P. 1
Fair Trade Vs

Fair Trade Vs

|Views: 839|Likes:
Published by Ayu Rezki Wulandary

More info:

Published by: Ayu Rezki Wulandary on May 01, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/08/2013

pdf

text

original

Sections

  • 29. 4. Pengaruh Fair Trade terhadap Perekonomian
  • Indonesia

Fair Trade Vs. Free Trade

15 12 2009

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Secara langsung dan tidak langsung efek dari perdagangan internasional sudah masuk ke sendi-

sendi kehidupan umat manusia yang sesederhana mungkin, sebagai contoh jika kita pergi ke

sebuah toko dan perhatikanlah produk-produk di toko tersebut darimana asalnya, mungkin

produk-produk tersebut ada yang buatan asli dalam negeri dan banyak pula yang berasal dari luar

negeri (barang impor). Hal sekecil tersebut merupakan salah satu contoh dari perdagangan bebas

yang mengizinkan produk-produk dari belahan dunia manapun untuk masuk ke negeri kita.

Melalui instrumen perdagangan bebas (free trade) kita dapat menikmati produk-produk dari

mancanegara tanpa harus melancong ke negara itu terlebih dahulu, jelas ini merupakan

keuntungan tersendiri yang dapat dirasakan oleh suatu individu. Dan untuk halnya negara

perdagangan bebas juga dapat meningkatkan devisa negara dengan melakukan kegiatan expor

dan mengurangi impor untuk mencapai surplus perdagangan.

Namun pada realitasnya sulit untuk melakukan perdagangan bebas yang saling menguntungkan

antara suatu negara dengan negara lain yang kerap kali hanya menguntungkan salah satu dari

negara itu saja, negara yang diuntungkan biasanya hanya negara-negara yang memiliki kekuatan

ekonomi saja, sedangkan negara-negara berkembang selalu dipersulit apabila komoditas

expornya memasuki negara-negara tersebut.

Akibat dari konflik antara negara maju dengan negara berkembang di dalam perdagangan bebas

yang kerap kali merugikan negara berkembang, muncullah isu perdagangan adil (fair trade). Fair

trade bertujuan untuk perbaikan penghidupan produsen melalui hubungan dagang yang sejajar,

mempromosikan peluang usaha dan kesempatan bagi produsen lemah atau termarjinalisir

meningkatkan kesadaran konsumen melalui kampanye fair trade, mempromosikan model

kemitraan dalam perdagangan yang adil, mengkampanyekan perubahan dalam perdagangan

konvensional yang tidak adil, melindungi hak azasi manusia, pendidikan konsumen dan

melakukan advokasi bagi terciptanya kondisi yang lebih baik, khususnya yang berpihak kepada

produsen kecil sehingga mereka dapat berpartisipasi di pasar.[1]

Tertarik dengan latar belakang tersebut, maka tim penulis mencoba untuk mengangkat

permasalahan tersebut dan menuangkannya dalam makalah dengan judul ³PERDAGANGAN

INTERNASIONAL : FAIR TRADE VERSUS FREE TRADE´.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang yang sudah diuraikan diatas, maka penulis mencoba untuk

mengidentifikasi masalah yang menjadi topik pembahasan dalam penulisan ekonomi politik

internasional, yaitu :

1. Apa yang dimaksud dan konsep dari perdagangan bebas (free trade)?

2. Apa yang dimaksud dan konsep dari perdagangan adil (fair trade)?

3. Bagaimana korelasi antara perdagangan bebas (free trade) dengan perdagangan adil (fair

trade) di dalam perdagangan internasional?

C. Pokok Masalah

Perdagangan internasional sering dibatasi oleh berbagai pajak negara, biaya tambahan yang

diterapkan pada barang ekspor impor, dan juga regulasi non tarif pada barang impor. Secara

teori, semua hambatan-hambatan inilah yang ditolak oleh perdagangan bebas. Namun dalam

kenyataannya, perjanjian-perjanjian perdagangan yang didukung oleh penganut perdagangan

bebas ini justru sebenarnya menciptakan hambatan baru kepada terciptanya pasar bebas.

Perjanjian-perjanjian tersebut sering dikritik karena melindungi kepentingan perusahaan-

perusahaan besar.

Perdagangan internasional bisa sangat menguntungkan lewat instrumennya yaitu perdagangan

bebas. Hal ini memungkinkannya dimasuki suatu pasar dari suatu negara. Sejak dari berakhirnya

perang dunia ke-2 sudah terciptanya pengurangan tarif secara global dari 40% sampai 5%.

Menurut data dari World Bank suatu negara yang terlibat dari perdagangan bebas pertumbuhan

ekonominya akan melibihi 5% per tahun, sementara bagi negara-negara miskin yang mengikuti

perdagangan bebas pertumbuhan ekonominya hanya mencapai 1%. Disamping data-data

tersebut, hal jelasnya adalah jutaan orang di dunia masih hidup dibawah garis kemiskinan akibat

dari perjanjian dagangan yang tidak adil ini.[2]

Seiring dengan banyaknya perdebatan mengenai free trade terutama antara negara maju sebagai

pihak yang di anggap merugikan negara berkembang dengan penekanan di bidang perekonomian

yang menyengsarakan. Maka dari perdebatan itu lahirnya suatu jalan agar kedua pihak

merasakan keadilan dari suatu perdagangan internasional melalui fair trade.

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

Definisi Perdagangan Internasional

Perdagangan Internasional adalah perdagangan yang dilakukan oleh penduduk suatu negara

dengan penduduk negara lain atas dasar kesepakatan bersama. Pendudukan yang dimaksud dapat

berupa antar perorangan (individu dengan individu), antara individu dengan pemerintah suatu

negara atau pemerintah suatu negara dengan pemerintah negara lain.[3]

Menurut Amir, M.S. seorang pengamat ekonomi, bila dibandingkan dengan pelaksanaan

perdagangan Internasional sangatlah rumit dan kompleks. Kerumitan tersebut antara lain

disebabkan karena adanya batas-batas politik dan kenegaraan yang dapat menghambat

perdagangan internasional, misalnya dengan adanya perbedaan budaya, bahasa, mata uang,

taksiran dan timbangan, dan hukum perdagangan.[4]

Definisi Fair Trade (Perdagangan Adil)

Perdagangan bebas adalah sebuah konsep ekonomi yang mengacu kepada Harmonized

Commodity Description and Coding System (HS) dengan ketentuan dari World Customs

Organization yang berpusat di Brussels, Belgium. penjualan produk antar negara tanpa pajak

ekspor-impor atau hambatan perdagangan lainnya.[5]

Perdagangan bebas dapat juga didefinisikan sebagai tidak adanya hambatan buatan (hambatan

yang diterapkan pemerintah) dalam perdagangan antar individual-individual dan perusahaan-

perusahaan yang berada di negara yang berbeda.[6]

Definisi Free Trade (Perdagangan Bebas)

Fair Trade adalah perdagangan yang berdasarkan pada dialog, keterbukaan dan saling

menghormati, yang bertujuan menciptakan keadilan, serta pembangunan berkesinambungan.

Melalui penciptaan kondisi perdagangan yang lebih fair dan memihak pada hak-hak kelompok

produsen yang terpinggirkan, terutama di negara-negara miskin akibat praktek kebijakan

perdagangan internasional.[7]

BAB III

PEMBAHASAN

PERDAGANGAN INTERNASIONAL : FAIR TRADE VERSUS FREE TRADE

A. Free Trade (Perdagangan bebas)

1. Pengertian

Perdagangan bebas adalah sebuah konsep ekonomi yang mengacu kepada Harmonized

Commodity Description and Coding System (HS) dengan ketentuan dari World Customs

Organization yang berpusat di Brussels, Belgium. Penjualan produk antar negara tanpa pajak

ekspor-impor atau hambatan perdagangan lainnya.

Perdagangan bebas dapat juga didefinisikan sebagai tidak adanya hambatan buatan (hambatan

yang diterapkan pemerintah) dalam perdagangan antar individual-individual dan perusahaan-

perusahaan yang berada di negara yang berbeda.

Perdagangan internasional sering dibatasi oleh berbagai pajak negara, biaya tambahan yang

diterapkan pada barang ekspor impor, dan juga regulasi non tarif pada barang impor. Secara

teori, semua hambatan-hambatan inilah yang ditolak oleh perdagangan bebas. Namun dalam

kenyataannya, perjanjian-perjanjian perdagangan yang didukung oleh penganut perdagangan

bebas ini justru sebenarnya menciptakan hambatan baru kepada terciptanya pasar bebas.

Perjanjian-perjanjian tersebut sering dikritik karena melindungi kepentingan perusahaan-

perusahaan besar.

2. Sejarah

Sejarah dari perdagangan bebas internasional adalah sejarah perdagangan internasional

memfokuskan dalam pengembangan dari pasar terbuka. Diketahui bahwa bermacam kebudayaan

yang makmur sepanjang sejarah yang bertransaksi dalam perdagangan. Berdasarkan hal ini,

secara teoritis rasionalisasi sebagai kebijakan dari perdagangan bebas akan menjadi

menguntungkan ke negara berkembang sepanjang waktu. Teori ini berkembang dalam rasa

moderennya dari kebudayaan komersil di Inggris, dan lebih luas lagi Eropa, sepanjang lima abad

yang lalu. Sebelum kemunculan perdagangan bebas, dan keberlanjutan hal tersebut hari ini,

kebijakan dari merkantilisme telah berkembang di Eropa di tahun 1500. Ekonom awal yang

menolak merkantilisme adalah David Ricardo dan Adam Smith.

Pada periode yang sama, pasar produk organik juga mengalami pertumbuhan yang stabil.

Perdagangan barang-barang organik dengan label fair trade sering disebut sebagai fair and green

trade.

Ekonom yang menganjurkan perdagangan bebas percaya kalau itu merupakan alasan kenapa

beberapa kebudayaan secara ekonomis makmur. Adam Smith, contohnya, menunjukkan kepada

peningkatan perdagangan sebagai alasan berkembangnya kultur tidak hanya di Mediterania

seperti Mesir, Yunani, dan Roma, tapi juga Bengal dan Tiongkok. Kemakmuran besar dari

Belanda setelah menjatuhkan kekaisaran Spanyol, dan mendeklarasikan perdagangan bebas dan

kebebasan berpikir, membuat pertentangan merkantilis/perdagangan bebas menjadi pertanyaan

paling penting dalam ekonomi untuk beberapa abad. Kebijakan perdagangan bebas telah

berjibaku dengan merkantilisme, proteksionisme, isolasionisme, komunisme dan kebijakan

lainnya sepanjang abad.

B. Fair Trade (Perdagangan Adil)

1. Pengertian

Fair Trade adalah perdagangan yang berdasarkan pada dialog, keterbukaan dan saling

menghormati, yang bertujuan menciptakan keadilan, serta pembangunan berkesinambungan.

Melalui penciptaan kondisi perdagangan yang lebih fair dan memihak pada hak-hak kelompok

produsen yang terpinggirkan, terutama di negara-negara miskin akibat praktek kebijakan

perdagangan internasional.

Fair trade bertujuan untuk perbaikan penghidupan produsen melalui hubungan dagang yang

sejajar, mempromosikan peluang usaha dan kesempatan bagi produsen lemah atau termarjinalisir

meningkatkan kesadaran konsumen melalui kampanye fair trade, mempromosikan model

kemitraan dalam perdagangan yang adil, mengkampanyekan perubahan dalam perdagangan

konvensional yang tidak adil, melindungi HAM, pendidikan konsumen dan melakukan advokasi

bagi terciptanya kondisi yang lebih baik, khususnya yang berpihak kepada produsen kecil

sehingga mereka dapat berpartisipasi di pasar.

2. Sejarah

Bibit-bibit gerakan fair trade lahir di dunia barat akhir tahun ¶40-an. Gerakan dilandasi semangat

solidaritas dunia barat terhadap negara dunia ketiga. Perintisnya adalah kelompok keagamaan

dan LSM.

Menurut sejarahnya, fair trade adalah sebuah gerakan sosial yang muncul akibat adanya

ketidakadilan antara produsen dan konsumen. Seringkali terjadi, konsumen merasa bahwa

produsen harus mengeluarkan biaya yang lebih tinggi terhadap suatu produk dari yang

seharusnya. Sementara itu, hal yang sama pun juga dirasakan oleh produsen, terutama produsen

yang skala usahanya masih kecil. Di sinilah kemudian muncul konsep fair trade yang berusaha

untuk mengupayakan sebuah kemitraan perdagangan yang didasarkan pada dialog, transparansi

dan respek dari kedua belah pihak. Seiring dengan berjalannya putaran waktu, konsep fair trade

ini pun semakin berkembang pula (merujuk pada definisi dan prinsip-prinsip yang ada dari The

International Fair Trade Association ± IFAT ).

Ten Thousand Villages dan SERRV International adalah dua LSM yang memulai pengembangan

rantai perdagangan fair trade di negara berkembang. Produknya²anyaman dan rajutan²dijual

di gereja atau bazar di Amerika. Saat itu, gerakan ini dipandang sebagai donasi dunia barat bagi

penduduk miskin negara berkembang.

Inisiatif ini terus berkembang, bahkan konsep dasarnya mengalami pergeseran. Tak hanya

sebagai donasi, ketika sebagian kecil masyarakat dunia barat menilai telah terjadi eksploitasi

harga dalam perdagangan antara negara mereka dan negara dunia ketiga, mereka ingin

memperbaikinya dengan memberi harga lebih adil. Sekitar tahun ¶70-an, sejumlah petani kopi

skala kecil di Meksiko yang sangat bergantung pada pihak lain (pengumpul, pedagang, dan

pengolah) dalam rantai perdagangan kopi mengembangkan label/sertifikasi fair trade untuk kopi

mereka. Nama yang diberikan adalah Max Havelaar. Dalam percobaan awal ini, dibuka

hubungan langsung antara pengolah kopi dan pengecer di Belanda dengan koperasi petani kopi

di Meksiko. Kini selain sebagai sebuah gerakan, fair trade populer sebagai label/sertifikat yang

disematkan pada produk yang dijual. Ini menjadi semacam jaminan dan transparansi lebih bagi

konsumen bahwa produsen skala kecil mendapatkan harga yang adil. Dari sisi produsen,

sertifikasi memperbesar akses mereka terhadap pasar ekspor.

Sejak pertengahan µ80-an, gerakan fair trade telah berkembang secara signifikan di dunia barat

yang menjadi pasar utamanya. Tahun 2005, penjualan produk fair trade di tingkat global

mencapai 1,1 milyar euro. Ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 30 persen lebih selama tahun

2004. Saat ini, produk-produk berlabel fair trade tak hanya dijual di toko khusus tetapi mulai

juga dipajang di rak supermarket. Jenis produknya pun makin beragam. Meski permintaan untuk

produk-produk berlabel fair trade lebih banyak tumbuh di dunia barat, saat ini kita bisa melihat

bahwa pada pasar lokal di seluruh dunia sudah mulai ada upaya menciptakan perdagangan yang

lebih adil bagi produsen.

Pada periode yang sama, pasar produk organik juga mengalami pertumbuhan yang stabil.

Perdagangan barang-barang organik dengan label fair trade sering disebut sebagai fair and green

trade.

3. Prinsip-Prinsip Fair Trade

Fair trade sebagai sebuah alternatif menawarkan kondisi perdagangan yang lebih baik bagi

produsen kecil dan melindungi hak mereka yang selama ini terpinggirkan. Fair trade membantu

produsen kecil untuk memperoleh kehidupan yang layak melalui peningkatan pendapatan,

melindungi hak produsen kecil atas akses ke pasar, menyalurkan aspirasi & pendapat mereka,

tidak diskriminatif terhadap perempuan yang selama ini menjadi warga kelas dua dan korban

langsung atas perdagangan yang tidak adil, juga melindungi lingkungan dari kerusakan karena

minimnya penggunaan bahan-bahan kimiawi.

Dengan mekanisme fair trade, konsumen bersedia menghargai jerih payah produsen yang selama

ini tidak pernah diperhitungkan (misal: pemeliharaan tanaman, mengusir burung, menjemur padi,

dsb) sebagai komponen biaya produksi dalam sistem perdagangan konvensional. Sebagai salah

satu bentuk apresiasi konsumen atas jerih payah produsen, mereka tidak keberatan untuk

membeli harga premium (yang meliputi biaya produksi ditambah biaya untuk reinvestasi) yang

ditawarkan oleh produsen.

Diperlukan sebuah kemitraan perdagangan yang dilandaskan pada dialog, transparansi dan

respek yang bertujuan untuk mencapai kesetaraan yang seimbang (bagi Dunia Ketiga) di dalam

perdagangan internasional. Fair trade memberikan sumbangan bagi pembangunan yang

berkelanjutan dengan menawarkan kondisi perdagangan yang lebih baik dan melindungi hak dari

produser dan buruh yang terpinggirkan, terutama di Selatan.

Sebagai gerakan, fair trade terwujud dalam bentuk organisasi International Federation of

Alternative Trade (IFAT). Organisasi payung gerakan fair trade sedunia ini bermain di advokasi

kebijakan internasional. Pada pertemuan tahunan World Trade Organisation (WTO), IFAT selalu

muncul. Sejak di Cancun, Mexico hingga di Hongkong tahun lalu mereka hadir sebagai suara

alternatif untuk mewujudkan perdagangan yang lebih adil.

Dalam halaman situs International Fair Trade Association, Asosiasi Internasional Perdagangan

yang Adil menyebut sembilan syarat agar sebuah perdagangan dapat disebut adil.

1. Membuka peluang bagi produsen dari kalangan ekonomi lemah

2. Transparan dan dapat dipertanggungjawabkan

3. Meningkatkan keahlian produsen

4. Mendorong terbentuknya perdagangan yang adil dan merata

5. Pembayaran dengan harga yang pantas melalui dialog dan prinsip partisipasi sesuai

dengan perkembangan pasar

6. Menghormati kesetaraan gender

7. Membentuk situasi dan kondisi lingkungan kerja yang aman dan sehat bagi pekerja

dan masyarakat

8. Tidak melibatkan pekerja anak

9. Tidak merusak lingkungan hidup dan memberikan dampak bagi pembangunan lokal,

secara berkala mengurangi tingkat ketergantungan impor dan membudidayakan produk

lokal.

C. Fair Trade Vs Free Trade

Fair Trade muncul sebagai alternatif dari bentuk perdagangan bebas (free trade) yang menurut

banyak orang sangat tidak adil. Kenyataan bahwa kemakmuran hanya dinikmati oleh

sekelompok kecil warga bumi sementara kemiskinan akut yang massif diderita oleh sebagian

besar warga lainnya adalah bukti akibat ketidakadilan free trade yang paling nyata. Bila

ditelusuri akar permasalahannya terletak pada aturan-aturan free trade yang pada praktiknya

sangat tidak adil. Aturan-aturan doubel standard atau standar ganda yang dipraktekkan negara-

negara kaya dalam hubungan perdagangannya dengan negara-negara berkembang telah merubah

hubungan perdagangan tersebut yang secara filosofis adalah hubungan partnership yang

menguntungkan kedua belah pihak menjadi hubungan eksploitatif. Dengan kata lain hubungan

perdagangan antara negara kaya dengan negara berkembang hanya menjadi sarana pelegalan

eksploitasi baru setelah cara-cara kolonialisasi tidak lagi dipandang cukup beradab. Standar

ganda free trade memaksa negara-negara berkembang untuk meliberalisasi perdagangan mereka,

sedangkan pada sisi yang lain negara-negara maju masih menerapkan kebijakan proteksi bagi

produk yang akan masuk ke dalam pasar domestik. Konsekuensi penerapan standar ganda

tersebut seperti dicatat oleh United Nations telah menyebabkan negara berkembang mengalami

kerugian setiap tahunnya sebesar 100 juta dolar US. Selain itu ketimpangan antara negara maju

dan negara berkembang semakin besar dimana saat ini hanya 20% populasi dunia menikmati

income yang jumlahnya 60 kali lebih besar dari income orang-orang miskin.[8]

Di tengah kondisi perdagangan yang semakin lama semakin tidak adil tersebut dan telah

menyebabkan ketimpangan yang semakin besar antara negara kaya dan negara berkembang, Fair

Trade muncul sebagai sebuah gerakan perdagangan alternatif yang berpihak kepada produsen

miskin melalui penerapan prinsip keadilan, transparansi, komunikasi dan keadilan gender. Dalam

prakteknya, prinsip dan nilai tersebut diwujudkan dalam bentuk rantai distribusi yang lebih

pendek, penguatan organisasi produsen, peningkatan keterlibatan dan peranan perempuan dalam

perdagangan, harga premium bagi produk yang dihasilkan.[9]

Sejak menjadi sebuah gerakan pada tahun 1950 fair trade telah menyebar ke berbagai negara di

kawasan Eropa, Amerika, dan Asia dan Afrika. Di Indonesia sendiri gerakan fair trade muncul

pada pertengahan tahun 1980-an. Dalam perkembangannya fair trade di Indonesia telah cukup

membantu produsen-produsen miskin di berbagai wilayah seperti Yogyakarta, Malang, Mataram,

Bali, Surakarta. Perkembangan fair trade yang cukup positif tersebut menunjukkan bangkitnya

kepedulian lebih banyak masyarakat terhadap orang-orang di sekeliling mereka yang selama ini

bekerja keras menyediakan keperluan mereka namun tidak mendapatkan hak sesuai proporsi

yang seharusnya mereka terima.[10]

Dengan mekanisme fair trade, konsumen bersedia menghargai jerih payah produsen yang selama

ini tidak pernah diperhitungkan (misal : pemeliharaan tanaman, mengusir burung, menjemur

padi, dan sebagainya) sebagai komponen biaya produksi dalam sistem perdagangan

konvensional. Sebagai salah satu bentuk apresiasi konsumen atas jerih payah produsen, mereka

tidak keberatan untuk membeli harga premium (yang meliputi biaya produksi ditambah biaya

untuk reinvestasi) yang ditawarkan oleh produsen.[11]

Sebaliknya, produsen juga menghargai kepedulian dan kepercayaan yang diberikan oleh

konsumen dengan selalu memberikan informasi sebenarnya mengenai produk mereka (kondisi,

waktu panen, varietas) dan menjaga kualitas/kuantitas produknya. Produsen juga melakukan

pertemuan rutin untuk membahas dan mencari jalan keluar tentang masalah yang mereka hadapi,

khususnya yang berkaitan dengan pola perdagangan yang adil.[12]

Diperlukan sebuah kemitraan perdagangan yang dilandaskan pada dialog, transparansi dan

respek yang bertujuan untuk mencapai kesetaraan yang seimbang (bagi Dunia Ketiga) di dalam

perdagangan internasional. Fair trade memberikan sumbangan bagi pembangunan yang

berkelanjutan dengan menawarkan kondisi perdagangan yang lebih baik dan melindungi hak dari

produser dan buruh yang terpinggirkan, terutama di Selatan.[13]

Pada banyak kajian litelatur lebih banyak membicarakan tentang free trade ketimbang fair trade.

Kedua istilah tersebut memiliki persamaan yaitu menyangkut aktivitas jual-beli atau trading.

Perbedaannya adalah dari segi etika dan cara kerjanya atau Mode of Production. Free trade atau

pasar bebas itu melulu memburu laba atau profit, bila perlu menghalalkan segala cara, tidak

peduli dengan hal-hal yang berbau kesejahteraan orang banyak. Free trade dalam praktek

menjelma dalam bentuk korporasi-korporasi raksasa atau investor dari negara-negara kaya/maju.

Kehadirannya kerap mengatas namakan pembangunan sehingga mendapat restu dari pemerintah,

maupun tokoh-tokoh masyarakat. Demi profit, negara pun tak segan-segan dijungkir balikan.

Dampak free trade bisa dilihat di beberapa daerah yang kaya dengan sumber daya alam, seperti

Papua, Aceh, Bali, dan masih banyak daerah lainnya di tanah air. Terjadinya perusakan

lingkungan dan pemiskinan rakyat/penduduk lokal. Bahkan akibat yang lebih ekstrim lagi yaitu

munculnya gerakan separatis memisahkan diri dari NKRI, sebagai ungkapan kekecewaan rakyat

atas sumber daya alamnya dibabat habis oleh korporasi yang bergandeng mesra dengan

pemerintah.[14]

Dari sudur beroperasinya, kepentingan para korporasi tertuang jelas dalam kebijakan yang

dikeluarkan melalui organisasi supra negara seperti : IMF (International Monetary Fund), WTO

(World Trade Organization), dan WB (World Bank). Jika negara ikut meratifikasi itu berarti

wajib hukumnya untuk mengikuti aturan main yang telah ditetapkan. Tak jarang para korporasi

juga mempunyai saham dalam membidani kelahiran seorang untuk menjadi pemimpin nasional

di suatu negara. Karenanya jika terjadi konflik atau penolakan atas kebijakan yang dikeluarkan

oleh organisasi tersebut, pemerintah nasional menjadi tidak berkutik, karena sudah menjadi

perpanjangan tangan sang korporasi. Rakyat didepak, kemudian terhembas dan yang lebih

terhempas lagi adalah kaum perempuannya.[15]

Dari segi produk yang diperjualbelikan, rejim free trade tidak tanggung-tanggung untuk

menjadikan sesuatu dijadikan komoditi dan masyarakat hanya dilihat sebagai konsumen.

Konsekuensinya semua sektor publik dikendalikan oleh kekuatan korporasi. Di bali bisa dilihat

jelas praktek free trade dalam kaitan industri pariwisata seperti biro perjalanan, transportasi,

pengunjung, pemandu wisata orang luar negeri, hotel, restoran (dari bahan mentahan, peralatan,

serta chef-nya), semua orang luar negeri.[16]

Menyikapi keberadaan rejim pasar bebas, sejumlah kalangan telah mengambil inisiatif dengan

membuat wacana alternatif yang dikenal dengan fair trade (perdagangan yang adil). Fair trade

menjadi sikap yang dalam praktek bisnis atau profitnya sangat mempertimbangkan nilai-nilai

etik kemasyarakatan. Berikut definisi fair trade yang dikutip dari website IFAT : fair trade

adalah model perdagangan yang berdasarkan pada dialog, ketebukaan dan saling menghormati,

yang bertujuan untuk menciptakan keadilan , pembangunan kesinambungan melalui penciptaan

kondisi perdagangan yang lebih fair dan memihak hak-hak kelompok produsen dan pekerja yang

terpinggirkan terutama di negara-negara Selatan yang diakibatkan oleh praktek dan kebijakan

perdagangan internasional.[17]

Dari pengertian di atas, terdapat dua hal yang bisa dilihat, yakni : free trade sebagai gerakan dan

fair trade sebagai model/kegiatan bisnis. Fair trade sebagai gerakan lebih banyak menyangkut

soal keorganisasian. Fair trade adalah gerakan internasional yang berada di bawah organisasi

payung yang dulu disebut IFAT (International Fair Trade Association), yang segara berganti

nama menjadi : World Fair Trade Organization (WFTO). WFTO bertugas merumuskan aturan

main dan kriteria yang harus dipenuhi anggota maupun orang atau organisasi yang ingin

bergabung dalam gerakan fair trade. Kegiatan organisasi lebih banyak difokuskan pada kegiatan

advokasi kebijakan, terutama kebiajakn perdagangan Internasional/World Trade Organization

(WTO), advokasi konsumen melalui kampanye dan pembukaan akses pasar untuk anggota dan

memonitoring kegiatan anggota dalam peenrapan prinsip-prinsip fair trade. WFTO anggotanya

terdari 300 organisasi di sekitar 80 negara.[18]

Fair trade sebagai model bisnis, menyangkut persoalan anggota mewujudkan nyatakan prinsip-

prinsip fair trade seperti yang dilontarkan oleh IFAT, beberapa butir dari prinsip itu yang

penting untuk dijadikan pedoman dalam praktek fair trade, antara lain : dalam kegiatan bisnis

harus ada unsur aktif memerangi kemiskinan, pembayaran layak dan lencar, tidak

memperkejakan tenaga kerja anak, menghormati lingkungan, kesetaraan perempuan atau gender,

hubungan bisnis yang berkesinambungan dan ada unsur partnership saling membesarkan. Jadi

yang menjadi perhatian para pelaku fair trade adalah dalma kegiatan bisnis atau usaha, lebih

mengacu pada norma-norma kemanusiaan. Dalam memproduksi barang, sangat diupayakan

menghindari terjadinya eksploitasi baik terhadap sumber daya manusia maupun sumber daya

alam. Profit yang diperoleh bukan melulu untuk memenuhi hasrat atau memiliki melainkan di

investasikan lagi ke dalam program yang mensejahterakan produsen dan masyarakat. Para fair

trade dalam melakoni bisnis sangat menekankan aspek kreatifitas, keindahan produk untuk

konsumen, dan kebajikan dalam berproduksi. Yang jelas, gerakan fair trade tidak terbetas pada

sektor kerajinan saja. Fair trade sebagai model bisnis bisa diterapkan di segala bidang usaha

dimana saja dan kapan saja. Fair trade tidak hanya profit namun juga happiness and welfare

oriented.[19]

BAB IV

KESIMPULAN

Fair Trade adalah perdagangan yang berdasarkan pada dialog, keterbukaan dan saling

menghormati, yang bertujuan menciptakan keadilan, serta pembangunan berkesinambungan.

Melalui penciptaan kondisi perdagangan yang lebih fair dan memihak pada hak-hak kelompok

produsen yang terpinggirkan, terutama di negara-negara miskin akibat praktek kebijakan

perdagangan internasional.

Fair trade sebagai sebuah alternatif menawarkan kondisi perdagangan yang lebih baik bagi

produsen kecil dan melindungi hak mereka yang selama ini terpinggirkan. Fair trade membantu

produsen kecil untuk memperoleh kehidupan yang layak melalui peningkatan pendapatan,

melindungi hak produsen kecil atas akses ke pasar, menyalurkan aspirasi dan pendapat mereka,

tidak diskriminatif terhadap perempuan yang selama ini menjadi warga kelas dua dan korban

langsung atas perdagangan yang tidak adil, juga melindungi lingkungan dari kerusakan karena

minimnya penggunaan bahan-bahan kimiawi.

Dalam fair trade, produsen dan konsumen memiliki posisi yang sejajar. Selain itu, kedua belah

pihak juga mengedepankan asas transparansi. Hal ini dilakukan melalui informasi dan

komunikasi. Sebagai contoh adalah dalam menentukan harga jual. Produsen menghitung seluruh

komponen biaya produksi, termasuk aspek konservasi, edukasi dan sosial. Faktor-faktor

pembentuk harga jual tersebut kemudian diinformasikan secara terbuka kepada konsumen,

begitu juga mengenai proses produksinya. Dan jika komunikasi ini dilakukan dengan benar,

maka konsumen pun akan bersedia membayar harga jual yang ditawarkan sebagai salah satu

apresiasi mereka.

Dengan mekanisme fair trade, konsumen bersedia menghargai jerih payah produsen yang selama

ini tidak pernah diperhitungkan (pemeliharaan tanaman, mengusir burung, menjemur padi,

didalam usaha pertanian padi) sebagai komponen biaya produksi dalam sistem perdagangan

konvensional. Sebagai salah satu bentuk apresiasi konsumen atas jerih payah produsen, mereka

tidak keberatan untuk membeli harga premium (yang meliputi biaya produksi ditambah biaya

untuk reinvestasi) yang ditawarkan oleh produsen.

Sebaliknya, produsen juga menghargai kepedulian dan kepercayaan yang diberikan oleh

konsumen dengan selalu memberikan informasi sebenarnya mengenai produk mereka (kondisi,

waktu panen, varietas) dan menjaga kualitas/kuantitas produknya. Produsen juga melakukan

pertemuan rutin untuk membahas dan mencari jalan keluar tentang masalah yang mereka hadapi,

khususnya yang berkaitan dengan pola perdagangan yang adil. WTO diharapkan dapat

membentuk suatu kemitraan perdagangan yang dilandaskan pada dialog, transparansi dan

penghargaan yang bertujuan untuk mencapai kesetaraan yang seimbang (bagi Dunia Ketiga)

didalam perdagangan internasional.

DAFTAR PUSTAKA

http://whatbecomethegreaterme.blogspot.com/2007/12/konsep-hukum-fair-trade.html

http://gbgm-umc.org/global_news/full_article.cfm?articleid=2081

http://cafe-ekonomi.blogspot.com/2009/05/makalah-dampak-globalisasi-terhadap.html

http://gadisayu18.wordpress.com/2009/03/30/apakah-memang-ada-perdagangan-bebas/

http://felixsharieff.wordpress.com/tag/ekonomi-politik-internasional/

Buku karangan Bob S. Hadiwinata dan Aknold K. Pakpahan dengan judul fair trade merupakan buku yang

sarat akan pengetahuan mengenai situasi dan kondisi ekonomi yang sedang melanda dunia. Free trade

(perdagangan bebas) adalah sebuah sistem ekonomi sebagai hasil dari globalisai yang terus di

perjuangkannegara-negara maju du belahan bumi Utara melalui GATT (general agreements on trade and

tariffs) dan kemudian WTO (world trade organisation).

Sebagai rejim yang mengemban prinsip liberalisasi perdagangan, GATT/WTO berasumsi bahwa hanya

melalui partisipasi di dalam perdagangan internasional, maka negara-negara miskin dapat ikut

menikmati keuntungan. Liberalisasi perdagangan mutlak diperlukan, menurut GATT/WTO, karena tidak

saja dapat memperlancar perdagangan antar bangsa tetapi juga bersifat saling menguntungkan sehingga

dapat memberikan keuntungan maksimal kepada para pelakunya. (hal 12)

Namun hal tersebut sangat di ragukan. Para pengamat dari kubu Marxis tidak yakin bahwa peningkatan

partisipasi negara-negara berkembang di dalam pasar internasional dapat meningkatkan kesejahteraan

kaum marjinal. Peningkatan aktifitas industri di negara berkembang justru meningkatkaan proses

eksploitasi terhadap kaum buruh di negara-negara tersebut.

Persoalan yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa ketika berpastisipasi di dalam perdagangan

internasional negara miskin akibat keterbatasan modal, teknologi, pengetahuan, dan sumberdaya

manusia-seringkali dipaksa untuk berspesialisasi pada produk primer dengan nilai tambah yang

rendah seperti produk pertanian dan bahan tambang.(hal 14)

Di dalam buku fair trade di jelaskan pula mengenai sejarah awal terbentuknya GATT dan WTO sebagai

organisasi yang mengendalikan perekonomian di dunia. Pada mulanya GATT dibentuk untuk

mengakomodasi kepentingan perlindungan industri di dalam negeri, pemberlakuan tarif yang di atur di

dalam GATT. GATT pada prinsipnya merupakan forum perundingan yang dimaksudkan untuk

meminimalisir hambatan-hambatan perdagangan (tarif maupun non-tarif) agar perdagangan dunia

dapat menjadi ebih semarak. Dengan demikian dapat di mengerti jika tujuan untama GATT adalah untuk

menciptakan kelancaran perdagangan antar bangsa dengan cara penurunan tarif impor secara gradual.

Seiring dengan perkembangan zaman, GATT yang tadinya hanya melibatkan 23 negara industri, kian

bertambah hingga mencapai 125 negara pada tahun 1994 termasuk ke dalamnya negara-negara maju.

Negara-negara maju inilah yang mulai mendominasi di setiap pengambilan keputusan atau negosiasi

dan negara-negara berkembang tidak dapat berbuat banyak. Situasi semacam ini menimbulkan ketidak

harmonisan antara kelompok eksklusif negara-negara maju berhadapan dengan negara mayoritas

anggota yang terdiri dari negara-negara sedang berkembang.

Permasalahan yang tidak bisa di pecahkan oleh GATT adalah masalah NTBs (non-tariff barries) di mana

GATT hanya bisa menyerukan kepada para anggotanya untuk mengurangi bahkan menghilangkan sama

sekali kebijakan-kebijakan NTBs-nya tanpa mampu memberikan sanksi yang jelas bagi mereka yang

melanggar seruan tersebut. (hal 30).

GATT kemudian digantikan dengan WTO dengan maksud untuk menyempurnakan mekanisme

pengaturan aktifitas perdagangan internasional yang menyangkut sekurang-kurangnya tiga aspek

penting: 1. Peningkatan komitmen negara-negara anggota untuk mendukung beroperasinya sebuah

rejim perdagangan internasional. 2. Peningkatan kapasitas administratif terutama dalam hal

penyelesaian konflik perdagangan antar negara; dan 3. Pemberian wewenang yang lebih besar dalam

proses negosiasi perdagangan di dalam berbagai forum ekonomi global.

Walaupun WTO baru berjalan beberapa tahun, beberapa pakar ekonomi internasional menyatakan

ketidakyakinan mereka bahwa rejim ini mampu secara optimal memenuhi target yang gagal di capai

oleh GATT. (hal 37)

Persoalan paling mendasar yang dihadapi oleh rejim perdagangan internasional seperti WTO adalah

adanya penerapan standar ganda dan terdapat ketidaksesuaian antara kebijakan dengan tindakan

dalam hal penerapan proteksi pelaku bisnis. Para pendukung perdagangan bebas sangat berkeyakinan

bahwa semakin terbuka perekonomian sebuah negara, semakin besar kesempatan bagi negara tersebut

untuk memperoleh pertumbuhan ekonomi yang tinggi, pengurangan angka kemiskinan dan peningkatan

pendapatan perkapita. Sikap yang terlalu melebih-lebihkan keunggulan perdagangan bebas barangkali

melupakan fakta mengenai esensi dari hubungan perdagangan antar negara, terutama apabila

menyangkut 2 jenis komoditas yang berbeda dari segi nilai tambahnya. Bagi negara-negara yang

berkonsentrasi pada sektor industri padat teknologi dan modal, keuntungan jelas dapat di peroleh

secara maksimal karena produk tersebut biasanya memberi kesempatan kepada produsennya untuk

menjadi price setters (penentu harga pasar) karena ketergantungan masyarakat terhadap produk

tersebut. Sebaliknya, negara yang berkonsentrasi pada komodity primer keuntungan yang di peroleh

sangat terbatas karena posisi mereka yang sebagai price takers bahkan seringkali harus menderita

kerugian materi, tenaga maupun waktu karena sifat produk yang tidak tahan lama dan ketergantungan

yang tinggi pada perantara. Dapat disimpulkan bahwa perdagangan bebas tidak memberikan

keuntungan bersama, akan tetapi kita tidak mungkin serta merta menarik diri dari sistem ini sebab pada

dasarnya tidak ada satu pun negara yang dapat hidup secara autarkis (sanggup memenuhi segala

kebutuhan rakyat secara mandiri), maka kebijakan menutup diri akan mengakibatkan pelanggaran

terhadap hal asasi manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup sesuai dengan kemampuannya. (hal 56)

Dengan demikian solusi yang di tawarkan dalam konteks ini adalah menawarkan sebuah konsep

perdagangan alternatif yang memberikan ruang bagi prinsip perlindungan hak azasi manusia,

kesetaraan, keadilan, keterbukaan, sustainabilitas, toleransi dan demokrasi. Fair Trade merupakan

gagasan yang di kumandangkan oleh NGOs pada dekade tahun 1960. NGOs merupakan kelompok yang

menentang dominasi kapitalisme global. OXFAM-Great Britain, sebuah NGO yang bermarkas di Oxford

Inggris, merupakan salah satu pionir dari gagasan fair trade (perdagangan yang adil) sebagai alternatif

dari free trade (perdagangan bebas) yang terus menerus di kampanyekan oleh negara-negara liberal.

Walaupun sangat kecil dibandingkan dengan jalur perdagangan konvensional, jalur perdagangan

kemanusiaan ini cukup memberikan harapan bahwa terlepas dari dominasi kapitalisme global yang

berkembang melalui perdagangan lain yang membebaskan para pemodal kecil dari trade exploitation

(penindasan perdagangan). Kecilnya volume perdagangan melalui jalur fair trade (jika di bandingkan

dengan perdagangan konvensional barangkali berkaitan dengan terbatasnya lingkup aktifitas gerakan

fair trade yang hanya membatasi pada pembelian komoditi primer, kerajinan dan terget dari kegiatan

tersebut hanya pada kelompok petani/nelayan/pengrajin atau koperasi saja. Di samping itu, aspek yang

ditangani hanya menyangkut upaya untuk mengurangi trade exploitation.

Buku ini juga berupaya untuk membuat semacam penealaahan ringkas mengenai kampanye fair trade

yang dilakukan Oxfam Great Britain. Sasaran yang ingin di capai adalah untuk mengidentifikasi peluang

dan tantangan yang di hadapi oleh organisasi tersebut yang selama kurang lebih 40 tahun menjalankan

aktifitas fair trade. Buku ini membahas secara lengkap sejarah, bentuk bahkan aplikasi-aplikasi dari fair

trade yang telah terlaksana.

Buku ini menyajikan sejumlah contoh-contoh bentuk perdagangan fair trade akan tetapi sebagian besar

masih dalam konteks lokal belum ke dalam skala internasional. Fair trade adalah sistem yang di tujukan

untuk masyarakat dunia, bahwa keadilan dalam berdagang dapat di capai dengan cara merubah sistem

yang ada, dan dapat pula di lakukan dengan menekankan aspek hukum untuk menertibkan sistem

perekonomian yang ada, jika contoh-contoh fair trade sebatas di berikan dalam tatanan lingkungan lokal

maka tentu hal tersebut tidak menampakkan kelebihan yang signikan akan sistem ini. Fair trade adalah

sistem perekonomian yang sarat akan pesan moral dan tujuan yang mulia untuk memasukkan berbagai

prinsip kemanusiaan yang telah dirumuskan dan disepakati dalam berbagai konvensi internasional, ke

dalam aktifitas perdagangan pada lingkup lokal, nasional, regional maupun internasional.

Kopiitudashat's Blog

July 14, 2009

Kebijakan Luar Negeri dalam Kaitannya dengan Pengambilan Keputusan Suatu Negara

Filed under: Uncategorized kopiitudashat @ 8:16 am

Kebijakan luar negeri (foreign policy) adalah elemen yang sangat penting dalam upaya

pencapaian kepentingan nasional suatu negara. Coulombis dan Wolfe memandang kebijakan luar

negeri, atau yang dapat disebut sebagai politik luar negeri, sebagai sintesis dari kepentingan

nasional yang mengandalkan power dan kapabilitas suatu negara . Karena itulah kebijakan ini

lebih penting daripada kebijakan lain karena mengandung kepentingan nasional yang merupakan

tujuan utama yang harus dicapai suatu negara-bangsa yang berdaulat. Hubungan antara kebijakan

luar negeri, power dan kepentingan nasional dapat dijelaskan sebagai berikut:

Dari bagan di atas dapat dilihat bahwa hubungan antara kepentingan nasional, kebijakan luar

negeri dan power dapat dilihat dalam 2 kondisi. Kondisi pertama yang menempatkan power

sebagai tujuan, berarti kebijakan luar negeri digunakan sebagai instrumen. Kebijakan luar negeri

dibentuk dengan dasar kepentingan nasional untuk mendapatkan power yang lebih tinggi.

Kondisi kedua menempatkan power sebagai alat yang digunakan bersama dengan kebijakan luar

negeri untuk mencapai kepentingan nasional. Penggunaan power sebagai instrumen ini,

khususnya power sebagai relationship, diperlukan karena kebijakan luar negeri tak lain adalah

usaha untuk mempengaruhi. Seperti yang dijelaskan dalam comparative study of foreign policy,

bahwa kebijakan luar negeri adalah penggunaan pengaruh dalam hubungan internasional, yaitu

siapa yang mempunyai apa untuk siapa dan bagaimana .

Dalam perumusan kebijakan luar negeri, ada 5 unit analisis yang dapat dilihat sebagai unsur-

unsur yang mempengaruhi perumusan kebijakan luar negeri suatu negara, yang kemudian

menimbulkan suatu diskursus tentang unsur mana yang paling penting perumusan kebijakan luar

negeri. Unit analisis ini menurut Rosenau meliputi individu, kelompok, birokrasi, sistem

nasional, dan sistem global.

Peranan individu dalam proses pembuatan keputusan adalah berdasarkan pendekatan agency.

Pendekatan ini melihat kapasitas individu dalam membuat suatu keputusan dan

megimplementasikannya untuk kepentingan entitas sebagai unsur utama dalam pembuatan

kebijakan suatu negara. Dalam merumuskan suatu kebijakan, aktor individu tidak akan terlepas

dari pengaruh ideosinkretis dan pemikiran rasional (rational choice). Pengaruh ideosinkretis ini

termasuk di dalamnya ideologi, kepercayaan, budaya, tujuan dan lain sebagainya. Umumnya

negara yang kebijakannya ditentukan oleh keputusan individu adalah negara otoriter, atau

sosialis dengan keadaan minim demokrasi. Misalnya Kim Il Sung dan Kim Jong Il yang

menjadikan karakter individunya sebagai manifestasi karakter nasional Korea Utara, segala

sesuatu yang menyangkut masalah negara adalah hasil keputusan kepala negara yang tidak dapat

diganggu gugat.

Pendekatan kelompok melihat bahwa keputusan final suatu kebijakan bukan hanya ditentukan

oleh kepentingan dan keinginan individu, tetapi lebih merupakan manifestasi kepentingan

kelompok. Kelompok yang dimaksud di sini bisa merupakan kelompok kepentingan, kelompok

penekan, ataupun kelompok lain yang mempunyai posisi strategis dan kepentingan tertentu di

pemerintahan, misalnya badan intelijen (salah), penyandang dana, think tank dan lain

sebagainya. Misalnya American Comitee for Israel akan selalu mendorong AS untuk

mengeluarkan kenijakan yang menguntungkan Israel.

Kelompok kepentingan, yang dalam usahanya dibantu oleh media, menyampaikan opini publik

untuk diperjuangkan dalam bentuk kebijakan. Ketika kepentingannya tidak diakomodasi oleh

pemerintah, kelompok kepentingan ini bisa metransform dirinya menjadi kelompok penekan.

Pendekatan birokratis pertama kali dipopulerkan oleh Allison berdasarkan studinya tentang krisis

Kuba. Dalam krisis Kuba, keputusan AS dan Soviet untuk menempatkan rudal bukan

berdasarkan keputusan Reagan ataupun Nikita Kruschev, namun lebih merupakan produk

birokrasi secara keseluruhan. Dalam pendekatan birokratis, keputusan tidak dilihat sebagai

produk rasionalitas individu tetapi lebih merupakan produk dari berbagai penyesuaian dan

kompromi . Jadi, kebijakan luar negeri merupakan proses politik yang meliputi bargaining,

kompromi dan adjustment.

Kebijakan luar negeri sebagai instrumen untuk mewujudkan kepentingan nasional juga sangat

dipengaruhi oleh unsur-unsur internal negara, seperti power, identitas nasional, ideologi, dan

kepentingan yang keseluruhan sistem ini akan berinteraksi membentuk sistem ekonomi, sistem

politik, dan sistem sosial-budaya. Sistem-sistem inilah yang secara komprehensif tercakup dalam

sistem nasional. Misalnya, ideologi juche-atau self reliance- yang dianut Korea Utara akan

membentuk perilaku luar negerinya dengan kebijakan menutup diri dari pasar global.

Pendekatan sistemik global menekankan pentingnya peranan lingkungan eksternal negara

terhadap pengambilan keputusan kebijakan luar negerinya . Lingkungan eksternal yang

dimaksud adalah struktur hubungan antar negara-negara besar, pola-pola aliansi yang terbentuk

serta faktor situasional seperti isu dan krisis. Yang belum ditambahkan di sini adalah pentingnya

peran rezim internasional dalam kebijakan luar negeri suatu negara. Misalnya Indonesia yang

tergabung dalam rezim pangan akan selalu merumuskan kebijakan luar negeri untuk mengatasi

permasalahan pangannya berdasarkan prinsip dan norma yang dijunjung oleh Food and

Agricultural Organization (FAO).

Jadi, dapat disimpulkan bahwa dalam pembuatan keputusan untuk menghasilkan kebijakan luar

negeri suatu negara, peran individu, kelompok, birokrasi, sistem nasional dan sistem global tidak

akan pernah bisa dikesampingkan.

Referensi

Anonim.Actors:The Responsible Decision-makers

Perwita, Banyu. 2005. Pengantar Ilmu Hubungan Internasional. Bandung: PT Rosda Karya hal

51-52.

Soeprapto.1997.Ilmu Hubungan Internasional:Sistem,Interaksi dan perilaku.PT Raja Grafindo

Persada

Leave a Comment

Deterrence dan Compellence sebagai Strategic of Military Defence

Filed under: Uncategorized kopiitudashat @ 8:14 am

Berakhirnya Perang Dunia II memunculkan periode Perang Dingin yang diwarnai oleh virtual

war dan proxy war. Proxy War menjadi salah satu strategi Perang Dingin dimana kedua belah

pihak menggunakan pihak ketiga sebagai wilayah pertempuran. Strategi yang digunakan dalam

Perang Vietnam dan Perang Korea ini dirasa cukup mahal secara ekonomis sehingga kemudian

diperlukan strategi lain yang cukup efisien. Strategi ini dilakukan dengan mengembangkan nuklir

yang dirasa lebih efisien, karena selain lebih memberikan efek teror, bagian kecil nuklir juga

lebih efisien daripada sejumlah besar senjata konvensional . Efek teror ini memicu kedua negara

superpower ± AS dan Soviet ± untuk sama-sama mengembangkan nuklir. Balance of Power yang

diciptakan oleh Perang Dingin bergeser menjadi Balance of Terror yang didukung oleh

perlombaan senjata.

Perlombaan senjata inilah yang merupakan strategi deterrence yang digunakan kedua negara. AS

berusaha meningkatkan senjata yang dimiliki karena percaya hal ini dapat menghindarkan

keinginan dan kemampuan lawan untuk menyerang AS. Menurut Alexander L George dan

Richard Smoke, deterrence dapat diartikan sebagai serangkaian persuasi yang dilakukan oleh

pihak pertama kepada pihak kedua untuk agar pihak pertama melakukan keinginan pihak kedua .

Definisi ini dirangkum oleh Glenn Synder dengan kebijakan stick and carrot yang selama ini

dipraktekkan oleh AS. Pihak yang satu mencegah pihak yang lain melakukan suatu aksi melalui

ancaman baik implisit maupun eksplisit, dengan pemberian sanksi positif berupa hadiah jika

pihak kedua menaati larangan pihak pertama dan pemberian sanksi negatif berupa hukuman jika

pihak kedua berlaku sebaliknya. Deterrence hanya dapat dilakukan dalam keadaan damai

walaupun damai yang dimakudkan adalah damai yang semu. Keadaan damai ini diperlukan agar

teror yang dilancarkan dapat mencapai sasaran.

Terminologi µdeterrence¶ pertama kali dikemukakan oleh Bernard Brodic yang menganalisis

konstelasi internasional pasca pengeboman Nagasaki-Hiroshima . Kehancuran yang dialami

Jepang membuka mata para negarawan bahwa ketika senjata pemusnah massal diciptakan secara

besar-besaran dan negara-negara mulai berlomba-lomba untuk memiliki senjata ini, maka perang

total (total war) harus dihindarkan karena akibat dekstruktif yang dihasilkan. Dalam

pelaksanaannya, deterrence sendiri terbagi ke dalam beberapa periode:

1. 1945-1949

Periode ini diwarnai oleh pengeboman Nagasaki-Hiroshima, kehancuran yang ditimbulkan baru

terbaca, oleh karena itu belum ada strategi teori deterrence yang sistematis. Teori ini didahului

oleh kebijakan containment yang merupakan reaksi dari ekspansi Soviet. AS sebagai pemenang

Perang Dingin sekaligus negara yang pertama kali menggunakan nuklir menggunakan

kemampuan militernya untuk memaksa negara lain mengikuti kepentingan AS melalui

penyebaran teror.

2. Awal 1950an

Peride ini ditandai oleh pemerintahan Eisenhower pada 1950an yang menjadikan massive

retaliation sebagai pola strategi utama. Selain untuk membendung serangan Soviet ke AS sendiri,

nuklir juga digunakan untuk membendung pengaruh Soviet ke negara aliansi. Taktik ini juga

dikenal sebagai countervalue targeting strategy sebab pola ini mencoba mengarahkan senjata-

senjata AS kepada obyek-obyek yang dianggap vital oleh Soviet. Strategi lainnya adalah

counterforce targeting strategy dimana senjata-senjata AS diarahkan kepada pangkalan militer

dan pusat-pusat kekuatan militer Soviet.

Tujuan awal deterrence adalah sebagai strategi pertahanan (strategy of defense) untuk

menghindari perilaku atau tindakan yang tidak dinginkan dari negara lain. Sifatnya preventif dan

dinamis. Pola deterrence yang paling sering ditemui adalah dengan pemberian punishment

tertentu untuk negara yang memberlakukan perilaku yang tidak diinginkan itu (undesirable

behavior).

Dari gambaran di atas, dapat disimpulkan bahwa keadaan yang memungkinkan terjadinya

deterrence adalah keadaan dimana ada ketersediaan teknologi yang memungkinkan

pengembangan senjata yang efektif untuk menakuti-nakuti lawan. Strategi ini memiliki beberapa

tujuan diantaranya untuk memproteksi serangan ± baik yang dilakukan dengan senjata nuklir

maupun senjata konvensional- . Keadaan ini tidak terlepas dari strategi military defence yang

menggunakan pertahanan melalui strategi deterrence dan compellence yang menggunakan

elemen militer maupun non militer.

Compellence, pertama kali digunakan oleh Schelling untuk menyebut deterrence yang digunakan

untuk memicu (induce) aktor lain untuk melakukan suatu aksi (behavior) . Jika deterrence

digunakan untuk menekan behavior maka compellance bertujuan untuk memicu behavior

walaupun keduanya biasanya digunakan secara bersamaan karena ketika aktor ingin menghindari

keadaan tertentu maka ia akan memaksa aktor lain melakukan sesuatu untuk menghindari

undesirable behavior itu. Menggunakan strategi kebijakan stick and carrot walaupun lalu yang

lebih banyak digunakan adalah sanksi negatif, biasanya menggunakan sanksi ekonomi. Karena

dapat digunakan secara bersamaan, maka terjadi suatu keambiguitasan. Antara melarang dengan

memaksa pihak kedua menerima sanksi positif yang diberikan pihak pertama. Keambiguitasan

ini semakin terasa ketika dalam satu kasus dapat dipandang sebagai deterrence dan compellence

sekaligus tergantung perspektif yang memandang.

Ketika AS memaksa Iran menghentikan proyek proliferasi nuklirnya, AS akan memanfaatkan

alasan perdamaian dunia untuk men-deterrence Iran. Bagi Iran, hal ini merupakan suatu

compellence. Strategi pertahanan AS ini dapat dijelaskan dari teori strategi militer klasik ± Sun

Tzu- yang menitikberatkan pencapaian kemenangan tanpa perang. Dengan teror yang

ditimbulkan oleh nuklir, AS dapat menjamin kemenangannya tanpa harus mengadu kekuatan

militernya secara kontak langsung. Jika tak bisa dicapai, maka kemenangan ini dapat dicapai

dengan menghancurkan kekuatan militer lawan maupun kemenangan paling buruk dengan

menghancurkan kota dan rakyat sipil di dalamnya. Walaupun bisa dibilang bahwa dua

kemenangan ini tidak dapat diraih karena ketidakmungkinan penggunaan nuklir untuk

menghancurkan kekuatan lawan.

Referensi:

Dougherty, James and Manzginrtioz, Robert, Contending Theories of International Relations: A

Comprehensive Study (4th edition),1996,New York : Longman

The Origins and Age of Deterrence.pdf dalam http://www.sagepublications.com

Wilson, Ward,The Myth of Nuclear Deterrence.pdf

Leave a Comment

Maria EM 070710023 THI 4 Power dan Pengembangannya dalam Teori Perimbangan Kekuatan

dan Stabilitas Hegemoni

Filed under: Uncategorized kopiitudashat @ 8:13 am

Power menjadi konsep utama kaum realis dalam menyikapi hubungan internasional. Tiap negara

akan selalu menggunakan power yang dimiliki untuk meningkatkan power yang dimiliki guna

mencapai kepentingannya. Jadi dapat dikatakan bahwa power dapat digunakan sebagai alat

maupun sebagai tujuan. Misalnya ketika pemerintah Singapura merasa mengalami kekurangan

jumlah penduduk yang dikhawatirkan dapat memperbesar chance negara lain untuk menyerang

Singapura, maka Singapura dapat mempergunakan power di bidang ekonomi untuk menstimulus

pertumbuhan penduduknya, yaitu dengan cara memberi insentif pada keluarga yang bersedia

memiliki lebih dari 1 anak. Power ekonomi di sini berfungsi sebagai alat dan power demografi

sebagai tujuan yang keseluruhan tujuannya untuk meraih posisi teratas di konstelasi global.

Power ini sendiri tidak mempunyai definisi yang statis. Menurut Robert Dahl, power adalah

bagaimana mempengaruhi pihak lain untuk melakukan apa yang kita inginkan sekalipun dia

tidak ingin melakukannya . Power sendiri dapat diposisikan sebagai resources maupun sebagai

relationship. Pendekatan power sebagai resources menganggap power sebagai milik

negara(actual power) , sehingga jika suatu negara mempunyai sumber daya yang besar seperti

wilayah teritorial, jumlah penduduk dan bahan tambang yang besar kemudian dikatakan bahwa

negara ini dapat digolongkan sebagai negara dengan power yang besar. Pandangan ini dirasa

tidak relevan mengingat Indonesia yang memiliki kekayaan resources ditambah dengan letak

geopolitik yang strategis ternyata tidak dapat membawa Indonesia menjadi superpower dunia.

Pandangan lain kemudian memposisikan power sebagai relationship dimana power lebih dilihat

sebagai hubungan potensial yang dapat meningkatkan power di masa yang akan datang (potential

power) . Pandangan ini lebih relevan dalam pertimbangan interaksi antar negara karena ketika

negara memutuskan untuk mengadakan hubungan dengan negara lain, maka negara tersebut akan

saling menilai power masing-masing. Dalam konteks ini, power adalah bagaimana aktor A dapat

mempengaruhi perilaku aktor B. Bagaimana cara kedua negara tersebut saling mempengaruhi

adalah dengan memanfaatkan bentuk-bentuk power seperti soft power yang mendoktrinasi

pemikiran melalui budaya, ideologi lalu hard power yang mempergunakan kekuatan ekonomi

dan politik dan sebagainya.

Power bukan konsep yang dapat diukur dengan mudah ±bersifat intangible ± karena power

bersifat multidimensi. Dimensi pertama adalah scope yang mengidentifikasi aspek yang terlibat

dalam area isu. Pengaruh satu negara terhadap satu isu dapat berbeda dengan isu lain. Misalnya

power Jepang terhadap Indonesia dalam bidang ekonomi lebih terasa daripada power Jepang ke

Indonesia dalam bidang militer. Dimensi kedua adalah domain yang menggambarkan seberapa

besar aktor yang dipengaruhi. Suatu negara mungkin memiliki power yang besar di satu region

tetapi tidak dapat menguasai region yang lain. Dimensi ketiga disebut weight yang merupakan

kalkulasi seberapa besar kemungkinan B dapat dipengaruhi oleh A. apakah Cina yang dapat

dengan mudah mempengaruhi kebijakan Vietnam yang notabene memiliki kesamaan ideologi.

Dimensi keempat adalah costs, tentang seberapa besar biaya A untuk menguasai B dan seberapa

besar biaya B untuk melakukan kepentingan A. Semakin kecil biaya A dan semakin besar biaya

B maka power A semakin besar. Dimensi terakhir adalah means sebagai alat untuk menjalankan

power itu sendiri. Bisa berupa simbolis seperti propaganda melawan perbudakan ataupun power

yang lebih mudah terlihat seperti kekuatan ekonomi, militer dan diplomasi .

Ketika tiap negara akan berusaha mengejar power (struggle of power) seperti pemikiran realis di

atas, maka interaksi power akan membentuk tatanan kekuatan dunia dengan kutub-kutubnya.

Ketika kekuatan dunia terbagi ke dalam 2 kutub yang berimbang, terjadilah yang disebut Balance

of Power (BoP). Pertama kali digunakan oleh Thucydides untuk menggambarkan Perang

Peloponesian. Sistem bipolar ini menurut Waltz yang neorealis lebih stabil dan karenanya

menjamin perdamaian dan keamanan yang lebih baik dibanding dengan sistem multipolar .

Perimbangan kekuatan kedua negara superpower akan memelihara sistem yang ada karena

dengan memelihara sistem mereka dapat memelihara diri sendiri. Perdamaian ini dapat

dijelaskan melalui beberapa alasan. Pertama, jumlah konflik negara-negara berkekuatan besar

lebih sedikit dan hal itu mengurangi kemungkinan perang negara-negara berkekuatan besar.

Kedua, lebih mudah menjalankan penangkalan karena jumlah negara berkekuatan besar yang

terlibat lebih kecil. Ketiga, minimalisir miskalkulasi untuk melakukan aksi.

Namun idealisme perimbangan kekuatan ini tidak memiliki definisi maupun indikator yang jelas.

Ambiguitas yang muncul lebih kepada hakikat negara yang akan selalu mencari power untuk

menjadi penguasa tunggal dan bukan untuk keseimbangan sistem. Ketidakjelasan ini oleh Ernest

Haas digambarkan dalam 8 arti berbeda tentang BoP yaitu distribusi kekuasaan, proses

penyeimbangan, hegemoni dan upaya mencari hegemoni, stabilitas dan damai, power politics

secara umum, sejarah hukum universal dan sistem yang mengarahkan pembuat kebijakan .

Kritik yang muncul kemudian menyerang tujuan BoP sendiri yang menurut Bolingbroke, Gentz

dan Castlereagh untuk menyelenggarakan hegemoni dunia, menyiapkan sistem dan pendukung

sistem itu sendiri, menjamin stabilitas dan keamanan bersama, serta menjamin perdamaian abadi

. Tujuan ini kemudian dimanifestasikan ke dalam cara-cara yang mendapat sorotan karena

menjalankan politik tidak etis seperti adu domba, bantuan restrukturasi pasca perang,

pembangunan daerah penyangga, aliansi, area pengaruh, intervensi, diplomasi, penyelesaian

konflik secara legal, perlucutan senjata, perlombaan senjata serta perang. Karena kepentingan

nasional suatu bangsa dapat menjadi ancaman bagi negara lain maka BoP yang secara teori

menghindari perang ternyata malah menyebabkan perang itu sendiri.

Jika BoP menggambarkan struktur power yang bipolar, maka sistem unipolar dapat dijelaskan

dengan Teori Kestabilan Hegemoni (hegemonic stability). Ketika struktur dunia dimaknai

sebagai struktur unipolar, maka power akan terkonsentrasi pada satu kutub dan memunculkan

aktor dominan yang menguasai dunia dengan kekuatan ekonomi dan militer. Hegemon ini akan

membawa dunia internasional menuju kestabilan.Jika realis melihat power sebagai perhatian

utama yang akan diperjuangkan oleh tiap negara maka kaum transnasionalis melihat power akan

selalu terlibat dalam perubahan. Arti power menjadi lebih persuasif dan tingkat kekerasan nya

lebih berkurang . Saya pribadi juga melihat ketidakjelasan konsep BoP, tentang seberapa

seimbangkah keseimbangan yang dimaksud, atau keadaan seperti apakah yang dapat dikatakan

seimbang.

Teori hegemonic stability berakar pada pemikiran merkantilis tentang politik yang memimpin

ekonomi walaupun tidak sepenuhnya menganut nilai-nilai merkantilis karena nilai-nilai liberal

tetap menjadi poin penting. Kekuatan dominan tidak hanya memanipulasi hubungan ekonomi

internasional tetapi juga menciptakan suatu perekonomian dunia yang terbuka berdasarkan

perdagangan bebas dimana manfaatnya tidak hanya akan dirasakan bagi negara hegemon tetapi

juga semua negara yang berpartisipasi.

Hegemoni atau yang dipahami sebagai dominasi kekuatan militer dan atau politik, diperlukan

dalam perekonomian pasar dunia yang liberal karena tanpa hegemoni aturan liberal tidak dapat

dilaksanakan. Hal ini berarti jika ekonomi dunia adalah liberal maka dalam ekonomi dunia harus

ada kekuatan hegemon. Dalam hegemon diperlukan adanya kekuatan yang bersedia mengambil

alih dan mengatur roda perekonomian dunia untuk menjaga stabilitas perekonomian itu sendiri.

Dalam menjalankan hegemoni, diperlukan kekuatan-kekuatan utama yang dapat digunakan

sebagai alat bargaining untuk meraih kekuatan lain. Dalam teori ini, diperlukan adanya satu aktor

yang muncul dengan kekuatan dominan untuk menjamin segalanya berlangsung lancar.

Kekuatan ini diwujudkan dalam bentuk institusi yang menjadi fokus neoliberalis.

Teori Hegemonic Stability mejelaskan signifikansi hegemon harus berkaitan dengan sifat

barang-barang yang disediakannya. Dalam ekonomi liberal, barang-barang yang dipertukarkan

adalah benda bebas dimana suatu benda itu akan memberikan manfaat bagi semua orang dan

bukan untuk orang tertentu, misalnya valas, saham dan sebagainya. Keuntungan publik inilah

yang kemudian dapat memunculkan free riders yang ingin menikmati keuntungan tanpa harus

berkontribusi pada sistem itu sendiri. Efek inilah yang berusaha dihilangkan oleh hegemon.

Ketika AS dengan hegemonnya membangun Bretton Wood Systems, maka di balik itu adalah

kepentingan AS untuk mengamankan pasar luar negerinya karena sistem itu menyediakan

berbagai institusi yang pada dasarnya dapat diatur sesuai dengan kebutuhan AS.

Referensi:

D.A.Baldwin ,2002,Power and International Relations,Handbook of International

Relations,pp.177-189

Dougherty,J.E and Pfaltzgraff,R.L.,1971,Theoretical Approaches to International

Relations,Contending Theories of International Relations,pp.30-38

Henderson,W.Convay,1998,Conflict and Cooperation at the turn of the 21st century, McGraw-

Hill Companies,Inc.

Sorensen,Georg and Jackson,Robert. 1999. Introduction to International Relations. New York:

Oxford University Press

Leave a Comment

Strukturalisme dalam Kerangka Marxisme

Filed under: Uncategorized kopiitudashat @ 8:11 am

Revolusi Perancis dan Revolusi Industri yang terjadi di Eropa telah mengubah sistem feodalisme

ekonomi, yang dulunya kekuasaan dipegang oleh pemilik tanah, menjadi kapitalisme ekonomi

dimana tujuan penyelenggaraan kegiatan ekonomi adalah akumulasi modal sebanyak-banyaknya.

Dalam kapitalisme terjadi apa yang dinamakan dengan ketidaksederajatan sosial (social

inequalities), yaitu keadaan dimana satu pihak akan diuntungkan dan pihak lain dirugikan oleh

usaha-usaha untuk akumulasi modal. Keadaan ini membuat kaum buruh yang tidak memiliki

alat-alat produksi menjadi tergantung dengan kaum pemilik modal.

Kondisi ini menimbulkan keprihatinan Karl Marx atas nasib yang dialami oleh para buruh dan

mendorongnya untuk untuk menulis Des Kapital dan Communist Manifesto pada pertengahan

abad 19. Dalam tulisannya, Marx mengkritik kapitalisme sebagai sebuah sistem dimana kaum

borjuis yang memiliki faktor-faktor produksi akan selalu mengeksploitasi kaum proletar yang

membutuhkan kaum borjuis untuk bertahan hidup. Dalam ketergantungan proletar oleh kaum

borjuis, upah yang didapatkan buruh jauh lebih kecil dari apa yang seharusnya didapatkannya,

selisih antara upah buruh yang seharusnya dan yang didapat inilah yang merupakan keuntungan

nilai tambah yang diambil oleh kaum borjuis .

Marxisme mengasumsikan manusia sebagai makhluk materi, karena kehidupan manusia sejak

dulu diwarnai dengan kebendaan dan kepemilikan pribadi yang menyebabkan manusia terus

berkonflik memperebutkan materi yang merupakan faktor utama proses sosial politik

(materialisme historis) . Prinsip dasar nya, bukan kesadaran yang menentukan keadaan, tapi

keadaan yang menentukan kesadaran . Disini berlaku dialektika materialisme, bila basis adalah

ekonomi dan suprastrukur adalah politik, filsafat, sosial, agama, dan negara maka basis

menentukan suprastruktur karena segala sesuatunya harus dapat dinilai dengan materi, oleh

karena itu maka produksi harus dicapai sebanyak-banyaknya.

Agenda utama dari ajaran Marx adalah tatanan dunia baru tanpa ada dominasi dan eksploitasi

serta tanpa adanya kelas. Tatanan dunia baru ini diyakini dapat dicapai dengan jalan revolusi

yang pada awalnya akan diwarnai oleh konflik antar kelas, karena itu aktor utama dalam HI

adalah kelas. Revolusi sosial menurut bayangan Marx adalah keadaan dimana alat-alat produksi

akan berada di bawah kontrol proletar.

Pada pertengahan 1840 Marx dan Engel menulis bahwa globalisasi kapitalis telah dengan serius

mengikis dasar sistem internasional . Konflik dan kompetisi antar negara sebenarnya merupakan

konflik antar 2 kelas, borjuis nasional yang mengatur pemerintahan dan proletariat kosmopolitan.

Dalam memandang struktur kapitalisme global, marxis melihat bahwa negara tidak otonom

tetapi digerakkan oleh kepentingan kelas borjuis, oleh karena itu konflik antar negara sebenarnya

merupakan konflik kepentingan antar kelas borjuis antar negara. Selain itu, sistem kapitalisme

yang berlaku akan bersifat ekspansif sehingga ia akan berusaha memperluas diri melalui

kolonialisme, imperialisme, dan globalisasi ekonomi.

Kapitalisme yang mengglobal ini kemudian mendorong para Neo Marxis seperti Paul Baran,

Raul Preabach, Andre Gunder Frank dan Immanuel Wallerstein untuk menggambarkan struktur

dunia global dalam kerangka ekonomi yang dasarnya bersumber dari pemikiran Marxisme. Teori

ini kemudian disebut sebagai teori strukturalisme global yang agenda utamanya adalah revolusi

global yang hanya dapat dicapai dengan cara radikal agar bisa lepas dari struktur global yang

eksploitatif.

A. Teori Imperialisme Lenin

Lenin meneruskan teori dari Marx dan mengatakan bahwa Kapitalisme telah memasuki era baru

dengan terbentuknya µMonopoli Kapitalisme¶. Struktur yang digambarkan imperialisme adalah

kenyataan bahwa perusahaan multinasional akan menghadapkan pemilik modal pada konflik

langsung dengan buruh global.

B. Teori Sistem Dunia Wallerstein

Berdasarkan kegiatan produksinya, sistem dunia dapat digolongkan menjadi 3 entitas,yaitu mini-

system, world empire dan world economy. Sistem paling dasar adalah mini-system dimana

kegiatan produksi hanya berdasarkan perburuan dan agrikultur tradisional. Sistem kedua, world

empire, produk agrikultur digunakan sebagai komoditas utama untuk penyelenggaraan birokrasi

dan militer. Sistem terakhir, the world economy, adalah sistem ekonomi dunia yang kapitalis

dimana produksi yang dilakukan bertujuan untuk menciptakan keuntungan.

Sistem dunia ekonomi ini kemudian memunculkan bentuk hubungan negara dalam sistem dunia

yang terbagi dalam negara core, semi-periphery dan periphery. Negara core yang negara yang

memegang dominasi produksi adalah yang paling banyak mendapat keuntungan dari kapitalisme,

berbeda dengan negara periphery yang dapat dikatakan menjadi objek eksploitasi pasar negara

core. Kondisi ini kemudian memunculkan semi- periphery sebagai stabilitator (buffer zone)

antara negara core dan negara semi periphery.

C. Teori Ketergantungan

Membagi dunia menjadi dunia maju dan negara Dunia Ketiga dimana negara Dunia Ketiga akan

selalu tergantung pada negara maju, dan ketergantungannya itu dimanfaatkan oleh negara maju

untuk mengeksploitasi mereka.

Bagaimanapun perkembangan dunia modern, hubungan antar negara akan selalu diwarnai

dengan ketidaksederajatan sosial, akan selalu ada µyang mendominasi¶ dan µyang didominasi¶,

seperti yang diungkapkan oleh ide dasar Marxisme. Ketidakmerataan ini bukan tidak mungkin

akan menimbulkan struktur-struktur baru terkait dengan terus berkembangnya praktik

eksploitasi, dari yang dulunya antar buruh-pemilik modal, lalu berkembang menjadi hubungan

antar koloni-penjajah yang sekarang juga diikuti oleh kolonialisme gaya baru yang kemudian

oleh Wallerstein diterjemahkan ke dalam analogi eksploitasi core-periphery.

Berbeda dengan 2 perspektif sebelumnya, realisme dan liberalism, yang melihat HI sebagai

interaksi politik, maka marxisme dan strukturalisme ini lebih melihat dunia dalam sistem

ekonomi. Walaupun pemikiran Marxis ini dianggap oleh sebagian besar telah luluh oleh

runtuhnya Soviet, tetapi kenyataan akan adanya eksploitasi antar 2 kelas ini tidak akan pernah

hilang walaupun impian Marx tentang dunia tanpa kelas menurut saya tidak kurang utopisnya

dari utopis perdamaian abadi ala liberalisme. Marxisme juga berlawanan dengan konsep anarki

ala realis, dan tidak sependapat dengan kerjasama ala liberalis, mengingat bahwa konstelasi

dunia tidak akan terlepas dari konflik antar kelas.

Jika merunut kaitan antara marxisme dan strukturalisme maka kedua term di atas dapat ditarik

garis singgung. Keduanya sama-sama berbicara tentang struktur yang ada dalam suatu entitas,

bila marxisme berbicara tentang struktur dalam negara, maka strukturalisme lebih melihat

kerangka sistem dunia. Dapat juga dikatakan bahwa pemikiran Marxis lah yang membangun

pemikiran struktural. Walaupun berbicara tentang negara, namun saya lihat Marxis sangat

skeptis terhadap eksistensi negara, terutama karena negara tidak menghalangi eksploitasi

kapitalisme, juga kenyataan bahwa kaum proletar yang tidak menguasai faktor-faktor produksi,

yang demikian juga tidak menguasai ekonomi-politik,telah termarjinalkan oleh kekuasaan

negara.

Referensi

An introduction to political geography.pdf

Hobden,Stephen and Richard Wyn Jones.Marxis Theories of International Relations in

Baylis,John. The Globalization of World Politics.pp 200-205

Linklater,Andrew.Marxism in Booth,Ken.International Theory : Positivism and Beyond ³The

Interstate Structure of The Modern World System´.pp.87-107s

Sorensen,Georg and Jackson,Robert. 1999. Introduction to International Relations. New York:

Oxford University Press

Comments (1)

Dari Liberalisme Menuju Neoliberalisme

Filed under: Uncategorized kopiitudashat @ 8:07 am

1. Liberalisme Klasik

Kehancuran yang diakibatkan oleh Perang Dunia (PD) I membawa keinginan manusia untuk

menghindari perang. Hal inilah yang merupakan titik awal kebangkitan kaum liberalis yang

ditandai oleh berdirinya Liga Bangsa-Bangsa. Liberalisme yang merupakan antitesis dari

realisme berangkat dari asumsi dasar tentang pandangan positif tentang manusia, keyakinan

bahwa hubungan internasional dapat bersifat kooperatif daripada konfliktual dan percaya

terhadap kemajuan yang dibawa oleh modernitas. Manusia adalah pada dasarnya baik dan

terlahir dengan kecenderungan untuk saling bergantung dan bekerja sama dengan manusia yang

lain . Asumsi inilah yang menempatkan individu dan kolektivitas individu sebagai kajian utama.

Perhatian dasar liberalisme klasik ± untuk membedakannya dengan liberalisme yang akan

dijelaskan kemudian ± adalah kebahagiaan dan kesenangan individu. Pikiran-pikiran para scholar

yang mendahului aliran ini adalah John Locke dengan pemahaman tentang negara konstitusional,

Bentham dengan kajian hukum internasional dan timbal balik serta pemikiran Immanuel Kant

tentang perdamaian abadi dan kemajuan. Nilai-nilai dasar yang diusung liberalisme adalah

prospek menuju damai, semangat perdagangan, interdependensi dan institusi, hak asasi manusia,

serta kesejahteraan.

2. Neoliberalisme

Perdebatan panjang antara realis dan liberalis tentang human nature kemudian disempurnakan

dengan metode ilmiah dalam kerangka pendekatan behavioralis saat Perang Dingin. Aliran ini

kemudian disebut sebagai neoliberalisme. Selain tidak terlalu mempermasalahkan human nature

tapi lebih melihat manusia dari hasil perbuatannya, neoliberalisme juga berbeda dengan

liberalisme dalam kadar µke-utopiaannya¶ karena neoliberalisme tidak se-idealis liberalism

klasik, selain itu kajian neoliberalisme berkisar antara kejadian-kejadian era Perang Dingin

setelah 1945. Neoliberalisme mengadopsi nilai-nilai dasar liberalisme klasik dengan berbagai

penyempurnaan dalam kerangka behavioralisme. Konstruksi ilmiah yang ditekankan oleh kaum

behavioralis mengakibatkan aliran ini sudah lebih ¶realis¶ dengan menerima bahwa tidak semua

manusia itu baik. Tetapi penganut aliran ini tetap beranggapan bahwa kedamaian tetap dapat

terwujud bila para aktor berinteraksi dapat mewujudkan kerja sama yang kini kerja sama itu

diterjemahkan oleh kaum liberalis sebagai perdagangan bebas dan penghargaan hak asasi

manusia. Hal lain yang membedakan neoliberalisme dengan liberalisme klasik adalah titik berat

aktor utama dalam hubungan internasional, apakah institusi, warga negara, ataupun masyarakat.

Berdasarkan fokus aktor itulah aliran ini kemudian dibagi menjadi 4 aliran utama yaitu

liberalisme sosiologis, liberalisme institusional, liberalisme republikan dan liberalisme

interdependensi.

Liberalisme sosiologis yang diwakili oleh Richard Rosecrance melihat hubungan internasional

bukan hanya sebagai hubungan antara negara tetapi lebih merupakan hubungan transnasional

yaitu hubungan antar masyarakat dan organisasi dari negara yang berbeda . Hubungan antar

masyarakat inilah yang mempersatukan pertentangan kepentingan negara. Berbeda dengan

liberalisme interdependensi yang memandang hubungan transnasional antar negara sebagai

kesalingketergantungan yang paling utama antar manusia sebagai makhluk sosial. Dalam

perspektif ini, kekuatan militer yang dulu mendominasi pada era Perang Dunia ± Perang Dingin

kini kurang begitu berguna, posisinya kini digeser oleh isu-isu seputar ekonomi dan instrumen

institusional. Interdependensi ini kemudian dapat disebut sebagai modernisasi karena

modernisasi meningkatkan derajat dan ruang lingkup interdependensi antar negara.

Model liberalisme ketiga adalah liberalisme institusional yang mengadopsi pemikiran tentang

pentingnya institusi internasional ala Woodrow Wilson dengan Liga Bangsa-Bangsanya. Aliran

ini muncul sebagai jawaban atas kekhawatiran bahwa berakhirnya Perang Dingin ± yang berarti

runtuhnya bipolaritas ± akan membawa dunia pada perang besar. Para liberalis ini setuju bahwa

institusi internasional dapat membuat kerjasama menjadi lebih mudah dan menyenangkan, tetapi

mereka tidak menyatakan bahwa institusi dapat menjamin transformasi kualitatif hubungan

internasional. Pandangan ini mendapat kritik keras dari realis yang memandang liberal

institusional sebagai neorealis dalam nama lain. Liberalis menjawab kritikan ini dengan konsep

keuntungan absolut yang dimiliki liberal berbeda dengan keuntungan relatif oleh realis.

Keuntungan relatif adalah keadaan dimana suatu negara sudah puas jika ia mendapat apa yang

diinginkan sedangkan keuntungan absolut menginginkan mendapat apa yang terbaik yang tidak

dimiliki negara lain walaupun kepentingannya sendiri mungkin tidak didapatkan.

Pandangan terakhir memandang eksistensi negara demokrasi liberal sebagai negara yang bersifat

lebih damai dan taat hukum dibandingkan dengan negara yang lain . Pandangan ini disebut

sebagai liberalisme republikan. Hubungan ini bisa lebih damai karena kendali ekonomi yang

merupakan pilar utama hubungan luar negeri tetap dipegang oleh warga negara yang notabene

tidak ingin menyerang lawan bisnisnya.

Semua aliran ini menyajikan argumen yang menyeluruh dan konsisten tentang damai dan kerja

sama dalam hubungan internasional walaupun hal ini mendapat kritik keras dari realis dan

neorealis yang mempertanyakan konsep anarki yang nyata dalam hubungan internasional tetapi

tidak pernah dibahas oleh liberalisme. Liberalis sendiri memahami konsep anarki berbeda

dengan anarki ala realis. Bagi liberalis, anarki bukan berarti tidak ada pemerintahan sama sekali,

yang terjadi hanya ketiadaan pemerintahan tunggal. Baik liberalis maupun neoliberalis sama-

sama memfokuskan agendanya pada kerja sama, interdependensi, legitimasi organisasi

internasional dan penyelenggaraan perdagangan bebas.

Secara singkat, perbedaan antara liberalisme dan neoliberalisme adalah sebagai berikut

No Pembeda Liberalisme Neoliberalisme

1 Aktor utama Individu Individu yang tergabung dalam masyarakat, kelompok, organisasi

2 Asumsi dasar tentang human nature Manusia itu baik Manusia ada yang baik dan ada yang

buruk

3 Idealisme tentang kedamaian Sangat ideal Agak lebih ¶realis¶

4 Kemunculan PD I Perang Dingin

Damai menurut liberalisme adalah keadaan hakikat semua negara. Damai yang dimaksud tidak

hanya berarti ketiadaan perang seperti yang terjadi pada Perang Dingin tetapi damai berarti

adanya kerja sama dalam suatu harmoni. Berbeda dengan realis yang menjadikan balance of

power dengan sistem internasional bipolar, liberalis mengkonstruksi sistem internasional dalam

tatanan multipolar walaupun center of action nya lebih condong ke PBB sebagai organisasi

internasional.

Dalam melihat pandangan liberalisme maupun neoliberalisme ini, sekilas tampaknya perspektif

ini mempunyai kesempurnaan yang dibutuhkan oleh dunia. Namun harus diperhatikan bahwa

pandangan liberal seringkali dijadikan sebagai topeng untuk mencapai kepentingan negara liberal

dalam kaitannya dengan eksploitasi negara berkembang. Konsep ini terkait dengan teori

Wallerstein dimana negara periphery akan selalu bergantung pada negara core dan akan selalu

menjadi objek eksploitasi negara core. Hal ini terkait dengan pilar utama kerja sama

neoliberalisme yang menekankan perdagangan bebas dan industrialisasi yang hanya akan

menguntungkan negara maju dan merugikan negara berkembang yang notabene tidak terlalu siap

dengan globalisasi dan perdagangan bebas. Organisasi internasional yang dipopulerkan oleh

liberalis pun bisa jadi hanya merupakan wadah negara liberal untuk menghegemoni negara lain

secara legal melalui kebijakan luar negeri di organisasi tersebut.

Referensi:

Burchill,Scott.Theories of International Relations 3rd edition.St.Martin Press.Inc.,New

York.2005

Jackson,Robert and Georg Sorensen.Introduction to International Relations.Oxford University

Press Inc.,New York.1999

Leave a Comment

Realisme dan Neorealisme dalam Tata Politik Global

Filed under: Uncategorized kopiitudashat @ 8:06 am

Realisme, yang timbul sebagai respon gagalnya kaum idealis dengan LBB nya menghindari PD

II, memandang negara adalah aktor utama dalam politik dunia. Karena merupakan aktor utama,

maka nilai tertinggi realisme adalah keamanan nasional dan kelangsungan hidup negara.

Kepentingan nasional yang ditetapkan sebagai pilar tertinggi kemudian membawa kepada

pemahaman bahwa pemerintahan sebelumnya maupun negara lainnya tidak dapat diharapkan

sepenuhnya. Kondisi ini mengakibatkan pesimisme kaum realis terhadap peraturan dan

komitmen dalam organisasi internasional. Hukum internasional hanya bersifat kondisional dan

dapat dikesampingkan bila berseberangan dengan kepentingan vital negara. Bila yang dilakukan

kaum idealis untuk mewujudkan perdamaian dunia adalah dengan membuat dan mematuhi

hukum internasional, maka perdamaian menurut realis adalah ketika µpemerintahan¶

internasional terwujud. Pemerintahan yang dimaksud sebenarnya adalah virtual karena yang ada

adalah hegemoni yang berusaha dicapai oleh negara besar untuk mengamankan kepentingannya.

Salah satu yang ditekankan oleh para realis adalah konsep struggle of power dimana tiap negara

harus mengejar kepentingannya dengan cara apapun sehingga perang juga merupakan sesuatu

yang wajar dalam penyelesaian konflik.

Pemikiran realisme kemudian mengalami diversifikasi dari realisme klasik , neoklasik menuju

kontemporer. Realisme klasik merupakan aliran yang dominan sebelum revolusi kaum

behavioralis pada 1950-1960an. Pada dasarnya realisme klasik merupakan pendekatan normatif

dan fokus pada nilai-nilai dasar politik dari keamanan nasional dan kelangsungan negara.

1. Realism klasik

a) Thucydides

Nilai dasar: nasib politik, kebutuhan dan keamanan dan ketahanan politik

Thucydides menekankan pilihan-pilihan dan ruang manuver yang terbatas yang tersedia bagi

warga negara untuk menjalankan politik luar negeri. Ia juga menekankan bahwa politik

mempunyai konsekuensi, sebelum keputusan akhir dibuat, seorang pembuat keputusan harus

hati-hati memikirkan kemungkinan konsekuensi. Yang berbeda di sini adalah prinsip keadilan

dimana adil menurut Thucydides bukan perlakuan yang sama pada semua pihak, tetapi

menyesuaikan pada realitas alami kekuatan yang berbeda.

b) Machiavelli

Nilai dasar: kebuasan politik, kesempatan dan keamanan, kelangsungan hidup politik dan

kebaikan umum

Machiavelli menekankan kekuatan dan kecerdikan (singa dan rubah) sebagai instrument utama

dalam meraih nilai politik tertinggi yaitu kemerdekaan. Hal ini berdasarkan asumsi bahwa dunia

adalah tempat yang kejam sekaligus menguntungkan. Implikasinya dalam HI ialah bahwa

pelaksanaan FP ala Machiavelli harus berdasakan kalkulasi cerdas kekuatan dan kepentingan

aktor lain serta harus mengabaikan nilai-nilai etika yang justru akan merugikan kepentingan

negara sebagai aktor utama. Dalam hal ini Machiavelli menekankan waspada terhadap sesuatu

yang belum terjadi dan bertindak dahulu sebelum lawan melakukan hal itu. Inilah yang

kemudian ± menurut saya pribadi ± menjadi awal perilaku pre-emptive dalam tindakan

pemimpin AS yang hawkish. Para hawkish ini menganut neorealisme.

c) Thomas Hobbes

Nilai dasar: keinginan politik, dilema keamanan, ketahanan politik, perdamaian dan kebahagiaan

Hobbes memandang keadaan alami manusia sebagai keadaan dimana seorang manusia adalah

berbahaya bagi manusia yang lain. Karena itulah dibutuhkan negara berdaulat. Namun negara

berdaulat ini kemudian menimbulkan masalah baru karena keamanan di dalam negeri bisa jadi

menyebabkan ketidakamanan bagi negara lain. Inilah yang disebut dengan dilema keamanan,

Hobbes juga menyebutkan perjanjian (hukum internasional) juga sangat diperlukan untuk

mewujudkan keamanan dunia walaupun hukum internasional ini diciptakan oleh negara dan

hanya akan dipatuhi selama hukum ini sejalan dengan kepentingan negara.

d) Morgenthau

Nilai dasar : realisme instrumental, kekuatan dan kekejaman, kesempatan dan keuntungan,

keamanan dan kelangsungan hidup, kebaikan publik

Morgenthau memandang manusia sebagai binatang politik yang haus dan mengejar kekuasaan

(animus dominandi). Dalam politik, harus dibedakan antara wilayah pribadi dan wilayah publik.

Morgentahu memandang etika politik sebagai sesuatu yang ada, tetapi boleh dilanggar dalam

usaha pencapaian kebaikan publik.

2. Realisme Kontemporer

A. Realisme strategis ± Thomas Schelling

Nilai dasar: realisme strategis, kecerdasan, ketegangan dan berani mengambil resiko, logika dan

kekerasan, keamanan dan kelangsungan hidup, bebas-nilai.

Dalam menjalankan FP nya negara harus berpikir secara strategis. Strategi yang dimaksud adalah

penggunaan kekuatan militer untuk menekan dan membuat lawan melakukan yang kita inginkan.

B. Neorealisme ± Kenneth Waltz

Berbeda dengan realisme klasik yang memandang negara dengan elitnya sebagai fokus,

neorealisme lebih menitikberatkan pada struktur internasional beserta unit-unitnya dan interaksi

di dalam sistem itu. Karena lahir dari pemikiran behavioralism bebas-nilai, neorealisme

menggunakan perspektif ilmiah sehingga membutuhkan asumsi dan teori untuk memprediksi

perilaku negara sebagai instrumen agar dapat di operasionalkan dan tidak memasukkan etika.

Hal lain yang membedakannya dengan realisme klasik adalah tentang rasionalitas politik dimana

neorealisme mengabaikan aspek ekonomi, human nature dan domestic policy karena hanya

melihat secara totalitas tanpa memandang isu partikular di dalamnya.

Mengacu pada pendapat realisme klasik, neorealisme juga beranggapan bahwa sistem

internasional dikendalikan oleh negara besar. Neorealism tidak menyediakan strategi seperti

pada realisme strategis karena struktur dinilai hanya memberi sedikit pilihan kepada elit yang

bergerak dalam sistem itu. Balance of power bisa terbentuk dengan situasi dunia yang bipolar

dimana dua kekuatan itu sama-sama besar sehingga pihak satu tidak akan menyerang pihak lain

secara langsung.

Jika kita membandingkan antara realisme dan neorealisme, maka parameter yang digunakan juga

berbeda. Walau pada dasarnya neorealisme µhanya¶ mengembangkan sedikit substansi dari

pemikiran realisme, pandangan neorealisme cenderung melihat segala sesuatu dari kacamata

struktur dan unit-unitnya. Jika bagi realis manusia adalah jahat, maka bisa jadi menurut neorealis

yang jahat adalah sistem. Mengapa elit tidak berusaha mengubah sistem adalah karena sistem itu

sendiri tidak memberi pilihan bagi elit untuk memilih kebijakan yang diambil. Secara alamiah,

sistem akan menyediakan jawaban bagi setiap tantangan global karena sistem negara sendiri

pada dasarnya akan selalu berusaha melakukan apapun untuk mencapai kepentingannya.

Kelebihan pemikiran realism dan nonrealisme disbanding pemikiran lainnya adalah bahwa

realism dapat menjamin tercapainya kepentingan nasional tanpa harus mereduksi kedaulatan

dengan bergabung menuju organisasi internasional secara µpenuh¶. Namun kekurangan yang

paling dikawatirkan adalah begitu mudahnya realis memutuskan penyelesaian konflik dengan

jalan militer yang notabene mahal dan destruksif.

Sumber

Sorensen,Georg and Jackson,Robert. 1999. Introduction to International Relations. New York:

Oxford University Press

Comments (1)

Masuknya China Sebagai Anggota WTO : Jalan Bagi Transformasi Rezim WTO

Filed under: Uncategorized kopiitudashat @ 7:48 am

Abstract:

This article evaluates the emerging of China in world trade system, especially after her accession

in World Trade Organization as the commerce regime. The article develops two interdisciplinary

frameworks for the issue, included inductive analysis and transformation of regimes approaches

that is based on some concepts like distribution of power and counter regimes. The objectives of

the article are to find the implications of Chinaµs accession in World Trade Organization both for

the regime itself and for United States as the dominant power inside the regime. Implications of

the frameworks are discussed to emerging any alternative for the regime¶s future.

Keywords: commerce regime, transformation of regimes, China¶s global power, the declining of

US domination

WTO sebagai Rezim Perdagangan Internasional

Dalam usaha mencapai kepentingannya, manusia dan kumpulan manusia dalam entitas negara

akan melakukan segala cara yang diperlukan dengan menggunakan power yang dimiliki untuk

kepentingan yang dituju (struggle of power). Ketika tiap negara saling mengerahkan power

dalam satu area isu, maka akan terjadi perbenturan kepentingan yang akan menimbulkan

kompetisi tidak sehat yang berusaha mereduksi kepentingan pihak lain untuk memaksimalkan

kepentingannya sendiri. Untuk menghindarkan hal itu, diperlukan adanya suatu pengaturan yang

mengatur mekanisme tiap anggota dalam meraih kepentingannya. Pengaturan inilah yang disebut

sebagai rezim.

Rezim internasional adalah seperangkat prinsip, norma, aturan dan prosedur pengambilan

keputusan dimana keinginan para aktor berbenturan dalam suatu isu . Sebagai suatu mekanisme

pengaturan, rezim mempunyai empat unsur dasar yang diperlukan untuk menciptakan

keteraturan itu yaitu prinsip, norma, aturan dan proses pengambilan keputusan. Dari 4 unsur di

atas, prinsip dan norma adalah karakteristik utama adanya suatu rezim, karena perubahan pada

prinsip dan norma berarti perubahan rezim secara keseluruhan. Sedangkan perubahan aturan dan

prosedur pengambilan keputusan hanya akan mengubah akspek internal rezim tanpa mengubah

satu rezim dengan rezim yang baru.

Salah satu area isu yang banyak melibatkan pertemuan kepentingan tiap aktor hubungan

internasional adalah area perdagangan, oleh karena itu maka perdagangan juga perlu mempunyai

rezim yang mengatur mekanisme perdagangan antar aktor hubungan internasional, baik negara

maupun aktor selain negara. Rezim perdagangan internasional ini diwujudkan dengan

keberadaan World Trade Organization (WTO) yang didirikan dengan tujuan untuk mewujudkan

perdagangan dunia yang bebas, adil dan terbuka . WTO terbentuk sebagai hasil dari Putaran

Urugay dan aktif beroperasi sejak 1 Januari 1995 sebagai transformasi dari General Agreement

on Tariff and Trade (GATT) yang tidak mempunyai mekanisme yang ketat. WTO bermarkas

besar di Geneva, Swiss.

Sebagai rezim perdagangan internasional, WTO mempunyai prinsip-prinsip dasar yang harus

dipatuhi oleh paar anggotanya yaitu most-favoured nation, non-tariff measures, national

treatment, transparency, dan quantitative restriction (quota) dengan norma utamanya adalah

pengurangan hambatan perdagangan hingga seminim mungkin untuk mewujudkan pasar

perdagangan yang bebas, adil dan terbuka. Sejak terbentuk hingga kini, WTO menerapkan

sistem kebarat-baratan, terutama mengadopsi sistem Amerika Serikat (AS) yang merupakan

kekuatan dominan dalam WTO. Banyak kebijakan WTO yang dibuat berdasarkan kepentingan

AS dan negara-negara industri lainnya.

Posisi AS dan negara-negara Eropa kemudian terancam ketika pada 10 November 2001, China

resmi menjadi anggota WTO. Sebelum bergabung, China telah menjadi kekuatan industri

sekaligus pasar yang sangat diperhitungkan oleh anggota-anggota WTO, terutama dalam bidang

elektronik dan komputerisasi. Pangsa China di pasar elektronik AS meningkat dari 9,5 % pada

tahun 1992 menjadi 21,8 % pada 1999. Kontribusi China terhadap produksi komputer dunia naik

dari 4 % pada 1996 menjadi 21 % pada 2000. Pangsa China terhadap total produksi hard disk

dunia juga naik dari 1 % pada 1996 menjadi 6 % 2000 .

Dari data-data di atas, dapat dilihat bahwa sebelum bergabung dengan rezim perdagangan WTO,

China telah menjadi kekuatan industri yang besar dan berprospek tinggi. Dapat dipahami bila

kemudian ketika China bergabung dengan WTO, negara-negara yang telah mapan sekaligus

memegang kemudi atas WTO itu merasa terancam atas keberadaan dan perkembangan China

yang semakin pesat.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah masuknya China ke dalam WTO akan

membawa perubahan pada prinsip-prinsip yang telah mapan di WTO sekaligus mempengaruhi

posisi dan dominasi Barat di WTO. Dalam menganalis permasalahan ini, penulis menggunakan

analisis induksi yang akan menjelaskan bentuk perubahan pada rezim. Analisis induksi ini juga

akan diperkuat oleh pendekatan transformasi rezim menurut Oran Young yang akan menjelaskan

bagaimana kekuatan hegemon dapat dipatahkan oleh kekuatan yang baru muncul.

Menurut analisis induksi, tiap rezim dibentuk berdasarkan kepentingan dan tujuan dari masing-

masing anggotanya. Ketika tujuan dan kepentingan ini berubah maka prinsip dan norma akan

berubah. Jika prinsip dan norma berubah, maka rezim ini juga berubah. Perubahan dapat terjadi

secara evolusioner dan revolusioner. Perubahan secara evolusioner akan terjadi bila perubahan

terjadi dalam norma yang merupakan dasar terbentuknya suatu rezim, namun distribution of

power antar negara anggota tidak mengalami perubahan yang signifikan. Sebaliknya, perubahan

revolusioner terjadi karena transisi power. Dalam rezim, pasti ada pihak mendapat keuntungan

lebih besar dan ada yang mendapat keuntungan lebih kecil atau bahkan merugi karena norma dan

aktivitas dalam rezim itu. Pihak yang dirugikan tetap memilih untuk mengambil bagian dalam

rezim karena jika tetap bersikukuh untuk keluar dari rezim maka harga yang harus dibayar akan

jauh lebih mahal. Walaupun seolah-seolah menurut, namun pihak yang dirugikan ini menyusun

counter-regimes yang akan mengambil alih kekuasaan saat kekuatan dominan telah jatuh. Hal

inilah yang disebut dengan transisi power .

Analisis induksi ini diperkuat oleh pendekatan transformasi rezim. Oran Young dalam

artikelnya, Regimes Dynamics : The Rise and Fall of International Regimes, menjelaskan bahwa

perubahan suatu rezim dapat terjadi karena kontradiksi internal maupun faktor eksternal .

Kontradiksi internal ini dapat berupa konflik yang tak dapat diselesaikan atau berupa

pengembangan karakter suatu rezim. Karakter ini berubah karena perubahan dalam distribution

of power, misalnya penurunan power aktor dominan.

Berdasarkan pendekatan yang telah disebutkan, maka penulis berargumen bahwa masuknya

China sebagai anggota resmi WTO akan membawa perubahan yang signifikan pada WTO

sebagai rezim perdagangan, dan sekaligus juga membawa dampak perubahan pada AS dan Uni

Eropa (UE) sebagai anggota dominan dalam WTO.

China, Sang Naga Tidur yang Telah Bangun

Kehebatan dan ketangguhan China sudah tidak lagi diragukan. Bahkan Napoleon Bonaparte

mengatakan µbiarkan China terlelap, sebab jika China terbangun, dia akan mengguncang dunia¶.

Dengan status China sebagai anggota WTO, maka China harus menyesuaikan kebijakan

domestik dan luar negerinya dengan prinsip dan norma yang telah disepakati dalam dalam WTO,

utamanya norma penghilangan hambatan tarif dalam perdagangan. Oleh karena itu, dalam jangka

waktu 2004-2010, China telah menurunkan tarif komoditas pertanian hingga 15%, dan untuk

komoditas industri hingga 8,9 % . Selain itu, China juga menjalankan prinsip national treatment

dengan mempermudah regulasi investor asing dalam penanaman modalnya sekaligus ikut serta

dalam aktivitas perdagangan dan perekonomian China. Jika sebelumnya kepemilikan properti

dan korporasi menjadi monopoli pemerintah, maka pasca 2001, kepemilikan korporasi di China

terbuka untuk pihak swasta.

Keterbukaan dan strategi massalisasi produk yang dilakukan China membuat produk-produk

China semakin kompetitif dan membanjiri pasar internasional sehingga mengungguli produk

negara industri lainnya seperti AS, Jepang dan India, apalagi dengan berbagai kemudahan yang

ia dapatkan setelah resmi menjadi anggota WTO. China mengancam eksistensi negara industri

yang telah mapan sebelumnya karena China telah menggeser fokus perekonomiannya dari sektor

pertanian (primary industry) menjadi sektor industri manufaktur (secondary industry) dan jasa

(tertiary industry).

Jika dilihat dari daya beli masyarakatnya, pada tahun 2006 China dapat dikatakan sebagai

kekuatan ekonomi terbesar kedua setelah AS, apalagi pada tahun yang sama surplus neraca

pembayaran yang diperoleh China mencapai 180 milyar dolar yang merupakan nilai tertinggi di

dunia . Selain itu, China telah menjadi exportir terbesar ketujuh dan importir terbesar kedelapan

untuk perdagangan barang, serta termasuk dalam 12 eksportir dan importir terbesar untuk bidang

jasa . Seperti yang ditunjukkan oleh tabel di bawah ini bahwa pendapatan China setelah resmi

menjadi anggota WTO meningkat sebanyak 2,2%. Jauh lebih tinggi dibandingkan dengan negara

maju, apalagi negara berkembang lainnya.

Hal inilah yang dipandang sebagai ancaman terbesar bagi AS dan negara maju lainnya karena

sebelumnya, negara-negara Utara ±istilah yang digunakan untuk menyebut negara maju ± inilah

yang menguasai perdagangan dunia sehingga dapat menyetir tiap kebijakan dan perundingan

yang berjalan di WTO, seperti misalnya perundingan di Doha tentang pencabutan subsidi

pertanian di Doha yang berjalan cukup alot karena pihak Utara yang tidak mau mengabulkan

keinginan negara berkembang ±yang saat itu diwakili oleh India- untuk mencabut subsidi

pertanian negara maju.

Dengan munculnya China sebagai negara Selatan yang mampu menguasai perekonomian dunia,

maka negara maju khawatir bila kepentingannya yang selama ini telah mapan kemudian

tereduksi dengan kedatangan China. Apalagi dengan kenyataan bahwa produk industri yang

selama ini menjadi µladang emas¶ negara Barat ternyata menjadi kurang kompetitif ketika China

muncul di pasaran. Survei yang dilakukan Kamar Dagang Eropa pada 2007 menunjukkan,

sebanyak 34% responden merasakan dampak negatif dari bergabungnya China dalam

keanggotaan WTO, naik drastis dari tahun 2006 yang hanya mencapai 4% .

Berbagai data yang menunjukkan kemajuan China mengalahkan pendapatan Jepang dan negara

maju lainnya seperti AS dan UE, sekaligus gambaran yang telah disinggung sebelumnya tentang

ketidakpuasan Eropa membuktikan bahwa telah terjadi penurunan power kekuatan dominan yang

diikuti dengan naiknya kekuatan baru yang mengancam eksistensi kekuatan dominan itu.

Perubahan distribution of power ini, menurut analisis induksi, secara bertahap akan

mengakibatkan perubahan dalam rezim itu, perubahan yang disebut sebagai perubahan

revolusioner.

China yang mewakili negara berkembang, menurut analisis penulis, dengan power yang dimiliki

akan membentuk counter regimes dengan merangkul negara berkembang lainnya untuk

memperjuangkan perubahan-perubahan terhadap kebijakan yang kurang menguntungkan, yang

akan dijelaskan dalam pembahasan selanjutnya, serta memperkuat posisi tawar negara Selatan

dalam perundingan sehingga mampu memberikan pertahanan terhadap tekanan yang diberikan

oleh negara Utara.

Aturan WTO yang Rentan Terhadap Pengaruh China

Secara umum, ada beberapa aturan WTO yang dipertanyakan oleh negara berkembang namun

tetap dipertahankan oleh negara maju, seperti prosedur pengambilan keputusan dengan

menggunakan metode konsensus dimana keputusan tidak akan terlaksana tanpa kesepakatan dari

keseluruhan 140 anggota sehingga prosedur ini lebih merupakan alat negara maju untuk

menahan kebijakan yang diajukan negara berkembang. Kemudian permasalahan subsidi yang

telah menjadi bahan perundingan yang sukar mencapai kata sepakat dimana negara maju

memberikan subsidi tidak langsung bagi petani mereka namun memaksa negara berkembang

untuk menghilangkan subsidi bagi pertaniannya. Negara maju juga memberikan subsidi bagi

infant industries negara mereka dan lolos dari kerangka WTO karena mereka melepas subsidi itu

ketika perusahaan yang bersangkutan sudah go international. Dengan kondisi internal China

yang belum benar-benar menghilangkan intervensi pemerintah, maka China akan berusaha

mengubah dan melakukan redefinisi terhadap subsidi yang dimaksudkan dalam piagam WTO.

Aturan lainnya yang menjadi perhatian China adalah mengenai safeguards mengingat

nasionalisme China menganggap compliance terhadap institusi supranasional adalah kegagalan

pemerintah. Berikutnya, China juga merasa perlu mendekonstruksi mekanisme penyelesaian

perselisihan mengingat entitas China sebagai negara dengan power yang besar dalam

perdagangan akan banyak mendapat kendala dan tantangan seperti yang juga dialami oleh AS

dan UE yang telah terlibat dalam lebih dari separuh kasus yang diselesaikan oleh WTO.

Mekanisme penyelesaian perselisihan yang melibatkan banyak pengacara akan menyulitkan

China , karena negara tirai bambu itu hanya mempunyai 100.000 pengacara atau 11000 orang

penduduk tiap 1 pengacara. Jumlah yang tidak seimbang bila dibandingkan dengan 300

penduduk AS yang diwakili oleh 1 pengacara.

Wajah Baru WTO

Dengan proses transformasi seperti itu, ada beberapa skenario yang oleh penulis digunakan

untuk menggambarkan µwajah¶ WTO ke depannya. Skenario pertama, aturan dan prosedur dalam

WTO akan bergeser ke arah posisi yang semakin menguntungkan negara berkembang.

Perubahan ini tidak akan mengubah rezim WTO secara fundamental, tetapi lebih ke arah

penguatan atau kemunduran rezim itu sendiri. Dalam kaitannya dengan perubahan rezim ini,

maka yang terjadi adalah semakin melemahnya rezim akibat penurunan kekuatan dominan,

dalam hal ini AS dan Eropa. Kekuatan China yang muncul tidak akan mampu mengakomodasi

rezim secara keseluruhan karena China dan negara Timur lainnya tidak memiliki sifat untuk

menjadi leader dalam rezim itu.

Selama ini AS bersedia menjadi leader karena sifat ideosinkretis AS dan negara-negara Eropa

lainnya yang mempunyai mental kolonial dan white man¶s burden yang masih terbawa dimana

negara-negara kolonial merasa mengetahui yang terbaik untuk bekas jajahannya sekaligus

mempunyai sifat dasar untuk µmengayomi¶ dan menguasai dunia secara global. Apalagi AS

dengan manifest destinynya. Sifat-sifat inilah yang membuat AS bersedia mengeluarkan banyak

biaya untuk mengakomodasi rezim yang dipertahankannya, satu hal yang tidak dimiliki China.

Tentu saja faktor ideosinkretis ini juga didukung oleh kepentingan AS dalam kebijakan luar

negerinya. Menurunnya leader akan membuat anggota-anggota lainnya saling bersaing dan

menjatuhkan satu sama lain sehingga melemahkan rezim itu sendiri.

Skenario kedua adalah perubahan fundamental, atau yang disebut sebagai perubahan evolusioner

menurut analisis induksi, yaitu perubahan prinsip dan norma rezim secara mendasar yang akan

mengubah rezim itu secara keseluruhan. Dengan meningkatnya posisi tawar negara berkembang,

maka bisa jadi prinsip dasar WTO yang sebelumnya adalah free trade berubah menjadi fair trade.

Dengan fair trade, maka prosentase penurunan tarif bagi negara maju dan negara berkembang

akan lebih adil .

Skenario ketiga adalah munculnya China sebagai diplomatic leader. China dinilai memiliki track

record lebih baik dibanding dengan sesama raksasa perdagangan seperti UE dan AS. Nantinya

bentuk diplomasinya akan lebih mengarah pada koalisi, regionalisme dan perselisihan klaim

kedaulatan (terutama menyangkut masalah Taiwan). Apalagi dengan sifat China yang gemar dan

mudah mencari koalisi.

Kesimpulan

Perubahan besar-besaran China di bidang perekonomian yang telah dimulai sejak era Deng Xiao

Ping memunculkan China sebagai kekuatan industri yang disegani. Bahkan sebelum menjadi

anggota resmi WTO, China telah mengambil peran yang besar dalam perdagangan dunia.

Walaupun secara ekonomi China menganut sistem ekonomi pasar, terutama setelah

bergabungnya China sebagai anggota WTO, namun secara politik dan prosedur kenegaraan

China masih memegang nilai-nilai sosialis. Dengan sifat ekonomi yang tidak terlepas dari

politik, masuknya China akan membawa perubahan pada prinsip-prinsip WTO sebagai rezim

perdagangan. Terbukti pada tahun kedelapan keanggotaan China, China telah mampu memberi

pengaruh yang besar pada anggota WTO yang lain, khususnya menjadi counter regime bagi

kemunduran AS dan UE sebagai kekuatan dominan.

Dengan berbagai fakta dan data yang disampaikan sebelumnya, ditambah dengan beberapa

skenario yang menggambarkan prediksi penulis tentang keberadaan rezim WTO di masa depan,

maka dengan demikian tesis yang diajukan penulis dalam hal ini terbukti.

Referensi:

Anonim.23 November 2007.Masuk WTO, China Rugikan

Eropa.http://economy.okezone.com/index.php/ReadStory/2007/11/23/19/63022/masuk-wto-

china-rugikan-eropa/masuk-wto-china-rugikan-eropa.Diakses pada 21 Juni 2009

Anonim.Direktorat Hubungan Perdagangan Multilateral dan Regional Departemen Perindustrian

dan Perdagangan RI. World Trade Organization sebagai Lembaga Pelaksana dalam Mewujudkan

Liberalisasi Perdagangan Dunia. p.1

CIA ± The World Factbook

D Krasner, Stephen.1984.International Regimes. London: Cornell University Press

E Stiglitz, Joseph.2002. Globalization and It¶s Discontents.New York:W.W.Norton & Company

Ltd

Fuady, Munir.2004.Hukum Dagang Internasional:Aspek Hukum dari WTO.Bandung:PT Citra

Aditya Bakti

Hartati Samhadi, Sri.Globalisasi dan Indonesia 2030. http://www.kompas.com/kompas-

cetak/0605/20/sorotan/2658725.htm.Diakses pada 21 Juni 2009

J.Cohen, Benjamin.2008.International Political Economy:An Intellectual History.New Jersey:

Princeton University Press

J Puchala, Donald and Raymond F.Hopkins.1983.International regimes : lessons from inductive

analysis.New York:Cornell University Press.

R.Young, Oran.¶Regimes Dynamics : The Rise and Fall of International Regimes¶ in Stephen

Krasner (ed).International Regimes. London: Cornell University Press

Z.Cass, Deborah et al (eds).2003.China and The World Trade System: Entering the New

Millennium. New York: Cambridge University Press

Leave a Comment

Pengaruh Ideologi Juche Terhadap Regionalisme Asia Timur : Studi Tentang Hambatan Identitas

dalam Regionalisasi

Filed under: Uncategorized kopiitudashat @ 7:45 am

Abstract:

This article evaluates the influence given by North Korea¶s ideology, ³juche´ in East Asia

regionalization, especially how both North Korean nuclear crisis and isolated foreign policy play

a role in East Asia regionalism. The article develops some interdisciplinary frameworks for the

issue, included security threat theory by Hettne and national identity theory by Bruce Hall that is

based on some concepts like BoP contest, grass fire conflict, intrastate conflicts, identity and

foreign policy. The objective of the article is to find the implications of North Korean foreign

policy as a part of East Asia region for the regionalization constructed. Implications of the

frameworks are discussed to emerging any solution to the future of the region.

Keywords: East Asia region, national identity, juche, nuclear crisis, isolated economy,

regionalization

Pendahuluan

Berakhirnya Perang Dingin (Cold War) memunculkan perubahan besar bagi dunia internasional,

antara lain meluasnya regionalisme, perubahan tata ekonomi global serta transformasi sistem

internasional. Regionalisme berakar dari kata region yang oleh Ravenhill disebut sebagai

konstruksi sosial yang mempunyai anggota resmi dan definisi batas yang jelas . Region ini

kemudian ter-regionalisasi, ditunjukkan oleh peningkatan tingkat ketergantungan ekonomi

dengan batas-batas geografis yang jelas, dan menjadi suatu entitas yang disebut regionalisme.

Regionalisme identik dengan kerjasama, perdamaian, integrasi yang umumnya dibungkus dalam

kerangka geografis. Kerjasama, integrasi dan perdamaian yang merupakan kata kunci dari

regionalisme ini merupakan buah pikir kalangan liberalis yang dikembangkan dalam kerangka

liberal institusionalis dimana insitusi regional merupakan prasyarat untuk mewujudkan integrasi

yang komprehensif. Dengan kerangka liberalisasi ini maka bisa dipahami bahwa negara yang

menganut sosialisme akan mengalami kesulitan dengan proses regionalisasi.

Asia Timur adalah kawasan yang unik. Yang dimaksudkan oleh penulis dengan Asia Timur

adalah suatu entitas geografis yang meliputi negara Jepang, China, Mongolia, Korea Utara

(Korut ), Korea Selatan (Korsel) dan Taiwan.

Peta Asia Timur

Sumber: www.geology.com

Yang unik di sini adalah bagaimana Korea Utara sebagai negara sosialis dikelilingi oleh negara

dengan ekonomi liberal yang berpendapatan tinggi, namun Korut sendiri tidak terpengaruh oleh

liberalisasi negara-negara tetangganya.Salah satu elemen substansial yang dimiliki Korut adalah

ideologi juche yang dalam tulisan ini menjadi argumen utama yang menghambat regionalisasi

Asia Timur karena juche adalah kunci berbagai kebijakan luar negeri Korut, khususnya isolasi

perdagangan dan proliferasi nuklir.

Juche adalah panduan utama Democratic People¶s Republic of Korea (DPRK: Korea Utara) yang

diciptakan oleh Kim Il Sung dengan dasarnya bahwa pemilik revolusi dan pembangunan adalah

rakyat. Dalam situs resminya, pemerintah Korut menekankan pentingnya Chajusong

(kemerdekaan) dalam hal berpolitik. Ideologi inilah yang membentuk sistem ekonomi Korut

yang self reliance dan pertahanan yang self defence. Dengan juchenya ini, Korut hanya akan

melakukan perdagangan secara terbatas, walaupun bukan tidak sama sekali, serta berusaha

senantiasa memperkuat pertahanannya dengan cara-cara yang oleh dunia internasional dianggap

sebagai cara yang provokatif.

Walaupun secara analisis nasional Korut merupakan negara sosialis yang tertutup, namun dalam

analisis regional, Asia Timur beranggotakan negara-negara yang memegang skor tinggi dalam

bidang industri dan perdagangan. Secara substansial, Asia Timur telah memenuhi syarat-syarat

munculnya regionalisme, syarat-syarat ini dapat dilihat dalam berbagai perspektif.

Dalam perspektif neorealisme, sistem internasional dipandang sebagai sistem yang anarki,

dimana negara adalah entitas berdaulat tertinggi yang mempunyai rasionalitas tersendiri dalam

mengembangkan kebijakan luar negerinya . Karena kepentingan dan pertimbangan yang

berbeda, tiap negara memutuskan bahwa self help adalah solusi terbaik sehingga regionalisme

dan kerjasama regional tidak akan tercapai walaupun ada persamaan kepentingan. Oleh karena

itulah diperlukan hegemon atau stabilizer untuk menstimulasi munculnya institusi dan kerjasama

regional. Keberadaan great power inilah yang ditekankan oleh perspektif neorealisme. Dengan

munculnya satu kekuatan besar, maka kekuatan itu akan mampu mengimposed terbentuknya

institusi maupun kooperasi yang saling menguntungkan.

Jika berdasar pada perspektif yang telah disebutkan sebelumnya, maka seharusnya keberadaan

Jepang dan China di Asia Timur akan membawa pada integrasi dan kemunculan institusi yang

kuat, mengingat kekuatan ekonomi China dan Jepang yang akan dan bahkan diperhitungkan

telah menyaingi Barat. Jika dilihat dari daya beli masyarakatnya, pada tahun 2006 China dapat

dikatakan sebagai kekuatan ekonomi terbesar kedua setelah AS, apalagi pada tahun yang sama

surplus neraca pembayaran yang diperoleh China mencapai 180 milyar dolar yang merupakan

nilai tertinggi di dunia . Selain itu, China telah menjadi exportir terbesar ketujuh dan importir

terbesar kedelapan untuk perdagangan barang, serta termasuk dalam 12 eksportir dan importir

terbesar untuk bidang jasa . Demikian halnya dengan Jepang, pada 2005 GDP Jepang mencapai

4,52 trilyun dan merupakan pendapatan terbesar kedua setelah Amerika Serikat (AS) . Tetapi

pada kenyataannya, integrasi dan kerjasama regional yang mapan belum terwujud secara

konkret, jikalau ada itu hanya mencakup Jepang, China dan Korsel dan bukan Asia Timur secara

keseluruhan.

Kegagalan integrasi ini pun berlawanan dengan teori fungsionalis yang menyebutkan bahwa

kawasan yang dapat memulai interaksi antar negara di dalamnya akan terus berkembang karena

efek kerjasama spillovers hingga akhirnya tercipta integrasi kawasan . Interaksi perdagangan

China-Jepang-Korsel yang mencapai 7 juta dolar ternyata gagal mengembangkan Mongolia dan

Korea Utara ke dalam integrasi suatu institusi regional yang mapan. Jika dilihat dari pemerataan

pendapatan, seharusnya asia Timur mempunyai modal yang cukup untuk pelaksanaan

regionalisasi karena kesenjangan antar negara Asia Timur relatif lebih kecil dari kawasan

lainnya, seperti yang dijelaskan dalam tabel berikut.

Pertanyaan yang muncul dari kegagalan beberapa perspektif di atas dalam menjelaskan

regionalisasi di Asia Timur adalah apakah juche yang mengendalikan perilaku Korut adalah

salah satu faktor yang berperan dalam ketiadaan institusi regional di Asia Timur. Dalam

menjelaskan permasalahan ini, penulis berdasarkan pada teori ancaman keamanan regional yang

diungkapkan oleh Hettne. Ancaman pertama adalah balance of power contest dimana kekuatan

besar dalam kawasan terlibat dalam kompetisi untuk menguasai aspek-aspek tertentu sehingga

kerjasama pun terabaikan . Ancaman yang kedua adalah grass fire conflicts dimana ancaman

keamanan berasal dari permasalahan lokal antar negara dalam kawasan . Ancaman yang terakhir

adalah konflik internal dalam satu negara anggota yang memiliki potensi untuk mempengaruhi

hubungan dengan negara lain yang memiliki hubungan tidak langsung terhadap konflik, ancaman

ini disebut intrastate conflicts .

Selain pembahasan dalam kerangka teori Hettne, kajian tentang juche juga akan diperkuat oleh

pandangan tentang pentingnya ideologi dan identitas nasional dalam kebijakan luar negeri.

Berdasarkan pandangan sosiologis, individu dan kelompok mengekspresikan kebutuhan mereka

terhadap afiliasi melalui identitas sosial. Identitas sosial inilah yang menentukan bagaimana

suatu objek memperlakukan dirinya sendiri dan memperlakukan objek lain dalam hubungan ke

luar. Berdasarkan ahli politik University Oxford, Rodney Bruce Hall, identitas nasional akan

menentukan kepentingan nasional yang kemudian akan memproduksi kebijakan-kebijakan luar

negeri . Berdasarkan teori ini maka penulis berargumen bahwa juche adalah salah satu

penghambat munculnya regionalisme Asia Timur.

Juche Sebagai Identitas Nasional Korea Utara dan Implikasinya

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa identitas nasional akan sangat berpengaruh

pada kebijakan luar negeri suatu negara. Korut membentuk identitas nasionalnya sebagai negara

sosialis yang mengutamakan pemenuhan kebutuhannya sendiri. Identitas ini, juche, merupakan

manifestasi dari karakter individu pemimpinnya, Kim Il Sung, yang trauma atas segala intervensi

asing semasa Perang Korea dan kependudukan Jepang. Karena dibentuk demikian, maka untuk

jangka waktu yang lama Korut akan tetap berdiri sebagai negara sosialis dan tidak menerima

internalisasi nilai-nilai liberalisasi yang berusaha disebarkan oleh pihak asing.

Identitas nasional ini pula yang membuat Korut menempatkan dirinya sebagai musuh dari

imperialisme Jepang, µnegara boneka¶ Korsel, dan µpihak yang selalu campur tangan¶ AS . Juche

dibentuk Kim Il Sung dengan tujuan awal untuk mendirikan Korut yang tangguh dan mampu

memenuhi kebutuhan ekonomi maupun militer sendiri sehingga tidak memerlukan campur

tangan ketiga negara yang telah disebutkan di atas. Isolasi ekonomi dan proliferasi nuklir Korut

sebenarnya berawal dari identitas nasional -juche- ini. Identitas nasional ini, yang oleh penulis

digambarkan sebagai kebencian Korut terhadap trio Jepang-Korsel-AS, akan menutup pintu

kerjasama Korut dengan ketiga negara tersebut. Tanpa adanya kerjasama, mustahil regionalisasi

dapat terwujud.

Juche yang dilahirkan oleh kebencian Korut terhadap negara tetangganya, juga berimplikasi pada

keisolasian Korut terhadap dunia luar. Korut tidak memperkenankan adanya penerimaan tenaga

kerja dari negara lain, kalaupun ada kunjungan, kunjungan itu sifatnya hanya wisata sementara

dan harus melalui serangkaian prosedur yang ketat, diantaranya tidak boleh bepergian seorang

diri dan sebagainya. Praktek-praktek ini tentu sangat bertentangan dengan prinsip integrasi

dimana hambatan ±geografis maupun tarif perdagangan- diupayakan untuk seminim mungkin.

Identitas nasional Korut sebagai negara sosialis yang tidak mengenal adanya Multinational

Corporation (MNC) juga salah satu hal yang menghambat liberalisasi di kawasan itu.

Bagan Hubungan Investasi MNC dengan Pemerintah

Dari bagan di atas, tampak bahwa aliran investasi hanya dapat dijalankan dengan keberadaan

MNC, sementara aktivitas ekonomi yang dijalankan Korut tidak membuka jalan bagi adanya

MNC, yang ada hanya pemerintah 1 dengan pemerintah lainnya. Hal ini tidak akan menjadi

masalah berarti bila hubungan Korut dengan pemerintah sekitarnya adalah hubungan yang

harmonis. Namun yang menjadi masalah adalah, karena identitas nasional Korut menempatkan

negaranya sebagai musuh Jepang dan Korsel, maka perdagangan yang diharapkan dalam

regionalisasi akan jauh dari kenyataan.

Dampak Proliferasi Nuklir Korut Terhadap Perekonomian Asia Timur

Berdasar teori Hettne yang telah disebutkan salah satu hal yang menghambat regionalisasi adalah

adanya grass fire conflict. Bila ditelusuri ke belakang, tindakan provokatif Korut ini disebabkan

konflik lama yang tak kunjung berakhir antara Korut dan Korsel dalam Perang Korea 1950-1953.

Secara teknis, perang ini belum berakhir karena terhentinya perang hanya difasilitasi oleh

gencatan senjata dan terbentuknya Demilitarized Zone (DMZ) . Konflik inilah yang lalu

melahirkan terbentuknya juche oleh Kim Il Sung. Dengan latar belakang ini, maka dapat dilihat

bahwa proliferasi nuklir Korut merupakan bagian dari cara Korut untuk berkonfrontasi dengan

tetangganya, Korsel.

Integrasi kawasan, sesuai dengan teori Hettne di atas, terhambat karena adanya konflik antara

Korsel-Korut yang kemudian disuburkan dengan juche milik Korut yang berupaya menggoncang

kestabilan Asia Timur. Terutama karena konflik dua negara ini menyeret keterlibatan Jepang,

China dan AS. Jepang dan AS yang membantu Korsel berupaya keras untuk menghentikan

nuklir Korut, terutama karena ancaman yang diberikan oleh nuklir Korut dimana pada April lalu

rudal Korut telah mencapai perairan Jepang. Sanksi yang berusaha diberikan ketiga negara ini

tidak didukung oleh China yang mempunyai kepentingan dagang dengan Korut. Konflik Korut-

Korsel, yang tidak akan selesai jika Korut bersikukuh mempertahankan juchenya, telah menjadi

area tarik-menarik kekuatan besar Asia Timur, Jepang dan China, yang bila kedua negara ini

tetap berseberangan paham, integrasi dan regionalisasi kawasan secara utuh tidak akan terwujud.

Unifikasi kedua Korea merupakan bagian penting dari integrasi kawasan karena integrasi tidak

akan terwujud bila anggotanya tetap berselisih. Pentingnya integrasi terhadap interaksi

perdagangan yang merupakan prasyarat munculnya regionalisme dapat dilihat dalam grafik

berikut:

Dari grafik di atas, terlihat bahwa volume perdagangan antar kedua Korea semakin meningkat

dalam tiap tahunnya. Perdagangan yang meningkat ini merupakan hasil dari kawasan industri

Gaesung yang terletak di perbatasan kedua negara. Perdagangan antar negara dalam kawasan

oleh Hurrel dipandang sebagai langkah awal dalam regionalisasi . Pentingnya kestabilan politik

dalam perekonomian kedua negara terlihat ketika hubungan kedua Korea memanas karena

propaganda HAM Korsel pada awal Desember 2008, kawasan industri Gaesong ditutup secara

sepihak oleh pemerintah Korut sehingga ratusan ribu tenaga kerja terjebak dalam kawasan itu .

Interaksi yang sudah bagus ini bisa goyah jika Korut tetap mengembangkan nuklir yang

dipandang Korsel sebagai ancaman. Dan karena nuklir yang dikembangkan Korut adalah

manifestasi dari ideologi juchenya, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa integrasi dan

regionalisme kawasan dapat terwujud bila Korut menanggalkan juchenya. Karena juche lahir

dari konflik kedua Korea, maka solusi utama bagi kedua negara sesuai teori Hettne adalah

menghilangkan grass fire conflict yang menjadi akar bagi semua permasalahan. Bila kedua

Korea dapat menyepakati adanya rekonsilisasi damai, maka juche yang dipakai Korut sebagai

pedoman bisa diruntuhkan, dan bila juche ini diruntuhkan maka tidak akan ada lagi proliferasi

nuklir dan isolasi ekonomi yang dilakukan Korut sehingga integrasi kawasan akan lebih mudah

terealisasi.

Bagaimana proliferasi nuklir Korut mempunyai dampak yang signifikan terhadap perekonomian

Asia Timur dapat dilihat dari salah satu indikatornya yaitu pergerakan saham dan harga minyak.

Ketika misalnya peluncuran rudal Korut pada 4 Juli 2008 lalu, harga emas dan minyak melonjak

hingga di atas 75 dolar per barel meskipun pada hari itu pasaran saham Asia termasuk Korsel

tidak menunjukkan penurunan tajam . Analis pasar berpendapat, kalau investor beralih

menginvestasi emas dan konsumen mengambil sikap menunggu terhadap pembelanjaan

berjumlah besar, ini mungkin akan mempengaruhi laju ekonomi regional . Kalau krisis ini tidak

bisa segera diatasi bahkan lebih lanjut memburuk, akan memberikan pengaruh lebih besar bagi

pasaran moneter Asia.

Dampak yang lebih signifikan ditunjukkan oleh bursa Jepang, khususnya Nikkei dan Tokyo

Elektron, yang pada akhir Mei 2009 mengalami penurunan karena dampak dari meningkatnya

kekhawatiran mengenai perkembangan kondisi keamanan di wilayah Asia Timur setelah Korut

meluncurkan roketnya dalam rangkaian uji coba militer . Begitu juga dengan indeks Kospi

Korsel dan Shanghai China .

Dari data-data di atas, dapat dilihat bahwa proliferasi maupun peluncuran rudal Korut ternyata

berdampak pada instabilitas ekonomi Asia Timur. Walaupun dampak yang ditimbulkan tidak

serta merta melumpuhkan roda perekonomian karena adanya kekuatan besar yang menstabilkan,

Jepang dan China, namun jika hal ini terus berlanjut maka bukan tidak mungkin bila stabilitas

ekonomi Asia Timur akan semakin labil dan roda perekonomian akan terhambat. Berbagai

tindakan provokatif yang dilakukan Korut ini merupakan manifestasi dari juche yang dipegang

Korut. Korut ingin menunjukkan pada dunia bahwa negaranya memiliki pertahanan yang kuat

dan tidak bisa diintervensi oleh pihak asing, dalam hal ini Jepang, Korsel dan AS. Selain itu,

peluncuran rudal ini juga merupakan salah satu cara Korut untuk menghidupkan kekuatan

ekonominya yang hancur akibat isolasi dan pengembangan nuklir yang memakan biaya yang

tidak sedikit. Karena juchenya menekankan self reliance dalam bidang ekonomi, Korut tidak bisa

terang-terangan meminta bantuan ekonomi ataupun membuka perdagangannya dengan bebas.

Oleh karena itulah ia mempergunakan nuklir ini sebagai bargaining power untuk mendapatkan

apa yang dibutuhkannya tanpa harus µmenengadahkan tangan¶.

Hal inilah yang dimaksudkan penulis dengan juche sebagai penghambat regionalisme Asia

Timur karena juche yang dipegang Korut membawa pada proliferasi nuklir yang mengancam

kestabilan keamanan maupun ekonomi regional. Juche juga menutup pintu perdagangan antara

Korut dengan negara sekawasan, baik karena isolasi Korut maupun karena embargo yang

diberikan pihak luar, sehingga integrasi yang diharapkan dalam kawasan juga nyaris tidak

mungkin untuk terwujud.

Tentu saja jika merujuk pada teori Hettne yang telah disampaikan disebelumnya, tidak

terwujudnya regionalisme Asia Timur bukan 100% kesalahan konflik Korea, tetapi juga ada

faktor BoP contest, yaitu kompetisi antara Jepang dan China untuk µmenguasai¶ Asia dan bahkan

dunia. Apalagi jika dirunut sejarah, maka akan banyak ditemukan konflik historis antara Jepang

dan China, terutama terkait dengan kependudukan Jepang di China dan perebutan pulau Spratley.

Namun yang menjadi fokus tulisan ini lebih ke bagaimana elemen-elemen dalam Korea Utara

mempengaruhi kegagalan regionalisme Asia Timur.

Faktor ketiga yang disampaikan Hettne dan juga ada pada Korut adalah intrastate conflicts. Juche

tidak hanya mempengaruhi kebijakan Korut keluar, tetapi juga membentuk kebijakan Korut ke

dalam negerinya. Manifestasi karakter Kim Il Sung tidak menyediakan ruang gerak yang cukup

untuk kepemilikan privat di Korut. Segala properti adalah hak milik negara dan aktivitas

perekonomian diatur secara tersentral oleh negara. Sementara regionalisme ditandai dengan

pergerakan bebas faktor produksi, dimana di dalamnya manusia, satu hal yang bertentangan

dengan kebijakan dalam negeri Korut yang tidak memperbolehkan warga negaranya bermigrasi

secara bebas.

Selain itu, juche juga tidak menyediakan penerapan demokrasi yang memadai padahal demokrasi

meningkatkan interdependensi di level regional dan global walaupun demokrasi bukan syarat

mutlak terciptanya regionalisme itu sendiri . Kemiskinan dan ketertindasan yang dialami rakyat

Korut (grassroot) juga menjauhkan mereka dari keinginan dan pemikiran untuk mengadakan

kerjasama dengan negara lain. Ketidakbebasan yang dialami rakyat Korut, sesuai asumsi terakhir

Hettne, juga memberi dampak bagi pergerakan di negara lain sekawasan, terlihat dalam

propaganda HAM yang dilakukan aktivis Korsel untuk mendorong rakyat Korut menggulingkan

rezim Kim Il Sung tahun lalu. Pemaparan ini semakin menjelaskan bahwa konflik internal dalam

negeri Korut juga merupakan salah satu penghambat regionalisme Asia Timur.

Kesimpulan

Identitas nasional Korut, juche, adalah faktor penting yang mempengaruhi kebijakan Korut bagi

keluar maupun ke dalam. Juche ini selain menempatkan Jepang dan Korsel sebagai musuh utama

Korut, juga merupakan batu landasan untuk provokasi proliferasi maupun peluncuran rudal

Korut, serta alasan utama isolasi ekonomi yang diterapkan Korut. Berdasarkan teori Hettne

tentang hambatan munculnya regionalisme, konstelasi politik Korut ternyata memenuhi 2 dari 3

asumsi Hettne tentang penghambat regionalisme kawasan, yaitu grass fire conflicts dan intrastate

conflicts.

Untuk menyelesaikan permasalahan ini, penulis menawarkan beberapa skenario. Grass fire

conflicts Asia Timur, dalam hal ini konflik Korut-Korsel, harus dapat diselesaikan untuk

mewujudkan integrasi kawasan. Skenario pertama adalah reunifikasi Korea yang bisa

diwujudkan dengan optimalisasi pendayagunaan kawasan industri Gaesong. Dengan optimalisasi

itu, pengusaha kedua Korea mendapatkan manfaat yang besar dari Gaesong sehingga mereka

dapat menekan pemerintah kedua negara untuk mengakhiri perselisihan. Jika Gaesong

memberikan kontribusi yang signifikan terhadap GDP kedua negara, maka pemerintah juga akan

mempertimbangkan hal yang sama, yaitu rekonsiliasi atau bahkan reunifikasi kedua Korea. Jika

kedua Korea tidak bisa berganung sebagai 1 negara, setidak-tidaknya kedua Korea dapat hidup

berdampingan sebagai tetangga yang damai.

Skenario kedua untuk mewujudkan perdamaian Korea demi integrasi kawasan adalah

pengurangan pengaruh AS di Korsel. Salah satu hal yang ditonjolkan juche adalah Korea yang

mandiri tanpa intervensi AS. Jika Korsel bersedia mengurangi porsi AS di negaranya, bukan

tidak mungkin rekonsiliasi dan bahkan reunifikasi kedua Korea dapat terwujud. Sebagai ganti

AS, Korsel dapat meningkatkan perdagangan dengan negara lain sekawasan. Di sini peran

Jepang dan China sebagai raksasa perdagangan sangat diperlukan. Skenario ketiga adalah

dihapuskannya juche sebagai identitas nasional Korut agar Korut bersedia menerima liberalisasi

ekonomi dan berhenti mengancam keamanan Jepang dan Korsel sebagai negara tetangganya.

Skenario ketiga ini hanya bisa berhasil bila salah satu dari dua skenario sebelumnya telah

berhasil dilaksanakan.

Dengan bukti-bukti dan pemaparan yang disampaikan penulis, dan diperkuat oleh teori Hettne

dan beberapa skenario di atas, maka dengan demikian tesis penulis bahwa juche merupakan salah

satu faktor penghambat regionalisme Asia Timur terbukti.

Daftar Pustaka :

Anonim.¶Ujicoba Peluncuran Peluru Kendali Korea Utara¶. Radio Taiwan International. diakes

pada 26 Juni 2009

Anonim.¶Nikkei Mengalami Pelemahan; Kekhawatiran Kondisi Keamanan di Asia

Timur¶.Vibiznews 26 Mei 2009. diakses pada 26 Juni 2009

CIA ± The World Factbook

Fawcett, Louise and Andrew Hurrell. 2002. Regionalism in World Politics. Oxford University

Press

Fawcett, Louise. Regionalism in Historical Perspective

Hettne, B. 2000.¶The New Regionalism : A Prologue¶ In B Hettne. (ed), The New Regionalism

and the Future of Security Development, Vol.4. London : Macmillan

Istiana Ihsan, Astri.µKorut Minta Korsel Hentikan Propaganda¶.Harian Jurnal Nasional. diakses

pada 14 Desember 2008

Official webpage of the Democratic People¶s Republic of Korea (DPRK). http://www.korea-

dpr.com/ diakses pada 27 Juni 2009

R.A Kawilarang, Renne. µKrisis Nuklir Korut Turut Jungkalkan Indek¶.Vivanews 26 Mei 2009.

diakses pada 26 Juni 2009

Ravenhill, John.Regionalism.www.oxfordtextbooks.co.uk/orc/ravenhill2e/

Roehrig, Terence et al (eds).2007.Korean Security in a Changing East Asia.Westport:

Greenwood Publishing Group Inc

Söderbaum, Fredrik.2004.The Political Economy of Regionalism : The Case of Southern

Africa.New York: Palgrave Macmillan

Thea, Ady.¶Korea Selatan memprovokasi Korea Utara¶.Harian Media Bersama diakses pada 11

Januari 2009.

World Bank and Organization for Economic Cooperation and development (OECD) in Microsoft

® Encarta ® 2008

Z.Cass, Deborah et al (eds).2003.China and The World Trade System: Entering the New

Millennium. New York: Cambridge University Press

Leave a Comment

Aksesi Iran ke dalam SCO : Potensi Geostrategis Iran Menghadapi AS

Filed under: Uncategorized kopiitudashat @ 7:28 am

Abstract:

This article evaluates the Iran strategy in seeking the new geopolitical power by calculate the

potential power she will get by joining the Shanghai Cooperation Organization (SCO). SCO and

Central Asia itself has many roles in increasing Iran¶s power especially after a sequence of

economic sanction given by US. The article develops two interdisciplinary frameworks for the

issue, included The geopolitics theory of Managerial Revolution and Mackinder¶s geopolitics

theory. The objectives of the article are to find the implications of Iranµs accession in Shanghai

Cooperation Organization both for the security defense opposing US influence and for her

national economic development. Implications of the frameworks are discussed to emerging any

alternative for Iran¶s new geostrategic in contemporary world.

Keywords: Shanghai Cooperation Organization, oil and gas, US, Central Asia

Pendahuluan

Perubahan konstelasi dunia pasca Revolusi Islam Iran 1979, seperti runtuhnya Uni Soviet, Invasi

Amerika Serikat (AS) ke Irak dalam rangka war on terrorism Irak, serta kehadiran pasukan AS

dalam jumlah besar di negara-negara tetangga Iran membuat negara yang dulunya bernama

Persia ini merasakan peningkatan ancaman keamanan dibanding dengan periode saat Perang

Dingin. Keadaan semakin diperburuk oleh berbagai sanksi ekonomi yang dijatuhkan AS dan

PBB berkaitan dengan proliferasi nuklir yang dikembangkan Iran dan berbagai tindakan yang

dianggap AS sebagai tindakan konfrontatif seperti pemasok senjata ke Taliban dan menyediakan

suaka politik bagi tokoh-tokoh Irak yang melarikan diri sehingga negara mullah ini mendapat

julukan sebagai axis of evil . Sanksi ekonomi ini secara langsung maupun tidak langsung

mengancam ketahanan ekonomi Iran karena dalam Resolusi 1737 tahun 2006, Resolusi 31 Juli

2006, dan resolusi 1747 tanggal 24 Maret 2007 semua negara diminta untuk melakukan

perdagangan senjata jenis apapun sekaligus tidak menyediakan bahan baku bagi Iran . Resolusi-

resolusi ini juga meliputi pembekuan aset dan larangan pemberian bantuan keuangan. Keadaan

tidak bertambah baik ketika pada pemerintahan Obama, AS memperpanjang sanksi ekonominya.

Seperti yang digambarkan oleh peta di bawah ini, dimana Iran berbatasan langsung dengan

wilayah-wilayah yang diokupasi oleh AS seperti Afganistan dan Pakistan di sebelah timurnya,

dan Irak serta Saudi Arabia di sebelah baratnya.

Berbagai faktor di atas membuat Iran melihat pentingnya suatu wadah yang dapat menghimpun

kekuatan negara-negara kawasan untuk mengurangi, jika tidak bisa menghilangkan secara

keseluruhan, kehadiran AS di wilayah tersebut. Wadah itu tidak harus berbentuk pakta

pertahanan militer, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana wadah itu dapat menyelamatkan

Iran dari krisis akibat sanksi ekonomi yang diberlakukan oleh AS karena berbagai alasan dari

nuklir hingga terorisme. Secara geopolitik, posisi geografis Iran sangat menguntungkan. Di

sebelah utara, negara ini berdekatan dengan Azerbaijan, Rusia, Turkmenistan, Uzbekistan, dan

Kazakhtan yang membentuk Shanghai Cooperation Organization (SCO) pada 15 Juni 2001 di

Shanghai . SCO didirikan untuk meningkatkan kerjasama ekonomi di kawasan Eurasia sekaligus

menghilangkan pengaruh AS di kawasan itu. Selain beranggotakan enam negara pendiri seperti

yang telah disinggung sebelumnya, SCO memberikan posisi strategis bagi Iran dengan

menjadikan Iran sebagai observer yang akan mengubah status itu mnejadi anggota resmi dalam

waktu dekat.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah aksesi Iran ke SCO akan dipandang sebagai

geostrategi yang membawa dampak potensial yang menguntungkan bagi Iran dalam

membendung pengaruh AS yang semakin meluas di Eurasia. Dalam menganalisis hal ini, penulis

mendasarkan prediksinya pada apa yang akan didapat Iran dengan aksesinya ke SCO ditinjau

dari pemikiran geopolitik Mackinder.

Dalam pemikiran geopolitik klasik, Mackinder menyebut Eurasia sebagai bagian penting pusat

dunia . Siapa pun yang menguasai heartland akan menguasai dunia. Wilayah-wilayah ini,

termasuk Iran, memiliki akses ke Laut Caspia. Salah satu negara pendiri SCO, Rusia, merupakan

penghasil gas terbesar dunia sedangkan Kazakhstan mempunyai cadangan minyak dan gas yang

sangat luas, sekitar 35 milyar barel dan merupakan dua kali dari cadangan di Laut Utara .

Kashagan,perusahaan minyak Kazakhstan juga adalah perusahaan minyak yang terbesar ke lima

di dunia. Perbandingan mengenai produksi gas dunia dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.

Grafik Cadangan gas dunia (dalam trilyar m3)

Secara demografis, power yang dimiliki SCO cukup kuat dengan jumlah penduduk total 2,6

milyar dan hampir setengah dari jumlah penduduk keseluruhan.

Berdasarkan pandangan Mackinder di atas, yang dibuktikan dengan kenyataan sumber daya yang

dimiliki Asia Tengah, sekaligus kekayaan Iran sendiri Iran yang mengandung 125,8 milyar barel

minyak serta akses langsung ke Selat Hormuz -celah sempit yang dilalui oleh 40% ekspor

minyak ± maka penulis beranggapan bahwa aksesi Iran ke dalam SCO akan menjadi geostrategi

yang ampuh dalam pertahanan Iran di Eurasia.

Kerjasama Iran dengan Negara-Negara Asia Tengah

Walaupun hanya berposisi sebagai observer, namun Iran telah menjalin kerjasama yang erat

dengan negara-negara anggota SCO. Tahun 2006, Iran menandatangani kesepakatan bernilai 100

milyar dolar dengan China untuk pengembangan sumber minyak Yadavaran dan akan menjual

250 million tons LNG ke China untuk 25 tahun ke depan terhitung tahun 2006 . China juga telah

memberikan investasi yang besar untuk pembangunan infrastruktur Iran. Beijing juga menjadi

pemasok senjata dan alat pertahanan militer terbesar Iran sekaligus membantu pengembangan

teknologi misil Iran termasuk air-to-air missiles, surface-to-air missiles, and anti-shipping cruise

missiles. Hubungan keduanya sudah berlangsung lama, terutama sejak Perang Irak-Iran dimana

China menjadi aktor yang penting dalam penyediaan senjata Iran. China menjadikan

hubungannya dengan Iran sebagai senjata melawan AS, khususnya ketika AS condong

memberikan dukungan senjata dan kelengkapan dirgantara pada Taiwan.

Hubungan Iran dengan Rusia juga berlangsung baik. Pada tahun 2006, perusahaan minyak Rusia

Lukoil dan perusahaan minyak negara Kazakh Kasmunaigas menawarkan kerjasama dengan

Iranian Northern Drilling Company (NDC) untuk pengembangan kilang minyak di Laut Kaspia.

Terhadap negara-negara Asia Tengah, Iran menitikberatkan pada negara-negara yang

mempunyai kedekatan budaya seperti Tajikistan dan Afghanistan Barat, walaupun secara

keseluruhan strateginya juga mencakup Uzbekistan and Armenia. Iran menitikberatkan pada

pembangunan infrastruktur seperti pembangunan saluran Anzab yang akan menghubungkan

bagian utara dan selatan dari Tajikistan sekaligus menyediakan koridor dari Cina melalui Asia

Tengah menuju Teluk Persia . Iran Juga membangun pembangkit hidroelektrik di Tajikistan

dengan investasi total 700 juta dolar. Pada 2005, Iran juga membangun sarana kereta api menuju

Heart untuk mempermudah transportasi barang dari Rusia, China dan Asia Tengah melewati Iran

yang akan melalui Teluk Persia . Jalan kereta api lain, Bafq-Mashhad, dibangun pada 2004 untuk

mempercepat perjalanan dari Asia Tengah ke Teluk Persia. Perdagangan dengan Turkmenistan

and Uzbekistan juga terus meningkat hingga mencapai 450 juta dolar pada 2006 . 70%

perusahaan Iran juga mempunyai kantor perwakilan di Uzbekistan. Negara-negara Asia Tengah

ini membantu pencapaian nuklir Iran dengan cara damai karena Iran juga beberapa kali menjadi

mediator dalam perselisihan negara-negara Asia Tengah.

Posisi Strategis Geopolitik Asia Tengah Bagi Keamanan Iran

Arti penting SCO adalah sebagai buffer dalam menghambat peningkatan kekuatan militer AS di

Asia Tengah sekaligus mengusir tentara AS dari sana. AS telah menempatkan pasukannya di

pantai timur Asia Tengah sehingga China menjalin kerjasama latihan militer dengan kekuatan

asing lainnya di Kyrgyzstan pada 2002 untuk mencegah AS mengepung Asia Tengah. Dengan

bergabung dalam SCO, Iran tidak perlu mengangkat senjata dan berkonfrontasi sendirian dengan

AS karena negara besar lain yang merupakan anggota SCO seperti China dan Rusia juga

mempunyai kepentingan untuk hengkangnya AS dari Asia Tengah.

Peta di bawah menunjukkan bagaimana keadaan geografis negara-negara µmusuh¶ AS mengunci

Iran dan Asia Tengah.

Organisasi ini menolak keinginan AS untuk menjadi observer dan demokratisasi AS untuk

mengurangi kehadiran militer AS di Asia Tengah.

Kepentingan ini dapat dikatakan berhasil mengingat dalam kerangka SCO, Uzbekistan telah

berhasil mengusir tentara AS keluar dari wilayahnya. Keluarnya militer AS dari Uzbekistan

mempunyai arti yang sangat penting bagi Iran karena pangkalan udara Karshi-Khanabad di

Uzbekistan adalah pangkalan kunci bagi pasukan AS untuk melakukan serangan ke Afghanistan.

Sebanyak 1.000 tentara AS juga menggunakan Bandara Internasional Manas, Kyrgyzstan,

sebagai wilayah lalu-lintas udara dan pengisian bahan bakar untuk menopang operasi militer di

Afghanistan.

Dengan keluarnya AS dari Uzbekistan maka akan mengurangi instabilitas politik Iran di wilayah

perbatasan sekaligus beban Iran yang selama 20 tahun ini harus menerima 2 juta pengungsi

Afghanistan. Selain itu, kerjasama Iran dengan Asia Tengah juga mencakup kerjasama di bidang

pemberantasan peredaran obat-obatan terlarang. 4 dari 6 rute utama pengiriman obat-obatan

ilegal dari Afghanistan ke Eropa pasti melewati Tajikistan dan Turkmenistan yang merupakan

negara di Asia Tengah. Pendapatan dari perdagangan obat ilegal telah menjadi salah satu sumber

pemasukan bagi kawasan tersebut. Berdasarkan United Nations Office of Drug and Crime,

pendapatan dari perdagangan obat ilegal setara dengan 7 % GDP kawasan itu pada 2001 .

Dengan bergabung dalam Shanghai Cooperation Organization, Iran dapat mengontrol

penyelundupan obat terlarang menuju Afghanistan sehingga juga mengatasi penyelundupan obat

terlarang ke negaranya.

Kesimpulan:

Asia Tengah, baik dalam kerangka SCO ataupun berdiri sendiri, mempunyai arti yang sangat

strategis bagi Iran, baik sebagai sumber energi maupun keuntungan pertahanan keamanan yang

didapat dari posisi geopolitis negara-negara itu. Keamanan ini meliputi keamanan dari terorisme,

obat-obatan terlarang maupun ancaman invasi dari AS. Keamanan yang didapat juga menyentuh

aspek ekonomi. Oleh karena itu, aksesi Iran ke dalam SCO menurut skenario penulis mempunyai

probabilitas yang tinggi untuk menjadi fokus geostrategi Iran dan dengan demikian tesis yang

diajukan penulis dalam kajian ini terbukti.

Referensi:

Anonim.The New Great Game: Energy And Geo-strategy In Central Asia

Hooglund, Eric. 2007.Iran.Microsoft® Student 2008 [DVD]. Redmond, WA: Microsoft

Corporation.

John Cox, William.2007.War Without Win ± Iran White Paper. www.informationclearinghouse

L Afrasiabi, Kaveh. Iran plays the Central Asia card. www.atimes.com diakses pada 25 Juni

2009

Short, J.R..1993.An Introduction to Political Geography,London:Routledge

T. Klare, Michael.2005.Oil, Geopolitics, and the Coming War with

Iran.www.globalpolicy.igc.org

www.okezone.com

www.eurasianet.org

www.atimes.com

www.republikaonline.com

Leave a Comment

Neoliberalisme, Solusi atau Dependensi? : Studi Tentang Kegagalan Neoliberalisme di Amerika

Latin Oleh Maria Elysabet Mena

Filed under: Uncategorized kopiitudashat @ 7:26 am

Abstract:

This article evaluates how neoliberal economic strategy was applied in Latin America after the

crisis in 1980s, especially the implications of neoliberal policy in Latin America¶s economic

stability. The article develops two interdisciplinary frameworks for the issue, included

dependency theory and Marxism perspective that are based on some concepts like dependency,

liberalization and crisis. The objectives of the article are to find whether neoliberal economic

system is appropriate to applied in Latin America. Implications of the frameworks are discussed

to emerging any alternative for the regime¶s future, especially for nationalism economic system.

Keywords: liberalization, dependency, crisis, nationalism

Pendahuluan

Amerika Selatan merupakan kawasan yang terdiri dari 12 negara, dimana 10 diantaranya adalah

negara Latin meliputi Argentina, Bolivia, Brazil, Chili, Kolombia, Ekuador, Paraguay, Peru,

Uruguay, dan Venezuela . Oleh karena itu, Amerika Selatan juga lebih sering disebut sebagai

Amerika Latin.

Negara-Negara Amerika Latin

Sumber:´Mercosur.´Microsoft® Student 2008 [DVD].Redmond,WA:Microsoft Corporation,

2007

Berbicara tentang Amerika Latin, maka umumnya yang pertama kali terlintas adalah kawasan

dengan ketimpangan dan kesenjangan yang sangat tinggi. Selain itu, pengalaman historis negara-

negara di kawasan ini dalam lima abad terakhir diwarnai dengan rezim oligarki yang sangat kuat,

oleh karena itu banyak anggapan yang menyebutkan bahwa dekolonisasi Amerika Latin hanya

merupakan pintu masuk bagi eksploitasi dari golongan oligarki. Lebih dari itu, intervensi dan

eksploitasi juga datang dari pihak luar yang menginduksikan liberalisasi perdagangan dan

pembangunan infrastruktur, terkait dengan kekayaan sumber daya yang dimiliki negara-negara

Amerika Latin. Venezuela, Argentina dan Brazil merupakan jalur pipa gas yang menuju Amerika

Utara . Raksasa industri asing, seperti Amerika Serikat (AS) dan China berlomba-lomba untuk

µmenguasai¶ kawasan ini namun sering mendapat hambatan dari pertentangan antar elit sehingga

strategi pembangunan menjadi tidak konsisten dan tidak efektif .

Untuk mengatasi keterbelakangan pembangunan, negara-negara Amerika Latin dan Karibia

memberlakukan strategi substistusi impor yang merupakan bentuk penerapan merkantilisme

dimana intervensi pemerintah dalam pasar internasional dinilai merupakan jalan terbaik untuk

mencapai kepentingan nasional. Merkantilisme ini tidak bertahan lama karena krisis yang terjadi

pada awal 1980an membuat keyakinan negara akan perspektif neoliberalisme menguat. Krisis

domestik ini diperparah oleh perlambatan ekonomi internasional yang mengiringi runtuhnya

sistem Bretton Wood, dan sangat menghancurkan perekonomian Amerika Latin yang pada

dekade 1970an menuai pendapatan yang tinggi dari sektor agrikultur dan manufaktur. Jika pada

tahun 1972 total hutang luar negeri Amerika Latin mencapai 31,3 milyar dolar maka pada akhir

1980an, hutang-hutang itu telah mencapai 430 milyar dolar . Pelonjakan hutang ini membuat

suku bunga meningkat drastis dan menimbulkan inflasi yang sangat tinggi, bahkan di Bolivia

mencapai 12.000 % .

Dengan desakan International Monetary Fund (IMF), World Bank dan AS, Amerika Latin

mengubah strategi ekonominya menjadi strategi neoliberalisme. Seluruh aspek ekonomi-politik

yang ada kemudian akan berjalan dalam koridor prinsip-prinsip neoliberalisme yang tertuang

dalam Washington Consensus, meliputi disiplin fiskal, pengurangan pajak, deregulasi kebijakan

moneter, kebebasan bagi investor asing, pembebasan arus keuangan dan privatisasi . Inti dari

semua kebijakan ini adalah bagaimana kesejahteraan manusia dapat diwujudkan melalui

pembebasan individu dari setiap kekangan. Kemerdekaan individu dalam hal ini hanya bisa

dijamin melalui kerangka kelembagaan yang ditandai dengan pengakuan terhadap hak milik

pribadi, pasar bebas dan perdagangan bebas.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah neoliberalisme yang diterapkan sebagai

pengganti merkantilisme merupakan solusi yang tepat bagi Amerika Latin untuk dapat keluar

dari krisis yang menghancurkan perekonomian, sekaligus mengembangkan perekonomian

Amerika Latin dalam dunia yang kapitalis. Dalam mengkaji permasalahan ini, penulis

menggunakan teori dependensi yang dikembangkan oleh Fernando H. Cardoso, Faletto, dan

Theotonio Dos Santos. Teori ini membagi dunia menjadi dua bagian, negara core yang

menikmati dampak positif dari industrialisasi dan negara pheripery yang lebih sering

dieksploitasi oleh negara core. Keterbelakangan (underdevelopment) bukan merupakan hasil dari

masyarakat yang non-modern, tetapi keterbelakangan justru dikembangkan oleh ekspansi

kapitalisme, terutama dalam kaitannya dengan negara pheripery . Negara pheripery mengalami

underdeveloped karena development yang berlangsung di negara core. Teori ini juga diperkuat

oleh pandangan konvensional Ekonomi Politik Internasional (EPI), marxisme, yang menjelaskan

bahwa krisis merupakan hal yang biasa terjadi dalam sistem kapitalis dan selanjutnya akan

menyebabkan terjadinya boom and bust cycle . Berdasarkan teori yang telah disampaikan, maka

penulis memandang bahwa neoliberalisme bukan solusi yang tepat bagi Amerika Latin.

Penerapan Neoliberalisme di Amerika Latin

Teori dependensi merupakan kritik dari model kemiskinan ala Rostow yang menganggap bahwa

uneven development merupakan akibat dari kurangnya keterlibatan suatu negara dalam

perdagangan global . Jika merujuk pada model Rostow, maka seharusnya liberalisasi

perdagangan yang dilakukan Amerika Latin, khususnya Brazil dan Argentina, akan dapat

membawa negara-negara ini ke pembangunan yang berkelanjutan, mengentaskan masyarakatnya

dari kemiskinan yang telah lama dialami sejak pendudukan kolonial dan eksploitasi kaum

oligarki. Untuk menggambarkan bagaimana saran yang diajukan oleh model Rostow ± yang

secara tidak langsung merujuk pada saran neoliberalisme ± penulis akan menguraikan lima

kebijakan yang ditempuh Amerika Latin dan hasil yang didapatkan.

Kebijakan pertama adalah liberalisasi impor. Dengan substitusi impor, pemerintah mengenakan

pembatasan impor yang sangat ketat. Perusahaan domestik dilindungi dari kompetisi luar negeri

sehingga dapat mengatur harga komoditas dan mengakomodasi kenaikan upah buruh. Inilah

yang menyebabkan inflasi. Dengan liberalisasi, korporasi diterjunkan dalam persaingan bebas

sehingga pemerintah tidak bisa bebas mengatur harga, inflasi memang dapat diatasi namun buruh

mengalami tekanan. Perusahaan lokal dengan modal yang tidak besar pun harus gulung tikar.

Kesejahteraan yang diharapkan ternyata tidak sesuai dengan kenyataan karena kesejahteraan

buruh semakin tertindas.

Kebijakan kedua adalah exchange-rate overvaluation yang mengurangi harga mata uang lokal

untuk komoditas impor. Konsumen memang diuntungkan karena barang impor dengan kualitas

lebih baik dapat diperoleh dengan harga yang lebih murah daripada produk lokal namun

dampaknya adalah ketidakseimbangan neraca pembayaran karena surplus impor menjadi

meningkat sehingga mengurangi devisa. Kebijakan ketiga adalah liberalisasi keuangan domestik.

Deregulasi sektor keuangan diharapkan dapat meningkatkan tabungan dan investasi namun yang

terjadi justru sebaliknya. Di Argentina, tingkat tabungan menurun dari 22 % menjadi 17 % dalam

10 tahun pertama penerapan neoliberalisme .

Kebijakan keempat adalah reformasi fiskal (meningkatkan pajak dan memotong pengeluaran)

untuk menyeimbangkan neraca pembayaran. Kebijakan ini memang berhasil menyeimbangkan

neraca pembayaran, namun pembangunan yang diharapkan tidak berjalan karena pemerintah

harus menekan pengeluaran, kesejahteraan sosial pun semakin tidak terwujud karena IMF

menekankan pemotongan pos-pos yang dianggap meningkatkan pengeluaran, termasuk subsidi

dan dana jaminan sosial. Kebijakan yang terakhir adalah liberalisasi arus modal. Tujuannya

untuk menarik investor agar perekonomian dan industrialisasi dapat bangkit kembali, namun

kombinasi dari kelima kebijakan ini malah memicu kehancuran yang semakin besar di Amerika

Latin.

Ramalan yang telah disampaikan marxisme ± pada kerangka analisis teori ± terbukti, ekonomi

yang merambat naik, walaupun disertai dengan ketimpangan dan kesenjangan, kembali

diguncang oleh krisis yang tak lebih ringan dari krisis 1980an. Meksiko dan Argentina

mengalaminya pada 1995, tidak lama kemudian Argentina mengalami krisis yang serupa pada

1998 dan 2002, tak jauh berbeda dengan Brazil yang juga dilanda krisis pada 1999. Hal ini

membuktikan bahwa teori dependensi terjadi pada Amerika Latin yang merupakan negara

berkembang dengan sumber daya yang kaya namun memiliki kesiapan yang minim dalam

pelaksanaan liberalisasi. Dengan kesiapan yang minim ini, Amerika Latin terpaksa berkompetisi

dengan negara-negara kapitalis yang mapan. Tentu saja yang terjadi kemudian, ketidaksamaan

start ini membuat hasil yang didapat juga tidak seimbang.

Ketika Brazil, Argentina, Paraguay dan Uruguay sepakat menandatangani Traktat Asuncion

1991 untuk membentuk organisasi regional yang dinamakan Mercosur (Mercado Común del

Sur), harapan awalnya adalah mendirikan institusi regional yang dapat meningkatkan

competitiveness dalam perdagangan global. Nantinya peningkatan perdagangan ± salah satu

buah pemikiran neoliberalisme- diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masing-masing

anggota. Namun penulis melihat bahwa Mercosur kemudian menjadi sarana eksploitasi baru dari

negara core, dalam hal ini NAFTA, negara-negara Uni Eropa dan China, mengingat bahwa

perdagangan intra regional hanya mencapai 15 % dari total perdagangan. Maka bisa dikatakan

bahwa sebagian besar sisanya merupakan kerjasama dagang dengan tiga aktor tersebut, tentu saja

dengan sebagian kecil interaksi dengan negara lainnya.

Paparan di atas menunjukkan bahwa dengan menerapkan neoliberalisme, eksploitasi yang

dialami Amerika Latin bukannya berakhir, tetapi malah semakin ditingkatkan dengan yang apa

disebut penulis sebagai µeksploitasi gaya baru¶, yaitu eksploitasi institusi regional core (UE,

NAFTA, Komunitas Andean dan lain sebagainya) kepada institusi regional pheripery, dalam hal

ini Mercosur.

Pandangan pemerintah negara-negara Amerika Latin bahwa krisis yang dialami kawasan itu

merupakan akibat dari kegagalan merkantilisme yang diterapkan melalui substitusi impor, adalah

pandangan yang keliru, karena sebenarnya krisis 1980 adalah penetrasi dari krisis internasional,

yaitu bagaimana kejatuhan sistem Bretton Wood membuat arus pertukaran mata uang menjadi

sistem mata uang mengambang (floating exchange rate), dari yang semula sistem mata uang

tetap (fixed exchange rate). Sistem mata uang mengambang ini membuat mata uang domestik

menjadi rentan, karena kekuatan mata uang kini ditentukan oleh permintaan dan penawaran

pasar. Jika kemudian substitusi impor gagal menstabilkan inflasi, kesalahan bukan terletak dari

kebijakan substitusi ini, tetapi pada bagaimana pemerintah dan struktur yang rapuh karena tarik-

menarik kepentingan elit oligarki gagal menjalankan kebijakan substitusi yang bersih.

Kembali ke Ekonomi Nasionalisme

Dengan berbagai krisis dan kesulitan yang diciptakan dengan penerapan neoliberalisme, maka

penulis memandang bahwa jalan keluar paling tepat untuk Amerika Latin adalah penerapan

sistem ekonomi nasionalisme. Karena dependensi erat kaitannya dengan kapitalisme, maka

pemutusan rantai dependensi hanya dapat dilakukan melalui musuh dari kapitalisme itu sendiri,

yaitu ekonomi nasionalisme. Sistem ekonomi nasionalisme, atau yang juga disebut sebagai

merkantilisme, proteksionisme, dan statisme, meletakkan aktivitas ekonomi dalam kerangka

kepentingan nasional . Dengan sistem ekonomi nasionalisme, Amerika Latin dapat

memanfaatkan kekayaan sumber daya yang dimiliki, khususnya agrikultur dan minyak, tanpa

harus mengalami eksploitasi dan ketergantungan yang dijelaskan dalam teori dependensi.

Sistem ini juga menekankan industrialisasi karena industri dipercaya mempunyai efek yang

menyebar dalam pembangunan nasional secara keseluruhan. Selain itu, keberadaan industri

dalam negeri dapat diartikan sebagai kemampuan pemenuhan kebutuhan sendiri dan otonomi

politik. Apalagi industri merupakan dasar kekuatan militer dan keamanan nasional dalam dunia

modern sekarang ini. Dalam kerangka sistem ini, Amerika Latin, khususnya Brazil dan

Argentina, dapat melanjutkan industri manufaktur yang memang merupakan komoditas

utamanya, tanpa harus merugikan buruh karena upah buruh tak lagi harus ditekan untuk

meningkatkan competitiveness. Selain itu, yang juga penting dilakukan oleh Amerika Latin

adalah nasionalisasi perusahaannya, terutama perusahaan minyak, untuk melepaskan diri dari

ketergantungan terhadap pihak asing.

Krisis yang terjadi pada awal 1980an maupun keterbelakangan pembangunan yang dialami oleh

sebagian besar negara Mercosur telah menggambarkan kegagalan demokrasi dalam mewujudkan

kesejahteraan Amerika Latin. Hal ini dapat terjadi karena demokrasi yang dikembangkan

condong ke arah demokrasi liberal dimana kepemilikan pribadi dan akumulasi modal oleh

sejumlah kecil golongan ternyata semakin memperparah ketidakmerataan distribusi pendapatan

yang ada. Privatisasi pada sebagian besar perusahaan di Venezuela, Brazil, Chili, dan Argentina

berujung pada peningkatan jumlah pengangguran yang kemudian memunculkan berbagai

persoalan sosial baru . Oleh karena itu, yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah adalah

nasionalisasi perusahaan yang menyangkut hajat hidup orang banyak melalui mekanisme

sosialisasi yang terkoordinasi.

Dalam teori dependensinya, Cardosso dan Faletto juga menambahkan bahwa secara politik,

kapitalisme akan membawa negara core ke kehidupan yang menjunjung tinggi demokrasi dan

pengakuan hak-hak warga negara, tetapi kesejahteraan politik ini tidak akan dirasakan negara

pheripery karena negara ini hanya akan menjelma menjadi negara yang represif dan totaliter

karena ketergantungan terhadap negara kapitalis. Oleh karena itu, nasionalisme yang akan

diterapkan kembali di Amerika Latin juga harus diiringi dengan penjaminan demokrasi,

mengingat dengan penerapan neoliberalisme pun belum menjamin adanya demokrasi.

Bantuan neoliberal yang diberikan oleh Presiden John F. Kennedy dalam program Alliance for

Progress pada 1970an pada awalnya memang dapat membawa reformasi ekonomi dan sosial di

Amerika Latin, namun dampak negatifnya dapat dilihat pada 10 tahun sesudahnya dimana

hampir semua negara Amerika Latin terjebak dalam ketergantungan terhadap utang luar negeri

dan ketidakmampuan untuk menyelesaikan pembayaran sehingga jalan yang tersisa adalah

menguras semua sumber daya alam yang ada. Yang harus dilakukan adalah kontrol self reliance

yang kuat yang hanya dapat diwujudkan dalam sistem sosialisme, walaupun tidak kemudian

mengisolasi diri dari pergaulan internasional.

Jalan menuju ekonomi nasionalisme memang sudah sangat terbuka bagi Amerika Latin, apalagi

mengingat faktor ideosinkretis pemimpin negara-negara Amerika Latin yang keras menentang

neoimperialisme asing. Gelombang tuntutan menentang neoliberalisme terjadi di Argentina,

Bolivia, Brazil, Ekuador, Meksiko, Peru dan Venezuela. Pada tanggal 30 April 2007 Presiden

Hugo Chavez mengumumkan rencananya untuk secara formal menarik keanggotaan Venezuela

dari Bank Dunia dan IMF . Segera setelah berkuasa pada tahun 1999, Chavez telah membayar

seluruh utang Venezuela kepada IMF. Venezuela juga telah melunasi utangnya kepada Bank

Dunia lima tahun lebih cepat dari waktu yang dijadwalkan. Venezuela juga menyuntikkan dana

bagi negara-negara Amerika Latin lainnya dalam rangka pelunasan hutang negara-negara itu

pada IMF dan World Bank untuk melepaskan dependensi regional Mercosur, menjadi Mercosur

yang independen.

Kesimpulan

Pemaparan yang telah disampaikan menunjukkan bagaimana Amerika Latin telah memilih

neoliberalisme sebagai solusi krisis yang dihadapinya, dan ternyata neoliberalisme tidak berhasil

menyelamatkan negara-negara Amerika Latin keluar dari krisis, jikapun berhasil, sifatnya hanya

sementara dan malah membawa krisis yang lebih sering dan lebih dalam. Pemaparan ini juga

menunjukkan bagaimana rezim neoliberal ± IMF dan World Bank ± sudah berkurang

kekuatannya dalam menyebarkan paham neoliberal ke negara-negara pheripery, dalam hal ini

negara-negara Amerika Latin. Dengan rapuhnya rezim ini, maka tidaklah berlebihan bila penulis

memprediksikan bahwa posisi neoliberal tidak akan lama lagi akan tergantikan, apalagi

mengingat penolakan negara-negara berkembang terhadap praktik neoliberalisme itu.

Penolakan ini muncul karena teori dependensi Cardosso dan Faletto ternyata dengan tepat

menggambarkan eksploitasi kapitalisme yang dibawa oleh neoliberalisme. Eksploitasi dan krisis

yang dihadapi juga sesuai dengan ramalan marxisme terhadap liberalisme kapital. Oleh karena

itu penulis mengajukan solusi lain bagi Amerika Latin, yaitu penerapan ekonomi nasionalisme

tanpa mengisolasi diri dari perekonomian global. Dengan berbagai fakta dan data yang

disampaikan sebelumnya berdasar teori dependensi dan perspektif marxisme, ditambah dengan

ekonomi nasionalisme yang diajukan penulis sebagai solusi bagi Amerika Latin, maka dengan

demikian tesis yang diajukan penulis bahwa neoliberalisme bukan solusi yang tepat bagi

Amerika Latin dalam hal ini terbukti.

Konsep Hukum Fair Trade

FREE TRADE (PERDAGANGAN BEBAS) DAN FAIR TRADE (PERDAGANGAN BERKEADILAN) DALAM KONSEP

HUKUM

Oleh : Eko Prilianto Sudradjat

A. PENDAHULUAN

Dengan diterbitkanya Undang-Undang No.7 Tahun 1994 tanggal 2 Nopember 1994 tentang pengesahan

(ratifikasi) Agreement Establising the World Trade Organization , maka Indonesia secara resmi telah

menjadi anggota WTO dan semua persetujuan yang ada didalamnya telah sah menjadi bagian dari

legislasi nasional. Menjadi anggota WTO berarti terikat dengan adanya hak dan kewajiban. Disamping

itu pula , WTO bukan hanya menciptakan peluang (opportunity), tetapi juga ancaman (threat). Bagi

negara yang siap dengan liberalisasi perdaangan, maka semua hasil perundingan dalam akses pasar akan

menjadi peluang (opportunity) besar. Seperti diketahui , negara-negara maju telah menurunkan tarif

untuk industri dari rata-rata 6,3% menjadi 3,8% (penurunan sebesar 40%) dari tarif nol telah

meningkat dari 20% menjadi 40% dari seluruh produk industri yang masuk ke negara maju. Hal inilah

yang menjadi peluang besar terhadap ekspor negara berkembang termasuk Indonesia.

Terdapat beberapa hal penting yang perlu mendapat catatan dibidang akses pasar ini , antara lain

adalah hasil negosiasi akses pasar ini adalah Most Favoured Nation dimana semua negara anggota

dapat menikmatinya tanpa terkecuali. Sebagai konsekuensinya adalah persaingan semakin tajam.

Karena standing position nya sama, maka dalam pemanfaatan ini akan berlaku hukum alam, siapa

yang lebih kuat, dia yang akan menang.

Indonesia dengan ekonomi terbuka, dimana program ekspor non migas merupakan salah satu

pendorong pertumbuhan ekonomi nasional dan penciptaan lapangan kerja dan dituntut untuk lebih siap

untuk dapat mengambil manfaat sebesar-besarnya dari peluang yang dihasilkan oleh WTO. Peluang dan

manfaat dari keanggotaan Indonesia di WTO hanya dapat diperoleh apabila kita menguasai semua

persetujuan WTO dan menerapkannya sesuai dengan kepentingan nasional. Salah satu prinsip dasar

yang diatur didalam WTO selain perdagangan bebas adalah adanya perdagangan yang berkeadilan.

Dibawah ini akan dicoba ditelaah konsep hukum dari perdagangan bebas (Free Trade) dan Perdagangan

yang berkeadilan (Fair Trade). Pemahaman dari kedua prinsip dasar tersebut adalah dengan menelaah

aturan aturan dasar yang terdapat didalam General Agreement on Tariffs and Trade) 1994 serta

membandingkannya dengan pendapat dari ahli ahli hukum khususnya dalam perdagangan

internasional.

B. FREE TRADE (PERDAGANGAN BEBAS)

Pembentukan World Trade Organization (WTO) telah memberikan konsep liberalisasi perdagangan

kepada dunia khususny kepada negara negara anggota, dimana, konsep dasar dari liberalisasi

perdagangan adalah penghilangan hambatan dalam perdagangan internasional[1]. konsep liberalisasi

dalam perdagangan dalam pelaksanaannya membentuk globalisasi. Kata "globalisasi" diambil dari kata

global, yang maknanya ialah universal. Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali sekadar

definisi kerja (working definition), sehingga tergantung dari sisi mana orang melihatnya. Ada yang

memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan

membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan

kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan

budaya masyarakat[2]. Dalam sejarah pada abad ke 15 bangsa-bangsa didunia khususnya di benua

Eropa, telah mulai menerapkan kebijakan globalisasi perdagangan. Globalisasi perdagangan dapat

diartikan sebagai suatu kegiatan lintas negara. Pemahaman sejarah ini terlihat dari kegiatan para

saudagar atau pedagang dari Eropa yang melakukan pencarian atas produk rempah-rempah dari dunia

timur, yang pada saat itu menjadi suatu komoditi yang sangat diminati oleh konsumen dari benua Eropa.

Istilah globalisasi perdagangan dapat disebutkan sebagai sebuah istilah yang memiliki hubungan dengan

peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia dunia

melalui perdagangan, investasi, yang mengakibatkan batas negar menjadi tidak terlihat[3].

Konsep perdagangan bebas (liberalisasi perdagangan) menurut Adam Smith, seorang ahli ekonomi

klasik, merupakan suatu kegiatan perdagangan barang barang yang dibiarkan bebas berdasarkan

hukum pasar, atau yang disebutkan oleh Hugo Grotius, diistilahkan dengan Laissez Faire, yang dapat

didefinisikan bebas melakukan apa yang engkau inginkan atau bebas dari campur tangan pemerintah

untuk membantu orang miskin, pengontrolan upah buruh, bantuan atau subsidi pertanian[4].

Liberalisasi perdagangan ini, oleh WTO, terbentuk didalam aturan aturan dasar yang diatur didalam

General Agreement on Tariffs and Trade (GATT) 1994. Aturan aturan dasar dari kebijakan perdagangan

bebas tersebut adalah[5]:

1. Non Discrimination

Terdapat 2 (dua) prinsip dasar dari aturan Non Discrimination, yang diatur didalam GATT 1994, yaitu:

a. Most Favoured Nation (MFN)

Pada pokoknya yang dimaksudkan dengan MFN disini adalah kewajiban negara anggota WTO, untuk

memperlakukan kepada seluruh negara anggota WTO, hal yang sama, atau dalam hal suatu negara

anggota memberikan keistimewaan untuk satu negara anggota, maka perlakuan tersebut harus

dilakukan sama kepada anggota yang lain.

b. National Treatment

Utamanya pelaksanaan dari prinsip ini adalah, perlakuan yang sama terhadap produk produk dari

negara lain yang masuk kedalam wilayah suatu negara anggota dengan produk nasional dari negara

anggota tersebut.

2. Market Access

Liberalisasi perdagangan didalam aturan WTO, diatur didalam GATT 1994, dengan aturan aturan dasar

yaitu:

a. Custom Duties

Dalam hal ini GATT 1994 mewajibkan tiap negara anggota untuk melakukan penurunan bea masuk, ke

tingkat dimana dapat memberikan kemudahan untuk negara anggota lainnya masuk kedalam pasar

domestik negara tersebut.

b. Quantitative Restriction

Pada intinya aturan Quantitative Restriction, melarang adanya pembatasan jumlah barang ekspor masuk

kedalam wilayah nasional negara anggota.

c. Non Tariff Barriers

Adalah tindakan dari negara tertentu anggota WTO yang dengan maksud melindungi industri dalam

negerinya, denga melakukan tindakan tindakan selain dengan hambatan bea masuk seperti, hambatan

perdagangan dengan alasan perlindungan kesehatan (Sanitary and Phytosanitary) dan hambatan dalam

standar teknis produk (Technical Barriers). Tindakan tindakan tersebut berdasarkan GATT 1994

dilarang untuk dilakukan oleh negara anggota.

Berdasarkan atas penelaahan dari konsep dasar GATT 1994 tersebut di atas, dapat dipahami apa yang

dimaksud dengan liberalisasi perdagangan yang diterapkan oleh WTO. Liberalisasi perdagangan yang

diatur didalam WTO adalah suatu kegiatan perdagangan dimana tidak terdapat hambatan hambatan

untuk perdagangan atau masuknya barang barang yang diperdagangkan oleh negara negara anggota

kedalam wilayah nasional negara anggota yang lain, utamanya hambatan tersebut adalah dengan

tingginya bea masuk dari suatu negara anggota, dan adanya batasan jumlah barang import oleh

pemerintah dari negara anggota. Hal tersebut juga di imbangi dengan perlakuan yang sama, atau dikenal

dengan istilah Non Discrimination Rules. Yang dimaksudkan dengan Non Discrimination Rules

didalam aturan GATT 1994 adalah perlakuan yang sama, dimana ketika terdapat beberapa negara

anggota WTO melakukan perdagangan dengan satu negara anggota yang lain, kesemua negara tersebut

wajib diperlakukan sama, contohnya adalah ketika satu negara diberikan kemudahan untuk melakukan

perdagangan dari negara anggota lainnya maka negara negara anggota yang juga melakukan

perdagangan dengan negara tersebut harus mendapat kemudahan yang sama. Non Discrimination

Rules juga mengatur perlakuan yang sama terhadap produk import dengan produk domestik.

The process of pursuing more free trade - often negotiated among countries in the context of reciprocal

market access and non-discrimination - involves such activities as the harmonization of trading rules and

the reduction of barriers to trade such as tariffs and quotas. In its simplest sense, the pursuit of free

trade belongs to the blanket process of leveling the playing field. If one takes this analogy to its logical

conclusion, more free trade would result from the application of the same policies, rules, mechanisms,

and institutions to each participant in the trade regime, regardless of origin or capacity[6].

Terjemahan bebas:

proses yang dilaksanakan untuk mencapai perdagangan bebas, sering kali dinegosiasikan oleh negara

negara kaitannya dengan prinsip reciprocal didalam untuk akses pasar dan prinsip Non Discrimination

dihubungkan dengan kegiatan kegiatan seperti peraturan didalam perdagangan dan penurunan

hambatan perdagangan seperti tariff dan quota. Kegiatan pencapaian perdagangan bebas dilakukan

didalam suatu proses mensejajarkan keadaan pasar internasional , ketika satu negara melaksanakan

analogi ini didalam kesimpulan logika perdagangan bebas hanya dapat tercapai dalam hal terdapat

kebijakan, aturan aturan hukum, mekanisme dan institusi yang sama, ditiap tiap negara yang

terlibat, dengan tanpa memperhitungkan kapasitas dan karakter asal dari negara tersebut.

C. FAIR TRADE (PERDAGANGAN BERKEADILAN)

Disebutkan oleh Ralph E. Gomory dan William Baumol, bahwa didalam perdagangan diperlukan adanya

kesetaraan antara pihak pihak (leveling the playing field). Kesetaraan yang dimaksudkan oleh Gomory

dan Baumol adalah adanya perlakuan yang sama dengan tidak melakukan diskriminasi terhadap pihak

pihak lain yang juga melakukan perdagangan dengan pihak tersebut. Permasalahannya adalah Gomory

dan Baumol mengatakan kesetaraan tersebut dilakukan dengan tanpa menilai karakter dasar dan

kapasitas dari pihak pihak yang melakukan perdagangan. Konsep kesetaraaan disebutkan di atas

adalah konsep keadilan dalam perdagangan atau Fair Trade yang ada didalam GATT 1994. Pemahaman

atas Fair Trade disini selayaknya harus juga ditelaah dari teori - teori hukum mengenai keadilan,

sehingga tercipta konsep umum tentang perdagangan yang berkeadilan atau Fair Trade.

Dalam sejarah manusia, setidaknya ada tiga pola pandangan tentang kaitan hukum dengan keadilan.

Pola keadilan dan hukum disebutkan di atas diuraikan dibawah ini[7]:

1. Pola pertama memandang hukum sebagai bahasa yuridis dari suatu konsep keadilan. Diandaikan

adanya kaitan langsung antarkeduanya. Dalam pandangan ini, konsep keadilan dipandang tunggal.

Konteks sosiologisnya adalah masyarakat yang masih homogen. Perdebatan dalam proses perumusan

hukum hanya dipandang sebagai perdebatan tentang batas. Hal ini tercermin dalam pandangan para

pemikir klasik, dari Aristoteles sampai Thomas Aquinas.

2. Pola kedua, melihat hukum sebagai hasil kompromi dari beragam konsep keadilan. Pola kedua ini

melihat perdebatan dalam perumusan hukum adalah upaya mengkompromikan konsep-konsep keadilan

yang beraneka sebagai isi hukum. Pola kedua ini tampak antara lain dalam pandangan Thomas Hobbes

dan pemikir politik mulai abad ke-17. Selain itu, mereka mengandaikan adanya kebebasan yang cukup

dan kesederajatan antara pihak-pihak yang berkompromi.

3. Pola ketiga, mengakui sifat kompromis hukum, tetapi lebih jauh lagi melihat kesetaraan dan

kebebasan dalam berkompromi tidak bisa diandaikan begitu saja. Ini berkait perkembangan masyarakat

secara sosio-ekonomis. Terlebih karena perkembangan kapitalisme, dan kini dalam warna neo-

liberalisme, muncul gejala penumpukan dan penguasaan modal dalam sekelompok orang.

Dalam negara hukum, negara mengakui dan melindungi hak asasi manusia setiap individu tanpa

membedakan latar belakangnya. Semua orang memiliki hak diperlakukan sama di hadapan hukum

(equality before the law). Persamaan di hadapan hukum harus diartikan secara dinamis dan tidak

diartikan statis. Artinya, kalau ada persamaan di hadapan hukum bagi semua orang harus diimbangi juga

dengan persamaan perlakuan (equal treatment) bagi semua orang. Persamaan di hadapan hukum yang

diartikan secara dinamis itu dipercayai akan memberikan jaminan adanya akses memperoleh keadilan

bagi semua orang[8]. Menurut Aristoteles, keadilan harus dibagikan oleh negara kepada semua orang,

dan hukum yang mempunyai tugas menjaganya agar keadilan sampai kepada semua orang tanpa

kecuali. Dalam Pasal 27 ayat (1) UUD 1945 dinyatakan Segala warga negara bersamaan kedudukannya di

dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada

kecualinya[9]. Kesetaraan didalam hukum disini dimaksudkan untuk memberikan kewajiban yang sama

dari tiap tiap anggota masyarakat. Didalam bidang ekonomi prinsip hukum keadilan di atur didalam

Pasal 34 ayat 2 UUD 1945, yang menyebutkan negara memberdayakan masyarakat yang lemah dan

tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan[10] .

Dasar yang dipergunakan dalam pemahaman tentang keadilan di atas akan menjadi dasar untuk

menelaah konsep hukum dari perdagangan yang berkeadilan atau Fair Trade. Pendapat tentang keadilan

yang sangat dikenal adalah pendapat dari John Rawls, didalam bukunya Theory of Justice, yang

mengembangkan konsep prinsip distributive justice yang merupakan prinsip normatif yang dibentuk

sebagai pedoman untuk membagi keuntungan dan beban diddalam kegiatan ekonomi[11]. Konsep

distributive justice yang dikembangkan oleh John Rawls pada intinya adalah pembagian atas kewajiban

dan hak didalam ekonomi tidak selalu harus menerapkan kesetaraan yang umum (pembagian yang sama

tanpa menilai karakter dari individu individu yang ada didalamnya), menurutnya keadilan dapat

terbentuk didalam tindakan yang tidak sebanding dimana memberikan hak yang lebih besar dan

kewajiban yang kecil bagi masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah sehingga memberikan

kesejahteraan yang lebih baik daripada ketika kesetaraan dilakukan secara tegad, dimana hak dan

kewajiban diberikan dalam tingkat yang sama[12].

Konsep dasar dari dari keadilan ini dapat dijadikan dasar bagi memahami perdagangan yang berkeadilan

atau Fair Trade. Konsep hukum dari John Rawls tentang keadilan pada intinya adalah keadilan terbentuk

dari perlakuan yang tidak sama, dimana masyarakat dengan ekonomi rendah selayaknya diberikan hak

yang lebih besar dan kewajiban yang lebih kecil, dari masyarakat dengan tingkat ekonomi yang lebih

tinggi hal ini disebutkan oleh John Rawls adalah sebagai keaadaan yang seimbang, dimana dengan

perlakuan yang khusus bagi masyarakat yang dengan tingkat ekonomi yang lebih rendah pada akhirnya

akan menimbulkan keadaan yang adil.

Konsep keadilan dimaksudkan oleh John Rawls disini, merupakan konsep dasar yang membentuk aturan

aturan perdagangan didalam GATT. Didalam WTO keanggotaan dari negara negara yang ikut serta,

dibagi dalam tiga kelompok negara, yaitu Developed Country (negara maju), Developing Country (negara

berkembang) dan Less Developed Country (negara miskin). Inti dari pembagian anggota WTO kedalam

kelompok kelompok negara inilah yang menjadi dasar perdagangan yang berkeadilan. Permasalahan

yang ada didalam GATT 1994 adalah pengutamaan prinsip mengenai Non Discrimination, dimana

semua negara anggota diharuskan diperlakukan sama, tanpa menilai karakter dari negara anggota.

Selayaknya prinsip hukum dari keadilan yang disebutkan oleh John Rawls, menjadi titik tolak dan dasar

dalam pengaturan proses perdagangan internasional. Didalam GATT 1994 memang di atur mengenai

konsep Special Differential Treatmen bagi negara berkembang dan miskin, dimana kepatuhan atas

peraturan yang ada didalam GATT 1994 dapat dilaksanakan berbeda untuk negara berkembang dan

miskin, akan tetapi Special Differential Treatment tersebut hanya dilaksanakan dalam bentuk

penundaan jangka waktu pelaksanaan aturan atau penerapan penurunan tarif yang lebih kecil, sehingga

tidak menghapus kewajiban kewajiban yang diberlakukan bagi negara maju untuk diterapkan oleh

negara berkembang dan miskin. Hal ini tentunya berlawanan dengan prinsip hukum dari keadilan yang

disebutkan oleh John Rawls dimana perlakuan istimewa bagi pihak dengan tingkat ekonomi rendah

akan selalu dilaksanakan untuk menciptakan keadilan

Konsep Perdagangan yang berkeadilan (fair trade) yang dilaksanakan dengan mengembangkan konsep

keadilan dari John Rawls timbul pada tahun 1940 sebagai gerakan sosial di beberapa negara Eropa

seperti Inggris, Belanda, Austria. Gerakan ini bertujuan untuk menolong produsen kecil (petani, perajin

dan buruh) di negara-negara miskin atau Dunia Ketiga supaya mereka dapat terlepas dari jeratan

kemiskinan dan mempertahankan keberlanjutan kehidupan mereka melalui sebuah kemitraan

perdagangan yang didasarkan pada dialog, transparansi dan respek (baik produsen maupun konsumen).

Fair trade bertujuan untuk perbaikan penghidupan produsen melalui hubungan dagang yang sejajar,

mempromosikan peluang usaha dan kesempatan bagi produsen lemah atau termarjinalisir

meningkatkan kesadaran konsumen melalui kampanye fair trade, mempromosikan model kemitraan

dalam perdagangan yang adil, mengkampanyekan perubahan dalam perdagangan konvensional yang

tidak adil, melindungi Hak Azasi Manusia, pendidikan konsumen dan melakukan advokasi bagi

terciptanya kondisi yang lebih baik, khususnya yang berpihak kepada produsen kecil sehingga mereka

dapat berpartisipasi di pasar.

Fair trade sebagai sebuah alternatif menawarkan kondisi perdagangan yang lebih baik bagi produsen

kecil dan melindungi hak mereka yang selama ini terpinggirkan. Fair trade membantu produsen kecil

untuk memperoleh kehidupan yang layak melalui peningkatan pendapatan, melindungi hak produsen

kecil atas akses ke pasar, menyalurkan aspirasi dan pendapat mereka, tidak diskriminatif terhadap

perempuan yang selama ini menjadi warga kelas dua dan korban langsung atas perdagangan yang tidak

adil, juga melindungi lingkungan dari kerusakan karena minimnya penggunaan bahan-bahan kimiawi.

Dengan mekanisme fair trade, konsumen bersedia menghargai jerih payah produsen yang selama ini

tidak pernah diperhitungkan (pemeliharaan tanaman, mengusir burung, menjemur padi, didalam usaha

pertanian padi) sebagai komponen biaya produksi dalam sistem perdagangan konvensional. Sebagai

salah satu bentuk apresiasi konsumen atas jerih payah produsen, mereka tidak keberatan untuk

membeli harga premium (yang meliputi biaya produksi ditambah biaya untuk reinvestasi) yang

ditawarkan oleh produsen.

Sebaliknya, produsen juga menghargai kepedulian dan kepercayaan yang diberikan oleh konsumen

dengan selalu memberikan informasi sebenarnya mengenai produk mereka (kondisi, waktu panen,

varietas) dan menjaga kualitas/kuantitas produknya. Produsen juga melakukan pertemuan rutin untuk

membahas dan mencari jalan keluar tentang masalah yang mereka hadapi, khususnya yang berkaitan

dengan pola perdagangan yang adil. WTO diharapkan dapat membentuk suatu kemitraan perdagangan

yang dilandaskan pada dialog, transparansi dan penghargaan yang bertujuan untuk mencapai

kesetaraan yang seimbang (bagi Dunia Ketiga) didalam perdagangan internasional.

Prinsip John Rawls disini sering kali dikritik, yang mana menurut para ahli hukum terdapat dua

kelemahan yaitu dari konsep empiris dimana distributive justice tidak dapat mencukupi sebagai kajian

substansi doctrinal dan normative bagi hukum internasional modern, sebagaia suatu kenyataan didalam

lingkungan pergaulan internasional, hal ini dikarenakan pandangan distributive of justice selalu melihat

keadilan internasional timbul diawali dengan adanya keadilan domestik didalam suatu negara. Hal kedua

yang jadi kelemahan dari konsep keadilan John Rawls, adalah bila dipandang didalam perspektif

normatif empiris, John Rawls mendasarkan teorinya dari konsep keadilan Emanuel Kant yang

menekankan bahwa keadilan antar negara harus diawali dengan adanya keadilan didalam negara.

Kelemahan kelemahan tersebut menjadi titik utama dari pengembangan teori distributive justice oleh

Frank J. Garcia. Frank J. Garcia pada intinya mencoba memaparkan keadilan didalam hukum

perdagangan internasional, dimana Garcia menyebutkan bahwa hukum perdagangan internasional,

harus dirumuskan untuk melindungi kesetaraan moral seluruh individu yang terpengaruh olehnya.

Konsep keadilan perdagangan Garcia, harus beroperasi sedemikian rupa untuk kepentingan negara yang

paling tidak diuntungkan. Hal terakhir yang disebutkan oleh Garcia sebagai faktor yang harus ada

didalam perdagangan internasional yang adil adalah perdagangan internasional harus tidak

mengorbankan Hak Azasi Manusia atau perlindungan yang efektif terhadap Hak Azasi Manusia[13].

Berdasarkan konsep ini maka Special Differential Treatment didalam WTO lebih cenderung dilakukan

secara tidak setara dengan mengutamakan negara negara yang paling tidak diuntungkan.

D. KESIMPULAN

Aturan-aturan WTO yang kita akui secara sah berdasarkan Undang - Undang No. 7 Tahun 1994 tentang

pengesahan (ratifikasi) Agreement Establising the World Trade Organization , mengatur hampir

seluruh bidang perdagangan, dari perdagangan barang, jasa dan juga aturan mengenai hak atas

kekayaan intelektual (intellectual property rights). WTO sebagai organisasi yang mengatur perdagangan

dunia, menghendaki sistem perdagangan dunia didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut :

without discrimination, freer, predictable, more competitive dan more beneficial for less developed

countries. Namun bukan berarti aturan-aturan WTO itu merupakan suatu aturan yang sempurna dan

harus diterapkan tanpa dipikirkan ulang. Setidaknya, ada beberapa aspek yang perlu kita pikirkan ulang,

yang pertama adalah mengenai prinsip without discrimination yang tersebut didalam aturan GATT 1994

tentang Most-favoured-nation yang menuntut dan menuntun kita untuk memperlakukan secara sama

setiap partner dagang kita dengan tidak mempertimbangkan apakah partner kita itu negara miskin atau

kaya, lemah atau kuat; dan aturan mengenai National treatment yang menuntut dan menuntun kita

untuk memperlakukan secara sama dengan tidak mempertimbangkan apakah partner kita itu

pengusaha lokal (dalam negeri) atau pengusaha asing. Dua aturan ini secara tegas menghendaki

penghapusan sistem proteksionisme yang mengandaikan beberapa hak istimewa dalam perdagangan.

Pada kenyataannya, dua aturan ini merupakan aturan yang tidak berbelas kasihan (sans pitié) khususnya

terhadap yang lemah dan miskin.

Dalam konteks ini, Indonesia yang termasuk sebagai negara berkembang dalam perdagangan dunia

dianggap dan harus diperlakukan sama dengan negara Amerika Serikat, Prancis, Inggris, Jepang dan

negara-negara maju dan kaya yang lainnya. Kemudian, yang lebih mengkhawatirkan adalah aturan

National treatment yang mengharuskan kita untuk memperlakukan sama pengusaha kecil dan

menengah, lokal, dalam negeri yang memiliki modal terbatas dengan perusahaan-perusahaan asing dan

atau multinasional. Tentunya dalam keadaan disebutkan di atas, pengusaha kecil dan menengah kita

kalah bersaing dan tidak kompetitf, karena modal dan kapasitas yang mereka miliki berbeda dengan

peruasahaan-perusahaan asing dan multinasional, namun mereka diperlakukan sama. Hal tersebut

dapat mengakibatkan perusahaan-perusahaan asing dan atau multinasional menguasai pasar diwilayah

Indonesia, dari industri (perdagangan) hulu sampai hilir. Kita juga melihat betapa banyak pedagang-

pedagang kecil di pasar-pasar tradisional harus menutup usahanya karena tidak mampu bersaing

dengan pusat-pusat perbelanjaan modern dan atau perusahaan penjualan grosir (supermarket).

Hal tersebut mengakibatkan tertutupnya kesempatan bagi usaha kecil dan menengah atau pengusaha

dalam negeri di bidang-bidang yang strategis dan berkaitan dengan eksploitasi sumber daya alam.

Seolah-olah bidang-bidang tersebut adalah eksklusif milik investor asing dan atau perusahaan

multinasional. Dalam kondisi seperti ini, maka tak jarang kita jumpai bagaimana investor-investor dalam

negeri melarikan usahanya ke luar negeri, yang kemudian disusul oleh investor-investor asing. Dalam hal

ini, kita melihat bagaimana free trade tidak selalu sama dengan fair trade, pada kondisi ini hanya mereka

yang memiliki daya survival tinggi yang mampu bertahan dan hidup.

Hal kedua yang harus kembali ditelaah, adalah mengenai aturan-aturan tentang makanan (food)

khususnya tentang produk pertanian (Agreement on Agriculture), perlindungan kesehatan manusia,

hewan dan tanaman (Agreement on Sanitary and Phytosanitary Measures), produk-pruduk susu

(International Dairy Agreement) dan tentang daging sapi dan kerbau (Agreeement Regarding Bovine

Meat). Berkaitan dengan makanan, Peter M. Rosset yang mengatakan bahwa makanan adalah sesuatu

yang berbeda (Food is differen)t. Makanan bukan hanya barang dagangan atau komoditi. Makanan

berarti pertanian, dan pertanian berarti kehidupan, tradisi dan budaya masyarakat rural. Pertanian

artinya masyarakat rural, sejarah agraris dalam beberapa kasus, kawasan rural merupakan tempat

dimana budaya suatu bangsa dan rakyat suatu negara berasal[14].

Kembali ke konteks Indonesia, sebenarnya negara kita memiliki karakter sebagai negara agraris (di

samping negara maritim), namun tampaknya budaya ini tercerabut dari akarnya. Kualitas dan kuantitas

pertanian kita yang semakin menurun, dengan ditandai berulangnya kasus import beras tiap tahun

sebelum masa panen tiba dan semakin banyaknya lahan pertanian di Indonesia yang berubah fungsi

dengan alasan pembangunan. Bangsa kita yang dulunya swasembada beras, kemudian menjadi bangsa

yang lapar.

Hal ketiga yang harus diperhatikan adalah mengenai aturan-aturan yang berkaitan dengan hak-hak atas

kekayaan intelektual. Perlindungan hak-hak atas kekayaan intelektual pada mulanya bertujuan untuk

mempromosikan inovasi dan sekaligus investasi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan

teknologi. Namun kemudian permasalahan ini menjadi rumit saat dikaitkan dengan issue perdagangan

dan kekayaan intelektual tidak lagi menjadi domain publik. Hak-hak atas kekayaan intelektual,

khususnya paten dan merk menjadi alat monopoli golongan tertentu (yang sering diwakili oleh

perusahaan multinasional) terhadap golongan yang lain. Dalam konteks pertanian misalnya, kita akan

menjumpai suatu keadaan yang dideskripsikan oleh Ralph Nader sebagai situasi dimana the world

doesn t have free trade, it has corporate-managed trade[15]. Article 27.3b perjanjian TRIPS yang

bermuka dua, memperkecualikan tanaman dan hewan dari paten, namun di lain pihak tetap menuntut

perlindungan HAKI atas varietas tanaman baru (varietas tanaman baru ini ditemukan perusahaan

multinasional dari varietas yang ada sebelumnya, mereka hanya mengidentifikasi keunggulan varietas

tersebut dan memberinya nama). Sebagai contoh konkret dalam masalah ini adalah kemenangan secara

konterversial Rice Tec Inc. (perusahaan kecil yang berada di Texas, Amerika Serikat dan hanya memiliki

120 orang pekerja) pada bulan september 1997 memenangkan hak paten terhadap varietas beras

Basmati asal India dan Pakistan. Kasus ini jelas merugikan banyak petani beras Basmati di India dan

Pakistan, yang pada kenyataannya sudah membudidayakan varietas ini sejak jaman nenek moyang

mereka. Kasus yang dilakukan oleh Rice Tec Inc., akhirnya memunculkan banyak reaksi, khususnya dari

Pemerintah India, yang merasakan secara langsung dampak kerugian terhadap paten tersebut.

Pemerintah India dan Pakistan menganggap paten terhadap beras Basmati yang dilakukan oleh Rice Tec

adalah sesuatu yang keliru, tidak berdasar dan misrepresentasi, karena menurut mereka hanya beras

yang tumbuh di wilayah utara India dan Pakistan yang dapat disebut Basmati. Dari kasus ini pula,

pemerintah India menyusun Undang-Undang tentang Geographical Indication of Goods Registration

and Protection. Undang-undang ini tidak hanya memproteksi beras Basmati, tetapi juga barang-barang

lain yang berasal dari India, seperti Darjeeling tea, Alphonso mangoes, Malabar pepper, atau Alappuzha

cardamom. Kemudian usaha dan perjuangan pemerintah India ini pun berlanjut, mereka bersama Swiss,

Uni Eropa, Republik Cekoslovakia dan Maroko memperjuangkan dengan sungguh-sungguh penguatan

serta perluasan perlindungan Indikasi Geografis dalam bidang pertanian yang diatur dalam article 23

perjanjian TRIPs. Kemudian dari perdebatan mengenai Indikasi Geografis ini, bangsa Indonesia pun

sekali lagi harus menderita, karena kita menjumpai banyak barang-barang asli Indonesia, semisal Tahu

yang Indikasi Geografisnya milik Jepang, Keris milik Singapura, Batik milik Malaysia, Toraja Coffee milik

Jepang, Java Coffee milik Amerika Serikat, dan sebagainya. Sekali lagi kita menjumpai bagaimana

gagapnya bangsa kita menghadapi liberalisasi perdagangan dunia. Sampai saat ini pun, kita belum

pernah mendengar usaha pemerintah kita untuk melindungi kekayaan alam hayati kita seperti yang

dilakukan oleh Pemerintah India.

Berkaitan dengan perjanjian TRIPs, kita dapat melihat bagaimana TRIPs sangat membebani negara-

negara berkembang termasuk Indonesia[16]. Beban yang dirasakan langsung oleh negara-negara

berkembang, adalah besarnya pembayaran royalti yang harus dibayarkan ke perusahaan-perusahaan di

negara-negara maju., TRIPs juga telah meningkatkan kekuasaan perusahaan-peruasahaan multinasional

terhadap konsumen. Perusahaan-perusahaan ini berkat TRIPs tampak memiliki kekuasaan monopolistik,

misalnya monopoli harga. Kasus yang paling menyeramkan adalah monopoli harga obat-obatan, yang

menyebabkan harga obat menjadi mahal dan tak terjangkau, yang kemudian menimbulkan munculnya

pemalsuan obat-obatan dan perdaganngan obat-obat palsu dan atau kadaluarsa di negara-negara

berkembang dan terbelakang, termasuk Indonesia. Rezim perlindungan HAKI yang sesuai TRIPs ini

menuntut banyak biaya untuk diterapkan, semisal kebutuhan akan pengacara-pengacara dan konsultan-

konsultan (yang berkaitan dengan hal teknis) dengan level (pengetahuan dan reputasi) internasional,

terlebih lagi dalam kaitannya dengan sengketa HAKI di WTO, dan secara terus terang Indonesia belum

siap menghadapi hal ini. TRIPS telah memberikan kesempatan yang besar bagi perusahaan-perusahaan

di negara maju untuk mempatenkan proses dan kekayaan alam (natural processes and resorces) yang

belum dipatenkan di negara-negara berkembang. Kelima, TRIPs kemudian pada akhirnya menghambat

kemajuan negara-negara berkembang untuk melakukan inovasi.

Berdasarkan atas hal tersebut selayaknya WTO mengutamakan prinsip Fair Trade, yang dasar dasar

dari kata Fair di atas diartikan sesuai konsep dari John Rawls yaitu pada intinya adalah keadilan

terbentuk dari perlakuan yang tidak sama, dimana masyarakat dengan ekonomi rendah selayaknya

diberikan hak yang lebih besar dan kewajiban yang lebih kecil, dari masyarakat dengan tingkat ekonomi

yang lebih tinggi hal ini disebutkan oleh John Rawls adalah sebagai keaadaan yang seimbang, dimana

dengan perlakuan yang khusus bagi masyarakat yang dengan tingkat ekonomi yang lebih rendah pada

akhirnya akan menimbulkan keadaan yang adil. Dari konsep John Rawls di atas harus kita kaitkan dengan

teori keadilan dalam perdagangan internasional menurut Frank J. Garcia, dimana ketidaksetaraan

perlakuan dimaksudkan oleh John Rawls, dititik beratkan pada negara negara yang tidak diuntungkan

dengan adanya liberalisasi perdagangan.

Dari kedua pendapat di atas maka, konseo hukum dari Fair Trade adalah perdagangan yang dilakukan

dengan melihat keadaan dari pihak pihak, serta melihat karakter yang dari pihak tersebut, sehingga

perlakuan yang akan dilaksanakan dapat sesuai dengan karakter dari pihak tersebut, dan sesuai dengan

keadaan ekonomi dari pihak tersebut. Hal ini juga merupakan konsep dasar dari hak dasar dalam

ekonomi yang diatur didalam Pasal 34 ayat 2 UUD 1945, yang menyebutkan negara memberdayakan

masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan[17].

[1] Munir Fuady, Hukum Dagang Internasional (Aspek Hukum dari WTO), (Bandung: PT. Citra Aditya

Bakti, 2004), hlm. 2.

[2] Wikipedia Ensiklopedia Bebas , . Di akses pada tanggal 11 Desember 2007.

[3] Ibid

[4] Munir Fuady, Op. Cit. hlm. 3.

[5] United Nation, United Nation Conference on Trade and Development Dispute Settlement - World

Trade Organization, (New York and Geneva : 2003), hlm. 23 24.

[6], Ralph E. Gomory and William Baumol, Global Trade and Conflicting National Interests. (Cambridge:

Massachusetts Institute of Technology Press, 2000).

[7] Al Andang L Binawan, Keadilan Hukum,

cetak/0404/16/opini/972368.htm>. Diakses pada tanggal 10 Desember 2007.

[8] Frans Hendra Winarta, Bantuan Hukum Fakir-Miskin, http://www.komisihukum.go.id

/konten.php?nama=Artikel&op=detail_artikel&id=165. Diakses pada tanggal 9 Desember 2007.

[9] Indonesia, Perubahan Keempat Undang-Undang Dasar 1945, pasal 27 ayat (1)

[10] Ibid. Pasal 34 ayat 2.

[11] John Rawls , A Theory of Justice, (Harvard, MA: Harvard University Press, 1971)

[12] Ibid.

[13] Frank J. Garcia, Building A Just Trade Order for A New Millenium, George Washington International

Law Review, Vol. 33, 2001., hal. 1016 -1062.

[14] Peter. M. Rosset, (). Food is Different: Why We Must Get the WTO Out of Agriculture. (London and

New York, Zed Books, 2006)

[15] J. Madeley (). Hungry for Trade; How the Poor Pay for Free Trade. (London & New York, Zed Books,

2001)

[16] Chang, H, J. and I. Grabel, Reclaiming development: An alternative economic policy manual.

(London and New York, Zed Books, 2004)

[17] UUD 1945, Op. Cit. Pasal 34 ayat 2.

http://whatbecomethegreaterme.blogspot.com/2007/12/konsep-hukum-fair-trade.html

1. Indtroduksi

Fair Trade adalah suatu bentuk keoptimisan pemikiran, sikap dan tindakan dari orang-orang

yang tidak bisa melepaskan diri dari jeratan globalisasi. Fair Trade muncul sebagai alternatif dari

bentuk perdagangan bebas (free trade) yang menurut banyak orang sangat tidak adil. Kenyataan

bahwa kemakmuran hanya dinikmati oleh sekelompok kecil warga bumi sementara kemiskinan

akut yang massif diderita oleh sebagian besar warga lainnya adalah bukti akibat ketidakadilan

free trade yang paling nyata. Bila ditelusuri akar permasalahannya terletak pada aturan-aturan

free trade yang pada praktiknya sangat tidak adil

Aturan-aturan doubel standard atau standar ganda yang dipraktekkan negara-negara kaya

dalam hubungan perdagangannya dengan negara-negara berkembang telah merubah hubungan

perdagangan tersebut yang secara filosofis adalah hubungan partnership yang menguntungkan

kedua belah pihak menjadi hubungan eksploitatif. Dengan kata lain hubungan perdagangan

antara negara kaya dengan negara berkembang hanya menjadi sarana pelegalan eksploitasi

baru setelah cara-cara kolonialisasi tidak lagi dipandang cukup beradab. Standar ganda free

trade memaksa negara-negara berkembang untuk meliberalisasi perdagangan mereka,

sedangkan pada sisi yang lain negara-negara maju masih menerapkan kebijakan proteksi bagi

produk yang akan masuk ke dalam pasar domestik. Konsekuensi penerapan standar ganda

tersebut seperti dicatat oleh United Nations telah menyebabkan negara berkembang mengalami

kerugian setiap tahunnya sebesar 100 juta dolar US. Selain itu ketimpangan antara negara maju

dan negara berkembang semakin besar dimana saat ini hanya 20% populasi dunia menikmati

income yang jumlahnya 60 kali lebih besar dari income orang-orang miskin.

Di tengah kondisi perdagangan yang semakin lama semakin tidak adil tersebut dan telah

menyebabkan ketimpangan yang semakin besar antara negara kaya dan negara berkembang,

Fair Trade muncul sebagai sebuah gerakan perdagangan alternatif yang berpihak kepada

produsen miskin melalui penerapan prinsip keadilan, transparansi, komunikasi dan keadilan

gender. Dalam prakteknya, prinsip dan nilai tersebut diwujudkan dalam bentuk rantai distribusi

yang lebih pendek, penguatan organisasi produsen, peningkatan keterlibatan dan peranan

perempuan dalam perdagangan, harga premium bagi produk yang dihasilkan.

Sejak menjadi sebuah gerakan pada tahun 1950 fair trade telah menyebar ke berbagai negara di

kawasan Eropa, Amerika, dan Asia dan Afrika. Di Indonesia sendiri gerakan fair trade muncul

pada pertengahan tahun 1980-an. Dalam perkembangannya fair trade di Indonesia telah cukup

membantu produsen-produsen miskin di berbagai wilayah seperti Yogyakarta, Malang,

Mataram, Bali, Surakarta. Perkembangan fair trade yang cukup positif tersebut menunjukkan

bangkitnya kepedulian lebih banyak masyarakat terhadap orang-orang di sekeliling mereka yang

selama ini bekerja keras menyediakan keperluan mereka namun tidak mendapatkan hak sesuai

proporsi yang seharusnya mereka terima.

Tulisan ini akan menjelaskan tentang bagaimana ide-ide fair trade berkembang di tengah

dominasi ide free trade dalam konteks Indonesia? Bagaimana ide-ide itu diperjuangkan?

Bagaimana pengaruhnya terhadap perekonomian Indonesia?

2. 1. Indtroduksi

3. Fair Trade adalah suatu bentuk keoptimisan pemikiran, sikap dan tindakan dari orang-

orang yang tidak bisa melepaskan diri dari jeratan globalisasi. Fair Trade muncul sebagai

alternatif dari bentuk perdagangan bebas (free trade) yang menurut banyak orang sangat

tidak adil. Kenyataan bahwa kemakmuran hanya dinikmati oleh sekelompok kecil warga

bumi sementara kemiskinan akut yang massif diderita oleh sebagian besar warga lainnya

adalah bukti akibat ketidakadilan free trade yang paling nyata. Bila ditelusuri akar

permasalahannya terletak pada aturan-aturan free trade yang pada praktiknya sangat tidak

adil

4. Aturan-aturan doubel standard atau standar ganda yang dipraktekkan negara-negara kaya

dalam hubungan perdagangannya dengan negara-negara berkembang telah merubah

hubungan perdagangan tersebut yang secara filosofis adalah hubungan partnership yang

menguntungkan kedua belah pihak menjadi hubungan eksploitatif. Dengan kata lain

hubungan perdagangan antara negara kaya dengan negara berkembang hanya menjadi

sarana pelegalan eksploitasi baru setelah cara-cara kolonialisasi tidak lagi dipandang

cukup beradab. Standar ganda free trade memaksa negara-negara berkembang untuk

meliberalisasi perdagangan mereka, sedangkan pada sisi yang lain negara-negara maju

masih menerapkan kebijakan proteksi bagi produk yang akan masuk ke dalam pasar

domestik.2

Konsekuensi penerapan standar ganda tersebut seperti dicatat oleh United

Nations telah menyebabkan negara berkembang mengalami kerugian setiap tahunnya

sebesar 100 juta dolar US.3

Selain itu ketimpangan antara negara maju dan negara

berkembang semakin besar dimana saat ini hanya 20% populasi dunia menikmati income

yang jumlahnya 60 kali lebih besar dari income orang-orang miskin.4

5. Di tengah kondisi perdagangan yang semakin lama semakin tidak adil tersebut dan telah

menyebabkan ketimpangan yang semakin besar antara negara kaya dan negara

berkembang, Fair Trade muncul sebagai sebuah gerakan perdagangan alternatif yang

berpihak kepada produsen miskin melalui penerapan prinsip keadilan, transparansi,

komunikasi dan keadilan gender. Dalam prakteknya, prinsip dan nilai tersebut

diwujudkan dalam bentuk rantai distribusi yang lebih pendek, penguatan organisasi

produsen, peningkatan keterlibatan dan peranan perempuan dalam perdagangan, harga

premium bagi produk yang dihasilkan.5

6. Sejak menjadi sebuah gerakan pada tahun 19506

fair trade telah menyebar ke berbagai

negara di kawasan Eropa, Amerika, dan Asia dan Afrika. Di Indonesia sendiri gerakan

fair trade muncul pada pertengahan tahun 1980-an.7

Dalam perkembangannya fair trade

di Indonesia telah cukup membantu produsen-produsen miskin di berbagai wilayah

seperti Yogyakarta, Malang, Mataram, Bali, Surakarta. Perkembangan fair trade yang

cukup positif tersebut menunjukkan bangkitnya kepedulian lebih banyak masyarakat

terhadap orang-orang di sekeliling mereka yang selama ini bekerja keras menyediakan

keperluan mereka namun tidak mendapatkan hak sesuai proporsi yang seharusnya mereka

terima.

7. Tulisan ini akan menjelaskan tentang bagaimana ide-ide fair trade berkembang di tengah

dominasi ide free trade dalam konteks Indonesia? Bagaimana ide-ide itu diperjuangkan?

Bagaimana pengaruhnya terhadap perekonomian Indonesia?

8. 2. Kemunculan Fair Trade

9. Sebagai sebuah gerakan yang bertujuan membantu kehidupan para produsen miskin dan

marjinal di negara-negara Dunia Ketiga, fair trade mengembangkan strategi bekerja sama

atau melakukan perdagangan langsung dengan komunitas produsen tersebut. Model

perdagangan semacam ini pertama kali dimulai oleh orang-orang Amerika melalui

institusi Ten Thousand Villages (dulunya Mennonite Central Committee Self Help

Service) dan SERRV (sekarang SERRV International) dengan komunitas masyarakat

miskin di negara-negara Selatan pada akhir tahun 1940-an. Namun jejak fair trade seperti

dikenal saat ini, muncul pertama kali pada tahun 1950-an yaitu ketika direktur Oxfam UK

yang mengunjungi Hong Kong, mempunyai ide untuk menjual kerajinan yang dibuat oleh

para pengungsi Cina ke toko-toko Oxfam.8

Menurut publikasi yang dikeluarkan oleh

World Bank gerakan fair trade juga muncul pertama kali pada tahun 1950-an dengan

sebutan Goodwill Selling.9

Perkembangan fair trade melalui gerakan yang terorganisir

terutama organisasi non pemerintah (NGO) pertama kali diperkenalkan oleh Oxfam Great

Britain (Inggris), Fair Trade (Amerika Serikat), Transfair (Jerman), serta organisasi

independen seperti FLO (Fair Trade Labelling Organization) yang didirikan di Belanda

pada bulan April 1997, lalu IFAT (Internasional Federation for Alternative Trade) yang

didirikan di Noordwijk Belanda pada tanggal 12 Mei 1989, NEWS! (Network of

Europian World Shops) didirikan di Eispeet-Belanda tahun 1994. EFTA (Europian Fair

Trade Association) didirikan di Maastricht-Belanda tahun 1990, FNE didirikan tahun

2001 yang merupakan gabungan di mana akronim FINE diambil dari huruf depan FLO,

IFAT, NEWS! dan EFTA.10

10. Perkembangan ide dan gerakan fair trade di Indonesia pertama kali diperkenalkan oleh

Oxfam GB/Indonesia. Fair trade adalah salah satu dari program utama11

Oxfam

Indonesia yang didirikan pada tahun 1972. Gerakan Fair Trade muncul pada pertengahan

1980-an sebagai bentuk reaksi dari kondisi perdagangan Indonesia yang sangat

merugikan produsen-produsen kecil yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Pada

pertengahan 1990-an, gerakan Fair trade Indonesia berkembang pada komoditi pertanian

khususnya pertanian organis. Perkembangan ini ditandai dengan berkumpulnya beberapa

NGO pada tahun 1996 di Yogyakarta yang difasilitasi oleh Oxfam GB/Indonesia. Tindak

lanjutnya didirikanlah Konsorsium Masyarakat Fair trade (KMFT) pada oktober 1997

dengan agenda pertama menentukan langkah strategis program Fair trade dan merintis

pendirian toko bersama sebagai media untuk mempraktekkan Fair trade yang diberi

nama SAHANI (Sahabat Niaga) sebagai ujung tombak KMFT untuk melawan sistem

perdagangan yang tidak adil.12

pada perkembangan selanjutnya gerakan fair trade telah

merambah sektor pertanian dan tekstil.13

11.

12. 3. Perkembangan Fair Trade di Indonesia

13. Sebagai salah satu negara berkembang yang ³menganut´ prinsip free trde, kondisi

perdagangan di Indonesia diwarnai oleh ketidakadilan terhadap produsen lokal. Sudah

lazim di setiap negara berkembang semua aspek yang terkait dengan perdagangan selalu

lebih menguntungkan pihak pemilik modal. Negara sebagai penentu kebijakan publik

terutama dalam konteks ini menyangkut aturan-aturan yang terkait dengan produsen kecil

seperti pertanian, perburuhan, upah, distribusi tidak memberikan peran yang cukup

signifikan. Kesepakatan-kesepakatan internasional di dalam PBB yang telah diratifikasi

dalam perundang-undangan Indonesia tidak diaplikasikan secara nyata. Sehingga kondisi

seperti buruh yang di-PHK secara semena-mena oleh perusahaan tempatnya bekerja,

penyiksaan buruh, perampasan tanah petani, merosotnya harga pertanian karena serangan

produk luar, dll. merupakan hal yang sehari-hari kita dengar dan saksikan.

14. Perkembangan ide-ide fair trade di Indonesia yang berawal dari berdirinya Oxfam

GB/Indonesia pada tahun 1972 yang kemudian intensif menyuarakan gerakan fair trade

pada pertengahan tahun 1980-an secara perlahan namun pasti menunjukkan

perkembangan positif. Hal itu dapat dilihat dari berdirinya tempat-tempat atau pusat-

pusat penyalur produk-produk lokal yang diproduksi oleh para produsen yang selama ini

termarginalkan akibat sistem perdagangan bebas yang tidak adil. Selain itu organisasi-

organisasi non pemerintah seperti Oxfam sendiri telah membuka cabangnya yaitu di Aceh

dan di Kupang dimana Yogyakarta sebagai pusatnya. Selain Oxfam, Yaysan Samadi

Justice and Peace Institute juga merupakan NGO yang aktif menyuarakan ide-ide fair

trade di Indonesia. Hal itu menunjukkan bahwa ide-ide fair trade telah disebarkan ke

wilayah-wilayah Indonesia yang kalau diperinci lagi mencakup Jawa, NTB, Maluku,

Sulawesi, Buton.14

15. Namun pada dasarnya barometer yang dapat dipakai apakah di Indonesia ide-ide fair

trade telah berkembang cukup baik atau tidak dapat kita lihat dari peraturan-peraturan

pemerintah yang sejalan atau sesuai dengan prinsip-prinsip fair trade tersebut.

Berdasarkan data Report on Fair Trade Trends in US, Canada & Pacific Rim tahun 2003

terdapat tujuh prinsip-prinsip dasar fair trade yaituCreating opportunities for

economically disadvantaged producers, Gender Equity, Transparency and

accountability, Payment of a fair price, Working conditions, Environmental

Sustainability. 15

16. Untuk melihat apakah prinsip-prinsip ide-ide fair trade telah cukup berkembang di

Indonesia seperti disebutkan sebelumnya marilah kita lihat apakah aturan-aturan yang

related dengan fair trade tersebut telah diadopsi oleh Indonesia. Salah satu aspek yang

paling akrab dengan permasalahan negara berkembang seperti Indonesia dan sangat erat

kaitannya dengan prinsip fair trade adalah tentang perburuhan. Aturan yang mengatur

tentang kesejahteraan buruh secara nyata diatur dalam pasal 23 dan 24 UUD 1945.16

17. Selain itu Indonesia juga telah meratifikasi konvensi ILO No. 87 dan No. 98 yang dan

telah membuat UU-nya (UU No. 21 tahun 2000). Sebagai anggota PBB Indonsia juga

terikat secara moral terhadap Kovenan ECOSOC Rights yang mewajibkan negara untuk

menghormati, melindungi, dan menjamin hak-hak buruh, di antaranya hak atas pekerjaan,

upah yang adil dan kondisi yang layak bagi buruh beserta keluarganya, kondisi kerja

yang aman dan sehat, kesempatan yang sama untuk mendapat promosi, pembatasan

waktu kerja, libur, dan istirahat dengan tetap mendapat gaji dan imbalan, hak untuk

berserikat, membentuk dan bergabung dengan serikat buruh, hak serikat buruh untuk

membentuk federasi atau konfederasi nasional dan menjadi anggota atau membentuk

serikat buruh internasional, hak untuk mogok, hak atas jaminan dan asuransi sosial, dan

cuti melahirkan dengan tetap mendapat gaji atau jaminan sosial yang memadai.17

18. Dalam tataran praksis perkembangan gerakan Fair trade dapat kita amati dari respon dan

tindakan aktor-aktor (yang disebut) penggerak Fair trade yang dalam hal ini adalah para

decision maker. Di kalangan decision-maker, ide fair trade mendapatkan dukungan

positif. Menteri Perdagangan dan Perindustrian Rini Soewandi pada waktu pemerintahan

Megawati Sukarno Putri menyatakan bahwa ''Saya tidak anti-free trade, tapi saya lebih

setuju fair trade''. Alasan yang dikemukakannya untuk mendukung statemen tersebut

adalah ³peta perdagangan dunia dewasa ini terasa tak adil. Negara-negara berkembang,

termasuk Indonesia, diserimpung berbagai peraturan berkedok globalisasi dan pasar

bebas. Padahal, negara-negara maju yang memelopori beleid itu justru berupaya keras

memproteksi produk andalannya. Tengok saja Amerika Serikat, yang saat ini

memberlakukan ''Bio Terrorism Act'' untuk menyeleksi barang-barang luar yang masuk.

Negara-negara tersebut juga memberikan subsidi kepada produk-produk unggulannya

untuk bersaing di pasaran dunia, sehingga harganya menjadi kompetitif´.18

Tentu saja

gambaran tersebut tidak cukup kuat untuk membuktikan bahwa Indonesia telah

melaksanakan prinsip perdagangannya dengan prinsip-prinsip fair trade. Namun data-

data tersebut merupakan gambaran yang cukup bagus untuk menjelaskan bahwa ide-ide

fair trade pada dasarnya telah berkembang cukup bagus di Indonesia. Misalnya kebijakan

membangun kesadaran akan pentingnya pertanian organik, melalui kebijakan "Go

Organic 2010" yang dicanangkan oleh Pemerintah Indonesia, riset dan diseminasi

wacana di berbagai media massa, pendampingan petani oleh lembaga swadaya, dan lain-

lain.19

Jika ditelusuri lebih jauh lagi, pada zaman Presiden Sukarno pun ide-ide fair trade

telah tercermin di dalam undang-undang land reform yaitu Undang-Undang Pokok

Agraria (UUPA) No. 5 Tahun 1960. UU tersebut merupakan salah satu jalan

memberdayakan para petani terutama buruh-tani, dan kaum tani miskin.20

19. Perjuangan pihak-pihak yang concern dengan nasib-nasib para para produsen yang

termarjinalkan cukup intens dilakukan terutama oleh kalangan Non Govermental

Organization (NGO) seperti Oxfam dan Samadi Justice and Peace Institute serta NGO-

NGO lain yang tidak ter-cover dalam tulisan ini. Dari kalangan pemerintahan usaha

perlindungan terhadap para produsen lokal juga telah dilakukan. Hal itu menunjukkan

adanya harapan bahwa banyak hal dapat dilakukan untuk menciptakan kondisi

perdagangan yang berkeadilan di tengah dahsyatnya gempuran globalisasi yang

mengusung free trade yang secara nyata sangat berketidakadilan.

20. Namun usaha-usaha aktor-aktor tersebut dapat ditebak selalu mendapat hambatan dari

pihak-pihak yang merasa dirugikan dengan sistem baru tersebut (fair trade). Logika

ekonomi selalu menjadi alasan bahwa fair trade akan menyebabkan berkurangnya profit

bagi bisnis yang selama ini dijalankan atas prinsip free trade.

21. Ketika mantan Memperindag Rini Soewandi menyelenggarakan Pameran produksi

Indonesia 2003 yang bertema ³Indonesia Bangkit´, berbagai pihak yang merasa

dirugikan dengan langkah-langkah Rini tersebut melakukan ³counter act´ untuk

menghambat kebijakan-kebijakan Rini yang menurut banyak pihak ³local oriented´.

Menurut Sudarmasto ketua panitia pameran tersebut, pameran tersebut membukukan

transaksi sekitar Rp 50 milyar plus US$ 300.000. Pembelinya dari dalam dan luar negeri.

Tak sedikit yang datang dari Cina, Malasyia, Jepang, Prancis, Belanda, dan Korea

Selatan. Sudarmasto mencatat, tak kurang dari 200.000 pengunjung yang datang,

termasuk rombongan Menteri Perdagangan Singapura dan Brunei Darussalam. Pameran

ini diikuti 488 peserta. Di antaranya Indofood, pabrik mi cepat saji paling besar di

Indonesia.

22. Contoh kebijakan lain yang bertujuan melindungi dan menggairahkan industri dan

perdagangan domestik yang dilakukan Rini adalah kebijakan soal tata niaga gula. Melalui

Surat Keputusan Nomor 643, September lalu, Rini berusaha menggairahkan BUMN

produsen gula lokal, yang selama lima tahun terakhir ini meriang lantaran digencet gula

impor yang sangat murah. PTPN dan asosiasi petani tebu rakyat sangat mendukungnya.

Rini berharap, kebijakan itu dalam jangka panjang bisa memulihkan posisi Indonesia,

yang pada 1950-an dikenal sebagai pemain gula dunia yang sangat diperhitungkan.21

23. Namun, kebijakan-kebijakan Rini tersebut segera mendapat tantangan dari pihak-pihak

yang sakit hati karena merasa dirugikan. Kebijakan Rini tersebut membuat Rini kerap

menuai benturan dengan sejumlah koleganya di kabinet, para politikus di Senayan, dan

sebagian pengusaha. Rni dihubung-hubungkan dengan kasus tender pengadaan 12 kapal

tanker Pertamina, yang sampai sekarang masih terkatung-katung.22

24. Terlepas dari masalah politis, gambaran tersebut memperlihatkan bahwa penerapan fair

trade masih membutuhkan perjuangan yang panjang. Dari kalangan NGO usaha-usaha

nyata telah banyak dilakukan. Sebut saja misalnya di sektor pertanian. Kenyataan bahwa

sebagian besar masyarakat Indonesia memenuhi kebutuhannya dari sektor pertanian

sungguh menyedihkan, karena sampai saat ini sektor tersebut tidak mampu mencukupi

kebutuhan-kebutuhan standar para petani. Mereka masih tetap hidup di bawah garis

kemiskinan. Adalah fakta bahwa petani-petani miskin di desa-desa hidup dengan uang

senilai kurang dari US$ 1 (Rp.8.400,-) perhari.23

Menurut data yang dikeluarkan oleh

Bank Dunia pada Pebruari 2000 menyebutkan, bahwa rata-rata pendapatan keluarga tani

di Indonesia per tahun adalah sebesar Rp. 6,7 juta, dimana 42% dari pendapat tersebut

berasal dari usaha tani. Data hasil survei yang dilakukan di 11 desa produsen beras di 6

propinsi memperlihatkan, bahwa pendapatan dari pertanian padi ³hanya´ sebesar 16%

dari total pendapatan. Rumah tangga tani di luar Jawa lebih tergantung dari pendapatan

pertanian, dan khususnya pertanian padi, dibandingkan dengan rumahtangga tani di

Jawa.24

25. Berdasarkan kondisi tersebut sebuah NGO yang bernama Yayasan Mitra Bumi Indonesia

yang berbasis di Malang (MBI-Malang) memberikan bantuan kepada para petani di Desa

Cincing Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang sejak tahun 1997. Bantuan yang

diberikan oleh MBI-Malang kepada para petani berkaitan dengan masalah pertanahan,

inefisiensi, dan rumitnya jaringan pemasaran produk. Akibat dari permasalahan tersebut

para petani seringkali dihadapkan pada kecilnya margin keuntungan atau bahkan

kerugian yang terus-menerus sehingga sebagian mereka mulai menganggap pertanian

sebagai sektor yang tidak layak untuk dijadikan tumpuan hidup. Akibatnya mereka mulai

bermigrasi ke kota-kota. Migrasi ini tentunya membawa permasalahan baru yang sudah

umum kita ketahui.

26. Secara sistematis permasalahan yang dihadapi petani di Malang-juga dialami oleh petani-

petani diseluruh negara berkembang menyangkut tiga tahap yaitu tahap pra produksi,

tahap produksi, dan pasca produksi.25

Adapun langkah-langkah yang dilakukan oleh

MBI-Malang untuk memecahkan permasalahan tersebut adalah mempromosikan

pertanian organik. Pertanian organik adalah pendekatan baru bidang pertanian yang

mendasarkan pada pronsip berkelanjutan (sustainability) untuk peningkatan produktivitas

dan sekaligus upaya mempertahankan basis sumber daya. Adapun prinsip-prinsip

pertanian berkelanjutan seperti digariskan oleh FAO mencakup prinsip kemantapan

secara ekologis, keberlanjutan secara ekonomis, prinsip keadilan, prinsip kemanusian,

dan prinsip fleksibilitas. Adapun metode kampanye yang dilakukan oleh MBI-Malang

adalah dengan penyebaran brosur, presentasi, pembuatan label, pencetakan buletin, dan

pameran produk.26

Contoh-contoh lain dari upaya-upaya NGO-NGO dalam menerapkan

fair trade dapat dilihat dari suksesnya APIKRI Yogyakarta menembus jalur ekspor

perdagangan alternatif di sektor kerajinan. Upaya Yayasan Samadi Solo dalam

memberantas kemiskinan dengan cara melaksanakan fair trade melalui sektor produksi

batik dan garmen di Solo juga merupakan bukti lain tentang upaya pelaksanaan fair trade

oleh NGO di Indonesia.27

27. Satu hal lain yang dapat dilakukan oleh siapa saja yang merasa sebagai konsumen untuk

mengembangkan Fair trade adalah melakukan konsumerisme etis atau konsumen etis 28
.

Pola konsumerisme ini sedang gencar-gencarnya dikampanyekan oleh NGO-NGO Fair

trade di seluruh dunia. Di Indonesia penggerak konsumerisme etis adalah Oxfam dan

Samadi Justice and Peace Institute. Pelaksanaan pola konsumerisme etis dapat dikatakan

mudah karena setiap konsumen memiliki otoritas untuk menentukan produk-produk apa

saja yang akan dikonsumsinya. Kalau dikaitkan dengan logika bisnis maka jika semakin

banyak konsumen yang menjadi konsumen etis maka perusahaan-perusahaan yang

memproduksi produk-produk yang tidak didasarkan atas prinsip Fair trade akan mati

dengan sendirinya.

28. Akan tetapi lagi-lagi cara tersebut akan mendapat hambatan berat, diantaranya adalah

masih rendahnya kesadaran masyarakat dunia tentang arti penting Fair trade bagi

kelompok-kelompok termarginalkan. Hal itu ditunjukkan dengan volume transaksi

perdagangan yang berbasis Fair trade yang hanya sebesar US$ 400 juta pertahunnya,

atau 0,1% dari total volume perdagangan global yang mencapai US$ 3,6 triliun.29

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->