P. 1
bahaya plastik

bahaya plastik

|Views: 487|Likes:
Published by rosmeythriz

More info:

Published by: rosmeythriz on May 01, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/28/2012

pdf

text

original

PENDAHULUAN

Sudah banyak orang yang memberi peringatan, rumor, gosip bahkan artikel majalah tentang bahaya plastik. Tetapi tetap saja hanya segelintir orang yang menggubris, peduli atau sampai meneliti lebih lanjut. Plastik adalah salah satu bahan yang dapat kita temui di hampir setiap barang. Mulai dari botol minum, TV, kulkas, pipa pralon, plastik laminating, gigi palsu, compact disk (CD), kutex (pembersih kuku), mobil, mesin, alat-alat militer hingga pestisida. Oleh karena itu, kita hampir dipastikan pernah menggunakan dan memiliki barang-barang yang mengandung Bisphenol-A. Bisphenol A adalah perusak hormone. Berbagai penelitian telah menghubungkan Bisphenol-A dengan dosis rendah dengan beberapa dampak terhadap kesehatan, seperti perubahan permanen pada organ kemaluan, meningkatkan kadar prostat, penurunan kandungan hormon testoteron, memungkinkan terjadinya kanker payudara, sel prostat menjadi lebih sensitif terhadap hormon dan kanker, dan membuat seseorang menjadi hiperaktif. Salah satu barang yang memakai plastik dan mengandung Bisphenol A adalah industri makanan dan minuman sebagai tempat penyimpan makanan, plastik penutup makanan, botol air mineral, dan botol bayi. University of Missouri telah melakukan tes laboratorium mengenai penggunaan Bisphenol-A pada botol susu bayi dan menemukan bahwa Bisphenol-A pada produk botol susu bayi plastik dari 5 merek terkemuka di Amerika, sangat berpotensi untuk ikut larut dalam cairan. Menurut laporan ini, kelima merk botol susu bayi yang masih dipersoalkan adalah Avent, Dr. Brown¶s, Evenflo, Gerber dan Playtex. Plastik sendiri dikonsumsi sekitar 100 juta ton/tahun di seluruh dunia. Satu tes membuktikan 95% orang pernah memakai barang mengandung Bisphenol-A. Plastik dipakai karena ringan, tidak mudah pecah, dan murah. Akan tetapi plastik juga beresiko terhadap lingkungan dan kesehatan keluarga kita. Oleh karena itu kita harus mengerti plastik-plastik yang aman untuk kita pakai.

1

PLASTIK
1. Pengertian Plastik Plastik adalah polimer; rantai-panjang atom mengikat satu sama lain. Rantai ini membentuk banyak unit molekul berulang, atau "monomer". Plastik yang umum terdiri dari polimer karbon saja atau dengan oksigen, nitrogen, chlorine atau belerang di tulang belakang. (beberapa minat komersial juga berdasar silikon). Tulang-belakang adalah bagian dari rantai di jalur utama yang menghubungkan unit monomer menjadi kesatuan. Untuk mengeset properti plastik grup molekuler berlainan "bergantung" dari tulang-belakang (biasanya "digantung" sebagai bagian dari monomer sebelum menyambungkan monomer bersama untuk membentuk rantai polimer). Pengesetan ini oleh grup "pendant" telah membuat plastik menjadi bagian tak terpisahkan di kehidupan abad 21 dengan memperbaiki properti dari polimer tersebut. Pengembangan plastik berasal dari penggunaan material alami (seperti: permen karet, "shellac") sampai ke material alami yang dimodifikasi secara kimia (seperti: karet alami, "nitrocellulose") dan akhirnya ke molekul buatan-manusia (seperti: epoxy, polyvinyl chloride, polyethylene).

Pellet atau bijih plastik yang siap diproses lebih lanjut. 2. Sejarah Plastik Plastik merupakan material yang baru secara luas dikembangkan dan digunakan sejak abad ke-20 yang berkembang secara luar biasa penggunaannya dari hanya beberapa ratus ton pada tahun 1930-an, menjadi 150 juta ton/tahun pada tahun 1990-an dan 220 juta ton/tahun pada tahun 2005. Saat ini penggunaan material plastik di negara-negara Eropa Barat mencapai
2

60kg/orang/tahun, di Amerika Serikat mencapai 80kg/orang/tahun, sementara di India hanya 2kg/orang/tahun. Plastik buatan manusia pertama kali ditemukan oleh Alexander Parkes pada tahun 1855, ia menyebutnya plastik ini Parkesine (yang kemudian disebut seluloid ). Hal ini diresmikan pada 1862 Great Pameran Internasional di London. Pengembangan plastik berasal dari penggunaan bahan plastik alam (misalnya, permen karet) untuk penggunaan bahan alami yang dimodifikasi secara kimia (misalnya, karet , nitroselulosa , kolagen , galalite ) dan akhirnya untuk sepenuhnya molekul sintetis (misalnya, bakelite , epoxy , polyvinyl chloride, polyethylene). Parkesine adalah merek dagang untuk plastik buatan manusia pertama. Pada 1866 Parkes membentuk Perusahaan Parkesine untuk menghasilkan massa materi. Perusahaan gagal karena kualitas produk miskin disebabkan Parkes berusaha untuk mengurangi biaya. Penerus Parkesine adalah Xylonite, diproduksi oleh Tumpahan Daniel (perusahaan asosiasi yang Parkes), dan Seluloid dari John Wesley Hyatt. Parkesine terbuat dari selulosa diperlakukan dengan asam nitrat dan pelarut. Nama generik dari Parkesine adalah pyroxylin, atau Seluloid. Output dari proses (umumnya dikenal sebagai nitrat selulosa atau pyroxilin) bisa dilarutkan dalam alkohol dan mengeras menjadi bahan transparan dan elastis yang dapat dibentuk apabila dipanaskan. Dengan memasukkan pigmen ke dalam produk, bisa dibuat menyerupai gading. Bois Durci adalah bahan plastik molding berdasarkan selulosa. Itu dipatenkan di Paris oleh Lepage pada tahun 1855. Ini terbuat dari tanah halus tepung kayu dicampur dengan bahan pengikat, baik atau darah albumen telur, atau gelatin. Kayu eboni mungkin salah satu jenis kayu, yang memberikan resin hitam atau coklat. Campuran dikeringkan dan ditumbuk menjadi bubuk halus. Serbuk ditempatkan dalam cetakan baja dan dikompresi dalam kuat tekan hidrolik sementara dipanaskan oleh uap. Produk akhir telah selesai sangat halus disampaikan oleh permukaan cetakan baja. Plastik pertama berdasarkan polimer sintetik dibuat dari fenol dan formaldehid, dengan metode sintesis dan murah yang layak pertama kali ditemukan pada tahun 1907, oleh Leo Hendrik Baekeland , seorang Amerika kelahiran Belgia yang tinggal di negara bagian New York . Baekeland mencari-cari isolasi untuk kawat mantel di motor listrik dan generator. Ia menemukan bahwa campuran fenol (C 6 H 5 OH) dan formaldehid (HCOH) membentuk suatu massa lengket bila dicampur bersama dan dipanaskan. Ia melanjutkan penyelidikan dan menemukan bahwa bahan tersebut dapat dicampur dengan tepung kayu, asbes, atau debu batu
3

tulis untuk membuat "komposit" bahan dengan sifat yang berbeda. Sebagian besar komposisi, kuat dan tahan api. Satu-satunya masalah adalah bahwa material cenderung berbusa selama sintesis, dan produk yang dihasilkan adalah kualitas dapat diterima. Baekeland membangun bejana tekan untuk memaksa keluar gelembung dan menyediakan produk mulus dan seragam. Ia mengumumkan penemuannya pada tahun 1912, penamaan itu bakelite. Ini pada awalnya digunakan untuk bagian listrik dan mekanik, akhirnya digunakan secara luas dalam barang-barang konsumsi pada tahun 1920. Ketika paten Bakelite berakhir pada tahun 1930, Perseroan Catalin diperoleh paten dan mulai memproduksi Catalin plastik menggunakan proses yang berbeda yang mungkin warnanya lebih banyak. Bakelite adalah plastik sejati pertama. Itu adalah murni bahan sintetis, tidak didasarkan pada materi atau bahkan molekul yang ditemukan di alam. Ini juga plastik thermosetting pertama. Bakelite murah, kuat, dan tahan lama. Dapat dibentuk menjadi ribuan bentuk, seperti radio, telepon dan jam, dan bola bilyar.

3.

Jenis-jenis Plastik Plastik dapat digolongkan berdasarkan:
y

Sifat fisikanya 

Termoplastik. Merupakan jenis plastik yang bisa didaur-ulang/dicetak lagi dengan proses pemanasan ulang. Contoh: polietilen (PE), polistiren (PS), ABS, polikarbonat (PC) 

Termoset. Merupakan jenis plastik yang tidak bisa didaur-ulang/dicetak lagi. Pemanasan ulang akan menyebabkan kerusakan molekul-molekulnya. Contoh: resin epoksi, bakelit, resin melamin, urea-formaldehida

y

Kinerja dan penggunaanya 

Plastik komoditas 

sifat mekanik tidak terlalu bagus  tidak tahan panas  Contohnya: PE, PS, ABS, PMMA, SAN  Aplikasi: barang-barang elektronik, pembungkus makanan, botol minuman 

Plastik teknik 

Tahan panas, temperatur operasi di atas 100 °C

4 

Sifat mekanik bagus  Contohnya: PA, POM, PC, PBT  Aplikasi: komponen otomotif dan elektronik 

Plastik teknik khusus 

Temperatur operasi di atas 150 °C  Sifat mekanik sangat bagus (kekuatan tarik di atas 500 Kgf/cm²)  Contohnya: PSF, PES, PAI, PAR  Aplikasi: komponen pesawat y

Berdasarkan jumlah rantai karbonnya 
1 ~ 4 Gas (LPG, LNG)  5 ~ 11 Cair (bensin)  9 ~ 16 Cairan dengan viskositas rendah  16 ~ 25 Cairan dengan viskositas tinggi (oli, gemuk)  25 ~ 30 Padat (parafin, lilin)  1000 ~ 3000 Plastik (polistiren, polietilen, dll)

y

Berdasarkan sumbernya
y Polimer alami : kayu, kulit binatang, kapas, karet alam, rambut y Polimer sintetis:  Tidak terdapat secara alami: nylon, poliester, polipropilen, polistiren  Terdapat di alam tetapi dibuat oleh proses buatan: karet sintetis  Polimer alami yang dimodifikasi: seluloid, cellophane (bahan dasarnya dari

selulosa tetapi telah mengalami modifikasi secara radikal sehingga kehilangan sifat-sifat kimia dan fisika asalnya).

5

4.

Bahaya Plastik

Kode produk plastik dikeluarkan oleh The Society of Plastic Industry pada tahun 1998 di Amerika Serikat dan diadopsi oleh lembaga-lembaga pengembangan sistem koda, seperti ISO (International Organization of Standarization). Secara umum tanda pengenal plastik tersebut: 1. Berada atau terletak di bagian bawah 2. Berbentuk segitiga 3. Di dalam segitiga tersebut terdapat angka 4. Serta nama jenis plastik di bawah segitiga. Ada tujuh macam kode produk plastik, yaitu: 1. PETE atau PET (polyethylene terephthalate)

biasa dipakai untuk botol plastik yang jernih/transparan/tembus pandang seperti botol air mineral, botol jus, dan hampir semua botol minuman lainnya, juga ada yang digunakan untuk botol shampoo, obat kumur, serta selai kacang. Botol-botol dengan kode ini direkomendasikan hanya untuk sekali pakai. Jangan pakai untuk air hangat apalagi panas. Bila digunakan untuk menyimpan air hangat apalagi panas, akan mengakibatkan lapisan polimer pada botol tersebut akan meleleh dan mengeluarkan zat karsonigenik. Buang botol yang sudah lama atau terlihat baret-baret.

6

2. HDPE (high density polyethylene)

biasa dipakai untuk botol susu yang berwarna putih, tupperware, galon air minum, kursi lipat, botol deterjen, margarin, yogurt, dan kantong belanja. HDPE memiliki sifat bahan yang lebih kuat, keras, buram, dan lebih tahan terhadap suhu tinggi. HDPE merupakan salah satu bahan plastik yang aman untuk digunakan karena kemampuan untuk mencegah reaksi kmia antara kemasan plastik berbahan HDPE dengan makanan/minuman yang dikemasnya. Sama seperti kode 1 PETE, kode 2 HDPE juga direkomendasikan hanya untuk sekali pemakaian, karena pelepasan senyawa antimoni trioksida terus meningkat seiring waktu.

3. V atau PVC (polyvinyl chloride)

adalah plastik yang paling sulit di daur ulang. Plastik ini bisa ditemukan pada plastik pembungkus makanan kemasan bening(cling wrap), dan botol-botol seperti shampo. Kandungan dari PVC yaitu DEHA yang terdapat pada plastik pembungkus dapat bocor dan masuk ke makanan berminyak bila dipanaskan. PVC berpotensi berbahaya untuk ginjal, hati dan berat badan. Sebaiknya mencari alternatif pembungkus makanan lain bukan bertanda 3 dan v ini.

7

4. LDPE (low density polyethylene)

yaitu plastik Thermoplastic ( dibuat dari minyak bumi) biasa dipakai untuk tempat makanan dan botol-botol yang lembek namun kuat seperti botol saus, digunakan juga untuk kantong roti atau makanan beku. Sifat-sifat mekanis jenis plastik LDPE, adalah: 1. Kuat, 2. Agak tembus cahaya, 3. Fleksibel dan permukaan agak berlemak. 4. Pada suhu di bawah 60oC sangat resisten terhadap senyawa kimia, 5. Daya proteksi terhadap uap air tergolong baik, 6. Kurang baik bagi gas-gas yang lain seperti oksigen. Barang-barang dengan kode 4 ini dapat di daur ulang dan baik untuk barang-barang yang memerlukan fleksibilitas tetapi kuat dan memiliki resistensi yang baik terhadap reaksi kimia. Barang dengan kode 4 bisa dibilang tidak dapat di hancurkan tetapi tetap baik untuk tempat makanan karena sulit bereaksi secara kimiawi dengan makanan yang dikemas dengan bahan ini.

8

5. PP (polypropylene)

Karakteristiknya adalah botol biasa transparan yang tidak jernih atau berawan. Polipropilen lebih kuat dan ringan dengan daya tembus uap yang rendah, ketahanan yang baik terhadap lemak, stabil terhadap suhu tinggi dan cukup mengkilap. Jenis PP ini adalah pilihan terbaik untuk bahan plastik terutama untuk yang berhubungan dengan makanan dan minuman seperti tempat menyimpan makanan, botol minum dan terpenting botol minum untuk bayi. Karakteristik adalah biasa botol transparan yang tidak jernih atau berawan. Cari simbol ini bila membeli barang berbahan plastik.

9

6. PS (polystyrene)

Ditemukan tahun 1839, oleh Eduard Simon, seorang apoteker dari Jerman, secara tidak sengaja. PS biasa dipakai sebagai bahan tempat makan styrofoam, tempat minum sekali pakai, dll. Bahan Polystyrene yang merupakan polimer aromatic bisa membocorkan bahan styrine ke dalam makanan ketika makanan tersebut bersentuhan. Selain tempat makanan, styrene juga bisa didapatkan dari asap rokok, asap kendaraan, dan bahan konstruksi gedung. Bahan ini harus dihindari karena selain berbahaya untuk kesehatan otak, mengganggu hormon esterogen pada wanita yang mengakibatkan masalah reproduksi, dan pertumbuhan serta sistem syaraf, juga karena bahan ini sulit untuk didaur ulang. Banyak negara bagian di Amerika sudah melarang pemakaian tempat makanan berbahan styrofoam termasuk negara China. Kalau tidak terdapat kode daur ulang pada kemasan, kita bisa melakukan pengecekan sebagai berikut: kemasan tersebut dibakar, jika mengeluarkan api berwarna kuning-jingga dan meninggalkan jelaga, maka kemasan tersebut termasuk plastik berbahan Polystyrene.

7. Other (SAN/Styrene Acrylonitrile, ABS/ Acrylonitrile Butadine Styrene, PC/Polycarbonate dan Nylon)

Dapat ditemukan pada tempat makanan dan minuman, suku cadang, mobil, alat-alat rumah tangga, computer, alat-alat elektronik dan plastik kemasan. PC-Polycarbonate dapat ditemukan pada botol susu bayi, gelas anak batita, botol minum polycarbonate, dan kaleng kemasan makanan dan minuman.
10

Dapat mengeluarkan bahan utamanya yaitu bisphenol-A ke dalam makanan dan minuman yang berpotensi merusak sistem hormon, kromosom pada ovarium, penurunan produksi sperma, dan mengubah fungsi imunitas. Dianjurkan untuk tidak menggunakan tempat makanan dan minuman berbahan ini, karena Bisphenol-A dapat berpindah ke dalam makanan atau minuman jika suhunya dinaikkan karena pemanasan. Ironisnya banyak botol susu yang terbuat dari PC dan sangat mungkin mengalami proses pemanasan untuk tujuan sterilisasi dengan cara merebus, dipanaskan dengan microwave, atau dituangi air mendidih atau air panas. SAN dan ABS memiliki resistensi yang tinggi terhadap reaksi kimia, suhu, kekuatan, dan tingkat kekerasan yang telah ditingkatkan. SAN biasanya terdapat pada mangkuk mixer, pembungkus termos, piring, alat makan, penyaring kopi, dan sikat gigi. Sedangkan ABS biasanya digunakan sebagai bahan mainan lego dan pipa. SAN dan ABS merupakan salah satu bahan plastik yang sangat baik untuk digunakan.

Simbol ini umumnya berarti item dapat didaur ulang.

Masih banyak sekali barang plastik yang tidak mencantumkan simbol-simbol ini, terutama barang plastik buatan lokal di Indonesia . Oleh karena itu, kalau anda ragu lebih baik tidak

11

membeli. Kalaupun barang bersimbol lebih mahal, harga tersebut lebih berharga dibandingkan kesehatan keluarga kita. Pada akhirnya. Hindari penggunaan plastik apapun di Microwave. Gunakan bahan keramik, gelas atau pyrex sebagai gantinya. Hindari juga membuang sampah plastik terutama yang mengandung Bisphenol-A sembarangan karena bahan tersebut pun bisa mencemari air tanah yang pada akhirnya pun bisa mencemari air minum banyak orang.

Bagaimana Dampak Penggunaan Plastik terhadap Kesehatan Tanpa kita sadari alat/ bahan yang kita gunakan sehari-hari menggunakan bahan-bahan yang terbuat dari polimer sintetik seperti plastic. Polimer sintetik tidak pernah lepas dalam kehidupan kita. Mereka telah menjadi bagian yang erat dan menjadi kebutuhan primer bagi kita. Perlengkapan rumah tangga, perlengkapan sekolah, perangkat komputer, telepon, kabel, mainan anak-anak, pembungkus makanan sampai klep jantung buatan, semuanya tidak lepas dari campur tangan polimer sintetik. Hart (1983) dalam bukunya, Organic Chemistry, menyebutkan bahwa polimer (poly = banyak, meros = bagian) adalah molekul raksasa yang biasanya memiliki bobot molekul tinggi, dibangun dari pengulangan unit-unit. Molekul sederhana yang membentuk unit-unit ulangan ini dinamakan monomer. Sedangkan reaksi pembentukan polimer dikenal dengan istilah polimerisasi. Polimer digolongkan menjadi dua macam, yaitu polimer alam (seperti pati, selulosa, dan sutra) dan polimer sintetik (seperti polimer vinil). Plastik yang kita kenal sehari-hari sering dipertukarkan dengan polimer sintetik. Ini dikarenakan sifat plastik yang mudah dibentuk (bahasa latin; plasticus = mudah dibentuk) dikaitkan dengan polimer sintetik yang dapat dilelehkan dan diubah menjadi bermacam-macam bentuk. Padahal sebenarnya plastik mempunyai arti yang lebih 2 sempit. Plastik termasuk bagian polimer termoplastik, yaitu polimer yang akan melunak apabila dipanaskan dan dapat dibentuk sesuai pola yang kita inginkan. Setelah dingin polimer ini akan mempertahankan bentuknya yang baru. Proses ini dapat diulang dan dapat diubah menjadi bentuk yang lain.

12

Golongan polimer sintetik lain adalah polimer termoset (materi yang dapat dilebur pada tahap tertentu dalam pembuatannya tetapi menjadi keras selamanya, tidak melunak dan tidak dapat dicetak ulang). Kebanyakan plastik seperti PVC, agar tidak bersifat kaku dan rapuh ditambahkan dengan suatu bahan pelembut (plasticizers). Beberapa contoh pelembut adalah epoxidized soybean oil (ESBO), di(2-ethylhexyl)adipate (DEHA), dan bifenil poliklorin (PCB) yang digunakan dalam industri pengepakan dan pemrosesan makanan. Bahan pelembut seperti PCB sekarang sudah dilarang pemakaiannya karena dapat menimbulkan kematian jaringan dan kanker pada manusia (karsinogenik). Tanda dan gejala dari keracunan ini berupa pigmentasi pada kulit dan benjolan-benjolan, gangguan pada perut, serta tangan dan kaki lemas. Sedangkan pada wanita hamil, mengakibatkan kematian bayi dalam kandungan serta bayi lahir cacat. Bahan pelembut lain yang dapat menimbulkan masalah adalah DEHA. DEHA mempunyai aktivitas mirip dengan hormon estrogen (hormon kewanitaan pada manusia). Berdasarkan hasil uji pada hewan, DEHA dapat merusakkan sistem peranakan dan menghasilkan janin yang cacat, selain mengakibatkan kanker hati. Untuk menghindari bahaya yang mungkin terjadi jika setiap hari kita terkontaminasi oleh DEHA, maka sebaiknya kita mencari alternatif pembungkus makanan lain yang tidak mengandung bahan pelembut, seperti plastik yang terbuat dari polietilena atau bahan alami (daun pisang misalnya). Bahaya lain yang dapat mengancam kesehatan kita adalah jika kita membakar bahan yang terbuat dari plastik. Pembakaran plastik ini dapat mendatangkan masalah tersendiri bagi kita. Plastik yang dibakar akan mengeluarkan asap toksik yang apabila dihirup dapat menyebabkan sperma menjadi tidak subur dan terjadi gangguan kesuburan. Pembakaran PVC akan mengeluarkan DEHA yang dapat mengganggu keseimbangan hormon estrogen manusia. Selain itu juga dapat mengakibatkan kerusakan kromosom dan menyebabkan bayi-bayi lahir dalam kondisi cacat. Bahan pelembut ESBO (epoxidized soybean oil) juga biasa digunakan sebagai insektisida. Sejauh ini, bahaya bahan pelembut ini bagi kesehatan manusia belum ada/dalam penelitian. Sedangkan bagi lingkungan, ESBO mampu membunuh zooplankton, dan hal ini berakibat pada terganggunya rantai makanan hewan-hewan laut. Hal tersebut pun akan berdampak pada terganggunya sumber protein, khususnya ikan, bagi manusia.
13

Bahan Plastik yang Aman Sebelum membeli makanan atau minuman, masyarakat seharusnya memilih kemasan plastik yang aman digunakan. Untuk mengetahui bahan plastik yang aman digunakan, lihatlah nomornomor yg tertera pada kemasan. Nomor itu biasanya berada di dalam segitiga tanda panah melingkar di bagian bawah kemasan. Setiap nomor menunjukkan bahan yang digunakan.  Nomor 1: Polyethylene terephtalate (PTE atau PETE), biasa digunakan mengemas air minum, minuman ringan berkarbonasi, jus buah-buahan, minyak goreng, saus,jeli, selai.  Nomor 2: High density polyethylene (HDPE), biasa digunakan untuk mengemas susu, yogurt, & botol galon air minum.  Nomor 4: Low density polyethylene (LDPE), biasa digunakan sebagai plastik kemasan rapat (cling wrap), pengemas roti, makanan beku, & botol plastik yang dpt ditekan.  Nomor 5: Polypropylene (PP), biasa digunakan untuk mengemas sup, saus tomat, & margarin. Menurut Dosen Dept Ilmu & Tek Pangan IPB, Dr. Yadi Haryadi, Msc, sebenarnya penggunaan botol plastik, khususnya botol plastik PET, secara berulang-ulang tidak menjadi masalah. Syaratnya, setiap akan dipakai atau diisi ulang, botol-botol tersebut harus dicuci bersih memakai sabun & dikeringkan dahulu.

Jenis Plastik Tidak Aman Berikut adalah jenis plastik yang penggunaannya tidak diperbolehkan untuk bahan pangan karena mengandung bahan berbahaya yang dapat berpindah ke makanan.  Nomor 3: Polyvinyl chloride (PVC atau disebut vinil). Plastik ini sering dibuat cling wrap. Sering juga dipakai untuk wadah kue kering atau cokelat. Ada juga botol plastik yang dapat ditekan (untuk pengeluaran bahan) terbuat dari PVC.  Nomor 6: Polystyrene (PS), sangat dikenal konsumen dlm bentuk kemasan stereofom spt yg digunakan untuk mengemas buah & sayuran di toko2 swalayan.

14 

Nomor 7: Jenis plastik lainnya, terutama polycarbonate. Plastik ini mengandung bisphenol-A yg berbahaya & dapat bermigrasi. Plastik ini tahan suhu tinggi. Ada yg menggunakan sbg botol susu bayi & alat2 makan (sendok, garpu, pisau) plastik.

Mengurangi Bahaya Plastik Gaya hidup modern yang serba praktis membuat kita tidak bisa terpisah dari bahan plastik, terlepas dari segala kontroversi mengenai bahaya atau tidaknya penggunaan plastik, khususnya jika digunakan sebagai kemasan bahan makan. Bahan plastik yang digunakan sebagai tempat penyimpanan makanan dinyatakan bisa menimbulkan berbagai penyakit termasuk kanker. Apakah kita harus berhenti menggunakan plastik? Tentu tidak. Di samping sisi negatifnya, plastik juga sangat bermanfaat dilihat dari segi kepraktisan pengolahan dan penggunaanya. Selain itu, penggunaan plastik juga ramah lingkungan karena bisa mengurangi sampah (reduce), bisa digunakan kembali (reuse) dan bisa diolah kembali (recycle). Dengan begitu, penggunaan plastik tidak akan dihentikan. Bahkan menurut ir. Wawas Swathatafrijiah, Kepala Balai Sentra Teknologi Polimer dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), jumlah penggunaan bahan plastik diperkirakan akan mengalami peningkatan dari 30% di 2005 menjadi 34% di 2010."Jumlah ini sangat signifikan," terang Wawas dalam diskusi mengenai keamanan kemasan plastik, di Jakarta, Selasa (2/6). Lalu bagaimana cara menekan efek negatifnya? Menurut dr. Yadi Haryadi, ahli pangan dari Institut Pertanian Bogor, plastik tidak akan membahayakan kesehatan jika dipilih dan digunakan dengan hati-hati, terutama saat dikaitkan dengan makanan. Makanan yang dibuat dan diolah dengan cara terbaik, menurut yadi, bukan jaminan kalau makanan tersebut sehat jika dimasukkan dalam wadah plastik yang tidak aman. Plastik, lanjut dia lagi, bisa merusak makanan bahkan membuat makanan menjadi racun bagi tubuh melalui proses migrasi berbagai komponen kimia dari kemasan plastik. Bagaimana sebenarnya plastik membahayakan kesehatan melalui makanan? Masalah kesehatan, terang Yadi, muncul saat terjadi kontak langsung antara makanan dan kemasan plastik. Komponen kimia plastik, terang dia lagi, seperti monomer yang terperangkap dan zat aditif lainnya seperti plasticizer, pewarna, dan antioksidan bisa bermigrasi atau berpindah ke makanan.
15

Monomer yang reaktif tersebut, terang dia, ada yang bersifat karsinogenik. Karena itu, monomer ini bisa bereaksi dan berpindah ke dalam makanan yang disimpan. Demikian juga dengan zat aditif lainnya. Semua kandungan kimia ini, menurut Yadi, akan terakumulasi di dalam tubuh seiring dengan waktu. Pada akhirnya, tumpukan komponen beracun ini bisa menimbulkan berbagai penyakit berbahaya termasuk kanker."Sekali setahun tidak masalah, tapi jika tiap hari bisa menimbulkan akibat kronis di masa depan," terang Yadi. Perpindahan komponen kimia ini, terang yadi, akan terjadi saat kemasan plastik bersentuhan dengan makanan khususnya yang bersifat cair atau semi padat. Makanan dalam kondisi ini, lanjut dia, lebih mudah terkontaminasi dengan komponen kimia plastik karena kontaknya lebih banyak dan lebih dekat. Sedang makanan kering, lanjut dia, hanya mengalami sedikit kontak dengan kemasan. Dengan begitu, kemungkinan migrasinya juga jauh lebih kecil. Selain makanan cair dan semi padat, terang dia, proses perpindahan komponen kimia plastik juga akan dipercepat dengan pemanasan (suhu panas), makanan berminyak serta bersifat asam."Proses perpindahan bisa 5 kali lebih cepat dari normal." Di samping faktor tersebut, Yadi menjelaskan lebih jauh, proses migrasi juga dipengaruhi oleh durasi penyimpanan. Semakin lama kontak antara kemasan dan makanan, maka kemungkinan dan jumlah kandungan yang berpindah akan semakin besar pula. Karena itu, terang Yadi, sebaiknya waktu penyimpanan juga dikurangi. Plastik bisa menjadi bahan yang ramah bagi lingkungan jika digunakan dengan tepat berdasarkan prinsip faktor-faktor yang telah disebutkan sebelumnya. Tapi, selain cara penggunaan dan durasi penggunaan, pemilihan plastik yang tepat dan berkualitas juga tidak kalah pentingnya. Dengan memadukan cara penggunaan dan pemilihan bahan yang tepat, plastik bisa menjadi bahan yang ramah tanpa mengganggu kesehatan. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih plastik: Konsumen seringkali salah mengartikan logo segitiga dengan angka ditengahtengahnya, yang terdapat dalam kemasan plastik. Ada yang mengira kalau urutan angka 1-7 dalam kemasan tersebut sekaligus mewakili kualitas plastik. Hal ini tidak benar adanya. Menurut Wawas, logo tresebut bukan penunjukkan kualitas tetapi penanda plastik yang bisa didaur ulang dan golongannya. Angka 1 misalnya, yang merujuk pada Polyethylene terephthalate, menunjukkan kalau semua kemasan yang terbuat dari bahan ini bisa didaur ulang bersama. Tetapi, tidak menjamin kalau bahan ini berkualitas terbaik dengan angka migrasi kecil.
16

Nomor 1 (Polyethylene terephthalate ), 2 (High-density polyethylene), 4 (Low density polyethylene), dan 5 (Polypropylene), lanjut Wawas, merupakan plastik yang relatif aman karena bahan polimernya ditengarai tidak membahayakan."Tetapi bergantung juga pada zat aditifnya," terang dia. Karena itu, dalam memilih plastik ada baiknya tidak menggunakan angka ini sebagai pedoman utama. Pedoman yang lebih baik, terang Yadi, adalah tulisan food safe atau food grade, yang kadang juga hanya dicantumkan dalam bentuk logo gelas dan garpu, atau tulisan approved by fda. Tetapi jangan salah, lanjut Yadi lagi, pencantuman logo ini saja belum cukup. Konsumen juga harus memperhatikan kredibilitas pembuatnya atau merek dagang yang dipatenkan."Lihat dulu industrinya, kalau lokal masih meragukan," ujar dia. Untuk memastikan itu, terang dia, saat berbelanja, pilihlah kemasan yang telah dikenal kualitasnya dan pastikan membeli yang asli dengan cara membeli langsung pada dealer resminya."Jangan tergiur dengan harga murah," terang dia. Bagaimanapun, terang Yadi, kemasan yang telah memiliki standar food grade pasti harus memenuhi standar produksi tertentu yang jauh lebih baik dan tentunya dengan biaya yang lebih mahal pula. Langkah selanjutnya, terang yadi, adalah mengikuti pentunjuk pemakainan kemasan. Jika untuk kulkas pakailah hanya untuk kulkas saja, demikian juga untuk yang lainnya. Selain itu, jika memang untuk makanan dan hanya bisa dipakai sekali, pastikan tidak memakainya lagi keculai untuk benda-benda lain di luar makanan dan obat. Jika hendak membeli atau mengemas bahan cair atau semi padat, lebih baik menggunakan bahan dengan kode angka 1, 2, 4, dan 5. Selain itu, pastikan dulu kalau makanan Anda sudah dingin. Beriktnya, hindari membungkus makanan panas berminyak seperti bakso dan gorengan dengan kemasan plastik. Dan, jika hendak mengemas makanan cair yang bersifat asam, ada baiknya menghindari kemasan dari plastik. Jika sudah membeli, Wawas menambahkan, kualitas plastik bisa diperhatikan secara kasat mata dengan melihat bau dan rasa plastik. Menurut dia, plastik yang baik tidak berbau dan tidak berasa. Dan jika dicuci dan dibersihkan dengan baik, maka baunya akan langsung hilang. Jika tidak, tegas dia, berarti plastik tersebut mempunyai pori."Kalau bau, lebih baik cari produk yang lain lagi," terang Wawas.

17

Tips memakai produk plastik : Cegah penggunaan botol susu bayi dan cangkir bayi (dengan lubang penghisapnya) berbahan polycarbonate, cobalah pilih dan gunakan botol susu bayi berbahan kaca, polyethylene, atau polypropylene. Gunakanlah cangkir bayi berbahan stainless steel, polypropylene, atau polyethylene. Untuk dot, gunakanlah yang berbahan silikon, karena tidak akan mengeluarkan zat karsinogenik sebagaimana pada dot berbahan latex. Jika penggunaan plastik berbahan polycarbonate tidak dapat dicegah, janganlah menyimpan air minum ataupun makanan dalam keadaan panas. Hindari penggunaan botol plastik untuk menyimpan air minum. Jika penggunaan botol plastik berbahan PET (kode 1) dan HDPE (kode 2), tidak dapat dicegah, gunakanlah hanya sekali pakai dan segera dihabiskan karena pelepasan senyawa antimoni trioksida terus meningkat seiring waktu. Bahan alternatif yang dapat digunakan adalah botol stainless steel atau kaca. Cegahlah memanaskan makanan yang dikemas dalam plastik, khususnya pada microwave oven, yang dapat mengakibatkan zat kimia yang terdapat pada plastik tersebut terlepas dan bereaksi dengan makanan lebih cepat. Hal ini pun dapat terjadi bila kemasan plastik digunakan untuk mengemas makanan berminyak atau berlemak. Bungkuslah terlebih dahulu makanan dengan daun pisang atau kertas sebelum dibungkus dengan plastik pembungkus ketika akan dipanaskan di microwave oven. Cobalah untuk menggunakan kemasan berbahan kain untuk membawa sayuran, makanan, ataupun belanjaan dan gunakanlah kemasan berbahan stainless steel atau kaca untuk menyimpan makanan atau minuman. Cegah penggunaan piring dan alat makan plastik untuk masakan. Gunakanlah alat makan berbahan stainless steel, kaca, keramik, dan kayu. Terapkan, sebarkan dan ajaklah setiap orang di lingkungan rumah, kantor, sekolah, kampus, dan di manapun untuk mengetahui informasi ini dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

18

KESIMPULAN

1.

Plastik yang terbaik memiliki kode daur ulang, yaitu kode 1 (PETE/PET), kode 2 (HDPE), kode 4 (LDPE), kode 5 (PP) dan kode 7 (SAN & ABS). Dikatakan terbaik karena plastik dengan kode daur ulang tersebut lebih mudah untuk didaur ulang, tidak mengandung Bisphenol-A yang merupakan zat perusak hormon dan tidak mengandung polimer yang berbahaya.

2.

Plastik yang terbaik untuk wadah makanan adalah plastik dengan kode 5 (PP), karena plastik tersebut mengandung bahan yang aman dan dapat dipakai berkali-kali (recycle).

3.

Plastik yang kurang baik untuk wadah makanan adalah plastik dengan kode daur ulang, yaitu: kode 3 (V/PCV), kode 6 (PS), kode 7 (khusus polycarbonate). Dikatakan kurang baik karena plastik dengan kode daur ulang tersebut mengandung Bisphenol-A, yaitu zat perusak hormon, dan mengandung polimer yang berbahaya bagi kesehatan tubuh, serta sulit untuk didaur ulang.

4.

Menurut saya plastik pada umumnya tidak membahayakan apabila diperhatikan dengan teliti jenis dan fungsinya sebelum digunakan. Dalam hal ini, kita bisa lihat dari kode daur ulangnya yang sebelumnya telah dijelaskan penggunaannya. Pada dasarnya plastik memang sangat berbahaya apabila digunakan sebagai wadah makanan atau minuman yang panas, karena zat kimia dalam plastik akan mudah terlepas dan bereaksi dengan makanan.

19

DAFTAR PUSTAKA

http://www.wikipedia.com/plastik http://dedekindy.blogspot.com/2008/08/bahaya-plastik-bagi-kesehatan.html http://dwiaris.web.id/kabar-gosip/awas-bahaya-plastik-daur-ulang/ http://id.shvoong.com/medicine-and-health/epidemiology-public-health/1851187-plastik-danbahaya-produk/

20

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->