Makalah permasalahan banjir di kota Samarinda Kalimantan Timur

Abstrak

Formatted: Font: 12 pt, Font color: Text 1, Highlight

Sistem drainase perkotaan merupakan salah satu komponen infrastruktur perkotaan yang sangat penting. Kemajuan sebuah kota dapat langsung dinilai dari kondisi sistem drainasenya. Kota dengan sistem drainase yang jelek akan berkesan kotor, jorok, kumuh dan terbelakang. sebaliknya kota dengan sistem drainase yang bagus akan tampak indah, serasi dan maju. Kota-kota di Indonesia, secara umum sistem drainasenya belum baik sehingga banjir masih sering melanda, tidak hanya pada musim hujan, musim kemarau pun terjadi genangan, terutama di kota-kota pantai. Padahal pembangunan dan pengembangan sistem drainase selalu dilakukan namun masih kalah cepat dengan perkembangan beban drainase yang terjadi.Salah satu penyebab mengingkatnya beban drainase adalah perubahan tata ruang atau pemanfaatan lahan yang terus berjalan dan kurang memperhatikan daya dukungnya. perubahan guna lahan tidak selalu dikuti dengan tindakan untuk mempertahankan fungsinya. selain itu, penurunan cadangan air tanah makin meningkat akibat makin timpangnya pengisian dan penyedotan air tanah.

Formatted: Font color: Text 1, Highlight

Formatted: Font color: Text 1

Formatted: Left

1

BAB I PENDAHULUAN 2 .

apabila terjadi hujan lebat di kawasan utara Samarinda karena Waduk Benanga tidak mampu menahan jutaan meter kubik air hujan sehingga Sungai Karang Mumus akan meluap menyebabkan banjir kian merata di kota itu. Upaya-upaya tersebut ternyata kalah cepat dengan perkembangan kota. pembangunan sarana pengendali banjir serat beberapa aturan telah dikeluarkan untuk pengendalian banjir. maka sebagian kawasan Samarinda tergenang. Luas DAS Sungai Karang Mumus sekitar 36. 3 . Apabila terjadi hujan lebat dalam beberapa jam. Oleh sebab itulah maka diperlukan suatu penataan terpadu pengendalian banjir dengan menyusun prioritas penanganan dan pembiayaan sesuai dengan kondisi actual serata prediksi pembangunan masa mendatang. LATAR BELAKANG MASALAH Samarinda sebagai Ibu Kota Kalimantan Timur yang saat ini tengah berkembang dengan pesat. Jarak muara sungai Karang Mumus sampai Bendung Lempake sekitar 20 km. namun upaya tersebut belum optimal dalam mengatasi masalah banjir. yakni Sungai Mahakam sebagai sungai terpanjang dan terlebar di Kaltim dan Sungai Karang Mumus.527 ha dengan panjang alur utama sekitar 40 km. Di Samarinda kini hanya terlihat dua sungai yang membelah "Kota Tepian" itu. Fenomena kejadian banjir saat ini tidak hanya terjadi pada saat musim penghujan namun pada saat terjadi hujan dengan durasi 3 jam saja sudah dapat mengakibatkan banjir. merupakan anak Sungai Mahakam. Kian parah. Kondisi yang demikian ini sangat mengganggu aktivitas warga Kota Samarinda. berbagai studi terkait pengendalian banjir kota. pembenahaan sungai-sungai yang melinatasi kota. Berbagai upaya telah dilakukan. namun di tengah perkembangan ini Kota Samarinda masih selalu didera dengan permasalahan banjir. Upaya tersebut berupa pemeliharaan saluran drainase kota.1.

Sungai Siring. Beberapa anak sungai Karang Mumus antara lain sungai Lubang Putang. Sungai Muang. Sungai Bayur. Secara umum kondisi topografi daerah pengaliran sungai Karang Mumus berbukit-bukit dan juga terdapat daerah datar khususnya di alur sungai Karang Mumus yang berada dalam kota Samarinda. TUJUAN PENELITIAN Kegiatan ini bertujuan untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan tentang partisipasi masyarakat dalam penanggulangan banjir. dengan luas tangkapan air sekitar 195 km2. Kabupaten Kutai Barat.25 km2). 2. Daerah aliran sungai (DAS) Sungai Mahakam mencapai jutaan hektare karena merupakan sungai terpanjang di Kaltim. Keluaran yang diharapkan adalah gambaran mengenai kebijakan dan regulasi yang telah ada. mulai dari penyusunan konsep kebijakan. Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kota Samarinda. yakni mencapai 920 Km melintasi tiga daerah. Kemudian rekomendasi kebijakan partisipasi masyarakat dalam penanggulangan banjir. namun mengingat perkembangan kota dan peningkatan pemenuhan pemukiman. Sealin itu terdapat dua sub system lain yang juga mempunyai masalah banjir yaitu DAS Karang Asam Besar (9. sesuai tingkat keterlibatannya pada tiap tahapan kegiatan. BAB II 4 . Sungai Selindung. Sungai Lantung.Bendung Lempake dibangun pada tahun 1977. di DAS ini diprediksi akan berpotensi menjadi daerah banjir bila tidak ada penganganan secara dini. Sungai Lingai dan Sungai Bengkuring. Sungai Loa Bakung meskipun mempunyai DAS tidak masuk dalam Kota Samarinda. Di sepanjang alur sungai Karang Mumus masuk anak-anak sungai dan juga terdapat beberapa lokasi rawa. hingga pelaksanaan dan evaluasi kegiatan.65 km2) dan DAS Karang Asam Kecil (16. berdasarkan data yang diperoleh dari survai dan kajian berbagai literatur.

Faktor alam seperti tingginya curah hijan. Pertumbuhan penduduk akan diikuti dengan peningkatan kebutuhan infrastruktur. sedimentasi di sungai. Iklim tropis. Peningkatan kebutuhan lahan usaha maupun penyediaan lahan untuk infrastruktur tentu akan mempengaruhi tataguna lahan. sarana air bersih. apabila manajemen persampahan tidak baik maka sampah akan menimbulkan masalah antara lain penyumbatan di saluran drai nase dan sungai tersebut. Pertumbuhan penduduk tentu akan meningkatkan produksi sampah. dan akibatnya kapasitas alir sungai akan menurun. badai. utamanya bersumber pada unsur pertumbuhan penduduk. dan berdampak menurunnya potensi serapan air ke dalam tanah. dan lain-lain. perkebuanan maupun industri. Selain itu dengan lebih terbukanya lahan maka semakin mudah lapisan tanah tergerus air hujan maka sedimenta si akan terjadi di sungai. kapasitas alur. yaitu musim hujan dari bulan Oktober sampai dengan Maret dan musim kemarau dari bulan April sampai 5 . topografi wilayah. pasang surut air laut. iklim tropis Indonesia ditandai oleh 2 musim. Secara umum permasalahan banjir terjadi akibat berlebihnya limpasan permukaan dan tidak tertambpungnya limpasan tersebut dalam badan sungai sehinga air meluap. sebagai berikut : Penyebab Alamiah Banjir secara alamiah dapat terjadi karena pengaruh dari iklim. Faktor alamiah ini sulit untuk dikendalikan. perlu dipahami terlebih dahulu sumber penyebab terjadinya banjir. drainase ataran bamjir yang tidak memadahi serta pengaruh pasang surut. serta layanan masyarakat lainnya. seperti pemukiman. Berdasarkan uraian di atas permasalahan banjir yang ada di Kota Samarinda dapat diperkirakan sumber-sumber penyebab banjirnya. Selain itu pertumbuhan penduduk akan diikuti pula oleh peningkatan penyediaan lahan untuk usaha seperti pertanian. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA BANJIR Sebelum membicarakan system pengendalian banjir yang efektif dan tepat guna. Berikut ini akan dijelaskan secara rinci penyebab banjir secara alamiah di Kota Samarinda. kalaupun bisa memerlukan biaya yang cukup besar.PERMASALAHAN BANJIR 1. pendidikan. pe ngaruh phisiografi. Terdapat dua faktor utama penyebab banjir yaitu factor alam (natural) dan factor manusia (man made). Faktor kedua adalah manusia.

apabila fasilitas drainase maupun fasilitas pengendali banjir yang lain belum mendukung. di lokasi ini terjadi perubahan slope antara perbukitan menuju dataran. Hujan maksimum harian yang pernah terjadi di wilayah Kota Samarinda adalah 147 mm yang tercatat di stasiun Temindung. Berkaitan dengan morfologi sungai di wilayah Kota Samarinda banyak terdapat daerah-daerah cekungan dimana daerah tersebut pada awlanya sebagai daerah retarding basin. Hujan harian maksimum ini setara dengan kala ulang 10 tahunan. Beberapa sungai yang mengalir di tengah Kota Samarinda adalah sungai yang mempunyai kemiringan dasar landai dan banyak terjadi meandering. dimana daerah ini relative datar. Tingginya curah hujan ini akan sangat mempengaruhi kondisi banjir Kota Samarinda. Berdasrkan data curah hujan yang ada di wilayah Kota Samarinda menunjukkan bahwa rerata hujan tahunan sebesar 2. Daerah rawan banjir sepanjang Jl.021 mm dengan hari hujan tahunan sebanyak 146 hari. sungai-sungainya lebih panjang dan daerah pengalirannya lebih luas. Kota Samarinda merupakan salah satu Kota yang mempunyai posisi dekat dengan garis ekuator sehingga kondisi musim yang terjadi tidak berbeda dengan daerah lain di Indonesia. namun saat ini daerah tersebut telah berubah menjadi daerah 6 . Kondisi ini diperburuk dengan tingginya kepadatan penduduk di daerah genangan banjir. Berdasarkan kondisi yang ada tersebut di atas terindikasi bahwa wilayah Kota Samarinda mempunyai rerata hujan yang cukup tinggi. Sebagai ilustrasi daerah rawan banjir di wilayah Sempaja berada di bawah perbukitan Gunung Cermin dimana perubahan slope baik itu slope lahan maupun sungai cukup mempengaruhi kelancaran limpasan permukaan. sehingga limpasan air dari perbukitan tersebut akan terkonsentrasi mengalir pada daerah datar tersebut. pada umumnya perkembangan wilayah di Pulau Kalimantan berada di tepian sungai. Pengaruh Phisiografi. Kondisi morfologi setiap sungai di Pulau Kalimantan pada umumnya mempunyai kemiringan dasar sungai cukup landai. Hujan lebat di musim hujan menyebabkan masalah -masalah yang cukup berarti di Indonesia. Suryanata sampai dengan permepatan Air Putih secara topografi limpasan dari bukit akan terkonsentrasi menuju Jl. Sentosa ± arah ke Lempake.September. Demikian pula dengan lokasi rawan banjir sepanjang Jl. Suryanata sampai permepatan Air Putih. Selain kondisi morfologi sungai yang demikian secara topografi wilayah Kota Samarinda terutama daerah yang berkembang berada pada dataran (plain) dimana daerah -daerah ini berada di antara perbukitan.

Pengurangan kapasitas aliran pada sungai dapat disebabkan oleh erosi. padahal berdasar morfologi sungai daerah tersebut sebagai daerah retarding basin. Erosi ini menyebabkan sedimentasi di sungai-sungai. kapasitas resapan daerah pengliran sungai untuk menahan air dengan infiltrasi tergantung pada kondisi fisik daerah pengliran sungai. Jakarta ± Loa Bakung yang saat ini telah berubah menjadi lokasi permukiman dimana secara alami fungsi daerah tersebut sebagai retarding basin sungai Loa Bakung. Banyak saluran drainase yang menyempit bahkan ada yang sudah tidak dapat berfungsi karena sedimentasi di saluran drainase. Kondisi ini mengindikasikan bahwa terdapat konsentrasi sedimen yang cukup tinggi.pemukiman penduduk. Banyak lokasi retarding basin yang telah berubah fungsi yaitu daerah Gunung Lingai yang merupakan lokasi retarding basin sungai Karangmumus dan Sungai Sempaja. Sedimentasi di sungai ini menyebabkan peninggian (agradasi) dasar sungai dan meningkatkan resiko banjir. Erosi yang berlebihan terjadi karena tidak adanya vegetasi penutup dan adanya pengolahan tanah. di sungai pengendapan sedimen di muara sungai akan memperpanjang delta sungai. Lokasi ini telah berubah menjadi daerah pengembangan permukiman dan sebagai daerah pertokoan. Meskipun kepadatan saluran drainase yang 7 . namun yang menjadi permasalahn adalah kapasitas dari saluran drainase yan g semakin mengalami penurunan. Selain sedimentasi di sungai indikasi tingginya tingkat erosi di DAS dapat dilihat di saluran saluran drainase yang masuk sungai alam. Sedimentasi. mengurangi kemiringan memanjang sungai. Dengan perubahan peruntukan ini secara awam daerah tersebut dikategorikan sebagai daerah rawan banjir. Apabila suatudaerah mempunyai drainase dataran banjir yang kurang memadai. Mencermati secara fisik aliran air yang ada di sungai yang melintas Kota Samarinda terlihat pada saat musim penghujan atau sesaat setelah terjadi hujan warna air yang mengalir di sungai terlihat coklat ke hitam-hitaman. Dari pengamatan di lapangan merupakan penyebab utama berkurangnya kapasitas alir saluran. drasinase daerah dataran banjir yang tidak memadai Modifikasi daerah dataran banjir secara teratur dapat merintangi aliran sungai dan pada akhirnya akan mempertinggi elevasi banjir. dimana hasil erosi diensapkan pada bagian hilir sungai. mengurangi kapasitas angkut sungai. khususnya tanaman penutup aliran permukaan. dan memperbesar resiko banjir. Daerah layanan drainase Kota Samarinda saat ini sudah cukup luas. Daerah rawa di sekitar Jl. Drasinase. maka daerah tersebut akan menjadi daerah banjir di saat musim hujan.

saluran drainase Jl. Pasang naik sungai Maraca tertinggi mencapai 1. Pembukaan lahan pertambangan batubara di beberapa lokasi perbukitan juga menyebabkan hilangnya vegetasi penutup lahan. hal ini sangat berpengaruh terhadap kelancaran anak sungai Mahakam dan saluran-saluran drainase yang pada umumnya di wilayah Samarinda mempunyai kemiringan dasar saluran yang landai. perkebunan. Suryanata. Perubahan dari hutan manjadi lahan pertanian dapat menimbulkan sedimentasi dan hilangnya daya redap lahan akibat tidak adanya veget asi penutup lahan.35 m. Perubahan daerah pengaliran sungai seperti penggundulan hutan. Banyak comtoh alokasi di DAS yang telah mengalami perubahan seperti di DAS Karangmumus. Masalah banjir yang disebabkan oleh tindakan manusia. Selain di DAS Karangmumus juga di sub DAS Karang Asam Besar. Pengaruh air pasang. selain terjadi limpasan sesaat yang cukup tinggi bila hujan turun juga sedimentasi akibat pembukaan lahan (land clearing). juga di daerah hulu terdapat pertambangan batubara. dan sungai-sungai yang lain. pembukaan lahan untuk penyediaan lahan usaha (pertanian. sungai Karang Asam Besar dan Karang Asam Kecil. dimana di sub DAS sungai Binangat di daerah hulu DAS telah dilakukan penambangn batubara.ada di Kota Samarinda secara umum telah mencukupi namun dari hasil pengamatan lapangan didapati kapasitas saluran yang tidak memadahi. Sungai Mahakam sangat berpengaruh terhadap kelancaran aliran anak-anak sungainya. Pasang air laut juga mempunyai efek yang berarti pada masalah banjir. 8 . Slamet Riyadi. dan lainnya. sehingga akan menambah beban sedimen baik itu di sungai maupun saluran drainase. Cendana. Sebagai contoh adalah saluran drainase di daerah Temindung. Jl. yaitu : Perubahan daerah pengaliran sungai. yang mana terdapat beberapa anak sungai Mahakam yang berada di Kota Samarinda seperti sungai Karangmumus. sungai Sambutan. Saluran drainase tersebut selain kapasitasnya terlalu kecil juga beban sedimen yang tinggi. Penyebab Karena Tindakan Manusia. Penambangan ini telah merubah daerah peruntukan DAS yang semula sebagai perkebunan/ladang menjadi daerah terbuka. saluran drainase Jl. pertambangan) dan penyediaan lahan untuk pemukiman dapat memperburuk masalah banjir yang ditandai dengan meningkatnya aliran debit banjir. Jl. sehingga akan sangat memepngaruhi nilai koefisien resapan DAS. khususnya jika puncak banjir bersamaan dengan air pasang tinggi. sungai Loa Bakung. Kadrie Oening.

dan untuk penanganan sampah yang masuk saluran drainase diperlukan biaya besar. Penataan sungai Karangmumus bagian Hilir sampai Jembatan III telah dilaksanakan. yaitu dengan melakukan restlemen penduduk kawasan bantaran sungai Karangmumus. dan lokasi lain akan sangat mempengaruhi beban banjir daerah hilir lokasi-lokasi tersebut. tidak hanya di wilayah Samarinda tapi juga untuk wilayah yang lain. Banyak lokasi dalam Kota Samarinda yang pada awal perkembangan kota (th. kotoran. Saat ini bagian hilir sungai ini nampak lebih tertata dan aliran sungai akan lebih lancar. Sampah Pembuangan. Tidak terkontrolnya pengembangan lokasi misalnya dengan penimbunan daerah rawa seperti di lokasi Loa Bakung. Banyak rumah-rumah pangguang di bentaran sungai ini dan ada kecenderungan bertambah. Sempaja. Sungai karangmumus. Perumahan kumuh sepanjang alur sungai dapat menjadi penghambat aliran. Rumah0rumah panggung di tepian sungai akan menghambat aliran air di sungai selain mempersempit alur sungai. Kawasan Kumuh. Reklamasi daerah genangan maupun daerah rawa akan mengurangi daerah retensi banjir. dan reruntuhan yang dihasilkan dari penimbunan sembarangan dari material ke dalam alur -alur drainase akan mengurangi kapasitas alir saluran. perkantran yang tidak terkontrol akan meningkatkan nilai koefisien pengaliran dan juga menurunkan daya tampung air di lahan tersebut. sampah. Banyak saluran di wilayah Samarinda yang berkurang kapasitasnya akibat sedimentasi material sampah. Bengkuring. Terdapat beberapa lokasi yang 9 . 1980an) merupakan daerah tampungan air sementara saat ini karena tuntutan perluasan kota dan penyediaan lahan untuk permukiman dan industri menjadi daerah berkembang. Untuk sungai skala kecil atau saluran di lokasi pasar diperlukan bangunan penyaring sampah (trashrack) sehingga sampah tidak membebani lokasi hilir pasar. Selain itu juga perlu diwaspadai lokasi -lokasi yang potensial memproduksi sampah seperti daerah pasar yang lokasinya dekat dengan sungai. Penyediaan lahan untuk permukiman. industri. Namun demikian masih diperlukan usaha lebih keras lagi penataan bagian sungai yang lain sehingga nantinya sungai Karangmumus benar-benar tertata dan apat digunakan sebagai acuan bagi pengembangan penataan bantaran sungai.Pengembangan daerah dataran banjir dan tataguna lahan. lokasi ini potensial sebagai sumber bencana daerah hilir karena sampah yang lolos ke sungai akan menyumbat saluran daerah hilir. sungai Karang Asam Kecil dan Karang Asam Besar merupakan tiga sungai penting yang memberi kontribusi banjir di wilayah Kota Samarinda.

terdapat Pasar Kedondong yang berada di pinggir sugai Karangasam Besar. Bangunan di sungai. Fasilitas di lokasi baru harus tersedia dalam kapasitas cukup dan layak sehingga tidak ada istilah pemindahan daerah kumuh yaitu menghilangkan satu daerah kumuh menciptakan daerah kumuh baru. Jembatan dan bangunan pada sungai yang tidak mengikuti rencana pengelolaan sungai akan menghambat aliran. namun tiga sungai lain yaitu Sungai Karangasam Kecil dan Karangasam Besar dan Sungai Loa Bakung sampai dengan saat ini belum dilakukan penataan. sebagai contoh Pasar Damak yang berada di atas alur sungai Karangmumus. Pilar atau pondasi bangunan tersebut akan mempersempit alur yang ada sehingga terjadi pembendungan di lokasi tersebut. Seperti halnya Pasar Damak perlu dilakukan penertiban terhadap sistem pembuangan sampah sehingga tidak akan menambah permasalahan pada Sungai Karangasam Besar. Restlement penduduk bantaran sungai ini harus menjamin bahwa di tempat yang baru penduduk dapat tempat yang lebih layak baik dari segi hunian maupun dalam mencukupi kehidupannya. 2. Sungai Karangmumus yang merupakan salah satu anak sungai Mahakam di wilayah Samarinda sudah mempunyai masterplan penataannya. Selain Pasar Damak. DRAINASE KOTA SAMARINDA Pada umumnya daerah yang saat ini mempunyai perkembangan sangat pesat di wilayah Kota Samarinda berada di daerah dengan topografi rendah dan relatif datar. Produksi sampah dari pasar ini cukup besar apabila penanganan tidak baik akan masuk ke alur sungai Karangmumus dan akhirnya menambah beban sedimentasi sungai Karangmumus. Seperti diketahui ada 4 anak sungai Mahakam yang melintas di wilayah Samarinda. Disamping itu pengetatan ijin bangunan di daerah pinggir sungai dan tidak mengijinkan dan menertibkan bangunan di sepanjang bantaran sungai. sehingga kelancaran aliran sungai ini sangat terganggu.memproduksi sampah yang berada di atas badan sungai. Saat ini fungsi saluran drainase yang berfungsi untuk menampung limpasan permukaan dan saluran yang menampung limbah cair dari rumah tangga. Denegan berfungsi ganda akan semakin 10 . Perlu dilakukan studi detail desain penataan ketiga s ungai ini dan juga dilakukan studi restlement plan untuk relokasi penduduk yang nanti dibebaskan dari bantaran ketiga sungai ini. utamanya di kota-kota yang dilintasi oleh sungai. Banyak masalah bangunan di bantaran sungai.

yang menetapkan perlunya menetapkan garis sempadan sungai dan pengaturan penggunaan dataran banjir. Banjir yang terjadi akibat dari kapasitas alur sungai yang terbatas. Banjir yang terjadi di daerah atas (hulu) yaitu di DAS Manggis dengan durasi 3-4 jam akan dapat menyebabkan banjir di daerah Jl. Antasari. genangan air yang timbul akibat hujan yang jatuh di daerah itu sendiri. Hal ini terjadi jika hujan yang terjadi di daerah hulu menimbulkan aliran banjir yang melebihi kapasitas sungainya sehingga terjadi limpasan. Semua sistem pembuangan di wilayah Kota Samarinda mengalir menuju sungai alam yang selanjutnya masuk ke Sungai Mahakam. 63 Tahun 1993 tentang garis Sempadan Sungai.menambah beban saluran tersebut.7 m dan lama genangan bisa mencapai 3-5 jam. banjir yang terjadi baik akibat aliran langsung air pasang dan/atau air balik dari saluran drainase akibat terhambat oleh air 11 . Tinggi genangan maupun lama genangan akan semakin besar apabila pada saat hujan bersamaan dengan pasang Sungai Mahakam.. Sementara situ sistem drainase yang ada di wilayah Kota Samarinda masih belum mengikuti standar sistem drainase yang benar. dapat dibedakan menjadi 3 macam. Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. Daerah Manfaat Sungai. Sumber genangan (banjir) di Kota Samarinda khususnya pada daerah hilir. dan Bekas Sungai. 35 (1991) tentang Sungai dan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. Banjir akibat pasang Sungai Mahakam. aliran banjir yang datangnya dari daerah hulu diluar kawasan yang tergenang. sehingga apabila terjadi kenaikan muka air di sungai akan memperngaruhi secara langsung aliran drainase lingkungan tersebut. Banjir lokal. ketinggian genangan air antara 0. Pada banjir lokal. Dalam implementasinya khususnya di wilayah Kota Samarinda masih belum efektif diterapkan dan banyak menghadapi permasalahn sosial. kejadian banjir seperti ini hampir terjadi di semua daerah rendah. yaitu : Banjir kiriman. Banyak drainase lingkungan yang langsung masuk ke sungai alam. Daer ah Penguasaan Sungai. Hali ini dapat terjadi kalau hujan yang terjadi melebihi kapasitas sistem drainase yang ada.2 -0. Sebagai contoh lokasi yang sering mendapat banjir kiriman adalah daerah sekitar jalan Panglima Antasari. Waktu tiba banjir yaitu perjalanan banjir dari daerah hulu sampai dengan terjadinya genangan di wilayah ini sekitar 4-5 jam. selain itu juga akan menambah kekumuhan saluran.

pasang.20-0. Permasalahan ini tidak saja akan menghambat laju aliran namun juga mengurangi kapasitas saluran. Penurunan kapasitas alir saluran drainase akibat sedimentasi dan sampah yang masuk di saluran drainase.58 m.149. Dalam permasalahan ini kapasitas desain sudah tidak sesuai dnegan debit limpasan yang terjadi. Contoh yang mudah 12 . Dari panjang saluran drainase yang ada di Kota Samarinda banyak saluran yang sudah tidak berfungsi sebagaimana mestinya bahkan sudah tidak berfungsi sebagai saran pamatusan air limpasan permukaan. Kondisi ini banyak dijumpai hampir di seluruh jaringan drainase yang ada. Berdasarkan data survey yang pernah dilakukan dalam studi Penyusunan Outline rencana Induk Drainase Kota Samarinda panjang saluran drainase Kota Samarinda adalah 303. Konstruksi saluran drainase yang ada sebagian sudah berupa saluran dengan pasangan batu dan sebagian saluran tanpa konstruksi batu atau saluran tanah. Daerah yang mendapat pengaruh langsung dari air pesang Sungai Mahakam tentunya daerah yang mempunyai ketinggian di bawah muka air pasang sekitar +1.40 Km dan saluran tanpa pasangan 198. Banyak utilitas kota yang menghambat laju aliran drainase bahkan mengurangi kapasitas alir saluran drainase. banjir yang terjadi di kota Samarinda semakin meningkat. berkurangnya kapasitas saluran akibat sedimentasi dan hilangnya tampungan banjir alamiah berupa rawa-rawa. Saat ini sebagian besar wilayah berkembang di Kota Samarinda telah terlayani oleh jaringan drainase. Beberapa masalah yang terkait dengan saluran drainase Kota Samarinda seperti berikut : Banyak saluran drainase yang pada saat perencanaan dahulu didesain mampu untuk mengalirkan air dari daerah tangkapan air namun sekarang kapasitas yang diencanakan tersebut sudah tidak mampu lagi. baik besaran maupun frekuensinya. Material sampah baik itu sampah organik maupun sampah non organik banyak menyumbat saluran drainase.112. Pada sepuluh tahun terakhir. Ketinggian genangan antara 0.963.50 m dengan lama genangan antara 2 hingga 4 jam. Sedimen yang ada di saluran berasal baik dari sekitar lokasi namun juga berasal dari daerah hulu terangkut aliran dan mengendap di lokasi hilir. Hambatan utilitas kota juga merupakan salah satu permasalahan besar dalam s istem drainase Kota Samarinda.00 Km. Hal ini diakibatkan oleh meningkatnya limpasan permukaan dari daerah tangkapan air.40 Km yang terdiri dari saluran dengan pasangan batu sepanjang 104. Banjir pasang merupakan banjir rutin akibat muka air Sungai Mahakam pasang.

fasilitas pompa banjir yang masih sangat minim serta minimnya kegiatan operasi dan pemeliharaan fasilitas drainase. Akibat dari kecerobohan ini pemasangan pipa tersebut tidak hanya menghambat laju aliran namun juga mengurangi kapasitas dimana akibat dimensi pipa tersebut maupun akibat sampah yang menyangkut pada piapa air tersebut. P. dalam hal ini dimaksudkan bahwa tingkatan funsi saluran belum tertata dengan baik. belum adanya pemisah antara drainase permukaan dengan saluran air kotor dari rumah tangga. khusus untuk pipa air minum biasanya akan menghambat laju aliran yang akan masuk gorong-gorong. Banyaknya bangunan infrastruktur baik yang sifatnya bangunan individu/pribadi maupun kelompok bangunan yang tidak dilengkapi dengan sarana drainase yang mencukupi. Masih belum tertatanya sistem drainase yang baik. Antasari. Pipa air minum juga merupakan salah satu penghambat laju aliran dan mengurangi kapasitas saluran. Kondisi yang demikian ini akan menyebabkan permasalahan kelancaran aliran permukaan di lokal area tersebut.ditemui adalah adanya tiang listrik PLN yang berada di dalam alur saluran drainase seperti pada saluran drainase Jl. Masih sedikitnya fasilitas pendukung alam sistem drainase kota seperti pintu-pintu air untuk memproteksi dampak kenaikan muka air di sungai terhadap saluran drainase. sebagai contoh saluran drainase primer dapat berfungsi sebagai saluran drainase lingkungan. 13 . Pemasangan pipa air khusus yang melintasi goronggorong sepertinya tidak memperhitungkan dimensi dari gorong-gorong ataupun box culvert. Selain itu saluran drainase yang ada banyak tertutup oleh plat jembatan rumah/toko. sehingga akan menyulitkan pemeliharaan saluran.

Tuntutan penyediaan kawasan 14 .BAB III ANALISIS PENAGGULANGAN MASALAH BANJIR 1. Daerah resapan air hujan terus dioptimalkan fungsinya dengan menjaga dan melestarikan vegetasi penutup lahan termasuk di dalamnya tidak melakukan pembukaan lahan yang tanpa dilakukan pengendalian. Konsep yang dapat dilakukan di daerah hulu adalah memeprbaiki kondisi DAS rusak dan mempertahankan potensi alamiah DAS sehingga diharapkan dapat dilakukan reduksi potensi banjir di daerah ini. Konsep yang dapat diterapkan di daerah tengah adalah dengan melakukan minimalisasi perubahan tataguna lahan. sehingga beban banjir daerah dibawahnya dapat lebih ringan. Daerah bagian tengah suatu DAS yang ada pada umumnya juga merupakan daerah tengah wilayah Kota Samarinda saat ini sebagian besar difungsikan sebagai daerah pengembangan permukiman. hal ini dengan mempertimbangkan bahwa daerah hulu sampai saat ini merupakan daerah yang masih belum berkembang sehingga lebih mudah dalam penataannya. KONSEP UMUM PENGENDALIAN BANJIR KOTA SAMARINDA Dengan melihat kondisi perkembangan Kota Samarinda dan analisa penyebab banjir sebuah konsep perngendalian banjir kota yang dapat diterapkan dibagi dalam tiga bagian kegiatan yaitu : Pengelolaan Daerah Hulu Konsep Pengendalian Banjir untuk daerah tengah Konsep Pengendalian Banjir daerah hilir Konsep pengendalian banjir daerah hulu dimaksudkan adalah pengandalian banjir daerah hulu aliran sungai.

objek. 15 . program pengendalian banjir harus pula dilengkapi dengan adanya Peraturan/Perundangan yang menjamin ketertiban dalam pelaksanaan program tersebut. pengerukan sedimen. Daerah hilir wilayah Kota Samarinda yang juga merupakan daerah hilir DAS saat ini sebagai daerah berkembang baik itu sebagai pusat pemerintahan. Peraturan/Perundangan tersebut tentunya mencakup subjek. dan alat dalam pegelolaan banjir. Dengan berjalannya sistem drainase maka tidak diperlukan banyak sistem pintu-pintu pembuangan dari saluran kolektor. Berikut beberapa strategi pengendalian banjir Kota Samarinda : Strategi Penataan Ruang dan Penguasaan Lahan. 2. pusat pendidikan. Sedangkan konsep untuk sistem drainase adalah dengan pembenahan sistem. Peningkatan kapasitas dapat dilakukan dengan pelebaran saluran. Saluran drainase harus mengikuti tingkat fungsionalnya contohnya saluran drainase dari komplek perumahan harus masuk sistem saluran sekunder sebelum masuk sungai utama. Selain tiga konsep pengendalian banjir berdasarkan wilayah pengembangan. dapat dilakukan penjabaran konsep tersebut dalam strategi pengendalian banjir yang diharapkan lebih memberikan arah dan kejelasan kerangka dasar pelaksanaan program. dan penataan bantaran sungai. Proteksi terhadap pasang air Sungai Mahakam dilakukan dengan membuat pintu-pintu air otomatis dan sistem pompa untuk membentu pemasukan air saat Mahakam pasang. Konsep pengendalian banjir di daerah ini adalah dengan memperlancar aliran drainase yang ada yaitu dengan peningkatan kapasitas alir saluran drainase dan memproteksi aliran di saluran dari pengruh pasang air Sungai Mahakam. namun demikian untuk pengembangan wilayah permukiman tidak dilakukan dengan penimbunan daerah-daerah rendah yang dalam sejarah keberadaan Kota Samarinda daerah tersebut merupakan daerah parkir air limpasan (retarding basin). Selain itu juga tidak melakukan pemotongan perbukitan untuk penyediaan lahan/lokasi perumahan atau penyediaan material timbunan untuk lokasi yang lain. Pengamanan terhadap asetaset tersebut dari bahaya banjir mutlak dilakukan. STRATEGI PENGENDALIAN BANJIR KOTA SAMARINDA Berdasarkan konsep umum tersebut di atas. yaitu memperketat pemanfaatan ruang kota sesuai dengan RUTRK dan RDTRK yang diimplementasikan dalam bentuk pengetatan penerbitan izin lokasi dan sertifikat tanah. Hal ini untuk menghindari rancaunya sistem dan menghindari adanya air balik saat musim banjir.permukiman tidak dapat dihindari dan hal ini selaras dengan perkembangan kota. pusat perdagangan dan industri selain teradpat daerah permukiman.

meliputi : Adanya kesepakatan antara pihak pemerintah daerah dengan pengembang/swsta untuk mengentisipasi banjir. Mengikutsertakan camat dan lurah di wilayah masing-masing untuk di garis dengan melaporkan hal-hal yang terkait dengan strategi pengawasan dan penertiban. yaitu meningkatkan dan memperluas operasi pengawasan bangunan dan penggalian bahan/galian golongan C serta pertambangan batubara melalui satuan Operasi Pengawasan Bangunan (Polisi Bangunan). yaitu : Pemanfaatan drainase internal sehingga terkoneksi dengan drainase kota/sungai. Menerbitkan aturan tentang kawasan resapan air dan tampungan air di dalam kota. meliputi saluran Mengaktifkan budaya/gerakan ³Jum`at Bersih´ yang diberlakukan terhadap seluruh lapisan masyarakat di wilayah pemukiman dan sentrasentra kegiatan. Strategi Pengaturan dan Koordinasi. Pengamanan daerah-daerah lereng agar terhindar dari erosi dan tetap hijau. Ketersediaan kolam penampung sementara (Retarding Basin).Strategi Penataan Bangunan dan Lingkungan. Menyediakan ruang terbuka hijau (RTH) yang cukup Strategi Pengawasan dan Penertiban. antara lain melalui Perda Propinsi maupun Perda Kota Samarinda Strategi Pelibatan dan Pendampingan masyarakat. yaitu : memperketat proses legalisasi site-plan kawasan maupun sub-kawasan dengan penekanan pada ketercakupan empat hal dalam rencana pokok. 16 . meliputi : Pengalihan kegiatan yang tidak mendesak pada Tahun Anggaran 2005 untuk kegiatan penanggulangan banjir Menyisihkan sebagian dana reboisasi dan PBB untuk kegiatan penanggulangan banjir Memperkuat komitmen ketersediaan dana untuk tahun 2005 dan seterusnya sesuai dengan tahapan jangka menengah dan jangka panjang. Strategi Pembiayaan.

Penenganan jangka menengah adalah untuk mengendalikan banjir dari daerah hulu dan penataan DAS dari sungai-sungai yang melintas Kota Samarinda. dan Jangka Panjang (2010-2015). maupun pendanaan program yang direncanakan. Bedasarkan program yang telah direncanakan yang terbagi dalam tiga periode yaitu jangka pendek. penyangga. dan Loa Bakung. meliputi Mengidentifikasi lahan-lahan kritis pada kawasan lindung. KONSEP TEKNIS PENGENDALIAN BANJIR KOTA SAMARINDA Salah satu tindak lanjut dari strategi pengendalian banjir Kota Samarinda lebih difokuskan lagi menjadi Konsep Teknis Penanganan Banjir Kota Samarinda dibagi dalam tiga tahap. Konsep penanganan ini dikembangkan berdasarkan penyebab banjir di Kota Samarinda. dan budidaya Melaksanakan program pemulihan lahan kritis berdasarkan skala prioritas Memberikan kejelasan status hukum kepemilikan lahan Pengalokasian wilayah untuk pemukiman dengan memperhatikan aspek biogeofisik dan kondisi sosial-ekonomi masyarakat. dan jangka panjang. jangka menengah. dijabarkan dalam beberapa kegiatan utama yaitu : 17 . yaitu : Penanganan jangka pendek. 3. yaitu Jangka Pendek (2004-2005). waktu pelaksanaan. Karangasam Kecil. Memberikan penyuluhan pada masyarakat tentang prinsip-prinsip konservasi tanah dan air dalam pendayagunaan lahan. Karangasam Besar. Program prngendalian banjir Kota Samarinda yang telah dicanangkan oleh Pemerintah saat ini telah berjalan hampir dua tahun anggaran. Strategi Penataan DAS Karangmumus. Pembagian kegiatan berdasarkan jangka waktu ini memungkinkan untuk bergeser menyesuaikan dengan ketersediaan dana dan kondisi sosial yang berkembang di masyarakat.Melibatkan masyarakat dalam gerakan reboisasi dan penghijauan terutama pada lahan-lahan kritis di daerah resapan air. adalah kegatan -kegiatan untuk mengendalikan banjir akibat hujan lokal di lokasi prioritas dan meningkatkan kesadaran dan keterlibatan masyarakat pada masalah pengendalian banjir. Jangka Menengah (2005-2010). Penanganan jangka panjang adalah untuk mengendalikan pasang-surut Sungai Mahakam. Berdasarkan monitoring dan kajian yang dilakukan terdapat program yang perlu dilakukan revisi baik itu terhadap jenis pekerjaan.

agar masyarakat mampu memecahkan berbagai persoalan bersama-sama.PARTISIPASI MASYARAKAT Partisipasi masyarakat merupakan proses teknis untuk memberi kesempatan dan wewenang lebih luas kepada masyarakat. Berdasarkan sistem pendanaan program terbagi dalam tiga sumber dana yaitu mellui mekanisme Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kota Samarinda (APBD II) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Propinsi Kalimantan Timur (APBD I) Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 4. 18 . maka akuntabilitas pemerintah dapat dinilai dari sejauh mana partisipasi masyarakat dan pihak terkait dalam program pembangunan. dan berkelanjutan. Partisipasi masyarakat bertujuan untuk mencari solusi permasalahan lebih baik dalam suatu komunitas. dan Dinas Kehutanan. DPU Cipta Karya. efisien. Sejalan dengan tuntutan masyarakat akan keterbukaan dalam program -program pemerintah.Rencana Kegiatan Non Fisik (Makro dan Mikro) Institutional dan Legal Aspek Rencana Kegiatan Fisik Penanganan Sistem Mikro Rencana Kegiatan Fisik Penanganan Sistem Makro Pengadaan dan Pemeliharaan Rencana Kegiatan Fisik Penanganan Konservasi Institusi pelaksana yang bertanggungjawab atas terlaksananya program pengendalian banjir tersebut adalah : Pemerintah Kota Samarinda Pemerintah Propinsi Kalimantan Timur Pemerintah Pusat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Samarinda Instansi pelaksana di bawah Pemerintah Kota Samarinda antara lain Dinas Pekerjaan Umum Sub Dinas Binamarga dan Pengairan. Sedangkan untuk instansi pelaksana tingkat propinsi adalah Dinas Pekerjaan Umum Propinsi Sub Dinas Pengairan. Sedangkan instansi pelaksana tingkat pusat dilaksanakan oleh Dinas PU Pengairan dan Proyek Pengendalian Banjir dan Pengamanan Pantai Kalimantan Timur. dengan membuka lebih banyak kesempatan bagi masyarakat untuk memberi kontribusi sehingga implementasi kegiatan berjalan lebih efektif. Pembagian kewenangan ini dilakukan berdasarkan tingkat keikutsertaan (Level Of Infolvement) masyarakat dalam kegiatan tersebut. Kimbangkot. dan Bappedalda Kota Samarinda.

penilaian ketertarikan terhadap kegiatan penanggulangan banjir. Penentuan dan pemilahan dilakukan dengan metode Stakeholders Analysis yang terdiri dari empat tahap yaitu: identifikasi. dan memiliki kewenangan dalam proses pengambilan keputusan dan alokasi sumber daya dalam kegiatan penanggulangan banjir 19 . mulai dari tahap kegiatan pembuatan konsep. penilaian tingkat pengaruh dan kepentingan setiap. agar secara aktif berpartisipasi. perumusan rencana strategi partiesipasi dalam penanggulangan banjir pada setiap fase kegiatan. konstruksi. serta menyediakan kesempatan untuk ikut ambil bagian. serta evaluasi dan pengawasan. Semua proses dilakukan dengan mempromosikan kegiatan pembelajaran dan peningkatan potensi masyarakat.Partisipasi masyarakat. operasionalpemeliharaan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful