GENDER Pembakuan Peran dalam Kebijakan-kebijakan di Indonesia<center></center> Pengantar: Berangkat dari prinsip yang menantang gagasan

konvensional bahwa hukum itu netral, objektif dan bebas nilai, LBH APIK Jakarta telah melakukan penelitian tentang ‘Pembakuan Peran Gender dalam Kebijakan-kebijakan di Indonesia’. Dengan menggunakan pendekatan hukum kritis,pandangan feminis terhadap hukum, gender dan negara dalam konteks Indonesia, ditemukan bahwa terdapat kebijakan-kebijakan yang tidak berkeadilan gender. Ideologi patriarki (dominasi laki-laki) faktanya telah mewujud dalam sistem hukum di Indonesia (baik dari peraturan dan kebijakan yang ada, stuktur dan budaya hukumnya), sehingga senantiasa mengekalkan ketidakadilan terhadap perempuan. Bagaimana pembakuan peran laki-laki dan perempuan dikukuhkan oleh Negara ? Konsep pembakuan peran gender yang mengkotak-kotakkan peran laki-laki/ suami dan perempuan/ istri ini hanya memungkinkan perempuan berperan di wilayah domestik (domestikasi), yakni sebagai pengurus rumah tangga sementara laki-laki di wilayah publik sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah utama. Peran gender yang memilahmilah peran perempuan dan laki-laki pada kenyataannya telah dibakukan oleh negara dalam berbagai kebijakan yang dilahirkan oleh Pemerintah Orde Baru. Kebijakankebijakan tersebut pada akhirnya hanya menyisakan ketidakadilan pada perempuan. Dengan demikian, melalui hukum, negara melakukan peran gender. Hukum, dengan demikian, dipandang sebagai agen yang menguatkan nilai-nilai jender yang dianut oleh masyarakat. Hal ini berkaitan dengan kebutuhan negara untuk menjaga dan menjamin kepentingannya. Apakah dampak dari pembakuan peran? Upaya domestikasi perempuan secara sistematis oleh negara berdasarkan ideology gender dalam kebijakan-kebijakan negara berdampak lebih jauh pada peminggiran terhadap perempuan, baik secara ekonomis, politik, sosial dan budaya, juga menimbulkan subordinasi, eksploitasi dan privatisasi kekerasan terhadap perempuan. Kebijakan-kebijakan apa sajakah yang membakukan peran jender? Ruang lingkup kebijakan yang dikritisi dalam penelitian adalah kebijakan-kebijakan yang lahir pada era Orde Baru. Dari kebijakan-kebijakan negara seperti : - pada masa Revolusi Hijau, yaitu pada Repelita I thn 1969-1974 dimana muncul Kebijakan yang memarginalkan kaum perempuan pedesaan yang awalnya

-

-

memiliki peran penting sebagai petani kemudian digeser dengan munculnya alatalat pertanian modern yang diasosiasikan dengan keahlian jenis kelamin laki-laki. Kemudian, kebijakan lain yang juga mempunyai efek pembakuan peran adalah praktek-praktek koersi terhadap perempuan yang diterapkan berkaitan dengan kebijakan pemerintah tentang kependudukan => Kebijakan KB yang dicanangkan sejak thn 1969 hanya diperuntukkan bagi kelompok perempuan Menunjukkan adanya asumsi patriarkal negara mengenai peran laki-laki dan perempuan yang menganggap bahwa urusan domestik adalah tanggung jawab perempuan. Nampak bahwa negara Orde Baru membatasi ruang lingkup kehidupan perempuan (secara sosial, ekonomi, politik) dan melegitimasi pembakuan peran gender.

Lebih rinci, teks-teks kebijakan yang dianalisa : Ø GBHN; Sebagai landasan bagi kebijakan-kebijakan lainnya dan pembangunan secara umum. Sepanjang GBHN 1978 –1998, kata ‘kodrat’ tetap hadir dalam teks. Dengan konsep peran ganda yang dianut negara, dapat disimpulkan bahwa ‘kodrat ‘ dimakni tidak hanya sebatas kemampuan biologis perempuan tetapi juga peran-peran reproduksi sosial. Jadi, dapat dideteksi adanya gagasan-gagasan mengenai pembakuan peran gender dalam GBHN. Ø Kebijakan tentang Buruh Migran Perempuan a. Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. Kep. 213/Men/89 tentang biaya Pembinaan Tenaga Kerja Indonesia dalam Rangka Pengembangan Program Antar Kerja Antar Negara ke Timur Tengah ; Dalam kebijakan ini diatur perbedaan biaya yang dikeluarkan untuk pengiriman buruh migran perempuan dengan laki-laki dengan asumsi gender bahwa buruh migran perempuan dianggap membutuhkan pembinaan. b. Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. Kep. 196/Men/1991 tentang Petunjuk Teknis Pengerahan Tenaga Kerja ke Arab Saudi Peraturan ini memuat adanya pembedaan usia antara laki-laki dan perempuan untuk menjadi buruh migran di sector informal. Ø Kebijakan tentang Pembantu Rumah Tangga (Perda No. 6 thn 1993) tentang Pembinaan Kesejahteraan Pramuwisma di DKI Jakarta dan SK Gubernur DKI Jakarta No. 1099 thn 1994) Asumsi pemerintah terhadap istilah pramuwisma yang cenderung ditujukan terhadap perempuan menyumbang pada pembakuan peran gender dalam pasal-pasal Perda. Misalnya, pasal tentang perlunya ijin bekerja dari suami bagi perempuan yang sudah bersuami. Ø Kebijakan tentang Perkawinan/ Perceraian UUP Integrasi konsep pembakuan peran dalam kebijakan tentang perkawinan yaitu melalui UU No. 1 thn 1974 tentang Perkawinan (UUP), terutama nampak dalam khususnya pasal 31, yang menyatakan bahwa “suami adalah kepala keluarga dan

istri adalah ibu rumah tangga.” Selain itu, UUP menganut asas monogamy terbuka, maksudnya bahwa pada asasnya suatu perkawinan seorang laki-laki hanya boleh mempunyai seorang isteri dan seorang perempuan hanya boleh mempunyai seorang suami. Namun, terdapat klausula yang menyatakan bahwa Pengadilan dapat memberi ijin kepada seorang suami untuk beristri lebih dari seorang karenanya terbuka kemungkinan bagi laki-laki untuk melakukan poligami. Pengaturan mengenai poligami ini tidak hanya menunjukkan bahwa dalam institusi perkawinan posisi tawar perempuan lebih rendah disbanding lakilaki tetapi juga menunjukkan bahwa negara jelas-jelas telah melegitimasi nilainilai jender perempuan yang hidup dalam masyarakat. Dalam Pasal 31 : Kedudukan suami isteri adalah sama, akan tetapi dalam ayat lain ditegaskan bahwa suami adalah kepala keluarga dan isteri adalah ibu rumah tangga. Penegasan ini merupakan pengetatan fungsi-fungsi isteri dan fungsifungsi suami secara tegas. Artinya, pasal ini melegitimasi secara eksplisit pembagian peran berdasarkan jenis kelamin. Juga, semakin dipertegas dalam pasal 34 yang menyatakan bahwa suami wajib melindungi isteri dan isteri wajib mengatur rumah tangga sebaik-baiknya. Pasal tersebut merupakan pengejawantahan dari pola pikir masyarakat yang menganggap bahwa peran lakilaki dan perempuan sudah mutlak terbagi. PP No. 45/ 1990 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah No. 10 thn 1983 tentang ijin Perkawinan dan Perceraian Pegawai Negeri Sipil. (Peraturan Pemerintah ini merupakan peraturan pelaksana dari UU Perkawinan yang khusus diberlakukan kepada Pegawai Negeri Sipil dan merupakan penyempurnaan dari PP 10 thn 1983). PP ini lebih menegaskan asas monogamy terbuka. Akan tetapi, secara tidak konsisten PP melarang perempuan PNS menjadi isteri kedua, ketiga atau keempat dengan asumsi akan merusak citranya sebagai PNS dan perempuan. Ø Kebijakan tentang Kekerasan terhadap Perempuan KUHP berkaitan dengan Penganiayaan terhadap isteri KUHP tidak mengenal konsep kekerasan berbasis gender, atau tindakantindakan kejahatan yang dilakukan karena jenis kelamin perempuan. KUHP berkaitan dengan Perkosaan Perkosaan terhadap isteri dalam perkawinan (marital rape) tidak dikenal dalam KUHP berarti KUHP mengadopsi pandangan masyarakat bahwa fungsi isteri adalah melayani suami. UU No. 62 Tahun 1958 tentang Kewarganegaraan UU ini mengadopsi ideology patriarki yang tercermin dalam ketentuan tentang status kewarganegaraan anak yang lahir dari perkawinan campuran , yaitu megikuti kewarganegaraan ayahnya.

Ø

Kebijakan Ketenagakerjaan UU No. 25 thn 1997 tentang Ketenagakerjaan : Memuat ketentuan yang mendiskriminasikan perempuan dengan memuat ketentuan larangan bekerja bagi perempuan pada waktu malam hari.

Ø Peraturan tentang Perpajakan :Keputusan Direktur Jendral Pajak No. 78/ PJ.41/ 1990 tentang Pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) kepada isteri wajib pajak yang melakukan kegiatan usaha dan atau pekerjaan bebas Ø Peraturan tentang Perpajakan: Keputusan Direktur Jendral Pajak No. 78/ PJ. 41/ 1990 tentang Pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) kepada isteri Wajib Pajak yang melakukan kegiatan Usaha dan atau Pekerjaan Bebas

Dalam ketentuan perpajakan, isteri yang bekerja atau usaha yang wajib kena pajak bukanlah wajib pajak secara pribadi melainkan sebagai ‘isteri wajib pajak.’ Dampaknya, ada hambatan bagi perempuan menikah yang hendak mengembangkan usahanya karena nomor wajib pajaknya tergantung pada suami sehingga otomatis pengembangan usahanya tergantung pada ijin suami. Penutup Ø Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh negara disamping bias gender juga bias kelas menengah serta bertentangan dengan kenyataan sosialnya. Dalam kenyataannya, kaum perempuan tidak lagi hanya sebagai pencari nafkah tetapi juga banyak yang menjadi kepala keluarga. Akibatnya timbul ketegangan antara nilai-nilai dan peraturan yang diterapkan dengan kenyataan sosial yang terus berlangsung. Ø Melalui hukum, negara melakukan pembakuan peran gender. Beberapa kebijakan mengacu pada peran perempuan dan laki-laki sebagaimana didefinisikan dalam UUP No. 1 thn 1974. Dengan demikian, UUP merupakan kebijakan yang mempunyai signifikansi dalam proses pembakuan peran yang dilakukan negara. Ø Perlu dilakukan reformasi terhadap kebijakan-kebijakan dengan mengamati dinamika proses negosiasi antara kelompok-kelompok kepentingan yang terjadi ditingkat negara untuk menentukan sasaran intervensi yang dapat dilakukan baik di tingkat struktur formal (hukum dan negara) dan di tingkat masyarakat untuk mengubah nilai-nilai gender yang dominan.

Sumber: http://www.lbh-apik.or.id/peneliltian-pembakuan_peran.htm

Perempuan Bekerja, Dilema Tak Berujung ? <center></center> Fenomena perempuan bekerja sebenarnya bukanlah barang baru di tengah masyarakat kita. Sejak zaman purba ketika manusia masih mencari penghidupan dengan cara berburu dan meramu, seorang isteri sesungguhnya sudah bekerja. Sementara suaminya pergi berburu, di rumah ia bekerja menyiapkan makanan dan mengelola hasil buruan untuk ditukarkan dengan bahan lain yang dapat dikonsumsi keluarga. Karena sistem perekonomian yang berlaku pada masyarakat purba adalah sistem barter, maka pekerjaan perempuan meski sepertinya masih berkutat di sektor domestik namun sebenarnya mengandung nilai ekonomi yang sangat tinggi. Kemudian, ketika masyarakat berkembang menjadi masyarakat agraris hingga kemudian industri, keterlibatan perempuan pun sangat besar. Bahkan dalam masyarakat berladang berbagai suku di dunia, yang banyak menjaga ternak dan mengelola ladang dengan baik itu adalah perempuan bukan laki-laki. Hal ini jelas menunjukkan bahwa keterlibatan perempuan memang bukan baru-baru saja tetapi sudah sejak zaman dulu. Dalam konteks Indonesia sebagai negara berkembang, sebenarnya tidak ada perempuan yang benar-benar menganggur. Biasanya para perempuan memiliki pekerjaan untuk juga memenuhi kebutuhan rumah tangganya entah itu mengelola sawah, membuka warung di rumah, mengkreditkan pakaian dan lain-lain. Mungkin sebagian besar masyarakat Indonesia masih beranggapan bahwa perempuan dengan pekerjaan-pekerja di atas bukan termasuk kategori perempuan bekerja. Hal ini karena perempuan bekerja identik dengan wanita karir atau wanita kantoran (yang bekerja di kantor). Pada hal, dimanapun dan kapanpun perempuan itu bekerja, seharusnya tetap dihargai pekerjaannya. Jadi tidak semata dengan ukuran gaji atau waktu bekerja saja. Annggapan ini bisa jadi juga erkait dengan arti bekerja yang berbeda antara Indonesia dengan negara-negara di Barat yang tergolong sebagai negara maju. Konsep bekerja menurut masyarakat di negara-negara Barat (negara maju) biasanya sudah terpengaruh dengan ideologi kapitalisme yang menganggap seseorang bekerja jika memenuhi kriteria tertentu misalnya; adanya penghasilan tetap dan jumlah jam kerja yang pasti. Sedangkan kebanyakan perempuan di Indonesia yang disebutkan tadi, pekerjaan mereka belum menghasilkan penghasilan tetap dan tidak terbatas waktu, bahkan baru dapat dilakukan hanya sebatas kapasitas mereka. Meski bukan fenomena baru, namun masalah perempuan bekerja nampaknya masih terus menjadi perdebatan sampai sekarang. Bagaimanapun, masyarakat masih memandang keluarga yang ideal adalah suami bekerja di luar rumah dan isteri di rumah dengan mengerjakan berbagai pekerjaan rumah. Anggapan negatif (stereotype) yang kuat di masyarakat masih menganggap idealnya suami berperan sebagai yang pencari nafkah, dan pemimpin yang penuh kasih; sedangkan istri menjalankan fungsi pengasuhan anak. Hanya, seiring dengan perkembangan zaman, tentu saja peran-peran tersebut tidak semestinya dibakukan, terlebih kondisi ekonomi yang membuat kita tidak bisa menutup

saya lebih suka isteri saya di rumah merawat anak-anak”. perdebatan mungkin muncul lebih karena anggapan akan stereotype dari masyarakat bahwa akan ada akibat yang timbul jika suami-isteri bekerja di luar rumah yaitu “mengganggu” keharmonisan yang telah berlangsung selama ini. Dalam sistem kapitalisme yang berlaku dewasa ini. Bagaimanapun. Kerja reproduktif juga kerja yang pada prosesnya menjaga kelangsungan proses produksi.mata bahwa kadang-kadang istripun dituntut untuk harus mampu juga berperan sebagai pencari nafkah. perawatan sehari-hari manusia baik fisik dan mental. tentu saja memang akan ada dampak yang timbul jika suami-isteri bekerja di luar rumah. Namun solusi yang diambil tidak semestinya membebankan istri dengan dua peran sekaligus yaitu peran mengasuh anak (nursery) dan mencari nafkah di luar rumah (provider). misalnya pekerjaan rumah tangga. hamil. nampaknya hampir semua kalangan masyarakat menyetujui bahwa perempuan mendapat kemulian dengan pekerjaannya sebagai ibu . keduanya berperan penting dalam proses kehidupan manusia. Seperti yang pernah diungkapkan. Kerja produktif berfungsi memenuhi kebutuhan dasar manusia seperti sandang. pangan. kesemuanya berperan penting dalam melahirkan dan memampukan seseorang untuk “berfungsi” sebagaimana mestinya dalam struktur sosial masyarakat. yang akan lebih membawa perempuan kepada beban ganda. biasanya dikerjakan di luar rumah. melahirkan. Kerja produktif dan reproduktif Untuk dapat melihat definisi dan makna kerja dengan lebih jernih lagi maka mungkin perlu dijelaskan juga tentang kerja dengan membaginya menjadi dua bentuk kerja yaitu kerja produksi dan kerja reproduksi. Tanpa ada yang melakukan pekerjaan rumah tangga seperti memasak. Walaupun seringkali jika seorang laki-laki atau suami ditanya maka akan muncul jawaban “Seandainya gaji saya cukup. papan. di mana kedua pekerjaan tersebut dilakukan dan siapa yang melakukan pekerjaan tersebut. atau mencuci maka tidak mungkin akan didapatkan makanan. akan tetapi adanya dukungan sistem yang tidak terus membawa perempuan pada posisi yang dilematis. Kerja reproduksi dianggap tanggung jawab perempuan dan biasanya dikerjakan di dalam rumah. bukan hanya sebatas masalah reproduksi biologis perempuan. menyusui. Baik kerja produksi maupun kerja reproduksi. Sehingga dengan makanan dankenyamanan tersebut proses yang lain tidak terganggu. Terlepas dari pembahasan di atas. Kerja produksi dianggap tanggung jawab laki-laki.Tetapi tentu saja pengertian pekerjaan reproduksi seperti ini tidak dianggap sebagai pekerjaan oleh masyarakat dan juga pemerintah padahal secara fisik ini jelas sebagai sebuah kerja. namun mencakup pula pengasuhan. terdapat kecenderungan kuat untuk memisahkan kerja produksi dan reproduksi. kenyamanan bagi anggota rumah tangga yang lain. seperti yang sudah panjang lebar diutarakan di atas. Kerja reproduktif adalah kerja “memproduksi manusia”.

nanti juga ke dapur” atau “si X (perempuan) mah paling juga kawin terus ngurus anak”. Namun yang menjadi pertanyaan kemudian adalah mengapa pekerjaan reproduksi tersebut selalu diberi sebutan sebagai “pekerjaan mulia”. dan kesulitan perempuan bekerja untuk menyusui anaknya. baik terhadap karyawan perempuan maupun laki-laki. Dan mengapa “pekerjaan mulia” tersebut sebagian besar dibebankan hanya kepada perempuan. Memberikan cuti melahirkan bagi karyawan perempuan dianggap pemborosan dan inefiesiensi. media massa. bukan perempuan yang lebih berperan dalam pengambilan keputusan penting. niscaya akan mematahkan mitos “laki-laki adalah pencari nafkah utama”. Meskipun cuti melahirkan telah diberlakukan secara luas. ketiadaan sarana penitipan anak di tempat kerja. meskipun perempuan telah mencurahkan begitu banyak waktu dan energi. Diskriminasi terselubung dilakukan guna menghindari pemberian cuti tersebut antara lain dengan preferensi tidak tertulis mengutamakan merekrut karyawan laki-laki atau karyawan perempuan lajang. tidak mengundang laki-laki untuk berkontribusi lebih besar dalam kerja reproduksi. Contohnya pernyataan “buat apa anak perempuan sekolah tinggi-tinggi. kerja reproduksi yang sebagian besar dilakukan perempuan berperan sangat penting guna keberlanjutan suatu bangsa dan umat manusia pada umumnya. adalah beberapa contoh nyata. Sayangnya. Atas nama tradisi dan kodrat. Jam kerja panjang. agama. Perlu . Dengan kata lain. Jarang yang mempertanyakan secara terbuka “kodrat” tersebut. mendukung pula pandangan ini. Jika kerja tersebut diperhitungkan. Sebenarnya di banyak tempat. Ternyata. Norma yang berlaku dewasa ini kerja reproduksi adalah tanggung jawab perempuan. seolah ia adalah bagian kewajiban dari Tuhan dengan imbalan kebahagiaan di akhirat nanti. perempuan dipandang sewajarnya bertanggung jawab dalam arena domestik. Institusi pendidikan. Berkomitmen tinggi terhadap anak dan keluarga dipandang tidak kompatibel dengan dunia kerja. Kerja perempuan terutama di sektor reproduksi tidak pernah diperhitungkan dalam data perekonomian dan statistik. Lebih jarang lagi yang memperhitungkan nilai ekonomi pekerjaan rumah tangga. pada kenyataannya. melainkan laki-laki. Situasi di sektor publik sering pula tidak ramah keluarga. Demikian pula sebutan “ratu” yang seharusnya berimplikasi pada peran perempuan yang lebih besar dalam pengambilan keputusan di tingkat keluarga. Di sektor publik sering kali sistem yang ada “tidak mendukung” perempuan (dan lakilaki) bekerja untuk dapat pula melakukan kerja reproduksi secara optimal sekaligus. terjadi “perendahan” terhadap kerja reproduksi biologis perempuan. keterlibatan perempuan dalam kerja produksi tidak mengurangi beban tanggung jawabnya di sektor reproduksi.rumah tangga hingga ibu rumah tangga mendapat gelar “ratu rumah tangga”. masih ada yang merasa rugi memberi cuti melahirkan kepada karyawan perempuan.

pun sesungguhnya sudah lazim ditemui di berbagai kelompok masyarakat. mayoritas berada di tingkat buruh tani. Hal ini berlaku khususnya bagi perempuan berpendidikan menengah ke bawah. Data sensus penduduk tahun 1990 menunjukan bahwa sektor pertanian adalah sektor yang terbesar dalam menyerap tenaga kerja perempuan yaitu 49.perbaikan sistem sosial secara menyeluruh agar jangan sampai suatu bangsa atau lebih parah lagi umat manusia punah. garmen. keterlibatan perempuan di sektor manapun selalu nampak dicirikan oleh “skala bawah” dari pekerjaan perempuan. dan sektor industri manufaktur 14. berkaitan dengan masalah perempuan bekerja produksi yaitu dengan bekerja di luar rumah untuk mencari nafkah. Dalam kasus tersebut. diikuti oleh sektor perdagangan 20. sektor perdagangan juga banyak melibatkan perempuan.2%.2%. Sebuah penelitian tentang buruh perempuan . adalah jenis-jenis pekerjaan yang lazim ditekuni perempuan. perempuan pada strata ini mendominasi sektor pertanian. persentase buruh perempuan adalah 90% dari total buruh. sementara untuk kasus pedesaan sebagai buruh tani. Di pedesaan. Diskriminasi kerja perempuan Terlepas dari persoalan sektor yang digeluti perempuan. Hal yang perlu digarisbawahi di sini adalah bahwa kecenderungan perempuan terpinggirkan pada pekerjaan marginal tersebut tidak semata-mata disebabkan faktor pendidikan. sepatu dan elektronik. terdapat preferensi untuk mempekerjakan perempuan pada sektor tertentu dan jenis pekerjaan tertentu karena upah perempuan lebih rendah daripada laki-laki. sebagai buruh pabrik. biaya tenaga kerja dapat ditekan hingga 58% dari total biaya produksi (Tjandraningsih. usaha warung. Kasus lain dengan substansi yang sama ditemukan pula di sektor pertanian pedesaan. termasuk di dalamnya peningkatan peran serta laki-laki dalam kerja reproduksi dalam rumah tangga. Dari kalangan pengusaha sendiri. hanya karena berkeluarga dan memiliki anak menjadi semakin tidak menarik. Di luar konteks desa-kota. kondisi kerja buruk dan tidak memiliki keamanan kerja.6%. Sejarah menunjukan bahwa perempuan dan kerja publik sebenarnya bukan hal baru bagi perempuan Indonesia terutama mereka yang berada pada strata menengah ke bawah. Sementara bila mempekerjakan perempuan. 1991:18). pada umumnya perempuan terlibat dalam perdagangan usaha kecil seperti berdagang sayur mayur di pasar tradisional. Seperti yang juga sudah disinggung di atas. menemukan bahwa biaya tenaga kerja (upah) buruh laki-laki adalah 10-15% dari total biaya produksi. Perempuan di sektor pertanian pedesaan. Di sektor perdagangan. Untuk kasus kota. Masalah umum yang dihadapi perempuan di sektor publik adalah kecenderungan perempuan terpinggirkan pada jenis-jenis pekerjaan yang berupah rendah. Sebuah studi tentang buruh perempuan pada industri sepatu di Tangerang. Sangat penting pula demokratisasi institusi keluarga. sementara di perkotaan sektor industri tertentu didominasi oleh perempuan. Perempuan di sektor industri perkotaan terutama terlibat sebagai buruh di industri tekstil.

Bagi perempuan miskin. Ideologi gender adalah segala aturan. dalam situasi krisis ekonomi. maka pada saat ia masuk ke sektor publik “sah-sah” saja untuk memberikan upah lebih rendah karena pekerjaan di sektor publik hanya sebagai “sampingan” untuk “membantu” suami. atau bahkan lebih. yang mengatur hubungan antara perempuan dan laki-laki terlebih dahulu melalui pembentukan identitas feminin dan maskulin (Ratna Saptari dalam Andria dan Reichman. generalisasi bahwa “semua perempuan bekerja hanya untuk ‘membantu’ suami” atau “semua perempuan bekerja hanya sebagai kegiatan sampingan” banyak tidak terbukti validitasnya. Jika perempuan pada strata menengah ke bawah. Sedangkan bagi perempuan di kelas menengah ke atas. bekerja bagi mereka adalah bagian dari aktualisasi diri. Semakin banyaknya perempuan berpendidikan yang berkeinginan untuk aktif di sektor publik merupakan konsekuensi logis dari pembukaan peluang yang lebih besar bagi anak perempuan untuk bersekolah. banyak perempuan menjadi pencari nafkah utama keluarga atau bersama-sama suami memberikan kontribusi finansial hingga 50% dari total penghasilan keluarga. stereotip. Dua hal ini dapat di lihat juga melalui peningkatan atau penurunan rasio perempuan di setiap jabatan.pada agro industri tembakau ekspor di Jember bahwa untuk pekerjaan di kebun tembakau. 1999: 9).850. namun komponen tunjangan keluarga dan tunjangan kesehatan dibedakan antara pegawai perempuan dan laki-laki. Meskipun besar upah pokok antara pegawai laki-laki dan perempuan sama. Demikian pula tunjangan kesehatan hanya diberikan kepada dirinya sendiri -tidak untuk suami dan anak-. diskriminasi upah seringkali lebih tersamar. Seorang pegawai perempuan yang berstatus menikah -karena dia perempuantidak mendapatkan tunjangan suami atau anak.tetap dianggap lajang. Seorang pegawai perempuan -apakah berstatus menikah atau lajang. nilai. Hal ini selain terkait dengan semakin terbukanya peluang bagi perempuan untuk memasuki sektor-sektor yang pada awalnya diperuntukkan hanya untuk laki-laki.total penghasilan pegawai laki-laki dan perempuan berbeda jumlahnya untuk pekerjaan yang sama.00 per hari (Indraswari. buruh perempuan mendapat upah Rp 1. Diskriminasi upah yang terjadi secara eksplisit maupun implisit. Meskipun sistem pengupahan (termasuk tunjangan) pegawai negeri tidak lagi membedakan pegawai perempuan dan laki-laki. bekerja di sektor publik kebanyakan atas dasar dorongan kebutuhan ekonomi. Karena tugas utama perempuan adalah di sektor domestik. Paling tidak di kedua kasus tersebut telah terjadi penggunaan tenaga kerja perempuan untuk sektor-sektor produktif tertentu dan pemisahan kegiatan-kegiatan tertentu atas dasar jenis kelamin. Bagi perempuan kelas menengah ke atas yang bekerja sebagai pegawai swasta maupun sebagai pegawai negeri. Sebenarnya pihak yang diuntungkan dalam kasus diskiriminasi upah adalah .650. Persoalannya. Dengan demikian -dengan memperhitungkan komponen tunjangan.00 per hari sementara buruh lakilaki mendapat upah Rp 1. di sektor swasta diskriminasi masih terjadi. 1994:52). Persentase buruh perempuan pada kasus tembakau adalah 80%. seringkali memanipulasi ideologi gender sebagai pembenaran.

dapat dilihat telah terjadi pula pelebaran ketimpangan ekonomi antara laki-laki dan perempuan yang ditandai oleh perbedaan upah serta ketidaksamaan akses keuntungan dan fasilitas kerja. jumlah perempuan yang menduduki jabatan struktural. Hal ini diindikasikan dengan minimnya jumlah perempuan yang menduduki posisi pengambil keputusan dan posisi strategis lainnya baik di sektor pemerintah maupun di sektor swasta. yang terkadang melakukan perjalanan cukup jauh. baik untuk kepentingan sosial. Jika merujuk kepada hadits Nabi. Selain persoalan upah. juz VII. Demikian pula dapat dihitung dengan jari. miskin atau karena yang lain (lihat fatwa Ibn Hajar. apabila nyata-nyata dia tidak bisa bekerja mencari nafkah. Meskipun persentase perempuan lebih dari 50% dari total penduduk Indonesia. dalam praktek kehidupan zaman Nabi Saw sesungguhnya ada banyak riwayat menyebutkan tentang sahabat perempuan yang bekerja di dalam dan di luar rumah. menteri. Dari gambaran persoalan diatas. h. Sebutlah misalnya. 573). bekerja bercocok tanam.pemilik modal yang dapat menekan biaya produksi melalui pengurangan komponen biaya tenaga kerja. posisi. Kemudian dia melapor kepada Nabi Saw. walikota. maka Islam sesungguhnya tidak pernah menekan pihak perempuan dalam bidang pekerjaan. maupun untuk memenuhi kebutuhan keluarga. 205 dan al-Mughni li Ibn Qudamah. bupati. juz IV. h. termasuk akses terhadap programprogram pelatihan untuk pengembangan karir. isteri sahabat Zubair bin Awwam. Variasi pandangan ulama hanya muncul pada kasus seorang isteri yang bekerja tanpa restu dari suaminya. baik karena sakit. nomor hadits 1483) disebutkan bahwa ketika Bibi Jabir bin Abdullah keluar rumah untuk bekerja memetik kurma. perempuan di sektor publik menghadapi kendala lebih besar untuk melakukan mobilitas vertikal (kenaikan pangkat. yang dengan tegas mengatakan kepadanya: “Petiklah kurma itu. dia dihardik oleh seseorang untuk tidak keluar rumah. jabatan) karena ideologi patriarkis yang dominan. selama untuk kebaikan dan kemaslahatan”. juz II. dalam perspektif perbandingan dengan laki-laki. Bahkan di dalam literatur fikih (jurisprudensi Islam) secara umum tidak ditemukan larangan perempuan bekerja. Kalau lebih jauh menelusuri lembaran-lembaran literatur fikih. Lebih tegas lagi dalam fikih Hambali. halaman 1211. karena bekerja adalah hak setiap orang. Di dalam kitab hadits (Shahih Muslim. Baik pekerjaan di rumah maupun luar rumah. dll. Asma bint Abu Bakr. suami juga tidak berhak sama sekali untuk melarang isteri bekerja mencari nafkah. selama ada jaminan keamanan dan keselamatan. seorang lelaki yang pada awalnya sudah mengetahui dan menerima calon isterinya sebagai pekerja (baca : perempuan karir) yang setelah . dalam pandangan banyak ulama fikih. Dalam Islam tidak ada masalah Sebagai agama yang diyakini untuk kasih sayang semua umat manusia. namun perempuan yang menjadi anggota parlemen hanya 7-8% dari total anggota parlemen.

Fatwa Ibn Hajar. berbagai jalan dapat ditempuh untuk tetap memberikan keadilan bagi perempuan. (dd) ] Sumber Bacaan : Dedi Haryadi. nomor hadits 1483. suami tidak boleh kemudian melarang isterinya bekerja atas alasan apapun (lihat : al-fiqh al-Islami wa adillatuhu. Yang berarti fikih tidak memandang bahwa kewajiban seorang lelaki (misalnya suami) untuk mencari nafkah menjadi penghalang bagi perempuan untuk bekerja di luar rumah juga untuk mencari nafkah. Akhirnya. dan Juni Thamrin. April 1994 Indraswari dan Juni Thamrin. Perempuan bekerja dan perubahan sosial. h. Shahih Muslim. Al-fiqh al-Islami wa adillatuhu. juz VII. di Indonesia dituangkan dalam kebijakan nasional sebagaimana ditetapkan dalam Garis-Garis Besar Haluan . h. keduanya bekerja di luar rumah dengan prasyarat-prasyarat tertentu. Fikih membenarkan suami dan isteri. AKATIGA. 205. Indrasari Tjandraningsih. juz IV. juz II. AlMughni li Ibn Qudamah. Memang tentu saja hal ini tidak secara otomatis mengatakan bahwa Islam mengajarkan hubungan ibu dan bayinya dihitung dengan uang. h. perempuan sesungguhnya diperbolehkan meminta upah bila menyusui anaknya. 573 Oleh: Swara Rahima Sumber: Kementrian Pemberdayaan Perempuan Kesetaraan Dan Keadilan Gender<center></center> I. Potret kerja buruh perempuan.perkawinan juga akan terus bekerja di luar rumah. Tinjauan kebijakan pengupahan buruh di Indonesia. Bahkan dalam fikih. 1995. Pendahuluan Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG) sudah menjadi isu yang sangat penting dan sudah menjadi komitmen bangsa-bangsa di dunia termasuk Indonesia sehingga seluruh negara menjadi terikat dan harus melaksanakan komitmen tersebut. Upaya mewujudkan Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG). Tinjauan pada Agroindustri Tembakau Ekspor di Jember. AKATIGA. tak terkecuali yang berkaitan dengan masalah perempuan bekerja. 795). Pekerjaan rumah tangga adalah pekerjaan yang sesungguhnya untuk perempuan dan lakilaki. kecuali air susu hari pertama yang merupakan kewajiban perempuan memberikan kepada anaknya karena mengandung kolostrum yang baik untuk meningkatkan imunitas bayi baru lahir. juz VII. Juni 1994 Ratna Saptari. Kalyanamitra. Indraswari. 795. Jadi pendefinisian bahwa pekerjaan di luar rumah adalah tugas laki-laki dan pekerjaan di dalam rumah adalah pekerjaan perempuan adalah hasil penafsiran terhadap teks secara sempit. h. akan tetapi adalah menunjukkan penghargaan pada jerih payah ibu. juz VII. halaman 1211.

untuk melakukan penyusunan program dalam perencanaan.595) penduduk Indonesia (Sensus Penduduk 2000) merupakan sumberdaya pembangunan yang cukup besar. dan dipertegas dalam Instruksi Presiden No. Oleh karena itu program pemberdayaan perempuan telah menjadi agenda bangsa dan memerlukan dukungan semua pihak. swasta maupun masyarakat sangat tergantung dari peran serta laki-laki dan perempuan sebagai pelaku dan pemanfaat hasil pembangunan. . Pelaksanaan PUG diisntruksikan kepada seluruh departemen maupun lembaga pemerintah dan non departemen di pemerintah nasional. ternyata belum dapat memberikan manfaat yang setara bagi perempuan dan laki-laki. pemantauan dan evaluasi dengan mempertimbangkan permasalahan kebutuhan.264. Kurang berperannya kaum perempuan.847. Hal ini disebabkan karena kondisi dan posisi yang kurang menguntungkan dibanding laki-laki. sebagai salah satu strategi untuk mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender. 25 th. Bahkan belum cukup efektif memperkecil kesenjangan yang ada. UU No. Hal ini menunjukkan bahwa hak-hak perempuan memperoleh manfaat secara optimal belum terpenuhi sehingga pembangunan nasional belum mencapai hasil yang optimal. perempuan kurang dapat berperan aktif. 9 tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender (PUG) dalam Pembangunan nasional. Disamping itu pengarusutamaan gender juga merupakan salah satu dari empat key cross cutting issues dalam Propenas. propinsi maupun di kabupaten/kota. program/proyek dan kegiatan.415) dari total (206. sistem upah yang merugikan. Seperti peluang dan kesempatan yang terbatas dalam mengakses dan mengontrol sumberdaya pembangunan. Berbagai upaya pembangunan nasional yang selama ini diarahkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pada pelaksanaannya sampai saat ini peran serta kaum perempuan belum dioptimalkan. sehingga manfaat pembangunan kurang diterima kaum perempuan.9% (102. aspirasi perempuan pada pembangunan dalam kebijakan. Penduduk wanita yang jumlahnya 49. Partisipasi aktif wanita dalam setiap proses pembangunan akan mempercepat tercapainya tujuan pembangunan. pelaksanaan. 2000 tentang Program Pembangunan NasionalPROPENAS 2000-2004. Disadari bahwa keberhasilan pembangunan nasional di Indonesia baik yang dilaksanakan oleh pemerintah. akan memperlambat proses pembangunan atau bahkan perempuan dapat menjadi beban pembangunan itu sendiri. karena masih belum memanfaatkan kapasitas sumber daya manusia secara penuh.Negara (GBHN) 1999. tingkat kesehatan dan pendidikan yang rendah. baik perempuan maupun laki-laki. Kenyataannya dalam beberapa aspek pembangunan.

Kemudian pada tahun 2002 pada peringkat 91 dari 144 negara GDI inipun masih tertinggal dibandingkan dengan-negara di ASEAN seperti Malaysia. 63. kemudian menurun ke peringkat 90 (1998) dan peringkat 92 (1999 dari 146 negara). Rendahnya pemahaman para pengambil keputusan di eksekutif. umumnya lebih mengutamakan laki-laki daripada perempuan (ideology patriarki). kesehatan dan ekonomi.Faktor penyebab kesenjangan gender yaitu Tata nilai sosial budaya masyarakat. Kondisi dan posisi perempuan meliputi 3 (tiga) aspek tersebut di atas sebagai berikut: 1. Adanya kesenjangan pada kondisi dan posisi laki-laki dan perempuan menyebabkan perempuan belum dapat menjadi mitra kerja aktif laki-laki dalam mengatasi masalahmasalah sosial. ekonomi dan politik yang diarahkan pada pemerataan pembangunan. mengingat mereka mempunyai peran reproduksi yang sangat berperan dalam mengembangkan sumber daya manusia masa depan. HDI Indonesia menempati urutan ke-112 dari 175 negara. 110 dari 173 negara. (50.595 orang. Indeks pembangunan manusia skala internasional dan nasional dilihat dri tiga aspek yaitu pendidikan. Penafsiran ajaran agama yang kurang komprehensif atau cenderung tekstual kurang kontekstual. Thailand. Thailand. 70 dan 77. Peraturan perundang-undangan masih berpihak pada salah satu jenis kelamin dengan kata lain belum mencerminkan kesetaraan gender. Kondisi perempuan Indonesia Secara keseluruhan indeks kualitas hidup manusia digambarkan melalui Indeks Pembangunan Manusia/Human Development Index (HDI) yang berada pada peringkat ke-96 pada tahun 1995 yang kemudian menurun ke peringkat 109 pada tahun 1998 dari 174 negara. Philippina yang menempati urutan 59. tujuan. Philippina yang masing-masing berada pada peringkat 54.1% diantaranya laki-laki dan 49.264.9% perempuan). dibandingkan Negara-negara ASEAN lainnya seperti HDI Malaysia. Selain itu rendahnya kualitas perempuan turut mempengaruhi kualitas generasi penerusnya. kaum perempuan masih tertinggal dibandingkan laki-laki. yudikatif. II. dan arah pembangunan yang responsif gender. legislatif terhadap arti. Berdasarkan hasil Survey Penduduk 2000 (BPS) diketahui jumlah penduduk Indonesia sebesar 206. Berdasarkan Human Development Report 2003. Sedangkan Gender related Development Index (GDI) berada pada peringkat ke-88 pada tahun 1995. 60. kemauan dan kesiapan perempuan sendiri untuk merubah keadaan secara konsisten dan konsekwen. Tahun 1999 berada pada peringkat 102 dari 162 negara dan tahun 2002. cenderung dipahami parsial kurang kholistik. Pendidikan Di bidang pendidikan. Kemampuan. Jumlah laki-laki sedikit lebih banyak dibandingkan perempuan. Kondisi ini antara lain disebabkan adanya pandangan dalam masyarakat yang mengutamakan dan .

(Sumber: BPS. 1998).8 tahun (1998) menjadi 67. Usia harapan hidup (life expectancy rate) perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki. demikian juga dengan akses terhadap sumber daya ekonomi. Menurunnya angka kematian anak serta meningkatnya angka harapan hidup dari 64. (Sumber: BPS. 2.mendahulukan laki-laki untuk mendapatkan pendidikan daripada perempuan. Angka buta huruf perempuan 12. Sedangkan ditahun 2003 TPAK laki-laki lebih besar dibanding TPAK perempuan . Statistik Kesejahteraan Rakyat 1999-2001). 3. Menurut Satatistik Kesejahteraan Rakyat 2003. Laki-laki 41. angka harapan hidup (eo) pada periode 19982000 cenderung meningkat. Kesehatan Menurut Gender Statistics and indicators 2000 (BPS). Tetapi pada tahun 2002 terjadi penurunan angka buta huruf yang cukup signifikan.9.84%. kemampuan perempuan memperoleh peluang kerja dan berusaha masih rendah. angka kematian anak. Statistik Kesejahteraan Rakyat 1999-2001). (Sumber: BPS. dan menurun 307/100. Dibidang kesehatan. yang ditunjukkan dengan masih tingginya angka kematian ibu (AKI) 390/100. Estimasi Parameter Demografi. namun demikian angka kematian anak laki-laki lebih tinggi dibandingkan kematian anak perempuan laki-laki 9.8 sedangkan perempuan 7. (Sumber: BPS. Hal ini ditunjukkan dengan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) yang masih jauh lebih rendah dibandingkan laki-laki. Namun angka kematian bayi laki-laki lebih tinggi dibandingkan angka kematian bayi perempuan. Infant Mortality Rate (IMR). (Sumber: BPS. Sejalan dengan semakin meningkatnya kondisi kesehatan masyarakat.69% (Sumber: BPS. Statistik Kesejahteraan Rakyat 19992002). Namun angka buta huruf perempuan tetap lebih besar dari laki-laki.29% dengan komposisi laki-laki 5.34%.7 tahun berbanding 65. Ketertinggalan perempuan dalam bidang pendidikan tercermin dari presentase perempuan buta huruf (14. Statistik Kesejahteraan Rakyat 1999-2001).87%).85% dan perempuan 12. khususnya perempuan kepala rumah tangga. Angka buta huruf perempuan pada kelompok 10 tahun ke atas secara nasional (2002) sebesar 9. yaitu 69.9 tahun. 337/100. secara umum partisipasi perempuan masih rendah.000 (SDKI 1997).28% sedangkan laki-laki 5. kemajuan di bidang kesehatan ditunjukkan dengan menurunnya angka kematian bayi (dari 49 bayi per 1000 kelahiran pada tahun 1998 menjadi 36 tahun 2000. Berdasarkan estimasi parameter demografi 1998 yang dikeluarkan BPS.54% tahun 2001) lebih besar dibandingkan laki-laki (6. Dibidang kesehatan dan status gizi perempuan masih merupakan masalah utama. Child Mortality Rate (CMR) periode ini juga menunjukkan penurunan. dengan kecenderungan meningkat selama tahun 1999-2000.000 (SDKI 1994). Statistik Kesejahteraan Rakyat 1999-2002). Ekonomi Di bidang ekonomi.000 (SDKI 2002).9 tahun (2000). perempuan 31. yaitu 45% (2002) sedangkan laki-laki 75. selama periode 1998-2000 ada penurunan angka kematian bayi.

1% dari jumlah seluruh PNS (4. dan 28 pada tahun 2002.861). Jumlah perempuan yang menjabat sebagai Hakim Agung dan Hakim Yustisial Non Struktural di Mahkamah Agung juga menunjukkan penurunan dari 36 pada tahun 1998 menjadi 34 pada tahun 1999. III. lakilaki sebesar 62. Masalah yang sering muncul adalah perdagangan perempuan. struktur. BPS. (Statitik dan Indikator Gender. yang umumnya timbul dari berbagai faktor yang saling terkait. (Sumber: Statistik dan Indikator Gender Indonesia 2002-Bab7). dan dari jumlah tersebut hanya 15. (BPS.146).005. dan negara. Pengertian Kesetaraan dan Keadilan gender . Sedangkan tahun 2000 terjadi sedikit perubahan dimana jumlah PNS perempuan adalah 37. antara lain dampak negatif dari proses urbanisasi.3%. kekerasan. masyarakat. Masalah HAM bagi perempuan termasuk isu gender yang menuntut perhatian khusus adalah masalah penindasan dan eksploitasi.6%. Pada tahun 1999 jumlah PNS perempuan adalah 36. Faktor penyebab kesenjangan gender pada aspek lain misalnya politik sebagai berikut: hasil Pemilu tahun 1999 yang menyertakan 57% pemilih perempuan hanya terwakili 8.81%. Statistik Kesejahteraan Rakya.9%. Pemilu 2004 perempuan hanya terwakili 11%. Jumlah peraturan perundang-undangan yang diskrimintaif terhadap perempuan berjumlah kurang lebih 32 buah. Faktor Kesenjangan dibidang hukum dan politik Faktor penyebab kesenjangan kondisi dan posisi perempuan dan laki-laki dipengaruhi oleh peraturan perundang-undangan yang bias gender karena dalam bidang hukum masih banyak dijumpai substansi.yakni 76.8%.2% PNS perempuan yang menduduki jabatan struktural. dan pelacuran paksa. dan dari jumlah tersebut hanya 15. IV.7% yang menduduki jabatan struktural.927.4% dari jumlah seluruh PNS (3. 2003). lebih rendah dari hasil pemilu 1997 yang berjumlah 11.12% berbanding 44. sedangkan PNS laki-laki sebesar 84.8% dari seluruh anggota DPR. relatif tingginya angka kemiskinan dan pengangguran. (Sumber: Statistik dan Indikator Gender Indonesia 2002). serta rendahnya tingkat pendidikan. dan budaya hukum yang diskriminatif gender. 2000). sedangkan PNS laki-laki sebesar 84.2% dari jumlah pemilih 51%. laki-laki sebesar 63. dan persamaan hak dalam keluarga.

Memiliki akses dan partisipasi berarti memiliki peluang atau kesempatan untuk menggunakan sumber daya dan memiliki wewenang untuk mengambil keputusan terhadap cara penggunaan dan hasil sumber daya tersebut. . hukum. agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik. Ketentuan ini berlaku sejak dahulu kala. ketentuan sosial dan budaya ditempat mereka berada. Terwujudnya kesetaran dan keadilan gender ditandai dengan tidak adanya diskriminasi antara perempuan dan laki-laki. sosial budaya. fungsi. kesempatan berpartisipasi. pendidikan dan pertahanan dan keamanan nasional (hankamnas). Oleh karena itu gender berkaitan dengan proses keyakinan bagaimana seharusnya laki-laki dan perempuan berperan dan bertindak sesuai dengan tata nilai yang terstruktur. dan dengan demikian mereka memiliki akses. Oleh karena itu tidak dapat ditukar atau diubah. tanggung jawab antara perempuan dan laki-laki yang dibentuk/dikonstruksi oleh sosial budaya dan dapat berubah sesuai perkembangan zaman. Dengan keadilan gender berarti tidak ada pembakuan peran. Sehingga memperoleh manfaat yang sama dari pembangunan. dan kontrol atas pembangunan serta memperoleh manfaat yang setara dan adil dari pembangunan. Memiliki kontrol berarti memiliki kewenangan penuh untuk mengambil keputusan atas penggunaan dan hasil sumber daya. Dengan demikian gender dapat dikatakan pembedaan peran. subordinasi. V. beban ganda. Seks/kodrat adalah jenis kelamin yang terdiri dari perempuan dan laki-laki yang telah ditentukan oleh Tuhan. ekonomi. serta kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan tersebut. Gender bukanlah kodrat ataupun ketentuan Tuhan. baik terhadap laki-laki maupun perempuan. marginalisasi dan kekerasan terhadap perempuan maupun laki-laki. sekarang dan berlaku selamanya. dan dapat berubah dari waktu ke waktu. serta tanggung jawab laki-laki dan perempuan Sehingga gender belum tentu sama di tempat yang berbeda.Kesetaraan gender berarti kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan serta hak-haknya sebagai manusia. Pengertian gender dan seks Gender adalah perbedaan dan fungsi peran sosial yang dikonstruksikan oleh masyarakat. Kesetaraan gender juga meliputi penghapusan diskriminasi dan ketidak adilan struktural. Keadilan gender adalah suatu proses dan perlakuan adil terhadap perempuan dan lakilaki.

menyatakan. Berbagai pembedaan peran. VII. terhadap laki-laki dan perempuan. 1996. Masyarakat belum memahami bahwa gender adalah suatu konstruksi budaya tentang peran fungsi dan tanggung jawab sosial antara laki-laki dan perempuan. dan posisi tidak menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan. berlaku sepanjang masa. tergantung waktu. budaya setempat. menyatakan. subordinasi. Faqih dalam Achmad M. 2001). Gender masih diartikan oleh masyarakat sebagai perbedaan jenis kelamin. Kondisi demikian mengakibatkan kesenjangan peran sosial dan tanggung jawab sehingga terjadi diskriminasi. 1996). tetapi juga bagi kaum laki-laki. VI. beban kerja lebih banyak dan panjang (Ihromi. Mosse. Manisfestasi ketidakadilan gender tersebut masing-masing tidak bisa dipisah-pisahkan. 1998a. Bentuk-bentuk ketidakadilan akibat diskriminasi gender . norma ataupun struktur masyarakat. di belahan dunia manapun. berlaku dimana saja. tidak dapat dipertukarkan. melainkan buatan manusia. Namun pada kenyataannya perbedaan gender telah melahirkan berbagai ketidak adilan. diskriminasi terhadap perempuan kurang menguntungkan dibandingkan laki-laki. Hanya saja bila dibandingkan. Sesungguhnya perbedaan gender dengan pemilahan sifat.Dengan demikian perbedaan gender dan jenis kelamin (seks) adalah Gender: dapat berubah. saling terkait dan berpengaruh secara dialektis (Achmad M. ketidak adilan gender termanifestasikan dalam berbagai bentuk ketidakadilan. 1997). dan merupakan kodrat atau ciptaan Tuhan. peran. misalnya marginalisasi. bukan merupakan kodrat Tuhan. 1997). hal ini dapat terlihat dari gambaran kondisi perempuan di Indonesia. fungsi. Permasalah Ketidakadilan Gender Ketertinggalan perempuan mencerminkan masih adanya ketidakadilan dan ketidak setaraan antara laki-laki dan perempuan di Indonesia. dapat dipertukarkan. kekerasan terhadap perempuan (Prasetyo dan Marzuki. stereotipe/pelabelan negatif sekaligus perlakuan diskriminatif (Bhasin. hal. Lain halnya dengan seks. terutama pada perempuan. seks tidak dapat berubah. 1990). ketidak adilan gender adalah suatu sistem dan struktur yang menempatkan laki-laki maupun perempuan sebagai korban dari sistem (Faqih. Selanjutnya Achmad M. 33. bukan saja bagi kaum perempuan. dan dampak suatu peraturan perundang-undangan maupun kebijakan telah menimbulkan berbagai ketidakadilan karena telah berakar dalam adat. tugas dan tanggung jawab serta kedudukan antara laki-laki dan perempuan baik secara langsung maupun tidak langsung.

mesin yang diasumsikan hanya membutuhkan tenaga dan keterampilan laki-laki. Selain itu perkembangan teknologi telah menyebabkan apa yang semula dikerjakan secara manual oleh perempuan diambil alih oleh mesin yang ummunya dikerjakan oleh tenaga laki-laki. Di Jawa misalnya revolusi hijau memperkenalkan jenis padi unggul yang panennya menggunakan sabit. Perempuan dipinggirkan dari berbagai jenis kegiatan pertanian dan industri yang lebih memerlukan keterampilan yang biasanya lebih banyak dimiliki laki-laki. ♣Banyak pekerjaan yang dianggap sebagai pekerjaan perempuan seperti “guru taman kanak-kanak” atau “sekretaris” dan “perawat”. 2. 1996). tafsiran ajaran agama maupun dalam aturan birokrasi yang meletakan kaum perempuan sebagai subordinasi dari kaum laki-laki. ♣Pemotongan padi dengan peralatan sabit. Contoh-contoh marginalisasi: Pemupukan dan ♣pengendalian hama dengan teknologi baru yang dikerjakan laki-laki. Marginalisasi perempuan sebagai salah satu bentuk ketidakadilan gender Proses marginalisasi (peminggiran/pemiskinan) yang mengakibatkan kemiskinan. menggantikan tangan perempuan dengan alat panen ani-ani. atau hendak berpergian ke luar negeri harus mendapat . Beberapa studi dilakukan untuk membahas bagaimana program pembangunan telah meminggirkan sekaligus memiskinkan perempuan (Shiva. Subordinasi Subordinasi pada dasarnya adalah keyakinan bahwa salah satu jenis kelamin dianggap lebih penting atau lebih utama dibanding jenis kelamin lainnya. ♣Usaha konveksi lebih suka menyerap tenaga perempuan. Banyak kasus dalam tradisi. eksploitasi. Sebagai contoh apabila seorang isteri yang hendak mengikuti tugas belajar. Namun pemiskinan atas perempuan maupun laki yang disebabkan jenis kelamin merupakan salah satu bentuk ketidakadilan yang disebabkan gender. Sebagai contoh. Sudah sejak dahulu ada pandangan yang menempatkan kedudukan dan peran perempuan lebih rendah dari lakilaki. banyak terjadi dalam masyarakat terjadi dalam masyarakat di Negara berkembang seperti penggusuran dari kampong halaman. Seperti Program revolusi hijau yang memiskinkan perempuan dari pekerjaan di sawah yang menggunakan ani-ani. Kenyataan memperlihatkan bahwa masih ada nilai-nilai masyarakat yang membatasi ruang gerak terutama perempuan dalam kehidupan. ♣Peluang menjadi pembantu rumah tangga lebih banyak perempuan. Mosse. banyak pekerja perempuan tersingkir dan menjadi miskin akibat dari program pembangunan seperti internsifikasi pertanian yang hanya memfokuskan petani laki-laki. 1997.1.

izin suami. Kekerasan Berbagai bentuk tidak kekerasan terhadap perempuan sebagai akibat perbedaan. seperpti pelecehan seksual sehingga secara emosional terusik. Sementara label laki-laki sebagai pencari nakah utama. dan beberapa dilakukan oleh perempuan. namun standar nilai tersebut banyak menghakimi dan merugikan perempuan. mertua. Standar nilai terhadap perilaku perempuan dan laki-laki berbeda. ada juga di dalam masyarakat itu sendiri. 4. sepupu. Pandangan stereotipe Setereotipe dimaksud adalah citra baku tentang individu atau kelompok yang tidak sesuai dengan kenyataan empiris yang ada. ada yang bersifat individu. Pelabelan negatif secara umum selalu melahirkan ketidakadilan. bisnis atau birokrat. pemukulan dan penyiksaan. Beban Ganda Bentuk lain dari diskriminasi dan ketidak adilan gender adalah beban ganda yang harus dilakukan oleh salah satu jenis kalamin tertentu secara berlebihan. bahkan di tingkat pemerintah dan negara. 5. Pelaku kekerasan bermacam-macam. ia dianggap tegas. jika hendak aktif dalam “kegiatan laki-laki” seperti berpolitik. tatapi kalau suami yang akan pergi tidak perlu izin dari isteri. baik di dalam rumah tangga sendiri maupun di tempat umum. muncul dalam bebagai bentuk. paman. Salah satu stereotipe yang berkembang berdasarkan pengertian gender. artinya suatu serangan terhadap fisik maupun integritas mental psikologis seseorang. tetapi bila perempuan marah atau tersinggung dianggap emosional dan tidak dapat menahan diri. majikan. Pelaku bisa saja suami/ayah. keponakan. Hal ini mengakibatkan terjadinya diskriminasi dan berbagai ketidakadilan yang merugikan kaum perempuan. Oleh karena itu kekerasan tidak hanya menyangkut serangan fisik saja seperti perkosaan. . anak laki-laki. 3. Apabila seorang laki-laki marah. Hal ini tidak hanya terjadi dalam lingkup rumah tangga tetapi juga terjadi di tempat kerja dan masyaraklat. Sehingga bagi mereka yang bekerja. (breadwinner) mengakibatkan apa saja yang dihasilkan oleh perempuan dianggap sebagai sambilan atau tambahan dan cenderung tidak diperhitungkan. tetapi juga yang bersifat non fisik. Kata kekerasan merupakan terjemahkan dari violence. Misalnya pandangan terhadap perempuan yang tugas dan fungsinya hanya melaksanakan pekerjaan yang berkaitan dengan pekerjaan domistik atau kerumahtanggaan. Dalam suatu rumah tangga pada umumnya beberapa jenis kegiatan dilakukan laki-laki. tetangga. (perempuan). menunjukkan perempuan mengerjakan hampir 90% dari pekerjaan dalam rumah tangga. yakni terjadi terhadap salah satu jenis kelamin. Label kaum perempuan sebagai “ibu rumah tangga” merugikan. Berbagai observasi.

Women must participate equally with men in the decision making process which help to promote peace at all the levels (Deklarasi Konferensi Mexico. gerakan global emasipasi masuk dalam agenda PBB (ECOSOC) untuk diakomodasi Negara anggota. dan negara Perjuangan Kesetaraan laki-laki dan perempuan (internasional) • Deklarasi HAM. • Konferensi di Mexico. • Pertemuan di Vienna. and the world. Peran perempuan di domestik dan publik Women have a vital role to play in the promotion of peace in all sphares of life. 36 tahun 1990. melalui UU No. VIII. 1952 hak politik dan ekonomi perempuan diadopsi PBB. • 1963. bangsa. 7 tahun 1984. Indonesia meratifikasi CEDAW. toleransi. Secara Nasional antara lain: Adanya ♣UUD 1945 yang sudah empat kali diamandemen tentang♣UU No. meskipun ada juga ketimpangan yang dialami kaum laki-laki di satu sisi. kenyataannya perempuan sebagai sumber daya insani masih mendapat pembedan perlakuan. dan negara • Pendidik pertama dan utama bagi generasi penerus keluarga.selain bekerja di tempat kerja juga masih harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga. 1975 menyetujui program WID (Women in Development) sebagai strategi meningkatkan peran wanita. the community. 1975) Kelebihan/potensi perempuan: • Rasa sosial. in the family. Dirasakan banyak ketimpangan. • Konferensi di Nairobi. Indonesia meratifikasi CRC (Convention Rights of Children). terutama bila bergerak dalam bidang publik. Commission on the Status of Women (1967) memberi aspirasi pada lahirnya PKK. Cairo 1994 mengagendakan perlindungan terhadap hak reproduksi perempuan dalam pembangunan yang berkelanjutan. melalui Keputusan Presiden No. • Konferensi di Beijing. ikatan kelompok • Jiwa interpreneur (keseimbangan pendapatan-pengeluaran) • Perhatian terhadap pemenuhan kebutuhan dasar keluarga. 1985 setujui pembentukan UNIFEM lembaga PBB untuk perempuan dengan program WAD (Women and Development) 1979 CEDAW-PBB. bangsa. terutama bagi anak-anaknya • Perajut persatuan dan kesatuan hidup masyarakat. Dalam proses pembangunan. PBB (1948) memberi aspirasi bagi gerakan feminis untuk memperjuangkan hak-hak perempuan (all human beings are born free and equal in dignity and rights). 1995 merinci 12 keprihatinan terhadap perempuan yang dikenal dengan 12 critical issues. 25 tahun 2000 Propenas ♣UU No. 1990 menyetujui program GAD (Gender and Development) dengan strategi Pengarustuaamaan Gender. • Konferensi ICPD. 12 tahun 2000 tentang Pemilu . the nation.

ketidak lengkapan data dan informasi gender yang dipisahkan menurut jenis kelamin (terpilah). kedudukan masih rendah. Untuk meningkatkan status dan kualitas perempuan juga telah diupayakan namun hasilnya masih belum memadai. juga masih belum mapannya hubungan kemitraan antara pemerintah dengan masyarakat maupun lembaga-lembaga yang memiliki visi pemberdayaan perempuan yaitu dalam tahap-tahap perencanaan. pada saat ini masih banyak kebijakan. aspirasi dan kepentingan antara perempuan dan laki-laki serta belum menetapkan kesetaran dan keadilan gender sebagai sasaran akhir pembangunan. pemahman. . meskipun masih belum optimal. 9♣IInstruksi tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional. penyadaran dan advokasi • Penyatuan persepsi. dan penyadaran kepada semua pihak untuk mewujudkan kesetaran gender dan perlindungan anak dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Penyebabnya antara lain belum adanya kesadaran gender terutama di kalangan para perencana dan pembuat keputusan. Upaya-upaya dan usaha yang dilakukan pemerintah dalam rangka KKG Upaya mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender sebagai visi Kementerian Pemberdayaan Perempuan RI sebenarnya merupakan bentuk pembaruan pembangunan pemberdayaan perempuan yang selama tiga dasa warsa telah memberikan manfaat yang cukup besar. Berbagai peningkatan pemberdayaan perempuan bisa dilihat dengan meningkatnya kualitas hidup perempuan dari berbagai aspek . IX. Prinsip dasar membangun kesetaran gender di Indonesia • Menghargai pluralistik • Pendekatan sosio-kultural • Peningaktan ekonomi dan kesejahteraan rakyat • Penegakan HAM dan supremasi hukum • Penghapusan kekerasan dan diskriminasi • Penyadaran pilar pembangunan • Pemerintah: sosialisasi dan advokasi • Masyarkat: sensitisasi dan advokasi • Dunia usaha. program dan kegiatan pembangunan yang belum peka gender. beban kerja masih berat.Presiden No. yang mana belum mempertimbangkan perbedaan pengalaman. Di lain pihak. ini terlihat dari kesempatan kerja perempuan belum membaik.

legislatif. Meskipun kemajuan perempuan ini hanya bisa dinikmati pada tataran masyarakat yang sosial ekonominya mapan (menengah ke atas). 17-18. Hal ini tidak lain karena masalah struktural utamanya. pemantauan dan evaluasi kebijakan dan program pembangunan Bergesernya proporsi pekerjaan utama perempuan dari pertanian ke ranah industri. masyarakat dan berbangsa serta bernegara merupakan indikator keberhasilan pemberdayaan perempuan khususnya upaya kesetaraan dan keadilan gender mulai dapat dirasakan. Sebaliknya pada tingkat sosial ekonomi menengah ke bawah. yudikatif. kesempatan dan akses serta kontrol dalam pembangunan. hal. Selain nilai-nilai budaya patriarkhi yang dilegitimasi dengan (atas nama) agama dan sistem sosial yang menempatkan perempuan dan laki-laki dalam kedudukan dan peran yang berbeda dan dibeda-bedakan. (Zaitunah Subhan. 2001) Dalam GBHN 1999-2004 menetapkan dua arah kebijakan pemberdayaan perempuan yakni pertama meningkatkan kedudukan dan peranan perempuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara melalui kebijakan nasional yang diemban oleh lembaga yang mampu memperjuangkan terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender. Sesuai dengan dua arahan kebijakan itu. serta perolehan manfaat atas hasil pembangunan. meningkatnya mobilitas perempuan baik migrasi domestik maupun internasional serta semakin membaiknya peran perempuan di lingkup keluarga. tokoh-tokoh agama dan masyarakat secara keseluruhan. Dengan demikian pemberdayaan perempuan dalam rangka mewujudkan KKG merupakan komitmen bangsa Indonesia yang pelaksanaannya menjadi tanggung jawab seluruh pihak eksekutif. .pelaksanaan. masih sering dijumpai ketimpangan antara laki-laki dan perempuan baik dalam memperoleh peluang. pemerintah bertanggung jawab untuk merumuskan kebijakan-kebijakan pemberdayaan perempuan di tingkat nasional maupun daerah. yang pelaksanaannya dapat memberikan hasil terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender di segala bidang kehidupan dan pembangunan. Kedua meningkatkan kualitas peran dan kemandirian organisasi perempuan dengan tetap mempertahankan nilai persatuan dan kesatuan serta nilai historis perjuangan perempuan dalam rangka melanjutkan usaha pemberdayaan perempuan serta kesejahteraan keluarga dan masyarakat.

Propenas 2000-2004 telah melakukan mainstreaming kebijakan dan program pembangunan pemberdayaan perempuan. Tujuan utama program ini adalah tercapainya perbaikan status kesehatan reproduksi kaum perempuan dan laki-laki melalui kebijakan program kesehatan reproduksi dan kependudukan yang sensitif gender. Dalam rangka mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender melaui program yang peka akan permasalahan gender. Sarana dan Prasarana. Program Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan. dan pelatihan analisis gender baik di tingkat pusat. Mencakup Program Pengembangan dan Keserasian Kebijakan Pemberdayaan Perempuan. Kementerian Pemberdayaan Perempuan juga telah melaksanakan program dan langkah konkrit antara lain: • Program Pengembangan dan keserasian kebijakan pemberdayaan perempuan. Hal ini akan dicapai melalui penguatan kapasitas nasional untuk melakukan pengarusutamaan gender. serta serangkaian koordinasi telah dilakukan dalam upaya perbaikan undang-undang yang masih bias gender seperti UU No. Program Peningkatan Kesejahteraan dan Perlindungan Anak. . Program Sumber Daya. propinsi. Kementerian Pemberdayaan Perempuan telah bekerjasama dengan UNFPA dalam melaksanakan serangkaian kegiatan Mainstreaming Gender Issues in Reproductive Health and Population Policies and Programmes.Berdasarkan arah kebijakan yang dimandatkan oleh GBHN 1999-2004 untuk butir pemberdayaan perempuan. • Pengembangan modul sosialisasi/advokasi gender. Program Peningkatan Peran Masyarakat Pemampuan Kelembagaan Pengarusutamaan Gender. propinsi dan kabupaten/kota. Selanjutnya Propenas telah dirumusakan secara lebih rinci setiap tahunnya ke dalam Rencana Pembangunan tahunan (Repeta). Upaya mengaktualisasikan dan memanifestasikan dan mengakselerasi-kan PUG di sektor strategis. 62 tahun 1958 tentang Kewarganegaraan. program yang disusun terdiri dari program dalam rangka pembangunan pemberdayaan perempuan. advokasi. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan dan UU No. dan kabupaten/kota. • Program Peningkatan Peranserta masyarakat dan penguatan kelembagaan PUG dilakukan dengan melalui: sosialisasi. peningkatan kesejahteraan dan perlindungan anak dan upaya peningkatan kemampuan. Mengingat produk tersebut merupakan undang-undang. Selanjutnya dalam Rencana Strategi Kementerian Pemberdayaan Perempuan 2001-2004. untuk tahun 2001 (Repeta 2001). serta melalui aplikasi konsep gender dalam formulasi dan pelaksanaan kebijakan dan program untuk kesehatan reproduksi dan kependudukan. maka untuk mewujudkan kesetaran dan keadilan gender harus menjadi komitmen bersama.

politik. Keadaan ini menciptakan permasalahan tersendiri dalam upaya pemberdayaan perempuan. • Tersedianya data dan informasi yang terpilah menurut jenis kelamin secara berkala dan berkesinambungan dari propinsi dan kabupaten/kota mengenai pengarusutamaan gender dalam pembangunan daerah. kondisi perempuan di bidang ekonomi.• Pengembangan alat untuk analisis gender yang digunakan dalam perencanaan program dan dikenal dengan Gender Analysis Pathway (GAP). sosial. bermasyarakat. • Fasilitasi bantuan teknis kepada daerah propinsi. dimana diharapkan perempuan memiliki peranan yang lebih kuat dalam proses pembangunan. selain itu ketimpangan lebih banyak dialami perempuan dari pada laki-laki. dimana perempuan kurang memperoleh akses terhadap pendidikan. X. dan Problem Base Analysis (PROBA). • Penyusunan Profil Gender untuk 26 propinsi. Saran dan pesan: Pada kesempatan ini dihimbau kepada para kandidat puteri Indonesia yang dibanggakan untuk berperan aktif dalam memajukan posisi dan kondisi perempuan Indonesia dalam . Akibat diskriminasi gender yang telah berlaku sejak lama. hankam dan HAM berada pada posisi yang tidak menguntungkan. pekerjaan. dan budaya. Kurangnya keikutsertaan perempuan dalam memberikan konstribusi terhadap program pembangunan menyebabkan kesenjangan yang ada terus saja terjadi. Kesimpulan Berdasarkan uraian di atas menunjukkan bahwa diskriminasi gender telah melahirkan ketimpangan dalam kehidupan berkeluarga. pengambilan keputusan dan aspek lainnya. Kondisi yang tidak menguntungkan ini apabila tidak diatasi. XI. kabupaten dan kota. Bahwa status perempuan dalam kehidupan sosial dalam banyak hal masih mengalami diskriminasi haruslah diakui. Kondisi ini terkait erat dengan masih kuatnya nilai-nilai tradisional terutama di pedesaan. konsep kesetaraan dan keadilan gender dan jaringan informasi dengan website. maka ketimpangan atau kesenjangan pada kondisi dan posisi perempuan tetap saja akan terjadi. berbangsa dan bernegara. • Pengembanagan Homepage untuk penyediaan data dan informasi program pembangunan pemberdayaan perempuan.

Jilid I Penerbit IAIN Walisongo dengan Gama Media. misalnya melalui aktifitas peningkatan pengetahuan dan penyebarluasan seluruh informasi sebagaimana telah dipaparkan tersebut di atas. Modul Pelatihan. Bias Gender dalam Pendidikan. 2002. 2001. Pesan khusus untuk semua kandidat adalah menjaga jatidiri puteri Indonesia yang bermoral karena kita mempunyai macam-macam agama yang diakui dan ragam budaya yang dapat dijalankan dan dijaga kelestariannya. Julia Cleves Mosse. Gender dan Pembangunan. Kantor Menteri Negara Peranan Wanita. 2002. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI. Mudahmudahan apa yang telah disampaikan dapat memberi manfaat yang sebesar-besar bagi diri sendiri. Dr. Hj. 3 Agustus 2004 Daftar Pustaka: Achmad Muthali’in. Kantor Menteri Negara Peranan Wanita. 2002. Buku Referensi Pelatihan: Fakta dan Indikator Gender. baik pada kalangan sendiri. BPS. MA. Gender Statistics and Indicators 2000. Buku 2. Bahan Informasi Pengarusutamaan Gender. 2002. JICA dan UNFPA. Profil Wanita Indonesia. MA. Tingkat Nasional. BPS. Panduan Gender dalam Perencanaan Partisipatif. Dra. H.segala aspek/bidang pembangunan. Jakarta. United Nations Developmen Fund for Women. 2001. dalam keluarga. et all. (Pengantar). Keadilan dan Kesetaraan Gender untuk BUMN/BUMD dan Perusahaan Swasata. Nasaruddin Umar. 2003. H. Bahan Informasi . Surakarta. Bias Jender dalam Pemahaman Islam. Edisi ke-2. Kementerian Pemberdayaan Perempuan. Sri Suhandjati Sukri (Editor). Muhammadiyah University Press. BPS. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI. Abdul Djamil. Deputi Bidang Kesetaraan Gender bekerjasama dengan Bangun Mitra Sejati. 1996. Dr. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan. serta lingkungan masyarakat luas. Pedoman Teknis Perencanaan Pembangunan Berperspektif Gender. 4 Propinsi dan 16 Kabupaten/Kota Terpilih. Statistik Kesejahteraan Rakyat. masyarakat bangsa dan Negara. Diterbitkan atas kerjasama RIFKA ANNISA Women’s Crisis Centre dengan Pustaka Pelajar. 2003. 1998. Sekaligus saya tekankan semoga semua kandidat puteri Indonesia dapat menjunjung tinggi agamanya dan jatidirinya sebagai Bangsa Indonesia yang aman dan damai. Apa Itu Gender. Buku 1.

a sourcebook for advocates. Pemantauan dan Penilaian. Bahan Informasi Pengarusutamaan Gender. del rosario with the assistance of professor rosalinda pineda-ofreneo for Unifem and NCRFW). maka berkumpul sekira 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatra untuk menyelenggarakan kongres pertamanya dengan mengambil lokasi di Yogyakarta. 1994. Perencanaan erperspektif Gender. planners. BKKBN. Modul 1: Apa itu Gender? UNIFEM and NCRFW. and implementors. Kementerian Pemberdayaan Perempuan. tores and professor rosario s. adalah bukti sejarah bahwa semangat pluralisme (keberbedaan) yang merupakan modal utama untuk membangun persatuan. Ediisi ke-2.Pengarusutamaan Gender. Gender and Development Making the Bureaucracy gender-responsive. Bunga Rampai “Bahan Pembelajaran Pelatihan Pengarusutamaan Gender dan Program Pembangunan Nasional”. Edisi ke-2. UNFPA. Wanita Katolik. Bahan Informasi Pengarusutamaan Gender. muncul kesan bahwa semangat perjuangan kaum perempuan tempo dulu ternyata tidak sedangkal semangat yang sering ditampilkan pada peringatan Hari Ibu saat ini seremonial dan bahkan konsumerisme. Buku 3. 2002. (developed by dr. Bahan Informasi Gender. Putri Indonesia. Bagaimana Mengatasi Kesenjangan Gender. mereka tidak hanya gigih dalam menyuarakan hak-haknya. 2003. Peningkatan Kesetaraan dan Keadilan Jender. Zaitunah Subhan. persisnya pada tanggal 22 Desember 1928. Salah satu agenda pokoknya adala menggabungkan organisasi-organisasi perempuan Indonesia dalam sebuah federasi tanpa sama sekali membedakan latar belakang politik. sesungguhnya telah tumbuh subur di kalangan tokoh . Dulu. Sumber: Hari Pembebasan Kaum Perempuan<center></center> KALAU kita menyimak catatan sejarah perjalanan Hari Ibu yang setiap tahunnya diperingati pada tanggal 22 Desember. amaryllis t. suku. Edidisi ke-2. tetapi juga berani memikul senjata turun ke medan perang untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini. status sosial dan bahkan agama. Jong Islamieten Bond bagian Wanita dan Organisasi Wanita Utomo. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI. Hadirnya organisasi seperti Aisyiah. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI. 2002. Jong Java bagian Perempuan. Adalah sejarah yang mencatat bahwa dua bulan setelah Sumpah Pemuda dideklarasikan. dalam membangun Good Governance. Kementerian Pemberdayaan Perempuan. Buku 4.

maka jauh sebelumnya kaum perempuan Indonesia pernah mengungkapkannya pada Kongres PPPI tahun 1930 yang ditandai dengan lahirnya kesepakatan untuk membentuk Perkumpulan Pemberantasan Perdagangan Perempuan dan Anak-anak (P4A). adalah beberapa rekomendasi penting yang lahir dari kongres perempuan pertama 75 tahun yang lalu. jika saat ini kita. kaum perempuan Indonesia ternyata telah memiliki kesadaran mengenai arti pentingnya pendidikan dan kesehatan sebagai modal utama untuk bisa keluar dari berbagai ketertinggalannya. Semua itu juga memberi isyarat kepada kita bahwa gerakan kaum perempuan pada saat itu sesungguhnya tidak kalah majunya dibanding dengan perjuangan kaum perempuan saat ini. Melalui kongres perempuan pertama itu pulalah berhasil dirumuskan beberapa rekomendasi yang berisi tuntutan penerbitan surat kabar sebagai media untuk meyuarakan hak-hak kaum perempuan sampai kepada tuntutan pemberian bantuan khusus bagi perempuan janda dan anak yatim. Sebagai gambaran.wanita sejak dua pertiga abad yang lalu. kita pun akan segera mengetahui bahwa banyak dari isu sentral yang diangkat gerakan perempuan saat ini. Jangan lupa. Itu semua menunjukkan bahwa jauh sebelum ada lembaga yang sekarang banyak menyuarakan arti pentingnya kesetaraan dan keadilan gender. penolakan tradisi perkawinan anak perempuan di bawah umur termasuk kawin paksa. Bahkan jika kita menyimak catatan penting yang dihasilkan oleh kongres perempuan tahun-tahun berikutnya seperti tertuang dalam buku ”Peringatan 30 tahun Kesatuan Pergerakan Perempuan Indonesia 1928-1958”. Yang tidak kalah pentingnya. sesungguhnya merupakan isu yang pernah diagendakan dalam perjuangan kaum perempuan tempo dulu. . dari kongresnya yang pertama itu pula lahir kesepakatan untuk mendirikan badan musyawarah bernama Perikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia (PPPI) dengan misi pokoknya untuk menjalin hubungan di antara semua perhimpunan perempuan. adalah sejarah pula yang mencatat bahwa dari kongres perempuan Indonesia yang pertama itu berhasil dirumuskan beberapa rekomendasi penting dalam rangka memperjuangkan hak-haknya. bahkan komunitas dunia banyak bicara mengenai masalah perdagangan anak dan kaum perempuan. sampai tuntutan pemberlakuan syarat-syarat pelaksanaan perceraian yang tidak merugikan hidup kaum perempuan. bahkan jauh sebelum kemedekaan Indonesia diproklamasikan. termasuk di dalamnya kesepakatan penyelenggaraan kongres perempuan tahunan dalam rangka mengisi dan memelihara kelangsungan perjuangannya. Tuntutan kaum perempuan kepada pemerintah tentang pemberian beasiswa untuk anak perempuan dan sekolah-sekolah perempuan. Tidak keliru kalau momentum yang kini diperingati sebagai Hari Ibu itu hadir sebagai puncak kebangkitan kesadaran kaum perempuan Indonesia dalam rangka menghimpun kekuatan bersama untuk bisa keluar dari berbagai ketertinggalannya.

oleh karena dari pada kaum bapak masih banyak jang kurang pengetahuan akan harganja sokongan kaum ibu itu. diadakan pada suatu waktu. Gagasan dasarnya.. 1928).” (Soekarno. Simak cuplikan pidato Soekarno di hadapan peserta kongres pertama kaum perempuan tanggal 22 Desember tahun 1928 waktu itu yang mengisyaratkan besarnya perhatian sekaligus pengakuan tokoh politik terhadap potensi yang dimiliki gerakan kaum perempuan pada saat itu sebagai berikut: ”Berbahagialah kongres kaum ibu. Pada tahun 1930. Hal yang sama juga dilakukan pula oleh Wanita Muslimat dari Masyumi. sesungguhnya masih begitu banyak kiprah sekaligus sumbangan pemikiran berarti yang telah diberikan kaum perempuan pada saat itu. Setelah Jepang menyerah. misalnya. rekomendasi megenai arti pentingnya kampanye berkait dengan segala akibat buruk yang ditimbulkan dari banyak kasus perkawinan usia dini sampai kepada upaya mempelajari hak pilih bagi kaum perempuan yang sekaligus merupakan wujud kesadaran kaum perempuan waktu itu akan arti pentingnya upaya bisa mengakses kekuasaan sebagai media untuk mewujudkan perjuangannya. kaum perempuan dari kalangan parpol dan ormas berbasis agama Aisyiah dan Wanita Katolik menjadikan perjuangan kemerdekaan sebagai agenda utamanya. tidak bakal ada persamaan hak antara laki-laki dan perempuan bila tidak ada kemerdekaan. Tersirat dalam cuplikan pidato itu adalah sikapnya yang sangat mendorong kebangkitan kaum perempuan dalam rangka memperjuangkan hak-haknya. Kongres Kaum Ibu. bahwa perdjoangan mengedjar keselamatan nasional bisa djuga lekas berhasil zonder sokongannja kaum ibu.kita gembira ialah teristimewa djuga oleh karena di kalangan kaum ibu sendiri belum banjak jang mengetahui atau mendjadikan kewajibannja ikut menjeburkan diri di dalam perdjoangan bangsa. Itulah pula awal sejarah yang kemudian mengilhami banyak organisasi perempuan setelah itu terlibat secara langsung dalam perjuangan kemerdekaan. Bung Karno punya obsesi yang lebih karena ingin menjadikan gerakan perempuan waktu itu sebagai bagian dari gerakan memperjuangkan kemerdekaan. Bahkan seperti pernah ditulis Gadis Arivia dalam artiakelnya yang berjudul ”Soekarno dan Gerakan Perempuan (2001). di mana masih ada sahadja kaum bapak Indonesia jang mengira.Bukan hanya itu. Kalau dirinci. Kongres PPPI tahun 1930 itu juga telah melahirkan rumusan kerja lebih konkret lagi yang antara lain ditandai dengan lahirnya rekomendasi yang meniscayakan arti pentingnya penyelidikan kondisi kesehatan kaum perempuan dan sebab-sebab terjadinya kematian bayi di pedesaan. Istri Sedar yang didirikan di Bandung muncul menyatakan diri ingin meningkatkan status perempuan Indonesia melalui perjuangan kemerdekaan. . kita tidak sahadja gembira hati akan kongres itu oleh karena kaum bapak belum insyaf akan keharusan kenaikan deradjat kaum ibu. dan belum banjak jang berkehendak akan kenaikan deradjat itu.

Sebaliknya. Fak. MIPA Universitas Padjadjaran Bandung. bahkan berani. tahun 1945. tidak berlebihan jika Hari Ibu yang setiap tahun diperingati bangsa ini. Itu pula sebabnya. kita jadikan momentum Hari Ibu itu sesuai dengan akar historisnya sebagai hari pembebasan kaum perempuan dari berbagai belenggu yang menindasnya. masih tinginya angka kematian ibu akibat kehamilan atau melahirkan. mahasiswi jurusan biologi. sepatutnya kita selenggarakan tidak hanya dalam bentuk seremoni yang hampa makna. Bulan ini. masih banyaknya korban kaum perempuan akibat tindakan kekerasan dalam rumah tangga. Selama ini. Esensi kedua hari penting bagi perempuan adalah sama: memperjuangkan hak-hak perempuan di segala bidang. Sumber:Pikiran Rakyat Tren Perjuangan Perempuan dalam Sastra Merangkul Tabu. peminat masalah gender. di Bandung lahir organisasi bernama Lasjkar Wanita Indonesia (Lasjwi) yang dibidani oleh Aruji Kartawinata. Wilujeng Hari Ibu!*** Penulis. Lalu bagaimana perjuangan perempuan di bidang sastra? Ternyata telah muncul fenomena pemberontakan perempuan dalam sastra yang bisa kita sebut spektakuler. apalagi bila dibandingkan dengan negara-negara lain. Lebih parahnya lagi. Kian maraknya kasus perdagangan anak dan perempuan. adalah beberapa saja dari sekian banyak masalah yang harus dijadikan agenda utama perjuangan kaum perempuan Indonesia saat ini dan ke depan. Meretas Kekerasan Tersamar<center></center> Hari perempuan sedunia yang jatuh tanggal 8 Maret lalu diperingati dengan cukup provokatif. itulah kesan yang muncul kalau kita menyimak sejarah perjuangan kaum perempuan yang awalnya diilhami oleh penyelenggaraan kongres perempuan pertama pada tanggal 22 Desember tiga perempuan abad yang lalu. Sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat perempuan di Jakarta menuntut pemerintah dan DPR untuk memprioritaskan hak dan kesejahteraan perempuan (SH. karya fiksi yang sedikit ini . perempuan Indonesia pun merayakan Hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April setiap tahun. Mereka yang tergabung dalam organisasi ini. sebagian yang lainnya bertugas membantu prajurit yang luka kalau bukan menyiapkan makanan bagi para prajurit yang sedang bertempur dalam rangka memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini. sebagiannya berani mengangkat senjata. jumlah buku sastra Indonesia boleh dibilang sangat sedikit. Begitu luhur dan mulia. apalagi penuh hura-hura.Lima belas tahun berikutnya. 9 Maret 2002).

tak banyak yang mempunyai kekuatan untuk menarik perhatian publik. bahkan ada jenis komoditi yang menjanjikan seks-seks ilegal. Mereka mampu merepresentasikan seks sebagai eksistensi keperempuanannya. dan benda-benda komoditas. salah satu kesamaan menonjol dari sisi feminisme kedua novelis perempuan ini adalah keberanian mereka dalam mengemas cinta dan seks dalam bungkus yang benar-benar berbeda. tahun 1996: ”Cerita ini berawal dari selangkangan teman-temanku sendiri: Yasmin dan Saman. mature dan older (orang bangkotan). Mengalir deras di tengah masyarakat yang dilanda proses diseminasi sosial yang semakin cepat. Mereka berani melawan tabu yang selama ini menjadi magma terpendam pada masyarakat yang sarat dengan konvensi-konvensi budaya.77). terutama dalam hal seks. voyeurism (ngintip). di mana tubuh (body). bukan sebagai komoditas masyarakat kapitalis semata. Sebuah negeri yang bisa jadi dianggap sebagai media pelarian ketertekanan seksual sang tokoh pada kultur yang membesarkannya. yang membentuk semacam sistem libidonomics yaitu sebuah sistem ekonomi yang mengeksploitasi setiap potensi libido. Di mana industri seks-nya melimpah. mulai dari mereka yang gemar berburu buku-buku porno stensilan hingga doktor-doktor ilmu sastra yang mejanya penuh dengan naskah-naskah seminar. Beradaptasi dengan terjadinya proses pelipatgandaan dan penyebaran secara sosial tanda. Ayu menunjukkan keberanian dalam bercerita tentang eksistensi seks perempuan. amateur. mereka meretas fenomena kekerasan tersamar terhadap perempuan. khususnya yang bermuatan erotis. Melalui perlawanan terhadap tabu ini. Seks menarik justru karena melanggar kenormalan dalam masyarakat tradisional. Keduanya mampu menjadi trend dan dibaca oleh kalangan yang kompleks. informasi. lewat diary tokoh Cok. Kehadiran buku-buku ini bagai oase bagi masyarakat yang ”kepanasan” oleh etika timur yang kuat tetapi tak berani melawannya secara frontal. tanda-tanda tubuh (body signs) serta potensi libido di balik tubuh (libidinal value) menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya komoditas. semata untuk memperoleh keuntungan ekonomi. Cerita tentang perselingkuhan Yasmin dan Saman serta kecintaan Laila pada Sihar membawa tokoh-tokohnya bertualang di negeri Paman Sam. bahkan abnormal semisal bondage sadomasochis (seks sadis). Membakar Kebekuan Fiksi sastra yang ditulis kedua pengarang perempuan ini mampu membakar kebekuan gerilya sastra sekaligus meruntuhkan tembok pembatas antara sastra pop dan sastra serius. Laila dan Sihar” (hal. Tanpa disengaja mereka menolak tegas kultur yang menekan eksistensi seks perempuan timur sekaligus mengejek terma dalam masyarakat komoditas. Mungkin karena Amerika–lah yang dianggap negeri yang mampu mewakili representasi eksistensi seksual perempuan. Lalu apa resep mereka dalam mendobrak kebekuan sastra selama ini? Yang jelas. citra. Hingga akhirnya muncul Ayu Utami dengan Saman dan Larung-nya serta Dewi Lestari dengan Supernova. Eksistensi Seks Dalam Larung. sampai surveillance sex (dokumentasi seks orang- .

Kamu biarkan aku menyakitimu seperti polisi rahasia mengintrogasi mata-mata yang tertangkap. turun tebing. tidur bersisian dengan kawan lelaki dalam tenda dan perjalanan.orang biasa) Problema-problema seks perempuan. Membuatmu menderita oleh coitus interuptus yang harfiah. berpendidikan. senggama. Hanya saja. Pada masa itu ada rasa bangga bahwa dia memasuki dunia lelaki yang dinamis. bermoral pancasila.” Ejekan atas keperawanan yang menjadi momok pengaturan laki-laki terhadap perempuan dilakukan Ayu melalui tokoh Laila meskipun sosok ini mampu melawan gender keperempuanannya. kenapa aku harus menderita untuk menjaga selaput daraku sementara pacarku mendapat kenikmatan? …Aku pun melakukannya.” (hal. Mereka menerimanya sebagai nilai moral. suatu ideal. Melokalisasinya pada fantasi seksual. kaya. ”… tapi membiarkan lelaki masturbasi dengan payudara kita bukanlah pengalaman yang menyenangkan kalau terus-terusan. cross country. Tapi dialah yang paling terlambat mengenal pria secara seksual. pecah dalam tingkah laku tokoh-tokoh novel ini. Lukas. menyangkal hal-hal yang lembek. sang bekas frater. dan ia merasa ada supremasi pada dirinya. Itu karena suaminya. 118) . cerdas. seks yang digambarkan Ayu bukanlah teknik persetubuhan melainkan pemaparan problema yang bisa jadi dialami banyak wanita. Tokoh Yasmin—yang sempurna. Kamu tak punya pilihan selain membiarkan aku menunda orgasmemu atau membiarkan kamu tersiksa tak memperolehnya. yang selama ini menjadi endapan dalam masyarakat Indonesia yang patriarkal. beragama. berkemah. Misalnya cerita tentang bagaimana Cok melepas keperawanannya. Bagaimana mitos kesucian keperawanan membuat Cok membiarkan sang lelaki bermasturbasi dengan payudaranya. Naik gunung. Lukas lebih tertarik pada eksplorasi posisi fisik daripada eksplorasi relasi psikis seperti yang dikhayalkan Yasmin.” (hal. ”…tidak semua anak perempuan bisa melakukan itu. Juga. cantik. ”…Kamu biarkan aku mengikatmu pada ranjang seperti kelinci percobaan. Semasa sekolah dia paling banyak berlatih fisik. setia pada suami—kembali menemukan kebebasan seksualnya bersama Saman. aku sebagai nilai estetis. Aku menerimanya dan melakukan seksualitas terhadapnya. 157) Eksistensi seksualitas perempuan Indonesia yang selama ini terkungkung budaya patriarki dilibas habis oleh Ayu Utami. …Lalu kupikir-pikir. 160) Kerinduan Yasmin kepada Saman lebih karena perasaan superioritasnya terhadap lakilaki ini. Padahal Yasmin merasa berbeda dengan para perempuan yang mengukuhkan patriarki. tak pernah mengolah kekejaman pada dirinya meskipun hanya sebatas imajinasi. dan lain-lain jenis olahraga kelompok yang kebanyakan anggotanya lelaki. ”Mereka menerima dominasi pria sebagai suatu ide yang total dan murni. Kamu biarkan jari-jariku bermain-main dengan tubuhmu seperti liliput mengeksplorasi manusia yang terdampar.” (hal.

Aku mengelus di punggung dan mencium di kening. Pertama. bisa menjerumuskan mereka dalam jebakan politik tubuh (body politics). Politik tanda berkaitan dengan eksistensi tubuh (pria atau wanita) yang dieksploitasi sebagai tanda atau komoditas tanda (sign comodity) dalam berbagai media. Juga ketika bercumbu dengannya. Ketertarikan Laila ditanggapi Tala sehingga dalam Larung ini muncul sebuah relasi seksual di mana lelaki benar-benar diabaikan. juga Dewi Lestari dalam Supernova-nya. dua lelaki yang dicintai Laila muncul pada diri Tala. Ia tak bisa masuk ke dalam dunia pria dewasa. Itu sebabnya ia tak bebas ketika telah sama-sama telanjang dengan Sihar. Ketiga. Ia hanya ingin menyelamatkan Laila. Sebelum kamu mengenali tubuhmu sendiri. yang tercipta adalah . ”…Kamu berbaring di sisiku dan kulihat air mengalir dari matamu ke arah rambut. dan identitas tubuh di dalamnya. 153) Penggambaran tentang dunia lesbian. berdasarkan konstruksi sosial atau ”ideologi” tertentu. Aku tahu kamu belum pernah mengalami orgasme. Gabungan sosok Saman dan Sihar. Tala bukanlah seorang androgini yang maniak. konsumsi). Peran tokoh Shakuntala (Tala) yang androgini dimunculkan Ayu secara estetis sebagai representasi kebebasan untuk memilih. Tapi keperawanan Laila yang terjaga —seperti layaknya yang diagungkan budaya Indonesia—justru menjadi problema. yang terurai dalam tiga terma. Dalam ekonomi-politik hasrat. makna.” (hal. distribusi. Hingga akhirnya Laila melupakan Tala sebagai perempuan. Jebakan Politik Tubuh Memang keberanian Ayu Utami dalam Saman dan Larung. ”ekonomi politik tubuh” (political economy of the body) yaitu bagaimana tubuh digunakan dalam berbagai kerangka relasi sosial dan ekonomi. Kedua. dan penyalurannya lewat berbagai kegiatan ekonomi (produksi. …Kupeluk kamu. Keperawanan dinilai sebagai tanggung jawab. Ekspresi libido seks Laila terhambat. sifat-sifat rasionalitas ekonomi dikendalikan sifat-sifat irasionalitas hasrat. Dalam hal ini Ayu masih mencoba membela kaumnya. ”ekonomi politik tanda (tubuh)” (political economy of signs) yaitu bagaimana tubuh diproduksi sebagai tanda-tanda di dalam sebuah sistem ekonomi pertandaan (sign system) masyarakat informasi yang membentuk citra. Tak pernah terjadi persetubuhan yang sebenarnya. Persoalan politik tubuh berkait dengan eksistensi tubuh dalam kegiatan ekonomi-politik. dilihat dalam berbagai relasi sosial. yang benar-benar belum bisa diterima kultur Indonesia dilakukan Ayu dengan metafora yang sangat indah. Lelaki takut padanya. ”ekonomi politik hasrat” (political economy of desire) yaitu bagaimana sistem ekonomi menjadi sebuah ruang berlangsungnya pelepasan hasrat dari berbagai kungkungan. Kini tak kubiarkan kamu menemani lelaki itu sebelum kamu mengetahuinya.Ternyata supremasi itu tidak dapat dibawa tokoh Laila sampai dewasa. Dan aku tak pergi. Ketika kreativitas ekonomi dikuasai dorongan hasrat dan sensualitas. Kerinduan Laila pada Sihar membuatnya mampu melihat faktor lelaki pada diri Tala.

sebuah ”budaya ekonomi”. Contohnya. bahkan ia sempat kawin dan memiliki anak. Sensualitas dijadikan kendaraan ekonomi dalam rangka menciptakan keterpesonaan dan histeria massa (mass hysteria) sebagai cara mempertahankan kedinamisan ekonomi. yang mengondisikan orang memuja ”citra tubuh”. sehingga akhirnya memutuskan untuk hidup sebagai ibu. Pada tanggal yang sama. Setapak langkah perbaikan telah dimulai dari dunia sastra. namun ia selalu merasa dirinya perempuan. Pengamat Perempuan & Budaya. Bukan untuk menyelami ketertekanan perempuan tapi sebagai media eskapisme erotisme otak mereka. suami dari empat istri. Boys Don’t Cry. dalam wawancara dengan Kompas. ADA orang yang terlahir lelaki namun sejak kecil merasa dirinya perempuan sehingga mereka hidup layaknya perempuan. dan ayah bagi . yang dipenuhi berbagai strategi penciptaan ilusi sensualitas. Ekspresi perlawanan terhadap kekerasan tersamar dalam ranah seks perempuan. setidaknya mereka berdua telah memulainya dan berhasil menarik perhatian publik. Oleh: R. Akibatnya. Sebaliknya. aspirasi. Liz Riley terlahir lelaki. ada juga orang yang terlahir perempuan tetapi merasa dirinya lelaki sehingga mereka hidup sebagai laki-laki. Bisa jadi ekspresi kebebasan dua perempuan pengarang ini dijadikan media penumpahan keliaran libido laki-laki. sebagai cara untuk mendominasi selera (taste). Mbak Dorce mengungkapkan bahwa ia sejak kecil merasa dirinya perempuan. Berbagai bentuk khayalan lewat voyeurisme diciptakan. musisi jazz Amerika. Sugiarti. dan keinginan masyarakat dieksploitasinya. yang menciptakan semacam ”erotisasi kebudayaan”. justru menjadi perangsang laki-laki untuk membacanya. apa yang beroperasi di balik aktivitas ekonomi adalah semacam ”teknokrasi sensualitas” (technocracy of sensuality)—di dalamnya nilai-nilai budaya ekonomi ditopengi tanda-tanda sensualitas. Yang jelas. Minoritas yang Terlupakan<center></center> BENARKAH Mbak Dorce Gamalama melawan kodrat? Pertanyaan ini mungkin timbul dalam hati saat membaca wawancara Kompas dengan artis Dorce (Kompas. Relawan pada UNICEF Indonesia. seorang ayah yang berubah menjadi ibu. 27/7/2003). Sumber: Sinar Harapan Transseksual. Contoh lainnya Billy Tipton.Namun. memang tak gampang meretas kultur yang telah tertanam kuat. Contohnya Brandon Teena. yang hidupnya dikisahkan dalam film pemenang Oscar. Suara Pembaruan Minggu mengetengahkan kisah Liz Riley. yang dikenal sebagai lelaki ramah.

ketika ia meninggal. namun biasanya mulai disadari dengan kuat menjelang remaja. Brandon Teena dan Billy Tipton disebut female-to-male transsexual (FMT). Padahal. yaitu transseksual dari perempuan ke lelaki. petugas jenazah mendapati ia memiliki alat genital wanita. Sebagian menduga pengaruh hormon dalam kandungan. transseksual memiliki sex identity berbeda dari seks fisiknya. identitas jenis kelamin adalah keyakinan mendalam pada seseorang tentang apakah dia itu pria atau wanita. kekurangan testosteron pada janin dengan kelamin . yang ditemukan pada tahun 1972 oleh Money dan Erhardt setelah meneliti ratusan individu. sekalipun berperilaku kelaki-lakian. Namun. yaitu transseksual dari lelaki ke perempuan. Karena itu. yang lebih banyak terjadi bukan perubahan perilaku. masih tetap merasa perempuan). MFT berperilaku sebagai perempuan. artinya dapat sejalan atau bertolak belakang dengan kelamin fisik. Masalahnya. Misalnya. Mayoritas warga memiliki sex identity sesuai dengan jenis kelamin fisiknya. identitas jenis kelamin adalah perasaan mendalam atau keyakinan dalam batin seseorang yang membuatnya merasa sebagai lelaki atau perempuan. karena seseorang yang tomboi. melainkan perubahan fisik. Mereka merupakan contoh kaum transseksual. MFT bertubuh lelaki tetapi merasa dirinya perempuan. para pakar menganggap transseksual merupakan orang abnormal yang perlu disembuhkan dengan aneka terapi. yang dapat disebut jenis kelamin jiwa. Namun. Sebaliknya. yaitu identitas jenis kelamin (sex identity) atau identitas jender. semata-mata tergantung dari perasaan orang bersangkutan dan tidak selalu sejalan dengan penilaian orang. mengapa orang yang terlahir laki-laki sampai merasa dan berperilaku sebagai perempuan dan sebaliknya pada FMT. Karena itulah. Dengan kata lain. masih ada variabel lain. termasuk kejutan listrik. kini disadari bahwa sex identity lebih kuat daripada kelamin fisik. dalam Gender: An Ethnomethodological Approach (1978). Sebaliknya. sering dianggap satu-satunya penentu perilaku jenis seseorang. Ada yang disebut male-to-female transsexual (MFT). Sex identity. Sebelum sex identity ditemukan. Jenis kelamin jiwa mulai tertanam pada usia dua tahun. Jenis kelamin jiwa merupakan variabel mandiri terhadap seks fisik. pakar sekalipun. Penyebab transseksual belum dapat ditentukan secara pasti. Jadi. Namun. masyarakat sering menyalahkan. FMT bertubuh perempuan namun merasa dirinya lelaki (bukan sekadar tomboi. Hakikat transseksual Selama ini alat kelamin fisik. jika seorang transseksual diminta menyelaraskan perilaku dengan bentuk fisiknya. berupa alat reproduksi.sejumlah anak. Menurut Kessler dan McKeena.

yaitu pada identitas seksualnya. Di lain pihak. tetapi tidak mau menerima bahwa bagi transseksual. Namun. sebab sebenarnya masih merupakan misteri. Setiap orang. Sebaliknya. diri sendiri itu adalah jati dirinya sesuai dengan sex identity yang dimiliki. Julie mengaku tetap tertarik kepada perempuan. Jutaan transseksual hidup dalam lorong kegelapan. Lorong kegelapan? Seorang bijak pernah mengatakan. maupun masyarakat. ada juga transseksual yang tertarik kepada kaum sejenis. sejauh yang bersangkutan tidak melakukan hal-hal yang merugikan orang lain. agar diterima lingkungannya. Contohnya Julie Peters. "Apakah gunanya seseorang mendapatkan seluruh dunia tetapi kehilangan dirinya sendiri?" Banyak orang mengamini sabda tersebut. karena mendapatkan dunia tetapi kehilangan dirinya sendiri. perbedaan ini tidak dijadikan dasar untuk meminggirkan atau mendiskriminasikan mereka. sekalipun berbeda. yang terlahir sebagai lelaki tetapi memiliki sex identity perempuan. kelebihan testosteron pada janin dengan kelamin fisik perempuan dapat menyebabkannya memiliki seks jiwa lelaki. tetapi dari hari ke hari ia hidup dalam kehampaan. sebagaimana masyarakat juga tidak boleh mendiskriminasi orang yang berbeda warna kulit. Namun. sekolah. baik keluarga. yang memiliki jati diri perempuan. Kaum transseksual hanyalah orang yang berbeda. politisi Australia. Dengan demikian. seperti berdandan terlalu mencolok. Setelah usia 40 tahun Julie memutuskan menjalani operasi dan menjadi perempuan. Namun. yaitu terbuang dari lingkungannya atau berpura-pura menutupi jati dirinya. menunggu kapan sinar terang akan muncul pada akhir lorong tersebut. sebagian besar transseksual masih belum diterima lingkungannya. pekerjaan. Namun. transseksual tertarik terhadap lawan jenis sehingga mirip warga masyarakat umumnya. Pada pilihan kedua. Sungguh beruntung jika seorang transseksual diterima lingkungannya. seorang MFT. akan berpura-pura menjadi "lelaki biasa". banyak transseksual belum dapat merasakan apa makna kemerdekaan itu sesungguhnya. Seyogianya. transseksual yang terpaksa menutupi atau mengingkari jati dirinya bisa saja kelihatan sukses. atau status sosialnya. Selagi mayoritas warga bangsanya mensyukuri nikmatnya hidup di alam kemerdekaan. Masyarakat demokratis mensyaratkan asas pluralisme dan egalitarianisme.fisik lelaki dapat menyebabkannya memiliki kelamin jiwa perempuan. ia akan hidup dalam tekanan batin yang luar biasa dan tiada hentinya. Namun. Para transseksual ini terpaksa memilih satu di antara dua pilihan yang sama pahitnya. kecenderungan mencari pasangan. mendapat perlakuan sederajat. memperlihatkan obsesi berlebihan terhadap . bahkan oleh keluarganya sendiri. kaum transseksual perlu menghindari perilaku yang menimbulkan citra negatif. Variabel yang juga menentukan perilaku adalah orientasi seks. keyakinan. Umumnya.

Media massa yang mengeksploitasi peristiwa tersebut rasanya telah memojokkan perempuan. sehingga dari lima artikel yang disoroti dalam tulisan ini. dan bahkan yang tidak relevan sama sekali seperti cerita tentang siapa yang menemukan mayat bayi-bayi malang tersebut. agar mereka dapat berdarma bakti secara optimal. seperti telah diperlihatkan Mbak Dorce dan mendiang Billy Tipton. Prof Vern Bullough dari California State University. masyarakat dapat menerima dengan wajar kaum transseksual. menyatakan pemahaman terhadap kaum transseksual akan bermanfaat besar untuk memahami konsep jender secara lebih komprehensif. dan menjadi pekerja seks komersial. Bambang Suwarno Aktivis Perempuan dan Relasi Jender. termasuk juga bagi perempuan yang secara biologis belum menyandang predikat ibu. Dan biasanya. Lebih dari itu. maka laki-lakilah yang menjadi penghujatnya. tulisan ini justru ingin memperbincangkan konstruksi makna ibu dalam media massa kita. hujatan panjang di media massa pun diarahkan kepada perempuan. dengan mengambil kasus lama yang terjadi di tahun 1997. tahun 2000). di antaranya lewat prestasi. Tinggal di Bengkulu Sumber Kompas Cyber Media Perempuan dan Media Massa (1) <center></center> Catatan kecil ini ingin ikut serta merayakan Hari Ibu 22 Desember 2003. Dengan menarik perhatian publik untuk lebih memperhatikan cerita-cerita yang dibangun media yang lebih mengutamakan cerita kehidupan perempuan pelaku aborsi. Di tengah perdebatan apakah nama Hari Ibu bisa mewakili kepentingan semua perempuan. hanya satu yang ditulis oleh perempuan.lelaki. Hari Ibu 1997 telah “dicemari” dengan ditemukannya banyak mayat calon bayi akibat aborsi ilegal. Artikel mengenai buruknya perilaku perempuan yang adalah calon ibu marak di koran-koran baik nasional maupun lokal. Semoga seiring dengan meningkatnya pemahaman. klinik-klinik aborsi ilegal. ketika perempuan yang dihujat. sesuai jati diri yang mereka miliki. dalam "Transgenderism and the Concept of Gender" (International Journal of Transgenderism. dan bukannya mempertanyakan siapa laki-laki yang bertanggung jawab atas keberadaan calon bayi . Sebagai akibatnya. Negeri ini sedang dilanda krisis multidimensi dan untuk mengatasinya diperlukan kerja sama seluruh komponen bangsa. baik yang telah operasi maupun belum. Penting sekali agar para transseksual dapat membangun citra yang positif. Special Issue. hal yang sangat diperlukan guna membangun masyarakat dunia yang lebih manusiawi.

Belum tentu jurnalis perempuan sudah memiliki perspektif gender dalam menurunkan tulisan dan menilai permasalah sosial yang dihadapinya. maupun dikorbankan? Tentu saja ada banyak alasan bagi perempuan untuk melakukan aborsi. and Gender Skepticism” (1990). Postmodernism. bahkan dikatakan sebagai senjata kelompok marginal untuk mendapatkan posisinya. Apakah ini karena media massa masih belum kuat betul atau cukup dewasa untuk membebaskan dirinya dari pelukan “diskriminasi gender” yang tiada akhir?(4) Atau memang karena mereka sendiri pada dasarnya bersifat diskriminatif terhadap perempuan? Jika kita menilik figur angka pelaku media massa. media telah dengan sewena-wena membela kepentingan laki-laki. sebagai agen dari propaganda adil gender. “Kendati bukan perilaku baru. Ironisnya. tetapi juga kewajiban perempuan untuk menjaga nilai-nilai moral yang dianut lingkungan sosialnya. kabar menghebohkan dari Jakarta soal keberanian sejumlah wanita yang menolak menjadi ibu manusia melalui cara-cara yang menyinggung perasaan sosial … apakah sebutan “ibu” tidak lagi sesakral dan seterhormat yang kita ketahui sehingga mesti ditolak?”(3) Membaca kalimat tersebut. misalnya mempertanyakan penolakan perempuan untuk menjadi ibu sementara predikat tersebut masih dianggap sakral. memilih untuk menjadi atau menolak menjadi ibu tidak hanya berurusan dengan fungsi biologis perempuan saja. Yang pasti. sebagian mungkin merasa bebas untuk memilih melakukannya sedangkan yang lain mungkin tidak punya pilihan lain. bagaimana perempuan seharusnya bereaksi? Bagi mereka yang memilih untuk tidak menjadi ibu dengan cara tersebut mungkin akan merasa malu karena perbuatannya sudah dipublikasi. ada suatu pembagian yang sangat tidak seimbang antara perempuan dan laki-laki. dituduh. mana ada media yang juga tidak bergender?(2). rasanya tidak berlebihan untuk meragukan sifat pembebasan media yang selama ini didengung-dengungkan. media massa memberikan aplaus .tersebut. Karena kita hidup dalam budaya yang tidak memungkinkan kita untuk “bergender netral” seperti yang dikatakan oleh feminist Perancis Susan Bordo dalam artikelnya “Feminism. Apakah catatan ini sudah demikian prejudis mencurigai adanya konspirasi antara laki-laki dan media massa? Jika dilihat dari perilaku media. Salah satu dari artikel yang menjadi sorotan dalam catatan ini. Di satu sisi. jika media massa di satu sisi mempromosikan nilai-nilai “kesejajaran” antara laki-laki dan perempuan. di sisi lain masih juga menjalankan praktek-praktek obsolit. Apakah sebagian yang lain yang menilai sucinya posisi ibu akan tersentuh dengan kenyataan bahwa secara biologis sebenarnya mereka mampu menghadirkan sebuah kehidupan baru tetapi lebih memilih untuk tidak melakukannya? Apakah yang lain akan merasa diobjektifikasi.(5) Ketimpangan jumlah antara jurnalis perempuan dan laki-laki tentu tidak dengan sendirinya menjawab pertanyaan kenapa media kita begitu seksis.

untuk tetap tinggal “terdomestikasi” dengan meragukan kemampuan mereka untuk berkarya di dunia publik. masyarakat. Apakah mereka harus kehilangan hak-hak istimewa (privilege) yang sudah terlegitimasi hanya untuk satu posisi yang tidak jelas jika mereka harus memasuki dunia asing yang dinamakan ranah publik? “Peradaban milenium ketiga hanya bisa berharap agar kaum wanita memilih untuk tidak gagal menjadi ibu anak-anak zaman. Seringkali media massa menulis bahwa partisipasi perempuan di dunia publik hanyalah bukti kejahatan kapitalisme yang mendehumanisasi mereka. di sisi lain mereka menuntut perempuan.” (6) Secara arogan. tentu saja dengan menggunakan perspektif media massa yang maskulin. “… kesempatan pun tidak banyak buat wanita untuk berperan di luar rumah. karena reproduksi pola yang terus menerus. bahkan membanting nilai kemanusiaan mereka di bawah nilainilai produksi dan pasar. terutama “kaum perempuan” dan “kaum buruh” . Lalu kembali lagi peran rumah tangga ditekankan. bisa jadi membingungkan perempuan dalam menentukan posisi mereka."(10) Karakterisitik media massa yang manipulatif seringkali juga merugikan perempuan jika kasus-kasus yang diangkat melibatkan perempuan.(7) Namun. sebagai “lawan jenisnya”. media menganggap bahwa keberhasilan perempuan di ranah publik tidak lebih sekedar cerita sukses negara untuk mengeksploitasi mereka dalam mendorong pembangunan nasional. tahun 1993.pada slogan “peran ganda perempuan modern”. mengaku memiliki hak untuk menentukan apa yang harus dilakukan atau tidak seharusnya dilakukan oleh perempuan. betapapun dikotomi publik-domestik masih bisa diperdebatkan. semakin mempertajam segregasi ranah publik-domestik. tentu saja didukung oleh institusi yang bernama negara. Dalam mengenangkan kasus Marsinah. tetapi lebih merupakan transformasi yang muncul karena keterlibatan semua faktor ini yang terus direproduksi karena telah terbukti menguntungkan sebagian pihak yang kebetulan semakin berkuasa. bukankah diskriminasi gender sudah ada bahkan sebelum era modernisme? Model produksi kapitalisme bukankah “hanya” memanfaatkan ketimpangan gender itu yang kemudian. Tarik ulur antara meraih dunia publik dan mempertahankan dunia domestik. mereka memuja-muja peran ibu sebagai faktor penentu dari masa depan bangsa dengan mempersiapkan keturunan mereka dalam menghadapi era tinggal landas. Dalam hal ini. (9) Pada saat media massa menghujat peran perempuan bekerja.(8) Hal ini tentu bukan hanya hasil patrimoni dari imperialisme dan kolonialisme. karena pembagian posisi peran lakilaki dan perempuan yang jelas dan tertib bisa mendukung suksesnya program-program pemerintah. media massa telah menjadi tidak lebih sekedar perpanjangan penindasan laki-laki terhadap perempuan. Secara sinis (atau karena cemburu?) dan dihantui oleh kontra-hegemoni kultural dan material yang dimiliki perempuan. media massa. walaupun kedengaran tidak sesuai dengan slogan kesejajaran. Gagasan bahwa rumah tangga adalah urusan perempuan.

apakah mau secara naive terbawa arus dan mempertahankan “hegemoni kultural” yang terus-menerus dan mendapatkan penghormatan sebagai “ratu rumah tangga”. Mereka telah membawa nama Marsinah ke posisi terpopuler dan paling banyak dibicarakan hanya setelah kematiannya. Sayangnya. teman-teman. Alhasil media massa telah menciptakan skenario mereka sendiri tentang perang gender yang tidak pernah berakhir. Dengan malu-malu mereka mempertontonkan pencapaian mereka dan menentukan sendiri standar keberhasilannya. apa yang terjadi jika Marsinah tidak terbunuh? Atau pertanyaan yang lebih seksis. berterimakasih kepada media massa karena mereka telah secara terus menerus melaporkan kasus tersebut dan menarik perhatian internasional terhadap stigma tersebut. Ketika cerita-cerita tentang buruh perempuan menampilkan nama-nama lain. Kita mungkin tidak pernah tahu apakah sikap kritis Marsinah adalah perwujudan dari kesadaran politisnya atau hanyalah pertahanan dirinya menghadapi kesulitan hidup sehari-hari. perempuan ditantang untuk menentukan posisinya. Siapakah yang memenangkan kontes ini? Nampaknya justru media massa. meminta-minta pengakuan dari laki-laki. yang mempunyai kekuasaan untuk membentuk bagaimana cerita harus berakhir. konflik kelas. peserta kontes yang tidak terdaftar. perempuan seringkali menjadi kikuk dan rapuh menghadapi semua tantangan ini. bagaimana jika Marsinah bukan seorang perempuan melainkan laki-laki? Bukan Marsinah tetapi Marsono? Apa yang sebetulnya menarik perhatian media massa tentang skandal ini? Apakah pembunuhannya. atau juri. dan meramu serta menyajikan semua ini dengan terminologi-terminologi politik yang susah dipahami. Namun penulis berpikir. mencampuri kehidupan keluarganya. tetangga. . Dalam ketimpangan relasi gender inilah. Tidak terelakkan juga analisa politik bahwa pembunuhan Marsinah ini adalah panggung cerita konflik antara laki-laki yang direpresentasikan oleh orang-orang yang berkuasa sebagai “pembunuh” dan perempuan diwakilkan oleh Marsinah sebagai “terbunuh”. dan pada akhirnya meminta penghargaan dalam bentuk fasilitas untuk menstimulasi keberhasilan yang lebih baik lagi. Akhir cerita berubah menjadi kabur dan hanya media massa yang sadar akan substitusi antara apakah yang sesungguhnya (real) dan reproduksi dari yang sesungguhnya (hyper-real). apakah isu gendernya.(12) Secara tidak sadar hal ini mempertahankan “ketergantungan terwariskan” pada perempuan terhadap laki-laki.(workers and women)(11). atau sebaliknya bersikap radikal manghadapi ketidakadilan ini dan dengan sadar menerima label “pemberontak”. karena siapa dia sebelum kematiannya bukanlah “berita yang pantas dipublikasikan”. media massa-lah yang melahirkan “reproduksi” dari sosok Marsinah. Reproduksi berita-berita dan spekulasi media massa yang ditampilkan secara berulang-ulang telah menghasilkan versi-versi yang semakin fantastis. atau karena kecurigaan adanya praktek-praktek kekuatan politik di belakang pembunuhan ini? Media massa telah mengeksploitasi seluruh kehidupan masa lampau Marsinah. pacar. Media massa menggunakan “kematiannya” dan bukannya kehidupannya yang singkat sebagai bahan berita.

atau setidaknya empati terhadap perempuan. Sebab. yaitu jika “medianya” saja sudah tidak sensitif gender. dewasa dan berpikir lebih rasional dengan kesadaran mereka sendiri. Apalagi di era reformasi sekarang ini. melahirkan. mulai dari kasus TKW sampai dengan pornografi.” (13) Bukanlah pernghargaan maupun pengakuan yang seharusnya diminta perempuan. semoga tulisan ini tidak terlalu skeptis dan pesimis dengan menanyakan satu pertanyaan akhir yang belum juga terjawab. enam tahun sejak kasus aborsi masal tersebut meledak. justru pembagian “ruang” inilah satu-satunya gagasan yang masih susah untuk diserahkan oleh laki-laki. adalah saat yang paling baik untuk berterima kasih atas jasa-jasa ibu dalam melaksanakan tugas kodraatinya. yakni hamil. Harapannya adalah. dengan melihat begitu banyaknya kejadian yang menimpa perempuan sepanjang tahun ini saja. Perwujudan dari rasa terima kasih itu bisa berupa pemberian kesempatan untuk berkarya cipta seperti kaum pria. apakah mungkin “pesannya” menjadi lebih adil terhadap perempuan? Dan satu lagi. Sama susahnya untuk merelakan 30% posisi calon legislatif pada perempuan. Hanya melalui kesadaran inilah. kasus aborsi tidak bisa dipisahkan juga dari perilaku laki-laki.(14) Media massa. Namun. apapun yang mereka lakukan.“Memperingati hari yang sering disebut hari permuliaan kaum ibu ini. “Ruang” dimana mereka bisa belajar memahami pengalaman mereka. sedang menyelesaikan studi di Universitas Leiden. menyusui. Belanda Catatan Belakang (1)Dua koran lokal yang dibahas dalam tulisan ini mengacu pada isu-isu nasional . semoga saja ada lebih banyak suara yang mendukung. bukankah Hari Ibu intinya memperingati semua perempuan. melainkan “ruang” yang dapat membantu perempuan menjadi tumbuh. jika tidak diskriminatif gender sebetulnya adalah alat yang bisa diandalkan bagi perempuan untuk menyuarakan kepentingan mereka. tidak tanpa dominasi. perempuan mampu untuk membebaskan diri mereka dari “alienasi” terhadap tubuh dan kehidupannya sendiri. sebagai penerus aspirasi masyarakat. Namun demikian. dimana media massa mempunyai akses bebas terhadap sumber-sumber berita dan kebebasan mengemukakan gagasannya. tidak hanya pengalaman yang sama melainkan juga yang berbeda-beda dan personal. jika isu yang sama muncul kembali. dan bukan hanya yang telah dan bersedia menjadi ibu saja? Wiwik Sushartami adalah Pemerhati masalah gender dan media. dan kecenderungan media massa untuk menampilkannya dalam berita dengan bahasa-bahasa dan analisa yang melecehkan dan tidak berpihak pada perempuan.

menentukan sendiri standar kesuksesan mereka yang lebih sering tidak sesuai dengan standar laki-laki. 4 (7) Achmad Zaini Abar. 23 December 1997.sehingga bisa menggambarkan juga suasana nasional. (12) Katharina Graham mencatat beberapa kesalahan tipikal yang dibuat oleh perempuan. yaitu meminta perlakukan khusus untuk perempuan. 4 (11) Marsinah berumur 23 tahun ketika dibunuh. 19 December 1997. (5) Secara keseluruhan hanya ada 8.Weix. Concealing Politics. (9) Maila Stivens dalam G.6% jurnalis perempuan di Indonesia pada tahun 1994 menurut Serikat Jurnalis Indonesia. NUS. 23 December 1997. hal 105.G. Sangkan Paran Gender. (London: Routledge. “Kembalikan Peran Wanita Sebagai Ibu Rumah Tangga”. dalam Feminism/Postmodernism. (New York: the Continuum Publishing Company. Kedaulatan Rakyat. hal. “Otak dan Watak Terdidik Ibu Manusia”. Power. Kedaulatan Rakyat. Bernas. Inc. 11-13 Agustus 1997 (10) Abdul Munir Mulkham. 1997). dan tidak mencoba memaknai ulang nilai-nilai femininitasnya sesuai dengan nilai-nilai . Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset. yang sudah seratus tahun lebih usianya saja sampai tahun 1990an masih menganut sistem gender yang timpang.: 104) (6) P. hal 4 (4)Omi Intan Naomi menuliskan bahkan jurnalisme Amerika. Dia bekerja di pabrik komponen jam tangan di Jawa Timur dan dibunuh setelah keterlibatannya dalam protes menuntut pembayaran tambahan. and Gender Skepticism”. 22 December 1997..1990) (3)Mutrafin. “Perempuan Dalam Strategi Pengembangan Sumber Daya Manusia”.). “Feminism. Nicholson (Ed. hal. (2) Susan Bordo. Jadi masuk akal juga jika jurnalisme Pancasila yang kita punyai juga masih kental dengan bias gender. Dalam “Wartawati Herstory”. Kedaulatan Rakyat. 1997). (ibid. and Politics. Chapman & Hall. Feminist Theory: The Intellectual Traditions of American Feminism. Revealing Women: Gendered Icons of Labor in Indonesia.76. Bonnie Kertaredja. hal. Linda J. 4 (8) Michael Barrett dalam Josephine Donovan. Lihat Weix. hal. paper yang disampaikan dalam International Conference on Women in the Asia-Pacific Region: Person. “Anak Tekhnologi Mencari Ibu”. Postmodernism. Irwan Abdullah (Ed).

Sebagai contoh yang paling mudah. Donovan. Bagaimana menganalisa masalah ini? Sebagaimana Sara Mills. hal. kita lupa dengan terjadinya “penyeragaman” dalam tayangan ataupun bacaan itu sendiri yang berakibat pada memaksa penonton untuk mengikuti apa yang si pembuat media inginkan. rambut lurus hitam adalah nilai yang disampaikan penonton bahwa rambut seperti demikian yang ideal bagi perempuan. Semua ini tentu tidak lepas dari motif-motif politik-ideologis tertentu dibalik penyajian tersebut. Sumber: Jurnal Perempuan Online Membangun Resistensi.hal. Iklan kosmetik mengiklankan tentang kulit putih mulus dan tubuh langsing ideal perempuan. melainkan tersebar di seluruh masyarakat . Produksi Kekuasaan Michel Foucault. adalah iklan kosmetik dan minyak goreng. Lihat Naomi. Membongkar Stereotipe<center></center> Publik kini bebas memilih dan menikmati tayangan ataupun bacaan di berbagai media. 125. Lihat. 4 (14) “Alienasi” dan “gagasan tentang praksis” adalah dua dari lima fokus utama dalam feminisme sosialis kontemporer. (13) Widyastuti Purbani. Contoh sederhana adalah tayangan iklan. Kebebasan ini bagaikan sebuah representasi hak otonom publik untuk memilih bentuk sajian media yang mereka sukai. hal. Tiga yang lainnya adalah relasi langsung antara perempuan dan akses produksi. Iklan yang ditayangkan terus menerus berpotensi menggiring penonton untuk “harus” mengikuti standar-standar nilai yang disematkan. Bahwa kekuasaan tidak bertumpu pada satu titik sentral termasuk tidak hanya pada pihak-pihak yang dominan. titik perhatian utama saya adalah pada wacana feminisme. Melihat Kembali Gereget Peringatan Hari Ibu. dan peran keluarga dalam sosialisasi ideologi. hubungan antara perempuan dan kelas. Foucault mengatakannya sebagai “produksi kekuasaan”. Bernas.22 December 1997. adalah salah satu filsuf postmodernis yang menawarkan analisis tentang motif-motif tertentu pada suatu media atau teks. 76. Menyaksikan iklan shampo.maskulinitas. Alasannya. Namun dibalik itu. Iklan tentang minyak goreng adalah contoh lain tentang nilai-nilai domestifikasi perempuan sebagai pihak yang harus bertanggungjawab atas segala kesehatan suaminya. seperti halnya pendapat Eriyanto (2001) banyak tayangan ataupun bacaan di media yang melibatkan perempuan dan yang terbanyak tentu saja adalah tayangan iklan.

bertuliskan “Yes! Turunkan berat badan anda hingga 5 kg perminggu!” Katakata itu menunjukkan bahwa menjadi kurus adalah kegembiraan dan kepuasan.”Lost the weight.(tidak ada seorang pun yang memilikinya) (John Lechte. Iklan bukan lagi menjadi pelayanan terhadap konsumen. dibentuk. bahwa tubuh ideal perempuan seperti pada perempuan yang menjadi model iklan Tropicana Slim. yang satu berkulit gelap. langsing. iklan Pond’s yang pernah ditayangkan di media televisi jelas menunjukkan bahwa kulit putih lebih baik daripada berkulit gelap. Atau pada iklan minyak goreng. Jelas sekali adanya domestifikasi . dan berambut lurus. berkulit putih. Kekuasaan tidak bekerja melalui penindasan atau represi. individu didefinisikan. Atas hal ini. seperti perilaku baik atau buruk yang sebenarnya mengendalikan perilaku masyarakat yang pada akhirnya dianggap kebenaran yang telah ditetapkan. kesadaran dan kehendak individu. Kuasa bukanlah milik raja. yang lain berkulit putih. yaitu perempuan cantik adalah yang berkulit putih dan lelaki normal adalah yang menyukai perempuan berkulit putih. digiring untuk menjadi ramping. 2001). melainkan melalui reproduksi kreatif. Dalam iklan tersebut ditampilkan seorang fotografer mengambil ancang-ancang membidik dua gadis kembar. yaitu melalui wacana. Mengetahui hal itu. salah satunya yaitu untuk mencapai target penjualan produk (Eriyanto. melainkan melalui normalisasi yang positif dan produktif. Wacana yang dihembuskan ini secara perlahan-lahan menciptakan kategorisasi. Perempuan kemudian diatur. Produksi kekuasaan yang terjadi kemudian adalah munculnya strategi untuk menghembuskan wacana “langsing”.”jangan-jangan kolesterol suamiku tinggi karena aku salah pilih minyak goreng”. diciptakan. “kulit putih”. bukan tubuh fisik lagi yang disentuh kuasa. melainkan jiwa. pikiran. gadis berkulit lebih gelap berwajah murung. adalah salah satu tayangan media yang menyebarkan kuasa (strategi) tentang normalisasi tubuh perempuan. Iklan yang membenarkan “kulit putih lebih cantik daripada kulit hitam” tidak dibentuk dengan reproduksi kekuasaan represif. Iklan. atau pejabat. Foucault menegaskan persoalan ini sebagai kekuasaan atas kehidupan modern atau kapitalisme.2001). tetapi dalam bentuk strategi. not the fun …” dengan lingkaran merah besar yang menutupi sebagaian tubuh ramping kurus perempuan bule yang sedang melompat. Disini tengah berlangsung bergulirnya strategi kuasa yang diproduksi terus menerus. terdapat kata-kata. boss. Fotografer si lelaki tampan itu memilih membidik kameranya kepada si gadis yang berkulit putih. yang mencuat terus menerus sehingga secara tidak sadar masyarakat menganggap tubuh perempuan yang ideal dan normal adalah. presiden. Sebagai contoh. Atau iklan tentang tubuh ideal perempuan langsing dan tinggi. atau iklan The Cambridge Diet yang menuliskan kata-kata. “rambut lurus hitam panjang”. melainkan menormalkan individu agar perilakunya sesuai dengan yang diinginkan si pembuat iklan. kemudian berusaha memutihkan kulitnya dengan harapan lelaki itu memperhatikannya. Melalui iklan.

Istri ideal adalah yang terus merasa bersalah bila terjadi sesuatu pada suami mereka. Berbagai upaya mengimbangi wacana dominan ini seperti yang dilakukan Dewi Huges atau Anita Roddick yang peduli terhadap masyarakat pedalaman dengan melihat kecantikan perempuan Afrika pada akhirnya tidak mampu mengalahkan wacana dominan tadi. yaitu suatu konsep sosial yang berhubungan dengan pembedaan (distinction) karakter psikologi dan fungsi sosial antara perempuan dan laki-laki yang dikaitkan dengan anatomi jenis kelaminnya (sex). Ia menyebutnya sebagai suatu pencerahan terhadap kapitalisme (Adriana Venny. Bagaimana mungkin kulit hitam bisa menjadi putih hanya dengan kosmetik? Lagipula wacana dominan ini mengandung pelecehan terhadap ras yang berkulit hitam. Wacana dominan ini menggeser atau memarginalkan wacana lain yaitu bagi perempuan-perempuan yang tidak berkulit putih dan tidak bertubuh langsing. Wacana tubuh perempuan yang tidak dominan ini diabaikan (left out). Mansour Fakih bahkan . Roddick sampai bersusah payah membuat maskot “The Body Shop” serupa boneka Barbie tetapi bertubuh besar. yaitu konsep yang mencakup seks dan gender dimana seks adalah indentifikasi untuk membedakan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologi (jenis kelamin) yang lebih digunakan untuk persoalan reproduksi dan aktivitas seksual(Suzanne dan wendi. Akibatnya adalah perempuan yang tidak bertubuh langsing dan tidak berkulit putih kehilangan kepercayaan atas tubuhnyadan kehilangan identitas karakter tubuhnya sendiri.perempuan bahwa istrilah yang harus bertanggungjawab bila suaminya terkena penyakit tertentu. sedangkan laki-laki berkarakter baik bila ia sebagai individu di atas dunia yang lebih luas (Tierney). Iklan itu menunjukkan adanya bias dalam menampilkan perempuan dimana istri cenderung ditampilkan sebagai pihak yang salah. Misalnya perempuan dijelaskan berkarakter baik bila ia sebagai ibu rumah tangga atau istri yang baik (seperti pada iklan minyak goreng).(Elaine.2000). Langsing putih dan berambut lurus menjadi wacana dominan perempuan ideal di masyarakat kita. Masyarakat kemudian menginternalisasi “istri ideal” adalah seperti itu. Resistensi Perempuan Melalui Media Seni Sangat memprihatinkan bila perempuan-perempuan yang tidak bisa mencapai wacana dominan tentang tubuh ideal tadi membuat mereka terobsesi dan memaksakan diri dengan berbagai upaya yang bahkan bisa membahayakan mereka.1989) Stereotipe tidak lepas kaitannya dengan seks dan gender.1997) sedangkan gender menjelaskan adanya pembedaan laki-laki dan perempuan yang dilihat dari konstruksi sosial-budaya. Masihkah kita perlu membanggakan diri atau bersedih hati karena kulit kita? Iklan-iklan yang memelihara nilai-nilai seperti itu sesungguhnya menumbuhkan stereotip baru terhadap perempuan. berambut ikal dengan kulitnya yang berwarna.

mereka dianggap “sinting” atau aneh oleh masyarakat sekitarnya. sedang perbuatan adalah pria (activity. Dalam suratnya. Hélén Cixous menulis hirarki oposisi biner yang selalu menempatkan dua hal dalam relasi yang superior-inferior seperti “Activity/passivity. Iklan-iklan yang membuat standar tubuh perempuan ideal membuktikan bagaimana laki-laki (lebih banyak dibagian produksi iklan) menciptakan perempuan untuk sesuai dengan fantasi mereka tentang “perempuan sexy atau cantik”. Kenyataan bahwa perempuan dalam media seni tidak diterima sebagai subyek sebetulnya sudah dialami oleh Kartini dan adiknya. rasional. Culture/nature. palpable).”Perempuan tak akan hidup lagi setelah kematian.”Perempuan itu lebih cocok untuk dilukis daripada sebagai pelukis. intelligible). bukannya melukis (Bianpoen. yang bisa dibentuk sebagaimana yang diinginkan laki-laki. sedangkan laki-laki adalah penciptanya. hasrat dan daya pikir laki-laki. Seperti Basuki Abdullah seorang pelukis terkenal pernah berkata. Dalam Sorties. karena ada stereotipe dimana ibu rumah tangga seharusnya mengurus rumah tangga. Adanya stereotipe bahwa perempuan tidak boleh di luar lingkungan . Atas hal ini. Stereotipe: Wacana Dominan.” Antiphanes seorang dramawan komedi Yunani juga mengatakan. tetapi tradisi tidak memberi tempat kepada anak perempuan diluar lingkungan rumah. Perempuan yang “dikerjakan” dan lelakilah yang mengerjakan. kecuali dibangkitkan lawan kesenian oleh pria. stereotip oposisi biner menempatkan perempuan pada posisi yang dirugikan dimana ini terjadi pula dalam media seni.” Penyair metafisis Inggris pada sekitar abad 17 bahkan menggambarkan perempuan itu cuma kata-kata (passivity. 1999).1996). Ketika menjadi pelukis. Dalam media ini perempuan adalah obyek yang dikreasikan atau diciptakan oleh keinginan.lebih jelas mengatakan bahwa stereotipe adalah pelabelan negatif terhadap jenis kelamin tertentu. beradab. Seperti yang dialami pelukis Lucia Hartini dan Kartika Affandi Koberl. emosional. dekat dengan alam. Intelligible/palpable Man/woman” (Priyatna 2000) Masyarakat manapun. termasuk Indonesia masih memegang stereotip bahwa laki-laki berada di wilayah kiri (aktif. Roekmini. Head/heart. perempuan adalah obyek yang pasif. Model-model perempuan adalah obyek yang dikreasi untuk mencapai fantasi tersebut. cerdas) sedangkan perempuan di wilayah kanan (pasif. Tidak hanya iklan. yang akibatnya terjadi diskriminasi dan ketidakadilan(Fakih 1997). dapat disimpulkan bahwa tampaknya perempuan dalam media ditempatkan sebagai yang abstrak. kurang cerdas).(Swara Harian Kompas. Wacana Oposisi Biner Stereotipe terhadap perempuan seperti lebih mudah dijelaskan dengan bertitik tolak pada wacana oposisi biner yang menempatkan perempuan pada posisi yang negatif dan tak berdaya. sekitar tahun 1901 bahwa saudara perempuannya yang bernama Roekmini ingin menjadi pelukis di akademi senirupa di Den Haag. Wacana dominan yang berwajah stereotipe ini memagari perempuan sehingga mereka tidak mampu mengekspresikan dirinya. sedangkan pria itu konkrit.

dibandingkan dengan media iklan. Ayu Utami penulis novel Saman sebagai pemenang juara pertama sayembara roman DKJ 1997-1998 sempat dicurigai bahwa itu bukan karyanya. Kecurigaan tersebut bisa kita lihat di beberapa media massa dan gunjingan di sekitar kelompok-kelompok sastra. Namun. Akibatnya. Garis-garis kuasnya menaruh kontemplasi dan ekspresi perasaan yang sangat kuat. Dalam media seni kita bisa menemukan semangat kebebasan dibandingkan dengan media iklan. Seperti dalam surat kabar Suara Pembaharuan. Tidak ada aturan seni yang menempatkan perempuan harus sebagai obyek.”’Saman”. Puas tapi Minta Tambah”. Di ranah seni rupa. dan masyarakat lebih percaya bila kesuksesan sebuah karya seni ada di tangan laki-laki (stereotipe). yang isinya mengasumsikan bahwa fragmen dari novel itu benar-benar mengundang libido pembaca (dalam hal ini berarti libido laki-laki) dengan menempatkan Ayu Utami sebagai obyek berita yang sensual. (Suara Pembaharuan. Begitupula di bidang sastra.1996). Aturan-aturan itu diberikan oleh alam melalui para genius. . yang dianggap lebih mungkin dan masuk akal. Demikian pula Kartika Affandi Koberl dalam karyanya Potret Diri yang lebih menggambarkan integritas perempuan gigih dan kuat dalam menghadapi kesulitan hidup. Dalam Srikandi (1993) Lucia Hartini melukis perempuan yang diletakkan sebagai subyek. melainkan tulisannya Goenawan Muhammad. 1998) Membongkar Stereotip Melalui Media Seni Stereotip memang sangat merugikan perempuan yang tidak hanya dalam iklan tetapi juga masuk ke wilayah seni.rumah mengakibatkan Roekmini tidak pernah mendapat kesempatan belajar seni rupa seperti yang pernah dicita-citakannya (Bianpone. Perempuan dalam lukisan itu berani dengan tinju terkepal. bukan karya sastranya. dituliskan judul yang sangat melecehkan. Itu berarti bahwa seni tidak dapat diatur oleh adanya stereotipe ataupun konstruksi sosial yang menempatkan perempuan pada posisi yang dirugikan. Seperti apa yang dikatakan Imanuel Kant bahwa “seni murni adalah seni para genius”. Dalam lukisannya itu Lucia Hartini telah mendobrak adanya stereotipe dengan menempatkan perempuan sebagai manusia berani dan aktif. media seni ternyata dapat juga menjadi alat untuk mendobrak stereotipe itu sendiri. Ada faktor ketidakpercayaan masyarakat dengan mempertanyakan bagaimana mungkin perempuan dapat mencapai kesuksesannya di bidang sastra. otot-otot lengan yang kencang dengan sebelah matanya keluar cahaya tajam yang menembus mata-mata yang sedang mengintip. Lucia Hartini dan Kartika Affandi Koberl akhirnya mengalami kesuksesan terutama karya mereka yang sangat feminis. buah pikiran Ayu Utami dicurigai sebagai buah pikiran laki-laki. Hans Georg Gadamer pernah mengatakan bahwa tidak ada aturan-aturan seni yang bersifat universal.

dia menjadi orang besar yang dihargai oleh orang lain sebagai perempuan perkasa yang memiliki cita-cita mulia. tapi tidak membikin selaput penis”. 1998) Ayu Utami juga menggugat stereotipe masyarakat tentang hubungan lelaki dan perempuan. jiwa dan pikirannya sendiri. Ia juga memberontak terhadap stereotipe keperawanan perempuan. (Utami. dan lelaki itu akan menghidupinya dengan hartanya. pada akhirnya yang salah adalah Tuhan. dibentuk dan diciptakan tubuhnya oleh imajinasi keinginan pria. ketika dewasa. Kelak. sehingga kami kepingin berkelahi. 1998) Dalam ranah teater atau drama. (Utami.(Bimo Nugroho. Ia seorang aktris yang mencoba melakukan perlawanan kepada cara pandang masyarakat terhadap perempuan yang selama ini sangat stereotipe. Laila melerai dengan usul menyisihkan dulu perkara itu. Itu dinamakan perkawinan. “Hanya lelaki yang boleh menghampiri perempuan. Bisma Al Huseini dari Mesir melakukan pemberontaknnya lewat media teater. Sebab menurutku yang curang lagilagi Tuhan: dia menciptakan selaput dara. Tetapi ketika ke Beirut. * Mariana Amiruddin. sebab menurut dia musuh kita adalah laki-laki… Apa salah laki-laki? Jawab Laila: sebab mereka mengkhianati wanita. “Dengar kawan-kawan. 2001) Penutup Bahwa perempuan dalam media bisa menjadi obyek yang dieksploitasi. Di dalam novel-novelnya selalu ia tanamkan tentang karakter perempuan mandiri. kataku. jika agama dipakai untuk urusan ini. Ayu Utami yang ditimpa gunjingan sana-sini juga tidak mengurangi kesuksesannya. dan akan pergi setelah si wanita menyerahkan kesucian … Tiba-tiba aku ingin berteriak. Sumber: Jurnal Perempuan Online . yaitu perempuan sebagai subyek yang memandang. tetapi di lain hal perempuan dapat menggunakan media itu sendiri sebagai sarana resistensi untuk membongkar stereotip bila perempuan itu sendiri bisa menciptakan apa yang benar-benar ia inginkan atas tubuh. Sejak itu posisinya menguatkan perempuan lain untuk ikut berteater sebagai usaha perlawanan mereka.Di ranah sastra. Perempuan yang mengejar-ngejar lelaki pastilah sundal. aku menganggapnya persundalan yang hipokrit. Perempuan akan memberikan tubuhnya pada lelaki yang pantas. Dialah perempuan yang memimpin teater dimana pada awalnya tidak didukung oleh siapa pun. dan laki-laki sebagai obyek yang dipandang. Mereka cuma menginginkan keperawanan. tapi kukatup mulutku rapat-rapat karena aku tak ingin kembali bertengkar. Mendengar itu Yasmin marah sekali. Koordinator Jurnal Perempuan dan Jurnalis Radio Jurnal Perempuan di Yayasan Jurnal Perempuan.

Apakah terjadi di makam pahlawan di kota-kota lain? Juga. di samping sekaligus pelestari budaya bangsa. menjadi pemimpin masyarakat. bisa benar bisa tidak karena tidak sempat menanyakan kepada kantor penjaga makam pahlawan tentang jumlah pahlawan laki-laki dan perempuan di sana. Mereka masih memiliki pola berpikir bahwa laki-laki akan menjadi pemimpin. inilah awal tumbuhnya kesadaran akan kesederajatan laki-laki dan perempuan. bisa ditafsirkan adanya supremasi laki-laki sekaligus mengabaikan perempuan dalam perjuangan memerangi penjajah. PENDIDIKAN yang memperhatikan kesetaraan jender di sekolah-sekolah masih jauh dari yang diidealkan. sedangkan anak perempuan akan menjadi ibu rumah tangga. Kesadaran mesti dimulai dari keluarga dan ditumbuhkembangkan di sekolah. Mary Astuti (2000) menunjuk para guru sebagai pendidik di sekolah kurang mempunyai pengalaman dalam menanamkan nilai-nilai baru dalam hubungan heteroseksual dalam pengasuhan anak di sekolah. tetapi saya sebagai bapak akan mengingatnya sebagai saat penting seorang anak menunjukkan "kekritisannya". Solo. putri kecil saya mungkin sekarang sudah lupa dengan pertanyaannya. Anak laki-laki.Mengajarkan Kesetaraan Jender<center></center> KOK. ya. enggak ada nama ceweknya. Kelak putri saya mungkin akan merumuskan pertanyaan lain tentang apakah yang berjuang melawan penjajah hanya laki-laki. Anak laki-laki akan diberikan pelajaran silat atau bela diri supaya mempunyai rasa percaya yang lebih besar karena dia akan menjadi kepala keluarga. selalu dipilih sebagai pemimpin upacara. Jurug. Kalau taman makam pahlawan yang ada hampir di setiap kota atau kabupaten dibangun sebagai bagian tidak terpisahkan dari sejarah perjuangan bangsa ini. Bisa jadi putri saya tidak bermaksud protes lewat pertanyaannya tersebut. karena suaranya keras. Mereka tidak menyadari murid perempuan juga . Anak perempuan diberikan materi memasak atau menari sehingga mereka bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik atau bisa menjadi penghibur. Pun. Bahwa semua yang dimakamkan sebagai pahlawan di sana tidak ada yang putri. sama sekali tidak terlintas dalam pikiran saya seumur-umur mengenai laki-laki atau perempuan. lantas siapa yang memasok makanan atau mengobati yang terluka? Untuk situasi masyarakat pada zaman kini. Pembedaan perlakuan antara murid perempuan dan murid laki-laki juga terjadi pada upacara-upacara yang digelar di sekolah. mereka yang dimakamkan di taman pahlawan. Pak?" Pertanyaan tersebut meluncur dari mulut putri kecil saya yang masih duduk di kelas satu sekolah dasar (SD) ketika mengunjungi Taman Makam Pahlawan Kusuma Bakti. sungguh mati.

peran perempuan dan laki-laki dibedakan menurut peran domestik. penyanyi. dan sensivitas jender. dan mengandalkan ototnya. Semasa taman kanak-kanak. perempuan dan laki-laki dibedakan dari bentuk permainan. Gedung MPR/DPR bukan makam pahlawan. Sumber: Kompas Cyber Media . Pemahaman kesetaraan jender. Padahal. dan sosial. sementara juru masak. tentunya taman makam pahlawan tidak bisa diubah lagi soal perempuan atau laki-laki yang mesti ditempatkan sebagai pahlawan. Sejak dini. Cukuplah bila kelak putri saya akan mendapatkan jawaban kesetaraan jender dengan melihat komposisi anggota parlemen negaranya. oleh para penyelenggara pendidikan.mampu bersuara keras. kasar. penari. kepemilikan tanah. St Kartono Mengajar di SMU Kolese De Britto. KEMBALI pada pertanyaan putri saya pada awal tulisan ini. dokter. para pengarang buku pelajaran. Pembedaan tersebut tidak pernah diprotes siswa perempuan karena semua perlakuan tersebut mereka anggap wajar juga. Dengan membarui paradigma guru lewat pelatihan yang mendalami jender. identik dengan perempuan. dan tidak ada diskriminasi yang merugikan bagi siswa perempuan ataupun laki-laki. Padahal. Dalam buku pelajaran bahasa Indonesia dari sekolah dasar hingga sekolah menengah umum. atau barang-barang yang bernilai ekonomis tinggi selalu untuk lakilaki. sedangkan laki-laki identik dengan dunia yang keras. sementara anak perempuan main masak-masakan. Kegiatan memasak selalu untuk perempuan. Profesi polisi. Betapa kecut hatinya bahwa perlakuan laki-laki dan perempuan di makam pahlawan sama saja dengan perlakuan di Gedung MPR/DPR. kesadaran. dan pantas menjadi pemimpin upacara. Perempuan diposisikan sebagai makhluk lemah dan perlu dikasihani. publik. serta para guru. mengurus kendaraan. atau militer masih dilekatkan pada laki-laki. permainan untuk anak laki-laki adalah perang-perangan. sedangkan berkebun. Yogyakarta. Pembedaan yang dilakukan bukan menunjukkan perbedaan yang esensial. tetapi pembedaan berdasarkan kebiasaan belaka. Buku-buku pelajaran pun masih menunjukkan adanya ketimpangan jender. bersuara lantang. guru akan dapat memperlakukan siswa secara adil jender. sesungguhnya telah terjadi banyak perubahan. kiranya terus-menerus diasah demi perubahan paradigma dan persepsi yang lebih adil jender.

adat kebiasaan. jika seorang perempuan mengekspresikan keinginan atau kebutuhannya maka ia akan dianggap egois. Mereka haruslah sosok kuat. tetapi juga melalui pendidikan dalam lingkungan keluarga. Pendidikan di sekolah dengan komponen pembelajaran seperti media. ia biasanya tidak ingin menunjukkan bahwa ia sebenarnya sedih dan malu. ia ingin tampak percaya diri. tidak rasional dan agresif. Hal ini menjadi beban tersendiri pula bagi perempuan. dan dilecehkan oleh kawannya yang lebih besar. dipukul. Stereotip perempuan yang pasif. Ironisnya siswa pun melihat . Kenyataannya juga menunjukkan. dan kepercayaan masyarakat. Bias gender ini tidak hanya berlangsung dan disosialisasikan melalui proses serta sistem pembelajaran di sekolah. metode.Kesetaraan Gender dalam Pendidikan<center></center> BANYAK laki-laki mengatakan. Membicarakan gender tidak berarti membicarakan hal yang menyangkut perempuan saja. sungguh tidak mudah menjadi laki-laki karena masyarakat memiliki ekspektasi yang berlebihan terhadapnya. Karenanya. dan menyapu. dan tugas laki-laki dan perempuan yang ditetapkan oleh masyarakat berdasarkan norma. Sebaliknya. maka akan tertanam di benak anakanak bahwa pekerjaan domestik memang menjadi pekerjaan perempuan. Sebut saja gambar seorang pilot selalu laki-laki karena pekerjaan sebagai pilot memerlukan kecakapan dan kekuatan yang "hanya" dimiliki oleh laki-laki. emosional. banyak ditemukan gambar maupun rumusan kalimat yang tidak mencerminkan kesetaraan gender. dan perkasa. Ini menjadi beban yang sangat berat bagi anak laki-laki yang senantiasa bersembunyi di balik topeng maskulinitasnya. peran. Gender dimaksudkan sebagai pembagian sifat. mencuci. Dalam buku ajar misalnya. Bias Gender Keadaan di atas menunjukkan adanya ketimpangan atau bias gender yang sesungguhnya merugikan baik bagi laki-laki maupun perempuan. menjadi perempuan pun tidaklah mudah. serta buku ajar yang menjadi pegangan para siswa sebagaimana ditunjukkan oleh Muthalib dalam Bias Gender dalam Pendidikan ternyata sarat dengan bias gender. Jika ibu atau pembantu rumah tangga (perempuan) yang selalu mengerjakan tugas-tugas domestik seperti memasak. dan tidak mandiri telah menjadi citra baku yang sulit diubah. dan tidak memperlihatkan kekhawatiran dan ketidakberdayaannya. kedudukan. Sementara gambar guru yang sedang mengajar di kelas selalu perempuan karena guru selalu diidentikkan dengan tugas mengasuh atau mendidik. tidak cengeng. Ketika seorang anak laki-laki diejek. gagah.

Paskibraka yang setiap tanggal 17 Agustus bertugas di istana negara. selalu menempatkan dua perempuan sebagai pembawa bendera pusaka dan duplikatnya. kuat. yang berlangsung di dalam atau di luar kelas. Misalnya ketika seorang guru melihat murid laki-lakinya menangis. Siswa perempuan itu dikawal oleh dua siswa laki-laki. penakut ata bukan laki-laki sejati. ia akan mengatakan "anak perempuan kok tidak tahu sopan santun". Hal ini memberikan pemahaman kepada siswa bahwa hanya perempuan yang boleh menangis dan hanya laki-laki yang boleh kasar dan kurang sopan santunnya. "Ayah membaca Koran dan ibu memasak di dapur" dan bukan sebaliknya "Ayah memasak di dapur dan ibu membaca koran". Hal ini menanamkan pengertian kepada siswa dan masyarakat pada umumnya bahwa tugas pelayanan seperti membawa bendera. . Jika perempuan tidak dapat memenuhinya ia akan disebut tidak tahu adat dan kasar. Singkatnya. Laki-laki nggak boleh cengeng". Hal demikian tidak hanya terjadi di tingkat sekolah. Bias gender yang berlangsung di rumah maupun di sekolah tidak hanya berdampak negatif bagi siswa atau anak perempuan tetapi juga bagi anak laki-laki. Rumusan kalimat tersebut mencerminkan sifat feminim dan kerja domestik bagi perempuan serta sifat maskulin dan kerja publik bagi laki-laki. ia akan mengatakan "Masak laki-laki menangis. membawa baki atau pemukul gong dalamupacara resmi sudah selayaknya menjadi tugas perempuan. ada aturan-aturan tertentu yang dituntut oleh masyarakat terhadap perempuan dan laki-laki. tetapi bahkan di tingkat nasional. dan melayani. lembut. Sementara laki-laki diarahkan untuk tampil gagah.bahwa meski guru-gurunya lebih banyak berjenis kelamin perempuan. Anak perempuan diarahkan untuk selalu tampil cantik. Dalam rumusan kalimat pun demikian. Kalimat seperti "Ini ibu Budi" dan bukan "ini ibu Suci". Semuanya ini mengajarkan kepada siswa tentang apa yang layak dan tidak layak dilakukan oleh laki-laki dan apa yang layak dan tidak layak dilakukan oleh perempuan. lebih luas lagi. tetapi kepala sekolahnya umumnya laki-laki. Demikian pula jika laki-laki tidak dapat memenuhinya ia akan disebut banci. dan berani. masih sering ditemukan dalam banyak buku ajar atau bahkan contoh rumusan kalimat yang disampaikan guru di dalam kelas. Ini akan sangat berpengaruh pada peran sosial mereka di masa datang. Belum pernah terjadi dalam sejarah: laki-laki yang membawa bendera pusaka itu. Demikian pula dalam perlakuan guru terhadap siswa. Dalam upacara bendera di sekolah selalu bisa dipastikan bahwa pembawa bendera adalah siswa perempuan. Sebaliknya ketika melihat murid perempuannya naik ke atas meja misalnya.

menjelang dewasa. Laki-laki pada usia lima atau enam tahun belajar mengontrol perasaan-perasaannya dan mulai malu mengungkapkannya. yakni proses untuk tidak menyerupai ibunya yang dianggap masyarakat sebagai perempuan lemah dan harus dilindungi. Meski berat bagi anak laki-laki untuk berpisah dari sang ibu. bayi lakilaki secara emosional lebih ekspresif dibandingkan bayi perempuan. Ayah dan ibu yang saling melayani dan menghormati akan menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya. Namun ketika sampai pada usia sekolah dasar. di sekolah. Jadi. Kesetaraan gender seharusnya mulai ditanamkan pada anak sejak dari lingkungan keluarga. ekspresi emosionalnya hilang. dan tidak takut. ada proses menjadi kuat bagi laki-laki yang selalu diajari untuk tidak menangis. gagal studi. Penyebabnya adalah pertama. pada anak perempuan selalu ada tuntutan-tuntutan di luar dirinya yang memaksa mereka tidak memiliki pilihan untuk bertahan. Tidak heran jika semakin banyak anak perempuan mengusahakan penampilan sempurna bak peragawati dengan cara-cara yang justru merusak tubuhnya. Objek yang diinginkan ini selalu berkaitan dengan tubuhnya. dan malas. wajah putih nan cantik. Padahal. Satu-satunya cara yang dianggap aman adalah dengan membunuh kepribadian mereka untuk kemudian mengikuti keinginan masyarakat dengan menjadi suatu objek yang diinginkan oleh lakilaki. sebenarnya. namun ia harus melakukannya jika tidak ingin dijuluki sebagai "anak mami". siswa perempuan umumnya memiliki prestasi akademik yang lebih baik jika dibandingkan dengan laki-laki. Penyebabnya menurut Sommers. kulit halus dll. tidak lemah. karena anak laki-laki lebih banyak mempunyai persoalan hiperaktif yang mengakibatkan kemunduran konsentrasi di kelas. orang tua yang .William Pollacek dalam Real Boys menunjukkan penemuannya. Situasi dan kondisi memungkinkan mereka jauh lebih tekun dan banyak membaca buku. proses pemisahan dari ibunya. Kedua. Demikian pula dalam hal memutuskan berbagai persoalan keluarga. tentu tidak lagi didasarkan atas "apa kata ayah". Keterlibatan Semua Pihak Lalu apa yang dapat dilakukan terhadap fenomena bias gender dalam pendidikan ini? Keterlibatan semua pihak sangat dibutuhkan bagi terwujudnya kehidupan yang lebih egaliter. Tidak mengherankan jika banyak guru mengatakan bahwa siswa laki-laki lebih banyak masuk dalam daftar penerima hukuman. Jadilah mereka kemudian anak-anak perempuan yang mengikuti stereotip yang diinginkan seperti tubuh langsing. Sementara itu.

Di lain pihak. dan "diamankan". Selain itu. mereka dituntut oleh masyarakat untuk membesarkan anak-anaknya sesuai dengan "aturan anak perempuan" dan "aturan anak laki-laki". Sejatinya. (18) Dra Sri Suciati. mereka mulai menyadari bahwa aturan-aturan itu melahirkan ketidakadilan baik bagi anak perempuan maupun laki-laki. M. Sebab di satu pihak. Sumber: Suara Merdeka Refleksi Teologi Islam mengenai Kesetaraan Jender<center></center> DALAM salah satu bukunya. guru akan menjadi agen perubahan yang sangat menentukan bagi terciptanya kesetaraan gender dalam pendidikan melalui proses pembelajaran yang peka gender. Kesetaraan gender dalam proses pembelajaran memerlukan keterlibatan Depdiknas sebagai pengambil kebijakan di bidang pendidikan. Memang tidak mudah bagi orang tua untuk melakukan pemberdayaan yang setara terhadap anak perempuan dan laki-lakinya. dan berkonsentrasi di wilayah domestik.berwawasan gender diperlukan bagi pembentukan mentalitas anak baik laki-laki maupun perempuan yang kuat dan percaya diri. diharuskan tinggal di rumah demi keamanannya. Perempuan masih diposisikan sebagai kelompok lemah yang perlu diajari. Dosen FPBS IKIP PGRI Semarang. 2003). Seakan beban jender perempuan adalah "kodrat" dari Tuhan. Di sini peran teologi Islam diuji. Hassan Hanafi mengatakan bahwa teologi Islam sangat memprihatinkan. tidak boleh diperbarui. teologi seharusnya merupakan refleksi kritis agama terhadap permasalahan yang dihadapi masyarakat. sekolah secara kelembagaan dan terutama guru. Semua itu menjadi pembenaran bahwa perempuan tidak bisa berperan di ruang publik. wakil sekretaris PGRI Jawa Tengah. Teologi dan realitas sosial . Perjuangan membangun keadilan dan kesetaraan jender. dibimbing. tidak bisa dilepaskan dari bangunan teologis. Celakanya lagi.Hum. teologi ini dianggap sudah final oleh umat Islam. hanya bicara tentang konsep Tuhan dan abai terhadap masalah sosial di hadapannya (Hassan Hanafi. Dalam hal ini diperlukan standardisasi buku ajar yang salah satu kriterianya adalah berwawasan gender. misalnya.

terutama Mu’awiyah. 1992). Maka. Dalam "fatalisme". dengan harapan dapat membebaskan teologi Islam dari kebangkrutannya. Saat itu. Asy’ari di tengah "keputus-asaan teologis" umat Islam berhadapan dengan Aristotelianisme yang menempatkan Tuhan pada posisi kurang signifikan. Walhasil. Dengan pendekatan ini. justru disesaki kepentingan . Wajar jika Asghar Ali Engineer mengatakan bahwa teologi Islam terlalu berkutat pada persoalan metafisik dan meninggalkan persoalan penting kemanusiaan (Asghar Ali Engineer. konsep "fatalisme" atau "predestination" lebih dimotivasi kepentingan status quo ketimbang teologi itu sendiri. Peristiwa pemberontakan Mu’awiyah terhadap Khalifah Ali bin Abu Thalib dicatat Harun Nasution sebagai awal munculnya perdebatan teologi (Harun Nasution. Meski agak berbeda dengan awal kemunculannya. Dalam konsep teologinya mereka menerangkan bahwa akal manusia sejalan dengan wahyu. sebab Asy’ari dianggap sukses menciptakan sebuah konsep teologi yang membuktikan peran besar Tuhan dalam jagat raya (Nurcholish Madjid. yakni memahami teologi untuk teologi itu sendiri. Bahkan. teologi Islam begitu modern dan relevan dengan kebutuhan manusia. Apa yang dilakukan Hanafi adalah salah satu contoh menarik. teologi senantiasa didialogkan dengan realitas sosialnya. Turunnya wahyu mereka anggap sebagai afirmasi dan konfirmasi atas pengetahuan tersebut. 1986). Salah satu realitas sosial yang perlu disikapi adalah diskriminasi jender. pemberontakan Mu’awiyah diyakini sebagai takdir. Hanafi mendialogkan teologi dengan kolonialisme dan orientalisme. Sudah saatnya umat Islam mengembangkan pendekatan hermeneutika filosofis. Maka. raison d’etre teologi Islam adalah tuntutan "realitas sosial". Teologi yang sejatinya memosisikan perempuan sebagai mitra laki-laki. pada masanya. setelah ia memperoleh kursi kekhalifahan. Teks kitab suci (Al Quran) didialogkan dengan persoalan manusia. Abu Hasan Al-Asy’ari dipuji Nurcholish Madjid. Lantas tokoh-tokoh Mu’tazilah juga dianggap sukses dalam melapangkan pengembangan filsafat dan ilmu pengetahuan yang menuntut banyak peran akal. Umat Islam terjebak dengan pendekatan hermeneutika teoretis. akhirnya terciptalah teologi pembebasan (kiri Islam).Pada awalnya teologi Islam dibangun di atas kepentingan politik. tanpa wahyu sekalipun manusia mampu mengetahui tentang Tuhan dan kebaikan. Perdebatan tersebut bermuara pada kebutuhan untuk mencari legitimasi politik. teologi menjadi jauh dari kebutuhan manusia. 1998). Pandangan serupa ini menjadi landasan teologis dalam mengembangkan filsafat yang saat itu ditentang keras oleh ulama. teologi Islam berhenti berdialog dengan "realitas sosial". menurut mereka. Dewasa ini. terutama para ahli fikih (fuqoha) Dengan demikian.

Hasil dialog semacam ini dapat kita temukan dalam teologi feminis. Hal inilah yang ingin didekonstruksi dari paradigma pendukung patriarki bahwa feminitas senantiasa merepresentasikan kelemahan. irasional. Kemudian. teologi feminis adalah teologi yang menggali aspek-aspek feminin Tuhan demi kesetaraan jender. Hal ini dibenarkan teolog feminis. Anne McGrew Bennet. sensitif. Atas dasar itu. diskriminasi jender sesungguhnya merupakan pengingkaran terhadap Tuhan secara utuh. 1989). pandangan seperti itu tidak memiliki legitimasi teologis. Arabi menggambarkan adanya reproduksi alam semesta. dialog teologi dengan permasalahan-permasalahan perempuan adalah suatu keniscayaan. Sifat feminin inilah yang dieksplorasi oleh teologi feminis. dan seterusnya. Proses penciptaan alam semesta secara evolusi. Oleh karena itu. pemeliharaan alam juga merupakan representasi sifat kasih dan sayang-Nya. Bennet menyatakan bahwa "revolusi teologis" adalah sebuah keniscayaan jika kita menginginkan pembebasan manusia (Anne McGrew Bennet.laki-laki. sebenarnya sifat feminin Tuhan jauh lebih berperan. Dengan demikian aspek feminin-Nya jauh lebih terasa ketimbang aspek maskulin. merupakan cermin dari sifat feminin-Nya. misalnya. Bahkan. Maha Pemarah diimbangi dengan Maha Penyayang. Lebih tepatnya. misalnya. relasi jender secara mengesankan telah direpresentasikan oleh Tuhan sendiri. Oleh Ibnu Arabi. meski sifat maskulin dan feminin Tuhan dikatakan sejajar. sifat-sifat tersebut dibagi dalam dua kelompok besar. . Di dalamnya. Jadi. Perendahan terhadap kualitas feminin perempuan bernilai sama dengan pengabaian kualitas feminin Tuhan. Dalam Al Quran. Alasannya. yang berarti Dia (laki-laki). Menurut dia teologi yang ada selama ini disesaki kepentingan laki-laki. dan tidak bisa tegas sehingga menyebabkan kaum perempuan dianggap tidak layak berperan dalam wilayah publik. Kata ganti Tuhan dalam Al Quran. seperti halnya seorang ibu yang melahirkan. paling tidak. yaitu sifat yang melambangkan keperkasaan (maskulin) dan keindahan (feminin). sifat perkasa-Nya senantiasa didampingi oleh keluasan kasih sayang-Nya. konsep ketuhanan yang metafisik diterjemahkan kepada persoalan pembebasan dan pemberdayaan perempuan. ialah Huwa. Dalam pandangan Arabi. Padahal. Tuhan digambarkan memiliki 99 sifat. ada tiga hal yang harus dilakukan terhadap teologi Islam. Maha Pemberi Hukuman diimbangi dengan Maha Pengampun.

baik kepentingan status quo maupun pemberontakan. melainkan meneruskannya pada aksi. Hal ini diperlukan guna menyadarkan umat bahwa kemunculan teologi Islam tidak berada di ruang hampa. melainkan penuh dengan kepentingan. M Hilaly Basya. Pencitraan perempuan di berbagai media massa di seluruh dunia masih lebih banyak bersifat stereotip sehingga tidak bisa dikatakan mewakili sesuatu yang lebih benar mengenai perempuan. tetapi pada kesalehan sosial. Perjuangan Perombakan Kultur Upaya menghapuskan kekerasan dalam pemberitaan surat kabar. Kedua. Ukuran kesalehan dalam konteks gagasan ini tidak diukur dari kepatuhan menjalankan ritual. media seharusnya dapat digunakan untuk mentransformasi pencitraan mengenai perempuan. Eksplorasi lebih dimaksudkan sebagai pengungkapan bahwa sifat feminin tidak identik dengan kelemahan sebagaimana dianggap oleh pendukung patriarki. membongkar mitos tentang teologi yang seolah-oleh terberi (taken for granted). Ketiga. mengeksplorasi aspek feminin Tuhan demi kesetaraan jender. media dan jaringan alternatif khusus untuk perempuan semakin berkembang dan dimanfaatkan secara efektif oleh organisasi mahasiswa dan kelompok-kelompok perempuan guna memperbaiki kesadaran sosial dan politik di antara perempuan dan anggota masyarakat Dengan demikian. Apalagi . bukan hal yang mudah karena menyangkut perombakan kultur dan kerangka pikir wartawan dan editor. Dosen Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka) dan anggota Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) Sumber: Kompas Cyber Media Pemberitaan Sensitif Gender. yakni membela hak-hak perempuan dan menegakkan kesetaraan jender. Sumbangan Besar Mewujudkan Demokrasi<center></center> Revolusi teknologi ternyata tak banyak dimanfaatkan oleh pekerja media untuk membantu perempuan memperbaiki posisinya. Dengan begitu diharapkan tidak ada fanatisme sempit yang mencurigai dialog teologi dan persoalan perempuan sebagai pendangkalan akidah.Pertama. Ini tidak dimaksudkan untuk membenturkan sifat feminin Tuhan dengan sifat maskulin-Nya. menjadikan teologi tidak sebatas keimanan. Sampai Konferensi Dunia IV mengenai perempuan dan pembangunan di Beijing (1995).

efensif. Sejumlah stereotip lantas menempel pada perempuan dan laki-laki berdasarkan peran jenis kelamin itu. Kerja dalam tim seperti media cetak. . Dengan demikian pemberitaan wacana sensitifitas gender saja tidak akan mampu membuat wartawan segera mamiliki kesadaran yang cukup pada inequality yang dialami perempuan. Dalam masyarakat terlanjur meyakini notion palsu yang mengatakan bahwa secara kodrati perempuan kurang pandai dan secara fisik lebih lemah dibandingkan dengan laki-laki. Kemarahan dan ketidaktoleran hanya akan menjadi conter productive dan tidak akan membuat perubahan yang berarti. atau sudut pandang berita yang dipilih. sektor "domestik" yang dikatakan sebagai sektor statis clan consumtif sebagai milik perempuan. karena struktur dan pemberitaan media massa sebenarnya adalah cermin situasi masyarakat itu sendiri. maka dengan mudah ideologi yang diskriminatif ini tersosialisasikan. terinternalisasikan melalui pendidikan di semua lini. Industri media massa akan menempatkan berita-berita yang bersifat maskulin itu sebagai sesuatu yang utama. Perjuangan untuk mencapai keadilan gender melalui pemberitaan dalam media massa masih membutuhkan waktu teramat panjang. sekolah. memalukan.bila bekerja pada wilayah mind set yang melahirkan suatu sikap tertentu. dan menentang konsepsi tentang apa dan bagaimana seharusnya. pemilihan gagasan dan keseluruhan gaya pemberitaan. dan lingkungan masyarakat. keluarga. Karena itu. Sedangkan sektor "publik" yang dicirikan sebagai sektor dinamis dan memiliki sumber kekuasaan pada perbagai sektor kehidupan yang mengendalikan perubahan sosial sebagai milik lakilaki.1 Tahun 1974 tentang perkawinan yang secara eksplisit menetapkan peran-laki-laki dan perempuan. buruk. ideologi tertentu yang dipelajari seorang manusia sejak ia bisa berpikir. karena dianggap "menjual". Perspektif Perempuan dalam Media Massa Seluruh persoalan ini di dalam media massa juga tidak terlepas dari struktur modal yang kapitalistik. membutuhkan toleransi dan penghargaan pada proses. Kekerasan terhadap perempuan dalam media massa tidak bisa dilepaskan dari posisi perempuan dalam masyarakat. ditambah oleh pola asuh yang bias gender. narcisis. sebagai besar masyarakat masih percaya pada pembagian kerja secara seksual yang mensubordinasikan perempuan. Bahkan mengandung resiko dituduh mengekalkan mitos masochisme perempuan. rasisme. Ini diperkuat oleh kekuasaan negara UU No. Wartawan dan struktur keredaksian juga menyerap nilai-nilai tersebut sehingga mudah tergelincir untuk melakukan kekerasan berganda terhadap perempuan korban kekerasan melalui bahasa dan konsep yang dipakai. Penulisan berita dan artikel atau tulisan apapun (juga gambar) yang berperspektif perempuan bukan tidak mengandung kontradiksi. Ciri kapitalistik juga nampak dari dikalahkannya pemuatan berita demi iklan. meski iklan dijadikan alasan utama suatu media massa dapat bertahan.

atau bahkan memundurkan kembali. mengontrol secara dominan. dan demokrasi. ada semacam cara pandang. serta pembongkaran sikap dan cara pandang personal di kalangan wartawannya. budaya berpikir yang harus dirombak dalam struktur besar keredaksian. Dalam hal ini media sebagai kekuatan keempat (the fourth estate) berperan sangat besar untuk pergerakan permpuan. dan pendidikan untuk memajukan perdamaian. dan keadilan yang didasarkan kesetaraan tadi. komunikasi. Pada banyak kasus.Suara perempuan adalah suara yang terbisukan. Jurnalis harus memanfaatkan semaksimal mungkin informasi. namun sebaliknya media bisa digunakan untuk menahan laju pergerakan perempuan. tetapi ia meragukan atau bahkan menisbikan persoalan kesetaraan dalam hubungan perempuanlaki-laki. Jadi. maupun afeksi. maka secara tidak sadar dia telah memposisikan dirinya sebagai penindas. Ia merupakan kegiatan kegiatan sosial yang terstruktur dan terikat pada keadaan sosial tertentu. Mengapa? Karena kesadaran ditindas hanya ada pada golongan penindas. menyudutkan dan menyempitkan dan akhirnya menundukkan. orang tertindas malah tidak merasa ditindas karena manipulasi berbagai nilai yang dikukuhi dalam kehidupan masyarakat atau malah melakukan adjustment terhadap penindasan itu dan kemudian mereplikasikannya kepada pihak lain yang lemah. Sistem politik yang represif telah mengawasi perempuan secara ketat. tetapi sekaligus menginginkan . HAM. Inilah yang disebut split personaliy dari media: ia bisa menjadi agen pembaharu. sehebat apapun posisi seorang pemimpin media berbicara soal demokrasi. Tetapi apa keterkaitan antar demokrasi dan perempuan? Sejarah bisa menjadi titik tempuh untuk memaparkan pergerakan posisi perempuan mulai dari pemegang peranan yang kuat dalam komunitas sampai terjadinya subordinnasi terhadap mereka. tidak memungkinkan cara berpikir lain daripada yang dikehendaki penguasa. Padahal inti demokrasi adalah kesetaraan hak dan kewjiban. Sejarah kemudian memang memperlihatkan bahwa sejarah perempuan lebih banyak dilekatkan pada subordinasi. pada umumnya pekerja media memiliki kesadaran memadai mengenai masalah-masalah HAM. maka ia bukanlah demokrat sejati. Dalam sebuah diskusi Lembaga Pers Mahasiswa. Sebagai wacana baru (newspeak). Posisi Media Massa Namun perubahan semacam ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ini juga dilakukan melalui bahasa. Hanya dengan itu maka seluruh gerakan kesetaraan bisa mencapai tujuannya. Seorang pemimpin di dalam media yang masih mengartikan feminisme sebagai pembalikan perempuan dan laki-laki atau bahkan menuduh feminisme dan gerakan kesetaraan gender sebagai gerakan untuk menindas laki-laki. Namun masih perlu perbaikan yang signifikan dalam kognisi. karena membicarakan media massa media yang diekspresikan melalui bahasa tulis dan lisan. bahasa bukanlah sekedar alat komunikasi. Karena itulah kesadaran perempuan tentang masalah penindasan ini harus dibongkar.

Selalu ada jalan dengan kecerdasan membungkus isu. sehingga akhirnya secara perlahan tetapi pasti. Meski demikian. karena merasa hal-hal itu tidak populer. Oleh: Akhmad Junaedi Azhar Sumber: Siar Online .kemapanan sehingga enggan membongkar situasi status-quo. Namun bagaimanapun harus diingat. isu-isu kesetaraan dan keadilan gender menjadi isu yang kian membesar dan penting dan harus diterapkan dalam setiap persoalan. media main steram berurusan dengan pemodal yang lebih mempedulikan kenginan pasar ketimbang perbaikan posisi dan kesejahteraan perempuan dan kelompok masyarakat yang dilemahkan lainnnya. yang akhirnya mengganggu bisnis media. ketidakpedulian media main stream ini bukan jalan buntu yang tidak bisa ditembus.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful