P. 1
ERAMUSLIM DIGEST - Edisi9 Online

ERAMUSLIM DIGEST - Edisi9 Online

|Views: 1,130|Likes:
Published by Iwan Husdiantama
“The Untold Story: Konspirasi Penggelapan Sejarah Islam Indonesia”.
“The Untold Story: Konspirasi Penggelapan Sejarah Islam Indonesia”.

More info:

Published by: Iwan Husdiantama on May 02, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

01/29/2013

pdf

Sections

Edisi Koleksi IX

eram u slim digest 1

2 e r am u s lim digest

Edisi Koleksi IX

Edisi Koleksi IX

eram u slim digest 3

Chairman:

M.M. Nasution

Board of Editor :

Fathudin Jafar,MA
Ihsan Tanjung
Dr.Daud Rasyid
Ferry Nur, SSi
Siti Aisyah Nurmi

Chief Editor
Eramuslim.com :

Mashadi

Senior Editor :

Rizki Ridyasmara
Magdalena

Reporter :

Nofellisa

IT advisor :

Aditya Nugroho

Art Designer & Adv.:

A.Furqan

Business Manager :

Irman Idris

Advertising :

Waode Hatty Nurany
Isni Dini Ariani
Wini Sulistiani

Distribution :

Y.M. Syar’an

Finance :

Denise SH
Isnani Uswatun Hasanah
Sindy Triandini

PT. ERAMUSLIM
GLOBAL MEDIA

Gedung Cyber, Lt.8
Jalan Kuningan Barat 8
Jakarta 12710

Contact Person:

Telp. (021) 930-12736
085 8808 44492
ISSN 1978-5097

SA

PA

eram uslim

digest

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh,

Pembaca Budiman,
Sesekali tengoklah berbagai museum yang ada di negeri ini.
Lihatlah dan cermati, apa yang dituturkan sejarah resmi negeri ini
tentang umat Islam? Museum ABRI Satria Mandala, Museum
Nasional (Monas), dan lainnya mengabarkan kepada kita jika umat
Islam Indonesia merupakan umat yang suka berontak pada NKRI,
tidak beda dengan gerakan separatis dan teroris. Museum Gajah
yang menyimpan ribuan benda-benda bersejarah negeri ini juga
menyembunyikan fakta sejarah jika peradaban Islam telah banyak
menghiasi negeri ini, bersama-sama dengan peradaban Hindu-
Budha. Begitu banyak kiprah umat Islam negeri ini yang
disembunyikan ke dalam pojok-pojok gelap sejarah. Tak tersentuh
dan dibiarkan menghilang sejalan dengan memori bangsa ini yang
memang teramat singkat.
Adakah konspirasi untuk menghilangkan kiprah umat Islam
di Nusantara dari memori kolektif bangsa ? Wallahu’alam. Hanya
saja, gerakan reformasi yang menghasilkan banyak partai Islam
dan keterbukaan, ternyata sama sekali tak tertarik untuk
menyingkap gelapnya tirai sejarah umat Islam Indonesia. Mu-
seum di negeri ini masih saja sama sebangun menuturkan sejarah
bangsa ini kepada anak-anak kita sejak dari zaman rezim fasis
Suharto hingga ke rezim reformasi sekarang ini. Ironis, memang.
Menyadari hal itu, kami, Eramuslim Digest, mencoba untuk
memulai menyingkap tirai gelap sejarah umat Islam Indonesia.
Bukan hal yang mudah, memang. Niat baik saja tidaklah cukup.
Namun kami tetap berusaha untuk setidaknya memulainya. Untuk
itu, sajian edisi 9 kali ini kami memuat “The Untold Story:
Konspirasi Penggelapan Sejarah Islam Indonesia”. Mudah-
mudahan, upaya yang tidak seberapa ini bisa menyentak kesadaran
kolektif kita.

Tema “The Untold History” kami bagi menjadi dua bagian.
Dalam edisi 9 ini kami menyoroti kebesaran peradaban bangsa
ini sejak zaman sebelum masehi hingga masa pergerakan
nasionalisme di mana umat Islam menjadi pionirnya. Dan edisi
selanjutnya, dalam edisi 10, insya Allah akan kami paparkan kiprah
umat Islam Indonesia hingga masa reformasi. Ada banyak mutiara
yang selama ini tersembunyi kami temukan. Mutiara-mutiara yang
berserakan tersebut kami kumpulan dan kami sajikan untuk Anda,
Pembaca Budiman.

Akhirul kata, selamat menikmati sajian kami yang mudah-
mudahan bermanfaat bagi Anda semua.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

4 e r am u s lim digest

Edisi Koleksi IX

DAFT
DAFT

DAFT
DAFT
DAFTAR ISI
AR ISI

AR ISI
AR ISI
AR ISI

TEMA UTAMA

Sejarah Kita : The X-Files

18

Negeri Besar Nan Kaya

22

Salakanagara & Ornamen Arab

26

Barus & Pembalseman Mumi Firaun

30

Dusta Teori Gujarat Van Hurgronje

36

Sriwijaya Pernah Di Pimpin Raja Muslim44

Snouck Hurgronje, Siapa Dikau

48

Kesultanan Aceh Darussalam dan

Turki Utsmani

54

Walisanga & Islam di Jawa

64

Jazirah Al-Mulk : Tanah Para Raja

72

Betawi & Ngawurnya Lance Castles

76

Prang Atjeh

80

Imperialisme Barat : Salib & Yahudi

90

Jihad Para Ulama

94

Edisi Koleksi IX

eram u slim digest 5

DAFT
DAFT

DAFT
DAFT
DAFTAR ISI
AR ISI

AR ISI
AR ISI
AR ISI

TIMELINE SEJARAH
INDONESIA

106

IKHTISAR

112

MUSLIM AWAKEN

Bangkitkan Kembali Pan-Islam!

116

KALAM IHSAN TANJUNG

Peranan Sejarah Dalam Dakwah Islam

120

6 e r am u s lim digest

Edisi Koleksi IX

http://openphoto.net

Edisi Koleksi IX

eram u slim digest 7

8 e r am u s lim digest

Edisi Koleksi IX

Lukisan yang menggambarkan pelabuhan Jakarta pada tahun 1607

Edisi Koleksi IX

eram u slim digest 9

10 e r am u s lim digest

Edisi Koleksi IX

SUARA PEMBACA

SATANIC FINANCE, KOK TEPAT YA?

Pada edisi 8 Eramuslim Digest mengupas tema “The Satanic Finance” yang
membongkar jahatnya sistem keuangan konvensional (baca: Fiat Money) dan
menyodorkan fakta jika sistem keuangan anti-riba (Dinar dan Dirham Islam) unggul di
zaman apa pun dan kapan pun. Begitu eramuslim digest edisi 8 terbit, perekonomian
Amerika Serikat, biang dari sistem Fiat Money Dunia, Raja Diraja dari Sistem Kapitalis
Dunia, ambruk dan jatuh ke dalam jurang krisis yang hebat.
Saya heran, kok bisa ya Eramuslim Digest “meramalkan” hal tersebut dengan
tepat. Seolah sudah tahu sebelumnya jika Lehman & Brothers, perusahaan keuangan
Yahudi yang begitu kuat dan sudah berusia 150-an tahun, akan bangkrut. Kebangkrutan
ini memiliki efek domino yang hebat. Merryl Linch, Dow Jones, dan lain-lainnya ikutan
sekarat. Salut untuk kru Eramuslim Digest! Saya dan teman-teman saya selalu menunggu
sajian demi sajian berikutnya. Mudah-mudahan Allah SWT senantiasa melindungi kita
semua. Amien.

Kuncahyo, Karyawan Swasta

Jakarta

Jazakallah Pak Kuncahyo, walau sudah tahu sistem ribawi akan kolaps, namun jujur saja,
Kami juga kaget dengan momentum yang kok ya bisa bersamaan dengan terbitnya Eramuslim
Digest edisi 8 “The Satanic Finance”. Mudah-mudahan ini petunjuk Allah SWT agar kita semua
mulai hari ini sedikit demi sedikit memulai menghidupi sistem ekonomi Islam dengan mengalihkan
investasi dan muamalah kita dengan mempergunakan kembali dinar dan dirham Islam, dan memulai
membuang uang kartal kita yang sesungguhnya tidak ada nilai intrinsiknya.

BONGKAR DONG KONSPIRASI BERKEDOK DEMOKRASI

Saya sudah beberapa tahun ini mencoba mengamati sistem kehidupan demokrasi
di Indonesia. Setelah lengsernya Presiden Suharto, kran kehidupan demokrasi di negeri
ini begitu deras mengalir. Hal yang patut kita syukuri. Namun lama-kelamaan, saya
menjadi cemas dan kuatir. Euforia demokrasi di negeri ini kok ya jadi kebablasan.
Semua tokoh-tokoh negeri ini, dari yang pengusaha, militer, polisi, artis, olahragawan,
sampai ustadz segala, semuanya jadi sibuk berkosentrasi di bidang politik kekuasaan ini.
Semua sumber daya manusia, waktu, tenaga, dan dana yang tidak sedikit, semuanya kini
tersedot oleh gegap-gempita pemilihan umum dari tingkat pusat hingga kabupaten yang
seolah tidak ada habis-habisnya. Kerja para tokoh-tokoh kita sekarang ini pada sibuk
“berjualan kecap nomor satu”, tanpa bisa memperlihatkan prestasi mereka sesungguhnya
mengentaskan keruwetan permasalahan yang melingkupi bangsa dan negara ini.
Salah satu yang membuat saya sedih sekali adalah terbengkalainya pembinaan umat.
Pembinaan umat yang seharusnya menjadikan umat Islam sebagai umat yang berakidah
kuat, memiliki ketauhidan yang murni, dan menjadi seorang Muslim yang syumuliyah
dan kafah, sekarang pada kenyataannya disetir demi kepentingan memperoleh kursi
kekuasaan. Ini sangat menyedihkan dan tidak bisa diterima akal sehat. Apalagi sekarang
sudah tidak jelas lagi mana kawan dan mana lawan. Sehingga ada guru ngaji yang ikut-
ikutan dangdutan, bahkan dengan enaknya dan nyamannya berkumpul dan berbaik-

Edisi Koleksi IX

eram u slim digest 11

SUARA PEMBACA

baikan dengan para pencopet dan maling. Maaf jika kata yang saya pakai kelihatan
kasar. Tapi kenyataannya memang demikian.
Saya jadi curiga, jangan-jangan sistem demokrasi yang kebablasan ini memang di-
settingoleh musuh-musuh Islam, agar tokoh-tokoh Islam terbuai oleh “pasar malam’
bernama Pilkada atau Pemilu, sehingga umatnya terbengkalai dan tambah jahil, di sisi
lain musuh-musuh Islam dengan giat membenahi umatnya dengan meningkatkan
profesionalitas organisasi dan profesionalitas sumber daya manusianya, sehingga suatu
saat, negeri mayoritas Muslim terbesar dunia ini tinggal hanya nama dan dipimpin oleh
kalangan non-Muslim. Hal ini bukan suatu kemustahilan jika kondisi ini terus dibiarkan.
Satu hal yang sudah terbukti adalah di bidang perekonomian dan media massa. Kita
ketinggalan jauh kan?

Bagaimana Eramuslim Digest? Saya mengusulkan agar ada satu edisi yang
membongkar hal ini, agar kita semua sadar dan bisa kembali ke jalan yang benar, yang
dirahmati Allah SWT.

Aida Mustafa, Guru

Bekasi

Jazakilah Bu Ida, insya Allah saran dan masukannya akan kami godok dalam rapat kru
Eramuslim Digest sehingga out-putnya bisa benar-benar mencerdaskan dan mencerahkan nurani.

SIMBOL YAHUDI DI SEKITAR KITA

Sebelumnya saya ingin mengucapkan selamat dan terimakasih kepada kru Eramuslim
Digest yang telah bekerja keras menerbitkan sebuah majalah (atau buku) yang benar-
benar beda dan bernas. Tema-tema yang diangkat dan dikupas bukanlah tema-tema
kacangan dan disajikan dengan gaya tematik yang cerdas, berbobot, namun ringan
mengalir dalam gaya bahasanya.
Saya usul agar dalam edisi ke depan, Eramuslim Digest memuat sebuah tema
tentang simbol-simbol Yahudi di sekitar kita. Saya sendiri pernah mencermati adanya
simbol-simbol Bintang David misalnya, di masjid dan bahkan sajadah kita. Saya yakin,
ada banyak simbol-simbol lainnya yang betebaran di sekitar kita tanpa kita sadari. Hal
ini mungkin menarik untuk diangkat. Sekaligus satu atau dua tulisan tentang makna
simbol dan sikap kita sebagai Muslim menghadapi itu semua, sebab sebagian dari kita
ada yang terlalu cemas dengan simbol Yahudi tapi ada pula yang biasa-biasa saja.
Bagaimana sebaiknya kita bersikap?
Mungkin itu saja dulu saran saya. Semoga Allah SWT selalu merahmati dan
melindungi kru Eramuslim Digest sehingga bisa terus berkarya dalam medan dakwah
yang kita ketahui bersama tidaklah mudah. Hanya saja, jika niat kita bersih, maka Allah
SWT akan membantu dan meringankan semua kesulitan yang kita hadapi. Amien ya
Rabb al’amien.

Ari Susilaningsih, Karyawan Swasta

Jakarta

12 e r am u s lim digest

Edisi Koleksi IX

SUARA PEMBACA

Jazakilah Bu Ari, saran dan masukannya benar-benar menarik. Kami akan diskusikan dan
insya Allah akan hadir dalam edisi selanjutnya. Nantikan edisi-edisi Eramuslim Digest lainnya.

PENCERAHAN

Alhamdulillah. saya bisa mendapatkan eramuslim digest edisi koleksi 8, the satanic
finance. Saya baca dengan penuh perhatian, ternyata selama ini "pemahaman" saya
tentang uang harus diluruskan. Saatnya kita pakai dinar & dirham !

Noor Arief Wicaksono

KEBENARAN DARI ALLAH

Kita saksikan dan sesungguhnya kebenaran dari Allah itu hakiki dan sejati, saatnya
ekonomi berbasis syariah bangkit di tengah terpuruknya ekonomi kapitalis akhir-akhir
ini di US dan YAhudi

Bank Irmans

SEJARAH YANG TERTUTUPI

Buku yang sungguh berani menunjukan sejarah yang telah lama tertutupi. Semoga
dengan buku ini umat muslim (khususnya para remaja) bisa bangkit dan bersatu membela
agama Allah di muka bumi. Allahu Akbar

Al-Ghifari

MEDIA ALTERNATIF

Media Alternatif yang terbaik yang pernah saya temukan di Negri Ini luar biasa
tiada tanding tiada banding, maju terus Eramuslim, supaya kaum muslimin tidak terlena
oleh segala hal yang dikemas indah oleh gerakan Terbiadab Zionis Israel.

Abdurahman Bafadhal

PENCERAHAN

Alhamdulillah..selamat untuk eramuslim digest..pencerahan buat saya... tapi saya
kok bingung ya? edisi 5 yg diinfokan d majlh beda dengan yang terbit.yang untold
history kok jadi valentine? yang untold history kemana?

Deyra

ERAMUSLIM DIGEST DI BRUNEI?

Saya kagum akan info yang menyebarkan rahsia barat, apa lagi ZIONIS, tetapi
majalah ini tidak tembus ke BRUNEI, saya beli dari Kuala Lumpur, itupun susah
mendapatkan,diharap dapat diedarkan ke Negara Islam macam kami di Brunei,bahasa
dapat dipahami

Edisi Koleksi IX

eram u slim digest 13

SUARA PEMBACA

Kami mengkhususkan diri menguak tabir gelap sejarah,
Kami mengkhususkan diri memaparkan informasi apa adanya,
Kami menyengaja menggali kebenaran yang dibenamkan musuh-musuh Allah,
Kami ada untuk bersaksi,
Semoga Allah SWT memberkahi...

eram uslim digest

Muhammad Fadhali Bin Rabaha

Brunei Darussalam

PANTANG MUNDUR

Ass.alamu’alaikum wr wb....Allahuakbar buat eramuslim. saya ikut mendukung
perjuangan dakwah islam melalui eramuslim MAJU TERUS PANTANG MUNDUR......
saya mau tanya apakah penjualan majalah eramuslim hanya melalui via internet dan via
telepon saja?

A.rinaldi

RUJUKAN MUSLIM

Alhamdulillah, kita punya rujukan yang bagus bagi bacaan masyarakat muslim. Isi
bisa jadi referensi buat kita semua karena sangat berbeda dengan apa yang saya dapatkan
di media lain. selamat... sukses buat kejayaan Islam.

Yuli Pujihardi

MEMBANGKITKAN SEMANGAT

Sebuah media yang menurut saya mampu mendogkrak semangat,maupun
pengetahuan kaum muslimin dalam rangka melabrak pemikiran-pemikiran keji kaum
zionis. semangat terus eramuslim..Allohuakbar...

Rosidi.Y

FENOMENA BESAR

Subhanallah.majalah yang sungguh melekat dihati.fenomena besar, bahkan di
kalangan pelajar sma seperti saya. Majalah ini menjadi inspirasi di kelas saya. Setiap
anak berlomba-lomba terlebih dahulu membaca majalah luar biasa ini.Allahu Akbar!

Yuri Nurdiantami

14 e r am u s lim digest

Edisi Koleksi IX

Eramuslim.com

Situs informasi Islam dengan kunjungan terbesar dari

dalam dan luar negeri

Eramuslim.com dikunjungi oleh
839.982 pengunjung/bulan dari 111 Negara

Sarana Tepat Untuk Promosi Usaha Anda

Edisi Koleksi IX

eram u slim digest 15

Source: Google Analytic

16 e r am u s lim digest

Edisi Koleksi IX

16 e r am u s lim digest

Edisi Koleksi VIII

Jalan Merdeka Barat ( Quiet Koningsplein West) pada tempo doeloe

Edisi Koleksi IX

eram u slim digest 17

Edisi Koleksi VII

eram u slim digest 17

Edisi Koleksi VIII

eram u slim digest 17

18 e r am u s lim digest

Edisi Koleksi IX

18 e r am u s lim digest

Edisi Koleksi IX

Edisi Koleksi IX

eram u slim digest 19

SEJARAH KITA:

THE X - FILES

Edisi Koleksi IX

eram u slim digest 19

20 e r am u s lim digest

Edisi Koleksi IX

T E M A U T A M A

Sejarah seharusnya bisa bersikap jujur mengabarkan segala sesuatu yang

terjadi. Bukan mengabarkan apa yang diinginkan oleh penguasa atau kaum
yang memiliki kekuatan untuk diketahui dunia luas. Hitam katakan hitam
dan putih katakan putih. Kejujuran inilah yang amat langka, tidak saja
dalam penulisan sejarah negeri kita tercinta Indonesia, namun juga dalam
penulisan sejarah dunia.
Sebab itu di kalangan akademisi muncul berbagai macam sindiran terhadap sejarah
itu sendiri. Ada yang menyebutkan jika Alexander Agung merebut ribuan kapal musuh
maka itu disebut pahlawan, namun jika seorang nelayan merebut satu perahu kecil
maka dunia pun mengutukinya sebagai perompak.
Jika ini dibawa ke dalam tataran nasional, maka siapa sesungguhnya Gajah Mada?
Apakah dia seorang pahlawan yang “mempersatukan” Nusantara di bawah hegemoni
Majapahit, walau dengan peperangan yang memakan banyak korban, ataukah dia seorang
imperialis yang memaksa daerah-daerah di luar Majapahit untuk mau tunduk dan taat
kepada pihaknya, hatta dengan jalan kekerasan dan peperangan?

Bagi orang Jawa, Gajah Mada mungkin seorang pahlawan. Tapi bagi orang-orang
Sumatera, Borneo, Celebes, dan sebagainya, Gajah Mada tidak ubahnya seorang tiran-
perampok, yang mengakhiri kemerdekaan mereka, mengakhiri kedaulatan mereka, dan
menggantinya dengan penjajahan Majapahit atas wilayah mereka.
Atau masihkah kita ingat pada cerita rakyat tentang Hang Tuah dan Hang Jebat?
Sejak kecil kita diberikan dongeng bahwa Hang Tuah adalah pahlawan, sedang Hang
Jebat adalah si pendurhaka. Padahal dalam kacamata obyektif kebenaran, Hang Tuah
adalah personifikasi kepatuhan dan ketaatan tanpa batas, taklid buta, terhadap apa pun
yang dikatakan oleh penguasa dan kekuasaan. Sedang Hang Jebat adalah contoh dari
kesetiaan seseorang pada hati nuraninya.

Edisi Koleksi IX

eram u slim digest 21

SEJARAH KITA: THE X-FILES

Kebenaran adalah kebenaran, walau pahit rasanya. Namun banyak penguasa di
berbagai negeri, termasuk penguasa Indonesia, menganggap jika kebenaran hanyalah
sesuatu yang tidak berbenturan dengan kepentingan dan kedudukan istimewa mereka.
Para penguasa seperti ini sering bersikap seperti yang dikatakan penyair Candide, “Cela
est bien dit, mais il faut cultiver notre jardin
”. Itu memang benar, tetapi kita harus merawat
kebun kita sendiri. Atau dalam bahasa Jawa, “Ngono yo ngono, ning yo ojo Ngono…”
Sebab itulah, sejarawan Inggris Thomas Carlyle (4 Desember 1795 – 5 Februari
1881) dengan satir dalam bukunya berjudul “On Heroes and Hero-Worship” mengatakan,
“The History of the world is but the biography or great men.” Sejarah dunia itu hanyalah
biografi penguasa.

Carlyle pula yang walau dia seorang Kristen taat, mencela stigma Barat terhadap
Muhammad SAW dan meminta Barat agar obyektif melihat sosok kepahlawanan manusia
besar ini. Dalam buku yang sama dia menulis, “Anggapan kita (Barat) yang lazim tentang
Muhammad adalah bahwa ia seorang penipu, penjelmaan kepalsuan, bahwa agamanya
penuh kebodohan … Tuduhan-tuduhan bohong yang ditimpakan kepada orang ini
sesungguhnya hanya mencemarkan diri kita sendiri (Dunia Barat). …..Amboi, mengapa
Anda keberatan, jika kaum Muslimin menyebutnya sebagai Nabi? Dia tegap berdiri
disana berhadapan muka dengan mereka (kaum Muslimin Arab), terang-terangan dan
tidak diselubungi apapun. Mereka itu melihat bagaimana ia menambal jubahnya,
memperbaiki sepatunya, berperang, memberikan petunjuk, memerintah kepada mereka.
Mereka tentu tahu kualitas laki-laki macam apa dia. Saya katakan, orang besar ini selalu
seperti halilintar dari langit. Manusia lainnya menanti dia sebagai bahan bakar kemudian
mereka pun akan menyala-nyala . Kita (Dunia Barat) harus meninggalkan tuduhan
bahwa dia penipu.”

Namun memang pada kenyataanya, moralitas sejak zaman para nabi, memiliki dua
aspek yang berbeda. Di satu pihak, ia sejak dulu merupakan suatu lembaga sosial yang
analog dengan hukum. Di lain pihak, ia sejak dulu merupakan urusan hati nurani individu.
Dalam aspeknya yang pertama, ia merupakan bagian dari aparat kekuasaan. Sedang
aspeknya yang kedua, ia sering revolusioner.
Sekarang, coba kita tengok museum-museum kita, kita buka lembaran-lembaran
buku-buku teks sekolah anak-anak kita, adakah sejarah negeri ini telah bertindak adil
dalam menceritakan umat Islam dalam perjalanan panjang Nusantara hingga ia bernama
Negara Kesatuan Republik Indonesia?
Era reformasi memang memang masih muda. Namun ia selalu pikun, selalu lupa,
untuk meluruskan dan memberi cahaya pada sejarah umat Islam Indonesia. Entah,
pikun atau lupa ini disengaja atau tidak. Yang jelas, menjadi tanggungjawab kita semualah
agar anak cucu kita bisa berpikir merdeka, kritis, dan bangga dengan sejarah nenek
moyangnya, sejarah para ulama, sejarah para mujahidin pendiri negeri besar ini. Namun
jika upaya ini tidak juga mendapatkan dukungan, maka Eramuslim Digest akan tetap
meniti jalan ini sendirian.

Mungkin tulisan Soe Hok Gie dalam catatan hariannya bisa kita renungkan bersama:

“Don’t think you can frighten me by telling me that I am alone. God is alone …the loneliness of God
is his strength!”
Jangan kira engkau bisa menakuti saya dengan mengatakan bahwa saya
sendirian. Tuhan sendirian … dan kesendirian Tuhan adalah kekuatannya! Wallahu’alam
bishawab
.(rz)

22 e r am u s lim digest

Edisi Koleksi IX

TEMA UTAMA

22 e r am u s lim digest

Edisi Koleksi IX

Edisi Koleksi IX

eram u slim digest 23

NEGERI BESAR
NAN KAYA

Edisi Koleksi IX

eram u slim digest 23

24 e r am u s lim digest

Edisi Koleksi IX

T E M A U T A M A

Kamis, 11 April 2002. Robert Dick-Read1

, peneliti sejarah purba dari London
tengah bekerja di depan komputernya. Sebuah surat elektronik masuk. Dari koleganya,
Profesor Giorgio Buccellati, seorang arkeolog senior dari University of California-Los
Angeles (UCLA), yang sejak tahun 1976 aktif memimpin satu tim ekspedisi arkeolog
mengekplorasi wilayah sekitar Mesir.
Dalam suratnya, Buccellati mengaku kaget sekaligus kagum. “Saya menemukan
sebuah porselen cekung yang diselimuti tanah bercampur pasir agak tebal. Setelah
dibersihkan, ada fosil sisa-sisa tumbuhan mirip cengkeh di atasnya. Saya yakin itu cengkeh.
Namun saya harus mengkonfirm temuan ini pada kolega saya, Dr. Kathleen Galvin,
seorang ahli paleobotani (botani purba) yang pasti mengenal tumbuhan ini dengan baik.”
Buccellati saat itu tengah melakukan penggalian di atas tanah bekas rumah seorang
pedagang yang berasal dari masa 1.700 SM di Terqa, Eufrat Tengah. Galvin segera
datang. Setengah tak percaya, Galvin memastikan bahwa itu memang fosil tumbuhan
cengkeh.

Kedua pakar tersebut kaget dengan temuannya. Sebagai pakar, mereka mengetahui
jika tumbuhan tersebut hanya bisa hidup di satu tempat di muka bumi, yakni di Kepulauan
Maluku, sebuah pulau kecil di antara belasan ribu gugusan pulau yang disebut Nusantara.
Temuan Buccellati yang tergabung dalam The International Institute for Mesopotamian Area
Studies
(IIMAS) tersebut mengindikasikan jika di masa sebelum masehi, para pedagang
sekitar Maluku telah sampai di daratan Mesir.
Sebuah penemuan arkeologi di Nusantara setelah Buccellati mengimbangi penemuan
cengkeh di Mesir. “Arkeolog berkebangsaan Inggris menemukan sisa-sisa biri-biri atau
kambing di situs bekas pemukiman pada masa yang kurang lebih sama (1.500 SM) di
pulau yang lebih jauh, yaitu pulau Timor yang berjarak beberapa ratus mil di sebelah
selatan Kepulauan Maluku.
Kedua temuan tersebut membuktikan kepada kita jika di masa sebelum masehi, di
zaman para nabi-nabi, pelaut-pelaut Nusantara telah melanglang buana menyeberangi
samudera dan menjalin hubungan dengan warga dunia lainnya. Bahkan Dick-Read
meyakini jika sistem pelayaran, termasuk perahu-perahu, dari para pelaut Nusantara-
lah yang menjadi acuan bagi sistem dan bentuk perahu banyak negeri-negeri lain di
dunia. Keyakinan ini diamini oleh sejumlah arkeolog dan sejarawan senior seperti Dr.
Roland Oliver.

Nusantara merupakan gugusan belasan ribu pulau yang terletak di loksi paling
strategis di dunia dipandang dari sudut manapun. Inilah cikal bakal negara kesatuan
Republik Indonesia. Nama “Indonesia” sendiri, yang berarti, “Pulau-pulau India” diberikan
kepada kepulauan itu oleh seorang etnolog Jerman, dan telah dipakai sejak 1884. Awalnya,
Indonesia adalah nama geografis untuk menyebut semua pulau antara Australia dan
Asia, termasuk Filipina. Gerakan nasionalis Indonesia mengambilnya dan membuatnya
menjadi nama resmi untuk republik mereka pada 1945 dan 1949..2
Nusantara atau Indonesia merupakan sebuah bangsa besar dan pernah memimpin
peradaban dunia. Bangsa ini pernah menjadi pemimpin bagi dunia dagang dunia, di
mana para pedagang Cina misalnya sangat tergantung pada pelaut-pelaut Nusantara.
Bahkan sebuah literatur klasik Yunani berjudul Periplous tes Erythras Thalasses (70 M),
yang terbit sebelum Rasululah SAW lahir, telah menulis suatu daerah bernama Chryse,
sebuah nama Yunani untuk “Pulau Emas” atau dalam bahasa sanskrit bernama “Swarna

Edisi Koleksi IX

eram u slim digest 25

NEGERI BESAR NAN KAYA

Dwipa”. Ini adalah nama lain bagi
Pulau Sumatera.
Ptolomeus, seorang ahli
navigasi Iskandariyah, juga pernah
menyebut nama tersebut dengan
istilah Chrysae Chersonesos yang
mengacu pada semenanjung Barus3

,
sebuah kampung kuno penghasil
kapur barus yang diekspor ke Mesir
sejak zaman Firaun, yang terletak
di bagian barat Sumatera Utara.
Bahkan secara penuh
kontroversial, nama Nusantara atau
Indonesia ikut nimbrungsebagai salah
satu kandidat lokasi tempat Benua
Atlantis yang hilang, selain tentu saja
nama-nama lokasi seperti Pulau
Kreta di Yunani, Andalusia,
Santorini, Tanjung Spartel, Siprus,
Malta, Ponza, Sardinia, Troy, Tantali, Antartika, Kepulauan Azores, Karibia, Bolivia,
Meksiko, Laut Hitam, Kepulauan Britania, India, Srilanka, Irlandia, Kuba, Finlandia,
Laut Utara, Laut Azov, dan Estremadura. Adalah penelitian dari Aryso Santos, ilmuwan
Brasil, yang selama 30 tahun meneliti tentang Atlantis menyimpulkan jika Atlantis itu
adalah wilayah yang sekarang disebut Indonesia. Santos menulis buku “Atlantis, The Lost
Continent Finally Found, The Definitifve Localization of Plato’s Lost Civilization
” (2005), yang
menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung
berapi, dan cara bertani, yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indo-
nesia4

.

Dalam perjalanannya, Nusantara atau Indonesia, merupakan satu-satunya koloni
Eropa yang dicakup dalam rencana dasar Marshall Plan buatan AS dalam melawan
hegemoni Komunisme Soviet. Hal ini memperkuat genggaman Barat (Belanda-AS) atas
Indonesia (Hindia Belanda)5

.
Sejarah dunia telah mengabarkan kepada kita semua bahwa Nusantara atau Indo-
nesia, sebuah negeri Muslim terbesar dunia, memiliki masa lalu yang sangat gemilang.
Akankah kegemilangan itu telah berakhir atau akan bangkit kembali? Wallahu’alam
bishawab
. (rz)

(Footnotes)

1

Robert Dick-Read merupakan arkeolog dan peneliti sejarah purba yang menulis buku “The Phantom Voyagers:
Evidence of Indonesian Settlement in Africa in Ancient Times”, diterbitkan di Inggris, 2005. Oleh Mizan diterjemahkan
menjadi “Penjelajah Bahari: Pengaruh Peradaban Nusantara di Afrika” (Juni 2008).

2

Bernard H.M. Vlekke; Nusantara, Sejarah Indonesia; KPG, Jakarta 2008; hal.6.

3

ES Ito; Negara Kelima; Serambi Ilmu Semesta, 2005; hal.142.

4

Bagi yang ingin lebih jauh menelusuri keyakinan Santos, silakan klik di www.atlan.org
. Salah satu buku pegangan tertua soal Atlantis bisa dilihat dalam buku “Timaeus and Critias” Plato. Novel sejarah
yang memikat tentang Atlantis juga ditulis oleh ES Ito dalam ‘Negara Kelima’ (2005).

5

Frances Gouda & Thijs Brocades Zaalberg; Indonesia Merdeka Karena Amerika?, Politik Luar Negeri AS dan

Nasionalisme Indonesia 1920-1949; Serambi, Agustus 2008; hal.41.

26 e r am u s lim digest

Edisi Koleksi IX

26 e r am u s lim digest

Edisi Koleksi IX

http://teguhimanprasetya.files.wordpress.com

Edisi Koleksi IX

eram u slim digest 27

Di awal 1970-an, komunitas sejarawan Indonesia membahas penemuan Kitab

Wangsakerta. Kitab ini merujuk pada sekumpulan naskah yang disusun
berdasarkan satu pertemuan para sejarawan di abad 17 M, yang dipimpin
oleh Pangeran Wangsakerta dari Cirebon, putera dari Panembahan Girilaya.
Sejumlah sejarawan menegaskan jika kitab ini palsu, sedangkan yang lain
menerima kitab tersebut. Sejarawan Sunda, Dr. Ayat Rohaedi termasuk yang menerima
kitab tersebut.

Satu hal yang dianggap paling penting dimuat dalam kitab tersebut adalah informasi
tentang Kerajaan Salakanagara yang telah berdiri di awal abad pertama Masehi hingga
sekitar tahun 300 M, di tatar Sunda utara, sekitar Pandeglang hingga Bekasi. Situs
Salakanagara tersebar di Cihunjuran, Citaman, Pulosari, Ujung Kulon, dan juga Batu
Jaya serta Babelan. Dua nama yang terakhir ini ada di Bekasi. Nyaris semuanya terdiri
dari batu-batu zaman Megalitikum, termasuk kolam purba di Cihunjuran.
Pendiri Salakanagara dikenal dengan sebutan Aki Tirem Luhur Mulia, yang oleh
masyarakat setempat disebut-sebut sebagai Anglingdharma. Entah, apakah Anglingdharma
di Banten ini sama dengan yang di Jawa Timur atau tidak. Wallahu’alam. Raja pertama
Salakanagara adalah Dewanagara.
Sejarawan Drs. H. Ridwan Saidi dalam sebuah makalah berjudul “Tinjauan Kritis
Penyebaran Islam di Jakarta: Kepercayaan Penduduk Krajan Merin Salakanagara Awal
abad Masehi di Bekasi”1

mengkaitkan Kitab Wangsakerta dengan buku Geographia (161
M) karya Claudius Ptolomeus yang menyebut nama Agryppa yang berarti perak.
Ptolomeus merupakan orang Yunani yang menjabat Gubernur di Iskandariyah Mesir

SALAKANAGARA
DAN
ORNAMEN ARAB

Edisi Koleksi IX

eram u slim digest 27

28 e r am u s lim digest

Edisi Koleksi IX

TEMA UTAMA

dan dikenal sebagai penulis Barat pertama yang menyinggung tentang Nusantara. Kerajaan
Agryppa menurut Ptolomeus berada di bawah mata angin atau di bawah garis
Khatulistiwa.

Menurut Ridwan, Agryppa dan Salaka (bahasa Kawi) memiliki arti yang sama yakni
Perak. Sebab itu Ridwan yakin jika Agryppa yang dimaksud Ptolomeus merupakan
Salakanagara. Ptolomeus juga menulis tentang Barus dan beberapa tempat di Nusantara.
Beda dengan sejarawan lain, Ridwan meyakini jika Dewanegara bukan orang India,
walau saat itu sudah ada pedagang dari India dan Maghribi (Arab) di sana, sebab itu
masyarakat setempat sudah mengenal istilah Arab seperti: alim, adat, kramat, kubur,
dan sebagainya, jauh sebelum Islam datang.
Saat berkunjung ke situs Salakanagara di Babelan dan Batu Jaya, Ridwan tidak
menemukan ragam hias atau ornamen atau pahatan bercorak India di situs-situs bebatuan
yang ada. “Saya amat terkejut, ragam hias Batu Jaya lebih mirip ornamen Timur Tengah,”
tulis Ridwan.

Temuan ini, jika dikaitkan dengan penelitian Arkeolog Inggris Robert Dick-Read2
yang didukung arkeolog senior dunia seperti Profesor Emeritus Sejarah Afrika sekaligus
pendiri The Journal of African Studies, Dr. Roland Oliver, kian meyakinkan pandangan
jika di masa purba (sebelum dan awal Masehi) para pelaut Nusantara sudah menjalin
hubungan erat dengan orang-orang India dan Maghribi, bahkan hingga ke Afrika.
Hal ini memperkuat Teori Mekkah, yang menyatakan Islam telah masuk di
Nusantara langsung dari Arab dan di saat Rasulullah SAW masih hidup, karena antara
Nusantara dengan Jazirah Arab sejak berabad sebelumnya telah terjalin suatu hubungan

Peninggalan kerajaan Salakanagara

http://teguhimanprasetya.files.wordpress.com

28 e r am u s lim digest

Edisi Koleksi IX

Edisi Koleksi IX

eram u slim digest 29

yang intens dan kuat.

Ridwan Saidi bahkan menyatakan jika budaya Arab, termasuk sejumlah kosakatanya,
telah terlebih dahulu masuk di Nusantara sebelum kedatangan pengaruh Hindu-Budha.
Salakanagara telah meruntuhkan mitos yang selama ini dianut dalam penulisan sejarah
bangsa ini jika kerajaan pertama di Nusantara adalah Kerajaan Hindu di Jawa Barat
bernama Tarumanegara. “Pihak pemerintah, arkeolog, dan sejarawan tampaknya tidak
menunjukkan minat yang berarti dengan temuan di Batu Jaya sejak awalnya. Karena
tampaknya mereka terperangkap mitos jika kerajaan pertama di Jawa adalah
Tarumanegara. …jika mereka mendalami temuan di Batu Jaya, niscaya itu akan
meruntuhkan tesis mereka selama ini tentang banyak hal. Termasuk tentang asal muasal
orang Betawi.”

“Penduduk Salakanagara bukan penganut Hindu atau Budha, kedua agama itu
belum tiba di Jawa ketika masa kekuasaan Salakanagara. Penduduk Salakanagara
menganut kepercayaan menghormati arwah leluhur. …sisa-sisa keyakinan yang
mempercayai pengaruh arwah leluhur kini masih dapat dijumpai di komunitas Betawi di
Kranggan (Pondok Gede), Bekasi”, papar Ridwan.
Kerajaan Salakanagara berakhir pada pemerintahan Dewanagara IX. Bisa jadi
diakibatkan oleh konflik dengan Tarumanagara yang berada di selatannya pada sekitar
abad ke 5 M. (rz)

(Footnotes)

1

Disampaikan pada Seminar meluruskan Sejarah Islam di Indoesia, 28 Mei 2008, di IKIP Muhamadiyah, Jakarta.

2

Hasil penelitiannya dikumpulkan dalam sebuah buku berjudul “The Phantom Voyager: Evidence of Indonesian
Settlement in Africa in Ancient Times” (2005) yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

http://teguhimanprasetya.files.wordpress.com

Pemandian Kolam Anglingdarma, kerajaan jaman batu sisa dolmen

SALAKANAGARA & ORNAMEN ARAB

Edisi Koleksi IX

eram u slim digest 29

30 e r am u s lim digest

Edisi Koleksi IX

http://m-ruswandi.blogspot.com/

B A R U S

DAN PEMBALSEMAN
MUMI FIRAUN

30 e r am u s lim digest

Edisi Koleksi IX

Kota penghasil kapur wewangian yang populer dengan

nama ‘Kapur Barus’ ini bisa jadi merupakan kota tertua

di Nusantara, mengingat Barus merupakan kota di

Nusantara satu-satunya yang pernah dicatat berbagai

literatur sejak awal masehi dalam bahasa Arab, India,

Tamil, Yunani, Syiria, Armenia, China, dan sebagainya.

Edisi Koleksi IX

eram u slim digest 31

Pantai Barus di sore hari

Edisi Koleksi IX

eram u slim digest 31

32 e r am u s lim digest

Edisi Koleksi IX

Barus merupakan sebuah kota kecil yang berada di pesisir Barat Provinsi

Sumatera Utara, tepatnya di antara kota Singkil dengan Sibolga, sekitar 414
kilometer selatan Medan. Kota penghasil kapur wewangian yang populer dengan
nama ‘Kapur Barus’ ini bisa jadi merupakan kota tertua di Nusantara,
mengingat Barus merupakan kota di Nusantara satu-satunya yang pernah dicatat berbagai
literatur sejak awal masehi dalam bahasa Arab, India, Tamil, Yunani, Syiria, Armenia,
China, dan sebagainya.

Claudius Ptolomeus, seorang Gubernur Kerajaan Yunani yang berpusat di
Iskandariyah Mesir, pada abad ke-2 Masehi membuat sebuah peta dan di situ telah
menyebutkan bahwa di pesisir barat Sumatera terdapat sebuah bandar niaga bernama
Barousai yang dikenal menghasilkan wewangian dari sejenis kapur. Bahkan dikisahkan
pula bahwa kapur wangi yang diolah dari kayu kamfer dari kota itu telah dibawa ke
Mesir untuk dipergunakan bagi pembalseman mayat pada zaman kekuasaan Firaun
sejak Ramses II atau sekitar 5.000 tahun sebelum Masehi!.1

Barousai yang berada di pesisir Barat Sumatera merupakan istilah Yunani untuk
Barus. Ada pula yang menyebutnya sebagai Fansur. Berdasakan buku Nuchbatuddar
karya Addimasqi, Barus juga dikenal sebagai daerah awal masuknya agama Islam di
Nusantara sekitar abad ke-7 Masehi. Sebuah makam kuno di kompleks pemakaman
Mahligai, Barus, di batu nisannya tertulis Syekh Rukunuddin wafat tahun 672 Masehi.
Ini memperkuat data jika komunitas Muslim di Barus sudah ada pada era itu.
Sebuah dokumen kuno asal Tiongkok juga menyebutkan bahwa menjelang
seperempat tahun 700 M atau sekitar tahun 625 M—hanya berbeda 15 tahun setelah
Rasulullah menerima wahyu pertama atau sembilan setengah tahun setelah Rasulullah
berdakwah terang-terangan kepada bangsa Arab—telah ada kampung kecil yang dihuni

Ilustrasi lukisan Firaun

TEMA UTAMA

Edisi Koleksi IX

eram u slim digest 33

pemeluk Islam di sebuah pesisir pantai Barat Sumatera. Kampung ini berada dalam
kekuasaan wilayah Kerajaan Budha Sriwijaya. Disebutkan pula bahwa di daerah ini,
orang-orang Arab bermukim dan telah melakukan asimilasi dengan penduduk pribumi
dengan jalan pernikahan. Mereka telah beranak–pinak di sana dan dari sinilah mulai
didirikan tempat-tempat pengajian al-Qur’an sebagai cikal bakal pesantren, berikut
masjidnya.2

Prof. Dr. HAMKA mendapatkan informasi jika seorang pencatat sejarah Tiongkok
yang mengembara pada tahun 674 M telah menemukan satu kelompok bangsa Arab
yang membuat kampung dan berdiam di pesisir Barat Sumatera. Ini sebabnya, HAMKA
menulis bahwa penemuan tersebut telah mengubah pandangan orang tentang sejarah
masuknya agama Islam di Tanah Air. HAMKA menegaskan, temuan ini telah diyakini
kebenarannya oleh para pencatat sejarah dunia Islam di Princetown University di
Amerika.3

Sebuah Tim Arkeolog yang berasal dari Ecole Francaise D’extreme-Orient (EFEO)

Kapur barus saat ini

BARUS DAN PEMBALSEMAN MUMI FIRAUN

34 e r am u s lim digest

Edisi Koleksi IX

TEMA UTAMA

Perancis yang bekerjasama dengan peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
(PPAN) di Lobu Tua-Barus, telah menemukan bahwa pada sekitar abad 9-12 Masehi,
Barus telah menjadi sebuah perkampungan multi-etnis dari berbagai suku bangsa seperti
Arab, Aceh, India, China, Tamil, Jawa, Batak, Minangkabau, Bugis, Bengkulu, dan

Mumi Firaun/Ramses II

Edisi Koleksi IX

eram u slim digest 35

ROMULUS DAN REMUS

Rossylin Chapel

sebagainya. Tim tersebut menemukan banyak benda-benda berkualitas tinggi yang usianya
sudah ratusan tahun dan ini menandakan dahulu kala kehidupan di Barus itu sangatlah
makmur.4

Di Barus dan sekitarnya, banyak pedagang Islam yang terdiri dari orang Arab,
Aceh, dan sebagainya hidup dengan berkecukupan. Mereka memiliki kedudukan baik
dan pengaruh cukup besar di dalam masyarakat maupun pemerintah (Kerajaan Budha
Sriwijaya). Bahkan kemudian ada juga yang ikut berkuasa di sejumlah bandar. Mereka
banyak yang bersahabat, juga berkeluarga dengan raja, adipati, atau pembesar-pembesar
Sriwijaya lainnya. Mereka sering pula menjadi penasehat raja, adipati, atau penguasa
setempat. Makin lama makin banyak pula penduduk setempat yang memeluk Islam.
Bahkan ada pula raja, adipati, atau penguasa setempat yang akhirnya masuk Islam.
Tentunya dengan jalan damai.5

Inilah Barus, sebuah kota kecil di pesisir Barat Sumatera
Utara yang sangat bersejarah namun ironisnya tidak mendapat perhatian yang cukup
dari pemerintah pusat. (fz)

(Footnotes)

1

Harian Kompas: Akhir Perjalanan Sejarah Barus (1 April 2005)

2

Kitab Chiu Thang Shu, tanpa tahun.

3

Prof. Dr. HAMKA; Dari Perbendaharaan Lama; Pustaka Panjimas; cet.III; Jakarta; 1996; Hal.4-5.

4

Ahmad Arif dalam Kompas, 1 April 2005 “Akhir Perjalanan Sejarah Barus’: … Tahun 1872, pejabat Belanda, GJJ
Deutz, menemukan batu bersurat tulisan Tamil. Tahun 1931, Prof Dr K A Nilakanta Sastri dari Universitas Madras,
India, menerjemahkannya. Menurutnya, batu bertulis itu bertahun Saka 1010 atau 1088 M di zaman kekuasaan Raja
Cola yang berkuasa di Tamil, India Selatan. Tulisan itu antara lain menyebutkan tentang perkumpulan dagang suku
Tamil sebanyak 1.500 orang di Lobu Tua yang memiliki pasukan keamanan, aturan perdagangan, dan ketentuan
lainnya. Namun, Lobu Tua yang merupakan kawasan multietnis di Barus ditinggalkan secara mendadak oleh penghuninya
pada awal abad ke-12 sesudah kota tersebut diserang oleh kelompok yang dinamakan Gergasi. “Berdasarkan data
tidak adanya satu benda arkeologi yang dihasilkan setelah awal abad ke-12. Namun, para ahli sejarah sampai saat
ini belum bisa mengidentifikasi tentang sosok Gergasi ini,” papar Lucas Partanda Koestoro, Kepala Balai Arkeologi
Medan. Setelah ditinggalkan oleh komunitas multietnis tersebut, Barus kemudian dihuni oleh orang-orang Batak yang
datang dari kawasan sebelah utara kota ini. Situs Bukit Hasang merupakan situs Barus yang berkembang sesudah
penghancuran Lobu Tua.
Sampai misi dagang Portugis dan Belanda masuk, peran Barus yang saat itu telah dikuasai raja-raja Batak sebenarnya
masih dianggap menonjol sehingga menjadi rebutan kedua penjajah dari Eropa tersebut. Penjelajah Portugis Tome
Pires yang melakukan perjalanan ke Barus awal abad ke-16 mencatat Barus sebagai pelabuhan yang ramai dan
makmur. “Kami sekarang harus bercerita tentang Kerajaan Barus yang sangat kaya itu, yang juga dinamakan Panchur
atau Pansur. Orang Gujarat menamakannya Panchur, juga bangsa Parsi, Arab, Bengali, Keling, dan seterusnya. Di
Sumatera namanya Baros (Baruus). Yang dibicarakan ini satu kerajaan, bukan dua,” demikian Pires.
Tahun 1550, Belanda berhasil merebut hegemoni perdagangan di daerah Barus. Dan pada tahun 1618, VOC mendapatkan
hak istimewa perdagangan dari raja-raja Barus, melebihi hak yang diberikan kepada bangsa China, India, Persia, dan
Mesir. Belakangan, hegemoni Belanda ini menyebabkan pedagang dari daerah lain menyingkir. Sepak terjang Belanda
juga mulai merugikan penduduk dan raja-raja Barus hingga memunculkan perselisihan. Tahun 1694, Raja Barus Mudik
menyerang kedudukan VOC di Pasar Barus. Banyak korban tewas.
Raja Barus Mudik bernama Munawarsyah alias Minuassa ditangkap Belanda dan diasingkan ke Singkil, Aceh.
Perlawanan rakyat terhadap Belanda dilanjutkan di bawah pimpinan Panglima Saidi Marah. Gubernur Jenderal Belanda
di Batavia mengirim perwira andalannya, Letkol J. J. Roeps ke Barus. Tahun 1840, Roeps dibunuh pasukan Saidi
Marah yang bergabung dengan pasukan Aceh dan pasukan Raja Sisingamangaraja dari wilayah utara Barus Raya.
Namun, pamor Barus sudah telanjur menurun karena saat Barus diselimuti konflik, para pedagang beralih ke
pelabuhan Sunda Kelapa, Surabaya, dan Makassar. Sementara, pedagang-pedagang dari Inggris memilih mengangkut
hasil bumi dari pelabuhan Sibolga. Barus semakin tenggelam saat Kerajaan Aceh Darussalam berdiri pada permulaan
abad ke-17. Kerajaan baru tersebut membangun pelabuhan yang lebih strategis untuk jalur perdagangan, yaitu di
pantai timur Sumatera, berhadapan dengan Selat Melaka…

5

Sagimun M.D., Peninggalan Sejarah, Masa Perkembangan Agama-Agama di Indonesia, CV. Haji Masagung, cet.1,

1988, hal.58

BARUS DAN PEMBALSEMAN MUMI FIRAUN

36 e r am u s lim digest

Edisi Koleksi IX

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->