Muta’akhir ini, pertembungan antara kaum muda dan kaum tua diHANGATkan semula.

Perkara ini sangat bahaya kepada perpaduan ahli sunnah wal jamaah yang terdiri daripada pendokong al asya’irah, al maturidiah, dan pendokong metodologi salaf yang sebenar. Ulama’ khalaf (merujuk kepada zaman) tidak pernah menolak kaedah dan pendapat ulama’ salaf(merujuk kepada zaman, bukan mazhab) bahkan menjadi rujukan mereka sepanjang masa. Yang timbul sekarang ialah segolongan ‘ulama’ dan ‘ustaz’ yang mendakwa diri mereka mengikut manhaj salaf, menyesatkan dan menghukumkan bid’ah yang sesat kepada sesiapa yang mengikut pendapat khalaf. Artikel di bawah menghuraikan asal usul punca perbezaan pendapat antara metodologi salaf dan khalaf. AYAT 7 SURAH ALI IMRAN َ َ َ َ ِ ﴿‫هُوَ ال ّذى أنزل ع َل َي ْك ال ْك ِتـب من ْه آيـت محك َمـت هُن أ ُم ال ْك ِتـب وَأ ُخر مت َشـب ِهـت فَأ َما ال ّذين فى‬ ّ ٌ َ َ ُ ُ َ ٌ َ ْ ّ ٌ َ ُ ِ َ َ ِ َ ْ ّ ّ َ ِ ُ ‫قُلوب ِهِم زي ْغٌ فَي َت ّب ِعون ما ت َشـب َه من ْه اب ْت ِغآء ال ْفت ْن َةِ واب ْت ِغآء ت َأويل ِهِ وَما ي َعْل َم ت َأ ْويل َه إ ِل ّ الل ّه والرسخون‬ ِ َ َ َ ُ ِ َ َ ُ َ ْ ُ ِ ُ َ ُ ِ َ َ َ َ ُ ِ َ َ َ ْ ‫﴾ في ال ْعِل ْم ِ ي َقولون ءامنا ب ِهِ ك ُل من عند ِ رب ّنا وَما ي َذ ّك ّر إ ِل ّ أ ُوْلوا ْ ال َل‬ ُ ُ ُ ‫بـب‬ ِ ْ ّ ّ َ َ ّ َ َ َ ِ َ ِ َ ُ Maksudnya: ” Dialah (Allah) yang menurunkan kepada kamu al Qur’an, daripadanya ada ayat muhkamat(mempunyai hukum yang jelas) yang menjadi asas kitab Al Qur’an, dan yang lainnya ayat mutasyabihat(samar). Maka adapun orang yang di dalam hatinya cenderung kepada kesesatan, lalu mereka mengikut apa yang yang samar-samar daripadanya (ayat-ayat mutasyabihat), bertujuan mencari fitnah dan mencari makna yang lain. Dan tidaklah mengetahui makna sebenarnya melainkan Allah , dan orang-orang yang mendalami ilmu berkata ‘kami telah beriman dengannya(ayat mutasyabihat) , semuanya dari sisi Tuhan kami, Dan tidaklah mengambil peringatan melainkan orang-orang yang mempunyai akal fikiran.” Jadi, Al-Quran terdiri dari dua macam : Ayat Muhkam Yaitu ayat yang hanya mempunyai satu arti menurut aturan bahasa Arab atau lainnya, arti ayat itu jelas diketahui. Misalnya : Tidak ada yang serupa dengan-Nya (QS Asyura :11) Dan tidak satupun yang sesuatupun yang menyamai-Nya (Al-Ikhlas :4) Ayat Mutasyabih Yaitu ayat-ayat yang dapat memiliki banyak arti menurut bahasa Arab. Penunjukan makna ayat ini membutuhkan pemikiran yang dalam sehingga dapat diterima. Misalnya Surat Thaha : 5 “(Yaitu) Yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas ‘Arsy. (QS. 20:5) Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah kemuliaan itu semuanya. KepadaNyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. Dan orangorang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras, dan rencana jahat mereka akan hancur. (QS. 35:10) Menurut kaidah bahasa Arab, itu adalah ayat mutasyabihat, sehingga memiliki banyak arti. Pemilihan maknanya harus dilakukan sehingga sesuai dengan kaidah bahasa dan agama, dan tidak bertentangan dengan ayat muhkam. Ayat-ayat Al-Quran tidak mungkin saling

tertawa atau makna lain yang tidak boleh disifatkan kepada Allah. Ulama khalaf yang hidup pada saat di mana orang mulai kehilangan bahasan alami dan kefasihan berbahasa Arab. mereka memberi arti tertentu kepada ayat mutasyabih yang sesuai dengan kaidah bahasa dan agama.” Dengan perkataan lain. mereka merujukkan ayat-ayat mutasyabih ke ayat muhkam. Ada dua metodologi untuk menerangkan ayat mutasyabihat. Metodologi ini adalah memberikan makna tertentu kepada ayat mutasyabih. Lebih lanjut. kaki. Melihat bahwa orang Arab kemampuan bahasa alaminya menurun dan mereka takut pada orang yang hatinya condong kepada kesesatan akan membaca ayat mutasyabih dengan arti yang tidak layak bagi Allah. Metodologi Khalaf Khalaf adalah ulama yang hidup sesudah 3 abad pertama hijrah. Imam Bukari dalam Shahih-nya. Mereka memberi makna yang benar dan dapat diterima pada ayat mutasyabih. gerakan. yang akan membawa kepada misalnya tempat. keduanya benar : 1. Contoh yang baik adalah perkataan Imam Syafii : “Saya percaya dengan apa yang Allah turunkan sesuai makna yang diinginkan-Nya. . sebagaimana Surat Ali Imran ayat 3 di atas. Dia mengatakan. Juga hadis tidak mungkin bertentangan dengan ayat Al-Quran. Daripada mengatakan artinya. bab Tafsirul Quran. ulama khalaf mengikuti contoh di antara ulama salaf yang memberi arti tertentu pada ayat-ayat mutasyabih. arti yang sesuai tidak berdasarkan makna fisik dan indra yang salah. telah diketahui bahwa beberapa ulama salaf memberi makna tertentu kepada ayat Mutasyabih. Metodologi ini adalah pemberian penjelasan umum. Mereka berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat. bentuk. Beritu juga hadis tidak boleh saling bertentangan. Mereka memahami bahwa ayat-ayat itu memiliki makna yang layak bagi Allah. warna. semuanya itu dari sisi Rabb kami”. dan apa yang Rasulullah sampaikan sesuai dengan makna yang dia maksud. yaitu dia mengatakan bahwa “wajh” – yang disifatkan kepada Allah – artinya “mulk” atau “kerajaan/kekuasaan”. memberi makna tertentu kepada lafal “illa wajhahu” yaitu dalam QS Al-Qashash 88. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. Meski demikian. arah. “illa mulkahu”. sehingga ulama salaf ayat ini memiliki arti sesuai dengan kesempurnaan Allah. dan mustahil bahwa mereka akan memberi makna fisik dan indrawi yang tidak layak bagi Allah. duduk. tersenyum. 3:7). Dengan mengacu ayat itu dengan ayat muhkam. metodologi khalaf Metodologi Salaf Salaf adalah ulama yang hidup pada masa tiga abad pertama hijrah. Padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah dan orang-orang yang mendalam ilmunya. (QS. metodologi Salaf 2. orang Arab pada ketiga abad itu memiliki bahasa Arab yang alami dan sangat fasih.bertentangan. Untuk menjaga aqidah Islam.

hal 428) meriwayatkan penjelasan dari Ibn ‘Abbas. Malik.’ i. hal 39-40: ” …. ajari dia ilmu hadis dan penjelasan Quran. Ibn Hajar . al-Bukhari. Dalam Al-Baqarah 115 : Dan kepunyaan Allah-lah Timur dan Barat. Rasul saw mengatakan : Ya Allah. Ini akan meliputi : Ibn ‘Abbas. mereka membuat aturan yang keliru bahwa penunjukkan makna tertentu pada ayat tersebut yang akan membawa kepada peniadaan sifat-sifat Allah. Masyhur bahwa Ibn Abbas adalah unggul di antara sahabat dalam menerangkan arti ayat Quran.’ dekat dengan makna ‘menerima kebiakan’. Abu Fadl at-Tamimi.. mwngatakan bahwa kata wajh artinya ‘qiblat. dll. Volume 6. Ibn Qulayb Juga menyatakan dari Sa’id Ibn Jubayr yang mendapat ilmu dari ‘Abdullah Ibn ‘Abbas and Ibn ‘Umar. an-Nawawi. Qatadah.e. ‘Abdul-Qahir al-Baghdadi.” Tetapi.13. Sa’id Ibn Jubayr. (hal 245) dan Fath-al-Bari. Klaim mereka ini membawa pada interpretasi ayat Quran saling kontradiksi dan juga interpretasi antar hadis. artinya “mengasihi. ulama hadis dan ahli bahasa Murtada az-Zabidi. sehingga mereka mengatakan bahwa Allah tersenyum atau tertawa. baik Imam al-Fakhr ar-Razi dalam Tafsir Qur’an. mereka bertentangan dengan Rasul. Penjelasan ini diberikan oleh Ibn ‘Abbas. ad-dahik (tertawa).” Ibn Hajar al-’Asqalani. lihat isi artikel berikutnya…) Dengan klaim mereka ini. hal 94 dan Imam al-Bayhaqi dalam Al-’Asma’ was-Sifat.. Lebih lanjut klaim mereka ini telah menuduh ulama-ulama salaf dan khalaf dengan fitnah bahwa mereka meniadakan sifat-sifay Allah. Di antara orang yang hatinya condong kepada kesesatan adalah musyabbiha. murid Ibn ‘Abbas. ara . sehingga makna ayat adalah “hari yang penuh ketakutan dan kesulitan”. (QS. berarti “Kerajaan/kekuasan-Nya. yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. dan interpretasi hadis dan Quran. dan sejumlah ulama. maka mereka tidak kuasa. sehubungan dengan perkatakan sifat Allah . (Volume. Ibn Rajab alHanbali. Ibrahim an Nakh’i. maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. mushabbihah yang menserupakan Allah dengan makhluk mengatakan. dalam Al-Fath (Sarah Sahih al-Bukhari). 68:42) Salaf mengatakan lafal “saq” sebagai “suatu kesulitan”. Tetapi mutashabihah berkeras pada makna literal dan mensifati pada Allah “betis”. Imam al-Bukhari mengatakan bahwa kata wajhahu dalam Surat alQasas. “Kami tidak menginterpretasikan. (QS.Sehubungan dengan ayat ini Ibn Abas : “Saya adalah satu dari orang yang mendalam ilmu agamanya”. Mujahid. Ibn-ul-Jawzi. Al-Bukhari menyatakan bahwa Rasul melakukan doa untuk Ibn Abbas. Ahmad. Dalam bab Tafsir al-Qur’an. Mujahid. Volume 30. ayah 88. tetapi memilih makna literal. Dalam Surat Al-Qalam 42 : Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud. Mereka secara salah mengklaim bahwa dilarang menunjuk pada arti tertentu pada ayat mutasyabih dan khususnya yang berhubungan dengan sifat Allah. Lebih lanjut. dengan mengartikan literal ‘betis’. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui. al-Bayhaqi.” sehingga mereka mengatakan wajhahu artinya “muka-Nya. 2:115) Imam Mujahid. Sufyan athThawri. (Ketr. Tetapi mushabihah berkeras mengambil makna literal. Sa’id Ibn Jubayr.

. menerangkan dari sanad sahih. Dalam konteks ini. Mereka tidak mengartikan istiwa di atas singgasana… Sebaliknya. jika ayat 12 At-Tahrim :” Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami”. …” (QS. istirahat. Tetapi kaum musyabihah berkeras “nuzul” artinya Allah turun dalam arti gerakan. Jika ayat ini dijelaskan dengan cara ini. Siapa pun tidak dapat membayangkan. Mengutip Imam Asy’ari.. Imam Ahmad Ibn Hanbal. Dia juga membuktikan bahwa Imam Ahmad tidak mempercayai tentang “maji-ah” (dari ja-a) dalam ayat itu. apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. “ Allah adah Cahaya langit dan bumi…”. itu artinya Allah disifati dengan menguasai Arsy sebelum Arsy diciptakan. Gerakan. mereka berkata : ”Terimalah mereka sebagaimana datangnya tanpa menerapkan ‘bagaimana’ padanya”. yang berarti keadaan tanpa permulaan. Tetapi musyabihah berkeras bahwa “Allah datang” (yi. itu berarti Allah menguasai Arsy dengan penguasaan tanpa awal. Ketika ulama mengatakan :”…. dari satu tempat ke tempat lain). Para ulama mengartikan : ‘Allah (Pencipta/Pemberi) petunjuk di langit dan bumi’. Allah nuzul /turun) dijelaskan Imam Malik : Sebagai turunya kasih sayang dan bukan gerakan. Juga dalam Shad 75. ulama memberi istilah “al-azal”. sama seperti Allah disifati sebagai pencipta sebelum sesuatu yang diciptakan ada. Ketika al-istila digunakan untuk menjelaskan ayat ini. yang mutasyabihat. bertubuh atau anggota tubuh. Imam Ibn Al-Jauzi. Tetapi. bahwa ketikamereka ditanya hadis yang mutasyabihat. Ulama mengatakan artinya : Allah menyuruh Jibril untuk meniup ke dalam Nabi Isa ruh yang dimuliakan Allah. orang mushabihah berkeras bahwa arti yadain adalah tangan. AlFajr:22 : “Datanglah Tuhanmu. mereka mengatakan istiwa artinya “duduk” di atas Singgasana atau “bertempat secara kuat” di atasnya. menyatakn bahwa Imam Ahmad menunjuk pada arti tertentu. Allah berbeda dari apa pun. para ulama sepenuhnya meniadakan “bagaimana” pada Allah.prayers pada waktu sahalat sunah dalam perjalanan atau naik hewan. jawabnya adalah “seperti ini atau itu”. secara literal berarti : Allah berfirman: “Hai iblis. Dalam bukunya Al-Mu’taqad.tanpa ‘bagaimana’ padanya”. juga : Tidak mungkin Allah bergerak”. Imam Baihaqi. Hal ini karena jika seseorang bertanya bagaimana. yang berarti bahwa Allah menguasai ‘arsy dengan penguasaan tanpa permulaan. Segala sesuatu selain Allah adalah makhluk dan Allah tidak seperti makhluk. Tetapi mushabihah berkeras dengan makna literal. diambil makna literal artinya Allah meniup sebagian dari Ruh-Nya kepada Isa. istirahat dan duduk adalah sifat-sifat badan”Imam Ibn Rajab al-Hambali menjelaskan lafaz “istiwa” dalam Surat Taha :5 artinya “al-istila” yang artinya menguasai (subjugating). bergerak. Juga Ibn al-Jawzi al-Hanbali. Allah adalah cahaya. berkaki. mengartikan : Kekuasaan Allah telah datang. Tetapi kaum musyabihah berkeras dengan makna literal. dalam buku Al-Asma wa Sifat hal 488 : “Allah ta’ala tidak di suatu tempat. Jadi dapat dikatakan bahwa Allah menguasai (istila) ‘arsy dalam al-azal. Juga An-Nur :35. Hadis dari Bukhari (ttg. Hafiz Imam al-Baiaqi dalam Manaqib Ahmad. Tetapi orang mushabihah berkeras dengan makna literal. ulama Madzhab Hambali. bahwa itu adalah pergerakan. 38:75) Para ulama mengatakan arti “yadain” adalah “perhatian/kasih (care)”. mereka mengartikan “muka/wajah”. mereka mengartikan bahwa Allah bersih dari sifat-sifat duduk.Imam Malik dan Sufyan ath-Thawri serta al-Layth Ibn Sa’d. Imam Baihaqi menyatakan dari sanad al-’Awza’i . yang dapat diterima. Begitu juga.”.

Juga As-Shafat :99: arti literal: “Allah di negerinegeri syam”.Sehingga pernyataan yang mengatakan “Allah duduk di atas singgasana tetapi kita tidak tahu bagaimana” adalah tertolak berdasar keterangan mereka. Jika Surat An-Nahl 128 diambil literal. Dia menjawab: Fis-sama” yang artinya Allah memiliki kedudukan tertinggi. Beitu juga hadis : Jika kamu mengasihi yang di bumi. ketika Rasul bertanya kepada budak hitam wanita: “Di mana Allah?”. dan dia menjawab “Allah di langit”. Juga dengan Al-Hadid :4 :”Allah bersama kamu dimana pun kamu berada”. para ulama mengartikan Beliau menanyakan tetntang kedudukan Allah. Hal ini secara langsung bertentangan dengan hadis “Allah di langit” di atas. Tetapi Musyabihah berkeras pada makna literal”… Allah . bagaimanapun caranya. Para ulamamengambil makna yang sesuai dan dapat diterima pada ayat dan hadis yang mutasyabihat berdasar bahasa dan agama. Artinya Jika kamu mengasihi yang di bumi. kamu akan dikasihi yang di langit. sehinggaartinya “Segala sesuatu di bawah kekuasaan Allah” Surat An-Nahl 128 artinya Allah menolong orang-orang yang berbuat kebaikan. Lebih lanjut. Ulama mengartikan Allah mengetahui di mana pun kamu berada. akan membawa kasih Allah kepadamu. Bertempat membutuhkan “bagaimana” dan ditujukan kepada tubuh. akan mengasihimu” Dengan menolak pemahaman majazi. Sebagai contoh hadis terkenal “Allah di antara orang dan leher peliharaannya”. warna dan sentuhan adalah atribut tubuh dan “bagaimana” ditujukan padanya. yang ada di langit. artinya langit adalah tempat Allah. Juga Fushilat 54: Allah meliput segala sesuatu. artinya Allah menguasai Arsh dalam al-azal (tanpa permulaan). Hampir sama. Semuanya adalah mustahil ditujukan kepada Allah. Juga Al-Baqarah :125 makna literalnya : “Ka’bah adalah rumah Allah”. mengakibatkan adanya saling kontradiksi antar ayat-ayat Al-Quran atau hadis. Allah mengetahui segala sesuatu (Fusilat:54). adalah sifat-sifat tubuh. Mereka mengartikan : Allah Maha Mengetahui dimana pun kamu berada (Hadid :4). Taha 5. karena ayat ini berhubungan dengan Sayidina Ibrahim yang sedang pindah dari Iraq ke negeri-2 Syam. malaikat – yang ada di langit. Surat Al-An’am 61 : merujuk “fauqiah” (aboveness) kekuasaan. artinya menjadi “Allah bersama orang berbuat kebaikan” Jika semua diambil makna literalnya betapa banyak kontradiksinya. Kabah adalah rumah yang sangat dimuliakan Allah (Al-Baqarah 125). . Tetapi Musyabihah berkeras pada makna literal – Rasul menanyakan tempat Allah.seperti seluruh sifat Allah. Siapa pun dengan suara pikiran tahu bahwa duduk. dan dengan merujuk pada ayat muhkam.

dan Allah mempunyai “arah” yaitu atas. daging. ayah 195. Imam Murtada Az-Zabidi. Jika Anda mengambil makna literal. dan tanpa “bagaimana”. adalah betis. punya yad yang pantas bagi-Nya – yang bukan tangan. yang tidak kita ketahui’ adalah kontradiksi. bertempat/istawa yang tidak kita ketahui. dan punya wajh yang pantas bagi-Nya – yang bukan muka” Cara yang benar kedua adalah dengan memberi makna yang sesuai agama dan bahasa. Kita mohon lindungan Allah dari perangkap kesesatan. atau arti lain dan dikenakan pada manusia/makhluk. bertempat. ‘Kekuasaan’. yaitu tanpa mensifati Allah duduk. dalam bukunya IthafusSadatil-Muttaqin. “Al-Quran diturunkan dalam bahasa Arab yang jelas” Az-Zabidi :”Orang yang mengambil posisi menentang pengambilan makna tertentu yang dapat diterima pada dasarnya adalah menyerupakan Allah dengan makhluk” Menskipun mereka berkilah dengan mengatakan bahwa Dia memiliki “tangan”. “Allah istiwa yang pantas bagi-Nya – yang bukan duduk. atau ‘Kiblat’”. ayah 42. Jika anda mengambil makna literal. bersifat indrawi.Dalam pengambilan makna literal kaum musyabihah. karena . mereka mengklaim bahwa Rasul tidak tahu sifat-2 Allah yang diturunkan kepadanya. kita mengatakan “istiwa artinya ‘Dia menguasai Singgasana’. dan jika anda kemudian menolaknya. Dia menyebut mereka:”Perkataan Anda bahwa ‘kita mengambil makna literal. Mengikuti metode ini. Ahli Bahasa dan hadis madzhab Hanafi. dalam Al-’Aqidatut-Tahawiyyah: “Siapa yang mensifati Allah dengan sesuatu yang ditujukan kepada manusia telah melakukan penghinaan” Kita bermohon kepada Allah agar menjaga kita dalam jalan dan keyakinan yang benar yang dimiliki ulama Salaf dan Khalaf. yang tidak sama dengan tangan makhluk. bagaimana anda mengklaim melakukan makna literal?” Penutup Yang pasti bahwa kedua metodologi baik Salaf dan Khalaf keduanya benar dan tidak mensifati Allah dengan yang tidak layak baginya. mereka mencoba keluar dari kontradiksi dengan berkamuflase. dan Allah mempunyai “betis” yang kita tidak tahu bagaimana betisnya. bahwa Allah memiliki muka tanpa penampakan. Imam Abu Ja’far at-Tahawi. yang itu adalah bagian tubuh yang berupa kulit. wajh artinya ‘Zat Allah’. dan “betis” yang tidak sama dengan betis makhluk. yad artinya ‘kasih/perhatian’-Nya. Dia mengatakan : “Pada dasarnya mereka merendahkan kedudukan Rasul. …” Bagaimanapun Allah mengatakan Surat ash-Shu’ara’. tetapi kita tidak tahu bagaimana. maka anda telah melakukan penghinaan. menolak orang yang menolak penunjukan manka yang dapat diterima pada ayat mutasyabihat dan berkeras pada makna literal. …. Dengan mengikuti metode ini. cara pertama yang benar dalam memahami ayat mutasyabihat dalam Al-Quran adalah mempercayai sesuai yang Allah maksudkan tanpa mengatakan artinya . Semoga Allah melindungi kita agar tidak terjatuh ke dalam perangkap menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Singkat kata. berdiri. maka ‘assaq’ dalam Surat al-Qalam. kita mengatakan. tulang dan syaraf. Juga mereka mengatakan Allah “duduk” tetapi kita tidak tahu bagaimana Dia duduk.

Ingatlah Nabi pernah bersabda. Sangat berhati-hatilah dengan apa yang kamu ucapkan untuk Allah. tempat dan sejenisnya. mereka lah yang Allah maksudkan. Allah bebas dari segala kelemahan dan segala sesuatu penyerupaan dengan makhluk-Nya. “Seorang hamba akan mengucapkan sebuah kata yang dia tidak tahu merugikan. dengan mensifati Dia dengan cahaya.” Sikap ahli sunnah wal jamaah ialah mengiktiraf keilmuan ulama’-ulama’ yang menta’wil ayatayat mutasyabihat di kalangan salaf dan khalaf berdasarkan disiplin ilmu tafsir yang diiktiraf iaitu mengikut kaedah bahasa Arab. Keta’suban terhadap metod masing-masing (salaf dan khalaf) menyebabkan diri pendebat dikuasai syaitan yang sentiasa mencari peluang itu.a. yang maksudnya. tangan. Ingatlah pesanan Nabi junjungan besar kita yang direkodkan oleh Imam Ahmad dari َ َ َ َ ِ Aisyah r. Kita hendaklah jauhi diri dari berdebat mempertahankan pendapat masing-masing secara melampau sehingga menyesatkan dan mencerca ulama’ yang ikhlas di sepanjang zaman. ” Tidak sesat sesuatu kaum selepas (memperoleh) hidayah yang dikurniakan ke atas mereka melainkan mereka suka berdebat. ﴾محك َمـت هُن أ ُم ال ْك ِتـب وَأ ُخر مت َشـب ِهـت‬lalu Nabi sallallahu alaihi wasallam ّ ّ ٌ َ َ ُ ُ َ ٌ َ ْ ّ ِ َ berkata . arah. betis. akan menyebabkan dia masuk ke dalam neraka selama 70 musim”. “setiap kata yang diucapkan akan ditulis oleh dua malaikat. «‫. »فَإ ِذا رأ َي ْت ُم ال ّذين ي ُجاد ِلون فيه، فَهُم ال ّذين ع َنى الله، فاحذ َروهم‬ ُ ُ ْ َ ُ َ َ ِ ِ ِ َ ُ َ ِ ُ ُ َ َ “Maka sekiranya kamu melihat orang-orang yang berdebat padanya(ayat mutasyabihat). Itu adalah tempat yang hanya dicapai oleh orang kafir. Yang Esa yang bersih dari segala penyerupaan dan segala sifat yang tidak pantas. ” Rasulullah membaca ayat ﴿‫هُوَ ال ّذى أنزل ع َل َي ْك ال ْك ِتـب من ْه آيـت‬ ٌ َ ُ ِ َ َ ‫ . maka jauhilah mereka. duduk. Bagaimana sikap kita terhadap golongan musyabbihat? Berilah penjelasan kepadam masyarakat tentang kefahaman yang benar berpandukan ilmu ulama’2 salaf dan khalaf yang mujtahid serta muktabar. wajah.Rasul saw berkata dalam riwayat Tarmizi. diambil dari ahlisunah. Raqib dan Atid” Juga berhatihatilah dari buku-buku tafsir/terjemahan Quran yang menserupakan Allah SWT dengan makhluk-Nya. Segala puji bagi Rabbul Alamien. dan dari segala yang merendahkan yang dikatakan oleh orang yang tidak benar tentang Dia.org ………………………………….. ayah 18.” . karena Surat Qaf.

Ihkam berarti kukuh.” (QS.” (QS. Al Qur’an muhkam dengan makna ini. ihkamul kalam : perkataan yang kukuh dan terang yang berarti perkataan untuk membedakan kejujuran dari kedustaan didalam suatu berita. terang tanpa ada kesamaran didalamnya bagi setiap orang. adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan.” (QS. apabila dia memberitahu tentang terjadinya sesuatu di satu tempat namun tidak memberitahukan penafiannya di tempat . Bahwa Al Qur’an seluruhnya adalah muhkamat. (Inilah) suatu Kitab yang ayat-ayat-Nya muhkamat serta dijelaskan secara terperinci. sebagiannya membenarkan sebagian lainnya didalam berita-beritanya. Huud : 1) 2. Al Lajnah ad Daimah Lil Buhuts wal Ifta’ menjelaskan sebagai berikut : 1. firman Allah swt : ٍ ِ َ ٍ ِ َ ْ ُ ّ ِ ْ َّ ُ ّ ُ ُ ُ َ ْ َ ِ ْ ُ ٌ َ ِ َ ‫الر كتاب أحكمت آياته ثم فصلت من لدن حكيم خبير‬ Artinya : “Alif laam raa. Bahwa Al Qur’an sebagiannya adalah muhkamat sedangkan sebagiannya lagi mutasyabihat. Az Zumar : 23) 3. Bahwa Al Qur’an seluruhnya adalah mutasyabihat berdasarkan firman-Nya : ‫ال نزل أحسن الحديث كتابا متشابها‬ ً ِ َ َّ ً َِ ِ ِ َ ْ َ َ ْ َ َ ّ َ ّ ُ Artinya : “Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang mutasyabihat. sebagaimana firman-Nya : ٍ ِ َ ٍ ِ َ ْ ُ ّ ِ ْ َّ ُ ّ ُ ُ ُ َ ْ َ ِ ْ ُ ٌ َ ِ ‫كتاب أحكمت آياته ثم فصلت من لدن حكيم خبير‬ Artinya : “(Inilah) suatu Kitab yang ayat-ayat-Nya adalah muhkamat. artinya bahwa sebagiannya membenarkan sebagian lainnya didalam perintah-perintahnya. inilah yang paling benar. Ali Imran : 7) Tentang ayat-ayat muhkamat dan mutasyabihat ini. berdasarkan firman-Nya : ٌ ْ َ ْ ِ ِ ُُ َ ِ ّ ّ ََ ٌ َ ِ َ َ ُ ُ َ َُ ‫وأخر متشابهات فأما الذين في قلوبهم زيغ‬ Artinya : “Dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Huud : 1) 2.” (QS. tidak memerintahkan sesuatu didalam satu tempat namun melarangnya di tempat yang lain. petunjuk dari kesesatan didalam berbagai perintah.Dinukil dari Al Husein bin Muhammad bin Habib an Naisaburiy bahwa ada tiga pendapat didalam permasalahan ini : 1. yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha tahu. Tasyabuh didalam suatu perkataan digunakan untuk keserupaan atau kesesuaian.

An Nisa : 82) ‫ال نزل أحسن الحديث كتابا متشابها‬ ً ِ َ َّ ً َِ ِ ِ َ ْ َ َ ْ َ َ ّ َ ّ ُ Artinya : “Allah Telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang mutasyabihat. Allah mengatakan tentangnya bahwa ia adalah “kalimatNya yang disampaikan kepada Maryam” dan meninggalkan mereka (orang-orang Nasrani) untuk kembali kepada firman-Nya tentang Isa as. Az Zumar : 23) Mutasyabihat dalam makna ini tidaklah bertentangan dengan ihkam dengan maknanya yang umum bahkan salah satunya membenarkan yang lainnya dan tidak saling bertentangan. Az Zukhruf : 59) ُ ُ َ َ ُ ُ َ َ َ ّ ِ ٍ َ ُ ِ ُ َ ََ َ َ ِ َ َ َ ّ َ ِ َ ِ َ َ َ ّ ِ ‫إن مثل عيسى عند ال كمثل آدم خلقه من تراب ثم قال له كن فيكون‬ Artinya : “Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah. Kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia).” (QS. Maka jadilah Dia. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.yang lainnya. Al Qur’an seluruhnya mutasyabihat dengan makna ini namun tidak ada pertentangan dan kekacauan didalamnya.” (QS. : “Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang kami berikan kepadanya nikmat (kenabian). Allah menciptakan Adam dari tanah. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu." (QS.” (QS. firman-Nya : ‫أفل يتدبرون القرآن ولو كان من عند غير ال لوجدوا فيه اختلفا كثيرا‬ ً ِ َ ً َ ِ ْ ِ ِ ْ ُ َ َ َ ّ ِ ْ َ ِ ِ ْ ِ َ َ ْ ََ َ ْ ُ ْ َ ُ ّ َ َ َ َ َ َ Artinya : “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah. Didalam Al Qur’an terdapat ayat-ayat yang mutasyabihat dengan makna ini yaitu mengandung berbagai dalil yang bersesuaian dengan ayat-ayat muhkam dan juga mengandung berbagai dalil yang bertentangan dengannya sehingga maksud darinya menjadi samar di sebagian manusia. Al Imran : 59) Artinya : “Katakanlah: "Dia-lah Allah.” (QS. Al Ikhlas : 1 -3) . Tasyabuh dalam arti yang khusus : adalah memiliki keserupaan terhadap sesuatu dari satu sisi namun berbeda dari sisi yang lainnya. adalah seperti (penciptaan) Adam. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan barangsiapa dari kalangan ulama yang berhenti pada ayat-ayat mutasyabihat itu dan tidak mengembalikannya kepada ayat-ayat muhkamat yang sudah terang maka sungguh dirinya telah berada didalam suatu kebatilan dan mengalami kesesatan dari jalan yang lurus. 3. seperti orang-orang Nasranu didalam argumentasi mereka tentang Isa adalah anak Allah. yang Maha Esa. tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. Barangsiapa yang mengembalikan mutasyabihat dengan makna khusus ini kepada ayat-ayat yang muhkamat yang sudah jelas maka akan tampaklah maksud dari ayat-ayat mutasyabihat itu dan dapat membantunya mendapatkan kebenaran.

tidak mena’wilkannya apabila tidak ada dalil qoth’i yang menjelaskan tentangnya. adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan. semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” (QS. berisi petunjuk. Itulah pokok-pokok isi Al qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. menginginkan kerancuan ditengah-tengah manusia serta menyesatkan mereka dari jalan yang lurus. Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta'wilnya. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat.”Adapun ayat-ayat muhkamat maka diamalkan sedangkan yang mutasyabihat hendaklah diimani. Hal ini berbeda dengan orang-orang yang didalam hatinya terdapat penyakit keraguan dan kesesatan yang membawa kepala-kepala mereka mengikuti hawa nafsu mereka cenderung kepada nash-nash yang mutasyabihat tanpa mengembalikannya kepada yang muhkamat dikarenakan menginginkan fitnah. sebagaimana penuturan Imam az Zarkasyi. Al Imran : 7) Dengan ayat itu dapat diketahui bahwa Al Qur’an adalah penjelas segala sesuatu. rahmat dan kabar gembira bagi kaum muslimin dan tampaklah keserasian diantara nash-nashnya dan bahwasanya ar Rosikhun adalah orang-orang yang menginginkan kebenaran lalu mengembalikan ayat-ayat yang mutasyibihat itu kepada ayat-ayat muhkamat dalam memberikan keputusan tentangnya sehingga menghilangkan kesamaran yang ada didalam ayat-ayat mutasyabihat yang memiliki makna khusus itu dan bisa diketahui maksudnya." dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (Al Lajnah ad Daimah Lil Buhut wal Ifta’ juz VI hal 55 – 58) Dan ketika ayat-ayat mutasyabihat itu tidak dijelaskan atau diterangkan oleh dalil-dalil yang qoth’i maka hendaklah mengimaninya dan tidak memberikan pena’wilan atasnya.” Wallahu A’lam . di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat.Terhadap tasyabuh dalam arti khusus dan ihkam yang khusus ini serta adanya perselisihan manusia didalam sikap mereka terhadapnya telah ditunjukkan oleh firman-Nya : ُ ْ ِ َ َ َ َ َ َ ُ ِ ّ َ َ ٌ ْ َ ْ ِ ِ ُُ َ ِ ّ ّ َ َ ٌ َ ِ َ َ ُ ُ َ َُ ِ َ ِ ْ ّ ُ ّ ُ ٌ َ َ ْ ّ ٌ َ ُ ْ ِ َ َ ِ ْ َ ْ ََ َ َ َ َ ِ ّ َ ُ ‫هو الذي أنزل عليك الكتاب منه آيات محكمات هن أم الكتاب وأخر متشابهات فأما الذين في قلوبهم زيغ فيتبعون ما تشابه منه‬ ْ ُْ ُ ّ ِ ُ ّ ّ َ َ َ َ َّ ِ ِ ْ ّ ّ ُ ِ ِ ّ َ َ ُ ُ َ ِ ْ ِ ْ ِ َ ُ ِ ّ َ ّ ّ ِ ُ َ ِ ْ َ ُ َْ َ َ َ ِ ِ ِ ْ َ َ ِ ْ َ ِ َ ْ ِ ْ َ ِ ْ ‫ابتغاء الفتنة وابتغاء تأويله وما يعلم تأويله إل ال والراسخون في العلم يقولون آمنا به كل من عند ربنا وما يذكر إل أولوا‬ ِ َْ ‫اللباب‬ Artinya : “Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah.

Al Imran : 7) Ayat-ayat Muhkamat: Ayat yang dari sisi kebahasaan memiliki satu makna saja dan tidak memungkinkan untuk ditakwil ke makna lain. “Dia dan tidak ada sesuatupun ada satupun yang yang menyerupai-Nya)”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran darinya kecuali orang-orang yang berakal" (QS. (QS. (QS. Maryam : 65) . Di antara (isi)nya ada ayatayat muhkamat. maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya sesuai dengan hawa nafsunya. Atau ayat yang diketahui dengan jelas makna dan maksudnya. Adapun orang-orang yang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan. itulah Umm Al Qur'an (yang dikembalikan dan disesuaikan pemaknaan ayatayat al Qur'an dengannya) dan yang lain ayat-ayat mutasyabihat. (QS. Ayat-ayat Muhkamat dan Mutasyabihat Untuk memahami tema ini harus diketahui terlebih dahulu bahwa di dalam Al Qur'an terdapat ayat-ayat muhkamat dan ayat-ayat mutasyabihat. semuanya itu berasal dari Tuhan kami". Allah berfirman: َ َ َ ‫هُوَ ال ّذ ِيْ أ َن ْزل ع َل َي ْك ال ْك ِتاب من ْه ءايات محك َمات هُن أ ُم ال ْك ِتاب وَأ ُخر مت َش ـاب ِهات فـ ـأ َما ال ّـذ ِي ْن فِـي‬ ‫َ ـ‬ ّ ّ ّ َ ٌ َ ‫َ ُ ُ َـ‬ ٌ َ ْ ُ ٌ َ َ ُ ِ َ َ ِ َ ‫قُل ُوْب ِهِم زي ْغٌ فَي َت ّب ِعُوْن ما ت َشاب َه من ْه اب ْتـغاء ال ْفـت ْن َةِ واب ْتـغاء ت َأ ْوِي ْل ِهِ وَما ي َعْل َم ت َأ ْوِيـل َه إ ِل ّ الله والراسخوْن‬ َ َ ِ َ ِ َ َ ِ ُ ِ َ َ َ ُ ِ ّ َ ُ َ ْ ُ ْ ُ َ َ َ 7 : ‫)فِ ـي ال ْعِل ْـم ِ ي َقوْل ُـوْن ءامنـّـا ب ِـهِ ك ُـل م ـن عن ْـد ِ رب ّنـَـا وَم ـا ي َـذ ّك ّر إ ِل ّ أ ُوْل ُـوا ا ْل َل ْبـَـاب )ءال عم ـران‬ ‫ـ‬ ‫َـ‬ ُ ‫ـ‬ ِ ْ ِ ّ َ َ َ ِ ْ ُ َ "Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur'an) kepada Muhammad. Seperti firman Allah: ۱۱ :‫)ل َيـْـــــــــــــس ك َمث ْل ِـــــــــــــهِ ش ـــــــــــــىء )س ـــــــــــــورة الش ـــــــــــــورى‬ ‫ـ‬ ‫ـ‬ ٌ ‫َـ‬ ‫َ ِ ـ‬ “Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi.1. padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya (seperti saat tibanya kiamat) melainkan Allah serta orang-orang yang mendalam ilmunya mengatakan "kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat. menyekutui-Nya”. asy-Syura: al Ikhlash 11) : 4) َ ْ َ ُ ْ 4 : ‫)وَلـــــــــــــم ي َكـــــــــــــن لـــــــــــــه ك ُفـــــــــــــوا أ َحـــــــــــــد ٌ )ســـــــــــــورة الخلص‬ ُ ُ َ ً (Allah) tidak َ ُ َ ْ 65: ‫)هــــــــــــــل ت َعْلــــــــــــــم لــــــــــــــه ســــــــــــــميا )ســــــــــــــورة مريــــــــــــــم‬ َ ّ ِ َ ُ “Allah tidak ada serupa bagi-Nya”.

Ini jika memang berkait dengan ayat-ayat mutasyabihat yang mungkin diketahui oleh para ulama. waktu pasti munculnya Dajjal.Ayat-ayat Mutasyabihat: Ayat yang belum jelas maknanya. pakar bahasa dan fiqh bermadzhab Hanafi. Pemaknaan seperti ini sesuai dan selaras dengan ayat muhkamat ﴿ ۱۱ :‫. Seperti firman Allah: َ ُ ٰ 5: ‫)الرحمــــــــــن ع َلــــــــــى العــــــــــرش اســــــــــت َوى ﴾ )ســــــــــورة طــــــــــه‬ َ ْ ّ ْ ِ ْ َ ّ ُ 10 : ‫)إ ِل َيــــهِ ي َصــــعَد ُ ال ْك َلــــم الطـــــي ّب وال ْعَمــــل الصــــال ِح ي َرفَعــــه ﴾ )ســــورة فــــاطر‬ ِ ُ ْ ُ ْ ُ َ ُ ّ ْ َ ُ Makna ayat kedua ini adalah bahwa dzikir seperti ucapan ‫ ل إله إل ّ الله‬akan naik ke tempat yang dimuliakan oleh Allah.S. Seorang ahli hadits. Hadits ini dla'if dengan kedla'ifan yang ringan. Dzikir ini juga akan mengangkat amal saleh. Artinya jangan mengingkari adanya ayat-ayat mutasyabihat ini melainkan percayai adanya dan kembalikan maknanya kepada ayat-ayat yang muhkamat. dan bukan mutasyabih yang seperti ayat tentang istiwa') Q. yaitu langit. )ل َي ْس ك َمث ْل ِهِ شىء ﴾ )سورة الشورى‬ ٌ َ ِ َ Jadi penafsiran terhadap ayat-ayat mutasyabihat harus dikembalikan kepada ayat-ayat muhkamat. Dalam " sebuah hadits Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam bersabda: ُ َ َ ُ ْ ‫)اع ْملـــــوا ب ِمحك َمـــــهِ وَءامنـــــوا ب ِمت َشـــــاب ِهِه" )حـــــديث ضـــــعيف ضـــــعفا خفيفـــــا‬ ِ ُ ِ َ ِ ْ ُ ْ Maknanya: “Amalkanlah ayat-ayat muhkamat yang ada dalam Al Qur'an dan berimanlah terhadap yang mutasyabihat dalam Al Qur'an". Murtadla az-Zabidi dalam syarh Ihya' 'Ulum ad-Din yang berjudul Ithaf as-Sadah al Muttaqin mengutip perkataan Abu Nashr al Qusyairi dalam kitab at-Tadzkirah asy-Syarqiyyah : . Sedangkan mutasyabih (hal yang tidak diketahui oleh kita) yang dimaksud dalam ayat ﴿ َ 7 : ‫)وَمــــــــا ي َعْلــــــــم ت َأ ْوِيـــــــــل َه إ ِل ّ اللــــــــه ﴾ )ســــــــورة ءال عمــــــــران‬ ْ ُ ُ ُ َ Menurut bacaan waqaf pada lafzh al Jalalah ‫ الله‬adalah seperti saat kiamat tiba. atau ayat yang memiliki banyak kemungkinan makna dan pemahaman sehingga perlu direnungkan agar diperoleh pemaknaan yang ﴿ ﴿ tepat yang sesuai dengan ayat-ayat muhkamat. Thaha : 5).

Jadi mutasyabih dalam konteks ini mengisyaratkan pada pengetahuan tentang hal-hal yang gaib karena memang tidak ada yang mengetahui peristiwa di ْ masa mendatang dan akhir semua hal kecuali Allah. asy-Syu'ara' : Berarti kalau menurut logika pendapat mereka ini maka mereka mesti mengatakan bahwa Allah telah berdusta karena mengatakan ﴿ ‫ ﴾ ب ِل ِســان ع َربـــي مب ِيــن‬sebab mereka ternyata tidak ٍ ْ ُ ّ ِ َ ٍ َ memahaminya. Ibnu Abbas mengatakan : "Saya termasuk orang-orang yang mendalam ilmunya". Bahwa Nabi tidak mengetahui takwil sifatsifat Allah yang ada lalu mengajak orang untuk mengetahui hal yang tidak bisa diketahui ?!. Dengan demikian. bagaimana mungkin seseorang bisa mengatakan (berdalih ayat tersebut) bahwa terdapat dalam kitabullah hal yang tidak ada jalan bagi seorang makhlukpun untuk mengetahuinya serta tidak ada yang mengetahui hal ini kecuali Allah. Karenanya. Dan jika memang al Qur'an ini berbahasa Arab lalu bagaimana bisa seseorang mengatakan bahwa di dalamnya ada yang tidak diketahui oleh orang Arab padahal al Qur'an berbahasa Arab. . sedang sesuatu yang tidak diketahui tidak akan mungkin seseorang beriman kepadanya. Jika demikian halnya apa sebutan yang patut untuk pendapat yang berujung pada pendustaan terhadap Allah ini !?".S. bukankah ﴿ Allah berfirman (tentang al Qur'an) : 195) 195 : ‫)ب ِل ِســــــــــان ع َربـــــــــــي مب ِيــــــــــن ﴾ )ســــــــــورة الشــــــــــعراء‬ ْ ُ ّ َ ِ َ ٍ ٍ Maknanya : "Dengan bahasa Arab yang jelas" (Q. Az-Zabidi selanjutnya mengatakan masih menukil dari al Qusyairi : "Bukankah ada pendapat yang mengatakan bahwa bacaan ayat (tentang takwil) tersebut adalah ‫وَما ي َعْل َم ت َأ ْوِيـل َه إ ِل ّ الله‬ ُ ُ ْ ُ َ ‫َ ّ ِ ُ َ ـ‬ ِ ‫ . sebab orang-orang musyrik bertanya kepada Nabi shallallahu 'alayhi wasallam tentang kiamat kapan tiba. Karenanya Allah berfirman: ﴿ ‫هَل ي َن ْظ ُروْن‬ َ ُ 53 :‫)إ ِل ّ تـــــــــــــأ ْوِي ْل َه يـــــــــــــوم يــــــــــــــأ ْتي تـــــــــــــأ ْوِي ْل ُه ﴾ )العـــــــــــــراف‬ َ ِ َ َ ْ َ ُ ُ maksudnya mereka tidak menunggu kecuali datangnya kiamat. Jika tidak. والراس ـخوْن فِ ـي ال ْعِل ْـم‬seakan Allah menyatakan "orang yang mendalam ilmunya juga mengetahui takwilnya serta beriman kepadanya" karena beriman kepada sesuatu itu hanya dapat terwujud setelah mengetahui sesuatu itu. lalu di mana letak kebenaran penjelasan ini ?!."Sedang firman Allah : ﴿ 7 : ‫ )وَما ي َعْل َم ت َأ ْوِيـل َه إ ِل ّ الله ﴾ )سورة ءال عمران‬yang dimaksud adalah ُ ُ ْ ُ َ waktu tepatnya kiamat tiba. Bukankah ini termasuk penghinaan terbesar terhadap misi-misi kenabian ?!.

Dalam Shahih al Bukhari juga masih terdapat takwil semacam ini di bagian yang lain seperti dlahik yang terdapat dalam hadits ditakwilkan dengan rahmat-Nya yang khusus (ar-Rahmah al Khashshah). yaitu dengan mengimaninya serta meyakini bahwa maknanya bukanlah sifat-sifat jism (sesuatu yang memiliki ukuran dan dimensi). tidak seperti kekuasaan yang Ia berikan kepada makhluk-Nya.S. (Q. Kekuasaan Allah adalah sifat Allah yang azali (tidak memiliki permulaan) . tetapi memiliki makna yang layak bagi keagungan dan kemahasucian Allah tanpa menentukan apa makna tersebut. Sanad perkataan imam Ahmad ini disahihkan oleh al Hafizh al Bayhaqi. Terbukti bahwa dalam Shahih al Bukhari. Mereka mengembalikan makna ayat-ayat mutasyabihat tersebut kepada ayat-ayat muhkamat seperti firman Allah : ﴿ ‫ل َي ْس ك َمث ْل ِه‬ ِ ِ َ َ ۱۱ :‫)شــــــــــــــــــــــــىء ﴾ )ســــــــــــــــــــــــورة الشــــــــــــــــــــــــورى‬ ٌ Maknanya: “Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi. Mereka adalah orng-orang yang hidup pada tiga abad hijriyah pertama. dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya)”. al Qashash : 88) yakni kecuali kekuasaan dan ُ ْ pengaturan-Nya terhadap makhluk-Nya atau amal yang dilakukan untuk mendekatkan diri kepada-Nya". kitab tafsir al Qur'an tertulis : ٌ ِ َ ٍ ْ َ ّ ُ " ‫. Selanjutnya. seorang ahli hadits yang menurut al Hafizh Shalahuddin al 'Ala-i : "Setelah al . penafian bahwa ulama salaf mentakwil secara terperinci (takwil tafshili) seperti yang diduga oleh sebagian orang tidaklah benar. asy-Syura: 11) Takwil ijmali ini adalah seperti yang dikatakan oleh imam asy-Syafi'i –semoga Allah meridlainya: َ َ " ‫" ءامن ْت ب ِما جاء ع َن اللهِ ع َلى مـراد ِ اللـهِ وَب ِمـا جـاء عـن رسـوْل اللـهِ ع َلـى مـراد ِ رسـوْل اللـه‬ َ َ َ ُ َ َ ِ ُ َ ُ َ ْ َ َ َ َ ِ َ ُ ِ َ ُ ِ "Aku beriman dengan segala yang berasal dari Allah sesuai apa yang dimaksudkan Allah dan beriman dengan segala yang berasal dari Rasulullah sesuai dengan maksud Rasulullah".Ada dua metode untuk memaknai ayat-ayat mutasyabihat yang keduanya sama-sama benar : Pertama : Metode Salaf. Yakni kebanyakan dari mereka mentakwil ayat-ayat mutasyabihat secara global (takwil ijmali).S. ia mengatakan : yakni datang kekuasanَ َ Nya (tanda-tanda kekuasaan-Nya) ". Terbukti dengan sahih pula bahwa imam Ahmad yang juga termasuk ulama salaf mentakwil َ َ firman Allah : ‫ رب ّك ﴿ وَجاء‬secara tafshili (terperinci). ‫( ك ُل شىء هال ِك إ ِل ّ وَجهَه‬Q. yakni bukan sesuai dengan yang terbayangkan oleh prasangka dan benak manusia yang merupakan sifat-sifat fisik dan benda (makhluk) yang tentunya mustahil bagi Allah.ســوْرة ُ ال ْقصــص ، كــل شــىء هالــك إ ِل ّ وَجهــه ، إ ِل ّ مل ْكــه وَي ُقــال مــا ي ُت َقــرب بــهِ إ ِل َيــهِ " اهـــ‬ ْ ِ ُ ّ َ َ َ َ ُ َ ُ ُ َ ْ َ َ َ ُ ِ ٌ َ ٍ ْ َ ّ "Surat al Qashash.

Sedang komentar al Hafizh Abu Sa'id al 'Ala-i mengenai al Bayhaqi dan ad-Daraquthni terdapat dalam bukunya al Wasyyu al Mu'lam. beliau hidup pada abad VII Hijriyah. Disebut demikian karena beliau banyak mengetahui nash-nash (teks-teks induk) dalam madzhab Hanbali dan keadaan imam Ahmad. mereka tidak memahami ayat-ayat tersebut sesuai dengan zhahirnya. Mereka mentakwil ayat-ayat mutasyabihat secara terperinci dengan menentukan makna-maknanya sesuai dengan penggunaan kata tersebut dalam bahasa Arab. Al Hafizh Abu Sa'id al 'Ala-i sendiri menurut al Hafizh Ibnu Hajar : "Dia adalah guru dari para guru kami". . Banyak di antara para ulama yang menyebutkan dalam karya-karya mereka bahwa imam Ahmad mentakwil secara terperinci (tafshili). Sebagai contoh. Komentar al Bayhaqi terhadap sanad tersebut ada dalam kitabnya Manaqib Ahmad. Abu Nashr al Qusyairi adalah seorang ulama yang digelari oleh al Hafizh 'Abdurrazzaq ath-Thabsi sebagai imam dari para imam. Kedua : Metode Khalaf. terutama ketika dikhawatirkan terjadi goncangan terhadap keyakinan orang awam demi untuk menjaga dan membentengi mereka dari tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya).Bayhaqi dan ad-Daraquthni. firman Allah yang memaki Iblis : ﴿ 75 : ‫)م ـــــــا من َعَ ـــــــك أ َن ت َس ـــــــجد َ ل ِم ـــــــا خل َق ـــــــت ب ِيـَـــــــد َيّ ﴾ )س ـــــــورة ص‬ ‫ـ‬ ‫َ ْـ‬ ‫َـ‬ ‫َ ْ ْـ‬ ‫َ ـ‬ ‫َـ‬ ُ ُ Ayat ini boleh ditafsirkan bahwa yang dimaksud dengan al Yadayn adalah al 'Inayah (perhatian khusus) dan al Hifzh (pemeliharaan dan penjagaan). Ini seperti dikutip oleh al Hafizh Ibnu 'Asakir dalam kitabnya Tabyin Kadzib al Muftari. Abu Nashr al Qusyairi juga telah menjelaskan konsekwensi-konsekwensi buruk yang secara logis akan didapat oleh orang yang menolak takwil. belum ada ahli hadits yang menyamai kapasitas keduanya atau mendekati kapasitas keduanya ". Seperti halnya ulama Salaf. di antaranya al Hafizh Abdurrahman ibn al Jawzi yang merupakan salah seorang tokoh besar madzhab Hanbali. Metode ini bisa diambil dan diikuti.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful