GENDER Pembakuan Peran dalam Kebijakan-kebijakan di Indonesia<center></center> Pengantar: Berangkat dari prinsip yang menantang gagasan

konvensional bahwa hukum itu netral, objektif dan bebas nilai, LBH APIK Jakarta telah melakukan penelitian tentang ‘Pembakuan Peran Gender dalam Kebijakan-kebijakan di Indonesia’. Dengan menggunakan pendekatan hukum kritis,pandangan feminis terhadap hukum, gender dan negara dalam konteks Indonesia, ditemukan bahwa terdapat kebijakan-kebijakan yang tidak berkeadilan gender. Ideologi patriarki (dominasi laki-laki) faktanya telah mewujud dalam sistem hukum di Indonesia (baik dari peraturan dan kebijakan yang ada, stuktur dan budaya hukumnya), sehingga senantiasa mengekalkan ketidakadilan terhadap perempuan. Bagaimana pembakuan peran laki-laki dan perempuan dikukuhkan oleh Negara ? Konsep pembakuan peran gender yang mengkotak-kotakkan peran laki-laki/ suami dan perempuan/ istri ini hanya memungkinkan perempuan berperan di wilayah domestik (domestikasi), yakni sebagai pengurus rumah tangga sementara laki-laki di wilayah publik sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah utama. Peran gender yang memilahmilah peran perempuan dan laki-laki pada kenyataannya telah dibakukan oleh negara dalam berbagai kebijakan yang dilahirkan oleh Pemerintah Orde Baru. Kebijakankebijakan tersebut pada akhirnya hanya menyisakan ketidakadilan pada perempuan. Dengan demikian, melalui hukum, negara melakukan peran gender. Hukum, dengan demikian, dipandang sebagai agen yang menguatkan nilai-nilai jender yang dianut oleh masyarakat. Hal ini berkaitan dengan kebutuhan negara untuk menjaga dan menjamin kepentingannya. Apakah dampak dari pembakuan peran? Upaya domestikasi perempuan secara sistematis oleh negara berdasarkan ideology gender dalam kebijakan-kebijakan negara berdampak lebih jauh pada peminggiran terhadap perempuan, baik secara ekonomis, politik, sosial dan budaya, juga menimbulkan subordinasi, eksploitasi dan privatisasi kekerasan terhadap perempuan. Kebijakan-kebijakan apa sajakah yang membakukan peran jender? Ruang lingkup kebijakan yang dikritisi dalam penelitian adalah kebijakan-kebijakan yang lahir pada era Orde Baru. Dari kebijakan-kebijakan negara seperti : - pada masa Revolusi Hijau, yaitu pada Repelita I thn 1969-1974 dimana muncul Kebijakan yang memarginalkan kaum perempuan pedesaan yang awalnya

-

-

memiliki peran penting sebagai petani kemudian digeser dengan munculnya alatalat pertanian modern yang diasosiasikan dengan keahlian jenis kelamin laki-laki. Kemudian, kebijakan lain yang juga mempunyai efek pembakuan peran adalah praktek-praktek koersi terhadap perempuan yang diterapkan berkaitan dengan kebijakan pemerintah tentang kependudukan => Kebijakan KB yang dicanangkan sejak thn 1969 hanya diperuntukkan bagi kelompok perempuan Menunjukkan adanya asumsi patriarkal negara mengenai peran laki-laki dan perempuan yang menganggap bahwa urusan domestik adalah tanggung jawab perempuan. Nampak bahwa negara Orde Baru membatasi ruang lingkup kehidupan perempuan (secara sosial, ekonomi, politik) dan melegitimasi pembakuan peran gender.

Lebih rinci, teks-teks kebijakan yang dianalisa : Ø GBHN; Sebagai landasan bagi kebijakan-kebijakan lainnya dan pembangunan secara umum. Sepanjang GBHN 1978 –1998, kata ‘kodrat’ tetap hadir dalam teks. Dengan konsep peran ganda yang dianut negara, dapat disimpulkan bahwa ‘kodrat ‘ dimakni tidak hanya sebatas kemampuan biologis perempuan tetapi juga peran-peran reproduksi sosial. Jadi, dapat dideteksi adanya gagasan-gagasan mengenai pembakuan peran gender dalam GBHN. Ø Kebijakan tentang Buruh Migran Perempuan a. Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. Kep. 213/Men/89 tentang biaya Pembinaan Tenaga Kerja Indonesia dalam Rangka Pengembangan Program Antar Kerja Antar Negara ke Timur Tengah ; Dalam kebijakan ini diatur perbedaan biaya yang dikeluarkan untuk pengiriman buruh migran perempuan dengan laki-laki dengan asumsi gender bahwa buruh migran perempuan dianggap membutuhkan pembinaan. b. Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. Kep. 196/Men/1991 tentang Petunjuk Teknis Pengerahan Tenaga Kerja ke Arab Saudi Peraturan ini memuat adanya pembedaan usia antara laki-laki dan perempuan untuk menjadi buruh migran di sector informal. Ø Kebijakan tentang Pembantu Rumah Tangga (Perda No. 6 thn 1993) tentang Pembinaan Kesejahteraan Pramuwisma di DKI Jakarta dan SK Gubernur DKI Jakarta No. 1099 thn 1994) Asumsi pemerintah terhadap istilah pramuwisma yang cenderung ditujukan terhadap perempuan menyumbang pada pembakuan peran gender dalam pasal-pasal Perda. Misalnya, pasal tentang perlunya ijin bekerja dari suami bagi perempuan yang sudah bersuami. Ø Kebijakan tentang Perkawinan/ Perceraian UUP Integrasi konsep pembakuan peran dalam kebijakan tentang perkawinan yaitu melalui UU No. 1 thn 1974 tentang Perkawinan (UUP), terutama nampak dalam khususnya pasal 31, yang menyatakan bahwa “suami adalah kepala keluarga dan

istri adalah ibu rumah tangga.” Selain itu, UUP menganut asas monogamy terbuka, maksudnya bahwa pada asasnya suatu perkawinan seorang laki-laki hanya boleh mempunyai seorang isteri dan seorang perempuan hanya boleh mempunyai seorang suami. Namun, terdapat klausula yang menyatakan bahwa Pengadilan dapat memberi ijin kepada seorang suami untuk beristri lebih dari seorang karenanya terbuka kemungkinan bagi laki-laki untuk melakukan poligami. Pengaturan mengenai poligami ini tidak hanya menunjukkan bahwa dalam institusi perkawinan posisi tawar perempuan lebih rendah disbanding lakilaki tetapi juga menunjukkan bahwa negara jelas-jelas telah melegitimasi nilainilai jender perempuan yang hidup dalam masyarakat. Dalam Pasal 31 : Kedudukan suami isteri adalah sama, akan tetapi dalam ayat lain ditegaskan bahwa suami adalah kepala keluarga dan isteri adalah ibu rumah tangga. Penegasan ini merupakan pengetatan fungsi-fungsi isteri dan fungsifungsi suami secara tegas. Artinya, pasal ini melegitimasi secara eksplisit pembagian peran berdasarkan jenis kelamin. Juga, semakin dipertegas dalam pasal 34 yang menyatakan bahwa suami wajib melindungi isteri dan isteri wajib mengatur rumah tangga sebaik-baiknya. Pasal tersebut merupakan pengejawantahan dari pola pikir masyarakat yang menganggap bahwa peran lakilaki dan perempuan sudah mutlak terbagi. PP No. 45/ 1990 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah No. 10 thn 1983 tentang ijin Perkawinan dan Perceraian Pegawai Negeri Sipil. (Peraturan Pemerintah ini merupakan peraturan pelaksana dari UU Perkawinan yang khusus diberlakukan kepada Pegawai Negeri Sipil dan merupakan penyempurnaan dari PP 10 thn 1983). PP ini lebih menegaskan asas monogamy terbuka. Akan tetapi, secara tidak konsisten PP melarang perempuan PNS menjadi isteri kedua, ketiga atau keempat dengan asumsi akan merusak citranya sebagai PNS dan perempuan. Ø Kebijakan tentang Kekerasan terhadap Perempuan KUHP berkaitan dengan Penganiayaan terhadap isteri KUHP tidak mengenal konsep kekerasan berbasis gender, atau tindakantindakan kejahatan yang dilakukan karena jenis kelamin perempuan. KUHP berkaitan dengan Perkosaan Perkosaan terhadap isteri dalam perkawinan (marital rape) tidak dikenal dalam KUHP berarti KUHP mengadopsi pandangan masyarakat bahwa fungsi isteri adalah melayani suami. UU No. 62 Tahun 1958 tentang Kewarganegaraan UU ini mengadopsi ideology patriarki yang tercermin dalam ketentuan tentang status kewarganegaraan anak yang lahir dari perkawinan campuran , yaitu megikuti kewarganegaraan ayahnya.

Ø

Kebijakan Ketenagakerjaan UU No. 25 thn 1997 tentang Ketenagakerjaan : Memuat ketentuan yang mendiskriminasikan perempuan dengan memuat ketentuan larangan bekerja bagi perempuan pada waktu malam hari.

Ø Peraturan tentang Perpajakan :Keputusan Direktur Jendral Pajak No. 78/ PJ.41/ 1990 tentang Pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) kepada isteri wajib pajak yang melakukan kegiatan usaha dan atau pekerjaan bebas Ø Peraturan tentang Perpajakan: Keputusan Direktur Jendral Pajak No. 78/ PJ. 41/ 1990 tentang Pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) kepada isteri Wajib Pajak yang melakukan kegiatan Usaha dan atau Pekerjaan Bebas

Dalam ketentuan perpajakan, isteri yang bekerja atau usaha yang wajib kena pajak bukanlah wajib pajak secara pribadi melainkan sebagai ‘isteri wajib pajak.’ Dampaknya, ada hambatan bagi perempuan menikah yang hendak mengembangkan usahanya karena nomor wajib pajaknya tergantung pada suami sehingga otomatis pengembangan usahanya tergantung pada ijin suami. Penutup Ø Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh negara disamping bias gender juga bias kelas menengah serta bertentangan dengan kenyataan sosialnya. Dalam kenyataannya, kaum perempuan tidak lagi hanya sebagai pencari nafkah tetapi juga banyak yang menjadi kepala keluarga. Akibatnya timbul ketegangan antara nilai-nilai dan peraturan yang diterapkan dengan kenyataan sosial yang terus berlangsung. Ø Melalui hukum, negara melakukan pembakuan peran gender. Beberapa kebijakan mengacu pada peran perempuan dan laki-laki sebagaimana didefinisikan dalam UUP No. 1 thn 1974. Dengan demikian, UUP merupakan kebijakan yang mempunyai signifikansi dalam proses pembakuan peran yang dilakukan negara. Ø Perlu dilakukan reformasi terhadap kebijakan-kebijakan dengan mengamati dinamika proses negosiasi antara kelompok-kelompok kepentingan yang terjadi ditingkat negara untuk menentukan sasaran intervensi yang dapat dilakukan baik di tingkat struktur formal (hukum dan negara) dan di tingkat masyarakat untuk mengubah nilai-nilai gender yang dominan.

Sumber: http://www.lbh-apik.or.id/peneliltian-pembakuan_peran.htm

Perempuan Bekerja, Dilema Tak Berujung ? <center></center> Fenomena perempuan bekerja sebenarnya bukanlah barang baru di tengah masyarakat kita. Sejak zaman purba ketika manusia masih mencari penghidupan dengan cara berburu dan meramu, seorang isteri sesungguhnya sudah bekerja. Sementara suaminya pergi berburu, di rumah ia bekerja menyiapkan makanan dan mengelola hasil buruan untuk ditukarkan dengan bahan lain yang dapat dikonsumsi keluarga. Karena sistem perekonomian yang berlaku pada masyarakat purba adalah sistem barter, maka pekerjaan perempuan meski sepertinya masih berkutat di sektor domestik namun sebenarnya mengandung nilai ekonomi yang sangat tinggi. Kemudian, ketika masyarakat berkembang menjadi masyarakat agraris hingga kemudian industri, keterlibatan perempuan pun sangat besar. Bahkan dalam masyarakat berladang berbagai suku di dunia, yang banyak menjaga ternak dan mengelola ladang dengan baik itu adalah perempuan bukan laki-laki. Hal ini jelas menunjukkan bahwa keterlibatan perempuan memang bukan baru-baru saja tetapi sudah sejak zaman dulu. Dalam konteks Indonesia sebagai negara berkembang, sebenarnya tidak ada perempuan yang benar-benar menganggur. Biasanya para perempuan memiliki pekerjaan untuk juga memenuhi kebutuhan rumah tangganya entah itu mengelola sawah, membuka warung di rumah, mengkreditkan pakaian dan lain-lain. Mungkin sebagian besar masyarakat Indonesia masih beranggapan bahwa perempuan dengan pekerjaan-pekerja di atas bukan termasuk kategori perempuan bekerja. Hal ini karena perempuan bekerja identik dengan wanita karir atau wanita kantoran (yang bekerja di kantor). Pada hal, dimanapun dan kapanpun perempuan itu bekerja, seharusnya tetap dihargai pekerjaannya. Jadi tidak semata dengan ukuran gaji atau waktu bekerja saja. Annggapan ini bisa jadi juga erkait dengan arti bekerja yang berbeda antara Indonesia dengan negara-negara di Barat yang tergolong sebagai negara maju. Konsep bekerja menurut masyarakat di negara-negara Barat (negara maju) biasanya sudah terpengaruh dengan ideologi kapitalisme yang menganggap seseorang bekerja jika memenuhi kriteria tertentu misalnya; adanya penghasilan tetap dan jumlah jam kerja yang pasti. Sedangkan kebanyakan perempuan di Indonesia yang disebutkan tadi, pekerjaan mereka belum menghasilkan penghasilan tetap dan tidak terbatas waktu, bahkan baru dapat dilakukan hanya sebatas kapasitas mereka. Meski bukan fenomena baru, namun masalah perempuan bekerja nampaknya masih terus menjadi perdebatan sampai sekarang. Bagaimanapun, masyarakat masih memandang keluarga yang ideal adalah suami bekerja di luar rumah dan isteri di rumah dengan mengerjakan berbagai pekerjaan rumah. Anggapan negatif (stereotype) yang kuat di masyarakat masih menganggap idealnya suami berperan sebagai yang pencari nafkah, dan pemimpin yang penuh kasih; sedangkan istri menjalankan fungsi pengasuhan anak. Hanya, seiring dengan perkembangan zaman, tentu saja peran-peran tersebut tidak semestinya dibakukan, terlebih kondisi ekonomi yang membuat kita tidak bisa menutup

Kerja produktif dan reproduktif Untuk dapat melihat definisi dan makna kerja dengan lebih jernih lagi maka mungkin perlu dijelaskan juga tentang kerja dengan membaginya menjadi dua bentuk kerja yaitu kerja produksi dan kerja reproduksi.mata bahwa kadang-kadang istripun dituntut untuk harus mampu juga berperan sebagai pencari nafkah. Walaupun seringkali jika seorang laki-laki atau suami ditanya maka akan muncul jawaban “Seandainya gaji saya cukup. saya lebih suka isteri saya di rumah merawat anak-anak”. akan tetapi adanya dukungan sistem yang tidak terus membawa perempuan pada posisi yang dilematis. seperti yang sudah panjang lebar diutarakan di atas. Dalam sistem kapitalisme yang berlaku dewasa ini. Baik kerja produksi maupun kerja reproduksi. tentu saja memang akan ada dampak yang timbul jika suami-isteri bekerja di luar rumah. kenyamanan bagi anggota rumah tangga yang lain. atau mencuci maka tidak mungkin akan didapatkan makanan. Kerja produksi dianggap tanggung jawab laki-laki. melahirkan. biasanya dikerjakan di luar rumah. di mana kedua pekerjaan tersebut dilakukan dan siapa yang melakukan pekerjaan tersebut. nampaknya hampir semua kalangan masyarakat menyetujui bahwa perempuan mendapat kemulian dengan pekerjaannya sebagai ibu . perawatan sehari-hari manusia baik fisik dan mental. Terlepas dari pembahasan di atas. hamil. misalnya pekerjaan rumah tangga. perdebatan mungkin muncul lebih karena anggapan akan stereotype dari masyarakat bahwa akan ada akibat yang timbul jika suami-isteri bekerja di luar rumah yaitu “mengganggu” keharmonisan yang telah berlangsung selama ini. Kerja reproduktif adalah kerja “memproduksi manusia”.Tetapi tentu saja pengertian pekerjaan reproduksi seperti ini tidak dianggap sebagai pekerjaan oleh masyarakat dan juga pemerintah padahal secara fisik ini jelas sebagai sebuah kerja. Kerja reproduksi dianggap tanggung jawab perempuan dan biasanya dikerjakan di dalam rumah. keduanya berperan penting dalam proses kehidupan manusia. Kerja reproduktif juga kerja yang pada prosesnya menjaga kelangsungan proses produksi. menyusui. Bagaimanapun. kesemuanya berperan penting dalam melahirkan dan memampukan seseorang untuk “berfungsi” sebagaimana mestinya dalam struktur sosial masyarakat. bukan hanya sebatas masalah reproduksi biologis perempuan. Seperti yang pernah diungkapkan. Sehingga dengan makanan dankenyamanan tersebut proses yang lain tidak terganggu. pangan. namun mencakup pula pengasuhan. Namun solusi yang diambil tidak semestinya membebankan istri dengan dua peran sekaligus yaitu peran mengasuh anak (nursery) dan mencari nafkah di luar rumah (provider). Tanpa ada yang melakukan pekerjaan rumah tangga seperti memasak. yang akan lebih membawa perempuan kepada beban ganda. Kerja produktif berfungsi memenuhi kebutuhan dasar manusia seperti sandang. terdapat kecenderungan kuat untuk memisahkan kerja produksi dan reproduksi. papan.

mendukung pula pandangan ini. Jika kerja tersebut diperhitungkan. Kerja perempuan terutama di sektor reproduksi tidak pernah diperhitungkan dalam data perekonomian dan statistik. pada kenyataannya. masih ada yang merasa rugi memberi cuti melahirkan kepada karyawan perempuan. Sayangnya. Di sektor publik sering kali sistem yang ada “tidak mendukung” perempuan (dan lakilaki) bekerja untuk dapat pula melakukan kerja reproduksi secara optimal sekaligus. Situasi di sektor publik sering pula tidak ramah keluarga. bukan perempuan yang lebih berperan dalam pengambilan keputusan penting. Atas nama tradisi dan kodrat. Jarang yang mempertanyakan secara terbuka “kodrat” tersebut. Jam kerja panjang. Norma yang berlaku dewasa ini kerja reproduksi adalah tanggung jawab perempuan. Diskriminasi terselubung dilakukan guna menghindari pemberian cuti tersebut antara lain dengan preferensi tidak tertulis mengutamakan merekrut karyawan laki-laki atau karyawan perempuan lajang.rumah tangga hingga ibu rumah tangga mendapat gelar “ratu rumah tangga”. Ternyata. tidak mengundang laki-laki untuk berkontribusi lebih besar dalam kerja reproduksi. dan kesulitan perempuan bekerja untuk menyusui anaknya. Dengan kata lain. Memberikan cuti melahirkan bagi karyawan perempuan dianggap pemborosan dan inefiesiensi. melainkan laki-laki. Contohnya pernyataan “buat apa anak perempuan sekolah tinggi-tinggi. terjadi “perendahan” terhadap kerja reproduksi biologis perempuan. Lebih jarang lagi yang memperhitungkan nilai ekonomi pekerjaan rumah tangga. Perlu . Namun yang menjadi pertanyaan kemudian adalah mengapa pekerjaan reproduksi tersebut selalu diberi sebutan sebagai “pekerjaan mulia”. perempuan dipandang sewajarnya bertanggung jawab dalam arena domestik. niscaya akan mematahkan mitos “laki-laki adalah pencari nafkah utama”. Sebenarnya di banyak tempat. meskipun perempuan telah mencurahkan begitu banyak waktu dan energi. ketiadaan sarana penitipan anak di tempat kerja. adalah beberapa contoh nyata. Institusi pendidikan. agama. Dan mengapa “pekerjaan mulia” tersebut sebagian besar dibebankan hanya kepada perempuan. baik terhadap karyawan perempuan maupun laki-laki. seolah ia adalah bagian kewajiban dari Tuhan dengan imbalan kebahagiaan di akhirat nanti. keterlibatan perempuan dalam kerja produksi tidak mengurangi beban tanggung jawabnya di sektor reproduksi. media massa. Berkomitmen tinggi terhadap anak dan keluarga dipandang tidak kompatibel dengan dunia kerja. nanti juga ke dapur” atau “si X (perempuan) mah paling juga kawin terus ngurus anak”. kerja reproduksi yang sebagian besar dilakukan perempuan berperan sangat penting guna keberlanjutan suatu bangsa dan umat manusia pada umumnya. Meskipun cuti melahirkan telah diberlakukan secara luas. Demikian pula sebutan “ratu” yang seharusnya berimplikasi pada peran perempuan yang lebih besar dalam pengambilan keputusan di tingkat keluarga.

menemukan bahwa biaya tenaga kerja (upah) buruh laki-laki adalah 10-15% dari total biaya produksi. Sejarah menunjukan bahwa perempuan dan kerja publik sebenarnya bukan hal baru bagi perempuan Indonesia terutama mereka yang berada pada strata menengah ke bawah. diikuti oleh sektor perdagangan 20.perbaikan sistem sosial secara menyeluruh agar jangan sampai suatu bangsa atau lebih parah lagi umat manusia punah. Data sensus penduduk tahun 1990 menunjukan bahwa sektor pertanian adalah sektor yang terbesar dalam menyerap tenaga kerja perempuan yaitu 49. Sementara bila mempekerjakan perempuan. hanya karena berkeluarga dan memiliki anak menjadi semakin tidak menarik. Hal yang perlu digarisbawahi di sini adalah bahwa kecenderungan perempuan terpinggirkan pada pekerjaan marginal tersebut tidak semata-mata disebabkan faktor pendidikan. Sebuah studi tentang buruh perempuan pada industri sepatu di Tangerang. Hal ini berlaku khususnya bagi perempuan berpendidikan menengah ke bawah. Di sektor perdagangan.2%. Dalam kasus tersebut. Untuk kasus kota. Di pedesaan. Di luar konteks desa-kota. Masalah umum yang dihadapi perempuan di sektor publik adalah kecenderungan perempuan terpinggirkan pada jenis-jenis pekerjaan yang berupah rendah. Perempuan di sektor industri perkotaan terutama terlibat sebagai buruh di industri tekstil. Sebuah penelitian tentang buruh perempuan . Diskriminasi kerja perempuan Terlepas dari persoalan sektor yang digeluti perempuan. terdapat preferensi untuk mempekerjakan perempuan pada sektor tertentu dan jenis pekerjaan tertentu karena upah perempuan lebih rendah daripada laki-laki. perempuan pada strata ini mendominasi sektor pertanian. sepatu dan elektronik. Perempuan di sektor pertanian pedesaan. dan sektor industri manufaktur 14. sektor perdagangan juga banyak melibatkan perempuan. sementara untuk kasus pedesaan sebagai buruh tani. Sangat penting pula demokratisasi institusi keluarga. pun sesungguhnya sudah lazim ditemui di berbagai kelompok masyarakat. 1991:18). berkaitan dengan masalah perempuan bekerja produksi yaitu dengan bekerja di luar rumah untuk mencari nafkah. sementara di perkotaan sektor industri tertentu didominasi oleh perempuan. usaha warung. keterlibatan perempuan di sektor manapun selalu nampak dicirikan oleh “skala bawah” dari pekerjaan perempuan. Dari kalangan pengusaha sendiri. biaya tenaga kerja dapat ditekan hingga 58% dari total biaya produksi (Tjandraningsih.2%.6%. garmen. pada umumnya perempuan terlibat dalam perdagangan usaha kecil seperti berdagang sayur mayur di pasar tradisional. Kasus lain dengan substansi yang sama ditemukan pula di sektor pertanian pedesaan. persentase buruh perempuan adalah 90% dari total buruh. termasuk di dalamnya peningkatan peran serta laki-laki dalam kerja reproduksi dalam rumah tangga. mayoritas berada di tingkat buruh tani. kondisi kerja buruk dan tidak memiliki keamanan kerja. Seperti yang juga sudah disinggung di atas. sebagai buruh pabrik. adalah jenis-jenis pekerjaan yang lazim ditekuni perempuan.

Seorang pegawai perempuan -apakah berstatus menikah atau lajang. bekerja di sektor publik kebanyakan atas dasar dorongan kebutuhan ekonomi. Seorang pegawai perempuan yang berstatus menikah -karena dia perempuantidak mendapatkan tunjangan suami atau anak. 1994:52). Sebenarnya pihak yang diuntungkan dalam kasus diskiriminasi upah adalah . banyak perempuan menjadi pencari nafkah utama keluarga atau bersama-sama suami memberikan kontribusi finansial hingga 50% dari total penghasilan keluarga. yang mengatur hubungan antara perempuan dan laki-laki terlebih dahulu melalui pembentukan identitas feminin dan maskulin (Ratna Saptari dalam Andria dan Reichman. Bagi perempuan kelas menengah ke atas yang bekerja sebagai pegawai swasta maupun sebagai pegawai negeri. Diskriminasi upah yang terjadi secara eksplisit maupun implisit. Hal ini selain terkait dengan semakin terbukanya peluang bagi perempuan untuk memasuki sektor-sektor yang pada awalnya diperuntukkan hanya untuk laki-laki. Sedangkan bagi perempuan di kelas menengah ke atas. Dua hal ini dapat di lihat juga melalui peningkatan atau penurunan rasio perempuan di setiap jabatan. Ideologi gender adalah segala aturan. seringkali memanipulasi ideologi gender sebagai pembenaran.850.total penghasilan pegawai laki-laki dan perempuan berbeda jumlahnya untuk pekerjaan yang sama. Semakin banyaknya perempuan berpendidikan yang berkeinginan untuk aktif di sektor publik merupakan konsekuensi logis dari pembukaan peluang yang lebih besar bagi anak perempuan untuk bersekolah. Paling tidak di kedua kasus tersebut telah terjadi penggunaan tenaga kerja perempuan untuk sektor-sektor produktif tertentu dan pemisahan kegiatan-kegiatan tertentu atas dasar jenis kelamin. Persoalannya. maka pada saat ia masuk ke sektor publik “sah-sah” saja untuk memberikan upah lebih rendah karena pekerjaan di sektor publik hanya sebagai “sampingan” untuk “membantu” suami. Karena tugas utama perempuan adalah di sektor domestik. bekerja bagi mereka adalah bagian dari aktualisasi diri. Persentase buruh perempuan pada kasus tembakau adalah 80%.tetap dianggap lajang. atau bahkan lebih. namun komponen tunjangan keluarga dan tunjangan kesehatan dibedakan antara pegawai perempuan dan laki-laki. Jika perempuan pada strata menengah ke bawah. dalam situasi krisis ekonomi. Meskipun sistem pengupahan (termasuk tunjangan) pegawai negeri tidak lagi membedakan pegawai perempuan dan laki-laki. Dengan demikian -dengan memperhitungkan komponen tunjangan. Meskipun besar upah pokok antara pegawai laki-laki dan perempuan sama.650. nilai. di sektor swasta diskriminasi masih terjadi.00 per hari sementara buruh lakilaki mendapat upah Rp 1. buruh perempuan mendapat upah Rp 1. diskriminasi upah seringkali lebih tersamar. 1999: 9).00 per hari (Indraswari. generalisasi bahwa “semua perempuan bekerja hanya untuk ‘membantu’ suami” atau “semua perempuan bekerja hanya sebagai kegiatan sampingan” banyak tidak terbukti validitasnya.pada agro industri tembakau ekspor di Jember bahwa untuk pekerjaan di kebun tembakau. Demikian pula tunjangan kesehatan hanya diberikan kepada dirinya sendiri -tidak untuk suami dan anak-. Bagi perempuan miskin. stereotip.

Asma bint Abu Bakr. jumlah perempuan yang menduduki jabatan struktural. dalam praktek kehidupan zaman Nabi Saw sesungguhnya ada banyak riwayat menyebutkan tentang sahabat perempuan yang bekerja di dalam dan di luar rumah. selama untuk kebaikan dan kemaslahatan”. 205 dan al-Mughni li Ibn Qudamah. termasuk akses terhadap programprogram pelatihan untuk pengembangan karir. Di dalam kitab hadits (Shahih Muslim. selama ada jaminan keamanan dan keselamatan. juz VII. halaman 1211. Variasi pandangan ulama hanya muncul pada kasus seorang isteri yang bekerja tanpa restu dari suaminya. Kalau lebih jauh menelusuri lembaran-lembaran literatur fikih. h. juz II. dalam perspektif perbandingan dengan laki-laki. yang terkadang melakukan perjalanan cukup jauh. 573). maupun untuk memenuhi kebutuhan keluarga. dalam pandangan banyak ulama fikih. karena bekerja adalah hak setiap orang. dll. namun perempuan yang menjadi anggota parlemen hanya 7-8% dari total anggota parlemen. bupati. Dari gambaran persoalan diatas. Lebih tegas lagi dalam fikih Hambali. Kemudian dia melapor kepada Nabi Saw. nomor hadits 1483) disebutkan bahwa ketika Bibi Jabir bin Abdullah keluar rumah untuk bekerja memetik kurma. bekerja bercocok tanam. Selain persoalan upah. seorang lelaki yang pada awalnya sudah mengetahui dan menerima calon isterinya sebagai pekerja (baca : perempuan karir) yang setelah . Bahkan di dalam literatur fikih (jurisprudensi Islam) secara umum tidak ditemukan larangan perempuan bekerja. apabila nyata-nyata dia tidak bisa bekerja mencari nafkah. suami juga tidak berhak sama sekali untuk melarang isteri bekerja mencari nafkah. yang dengan tegas mengatakan kepadanya: “Petiklah kurma itu. Hal ini diindikasikan dengan minimnya jumlah perempuan yang menduduki posisi pengambil keputusan dan posisi strategis lainnya baik di sektor pemerintah maupun di sektor swasta. perempuan di sektor publik menghadapi kendala lebih besar untuk melakukan mobilitas vertikal (kenaikan pangkat. h. Meskipun persentase perempuan lebih dari 50% dari total penduduk Indonesia. jabatan) karena ideologi patriarkis yang dominan. posisi.pemilik modal yang dapat menekan biaya produksi melalui pengurangan komponen biaya tenaga kerja. baik untuk kepentingan sosial. Sebutlah misalnya. Dalam Islam tidak ada masalah Sebagai agama yang diyakini untuk kasih sayang semua umat manusia. dapat dilihat telah terjadi pula pelebaran ketimpangan ekonomi antara laki-laki dan perempuan yang ditandai oleh perbedaan upah serta ketidaksamaan akses keuntungan dan fasilitas kerja. miskin atau karena yang lain (lihat fatwa Ibn Hajar. walikota. menteri. maka Islam sesungguhnya tidak pernah menekan pihak perempuan dalam bidang pekerjaan. Demikian pula dapat dihitung dengan jari. Baik pekerjaan di rumah maupun luar rumah. juz IV. dia dihardik oleh seseorang untuk tidak keluar rumah. isteri sahabat Zubair bin Awwam. Jika merujuk kepada hadits Nabi. baik karena sakit.

Bahkan dalam fikih. 573 Oleh: Swara Rahima Sumber: Kementrian Pemberdayaan Perempuan Kesetaraan Dan Keadilan Gender<center></center> I. 1995.perkawinan juga akan terus bekerja di luar rumah. perempuan sesungguhnya diperbolehkan meminta upah bila menyusui anaknya. kecuali air susu hari pertama yang merupakan kewajiban perempuan memberikan kepada anaknya karena mengandung kolostrum yang baik untuk meningkatkan imunitas bayi baru lahir. Potret kerja buruh perempuan. Juni 1994 Ratna Saptari. Yang berarti fikih tidak memandang bahwa kewajiban seorang lelaki (misalnya suami) untuk mencari nafkah menjadi penghalang bagi perempuan untuk bekerja di luar rumah juga untuk mencari nafkah. (dd) ] Sumber Bacaan : Dedi Haryadi. juz II. AKATIGA. juz VII. Tinjauan kebijakan pengupahan buruh di Indonesia. juz IV. dan Juni Thamrin. Indrasari Tjandraningsih. h. tak terkecuali yang berkaitan dengan masalah perempuan bekerja. Fikih membenarkan suami dan isteri. Upaya mewujudkan Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG). Pekerjaan rumah tangga adalah pekerjaan yang sesungguhnya untuk perempuan dan lakilaki. 205. keduanya bekerja di luar rumah dengan prasyarat-prasyarat tertentu. 795). berbagai jalan dapat ditempuh untuk tetap memberikan keadilan bagi perempuan. AlMughni li Ibn Qudamah. Kalyanamitra. juz VII. akan tetapi adalah menunjukkan penghargaan pada jerih payah ibu. juz VII. h. Jadi pendefinisian bahwa pekerjaan di luar rumah adalah tugas laki-laki dan pekerjaan di dalam rumah adalah pekerjaan perempuan adalah hasil penafsiran terhadap teks secara sempit. Perempuan bekerja dan perubahan sosial. Al-fiqh al-Islami wa adillatuhu. Indraswari. halaman 1211. Memang tentu saja hal ini tidak secara otomatis mengatakan bahwa Islam mengajarkan hubungan ibu dan bayinya dihitung dengan uang. h. Akhirnya. Shahih Muslim. h. AKATIGA. 795. Pendahuluan Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG) sudah menjadi isu yang sangat penting dan sudah menjadi komitmen bangsa-bangsa di dunia termasuk Indonesia sehingga seluruh negara menjadi terikat dan harus melaksanakan komitmen tersebut. Fatwa Ibn Hajar. suami tidak boleh kemudian melarang isterinya bekerja atas alasan apapun (lihat : al-fiqh al-Islami wa adillatuhu. Tinjauan pada Agroindustri Tembakau Ekspor di Jember. April 1994 Indraswari dan Juni Thamrin. nomor hadits 1483. di Indonesia dituangkan dalam kebijakan nasional sebagaimana ditetapkan dalam Garis-Garis Besar Haluan .

untuk melakukan penyusunan program dalam perencanaan. karena masih belum memanfaatkan kapasitas sumber daya manusia secara penuh. swasta maupun masyarakat sangat tergantung dari peran serta laki-laki dan perempuan sebagai pelaku dan pemanfaat hasil pembangunan. aspirasi perempuan pada pembangunan dalam kebijakan.415) dari total (206. Bahkan belum cukup efektif memperkecil kesenjangan yang ada. Pelaksanaan PUG diisntruksikan kepada seluruh departemen maupun lembaga pemerintah dan non departemen di pemerintah nasional. Hal ini disebabkan karena kondisi dan posisi yang kurang menguntungkan dibanding laki-laki. akan memperlambat proses pembangunan atau bahkan perempuan dapat menjadi beban pembangunan itu sendiri. Oleh karena itu program pemberdayaan perempuan telah menjadi agenda bangsa dan memerlukan dukungan semua pihak. . ternyata belum dapat memberikan manfaat yang setara bagi perempuan dan laki-laki. 9 tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender (PUG) dalam Pembangunan nasional. Seperti peluang dan kesempatan yang terbatas dalam mengakses dan mengontrol sumberdaya pembangunan. propinsi maupun di kabupaten/kota. Pada pelaksanaannya sampai saat ini peran serta kaum perempuan belum dioptimalkan. UU No. Hal ini menunjukkan bahwa hak-hak perempuan memperoleh manfaat secara optimal belum terpenuhi sehingga pembangunan nasional belum mencapai hasil yang optimal.595) penduduk Indonesia (Sensus Penduduk 2000) merupakan sumberdaya pembangunan yang cukup besar. baik perempuan maupun laki-laki. tingkat kesehatan dan pendidikan yang rendah. program/proyek dan kegiatan.264. sehingga manfaat pembangunan kurang diterima kaum perempuan. pemantauan dan evaluasi dengan mempertimbangkan permasalahan kebutuhan. Berbagai upaya pembangunan nasional yang selama ini diarahkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.9% (102. Partisipasi aktif wanita dalam setiap proses pembangunan akan mempercepat tercapainya tujuan pembangunan. Disadari bahwa keberhasilan pembangunan nasional di Indonesia baik yang dilaksanakan oleh pemerintah. sebagai salah satu strategi untuk mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender. 2000 tentang Program Pembangunan NasionalPROPENAS 2000-2004. Penduduk wanita yang jumlahnya 49. Kenyataannya dalam beberapa aspek pembangunan.Negara (GBHN) 1999. 25 th.847. perempuan kurang dapat berperan aktif. dan dipertegas dalam Instruksi Presiden No. Disamping itu pengarusutamaan gender juga merupakan salah satu dari empat key cross cutting issues dalam Propenas. Kurang berperannya kaum perempuan. sistem upah yang merugikan. pelaksanaan.

legislatif terhadap arti. dibandingkan Negara-negara ASEAN lainnya seperti HDI Malaysia.595 orang. Sedangkan Gender related Development Index (GDI) berada pada peringkat ke-88 pada tahun 1995. Kemampuan. Kemudian pada tahun 2002 pada peringkat 91 dari 144 negara GDI inipun masih tertinggal dibandingkan dengan-negara di ASEAN seperti Malaysia. Pendidikan Di bidang pendidikan. umumnya lebih mengutamakan laki-laki daripada perempuan (ideology patriarki). Penafsiran ajaran agama yang kurang komprehensif atau cenderung tekstual kurang kontekstual. tujuan. (50. Selain itu rendahnya kualitas perempuan turut mempengaruhi kualitas generasi penerusnya. HDI Indonesia menempati urutan ke-112 dari 175 negara. Philippina yang masing-masing berada pada peringkat 54. yudikatif. kemudian menurun ke peringkat 90 (1998) dan peringkat 92 (1999 dari 146 negara). 70 dan 77. Berdasarkan Human Development Report 2003.264.Faktor penyebab kesenjangan gender yaitu Tata nilai sosial budaya masyarakat. Thailand. Rendahnya pemahaman para pengambil keputusan di eksekutif. cenderung dipahami parsial kurang kholistik. ekonomi dan politik yang diarahkan pada pemerataan pembangunan. Indeks pembangunan manusia skala internasional dan nasional dilihat dri tiga aspek yaitu pendidikan. Kondisi dan posisi perempuan meliputi 3 (tiga) aspek tersebut di atas sebagai berikut: 1. Tahun 1999 berada pada peringkat 102 dari 162 negara dan tahun 2002. Jumlah laki-laki sedikit lebih banyak dibandingkan perempuan. 110 dari 173 negara. Philippina yang menempati urutan 59. kesehatan dan ekonomi. Kondisi perempuan Indonesia Secara keseluruhan indeks kualitas hidup manusia digambarkan melalui Indeks Pembangunan Manusia/Human Development Index (HDI) yang berada pada peringkat ke-96 pada tahun 1995 yang kemudian menurun ke peringkat 109 pada tahun 1998 dari 174 negara. Thailand.1% diantaranya laki-laki dan 49. 60. dan arah pembangunan yang responsif gender. II. mengingat mereka mempunyai peran reproduksi yang sangat berperan dalam mengembangkan sumber daya manusia masa depan. Peraturan perundang-undangan masih berpihak pada salah satu jenis kelamin dengan kata lain belum mencerminkan kesetaraan gender. Adanya kesenjangan pada kondisi dan posisi laki-laki dan perempuan menyebabkan perempuan belum dapat menjadi mitra kerja aktif laki-laki dalam mengatasi masalahmasalah sosial. kaum perempuan masih tertinggal dibandingkan laki-laki. Berdasarkan hasil Survey Penduduk 2000 (BPS) diketahui jumlah penduduk Indonesia sebesar 206. 63. Kondisi ini antara lain disebabkan adanya pandangan dalam masyarakat yang mengutamakan dan .9% perempuan). kemauan dan kesiapan perempuan sendiri untuk merubah keadaan secara konsisten dan konsekwen.

Angka buta huruf perempuan pada kelompok 10 tahun ke atas secara nasional (2002) sebesar 9. (Sumber: BPS. (Sumber: BPS. Dibidang kesehatan. Laki-laki 41.8 sedangkan perempuan 7. Statistik Kesejahteraan Rakyat 1999-2001). Child Mortality Rate (CMR) periode ini juga menunjukkan penurunan. (Sumber: BPS. dengan kecenderungan meningkat selama tahun 1999-2000. Estimasi Parameter Demografi.9 tahun (2000).84%. Tetapi pada tahun 2002 terjadi penurunan angka buta huruf yang cukup signifikan. dan menurun 307/100. Usia harapan hidup (life expectancy rate) perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki. demikian juga dengan akses terhadap sumber daya ekonomi. Statistik Kesejahteraan Rakyat 1999-2001).9 tahun.85% dan perempuan 12.9. Menurunnya angka kematian anak serta meningkatnya angka harapan hidup dari 64.mendahulukan laki-laki untuk mendapatkan pendidikan daripada perempuan.87%).8 tahun (1998) menjadi 67. kemampuan perempuan memperoleh peluang kerja dan berusaha masih rendah.28% sedangkan laki-laki 5. Berdasarkan estimasi parameter demografi 1998 yang dikeluarkan BPS. yaitu 69. (Sumber: BPS. 1998).69% (Sumber: BPS. yaitu 45% (2002) sedangkan laki-laki 75. Dibidang kesehatan dan status gizi perempuan masih merupakan masalah utama. namun demikian angka kematian anak laki-laki lebih tinggi dibandingkan kematian anak perempuan laki-laki 9. angka harapan hidup (eo) pada periode 19982000 cenderung meningkat.34%. 3.000 (SDKI 1997). Namun angka kematian bayi laki-laki lebih tinggi dibandingkan angka kematian bayi perempuan. 2. secara umum partisipasi perempuan masih rendah. Statistik Kesejahteraan Rakyat 1999-2001).000 (SDKI 2002). perempuan 31. (Sumber: BPS. Ketertinggalan perempuan dalam bidang pendidikan tercermin dari presentase perempuan buta huruf (14. Hal ini ditunjukkan dengan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) yang masih jauh lebih rendah dibandingkan laki-laki. Infant Mortality Rate (IMR). Namun angka buta huruf perempuan tetap lebih besar dari laki-laki.29% dengan komposisi laki-laki 5. Sejalan dengan semakin meningkatnya kondisi kesehatan masyarakat. Statistik Kesejahteraan Rakyat 1999-2002). Kesehatan Menurut Gender Statistics and indicators 2000 (BPS). Menurut Satatistik Kesejahteraan Rakyat 2003. kemajuan di bidang kesehatan ditunjukkan dengan menurunnya angka kematian bayi (dari 49 bayi per 1000 kelahiran pada tahun 1998 menjadi 36 tahun 2000. yang ditunjukkan dengan masih tingginya angka kematian ibu (AKI) 390/100.7 tahun berbanding 65.54% tahun 2001) lebih besar dibandingkan laki-laki (6. Sedangkan ditahun 2003 TPAK laki-laki lebih besar dibanding TPAK perempuan . Angka buta huruf perempuan 12. Ekonomi Di bidang ekonomi. angka kematian anak.000 (SDKI 1994). khususnya perempuan kepala rumah tangga. selama periode 1998-2000 ada penurunan angka kematian bayi. 337/100. Statistik Kesejahteraan Rakyat 19992002).

yang umumnya timbul dari berbagai faktor yang saling terkait. (Sumber: Statistik dan Indikator Gender Indonesia 2002-Bab7). dan pelacuran paksa.3%. Masalah yang sering muncul adalah perdagangan perempuan. Masalah HAM bagi perempuan termasuk isu gender yang menuntut perhatian khusus adalah masalah penindasan dan eksploitasi.2% dari jumlah pemilih 51%. dan 28 pada tahun 2002. dan negara. Jumlah peraturan perundang-undangan yang diskrimintaif terhadap perempuan berjumlah kurang lebih 32 buah. serta rendahnya tingkat pendidikan.861). dan dari jumlah tersebut hanya 15. Faktor penyebab kesenjangan gender pada aspek lain misalnya politik sebagai berikut: hasil Pemilu tahun 1999 yang menyertakan 57% pemilih perempuan hanya terwakili 8. masyarakat. laki-laki sebesar 63.927. (BPS. 2000). sedangkan PNS laki-laki sebesar 84. relatif tingginya angka kemiskinan dan pengangguran. BPS. Pemilu 2004 perempuan hanya terwakili 11%.9%.8% dari seluruh anggota DPR.8%. Faktor Kesenjangan dibidang hukum dan politik Faktor penyebab kesenjangan kondisi dan posisi perempuan dan laki-laki dipengaruhi oleh peraturan perundang-undangan yang bias gender karena dalam bidang hukum masih banyak dijumpai substansi.81%. (Sumber: Statistik dan Indikator Gender Indonesia 2002). kekerasan.4% dari jumlah seluruh PNS (3. lebih rendah dari hasil pemilu 1997 yang berjumlah 11. dan budaya hukum yang diskriminatif gender. III.146). Pada tahun 1999 jumlah PNS perempuan adalah 36. dan persamaan hak dalam keluarga. Sedangkan tahun 2000 terjadi sedikit perubahan dimana jumlah PNS perempuan adalah 37. Jumlah perempuan yang menjabat sebagai Hakim Agung dan Hakim Yustisial Non Struktural di Mahkamah Agung juga menunjukkan penurunan dari 36 pada tahun 1998 menjadi 34 pada tahun 1999. 2003). Statistik Kesejahteraan Rakya.6%. struktur. (Statitik dan Indikator Gender.005. IV. dan dari jumlah tersebut hanya 15. antara lain dampak negatif dari proses urbanisasi. sedangkan PNS laki-laki sebesar 84.7% yang menduduki jabatan struktural. Pengertian Kesetaraan dan Keadilan gender .2% PNS perempuan yang menduduki jabatan struktural.1% dari jumlah seluruh PNS (4. lakilaki sebesar 62.12% berbanding 44.yakni 76.

baik terhadap laki-laki maupun perempuan. dan dapat berubah dari waktu ke waktu. subordinasi. sekarang dan berlaku selamanya. dan kontrol atas pembangunan serta memperoleh manfaat yang setara dan adil dari pembangunan. fungsi. sosial budaya. beban ganda. serta tanggung jawab laki-laki dan perempuan Sehingga gender belum tentu sama di tempat yang berbeda. marginalisasi dan kekerasan terhadap perempuan maupun laki-laki. Kesetaraan gender juga meliputi penghapusan diskriminasi dan ketidak adilan struktural. tanggung jawab antara perempuan dan laki-laki yang dibentuk/dikonstruksi oleh sosial budaya dan dapat berubah sesuai perkembangan zaman. Oleh karena itu tidak dapat ditukar atau diubah. serta kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan tersebut. Terwujudnya kesetaran dan keadilan gender ditandai dengan tidak adanya diskriminasi antara perempuan dan laki-laki. Oleh karena itu gender berkaitan dengan proses keyakinan bagaimana seharusnya laki-laki dan perempuan berperan dan bertindak sesuai dengan tata nilai yang terstruktur. dan dengan demikian mereka memiliki akses. Keadilan gender adalah suatu proses dan perlakuan adil terhadap perempuan dan lakilaki.Kesetaraan gender berarti kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan serta hak-haknya sebagai manusia. Dengan keadilan gender berarti tidak ada pembakuan peran. Sehingga memperoleh manfaat yang sama dari pembangunan. Dengan demikian gender dapat dikatakan pembedaan peran. agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik. Memiliki kontrol berarti memiliki kewenangan penuh untuk mengambil keputusan atas penggunaan dan hasil sumber daya. V. Ketentuan ini berlaku sejak dahulu kala. Memiliki akses dan partisipasi berarti memiliki peluang atau kesempatan untuk menggunakan sumber daya dan memiliki wewenang untuk mengambil keputusan terhadap cara penggunaan dan hasil sumber daya tersebut. Pengertian gender dan seks Gender adalah perbedaan dan fungsi peran sosial yang dikonstruksikan oleh masyarakat. kesempatan berpartisipasi. . Seks/kodrat adalah jenis kelamin yang terdiri dari perempuan dan laki-laki yang telah ditentukan oleh Tuhan. ketentuan sosial dan budaya ditempat mereka berada. pendidikan dan pertahanan dan keamanan nasional (hankamnas). ekonomi. hukum. Gender bukanlah kodrat ataupun ketentuan Tuhan.

dan posisi tidak menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan. Lain halnya dengan seks. 1996. Manisfestasi ketidakadilan gender tersebut masing-masing tidak bisa dipisah-pisahkan. VI. Mosse. 1998a. Bentuk-bentuk ketidakadilan akibat diskriminasi gender . fungsi. Faqih dalam Achmad M. bukan saja bagi kaum perempuan. melainkan buatan manusia.Dengan demikian perbedaan gender dan jenis kelamin (seks) adalah Gender: dapat berubah. peran. Kondisi demikian mengakibatkan kesenjangan peran sosial dan tanggung jawab sehingga terjadi diskriminasi. diskriminasi terhadap perempuan kurang menguntungkan dibandingkan laki-laki. misalnya marginalisasi. menyatakan. budaya setempat. ketidak adilan gender termanifestasikan dalam berbagai bentuk ketidakadilan. ketidak adilan gender adalah suatu sistem dan struktur yang menempatkan laki-laki maupun perempuan sebagai korban dari sistem (Faqih. beban kerja lebih banyak dan panjang (Ihromi. Selanjutnya Achmad M. 33. tidak dapat dipertukarkan. Hanya saja bila dibandingkan. hal ini dapat terlihat dari gambaran kondisi perempuan di Indonesia. Sesungguhnya perbedaan gender dengan pemilahan sifat. 2001). dapat dipertukarkan. berlaku sepanjang masa. di belahan dunia manapun. tergantung waktu. 1996). tetapi juga bagi kaum laki-laki. bukan merupakan kodrat Tuhan. VII. hal. berlaku dimana saja. Permasalah Ketidakadilan Gender Ketertinggalan perempuan mencerminkan masih adanya ketidakadilan dan ketidak setaraan antara laki-laki dan perempuan di Indonesia. kekerasan terhadap perempuan (Prasetyo dan Marzuki. 1990). seks tidak dapat berubah. Namun pada kenyataannya perbedaan gender telah melahirkan berbagai ketidak adilan. dan merupakan kodrat atau ciptaan Tuhan. subordinasi. stereotipe/pelabelan negatif sekaligus perlakuan diskriminatif (Bhasin. Gender masih diartikan oleh masyarakat sebagai perbedaan jenis kelamin. Masyarakat belum memahami bahwa gender adalah suatu konstruksi budaya tentang peran fungsi dan tanggung jawab sosial antara laki-laki dan perempuan. Berbagai pembedaan peran. terutama pada perempuan. dan dampak suatu peraturan perundang-undangan maupun kebijakan telah menimbulkan berbagai ketidakadilan karena telah berakar dalam adat. menyatakan. 1997). saling terkait dan berpengaruh secara dialektis (Achmad M. 1997). norma ataupun struktur masyarakat. tugas dan tanggung jawab serta kedudukan antara laki-laki dan perempuan baik secara langsung maupun tidak langsung. terhadap laki-laki dan perempuan.

Di Jawa misalnya revolusi hijau memperkenalkan jenis padi unggul yang panennya menggunakan sabit. Marginalisasi perempuan sebagai salah satu bentuk ketidakadilan gender Proses marginalisasi (peminggiran/pemiskinan) yang mengakibatkan kemiskinan. banyak terjadi dalam masyarakat terjadi dalam masyarakat di Negara berkembang seperti penggusuran dari kampong halaman. ♣Peluang menjadi pembantu rumah tangga lebih banyak perempuan. ♣Pemotongan padi dengan peralatan sabit. Namun pemiskinan atas perempuan maupun laki yang disebabkan jenis kelamin merupakan salah satu bentuk ketidakadilan yang disebabkan gender. menggantikan tangan perempuan dengan alat panen ani-ani. mesin yang diasumsikan hanya membutuhkan tenaga dan keterampilan laki-laki. Perempuan dipinggirkan dari berbagai jenis kegiatan pertanian dan industri yang lebih memerlukan keterampilan yang biasanya lebih banyak dimiliki laki-laki. Seperti Program revolusi hijau yang memiskinkan perempuan dari pekerjaan di sawah yang menggunakan ani-ani. Sebagai contoh apabila seorang isteri yang hendak mengikuti tugas belajar. Sudah sejak dahulu ada pandangan yang menempatkan kedudukan dan peran perempuan lebih rendah dari lakilaki. Selain itu perkembangan teknologi telah menyebabkan apa yang semula dikerjakan secara manual oleh perempuan diambil alih oleh mesin yang ummunya dikerjakan oleh tenaga laki-laki. Banyak kasus dalam tradisi.1. eksploitasi. ♣Banyak pekerjaan yang dianggap sebagai pekerjaan perempuan seperti “guru taman kanak-kanak” atau “sekretaris” dan “perawat”. tafsiran ajaran agama maupun dalam aturan birokrasi yang meletakan kaum perempuan sebagai subordinasi dari kaum laki-laki. Mosse. Kenyataan memperlihatkan bahwa masih ada nilai-nilai masyarakat yang membatasi ruang gerak terutama perempuan dalam kehidupan. 2. 1997. ♣Usaha konveksi lebih suka menyerap tenaga perempuan. Sebagai contoh. 1996). Beberapa studi dilakukan untuk membahas bagaimana program pembangunan telah meminggirkan sekaligus memiskinkan perempuan (Shiva. Contoh-contoh marginalisasi: Pemupukan dan ♣pengendalian hama dengan teknologi baru yang dikerjakan laki-laki. banyak pekerja perempuan tersingkir dan menjadi miskin akibat dari program pembangunan seperti internsifikasi pertanian yang hanya memfokuskan petani laki-laki. atau hendak berpergian ke luar negeri harus mendapat . Subordinasi Subordinasi pada dasarnya adalah keyakinan bahwa salah satu jenis kelamin dianggap lebih penting atau lebih utama dibanding jenis kelamin lainnya.

(breadwinner) mengakibatkan apa saja yang dihasilkan oleh perempuan dianggap sebagai sambilan atau tambahan dan cenderung tidak diperhitungkan. dan beberapa dilakukan oleh perempuan. Pelaku bisa saja suami/ayah. menunjukkan perempuan mengerjakan hampir 90% dari pekerjaan dalam rumah tangga. baik di dalam rumah tangga sendiri maupun di tempat umum. tatapi kalau suami yang akan pergi tidak perlu izin dari isteri. 3. Pelabelan negatif secara umum selalu melahirkan ketidakadilan. keponakan. namun standar nilai tersebut banyak menghakimi dan merugikan perempuan. Sehingga bagi mereka yang bekerja. ada juga di dalam masyarakat itu sendiri. bisnis atau birokrat. Kata kekerasan merupakan terjemahkan dari violence.izin suami. Oleh karena itu kekerasan tidak hanya menyangkut serangan fisik saja seperti perkosaan. majikan. mertua. muncul dalam bebagai bentuk. Berbagai observasi. . Sementara label laki-laki sebagai pencari nakah utama. tetangga. anak laki-laki. bahkan di tingkat pemerintah dan negara. Standar nilai terhadap perilaku perempuan dan laki-laki berbeda. (perempuan). Kekerasan Berbagai bentuk tidak kekerasan terhadap perempuan sebagai akibat perbedaan. jika hendak aktif dalam “kegiatan laki-laki” seperti berpolitik. Salah satu stereotipe yang berkembang berdasarkan pengertian gender. Hal ini mengakibatkan terjadinya diskriminasi dan berbagai ketidakadilan yang merugikan kaum perempuan. ada yang bersifat individu. Pelaku kekerasan bermacam-macam. ia dianggap tegas. pemukulan dan penyiksaan. paman. artinya suatu serangan terhadap fisik maupun integritas mental psikologis seseorang. Apabila seorang laki-laki marah. Beban Ganda Bentuk lain dari diskriminasi dan ketidak adilan gender adalah beban ganda yang harus dilakukan oleh salah satu jenis kalamin tertentu secara berlebihan. sepupu. 4. yakni terjadi terhadap salah satu jenis kelamin. Dalam suatu rumah tangga pada umumnya beberapa jenis kegiatan dilakukan laki-laki. Label kaum perempuan sebagai “ibu rumah tangga” merugikan. Pandangan stereotipe Setereotipe dimaksud adalah citra baku tentang individu atau kelompok yang tidak sesuai dengan kenyataan empiris yang ada. Hal ini tidak hanya terjadi dalam lingkup rumah tangga tetapi juga terjadi di tempat kerja dan masyaraklat. tetapi bila perempuan marah atau tersinggung dianggap emosional dan tidak dapat menahan diri. tetapi juga yang bersifat non fisik. seperpti pelecehan seksual sehingga secara emosional terusik. 5. Misalnya pandangan terhadap perempuan yang tugas dan fungsinya hanya melaksanakan pekerjaan yang berkaitan dengan pekerjaan domistik atau kerumahtanggaan.

ikatan kelompok • Jiwa interpreneur (keseimbangan pendapatan-pengeluaran) • Perhatian terhadap pemenuhan kebutuhan dasar keluarga. gerakan global emasipasi masuk dalam agenda PBB (ECOSOC) untuk diakomodasi Negara anggota. 1975 menyetujui program WID (Women in Development) sebagai strategi meningkatkan peran wanita. dan negara • Pendidik pertama dan utama bagi generasi penerus keluarga. 36 tahun 1990. in the family. Commission on the Status of Women (1967) memberi aspirasi pada lahirnya PKK. 25 tahun 2000 Propenas ♣UU No. PBB (1948) memberi aspirasi bagi gerakan feminis untuk memperjuangkan hak-hak perempuan (all human beings are born free and equal in dignity and rights). • 1963. meskipun ada juga ketimpangan yang dialami kaum laki-laki di satu sisi. bangsa. Women must participate equally with men in the decision making process which help to promote peace at all the levels (Deklarasi Konferensi Mexico. 1995 merinci 12 keprihatinan terhadap perempuan yang dikenal dengan 12 critical issues.selain bekerja di tempat kerja juga masih harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Indonesia meratifikasi CRC (Convention Rights of Children). the nation. • Pertemuan di Vienna. melalui UU No. • Konferensi di Nairobi. the community. Peran perempuan di domestik dan publik Women have a vital role to play in the promotion of peace in all sphares of life. melalui Keputusan Presiden No. 7 tahun 1984. Cairo 1994 mengagendakan perlindungan terhadap hak reproduksi perempuan dalam pembangunan yang berkelanjutan. kenyataannya perempuan sebagai sumber daya insani masih mendapat pembedan perlakuan. 12 tahun 2000 tentang Pemilu . Indonesia meratifikasi CEDAW. 1990 menyetujui program GAD (Gender and Development) dengan strategi Pengarustuaamaan Gender. toleransi. terutama bila bergerak dalam bidang publik. VIII. Dirasakan banyak ketimpangan. • Konferensi ICPD. Dalam proses pembangunan. terutama bagi anak-anaknya • Perajut persatuan dan kesatuan hidup masyarakat. dan negara Perjuangan Kesetaraan laki-laki dan perempuan (internasional) • Deklarasi HAM. • Konferensi di Mexico. 1975) Kelebihan/potensi perempuan: • Rasa sosial. and the world. Secara Nasional antara lain: Adanya ♣UUD 1945 yang sudah empat kali diamandemen tentang♣UU No. 1952 hak politik dan ekonomi perempuan diadopsi PBB. bangsa. 1985 setujui pembentukan UNIFEM lembaga PBB untuk perempuan dengan program WAD (Women and Development) 1979 CEDAW-PBB. • Konferensi di Beijing.

kedudukan masih rendah. pada saat ini masih banyak kebijakan. Untuk meningkatkan status dan kualitas perempuan juga telah diupayakan namun hasilnya masih belum memadai. yang mana belum mempertimbangkan perbedaan pengalaman. ketidak lengkapan data dan informasi gender yang dipisahkan menurut jenis kelamin (terpilah). juga masih belum mapannya hubungan kemitraan antara pemerintah dengan masyarakat maupun lembaga-lembaga yang memiliki visi pemberdayaan perempuan yaitu dalam tahap-tahap perencanaan. aspirasi dan kepentingan antara perempuan dan laki-laki serta belum menetapkan kesetaran dan keadilan gender sebagai sasaran akhir pembangunan. Upaya-upaya dan usaha yang dilakukan pemerintah dalam rangka KKG Upaya mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender sebagai visi Kementerian Pemberdayaan Perempuan RI sebenarnya merupakan bentuk pembaruan pembangunan pemberdayaan perempuan yang selama tiga dasa warsa telah memberikan manfaat yang cukup besar. pemahman. IX. meskipun masih belum optimal. 9♣IInstruksi tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional.Presiden No. . Penyebabnya antara lain belum adanya kesadaran gender terutama di kalangan para perencana dan pembuat keputusan. program dan kegiatan pembangunan yang belum peka gender. beban kerja masih berat. dan penyadaran kepada semua pihak untuk mewujudkan kesetaran gender dan perlindungan anak dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Berbagai peningkatan pemberdayaan perempuan bisa dilihat dengan meningkatnya kualitas hidup perempuan dari berbagai aspek . Di lain pihak. Prinsip dasar membangun kesetaran gender di Indonesia • Menghargai pluralistik • Pendekatan sosio-kultural • Peningaktan ekonomi dan kesejahteraan rakyat • Penegakan HAM dan supremasi hukum • Penghapusan kekerasan dan diskriminasi • Penyadaran pilar pembangunan • Pemerintah: sosialisasi dan advokasi • Masyarkat: sensitisasi dan advokasi • Dunia usaha. penyadaran dan advokasi • Penyatuan persepsi. ini terlihat dari kesempatan kerja perempuan belum membaik.

pemantauan dan evaluasi kebijakan dan program pembangunan Bergesernya proporsi pekerjaan utama perempuan dari pertanian ke ranah industri. Dengan demikian pemberdayaan perempuan dalam rangka mewujudkan KKG merupakan komitmen bangsa Indonesia yang pelaksanaannya menjadi tanggung jawab seluruh pihak eksekutif. Hal ini tidak lain karena masalah struktural utamanya. masih sering dijumpai ketimpangan antara laki-laki dan perempuan baik dalam memperoleh peluang. masyarakat dan berbangsa serta bernegara merupakan indikator keberhasilan pemberdayaan perempuan khususnya upaya kesetaraan dan keadilan gender mulai dapat dirasakan. (Zaitunah Subhan. hal.pelaksanaan. yang pelaksanaannya dapat memberikan hasil terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender di segala bidang kehidupan dan pembangunan. tokoh-tokoh agama dan masyarakat secara keseluruhan. legislatif. pemerintah bertanggung jawab untuk merumuskan kebijakan-kebijakan pemberdayaan perempuan di tingkat nasional maupun daerah. Selain nilai-nilai budaya patriarkhi yang dilegitimasi dengan (atas nama) agama dan sistem sosial yang menempatkan perempuan dan laki-laki dalam kedudukan dan peran yang berbeda dan dibeda-bedakan. 2001) Dalam GBHN 1999-2004 menetapkan dua arah kebijakan pemberdayaan perempuan yakni pertama meningkatkan kedudukan dan peranan perempuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara melalui kebijakan nasional yang diemban oleh lembaga yang mampu memperjuangkan terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender. Sesuai dengan dua arahan kebijakan itu. Kedua meningkatkan kualitas peran dan kemandirian organisasi perempuan dengan tetap mempertahankan nilai persatuan dan kesatuan serta nilai historis perjuangan perempuan dalam rangka melanjutkan usaha pemberdayaan perempuan serta kesejahteraan keluarga dan masyarakat. serta perolehan manfaat atas hasil pembangunan. meningkatnya mobilitas perempuan baik migrasi domestik maupun internasional serta semakin membaiknya peran perempuan di lingkup keluarga. 17-18. Sebaliknya pada tingkat sosial ekonomi menengah ke bawah. kesempatan dan akses serta kontrol dalam pembangunan. yudikatif. Meskipun kemajuan perempuan ini hanya bisa dinikmati pada tataran masyarakat yang sosial ekonominya mapan (menengah ke atas). .

Hal ini akan dicapai melalui penguatan kapasitas nasional untuk melakukan pengarusutamaan gender. Sarana dan Prasarana. Program Sumber Daya. peningkatan kesejahteraan dan perlindungan anak dan upaya peningkatan kemampuan. propinsi dan kabupaten/kota. program yang disusun terdiri dari program dalam rangka pembangunan pemberdayaan perempuan. Selanjutnya Propenas telah dirumusakan secara lebih rinci setiap tahunnya ke dalam Rencana Pembangunan tahunan (Repeta). . Propenas 2000-2004 telah melakukan mainstreaming kebijakan dan program pembangunan pemberdayaan perempuan. dan pelatihan analisis gender baik di tingkat pusat. maka untuk mewujudkan kesetaran dan keadilan gender harus menjadi komitmen bersama. Dalam rangka mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender melaui program yang peka akan permasalahan gender. 62 tahun 1958 tentang Kewarganegaraan. serta melalui aplikasi konsep gender dalam formulasi dan pelaksanaan kebijakan dan program untuk kesehatan reproduksi dan kependudukan. Program Peningkatan Kesejahteraan dan Perlindungan Anak. untuk tahun 2001 (Repeta 2001). Selanjutnya dalam Rencana Strategi Kementerian Pemberdayaan Perempuan 2001-2004. serta serangkaian koordinasi telah dilakukan dalam upaya perbaikan undang-undang yang masih bias gender seperti UU No. • Program Peningkatan Peranserta masyarakat dan penguatan kelembagaan PUG dilakukan dengan melalui: sosialisasi. Program Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan. propinsi. • Pengembangan modul sosialisasi/advokasi gender. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan dan UU No. Kementerian Pemberdayaan Perempuan juga telah melaksanakan program dan langkah konkrit antara lain: • Program Pengembangan dan keserasian kebijakan pemberdayaan perempuan. Upaya mengaktualisasikan dan memanifestasikan dan mengakselerasi-kan PUG di sektor strategis. Mencakup Program Pengembangan dan Keserasian Kebijakan Pemberdayaan Perempuan. Mengingat produk tersebut merupakan undang-undang.Berdasarkan arah kebijakan yang dimandatkan oleh GBHN 1999-2004 untuk butir pemberdayaan perempuan. Kementerian Pemberdayaan Perempuan telah bekerjasama dengan UNFPA dalam melaksanakan serangkaian kegiatan Mainstreaming Gender Issues in Reproductive Health and Population Policies and Programmes. Tujuan utama program ini adalah tercapainya perbaikan status kesehatan reproduksi kaum perempuan dan laki-laki melalui kebijakan program kesehatan reproduksi dan kependudukan yang sensitif gender. Program Peningkatan Peran Masyarakat Pemampuan Kelembagaan Pengarusutamaan Gender. dan kabupaten/kota. advokasi.

pekerjaan. • Pengembanagan Homepage untuk penyediaan data dan informasi program pembangunan pemberdayaan perempuan. kabupaten dan kota. Keadaan ini menciptakan permasalahan tersendiri dalam upaya pemberdayaan perempuan. politik. dan budaya. dan Problem Base Analysis (PROBA). konsep kesetaraan dan keadilan gender dan jaringan informasi dengan website. dimana diharapkan perempuan memiliki peranan yang lebih kuat dalam proses pembangunan. Kesimpulan Berdasarkan uraian di atas menunjukkan bahwa diskriminasi gender telah melahirkan ketimpangan dalam kehidupan berkeluarga. • Penyusunan Profil Gender untuk 26 propinsi. X. sosial. XI. Kondisi ini terkait erat dengan masih kuatnya nilai-nilai tradisional terutama di pedesaan. selain itu ketimpangan lebih banyak dialami perempuan dari pada laki-laki. pengambilan keputusan dan aspek lainnya. berbangsa dan bernegara. maka ketimpangan atau kesenjangan pada kondisi dan posisi perempuan tetap saja akan terjadi. Akibat diskriminasi gender yang telah berlaku sejak lama. • Tersedianya data dan informasi yang terpilah menurut jenis kelamin secara berkala dan berkesinambungan dari propinsi dan kabupaten/kota mengenai pengarusutamaan gender dalam pembangunan daerah. dimana perempuan kurang memperoleh akses terhadap pendidikan. kondisi perempuan di bidang ekonomi. Kondisi yang tidak menguntungkan ini apabila tidak diatasi. Saran dan pesan: Pada kesempatan ini dihimbau kepada para kandidat puteri Indonesia yang dibanggakan untuk berperan aktif dalam memajukan posisi dan kondisi perempuan Indonesia dalam .• Pengembangan alat untuk analisis gender yang digunakan dalam perencanaan program dan dikenal dengan Gender Analysis Pathway (GAP). Bahwa status perempuan dalam kehidupan sosial dalam banyak hal masih mengalami diskriminasi haruslah diakui. Kurangnya keikutsertaan perempuan dalam memberikan konstribusi terhadap program pembangunan menyebabkan kesenjangan yang ada terus saja terjadi. • Fasilitasi bantuan teknis kepada daerah propinsi. bermasyarakat. hankam dan HAM berada pada posisi yang tidak menguntungkan.

2002. Buku Referensi Pelatihan: Fakta dan Indikator Gender. Edisi ke-2. Buku 1. Dra. BPS. H. 2003. Julia Cleves Mosse. baik pada kalangan sendiri. Bias Gender dalam Pendidikan. Sri Suhandjati Sukri (Editor). United Nations Developmen Fund for Women. Kementerian Pemberdayaan Perempuan. Muhammadiyah University Press. MA. Pesan khusus untuk semua kandidat adalah menjaga jatidiri puteri Indonesia yang bermoral karena kita mempunyai macam-macam agama yang diakui dan ragam budaya yang dapat dijalankan dan dijaga kelestariannya. Jakarta. Statistik Kesejahteraan Rakyat. Bahan Informasi . JICA dan UNFPA. 1996. Abdul Djamil. misalnya melalui aktifitas peningkatan pengetahuan dan penyebarluasan seluruh informasi sebagaimana telah dipaparkan tersebut di atas. Sekaligus saya tekankan semoga semua kandidat puteri Indonesia dapat menjunjung tinggi agamanya dan jatidirinya sebagai Bangsa Indonesia yang aman dan damai. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan. Dr. 2003. Modul Pelatihan. et all. 3 Agustus 2004 Daftar Pustaka: Achmad Muthali’in. Kantor Menteri Negara Peranan Wanita. Mudahmudahan apa yang telah disampaikan dapat memberi manfaat yang sebesar-besar bagi diri sendiri. Gender Statistics and Indicators 2000. 1998. Hj.segala aspek/bidang pembangunan. BPS. Pedoman Teknis Perencanaan Pembangunan Berperspektif Gender. Diterbitkan atas kerjasama RIFKA ANNISA Women’s Crisis Centre dengan Pustaka Pelajar. 4 Propinsi dan 16 Kabupaten/Kota Terpilih. serta lingkungan masyarakat luas. Dr. Tingkat Nasional. Gender dan Pembangunan. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI. Apa Itu Gender. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI. MA. Nasaruddin Umar. 2002. Surakarta. Panduan Gender dalam Perencanaan Partisipatif. Kantor Menteri Negara Peranan Wanita. Keadilan dan Kesetaraan Gender untuk BUMN/BUMD dan Perusahaan Swasata. Buku 2. 2002. masyarakat bangsa dan Negara. (Pengantar). dalam keluarga. Bias Jender dalam Pemahaman Islam. 2001. 2002. H. Profil Wanita Indonesia. BPS. Deputi Bidang Kesetaraan Gender bekerjasama dengan Bangun Mitra Sejati. 2001. Jilid I Penerbit IAIN Walisongo dengan Gama Media. Bahan Informasi Pengarusutamaan Gender. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI.

persisnya pada tanggal 22 Desember 1928. Bunga Rampai “Bahan Pembelajaran Pelatihan Pengarusutamaan Gender dan Program Pembangunan Nasional”. Kementerian Pemberdayaan Perempuan. Dulu. adalah bukti sejarah bahwa semangat pluralisme (keberbedaan) yang merupakan modal utama untuk membangun persatuan. 2002. sesungguhnya telah tumbuh subur di kalangan tokoh . Modul 1: Apa itu Gender? UNIFEM and NCRFW.Pengarusutamaan Gender. Peningkatan Kesetaraan dan Keadilan Jender. Perencanaan erperspektif Gender. Putri Indonesia. tores and professor rosario s. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI. Jong Java bagian Perempuan. Edisi ke-2. Bahan Informasi Gender. Bahan Informasi Pengarusutamaan Gender. Zaitunah Subhan. a sourcebook for advocates. Salah satu agenda pokoknya adala menggabungkan organisasi-organisasi perempuan Indonesia dalam sebuah federasi tanpa sama sekali membedakan latar belakang politik. Sumber: Hari Pembebasan Kaum Perempuan<center></center> KALAU kita menyimak catatan sejarah perjalanan Hari Ibu yang setiap tahunnya diperingati pada tanggal 22 Desember. (developed by dr. maka berkumpul sekira 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatra untuk menyelenggarakan kongres pertamanya dengan mengambil lokasi di Yogyakarta. Buku 3. mereka tidak hanya gigih dalam menyuarakan hak-haknya. Bagaimana Mengatasi Kesenjangan Gender. Ediisi ke-2. Buku 4. Hadirnya organisasi seperti Aisyiah. Wanita Katolik. dalam membangun Good Governance. Adalah sejarah yang mencatat bahwa dua bulan setelah Sumpah Pemuda dideklarasikan. and implementors. Bahan Informasi Pengarusutamaan Gender. status sosial dan bahkan agama. planners. Kementerian Pemberdayaan Perempuan. 2003. amaryllis t. UNFPA. muncul kesan bahwa semangat perjuangan kaum perempuan tempo dulu ternyata tidak sedangkal semangat yang sering ditampilkan pada peringatan Hari Ibu saat ini seremonial dan bahkan konsumerisme. del rosario with the assistance of professor rosalinda pineda-ofreneo for Unifem and NCRFW). Gender and Development Making the Bureaucracy gender-responsive. 2002. suku. Pemantauan dan Penilaian. Jong Islamieten Bond bagian Wanita dan Organisasi Wanita Utomo. 1994. tetapi juga berani memikul senjata turun ke medan perang untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini. Edidisi ke-2. BKKBN.

Jangan lupa. Itu semua menunjukkan bahwa jauh sebelum ada lembaga yang sekarang banyak menyuarakan arti pentingnya kesetaraan dan keadilan gender. Sebagai gambaran. Tidak keliru kalau momentum yang kini diperingati sebagai Hari Ibu itu hadir sebagai puncak kebangkitan kesadaran kaum perempuan Indonesia dalam rangka menghimpun kekuatan bersama untuk bisa keluar dari berbagai ketertinggalannya. penolakan tradisi perkawinan anak perempuan di bawah umur termasuk kawin paksa. bahkan komunitas dunia banyak bicara mengenai masalah perdagangan anak dan kaum perempuan. Semua itu juga memberi isyarat kepada kita bahwa gerakan kaum perempuan pada saat itu sesungguhnya tidak kalah majunya dibanding dengan perjuangan kaum perempuan saat ini. kita pun akan segera mengetahui bahwa banyak dari isu sentral yang diangkat gerakan perempuan saat ini. adalah beberapa rekomendasi penting yang lahir dari kongres perempuan pertama 75 tahun yang lalu. maka jauh sebelumnya kaum perempuan Indonesia pernah mengungkapkannya pada Kongres PPPI tahun 1930 yang ditandai dengan lahirnya kesepakatan untuk membentuk Perkumpulan Pemberantasan Perdagangan Perempuan dan Anak-anak (P4A). sampai tuntutan pemberlakuan syarat-syarat pelaksanaan perceraian yang tidak merugikan hidup kaum perempuan. kaum perempuan Indonesia ternyata telah memiliki kesadaran mengenai arti pentingnya pendidikan dan kesehatan sebagai modal utama untuk bisa keluar dari berbagai ketertinggalannya. Yang tidak kalah pentingnya. Melalui kongres perempuan pertama itu pulalah berhasil dirumuskan beberapa rekomendasi yang berisi tuntutan penerbitan surat kabar sebagai media untuk meyuarakan hak-hak kaum perempuan sampai kepada tuntutan pemberian bantuan khusus bagi perempuan janda dan anak yatim. jika saat ini kita. adalah sejarah pula yang mencatat bahwa dari kongres perempuan Indonesia yang pertama itu berhasil dirumuskan beberapa rekomendasi penting dalam rangka memperjuangkan hak-haknya. Tuntutan kaum perempuan kepada pemerintah tentang pemberian beasiswa untuk anak perempuan dan sekolah-sekolah perempuan. bahkan jauh sebelum kemedekaan Indonesia diproklamasikan. . termasuk di dalamnya kesepakatan penyelenggaraan kongres perempuan tahunan dalam rangka mengisi dan memelihara kelangsungan perjuangannya.wanita sejak dua pertiga abad yang lalu. dari kongresnya yang pertama itu pula lahir kesepakatan untuk mendirikan badan musyawarah bernama Perikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia (PPPI) dengan misi pokoknya untuk menjalin hubungan di antara semua perhimpunan perempuan. Bahkan jika kita menyimak catatan penting yang dihasilkan oleh kongres perempuan tahun-tahun berikutnya seperti tertuang dalam buku ”Peringatan 30 tahun Kesatuan Pergerakan Perempuan Indonesia 1928-1958”. sesungguhnya merupakan isu yang pernah diagendakan dalam perjuangan kaum perempuan tempo dulu.

Hal yang sama juga dilakukan pula oleh Wanita Muslimat dari Masyumi. 1928). Tersirat dalam cuplikan pidato itu adalah sikapnya yang sangat mendorong kebangkitan kaum perempuan dalam rangka memperjuangkan hak-haknya. Kalau dirinci. Setelah Jepang menyerah. Bahkan seperti pernah ditulis Gadis Arivia dalam artiakelnya yang berjudul ”Soekarno dan Gerakan Perempuan (2001). rekomendasi megenai arti pentingnya kampanye berkait dengan segala akibat buruk yang ditimbulkan dari banyak kasus perkawinan usia dini sampai kepada upaya mempelajari hak pilih bagi kaum perempuan yang sekaligus merupakan wujud kesadaran kaum perempuan waktu itu akan arti pentingnya upaya bisa mengakses kekuasaan sebagai media untuk mewujudkan perjuangannya. Kongres Kaum Ibu. Itulah pula awal sejarah yang kemudian mengilhami banyak organisasi perempuan setelah itu terlibat secara langsung dalam perjuangan kemerdekaan. tidak bakal ada persamaan hak antara laki-laki dan perempuan bila tidak ada kemerdekaan. bahwa perdjoangan mengedjar keselamatan nasional bisa djuga lekas berhasil zonder sokongannja kaum ibu. Gagasan dasarnya. diadakan pada suatu waktu. sesungguhnya masih begitu banyak kiprah sekaligus sumbangan pemikiran berarti yang telah diberikan kaum perempuan pada saat itu.. oleh karena dari pada kaum bapak masih banyak jang kurang pengetahuan akan harganja sokongan kaum ibu itu. Bung Karno punya obsesi yang lebih karena ingin menjadikan gerakan perempuan waktu itu sebagai bagian dari gerakan memperjuangkan kemerdekaan. dan belum banjak jang berkehendak akan kenaikan deradjat itu. Istri Sedar yang didirikan di Bandung muncul menyatakan diri ingin meningkatkan status perempuan Indonesia melalui perjuangan kemerdekaan. misalnya. Pada tahun 1930. . kita tidak sahadja gembira hati akan kongres itu oleh karena kaum bapak belum insyaf akan keharusan kenaikan deradjat kaum ibu. Simak cuplikan pidato Soekarno di hadapan peserta kongres pertama kaum perempuan tanggal 22 Desember tahun 1928 waktu itu yang mengisyaratkan besarnya perhatian sekaligus pengakuan tokoh politik terhadap potensi yang dimiliki gerakan kaum perempuan pada saat itu sebagai berikut: ”Berbahagialah kongres kaum ibu.Bukan hanya itu.” (Soekarno.kita gembira ialah teristimewa djuga oleh karena di kalangan kaum ibu sendiri belum banjak jang mengetahui atau mendjadikan kewajibannja ikut menjeburkan diri di dalam perdjoangan bangsa. kaum perempuan dari kalangan parpol dan ormas berbasis agama Aisyiah dan Wanita Katolik menjadikan perjuangan kemerdekaan sebagai agenda utamanya. di mana masih ada sahadja kaum bapak Indonesia jang mengira. Kongres PPPI tahun 1930 itu juga telah melahirkan rumusan kerja lebih konkret lagi yang antara lain ditandai dengan lahirnya rekomendasi yang meniscayakan arti pentingnya penyelidikan kondisi kesehatan kaum perempuan dan sebab-sebab terjadinya kematian bayi di pedesaan.

adalah beberapa saja dari sekian banyak masalah yang harus dijadikan agenda utama perjuangan kaum perempuan Indonesia saat ini dan ke depan. karya fiksi yang sedikit ini . Mereka yang tergabung dalam organisasi ini. Sebaliknya. Begitu luhur dan mulia. itulah kesan yang muncul kalau kita menyimak sejarah perjuangan kaum perempuan yang awalnya diilhami oleh penyelenggaraan kongres perempuan pertama pada tanggal 22 Desember tiga perempuan abad yang lalu.Lima belas tahun berikutnya. Kian maraknya kasus perdagangan anak dan perempuan. apalagi bila dibandingkan dengan negara-negara lain. bahkan berani. sepatutnya kita selenggarakan tidak hanya dalam bentuk seremoni yang hampa makna. Meretas Kekerasan Tersamar<center></center> Hari perempuan sedunia yang jatuh tanggal 8 Maret lalu diperingati dengan cukup provokatif. peminat masalah gender. Lalu bagaimana perjuangan perempuan di bidang sastra? Ternyata telah muncul fenomena pemberontakan perempuan dalam sastra yang bisa kita sebut spektakuler. sebagiannya berani mengangkat senjata. sebagian yang lainnya bertugas membantu prajurit yang luka kalau bukan menyiapkan makanan bagi para prajurit yang sedang bertempur dalam rangka memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini. Itu pula sebabnya. tahun 1945. Wilujeng Hari Ibu!*** Penulis. apalagi penuh hura-hura. Sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat perempuan di Jakarta menuntut pemerintah dan DPR untuk memprioritaskan hak dan kesejahteraan perempuan (SH. Fak. mahasiswi jurusan biologi. 9 Maret 2002). Lebih parahnya lagi. masih banyaknya korban kaum perempuan akibat tindakan kekerasan dalam rumah tangga. Bulan ini. Sumber:Pikiran Rakyat Tren Perjuangan Perempuan dalam Sastra Merangkul Tabu. tidak berlebihan jika Hari Ibu yang setiap tahun diperingati bangsa ini. Selama ini. masih tinginya angka kematian ibu akibat kehamilan atau melahirkan. jumlah buku sastra Indonesia boleh dibilang sangat sedikit. di Bandung lahir organisasi bernama Lasjkar Wanita Indonesia (Lasjwi) yang dibidani oleh Aruji Kartawinata. Esensi kedua hari penting bagi perempuan adalah sama: memperjuangkan hak-hak perempuan di segala bidang. perempuan Indonesia pun merayakan Hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April setiap tahun. kita jadikan momentum Hari Ibu itu sesuai dengan akar historisnya sebagai hari pembebasan kaum perempuan dari berbagai belenggu yang menindasnya. MIPA Universitas Padjadjaran Bandung.

khususnya yang bermuatan erotis. Mengalir deras di tengah masyarakat yang dilanda proses diseminasi sosial yang semakin cepat. Ayu menunjukkan keberanian dalam bercerita tentang eksistensi seks perempuan. semata untuk memperoleh keuntungan ekonomi. voyeurism (ngintip). Di mana industri seks-nya melimpah. bahkan ada jenis komoditi yang menjanjikan seks-seks ilegal. Mereka mampu merepresentasikan seks sebagai eksistensi keperempuanannya. salah satu kesamaan menonjol dari sisi feminisme kedua novelis perempuan ini adalah keberanian mereka dalam mengemas cinta dan seks dalam bungkus yang benar-benar berbeda. Mungkin karena Amerika–lah yang dianggap negeri yang mampu mewakili representasi eksistensi seksual perempuan. Lalu apa resep mereka dalam mendobrak kebekuan sastra selama ini? Yang jelas. Laila dan Sihar” (hal. amateur. bahkan abnormal semisal bondage sadomasochis (seks sadis). Sebuah negeri yang bisa jadi dianggap sebagai media pelarian ketertekanan seksual sang tokoh pada kultur yang membesarkannya. di mana tubuh (body). mulai dari mereka yang gemar berburu buku-buku porno stensilan hingga doktor-doktor ilmu sastra yang mejanya penuh dengan naskah-naskah seminar. Melalui perlawanan terhadap tabu ini. Membakar Kebekuan Fiksi sastra yang ditulis kedua pengarang perempuan ini mampu membakar kebekuan gerilya sastra sekaligus meruntuhkan tembok pembatas antara sastra pop dan sastra serius. Keduanya mampu menjadi trend dan dibaca oleh kalangan yang kompleks. Mereka berani melawan tabu yang selama ini menjadi magma terpendam pada masyarakat yang sarat dengan konvensi-konvensi budaya.tak banyak yang mempunyai kekuatan untuk menarik perhatian publik. Seks menarik justru karena melanggar kenormalan dalam masyarakat tradisional. tanda-tanda tubuh (body signs) serta potensi libido di balik tubuh (libidinal value) menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya komoditas. Kehadiran buku-buku ini bagai oase bagi masyarakat yang ”kepanasan” oleh etika timur yang kuat tetapi tak berani melawannya secara frontal.77). mereka meretas fenomena kekerasan tersamar terhadap perempuan. citra. yang membentuk semacam sistem libidonomics yaitu sebuah sistem ekonomi yang mengeksploitasi setiap potensi libido. mature dan older (orang bangkotan). informasi. tahun 1996: ”Cerita ini berawal dari selangkangan teman-temanku sendiri: Yasmin dan Saman. Beradaptasi dengan terjadinya proses pelipatgandaan dan penyebaran secara sosial tanda. bukan sebagai komoditas masyarakat kapitalis semata. dan benda-benda komoditas. terutama dalam hal seks. lewat diary tokoh Cok. Tanpa disengaja mereka menolak tegas kultur yang menekan eksistensi seks perempuan timur sekaligus mengejek terma dalam masyarakat komoditas. sampai surveillance sex (dokumentasi seks orang- . Cerita tentang perselingkuhan Yasmin dan Saman serta kecintaan Laila pada Sihar membawa tokoh-tokohnya bertualang di negeri Paman Sam. Hingga akhirnya muncul Ayu Utami dengan Saman dan Larung-nya serta Dewi Lestari dengan Supernova. Eksistensi Seks Dalam Larung.

berkemah. Mereka menerimanya sebagai nilai moral. Tokoh Yasmin—yang sempurna. 118) .orang biasa) Problema-problema seks perempuan. setia pada suami—kembali menemukan kebebasan seksualnya bersama Saman. Lukas. ”… tapi membiarkan lelaki masturbasi dengan payudara kita bukanlah pengalaman yang menyenangkan kalau terus-terusan. sang bekas frater. kenapa aku harus menderita untuk menjaga selaput daraku sementara pacarku mendapat kenikmatan? …Aku pun melakukannya. Kamu tak punya pilihan selain membiarkan aku menunda orgasmemu atau membiarkan kamu tersiksa tak memperolehnya. Padahal Yasmin merasa berbeda dengan para perempuan yang mengukuhkan patriarki. yang selama ini menjadi endapan dalam masyarakat Indonesia yang patriarkal. Aku menerimanya dan melakukan seksualitas terhadapnya. dan lain-lain jenis olahraga kelompok yang kebanyakan anggotanya lelaki. Kamu biarkan jari-jariku bermain-main dengan tubuhmu seperti liliput mengeksplorasi manusia yang terdampar. menyangkal hal-hal yang lembek. beragama. dan ia merasa ada supremasi pada dirinya. 157) Eksistensi seksualitas perempuan Indonesia yang selama ini terkungkung budaya patriarki dilibas habis oleh Ayu Utami. Bagaimana mitos kesucian keperawanan membuat Cok membiarkan sang lelaki bermasturbasi dengan payudaranya.” (hal. Hanya saja. 160) Kerinduan Yasmin kepada Saman lebih karena perasaan superioritasnya terhadap lakilaki ini. Semasa sekolah dia paling banyak berlatih fisik. Itu karena suaminya. Tapi dialah yang paling terlambat mengenal pria secara seksual.” (hal. bermoral pancasila. cerdas. Melokalisasinya pada fantasi seksual. Juga. Misalnya cerita tentang bagaimana Cok melepas keperawanannya. seks yang digambarkan Ayu bukanlah teknik persetubuhan melainkan pemaparan problema yang bisa jadi dialami banyak wanita. Lukas lebih tertarik pada eksplorasi posisi fisik daripada eksplorasi relasi psikis seperti yang dikhayalkan Yasmin. tidur bersisian dengan kawan lelaki dalam tenda dan perjalanan.” (hal. Membuatmu menderita oleh coitus interuptus yang harfiah. kaya. ”…tidak semua anak perempuan bisa melakukan itu. suatu ideal. pecah dalam tingkah laku tokoh-tokoh novel ini. ”Mereka menerima dominasi pria sebagai suatu ide yang total dan murni.” Ejekan atas keperawanan yang menjadi momok pengaturan laki-laki terhadap perempuan dilakukan Ayu melalui tokoh Laila meskipun sosok ini mampu melawan gender keperempuanannya. cantik. ”…Kamu biarkan aku mengikatmu pada ranjang seperti kelinci percobaan. berpendidikan. Pada masa itu ada rasa bangga bahwa dia memasuki dunia lelaki yang dinamis. …Lalu kupikir-pikir. Naik gunung. aku sebagai nilai estetis. Kamu biarkan aku menyakitimu seperti polisi rahasia mengintrogasi mata-mata yang tertangkap. senggama. cross country. tak pernah mengolah kekejaman pada dirinya meskipun hanya sebatas imajinasi. turun tebing.

bisa menjerumuskan mereka dalam jebakan politik tubuh (body politics). Pertama. Lelaki takut padanya. 153) Penggambaran tentang dunia lesbian. Ketiga. Gabungan sosok Saman dan Sihar. Tapi keperawanan Laila yang terjaga —seperti layaknya yang diagungkan budaya Indonesia—justru menjadi problema. Aku mengelus di punggung dan mencium di kening. yang terurai dalam tiga terma. ”ekonomi politik tubuh” (political economy of the body) yaitu bagaimana tubuh digunakan dalam berbagai kerangka relasi sosial dan ekonomi. Ia tak bisa masuk ke dalam dunia pria dewasa. berdasarkan konstruksi sosial atau ”ideologi” tertentu. ”…Kamu berbaring di sisiku dan kulihat air mengalir dari matamu ke arah rambut. ”ekonomi politik hasrat” (political economy of desire) yaitu bagaimana sistem ekonomi menjadi sebuah ruang berlangsungnya pelepasan hasrat dari berbagai kungkungan. Ketika kreativitas ekonomi dikuasai dorongan hasrat dan sensualitas. Dalam hal ini Ayu masih mencoba membela kaumnya. yang tercipta adalah . juga Dewi Lestari dalam Supernova-nya. Peran tokoh Shakuntala (Tala) yang androgini dimunculkan Ayu secara estetis sebagai representasi kebebasan untuk memilih. Ia hanya ingin menyelamatkan Laila. Ekspresi libido seks Laila terhambat. ”ekonomi politik tanda (tubuh)” (political economy of signs) yaitu bagaimana tubuh diproduksi sebagai tanda-tanda di dalam sebuah sistem ekonomi pertandaan (sign system) masyarakat informasi yang membentuk citra. distribusi. Itu sebabnya ia tak bebas ketika telah sama-sama telanjang dengan Sihar. sifat-sifat rasionalitas ekonomi dikendalikan sifat-sifat irasionalitas hasrat. dua lelaki yang dicintai Laila muncul pada diri Tala. Tak pernah terjadi persetubuhan yang sebenarnya. Politik tanda berkaitan dengan eksistensi tubuh (pria atau wanita) yang dieksploitasi sebagai tanda atau komoditas tanda (sign comodity) dalam berbagai media. dan identitas tubuh di dalamnya. Ketertarikan Laila ditanggapi Tala sehingga dalam Larung ini muncul sebuah relasi seksual di mana lelaki benar-benar diabaikan. Juga ketika bercumbu dengannya. makna. Hingga akhirnya Laila melupakan Tala sebagai perempuan. Sebelum kamu mengenali tubuhmu sendiri. Kerinduan Laila pada Sihar membuatnya mampu melihat faktor lelaki pada diri Tala. dilihat dalam berbagai relasi sosial.Ternyata supremasi itu tidak dapat dibawa tokoh Laila sampai dewasa. konsumsi). Keperawanan dinilai sebagai tanggung jawab. …Kupeluk kamu. Dalam ekonomi-politik hasrat. Persoalan politik tubuh berkait dengan eksistensi tubuh dalam kegiatan ekonomi-politik.” (hal. Aku tahu kamu belum pernah mengalami orgasme. Tala bukanlah seorang androgini yang maniak. Kedua. Kini tak kubiarkan kamu menemani lelaki itu sebelum kamu mengetahuinya. Dan aku tak pergi. dan penyalurannya lewat berbagai kegiatan ekonomi (produksi. yang benar-benar belum bisa diterima kultur Indonesia dilakukan Ayu dengan metafora yang sangat indah. Jebakan Politik Tubuh Memang keberanian Ayu Utami dalam Saman dan Larung.

dan ayah bagi . yang mengondisikan orang memuja ”citra tubuh”. apa yang beroperasi di balik aktivitas ekonomi adalah semacam ”teknokrasi sensualitas” (technocracy of sensuality)—di dalamnya nilai-nilai budaya ekonomi ditopengi tanda-tanda sensualitas. yang hidupnya dikisahkan dalam film pemenang Oscar. 27/7/2003). Sebaliknya. Berbagai bentuk khayalan lewat voyeurisme diciptakan.Namun. Yang jelas. dalam wawancara dengan Kompas. Minoritas yang Terlupakan<center></center> BENARKAH Mbak Dorce Gamalama melawan kodrat? Pertanyaan ini mungkin timbul dalam hati saat membaca wawancara Kompas dengan artis Dorce (Kompas. Pada tanggal yang sama. Oleh: R. suami dari empat istri. namun ia selalu merasa dirinya perempuan. seorang ayah yang berubah menjadi ibu. Mbak Dorce mengungkapkan bahwa ia sejak kecil merasa dirinya perempuan. dan keinginan masyarakat dieksploitasinya. ada juga orang yang terlahir perempuan tetapi merasa dirinya lelaki sehingga mereka hidup sebagai laki-laki. yang dipenuhi berbagai strategi penciptaan ilusi sensualitas. sebagai cara untuk mendominasi selera (taste). Relawan pada UNICEF Indonesia. ADA orang yang terlahir lelaki namun sejak kecil merasa dirinya perempuan sehingga mereka hidup layaknya perempuan. Liz Riley terlahir lelaki. yang dikenal sebagai lelaki ramah. aspirasi. sehingga akhirnya memutuskan untuk hidup sebagai ibu. Suara Pembaruan Minggu mengetengahkan kisah Liz Riley. Bukan untuk menyelami ketertekanan perempuan tapi sebagai media eskapisme erotisme otak mereka.sebuah ”budaya ekonomi”. bahkan ia sempat kawin dan memiliki anak. Boys Don’t Cry. Ekspresi perlawanan terhadap kekerasan tersamar dalam ranah seks perempuan. Setapak langkah perbaikan telah dimulai dari dunia sastra. Sugiarti. Pengamat Perempuan & Budaya. justru menjadi perangsang laki-laki untuk membacanya. Sensualitas dijadikan kendaraan ekonomi dalam rangka menciptakan keterpesonaan dan histeria massa (mass hysteria) sebagai cara mempertahankan kedinamisan ekonomi. setidaknya mereka berdua telah memulainya dan berhasil menarik perhatian publik. Bisa jadi ekspresi kebebasan dua perempuan pengarang ini dijadikan media penumpahan keliaran libido laki-laki. yang menciptakan semacam ”erotisasi kebudayaan”. Contoh lainnya Billy Tipton. Akibatnya. Contohnya Brandon Teena. Contohnya. Sumber: Sinar Harapan Transseksual. musisi jazz Amerika. memang tak gampang meretas kultur yang telah tertanam kuat.

berupa alat reproduksi. FMT bertubuh perempuan namun merasa dirinya lelaki (bukan sekadar tomboi. Masalahnya. Sebelum sex identity ditemukan. Hakikat transseksual Selama ini alat kelamin fisik. Karena itulah. yaitu transseksual dari lelaki ke perempuan. artinya dapat sejalan atau bertolak belakang dengan kelamin fisik. identitas jenis kelamin adalah perasaan mendalam atau keyakinan dalam batin seseorang yang membuatnya merasa sebagai lelaki atau perempuan. Misalnya. Mereka merupakan contoh kaum transseksual. yang ditemukan pada tahun 1972 oleh Money dan Erhardt setelah meneliti ratusan individu. Namun. mengapa orang yang terlahir laki-laki sampai merasa dan berperilaku sebagai perempuan dan sebaliknya pada FMT. Menurut Kessler dan McKeena. masih ada variabel lain. dalam Gender: An Ethnomethodological Approach (1978). Namun. MFT bertubuh lelaki tetapi merasa dirinya perempuan. Jadi. pakar sekalipun. Sebaliknya. semata-mata tergantung dari perasaan orang bersangkutan dan tidak selalu sejalan dengan penilaian orang. Penyebab transseksual belum dapat ditentukan secara pasti. termasuk kejutan listrik. Namun. yang lebih banyak terjadi bukan perubahan perilaku. Karena itu. yaitu identitas jenis kelamin (sex identity) atau identitas jender. kekurangan testosteron pada janin dengan kelamin . sekalipun berperilaku kelaki-lakian. masih tetap merasa perempuan). yaitu transseksual dari perempuan ke lelaki. Mayoritas warga memiliki sex identity sesuai dengan jenis kelamin fisiknya. Jenis kelamin jiwa merupakan variabel mandiri terhadap seks fisik. karena seseorang yang tomboi. yang dapat disebut jenis kelamin jiwa. sering dianggap satu-satunya penentu perilaku jenis seseorang. ketika ia meninggal. Dengan kata lain. Jenis kelamin jiwa mulai tertanam pada usia dua tahun. Ada yang disebut male-to-female transsexual (MFT). Sebagian menduga pengaruh hormon dalam kandungan. Sex identity. transseksual memiliki sex identity berbeda dari seks fisiknya.sejumlah anak. MFT berperilaku sebagai perempuan. jika seorang transseksual diminta menyelaraskan perilaku dengan bentuk fisiknya. petugas jenazah mendapati ia memiliki alat genital wanita. para pakar menganggap transseksual merupakan orang abnormal yang perlu disembuhkan dengan aneka terapi. namun biasanya mulai disadari dengan kuat menjelang remaja. kini disadari bahwa sex identity lebih kuat daripada kelamin fisik. identitas jenis kelamin adalah keyakinan mendalam pada seseorang tentang apakah dia itu pria atau wanita. Padahal. Sebaliknya. masyarakat sering menyalahkan. Brandon Teena dan Billy Tipton disebut female-to-male transsexual (FMT). melainkan perubahan fisik.

ada juga transseksual yang tertarik kepada kaum sejenis. transseksual yang terpaksa menutupi atau mengingkari jati dirinya bisa saja kelihatan sukses. Namun. kelebihan testosteron pada janin dengan kelamin fisik perempuan dapat menyebabkannya memiliki seks jiwa lelaki. atau status sosialnya. seperti berdandan terlalu mencolok. Namun. kecenderungan mencari pasangan. sejauh yang bersangkutan tidak melakukan hal-hal yang merugikan orang lain. karena mendapatkan dunia tetapi kehilangan dirinya sendiri. pekerjaan. Sebaliknya. sebagian besar transseksual masih belum diterima lingkungannya. perbedaan ini tidak dijadikan dasar untuk meminggirkan atau mendiskriminasikan mereka. Julie mengaku tetap tertarik kepada perempuan. yaitu terbuang dari lingkungannya atau berpura-pura menutupi jati dirinya. Kaum transseksual hanyalah orang yang berbeda. baik keluarga. memperlihatkan obsesi berlebihan terhadap . keyakinan. akan berpura-pura menjadi "lelaki biasa". maupun masyarakat. yaitu pada identitas seksualnya. Jutaan transseksual hidup dalam lorong kegelapan. tetapi dari hari ke hari ia hidup dalam kehampaan. Namun. kaum transseksual perlu menghindari perilaku yang menimbulkan citra negatif. diri sendiri itu adalah jati dirinya sesuai dengan sex identity yang dimiliki. mendapat perlakuan sederajat. Contohnya Julie Peters. Dengan demikian. bahkan oleh keluarganya sendiri. agar diterima lingkungannya. Selagi mayoritas warga bangsanya mensyukuri nikmatnya hidup di alam kemerdekaan. banyak transseksual belum dapat merasakan apa makna kemerdekaan itu sesungguhnya. yang memiliki jati diri perempuan. sekalipun berbeda. Pada pilihan kedua. Di lain pihak. transseksual tertarik terhadap lawan jenis sehingga mirip warga masyarakat umumnya. Lorong kegelapan? Seorang bijak pernah mengatakan. tetapi tidak mau menerima bahwa bagi transseksual. ia akan hidup dalam tekanan batin yang luar biasa dan tiada hentinya. politisi Australia. Setelah usia 40 tahun Julie memutuskan menjalani operasi dan menjadi perempuan. Variabel yang juga menentukan perilaku adalah orientasi seks. seorang MFT. Masyarakat demokratis mensyaratkan asas pluralisme dan egalitarianisme. menunggu kapan sinar terang akan muncul pada akhir lorong tersebut. "Apakah gunanya seseorang mendapatkan seluruh dunia tetapi kehilangan dirinya sendiri?" Banyak orang mengamini sabda tersebut. Setiap orang. sekolah. Namun. Umumnya. Para transseksual ini terpaksa memilih satu di antara dua pilihan yang sama pahitnya. yang terlahir sebagai lelaki tetapi memiliki sex identity perempuan. Seyogianya.fisik lelaki dapat menyebabkannya memiliki kelamin jiwa perempuan. sebab sebenarnya masih merupakan misteri. sebagaimana masyarakat juga tidak boleh mendiskriminasi orang yang berbeda warna kulit. Sungguh beruntung jika seorang transseksual diterima lingkungannya. Namun.

Sebagai akibatnya. Artikel mengenai buruknya perilaku perempuan yang adalah calon ibu marak di koran-koran baik nasional maupun lokal. Special Issue. termasuk juga bagi perempuan yang secara biologis belum menyandang predikat ibu. Prof Vern Bullough dari California State University. dan bahkan yang tidak relevan sama sekali seperti cerita tentang siapa yang menemukan mayat bayi-bayi malang tersebut. hujatan panjang di media massa pun diarahkan kepada perempuan. Bambang Suwarno Aktivis Perempuan dan Relasi Jender. Hari Ibu 1997 telah “dicemari” dengan ditemukannya banyak mayat calon bayi akibat aborsi ilegal.lelaki. ketika perempuan yang dihujat. Tinggal di Bengkulu Sumber Kompas Cyber Media Perempuan dan Media Massa (1) <center></center> Catatan kecil ini ingin ikut serta merayakan Hari Ibu 22 Desember 2003. dengan mengambil kasus lama yang terjadi di tahun 1997. sehingga dari lima artikel yang disoroti dalam tulisan ini. agar mereka dapat berdarma bakti secara optimal. Negeri ini sedang dilanda krisis multidimensi dan untuk mengatasinya diperlukan kerja sama seluruh komponen bangsa. menyatakan pemahaman terhadap kaum transseksual akan bermanfaat besar untuk memahami konsep jender secara lebih komprehensif. baik yang telah operasi maupun belum. Dan biasanya. masyarakat dapat menerima dengan wajar kaum transseksual. Dengan menarik perhatian publik untuk lebih memperhatikan cerita-cerita yang dibangun media yang lebih mengutamakan cerita kehidupan perempuan pelaku aborsi. Di tengah perdebatan apakah nama Hari Ibu bisa mewakili kepentingan semua perempuan. tulisan ini justru ingin memperbincangkan konstruksi makna ibu dalam media massa kita. Penting sekali agar para transseksual dapat membangun citra yang positif. sesuai jati diri yang mereka miliki. seperti telah diperlihatkan Mbak Dorce dan mendiang Billy Tipton. Lebih dari itu. dan bukannya mempertanyakan siapa laki-laki yang bertanggung jawab atas keberadaan calon bayi . Semoga seiring dengan meningkatnya pemahaman. dan menjadi pekerja seks komersial. di antaranya lewat prestasi. klinik-klinik aborsi ilegal. dalam "Transgenderism and the Concept of Gender" (International Journal of Transgenderism. maka laki-lakilah yang menjadi penghujatnya. hanya satu yang ditulis oleh perempuan. hal yang sangat diperlukan guna membangun masyarakat dunia yang lebih manusiawi. Media massa yang mengeksploitasi peristiwa tersebut rasanya telah memojokkan perempuan. tahun 2000).

tetapi juga kewajiban perempuan untuk menjaga nilai-nilai moral yang dianut lingkungan sosialnya. bagaimana perempuan seharusnya bereaksi? Bagi mereka yang memilih untuk tidak menjadi ibu dengan cara tersebut mungkin akan merasa malu karena perbuatannya sudah dipublikasi. bahkan dikatakan sebagai senjata kelompok marginal untuk mendapatkan posisinya. ada suatu pembagian yang sangat tidak seimbang antara perempuan dan laki-laki. Salah satu dari artikel yang menjadi sorotan dalam catatan ini.tersebut. sebagian mungkin merasa bebas untuk memilih melakukannya sedangkan yang lain mungkin tidak punya pilihan lain. misalnya mempertanyakan penolakan perempuan untuk menjadi ibu sementara predikat tersebut masih dianggap sakral. media telah dengan sewena-wena membela kepentingan laki-laki. media massa memberikan aplaus . Karena kita hidup dalam budaya yang tidak memungkinkan kita untuk “bergender netral” seperti yang dikatakan oleh feminist Perancis Susan Bordo dalam artikelnya “Feminism. Di satu sisi. Postmodernism. maupun dikorbankan? Tentu saja ada banyak alasan bagi perempuan untuk melakukan aborsi. jika media massa di satu sisi mempromosikan nilai-nilai “kesejajaran” antara laki-laki dan perempuan. memilih untuk menjadi atau menolak menjadi ibu tidak hanya berurusan dengan fungsi biologis perempuan saja. Ironisnya. Apakah sebagian yang lain yang menilai sucinya posisi ibu akan tersentuh dengan kenyataan bahwa secara biologis sebenarnya mereka mampu menghadirkan sebuah kehidupan baru tetapi lebih memilih untuk tidak melakukannya? Apakah yang lain akan merasa diobjektifikasi. kabar menghebohkan dari Jakarta soal keberanian sejumlah wanita yang menolak menjadi ibu manusia melalui cara-cara yang menyinggung perasaan sosial … apakah sebutan “ibu” tidak lagi sesakral dan seterhormat yang kita ketahui sehingga mesti ditolak?”(3) Membaca kalimat tersebut.(5) Ketimpangan jumlah antara jurnalis perempuan dan laki-laki tentu tidak dengan sendirinya menjawab pertanyaan kenapa media kita begitu seksis. “Kendati bukan perilaku baru. Yang pasti. sebagai agen dari propaganda adil gender. dituduh. di sisi lain masih juga menjalankan praktek-praktek obsolit. mana ada media yang juga tidak bergender?(2). Apakah ini karena media massa masih belum kuat betul atau cukup dewasa untuk membebaskan dirinya dari pelukan “diskriminasi gender” yang tiada akhir?(4) Atau memang karena mereka sendiri pada dasarnya bersifat diskriminatif terhadap perempuan? Jika kita menilik figur angka pelaku media massa. Belum tentu jurnalis perempuan sudah memiliki perspektif gender dalam menurunkan tulisan dan menilai permasalah sosial yang dihadapinya. Apakah catatan ini sudah demikian prejudis mencurigai adanya konspirasi antara laki-laki dan media massa? Jika dilihat dari perilaku media. and Gender Skepticism” (1990). rasanya tidak berlebihan untuk meragukan sifat pembebasan media yang selama ini didengung-dengungkan.

bahkan membanting nilai kemanusiaan mereka di bawah nilainilai produksi dan pasar. media massa telah menjadi tidak lebih sekedar perpanjangan penindasan laki-laki terhadap perempuan. Lalu kembali lagi peran rumah tangga ditekankan.” (6) Secara arogan. karena pembagian posisi peran lakilaki dan perempuan yang jelas dan tertib bisa mendukung suksesnya program-program pemerintah. “… kesempatan pun tidak banyak buat wanita untuk berperan di luar rumah. bisa jadi membingungkan perempuan dalam menentukan posisi mereka. tentu saja didukung oleh institusi yang bernama negara. tahun 1993. tentu saja dengan menggunakan perspektif media massa yang maskulin. betapapun dikotomi publik-domestik masih bisa diperdebatkan. Tarik ulur antara meraih dunia publik dan mempertahankan dunia domestik. (9) Pada saat media massa menghujat peran perempuan bekerja. Dalam hal ini. sebagai “lawan jenisnya”. Apakah mereka harus kehilangan hak-hak istimewa (privilege) yang sudah terlegitimasi hanya untuk satu posisi yang tidak jelas jika mereka harus memasuki dunia asing yang dinamakan ranah publik? “Peradaban milenium ketiga hanya bisa berharap agar kaum wanita memilih untuk tidak gagal menjadi ibu anak-anak zaman.(8) Hal ini tentu bukan hanya hasil patrimoni dari imperialisme dan kolonialisme. bukankah diskriminasi gender sudah ada bahkan sebelum era modernisme? Model produksi kapitalisme bukankah “hanya” memanfaatkan ketimpangan gender itu yang kemudian. media menganggap bahwa keberhasilan perempuan di ranah publik tidak lebih sekedar cerita sukses negara untuk mengeksploitasi mereka dalam mendorong pembangunan nasional. masyarakat. Seringkali media massa menulis bahwa partisipasi perempuan di dunia publik hanyalah bukti kejahatan kapitalisme yang mendehumanisasi mereka. walaupun kedengaran tidak sesuai dengan slogan kesejajaran. media massa. untuk tetap tinggal “terdomestikasi” dengan meragukan kemampuan mereka untuk berkarya di dunia publik. terutama “kaum perempuan” dan “kaum buruh” . di sisi lain mereka menuntut perempuan. Dalam mengenangkan kasus Marsinah. mengaku memiliki hak untuk menentukan apa yang harus dilakukan atau tidak seharusnya dilakukan oleh perempuan. Secara sinis (atau karena cemburu?) dan dihantui oleh kontra-hegemoni kultural dan material yang dimiliki perempuan.pada slogan “peran ganda perempuan modern”. semakin mempertajam segregasi ranah publik-domestik. mereka memuja-muja peran ibu sebagai faktor penentu dari masa depan bangsa dengan mempersiapkan keturunan mereka dalam menghadapi era tinggal landas.(7) Namun. Gagasan bahwa rumah tangga adalah urusan perempuan. tetapi lebih merupakan transformasi yang muncul karena keterlibatan semua faktor ini yang terus direproduksi karena telah terbukti menguntungkan sebagian pihak yang kebetulan semakin berkuasa. karena reproduksi pola yang terus menerus."(10) Karakterisitik media massa yang manipulatif seringkali juga merugikan perempuan jika kasus-kasus yang diangkat melibatkan perempuan.

dan pada akhirnya meminta penghargaan dalam bentuk fasilitas untuk menstimulasi keberhasilan yang lebih baik lagi. Tidak terelakkan juga analisa politik bahwa pembunuhan Marsinah ini adalah panggung cerita konflik antara laki-laki yang direpresentasikan oleh orang-orang yang berkuasa sebagai “pembunuh” dan perempuan diwakilkan oleh Marsinah sebagai “terbunuh”. Akhir cerita berubah menjadi kabur dan hanya media massa yang sadar akan substitusi antara apakah yang sesungguhnya (real) dan reproduksi dari yang sesungguhnya (hyper-real). peserta kontes yang tidak terdaftar. Reproduksi berita-berita dan spekulasi media massa yang ditampilkan secara berulang-ulang telah menghasilkan versi-versi yang semakin fantastis. apakah mau secara naive terbawa arus dan mempertahankan “hegemoni kultural” yang terus-menerus dan mendapatkan penghormatan sebagai “ratu rumah tangga”. Dengan malu-malu mereka mempertontonkan pencapaian mereka dan menentukan sendiri standar keberhasilannya. pacar. atau sebaliknya bersikap radikal manghadapi ketidakadilan ini dan dengan sadar menerima label “pemberontak”. Namun penulis berpikir. Alhasil media massa telah menciptakan skenario mereka sendiri tentang perang gender yang tidak pernah berakhir. atau karena kecurigaan adanya praktek-praktek kekuatan politik di belakang pembunuhan ini? Media massa telah mengeksploitasi seluruh kehidupan masa lampau Marsinah. Dalam ketimpangan relasi gender inilah. Kita mungkin tidak pernah tahu apakah sikap kritis Marsinah adalah perwujudan dari kesadaran politisnya atau hanyalah pertahanan dirinya menghadapi kesulitan hidup sehari-hari. media massa-lah yang melahirkan “reproduksi” dari sosok Marsinah. meminta-minta pengakuan dari laki-laki.(workers and women)(11). perempuan seringkali menjadi kikuk dan rapuh menghadapi semua tantangan ini. Siapakah yang memenangkan kontes ini? Nampaknya justru media massa. karena siapa dia sebelum kematiannya bukanlah “berita yang pantas dipublikasikan”. yang mempunyai kekuasaan untuk membentuk bagaimana cerita harus berakhir. konflik kelas. mencampuri kehidupan keluarganya. Media massa menggunakan “kematiannya” dan bukannya kehidupannya yang singkat sebagai bahan berita. teman-teman. bagaimana jika Marsinah bukan seorang perempuan melainkan laki-laki? Bukan Marsinah tetapi Marsono? Apa yang sebetulnya menarik perhatian media massa tentang skandal ini? Apakah pembunuhannya. . tetangga. Sayangnya. Ketika cerita-cerita tentang buruh perempuan menampilkan nama-nama lain. berterimakasih kepada media massa karena mereka telah secara terus menerus melaporkan kasus tersebut dan menarik perhatian internasional terhadap stigma tersebut. perempuan ditantang untuk menentukan posisinya. atau juri.(12) Secara tidak sadar hal ini mempertahankan “ketergantungan terwariskan” pada perempuan terhadap laki-laki. apa yang terjadi jika Marsinah tidak terbunuh? Atau pertanyaan yang lebih seksis. Mereka telah membawa nama Marsinah ke posisi terpopuler dan paling banyak dibicarakan hanya setelah kematiannya. apakah isu gendernya. dan meramu serta menyajikan semua ini dengan terminologi-terminologi politik yang susah dipahami.

dan bukan hanya yang telah dan bersedia menjadi ibu saja? Wiwik Sushartami adalah Pemerhati masalah gender dan media. enam tahun sejak kasus aborsi masal tersebut meledak. atau setidaknya empati terhadap perempuan. mulai dari kasus TKW sampai dengan pornografi. menyusui. justru pembagian “ruang” inilah satu-satunya gagasan yang masih susah untuk diserahkan oleh laki-laki. semoga tulisan ini tidak terlalu skeptis dan pesimis dengan menanyakan satu pertanyaan akhir yang belum juga terjawab. apapun yang mereka lakukan. perempuan mampu untuk membebaskan diri mereka dari “alienasi” terhadap tubuh dan kehidupannya sendiri. sebagai penerus aspirasi masyarakat. dimana media massa mempunyai akses bebas terhadap sumber-sumber berita dan kebebasan mengemukakan gagasannya. jika tidak diskriminatif gender sebetulnya adalah alat yang bisa diandalkan bagi perempuan untuk menyuarakan kepentingan mereka. Sebab. dan kecenderungan media massa untuk menampilkannya dalam berita dengan bahasa-bahasa dan analisa yang melecehkan dan tidak berpihak pada perempuan. Hanya melalui kesadaran inilah.(14) Media massa. apakah mungkin “pesannya” menjadi lebih adil terhadap perempuan? Dan satu lagi. Namun. melahirkan. Belanda Catatan Belakang (1)Dua koran lokal yang dibahas dalam tulisan ini mengacu pada isu-isu nasional . tidak hanya pengalaman yang sama melainkan juga yang berbeda-beda dan personal. Namun demikian. “Ruang” dimana mereka bisa belajar memahami pengalaman mereka. melainkan “ruang” yang dapat membantu perempuan menjadi tumbuh. bukankah Hari Ibu intinya memperingati semua perempuan. yaitu jika “medianya” saja sudah tidak sensitif gender.“Memperingati hari yang sering disebut hari permuliaan kaum ibu ini. Sama susahnya untuk merelakan 30% posisi calon legislatif pada perempuan.” (13) Bukanlah pernghargaan maupun pengakuan yang seharusnya diminta perempuan. sedang menyelesaikan studi di Universitas Leiden. Harapannya adalah. yakni hamil. dewasa dan berpikir lebih rasional dengan kesadaran mereka sendiri. kasus aborsi tidak bisa dipisahkan juga dari perilaku laki-laki. Perwujudan dari rasa terima kasih itu bisa berupa pemberian kesempatan untuk berkarya cipta seperti kaum pria. adalah saat yang paling baik untuk berterima kasih atas jasa-jasa ibu dalam melaksanakan tugas kodraatinya. dengan melihat begitu banyaknya kejadian yang menimpa perempuan sepanjang tahun ini saja. tidak tanpa dominasi. semoga saja ada lebih banyak suara yang mendukung. jika isu yang sama muncul kembali. Apalagi di era reformasi sekarang ini.

23 December 1997. Chapman & Hall. NUS.). hal. dan tidak mencoba memaknai ulang nilai-nilai femininitasnya sesuai dengan nilai-nilai . Power. (New York: the Continuum Publishing Company. 11-13 Agustus 1997 (10) Abdul Munir Mulkham.1990) (3)Mutrafin. 22 December 1997. “Perempuan Dalam Strategi Pengembangan Sumber Daya Manusia”. hal 4 (4)Omi Intan Naomi menuliskan bahkan jurnalisme Amerika. Concealing Politics. (9) Maila Stivens dalam G. (2) Susan Bordo. (5) Secara keseluruhan hanya ada 8. “Anak Tekhnologi Mencari Ibu”. Inc. Kedaulatan Rakyat. “Otak dan Watak Terdidik Ibu Manusia”. (12) Katharina Graham mencatat beberapa kesalahan tipikal yang dibuat oleh perempuan.76. Linda J. (London: Routledge. yang sudah seratus tahun lebih usianya saja sampai tahun 1990an masih menganut sistem gender yang timpang. hal 105. Dia bekerja di pabrik komponen jam tangan di Jawa Timur dan dibunuh setelah keterlibatannya dalam protes menuntut pembayaran tambahan.G. Nicholson (Ed. (ibid. Postmodernism. dalam Feminism/Postmodernism. 19 December 1997. paper yang disampaikan dalam International Conference on Women in the Asia-Pacific Region: Person. hal. Jadi masuk akal juga jika jurnalisme Pancasila yang kita punyai juga masih kental dengan bias gender. 4 (7) Achmad Zaini Abar.. and Gender Skepticism”. hal. 23 December 1997. Lihat Weix. Dalam “Wartawati Herstory”. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset. Revealing Women: Gendered Icons of Labor in Indonesia.sehingga bisa menggambarkan juga suasana nasional. 4 (11) Marsinah berumur 23 tahun ketika dibunuh. Feminist Theory: The Intellectual Traditions of American Feminism. Bernas. 4 (8) Michael Barrett dalam Josephine Donovan. Kedaulatan Rakyat.: 104) (6) P. yaitu meminta perlakukan khusus untuk perempuan. “Kembalikan Peran Wanita Sebagai Ibu Rumah Tangga”. Sangkan Paran Gender. “Feminism. 1997). menentukan sendiri standar kesuksesan mereka yang lebih sering tidak sesuai dengan standar laki-laki.Weix.6% jurnalis perempuan di Indonesia pada tahun 1994 menurut Serikat Jurnalis Indonesia. hal. Bonnie Kertaredja. Irwan Abdullah (Ed). and Politics. Kedaulatan Rakyat. 1997).

Tiga yang lainnya adalah relasi langsung antara perempuan dan akses produksi. (13) Widyastuti Purbani. Semua ini tentu tidak lepas dari motif-motif politik-ideologis tertentu dibalik penyajian tersebut. Iklan kosmetik mengiklankan tentang kulit putih mulus dan tubuh langsing ideal perempuan. hal. adalah salah satu filsuf postmodernis yang menawarkan analisis tentang motif-motif tertentu pada suatu media atau teks.22 December 1997. Foucault mengatakannya sebagai “produksi kekuasaan”. Produksi Kekuasaan Michel Foucault. Bagaimana menganalisa masalah ini? Sebagaimana Sara Mills. Alasannya. rambut lurus hitam adalah nilai yang disampaikan penonton bahwa rambut seperti demikian yang ideal bagi perempuan. Lihat. dan peran keluarga dalam sosialisasi ideologi. Kebebasan ini bagaikan sebuah representasi hak otonom publik untuk memilih bentuk sajian media yang mereka sukai. Bernas. titik perhatian utama saya adalah pada wacana feminisme. adalah iklan kosmetik dan minyak goreng. Lihat Naomi. Menyaksikan iklan shampo. 76. Bahwa kekuasaan tidak bertumpu pada satu titik sentral termasuk tidak hanya pada pihak-pihak yang dominan. hal.maskulinitas. melainkan tersebar di seluruh masyarakat . 4 (14) “Alienasi” dan “gagasan tentang praksis” adalah dua dari lima fokus utama dalam feminisme sosialis kontemporer. seperti halnya pendapat Eriyanto (2001) banyak tayangan ataupun bacaan di media yang melibatkan perempuan dan yang terbanyak tentu saja adalah tayangan iklan. 125. Melihat Kembali Gereget Peringatan Hari Ibu. Sebagai contoh yang paling mudah.hal. Contoh sederhana adalah tayangan iklan. Iklan yang ditayangkan terus menerus berpotensi menggiring penonton untuk “harus” mengikuti standar-standar nilai yang disematkan. kita lupa dengan terjadinya “penyeragaman” dalam tayangan ataupun bacaan itu sendiri yang berakibat pada memaksa penonton untuk mengikuti apa yang si pembuat media inginkan. Namun dibalik itu. Membongkar Stereotipe<center></center> Publik kini bebas memilih dan menikmati tayangan ataupun bacaan di berbagai media. hubungan antara perempuan dan kelas. Donovan. Sumber: Jurnal Perempuan Online Membangun Resistensi. Iklan tentang minyak goreng adalah contoh lain tentang nilai-nilai domestifikasi perempuan sebagai pihak yang harus bertanggungjawab atas segala kesehatan suaminya.

Iklan. yang lain berkulit putih. tetapi dalam bentuk strategi. individu didefinisikan. yaitu melalui wacana. “kulit putih”. langsing. terdapat kata-kata.”Lost the weight. Atau iklan tentang tubuh ideal perempuan langsing dan tinggi. Melalui iklan. bertuliskan “Yes! Turunkan berat badan anda hingga 5 kg perminggu!” Katakata itu menunjukkan bahwa menjadi kurus adalah kegembiraan dan kepuasan. digiring untuk menjadi ramping. bahwa tubuh ideal perempuan seperti pada perempuan yang menjadi model iklan Tropicana Slim. salah satunya yaitu untuk mencapai target penjualan produk (Eriyanto. atau iklan The Cambridge Diet yang menuliskan kata-kata. Iklan yang membenarkan “kulit putih lebih cantik daripada kulit hitam” tidak dibentuk dengan reproduksi kekuasaan represif. Foucault menegaskan persoalan ini sebagai kekuasaan atas kehidupan modern atau kapitalisme. Fotografer si lelaki tampan itu memilih membidik kameranya kepada si gadis yang berkulit putih. Kuasa bukanlah milik raja. presiden. Atau pada iklan minyak goreng. bukan tubuh fisik lagi yang disentuh kuasa. yang mencuat terus menerus sehingga secara tidak sadar masyarakat menganggap tubuh perempuan yang ideal dan normal adalah. atau pejabat. Kekuasaan tidak bekerja melalui penindasan atau represi. yang satu berkulit gelap. Atas hal ini. gadis berkulit lebih gelap berwajah murung. boss. iklan Pond’s yang pernah ditayangkan di media televisi jelas menunjukkan bahwa kulit putih lebih baik daripada berkulit gelap.2001). yaitu perempuan cantik adalah yang berkulit putih dan lelaki normal adalah yang menyukai perempuan berkulit putih. Iklan bukan lagi menjadi pelayanan terhadap konsumen.”jangan-jangan kolesterol suamiku tinggi karena aku salah pilih minyak goreng”. Sebagai contoh. adalah salah satu tayangan media yang menyebarkan kuasa (strategi) tentang normalisasi tubuh perempuan. “rambut lurus hitam panjang”. Disini tengah berlangsung bergulirnya strategi kuasa yang diproduksi terus menerus. 2001). Perempuan kemudian diatur. Jelas sekali adanya domestifikasi . dan berambut lurus. not the fun …” dengan lingkaran merah besar yang menutupi sebagaian tubuh ramping kurus perempuan bule yang sedang melompat. pikiran.(tidak ada seorang pun yang memilikinya) (John Lechte. Dalam iklan tersebut ditampilkan seorang fotografer mengambil ancang-ancang membidik dua gadis kembar. melainkan jiwa. Wacana yang dihembuskan ini secara perlahan-lahan menciptakan kategorisasi. kemudian berusaha memutihkan kulitnya dengan harapan lelaki itu memperhatikannya. dibentuk. Mengetahui hal itu. berkulit putih. melainkan menormalkan individu agar perilakunya sesuai dengan yang diinginkan si pembuat iklan. melainkan melalui reproduksi kreatif. kesadaran dan kehendak individu. diciptakan. Produksi kekuasaan yang terjadi kemudian adalah munculnya strategi untuk menghembuskan wacana “langsing”. melainkan melalui normalisasi yang positif dan produktif. seperti perilaku baik atau buruk yang sebenarnya mengendalikan perilaku masyarakat yang pada akhirnya dianggap kebenaran yang telah ditetapkan.

Masyarakat kemudian menginternalisasi “istri ideal” adalah seperti itu. yaitu suatu konsep sosial yang berhubungan dengan pembedaan (distinction) karakter psikologi dan fungsi sosial antara perempuan dan laki-laki yang dikaitkan dengan anatomi jenis kelaminnya (sex). Ia menyebutnya sebagai suatu pencerahan terhadap kapitalisme (Adriana Venny. Roddick sampai bersusah payah membuat maskot “The Body Shop” serupa boneka Barbie tetapi bertubuh besar. Mansour Fakih bahkan . berambut ikal dengan kulitnya yang berwarna. Wacana dominan ini menggeser atau memarginalkan wacana lain yaitu bagi perempuan-perempuan yang tidak berkulit putih dan tidak bertubuh langsing. Bagaimana mungkin kulit hitam bisa menjadi putih hanya dengan kosmetik? Lagipula wacana dominan ini mengandung pelecehan terhadap ras yang berkulit hitam. Istri ideal adalah yang terus merasa bersalah bila terjadi sesuatu pada suami mereka. Akibatnya adalah perempuan yang tidak bertubuh langsing dan tidak berkulit putih kehilangan kepercayaan atas tubuhnyadan kehilangan identitas karakter tubuhnya sendiri. Resistensi Perempuan Melalui Media Seni Sangat memprihatinkan bila perempuan-perempuan yang tidak bisa mencapai wacana dominan tentang tubuh ideal tadi membuat mereka terobsesi dan memaksakan diri dengan berbagai upaya yang bahkan bisa membahayakan mereka. yaitu konsep yang mencakup seks dan gender dimana seks adalah indentifikasi untuk membedakan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologi (jenis kelamin) yang lebih digunakan untuk persoalan reproduksi dan aktivitas seksual(Suzanne dan wendi. Misalnya perempuan dijelaskan berkarakter baik bila ia sebagai ibu rumah tangga atau istri yang baik (seperti pada iklan minyak goreng). Berbagai upaya mengimbangi wacana dominan ini seperti yang dilakukan Dewi Huges atau Anita Roddick yang peduli terhadap masyarakat pedalaman dengan melihat kecantikan perempuan Afrika pada akhirnya tidak mampu mengalahkan wacana dominan tadi. Iklan itu menunjukkan adanya bias dalam menampilkan perempuan dimana istri cenderung ditampilkan sebagai pihak yang salah. Wacana tubuh perempuan yang tidak dominan ini diabaikan (left out).1989) Stereotipe tidak lepas kaitannya dengan seks dan gender. Langsing putih dan berambut lurus menjadi wacana dominan perempuan ideal di masyarakat kita. Masihkah kita perlu membanggakan diri atau bersedih hati karena kulit kita? Iklan-iklan yang memelihara nilai-nilai seperti itu sesungguhnya menumbuhkan stereotip baru terhadap perempuan. sedangkan laki-laki berkarakter baik bila ia sebagai individu di atas dunia yang lebih luas (Tierney).1997) sedangkan gender menjelaskan adanya pembedaan laki-laki dan perempuan yang dilihat dari konstruksi sosial-budaya.(Elaine.2000).perempuan bahwa istrilah yang harus bertanggungjawab bila suaminya terkena penyakit tertentu.

Stereotipe: Wacana Dominan. dapat disimpulkan bahwa tampaknya perempuan dalam media ditempatkan sebagai yang abstrak. hasrat dan daya pikir laki-laki. Iklan-iklan yang membuat standar tubuh perempuan ideal membuktikan bagaimana laki-laki (lebih banyak dibagian produksi iklan) menciptakan perempuan untuk sesuai dengan fantasi mereka tentang “perempuan sexy atau cantik”. Roekmini. yang akibatnya terjadi diskriminasi dan ketidakadilan(Fakih 1997). dekat dengan alam. Seperti yang dialami pelukis Lucia Hartini dan Kartika Affandi Koberl. Intelligible/palpable Man/woman” (Priyatna 2000) Masyarakat manapun. yang bisa dibentuk sebagaimana yang diinginkan laki-laki. stereotip oposisi biner menempatkan perempuan pada posisi yang dirugikan dimana ini terjadi pula dalam media seni.lebih jelas mengatakan bahwa stereotipe adalah pelabelan negatif terhadap jenis kelamin tertentu. kurang cerdas). palpable).(Swara Harian Kompas. termasuk Indonesia masih memegang stereotip bahwa laki-laki berada di wilayah kiri (aktif. Dalam Sorties.” Antiphanes seorang dramawan komedi Yunani juga mengatakan. Ketika menjadi pelukis. perempuan adalah obyek yang pasif. mereka dianggap “sinting” atau aneh oleh masyarakat sekitarnya. Hélén Cixous menulis hirarki oposisi biner yang selalu menempatkan dua hal dalam relasi yang superior-inferior seperti “Activity/passivity. cerdas) sedangkan perempuan di wilayah kanan (pasif. Wacana dominan yang berwajah stereotipe ini memagari perempuan sehingga mereka tidak mampu mengekspresikan dirinya. Perempuan yang “dikerjakan” dan lelakilah yang mengerjakan. Head/heart.1996). Seperti Basuki Abdullah seorang pelukis terkenal pernah berkata. karena ada stereotipe dimana ibu rumah tangga seharusnya mengurus rumah tangga. sekitar tahun 1901 bahwa saudara perempuannya yang bernama Roekmini ingin menjadi pelukis di akademi senirupa di Den Haag. Dalam suratnya.” Penyair metafisis Inggris pada sekitar abad 17 bahkan menggambarkan perempuan itu cuma kata-kata (passivity. Tidak hanya iklan.”Perempuan itu lebih cocok untuk dilukis daripada sebagai pelukis. tetapi tradisi tidak memberi tempat kepada anak perempuan diluar lingkungan rumah. Atas hal ini. Wacana Oposisi Biner Stereotipe terhadap perempuan seperti lebih mudah dijelaskan dengan bertitik tolak pada wacana oposisi biner yang menempatkan perempuan pada posisi yang negatif dan tak berdaya. rasional. sedangkan laki-laki adalah penciptanya. Dalam media ini perempuan adalah obyek yang dikreasikan atau diciptakan oleh keinginan. Culture/nature. intelligible). Adanya stereotipe bahwa perempuan tidak boleh di luar lingkungan . kecuali dibangkitkan lawan kesenian oleh pria. sedang perbuatan adalah pria (activity.”Perempuan tak akan hidup lagi setelah kematian. emosional. beradab. bukannya melukis (Bianpoen. sedangkan pria itu konkrit. 1999). Model-model perempuan adalah obyek yang dikreasi untuk mencapai fantasi tersebut. Kenyataan bahwa perempuan dalam media seni tidak diterima sebagai subyek sebetulnya sudah dialami oleh Kartini dan adiknya.

”’Saman”. Seperti apa yang dikatakan Imanuel Kant bahwa “seni murni adalah seni para genius”. Akibatnya. Perempuan dalam lukisan itu berani dengan tinju terkepal. buah pikiran Ayu Utami dicurigai sebagai buah pikiran laki-laki. Dalam lukisannya itu Lucia Hartini telah mendobrak adanya stereotipe dengan menempatkan perempuan sebagai manusia berani dan aktif. yang isinya mengasumsikan bahwa fragmen dari novel itu benar-benar mengundang libido pembaca (dalam hal ini berarti libido laki-laki) dengan menempatkan Ayu Utami sebagai obyek berita yang sensual. Ayu Utami penulis novel Saman sebagai pemenang juara pertama sayembara roman DKJ 1997-1998 sempat dicurigai bahwa itu bukan karyanya. Di ranah seni rupa. Aturan-aturan itu diberikan oleh alam melalui para genius. . Itu berarti bahwa seni tidak dapat diatur oleh adanya stereotipe ataupun konstruksi sosial yang menempatkan perempuan pada posisi yang dirugikan. Begitupula di bidang sastra. otot-otot lengan yang kencang dengan sebelah matanya keluar cahaya tajam yang menembus mata-mata yang sedang mengintip. Dalam Srikandi (1993) Lucia Hartini melukis perempuan yang diletakkan sebagai subyek. 1998) Membongkar Stereotip Melalui Media Seni Stereotip memang sangat merugikan perempuan yang tidak hanya dalam iklan tetapi juga masuk ke wilayah seni. bukan karya sastranya. Dalam media seni kita bisa menemukan semangat kebebasan dibandingkan dengan media iklan. dan masyarakat lebih percaya bila kesuksesan sebuah karya seni ada di tangan laki-laki (stereotipe). Namun. Puas tapi Minta Tambah”. Garis-garis kuasnya menaruh kontemplasi dan ekspresi perasaan yang sangat kuat. (Suara Pembaharuan. Lucia Hartini dan Kartika Affandi Koberl akhirnya mengalami kesuksesan terutama karya mereka yang sangat feminis. yang dianggap lebih mungkin dan masuk akal. dibandingkan dengan media iklan. Ada faktor ketidakpercayaan masyarakat dengan mempertanyakan bagaimana mungkin perempuan dapat mencapai kesuksesannya di bidang sastra. Hans Georg Gadamer pernah mengatakan bahwa tidak ada aturan-aturan seni yang bersifat universal. Kecurigaan tersebut bisa kita lihat di beberapa media massa dan gunjingan di sekitar kelompok-kelompok sastra. Seperti dalam surat kabar Suara Pembaharuan. dituliskan judul yang sangat melecehkan.rumah mengakibatkan Roekmini tidak pernah mendapat kesempatan belajar seni rupa seperti yang pernah dicita-citakannya (Bianpone.1996). melainkan tulisannya Goenawan Muhammad. Demikian pula Kartika Affandi Koberl dalam karyanya Potret Diri yang lebih menggambarkan integritas perempuan gigih dan kuat dalam menghadapi kesulitan hidup. media seni ternyata dapat juga menjadi alat untuk mendobrak stereotipe itu sendiri. Tidak ada aturan seni yang menempatkan perempuan harus sebagai obyek.

Di dalam novel-novelnya selalu ia tanamkan tentang karakter perempuan mandiri. Sumber: Jurnal Perempuan Online . sehingga kami kepingin berkelahi. Ia seorang aktris yang mencoba melakukan perlawanan kepada cara pandang masyarakat terhadap perempuan yang selama ini sangat stereotipe. aku menganggapnya persundalan yang hipokrit. kataku. Itu dinamakan perkawinan. Mendengar itu Yasmin marah sekali. 2001) Penutup Bahwa perempuan dalam media bisa menjadi obyek yang dieksploitasi. Mereka cuma menginginkan keperawanan. Perempuan akan memberikan tubuhnya pada lelaki yang pantas. Koordinator Jurnal Perempuan dan Jurnalis Radio Jurnal Perempuan di Yayasan Jurnal Perempuan. pada akhirnya yang salah adalah Tuhan. tapi kukatup mulutku rapat-rapat karena aku tak ingin kembali bertengkar. Ia juga memberontak terhadap stereotipe keperawanan perempuan. (Utami. “Dengar kawan-kawan. * Mariana Amiruddin. dan akan pergi setelah si wanita menyerahkan kesucian … Tiba-tiba aku ingin berteriak. Perempuan yang mengejar-ngejar lelaki pastilah sundal. Laila melerai dengan usul menyisihkan dulu perkara itu.(Bimo Nugroho. dia menjadi orang besar yang dihargai oleh orang lain sebagai perempuan perkasa yang memiliki cita-cita mulia. dan lelaki itu akan menghidupinya dengan hartanya. Bisma Al Huseini dari Mesir melakukan pemberontaknnya lewat media teater. dibentuk dan diciptakan tubuhnya oleh imajinasi keinginan pria. Sebab menurutku yang curang lagilagi Tuhan: dia menciptakan selaput dara. ketika dewasa. “Hanya lelaki yang boleh menghampiri perempuan. dan laki-laki sebagai obyek yang dipandang. 1998) Dalam ranah teater atau drama. Ayu Utami yang ditimpa gunjingan sana-sini juga tidak mengurangi kesuksesannya. sebab menurut dia musuh kita adalah laki-laki… Apa salah laki-laki? Jawab Laila: sebab mereka mengkhianati wanita. tapi tidak membikin selaput penis”. jika agama dipakai untuk urusan ini. Sejak itu posisinya menguatkan perempuan lain untuk ikut berteater sebagai usaha perlawanan mereka. 1998) Ayu Utami juga menggugat stereotipe masyarakat tentang hubungan lelaki dan perempuan. (Utami. yaitu perempuan sebagai subyek yang memandang. Kelak. tetapi di lain hal perempuan dapat menggunakan media itu sendiri sebagai sarana resistensi untuk membongkar stereotip bila perempuan itu sendiri bisa menciptakan apa yang benar-benar ia inginkan atas tubuh. Tetapi ketika ke Beirut. Dialah perempuan yang memimpin teater dimana pada awalnya tidak didukung oleh siapa pun. jiwa dan pikirannya sendiri.Di ranah sastra.

Apakah terjadi di makam pahlawan di kota-kota lain? Juga. Mary Astuti (2000) menunjuk para guru sebagai pendidik di sekolah kurang mempunyai pengalaman dalam menanamkan nilai-nilai baru dalam hubungan heteroseksual dalam pengasuhan anak di sekolah. Kesadaran mesti dimulai dari keluarga dan ditumbuhkembangkan di sekolah. karena suaranya keras. Anak laki-laki. Anak perempuan diberikan materi memasak atau menari sehingga mereka bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik atau bisa menjadi penghibur. Bisa jadi putri saya tidak bermaksud protes lewat pertanyaannya tersebut. ya. Jurug. putri kecil saya mungkin sekarang sudah lupa dengan pertanyaannya. inilah awal tumbuhnya kesadaran akan kesederajatan laki-laki dan perempuan. bisa ditafsirkan adanya supremasi laki-laki sekaligus mengabaikan perempuan dalam perjuangan memerangi penjajah. Mereka tidak menyadari murid perempuan juga . sedangkan anak perempuan akan menjadi ibu rumah tangga. Pun. menjadi pemimpin masyarakat. Solo. enggak ada nama ceweknya. selalu dipilih sebagai pemimpin upacara. bisa benar bisa tidak karena tidak sempat menanyakan kepada kantor penjaga makam pahlawan tentang jumlah pahlawan laki-laki dan perempuan di sana. Kalau taman makam pahlawan yang ada hampir di setiap kota atau kabupaten dibangun sebagai bagian tidak terpisahkan dari sejarah perjuangan bangsa ini. Pembedaan perlakuan antara murid perempuan dan murid laki-laki juga terjadi pada upacara-upacara yang digelar di sekolah. Kelak putri saya mungkin akan merumuskan pertanyaan lain tentang apakah yang berjuang melawan penjajah hanya laki-laki. Bahwa semua yang dimakamkan sebagai pahlawan di sana tidak ada yang putri. mereka yang dimakamkan di taman pahlawan. Pak?" Pertanyaan tersebut meluncur dari mulut putri kecil saya yang masih duduk di kelas satu sekolah dasar (SD) ketika mengunjungi Taman Makam Pahlawan Kusuma Bakti. lantas siapa yang memasok makanan atau mengobati yang terluka? Untuk situasi masyarakat pada zaman kini. tetapi saya sebagai bapak akan mengingatnya sebagai saat penting seorang anak menunjukkan "kekritisannya". PENDIDIKAN yang memperhatikan kesetaraan jender di sekolah-sekolah masih jauh dari yang diidealkan. di samping sekaligus pelestari budaya bangsa. sama sekali tidak terlintas dalam pikiran saya seumur-umur mengenai laki-laki atau perempuan.Mengajarkan Kesetaraan Jender<center></center> KOK. Anak laki-laki akan diberikan pelajaran silat atau bela diri supaya mempunyai rasa percaya yang lebih besar karena dia akan menjadi kepala keluarga. sungguh mati. Mereka masih memiliki pola berpikir bahwa laki-laki akan menjadi pemimpin.

kepemilikan tanah. Buku-buku pelajaran pun masih menunjukkan adanya ketimpangan jender. atau militer masih dilekatkan pada laki-laki. kasar. KEMBALI pada pertanyaan putri saya pada awal tulisan ini. Profesi polisi. Pemahaman kesetaraan jender. Sumber: Kompas Cyber Media . dan mengandalkan ototnya. identik dengan perempuan. Kegiatan memasak selalu untuk perempuan. Semasa taman kanak-kanak. sementara juru masak. dan pantas menjadi pemimpin upacara. Pembedaan tersebut tidak pernah diprotes siswa perempuan karena semua perlakuan tersebut mereka anggap wajar juga. publik.mampu bersuara keras. sementara anak perempuan main masak-masakan. kiranya terus-menerus diasah demi perubahan paradigma dan persepsi yang lebih adil jender. Yogyakarta. St Kartono Mengajar di SMU Kolese De Britto. Padahal. dan sensivitas jender. sedangkan berkebun. permainan untuk anak laki-laki adalah perang-perangan. bersuara lantang. penari. Gedung MPR/DPR bukan makam pahlawan. serta para guru. Dalam buku pelajaran bahasa Indonesia dari sekolah dasar hingga sekolah menengah umum. mengurus kendaraan. dokter. para pengarang buku pelajaran. kesadaran. tentunya taman makam pahlawan tidak bisa diubah lagi soal perempuan atau laki-laki yang mesti ditempatkan sebagai pahlawan. Sejak dini. Perempuan diposisikan sebagai makhluk lemah dan perlu dikasihani. oleh para penyelenggara pendidikan. dan tidak ada diskriminasi yang merugikan bagi siswa perempuan ataupun laki-laki. Betapa kecut hatinya bahwa perlakuan laki-laki dan perempuan di makam pahlawan sama saja dengan perlakuan di Gedung MPR/DPR. guru akan dapat memperlakukan siswa secara adil jender. tetapi pembedaan berdasarkan kebiasaan belaka. dan sosial. perempuan dan laki-laki dibedakan dari bentuk permainan. sedangkan laki-laki identik dengan dunia yang keras. atau barang-barang yang bernilai ekonomis tinggi selalu untuk lakilaki. Dengan membarui paradigma guru lewat pelatihan yang mendalami jender. penyanyi. Padahal. peran perempuan dan laki-laki dibedakan menurut peran domestik. sesungguhnya telah terjadi banyak perubahan. Pembedaan yang dilakukan bukan menunjukkan perbedaan yang esensial. Cukuplah bila kelak putri saya akan mendapatkan jawaban kesetaraan jender dengan melihat komposisi anggota parlemen negaranya.

dan menyapu. dan kepercayaan masyarakat. maka akan tertanam di benak anakanak bahwa pekerjaan domestik memang menjadi pekerjaan perempuan. Bias Gender Keadaan di atas menunjukkan adanya ketimpangan atau bias gender yang sesungguhnya merugikan baik bagi laki-laki maupun perempuan. adat kebiasaan. serta buku ajar yang menjadi pegangan para siswa sebagaimana ditunjukkan oleh Muthalib dalam Bias Gender dalam Pendidikan ternyata sarat dengan bias gender. Sementara gambar guru yang sedang mengajar di kelas selalu perempuan karena guru selalu diidentikkan dengan tugas mengasuh atau mendidik. kedudukan. dan tidak memperlihatkan kekhawatiran dan ketidakberdayaannya. dan tugas laki-laki dan perempuan yang ditetapkan oleh masyarakat berdasarkan norma. Pendidikan di sekolah dengan komponen pembelajaran seperti media. Stereotip perempuan yang pasif. jika seorang perempuan mengekspresikan keinginan atau kebutuhannya maka ia akan dianggap egois. tidak rasional dan agresif. Hal ini menjadi beban tersendiri pula bagi perempuan. Kenyataannya juga menunjukkan. Gender dimaksudkan sebagai pembagian sifat. dan dilecehkan oleh kawannya yang lebih besar. banyak ditemukan gambar maupun rumusan kalimat yang tidak mencerminkan kesetaraan gender. ia ingin tampak percaya diri. peran. Bias gender ini tidak hanya berlangsung dan disosialisasikan melalui proses serta sistem pembelajaran di sekolah. gagah. dan tidak mandiri telah menjadi citra baku yang sulit diubah. dan perkasa. Membicarakan gender tidak berarti membicarakan hal yang menyangkut perempuan saja. Jika ibu atau pembantu rumah tangga (perempuan) yang selalu mengerjakan tugas-tugas domestik seperti memasak. Karenanya. sungguh tidak mudah menjadi laki-laki karena masyarakat memiliki ekspektasi yang berlebihan terhadapnya. menjadi perempuan pun tidaklah mudah. tidak cengeng. emosional. Mereka haruslah sosok kuat. Ketika seorang anak laki-laki diejek. Dalam buku ajar misalnya. Ini menjadi beban yang sangat berat bagi anak laki-laki yang senantiasa bersembunyi di balik topeng maskulinitasnya. tetapi juga melalui pendidikan dalam lingkungan keluarga. Ironisnya siswa pun melihat . ia biasanya tidak ingin menunjukkan bahwa ia sebenarnya sedih dan malu.Kesetaraan Gender dalam Pendidikan<center></center> BANYAK laki-laki mengatakan. Sebut saja gambar seorang pilot selalu laki-laki karena pekerjaan sebagai pilot memerlukan kecakapan dan kekuatan yang "hanya" dimiliki oleh laki-laki. Sebaliknya. dipukul. mencuci. metode.

. Hal demikian tidak hanya terjadi di tingkat sekolah. ia akan mengatakan "anak perempuan kok tidak tahu sopan santun". Sementara laki-laki diarahkan untuk tampil gagah. Rumusan kalimat tersebut mencerminkan sifat feminim dan kerja domestik bagi perempuan serta sifat maskulin dan kerja publik bagi laki-laki. tetapi kepala sekolahnya umumnya laki-laki. Siswa perempuan itu dikawal oleh dua siswa laki-laki. Bias gender yang berlangsung di rumah maupun di sekolah tidak hanya berdampak negatif bagi siswa atau anak perempuan tetapi juga bagi anak laki-laki. Dalam rumusan kalimat pun demikian. Hal ini memberikan pemahaman kepada siswa bahwa hanya perempuan yang boleh menangis dan hanya laki-laki yang boleh kasar dan kurang sopan santunnya. Paskibraka yang setiap tanggal 17 Agustus bertugas di istana negara. Dalam upacara bendera di sekolah selalu bisa dipastikan bahwa pembawa bendera adalah siswa perempuan. ia akan mengatakan "Masak laki-laki menangis. Ini akan sangat berpengaruh pada peran sosial mereka di masa datang.bahwa meski guru-gurunya lebih banyak berjenis kelamin perempuan. dan berani. membawa baki atau pemukul gong dalamupacara resmi sudah selayaknya menjadi tugas perempuan. Jika perempuan tidak dapat memenuhinya ia akan disebut tidak tahu adat dan kasar. tetapi bahkan di tingkat nasional. Anak perempuan diarahkan untuk selalu tampil cantik. dan melayani. Misalnya ketika seorang guru melihat murid laki-lakinya menangis. Laki-laki nggak boleh cengeng". lebih luas lagi. Kalimat seperti "Ini ibu Budi" dan bukan "ini ibu Suci". Demikian pula dalam perlakuan guru terhadap siswa. masih sering ditemukan dalam banyak buku ajar atau bahkan contoh rumusan kalimat yang disampaikan guru di dalam kelas. penakut ata bukan laki-laki sejati. yang berlangsung di dalam atau di luar kelas. "Ayah membaca Koran dan ibu memasak di dapur" dan bukan sebaliknya "Ayah memasak di dapur dan ibu membaca koran". Sebaliknya ketika melihat murid perempuannya naik ke atas meja misalnya. Hal ini menanamkan pengertian kepada siswa dan masyarakat pada umumnya bahwa tugas pelayanan seperti membawa bendera. Semuanya ini mengajarkan kepada siswa tentang apa yang layak dan tidak layak dilakukan oleh laki-laki dan apa yang layak dan tidak layak dilakukan oleh perempuan. lembut. ada aturan-aturan tertentu yang dituntut oleh masyarakat terhadap perempuan dan laki-laki. Singkatnya. selalu menempatkan dua perempuan sebagai pembawa bendera pusaka dan duplikatnya. Belum pernah terjadi dalam sejarah: laki-laki yang membawa bendera pusaka itu. Demikian pula jika laki-laki tidak dapat memenuhinya ia akan disebut banci. kuat.

Jadi. Sementara itu. karena anak laki-laki lebih banyak mempunyai persoalan hiperaktif yang mengakibatkan kemunduran konsentrasi di kelas. dan malas. wajah putih nan cantik. siswa perempuan umumnya memiliki prestasi akademik yang lebih baik jika dibandingkan dengan laki-laki. sebenarnya. Meski berat bagi anak laki-laki untuk berpisah dari sang ibu. Kedua. Objek yang diinginkan ini selalu berkaitan dengan tubuhnya. di sekolah. Keterlibatan Semua Pihak Lalu apa yang dapat dilakukan terhadap fenomena bias gender dalam pendidikan ini? Keterlibatan semua pihak sangat dibutuhkan bagi terwujudnya kehidupan yang lebih egaliter. Tidak heran jika semakin banyak anak perempuan mengusahakan penampilan sempurna bak peragawati dengan cara-cara yang justru merusak tubuhnya. Tidak mengherankan jika banyak guru mengatakan bahwa siswa laki-laki lebih banyak masuk dalam daftar penerima hukuman. ekspresi emosionalnya hilang. kulit halus dll. tentu tidak lagi didasarkan atas "apa kata ayah". Ayah dan ibu yang saling melayani dan menghormati akan menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya. bayi lakilaki secara emosional lebih ekspresif dibandingkan bayi perempuan. tidak lemah. Padahal. namun ia harus melakukannya jika tidak ingin dijuluki sebagai "anak mami". menjelang dewasa. ada proses menjadi kuat bagi laki-laki yang selalu diajari untuk tidak menangis. orang tua yang . Jadilah mereka kemudian anak-anak perempuan yang mengikuti stereotip yang diinginkan seperti tubuh langsing. Demikian pula dalam hal memutuskan berbagai persoalan keluarga.William Pollacek dalam Real Boys menunjukkan penemuannya. Laki-laki pada usia lima atau enam tahun belajar mengontrol perasaan-perasaannya dan mulai malu mengungkapkannya. proses pemisahan dari ibunya. dan tidak takut. yakni proses untuk tidak menyerupai ibunya yang dianggap masyarakat sebagai perempuan lemah dan harus dilindungi. pada anak perempuan selalu ada tuntutan-tuntutan di luar dirinya yang memaksa mereka tidak memiliki pilihan untuk bertahan. Penyebabnya adalah pertama. Situasi dan kondisi memungkinkan mereka jauh lebih tekun dan banyak membaca buku. Penyebabnya menurut Sommers. Satu-satunya cara yang dianggap aman adalah dengan membunuh kepribadian mereka untuk kemudian mengikuti keinginan masyarakat dengan menjadi suatu objek yang diinginkan oleh lakilaki. Kesetaraan gender seharusnya mulai ditanamkan pada anak sejak dari lingkungan keluarga. gagal studi. Namun ketika sampai pada usia sekolah dasar.

Selain itu. Seakan beban jender perempuan adalah "kodrat" dari Tuhan. Di lain pihak. Sejatinya. Teologi dan realitas sosial . teologi ini dianggap sudah final oleh umat Islam. tidak bisa dilepaskan dari bangunan teologis. Dalam hal ini diperlukan standardisasi buku ajar yang salah satu kriterianya adalah berwawasan gender. Sumber: Suara Merdeka Refleksi Teologi Islam mengenai Kesetaraan Jender<center></center> DALAM salah satu bukunya.berwawasan gender diperlukan bagi pembentukan mentalitas anak baik laki-laki maupun perempuan yang kuat dan percaya diri. 2003). M. Perempuan masih diposisikan sebagai kelompok lemah yang perlu diajari. sekolah secara kelembagaan dan terutama guru. diharuskan tinggal di rumah demi keamanannya. Hassan Hanafi mengatakan bahwa teologi Islam sangat memprihatinkan. Memang tidak mudah bagi orang tua untuk melakukan pemberdayaan yang setara terhadap anak perempuan dan laki-lakinya. (18) Dra Sri Suciati. dan berkonsentrasi di wilayah domestik. dan "diamankan". mereka mulai menyadari bahwa aturan-aturan itu melahirkan ketidakadilan baik bagi anak perempuan maupun laki-laki. Dosen FPBS IKIP PGRI Semarang. hanya bicara tentang konsep Tuhan dan abai terhadap masalah sosial di hadapannya (Hassan Hanafi. Celakanya lagi.Hum. tidak boleh diperbarui. mereka dituntut oleh masyarakat untuk membesarkan anak-anaknya sesuai dengan "aturan anak perempuan" dan "aturan anak laki-laki". Perjuangan membangun keadilan dan kesetaraan jender. Semua itu menjadi pembenaran bahwa perempuan tidak bisa berperan di ruang publik. teologi seharusnya merupakan refleksi kritis agama terhadap permasalahan yang dihadapi masyarakat. misalnya. Di sini peran teologi Islam diuji. dibimbing. Kesetaraan gender dalam proses pembelajaran memerlukan keterlibatan Depdiknas sebagai pengambil kebijakan di bidang pendidikan. guru akan menjadi agen perubahan yang sangat menentukan bagi terciptanya kesetaraan gender dalam pendidikan melalui proses pembelajaran yang peka gender. wakil sekretaris PGRI Jawa Tengah. Sebab di satu pihak.

Pada awalnya teologi Islam dibangun di atas kepentingan politik. 1998). menurut mereka. tanpa wahyu sekalipun manusia mampu mengetahui tentang Tuhan dan kebaikan. justru disesaki kepentingan . Wajar jika Asghar Ali Engineer mengatakan bahwa teologi Islam terlalu berkutat pada persoalan metafisik dan meninggalkan persoalan penting kemanusiaan (Asghar Ali Engineer. raison d’etre teologi Islam adalah tuntutan "realitas sosial". Meski agak berbeda dengan awal kemunculannya. Dewasa ini. Pandangan serupa ini menjadi landasan teologis dalam mengembangkan filsafat yang saat itu ditentang keras oleh ulama. yakni memahami teologi untuk teologi itu sendiri. Umat Islam terjebak dengan pendekatan hermeneutika teoretis. Dengan pendekatan ini. terutama Mu’awiyah. Hanafi mendialogkan teologi dengan kolonialisme dan orientalisme. Turunnya wahyu mereka anggap sebagai afirmasi dan konfirmasi atas pengetahuan tersebut. Walhasil. teologi menjadi jauh dari kebutuhan manusia. Abu Hasan Al-Asy’ari dipuji Nurcholish Madjid. pada masanya. sebab Asy’ari dianggap sukses menciptakan sebuah konsep teologi yang membuktikan peran besar Tuhan dalam jagat raya (Nurcholish Madjid. Maka. Apa yang dilakukan Hanafi adalah salah satu contoh menarik. dengan harapan dapat membebaskan teologi Islam dari kebangkrutannya. terutama para ahli fikih (fuqoha) Dengan demikian. akhirnya terciptalah teologi pembebasan (kiri Islam). Bahkan. 1986). teologi senantiasa didialogkan dengan realitas sosialnya. Maka. pemberontakan Mu’awiyah diyakini sebagai takdir. Sudah saatnya umat Islam mengembangkan pendekatan hermeneutika filosofis. konsep "fatalisme" atau "predestination" lebih dimotivasi kepentingan status quo ketimbang teologi itu sendiri. Teologi yang sejatinya memosisikan perempuan sebagai mitra laki-laki. Asy’ari di tengah "keputus-asaan teologis" umat Islam berhadapan dengan Aristotelianisme yang menempatkan Tuhan pada posisi kurang signifikan. Perdebatan tersebut bermuara pada kebutuhan untuk mencari legitimasi politik. Peristiwa pemberontakan Mu’awiyah terhadap Khalifah Ali bin Abu Thalib dicatat Harun Nasution sebagai awal munculnya perdebatan teologi (Harun Nasution. Dalam konsep teologinya mereka menerangkan bahwa akal manusia sejalan dengan wahyu. Saat itu. teologi Islam begitu modern dan relevan dengan kebutuhan manusia. Lantas tokoh-tokoh Mu’tazilah juga dianggap sukses dalam melapangkan pengembangan filsafat dan ilmu pengetahuan yang menuntut banyak peran akal. Dalam "fatalisme". Teks kitab suci (Al Quran) didialogkan dengan persoalan manusia. Salah satu realitas sosial yang perlu disikapi adalah diskriminasi jender. teologi Islam berhenti berdialog dengan "realitas sosial". 1992). setelah ia memperoleh kursi kekhalifahan.

Bahkan.laki-laki. yang berarti Dia (laki-laki). Kemudian. konsep ketuhanan yang metafisik diterjemahkan kepada persoalan pembebasan dan pemberdayaan perempuan. . Arabi menggambarkan adanya reproduksi alam semesta. dialog teologi dengan permasalahan-permasalahan perempuan adalah suatu keniscayaan. relasi jender secara mengesankan telah direpresentasikan oleh Tuhan sendiri. Dalam pandangan Arabi. Maha Pemarah diimbangi dengan Maha Penyayang. Hasil dialog semacam ini dapat kita temukan dalam teologi feminis. Proses penciptaan alam semesta secara evolusi. teologi feminis adalah teologi yang menggali aspek-aspek feminin Tuhan demi kesetaraan jender. Hal ini dibenarkan teolog feminis. Maha Pemberi Hukuman diimbangi dengan Maha Pengampun. paling tidak. misalnya. merupakan cermin dari sifat feminin-Nya. Oleh karena itu. Bennet menyatakan bahwa "revolusi teologis" adalah sebuah keniscayaan jika kita menginginkan pembebasan manusia (Anne McGrew Bennet. pemeliharaan alam juga merupakan representasi sifat kasih dan sayang-Nya. Di dalamnya. dan tidak bisa tegas sehingga menyebabkan kaum perempuan dianggap tidak layak berperan dalam wilayah publik. sifat perkasa-Nya senantiasa didampingi oleh keluasan kasih sayang-Nya. irasional. dan seterusnya. sifat-sifat tersebut dibagi dalam dua kelompok besar. yaitu sifat yang melambangkan keperkasaan (maskulin) dan keindahan (feminin). diskriminasi jender sesungguhnya merupakan pengingkaran terhadap Tuhan secara utuh. Anne McGrew Bennet. Sifat feminin inilah yang dieksplorasi oleh teologi feminis. ialah Huwa. Menurut dia teologi yang ada selama ini disesaki kepentingan laki-laki. Alasannya. Atas dasar itu. sensitif. ada tiga hal yang harus dilakukan terhadap teologi Islam. Kata ganti Tuhan dalam Al Quran. Hal inilah yang ingin didekonstruksi dari paradigma pendukung patriarki bahwa feminitas senantiasa merepresentasikan kelemahan. Oleh Ibnu Arabi. Tuhan digambarkan memiliki 99 sifat. Lebih tepatnya. Dengan demikian aspek feminin-Nya jauh lebih terasa ketimbang aspek maskulin. sebenarnya sifat feminin Tuhan jauh lebih berperan. seperti halnya seorang ibu yang melahirkan. misalnya. pandangan seperti itu tidak memiliki legitimasi teologis. meski sifat maskulin dan feminin Tuhan dikatakan sejajar. Jadi. 1989). Dalam Al Quran. Perendahan terhadap kualitas feminin perempuan bernilai sama dengan pengabaian kualitas feminin Tuhan. Padahal.

Sumbangan Besar Mewujudkan Demokrasi<center></center> Revolusi teknologi ternyata tak banyak dimanfaatkan oleh pekerja media untuk membantu perempuan memperbaiki posisinya. Hal ini diperlukan guna menyadarkan umat bahwa kemunculan teologi Islam tidak berada di ruang hampa. media seharusnya dapat digunakan untuk mentransformasi pencitraan mengenai perempuan. Apalagi . bukan hal yang mudah karena menyangkut perombakan kultur dan kerangka pikir wartawan dan editor. membongkar mitos tentang teologi yang seolah-oleh terberi (taken for granted). media dan jaringan alternatif khusus untuk perempuan semakin berkembang dan dimanfaatkan secara efektif oleh organisasi mahasiswa dan kelompok-kelompok perempuan guna memperbaiki kesadaran sosial dan politik di antara perempuan dan anggota masyarakat Dengan demikian. baik kepentingan status quo maupun pemberontakan. Sampai Konferensi Dunia IV mengenai perempuan dan pembangunan di Beijing (1995). melainkan meneruskannya pada aksi. Eksplorasi lebih dimaksudkan sebagai pengungkapan bahwa sifat feminin tidak identik dengan kelemahan sebagaimana dianggap oleh pendukung patriarki. Pencitraan perempuan di berbagai media massa di seluruh dunia masih lebih banyak bersifat stereotip sehingga tidak bisa dikatakan mewakili sesuatu yang lebih benar mengenai perempuan. melainkan penuh dengan kepentingan.Pertama. Ini tidak dimaksudkan untuk membenturkan sifat feminin Tuhan dengan sifat maskulin-Nya. yakni membela hak-hak perempuan dan menegakkan kesetaraan jender. Dengan begitu diharapkan tidak ada fanatisme sempit yang mencurigai dialog teologi dan persoalan perempuan sebagai pendangkalan akidah. M Hilaly Basya. Kedua. Ukuran kesalehan dalam konteks gagasan ini tidak diukur dari kepatuhan menjalankan ritual. mengeksplorasi aspek feminin Tuhan demi kesetaraan jender. Dosen Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka) dan anggota Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) Sumber: Kompas Cyber Media Pemberitaan Sensitif Gender. menjadikan teologi tidak sebatas keimanan. Ketiga. Perjuangan Perombakan Kultur Upaya menghapuskan kekerasan dalam pemberitaan surat kabar. tetapi pada kesalehan sosial.

Wartawan dan struktur keredaksian juga menyerap nilai-nilai tersebut sehingga mudah tergelincir untuk melakukan kekerasan berganda terhadap perempuan korban kekerasan melalui bahasa dan konsep yang dipakai. Ciri kapitalistik juga nampak dari dikalahkannya pemuatan berita demi iklan. rasisme. Perspektif Perempuan dalam Media Massa Seluruh persoalan ini di dalam media massa juga tidak terlepas dari struktur modal yang kapitalistik. Sejumlah stereotip lantas menempel pada perempuan dan laki-laki berdasarkan peran jenis kelamin itu.1 Tahun 1974 tentang perkawinan yang secara eksplisit menetapkan peran-laki-laki dan perempuan. terinternalisasikan melalui pendidikan di semua lini. pemilihan gagasan dan keseluruhan gaya pemberitaan. Kekerasan terhadap perempuan dalam media massa tidak bisa dilepaskan dari posisi perempuan dalam masyarakat. keluarga. Bahkan mengandung resiko dituduh mengekalkan mitos masochisme perempuan. sebagai besar masyarakat masih percaya pada pembagian kerja secara seksual yang mensubordinasikan perempuan. Penulisan berita dan artikel atau tulisan apapun (juga gambar) yang berperspektif perempuan bukan tidak mengandung kontradiksi. dan menentang konsepsi tentang apa dan bagaimana seharusnya. buruk. memalukan. dan lingkungan masyarakat. Karena itu. efensif. Dengan demikian pemberitaan wacana sensitifitas gender saja tidak akan mampu membuat wartawan segera mamiliki kesadaran yang cukup pada inequality yang dialami perempuan. sektor "domestik" yang dikatakan sebagai sektor statis clan consumtif sebagai milik perempuan. atau sudut pandang berita yang dipilih. . Kerja dalam tim seperti media cetak. karena dianggap "menjual". Ini diperkuat oleh kekuasaan negara UU No.bila bekerja pada wilayah mind set yang melahirkan suatu sikap tertentu. maka dengan mudah ideologi yang diskriminatif ini tersosialisasikan. Industri media massa akan menempatkan berita-berita yang bersifat maskulin itu sebagai sesuatu yang utama. narcisis. Kemarahan dan ketidaktoleran hanya akan menjadi conter productive dan tidak akan membuat perubahan yang berarti. meski iklan dijadikan alasan utama suatu media massa dapat bertahan. Dalam masyarakat terlanjur meyakini notion palsu yang mengatakan bahwa secara kodrati perempuan kurang pandai dan secara fisik lebih lemah dibandingkan dengan laki-laki. Perjuangan untuk mencapai keadilan gender melalui pemberitaan dalam media massa masih membutuhkan waktu teramat panjang. ideologi tertentu yang dipelajari seorang manusia sejak ia bisa berpikir. Sedangkan sektor "publik" yang dicirikan sebagai sektor dinamis dan memiliki sumber kekuasaan pada perbagai sektor kehidupan yang mengendalikan perubahan sosial sebagai milik lakilaki. ditambah oleh pola asuh yang bias gender. karena struktur dan pemberitaan media massa sebenarnya adalah cermin situasi masyarakat itu sendiri. membutuhkan toleransi dan penghargaan pada proses. sekolah.

Pada banyak kasus. maka ia bukanlah demokrat sejati. dan keadilan yang didasarkan kesetaraan tadi. Inilah yang disebut split personaliy dari media: ia bisa menjadi agen pembaharu. Sebagai wacana baru (newspeak). Ini juga dilakukan melalui bahasa. Tetapi apa keterkaitan antar demokrasi dan perempuan? Sejarah bisa menjadi titik tempuh untuk memaparkan pergerakan posisi perempuan mulai dari pemegang peranan yang kuat dalam komunitas sampai terjadinya subordinnasi terhadap mereka. Dalam sebuah diskusi Lembaga Pers Mahasiswa. maupun afeksi. atau bahkan memundurkan kembali. mengontrol secara dominan. serta pembongkaran sikap dan cara pandang personal di kalangan wartawannya. Sistem politik yang represif telah mengawasi perempuan secara ketat. karena membicarakan media massa media yang diekspresikan melalui bahasa tulis dan lisan. ada semacam cara pandang. Namun masih perlu perbaikan yang signifikan dalam kognisi. tidak memungkinkan cara berpikir lain daripada yang dikehendaki penguasa. Posisi Media Massa Namun perubahan semacam ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. sehebat apapun posisi seorang pemimpin media berbicara soal demokrasi. Dalam hal ini media sebagai kekuatan keempat (the fourth estate) berperan sangat besar untuk pergerakan permpuan. pada umumnya pekerja media memiliki kesadaran memadai mengenai masalah-masalah HAM. namun sebaliknya media bisa digunakan untuk menahan laju pergerakan perempuan. menyudutkan dan menyempitkan dan akhirnya menundukkan.Suara perempuan adalah suara yang terbisukan. maka secara tidak sadar dia telah memposisikan dirinya sebagai penindas. Seorang pemimpin di dalam media yang masih mengartikan feminisme sebagai pembalikan perempuan dan laki-laki atau bahkan menuduh feminisme dan gerakan kesetaraan gender sebagai gerakan untuk menindas laki-laki. Ia merupakan kegiatan kegiatan sosial yang terstruktur dan terikat pada keadaan sosial tertentu. tetapi ia meragukan atau bahkan menisbikan persoalan kesetaraan dalam hubungan perempuanlaki-laki. orang tertindas malah tidak merasa ditindas karena manipulasi berbagai nilai yang dikukuhi dalam kehidupan masyarakat atau malah melakukan adjustment terhadap penindasan itu dan kemudian mereplikasikannya kepada pihak lain yang lemah. Jurnalis harus memanfaatkan semaksimal mungkin informasi. komunikasi. dan pendidikan untuk memajukan perdamaian. Jadi. bahasa bukanlah sekedar alat komunikasi. budaya berpikir yang harus dirombak dalam struktur besar keredaksian. Padahal inti demokrasi adalah kesetaraan hak dan kewjiban. Sejarah kemudian memang memperlihatkan bahwa sejarah perempuan lebih banyak dilekatkan pada subordinasi. HAM. tetapi sekaligus menginginkan . dan demokrasi. Mengapa? Karena kesadaran ditindas hanya ada pada golongan penindas. Karena itulah kesadaran perempuan tentang masalah penindasan ini harus dibongkar. Hanya dengan itu maka seluruh gerakan kesetaraan bisa mencapai tujuannya.

Meski demikian. yang akhirnya mengganggu bisnis media. karena merasa hal-hal itu tidak populer. sehingga akhirnya secara perlahan tetapi pasti. Namun bagaimanapun harus diingat. ketidakpedulian media main stream ini bukan jalan buntu yang tidak bisa ditembus.kemapanan sehingga enggan membongkar situasi status-quo. Oleh: Akhmad Junaedi Azhar Sumber: Siar Online . isu-isu kesetaraan dan keadilan gender menjadi isu yang kian membesar dan penting dan harus diterapkan dalam setiap persoalan. Selalu ada jalan dengan kecerdasan membungkus isu. media main steram berurusan dengan pemodal yang lebih mempedulikan kenginan pasar ketimbang perbaikan posisi dan kesejahteraan perempuan dan kelompok masyarakat yang dilemahkan lainnnya.