GAGAL GINJAL KRONIK (Chronic Renal Failure

)
Oleh : Simon Sani Kleden, SKep

Pengertian
Gagal ginjal kronik merupakan kegagalan fungsi ginjal (unit nefron) yang berlangsung perlahan-lahan, karena penyebab yang berlangsung lama dan menetap , yang mengakibatkan penumpukan sisa metabolit (Toksik uremik) sehingga ginjal tidak dapat memenuhi kebutuhan biasa lagi dan menimbulkan gejala sakit. Toksik uremik adalah bahan yang dituduh sebagai penyebab sindrom klinik uremia. Toksik uremik yang telah diterima adalah : H2O, Na, K, H, P anorganik dan PTH Renin. Sedangkan yang belum diterima adalah : BUN, Kreatinin, asam Urat, Guanidin, midlle molecule dan sebagainya. Pada umumnya CRF tidak reversibel lagi, dimana ginjal kehilangan kemampuan untuk mempertahankan volume dan komposisi cairan tubuh dalam keadaan diet makanan dan minuman untuk orang normal. Fisiologi Ginjal Normal Langkah pertama yang berlangsung dalam ginjal yaitu proses pembentukan urine yang dikenal sebagai ultrafiltrasi darah atau plasma dalam kapiler glomerulus berupa air dan kristaloid. Selanjutnya dalam tubuli ginjal pembentukan urine disempurnakan dengan proses reabsorpsi zat-zat yang esensial dari cairan filtrasi untuk dikembalikan ke dalam darah dan proses sekresi zat-zat untuk dikeluarkan ke dalam urine. Fisiologi Ginjal dalam proses Filtrasi, reabsorpsi, dan sekresi selama 24 jam.
Senyawa Na + K+ ClHCO3 Urea Kreatinin Asam urat Glukosa Solut total Air Normal 26.000 600 18.000 4.900 870 12 50 800 54.000 180.000 Reabsorpsi 25.850 566 17.850 4.900 460 1 49 800 53.400 179.000 Ekskresi 150 90 150 0 410 12 5 0 700 1.000 Sekresi 50 1 4 100 Satuan m Eq m Eq m Eq m Eq m Mol m Mol m Mol m Mol m Osl ml

ETIOLOGI Penyebab dari gagal ginjal kronik antara lain : • • • • Infeksi Penyakit peradangan Penyakit vaskuler hipersensitif Gangguan jaringan penyambung

Cadangan ginjal residu 40 % dari normal. Dan gejala yang timbul nokturia dan poliuria (akibat kegagalan pemekatan urine) Stadium III Payah ginjal stadium akhir . Azotemia ringan. Homeostsis terpelihara. Keadaan ini mencakup penyakit parenkim ginjal difus bilateral.• • • • • • • • • • • Gangguan kongenital dan herediter Gangguan metabolisme Nefropatik toksik Nefropati obstruksi Obstruksi aliran urine Seks/usia Kehamilan Refleks vesikoureteral Instrumentasi (kateter yang dibiarkan di dalam) Penyakit ginjal Gangguan metabolisme Faktor-faktor predisposisi timbulnya infeksi traktus urinarius: Patofisiologi Gagal ginjal kronik terjadi setelah sejumlah keadaan yang menghancurkan masa nefron ginjal. Tidak mampu memekatkan urine dan menyimpan air. kadar BUN meningkat. juga lesi obstruksi pada traktus urinarius. anemi. Mula-mula terjadi beberapa serangan penyakit ginjal terutama menyerang glomerulus (Glumerolunepritis). Lebih dari 75 % jaringan yang berfungsi telah rusak (GFR besarnya 25% dari normal). Stadium II Insufisiensi Ginjal Penurunan kemampuan memelihara homeotasis. Selama stadium ini kreatinine serum dan kadar BUN normal dan pasien asimtomatik. kreatinine serum meningkat melebihi kadar normal. Fungsi ginjal residu 15-40 % dari normal. yang menyerang tubulus gijal (Pyelonepritis atau penakit polikistik) dan yang mengganggu perfusi fungsi darah pada parenkim ginjal (nefrosklerosis). Tidak ada keluhan. (normal : 100-120 ml/menit). GFR menurun menjadi 20 ml/menit. Kegagalan ginjal ini bisa terjadi karena serangan penyakit dengan stadium yang berbeda-beda Stadium I Penurunan cadangan ginjal.

tetapi oleh peningkatan beban zat tiap nefron. Gejala lebih parah karena ginjal tak sanggup lagi mempertahankan homeostasis cairan dan elektrolit dalam tubuh. Keadaan ini memperburuk hiponatremia dan dehidrasi. Keluhan pada semua sistem. Gangguan cairan dan elektrolit. Pada CRF yang berat keseimbangan natrium dapat dipertahankan meskipun terjadi kehilangan yang fleksibel nilai natrium. Fungsi ginjal residu kurang dari 5 % dari normal. Nefron menerima kelebihan natrium sehingga menyebabkan GFR menurun dan dehidrasi. Ketidaseimbangan Natrium Ketidaseimbangan natrium merupakan masalah yang serium dimana ginjal dapat mengeluarkan sedikitnya 20-30 mEq natrium setiap hari atau dapat meningkat sampai 200 mEq perhari. Hipothenuria tidak disebabkan atau berhubungan dengan penurunan jumlah nefron. Bila GFR menurun di bawah 25-30 ml/menit.Kerusakan massa nefron sekitar 90% (nilai GFR 10% dari normal). bila terjadi kerusakan nefron maka tidak terjadi pertukaran natrium.5 gram/hari. kesulitan dalam beraktivitas. 3. Maka akan terjadi kelebihan cairan dengan retensi air dan natrium. Orang sehat dapat pula meningkat di atas 500 mEq/hari. Selama . menyebabkan seseorang menjadi dehidrasi. Stadium IV Tidak terjadi homeotasis. Dengan kata lain. Pada keadaan ini natrium dalam diet dibatasi 1-1. Nokturia. Ketidakseimbangan cairan Mula-mula ginjal kehilangan fungsinya sehingga tidak mampu memekatkan urine (hipothenuria) dan kehilangan cairan yang berlebihan (poliuria). Permasalahan fisiologis yang disebabkan oleh CRF 1. klieren kreatinin 5. Hal ini terjadi karena keutuhan nefron yang membawa zat tersebut dan kelebihan air untuk nefron-nefron tersebut tidak dapat berfungsi lama. Terjadi osmotik diuretik. Keseimbangan kalium berhubungan dengan sekresi aldosteron. Ketidakseimbangan Kalium Jika keseimbangan cairan dan asidosis metabolik terkontrol maka hiperkalemia jarang terjadi sebelum stadium IV. Azotemia dan anemia lebih berat. terutama muntah dan diare. Kehilangan natrium lebih meningkat pada gangguan gastrointstinal. Pasien oliguria. Jika jumlah nefron yang tidak berfungsi meningkat maka ginjal tidak mampu menyaring urine (isothenuria). Pada tahap ini glomerulus menjadi kaku dan plasma tidak dapat difilter dengan mudah melalui tubulus. maksimal ekskresinya 150-200 mEq/hari. BUN meningkat. maka ekskresi natrium kurang lebih 25 mEq/hari. Variasi kehilangan natrium berhubungan dengan “intact nephron theory”. 2.10 ml/menit.

Dan bila hiperparathyroidisme berlangsung dalam waktu lama dapat mengakibatkan osteorenaldystrophy. Asam yang secara terus-menerus dibentuk oleh metabolisme dalam tubuh tidak difiltrasi secara efektif melewati GBM. atau hiponatremia. kemungkinan GFR menurun dan produksi NH3 meningkat. Jika hipokalemia persisten. 5. Metabolisme vitamin D terganggu. Dan pada umumnya penurunan ekskresi H + sebanding dengan penurunan GFR. nefron ginjal. tetapi menurun secara progresif dalam ekskresi urine menyebabkan akumulasi. dan pengambilan darah untuk pemeriksaan laboratorium. Bila fungsi ginjal menurun 20-25 % dari normal. hiperkatabolik (infeksi). Akibatnya asidosis metabolik memungkinkan terjadinya osteodistrophy. 4. 7. Anemia Penurunan Hb disebabkan oleh: • • • Masa hidup sel darah merah pendek karena perubahan plasma. Disfungsi renal tubuler mengakibatkan ketidamampuan pengeluaran ioh H. Hiperkaliemia terjadi karena pemasukan kalium yang berlebihan. Ketidaseimbangan asam basa Asidosis metabolik terjadi karena ginjal tidak mampu mengekskresikan ion Hirdogen untuk menjaga pH darah normal.output urine dipertahankan kadar kalium biasanya terpelihara. pada penyakit tubuler ginjal. HCO3 menurun dan natrium bertahan. Ketidakseimbangan Magnesium Magnesium pada tahap awal CRF adalah normal. Ketidakseimbangan Calsium dan Fospor Secara normal calsium dan pospor dipertahankan oleh parathyroid hormon yang menyebabkan ginjal mereabsorbsi kalsium. hiperpospatemia dan hipocalsemia terjadi sehingga timbul hiperparathyroidisme sekunder. NH3 menurun dan sel tubuler tidak berfungsi. Hipokalemia terjadi pada keadaan muntah atau diare berat. Hiperkalemia juga merupakan karakteristik dari tahap uremia. dampak pengobatan. meresorbsi kalium sehingga ekskresi kalium meningkat. Peningkatan kehilangan sel darah merah karena ulserasi gastrointestinal. Sebagian kelebihan hidrogen dibuffer oleh mineral tulang. Defisiensi folat . mobilisasi calsium dari tulang dan depresi resorbsi tubuler dari pospor. dialisis. Kegagalan pembentukan bikarbonat memperberat ketidakseimbangan. 6. Kombinasi penurunan ekskresi dan intake yang berlebihan mengakibatkan henti napas dan jantung.

uereter dan vesika urinaria untuk mengidentifikasi bentuk. Pemeriksaan Laboratorium Penilaian CRF dengan ganguan yang serius dapat dilakukan dengan pemerikasaan laboratorium. analisa urine dapat menunjang dan sebagai indikator untuk melihat kelainan fungsi ginjal. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK 1. dan kalsifikasi dari ginjal. dan WBCs/leukosit serta penurunan osmolaritas urin. Ureum kreatinin Urea yang merupakan hasil metabolik protein meningkat (terakumulasi). Tetapi kreatinin serum adalah indikator yang lebih baik pada gagal ginjal sebab kreatinin diekskresikan sama dengan jumlah yang diproduksi tubuh. Monitor kadar BUN dan kadar creatinin sangat penting bagi pasien dengan gagal ginjal. serum dan konsentrasi kreatinin urin. 8. Kadar BUN bukan indikator yang tepat dari penyakit ginjal sebab peningkatan BUN dapat terjadi pada penurunan GFR dan peningkatan intake protein. kadar urea nitrogen dalam darah (BUN). Bila ada peningkatan BUN selalu diindikasikan adanya dehidrasi dan kelebihan intake protein. glukosa. Urea nitrogen adalah produk akhir dari metabolisme protein serta urea yang harus dikeluarkan oleh ginjal. Dengan urin analisa juga dapat menunjukkan kadar protein.• • Defisiensi iron/zat besi Peningkatan hormon paratiroid merangsang jaringan fibrosa atau osteitis fibrosis. seperti : Kadar serum sodium/natrium dan potassium/kalium. kadar Hb. kadar serum phospor. 2. Batas kreatinin urin rata-rata dari urine tampung selama 24 jam. RBCs/eritrosit. Pada stadium yang cepat pada insufisiesi ginjal. Pemeriksaan Radiologi Berberapa pemeriksaan radiologi yang biasa digunanakan utntuk mengetahui gangguan fungsi ginjal antara lain: • Flat-Plat radiografy/Radiographic keadaan ginjal. Pada gambaran ini akan terlihat bahwa ginjal mengecil yang mungkin disebabkan karena adanya proses infeksi. hematokrit. mengambil produksi sum-sum menurun. . posisi. urinalisis. ukuran. Pada gagal ginjal yang progresif dapat terjadi output urin yang kurang dan frekuensi urin menurun. pH. Normal kadar BUN dan kreatinin sekitar 20 : 1. Analisa urine rutin dapat dilakukan pada stadium gagal ginjal yang mana dijumpai produksi urin yang tidak normal.

alpa metildopa. Pengaturan minum Pengaturan minum dasarnya adalah memberikan cairan sedemikian rupa sehingga dicapai diurisis maksimal. Pengendalian K dalam darah Mengendalikan K darah sangat penting. ARF. Pemeriksaan ini biasanya dilakukan pada kasus renal arteri stenosis. 3. neprotik sindom. abses / batu ginjal. karena peninggian K dapat menimbulkan kematian mendadak. Biopsi Ginjal untuk mengdiagnosa kelainann ginjal dengan mengambil jaringan ginjal lalu dianalisa. serta beberapa gangguan bentuk vaskuler. mencegah kerusakan/pemburukan faal ginjal yang terdiri : 1.• • Computer Tomograohy (CT) Scan yang digunakan untuk melihat secara jelas sturktur anatomi ginjal yang penggunaanya dengan memakai kontras atau tanpa kontras. • Aortorenal Angiography digunakan untum mengetahui sistem aretri. 2. serta obstruksi saluran kencing. Pemberian yang berlebihan dapat menimbulkan penumpukan di dalam rongga badan dan dapat membahayakan seperti hipervolemia yang sangat sulit diatasi. Pengendalian hipertensi Tekanan darah sedapat mungkin harus dikendalikan. aneurisma ginjal. Bila cairan tidak dapat diberikan per oral maka diberikan perparenteral. vena. PENATALAKSANAAN Pada umunya keadaan sudah sedemikian rupa sehingga etiologi tidak dapat diobati lagi. Mengurangi intake garam dalam rangka ini harus hati-hati karena tidak semua renal failure disertai retensi Natrium. IVP biasa digunakan pada kasus gangguan ginjal yang disebabkan oleh trauma.dan lain-lain. tidak benar. . Dengan obat tertentu tekanan darah dapat diturunkan tanpa mengurangi faal ginjal. Intervenous Pyelography (IVP) digunakan untuk mengevaluasi keadaan fungsi ginjal dengan memakai kontras. misalnya dengan beta bloker. ARF. 3. diet buah. arterovenous fistula. Yang pertama harus diingat ialah jangan menimbulkan hiperkalemia karena tindakan kita sendiri seperti obat-obatan. • Magnetic Resonance Imaging (MRI) digunakan untuk mengevaluasi kasus yang disebabkan oleh obstruksi uropathi. pembedahan. calculi ginjal. kelainan prostat. Pendapat bahwa penurunan tekanan darah selalu memperburuk faal ginjal. anomali kongental. dan kepiler pada ginjal dengan menggunakan kontras . Usaha harus ditujukan untuk mengurangi gejala. proses infeksi pada ginjal serta post transplantasi ginjal. dan perencanaan transplantasi ginjal. vasodilator. penyakit ginjal bawaan. Biasanya biopsi dilakukan pada kasus golomerulonepritis. Selain dengan pemeriksaan darah.

Sebelum memberi pengobatan yang khusus faktor lain harus diatasi dulu.hiperkalemia juga dapat didiagnosa dengan EEG. Pasien CRF dapat ditumpangi pyelonefritis di atas penyakit dasarnya. Dialisis Dasar dialisis adalah adanya darah yang mengalir dibatasi selaput semi permiabel dengan suatu cairan (cairan dialisis) yang dibuat sedemikiam rupa sehingga komposisi elektrolitnya sama dengan darah normal. dan pemberian infus glukosa. Adanya pyelonepritis ini tentu memperburuk lagi faal ginjal. 7. Obat-obat anti mikroba diberi bila ada bakteriuria dengan perhatian khusus karena banyak diantara obat-obat yang toksik terhadap ginjal atau keluar melalui ginjal. Penanggulangan asidosis Pada umumnya asidosis baru bergejala pada taraf lebih lanjut. Pada permulaan 100 mEq natrium bikarbonat diberi intravena perlahan-lahan. Penanggulangan Anemia Anemia merupakan masalah yang sulit ditanggulangi pada CRF. Natrium bikarbonat dapat diberikan per oral atau parenteral. 9. tetapi tindakan ini jauh lebih menolong juga bila protein tersebut dipilih. Pengendalian gagal ginjal pada keseluruhan akan dapat meninggikan Hb. Pada pasien yang sudah dialisispun neuropati masih dapat timbul. 5. Pengurangan protein dalam makanan Protein dalam makanan harus diatur. Dengan demikian diharapkan bahwa zat-zat yang tidak diinginkan dari dalam darah akan berpindah ke cairan dialisis dan kalau perlu air juga dapat ditarik kecairan . Bila terjadi hiperkalemia maka pengobatannya dengan mengurangi intake K. dan EKG. pemberian Na Bikarbonat. 6. Hemodialisis dan dialisis peritoneal dapat juga mengatasi asidosis. khususnya dehidrasi. Diet dengan rendah protein yang mengandung asam amino esensial. Usaha pertama harus ditujukan mengatasi faktor defisiensi. Pada dasarnya jumlah protein dalam makanan dikurangi. Tindakan yang mempengaruhi saluran kencing seperti kateterisasi sedapat mungkin harus dihindarkan. Pemberian asam melalui makanan dan obat-obatan harus dihindari. Infeksi ditempat lain secara tidak langsung dapat pula menimbulkan permasalahan yang sama dan pengurangan faal ginjal. 8. misalnya ada insufisiensi koroner. kalau perlu diulang. Biasanya neuropati ini sukar diatasi dan meurpakan salah satu indikasi untuk dialisis. Pengobatan neuropati Neuropati timbul pada keadaan yang lebih lanjut. 4. kemudian mencari apakah ada perdarahan yang mungkin dapat diatasi. Transfusi darah hanya dapat diberikan bila ada indikasi yang kuat. sangat menolong bahkan dapat dipergunakan pada pasien CRF terminal untuk mengurangi jumlah dialisis. Pengobatan dan pencegahan infeksi Ginjal yang sakit lebih mudah mengalami infeksi dari pada biasanya.

kopi. dibahas khusus pada sistim tubuh yang terpengaruh : 1. Riwayat sakitnya dahulu. eliminasi. Pemilihan dari segi imunologik ini terutama dengan pemeriksaan HLA PENGKAJIAN KEPERAWATAN Pada dasarnya pengkajian yang dilakukan menganut konsep perawatan secara holistic. jamu Waktu kapan terjadinya nyeri kuduk dan pinggang Kalau dirasa lemah atau sakit apa yang dilakukan Kalau kencing berkurang apa yang dilakukan Penggunaan koping mekanisme bila sakit 4. Pemeriksaan fisik • • • Peningkatan vena jugularis Adanya edema pada papelbra dan ekstremitas Anemia dan kelainan jantung . obat-obatan. dan persyaratan yang utama adalah bahwa ginjal tersebut diambil dari orang/mayat yang ditinjau dari segi imunologik sama dengan pasien. Penanganan selama ada gejala 5. aktifitas. tidur. 6. Transplantasi Dengan pencangkokkan ginjal yang sehat ke pembuluh darah pasien CRF maka seluruh faal ginjal diganti oleh ginjal yang baru. Pola : Makan.dialisis. alkohol. Tindakan dialisis ada dua macam yaitu hemodialisis dan peritoneal dialisis yang merupakan tindakan pengganti fungsi faal ginjal sementara yaitu faal pengeluaran/sekresi. 10. • • • • • • • Sejak kapan muncul keluhan Berapa lama terjadinya hipertensi Riwayat kebiasaan. Bacterimia) Sediment urine mengandung : RBCs . 3. 2. Ginjal yang sesuai harus memenuhi beberapa persaratan. Pengkajian dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan. dan kerja. Ginjal (Renal) Kemungkinan Data yang diperoleh : • • • • Pada kasus ini akan Oliguria (produksi urine kurang dari 400 cc/ 24jam) Anuria (100 cc / 24 Jam Infeksi (WBCs . sedangkan fungsi endokrinnya tidak ditanggulangi.

2. 4. pruritus. Gangguan rasa nyaman sehubungan dengan insisi pada pemasangan peritoneal dialisis. Lakukan pemeriksaan CCT dengan rumus : Vol. Kurangnya pengetahuan sehubungan dengan kekurangan informasi tentang penyakitnya. luka insisi. Ketidaknyamanan waktu tidur sehubungan dengan distensi perut pruritus dan nyeri muskuloskeletal/bedrest. dan kalium. Test Diagnostik Menyiapkan pasien yang akan dilakukan Clearens Creatinin Test (CCT) adalah: • Persiapan Intra Venous Pyelography • • Puasakan pasien selama 8 jam Bila perlu lakukan lavemen/klisma. Kurang mampu merawat diri sehubungan dengan menurunnya kesadaran (uremia). Ketidakmampuan aktifitas sehubungan dengan kelemahan dan penurunan kesadaran. natrium. dan infus. kreatinin dan ureum darah • • • • • Timbang Berat badan dan mengukur tinggi badan Menanmpung urine 24 jam Mengambil darah vena sebanyak 3 cc (untuk mengetahui kreatinin darah) Mengambil urine 50 cc. prosedur perawatan. Urine [cc/menit x Konsentrasi kreatinin urine (mg %)} Kreatinin Plasma (mg %) 7. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit sehubungan dengan retensi cairan. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1.• • • • • • • • Hiperpigmentasi pada kulit Pernapasan Mulut dan bibir kering Adanya kejang-kejang Gangguan kesadaran Pembesaran ginjal Adanya neuropati perifer Pemeriksaan fungsi ginjal. 7. . 3. 6. Aktual/potensial gangguan integritas kulit sehubungan dengan bedrest. 5. ketegangan perut karena adanya distensi perut/asites/mual.

Rasa nyaman terpenuhi 3. 8. 7. garam. . Menjelaskan tentang pembatasan makan yang diberikan. Purnawan Junadi. Atur posisi yang nyaman bagi pasien. 6. Kapita Selekta Kedokteran. Rawat kebersihan kulit dan lakukan prosedur perawatan luka. Latihan ROM setiap hari 4. 9. Jauhkan dari alat-alat yang membahayakan/bedrest. Kebutuhan keseimbangan cairan dan elektrolit terpenuhi. Meningkatnya pengetahuan pasien/keluarga tentang pencegahan dan perawatan selama dan setelah sakit. Potensial terjadinya kecelakaan sehubungan dengan kegagalan homeptasis cairan. Aktifitas tidak terganggu 5. Media Aeskulapius. elektrolit tubuh (penurunan kesadaran). kalium peroral (makan dan minum) 2. FKUI 1982. Beri informasi yang sesuai tentang prosedur perawatan dari tindakan yang diberikan selama dan sesudah sembuh. 7. Tidak terjadi bahaya/kecelakaan. 3. Tidur cukup 4. Edisi ke 2. Gangguan nutrisi sehubungan dengan intake yang dibatasi. Bantu kebutuhan kebersihan perawatan diri sampai mampu mandiri. INTERVENSI 1. TUJUAN KEPERAWATAN 1. Mampu merawat diri 6. kateterisasi secara steril. 5. Tidak terjadi infeksi/gangguan integritas kulit. Batasi pemberian cairan. DAFTAR KEPUSTAKAAN 1. 2. 8.8. berikan bedak. infus.

Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Ilmu Penyakit Dalam. Medical Surgical Nursing.D. Doengoes.Ignatavicius dan M. Philadelpia. Fa.V. Nursing Care Plan. 4. 3. Davis Company. Marllyn E.2. Balai Penerbit FKUI 1990. Hipertensi Retensi air Albuminuria . Edisi II. Saunders Company. Jilid II. Alih Bahasa Adji Dharma. W. 5. D. Sylvia Anderson Price. Philadelpia.Bayne. Soeparman. A Nursing Process Approach. 1991. 1987. B. Skema: Infeksi Reaksi antigen-antibodi Meningkatnya aktifasi vasopresos Proliferasi dan kerusakan glomerolus Kerusakan GFR menurun umum kapiler Vasospasme Aldosteron Retensi Na.

Hematuria ECF meningkat Edema PENGKAJIAN DATA DASAR I.T.M. 26-3-1946 Umur : 50 Tahun Jenis kelamin Alamat Agama Suku Pendidikan Pekerjaan Lama kerja : Laki-laki : Paseban Timur V/120 J. : Ibu rumah Tangga : Paseban Timur V/120 II. : Islam : Betawi : S. tangan bengkak. dll): Istri Pendidikan Pekerjaan Alamat : S. Upaya yang dilakukan untuk mengatasinya : sendiri : Pergi ke poliklinik RSCM oleh orang lain : tidak ada 7.. Diagnosa medik : • • • • • Diabetes militus CRF Hipertensi NIDDM TB Paru tanggal . Status Kesehatan saat ini 1.Riwayat kesehatan yang lalu . Identitas Diri Klien Nama : Tn. Alasan kunjungan/keluhan utama : sesak napas. Timbulnya keluhan : ( X) bertahap 5.. kaki bengkak... istri.. Neldi Tempat/tgl lahir : Bukit tinggi. badan lemah. wali.. . Faktor pencetus : sehabis makan 3.. Lama keluhan : 1 minggu sebelum MRS ( ) mendadak 4.D.P. : Pegawai Negeri : 20 Tahun Status perkawin : Nikah Tanggal MRS : 1 April 1996 Sumber informasi : Klien dan isteri Keluarga dekat yang dapat segera dihubungi (orang tua. suami.. batuk kurang lebih 1 minggu. Faktor yang memperberat : waktu berjalan-jalan/berdiri 6. 2. th 1985 tanggal 1 April 1996 tanggal 1 April 1996 tanggal 1 April 1996 tanggal 1 April 1996 III.

00 Wib : 8 jam : memakai bantal lebih dari tiga Penggunaan pencahar : tidak ada ( ) tetap (X) ( ) sedang-alasan :mual/muntah ( ) kurang-alasan : 8. Nafsu makan : (X) baik mual/muntah Perubahan berat badan 6 bulan terakhir : ( ) bertambah . panas. Pola nutrisi : • • • • • • • • • Frekwensi makan : 3 kali sehari Berat badan : 52 kg Tinggi badan : 160 cm Jenis makanan : nasi.. pilek Kecelakaan . lauk.Kg berkurang .. buah Makanan yang disukai : semua makanan suka Makanan yang tidak diskai : tidak ada Makanan pantang : mulai tahun 1995 mengurangi gula. Kebiasaan : merokok/kopi/alkohol 5. Pola eliminasi : • • • • • • • • • • • • • Buang air besar Frekuensi : 1 x per hari Waktu : pagi hari Warna : kuning Konsistensi : lembek Buang air kecil Frekuensi : 4-5 x per hari Warna : kuning Bau : amoniak : 21. Obat-obatan :-6.. Alergi : -3.1. sayur. batuk.00 sampai 05. Pola tidur dan istirahat Waktu tidur (jam) Lama tidur/hari kebiasaan tidur Kebiasaan pengantar tidur : tidak ada . tidak pernah Pernah dirawat penyakit waktu Operasi : Tidak pernah 2...kg 7.. Penyakit yang pernah dialami • • • • kanak-kanak . Imunisasi : -4.

V. Riwayat lingkungan • • • Kebersihan : kurang Bahaya : tidak ada Polusi : jalan besar dan tempat sampah VI. Riwayat Keluaga Genogram Tn Neldi kawin dengan ibu Neldi dan mempunyai anak laki-laki berumur 13 tahun dan sehat. Pola pikir dan persepsi • • • Alat bantu yang digunakan : (X) kaca mata ( ) alat bantu pendengaran Kesulitan yang dialami : (X) sering pusing (X) menurunnya sesnsitifitas ( ) menurunnya sensitifitas terhadap panas/dingin ( ) membaca/menulis trhadap sakit 2. Persepsi diri • Hal yang amat dipikirkan saat ini : apakah penyakitnya dapat sembuh/tidak ? . Pola bekerja IV.00 .• • • • • • • • • • • kesulitan dalam hal tidur : ( X) menjelang tidur Kegiatan dalam pekerjaan : tidak ada Olah raga Jenis : Jalan kaki Freakuensi : tidak tentu Kegiatan di waktu luang : Kesulitan dalam hal :(X) mudah merasa lelah Jenis pekerjaan : ringan lama 20 tahun Jumlah jam kerja : 07.00 lama : 7 jam Jadwal kerja : teratur Lain-lain (sebutkan) : tidak ada 9. Pola aktifitas dan latihan 10.14. Aspek Psikososial 1.

. Suasana hati : cemas.• • Harapan setelah menjalani perawatan : ingin merubah semua kebiasaan yang mengganggu kesehatannya. kepercayaan. Tuhan penting buat anda ? (X) Ya Kegiatan agama atau kepercayaan yang dilakukan (macam dan frekuensi)sebutkan : Pengajian 1 kali seminggu. pasrah dengan penyakitnya Renyang perhatian : sangat rentang 4. Pertahanan koping • • • • Pengambilan keputusan : (X) sendiri (X) dibantu oleh istri/anak Yang disukai tentang diri sendiri : bekerja di kantor Yang ingin dirubah dari kehidupan : Pola kebiasaan yang kurang menguntungkan. Apa yang dilakukan perawat agar anda nyaman dan aman : membantu dalam pelayanan perawatan 1. Kebiasaan seksual 1. 1. Sistem nilai dan kepercayaan • • • Siapa atau apa sumber kekuatan : Tuhan dan keluarga Apakah agama. Hubungan/komunikasi • • • Bicara : kurang jelas. Bahasa utama : indonesia Bahasa daerah : tidak ada Tempat tinggal : sendiri Kehidupan keluarga : • • • • • adat yang dianut : pembuatan keputusan : bersama-sama anak/istri pola komunikasi : baik keuangan : memadai kesulitan dalam keluarga : hubungan dengan orang tua • • • • Yang dilakukan jika stres : (X) memecahkan masalah (X) lain-lain : marah Gangguan kebiasaan seksual disebabkan kondisi sebagai berikut : ( X) fertilitas (X) Libido (X) ereksi Pemahaman terhadap fungsi seksual : kurang terbuka. Perubahan yang dirasa setelah sakit : semua kebiasaan dibatasi dapat 3.

kesulitan menelan : tidak. Suara jantung tambahan : (-). Konjungtiva : anemis.• Kegiatan agama atau kepercayaan yang ingin dilakukan selama di rumah sakit. bentuk: simetris. Sirkulasi: Nadi perifer : baik. 1. Tingkat perkembangan Usia : thn Karakteristik : VII. Batuk (+). Hidung : Reaksi alergi : tidak. pemeriksaan gigi terakhir : tidak pernah. perdarahan : tidak ada Mulut dan tenggorokan: Gigi geligi : M2 kiri bawah dan M2 kanan atas lepas. akomodasi : baik. Keadaan ektremitas : edem perifer . Suara jantung : aritmia (-). Fungsi penglihatan : baik. nyeri : (-). Tanda-tanda radang : tidak ada. cara mengatasinya : tidak. Batuk darah : (-). kuping.. Hasil : ada di dokter. sebutkan : sholat lima waktu. . pernah mengalami flu : pernah. Ro terakhir : 1 tahun sbelum MRS.. Clubbing : (-). Monitoring hemodinamika : CVP: tidak dipasang. kemampuan melakukan aktifitas : terbatas. Ronchi basah (+). Rasa pusing : (+). pola napas : teratur. lensa kotak : tidak. Kaca mata : (+) positif. mata. kesulitan/gangguan pembicaraan : tidak. Pernafasan : Suara paru : whezing (-). Palpitasi : (-). Syncope : (-). Edema : (+). Pemeriksaan mata terakhir : 5 tahun lalu. PENGKAJIAN FISIK Kepala. Irama jantung (monitor) : (-). operasi : tidak. Baal : (+). sinus : . Distensi vena jugularis : . Capilary refilling : 2 detik. dan tenggorokan Kepala : Bentuk bulat lonjong Keluhan yang berhubungan : pusing Mata : Ukuran pupil : isokor : Reaksi terhadap cahaya : baik. bagaimana frekuensinya dalam setahun : 3 X setahun. Nyeri :(-). hidung. Perubahan warna kulit : icterus/pucat. sputum :(-).

Urine out put : 500 cc/24 jam Reproduksi Krhamilan :(-). kekuatan menggenggam: menurun. Infeksi : ginjal.405.6 mEq/L.b. integritas : dalam batas normal. Keputihan : (-).3 mmhg. Perdarahan :(-). B6 3x1 tab. Bisolvon 3x1 cdt. HCO3 : 18. nafsu makan : baik. Creatinin : 8. Riwayat epilepsi/kejang/parkinson : (-). ABE : . Hematuria :(-). Hasil:(-).k. Pemeriksaan Pap smear terakhir :(-). PO2 : 44. rasa mual : kadang-kadang. Data Laboratorium Ureum : 110 mg/dl. Pola tingkah laku : masih dalam batas normal. Koordinasi : kurang. intake cairan : 750 cc/24 jam Eliminasi: Pola rutin : b.a. Prostat : normal. Vit. Cefobid 2x1 gr. Asam folat 3x1 tab.0 mg/dl. Pirozinamid 3x500 mg. CCT: 2 ml Pengobatan Katapres 2x150mg. Natrium : 148 mEq/L. Kalium : 3.5. Pergerakan ekstremitas : terbatas Muskuloskeletal Nyeri : sendi (+).4 mEq/L. Konstipasi: (-) Diare :(-) Pola rutin : b. SAT: 80.1 mEq/L. CaCO3 3x1 tab. PCO 2 : 30. B12 3x1 tab.a. Minipres 2x1 tab. SBE : . Rifampisin 1x450 mg. Colostomy : (-). Ileostomy :(-). . muntah : (-). Pemeriksaan sendiri: (-). Lasix 2x2 Amp.5.1 %. Kekakuan : tidak ada Kulit Warna : pucat/icterus. Refleks: baik. Ni Fedipin 3x20 mg. Penggunaan kateter : (-) Neurologis Tingkat kesadaran : compas mentis. pH : 7. penggunaan laksantia : (-). Inkontinensia : (-). Cateter :(-). INH 1x300 mg. Pola latihan gerak : berkurang.3 mmhg. SBC : 19.. TCO2 : 19.Nutrisi: Jenis diet : diet ginjal.8 mEq/L. Vit. Turgor : menurun.7 mEq/L.5 mEq/L. Orientasi : kurang baik.

Pathofisiologi Terlampir Kesan perawat terhadap klien Klien tidak kooperatif disebabkan karena meningkatnya ureum dalam darah Klien nampak gelisah karena proses penyakitnya Gangguan keseimbangan cairan sehubungan dengan intake yang terbatas dan edema generalisata . Dupleks aktif Persepsi klien trhadap penyakitnya Penyakit yang diderita dapat sembuh.Hasil pemeriksaan diagnostik lainnya Foto thorak : Suspek K.P.