﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﻣ‬ ‫ﺍﺀ‬‫ﻓﻘﺮ‬      ‫ ﱠ‬  ‫ ﹶ‬ ‫ ﱠ‬ ‫ ﹺ‬ ‫ﹸ ﹶ‬ 50 Artinya: Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu. dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan.2) Firman Allah ayat 32 Surah 24 (An-Nur): . Ibid.‫ﻟﻪ ﻭﺟﺎﺀ".S. Dan Allah Maha luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui (Q.ArRum: 21) Beberapa hadis yang bertalian dengan disyari'atkannya perkawinan ialah: ‫ﻋﻦ ﺍﺑﻦ ﻣﺴﻌﻮﺩ. 26 . ﺭﻭﺍﻩ ﺍﳉﻤﺎﻋﺔ‬ 50 51 Ibid. hlm.

mengizinkan. hlm. Nail al–Autar. barangsiapa diantara kamu telah mampu akan beban nikah. 1973. :‫ﻨﱯ ﺻﹼﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﹼﻢ ﻗﺎﻝ ﺑﻌﻀﻬﻢ‬‫ﻭﻋﻦ ﺃﻧﺲ ﺃﻥ ﻧﻔﺮﺍ ﻣﻦ ﺃﺻﺤﺎﺏ ﺍﻟ‬ ‫ﻠ‬ ‫ ﻠ‬ ‫ﹼ‬ ‫ﺝ. AlJama'ah). Dan barangsiapa yang belum mampu (menikah). ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﻴﻬﻤﺎ‬‫ﻲ ﻓﻠﻴﺲ ﻣ‬‫ﺭﻏﺐ ﻋﻦ ﺳﻨ‬ ‫ﻨ‬ ‫ﺘ‬ 54 Artinya: Dari Anas: "Sesungguhnya beberapa orang dari sahabat Nabi saw. pernah melarang Utsman bin mazh'un membujang. ﻓﺒﻠﻎ ﺫﻟﻚ ﺍﻟ‬ ‫ﻠ‬ ‫ ﻠ‬ ‫ﺴﺎﺀ ﻓﻤﻦ‬‫ﺝ ﺍﻟ‬ ‫ﻲ ﺃﺻﻮﻡ ﻭﺃﻓﻄﺮ. hlm. dia berkata: “Rasulullah saw. hlm. ‫ﻭﻋﻦ ﺳﻌﺪ ﺑﻦ ﺃﰊ ﻭﹼﺎﺹ ﻗﺎﻝ: " ﺭﺩ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﷲ ﺻﹼﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﹼﻢ ﻋﻠﻰ‬ ‫ﻠ‬ ‫ﻠ‬  ‫ﻗ‬ (‫ﻞ ﻭﻟﻮ ﺃﺫﻥ ﻟﻪ ﻻﺧﺘﺼﻴﻨﺎ" )ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻭﺍﳌﺴﻠﻢ‬‫ﺒ‬‫ﻋﺜﻤﺎﻥ ﺑﻦ ﻣﻈﻌﻮﻥ ﺍﻟ‬ ‫ﺘﺘ‬ 53 Artinya: Dari Sa’ad bin Abu Waqqash.52 Artinya: Dari Ibnu Mas'ud ra. 53 Ibid. 171. (HR. karena sesungguhnya menikah itu lebih dapat memejamkan pandangan mata dan lebih dapat menjaga kemaluan. karena sesungguhnya puasa itu menjadi penahan nafsu baginya". ﻭﺃﺗﺰ‬‫ﻛﺬﺍ ﻭﻛﺬﺍ ﻟﻜ‬ ‫ﻭ ﻨ‬ ‫ﻠ‬ ‫ﻨ‬ . Sebagian dari mereka lagi mengatakan: "Aku akan selalu bersembahyang dan tidak tidur". 171 52 27 . Beirut: Daar al-Qutub al-Arabia. juz 4. Dan kalau sekiranya Rasulullah saw. (HR.‫ﻲ". ﻭﻗﺎﻝ ﺑﻌﻀﻬﻢ: ﺃﺻﹼﻲ ﻭﻻ ﺃﻧﺎﻡ. Dan Muhammad Asy Syaukani. maka hendaklah dia menikah. dia berkata: "Rasulullah saw. bersabda: "Wahai golongan kaum muda. niscaya kami akan mengebiri". maka hendaklah dia (rajin) berpuasa. ﻭﻗﺎﻝ ﺑﻌﻀﻬﻢ: ﺃﺻﻮﻡ‬ ‫ﻻ ﺃﺗﺰ‬ ‫ﻠ‬ ‫ﻭ‬ ‫ﻨﱯ ﺻﹼﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﹼﻢ ﻓﻘﺎﻝ:"ﻣﺎ ﺑﺎﻝ ﺃﻗﻮﺍﻡ ﻗﺎﻟﻮﺍ‬‫ﻭﻻﺃﻓﻄﺮ. Al Bukhari dan Muslim). ﻭﺃﺻﹼﻲ ﻭﺃﻧﺎﻡ. 171 54 Ibid. sebagian dari mereka ada yang mengatakan: "Aku tidak akan menikah".

Mutiara Hadis. Ahmad dan AlBukhari). )ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ ﻭﺍﺑﻦ ﻣﺎﺟﻪ‬‫ﺍﺟﺎ ﻭﺫﺭ‬‫ﹶﻟﻬﻢ ﹶﺃﺯﻭ‬  ‫ ﹰ‬‫ﹸ‬ ‫ ﹰ‬   Artinya: dari Qatadah dari Al Hasan dari Samurah: "Sesungguhnya Nabi saw. hlm.Pustaka Rizki Putra. maka dia bukan termasuk dari (golongan) ku". jilid 5.Hasbi Ash Shiddieqy. ﻭﻗﺮﺃ ﻗﺘﺎﺩﺓ: )ﻭﹶﻟﻘﺪ ﹶﺃﺭﺳﻠﻨ‬‫ﺒ‬‫ﻰ ﻋﻦ ﺍﻟ‬ ‫ﹾ‬     ‫ ﹰ ﻣ ﹶ‬  ‫ﹾ‬   ‫ ﹶ‬ ‫ﺘﺘ‬ .Pustaka Rizki Putra. Dan aku juga menikah dengan wanita. (HR. Semarang: PT. dia berkata: "Ibnu Abbas pernah bertanya kepadaku: "Apakah kamu telah menikah?". Semarang. Barangsiapa yang tidak suka akan sunnahku. 2001.(HR. 3-8 56 55 28 . Padahal disamping berpuasa aku juga berbuka.(‫ﻳﺔ( )ﺍﻟﺮﻋﺪ: 83(. melarang membujang. Lihat juga TM.Hasbi ash Shiddieqy.) ﺭﻭﺍﻩ ﺃﲪﺪ‬ ‫ﺝ ﻓﺎﻥ ﺧﲑ ﻫﺬﻩ ﺍﻷ‬ ‫ﻻ. karena sesungguhnya sebaik-baiknya ummat ini adalah yang paling banyak kaum wanitanya". 56 ‫ﻨﱯ ﺻﹼﻰ ﺍﷲ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﹼﻢ‬‫ﻭﻋﻦ ﻗﺘﺎﺩﺓ ﻋﻦ ﺍﳊﺴﻦ ﻋﻦ ﲰﺮﺓ: " ﺃﻥ ﺍﻟ‬ ‫ﻠ‬ ‫ ﻠ‬ ‫ﹼ‬ ‫ﺎ‬‫ﺒﻠﻚ ﻭﺟﻌﻠﻨ‬‫ﻦ ﻗ‬ ‫ﺎ ﺭﺳﻼ‬‫ﻞ". mereka bilang begini dan begitu?. Ketika hal itu didengar oleh Nabi saw. 2003. PT. Al Bukhari dan Muslim) 55 :‫ﺟﺖ؟ ﻗﻠﺖ‬ ‫ﺎﺱ: ﻫﻞ ﺗﺰ‬‫ﻭﻋﻦ ﺳﻌﻴﺪ ﺑﻦ ﺟﺒﲑ ﻗﺎﻝ: ﻗﺎﻝ ﱄ ﺍﺑﻦ ﻋ‬ ‫ﻭ‬ ‫ﺒ‬ ‫ﺔ ﺃﻛﺜﺮﻫﺎ ﻧﺴﺎﺀ. ﻗﺎﻝ: ﺗﺰ‬ ‫ﻣ‬ ‫ﻭ ﹼ‬ (‫ﻭﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ‬  Artinya: Dari Sa'id bin Jubair. TM. Selanjutnya Qatadah membaca (ayat): "Dan sesungguhnya kami telah mengutus beberapa orang Rasul sebelum kamu dan kami berikan Ibid Ibid. Ibnu Abbas berkata: "Menikahlah. jilid 8. 3-8.sebagian dari mereka juga ada yang mengatakan: "Aku akan selalu berpuasa dan tidak akan berbuka". Disamping sembahyang aku juga tidur. hlm. Koleksi Hadis-Hadis Hukum. beliau bersabda: "Apa maunya orang-orang itu. Aku menjawab: "Belum".

keduanya adalah perawi yang sama-sama lemah. (HR. Hadis senada lagi diriwayatkan oleh Daraquthni dalam Al Mu'talaf dari Harmalah bin Nu'man dengan redaksi: "Wanita yang produktif anak itu lebih disukai oleh Allah ketimbang wanita cantik namun tidak beranak. Menurut At Tirmidzi. Dan janganlah kalian seperti para pendeta kaum Nasrani". Dan menikahlah nanti kamu akan banyak. Al Asy'ats bin Abdul Mulk meriwayatkan hadis ini dari Hasan dari Sa'ad bin Hisyam dari Aisyah dan ia dari Nabi saw. dia mengatakan: "Rasulullah saw. Namun dalam sanadnya terdapat namanama Muhammad bin Tsabit. Bepergianlah nanti kamu akan sehat. Hadis senada diketengahkan oleh Ad Darimi dalam Musnad Al Firdaus dari Ibnu Umar. Dalam isnad hadis tersebut terdapat nama Muhammad bin Al Hants dari Muhammad bin Abdurrahman Al Bailamni. Tirmidzi dan Ibnu Majah). bersabda: "Berhajilah nanti kamu akan kaya. hadis Samurah tersebut adalah hadis Hasan yang gharib (aneh). seorang perawi yang lemah.kepada mereka beberapa istri dan anak cucu". karena sesungguhnya aku akan membanggakan kalian dihadapan ummat-ummat lain. Sesungguhnya aku akan membanggakan kalian di hadapan ummat-ummat lain 29 . Dikatakan bahwa kedua hadis tersebut adalah shaheh. Hadis senada juga diketengahkan oleh Al Baihaqi dari Abu Umamah dengan redaksi: "Menikahlah kamu. Sesungguhnya aku akan dapat membanggakan kamu dihadapan umat-umat lain".

bahwa hukumnya ada beberapa macam. hlm. cit. Para Fukaha berbeda pendapat tentang status hukum asal dari perkawinan." Penerapan 57 58 Zahry Hamid. bagi orang itu. hukumnya adalah wajib". menurut madzhab Hanafi. Maliki. yaitu:58 Perkawinan hukumnya wajib bagi orang yang telah mempunyai keinginan kuat untuk kawin dan telah mempunyai kemampuan untuk melaksanakan dan memikul beban kewajiban dalam hidup perkawinan serta ada kekhawatiran. apabila tidak kawin. 14-16 30 . dan Hambali hukum nikah adalah sunnat. Menjaga diri dari perbuatan zina adalah wajib.57 Adapun Hukum melaksanakan pernikahan jika dihubungkan dengan kondisi seseorang serta niat dan akibat-akibatnya. Menurut pendapat yang terbanyak dari fuqaha madzhab Syafi'i. Qa'idah fiqhiyah mengatakan. Ahmad Azhar Basyir. 3-4. hlm. hukum nikah adalah mubah (boleh). Apabila bagi seseorang tertentu penjagaan diri itu hanya akan terjamin dengan jalan kawin.. sanad hadis ini lemah. atau dengan kata lain.pada hari kiamat kelak". Hazm hukum nikah adalah wajib dilakukan sekali seumur hidup. op. "Sesuatu yang mutlak diperlukan untuk menjalankan suatu kewajiban. melakukan perkawinan hukumnya adalah wajib. maka tidak terdapat perselisihan di antara para ulama. "Apabila suatu kewajiban tidak akan terpenuhi tanpa adanya suatu hal. sedangkan menurut madzhab Dhahiry dan Ibn. Namun menurut Al Hafizh Ibnu Hajar. Alasan ketentuan tersebut adalah sebagai berikut. ia akan mudah tergelincir untuk berbuat zina. cit. hal itu wajib pula hukumnya. op.

tetapi apabila tidak kawin juga tidak ada kekhawatiran akan berbuat zina. 31 . hukum dasar perkawinan adalah sunah. Perkawinan hukumnya sunah bagi orang yang telah berkeinginan kuat untuk kawin dan telah mempunyai kemampuan untuk melaksanakan dan memikul kewajiban-kewajiban dalam perkawinan. Kebanyakan ulama berpendapat bahwa beralasan ayatayat Al-qur’an dan hadis-hadis Nabi itu. Alasan hukum sunah ini diperoleh dari ayat-ayat Al-qur’an dan hadishadis Nabi sebagaimana telah disebutkan dalam hal Islam menganjurkan perkawinan di atas. Ulama-ulama mazhab Dhahiri berpendapat bahwa perkawinan wajib dilakukan bagi orang yang telah mampu tanpa dikaitkan adanya kekhawatiran akan berbuat zina apabila tidak kawin. baginya perkawinan itu wajib hukumnya. hlm.59 Perkawinan hukumnya haram bagi orang yang belum berkeinginan serta tidak mempunyai kemampuan untuk melaksanakan dan memikul kewajiban-kewajiban hidup perkawinan sehingga apabila kawin juga akan berakibat menyusahkan istrinya. Al-Qurthubi dalam kitabnya Jami li Ahkam al-Qur’an (Tafsir alQurthubi) berpendapat bahwa apabila calon suami menyadari tidak akan 59 Ibid. Ulama mazhab Syafi’i berpendapat bahwa hukum asal perkawinan adalah mubah.kaidah tersebut dalam masalah perkawinan adalah apabila seseorang hanya dapat menjaga diri dari perbuatan zina dengan jalan perkawinan. 14. Hadis Nabi mengajarkan agar orang jangan sampai berbuat yang berakibat menyusahkan diri sendiri dan orang lain.

maka suatu hari masalah ini akan berkembang dengan pertengkaran dan penyesalan. dan pekerjaan jangan sampai tidak dijelaskan agar tidak berakibat pihak istri merasa tertipu. kedudukan. Beirut: Dar alMa’rifah. t. kekayaan.mampu memenuhi kewajiban nafkah dan membayar mahar (maskawin) untuk istrinya. atau kewajiban lain yang menjadi hak istri. Lebih lanjut Al-Qurthubi dalam kitabnya Jami li Ahkam al-Qur’an mengatakan juga bahwa orang yang mengetahui pada dirinya terdapat penyakit yang dapat menghalangi kemungkinan melakukan hubungan dengan calon istri hams memberi keterangan kepada calon istri agar pihak istri tidak akan merasa tertipu. al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an (Tafsir al-Qurthubi). Apa yang dikatakan Al-Qurthubi itu amat penting artinya bagi sukses atau gagalnya hidup perkawinan. Juz 1.th. hlm. barulah ia boleh melakukan perkawinan. atau ia bersabar sampai merasa akan dapat memenuhi hak-hak istrinya. karena adanya kelainan atau penyakit. Bukan saja cacat atau penyakit yang dialami calon suami. harus memberikan keterangan kepada calon suami agar jangan sampai terjadi pihak suami merasa tertipu. Al-Qurthubi. penipuan itu harus dihindari. tidak halal mengawini seseorang kecuali apabila ia menjelaskan peri keadaannya itu kepada calon istri. Bila ia mencoba menutupi cacad yang ada pada dirinya. Dalam bentuk apa pun. Calon istri yang tahu bahwa ia tidak akan dapat memenuhi kewajibannya terhadap suami. 265 60 32 .60 Hal yang disebutkan mengenai calon suami itu berlaku juga bagi calon isteri. tetapi juga nasab keturunan.

Perkawinan dilakukan sekedar untuk memenuhi 61 Ahmad Azhar Basyir. cukup mempunyai daya tahan mental dan agama hingga tidak khawatir akan terseret dalam perbuatan zina. harus dijelaskan kepada colon suami untuk menghindari jangan sampai akhirnya pihak suami merasa tertipu.Bahkan kekurangan-kekurangan yang terdapat pada diri calon istri. op.61 Perkawinan hukumnya mubah bagi orang yang mempunyai harta. meskipun tidak akan berakibat menyusahkan pihak istri. Imam Ghazali berpendapat bahwa apabila suatu perkawinan dikhawatirkan akan berakibat mengurangi semangat beribadah kepada Allah dan semangat bekerja dalam bidang ilmiah. Perkawinan hukumnya makruh bagi seorang yang mampu dalam segi materiil. yang apabila diketahui oleh pihak colon suami. hukumnya lebih makruh daripada yang telah disebutkan di atas. 16 33 . misalnya. tetapi mempunyai kekhawatiran tidak dapat memenuhi kewajiban-kewajibannya terhadap istrinya. tetapi apabila tidak kawin tidak merasa khawatir akan berbuat zina dan andaikata kawin pun tidak merasa khawatir akan menyia-nyiakan kewajibannya terhadap istri. hlm. calon istri tergolong orang kaya atau calon suami belum mempunyai keinginan untuk kawin. misalnya giginya palsu sepenuhnya. mungkin akan mempengaruhi maksudnya untuk mengawini. rambutnya habis yang tidak mungkin akan tumbuh lagi hingga terpaksa memakai rambut palsu atau wig dan sebagainya. cit.

Tidak sedang berihram haji/umrah. bahwa perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya. d. Syarat dan Rukun Nikah Menurut UU No 1/1974 Tentang Perkawinan Bab: 1 pasal 2 ayat 1 dinyatakan.62 B. Rukun Akad Perkawinan ada lima. Suatu Akad Perkawinan dipandang sah apabila telah memenuhi segala rukun dan syaratnya sehingga keadaan akad itu diakui oleh Hukum Syara'.syahwat dan kesenangan bukan dengan tujuan membina keluarga dan menjaga keselamatan hidup beragama. Ibid. Hukum Perkawinan di Indonesia. Arso Sosroatmodjo dan A. syarat-syaratnya: a. .63 Bagi ummat Islam. yaitu: 1. Jelas ia laki-laki. hlm. Calon suami. Bulan Bintang. termasuk isteri yang masih dalam menjalani iddah thalak raj'iy. Tertentu orangnya. hlm. b. Jakarta. perkawinan itu sah apabila dilakukan menurut Hukum Perkawinan Islam. 16. Beragama Islam.Wasit Aulawi. Tidak mempunyai isteri empat. 1975. e. c. 80 63 62 34 .

h. syarat-syaratnya: a. atau Ahli Kitab. Sudah baligh (telah dewasa). d. Beragama Islam. e. g. b. Jelas ia perempuan. Telah memberi idzin atau menunjukkan kerelaan kepada wali untuk menikahkannya. Calon Isteri. Bukan Mahram calon isteri. Beragama Islam jika calon isteri beragama Islam. Bukan Mahram calon suami. Tertentu orangnya.dari lelaki lain. Tidak mahjur bissafah (dicabut hak kewajibannya). Tidak sedang berihram haji/umrah. h. Belum pernah disumpah li'an oleh calon suami. c. atau tidak sedang menjalani iddah . c. Syarat-syaratnya: a. f. g. e. Wali. d. Berakal (tidak gila). Tidak bersuami. Tidak dipaksa. Tidak dipaksa. termasuk isteri yang masih dalam menjalani iddah thalak raj'iy. Tidak mempunyai isteri yang haram dimadu dengan mempelai perempuan. f.f. 2. g. b. Jelas ia laki-laki. 3. Tidak sedang berihram Haji/Umrah. 35 .

Mendengar (tidak tuli atau tuna rungu). Jakarta: PT. h. cit. Tidak pelupa. Tidak rusak fikirannya sebab terlalu tua atau sebab lainnya.Raja Grafindo Persada. 1977. op. hlm. Dapat berbicara (tidak bisu atau tuna wicara). Tentang syarat dan rukun perkawinan dapat dilihat juga dalam Ahmad Rofiq. 5. Dua orang saksi laki-laki. f. 64 36 .h.: Dapat menjaga harga diri (bermuru’ah) Tidak fasiq. d. Syarat-syaratnya: a. Tidak ditentukan menjadi wali nikah. Beragama Islam. k. i. Hukum Islam di Indonesia. 71. Memahami arti kalimat dalam ijab qabul. j. g. Syarat-syarat ijab akad nikah ialah: Zahry Hamid. Ijab dan Qabul. b. Melihat (tidak buta atau tuna netra). Sudah baligh (telah dewasa). i. l.64 4. 24-28. Berakal (tidak gila). hlm. c. Tidak fasiq. Ijab akad perkawinan ialah: "Serangkaian kata yang diucapkan oleh wali nikah atau wakilnya dalam akad nikah. Jelas ia laki-laki. untuk menerimakan nikah calon suami atau wakilnya". e.

yaitu diambil dari "nikah" atau "tazwij" atau terjemahannya. Diucapkan oleh calon suami atau wakilnya. c.Raja Grafindo Persada. lihat pula Achmad Kuzari. misalnya: "Kalau anakku. Dengan kata-kata tertentu dan tegas. misalnya satu bulan. misalnya: "Saya nikahkan Fulanah. misalnya: "Saya terima nikahnya Fulanah". untuk menerima nikah yang disampaikan oleh wali nikah atau wakilnya. termasuk sindiran ialah tulisan yang tidak diucapkan. yaitu diambil dari kata "nikah" atau "tazwij" atau terjemahannya. atau saya perjodohkan . cit.a. 1995. Nikah Sebagai Perikatan. Qabul akad perkawinan ialah: "Serangkaian kata yang diucapkan oleh calon suami atau wakilnya dalam akad nikah. hlm. Tidak dengan kata-kata sindiran. Tidak digantungkan dengan sesuatu hal. b. Ijab tidak boleh dengan bisik-bisik sehingga tidak terdengar oleh orang lain. hlm. Fatimah telah lulus sarjana muda maka saya menikahkan Fatimah dengan engkau Ali dengan maskawin seribu rupiah". f. Jakarta: PT. baik yang berakad maupun saksi-saksinya. Ijab harus didengar oleh pihak-pihak yang bersangkutan. Zahry Hamid. Dengan kata-kata tertentu dan tegas. satu tahun dan sebagainya. Tidak dibatasi dengan waktu tertentu. 65 37 .Fulanah" b. 24-25. Syarat-syarat Qabul akad nikah ialah: a. op. atau saya kawinkan Fulanah. d.34-40. Diucapkan oleh wali atau wakilnya.65 e.

artinya Qabul diucapkan segera setelah ijab diucapkan. h. Diucapkan dalam satu majelis dengan ijab. Sesuai dengan ijab. misalnya "Kalau saya telah diangkat menjadi pegawai negeri maka saya terima nikahnya si Fulanah". d. Tidak digantungkan dengan sesuatu hal. termasuk sindiran ialah tulisan yang tidak diucapkan. Qabul tidak boleh dengan bisik-bisik sehingga tidak didengar oleh orang lain. e. Tidak dibatasi dengan waktu tertentu. Ijab: “Ya Ali. Wali mengijabkan dan mempelai laki-laki meng-qabulkan. atau berjarak waktu. 2). Dalam bahasa Indonesia: "Saya terima nikahnya Fatimah anak perempuan saudara dengan saya dengan maskawin tersebut secara tunai". i. Wali mewakilkan ijabnya dan mempelai laki-laki meng-qabulkan. Tidak dengan kata-kata sindiran. 38 . Qabul harus didengar oleh pihak-pihak yang bersangkutan.c. baik yang berakad maupun saksi-saksinya. Beruntun dengan ijab. aku nikahkan (kawinkan) Fatimah anak perempuanku dengan engkau dengan maskawin seribu rupiah secara tunai". artinya tidak bertentangan dengan ijab. atau diselingi perbuatan lain sehingga dipandang terpisah dari ijab. Contoh ijab qabul akad perkawinan 1). f. Qabul: "Qabiltu nikahaha bil mahril madzkurihalan". ankahtuka Fatimata binti bimahri alfi rubiyatin halan". b. tidak boleh mendahuluinya. a. misalnya "Saya terima nikah si Fulanah untuk masa satu bulan" dan sebagainya. g. Dalam bahasa Indonesia: "Hai Ali.

dengan 39 . Wali mewakilkan Ijabnya dan mempelai laki-laki mewakilkan Qabulnya. Dalam bahasa Indonesia: "Saya terima nikahnya Fatimah anak perempuan Muhammad dengan saya dengan maskawin seribu rupiah secara tunai". Ijab: "Ya Ali. Dalam bahasa Indonesia: "Saya terima nikahnya Fatimah dengan Ali yang telah mewakilkan kepada saya dengan maskawin seribu rupiah secara tunai" 4). Ankahtu Fathimata binta Muhammadin muwakkilii. Ijab: "Ya Umar. 3). aku nikahkan (kawinkan) Fatimah anak perempuan Muhammad yang telah mewakilkan kepada saya dengan engkau dengan maskawin seribu rupiah secara tunai". Aliyyan muwakkilaka bimahri alfi Rubiyyatin halan". Dalam bahasa Indonesia: "Hai Umar.a. Ijab: "Ya Umar. Dalam bahasa Indonesia: "Hai Ali. a. Aku nikahkan (kawinkan) Fathimah anak perempuan Muhammad yang telah mewakilkan kepada saya. Qabul: "Qabiltu nikahaha bimahri alfi rubiyatinhalan". Qabul: "Qabiltu nikahaha li Aliyyin muwakkili bimahri alfi rubiyatin halan". Wali mengijabkan dan mempelai laki-laki mewakilkan kabulnya. Ankahtu Fathimata binti Aliyyin muwakkilaka bimahri alfi rubiyatin halan". Dalam bahasa Indonesia: "Hai Umar. ankahtuka Fathimata binta Muhammadin muwakili bimahri alfi rubiyatinhalan". b. b. Aku nikahkan (kawinkan) Fathimah anak perempuan saya dengan Ali yang telah mewakilkan kepadamu dengan maskawin seribu rupiah secara tunai". a.

b. dan sebagainya. pria/wanita Sunda dengan pria/wanita Bali. Hukum Adat. 1990. ialah perkawinan campuran karena perbedaan adat/suku bangsa yang bhineka. ada yang menyebut sama dengan perkawinan campuran.66 Dalam pasal 57 Undang-Undang Nomor 1/1974 Tentang Perkawinan. dan ada pula yang berpendapat bahwa perkawinan antar agama tidak masuk dalam perkawinan campuran melainkan istilah tersebut berdiri sendiri. Sedangkan perkawinan campuran antara agama. Perbedaan adat misalnya perkawinan antara pria/wanita Jawa dengan pria/wanita Batak. misalnya antara pria/wanita beragama Kristen dengan pria/wanita beragama Islam. atau karena perbedaan agama antara kedua insan yang akan melakukan perkawinan. Bandung: Mandar Maju. pria/wanita Minangkabau dengan pria/wanita Sunda.Ali yang telah mewakilkan kepada engkau dengan maskawin seribu rupiah secara tunai". Qabul: "Qabiltu Nikahaha lahu bimahri alfi rubiyatin halan". 13-14 66 40 . Hukum Perkawinan Indonesia Menurut Perundangan. yang dimaksud perkawinan campuran dalam undang-undang ini ialah Hilman Hadikusuma. Pendapat Para Ulama tentang Perkawinan Antar Agama Berbicara perkawinan antar agama. Istilah perkawinan campuran yang sering dinyatakan anggota masyarakat sehari-hari. Dalam bahasa Indonesia: "Saya terima nikahnya (Fathimah anak perempuan Muhammad) dengan Ali yang telah mewakilkan kepada saya dengan maskawin seribu rupiah secara tunai". pria/wanita beragama Hindu/Buddha dengan pria/wanita Islam dan seterusnya. C. Hukum Agama. Bandung. hlm.

perkawinan antara dua orang yang di Indonesia tunduk pada hukum yang berlainan. Hal ini disebabkan antara lain karena para pejabat pelaksana perkawinan dan pemimpin agama/ulama menganggap bahwa perkawinan yang demikian dilarang oleh agama dan karenanya bertentangan dengan UU Perkawinan.S. maka perkawinan antar agama tidak termasuk perkawinan campuran melainkan memiliki pengertian yang berdiri sendiri. Perkawinan antar seorang pria Muslim dengan wanita musyrik.Eoh. O. karena perbedaan kewarganegaraan dan salah satu pihak berkewarganegaraan Indonesia. maka kenyataan yang sering terjadi dalam masyarakat apabila ada dua orang yang berbeda agama akan mengadakan perkawinan sering mengalami hambatan. Dengan demikian berdasarkan undangundang ini. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Namun demikian. Islam membedakan hukumnya sebagai berikut: 1. dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perkawinan antar agama adalah perkawinan antara dua orang yang berbeda agama dan masing-masing tetap mempertahankan agama yang dianutnya. 1998. Adapun perkawinan antar agama dirumuskan oleh abdurrahman yang dikutip Eoh yaitu suatu perkawinan yang dilakukan oleh orang-orang yang memeluk agama dan kepercayaan yang berbeda satu dengan yang lainnya.67 Dari rumusan pengertian perkawinan antar agama tersebut. hlm. oleh karena UU Nomor 1/1974 Tentang Perkawinan tidak mengatur tentang perkawinan antar agama. Perkawinan Antar Agama Dalam Teori dan Praktek. 35 67 41 . Mengenai masalah ini. Perkawinan antar agama ini menyangkut perkawinan antara orang Islam (pria/wanita) dengan orang bukan Islam (pria/wanita).

Perkawinan antara seorang wanita Muslimah dengan pria non-Muslim. Cairo: Dar al-Manar. sebelum mereka beriman.) ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ‬‫ﺒ‬‫ﻣﺸﺮﻛﺔ ﻭﹶﻟﻮ ﹶﺃﻋﺠ‬  ‫ ﹸ‬    ‫ ﹺ ﹶ‬  Artinya: Janganlah kamu mengawini wanita-wanita musyrik. Maka menurut pendapat ini. hlm.. 3. berdasarkan firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 221: ‫ﻦ‬ ‫ﻴﺮ‬‫ﻨﺔ ﺧ‬‫ﻳﺆﻣﻦ ﻭﻷﻣﺔ ﻣﺆﻣ‬ ‫ﻰ‬‫ﻮﹾﺍ ﺍﹾﻟﻤﺸﺮﻛﹶﺎﺕ ﺣ‬ ‫ﻨﻜ‬‫ﻭﻻ ﺗ‬ ‫ ﻣ‬  ‫ ﹲ‬   ‫ ﹲ‬ َ     ‫ﺘ‬  ‫ ﹺ‬  ‫ ﺤ‬ ‫ ﹶ‬ (221 :‫ﺘﻜﻢ . Hindu. India dan Jepang. seperti pemeluk agama Budha. al-Baqarah: 221) Hanya di kalangan ulama timbul beberapa pendapat tentang siapa musyrikah (wanita musyrik) yang haram dikawini itu? Menurut Ibnu Jarir al-Thabari seorang ahli tafsir dalam kitabnya. Pertama. perkawinan antara seorang pria Muslim dengan wanita musyrik. Muhammad Abduh juga sependapat dengan ini. seperti wanita Cina. Islam melarang perkawinan antara seorang pria Muslim dengan wanita musyrik. percaya adanya hidup sesudah mati. karena bangsa Arab pada waktu turunnya Al-Qur'an memang tidak mengenal kitab suci dan mereka menyembah berhala.. yang diduga dahulu mempunyai kitab suci atau serupa kitab suci. 187 – 193. dan sebagainya. seorang Muslim boleh kawin dengan wanita musyrik dari bangsa non-Arab. al-Jami’al-Bayan fi Tafsir al-Qur'an yang dikutip Rasyid Ridha.68 68 Rasyid Ridha.2.S. 1367 H. 42 . Konghucu. Tafsir al-Manar. Sesungguhnya wanita budak yang beriman lebih baik daripada wanita musyrik. walaupun dia menarik hatimu… (Q. bahwa musyrikah yang dilarang untuk dikawini itu ialah musyrikah dari bangsa Arab saja. Perkawinan antar seorang pria Muslim dengan wanita Ahlul Kitab. yang percaya pada Tuhan Yang Maha Esa.

Fiqh al-Sunnah. bahwa semua musyrikah baik dari bangsa Arab ataupun bangsa non-Arab. dan Yahudi itu termasuk kategori "musyrikah". selain Ahlul Kitab. Hindu. Kairo: Maktabah Dar al-Turas. perempuan zindiq. firman Allah sebagaimana disebut di atas. Menurut pendapat ini bahwa wanita yang bukan Islam. apa pun agama ataupun kepercayaannya. Majusi/Zoroaster. dan bukan pula Yahudi/Kristen tidak boleh dikawini oleh pria Muslim. hlm. bahwa seorang pria Muslim boleh kawin dengan wanita Ahlul Kitab (Yahudi atau Kristen). perkawinan antara seorang pria Muslim dengan wanita Ahlul Kitab. ‫ﺎﺏ ﺣﻞ ﱠﻟﻜﻢ‬‫ﻮﹾﺍ ﺍﹾﻟﻜﺘ‬‫ﻳﻦ ﹸﻭ‬‫ﺎﻡ ﺍﱠﻟﺬ‬‫ﺎﺕ ﻭﻃﻌ‬‫ﻴﺒ‬‫ﻴﻮﻡ ﹸﺃﺣﻞ ﹶﻟﻜﻢ ﺍﻟﻄ‬‫ﺍﹾﻟ‬  ‫ ﱞ ﹸ‬   ‫ ﺃ ﺗ‬  ‫ ﹶ‬  ‫ ﱠ‬ ‫ ﱠ ﹸ‬  ‫ﺎﺕ‬‫ﺍﹾﻟﻤﺤﺼﻨ‬‫ﺎﺕ ﻭ‬‫ﺎﺕ ﻣﻦ ﺍﹾﻟﻤﺆﻣﻨ‬‫ﺍﹾﻟﻤﺤﺼﻨ‬‫ﺎﻣﻜﻢ ﺣﻞ ﱠﻟﻬﻢ ﻭ‬‫ﻭﻃﻌ‬                ‫ ﱡ‬  ‫ ﹸ‬ ‫ ﹶ‬ ‫ﻮﺭﻫﻦ‬ ‫ﻮﻫﻦ ﹸﺃ‬ ‫ﺘ‬‫ﻴ‬‫ﺗ‬‫ﺒﻠﻜﻢ ﹺﺇﺫﹶﺍ ﺁ‬‫ﻦ ﻗ‬‫ﺎﺏ ﻣ‬‫ﻮﹾﺍ ﺍﹾﻟﻜﺘ‬‫ﻳﻦ ﹸﻭ‬‫ﻣﻦ ﺍﱠﻟﺬ‬   ‫ ﺟ‬  ‫ﻤ‬ ‫ ﹸ‬‫ ﹶ‬  ‫ﺃ ﺗ‬  69 Sayyid Sabiq. yakni Yahudi (Yudaisme) dan Kristen tidak boleh dikawini. Dengan demikian para ulama sepakat bahwa laki-laki muslim tidak halal kawin dengan perempuan penyembah berhala. seperti Budha. perempuan keluar dari Islam. 178 43 . tth.69 Kedua. dan jika mengawinya maka berarti menentang syara. karena pemeluk agama selain Islam. berdasarkan firman Allah dalam Surat Al-Maidah ayat 5. penyembah sapi. Kristen. Kebanyakan ulama berpendapat.Tetapi kebanyakan ulama berpendapat. perempuan beragama politeisme (menunggaling kawula lan Gusti). Alasannya. Konghucu. juz 2.

Namun demikian. Demikian pula seorang Sahabat Nabi yang termasuk senior bernama Hudzaifah bin Al-Yaman pernah kawin dengan seorang wanita Yahudi. dan kepercayaan Uzair putra Allah dan mengkultuskan Haikal Nabi Sulaiman bagi umat Yahudi. sesuai dengan 70 44 . yakni Mariah al-Qibtiyah (Kristen). [Dan dihalalkan bagi kamu menikahi] wanitawanita yang menjaga kehormatan di antara wanitawanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu.S. dan mahanan kamu halal [pula] bagi mereka. sedang para Sahabat tidak ada yang menentangnya. karena pada hakikatnya doktrin dan praktek ibadah Kristen dan Yahudi itu mengandung unsur syirik yang cukup jelas. (Q. Makanan [sembelihan] orang-orang yang diberi al-Kitab itu halal bagi kamu. ada sebagian ulama yang melarang perkawinan antara seorang pria Muslim dengan wanita Kristen atau Yahudi. di mana Nabi pernah kawin dengan wanita Ahlul Kitab. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman maka hapuslah amalannya dan di hari akhirat dia termasuk orang-orang yang merugi. bila kamu telah membayar mahar mereka dengan maksud menikahinya. juga berdasarkan sunah Nabi. misalnya ajaran trinitas dan mengkultuskan Nabi Isa dan ibunya Maryam (Maria) bagi umat Kristen. tidak dengan maksud berzina dan tidak [pula] menjadikannya gundik-gundik.‫ﺎﻥ‬‫ﻳﻜﻔﺮ ﺑﹺﺎﻹﳝ‬ ‫ﻦ‬‫ﺍﻥ ﻭﻣ‬‫ﻱ ﹶﺃﺧﺪ‬‫ﺘﺨﺬ‬‫ﺎﻓﺤﲔ ﻭﻻ ﻣ‬‫ﻴﺮ ﻣﺴ‬‫ﻣﺤﺼﹺﻨﲔ ﻏ‬  ِ  ‫ ﹾﹸ‬    ‫ﹶ‬   ‫ ﹶ‬    (5 :‫ﺎﺳﺮﹺﻳﻦ )ﺍﳌﺎﺋﺪﺓ‬‫ﻲ ﺍﻵﺧﺮﺓ ﻣﻦ ﺍﹾﻟﺨ‬‫ﻓﻘﺪ ﺣﺒﹺﻂ ﻋﻤﻠﻪ ﻭﻫﻮ ﻓ‬           ‫ﹸ‬  ‫ ﹶ‬  ‫ﹶ ﹶ‬ Artinya: Pada hari ini dihalalkan bagi kamu yang baik-baik.70 Rasyid Ridha sependapat dengan Jumhur yang membedakan musyrikin musyrikah di satu pihak dengan Ahlul Kitab (Kristen dan Yahudi) di pihak lain. al-Maidah: 5) Selain berdasarkan Al-Qur'an Surat Al-Maidah ayat 5.

Terj. perkawinan antara seorang pria Muslim dengan wanita Kristen/Yahudi diperbolehkan agama. hlm. hlm. Lihat Rasyid Ridha. hlm. 145 45 . Hadyul Islam Fatawi Mu’ashirah. menurut Qardawi. 585 72 bid 73 Syekh Hasan Khalid. Jakarta: Gema Insani. sunah dan ijma'. 71 Yusuf Qardhawi. Karena itu. Zaenal Abidin Syamsudin. 2001.72 Menurut Syekh Hasan Khalid. Menurut Qardawi. berdasarkan Surat Al-Maidah ayat 5. 1367 H. 2004. jumhur ulama fikih membolehkan perkawinan laki-laki muslim dengan perempuan ahlul kitab. 186. Ibid. al-Zawaj Bighair al-Muslimin. Tafsir al-Manar. hukum asal mengawini wanita ahli kitab menurut jumhur ulama adalah mubah. Sebab. As’ad Yasin.71 Umar bin al-Khattab (42 SH/581 M-23 H/644 M) melarang perkawinan antara lakilaki muslim dan perempuan ahlul kitab. saat ini sulit untuk mengukur agama mana yang selain Islam yang memiliki keyakinan tauhid. Namun demikian di antara sahabat yang tidak berpendapat demikian adalah Umar bin al-Khattab. Mengenai perkawinan Sahabat Nabi Hudzaifah bin Al-Yaman dengan seorang wanita Yahudi. Kristen dan Yahudi itu sudah melakukan "syirik" menurut pandangan tauhid Islam. penjelasan yang terdapat dalam Al-Qur'an dalam surah al-Ma'idah ayat 5. menurutnya. perkawinan antara lakilaki muslim dengan wanita non muslim boleh saja sepanjang wanita itu berama tauhid.. Jakarta: Pustaka al-Sofwa. “FatwaFatwa Kontemporer”. Dalam konteks ini. dan dari ayat ini maka menurut Ahmad Asy- pengelompokan yang dibuat oleh Al-Qur'an. sekalipun pada hakikatnya Ahlul Kitab. Dengan demikian tampaknya Qardawi menganggap perkawinan yang demikian tidak semudah itu. Allah SWT telah mengharamkan laki-laki muslim menikahi perempuan musyrik dan ia tidak pernah tahu adakah syirik yang lebih besar dari seseorang yang beriktikad bahwa Nabi Isa AS atau hamba Allah SWT yang lainnya adalah Tuhannya. “Menikah Dengan Non Muslim”. Terj.Menurut Yusuf Qardhawi.73 Argumen mereka yang menyatakan boleh adalah pertama. Cairo: Dar al-Manar. 180. jilid 1. hlm.

Yas'alunaka fi ad-Din wa al-Hayah. Terj. seperti Kristen dan Yahudi (revealed religion). hlm. Jakarta: Lentera. ataupun pemeluk agama yang mempunyai kitab serupa kitab suci. Politeisme dan sebagainya. Al-Fiqh 'ala al-Mazahib al-Khamsah. Masykur AB. op. Hinduisme. Hikmah yang terkandung di dalam hukum bolehnya seorang laki-laki Muslim menikahi wanita Ahlul kitab ialah tersedianya kesempatan supaya terciptanya hubungan dan kerjasama di antara mereka. maupun pemeluk agama atau kepercayaan yang tidak punya kitab suci dan juga kitab yang serupa kitab suci. hlm. pendapat Sayid Sabiq. perkawinan antara seorang wanita Muslimah dengan pria non-Muslim. "Fiqih Lima Mazhab". cit. 74 46 . Jakarta: PT Lentera Basritama. Termasuk pula di sini penganut Animisme. Ateisme. wanita Ahlul kitab itu dapat mempelajari ajaran-ajaran mulia yang terdapat dalam ajaran Islam. 1997. 244 75 Sayyid Sabiq.77 Ahmad Asy-Syarbashi. bahwa Islam melarang perkawinan antara seorang wanita Muslimah dengan pria non-Muslim.74 Kedua. "Tanya Jawab Lengkap tentang Agama dan Kehidupan". 2000.Syarbashi dapat ditarik kesimpulan bahwa seorang laki-laki Muslim boleh menikahi Ahlul kitab. 179 76 Ibid 77 Muhammad Jawad Mughniyah. hlm. et al. selama wanita Ahlul kitab tersebut layak untuk dinikahi. seperti Budhisme. Ahmad Subandi.75 Sekalipun boleh mengawini wanita ahlul kitab. namun kemudian Sayyid Sabiq menganggap hukumnya makruh. ahli fikih di Mesir. dan di samping itu agar dengan keinginannya. ulama telah sepakat. Terj.76 Ketiga. yang menjelaskan bahwa laki-laki muslim halal kawin dengan perempuan ahli kitab yang merdeka. Menurut Muhammad Jawad Mughniyah. baik calon suaminya itu termasuk pemeluk agama yang mempunyai kitab suci. 336.

sedangkan orang musyrik/kafir pada umumnya tidak percaya pada semuanya itu. Bahkan mereka selalu mengajak orang-orang yang telah beragama/beriman untuk meninggalkan agamanya dan kemudian diajak mengikuti "kepercayaan/ideologi" mereka. Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an. walaupun dia menarik hatimu. ialah: a.) ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ‬‫ﻣﺸﺮﻙ ﻭﹶﻟﻮ ﹶﺃﻋﺠ‬  ‫ ﹸ‬     ‫ﹺ‬  Artinya: Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik sebelum mereka beriman. 78 Depag RI.Adapun dalil yang menjadi dasar hukum untuk larangan kawin antara wanita Muslimah dengan pria non-Muslim. percaya kepada para nabi. Ijma' para ulama tentang larangan perkawinan antara wanita Muslimah dengan pria non-Muslim.. kitab suci. Sebab orang Islam percaya sepenuhnya kepada Allah sebagai pencipta alam semesta.. Kepercayaan mereka penuh dengan khurafat dan irasional.. Adapun hikmah dilarangnya perkawinan antara orang Islam (pria/wanita) dengan orang yang bukan Islam (pria/wanita. hlm. ialah bahwa antara orang Islam dengan orang kafir selain Kristen dan Yahudi itu terdapat way of life dan filsafat hidup yang sangat berbeda. malaikat. Firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 221: ‫ﻦ‬ ‫ﻴﺮ‬‫ﺒﺪ ﻣﺆﻣﻦ ﺧ‬‫ﻮﹾﺍ ﻭﹶﻟﻌ‬‫ﻳﺆﻣ‬ ‫ﻰ‬‫ ﺣ‬‫ﻮﹾﺍ ﺍﹾﻟﻤﺸﺮﻛﲔ‬ ‫ﻨﻜ‬ ‫. Sesungguhnya budak yang mu'min lebih baik dari orang musyrik. 1986.. 53. dan percaya pula pada hari kiamat.78 b.ﻭﻻ‬ ‫ ﻣ‬         ‫ﻨ‬  ‫ﺘ‬  ‫ ﹺ‬  ‫ﺤ‬ ‫ ﹶ ﺗ‬ (221 :‫ﺒﻜﻢ. Al-Qur’an dan Terjemahnya. selain Ahlul Kitab). 47 .

yang taat pada ajaran-ajaran agamanya. dan menghargai pula hak-hak asasi manusia terutama kebebasan beragama. yang Sebab agama Islam mempunyai flexible. dapat terbuka hatinya dan dengan kesadaran sendiri si istri masuk agama Islam. serta ajaran-ajarannya yang rasionable. Fakta-fakta menunjukkan bahwa wanita-wanita Barat dan Timur yang kawin dengan pria Muslim yang baik dan taat pada ajaran agamanya. maka seharusnya ia tidak berani kawin dengan pemudi Kristen/Yahudi yang militan. misalnya islamnya masih Islam K. mudah/praktis. menghargai kedudukan wanita Islam dalam keluarga. panutan/pedoman lengkap. Dan hal ini sesuai dengan taktik dan strategi Ahlul Kitab untuk 48 . karena ia dapat menyaksikan dan merasakan kebaikan dan kesempurnaan ajaran agama Islam.TP atau Islam Abangan. sebab sama-sama agama wahyu (revealed religion). ialah karena pada hakikatnya agama Kristen dan Yahudi itu satu rumpun dengan agama Islam. setelah ia hidup di tengah-tengah keluarga hidup Islam. masyarakat. demokratis. kalau seorang pemuda Muslim itu kualitas iman dan islamnya masih belum baik. karena ia dapat terseret kepada agama istrinya. Maka kalau seorang wanita Kristen/Yahudi kawin dengan pria Muslim yang baik. dapat diharapkan atas kesadaran dan kemauannya sendiri masuk Islam. toleran terhadap agama/kepercayaan lain yang hidup di masyarakat.Mengenai hikmah dibolehkannya perkawinan antara seorang pria Muslim dengan wanita Kristen atau Yahudi. dan negara. Namun.

. ﻭﻟﹶﻦ‬ ‫ ﹰ‬       ‫ ﹾ‬‫ ﹼ‬  Artinya: Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk melenyapkan orang-orang yang beriman. seperti agama Islam. Sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 120: (120 :‫ﺘﻬﻢ.) ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ‬ ‫ﻳﺠﻌﻞﹶ ﺍﻟﻠﻪ‬ ‫. karena dikhawatirkan wanita Islam itu kehilangan kebebasan beragama dan menjalankan ajaran agamanya.. Demikian pula anak-anak yang lahir dari hasil perkawinannya dikhawatirkan pula mereka akan mengikuti agama bapaknya.. karena bapak sebagai kepala keluarga terhadap anak-anak melebihi ibunya. 79 Muhammad Rasyid Ridha. Dan berfirman Allah dalam Surat Al-Nisa ayat 141: (141 :‫ﻟﻠﻜﹶﺎﻓﺮﹺﻳﻦ ﻋﻠﹶﻰ ﺍﹾﻟﻤﺆﻣﹺﻨﲔ ﺳﺒﹺﻴﻼ. kemudian terseret kepada agama suaminya.. Dalam hal ini. cit.79 Adapun hikmah dilarangnya perkawinan antara seorang wanita Islam dengan pria Kristen atau Yahudi. op. hingga kamu mengikuti agama mereka. fakta-fakta sejarah menunjukkan bahwa tiada sesuatu agama dan sesuatu ideologi di muka bumi ini yang memberikan kebebasan beragama dan bersikap toleran terhadap agama/kepercayaan lain..) ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ‬‫ﺘﹺﺒﻊ ﻣﻠ‬‫ﺗ‬ ‫ﻰ‬‫ﻯ ﺣ‬‫ﺎﺭ‬‫ﻨﺼ‬‫ﻮﺩ ﻭﻻ ﺍﻟ‬ ‫ﻴ‬‫ﻨﻚ ﺍﹾﻟ‬‫ﻰ ﻋ‬‫ﺗﺮﺿ‬ ‫ﻭﻟﹶﻦ‬   ‫ ﱠ‬  ‫ﺘ‬ ‫ﹶ‬  ‫ ﻬ‬   Artinya: Orang Yahudi dan Kristen tidak akan senang kepada kamu.. hlm. 193. 49 .memurtadkan umat Islam dan kemudian menariknya ke agama mereka dengan berbagai cara.

Misalnya dengan jalan perkawinan seorang wanita Islam dengan pria non-Muslim. 50 . Dan hendaknya umat Islam tidak memberi jalan/kesempatan kepada mereka untuk mencapai maksudnya. yang selalu berusaha melenyapkan Islam dan umat Islam dengan berbagai cara.Firman tersebut mengingatkan kepada umat Islam. hendaknya selalu berhatihati dan waspada terhadap tipu muslihat orang-orang kafir termasuk Yahudi dan Kristen.

Remaja Rosdakarya. hlm.Raja Grafindo Persada. Abdul Syukur dan Ahmad Rivai Uthman. Bandung: PT. Muhammad Abu Zahrah./754-774 M. 27 81 Jaih Mubarok. Yogyakarta: Mitra Pustaka.101. Kisah-Kisah Para Imam Madzhab. 76. Beliau lahir pada zaman Dinasti Bani Abbas. Jakarta: PT. 2002. Lihat juga Ali Fikri. tepatnya pada zaman kekuasaan Abu Ja’far al Manshur (137-159 H. tidak mau merendahkan diri dan berjiwa besar. hlm. 2000. Walaupun hidup dalam keadaan sangat sederhana. 27. “Al-Syafi’i Biografi dan Pemikirannya Dalam Masalah Akidah. dan ia meninggal di Mesir pada tahun 204 H 82 Al-Syafi’i berasal dari keturunan bangsawan yang paling tinggi di masanya.80 Nama lengkapnya adalah Muhammad ibn Idris ibn al-Abbas ibn Utsman ibn Syafi’i ibn al-Sa’ib ibn Ubaid ibn Abd Yazid ibn Hasyim ibn Abd al-Muthalib ibn Abd Manaf.BAB III PENDAPAT AL-SYAFI'I TENTANG PERKAWINAN ANTAR AGAMA A. Lihat juga Abdul Mun’im Saleh. hlm. Biografi Al-Syafi'i. menyebabkan ia terpelihara dari perangai-perangai buruk. Yogyakarta: Ittaqa Press. 80 51 . Madzhab Syafi’i Kajian Konsep Al-Maslahah. Jakarta: PT Lentera Basritama. 2001. Modifikasi Hukum Islam Studi tentang Qaul Qadim dan Qaul Jadid. hlm.). Latar Belakang Keluarga Kebanyakan ahli sejarah berpendapat bahwa Al-Syafi’i lahir di Kota Gaza. hlm.81 Lahir di Gaza pada tahun 150 H. Terj. 2003. Sejarah dan Perkembangan Hukum Islam. Palestina. 7. Hayatuhu wa Asruhu wa Fikruhu ara-Uhu wa Fiqhuhu. 2005. Politik dan Fiqih”. namun kedudukannya sebagai putra bangsawan. Pendidikan dan Karya-Karyanya 1. kemudian dibawa oleh ibunya ke Makkah. 82 Jaih Mubarok.

Abdullah Zakiy al-Kaaf.Ia bergaul rapat dalam masyarakat dan merasakan penderitaan-penderitaan mereka. Ia pergi ke Kabilah Hudzail yang tinggal di pedusunan untuk mempelajari bahasa Arab yang fasih. Al-Syafi’i belajar pada ulama-ulama Makah. menghafal hadis. mempelajari sastra Arab dan memahirkan diri dalam mengendarai kuda dan meneliti keadaan penduduk-penduduk Badiyah dan pendudukpenduduk kota. Bandung: CV Pustaka Setia. Dalam masa itu Al-Syafi’i menghafal al-Qur'an. 2000. hlm. Kemudian ia memusatkan perhatian menghafal hadis. terj. baik pada ulama-ulam fiqih. maupun ulama-ulama hadis. Sepuluh tahun lamanya Al-Syafi’i tinggal di Badiyah itu. Gurunya Mahmud Syalthut. Ia terkenal ahli dalam bidang syair yang digubah golongan Hudzail itu.83 Di samping itu ia mendalami bahasa Arab untuk menjauhkan diri dari pengaruh Ajamiyah yang sedang melanda bahasa Arab pada masa itu. 17. mempelajari syair. Fiqih Tujuh Madzhab. Al-Syafi’i dengan usaha ibunya telah dapat menghafal al-Qur'an dalam umur yang masih sangat muda. Seringkali pergi ke tempat buangan kertas untuk memilih mana-mana yang masih dapat dipakai. sehingga ia terkenal dalam bidang fiqh dan memperoleh kedudukan yang tinggi dalam bidang itu. Ia menerima hadis dengan jalan membaca dari atas tembikar dan kadang-kadang di kulit-kulit binatang. sastra dan sejarah. 83 52 . amat indah susunan bahasanya. Di sana pula ia belajar memanah dan mahir dalam bermain panah.

akan tetapi sebelum pergi ke Madinah ia lebih dahulu menghafal al-Muwatha’. Al-Syafi’i telah mencapai usia dewasa dan matang. menganjurkan supaya Al-Syafi’i bertindak sebagai mufti. Di waktu Malik meninggal tahun 179 H. yang memang pada masa itu terkenal di mana-mana dan mempunyai kedudukan tinggi dalam bidang ilmu dan hadis.Muslim Ibn Khalid Az-Zamzi. Hasbi Ash Shiddieqy. Dia mengambil mana yang perlu diambil dan dia tinggalkan mana yang perlu ditinggalkan. Al- TM. 84 53 . Pendidikan dan Karir Al-Syafi’i menerima fiqh dan hadis dari banyak guru yang masingmasingnya mempunyai manhaj sendiri dan tinggal di tempat-tempat berjauhan bersama lainnya. Al-Syafi’i mengadakan mudarasah dengan Malik dalam masalah-masalah yang difatwakan Malik. Kemudian ia berangkat ke Madinah untuk belajar kepada Malik dengan membawa sebuah surat dari gubernur Makah. Mulai ketika itu ia memusatkan perhatian mendalami fiqh di samping mempelajari al-Muwatha’. 1997. 480 – 481. Semarang: PT Putaka Rizki Putra. hlm. susunan Malik yang telah berkembang pada masa itu. Sungguhpun ia telah memperoleh kedudukan yang tinggi itu namun ia terus juga mencari ilmu. Sampai kabar kepadanya bahwa di Madinah ada seorang ulama besar yaitu Malik. Pokok-Pokok Pegangan Imam Mazhab. Al-Syafi’i ingin pergi belajar kepadanya. Ada di antara gurunya yang mu’tazili yang memperkatakan ilmu kalam yang tidak disukainya.84 2.

Said Ibn Salim al-Kaddlah. Hammad Ibn Usamah. Ibrahim Ibn Abi Yahya al-Asami. 486-487 54 . Abdullah Ibn Nafi’ teman Ibn Abi Zuwaib. dua ulama Basrah. Muhammad Ibn Said Ibn Abi Fudaik. Umar Ibn abi Salamah. Tugas mengajar dalam rangka 85 Ibid.85 Setelah sekian lama mengembara menuntut ilmu. ulama-ulama Madinah. Ulama-ulama Madinah yang menjadi gurunya. Mualim Ibn Khalid az-Zamzi. Ibrahim Ibn Saad al-Anshari Abdul Aziz Ibn Muhammad adDahrawardi.Syafi’i menerima ilmunya dari ulama-ulama Makah. Ulama-ulama Yaman yang menjadi gurunya ialah: Mutharraf Ibn Mazim. Ulama Makah yang menjadi gurunya ialah: Sufyan Ibn Uyainah. ialah: Malik Ibn Annas. teman Auza’in dan Yahya Ibn Hasan teman Al-Laits. pada tahun 186 H Al-Syafi’i kembali ke Makah. hlm. Daud Ibn abdRahman al-Atthar. dua ulama Kuffah Ismail Ibn ‘Ulaiyah dan Abdul Wahab Ibn Abdul Majid. dan Abdul Hamid Ibn Abdul Azizi Ibn Abi Zuwad. Abu Usamah. Hisyam Ibn Yusuf. Juga menerima ilmu dari Muhammad Ibn al-Hasan yaitu dengan mempelajari kitab-kitabnya yang didengar langsung dari padanya. dalam masjidil Haram ia mulai mengajar dan mengembangkan ilmunya dan mulai berijtihad secara mandiri dalam membentuk fatwa-fatwa fiqihnya. Dari padanyalah dipelajari fiqh Iraqi. ulama-ulama Iraq dan ulama-ulama Yaman. Ulama-ulama Iraq yang menjadi gurunya ialah: Waki’ Ibn Jarrah.

tiga muridnya yang disebut terakhir ini. dan makam beliau di Mesir sampai detik ini masih diziarahi orang. Kitab ini memuat pendapat Al-Syafi’i dalam berbagai masalah fikih. 1997. 18. hlm.menyampaikan hasil-hasil ijtihadnya ia tekuni dengan berpindah-pindah tempat. 86 55 . 231 H). tepatnya pada hari Jum’at tanggal 30 Rajab 204 H.al. Kitab ini disusun langsung oleh Al-Syafi’i secara sistematis sesuai dengan bab-bab fikih dan menjadi rujukan utama dalam Mazhab Syafi'i. Karya-karya Al-Syafi’i Karya-karya Al-Syafi’i yang berhubungan dengan judul di atas di antaranya: (1) Al-Umm. 87 Ibid. dan akhirnya di Mesir 198-204 H). 264 H). Jakarta: PT. et. Ichtiar Baru Van Hoeve. ia juga pernah mengajar di Baghdad (195-197 H).86 Al-Syafi’i wafat di Mesir. Kitab-kitab beliau hingga saat ini masih banyak dibaca orang. Di antara murid-muridnya yang terkenal ialah Imam Ahmad Bin Hanbal (pendiri madzhab Hanbali). Yusuf Bin Yahya al-Buwaiti (w.87 3. mempunyai peranan penting dalam menghimpun dan menyebarluaskan faham fiqih Al-Syafi’i. Dalam kitab ini juga dimuat pendapat Al-Syafi’i yang dikenal dengan sebutan al-qaul al-qadim (pendapat lama) dan al-qaul alAbdul Aziz Dahlan. Dengan demikian ia sempat membentuk kader-kader yang akan menyebarluaskan ide-idenya dan bergerak dalam bidang hukum Islam. Abi Ibrahim Ismail Bin Yahya alMuzani (w. setelah menyebarkan ilmu dan manfaat kepada banyak orang. Ensiklopedi Hukum Islam. dan Imam Ar-Rabi Bin Suliaman al-Marawi (174-270 H). hlm. Selain di Makah.1680.

90 Siradjuddin Abbas dalam bukunya telah mengumpulkan sembilan puluh tujuh buah kitab dalam fiqih Syafi’i. al-Hujjah. Amali al-Kubra. Karena sesungguhnya Allah Ta'ala menghalalkan wanita-wanita tersebut. Mukhtasar al-Muzani. kemudian dicetak ulang pada tahun 1388H/1968M. hlm.jadid (pendapat baru). Pendapat Al-Syafi'i tentang Perkawinan Antar Agama Al-Syafi’i dalam kitabnya al-Umm Juz V mengatakan. Futuhal Arifin. 182-186. hlm. 131-132 Ahmad Asy Syarbasy. Jakarta: Bulan Bintang.Aziz MR: "Kisah-Kisah Para Imam Madzhab". dengan Djazuli. hlm. Al-Aimmah al-Arba'ah. 2003. Pada tahun 1321 H kitab ini dicetak oleh Dar asy-Sya'b Mesir. Terj. 90 Ali Fikri. 2004. 144. "Biografi Empat Imam Mazhab".92 B. Abd. (2) Kitab al-Risalah.88 (3) Kitab Imla al-Shagir. dan alUmm. Ini merupakan kitab ushul fiqh yang pertama kali dikarang dan karenanya Al-Syafi’i dikenal sebagai peletak ilmu ushul fiqh.219 89 88 56 . 2003. dihalalkan menikahi wanita-wanita merdeka ahli kitab bagi setiap orang Islam. Jakarta: Prenada Media.91 Ahmad Nahrawi Abd al-Salam menginformasikan bahwa kitab-kitab Imam al-Syafi'i adalah Musnad li al-syafi'i. Ahsan al-Qashash. 2005. kitab Jizyah dan lain-lain kitab tafsir dan sastra. Sejarah dan Keagungan Madzhab Syafi’i. Jakarta: Pustaka Qalami. 92 Munawar Khalil. 1977 217 . al-Mabsuth. Mukhtasar al-Buwaithi. Terj.89 Mukhtasar al-Rabi. 109-110 91 Siradjuddin Abbas. Ilmu Fiqh. Biografi Empat Serangkai Imam Mazhab. Namun dalam bukunya itu tidak diulas karya-karya Syafi’i tersebut. al-Risalah. Yogyakarta: Mitra Pustaka. Jakarta: Pustaka Tarbiyah. Kitab ini dicetak berulang kali dalam delapan jilid bersamaan dengan kitab usul fikih Al-Syafi’i yang berjudul Ar-Risalah. hlm.

Dan mereka itu menta'wilkan. tth. tidak majusi. 7 93 57 . Wanita mereka itu bagi kita halal dan wanita kita haram kepada mereka". yang halal mengawini wanita Al-Imam Abi Abdullah Muhammad bin Idris al-Syafi’i. mereka itu berselisih dengan ahli kitab tersebut pada pokok yang mereka menghalalkan dari kitab dan yang mereka mengharamkan. ialah: ahli dua kitab yang termasyhur : Taurat dan Injil.tanpa kecuali. Dan orang-orang Islam itu tiada mewarisi dari mereka. Dan kami hampir tiada mendapati wanita-wanita Islam yang banyak. juz 5. Maka beliau menjawab: "Kami menikahi wanitawanita itu pada zaman pembukaan (penaklukan) kota Kofah bersama Sa'ad bin Abi Waqqash. Dikabarkan kepada kami oleh Abdulmajid dari Ibnu Juraij. Mereka itu. Dan mereka itu daripadanya. Orang Sabi-in dan Samiri itu dari Yahudi dan Nasrani. bahwa sesungguhnya ia mendengar Jabir bin Abdullah ditanyakan tentang pernikahan orang Islam dengan wanita Yahudi dan wanita Nasrani. sebagaimana haram mengawini wanita majusi. kami ceraikan (talaq) mereka". Jabir bin Abdullah berkata . Menurut Syafi'i bahwa ia lebih menyukai. bahwa yang diketahui. hlm. yang halal mengawini wanita mereka dan memakan sembelihan mereka. Al-Umm. dari Abiz-Zubair. ialah: orang Yahudi dan orang Nasrani. Beirut Libanon: Dar al-Kutub al-Ilmiah. jikalau wanita-wanita itu tidak dikawini oleh orang Islam.93 Menurut Syafi'i. Maka tidak diharamkan oleh yang demikian akan wanita mereka. Maka haramlah mengawini wanita mereka. lalu mereka itu berselisih. "Wanita-wanita kitabi itu tiada mewarisi dari orang Islam. Maka tatkala kami kembali. ahli kitab (yang berpegang dan beriman kepada kitab) yang halal mengawini wanita-wanita mereka yang merdeka. Kecuali.

Kemudian. orang yang beragama dengan agama Yahudi dan agama Nasrani. adalah seperti wanita Islam. selain dengan dua orang saksi. lalu mereka itu sesat daripadanya. 58 . Dan mereka mengada-adakan padanya. Ibid. dengan isnad ini. dari orang yang tidak lazim disebut nama Sabi. sebagaimana dikawini empat wanita Islam. yang 94 95 Ibid. yang adil. dengan yang halal mengawini wanita lain. Sesungguhnya ahli kitab itu ialah keturunan Bani Israil (dari agama Yahudi dan Nasrani) yang berpegang pada Taurat pada masa Nabi Musa dan orang-orang yang berpegang teguh pada Injil pada masa Nabi Isa.mereka. Karena asal agama mereka adalah agama yang benar. Tidak halal mengawini wanita-wanita merdeka dari orang Arab. Adapun orang yang masuk pada mereka itu dari orang banyak maka tidaklah mereka ini dari mereka itu". Tiada berselisih pada sesuatu pun dan pada yang harus atas suami baginya.95 Dikawini wanita Islam atas wanita kitabi dan wanita kitabi atas wanita Islam. yang mengatakan: "kata Atha' bahwa tidaklah Nasrani Arab itu ahli kitab. 8. hlm. selain telah disampaikan itu oleh Ali bin Abi Thalib ra. Tidak dikawini wanita kitabi.. mereka itu sesat dengan menyembah berhala. Sesungguhnya mereka itu berpindah kepada agama ahli kitab sesudahnya itu.in dan Samiri. 7. saya tidak mengiranya dan yang lain.94 Menurut Al-Syafi'i. hlm. Dikawini empat wanita kitabi. Dikabarkan kepada kami oleh Abdul Majid dari Ibnu Juraij. Wanita kitabi pada semua perkawinannya dan hukum-hukumnya yang halal dan yang haram dengan wanita kitabi itu. Tidak bahwa mereka itu adalah orang-orang yang beragama dengan Taurat dan Injil.

Tidak ditolak perkawinan wanita Islam dari sesuatu. maka yang demikian menunjukkan bahwa tak ada ke-wali-an di antara kerabat. hlm. Tidak boleh perkawinan wanita Islam dengan sesuatu. 59 . Walau pun dia itu bapak. Bagi isteri kitabi. melainkan boleh perkawinan wanita kitabi dengan seperti yang demikian. Karena Allah Ta'ala memutuskan ke-wali-an di antara orang Islam dan orang musyrik. Tidak ada perbedaan di antara keduanya. apa yang 96 Ibid. Dan dia ini muslim. 8.Islam dan dengan wali dari ahli agamanya. Dan Abi Sufyan masih hidup. Tidaklah saya memandang padanya. apabila berbeda agama.96 Dibagikan waktu untuk isteri kitabi. kawin dengan Ummu Habibah binti Abi Sufyan. selain kepada hukum Islam. Maka adalah perkawinannya itu shah. Walau pun dia itu bapak wanita tersebut. Kalau wanita kitabi itu kawin dengan perkawinan yang shah dalam Islam dan itu pada mereka perkawinan yang batal. seperti wali wanita Islam. seperti pembagiannya untuk isteri Islam (1). Rasulullah Saw. melainkan ditolak perkawinan wanita kitabi dari yang seperti demikian. Dan tidaklah wali wanita dzimmi itu muslim. Boleh pada agama mereka yang lain dari itu atau tidak boleh. Bahwa ke-wali-an itu dengan kerabat dan bersamaan agama. Dan wali akad nikahnya Ibnu Sa'id bin Al-'Ash (namanya Khalid).

memandikan dan masuk ke kuburannya. Dihalalkan wanita itu bagi suami pertama oleh setiap suami yang kedua yang telah menyetubuhinya. maka kalau suami itu menghendaki. maka memadailah pemandian isteri akan suami itu. Apabila isteri itu meninggal. bahwa tiada hukuman hadd atas orang yang ber-qadzaf kepada isteri kitabi. maka tidak halal dia bagi suaminya yang pertama dahulu. Saya berpendapat makruh bagi isteri memandikan suaminya. Kalau isteri itu memandikan suaminya. maka ia menghadiri janazahnya. Apabila suami mentalakkan isteri kitabi. apa yang baginya atas isteri Islam.bagi isteri Islam. Dan bagi suami atas isteri kitabi. Niscaya halal isteri ini bagi suami pertama. 60 . disebabkan perbedaan agama. Kemudian isteri itu diceraikan atau suaminya yang kedua itu meninggal dan telah cukup iddahnya. dengan seseorang suami dzimmi. Lalu suami ini menyetubuhinya. Kalau ditalakkannya isteri kitabi itu tiga talak. maka boleh baginya ruju' kepada isteri kitabi itu dalam iddah. Dan harus atas isteri itu iddah dan membatasi dirt karena kematian suami (ihdad berkabung). lalu isteri kitabi itu kawin dengan orang lain sebelum lalu iddah dan dia disetubuhi. Kecuali. apa yang harus atasnya pada isteri Islam. Kalau ia mentalakkan isteri kitabi atau ia me-illa'-kan atau ber-dhihar atau ber-qadzaf (2). Kalau isteri kitabi itu kawin dengan perkawinan yang shah sesudah berlalu iddah. yang shah nikahnya. kalau suami itu yang meninggal. ialah iddah isteri Islam. Dan dia itu didera. Kecuali bahwa keduanya tiada pusaka-mempusakai. Sebagaimana ada yang demikian itu atas isteri Islam. Dan ia tidak mengerjakan shalat kepada isterinya itu. Dan iddahnya. maka harus atas suami pada yang demikian itu semua.

mengerat kuku dan membersihkan diri dengan air. Apabila isteri itu dari orang yang halal baginya shalat dengan suci. Suami dapat melarangnya ke gereja. Bagi suami 97 Ibid. yang ia tiada memperoleh air. kecuali bahwa ia berada dalam bermusafir. keluar kepada perayaan-perayaan dan yang lain dari itu. S. apabila sudah suci dari haid. Karena Allah 'Azza wa Jalla berfirman : (222 :‫ﻳﻄﻬﺮﻥ )ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ‬ ‫ﻰ‬‫ ﺣ‬ ‫ﻮﻫ‬‫ﺗﻘﺮ‬ ‫ﻭﻻ‬ ‫ ﹶ‬  ‫ ﹾ‬ ‫ﺘ‬ ‫ﻦ‬ ‫ﺑ‬ ‫ ﹶ ﹾ‬ Artinya: "Janganlah dekati mereka. maka halallah isteri itu bagi suaminya. Apabila wanita itu sudah bersuci. menurut saya dan Allah Ta'ala Yang Maha tahu dapat memaksakan isterinya untuk mandi dari janabat. ayat 222. Bagi suami itu.97 Bagi suami boleh memaksakan isterinya itu mandi dari haid. atau dalam kesangatan dingin. selama tidaklah yang demikian itu. Al-Baqarah. Berkata sebagian ahli ilmu Al-Qur'an: "Sehingga engkau melihat suci". maka bagi suami itu pada isterinya yang Nasrani. Apabila boleh bagi suami itu melarang isterinya yang Islam untuk pergi ke masjid dan itu adalah benar. tanpa ada janabat. sebelum suci!". 8. Karena itu adalah perbuatan batil. daripada yang isteri itu bermaksud keluar kepadanya. maka ia bertayammum. dapat melarang pergi ke gereja. 61 . yakni: dengan air. sehingga ia mandi. hlm. yang air itu mendatangkan melarat baginya. Dan tidaklah bagi suami itu menyetubuhi isterinya.mendatangkan melarat baginya dengan air. kepada kebersihan dengan menggantikan pakaian baru.insya Allah Ta'ala. dan isteri itu sakit .

Seperti demikian juga. Apabila lelaki Islam mengawini wanita kitabi. selama ia tidak memakai kulit bangkai atau kain yang berbau busuk. Tidak dibunuh dengan sebab murtad. sebelum berlalu iddah. Maka kalau wanita itu kembali kepada Islam atau kepada agama ahli kitab. apabila suami itu merasa jijik dengan daging babi itu. ialah orang yang keluar dari agama Islam ke agama syirik. Kalau isteri itu tidak kembali kepada Islam. apabila suami itu merasa terganggu dengan baunya. 62 . Melarangnya memakan yang halal. hlm. orang yang berpindah dari agama kafir kepada agama kafir yang lain. Lalu wanita itu murtad kepada agama majusi atau agama yang bukan agama ahli kitab.98 Dan melarangnya memakan daging babi. yang tidak terdapat baunya. Maka kedua suami-isteri itu tetap atas perkawinan. Maka suami itu melarang isterinya dari dua yang tersebut itu. Tiada wajib nafkah bagi isteri tersebut dalam iddah. yang menyakiti oleh bau keduanya itu. tidak boleh bagi suami melarang isterinyamemakai apa yang dikehendakinya dari kain. sehingga berlalu iddah. Karena ia melarang dirinya bagi suami dengan kemurtadan. Sesungguhnya yang dibunuh. Kalau diumpamakan yang demikian dari yang halal. 8. Ada pun orang yang 98 Ibid.dapat melarang isterinya meminum khamar. Maka sesungguhnya telah putus ikatan di antara isteri itu dan suaminya. apabila tidak ada darurat (kepentingan) bagi isterinya kepada memakannya. Karena minum itu menghilangkan akal isteri. maka tidak boleh bagi suami melarangnya. dari bawang putih dan bawang merah.

Kata Ar-Rabi' : "Yang saya hafal dari perkataan Asy-Syafi'i r. Karena yang saya terangkan dari nash Al-Qur-an dan petunjuknya. 9. bahwa beliau berkata : "Apabila suami itu orang Nasrani.keluar dari agama yang batil ke agama yang batil. Lalu ia tetap dalam negeri Islam. Kalau tidak. karena adalah patut baginya bahwa ia memulai mengawini wanita itu. yang kami ambil dari engkau atas agama itu akan jizyah. yang tidaklah engkau pada agama itu sebelum turun Al-Qur'an. Qaul ini lebih disukai oleh ArRabi'. yang halal mengawini wanita-wanita mereka yang 99 Ibid. kalau adalah wanita tersebut dari pemeluk agama yang ia keluar kepada agama itu. hlm. Kalau murtad wanita itu dari Yahudi ke Nasrani atau nasrani ke Yahudi. Maka tidak haram isteri itu kepada suaminya. Kalau engkau masuk Islam atau engkau kembali kepada agama engkau. niscaya kami bunuh engkau". Maka kami membiarkan engkau. Maka manakala kami kuasai engkau.99 la dibuang dari negeri Islam. Jenis mana pun dari orang-orang musyrik.a. bahwa mendatangkan agama baru. Tidak boleh mengawinkan budak wanita kitabi dengan budak lelaki muslim dan dengan orang lelaki merdeka. Dan kami serahkan engkau kepada diri engkau sendiri. bahwa dikatakan kepada suami itu : "Tidak boleh bagi engkau. Yahudi atau Nasrani atau majusi. dengan hal apa pun. Lalu ia keluar kepada agama Yahudi. maka kami mengeluarkan engkau dari negeri Islam. maka tidak dibunuh. 63 . kecuali bahwa ia masuk Islam atau ia kembali kepada salah satu agama yang diambil dari pemeluknya jizyah.

100 Jenis mana pun yang haram mengawini wanita-wanita mereka yang merdeka. dengan jalan milik. 9. Sebagaimana dinashkan wanita-wanita merdeka ahli kitab mengenai perkawinan. bahwa pernikahan mereka itu dihalalkan dengan suatu makna. Dan dua syarat pada budak wanita Islam itu menunjukkan. Dan tidak halal itu dinashkan dengan penghalalan. Tidak halal menyetubuhi budak wanita . Halal menyetubuhi budak wanita kitabi dengan jalan milik. Sebagaimana tidak halal mengawini wanita-wanita merdeka dari mereka. hlm. Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta'ala menghalalkan perkawinan budak-budak wanita Islam itu dengan dua makna. dengan hal apa pun.merdeka. budak wanita tersebut beragama dengan agama ahli kitab. maka haram menyetubuhi budak-budak wanita mereka dengan jalan milik. Pada yang demikian itu menunjukkan kepada pengharaman wanitawanita budak musyrik yang menyalahi dengan mereka. Sama saja bahwa tidak diperoleh oleh orang yang kawin itu akan perbelanjaan yang cukup bagi wanita merdeka dan takut kepada perbuatan zina. Niscaya tidak halal menyetubuhinya. maka halal menyetubuhi budak-budak wanita mereka dengan jalan milik. Kalau adalah asal keturunan seorang budak wanita itu dari bukan ahli kitab.musyrik yang bukan kitabi. Karena budak wanita itu masuk pada makna wanita musyrik yang diharamkan. tidak dengan suatu makna. sebagaimana halal wanita-wanita mereka yang merdeka dengan perkawinan. 64 . Kemudian. Dan Allah Yang Maha 100 Ibid. Sebagaimana tidak halal mengawini wanita mereka. Tidak halal mengawini budak wanita kitabi bagi orang Islam.

Dan kalau sudah mengandung. Dan budak wanita musyrik itu keluar daripadanya. maka bagi isteri tersebut mas kawin yang sepertinya. Apabila lelaki itu meninggal. 101 Ibid. maka adalah perkawinan itu batal. Karena Islam itu syarat ke tiga. sebelum bersetubuh dan sesudahnya. Sebagaimana ia menerima pelayanan dari budak wanita yang lain.tahu. 9. pada yang disanggupi oleh budak wanita tersebut. yang dibatalkan atas lelaki itu. Dan kalau sudah bersetubuh. karena agamanya. Dan tidak boleh baginya menjual budak wanita tersebut. maka tiada mas kawin bagi budak wanita itu. Maka budak wanita itu menjadi gundiknya. maka budak wanita tersebut menjadi merdeka dengan kematiannya. Kalau dia itu orang Islam. Dan ia menerima pelayanannya. sudah mengandung atau belum mengandung. hlm. lalu ia melahirkan. karena agamanya. Kalau suami itu menyetubuhi budak wanita yang bukan kitabi. Tidak halal baginya menyetubuhinya. maka dilarang suami itu kembali kepada isterinya itu. 65 . Sebagaimana ada itu budak wanitanya. maka tidak dijual anak itu atas tanggungannya. Dan dijualkan atas tanggungan pemiliknya kalau pemilik itu orang kitabi.101 Kalau seseorang mengawini budak wanita kitabi. Dan dihubungkan anak dengan yang mengawini dan dia itu Islam. Dan tidak halal baginya menyetubuhinya. Tidak boleh baginya mengawininya dan budak itu tidak menyukai. Kalau dia belum bersetubuh.

Kalau budak wanita itu mempunyai saudara perempuan, yang merdeka, yang Islam. Maka halal bagi lelaki itu mengawini saudara perempuan yang tersebut.102 Begitu juga kalau budak wanita itu mempunyai saudara perempuan seibu yang merdeka, yang kitabi, yang bapaknya kitabi. Lalu ia membeli saudara perempuan itu. Niscaya halal baginya menyetubuhi wanita itu dengan jalan memilikinya sebagai budak. Dan tidaklah ini mengumpulkan diantara dua wanita yang bersaudara. Karena penyetubuhan bagi wanita pertama itu, yang dia itu bukan kitabi, adalah tidak boleh baginya. Sesungguhnya mengumpulkan, ialah bahwa dikumpulkan diantara orang yang halal penyetubuhannya atas sendiri-sendiri. Kalau budak wanita itu mempunyai saudara perempuan se bapak, yang beragama dengan agama ahli kitab, niscaya tidak halal wanita itu baginya dengan jalan milik. Karena keturunannya kepada bapaknya. Dan bapaknya itu bukan kitabi. Sesungguhnya saya memperhatikan pada yang halal dari wanitawanita musyrik itu kepada keturunan bapak. Tidaklah ini, seperti wanita, yang Islam salah seorang dari ibu-bapaknya. Dan dia itu masih kecil. Karena Islam tidak dapat dikongsikan oleh syirik. Dan syirik itu berkongsi dengan syirik. Dan keturunan itu kepada bapak. Seperti demikian juga agama bagi bapak, selama budak wanita itu belum dewasa. Kalau saudara perempuannya sudah dewasa dan beragama dengan agama ahli kitab. Dan bapaknya watsani atau majusi. Maka tidak halal
102

Ibid, hlm. 9.

66

menyetubuhinya dengan milik perbudakan. Sebagaimana tidak halal menyetubuhi wanita watsani, yang berpindah kepada agama ahli kitab. Karena asal agamanya itu bukan agama ahli kitab, kalau ia mengawini budak wanita kitabi dan budak wanita ini mempunyai saudara perempuan, yang merdeka, yang kitabi atau Islam.103 Kemudian lelaki itu mengawini saudara perempuan wanita tersebut, yang merdeka, sebelum bercerai antara dia dan budak wanita kitabi itu. Niscaya adalah perkawinan wanita merdeka yang Islam atau yang kitabi itu boleh. Karena itu halal, yang tidak dibatalkan oleh pernikahan budak wanita yang kitabi, yang dia itu saudara perempuan wanita yang dinikahi sesudahnya. Karena pernikahan dengan wanita yang pertama itu bukan perkawinan. Dan kalau disetubuhinya, maka adalah seperti yang demikian. Karena persetubuhan itu pada perkawinan yang batal. Hukumnya tidak mengharamkan akan sesuatu. Karena wanita itu bukan isteri dan tidak yang dimiliki dengan jalan budak. Lalu mengharamkan dikumpulkan di antaranya dan saudara perempuannya. Kalau orang mengawini seorang wanita, dengan syarat bahwa wanita itu Islam. Tiba-tiba wanita tersebut itu kafir kitabi. Maka boleh bagi lelaki tersebut membatalkan perkawinan, dengan tanpa membayar setengah mas kawin. Kalau ia mengawininya dengan syarat bahwa wanita itu kitabi, lalu tiba-tiba wanita itu Islam. Maka tidak boleh bagi lelaki tersebut membatalkan perkawinan. Karena wanita Islam itu lebih baik dari wanita kitabi. Kalau ia mengawini seorang wanita dan ia tidak mengabarkan bahwa wanita itu Islam
103

Ibid, hlm. 9.

67

atau kitabi. Lalu tiba-tiba wanita itu kitabi. Dan ia berkata : "Sesungguhnya saya mengawininya, dengan syarat wanita itu Islam. Maka yang didengar ialah perkataan lelaki itu. Baginya boleh melakukan pilihan. Dan atasnya sumpah akan apa yang dikawininya. Dan ia mengetahuinya wanita kitabi.104 Al-Syafi’i dalam kitabnya al-Umm Juz IV mengatakan,

‫ﺍﳌﺴﻠﻤﺔ ﻻ ﲢﻞ ﳌﺸﺮﻙ ﲝﺎﻝ ﻭﺍﳌﺮﺃﺓ ﺍﳌﺸﺮﻛﺔ ﻗﺪ ﲢﻞ ﻟﻠﻤﺴﻠﻢ ﲝﺎﻝ ﻭﻫﻰ ﺃﻥ‬ 
105

‫ﺗﻜﻮﻥ ﻛﺘﺎﺑﻴﺔ‬

Artinya: wanita muslimah tidak halal (menikah) dengan laki-laki musyrik dengan keadaan apa pun, dan wanita musyrik itu kadang-kadang halal (boleh menikah) bagi lelaki Islam dengan sesuatu hal dan wanita itu wanita kitabi. Pada halaman lain, Al-Syafi’i mengatakan:

‫ﻣﻦ ﺩﺍﻥ ﺩﻳﻦ ﺍﻟﻴﻬﻮﺩ ﻭﺍﻟﻨﺼﺎﺭﻱ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﺎﺑﺌﲔ ﻭﺍﻟﺴﺎﻣﺮﺓ ﺃﻛﻠﺖ ﺫﺑﻴﺤﺘﻪ ﻭﺣﻞ‬
106

‫ﻧﺴﺎﺅﻩ‬

Artinya: siapa yang beragama dengan agama Yahudi dan Nasrani dari orang Sabiin dan Samiri, maka boleh dimakan sembelihannya dan halal dikawini wanitanya.

C. Metode Istinbath Hukum Al-Syafi'i
Al-Syafi’i menyusun konsep pemikiran ushul fiqihnya dalam karya monumental yang berjudul al-Risalah. Di samping dalam kitab tersebut, dalam kitabnya al-Umm banyak pula ditemukan prinsip-prinsip ushul fiqh sebagai pedoman dalam ber istimbath. Di atas landasan ushul fiqh yang
Ibid, hlm. 9. Al-Imam Abi Abdullah Muhammad bin Idris al-Syafi’i, Al-Umm, Beirut Libanon: Dar al-Kutub al-Ilmiah, tth, juz 4, hlm. 287 106 Ibid, hlm. 289
105 104

68

246 107 69 . tt. Ilmu yang diambil dari kitab (al-Qur’an) dan sunnah Rasulullah SAW apabila telah tetap kesahihannya. kemudian sunnah Rasulullah SAW bilamana teruji kesahihannya. Nukilan otentik dari Al-Syafi’i ini (dalam kitab al-Risalah) menjelaskan landasannya dalam berfatwa.dirumuskannya sendiri itulah ia membangun fatwa-fatwa fiqihnya yang kemudian dikenal dengan mazhab Syafi’i. sehingga dalam mendasarkan pemikirannya beliau membagi tingkatan sumber-sumber itu sebagai berikut: 1. 5. Pendapat yang diperselisihkan di kalangan sahabat. bagi Al-Syafi’i Al-Qur’an adalah sumber pertama dan utama dalam membangun fiqih. Qiyas apabila tidak dijumpai hukumnya dalam keempat dalil di atas. 2. Juz 7. Fatwa sebagian sahabat yang menyalahinya. 3. Beirut. 4.107 Tidak boleh berpegang kepada selain al-Qur’an dan sunnah dari beberapa tingkatan tadi selama hukumnya terdapat dalam dua sumber tersebut. Seperti halnya pada mazhab lainnya. tidak diketahui adanya sahabat yang Al-Imam Abi Abdillah Muhammad Ibn Idris Al-Syafi’i. Ilmu yang didapati dari ijma dalam hal-hal yang tidak ditegaskan dalam al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW. Ijtimaiyah. al-Umm. Dar alKutub. Menurut Al-Syafi’i “ilmu itu bertingkat-tingkat”. Ilmu secara berurutan diambil dari tingkatan yang lebih di atas dari tingkatantingkatan tersebut. hlm. Libanon.

berdalil. hlm. dijumpai bahwa as-sunnah tidak semartabat dengan al-kitab. Lihat TM. 1997. Mengapa ada dua pendapat Al-Syafi’i tentang ini. Ia berkata. dan 585. Ia menempatkan as-Sunnah semartabat dengan alkitab pada saat mengistimbathkan hukum. 109 Ibid. Mengingat hal ini tetaplah as-sunnah semartabat dengan al-Qur’an. al-Risalah. 1312H. tidaklah dikafirkan. tidak memberi pengertian bahwa as-Sunnah juga mempunyai kekuatan dalam menetapkan aqidah. hlm.110 Al-Syafi’i menetapkan bahwa asSunnah harus diikuti sebagaimana mengikuti al-Qur’an.sunnah kedua-duanya dari Allah dan kedua-duanya merupakan dua sumber yang membentuk syariat Islam. Al-Syafi’i menyamakan as-Sunnah dengan al-Qur’an dalam Masdar berarti sumber. sedang istidlal artinya mengambil dailil. sebagai gambaran betapa penting sunnah dalam pandangan Al-Syafi’i sebagai penjelasan langsung dari keterangan-keterangan dalam al-Qur’an. menjadikan dalil. hlm. 239. 110 Al-Imam Abi Abdillah Muhammad Ibn Idris Al-Syafi’i. Masdar-masdar istidlal108 walaupun banyak namun kembali kepada dua dasar pokok yaitu: al-kitab dan as-sunnah.Dalam urutan sumber hukum di atas. Pokok-Pokok Pegangan Imam Madzhab. tidak memberi pengertian bahwa hadis-hadis yang diriwayatkan dari nabi semuanya berfaedah yakin. PT Putaka Rizki Putra. 588. Namun demikian. Hasbi Ash Shiddieqy. Akan tetapi dalam sebagian kitab Al-Syafi’i. Pandangan Al-Syafi’i sebenarnya adalah sama dengan pandangan kebanyakan sahabat. Al-Syafi’i meletakkan sunnah sejajar dengan al-Qur’an pada urutan pertama. al-kitab dalam as. 32. Mesir: alIlmiyah. Semarang. 108 70 .109 Al-Syafi’i menjawab sendiri pertanyaan ini. Orang yang mengingkari hadis dalam bidang aqidah.

Ijma menurutnya adalah kesepakatan para mujtahid di suatu masa. karena penduduk Madinah hanya sebagian kecil dari ulama mujtahid yang ada pada saat itu. ‘Ilm Ushul al-Fiqh. yang tidak bercampur dengan bahasa-bahasa lain. Jakarta: 1410 H/1990M. Oleh karena ijma itu baru mengikat bilamana disepakati seluruh para mujtahid di suatu masa. Oleh karenanya apabila hadis menyalahi al-Qur'an hendaklah mengambil al-Qur'an. baik yang diketahui ada perbedaan pendapat.mengeluarkan hukum furu’. hlm. Menurut Abd Wahab Khalaf. tidak berarti bahwa as-Sunnah bukan merupakan cabang dari al-Qur’an. 111 71 .45. yang bilamana benar-benar terjadi adalah mengikat seluruh kaum muslimin. 111 Al-Syafi’i berpegang kepada fatwa-fatwa sahabat Rasulullah SAW dalam membentuk mazhabnya. ijma’ menurut istilah para ahli ushul fiqh adalah kesepakatan seluruh para mujtahid di kalangan umat Islam pada suatu masa setelah Rasulullah SAW wafat atas hukum syara’ mengenai suatu kejadian. Lihat Abd Wahab Khalaf. Alasan Al-Syafi’i menolak ijma penduduk Madinah adalah karena ijma harus merupakan kesepakatan dari seluruh umat Islam yang tidak hanya terbatas pada satu negara apalagi hanya satu kota. Maktabah al-Wal-Matbaah al-Islamiyah. Adapun yang menjadi alasan ditetapkannya kedua sumber hukum hukum itu sebagai sumber dari segala sumber hukum adalah karena Al-Qur'an memiliki kebenaran yang mutlak dan as-sunnah sebagai penjelas atau ketentuan yang memerinci Al-Qur'an. Syabab al-Azhar. maka dengan gigih Al-Syafi’i menolak ijma penduduk Madinah (amal ahl al-Madinah). Al-Syafi’i menetapkan bahwa al-Qur'an adalah kitab yang diturunkan dalam bahasa Arab yang murni.

Metode utama yang digunakannya dalam berijtihad adalah qiyas. menurutnya seorang mujtahid akan mampu mengangkat kandungan al-Qur'an dan sunnah rasulullah SAW secara lebih maksimal ke dalam bentuk siap untuk diamalkan. AlSyafi’i pernah mengatakan. 72 . Al-Syafi’i membuat kaidah-kaidah yang harus dipegangi dalam menentukan mana ar-rayu yang sahih dan mana yang tidak sahih. Dengan demikian Al112 TM. maka melakukan ijtihad dalam pandangan Al-Syafi’i adalah merupakan kewajiban bagi ahlinya. dalam membentuk mazhabnya ia melakukan ijtihad. kecuali qiyas. Ia membuat kriteria bagi istimbath-istimbath yang salah. cit. Dengan ijtihad. hlm. Juga diterangkan syarat-syarat yang harus sempurna pada qiyas.apalagi yang tidak diketahui adanya perbedaan pendapat di kalangan mereka. martabat-martabatnya. dan kekuatan hukum yang ditetapkan dengan qiyas. op. Sesudah itu diterangkan pula perbedaan antara qiyas dengan macam-macam istimbath yang lain yang dipandang. Dalam kitabnya al-Risalah. Al-Syafi’i berkata:112 ‫رء‬ ‫راء‬ Artinya: Pendapat para sahabat lebih baik dari pendapat diri kita sendiri Bilamana hukum suatu masalah tidak ditemukan secara tersurat dalam sumber-sumber hukum tersebut di atas. Oleh karena demikian penting fungsinya. “Allah mewajibkan kepada hambanya untuk berijtihad dalam upaya menemukan hukum yang terkandung dalam al-Qur'an dan as-Sunnah”. Hasbi Ash shiddieqy. Ia menentukan batasbatas qiyas. 271.

AlSyafi’i sendiri tidak membuat ta’rif qiyas. Dalil-dalil yang dikemukakan Al-Syafi’i untuk menolak istihsan. contoh-contoh.151. ialah setiap ijtihad yang tidak bersumber al-kitab. Khusus mengenai istihsan ia mengarang kitab yang berjudul Ibthalul Istikhsan. yaitu yang mutlaq. lihat juga Abd Wahab kalaf. kitab Jima’ul Ilmi. hlm.cit. yang kemudian dibuat ta’rifnya oleh ulama ushul. Perkataan “ijtihad” tidak digunakan kecuali untuk perbuatan yang harus dilakukan dengan susah payah. op.cit.113 Terhadap istihsan. al-Risalah dan dalam al-Umm. 14. al-Risalah. hlm. Cet. Lihat A.cit. ushul Fiqh. Kesimpulan yang dapat ditarik dari uraian-uraian Al-Syafi’i. al-Risalah.114 Jadi alasan Al-Syafi’i menolak istihsan adalah karena kurang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.115 Dalil hukum lainnya yang digunakan Al-Syafi’i adalah maslahah mursalah. Akan tetapi penjelasanpenjelasannya. 477-497. adalah ijtihad yang batal. menurut istilah para ahli ilmu ushul fiqh ialah: suatu kemaslahatan di mana syari’ tidak mensyariatkan suatu hukum untuk merealisir kemaslahatan itu. 114 146. dan ijtihad dengan jalan istihsan. Al-Imam Abi Abdillah Muhammad Ibn Idris Al-Syafi’i. Menurut istilah ijtihad ialah menggunakan seluruh kesanggupan untuk menetapkan hukum-hukum syari’at. 2001. atsar atau ijma’ atau qiyas dipandang istihsan. op. hlm. Hanafie. dan tidak ada dalil yang menunjukkan atas 113 Al-Imam Abi Abdillah Muhammad Ibn Idris Al-Syafi’i. Ijtihad dari segi bahasa ialah mengerjakan sesuatu dengan segala kesungguhan. ia menolak istihsan. bagian-bagian dan syarat-syarat menjelaskan hakikat qiyas. op. 216 115 73 . Al-Syafi’i hanya membenarkan qiyas saja dari antara cara-cara ijtihad. hlm. Jakarta: Wijaya. as-Sunnah. disebutkan dalam kitab ini.Syafi’i merupakan orang pertama dalam menerangkan hakikat qiyas.

al-Maidah: 5) Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa para ahli tafsir dan para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan ayat wal muhsanâtî minal lazîna ûtul kitâb min qablikum menurut Ibnu Jarir yang dimaksud dengan muhsanat adalah wanita baik-baik dari ahli kitab baik merdeka atau budak.S.184. Imam Syafi'i Abd Wahab Khalaf. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman maka hapuslah amalannya dan di hari akhirat dia termasuk orang-orang yang merugi. hlm. Makanan [sembelihan] orang-orang yang diberi al-Kitab itu halal bagi kamu. Jakarta: Maktabah al-Dak’wah alIslamiyah Syabab al-Azhar. 1410 H/1990M. ‘Ilm ushul al-Fiqh. 84.cit. khususnya mengenai makna ahlul kitab dalam versi al-Syafi'i. (Q. Cf. bila kamu telah membayar mahar mereka dengan maksud menikahinya. hlm. ‫ﺎﺏ ﺣﻞ‬‫ﻮﹾﺍ ﺍﹾﻟﻜﺘ‬‫ﻳﻦ ﹸﻭ‬‫ﺎﻡ ﺍﱠﺬ‬‫ﺎﺕ ﻭﻃﻌ‬‫ﺒ‬‫ﺍﹾﻟﻴﻮﻡ ﹸﺃﺣ ﱠ ﹶﻟﻜﻢ ﺍﻟ ﱠ‬ ‫ﱞ‬   ‫ ﺃ ﺗ‬ ‫ ﻟ‬ ‫ ﹶ‬  ‫ ﻄﻴ‬ ‫ﻞ ﹸ‬    ‫ﺎﺕ‬‫ﺎﺕ ﻣﻦ ﺍﹾﻟﻤﺆﻣﻨ‬‫ﺍﹾﻟﻤﺤﺼﻨ‬‫ﺎﻣﻜﻢ ﺣﻞ ﱠﻬﻢ ﻭ‬‫ﱠﻜﻢ ﻭﻃﻌ‬           ‫ ﱡ ﻟ‬  ‫ ﹸ‬ ‫ ﹶ‬  ‫ﻟ ﹸ‬ ‫ﻦ ﻗﺒﻠﻜﻢ ﹺﺇﺫﹶﺍ‬‫ﺎﺏ ﻣ‬‫ﻮﹾﺍ ﺍﹾﻟﻜﺘ‬‫ﻳﻦ ﹸﻭ‬‫ﺎﺕ ﻣﻦ ﺍﱠﺬ‬‫ﺍﹾﻟﻤﺤﺼﻨ‬‫ﻭ‬  ‫ ﹸ‬‫ﹶ‬   ‫ ﺃ ﺗ‬ ‫ ﻟ‬     ‫ﻱ‬‫ﺨﺬ‬‫ﺎﻓﺤﲔ ﻭﻻ ﻣ‬‫ ﻣﺤﺼﻨﲔ ﻏﻴﺮ ﻣﺴ‬ ‫ﻫ‬‫ﻮﺭ‬ ‫ ﹸﺃ‬ ‫ﻮﻫ‬ ‫ﺗﻴﺘ‬‫ﺁ‬  ‫ﺘ‬ ‫ ﹶ‬       ‫ ﹶ‬ ‫ﹺ‬   ‫ﻦ‬ ‫ﻦ ﺟ‬ ‫ﻤ‬ ‫ﻲ ﺍﻵﺧﺮﺓ‬‫ﺎﻥ ﻓﻘﺪ ﺣﺒﻂ ﻋﻤﻠﻪ ﻭﻫﻮ ﻓ‬‫ﻳﻜﹾﻔﺮ ﺑﹺﺎﻹﳝ‬ ‫ﻦ‬‫ﺍﻥ ﻭﻣ‬‫ﹶﺃﺧﺪ‬       ‫ ﹸ‬  ‫ﹺ ﹶ‬  ‫ ﹶ ﹶ‬ ِ  ‫ﹸ‬    (5 :‫ﺎﺳﺮﹺﻳﻦ )ﺍﳌﺎﺋﺪﺓ‬‫ﻣﻦ ﺍﹾﻟﺨ‬    Artinya: Pada hari ini dihalalkan bagi kamu yang baik-baik. ia menggunakan metode istinbath hukum yaitu Al-Qur'an surat Al-Maidah ayat 5. [Dan dihalalkan bagi kamu menikahi] wanitawanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu. tidak dengan maksud berzina dan tidak [pula] menjadikannya gundik-gundik. dan mahanan kamu halal [pula] bagi mereka.116 Dalam kaitannya dengan perkawinan antar agama. Sobhi Mahmassani. 116 74 . op.pengakuannya atau pembatalannya.

252.118 Ismâ'îl ibn Katsîr al-Qurasyî al-Dimasyqî. hlm.yang dimaksud ahli kitab di sini adalah wanita baik-baik dari Bani Israil. Juz 6. 1986. 117 75 .. hlm. Tafsîr al-Qur’an al-Azîm. Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an.117 karena berdasarkan firman Allah yang mengatakan: ‫ﻮﻥ ﺑﹺﺎﻟ ﹼﻪ ﻭﻻ ﺑﹺﺎﹾﻟﻴﻮﻡ ﺍﻵﺧﺮ‬‫ﻳﺆﻣ‬ ‫ﻳﻦ ﻻ‬‫ﺗ ﹸﻮﹾﺍ ﺍﱠﺬ‬‫ﻗﹶﺎ‬ ‫ ﹺ‬ ‫ ﹺ‬  ‫ ﹶ‬  ‫ﻨ ﹶ ﻠ‬  ‫ ﹶ‬ ‫ﻠ ﻟ‬ Artinya: Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak pula pada hari kemudian. 118 Depag RI. Beirut: Dâr al-Ma’rifah. 1978. 282. Dan menurut yang lain muhsanat adalah wanita ahli kitab yang baik-baik tadi yang merupakan penduduk Negeri Islam (Kafir Zimmi). Al-Qur’an dan Terjemahnya.

Allah berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 221: ‫ﻦ‬ ‫ﻴﺮ‬‫ﻨﺔ ﺧ‬‫ﻳﺆﻣﻦ ﻭﻷﻣﺔ ﻣﺆﻣ‬ ‫ﻰ‬‫ﻮﹾﺍ ﺍﹾﻟﻤﺸﺮﻛﹶﺎﺕ ﺣ‬ ‫ﻨﻜ‬‫ﻭﻻ ﺗ‬ ‫ ﻣ‬  ‫ ﹲ‬   ‫ ﹲ‬ َ     ‫ﺘ‬  ‫ ﹺ‬  ‫ ﺤ‬ ‫ ﹶ‬ (221 :‫ﺘﻜﻢ .. 4. al-Baqarah: 221).BAB IV ANALISIS PENDAPAT AL-SYAFI'I TENTANG PERKAWINAN ANTAR AGAMA C. sebelum mereka beriman. Pendapat Al-Syafi'i tentang Perkawinan Antar Agama Perkawinan antaragama dapat terjadi antara 3. walaupun dia menarik hatimu… (Q. Sesungguhnya wanita budak yang beriman lebih baik daripada wanita musyrik. Calon suami beragama Islam dan calon istri tidak beragama Islam. Terhadap ayat ini. Dalam konteksnya dengan perkawinan antaragama. baik "ahlulkitab" maupun musyrik. Imam Jalaluddin al-Mahalli. baik ahlulkitab maupun musyrik.S.) ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ‬‫ﺒ‬‫ﻣﺸﺮﻛﺔ ﻭﹶﻟﻮ ﹶﺃﻋﺠ‬  ‫ ﹸ‬    ‫ ﹺ ﹶ‬  Artinya: Janganlah kamu mengawini wanita-wanita musyrik. Maka turunlah ayat 76 . katanya: ayat ini diturunkan mengenai Ibnu Abu Marsad al-Ganawi yang meminta izin kepad Nabi Muhammad SAW untuk mengawini seorang wanita musyrik yang cantik dan mempunyai kedudukan tinggi. Calon istri beragama Islam dan calon suami tidak beragama Islam.. Imam Jalaluddin asSuyuti menjelaskan tentang Asbab an Nuzul Surat al-Baqarah ayat 221: di ketengahkan oleh Ibnu Munzir. Ibnu Abi Hatim dan al-Wahidi dari Muqatil.

th. namun jumhur ulama fikih membolehkan perkawinan laki-laki muslim dengan perempuan ahlul kitab. Namun ulama berbeda pendapat mengenai siapa yang disebut perempuan musyrik itu. Apabila perkawinan terjadi antara laki-laki muslim dengan perempuan musyrik. maka ulama fikih sepakat hukumnya tidak sah. tth. 6 120 Al-Imam al-Hafizh Imaduddin Abul Fida Ismail ibn Kasir. Tafsir al-Qur’an al‘Azhim. Alasannya adalah firman Allah SWT dalam al-Baqarah (2) ayat 221 2.ini. baik musyrik maupun ahlulkitab. Apabila perkawinan terjadi antara laki-laki beragama Islam dan perempuan yang tergolong ahlul kitab. Tafsir Jalalain. Cairo. t. terdapat beberapa pendapat di antara ulama fikih. 3.120 Akibat hukum dari perkawinan antaragama adalah sebagai berikut: 1. 417 119 77 . juz 1. 119 Demikian pula dalam Tafsir Ibnu Kasir dijelaskan tentang tafsir surat al-Baqarah ayat 221 sebagai berikut: melalui ayat ini Allah mengharamkan atas orang-orang mukmin menikahi wanita-wanita yang musyrik dari kalangan penyembah berhala. hlm. berarti termasuk ke dalam pengertian setiap wanita musyrik kitabiyah dan wasaniyah. ulama fikih sepakat menyatakan bahwa hukumnya tidak sah. Akan tetapi dikecualikan dari hal tersebut wanita ahli kitab oleh Firmannya dalam surah al-Ma’idah ayat 5. Imam Jalaluddin as-Suyuti. Argumen mereka adalah Imam Jalaluddin al-Mahalli. Kemudian jika makna yang dimaksud bersifat umum. Apabila perkawinan antaragama terjadi antara perempuan yang beragama Islam dan laki-laki yang tidak beragama Islam. hlm. Kairo: Dar al-Fikr. Dar Ihya’ al-Kutub al-Arabiyah. juz 2. Argumen yang dikemukakan adalah firman Allah SWT dalam al-Baqarah (2) ayat 221.

Lafal min qablikum (umat sebelum kamu) dalam surah al-Ma'idah (5) ayat 5 menunjuk kepada kedua kelompok Yahudi dan Nasrani bangsa Israel. namun hukumnya makruh. Karena Nabi Musa AS dan Nabi Isa AS hanya diutus untuk orang-orang bangsa Israel. penjelasan yang terdapat dalam Al-Qur'an dalam surah alMa'idah ayat 5 dan kedua. yang termasuk ahlul kitab adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani keturunan orang-orang Israel. Sekalipun jumhur ulama fikih sepakat tentang kebolehan seorang lakilaki beragama Islam mengawini wanita ahlul kitab. Pendapat al-Syafi'i di atas dapat dijumpai dalam kitabnya yang pada intinya menyatakan: 78 . Dengan demikian persoalan yang paling menonjol sehingga menimbulkan perbedaan pendapat dalam kasus perkawinan antar agama adalah masalah makna istilah “ahli Kitab” dan “Musyrik:” Menurut Al-Syafi'i. tidak termasuk bangsabangsa lain sekalipun penganut agama Yahudi dan atau Nasrani. Di antara alasan yang diajukan adalah (3). ahli fikih di Mesir. yang menjelaskan bahwa sekalipun boleh mengawini wanita ahlul kitab. pendapat Sayid Sabiq. namun mereka berbeda pendapat dalam menentukan wanita ahlul kitab itu sendiri. dan (4).pertama.

dan wanita musyrik itu kadang-kadang halal (boleh menikah) bagi lelaki Islam dengan sesuatu hal dan wanita itu wanita kitabi. Perkataan min qablikum tersebut menjadi qayid bagi ahlul kitab yang dimaksud. tidaklah dianggap ahlul kitab. hlm. Jalan pikiran al-Syafi’i ini Al-Imam Abi Abdullah Muhammad bin Idris al-Syafi’i. karena terdapat perkataan min qablikum (dari sebelum kamu) dalam ayat 5 surah al-Maidah.‫ﻣﻦ ﺩﺍﻥ ﺩﻳﻦ ﺍﻟﻴﻬﻮﺩ ﻭﺍﻟﻨﺼﺎﺭﻱ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﺎﺑﺌﲔ ﻭﺍﻟﺴﺎﻣﺮﺓ ﺃﻛﻠﺖ ﺫﺑﻴﺤﺘﻪ ﻭﺣﻞ‬ 121 ‫ﻧﺴﺎﺅﻩ‬ Artinya: siapa yang beragama dengan agama Yahudi dan Nasrani dari orang Sabiin dan Samiri.122 ‫ﺍﳌﺴﻠﻤﺔ ﻻ ﲢﻞ ﳌﺸﺮﻙ ﲝﺎﻝ ﻭﺍﳌﺮﺃﺓ ﺍﳌﺸﺮﻛﺔ ﻗﺪ ﲢﻞ ﻟﻠﻤﺴﻠﻢ ﲝﺎﻝ ﻭﻫﻰ ﺃﻥ‬  123 ‫ﺗﻜﻮﻥ ﻛﺘﺎﺑﻴﺔ‬ Artinya: wanita muslimah tidak halal (menikah) dengan laki-laki musyrik dengan keadaan apa pun. maka boleh dimakan sembelihannya dan halal dikawini wanitanya. Al-Umm. 123 Al-Imam Abi Abdullah Muhammad bin Idris al-Syafi’i. Al-Umm. tth. 287 121 79 . juz 4. Beirut Libanon: Dar al-Kutub al-Ilmiah. juz 4. tth. Tegasnya dalam pandangan al-Syafi’i bahwa orang yang baru menganut agama Yahudi atau Nasrani sesudah al-Qur’an diturunkan. Beirut Libanon: Dar al-Kutub al-Ilmiah. Sedangkan Samiri adalah nama suatu suku dari bangsa Israil. hlm. 287 dan 289 122 Sabi'in adalah nama golongan yang mengikuti nabi-nabi zaman dahulu. Dalam perspektif Imam al-Syafi’i bahwa perempuan ahlul kitab yang halal dinikahi oleh orang muslim ialah perempuan yang menganut agama Nasrani atau Yahudi sebagai agama keturunan dari orang–orang (nenek moyang mereka) yang menganut agama tersebut semenjak masa sebelum Nabi Muhammad dibangkitkan menjadi Rasul (yakni sebelum al-Qur’an diturunkan.

Kata al-Zamakhsyari. ﻭﻗﹶﺎﻝ ﺍﹾﻟﻤﺴِﻴﺢ ﻳ‬   ‫ ﹸ‬  ‫ﺑ‬  ‫ ﺪ ﹼ‬ ‫ ﹶ‬   ‫ ﹶ‬ (72 :‫ﺎﺭ. Dengan kata lain. sesuai dengan penegasan ayat 72 dari al-Maidah yang berbunyi: ‫ﻦ‬‫ﻧﻪ ﻣ‬‫ﺑﻜﻢ ﹺﺇ‬‫ﻲ ﻭﺭ‬‫ﻭﹾﺍ ﺍﻟﻠﻪ ﺭ‬ ‫ﺒ‬‫ﻴﻞ ﺍﻋ‬‫ﺍﺋ‬‫ﺑﻨﹺﻲ ﹺﺇﺳﺮ‬ ‫ﺎ‬‫. menikahi wanita ahlul kitab boleh karena ayat ke-5 dari al-Maidah itu secara qath'i (tegas) menyatakan kehalalannya. konsekuensinya maka tidak halal bagi muslim menikahi perempuanperempuan mereka. Dalam kaitan ini. maka orang-orang Indonesia yang menganut agama Yahudi atau Nasrani sesudah turunnya al-Qur’an maka mereka tidaklah termasuk di dalam ahlul kitab. penulis di satu segi kurang sependapat dengan pendapat al-Syafi'i yang mengkategorikan ahlul kitab seperti tersebut di atas.. Alasan penulis setuju karena surah al-Maidah ayat 5 merupakan petunjuk yang qath’i (tegas) tentang bolehnya menikahi wanita ahlul kitab.. tetapi karena menghormati keturunannya. ayat ِ ْ ُ َ ‫ و َ َ ِ ُ اْ ا ْ ُ ْ ِآ ت‬dinasikhkan ِ َ َ oleh ayat 5 dari al-Maidah itu.) ﺍﳌﺎﺋﺪﺓ‬‫ﻨﺔ ﻭﻣﺄﻭﺍﻩ ﺍﻟ‬‫ﻳﺸﺮﻙ ﺑﹺﺎﻟﹼﻪ ﻓﻘﺪ ﺣﺮﻡ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﹶﻴﻪ ﺍﹾﻟﺠ‬  ‫ ﻨ‬  ‫ﹾ‬  ‫ ﹶ‬   ‫ ﹼ‬    ‫ ﹶ ﹶ‬ ‫ ﻠ‬ ‫ ﹺ‬ 80 .. penulis setuju dengan pendapat al-Syafi’i yang membolehkan pria muslim menikah dengan perempuan ahlul kitab.mengakui ahlul kitab itu bukan karena agamanya. Alasan penulis kurang setuju karena bila diaplikasikan di Indonesia.. Ini pendapat orang yang menganggap ahli kitab termasuk musyrik. Di segi lain.

. bahwa syirik dalam al-Maidah 72 ini berkonotasi umum atau pengertian syirik secara lughawi bukan pengertian secara khusus yang penyembah berhala seperti tampak dalam al-Bayyinah: 1. sedangkan al-Maidah: 5. menjelaskan hukum perkawinan khusus mengenai ahli kitab. Sesungguhnya siapa saja menyekutukan Allah.S. antara lain menunjukkan bahwa mathuf berlainan dari ma'thuf'alaih.. dan tempatnya adalah neraka. Pemilahan pengertian ini berawal dari redaksi ayat Al-Qur'an sendiri yang menyebut kaum musyrik tersendiri di samping kaum ahli kitab. Isa al-Masih berkata: "Hai Bani Israil sembahlah Allah [yaitu] Tuhanku dan Tuhanmu.. al-Bayyinah: 1). yang menurut kaidah bahasa Arab. ahli kitab ialah kaum Yahudi dan Nasrani. Nasrani) dan orang-orang yang musyrik tidak mau meninggalkan agama mereka sehingga datang keterangan kepada mereka (Q.Artinya: . yang dihubungkan dengan huruf 'athf (waw). maka Allah telah mengharamkannya masuk surga.S. alMaidah: 72) Tapi bagi orang yang menganggap bahwa ahli kitab tidak termasuk musyrik agaknya mereka akan berkata. al-Hajj: 17 ataupun al-Maidah 82. sementara musyrik ialah para penyembah berhala.) (Q. Menurut jumhur ulama.. sebagaimana tampak di dalam ayat-ayat berikut: ‫ﻰ‬‫ﻨﻔﻜﲔ ﺣ‬ ‫ﺍﹾﻟﻤﺸﺮﻛﲔ‬‫ﺎﺏ ﻭ‬‫ﻭﺍ ﻣﻦ ﹶﺃﻫﻞ ﺍﹾﻟﻜﺘ‬ ‫ﻳﻦ ﻛﻔ‬‫ﻳﻜﻦ ﺍﱠﻟﺬ‬ ‫ﹶﻟﻢ‬ ‫ﺘ‬  ‫ ﻣ ﹶ ﱢ‬  ‫ ﹺ‬  ‫ ﹺ‬ ‫ ﹺ‬   ‫ ﹶ ﹶﺮ‬ ‫ ﹸﹺ‬ (1 :‫ﺔ )ﺍﻟﺒﻴﻨﺔ‬‫ﻴﻨ‬‫ﺒ‬‫ﻴﻬﻢ ﺍﹾﻟ‬‫ﺗ‬‫ﺗﺄ‬  ‫ﹾ‬ Artinya: Dan orang-orang kafir di antara ahli kitab (Yahudi. Adapun al-Baqarah: 221 menurut mereka membicarakan kaum musyrik selain ahli kitab. 81 .

Majusi. begitu pun orang-orang yang mempersekutukan Allah sungguh Allah bakal memberikan keputusan yang tegas di antara mereka pada hari kiamat.S.. dan pada urutan ketiga lebih banyak lagi disebutkan. Di dalam ayat-ayat yang dinukilkan di atas tampak dengan jelas berbagai golongan dan aliran agama yang dianut umat manusia. al-Maidah: 82) ‫ﻮﺱ‬ ‫ﺍﹾﻟﻤ‬‫ﻯ ﻭ‬‫ﺎﺭ‬‫ﻨﺼ‬‫ﺍﻟ‬‫ﺌﲔ ﻭ‬‫ﺎﹺﺑ‬ ‫ﺍﻟ‬‫ﻭﺍ ﻭ‬ ‫ﺎ‬‫ﻳﻦ ﻫ‬‫ﺍﱠﻟﺬ‬‫ﻮﺍ ﻭ‬‫ﻳﻦ ﺁﻣ‬‫ﹺﺇﻥ ﺍﱠﻟﺬ‬  ‫ﺠ‬  ‫ﺼ‬ ‫ ﺩ‬ ‫ﻨ‬  ‫ﱠ‬ ‫ﺎﻣﺔ ﹺﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﹶﻰ ﻛﻞ‬‫ﻳﻮﻡ ﺍﹾﻟﻘﻴ‬ ‫ﻨﻬﻢ‬‫ﺑﻴ‬ ‫ﻳﻔﺼﻞ‬ ‫ﻳﻦ ﹶﺃﺷﺮ ﹸﻮﺍ ﹺﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ‬‫ﺍﱠﻟﺬ‬‫ﻭ‬ ‫ ﹸ ﱢ‬  ‫ ﱠ ﱠ‬       ‫ ﹸ‬ ‫ ﹾ‬ ‫ﻛ ﱠ ﱠ‬   (17 :‫ﺷﻲﺀ ﺷﻬﹺﻴﺪ )ﺍﳊﺞ‬   ٍ  Artinya: Sesungguhnya orang-orang beriman dan orang-orang Yahudi. dan terakhir kaum musyrik. musyrik. Akhir ayat ketiga Tuhan tutup dengan suatu pernyataan tegas bahwa Dia akan memberikan keputusan di antara mereka kelak pada hari kiamat. al-Hajj: 17). yaitu orang-orang yang berkata. orang-orang Nasrani dan Majusi. orang-orang Shabi'in (penyembah bintang). Nasrani.‫ﻳﻦ ﹶﺃﺷﺮ ﹸﻮﹾﺍ‬‫ﺍﱠﻟﺬ‬‫ﻮﺩ ﻭ‬ ‫ﻴ‬‫ﻮﹾﺍ ﺍﹾﻟ‬‫ﻳﻦ ﺁﻣ‬‫ﺍﻭﺓ ﱢﻟﻠﺬ‬‫ﺎﺱ ﻋﺪ‬‫ﺘﺠﺪﻥ ﹶﺃﺷﺪ ﺍﻟ‬‫ﹶﻟ‬ ‫ﻛ‬    ‫ﻨ ﻬ‬  ‫ ﹰ ﱠ‬  ‫ ﻨ ﹺ‬  ‫ ﱠ‬ ‫ﹺ‬ ‫ﺎ‬‫ﻳﻦ ﻗﹶﺎﹸﻟﻮﹾﺍ ﹺﺇ‬‫ﻮﹾﺍ ﺍﱠﻟﺬ‬‫ﻳﻦ ﺁﻣ‬‫ﺑﻬﻢ ﻣﻮﺩﺓ ﱢﻟﻠﺬ‬‫ﺘﺠﺪﻥ ﹶﺃﻗﺮ‬‫ﻭﹶﻟ‬ ‫ ﻧ‬  ‫ﻨ‬  ‫ ﹰ ﱠ‬      ‫ ﱠ ﹾ‬ ‫ ﹺ‬ (82 :‫ﻯ. tentu pernyataan Tuhan yang terakhir itu tidak diperlukan. mulai dari kaum Yahudi terus Shabi'in. Dan kamu menemukan pula orang-orang yang kasih kepada orang-orang yang beriman.. ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik (mempersekutukan Allah). "Kami adalah orang-orang Nasrani .S.") (Q.. Adalah Allah saksi pada tiap-tiap sesuatu (Q. Nasrani. Seandainya mereka berada pada posisi yang sama.. Pada urutan pertama disebutkan kaum Yahudi. 82 .)ﺍﳌﺎﺋﺪﺓ‬‫ﺎﺭ‬‫ﻧﺼ‬ Artinya: Sesungguhnya kamu [Muhammad] niscaya menemukan orang-orang yang sangat keras memusuhi orang-orang beriman.

Tapi Sayyid Muhammad Rasyid Ridha. Sekiranya mereka mempunyai status yang sama di sisi Allah. Dan tidak ada suatu umat pun melainkan telah ada pada mereka seorang pemberi peringatan. cet... 186-187. ﹺﺇ‬  ‫ﹴ‬ ‫ ﹸ ﱢ ﹶ‬  ‫ ﻣ‬ Sayyid Muhammad Rasyid Ridha.. Sekarang muncul persoalan berikutnya: jika mereka tidak musyrik apakah mereka mempunyai nabi dan kitab suci? Memang tidak ada keterangan yang tegas tentang itu. 124 83 . Dengan demikian maka kaum Shabiin dan Majusi. juz VI.Jadi berdasarkan pola susunan redaksi ayat dan ditambah pula dengan pernyataan Tuhan yang tercantum pada akhir ayat ketiga itu. 1380 H.. misalnya. cenderung berpendapat bahwa mereka dulunya mempunyai kitab dan nabi. Ke-4. Namun karena masanya telah terlalu lama dan jarak mereka dari nabi tersebut sangat jauh. tentu pernyataan tersebut tak akan diberikan.. sebagaimana tak perlu menyebutnya satu persatu melainkan cukup dengan sebutan kafir atau musyrik saja. " (Fathir: 24) (7 :‫ﺎﺩ )ﺍﻟﺮﻋﺪ‬‫ﻟﻜﻞ ﻗﻮﻡ ﻫ‬‫ﻨﺬﺭ ﻭ‬ ‫ﺎ ﺃﹶﻧﺖ‬‫ﻧﻤ‬‫.. Tafsir al-Manar. hlm.124 Pendapat ini didasarkannya pada firman Allah berikut: (24 :‫ﻳﺮ)ﻓﺎﻃﺮ‬‫ﻧﺬ‬ ‫ﺎ‬‫ﻴﻬ‬‫. maka kitab aslinya tidak dapat diketahui lagi. Kairo: Maktabah al-Qahirah. tidak dapat digolongkan ke dalam kelompok orang-orang yang musyrik (‫ ) َا ِ َ أ ْ َآ ا‬yang disebut Allah bersama dengan dua kelompok itu pada ُ َ ‫و‬ ayat ketiga tersebut. maka dapat disimpulkan bahwa masing-masing golongan itu mempunyai perbedaan meskipun sama-sama kufur.ﻭﺇﹺﻥ ﻣﻦ ﹸﺃﻣﺔ ﹺﺇﱠﺎ ﺧﻠﹶﺎ ﻓ‬  ‫ ﻟ‬    Artinya: ".

.. kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras." (al-Hadid: 16) :‫ﻴﻚ.. maka pengertian syirik menjadi sangat sempit. sebagaimana telah dijelaskan. ada yang telah Kami ceritakan kepadamu dan ada pula yang tidak pernah Kami ceritakan kepadamu . maka timbul pertanyaan: apakah seorang muslim boleh menikahi wanita non muslim selain ahli kitab yang tidak disebutkan oleh Al-Qur'an dan sebaliknya? Timbul berbagai pendapat dalam menetapkan kasus tersebut. Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepada mereka. Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk. bahwa selain mukmin adalah musyrik. dan kebanyakan di antara mereka. adalah orang-orang yang fasik....." (al-Ra'd: 7) ‫ﻴﻬﻢ ﺍﹾﻟﺄﻣﺪ‬‫ﺒﻞ ﻓﻄﹶﺎﻝ ﻋﻠ‬‫ﻦ ﻗ‬‫ﺎﺏ ﻣ‬‫ﻮﺍ ﺍﹾﻟﻜﺘ‬‫ﻳﻦ ﹸﻭ‬‫ﻮﺍ ﻛﹶﺎﱠﻟﺬ‬‫ﻳ ﹸﻮ‬ ‫ﻻ‬‫. Namun bila dikaitkan dengan kajian skripsi ini (perkawinan antar agama).) ﻏﺎﻓﺮ‬‫ﺎ ﻋﻠ‬‫ﻦ ﻗﺼﺼﻨ‬ ‫ﻢ‬ ‫ﻨ‬‫ﺒﻠﻚ ﻣ‬‫ﻦ ﻗ‬ ‫ﺎ ﺭﺳﻼ‬‫ﻭﹶﻟﻘﺪ ﹶﺃﺭﺳﻠﻨ‬  ‫ﹶ‬   ‫ ﻬ ﻣ ﹶ‬   ‫ ﹰ ﻣ ﹶ‬  ‫ ﹾ‬   ‫ ﹶ‬ (78 Artinya: "Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu.. tidak seperti pemahaman Ibn 'Umar. mereka yang ingkar kepada Nabi Muhammad atau tidak? Ataukah ayat itu juga menunjuk kepada pemeluk-pemeluk agama non Islam secara umum? 84 .. Hal itu membuktikan bahwa para ulama tidak mempunyai kata sepakat (ijma') atas pengertian lafal (َ ‫ ) ا ْ ُ ِ ِآ‬dan ‫ َا ِ َ ُو ُ ا ا ْ ِ َ ب‬Apakah mencakup semua ِ َ ‫أ‬ . di antara mereka..Artinya: "." (Ghafir: 78) Andaikata pemahaman Ridha itu benar. ﻭ‬   ‫ ﹶ‬ ‫ﹶ ﹺ‬ ‫ ﹶ ﹸ ﹶ ﹶ‬  ‫ ﺃ ﺗ‬ ‫ﻜﻧ‬ (16 :‫ﻨﻬﻢ ﻓﹶﺎﺳ ﹸﻮﻥ )ﺍﳊﺪﻳﺪ‬‫ﺜﲑ ﻣ‬‫ﺑﻬﻢ ﻭﻛ‬‫ﻓﻘﺴﺖ ﻗﹸﻮ‬ ‫ﻘ ﹶ‬     ‫ ﹶ‬   ‫ ﹸﻠ‬  ‫ﹶ ﹶ‬ Artinya: ".

Tidak dijumpai penjelasan yang tegas dalam hal ini. Kondisi inilah yang membuat munculnya berbagai pendapat di kalangan ulama. Dengan demikian tidak dapat disalahkan bila ada di antara ulama yang mengatakan bahwa lafal itu ditujukan kepada kaum musyrik dari bangsa Arab yang menyembah berhala; kemudian dikiaskan kepadanya para penganut agama (aliran) lain yang juga tak mempunyai nabi dan kitab suci atau yang semisalnya, sebagaimana dapat dikiaskan kepada kaum Yahudi dan Nasrani, para pemeluk agama-agama lain yang tidak diketahui lagi asal-usul kitab suci mereka seperti para penganut Majusi, dan lain-lain. Qatadah, seorang tokoh mufasir di kalangan tabi'in sebagai dikutip Ridha, memang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan musyrik di dalam ayat itu ialah bangsa Arab (penyembah berhala) yang ada pada waktu Al-Qur'an diturunkan.125 Oleh karena itu, tulis Ridha lagi, ayat:

َ ‫و َ َ ِ ُ اْ ا ْ ُ ْ ِآ ت‬ ِ َ َ

ِ ْ ُ tidak tegas melarang menikahi wanita-wanita musyrik selain bangsa Arab
seperti Cina (penganut Kong Hu Cu, Budha, dan lain-lain).126 Asbab (latar belakang) turun ayat 221 dari al-Baqarah memang berkenaan dengan wanita musyrik bukan ahli kitab, yang hendak kawin dengan seorang pria muslim, Abu Martsad al-Ghanawi; lalu turunlah ayat tersebut melarangnya. Jika "khusus sebab" itu saja yang dijadikan dasar dalam menetapkan suatu hukum, maka memang masuk akal bahwa yang diharamkan Tuhan mengawininya adalah wanita-wanita musyrik di kalangan bangsa Arab saja

125 126

Ibid., hlm. 190 Ibid.,

85

ketika Al-Qur'an diturunkan. Itu berarti, sekarang tidak haram lagi menikahi wanita-wanita musyrik. Agaknya pemahaman serupa ini terlalu longgar. Apabila umat Islam menganut sikap ini, maka budaya permissive (serba boleh) yang diterapkan di Barat akan melanda kehidupan Timur (Islam) yang tenang dan damai. Akibatnya akan menimbulkan kerancuan tatanan sosial dan kerawanan di tengah masyarakat. Dampak semua ini dapat menghancurkan masa depan umat Islam itu sendiri. Untuk mengantisipasi pemahaman yang demikian, maka dalam menafsirkan suatu ayat berbagai disiplin ilmu perlu diperhatikan. Di samping menguasai bahasa Arab, kaidah-kaidah, dan balaghah serta aspek-aspek yang berhubungan dengannya, seorang mufasir diharuskan pula menguasai ilmu ushul fikih dan kaidah-kaidah yang berkaitan dengannya, Dalam kajian di sini, misalnya, kaidah:

ّ ‫صا‬

‫ما‬

‫ة‬

‫ا‬

Artinya: Yang menjadi ukuran ialah umum lafal, bukan khusus sebab. Kalau kaidah ini diterapkan terhadap ayat 221 maka konotasi kata syirik menjadi amat luas, sehingga masuklah ke dalamnya penganut agama (aliran) Majusi, penyembah berhala, penganut animisme, Budhisme, Hinduisme, Shintoisme, dan sebagainya. Apakah para pemeluk agama atau aliran itu dianggap musyrik sehingga terlarang bagi pria muslim, mengikat perkawinan dengan wanita-wanita mereka? Sebagian ulama seperti Ridha, sebagaimana telah disebut, memang menganggap mereka masuk golongan ahli kitab. Namun generasi salaf dan pada umumnya ulama menyatakan mereka bukan ahli kitab karena tak ada

86

ketegasan dari Al-Qur'an tentang hal itu; sementara kaum Yahudi dan Nasrani dengan tegas dinyatakan Allah sebagai ahli kitab seperti dijumpai di dalam berbagai ayat Al-Qur'an mereka disebut dengan panggilan "ahli kitab". Berdasarkan pendapat ulama salaf dan jumhur itu, maka Ibrahim Husen menyatakan bahwa pemeluk agama non Islam seperti Hindu, Budha, Kong Hu Cu, Shinto, dan Aliran Kepercayaan di Indonesia, sama statusnya dengan Majusi. "Dus menikahi wanita-wanita mereka [bagi pria muslim] adalah hal terlarang". Untuk mendukung pendapatnya itu, Ibrahim Husen mengutip isi surat Rasul Allah kepada orang-orang Majusi. Antara lain berbunyi: "Jika kamu menolak, kamu diwajibkan membayar fidyah dan tidaklah halal bagi kami sembelihanmu, dan menikahi wanita-wanitamu." Di dalam surat ini mereka tidak disebut 'ahli kitab'; padahal suratnya kepada Kisra Rumawi, memanggilnya dengan sebutan 'ahli kitab'. Di samping berbagai pendapat itu, ada pendapat lain dari ulama Syafi'iyah yang menegaskan bahwa wanita-wanita ahli kitab yang halal dinikahi itu ialah keturunan dari nenek moyang mereka yang memeluk agama tersebut sebelum Muhammad saw ada/diutus. Tegasnya mereka yang memeluknya setelah itu tidak halal lagi karena bukan ahli kitab sebagaimana yang dimaksud oleh ayat dari al-Maidah itu. Apabila pendapat ini diikuti, maka mereka yang masuk agama Kristen atau Yahudi setelah Nabi Muhammad saw diutus tidak halal mengawininya. Ibrahim Husen dengan tegas menganut pendapat ini karena konotasi kata

‫ ا ْ ُ ْ َ َ ت‬di dalam ayat ke-5 dari al-Maidah itu, menurutnya dibatasi ruang ُ

87

sebagaimana telah dijelaskan di muka. baik laki-laki. Jadi yang dimaksud dengan wanita kitabiyah. Ada pendapat yang melarangnya sama sekali seperti yang dianut oleh Ibn 'Umar. ini difatwakan oleh Mahmud Syaltut dalam kitab al-Fatawa. ialah yang beragama dengan agama nenek moyangnya sejak sebelum Nabi saw diutus. Jadi para pemeluk agama non Islam yang dianggap tidak masuk kategori ahli kitab maka haram nikah dengan wanita-wanita mereka karena dianggap musyrik. Terjadi perbedaan pendapat sebagaimana dijelaskan itu. Sedangkan menikahi wanita ahli kitab dibolehkan-Nya. Sebaliknya mengharamkan nikah dengan wanita yang menjadi ahli kitab setelah kebangkitan tersebut. Mereka membolehkan menikahi wanita khitabiyah yang merupakan anak cucu dari pemeluk agama ahli kitab sebelum Nabi Muhammad saw diutus. ada yang membolehkannya dengan syarat: sang suami tidak dikhawatirkan akan terpengaruh oleh istrinya yang bukan Islam itu kelak.lingkupnya oleh lafal ْ ُ ِْ َ ِ yang terletak sesudahnya. maupun perempuan. Selain itu ada pendapat keempat yang dimajukan oleh ulama Syafi'iyah. tegasnya. Semua uraian di atas khusus menyangkut perkawinan lelaki muslim dengan wanita non Islam. 88 . Perkawinan yang dilarang Allah ialah dengan orang musyrik. pada dasarnya bermula dari berbedanya prinsip yang mereka anut dalam menetapkan batasan 'musyrik' dan 'ahli kitab'. tidak sebaliknya. jika ahli kitab dikategorikan sebagai musyrik. sebaliknya. maka haram pula menikahi wanita-wanita mereka.

maka dalam kasus wanita muslim dinikahi oleh pria non Islam. Dengan demikian. mereka boleh saling memberi dan menerima. Tapi ternyata Allah tidak memberikan penegasan. tidak demikian halnya dengan kasus perkawinan karena jika memang dibolehkan menikahkan wanita-wanita Islam dengan pria non Islam. dalam masalah makanan. Oleh karena itu dalam kasus serupa ini dapat diberlakukan kaidah ushul fikih yang berbunyi: ‫ا ن ه اْ ن‬ ‫ا ّ ت‬ Artinya: Diam dari memberi keterangan adalah suatu keterangan. maka yang dinasikhkan itu ialah kata "musyrikah'" tidak "musyrik" karena yang disebut terakhir itu tidak 89 . maka jika diterima bahwa ayat 221 dari al-Baqarah itu dinasikhkan oleh ayat 5 dari al-Maidah. serta masing-masing boleh memakan makanan pihak lain. Sebaliknya makanan tidak memberikan dampak yang seluas itu. Allah hanya menegaskan: "makananmu halal bagi mereka. Di dalam ayat 5 dari al-Maidah di atas. kata mereka. kata al-Shabuni. Dampak perkawinan akan merambat tidak hanya pada generasi sekarang. niscaya Allah tidak akan mendiamkannya begitu saja sebab persoalan 'kawin' jauh lebih urgen ketimbang masalah 'makan'. sehingga tidak menimbulkan kerancuan dalam pemahaman. Perbedaan redaksi ini. dapat dijadikan indikator bahwa hukum kedua kasus ini tidak sama. melainkan akan berlanjut pada generasi selanjutnya.Jika mayoritas ulama membolehkan pria muslim menikahi wanita ahli kitab. artinya. Permasalahan makanan yang tidak begitu besar sengaja Tuhan sebutkan secara tegas. tentu seyogyanya. masalah perkawinan lebih pantas diterangkan secara tegas dan jelas. dan tidak dikatakan-Nya wanita-wanitamu halal bagi mereka. mereka sepakat mengharamkannya.

127 Kekhawatiran al-Maraghi itu memang cukup beralasan... Mesir: Mustafa Al-Babi Al-Halabi. tulisnya lagi.. hlm. maka dapat disimpulkan bahwa wanita-wanita Islam selamanya tidak dikawinkan dengan pria bukan Islam sesuai dengan penegasan ayat dari al-Baqarah yang telah dikutip di atas. 1394 H/1974 M.. keyakinan istri dapat rusak oleh wibawa suaminya. Bila hal ini terjadi jelas keretakan rumah tangga tak dapat dihindarkan. terutama bila dikaitkan dengan firman Allah berikut: ‫ﻨﺔ‬‫ﻳﺪﻋﻮ ﹺﺇﻟﹶﻰ ﺍﹾﻟﺠ‬ ‫ﺍﻟﻠﻪ‬‫ﺎﺭ ﻭ‬‫ﻮﻥ ﹺﺇﻟﹶﻰ ﺍﻟ‬ ‫ﻳﺪ‬ ‫ﺌﻚ‬‫. Berdasarkan kenyataan itu. bila masing-masing pihak (suami istri) ingin saling mempengaruhi dan sama-sama berusaha menanamkan keyakinan kepada anak-anaknya. sedangkan Allah mengajak ke surga dan keampunan. suasana "surgawi" segera Ahmad Mustafa Al-Maragi. Al-Maraghi dalam mengomentari ayat ini berkata. juz 2. Oleh karena itu tak ada artinya ia dikawinkan dengan non muslim. bahwa menikahkan wanita Islam dengan laki-laki non muslim adalah: haram. Kekalutan di rumah tangga akan semakin mencekam. berdasarkan Sunnah (hadis) Nabi dan Ijma' umat.) ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ‬‫ﻭ‬     Artinya: Mereka itu (orang kafir) mengajak ke neraka. dan tidak mustahil pula seorang suami yang sangat fanatik akan selalu berusaha agar istrinya menukar iman dengan keyakinan suami. Rahasia pelarangan ini. Tafsir al-Maragi.tercantum di dalam al-Maidah: 5 sebagaimana dinukilkan di atas..ﹸﺃﻭﻟﹶـ‬     ‫ﻨ ﹺ ﹼ‬ ‫ﻋ ﹶ‬   (221 :‫ﺍﹾﻟﻤﻐﻔﺮﺓ. ialah karena istri tak punya wewenang seperti yang dimiliki oleh suami. bahkan sebaliknya. 153 127 90 .

karena tak tertanam secara mendalam di hatinya sejak kecil. termasuk sebagai ahlul kitab. maka orang tersebut adalah tergolong ahlul kitab dan wanitanya boleh dikawini. dan pada gilirannya mengantarkan rumah tangga itu kepada kehancuran. cakupan ahlul kitab diperluas lagi oleh ulama fikih kontemporer sehingga menjangkau agama Budha dan Hindu. Kembali pada persoalan ahli kitab. di mana pun. ahli tafsir kontemporer dari Indonesia. dan sebagainya. dan sebagainya. Berdasarkan kriteria ini berarti apabila ada orang yang percaya kepada Nabi Ibrahim AS dengan suhufnya. Cina. penyembah berhala di India.berganti dengan gejolak api pertengkaran dan permusuhan. dan 91 . anak-anak yang lahir dari perkawinan itu. lebih cenderung berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ahlul kitab adalah semua penganut agama Yahudi dan Nasrani. Keyakinan semacam inilah yang menjadi lahan yang subur bagi paham syirik. kapanpun. seperti orang Majusi. akan digerogoti terus-menerus oleh kebimbangan. anti Tuhan. Sebagian kecil ulama salaf berpendapat bahwa setiap umat yang memiliki kitab yang dapat diduga sebagai suci (samawi). Bahkan menurut Abu al-A'la al-Maududi. Muhammad Quraish Shihab. atau kepada Nabi Daud AS dengan Kitab Zabur-nya. Tidak hanya itu. Imam Abu Hanifah dan mayoritas ulama fikih berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ahlul kitab adalah siapa saja yang mempercayai seorang nabi atau kitab yang pernah diturunkan Allah SWT. kerancuan pemikiran mengenai keyakinan agama.

surah alMa'idah (5) ayat 5. dan tidak diizinkan laki-laki beragama Islam mengawini perempuan yang bukan beragama Islam. surah at-Tahrim (66) ayat 6. al-An'am: 156) Majlis Ulama Indonesia (MU1) pada tahun 1980 mengeluarkan fatwa bahwa seorang wanita beragama Islam tidak boleh (haram) dinikahkan dengan pria yang bukan beragama Islam. sebagaimana dikutip di muka. 92 . Adapun pertimbangan fatwa melarang laki-laki beragama Islam mengawini perempuan ahlul kitab yang oleh Al-Qur'an secara tegas dibolehkan-adalah karena dampak negatifnya lebih besar dari dampak positifnya. Haram mengikat perkawinan antara muslim dengan musyrik baik laki-laki maupun perempuan. Setelah mengkaji beberapa ayat Al-Qur'an.S. 2.keturunan siapa pun mereka. (Q. Pendapatnya ini didasarkan kepada firman Allah SWT dalam surah al-An 'am (6) ayat 156: ‫ﻦ‬‫ﺎ ﻋ‬‫ﺎ ﻭﺇﹺﻥ ﻛ‬‫ﺒﻠﻨ‬‫ﻦ ﻗ‬‫ﻴﻦ ﻣ‬‫ﺘ‬‫ﺋﻔ‬‫ﺎﺏ ﻋﻠﹶﻰ ﻃﹶﺂ‬‫ﺎ ﹸﻧﺰﻝ ﺍﹾﻟﻜﺘ‬‫ﻧﻤ‬‫ﺗ ﹸﻮﹸﻮﹾﺍ ﹺﺇ‬ ‫ﺃﹶﻥ‬ ‫ ﹸﻨ‬  ‫ﹶ ﹺ ﹶ‬    ‫ﺃﹺﹶ‬ ‫ﻘﻟ‬ (156 :‫ﺎﻓﻠﲔ )ﺍﻷﻧﻌﺎﻡ‬‫ﺘﻬﻢ ﹶﻟﻐ‬‫ﺍﺳ‬‫ﺩﺭ‬    ‫ ﹺ‬  Artinya: (Kami turunkan Al-Qur'an itu) agar kamu (tidak) mengatakan: Bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan saja sebelum kami. Alasan yang diajukan antara lain firman Allah SWT dalam surah al-Baqarah (2) ayat 221. dan sesungguhnya kami tidak memperhatikan apa yang mereka baca. Pada umumnya ulama membolehkan pria muslim menikahi wanita ahli kitab. maka dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. tidak sebaliknya.

maka di sini penulis hendak memperjelasnya bahwa Ahli kitab adalah orang-orang yang berasal dari pemeluk agama Musa dan Isa As. bahkan mereka menolak dan terus dalam kesesatan mereka.. 93 . namun Allah menyelamatkan beliau dari maksud jahat mereka. Allah menyelamatkan Nabi Isa dengan cara yang penuh muatan mu'jizat dan sangat rapi serta rahasia agar mereka kesulitan menemukan keberadaan beliau hingga selamat dari niat buruk mereka. Pertama adalah orang-orang Yahudi dan terakhir orang-orang Nasrani. Namun kerahasiaan dan kesamaran itu justru membuka peluang bagi orang-orang Yahudi untuk membuat cerita palsu dan berita bohong serta mengaburkan kebenaran dalam rangka menyesatkan manusia dari jalan kebenaran. Setelah Nabi Musa di utus kepada kaum Yahudi datanglah Nabi Isa membawa Injil kepada mereka untuk meluruskan penyelewengan yang mereka perbuat dan menunjukkan kepada jalan yang lurus namun mereka tidak memenuhi panggilan itu. bahkan menampakkan permusuhan secara terang-terangan serta menghalang-halangi setiap orang yang teguh di atas jalan Allah. serta pembawa kitab samawi baik Taurat atau Injil. tidak mendengar ajakan dan nasehat serta peringatan beliau. Mereka menebarkan ancaman dan memasang perangkap untuk melunturkan istiqamah di atas kebenaran dan tidak segan-segan membuat kedustaan dan tuduhan palsu kepada Nabi Isa bahkan di antara mereka ada yang melakukan percobaan pembunuhan.Untuk menjelaskan silsilah Bani Israil dalam konteksnya dengan makna ahli kitab.

Allah Swt berfirman: ‫ﺎﺀ ﻓﻘﺪ ﺳﺄﹸﻮﹾﺍ‬‫ﺎﺑﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﻤ‬‫ﻴﻬﻢ ﻛﺘ‬‫ﻠ‬‫ﻨﺰﻝ ﻋ‬‫ﺗ‬ ‫ﺎﺏ ﺃﹶﻥ‬‫ﻳﺴﺄﹸﻟﻚ ﹶﺃﻫﻞ ﺍﹾﻟﻜﺘ‬ ‫ﹶﻟ‬  ‫ ِ ﹶ ﹶ‬   ‫ ﹰ‬  ‫ ﹶ ﹶ ﹺ‬ ‫ ﹺ‬ ‫ ﹸ‬  ‫ﹶ‬ ‫ﺎﻋﻘﺔ‬ ‫ﺗﻬﻢ ﺍﻟ‬‫ﺎ ﺍﻟﻠﻪ ﺟﻬﺮﺓ ﻓﺄﺧﺬ‬‫ﻟﻚ ﻓﻘﹶﺎﹸﻮﹾﺍ ﹶﺃﺭﻧ‬‫ﻦ ﺫ‬‫ﺒﺮ ﻣ‬‫ﻰ ﹶﺃﻛ‬‫ﻮﺳ‬ ‫ ﹶ ﹸ‬ ‫ ﺼ‬  ‫ ﹶ‬ ‫ ﹰ ﹶﹶ‬    ‫ ﹶ ﻟ ﹺ ﹼ‬ ‫ﹶ‬ ‫ﹾ‬ ‫ﻣ‬ ‫ﻦ‬‫ﺎ ﻋ‬‫ﻨﺎﺕ ﻓﻌﻔﻮﻧ‬‫ﻴ‬‫ﺒ‬‫ﺗﻬﻢ ﺍﹾﻟ‬‫ﺎﺀ‬‫ﺎ ﺟ‬‫ﺑﻌﺪ ﻣ‬ ‫ﻦ‬‫ﺗﺨ ﹸﻭﹾﺍ ﺍﹾﻟﻌﺠﻞ ﻣ‬‫ﹺﺑﻈﻠﻤﻬﻢ ﹸﺛﻢ ﺍ‬  ‫ﹶ‬‫ ﹶ‬   ‫ ﹶ‬  ‫ﺬ‬   ‫ ﹺ‬ ‫ﹸ ﹾ‬ ‫ﺎ ﻓﻮﻗﻬﻢ ﺍﻟ ﱡﻮﺭ‬‫ﻰ ﺳﻠﻄﹶﺎﻧﺎ ﻣﺒﹺﻴﻨﺎ }351{ ﻭﺭﻓﻌﻨ‬‫ﻮﺳ‬ ‫ﺎ‬‫ﻴﻨ‬‫ﺗ‬‫ﺁ‬‫ﻟﻚ ﻭ‬‫ﺫ‬  ‫ ﻄ‬  ‫ﹶ‬ ‫ ﹶ‬ ‫ﹶ‬  ‫ ﹰ‬ ‫ﹾ ﹰ‬ ‫ﻣ‬  ‫ﹶ‬ ‫ﻲ‬‫ﻭﹾﺍ ﻓ‬ ‫ﺗﻌ‬ ‫ﺎ ﹶﻟﻬﻢ ﻻ‬‫ﺪﹰﺍ ﻭﻗﻠﻨ‬ ‫ﺎﺏ ﺳ‬‫ﺎ ﹶﻟﻬﻢ ﺍﺩﺧﹸﻮﹾﺍ ﺍﹾﻟﺒ‬‫ﻴﺜﹶﺎﻗﻬﻢ ﻭﻗﻠﻨ‬‫ﹺﺑﻤ‬ ‫ﺪ‬ ‫ ﹶ‬  ‫ﹸ ﹾ‬ ‫ﺠ‬  ‫ﻠ‬    ‫ ﹸ ﹾ‬  ‫ ﹺ‬ ‫ﻴﺜﹶﺎﻗﻬﻢ‬ ‫ﻧﻘﻀﻬﹺﻢ‬ ‫ﺎ‬‫ﻴﻈﺎ }451{ ﻓﹺﺒﻤ‬‫ﻴﺜﹶﺎﻗﺎ ﻏﻠ‬ ‫ﻢ‬ ‫ﻨ‬‫ﺎ ﻣ‬‫ﺒﺖ ﻭﹶﺃﺧﺬﻧ‬‫ﺍﻟﺴ‬  ‫ ﻣ ﹶ‬ ‫ﹶ ﹾ‬ ‫ﻬ ﻣ ﹰ ﹶ ﹰ‬ ‫ﹾ‬    ‫ ﹸﹾﹺ‬ ‫ﺎ ﻏﻠﻒ‬‫ﺑﻨ‬‫ﻟﻬﻢ ﻗﹸﻮ‬‫ﻴﺮ ﺣﻖ ﻭﻗﻮ‬‫ﺎﺀ ﹺﺑﻐ‬‫ﻧﹺﺒﻴ‬‫ﺘﻠﻬﻢ ﺍﻷ‬‫ﺎﺕ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻗ‬‫ﺂﻳ‬‫ﻢ ﺑ‬‫ﻭﻛﻔﺮﻫ‬  ‫ ﹸﻠ ﹸ ﹾ‬ ‫ ﹺ‬ ‫ ﹶ‬   ‫ ﹺ‬ َ َ  ‫ ﹺ‬ ‫ ﹶ‬  ‫ ﹼ‬ {155} ‫ﻴﻼ‬‫ﻮﻥ ﹺﺇﻻ ﻗﻠ‬‫ﻳﺆﻣ‬ ‫ﺎ ﹺﺑﻜﻔﺮﻫﻢ ﻓﻼ‬‫ﻴﻬ‬‫ﺒﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠ‬‫ﺑﻞ ﻃ‬ ‫ﻨ ﹶ ﱠ ﹶ ﹰ‬  ‫ ﹶ ﹶ‬  ‫ﹸ ﹾ ﹺ‬ ‫ﹶ‬  ‫ ﹼ‬ ‫ﹾ ﹶ‬ ‫ﺎ‬‫ﻟﻬﻢ ﹺﺇ‬‫ﻴﻤﺎ }651{ ﻭﻗﻮ‬‫ﺎﻧﺎ ﻋﻈ‬‫ﺑﻬﺘ‬ ‫ﻳﻢ‬‫ﻟﻬﻢ ﻋﻠﹶﻰ ﻣﺮ‬‫ﻭﹺﺑﻜﻔﺮﻫﻢ ﻭﻗﻮ‬ ‫ ﻧ‬ ‫ ﹺ‬ ‫ﹶ‬ ‫ ﹰ‬ ‫ ﹰ‬      ‫ ﹺ‬ ‫ﹶ‬   ‫ ﹸ ﹾ ﹺ‬ ‫ﻮﻩ‬‫ﺎ ﺻﻠ‬‫ﺘﹸﻮﻩ ﻭﻣ‬‫ﺎ ﻗ‬‫ﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻣ‬ ‫ﻢ ﺭ‬‫ﺑﻦ ﻣﺮﻳ‬‫ﻰ ﺍ‬‫ﻴﺴ‬‫ﺎ ﺍﹾﻟﻤﺴِﻴﺢ ﻋ‬‫ﺘﻠﻨ‬‫ﻗ‬  ‫ ﹶ ﺒ‬   ‫ ﹶ ﻠ‬  ‫ﺳ ﹶ ﹼ‬       ‫ﹶﹾ‬ ‫ﻢ ﹺﺑﻪ‬ ‫ﺎ ﹶﻟ‬‫ﻨﻪ ﻣ‬‫ﻲ ﺷﻚ ﻣ‬‫ﻴﻪ ﹶﻟﻔ‬‫ﺘﻠ ﹸﻮﹾﺍ ﻓ‬‫ﻳﻦ ﺍﺧ‬‫ﺒﻪ ﹶﻟﻬﻢ ﻭﹺﺇﻥ ﺍﱠﻟﺬ‬‫ﻦ ﺷ‬‫ﻭﻟﹶـﻜ‬  ‫ ﻬ‬    ‫ ﹶﻔ‬  ‫ ﱠ‬      ‫ﻴﻪ‬‫ﻞ ﺭﻓﻌﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﹺﺇﹶﻟ‬‫ﻴﻨﺎ }751{ ﺑ‬‫ﻳﻘ‬ ‫ﺘﹸﻮﻩ‬‫ﺎ ﻗ‬‫ﺎﻉ ﺍﻟﻈﻦ ﻭﻣ‬‫ﺗﺒ‬‫ﻣﻦ ﻋﻠﻢ ﹺﺇﻻ ﺍ‬   ‫ ﹼ‬  ‫ﹶ‬ ‫ ﹰ‬ ‫ ﹶ ﻠ‬  ‫ ﱠ‬ ‫ﹾ ﹴ ﱠ‬   {158} ‫ﻴﻤﺎ‬‫ﻭﻛﹶﺎﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰﹺﻳﺰﹰﺍ ﺣﻜ‬ ‫ ﹰ‬  ‫ ﹶ ﹼ‬ Artinya: Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah Kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata : "Perlihatkanlah Allah 94 .Misteri itu tetap dibuat komoditi utama bagi para pendusta dan pemalsu untuk menebarkan kesesatan kepada orang-orang yang lemah jiwa dan akalnya serta dangkal ilmu pengetahuan dan hujjahnya hingga Allah mengutus Nabi Muhammad Saw dengan membawa wahyu al-Qur'an yang mampu menyingkap misteri dan membongkar kepalsuan dan kedustaan Yahudi terhadap Nabi Isa As.

kecuali mengikuti persangkaan belaka. Sesungguhnya orangorang yang berselisih paham tentang 'Isa. mereka tetap dianggap sebagai 95 . Maka mereka disambar petir karena kezalimannya. dan mereka menyembah anak sapi . Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS an-Nisa ayat 153 – 158). Apa pun yang terjadi.kepada kami dengan nyata". Allah telah mengangkat 'Isa kepada-Nya ." Bahkan. Dan telah Kami angkat ke atas mereka bukit Thursina untuk perjanjian mereka. lalu Kami ma'afkan dari yang demikian. disebabkan mereka melanggar perjanjian itu. sesudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata. Meskipun telah banyak orang yang mendapat petunjuk dan kembali kepada kebenaran namun ada sebagian kecil orang yang terus menjalani kesesatan dan kebimbangan aqidah hingga terjerumus ke dalam kesyirikan dan penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya. benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Dan telah Kami berikan kepada Musa keterangan yang nyata. mereka tidak yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah 'Isa. padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak menyalibnya. dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang kokoh. Rasul Allah ". Dan kami perintahkan kepada mereka : "Masuklah pintu gerbang itu sambil bersujud ". setelah Nabi Isa disalib kemudian dikubur lalu diangkat ke atas langit. dan Kami perintahkan kepada mereka : "Janganlah kamu melanggar peraturan mengenai hari Sabtu ". Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu. Maka . 'Isa putra Maryam. sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya. dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa yang benar dan mengatakan : "Hati kami tertutup. karena itu mereka tidak beriman kecuali sebahagian kecil dari mereka. Dan karena kekafiran mereka dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar . Menurut anggapan mereka. Tetapi . dan karena ucapan mereka : "Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih. tetapi orang yang diserupakan dengan 'Isa bagi mereka. mereka membuat kepalsuan dengan menganggap bahwa Nabi Isa disalib dan berstatus menjadi anak Allah.

hisab. dan karena ketaatannya kepada agama. Hadis yang dimaksud di antaranya: ‫ﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﹶﺎﻝ‬‫ﻨﹺﺒﻲ ﺻﱠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠ‬‫ﻪ ﻋﻦ ﺍﻟ‬‫ﻲ ﺍﻟﱠﻪ ﻋﻨ‬‫ﻳﺮﺓ ﺭﺿ‬‫ﻋﻦ ﹶﺃﺑﹺﻲ ﻫﺮ‬ ‫ ﹶ‬ ‫ ﱠ‬   ‫ ﹶ‬  ‫ﻠ ﱠ‬  ‫ ﹺ‬  ‫ﻠ‬  ‫ﹶ‬    ‫ﺎ ﻓﹶﺎﻇﻔﺮ ﹺﺑﺬﹶﺍﺕ‬‫ﻳﹺﻨﻬ‬‫ﻟﺪ‬‫ﺎ ﻭ‬‫ﻟﻬ‬‫ﺎ‬‫ﺎ ﻭﺟﻤ‬‫ﹺﺒﻬ‬‫ﻟﺤﺴ‬‫ﺎ ﻭ‬‫ﻟﻬ‬‫ﺎ‬‫ﻟﻤ‬ ‫ﺑﻊ‬‫ﻟﺄﺭ‬ ‫ﻨﻜﺢ ﺍﹾﻟﻤﺮﹶﺃﺓ‬‫ﺗ‬   ‫ﹾﹶ‬     ‫ ﹴ‬‫ ﹸ ﹶ‬  ‫ﹶ‬ 128 (‫ﺍﻙ )ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻯ‬‫ﻳﺪ‬ ‫ﺑﺖ‬‫ﺗﺮ‬ ‫ﻳﻦ‬ ‫ﺍﻟ‬   ‫ﺪ ﹺ ﹺ‬ Artinya: Dari Abu Hurairah r.. 1410 H/1990 M. Dalam konteksnya dengan perkawinan antara agama. surga dan neraka serta perkara-perkara ghaib yang dibawa oleh para rasul. bahwa tidak ada hadis yang secara eksplisit menegaskan tentang masalah itu. al-Bukhari). para rasul.R. Juz.pemegang kitab samawi dan masih ada sisa-sisa ajaran dan nasehat samawi seperti iman kepada Allah. yang ada adalah beberapa hadis yang secara implisit menunjuk ke arah itu. bersabda: "Wanita dikawini karena empat hal: karena harta-bendanya. Pilihlah wanita yang taat kepada agama. Beirut: Dar al-Fikr. maka kamu akan berbahagia (H. takdir. 3. Sahih al-Bukhari.a. 256 128 96 . hlm. kebangkitan. hari Akhir. Rasulullah Saw. ‫ﺒﺪ‬‫ﺑﻦ ﻋ‬ ‫ﺎﹺﺑﺮ‬‫ﺒﺮﻧﹺﻲ ﺟ‬‫ﺎﻥ ﻋﻦ ﻋﻄﹶﺎﺀ ﹶﺃﺧ‬‫ﻴﻤ‬‫ﺑﻦ ﹶﺃﺑﹺﻲ ﺳﻠ‬ ‫ﺒﺪ ﺍﹾﻟﻤﻠﻚ‬‫ﺎ ﻋ‬‫ﺣﺪﹶﺛﻨ‬      ٍ    ‫ﹶ ﹶ‬        ‫ﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ‬‫ﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﱠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠ‬ ‫ﻲ ﻋﻬﺪ ﺭ‬‫ﺗﺰﻭﺟﺖ ﺍﻣﺮﹶﺃﺓ ﻓ‬ ‫ﺍﻟﻠﻪ ﻗﹶﺎﻝ‬  ‫ ﱠ‬   ‫ ﹶ‬  ‫ ﻠ ﱠ‬  ‫ﺳ ﹺ ﱠ‬    ‫ ﹰ‬      ‫ ﹶ‬ ‫ﱠ‬ ‫ﻧﻌﻢ‬ ‫ﺗﺰﻭﺟﺖ ﻗﻠﺖ‬ ‫ﺎﹺﺑﺮ‬‫ﺎ ﺟ‬‫ﻠﻢ ﻓﻘﹶﺎﻝ ﻳ‬‫ﻴﻪ ﻭﺳ‬‫ﻨﹺﺒﻲ ﺻﱠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠ‬‫ﻴﺖ ﺍﻟ‬‫ﻓﻠﻘ‬    ‫ ﹸﹾ‬     ‫ ﹶ ﹶ‬ ‫ ﱠ‬  ‫ ﹶ‬  ‫ﻠ ﱠ‬   ‫ﹶ ﹶ‬ ‫ﻮﻝ‬ ‫ﺎ ﺭ‬‫ﺎ ﻗﻠﺖ ﻳ‬‫ﺒﻬ‬‫ﺗﻠﹶﺎﻋ‬ ‫ﺍ‬‫ﻴﺐ ﻗﹶﺎﻝ ﻓﻬﱠﺎ ﹺﺑﻜﺮ‬‫ﻴﺐ ﻗﻠﺖ ﹶﺛ‬‫ﻗﹶﺎﻝ ﹺﺑﻜﺮ ﹶﺃﻡ ﹶﺛ‬ ‫ﺳ ﹶ‬  ‫ ﹸ ﹾ‬ ‫ﻠ ﹾ‬ ‫ ﹶ ﹶ‬  ‫ ﹸ ﹾ‬   ‫ﹶ ﹾ‬ ‫ﻨﻬﻦ ﻗﹶﺎﻝ ﻓﺬﹶﺍﻙ ﹺﺇﺫﻥ‬‫ﻴ‬‫ﺑ‬‫ﻴﻨﹺﻲ ﻭ‬‫ﺑ‬ ‫ﺗﺪﺧﻞ‬ ‫ﻴﺖ ﹶﺃﻥ‬‫ﺍﺕ ﻓﺨﺸ‬‫ﻲ ﹶﺃﺧﻮ‬‫ﺍﻟﻠﻪ ﹺﺇﻥ ﻟ‬ ‫ ﹶﹾ‬ ‫ ﹶ ﹶ‬  ‫ﹶ‬ ‫ ﹾ‬  ‫ﹶ‬  ‫ ﱠ‬‫ﱠ‬ Al-Imam Abu Abdillah Muhammad ibn Ismail ibn al-Mugirah ibn Bardizbah alBukhari. kitab-kitab. wajahnya. karena keindahan. karena status sosialnya. para malaikat.

niscaya kamu akan bahagia. bersabda: "Baiklah kalau begitu.‫ﻴﻚ ﹺﺑﺬﹶﺍﺕ ﺍﻟ ّﻳﻦ‬‫ﺎ ﻓﻌﻠ‬‫ﻟﻬ‬‫ﺎ‬‫ﺎ ﻭﺟﻤ‬‫ﻟﻬ‬‫ﺎ‬‫ﻣ‬‫ﺎ ﻭ‬‫ﻳﹺﻨﻬ‬‫ﻨﻜﺢ ﻋﻠﹶﻰ ﺩ‬‫ﺗ‬ ‫ﹺﺇﻥ ﺍﹾﻟﻤﺮﹶﺃﺓ‬ ‫ ﺪ ﹺ‬   ‫ﹶ‬ ‫ﹶ‬    ‫ ﹶ ﹶ‬ ‫ﱠ‬ 129 (‫ﻳﺪﺍﻙ )ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ‬ ‫ﺑﺖ‬‫ﺗﺮ‬    ‫ﹺ‬ Artinya: Telah mengabarkan kepada kami dari Abdul Malik bin Abiu Sulaiman dari Atha': "Jabir bin Abdullah bercerita kepadaku. sesungguhnya Rasulallah Saw. Suatu hari ketika bertemu dengan nabi Saw. kamu sudah menikah?" Aku menjawab: "Benar. dan kecantikannya. sesungguhnya aku ini memiliki beberapa orang saudara perempuan. 130 Ibid. 129 97 . dan sebaik-baiknya perhiasan dunia ialah wanita yang saleh Al-Imam Abul Husain Muslim ibn al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi.." Beliau bertanya: . bersabda: "Dunia adalah perhiasan. aku menikahi seorang wanita. hartanya. "Pada zaman Rasulallah Saw.. Juz. Sahih Muslim. ‫ﺑﻦ‬ ‫ﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ‬‫ﺎ ﻋ‬‫ﺍﹺﻧﻲ ﺣﺪﹶﺛﻨ‬‫ﻴﺮ ﺍﹾﻟﻬﻤﺪ‬‫ﻧﻤ‬ ‫ﺑﻦ‬ ‫ﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ‬‫ﺑﻦ ﻋ‬ ‫ﺣﺪﹶﺛﻨﹺﻲ ﻣﺤﻤﺪ‬  ‫ ﱠ‬       ‫ ﹴ‬ ‫ ﹺ‬‫ ﱠ‬         ‫ﺒﺪ‬‫ﺎ ﻋ‬‫ﻧﻪ ﺳﻤﻊ ﹶﺃﺑ‬‫ﺑﻦ ﺷﺮﹺﻳﻚ ﹶﺃ‬ ‫ﺮﺣﺒﹺﻴﻞ‬‫ﺒﺮﻧﹺﻲ ﺷ‬‫ﻴﻮﺓ ﹶﺃﺧ‬‫ﺎ ﺣ‬‫ﻳﺰﹺﻳﺪ ﺣﺪﹶﺛﻨ‬        ‫ ﹸ‬    ‫ﹸ‬     ‫ﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﱠﻰ‬ ‫ﺑﻦ ﻋﻤﺮﹴﻭ ﹶﺃﻥ ﺭ‬ ‫ﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ‬‫ﻳﺤﺪﺙ ﻋﻦ ﻋ‬ ‫ﺒﻠﻲ‬‫ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﹾﻟﺤ‬ ‫ ﻠ‬  ‫ﺳ ﹶ ﱠ‬ ‫ ﱠ‬  ‫ ﹺ‬ ‫ ﱠ‬    ‫ ﹸ‬     ‫ ﹺ‬   ‫ﻟﺤﺔ‬‫ﺎ‬ ‫ﺎ ﺍﹾﻟﻤﺮﹶﺃﺓ ﺍﻟ‬‫ﻧﻴ‬‫ﺎﻉ ﺍﻟﺪ‬‫ﻴﺮ ﻣﺘ‬‫ﺎﻉ ﻭﺧ‬‫ﺎ ﻣﺘ‬‫ﻧﻴ‬‫ﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﹶﺎﻝ ﺍﻟﺪ‬‫ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠ‬ ‫ ﹸ‬ ‫ ﹸ ﺼ‬   ‫ ﹺ‬       ‫ ﹶ‬ ‫ﱠ‬   ‫ ﹶ‬  ‫ﱠ‬ 130 (‫)ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ‬ Artinya: Telah mengabarkan kepadaku dari Muhammad bin Abdullah bin Numair al-Hamdani dari Abdullah bin Yazid dari Haiwatun dari Syurajil bin Syarik sesungguhnya dia mendengar Abu Abdurrahman al-Khubuli dapat kabar dari Abdullah bin Umar. Muslim). beliau bertanya kepadaku: "Wahai Jabir. Aku "merasa khawatir ia mengganggu hubunganku dengan saudara-saudara perempuanku itu Rasulallah Saw. hlm. Sesungguhnya wanita itu dinikahi karena agamanya."Gadis atau janda?" Aku menjawab: "Janda". 175. hlm. Beliau bertanya: "Kenapa tidak kamu cari saja yang gadis supaya kamu bisa bermain dengannya?" Aku mencoba menjelaskan: "Wahai Rasulallah. Tetapi carilah wanita yang punya agama. 178. Mesir: Tijariah Kubra. tth. 2." (HR.

kedudukan Sunnah. Karenanya. Sunnah Nabi saw. Hal itu dapat dipahami karena Al-Qur'an dan Sunnah adalah Kalamullah. ia menjelaskan kerangka dan dasardasar mazhabnya dan beberapa contoh bagaimana merumuskan hukumhukum far'iyyah dengan menggunakan dasar-dasar tadi. istihsan. Dalam buku metodologisnya. mengkhususkan yang umum. memerinci yang global. semua ucapannya adalah wahyu yang diturunkan oleh Allah. dan bahkan membuat hukum tersendiri yang tidak ada dalam Al-Qur'an. "Setiap persoalan yang muncul akan ditemukan ketentuan hukumnya dalam Al-Qur'an. Pemahaman integral Al-Qur'an-Sunnah ini merupakan karakteristik menarik dari pemikiran fiqih Syafi’i. tetapi punya keterkaitan erat dengan Al-Qur'an. istishab dan lain-lain hanyalah merupakan suatu metode merumuskan dan menyimpulkan hukum-hukum dari sumber utamanya tadi. Baginya. menjelaskan dan menafsirkan sesuatu yang tidak jelas dari Al-Qur'an. tidak berbicara dengan hawa nafsu. al-Risalah. Metode Istinbath Hukum Al-Syafi'i tentang Perkawinan Antar Agama Posisi "tengah" Al-Syafi’i terlihat dalam dasar-dasar mazhabnya. dalam banyak hal. Al-Qur'an dan Sunnah berada dalam satu tingkat. Nabi Muhammad saw. Hipotesa menarik lainnya dalam pemikiran metodologis Syafi’i adalah pernyataannya." Untuk membuktikan hipotesanya itu Syafi’i menyebut empat cara Al-Qur'an dalam menerangkan suatu hukum.D. Menurut Syafi’i. 98 . dan bahkan merupakan satu-kesatuan sumber syariat Islam. Sedangkan teori-teori istidlal seperti qiyas. tidak berdiri sendiri.

minum khamar." Dengan demikian. makan bangkai. apa dan berapa kadar yang harus dikeluarkan. atau nash yang mengharamkan zina. 99 . waktu pelaksanaannya. Dalam Al-Qur'an disebutkan: "Barangsiapa yang taat kepada Rasul. jumlah rakaat salat.Pertama. puasa dan haji. Kedua. karena Al-Qur'an memerintahkan untuk mengambil apa yang diperintahkan oleh Nabi menjauhi yang dilarang. seperti nash yang mewajibkan salat. Bentuk penjelasan Al-Qur'an untuk masalah seperti ini dengan mewajibkan taat kepada perintah Nabi dan menjauhi larangannya. Keempat. zakat. suatu hukum yang ditetapkan oleh Sunnah berarti juga ditetapkan oleh Al-Qur'an. berarti ia taat kepada Allah. Penjelasan Al-Qur'an terhadap masalah seperti ini yaitu dengan membolehkan ijtihad (bahkan mewajibkan) sesuai dengan kapasitas pemahaman terhadap maqashid al-Syari'ah (tujuan-tujuan umum syariat). juga sering menentukan suatu hukum yang tidak ada nash hukumnya dalam Al-Qur'an. Allah juga mewajibkan kepada hamba-Nya untuk berijtihad terhadap berbagai persoalan yang tidak ada ketentuan nashnya dalam AlQur'an dan hadis. darah dan lainnya. Nabi Muhammad saw. Ketiga. Misalnya. Al-Qur'an menerangkan suatu hukum dengan nash-nash hukum yang jelas. Semua itu hanya disebut global dalam Al-Qur'an dan Nabilah yang menerangkan secara terinci. demikian pula zakat. suatu hukum yang disebut secara global dalam Al-Qur'an dan dirinci dalam Sunnah Nabi.

tetapi rumusan Syafi’i punya nuansa dan paradigma baru. Meskipun ulama sebelumnya juga menggunakan keempat dasar di atas. misalnya. tidak sepenuhnya mencaplok rumusan Imam Malik yang sangat umum dan tanpa batas yang jelas. struktur hukum Islam dibangun di atas empat dasar yang disebut "sumber-sumber hukum". Dalam Al-Qur'an disebutkan. Dari keterangan di atas dapat diketahui "posisi tengah" pemikiran metodologis Syafi’i. Sunnah.misalnya dengan qiyas atau penalaran analogis. Dengan landasan ayat ini. Dan pengembalian itu hanya dapat dilakukan dengan qiyas. Ini dengan jelas 100 . "Kembalikanlah kepada Allah dan Rasul". Sumber-sumber hukum tersebut adalah Al-Qur'an. Menurut Syafi’i. Maka apabila kamu berselisih tentang sesuatu kembalikanlah kepada Allah dan Rasul." Menurut Al-Syafi’i. sebagaimana dinyatakan oleh Imam Malik dan ulama-ulama Madinah. artinya kembalikan pada Al-Qur'an dan Sunnah. ia tidak memandang konsensus orang-orang umum sebagai ijma'. la begitu teguh dalam berpegang pada Al-Qur'an dan Sunnah dan pada saat yang sama memandang penting penggunaan rasio dan ijtihad. Bagi Syafi’i. ijma' merupakan metode dan prinsip. dan ayat. dan karenanya. Penggunaan ijma'. ijma' dan qiyas. yang artinya: "Hai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul dan orang-orang yang mempunyai kekuasaan di antara kamu. ia ingin menyebutkan bahwa ijtihad merupakan perintah Al-Qur'an itu sendiri dan bukan merekayasa hukum.ayat lainnya.

sesungguhnya. Pertama. anda menyimpulkan ijma' mereka dari laporan-laporan tentang mereka." Lawan: "Itulah yang kami katakan." Al-Syafi’i: "Tetapi anda menyatakan bahwa mereka tidak pernah bertemu dalam pertemuan mana pun yang anda ketahui. karena anda telah melihat bahwa ulama-ulama tersebut membuat pernyataan-pernyataan mengenai masalah-masalah yang tidak anda temui pembahasannya dalam AlQur'an dan Sunnah. Atha' yang otoritatif di Mekkah. maka anda menyimpulkan bahwa mereka telah melakukan qiyas terhadap masalah-masalah tersebut dan anda berargumentasi bahwa qiyas adalah kumpulan pengetahuan yang benar dan mapan yang disepakati oleh para ulama. apa yang dituturkan oleh seluruh masyarakat dari seluruh masyarakat generasi-generasi yang telah lalu (pengetahuan yang dibentuk) dengan kepastian yang dapat saya sumpahkan dengan nama Allah dan Rasul- 101 . Karena itu. Hasan di Bashrah dan Sya'bi di Kufah semuanya dari generasi tabi'ien dan memandang apa yang mereka sepakati sebagai ijma'?" Lawan: "Ya.terlihat dalam percakapan dengan sekelompok ahli hukum Madinah dalam bukunya Al-Umm dan dikutip lengkap oleh Fazlur Rahman: Al-Syafi’i: "Akankah kita katakan bahwa anda menganggap. misalnya Ibnu Musayyib sebagai ulama yang otoritatif di Madinah. dan. Pengetahuan datang dalam beberapa bentuk.

Terakhir. Keempat. 102 ." Al-Syafi’i: Mengenai jenis pengetahuan yang pertama yang anda jelaskan tadi. karena ia kebal terhadap kekeliruan. dan segala sesuatu akan tetap berakar pada prinsip-prinsipnya kecuali bila masyarakat umum setuju untuk melepaskannya dari prinsip-prinsipnya. bagian dari Al-Qur'an yang mengakui perbedaan-perbedaan penafsiran haruslah diterima dalam artinya yang langsung dan sesuai dengan akal sehat: ia tidak bisa diberi "batiniyah" dan allegoris walaupun ia mungkin dapat menerima arti seperti itu kecuali bila hal itu menjadi konsensus masyarakat. qiyas. pengetahuan yang disepakati oleh kaum Muslimin dan mereka telah menyatakan persetujuan sebelumnya terhadapnya. Ketiga. Tidak ada perselisihan yang dapat memasuki pengetahuan dalam bentuk-bentuk yang telah saya uraikan tadi. pengetahuan para ahli yang merupakan argumen yang konklusif kecuali bila disampaikan dengan cara kebal terhadap kekeliruan. karena pendapat-pendapat pribadi hanya membawa pada perselisihan. Kedua. Bahkan apabila yang disebut terakhir ini mungkin tidak datang dari Al-Qur'an ataupun Sunnah. Ijma' adalah argumen final mengenai segala sesuatu. Contoh dari pengetahuan semacam ini adalah kewajiban-kewajiban agama. bagi saya ia memiliki kedudukan yang sama dengan Sunnah yang telah disepakati. Ini disebabkan karena kesepakatan kaum Muslimin tidak dapat dicapai semata-mata dengan pendapat-pendapat pribadi (tapi hanya dengan melalui qiyas).Nya. yakni transmisi dari seluruh masyarakat generasi sebelumnya.

maka pendapat-pendapat mereka tidak mempunyai otoritas bagi siapa pun.. tetapi jika mereka tidak bersepakat pendapat..... Tapi apakah anda tahu. interaksi antara qiyas dan ijma' dipandang tidak sebagai sebuah prinsip yang statis... tapi sebagai suatu proses 103 .. karena hanya merekalah orang....orang yang dapat mengetahui dan bersepakat pendapat tentang masalah itu.. ketika mereka bersepakat pendapat. maka hal ini menjadi otoritatif bagi mereka yang tidak mengetahuinya (yakni bagi non-ulama)." Selanjutnya. dan bahkan bila mereka berselisih. Karena saya tidak menerima sesuatu hadits pun .memang dapat diterima. tidaklah penting apakah ada hadits verbal yang sesuai dengan sebagian dari mereka ataukah tidak ada. dan masalah-masalah seperti itu harus dirujuk pada suatu qiyas (penalaran analogis) yang baru berdasarkan apa yang telah disepakati bersama . dan bahkan bila mereka berselisih. tidaklah penting apakah hadis verbal yang sesuai dengan pendapat sebagian dari mereka ataukah tidak ada.. Tidaklah penting apakah ijma' didasarkan pada sebuah hadis verbal yang mereka riwayatkan ataukah tanpa sebuah hadis pun . Jadi. dan dapatkah anda menjelaskan pengetahuan jenis kedua yang sehubungan dengannya.? Lawan: "Ini adalah ijma' para ulama saja .. pada periode ini. dimana anda mengatakan bahwa seluruh masyarakat bersepakat atasnya dan mentransmisikan kesepakatan umum yang sama mengenai hal itu pada generasi-generasi sebelumnya? Dan apa yang anda maksud dengan seluruh masyarakat itu? Apakah ia meliputi baik ulama maupun non-ulama. Karena saya tidak menerima sesuatu hadis pun kecuali ada kesepakatan pendapat atasnya .

Dalam hubungannya dengan perkawinan antar agama. Selanjutnya menurut Al-Syafi’i. Hal ini terlihat dengan jelas dalam bagian lain dari tulisan Syafi’i yang. Penalaran analogis (qiyas) Al-Syafi’i. wanita 104 . atau disamakan dengan preseden tersebut dengan kekuatan suatu sifat esensial umum yang disebut 'illat. sadd al-zarai' dan metode lainnya dimasukkan ke dalam qiyas bil qawa'id (penalaran analogis terhadap prinsip umum yang terkandung dalam suatu preseden itu sendiri).asimilasi. istishab. bahwa dalam perspektif Al-Syafi’i bahwa siapa yang beragama dengan agama Yahudi dan Nasrani dari orang Sabiin dan Samiri. Apa yang dirumuskan oleh ulama-ulama sebelumnya oleh Syafi’i disebut qiyas bilfuru'. juga. penalaran analogis terhadap masalah-masalah partikular dengan berpijak pada suatu prinsip tertentu yang terkandung dalam suatu preseden. interpretasi dan adaptasi yang dinamis dan wajar. Sedangkan metode-metode yang lain. adalah yang paling komprehensif mengenai masalah tersebut dan mengungkapkan sikap sebenarnya dan yang serba meliputi dari ijma'. seperti istihsan. walaupun agak berkepanjangan. maka boleh dimakan sembelihannya dan halal dikawini wanitanya. Sebuah kasus yang baru dapat dimasukkan ke dalam prinsip ini. Nuansa dan paradigma pemikiran Syafi’i itu selalu terlihat dalam pemikiran-pemikirannya yang dibangun di atas pemikiran-pemikiran ulama sebelumnya. menawarkan pernahaman baru.

muslimah tidak boleh menikah dengan laki-laki non muslim. yang termasuk ahlul kitab adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani keturunan orang-orang Israel.)ﺍﳌﺎﺋﺪﺓ‬‫ﺎﺭ‬‫ﻧﺼ‬ Artinya: Sesungguhnya kamu [Muhammad] niscaya menemukan orang-orang yang sangat keras memusuhi orang-orang beriman. Dan kamu menemukan pula Al-Imam Abi Abdullah Muhammad bin Idris al-Syafi’i. Al-Umm.. lafal min qablikum (umat sebelum kamu) dalam surah al-Ma'idah (5) ayat 5 menunjuk kepada kedua kelompok Yahudi dan Nasrani bangsa Israel. karena Nabi Musa AS dan Nabi Isa AS hanya diutus untuk orang-orang bangsa Israel. ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik (mempersekutukan Allah). 287 dan 289 131 105 .. juz 4. 131 Dalam kaitannya dengan ahli kitab. tth.S. Beirut Libanon: Dar al-Kutub al-Ilmiah. hlm. tidak termasuk bangsa-bangsa lain sekalipun penganut agama Yahudi dan atau Nasrani. menurut Al-Syafi'i. dan kedua. akan tetapi dibolehkan menikah antara laki-laki muslim dengan ahli kitab. ‫ﻳﻦ ﹶﺃﺷﺮ ﹸﻮﹾﺍ‬‫ﺍﱠﻟﺬ‬‫ﻮﺩ ﻭ‬ ‫ﻴ‬‫ﻮﹾﺍ ﺍﹾﻟ‬‫ﻳﻦ ﺁﻣ‬‫ﺍﻭﺓ ﱢﻟﻠﺬ‬‫ﺎﺱ ﻋﺪ‬‫ﺘﺠﺪﻥ ﹶﺃﺷﺪ ﺍﻟ‬‫ﹶﻟ‬ ‫ﻛ‬    ‫ﻨ ﻬ‬  ‫ ﹰ ﱠ‬  ‫ ﻨ ﹺ‬  ‫ ﱠ‬ ‫ﹺ‬ ‫ﺎ‬‫ﻳﻦ ﻗﹶﺎﹸﻟﻮﹾﺍ ﹺﺇ‬‫ﻮﹾﺍ ﺍﱠﻟﺬ‬‫ﻳﻦ ﺁﻣ‬‫ﺑﻬﻢ ﻣﻮﺩﺓ ﱢﻟﻠﺬ‬‫ﺘﺠﺪﻥ ﹶﺃﻗﺮ‬‫ﻭﹶﻟ‬ ‫ ﻧ‬  ‫ﻨ‬  ‫ ﹰ ﱠ‬      ‫ ﱠ ﹾ‬ ‫ ﹺ‬ (82 :‫ﻯ. Di antara alasan yang diajukan adalah pertama. Dalam hal ini metode istinbath hukumnya Al-Syafi’i didasarkan pada beberapa ayat dan surat di bawah ini: ‫ﻰ‬‫ﻨﻔﻜﲔ ﺣ‬ ‫ﺍﹾﻟﻤﺸﺮﻛﲔ‬‫ﺎﺏ ﻭ‬‫ﻭﺍ ﻣﻦ ﹶﺃﻫﻞ ﺍﹾﻟﻜﺘ‬ ‫ﻳﻦ ﻛﻔ‬‫ﻳﻜﻦ ﺍﱠﻟﺬ‬ ‫ﹶﻟﻢ‬ ‫ﺘ‬  ‫ ﻣ ﹶ ﱢ‬  ‫ ﹺ‬  ‫ ﹺ‬ ‫ ﹺ‬   ‫ ﹶ ﹶﺮ‬ ‫ ﹸ ﹺ‬ (1 :‫ﻨﺔ )ﺍﻟﺒﻴﻨﺔ‬‫ﻴ‬‫ﺒ‬‫ﻴﻬﻢ ﺍﹾﻟ‬‫ﺗ‬‫ﺗﺄ‬ ‫ ﹸ‬ ‫ﹾ‬ Artinya: Dan orang-orang kafir di antara ahli kitab (Yahudi. Nasrani) dan orang-orang yang musyrik tidak mau meninggalkan agama mereka sehingga datang keterangan kepada mereka (Q. al-Bayyinah: 1).

penulis di satu segi kurang sependapat dengan pendapat al-Syafi'i yang mengkategorikan ahlul kitab seperti tersebut di atas. Adalah Allah saksi pada tiap-tiap sesuatu (Q.") (Q. tidak hanya terbatas pada dua agama Semit tersebut. al-Hajj: 17). 106 . yaitu orang-orang yang berkata. realitas keragaman agama. begitu pun orang-orang yang mempersekutukan Allah sungguh Allah bakal memberikan keputusan yang tegas di antara mereka pada hari kiamat. Alasan penulis kurang setuju karena bila diaplikasikan di Indonesia.orang-orang yang kasih kepada orang-orang yang beriman.S. orang-orang Shabi'in (penyembah bintang). konsekuensinya maka tidak halal bagi muslim menikahi perempuanperempuan mereka. maka menurut penulis jelas akan melahirkan implikasi sosiologis dalam konteks kehidupan sosial yang serius di Indonesia. Karena.S. Dalam kaitan ini. Pembatasan pengertian yang hanya dalam dua komunitas agama: Yahudi dan Nasrani versi Syafi’i. orang-orang Nasrani dan Majusi. "Kami adalah orang-orang Nasrani . maka orang-orang Indonesia yang menganut agama Yahudi atau Nasrani sesudah turunnya al-Qur’an maka mereka tidaklah termasuk di dalam ahlul kitab... al-Maidah: 82) ‫ﻮﺱ‬ ‫ﺍﹾﻟﻤ‬‫ﻯ ﻭ‬‫ﺎﺭ‬‫ﻨﺼ‬‫ﺍﻟ‬‫ﺌﲔ ﻭ‬‫ﺎﹺﺑ‬ ‫ﺍﻟ‬‫ﻭﺍ ﻭ‬ ‫ﺎ‬‫ﻳﻦ ﻫ‬‫ﺍﱠﻟﺬ‬‫ﻮﺍ ﻭ‬‫ﻳﻦ ﺁﻣ‬‫ﹺﺇﻥ ﺍﱠﻟﺬ‬  ‫ﺠ‬  ‫ﺼ‬ ‫ ﺩ‬ ‫ﻨ‬  ‫ﱠ‬ ‫ﺎﻣﺔ ﹺﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﹶﻰ ﻛﻞ‬‫ﻳﻮﻡ ﺍﹾﻟﻘﻴ‬ ‫ﻨﻬﻢ‬‫ﺑﻴ‬ ‫ﻳﻔﺼﻞ‬ ‫ﻳﻦ ﹶﺃﺷﺮ ﹸﻮﺍ ﹺﺇﻥ ﺍﻟﻠﻪ‬‫ﺍﱠﻟﺬ‬‫ﻭ‬ ‫ ﹸ ﱢ‬  ‫ ﱠ ﱠ‬       ‫ ﹸ‬ ‫ ﹾ‬ ‫ﻛ ﱠ ﱠ‬   (17 :‫ﺷﻲﺀ ﺷﻬﹺﻴﺪ )ﺍﳊﺞ‬   ٍ  Artinya: Sesungguhnya orang-orang beriman dan orang-orang Yahudi.

‫ﺎﺏ ﺣﻞ ﱠﻟﻜﻢ‬‫ﻮﹾﺍ ﺍﹾﻟﻜﺘ‬‫ﻳﻦ ﹸﻭ‬‫ﺎﻡ ﺍﱠﻟﺬ‬‫ﺎﺕ ﻭﻃﻌ‬‫ﻴﺒ‬‫ﻴﻮﻡ ﹸﺃﺣﻞ ﹶﻟﻜﻢ ﺍﻟﻄ‬‫ﺍﹾﻟ‬  ‫ ﱞ ﹸ‬   ‫ ﺃ ﺗ‬  ‫ ﹶ‬  ‫ ﱠ‬ ‫ ﱠ ﹸ‬  ‫ﺎﺕ‬‫ﺍﹾﻟﻤﺤﺼﻨ‬‫ﺎﺕ ﻭ‬‫ﺎﺕ ﻣﻦ ﺍﹾﻟﻤﺆﻣﻨ‬‫ﺍﹾﻟﻤﺤﺼﻨ‬‫ﺎﻣﻜﻢ ﺣﻞ ﱠﻟﻬﻢ ﻭ‬‫ﻭﻃﻌ‬                ‫ ﱡ‬  ‫ ﹸ‬ ‫ ﹶ‬ ‫ﻮﺭﻫﻦ‬ ‫ﻮﻫﻦ ﹸﺃ‬ ‫ﺘ‬‫ﻴ‬‫ﺗ‬‫ﺒﻠﻜﻢ ﹺﺇﺫﹶﺍ ﺁ‬‫ﻦ ﻗ‬‫ﺎﺏ ﻣ‬‫ﻮﹾﺍ ﺍﹾﻟﻜﺘ‬‫ﻳﻦ ﹸﻭ‬‫ﻣﻦ ﺍﱠﻟﺬ‬   ‫ ﺟ‬  ‫ﻤ‬ ‫ ﹸ‬‫ﹶ‬   ‫ ﺃﺗ‬  ‫ﺎﻥ‬‫ﻳﻜﻔﺮ ﺑﹺﺎﻹﳝ‬ ‫ﻦ‬‫ﺍﻥ ﻭﻣ‬‫ﻱ ﹶﺃﺧﺪ‬‫ﺘﺨﺬ‬‫ﺎﻓﺤﲔ ﻭﻻ ﻣ‬‫ﻴﺮ ﻣﺴ‬‫ﻣﺤﺼﹺﻨﲔ ﻏ‬  ِ  ‫ ﹾﹸ‬     ‫ﹶ‬    ‫ ﹶ‬    (5 :‫ﺎﺳﺮﹺﻳﻦ )ﺍﳌﺎﺋﺪﺓ‬‫ﻲ ﺍﻵﺧﺮﺓ ﻣﻦ ﺍﹾﻟﺨ‬‫ﻓﻘﺪ ﺣﺒﹺﻂ ﻋﻤﻠﻪ ﻭﻫﻮ ﻓ‬           ‫ﹸ‬  ‫ ﹶ‬  ‫ﹶ ﹶ‬ Artinya: Pada hari ini dihalalkan bagi kamu yang baik-baik. penulis setuju dengan pendapat al-Syafi’i yang membolehkan pria muslim menikah dengan perempuan ahlul kitab. [Dan dihalalkan bagi kamu menikahi] wanitawanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu. Alasan penulis setuju karena surah al-Maidah ayat 5 merupakan petunjuk yang qath’i (tegas) tentang bolehnya menikahi wanita ahlul kitab. (Q. Dengan kata lain. khususnya mengenai makna ahlul kitab dalam versi al-Syafi'i. Makanan [sembelihan] orang-orang yang diberi al-Kitab itu halal bagi kamu. dan mahanan kamu halal [pula] bagi mereka. Dalam kaitannya dengan perkawinan antar agama. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman maka hapuslah amalannya dan di hari akhirat dia termasuk orang-orang yang merugi. menikahi wanita ahlul kitab boleh karena ayat ke-5 dari al-Maidah itu secara qath'i (tegas) menyatakan kehalalannya. al-Maidah: 5) 107 . bila kamu telah membayar mahar mereka dengan maksud menikahinya. tidak dengan maksud berzina dan tidak [pula] menjadikannya gundik-gundik. ia menggunakan metode istinbath hukum yaitu Al-Qur'an surat Al-Maidah ayat 5.S.Di segi lain.

133 Depag RI. Hikmah yang terkandung di dalam hukum bolehnya seorang laki-laki Muslim menikahi wanita Ahlul kitab ialah tersedianya kesempatan supaya terciptanya hubungan dan kerjasama di antara mereka.133 Menurut analisis penulis seorang laki-laki Muslim boleh menikahi Ahlul kitab. Tafsîr al-Qur’an al-Azîm. kapanpun. Imam Syafi'i yang dimaksud ahli kitab di sini adalah wanita baik-baik dari Bani Israil. di mana pun. maka penulis lebih cenderung berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ahlul kitab adalah semua penganut agama Yahudi dan Nasrani. Juz 6. 108 . 1978. hlm. Al-Qur’an dan Terjemahnya.. hlm. Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an. dan keturunan siapa pun mereka. 252.Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa para ahli tafsir dan para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan ayat wal muhsanâtî minal lazîna ûtul kitâb min qablikum menurut Ibnu Jarir yang dimaksud dengan muhsanat adalah wanita baik-baik dari ahli kitab baik merdeka atau budak. Tentang makna ahlul kitab. wanita Ahlul kitab itu dapat mempelajari ajaran-ajaran mulia yang terdapat dalam ajaran Islam. 132 Ismâ'îl ibn Katsîr al-Qurasyî al-Dimasyqî. dan di samping itu agar dengan keinginannya. 1986. selama wanita Ahlul kitab tersebut layak untuk dinikahi. 282. Beirut: Dâr al-Ma’rifah. Dan menurut yang lain muhsanat adalah wanita ahli kitab yang baik-baik tadi yang merupakan penduduk Negeri Islam (Kafir Zimmi).132 karena berdasarkan firman Allah yang mengatakan: ‫ﻴﻮﻡ ﺍﻵﺧﺮ‬‫ﻮﻥ ﺑﹺﺎﻟﻠﻪ ﻭﻻ ﺑﹺﺎﹾﻟ‬‫ﻳﺆﻣ‬ ‫ﻳﻦ ﻻ‬‫ﺗﹸﻮﹾﺍ ﺍﱠﻟﺬ‬‫ﻗﹶﺎ‬ ‫ ﹺ‬ ‫ ﹺ‬ ‫ ﹶ‬  ‫ﻨ ﹶ ﹼ‬  ‫ ﹶ‬ ‫ﻠ‬ Artinya: Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak pula pada hari kemudian.

Pendapatnya ini didasarkan kepada firman Allah SWT dalam surah al-An 'am (6) ayat 156: ‫ﻦ‬‫ﺎ ﻋ‬‫ﺎ ﻭﺇﹺﻥ ﻛ‬‫ﺒﻠﻨ‬‫ﻦ ﻗ‬‫ﻴﻦ ﻣ‬‫ﺘ‬‫ﺋﻔ‬‫ﺎﺏ ﻋﻠﹶﻰ ﻃﹶﺂ‬‫ﺎ ﹸﻧﺰﻝ ﺍﹾﻟﻜﺘ‬‫ﻧﻤ‬‫ﺗ ﹸﻮﹸﻮﹾﺍ ﹺﺇ‬ ‫ﺃﹶﻥ‬ ‫ ﹸﻨ‬  ‫ﹶ ﹺ ﹶ‬    ‫ﺃﹺﹶ‬ ‫ﻘﻟ‬ (156 :‫ﺎﻓﻠﲔ )ﺍﻷﻧﻌﺎﻡ‬‫ﺘﻬﻢ ﹶﻟﻐ‬‫ﺍﺳ‬‫ﺩﺭ‬    ‫ ﹺ‬  Artinya: (Kami turunkan Al-Qur'an itu) agar kamu (tidak) mengatakan: Bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan saja sebelum kami.S. al-An' am 156) 109 . (Q. dan sesungguhnya kami tidak memperhatikan apa yang mereka baca.

BAB V PENUTUP D.Wanita muslimah tidak boleh menikah dengan laki-laki non muslim dengan alasan surat al-Baqarah 221: walâ tunkihul musyrikîna hatta yukminu wala'abdun mu'minun khairun min musyrikin walau a'jabakum. 2.Laki-laki muslim tidak boleh menikah dengan wanita non muslim dengan alasan surat Al-Baqarah 221: walâ tankihul musyrikâti hatta yukminna walâmatun mu'minatun khairun min musyrikatin walau a'jabatkum. . Laki-Laki muslim tidak boleh menikah dengan wanita non muslim kecuali dengan wanita non muslim yang berasal dari ahli kitab. dan dengan mengacu pada rumusan masalah sebagaimana termuat dalam bab pertama sampai bab keempat skripsi ini. Kesimpulan Berdasarkan uraian sebelumnya. Dalam perkawinan antar agama menurut Imam Safi'i: . maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Menurut al-Syafi'i yang dimaksud dengan ahli kitab tersebut adalah keturunan Bani Israil atau orang-orang yang berpegang teguh pada kitab Taurat pada masa Nabi 110 .

F. Oleh karena itu kita perlu menghargai pendapat al-Syafi'i tersebut. E. Disebabkan: (a) Dalam ayat 5 al-Ma'idah terdapat lafal min qablikum yang berarti orang-orang Bani Israil atau orang-orang yang berpegang teguh pada Kitab Taurat pada masa Nabi Musa dan orang-orang yang berpegang teguh pada kitab Injil pada masa Nabi Isa. Adapun ahli kitab yang dimaksud oleh al-Syafi'i hanya terbatas kepada keturunan Bani Israil atau orang-orang yang berpegang teguh pada Kitab Taurat pada masa Nabi Musa dan orang-orang yang berpegang teguh pada kitab Injil pada masa Nabi Isa. Istinbath hukum Al-Syafi’i yang membolehkan laki-laki muslim menikah dengan wanita non muslim dari ahli kitab didasarkan atas di takhsis surat al-Baqarah ayat 221 oleh surat al-Maidah ayat 5. Di samping itu pendapat al-Syafi'i memperkaya wacana perkawinan dengan non muslim. 3. ketika membahas perkawinan dengan non muslim. Saran-Saran Meskipun pendapat al-Syafi’i dibuat dalam kurun waktu yang sudah lama. (b). Penutup 111 . Nabi Musa dan Nabi Isa hanya diutus kepada Bani Israil. namun hendaknya dijadikan studi banding oleh peneliti lainnya.Musa dan orang-orang yang berpegang teguh pada kitab Injil pada masa Nabi Isa.

Âmîn.Meskipun tulisan ini telah diupayakan secermat mungkin namun mungkin saja masih ada kekurangan dan kekeliruannya. semoga Allah SWT meridhoi. 112 . Menyadari akan hal itu. penulis mengharap kritik dan saran menuju kesempurnaan tulisan ini.

Semarang: Maktabah wa Matbaah. Fath al-Qarib. tth Al-Jauziyah. 1410 H/1990 M Al-Ghazzi. Beirut: Dar al-Ma'rifah. tth Al-Maragi. Mesir. 1994 Abu Hasan. Ahmad Mustafa. Ibn Qayyim. Politik dan Fiqih”. Tafsir al-Maragi. Beirut: Dar al-Fikr. Terj. Al-Imam Abu Abdillah Muhammad ibn Ismail ibn al-Mugirah ibn Bardizbah. Sejarah dan Keagungan Madzhab Syafi’i. al-Ilmiyah. 1972 Al-Syafi’i. tth 113 . juz 4. (ed) Sayyid Ahmad Shaqr. Sahih al-Bukhari.DAFTAR PUSTAKA Abbas. Beirut Libanon: Dar al-Fikr. Al-Imam al-Syafi'i fi Madzhabaih fi al-Qadim wa al-Jadid. Jakarta: PT Lentera Basritama. Dar al-Qiblat. Hadyul Islam Fatawi Mu’ashirah. As’ad Yasin. Juz 3. jilid 1. Yusuf. 1394 H/1974 M. 2001 Al-Shabuni. 2004 Abd al-Salam. Siradjuddin. Terj. Fath al-Mu’in Bi Sarkh Qurrah al‘Uyun. Syekh Muhammad bin Qasim. Muhammad. Jakarta: Pustaka Tarbiyah. Dar al-Qur'an al-Karim. karya Toha Putera . Kairo: Dar al-Kutub. Tafsir al-Kasyaf. Asbab Nuzul al-Qur'an. Abdul Syukur dan Ahmad Rivai Uthman. Al-Imam Abi Abdillah Muhammad Ibn Idris. “Al-Syafi’i Biografi dan Pemikirannya Dalam Masalah Akidah. tt Abu Zahrah. Indonesia: Maktabah allhya at-Kutub al-Arabiah. juz 2 Al- Al-Qardhawi. “Fatwa-Fatwa Kontemporer”. 1312 H ____________. 2005 Al-Bukhari. Mesir: Mustafa Al-Babi Halabi. I’lamul Muwaqi’in ‘an Rabbil ‘Alamin. Tafsir Ayat al-Ahkam. tth. Muhammad Ali. Beirut Libanon: Dar al-Kutub al-Ilmiah. Al-Imam Abi Abdullah Muhammad bin Idris. Jakarta: Gema Insani. Al-Umm. al-Risalah fi’ Ilmu alushul . alMuniriyyah Al-Jaziri. Ahmad Nahrawi. juz 4 Al-Zamakhsyari. Kitab al-Fiqh ‘ala al-Mazahib al-Arba’ah. Abdurrahman. Ali al-Walid. Hayatuhu wa Asruhu wa Fikruhu ara-Uhu wa Fiqhuhu. 1972 Al-Malibary. Syaikh Zainuddin Ibn Abd Aziz. Juz 2.

Jakarta: Prenada Media. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Semarang. 2003 As-San’ani. 2004 Dahlan. Pokok-Pokok Pegangan Imam Madzhab. Beirut: Daar al-Qutub al-Arabia. Ensiklopedi Hukum Islam. Ali. Ibrahim.th Asy Syarbasy.al. "Biografi Empat Imam Mazhab". Terj. Raja grafindo persada. Yogyakarta: Dana Bhakti Wakaf. terj. 1999 Amirin.Amini. Ilmu Fiqh. Futuhal Arifin. Yogyakarta: UII Press. Cet.Pustaka Rizki Putra. 2001 _____________. Alwiyah Abdurrahman. Kairo: Dar al-Fikr. "Bimbingan Islam Untuk Kehidupan Suami Istri". Mutiara Hadis. Sayyid al-Iman Muhammad ibn Ismail Subul al-Salam Sarh Bulugh al-Maram Min Jami Adillati al-Ahkam. 1998 Fikri. Abdul Aziz. 1997 Daradjat. Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an. Kairo: Dar Ikhya’ al-Turas al-Islami. Ahmad Subandi. 2003 ______________. Nail al–Autar.. Hukum Perkawinan Islam. 1960 As-Suyuti. Perkawinan Antar Agama Dalam Teori dan Praktek. Imam Jalaluddin. PT Putaka Rizki Putra. "Tanya Jawab Lengkap tentang Agama dan Kehidupan". Tatang M. Terj. Jakarta: Lentera. Ichtiar Baru Van Hoeve. jilid 2. Jakarta: PT. Jakarta: PT.S. Semarang: PT. O. Semarang. Muhammad. t. Al-Aimmah al-Arba'ah. jilid 5. jilid 8. Ahmad. Hasbi. Principles of Marriage Family Ethics. Bandung: al-Bayan. Ahmad Azhar.Pustaka Rizki Putra. 1997 Asy Syaukani. et.. 2003 114 . 3. 1995 Ash Shiddieqy. Menyusun Rencana Penelitian. Zakiah. PT. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Jakarta: Pustaka Qalami. Tafsir Jalalain. 2005 Eoh. juz 4. 1997 _____________. Juz 3. 1986 Djazuli. Ilmu Fiqh. Yas'alunaka fi ad-Din wa al-Hayah. 1995 Depag RI. Kisah-Kisah Para Imam Madzhab. TM. Yogyakarta: Mitra Pustaka. Jilid 4. Koleksi Hadis-Hadis Hukum. 1973 Basyir.

1990 Hamid. 2000 Nawawi. "Fiqih Lima Mazhab". Sejarah dan Perkembangan Hukum Islam. Jakarta: Bulan Bintang Koencaraningrat.. Cet. 1978 Hamka. 2002 ____________. Biografi Empat Serangkai Imam Mazhab. juz 2. 5. 14. Hukum Adat. 1410 H/1990M Khalid. 4. Zaenal Abidin Syamsudin. Jakarta: Ghalia Indonesia. Moh. ‘Ilm ushul al-Fiqh. 2001 Ibn Kasir. Bandung: PT. Jakarta: Maktabah al-Dak’wah alIslamiyah Syabab al-Azhar. Terj.Hadikusuma. Nikah Sebagai Perikatan. al-Zawaj Bighair al-Muslimin. 1995 Moleong. Abd Wahab.. Jakarta: PT. Cet. Jakarta: PT. Jakarta: PT Lentera Basritama. Ushul Fiqh. Jakarta: Pustaka al-Sofwa.Raja Grafindo Persada.Raja Grafindo Persada.1999 115 . Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Metode Penelitian Bidang Sosial. Cet. Hukum Agama. Cet. Lexy J. Al-Fiqh 'ala al-Mazahib al-Khamsah. Al-Imam al-Hafizh Imaduddin Abul Fida Ismail. Yogyakarta: Bina Cipta. Bandung: PT Remaja Rosda Karya. 1991 Nazir. Cairo: Dar Ihya’ al-Kutub al-Arabiyah. Hadari. Metode Penelitian. tth Khalaf. Muhammad Jawad.Remaja Rosdakarya. Metode Penelitian Kulitatif. Metode-Metode Penelitian Masyarakat.. juz 2. 2004 Khalil. 2001 Mubarok. 1970 Kuzari. Jaih. Pokok-Pokok Hukum Perkawinan Islam dan Undang-Undang Perkawinan di Indonesia. Munawar. Modifikasi Hukum Islam Studi tentang Qaul Qadim dan Qaul Jadid. 2000 Mughniyah. Zahry. Syekh Hasan. Bandung: Mandar Maju. et al. “Menikah Dengan Non Muslim”. Terj. 1999 Hanafie. Tafsir Al Azhar. Jakarta: PT Pustaka Panji Mas. Cet. Masykur AB. A. Hukum Perkawinan Indonesia Menurut Perundangan. Jakarta: Wijaya. Hilman. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. 14. 14. Tafsir al-Qur’an al‘Azhim. Achmad.

Tafsir al-Manar. tth Saekan dan Erniati Effendi. Muhammad Amin. Nasruddin. Kairo: Maktabah al-Qahirah. Cet.Wasit Aulawi. Jakarta: Depag RI. Ke-4. "Fiqih Wanita'. Cet. Yogyakarta: Ittaqa Press. Jakarta: PT. 1986 Uwaidah. Sayyid. Fiqih Tujuh Madzhab. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Tafsir al-Manar. juz 2. M. Bandung: CV Pustaka Setia. terj. Cairo: Dar al-Manar. Hukum Perkawinan Di Indonesia. 1986 Yunus. 2004 Suriasumantri. 1981 Ramulyo. Jakarta.Prodjodikoro. Jakarta: PT Hidakarya Agung. Hukum Keluarga Islam di Dunia Islam. Moh. Jakarta: Bulan Bintang. cet. Hukum Perkawinan Islam. Abdullah Zakiy al-Kaaf. Sejarah Penyusunan Kompilasi Hukum Islam di Indonesia. 2002 Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an. Pustaka Sinar Harapan. 12. terj. 1986 Ridha. Surabaya: Arkola. Madzhab Syafi’i Kajian Konsep Al-Maslahah. Jujun S. Syekh Kamil Muhammad. Hukum Perkawinan di Indonesia. Cet. Sayuti. Hukum Kekeluargaan Indonesia. Dienul Islam. 9. 1367 H Rofiq. 2002 Rasyid Ridha. 1380 H Razak. 1975 Suma. Sayyid Muhammad. Arso. juz 6. 1977 Sabiq. Rasyid. Jakarta: UI Press. Fiqh al-Sunnah. Suatu Analisis dari UndangUndang No. Ahmad. (Jakarta: Pustaka al-Kautsar. Jakarta: PT. 1993 Syalthut. Hukum Perkawinan dalam Islam. 7. 2001 Sosroatmodjo. Abdul Mun’im. Hukum Islam di Indonesia. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam. Al-Ma’arif. Mahmud.Raja Grafindo Persada. Al-Jami' Fi Fiqhi an-Nisa. Bandung: PT Sumur Bandung.. Kairo: Maktabah Dar al-Turas. Bandung: PT.Raja Grafindo Persada. 1990 116 . Jakarta: Bumi Aksara. Mahmud. Idris. 1977 Saleh. Abdul Ghofar. 5. Cet. 2000 Thalib. dan A. Wirjono.

Masail Fikhiyah. Jakarta: PT Gunung Agung. 1997 117 .Zuhdi. Masjfuk.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->