P. 1
eKs STAD

eKs STAD

|Views: 213|Likes:
Published by uvidanti

More info:

Published by: uvidanti on May 01, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/16/2013

pdf

text

original

PROPOSAL PENELITIAN A.

Judul Skripsi PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DENGAN STRATEGI PROBLEM POSING UNTUK MASALAH MENINGKATKAN B. Identitas Peneliti Nama NIM Jurusan Fakultas : Ni Wayan Sukarni : 0413011017 : Pendidikan Matematika : MIPA merupakan ilmu universal yang mendasari KEMAMPUAN PEMECAHAN

MATEMATIKA SISWA KELAS X 5 SMA NEGERI 4 SINGARAJA

C. Latar Belakang Matematika perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin ilmu dan memajukan daya pikir manusia. Oleh karena pentingnya membangun kemampuan berpikir matematis, maka matematika diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar. Tujuan umum diberikannya matematika pada jenjang Pendidikan dasar dan menengah meliputi; (1). Mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan keadaan dalam kehidupan dan di dunia yang selalu berkembang, melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran secara logis, rasional, kritis, cermat, jujur, efektif dan efiesien. (2) Mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan matematika dan pola pikir matematika dalam kehidupan sehari-hari dan dalam mempelajari berbagai ilmu. Matematika sekolah memiliki peranan yang sangat penting bagi kehidupan yaitu para pelajar memerlukan matematika untuk memenuhi kebutuhan praktis dan mencegah masalah dalam kehidupan sehari-hari, misalnya dapat berhitung, dapat menghitung isi dan berat. Menurut petunjuk pelaksanaan belajar mengajar di sekolah bahwa penerapan strategi yang dipilih dalam pembelajaran matematika haruslah bertumpu pada dua hal yaitu optimalisasi interaksi semua unsur pembelajaran, serta optimalisasi keterlibatan seluruh indra siswa.

1

Banyak faktor yang harus diperhatiaan dalam pengelolaan pembelajaran matematika agar pembelajaran tersebut dapat memberikan hasil yang diharapkan. Selama ini, guru masih senang mengajar dengan pola pembelajaran konvensional dan sedikit sekali melihat peluangpeluang untuk melakukan kegiatan yang lebih inovatif. Pembelajaran dilakukan kurang memperhatikan aspek kemampuan siswa dan sejauh mana pembelajaran dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan pemahaman dan penalaran berpikir siswa. Peningkatan kualitas pembelajaran matematika diharapkan mengacu pada standar proses yang dikemukakan dalam peraturan pemerintah nomor 19 tahun 2005 yang mengemukakan bahwa Standar Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Berdasarkan hasil wawancara pada tanggal 27 februari 2008 dengan seorang guru matematika kelas X 5 di SMA Negeri 4 Singaraja mengungkapkan bahwa hasil belajar matematika siswa belum mencapai hasil yang diharapkan. Hal ini dapat dilihat dari skor rata-rata ulangan umum matematika siswa pada dua tahun terakhir yang dapat dilihat pada tabel 3.1 Tabel 3.1 Skor rata-rata ulangan umum matematika siswa kelas X 5 Tahun 2004/2005 2006/2007 2007/2008 Semester Rata-rata Ganjil 41,5 Genap 40,1 Ganjil 58,8 Genap 52 Ganjil 42 (arsip SMA N 4 Singaraja)

Rendahnya skor ulangan umum siswa di kelas X 5 SMA Negeri 4 Singaraja ini disebabkan oleh beberapa hal yaitu: pertama, kurangnya rasa percaya diri siswa dalam kegiatan pembelajaran matematika. Hal ini dapat

2

diamati dari sikap siswa yang masih tampak takut atau ragu-ragu saat menjawab pertanyaan guru, kurang tegas dalam mengemukakan pendapat, dan kurang mampu untuk mengendalikan perasaannya. Siswa yang yakin atau percaya dapat berhasil mencapai sesuatu akan mempengaruhi mereka bertingkah laku untuk mencapai keberhasilan tersebut. Siswa yang memiliki sikap percaya diri memiliki penilaian positif tentang dirinya cenderung menampilkan prestasi yang baik. Guru telah berupaya menanamkan rasa percaya diri siswa dengan memotivasi siswa misalnya dengan menawarkan nilai tambahan bagi siswa yang bersedia menyelesaikan soal ke depan. Usaha tersebut ternyata belum membuahkan hasil yang optimal. Kedua, siswa menganggap pelajaran matematika sebagai pelajaran yang membosankan, banyak menghapal rumus serta kurang menyentuh kehidupan sehari-hari siswa. Mengaitkan pengalaman anak dengan ide-ide matematika yang diajarkan di kelas, penting untuk membuat pelajaran menjadi bermakna, Soedjadi(dalam Suharta, 2003). Dalam pembelajran guru telah memberikan soal-soal yang berupa masalah kehidupan sehari-sehari. Ketiga, keaktifan siswa terhadap pembelajaran matematika yang diterapkan tergolong kurang (hanya beberapa orang siswa saja yang aktif). Guru menyadari bahwa sesungguhnya siswa telah membawa pemahaman sendiri sebagai pengetahuan awal yang telah mereka miliki sebelumnya. Namun, kurangnya keaktifan siswa dalam pembelajaran menyebabkan guru kesulitan mengetahui penguasaan siswa terhadap materi prasyarat, apakah konsep yang dimiliki siswa sudah benar atau masih menyimpang, serta seberapa dalam pengetahuan awal yang dimiliki siswa, padahal hal tersebut merupakan pijakan untuk melaksanakan proses pembelajaran selanjutnya. Untuk mengatasi hal tersebut guru telah berupaya dengan memberikan tugas tambahan bagi siswa yang memperoleh nilai kurang dan memberikan hukuman bagi siswa yang tidak mengerjakan pekerjaan rumah. Upaya tersebut belum mencapai hasil yang maksimal bahkan dapat menghambat proses pembelajaran selanjutnya. Keadaan ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena

3

pengetahuan menjadi berkurang dan terputus disetiap materi pelajaran berikutnya yang menyebabkan hilangnya motivasi siswa untuk belajar matematika. Kurangnya perhatian guru terhadap kemampuan siswa disetiap unit pelajaran akan menyebabkan siswa mengalami kegagalan yang berulang-ulang. Dengan demikian, dalam pembelajaran matematika di SMA harus memperhatikan pengetahuan awal yang dimiliki siswa dan kemampuannya dalam memecahkan masalah matematika. Untuk mengatasi hal tersebut perlu adanya pembaharuan dalam strategi ataupun metode pembelajaran yang sesuai dengan bahan pelajaran yang diajarkan supaya terjadi kondisi pembelajaran yang kondusif dan mampu menumbuhkembangkan aktivitas dan kreativitas belajar siswa. Salah satu upaya tindakan dalam pembelajaran yang dapat ditempuh untuk mencapai tujuan meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa adalah dengan melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran terutamanya dalam mengajukan pertanyaan atau masalah. Dengan pengkonstruksian masalah oleh siswa sendiri, paling tidak siswa menaruh perhatian terhadap masalah yang mereka kontruksi. Sebagai prasyarat dalam pengkontruksian masalah adalah pemahaman konsep dan proses berpikir siswa. Salah satu strategi yang mengharuskan siswa untuk ikut aktif dalam pembelajaran terutama untuk mengajukan soal atau permasalahan adalah strategi problem posing. Dalam problem posing, relasi yang dihidupkan bukanlah monolog, melainkan dialog,. Dalam dialogis ini para siswa tidak diperlakukan sebagai objek dan guru sebagai satu-satunya subjek. Keduanya memiliki posisi sejajar. Guru hanya sebagai pemandu atau pasilitator, sehingga guru memberikan kebebasan kepada siswa untuk mengungkapkan ide-ide yang dimiliki siswa melalui mengajukan masalah dan mencari pemecahannya. Strategi problem posing sejalan dengan usaha untuk mengubah pola pikir dalam pembelajaran matematika. Perubahan pola pikir yang dimaksud yaitu proses belajar mengajar yang mulanya terpokus pada guru, menjadi proses pembelajaran yang lebih terfokus pada siswa. Suharta(1999) menemukan bahwa pengajuan suatu masalah dapat meningkatkan pemahaman konsep dan aktivitas belajar siswa. Penelitian-

4

penelitian terkait dengan efektivitas problem posing telah banyak dilakukan. Hasil penelitian pada umumnya menunjukkan ada korelasi yang positif antara kemampuan pengajuan masalah matematika dengan kemampuan pemecahan masalah. Dalam pembelajaran matematika, memberikan soal pada siswa merupakan hal yang sangat strategis. Akan tetapi umumnya soal dibuat oleh guru dan siswa diminta untuk menyelesaikannya, atau guru hanya menugaskan siswa untuk menyelesaikan soal-soal yang sudah tersedia dibuku paket. Bagi guru membuat soal adalah pekerjaan yang harus dilakukan sehari-hari, oleh karena itu agar seorang guru dapat membuat soal untuk muridnya maka ia haruslah memiliki kemampuan antara lain;(1) menguasai masalah yang akan diselesaikan, (2) mampu menggunakan proses berpikir untuk menentukan konsep atau rumus atau dalil yang akan digunakan untuk menyelesaikannya, dan (3) memilki kreativitas dalam menyusun kalimat soal yang dapat dimengerti dan dipahami orang lain. Kegiatan ini selalu dilakukan guru dari hari ke hari selama guru melaksanakan tugas-tugas mengajarnya. Dengan demikian dapat dikatakan guru memiliki kemampuan (1),(2) dan (3) tersebut. Akan muncul pertanyaan, bagaimana seandainya kegiatan tersebut dilakukan oleh siswa? Mungkinkah kemampuan tersebut akan dapat membantu untuk meningkatkan proses berpikir siswa serta kemampuannya dalam memecahkan masalah matematika. Model pembelajaran kooperatif mengacu pada metode pengajaran dimana siswa bekerja bersama dalam kelompok kecil saling membantu dalam belajar. Model pembelajaran kooperatif adalah suatu pembelajaran melalui pembentukan kelompok-kelompok kecil dalam kelas. M.Nur, dkk (1998) menyatakan bahwa siswa lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit jika mereka saling mendiskusikan masalah tersebut dengan temannya. Sehingga model pembelajaran kooperatif tipe STAD sangat sesuai bila dikombinasikan dengan strategi problem posing. Dalam pembelajaran dengan model kooperatif siswa memperoleh dua

5

macam tanggung jawab. Pertama, semua siswa terlibat dalam mempelajari dan menyelesaikan tugas yang dibebankan. Kedua, meyakinkan bahwa semua siswa dalam kelompok mengerti dan memahami tentang tugas yang dibebankan padanya Model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan strategi problem posing merupakan bagian dari belajar konstruktivis dimana siswa aktif terlebih dahulu mencari pengetahuan sesuai dengan cara berpikirnya, berusaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang menyertainya kemudian menemukan permasalahan-permasalahan yang sulit mereka pahami untuk didiskusikan dengan teman dalam kelompoknya maupun dengan guru. Berdasarkan uraian tersebut di atas peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian yang berjudul “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Stad Dengan Strategi Problem Posing Untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa Kelas X 5 SMA Negeri 4 Singaraja”. D. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian pada latar belakang maka dalam penelitian ini dapat dirumuskan permasalahan-permasalahan sebagai berikut: 4.1. Seberapa besar peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas X 5 SMA Negeri 4 Singaraja dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan strategi problem posing? 4.2. Bagaimana tanggapan siswa kelas X 5 SMA Negeri 4 Singaraja terhadap penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan strategi problem posing?

E. Tujuan Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk: 5.1. mengetahui peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika

6

siswa kelas X 5 SMA Negeri 4 Singaraja dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan strategi problem posing. 5.2. mengetahui tanggapan siswa kelas X 5 SMA Negeri 4 Singaraja terhadap penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan strategi problem posing. F. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan yang positif terhadap pengembangan pembelajaran matematika. Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut. 6.1 Manfaat bagi siswa Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan strategi problem posing dapat meningkatkan kemampuan pemecahan maslah matematika siswa karena siswa terlibat aktif dalam pembelajaran dengan mengajukan masalah-masalah. Siswa juga akan termotivasi untuk mengerjakan tugas-tugas karena setiap individu memiliki tanggung jawab yang sama terhadap kelompoknya. Pembentukan kelompok yang heterogen akan membuat siswa dapat berdiskusi dengan anggota kelompoknya. 6.2 Manfaat bagi guru Hasil penelitian ini nantinya diharapkan dapat digunakan sebagai tambahan alternative pembelajaran matematika untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa dalam suatu unit pelajaran. 6.3 Manfaat bagi sekolah Pembelajaran yang dirancang dapat dijadikan bahan masukan bagi sekolah untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa secara keseluruhan. G. Kajian Pustaka 7.1 Model pembelajaran Kooperatif Model pembelajaran kooperatif mengacu pada metode pengajaran

7

dimana siswa bekerja bersama dalam kelompok kecil saling membantu dalam belajar. Model pembelajaran kooperatif adalah suatu pembelajaran melalui pembentukan kelompok-kelompok kecil dalam kelas. M.Nur, dkk (1998) menyatakan bahwa siswa lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit jika mereka saling mendiskusikan masalah tersebut dengan temannya. Dalam pembelajaran dengan model kooperatif siswa memperoleh dua macam tanggung jawab. Pertama, semua siswa terlibat dalam mempelajari dan menyelesaikan tugas yang dibebankan. Kedua, meyakinkan bahwa semua siswa dalam kelompok mengerti dan memahami tentang tugas yang dibebankan padanya. Beberapa keuntungan yang diperoleh dari pembelajaran dengan model kooperatif (Widiarsa dalam pujawan, 2001:12) adalah sebagai berikut. 1. meningkatkan hubungan antar individu, karena siswa berpeluang sama untuk terlibat secara aktif, interaksi yang lebih banyak, saling berbagi tanggung jawab, dan saling mengisi. 2. Memberikan dukungan pada interaksi sosial, karena akan tertanam sikap saling menghargai pendapat teman yang merupakan cerminan dari sikap ilmiah, meningkatkan ketekunan, ketabahan, dan keuletan dalam mengerjakan tugas-tugas. 3. memupuk rasa percaya diri dan meningkatkan kualitas konsep diri masing-masing siswa. 4. meningkatakan produktivitas akademik. 5. memperluas perspektif siswa. 6. merangsang kemampuan berpikir siswa. 7. meluruskan pandangan yang dibawa siswa sebelumnya masih bersifat tidak ilmiah. 8. membentuk sikap siswa untuk tidak menjadi egosentris. Meskipun model pembelajaran kooperatif mempunyai manfaat seperti di atas, jika terdapat anggota kelompok yang pasif maka manfaat tersebut tidak dapat dicapai secara maksimal sehingga dalam pelaksanaan pembelajaran harus dihindari adanya anggota kelompok yang tidak aktif.

8

Untuk itu guru perlu menekankan bahwa tiap anggota harus benar-benar mempelajari dan menguasai materi secara keseluruhan. Walupun siswa menyelesaikan masalah yang dihadapi secara bersama-sama dalam kelompok, namun peran guru masih sangat diperlukan. Bantuan guru sangat diperlukan apabila ada kelompok yang menghadapi kesulitan dalam memecahkan masalah. Guru membimbing siswa sehingga siswa sendiri dapat menemukan pemecahannya dan menyelesaikan masalahnya. Disamping itu peran guru dalam hal ini adalah mengarahkan agar tercipta kondisi yang baik dalam pembelajaran. 7.2 Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD STAD adalah salah satu model pembelajaran kooperatif yang paling sederhana yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok belajar yang beranggotakan 4-5 orang siswa yang merupakan campuran menurut tingkat kemampuan, jenis kelamin, dan suku. Guru menyajikan pelajaran, kemudian siswa bekerja dalam kelompok. Untuk memastikan bahwa seluruh anggota kelompok telah menguasai pelajaran tersebut, pada akhir pelajaran seluruh siswa diberi kuis tentang materi itu, dan pada saat kuis ini mereka tidak boleh saling membantu. Skor siswa dibandingkan dengan rata-rata skor mereka yang lalu, dan poin diberikan berdasarkan pada seberapa besar peningkatan skor mereka sekarang dengan nilai yang mereka peroleh pada tes sebelumnya. Poin tiap anggota ini dijumlah untuk mendapatkan skor tim, dan tim yang mencapai kriteria tertentu dapat diberi penghargaan. Model pembelajaran kooperatif tipe STAD memiliki ciri-ciri sebagai berikut. 1. siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil. Siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok belajar beranggotakan 4-5 orang yang merupakan campuran tingkat kemampuan, jenis kelamin, dan ras/suku (Slavin, 1995). Dengan adanya heterogenitas anggota kelompok, diharapkan dapat memotivasi siswa untuk saling membantu agar siswa yang berkemampuan kurang termotivasi untuk

9

menguasai materi, sehingga akan tumbuh suatu kesadaran pada diri siswa bahwa belajar secara kooperatif cukup menyenangkan. 2. Memperhatikan skor awal Skor awal adalah skor kuis yang diperoleh dalam pembelajaran sebelumnya. Skor awal ini sangat berguna untuk mengetahui perkembangan siswa secara individual. Slavin(1995) mengungkapakan bahwa masing-masimg siswa diberikan skor awal (base acore) berdasarkan rata-rata prestasi belajar masing-masing siswa sebelumnya pada kuis yang sama. Tujuan dari pemberian skor awal adalah untuk mengetahui apakah skor siswa pada tes berikutnya mengalami peningkatan atau penurunan. 3. Kuis Kuis dimaksudkan untuk mengatahui tingkat penguasaan pengetahuan siswa secara individual. Dalam mengerjakan kuis, siswa bekerja sendiri (Slavin, 1995). Dengan demikian siswa sebagai individu bertanggung jawab untuk memahami materi pelajaran. 4. Skor Kemajuan Individu Skor kemajuan individu diperoleh dengan membandingkan skor awal dengan skor akhir (quis score). Skor kemajuan individu digunakan untuk mengetahui kemajuan siswa secara individu. Dalam STAD skor kemajuan sangat diperlukan untuk menentukan skor kelompok (Slavin, 1995). Berikut disajikan tabel kriteria pemberian skor kemajuan. Tabel 7.1 Kriteria Pemberian Skor Kemajuan No. 1 2 3 4 5 Skor Tes Lebih dari 10 poin di bawah skor awal Antara 1 sampai 10 poin di bawah skor awal Antara 0 sampai 10 poin di atas skor awal Lebih dari 10 poin di atas skor awal Niali sempurna (tidak berdasarkan skor awal) Skor Kemajuan 5 10 20 30 30

Misalkan pada kuis terdahulu Hendrik memperoleh skor 60, ini berarti skor awal Hendrik adalah 60. Pada kuis berikutnya Hendrik memperoleh skor 65, berarti Hendrik memperoleh skor kemajuan sebesar 20, karena skor kuis Hendrik berada 5 poin di atas skor awal. Contoh lain,

10

misalnya Ari memperoleh skor awal 80, kemudian pada kuis berikutnya Ari memperoleh skor 75, berarti skor Ari 5 poin di bawah skor awalnya. Jadi skor kemajuan Ari pada kuis ini sebesar 10. Pemberian skor kemajuan, dapat memotivasi siswa untuk meningkatkan skor kuisnya bagi siswa yang memperoleh skor kemajuan kecil. Sedangkan bagi siswa yang memperoleh skor maksimal dapat mempertahankan skor pada kuis berikutnya. Makin besar kemajuan yang diperoleh siswa maka makin besar pula sumbangan pada skor prestasi kelompok. 5. Penghargaan Kelompok Langkah pertama sebelum pemberian penghargaan kelompok adalah menghitung rerata skor kelompok. Untuk memperoleh rerata skor kelompok dilakukan dengan cara menjumlahkan skor kemajuan masingmasing anggota kelompok, kemudian jumlah ini dibagi dengan jumlah anggota kelompok yang mengikuti kuis. Rerata skor kelompok ini disebut juga skor prestasi masing-masing kelompok. Berdasarkan skor prestasi tersebut guru memberi hadiah berupa predikat kepada masing-masing kelompok yang memenuhi kriteria tertentu. Adapun kriteria dan predikat menurut Slavin (1995) adalah sebagai berikut. Tabel 7.2 Kriteria dan Predikat Kemajuan Kelompok Kooperatif No. 1 2 3 4 Kriteria (Rerata Kelompok) X < 15 15 ≤ X < 20 20 ≤ X < 25 X ≥ 25 Predikat Tanpa Prediakat Kelompok Cukup (Good team) Kelompok Baik (Great Team) Kelompok Sangat Baik (Super Team)

Model pembelajaran kooperatif tipe STAD terdiri dari siklus pembelajaran yang tetap, yaitu (Slavin, 1995): 1. Mengajar : mempresentasikan atau menyajikan pelajaran, 2. Belajar dalam kelompok : siswa bekerja di dalam kelompok mereka dengan dipandu lembar kegiatan siswa (LKS) untuk menuntaskan materi pelajaran, 3. Tes : siswa mengerjakan tes atau kuis secara individu, dan 4. Penghargaan Kelompok : skor kelompok dihitung berdasarkan skor

11

peningkatan anggota kelompok, dan sertifikat, laporan berkala kelas, atau papan pengumuman digunakan untuk memberikan penghargaan kepada kelompok yang berhasil mencetak skor tinggi. Dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD, terdiri dari beberapa tahap yang perlu diperhatikan, yaitu tahap persiapan (preparation), tahap penyajian kelas (teach), tahap belajar dalam kelompok (team study), tes, dan penghargaan kelompok (team recognition). Dalam penelitian ini tahap-tahap tersebut dibagi menjadi : 1) tahap persiapan, 2) tahap pembelajaran yang mencakup komponen penyajian kelas, belajar kelompok, kuis, dan 3) penghargaan kelompok yang meliputi penentuan skor kemajuan individu dan pengakuan prestasi kelompok. Tahap-tahap tersebut diuraikan sebagai berikut. 1. Tahap Persiapan Hal-hal yang perlu dipersiapkan dalam tahap ini adalah: a. Materi pelajaran. Materi pelajaran dalam hal ini dirancang untuk pembelajaran kelompok dan disesuaikan dengan kurikulum. Sebelum menyajikan materi pelajaran, terlebih dahulu dibuat lembar kegiatan siswa dan lembar kerja mengenai materi yang akan dipelajari siswa dalam kelompok. Dalam lembar kegiatan tercantum materi, kompetensi dasar, indikator, waktu dan tugas berupa soal-soal yang harus didiskusikan siswa dalam kelompok. b. Penyusunan tes kecil yang akan digunakan sebagai kuis, dimana soal kuis ini serupa dengan soal LKS. c. Menentukan skor awal. Skor awal pada saat penelitian baru dimulai, ditentukan dari skor tes formatif dari pembelajaran sebelumnya yang dilaksanakan secara konvensional. d. Menetapkan anggota kelompok. Siswa dibagi kedalam kelompok-kelompok dengan 4-5 orang anggota. Agar diskusi berjalan efektif, dalam hal ini guru menjelaskan bahwa : 1) anggota kelompok semuanya memiliki tujuan yang sama, 2)

12

seluruh

amggota

kelompok

bertanggung

jawab

untuk

memastikan teman sekelompoknya telah mempelajari materi pelajaran, 3) dalam satu kelompok harus saling berbicara sopan, 4)harus saling membantu, dan 5) diharapkan mereka mengajukan pertanyaan kepada teman satu kelompoknya sebelum mereka bertanya kepada guru. 2. Tahap Pembelajaran Pada tahap ini, langkah-langkah yang dilakukan adalah: a. Guru mengumumkan skor awal b. Guru membuka pelajaran. Pada langkah ini, menurut Slavin (1995) bahwa guru perlu memberitahu siswa tentang apa yang akan mereka pelajari dan mengapa hal itu perlu dipelajari. Guru memotivasi siswa dengan memberikan teka teki atau contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu guru perlu mengingatkan kembali materi prasyarat yang telah dipelajari siswa pada pertemuan sebelumnya. Pada langkah ini guru mengkomunikasikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. c. Penyajian kelas. Guru memberikan panjelasan atau informasi singkat mengenai materi yang akan dikembangkan dalam kelompok. d. Siswa diorganisasikan ke dalam kelompok-kelompok belajar. Siswa bekerja dalam kelompok, menyelesaikan tugas atau lembar kegiatan. Pada tahap ini peran guru sangat diperlukan untuk mengarahkan agar siswa bekerja dengan aktif, efektif dan tetap mengontrol pemahaman siswa dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa. Dalam hal menjawab pertanyaan guru, siswa ditunjuk secara acak. Disamping itu, guru juga dapat membantu kelompok-kelompok yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tugas. e. Setelah waktu yang ditentukan habis, siswa mengerjakan kuis mengenai materi yang telah dipelajari. 3. Tahap Penghargaan kelompok

13

Setelah jawaban kuis dari siswa terkumpul, sesegera mungkin guru memeriksa jawaban kuis siswa tersebut. Kemudian guru menentukan skor kemajuan individu dan menentukan prestasi kelompok. Berdasarkan skor prestasi kelompok inilah guru memberikan penghargaan bagi kelompok yang memenuhi kriteria, berupa predikat secara tertulis. Apabila memungkinkan, skor kelompok diumumkan pada pertemuan pertama setelah kuis. Hal ini akan membuat penerimaan pengakuan yang jelas bagi siswa, dan meningkatakan motivasi mereka untuk melakukan yang terbaik. Dalam pemberian penghargaan kepada kelompok ada dua tahap yang dilakukan, yaitu ; a. menghitung skor individu dan kelompok. Skor kemajuan individu akan dijadikan sebagai sumbangan skor terhadap kelompok, yang ditentukan berdasarkan selisih perolehan skor tes terdahulu dengan skor berikutnya. Skor kelompok didasarkan pada peningkatan skor anggota dibandingkan dengan skor yang lalu. b. Menghargai prestasi kelompok. Skor kelompok dihitung berdasarkan jumlah skor kemajuan semua angggota kelompok dibagi dengan banyaknya anggota kelompok. Berdasarkan pada rata-rata yang diperoleh penghargaan kelompok yang diberikan, yaitu : kelompok cukup, baik dan sangat baik (Nurdan Wikandari, 1999). 7.3 Problem Posing (Pengajuan Masalah) Dewasa ini para pendidik sering menganjurkan pemecahan masalah tetapi jarang terdengar tentang pentingnya pengajuan pertanyaanpertanyaan. Suatu bagian yang penting dalam konstruktivis adalah konstruksi pertanyaan. Selain siswa mencoba menjawab pertanyaanpertanyaan atau memecahkan masalah, mereka juga termotivasi untuk bekerja keras. Menurut Peaget (dalam Ratna Wilis Dahar, 1989) perumusan pertanyaan-pertanyaan merupakan salah satu dari bagian yang paling penting dan paling kreatif dari siswa yang diabaikan dalam

14

pembelajaran sains. Secara terminologi kata problem posing terdiri dari dua kata bahasa inggris yaitu problem = masalah, soal; dan kata posing dari kata to pose = mengajukan, membentuk. Belum ada padanan kata yang baku mengenai istilah problem posing ini. Banyak sumber yang (1998) menterjemahkan problem posing secara berbeda. Misalnya, Suharta (2000) menggunakan istilah pengkontruksian masalah, Suryanto menterjemahkan problem posing sebagai pembentukan masalah, Suharta dan Gita (1999) mempergunakan istilah pengajuan masalah, karena belum ada padanan kata yang yang baku mengenai problem posing ini maka selanjutnya dalam penelitian ini digunakan istilah problem posing sebagai pengajuan masalah. Suryanto (1998) menjelaskan bahwa (1) problem posing adalah perumusan soal sederhana atau perumusan ulang soal yang ada dengan beberapa perubahan agar lebih sederhana sehingga soal tersebut dapat diselesaikan. Ini terjadi pada soal-soal yang rumit. (2) problem posing adalah perumusan soal-soal yang berkaitan dengan syarat-syarat pada soal yang akan diselesaikan (Silver, dkk:1996) menekankan pada pengajuan soal oleh siswa. (3) problem posing adalah pengajuan soal dari informasi yang tersedia, baik dilakukan sebelum, ketika atau setelah kegiatan penyelesaian. Suharta (2000) mengungkapkan pengkonstruksian masalah (problem posing) yang dimaksudkan adalah pembuatan masalah (soal) oleh siswa berdasarkan “situasi” yang diberikan oleh guru. Situasi dalam hal ini biasanya berupa informasi (pernyataan), pertanyaan/masalah, dsb. Penelitian-penelitian terkait dengan efektivitas problem posing telah banyak dilakukan. Hasil penelitian pada umumnya menunjukkan ada korelasi yang positif antara kemampuan pengajuan masalah matematika dengan kemampuan pemecahan masalah. Sutawijaya (1998 dalam Suharta 2000) mengatakan, merumuskan kembali masalah atau pengajuan masalah matematika merupakan salah satu cara untuk memperoleh kemajuan dalam pemecahan masalah. Suryanto (1998 dalam Suharta 2000) mengatakan, pengembangan

15

pengajuan masalah matematika merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan hasil pembelajaran matematika dan sangat sesuai dengan tujuan pembelajaran matematika di sekolah. Sedangkan Magnis-Suseno (Marpaung, 1996) mengatakan belajar bertanya sangat penting dalam proses pendidikan. Bertanya sebagai awal usaha intelektual yang berfungsi untuk merangsang pikiran, mendobrak wawasan yang kaku dan sempit, membuka cakrawala dan mencerdaskan. Sedangkan Del Campo dan Clements (Ramakrisnhan Menon, 1996), mengkonstruksi masalah sendiri merupakan salah satu cara siswa untuk mengkomunikasikan matematika dalam kelas. Ada tiga jenis pengkontruksian masalah yang dapat digunakan untuk terjadinya diskusi yang baik yaitu : (1) siswa mengkontruksi masalah berdasarkan informasi yang diberikan oleh guru, (2) pengkonstruksian masalah cerita untuk dijawab dalam kelompok kecil, (3) mengajukan masalah yang berkaitan dengan masalah yang diberikan. Pengajuan masalah dalam penelitian ini adalah pengajuan masalah (soal) oleh siswa yang dibahas secara berkelompok yang berkaitan dengan materi yang telah dibahas. Selanjutnya masalah yang dibuat tersebut ditukarkan dengan kelompok yang lain untuk dijawab. Pengkontruksian masalah oleh siswa sendiri, paling tidak siswa menaruh perhatian terhadap masalah yang mereka kontruksi. Sebagai prasyarat dalam pengkontruksian masalah adalah pemahaman konsep dan proses berpikir siswa adalah mengacu pada pemecahan masalah. Ada beberapa keuntungan bila pengkonstruksian masalah diterapkan dalam pembelajaran mtematika yaitu; aktivitas siswa meningkat dan siswa menjadi lebih senang dalam belajar matematika terjadi proses interaksi social yang sangat dinamis, apalagi pengkontruksian masalah dikombinasikan dengan pembelajaran kooperatif. dapat menimbulkan rasa puas pada diri siswa. memantapkan konsep-konsep meningkatkan ketrampilan berpikir siswa

16

-

meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dapat meningkatkan sikap siswa dan rasa percaya diri terhadap matematika.

Namun strategi pengajuan masalah ini juga memiliki kelemahan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Roeth Amerlin (Yastini, 2004:12) ditemukan kelemahan dari strategi pengajuan masalah ini. Kelemahannya adalah bagi siswa yang berkemampuan rendah tidak mampu menyelesaikan soal-soal yang dibuat oleh siswa yang memiliki kemampuan pengajuan masalah tinggi. Dalam hal ini peran guru sangat diperlukan untuk dapat membantu mengatasi kesulitan-kesulitan yang dialami siswa dalam belajar. Dengan demikian, pengajuan masalah oleh siswa dan peran guru sebagai fasilitator dan mediator dalam pembelajaran akan memberikan kesempatan yang sebesar-besarnya bagi siswa untuk mengembangkan pengetahuan maupun gagasan-gagasan yang mereka miliki dengan mangajukan masalah yang terkait dengan materi yang sedang dibahas. Siswa juga akan menjadi lebih aktif dan kreatif serta termotivasi dalam belajar. 7.4 Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Suatu pertanyaan merupakan suatu masalah jika seseorang tidak mempunyai aturan atau hukum tertentu yang dapat digunakan untuk menemukan jawaban pertanyaan tersebut (Suherman, dkk, 2003). Suatu pertanyaan merupakan suatu masalah bagi siswa, tetapi belum tentu pertanyaan tersebut merupakan masalah bagi siswa yang lain. Jadi pertanyaan merupakan suatu masalah tergantung kepada individunya. Adanya masalah menuntut seseorang memiliki kemampuan pemecahan masalah. Pemecahan masalah matemtika adalah keterampilan siswa dalam menyelesaikan soal-soal pemecahan masalah (umumnya berbentuk essay). Kemampuan anak dalam memecahkan masalah sangat terkait dengan tingkat perkembangan mereka sehingga masalah-masalah yang diberikan kepada siswa haruslah dapat diterima oleh siswa tersebut.

17

Jadi pertanyaan itu harus sesuai dengan struktur kognitif siswa. Dipertegas kembali oleh Polya (Suherman,2003) mendefinisikan kemampuan pemecahan masalah matematika sebagai kemampuan memberikan penyelesaian terhadap masalah yang dihadapi dalam pelaksanaan pembelajaran dengan melalui empat langkah fase penyelesaian, yaitu memahami masalah, membuat rencana penyelesaian, melaksanakan rencana penyelesaian dan memeriksa kembali. Perry dan Controy (dalam Sutawidjaja, 1998:9) mengemukakan beberapa kiat yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah yaitu: a. siswa harus diberanikan untuk menerima ketidaktauan dan merasa senang untuk mencari tahu; b. setiap siswa dalam kelompok harus diberanikan untuk membuat soal atau pertanyaan; c. siswa diperbolehkan memilih masalah-masalah dari sejumlah masalah yang diberikan; dan d. siswa harus diberikan untuk mengambil resiko dan mencari alternative Lebih jauh, Perry dan Controy (dalam Sutawidjaja), 1998 :9) juga mengemukakan beberapa hal yang dapat dilakukan guru untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah yakni : a) guru harus sadar akan sikap positif dan cara-cara yang mengembangkan hal itu; b) guru harus berani mencari dan mengembangkan keterampilan siswa dalam memecahkan masalah; c) guru harus mencari masalah yang menarik yang sering muncul secara spontan; d) guru perlu memperjelas situasi belajar dengan bertanya untuk menggalakkan jawaban dari penyajian siswa; e) guru harus mau membiarkan pemecahan suatu masalah menurut persepsi siswa walaupun mempunyai arah yang berbeda dengan yang direncanakan; dan

18

f)

masalah tidak harus selalu diselesaikan oleh siswa. Masalah dapat dilontarkan sebagai awal penyajian materi baru.

Pemecahan masalah merupakan kegiatan yang paling penting dalam pengajaran matematika, sebab kemampuan pemecahan masalah yang diperoleh dalam suatu pelajaran matematika pada umumnya dapat di transfer untuk digunakan dalam memecahkan masalah lain (Bell dalam Eka Mahendra 2005). Sukasno (2002 dalam Aryana 2006) menyatakan masalah merupakan suatu tugas bagi siswa untuk memecahkan soal-soal ataupun tugas-tugas yang diberikan kepadanya dengan melibatkan pengetahuan yang sudah dimiliki sebelumnya. Pemecahan masalah secara sederhana merupakan proses penerimaan masalah sebagai tantangan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Kemampuan pemecahan masalah harus dimiliki siswa, kemampuan tersebut akan terwujud jika guru mengajarkan bagaimana memecahkan masalah yang efektif. Di dalam menyelesaikan masalah, siswa diharapkan memahami proses penyelesaian masalah yang diberikan dan menjadi terampil di dalam memilih dan mengidentifikasikan kondisi dan konsep yang relevan, mencari generalisasi, merumuskan rencana penyelesaian dan mengorganisasikan keterampilan yang telah dimilikinya. Menurut Polya (dalam Suherman 2003), dalam memecahkan masalah terdapat empat langkah penting yang harus dilakukan yaitu: 1. Memahami masalah yaitu apa yang dicari, apa yang diketahui, apa syarat-syarat bias dipenuhi dan cukup untuk mencari yang tidak diketahui, membuat gambar atau grafik. 2. Merencanakan pemecahannya yaitu apakah soal tersebut sudah pernah dilihat sebelumnya, apakah masalah yang sama pernah dilihat dalam bentuk yang berbeda, apakah tahu teorema yang mungkin berguna, memperhatikan unsur yang tidak diketahui dan memikirkan soal yang sudah dikenal yang mempunyai unsur yang tidak

19

diketahui yang sama. 3. Menyelesaikan masalah sesuai rencana langkah kedua yaitu merencanakan penyelesaiannya, mengecek setiap langkah, apakah langkah sudah benar. 4. Memeriksa kembali hasil yang diperoleh yaitu mengecek hasilnya, dapatkah hasil itu didapat dengan cara yang lain. Keempat tahap pemecahan masalah dari Polya tersebut merupakan kesatuan yang sangat penting untuk dikembangkan Kemampuan pemecahan masalah matematika merupakan utama yang harus dimiliki siswa ketika mereka meninggalkan kelas untuk memasuki dan melakukan aktivitas di dunia nyata. Peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa sangat berguna untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. 7.5 Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Stad Dengan Strategi Problem Posing Dalam Pembelajaran Matematika Dalam Kaitannya Dengan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika. Model pembelajran kooperatif tipe STAD dengan strategi problem posing merupakan bagian dari belajar konstruktivis dimana siswa aktif terlebih dahulu mencari pengetahuan sesuai dengan cara berpikirnya, berusaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang menyertainya kemudian menemukan permasalahan-permasalahan yang sulit mereka pahami untuk didiskusikan dengan teman dalam kelompoknya maupun dengan guru. Pembelajaran yang dirancang ini memberi kondisi untuk terjadinya interaksi optimal baik antara siswa dengan siswa maupun antara siswa dengan guru. Siswa dapat mengelola sendiri pembelajarannya dan diharapkan akan terjadi pertukaran pengetahuan antar siswa dalam kelompoknya. Pertukaran pengetahuan dalam satu kelompok optimis akan

20

terjadi dengan kondisi kelompok sebagai suatu tempat dimana keberhasilan anggota kelompok adalah tanggung jawab bersama. Dengan demikian tidak terjadi persaingan sempit antar siswa dalam satu kelompok, melainkan diharapkan terjadinya persaingan yang sehat antar kelompok. Dalam strategi problem posing, siswa membuat beberapa soal yang sesuai atau berkaitan dengan contoh masalah (soal) yang diberikan guru atau berdasarkan situasi yang diberikan oleh guru. Guru dalam pembelajaran berperan sebagai fasilitator dan motivator bagi siswa. Oleh karena itu, guru akan lebih memperhatikan aktivitas siswa terutama dalam membuat soal. Soal yang dibuat siswa tersebut selanjutnya diperiksa oleh guru sehingga guru akan mengetahui secara langsunga konsep/ materi yang belum dipahami dan kesulitan yang dialami oleh siswa. Dengan demikian konsep/ materi tersebut ditegaskan kembali sehingga kesulitan siswa dapat diatasi dengan segera. Dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD yang dipadukan dengan startegi problem posing siswa akan lebih aktif dalam proses pembelajaran, siswa lebih memahami dan menerapkan konsep matematika dalam memecahkan permasalahan dan peran guru yang awalnya sebagai satu-satunya sumber ilmu bergeser sebagai fasilitator atau mediator dalam pembelajaran. Sehingga siswa tidak hanya menghafalkan konsep matematika untuk menyelesaikan suatu permasalahan yang dihadapi, baik kaitannya dengan materi matematika atau masalah dalam kehidupan sehari-hari ataupun dalam ilmu-ilmu lain. Selain itu dengan melibatkan siswa dalam pembelajaran yaitu dengan melibatkan siswa dalam mengajukan masalah (soal) akan berpengaruh terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika siswa. H. Metode Penelitian 8.1 Tempat, Subjek dan Objek penelitian Yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X 5 SMA Negeri 4 Singaraja. Sedangkan objek dari penelitian ini difokuskan pada kemampuan pemecahan masalah matematika dan tanggapan

21

(respon) siswa terhadap pembelajaran yang dilakukan. Peneliti dalam penelitian ini dapat berperan sebagai guru yang nantinya akan bekerjasama dengan guru bidang studi matematika kelas X 5 sebagai kelas tempat diadakannya penelitian, sehingga nantinya dapat memberikan hasil yang optimal. 8.2 Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dibagi menjadi tiga siklus. Masing-masing siklus terdiri dari empat tahapan yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan evaluasi, serta refleksi (Kemmis & Taggart 1998). Kegiatan masingmasing tahap disajikan sebagai berikut. 8.2.1 Refleksi Awal Berdasarkan observasi dan wawancara langsung denagn salah satu guru matematika di SMA Negeri 4 Singaraja terdapat beberapa permasalahan sebagai berikut. a). Siswa kurang menguasai konsep matematika yang pernah diberikan. Hal ini disebabkan karena cara belajar siswa yang masih menghafalkan rumus-rumus dan mengacu pada keterampilan menyelesaikan soal-soal tanpa didukung oleh penguasaan konsep yang mantap. b). Motivasi siswa dalam belajar matematika masih rendah. c). Siswa enggan untuk mempelajari materi yang akan dibahas pada pertemuan berikutnya. d). Siswa kurang memiliki keberanian untuk bertanya, kurang berani untuk menanggapi jawaban dari teman sejawatnya dan diskusi yang terjadi antar siswa masih kurang. 8.2.2 Siklus I terkait dengan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang dapat dicermati pada refleksi awal adalah

22

Siklus I ini dilakukan selama 4 kali pertemuan yaitu 3 kali pertemuan untuk pelaksanaan tindakan dan 1 kali pertemuan untuk tes kemampuan pemecahan masalah. 8.2.2.1 Perencanaan Tindakan Beberapa kegiatan yang dilakukan terkait dengan perencanaan kegiatan yang akan dilakukan adalah: a). peneliti bersama guru yang mengajar matematika di Kelas X 5 mengkaji perencanaan penelitian yang mencakup persamaan persepsi rambu-rambu tindakan yang akan dilaksanakan dan pokok bahasan yang dipilih. b). peneliti bersama guru mendiskusikan dan mengkaji materi pelajaran, satuan pelajaran dan rencana pembelajaran termasuk bagaimana model pembelajaran kooperatif tipe STAD dikembangkan dengan strategi problem posing. c). mendiskusikan format yang digunakan dalam observasi dan evaluasi yang meliputi : pre-tes untuk mengukur pengetahuan awal siswa, tes pemecahan masalah untuk mengukur kemampuan pemecahan masalah matematika siswa, angket untuk mengukur pendapat siswa terhadap pembelajaran yang dilaksanakan 8.2.2.2 Pelaksanaan Tindakan Pelaksanaan tidakan model pembelajran kooperatif tipe STAD dengan strategi problem posing dilakukan pada satu kelas yaitu kelas X 5 SMA Negeri 4 Singaraja. Kelas diberikan tindakan sebagai berikut. a. Pendahuluan 1). Guru memberikan salam dan mengabsensi siswa. 2). Guru memberikan tes awal yang bertujuan untuk mengetahui pengetahuan awal yang dimiliki siswa. 3). Dengan melakukan tanya jawab guru mengingatkan kembali siswa tentang materi prasyarat dan memotivasi siswa akan pentingnya materi ini untuk dipahami. 4). Guru menyampaikan standar kompetensi, kompetensi dasar dan

23

indikator yang ingin dicapai. 5). Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok heterogen yang beranggotakan 4-5 orang.( untuk pertemuan selanjutnya siswa sudah duduk dalam kelompoknya) 6) guru membagi LKS mengenai materi yang akan dibahas. b. Kegiatan inti 1). Guru menyampaikan informasi singkat megenai materi yang akan dibahas dalam kelompok. 2). Siswa diberikan kesempatan untuk bertanya tentang hal-hal yang belum jelas terkait dengan materi yang akan dibahas. 3). Dengan panduan LKS dan pengawasan serta bimbingan dari guru siswa bekeja dalam kelompok. 4). Dalam kelompok siswa disuruh mengajukan masalah (soal) yang sesuai dengamn materi yang dibahas. 5). Guru berkeliling untuk membimbing, mengawasi dan menilai secara langsung apakah soal yang dibuat siswa sudah benar atau salah. 6). Siswa menukarkan soal yang dibuat dengan kelompok lain dan menjawab soal yang didapat dari kelompok lain. 7). Guru memberi kesempatan kepada perwakilan beberapa kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusinya kelompok lain menanggapi. c. Penutup 1). Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyimpulkan materi yang telah didiskusikan. 2). Guru memberikan tes kecil (kuis) yang bertujuan untuk mengetahui pemahaman siswa secara individu tentang materi yang telah dibahas. 3). Guru menentukan skor kemajuan masing-masing siswa berdasarkan skor tes mereka. Kemudian menentukan skor kelompok masing-masing berdasarkan skor kemajuan anggota kelompok. dan

24

4). Berdasarkan skor kelompok, guru memberikan penghargaan berupa predikat kepada kelompok yang memenuhi kriteria. 5). Guru memberikan PR dan menugaskan siswa untuk mempelajari materi yang akan dibahas selanjutnya serta mengerjakan latihan soal. 8.2.2.3 Observasi dan Evaluasi Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah : 1). Selama pelaksanaan tindakan, dilakukan observasi terhadap proses pembelajaran. 2). Observasi terhadap tindakan yaitu mencatat segala kejadian terkait dengan proses pembelajaran serta menemukan kendalakendala yang dihadapi. 3). Evaluasi dilakukan setelah berakhirnya pelaksanaan tindakan. Hal-hal yang dievaluasikan adalah kemampuan pemecahan masalah matematika siswa dengan memberikan tes pemecahan masalah berupa soal uraian. 8.2.2.4 Refleksi Kegiatan refleksi dilakukan sebelum pelaksanaan siklus II atau pada akhir siklus I. Refleksi dilakukan berdasarkan hasil observasi dan evaluasi berupa tes pemecahan masalah matematika yang dilakukan pada akhir siklus I untuk mengetahui tercapainya tujuan pembelajaran dan menemukan hambatan-hambatan maupun kesulitan-kesulitan yang ada dan alternatif perbaikannya. Hasil refleksi digunakan sebagai pedoman untuk merencanakan tindakan pada siklus II. 8.2.3 Siklus II Siklus ini dilaksanakan selama 3 kali pertemuan yaitu 2 kali pertemuan untuk pelaksanaan tindakan dan 1 kali pertemuan untuk pelaksanaan tes pemecahan masalah matematika. Pada prinsipnya prosedur atau langkah-langkah pada siklus II sama dengan siklus I,

25

dimana pembelajaran yang dilakukan guru masih tetap menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan strategi problem posing. Kegiatan refleksi dilakukan oleh peneliti berdasarkan hasil obsevasi dan evaluasi berupa tes pemecahan masalah matematika yang diberikan pada akhir siklus II. Hasil refleksi digunakan sebagai pedoman untuk merencanakan tindakan pada siklus III. Permasalahan yang timbul pada siklus II dicari alternative pemecahannya, selanjutnya dirumuskan dalam suatu pilihan tindakan terbaik yang dapat dilaksanakan pada siklus III. 8.2.4 Siklus III Siklus III ini dilaksanakan selama 3 kali pertemuan yaitu 2 kali pertemuan untuk pelaksanaan tindakan dan 1 kali pertemuan untuk pelaksanaan tes pemecahan masalah matematika. Sperti halnya pada siklus II, prosedur atu langkah-langkah pada siklus III identik dengan siklus II, dimana pembelajaran yang dilakukan masih tetap menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan strategi problem posing. Pada akhir siklus III dilakukan refleksi secara keseluruhan terhadap pelaksanaan pembelajaran. Kegiatan refleksi dilakukan oleh peneliti berdasarkan hasil observasi dan evaluasi berupa tes pemecahan masalah matematika yang diberikan pada akhir siklus III. Refleksi pada siklus ini bertujuan untuk mengetahui berhasil tidaknya pemberian tindakan serta mengkaji kendala-kendala atau hambatan pada siklus III. Pada akhir siklus III ini siswa diberikan angket untuk mengetahui bagaimana tanggapan (respon) siswa terhadap pembelajaran yang diterapkan. 8.3 Instrumen Penelitian Penelitian ini menggunakan instrumen yaitu tes kemampuan pemecahan masalah matematika siswa dan angket(kuisioner). Jenis instrumen yang digunakan dan metode pengumpulan data dalam

26

penelitian ini secara singkat dapat dilihat pada table 8.1. Tabel 8.1. Jenis Instrumen Penelitian dan Metode Pengumpulan data No. Jenis Data 1 Kemampuan pemecahan matematika masalah Metode Tes Instrumen Tes kemampuan pemecahan masalah 2 Respon siswa terhadap Non tes penerapan model pembelajran kooperatif tipe STAD demgam stratwgi posing 8.4 Teknik Pengumpulan Data 8.4.1 Data Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa Data mengenai kemampuan pemecahan masalah matematika dapat diperoleh melalui tes kemampuan pemecahan masalah matematika yang dilakukan pada setiap akhir siklus bertujuan mengukur kemampuan pemecahan masalah matematika siswa. Tes yang diberikan berupa soal uraian karena dalam menjawab soal-soal uraian siswa dituntut untuk mampu mengembangkan pengetahuan serta keterampilan yang dimiliki. Untuk menjaga obyektivitas penilaian, pemberian skor dilakukan oleh dua orang yaitu peneliti dan guru bidang studi matematika. Teknik penskoran dalam penelitian ini disesuaikan dengan langkah-langkah pemecahan masalah menurut Polya dan langkah-langkah tersebut dimodifikasi dari Sutawidjaja (1998). Teknik penskoran yang dimaksud disajikan dalam table 8.2 sebagai berikut. Tabel 8.2. Cara Pemberian Skor Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Komponen Pemecahan Masalah Memahami masalah Membuat rencana Rentang Skor 0-3 0-2 problem matematika Angket Akhir III siklus Waktu Diakhir setiap siklus

27

Melaksanakan rencana Melihat kembali

0-3 0-2

Dari cara pemberian skor di atas, secara rinci dapat dibuat rubrik penskoran tes kemampuan pemecahan masalah matematika seperti tertera pada tebel 8.3 berikut. Table 8.3 Rubrik Penskoran Tes Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Tahap Tahap memahami masalah (Skor 0-3) 2 Membuat apa yang diketahui dengan benar tetapi 1 0 Tahap membuat rencana (0-2) 1 0 Tahap melaksanakan rencana (skor 0-3) 2 1 0 2 Melaksanakan penyelesaian sesuai dengan rencana tetapi salah Melaksanakan penyelesaian masalah tetapi tidak sesuai dengan rencana dan salah Tidak melaksanakan rencana Meneliti kembali hasil yang sudah diperoleh dan mengecek hasilnya*), 3 Menulis rencana penyelesaian tetapi rencana menyimpang Tidak membuat/menuliskan 2 membuat yang ditanyakan salah/menyimpang, dan sebaliknya. Membuat apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan tetapi salah Tidak membuat apa yang diketahui dan yang ditanyakan. Menuliskan rencana penyelesaian dengan benar Skor 3 Karakteristik Membuat apa yang diketahui dan apa yang ditanya dengan benar

penyelesaian Melaksanakan penyelesaian sesuai dengan rencana dengan benar

Tahap melihat kembali

28

(0-2) 1

penarikan kesimpulan dengan baik dan benar. Meneliti diperoleh 0 kembali dan hasil mengecek yang sudah

hasilnya*),

penatikan kesimpulan tetapi salah Tidak melakukan pengecekan kembali (tidak membuat kesimpulan) (Dimodifikasi dari Sutawidjaja,1998)

*) dilihat dari penulisan langkah-langkah penyelesaian masalah yang sudah benar (perhitungannya) dan menunjukkan hasil yang tepat sesuai dengan keinginan dari soal. dengan benar. Skor total apabila siswa berhasil menyelesaikan soal dengan benar adalah 10. Siswa dalam mengerjakan tes pemecahan masalah kemungkinan akan ada yang tidak menuliskan salah satu tahap menurut Polya tersebut. Untuk menanggulangi masalah ini, maka dilakukan wawancara dengan siswa yang bersangkutan. Wawancara dengan siswa juga dilakukan tentang tahap memeriksa kembali hasil yang sudah diperoleh dan mengecek hasilnya. Apabila siswa tersebut sudah benar menjawabnya maka siswa akan diberikan skor sesuai dengan langkah tersebut. Pada kondisi khusus, jika siswa tersebut tidak menjawab soal sama sekali maka siswa tersebut tidak diwawancarai dan diberikan skor nol (0) karena siswa tidak memiliki keinginan untuk berusaha mengerjakan soal. 8.4.2 Data Respon Siswa Data mengenai respon siswa terhadap penerapan model Setelah mendapatkan hasil yang sesuai dengan keinginan dari soal, siswa harus mampu menuliskan suatu kesimpulan

pembelajaran koopertaif tipe STAD dengan strategi problem posing dianalisis dengan menggunakan angket skala Likert. Skala ini sering digunakan untuk menuntut subjek setuju atau tidak dengan menggunakan sekumpulan data objek sikap atau respon (Hamalik,2001). Skala Likert yang digunakan terdiri dari lima pilihan. 1. untuk pernyataan yang positif

29

Sangat setuju (SS) = 5, setuju (S) = 4, kurang setuju (KS) = 3, tidak setuju (TS) = 2, dan sangat tidak setuju (STS) = 1. 2. untuk pernyataan yang negative Sanagt setuju (SS) = 1, setuju (S) = 2, kurang setuju (KS) = 3, tidak setuju (TS) = 4, sangat tidak setuju (STS) = 5. 8.5 Teknik Analisis Data 8.5.1 Analisis Data Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Rata-rata skor kemampuan pemecahan masalah matematika siswa dianalisis dengan rumus :
n

X =

∑X
i =1

i

N

Keterangan : X = Rata-rata skor kemampuan pemecahan masalah matematika siswa

∑X
i =1

n

i

= Jumlah skor kemampuan pemecahan masalah matematika siswa

N

= Banyaknya siswa

Data kemampuan pemecahan masalah matematika siswa dianalisis secara deskriftif berdasarkan rata-rata skor ( X ), mean ideal (MI) dan standar deviasi ideal (SDI), dimana : MI = 1 2 (skor tertinggi ideal + skor terendah ideal) 1 6 ( skor tertinggi ideal - skor terendah ideal)

SDI =

Kriteria penggolaongan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa ditetapkan berdasarkan lima kriteria dalam table 8.4 berikut. Table 8.4 Kriteria Penggolongan Kemampuan Pemecahan Masalah

30

Matematika siswa No. Rentang Skor 1 X ≥ MI + 1,5 SDI 2 3 4 5 MI + 0,5 SDI ≤ X < MI + 1,5 SDI MI − 0,5 SDI ≤ X < MI + 0,5 SDI MI − 1,5 SDI ≤ X < MI − 0,5 SDI X < MI − 1,5 SDI Kriteria Sanagt Baik Baik Cukup Baik Kurang Baik Sangat kurang baik (Nurkancana & Sunartana, 1992) Sebagai indikator keberhasilan yaitu berada dalam kriteria minimal baik. Untuk melihat seberapa besar peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa, maka skor rata-rata kemapuan pemecahan masalah matematika siswa pada siklus I akan dibandingkan dengan rata-rata skor siswa pada tes awal. Penelitian tindakan dikatakan berhasil jika rata-rata skor kemampuan pemecaha masalah matematika siswa meningkat dari rata-rata skor pada tes awal. Besar peningkatannya adalah selisih rata-rata skor kemampuan pemecahan masalah matematika siswa dari siklus I dan tes awal. Kemampuan pemecahan masalah matematika siswa dikatakan meningkat dari siklus I ke siklus II jika ratarata skor kemapuan pemecahan masalah matematika siswa siklus II lebih besar dari arta-rata skor kemampuan pemecahan masalah siswa siklus I. Besar peningkatannya adalah selisih rata-rata skor kemampuan pemecahan masalah matematika siswa dari siklus II dan siklus I. demikian juga kemampuan pemecahan masalah matematika siswa dikatakan meningkat dari siklus II ke siklus III jika rata-rata skor kemampuan pemecahan masalah matematika siklus II lebih besar dari rata-rata skor kemampuan pemecahan masalah siswa pada siklus II. Besar peningkatannya adalah selisih rata-rata skor kemampuan pemecahan masalah matematika siswa dari siklus III dan siklus II. Selain menganalisis skor rata-rata kemampuan pemecahan masalah matematika, skor siswa secara individu juga dianalisis. Skor siswa secara individu akan dianalisis secara persenan dengan menggunakan rumus sebagai berikut.

31

P=

∑P
i =1 i

n

N

SI =

S k +1 − S k × 100%, k = 1,2 Sk

Keterangan : SI = Skor individual S k = Skor siswa pada siklus I 8.5.2 Analisis Data Respon Siswa Rata-rata skor respon siswa dianalisis dengan rumus : Keterangan: P = rata-rata kelas untuk skor respon siswa
n

∑P
i =1

i

=jumlah N = banyaknya siswa

respon siswa ke-i Data respon siswa dianalisis secara deskriptif berdasarkan rata-rata skor P , mean ideal (MI) dan standar deviasi ideal (SDI),dimana: MI = SDI = 1 2 (skor tertinggi ideal + skor terendah ideal) 1 6 ( skor tertinggi ideal - skor terendah ideal)

( )

Kriteria penggolongan respon siswa ditetapkan berdasarkan lima criteria seperi pada table 8.5 berikut. Tabel 8.5 Kriteria Penggolongan Respon Siswa No 1 2 3 4 5 Rentang Skor P ≥ MI + 1,5 SDI MI + 0,5 SDI ≤ P < MI + 1,5 SDI MI − 0,5 SDI ≤ P < MI + 0,5 SDI MI − 1,5 SDI ≤ P < MI − 0,5 SDI P < MI − 1,5 SDI Kriteria Sangat positif Positif Cukup positif Kurang positif Sangat kurang positif (Nurkancana & Sunartana, 1992)

32

Skor rata-rata respon siswa

( P)

yang diperoleh dari

perhitungan dikatagorikan sesuai dengan penggolongan di atas, dengan criteria keberhasilan minimal tanggapan siswa tergholong positif. Secara keseluruhan penelitian ini diaktakan berhasil jika kemampuan pemecahan masalah amtematika siswa minimal berkatagori baik. Selain itu, diharapkan kemampuan pemecahan masalah matematika mengalami peningkatan baik dari tes awal, siklus I, siklus II maupun siklus III dan peningkatan ini disertai dengan terpenuhinya criteria yang telah ditetapkan yaitu ninimal baik.

I. Daftar Pustaka Aryana. 2006. Penerapan Kerangka Pembelajaran Tanduk Disertai Strategi Polya Untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika siswa Kelas VII A SMP 4 Singaraja. Skripsi(tidak diterbitkan) . Jurusan Pendidikan Matematika, Fakultas MIPA, Universitas Pendidikan Ganesha.. Chairani, Zahra.2007. Problem Posing Dalam Pembelajaran Matematika. Makalah Disajikan Pada Seminar Nasional Pendidikan Matematika Tanggal 8 September 2007 Di Hotel Palam Banjarmasin. Diakses tanggal 21 februari 2008 Depdiknas.2005. Peraturan Pemerintah RI No.19 Tahun 2005 tentang

33

Standar Nasional Pendidikan. Jakarta: Cemerlang Kasiati.2008. Pemahaman Matematika Dengan Problem Posing. Laporan Penelitian Tindakan Kelas. Indo Pos Online. Diakses Tanggal 21 Februari 2008 Mahayani. 2005. Metode Pengajuan Masalah Berorientasi Konstruktivis Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas VIII A SMP Negeri 4 Singaraja. Skripsi(tidak diterbitkan) . Jurursan Pendidikan Matematika, Fakultas PMIPA, IKIP Negeri Singaraja. Marpaung. 1996. “ Pendekatan Rani Untuk Pendidikan Matematika Di Sekolah Dasar. Jurnal Penelitian Pendidikan Dasar no.2 th.1996. Hal 33-52 Nurkancana. Wayan dan Sunartana. 1990. Evaluasi Hasil Belajar. Surabaya : Usaha Nasional Sudiana. 2006. Penerapan Strategi Pengajuan Masalah (Problem Posing) Berbantuan Pertanyaan-Pertanyaan Pembimbing dan Jurnal Belajar dalam Pembelajaran Kimia Dasar I. Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Undiksha Edisi Khusus Tahun XXXIX Desember 2006 Spatika, Sri Wahyu. 2006. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dengan Strategi Pengajuan Masalah Untuk Meningkatkan Aktivitas dan Prestasi Belajar Matematika Kelas XA SMA Negeri 1 Kubu. Skripsi(tidak diterbitkan) . Jurursan Pendidikan Matematika, Fakultas MIPA,. Universitas Pendidikan Ganesha Suharta, I Gst Putu. 2003. Pengaruh Penerapan Pendekatan Realistik Terhadap Hasil Belajar Siswa SLTP Negeri Singaraja. Proposal penelitian program DUE-like. Singaraja : IKIP Negeri Singaraja Suharta, I Gst Putu. 2003. Pengkonstruksian Masalah Oleh Siswa(Suatu Strategi Pembelajaran Matematika).Makalah Disampaikan dalam seminar Nasional Pengajaran Matematika Sekolah Menengah tanggal 25 Maret 2000 Di Universitas Negeri Malang. Suharta & Gita : 1999. Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah

34

Matematika Pada Siswa SMU 2 Singaraja Melalui Pengembangan Strategi Pengajuan Masalah. Laporan Penelitian.IKIP Negeri Singaraja Suherman, Eman, dkk. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontenporer. Bandung : Jica Suryanto. 1998. Pembentukan Soal Dalam Pembelajaran Matematika. Makalah Disampaikan Dalam Seminar Nasional Upaya-Upaya Meningkatkan Peran Pendidikan Matematika Dalam Menghadapi Era Globalisasi 4 April 1998. Malang Sukasno. 2002. Model Pembelajaran Pemecahan Masalah dalam pembelajaran Trigonometri. Tesis (tidak diterbitkan). Program Pasca Sarjana, Universitas Pendidikan Indonesia Sutawijaya. 1998. Pemecahan Soal Dalam Pembelajaran Matematika. Makalah Disampaikan Dalam Seminar Nasional Upaya-Upaya Meningkatkan Peran Pendidikan Matematika Dalam Menghadapi Era Globalisasi 4 April 1998. Malang

35

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->