Latar Belakang Sebagaimana yang kita ketahui, terdapat banyak teori kepribadian di lingkungan peradaban Barat, begitu pula

terdapat banyak psikologi Timur. Kendati terdapat perbedaan-perbedaan besar dalam hal kepercayaaan dan pandangan tentang dunia di antara agamaagama yang mengandung psikologi-psikologi Timur, namun dalam hal ini juga terdapat persamaan diatara keduanya, yakni semuanya berusaha menggambarkan kodrat pengalaman langsung sang pribadi. Dalam hal ini, segala sistemnya berkisar pada teknik-teknik meditasi yang memungkinkan orang semata-mata meneliti arus kesadarannya sendiri, dengan memberinya sejenis jendela yang netral atas aliran pengalamannya. Oleh karean itu, pada akhirnya semua psikologi Timur mengakui bahwa jalan utama ke arah transformasi diri ini adalah meditasi. Dalam Buddhisme yang sampai saat ini merupakan agama terbesar di dunia, dimana prinsip-prinsip psikologis ini telah dikemukakan oleh pendirinya yakni Buddha Gautama (536-438 SM). Dalam 2500 tahun semenjak ia hidup, wawasan-wawasan psikologis dasarnya telah dikembangkan menjadi sistem-sistem teori dan praktik yang berbeda-beda oleh masing-masing cabang penganut Buddha. Diantara berbagai aliran yang ada dewasa ini, yang paling berpengaruh adalah penganut-penganut Theravada di negara-negara Asia Tenggara, Aliran Ch’an di cina (ditindas sejak komunis berkuasa), Zen di Korea dan Jepang, dan sekte-sekte di Tibet. Sementara itu, dua orang paling terkenal yang berhasil mengkodifikasikan prinsip-prinsip psikologis dalam aliran-aliran yoga Hindu adalah Patanjali (Prabhavanda dan Isherwood, 1969) serta Shankara (Prabhavanda dan Isherwood, 1970). Dalam dunia Islam, para Sufi telah bertindak sebagai para psikolog terapan (Shah, 1961). Diantara orang-orang Yahudi, para Kabbalis

merupakan kelompok yang paling memperhatikan transformasi psikologis (Halevi, 1976; Scholem, 1961). Suatu survei yang sangat baik tentang agama-agama, sejarah, dan kepercayaan-kepercayaan terdapat dalam The Religions of Man karya Huston Smith (1958). Salah satu diantara psikologi-psikologi ini yang paling sistematik dan yang tersusun secara paling rinci adalah Buddhisme Klasik. Diberi nama menurut hari Buddha yang dalam bahasa Pali disebut Abhidhamma (atau Abhidharma dalam bahasa Sansekerta), berarti “ajaran pokok”. Psikologi ini menguraikan wawasan asli dari Buddha Gautama tentang kodrat manusia. (Kamus terbaik yang ada tentang istilah-istilah Abhidhamma adalah karya Nyanatiloka; 1972). Karena psikologi itu berasal dari ajaran-ajaran pokok Buddha, maka Abhdhamma atau suatu psikologi yang sangat serupa dengan itu, merupakan inti dari berbagai cabang Buddhisme.

B. Pengaruh Psikologi Timur Pada Pemikiran Barat Walaupun psikologi-psikologi Timur banyak menaruh

perhatian pada alam kesadaran dan hukum-hukum yang mengatur perubahannya, psikologi ini juga mengandung teori-teori kepribadian yang cukup jelas. Tujuan dari psikologi-psikologi Timur adalah mengubah kesadaran seseorang agar mampu melampaui batas-batas yang diciptakan oleh kebiasaan-kebiasaan yang membentuk kepribadian orang itu. Dalam hal ini, setiap tipe kepribadian perlu mengatasi hambatan-hambatan yang berbeda untuk membebaskan diri dari batas-batas ini. Disamping itu, pendekatan psikologi-psikologi Asia didasarkan pada introspeksi dan pemeriksaan diri sendiri yang menuntut banyak energi, berbeda dengan psikologi-psikologi Barat yang lebih bersandar pada observasi tingkah laku. Setiap kutipan oleh Gardner dan Louis

Murphy (1968) dari kitab-kitab suci Asia. khususnya individuasi dari Jung. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa. Cara umum untuk mengatasi penderitaan yang dianjurkan oleh psikologi-psikologi ini adalah disiplin dan kontrol diri. aktualisasi diri dari Maslow. dan diri yang kreatif dari Adler. Kendati mengakui adanya perbedaan-perbedaan diantara psikologipsikologi Asia tersebut. Watts melihat bahwa tujuan dari cara-cara pembebasan itu cocok dengan tujuan terapeutik sejumlah teoritikus. memberikan semacam wawasan psikologis. Setelah itu. yang dapat memberikan kepada orang yang mengupayakannya “suatu perasaan ekstase yang tak terbatas dan hanya dapat ditemukan dalam diri yang bebas dari pamrih-pamrih pribadi”. ataupun suatu model motivasi. minat psikologis di Timur dan Barat “berpadu dengan sangat cepat”. baik suatu pandangan tentang bagaimana jiwa bekerja. suatu teori kepribadian. Alan Watts dalam ”Psychotherapy East and West” (1961) mengakui bahwa apa yang disebutnya “cara-cara pembebasan Timur” adalah mirip dengan psikoterapi Barat. otonomi fungsional dari Allport. Richard Alpert atau yang lebih dikenal dengan Ram Dass pun berpendapat bahwa meditasi dan latihan-latihan rohani lainnya dapat menghasilkan jenis perubahan kepribadian terapeutik yang tidak dapat dihasilkan oleh obat-obat bius. Meskipun demikian. Sebagian besar terpai-terapi Barat menangani orang-orang yang mengalami gangguan. Ia juga menekankan . namun Gardner dan Louis Murphy (1968) menyimpulkan bahwa psikologi-psikologi itu pada hakikatnya merupakan suatu reaksi terhadap kehidupan yang dilihat sebagai penuh dengan penderitaan dan kekecewaan. yakni bahwa keduanya bertujuan mengubah perasaan-perasaan orang terhadap dirinya sendiri serta hubungannya dengan orang-orang lain dan dunia alam. Selain itu. sedangkan disiplin-disiplin Timur menangani orang-orang yang normal dan memilih penyesuaian sosial yang baik.

pada pentingnya pertumbuhan rohani. Yang tampak sebagai kepribadian terbentuk dari perpaduan antara proses-proses impersonal ini. kata ”kepribadian” sangat serupa dengan konsep atta. penginderaan. . dibentuk oleh momen sebelumnya. sehingga semua proses kejiwaan manusia itu berkesinambungan. dan sebagainya. hawa nafsu. Setiap momen yang berturut-turut dalam kesadaran manusia. Pembahasan Abhidhamma telah berkembang di India selama 15 abad yang lalu. Menurut Abhidhamma. suatu titik kulminasi” (1962. ”Dalam ajaran Buddhisme. benar-benar kekal. Bedanya. seorang sarjana Buddhisme modern. Satu-satunya benang yang bersinambungan atau bersambung-menyambung dalam jiwa adalah bhava. Sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Bhiku Nyanaponika. yakni kesinambungan kesadaran dari waktu ke waktu. Budhisme sendiri berkembang menjadi beberapa aliran. Unsur-Unsur Kepribadian Dalam Abhidhamma. yang ada hanyalah sekumpulan proses impersonal yang timbul dan menghilang. atau diri (self) menurut konsep Barat. II. 12). A. dan pada gilirannya akan menentukan momen-momen yang berikutnya. apa yang kelihatan sebagai ”diri” tidak lain adalah bagian jumlah keseluruhan dari bagian-bagian tubuh. hlm. menurut asumsi dasar Abhidhamma tidak ada diri yang bersifat kekal atau abadi. diantaranya ialah Mahayana dan Hinayana. dan kekosongan hidup jika dijalani tanpa kesadaran rohani. yakni pikiran. Dalam hal ini. yang merupakan wawasan-wawasan dari Buddha Gautama. pikiran merupakan titik tolak. titik pusat dan juga merupakan pemikiran yang dibebaskan dan dimurnikan oleh seorang Santo.

adil. Selain itu. Dalam hal ini. Sifat-sifat jiwa ini misalnya cinta. dan sebagainya. yakni hubungan yang terus menerus antara keadaan-keadaan jiwa dan objek-objek indera.kepribadian manusia sama seperti sungai yang memiliki bentuk yang tetap. bengis. Demikian juga pengertian tentang ada Bila agregat-agregatnya hadir Yang menjadi fokus studi psikologi Abbidhamma adalah serangkaian peristiwa. hlm. <!--[endif]-->Penginderaan dari panca indera <!--[if !supportLists]-->2. dan perubahan itu ternyata sangat cepat. Dala pandangan ini. Dalam kata-kata Buddha (Samyutta-Nikaya. Keadaan-keadaan jiwa itu selalu berubah dari momen ke momen. faktor-faktor jiwa itu berperan sebagai: . 7). 1972. ”tidak ada aktor yang mampu terlepas dari aksi. walaupun tidak setetes air pun tidak berubah seperti pada momen sebelumnya. tidak ada orang yang mengamati mampu terlepas dari persepsi dan tidak ada subjek sadar di balik kesadaran” (Van Aung. seolah-olah satu identitas. 1972. yang menjadi objek psikologi Abhidhamma adalah: <!--[if !supportLists]-->1. <!--[endif]-->Pikiran-pikiran yang dianggap sebagai indera keenam <!--[if !supportLists]-->3. yang disebut faktorfaktor jiwa. sosial. benci. 135): Sama seperti bila bagian-bagian dirangkaikan Maka timbullah kata kereta perang”. misalnya perasaan birahi (keadaan jiwa) pada seorang wanita cantik (objek indera). <!--[endif]-->Setiap keadaan jiwa terdiri atas sekumpulan sifat-sifat jiwa.

dibentuk oleh pikiran kita. kamma (menurut istilah Pali). sama seperti roda yang mengikuti kaki lembu yang menghela gerobak. <!--[if !supportLists]-->• <!--[endif]-->Perbuatan seseorang memiliki campuran faktor-faktor jiwa negatif. mulai dengan pernyataan ajaran Abhidhamma tentang karma atau kamma: Segala sesuatu yang terdapat pada kita merupakan akibat dari apa yang telah kita pikirkan: berdasarkan pikiran kita. Sedangkan dalam Abhidhamma. kamma merupakana suatu istilah teknis untuk prinsip bahwa setiap perbuatan dimotivasikan oleh keadaan-keadaan jiwa yang melatarbelakanginya. suatu tingkah laku pada hakikatnya secara moral laku ditinjau dari motif-motif yang melatarbelakangi seseorang untuk melakukan perbuatan itu. 1965. <!--[if !supportLists]-->• adalah netral. 3).. B.. maka perasaan sakit akan mengikutinya. hlm.. sama seperti bayangbayang yang tidak pernah meninggalkannya (Babbitt. Macam-Macam Faktor Jiwa Mengenai faktor-faktor jiwa dapat dikelompokkan menjadi dua . <!--[if !supportLists]-->• <!--[endif]-->Dhammapada adalah kumpulan sajak yang dahulu diucapkan oleh Budha Gautama. maka kebahagiaan akan mengikutinya. <!--[if !supportLists]-->• <!--[endif]-->Sifat moral tingklah <!--[endif]-->Menurut psikologi Timur... Apabila seseorang berbicara atau bertindak dengan pikiran jahat.<!--[if !supportLists]-->• <!--[endif]-->Kunci menuju karma (menurut istilah Barat).Apabila seseorang berbicara atau bertindak dengan pikiran yang murni.

Penilaian tentang ”sehat” atau ”tidak sehat” dicapai secara empiris. dan afektif cocok untuk dimasukkan ke dalam kategori sehat atau tidak sehat. <!--[endif]-->Akusula : berarti <!--[endif]-->Kusula : berarti tidak murni. Kriterium mengenai faktor jiwa sehat-tidak sehat adalah bahwa apakah suatu faktor jiwa khusus tertentu mempermudah atau mengganggu usaha mereka untuk mengheningkan jiwa dalam samadi (pertapaan). baik. tidak sehat Kebanyakan faktor jiwa perseptual. dan sebagainya <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Cetana : kemauan. <!--[if !supportLists]-->2. Misalnya: penglihatan. berdasarkan pengalaman kolektif sejumlah besar petapa Bbuddhis pertama. yakni: <!--[if !supportLists]-->1. tidak baik. terdapat juga tujuh sifat netral yang ada dalam setiap keadaan jiwa. Selain faktor-faktor jiwa sehat dan tidak sehat. Dalam hal ini. <!--[endif]-->Sanna adalah pengenalan : pertama bahwa kesadaran semata-mata pada suatu objek yang tersebut termasuk dalam salah satu indera. semata-mata ke suatu objek <!--[if !supportLists]--> persepsi. pendengaran. yakni: <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Phasa adalah : kesadaran appersepsi. yakni reaksi terkondisi yang menyertai suatu objek . kognitif. murni.macam. sehat. Sedangkan yang mempermudah jalannya untuk mengheningkan jiwa disebut faktor jiwa sehat. faktor jiwa yang menganggu samadi disebut faktor jiwa tidak sehat.

yang memberi vitalitas dan mempersatukan lainnya. (Hall. yakni pemusatan kesadaran <!--[if !supportLists]--> perhatian <!--[endif]-->Manasikara spontan.<!--[if !supportLists]--> perasaan. Faktor-faktor tersebut diatas merupakan sejenis kerangka dasar kesadaran tempat tertanamnya faktor-faktor jiwa sehat dan tidak sehat. p. : delusi. yakni : pengarahan perhatian yang tidak disengaja karena daya tarik dari suatu objek <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Jivitindriya keenam faktor : jiwa energi psikis. <!--[endif]-->Vedana aneka penginderaan : yang dibangkitkan oleh objek itu <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Ekaggata : keterarahan kepada suatu titik. pemahaman tidak tepat . Faktor-faktor Jiwa Tidak Sehat a. <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Aditthi : pandangan salah. Namun kombinasi khusus faktor-faktor tersebut berbeda-beda dari momen ke momen. Beberapa contoh faktor tidak sehat pada jiwa dari kelompok kognitif: <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Moha bersifat perseptual dan sentral. kegelapan jiwa. 241). yakni penyebab persepsi yang salah tentang objek kesadaran. 1.

Misalnya. bengis. <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Ahirika : sikap tidak tahu malu <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Anottapa : tanpa belas kasihan. mencerminkan ketidakmampuan menentukan suatu keputusan yang tepat. mementingkan diri sendiri b. egoistis. <!--[endif]-->Kukkucca : kekhawatiran. secara Timur hal-hal tersebut adalh aditthi. pandangan ”diri” sebgai yang tetap (model Barat). . yakni keadaan bingung. serakah <!--[if !supportLists]--> kekikiran. adalah: <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Uddhacca : keresahan. Yang berhubungan dengan ketergantungan: <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Lobha rakus. kejam.karena pengaruh delusi. linglung. <!--[endif]-->Macchariya: : tamak. <!--[if !supportLists]--> untuk <!--[endif]-->Vicikiccha atau membuat : kebingungan. pelit <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Issa : iri hati. rasa tidak tentram <!--[if !supportLists]--> penyesalan. Sedangkan yang termasuk dalam kelompok afektif. maka semua yang tertuju menjadi tidak menyenangkan. sadis <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Mana : egoisme. Karena pandangan atau pemahaman yang salah inilah.

maka jiwa dan tubuh seseorang cenderung menjadi lamban. kejang-kejang. pengerutan. sikap dingin Faktor-faktor diatas tersebut menyebabkan keadaan jiwa menjadi kaku dan tidak fleksibel. antara lain: <!--[if !supportLists]--> pemahaman. Untuk setiap faktor sehat tertentu ada dalam suatu keadaan jiwa. Berikut adalah faktor-faktor jiwa sehat yang terpenting. 1958). Prinsip ini mirip dengan ”reciprocal inhibition” (hambatan timbal balik)yang digunkan dalam ”systematic desentization”. lawan dari : delusi. merupakan sisi negatifnya dan selalu berhubungan dengan delusi <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Thina : kontraksi. yakni tegangan (Wolpe. gemetar <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Middha : Kebekuan. dimana pengendoran (relaxation) menghambat lawan fisiologisnya. Dalam hal ini. Faktor-faktor Jiwa Sehat Setiap faktor yang tidak sehat ditentang oleh suatu faktor yang sehat. Apabila faktor-faktor negatif ini menonjol. cara untuk mencapai keadaan jiwa yang sehat adalah menggantikan faktor-faktor yang tidak sehat dengan kutub sebaliknya. 2. persepsi yang jelas tentang objek sebagaimana . <!--[endif]-->Panna insight.yang menyebabkan keterikatan pada objek <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Dosa : kemuakan. maka faktor tidak sehat yang ditekannya tidak akan dapat muncul.

<!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Ottappa : sikap : rendah penuh hati-hati. bekerja sama untuk menghasilkan perbuatan kebajikan yang diukur dari norma pribadi maupun norma sosial. kebebasan. kemerdekaan <!--[if !supportLists]--> ketidakmuakan. cittujjukata dan sadha. tidak pilih kasih <!--[endif]-->Adosa kesiapsiagaan : untuk . <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Sati : sikap penuh perhatian. menghadapi apapun <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Tatramajjhata: sikap tidak memihak. Kombinasi dari hiri. <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Alobha : ketidakterikatan. Dimana Panna dan Sati ini menyebabkan orang menjadi selalu tenang dan dapat menekan semua faktor tidak sehat. mind fulness. menghambat tidak tahu malu. menilai secara tepat <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Saddha : kepercayaan.adanya. yakni kepastian berdasarkan pada persepsi yang tepat. pemahamannya yang jelas dan kontinyu pada objek. sikap tanpa penyesalan <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Cittujjukata: kejujuran. ottappa. <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Hiri hati. Dimana Panna dan elusi tidak dapat hadir secara bersamaan.

akan menghasilkan tipe-tipe kepribadian atau tingkah laku tertentu pada individu yang bersangkutan. mampu adaptasi dan menyesuaikan diri <!--[if !supportLists]--> kecakapan <!--[endif]-->Paqunnata : C. atau menyebabkan sifat-sifat tingkah laku tertentu adalah sebagai berikut: <!--[if !supportLists]-->o <!--[endif]-->Kelompok faktor tidak sehat yang terdiri dari ketamakan. baik yang nampak maupun tidak nampak dan terjadi karena interaksi antara faktor-faktor jiwa sehat dan tidak sehat. adosa (ketidakmuakan). dan kemuakan dilawan oleh faktor-faktor ketidakterikatan (alobha).<!--[if !supportLists]--> tenang <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Passadhi : sikap <!--[endif]-->Ahuta : kegembiraan <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Muduta fleksibel <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Kammantaka: : luwes. irihati. maka akan . dan passadhi (sikap tenang). kekikiran. tatramajjhata (tidak memihak). Dinamika Kepribadian Dinamika kepribadian adalah gerak kepribadian yang terjelma dalam tingkah laku. Jika terjadi dominasi dari faktor-faktor sehat atau tidak sehat tertentu. Beberapa contoh interaksi berbagai faktor jiwa dan bagaimana prilaku yang terjadi.

Sedangkan sikap netral memandang seluruh situasi dengan tenang. tinggi dan mewah. kemuakan. <!--[if !supportLists]-->o <!--[endif]-->Faktor tersebut menekan faktor-faktor kontraksi dan kebekuan yang tidak sehat itu. dan maka seseorang akan berpikir dan bertindak dengan leluasa dan mudah. bebas. tatramjjhata. dan passadhi menggantikan sikap rakus atau sebaliknya. yang menyebabkan timbulnya sikap menerima apa adanya. prilaku. adosa. sikap- sikap tenang. menyebabkan orang haus atau mendambakan pekerjaan yang terpandang. <!--[if !supportLists]-->o <!--[endif]-->Sikap-sikap alobha. irihati. netral. dengan sikap penuh perhatian terhadap apa saja yang mungkin timbul dalam kesadaran seseorang. <!--[if !supportLists]-->o <!--[endif]-->Sebaliknya. sikap menolak. (paqunata) <!--[endif]-->Jika faktor-faktor luwes/fleksibel muncul pada (muduta). atau irihati terhadap orang lain yang mempunyai pekerjaan. <!--[if !supportLists]-->o <!--[endif]-->Faktor-faktor sikap egois. <!--[if !supportLists]-->o kegembiraan kecakapan (ahuta). mewujudkan ketrampilan-ketrampilannya secara maksimal. menyebabkan orang mempertimbangkan keuntungan-keuntungan berupa upah dan prestasi dengan keinginan-keinginan seperti tekanan dan ketegangan yang lebih besar serta menilai secara adil. yang menguasai jiwa dalam keadan-keadaan . ketidakmuakan.mencerminkan ketenangan fisik dan jiwa yang terjadi karena berkurangnya perasaan keterikatan.

<!--[if !supportLists]-->o <!--[endif]-->Kehadiran yang satu menekan faktor tandingannya. apakah ia akan mengalami keadaan jiwa . misalnya jika terjadi delusi. <!--[if !supportLists]-->o <!--[endif]-->Dalam beberapa hal satu faktor sehat akan menghambat sekumpulan faktor tidak sehat. <!--[if !supportLists]-->o <!--[endif]-->Karma seseoranglah sebagai penentu. faktor sehat tersebut menyebabkan orang dapat menyesuaikan diri secara fisik dan psikis terhadap keadaankeadaan yang senantiasa berubah serta dapat menghadapi tantangan-tantangan manapun yang mungkin timbul. misalnya. ketidakterikatan mampu secara sendirian menghambat ketamakan. maka tidak satupun faktor baik dapat timbul dan hadir secara bersamaan. D. kekikiran. irihati dan kemuakan. Psikodinamika Kepribadian Psikodinamika kepribadian dapat terjadi karena interaksi antar faktor-faktor jiwa dengan mekanisme sebagai berikut: <!--[if !supportLists]-->o <!--[endif]-->Faktor-faktor jiwa yang sehat dan tidak sehat saling menghambat <!--[if !supportLists]-->o <!--[endif]-->Tetapi tidak selalu terdapat hubungan satu lawan satu antara sepasang faktorfaktor sehat dan tidak sehat. Dalam kehidupan sehari-hari. <!--[if !supportLists]-->o <!--[endif]-->Faktor-faktor kunci tertentu juga mampu menghambat sekumpulan faktor tandingan secara keseluruhan.tertentu seperti depresi.

baik positif maupun negatif. menentukan sifat-sifat kepribadiannya. . <!--[if !supportLists]-->o <!--[endif]-->Jumlah keseluruhan faktor-faktor jiwa yang sudah menjadi kebiasaan pada seseorang. faktor yang membentuk keadaan jiwa tersebut muncul dengan kekuatan-kekuatan yang berbeda. <!--[if !supportLists]-->o <!--[endif]-->Dalam setiap keadaan jiwa tertentu. <!--[if !supportLists]-->o <!--[endif]-->Suatu kombinasi faktor merupakan hasil dari pengaruh-pengaruh biologis dan pengaruh-pengaruh situasi disamping juga merupakan pindahan pengaruh dari keadaan jiwa sebelumnya. <!--[if !supportLists]-->o <!--[endif]-->Faktor apa saja yang paling kuat. Faktorfaktor tersebut biasanya timbul sebagai suatu kelompok.sehat atau keadaan jiwa tidak sehat. namun keadaan yang dialami akan sangat berbeda. akan menentukan bagaimana seseorang mengalami dan bertindak dalam suatu momen tertentu <!--[if !supportLists]-->o <!--[endif]-->Meskipun mungkin semua faktor buruk hadir. <!--[if !supportLists]-->o <!--[endif]-->Jika faktor tertentu atau sekumpulan faktor seringkali muncul dalam keadaan jiwa seseorang. maka faktor tersebut akan menjadi sifat kepribadian. tergantung pada apakah misalnya ketamakan atau kebekuan yang mendominasi jiwa. <!--[if !supportLists]-->o <!--[endif]-->Hierarki kebutuhan dari faktor-faktor tersebut menentukan apakah keadaan spesifik itu akan menjadi positif atau negatif.

Pemahaman (insight) 2. Kenetralan 5. Fleksibilitas 7. Sikap rendah hati 4. Kegembiraan 6. Afektif 1. adalah sebagai berikut: <!--[if !supportLists]-->o <!--[endif]-->Bahwa tipe-tipe . Ketidakmuakan 4. Tipe-Tipe Kepribadian Mengenai bagaimana timbulnya beberapa tipe kepribadian menurut ajaran abhidhamma. Ketenangan 2.<!--[if !supportLists]-->o sehat. sebagai berikut: <!--[endif]-->Daftar sifat-sifat kepribadian menurut faktor-faktor jiwa sehat dan tidak Faktor jiwa yang sehat a. Kepercayaan b. Perseptual (kognitif) 1. Kecakapan 9. Ketidakterikatan 3. Sikap penuh perhatian 3. Kemampuan adaptasi 8. Kejujuran Faktor jiwa yang tidak sehat Delusi Pandangan yang salah Sikap tidak tahu malu Kecerobohan Egoisme Keresahan Ketamakan Kemuakan Irihati Kekikiran Kekhawatiran Pengerutan (kontraksi) Kebekuan Kebingungan E. Sikap penuh hati-hati 5.

kepribadian menurut Abhidhamma. Dalam pedoman ini kepribadian. Motif itu menentukan keadaan jiwa seseorang untuk mencari sesuatu atau menjauhinya. Dengan kata lain. Jika egoisme merupakan suatu faktor jiwa yang kuat. Misalnya. <!--[if !supportLists]-->o <!--[endif]-->Motif pada manusia berasal dari analisis mengenai faktor-faktor jiwa dan pengaruh faktor-faktor tersebut pada tingkah laku. maka hal ini akan mempengaruhi kepribadian. Hal ini disebabkan karena keadaankeadaan jiwa tersebut membimbing kepada perbuatannya. jiwa manusia dikuasai oleh ketamakan. Jika jiwa seseorang tetap dikuasai oleh suatu faktor. merupakan ajaran utama dengan tipe-tipe Visuddhimagga Abhidhamma pada abad ke V SM. <!--[if !supportLists]-->o <!--[endif]-->Keunikan pola faktor-faktor jiwa setiap orang menimbulkan perbedaan individual dalam kepribadian melampaui kategori-katergori kasartipe-tipe pokok kepribadian. setiap tipe kepribadian menjadi tipe motifnya juga. <!--[if pedoman terdapat !supportLists]-->o (Buddhaghosa. meditasi untuk untuk bahagian sesuai mengenal <!--[endif]-->Buku 1976). dan orang akan bertingkah laku sesuai motif tadi. maka orang tersebut akan berbuat dengan cara yang selalu untuk meningkatkan dirinya. motif-motif dan tingkah lakunya. Salah satu metode yang disarankan . secara langsung diturunkan dari prinsip bahwa faktor-faktor jiwa muncul dalam kekuatan yang berbeda-beda. karena setiap orang harus diperlakukan sesuai dengan sifat-sifatnya. hal ini akan menjadi menonjol. yakni berusaha memperoleh objek ketamakannya.

Jika tidur selalu mengatur tempat tidurnya secara cermat. . jika berjalan cepat <!--[endif]-->Orang yang <!--[endif]-->Orang yang kuat nafsunya atau senang kenikmatan. jika berjalan <!--[if !supportLists]-->c. Contoh lain yang diberikan oleh Vajiranana (1962). Sedangkan Buddha Gautama meninggalkan jejak kaki yang sempurna karena jiwanya tenang dan badannya pun seimbang”. kelihatan terburuburu ditapakkan. anggun <!--[if !supportLists]-->b.guna menilai tipe kepribadian adalah dengan mengamati secara seksama cara bergerak dan berdiri. sopan dan menjawab dengan hormat jika disapa. jejak kakinya terbelah di tengah. Sementara jejak kaki orang yang dikuasai delusi. Misalnya: <!--[if !supportLists]-->a. dikuasai langkahnya. Orang yang tidak ramah. membaringkan tubuhnya dengan hatihati. dan tak banyak bergerak waktu tidur. suka menyeret kakinya menarik. jalannya penuh kebencian. sebagai berikut: ”Orang yang kuat nafsunya. kenikmatan: <!--[if !supportLists]-->• <!--[endif]-->berpenampilan <!--[endif]-->Tipe orang suka <!--[endif]-->Pada orang yang delusi. Tipe-tipe manusia yang tercantum dalam buku Visudhimagga adalah sebagai berikut: <!--[if !supportLists]-->1. jejak kakinya membentuk garis ke belakang.

memperhatikan kekurangan sekecil apapun. Tipe orang pembenci: <!--[if !supportLists]-->• <!--[endif]-->berdiri dengan kaku. penuh kebencian. <!--[if !supportLists]-->• yang menyenangkan. dan tidak memperhatikan kekurangannya. penuh nafsu dan sembrono. makan dengan tergesa-gesa tanpa memperhatikan cita rasa. Jika makan menyukai makanan yang empuk dan disajikan dengan cara mewah. Jika berpakaian ketat dan tidak rapi. <!--[endif]-->jika melihat objek akan berhati-hati untuk mengaguminya. dan marah jika dibangunkan <!--[if !supportLists]-->• <!--[endif]-->jika bekerja orang dengan tipe ini kasar dan sembrono. terpesona oleh tindakan. tidak mudah puas. sedikit-sedikit dan sangat menikmati cita rasa. sementara itu mengabaikan kebaikankebaikannya. Selain itu berpakaian rapi dan bagus. suka menipu. tamak. Senang pada makanan pedas dan asam. . tidur dengan badan tegang. sering marah-marah.<!--[if !supportLists]-->• <!--[endif]-->senang melakukan tugas-tugas dengan seni. rapi. tempat tidur dibereskan dengan serampangan dan tergesa-gesa. meski tidak suka makanan yang hambar <!--[if !supportLists]-->• <!--[endif]-->tidak tertarik pada objek-objek yang indah. kemudian makan dengan perlahan. sangat berhati-hati. 2. Selalu ada rasa sesal jika meninggalkan objek yang indah. jika menyapu berbunyi keras dan gaduh. <!--[if !supportLists]-->• <!--[endif]-->sisi negatifnya: tipe ini suka berlagak.

mudah iri hati dan kikir. <!--[if !supportLists]-->• <!--[endif]-->sebagai pekerja orang tipe ini tidak terampil dan jorok. tak sedap dipandang mata. berbau dan menjijikan . memasukkan suapan yang besar-besar ke mulut dan mengotori muka dengan makanan. 3. dan menggerutu penuh keluh kesah. bangun dengan lamban. kotor. <!--[if !supportLists]-->• <!--[endif]-->tidak peduli dengan makanan. tidak rata dan tidak ada di desa sekitarnya <!--[if !supportLists]-->• <!--[endif]-->desa yang cocok adalah desa yang tidak teratur. makanan kotor. <!--[if !supportLists]-->• <!--[endif]-->tempat tidur tidak rapi. <!--[if !supportLists]-->• <!--[endif]-->mangkuknya dari tanah liat yang buruk atau mangkuk logam yang berat. benangnya seperti rami. jika menyapu dengan kaku dan serampangan. Tipe Orang delusi: <!--[if !supportLists]-->• <!--[endif]-->pakaiannya berseliweran. orang dengan tipe ini adalah pemakan yang ceroboh. berat dan tidak enak dipakai. memuakkan. kasar compang-camping. serta tidak bersih. dan akan makan apa sajayang ada. bentuknya tidak serasi. suka tidur terlentang. orangnya lalu lalang seolah-olah tidak melihatnya <!--[if !supportLists]-->• <!--[endif]-->orang yang menyalaminya adalah orang-orang yang kasar.tidak mau menunjukkan rasa terima kasih.

Dalam hal ini. disebut ”terapi lingkungan” (milieu therapy). segala sesuatunya harus dibuat sederhana dan jelas. orang yang penuh kebencian sulit menemukan objek untuk direndahkan. lalu turut memuja atau mencelanya <!--[if !supportLists]-->• <!--[endif]-->sering berkelakuan malas. Program lingkungan yang dirancang untuk meningkatkan kesehatan jiwa ini merupakan pendahulu. Dengan demikian. segala sesuatunya dibuat jelas. sehingga dapat disebut manusia yang harmonis. Tujuannya adalah untuk mengalahkan gejala-gejala psikologis yang dominan dan dengan demikian menjadikan jiwa mereka seimbang. Dalam buku Visuddhimagga. kaku. lingkungan disesuaikan dengan tipe-tipe manusia dengan maksud menghambat faktor-faktor jiwa yang biasanya menguasai masing-masing tipe kepribadian: orang yang rakus susah menemukan objek ketamakannya. seperti kondisi untuk tipe penuh kebencian. menyenangkan serta enak. . kacau. tetapi percaya saja apa yang dikatakan oleh orang lain. apabila mereka mulai bermeditasi. Sebaliknya. untuk setiap kasus diatas. maka ia merancang berbagai metode meditasi yang disesuaikan dengan tipe-tipe kepribadian yang berlainan. semuanya dibuat serba enak dan semudah mungkin. mudah menyerah dan bingungan. sedangkan untuk orang yang dikuasai delusi. selanjutnya menetapkan kondisikondisi optimal yang harus disiapkan untuk orang-orang dengan masing-masing tipe tersebut diatas adalah. Buddha juga melihat bahwa tipe orang-orang yang berbeda akan menyukai tipe meditasi yang berbeda-beda.<!--[if !supportLists]-->• <!--[endif]-->orang tipe ini tidak mempunyai ide baik atau jelek pada suatu objek. serta dapat juga keras kepal dan bandel. Sedangkan untuk tipe delusi. kondisi-kondisi untuk tipe orang penuh kebencian.

pernah disebutkan bahwa: ”semua orang yang tertarik hal-hal duniawi adalah gila”. <!--[endif]-->Jiwa terganggu: Ada faktor jiwa tidak sehat.Kepribadian Sehat dan gangguan jiwa Definisi Operasional kepribadian. <!--[endif]-->Kriterium untuk kesehatan jiwa: Adanya faktor-faktor yang sehat dan ketiadaan faktor-faktor yang tidak sehat dalam sistem pengelolaan sumber daya psikologis seseorang Berikut ini contoh faktor-faktor sehat. <!--[if !supportLists]-->• <!--[endif]-->Annusaya: kecenderungan-kecenderungan laten dari jiwa tidak sehat <!--[if !supportLists]-->• menuju kepribadian sehat <!--[endif]-->Meditasi : sarana . antara lain: <!--[if !supportLists]-->• hati yang penuh kasih <!--[if !supportLists]-->• <!--[endif]-->Mudita: merasakan <!--[endif]-->Karuna: Kebaikan nikmat dalam kebahagiaan orang lain <!--[if !supportLists]-->• <!--[endif]-->Dalam kitab suci Buddha. dimana gangguan jiwa timbul karena faktor tidak sehat menguasai kejiwaan seseorang <!--[if !supportLists]-->c. dapat dirumuskan sebagai beirkut: <!--[if !supportLists]-->a. <!--[endif]-->Pribadi sehat: Tidak ada faktor-faktor tidak sehat atau selalu ada faktor sehat <!--[if !supportLists]-->b.

dan biasanya menyangkut suatu perasaan fisik yang menakutkan. yakni: <!--[if !supportLists]-->1. mirip dengan prinsip sinkronitas pada pendapat C. <!--[if !supportLists]-->2. pada puncak kesehatan jiwa sama sekali tidak ada faktor-faktor yang yang tidak sehat muncul dalam jiwa seseorang. atau dikejar-kejar harimau. namun sudah pasti hal tersebut jarang tercapai. Tentang Mimpi Abhidhamma mengatakan bahwa mimpi adalah sifat istimewa lain dari arahat/santo (masyarakat Barat). Bermacam-macam mimpi buruk termasuk tipe mimpi ini. <!--[endif]-->Mimpi yang ada hubugannya dengan kegiatan-kegiatan yang dilakukan orang pada siang harinya. suatu ram.G. <!--[endif]-->Mimpi yang disebabkan oleh sejenis gangguan pada oragan atau otot. Seorang arahat/santo . terbang. Jung. Disamping itu.alan yang tepat tentang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi. F.Selanjutnya. dan menggemakan pengalamanpengalaman yang sudah berlalu tersebut. <!--[endif]-->Mimpi tentang suatu peristiwa aktual sebagaimana peristiwa itu terjadi. Mimpi semacam ini kerap terjadi. tujuan perkembangan psikologis dalam Abhidhamma adalah meningkatkan jumlah keadaan-keadaan yang sehat dan dengan demikian mengurangi keadaan-keadaan yang tidak sehat dalam jiwa seseorang. <!--[endif]-->Mimpi yang bersifat waskita (clairvoyant). Meskipun setiap orang terdorong untuk mencari hal yang ideal ini. Ada empat macam tipe mimpi pada manusia. misalnya jatuh. <!--[if !supportLists]-->3. <!--[if !supportLists]-->4.

Tingkat kepribadian arahat pada Abhidhamma ini. maka mimpinya itu selalu bersifat waskita (Van Aung. merupakan protitipe kepribadian orang yang tidak ada pada kepribadian prototipe di Barat. Dalam hal ini. arahat dapat dikatakan semacam Santo di masyarakt Barat.bermimpi. tidak ada dalam teori kepribadian psikologi Barat. Buddha Gautama juga pernah mengalami mimpi sebelum menerima pencerahan atau sinar Buddha. arahat sebagai model pribadi sehat adalah memiliki banyak sifat yang mereka asumsikan intrinsik dalam kodrat manusia. Oleh karena itu. Perubahan kepribadian yang radikal pada taraf arahat semacam itu melampaui tujuan-tujuan dan harapan-harapan psikoterapi Barat. terutama dalam ajaran olah kejiwaan di Indonesia. III. Hanya orang-orang yang telah menghayati latihan yang dipersyaratkan dan pengalaman sesudahnya akan benar-benar dapat . Mungkin ide pribadi arahat semakna dengan konsep Maslow atau Rogers sebagai pribadi yang dapat teraktualisasi penuh. Dalam hal ini. Sang Buddha sendiri mahir dalam menginterpretasikan lambang-lambang dalam mimpinya. yakni suatu teori deskriptif tentang keadaan-keadaan internal. Selain itu. Tingkat arahat ini merupakan hal yang cukup umum pada psikologi timur. namun terasa terlampau baik untuk diwujudkan. yakni predikat bagi rohaniawan kristiani. konsep arahat merupakan sesuatu yang ideal bagi kebanyakan orang. Mimpi tersebut meramalkan pencerahan Buddha Gautama dalam mendapatkan Boddhi. Pada arahat yang sangat istimewa. Kesimpulan Psikologi Abhidhamma pada hakikatnya bersifat fenomenologis. meskipun tidak ada sistem yang formal untuk analisis simbolik dalam Abhidhamma. 1972).

yakni perubahanperubahan kepribadian yang mengiringi peralihan ke keadaan di luar kesadaran yang berlangsung lama. Dalam hal ini. gambaran-gambaran Abhidhamma tentang jhana adalah keadaan-keadaan di luar kesadaran yang hanya terjadi selama praktik meditasi itu sendiri. atau akibat sikap penuh perhatian yang bersifat sistematik di pihak lain. sedangkan sesungguhnya lain. Bahaya utama dari teori-teori fenomenologis dan ilmuilmu pengetahuan tentang keadaan khusus adalah penipuan diri sendiri. suatu teori seperti Abhidhamma ini membutuhkan pengujian-pengujian terhadap hipotesis-hipotesisnya sejauh prediksi-prediksinya memang dapat diverifikasikan dari segi pandangan pengamat dari luar (Barat). maka kesalahannya akan terus dipertahankan. dan komunikasi dengan suatu keadaan khusus dalam hal ini. Abhidhamma. Hal ini relatif sulit dilakukan terhadap perubahan-perubahan dari faktor-faktor jiwa seseorang yang bersifat terus menerus dari saat ke saat dan tidak kentara. juga merupakan ”ilmu tentang keadaan-khusus” menurut definisi yang dikemukakan Tart (1972): pokok pengetahuan yang diperoleh lewat analisis. keadaan bermeditasi. ketika membahas keadaankeadaan di luar kesadaran dalam meditasi.menguji teori tersebut. sepanjang tidak ada bukti lain untuk mengoreksi orang tersebut. Karena alasan ini. Tags: psikologi timur Prev: Aktivitas Bermain dan Menggambar Sebuah Stimulus Kreativitas Anak Next: Teori Perkembangan Moral Bottom of Form . Seseorang mungkin merasa yakin bahwa pengalamannya begini atau begitu. eksperimen. Akan tetapi ada kemungkinan menguji gambaran-gambaran Abhidhamma tentang perubahan-perubahan yang terjadi akibat keterpusatan perhatian pada satu titik di satu pihak. Sementara sifatsifat arahat mencerminkan pengaruh-pengaruh sifat. yang terus bertahan terlepas dari meditasi itu sendiri.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful