GENDER Pembakuan Peran dalam Kebijakan-kebijakan di Indonesia<center></center> Pengantar: Berangkat dari prinsip yang menantang gagasan

konvensional bahwa hukum itu netral, objektif dan bebas nilai, LBH APIK Jakarta telah melakukan penelitian tentang ‘Pembakuan Peran Gender dalam Kebijakan-kebijakan di Indonesia’. Dengan menggunakan pendekatan hukum kritis,pandangan feminis terhadap hukum, gender dan negara dalam konteks Indonesia, ditemukan bahwa terdapat kebijakan-kebijakan yang tidak berkeadilan gender. Ideologi patriarki (dominasi laki-laki) faktanya telah mewujud dalam sistem hukum di Indonesia (baik dari peraturan dan kebijakan yang ada, stuktur dan budaya hukumnya), sehingga senantiasa mengekalkan ketidakadilan terhadap perempuan. Bagaimana pembakuan peran laki-laki dan perempuan dikukuhkan oleh Negara ? Konsep pembakuan peran gender yang mengkotak-kotakkan peran laki-laki/ suami dan perempuan/ istri ini hanya memungkinkan perempuan berperan di wilayah domestik (domestikasi), yakni sebagai pengurus rumah tangga sementara laki-laki di wilayah publik sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah utama. Peran gender yang memilahmilah peran perempuan dan laki-laki pada kenyataannya telah dibakukan oleh negara dalam berbagai kebijakan yang dilahirkan oleh Pemerintah Orde Baru. Kebijakankebijakan tersebut pada akhirnya hanya menyisakan ketidakadilan pada perempuan. Dengan demikian, melalui hukum, negara melakukan peran gender. Hukum, dengan demikian, dipandang sebagai agen yang menguatkan nilai-nilai jender yang dianut oleh masyarakat. Hal ini berkaitan dengan kebutuhan negara untuk menjaga dan menjamin kepentingannya. Apakah dampak dari pembakuan peran? Upaya domestikasi perempuan secara sistematis oleh negara berdasarkan ideology gender dalam kebijakan-kebijakan negara berdampak lebih jauh pada peminggiran terhadap perempuan, baik secara ekonomis, politik, sosial dan budaya, juga menimbulkan subordinasi, eksploitasi dan privatisasi kekerasan terhadap perempuan. Kebijakan-kebijakan apa sajakah yang membakukan peran jender? Ruang lingkup kebijakan yang dikritisi dalam penelitian adalah kebijakan-kebijakan yang lahir pada era Orde Baru. Dari kebijakan-kebijakan negara seperti : - pada masa Revolusi Hijau, yaitu pada Repelita I thn 1969-1974 dimana muncul Kebijakan yang memarginalkan kaum perempuan pedesaan yang awalnya

-

-

memiliki peran penting sebagai petani kemudian digeser dengan munculnya alatalat pertanian modern yang diasosiasikan dengan keahlian jenis kelamin laki-laki. Kemudian, kebijakan lain yang juga mempunyai efek pembakuan peran adalah praktek-praktek koersi terhadap perempuan yang diterapkan berkaitan dengan kebijakan pemerintah tentang kependudukan => Kebijakan KB yang dicanangkan sejak thn 1969 hanya diperuntukkan bagi kelompok perempuan Menunjukkan adanya asumsi patriarkal negara mengenai peran laki-laki dan perempuan yang menganggap bahwa urusan domestik adalah tanggung jawab perempuan. Nampak bahwa negara Orde Baru membatasi ruang lingkup kehidupan perempuan (secara sosial, ekonomi, politik) dan melegitimasi pembakuan peran gender.

Lebih rinci, teks-teks kebijakan yang dianalisa : Ø GBHN; Sebagai landasan bagi kebijakan-kebijakan lainnya dan pembangunan secara umum. Sepanjang GBHN 1978 –1998, kata ‘kodrat’ tetap hadir dalam teks. Dengan konsep peran ganda yang dianut negara, dapat disimpulkan bahwa ‘kodrat ‘ dimakni tidak hanya sebatas kemampuan biologis perempuan tetapi juga peran-peran reproduksi sosial. Jadi, dapat dideteksi adanya gagasan-gagasan mengenai pembakuan peran gender dalam GBHN. Ø Kebijakan tentang Buruh Migran Perempuan a. Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. Kep. 213/Men/89 tentang biaya Pembinaan Tenaga Kerja Indonesia dalam Rangka Pengembangan Program Antar Kerja Antar Negara ke Timur Tengah ; Dalam kebijakan ini diatur perbedaan biaya yang dikeluarkan untuk pengiriman buruh migran perempuan dengan laki-laki dengan asumsi gender bahwa buruh migran perempuan dianggap membutuhkan pembinaan. b. Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. Kep. 196/Men/1991 tentang Petunjuk Teknis Pengerahan Tenaga Kerja ke Arab Saudi Peraturan ini memuat adanya pembedaan usia antara laki-laki dan perempuan untuk menjadi buruh migran di sector informal. Ø Kebijakan tentang Pembantu Rumah Tangga (Perda No. 6 thn 1993) tentang Pembinaan Kesejahteraan Pramuwisma di DKI Jakarta dan SK Gubernur DKI Jakarta No. 1099 thn 1994) Asumsi pemerintah terhadap istilah pramuwisma yang cenderung ditujukan terhadap perempuan menyumbang pada pembakuan peran gender dalam pasal-pasal Perda. Misalnya, pasal tentang perlunya ijin bekerja dari suami bagi perempuan yang sudah bersuami. Ø Kebijakan tentang Perkawinan/ Perceraian UUP Integrasi konsep pembakuan peran dalam kebijakan tentang perkawinan yaitu melalui UU No. 1 thn 1974 tentang Perkawinan (UUP), terutama nampak dalam khususnya pasal 31, yang menyatakan bahwa “suami adalah kepala keluarga dan

istri adalah ibu rumah tangga.” Selain itu, UUP menganut asas monogamy terbuka, maksudnya bahwa pada asasnya suatu perkawinan seorang laki-laki hanya boleh mempunyai seorang isteri dan seorang perempuan hanya boleh mempunyai seorang suami. Namun, terdapat klausula yang menyatakan bahwa Pengadilan dapat memberi ijin kepada seorang suami untuk beristri lebih dari seorang karenanya terbuka kemungkinan bagi laki-laki untuk melakukan poligami. Pengaturan mengenai poligami ini tidak hanya menunjukkan bahwa dalam institusi perkawinan posisi tawar perempuan lebih rendah disbanding lakilaki tetapi juga menunjukkan bahwa negara jelas-jelas telah melegitimasi nilainilai jender perempuan yang hidup dalam masyarakat. Dalam Pasal 31 : Kedudukan suami isteri adalah sama, akan tetapi dalam ayat lain ditegaskan bahwa suami adalah kepala keluarga dan isteri adalah ibu rumah tangga. Penegasan ini merupakan pengetatan fungsi-fungsi isteri dan fungsifungsi suami secara tegas. Artinya, pasal ini melegitimasi secara eksplisit pembagian peran berdasarkan jenis kelamin. Juga, semakin dipertegas dalam pasal 34 yang menyatakan bahwa suami wajib melindungi isteri dan isteri wajib mengatur rumah tangga sebaik-baiknya. Pasal tersebut merupakan pengejawantahan dari pola pikir masyarakat yang menganggap bahwa peran lakilaki dan perempuan sudah mutlak terbagi. PP No. 45/ 1990 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah No. 10 thn 1983 tentang ijin Perkawinan dan Perceraian Pegawai Negeri Sipil. (Peraturan Pemerintah ini merupakan peraturan pelaksana dari UU Perkawinan yang khusus diberlakukan kepada Pegawai Negeri Sipil dan merupakan penyempurnaan dari PP 10 thn 1983). PP ini lebih menegaskan asas monogamy terbuka. Akan tetapi, secara tidak konsisten PP melarang perempuan PNS menjadi isteri kedua, ketiga atau keempat dengan asumsi akan merusak citranya sebagai PNS dan perempuan. Ø Kebijakan tentang Kekerasan terhadap Perempuan KUHP berkaitan dengan Penganiayaan terhadap isteri KUHP tidak mengenal konsep kekerasan berbasis gender, atau tindakantindakan kejahatan yang dilakukan karena jenis kelamin perempuan. KUHP berkaitan dengan Perkosaan Perkosaan terhadap isteri dalam perkawinan (marital rape) tidak dikenal dalam KUHP berarti KUHP mengadopsi pandangan masyarakat bahwa fungsi isteri adalah melayani suami. UU No. 62 Tahun 1958 tentang Kewarganegaraan UU ini mengadopsi ideology patriarki yang tercermin dalam ketentuan tentang status kewarganegaraan anak yang lahir dari perkawinan campuran , yaitu megikuti kewarganegaraan ayahnya.

Ø

Kebijakan Ketenagakerjaan UU No. 25 thn 1997 tentang Ketenagakerjaan : Memuat ketentuan yang mendiskriminasikan perempuan dengan memuat ketentuan larangan bekerja bagi perempuan pada waktu malam hari.

Ø Peraturan tentang Perpajakan :Keputusan Direktur Jendral Pajak No. 78/ PJ.41/ 1990 tentang Pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) kepada isteri wajib pajak yang melakukan kegiatan usaha dan atau pekerjaan bebas Ø Peraturan tentang Perpajakan: Keputusan Direktur Jendral Pajak No. 78/ PJ. 41/ 1990 tentang Pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) kepada isteri Wajib Pajak yang melakukan kegiatan Usaha dan atau Pekerjaan Bebas

Dalam ketentuan perpajakan, isteri yang bekerja atau usaha yang wajib kena pajak bukanlah wajib pajak secara pribadi melainkan sebagai ‘isteri wajib pajak.’ Dampaknya, ada hambatan bagi perempuan menikah yang hendak mengembangkan usahanya karena nomor wajib pajaknya tergantung pada suami sehingga otomatis pengembangan usahanya tergantung pada ijin suami. Penutup Ø Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh negara disamping bias gender juga bias kelas menengah serta bertentangan dengan kenyataan sosialnya. Dalam kenyataannya, kaum perempuan tidak lagi hanya sebagai pencari nafkah tetapi juga banyak yang menjadi kepala keluarga. Akibatnya timbul ketegangan antara nilai-nilai dan peraturan yang diterapkan dengan kenyataan sosial yang terus berlangsung. Ø Melalui hukum, negara melakukan pembakuan peran gender. Beberapa kebijakan mengacu pada peran perempuan dan laki-laki sebagaimana didefinisikan dalam UUP No. 1 thn 1974. Dengan demikian, UUP merupakan kebijakan yang mempunyai signifikansi dalam proses pembakuan peran yang dilakukan negara. Ø Perlu dilakukan reformasi terhadap kebijakan-kebijakan dengan mengamati dinamika proses negosiasi antara kelompok-kelompok kepentingan yang terjadi ditingkat negara untuk menentukan sasaran intervensi yang dapat dilakukan baik di tingkat struktur formal (hukum dan negara) dan di tingkat masyarakat untuk mengubah nilai-nilai gender yang dominan.

Sumber: http://www.lbh-apik.or.id/peneliltian-pembakuan_peran.htm

Perempuan Bekerja, Dilema Tak Berujung ? <center></center> Fenomena perempuan bekerja sebenarnya bukanlah barang baru di tengah masyarakat kita. Sejak zaman purba ketika manusia masih mencari penghidupan dengan cara berburu dan meramu, seorang isteri sesungguhnya sudah bekerja. Sementara suaminya pergi berburu, di rumah ia bekerja menyiapkan makanan dan mengelola hasil buruan untuk ditukarkan dengan bahan lain yang dapat dikonsumsi keluarga. Karena sistem perekonomian yang berlaku pada masyarakat purba adalah sistem barter, maka pekerjaan perempuan meski sepertinya masih berkutat di sektor domestik namun sebenarnya mengandung nilai ekonomi yang sangat tinggi. Kemudian, ketika masyarakat berkembang menjadi masyarakat agraris hingga kemudian industri, keterlibatan perempuan pun sangat besar. Bahkan dalam masyarakat berladang berbagai suku di dunia, yang banyak menjaga ternak dan mengelola ladang dengan baik itu adalah perempuan bukan laki-laki. Hal ini jelas menunjukkan bahwa keterlibatan perempuan memang bukan baru-baru saja tetapi sudah sejak zaman dulu. Dalam konteks Indonesia sebagai negara berkembang, sebenarnya tidak ada perempuan yang benar-benar menganggur. Biasanya para perempuan memiliki pekerjaan untuk juga memenuhi kebutuhan rumah tangganya entah itu mengelola sawah, membuka warung di rumah, mengkreditkan pakaian dan lain-lain. Mungkin sebagian besar masyarakat Indonesia masih beranggapan bahwa perempuan dengan pekerjaan-pekerja di atas bukan termasuk kategori perempuan bekerja. Hal ini karena perempuan bekerja identik dengan wanita karir atau wanita kantoran (yang bekerja di kantor). Pada hal, dimanapun dan kapanpun perempuan itu bekerja, seharusnya tetap dihargai pekerjaannya. Jadi tidak semata dengan ukuran gaji atau waktu bekerja saja. Annggapan ini bisa jadi juga erkait dengan arti bekerja yang berbeda antara Indonesia dengan negara-negara di Barat yang tergolong sebagai negara maju. Konsep bekerja menurut masyarakat di negara-negara Barat (negara maju) biasanya sudah terpengaruh dengan ideologi kapitalisme yang menganggap seseorang bekerja jika memenuhi kriteria tertentu misalnya; adanya penghasilan tetap dan jumlah jam kerja yang pasti. Sedangkan kebanyakan perempuan di Indonesia yang disebutkan tadi, pekerjaan mereka belum menghasilkan penghasilan tetap dan tidak terbatas waktu, bahkan baru dapat dilakukan hanya sebatas kapasitas mereka. Meski bukan fenomena baru, namun masalah perempuan bekerja nampaknya masih terus menjadi perdebatan sampai sekarang. Bagaimanapun, masyarakat masih memandang keluarga yang ideal adalah suami bekerja di luar rumah dan isteri di rumah dengan mengerjakan berbagai pekerjaan rumah. Anggapan negatif (stereotype) yang kuat di masyarakat masih menganggap idealnya suami berperan sebagai yang pencari nafkah, dan pemimpin yang penuh kasih; sedangkan istri menjalankan fungsi pengasuhan anak. Hanya, seiring dengan perkembangan zaman, tentu saja peran-peran tersebut tidak semestinya dibakukan, terlebih kondisi ekonomi yang membuat kita tidak bisa menutup

atau mencuci maka tidak mungkin akan didapatkan makanan. biasanya dikerjakan di luar rumah. kenyamanan bagi anggota rumah tangga yang lain. Tanpa ada yang melakukan pekerjaan rumah tangga seperti memasak. Seperti yang pernah diungkapkan. nampaknya hampir semua kalangan masyarakat menyetujui bahwa perempuan mendapat kemulian dengan pekerjaannya sebagai ibu . kesemuanya berperan penting dalam melahirkan dan memampukan seseorang untuk “berfungsi” sebagaimana mestinya dalam struktur sosial masyarakat. Kerja produksi dianggap tanggung jawab laki-laki. melahirkan. menyusui. Kerja produktif berfungsi memenuhi kebutuhan dasar manusia seperti sandang. keduanya berperan penting dalam proses kehidupan manusia. pangan. terdapat kecenderungan kuat untuk memisahkan kerja produksi dan reproduksi. Walaupun seringkali jika seorang laki-laki atau suami ditanya maka akan muncul jawaban “Seandainya gaji saya cukup. di mana kedua pekerjaan tersebut dilakukan dan siapa yang melakukan pekerjaan tersebut. Kerja reproduktif juga kerja yang pada prosesnya menjaga kelangsungan proses produksi. Sehingga dengan makanan dankenyamanan tersebut proses yang lain tidak terganggu. misalnya pekerjaan rumah tangga. yang akan lebih membawa perempuan kepada beban ganda. perdebatan mungkin muncul lebih karena anggapan akan stereotype dari masyarakat bahwa akan ada akibat yang timbul jika suami-isteri bekerja di luar rumah yaitu “mengganggu” keharmonisan yang telah berlangsung selama ini. hamil. Kerja produktif dan reproduktif Untuk dapat melihat definisi dan makna kerja dengan lebih jernih lagi maka mungkin perlu dijelaskan juga tentang kerja dengan membaginya menjadi dua bentuk kerja yaitu kerja produksi dan kerja reproduksi. tentu saja memang akan ada dampak yang timbul jika suami-isteri bekerja di luar rumah. papan. Bagaimanapun.mata bahwa kadang-kadang istripun dituntut untuk harus mampu juga berperan sebagai pencari nafkah. Terlepas dari pembahasan di atas. Kerja reproduksi dianggap tanggung jawab perempuan dan biasanya dikerjakan di dalam rumah. bukan hanya sebatas masalah reproduksi biologis perempuan. Dalam sistem kapitalisme yang berlaku dewasa ini. Kerja reproduktif adalah kerja “memproduksi manusia”. perawatan sehari-hari manusia baik fisik dan mental. Namun solusi yang diambil tidak semestinya membebankan istri dengan dua peran sekaligus yaitu peran mengasuh anak (nursery) dan mencari nafkah di luar rumah (provider). Baik kerja produksi maupun kerja reproduksi. namun mencakup pula pengasuhan. saya lebih suka isteri saya di rumah merawat anak-anak”. seperti yang sudah panjang lebar diutarakan di atas. akan tetapi adanya dukungan sistem yang tidak terus membawa perempuan pada posisi yang dilematis.Tetapi tentu saja pengertian pekerjaan reproduksi seperti ini tidak dianggap sebagai pekerjaan oleh masyarakat dan juga pemerintah padahal secara fisik ini jelas sebagai sebuah kerja.

media massa. Namun yang menjadi pertanyaan kemudian adalah mengapa pekerjaan reproduksi tersebut selalu diberi sebutan sebagai “pekerjaan mulia”. Atas nama tradisi dan kodrat. Kerja perempuan terutama di sektor reproduksi tidak pernah diperhitungkan dalam data perekonomian dan statistik. ketiadaan sarana penitipan anak di tempat kerja. Situasi di sektor publik sering pula tidak ramah keluarga. Lebih jarang lagi yang memperhitungkan nilai ekonomi pekerjaan rumah tangga. agama. Diskriminasi terselubung dilakukan guna menghindari pemberian cuti tersebut antara lain dengan preferensi tidak tertulis mengutamakan merekrut karyawan laki-laki atau karyawan perempuan lajang. terjadi “perendahan” terhadap kerja reproduksi biologis perempuan. dan kesulitan perempuan bekerja untuk menyusui anaknya. Contohnya pernyataan “buat apa anak perempuan sekolah tinggi-tinggi. Jarang yang mempertanyakan secara terbuka “kodrat” tersebut. keterlibatan perempuan dalam kerja produksi tidak mengurangi beban tanggung jawabnya di sektor reproduksi. melainkan laki-laki. Memberikan cuti melahirkan bagi karyawan perempuan dianggap pemborosan dan inefiesiensi. Perlu . mendukung pula pandangan ini. Berkomitmen tinggi terhadap anak dan keluarga dipandang tidak kompatibel dengan dunia kerja. Dengan kata lain.rumah tangga hingga ibu rumah tangga mendapat gelar “ratu rumah tangga”. meskipun perempuan telah mencurahkan begitu banyak waktu dan energi. Jika kerja tersebut diperhitungkan. Meskipun cuti melahirkan telah diberlakukan secara luas. Di sektor publik sering kali sistem yang ada “tidak mendukung” perempuan (dan lakilaki) bekerja untuk dapat pula melakukan kerja reproduksi secara optimal sekaligus. masih ada yang merasa rugi memberi cuti melahirkan kepada karyawan perempuan. nanti juga ke dapur” atau “si X (perempuan) mah paling juga kawin terus ngurus anak”. niscaya akan mematahkan mitos “laki-laki adalah pencari nafkah utama”. Ternyata. Demikian pula sebutan “ratu” yang seharusnya berimplikasi pada peran perempuan yang lebih besar dalam pengambilan keputusan di tingkat keluarga. pada kenyataannya. adalah beberapa contoh nyata. seolah ia adalah bagian kewajiban dari Tuhan dengan imbalan kebahagiaan di akhirat nanti. Institusi pendidikan. perempuan dipandang sewajarnya bertanggung jawab dalam arena domestik. baik terhadap karyawan perempuan maupun laki-laki. Sayangnya. tidak mengundang laki-laki untuk berkontribusi lebih besar dalam kerja reproduksi. kerja reproduksi yang sebagian besar dilakukan perempuan berperan sangat penting guna keberlanjutan suatu bangsa dan umat manusia pada umumnya. Sebenarnya di banyak tempat. Jam kerja panjang. Norma yang berlaku dewasa ini kerja reproduksi adalah tanggung jawab perempuan. bukan perempuan yang lebih berperan dalam pengambilan keputusan penting. Dan mengapa “pekerjaan mulia” tersebut sebagian besar dibebankan hanya kepada perempuan.

hanya karena berkeluarga dan memiliki anak menjadi semakin tidak menarik. Masalah umum yang dihadapi perempuan di sektor publik adalah kecenderungan perempuan terpinggirkan pada jenis-jenis pekerjaan yang berupah rendah. Hal yang perlu digarisbawahi di sini adalah bahwa kecenderungan perempuan terpinggirkan pada pekerjaan marginal tersebut tidak semata-mata disebabkan faktor pendidikan. Di luar konteks desa-kota. Sementara bila mempekerjakan perempuan. dan sektor industri manufaktur 14. persentase buruh perempuan adalah 90% dari total buruh. sementara untuk kasus pedesaan sebagai buruh tani. terdapat preferensi untuk mempekerjakan perempuan pada sektor tertentu dan jenis pekerjaan tertentu karena upah perempuan lebih rendah daripada laki-laki. adalah jenis-jenis pekerjaan yang lazim ditekuni perempuan.2%. menemukan bahwa biaya tenaga kerja (upah) buruh laki-laki adalah 10-15% dari total biaya produksi. Kasus lain dengan substansi yang sama ditemukan pula di sektor pertanian pedesaan. sepatu dan elektronik. pada umumnya perempuan terlibat dalam perdagangan usaha kecil seperti berdagang sayur mayur di pasar tradisional. diikuti oleh sektor perdagangan 20. termasuk di dalamnya peningkatan peran serta laki-laki dalam kerja reproduksi dalam rumah tangga.2%.perbaikan sistem sosial secara menyeluruh agar jangan sampai suatu bangsa atau lebih parah lagi umat manusia punah. Sebuah studi tentang buruh perempuan pada industri sepatu di Tangerang. Sangat penting pula demokratisasi institusi keluarga. garmen. sebagai buruh pabrik. Di pedesaan. Sebuah penelitian tentang buruh perempuan . Di sektor perdagangan. biaya tenaga kerja dapat ditekan hingga 58% dari total biaya produksi (Tjandraningsih. kondisi kerja buruk dan tidak memiliki keamanan kerja. pun sesungguhnya sudah lazim ditemui di berbagai kelompok masyarakat. Data sensus penduduk tahun 1990 menunjukan bahwa sektor pertanian adalah sektor yang terbesar dalam menyerap tenaga kerja perempuan yaitu 49. Perempuan di sektor industri perkotaan terutama terlibat sebagai buruh di industri tekstil. Untuk kasus kota. berkaitan dengan masalah perempuan bekerja produksi yaitu dengan bekerja di luar rumah untuk mencari nafkah. mayoritas berada di tingkat buruh tani. sektor perdagangan juga banyak melibatkan perempuan. Dari kalangan pengusaha sendiri. Diskriminasi kerja perempuan Terlepas dari persoalan sektor yang digeluti perempuan.6%. Perempuan di sektor pertanian pedesaan. sementara di perkotaan sektor industri tertentu didominasi oleh perempuan. Seperti yang juga sudah disinggung di atas. keterlibatan perempuan di sektor manapun selalu nampak dicirikan oleh “skala bawah” dari pekerjaan perempuan. 1991:18). Sejarah menunjukan bahwa perempuan dan kerja publik sebenarnya bukan hal baru bagi perempuan Indonesia terutama mereka yang berada pada strata menengah ke bawah. Hal ini berlaku khususnya bagi perempuan berpendidikan menengah ke bawah. Dalam kasus tersebut. perempuan pada strata ini mendominasi sektor pertanian. usaha warung.

total penghasilan pegawai laki-laki dan perempuan berbeda jumlahnya untuk pekerjaan yang sama. diskriminasi upah seringkali lebih tersamar. yang mengatur hubungan antara perempuan dan laki-laki terlebih dahulu melalui pembentukan identitas feminin dan maskulin (Ratna Saptari dalam Andria dan Reichman.00 per hari (Indraswari. di sektor swasta diskriminasi masih terjadi. Paling tidak di kedua kasus tersebut telah terjadi penggunaan tenaga kerja perempuan untuk sektor-sektor produktif tertentu dan pemisahan kegiatan-kegiatan tertentu atas dasar jenis kelamin. Demikian pula tunjangan kesehatan hanya diberikan kepada dirinya sendiri -tidak untuk suami dan anak-. Dua hal ini dapat di lihat juga melalui peningkatan atau penurunan rasio perempuan di setiap jabatan. Sedangkan bagi perempuan di kelas menengah ke atas. Semakin banyaknya perempuan berpendidikan yang berkeinginan untuk aktif di sektor publik merupakan konsekuensi logis dari pembukaan peluang yang lebih besar bagi anak perempuan untuk bersekolah. Seorang pegawai perempuan yang berstatus menikah -karena dia perempuantidak mendapatkan tunjangan suami atau anak. bekerja bagi mereka adalah bagian dari aktualisasi diri. nilai. Bagi perempuan miskin. Dengan demikian -dengan memperhitungkan komponen tunjangan.pada agro industri tembakau ekspor di Jember bahwa untuk pekerjaan di kebun tembakau. Sebenarnya pihak yang diuntungkan dalam kasus diskiriminasi upah adalah . Jika perempuan pada strata menengah ke bawah. Persoalannya. Meskipun sistem pengupahan (termasuk tunjangan) pegawai negeri tidak lagi membedakan pegawai perempuan dan laki-laki.00 per hari sementara buruh lakilaki mendapat upah Rp 1. Seorang pegawai perempuan -apakah berstatus menikah atau lajang. Hal ini selain terkait dengan semakin terbukanya peluang bagi perempuan untuk memasuki sektor-sektor yang pada awalnya diperuntukkan hanya untuk laki-laki.650. 1999: 9). 1994:52). maka pada saat ia masuk ke sektor publik “sah-sah” saja untuk memberikan upah lebih rendah karena pekerjaan di sektor publik hanya sebagai “sampingan” untuk “membantu” suami. buruh perempuan mendapat upah Rp 1.850. stereotip. banyak perempuan menjadi pencari nafkah utama keluarga atau bersama-sama suami memberikan kontribusi finansial hingga 50% dari total penghasilan keluarga. Persentase buruh perempuan pada kasus tembakau adalah 80%.tetap dianggap lajang. Diskriminasi upah yang terjadi secara eksplisit maupun implisit. Ideologi gender adalah segala aturan. Bagi perempuan kelas menengah ke atas yang bekerja sebagai pegawai swasta maupun sebagai pegawai negeri. Meskipun besar upah pokok antara pegawai laki-laki dan perempuan sama. namun komponen tunjangan keluarga dan tunjangan kesehatan dibedakan antara pegawai perempuan dan laki-laki. dalam situasi krisis ekonomi. seringkali memanipulasi ideologi gender sebagai pembenaran. bekerja di sektor publik kebanyakan atas dasar dorongan kebutuhan ekonomi. atau bahkan lebih. Karena tugas utama perempuan adalah di sektor domestik. generalisasi bahwa “semua perempuan bekerja hanya untuk ‘membantu’ suami” atau “semua perempuan bekerja hanya sebagai kegiatan sampingan” banyak tidak terbukti validitasnya.

perempuan di sektor publik menghadapi kendala lebih besar untuk melakukan mobilitas vertikal (kenaikan pangkat. seorang lelaki yang pada awalnya sudah mengetahui dan menerima calon isterinya sebagai pekerja (baca : perempuan karir) yang setelah . Kalau lebih jauh menelusuri lembaran-lembaran literatur fikih. juz IV. bekerja bercocok tanam. Lebih tegas lagi dalam fikih Hambali. maupun untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Meskipun persentase perempuan lebih dari 50% dari total penduduk Indonesia. Hal ini diindikasikan dengan minimnya jumlah perempuan yang menduduki posisi pengambil keputusan dan posisi strategis lainnya baik di sektor pemerintah maupun di sektor swasta. Sebutlah misalnya. termasuk akses terhadap programprogram pelatihan untuk pengembangan karir. Variasi pandangan ulama hanya muncul pada kasus seorang isteri yang bekerja tanpa restu dari suaminya. suami juga tidak berhak sama sekali untuk melarang isteri bekerja mencari nafkah. apabila nyata-nyata dia tidak bisa bekerja mencari nafkah. jabatan) karena ideologi patriarkis yang dominan. 205 dan al-Mughni li Ibn Qudamah. namun perempuan yang menjadi anggota parlemen hanya 7-8% dari total anggota parlemen. dalam praktek kehidupan zaman Nabi Saw sesungguhnya ada banyak riwayat menyebutkan tentang sahabat perempuan yang bekerja di dalam dan di luar rumah. Kemudian dia melapor kepada Nabi Saw. dalam pandangan banyak ulama fikih. maka Islam sesungguhnya tidak pernah menekan pihak perempuan dalam bidang pekerjaan. dapat dilihat telah terjadi pula pelebaran ketimpangan ekonomi antara laki-laki dan perempuan yang ditandai oleh perbedaan upah serta ketidaksamaan akses keuntungan dan fasilitas kerja. jumlah perempuan yang menduduki jabatan struktural. h. karena bekerja adalah hak setiap orang. Selain persoalan upah. h. isteri sahabat Zubair bin Awwam. baik karena sakit. Baik pekerjaan di rumah maupun luar rumah. selama ada jaminan keamanan dan keselamatan. 573). nomor hadits 1483) disebutkan bahwa ketika Bibi Jabir bin Abdullah keluar rumah untuk bekerja memetik kurma. dalam perspektif perbandingan dengan laki-laki. walikota. juz VII. miskin atau karena yang lain (lihat fatwa Ibn Hajar.pemilik modal yang dapat menekan biaya produksi melalui pengurangan komponen biaya tenaga kerja. Jika merujuk kepada hadits Nabi. selama untuk kebaikan dan kemaslahatan”. Bahkan di dalam literatur fikih (jurisprudensi Islam) secara umum tidak ditemukan larangan perempuan bekerja. menteri. posisi. Di dalam kitab hadits (Shahih Muslim. dia dihardik oleh seseorang untuk tidak keluar rumah. Asma bint Abu Bakr. juz II. Dari gambaran persoalan diatas. dll. halaman 1211. yang dengan tegas mengatakan kepadanya: “Petiklah kurma itu. bupati. Dalam Islam tidak ada masalah Sebagai agama yang diyakini untuk kasih sayang semua umat manusia. Demikian pula dapat dihitung dengan jari. baik untuk kepentingan sosial. yang terkadang melakukan perjalanan cukup jauh.

Tinjauan kebijakan pengupahan buruh di Indonesia. h. juz VII. Tinjauan pada Agroindustri Tembakau Ekspor di Jember. Indraswari. 573 Oleh: Swara Rahima Sumber: Kementrian Pemberdayaan Perempuan Kesetaraan Dan Keadilan Gender<center></center> I. Pekerjaan rumah tangga adalah pekerjaan yang sesungguhnya untuk perempuan dan lakilaki. halaman 1211. Bahkan dalam fikih. akan tetapi adalah menunjukkan penghargaan pada jerih payah ibu. juz IV. Fikih membenarkan suami dan isteri. kecuali air susu hari pertama yang merupakan kewajiban perempuan memberikan kepada anaknya karena mengandung kolostrum yang baik untuk meningkatkan imunitas bayi baru lahir. Perempuan bekerja dan perubahan sosial. Shahih Muslim. 795). berbagai jalan dapat ditempuh untuk tetap memberikan keadilan bagi perempuan. Fatwa Ibn Hajar. Juni 1994 Ratna Saptari. nomor hadits 1483. Indrasari Tjandraningsih. (dd) ] Sumber Bacaan : Dedi Haryadi. Pendahuluan Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG) sudah menjadi isu yang sangat penting dan sudah menjadi komitmen bangsa-bangsa di dunia termasuk Indonesia sehingga seluruh negara menjadi terikat dan harus melaksanakan komitmen tersebut. AKATIGA. Memang tentu saja hal ini tidak secara otomatis mengatakan bahwa Islam mengajarkan hubungan ibu dan bayinya dihitung dengan uang. Kalyanamitra. Al-fiqh al-Islami wa adillatuhu. juz II. AKATIGA. keduanya bekerja di luar rumah dengan prasyarat-prasyarat tertentu. April 1994 Indraswari dan Juni Thamrin. Akhirnya. Yang berarti fikih tidak memandang bahwa kewajiban seorang lelaki (misalnya suami) untuk mencari nafkah menjadi penghalang bagi perempuan untuk bekerja di luar rumah juga untuk mencari nafkah. h. perempuan sesungguhnya diperbolehkan meminta upah bila menyusui anaknya. Potret kerja buruh perempuan. di Indonesia dituangkan dalam kebijakan nasional sebagaimana ditetapkan dalam Garis-Garis Besar Haluan . h.perkawinan juga akan terus bekerja di luar rumah. juz VII. juz VII. dan Juni Thamrin. Jadi pendefinisian bahwa pekerjaan di luar rumah adalah tugas laki-laki dan pekerjaan di dalam rumah adalah pekerjaan perempuan adalah hasil penafsiran terhadap teks secara sempit. tak terkecuali yang berkaitan dengan masalah perempuan bekerja. h. Upaya mewujudkan Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG). suami tidak boleh kemudian melarang isterinya bekerja atas alasan apapun (lihat : al-fiqh al-Islami wa adillatuhu. AlMughni li Ibn Qudamah. 795. 1995. 205.

Pada pelaksanaannya sampai saat ini peran serta kaum perempuan belum dioptimalkan.595) penduduk Indonesia (Sensus Penduduk 2000) merupakan sumberdaya pembangunan yang cukup besar.264.415) dari total (206. pemantauan dan evaluasi dengan mempertimbangkan permasalahan kebutuhan. akan memperlambat proses pembangunan atau bahkan perempuan dapat menjadi beban pembangunan itu sendiri. Kurang berperannya kaum perempuan. . Partisipasi aktif wanita dalam setiap proses pembangunan akan mempercepat tercapainya tujuan pembangunan. sebagai salah satu strategi untuk mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender. baik perempuan maupun laki-laki. Bahkan belum cukup efektif memperkecil kesenjangan yang ada. Kenyataannya dalam beberapa aspek pembangunan. ternyata belum dapat memberikan manfaat yang setara bagi perempuan dan laki-laki. pelaksanaan. swasta maupun masyarakat sangat tergantung dari peran serta laki-laki dan perempuan sebagai pelaku dan pemanfaat hasil pembangunan. Penduduk wanita yang jumlahnya 49. Disamping itu pengarusutamaan gender juga merupakan salah satu dari empat key cross cutting issues dalam Propenas. 9 tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender (PUG) dalam Pembangunan nasional. 2000 tentang Program Pembangunan NasionalPROPENAS 2000-2004. UU No. Hal ini menunjukkan bahwa hak-hak perempuan memperoleh manfaat secara optimal belum terpenuhi sehingga pembangunan nasional belum mencapai hasil yang optimal.847. dan dipertegas dalam Instruksi Presiden No. untuk melakukan penyusunan program dalam perencanaan. sistem upah yang merugikan. Berbagai upaya pembangunan nasional yang selama ini diarahkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. 25 th. tingkat kesehatan dan pendidikan yang rendah. Pelaksanaan PUG diisntruksikan kepada seluruh departemen maupun lembaga pemerintah dan non departemen di pemerintah nasional.9% (102. Oleh karena itu program pemberdayaan perempuan telah menjadi agenda bangsa dan memerlukan dukungan semua pihak. Hal ini disebabkan karena kondisi dan posisi yang kurang menguntungkan dibanding laki-laki.Negara (GBHN) 1999. Seperti peluang dan kesempatan yang terbatas dalam mengakses dan mengontrol sumberdaya pembangunan. aspirasi perempuan pada pembangunan dalam kebijakan. karena masih belum memanfaatkan kapasitas sumber daya manusia secara penuh. Disadari bahwa keberhasilan pembangunan nasional di Indonesia baik yang dilaksanakan oleh pemerintah. perempuan kurang dapat berperan aktif. propinsi maupun di kabupaten/kota. program/proyek dan kegiatan. sehingga manfaat pembangunan kurang diterima kaum perempuan.

Kondisi perempuan Indonesia Secara keseluruhan indeks kualitas hidup manusia digambarkan melalui Indeks Pembangunan Manusia/Human Development Index (HDI) yang berada pada peringkat ke-96 pada tahun 1995 yang kemudian menurun ke peringkat 109 pada tahun 1998 dari 174 negara. Kondisi dan posisi perempuan meliputi 3 (tiga) aspek tersebut di atas sebagai berikut: 1. kemudian menurun ke peringkat 90 (1998) dan peringkat 92 (1999 dari 146 negara). yudikatif. 110 dari 173 negara. legislatif terhadap arti. Berdasarkan Human Development Report 2003. Jumlah laki-laki sedikit lebih banyak dibandingkan perempuan. Pendidikan Di bidang pendidikan.595 orang. Thailand. 60.9% perempuan). kesehatan dan ekonomi. Kemudian pada tahun 2002 pada peringkat 91 dari 144 negara GDI inipun masih tertinggal dibandingkan dengan-negara di ASEAN seperti Malaysia. Philippina yang menempati urutan 59. 63. Thailand. umumnya lebih mengutamakan laki-laki daripada perempuan (ideology patriarki). Tahun 1999 berada pada peringkat 102 dari 162 negara dan tahun 2002. kemauan dan kesiapan perempuan sendiri untuk merubah keadaan secara konsisten dan konsekwen. Berdasarkan hasil Survey Penduduk 2000 (BPS) diketahui jumlah penduduk Indonesia sebesar 206. Peraturan perundang-undangan masih berpihak pada salah satu jenis kelamin dengan kata lain belum mencerminkan kesetaraan gender. HDI Indonesia menempati urutan ke-112 dari 175 negara. mengingat mereka mempunyai peran reproduksi yang sangat berperan dalam mengembangkan sumber daya manusia masa depan. Penafsiran ajaran agama yang kurang komprehensif atau cenderung tekstual kurang kontekstual. II. Indeks pembangunan manusia skala internasional dan nasional dilihat dri tiga aspek yaitu pendidikan. Rendahnya pemahaman para pengambil keputusan di eksekutif. tujuan. dan arah pembangunan yang responsif gender. dibandingkan Negara-negara ASEAN lainnya seperti HDI Malaysia.Faktor penyebab kesenjangan gender yaitu Tata nilai sosial budaya masyarakat. cenderung dipahami parsial kurang kholistik. Adanya kesenjangan pada kondisi dan posisi laki-laki dan perempuan menyebabkan perempuan belum dapat menjadi mitra kerja aktif laki-laki dalam mengatasi masalahmasalah sosial. Kondisi ini antara lain disebabkan adanya pandangan dalam masyarakat yang mengutamakan dan . ekonomi dan politik yang diarahkan pada pemerataan pembangunan. Selain itu rendahnya kualitas perempuan turut mempengaruhi kualitas generasi penerusnya. kaum perempuan masih tertinggal dibandingkan laki-laki. (50.1% diantaranya laki-laki dan 49. 70 dan 77. Sedangkan Gender related Development Index (GDI) berada pada peringkat ke-88 pada tahun 1995.264. Philippina yang masing-masing berada pada peringkat 54. Kemampuan.

(Sumber: BPS. Ketertinggalan perempuan dalam bidang pendidikan tercermin dari presentase perempuan buta huruf (14. Estimasi Parameter Demografi. Child Mortality Rate (CMR) periode ini juga menunjukkan penurunan. Angka buta huruf perempuan pada kelompok 10 tahun ke atas secara nasional (2002) sebesar 9. Angka buta huruf perempuan 12. Statistik Kesejahteraan Rakyat 1999-2001).9 tahun. 337/100.28% sedangkan laki-laki 5. Menurut Satatistik Kesejahteraan Rakyat 2003.87%). Namun angka kematian bayi laki-laki lebih tinggi dibandingkan angka kematian bayi perempuan. Ekonomi Di bidang ekonomi. Menurunnya angka kematian anak serta meningkatnya angka harapan hidup dari 64.85% dan perempuan 12.54% tahun 2001) lebih besar dibandingkan laki-laki (6. selama periode 1998-2000 ada penurunan angka kematian bayi. (Sumber: BPS.9. 3.8 sedangkan perempuan 7.9 tahun (2000).69% (Sumber: BPS. namun demikian angka kematian anak laki-laki lebih tinggi dibandingkan kematian anak perempuan laki-laki 9. kemajuan di bidang kesehatan ditunjukkan dengan menurunnya angka kematian bayi (dari 49 bayi per 1000 kelahiran pada tahun 1998 menjadi 36 tahun 2000. Usia harapan hidup (life expectancy rate) perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki. angka kematian anak. Hal ini ditunjukkan dengan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) yang masih jauh lebih rendah dibandingkan laki-laki. khususnya perempuan kepala rumah tangga.84%. demikian juga dengan akses terhadap sumber daya ekonomi. Namun angka buta huruf perempuan tetap lebih besar dari laki-laki. yang ditunjukkan dengan masih tingginya angka kematian ibu (AKI) 390/100. Statistik Kesejahteraan Rakyat 1999-2002). Kesehatan Menurut Gender Statistics and indicators 2000 (BPS). 2. Laki-laki 41. kemampuan perempuan memperoleh peluang kerja dan berusaha masih rendah. dan menurun 307/100. Statistik Kesejahteraan Rakyat 19992002).8 tahun (1998) menjadi 67. Statistik Kesejahteraan Rakyat 1999-2001). (Sumber: BPS. (Sumber: BPS. Sedangkan ditahun 2003 TPAK laki-laki lebih besar dibanding TPAK perempuan . Statistik Kesejahteraan Rakyat 1999-2001). yaitu 45% (2002) sedangkan laki-laki 75. (Sumber: BPS.000 (SDKI 1994).000 (SDKI 1997). secara umum partisipasi perempuan masih rendah. dengan kecenderungan meningkat selama tahun 1999-2000. perempuan 31. Tetapi pada tahun 2002 terjadi penurunan angka buta huruf yang cukup signifikan. 1998).000 (SDKI 2002). Dibidang kesehatan. yaitu 69.mendahulukan laki-laki untuk mendapatkan pendidikan daripada perempuan.34%.7 tahun berbanding 65. Sejalan dengan semakin meningkatnya kondisi kesehatan masyarakat. Berdasarkan estimasi parameter demografi 1998 yang dikeluarkan BPS.29% dengan komposisi laki-laki 5. Infant Mortality Rate (IMR). angka harapan hidup (eo) pada periode 19982000 cenderung meningkat. Dibidang kesehatan dan status gizi perempuan masih merupakan masalah utama.

laki-laki sebesar 63.9%.3%. (BPS. Jumlah peraturan perundang-undangan yang diskrimintaif terhadap perempuan berjumlah kurang lebih 32 buah.146). dan 28 pada tahun 2002. BPS. relatif tingginya angka kemiskinan dan pengangguran. (Statitik dan Indikator Gender. Pada tahun 1999 jumlah PNS perempuan adalah 36. yang umumnya timbul dari berbagai faktor yang saling terkait.1% dari jumlah seluruh PNS (4. Sedangkan tahun 2000 terjadi sedikit perubahan dimana jumlah PNS perempuan adalah 37. dan dari jumlah tersebut hanya 15. dan budaya hukum yang diskriminatif gender. III.12% berbanding 44. (Sumber: Statistik dan Indikator Gender Indonesia 2002). Pengertian Kesetaraan dan Keadilan gender .81%. Faktor penyebab kesenjangan gender pada aspek lain misalnya politik sebagai berikut: hasil Pemilu tahun 1999 yang menyertakan 57% pemilih perempuan hanya terwakili 8. kekerasan. 2000). Faktor Kesenjangan dibidang hukum dan politik Faktor penyebab kesenjangan kondisi dan posisi perempuan dan laki-laki dipengaruhi oleh peraturan perundang-undangan yang bias gender karena dalam bidang hukum masih banyak dijumpai substansi. dan persamaan hak dalam keluarga. Jumlah perempuan yang menjabat sebagai Hakim Agung dan Hakim Yustisial Non Struktural di Mahkamah Agung juga menunjukkan penurunan dari 36 pada tahun 1998 menjadi 34 pada tahun 1999.6%. Statistik Kesejahteraan Rakya. dan dari jumlah tersebut hanya 15. sedangkan PNS laki-laki sebesar 84.2% PNS perempuan yang menduduki jabatan struktural. IV. masyarakat.7% yang menduduki jabatan struktural. dan pelacuran paksa.yakni 76. dan negara. Masalah yang sering muncul adalah perdagangan perempuan.861). sedangkan PNS laki-laki sebesar 84.8%.005. lakilaki sebesar 62.2% dari jumlah pemilih 51%.4% dari jumlah seluruh PNS (3. serta rendahnya tingkat pendidikan. (Sumber: Statistik dan Indikator Gender Indonesia 2002-Bab7).8% dari seluruh anggota DPR.927. lebih rendah dari hasil pemilu 1997 yang berjumlah 11. 2003). struktur. Masalah HAM bagi perempuan termasuk isu gender yang menuntut perhatian khusus adalah masalah penindasan dan eksploitasi. Pemilu 2004 perempuan hanya terwakili 11%. antara lain dampak negatif dari proses urbanisasi.

Gender bukanlah kodrat ataupun ketentuan Tuhan. Terwujudnya kesetaran dan keadilan gender ditandai dengan tidak adanya diskriminasi antara perempuan dan laki-laki. ekonomi. sekarang dan berlaku selamanya. Oleh karena itu tidak dapat ditukar atau diubah. dan kontrol atas pembangunan serta memperoleh manfaat yang setara dan adil dari pembangunan. Memiliki kontrol berarti memiliki kewenangan penuh untuk mengambil keputusan atas penggunaan dan hasil sumber daya. ketentuan sosial dan budaya ditempat mereka berada. Kesetaraan gender juga meliputi penghapusan diskriminasi dan ketidak adilan struktural. V. Sehingga memperoleh manfaat yang sama dari pembangunan. beban ganda. sosial budaya.Kesetaraan gender berarti kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan serta hak-haknya sebagai manusia. marginalisasi dan kekerasan terhadap perempuan maupun laki-laki. subordinasi. fungsi. hukum. Dengan keadilan gender berarti tidak ada pembakuan peran. Ketentuan ini berlaku sejak dahulu kala. serta tanggung jawab laki-laki dan perempuan Sehingga gender belum tentu sama di tempat yang berbeda. . Oleh karena itu gender berkaitan dengan proses keyakinan bagaimana seharusnya laki-laki dan perempuan berperan dan bertindak sesuai dengan tata nilai yang terstruktur. Keadilan gender adalah suatu proses dan perlakuan adil terhadap perempuan dan lakilaki. Seks/kodrat adalah jenis kelamin yang terdiri dari perempuan dan laki-laki yang telah ditentukan oleh Tuhan. baik terhadap laki-laki maupun perempuan. Dengan demikian gender dapat dikatakan pembedaan peran. Memiliki akses dan partisipasi berarti memiliki peluang atau kesempatan untuk menggunakan sumber daya dan memiliki wewenang untuk mengambil keputusan terhadap cara penggunaan dan hasil sumber daya tersebut. agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik. kesempatan berpartisipasi. Pengertian gender dan seks Gender adalah perbedaan dan fungsi peran sosial yang dikonstruksikan oleh masyarakat. serta kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan tersebut. dan dapat berubah dari waktu ke waktu. pendidikan dan pertahanan dan keamanan nasional (hankamnas). dan dengan demikian mereka memiliki akses. tanggung jawab antara perempuan dan laki-laki yang dibentuk/dikonstruksi oleh sosial budaya dan dapat berubah sesuai perkembangan zaman.

1998a. Bentuk-bentuk ketidakadilan akibat diskriminasi gender . Lain halnya dengan seks. ketidak adilan gender adalah suatu sistem dan struktur yang menempatkan laki-laki maupun perempuan sebagai korban dari sistem (Faqih. Faqih dalam Achmad M. tugas dan tanggung jawab serta kedudukan antara laki-laki dan perempuan baik secara langsung maupun tidak langsung. di belahan dunia manapun. tetapi juga bagi kaum laki-laki. Kondisi demikian mengakibatkan kesenjangan peran sosial dan tanggung jawab sehingga terjadi diskriminasi. fungsi. kekerasan terhadap perempuan (Prasetyo dan Marzuki. subordinasi. saling terkait dan berpengaruh secara dialektis (Achmad M. dan posisi tidak menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan. Permasalah Ketidakadilan Gender Ketertinggalan perempuan mencerminkan masih adanya ketidakadilan dan ketidak setaraan antara laki-laki dan perempuan di Indonesia. Hanya saja bila dibandingkan. tergantung waktu. terhadap laki-laki dan perempuan. peran. 1996). 1997). Berbagai pembedaan peran. VI.Dengan demikian perbedaan gender dan jenis kelamin (seks) adalah Gender: dapat berubah. hal. Manisfestasi ketidakadilan gender tersebut masing-masing tidak bisa dipisah-pisahkan. dan dampak suatu peraturan perundang-undangan maupun kebijakan telah menimbulkan berbagai ketidakadilan karena telah berakar dalam adat. Sesungguhnya perbedaan gender dengan pemilahan sifat. beban kerja lebih banyak dan panjang (Ihromi. berlaku dimana saja. diskriminasi terhadap perempuan kurang menguntungkan dibandingkan laki-laki. misalnya marginalisasi. Mosse. tidak dapat dipertukarkan. 1997). norma ataupun struktur masyarakat. bukan merupakan kodrat Tuhan. bukan saja bagi kaum perempuan. menyatakan. hal ini dapat terlihat dari gambaran kondisi perempuan di Indonesia. budaya setempat. VII. menyatakan. 1996. Selanjutnya Achmad M. seks tidak dapat berubah. melainkan buatan manusia. stereotipe/pelabelan negatif sekaligus perlakuan diskriminatif (Bhasin. 1990). dan merupakan kodrat atau ciptaan Tuhan. Gender masih diartikan oleh masyarakat sebagai perbedaan jenis kelamin. 33. 2001). dapat dipertukarkan. Masyarakat belum memahami bahwa gender adalah suatu konstruksi budaya tentang peran fungsi dan tanggung jawab sosial antara laki-laki dan perempuan. Namun pada kenyataannya perbedaan gender telah melahirkan berbagai ketidak adilan. terutama pada perempuan. berlaku sepanjang masa. ketidak adilan gender termanifestasikan dalam berbagai bentuk ketidakadilan.

Contoh-contoh marginalisasi: Pemupukan dan ♣pengendalian hama dengan teknologi baru yang dikerjakan laki-laki. mesin yang diasumsikan hanya membutuhkan tenaga dan keterampilan laki-laki. Beberapa studi dilakukan untuk membahas bagaimana program pembangunan telah meminggirkan sekaligus memiskinkan perempuan (Shiva. ♣Usaha konveksi lebih suka menyerap tenaga perempuan. menggantikan tangan perempuan dengan alat panen ani-ani. Sebagai contoh. Subordinasi Subordinasi pada dasarnya adalah keyakinan bahwa salah satu jenis kelamin dianggap lebih penting atau lebih utama dibanding jenis kelamin lainnya. Namun pemiskinan atas perempuan maupun laki yang disebabkan jenis kelamin merupakan salah satu bentuk ketidakadilan yang disebabkan gender.1. eksploitasi. Seperti Program revolusi hijau yang memiskinkan perempuan dari pekerjaan di sawah yang menggunakan ani-ani. Mosse. Marginalisasi perempuan sebagai salah satu bentuk ketidakadilan gender Proses marginalisasi (peminggiran/pemiskinan) yang mengakibatkan kemiskinan. 1996). ♣Peluang menjadi pembantu rumah tangga lebih banyak perempuan. Selain itu perkembangan teknologi telah menyebabkan apa yang semula dikerjakan secara manual oleh perempuan diambil alih oleh mesin yang ummunya dikerjakan oleh tenaga laki-laki. Sebagai contoh apabila seorang isteri yang hendak mengikuti tugas belajar. atau hendak berpergian ke luar negeri harus mendapat . ♣Pemotongan padi dengan peralatan sabit. ♣Banyak pekerjaan yang dianggap sebagai pekerjaan perempuan seperti “guru taman kanak-kanak” atau “sekretaris” dan “perawat”. Di Jawa misalnya revolusi hijau memperkenalkan jenis padi unggul yang panennya menggunakan sabit. tafsiran ajaran agama maupun dalam aturan birokrasi yang meletakan kaum perempuan sebagai subordinasi dari kaum laki-laki. Banyak kasus dalam tradisi. Perempuan dipinggirkan dari berbagai jenis kegiatan pertanian dan industri yang lebih memerlukan keterampilan yang biasanya lebih banyak dimiliki laki-laki. 2. banyak terjadi dalam masyarakat terjadi dalam masyarakat di Negara berkembang seperti penggusuran dari kampong halaman. banyak pekerja perempuan tersingkir dan menjadi miskin akibat dari program pembangunan seperti internsifikasi pertanian yang hanya memfokuskan petani laki-laki. 1997. Kenyataan memperlihatkan bahwa masih ada nilai-nilai masyarakat yang membatasi ruang gerak terutama perempuan dalam kehidupan. Sudah sejak dahulu ada pandangan yang menempatkan kedudukan dan peran perempuan lebih rendah dari lakilaki.

izin suami. majikan. Kata kekerasan merupakan terjemahkan dari violence. 3. baik di dalam rumah tangga sendiri maupun di tempat umum. Label kaum perempuan sebagai “ibu rumah tangga” merugikan. menunjukkan perempuan mengerjakan hampir 90% dari pekerjaan dalam rumah tangga. Sementara label laki-laki sebagai pencari nakah utama. keponakan. (breadwinner) mengakibatkan apa saja yang dihasilkan oleh perempuan dianggap sebagai sambilan atau tambahan dan cenderung tidak diperhitungkan. Pelaku bisa saja suami/ayah. Pelaku kekerasan bermacam-macam. tatapi kalau suami yang akan pergi tidak perlu izin dari isteri. ada yang bersifat individu. 5. dan beberapa dilakukan oleh perempuan. mertua. Oleh karena itu kekerasan tidak hanya menyangkut serangan fisik saja seperti perkosaan. Berbagai observasi. ia dianggap tegas. Hal ini tidak hanya terjadi dalam lingkup rumah tangga tetapi juga terjadi di tempat kerja dan masyaraklat. Pelabelan negatif secara umum selalu melahirkan ketidakadilan. ada juga di dalam masyarakat itu sendiri. artinya suatu serangan terhadap fisik maupun integritas mental psikologis seseorang. bisnis atau birokrat. jika hendak aktif dalam “kegiatan laki-laki” seperti berpolitik. Kekerasan Berbagai bentuk tidak kekerasan terhadap perempuan sebagai akibat perbedaan. Hal ini mengakibatkan terjadinya diskriminasi dan berbagai ketidakadilan yang merugikan kaum perempuan. Misalnya pandangan terhadap perempuan yang tugas dan fungsinya hanya melaksanakan pekerjaan yang berkaitan dengan pekerjaan domistik atau kerumahtanggaan. Beban Ganda Bentuk lain dari diskriminasi dan ketidak adilan gender adalah beban ganda yang harus dilakukan oleh salah satu jenis kalamin tertentu secara berlebihan. muncul dalam bebagai bentuk. namun standar nilai tersebut banyak menghakimi dan merugikan perempuan. (perempuan). sepupu. Apabila seorang laki-laki marah. bahkan di tingkat pemerintah dan negara. tetapi juga yang bersifat non fisik. tetangga. Salah satu stereotipe yang berkembang berdasarkan pengertian gender. paman. Standar nilai terhadap perilaku perempuan dan laki-laki berbeda. anak laki-laki. 4. . Dalam suatu rumah tangga pada umumnya beberapa jenis kegiatan dilakukan laki-laki. yakni terjadi terhadap salah satu jenis kelamin. seperpti pelecehan seksual sehingga secara emosional terusik. Sehingga bagi mereka yang bekerja. pemukulan dan penyiksaan. tetapi bila perempuan marah atau tersinggung dianggap emosional dan tidak dapat menahan diri. Pandangan stereotipe Setereotipe dimaksud adalah citra baku tentang individu atau kelompok yang tidak sesuai dengan kenyataan empiris yang ada.

Dirasakan banyak ketimpangan. • Konferensi di Mexico. 1985 setujui pembentukan UNIFEM lembaga PBB untuk perempuan dengan program WAD (Women and Development) 1979 CEDAW-PBB. Indonesia meratifikasi CEDAW. Peran perempuan di domestik dan publik Women have a vital role to play in the promotion of peace in all sphares of life. ikatan kelompok • Jiwa interpreneur (keseimbangan pendapatan-pengeluaran) • Perhatian terhadap pemenuhan kebutuhan dasar keluarga. bangsa. the nation. bangsa. 1995 merinci 12 keprihatinan terhadap perempuan yang dikenal dengan 12 critical issues. 1990 menyetujui program GAD (Gender and Development) dengan strategi Pengarustuaamaan Gender. • Konferensi ICPD. the community. 12 tahun 2000 tentang Pemilu . meskipun ada juga ketimpangan yang dialami kaum laki-laki di satu sisi. Indonesia meratifikasi CRC (Convention Rights of Children). 36 tahun 1990. dan negara Perjuangan Kesetaraan laki-laki dan perempuan (internasional) • Deklarasi HAM. Secara Nasional antara lain: Adanya ♣UUD 1945 yang sudah empat kali diamandemen tentang♣UU No. 1952 hak politik dan ekonomi perempuan diadopsi PBB. terutama bagi anak-anaknya • Perajut persatuan dan kesatuan hidup masyarakat. Cairo 1994 mengagendakan perlindungan terhadap hak reproduksi perempuan dalam pembangunan yang berkelanjutan. • Konferensi di Beijing. VIII. in the family. terutama bila bergerak dalam bidang publik. dan negara • Pendidik pertama dan utama bagi generasi penerus keluarga. Women must participate equally with men in the decision making process which help to promote peace at all the levels (Deklarasi Konferensi Mexico. melalui Keputusan Presiden No. and the world. 7 tahun 1984. toleransi. • 1963. Commission on the Status of Women (1967) memberi aspirasi pada lahirnya PKK. PBB (1948) memberi aspirasi bagi gerakan feminis untuk memperjuangkan hak-hak perempuan (all human beings are born free and equal in dignity and rights). • Pertemuan di Vienna. Dalam proses pembangunan. • Konferensi di Nairobi. kenyataannya perempuan sebagai sumber daya insani masih mendapat pembedan perlakuan.selain bekerja di tempat kerja juga masih harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga. melalui UU No. 1975) Kelebihan/potensi perempuan: • Rasa sosial. 25 tahun 2000 Propenas ♣UU No. gerakan global emasipasi masuk dalam agenda PBB (ECOSOC) untuk diakomodasi Negara anggota. 1975 menyetujui program WID (Women in Development) sebagai strategi meningkatkan peran wanita.

pada saat ini masih banyak kebijakan. IX. program dan kegiatan pembangunan yang belum peka gender. penyadaran dan advokasi • Penyatuan persepsi. yang mana belum mempertimbangkan perbedaan pengalaman. Berbagai peningkatan pemberdayaan perempuan bisa dilihat dengan meningkatnya kualitas hidup perempuan dari berbagai aspek . beban kerja masih berat. Di lain pihak. juga masih belum mapannya hubungan kemitraan antara pemerintah dengan masyarakat maupun lembaga-lembaga yang memiliki visi pemberdayaan perempuan yaitu dalam tahap-tahap perencanaan. dan penyadaran kepada semua pihak untuk mewujudkan kesetaran gender dan perlindungan anak dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. ini terlihat dari kesempatan kerja perempuan belum membaik. Untuk meningkatkan status dan kualitas perempuan juga telah diupayakan namun hasilnya masih belum memadai. Penyebabnya antara lain belum adanya kesadaran gender terutama di kalangan para perencana dan pembuat keputusan. ketidak lengkapan data dan informasi gender yang dipisahkan menurut jenis kelamin (terpilah).Presiden No. . aspirasi dan kepentingan antara perempuan dan laki-laki serta belum menetapkan kesetaran dan keadilan gender sebagai sasaran akhir pembangunan. Upaya-upaya dan usaha yang dilakukan pemerintah dalam rangka KKG Upaya mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender sebagai visi Kementerian Pemberdayaan Perempuan RI sebenarnya merupakan bentuk pembaruan pembangunan pemberdayaan perempuan yang selama tiga dasa warsa telah memberikan manfaat yang cukup besar. kedudukan masih rendah. meskipun masih belum optimal. pemahman. Prinsip dasar membangun kesetaran gender di Indonesia • Menghargai pluralistik • Pendekatan sosio-kultural • Peningaktan ekonomi dan kesejahteraan rakyat • Penegakan HAM dan supremasi hukum • Penghapusan kekerasan dan diskriminasi • Penyadaran pilar pembangunan • Pemerintah: sosialisasi dan advokasi • Masyarkat: sensitisasi dan advokasi • Dunia usaha. 9♣IInstruksi tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional.

pemerintah bertanggung jawab untuk merumuskan kebijakan-kebijakan pemberdayaan perempuan di tingkat nasional maupun daerah. (Zaitunah Subhan. Dengan demikian pemberdayaan perempuan dalam rangka mewujudkan KKG merupakan komitmen bangsa Indonesia yang pelaksanaannya menjadi tanggung jawab seluruh pihak eksekutif. 2001) Dalam GBHN 1999-2004 menetapkan dua arah kebijakan pemberdayaan perempuan yakni pertama meningkatkan kedudukan dan peranan perempuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara melalui kebijakan nasional yang diemban oleh lembaga yang mampu memperjuangkan terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender. masyarakat dan berbangsa serta bernegara merupakan indikator keberhasilan pemberdayaan perempuan khususnya upaya kesetaraan dan keadilan gender mulai dapat dirasakan. masih sering dijumpai ketimpangan antara laki-laki dan perempuan baik dalam memperoleh peluang. Sebaliknya pada tingkat sosial ekonomi menengah ke bawah. yudikatif. Sesuai dengan dua arahan kebijakan itu. meningkatnya mobilitas perempuan baik migrasi domestik maupun internasional serta semakin membaiknya peran perempuan di lingkup keluarga.pelaksanaan. yang pelaksanaannya dapat memberikan hasil terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender di segala bidang kehidupan dan pembangunan. Selain nilai-nilai budaya patriarkhi yang dilegitimasi dengan (atas nama) agama dan sistem sosial yang menempatkan perempuan dan laki-laki dalam kedudukan dan peran yang berbeda dan dibeda-bedakan. Meskipun kemajuan perempuan ini hanya bisa dinikmati pada tataran masyarakat yang sosial ekonominya mapan (menengah ke atas). 17-18. kesempatan dan akses serta kontrol dalam pembangunan. serta perolehan manfaat atas hasil pembangunan. . Hal ini tidak lain karena masalah struktural utamanya. tokoh-tokoh agama dan masyarakat secara keseluruhan. hal. legislatif. Kedua meningkatkan kualitas peran dan kemandirian organisasi perempuan dengan tetap mempertahankan nilai persatuan dan kesatuan serta nilai historis perjuangan perempuan dalam rangka melanjutkan usaha pemberdayaan perempuan serta kesejahteraan keluarga dan masyarakat. pemantauan dan evaluasi kebijakan dan program pembangunan Bergesernya proporsi pekerjaan utama perempuan dari pertanian ke ranah industri.

Tujuan utama program ini adalah tercapainya perbaikan status kesehatan reproduksi kaum perempuan dan laki-laki melalui kebijakan program kesehatan reproduksi dan kependudukan yang sensitif gender. serta serangkaian koordinasi telah dilakukan dalam upaya perbaikan undang-undang yang masih bias gender seperti UU No. serta melalui aplikasi konsep gender dalam formulasi dan pelaksanaan kebijakan dan program untuk kesehatan reproduksi dan kependudukan. untuk tahun 2001 (Repeta 2001). . 1 tahun 1974 tentang Perkawinan dan UU No. Program Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan. Kementerian Pemberdayaan Perempuan telah bekerjasama dengan UNFPA dalam melaksanakan serangkaian kegiatan Mainstreaming Gender Issues in Reproductive Health and Population Policies and Programmes. peningkatan kesejahteraan dan perlindungan anak dan upaya peningkatan kemampuan. Program Peningkatan Kesejahteraan dan Perlindungan Anak. Hal ini akan dicapai melalui penguatan kapasitas nasional untuk melakukan pengarusutamaan gender. Program Peningkatan Peran Masyarakat Pemampuan Kelembagaan Pengarusutamaan Gender. • Pengembangan modul sosialisasi/advokasi gender. Sarana dan Prasarana. Mencakup Program Pengembangan dan Keserasian Kebijakan Pemberdayaan Perempuan. Propenas 2000-2004 telah melakukan mainstreaming kebijakan dan program pembangunan pemberdayaan perempuan. Program Sumber Daya. dan kabupaten/kota. maka untuk mewujudkan kesetaran dan keadilan gender harus menjadi komitmen bersama. Selanjutnya dalam Rencana Strategi Kementerian Pemberdayaan Perempuan 2001-2004. propinsi dan kabupaten/kota. advokasi. dan pelatihan analisis gender baik di tingkat pusat.Berdasarkan arah kebijakan yang dimandatkan oleh GBHN 1999-2004 untuk butir pemberdayaan perempuan. Mengingat produk tersebut merupakan undang-undang. Dalam rangka mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender melaui program yang peka akan permasalahan gender. Selanjutnya Propenas telah dirumusakan secara lebih rinci setiap tahunnya ke dalam Rencana Pembangunan tahunan (Repeta). Upaya mengaktualisasikan dan memanifestasikan dan mengakselerasi-kan PUG di sektor strategis. 62 tahun 1958 tentang Kewarganegaraan. propinsi. program yang disusun terdiri dari program dalam rangka pembangunan pemberdayaan perempuan. • Program Peningkatan Peranserta masyarakat dan penguatan kelembagaan PUG dilakukan dengan melalui: sosialisasi. Kementerian Pemberdayaan Perempuan juga telah melaksanakan program dan langkah konkrit antara lain: • Program Pengembangan dan keserasian kebijakan pemberdayaan perempuan.

maka ketimpangan atau kesenjangan pada kondisi dan posisi perempuan tetap saja akan terjadi. • Tersedianya data dan informasi yang terpilah menurut jenis kelamin secara berkala dan berkesinambungan dari propinsi dan kabupaten/kota mengenai pengarusutamaan gender dalam pembangunan daerah. kondisi perempuan di bidang ekonomi.• Pengembangan alat untuk analisis gender yang digunakan dalam perencanaan program dan dikenal dengan Gender Analysis Pathway (GAP). selain itu ketimpangan lebih banyak dialami perempuan dari pada laki-laki. sosial. • Pengembanagan Homepage untuk penyediaan data dan informasi program pembangunan pemberdayaan perempuan. berbangsa dan bernegara. konsep kesetaraan dan keadilan gender dan jaringan informasi dengan website. XI. X. pengambilan keputusan dan aspek lainnya. • Fasilitasi bantuan teknis kepada daerah propinsi. Saran dan pesan: Pada kesempatan ini dihimbau kepada para kandidat puteri Indonesia yang dibanggakan untuk berperan aktif dalam memajukan posisi dan kondisi perempuan Indonesia dalam . hankam dan HAM berada pada posisi yang tidak menguntungkan. bermasyarakat. pekerjaan. • Penyusunan Profil Gender untuk 26 propinsi. Kurangnya keikutsertaan perempuan dalam memberikan konstribusi terhadap program pembangunan menyebabkan kesenjangan yang ada terus saja terjadi. dimana perempuan kurang memperoleh akses terhadap pendidikan. dan budaya. Bahwa status perempuan dalam kehidupan sosial dalam banyak hal masih mengalami diskriminasi haruslah diakui. politik. dimana diharapkan perempuan memiliki peranan yang lebih kuat dalam proses pembangunan. dan Problem Base Analysis (PROBA). Akibat diskriminasi gender yang telah berlaku sejak lama. Kesimpulan Berdasarkan uraian di atas menunjukkan bahwa diskriminasi gender telah melahirkan ketimpangan dalam kehidupan berkeluarga. Keadaan ini menciptakan permasalahan tersendiri dalam upaya pemberdayaan perempuan. Kondisi yang tidak menguntungkan ini apabila tidak diatasi. Kondisi ini terkait erat dengan masih kuatnya nilai-nilai tradisional terutama di pedesaan. kabupaten dan kota.

Bias Gender dalam Pendidikan. Apa Itu Gender. H. 2002. 3 Agustus 2004 Daftar Pustaka: Achmad Muthali’in. Gender dan Pembangunan. Nasaruddin Umar. Edisi ke-2. 2002. Bahan Informasi Pengarusutamaan Gender.segala aspek/bidang pembangunan. 2003. (Pengantar). BPS. Mudahmudahan apa yang telah disampaikan dapat memberi manfaat yang sebesar-besar bagi diri sendiri. Surakarta. Abdul Djamil. BPS. Sekaligus saya tekankan semoga semua kandidat puteri Indonesia dapat menjunjung tinggi agamanya dan jatidirinya sebagai Bangsa Indonesia yang aman dan damai. Jilid I Penerbit IAIN Walisongo dengan Gama Media. 4 Propinsi dan 16 Kabupaten/Kota Terpilih. Jakarta. Kementerian Pemberdayaan Perempuan. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI. 1998. MA. Modul Pelatihan. et all. BPS. 2002. Pesan khusus untuk semua kandidat adalah menjaga jatidiri puteri Indonesia yang bermoral karena kita mempunyai macam-macam agama yang diakui dan ragam budaya yang dapat dijalankan dan dijaga kelestariannya. JICA dan UNFPA. Deputi Bidang Kesetaraan Gender bekerjasama dengan Bangun Mitra Sejati. 2002. Buku 1. Panduan Gender dalam Perencanaan Partisipatif. 1996. Sri Suhandjati Sukri (Editor). dalam keluarga. Dra. MA. 2001. Diterbitkan atas kerjasama RIFKA ANNISA Women’s Crisis Centre dengan Pustaka Pelajar. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan. serta lingkungan masyarakat luas. Profil Wanita Indonesia. Keadilan dan Kesetaraan Gender untuk BUMN/BUMD dan Perusahaan Swasata. Kantor Menteri Negara Peranan Wanita. Dr. misalnya melalui aktifitas peningkatan pengetahuan dan penyebarluasan seluruh informasi sebagaimana telah dipaparkan tersebut di atas. Muhammadiyah University Press. H. Kantor Menteri Negara Peranan Wanita. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI. Pedoman Teknis Perencanaan Pembangunan Berperspektif Gender. Bahan Informasi . 2003. Tingkat Nasional. United Nations Developmen Fund for Women. Bias Jender dalam Pemahaman Islam. baik pada kalangan sendiri. Gender Statistics and Indicators 2000. Buku Referensi Pelatihan: Fakta dan Indikator Gender. Julia Cleves Mosse. Statistik Kesejahteraan Rakyat. Hj. Dr. masyarakat bangsa dan Negara. Buku 2. 2001.

suku. Adalah sejarah yang mencatat bahwa dua bulan setelah Sumpah Pemuda dideklarasikan. Zaitunah Subhan. Bahan Informasi Gender. status sosial dan bahkan agama. Jong Islamieten Bond bagian Wanita dan Organisasi Wanita Utomo. planners. Bahan Informasi Pengarusutamaan Gender. Bagaimana Mengatasi Kesenjangan Gender. Kementerian Pemberdayaan Perempuan. Dulu. Ediisi ke-2. tetapi juga berani memikul senjata turun ke medan perang untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini. mereka tidak hanya gigih dalam menyuarakan hak-haknya. Sumber: Hari Pembebasan Kaum Perempuan<center></center> KALAU kita menyimak catatan sejarah perjalanan Hari Ibu yang setiap tahunnya diperingati pada tanggal 22 Desember. adalah bukti sejarah bahwa semangat pluralisme (keberbedaan) yang merupakan modal utama untuk membangun persatuan. Putri Indonesia. Salah satu agenda pokoknya adala menggabungkan organisasi-organisasi perempuan Indonesia dalam sebuah federasi tanpa sama sekali membedakan latar belakang politik. tores and professor rosario s. amaryllis t. Perencanaan erperspektif Gender. 1994. 2003. Bahan Informasi Pengarusutamaan Gender. Edidisi ke-2. maka berkumpul sekira 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatra untuk menyelenggarakan kongres pertamanya dengan mengambil lokasi di Yogyakarta. dalam membangun Good Governance. persisnya pada tanggal 22 Desember 1928. Buku 4. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI. del rosario with the assistance of professor rosalinda pineda-ofreneo for Unifem and NCRFW). Buku 3. Peningkatan Kesetaraan dan Keadilan Jender. Bunga Rampai “Bahan Pembelajaran Pelatihan Pengarusutamaan Gender dan Program Pembangunan Nasional”. and implementors. Gender and Development Making the Bureaucracy gender-responsive. Hadirnya organisasi seperti Aisyiah. UNFPA. sesungguhnya telah tumbuh subur di kalangan tokoh . 2002. Edisi ke-2. a sourcebook for advocates.Pengarusutamaan Gender. 2002. BKKBN. muncul kesan bahwa semangat perjuangan kaum perempuan tempo dulu ternyata tidak sedangkal semangat yang sering ditampilkan pada peringatan Hari Ibu saat ini seremonial dan bahkan konsumerisme. Kementerian Pemberdayaan Perempuan. (developed by dr. Wanita Katolik. Jong Java bagian Perempuan. Pemantauan dan Penilaian. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI. Modul 1: Apa itu Gender? UNIFEM and NCRFW.

wanita sejak dua pertiga abad yang lalu. adalah sejarah pula yang mencatat bahwa dari kongres perempuan Indonesia yang pertama itu berhasil dirumuskan beberapa rekomendasi penting dalam rangka memperjuangkan hak-haknya. kaum perempuan Indonesia ternyata telah memiliki kesadaran mengenai arti pentingnya pendidikan dan kesehatan sebagai modal utama untuk bisa keluar dari berbagai ketertinggalannya. . Tuntutan kaum perempuan kepada pemerintah tentang pemberian beasiswa untuk anak perempuan dan sekolah-sekolah perempuan. Bahkan jika kita menyimak catatan penting yang dihasilkan oleh kongres perempuan tahun-tahun berikutnya seperti tertuang dalam buku ”Peringatan 30 tahun Kesatuan Pergerakan Perempuan Indonesia 1928-1958”. Sebagai gambaran. Yang tidak kalah pentingnya. Tidak keliru kalau momentum yang kini diperingati sebagai Hari Ibu itu hadir sebagai puncak kebangkitan kesadaran kaum perempuan Indonesia dalam rangka menghimpun kekuatan bersama untuk bisa keluar dari berbagai ketertinggalannya. maka jauh sebelumnya kaum perempuan Indonesia pernah mengungkapkannya pada Kongres PPPI tahun 1930 yang ditandai dengan lahirnya kesepakatan untuk membentuk Perkumpulan Pemberantasan Perdagangan Perempuan dan Anak-anak (P4A). Semua itu juga memberi isyarat kepada kita bahwa gerakan kaum perempuan pada saat itu sesungguhnya tidak kalah majunya dibanding dengan perjuangan kaum perempuan saat ini. bahkan jauh sebelum kemedekaan Indonesia diproklamasikan. Melalui kongres perempuan pertama itu pulalah berhasil dirumuskan beberapa rekomendasi yang berisi tuntutan penerbitan surat kabar sebagai media untuk meyuarakan hak-hak kaum perempuan sampai kepada tuntutan pemberian bantuan khusus bagi perempuan janda dan anak yatim. sampai tuntutan pemberlakuan syarat-syarat pelaksanaan perceraian yang tidak merugikan hidup kaum perempuan. penolakan tradisi perkawinan anak perempuan di bawah umur termasuk kawin paksa. kita pun akan segera mengetahui bahwa banyak dari isu sentral yang diangkat gerakan perempuan saat ini. Itu semua menunjukkan bahwa jauh sebelum ada lembaga yang sekarang banyak menyuarakan arti pentingnya kesetaraan dan keadilan gender. termasuk di dalamnya kesepakatan penyelenggaraan kongres perempuan tahunan dalam rangka mengisi dan memelihara kelangsungan perjuangannya. Jangan lupa. bahkan komunitas dunia banyak bicara mengenai masalah perdagangan anak dan kaum perempuan. jika saat ini kita. dari kongresnya yang pertama itu pula lahir kesepakatan untuk mendirikan badan musyawarah bernama Perikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia (PPPI) dengan misi pokoknya untuk menjalin hubungan di antara semua perhimpunan perempuan. adalah beberapa rekomendasi penting yang lahir dari kongres perempuan pertama 75 tahun yang lalu. sesungguhnya merupakan isu yang pernah diagendakan dalam perjuangan kaum perempuan tempo dulu.

Kalau dirinci.kita gembira ialah teristimewa djuga oleh karena di kalangan kaum ibu sendiri belum banjak jang mengetahui atau mendjadikan kewajibannja ikut menjeburkan diri di dalam perdjoangan bangsa. Simak cuplikan pidato Soekarno di hadapan peserta kongres pertama kaum perempuan tanggal 22 Desember tahun 1928 waktu itu yang mengisyaratkan besarnya perhatian sekaligus pengakuan tokoh politik terhadap potensi yang dimiliki gerakan kaum perempuan pada saat itu sebagai berikut: ”Berbahagialah kongres kaum ibu. kita tidak sahadja gembira hati akan kongres itu oleh karena kaum bapak belum insyaf akan keharusan kenaikan deradjat kaum ibu. Bung Karno punya obsesi yang lebih karena ingin menjadikan gerakan perempuan waktu itu sebagai bagian dari gerakan memperjuangkan kemerdekaan. Itulah pula awal sejarah yang kemudian mengilhami banyak organisasi perempuan setelah itu terlibat secara langsung dalam perjuangan kemerdekaan.Bukan hanya itu. Kongres PPPI tahun 1930 itu juga telah melahirkan rumusan kerja lebih konkret lagi yang antara lain ditandai dengan lahirnya rekomendasi yang meniscayakan arti pentingnya penyelidikan kondisi kesehatan kaum perempuan dan sebab-sebab terjadinya kematian bayi di pedesaan. rekomendasi megenai arti pentingnya kampanye berkait dengan segala akibat buruk yang ditimbulkan dari banyak kasus perkawinan usia dini sampai kepada upaya mempelajari hak pilih bagi kaum perempuan yang sekaligus merupakan wujud kesadaran kaum perempuan waktu itu akan arti pentingnya upaya bisa mengakses kekuasaan sebagai media untuk mewujudkan perjuangannya. Pada tahun 1930. 1928). oleh karena dari pada kaum bapak masih banyak jang kurang pengetahuan akan harganja sokongan kaum ibu itu. Kongres Kaum Ibu. dan belum banjak jang berkehendak akan kenaikan deradjat itu. Bahkan seperti pernah ditulis Gadis Arivia dalam artiakelnya yang berjudul ”Soekarno dan Gerakan Perempuan (2001). Istri Sedar yang didirikan di Bandung muncul menyatakan diri ingin meningkatkan status perempuan Indonesia melalui perjuangan kemerdekaan. Gagasan dasarnya. kaum perempuan dari kalangan parpol dan ormas berbasis agama Aisyiah dan Wanita Katolik menjadikan perjuangan kemerdekaan sebagai agenda utamanya. bahwa perdjoangan mengedjar keselamatan nasional bisa djuga lekas berhasil zonder sokongannja kaum ibu. Tersirat dalam cuplikan pidato itu adalah sikapnya yang sangat mendorong kebangkitan kaum perempuan dalam rangka memperjuangkan hak-haknya. Setelah Jepang menyerah. Hal yang sama juga dilakukan pula oleh Wanita Muslimat dari Masyumi. tidak bakal ada persamaan hak antara laki-laki dan perempuan bila tidak ada kemerdekaan. misalnya. .” (Soekarno. di mana masih ada sahadja kaum bapak Indonesia jang mengira.. sesungguhnya masih begitu banyak kiprah sekaligus sumbangan pemikiran berarti yang telah diberikan kaum perempuan pada saat itu. diadakan pada suatu waktu.

Lebih parahnya lagi. Esensi kedua hari penting bagi perempuan adalah sama: memperjuangkan hak-hak perempuan di segala bidang. Wilujeng Hari Ibu!*** Penulis. Begitu luhur dan mulia. Itu pula sebabnya. adalah beberapa saja dari sekian banyak masalah yang harus dijadikan agenda utama perjuangan kaum perempuan Indonesia saat ini dan ke depan. Fak. sebagiannya berani mengangkat senjata. 9 Maret 2002). itulah kesan yang muncul kalau kita menyimak sejarah perjuangan kaum perempuan yang awalnya diilhami oleh penyelenggaraan kongres perempuan pertama pada tanggal 22 Desember tiga perempuan abad yang lalu. mahasiswi jurusan biologi. apalagi penuh hura-hura. Selama ini. apalagi bila dibandingkan dengan negara-negara lain. Kian maraknya kasus perdagangan anak dan perempuan. jumlah buku sastra Indonesia boleh dibilang sangat sedikit. di Bandung lahir organisasi bernama Lasjkar Wanita Indonesia (Lasjwi) yang dibidani oleh Aruji Kartawinata.Lima belas tahun berikutnya. Sebaliknya. Meretas Kekerasan Tersamar<center></center> Hari perempuan sedunia yang jatuh tanggal 8 Maret lalu diperingati dengan cukup provokatif. karya fiksi yang sedikit ini . tahun 1945. Bulan ini. Sumber:Pikiran Rakyat Tren Perjuangan Perempuan dalam Sastra Merangkul Tabu. tidak berlebihan jika Hari Ibu yang setiap tahun diperingati bangsa ini. sepatutnya kita selenggarakan tidak hanya dalam bentuk seremoni yang hampa makna. masih tinginya angka kematian ibu akibat kehamilan atau melahirkan. Lalu bagaimana perjuangan perempuan di bidang sastra? Ternyata telah muncul fenomena pemberontakan perempuan dalam sastra yang bisa kita sebut spektakuler. peminat masalah gender. MIPA Universitas Padjadjaran Bandung. sebagian yang lainnya bertugas membantu prajurit yang luka kalau bukan menyiapkan makanan bagi para prajurit yang sedang bertempur dalam rangka memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini. Sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat perempuan di Jakarta menuntut pemerintah dan DPR untuk memprioritaskan hak dan kesejahteraan perempuan (SH. perempuan Indonesia pun merayakan Hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April setiap tahun. bahkan berani. masih banyaknya korban kaum perempuan akibat tindakan kekerasan dalam rumah tangga. kita jadikan momentum Hari Ibu itu sesuai dengan akar historisnya sebagai hari pembebasan kaum perempuan dari berbagai belenggu yang menindasnya. Mereka yang tergabung dalam organisasi ini.

Cerita tentang perselingkuhan Yasmin dan Saman serta kecintaan Laila pada Sihar membawa tokoh-tokohnya bertualang di negeri Paman Sam. Sebuah negeri yang bisa jadi dianggap sebagai media pelarian ketertekanan seksual sang tokoh pada kultur yang membesarkannya. Kehadiran buku-buku ini bagai oase bagi masyarakat yang ”kepanasan” oleh etika timur yang kuat tetapi tak berani melawannya secara frontal. mulai dari mereka yang gemar berburu buku-buku porno stensilan hingga doktor-doktor ilmu sastra yang mejanya penuh dengan naskah-naskah seminar. Beradaptasi dengan terjadinya proses pelipatgandaan dan penyebaran secara sosial tanda. Eksistensi Seks Dalam Larung. terutama dalam hal seks. Membakar Kebekuan Fiksi sastra yang ditulis kedua pengarang perempuan ini mampu membakar kebekuan gerilya sastra sekaligus meruntuhkan tembok pembatas antara sastra pop dan sastra serius. Melalui perlawanan terhadap tabu ini. dan benda-benda komoditas. salah satu kesamaan menonjol dari sisi feminisme kedua novelis perempuan ini adalah keberanian mereka dalam mengemas cinta dan seks dalam bungkus yang benar-benar berbeda. Di mana industri seks-nya melimpah. bahkan ada jenis komoditi yang menjanjikan seks-seks ilegal. tanda-tanda tubuh (body signs) serta potensi libido di balik tubuh (libidinal value) menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya komoditas. Laila dan Sihar” (hal. Mungkin karena Amerika–lah yang dianggap negeri yang mampu mewakili representasi eksistensi seksual perempuan. Keduanya mampu menjadi trend dan dibaca oleh kalangan yang kompleks.tak banyak yang mempunyai kekuatan untuk menarik perhatian publik. mereka meretas fenomena kekerasan tersamar terhadap perempuan. voyeurism (ngintip). Hingga akhirnya muncul Ayu Utami dengan Saman dan Larung-nya serta Dewi Lestari dengan Supernova. Mengalir deras di tengah masyarakat yang dilanda proses diseminasi sosial yang semakin cepat. sampai surveillance sex (dokumentasi seks orang- . Mereka berani melawan tabu yang selama ini menjadi magma terpendam pada masyarakat yang sarat dengan konvensi-konvensi budaya. amateur. Ayu menunjukkan keberanian dalam bercerita tentang eksistensi seks perempuan. Tanpa disengaja mereka menolak tegas kultur yang menekan eksistensi seks perempuan timur sekaligus mengejek terma dalam masyarakat komoditas. di mana tubuh (body). Mereka mampu merepresentasikan seks sebagai eksistensi keperempuanannya. Lalu apa resep mereka dalam mendobrak kebekuan sastra selama ini? Yang jelas. tahun 1996: ”Cerita ini berawal dari selangkangan teman-temanku sendiri: Yasmin dan Saman. mature dan older (orang bangkotan). bukan sebagai komoditas masyarakat kapitalis semata. khususnya yang bermuatan erotis. informasi. yang membentuk semacam sistem libidonomics yaitu sebuah sistem ekonomi yang mengeksploitasi setiap potensi libido. semata untuk memperoleh keuntungan ekonomi. lewat diary tokoh Cok. Seks menarik justru karena melanggar kenormalan dalam masyarakat tradisional.77). citra. bahkan abnormal semisal bondage sadomasochis (seks sadis).

Melokalisasinya pada fantasi seksual. cross country. tidur bersisian dengan kawan lelaki dalam tenda dan perjalanan.” (hal. ”… tapi membiarkan lelaki masturbasi dengan payudara kita bukanlah pengalaman yang menyenangkan kalau terus-terusan. ”…Kamu biarkan aku mengikatmu pada ranjang seperti kelinci percobaan. pecah dalam tingkah laku tokoh-tokoh novel ini. ”…tidak semua anak perempuan bisa melakukan itu. Tapi dialah yang paling terlambat mengenal pria secara seksual. Lukas. Pada masa itu ada rasa bangga bahwa dia memasuki dunia lelaki yang dinamis. senggama. beragama. 160) Kerinduan Yasmin kepada Saman lebih karena perasaan superioritasnya terhadap lakilaki ini. bermoral pancasila. Padahal Yasmin merasa berbeda dengan para perempuan yang mengukuhkan patriarki. Mereka menerimanya sebagai nilai moral. Hanya saja. cerdas. kaya. kenapa aku harus menderita untuk menjaga selaput daraku sementara pacarku mendapat kenikmatan? …Aku pun melakukannya. seks yang digambarkan Ayu bukanlah teknik persetubuhan melainkan pemaparan problema yang bisa jadi dialami banyak wanita. Misalnya cerita tentang bagaimana Cok melepas keperawanannya. Kamu tak punya pilihan selain membiarkan aku menunda orgasmemu atau membiarkan kamu tersiksa tak memperolehnya. Kamu biarkan jari-jariku bermain-main dengan tubuhmu seperti liliput mengeksplorasi manusia yang terdampar. 157) Eksistensi seksualitas perempuan Indonesia yang selama ini terkungkung budaya patriarki dilibas habis oleh Ayu Utami. dan ia merasa ada supremasi pada dirinya.” (hal. setia pada suami—kembali menemukan kebebasan seksualnya bersama Saman. Semasa sekolah dia paling banyak berlatih fisik.” Ejekan atas keperawanan yang menjadi momok pengaturan laki-laki terhadap perempuan dilakukan Ayu melalui tokoh Laila meskipun sosok ini mampu melawan gender keperempuanannya. menyangkal hal-hal yang lembek. dan lain-lain jenis olahraga kelompok yang kebanyakan anggotanya lelaki. Aku menerimanya dan melakukan seksualitas terhadapnya. Kamu biarkan aku menyakitimu seperti polisi rahasia mengintrogasi mata-mata yang tertangkap. sang bekas frater. Bagaimana mitos kesucian keperawanan membuat Cok membiarkan sang lelaki bermasturbasi dengan payudaranya. yang selama ini menjadi endapan dalam masyarakat Indonesia yang patriarkal. Membuatmu menderita oleh coitus interuptus yang harfiah. Naik gunung. berkemah. suatu ideal. …Lalu kupikir-pikir. 118) . ”Mereka menerima dominasi pria sebagai suatu ide yang total dan murni. Tokoh Yasmin—yang sempurna. tak pernah mengolah kekejaman pada dirinya meskipun hanya sebatas imajinasi. Juga.” (hal. Itu karena suaminya. cantik. aku sebagai nilai estetis. berpendidikan.orang biasa) Problema-problema seks perempuan. turun tebing. Lukas lebih tertarik pada eksplorasi posisi fisik daripada eksplorasi relasi psikis seperti yang dikhayalkan Yasmin.

” (hal. …Kupeluk kamu. Politik tanda berkaitan dengan eksistensi tubuh (pria atau wanita) yang dieksploitasi sebagai tanda atau komoditas tanda (sign comodity) dalam berbagai media. dan identitas tubuh di dalamnya. sifat-sifat rasionalitas ekonomi dikendalikan sifat-sifat irasionalitas hasrat. Ketika kreativitas ekonomi dikuasai dorongan hasrat dan sensualitas. Persoalan politik tubuh berkait dengan eksistensi tubuh dalam kegiatan ekonomi-politik. distribusi. Jebakan Politik Tubuh Memang keberanian Ayu Utami dalam Saman dan Larung. Ia hanya ingin menyelamatkan Laila. ”ekonomi politik tanda (tubuh)” (political economy of signs) yaitu bagaimana tubuh diproduksi sebagai tanda-tanda di dalam sebuah sistem ekonomi pertandaan (sign system) masyarakat informasi yang membentuk citra. Tak pernah terjadi persetubuhan yang sebenarnya. Sebelum kamu mengenali tubuhmu sendiri. konsumsi). yang benar-benar belum bisa diterima kultur Indonesia dilakukan Ayu dengan metafora yang sangat indah. yang terurai dalam tiga terma. bisa menjerumuskan mereka dalam jebakan politik tubuh (body politics). juga Dewi Lestari dalam Supernova-nya. Kedua. Lelaki takut padanya. berdasarkan konstruksi sosial atau ”ideologi” tertentu. Tapi keperawanan Laila yang terjaga —seperti layaknya yang diagungkan budaya Indonesia—justru menjadi problema. Kerinduan Laila pada Sihar membuatnya mampu melihat faktor lelaki pada diri Tala. Tala bukanlah seorang androgini yang maniak.Ternyata supremasi itu tidak dapat dibawa tokoh Laila sampai dewasa. Hingga akhirnya Laila melupakan Tala sebagai perempuan. yang tercipta adalah . 153) Penggambaran tentang dunia lesbian. Keperawanan dinilai sebagai tanggung jawab. makna. Juga ketika bercumbu dengannya. Ekspresi libido seks Laila terhambat. Kini tak kubiarkan kamu menemani lelaki itu sebelum kamu mengetahuinya. dua lelaki yang dicintai Laila muncul pada diri Tala. ”ekonomi politik tubuh” (political economy of the body) yaitu bagaimana tubuh digunakan dalam berbagai kerangka relasi sosial dan ekonomi. Dalam hal ini Ayu masih mencoba membela kaumnya. Aku mengelus di punggung dan mencium di kening. ”ekonomi politik hasrat” (political economy of desire) yaitu bagaimana sistem ekonomi menjadi sebuah ruang berlangsungnya pelepasan hasrat dari berbagai kungkungan. Dan aku tak pergi. Aku tahu kamu belum pernah mengalami orgasme. ”…Kamu berbaring di sisiku dan kulihat air mengalir dari matamu ke arah rambut. dilihat dalam berbagai relasi sosial. Gabungan sosok Saman dan Sihar. Itu sebabnya ia tak bebas ketika telah sama-sama telanjang dengan Sihar. Dalam ekonomi-politik hasrat. Peran tokoh Shakuntala (Tala) yang androgini dimunculkan Ayu secara estetis sebagai representasi kebebasan untuk memilih. dan penyalurannya lewat berbagai kegiatan ekonomi (produksi. Ia tak bisa masuk ke dalam dunia pria dewasa. Ketertarikan Laila ditanggapi Tala sehingga dalam Larung ini muncul sebuah relasi seksual di mana lelaki benar-benar diabaikan. Ketiga. Pertama.

suami dari empat istri. dan ayah bagi . musisi jazz Amerika. justru menjadi perangsang laki-laki untuk membacanya. namun ia selalu merasa dirinya perempuan. Sugiarti. Boys Don’t Cry. Sumber: Sinar Harapan Transseksual. yang menciptakan semacam ”erotisasi kebudayaan”. Yang jelas. Liz Riley terlahir lelaki. yang mengondisikan orang memuja ”citra tubuh”. bahkan ia sempat kawin dan memiliki anak. dan keinginan masyarakat dieksploitasinya. Pada tanggal yang sama. Setapak langkah perbaikan telah dimulai dari dunia sastra. yang hidupnya dikisahkan dalam film pemenang Oscar. Contohnya Brandon Teena. ada juga orang yang terlahir perempuan tetapi merasa dirinya lelaki sehingga mereka hidup sebagai laki-laki. Minoritas yang Terlupakan<center></center> BENARKAH Mbak Dorce Gamalama melawan kodrat? Pertanyaan ini mungkin timbul dalam hati saat membaca wawancara Kompas dengan artis Dorce (Kompas. aspirasi. seorang ayah yang berubah menjadi ibu. ADA orang yang terlahir lelaki namun sejak kecil merasa dirinya perempuan sehingga mereka hidup layaknya perempuan. Mbak Dorce mengungkapkan bahwa ia sejak kecil merasa dirinya perempuan. Pengamat Perempuan & Budaya. Bisa jadi ekspresi kebebasan dua perempuan pengarang ini dijadikan media penumpahan keliaran libido laki-laki. Oleh: R. sehingga akhirnya memutuskan untuk hidup sebagai ibu. sebagai cara untuk mendominasi selera (taste). Contoh lainnya Billy Tipton. yang dikenal sebagai lelaki ramah. setidaknya mereka berdua telah memulainya dan berhasil menarik perhatian publik. Akibatnya. memang tak gampang meretas kultur yang telah tertanam kuat. yang dipenuhi berbagai strategi penciptaan ilusi sensualitas. 27/7/2003). Relawan pada UNICEF Indonesia. Sensualitas dijadikan kendaraan ekonomi dalam rangka menciptakan keterpesonaan dan histeria massa (mass hysteria) sebagai cara mempertahankan kedinamisan ekonomi. Sebaliknya. Ekspresi perlawanan terhadap kekerasan tersamar dalam ranah seks perempuan. Berbagai bentuk khayalan lewat voyeurisme diciptakan.Namun. Contohnya. Suara Pembaruan Minggu mengetengahkan kisah Liz Riley. apa yang beroperasi di balik aktivitas ekonomi adalah semacam ”teknokrasi sensualitas” (technocracy of sensuality)—di dalamnya nilai-nilai budaya ekonomi ditopengi tanda-tanda sensualitas. Bukan untuk menyelami ketertekanan perempuan tapi sebagai media eskapisme erotisme otak mereka. dalam wawancara dengan Kompas.sebuah ”budaya ekonomi”.

karena seseorang yang tomboi. Sebaliknya. namun biasanya mulai disadari dengan kuat menjelang remaja. ketika ia meninggal. identitas jenis kelamin adalah perasaan mendalam atau keyakinan dalam batin seseorang yang membuatnya merasa sebagai lelaki atau perempuan. pakar sekalipun. Jenis kelamin jiwa mulai tertanam pada usia dua tahun. semata-mata tergantung dari perasaan orang bersangkutan dan tidak selalu sejalan dengan penilaian orang. Jadi. Mayoritas warga memiliki sex identity sesuai dengan jenis kelamin fisiknya. yang ditemukan pada tahun 1972 oleh Money dan Erhardt setelah meneliti ratusan individu. artinya dapat sejalan atau bertolak belakang dengan kelamin fisik. masih tetap merasa perempuan). yaitu transseksual dari perempuan ke lelaki. MFT berperilaku sebagai perempuan. FMT bertubuh perempuan namun merasa dirinya lelaki (bukan sekadar tomboi. Jenis kelamin jiwa merupakan variabel mandiri terhadap seks fisik. Brandon Teena dan Billy Tipton disebut female-to-male transsexual (FMT). Menurut Kessler dan McKeena. kekurangan testosteron pada janin dengan kelamin . MFT bertubuh lelaki tetapi merasa dirinya perempuan. yaitu transseksual dari lelaki ke perempuan. Sebelum sex identity ditemukan. Ada yang disebut male-to-female transsexual (MFT).sejumlah anak. identitas jenis kelamin adalah keyakinan mendalam pada seseorang tentang apakah dia itu pria atau wanita. Misalnya. mengapa orang yang terlahir laki-laki sampai merasa dan berperilaku sebagai perempuan dan sebaliknya pada FMT. dalam Gender: An Ethnomethodological Approach (1978). jika seorang transseksual diminta menyelaraskan perilaku dengan bentuk fisiknya. masyarakat sering menyalahkan. sering dianggap satu-satunya penentu perilaku jenis seseorang. Karena itu. Sex identity. transseksual memiliki sex identity berbeda dari seks fisiknya. Namun. Masalahnya. sekalipun berperilaku kelaki-lakian. Dengan kata lain. Sebaliknya. Padahal. Namun. yang dapat disebut jenis kelamin jiwa. para pakar menganggap transseksual merupakan orang abnormal yang perlu disembuhkan dengan aneka terapi. yang lebih banyak terjadi bukan perubahan perilaku. Karena itulah. Sebagian menduga pengaruh hormon dalam kandungan. termasuk kejutan listrik. Mereka merupakan contoh kaum transseksual. petugas jenazah mendapati ia memiliki alat genital wanita. melainkan perubahan fisik. kini disadari bahwa sex identity lebih kuat daripada kelamin fisik. berupa alat reproduksi. Namun. Penyebab transseksual belum dapat ditentukan secara pasti. Hakikat transseksual Selama ini alat kelamin fisik. masih ada variabel lain. yaitu identitas jenis kelamin (sex identity) atau identitas jender.

tetapi tidak mau menerima bahwa bagi transseksual. tetapi dari hari ke hari ia hidup dalam kehampaan. ada juga transseksual yang tertarik kepada kaum sejenis. sekolah. ia akan hidup dalam tekanan batin yang luar biasa dan tiada hentinya. Namun. karena mendapatkan dunia tetapi kehilangan dirinya sendiri. baik keluarga. sebagaimana masyarakat juga tidak boleh mendiskriminasi orang yang berbeda warna kulit. Julie mengaku tetap tertarik kepada perempuan. Contohnya Julie Peters. transseksual tertarik terhadap lawan jenis sehingga mirip warga masyarakat umumnya. kelebihan testosteron pada janin dengan kelamin fisik perempuan dapat menyebabkannya memiliki seks jiwa lelaki. Variabel yang juga menentukan perilaku adalah orientasi seks. Namun. agar diterima lingkungannya. kecenderungan mencari pasangan. Setiap orang. sekalipun berbeda. sebab sebenarnya masih merupakan misteri. transseksual yang terpaksa menutupi atau mengingkari jati dirinya bisa saja kelihatan sukses. bahkan oleh keluarganya sendiri. diri sendiri itu adalah jati dirinya sesuai dengan sex identity yang dimiliki. Jutaan transseksual hidup dalam lorong kegelapan. sebagian besar transseksual masih belum diterima lingkungannya. sejauh yang bersangkutan tidak melakukan hal-hal yang merugikan orang lain. Selagi mayoritas warga bangsanya mensyukuri nikmatnya hidup di alam kemerdekaan. memperlihatkan obsesi berlebihan terhadap . yang memiliki jati diri perempuan. banyak transseksual belum dapat merasakan apa makna kemerdekaan itu sesungguhnya. atau status sosialnya. akan berpura-pura menjadi "lelaki biasa". yaitu terbuang dari lingkungannya atau berpura-pura menutupi jati dirinya.fisik lelaki dapat menyebabkannya memiliki kelamin jiwa perempuan. yaitu pada identitas seksualnya. politisi Australia. perbedaan ini tidak dijadikan dasar untuk meminggirkan atau mendiskriminasikan mereka. keyakinan. Sebaliknya. Sungguh beruntung jika seorang transseksual diterima lingkungannya. menunggu kapan sinar terang akan muncul pada akhir lorong tersebut. mendapat perlakuan sederajat. Pada pilihan kedua. seorang MFT. maupun masyarakat. Kaum transseksual hanyalah orang yang berbeda. Para transseksual ini terpaksa memilih satu di antara dua pilihan yang sama pahitnya. Setelah usia 40 tahun Julie memutuskan menjalani operasi dan menjadi perempuan. Dengan demikian. yang terlahir sebagai lelaki tetapi memiliki sex identity perempuan. Seyogianya. Namun. kaum transseksual perlu menghindari perilaku yang menimbulkan citra negatif. Umumnya. "Apakah gunanya seseorang mendapatkan seluruh dunia tetapi kehilangan dirinya sendiri?" Banyak orang mengamini sabda tersebut. pekerjaan. Di lain pihak. Namun. Namun. Masyarakat demokratis mensyaratkan asas pluralisme dan egalitarianisme. seperti berdandan terlalu mencolok. Lorong kegelapan? Seorang bijak pernah mengatakan.

Media massa yang mengeksploitasi peristiwa tersebut rasanya telah memojokkan perempuan. Lebih dari itu. tahun 2000). Dengan menarik perhatian publik untuk lebih memperhatikan cerita-cerita yang dibangun media yang lebih mengutamakan cerita kehidupan perempuan pelaku aborsi. sesuai jati diri yang mereka miliki. tulisan ini justru ingin memperbincangkan konstruksi makna ibu dalam media massa kita. maka laki-lakilah yang menjadi penghujatnya.lelaki. Dan biasanya. Prof Vern Bullough dari California State University. hanya satu yang ditulis oleh perempuan. Hari Ibu 1997 telah “dicemari” dengan ditemukannya banyak mayat calon bayi akibat aborsi ilegal. klinik-klinik aborsi ilegal. Semoga seiring dengan meningkatnya pemahaman. hujatan panjang di media massa pun diarahkan kepada perempuan. dengan mengambil kasus lama yang terjadi di tahun 1997. Penting sekali agar para transseksual dapat membangun citra yang positif. Negeri ini sedang dilanda krisis multidimensi dan untuk mengatasinya diperlukan kerja sama seluruh komponen bangsa. seperti telah diperlihatkan Mbak Dorce dan mendiang Billy Tipton. masyarakat dapat menerima dengan wajar kaum transseksual. menyatakan pemahaman terhadap kaum transseksual akan bermanfaat besar untuk memahami konsep jender secara lebih komprehensif. dalam "Transgenderism and the Concept of Gender" (International Journal of Transgenderism. dan bahkan yang tidak relevan sama sekali seperti cerita tentang siapa yang menemukan mayat bayi-bayi malang tersebut. agar mereka dapat berdarma bakti secara optimal. Special Issue. Sebagai akibatnya. baik yang telah operasi maupun belum. sehingga dari lima artikel yang disoroti dalam tulisan ini. Di tengah perdebatan apakah nama Hari Ibu bisa mewakili kepentingan semua perempuan. hal yang sangat diperlukan guna membangun masyarakat dunia yang lebih manusiawi. Tinggal di Bengkulu Sumber Kompas Cyber Media Perempuan dan Media Massa (1) <center></center> Catatan kecil ini ingin ikut serta merayakan Hari Ibu 22 Desember 2003. Bambang Suwarno Aktivis Perempuan dan Relasi Jender. di antaranya lewat prestasi. dan menjadi pekerja seks komersial. dan bukannya mempertanyakan siapa laki-laki yang bertanggung jawab atas keberadaan calon bayi . Artikel mengenai buruknya perilaku perempuan yang adalah calon ibu marak di koran-koran baik nasional maupun lokal. ketika perempuan yang dihujat. termasuk juga bagi perempuan yang secara biologis belum menyandang predikat ibu.

and Gender Skepticism” (1990). misalnya mempertanyakan penolakan perempuan untuk menjadi ibu sementara predikat tersebut masih dianggap sakral. Di satu sisi. Karena kita hidup dalam budaya yang tidak memungkinkan kita untuk “bergender netral” seperti yang dikatakan oleh feminist Perancis Susan Bordo dalam artikelnya “Feminism. dituduh. bagaimana perempuan seharusnya bereaksi? Bagi mereka yang memilih untuk tidak menjadi ibu dengan cara tersebut mungkin akan merasa malu karena perbuatannya sudah dipublikasi. Apakah sebagian yang lain yang menilai sucinya posisi ibu akan tersentuh dengan kenyataan bahwa secara biologis sebenarnya mereka mampu menghadirkan sebuah kehidupan baru tetapi lebih memilih untuk tidak melakukannya? Apakah yang lain akan merasa diobjektifikasi. Postmodernism. mana ada media yang juga tidak bergender?(2). memilih untuk menjadi atau menolak menjadi ibu tidak hanya berurusan dengan fungsi biologis perempuan saja.tersebut. Apakah ini karena media massa masih belum kuat betul atau cukup dewasa untuk membebaskan dirinya dari pelukan “diskriminasi gender” yang tiada akhir?(4) Atau memang karena mereka sendiri pada dasarnya bersifat diskriminatif terhadap perempuan? Jika kita menilik figur angka pelaku media massa. Apakah catatan ini sudah demikian prejudis mencurigai adanya konspirasi antara laki-laki dan media massa? Jika dilihat dari perilaku media. Ironisnya. media massa memberikan aplaus . kabar menghebohkan dari Jakarta soal keberanian sejumlah wanita yang menolak menjadi ibu manusia melalui cara-cara yang menyinggung perasaan sosial … apakah sebutan “ibu” tidak lagi sesakral dan seterhormat yang kita ketahui sehingga mesti ditolak?”(3) Membaca kalimat tersebut. Yang pasti. sebagai agen dari propaganda adil gender. bahkan dikatakan sebagai senjata kelompok marginal untuk mendapatkan posisinya. Salah satu dari artikel yang menjadi sorotan dalam catatan ini.(5) Ketimpangan jumlah antara jurnalis perempuan dan laki-laki tentu tidak dengan sendirinya menjawab pertanyaan kenapa media kita begitu seksis. rasanya tidak berlebihan untuk meragukan sifat pembebasan media yang selama ini didengung-dengungkan. “Kendati bukan perilaku baru. media telah dengan sewena-wena membela kepentingan laki-laki. maupun dikorbankan? Tentu saja ada banyak alasan bagi perempuan untuk melakukan aborsi. tetapi juga kewajiban perempuan untuk menjaga nilai-nilai moral yang dianut lingkungan sosialnya. di sisi lain masih juga menjalankan praktek-praktek obsolit. sebagian mungkin merasa bebas untuk memilih melakukannya sedangkan yang lain mungkin tidak punya pilihan lain. jika media massa di satu sisi mempromosikan nilai-nilai “kesejajaran” antara laki-laki dan perempuan. ada suatu pembagian yang sangat tidak seimbang antara perempuan dan laki-laki. Belum tentu jurnalis perempuan sudah memiliki perspektif gender dalam menurunkan tulisan dan menilai permasalah sosial yang dihadapinya.

masyarakat. tentu saja didukung oleh institusi yang bernama negara. sebagai “lawan jenisnya”."(10) Karakterisitik media massa yang manipulatif seringkali juga merugikan perempuan jika kasus-kasus yang diangkat melibatkan perempuan. betapapun dikotomi publik-domestik masih bisa diperdebatkan. media massa telah menjadi tidak lebih sekedar perpanjangan penindasan laki-laki terhadap perempuan. Tarik ulur antara meraih dunia publik dan mempertahankan dunia domestik. Secara sinis (atau karena cemburu?) dan dihantui oleh kontra-hegemoni kultural dan material yang dimiliki perempuan. media massa. Dalam hal ini. semakin mempertajam segregasi ranah publik-domestik. Lalu kembali lagi peran rumah tangga ditekankan.(7) Namun.(8) Hal ini tentu bukan hanya hasil patrimoni dari imperialisme dan kolonialisme. “… kesempatan pun tidak banyak buat wanita untuk berperan di luar rumah.pada slogan “peran ganda perempuan modern”.” (6) Secara arogan. media menganggap bahwa keberhasilan perempuan di ranah publik tidak lebih sekedar cerita sukses negara untuk mengeksploitasi mereka dalam mendorong pembangunan nasional. tentu saja dengan menggunakan perspektif media massa yang maskulin. Gagasan bahwa rumah tangga adalah urusan perempuan. di sisi lain mereka menuntut perempuan. tetapi lebih merupakan transformasi yang muncul karena keterlibatan semua faktor ini yang terus direproduksi karena telah terbukti menguntungkan sebagian pihak yang kebetulan semakin berkuasa. (9) Pada saat media massa menghujat peran perempuan bekerja. terutama “kaum perempuan” dan “kaum buruh” . untuk tetap tinggal “terdomestikasi” dengan meragukan kemampuan mereka untuk berkarya di dunia publik. karena pembagian posisi peran lakilaki dan perempuan yang jelas dan tertib bisa mendukung suksesnya program-program pemerintah. mereka memuja-muja peran ibu sebagai faktor penentu dari masa depan bangsa dengan mempersiapkan keturunan mereka dalam menghadapi era tinggal landas. Dalam mengenangkan kasus Marsinah. Seringkali media massa menulis bahwa partisipasi perempuan di dunia publik hanyalah bukti kejahatan kapitalisme yang mendehumanisasi mereka. mengaku memiliki hak untuk menentukan apa yang harus dilakukan atau tidak seharusnya dilakukan oleh perempuan. Apakah mereka harus kehilangan hak-hak istimewa (privilege) yang sudah terlegitimasi hanya untuk satu posisi yang tidak jelas jika mereka harus memasuki dunia asing yang dinamakan ranah publik? “Peradaban milenium ketiga hanya bisa berharap agar kaum wanita memilih untuk tidak gagal menjadi ibu anak-anak zaman. bahkan membanting nilai kemanusiaan mereka di bawah nilainilai produksi dan pasar. bisa jadi membingungkan perempuan dalam menentukan posisi mereka. bukankah diskriminasi gender sudah ada bahkan sebelum era modernisme? Model produksi kapitalisme bukankah “hanya” memanfaatkan ketimpangan gender itu yang kemudian. walaupun kedengaran tidak sesuai dengan slogan kesejajaran. tahun 1993. karena reproduksi pola yang terus menerus.

Namun penulis berpikir. berterimakasih kepada media massa karena mereka telah secara terus menerus melaporkan kasus tersebut dan menarik perhatian internasional terhadap stigma tersebut. teman-teman. atau karena kecurigaan adanya praktek-praktek kekuatan politik di belakang pembunuhan ini? Media massa telah mengeksploitasi seluruh kehidupan masa lampau Marsinah. Alhasil media massa telah menciptakan skenario mereka sendiri tentang perang gender yang tidak pernah berakhir. karena siapa dia sebelum kematiannya bukanlah “berita yang pantas dipublikasikan”. atau sebaliknya bersikap radikal manghadapi ketidakadilan ini dan dengan sadar menerima label “pemberontak”. dan pada akhirnya meminta penghargaan dalam bentuk fasilitas untuk menstimulasi keberhasilan yang lebih baik lagi. Dalam ketimpangan relasi gender inilah. Ketika cerita-cerita tentang buruh perempuan menampilkan nama-nama lain. yang mempunyai kekuasaan untuk membentuk bagaimana cerita harus berakhir. pacar. . atau juri. apa yang terjadi jika Marsinah tidak terbunuh? Atau pertanyaan yang lebih seksis. apakah isu gendernya. perempuan ditantang untuk menentukan posisinya. dan meramu serta menyajikan semua ini dengan terminologi-terminologi politik yang susah dipahami. tetangga. mencampuri kehidupan keluarganya. Siapakah yang memenangkan kontes ini? Nampaknya justru media massa. Sayangnya. media massa-lah yang melahirkan “reproduksi” dari sosok Marsinah. Dengan malu-malu mereka mempertontonkan pencapaian mereka dan menentukan sendiri standar keberhasilannya. Akhir cerita berubah menjadi kabur dan hanya media massa yang sadar akan substitusi antara apakah yang sesungguhnya (real) dan reproduksi dari yang sesungguhnya (hyper-real). Reproduksi berita-berita dan spekulasi media massa yang ditampilkan secara berulang-ulang telah menghasilkan versi-versi yang semakin fantastis. Mereka telah membawa nama Marsinah ke posisi terpopuler dan paling banyak dibicarakan hanya setelah kematiannya. konflik kelas.(12) Secara tidak sadar hal ini mempertahankan “ketergantungan terwariskan” pada perempuan terhadap laki-laki. apakah mau secara naive terbawa arus dan mempertahankan “hegemoni kultural” yang terus-menerus dan mendapatkan penghormatan sebagai “ratu rumah tangga”. Kita mungkin tidak pernah tahu apakah sikap kritis Marsinah adalah perwujudan dari kesadaran politisnya atau hanyalah pertahanan dirinya menghadapi kesulitan hidup sehari-hari.(workers and women)(11). perempuan seringkali menjadi kikuk dan rapuh menghadapi semua tantangan ini. meminta-minta pengakuan dari laki-laki. Tidak terelakkan juga analisa politik bahwa pembunuhan Marsinah ini adalah panggung cerita konflik antara laki-laki yang direpresentasikan oleh orang-orang yang berkuasa sebagai “pembunuh” dan perempuan diwakilkan oleh Marsinah sebagai “terbunuh”. Media massa menggunakan “kematiannya” dan bukannya kehidupannya yang singkat sebagai bahan berita. bagaimana jika Marsinah bukan seorang perempuan melainkan laki-laki? Bukan Marsinah tetapi Marsono? Apa yang sebetulnya menarik perhatian media massa tentang skandal ini? Apakah pembunuhannya. peserta kontes yang tidak terdaftar.

atau setidaknya empati terhadap perempuan. mulai dari kasus TKW sampai dengan pornografi. “Ruang” dimana mereka bisa belajar memahami pengalaman mereka. melainkan “ruang” yang dapat membantu perempuan menjadi tumbuh. perempuan mampu untuk membebaskan diri mereka dari “alienasi” terhadap tubuh dan kehidupannya sendiri. dimana media massa mempunyai akses bebas terhadap sumber-sumber berita dan kebebasan mengemukakan gagasannya. menyusui. Apalagi di era reformasi sekarang ini. jika isu yang sama muncul kembali. bukankah Hari Ibu intinya memperingati semua perempuan. tidak hanya pengalaman yang sama melainkan juga yang berbeda-beda dan personal. Sama susahnya untuk merelakan 30% posisi calon legislatif pada perempuan. Namun demikian. dengan melihat begitu banyaknya kejadian yang menimpa perempuan sepanjang tahun ini saja. yaitu jika “medianya” saja sudah tidak sensitif gender. sedang menyelesaikan studi di Universitas Leiden. semoga saja ada lebih banyak suara yang mendukung. yakni hamil. apakah mungkin “pesannya” menjadi lebih adil terhadap perempuan? Dan satu lagi. dan bukan hanya yang telah dan bersedia menjadi ibu saja? Wiwik Sushartami adalah Pemerhati masalah gender dan media. dan kecenderungan media massa untuk menampilkannya dalam berita dengan bahasa-bahasa dan analisa yang melecehkan dan tidak berpihak pada perempuan. dewasa dan berpikir lebih rasional dengan kesadaran mereka sendiri. jika tidak diskriminatif gender sebetulnya adalah alat yang bisa diandalkan bagi perempuan untuk menyuarakan kepentingan mereka. sebagai penerus aspirasi masyarakat. Hanya melalui kesadaran inilah. kasus aborsi tidak bisa dipisahkan juga dari perilaku laki-laki.“Memperingati hari yang sering disebut hari permuliaan kaum ibu ini. melahirkan. adalah saat yang paling baik untuk berterima kasih atas jasa-jasa ibu dalam melaksanakan tugas kodraatinya.” (13) Bukanlah pernghargaan maupun pengakuan yang seharusnya diminta perempuan. apapun yang mereka lakukan. Perwujudan dari rasa terima kasih itu bisa berupa pemberian kesempatan untuk berkarya cipta seperti kaum pria. tidak tanpa dominasi. Sebab. justru pembagian “ruang” inilah satu-satunya gagasan yang masih susah untuk diserahkan oleh laki-laki. enam tahun sejak kasus aborsi masal tersebut meledak.(14) Media massa. Belanda Catatan Belakang (1)Dua koran lokal yang dibahas dalam tulisan ini mengacu pada isu-isu nasional . Namun. Harapannya adalah. semoga tulisan ini tidak terlalu skeptis dan pesimis dengan menanyakan satu pertanyaan akhir yang belum juga terjawab.

4 (11) Marsinah berumur 23 tahun ketika dibunuh. hal 4 (4)Omi Intan Naomi menuliskan bahkan jurnalisme Amerika. Linda J. 1997). hal. 1997). and Politics.. hal 105. Inc. yaitu meminta perlakukan khusus untuk perempuan. Dia bekerja di pabrik komponen jam tangan di Jawa Timur dan dibunuh setelah keterlibatannya dalam protes menuntut pembayaran tambahan. Postmodernism. 19 December 1997. 23 December 1997. paper yang disampaikan dalam International Conference on Women in the Asia-Pacific Region: Person. yang sudah seratus tahun lebih usianya saja sampai tahun 1990an masih menganut sistem gender yang timpang. Bonnie Kertaredja. Jadi masuk akal juga jika jurnalisme Pancasila yang kita punyai juga masih kental dengan bias gender.6% jurnalis perempuan di Indonesia pada tahun 1994 menurut Serikat Jurnalis Indonesia. hal. Dalam “Wartawati Herstory”. Concealing Politics. dalam Feminism/Postmodernism. “Otak dan Watak Terdidik Ibu Manusia”. (New York: the Continuum Publishing Company. Kedaulatan Rakyat. Kedaulatan Rakyat. Nicholson (Ed. (12) Katharina Graham mencatat beberapa kesalahan tipikal yang dibuat oleh perempuan. hal. (5) Secara keseluruhan hanya ada 8.: 104) (6) P. Feminist Theory: The Intellectual Traditions of American Feminism. Kedaulatan Rakyat. Sangkan Paran Gender.). 4 (8) Michael Barrett dalam Josephine Donovan. 22 December 1997. 23 December 1997. “Anak Tekhnologi Mencari Ibu”. Revealing Women: Gendered Icons of Labor in Indonesia. and Gender Skepticism”. (ibid. NUS. Power. “Kembalikan Peran Wanita Sebagai Ibu Rumah Tangga”. “Perempuan Dalam Strategi Pengembangan Sumber Daya Manusia”. (London: Routledge.76. 11-13 Agustus 1997 (10) Abdul Munir Mulkham. (2) Susan Bordo. menentukan sendiri standar kesuksesan mereka yang lebih sering tidak sesuai dengan standar laki-laki. dan tidak mencoba memaknai ulang nilai-nilai femininitasnya sesuai dengan nilai-nilai . 4 (7) Achmad Zaini Abar. “Feminism.1990) (3)Mutrafin. Chapman & Hall. hal. (9) Maila Stivens dalam G.Weix. Bernas. Lihat Weix.sehingga bisa menggambarkan juga suasana nasional.G. Irwan Abdullah (Ed). Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.

Iklan yang ditayangkan terus menerus berpotensi menggiring penonton untuk “harus” mengikuti standar-standar nilai yang disematkan. hal. (13) Widyastuti Purbani. 76. Sebagai contoh yang paling mudah. 125. Melihat Kembali Gereget Peringatan Hari Ibu.hal. rambut lurus hitam adalah nilai yang disampaikan penonton bahwa rambut seperti demikian yang ideal bagi perempuan. seperti halnya pendapat Eriyanto (2001) banyak tayangan ataupun bacaan di media yang melibatkan perempuan dan yang terbanyak tentu saja adalah tayangan iklan. melainkan tersebar di seluruh masyarakat . Bahwa kekuasaan tidak bertumpu pada satu titik sentral termasuk tidak hanya pada pihak-pihak yang dominan. Donovan. Contoh sederhana adalah tayangan iklan. adalah salah satu filsuf postmodernis yang menawarkan analisis tentang motif-motif tertentu pada suatu media atau teks. titik perhatian utama saya adalah pada wacana feminisme. hal. dan peran keluarga dalam sosialisasi ideologi. Produksi Kekuasaan Michel Foucault. Foucault mengatakannya sebagai “produksi kekuasaan”. adalah iklan kosmetik dan minyak goreng. Lihat. Namun dibalik itu. Membongkar Stereotipe<center></center> Publik kini bebas memilih dan menikmati tayangan ataupun bacaan di berbagai media. Lihat Naomi.22 December 1997. 4 (14) “Alienasi” dan “gagasan tentang praksis” adalah dua dari lima fokus utama dalam feminisme sosialis kontemporer. Semua ini tentu tidak lepas dari motif-motif politik-ideologis tertentu dibalik penyajian tersebut. Kebebasan ini bagaikan sebuah representasi hak otonom publik untuk memilih bentuk sajian media yang mereka sukai. Bernas. kita lupa dengan terjadinya “penyeragaman” dalam tayangan ataupun bacaan itu sendiri yang berakibat pada memaksa penonton untuk mengikuti apa yang si pembuat media inginkan. Bagaimana menganalisa masalah ini? Sebagaimana Sara Mills. Menyaksikan iklan shampo.maskulinitas. Iklan kosmetik mengiklankan tentang kulit putih mulus dan tubuh langsing ideal perempuan. Sumber: Jurnal Perempuan Online Membangun Resistensi. hubungan antara perempuan dan kelas. Tiga yang lainnya adalah relasi langsung antara perempuan dan akses produksi. Iklan tentang minyak goreng adalah contoh lain tentang nilai-nilai domestifikasi perempuan sebagai pihak yang harus bertanggungjawab atas segala kesehatan suaminya. Alasannya.

kemudian berusaha memutihkan kulitnya dengan harapan lelaki itu memperhatikannya.”jangan-jangan kolesterol suamiku tinggi karena aku salah pilih minyak goreng”. berkulit putih. atau pejabat. not the fun …” dengan lingkaran merah besar yang menutupi sebagaian tubuh ramping kurus perempuan bule yang sedang melompat. Foucault menegaskan persoalan ini sebagai kekuasaan atas kehidupan modern atau kapitalisme. tetapi dalam bentuk strategi. 2001). atau iklan The Cambridge Diet yang menuliskan kata-kata. kesadaran dan kehendak individu. melainkan jiwa. Mengetahui hal itu. Atas hal ini. presiden. Atau iklan tentang tubuh ideal perempuan langsing dan tinggi. melainkan melalui normalisasi yang positif dan produktif. yaitu melalui wacana. bahwa tubuh ideal perempuan seperti pada perempuan yang menjadi model iklan Tropicana Slim. Perempuan kemudian diatur. Jelas sekali adanya domestifikasi . bertuliskan “Yes! Turunkan berat badan anda hingga 5 kg perminggu!” Katakata itu menunjukkan bahwa menjadi kurus adalah kegembiraan dan kepuasan. “rambut lurus hitam panjang”. yang mencuat terus menerus sehingga secara tidak sadar masyarakat menganggap tubuh perempuan yang ideal dan normal adalah. Dalam iklan tersebut ditampilkan seorang fotografer mengambil ancang-ancang membidik dua gadis kembar. dan berambut lurus. Wacana yang dihembuskan ini secara perlahan-lahan menciptakan kategorisasi.2001). melainkan menormalkan individu agar perilakunya sesuai dengan yang diinginkan si pembuat iklan. “kulit putih”. Kuasa bukanlah milik raja. salah satunya yaitu untuk mencapai target penjualan produk (Eriyanto. melainkan melalui reproduksi kreatif. Disini tengah berlangsung bergulirnya strategi kuasa yang diproduksi terus menerus. Iklan bukan lagi menjadi pelayanan terhadap konsumen. seperti perilaku baik atau buruk yang sebenarnya mengendalikan perilaku masyarakat yang pada akhirnya dianggap kebenaran yang telah ditetapkan. Kekuasaan tidak bekerja melalui penindasan atau represi. gadis berkulit lebih gelap berwajah murung. individu didefinisikan. diciptakan. boss. Produksi kekuasaan yang terjadi kemudian adalah munculnya strategi untuk menghembuskan wacana “langsing”.”Lost the weight. dibentuk. iklan Pond’s yang pernah ditayangkan di media televisi jelas menunjukkan bahwa kulit putih lebih baik daripada berkulit gelap. yang lain berkulit putih. yaitu perempuan cantik adalah yang berkulit putih dan lelaki normal adalah yang menyukai perempuan berkulit putih. Melalui iklan. langsing. bukan tubuh fisik lagi yang disentuh kuasa. Sebagai contoh. Iklan. adalah salah satu tayangan media yang menyebarkan kuasa (strategi) tentang normalisasi tubuh perempuan. Fotografer si lelaki tampan itu memilih membidik kameranya kepada si gadis yang berkulit putih. digiring untuk menjadi ramping. terdapat kata-kata.(tidak ada seorang pun yang memilikinya) (John Lechte. Iklan yang membenarkan “kulit putih lebih cantik daripada kulit hitam” tidak dibentuk dengan reproduksi kekuasaan represif. Atau pada iklan minyak goreng. pikiran. yang satu berkulit gelap.

perempuan bahwa istrilah yang harus bertanggungjawab bila suaminya terkena penyakit tertentu. Masihkah kita perlu membanggakan diri atau bersedih hati karena kulit kita? Iklan-iklan yang memelihara nilai-nilai seperti itu sesungguhnya menumbuhkan stereotip baru terhadap perempuan.1997) sedangkan gender menjelaskan adanya pembedaan laki-laki dan perempuan yang dilihat dari konstruksi sosial-budaya. yaitu konsep yang mencakup seks dan gender dimana seks adalah indentifikasi untuk membedakan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologi (jenis kelamin) yang lebih digunakan untuk persoalan reproduksi dan aktivitas seksual(Suzanne dan wendi.2000). yaitu suatu konsep sosial yang berhubungan dengan pembedaan (distinction) karakter psikologi dan fungsi sosial antara perempuan dan laki-laki yang dikaitkan dengan anatomi jenis kelaminnya (sex). Misalnya perempuan dijelaskan berkarakter baik bila ia sebagai ibu rumah tangga atau istri yang baik (seperti pada iklan minyak goreng). Wacana dominan ini menggeser atau memarginalkan wacana lain yaitu bagi perempuan-perempuan yang tidak berkulit putih dan tidak bertubuh langsing. Istri ideal adalah yang terus merasa bersalah bila terjadi sesuatu pada suami mereka. Bagaimana mungkin kulit hitam bisa menjadi putih hanya dengan kosmetik? Lagipula wacana dominan ini mengandung pelecehan terhadap ras yang berkulit hitam.(Elaine. Mansour Fakih bahkan . Wacana tubuh perempuan yang tidak dominan ini diabaikan (left out). Resistensi Perempuan Melalui Media Seni Sangat memprihatinkan bila perempuan-perempuan yang tidak bisa mencapai wacana dominan tentang tubuh ideal tadi membuat mereka terobsesi dan memaksakan diri dengan berbagai upaya yang bahkan bisa membahayakan mereka. Iklan itu menunjukkan adanya bias dalam menampilkan perempuan dimana istri cenderung ditampilkan sebagai pihak yang salah. Ia menyebutnya sebagai suatu pencerahan terhadap kapitalisme (Adriana Venny. berambut ikal dengan kulitnya yang berwarna. Akibatnya adalah perempuan yang tidak bertubuh langsing dan tidak berkulit putih kehilangan kepercayaan atas tubuhnyadan kehilangan identitas karakter tubuhnya sendiri. Roddick sampai bersusah payah membuat maskot “The Body Shop” serupa boneka Barbie tetapi bertubuh besar. Masyarakat kemudian menginternalisasi “istri ideal” adalah seperti itu. Berbagai upaya mengimbangi wacana dominan ini seperti yang dilakukan Dewi Huges atau Anita Roddick yang peduli terhadap masyarakat pedalaman dengan melihat kecantikan perempuan Afrika pada akhirnya tidak mampu mengalahkan wacana dominan tadi. sedangkan laki-laki berkarakter baik bila ia sebagai individu di atas dunia yang lebih luas (Tierney). Langsing putih dan berambut lurus menjadi wacana dominan perempuan ideal di masyarakat kita.1989) Stereotipe tidak lepas kaitannya dengan seks dan gender.

Iklan-iklan yang membuat standar tubuh perempuan ideal membuktikan bagaimana laki-laki (lebih banyak dibagian produksi iklan) menciptakan perempuan untuk sesuai dengan fantasi mereka tentang “perempuan sexy atau cantik”. Dalam media ini perempuan adalah obyek yang dikreasikan atau diciptakan oleh keinginan. sedangkan pria itu konkrit.1996). karena ada stereotipe dimana ibu rumah tangga seharusnya mengurus rumah tangga. Wacana dominan yang berwajah stereotipe ini memagari perempuan sehingga mereka tidak mampu mengekspresikan dirinya. stereotip oposisi biner menempatkan perempuan pada posisi yang dirugikan dimana ini terjadi pula dalam media seni. Hélén Cixous menulis hirarki oposisi biner yang selalu menempatkan dua hal dalam relasi yang superior-inferior seperti “Activity/passivity. tetapi tradisi tidak memberi tempat kepada anak perempuan diluar lingkungan rumah. sekitar tahun 1901 bahwa saudara perempuannya yang bernama Roekmini ingin menjadi pelukis di akademi senirupa di Den Haag. Roekmini. Intelligible/palpable Man/woman” (Priyatna 2000) Masyarakat manapun.”Perempuan tak akan hidup lagi setelah kematian. kurang cerdas). sedangkan laki-laki adalah penciptanya. beradab. dapat disimpulkan bahwa tampaknya perempuan dalam media ditempatkan sebagai yang abstrak. dekat dengan alam. Dalam suratnya. Tidak hanya iklan. Model-model perempuan adalah obyek yang dikreasi untuk mencapai fantasi tersebut. intelligible).”Perempuan itu lebih cocok untuk dilukis daripada sebagai pelukis. Stereotipe: Wacana Dominan. Wacana Oposisi Biner Stereotipe terhadap perempuan seperti lebih mudah dijelaskan dengan bertitik tolak pada wacana oposisi biner yang menempatkan perempuan pada posisi yang negatif dan tak berdaya. Culture/nature. yang bisa dibentuk sebagaimana yang diinginkan laki-laki. termasuk Indonesia masih memegang stereotip bahwa laki-laki berada di wilayah kiri (aktif. sedang perbuatan adalah pria (activity. mereka dianggap “sinting” atau aneh oleh masyarakat sekitarnya. cerdas) sedangkan perempuan di wilayah kanan (pasif. bukannya melukis (Bianpoen. Head/heart. yang akibatnya terjadi diskriminasi dan ketidakadilan(Fakih 1997). emosional. Perempuan yang “dikerjakan” dan lelakilah yang mengerjakan. palpable). Kenyataan bahwa perempuan dalam media seni tidak diterima sebagai subyek sebetulnya sudah dialami oleh Kartini dan adiknya.” Antiphanes seorang dramawan komedi Yunani juga mengatakan.” Penyair metafisis Inggris pada sekitar abad 17 bahkan menggambarkan perempuan itu cuma kata-kata (passivity. Adanya stereotipe bahwa perempuan tidak boleh di luar lingkungan . perempuan adalah obyek yang pasif. kecuali dibangkitkan lawan kesenian oleh pria. Ketika menjadi pelukis.(Swara Harian Kompas. Atas hal ini. 1999). Seperti yang dialami pelukis Lucia Hartini dan Kartika Affandi Koberl. Seperti Basuki Abdullah seorang pelukis terkenal pernah berkata.lebih jelas mengatakan bahwa stereotipe adalah pelabelan negatif terhadap jenis kelamin tertentu. hasrat dan daya pikir laki-laki. Dalam Sorties. rasional.

Puas tapi Minta Tambah”.1996). Tidak ada aturan seni yang menempatkan perempuan harus sebagai obyek. otot-otot lengan yang kencang dengan sebelah matanya keluar cahaya tajam yang menembus mata-mata yang sedang mengintip. melainkan tulisannya Goenawan Muhammad. Lucia Hartini dan Kartika Affandi Koberl akhirnya mengalami kesuksesan terutama karya mereka yang sangat feminis. Demikian pula Kartika Affandi Koberl dalam karyanya Potret Diri yang lebih menggambarkan integritas perempuan gigih dan kuat dalam menghadapi kesulitan hidup. 1998) Membongkar Stereotip Melalui Media Seni Stereotip memang sangat merugikan perempuan yang tidak hanya dalam iklan tetapi juga masuk ke wilayah seni. bukan karya sastranya. Begitupula di bidang sastra. dan masyarakat lebih percaya bila kesuksesan sebuah karya seni ada di tangan laki-laki (stereotipe). Ada faktor ketidakpercayaan masyarakat dengan mempertanyakan bagaimana mungkin perempuan dapat mencapai kesuksesannya di bidang sastra. Itu berarti bahwa seni tidak dapat diatur oleh adanya stereotipe ataupun konstruksi sosial yang menempatkan perempuan pada posisi yang dirugikan. Perempuan dalam lukisan itu berani dengan tinju terkepal. Ayu Utami penulis novel Saman sebagai pemenang juara pertama sayembara roman DKJ 1997-1998 sempat dicurigai bahwa itu bukan karyanya. Garis-garis kuasnya menaruh kontemplasi dan ekspresi perasaan yang sangat kuat. Seperti dalam surat kabar Suara Pembaharuan.rumah mengakibatkan Roekmini tidak pernah mendapat kesempatan belajar seni rupa seperti yang pernah dicita-citakannya (Bianpone. Dalam lukisannya itu Lucia Hartini telah mendobrak adanya stereotipe dengan menempatkan perempuan sebagai manusia berani dan aktif. media seni ternyata dapat juga menjadi alat untuk mendobrak stereotipe itu sendiri. dituliskan judul yang sangat melecehkan. Namun. Kecurigaan tersebut bisa kita lihat di beberapa media massa dan gunjingan di sekitar kelompok-kelompok sastra. (Suara Pembaharuan. Dalam Srikandi (1993) Lucia Hartini melukis perempuan yang diletakkan sebagai subyek. . Di ranah seni rupa. Akibatnya. dibandingkan dengan media iklan. Hans Georg Gadamer pernah mengatakan bahwa tidak ada aturan-aturan seni yang bersifat universal. Seperti apa yang dikatakan Imanuel Kant bahwa “seni murni adalah seni para genius”. buah pikiran Ayu Utami dicurigai sebagai buah pikiran laki-laki.”’Saman”. Aturan-aturan itu diberikan oleh alam melalui para genius. Dalam media seni kita bisa menemukan semangat kebebasan dibandingkan dengan media iklan. yang dianggap lebih mungkin dan masuk akal. yang isinya mengasumsikan bahwa fragmen dari novel itu benar-benar mengundang libido pembaca (dalam hal ini berarti libido laki-laki) dengan menempatkan Ayu Utami sebagai obyek berita yang sensual.

sebab menurut dia musuh kita adalah laki-laki… Apa salah laki-laki? Jawab Laila: sebab mereka mengkhianati wanita. dan laki-laki sebagai obyek yang dipandang. * Mariana Amiruddin. Ayu Utami yang ditimpa gunjingan sana-sini juga tidak mengurangi kesuksesannya. Mendengar itu Yasmin marah sekali. Sebab menurutku yang curang lagilagi Tuhan: dia menciptakan selaput dara. Itu dinamakan perkawinan. Di dalam novel-novelnya selalu ia tanamkan tentang karakter perempuan mandiri. dia menjadi orang besar yang dihargai oleh orang lain sebagai perempuan perkasa yang memiliki cita-cita mulia. Kelak. Tetapi ketika ke Beirut.Di ranah sastra. pada akhirnya yang salah adalah Tuhan. sehingga kami kepingin berkelahi. 1998) Ayu Utami juga menggugat stereotipe masyarakat tentang hubungan lelaki dan perempuan. Sejak itu posisinya menguatkan perempuan lain untuk ikut berteater sebagai usaha perlawanan mereka. (Utami. ketika dewasa. Bisma Al Huseini dari Mesir melakukan pemberontaknnya lewat media teater. yaitu perempuan sebagai subyek yang memandang. dibentuk dan diciptakan tubuhnya oleh imajinasi keinginan pria. Ia juga memberontak terhadap stereotipe keperawanan perempuan. kataku. jiwa dan pikirannya sendiri. Sumber: Jurnal Perempuan Online .(Bimo Nugroho. Ia seorang aktris yang mencoba melakukan perlawanan kepada cara pandang masyarakat terhadap perempuan yang selama ini sangat stereotipe. Dialah perempuan yang memimpin teater dimana pada awalnya tidak didukung oleh siapa pun. tetapi di lain hal perempuan dapat menggunakan media itu sendiri sebagai sarana resistensi untuk membongkar stereotip bila perempuan itu sendiri bisa menciptakan apa yang benar-benar ia inginkan atas tubuh. dan lelaki itu akan menghidupinya dengan hartanya. Perempuan yang mengejar-ngejar lelaki pastilah sundal. Perempuan akan memberikan tubuhnya pada lelaki yang pantas. dan akan pergi setelah si wanita menyerahkan kesucian … Tiba-tiba aku ingin berteriak. (Utami. Koordinator Jurnal Perempuan dan Jurnalis Radio Jurnal Perempuan di Yayasan Jurnal Perempuan. Mereka cuma menginginkan keperawanan. tapi kukatup mulutku rapat-rapat karena aku tak ingin kembali bertengkar. 2001) Penutup Bahwa perempuan dalam media bisa menjadi obyek yang dieksploitasi. “Dengar kawan-kawan. tapi tidak membikin selaput penis”. jika agama dipakai untuk urusan ini. “Hanya lelaki yang boleh menghampiri perempuan. 1998) Dalam ranah teater atau drama. aku menganggapnya persundalan yang hipokrit. Laila melerai dengan usul menyisihkan dulu perkara itu.

sama sekali tidak terlintas dalam pikiran saya seumur-umur mengenai laki-laki atau perempuan. bisa benar bisa tidak karena tidak sempat menanyakan kepada kantor penjaga makam pahlawan tentang jumlah pahlawan laki-laki dan perempuan di sana. sedangkan anak perempuan akan menjadi ibu rumah tangga. Bahwa semua yang dimakamkan sebagai pahlawan di sana tidak ada yang putri. karena suaranya keras. Pun. PENDIDIKAN yang memperhatikan kesetaraan jender di sekolah-sekolah masih jauh dari yang diidealkan. Apakah terjadi di makam pahlawan di kota-kota lain? Juga. Kalau taman makam pahlawan yang ada hampir di setiap kota atau kabupaten dibangun sebagai bagian tidak terpisahkan dari sejarah perjuangan bangsa ini. menjadi pemimpin masyarakat. Pak?" Pertanyaan tersebut meluncur dari mulut putri kecil saya yang masih duduk di kelas satu sekolah dasar (SD) ketika mengunjungi Taman Makam Pahlawan Kusuma Bakti. Kesadaran mesti dimulai dari keluarga dan ditumbuhkembangkan di sekolah. putri kecil saya mungkin sekarang sudah lupa dengan pertanyaannya. Mary Astuti (2000) menunjuk para guru sebagai pendidik di sekolah kurang mempunyai pengalaman dalam menanamkan nilai-nilai baru dalam hubungan heteroseksual dalam pengasuhan anak di sekolah. Bisa jadi putri saya tidak bermaksud protes lewat pertanyaannya tersebut. Jurug. ya. bisa ditafsirkan adanya supremasi laki-laki sekaligus mengabaikan perempuan dalam perjuangan memerangi penjajah. Pembedaan perlakuan antara murid perempuan dan murid laki-laki juga terjadi pada upacara-upacara yang digelar di sekolah. di samping sekaligus pelestari budaya bangsa. Mereka masih memiliki pola berpikir bahwa laki-laki akan menjadi pemimpin. Kelak putri saya mungkin akan merumuskan pertanyaan lain tentang apakah yang berjuang melawan penjajah hanya laki-laki. Anak laki-laki. Solo. Mereka tidak menyadari murid perempuan juga . inilah awal tumbuhnya kesadaran akan kesederajatan laki-laki dan perempuan.Mengajarkan Kesetaraan Jender<center></center> KOK. Anak perempuan diberikan materi memasak atau menari sehingga mereka bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik atau bisa menjadi penghibur. tetapi saya sebagai bapak akan mengingatnya sebagai saat penting seorang anak menunjukkan "kekritisannya". selalu dipilih sebagai pemimpin upacara. mereka yang dimakamkan di taman pahlawan. lantas siapa yang memasok makanan atau mengobati yang terluka? Untuk situasi masyarakat pada zaman kini. Anak laki-laki akan diberikan pelajaran silat atau bela diri supaya mempunyai rasa percaya yang lebih besar karena dia akan menjadi kepala keluarga. enggak ada nama ceweknya. sungguh mati.

sedangkan berkebun. mengurus kendaraan. tentunya taman makam pahlawan tidak bisa diubah lagi soal perempuan atau laki-laki yang mesti ditempatkan sebagai pahlawan. serta para guru. atau barang-barang yang bernilai ekonomis tinggi selalu untuk lakilaki. penari. Yogyakarta. identik dengan perempuan. Betapa kecut hatinya bahwa perlakuan laki-laki dan perempuan di makam pahlawan sama saja dengan perlakuan di Gedung MPR/DPR. dan mengandalkan ototnya. Pemahaman kesetaraan jender. kesadaran. Cukuplah bila kelak putri saya akan mendapatkan jawaban kesetaraan jender dengan melihat komposisi anggota parlemen negaranya. kasar. penyanyi. Dengan membarui paradigma guru lewat pelatihan yang mendalami jender. tetapi pembedaan berdasarkan kebiasaan belaka. publik. Pembedaan tersebut tidak pernah diprotes siswa perempuan karena semua perlakuan tersebut mereka anggap wajar juga. Dalam buku pelajaran bahasa Indonesia dari sekolah dasar hingga sekolah menengah umum. Kegiatan memasak selalu untuk perempuan. Padahal. permainan untuk anak laki-laki adalah perang-perangan. Sejak dini. Padahal. kepemilikan tanah. guru akan dapat memperlakukan siswa secara adil jender. St Kartono Mengajar di SMU Kolese De Britto. bersuara lantang. dan sosial. KEMBALI pada pertanyaan putri saya pada awal tulisan ini. Profesi polisi. Buku-buku pelajaran pun masih menunjukkan adanya ketimpangan jender. dan tidak ada diskriminasi yang merugikan bagi siswa perempuan ataupun laki-laki. Sumber: Kompas Cyber Media . perempuan dan laki-laki dibedakan dari bentuk permainan. sedangkan laki-laki identik dengan dunia yang keras. dan sensivitas jender. peran perempuan dan laki-laki dibedakan menurut peran domestik.mampu bersuara keras. Pembedaan yang dilakukan bukan menunjukkan perbedaan yang esensial. atau militer masih dilekatkan pada laki-laki. Semasa taman kanak-kanak. sementara juru masak. sesungguhnya telah terjadi banyak perubahan. dan pantas menjadi pemimpin upacara. oleh para penyelenggara pendidikan. kiranya terus-menerus diasah demi perubahan paradigma dan persepsi yang lebih adil jender. Perempuan diposisikan sebagai makhluk lemah dan perlu dikasihani. para pengarang buku pelajaran. sementara anak perempuan main masak-masakan. dokter. Gedung MPR/DPR bukan makam pahlawan.

Bias Gender Keadaan di atas menunjukkan adanya ketimpangan atau bias gender yang sesungguhnya merugikan baik bagi laki-laki maupun perempuan. tidak cengeng. Ketika seorang anak laki-laki diejek. dipukul. kedudukan. Pendidikan di sekolah dengan komponen pembelajaran seperti media. sungguh tidak mudah menjadi laki-laki karena masyarakat memiliki ekspektasi yang berlebihan terhadapnya. Hal ini menjadi beban tersendiri pula bagi perempuan. dan perkasa. Sebaliknya. adat kebiasaan. Gender dimaksudkan sebagai pembagian sifat. Karenanya. Sebut saja gambar seorang pilot selalu laki-laki karena pekerjaan sebagai pilot memerlukan kecakapan dan kekuatan yang "hanya" dimiliki oleh laki-laki. Dalam buku ajar misalnya. maka akan tertanam di benak anakanak bahwa pekerjaan domestik memang menjadi pekerjaan perempuan. tetapi juga melalui pendidikan dalam lingkungan keluarga. Sementara gambar guru yang sedang mengajar di kelas selalu perempuan karena guru selalu diidentikkan dengan tugas mengasuh atau mendidik. banyak ditemukan gambar maupun rumusan kalimat yang tidak mencerminkan kesetaraan gender. ia ingin tampak percaya diri. gagah. Stereotip perempuan yang pasif. dan tidak memperlihatkan kekhawatiran dan ketidakberdayaannya. serta buku ajar yang menjadi pegangan para siswa sebagaimana ditunjukkan oleh Muthalib dalam Bias Gender dalam Pendidikan ternyata sarat dengan bias gender. Mereka haruslah sosok kuat. peran. Ironisnya siswa pun melihat . dan menyapu.Kesetaraan Gender dalam Pendidikan<center></center> BANYAK laki-laki mengatakan. dan kepercayaan masyarakat. Kenyataannya juga menunjukkan. menjadi perempuan pun tidaklah mudah. metode. dan tugas laki-laki dan perempuan yang ditetapkan oleh masyarakat berdasarkan norma. dan dilecehkan oleh kawannya yang lebih besar. Bias gender ini tidak hanya berlangsung dan disosialisasikan melalui proses serta sistem pembelajaran di sekolah. Ini menjadi beban yang sangat berat bagi anak laki-laki yang senantiasa bersembunyi di balik topeng maskulinitasnya. Membicarakan gender tidak berarti membicarakan hal yang menyangkut perempuan saja. emosional. ia biasanya tidak ingin menunjukkan bahwa ia sebenarnya sedih dan malu. dan tidak mandiri telah menjadi citra baku yang sulit diubah. mencuci. tidak rasional dan agresif. Jika ibu atau pembantu rumah tangga (perempuan) yang selalu mengerjakan tugas-tugas domestik seperti memasak. jika seorang perempuan mengekspresikan keinginan atau kebutuhannya maka ia akan dianggap egois.

Ini akan sangat berpengaruh pada peran sosial mereka di masa datang. Misalnya ketika seorang guru melihat murid laki-lakinya menangis. Anak perempuan diarahkan untuk selalu tampil cantik. ia akan mengatakan "Masak laki-laki menangis. lebih luas lagi. Hal ini menanamkan pengertian kepada siswa dan masyarakat pada umumnya bahwa tugas pelayanan seperti membawa bendera. Rumusan kalimat tersebut mencerminkan sifat feminim dan kerja domestik bagi perempuan serta sifat maskulin dan kerja publik bagi laki-laki. "Ayah membaca Koran dan ibu memasak di dapur" dan bukan sebaliknya "Ayah memasak di dapur dan ibu membaca koran". Semuanya ini mengajarkan kepada siswa tentang apa yang layak dan tidak layak dilakukan oleh laki-laki dan apa yang layak dan tidak layak dilakukan oleh perempuan. Jika perempuan tidak dapat memenuhinya ia akan disebut tidak tahu adat dan kasar. dan berani. yang berlangsung di dalam atau di luar kelas. Kalimat seperti "Ini ibu Budi" dan bukan "ini ibu Suci". Hal demikian tidak hanya terjadi di tingkat sekolah. lembut. membawa baki atau pemukul gong dalamupacara resmi sudah selayaknya menjadi tugas perempuan. dan melayani. Sebaliknya ketika melihat murid perempuannya naik ke atas meja misalnya. . ia akan mengatakan "anak perempuan kok tidak tahu sopan santun". Laki-laki nggak boleh cengeng". Hal ini memberikan pemahaman kepada siswa bahwa hanya perempuan yang boleh menangis dan hanya laki-laki yang boleh kasar dan kurang sopan santunnya. Demikian pula jika laki-laki tidak dapat memenuhinya ia akan disebut banci. Siswa perempuan itu dikawal oleh dua siswa laki-laki. Bias gender yang berlangsung di rumah maupun di sekolah tidak hanya berdampak negatif bagi siswa atau anak perempuan tetapi juga bagi anak laki-laki. Dalam upacara bendera di sekolah selalu bisa dipastikan bahwa pembawa bendera adalah siswa perempuan. Singkatnya. selalu menempatkan dua perempuan sebagai pembawa bendera pusaka dan duplikatnya. tetapi bahkan di tingkat nasional. tetapi kepala sekolahnya umumnya laki-laki. kuat. Dalam rumusan kalimat pun demikian. Belum pernah terjadi dalam sejarah: laki-laki yang membawa bendera pusaka itu. ada aturan-aturan tertentu yang dituntut oleh masyarakat terhadap perempuan dan laki-laki. Sementara laki-laki diarahkan untuk tampil gagah.bahwa meski guru-gurunya lebih banyak berjenis kelamin perempuan. Paskibraka yang setiap tanggal 17 Agustus bertugas di istana negara. Demikian pula dalam perlakuan guru terhadap siswa. penakut ata bukan laki-laki sejati. masih sering ditemukan dalam banyak buku ajar atau bahkan contoh rumusan kalimat yang disampaikan guru di dalam kelas.

proses pemisahan dari ibunya. Tidak heran jika semakin banyak anak perempuan mengusahakan penampilan sempurna bak peragawati dengan cara-cara yang justru merusak tubuhnya. Kesetaraan gender seharusnya mulai ditanamkan pada anak sejak dari lingkungan keluarga. Sementara itu. dan tidak takut. ada proses menjadi kuat bagi laki-laki yang selalu diajari untuk tidak menangis. namun ia harus melakukannya jika tidak ingin dijuluki sebagai "anak mami". Keterlibatan Semua Pihak Lalu apa yang dapat dilakukan terhadap fenomena bias gender dalam pendidikan ini? Keterlibatan semua pihak sangat dibutuhkan bagi terwujudnya kehidupan yang lebih egaliter.William Pollacek dalam Real Boys menunjukkan penemuannya. Laki-laki pada usia lima atau enam tahun belajar mengontrol perasaan-perasaannya dan mulai malu mengungkapkannya. Jadilah mereka kemudian anak-anak perempuan yang mengikuti stereotip yang diinginkan seperti tubuh langsing. menjelang dewasa. wajah putih nan cantik. Kedua. orang tua yang . gagal studi. pada anak perempuan selalu ada tuntutan-tuntutan di luar dirinya yang memaksa mereka tidak memiliki pilihan untuk bertahan. Meski berat bagi anak laki-laki untuk berpisah dari sang ibu. di sekolah. ekspresi emosionalnya hilang. Demikian pula dalam hal memutuskan berbagai persoalan keluarga. bayi lakilaki secara emosional lebih ekspresif dibandingkan bayi perempuan. dan malas. tidak lemah. kulit halus dll. Penyebabnya adalah pertama. Objek yang diinginkan ini selalu berkaitan dengan tubuhnya. Namun ketika sampai pada usia sekolah dasar. tentu tidak lagi didasarkan atas "apa kata ayah". sebenarnya. karena anak laki-laki lebih banyak mempunyai persoalan hiperaktif yang mengakibatkan kemunduran konsentrasi di kelas. siswa perempuan umumnya memiliki prestasi akademik yang lebih baik jika dibandingkan dengan laki-laki. Satu-satunya cara yang dianggap aman adalah dengan membunuh kepribadian mereka untuk kemudian mengikuti keinginan masyarakat dengan menjadi suatu objek yang diinginkan oleh lakilaki. Padahal. yakni proses untuk tidak menyerupai ibunya yang dianggap masyarakat sebagai perempuan lemah dan harus dilindungi. Penyebabnya menurut Sommers. Tidak mengherankan jika banyak guru mengatakan bahwa siswa laki-laki lebih banyak masuk dalam daftar penerima hukuman. Jadi. Situasi dan kondisi memungkinkan mereka jauh lebih tekun dan banyak membaca buku. Ayah dan ibu yang saling melayani dan menghormati akan menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya.

Celakanya lagi. Sebab di satu pihak. Kesetaraan gender dalam proses pembelajaran memerlukan keterlibatan Depdiknas sebagai pengambil kebijakan di bidang pendidikan. diharuskan tinggal di rumah demi keamanannya. dan "diamankan". guru akan menjadi agen perubahan yang sangat menentukan bagi terciptanya kesetaraan gender dalam pendidikan melalui proses pembelajaran yang peka gender. Memang tidak mudah bagi orang tua untuk melakukan pemberdayaan yang setara terhadap anak perempuan dan laki-lakinya. Dalam hal ini diperlukan standardisasi buku ajar yang salah satu kriterianya adalah berwawasan gender. teologi seharusnya merupakan refleksi kritis agama terhadap permasalahan yang dihadapi masyarakat. Di lain pihak. tidak boleh diperbarui. dibimbing.berwawasan gender diperlukan bagi pembentukan mentalitas anak baik laki-laki maupun perempuan yang kuat dan percaya diri. Hassan Hanafi mengatakan bahwa teologi Islam sangat memprihatinkan. Selain itu. wakil sekretaris PGRI Jawa Tengah. mereka dituntut oleh masyarakat untuk membesarkan anak-anaknya sesuai dengan "aturan anak perempuan" dan "aturan anak laki-laki". Sumber: Suara Merdeka Refleksi Teologi Islam mengenai Kesetaraan Jender<center></center> DALAM salah satu bukunya. 2003). teologi ini dianggap sudah final oleh umat Islam. Di sini peran teologi Islam diuji. hanya bicara tentang konsep Tuhan dan abai terhadap masalah sosial di hadapannya (Hassan Hanafi. Teologi dan realitas sosial . dan berkonsentrasi di wilayah domestik. Semua itu menjadi pembenaran bahwa perempuan tidak bisa berperan di ruang publik. (18) Dra Sri Suciati. mereka mulai menyadari bahwa aturan-aturan itu melahirkan ketidakadilan baik bagi anak perempuan maupun laki-laki. Seakan beban jender perempuan adalah "kodrat" dari Tuhan.Hum. M. Sejatinya. misalnya. Perempuan masih diposisikan sebagai kelompok lemah yang perlu diajari. Perjuangan membangun keadilan dan kesetaraan jender. Dosen FPBS IKIP PGRI Semarang. sekolah secara kelembagaan dan terutama guru. tidak bisa dilepaskan dari bangunan teologis.

Umat Islam terjebak dengan pendekatan hermeneutika teoretis. 1992). konsep "fatalisme" atau "predestination" lebih dimotivasi kepentingan status quo ketimbang teologi itu sendiri. dengan harapan dapat membebaskan teologi Islam dari kebangkrutannya. teologi senantiasa didialogkan dengan realitas sosialnya. pada masanya. tanpa wahyu sekalipun manusia mampu mengetahui tentang Tuhan dan kebaikan. sebab Asy’ari dianggap sukses menciptakan sebuah konsep teologi yang membuktikan peran besar Tuhan dalam jagat raya (Nurcholish Madjid. raison d’etre teologi Islam adalah tuntutan "realitas sosial". teologi menjadi jauh dari kebutuhan manusia. akhirnya terciptalah teologi pembebasan (kiri Islam). Dewasa ini.Pada awalnya teologi Islam dibangun di atas kepentingan politik. Dalam "fatalisme". Dengan pendekatan ini. yakni memahami teologi untuk teologi itu sendiri. 1998). Pandangan serupa ini menjadi landasan teologis dalam mengembangkan filsafat yang saat itu ditentang keras oleh ulama. Apa yang dilakukan Hanafi adalah salah satu contoh menarik. Wajar jika Asghar Ali Engineer mengatakan bahwa teologi Islam terlalu berkutat pada persoalan metafisik dan meninggalkan persoalan penting kemanusiaan (Asghar Ali Engineer. Asy’ari di tengah "keputus-asaan teologis" umat Islam berhadapan dengan Aristotelianisme yang menempatkan Tuhan pada posisi kurang signifikan. setelah ia memperoleh kursi kekhalifahan. terutama Mu’awiyah. terutama para ahli fikih (fuqoha) Dengan demikian. Walhasil. Teologi yang sejatinya memosisikan perempuan sebagai mitra laki-laki. Teks kitab suci (Al Quran) didialogkan dengan persoalan manusia. Lantas tokoh-tokoh Mu’tazilah juga dianggap sukses dalam melapangkan pengembangan filsafat dan ilmu pengetahuan yang menuntut banyak peran akal. Turunnya wahyu mereka anggap sebagai afirmasi dan konfirmasi atas pengetahuan tersebut. Sudah saatnya umat Islam mengembangkan pendekatan hermeneutika filosofis. Bahkan. Maka. Perdebatan tersebut bermuara pada kebutuhan untuk mencari legitimasi politik. Salah satu realitas sosial yang perlu disikapi adalah diskriminasi jender. Abu Hasan Al-Asy’ari dipuji Nurcholish Madjid. menurut mereka. teologi Islam berhenti berdialog dengan "realitas sosial". teologi Islam begitu modern dan relevan dengan kebutuhan manusia. pemberontakan Mu’awiyah diyakini sebagai takdir. Dalam konsep teologinya mereka menerangkan bahwa akal manusia sejalan dengan wahyu. Saat itu. Peristiwa pemberontakan Mu’awiyah terhadap Khalifah Ali bin Abu Thalib dicatat Harun Nasution sebagai awal munculnya perdebatan teologi (Harun Nasution. Meski agak berbeda dengan awal kemunculannya. justru disesaki kepentingan . Hanafi mendialogkan teologi dengan kolonialisme dan orientalisme. Maka. 1986).

yaitu sifat yang melambangkan keperkasaan (maskulin) dan keindahan (feminin). seperti halnya seorang ibu yang melahirkan. Atas dasar itu. . Tuhan digambarkan memiliki 99 sifat. teologi feminis adalah teologi yang menggali aspek-aspek feminin Tuhan demi kesetaraan jender. Oleh Ibnu Arabi. sebenarnya sifat feminin Tuhan jauh lebih berperan. Proses penciptaan alam semesta secara evolusi. pandangan seperti itu tidak memiliki legitimasi teologis. diskriminasi jender sesungguhnya merupakan pengingkaran terhadap Tuhan secara utuh. yang berarti Dia (laki-laki).laki-laki. Lebih tepatnya. 1989). merupakan cermin dari sifat feminin-Nya. Jadi. ada tiga hal yang harus dilakukan terhadap teologi Islam. Hal ini dibenarkan teolog feminis. Perendahan terhadap kualitas feminin perempuan bernilai sama dengan pengabaian kualitas feminin Tuhan. Maha Pemberi Hukuman diimbangi dengan Maha Pengampun. Arabi menggambarkan adanya reproduksi alam semesta. pemeliharaan alam juga merupakan representasi sifat kasih dan sayang-Nya. Dalam Al Quran. Alasannya. ialah Huwa. relasi jender secara mengesankan telah direpresentasikan oleh Tuhan sendiri. Kata ganti Tuhan dalam Al Quran. Hasil dialog semacam ini dapat kita temukan dalam teologi feminis. misalnya. misalnya. Bahkan. Hal inilah yang ingin didekonstruksi dari paradigma pendukung patriarki bahwa feminitas senantiasa merepresentasikan kelemahan. Padahal. dan tidak bisa tegas sehingga menyebabkan kaum perempuan dianggap tidak layak berperan dalam wilayah publik. Maha Pemarah diimbangi dengan Maha Penyayang. Menurut dia teologi yang ada selama ini disesaki kepentingan laki-laki. Bennet menyatakan bahwa "revolusi teologis" adalah sebuah keniscayaan jika kita menginginkan pembebasan manusia (Anne McGrew Bennet. paling tidak. Oleh karena itu. sensitif. sifat perkasa-Nya senantiasa didampingi oleh keluasan kasih sayang-Nya. dan seterusnya. Anne McGrew Bennet. Dengan demikian aspek feminin-Nya jauh lebih terasa ketimbang aspek maskulin. dialog teologi dengan permasalahan-permasalahan perempuan adalah suatu keniscayaan. Sifat feminin inilah yang dieksplorasi oleh teologi feminis. konsep ketuhanan yang metafisik diterjemahkan kepada persoalan pembebasan dan pemberdayaan perempuan. sifat-sifat tersebut dibagi dalam dua kelompok besar. Di dalamnya. Dalam pandangan Arabi. Kemudian. meski sifat maskulin dan feminin Tuhan dikatakan sejajar. irasional.

media dan jaringan alternatif khusus untuk perempuan semakin berkembang dan dimanfaatkan secara efektif oleh organisasi mahasiswa dan kelompok-kelompok perempuan guna memperbaiki kesadaran sosial dan politik di antara perempuan dan anggota masyarakat Dengan demikian. Kedua. mengeksplorasi aspek feminin Tuhan demi kesetaraan jender. Ukuran kesalehan dalam konteks gagasan ini tidak diukur dari kepatuhan menjalankan ritual. melainkan meneruskannya pada aksi. membongkar mitos tentang teologi yang seolah-oleh terberi (taken for granted). menjadikan teologi tidak sebatas keimanan. Perjuangan Perombakan Kultur Upaya menghapuskan kekerasan dalam pemberitaan surat kabar. yakni membela hak-hak perempuan dan menegakkan kesetaraan jender.Pertama. Sumbangan Besar Mewujudkan Demokrasi<center></center> Revolusi teknologi ternyata tak banyak dimanfaatkan oleh pekerja media untuk membantu perempuan memperbaiki posisinya. Sampai Konferensi Dunia IV mengenai perempuan dan pembangunan di Beijing (1995). M Hilaly Basya. tetapi pada kesalehan sosial. Ketiga. Dengan begitu diharapkan tidak ada fanatisme sempit yang mencurigai dialog teologi dan persoalan perempuan sebagai pendangkalan akidah. Apalagi . Hal ini diperlukan guna menyadarkan umat bahwa kemunculan teologi Islam tidak berada di ruang hampa. Pencitraan perempuan di berbagai media massa di seluruh dunia masih lebih banyak bersifat stereotip sehingga tidak bisa dikatakan mewakili sesuatu yang lebih benar mengenai perempuan. Dosen Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka) dan anggota Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) Sumber: Kompas Cyber Media Pemberitaan Sensitif Gender. media seharusnya dapat digunakan untuk mentransformasi pencitraan mengenai perempuan. Ini tidak dimaksudkan untuk membenturkan sifat feminin Tuhan dengan sifat maskulin-Nya. Eksplorasi lebih dimaksudkan sebagai pengungkapan bahwa sifat feminin tidak identik dengan kelemahan sebagaimana dianggap oleh pendukung patriarki. bukan hal yang mudah karena menyangkut perombakan kultur dan kerangka pikir wartawan dan editor. melainkan penuh dengan kepentingan. baik kepentingan status quo maupun pemberontakan.

meski iklan dijadikan alasan utama suatu media massa dapat bertahan. Dengan demikian pemberitaan wacana sensitifitas gender saja tidak akan mampu membuat wartawan segera mamiliki kesadaran yang cukup pada inequality yang dialami perempuan. buruk. karena dianggap "menjual". Ini diperkuat oleh kekuasaan negara UU No. membutuhkan toleransi dan penghargaan pada proses. ideologi tertentu yang dipelajari seorang manusia sejak ia bisa berpikir. Karena itu. Kerja dalam tim seperti media cetak.1 Tahun 1974 tentang perkawinan yang secara eksplisit menetapkan peran-laki-laki dan perempuan. Kemarahan dan ketidaktoleran hanya akan menjadi conter productive dan tidak akan membuat perubahan yang berarti. Bahkan mengandung resiko dituduh mengekalkan mitos masochisme perempuan. efensif. . rasisme. sektor "domestik" yang dikatakan sebagai sektor statis clan consumtif sebagai milik perempuan. dan lingkungan masyarakat. Kekerasan terhadap perempuan dalam media massa tidak bisa dilepaskan dari posisi perempuan dalam masyarakat. Penulisan berita dan artikel atau tulisan apapun (juga gambar) yang berperspektif perempuan bukan tidak mengandung kontradiksi. Perjuangan untuk mencapai keadilan gender melalui pemberitaan dalam media massa masih membutuhkan waktu teramat panjang. atau sudut pandang berita yang dipilih. maka dengan mudah ideologi yang diskriminatif ini tersosialisasikan. sekolah. Dalam masyarakat terlanjur meyakini notion palsu yang mengatakan bahwa secara kodrati perempuan kurang pandai dan secara fisik lebih lemah dibandingkan dengan laki-laki. narcisis. Wartawan dan struktur keredaksian juga menyerap nilai-nilai tersebut sehingga mudah tergelincir untuk melakukan kekerasan berganda terhadap perempuan korban kekerasan melalui bahasa dan konsep yang dipakai. keluarga. sebagai besar masyarakat masih percaya pada pembagian kerja secara seksual yang mensubordinasikan perempuan. terinternalisasikan melalui pendidikan di semua lini. Sejumlah stereotip lantas menempel pada perempuan dan laki-laki berdasarkan peran jenis kelamin itu. memalukan. dan menentang konsepsi tentang apa dan bagaimana seharusnya.bila bekerja pada wilayah mind set yang melahirkan suatu sikap tertentu. ditambah oleh pola asuh yang bias gender. Perspektif Perempuan dalam Media Massa Seluruh persoalan ini di dalam media massa juga tidak terlepas dari struktur modal yang kapitalistik. Ciri kapitalistik juga nampak dari dikalahkannya pemuatan berita demi iklan. karena struktur dan pemberitaan media massa sebenarnya adalah cermin situasi masyarakat itu sendiri. Sedangkan sektor "publik" yang dicirikan sebagai sektor dinamis dan memiliki sumber kekuasaan pada perbagai sektor kehidupan yang mengendalikan perubahan sosial sebagai milik lakilaki. pemilihan gagasan dan keseluruhan gaya pemberitaan. Industri media massa akan menempatkan berita-berita yang bersifat maskulin itu sebagai sesuatu yang utama.

HAM. Sistem politik yang represif telah mengawasi perempuan secara ketat. bahasa bukanlah sekedar alat komunikasi.Suara perempuan adalah suara yang terbisukan. Mengapa? Karena kesadaran ditindas hanya ada pada golongan penindas. maupun afeksi. Inilah yang disebut split personaliy dari media: ia bisa menjadi agen pembaharu. atau bahkan memundurkan kembali. maka secara tidak sadar dia telah memposisikan dirinya sebagai penindas. Karena itulah kesadaran perempuan tentang masalah penindasan ini harus dibongkar. Jadi. tetapi ia meragukan atau bahkan menisbikan persoalan kesetaraan dalam hubungan perempuanlaki-laki. maka ia bukanlah demokrat sejati. budaya berpikir yang harus dirombak dalam struktur besar keredaksian. menyudutkan dan menyempitkan dan akhirnya menundukkan. Sejarah kemudian memang memperlihatkan bahwa sejarah perempuan lebih banyak dilekatkan pada subordinasi. karena membicarakan media massa media yang diekspresikan melalui bahasa tulis dan lisan. dan pendidikan untuk memajukan perdamaian. orang tertindas malah tidak merasa ditindas karena manipulasi berbagai nilai yang dikukuhi dalam kehidupan masyarakat atau malah melakukan adjustment terhadap penindasan itu dan kemudian mereplikasikannya kepada pihak lain yang lemah. pada umumnya pekerja media memiliki kesadaran memadai mengenai masalah-masalah HAM. Dalam sebuah diskusi Lembaga Pers Mahasiswa. ada semacam cara pandang. Padahal inti demokrasi adalah kesetaraan hak dan kewjiban. sehebat apapun posisi seorang pemimpin media berbicara soal demokrasi. dan demokrasi. mengontrol secara dominan. Ini juga dilakukan melalui bahasa. Seorang pemimpin di dalam media yang masih mengartikan feminisme sebagai pembalikan perempuan dan laki-laki atau bahkan menuduh feminisme dan gerakan kesetaraan gender sebagai gerakan untuk menindas laki-laki. Hanya dengan itu maka seluruh gerakan kesetaraan bisa mencapai tujuannya. Sebagai wacana baru (newspeak). Dalam hal ini media sebagai kekuatan keempat (the fourth estate) berperan sangat besar untuk pergerakan permpuan. Jurnalis harus memanfaatkan semaksimal mungkin informasi. Pada banyak kasus. Ia merupakan kegiatan kegiatan sosial yang terstruktur dan terikat pada keadaan sosial tertentu. namun sebaliknya media bisa digunakan untuk menahan laju pergerakan perempuan. komunikasi. Tetapi apa keterkaitan antar demokrasi dan perempuan? Sejarah bisa menjadi titik tempuh untuk memaparkan pergerakan posisi perempuan mulai dari pemegang peranan yang kuat dalam komunitas sampai terjadinya subordinnasi terhadap mereka. dan keadilan yang didasarkan kesetaraan tadi. Namun masih perlu perbaikan yang signifikan dalam kognisi. tidak memungkinkan cara berpikir lain daripada yang dikehendaki penguasa. Posisi Media Massa Namun perubahan semacam ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. serta pembongkaran sikap dan cara pandang personal di kalangan wartawannya. tetapi sekaligus menginginkan .

Selalu ada jalan dengan kecerdasan membungkus isu. karena merasa hal-hal itu tidak populer. Meski demikian. ketidakpedulian media main stream ini bukan jalan buntu yang tidak bisa ditembus. sehingga akhirnya secara perlahan tetapi pasti. yang akhirnya mengganggu bisnis media. Oleh: Akhmad Junaedi Azhar Sumber: Siar Online . isu-isu kesetaraan dan keadilan gender menjadi isu yang kian membesar dan penting dan harus diterapkan dalam setiap persoalan. media main steram berurusan dengan pemodal yang lebih mempedulikan kenginan pasar ketimbang perbaikan posisi dan kesejahteraan perempuan dan kelompok masyarakat yang dilemahkan lainnnya. Namun bagaimanapun harus diingat.kemapanan sehingga enggan membongkar situasi status-quo.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful