GENDER Pembakuan Peran dalam Kebijakan-kebijakan di Indonesia<center></center> Pengantar: Berangkat dari prinsip yang menantang gagasan

konvensional bahwa hukum itu netral, objektif dan bebas nilai, LBH APIK Jakarta telah melakukan penelitian tentang ‘Pembakuan Peran Gender dalam Kebijakan-kebijakan di Indonesia’. Dengan menggunakan pendekatan hukum kritis,pandangan feminis terhadap hukum, gender dan negara dalam konteks Indonesia, ditemukan bahwa terdapat kebijakan-kebijakan yang tidak berkeadilan gender. Ideologi patriarki (dominasi laki-laki) faktanya telah mewujud dalam sistem hukum di Indonesia (baik dari peraturan dan kebijakan yang ada, stuktur dan budaya hukumnya), sehingga senantiasa mengekalkan ketidakadilan terhadap perempuan. Bagaimana pembakuan peran laki-laki dan perempuan dikukuhkan oleh Negara ? Konsep pembakuan peran gender yang mengkotak-kotakkan peran laki-laki/ suami dan perempuan/ istri ini hanya memungkinkan perempuan berperan di wilayah domestik (domestikasi), yakni sebagai pengurus rumah tangga sementara laki-laki di wilayah publik sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah utama. Peran gender yang memilahmilah peran perempuan dan laki-laki pada kenyataannya telah dibakukan oleh negara dalam berbagai kebijakan yang dilahirkan oleh Pemerintah Orde Baru. Kebijakankebijakan tersebut pada akhirnya hanya menyisakan ketidakadilan pada perempuan. Dengan demikian, melalui hukum, negara melakukan peran gender. Hukum, dengan demikian, dipandang sebagai agen yang menguatkan nilai-nilai jender yang dianut oleh masyarakat. Hal ini berkaitan dengan kebutuhan negara untuk menjaga dan menjamin kepentingannya. Apakah dampak dari pembakuan peran? Upaya domestikasi perempuan secara sistematis oleh negara berdasarkan ideology gender dalam kebijakan-kebijakan negara berdampak lebih jauh pada peminggiran terhadap perempuan, baik secara ekonomis, politik, sosial dan budaya, juga menimbulkan subordinasi, eksploitasi dan privatisasi kekerasan terhadap perempuan. Kebijakan-kebijakan apa sajakah yang membakukan peran jender? Ruang lingkup kebijakan yang dikritisi dalam penelitian adalah kebijakan-kebijakan yang lahir pada era Orde Baru. Dari kebijakan-kebijakan negara seperti : - pada masa Revolusi Hijau, yaitu pada Repelita I thn 1969-1974 dimana muncul Kebijakan yang memarginalkan kaum perempuan pedesaan yang awalnya

-

-

memiliki peran penting sebagai petani kemudian digeser dengan munculnya alatalat pertanian modern yang diasosiasikan dengan keahlian jenis kelamin laki-laki. Kemudian, kebijakan lain yang juga mempunyai efek pembakuan peran adalah praktek-praktek koersi terhadap perempuan yang diterapkan berkaitan dengan kebijakan pemerintah tentang kependudukan => Kebijakan KB yang dicanangkan sejak thn 1969 hanya diperuntukkan bagi kelompok perempuan Menunjukkan adanya asumsi patriarkal negara mengenai peran laki-laki dan perempuan yang menganggap bahwa urusan domestik adalah tanggung jawab perempuan. Nampak bahwa negara Orde Baru membatasi ruang lingkup kehidupan perempuan (secara sosial, ekonomi, politik) dan melegitimasi pembakuan peran gender.

Lebih rinci, teks-teks kebijakan yang dianalisa : Ø GBHN; Sebagai landasan bagi kebijakan-kebijakan lainnya dan pembangunan secara umum. Sepanjang GBHN 1978 –1998, kata ‘kodrat’ tetap hadir dalam teks. Dengan konsep peran ganda yang dianut negara, dapat disimpulkan bahwa ‘kodrat ‘ dimakni tidak hanya sebatas kemampuan biologis perempuan tetapi juga peran-peran reproduksi sosial. Jadi, dapat dideteksi adanya gagasan-gagasan mengenai pembakuan peran gender dalam GBHN. Ø Kebijakan tentang Buruh Migran Perempuan a. Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. Kep. 213/Men/89 tentang biaya Pembinaan Tenaga Kerja Indonesia dalam Rangka Pengembangan Program Antar Kerja Antar Negara ke Timur Tengah ; Dalam kebijakan ini diatur perbedaan biaya yang dikeluarkan untuk pengiriman buruh migran perempuan dengan laki-laki dengan asumsi gender bahwa buruh migran perempuan dianggap membutuhkan pembinaan. b. Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. Kep. 196/Men/1991 tentang Petunjuk Teknis Pengerahan Tenaga Kerja ke Arab Saudi Peraturan ini memuat adanya pembedaan usia antara laki-laki dan perempuan untuk menjadi buruh migran di sector informal. Ø Kebijakan tentang Pembantu Rumah Tangga (Perda No. 6 thn 1993) tentang Pembinaan Kesejahteraan Pramuwisma di DKI Jakarta dan SK Gubernur DKI Jakarta No. 1099 thn 1994) Asumsi pemerintah terhadap istilah pramuwisma yang cenderung ditujukan terhadap perempuan menyumbang pada pembakuan peran gender dalam pasal-pasal Perda. Misalnya, pasal tentang perlunya ijin bekerja dari suami bagi perempuan yang sudah bersuami. Ø Kebijakan tentang Perkawinan/ Perceraian UUP Integrasi konsep pembakuan peran dalam kebijakan tentang perkawinan yaitu melalui UU No. 1 thn 1974 tentang Perkawinan (UUP), terutama nampak dalam khususnya pasal 31, yang menyatakan bahwa “suami adalah kepala keluarga dan

istri adalah ibu rumah tangga.” Selain itu, UUP menganut asas monogamy terbuka, maksudnya bahwa pada asasnya suatu perkawinan seorang laki-laki hanya boleh mempunyai seorang isteri dan seorang perempuan hanya boleh mempunyai seorang suami. Namun, terdapat klausula yang menyatakan bahwa Pengadilan dapat memberi ijin kepada seorang suami untuk beristri lebih dari seorang karenanya terbuka kemungkinan bagi laki-laki untuk melakukan poligami. Pengaturan mengenai poligami ini tidak hanya menunjukkan bahwa dalam institusi perkawinan posisi tawar perempuan lebih rendah disbanding lakilaki tetapi juga menunjukkan bahwa negara jelas-jelas telah melegitimasi nilainilai jender perempuan yang hidup dalam masyarakat. Dalam Pasal 31 : Kedudukan suami isteri adalah sama, akan tetapi dalam ayat lain ditegaskan bahwa suami adalah kepala keluarga dan isteri adalah ibu rumah tangga. Penegasan ini merupakan pengetatan fungsi-fungsi isteri dan fungsifungsi suami secara tegas. Artinya, pasal ini melegitimasi secara eksplisit pembagian peran berdasarkan jenis kelamin. Juga, semakin dipertegas dalam pasal 34 yang menyatakan bahwa suami wajib melindungi isteri dan isteri wajib mengatur rumah tangga sebaik-baiknya. Pasal tersebut merupakan pengejawantahan dari pola pikir masyarakat yang menganggap bahwa peran lakilaki dan perempuan sudah mutlak terbagi. PP No. 45/ 1990 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah No. 10 thn 1983 tentang ijin Perkawinan dan Perceraian Pegawai Negeri Sipil. (Peraturan Pemerintah ini merupakan peraturan pelaksana dari UU Perkawinan yang khusus diberlakukan kepada Pegawai Negeri Sipil dan merupakan penyempurnaan dari PP 10 thn 1983). PP ini lebih menegaskan asas monogamy terbuka. Akan tetapi, secara tidak konsisten PP melarang perempuan PNS menjadi isteri kedua, ketiga atau keempat dengan asumsi akan merusak citranya sebagai PNS dan perempuan. Ø Kebijakan tentang Kekerasan terhadap Perempuan KUHP berkaitan dengan Penganiayaan terhadap isteri KUHP tidak mengenal konsep kekerasan berbasis gender, atau tindakantindakan kejahatan yang dilakukan karena jenis kelamin perempuan. KUHP berkaitan dengan Perkosaan Perkosaan terhadap isteri dalam perkawinan (marital rape) tidak dikenal dalam KUHP berarti KUHP mengadopsi pandangan masyarakat bahwa fungsi isteri adalah melayani suami. UU No. 62 Tahun 1958 tentang Kewarganegaraan UU ini mengadopsi ideology patriarki yang tercermin dalam ketentuan tentang status kewarganegaraan anak yang lahir dari perkawinan campuran , yaitu megikuti kewarganegaraan ayahnya.

Ø

Kebijakan Ketenagakerjaan UU No. 25 thn 1997 tentang Ketenagakerjaan : Memuat ketentuan yang mendiskriminasikan perempuan dengan memuat ketentuan larangan bekerja bagi perempuan pada waktu malam hari.

Ø Peraturan tentang Perpajakan :Keputusan Direktur Jendral Pajak No. 78/ PJ.41/ 1990 tentang Pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) kepada isteri wajib pajak yang melakukan kegiatan usaha dan atau pekerjaan bebas Ø Peraturan tentang Perpajakan: Keputusan Direktur Jendral Pajak No. 78/ PJ. 41/ 1990 tentang Pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) kepada isteri Wajib Pajak yang melakukan kegiatan Usaha dan atau Pekerjaan Bebas

Dalam ketentuan perpajakan, isteri yang bekerja atau usaha yang wajib kena pajak bukanlah wajib pajak secara pribadi melainkan sebagai ‘isteri wajib pajak.’ Dampaknya, ada hambatan bagi perempuan menikah yang hendak mengembangkan usahanya karena nomor wajib pajaknya tergantung pada suami sehingga otomatis pengembangan usahanya tergantung pada ijin suami. Penutup Ø Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh negara disamping bias gender juga bias kelas menengah serta bertentangan dengan kenyataan sosialnya. Dalam kenyataannya, kaum perempuan tidak lagi hanya sebagai pencari nafkah tetapi juga banyak yang menjadi kepala keluarga. Akibatnya timbul ketegangan antara nilai-nilai dan peraturan yang diterapkan dengan kenyataan sosial yang terus berlangsung. Ø Melalui hukum, negara melakukan pembakuan peran gender. Beberapa kebijakan mengacu pada peran perempuan dan laki-laki sebagaimana didefinisikan dalam UUP No. 1 thn 1974. Dengan demikian, UUP merupakan kebijakan yang mempunyai signifikansi dalam proses pembakuan peran yang dilakukan negara. Ø Perlu dilakukan reformasi terhadap kebijakan-kebijakan dengan mengamati dinamika proses negosiasi antara kelompok-kelompok kepentingan yang terjadi ditingkat negara untuk menentukan sasaran intervensi yang dapat dilakukan baik di tingkat struktur formal (hukum dan negara) dan di tingkat masyarakat untuk mengubah nilai-nilai gender yang dominan.

Sumber: http://www.lbh-apik.or.id/peneliltian-pembakuan_peran.htm

Perempuan Bekerja, Dilema Tak Berujung ? <center></center> Fenomena perempuan bekerja sebenarnya bukanlah barang baru di tengah masyarakat kita. Sejak zaman purba ketika manusia masih mencari penghidupan dengan cara berburu dan meramu, seorang isteri sesungguhnya sudah bekerja. Sementara suaminya pergi berburu, di rumah ia bekerja menyiapkan makanan dan mengelola hasil buruan untuk ditukarkan dengan bahan lain yang dapat dikonsumsi keluarga. Karena sistem perekonomian yang berlaku pada masyarakat purba adalah sistem barter, maka pekerjaan perempuan meski sepertinya masih berkutat di sektor domestik namun sebenarnya mengandung nilai ekonomi yang sangat tinggi. Kemudian, ketika masyarakat berkembang menjadi masyarakat agraris hingga kemudian industri, keterlibatan perempuan pun sangat besar. Bahkan dalam masyarakat berladang berbagai suku di dunia, yang banyak menjaga ternak dan mengelola ladang dengan baik itu adalah perempuan bukan laki-laki. Hal ini jelas menunjukkan bahwa keterlibatan perempuan memang bukan baru-baru saja tetapi sudah sejak zaman dulu. Dalam konteks Indonesia sebagai negara berkembang, sebenarnya tidak ada perempuan yang benar-benar menganggur. Biasanya para perempuan memiliki pekerjaan untuk juga memenuhi kebutuhan rumah tangganya entah itu mengelola sawah, membuka warung di rumah, mengkreditkan pakaian dan lain-lain. Mungkin sebagian besar masyarakat Indonesia masih beranggapan bahwa perempuan dengan pekerjaan-pekerja di atas bukan termasuk kategori perempuan bekerja. Hal ini karena perempuan bekerja identik dengan wanita karir atau wanita kantoran (yang bekerja di kantor). Pada hal, dimanapun dan kapanpun perempuan itu bekerja, seharusnya tetap dihargai pekerjaannya. Jadi tidak semata dengan ukuran gaji atau waktu bekerja saja. Annggapan ini bisa jadi juga erkait dengan arti bekerja yang berbeda antara Indonesia dengan negara-negara di Barat yang tergolong sebagai negara maju. Konsep bekerja menurut masyarakat di negara-negara Barat (negara maju) biasanya sudah terpengaruh dengan ideologi kapitalisme yang menganggap seseorang bekerja jika memenuhi kriteria tertentu misalnya; adanya penghasilan tetap dan jumlah jam kerja yang pasti. Sedangkan kebanyakan perempuan di Indonesia yang disebutkan tadi, pekerjaan mereka belum menghasilkan penghasilan tetap dan tidak terbatas waktu, bahkan baru dapat dilakukan hanya sebatas kapasitas mereka. Meski bukan fenomena baru, namun masalah perempuan bekerja nampaknya masih terus menjadi perdebatan sampai sekarang. Bagaimanapun, masyarakat masih memandang keluarga yang ideal adalah suami bekerja di luar rumah dan isteri di rumah dengan mengerjakan berbagai pekerjaan rumah. Anggapan negatif (stereotype) yang kuat di masyarakat masih menganggap idealnya suami berperan sebagai yang pencari nafkah, dan pemimpin yang penuh kasih; sedangkan istri menjalankan fungsi pengasuhan anak. Hanya, seiring dengan perkembangan zaman, tentu saja peran-peran tersebut tidak semestinya dibakukan, terlebih kondisi ekonomi yang membuat kita tidak bisa menutup

Walaupun seringkali jika seorang laki-laki atau suami ditanya maka akan muncul jawaban “Seandainya gaji saya cukup. papan. Kerja reproduktif juga kerja yang pada prosesnya menjaga kelangsungan proses produksi. Kerja reproduksi dianggap tanggung jawab perempuan dan biasanya dikerjakan di dalam rumah. yang akan lebih membawa perempuan kepada beban ganda. Kerja produktif dan reproduktif Untuk dapat melihat definisi dan makna kerja dengan lebih jernih lagi maka mungkin perlu dijelaskan juga tentang kerja dengan membaginya menjadi dua bentuk kerja yaitu kerja produksi dan kerja reproduksi. bukan hanya sebatas masalah reproduksi biologis perempuan. perdebatan mungkin muncul lebih karena anggapan akan stereotype dari masyarakat bahwa akan ada akibat yang timbul jika suami-isteri bekerja di luar rumah yaitu “mengganggu” keharmonisan yang telah berlangsung selama ini. Kerja produktif berfungsi memenuhi kebutuhan dasar manusia seperti sandang. Namun solusi yang diambil tidak semestinya membebankan istri dengan dua peran sekaligus yaitu peran mengasuh anak (nursery) dan mencari nafkah di luar rumah (provider).Tetapi tentu saja pengertian pekerjaan reproduksi seperti ini tidak dianggap sebagai pekerjaan oleh masyarakat dan juga pemerintah padahal secara fisik ini jelas sebagai sebuah kerja. tentu saja memang akan ada dampak yang timbul jika suami-isteri bekerja di luar rumah. pangan. Kerja produksi dianggap tanggung jawab laki-laki. saya lebih suka isteri saya di rumah merawat anak-anak”. Baik kerja produksi maupun kerja reproduksi. keduanya berperan penting dalam proses kehidupan manusia. Bagaimanapun. di mana kedua pekerjaan tersebut dilakukan dan siapa yang melakukan pekerjaan tersebut. terdapat kecenderungan kuat untuk memisahkan kerja produksi dan reproduksi. atau mencuci maka tidak mungkin akan didapatkan makanan. akan tetapi adanya dukungan sistem yang tidak terus membawa perempuan pada posisi yang dilematis. Terlepas dari pembahasan di atas. kesemuanya berperan penting dalam melahirkan dan memampukan seseorang untuk “berfungsi” sebagaimana mestinya dalam struktur sosial masyarakat. biasanya dikerjakan di luar rumah. namun mencakup pula pengasuhan. nampaknya hampir semua kalangan masyarakat menyetujui bahwa perempuan mendapat kemulian dengan pekerjaannya sebagai ibu . Dalam sistem kapitalisme yang berlaku dewasa ini. perawatan sehari-hari manusia baik fisik dan mental. kenyamanan bagi anggota rumah tangga yang lain.mata bahwa kadang-kadang istripun dituntut untuk harus mampu juga berperan sebagai pencari nafkah. misalnya pekerjaan rumah tangga. hamil. Kerja reproduktif adalah kerja “memproduksi manusia”. melahirkan. Sehingga dengan makanan dankenyamanan tersebut proses yang lain tidak terganggu. seperti yang sudah panjang lebar diutarakan di atas. Tanpa ada yang melakukan pekerjaan rumah tangga seperti memasak. menyusui. Seperti yang pernah diungkapkan.

adalah beberapa contoh nyata. Dengan kata lain. pada kenyataannya. Jika kerja tersebut diperhitungkan. nanti juga ke dapur” atau “si X (perempuan) mah paling juga kawin terus ngurus anak”. Dan mengapa “pekerjaan mulia” tersebut sebagian besar dibebankan hanya kepada perempuan. dan kesulitan perempuan bekerja untuk menyusui anaknya. Jarang yang mempertanyakan secara terbuka “kodrat” tersebut. Perlu . Institusi pendidikan. baik terhadap karyawan perempuan maupun laki-laki. masih ada yang merasa rugi memberi cuti melahirkan kepada karyawan perempuan. Contohnya pernyataan “buat apa anak perempuan sekolah tinggi-tinggi. Kerja perempuan terutama di sektor reproduksi tidak pernah diperhitungkan dalam data perekonomian dan statistik. Norma yang berlaku dewasa ini kerja reproduksi adalah tanggung jawab perempuan. Atas nama tradisi dan kodrat. meskipun perempuan telah mencurahkan begitu banyak waktu dan energi.rumah tangga hingga ibu rumah tangga mendapat gelar “ratu rumah tangga”. Namun yang menjadi pertanyaan kemudian adalah mengapa pekerjaan reproduksi tersebut selalu diberi sebutan sebagai “pekerjaan mulia”. media massa. Demikian pula sebutan “ratu” yang seharusnya berimplikasi pada peran perempuan yang lebih besar dalam pengambilan keputusan di tingkat keluarga. keterlibatan perempuan dalam kerja produksi tidak mengurangi beban tanggung jawabnya di sektor reproduksi. bukan perempuan yang lebih berperan dalam pengambilan keputusan penting. Lebih jarang lagi yang memperhitungkan nilai ekonomi pekerjaan rumah tangga. mendukung pula pandangan ini. Memberikan cuti melahirkan bagi karyawan perempuan dianggap pemborosan dan inefiesiensi. perempuan dipandang sewajarnya bertanggung jawab dalam arena domestik. agama. seolah ia adalah bagian kewajiban dari Tuhan dengan imbalan kebahagiaan di akhirat nanti. niscaya akan mematahkan mitos “laki-laki adalah pencari nafkah utama”. Jam kerja panjang. Berkomitmen tinggi terhadap anak dan keluarga dipandang tidak kompatibel dengan dunia kerja. Meskipun cuti melahirkan telah diberlakukan secara luas. ketiadaan sarana penitipan anak di tempat kerja. kerja reproduksi yang sebagian besar dilakukan perempuan berperan sangat penting guna keberlanjutan suatu bangsa dan umat manusia pada umumnya. melainkan laki-laki. Situasi di sektor publik sering pula tidak ramah keluarga. tidak mengundang laki-laki untuk berkontribusi lebih besar dalam kerja reproduksi. Ternyata. Di sektor publik sering kali sistem yang ada “tidak mendukung” perempuan (dan lakilaki) bekerja untuk dapat pula melakukan kerja reproduksi secara optimal sekaligus. terjadi “perendahan” terhadap kerja reproduksi biologis perempuan. Sebenarnya di banyak tempat. Diskriminasi terselubung dilakukan guna menghindari pemberian cuti tersebut antara lain dengan preferensi tidak tertulis mengutamakan merekrut karyawan laki-laki atau karyawan perempuan lajang. Sayangnya.

2%. Hal yang perlu digarisbawahi di sini adalah bahwa kecenderungan perempuan terpinggirkan pada pekerjaan marginal tersebut tidak semata-mata disebabkan faktor pendidikan. Perempuan di sektor industri perkotaan terutama terlibat sebagai buruh di industri tekstil. Sementara bila mempekerjakan perempuan. Data sensus penduduk tahun 1990 menunjukan bahwa sektor pertanian adalah sektor yang terbesar dalam menyerap tenaga kerja perempuan yaitu 49. Diskriminasi kerja perempuan Terlepas dari persoalan sektor yang digeluti perempuan.6%. menemukan bahwa biaya tenaga kerja (upah) buruh laki-laki adalah 10-15% dari total biaya produksi.perbaikan sistem sosial secara menyeluruh agar jangan sampai suatu bangsa atau lebih parah lagi umat manusia punah. Untuk kasus kota. kondisi kerja buruk dan tidak memiliki keamanan kerja. Sebuah penelitian tentang buruh perempuan . sebagai buruh pabrik. keterlibatan perempuan di sektor manapun selalu nampak dicirikan oleh “skala bawah” dari pekerjaan perempuan. Masalah umum yang dihadapi perempuan di sektor publik adalah kecenderungan perempuan terpinggirkan pada jenis-jenis pekerjaan yang berupah rendah. Seperti yang juga sudah disinggung di atas. Di sektor perdagangan. hanya karena berkeluarga dan memiliki anak menjadi semakin tidak menarik. Sejarah menunjukan bahwa perempuan dan kerja publik sebenarnya bukan hal baru bagi perempuan Indonesia terutama mereka yang berada pada strata menengah ke bawah. sektor perdagangan juga banyak melibatkan perempuan. garmen. diikuti oleh sektor perdagangan 20. Perempuan di sektor pertanian pedesaan. Kasus lain dengan substansi yang sama ditemukan pula di sektor pertanian pedesaan. Di luar konteks desa-kota. usaha warung. sementara untuk kasus pedesaan sebagai buruh tani. Hal ini berlaku khususnya bagi perempuan berpendidikan menengah ke bawah. 1991:18). sepatu dan elektronik. sementara di perkotaan sektor industri tertentu didominasi oleh perempuan. pun sesungguhnya sudah lazim ditemui di berbagai kelompok masyarakat. termasuk di dalamnya peningkatan peran serta laki-laki dalam kerja reproduksi dalam rumah tangga. terdapat preferensi untuk mempekerjakan perempuan pada sektor tertentu dan jenis pekerjaan tertentu karena upah perempuan lebih rendah daripada laki-laki. Di pedesaan. Dalam kasus tersebut. perempuan pada strata ini mendominasi sektor pertanian. persentase buruh perempuan adalah 90% dari total buruh. Sangat penting pula demokratisasi institusi keluarga. adalah jenis-jenis pekerjaan yang lazim ditekuni perempuan. Sebuah studi tentang buruh perempuan pada industri sepatu di Tangerang. pada umumnya perempuan terlibat dalam perdagangan usaha kecil seperti berdagang sayur mayur di pasar tradisional.2%. dan sektor industri manufaktur 14. Dari kalangan pengusaha sendiri. berkaitan dengan masalah perempuan bekerja produksi yaitu dengan bekerja di luar rumah untuk mencari nafkah. mayoritas berada di tingkat buruh tani. biaya tenaga kerja dapat ditekan hingga 58% dari total biaya produksi (Tjandraningsih.

00 per hari (Indraswari. Seorang pegawai perempuan yang berstatus menikah -karena dia perempuantidak mendapatkan tunjangan suami atau anak. nilai. Semakin banyaknya perempuan berpendidikan yang berkeinginan untuk aktif di sektor publik merupakan konsekuensi logis dari pembukaan peluang yang lebih besar bagi anak perempuan untuk bersekolah. Jika perempuan pada strata menengah ke bawah. yang mengatur hubungan antara perempuan dan laki-laki terlebih dahulu melalui pembentukan identitas feminin dan maskulin (Ratna Saptari dalam Andria dan Reichman.pada agro industri tembakau ekspor di Jember bahwa untuk pekerjaan di kebun tembakau. Ideologi gender adalah segala aturan. Sebenarnya pihak yang diuntungkan dalam kasus diskiriminasi upah adalah . stereotip. Dua hal ini dapat di lihat juga melalui peningkatan atau penurunan rasio perempuan di setiap jabatan. Dengan demikian -dengan memperhitungkan komponen tunjangan. di sektor swasta diskriminasi masih terjadi. Persentase buruh perempuan pada kasus tembakau adalah 80%. Bagi perempuan kelas menengah ke atas yang bekerja sebagai pegawai swasta maupun sebagai pegawai negeri. namun komponen tunjangan keluarga dan tunjangan kesehatan dibedakan antara pegawai perempuan dan laki-laki. diskriminasi upah seringkali lebih tersamar. Paling tidak di kedua kasus tersebut telah terjadi penggunaan tenaga kerja perempuan untuk sektor-sektor produktif tertentu dan pemisahan kegiatan-kegiatan tertentu atas dasar jenis kelamin.850. Karena tugas utama perempuan adalah di sektor domestik. dalam situasi krisis ekonomi. Meskipun sistem pengupahan (termasuk tunjangan) pegawai negeri tidak lagi membedakan pegawai perempuan dan laki-laki. bekerja di sektor publik kebanyakan atas dasar dorongan kebutuhan ekonomi. seringkali memanipulasi ideologi gender sebagai pembenaran. Hal ini selain terkait dengan semakin terbukanya peluang bagi perempuan untuk memasuki sektor-sektor yang pada awalnya diperuntukkan hanya untuk laki-laki.650. banyak perempuan menjadi pencari nafkah utama keluarga atau bersama-sama suami memberikan kontribusi finansial hingga 50% dari total penghasilan keluarga.tetap dianggap lajang. bekerja bagi mereka adalah bagian dari aktualisasi diri. 1999: 9). Demikian pula tunjangan kesehatan hanya diberikan kepada dirinya sendiri -tidak untuk suami dan anak-.00 per hari sementara buruh lakilaki mendapat upah Rp 1. Sedangkan bagi perempuan di kelas menengah ke atas. buruh perempuan mendapat upah Rp 1. Meskipun besar upah pokok antara pegawai laki-laki dan perempuan sama. generalisasi bahwa “semua perempuan bekerja hanya untuk ‘membantu’ suami” atau “semua perempuan bekerja hanya sebagai kegiatan sampingan” banyak tidak terbukti validitasnya. maka pada saat ia masuk ke sektor publik “sah-sah” saja untuk memberikan upah lebih rendah karena pekerjaan di sektor publik hanya sebagai “sampingan” untuk “membantu” suami. atau bahkan lebih.total penghasilan pegawai laki-laki dan perempuan berbeda jumlahnya untuk pekerjaan yang sama. Persoalannya. 1994:52). Seorang pegawai perempuan -apakah berstatus menikah atau lajang. Bagi perempuan miskin. Diskriminasi upah yang terjadi secara eksplisit maupun implisit.

selama untuk kebaikan dan kemaslahatan”. Meskipun persentase perempuan lebih dari 50% dari total penduduk Indonesia. Dalam Islam tidak ada masalah Sebagai agama yang diyakini untuk kasih sayang semua umat manusia. maupun untuk memenuhi kebutuhan keluarga. dia dihardik oleh seseorang untuk tidak keluar rumah. Di dalam kitab hadits (Shahih Muslim. bupati. Kemudian dia melapor kepada Nabi Saw. perempuan di sektor publik menghadapi kendala lebih besar untuk melakukan mobilitas vertikal (kenaikan pangkat. maka Islam sesungguhnya tidak pernah menekan pihak perempuan dalam bidang pekerjaan. menteri. karena bekerja adalah hak setiap orang. yang dengan tegas mengatakan kepadanya: “Petiklah kurma itu. jabatan) karena ideologi patriarkis yang dominan. Variasi pandangan ulama hanya muncul pada kasus seorang isteri yang bekerja tanpa restu dari suaminya. Asma bint Abu Bakr. dalam praktek kehidupan zaman Nabi Saw sesungguhnya ada banyak riwayat menyebutkan tentang sahabat perempuan yang bekerja di dalam dan di luar rumah. isteri sahabat Zubair bin Awwam. baik untuk kepentingan sosial. miskin atau karena yang lain (lihat fatwa Ibn Hajar.pemilik modal yang dapat menekan biaya produksi melalui pengurangan komponen biaya tenaga kerja. yang terkadang melakukan perjalanan cukup jauh. bekerja bercocok tanam. termasuk akses terhadap programprogram pelatihan untuk pengembangan karir. posisi. walikota. nomor hadits 1483) disebutkan bahwa ketika Bibi Jabir bin Abdullah keluar rumah untuk bekerja memetik kurma. halaman 1211. Kalau lebih jauh menelusuri lembaran-lembaran literatur fikih. apabila nyata-nyata dia tidak bisa bekerja mencari nafkah. Lebih tegas lagi dalam fikih Hambali. dalam perspektif perbandingan dengan laki-laki. h. juz IV. Demikian pula dapat dihitung dengan jari. juz II. namun perempuan yang menjadi anggota parlemen hanya 7-8% dari total anggota parlemen. dll. seorang lelaki yang pada awalnya sudah mengetahui dan menerima calon isterinya sebagai pekerja (baca : perempuan karir) yang setelah . jumlah perempuan yang menduduki jabatan struktural. Selain persoalan upah. suami juga tidak berhak sama sekali untuk melarang isteri bekerja mencari nafkah. dapat dilihat telah terjadi pula pelebaran ketimpangan ekonomi antara laki-laki dan perempuan yang ditandai oleh perbedaan upah serta ketidaksamaan akses keuntungan dan fasilitas kerja. baik karena sakit. h. Jika merujuk kepada hadits Nabi. juz VII. dalam pandangan banyak ulama fikih. Hal ini diindikasikan dengan minimnya jumlah perempuan yang menduduki posisi pengambil keputusan dan posisi strategis lainnya baik di sektor pemerintah maupun di sektor swasta. Bahkan di dalam literatur fikih (jurisprudensi Islam) secara umum tidak ditemukan larangan perempuan bekerja. 573). 205 dan al-Mughni li Ibn Qudamah. Dari gambaran persoalan diatas. Baik pekerjaan di rumah maupun luar rumah. Sebutlah misalnya. selama ada jaminan keamanan dan keselamatan.

Tinjauan kebijakan pengupahan buruh di Indonesia. Upaya mewujudkan Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG). Jadi pendefinisian bahwa pekerjaan di luar rumah adalah tugas laki-laki dan pekerjaan di dalam rumah adalah pekerjaan perempuan adalah hasil penafsiran terhadap teks secara sempit. juz VII. Potret kerja buruh perempuan. Memang tentu saja hal ini tidak secara otomatis mengatakan bahwa Islam mengajarkan hubungan ibu dan bayinya dihitung dengan uang. Perempuan bekerja dan perubahan sosial. (dd) ] Sumber Bacaan : Dedi Haryadi. Yang berarti fikih tidak memandang bahwa kewajiban seorang lelaki (misalnya suami) untuk mencari nafkah menjadi penghalang bagi perempuan untuk bekerja di luar rumah juga untuk mencari nafkah. juz VII. AKATIGA. keduanya bekerja di luar rumah dengan prasyarat-prasyarat tertentu. Al-fiqh al-Islami wa adillatuhu. di Indonesia dituangkan dalam kebijakan nasional sebagaimana ditetapkan dalam Garis-Garis Besar Haluan . h. tak terkecuali yang berkaitan dengan masalah perempuan bekerja. AKATIGA. kecuali air susu hari pertama yang merupakan kewajiban perempuan memberikan kepada anaknya karena mengandung kolostrum yang baik untuk meningkatkan imunitas bayi baru lahir. juz IV. Shahih Muslim. h. Bahkan dalam fikih. perempuan sesungguhnya diperbolehkan meminta upah bila menyusui anaknya. Fatwa Ibn Hajar. Fikih membenarkan suami dan isteri. Indraswari. April 1994 Indraswari dan Juni Thamrin. Kalyanamitra. 795. nomor hadits 1483. 573 Oleh: Swara Rahima Sumber: Kementrian Pemberdayaan Perempuan Kesetaraan Dan Keadilan Gender<center></center> I. h. Tinjauan pada Agroindustri Tembakau Ekspor di Jember. suami tidak boleh kemudian melarang isterinya bekerja atas alasan apapun (lihat : al-fiqh al-Islami wa adillatuhu. 795). Indrasari Tjandraningsih. 205. h.perkawinan juga akan terus bekerja di luar rumah. halaman 1211. Akhirnya. AlMughni li Ibn Qudamah. juz II. akan tetapi adalah menunjukkan penghargaan pada jerih payah ibu. Juni 1994 Ratna Saptari. 1995. berbagai jalan dapat ditempuh untuk tetap memberikan keadilan bagi perempuan. Pekerjaan rumah tangga adalah pekerjaan yang sesungguhnya untuk perempuan dan lakilaki. Pendahuluan Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG) sudah menjadi isu yang sangat penting dan sudah menjadi komitmen bangsa-bangsa di dunia termasuk Indonesia sehingga seluruh negara menjadi terikat dan harus melaksanakan komitmen tersebut. juz VII. dan Juni Thamrin.

Pelaksanaan PUG diisntruksikan kepada seluruh departemen maupun lembaga pemerintah dan non departemen di pemerintah nasional. program/proyek dan kegiatan. Disadari bahwa keberhasilan pembangunan nasional di Indonesia baik yang dilaksanakan oleh pemerintah. 9 tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender (PUG) dalam Pembangunan nasional. aspirasi perempuan pada pembangunan dalam kebijakan. ternyata belum dapat memberikan manfaat yang setara bagi perempuan dan laki-laki. akan memperlambat proses pembangunan atau bahkan perempuan dapat menjadi beban pembangunan itu sendiri. propinsi maupun di kabupaten/kota. Kurang berperannya kaum perempuan.415) dari total (206. Partisipasi aktif wanita dalam setiap proses pembangunan akan mempercepat tercapainya tujuan pembangunan. perempuan kurang dapat berperan aktif. baik perempuan maupun laki-laki.264. sistem upah yang merugikan. Oleh karena itu program pemberdayaan perempuan telah menjadi agenda bangsa dan memerlukan dukungan semua pihak. Penduduk wanita yang jumlahnya 49. swasta maupun masyarakat sangat tergantung dari peran serta laki-laki dan perempuan sebagai pelaku dan pemanfaat hasil pembangunan.9% (102.595) penduduk Indonesia (Sensus Penduduk 2000) merupakan sumberdaya pembangunan yang cukup besar. sehingga manfaat pembangunan kurang diterima kaum perempuan. dan dipertegas dalam Instruksi Presiden No. pelaksanaan. Hal ini disebabkan karena kondisi dan posisi yang kurang menguntungkan dibanding laki-laki. tingkat kesehatan dan pendidikan yang rendah. Disamping itu pengarusutamaan gender juga merupakan salah satu dari empat key cross cutting issues dalam Propenas. untuk melakukan penyusunan program dalam perencanaan. 2000 tentang Program Pembangunan NasionalPROPENAS 2000-2004. karena masih belum memanfaatkan kapasitas sumber daya manusia secara penuh. Kenyataannya dalam beberapa aspek pembangunan.847. Hal ini menunjukkan bahwa hak-hak perempuan memperoleh manfaat secara optimal belum terpenuhi sehingga pembangunan nasional belum mencapai hasil yang optimal. Pada pelaksanaannya sampai saat ini peran serta kaum perempuan belum dioptimalkan. 25 th. . sebagai salah satu strategi untuk mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender. Bahkan belum cukup efektif memperkecil kesenjangan yang ada. pemantauan dan evaluasi dengan mempertimbangkan permasalahan kebutuhan. Seperti peluang dan kesempatan yang terbatas dalam mengakses dan mengontrol sumberdaya pembangunan.Negara (GBHN) 1999. Berbagai upaya pembangunan nasional yang selama ini diarahkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. UU No.

Rendahnya pemahaman para pengambil keputusan di eksekutif. Kondisi ini antara lain disebabkan adanya pandangan dalam masyarakat yang mengutamakan dan . Kondisi dan posisi perempuan meliputi 3 (tiga) aspek tersebut di atas sebagai berikut: 1. (50. kemauan dan kesiapan perempuan sendiri untuk merubah keadaan secara konsisten dan konsekwen. Berdasarkan hasil Survey Penduduk 2000 (BPS) diketahui jumlah penduduk Indonesia sebesar 206. dibandingkan Negara-negara ASEAN lainnya seperti HDI Malaysia. kemudian menurun ke peringkat 90 (1998) dan peringkat 92 (1999 dari 146 negara). 110 dari 173 negara. 70 dan 77. umumnya lebih mengutamakan laki-laki daripada perempuan (ideology patriarki). legislatif terhadap arti. Jumlah laki-laki sedikit lebih banyak dibandingkan perempuan. tujuan. 63. kesehatan dan ekonomi. Kemampuan. Peraturan perundang-undangan masih berpihak pada salah satu jenis kelamin dengan kata lain belum mencerminkan kesetaraan gender. Adanya kesenjangan pada kondisi dan posisi laki-laki dan perempuan menyebabkan perempuan belum dapat menjadi mitra kerja aktif laki-laki dalam mengatasi masalahmasalah sosial. kaum perempuan masih tertinggal dibandingkan laki-laki. Philippina yang masing-masing berada pada peringkat 54. Penafsiran ajaran agama yang kurang komprehensif atau cenderung tekstual kurang kontekstual. Kondisi perempuan Indonesia Secara keseluruhan indeks kualitas hidup manusia digambarkan melalui Indeks Pembangunan Manusia/Human Development Index (HDI) yang berada pada peringkat ke-96 pada tahun 1995 yang kemudian menurun ke peringkat 109 pada tahun 1998 dari 174 negara. yudikatif. Philippina yang menempati urutan 59. ekonomi dan politik yang diarahkan pada pemerataan pembangunan. Tahun 1999 berada pada peringkat 102 dari 162 negara dan tahun 2002. Kemudian pada tahun 2002 pada peringkat 91 dari 144 negara GDI inipun masih tertinggal dibandingkan dengan-negara di ASEAN seperti Malaysia. HDI Indonesia menempati urutan ke-112 dari 175 negara. Selain itu rendahnya kualitas perempuan turut mempengaruhi kualitas generasi penerusnya. dan arah pembangunan yang responsif gender. Sedangkan Gender related Development Index (GDI) berada pada peringkat ke-88 pada tahun 1995. cenderung dipahami parsial kurang kholistik. Indeks pembangunan manusia skala internasional dan nasional dilihat dri tiga aspek yaitu pendidikan. Thailand. Thailand.Faktor penyebab kesenjangan gender yaitu Tata nilai sosial budaya masyarakat.1% diantaranya laki-laki dan 49. 60.264.595 orang. Pendidikan Di bidang pendidikan. mengingat mereka mempunyai peran reproduksi yang sangat berperan dalam mengembangkan sumber daya manusia masa depan. II.9% perempuan). Berdasarkan Human Development Report 2003.

1998). khususnya perempuan kepala rumah tangga. yaitu 45% (2002) sedangkan laki-laki 75. Namun angka kematian bayi laki-laki lebih tinggi dibandingkan angka kematian bayi perempuan.28% sedangkan laki-laki 5. Hal ini ditunjukkan dengan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) yang masih jauh lebih rendah dibandingkan laki-laki.000 (SDKI 2002). (Sumber: BPS. dengan kecenderungan meningkat selama tahun 1999-2000. Statistik Kesejahteraan Rakyat 1999-2001). demikian juga dengan akses terhadap sumber daya ekonomi. (Sumber: BPS. perempuan 31. Infant Mortality Rate (IMR). Sejalan dengan semakin meningkatnya kondisi kesehatan masyarakat. 3. secara umum partisipasi perempuan masih rendah. Laki-laki 41.34%. Angka buta huruf perempuan 12. 2. Estimasi Parameter Demografi.9 tahun (2000). Menurut Satatistik Kesejahteraan Rakyat 2003. Statistik Kesejahteraan Rakyat 19992002). namun demikian angka kematian anak laki-laki lebih tinggi dibandingkan kematian anak perempuan laki-laki 9. Statistik Kesejahteraan Rakyat 1999-2001). selama periode 1998-2000 ada penurunan angka kematian bayi. kemampuan perempuan memperoleh peluang kerja dan berusaha masih rendah. Statistik Kesejahteraan Rakyat 1999-2001).9. Dibidang kesehatan dan status gizi perempuan masih merupakan masalah utama.87%).29% dengan komposisi laki-laki 5. 337/100.85% dan perempuan 12. Ekonomi Di bidang ekonomi. dan menurun 307/100. Angka buta huruf perempuan pada kelompok 10 tahun ke atas secara nasional (2002) sebesar 9. Menurunnya angka kematian anak serta meningkatnya angka harapan hidup dari 64.000 (SDKI 1994). Child Mortality Rate (CMR) periode ini juga menunjukkan penurunan. Berdasarkan estimasi parameter demografi 1998 yang dikeluarkan BPS. Namun angka buta huruf perempuan tetap lebih besar dari laki-laki.mendahulukan laki-laki untuk mendapatkan pendidikan daripada perempuan.8 sedangkan perempuan 7. yaitu 69. angka kematian anak. angka harapan hidup (eo) pada periode 19982000 cenderung meningkat. Kesehatan Menurut Gender Statistics and indicators 2000 (BPS).8 tahun (1998) menjadi 67. Ketertinggalan perempuan dalam bidang pendidikan tercermin dari presentase perempuan buta huruf (14. (Sumber: BPS. Statistik Kesejahteraan Rakyat 1999-2002). Usia harapan hidup (life expectancy rate) perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Tetapi pada tahun 2002 terjadi penurunan angka buta huruf yang cukup signifikan.7 tahun berbanding 65. (Sumber: BPS.84%. (Sumber: BPS.000 (SDKI 1997).9 tahun. Sedangkan ditahun 2003 TPAK laki-laki lebih besar dibanding TPAK perempuan . Dibidang kesehatan.69% (Sumber: BPS. kemajuan di bidang kesehatan ditunjukkan dengan menurunnya angka kematian bayi (dari 49 bayi per 1000 kelahiran pada tahun 1998 menjadi 36 tahun 2000.54% tahun 2001) lebih besar dibandingkan laki-laki (6. yang ditunjukkan dengan masih tingginya angka kematian ibu (AKI) 390/100.

relatif tingginya angka kemiskinan dan pengangguran.146). Jumlah perempuan yang menjabat sebagai Hakim Agung dan Hakim Yustisial Non Struktural di Mahkamah Agung juga menunjukkan penurunan dari 36 pada tahun 1998 menjadi 34 pada tahun 1999. Masalah yang sering muncul adalah perdagangan perempuan.2% PNS perempuan yang menduduki jabatan struktural. Statistik Kesejahteraan Rakya. dan budaya hukum yang diskriminatif gender. lakilaki sebesar 62.12% berbanding 44. IV.005.1% dari jumlah seluruh PNS (4. sedangkan PNS laki-laki sebesar 84.7% yang menduduki jabatan struktural.6%. struktur. Masalah HAM bagi perempuan termasuk isu gender yang menuntut perhatian khusus adalah masalah penindasan dan eksploitasi. kekerasan. Sedangkan tahun 2000 terjadi sedikit perubahan dimana jumlah PNS perempuan adalah 37.2% dari jumlah pemilih 51%. (Sumber: Statistik dan Indikator Gender Indonesia 2002). (Sumber: Statistik dan Indikator Gender Indonesia 2002-Bab7).3%. Jumlah peraturan perundang-undangan yang diskrimintaif terhadap perempuan berjumlah kurang lebih 32 buah.861).9%. dan negara. BPS. laki-laki sebesar 63. (Statitik dan Indikator Gender. yang umumnya timbul dari berbagai faktor yang saling terkait.4% dari jumlah seluruh PNS (3. dan 28 pada tahun 2002. 2000). (BPS.yakni 76. serta rendahnya tingkat pendidikan. Faktor Kesenjangan dibidang hukum dan politik Faktor penyebab kesenjangan kondisi dan posisi perempuan dan laki-laki dipengaruhi oleh peraturan perundang-undangan yang bias gender karena dalam bidang hukum masih banyak dijumpai substansi. Pengertian Kesetaraan dan Keadilan gender . 2003). Pada tahun 1999 jumlah PNS perempuan adalah 36.8% dari seluruh anggota DPR. III. antara lain dampak negatif dari proses urbanisasi. dan pelacuran paksa.81%. sedangkan PNS laki-laki sebesar 84. dan persamaan hak dalam keluarga. Faktor penyebab kesenjangan gender pada aspek lain misalnya politik sebagai berikut: hasil Pemilu tahun 1999 yang menyertakan 57% pemilih perempuan hanya terwakili 8. Pemilu 2004 perempuan hanya terwakili 11%. dan dari jumlah tersebut hanya 15. dan dari jumlah tersebut hanya 15.927.8%. masyarakat. lebih rendah dari hasil pemilu 1997 yang berjumlah 11.

baik terhadap laki-laki maupun perempuan. Kesetaraan gender juga meliputi penghapusan diskriminasi dan ketidak adilan struktural. Memiliki kontrol berarti memiliki kewenangan penuh untuk mengambil keputusan atas penggunaan dan hasil sumber daya. Pengertian gender dan seks Gender adalah perbedaan dan fungsi peran sosial yang dikonstruksikan oleh masyarakat. Gender bukanlah kodrat ataupun ketentuan Tuhan. beban ganda. ekonomi. tanggung jawab antara perempuan dan laki-laki yang dibentuk/dikonstruksi oleh sosial budaya dan dapat berubah sesuai perkembangan zaman. hukum. sekarang dan berlaku selamanya. serta tanggung jawab laki-laki dan perempuan Sehingga gender belum tentu sama di tempat yang berbeda.Kesetaraan gender berarti kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan serta hak-haknya sebagai manusia. Ketentuan ini berlaku sejak dahulu kala. Dengan demikian gender dapat dikatakan pembedaan peran. kesempatan berpartisipasi. Oleh karena itu gender berkaitan dengan proses keyakinan bagaimana seharusnya laki-laki dan perempuan berperan dan bertindak sesuai dengan tata nilai yang terstruktur. Sehingga memperoleh manfaat yang sama dari pembangunan. Seks/kodrat adalah jenis kelamin yang terdiri dari perempuan dan laki-laki yang telah ditentukan oleh Tuhan. Terwujudnya kesetaran dan keadilan gender ditandai dengan tidak adanya diskriminasi antara perempuan dan laki-laki. marginalisasi dan kekerasan terhadap perempuan maupun laki-laki. agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik. V. Memiliki akses dan partisipasi berarti memiliki peluang atau kesempatan untuk menggunakan sumber daya dan memiliki wewenang untuk mengambil keputusan terhadap cara penggunaan dan hasil sumber daya tersebut. dan kontrol atas pembangunan serta memperoleh manfaat yang setara dan adil dari pembangunan. . sosial budaya. Keadilan gender adalah suatu proses dan perlakuan adil terhadap perempuan dan lakilaki. pendidikan dan pertahanan dan keamanan nasional (hankamnas). serta kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan tersebut. Dengan keadilan gender berarti tidak ada pembakuan peran. dan dapat berubah dari waktu ke waktu. subordinasi. dan dengan demikian mereka memiliki akses. fungsi. Oleh karena itu tidak dapat ditukar atau diubah. ketentuan sosial dan budaya ditempat mereka berada.

Kondisi demikian mengakibatkan kesenjangan peran sosial dan tanggung jawab sehingga terjadi diskriminasi. tetapi juga bagi kaum laki-laki. subordinasi. tergantung waktu. misalnya marginalisasi. berlaku sepanjang masa. Permasalah Ketidakadilan Gender Ketertinggalan perempuan mencerminkan masih adanya ketidakadilan dan ketidak setaraan antara laki-laki dan perempuan di Indonesia. diskriminasi terhadap perempuan kurang menguntungkan dibandingkan laki-laki.Dengan demikian perbedaan gender dan jenis kelamin (seks) adalah Gender: dapat berubah. ketidak adilan gender adalah suatu sistem dan struktur yang menempatkan laki-laki maupun perempuan sebagai korban dari sistem (Faqih. ketidak adilan gender termanifestasikan dalam berbagai bentuk ketidakadilan. peran. melainkan buatan manusia. Berbagai pembedaan peran. dan posisi tidak menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan. dan merupakan kodrat atau ciptaan Tuhan. Selanjutnya Achmad M. terhadap laki-laki dan perempuan. Bentuk-bentuk ketidakadilan akibat diskriminasi gender . VI. 1990). hal. Manisfestasi ketidakadilan gender tersebut masing-masing tidak bisa dipisah-pisahkan. kekerasan terhadap perempuan (Prasetyo dan Marzuki. 2001). bukan saja bagi kaum perempuan. 33. di belahan dunia manapun. Hanya saja bila dibandingkan. terutama pada perempuan. tidak dapat dipertukarkan. Sesungguhnya perbedaan gender dengan pemilahan sifat. Faqih dalam Achmad M. Mosse. stereotipe/pelabelan negatif sekaligus perlakuan diskriminatif (Bhasin. Lain halnya dengan seks. beban kerja lebih banyak dan panjang (Ihromi. 1998a. 1997). dapat dipertukarkan. 1996). seks tidak dapat berubah. 1997). budaya setempat. norma ataupun struktur masyarakat. Namun pada kenyataannya perbedaan gender telah melahirkan berbagai ketidak adilan. hal ini dapat terlihat dari gambaran kondisi perempuan di Indonesia. menyatakan. Gender masih diartikan oleh masyarakat sebagai perbedaan jenis kelamin. saling terkait dan berpengaruh secara dialektis (Achmad M. bukan merupakan kodrat Tuhan. tugas dan tanggung jawab serta kedudukan antara laki-laki dan perempuan baik secara langsung maupun tidak langsung. menyatakan. Masyarakat belum memahami bahwa gender adalah suatu konstruksi budaya tentang peran fungsi dan tanggung jawab sosial antara laki-laki dan perempuan. berlaku dimana saja. 1996. VII. fungsi. dan dampak suatu peraturan perundang-undangan maupun kebijakan telah menimbulkan berbagai ketidakadilan karena telah berakar dalam adat.

Banyak kasus dalam tradisi.1. Perempuan dipinggirkan dari berbagai jenis kegiatan pertanian dan industri yang lebih memerlukan keterampilan yang biasanya lebih banyak dimiliki laki-laki. Di Jawa misalnya revolusi hijau memperkenalkan jenis padi unggul yang panennya menggunakan sabit. Marginalisasi perempuan sebagai salah satu bentuk ketidakadilan gender Proses marginalisasi (peminggiran/pemiskinan) yang mengakibatkan kemiskinan. 1996). Sudah sejak dahulu ada pandangan yang menempatkan kedudukan dan peran perempuan lebih rendah dari lakilaki. mesin yang diasumsikan hanya membutuhkan tenaga dan keterampilan laki-laki. ♣Pemotongan padi dengan peralatan sabit. Sebagai contoh. Seperti Program revolusi hijau yang memiskinkan perempuan dari pekerjaan di sawah yang menggunakan ani-ani. 2. eksploitasi. Contoh-contoh marginalisasi: Pemupukan dan ♣pengendalian hama dengan teknologi baru yang dikerjakan laki-laki. ♣Usaha konveksi lebih suka menyerap tenaga perempuan. 1997. tafsiran ajaran agama maupun dalam aturan birokrasi yang meletakan kaum perempuan sebagai subordinasi dari kaum laki-laki. atau hendak berpergian ke luar negeri harus mendapat . ♣Peluang menjadi pembantu rumah tangga lebih banyak perempuan. Subordinasi Subordinasi pada dasarnya adalah keyakinan bahwa salah satu jenis kelamin dianggap lebih penting atau lebih utama dibanding jenis kelamin lainnya. Mosse. menggantikan tangan perempuan dengan alat panen ani-ani. Sebagai contoh apabila seorang isteri yang hendak mengikuti tugas belajar. Beberapa studi dilakukan untuk membahas bagaimana program pembangunan telah meminggirkan sekaligus memiskinkan perempuan (Shiva. Selain itu perkembangan teknologi telah menyebabkan apa yang semula dikerjakan secara manual oleh perempuan diambil alih oleh mesin yang ummunya dikerjakan oleh tenaga laki-laki. ♣Banyak pekerjaan yang dianggap sebagai pekerjaan perempuan seperti “guru taman kanak-kanak” atau “sekretaris” dan “perawat”. banyak terjadi dalam masyarakat terjadi dalam masyarakat di Negara berkembang seperti penggusuran dari kampong halaman. Namun pemiskinan atas perempuan maupun laki yang disebabkan jenis kelamin merupakan salah satu bentuk ketidakadilan yang disebabkan gender. banyak pekerja perempuan tersingkir dan menjadi miskin akibat dari program pembangunan seperti internsifikasi pertanian yang hanya memfokuskan petani laki-laki. Kenyataan memperlihatkan bahwa masih ada nilai-nilai masyarakat yang membatasi ruang gerak terutama perempuan dalam kehidupan.

Dalam suatu rumah tangga pada umumnya beberapa jenis kegiatan dilakukan laki-laki. Pelabelan negatif secara umum selalu melahirkan ketidakadilan. Oleh karena itu kekerasan tidak hanya menyangkut serangan fisik saja seperti perkosaan. ia dianggap tegas. Pandangan stereotipe Setereotipe dimaksud adalah citra baku tentang individu atau kelompok yang tidak sesuai dengan kenyataan empiris yang ada. Berbagai observasi.izin suami. seperpti pelecehan seksual sehingga secara emosional terusik. (perempuan). Pelaku kekerasan bermacam-macam. bahkan di tingkat pemerintah dan negara. keponakan. yakni terjadi terhadap salah satu jenis kelamin. tetangga. Misalnya pandangan terhadap perempuan yang tugas dan fungsinya hanya melaksanakan pekerjaan yang berkaitan dengan pekerjaan domistik atau kerumahtanggaan. Salah satu stereotipe yang berkembang berdasarkan pengertian gender. Standar nilai terhadap perilaku perempuan dan laki-laki berbeda. namun standar nilai tersebut banyak menghakimi dan merugikan perempuan. baik di dalam rumah tangga sendiri maupun di tempat umum. tetapi bila perempuan marah atau tersinggung dianggap emosional dan tidak dapat menahan diri. mertua. bisnis atau birokrat. menunjukkan perempuan mengerjakan hampir 90% dari pekerjaan dalam rumah tangga. ada juga di dalam masyarakat itu sendiri. (breadwinner) mengakibatkan apa saja yang dihasilkan oleh perempuan dianggap sebagai sambilan atau tambahan dan cenderung tidak diperhitungkan. dan beberapa dilakukan oleh perempuan. . muncul dalam bebagai bentuk. Sehingga bagi mereka yang bekerja. majikan. Pelaku bisa saja suami/ayah. Label kaum perempuan sebagai “ibu rumah tangga” merugikan. anak laki-laki. tatapi kalau suami yang akan pergi tidak perlu izin dari isteri. Sementara label laki-laki sebagai pencari nakah utama. Apabila seorang laki-laki marah. ada yang bersifat individu. 3. Beban Ganda Bentuk lain dari diskriminasi dan ketidak adilan gender adalah beban ganda yang harus dilakukan oleh salah satu jenis kalamin tertentu secara berlebihan. tetapi juga yang bersifat non fisik. jika hendak aktif dalam “kegiatan laki-laki” seperti berpolitik. pemukulan dan penyiksaan. Hal ini mengakibatkan terjadinya diskriminasi dan berbagai ketidakadilan yang merugikan kaum perempuan. artinya suatu serangan terhadap fisik maupun integritas mental psikologis seseorang. Hal ini tidak hanya terjadi dalam lingkup rumah tangga tetapi juga terjadi di tempat kerja dan masyaraklat. paman. Kekerasan Berbagai bentuk tidak kekerasan terhadap perempuan sebagai akibat perbedaan. 4. 5. Kata kekerasan merupakan terjemahkan dari violence. sepupu.

7 tahun 1984. • 1963. gerakan global emasipasi masuk dalam agenda PBB (ECOSOC) untuk diakomodasi Negara anggota. Dalam proses pembangunan. • Konferensi di Nairobi. melalui Keputusan Presiden No. the nation. 1990 menyetujui program GAD (Gender and Development) dengan strategi Pengarustuaamaan Gender. in the family. terutama bagi anak-anaknya • Perajut persatuan dan kesatuan hidup masyarakat. the community. ikatan kelompok • Jiwa interpreneur (keseimbangan pendapatan-pengeluaran) • Perhatian terhadap pemenuhan kebutuhan dasar keluarga. bangsa. 25 tahun 2000 Propenas ♣UU No. Secara Nasional antara lain: Adanya ♣UUD 1945 yang sudah empat kali diamandemen tentang♣UU No. • Pertemuan di Vienna. • Konferensi di Mexico. Indonesia meratifikasi CEDAW. VIII. Commission on the Status of Women (1967) memberi aspirasi pada lahirnya PKK. bangsa. Peran perempuan di domestik dan publik Women have a vital role to play in the promotion of peace in all sphares of life. terutama bila bergerak dalam bidang publik. meskipun ada juga ketimpangan yang dialami kaum laki-laki di satu sisi. PBB (1948) memberi aspirasi bagi gerakan feminis untuk memperjuangkan hak-hak perempuan (all human beings are born free and equal in dignity and rights). toleransi. melalui UU No. 1975 menyetujui program WID (Women in Development) sebagai strategi meningkatkan peran wanita. dan negara Perjuangan Kesetaraan laki-laki dan perempuan (internasional) • Deklarasi HAM. 1975) Kelebihan/potensi perempuan: • Rasa sosial. dan negara • Pendidik pertama dan utama bagi generasi penerus keluarga. 1995 merinci 12 keprihatinan terhadap perempuan yang dikenal dengan 12 critical issues. • Konferensi ICPD. 1985 setujui pembentukan UNIFEM lembaga PBB untuk perempuan dengan program WAD (Women and Development) 1979 CEDAW-PBB. • Konferensi di Beijing. 12 tahun 2000 tentang Pemilu . Indonesia meratifikasi CRC (Convention Rights of Children). Cairo 1994 mengagendakan perlindungan terhadap hak reproduksi perempuan dalam pembangunan yang berkelanjutan. and the world. kenyataannya perempuan sebagai sumber daya insani masih mendapat pembedan perlakuan. Women must participate equally with men in the decision making process which help to promote peace at all the levels (Deklarasi Konferensi Mexico. Dirasakan banyak ketimpangan.selain bekerja di tempat kerja juga masih harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga. 36 tahun 1990. 1952 hak politik dan ekonomi perempuan diadopsi PBB.

ketidak lengkapan data dan informasi gender yang dipisahkan menurut jenis kelamin (terpilah). beban kerja masih berat. pada saat ini masih banyak kebijakan. yang mana belum mempertimbangkan perbedaan pengalaman. Prinsip dasar membangun kesetaran gender di Indonesia • Menghargai pluralistik • Pendekatan sosio-kultural • Peningaktan ekonomi dan kesejahteraan rakyat • Penegakan HAM dan supremasi hukum • Penghapusan kekerasan dan diskriminasi • Penyadaran pilar pembangunan • Pemerintah: sosialisasi dan advokasi • Masyarkat: sensitisasi dan advokasi • Dunia usaha. ini terlihat dari kesempatan kerja perempuan belum membaik. . kedudukan masih rendah. aspirasi dan kepentingan antara perempuan dan laki-laki serta belum menetapkan kesetaran dan keadilan gender sebagai sasaran akhir pembangunan. meskipun masih belum optimal. Berbagai peningkatan pemberdayaan perempuan bisa dilihat dengan meningkatnya kualitas hidup perempuan dari berbagai aspek . dan penyadaran kepada semua pihak untuk mewujudkan kesetaran gender dan perlindungan anak dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Upaya-upaya dan usaha yang dilakukan pemerintah dalam rangka KKG Upaya mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender sebagai visi Kementerian Pemberdayaan Perempuan RI sebenarnya merupakan bentuk pembaruan pembangunan pemberdayaan perempuan yang selama tiga dasa warsa telah memberikan manfaat yang cukup besar. juga masih belum mapannya hubungan kemitraan antara pemerintah dengan masyarakat maupun lembaga-lembaga yang memiliki visi pemberdayaan perempuan yaitu dalam tahap-tahap perencanaan. IX. program dan kegiatan pembangunan yang belum peka gender. pemahman. Penyebabnya antara lain belum adanya kesadaran gender terutama di kalangan para perencana dan pembuat keputusan. Untuk meningkatkan status dan kualitas perempuan juga telah diupayakan namun hasilnya masih belum memadai. 9♣IInstruksi tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional. penyadaran dan advokasi • Penyatuan persepsi. Di lain pihak.Presiden No.

pelaksanaan. pemerintah bertanggung jawab untuk merumuskan kebijakan-kebijakan pemberdayaan perempuan di tingkat nasional maupun daerah. hal. pemantauan dan evaluasi kebijakan dan program pembangunan Bergesernya proporsi pekerjaan utama perempuan dari pertanian ke ranah industri. . (Zaitunah Subhan. masih sering dijumpai ketimpangan antara laki-laki dan perempuan baik dalam memperoleh peluang. kesempatan dan akses serta kontrol dalam pembangunan. tokoh-tokoh agama dan masyarakat secara keseluruhan. serta perolehan manfaat atas hasil pembangunan. Kedua meningkatkan kualitas peran dan kemandirian organisasi perempuan dengan tetap mempertahankan nilai persatuan dan kesatuan serta nilai historis perjuangan perempuan dalam rangka melanjutkan usaha pemberdayaan perempuan serta kesejahteraan keluarga dan masyarakat. Sesuai dengan dua arahan kebijakan itu. Dengan demikian pemberdayaan perempuan dalam rangka mewujudkan KKG merupakan komitmen bangsa Indonesia yang pelaksanaannya menjadi tanggung jawab seluruh pihak eksekutif. Sebaliknya pada tingkat sosial ekonomi menengah ke bawah. Selain nilai-nilai budaya patriarkhi yang dilegitimasi dengan (atas nama) agama dan sistem sosial yang menempatkan perempuan dan laki-laki dalam kedudukan dan peran yang berbeda dan dibeda-bedakan. meningkatnya mobilitas perempuan baik migrasi domestik maupun internasional serta semakin membaiknya peran perempuan di lingkup keluarga. yang pelaksanaannya dapat memberikan hasil terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender di segala bidang kehidupan dan pembangunan. yudikatif. legislatif. masyarakat dan berbangsa serta bernegara merupakan indikator keberhasilan pemberdayaan perempuan khususnya upaya kesetaraan dan keadilan gender mulai dapat dirasakan. Meskipun kemajuan perempuan ini hanya bisa dinikmati pada tataran masyarakat yang sosial ekonominya mapan (menengah ke atas). 2001) Dalam GBHN 1999-2004 menetapkan dua arah kebijakan pemberdayaan perempuan yakni pertama meningkatkan kedudukan dan peranan perempuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara melalui kebijakan nasional yang diemban oleh lembaga yang mampu memperjuangkan terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender. 17-18. Hal ini tidak lain karena masalah struktural utamanya.

. Upaya mengaktualisasikan dan memanifestasikan dan mengakselerasi-kan PUG di sektor strategis. Dalam rangka mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender melaui program yang peka akan permasalahan gender. Propenas 2000-2004 telah melakukan mainstreaming kebijakan dan program pembangunan pemberdayaan perempuan. • Program Peningkatan Peranserta masyarakat dan penguatan kelembagaan PUG dilakukan dengan melalui: sosialisasi. 62 tahun 1958 tentang Kewarganegaraan. Program Sumber Daya. • Pengembangan modul sosialisasi/advokasi gender. Mencakup Program Pengembangan dan Keserasian Kebijakan Pemberdayaan Perempuan. peningkatan kesejahteraan dan perlindungan anak dan upaya peningkatan kemampuan. dan pelatihan analisis gender baik di tingkat pusat. Tujuan utama program ini adalah tercapainya perbaikan status kesehatan reproduksi kaum perempuan dan laki-laki melalui kebijakan program kesehatan reproduksi dan kependudukan yang sensitif gender. Selanjutnya Propenas telah dirumusakan secara lebih rinci setiap tahunnya ke dalam Rencana Pembangunan tahunan (Repeta). Kementerian Pemberdayaan Perempuan juga telah melaksanakan program dan langkah konkrit antara lain: • Program Pengembangan dan keserasian kebijakan pemberdayaan perempuan. maka untuk mewujudkan kesetaran dan keadilan gender harus menjadi komitmen bersama. Hal ini akan dicapai melalui penguatan kapasitas nasional untuk melakukan pengarusutamaan gender. Selanjutnya dalam Rencana Strategi Kementerian Pemberdayaan Perempuan 2001-2004.Berdasarkan arah kebijakan yang dimandatkan oleh GBHN 1999-2004 untuk butir pemberdayaan perempuan. Sarana dan Prasarana. Program Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan. serta serangkaian koordinasi telah dilakukan dalam upaya perbaikan undang-undang yang masih bias gender seperti UU No. propinsi dan kabupaten/kota. advokasi. Kementerian Pemberdayaan Perempuan telah bekerjasama dengan UNFPA dalam melaksanakan serangkaian kegiatan Mainstreaming Gender Issues in Reproductive Health and Population Policies and Programmes. serta melalui aplikasi konsep gender dalam formulasi dan pelaksanaan kebijakan dan program untuk kesehatan reproduksi dan kependudukan. Program Peningkatan Kesejahteraan dan Perlindungan Anak. dan kabupaten/kota. untuk tahun 2001 (Repeta 2001). Mengingat produk tersebut merupakan undang-undang. propinsi. program yang disusun terdiri dari program dalam rangka pembangunan pemberdayaan perempuan. Program Peningkatan Peran Masyarakat Pemampuan Kelembagaan Pengarusutamaan Gender. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan dan UU No.

Keadaan ini menciptakan permasalahan tersendiri dalam upaya pemberdayaan perempuan. Kesimpulan Berdasarkan uraian di atas menunjukkan bahwa diskriminasi gender telah melahirkan ketimpangan dalam kehidupan berkeluarga. bermasyarakat. • Tersedianya data dan informasi yang terpilah menurut jenis kelamin secara berkala dan berkesinambungan dari propinsi dan kabupaten/kota mengenai pengarusutamaan gender dalam pembangunan daerah. konsep kesetaraan dan keadilan gender dan jaringan informasi dengan website. kondisi perempuan di bidang ekonomi. dan Problem Base Analysis (PROBA). dimana perempuan kurang memperoleh akses terhadap pendidikan. maka ketimpangan atau kesenjangan pada kondisi dan posisi perempuan tetap saja akan terjadi. XI. Akibat diskriminasi gender yang telah berlaku sejak lama. Saran dan pesan: Pada kesempatan ini dihimbau kepada para kandidat puteri Indonesia yang dibanggakan untuk berperan aktif dalam memajukan posisi dan kondisi perempuan Indonesia dalam . hankam dan HAM berada pada posisi yang tidak menguntungkan. • Fasilitasi bantuan teknis kepada daerah propinsi. selain itu ketimpangan lebih banyak dialami perempuan dari pada laki-laki. pengambilan keputusan dan aspek lainnya. kabupaten dan kota. • Pengembanagan Homepage untuk penyediaan data dan informasi program pembangunan pemberdayaan perempuan. dimana diharapkan perempuan memiliki peranan yang lebih kuat dalam proses pembangunan.• Pengembangan alat untuk analisis gender yang digunakan dalam perencanaan program dan dikenal dengan Gender Analysis Pathway (GAP). Kondisi yang tidak menguntungkan ini apabila tidak diatasi. berbangsa dan bernegara. Kurangnya keikutsertaan perempuan dalam memberikan konstribusi terhadap program pembangunan menyebabkan kesenjangan yang ada terus saja terjadi. X. Bahwa status perempuan dalam kehidupan sosial dalam banyak hal masih mengalami diskriminasi haruslah diakui. politik. pekerjaan. • Penyusunan Profil Gender untuk 26 propinsi. sosial. dan budaya. Kondisi ini terkait erat dengan masih kuatnya nilai-nilai tradisional terutama di pedesaan.

Deputi Bidang Kesetaraan Gender bekerjasama dengan Bangun Mitra Sejati. Gender dan Pembangunan. Panduan Gender dalam Perencanaan Partisipatif. masyarakat bangsa dan Negara. BPS. Bias Gender dalam Pendidikan. Muhammadiyah University Press. Sekaligus saya tekankan semoga semua kandidat puteri Indonesia dapat menjunjung tinggi agamanya dan jatidirinya sebagai Bangsa Indonesia yang aman dan damai. Kementerian Pemberdayaan Perempuan. Hj. H. Bahan Informasi . Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI. 1998. 4 Propinsi dan 16 Kabupaten/Kota Terpilih. Keadilan dan Kesetaraan Gender untuk BUMN/BUMD dan Perusahaan Swasata. dalam keluarga. Bias Jender dalam Pemahaman Islam. serta lingkungan masyarakat luas. Tingkat Nasional. Profil Wanita Indonesia. Surakarta. BPS. United Nations Developmen Fund for Women. 2003. Sri Suhandjati Sukri (Editor). Statistik Kesejahteraan Rakyat. 1996. Buku 1. Dra. Jakarta. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI. Kantor Menteri Negara Peranan Wanita. 2001. 2001. 2002. Modul Pelatihan. H. Edisi ke-2. Kantor Menteri Negara Peranan Wanita. Apa Itu Gender. (Pengantar). baik pada kalangan sendiri. JICA dan UNFPA. 2002. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan. Bahan Informasi Pengarusutamaan Gender. misalnya melalui aktifitas peningkatan pengetahuan dan penyebarluasan seluruh informasi sebagaimana telah dipaparkan tersebut di atas. Dr. Buku 2. Nasaruddin Umar. Buku Referensi Pelatihan: Fakta dan Indikator Gender. 3 Agustus 2004 Daftar Pustaka: Achmad Muthali’in.segala aspek/bidang pembangunan. Abdul Djamil. 2003. Gender Statistics and Indicators 2000. Dr. Jilid I Penerbit IAIN Walisongo dengan Gama Media. et all. Pesan khusus untuk semua kandidat adalah menjaga jatidiri puteri Indonesia yang bermoral karena kita mempunyai macam-macam agama yang diakui dan ragam budaya yang dapat dijalankan dan dijaga kelestariannya. Diterbitkan atas kerjasama RIFKA ANNISA Women’s Crisis Centre dengan Pustaka Pelajar. MA. 2002. BPS. MA. Pedoman Teknis Perencanaan Pembangunan Berperspektif Gender. Mudahmudahan apa yang telah disampaikan dapat memberi manfaat yang sebesar-besar bagi diri sendiri. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI. Julia Cleves Mosse. 2002.

planners. a sourcebook for advocates. status sosial dan bahkan agama. Zaitunah Subhan. Wanita Katolik. Bunga Rampai “Bahan Pembelajaran Pelatihan Pengarusutamaan Gender dan Program Pembangunan Nasional”. UNFPA. Pemantauan dan Penilaian. Bahan Informasi Pengarusutamaan Gender. 2002. Sumber: Hari Pembebasan Kaum Perempuan<center></center> KALAU kita menyimak catatan sejarah perjalanan Hari Ibu yang setiap tahunnya diperingati pada tanggal 22 Desember. Bagaimana Mengatasi Kesenjangan Gender. Bahan Informasi Gender. amaryllis t. muncul kesan bahwa semangat perjuangan kaum perempuan tempo dulu ternyata tidak sedangkal semangat yang sering ditampilkan pada peringatan Hari Ibu saat ini seremonial dan bahkan konsumerisme. Kementerian Pemberdayaan Perempuan. Kementerian Pemberdayaan Perempuan. dalam membangun Good Governance. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI. suku. Bahan Informasi Pengarusutamaan Gender. Edidisi ke-2. Ediisi ke-2. Salah satu agenda pokoknya adala menggabungkan organisasi-organisasi perempuan Indonesia dalam sebuah federasi tanpa sama sekali membedakan latar belakang politik. 1994. 2003. sesungguhnya telah tumbuh subur di kalangan tokoh . Perencanaan erperspektif Gender. Putri Indonesia. Peningkatan Kesetaraan dan Keadilan Jender. persisnya pada tanggal 22 Desember 1928. mereka tidak hanya gigih dalam menyuarakan hak-haknya. tetapi juga berani memikul senjata turun ke medan perang untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini. Modul 1: Apa itu Gender? UNIFEM and NCRFW. Buku 3. del rosario with the assistance of professor rosalinda pineda-ofreneo for Unifem and NCRFW). BKKBN.Pengarusutamaan Gender. Jong Java bagian Perempuan. (developed by dr. 2002. Edisi ke-2. Gender and Development Making the Bureaucracy gender-responsive. maka berkumpul sekira 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatra untuk menyelenggarakan kongres pertamanya dengan mengambil lokasi di Yogyakarta. adalah bukti sejarah bahwa semangat pluralisme (keberbedaan) yang merupakan modal utama untuk membangun persatuan. Dulu. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI. Buku 4. and implementors. Adalah sejarah yang mencatat bahwa dua bulan setelah Sumpah Pemuda dideklarasikan. tores and professor rosario s. Hadirnya organisasi seperti Aisyiah. Jong Islamieten Bond bagian Wanita dan Organisasi Wanita Utomo.

maka jauh sebelumnya kaum perempuan Indonesia pernah mengungkapkannya pada Kongres PPPI tahun 1930 yang ditandai dengan lahirnya kesepakatan untuk membentuk Perkumpulan Pemberantasan Perdagangan Perempuan dan Anak-anak (P4A). sampai tuntutan pemberlakuan syarat-syarat pelaksanaan perceraian yang tidak merugikan hidup kaum perempuan. kaum perempuan Indonesia ternyata telah memiliki kesadaran mengenai arti pentingnya pendidikan dan kesehatan sebagai modal utama untuk bisa keluar dari berbagai ketertinggalannya. sesungguhnya merupakan isu yang pernah diagendakan dalam perjuangan kaum perempuan tempo dulu. Itu semua menunjukkan bahwa jauh sebelum ada lembaga yang sekarang banyak menyuarakan arti pentingnya kesetaraan dan keadilan gender. adalah beberapa rekomendasi penting yang lahir dari kongres perempuan pertama 75 tahun yang lalu. adalah sejarah pula yang mencatat bahwa dari kongres perempuan Indonesia yang pertama itu berhasil dirumuskan beberapa rekomendasi penting dalam rangka memperjuangkan hak-haknya. Bahkan jika kita menyimak catatan penting yang dihasilkan oleh kongres perempuan tahun-tahun berikutnya seperti tertuang dalam buku ”Peringatan 30 tahun Kesatuan Pergerakan Perempuan Indonesia 1928-1958”. termasuk di dalamnya kesepakatan penyelenggaraan kongres perempuan tahunan dalam rangka mengisi dan memelihara kelangsungan perjuangannya. bahkan komunitas dunia banyak bicara mengenai masalah perdagangan anak dan kaum perempuan. Sebagai gambaran. penolakan tradisi perkawinan anak perempuan di bawah umur termasuk kawin paksa.wanita sejak dua pertiga abad yang lalu. Jangan lupa. Melalui kongres perempuan pertama itu pulalah berhasil dirumuskan beberapa rekomendasi yang berisi tuntutan penerbitan surat kabar sebagai media untuk meyuarakan hak-hak kaum perempuan sampai kepada tuntutan pemberian bantuan khusus bagi perempuan janda dan anak yatim. jika saat ini kita. Semua itu juga memberi isyarat kepada kita bahwa gerakan kaum perempuan pada saat itu sesungguhnya tidak kalah majunya dibanding dengan perjuangan kaum perempuan saat ini. Yang tidak kalah pentingnya. Tidak keliru kalau momentum yang kini diperingati sebagai Hari Ibu itu hadir sebagai puncak kebangkitan kesadaran kaum perempuan Indonesia dalam rangka menghimpun kekuatan bersama untuk bisa keluar dari berbagai ketertinggalannya. . kita pun akan segera mengetahui bahwa banyak dari isu sentral yang diangkat gerakan perempuan saat ini. bahkan jauh sebelum kemedekaan Indonesia diproklamasikan. dari kongresnya yang pertama itu pula lahir kesepakatan untuk mendirikan badan musyawarah bernama Perikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia (PPPI) dengan misi pokoknya untuk menjalin hubungan di antara semua perhimpunan perempuan. Tuntutan kaum perempuan kepada pemerintah tentang pemberian beasiswa untuk anak perempuan dan sekolah-sekolah perempuan.

sesungguhnya masih begitu banyak kiprah sekaligus sumbangan pemikiran berarti yang telah diberikan kaum perempuan pada saat itu. 1928). Itulah pula awal sejarah yang kemudian mengilhami banyak organisasi perempuan setelah itu terlibat secara langsung dalam perjuangan kemerdekaan. . Tersirat dalam cuplikan pidato itu adalah sikapnya yang sangat mendorong kebangkitan kaum perempuan dalam rangka memperjuangkan hak-haknya. Hal yang sama juga dilakukan pula oleh Wanita Muslimat dari Masyumi. misalnya. Bahkan seperti pernah ditulis Gadis Arivia dalam artiakelnya yang berjudul ”Soekarno dan Gerakan Perempuan (2001). Kongres PPPI tahun 1930 itu juga telah melahirkan rumusan kerja lebih konkret lagi yang antara lain ditandai dengan lahirnya rekomendasi yang meniscayakan arti pentingnya penyelidikan kondisi kesehatan kaum perempuan dan sebab-sebab terjadinya kematian bayi di pedesaan. rekomendasi megenai arti pentingnya kampanye berkait dengan segala akibat buruk yang ditimbulkan dari banyak kasus perkawinan usia dini sampai kepada upaya mempelajari hak pilih bagi kaum perempuan yang sekaligus merupakan wujud kesadaran kaum perempuan waktu itu akan arti pentingnya upaya bisa mengakses kekuasaan sebagai media untuk mewujudkan perjuangannya. Simak cuplikan pidato Soekarno di hadapan peserta kongres pertama kaum perempuan tanggal 22 Desember tahun 1928 waktu itu yang mengisyaratkan besarnya perhatian sekaligus pengakuan tokoh politik terhadap potensi yang dimiliki gerakan kaum perempuan pada saat itu sebagai berikut: ”Berbahagialah kongres kaum ibu.Bukan hanya itu. Gagasan dasarnya. oleh karena dari pada kaum bapak masih banyak jang kurang pengetahuan akan harganja sokongan kaum ibu itu..” (Soekarno. di mana masih ada sahadja kaum bapak Indonesia jang mengira. Kongres Kaum Ibu. Kalau dirinci. tidak bakal ada persamaan hak antara laki-laki dan perempuan bila tidak ada kemerdekaan. kaum perempuan dari kalangan parpol dan ormas berbasis agama Aisyiah dan Wanita Katolik menjadikan perjuangan kemerdekaan sebagai agenda utamanya. dan belum banjak jang berkehendak akan kenaikan deradjat itu. Istri Sedar yang didirikan di Bandung muncul menyatakan diri ingin meningkatkan status perempuan Indonesia melalui perjuangan kemerdekaan. Setelah Jepang menyerah. Bung Karno punya obsesi yang lebih karena ingin menjadikan gerakan perempuan waktu itu sebagai bagian dari gerakan memperjuangkan kemerdekaan.kita gembira ialah teristimewa djuga oleh karena di kalangan kaum ibu sendiri belum banjak jang mengetahui atau mendjadikan kewajibannja ikut menjeburkan diri di dalam perdjoangan bangsa. diadakan pada suatu waktu. Pada tahun 1930. bahwa perdjoangan mengedjar keselamatan nasional bisa djuga lekas berhasil zonder sokongannja kaum ibu. kita tidak sahadja gembira hati akan kongres itu oleh karena kaum bapak belum insyaf akan keharusan kenaikan deradjat kaum ibu.

sebagiannya berani mengangkat senjata. Kian maraknya kasus perdagangan anak dan perempuan. tidak berlebihan jika Hari Ibu yang setiap tahun diperingati bangsa ini. Meretas Kekerasan Tersamar<center></center> Hari perempuan sedunia yang jatuh tanggal 8 Maret lalu diperingati dengan cukup provokatif. bahkan berani. apalagi bila dibandingkan dengan negara-negara lain. Wilujeng Hari Ibu!*** Penulis. itulah kesan yang muncul kalau kita menyimak sejarah perjuangan kaum perempuan yang awalnya diilhami oleh penyelenggaraan kongres perempuan pertama pada tanggal 22 Desember tiga perempuan abad yang lalu. Bulan ini. kita jadikan momentum Hari Ibu itu sesuai dengan akar historisnya sebagai hari pembebasan kaum perempuan dari berbagai belenggu yang menindasnya. sepatutnya kita selenggarakan tidak hanya dalam bentuk seremoni yang hampa makna. MIPA Universitas Padjadjaran Bandung. adalah beberapa saja dari sekian banyak masalah yang harus dijadikan agenda utama perjuangan kaum perempuan Indonesia saat ini dan ke depan. Selama ini. masih tinginya angka kematian ibu akibat kehamilan atau melahirkan. Esensi kedua hari penting bagi perempuan adalah sama: memperjuangkan hak-hak perempuan di segala bidang. Sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat perempuan di Jakarta menuntut pemerintah dan DPR untuk memprioritaskan hak dan kesejahteraan perempuan (SH. masih banyaknya korban kaum perempuan akibat tindakan kekerasan dalam rumah tangga. jumlah buku sastra Indonesia boleh dibilang sangat sedikit. mahasiswi jurusan biologi. Fak. karya fiksi yang sedikit ini .Lima belas tahun berikutnya. apalagi penuh hura-hura. Sumber:Pikiran Rakyat Tren Perjuangan Perempuan dalam Sastra Merangkul Tabu. Sebaliknya. Itu pula sebabnya. Lalu bagaimana perjuangan perempuan di bidang sastra? Ternyata telah muncul fenomena pemberontakan perempuan dalam sastra yang bisa kita sebut spektakuler. 9 Maret 2002). Lebih parahnya lagi. sebagian yang lainnya bertugas membantu prajurit yang luka kalau bukan menyiapkan makanan bagi para prajurit yang sedang bertempur dalam rangka memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini. Mereka yang tergabung dalam organisasi ini. Begitu luhur dan mulia. tahun 1945. peminat masalah gender. perempuan Indonesia pun merayakan Hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April setiap tahun. di Bandung lahir organisasi bernama Lasjkar Wanita Indonesia (Lasjwi) yang dibidani oleh Aruji Kartawinata.

bahkan abnormal semisal bondage sadomasochis (seks sadis). di mana tubuh (body). mulai dari mereka yang gemar berburu buku-buku porno stensilan hingga doktor-doktor ilmu sastra yang mejanya penuh dengan naskah-naskah seminar. Kehadiran buku-buku ini bagai oase bagi masyarakat yang ”kepanasan” oleh etika timur yang kuat tetapi tak berani melawannya secara frontal. bahkan ada jenis komoditi yang menjanjikan seks-seks ilegal. yang membentuk semacam sistem libidonomics yaitu sebuah sistem ekonomi yang mengeksploitasi setiap potensi libido. Cerita tentang perselingkuhan Yasmin dan Saman serta kecintaan Laila pada Sihar membawa tokoh-tokohnya bertualang di negeri Paman Sam. Sebuah negeri yang bisa jadi dianggap sebagai media pelarian ketertekanan seksual sang tokoh pada kultur yang membesarkannya. Beradaptasi dengan terjadinya proses pelipatgandaan dan penyebaran secara sosial tanda.tak banyak yang mempunyai kekuatan untuk menarik perhatian publik. dan benda-benda komoditas. Di mana industri seks-nya melimpah. terutama dalam hal seks. citra. Eksistensi Seks Dalam Larung.77). sampai surveillance sex (dokumentasi seks orang- . Membakar Kebekuan Fiksi sastra yang ditulis kedua pengarang perempuan ini mampu membakar kebekuan gerilya sastra sekaligus meruntuhkan tembok pembatas antara sastra pop dan sastra serius. Mereka berani melawan tabu yang selama ini menjadi magma terpendam pada masyarakat yang sarat dengan konvensi-konvensi budaya. amateur. Seks menarik justru karena melanggar kenormalan dalam masyarakat tradisional. Laila dan Sihar” (hal. Keduanya mampu menjadi trend dan dibaca oleh kalangan yang kompleks. bukan sebagai komoditas masyarakat kapitalis semata. informasi. Hingga akhirnya muncul Ayu Utami dengan Saman dan Larung-nya serta Dewi Lestari dengan Supernova. voyeurism (ngintip). khususnya yang bermuatan erotis. Lalu apa resep mereka dalam mendobrak kebekuan sastra selama ini? Yang jelas. tanda-tanda tubuh (body signs) serta potensi libido di balik tubuh (libidinal value) menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya komoditas. Mungkin karena Amerika–lah yang dianggap negeri yang mampu mewakili representasi eksistensi seksual perempuan. Tanpa disengaja mereka menolak tegas kultur yang menekan eksistensi seks perempuan timur sekaligus mengejek terma dalam masyarakat komoditas. Mengalir deras di tengah masyarakat yang dilanda proses diseminasi sosial yang semakin cepat. semata untuk memperoleh keuntungan ekonomi. Melalui perlawanan terhadap tabu ini. Mereka mampu merepresentasikan seks sebagai eksistensi keperempuanannya. mature dan older (orang bangkotan). tahun 1996: ”Cerita ini berawal dari selangkangan teman-temanku sendiri: Yasmin dan Saman. mereka meretas fenomena kekerasan tersamar terhadap perempuan. salah satu kesamaan menonjol dari sisi feminisme kedua novelis perempuan ini adalah keberanian mereka dalam mengemas cinta dan seks dalam bungkus yang benar-benar berbeda. lewat diary tokoh Cok. Ayu menunjukkan keberanian dalam bercerita tentang eksistensi seks perempuan.

Lukas lebih tertarik pada eksplorasi posisi fisik daripada eksplorasi relasi psikis seperti yang dikhayalkan Yasmin. berkemah. setia pada suami—kembali menemukan kebebasan seksualnya bersama Saman. Kamu biarkan jari-jariku bermain-main dengan tubuhmu seperti liliput mengeksplorasi manusia yang terdampar. seks yang digambarkan Ayu bukanlah teknik persetubuhan melainkan pemaparan problema yang bisa jadi dialami banyak wanita.” Ejekan atas keperawanan yang menjadi momok pengaturan laki-laki terhadap perempuan dilakukan Ayu melalui tokoh Laila meskipun sosok ini mampu melawan gender keperempuanannya. ”Mereka menerima dominasi pria sebagai suatu ide yang total dan murni. senggama. Juga. beragama. 157) Eksistensi seksualitas perempuan Indonesia yang selama ini terkungkung budaya patriarki dilibas habis oleh Ayu Utami. Tokoh Yasmin—yang sempurna. 160) Kerinduan Yasmin kepada Saman lebih karena perasaan superioritasnya terhadap lakilaki ini. cross country. dan ia merasa ada supremasi pada dirinya. kenapa aku harus menderita untuk menjaga selaput daraku sementara pacarku mendapat kenikmatan? …Aku pun melakukannya. ”…Kamu biarkan aku mengikatmu pada ranjang seperti kelinci percobaan. ”…tidak semua anak perempuan bisa melakukan itu. yang selama ini menjadi endapan dalam masyarakat Indonesia yang patriarkal. Hanya saja. Misalnya cerita tentang bagaimana Cok melepas keperawanannya. suatu ideal. Tapi dialah yang paling terlambat mengenal pria secara seksual. Bagaimana mitos kesucian keperawanan membuat Cok membiarkan sang lelaki bermasturbasi dengan payudaranya. 118) .” (hal. bermoral pancasila. dan lain-lain jenis olahraga kelompok yang kebanyakan anggotanya lelaki. Padahal Yasmin merasa berbeda dengan para perempuan yang mengukuhkan patriarki. kaya. cerdas. tidur bersisian dengan kawan lelaki dalam tenda dan perjalanan. turun tebing. aku sebagai nilai estetis.orang biasa) Problema-problema seks perempuan. Mereka menerimanya sebagai nilai moral. Lukas. cantik. Pada masa itu ada rasa bangga bahwa dia memasuki dunia lelaki yang dinamis. Itu karena suaminya.” (hal. Membuatmu menderita oleh coitus interuptus yang harfiah. …Lalu kupikir-pikir.” (hal. pecah dalam tingkah laku tokoh-tokoh novel ini. berpendidikan. Kamu biarkan aku menyakitimu seperti polisi rahasia mengintrogasi mata-mata yang tertangkap. menyangkal hal-hal yang lembek. Naik gunung. Semasa sekolah dia paling banyak berlatih fisik. ”… tapi membiarkan lelaki masturbasi dengan payudara kita bukanlah pengalaman yang menyenangkan kalau terus-terusan. Aku menerimanya dan melakukan seksualitas terhadapnya. Melokalisasinya pada fantasi seksual. Kamu tak punya pilihan selain membiarkan aku menunda orgasmemu atau membiarkan kamu tersiksa tak memperolehnya. sang bekas frater. tak pernah mengolah kekejaman pada dirinya meskipun hanya sebatas imajinasi.

Dan aku tak pergi. Kerinduan Laila pada Sihar membuatnya mampu melihat faktor lelaki pada diri Tala.Ternyata supremasi itu tidak dapat dibawa tokoh Laila sampai dewasa. berdasarkan konstruksi sosial atau ”ideologi” tertentu. Ia hanya ingin menyelamatkan Laila. Gabungan sosok Saman dan Sihar. yang benar-benar belum bisa diterima kultur Indonesia dilakukan Ayu dengan metafora yang sangat indah. Pertama. Persoalan politik tubuh berkait dengan eksistensi tubuh dalam kegiatan ekonomi-politik.” (hal. Dalam ekonomi-politik hasrat. dan penyalurannya lewat berbagai kegiatan ekonomi (produksi. Itu sebabnya ia tak bebas ketika telah sama-sama telanjang dengan Sihar. Tapi keperawanan Laila yang terjaga —seperti layaknya yang diagungkan budaya Indonesia—justru menjadi problema. Ketertarikan Laila ditanggapi Tala sehingga dalam Larung ini muncul sebuah relasi seksual di mana lelaki benar-benar diabaikan. Kedua. Politik tanda berkaitan dengan eksistensi tubuh (pria atau wanita) yang dieksploitasi sebagai tanda atau komoditas tanda (sign comodity) dalam berbagai media. Hingga akhirnya Laila melupakan Tala sebagai perempuan. ”ekonomi politik hasrat” (political economy of desire) yaitu bagaimana sistem ekonomi menjadi sebuah ruang berlangsungnya pelepasan hasrat dari berbagai kungkungan. Aku tahu kamu belum pernah mengalami orgasme. ”ekonomi politik tanda (tubuh)” (political economy of signs) yaitu bagaimana tubuh diproduksi sebagai tanda-tanda di dalam sebuah sistem ekonomi pertandaan (sign system) masyarakat informasi yang membentuk citra. dua lelaki yang dicintai Laila muncul pada diri Tala. Juga ketika bercumbu dengannya. makna. Tak pernah terjadi persetubuhan yang sebenarnya. ”…Kamu berbaring di sisiku dan kulihat air mengalir dari matamu ke arah rambut. Aku mengelus di punggung dan mencium di kening. yang terurai dalam tiga terma. Sebelum kamu mengenali tubuhmu sendiri. distribusi. Keperawanan dinilai sebagai tanggung jawab. dan identitas tubuh di dalamnya. Tala bukanlah seorang androgini yang maniak. …Kupeluk kamu. Ketiga. Peran tokoh Shakuntala (Tala) yang androgini dimunculkan Ayu secara estetis sebagai representasi kebebasan untuk memilih. ”ekonomi politik tubuh” (political economy of the body) yaitu bagaimana tubuh digunakan dalam berbagai kerangka relasi sosial dan ekonomi. Jebakan Politik Tubuh Memang keberanian Ayu Utami dalam Saman dan Larung. sifat-sifat rasionalitas ekonomi dikendalikan sifat-sifat irasionalitas hasrat. Ia tak bisa masuk ke dalam dunia pria dewasa. Kini tak kubiarkan kamu menemani lelaki itu sebelum kamu mengetahuinya. konsumsi). juga Dewi Lestari dalam Supernova-nya. Lelaki takut padanya. Ekspresi libido seks Laila terhambat. yang tercipta adalah . 153) Penggambaran tentang dunia lesbian. Ketika kreativitas ekonomi dikuasai dorongan hasrat dan sensualitas. bisa menjerumuskan mereka dalam jebakan politik tubuh (body politics). dilihat dalam berbagai relasi sosial. Dalam hal ini Ayu masih mencoba membela kaumnya.

Berbagai bentuk khayalan lewat voyeurisme diciptakan. dalam wawancara dengan Kompas. Relawan pada UNICEF Indonesia. setidaknya mereka berdua telah memulainya dan berhasil menarik perhatian publik. namun ia selalu merasa dirinya perempuan. justru menjadi perangsang laki-laki untuk membacanya. yang menciptakan semacam ”erotisasi kebudayaan”. dan ayah bagi . ADA orang yang terlahir lelaki namun sejak kecil merasa dirinya perempuan sehingga mereka hidup layaknya perempuan. Sumber: Sinar Harapan Transseksual. Boys Don’t Cry. Contoh lainnya Billy Tipton. Setapak langkah perbaikan telah dimulai dari dunia sastra. Ekspresi perlawanan terhadap kekerasan tersamar dalam ranah seks perempuan. Bukan untuk menyelami ketertekanan perempuan tapi sebagai media eskapisme erotisme otak mereka. Mbak Dorce mengungkapkan bahwa ia sejak kecil merasa dirinya perempuan. Minoritas yang Terlupakan<center></center> BENARKAH Mbak Dorce Gamalama melawan kodrat? Pertanyaan ini mungkin timbul dalam hati saat membaca wawancara Kompas dengan artis Dorce (Kompas. musisi jazz Amerika. Bisa jadi ekspresi kebebasan dua perempuan pengarang ini dijadikan media penumpahan keliaran libido laki-laki. seorang ayah yang berubah menjadi ibu. Akibatnya. Yang jelas.sebuah ”budaya ekonomi”. memang tak gampang meretas kultur yang telah tertanam kuat. Pada tanggal yang sama. 27/7/2003). Contohnya Brandon Teena. Contohnya. ada juga orang yang terlahir perempuan tetapi merasa dirinya lelaki sehingga mereka hidup sebagai laki-laki. dan keinginan masyarakat dieksploitasinya. sebagai cara untuk mendominasi selera (taste). Sebaliknya. yang mengondisikan orang memuja ”citra tubuh”. bahkan ia sempat kawin dan memiliki anak. Oleh: R. suami dari empat istri. Sugiarti. Pengamat Perempuan & Budaya. yang dikenal sebagai lelaki ramah. yang hidupnya dikisahkan dalam film pemenang Oscar. yang dipenuhi berbagai strategi penciptaan ilusi sensualitas. apa yang beroperasi di balik aktivitas ekonomi adalah semacam ”teknokrasi sensualitas” (technocracy of sensuality)—di dalamnya nilai-nilai budaya ekonomi ditopengi tanda-tanda sensualitas. Liz Riley terlahir lelaki.Namun. sehingga akhirnya memutuskan untuk hidup sebagai ibu. Suara Pembaruan Minggu mengetengahkan kisah Liz Riley. aspirasi. Sensualitas dijadikan kendaraan ekonomi dalam rangka menciptakan keterpesonaan dan histeria massa (mass hysteria) sebagai cara mempertahankan kedinamisan ekonomi.

Mereka merupakan contoh kaum transseksual. masih ada variabel lain. identitas jenis kelamin adalah keyakinan mendalam pada seseorang tentang apakah dia itu pria atau wanita. yang ditemukan pada tahun 1972 oleh Money dan Erhardt setelah meneliti ratusan individu. Hakikat transseksual Selama ini alat kelamin fisik. karena seseorang yang tomboi. masyarakat sering menyalahkan. Brandon Teena dan Billy Tipton disebut female-to-male transsexual (FMT). semata-mata tergantung dari perasaan orang bersangkutan dan tidak selalu sejalan dengan penilaian orang. Penyebab transseksual belum dapat ditentukan secara pasti. Padahal. Menurut Kessler dan McKeena. Dengan kata lain. sekalipun berperilaku kelaki-lakian. termasuk kejutan listrik. mengapa orang yang terlahir laki-laki sampai merasa dan berperilaku sebagai perempuan dan sebaliknya pada FMT. petugas jenazah mendapati ia memiliki alat genital wanita. dalam Gender: An Ethnomethodological Approach (1978). yang dapat disebut jenis kelamin jiwa. Mayoritas warga memiliki sex identity sesuai dengan jenis kelamin fisiknya. para pakar menganggap transseksual merupakan orang abnormal yang perlu disembuhkan dengan aneka terapi. yaitu transseksual dari lelaki ke perempuan. MFT bertubuh lelaki tetapi merasa dirinya perempuan. Namun. namun biasanya mulai disadari dengan kuat menjelang remaja. Sebelum sex identity ditemukan. identitas jenis kelamin adalah perasaan mendalam atau keyakinan dalam batin seseorang yang membuatnya merasa sebagai lelaki atau perempuan. pakar sekalipun. berupa alat reproduksi. Sebaliknya. kini disadari bahwa sex identity lebih kuat daripada kelamin fisik. MFT berperilaku sebagai perempuan. kekurangan testosteron pada janin dengan kelamin . Misalnya. Ada yang disebut male-to-female transsexual (MFT). yaitu identitas jenis kelamin (sex identity) atau identitas jender. Sex identity. Namun. masih tetap merasa perempuan). FMT bertubuh perempuan namun merasa dirinya lelaki (bukan sekadar tomboi. Karena itu. Masalahnya. artinya dapat sejalan atau bertolak belakang dengan kelamin fisik. jika seorang transseksual diminta menyelaraskan perilaku dengan bentuk fisiknya. yang lebih banyak terjadi bukan perubahan perilaku. Karena itulah. Sebaliknya. Namun.sejumlah anak. Jenis kelamin jiwa mulai tertanam pada usia dua tahun. Jadi. melainkan perubahan fisik. Sebagian menduga pengaruh hormon dalam kandungan. transseksual memiliki sex identity berbeda dari seks fisiknya. sering dianggap satu-satunya penentu perilaku jenis seseorang. Jenis kelamin jiwa merupakan variabel mandiri terhadap seks fisik. ketika ia meninggal. yaitu transseksual dari perempuan ke lelaki.

sejauh yang bersangkutan tidak melakukan hal-hal yang merugikan orang lain. yaitu pada identitas seksualnya. Pada pilihan kedua. kelebihan testosteron pada janin dengan kelamin fisik perempuan dapat menyebabkannya memiliki seks jiwa lelaki. seperti berdandan terlalu mencolok. karena mendapatkan dunia tetapi kehilangan dirinya sendiri. Setiap orang. Namun. ia akan hidup dalam tekanan batin yang luar biasa dan tiada hentinya. kecenderungan mencari pasangan. Di lain pihak. Selagi mayoritas warga bangsanya mensyukuri nikmatnya hidup di alam kemerdekaan. memperlihatkan obsesi berlebihan terhadap . Masyarakat demokratis mensyaratkan asas pluralisme dan egalitarianisme. "Apakah gunanya seseorang mendapatkan seluruh dunia tetapi kehilangan dirinya sendiri?" Banyak orang mengamini sabda tersebut. transseksual tertarik terhadap lawan jenis sehingga mirip warga masyarakat umumnya. sebab sebenarnya masih merupakan misteri. Namun. menunggu kapan sinar terang akan muncul pada akhir lorong tersebut. agar diterima lingkungannya. sekolah. baik keluarga. yang terlahir sebagai lelaki tetapi memiliki sex identity perempuan. Lorong kegelapan? Seorang bijak pernah mengatakan. keyakinan. perbedaan ini tidak dijadikan dasar untuk meminggirkan atau mendiskriminasikan mereka. Jutaan transseksual hidup dalam lorong kegelapan. bahkan oleh keluarganya sendiri. Seyogianya. Sungguh beruntung jika seorang transseksual diterima lingkungannya. atau status sosialnya. mendapat perlakuan sederajat. Contohnya Julie Peters. Namun. banyak transseksual belum dapat merasakan apa makna kemerdekaan itu sesungguhnya. Kaum transseksual hanyalah orang yang berbeda. akan berpura-pura menjadi "lelaki biasa". Namun. yang memiliki jati diri perempuan. seorang MFT. tetapi dari hari ke hari ia hidup dalam kehampaan. kaum transseksual perlu menghindari perilaku yang menimbulkan citra negatif. Setelah usia 40 tahun Julie memutuskan menjalani operasi dan menjadi perempuan. maupun masyarakat. sebagian besar transseksual masih belum diterima lingkungannya. diri sendiri itu adalah jati dirinya sesuai dengan sex identity yang dimiliki. pekerjaan. Para transseksual ini terpaksa memilih satu di antara dua pilihan yang sama pahitnya. tetapi tidak mau menerima bahwa bagi transseksual. yaitu terbuang dari lingkungannya atau berpura-pura menutupi jati dirinya. Variabel yang juga menentukan perilaku adalah orientasi seks. Dengan demikian. politisi Australia. ada juga transseksual yang tertarik kepada kaum sejenis.fisik lelaki dapat menyebabkannya memiliki kelamin jiwa perempuan. Umumnya. Namun. sebagaimana masyarakat juga tidak boleh mendiskriminasi orang yang berbeda warna kulit. Sebaliknya. sekalipun berbeda. transseksual yang terpaksa menutupi atau mengingkari jati dirinya bisa saja kelihatan sukses. Julie mengaku tetap tertarik kepada perempuan.

dan bahkan yang tidak relevan sama sekali seperti cerita tentang siapa yang menemukan mayat bayi-bayi malang tersebut. Penting sekali agar para transseksual dapat membangun citra yang positif. agar mereka dapat berdarma bakti secara optimal. menyatakan pemahaman terhadap kaum transseksual akan bermanfaat besar untuk memahami konsep jender secara lebih komprehensif. dengan mengambil kasus lama yang terjadi di tahun 1997. sehingga dari lima artikel yang disoroti dalam tulisan ini. Prof Vern Bullough dari California State University. dan menjadi pekerja seks komersial. Special Issue. klinik-klinik aborsi ilegal. Lebih dari itu. dalam "Transgenderism and the Concept of Gender" (International Journal of Transgenderism. Artikel mengenai buruknya perilaku perempuan yang adalah calon ibu marak di koran-koran baik nasional maupun lokal. dan bukannya mempertanyakan siapa laki-laki yang bertanggung jawab atas keberadaan calon bayi . Dengan menarik perhatian publik untuk lebih memperhatikan cerita-cerita yang dibangun media yang lebih mengutamakan cerita kehidupan perempuan pelaku aborsi.lelaki. hujatan panjang di media massa pun diarahkan kepada perempuan. maka laki-lakilah yang menjadi penghujatnya. Tinggal di Bengkulu Sumber Kompas Cyber Media Perempuan dan Media Massa (1) <center></center> Catatan kecil ini ingin ikut serta merayakan Hari Ibu 22 Desember 2003. tahun 2000). baik yang telah operasi maupun belum. hanya satu yang ditulis oleh perempuan. masyarakat dapat menerima dengan wajar kaum transseksual. Hari Ibu 1997 telah “dicemari” dengan ditemukannya banyak mayat calon bayi akibat aborsi ilegal. di antaranya lewat prestasi. seperti telah diperlihatkan Mbak Dorce dan mendiang Billy Tipton. Bambang Suwarno Aktivis Perempuan dan Relasi Jender. Di tengah perdebatan apakah nama Hari Ibu bisa mewakili kepentingan semua perempuan. hal yang sangat diperlukan guna membangun masyarakat dunia yang lebih manusiawi. tulisan ini justru ingin memperbincangkan konstruksi makna ibu dalam media massa kita. Media massa yang mengeksploitasi peristiwa tersebut rasanya telah memojokkan perempuan. Sebagai akibatnya. sesuai jati diri yang mereka miliki. ketika perempuan yang dihujat. Dan biasanya. Negeri ini sedang dilanda krisis multidimensi dan untuk mengatasinya diperlukan kerja sama seluruh komponen bangsa. Semoga seiring dengan meningkatnya pemahaman. termasuk juga bagi perempuan yang secara biologis belum menyandang predikat ibu.

kabar menghebohkan dari Jakarta soal keberanian sejumlah wanita yang menolak menjadi ibu manusia melalui cara-cara yang menyinggung perasaan sosial … apakah sebutan “ibu” tidak lagi sesakral dan seterhormat yang kita ketahui sehingga mesti ditolak?”(3) Membaca kalimat tersebut. Apakah catatan ini sudah demikian prejudis mencurigai adanya konspirasi antara laki-laki dan media massa? Jika dilihat dari perilaku media.tersebut.(5) Ketimpangan jumlah antara jurnalis perempuan dan laki-laki tentu tidak dengan sendirinya menjawab pertanyaan kenapa media kita begitu seksis. Belum tentu jurnalis perempuan sudah memiliki perspektif gender dalam menurunkan tulisan dan menilai permasalah sosial yang dihadapinya. mana ada media yang juga tidak bergender?(2). dituduh. Ironisnya. sebagian mungkin merasa bebas untuk memilih melakukannya sedangkan yang lain mungkin tidak punya pilihan lain. and Gender Skepticism” (1990). ada suatu pembagian yang sangat tidak seimbang antara perempuan dan laki-laki. misalnya mempertanyakan penolakan perempuan untuk menjadi ibu sementara predikat tersebut masih dianggap sakral. rasanya tidak berlebihan untuk meragukan sifat pembebasan media yang selama ini didengung-dengungkan. Di satu sisi. Yang pasti. Apakah ini karena media massa masih belum kuat betul atau cukup dewasa untuk membebaskan dirinya dari pelukan “diskriminasi gender” yang tiada akhir?(4) Atau memang karena mereka sendiri pada dasarnya bersifat diskriminatif terhadap perempuan? Jika kita menilik figur angka pelaku media massa. “Kendati bukan perilaku baru. sebagai agen dari propaganda adil gender. Salah satu dari artikel yang menjadi sorotan dalam catatan ini. maupun dikorbankan? Tentu saja ada banyak alasan bagi perempuan untuk melakukan aborsi. memilih untuk menjadi atau menolak menjadi ibu tidak hanya berurusan dengan fungsi biologis perempuan saja. jika media massa di satu sisi mempromosikan nilai-nilai “kesejajaran” antara laki-laki dan perempuan. Postmodernism. tetapi juga kewajiban perempuan untuk menjaga nilai-nilai moral yang dianut lingkungan sosialnya. Karena kita hidup dalam budaya yang tidak memungkinkan kita untuk “bergender netral” seperti yang dikatakan oleh feminist Perancis Susan Bordo dalam artikelnya “Feminism. media telah dengan sewena-wena membela kepentingan laki-laki. di sisi lain masih juga menjalankan praktek-praktek obsolit. bagaimana perempuan seharusnya bereaksi? Bagi mereka yang memilih untuk tidak menjadi ibu dengan cara tersebut mungkin akan merasa malu karena perbuatannya sudah dipublikasi. bahkan dikatakan sebagai senjata kelompok marginal untuk mendapatkan posisinya. media massa memberikan aplaus . Apakah sebagian yang lain yang menilai sucinya posisi ibu akan tersentuh dengan kenyataan bahwa secara biologis sebenarnya mereka mampu menghadirkan sebuah kehidupan baru tetapi lebih memilih untuk tidak melakukannya? Apakah yang lain akan merasa diobjektifikasi.

Seringkali media massa menulis bahwa partisipasi perempuan di dunia publik hanyalah bukti kejahatan kapitalisme yang mendehumanisasi mereka. Apakah mereka harus kehilangan hak-hak istimewa (privilege) yang sudah terlegitimasi hanya untuk satu posisi yang tidak jelas jika mereka harus memasuki dunia asing yang dinamakan ranah publik? “Peradaban milenium ketiga hanya bisa berharap agar kaum wanita memilih untuk tidak gagal menjadi ibu anak-anak zaman. masyarakat. betapapun dikotomi publik-domestik masih bisa diperdebatkan. mengaku memiliki hak untuk menentukan apa yang harus dilakukan atau tidak seharusnya dilakukan oleh perempuan. “… kesempatan pun tidak banyak buat wanita untuk berperan di luar rumah. Lalu kembali lagi peran rumah tangga ditekankan. bahkan membanting nilai kemanusiaan mereka di bawah nilainilai produksi dan pasar. semakin mempertajam segregasi ranah publik-domestik. Secara sinis (atau karena cemburu?) dan dihantui oleh kontra-hegemoni kultural dan material yang dimiliki perempuan. karena pembagian posisi peran lakilaki dan perempuan yang jelas dan tertib bisa mendukung suksesnya program-program pemerintah. tahun 1993."(10) Karakterisitik media massa yang manipulatif seringkali juga merugikan perempuan jika kasus-kasus yang diangkat melibatkan perempuan. media massa.(7) Namun. sebagai “lawan jenisnya”. untuk tetap tinggal “terdomestikasi” dengan meragukan kemampuan mereka untuk berkarya di dunia publik.pada slogan “peran ganda perempuan modern”. Dalam hal ini. bukankah diskriminasi gender sudah ada bahkan sebelum era modernisme? Model produksi kapitalisme bukankah “hanya” memanfaatkan ketimpangan gender itu yang kemudian. tetapi lebih merupakan transformasi yang muncul karena keterlibatan semua faktor ini yang terus direproduksi karena telah terbukti menguntungkan sebagian pihak yang kebetulan semakin berkuasa. Tarik ulur antara meraih dunia publik dan mempertahankan dunia domestik. Gagasan bahwa rumah tangga adalah urusan perempuan.(8) Hal ini tentu bukan hanya hasil patrimoni dari imperialisme dan kolonialisme. mereka memuja-muja peran ibu sebagai faktor penentu dari masa depan bangsa dengan mempersiapkan keturunan mereka dalam menghadapi era tinggal landas. (9) Pada saat media massa menghujat peran perempuan bekerja. walaupun kedengaran tidak sesuai dengan slogan kesejajaran. Dalam mengenangkan kasus Marsinah. media massa telah menjadi tidak lebih sekedar perpanjangan penindasan laki-laki terhadap perempuan. tentu saja dengan menggunakan perspektif media massa yang maskulin. bisa jadi membingungkan perempuan dalam menentukan posisi mereka. tentu saja didukung oleh institusi yang bernama negara. di sisi lain mereka menuntut perempuan. karena reproduksi pola yang terus menerus. media menganggap bahwa keberhasilan perempuan di ranah publik tidak lebih sekedar cerita sukses negara untuk mengeksploitasi mereka dalam mendorong pembangunan nasional.” (6) Secara arogan. terutama “kaum perempuan” dan “kaum buruh” .

Tidak terelakkan juga analisa politik bahwa pembunuhan Marsinah ini adalah panggung cerita konflik antara laki-laki yang direpresentasikan oleh orang-orang yang berkuasa sebagai “pembunuh” dan perempuan diwakilkan oleh Marsinah sebagai “terbunuh”. Namun penulis berpikir. perempuan seringkali menjadi kikuk dan rapuh menghadapi semua tantangan ini. atau sebaliknya bersikap radikal manghadapi ketidakadilan ini dan dengan sadar menerima label “pemberontak”. Mereka telah membawa nama Marsinah ke posisi terpopuler dan paling banyak dibicarakan hanya setelah kematiannya. Reproduksi berita-berita dan spekulasi media massa yang ditampilkan secara berulang-ulang telah menghasilkan versi-versi yang semakin fantastis. berterimakasih kepada media massa karena mereka telah secara terus menerus melaporkan kasus tersebut dan menarik perhatian internasional terhadap stigma tersebut. Dalam ketimpangan relasi gender inilah. perempuan ditantang untuk menentukan posisinya. atau karena kecurigaan adanya praktek-praktek kekuatan politik di belakang pembunuhan ini? Media massa telah mengeksploitasi seluruh kehidupan masa lampau Marsinah. apakah isu gendernya. Sayangnya. mencampuri kehidupan keluarganya. Siapakah yang memenangkan kontes ini? Nampaknya justru media massa. teman-teman. karena siapa dia sebelum kematiannya bukanlah “berita yang pantas dipublikasikan”. yang mempunyai kekuasaan untuk membentuk bagaimana cerita harus berakhir. Kita mungkin tidak pernah tahu apakah sikap kritis Marsinah adalah perwujudan dari kesadaran politisnya atau hanyalah pertahanan dirinya menghadapi kesulitan hidup sehari-hari. Alhasil media massa telah menciptakan skenario mereka sendiri tentang perang gender yang tidak pernah berakhir. meminta-minta pengakuan dari laki-laki. Ketika cerita-cerita tentang buruh perempuan menampilkan nama-nama lain. bagaimana jika Marsinah bukan seorang perempuan melainkan laki-laki? Bukan Marsinah tetapi Marsono? Apa yang sebetulnya menarik perhatian media massa tentang skandal ini? Apakah pembunuhannya. atau juri. konflik kelas. peserta kontes yang tidak terdaftar. dan pada akhirnya meminta penghargaan dalam bentuk fasilitas untuk menstimulasi keberhasilan yang lebih baik lagi. apa yang terjadi jika Marsinah tidak terbunuh? Atau pertanyaan yang lebih seksis. Akhir cerita berubah menjadi kabur dan hanya media massa yang sadar akan substitusi antara apakah yang sesungguhnya (real) dan reproduksi dari yang sesungguhnya (hyper-real).(12) Secara tidak sadar hal ini mempertahankan “ketergantungan terwariskan” pada perempuan terhadap laki-laki. tetangga. apakah mau secara naive terbawa arus dan mempertahankan “hegemoni kultural” yang terus-menerus dan mendapatkan penghormatan sebagai “ratu rumah tangga”.(workers and women)(11). Media massa menggunakan “kematiannya” dan bukannya kehidupannya yang singkat sebagai bahan berita. media massa-lah yang melahirkan “reproduksi” dari sosok Marsinah. Dengan malu-malu mereka mempertontonkan pencapaian mereka dan menentukan sendiri standar keberhasilannya. dan meramu serta menyajikan semua ini dengan terminologi-terminologi politik yang susah dipahami. pacar. .

Belanda Catatan Belakang (1)Dua koran lokal yang dibahas dalam tulisan ini mengacu pada isu-isu nasional . perempuan mampu untuk membebaskan diri mereka dari “alienasi” terhadap tubuh dan kehidupannya sendiri. atau setidaknya empati terhadap perempuan.” (13) Bukanlah pernghargaan maupun pengakuan yang seharusnya diminta perempuan.(14) Media massa. dewasa dan berpikir lebih rasional dengan kesadaran mereka sendiri. sebagai penerus aspirasi masyarakat. Apalagi di era reformasi sekarang ini. Sebab. Namun demikian. enam tahun sejak kasus aborsi masal tersebut meledak. Namun. Perwujudan dari rasa terima kasih itu bisa berupa pemberian kesempatan untuk berkarya cipta seperti kaum pria. jika isu yang sama muncul kembali. Hanya melalui kesadaran inilah. dan bukan hanya yang telah dan bersedia menjadi ibu saja? Wiwik Sushartami adalah Pemerhati masalah gender dan media. tidak tanpa dominasi. dimana media massa mempunyai akses bebas terhadap sumber-sumber berita dan kebebasan mengemukakan gagasannya. dan kecenderungan media massa untuk menampilkannya dalam berita dengan bahasa-bahasa dan analisa yang melecehkan dan tidak berpihak pada perempuan. semoga saja ada lebih banyak suara yang mendukung. jika tidak diskriminatif gender sebetulnya adalah alat yang bisa diandalkan bagi perempuan untuk menyuarakan kepentingan mereka. mulai dari kasus TKW sampai dengan pornografi. justru pembagian “ruang” inilah satu-satunya gagasan yang masih susah untuk diserahkan oleh laki-laki. apakah mungkin “pesannya” menjadi lebih adil terhadap perempuan? Dan satu lagi. Harapannya adalah. semoga tulisan ini tidak terlalu skeptis dan pesimis dengan menanyakan satu pertanyaan akhir yang belum juga terjawab. kasus aborsi tidak bisa dipisahkan juga dari perilaku laki-laki. melainkan “ruang” yang dapat membantu perempuan menjadi tumbuh. tidak hanya pengalaman yang sama melainkan juga yang berbeda-beda dan personal. menyusui. yaitu jika “medianya” saja sudah tidak sensitif gender. “Ruang” dimana mereka bisa belajar memahami pengalaman mereka. sedang menyelesaikan studi di Universitas Leiden. apapun yang mereka lakukan. adalah saat yang paling baik untuk berterima kasih atas jasa-jasa ibu dalam melaksanakan tugas kodraatinya. yakni hamil. melahirkan. bukankah Hari Ibu intinya memperingati semua perempuan. dengan melihat begitu banyaknya kejadian yang menimpa perempuan sepanjang tahun ini saja. Sama susahnya untuk merelakan 30% posisi calon legislatif pada perempuan.“Memperingati hari yang sering disebut hari permuliaan kaum ibu ini.

Bonnie Kertaredja. hal 105.sehingga bisa menggambarkan juga suasana nasional.Weix. and Gender Skepticism”. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset. 4 (8) Michael Barrett dalam Josephine Donovan. dan tidak mencoba memaknai ulang nilai-nilai femininitasnya sesuai dengan nilai-nilai . Kedaulatan Rakyat. 4 (11) Marsinah berumur 23 tahun ketika dibunuh. 22 December 1997. hal 4 (4)Omi Intan Naomi menuliskan bahkan jurnalisme Amerika. yang sudah seratus tahun lebih usianya saja sampai tahun 1990an masih menganut sistem gender yang timpang. Nicholson (Ed. Feminist Theory: The Intellectual Traditions of American Feminism.G. 23 December 1997. Dalam “Wartawati Herstory”. 11-13 Agustus 1997 (10) Abdul Munir Mulkham. (9) Maila Stivens dalam G. (2) Susan Bordo. 1997). (12) Katharina Graham mencatat beberapa kesalahan tipikal yang dibuat oleh perempuan. Lihat Weix. Jadi masuk akal juga jika jurnalisme Pancasila yang kita punyai juga masih kental dengan bias gender.). Kedaulatan Rakyat. dalam Feminism/Postmodernism. NUS. Bernas. “Perempuan Dalam Strategi Pengembangan Sumber Daya Manusia”. Kedaulatan Rakyat. menentukan sendiri standar kesuksesan mereka yang lebih sering tidak sesuai dengan standar laki-laki. hal. Revealing Women: Gendered Icons of Labor in Indonesia. 19 December 1997. yaitu meminta perlakukan khusus untuk perempuan.1990) (3)Mutrafin. (London: Routledge. paper yang disampaikan dalam International Conference on Women in the Asia-Pacific Region: Person. and Politics. Postmodernism. “Feminism. (5) Secara keseluruhan hanya ada 8. hal. (New York: the Continuum Publishing Company. “Otak dan Watak Terdidik Ibu Manusia”.: 104) (6) P. “Kembalikan Peran Wanita Sebagai Ibu Rumah Tangga”. Sangkan Paran Gender. 1997).76. Concealing Politics. Inc. (ibid. Power.6% jurnalis perempuan di Indonesia pada tahun 1994 menurut Serikat Jurnalis Indonesia. 4 (7) Achmad Zaini Abar. hal. Linda J. “Anak Tekhnologi Mencari Ibu”. Chapman & Hall. Irwan Abdullah (Ed).. hal. Dia bekerja di pabrik komponen jam tangan di Jawa Timur dan dibunuh setelah keterlibatannya dalam protes menuntut pembayaran tambahan. 23 December 1997.

Kebebasan ini bagaikan sebuah representasi hak otonom publik untuk memilih bentuk sajian media yang mereka sukai. 125. 76. Alasannya. Tiga yang lainnya adalah relasi langsung antara perempuan dan akses produksi. Namun dibalik itu. Contoh sederhana adalah tayangan iklan. Sebagai contoh yang paling mudah. adalah salah satu filsuf postmodernis yang menawarkan analisis tentang motif-motif tertentu pada suatu media atau teks. Donovan. Semua ini tentu tidak lepas dari motif-motif politik-ideologis tertentu dibalik penyajian tersebut. Bernas. melainkan tersebar di seluruh masyarakat . Sumber: Jurnal Perempuan Online Membangun Resistensi. hubungan antara perempuan dan kelas.22 December 1997. Membongkar Stereotipe<center></center> Publik kini bebas memilih dan menikmati tayangan ataupun bacaan di berbagai media. (13) Widyastuti Purbani. Foucault mengatakannya sebagai “produksi kekuasaan”. adalah iklan kosmetik dan minyak goreng. Lihat.hal. Bagaimana menganalisa masalah ini? Sebagaimana Sara Mills. Iklan kosmetik mengiklankan tentang kulit putih mulus dan tubuh langsing ideal perempuan. Melihat Kembali Gereget Peringatan Hari Ibu. Produksi Kekuasaan Michel Foucault.maskulinitas. Lihat Naomi. hal. 4 (14) “Alienasi” dan “gagasan tentang praksis” adalah dua dari lima fokus utama dalam feminisme sosialis kontemporer. Iklan tentang minyak goreng adalah contoh lain tentang nilai-nilai domestifikasi perempuan sebagai pihak yang harus bertanggungjawab atas segala kesehatan suaminya. titik perhatian utama saya adalah pada wacana feminisme. kita lupa dengan terjadinya “penyeragaman” dalam tayangan ataupun bacaan itu sendiri yang berakibat pada memaksa penonton untuk mengikuti apa yang si pembuat media inginkan. seperti halnya pendapat Eriyanto (2001) banyak tayangan ataupun bacaan di media yang melibatkan perempuan dan yang terbanyak tentu saja adalah tayangan iklan. Iklan yang ditayangkan terus menerus berpotensi menggiring penonton untuk “harus” mengikuti standar-standar nilai yang disematkan. Bahwa kekuasaan tidak bertumpu pada satu titik sentral termasuk tidak hanya pada pihak-pihak yang dominan. rambut lurus hitam adalah nilai yang disampaikan penonton bahwa rambut seperti demikian yang ideal bagi perempuan. Menyaksikan iklan shampo. dan peran keluarga dalam sosialisasi ideologi. hal.

Jelas sekali adanya domestifikasi . 2001). Produksi kekuasaan yang terjadi kemudian adalah munculnya strategi untuk menghembuskan wacana “langsing”. yaitu melalui wacana. yang mencuat terus menerus sehingga secara tidak sadar masyarakat menganggap tubuh perempuan yang ideal dan normal adalah. atau iklan The Cambridge Diet yang menuliskan kata-kata. kemudian berusaha memutihkan kulitnya dengan harapan lelaki itu memperhatikannya. presiden.2001). “rambut lurus hitam panjang”. terdapat kata-kata. dibentuk. seperti perilaku baik atau buruk yang sebenarnya mengendalikan perilaku masyarakat yang pada akhirnya dianggap kebenaran yang telah ditetapkan. kesadaran dan kehendak individu.(tidak ada seorang pun yang memilikinya) (John Lechte. bertuliskan “Yes! Turunkan berat badan anda hingga 5 kg perminggu!” Katakata itu menunjukkan bahwa menjadi kurus adalah kegembiraan dan kepuasan. Sebagai contoh. melainkan melalui reproduksi kreatif. Wacana yang dihembuskan ini secara perlahan-lahan menciptakan kategorisasi.”jangan-jangan kolesterol suamiku tinggi karena aku salah pilih minyak goreng”. bukan tubuh fisik lagi yang disentuh kuasa. yang lain berkulit putih. iklan Pond’s yang pernah ditayangkan di media televisi jelas menunjukkan bahwa kulit putih lebih baik daripada berkulit gelap. tetapi dalam bentuk strategi.”Lost the weight. Kekuasaan tidak bekerja melalui penindasan atau represi. berkulit putih. melainkan menormalkan individu agar perilakunya sesuai dengan yang diinginkan si pembuat iklan. Melalui iklan. melainkan melalui normalisasi yang positif dan produktif. Foucault menegaskan persoalan ini sebagai kekuasaan atas kehidupan modern atau kapitalisme. salah satunya yaitu untuk mencapai target penjualan produk (Eriyanto. not the fun …” dengan lingkaran merah besar yang menutupi sebagaian tubuh ramping kurus perempuan bule yang sedang melompat. atau pejabat. boss. Perempuan kemudian diatur. adalah salah satu tayangan media yang menyebarkan kuasa (strategi) tentang normalisasi tubuh perempuan. Fotografer si lelaki tampan itu memilih membidik kameranya kepada si gadis yang berkulit putih. Dalam iklan tersebut ditampilkan seorang fotografer mengambil ancang-ancang membidik dua gadis kembar. pikiran. Atas hal ini. Atau iklan tentang tubuh ideal perempuan langsing dan tinggi. “kulit putih”. Iklan. individu didefinisikan. Disini tengah berlangsung bergulirnya strategi kuasa yang diproduksi terus menerus. langsing. Iklan bukan lagi menjadi pelayanan terhadap konsumen. Mengetahui hal itu. diciptakan. bahwa tubuh ideal perempuan seperti pada perempuan yang menjadi model iklan Tropicana Slim. melainkan jiwa. yang satu berkulit gelap. digiring untuk menjadi ramping. Iklan yang membenarkan “kulit putih lebih cantik daripada kulit hitam” tidak dibentuk dengan reproduksi kekuasaan represif. Kuasa bukanlah milik raja. yaitu perempuan cantik adalah yang berkulit putih dan lelaki normal adalah yang menyukai perempuan berkulit putih. gadis berkulit lebih gelap berwajah murung. Atau pada iklan minyak goreng. dan berambut lurus.

Wacana dominan ini menggeser atau memarginalkan wacana lain yaitu bagi perempuan-perempuan yang tidak berkulit putih dan tidak bertubuh langsing. Wacana tubuh perempuan yang tidak dominan ini diabaikan (left out).1989) Stereotipe tidak lepas kaitannya dengan seks dan gender. Ia menyebutnya sebagai suatu pencerahan terhadap kapitalisme (Adriana Venny. sedangkan laki-laki berkarakter baik bila ia sebagai individu di atas dunia yang lebih luas (Tierney). Masihkah kita perlu membanggakan diri atau bersedih hati karena kulit kita? Iklan-iklan yang memelihara nilai-nilai seperti itu sesungguhnya menumbuhkan stereotip baru terhadap perempuan.(Elaine. Resistensi Perempuan Melalui Media Seni Sangat memprihatinkan bila perempuan-perempuan yang tidak bisa mencapai wacana dominan tentang tubuh ideal tadi membuat mereka terobsesi dan memaksakan diri dengan berbagai upaya yang bahkan bisa membahayakan mereka. yaitu suatu konsep sosial yang berhubungan dengan pembedaan (distinction) karakter psikologi dan fungsi sosial antara perempuan dan laki-laki yang dikaitkan dengan anatomi jenis kelaminnya (sex).perempuan bahwa istrilah yang harus bertanggungjawab bila suaminya terkena penyakit tertentu. Akibatnya adalah perempuan yang tidak bertubuh langsing dan tidak berkulit putih kehilangan kepercayaan atas tubuhnyadan kehilangan identitas karakter tubuhnya sendiri.2000). Berbagai upaya mengimbangi wacana dominan ini seperti yang dilakukan Dewi Huges atau Anita Roddick yang peduli terhadap masyarakat pedalaman dengan melihat kecantikan perempuan Afrika pada akhirnya tidak mampu mengalahkan wacana dominan tadi. Mansour Fakih bahkan .1997) sedangkan gender menjelaskan adanya pembedaan laki-laki dan perempuan yang dilihat dari konstruksi sosial-budaya. Misalnya perempuan dijelaskan berkarakter baik bila ia sebagai ibu rumah tangga atau istri yang baik (seperti pada iklan minyak goreng). Roddick sampai bersusah payah membuat maskot “The Body Shop” serupa boneka Barbie tetapi bertubuh besar. Masyarakat kemudian menginternalisasi “istri ideal” adalah seperti itu. yaitu konsep yang mencakup seks dan gender dimana seks adalah indentifikasi untuk membedakan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologi (jenis kelamin) yang lebih digunakan untuk persoalan reproduksi dan aktivitas seksual(Suzanne dan wendi. Istri ideal adalah yang terus merasa bersalah bila terjadi sesuatu pada suami mereka. Langsing putih dan berambut lurus menjadi wacana dominan perempuan ideal di masyarakat kita. Iklan itu menunjukkan adanya bias dalam menampilkan perempuan dimana istri cenderung ditampilkan sebagai pihak yang salah. Bagaimana mungkin kulit hitam bisa menjadi putih hanya dengan kosmetik? Lagipula wacana dominan ini mengandung pelecehan terhadap ras yang berkulit hitam. berambut ikal dengan kulitnya yang berwarna.

yang bisa dibentuk sebagaimana yang diinginkan laki-laki. dapat disimpulkan bahwa tampaknya perempuan dalam media ditempatkan sebagai yang abstrak. Stereotipe: Wacana Dominan. emosional. perempuan adalah obyek yang pasif. Culture/nature. Head/heart. Model-model perempuan adalah obyek yang dikreasi untuk mencapai fantasi tersebut. kecuali dibangkitkan lawan kesenian oleh pria. Dalam suratnya.lebih jelas mengatakan bahwa stereotipe adalah pelabelan negatif terhadap jenis kelamin tertentu. sedangkan laki-laki adalah penciptanya. termasuk Indonesia masih memegang stereotip bahwa laki-laki berada di wilayah kiri (aktif. Atas hal ini. stereotip oposisi biner menempatkan perempuan pada posisi yang dirugikan dimana ini terjadi pula dalam media seni. sedang perbuatan adalah pria (activity. tetapi tradisi tidak memberi tempat kepada anak perempuan diluar lingkungan rumah. karena ada stereotipe dimana ibu rumah tangga seharusnya mengurus rumah tangga. dekat dengan alam. rasional. Kenyataan bahwa perempuan dalam media seni tidak diterima sebagai subyek sebetulnya sudah dialami oleh Kartini dan adiknya. Wacana Oposisi Biner Stereotipe terhadap perempuan seperti lebih mudah dijelaskan dengan bertitik tolak pada wacana oposisi biner yang menempatkan perempuan pada posisi yang negatif dan tak berdaya.”Perempuan tak akan hidup lagi setelah kematian. Roekmini. beradab.(Swara Harian Kompas. Adanya stereotipe bahwa perempuan tidak boleh di luar lingkungan . sekitar tahun 1901 bahwa saudara perempuannya yang bernama Roekmini ingin menjadi pelukis di akademi senirupa di Den Haag. Wacana dominan yang berwajah stereotipe ini memagari perempuan sehingga mereka tidak mampu mengekspresikan dirinya. Tidak hanya iklan. yang akibatnya terjadi diskriminasi dan ketidakadilan(Fakih 1997). mereka dianggap “sinting” atau aneh oleh masyarakat sekitarnya. Dalam Sorties.” Penyair metafisis Inggris pada sekitar abad 17 bahkan menggambarkan perempuan itu cuma kata-kata (passivity. Seperti yang dialami pelukis Lucia Hartini dan Kartika Affandi Koberl. Iklan-iklan yang membuat standar tubuh perempuan ideal membuktikan bagaimana laki-laki (lebih banyak dibagian produksi iklan) menciptakan perempuan untuk sesuai dengan fantasi mereka tentang “perempuan sexy atau cantik”. hasrat dan daya pikir laki-laki.” Antiphanes seorang dramawan komedi Yunani juga mengatakan. Hélén Cixous menulis hirarki oposisi biner yang selalu menempatkan dua hal dalam relasi yang superior-inferior seperti “Activity/passivity.1996). bukannya melukis (Bianpoen. Seperti Basuki Abdullah seorang pelukis terkenal pernah berkata. Ketika menjadi pelukis. Perempuan yang “dikerjakan” dan lelakilah yang mengerjakan. palpable).”Perempuan itu lebih cocok untuk dilukis daripada sebagai pelukis. 1999). sedangkan pria itu konkrit. intelligible). Dalam media ini perempuan adalah obyek yang dikreasikan atau diciptakan oleh keinginan. cerdas) sedangkan perempuan di wilayah kanan (pasif. kurang cerdas). Intelligible/palpable Man/woman” (Priyatna 2000) Masyarakat manapun.

”’Saman”. bukan karya sastranya. dituliskan judul yang sangat melecehkan. Hans Georg Gadamer pernah mengatakan bahwa tidak ada aturan-aturan seni yang bersifat universal. Ayu Utami penulis novel Saman sebagai pemenang juara pertama sayembara roman DKJ 1997-1998 sempat dicurigai bahwa itu bukan karyanya. yang isinya mengasumsikan bahwa fragmen dari novel itu benar-benar mengundang libido pembaca (dalam hal ini berarti libido laki-laki) dengan menempatkan Ayu Utami sebagai obyek berita yang sensual. Dalam lukisannya itu Lucia Hartini telah mendobrak adanya stereotipe dengan menempatkan perempuan sebagai manusia berani dan aktif. Kecurigaan tersebut bisa kita lihat di beberapa media massa dan gunjingan di sekitar kelompok-kelompok sastra.rumah mengakibatkan Roekmini tidak pernah mendapat kesempatan belajar seni rupa seperti yang pernah dicita-citakannya (Bianpone. Aturan-aturan itu diberikan oleh alam melalui para genius. buah pikiran Ayu Utami dicurigai sebagai buah pikiran laki-laki. Seperti apa yang dikatakan Imanuel Kant bahwa “seni murni adalah seni para genius”. Di ranah seni rupa. Garis-garis kuasnya menaruh kontemplasi dan ekspresi perasaan yang sangat kuat. media seni ternyata dapat juga menjadi alat untuk mendobrak stereotipe itu sendiri. Akibatnya. dan masyarakat lebih percaya bila kesuksesan sebuah karya seni ada di tangan laki-laki (stereotipe). 1998) Membongkar Stereotip Melalui Media Seni Stereotip memang sangat merugikan perempuan yang tidak hanya dalam iklan tetapi juga masuk ke wilayah seni. Demikian pula Kartika Affandi Koberl dalam karyanya Potret Diri yang lebih menggambarkan integritas perempuan gigih dan kuat dalam menghadapi kesulitan hidup. Itu berarti bahwa seni tidak dapat diatur oleh adanya stereotipe ataupun konstruksi sosial yang menempatkan perempuan pada posisi yang dirugikan. Tidak ada aturan seni yang menempatkan perempuan harus sebagai obyek. . Perempuan dalam lukisan itu berani dengan tinju terkepal. melainkan tulisannya Goenawan Muhammad. (Suara Pembaharuan. otot-otot lengan yang kencang dengan sebelah matanya keluar cahaya tajam yang menembus mata-mata yang sedang mengintip. Seperti dalam surat kabar Suara Pembaharuan. Puas tapi Minta Tambah”. Namun. Ada faktor ketidakpercayaan masyarakat dengan mempertanyakan bagaimana mungkin perempuan dapat mencapai kesuksesannya di bidang sastra.1996). Dalam media seni kita bisa menemukan semangat kebebasan dibandingkan dengan media iklan. Begitupula di bidang sastra. dibandingkan dengan media iklan. Dalam Srikandi (1993) Lucia Hartini melukis perempuan yang diletakkan sebagai subyek. yang dianggap lebih mungkin dan masuk akal. Lucia Hartini dan Kartika Affandi Koberl akhirnya mengalami kesuksesan terutama karya mereka yang sangat feminis.

tapi tidak membikin selaput penis”.(Bimo Nugroho. aku menganggapnya persundalan yang hipokrit. Ayu Utami yang ditimpa gunjingan sana-sini juga tidak mengurangi kesuksesannya. (Utami. 1998) Dalam ranah teater atau drama. Ia seorang aktris yang mencoba melakukan perlawanan kepada cara pandang masyarakat terhadap perempuan yang selama ini sangat stereotipe. 1998) Ayu Utami juga menggugat stereotipe masyarakat tentang hubungan lelaki dan perempuan. 2001) Penutup Bahwa perempuan dalam media bisa menjadi obyek yang dieksploitasi. Di dalam novel-novelnya selalu ia tanamkan tentang karakter perempuan mandiri. tapi kukatup mulutku rapat-rapat karena aku tak ingin kembali bertengkar. dibentuk dan diciptakan tubuhnya oleh imajinasi keinginan pria. dan laki-laki sebagai obyek yang dipandang. Tetapi ketika ke Beirut. Sumber: Jurnal Perempuan Online . tetapi di lain hal perempuan dapat menggunakan media itu sendiri sebagai sarana resistensi untuk membongkar stereotip bila perempuan itu sendiri bisa menciptakan apa yang benar-benar ia inginkan atas tubuh. Bisma Al Huseini dari Mesir melakukan pemberontaknnya lewat media teater.Di ranah sastra. * Mariana Amiruddin. Kelak. yaitu perempuan sebagai subyek yang memandang. Dialah perempuan yang memimpin teater dimana pada awalnya tidak didukung oleh siapa pun. Sebab menurutku yang curang lagilagi Tuhan: dia menciptakan selaput dara. Perempuan akan memberikan tubuhnya pada lelaki yang pantas. Sejak itu posisinya menguatkan perempuan lain untuk ikut berteater sebagai usaha perlawanan mereka. jiwa dan pikirannya sendiri. kataku. Laila melerai dengan usul menyisihkan dulu perkara itu. Ia juga memberontak terhadap stereotipe keperawanan perempuan. Perempuan yang mengejar-ngejar lelaki pastilah sundal. ketika dewasa. “Hanya lelaki yang boleh menghampiri perempuan. Mereka cuma menginginkan keperawanan. Mendengar itu Yasmin marah sekali. dan lelaki itu akan menghidupinya dengan hartanya. (Utami. “Dengar kawan-kawan. sehingga kami kepingin berkelahi. dia menjadi orang besar yang dihargai oleh orang lain sebagai perempuan perkasa yang memiliki cita-cita mulia. Itu dinamakan perkawinan. jika agama dipakai untuk urusan ini. Koordinator Jurnal Perempuan dan Jurnalis Radio Jurnal Perempuan di Yayasan Jurnal Perempuan. sebab menurut dia musuh kita adalah laki-laki… Apa salah laki-laki? Jawab Laila: sebab mereka mengkhianati wanita. dan akan pergi setelah si wanita menyerahkan kesucian … Tiba-tiba aku ingin berteriak. pada akhirnya yang salah adalah Tuhan.

Jurug. Mary Astuti (2000) menunjuk para guru sebagai pendidik di sekolah kurang mempunyai pengalaman dalam menanamkan nilai-nilai baru dalam hubungan heteroseksual dalam pengasuhan anak di sekolah. Anak perempuan diberikan materi memasak atau menari sehingga mereka bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik atau bisa menjadi penghibur. sungguh mati. bisa ditafsirkan adanya supremasi laki-laki sekaligus mengabaikan perempuan dalam perjuangan memerangi penjajah. inilah awal tumbuhnya kesadaran akan kesederajatan laki-laki dan perempuan. Anak laki-laki. sedangkan anak perempuan akan menjadi ibu rumah tangga. menjadi pemimpin masyarakat. PENDIDIKAN yang memperhatikan kesetaraan jender di sekolah-sekolah masih jauh dari yang diidealkan. Bisa jadi putri saya tidak bermaksud protes lewat pertanyaannya tersebut. enggak ada nama ceweknya. Pak?" Pertanyaan tersebut meluncur dari mulut putri kecil saya yang masih duduk di kelas satu sekolah dasar (SD) ketika mengunjungi Taman Makam Pahlawan Kusuma Bakti. Apakah terjadi di makam pahlawan di kota-kota lain? Juga. tetapi saya sebagai bapak akan mengingatnya sebagai saat penting seorang anak menunjukkan "kekritisannya". selalu dipilih sebagai pemimpin upacara. Pembedaan perlakuan antara murid perempuan dan murid laki-laki juga terjadi pada upacara-upacara yang digelar di sekolah. bisa benar bisa tidak karena tidak sempat menanyakan kepada kantor penjaga makam pahlawan tentang jumlah pahlawan laki-laki dan perempuan di sana. ya. Mereka masih memiliki pola berpikir bahwa laki-laki akan menjadi pemimpin. lantas siapa yang memasok makanan atau mengobati yang terluka? Untuk situasi masyarakat pada zaman kini. Kalau taman makam pahlawan yang ada hampir di setiap kota atau kabupaten dibangun sebagai bagian tidak terpisahkan dari sejarah perjuangan bangsa ini. Pun. sama sekali tidak terlintas dalam pikiran saya seumur-umur mengenai laki-laki atau perempuan. karena suaranya keras. di samping sekaligus pelestari budaya bangsa. Solo. Kesadaran mesti dimulai dari keluarga dan ditumbuhkembangkan di sekolah. putri kecil saya mungkin sekarang sudah lupa dengan pertanyaannya. mereka yang dimakamkan di taman pahlawan. Bahwa semua yang dimakamkan sebagai pahlawan di sana tidak ada yang putri. Kelak putri saya mungkin akan merumuskan pertanyaan lain tentang apakah yang berjuang melawan penjajah hanya laki-laki. Anak laki-laki akan diberikan pelajaran silat atau bela diri supaya mempunyai rasa percaya yang lebih besar karena dia akan menjadi kepala keluarga. Mereka tidak menyadari murid perempuan juga .Mengajarkan Kesetaraan Jender<center></center> KOK.

sesungguhnya telah terjadi banyak perubahan. sementara anak perempuan main masak-masakan. bersuara lantang. Pembedaan yang dilakukan bukan menunjukkan perbedaan yang esensial. dan sosial. guru akan dapat memperlakukan siswa secara adil jender. identik dengan perempuan. kesadaran. publik. Betapa kecut hatinya bahwa perlakuan laki-laki dan perempuan di makam pahlawan sama saja dengan perlakuan di Gedung MPR/DPR. serta para guru. Pemahaman kesetaraan jender. kasar. Cukuplah bila kelak putri saya akan mendapatkan jawaban kesetaraan jender dengan melihat komposisi anggota parlemen negaranya. Sejak dini. sedangkan berkebun. Profesi polisi. dan pantas menjadi pemimpin upacara. dan tidak ada diskriminasi yang merugikan bagi siswa perempuan ataupun laki-laki. permainan untuk anak laki-laki adalah perang-perangan. Perempuan diposisikan sebagai makhluk lemah dan perlu dikasihani. perempuan dan laki-laki dibedakan dari bentuk permainan. kiranya terus-menerus diasah demi perubahan paradigma dan persepsi yang lebih adil jender. sedangkan laki-laki identik dengan dunia yang keras. Semasa taman kanak-kanak. mengurus kendaraan. Buku-buku pelajaran pun masih menunjukkan adanya ketimpangan jender. Dengan membarui paradigma guru lewat pelatihan yang mendalami jender. Padahal. Dalam buku pelajaran bahasa Indonesia dari sekolah dasar hingga sekolah menengah umum. atau barang-barang yang bernilai ekonomis tinggi selalu untuk lakilaki. tetapi pembedaan berdasarkan kebiasaan belaka. St Kartono Mengajar di SMU Kolese De Britto. dan sensivitas jender. Gedung MPR/DPR bukan makam pahlawan. sementara juru masak. Sumber: Kompas Cyber Media . penari.mampu bersuara keras. atau militer masih dilekatkan pada laki-laki. oleh para penyelenggara pendidikan. Padahal. Yogyakarta. dokter. peran perempuan dan laki-laki dibedakan menurut peran domestik. para pengarang buku pelajaran. Pembedaan tersebut tidak pernah diprotes siswa perempuan karena semua perlakuan tersebut mereka anggap wajar juga. Kegiatan memasak selalu untuk perempuan. dan mengandalkan ototnya. tentunya taman makam pahlawan tidak bisa diubah lagi soal perempuan atau laki-laki yang mesti ditempatkan sebagai pahlawan. penyanyi. kepemilikan tanah. KEMBALI pada pertanyaan putri saya pada awal tulisan ini.

tidak rasional dan agresif. gagah. dan tugas laki-laki dan perempuan yang ditetapkan oleh masyarakat berdasarkan norma. Karenanya. dan kepercayaan masyarakat. banyak ditemukan gambar maupun rumusan kalimat yang tidak mencerminkan kesetaraan gender. Gender dimaksudkan sebagai pembagian sifat. Hal ini menjadi beban tersendiri pula bagi perempuan. Stereotip perempuan yang pasif.Kesetaraan Gender dalam Pendidikan<center></center> BANYAK laki-laki mengatakan. metode. Bias Gender Keadaan di atas menunjukkan adanya ketimpangan atau bias gender yang sesungguhnya merugikan baik bagi laki-laki maupun perempuan. tidak cengeng. dipukul. Sebut saja gambar seorang pilot selalu laki-laki karena pekerjaan sebagai pilot memerlukan kecakapan dan kekuatan yang "hanya" dimiliki oleh laki-laki. Membicarakan gender tidak berarti membicarakan hal yang menyangkut perempuan saja. menjadi perempuan pun tidaklah mudah. Sebaliknya. serta buku ajar yang menjadi pegangan para siswa sebagaimana ditunjukkan oleh Muthalib dalam Bias Gender dalam Pendidikan ternyata sarat dengan bias gender. Ironisnya siswa pun melihat . dan dilecehkan oleh kawannya yang lebih besar. Mereka haruslah sosok kuat. dan tidak mandiri telah menjadi citra baku yang sulit diubah. Dalam buku ajar misalnya. Kenyataannya juga menunjukkan. dan tidak memperlihatkan kekhawatiran dan ketidakberdayaannya. Ketika seorang anak laki-laki diejek. maka akan tertanam di benak anakanak bahwa pekerjaan domestik memang menjadi pekerjaan perempuan. Bias gender ini tidak hanya berlangsung dan disosialisasikan melalui proses serta sistem pembelajaran di sekolah. dan menyapu. Sementara gambar guru yang sedang mengajar di kelas selalu perempuan karena guru selalu diidentikkan dengan tugas mengasuh atau mendidik. tetapi juga melalui pendidikan dalam lingkungan keluarga. jika seorang perempuan mengekspresikan keinginan atau kebutuhannya maka ia akan dianggap egois. Ini menjadi beban yang sangat berat bagi anak laki-laki yang senantiasa bersembunyi di balik topeng maskulinitasnya. adat kebiasaan. peran. dan perkasa. ia biasanya tidak ingin menunjukkan bahwa ia sebenarnya sedih dan malu. mencuci. Pendidikan di sekolah dengan komponen pembelajaran seperti media. sungguh tidak mudah menjadi laki-laki karena masyarakat memiliki ekspektasi yang berlebihan terhadapnya. Jika ibu atau pembantu rumah tangga (perempuan) yang selalu mengerjakan tugas-tugas domestik seperti memasak. kedudukan. ia ingin tampak percaya diri. emosional.

lembut. Belum pernah terjadi dalam sejarah: laki-laki yang membawa bendera pusaka itu. Kalimat seperti "Ini ibu Budi" dan bukan "ini ibu Suci". Ini akan sangat berpengaruh pada peran sosial mereka di masa datang. Sebaliknya ketika melihat murid perempuannya naik ke atas meja misalnya. Hal ini menanamkan pengertian kepada siswa dan masyarakat pada umumnya bahwa tugas pelayanan seperti membawa bendera. Semuanya ini mengajarkan kepada siswa tentang apa yang layak dan tidak layak dilakukan oleh laki-laki dan apa yang layak dan tidak layak dilakukan oleh perempuan.bahwa meski guru-gurunya lebih banyak berjenis kelamin perempuan. selalu menempatkan dua perempuan sebagai pembawa bendera pusaka dan duplikatnya. tetapi kepala sekolahnya umumnya laki-laki. Dalam upacara bendera di sekolah selalu bisa dipastikan bahwa pembawa bendera adalah siswa perempuan. Siswa perempuan itu dikawal oleh dua siswa laki-laki. Paskibraka yang setiap tanggal 17 Agustus bertugas di istana negara. ia akan mengatakan "Masak laki-laki menangis. Rumusan kalimat tersebut mencerminkan sifat feminim dan kerja domestik bagi perempuan serta sifat maskulin dan kerja publik bagi laki-laki. Jika perempuan tidak dapat memenuhinya ia akan disebut tidak tahu adat dan kasar. Anak perempuan diarahkan untuk selalu tampil cantik. Misalnya ketika seorang guru melihat murid laki-lakinya menangis. . Sementara laki-laki diarahkan untuk tampil gagah. Hal demikian tidak hanya terjadi di tingkat sekolah. ada aturan-aturan tertentu yang dituntut oleh masyarakat terhadap perempuan dan laki-laki. yang berlangsung di dalam atau di luar kelas. dan melayani. dan berani. penakut ata bukan laki-laki sejati. Demikian pula dalam perlakuan guru terhadap siswa. lebih luas lagi. Bias gender yang berlangsung di rumah maupun di sekolah tidak hanya berdampak negatif bagi siswa atau anak perempuan tetapi juga bagi anak laki-laki. "Ayah membaca Koran dan ibu memasak di dapur" dan bukan sebaliknya "Ayah memasak di dapur dan ibu membaca koran". Hal ini memberikan pemahaman kepada siswa bahwa hanya perempuan yang boleh menangis dan hanya laki-laki yang boleh kasar dan kurang sopan santunnya. tetapi bahkan di tingkat nasional. Singkatnya. kuat. Demikian pula jika laki-laki tidak dapat memenuhinya ia akan disebut banci. Dalam rumusan kalimat pun demikian. ia akan mengatakan "anak perempuan kok tidak tahu sopan santun". membawa baki atau pemukul gong dalamupacara resmi sudah selayaknya menjadi tugas perempuan. Laki-laki nggak boleh cengeng". masih sering ditemukan dalam banyak buku ajar atau bahkan contoh rumusan kalimat yang disampaikan guru di dalam kelas.

Meski berat bagi anak laki-laki untuk berpisah dari sang ibu.William Pollacek dalam Real Boys menunjukkan penemuannya. Satu-satunya cara yang dianggap aman adalah dengan membunuh kepribadian mereka untuk kemudian mengikuti keinginan masyarakat dengan menjadi suatu objek yang diinginkan oleh lakilaki. Penyebabnya adalah pertama. di sekolah. Keterlibatan Semua Pihak Lalu apa yang dapat dilakukan terhadap fenomena bias gender dalam pendidikan ini? Keterlibatan semua pihak sangat dibutuhkan bagi terwujudnya kehidupan yang lebih egaliter. pada anak perempuan selalu ada tuntutan-tuntutan di luar dirinya yang memaksa mereka tidak memiliki pilihan untuk bertahan. bayi lakilaki secara emosional lebih ekspresif dibandingkan bayi perempuan. kulit halus dll. dan malas. yakni proses untuk tidak menyerupai ibunya yang dianggap masyarakat sebagai perempuan lemah dan harus dilindungi. Laki-laki pada usia lima atau enam tahun belajar mengontrol perasaan-perasaannya dan mulai malu mengungkapkannya. siswa perempuan umumnya memiliki prestasi akademik yang lebih baik jika dibandingkan dengan laki-laki. Tidak mengherankan jika banyak guru mengatakan bahwa siswa laki-laki lebih banyak masuk dalam daftar penerima hukuman. Situasi dan kondisi memungkinkan mereka jauh lebih tekun dan banyak membaca buku. proses pemisahan dari ibunya. Padahal. sebenarnya. gagal studi. menjelang dewasa. orang tua yang . Kedua. Jadi. Tidak heran jika semakin banyak anak perempuan mengusahakan penampilan sempurna bak peragawati dengan cara-cara yang justru merusak tubuhnya. Penyebabnya menurut Sommers. Kesetaraan gender seharusnya mulai ditanamkan pada anak sejak dari lingkungan keluarga. wajah putih nan cantik. karena anak laki-laki lebih banyak mempunyai persoalan hiperaktif yang mengakibatkan kemunduran konsentrasi di kelas. Demikian pula dalam hal memutuskan berbagai persoalan keluarga. Namun ketika sampai pada usia sekolah dasar. tidak lemah. namun ia harus melakukannya jika tidak ingin dijuluki sebagai "anak mami". dan tidak takut. ekspresi emosionalnya hilang. Sementara itu. Ayah dan ibu yang saling melayani dan menghormati akan menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya. Jadilah mereka kemudian anak-anak perempuan yang mengikuti stereotip yang diinginkan seperti tubuh langsing. tentu tidak lagi didasarkan atas "apa kata ayah". Objek yang diinginkan ini selalu berkaitan dengan tubuhnya. ada proses menjadi kuat bagi laki-laki yang selalu diajari untuk tidak menangis.

dibimbing.berwawasan gender diperlukan bagi pembentukan mentalitas anak baik laki-laki maupun perempuan yang kuat dan percaya diri. Hassan Hanafi mengatakan bahwa teologi Islam sangat memprihatinkan. Seakan beban jender perempuan adalah "kodrat" dari Tuhan. Sumber: Suara Merdeka Refleksi Teologi Islam mengenai Kesetaraan Jender<center></center> DALAM salah satu bukunya. teologi seharusnya merupakan refleksi kritis agama terhadap permasalahan yang dihadapi masyarakat. sekolah secara kelembagaan dan terutama guru. M. Teologi dan realitas sosial . dan berkonsentrasi di wilayah domestik. Sebab di satu pihak. tidak bisa dilepaskan dari bangunan teologis.Hum. mereka mulai menyadari bahwa aturan-aturan itu melahirkan ketidakadilan baik bagi anak perempuan maupun laki-laki. Dalam hal ini diperlukan standardisasi buku ajar yang salah satu kriterianya adalah berwawasan gender. tidak boleh diperbarui. teologi ini dianggap sudah final oleh umat Islam. Di lain pihak. guru akan menjadi agen perubahan yang sangat menentukan bagi terciptanya kesetaraan gender dalam pendidikan melalui proses pembelajaran yang peka gender. hanya bicara tentang konsep Tuhan dan abai terhadap masalah sosial di hadapannya (Hassan Hanafi. Dosen FPBS IKIP PGRI Semarang. Perempuan masih diposisikan sebagai kelompok lemah yang perlu diajari. 2003). mereka dituntut oleh masyarakat untuk membesarkan anak-anaknya sesuai dengan "aturan anak perempuan" dan "aturan anak laki-laki". Selain itu. Kesetaraan gender dalam proses pembelajaran memerlukan keterlibatan Depdiknas sebagai pengambil kebijakan di bidang pendidikan. Semua itu menjadi pembenaran bahwa perempuan tidak bisa berperan di ruang publik. Sejatinya. diharuskan tinggal di rumah demi keamanannya. Celakanya lagi. Perjuangan membangun keadilan dan kesetaraan jender. misalnya. wakil sekretaris PGRI Jawa Tengah. Memang tidak mudah bagi orang tua untuk melakukan pemberdayaan yang setara terhadap anak perempuan dan laki-lakinya. dan "diamankan". (18) Dra Sri Suciati. Di sini peran teologi Islam diuji.

dengan harapan dapat membebaskan teologi Islam dari kebangkrutannya. Umat Islam terjebak dengan pendekatan hermeneutika teoretis. justru disesaki kepentingan . pada masanya. Turunnya wahyu mereka anggap sebagai afirmasi dan konfirmasi atas pengetahuan tersebut. Dalam "fatalisme". 1992). Teologi yang sejatinya memosisikan perempuan sebagai mitra laki-laki. Asy’ari di tengah "keputus-asaan teologis" umat Islam berhadapan dengan Aristotelianisme yang menempatkan Tuhan pada posisi kurang signifikan. terutama para ahli fikih (fuqoha) Dengan demikian. tanpa wahyu sekalipun manusia mampu mengetahui tentang Tuhan dan kebaikan. Lantas tokoh-tokoh Mu’tazilah juga dianggap sukses dalam melapangkan pengembangan filsafat dan ilmu pengetahuan yang menuntut banyak peran akal. Saat itu. Maka. menurut mereka. Perdebatan tersebut bermuara pada kebutuhan untuk mencari legitimasi politik. yakni memahami teologi untuk teologi itu sendiri. Bahkan. Maka. raison d’etre teologi Islam adalah tuntutan "realitas sosial". Dengan pendekatan ini. teologi Islam begitu modern dan relevan dengan kebutuhan manusia. Teks kitab suci (Al Quran) didialogkan dengan persoalan manusia. Abu Hasan Al-Asy’ari dipuji Nurcholish Madjid.Pada awalnya teologi Islam dibangun di atas kepentingan politik. Wajar jika Asghar Ali Engineer mengatakan bahwa teologi Islam terlalu berkutat pada persoalan metafisik dan meninggalkan persoalan penting kemanusiaan (Asghar Ali Engineer. teologi senantiasa didialogkan dengan realitas sosialnya. Dalam konsep teologinya mereka menerangkan bahwa akal manusia sejalan dengan wahyu. konsep "fatalisme" atau "predestination" lebih dimotivasi kepentingan status quo ketimbang teologi itu sendiri. 1998). teologi menjadi jauh dari kebutuhan manusia. Pandangan serupa ini menjadi landasan teologis dalam mengembangkan filsafat yang saat itu ditentang keras oleh ulama. Peristiwa pemberontakan Mu’awiyah terhadap Khalifah Ali bin Abu Thalib dicatat Harun Nasution sebagai awal munculnya perdebatan teologi (Harun Nasution. Hanafi mendialogkan teologi dengan kolonialisme dan orientalisme. Dewasa ini. akhirnya terciptalah teologi pembebasan (kiri Islam). pemberontakan Mu’awiyah diyakini sebagai takdir. Meski agak berbeda dengan awal kemunculannya. setelah ia memperoleh kursi kekhalifahan. sebab Asy’ari dianggap sukses menciptakan sebuah konsep teologi yang membuktikan peran besar Tuhan dalam jagat raya (Nurcholish Madjid. Sudah saatnya umat Islam mengembangkan pendekatan hermeneutika filosofis. Salah satu realitas sosial yang perlu disikapi adalah diskriminasi jender. Walhasil. 1986). terutama Mu’awiyah. Apa yang dilakukan Hanafi adalah salah satu contoh menarik. teologi Islam berhenti berdialog dengan "realitas sosial".

sifat-sifat tersebut dibagi dalam dua kelompok besar. yang berarti Dia (laki-laki). ialah Huwa. misalnya. Arabi menggambarkan adanya reproduksi alam semesta. Oleh karena itu. teologi feminis adalah teologi yang menggali aspek-aspek feminin Tuhan demi kesetaraan jender. Bennet menyatakan bahwa "revolusi teologis" adalah sebuah keniscayaan jika kita menginginkan pembebasan manusia (Anne McGrew Bennet. pandangan seperti itu tidak memiliki legitimasi teologis. sebenarnya sifat feminin Tuhan jauh lebih berperan. Kata ganti Tuhan dalam Al Quran. diskriminasi jender sesungguhnya merupakan pengingkaran terhadap Tuhan secara utuh. Dalam Al Quran. . Hasil dialog semacam ini dapat kita temukan dalam teologi feminis. Oleh Ibnu Arabi. Hal inilah yang ingin didekonstruksi dari paradigma pendukung patriarki bahwa feminitas senantiasa merepresentasikan kelemahan. 1989). Lebih tepatnya. sifat perkasa-Nya senantiasa didampingi oleh keluasan kasih sayang-Nya. Tuhan digambarkan memiliki 99 sifat. dialog teologi dengan permasalahan-permasalahan perempuan adalah suatu keniscayaan. Dengan demikian aspek feminin-Nya jauh lebih terasa ketimbang aspek maskulin. Alasannya. Dalam pandangan Arabi. Di dalamnya. dan seterusnya. Padahal. paling tidak. meski sifat maskulin dan feminin Tuhan dikatakan sejajar. ada tiga hal yang harus dilakukan terhadap teologi Islam. Bahkan. dan tidak bisa tegas sehingga menyebabkan kaum perempuan dianggap tidak layak berperan dalam wilayah publik.laki-laki. Jadi. Menurut dia teologi yang ada selama ini disesaki kepentingan laki-laki. Sifat feminin inilah yang dieksplorasi oleh teologi feminis. Proses penciptaan alam semesta secara evolusi. Kemudian. Maha Pemberi Hukuman diimbangi dengan Maha Pengampun. Maha Pemarah diimbangi dengan Maha Penyayang. merupakan cermin dari sifat feminin-Nya. Hal ini dibenarkan teolog feminis. pemeliharaan alam juga merupakan representasi sifat kasih dan sayang-Nya. yaitu sifat yang melambangkan keperkasaan (maskulin) dan keindahan (feminin). Atas dasar itu. konsep ketuhanan yang metafisik diterjemahkan kepada persoalan pembebasan dan pemberdayaan perempuan. Anne McGrew Bennet. irasional. Perendahan terhadap kualitas feminin perempuan bernilai sama dengan pengabaian kualitas feminin Tuhan. seperti halnya seorang ibu yang melahirkan. sensitif. relasi jender secara mengesankan telah direpresentasikan oleh Tuhan sendiri. misalnya.

Pencitraan perempuan di berbagai media massa di seluruh dunia masih lebih banyak bersifat stereotip sehingga tidak bisa dikatakan mewakili sesuatu yang lebih benar mengenai perempuan. Sumbangan Besar Mewujudkan Demokrasi<center></center> Revolusi teknologi ternyata tak banyak dimanfaatkan oleh pekerja media untuk membantu perempuan memperbaiki posisinya. yakni membela hak-hak perempuan dan menegakkan kesetaraan jender. Dengan begitu diharapkan tidak ada fanatisme sempit yang mencurigai dialog teologi dan persoalan perempuan sebagai pendangkalan akidah. media seharusnya dapat digunakan untuk mentransformasi pencitraan mengenai perempuan. M Hilaly Basya. baik kepentingan status quo maupun pemberontakan. bukan hal yang mudah karena menyangkut perombakan kultur dan kerangka pikir wartawan dan editor. Sampai Konferensi Dunia IV mengenai perempuan dan pembangunan di Beijing (1995). media dan jaringan alternatif khusus untuk perempuan semakin berkembang dan dimanfaatkan secara efektif oleh organisasi mahasiswa dan kelompok-kelompok perempuan guna memperbaiki kesadaran sosial dan politik di antara perempuan dan anggota masyarakat Dengan demikian. Apalagi . Ketiga. melainkan meneruskannya pada aksi. melainkan penuh dengan kepentingan. tetapi pada kesalehan sosial. menjadikan teologi tidak sebatas keimanan.Pertama. Dosen Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka) dan anggota Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) Sumber: Kompas Cyber Media Pemberitaan Sensitif Gender. Perjuangan Perombakan Kultur Upaya menghapuskan kekerasan dalam pemberitaan surat kabar. Kedua. Ini tidak dimaksudkan untuk membenturkan sifat feminin Tuhan dengan sifat maskulin-Nya. membongkar mitos tentang teologi yang seolah-oleh terberi (taken for granted). Ukuran kesalehan dalam konteks gagasan ini tidak diukur dari kepatuhan menjalankan ritual. Eksplorasi lebih dimaksudkan sebagai pengungkapan bahwa sifat feminin tidak identik dengan kelemahan sebagaimana dianggap oleh pendukung patriarki. Hal ini diperlukan guna menyadarkan umat bahwa kemunculan teologi Islam tidak berada di ruang hampa. mengeksplorasi aspek feminin Tuhan demi kesetaraan jender.

Sedangkan sektor "publik" yang dicirikan sebagai sektor dinamis dan memiliki sumber kekuasaan pada perbagai sektor kehidupan yang mengendalikan perubahan sosial sebagai milik lakilaki. dan lingkungan masyarakat. maka dengan mudah ideologi yang diskriminatif ini tersosialisasikan. karena dianggap "menjual". Wartawan dan struktur keredaksian juga menyerap nilai-nilai tersebut sehingga mudah tergelincir untuk melakukan kekerasan berganda terhadap perempuan korban kekerasan melalui bahasa dan konsep yang dipakai. Dengan demikian pemberitaan wacana sensitifitas gender saja tidak akan mampu membuat wartawan segera mamiliki kesadaran yang cukup pada inequality yang dialami perempuan. atau sudut pandang berita yang dipilih. . sekolah. memalukan. pemilihan gagasan dan keseluruhan gaya pemberitaan. Ciri kapitalistik juga nampak dari dikalahkannya pemuatan berita demi iklan. sektor "domestik" yang dikatakan sebagai sektor statis clan consumtif sebagai milik perempuan. dan menentang konsepsi tentang apa dan bagaimana seharusnya. Sejumlah stereotip lantas menempel pada perempuan dan laki-laki berdasarkan peran jenis kelamin itu. membutuhkan toleransi dan penghargaan pada proses. sebagai besar masyarakat masih percaya pada pembagian kerja secara seksual yang mensubordinasikan perempuan.bila bekerja pada wilayah mind set yang melahirkan suatu sikap tertentu. Kemarahan dan ketidaktoleran hanya akan menjadi conter productive dan tidak akan membuat perubahan yang berarti.1 Tahun 1974 tentang perkawinan yang secara eksplisit menetapkan peran-laki-laki dan perempuan. Industri media massa akan menempatkan berita-berita yang bersifat maskulin itu sebagai sesuatu yang utama. narcisis. Karena itu. terinternalisasikan melalui pendidikan di semua lini. rasisme. Penulisan berita dan artikel atau tulisan apapun (juga gambar) yang berperspektif perempuan bukan tidak mengandung kontradiksi. Kekerasan terhadap perempuan dalam media massa tidak bisa dilepaskan dari posisi perempuan dalam masyarakat. Perspektif Perempuan dalam Media Massa Seluruh persoalan ini di dalam media massa juga tidak terlepas dari struktur modal yang kapitalistik. Ini diperkuat oleh kekuasaan negara UU No. Dalam masyarakat terlanjur meyakini notion palsu yang mengatakan bahwa secara kodrati perempuan kurang pandai dan secara fisik lebih lemah dibandingkan dengan laki-laki. ditambah oleh pola asuh yang bias gender. meski iklan dijadikan alasan utama suatu media massa dapat bertahan. ideologi tertentu yang dipelajari seorang manusia sejak ia bisa berpikir. efensif. Kerja dalam tim seperti media cetak. Bahkan mengandung resiko dituduh mengekalkan mitos masochisme perempuan. keluarga. karena struktur dan pemberitaan media massa sebenarnya adalah cermin situasi masyarakat itu sendiri. Perjuangan untuk mencapai keadilan gender melalui pemberitaan dalam media massa masih membutuhkan waktu teramat panjang. buruk.

Sistem politik yang represif telah mengawasi perempuan secara ketat. Dalam hal ini media sebagai kekuatan keempat (the fourth estate) berperan sangat besar untuk pergerakan permpuan. Posisi Media Massa Namun perubahan semacam ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Jadi. Sejarah kemudian memang memperlihatkan bahwa sejarah perempuan lebih banyak dilekatkan pada subordinasi.Suara perempuan adalah suara yang terbisukan. dan demokrasi. karena membicarakan media massa media yang diekspresikan melalui bahasa tulis dan lisan. tetapi ia meragukan atau bahkan menisbikan persoalan kesetaraan dalam hubungan perempuanlaki-laki. Seorang pemimpin di dalam media yang masih mengartikan feminisme sebagai pembalikan perempuan dan laki-laki atau bahkan menuduh feminisme dan gerakan kesetaraan gender sebagai gerakan untuk menindas laki-laki. menyudutkan dan menyempitkan dan akhirnya menundukkan. orang tertindas malah tidak merasa ditindas karena manipulasi berbagai nilai yang dikukuhi dalam kehidupan masyarakat atau malah melakukan adjustment terhadap penindasan itu dan kemudian mereplikasikannya kepada pihak lain yang lemah. pada umumnya pekerja media memiliki kesadaran memadai mengenai masalah-masalah HAM. Dalam sebuah diskusi Lembaga Pers Mahasiswa. Inilah yang disebut split personaliy dari media: ia bisa menjadi agen pembaharu. Pada banyak kasus. Tetapi apa keterkaitan antar demokrasi dan perempuan? Sejarah bisa menjadi titik tempuh untuk memaparkan pergerakan posisi perempuan mulai dari pemegang peranan yang kuat dalam komunitas sampai terjadinya subordinnasi terhadap mereka. Sebagai wacana baru (newspeak). tetapi sekaligus menginginkan . namun sebaliknya media bisa digunakan untuk menahan laju pergerakan perempuan. budaya berpikir yang harus dirombak dalam struktur besar keredaksian. Ia merupakan kegiatan kegiatan sosial yang terstruktur dan terikat pada keadaan sosial tertentu. ada semacam cara pandang. HAM. maupun afeksi. Namun masih perlu perbaikan yang signifikan dalam kognisi. dan keadilan yang didasarkan kesetaraan tadi. serta pembongkaran sikap dan cara pandang personal di kalangan wartawannya. Karena itulah kesadaran perempuan tentang masalah penindasan ini harus dibongkar. bahasa bukanlah sekedar alat komunikasi. komunikasi. Padahal inti demokrasi adalah kesetaraan hak dan kewjiban. Jurnalis harus memanfaatkan semaksimal mungkin informasi. atau bahkan memundurkan kembali. maka ia bukanlah demokrat sejati. Mengapa? Karena kesadaran ditindas hanya ada pada golongan penindas. tidak memungkinkan cara berpikir lain daripada yang dikehendaki penguasa. mengontrol secara dominan. dan pendidikan untuk memajukan perdamaian. sehebat apapun posisi seorang pemimpin media berbicara soal demokrasi. Ini juga dilakukan melalui bahasa. maka secara tidak sadar dia telah memposisikan dirinya sebagai penindas. Hanya dengan itu maka seluruh gerakan kesetaraan bisa mencapai tujuannya.

Namun bagaimanapun harus diingat. ketidakpedulian media main stream ini bukan jalan buntu yang tidak bisa ditembus. isu-isu kesetaraan dan keadilan gender menjadi isu yang kian membesar dan penting dan harus diterapkan dalam setiap persoalan. sehingga akhirnya secara perlahan tetapi pasti. Selalu ada jalan dengan kecerdasan membungkus isu.kemapanan sehingga enggan membongkar situasi status-quo. media main steram berurusan dengan pemodal yang lebih mempedulikan kenginan pasar ketimbang perbaikan posisi dan kesejahteraan perempuan dan kelompok masyarakat yang dilemahkan lainnnya. karena merasa hal-hal itu tidak populer. Oleh: Akhmad Junaedi Azhar Sumber: Siar Online . yang akhirnya mengganggu bisnis media. Meski demikian.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful