P. 1
BudidayaTanamanTebu

BudidayaTanamanTebu

|Views: 144|Likes:
Published by Yustiani Razak

More info:

Published by: Yustiani Razak on May 02, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/19/2015

pdf

text

original

TEBU

Seri Perkebunan

BUDIDAYA TANAMAN TEBU

(Sacharum officinarum) Menggunakan

0leh: Dr. Ir. Listyanto, MSc.

PT. ALAM LESTARI MAJU INDONESIA TAHUN 2010
0

BUDIDAYA TANAMAN TEBU (Sacharum officinarum) MENGGUNAKAN BIO P 2000 Z
Oleh: Dr. Ir. Listyanto, MSc.1)

A. Permasalahan Budidaya Tanaman Tebu. Tanaman tebu merupakan tanaman perkebunan rakyat dimempunyai lokasi sama yaitu lahan sawah, lahan ladang dan lahan pekarangan atau disebut dengan lahan kering. Pada masa dahulu, lahan yang digunakan untuk tebu lebih banyak di lahan sawah dan ladang. Desakan kebutuhan akan pangan (padi dan jagung) membuat lahan tebu bergeser ke lahan ladang dan pekarangan. Penanaman di lahan sawah untuk tebu sudah relative kecil kemungkinannya, hanya pada program-program tertentu masih mampu menanam di lahan sawah. Sedangkan tanaman masih banyak di lahan sawah, hal ini dikarenakan nilai jual per satuan luas jauh lebih tinggi dari tanaman pangan. Permasalah lain berkaitan dua komodite tersebut adalah kualitas produk yang mengalami kemerosotan. Banyak faktor yang membuat kualitas , diantarannya: 1. Varietas Tanaman. Varietas tanaman menentukan kualitas ini bukan dikarenakan kualitas tanamannya jelek. Namun lebih banyak kepada kandungan gula atau rendemen dari tanamannya itu sendiri. Dengan demikian sebelum menanam komodite ataupun tebu sebaiknya mengetahui varietas dan tujuan serta distribusi penjualan setelah panen nantinya.

) Manajer Pemasaran dan Teknologi Budidaya PT. Alam Lestari Maju Indonesia. Kontak HP. 081210464648.

1

1

2. Kondisi Lahan. Tanaman tebu lebih luas dan tidak memerlukan tanah yang khas seperti halnya . Pada akhir-akhir ini kualitas tebu dari beberapa daerah tersebut mulai merosot. Kemerosotan ini dimungkinkan besar karena kandungan tanah dan unsur hara tanaman yang mulai berubah dengan adanya penambahan sarana produksi berupa bahan an organik seperti pupuk maupun pestisida yang tidak diiringi dengan pengolah nutrisi yaitu mikroba. Akibatnya terjadi perubahan kondisi lahan secara kimia, fisik, biologi tanah. a. Perubahan Sifat Kimiawi Tanah: 2 - Adanya kurang keseimbangan antara unsur-unsur hara baik makro (N,P,K) maupun unsur mikro. Sehingga terdapat unsur yang berlebihan yang membuat kondisi tanaman kurang stabil. Misalnya kelebihan Nitrogen dari urea menjadikan tanaman mempunyai struktur lebih keras dan kurang halus, yang berpengaruh terhadap produksi yaitu rendemen pada tebu maupun yang semakin jelek. - Ketidak seimbangan unsur hara menyebabkan kekurangan atau defisiensi salah satu unsur mikro yang selanjutnya berdampak pada kesuburan dan ketahanan tanaman. - Penambahan unsur an organik memberikan pengaruh tingkat keasaman tanah. Pada lahan yang mengalami penambahan pupuk dan pestisida kimia mengubah sifat tanah menjadi lebih masam dikarenakan adanya penggumpalan senyawa yang mengikat senyawa basa dan menghasilkan asam. b. Perubahan Kandungan Biota Tanah. Perlakukan budidaya pertanian yang kurang benar misalnya menggunakan pestisida yang berlebihan dan penggunaan pupuk an organik yang berlebihan menjadikan Biota tanah banyak yang mati. 2

-

-

Berkurangnya biota tanah (mikroba, fungi, cacing, biota lainnya) yang menggemburkan tanah, memberikan oksigen tanah, menyerap air, dan lain-lainnya. Sehingga tanaman tebu kurang optimal dalam pertumbuhannya karena media tumbuhnya secara fisik kurang mendukung. Berkurangnya biota tanah (mikroba) sebagai pengelola unsur hara. Unsur tanah baik dari pemberian pupuk maupun dari alami akan lebih baik jika diolah dahulu oleh mikroba. Kemampuan mikroba adalah mengubah unsur an organik menjadi organik, menyeimbangkan unsur hara di lahan, menetralkan unsur yang menjadi racun tananam, dll. Jika mikroba pengolah tanah mempunyai jumlah berkurang, maka penyediaan unsur hara untuk tanaman juga kurang optimal. Pada umumnya penggunaan pupuk an organik semakin tidak efektif dan efisien, karena tidak terolah oleh mikroba sehingga justru lebih banyak yang larut dalam air dan menguap serta menggumpal dalam tanah.

c. Perubahan Sifat Fisik Tanah: - Lahan yang dilakukan budidaya kurang baik maka sifat fisik tanah menjadi berubah lebih mampat. Hal ini dikarenakan terjadikan struktur tanah menggumpal senyawa kimia dari penggunaan pupuk an organik yang tidak tepat. - Porositas dan kandungan oksigen berkurang karena banyak biota yang berkurang, sehingga tidak mengeluarkan oksigen, membentuk atau menggemburkan tanah. Pengaruh pada tanaman dan tebu dengan adanya sifat fisik tersebut yaitu pertumbuhan perakaran tanaman kurang optimal sehingga suplay makanan kurang optimal pula. Banyak kandungan unsur hara yang terikat dalam gumpalan yang sulit diserap oleh tanaman. 3

3. Iklim

Kualitas tebu dipengaruhi oleh iklim. Walaupun tanaman yang sama namun iklim yang berbeda, maka kualitasnyapun berbeda. Secara umum persyaratan pertumbuhan tanaman tebu adalah sebagai berikut: curah hujan rata-rata 2000 mm/tahun, Untuk tanaman dataran rendah, curah hujan rata-rata 2.000 mm/tahun, sedangkan untuk dataran tinggi, curah hujan rata-rata 1.500-3.500 mm/tahun. Suhu udara yang cocok antara 21-32 derajat C, pH antara 5-6. Ketinggian tempat yang paling cocok adalah 0 - 900 mdpl. Beberapa kondisi iklim yang membuat kualitas tebu menurun adalah sebagai berikut: a. Tanaman pada umumnya tidak menghendaki iklim yang kering ataupun iklim yang sangat basah. b. Penyinaran cahaya matahari yang kurang dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman kurang baik sehingga produktivitasnya rendah. Oleh karena itu lokasi untuk tebu sebaiknya dipilih di tempat terbuka dan waktu tanam disesuaikan dengan jenisnya. c. Curah hujan yang terus menerus mengurangi kualitas tebu. d. Suhu udara yang cocok untuk pertumbuhan tebu berkisar antara 21-32,30 C. e. Khusus kelembaban yang tinggi memudahkan pertumbuhan penyakit yang mengurangi kualitas. B. Peran Mikroba Google “Pupuk Hayati Bio P 2000 Z”. Peran mikroba google “Pupuk Bio P 2000 Z” diantaranya memperbaiki tanah disesuaikan dengan keadaan secara alami. Beberapa faktor yang merusak kondisi lahan seperti kelebihan bahan kimia dari pupuk an organik dan pestisida seperti digambarkan di atas sedapat mungkin dilakukan perbaikan/diuraikan secara alami. Proses tersebut dapat dilakukan hanya dengan penggunaan jazat renik yaitu mikroba. Sebenarnya mikroba pelapuk/ pengurai material yang beracun maupun tidak beracun sudah ada di alam ini namun jumlahnya relative bervariasi. Di beberapa tempat mempunyai mikroba yang 4

menguntungkan tanaman, sedangkan di tempat lain mempunyai kandungan relative sedikit. Dengan demikian proses pelapukan/ penguraian bahan beracun maupun tidak beracun kurang optimal. Peranan mikroba di alam bukan hanya sebagai pengurai dan pelapuk saja tetapi terdapat beberapa mikroba yang mempunyai kemampuan di berbagai hal. Pupuk hayati Bio P 2000 Z berisikan mikroba pilihan dan dilakukan proses bio kimiawi yang dibuat dari sekumpulan bakteri yang dapat bekerja sama dengan tanaman dalam penyerapan unsur hara yang saat ini bakteri tersebut di alam relatif kurang. Dari awalnya 18 bakteri diproses secara bio teknologi menghasilkan 11 bakteri. Bakteri tersebut hidup bekerja sama (simbiosis mutualisme) dengan tanaman hidup dan mempunyai kemampuan menyerap unsur hara dari alam (tanah dan udara) untuk disediakan ke tanaman. Dengan kekuatan sinergi Enzim & Mikroorganisme di seluruh tanaman berperan dalam pertumbuhan dan produksi pada tanaman. Disebut dengan ”mikroba google” karena kemampuannya mikroba tersebut mencari hambatan-hambatan atau kerusakan lahan kemudian diperbaiki secara alami sesuai dengan kebutuhan tanaman pada umumnya. Di tanaman “mikroba google “ ini mencari sifat-sifat atau gen-gen yang masih tidur ditanaman kemudian dibangunkan untuk mendapatkan kemampuannya merangsang pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman. Kemampuan tersebut dimiliki oleh mikroba google karena sifat mikroba ini mampu memproduksi semacam enzym yang disesuaikan dengan permasalahan yang dihadapi (proses kerjanya seperti tubuh membuat antibody). Kemampuan mikroba Google yang ada di pupuk hayati Bio P 2000 Z diantaranya adalah: 1. Memperbaiki Kondisi Tanah. a. Kemampuan yang mengikat kelebihan senyawa racun di alam seperti Al+, Fe2+, Mn2+, H2S, hal ini telah dibuktikan dengan adanya uji lokasi di daerah-daerah bukaan baru yang 5

mengandung unsur-unsur tersebut. Budidaya penanaman dengan menggunakan pupuk hayati Bio P 2000 Z pengaruh racun tersebut pada tanaman menjadi relatif hilang. Setelah di chek laboratorium dapat bukti bahwa kadar unsur tersebut yang bersifat racun jauh berkurang atau bahkan hilang. Hak ini terjadi karena senyawa tersebut diubah dalam bentuk senyawa tidak beracun. b. Keasaman (pH) tanah sebagai faktor penghambat pertumbuhan tanaman. Budidaya di tanah masam yang biasanya di lahan gambut dengan menggunakan pupuk hayati Bio P 2000 Z telah terbukti tanpa menggunakan kapur atau dolomit tanaman tumbuh subur dan berbuah lebat. Setelah di chek laboratorium pada tanah sehabis panen dapat diketahui keasaman tanah mendekati normal. c. Tekstur, struktur dan porositas tanah yang kurang baik merupakan suatu penghambat pertumbuhan tanaman akibat kejenuhan budidaya dan pengaruh penggunaan pupuk an organik. Beberapa penelitian dilakukan di lahan di Pulau Jawa dapat dibandingkan budidaya menggunakan pupuk hayati Bio P 2000 Z dan dengan yang tidak menggunakan diketahui bahwa tingkat tekstur, struktur dan porositas menjadi lebih baik. Hasil analisis diketahui sebagai berikut: Secara filosofi bahwa bakteri merupakan makluk hidup yang memerlukan kondisi lingkungan sesuai dengan faktor tumbuh yang dimilikinya. Jika 8 ada faktor-faktor lingkungan yang tidak sesuai maka bakteri tersebut dengan sifat biotiknya berusaha mengubah kondisi lingkungan agar nyaman untuk tumbuh kembangnya. Di pihak lain, faktor tumbuh bakteri tersebut telah disesuaikan dengan faktor tumbuh tanaman, dengan demikian lingkungan yang mempunyai faktor penghambat tersebut di atas diubah oleh bakteri sesuai faktor tumbuh bakteri secara otomatis selaras dengan faktor tumbuh tanaman. 6

2. Mengelola Unsur Hara Di Sekitarnya Dan Disediakan Untuk Tanaman. Salah satu keunggulan pupuk hayati Bio P 2000 Z adalah berfungsi sebagai pengelola unsur hara yang siap tersedia setiap saat untuk tanaman. Beberapa proses pengelolaan mikrobia tersebut adalah sebagai berikut: a. Menyerap unsur hara bebas di alam baik di udara maupun di tanah dalam proses kehidupan bakteri, hasil proses tersebut berupa unsur hara yang siap diserap oleh tanaman. Termasuk juga unsur racun yang semula menjadi penghambat dapat diubah menjadi senyawa tidak beracun yang siap diserap tanaman. b. Menguraikan unsur yang terikat oleh tanah yang pada keadaan biasa tidak dapat diserap oleh tanaman, namun dengan bantuan mikrobia di dalam pupuk hayati Bio P 2000 Z maka unsur tersebut terlepas kemudian diikat oleh mikrobia dan selanjutnya disediakan untuk diserap tanaman. c. Mengubah unsur an organik menjadi unsur hara organik merupakan proses makhluk hidup termasuk bakteri. Unsur an organik baik dari alami maupun pemupukan dicerna dan diikat oleh bakteri yang ada di pupuk hayati Bio P 2000 Z dalam proses kehidupannya. Selanjutnya unsur tersebut akan dilepas sesuai dengan daya serap tanaman. Berdasarkan proses tersebut maka pupuk selalu tersedia bagi tanaman, pemberian pupuk lebih efektif dan efisien karena terikat oleh bakteri sehingga tidak menguap atau terbawa oleh air, unsur hara tanaman disediakan dalam bentuk unsur organik dan mudah terserap tanaman.

7

3. Memproduksi dan Merangsang Bio Aktif seperti Enzim, Senyawa Organik dan Energi Kinetik. Mikroba Google memproduksi dan merangsang bio aktif enzym, senyawa organik dan energi kinetik yang memacu metabolisme tumbuh kembang akar dan bagian atas tanaman. Terdapat 2 sumber bio aktif pada proses pemupukan ini, yaitu: (a) berasal dari pupuk itu sendiri dan (b) hasil kerja bakteri merangsang bio aktif tanaman: a. Bio aktif yang berasal dari pupuk itu sendiri, sewaktu memproduksi pupuk hayati Bio P 2000 Z disertakan juga beberapa hormon yang langsung diserap tanaman dan enzim dan hormon tersebut merangsang pertumbuhan tanaman. b. Bio aktif yang dirangsang oleh bakteri yang terdiri hormon auxin dan hormon pertumbuhan lainnya yang membuat pertumbuhan vegetatif tanaman menjadi cepat dan besar. c. Merangsang hormon florigen merupakan hormon yang dirangsang oleh mikriobia dari pupuk hayati Bio P 2000 Z. Hormon ini berfungsi merangsang pembungaan, sehingga tanaman dapat berbunga dan berbuah lebih lebat. Berdasarkan fungsi tersebut di atas maka pupuk hayati Bio P 2000 Z merangsang pertumbuhan tanaman lebih subur, dan hasil bunga dan buah lebih lebat dengan pengisian biji yang penuh. 4. Meningkatkan Ketahanan Internal dan Eksternal Terhadap Hama dan Penyakit. Ketahanan internal diperoleh karena pupuk hayati Bio P 2000 Z dilengkapi dengan unsur hara mikro yang dapat digunakan tanaman. Disamping itu, pertumbuhan yang cepat oleh pengaruh pupuk tersebut, memberikan kemampuan tanaman dari kerusakan hama.

8

C. Cara Penggunaan Pupuk Hayati Bio P 2000 Z
CARA FERMENTASI.

Siapkan bahan-bahan (Bio P 2000 Z, Urea, dan gula tebu dan bahan organik cair). Siapkan alat ember untuk 25 liter, dirijen untuk 25 liter. Tuangkan gula 1 kg , urea 1 kg di dalam air 20 liter di ember kemudia diaduk hingga larut.
Tuangkan larutan di atas dalam dirijen kapasitas 25 liter dan tuangkan pupuk hayati Bio P 2000 Z liter (kocok dahulu sebelum dituangkan). Tutup dirijen dan diamkan di tempat teduh dan tunggu hingga 48 jam (terkadang perlu dibuka tutupnya). Fermentasi yang berhasil larutan berbau wangi seperti tape dan berwarna keruh. Setiap 1 liter fermentasi dicampurkan 6 hingga 7 liter air. Jadi 1 tanki seprot 1 liter maka diperlukan 2 liter fermentasi dan 13 liter air bersih. Semprotkan pada tanaman baik di daun, batang dan tanah sekitar tanaman. Dapat dicampur dengan pestisida, PPC atau hormon pengatur tumbuh. Jangan dicampurkan dengan fungisida atau bakterisida. Larutan yang sudah difermentasi hanya dapat digunakan paling lama 4 hari setelah larutan menjadi fermentasi.

9

II. DENGAN SUPERJET Pencampur suplemen (super jet) yang berfungsi sebagai pencampur dan makanan bakteri sebagai sarana fermentasi di alam bebas. Siapkan bahan pupuk hayati/ organik Bio P 2000 Z, super jet (suplemen), kocok sebelum digunakan. Campurkan dengan perbandingan 1 liter pupuk hayati Bio P 2000 Z : 1liter super jet dan 180 liter hingga 200 liter air. Larutan siap digunakan dengan disemprotkan. Cara penyemprotan dan beberapa persyaratan lainnya sama seperti cara hasil fermentasi.

D. Teknologi Budidaya Tebu Menggunakan Mikroba Google pupuk Bio P 2000 Z.
Umur Kegiatan -30 - Pengolahan dan Penggemburan tanah Keterangan - Pengolahan tanah disesuaikan dengan teknik / cara yang dinilai paling baik, sesuai dengan rekomendasi yang ada. - Pada umumnya: pembuatan guludan, pembuatan got keliling, got mujur, got malang. - Tujuan pembuatan got diantara-nya untuk drainase, dan perbaiki tekstur, struktur dan

10

biologis tanah. -20 - Pembuatan lubang - Pembuatan lobang penanaman sesuai dengan tanam dan Pemupukan teknik yang ada. Awal + Aplikasi I Bio P - Disarankan diberikan kompos atau serat hasil 2000 Z gilingan yang difermentasi dengan Bio P 2000 Z. - Jika menggunaan pupuk an organik dapat digunakan 85 % dari rekomendasi + Bio P 2000 Z 1 liter /ha. - Akan lebih baik diberikan pupuk kandang/ kompos secukupnya. -4 Aplikasi II Bio P 2000 Dosis 1 l/ha (konsentrasikan di daerah lubang Z untuk tanah tanam di atas bantalan bagas dengan tambahan pupuk organik cair pelengkapnya) 0 Penanaman Juringan diberi tanah yang gembur sebagai media tanam. Bibit adalah bibit stek yang terdiri dari 2 jenis yaitu: bibit rayungan (bibit yang mata tunasnya telah tumbuh) dan bibit bagal (bibit yang mata tunasnya belum tumbuh) dengan teknik sesuai dengan anjuran. -

5 - 7 Penyulaman I Ciri - ciri bibit mati yaitu apabila sepanjang 50 cm (Untuk bibit Rayungan) juringan, tidak ada bibit yang tumbuh. 7 Pemupukan I - Pemupukan tergantung dari jenis jenis bibit (bangal atau rayungan) dosis penggunaan pupuk an organik adalah 70 % N, P maupun K dari rekomendasi. Pembersihan dari gulma (Pada Ratoon tinggal memperbaiki bedengan/penggemburan dan pemupukan serta penyemprotan calon-calon tunas ratoon) Waspada

20 Penyiangan I 21 Aplikasi III Bio P utk tanaman + PPHT.

11

pada serangan hama penggerek pucuk, penggerek batang,penyakit fusarium Pokkahbung 1 bln Penyulaman I (Untuk bibit bagal) Penimbunan I Ciri - ciri bibit mati yaitu apabila sepanjang 50 cm juringan, tidak ada bibit yang tumbuh. Penurunan tanah, apabila telah tumbuh 40 - 50 mata tunas Apabila dalam 1 juringan belum tumbuh 90 tunas

37 Penyulaman II (Untuk bibit Rayungan)

38 Pemupukan II Pemakaian pupuk An Organik N = 60 %, P = 70 % (Untuk bibit Rayungan) dan K = 70 % dari rekomendasi.

42 Penyiangan II 45 Pemupukan II (Untuk bibit bagal)

Pembersihan dari gulma Pemakaian pupuk An Organik N = 60 %, P = 70 % dan K = 70 % dari rekomendasi.

45 Aplikasi IV Bio P dan Penyemprotan Bio P 2000 Z di daerah perakaran PPHT dan pucuk tumbuh tanaman. Waspada pada serangan hama penggerek pucuk, penggerek batang,penyakit fusarium Pokkahbung 2 bln Penyulaman II (Untuk bibit bagal) 2-2,5 Pembumbunan II bln 2,5 Penyiangan III bln Apabila dalam 1 juringan belum tumbuh 90 tunas

Penurunan tanah, apabila telah tumbuh 115 - 135 mata tunas Pembersihan dari gulma

12

2,5 Aplikasi V Bio P dan bln PPHT

Waspada pada serangan hama penggerek pucuk, penggerek batang,penyakit fusarium Pokkahbung

3-3,5 Pembumbunan III bln 93 Penyiangan IV hari

Penurunan tanah, apabila telah tumbuh 140 tunas per juring Pembersihan dari gulma

4 bln Aplikasi VI Bio P dan Penyemprotan Bio P 2000 Z untuk daerah batang PPHT perakaran; Waspada pada serangan hama penggerek pucuk, penggerek batang,penyakit fusarium Pokkahbung Penyiangan V Pembersihan dari gulma + pengelupasan daun kring 4-5 Pembumbunan IV bln 7 bln Penyiangan VI 11 bln Penyiangan VII 12-13 Panen bln Penurunan tanah, apabila telah ada 4-5 ruas batang di atas tanah Pembersihan dari gulma + pengelupasan daun kring Pembersihan dari gulma + pengelupasan daun kring

Penjelasan: 1. Penyiapan lahan. Penyiapan lahan di atas hanya salah satu model. Sedangkan masih banyak model penyiapan lahan tanaman tebu. Pada intinya bahwa pada penyiapan lahan diusahakan untuk: Menggemburkan tanah, mengatur drainase air di lahan, pengaturan jarak tanam, dan pengaturan arah tanam, dan mengurangi zat racun dan biotic pathogen tanah. 13

2. Pemupukan awal. 20 hari sebelum tanam. Teknik penyiapan dengan membalik tanah, berdampak menguapnya unsure hara baik N, P dan K terutama pada lahan yang kandungan mikrobanya relative sedikit. Untuk menyiapkan makanan tanaman maka diperlukan pemupukan awal. Pemupukan awal menggunakan 85 % dari rekomendasi. 3. Penanaman bibit. Sesuai dengan teknik penanaman yang telah ada. 4. Penyiangan. Sesuai dengan rekomendasi sistem penyiangan yang ada. Dalam hal ini penyiangan di lakukan sebelum pemupukan menggunakan Bio P 2000 Z. 5. Pemupukan an organik. Pemupukan an organik dilakukan semakin lama semakin sedikit. Pada awalnya adalah 85 % pemupukan kedua 70 % dan pada ke tiga 65 % dari rekomendasi. Pemupukan ini digunaan sebagai bahan untuk memberikan makanan yang akan dioleh mikroba google. 6. Pemupukan Bio P 2000 Z. Pupuk hayati Bio P 2000 Z adalah mikroba yang dipilih mampu bekerja sebagai bioreaktor yang berfungsi sebagai pengumpul, penyusun unusur hara alam sekitarnya yang hasilnya disediakan pada tanaman. Penggunaan pada tanaman tebu dibekerja sama dengan tanaman. Penggunaan pupuk hayati Bio P 2000 Z optimalnya diberikan dengan dosis 6 liter per hektar yang dilakukan 6 kali yaitu sebagai berikut: a. 20 hari sebelum tanam dengan dosis 1 liter / ha. Semprotkan larutan Bio P 2000 Z pada lahan galian Tujuan: memberikan inokulasi awal mikroba google sebagai pengelola unsur hara lahan. b. 4 hari sebelum tanam dosis 1 liter / ha. Semprotkan larutan Bio P 2000 Z pada lahan di sekitar galian calon tanaman. 14

Tujuan: menguatkan kandungan mikroba yang mendukung mikroba awal untuk penyiapan unsur hara tanaman. c. 21 hari sesudah tanam dosis 1 liter / ha. Semprotkan pada daun tanaman dan lahan sekitar tanaman. Tujuan: memberikan inokulasi pada tanaman agar mikorba di tanaman dapat menyerap unsur hara dari udara. d. 45 hari sesudah tanam dosis 1 liter / ha. Semprotkan pada daun, memberikan inokulasi pada daun baru dan merangsang pertumbuhan tanaman, serta menyiapkan unsur hara dari udara dan tanah e. 75 hari sesudah tanam dosis 1 liter / ha. Sesuai dengan perkembangan tanaman yang mulai pesat maka diperlukan kandungan mikroba agar mampu menyeimbangkan kebutuhan unsur hara yang diserap dan unur hara yang disediakan oleh mikroba.

f. 120 hari sesudah tanam dosis 1 liter /ha Sesuai dengan perkembangan tanaman yang mulai pesat maka diperlukan kandungan mikroba agar mampu menyeimbangkan kebutuhan unsur hara yang diserap dan unur hara yang disediakan oleh mikroba. 7. Pembumbunan. Pembubunan disesuaikan teknik budidaya yang ada. 8. Penyiangan / kletek tanaman. Penyiangan / kletek disesuaikan teknik budidaya yang ada.

15

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->