GENDER Pembakuan Peran dalam Kebijakan-kebijakan di Indonesia<center></center> Pengantar: Berangkat dari prinsip yang menantang gagasan

konvensional bahwa hukum itu netral, objektif dan bebas nilai, LBH APIK Jakarta telah melakukan penelitian tentang ‘Pembakuan Peran Gender dalam Kebijakan-kebijakan di Indonesia’. Dengan menggunakan pendekatan hukum kritis,pandangan feminis terhadap hukum, gender dan negara dalam konteks Indonesia, ditemukan bahwa terdapat kebijakan-kebijakan yang tidak berkeadilan gender. Ideologi patriarki (dominasi laki-laki) faktanya telah mewujud dalam sistem hukum di Indonesia (baik dari peraturan dan kebijakan yang ada, stuktur dan budaya hukumnya), sehingga senantiasa mengekalkan ketidakadilan terhadap perempuan. Bagaimana pembakuan peran laki-laki dan perempuan dikukuhkan oleh Negara ? Konsep pembakuan peran gender yang mengkotak-kotakkan peran laki-laki/ suami dan perempuan/ istri ini hanya memungkinkan perempuan berperan di wilayah domestik (domestikasi), yakni sebagai pengurus rumah tangga sementara laki-laki di wilayah publik sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah utama. Peran gender yang memilahmilah peran perempuan dan laki-laki pada kenyataannya telah dibakukan oleh negara dalam berbagai kebijakan yang dilahirkan oleh Pemerintah Orde Baru. Kebijakankebijakan tersebut pada akhirnya hanya menyisakan ketidakadilan pada perempuan. Dengan demikian, melalui hukum, negara melakukan peran gender. Hukum, dengan demikian, dipandang sebagai agen yang menguatkan nilai-nilai jender yang dianut oleh masyarakat. Hal ini berkaitan dengan kebutuhan negara untuk menjaga dan menjamin kepentingannya. Apakah dampak dari pembakuan peran? Upaya domestikasi perempuan secara sistematis oleh negara berdasarkan ideology gender dalam kebijakan-kebijakan negara berdampak lebih jauh pada peminggiran terhadap perempuan, baik secara ekonomis, politik, sosial dan budaya, juga menimbulkan subordinasi, eksploitasi dan privatisasi kekerasan terhadap perempuan. Kebijakan-kebijakan apa sajakah yang membakukan peran jender? Ruang lingkup kebijakan yang dikritisi dalam penelitian adalah kebijakan-kebijakan yang lahir pada era Orde Baru. Dari kebijakan-kebijakan negara seperti : - pada masa Revolusi Hijau, yaitu pada Repelita I thn 1969-1974 dimana muncul Kebijakan yang memarginalkan kaum perempuan pedesaan yang awalnya

-

-

memiliki peran penting sebagai petani kemudian digeser dengan munculnya alatalat pertanian modern yang diasosiasikan dengan keahlian jenis kelamin laki-laki. Kemudian, kebijakan lain yang juga mempunyai efek pembakuan peran adalah praktek-praktek koersi terhadap perempuan yang diterapkan berkaitan dengan kebijakan pemerintah tentang kependudukan => Kebijakan KB yang dicanangkan sejak thn 1969 hanya diperuntukkan bagi kelompok perempuan Menunjukkan adanya asumsi patriarkal negara mengenai peran laki-laki dan perempuan yang menganggap bahwa urusan domestik adalah tanggung jawab perempuan. Nampak bahwa negara Orde Baru membatasi ruang lingkup kehidupan perempuan (secara sosial, ekonomi, politik) dan melegitimasi pembakuan peran gender.

Lebih rinci, teks-teks kebijakan yang dianalisa : Ø GBHN; Sebagai landasan bagi kebijakan-kebijakan lainnya dan pembangunan secara umum. Sepanjang GBHN 1978 –1998, kata ‘kodrat’ tetap hadir dalam teks. Dengan konsep peran ganda yang dianut negara, dapat disimpulkan bahwa ‘kodrat ‘ dimakni tidak hanya sebatas kemampuan biologis perempuan tetapi juga peran-peran reproduksi sosial. Jadi, dapat dideteksi adanya gagasan-gagasan mengenai pembakuan peran gender dalam GBHN. Ø Kebijakan tentang Buruh Migran Perempuan a. Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. Kep. 213/Men/89 tentang biaya Pembinaan Tenaga Kerja Indonesia dalam Rangka Pengembangan Program Antar Kerja Antar Negara ke Timur Tengah ; Dalam kebijakan ini diatur perbedaan biaya yang dikeluarkan untuk pengiriman buruh migran perempuan dengan laki-laki dengan asumsi gender bahwa buruh migran perempuan dianggap membutuhkan pembinaan. b. Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. Kep. 196/Men/1991 tentang Petunjuk Teknis Pengerahan Tenaga Kerja ke Arab Saudi Peraturan ini memuat adanya pembedaan usia antara laki-laki dan perempuan untuk menjadi buruh migran di sector informal. Ø Kebijakan tentang Pembantu Rumah Tangga (Perda No. 6 thn 1993) tentang Pembinaan Kesejahteraan Pramuwisma di DKI Jakarta dan SK Gubernur DKI Jakarta No. 1099 thn 1994) Asumsi pemerintah terhadap istilah pramuwisma yang cenderung ditujukan terhadap perempuan menyumbang pada pembakuan peran gender dalam pasal-pasal Perda. Misalnya, pasal tentang perlunya ijin bekerja dari suami bagi perempuan yang sudah bersuami. Ø Kebijakan tentang Perkawinan/ Perceraian UUP Integrasi konsep pembakuan peran dalam kebijakan tentang perkawinan yaitu melalui UU No. 1 thn 1974 tentang Perkawinan (UUP), terutama nampak dalam khususnya pasal 31, yang menyatakan bahwa “suami adalah kepala keluarga dan

istri adalah ibu rumah tangga.” Selain itu, UUP menganut asas monogamy terbuka, maksudnya bahwa pada asasnya suatu perkawinan seorang laki-laki hanya boleh mempunyai seorang isteri dan seorang perempuan hanya boleh mempunyai seorang suami. Namun, terdapat klausula yang menyatakan bahwa Pengadilan dapat memberi ijin kepada seorang suami untuk beristri lebih dari seorang karenanya terbuka kemungkinan bagi laki-laki untuk melakukan poligami. Pengaturan mengenai poligami ini tidak hanya menunjukkan bahwa dalam institusi perkawinan posisi tawar perempuan lebih rendah disbanding lakilaki tetapi juga menunjukkan bahwa negara jelas-jelas telah melegitimasi nilainilai jender perempuan yang hidup dalam masyarakat. Dalam Pasal 31 : Kedudukan suami isteri adalah sama, akan tetapi dalam ayat lain ditegaskan bahwa suami adalah kepala keluarga dan isteri adalah ibu rumah tangga. Penegasan ini merupakan pengetatan fungsi-fungsi isteri dan fungsifungsi suami secara tegas. Artinya, pasal ini melegitimasi secara eksplisit pembagian peran berdasarkan jenis kelamin. Juga, semakin dipertegas dalam pasal 34 yang menyatakan bahwa suami wajib melindungi isteri dan isteri wajib mengatur rumah tangga sebaik-baiknya. Pasal tersebut merupakan pengejawantahan dari pola pikir masyarakat yang menganggap bahwa peran lakilaki dan perempuan sudah mutlak terbagi. PP No. 45/ 1990 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah No. 10 thn 1983 tentang ijin Perkawinan dan Perceraian Pegawai Negeri Sipil. (Peraturan Pemerintah ini merupakan peraturan pelaksana dari UU Perkawinan yang khusus diberlakukan kepada Pegawai Negeri Sipil dan merupakan penyempurnaan dari PP 10 thn 1983). PP ini lebih menegaskan asas monogamy terbuka. Akan tetapi, secara tidak konsisten PP melarang perempuan PNS menjadi isteri kedua, ketiga atau keempat dengan asumsi akan merusak citranya sebagai PNS dan perempuan. Ø Kebijakan tentang Kekerasan terhadap Perempuan KUHP berkaitan dengan Penganiayaan terhadap isteri KUHP tidak mengenal konsep kekerasan berbasis gender, atau tindakantindakan kejahatan yang dilakukan karena jenis kelamin perempuan. KUHP berkaitan dengan Perkosaan Perkosaan terhadap isteri dalam perkawinan (marital rape) tidak dikenal dalam KUHP berarti KUHP mengadopsi pandangan masyarakat bahwa fungsi isteri adalah melayani suami. UU No. 62 Tahun 1958 tentang Kewarganegaraan UU ini mengadopsi ideology patriarki yang tercermin dalam ketentuan tentang status kewarganegaraan anak yang lahir dari perkawinan campuran , yaitu megikuti kewarganegaraan ayahnya.

Ø

Kebijakan Ketenagakerjaan UU No. 25 thn 1997 tentang Ketenagakerjaan : Memuat ketentuan yang mendiskriminasikan perempuan dengan memuat ketentuan larangan bekerja bagi perempuan pada waktu malam hari.

Ø Peraturan tentang Perpajakan :Keputusan Direktur Jendral Pajak No. 78/ PJ.41/ 1990 tentang Pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) kepada isteri wajib pajak yang melakukan kegiatan usaha dan atau pekerjaan bebas Ø Peraturan tentang Perpajakan: Keputusan Direktur Jendral Pajak No. 78/ PJ. 41/ 1990 tentang Pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) kepada isteri Wajib Pajak yang melakukan kegiatan Usaha dan atau Pekerjaan Bebas

Dalam ketentuan perpajakan, isteri yang bekerja atau usaha yang wajib kena pajak bukanlah wajib pajak secara pribadi melainkan sebagai ‘isteri wajib pajak.’ Dampaknya, ada hambatan bagi perempuan menikah yang hendak mengembangkan usahanya karena nomor wajib pajaknya tergantung pada suami sehingga otomatis pengembangan usahanya tergantung pada ijin suami. Penutup Ø Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh negara disamping bias gender juga bias kelas menengah serta bertentangan dengan kenyataan sosialnya. Dalam kenyataannya, kaum perempuan tidak lagi hanya sebagai pencari nafkah tetapi juga banyak yang menjadi kepala keluarga. Akibatnya timbul ketegangan antara nilai-nilai dan peraturan yang diterapkan dengan kenyataan sosial yang terus berlangsung. Ø Melalui hukum, negara melakukan pembakuan peran gender. Beberapa kebijakan mengacu pada peran perempuan dan laki-laki sebagaimana didefinisikan dalam UUP No. 1 thn 1974. Dengan demikian, UUP merupakan kebijakan yang mempunyai signifikansi dalam proses pembakuan peran yang dilakukan negara. Ø Perlu dilakukan reformasi terhadap kebijakan-kebijakan dengan mengamati dinamika proses negosiasi antara kelompok-kelompok kepentingan yang terjadi ditingkat negara untuk menentukan sasaran intervensi yang dapat dilakukan baik di tingkat struktur formal (hukum dan negara) dan di tingkat masyarakat untuk mengubah nilai-nilai gender yang dominan.

Sumber: http://www.lbh-apik.or.id/peneliltian-pembakuan_peran.htm

Perempuan Bekerja, Dilema Tak Berujung ? <center></center> Fenomena perempuan bekerja sebenarnya bukanlah barang baru di tengah masyarakat kita. Sejak zaman purba ketika manusia masih mencari penghidupan dengan cara berburu dan meramu, seorang isteri sesungguhnya sudah bekerja. Sementara suaminya pergi berburu, di rumah ia bekerja menyiapkan makanan dan mengelola hasil buruan untuk ditukarkan dengan bahan lain yang dapat dikonsumsi keluarga. Karena sistem perekonomian yang berlaku pada masyarakat purba adalah sistem barter, maka pekerjaan perempuan meski sepertinya masih berkutat di sektor domestik namun sebenarnya mengandung nilai ekonomi yang sangat tinggi. Kemudian, ketika masyarakat berkembang menjadi masyarakat agraris hingga kemudian industri, keterlibatan perempuan pun sangat besar. Bahkan dalam masyarakat berladang berbagai suku di dunia, yang banyak menjaga ternak dan mengelola ladang dengan baik itu adalah perempuan bukan laki-laki. Hal ini jelas menunjukkan bahwa keterlibatan perempuan memang bukan baru-baru saja tetapi sudah sejak zaman dulu. Dalam konteks Indonesia sebagai negara berkembang, sebenarnya tidak ada perempuan yang benar-benar menganggur. Biasanya para perempuan memiliki pekerjaan untuk juga memenuhi kebutuhan rumah tangganya entah itu mengelola sawah, membuka warung di rumah, mengkreditkan pakaian dan lain-lain. Mungkin sebagian besar masyarakat Indonesia masih beranggapan bahwa perempuan dengan pekerjaan-pekerja di atas bukan termasuk kategori perempuan bekerja. Hal ini karena perempuan bekerja identik dengan wanita karir atau wanita kantoran (yang bekerja di kantor). Pada hal, dimanapun dan kapanpun perempuan itu bekerja, seharusnya tetap dihargai pekerjaannya. Jadi tidak semata dengan ukuran gaji atau waktu bekerja saja. Annggapan ini bisa jadi juga erkait dengan arti bekerja yang berbeda antara Indonesia dengan negara-negara di Barat yang tergolong sebagai negara maju. Konsep bekerja menurut masyarakat di negara-negara Barat (negara maju) biasanya sudah terpengaruh dengan ideologi kapitalisme yang menganggap seseorang bekerja jika memenuhi kriteria tertentu misalnya; adanya penghasilan tetap dan jumlah jam kerja yang pasti. Sedangkan kebanyakan perempuan di Indonesia yang disebutkan tadi, pekerjaan mereka belum menghasilkan penghasilan tetap dan tidak terbatas waktu, bahkan baru dapat dilakukan hanya sebatas kapasitas mereka. Meski bukan fenomena baru, namun masalah perempuan bekerja nampaknya masih terus menjadi perdebatan sampai sekarang. Bagaimanapun, masyarakat masih memandang keluarga yang ideal adalah suami bekerja di luar rumah dan isteri di rumah dengan mengerjakan berbagai pekerjaan rumah. Anggapan negatif (stereotype) yang kuat di masyarakat masih menganggap idealnya suami berperan sebagai yang pencari nafkah, dan pemimpin yang penuh kasih; sedangkan istri menjalankan fungsi pengasuhan anak. Hanya, seiring dengan perkembangan zaman, tentu saja peran-peran tersebut tidak semestinya dibakukan, terlebih kondisi ekonomi yang membuat kita tidak bisa menutup

namun mencakup pula pengasuhan. kenyamanan bagi anggota rumah tangga yang lain. pangan. Kerja produksi dianggap tanggung jawab laki-laki. terdapat kecenderungan kuat untuk memisahkan kerja produksi dan reproduksi. menyusui. akan tetapi adanya dukungan sistem yang tidak terus membawa perempuan pada posisi yang dilematis. Baik kerja produksi maupun kerja reproduksi. di mana kedua pekerjaan tersebut dilakukan dan siapa yang melakukan pekerjaan tersebut. hamil. Kerja reproduktif juga kerja yang pada prosesnya menjaga kelangsungan proses produksi. kesemuanya berperan penting dalam melahirkan dan memampukan seseorang untuk “berfungsi” sebagaimana mestinya dalam struktur sosial masyarakat. seperti yang sudah panjang lebar diutarakan di atas. Walaupun seringkali jika seorang laki-laki atau suami ditanya maka akan muncul jawaban “Seandainya gaji saya cukup. Kerja produktif berfungsi memenuhi kebutuhan dasar manusia seperti sandang.mata bahwa kadang-kadang istripun dituntut untuk harus mampu juga berperan sebagai pencari nafkah. biasanya dikerjakan di luar rumah. saya lebih suka isteri saya di rumah merawat anak-anak”. Tanpa ada yang melakukan pekerjaan rumah tangga seperti memasak. papan. perdebatan mungkin muncul lebih karena anggapan akan stereotype dari masyarakat bahwa akan ada akibat yang timbul jika suami-isteri bekerja di luar rumah yaitu “mengganggu” keharmonisan yang telah berlangsung selama ini. Kerja produktif dan reproduktif Untuk dapat melihat definisi dan makna kerja dengan lebih jernih lagi maka mungkin perlu dijelaskan juga tentang kerja dengan membaginya menjadi dua bentuk kerja yaitu kerja produksi dan kerja reproduksi. nampaknya hampir semua kalangan masyarakat menyetujui bahwa perempuan mendapat kemulian dengan pekerjaannya sebagai ibu . Sehingga dengan makanan dankenyamanan tersebut proses yang lain tidak terganggu. keduanya berperan penting dalam proses kehidupan manusia. tentu saja memang akan ada dampak yang timbul jika suami-isteri bekerja di luar rumah. Kerja reproduktif adalah kerja “memproduksi manusia”. Dalam sistem kapitalisme yang berlaku dewasa ini. Terlepas dari pembahasan di atas. Seperti yang pernah diungkapkan. misalnya pekerjaan rumah tangga. yang akan lebih membawa perempuan kepada beban ganda. atau mencuci maka tidak mungkin akan didapatkan makanan. perawatan sehari-hari manusia baik fisik dan mental. Namun solusi yang diambil tidak semestinya membebankan istri dengan dua peran sekaligus yaitu peran mengasuh anak (nursery) dan mencari nafkah di luar rumah (provider). melahirkan. Bagaimanapun. bukan hanya sebatas masalah reproduksi biologis perempuan.Tetapi tentu saja pengertian pekerjaan reproduksi seperti ini tidak dianggap sebagai pekerjaan oleh masyarakat dan juga pemerintah padahal secara fisik ini jelas sebagai sebuah kerja. Kerja reproduksi dianggap tanggung jawab perempuan dan biasanya dikerjakan di dalam rumah.

Ternyata. Memberikan cuti melahirkan bagi karyawan perempuan dianggap pemborosan dan inefiesiensi. ketiadaan sarana penitipan anak di tempat kerja. Contohnya pernyataan “buat apa anak perempuan sekolah tinggi-tinggi. nanti juga ke dapur” atau “si X (perempuan) mah paling juga kawin terus ngurus anak”. Diskriminasi terselubung dilakukan guna menghindari pemberian cuti tersebut antara lain dengan preferensi tidak tertulis mengutamakan merekrut karyawan laki-laki atau karyawan perempuan lajang. masih ada yang merasa rugi memberi cuti melahirkan kepada karyawan perempuan. adalah beberapa contoh nyata. Situasi di sektor publik sering pula tidak ramah keluarga. kerja reproduksi yang sebagian besar dilakukan perempuan berperan sangat penting guna keberlanjutan suatu bangsa dan umat manusia pada umumnya. dan kesulitan perempuan bekerja untuk menyusui anaknya. tidak mengundang laki-laki untuk berkontribusi lebih besar dalam kerja reproduksi. Jika kerja tersebut diperhitungkan. Dengan kata lain. niscaya akan mematahkan mitos “laki-laki adalah pencari nafkah utama”. Kerja perempuan terutama di sektor reproduksi tidak pernah diperhitungkan dalam data perekonomian dan statistik. Norma yang berlaku dewasa ini kerja reproduksi adalah tanggung jawab perempuan. Dan mengapa “pekerjaan mulia” tersebut sebagian besar dibebankan hanya kepada perempuan. Meskipun cuti melahirkan telah diberlakukan secara luas. Demikian pula sebutan “ratu” yang seharusnya berimplikasi pada peran perempuan yang lebih besar dalam pengambilan keputusan di tingkat keluarga. Namun yang menjadi pertanyaan kemudian adalah mengapa pekerjaan reproduksi tersebut selalu diberi sebutan sebagai “pekerjaan mulia”. terjadi “perendahan” terhadap kerja reproduksi biologis perempuan. Atas nama tradisi dan kodrat.rumah tangga hingga ibu rumah tangga mendapat gelar “ratu rumah tangga”. pada kenyataannya. bukan perempuan yang lebih berperan dalam pengambilan keputusan penting. meskipun perempuan telah mencurahkan begitu banyak waktu dan energi. keterlibatan perempuan dalam kerja produksi tidak mengurangi beban tanggung jawabnya di sektor reproduksi. media massa. Jam kerja panjang. Di sektor publik sering kali sistem yang ada “tidak mendukung” perempuan (dan lakilaki) bekerja untuk dapat pula melakukan kerja reproduksi secara optimal sekaligus. Berkomitmen tinggi terhadap anak dan keluarga dipandang tidak kompatibel dengan dunia kerja. baik terhadap karyawan perempuan maupun laki-laki. Sebenarnya di banyak tempat. seolah ia adalah bagian kewajiban dari Tuhan dengan imbalan kebahagiaan di akhirat nanti. perempuan dipandang sewajarnya bertanggung jawab dalam arena domestik. Lebih jarang lagi yang memperhitungkan nilai ekonomi pekerjaan rumah tangga. Sayangnya. mendukung pula pandangan ini. Perlu . agama. Jarang yang mempertanyakan secara terbuka “kodrat” tersebut. Institusi pendidikan. melainkan laki-laki.

sepatu dan elektronik. biaya tenaga kerja dapat ditekan hingga 58% dari total biaya produksi (Tjandraningsih. Di luar konteks desa-kota. Di pedesaan. Data sensus penduduk tahun 1990 menunjukan bahwa sektor pertanian adalah sektor yang terbesar dalam menyerap tenaga kerja perempuan yaitu 49. hanya karena berkeluarga dan memiliki anak menjadi semakin tidak menarik. pada umumnya perempuan terlibat dalam perdagangan usaha kecil seperti berdagang sayur mayur di pasar tradisional. Kasus lain dengan substansi yang sama ditemukan pula di sektor pertanian pedesaan. Untuk kasus kota. Di sektor perdagangan. keterlibatan perempuan di sektor manapun selalu nampak dicirikan oleh “skala bawah” dari pekerjaan perempuan. berkaitan dengan masalah perempuan bekerja produksi yaitu dengan bekerja di luar rumah untuk mencari nafkah. termasuk di dalamnya peningkatan peran serta laki-laki dalam kerja reproduksi dalam rumah tangga. kondisi kerja buruk dan tidak memiliki keamanan kerja. mayoritas berada di tingkat buruh tani. Perempuan di sektor pertanian pedesaan.6%. Seperti yang juga sudah disinggung di atas.2%. Dari kalangan pengusaha sendiri. Sebuah penelitian tentang buruh perempuan . terdapat preferensi untuk mempekerjakan perempuan pada sektor tertentu dan jenis pekerjaan tertentu karena upah perempuan lebih rendah daripada laki-laki. 1991:18). Sejarah menunjukan bahwa perempuan dan kerja publik sebenarnya bukan hal baru bagi perempuan Indonesia terutama mereka yang berada pada strata menengah ke bawah. sementara untuk kasus pedesaan sebagai buruh tani. persentase buruh perempuan adalah 90% dari total buruh. menemukan bahwa biaya tenaga kerja (upah) buruh laki-laki adalah 10-15% dari total biaya produksi. usaha warung. diikuti oleh sektor perdagangan 20. Diskriminasi kerja perempuan Terlepas dari persoalan sektor yang digeluti perempuan. Dalam kasus tersebut. Sangat penting pula demokratisasi institusi keluarga. sektor perdagangan juga banyak melibatkan perempuan. garmen. sebagai buruh pabrik.2%. Perempuan di sektor industri perkotaan terutama terlibat sebagai buruh di industri tekstil. adalah jenis-jenis pekerjaan yang lazim ditekuni perempuan. dan sektor industri manufaktur 14.perbaikan sistem sosial secara menyeluruh agar jangan sampai suatu bangsa atau lebih parah lagi umat manusia punah. Hal yang perlu digarisbawahi di sini adalah bahwa kecenderungan perempuan terpinggirkan pada pekerjaan marginal tersebut tidak semata-mata disebabkan faktor pendidikan. perempuan pada strata ini mendominasi sektor pertanian. Masalah umum yang dihadapi perempuan di sektor publik adalah kecenderungan perempuan terpinggirkan pada jenis-jenis pekerjaan yang berupah rendah. sementara di perkotaan sektor industri tertentu didominasi oleh perempuan. Sementara bila mempekerjakan perempuan. pun sesungguhnya sudah lazim ditemui di berbagai kelompok masyarakat. Sebuah studi tentang buruh perempuan pada industri sepatu di Tangerang. Hal ini berlaku khususnya bagi perempuan berpendidikan menengah ke bawah.

1999: 9). Dua hal ini dapat di lihat juga melalui peningkatan atau penurunan rasio perempuan di setiap jabatan. bekerja bagi mereka adalah bagian dari aktualisasi diri. Seorang pegawai perempuan yang berstatus menikah -karena dia perempuantidak mendapatkan tunjangan suami atau anak. diskriminasi upah seringkali lebih tersamar. Persoalannya. Ideologi gender adalah segala aturan. Meskipun besar upah pokok antara pegawai laki-laki dan perempuan sama. Persentase buruh perempuan pada kasus tembakau adalah 80%. Sebenarnya pihak yang diuntungkan dalam kasus diskiriminasi upah adalah . Seorang pegawai perempuan -apakah berstatus menikah atau lajang.850.pada agro industri tembakau ekspor di Jember bahwa untuk pekerjaan di kebun tembakau. bekerja di sektor publik kebanyakan atas dasar dorongan kebutuhan ekonomi. Demikian pula tunjangan kesehatan hanya diberikan kepada dirinya sendiri -tidak untuk suami dan anak-. atau bahkan lebih. Bagi perempuan kelas menengah ke atas yang bekerja sebagai pegawai swasta maupun sebagai pegawai negeri. Meskipun sistem pengupahan (termasuk tunjangan) pegawai negeri tidak lagi membedakan pegawai perempuan dan laki-laki. Dengan demikian -dengan memperhitungkan komponen tunjangan. seringkali memanipulasi ideologi gender sebagai pembenaran. Jika perempuan pada strata menengah ke bawah. buruh perempuan mendapat upah Rp 1. 1994:52). Diskriminasi upah yang terjadi secara eksplisit maupun implisit. Paling tidak di kedua kasus tersebut telah terjadi penggunaan tenaga kerja perempuan untuk sektor-sektor produktif tertentu dan pemisahan kegiatan-kegiatan tertentu atas dasar jenis kelamin. Bagi perempuan miskin. dalam situasi krisis ekonomi. Semakin banyaknya perempuan berpendidikan yang berkeinginan untuk aktif di sektor publik merupakan konsekuensi logis dari pembukaan peluang yang lebih besar bagi anak perempuan untuk bersekolah. Sedangkan bagi perempuan di kelas menengah ke atas.00 per hari sementara buruh lakilaki mendapat upah Rp 1.00 per hari (Indraswari. di sektor swasta diskriminasi masih terjadi.tetap dianggap lajang. stereotip. yang mengatur hubungan antara perempuan dan laki-laki terlebih dahulu melalui pembentukan identitas feminin dan maskulin (Ratna Saptari dalam Andria dan Reichman. maka pada saat ia masuk ke sektor publik “sah-sah” saja untuk memberikan upah lebih rendah karena pekerjaan di sektor publik hanya sebagai “sampingan” untuk “membantu” suami. Hal ini selain terkait dengan semakin terbukanya peluang bagi perempuan untuk memasuki sektor-sektor yang pada awalnya diperuntukkan hanya untuk laki-laki. generalisasi bahwa “semua perempuan bekerja hanya untuk ‘membantu’ suami” atau “semua perempuan bekerja hanya sebagai kegiatan sampingan” banyak tidak terbukti validitasnya. Karena tugas utama perempuan adalah di sektor domestik.total penghasilan pegawai laki-laki dan perempuan berbeda jumlahnya untuk pekerjaan yang sama.650. nilai. namun komponen tunjangan keluarga dan tunjangan kesehatan dibedakan antara pegawai perempuan dan laki-laki. banyak perempuan menjadi pencari nafkah utama keluarga atau bersama-sama suami memberikan kontribusi finansial hingga 50% dari total penghasilan keluarga.

maupun untuk memenuhi kebutuhan keluarga. suami juga tidak berhak sama sekali untuk melarang isteri bekerja mencari nafkah.pemilik modal yang dapat menekan biaya produksi melalui pengurangan komponen biaya tenaga kerja. nomor hadits 1483) disebutkan bahwa ketika Bibi Jabir bin Abdullah keluar rumah untuk bekerja memetik kurma. yang dengan tegas mengatakan kepadanya: “Petiklah kurma itu. seorang lelaki yang pada awalnya sudah mengetahui dan menerima calon isterinya sebagai pekerja (baca : perempuan karir) yang setelah . menteri. 573). Hal ini diindikasikan dengan minimnya jumlah perempuan yang menduduki posisi pengambil keputusan dan posisi strategis lainnya baik di sektor pemerintah maupun di sektor swasta. 205 dan al-Mughni li Ibn Qudamah. Kemudian dia melapor kepada Nabi Saw. posisi. Asma bint Abu Bakr. walikota. Dalam Islam tidak ada masalah Sebagai agama yang diyakini untuk kasih sayang semua umat manusia. Demikian pula dapat dihitung dengan jari. Dari gambaran persoalan diatas. maka Islam sesungguhnya tidak pernah menekan pihak perempuan dalam bidang pekerjaan. dalam pandangan banyak ulama fikih. bupati. dia dihardik oleh seseorang untuk tidak keluar rumah. Jika merujuk kepada hadits Nabi. termasuk akses terhadap programprogram pelatihan untuk pengembangan karir. h. Variasi pandangan ulama hanya muncul pada kasus seorang isteri yang bekerja tanpa restu dari suaminya. Sebutlah misalnya. Di dalam kitab hadits (Shahih Muslim. h. jumlah perempuan yang menduduki jabatan struktural. karena bekerja adalah hak setiap orang. dalam perspektif perbandingan dengan laki-laki. selama ada jaminan keamanan dan keselamatan. juz IV. juz II. apabila nyata-nyata dia tidak bisa bekerja mencari nafkah. isteri sahabat Zubair bin Awwam. juz VII. dapat dilihat telah terjadi pula pelebaran ketimpangan ekonomi antara laki-laki dan perempuan yang ditandai oleh perbedaan upah serta ketidaksamaan akses keuntungan dan fasilitas kerja. Bahkan di dalam literatur fikih (jurisprudensi Islam) secara umum tidak ditemukan larangan perempuan bekerja. baik karena sakit. miskin atau karena yang lain (lihat fatwa Ibn Hajar. Baik pekerjaan di rumah maupun luar rumah. Meskipun persentase perempuan lebih dari 50% dari total penduduk Indonesia. Selain persoalan upah. selama untuk kebaikan dan kemaslahatan”. halaman 1211. yang terkadang melakukan perjalanan cukup jauh. Kalau lebih jauh menelusuri lembaran-lembaran literatur fikih. bekerja bercocok tanam. baik untuk kepentingan sosial. dalam praktek kehidupan zaman Nabi Saw sesungguhnya ada banyak riwayat menyebutkan tentang sahabat perempuan yang bekerja di dalam dan di luar rumah. dll. jabatan) karena ideologi patriarkis yang dominan. perempuan di sektor publik menghadapi kendala lebih besar untuk melakukan mobilitas vertikal (kenaikan pangkat. Lebih tegas lagi dalam fikih Hambali. namun perempuan yang menjadi anggota parlemen hanya 7-8% dari total anggota parlemen.

h. Kalyanamitra. perempuan sesungguhnya diperbolehkan meminta upah bila menyusui anaknya. halaman 1211. AKATIGA. juz II.perkawinan juga akan terus bekerja di luar rumah. Memang tentu saja hal ini tidak secara otomatis mengatakan bahwa Islam mengajarkan hubungan ibu dan bayinya dihitung dengan uang. 795. 795). Tinjauan kebijakan pengupahan buruh di Indonesia. juz VII. suami tidak boleh kemudian melarang isterinya bekerja atas alasan apapun (lihat : al-fiqh al-Islami wa adillatuhu. Indraswari. 573 Oleh: Swara Rahima Sumber: Kementrian Pemberdayaan Perempuan Kesetaraan Dan Keadilan Gender<center></center> I. tak terkecuali yang berkaitan dengan masalah perempuan bekerja. Upaya mewujudkan Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG). akan tetapi adalah menunjukkan penghargaan pada jerih payah ibu. Akhirnya. Indrasari Tjandraningsih. Yang berarti fikih tidak memandang bahwa kewajiban seorang lelaki (misalnya suami) untuk mencari nafkah menjadi penghalang bagi perempuan untuk bekerja di luar rumah juga untuk mencari nafkah. h. juz VII. 1995. dan Juni Thamrin. Pekerjaan rumah tangga adalah pekerjaan yang sesungguhnya untuk perempuan dan lakilaki. Fikih membenarkan suami dan isteri. berbagai jalan dapat ditempuh untuk tetap memberikan keadilan bagi perempuan. nomor hadits 1483. h. AlMughni li Ibn Qudamah. Al-fiqh al-Islami wa adillatuhu. di Indonesia dituangkan dalam kebijakan nasional sebagaimana ditetapkan dalam Garis-Garis Besar Haluan . Tinjauan pada Agroindustri Tembakau Ekspor di Jember. h. Jadi pendefinisian bahwa pekerjaan di luar rumah adalah tugas laki-laki dan pekerjaan di dalam rumah adalah pekerjaan perempuan adalah hasil penafsiran terhadap teks secara sempit. kecuali air susu hari pertama yang merupakan kewajiban perempuan memberikan kepada anaknya karena mengandung kolostrum yang baik untuk meningkatkan imunitas bayi baru lahir. Pendahuluan Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG) sudah menjadi isu yang sangat penting dan sudah menjadi komitmen bangsa-bangsa di dunia termasuk Indonesia sehingga seluruh negara menjadi terikat dan harus melaksanakan komitmen tersebut. Juni 1994 Ratna Saptari. Perempuan bekerja dan perubahan sosial. juz IV. 205. Potret kerja buruh perempuan. April 1994 Indraswari dan Juni Thamrin. Bahkan dalam fikih. juz VII. Shahih Muslim. (dd) ] Sumber Bacaan : Dedi Haryadi. AKATIGA. keduanya bekerja di luar rumah dengan prasyarat-prasyarat tertentu. Fatwa Ibn Hajar.

415) dari total (206. Berbagai upaya pembangunan nasional yang selama ini diarahkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. baik perempuan maupun laki-laki. Hal ini disebabkan karena kondisi dan posisi yang kurang menguntungkan dibanding laki-laki. Partisipasi aktif wanita dalam setiap proses pembangunan akan mempercepat tercapainya tujuan pembangunan. 2000 tentang Program Pembangunan NasionalPROPENAS 2000-2004. Bahkan belum cukup efektif memperkecil kesenjangan yang ada. swasta maupun masyarakat sangat tergantung dari peran serta laki-laki dan perempuan sebagai pelaku dan pemanfaat hasil pembangunan. Pada pelaksanaannya sampai saat ini peran serta kaum perempuan belum dioptimalkan. Pelaksanaan PUG diisntruksikan kepada seluruh departemen maupun lembaga pemerintah dan non departemen di pemerintah nasional. pemantauan dan evaluasi dengan mempertimbangkan permasalahan kebutuhan. Penduduk wanita yang jumlahnya 49. tingkat kesehatan dan pendidikan yang rendah. sehingga manfaat pembangunan kurang diterima kaum perempuan. . aspirasi perempuan pada pembangunan dalam kebijakan. untuk melakukan penyusunan program dalam perencanaan. Disamping itu pengarusutamaan gender juga merupakan salah satu dari empat key cross cutting issues dalam Propenas. akan memperlambat proses pembangunan atau bahkan perempuan dapat menjadi beban pembangunan itu sendiri. Kenyataannya dalam beberapa aspek pembangunan. dan dipertegas dalam Instruksi Presiden No. Seperti peluang dan kesempatan yang terbatas dalam mengakses dan mengontrol sumberdaya pembangunan. karena masih belum memanfaatkan kapasitas sumber daya manusia secara penuh. 25 th.847.9% (102. pelaksanaan. 9 tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender (PUG) dalam Pembangunan nasional.595) penduduk Indonesia (Sensus Penduduk 2000) merupakan sumberdaya pembangunan yang cukup besar. sebagai salah satu strategi untuk mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender. program/proyek dan kegiatan. perempuan kurang dapat berperan aktif. Hal ini menunjukkan bahwa hak-hak perempuan memperoleh manfaat secara optimal belum terpenuhi sehingga pembangunan nasional belum mencapai hasil yang optimal.264. UU No. Kurang berperannya kaum perempuan.Negara (GBHN) 1999. ternyata belum dapat memberikan manfaat yang setara bagi perempuan dan laki-laki. Disadari bahwa keberhasilan pembangunan nasional di Indonesia baik yang dilaksanakan oleh pemerintah. Oleh karena itu program pemberdayaan perempuan telah menjadi agenda bangsa dan memerlukan dukungan semua pihak. sistem upah yang merugikan. propinsi maupun di kabupaten/kota.

Kondisi dan posisi perempuan meliputi 3 (tiga) aspek tersebut di atas sebagai berikut: 1. kaum perempuan masih tertinggal dibandingkan laki-laki. HDI Indonesia menempati urutan ke-112 dari 175 negara.595 orang.Faktor penyebab kesenjangan gender yaitu Tata nilai sosial budaya masyarakat. ekonomi dan politik yang diarahkan pada pemerataan pembangunan. kesehatan dan ekonomi. tujuan. legislatif terhadap arti.9% perempuan). dan arah pembangunan yang responsif gender. Thailand. Kemampuan. Kemudian pada tahun 2002 pada peringkat 91 dari 144 negara GDI inipun masih tertinggal dibandingkan dengan-negara di ASEAN seperti Malaysia. (50. kemauan dan kesiapan perempuan sendiri untuk merubah keadaan secara konsisten dan konsekwen. Pendidikan Di bidang pendidikan. Kondisi perempuan Indonesia Secara keseluruhan indeks kualitas hidup manusia digambarkan melalui Indeks Pembangunan Manusia/Human Development Index (HDI) yang berada pada peringkat ke-96 pada tahun 1995 yang kemudian menurun ke peringkat 109 pada tahun 1998 dari 174 negara. 63. 60. Rendahnya pemahaman para pengambil keputusan di eksekutif. dibandingkan Negara-negara ASEAN lainnya seperti HDI Malaysia. Adanya kesenjangan pada kondisi dan posisi laki-laki dan perempuan menyebabkan perempuan belum dapat menjadi mitra kerja aktif laki-laki dalam mengatasi masalahmasalah sosial. Penafsiran ajaran agama yang kurang komprehensif atau cenderung tekstual kurang kontekstual. umumnya lebih mengutamakan laki-laki daripada perempuan (ideology patriarki). 110 dari 173 negara. cenderung dipahami parsial kurang kholistik. Berdasarkan hasil Survey Penduduk 2000 (BPS) diketahui jumlah penduduk Indonesia sebesar 206. Philippina yang menempati urutan 59. mengingat mereka mempunyai peran reproduksi yang sangat berperan dalam mengembangkan sumber daya manusia masa depan. 70 dan 77. kemudian menurun ke peringkat 90 (1998) dan peringkat 92 (1999 dari 146 negara). Selain itu rendahnya kualitas perempuan turut mempengaruhi kualitas generasi penerusnya. Peraturan perundang-undangan masih berpihak pada salah satu jenis kelamin dengan kata lain belum mencerminkan kesetaraan gender. Kondisi ini antara lain disebabkan adanya pandangan dalam masyarakat yang mengutamakan dan . Tahun 1999 berada pada peringkat 102 dari 162 negara dan tahun 2002. Thailand. Berdasarkan Human Development Report 2003. Jumlah laki-laki sedikit lebih banyak dibandingkan perempuan.264.1% diantaranya laki-laki dan 49. Sedangkan Gender related Development Index (GDI) berada pada peringkat ke-88 pada tahun 1995. yudikatif. II. Indeks pembangunan manusia skala internasional dan nasional dilihat dri tiga aspek yaitu pendidikan. Philippina yang masing-masing berada pada peringkat 54.

9. khususnya perempuan kepala rumah tangga. dan menurun 307/100. Statistik Kesejahteraan Rakyat 1999-2001).9 tahun (2000). (Sumber: BPS.000 (SDKI 2002).8 sedangkan perempuan 7. Statistik Kesejahteraan Rakyat 19992002).9 tahun. angka harapan hidup (eo) pada periode 19982000 cenderung meningkat. kemajuan di bidang kesehatan ditunjukkan dengan menurunnya angka kematian bayi (dari 49 bayi per 1000 kelahiran pada tahun 1998 menjadi 36 tahun 2000. Tetapi pada tahun 2002 terjadi penurunan angka buta huruf yang cukup signifikan. Infant Mortality Rate (IMR). dengan kecenderungan meningkat selama tahun 1999-2000. Dibidang kesehatan dan status gizi perempuan masih merupakan masalah utama. Berdasarkan estimasi parameter demografi 1998 yang dikeluarkan BPS. Hal ini ditunjukkan dengan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) yang masih jauh lebih rendah dibandingkan laki-laki. Angka buta huruf perempuan 12. 3. demikian juga dengan akses terhadap sumber daya ekonomi. (Sumber: BPS. perempuan 31. Angka buta huruf perempuan pada kelompok 10 tahun ke atas secara nasional (2002) sebesar 9. Laki-laki 41.29% dengan komposisi laki-laki 5. Child Mortality Rate (CMR) periode ini juga menunjukkan penurunan.34%. Kesehatan Menurut Gender Statistics and indicators 2000 (BPS).54% tahun 2001) lebih besar dibandingkan laki-laki (6. 2. Sejalan dengan semakin meningkatnya kondisi kesehatan masyarakat. Sedangkan ditahun 2003 TPAK laki-laki lebih besar dibanding TPAK perempuan .87%).000 (SDKI 1994). Estimasi Parameter Demografi. Dibidang kesehatan.000 (SDKI 1997).69% (Sumber: BPS. (Sumber: BPS. Usia harapan hidup (life expectancy rate) perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki. yaitu 45% (2002) sedangkan laki-laki 75.84%.7 tahun berbanding 65. angka kematian anak. namun demikian angka kematian anak laki-laki lebih tinggi dibandingkan kematian anak perempuan laki-laki 9. Statistik Kesejahteraan Rakyat 1999-2001).8 tahun (1998) menjadi 67. selama periode 1998-2000 ada penurunan angka kematian bayi. Ekonomi Di bidang ekonomi. Ketertinggalan perempuan dalam bidang pendidikan tercermin dari presentase perempuan buta huruf (14. Statistik Kesejahteraan Rakyat 1999-2001). (Sumber: BPS. 1998).85% dan perempuan 12. Statistik Kesejahteraan Rakyat 1999-2002). yaitu 69. Menurut Satatistik Kesejahteraan Rakyat 2003. Namun angka buta huruf perempuan tetap lebih besar dari laki-laki. kemampuan perempuan memperoleh peluang kerja dan berusaha masih rendah. 337/100. (Sumber: BPS.mendahulukan laki-laki untuk mendapatkan pendidikan daripada perempuan. Menurunnya angka kematian anak serta meningkatnya angka harapan hidup dari 64. Namun angka kematian bayi laki-laki lebih tinggi dibandingkan angka kematian bayi perempuan. secara umum partisipasi perempuan masih rendah. yang ditunjukkan dengan masih tingginya angka kematian ibu (AKI) 390/100.28% sedangkan laki-laki 5.

81%. III. (BPS.146). lebih rendah dari hasil pemilu 1997 yang berjumlah 11.9%. 2000).6%. masyarakat. Faktor Kesenjangan dibidang hukum dan politik Faktor penyebab kesenjangan kondisi dan posisi perempuan dan laki-laki dipengaruhi oleh peraturan perundang-undangan yang bias gender karena dalam bidang hukum masih banyak dijumpai substansi.927. struktur. relatif tingginya angka kemiskinan dan pengangguran. Sedangkan tahun 2000 terjadi sedikit perubahan dimana jumlah PNS perempuan adalah 37. dan pelacuran paksa. dan budaya hukum yang diskriminatif gender. yang umumnya timbul dari berbagai faktor yang saling terkait. Jumlah peraturan perundang-undangan yang diskrimintaif terhadap perempuan berjumlah kurang lebih 32 buah. (Statitik dan Indikator Gender. 2003).005.8%.12% berbanding 44. Pengertian Kesetaraan dan Keadilan gender . sedangkan PNS laki-laki sebesar 84. (Sumber: Statistik dan Indikator Gender Indonesia 2002-Bab7).8% dari seluruh anggota DPR. Masalah HAM bagi perempuan termasuk isu gender yang menuntut perhatian khusus adalah masalah penindasan dan eksploitasi. BPS. (Sumber: Statistik dan Indikator Gender Indonesia 2002).7% yang menduduki jabatan struktural. antara lain dampak negatif dari proses urbanisasi. serta rendahnya tingkat pendidikan. dan 28 pada tahun 2002.yakni 76.1% dari jumlah seluruh PNS (4. Statistik Kesejahteraan Rakya. dan persamaan hak dalam keluarga. Pada tahun 1999 jumlah PNS perempuan adalah 36.2% PNS perempuan yang menduduki jabatan struktural. Faktor penyebab kesenjangan gender pada aspek lain misalnya politik sebagai berikut: hasil Pemilu tahun 1999 yang menyertakan 57% pemilih perempuan hanya terwakili 8. sedangkan PNS laki-laki sebesar 84. dan negara. Jumlah perempuan yang menjabat sebagai Hakim Agung dan Hakim Yustisial Non Struktural di Mahkamah Agung juga menunjukkan penurunan dari 36 pada tahun 1998 menjadi 34 pada tahun 1999.3%. IV. lakilaki sebesar 62. dan dari jumlah tersebut hanya 15. laki-laki sebesar 63. Pemilu 2004 perempuan hanya terwakili 11%.861). Masalah yang sering muncul adalah perdagangan perempuan. kekerasan. dan dari jumlah tersebut hanya 15.2% dari jumlah pemilih 51%.4% dari jumlah seluruh PNS (3.

Kesetaraan gender juga meliputi penghapusan diskriminasi dan ketidak adilan struktural. Ketentuan ini berlaku sejak dahulu kala. dan dengan demikian mereka memiliki akses. Dengan demikian gender dapat dikatakan pembedaan peran. kesempatan berpartisipasi. serta tanggung jawab laki-laki dan perempuan Sehingga gender belum tentu sama di tempat yang berbeda. Sehingga memperoleh manfaat yang sama dari pembangunan. Memiliki kontrol berarti memiliki kewenangan penuh untuk mengambil keputusan atas penggunaan dan hasil sumber daya. dan kontrol atas pembangunan serta memperoleh manfaat yang setara dan adil dari pembangunan.Kesetaraan gender berarti kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan serta hak-haknya sebagai manusia. pendidikan dan pertahanan dan keamanan nasional (hankamnas). . tanggung jawab antara perempuan dan laki-laki yang dibentuk/dikonstruksi oleh sosial budaya dan dapat berubah sesuai perkembangan zaman. baik terhadap laki-laki maupun perempuan. beban ganda. Seks/kodrat adalah jenis kelamin yang terdiri dari perempuan dan laki-laki yang telah ditentukan oleh Tuhan. Terwujudnya kesetaran dan keadilan gender ditandai dengan tidak adanya diskriminasi antara perempuan dan laki-laki. Pengertian gender dan seks Gender adalah perbedaan dan fungsi peran sosial yang dikonstruksikan oleh masyarakat. serta kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan tersebut. Oleh karena itu gender berkaitan dengan proses keyakinan bagaimana seharusnya laki-laki dan perempuan berperan dan bertindak sesuai dengan tata nilai yang terstruktur. Keadilan gender adalah suatu proses dan perlakuan adil terhadap perempuan dan lakilaki. subordinasi. ketentuan sosial dan budaya ditempat mereka berada. fungsi. sosial budaya. hukum. V. sekarang dan berlaku selamanya. marginalisasi dan kekerasan terhadap perempuan maupun laki-laki. Dengan keadilan gender berarti tidak ada pembakuan peran. agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik. Oleh karena itu tidak dapat ditukar atau diubah. dan dapat berubah dari waktu ke waktu. ekonomi. Memiliki akses dan partisipasi berarti memiliki peluang atau kesempatan untuk menggunakan sumber daya dan memiliki wewenang untuk mengambil keputusan terhadap cara penggunaan dan hasil sumber daya tersebut. Gender bukanlah kodrat ataupun ketentuan Tuhan.

Berbagai pembedaan peran. Bentuk-bentuk ketidakadilan akibat diskriminasi gender . tergantung waktu. menyatakan. dan merupakan kodrat atau ciptaan Tuhan. dan posisi tidak menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan. tetapi juga bagi kaum laki-laki. fungsi. 33. bukan saja bagi kaum perempuan. Sesungguhnya perbedaan gender dengan pemilahan sifat. Masyarakat belum memahami bahwa gender adalah suatu konstruksi budaya tentang peran fungsi dan tanggung jawab sosial antara laki-laki dan perempuan. diskriminasi terhadap perempuan kurang menguntungkan dibandingkan laki-laki. Selanjutnya Achmad M. saling terkait dan berpengaruh secara dialektis (Achmad M. beban kerja lebih banyak dan panjang (Ihromi. Permasalah Ketidakadilan Gender Ketertinggalan perempuan mencerminkan masih adanya ketidakadilan dan ketidak setaraan antara laki-laki dan perempuan di Indonesia. berlaku dimana saja. seks tidak dapat berubah. 1996. kekerasan terhadap perempuan (Prasetyo dan Marzuki. hal ini dapat terlihat dari gambaran kondisi perempuan di Indonesia. stereotipe/pelabelan negatif sekaligus perlakuan diskriminatif (Bhasin. Gender masih diartikan oleh masyarakat sebagai perbedaan jenis kelamin. 1996). terutama pada perempuan. tidak dapat dipertukarkan. 1997). budaya setempat. menyatakan. di belahan dunia manapun. ketidak adilan gender termanifestasikan dalam berbagai bentuk ketidakadilan. bukan merupakan kodrat Tuhan. berlaku sepanjang masa. dan dampak suatu peraturan perundang-undangan maupun kebijakan telah menimbulkan berbagai ketidakadilan karena telah berakar dalam adat. 1990). Faqih dalam Achmad M. terhadap laki-laki dan perempuan. Lain halnya dengan seks. 1998a. melainkan buatan manusia. Manisfestasi ketidakadilan gender tersebut masing-masing tidak bisa dipisah-pisahkan. Mosse. peran. Kondisi demikian mengakibatkan kesenjangan peran sosial dan tanggung jawab sehingga terjadi diskriminasi. Namun pada kenyataannya perbedaan gender telah melahirkan berbagai ketidak adilan. 1997). VI. ketidak adilan gender adalah suatu sistem dan struktur yang menempatkan laki-laki maupun perempuan sebagai korban dari sistem (Faqih. Hanya saja bila dibandingkan. VII. tugas dan tanggung jawab serta kedudukan antara laki-laki dan perempuan baik secara langsung maupun tidak langsung.Dengan demikian perbedaan gender dan jenis kelamin (seks) adalah Gender: dapat berubah. norma ataupun struktur masyarakat. dapat dipertukarkan. misalnya marginalisasi. 2001). hal. subordinasi.

Sudah sejak dahulu ada pandangan yang menempatkan kedudukan dan peran perempuan lebih rendah dari lakilaki. 2. banyak pekerja perempuan tersingkir dan menjadi miskin akibat dari program pembangunan seperti internsifikasi pertanian yang hanya memfokuskan petani laki-laki. Namun pemiskinan atas perempuan maupun laki yang disebabkan jenis kelamin merupakan salah satu bentuk ketidakadilan yang disebabkan gender. Subordinasi Subordinasi pada dasarnya adalah keyakinan bahwa salah satu jenis kelamin dianggap lebih penting atau lebih utama dibanding jenis kelamin lainnya. 1996). Di Jawa misalnya revolusi hijau memperkenalkan jenis padi unggul yang panennya menggunakan sabit.1. mesin yang diasumsikan hanya membutuhkan tenaga dan keterampilan laki-laki. tafsiran ajaran agama maupun dalam aturan birokrasi yang meletakan kaum perempuan sebagai subordinasi dari kaum laki-laki. Sebagai contoh. ♣Pemotongan padi dengan peralatan sabit. ♣Usaha konveksi lebih suka menyerap tenaga perempuan. 1997. eksploitasi. Banyak kasus dalam tradisi. Selain itu perkembangan teknologi telah menyebabkan apa yang semula dikerjakan secara manual oleh perempuan diambil alih oleh mesin yang ummunya dikerjakan oleh tenaga laki-laki. atau hendak berpergian ke luar negeri harus mendapat . Mosse. Beberapa studi dilakukan untuk membahas bagaimana program pembangunan telah meminggirkan sekaligus memiskinkan perempuan (Shiva. Contoh-contoh marginalisasi: Pemupukan dan ♣pengendalian hama dengan teknologi baru yang dikerjakan laki-laki. Kenyataan memperlihatkan bahwa masih ada nilai-nilai masyarakat yang membatasi ruang gerak terutama perempuan dalam kehidupan. Sebagai contoh apabila seorang isteri yang hendak mengikuti tugas belajar. ♣Peluang menjadi pembantu rumah tangga lebih banyak perempuan. Seperti Program revolusi hijau yang memiskinkan perempuan dari pekerjaan di sawah yang menggunakan ani-ani. Marginalisasi perempuan sebagai salah satu bentuk ketidakadilan gender Proses marginalisasi (peminggiran/pemiskinan) yang mengakibatkan kemiskinan. menggantikan tangan perempuan dengan alat panen ani-ani. ♣Banyak pekerjaan yang dianggap sebagai pekerjaan perempuan seperti “guru taman kanak-kanak” atau “sekretaris” dan “perawat”. Perempuan dipinggirkan dari berbagai jenis kegiatan pertanian dan industri yang lebih memerlukan keterampilan yang biasanya lebih banyak dimiliki laki-laki. banyak terjadi dalam masyarakat terjadi dalam masyarakat di Negara berkembang seperti penggusuran dari kampong halaman.

Pelabelan negatif secara umum selalu melahirkan ketidakadilan. (perempuan). menunjukkan perempuan mengerjakan hampir 90% dari pekerjaan dalam rumah tangga. 3. keponakan. sepupu. Misalnya pandangan terhadap perempuan yang tugas dan fungsinya hanya melaksanakan pekerjaan yang berkaitan dengan pekerjaan domistik atau kerumahtanggaan. Salah satu stereotipe yang berkembang berdasarkan pengertian gender. artinya suatu serangan terhadap fisik maupun integritas mental psikologis seseorang. Pandangan stereotipe Setereotipe dimaksud adalah citra baku tentang individu atau kelompok yang tidak sesuai dengan kenyataan empiris yang ada. Pelaku bisa saja suami/ayah. 5. Beban Ganda Bentuk lain dari diskriminasi dan ketidak adilan gender adalah beban ganda yang harus dilakukan oleh salah satu jenis kalamin tertentu secara berlebihan. tetapi juga yang bersifat non fisik. pemukulan dan penyiksaan. dan beberapa dilakukan oleh perempuan. tetangga. Kekerasan Berbagai bentuk tidak kekerasan terhadap perempuan sebagai akibat perbedaan. 4. tetapi bila perempuan marah atau tersinggung dianggap emosional dan tidak dapat menahan diri. anak laki-laki. Sementara label laki-laki sebagai pencari nakah utama. Standar nilai terhadap perilaku perempuan dan laki-laki berbeda. yakni terjadi terhadap salah satu jenis kelamin. baik di dalam rumah tangga sendiri maupun di tempat umum. Label kaum perempuan sebagai “ibu rumah tangga” merugikan. Sehingga bagi mereka yang bekerja.izin suami. Hal ini tidak hanya terjadi dalam lingkup rumah tangga tetapi juga terjadi di tempat kerja dan masyaraklat. Pelaku kekerasan bermacam-macam. Oleh karena itu kekerasan tidak hanya menyangkut serangan fisik saja seperti perkosaan. Hal ini mengakibatkan terjadinya diskriminasi dan berbagai ketidakadilan yang merugikan kaum perempuan. ada yang bersifat individu. bahkan di tingkat pemerintah dan negara. (breadwinner) mengakibatkan apa saja yang dihasilkan oleh perempuan dianggap sebagai sambilan atau tambahan dan cenderung tidak diperhitungkan. ada juga di dalam masyarakat itu sendiri. Kata kekerasan merupakan terjemahkan dari violence. Dalam suatu rumah tangga pada umumnya beberapa jenis kegiatan dilakukan laki-laki. . Berbagai observasi. paman. seperpti pelecehan seksual sehingga secara emosional terusik. bisnis atau birokrat. majikan. ia dianggap tegas. tatapi kalau suami yang akan pergi tidak perlu izin dari isteri. muncul dalam bebagai bentuk. mertua. namun standar nilai tersebut banyak menghakimi dan merugikan perempuan. jika hendak aktif dalam “kegiatan laki-laki” seperti berpolitik. Apabila seorang laki-laki marah.

Cairo 1994 mengagendakan perlindungan terhadap hak reproduksi perempuan dalam pembangunan yang berkelanjutan. 1975 menyetujui program WID (Women in Development) sebagai strategi meningkatkan peran wanita. 1990 menyetujui program GAD (Gender and Development) dengan strategi Pengarustuaamaan Gender. 12 tahun 2000 tentang Pemilu . Indonesia meratifikasi CEDAW. dan negara Perjuangan Kesetaraan laki-laki dan perempuan (internasional) • Deklarasi HAM. kenyataannya perempuan sebagai sumber daya insani masih mendapat pembedan perlakuan. bangsa. • Pertemuan di Vienna. Dalam proses pembangunan. 1952 hak politik dan ekonomi perempuan diadopsi PBB. dan negara • Pendidik pertama dan utama bagi generasi penerus keluarga. in the family. 1995 merinci 12 keprihatinan terhadap perempuan yang dikenal dengan 12 critical issues. bangsa. Dirasakan banyak ketimpangan. terutama bila bergerak dalam bidang publik. • Konferensi di Beijing. and the world. • Konferensi di Mexico. • Konferensi di Nairobi. PBB (1948) memberi aspirasi bagi gerakan feminis untuk memperjuangkan hak-hak perempuan (all human beings are born free and equal in dignity and rights). the nation. 36 tahun 1990. melalui UU No. meskipun ada juga ketimpangan yang dialami kaum laki-laki di satu sisi. Commission on the Status of Women (1967) memberi aspirasi pada lahirnya PKK. VIII. ikatan kelompok • Jiwa interpreneur (keseimbangan pendapatan-pengeluaran) • Perhatian terhadap pemenuhan kebutuhan dasar keluarga. • 1963. • Konferensi ICPD. 25 tahun 2000 Propenas ♣UU No. the community. Women must participate equally with men in the decision making process which help to promote peace at all the levels (Deklarasi Konferensi Mexico. 1985 setujui pembentukan UNIFEM lembaga PBB untuk perempuan dengan program WAD (Women and Development) 1979 CEDAW-PBB. Indonesia meratifikasi CRC (Convention Rights of Children). melalui Keputusan Presiden No. 7 tahun 1984. Secara Nasional antara lain: Adanya ♣UUD 1945 yang sudah empat kali diamandemen tentang♣UU No. gerakan global emasipasi masuk dalam agenda PBB (ECOSOC) untuk diakomodasi Negara anggota. 1975) Kelebihan/potensi perempuan: • Rasa sosial. Peran perempuan di domestik dan publik Women have a vital role to play in the promotion of peace in all sphares of life. terutama bagi anak-anaknya • Perajut persatuan dan kesatuan hidup masyarakat. toleransi.selain bekerja di tempat kerja juga masih harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

pada saat ini masih banyak kebijakan. . Di lain pihak. ketidak lengkapan data dan informasi gender yang dipisahkan menurut jenis kelamin (terpilah). pemahman.Presiden No. Berbagai peningkatan pemberdayaan perempuan bisa dilihat dengan meningkatnya kualitas hidup perempuan dari berbagai aspek . meskipun masih belum optimal. ini terlihat dari kesempatan kerja perempuan belum membaik. IX. yang mana belum mempertimbangkan perbedaan pengalaman. beban kerja masih berat. dan penyadaran kepada semua pihak untuk mewujudkan kesetaran gender dan perlindungan anak dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Prinsip dasar membangun kesetaran gender di Indonesia • Menghargai pluralistik • Pendekatan sosio-kultural • Peningaktan ekonomi dan kesejahteraan rakyat • Penegakan HAM dan supremasi hukum • Penghapusan kekerasan dan diskriminasi • Penyadaran pilar pembangunan • Pemerintah: sosialisasi dan advokasi • Masyarkat: sensitisasi dan advokasi • Dunia usaha. Untuk meningkatkan status dan kualitas perempuan juga telah diupayakan namun hasilnya masih belum memadai. Penyebabnya antara lain belum adanya kesadaran gender terutama di kalangan para perencana dan pembuat keputusan. kedudukan masih rendah. penyadaran dan advokasi • Penyatuan persepsi. program dan kegiatan pembangunan yang belum peka gender. Upaya-upaya dan usaha yang dilakukan pemerintah dalam rangka KKG Upaya mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender sebagai visi Kementerian Pemberdayaan Perempuan RI sebenarnya merupakan bentuk pembaruan pembangunan pemberdayaan perempuan yang selama tiga dasa warsa telah memberikan manfaat yang cukup besar. aspirasi dan kepentingan antara perempuan dan laki-laki serta belum menetapkan kesetaran dan keadilan gender sebagai sasaran akhir pembangunan. juga masih belum mapannya hubungan kemitraan antara pemerintah dengan masyarakat maupun lembaga-lembaga yang memiliki visi pemberdayaan perempuan yaitu dalam tahap-tahap perencanaan. 9♣IInstruksi tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional.

pelaksanaan. legislatif. yudikatif. (Zaitunah Subhan. 17-18. pemantauan dan evaluasi kebijakan dan program pembangunan Bergesernya proporsi pekerjaan utama perempuan dari pertanian ke ranah industri. tokoh-tokoh agama dan masyarakat secara keseluruhan. hal. 2001) Dalam GBHN 1999-2004 menetapkan dua arah kebijakan pemberdayaan perempuan yakni pertama meningkatkan kedudukan dan peranan perempuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara melalui kebijakan nasional yang diemban oleh lembaga yang mampu memperjuangkan terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender. serta perolehan manfaat atas hasil pembangunan. pemerintah bertanggung jawab untuk merumuskan kebijakan-kebijakan pemberdayaan perempuan di tingkat nasional maupun daerah. Dengan demikian pemberdayaan perempuan dalam rangka mewujudkan KKG merupakan komitmen bangsa Indonesia yang pelaksanaannya menjadi tanggung jawab seluruh pihak eksekutif. Selain nilai-nilai budaya patriarkhi yang dilegitimasi dengan (atas nama) agama dan sistem sosial yang menempatkan perempuan dan laki-laki dalam kedudukan dan peran yang berbeda dan dibeda-bedakan. Kedua meningkatkan kualitas peran dan kemandirian organisasi perempuan dengan tetap mempertahankan nilai persatuan dan kesatuan serta nilai historis perjuangan perempuan dalam rangka melanjutkan usaha pemberdayaan perempuan serta kesejahteraan keluarga dan masyarakat. Sesuai dengan dua arahan kebijakan itu. . meningkatnya mobilitas perempuan baik migrasi domestik maupun internasional serta semakin membaiknya peran perempuan di lingkup keluarga. Meskipun kemajuan perempuan ini hanya bisa dinikmati pada tataran masyarakat yang sosial ekonominya mapan (menengah ke atas). masih sering dijumpai ketimpangan antara laki-laki dan perempuan baik dalam memperoleh peluang. Sebaliknya pada tingkat sosial ekonomi menengah ke bawah. kesempatan dan akses serta kontrol dalam pembangunan. masyarakat dan berbangsa serta bernegara merupakan indikator keberhasilan pemberdayaan perempuan khususnya upaya kesetaraan dan keadilan gender mulai dapat dirasakan. yang pelaksanaannya dapat memberikan hasil terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender di segala bidang kehidupan dan pembangunan. Hal ini tidak lain karena masalah struktural utamanya.

Program Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan. peningkatan kesejahteraan dan perlindungan anak dan upaya peningkatan kemampuan. program yang disusun terdiri dari program dalam rangka pembangunan pemberdayaan perempuan. Hal ini akan dicapai melalui penguatan kapasitas nasional untuk melakukan pengarusutamaan gender. dan kabupaten/kota. . Program Peningkatan Kesejahteraan dan Perlindungan Anak. 62 tahun 1958 tentang Kewarganegaraan. Kementerian Pemberdayaan Perempuan juga telah melaksanakan program dan langkah konkrit antara lain: • Program Pengembangan dan keserasian kebijakan pemberdayaan perempuan. maka untuk mewujudkan kesetaran dan keadilan gender harus menjadi komitmen bersama. Propenas 2000-2004 telah melakukan mainstreaming kebijakan dan program pembangunan pemberdayaan perempuan. Kementerian Pemberdayaan Perempuan telah bekerjasama dengan UNFPA dalam melaksanakan serangkaian kegiatan Mainstreaming Gender Issues in Reproductive Health and Population Policies and Programmes. Mengingat produk tersebut merupakan undang-undang. propinsi dan kabupaten/kota. Program Peningkatan Peran Masyarakat Pemampuan Kelembagaan Pengarusutamaan Gender. Program Sumber Daya. untuk tahun 2001 (Repeta 2001). Dalam rangka mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender melaui program yang peka akan permasalahan gender. propinsi. Selanjutnya Propenas telah dirumusakan secara lebih rinci setiap tahunnya ke dalam Rencana Pembangunan tahunan (Repeta). advokasi. Sarana dan Prasarana. serta melalui aplikasi konsep gender dalam formulasi dan pelaksanaan kebijakan dan program untuk kesehatan reproduksi dan kependudukan. Upaya mengaktualisasikan dan memanifestasikan dan mengakselerasi-kan PUG di sektor strategis. Selanjutnya dalam Rencana Strategi Kementerian Pemberdayaan Perempuan 2001-2004. serta serangkaian koordinasi telah dilakukan dalam upaya perbaikan undang-undang yang masih bias gender seperti UU No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan dan UU No.Berdasarkan arah kebijakan yang dimandatkan oleh GBHN 1999-2004 untuk butir pemberdayaan perempuan. Mencakup Program Pengembangan dan Keserasian Kebijakan Pemberdayaan Perempuan. • Program Peningkatan Peranserta masyarakat dan penguatan kelembagaan PUG dilakukan dengan melalui: sosialisasi. dan pelatihan analisis gender baik di tingkat pusat. • Pengembangan modul sosialisasi/advokasi gender. Tujuan utama program ini adalah tercapainya perbaikan status kesehatan reproduksi kaum perempuan dan laki-laki melalui kebijakan program kesehatan reproduksi dan kependudukan yang sensitif gender.

Saran dan pesan: Pada kesempatan ini dihimbau kepada para kandidat puteri Indonesia yang dibanggakan untuk berperan aktif dalam memajukan posisi dan kondisi perempuan Indonesia dalam . X. sosial. dimana diharapkan perempuan memiliki peranan yang lebih kuat dalam proses pembangunan. pekerjaan. Kondisi ini terkait erat dengan masih kuatnya nilai-nilai tradisional terutama di pedesaan. Kesimpulan Berdasarkan uraian di atas menunjukkan bahwa diskriminasi gender telah melahirkan ketimpangan dalam kehidupan berkeluarga. maka ketimpangan atau kesenjangan pada kondisi dan posisi perempuan tetap saja akan terjadi. politik. Kondisi yang tidak menguntungkan ini apabila tidak diatasi. pengambilan keputusan dan aspek lainnya. dan Problem Base Analysis (PROBA). konsep kesetaraan dan keadilan gender dan jaringan informasi dengan website. • Pengembanagan Homepage untuk penyediaan data dan informasi program pembangunan pemberdayaan perempuan. • Fasilitasi bantuan teknis kepada daerah propinsi. dimana perempuan kurang memperoleh akses terhadap pendidikan. • Penyusunan Profil Gender untuk 26 propinsi. Akibat diskriminasi gender yang telah berlaku sejak lama. Keadaan ini menciptakan permasalahan tersendiri dalam upaya pemberdayaan perempuan. • Tersedianya data dan informasi yang terpilah menurut jenis kelamin secara berkala dan berkesinambungan dari propinsi dan kabupaten/kota mengenai pengarusutamaan gender dalam pembangunan daerah. kabupaten dan kota. XI.• Pengembangan alat untuk analisis gender yang digunakan dalam perencanaan program dan dikenal dengan Gender Analysis Pathway (GAP). dan budaya. berbangsa dan bernegara. Bahwa status perempuan dalam kehidupan sosial dalam banyak hal masih mengalami diskriminasi haruslah diakui. kondisi perempuan di bidang ekonomi. selain itu ketimpangan lebih banyak dialami perempuan dari pada laki-laki. Kurangnya keikutsertaan perempuan dalam memberikan konstribusi terhadap program pembangunan menyebabkan kesenjangan yang ada terus saja terjadi. bermasyarakat. hankam dan HAM berada pada posisi yang tidak menguntungkan.

Bias Gender dalam Pendidikan. JICA dan UNFPA. Dra. (Pengantar). Buku 1. 2003. Deputi Bidang Kesetaraan Gender bekerjasama dengan Bangun Mitra Sejati. BPS. Kantor Menteri Negara Peranan Wanita. Nasaruddin Umar. MA. serta lingkungan masyarakat luas. baik pada kalangan sendiri. Gender Statistics and Indicators 2000. Modul Pelatihan. BPS. Pesan khusus untuk semua kandidat adalah menjaga jatidiri puteri Indonesia yang bermoral karena kita mempunyai macam-macam agama yang diakui dan ragam budaya yang dapat dijalankan dan dijaga kelestariannya. 2002. Keadilan dan Kesetaraan Gender untuk BUMN/BUMD dan Perusahaan Swasata. Statistik Kesejahteraan Rakyat. BPS. Kementerian Pemberdayaan Perempuan. H. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan. Buku 2. Mudahmudahan apa yang telah disampaikan dapat memberi manfaat yang sebesar-besar bagi diri sendiri. Diterbitkan atas kerjasama RIFKA ANNISA Women’s Crisis Centre dengan Pustaka Pelajar. Jilid I Penerbit IAIN Walisongo dengan Gama Media. et all. 2003. 4 Propinsi dan 16 Kabupaten/Kota Terpilih. Edisi ke-2. MA. 3 Agustus 2004 Daftar Pustaka: Achmad Muthali’in. 2002. 2002. Tingkat Nasional. Julia Cleves Mosse. Gender dan Pembangunan. Dr. Panduan Gender dalam Perencanaan Partisipatif.segala aspek/bidang pembangunan. Surakarta. Kantor Menteri Negara Peranan Wanita. Bias Jender dalam Pemahaman Islam. 1996. Dr. dalam keluarga. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI. H. Apa Itu Gender. Abdul Djamil. Bahan Informasi Pengarusutamaan Gender. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI. Sri Suhandjati Sukri (Editor). Muhammadiyah University Press. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI. Pedoman Teknis Perencanaan Pembangunan Berperspektif Gender. Bahan Informasi . Sekaligus saya tekankan semoga semua kandidat puteri Indonesia dapat menjunjung tinggi agamanya dan jatidirinya sebagai Bangsa Indonesia yang aman dan damai. misalnya melalui aktifitas peningkatan pengetahuan dan penyebarluasan seluruh informasi sebagaimana telah dipaparkan tersebut di atas. 2001. Buku Referensi Pelatihan: Fakta dan Indikator Gender. masyarakat bangsa dan Negara. Hj. Jakarta. 2002. 2001. Profil Wanita Indonesia. 1998. United Nations Developmen Fund for Women.

Salah satu agenda pokoknya adala menggabungkan organisasi-organisasi perempuan Indonesia dalam sebuah federasi tanpa sama sekali membedakan latar belakang politik. Perencanaan erperspektif Gender. tetapi juga berani memikul senjata turun ke medan perang untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini. Hadirnya organisasi seperti Aisyiah. Edidisi ke-2. Peningkatan Kesetaraan dan Keadilan Jender. Adalah sejarah yang mencatat bahwa dua bulan setelah Sumpah Pemuda dideklarasikan. 2002. Gender and Development Making the Bureaucracy gender-responsive. Pemantauan dan Penilaian. Bahan Informasi Pengarusutamaan Gender. suku. Bunga Rampai “Bahan Pembelajaran Pelatihan Pengarusutamaan Gender dan Program Pembangunan Nasional”. UNFPA. Bahan Informasi Pengarusutamaan Gender. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI. BKKBN. planners. 2002. maka berkumpul sekira 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatra untuk menyelenggarakan kongres pertamanya dengan mengambil lokasi di Yogyakarta. sesungguhnya telah tumbuh subur di kalangan tokoh . Putri Indonesia.Pengarusutamaan Gender. Dulu. Ediisi ke-2. Zaitunah Subhan. 1994. Wanita Katolik. status sosial dan bahkan agama. muncul kesan bahwa semangat perjuangan kaum perempuan tempo dulu ternyata tidak sedangkal semangat yang sering ditampilkan pada peringatan Hari Ibu saat ini seremonial dan bahkan konsumerisme. 2003. Kementerian Pemberdayaan Perempuan. Buku 3. and implementors. adalah bukti sejarah bahwa semangat pluralisme (keberbedaan) yang merupakan modal utama untuk membangun persatuan. Edisi ke-2. Sumber: Hari Pembebasan Kaum Perempuan<center></center> KALAU kita menyimak catatan sejarah perjalanan Hari Ibu yang setiap tahunnya diperingati pada tanggal 22 Desember. Modul 1: Apa itu Gender? UNIFEM and NCRFW. mereka tidak hanya gigih dalam menyuarakan hak-haknya. amaryllis t. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI. a sourcebook for advocates. Kementerian Pemberdayaan Perempuan. Jong Java bagian Perempuan. del rosario with the assistance of professor rosalinda pineda-ofreneo for Unifem and NCRFW). dalam membangun Good Governance. Jong Islamieten Bond bagian Wanita dan Organisasi Wanita Utomo. tores and professor rosario s. (developed by dr. persisnya pada tanggal 22 Desember 1928. Buku 4. Bahan Informasi Gender. Bagaimana Mengatasi Kesenjangan Gender.

Jangan lupa. kaum perempuan Indonesia ternyata telah memiliki kesadaran mengenai arti pentingnya pendidikan dan kesehatan sebagai modal utama untuk bisa keluar dari berbagai ketertinggalannya. kita pun akan segera mengetahui bahwa banyak dari isu sentral yang diangkat gerakan perempuan saat ini. Sebagai gambaran. Yang tidak kalah pentingnya. Semua itu juga memberi isyarat kepada kita bahwa gerakan kaum perempuan pada saat itu sesungguhnya tidak kalah majunya dibanding dengan perjuangan kaum perempuan saat ini. Melalui kongres perempuan pertama itu pulalah berhasil dirumuskan beberapa rekomendasi yang berisi tuntutan penerbitan surat kabar sebagai media untuk meyuarakan hak-hak kaum perempuan sampai kepada tuntutan pemberian bantuan khusus bagi perempuan janda dan anak yatim. adalah sejarah pula yang mencatat bahwa dari kongres perempuan Indonesia yang pertama itu berhasil dirumuskan beberapa rekomendasi penting dalam rangka memperjuangkan hak-haknya.wanita sejak dua pertiga abad yang lalu. bahkan jauh sebelum kemedekaan Indonesia diproklamasikan. Tidak keliru kalau momentum yang kini diperingati sebagai Hari Ibu itu hadir sebagai puncak kebangkitan kesadaran kaum perempuan Indonesia dalam rangka menghimpun kekuatan bersama untuk bisa keluar dari berbagai ketertinggalannya. maka jauh sebelumnya kaum perempuan Indonesia pernah mengungkapkannya pada Kongres PPPI tahun 1930 yang ditandai dengan lahirnya kesepakatan untuk membentuk Perkumpulan Pemberantasan Perdagangan Perempuan dan Anak-anak (P4A). sesungguhnya merupakan isu yang pernah diagendakan dalam perjuangan kaum perempuan tempo dulu. bahkan komunitas dunia banyak bicara mengenai masalah perdagangan anak dan kaum perempuan. sampai tuntutan pemberlakuan syarat-syarat pelaksanaan perceraian yang tidak merugikan hidup kaum perempuan. Tuntutan kaum perempuan kepada pemerintah tentang pemberian beasiswa untuk anak perempuan dan sekolah-sekolah perempuan. termasuk di dalamnya kesepakatan penyelenggaraan kongres perempuan tahunan dalam rangka mengisi dan memelihara kelangsungan perjuangannya. penolakan tradisi perkawinan anak perempuan di bawah umur termasuk kawin paksa. jika saat ini kita. Bahkan jika kita menyimak catatan penting yang dihasilkan oleh kongres perempuan tahun-tahun berikutnya seperti tertuang dalam buku ”Peringatan 30 tahun Kesatuan Pergerakan Perempuan Indonesia 1928-1958”. adalah beberapa rekomendasi penting yang lahir dari kongres perempuan pertama 75 tahun yang lalu. . dari kongresnya yang pertama itu pula lahir kesepakatan untuk mendirikan badan musyawarah bernama Perikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia (PPPI) dengan misi pokoknya untuk menjalin hubungan di antara semua perhimpunan perempuan. Itu semua menunjukkan bahwa jauh sebelum ada lembaga yang sekarang banyak menyuarakan arti pentingnya kesetaraan dan keadilan gender.

Kongres PPPI tahun 1930 itu juga telah melahirkan rumusan kerja lebih konkret lagi yang antara lain ditandai dengan lahirnya rekomendasi yang meniscayakan arti pentingnya penyelidikan kondisi kesehatan kaum perempuan dan sebab-sebab terjadinya kematian bayi di pedesaan. sesungguhnya masih begitu banyak kiprah sekaligus sumbangan pemikiran berarti yang telah diberikan kaum perempuan pada saat itu.” (Soekarno. oleh karena dari pada kaum bapak masih banyak jang kurang pengetahuan akan harganja sokongan kaum ibu itu. misalnya. rekomendasi megenai arti pentingnya kampanye berkait dengan segala akibat buruk yang ditimbulkan dari banyak kasus perkawinan usia dini sampai kepada upaya mempelajari hak pilih bagi kaum perempuan yang sekaligus merupakan wujud kesadaran kaum perempuan waktu itu akan arti pentingnya upaya bisa mengakses kekuasaan sebagai media untuk mewujudkan perjuangannya. Kongres Kaum Ibu. 1928). diadakan pada suatu waktu. Tersirat dalam cuplikan pidato itu adalah sikapnya yang sangat mendorong kebangkitan kaum perempuan dalam rangka memperjuangkan hak-haknya. di mana masih ada sahadja kaum bapak Indonesia jang mengira. kita tidak sahadja gembira hati akan kongres itu oleh karena kaum bapak belum insyaf akan keharusan kenaikan deradjat kaum ibu. Kalau dirinci.. Simak cuplikan pidato Soekarno di hadapan peserta kongres pertama kaum perempuan tanggal 22 Desember tahun 1928 waktu itu yang mengisyaratkan besarnya perhatian sekaligus pengakuan tokoh politik terhadap potensi yang dimiliki gerakan kaum perempuan pada saat itu sebagai berikut: ”Berbahagialah kongres kaum ibu. Setelah Jepang menyerah. kaum perempuan dari kalangan parpol dan ormas berbasis agama Aisyiah dan Wanita Katolik menjadikan perjuangan kemerdekaan sebagai agenda utamanya. Pada tahun 1930. Istri Sedar yang didirikan di Bandung muncul menyatakan diri ingin meningkatkan status perempuan Indonesia melalui perjuangan kemerdekaan. Bung Karno punya obsesi yang lebih karena ingin menjadikan gerakan perempuan waktu itu sebagai bagian dari gerakan memperjuangkan kemerdekaan. Hal yang sama juga dilakukan pula oleh Wanita Muslimat dari Masyumi. tidak bakal ada persamaan hak antara laki-laki dan perempuan bila tidak ada kemerdekaan. dan belum banjak jang berkehendak akan kenaikan deradjat itu. bahwa perdjoangan mengedjar keselamatan nasional bisa djuga lekas berhasil zonder sokongannja kaum ibu. Bahkan seperti pernah ditulis Gadis Arivia dalam artiakelnya yang berjudul ”Soekarno dan Gerakan Perempuan (2001).Bukan hanya itu. Itulah pula awal sejarah yang kemudian mengilhami banyak organisasi perempuan setelah itu terlibat secara langsung dalam perjuangan kemerdekaan. .kita gembira ialah teristimewa djuga oleh karena di kalangan kaum ibu sendiri belum banjak jang mengetahui atau mendjadikan kewajibannja ikut menjeburkan diri di dalam perdjoangan bangsa. Gagasan dasarnya.

bahkan berani. Kian maraknya kasus perdagangan anak dan perempuan. Itu pula sebabnya. apalagi penuh hura-hura. tahun 1945. kita jadikan momentum Hari Ibu itu sesuai dengan akar historisnya sebagai hari pembebasan kaum perempuan dari berbagai belenggu yang menindasnya. Begitu luhur dan mulia. Mereka yang tergabung dalam organisasi ini. Bulan ini. Sebaliknya. adalah beberapa saja dari sekian banyak masalah yang harus dijadikan agenda utama perjuangan kaum perempuan Indonesia saat ini dan ke depan. masih tinginya angka kematian ibu akibat kehamilan atau melahirkan. di Bandung lahir organisasi bernama Lasjkar Wanita Indonesia (Lasjwi) yang dibidani oleh Aruji Kartawinata. Fak. jumlah buku sastra Indonesia boleh dibilang sangat sedikit. perempuan Indonesia pun merayakan Hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April setiap tahun. Wilujeng Hari Ibu!*** Penulis. karya fiksi yang sedikit ini . 9 Maret 2002). sebagian yang lainnya bertugas membantu prajurit yang luka kalau bukan menyiapkan makanan bagi para prajurit yang sedang bertempur dalam rangka memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini. apalagi bila dibandingkan dengan negara-negara lain. mahasiswi jurusan biologi. Sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat perempuan di Jakarta menuntut pemerintah dan DPR untuk memprioritaskan hak dan kesejahteraan perempuan (SH. Lebih parahnya lagi. Esensi kedua hari penting bagi perempuan adalah sama: memperjuangkan hak-hak perempuan di segala bidang.Lima belas tahun berikutnya. Selama ini. Lalu bagaimana perjuangan perempuan di bidang sastra? Ternyata telah muncul fenomena pemberontakan perempuan dalam sastra yang bisa kita sebut spektakuler. MIPA Universitas Padjadjaran Bandung. masih banyaknya korban kaum perempuan akibat tindakan kekerasan dalam rumah tangga. peminat masalah gender. itulah kesan yang muncul kalau kita menyimak sejarah perjuangan kaum perempuan yang awalnya diilhami oleh penyelenggaraan kongres perempuan pertama pada tanggal 22 Desember tiga perempuan abad yang lalu. Meretas Kekerasan Tersamar<center></center> Hari perempuan sedunia yang jatuh tanggal 8 Maret lalu diperingati dengan cukup provokatif. sebagiannya berani mengangkat senjata. Sumber:Pikiran Rakyat Tren Perjuangan Perempuan dalam Sastra Merangkul Tabu. sepatutnya kita selenggarakan tidak hanya dalam bentuk seremoni yang hampa makna. tidak berlebihan jika Hari Ibu yang setiap tahun diperingati bangsa ini.

bahkan abnormal semisal bondage sadomasochis (seks sadis). Lalu apa resep mereka dalam mendobrak kebekuan sastra selama ini? Yang jelas. bukan sebagai komoditas masyarakat kapitalis semata. Di mana industri seks-nya melimpah. terutama dalam hal seks. Laila dan Sihar” (hal.tak banyak yang mempunyai kekuatan untuk menarik perhatian publik. informasi. Seks menarik justru karena melanggar kenormalan dalam masyarakat tradisional. Hingga akhirnya muncul Ayu Utami dengan Saman dan Larung-nya serta Dewi Lestari dengan Supernova. Tanpa disengaja mereka menolak tegas kultur yang menekan eksistensi seks perempuan timur sekaligus mengejek terma dalam masyarakat komoditas. Cerita tentang perselingkuhan Yasmin dan Saman serta kecintaan Laila pada Sihar membawa tokoh-tokohnya bertualang di negeri Paman Sam. dan benda-benda komoditas. semata untuk memperoleh keuntungan ekonomi. Sebuah negeri yang bisa jadi dianggap sebagai media pelarian ketertekanan seksual sang tokoh pada kultur yang membesarkannya. bahkan ada jenis komoditi yang menjanjikan seks-seks ilegal. Membakar Kebekuan Fiksi sastra yang ditulis kedua pengarang perempuan ini mampu membakar kebekuan gerilya sastra sekaligus meruntuhkan tembok pembatas antara sastra pop dan sastra serius.77). yang membentuk semacam sistem libidonomics yaitu sebuah sistem ekonomi yang mengeksploitasi setiap potensi libido. di mana tubuh (body). Ayu menunjukkan keberanian dalam bercerita tentang eksistensi seks perempuan. khususnya yang bermuatan erotis. tanda-tanda tubuh (body signs) serta potensi libido di balik tubuh (libidinal value) menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya komoditas. mereka meretas fenomena kekerasan tersamar terhadap perempuan. amateur. voyeurism (ngintip). Kehadiran buku-buku ini bagai oase bagi masyarakat yang ”kepanasan” oleh etika timur yang kuat tetapi tak berani melawannya secara frontal. Melalui perlawanan terhadap tabu ini. citra. Keduanya mampu menjadi trend dan dibaca oleh kalangan yang kompleks. mulai dari mereka yang gemar berburu buku-buku porno stensilan hingga doktor-doktor ilmu sastra yang mejanya penuh dengan naskah-naskah seminar. Beradaptasi dengan terjadinya proses pelipatgandaan dan penyebaran secara sosial tanda. tahun 1996: ”Cerita ini berawal dari selangkangan teman-temanku sendiri: Yasmin dan Saman. salah satu kesamaan menonjol dari sisi feminisme kedua novelis perempuan ini adalah keberanian mereka dalam mengemas cinta dan seks dalam bungkus yang benar-benar berbeda. Mungkin karena Amerika–lah yang dianggap negeri yang mampu mewakili representasi eksistensi seksual perempuan. Eksistensi Seks Dalam Larung. sampai surveillance sex (dokumentasi seks orang- . Mengalir deras di tengah masyarakat yang dilanda proses diseminasi sosial yang semakin cepat. lewat diary tokoh Cok. mature dan older (orang bangkotan). Mereka mampu merepresentasikan seks sebagai eksistensi keperempuanannya. Mereka berani melawan tabu yang selama ini menjadi magma terpendam pada masyarakat yang sarat dengan konvensi-konvensi budaya.

seks yang digambarkan Ayu bukanlah teknik persetubuhan melainkan pemaparan problema yang bisa jadi dialami banyak wanita. berpendidikan.orang biasa) Problema-problema seks perempuan. Hanya saja.” Ejekan atas keperawanan yang menjadi momok pengaturan laki-laki terhadap perempuan dilakukan Ayu melalui tokoh Laila meskipun sosok ini mampu melawan gender keperempuanannya. ”…tidak semua anak perempuan bisa melakukan itu. Misalnya cerita tentang bagaimana Cok melepas keperawanannya. Melokalisasinya pada fantasi seksual. menyangkal hal-hal yang lembek. Juga. tak pernah mengolah kekejaman pada dirinya meskipun hanya sebatas imajinasi. …Lalu kupikir-pikir. tidur bersisian dengan kawan lelaki dalam tenda dan perjalanan. aku sebagai nilai estetis. 118) . Padahal Yasmin merasa berbeda dengan para perempuan yang mengukuhkan patriarki. Naik gunung. turun tebing. pecah dalam tingkah laku tokoh-tokoh novel ini. suatu ideal. dan lain-lain jenis olahraga kelompok yang kebanyakan anggotanya lelaki. cerdas. Tapi dialah yang paling terlambat mengenal pria secara seksual. sang bekas frater. Semasa sekolah dia paling banyak berlatih fisik. Bagaimana mitos kesucian keperawanan membuat Cok membiarkan sang lelaki bermasturbasi dengan payudaranya. Kamu biarkan aku menyakitimu seperti polisi rahasia mengintrogasi mata-mata yang tertangkap. Pada masa itu ada rasa bangga bahwa dia memasuki dunia lelaki yang dinamis. Membuatmu menderita oleh coitus interuptus yang harfiah. Lukas. setia pada suami—kembali menemukan kebebasan seksualnya bersama Saman. kaya.” (hal. Mereka menerimanya sebagai nilai moral.” (hal. beragama. Tokoh Yasmin—yang sempurna. 157) Eksistensi seksualitas perempuan Indonesia yang selama ini terkungkung budaya patriarki dilibas habis oleh Ayu Utami. ”…Kamu biarkan aku mengikatmu pada ranjang seperti kelinci percobaan. kenapa aku harus menderita untuk menjaga selaput daraku sementara pacarku mendapat kenikmatan? …Aku pun melakukannya. 160) Kerinduan Yasmin kepada Saman lebih karena perasaan superioritasnya terhadap lakilaki ini. Kamu tak punya pilihan selain membiarkan aku menunda orgasmemu atau membiarkan kamu tersiksa tak memperolehnya. ”Mereka menerima dominasi pria sebagai suatu ide yang total dan murni. cantik. bermoral pancasila. senggama. ”… tapi membiarkan lelaki masturbasi dengan payudara kita bukanlah pengalaman yang menyenangkan kalau terus-terusan.” (hal. Itu karena suaminya. Aku menerimanya dan melakukan seksualitas terhadapnya. berkemah. dan ia merasa ada supremasi pada dirinya. cross country. yang selama ini menjadi endapan dalam masyarakat Indonesia yang patriarkal. Lukas lebih tertarik pada eksplorasi posisi fisik daripada eksplorasi relasi psikis seperti yang dikhayalkan Yasmin. Kamu biarkan jari-jariku bermain-main dengan tubuhmu seperti liliput mengeksplorasi manusia yang terdampar.

yang terurai dalam tiga terma. dan identitas tubuh di dalamnya. Kini tak kubiarkan kamu menemani lelaki itu sebelum kamu mengetahuinya. Ia hanya ingin menyelamatkan Laila. Kerinduan Laila pada Sihar membuatnya mampu melihat faktor lelaki pada diri Tala. 153) Penggambaran tentang dunia lesbian. Dalam hal ini Ayu masih mencoba membela kaumnya. Ketiga. Ketika kreativitas ekonomi dikuasai dorongan hasrat dan sensualitas.Ternyata supremasi itu tidak dapat dibawa tokoh Laila sampai dewasa. …Kupeluk kamu. Keperawanan dinilai sebagai tanggung jawab. Jebakan Politik Tubuh Memang keberanian Ayu Utami dalam Saman dan Larung. Aku mengelus di punggung dan mencium di kening. Tala bukanlah seorang androgini yang maniak. ”ekonomi politik tubuh” (political economy of the body) yaitu bagaimana tubuh digunakan dalam berbagai kerangka relasi sosial dan ekonomi. dua lelaki yang dicintai Laila muncul pada diri Tala. berdasarkan konstruksi sosial atau ”ideologi” tertentu. bisa menjerumuskan mereka dalam jebakan politik tubuh (body politics). Dalam ekonomi-politik hasrat. konsumsi). Peran tokoh Shakuntala (Tala) yang androgini dimunculkan Ayu secara estetis sebagai representasi kebebasan untuk memilih. Sebelum kamu mengenali tubuhmu sendiri. Dan aku tak pergi.” (hal. distribusi. dan penyalurannya lewat berbagai kegiatan ekonomi (produksi. Pertama. Ia tak bisa masuk ke dalam dunia pria dewasa. Ekspresi libido seks Laila terhambat. ”ekonomi politik hasrat” (political economy of desire) yaitu bagaimana sistem ekonomi menjadi sebuah ruang berlangsungnya pelepasan hasrat dari berbagai kungkungan. Gabungan sosok Saman dan Sihar. Tak pernah terjadi persetubuhan yang sebenarnya. dilihat dalam berbagai relasi sosial. juga Dewi Lestari dalam Supernova-nya. Ketertarikan Laila ditanggapi Tala sehingga dalam Larung ini muncul sebuah relasi seksual di mana lelaki benar-benar diabaikan. Lelaki takut padanya. Aku tahu kamu belum pernah mengalami orgasme. Itu sebabnya ia tak bebas ketika telah sama-sama telanjang dengan Sihar. ”…Kamu berbaring di sisiku dan kulihat air mengalir dari matamu ke arah rambut. Juga ketika bercumbu dengannya. makna. yang tercipta adalah . Tapi keperawanan Laila yang terjaga —seperti layaknya yang diagungkan budaya Indonesia—justru menjadi problema. Persoalan politik tubuh berkait dengan eksistensi tubuh dalam kegiatan ekonomi-politik. sifat-sifat rasionalitas ekonomi dikendalikan sifat-sifat irasionalitas hasrat. ”ekonomi politik tanda (tubuh)” (political economy of signs) yaitu bagaimana tubuh diproduksi sebagai tanda-tanda di dalam sebuah sistem ekonomi pertandaan (sign system) masyarakat informasi yang membentuk citra. Politik tanda berkaitan dengan eksistensi tubuh (pria atau wanita) yang dieksploitasi sebagai tanda atau komoditas tanda (sign comodity) dalam berbagai media. Hingga akhirnya Laila melupakan Tala sebagai perempuan. yang benar-benar belum bisa diterima kultur Indonesia dilakukan Ayu dengan metafora yang sangat indah. Kedua.

namun ia selalu merasa dirinya perempuan. 27/7/2003). Bisa jadi ekspresi kebebasan dua perempuan pengarang ini dijadikan media penumpahan keliaran libido laki-laki. Yang jelas. Oleh: R. dan ayah bagi . Akibatnya. Bukan untuk menyelami ketertekanan perempuan tapi sebagai media eskapisme erotisme otak mereka.sebuah ”budaya ekonomi”. musisi jazz Amerika. Liz Riley terlahir lelaki. Sebaliknya. memang tak gampang meretas kultur yang telah tertanam kuat. Ekspresi perlawanan terhadap kekerasan tersamar dalam ranah seks perempuan. Contohnya Brandon Teena. Contoh lainnya Billy Tipton. setidaknya mereka berdua telah memulainya dan berhasil menarik perhatian publik. Sensualitas dijadikan kendaraan ekonomi dalam rangka menciptakan keterpesonaan dan histeria massa (mass hysteria) sebagai cara mempertahankan kedinamisan ekonomi. apa yang beroperasi di balik aktivitas ekonomi adalah semacam ”teknokrasi sensualitas” (technocracy of sensuality)—di dalamnya nilai-nilai budaya ekonomi ditopengi tanda-tanda sensualitas. seorang ayah yang berubah menjadi ibu. Sugiarti. yang hidupnya dikisahkan dalam film pemenang Oscar. ADA orang yang terlahir lelaki namun sejak kecil merasa dirinya perempuan sehingga mereka hidup layaknya perempuan. Relawan pada UNICEF Indonesia. Berbagai bentuk khayalan lewat voyeurisme diciptakan. bahkan ia sempat kawin dan memiliki anak. yang mengondisikan orang memuja ”citra tubuh”. Mbak Dorce mengungkapkan bahwa ia sejak kecil merasa dirinya perempuan. Boys Don’t Cry. Contohnya. Minoritas yang Terlupakan<center></center> BENARKAH Mbak Dorce Gamalama melawan kodrat? Pertanyaan ini mungkin timbul dalam hati saat membaca wawancara Kompas dengan artis Dorce (Kompas. Suara Pembaruan Minggu mengetengahkan kisah Liz Riley. aspirasi. suami dari empat istri. sebagai cara untuk mendominasi selera (taste). dalam wawancara dengan Kompas. Pada tanggal yang sama. Pengamat Perempuan & Budaya. yang dipenuhi berbagai strategi penciptaan ilusi sensualitas. yang menciptakan semacam ”erotisasi kebudayaan”. Setapak langkah perbaikan telah dimulai dari dunia sastra. dan keinginan masyarakat dieksploitasinya. sehingga akhirnya memutuskan untuk hidup sebagai ibu. ada juga orang yang terlahir perempuan tetapi merasa dirinya lelaki sehingga mereka hidup sebagai laki-laki. Sumber: Sinar Harapan Transseksual. justru menjadi perangsang laki-laki untuk membacanya.Namun. yang dikenal sebagai lelaki ramah.

MFT berperilaku sebagai perempuan. Hakikat transseksual Selama ini alat kelamin fisik. Sebagian menduga pengaruh hormon dalam kandungan. MFT bertubuh lelaki tetapi merasa dirinya perempuan. Brandon Teena dan Billy Tipton disebut female-to-male transsexual (FMT). dalam Gender: An Ethnomethodological Approach (1978). Jenis kelamin jiwa mulai tertanam pada usia dua tahun. masih tetap merasa perempuan). para pakar menganggap transseksual merupakan orang abnormal yang perlu disembuhkan dengan aneka terapi. kekurangan testosteron pada janin dengan kelamin . petugas jenazah mendapati ia memiliki alat genital wanita. semata-mata tergantung dari perasaan orang bersangkutan dan tidak selalu sejalan dengan penilaian orang. mengapa orang yang terlahir laki-laki sampai merasa dan berperilaku sebagai perempuan dan sebaliknya pada FMT. Namun. yang ditemukan pada tahun 1972 oleh Money dan Erhardt setelah meneliti ratusan individu. yaitu transseksual dari lelaki ke perempuan. jika seorang transseksual diminta menyelaraskan perilaku dengan bentuk fisiknya. Menurut Kessler dan McKeena. Mereka merupakan contoh kaum transseksual. Jenis kelamin jiwa merupakan variabel mandiri terhadap seks fisik. Namun. Sebelum sex identity ditemukan. berupa alat reproduksi. Sebaliknya. namun biasanya mulai disadari dengan kuat menjelang remaja. Misalnya. Karena itulah. melainkan perubahan fisik. yang dapat disebut jenis kelamin jiwa. Ada yang disebut male-to-female transsexual (MFT). Namun. yaitu identitas jenis kelamin (sex identity) atau identitas jender. sering dianggap satu-satunya penentu perilaku jenis seseorang. masih ada variabel lain. sekalipun berperilaku kelaki-lakian. transseksual memiliki sex identity berbeda dari seks fisiknya. Sebaliknya. karena seseorang yang tomboi. Sex identity. yaitu transseksual dari perempuan ke lelaki. Karena itu.sejumlah anak. artinya dapat sejalan atau bertolak belakang dengan kelamin fisik. pakar sekalipun. Mayoritas warga memiliki sex identity sesuai dengan jenis kelamin fisiknya. Padahal. identitas jenis kelamin adalah perasaan mendalam atau keyakinan dalam batin seseorang yang membuatnya merasa sebagai lelaki atau perempuan. yang lebih banyak terjadi bukan perubahan perilaku. identitas jenis kelamin adalah keyakinan mendalam pada seseorang tentang apakah dia itu pria atau wanita. kini disadari bahwa sex identity lebih kuat daripada kelamin fisik. Dengan kata lain. Masalahnya. FMT bertubuh perempuan namun merasa dirinya lelaki (bukan sekadar tomboi. ketika ia meninggal. Jadi. termasuk kejutan listrik. Penyebab transseksual belum dapat ditentukan secara pasti. masyarakat sering menyalahkan.

sebagaimana masyarakat juga tidak boleh mendiskriminasi orang yang berbeda warna kulit. yaitu terbuang dari lingkungannya atau berpura-pura menutupi jati dirinya. menunggu kapan sinar terang akan muncul pada akhir lorong tersebut. Namun. tetapi dari hari ke hari ia hidup dalam kehampaan. agar diterima lingkungannya. transseksual yang terpaksa menutupi atau mengingkari jati dirinya bisa saja kelihatan sukses. sebagian besar transseksual masih belum diterima lingkungannya. pekerjaan. Jutaan transseksual hidup dalam lorong kegelapan. kaum transseksual perlu menghindari perilaku yang menimbulkan citra negatif. Variabel yang juga menentukan perilaku adalah orientasi seks. Contohnya Julie Peters. yang memiliki jati diri perempuan. Dengan demikian. Namun. bahkan oleh keluarganya sendiri. Kaum transseksual hanyalah orang yang berbeda. Umumnya. sekalipun berbeda. Sungguh beruntung jika seorang transseksual diterima lingkungannya. seperti berdandan terlalu mencolok. memperlihatkan obsesi berlebihan terhadap . yaitu pada identitas seksualnya. Para transseksual ini terpaksa memilih satu di antara dua pilihan yang sama pahitnya. ia akan hidup dalam tekanan batin yang luar biasa dan tiada hentinya. kelebihan testosteron pada janin dengan kelamin fisik perempuan dapat menyebabkannya memiliki seks jiwa lelaki. mendapat perlakuan sederajat. atau status sosialnya. sebab sebenarnya masih merupakan misteri. Julie mengaku tetap tertarik kepada perempuan. politisi Australia. tetapi tidak mau menerima bahwa bagi transseksual. keyakinan. Masyarakat demokratis mensyaratkan asas pluralisme dan egalitarianisme. yang terlahir sebagai lelaki tetapi memiliki sex identity perempuan. Namun.fisik lelaki dapat menyebabkannya memiliki kelamin jiwa perempuan. Sebaliknya. Setiap orang. Di lain pihak. Lorong kegelapan? Seorang bijak pernah mengatakan. Seyogianya. kecenderungan mencari pasangan. Selagi mayoritas warga bangsanya mensyukuri nikmatnya hidup di alam kemerdekaan. perbedaan ini tidak dijadikan dasar untuk meminggirkan atau mendiskriminasikan mereka. Namun. karena mendapatkan dunia tetapi kehilangan dirinya sendiri. baik keluarga. akan berpura-pura menjadi "lelaki biasa". transseksual tertarik terhadap lawan jenis sehingga mirip warga masyarakat umumnya. Namun. sejauh yang bersangkutan tidak melakukan hal-hal yang merugikan orang lain. maupun masyarakat. banyak transseksual belum dapat merasakan apa makna kemerdekaan itu sesungguhnya. diri sendiri itu adalah jati dirinya sesuai dengan sex identity yang dimiliki. ada juga transseksual yang tertarik kepada kaum sejenis. sekolah. Pada pilihan kedua. Setelah usia 40 tahun Julie memutuskan menjalani operasi dan menjadi perempuan. seorang MFT. "Apakah gunanya seseorang mendapatkan seluruh dunia tetapi kehilangan dirinya sendiri?" Banyak orang mengamini sabda tersebut.

tulisan ini justru ingin memperbincangkan konstruksi makna ibu dalam media massa kita. Di tengah perdebatan apakah nama Hari Ibu bisa mewakili kepentingan semua perempuan.lelaki. menyatakan pemahaman terhadap kaum transseksual akan bermanfaat besar untuk memahami konsep jender secara lebih komprehensif. hujatan panjang di media massa pun diarahkan kepada perempuan. seperti telah diperlihatkan Mbak Dorce dan mendiang Billy Tipton. termasuk juga bagi perempuan yang secara biologis belum menyandang predikat ibu. Penting sekali agar para transseksual dapat membangun citra yang positif. Artikel mengenai buruknya perilaku perempuan yang adalah calon ibu marak di koran-koran baik nasional maupun lokal. dan bukannya mempertanyakan siapa laki-laki yang bertanggung jawab atas keberadaan calon bayi . di antaranya lewat prestasi. Special Issue. sesuai jati diri yang mereka miliki. Dan biasanya. klinik-klinik aborsi ilegal. dengan mengambil kasus lama yang terjadi di tahun 1997. dan bahkan yang tidak relevan sama sekali seperti cerita tentang siapa yang menemukan mayat bayi-bayi malang tersebut. tahun 2000). Sebagai akibatnya. ketika perempuan yang dihujat. Semoga seiring dengan meningkatnya pemahaman. Tinggal di Bengkulu Sumber Kompas Cyber Media Perempuan dan Media Massa (1) <center></center> Catatan kecil ini ingin ikut serta merayakan Hari Ibu 22 Desember 2003. agar mereka dapat berdarma bakti secara optimal. Hari Ibu 1997 telah “dicemari” dengan ditemukannya banyak mayat calon bayi akibat aborsi ilegal. Negeri ini sedang dilanda krisis multidimensi dan untuk mengatasinya diperlukan kerja sama seluruh komponen bangsa. Bambang Suwarno Aktivis Perempuan dan Relasi Jender. Prof Vern Bullough dari California State University. hanya satu yang ditulis oleh perempuan. sehingga dari lima artikel yang disoroti dalam tulisan ini. dalam "Transgenderism and the Concept of Gender" (International Journal of Transgenderism. dan menjadi pekerja seks komersial. Lebih dari itu. hal yang sangat diperlukan guna membangun masyarakat dunia yang lebih manusiawi. Media massa yang mengeksploitasi peristiwa tersebut rasanya telah memojokkan perempuan. maka laki-lakilah yang menjadi penghujatnya. baik yang telah operasi maupun belum. Dengan menarik perhatian publik untuk lebih memperhatikan cerita-cerita yang dibangun media yang lebih mengutamakan cerita kehidupan perempuan pelaku aborsi. masyarakat dapat menerima dengan wajar kaum transseksual.

misalnya mempertanyakan penolakan perempuan untuk menjadi ibu sementara predikat tersebut masih dianggap sakral. Belum tentu jurnalis perempuan sudah memiliki perspektif gender dalam menurunkan tulisan dan menilai permasalah sosial yang dihadapinya. Postmodernism. rasanya tidak berlebihan untuk meragukan sifat pembebasan media yang selama ini didengung-dengungkan. memilih untuk menjadi atau menolak menjadi ibu tidak hanya berurusan dengan fungsi biologis perempuan saja.tersebut. and Gender Skepticism” (1990). bahkan dikatakan sebagai senjata kelompok marginal untuk mendapatkan posisinya. Apakah catatan ini sudah demikian prejudis mencurigai adanya konspirasi antara laki-laki dan media massa? Jika dilihat dari perilaku media. dituduh. sebagian mungkin merasa bebas untuk memilih melakukannya sedangkan yang lain mungkin tidak punya pilihan lain. mana ada media yang juga tidak bergender?(2). Di satu sisi. Apakah ini karena media massa masih belum kuat betul atau cukup dewasa untuk membebaskan dirinya dari pelukan “diskriminasi gender” yang tiada akhir?(4) Atau memang karena mereka sendiri pada dasarnya bersifat diskriminatif terhadap perempuan? Jika kita menilik figur angka pelaku media massa. media massa memberikan aplaus . sebagai agen dari propaganda adil gender.(5) Ketimpangan jumlah antara jurnalis perempuan dan laki-laki tentu tidak dengan sendirinya menjawab pertanyaan kenapa media kita begitu seksis. Salah satu dari artikel yang menjadi sorotan dalam catatan ini. Karena kita hidup dalam budaya yang tidak memungkinkan kita untuk “bergender netral” seperti yang dikatakan oleh feminist Perancis Susan Bordo dalam artikelnya “Feminism. media telah dengan sewena-wena membela kepentingan laki-laki. Yang pasti. tetapi juga kewajiban perempuan untuk menjaga nilai-nilai moral yang dianut lingkungan sosialnya. “Kendati bukan perilaku baru. ada suatu pembagian yang sangat tidak seimbang antara perempuan dan laki-laki. maupun dikorbankan? Tentu saja ada banyak alasan bagi perempuan untuk melakukan aborsi. Apakah sebagian yang lain yang menilai sucinya posisi ibu akan tersentuh dengan kenyataan bahwa secara biologis sebenarnya mereka mampu menghadirkan sebuah kehidupan baru tetapi lebih memilih untuk tidak melakukannya? Apakah yang lain akan merasa diobjektifikasi. kabar menghebohkan dari Jakarta soal keberanian sejumlah wanita yang menolak menjadi ibu manusia melalui cara-cara yang menyinggung perasaan sosial … apakah sebutan “ibu” tidak lagi sesakral dan seterhormat yang kita ketahui sehingga mesti ditolak?”(3) Membaca kalimat tersebut. bagaimana perempuan seharusnya bereaksi? Bagi mereka yang memilih untuk tidak menjadi ibu dengan cara tersebut mungkin akan merasa malu karena perbuatannya sudah dipublikasi. di sisi lain masih juga menjalankan praktek-praktek obsolit. jika media massa di satu sisi mempromosikan nilai-nilai “kesejajaran” antara laki-laki dan perempuan. Ironisnya.

media menganggap bahwa keberhasilan perempuan di ranah publik tidak lebih sekedar cerita sukses negara untuk mengeksploitasi mereka dalam mendorong pembangunan nasional. semakin mempertajam segregasi ranah publik-domestik. karena reproduksi pola yang terus menerus. mereka memuja-muja peran ibu sebagai faktor penentu dari masa depan bangsa dengan mempersiapkan keturunan mereka dalam menghadapi era tinggal landas. Seringkali media massa menulis bahwa partisipasi perempuan di dunia publik hanyalah bukti kejahatan kapitalisme yang mendehumanisasi mereka. Secara sinis (atau karena cemburu?) dan dihantui oleh kontra-hegemoni kultural dan material yang dimiliki perempuan. Dalam mengenangkan kasus Marsinah. masyarakat. tahun 1993. sebagai “lawan jenisnya”. Gagasan bahwa rumah tangga adalah urusan perempuan. di sisi lain mereka menuntut perempuan. media massa telah menjadi tidak lebih sekedar perpanjangan penindasan laki-laki terhadap perempuan. Apakah mereka harus kehilangan hak-hak istimewa (privilege) yang sudah terlegitimasi hanya untuk satu posisi yang tidak jelas jika mereka harus memasuki dunia asing yang dinamakan ranah publik? “Peradaban milenium ketiga hanya bisa berharap agar kaum wanita memilih untuk tidak gagal menjadi ibu anak-anak zaman. bukankah diskriminasi gender sudah ada bahkan sebelum era modernisme? Model produksi kapitalisme bukankah “hanya” memanfaatkan ketimpangan gender itu yang kemudian.” (6) Secara arogan. karena pembagian posisi peran lakilaki dan perempuan yang jelas dan tertib bisa mendukung suksesnya program-program pemerintah. betapapun dikotomi publik-domestik masih bisa diperdebatkan. Dalam hal ini. walaupun kedengaran tidak sesuai dengan slogan kesejajaran. untuk tetap tinggal “terdomestikasi” dengan meragukan kemampuan mereka untuk berkarya di dunia publik. “… kesempatan pun tidak banyak buat wanita untuk berperan di luar rumah. Lalu kembali lagi peran rumah tangga ditekankan. bisa jadi membingungkan perempuan dalam menentukan posisi mereka. tetapi lebih merupakan transformasi yang muncul karena keterlibatan semua faktor ini yang terus direproduksi karena telah terbukti menguntungkan sebagian pihak yang kebetulan semakin berkuasa. terutama “kaum perempuan” dan “kaum buruh” .(7) Namun. Tarik ulur antara meraih dunia publik dan mempertahankan dunia domestik. tentu saja dengan menggunakan perspektif media massa yang maskulin. tentu saja didukung oleh institusi yang bernama negara.pada slogan “peran ganda perempuan modern”. mengaku memiliki hak untuk menentukan apa yang harus dilakukan atau tidak seharusnya dilakukan oleh perempuan. media massa. bahkan membanting nilai kemanusiaan mereka di bawah nilainilai produksi dan pasar. (9) Pada saat media massa menghujat peran perempuan bekerja."(10) Karakterisitik media massa yang manipulatif seringkali juga merugikan perempuan jika kasus-kasus yang diangkat melibatkan perempuan.(8) Hal ini tentu bukan hanya hasil patrimoni dari imperialisme dan kolonialisme.

karena siapa dia sebelum kematiannya bukanlah “berita yang pantas dipublikasikan”. dan meramu serta menyajikan semua ini dengan terminologi-terminologi politik yang susah dipahami. apakah mau secara naive terbawa arus dan mempertahankan “hegemoni kultural” yang terus-menerus dan mendapatkan penghormatan sebagai “ratu rumah tangga”. yang mempunyai kekuasaan untuk membentuk bagaimana cerita harus berakhir. teman-teman. . Sayangnya. peserta kontes yang tidak terdaftar.(workers and women)(11). Siapakah yang memenangkan kontes ini? Nampaknya justru media massa.(12) Secara tidak sadar hal ini mempertahankan “ketergantungan terwariskan” pada perempuan terhadap laki-laki. Tidak terelakkan juga analisa politik bahwa pembunuhan Marsinah ini adalah panggung cerita konflik antara laki-laki yang direpresentasikan oleh orang-orang yang berkuasa sebagai “pembunuh” dan perempuan diwakilkan oleh Marsinah sebagai “terbunuh”. meminta-minta pengakuan dari laki-laki. atau juri. Mereka telah membawa nama Marsinah ke posisi terpopuler dan paling banyak dibicarakan hanya setelah kematiannya. perempuan seringkali menjadi kikuk dan rapuh menghadapi semua tantangan ini. atau karena kecurigaan adanya praktek-praktek kekuatan politik di belakang pembunuhan ini? Media massa telah mengeksploitasi seluruh kehidupan masa lampau Marsinah. atau sebaliknya bersikap radikal manghadapi ketidakadilan ini dan dengan sadar menerima label “pemberontak”. Kita mungkin tidak pernah tahu apakah sikap kritis Marsinah adalah perwujudan dari kesadaran politisnya atau hanyalah pertahanan dirinya menghadapi kesulitan hidup sehari-hari. Dalam ketimpangan relasi gender inilah. bagaimana jika Marsinah bukan seorang perempuan melainkan laki-laki? Bukan Marsinah tetapi Marsono? Apa yang sebetulnya menarik perhatian media massa tentang skandal ini? Apakah pembunuhannya. Namun penulis berpikir. Media massa menggunakan “kematiannya” dan bukannya kehidupannya yang singkat sebagai bahan berita. Dengan malu-malu mereka mempertontonkan pencapaian mereka dan menentukan sendiri standar keberhasilannya. media massa-lah yang melahirkan “reproduksi” dari sosok Marsinah. Reproduksi berita-berita dan spekulasi media massa yang ditampilkan secara berulang-ulang telah menghasilkan versi-versi yang semakin fantastis. pacar. berterimakasih kepada media massa karena mereka telah secara terus menerus melaporkan kasus tersebut dan menarik perhatian internasional terhadap stigma tersebut. mencampuri kehidupan keluarganya. dan pada akhirnya meminta penghargaan dalam bentuk fasilitas untuk menstimulasi keberhasilan yang lebih baik lagi. konflik kelas. apakah isu gendernya. tetangga. Akhir cerita berubah menjadi kabur dan hanya media massa yang sadar akan substitusi antara apakah yang sesungguhnya (real) dan reproduksi dari yang sesungguhnya (hyper-real). apa yang terjadi jika Marsinah tidak terbunuh? Atau pertanyaan yang lebih seksis. Ketika cerita-cerita tentang buruh perempuan menampilkan nama-nama lain. Alhasil media massa telah menciptakan skenario mereka sendiri tentang perang gender yang tidak pernah berakhir. perempuan ditantang untuk menentukan posisinya.

menyusui. Sebab. dimana media massa mempunyai akses bebas terhadap sumber-sumber berita dan kebebasan mengemukakan gagasannya. jika tidak diskriminatif gender sebetulnya adalah alat yang bisa diandalkan bagi perempuan untuk menyuarakan kepentingan mereka. tidak tanpa dominasi. semoga tulisan ini tidak terlalu skeptis dan pesimis dengan menanyakan satu pertanyaan akhir yang belum juga terjawab. atau setidaknya empati terhadap perempuan. Apalagi di era reformasi sekarang ini. semoga saja ada lebih banyak suara yang mendukung. Belanda Catatan Belakang (1)Dua koran lokal yang dibahas dalam tulisan ini mengacu pada isu-isu nasional . apakah mungkin “pesannya” menjadi lebih adil terhadap perempuan? Dan satu lagi. Namun. Hanya melalui kesadaran inilah. adalah saat yang paling baik untuk berterima kasih atas jasa-jasa ibu dalam melaksanakan tugas kodraatinya. kasus aborsi tidak bisa dipisahkan juga dari perilaku laki-laki. jika isu yang sama muncul kembali. enam tahun sejak kasus aborsi masal tersebut meledak. dengan melihat begitu banyaknya kejadian yang menimpa perempuan sepanjang tahun ini saja. mulai dari kasus TKW sampai dengan pornografi. tidak hanya pengalaman yang sama melainkan juga yang berbeda-beda dan personal. melainkan “ruang” yang dapat membantu perempuan menjadi tumbuh. yaitu jika “medianya” saja sudah tidak sensitif gender. Harapannya adalah. dewasa dan berpikir lebih rasional dengan kesadaran mereka sendiri. yakni hamil. bukankah Hari Ibu intinya memperingati semua perempuan. sedang menyelesaikan studi di Universitas Leiden. Sama susahnya untuk merelakan 30% posisi calon legislatif pada perempuan. “Ruang” dimana mereka bisa belajar memahami pengalaman mereka. dan kecenderungan media massa untuk menampilkannya dalam berita dengan bahasa-bahasa dan analisa yang melecehkan dan tidak berpihak pada perempuan. perempuan mampu untuk membebaskan diri mereka dari “alienasi” terhadap tubuh dan kehidupannya sendiri. Perwujudan dari rasa terima kasih itu bisa berupa pemberian kesempatan untuk berkarya cipta seperti kaum pria.(14) Media massa. Namun demikian. melahirkan. sebagai penerus aspirasi masyarakat.” (13) Bukanlah pernghargaan maupun pengakuan yang seharusnya diminta perempuan.“Memperingati hari yang sering disebut hari permuliaan kaum ibu ini. dan bukan hanya yang telah dan bersedia menjadi ibu saja? Wiwik Sushartami adalah Pemerhati masalah gender dan media. justru pembagian “ruang” inilah satu-satunya gagasan yang masih susah untuk diserahkan oleh laki-laki. apapun yang mereka lakukan.

Jadi masuk akal juga jika jurnalisme Pancasila yang kita punyai juga masih kental dengan bias gender. dan tidak mencoba memaknai ulang nilai-nilai femininitasnya sesuai dengan nilai-nilai . 19 December 1997. 1997). and Gender Skepticism”.Weix. “Kembalikan Peran Wanita Sebagai Ibu Rumah Tangga”. hal. Kedaulatan Rakyat. and Politics. Revealing Women: Gendered Icons of Labor in Indonesia. 4 (7) Achmad Zaini Abar. 23 December 1997. Feminist Theory: The Intellectual Traditions of American Feminism. “Feminism. Sangkan Paran Gender. (5) Secara keseluruhan hanya ada 8. dalam Feminism/Postmodernism. NUS. hal 4 (4)Omi Intan Naomi menuliskan bahkan jurnalisme Amerika. hal 105. Chapman & Hall. (12) Katharina Graham mencatat beberapa kesalahan tipikal yang dibuat oleh perempuan.1990) (3)Mutrafin. yang sudah seratus tahun lebih usianya saja sampai tahun 1990an masih menganut sistem gender yang timpang. paper yang disampaikan dalam International Conference on Women in the Asia-Pacific Region: Person. (New York: the Continuum Publishing Company.: 104) (6) P. 4 (11) Marsinah berumur 23 tahun ketika dibunuh.. Dalam “Wartawati Herstory”.G. (London: Routledge. “Otak dan Watak Terdidik Ibu Manusia”. 11-13 Agustus 1997 (10) Abdul Munir Mulkham. Inc. hal. Bernas. menentukan sendiri standar kesuksesan mereka yang lebih sering tidak sesuai dengan standar laki-laki. Nicholson (Ed. Dia bekerja di pabrik komponen jam tangan di Jawa Timur dan dibunuh setelah keterlibatannya dalam protes menuntut pembayaran tambahan. Bonnie Kertaredja. 4 (8) Michael Barrett dalam Josephine Donovan. 23 December 1997. (2) Susan Bordo. hal. Kedaulatan Rakyat. (ibid. hal. Irwan Abdullah (Ed). 1997). Power. yaitu meminta perlakukan khusus untuk perempuan.6% jurnalis perempuan di Indonesia pada tahun 1994 menurut Serikat Jurnalis Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset. “Perempuan Dalam Strategi Pengembangan Sumber Daya Manusia”.). (9) Maila Stivens dalam G.76. Postmodernism. “Anak Tekhnologi Mencari Ibu”. 22 December 1997. Linda J. Concealing Politics. Kedaulatan Rakyat. Lihat Weix.sehingga bisa menggambarkan juga suasana nasional.

Bahwa kekuasaan tidak bertumpu pada satu titik sentral termasuk tidak hanya pada pihak-pihak yang dominan. Foucault mengatakannya sebagai “produksi kekuasaan”. melainkan tersebar di seluruh masyarakat . 4 (14) “Alienasi” dan “gagasan tentang praksis” adalah dua dari lima fokus utama dalam feminisme sosialis kontemporer. titik perhatian utama saya adalah pada wacana feminisme. Menyaksikan iklan shampo. Melihat Kembali Gereget Peringatan Hari Ibu. Iklan kosmetik mengiklankan tentang kulit putih mulus dan tubuh langsing ideal perempuan. Bernas. hubungan antara perempuan dan kelas. Iklan yang ditayangkan terus menerus berpotensi menggiring penonton untuk “harus” mengikuti standar-standar nilai yang disematkan. Donovan. Produksi Kekuasaan Michel Foucault. Bagaimana menganalisa masalah ini? Sebagaimana Sara Mills. Iklan tentang minyak goreng adalah contoh lain tentang nilai-nilai domestifikasi perempuan sebagai pihak yang harus bertanggungjawab atas segala kesehatan suaminya. Sumber: Jurnal Perempuan Online Membangun Resistensi. (13) Widyastuti Purbani. Tiga yang lainnya adalah relasi langsung antara perempuan dan akses produksi. Lihat. adalah iklan kosmetik dan minyak goreng. Sebagai contoh yang paling mudah. dan peran keluarga dalam sosialisasi ideologi. hal. Contoh sederhana adalah tayangan iklan. Membongkar Stereotipe<center></center> Publik kini bebas memilih dan menikmati tayangan ataupun bacaan di berbagai media. rambut lurus hitam adalah nilai yang disampaikan penonton bahwa rambut seperti demikian yang ideal bagi perempuan. Lihat Naomi. kita lupa dengan terjadinya “penyeragaman” dalam tayangan ataupun bacaan itu sendiri yang berakibat pada memaksa penonton untuk mengikuti apa yang si pembuat media inginkan.22 December 1997. Namun dibalik itu. Alasannya. 125. adalah salah satu filsuf postmodernis yang menawarkan analisis tentang motif-motif tertentu pada suatu media atau teks. hal. 76. Kebebasan ini bagaikan sebuah representasi hak otonom publik untuk memilih bentuk sajian media yang mereka sukai. seperti halnya pendapat Eriyanto (2001) banyak tayangan ataupun bacaan di media yang melibatkan perempuan dan yang terbanyak tentu saja adalah tayangan iklan. Semua ini tentu tidak lepas dari motif-motif politik-ideologis tertentu dibalik penyajian tersebut.hal.maskulinitas.

(tidak ada seorang pun yang memilikinya) (John Lechte. seperti perilaku baik atau buruk yang sebenarnya mengendalikan perilaku masyarakat yang pada akhirnya dianggap kebenaran yang telah ditetapkan. melainkan jiwa. melainkan melalui reproduksi kreatif. langsing. “rambut lurus hitam panjang”. Dalam iklan tersebut ditampilkan seorang fotografer mengambil ancang-ancang membidik dua gadis kembar. Atas hal ini.”Lost the weight. “kulit putih”. yaitu perempuan cantik adalah yang berkulit putih dan lelaki normal adalah yang menyukai perempuan berkulit putih. bukan tubuh fisik lagi yang disentuh kuasa. Perempuan kemudian diatur. presiden. boss. melainkan menormalkan individu agar perilakunya sesuai dengan yang diinginkan si pembuat iklan. pikiran. Atau pada iklan minyak goreng. adalah salah satu tayangan media yang menyebarkan kuasa (strategi) tentang normalisasi tubuh perempuan. atau iklan The Cambridge Diet yang menuliskan kata-kata. berkulit putih. gadis berkulit lebih gelap berwajah murung. digiring untuk menjadi ramping. Foucault menegaskan persoalan ini sebagai kekuasaan atas kehidupan modern atau kapitalisme. 2001). Atau iklan tentang tubuh ideal perempuan langsing dan tinggi. terdapat kata-kata. yaitu melalui wacana. bahwa tubuh ideal perempuan seperti pada perempuan yang menjadi model iklan Tropicana Slim. dan berambut lurus. Kekuasaan tidak bekerja melalui penindasan atau represi. Fotografer si lelaki tampan itu memilih membidik kameranya kepada si gadis yang berkulit putih. diciptakan. not the fun …” dengan lingkaran merah besar yang menutupi sebagaian tubuh ramping kurus perempuan bule yang sedang melompat. kesadaran dan kehendak individu. Iklan bukan lagi menjadi pelayanan terhadap konsumen. Disini tengah berlangsung bergulirnya strategi kuasa yang diproduksi terus menerus. Kuasa bukanlah milik raja. yang mencuat terus menerus sehingga secara tidak sadar masyarakat menganggap tubuh perempuan yang ideal dan normal adalah. Produksi kekuasaan yang terjadi kemudian adalah munculnya strategi untuk menghembuskan wacana “langsing”. iklan Pond’s yang pernah ditayangkan di media televisi jelas menunjukkan bahwa kulit putih lebih baik daripada berkulit gelap. kemudian berusaha memutihkan kulitnya dengan harapan lelaki itu memperhatikannya. Melalui iklan. Jelas sekali adanya domestifikasi .”jangan-jangan kolesterol suamiku tinggi karena aku salah pilih minyak goreng”. tetapi dalam bentuk strategi. melainkan melalui normalisasi yang positif dan produktif. Mengetahui hal itu.2001). bertuliskan “Yes! Turunkan berat badan anda hingga 5 kg perminggu!” Katakata itu menunjukkan bahwa menjadi kurus adalah kegembiraan dan kepuasan. Sebagai contoh. yang satu berkulit gelap. Iklan. salah satunya yaitu untuk mencapai target penjualan produk (Eriyanto. yang lain berkulit putih. atau pejabat. dibentuk. Wacana yang dihembuskan ini secara perlahan-lahan menciptakan kategorisasi. Iklan yang membenarkan “kulit putih lebih cantik daripada kulit hitam” tidak dibentuk dengan reproduksi kekuasaan represif. individu didefinisikan.

Akibatnya adalah perempuan yang tidak bertubuh langsing dan tidak berkulit putih kehilangan kepercayaan atas tubuhnyadan kehilangan identitas karakter tubuhnya sendiri. Ia menyebutnya sebagai suatu pencerahan terhadap kapitalisme (Adriana Venny. yaitu suatu konsep sosial yang berhubungan dengan pembedaan (distinction) karakter psikologi dan fungsi sosial antara perempuan dan laki-laki yang dikaitkan dengan anatomi jenis kelaminnya (sex). Misalnya perempuan dijelaskan berkarakter baik bila ia sebagai ibu rumah tangga atau istri yang baik (seperti pada iklan minyak goreng). Iklan itu menunjukkan adanya bias dalam menampilkan perempuan dimana istri cenderung ditampilkan sebagai pihak yang salah. Mansour Fakih bahkan . yaitu konsep yang mencakup seks dan gender dimana seks adalah indentifikasi untuk membedakan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologi (jenis kelamin) yang lebih digunakan untuk persoalan reproduksi dan aktivitas seksual(Suzanne dan wendi. Roddick sampai bersusah payah membuat maskot “The Body Shop” serupa boneka Barbie tetapi bertubuh besar. Wacana tubuh perempuan yang tidak dominan ini diabaikan (left out). Wacana dominan ini menggeser atau memarginalkan wacana lain yaitu bagi perempuan-perempuan yang tidak berkulit putih dan tidak bertubuh langsing. Bagaimana mungkin kulit hitam bisa menjadi putih hanya dengan kosmetik? Lagipula wacana dominan ini mengandung pelecehan terhadap ras yang berkulit hitam.(Elaine. Berbagai upaya mengimbangi wacana dominan ini seperti yang dilakukan Dewi Huges atau Anita Roddick yang peduli terhadap masyarakat pedalaman dengan melihat kecantikan perempuan Afrika pada akhirnya tidak mampu mengalahkan wacana dominan tadi.perempuan bahwa istrilah yang harus bertanggungjawab bila suaminya terkena penyakit tertentu. sedangkan laki-laki berkarakter baik bila ia sebagai individu di atas dunia yang lebih luas (Tierney). Istri ideal adalah yang terus merasa bersalah bila terjadi sesuatu pada suami mereka. Masihkah kita perlu membanggakan diri atau bersedih hati karena kulit kita? Iklan-iklan yang memelihara nilai-nilai seperti itu sesungguhnya menumbuhkan stereotip baru terhadap perempuan.1989) Stereotipe tidak lepas kaitannya dengan seks dan gender. Masyarakat kemudian menginternalisasi “istri ideal” adalah seperti itu.1997) sedangkan gender menjelaskan adanya pembedaan laki-laki dan perempuan yang dilihat dari konstruksi sosial-budaya. berambut ikal dengan kulitnya yang berwarna.2000). Langsing putih dan berambut lurus menjadi wacana dominan perempuan ideal di masyarakat kita. Resistensi Perempuan Melalui Media Seni Sangat memprihatinkan bila perempuan-perempuan yang tidak bisa mencapai wacana dominan tentang tubuh ideal tadi membuat mereka terobsesi dan memaksakan diri dengan berbagai upaya yang bahkan bisa membahayakan mereka.

intelligible). dapat disimpulkan bahwa tampaknya perempuan dalam media ditempatkan sebagai yang abstrak. Wacana Oposisi Biner Stereotipe terhadap perempuan seperti lebih mudah dijelaskan dengan bertitik tolak pada wacana oposisi biner yang menempatkan perempuan pada posisi yang negatif dan tak berdaya. sedangkan pria itu konkrit. sekitar tahun 1901 bahwa saudara perempuannya yang bernama Roekmini ingin menjadi pelukis di akademi senirupa di Den Haag. Head/heart. Intelligible/palpable Man/woman” (Priyatna 2000) Masyarakat manapun. Model-model perempuan adalah obyek yang dikreasi untuk mencapai fantasi tersebut. Kenyataan bahwa perempuan dalam media seni tidak diterima sebagai subyek sebetulnya sudah dialami oleh Kartini dan adiknya.(Swara Harian Kompas. Seperti Basuki Abdullah seorang pelukis terkenal pernah berkata. Dalam suratnya. palpable). beradab. termasuk Indonesia masih memegang stereotip bahwa laki-laki berada di wilayah kiri (aktif. Perempuan yang “dikerjakan” dan lelakilah yang mengerjakan. perempuan adalah obyek yang pasif. cerdas) sedangkan perempuan di wilayah kanan (pasif.”Perempuan tak akan hidup lagi setelah kematian. stereotip oposisi biner menempatkan perempuan pada posisi yang dirugikan dimana ini terjadi pula dalam media seni. Adanya stereotipe bahwa perempuan tidak boleh di luar lingkungan . kurang cerdas).1996). dekat dengan alam. yang akibatnya terjadi diskriminasi dan ketidakadilan(Fakih 1997). sedangkan laki-laki adalah penciptanya. rasional. Roekmini. Seperti yang dialami pelukis Lucia Hartini dan Kartika Affandi Koberl. Culture/nature. Dalam media ini perempuan adalah obyek yang dikreasikan atau diciptakan oleh keinginan. Ketika menjadi pelukis.”Perempuan itu lebih cocok untuk dilukis daripada sebagai pelukis. karena ada stereotipe dimana ibu rumah tangga seharusnya mengurus rumah tangga.” Antiphanes seorang dramawan komedi Yunani juga mengatakan. emosional. yang bisa dibentuk sebagaimana yang diinginkan laki-laki. hasrat dan daya pikir laki-laki. Iklan-iklan yang membuat standar tubuh perempuan ideal membuktikan bagaimana laki-laki (lebih banyak dibagian produksi iklan) menciptakan perempuan untuk sesuai dengan fantasi mereka tentang “perempuan sexy atau cantik”.lebih jelas mengatakan bahwa stereotipe adalah pelabelan negatif terhadap jenis kelamin tertentu. Atas hal ini. Dalam Sorties. Hélén Cixous menulis hirarki oposisi biner yang selalu menempatkan dua hal dalam relasi yang superior-inferior seperti “Activity/passivity. Stereotipe: Wacana Dominan.” Penyair metafisis Inggris pada sekitar abad 17 bahkan menggambarkan perempuan itu cuma kata-kata (passivity. Tidak hanya iklan. kecuali dibangkitkan lawan kesenian oleh pria. tetapi tradisi tidak memberi tempat kepada anak perempuan diluar lingkungan rumah. 1999). bukannya melukis (Bianpoen. Wacana dominan yang berwajah stereotipe ini memagari perempuan sehingga mereka tidak mampu mengekspresikan dirinya. sedang perbuatan adalah pria (activity. mereka dianggap “sinting” atau aneh oleh masyarakat sekitarnya.

Garis-garis kuasnya menaruh kontemplasi dan ekspresi perasaan yang sangat kuat. Demikian pula Kartika Affandi Koberl dalam karyanya Potret Diri yang lebih menggambarkan integritas perempuan gigih dan kuat dalam menghadapi kesulitan hidup. 1998) Membongkar Stereotip Melalui Media Seni Stereotip memang sangat merugikan perempuan yang tidak hanya dalam iklan tetapi juga masuk ke wilayah seni. (Suara Pembaharuan. Di ranah seni rupa. Itu berarti bahwa seni tidak dapat diatur oleh adanya stereotipe ataupun konstruksi sosial yang menempatkan perempuan pada posisi yang dirugikan. Ada faktor ketidakpercayaan masyarakat dengan mempertanyakan bagaimana mungkin perempuan dapat mencapai kesuksesannya di bidang sastra. Akibatnya. yang isinya mengasumsikan bahwa fragmen dari novel itu benar-benar mengundang libido pembaca (dalam hal ini berarti libido laki-laki) dengan menempatkan Ayu Utami sebagai obyek berita yang sensual. Ayu Utami penulis novel Saman sebagai pemenang juara pertama sayembara roman DKJ 1997-1998 sempat dicurigai bahwa itu bukan karyanya. . Dalam lukisannya itu Lucia Hartini telah mendobrak adanya stereotipe dengan menempatkan perempuan sebagai manusia berani dan aktif. Dalam Srikandi (1993) Lucia Hartini melukis perempuan yang diletakkan sebagai subyek. Hans Georg Gadamer pernah mengatakan bahwa tidak ada aturan-aturan seni yang bersifat universal. Perempuan dalam lukisan itu berani dengan tinju terkepal.rumah mengakibatkan Roekmini tidak pernah mendapat kesempatan belajar seni rupa seperti yang pernah dicita-citakannya (Bianpone. Seperti dalam surat kabar Suara Pembaharuan. Puas tapi Minta Tambah”. otot-otot lengan yang kencang dengan sebelah matanya keluar cahaya tajam yang menembus mata-mata yang sedang mengintip.”’Saman”. melainkan tulisannya Goenawan Muhammad. buah pikiran Ayu Utami dicurigai sebagai buah pikiran laki-laki. bukan karya sastranya. Namun. dan masyarakat lebih percaya bila kesuksesan sebuah karya seni ada di tangan laki-laki (stereotipe). media seni ternyata dapat juga menjadi alat untuk mendobrak stereotipe itu sendiri. Aturan-aturan itu diberikan oleh alam melalui para genius. dibandingkan dengan media iklan. Lucia Hartini dan Kartika Affandi Koberl akhirnya mengalami kesuksesan terutama karya mereka yang sangat feminis. dituliskan judul yang sangat melecehkan. Seperti apa yang dikatakan Imanuel Kant bahwa “seni murni adalah seni para genius”. Tidak ada aturan seni yang menempatkan perempuan harus sebagai obyek. Dalam media seni kita bisa menemukan semangat kebebasan dibandingkan dengan media iklan. Begitupula di bidang sastra. Kecurigaan tersebut bisa kita lihat di beberapa media massa dan gunjingan di sekitar kelompok-kelompok sastra. yang dianggap lebih mungkin dan masuk akal.1996).

Perempuan akan memberikan tubuhnya pada lelaki yang pantas. pada akhirnya yang salah adalah Tuhan. jiwa dan pikirannya sendiri. Bisma Al Huseini dari Mesir melakukan pemberontaknnya lewat media teater. dan laki-laki sebagai obyek yang dipandang. Koordinator Jurnal Perempuan dan Jurnalis Radio Jurnal Perempuan di Yayasan Jurnal Perempuan. sebab menurut dia musuh kita adalah laki-laki… Apa salah laki-laki? Jawab Laila: sebab mereka mengkhianati wanita. Tetapi ketika ke Beirut. Itu dinamakan perkawinan. “Hanya lelaki yang boleh menghampiri perempuan. Di dalam novel-novelnya selalu ia tanamkan tentang karakter perempuan mandiri. Sejak itu posisinya menguatkan perempuan lain untuk ikut berteater sebagai usaha perlawanan mereka. tetapi di lain hal perempuan dapat menggunakan media itu sendiri sebagai sarana resistensi untuk membongkar stereotip bila perempuan itu sendiri bisa menciptakan apa yang benar-benar ia inginkan atas tubuh. dibentuk dan diciptakan tubuhnya oleh imajinasi keinginan pria. Ia seorang aktris yang mencoba melakukan perlawanan kepada cara pandang masyarakat terhadap perempuan yang selama ini sangat stereotipe. Sebab menurutku yang curang lagilagi Tuhan: dia menciptakan selaput dara. Ia juga memberontak terhadap stereotipe keperawanan perempuan. 2001) Penutup Bahwa perempuan dalam media bisa menjadi obyek yang dieksploitasi.(Bimo Nugroho. tapi tidak membikin selaput penis”. Sumber: Jurnal Perempuan Online . dia menjadi orang besar yang dihargai oleh orang lain sebagai perempuan perkasa yang memiliki cita-cita mulia. Ayu Utami yang ditimpa gunjingan sana-sini juga tidak mengurangi kesuksesannya. Dialah perempuan yang memimpin teater dimana pada awalnya tidak didukung oleh siapa pun. ketika dewasa. jika agama dipakai untuk urusan ini. Mendengar itu Yasmin marah sekali. tapi kukatup mulutku rapat-rapat karena aku tak ingin kembali bertengkar. sehingga kami kepingin berkelahi. Perempuan yang mengejar-ngejar lelaki pastilah sundal. Laila melerai dengan usul menyisihkan dulu perkara itu. kataku. Kelak. 1998) Dalam ranah teater atau drama. Mereka cuma menginginkan keperawanan. dan akan pergi setelah si wanita menyerahkan kesucian … Tiba-tiba aku ingin berteriak. (Utami. “Dengar kawan-kawan. * Mariana Amiruddin. dan lelaki itu akan menghidupinya dengan hartanya. aku menganggapnya persundalan yang hipokrit. 1998) Ayu Utami juga menggugat stereotipe masyarakat tentang hubungan lelaki dan perempuan.Di ranah sastra. (Utami. yaitu perempuan sebagai subyek yang memandang.

sama sekali tidak terlintas dalam pikiran saya seumur-umur mengenai laki-laki atau perempuan. selalu dipilih sebagai pemimpin upacara. sedangkan anak perempuan akan menjadi ibu rumah tangga. bisa benar bisa tidak karena tidak sempat menanyakan kepada kantor penjaga makam pahlawan tentang jumlah pahlawan laki-laki dan perempuan di sana. Jurug. Anak perempuan diberikan materi memasak atau menari sehingga mereka bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik atau bisa menjadi penghibur. Kelak putri saya mungkin akan merumuskan pertanyaan lain tentang apakah yang berjuang melawan penjajah hanya laki-laki. inilah awal tumbuhnya kesadaran akan kesederajatan laki-laki dan perempuan. Anak laki-laki. Apakah terjadi di makam pahlawan di kota-kota lain? Juga. sungguh mati. Bahwa semua yang dimakamkan sebagai pahlawan di sana tidak ada yang putri. tetapi saya sebagai bapak akan mengingatnya sebagai saat penting seorang anak menunjukkan "kekritisannya". Kesadaran mesti dimulai dari keluarga dan ditumbuhkembangkan di sekolah. PENDIDIKAN yang memperhatikan kesetaraan jender di sekolah-sekolah masih jauh dari yang diidealkan. enggak ada nama ceweknya. menjadi pemimpin masyarakat. putri kecil saya mungkin sekarang sudah lupa dengan pertanyaannya. Mereka masih memiliki pola berpikir bahwa laki-laki akan menjadi pemimpin. ya. karena suaranya keras. Bisa jadi putri saya tidak bermaksud protes lewat pertanyaannya tersebut. Mereka tidak menyadari murid perempuan juga . bisa ditafsirkan adanya supremasi laki-laki sekaligus mengabaikan perempuan dalam perjuangan memerangi penjajah. Pun.Mengajarkan Kesetaraan Jender<center></center> KOK. Solo. lantas siapa yang memasok makanan atau mengobati yang terluka? Untuk situasi masyarakat pada zaman kini. di samping sekaligus pelestari budaya bangsa. Anak laki-laki akan diberikan pelajaran silat atau bela diri supaya mempunyai rasa percaya yang lebih besar karena dia akan menjadi kepala keluarga. Kalau taman makam pahlawan yang ada hampir di setiap kota atau kabupaten dibangun sebagai bagian tidak terpisahkan dari sejarah perjuangan bangsa ini. Mary Astuti (2000) menunjuk para guru sebagai pendidik di sekolah kurang mempunyai pengalaman dalam menanamkan nilai-nilai baru dalam hubungan heteroseksual dalam pengasuhan anak di sekolah. Pembedaan perlakuan antara murid perempuan dan murid laki-laki juga terjadi pada upacara-upacara yang digelar di sekolah. Pak?" Pertanyaan tersebut meluncur dari mulut putri kecil saya yang masih duduk di kelas satu sekolah dasar (SD) ketika mengunjungi Taman Makam Pahlawan Kusuma Bakti. mereka yang dimakamkan di taman pahlawan.

kasar. Gedung MPR/DPR bukan makam pahlawan. Semasa taman kanak-kanak. Profesi polisi. publik. dan sensivitas jender. sesungguhnya telah terjadi banyak perubahan. Betapa kecut hatinya bahwa perlakuan laki-laki dan perempuan di makam pahlawan sama saja dengan perlakuan di Gedung MPR/DPR. dan pantas menjadi pemimpin upacara. mengurus kendaraan. St Kartono Mengajar di SMU Kolese De Britto. sementara anak perempuan main masak-masakan. bersuara lantang. kiranya terus-menerus diasah demi perubahan paradigma dan persepsi yang lebih adil jender. Sejak dini. dan sosial. Sumber: Kompas Cyber Media . kesadaran. Pemahaman kesetaraan jender. Cukuplah bila kelak putri saya akan mendapatkan jawaban kesetaraan jender dengan melihat komposisi anggota parlemen negaranya. peran perempuan dan laki-laki dibedakan menurut peran domestik. Padahal. permainan untuk anak laki-laki adalah perang-perangan. Yogyakarta. Pembedaan yang dilakukan bukan menunjukkan perbedaan yang esensial. Buku-buku pelajaran pun masih menunjukkan adanya ketimpangan jender. penari. sedangkan laki-laki identik dengan dunia yang keras. identik dengan perempuan. Kegiatan memasak selalu untuk perempuan. tentunya taman makam pahlawan tidak bisa diubah lagi soal perempuan atau laki-laki yang mesti ditempatkan sebagai pahlawan. dan mengandalkan ototnya.mampu bersuara keras. dokter. Dalam buku pelajaran bahasa Indonesia dari sekolah dasar hingga sekolah menengah umum. Perempuan diposisikan sebagai makhluk lemah dan perlu dikasihani. serta para guru. atau barang-barang yang bernilai ekonomis tinggi selalu untuk lakilaki. atau militer masih dilekatkan pada laki-laki. oleh para penyelenggara pendidikan. penyanyi. kepemilikan tanah. Pembedaan tersebut tidak pernah diprotes siswa perempuan karena semua perlakuan tersebut mereka anggap wajar juga. Dengan membarui paradigma guru lewat pelatihan yang mendalami jender. para pengarang buku pelajaran. guru akan dapat memperlakukan siswa secara adil jender. perempuan dan laki-laki dibedakan dari bentuk permainan. sedangkan berkebun. KEMBALI pada pertanyaan putri saya pada awal tulisan ini. Padahal. tetapi pembedaan berdasarkan kebiasaan belaka. sementara juru masak. dan tidak ada diskriminasi yang merugikan bagi siswa perempuan ataupun laki-laki.

metode. mencuci. tidak cengeng. adat kebiasaan. Kenyataannya juga menunjukkan. serta buku ajar yang menjadi pegangan para siswa sebagaimana ditunjukkan oleh Muthalib dalam Bias Gender dalam Pendidikan ternyata sarat dengan bias gender. dipukul. Hal ini menjadi beban tersendiri pula bagi perempuan. dan tidak memperlihatkan kekhawatiran dan ketidakberdayaannya. Membicarakan gender tidak berarti membicarakan hal yang menyangkut perempuan saja.Kesetaraan Gender dalam Pendidikan<center></center> BANYAK laki-laki mengatakan. dan tidak mandiri telah menjadi citra baku yang sulit diubah. Dalam buku ajar misalnya. Ironisnya siswa pun melihat . Sebaliknya. Bias Gender Keadaan di atas menunjukkan adanya ketimpangan atau bias gender yang sesungguhnya merugikan baik bagi laki-laki maupun perempuan. kedudukan. Pendidikan di sekolah dengan komponen pembelajaran seperti media. Ini menjadi beban yang sangat berat bagi anak laki-laki yang senantiasa bersembunyi di balik topeng maskulinitasnya. dan perkasa. gagah. Jika ibu atau pembantu rumah tangga (perempuan) yang selalu mengerjakan tugas-tugas domestik seperti memasak. ia biasanya tidak ingin menunjukkan bahwa ia sebenarnya sedih dan malu. Mereka haruslah sosok kuat. Karenanya. Sebut saja gambar seorang pilot selalu laki-laki karena pekerjaan sebagai pilot memerlukan kecakapan dan kekuatan yang "hanya" dimiliki oleh laki-laki. ia ingin tampak percaya diri. Bias gender ini tidak hanya berlangsung dan disosialisasikan melalui proses serta sistem pembelajaran di sekolah. maka akan tertanam di benak anakanak bahwa pekerjaan domestik memang menjadi pekerjaan perempuan. dan menyapu. banyak ditemukan gambar maupun rumusan kalimat yang tidak mencerminkan kesetaraan gender. Ketika seorang anak laki-laki diejek. dan dilecehkan oleh kawannya yang lebih besar. emosional. tidak rasional dan agresif. dan kepercayaan masyarakat. jika seorang perempuan mengekspresikan keinginan atau kebutuhannya maka ia akan dianggap egois. peran. menjadi perempuan pun tidaklah mudah. tetapi juga melalui pendidikan dalam lingkungan keluarga. Stereotip perempuan yang pasif. Gender dimaksudkan sebagai pembagian sifat. sungguh tidak mudah menjadi laki-laki karena masyarakat memiliki ekspektasi yang berlebihan terhadapnya. Sementara gambar guru yang sedang mengajar di kelas selalu perempuan karena guru selalu diidentikkan dengan tugas mengasuh atau mendidik. dan tugas laki-laki dan perempuan yang ditetapkan oleh masyarakat berdasarkan norma.

masih sering ditemukan dalam banyak buku ajar atau bahkan contoh rumusan kalimat yang disampaikan guru di dalam kelas. selalu menempatkan dua perempuan sebagai pembawa bendera pusaka dan duplikatnya. Misalnya ketika seorang guru melihat murid laki-lakinya menangis. Bias gender yang berlangsung di rumah maupun di sekolah tidak hanya berdampak negatif bagi siswa atau anak perempuan tetapi juga bagi anak laki-laki. Dalam rumusan kalimat pun demikian. Demikian pula dalam perlakuan guru terhadap siswa. dan melayani. ia akan mengatakan "Masak laki-laki menangis. lembut. Dalam upacara bendera di sekolah selalu bisa dipastikan bahwa pembawa bendera adalah siswa perempuan. tetapi kepala sekolahnya umumnya laki-laki. Hal ini memberikan pemahaman kepada siswa bahwa hanya perempuan yang boleh menangis dan hanya laki-laki yang boleh kasar dan kurang sopan santunnya. ada aturan-aturan tertentu yang dituntut oleh masyarakat terhadap perempuan dan laki-laki. "Ayah membaca Koran dan ibu memasak di dapur" dan bukan sebaliknya "Ayah memasak di dapur dan ibu membaca koran". Sementara laki-laki diarahkan untuk tampil gagah. Sebaliknya ketika melihat murid perempuannya naik ke atas meja misalnya. Kalimat seperti "Ini ibu Budi" dan bukan "ini ibu Suci".bahwa meski guru-gurunya lebih banyak berjenis kelamin perempuan. kuat. Jika perempuan tidak dapat memenuhinya ia akan disebut tidak tahu adat dan kasar. membawa baki atau pemukul gong dalamupacara resmi sudah selayaknya menjadi tugas perempuan. . Rumusan kalimat tersebut mencerminkan sifat feminim dan kerja domestik bagi perempuan serta sifat maskulin dan kerja publik bagi laki-laki. Paskibraka yang setiap tanggal 17 Agustus bertugas di istana negara. dan berani. yang berlangsung di dalam atau di luar kelas. Belum pernah terjadi dalam sejarah: laki-laki yang membawa bendera pusaka itu. Demikian pula jika laki-laki tidak dapat memenuhinya ia akan disebut banci. Anak perempuan diarahkan untuk selalu tampil cantik. Hal ini menanamkan pengertian kepada siswa dan masyarakat pada umumnya bahwa tugas pelayanan seperti membawa bendera. ia akan mengatakan "anak perempuan kok tidak tahu sopan santun". tetapi bahkan di tingkat nasional. Singkatnya. Hal demikian tidak hanya terjadi di tingkat sekolah. Ini akan sangat berpengaruh pada peran sosial mereka di masa datang. lebih luas lagi. penakut ata bukan laki-laki sejati. Laki-laki nggak boleh cengeng". Siswa perempuan itu dikawal oleh dua siswa laki-laki. Semuanya ini mengajarkan kepada siswa tentang apa yang layak dan tidak layak dilakukan oleh laki-laki dan apa yang layak dan tidak layak dilakukan oleh perempuan.

Keterlibatan Semua Pihak Lalu apa yang dapat dilakukan terhadap fenomena bias gender dalam pendidikan ini? Keterlibatan semua pihak sangat dibutuhkan bagi terwujudnya kehidupan yang lebih egaliter. Objek yang diinginkan ini selalu berkaitan dengan tubuhnya. siswa perempuan umumnya memiliki prestasi akademik yang lebih baik jika dibandingkan dengan laki-laki. Penyebabnya menurut Sommers. kulit halus dll. sebenarnya. Namun ketika sampai pada usia sekolah dasar. gagal studi. Padahal. Sementara itu. Situasi dan kondisi memungkinkan mereka jauh lebih tekun dan banyak membaca buku. Demikian pula dalam hal memutuskan berbagai persoalan keluarga. Penyebabnya adalah pertama. dan malas. yakni proses untuk tidak menyerupai ibunya yang dianggap masyarakat sebagai perempuan lemah dan harus dilindungi. Laki-laki pada usia lima atau enam tahun belajar mengontrol perasaan-perasaannya dan mulai malu mengungkapkannya. tentu tidak lagi didasarkan atas "apa kata ayah". Meski berat bagi anak laki-laki untuk berpisah dari sang ibu. Tidak mengherankan jika banyak guru mengatakan bahwa siswa laki-laki lebih banyak masuk dalam daftar penerima hukuman. Jadilah mereka kemudian anak-anak perempuan yang mengikuti stereotip yang diinginkan seperti tubuh langsing. Satu-satunya cara yang dianggap aman adalah dengan membunuh kepribadian mereka untuk kemudian mengikuti keinginan masyarakat dengan menjadi suatu objek yang diinginkan oleh lakilaki. dan tidak takut. ada proses menjadi kuat bagi laki-laki yang selalu diajari untuk tidak menangis.William Pollacek dalam Real Boys menunjukkan penemuannya. Kesetaraan gender seharusnya mulai ditanamkan pada anak sejak dari lingkungan keluarga. ekspresi emosionalnya hilang. Tidak heran jika semakin banyak anak perempuan mengusahakan penampilan sempurna bak peragawati dengan cara-cara yang justru merusak tubuhnya. Jadi. Ayah dan ibu yang saling melayani dan menghormati akan menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya. namun ia harus melakukannya jika tidak ingin dijuluki sebagai "anak mami". tidak lemah. bayi lakilaki secara emosional lebih ekspresif dibandingkan bayi perempuan. pada anak perempuan selalu ada tuntutan-tuntutan di luar dirinya yang memaksa mereka tidak memiliki pilihan untuk bertahan. orang tua yang . wajah putih nan cantik. menjelang dewasa. karena anak laki-laki lebih banyak mempunyai persoalan hiperaktif yang mengakibatkan kemunduran konsentrasi di kelas. Kedua. proses pemisahan dari ibunya. di sekolah.

misalnya. Memang tidak mudah bagi orang tua untuk melakukan pemberdayaan yang setara terhadap anak perempuan dan laki-lakinya. wakil sekretaris PGRI Jawa Tengah. Perjuangan membangun keadilan dan kesetaraan jender. tidak boleh diperbarui. dibimbing. Teologi dan realitas sosial . Semua itu menjadi pembenaran bahwa perempuan tidak bisa berperan di ruang publik. Dalam hal ini diperlukan standardisasi buku ajar yang salah satu kriterianya adalah berwawasan gender. Seakan beban jender perempuan adalah "kodrat" dari Tuhan. Sejatinya. teologi ini dianggap sudah final oleh umat Islam. teologi seharusnya merupakan refleksi kritis agama terhadap permasalahan yang dihadapi masyarakat. dan berkonsentrasi di wilayah domestik. guru akan menjadi agen perubahan yang sangat menentukan bagi terciptanya kesetaraan gender dalam pendidikan melalui proses pembelajaran yang peka gender. Dosen FPBS IKIP PGRI Semarang. diharuskan tinggal di rumah demi keamanannya. hanya bicara tentang konsep Tuhan dan abai terhadap masalah sosial di hadapannya (Hassan Hanafi. (18) Dra Sri Suciati.Hum. Perempuan masih diposisikan sebagai kelompok lemah yang perlu diajari.berwawasan gender diperlukan bagi pembentukan mentalitas anak baik laki-laki maupun perempuan yang kuat dan percaya diri. Celakanya lagi. Di sini peran teologi Islam diuji. 2003). Sumber: Suara Merdeka Refleksi Teologi Islam mengenai Kesetaraan Jender<center></center> DALAM salah satu bukunya. Kesetaraan gender dalam proses pembelajaran memerlukan keterlibatan Depdiknas sebagai pengambil kebijakan di bidang pendidikan. tidak bisa dilepaskan dari bangunan teologis. Sebab di satu pihak. Di lain pihak. M. Selain itu. mereka dituntut oleh masyarakat untuk membesarkan anak-anaknya sesuai dengan "aturan anak perempuan" dan "aturan anak laki-laki". sekolah secara kelembagaan dan terutama guru. dan "diamankan". mereka mulai menyadari bahwa aturan-aturan itu melahirkan ketidakadilan baik bagi anak perempuan maupun laki-laki. Hassan Hanafi mengatakan bahwa teologi Islam sangat memprihatinkan.

Salah satu realitas sosial yang perlu disikapi adalah diskriminasi jender. teologi Islam begitu modern dan relevan dengan kebutuhan manusia. akhirnya terciptalah teologi pembebasan (kiri Islam). Umat Islam terjebak dengan pendekatan hermeneutika teoretis. Apa yang dilakukan Hanafi adalah salah satu contoh menarik. dengan harapan dapat membebaskan teologi Islam dari kebangkrutannya. teologi Islam berhenti berdialog dengan "realitas sosial". konsep "fatalisme" atau "predestination" lebih dimotivasi kepentingan status quo ketimbang teologi itu sendiri. Maka.Pada awalnya teologi Islam dibangun di atas kepentingan politik. Turunnya wahyu mereka anggap sebagai afirmasi dan konfirmasi atas pengetahuan tersebut. raison d’etre teologi Islam adalah tuntutan "realitas sosial". Teks kitab suci (Al Quran) didialogkan dengan persoalan manusia. tanpa wahyu sekalipun manusia mampu mengetahui tentang Tuhan dan kebaikan. 1992). teologi senantiasa didialogkan dengan realitas sosialnya. yakni memahami teologi untuk teologi itu sendiri. Maka. Dengan pendekatan ini. sebab Asy’ari dianggap sukses menciptakan sebuah konsep teologi yang membuktikan peran besar Tuhan dalam jagat raya (Nurcholish Madjid. Perdebatan tersebut bermuara pada kebutuhan untuk mencari legitimasi politik. Teologi yang sejatinya memosisikan perempuan sebagai mitra laki-laki. pemberontakan Mu’awiyah diyakini sebagai takdir. Dalam "fatalisme". Saat itu. Asy’ari di tengah "keputus-asaan teologis" umat Islam berhadapan dengan Aristotelianisme yang menempatkan Tuhan pada posisi kurang signifikan. Dalam konsep teologinya mereka menerangkan bahwa akal manusia sejalan dengan wahyu. Meski agak berbeda dengan awal kemunculannya. Sudah saatnya umat Islam mengembangkan pendekatan hermeneutika filosofis. teologi menjadi jauh dari kebutuhan manusia. Abu Hasan Al-Asy’ari dipuji Nurcholish Madjid. setelah ia memperoleh kursi kekhalifahan. terutama para ahli fikih (fuqoha) Dengan demikian. pada masanya. 1986). Walhasil. terutama Mu’awiyah. Hanafi mendialogkan teologi dengan kolonialisme dan orientalisme. menurut mereka. Lantas tokoh-tokoh Mu’tazilah juga dianggap sukses dalam melapangkan pengembangan filsafat dan ilmu pengetahuan yang menuntut banyak peran akal. justru disesaki kepentingan . Bahkan. Wajar jika Asghar Ali Engineer mengatakan bahwa teologi Islam terlalu berkutat pada persoalan metafisik dan meninggalkan persoalan penting kemanusiaan (Asghar Ali Engineer. Peristiwa pemberontakan Mu’awiyah terhadap Khalifah Ali bin Abu Thalib dicatat Harun Nasution sebagai awal munculnya perdebatan teologi (Harun Nasution. Dewasa ini. 1998). Pandangan serupa ini menjadi landasan teologis dalam mengembangkan filsafat yang saat itu ditentang keras oleh ulama.

Dalam pandangan Arabi. Anne McGrew Bennet. Oleh karena itu. Oleh Ibnu Arabi. seperti halnya seorang ibu yang melahirkan. meski sifat maskulin dan feminin Tuhan dikatakan sejajar. ada tiga hal yang harus dilakukan terhadap teologi Islam. Arabi menggambarkan adanya reproduksi alam semesta. Alasannya. yaitu sifat yang melambangkan keperkasaan (maskulin) dan keindahan (feminin). pandangan seperti itu tidak memiliki legitimasi teologis. diskriminasi jender sesungguhnya merupakan pengingkaran terhadap Tuhan secara utuh. Jadi. Di dalamnya. Atas dasar itu. Maha Pemarah diimbangi dengan Maha Penyayang. Kemudian. relasi jender secara mengesankan telah direpresentasikan oleh Tuhan sendiri. ialah Huwa. pemeliharaan alam juga merupakan representasi sifat kasih dan sayang-Nya. teologi feminis adalah teologi yang menggali aspek-aspek feminin Tuhan demi kesetaraan jender. Kata ganti Tuhan dalam Al Quran. yang berarti Dia (laki-laki). Tuhan digambarkan memiliki 99 sifat. misalnya. sensitif. dan tidak bisa tegas sehingga menyebabkan kaum perempuan dianggap tidak layak berperan dalam wilayah publik. Proses penciptaan alam semesta secara evolusi. Hasil dialog semacam ini dapat kita temukan dalam teologi feminis. Lebih tepatnya. Dengan demikian aspek feminin-Nya jauh lebih terasa ketimbang aspek maskulin. Perendahan terhadap kualitas feminin perempuan bernilai sama dengan pengabaian kualitas feminin Tuhan. dan seterusnya. Menurut dia teologi yang ada selama ini disesaki kepentingan laki-laki. dialog teologi dengan permasalahan-permasalahan perempuan adalah suatu keniscayaan. sebenarnya sifat feminin Tuhan jauh lebih berperan. Bahkan. 1989). Dalam Al Quran. sifat-sifat tersebut dibagi dalam dua kelompok besar. sifat perkasa-Nya senantiasa didampingi oleh keluasan kasih sayang-Nya. misalnya. Bennet menyatakan bahwa "revolusi teologis" adalah sebuah keniscayaan jika kita menginginkan pembebasan manusia (Anne McGrew Bennet. paling tidak. Hal ini dibenarkan teolog feminis. Sifat feminin inilah yang dieksplorasi oleh teologi feminis. Maha Pemberi Hukuman diimbangi dengan Maha Pengampun.laki-laki. konsep ketuhanan yang metafisik diterjemahkan kepada persoalan pembebasan dan pemberdayaan perempuan. . merupakan cermin dari sifat feminin-Nya. irasional. Padahal. Hal inilah yang ingin didekonstruksi dari paradigma pendukung patriarki bahwa feminitas senantiasa merepresentasikan kelemahan.

melainkan meneruskannya pada aksi. baik kepentingan status quo maupun pemberontakan. Ukuran kesalehan dalam konteks gagasan ini tidak diukur dari kepatuhan menjalankan ritual. Eksplorasi lebih dimaksudkan sebagai pengungkapan bahwa sifat feminin tidak identik dengan kelemahan sebagaimana dianggap oleh pendukung patriarki. Kedua. menjadikan teologi tidak sebatas keimanan. media seharusnya dapat digunakan untuk mentransformasi pencitraan mengenai perempuan. Sampai Konferensi Dunia IV mengenai perempuan dan pembangunan di Beijing (1995). bukan hal yang mudah karena menyangkut perombakan kultur dan kerangka pikir wartawan dan editor. Perjuangan Perombakan Kultur Upaya menghapuskan kekerasan dalam pemberitaan surat kabar. Ketiga. Sumbangan Besar Mewujudkan Demokrasi<center></center> Revolusi teknologi ternyata tak banyak dimanfaatkan oleh pekerja media untuk membantu perempuan memperbaiki posisinya. melainkan penuh dengan kepentingan. membongkar mitos tentang teologi yang seolah-oleh terberi (taken for granted). Apalagi . Ini tidak dimaksudkan untuk membenturkan sifat feminin Tuhan dengan sifat maskulin-Nya. Pencitraan perempuan di berbagai media massa di seluruh dunia masih lebih banyak bersifat stereotip sehingga tidak bisa dikatakan mewakili sesuatu yang lebih benar mengenai perempuan. Dengan begitu diharapkan tidak ada fanatisme sempit yang mencurigai dialog teologi dan persoalan perempuan sebagai pendangkalan akidah. yakni membela hak-hak perempuan dan menegakkan kesetaraan jender. M Hilaly Basya. media dan jaringan alternatif khusus untuk perempuan semakin berkembang dan dimanfaatkan secara efektif oleh organisasi mahasiswa dan kelompok-kelompok perempuan guna memperbaiki kesadaran sosial dan politik di antara perempuan dan anggota masyarakat Dengan demikian. Hal ini diperlukan guna menyadarkan umat bahwa kemunculan teologi Islam tidak berada di ruang hampa. mengeksplorasi aspek feminin Tuhan demi kesetaraan jender.Pertama. tetapi pada kesalehan sosial. Dosen Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka) dan anggota Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) Sumber: Kompas Cyber Media Pemberitaan Sensitif Gender.

Kekerasan terhadap perempuan dalam media massa tidak bisa dilepaskan dari posisi perempuan dalam masyarakat. Ini diperkuat oleh kekuasaan negara UU No. Kerja dalam tim seperti media cetak. dan menentang konsepsi tentang apa dan bagaimana seharusnya. sektor "domestik" yang dikatakan sebagai sektor statis clan consumtif sebagai milik perempuan. Kemarahan dan ketidaktoleran hanya akan menjadi conter productive dan tidak akan membuat perubahan yang berarti. dan lingkungan masyarakat. Sejumlah stereotip lantas menempel pada perempuan dan laki-laki berdasarkan peran jenis kelamin itu. ditambah oleh pola asuh yang bias gender.1 Tahun 1974 tentang perkawinan yang secara eksplisit menetapkan peran-laki-laki dan perempuan. terinternalisasikan melalui pendidikan di semua lini. maka dengan mudah ideologi yang diskriminatif ini tersosialisasikan. sekolah. memalukan. Perjuangan untuk mencapai keadilan gender melalui pemberitaan dalam media massa masih membutuhkan waktu teramat panjang. Sedangkan sektor "publik" yang dicirikan sebagai sektor dinamis dan memiliki sumber kekuasaan pada perbagai sektor kehidupan yang mengendalikan perubahan sosial sebagai milik lakilaki. Perspektif Perempuan dalam Media Massa Seluruh persoalan ini di dalam media massa juga tidak terlepas dari struktur modal yang kapitalistik.bila bekerja pada wilayah mind set yang melahirkan suatu sikap tertentu. Ciri kapitalistik juga nampak dari dikalahkannya pemuatan berita demi iklan. pemilihan gagasan dan keseluruhan gaya pemberitaan. rasisme. . Industri media massa akan menempatkan berita-berita yang bersifat maskulin itu sebagai sesuatu yang utama. Dengan demikian pemberitaan wacana sensitifitas gender saja tidak akan mampu membuat wartawan segera mamiliki kesadaran yang cukup pada inequality yang dialami perempuan. meski iklan dijadikan alasan utama suatu media massa dapat bertahan. sebagai besar masyarakat masih percaya pada pembagian kerja secara seksual yang mensubordinasikan perempuan. Bahkan mengandung resiko dituduh mengekalkan mitos masochisme perempuan. karena dianggap "menjual". buruk. Penulisan berita dan artikel atau tulisan apapun (juga gambar) yang berperspektif perempuan bukan tidak mengandung kontradiksi. karena struktur dan pemberitaan media massa sebenarnya adalah cermin situasi masyarakat itu sendiri. Dalam masyarakat terlanjur meyakini notion palsu yang mengatakan bahwa secara kodrati perempuan kurang pandai dan secara fisik lebih lemah dibandingkan dengan laki-laki. atau sudut pandang berita yang dipilih. keluarga. membutuhkan toleransi dan penghargaan pada proses. Wartawan dan struktur keredaksian juga menyerap nilai-nilai tersebut sehingga mudah tergelincir untuk melakukan kekerasan berganda terhadap perempuan korban kekerasan melalui bahasa dan konsep yang dipakai. narcisis. Karena itu. ideologi tertentu yang dipelajari seorang manusia sejak ia bisa berpikir. efensif.

sehebat apapun posisi seorang pemimpin media berbicara soal demokrasi. Mengapa? Karena kesadaran ditindas hanya ada pada golongan penindas. Sistem politik yang represif telah mengawasi perempuan secara ketat. dan keadilan yang didasarkan kesetaraan tadi. Jurnalis harus memanfaatkan semaksimal mungkin informasi. Namun masih perlu perbaikan yang signifikan dalam kognisi. Jadi. HAM. dan demokrasi. Ini juga dilakukan melalui bahasa. Seorang pemimpin di dalam media yang masih mengartikan feminisme sebagai pembalikan perempuan dan laki-laki atau bahkan menuduh feminisme dan gerakan kesetaraan gender sebagai gerakan untuk menindas laki-laki. tetapi ia meragukan atau bahkan menisbikan persoalan kesetaraan dalam hubungan perempuanlaki-laki. namun sebaliknya media bisa digunakan untuk menahan laju pergerakan perempuan. budaya berpikir yang harus dirombak dalam struktur besar keredaksian. Hanya dengan itu maka seluruh gerakan kesetaraan bisa mencapai tujuannya. maka ia bukanlah demokrat sejati. bahasa bukanlah sekedar alat komunikasi. maka secara tidak sadar dia telah memposisikan dirinya sebagai penindas. Inilah yang disebut split personaliy dari media: ia bisa menjadi agen pembaharu.Suara perempuan adalah suara yang terbisukan. tetapi sekaligus menginginkan . tidak memungkinkan cara berpikir lain daripada yang dikehendaki penguasa. orang tertindas malah tidak merasa ditindas karena manipulasi berbagai nilai yang dikukuhi dalam kehidupan masyarakat atau malah melakukan adjustment terhadap penindasan itu dan kemudian mereplikasikannya kepada pihak lain yang lemah. Ia merupakan kegiatan kegiatan sosial yang terstruktur dan terikat pada keadaan sosial tertentu. maupun afeksi. ada semacam cara pandang. Posisi Media Massa Namun perubahan semacam ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pada banyak kasus. dan pendidikan untuk memajukan perdamaian. menyudutkan dan menyempitkan dan akhirnya menundukkan. Sejarah kemudian memang memperlihatkan bahwa sejarah perempuan lebih banyak dilekatkan pada subordinasi. Karena itulah kesadaran perempuan tentang masalah penindasan ini harus dibongkar. mengontrol secara dominan. Dalam sebuah diskusi Lembaga Pers Mahasiswa. Dalam hal ini media sebagai kekuatan keempat (the fourth estate) berperan sangat besar untuk pergerakan permpuan. pada umumnya pekerja media memiliki kesadaran memadai mengenai masalah-masalah HAM. serta pembongkaran sikap dan cara pandang personal di kalangan wartawannya. komunikasi. Tetapi apa keterkaitan antar demokrasi dan perempuan? Sejarah bisa menjadi titik tempuh untuk memaparkan pergerakan posisi perempuan mulai dari pemegang peranan yang kuat dalam komunitas sampai terjadinya subordinnasi terhadap mereka. karena membicarakan media massa media yang diekspresikan melalui bahasa tulis dan lisan. Sebagai wacana baru (newspeak). atau bahkan memundurkan kembali. Padahal inti demokrasi adalah kesetaraan hak dan kewjiban.

Namun bagaimanapun harus diingat. Selalu ada jalan dengan kecerdasan membungkus isu. yang akhirnya mengganggu bisnis media. Oleh: Akhmad Junaedi Azhar Sumber: Siar Online . karena merasa hal-hal itu tidak populer. sehingga akhirnya secara perlahan tetapi pasti.kemapanan sehingga enggan membongkar situasi status-quo. media main steram berurusan dengan pemodal yang lebih mempedulikan kenginan pasar ketimbang perbaikan posisi dan kesejahteraan perempuan dan kelompok masyarakat yang dilemahkan lainnnya. Meski demikian. isu-isu kesetaraan dan keadilan gender menjadi isu yang kian membesar dan penting dan harus diterapkan dalam setiap persoalan. ketidakpedulian media main stream ini bukan jalan buntu yang tidak bisa ditembus.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful