P. 1
Model Pembelajaran

Model Pembelajaran

|Views: 611|Likes:
Published by Deika Tri Oktavia

More info:

Published by: Deika Tri Oktavia on May 01, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/31/2013

pdf

text

original

1.

Model pembelajaran picture and picture

Model pembelajaran picture and picture merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif. Dalam pembelajaran kooperatif tidak hanya memperlajari materi saja, namun siswa juga harus mempelajari keterampilan-keterampilan khusus yang disebut keterampilan kooperatif. Keterampilan kooperatif ini berfungsi untuk melancarkan hubungan kerja dan tugas. Peranan huungan kerja dapat dibangun dengan mengembangkan komunikasi antar anggota kelompok. Sedangkan peranan tugas dilakukan dengan membagi tugas antar kelompok selama kegiatan. Lingkungan belajar untuk pembelajaran kooperatif dicirikan oleh proses demokrasi dan peran aktif siswa dalam menentukan apa yang harus dipelajari dan bagaimana mempelajarinya. Guru merupakan suatu struktur tingkat tinggi dalam pembentukan kelompok dan mendefinisikan semua prosedur, namum siswa diberi kebebasan dalam mengendalikan dari waktu ke waktu di dalam kelompoknya. Jika pelajaran pembelajaran kooperatif ingin menjadi sukses, materi pelajaran yang lengkap harus tersedia di ruangan guru atau di perpustakaan atau dipusat media. Keberhasilan juga menghendaki syarat dari menjauhkan kesalahan tradisional, yaitu secara ketat mengelola tingkah laku siswa dalam kerja kelompok. Model pembelajaran picture and picture ini dapat digunakan dalam berbagai mata pelajaran dan tentunya dengan kemasan dan kreatifitas guru. Sejak di populerkan sekitar tahun 2002, model pembelajaran ini mulai menyebar di kalangan guru di Indonesia. Dengan menggunakan model pembelajaran tertentu maka pembelajaran menjadi menyenangkan. Selama ini hanya guru sebagai actor di depan kelas, dan seolah -olah guru-lah sebagai satu-satunya sumber belajar. Pembelajaran modern memiliki ciri Aktif, Inovatif, Kreatif, dan Menyen angkan. Model apapun yang digunakan selalu menekankan aktifnya peserta didik dalam setiap proses pembelajaran. Inovatif setiap pembelajaran harus memberikan sesuatu yang baru, berbeda dan selalu menarik minat peserta didik. Dan Kreatif, setiap pembelajaran harus menimbulkan minat kepada peserta didik untuk menghasilkan sesuatu atau dapat menyelesaikan suatu masalah dengan menggunakan metoda, teknik atau cara yang dikuasai oleh siswa itu sendiri yang diperoleh dari proses pembelajaran. Setiap model pembelajaran harus dipersiapkan dengan baik agar proses pembelajaran dapat berlangsung efektif, tanpa persiapan yang matang pembelajaran apapun akan membuat siswa menjadi jenuh. Model belajar dan pembelajaran juga harus berganti-ganti dalam beberapa pertemuan agar belajar mengajar tidak monoton dalam kelas. Model Pembelajaran picture and picture, mengandalkan gambar sebagai media dalam proses pembelajaran. Gambar gambar ini menjadi factor utama dalam proses pembelajaran ini. Sehingga sebelum proses pembelajaran guru sudah menyiapkan gambar yang akan ditampilkan baik dalam bentuk kartu atau dalam bentuk carta dalam ukuran besar. Atau jika di sekolah sudah menggunakan ICT (information comunication technology) dapat menggunakan Power Point atau software yang lain. Langkah-langkah dalam penggunaan model picture and picture 1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai Pada langkah ini guru diharapkan dapat menyampaikan apakah yang menjadi kompetensi dsar mata pelajaran yang bersangkutan. Dengan demikian mahasiswa dapat mengukur sampai sejauh mana yang harus dikuasainya. Di samping itu guru juga harus menyampaikan indicator -indikator ketercapaian kompetensi dasar. Sehingga sampai dimana KKM yang telah ditettapkan daoat dicapai oleh peserta didik. 2. Menyajikan materi sebagai pengantar Penyajian materi sebagai pengantar sesuatu yang penting, dari sini guru memberikan momentum pemulaan pembelajaran. Kesuksesan dalam proses pembelajaran dapat dimulai dari si ni. Karena guru dapat memberikan motivasi yang menarik perhatian siswa yang se;lama ini belum siap. Dengan motivasi dan teknik yang baik dalam pemberian materi akan menarik minat siswa untuk belajar lebih jauh tentang materi yang dipelajari. Guru menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar kegiatan berkaitan dengan Materi Dalam proses penyajian materi, guru mengajar siswa ikut terlibat aktif dalam proses pembelajaran dengan mengamati setiap gambar yang ditunjukkan oleh guru atau oleh temannya. 4. Guru menunjuk/memanggil siswa secara ber gantian memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis. Di langkah ini guru harus dapat melakukan motivasi, karena penunjukkan secara langsung kadang kurang efektif dan membuat siswa merasa terhukum. Salah satu cara adalah dengan undian, sehingga siswa merasa memang harus menjalankan tugas yang diberikan.gambar-gambar yang sudah ada diminta oleh siswa untuk diurutkan, dibuat atau dimodifikasi. 5. Guru menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut Setelah itu ajaklah siswa untuk menemukan rumus, tinggi, jalan cerita, atau tuntutan KD dengan indicator yang akan dicapai. Usahakan diskusi berlangsung dengan tertib dan terkendali, ingat ini adalah diskusi bukan debat, jadi guru harus mampu mengendalikan situasi yang terjadi sebagai moderator utyamanya. 6. Dari alasan dari urutan gambar tersebut guru memulai menanamkan konsep/materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai Dalam proses diskusi dan pembacaan gambar ini guru harus memberikan penekan an-penekanan pada hal ini dicapai dengan meminta siswa lain untuk mengulangi, menuliskan atau bentuk lain dengan tujuan siswa mwngetahui bahwa hal tersebut penting dalam pencapaian KD dan indicator yang telah ditetapkan. 1. Kesimpulan/rangkuman Kesimpulan dan rangkuman dilakukan dengan siswa. Guru membantu dalam proses membuat kesimpulan. 3.

teknologi dan masyarakat. values. Siswa lebih konsentrasi serta mengasyikkan bagi mereka atas tugas yang diberikan guru karena berkaitan dengan permainan mereka sehari ± hari yakni main gambar ± gambar 5. Pendekatan STM dalam pendidikan sains diyakini oleh pakarpakar di Amerika sebagai pendekatan yang tepat. and how such factors shape science and technology. menggunakan konsep dan proses sains dalam kehidupan sehari-hari. Siswa lebih kuat mengingat konsep-konsep atau bacaan yang ada pada gambar. Adapun kelebihan dari model ini adalah : y Guru dengan metode inovatif ini akan dapat dengan mudah mengetahui kemampuan masing-masing siswa. Hal ini berarti bahwa pemahaman kita terhadap hubung an antara sistem politik. y Banyak siswa yang pasif kalau tidak di panggil namanya oleh pengajar y Harus mempersiapkan banyak alat dan bahan yang berhubungan dengan materi yang akan diajarkan dengan model tersebut y Membutuhkan biaya yang tidak sedikit y Guru dituntuk untuk lebih terampil dalam menyajikan gambar sehingga mendorong motivasi siswa untuk belajar aktif y Kesuksesan model pembelajaran ini di ukur dari kelengkapan materi pelajaran dan dipusat media yang digunakan dalam pembelajaran. education must integrate across disciplines. sekarang sudah merebak ke negara-negara lain. Dengan demikian. Dalam pendekatan ini siswa diajak untuk meningkatakan kreativitas. dan bagaimana situasi sosial mempengaruhi perkembangan sains dan teknologi . Model pembelajaran Sains Teknologi dan Masyarakat Sains Teknologi Masyarakat (STM) yang diterjemahkan dari akronim bahasa Inggris STS (³Science Technology Society´) adalah sebuah gerakan pembaharuan dalam pendidikan sains. Pendekatan ini menuntut agar peserta didik diikutsertakan dalam penentuan tujuan. y Melatih berpikir logis dan sistematis siswa y Dengan model ini dapat mendorong siswa untuk aktif dalam pembelajaran y Guru hanya sebagai pendamping dalam proses belajar  Sedangkan kekurangan dari model pembelajaran ini adalah : y Memakan banyak waktu. pembelajaran dengan pendekatan STM haruslah diselenggarakan dengan cara mengintegrasikan berbagai disiplin (ilmu) dalam rangka memahami berbagai hubungan yang terjadi di antara sains.Keunggulan model pembelajaran picture and picture 1. Pandangan tersebut senada dengan pendapat NC State University (2006: 1). cara mendapatkan informasi. Memudahkan siswa untuk memahami yang dimaksudkan oleh guru ketika menyampaikan materi pembelajaran. Pembaharuan ini mula-mula terjadi di Inggris dan Amerika. Adanya saling berkompetensi antar kelompok dalam menyusun gambar yang telah dipersiapkan oleh guru sehingga seuasana kelas terasa hidup. 4. National Science Teachers Association (NSTA) (1990 :1) memandang STM sebagai the teaching and learning of science in the context of human experience. Selain itu model pembelajaran ini juga memiliki kelebihan dan kekurangan dalam penerapannya. tradisi masyarakat dan bagaimana pengaruh sains dan teknologi terhadap hubungan -hubungan tersebut menjadi bagian yang penting dalam pengembangan pembelajaran di era sekarang ini. sebab pendekatan ini berusa ha untuk menjembatani materi di dalam kelas dengan situasi dunia nyata di luar kelas yang menyangkut perkembangan teknologi dan situasi sosial kemasyarakatan. bahwa STM merupakan an interdisciplinery field of study that seeks to explore a understand the many ways that scinence and technology shape culture. sikap ilmiah. Siswa cepat tanggap atas materi yang disampiakan karena diiringi dengan gambar gambar 3. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa STM merupakan sebuah pendekatan yang dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana sains dan teknologi masuk dan merubah proses-proses sosial di masyarakat. 6. Tujuan Pendekatan STM . perencanaan. STM dipandang sebagai proses pembelajaran yang senantiasa sesuai dengan konteks pengalaman manusia. pelaksanaan. 2. 7. and institution. Siswa dapat membaca satu persatu sesuai dengan petunjuk yang ada pada gambar ± gambar yang diberikan. 2. Adapun yang digunakan sebagai penata (organizer) dalam pendekatan STM adalah isu-isu dalam masyarakat yang ada kaitannya dengan Sains dan Teknologi. Definisi lain tentang STM dikemukakan oleh PENN STATE (2006:1) bahwa STM merupakan an interdisciplinary approach which reflects the widespread realization that in order to meet the increasingdemands of a technical society. Hal ini menggambarkan bahwa pendekatan STM dijalankan untuk mempersiapkan peserta didik dalam menghadapi masa depannya. dan evaluasi pembelajaran. Menarik bagi siswa dikarenakan melalui audio visual dalam bentuk gambar ± gambar.

mengajak anak untuk berpikir dan menemukan aplikasi konsep sains dalam industri atau produk teknologi yang ada di masyarakat di sela -sela kegiatan belajar berlangsung. Masalah atau isu yang ada di lingkungan masyarakat dapat pula diusahakan agar ditemukan oleh anak sendiri setelah guru membimbing dengan cara-cara tertentu. akhirnya dibangun atau dikonstruksi pengetahuan pada anak. Hal yang paling esensial dalam membentuk manusia yang literasi sains adalah memiliki pengetahuan yang fundamental tentang sains. dan hukum-hukum. Dass (1999) dalam Raja (2009) mengemukakan empat langkah kegiatan kelas yang secara komprehensif merupakan upaya mengembangkan pemahaman murid dan pelaksanaan . menyusun topik. hukum hukum dan teori ilmiah. Pada strategi ini. Dari hal itu dapat dilihat bahwa sains selalu berkembang dari waktu ke waktu. Dalam pendidikan Sains. dalam Sadia. Contoh -contoh adanya aplikasi konsep sains. di awal pembelajaran (topik baru) guru memperkenalkan atau menunjukkan kepada peserta didik adanya isu atau masalah di lingkungan anak atau menunjukkan aplikasi sains atau suatu produk teknologi yang ada di lingkungan mereka. Tujuan utama pendidikan sains adalah mengembangkan individu-individu yang literasi sains. namun merupakan dua dimensi yang terjalin erat sebagai suatu kesatuan. Sains sebagai suatu proses. dan pemecahan masalah. 2) peserta didik mampu menggunakan berbagai jalan/ perspektif untuk mensikapi berbagai isu/ situasi yang berkembang di masyarakat berdasarkan pandangan ilmiah.Berdasarkan pengertian STM sebagaimana diungkapkan di bagian sebelumnya. konsep-konsep. STM dikembangkan dengan tujuan agar : 1) peserta didik mampu menghubungkan realitas sosial dengan topik pembelajaran di dalam kelas. Untuk mengimplementasikan pendekatan STM dalam pembelajaran. Jadi pendidikan Sains dapat digunakan sebagai wahana klarifikasi nilai. Pendidikan Sains pada hakekatnya dapat digunakan untuk membekali subjek didik dengan pengetahuan dan keterampilan proses. dan pengetahuan sebagai produk sains akan memunculkan pertanyaan baru untuk diteliti melalui proses sain s. prinsip-prinsip. Strategi kedua. tetapi juga dapat digunakan untuk menanamkan sikap dan nilai. serta keterampilan inkuiri. sehingga dihasilkan pengetahuan (produk sain) yang lebih baru lagi. Dengan demikian program STM merupaka n suplemen dari kurikulum. Implementasi pendekatan Sains. Melalui kegiatan eksperimen atau diskusi kelompok yang dirancang oleh guru. suatu topik relevan yang telah dirancang sesuai strategi pertama dapat diterapkan dalam pembelajaran. menyajikan suatu topik yang relevan dengan konsep-konsep tertentu yang termasuk dalam standar kompetensi atau kompetensi dasar. Esensi sains adalah kegunaannya sebagai alat dalam penemuan pengetahuan dengan jalan observasi. generalisasi. Sains sebagai proses dan sains sebagai produk bukanlah merupakan dua dimensi yang t erpisah. dan 3) peserta didik mampu menjadikan dirinya sebagai warga masyarakat yang memiliki tanggungjwab sosial.topik tertentu yang menyangkut konsep-konsep yang ingin ditanamkan pada peserta didik. merupakan rangkaian kegiatan ilmiah atau hasil-hasil observasi terhadap fenomena alam untuk menghasilkan pengetahuan ilmiah (scientific knowladge) atau keterampilan dan sikap-sikap yang dibutuhkan untuk memperoleh dan mengembangkan pengetahuan. yang selama ini kurang mendapat perhatian dari para guru Sains. dan dalam pengambilan keputusan bagi kepentingan umum maupun personal. yaitu: Strategi pertama. atau mengarahkan perhatian peserta didik kepada materi yang akan dibahas sebagai apersepsi. Pendidikan Sains merupakan salah satu aspek pendidikan dengan menggunakan sains sebagai alatnya untuk mencapai tujuan pendidikan pada umumnya dan pendidikan sains pada khususnya. 2009). teori-teori. Selama ini tampak bahwa pengajaran Sains di sekolah memberi tekanan yang jauh lebih besar terhadap ³Sains sebagai produk´. Pada saat membahas konsep -konsep tertentu. dari pada ³Sains sebagai proses´. isu atau masalah. pengetahuan yang berbentuk konsep -konsep. Salah satu sasaran yang dapat dicapai melalui pendidikan sains adalah ³pengertian sains´ itu sendiri (Amien. pelaksanaan pendekatan STM dapat dilakukan melalui tiga macam strategi. Proses sains akan menghasilkan pengetahuan atau produk sains yang baru. maka dapat diungkapkan bahwa yang menjadi tujuan pendekatan STM ini secara umum sebagaimana diungkapkan oleh Rusmansyah (2001: 3) adalah agar para peserta didik mempunyai bekal pengetahuan yang cukup sehingga ia mampu mengambil keputusan penting tentang masalah masalah dalam masyarakat dan sekaligus dapat mengambil tindakan sehubungan dengan keputusan yang diambilnya. eksperimen. sebaiknya diperkenalkan pada awal pokok bahasan tertentu untuk meningkatkan motivasi peserta didik mempelajari konsep-konsep selanjutnya. baik itu sains sebagai proses dan sains sebagai produk harusnya mendapat penekanan yang seimbang. Individu yang literasi sains memiliki kemampuan untuk menggunakan aspek-aspek fundamental Sains dalam memecahkan masalah -masalah dalam kehidupan sehari-hari. Literasi sains meliputi pengetahuan tentang usaha ilmiah. Strategi ketiga. Teknologi dan Masyarakat dalam Pembelajaran Biologi Menurut Poedjiadi (2005). Dalam hal ini. Sedangkan sains sebagai produk merupakan kumpulan pengetahuan yang meliputi faktafakta. Hubungan STM dengan Hakekat Pendidikan Sains Pada hakekatnya sains memiliki dua dimensi yaitu sains sebagai proses dan sains sebagai produk.

Menurut Aisyah (2007). dan mengambil tindakan. Hal ini dilakukan karena konsep-konsep kunci yang ditekankan pada akhir pembelajaran akan memiliki retensi lebih lama dibandingkan dengan kalau tidak dimantapkan atau ditekankan oleh guru pada akhir pembelajaran. karena diawali dengan hal-hal yang telah diketahui siswa sebelumnya dan ditekankan pada keadaan yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Fase Mengusulkan Penjelasan dan Solusi Pada tahap ini. Topik dapat bersifat global atau lokal. Keempat langkah pembelajaran tersebut adalah fase invitasi atau undangan atau inisiasi. Mengingat penguasaan sains dan teknologi dalam hal ini merupakan penguasaan sains dan teknologi yang berkaitan dengan aspek masyarakat. Evaluasi merupakan suatu pengukuran atau penilaian terhadap sesuatu prestasi atau hasil yang telah dicapai. eksplorasi. siswa mengatur dan mensintesis informasi yang mereka telah kembangkan sebelum nya dalam penyelidikan. H asil tersebut kemudian dilaporkan dan disajikan kepada rekan -rekan kelas untuk menggambarkan temuan. Pemahaman tentang hujan asam. 2009). memperbaiki. Pada akhir tahap kedua. perpustakaan dan sumber -sumber dokumen publik lainnya. pengembangan lebih lanjut. dilakukan dalam laboratorium untuk menyelidiki sifat -sifat asam dan basa. diskusi kelompok. kemudian menganalisis informa si tersebut. eksperimen di labolatorium. dan kemudian mengembangkan penjelasan tentatif dan proposal untuk solusi dan tindakan. posisi yang diambil. dan mengusulkan tindakan (Dass. mengusulkan penjelasan dan solusi. Jika tindakan ini melibatkan masyarakat sebagai pelaksana. Fase Invitasi Pada Preservice teachers (PSTs)atahap ini. . siswa menerapkan temuan temuan mereka dalam beberapa bentuk aksi sosial. Dari sumber -sumber informasi. tahap kedua ini merupakan proses pembentukan konsep yang dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan dan metode. dan menguji hipotesis mereka. maka kriteria pengembangan evaluasinya dapat mengacu kepada pengembangan evaluasi dalam unit STM. 1999 dalam Raja. Dengan demikian. tetapi harus merupakan minat siswa dan memberikan wilayah yang cukup untuk penyelidikan bagi siswa.suatu proyek STM yang berhubungan preservice guru. siswa dapat mengembangkan penyelidikan berbasis ilmu pengetahuan untuk menyelidiki isu -isu yang berkaitan dengan masalah ini. Menurut Aisyah (2007). guru tetap harus melakukan pemantapan konsep melalui penekanan pada konsep-konsep kunci yang penting diketahui dalam bahan kajian tertentu. metode demonstrasi. Selanjutnya berbekal pemahaman konsep yang benar siswa melanjutkan analisis isu atau masalah yang disebut aplikasi konsep dalam kehidupan. guru melakukan brainstorming dan menghasilkan beberapa kemungkinan topik untuk penyelidikan. dan tindakan yang diusulkan (Dass. Penyelidikan ini memberikan pemahaman dasar untuk pengembangan. pengujian hipotesis. Proposal ini akan dimasukkan sebagai tindakan follow up (Dass. guru dan siswa mengidentifikasi daerah kritis penyelidikan. dapat dilakukan melalui suatu evaluasi. yaitu mengaitkan peristiwa yang telah diketahui siswa dengan materi yang akan dibahas. misalnya membersihkan daerah berbahaya anak dapat menghubungi pejabat publik yang dapat mendukung pikiran dan temuan mereka. Data -data dan informasi dapat dikumpulkan melalui pertanyaan-pertanyaan atau wawancara. 1999 dalam Raja. 2009). demikian pula setelah akhir analisis isu dan penyelesaian masalah. 1999 dalam Raja. Anak menyajikan informasi ini kepada rekan -rekan kelas mereka. 2009). Misalnya pendekatan keterampilan proses. apabila selama proses pembentukan konsep dalam tahap ini tidak tampak ada miskonsepsi yang terjadi pada siswa. Eksplorasi Pada tahap ini. pendekatan sejarah. Apersepsi dalam kehidupan juga dapat dilakukan. Menurut Aisyah (2007). Data dan informasi dapat pula diperoleh melalui telekomunikasi. tampak adanya kesinambungan pengetahuan. Untuk mengungkap penguasaan pengetahuan sains dan teknologi anak selama pembelajaran. misalnya. pendekatan kecakapan hidup. Proses ini termasuk komunikasi lebih lanjut dengan para ahli di lapangan. diharapkan melalui konstruksi dan rekonstruksi siswa menemukan konsep -konsep yang benar atau konsep-konsep para ilmuan. Fase Mengambil Tindakan Berdasarkan temuan yang dilaporkan dalam fase ketiga (mengajukan penjelasan dan solusi). bermain peran dan lain -lain.

melaporkan hasil penelitian tentang perspektif guru dalam penyusunan dan pelaksanaan sebuah pembelajaran dengan pendekatan STM bahwa guru memiliki hambatan dalam penerapan pendekatan ini dan menunjukkan kekhawatiran berupa ketidaknyamanan dengan pengelompokan. Beberapa sekolah memilih waktu di sore hari atau jalur ekstrakurikuler untuk penerapan STM agar tidak terganggu dengan aktivitas belajar yang lain.Menurut Varella (1992) dalam Widyatiningtyas (2009). Penanaman konsep lebih banyak dilakuka n pada momen-momen tertentu secara tepat. dan birokrat). Konsekuensinya. siswa harus kerjasama dengan baik antar anggota kelompok agar data yang diperoleh dapat maksimal. andfrustrasi tentang populasi siswa. 3. Hasil -hasil temuan tersebut akan berguna dalam menyelenggarakan program pengembangan guru. kadang-kadang membutuhkan waktu yang panjang sehingga memerlukan analisa yang baik untuk memilih dan mengalokasikan waktu untuk implementasinya. belajar sains. Konsep. dalam hal kajian data dan konseptualisasinya dibutuhkan peran guru dalam memberikan klarifikasi dan penguatan atas hasil-hasil kerja dari tiap kelompok. nutrisi. harus dapat disikapi secara profesional oleh guru. Kekhawatiran terhadap konten dapat terjadi karena pers entasi waktu yang rendah bagi peran guru dalam transfer pengetahuan kepada anak. Oleh kar ena itu. yaitu: 1. Sehingga penggunaan pendekatan STM. gelar kasus (show case) yang dilanjutkan dengan refleksi diri. sehingga memiliki tingkat retensi yang lebih lama. atau hal-hal lain yang didasarkan pada konsep-konsep ilmiah. Biaya dibutuhkan untuk mendukung pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan STM dari mulai identifikasi masalah. sampai pelaksanaan gelar kasus ( show case). mengemukakan empat hambatan pembelajaran dengan pendekatan STM. Guru lebih banyak berperan dalam mengarahkan pengetahuan anak pada upaya penemuan masalah dan konseptualisasi berdasarkan disiplin ilmu. penjelasan. memerlukan bimbingan dan arahan dari guru. penggunaan proses ilmiah dalam menemukan konsep atau penyelidikan. Penentuan prosedur analisis dan sumber data yang akurat. Penerapan konsep-konsep dan keterampilan-keterampilan sains untuk masalah -masalah teknologi sehari-hari. yaitu wa ktu. 3. Biaya merupakan faktor yang penting dalam implementasi STM. Penggunaan alat penilaian yang variatif. 2007). dan komunikasi dengan stakeholder (orang tua. . Ketepatan masalah yang dipilih oleh siswa untuk dikaji sangat d itentukan oleh peran guru dalam mengekspose fakta-fakta. 5. . Kreativitas. masyarakat. Kompleksitas masalah dan sumber informasi yang dapat terlibat dalam pembelajaran STM.ketidakpastian tentang evaluasi. dibutuhkan kecermatan dalam menyusun alat evaluas i terutama pada domain penguasaan konsep. . Demikian pula. Aplikasi. B ahkan. Menurut Yagger (1994). Proses. dan kebingungan peran guru. biasanya dilaksanakan pada akhir semester (Aisyah. Bagi sekolah dengan populasi siswa yang tinggi dalam kelas. 2. Waktu merupakan faktor penting untuk menentukan materi-materi apa yang akan diajarkan pada siswa. Pelaksanaan seluruh fase pembelajaran pada konten terten tu. dan tes untuk mevalidasi penjelasan secara personal. pengembangan kuantitas dan kualitas pertanyaan. guru akan k ewalahan dalam pendampingan kelompok dan pembimbingan kajian masalah. 4. Jika kelompok yang dibentuk dalam kelas banyak. Sedangkan ketika kelompok dikurangi (populasi dalam kelompok tinggi) konsekuensinya dapat terjadi peran yang tidak efektif bagi anak. Pembuatan keputusan-keputusan yang berhubungan dengan kesehatan. Kompleksitas masalah dan sumber informasi juga berimplikasi pada beragamnya fokus anak dalam mengkaji konsep pengetahuan. Pemahaman prinsip-prinsip sains dan teknologi yang terlibat dalam alat -alat teknologi yang dimamfaatkan masyarakat. Aisyah (2007). evaluasi dalam STM meliputi ruang lingkup aspek: 1. 5. Penggunaan proses-proses ilmiah dalam pemecahan masalah -masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. penilaian terhadap proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan STM dapat dilakukan dengan menggunakan lima domain. dapat meningkatkan akurasi data yang dibutuhkan dalam mengevaluasi perkembangan anak. kompetensi guru. yang meliputi penguasaan konsep dasar. guru sains dan karir sains. Sikap. Teknologi dan Masyarakat dalam Pembelajaran Mitchener & Anderson (1989) dalam Raja (2009). Pemahaman konsep sains dalam pengalaman kehidupan sehari-hari. Siswa membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengumpulkan data dari nara sumber secara mendetail. mengembangkan perasaan positif dalam sains. biaya. fakta dan generalisasi. harus dirancang untuk melibatkan pihak lain dalam proses pembelajaran. Problematika Pendekatan Sains. penggunaan konsep dan proses dalam situasi yang baru atau dalam kehidupan. 2. 4. dapat menjadi masalah tersendiri bagi guru.

terutama dalam penguasaan materi inti. mengusulkan penjelasan dan solusi. eksplorasi. Kesimpulan 1. motivator dan pembimbing. Umumnya guru belum memiliki pengetahuan yang baik tentang pendekatan STM sehingga penerapan pendekatan ini masih sangat jarang ditemukan. discomfort with grouping. dan komu nikasi dengan stakeholder. dapat dirintis pembiayaan penerapan metode ini secara swadaya (Aisyah. 3. Selain itu. masih berbasis konten sehingga guru merasa dituntut untuk menyampaikan materi tepat pada waktunya dan lupa berinovasi dalam pembelajaran (Aisyah. Model Pembelajaran picture n picture mengandalkan gambar sebagai media dalam proses pembelajaran. penilai hasil belajar. Untuk kelancaran kegiatan. membanjirnya informasi ilmiah dalam dunia pendidikan. hambatan lain dalam penerapan pendekatan ini adalah siswa belum terbiasa untuk berpikir kritis dan belajar mengambil pengalaman di lapangan. komunikasi dengan orang tua perlu diintensifkan. Jigsaw pertama kali dikembangkan dan diujicobakan oleh Elliot Aronson dan teman -teman di Universitas Texas. Orang tua perlu diberi pemahaman sehingga seluruh aktivitas anak yang menyita wakt u dapat dimaklumi atau mendapat support dari orang tua (Aisyah. dan mengambil tindakan. waktu. frustrations about student population.ketidakpastian tentang evaluasi. 2007). pengelola pengajaran. peranan guru dimulai dari perencanaan pengajaran.ketidaknyamanan dengan pengelompokan. al. kompetensi professional. 2001). Model pembelajaran Jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4 6 orang secara heterogen dan bekerja sama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain (Arends. . Untuk menerapkan pendekatan ini. 4. pihak sekolah khusunya hendaknya memberi dorongan moril maupun materil untuk terselenggaranya penerapan STM ini. observasi pada pabrik produk bahan makanan dan sebagainya.kebingungan peran guru. Pendekatan STM menuntut kompetensi pedagogik. uncertainties about evaluation. menulis. Implementasi pendekatan STM. dan confusion over the teacher s role. Pendekatan STM pada hakekatnya dimaksudkan untuk menjembatani kesenjangan antara kemajuan iptek. Problematika dalam penerapan pendekatan dapat berupa concerns over conkekhawatiran konten. Teknik ini dapat digunakan dalam pengajaran membaca. dan nilai -nilai iptek itu sendiri dalam kehidupan siswa sehari-hari sebagai anggota masyarakat. kompetensi guru. atau sekolah melakukan pemrosesan izin ke lembaga yang terkait sebelum kegiatan dilaksanakan. dapat dilakuka n melalui empat fase yaitu invitasi. pihak sekolah belum mengalokasikan biaya untuk kegiatan pembelajaran STM. 1997). problem solving dan hubungan interpersonal. 2007). dan kemudian diadaptasi oleh Slavin dan teman-teman di Universitas John Hopkins (Arends. Teknik mengajar Jigsaw dikembangkan oleh Aronson et. anak perlu dibekali surat pengantar dari sekolah. biaya. 2007). Dalam hal dorongan materil. sebagai metode Cooperative Learning. kompetensi sosial dan kompetensi kepribadian yang baik. 2. ataupun berbicara. Menurut Aisyah (2007). Misalnya mengunjungi rumah sakit daerah. Kerja sama antara sekolah dengan lembaga -lembaga terkait diperlukan pada saat siswa merencanakan untuk mengunjungi lembaga tertentu atau meninjau kawasan yang menjadi tanggung jawab lembaga tertentu. Kompetensi guru sangat penting dalam pembelajaran STM. sehingga dibutuhkan k esabaran dan ketekunan guru untuk mengarahkan dan membimbing siswa dalam pembelajaran. Selain itu. andfrustrasi tentang populasi siswa. mendengarkan. Oleh karena itu. paradigma guru dalam menginterpretasikan dan mengembangkan kurikulum.Umumnya.

7. Kelebihan direct intruction Guru mengendalikan isi materi dan urutan informasi yang diterima oleh siswa sehingga dapat mempertahankan fokus mengenai apa yang harus dicapai oleh siswa. dibahasaIndonesiakan menjadi pembelajaran langsung. Menilai kinerja siswa dan memberikan umpan balik. 6. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih. rinci. siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan tetapi merka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya yang lain. Memberikan latihan mandiri. dengan mengajukan pertanyaan. 4. mis alnya melalui ceramah. gaya belajar. Dapat digunakan untuk menekankan poin-poin penting atau kesulitan-kesulitan yang mungkin dihadapi siswa sehingga hal-hal tersebut dapat diungkapkan. pengetahuan awal. Menyampaikan materi pelajaran. Merupakan cara yang paling efektif untuk mengajarkan konsep dan keterampilan -keterampilan yang eksplisit kepada siswa yang berprestasi rendah Kekurangn Dalam model pembelajaran langsung. 5. Mereviu pengetahuan dan keterampilan prasyarat.pertanyaan untuk menilai tingkat pemahaman siswa dan mengoreksi kesalahan konsep. atau ketertarikan siswa. yaitu : erada dalam tugas Mendorong partisipasi Mendenganrkan dengan aktif † † † † † Direct Instruction atau directive instruction. digunakan oleh para peneliti untuk merujuk pada pola -pola pembelajaran di mana guru banyak menjelaskan konsep atau keterampilan kepada sejumlah kelompok sis wa dan menguji keterampilan siswa melalui latihan -latihan di bawah bimbingan dan arahan guru. tingkat pembelajaran dan pemahaman. Dapat menjadi cara untuk menyampaikan informasi yang banyak dalam waktu yang relatif singkat yang dapat diakses secara setara oleh seluruh siswa. † Sintakkk Menginformasikan tujuan pembelajaran dan orientasi pelajaran kepada siswa. 2. Jika materi yang disampaikan bersifat kompleks. Doy Killen (1998:2).† Jigsaw didesain untuk meningkakan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. sulit untuk mengatasi perbedaan dalam hal kemampuan. dan tanya jawab) yang melibatkan seluruh kelas. Mendorong siswa aktif menemukan sendiri pengetahuan melalui keterampilan proses BKeutungan bagi siswa yang menggunakan model pembelajaran Jigsaw. sulit bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan sosial dan interpersonal mereka. model pembelajaran langsung mungkin tidak dapat memberi siswa kesempatan yang cukup untuk mempr oses dan memahami informasi yang disampaikan. Melaksanakan bimbingan. demonstrasi. direct instruction merujuk pada berbagai teknik pembelajaran ekspositori (pemindahan pengetahuan dari guru kepada murid secara langsung. Dapat diterapkan secara efektif dalam kelas yang besar maupun kecil. . Karena siswa hanya memiliki sedikit kesempatan untuk terlibat secara aktif. 3. atau abstrak.

Tahap keempat: 1) Guru memanggil satu nomor tertentu. bekerja dalam kelompok dan sebagainya. menghargai pendapat orang lain. Pendahuluan Fase 1: Persiapan a) Guru menjelaskan tentang pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT). Tahap pertama: 1) Penomoran Guru membagi siswa dalam kelompok beranggotakan 3-5 orang dan kepada setiap anggota kelompok diberi nomor antara 1 sampai 5. dan memberikan semangat bagi kelompok yang belum berhasil dengan baik (jika ada). 3) Siswa bergabung dengan tim atau anggotanya yang telah ditentukan. 4.Penerapan pembelajaran kooperatif tipe NHT merujuk pada konsep Kagen dalam Ibrahim (2000: 29). kemudian siswa yang nomornya sesuai mengacungkan tangannya dan mencoba menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas. Tahap kedua: Mengajukan pertanyaan: Guru mengajukan sebuah pertanyaan kepada siswa.1 Number Head Together (NHT) Tiga tujuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran kooperatif dengan tipe NHT yaitu: 1. 2) Guru menjelaskan secara singkat tentang materi. Tahap ketiga: Berpikir bersama: Siswa berfikir bersama menyatukan pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan itu dan meyakinkan tiap anggota dalam timnya mengetahui jawaban itu. b) Guru menyampaikan tujuan pembelajaran c) Guru melakukan apersepsi d) Guru memberikan motivasi pada siswa 2. Variasi dalam NHT: . 2. dengan tiga langkah yaitu : a) Pembentukan kelompok. Pertanyaan dapat amat spesifik dan dalam bentuk kalimat tanya. Pengakuan adanya keragaman: Bertujuan agar siswa dapat menerima teman -temannya yang mempunyai berbagai latar belakang. aktif bertanya. 2) Guru mengamati hasil yang diperoleh oleh masing -masing kelompok yang berhasil baik. Hasil belajar akademik stuktural: Bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas -tugas akademik. Beberapa hal (seperti psikomotorik) tidak dapat diajarkan melalui model pembelajaran langsung -------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- ISI II. b) Diskusi masalah. mau menjelaskan ide atau pendapat. Penutup Fase 3: Evaluasi 1) Dengan bimbingan guru siswa membuat rangkuman.Jika terlalu sering digunakan. model pembelajaran langsung akan membuat siswa percaya bahwa guru akan memberitahu mereka semua yang perlu mereka ketahui. 3) Guru memberikan evaluasi atau latihan soal mandiri. Anak yang terpilih dari tahap 4 dalam kelompok x adalah anak yang diharapkan menjawab. c) Tukar jawaban antar kelompok Langkah-langkah pembelajaran kooperatif NHT 1. Pengembangan keterampilan social: Bertujuan untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa. Hal ini akan menghilangkan rasa tanggung jawab mengenai pembelajaran mereka sendiri. Dalam memanggil suatu nomor gur u secara acak menyebut nomor dari 1 sampai x (x adalah banyaknya kelompok dalam kelas siswa). 2) Siswa diberi PR dari buku paket atau buku panduan lain. Kegiatan Inti Fase 2: Pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT). 3. Keterampilan yang dimaksud antara lain berbagi tugas.

Untuk masalah dengan jawaban lebih dari satu. Fase II: Menguji Pencapaian dari suatu Konsep . ada pula siswa yang mampu mencapai konsep pada tingkat klasifikatori atau tingkat formal. yakni Presentasi Data dan Identifikasi D ata. Untuk melakukan analisis konsep guru hendaknya memperhatikan beberapa hal antara lain: (1) Nama konsep. 2. Tingkat -tingkat pencapaian konsep yang diharapkan tercermin pada tujuan pembelajaran yang dirumuskan sebelum proses belajar -mengajar dimulai. e. dapat diharapkan tingkat pencapaian klasifikatori. Analisis Konsep Analisis konsep merupakan suatu prosedur yang dikembangkan untuk membantu guru dalam merencanakan urutan-urutan pengajaran concept attainment. Sebagian besar dari konsep-konsep yang dipelajari selama tingkat perkembangan pra-operasional merupakan konsep-konsep pada tingkat konkret dan identitas. Guru dapat meminta siswa lain menambahkan jawaban bila jawaban yang diberikan belum lengkap. Ada siswa yang belajar konsep pada tingkat konkret rendah atau tingkat identitas. Adapun sintaksnya dibagi ke dalam tiga fase. menguji pencapaian dari suatu konsep. yaitu: (1) menentukan tingkat pencapaian konsep (2) analisis konsep. Guru meminta tafsiran siswa 3. guru dapat meminta kelompok lain apakah setuju atau tidak setuju dengan jempol ke atas atau ke bawah. dan tingkat perkembangan kognitif siswa. 3. Guru mempresentasikan contoh-contoh yang sudah diberi nama (berlabel). c. Telah dipahami bahwa tingkat-tingkat perkembangan kognitif Piaget dapat membimbing guru untuk menentukan tingkat-tingkat pencapaian konsep yang diharapkan. Siswa menyatakan suatu definisi menurut atribut essensinya. Siswa membandingkan contoh-contoh positif dan contoh-contoh negatif. (2) Attribute-attribute kriteria dan attribute -attribute variabel dari konsep. Siswa membangkitkan dan menguji hipothesis. 2. guru dapat me minta siswa dari setiap kelompok -kelompok yang berbeda untuk masing-masing memberi sebagian jawaban. 2. Guru meminta siswa untuk mendefinisikan Langkah-langkah kegiatan pembelajaran sebagai berikut: 1.a. Sedangkan tingkat pencapaian konsep formal dapat diharapkan apabila pengajaran yang tepat diberikan pada siswa yang telah mencapai perkembangan operasional formal. (4) Contoh-contoh dan noncontoh dari konsep. 4. Selama tingkat operasional konkret. 1. dan analisis berpikir strategi. Fase I: Presentasi Data dan Identifikasi Data Langkah-langkah kegiatan mengajar sebagai berikut: 1. d. (3) Definisi konsep. Siswa mengajukan hasil tafsirannya.2 Model Pembelajaran Concept Attainment Ada dua hal penting dalam pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran concept attainment. Model pembelajaran concept attainment dilakukan melalui fase -fase yang dikemas dalam bentuk sintaks. (5) Hubungan konsep dengan konsep-konsep lain. Seluruh siswa yang menanggapi dapat menulis jawabannya di papan tulis atau di kertas pada saat yang sama. b. Menentukan Tingkat Pencapaian Konsep Tingkat pencapaian konsep (concept attainment) yang diharapkan dari siswa sangat tergantung pada kompleksitas dari konsep. Seluruh siswa dapat memberi jawaban secara serentak. Setelah seorang siswa menjawab. II.

Apabila guru menggunakan model pembelajaran concept attainment. 3. Pada Fase II: Siswa menguji pencapaian tentangn konsepnya. Siswa mencari contoh lainnya. ceritera. merevisi pilihan konsep atau attribute yang dibutuhkannya. Siswa memberi nama konsep. (hipothesisnya tidak perlu dikonfirmasikan hingga fase berikutnya. dan mendesain material dan ide -ide itu ke attribute yang jelas. Pada Fase III: Siswa mulai menganalisis strategi konsep -konsep yang telah tercapai. dan menyatakan kembali definisi menurut atribut essensinya. Guru menkonfirmasikan hipothesis. tetapi nama-nama dapat diberitahukan apabila konsepnya sudah dikonfirmasikan). dan bahkan membuat conto h-contoh positif dan negatif dari suatu konsep. Langkah-langkah kegiatan pembelajaran sebagai berikut: 1. Siswa mendiskusikan berbagai pemikirannya. Guru meminta contoh-contoh lain. 2. Unit-unit dipresentasikan dengan cara berpasangan. aktivitas guru adalah merekam hipothesis siswa. masyarakat. Contoh -contoh dipaparkan dan disusun serta diberi nama dengan kata ³yes´ atau ³no´. mengekstrak ide-ide dan material dari buku-buku teks dan sumber lainnya. guru memilih konsep. Pembelajar (siswa) diberi informasi bahwa semua contoh positif biasanya memil iki satu ide. Fase III: Analisis Startegi Berpikir Langkah-langkah kegiatan mengajar sebagai berikut: 1. Sintaks: Pada Fase I: Guru mempresentasikan data kepada siswa. pertama dengan cara mengidentifikasi secara benar contoh -contoh tambahan yang belum diberi nama dan kemudian membangkitkan contoh -contohnya sendiri. Guru juga memberikan bantuan . siswa ditanya tentang nama konsep-konsepnya dan menyataka aturan yang telah dibuatnya atau mendefinisikan konsepnya menurut attribute essensialnya. dan apa yang terjadi apabila hipothesisnya t idak terkonfirmasi. Guru meminta siswa untuk mengidentifikasi contoh -contoh tambahan yang tidak bernama. Langkah-langkah kegiatan pembelajaran sebagai berikut: 1. apakah mereka melakukan satu kali atau beberapa kali. Setiap unit data contoh dan non -contoh setiap konsep dipisahkan. 3. Guru dalam pengajaran model pembelajaran concept attainment harus terlebih dahulu mempersiapkan contoh contoh. serta merangkaikan contoh-contoh. 2. Data dapat berupa peristiwa. menyeleksi dan mengorganisir materi ajar ke dalam contoh positif dan contoh negatif. terutama buku-buku teks tidak didesain untuk pembelajaran konsep.Langkah-langkah kegiatan mengajar sebagai berikut: 1. Sistem Sosial Sebelum guru melakukan proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran concept attainment. Tugas siswa adalah mengembangkan suatu hipothesis tentang hakekat konsep. Guru membimbing diskusi. Umumnya materi pelajaran. mereka dapat membandingkan keefektifan dari perbedaan strateginya. guru (dan siswa) mengkonfirmasikan keaslian hipothesisnya. siswa mungkin tidak mengetahui nama-nama beberapa konsep. Akhirnya. Setelah itu. Guru bertanya mengapa dan bagaimana. objek. Siswa dapat menjelaskan pola-polanya. nama -nama konsep. Siswa menguraikan pemikirannya. apakah siswa berfokus pada atribut atau konsep. Siswa disarankan mengkonstruksi konsepnya. Siswa memberi contoh -contoh. 2. Siswa bertanya untuk membandingkan dan menjastifikasi atribut tentang perbedaan contoh-contoh. 3. Mereka melakukan suatu perubahan strategi? Secara bertahap. 2. gambar atau unit lain yang dapat dibedakan. Siswa mendiskusikan peran hipothesis dan atributnya.

Pemberian Jawaban 4. dan kemudian menyimpan di dalam otaknya. mampu memperdalam pemahaman siswa. 2. guru musti mampu mendorong analisis siswa. mengembangkan rasa saling memiliki. sehingga siswa lebih produktif dalam pembelajaran. mengolah. siswa tidak hanya dapat menggambarkan bagaimana mereka memperoleh konsep. apapun bentuk hipothesis siswa itu. Penomoran b. Salah satu metode pembelajaran kooperatif adalah Numbered Head Together (NHT). Apabila siswa dipresentasikan dengan contoh -contoh. guru musti mampu merubah perhatian siswa terhadap analisis konsep dan strategi berpikirnya. yaitu melakukan perekaman. Memberikan dukungan hipothesis yang diajukan siswa melalui diskusi terlebih dahulu. Pada fase akhir dari model pembelajaran concept attainment ini. 2006). Model NHT adalah bagian dari model pembelajaran kooperatif struktural. Oleh karena itu. pengajaran konsep dan untuk menolong siswa menjadi lebih efektif dalam mempelajari konsep -konsep. Model pembelajaran concept attainment ini dapat memberikan suatu cara menyampaikan konsep dan mengklarifikasi konsep-konsep serta melatih siswa menj adi lebih efektif pada pengembangan konsep. prosedur pembelajaran kooperatif dapat juga digunakan. Number Head Together adalah suatu Model pembelajaran yang lebih mengedepankan kepada aktivitas siswa dalam mencari. prinsip-prinsip pengelolaan dari model pembelajaran concept attainment ini sebagai berikut: 1. Memberikan bantuan kepada siswa dalam mempertimbangkan keputusan hipothesisnya. tetapi mereka dapat lebih efisien untuk mengubah strategi dan pembelajaran mereka dengan menggunakan sesuatu yang baru. yang menekankan pada struktur -struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. walaupun hipothesis siswa tersebut berlawanan dengan hipothesis siswa lainnya. Dalam hal ini menekankan kepada siswa. Menurut Kagan (2007) model pembelajaran NHT ini secara tidak langsung melatih siswa untuk saling berbagi informasi. yaitu: a. Memberikan bantuan kepada siswa dalam menilai strategi berpikirnya. kemudian guru kembali menjadi sangat mendukung hipothesis siswa. menyenangkan siswa dalam belajar. mengembangkan sikap positif siswa. dan menciptakan dialog yang kondusif untuk menguji hipothesis siswa. 3. dan menghadirkan data tambahan. Sesungguhnya. b. Memusatkan perhatian sis wa kepada contoh-contoh yang khusus. tetapi bagaimana mencapai konsep yang telah dipilih guru. Model NHT memiliki kelebihan diantaranya dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. memberikan isyarat. Langkah awal dalam melakukan model pembelajaran concept attainment adalah membantu siswa memberikan contoh konsep yang sudah terstruktur dengan benar. Š Problem Based Learning adalah suatu model pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang penting dari materi pelajaran . 5. mengembangkan sikap kepemimpinan siswa. mengembangkan rasa ingin tahu siswa. mengembangkan konsep. kita akan mengkonstruk latihan-latihan pencapaian konsep bahwa kita dapat belajar bagaimana siswa berpikir. 3. Akhirnya. serta mengembangkan keterampilan. Sistem Pendukung Pelajaran concept attainment membutuhkan presentasi kepada siswa tentang exemplar positif dan negatif. 6. maka siswa tersebut menguraikan karakteristik dari contoh -contoh itu (atribut). Sintaks NHT dijelaskan sebagai berikut: a. Prinsip-Prinsip Pengelolaan Reaksi Selama pembelajaran berlangsung. kita dapat mempengaruhi bagaimana siswa akan memproses informasi ( Joyce: 2000). Dalam model pembelajaran concept attainment. mendengarkan dengan cermat serta berbicara dengan penuh perhitungan. meningkatkan rasa percaya diri siswa. Ada tiga hal penting yang dilakukan oleh seorang guru dalam melakukan aktivitas concept attainment.contoh-contoh tambahan. guru mendukung hipothesis siswa. 2. Model pembelajaran concept attainment didesain untuk menganalisi s konsep. sumber data dibutuhkan untuk diketahui terlebih dahulu dan attribute-nya dapat dilihat. Model pembelajaran concept attainment merupakan metode yang efisien untuk mempresentasikan informasi yang telah terorganisir d ari suatu topik yang luas menjadi topik yang lebih mudah dipahami untuk setiap stadium perkembangan konsep. mengubah cara kita memberikan informasi dan memodifikasi sedikit model. Berpikir Bersama d. dengan memberikan penek anan. 4. Pengajuan Pertanyaan c. Tiga faktor penting yang perlu diketahui dalam concept attainment. dan melaporkan informasi dari berbagai sumber yang akhirnya dipresentasikan di depan kelas (Rahayu. bahwa pekerjaan siswa dalam pengajaran concept attainment adalah bukan pada penemuan konsep-konsep baru. c. BAB III KESIMPULAN 1.

Formulate the hypothesis that measures students formulate various possible solutions in accordance with the knowledge he had. 2009 PBL learning model has a purpose: To enhance critical thinking skills and problem -solving skills. Pemodelan peran orang dewasa. Membentuk pebelajar yang otonom dan mandiri. and make it as independent learners Merumuskan masalah yaitu langkah siswa menentukan masalah yang akan dipecahkan. siswa dikondisikan sebagai orang dewasa untuk berpikir dan bekerja dalam memecahkan masalah yang melibatkan siswa dalam pembelajaran nyata. Membimbing penyelidikan individu atau kelompok. Selain itu model pembelajaran PBL juga meningkatkan kemampuan siswa untuk menjawab pertanyaan secara terbuka dengan banyak alternatif jawaban benar dan pada akhirnya mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis berupa peningkatan dari pemahaman ke aplikasi. Collecting data that students find and describe the steps necessary information for solving problems. Mengorganisasikan siswa untuk belajar. Merumuskan hipotesis yaitu langkah siswa merumuskan berbagai kemungkinan pemecaha n sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya. kerjasama yang dilakukan dalam PBL mendorong munculnya berbagai keterampilan sosial dalam berpikir. analysis. cooperation conducted in PBL encourages the emergence of various social skills in thinking. dan men jadikannya sebagai pebelajar mandiri According Nurhadi and Senduk in Fitriyanti. Establishing an autonomous and independent learners. Formulate the problem of students step to determine the problem to be solved. Testing the hypothesis that students take a step or formulate conclusions in accordance with the acceptance and rejection of the hypot hesis proposed Formulate alternative solutions to problems that students describe alternative measures that can be done as defined by the results of hypothesis testing and formulation of conclusions. analisis. Analysing the problem namely step students to critically review the issue from various viewpoints. sintesis. Organize students to learn. synthesis. In addition. 2009 model pembelajaran PBL memiliki tujuan: Untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan keterampilan memecahkan masalah. Modeling the role of adults as an adult student conditioned to think and work in solving problems that involve students in real learning. Develop and present the results of the work and analyze Evaluating the problem solving process Š Š Š Š Š Š Š Š Š Š Š Š Š Menurut Nurhadi dan Senduk dalam Fitriyanti. Pengujian hipotesis yaitu langkah siswa mengambil atau merumuskan kesimpulan sesuai dengan pen erimaan dan penolakan hipotesis yang diajukan Merumuskan alternatif pemecahan masalah yaitu langkah siswa menggambarkan alternatif yang dapat dilakukan sesuai rumusan hasil pengujian hipotesis dan rumusan kesimpulan. Mengumpulkan data yaitu langkah siswa mencari dan menggambarkan informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah. Menganalisis masalah yaitu langkah siswa meninjau masalah secara kritis dari berbagai sudut pandang. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya serta menganalisis Mengevaluasi proses pemecahan masalah Orient students to the problem. the PBL learning model also en hance students' ability to answer questions openly with many alternative correct answers and in turn can improve critical thinking skills by increasing the understanding of the application. Š Š Š Š Š Š Š Š Š Š Š Š Š Š Š .Š Problem Based Learning is a learning model that uses real -world problems as a context for students to learn about critical thinking and problem solving skill s and to gain important knowledge and concepts of the subject matter Mengorientasikan siswa pada masalah. Guide the investigation of individuals or groups.

membangkitkan rasa ingin tahu siswa untuk meningkatkan semangat bereksp lorasi sehingga siswa belajar secara aktif. Siswa melakukan langkah kegiatan belajar aktif dan menerapkan keterampilan berpikir kritis yang dipadukan dengan metode ilmiah. Tanpa pemahaman pada siswa mengapa mereka harus berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari maka siswa tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari. Melatih Siswa untuk Melatih keberanian Melatih Siswa dapat berinteraksi dengan Baik terhadap sesama Tingkah Laku Guru Guru menyajikan kejadian-kejadian atau fenomena yang memungkinkan siswa menemukan masalah Observasi untuk menemukan masalah Tahap 2 Merumuskan masalah Guru membimbing siswa merumuskan masalah penelitian berdasarkan kejadian dan fenomena yang disajikannya Tahap 3 Mengajukan hipotesis Guru membimbing siswa untuk mengajukan hipotesis terhadap masalah yang telah dirumuskannya Tahap 4 Merencanakan pemecahan masalah (melalui eksperimen atau cara lain) Guru membimbing siswa untuk merencanakan pemecahan masalh. meningkatkan pengembangan keterampilan berpikir kritis melalui kegiatan belajar seperti pada bidang sains.Š Š Š Š Š Š Š Š Tahap Tahap 1 Siswa akan merasa malas untuk mencoba jika tidak memili ki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari dapat dipecahkan. guru membimbing dan memfasilitasi Tahap 6 Melakukan pengamatan dan pengumpulan data Guru membantu siswa melakukan pengamatan tentang hal-hal yang penting dan membantu mengumpilkan dan mengorganisasi data . Keberhasilan penerapan model pembelajaran PBL membutuhkan cukup waktu untuk persiapan. membantu menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan dan menyusun prosedur kerja yang tepat Tahap 5 Melaksanakan eksperimen (atau cara pemecahan masalh yang lain) Selama siswa bekerja. membangun pemahaman mereka sendiri.

siswa bekerja dalam tim untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut Siswa dapat Berkomunikasi dan Berinteraksi degan baik antar Kelompok Melatih siswa untuk berkerja sama dan bertanggung jawab nilai pada suatu proses ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ Fase Fase Perilaku Guru . yaitu sebagai koordinator tim. eksperimen dan kesimpulan tentang hasil percobaan juga diperoleh sendiri. penasihat teknis. Pendekatan ini dapat diperlakukan pada siswa yang belum pengalaman dalam inkuiri. siswa diberi motivasi untuk memecahkan masalah yang bisa dilakukan dalam kelompok/perorangan. pencatat data. evaluator proses Siswa lebih difokuskan pada pemberian kejelasan tentang suatu tata aturan attar nilai pembelajaran Siswa Lebih mudah memahami Materi belajar menciptakan situasi mampu memacu keberhasilan individu melalui kelompoknya. Siswa Dapat mempelajari keterampilan -keterampilan khusus yaitu hubungan kerja dan tugas. siswa melakukan sendiri sebagai seorang ilmuan. Inkuiri terbimbing siswa memperoleh Petunjuk petunjuk seperlunya yang berupa pertanyaan yang bersifat membimbing.Tahap 7 Analisis data Tahap 8 Penarikan kesimpulan dan penemuan Guru membantu siswa menganalisis data supaya menemukan suatu konsep Guru membimbing siswa mengambil kesimpulan berdasarkan data dan menemukan sendiri konsep yang ingin ditanamkan. Siswa melakukan penelitian sendiri. melibatkan siswa dalam tim -tim yang masing masing terdiri atas empat orang untuk memecahkan masalah yang diberikan. Masing masing anggota memegangperanan yang berbeda.

mendiskusikannya secara bersama sama.Fase 1 Menyampaikan tujuan dan memotivasi siwa Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar. Fase 2 Menyajikan informasi Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan. Fase 3 Mengorganisasi siswa ke dalam kelompok Kelompok belajar Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana cara membentuk kelompok belajar dan membantu setiap agar melakukan transisi secara efisien. Fase 5 Evaluasi Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya. Fase 4 Membimbing kelompok belajar dan bekerja Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka. serta membahas jawaban tugas yang diberikan guru. Fase 6 Memberikan penghargaan Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok. Aspekkk Aspek Tipe STAD Tujuan Kognitif Informasi akademik sederhana Tujuan Sosial Kerja kelompok dan kerja sama . Memberikan tugas kepada kelompok berkaitan dengan materi yang telah diberikan. Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara Individu sehingga akan diperoleh nilai awal kemampuan siswa. saling membantu antaranggota lain.

1 kotak kartu nomor. Step 3: Turnamen. Permainan TGT berupa pertanyaan-pertanyaan yang ditulis pada kartu-kartu yang diberi angka. 1 lbr jawaban. Dalam TGT siswa memainkan game akademik dengan anggota tim lain untuk menyumbangkan poin bagi skor timnya. pada tahap ini guru menyampaikan materi pelajaran. Guru menyampaikan pelajaran. Teman satu tim akan saling membantu dalam mempersiapkan diri untuk permainan dengan mempelajari lembar kegiatan dan menjelaskan masalah -masalah satu sama lain. Step 4: Rekognisi Tim. . 2008). Games Tournament dimasukkan seb agai tahapan review setelah setelah siswa bekerja dalam tim (sama dengan TPS). tanpa menghiraukan dari meja mana ia mendapatkannya. kemampuan setara). Step 2: Belajar Tim. Secara umum. 1 lbr skor permainan. Tim dengan tingkat kinerja tertinggi mendapatkan sertifikat atau bentuk penghargaan tim lainnya. Siswa mencabut kartu untuk menentukan pembaca I (nomor tertinggi) dan yang lain menjadi penantang I dan II. Guru menentukan nomor urut siswa dan menempatkan siswa pada meja turnamen (3 orang . tetapi sewaktu siswa sedang bermain dalam game temannya tidak boleh membantu. di mana ketiga peserta dalam satu meja turnamen ini adalah para siswa yang memiliki rekor nilai IPA terakhir yang sama.Struktur tim Kelompok heterogen dengan 4-5 anggota Pemilihan topic pelajaran Biasanya guru Tugas utama Siswa dapat menggunakan lembar kegiatan dan saling membantu untuk menutaskan materi belajarnya Penilaian Tes mingguan Pengakuan Lembar pengetahuan dan publikasi lain eams Games-Tournaments (TGT) pada mulanya dikembangkan oleh David DeVries dan Keith Edwards. para siswa memainkan game akademik dalam kemampuan yang homogen. lalu siswa bekerja dalam tim mereka un tuk memastikan bahwa semua anggota tim telah menguasai pelajaran (Slavi. Siswa memainkan game ini bersama tiga orang pada ³meja -turnamen´. Peraih rekor tertinggi dalam tiap meja turnamen akan mendapatkan 60 poin untuk timnya. pembelajaran kooperatif tipe TGT memiliki prosedur belajar yang terdiri atas siklus regular dari aktivitas pembelajaran kooperatif. Ini berarti bahwa mereka yang berprestasi rendah (bermain dengan yang berprestasi rendah juga) dan yang berprestasi tinggi (bermain dengan yang berprestasi tinggi) kedua -duanya memiliki kesempatan yang sama untuk sukses. sebagai berikut: 1. dengan meja turnamen tiga peserta (kompetisi dengan tiga peserta). Tiap-tiap siswa akan mengambil sebuah kartu dan berusaha untuk menjawab pertanyaan yang sesuai dengan angka yang tertera. 2. Setiap meja terdapat 1 lembar permainan. TGT memiliki dimensi kegembiraan yang diperoleh dari penggunaan permainan. para siswa dikelompokkan dalam tim belajar yang terdiri atas empat orang yang heterogen. Sedangkan Pelaksanaan games dalam bentuk turnamen dilakukan dengan prosedur. memastikan telah terjadi tanggung jawab individual. Turnamen ini memungkinkan bagi siswa untuk menyumbangkan skor-skor maksimal buat kelompoknya. sebagai berikut: y y y y Step 1: Pengajaran. dan tim tersebut akan direkognisi apabila mereka berhasil melam paui kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya. Turnamen ini juga dapat digunakan sebagai review materi pelajaran. Sebuah prosedur ³menggeser kedudukan´ membuat permainan ini cukup adil. para siswa mengerjakan lembar kegiatan dalam tim mereka untuk menguasai materi. skor tim dihitung berdasarkan skor turnamen anggota tim. Dalam Implementasinya secara teknis Slavin (2008) mengemukakan empat langkah utama dalam pembelajaran dengan teknik TGT yang merupakan siklus regular dari aktivitas pembelajaran. Dalam TGT.

Secara psikologis. Pengelompokan siswa yang heterogen mendorong interaksi yang kritis dan saling mendukung bagi pertumbuhan dan perkembangan pengetahuan atau kognitif. tidak ada satupun model pembelajaran yang cocok untuk semua materi. Meningkatkan perasaan/persepsi siswa bahwa hasil yang mereka peroleh tergantung dari kinerja dan bukannya pada keberuntungan. di mana usaha berorientasi tujuan dari tiap individu tidak memiliki konsenkuensi apa pun bagi pencapaian tujuan anggota lainnya. pembelajaran kooperatif dengan teknik TGT. memiliki keunggulan dan kelemahan dalam implementasinya terutama dalam hal pencapaian hasil belajar dan efek psikologis bagi siswa. Jika benar kartu disimpan sebagai bukti skor. siswa menghitung kartu dan skor mere ka dan diakumulasi dengan semua tim. 8. Slavin (2008). Setiap model pembelajaran memiliki karakteristik yang menjadi penekanan dalam proses implementasinya dan sangat mendukung ketercapaian tujuan pembelajaran. Pembaca I menggocok kartu dan mengambil kartu yang teratas. Tim Baik (kriteria bawah) 10. 6. individualistik. Jika jawaban penantang salah. mereka dapat mengajukan ja waban secara bergantian. Penghargaan sertifikat. Sedangkan dari perspektif teori kognitif. dia dikenakan denda mengembalikan kartu jawaban yang benar (jika ada). Pembaca I membaca soal sesuai nomor pada kartu dan mencoba menjawabnya. Dari tinjuan psikologis. di mana usaha berorientasi tujuan dari tiap individu memberi konstribusi pada pencapaian tujuan anggota yang lain. lingkungan belajar yang diciptakan guru dapat direspon beragama oleh siswa sesuai dengan modalitas mereka. atau elaborasi dari materi. . Salah satu cara elaborasi yang paling efektif adalah menjelaskan materinya kepada orang lain. Asumsi dasar dari teori pembangunan kognitif adalah bahwa interaksi di antara para siswa berkaitan dengan tugas -tugas yang sesuai mengingkatkan penguasaan mereka terhadap konsep kritik. kompetisi yang lebih sedikit) Keterlibatan siswa lebih tinggi dalam belajar bersama. TGT meningkatkan kehadiran siswa di sekolah pada remaja -remaja dengan gangguan emosional. tetapi menggunakan waktu yang le bih banyak. 4. 7. Dalam hal ini. Setelah selesai. Menurut Slavin (2008). sebagai berikut: y y y y y y Para siswa di dalam kelas -kelas yang menggunakan TGT memperoleh teman yang secara signifikan lebih banyak dari kelompok rasial mereka dari pada siswa yang ada dalam kelas tradisional. Oleh karena itu. Dua teori utama yang mendukung pembelajaran kooperatif adalah teori motivasi dan teori kognitif. kompetitif. kooperatif. 9. 5. yaitu: 1. Namun demikian. TGT meningkatkan harga diri sosial pada siswa tetapi tidak untuk rasa harga diri akademik mereka. di mana usaha berorientasi tujuan dari tiap individu menghalangi pencapaian tujua n anggota lainnya. Deutsch (1949) dalam Slavin (2008) mengidentifikasikan tiga struktur tujuan dalam pembelajaran kooperatif. melaporkan beberapa laporan hasil riset tentang pen garuh pembelajaran kooperatif terhadap pencapaian belajar siswa yang secara inplisit mengemukakan keunggulan dan kelemahan pembelajaran TGT. Tim Sangat Baik (kriteria tengah). TGT meningkatkan kekooperatifan terhadap yang lain (kerja sama verbal dan nonberbal.3. tidak ada sanksi dan kartu dikembalikan. Selanjutnya siswa berganti posisi (sesuai urutan) dengan prosedur yang sama. orang yang belajar harus terlibat dalam semacam pengaturan kembali kogn itif. Untuk melanjutkan turnamen. perspektif motivasional pada pembelajaran kooperatif terutama memfokuskan pada penghargaan atau struktur tujuan di mana para siswa bekerja. 3. situasi dan anak. Penelitian psikologi kognitif menemukan bahwa jika informasi ingin dipertahankan di dalam memori dan berhubungan dengan informasi yang sudah ada di dalam memori. Jika jawaban salah. mereka harus membantu teman satu timnya untuk melakukan apa pun agar kelompok berhasil dan mendorong anggota satu timnya untuk melakuk an usaha maksimal. terdapat dasar teoritis yang ku at untuk memprediksi bahwa metode-metode pembelajaran kooperatif yang menggunakan tujuan kelompok dan tanggung jawab individual akan meningkatkan pencapaian prestasi siswa. 2. Slavin (2008) mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif menekankan pada pengaruh dari kerja sama terhadap pencapaian tujuan pembelajaran. Tim Super untuk kriteria atas. guru dapat melakukan pergeseran tempat siswa berdasarkan prestasi pada meja turnamen. struktur tujuan kooperatif menciptakan sebuah situasi di mana satu-satunya cara anggota kelompok bisa meraih tujuan pribadi mereka adalah jika kelompok mereka sukses. Keunggulan dan Kelemahan Pembelajaran TGT Riset tentang pengaruh pembelajaran kooperatif dalam pembelajaran telah banyak dilakukan oleh pakar pembelajaran maupun oleh para guru di sekolah. Dari pespektif motivasional. Jika penantang I dan II memiliki jawaban berbeda. lebih sedikit yang menerima skors atau perlakuan lain.

saling tukar ja waban. Sintak Berikan bahan ajar berupa modul Buat kelompok heterogen dan Siswa belajar kelompok dengan dibantu oleh siswa pandai anggota kelompok secara individual. Model pembelajaran TAI ini merupakan pembelajaran secara kelompok dimana terdapat seorang siswa yang lebih mampu. Slavin. Hasil belajar siswa secara individual didiskusikan dalam kelompok. guru harus merancang alat penilaian khusus untuk mengevaluasi tingkat pencapaian belajar siswa secara individual. Guru memfasilitasi siswa Guru memberikan kuis kepada siswa secara individual Guru memberi penghargaan pada kelompo Hasil belajar siswa yang diharapkan dari model TAI Membantu siswa yang lemah belajar Meningkatkan motivasi belajar pada diri siswa Meningkatkan hasil belajar Meningkatkan keaktifan siswa dalam belajar dan diskusi ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡ . Model TAI dirancang sebagai model pembelajaran yang mengkombinasikan pembelajaran individu dengan pembelajaran kooperatif. Dengan demikian. 8 komponen dalam pembelajaran TAI Placement Test Teams Teaching Group Team Study Student Creative Team Scores and Team Recognition Fact Test Whole-Class Units Langkah2 Guru memberikan tugas kepada siswa secara individual Guru memberikan kuis secara individual Guru membentuk beberapa kelompok. berperan sebagai asisten yang bertugas membantu secara individual siswa lain yang kurang mampu dalam satu kelompok. Dalam hal ini peran pendidik hanya sebagai fasilitator dan mediator dalam proses belajar mengajar Dikemukakan oleh Robert E. Tipe ini dirancang untuk mengatasi kesulitan belajar siswa secara individual. saling berbagi sehingga terjadi diskusi Penghargaan kelompok dan refleksi serta tes formatif.Sebuah catatan yang harus diperhatikan oleh guru dalam pembelajaran TGT adalah bahwa nilai kelompok tidaklah mencerminkan nilai individual siswa.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->