P. 1
29426547 Kumpulan Makalah Gender

29426547 Kumpulan Makalah Gender

|Views: 362|Likes:

More info:

Published by: Bahdauviyu Zaherganazi on May 02, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/01/2013

pdf

text

original

GENDER Pembakuan Peran dalam Kebijakan-kebijakan di Indonesia<center></center> Pengantar: Berangkat dari prinsip yang menantang gagasan

konvensional bahwa hukum itu netral, objektif dan bebas nilai, LBH APIK Jakarta telah melakukan penelitian tentang ‘Pembakuan Peran Gender dalam Kebijakan-kebijakan di Indonesia’. Dengan menggunakan pendekatan hukum kritis,pandangan feminis terhadap hukum, gender dan negara dalam konteks Indonesia, ditemukan bahwa terdapat kebijakan-kebijakan yang tidak berkeadilan gender. Ideologi patriarki (dominasi laki-laki) faktanya telah mewujud dalam sistem hukum di Indonesia (baik dari peraturan dan kebijakan yang ada, stuktur dan budaya hukumnya), sehingga senantiasa mengekalkan ketidakadilan terhadap perempuan. Bagaimana pembakuan peran laki-laki dan perempuan dikukuhkan oleh Negara ? Konsep pembakuan peran gender yang mengkotak-kotakkan peran laki-laki/ suami dan perempuan/ istri ini hanya memungkinkan perempuan berperan di wilayah domestik (domestikasi), yakni sebagai pengurus rumah tangga sementara laki-laki di wilayah publik sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah utama. Peran gender yang memilahmilah peran perempuan dan laki-laki pada kenyataannya telah dibakukan oleh negara dalam berbagai kebijakan yang dilahirkan oleh Pemerintah Orde Baru. Kebijakankebijakan tersebut pada akhirnya hanya menyisakan ketidakadilan pada perempuan. Dengan demikian, melalui hukum, negara melakukan peran gender. Hukum, dengan demikian, dipandang sebagai agen yang menguatkan nilai-nilai jender yang dianut oleh masyarakat. Hal ini berkaitan dengan kebutuhan negara untuk menjaga dan menjamin kepentingannya. Apakah dampak dari pembakuan peran? Upaya domestikasi perempuan secara sistematis oleh negara berdasarkan ideology gender dalam kebijakan-kebijakan negara berdampak lebih jauh pada peminggiran terhadap perempuan, baik secara ekonomis, politik, sosial dan budaya, juga menimbulkan subordinasi, eksploitasi dan privatisasi kekerasan terhadap perempuan. Kebijakan-kebijakan apa sajakah yang membakukan peran jender? Ruang lingkup kebijakan yang dikritisi dalam penelitian adalah kebijakan-kebijakan yang lahir pada era Orde Baru. Dari kebijakan-kebijakan negara seperti : - pada masa Revolusi Hijau, yaitu pada Repelita I thn 1969-1974 dimana muncul Kebijakan yang memarginalkan kaum perempuan pedesaan yang awalnya

-

-

memiliki peran penting sebagai petani kemudian digeser dengan munculnya alatalat pertanian modern yang diasosiasikan dengan keahlian jenis kelamin laki-laki. Kemudian, kebijakan lain yang juga mempunyai efek pembakuan peran adalah praktek-praktek koersi terhadap perempuan yang diterapkan berkaitan dengan kebijakan pemerintah tentang kependudukan => Kebijakan KB yang dicanangkan sejak thn 1969 hanya diperuntukkan bagi kelompok perempuan Menunjukkan adanya asumsi patriarkal negara mengenai peran laki-laki dan perempuan yang menganggap bahwa urusan domestik adalah tanggung jawab perempuan. Nampak bahwa negara Orde Baru membatasi ruang lingkup kehidupan perempuan (secara sosial, ekonomi, politik) dan melegitimasi pembakuan peran gender.

Lebih rinci, teks-teks kebijakan yang dianalisa : Ø GBHN; Sebagai landasan bagi kebijakan-kebijakan lainnya dan pembangunan secara umum. Sepanjang GBHN 1978 –1998, kata ‘kodrat’ tetap hadir dalam teks. Dengan konsep peran ganda yang dianut negara, dapat disimpulkan bahwa ‘kodrat ‘ dimakni tidak hanya sebatas kemampuan biologis perempuan tetapi juga peran-peran reproduksi sosial. Jadi, dapat dideteksi adanya gagasan-gagasan mengenai pembakuan peran gender dalam GBHN. Ø Kebijakan tentang Buruh Migran Perempuan a. Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. Kep. 213/Men/89 tentang biaya Pembinaan Tenaga Kerja Indonesia dalam Rangka Pengembangan Program Antar Kerja Antar Negara ke Timur Tengah ; Dalam kebijakan ini diatur perbedaan biaya yang dikeluarkan untuk pengiriman buruh migran perempuan dengan laki-laki dengan asumsi gender bahwa buruh migran perempuan dianggap membutuhkan pembinaan. b. Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. Kep. 196/Men/1991 tentang Petunjuk Teknis Pengerahan Tenaga Kerja ke Arab Saudi Peraturan ini memuat adanya pembedaan usia antara laki-laki dan perempuan untuk menjadi buruh migran di sector informal. Ø Kebijakan tentang Pembantu Rumah Tangga (Perda No. 6 thn 1993) tentang Pembinaan Kesejahteraan Pramuwisma di DKI Jakarta dan SK Gubernur DKI Jakarta No. 1099 thn 1994) Asumsi pemerintah terhadap istilah pramuwisma yang cenderung ditujukan terhadap perempuan menyumbang pada pembakuan peran gender dalam pasal-pasal Perda. Misalnya, pasal tentang perlunya ijin bekerja dari suami bagi perempuan yang sudah bersuami. Ø Kebijakan tentang Perkawinan/ Perceraian UUP Integrasi konsep pembakuan peran dalam kebijakan tentang perkawinan yaitu melalui UU No. 1 thn 1974 tentang Perkawinan (UUP), terutama nampak dalam khususnya pasal 31, yang menyatakan bahwa “suami adalah kepala keluarga dan

istri adalah ibu rumah tangga.” Selain itu, UUP menganut asas monogamy terbuka, maksudnya bahwa pada asasnya suatu perkawinan seorang laki-laki hanya boleh mempunyai seorang isteri dan seorang perempuan hanya boleh mempunyai seorang suami. Namun, terdapat klausula yang menyatakan bahwa Pengadilan dapat memberi ijin kepada seorang suami untuk beristri lebih dari seorang karenanya terbuka kemungkinan bagi laki-laki untuk melakukan poligami. Pengaturan mengenai poligami ini tidak hanya menunjukkan bahwa dalam institusi perkawinan posisi tawar perempuan lebih rendah disbanding lakilaki tetapi juga menunjukkan bahwa negara jelas-jelas telah melegitimasi nilainilai jender perempuan yang hidup dalam masyarakat. Dalam Pasal 31 : Kedudukan suami isteri adalah sama, akan tetapi dalam ayat lain ditegaskan bahwa suami adalah kepala keluarga dan isteri adalah ibu rumah tangga. Penegasan ini merupakan pengetatan fungsi-fungsi isteri dan fungsifungsi suami secara tegas. Artinya, pasal ini melegitimasi secara eksplisit pembagian peran berdasarkan jenis kelamin. Juga, semakin dipertegas dalam pasal 34 yang menyatakan bahwa suami wajib melindungi isteri dan isteri wajib mengatur rumah tangga sebaik-baiknya. Pasal tersebut merupakan pengejawantahan dari pola pikir masyarakat yang menganggap bahwa peran lakilaki dan perempuan sudah mutlak terbagi. PP No. 45/ 1990 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah No. 10 thn 1983 tentang ijin Perkawinan dan Perceraian Pegawai Negeri Sipil. (Peraturan Pemerintah ini merupakan peraturan pelaksana dari UU Perkawinan yang khusus diberlakukan kepada Pegawai Negeri Sipil dan merupakan penyempurnaan dari PP 10 thn 1983). PP ini lebih menegaskan asas monogamy terbuka. Akan tetapi, secara tidak konsisten PP melarang perempuan PNS menjadi isteri kedua, ketiga atau keempat dengan asumsi akan merusak citranya sebagai PNS dan perempuan. Ø Kebijakan tentang Kekerasan terhadap Perempuan KUHP berkaitan dengan Penganiayaan terhadap isteri KUHP tidak mengenal konsep kekerasan berbasis gender, atau tindakantindakan kejahatan yang dilakukan karena jenis kelamin perempuan. KUHP berkaitan dengan Perkosaan Perkosaan terhadap isteri dalam perkawinan (marital rape) tidak dikenal dalam KUHP berarti KUHP mengadopsi pandangan masyarakat bahwa fungsi isteri adalah melayani suami. UU No. 62 Tahun 1958 tentang Kewarganegaraan UU ini mengadopsi ideology patriarki yang tercermin dalam ketentuan tentang status kewarganegaraan anak yang lahir dari perkawinan campuran , yaitu megikuti kewarganegaraan ayahnya.

Ø

Kebijakan Ketenagakerjaan UU No. 25 thn 1997 tentang Ketenagakerjaan : Memuat ketentuan yang mendiskriminasikan perempuan dengan memuat ketentuan larangan bekerja bagi perempuan pada waktu malam hari.

Ø Peraturan tentang Perpajakan :Keputusan Direktur Jendral Pajak No. 78/ PJ.41/ 1990 tentang Pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) kepada isteri wajib pajak yang melakukan kegiatan usaha dan atau pekerjaan bebas Ø Peraturan tentang Perpajakan: Keputusan Direktur Jendral Pajak No. 78/ PJ. 41/ 1990 tentang Pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) kepada isteri Wajib Pajak yang melakukan kegiatan Usaha dan atau Pekerjaan Bebas

Dalam ketentuan perpajakan, isteri yang bekerja atau usaha yang wajib kena pajak bukanlah wajib pajak secara pribadi melainkan sebagai ‘isteri wajib pajak.’ Dampaknya, ada hambatan bagi perempuan menikah yang hendak mengembangkan usahanya karena nomor wajib pajaknya tergantung pada suami sehingga otomatis pengembangan usahanya tergantung pada ijin suami. Penutup Ø Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh negara disamping bias gender juga bias kelas menengah serta bertentangan dengan kenyataan sosialnya. Dalam kenyataannya, kaum perempuan tidak lagi hanya sebagai pencari nafkah tetapi juga banyak yang menjadi kepala keluarga. Akibatnya timbul ketegangan antara nilai-nilai dan peraturan yang diterapkan dengan kenyataan sosial yang terus berlangsung. Ø Melalui hukum, negara melakukan pembakuan peran gender. Beberapa kebijakan mengacu pada peran perempuan dan laki-laki sebagaimana didefinisikan dalam UUP No. 1 thn 1974. Dengan demikian, UUP merupakan kebijakan yang mempunyai signifikansi dalam proses pembakuan peran yang dilakukan negara. Ø Perlu dilakukan reformasi terhadap kebijakan-kebijakan dengan mengamati dinamika proses negosiasi antara kelompok-kelompok kepentingan yang terjadi ditingkat negara untuk menentukan sasaran intervensi yang dapat dilakukan baik di tingkat struktur formal (hukum dan negara) dan di tingkat masyarakat untuk mengubah nilai-nilai gender yang dominan.

Sumber: http://www.lbh-apik.or.id/peneliltian-pembakuan_peran.htm

Perempuan Bekerja, Dilema Tak Berujung ? <center></center> Fenomena perempuan bekerja sebenarnya bukanlah barang baru di tengah masyarakat kita. Sejak zaman purba ketika manusia masih mencari penghidupan dengan cara berburu dan meramu, seorang isteri sesungguhnya sudah bekerja. Sementara suaminya pergi berburu, di rumah ia bekerja menyiapkan makanan dan mengelola hasil buruan untuk ditukarkan dengan bahan lain yang dapat dikonsumsi keluarga. Karena sistem perekonomian yang berlaku pada masyarakat purba adalah sistem barter, maka pekerjaan perempuan meski sepertinya masih berkutat di sektor domestik namun sebenarnya mengandung nilai ekonomi yang sangat tinggi. Kemudian, ketika masyarakat berkembang menjadi masyarakat agraris hingga kemudian industri, keterlibatan perempuan pun sangat besar. Bahkan dalam masyarakat berladang berbagai suku di dunia, yang banyak menjaga ternak dan mengelola ladang dengan baik itu adalah perempuan bukan laki-laki. Hal ini jelas menunjukkan bahwa keterlibatan perempuan memang bukan baru-baru saja tetapi sudah sejak zaman dulu. Dalam konteks Indonesia sebagai negara berkembang, sebenarnya tidak ada perempuan yang benar-benar menganggur. Biasanya para perempuan memiliki pekerjaan untuk juga memenuhi kebutuhan rumah tangganya entah itu mengelola sawah, membuka warung di rumah, mengkreditkan pakaian dan lain-lain. Mungkin sebagian besar masyarakat Indonesia masih beranggapan bahwa perempuan dengan pekerjaan-pekerja di atas bukan termasuk kategori perempuan bekerja. Hal ini karena perempuan bekerja identik dengan wanita karir atau wanita kantoran (yang bekerja di kantor). Pada hal, dimanapun dan kapanpun perempuan itu bekerja, seharusnya tetap dihargai pekerjaannya. Jadi tidak semata dengan ukuran gaji atau waktu bekerja saja. Annggapan ini bisa jadi juga erkait dengan arti bekerja yang berbeda antara Indonesia dengan negara-negara di Barat yang tergolong sebagai negara maju. Konsep bekerja menurut masyarakat di negara-negara Barat (negara maju) biasanya sudah terpengaruh dengan ideologi kapitalisme yang menganggap seseorang bekerja jika memenuhi kriteria tertentu misalnya; adanya penghasilan tetap dan jumlah jam kerja yang pasti. Sedangkan kebanyakan perempuan di Indonesia yang disebutkan tadi, pekerjaan mereka belum menghasilkan penghasilan tetap dan tidak terbatas waktu, bahkan baru dapat dilakukan hanya sebatas kapasitas mereka. Meski bukan fenomena baru, namun masalah perempuan bekerja nampaknya masih terus menjadi perdebatan sampai sekarang. Bagaimanapun, masyarakat masih memandang keluarga yang ideal adalah suami bekerja di luar rumah dan isteri di rumah dengan mengerjakan berbagai pekerjaan rumah. Anggapan negatif (stereotype) yang kuat di masyarakat masih menganggap idealnya suami berperan sebagai yang pencari nafkah, dan pemimpin yang penuh kasih; sedangkan istri menjalankan fungsi pengasuhan anak. Hanya, seiring dengan perkembangan zaman, tentu saja peran-peran tersebut tidak semestinya dibakukan, terlebih kondisi ekonomi yang membuat kita tidak bisa menutup

seperti yang sudah panjang lebar diutarakan di atas. kesemuanya berperan penting dalam melahirkan dan memampukan seseorang untuk “berfungsi” sebagaimana mestinya dalam struktur sosial masyarakat. melahirkan. menyusui. yang akan lebih membawa perempuan kepada beban ganda. biasanya dikerjakan di luar rumah. Kerja reproduktif juga kerja yang pada prosesnya menjaga kelangsungan proses produksi. pangan. tentu saja memang akan ada dampak yang timbul jika suami-isteri bekerja di luar rumah. nampaknya hampir semua kalangan masyarakat menyetujui bahwa perempuan mendapat kemulian dengan pekerjaannya sebagai ibu . atau mencuci maka tidak mungkin akan didapatkan makanan. Kerja produksi dianggap tanggung jawab laki-laki. Tanpa ada yang melakukan pekerjaan rumah tangga seperti memasak. Walaupun seringkali jika seorang laki-laki atau suami ditanya maka akan muncul jawaban “Seandainya gaji saya cukup. misalnya pekerjaan rumah tangga. bukan hanya sebatas masalah reproduksi biologis perempuan. perdebatan mungkin muncul lebih karena anggapan akan stereotype dari masyarakat bahwa akan ada akibat yang timbul jika suami-isteri bekerja di luar rumah yaitu “mengganggu” keharmonisan yang telah berlangsung selama ini. Baik kerja produksi maupun kerja reproduksi. Kerja reproduktif adalah kerja “memproduksi manusia”. Namun solusi yang diambil tidak semestinya membebankan istri dengan dua peran sekaligus yaitu peran mengasuh anak (nursery) dan mencari nafkah di luar rumah (provider). saya lebih suka isteri saya di rumah merawat anak-anak”. Seperti yang pernah diungkapkan. kenyamanan bagi anggota rumah tangga yang lain. Sehingga dengan makanan dankenyamanan tersebut proses yang lain tidak terganggu. terdapat kecenderungan kuat untuk memisahkan kerja produksi dan reproduksi. perawatan sehari-hari manusia baik fisik dan mental.Tetapi tentu saja pengertian pekerjaan reproduksi seperti ini tidak dianggap sebagai pekerjaan oleh masyarakat dan juga pemerintah padahal secara fisik ini jelas sebagai sebuah kerja. hamil. Kerja produktif berfungsi memenuhi kebutuhan dasar manusia seperti sandang. namun mencakup pula pengasuhan. Kerja produktif dan reproduktif Untuk dapat melihat definisi dan makna kerja dengan lebih jernih lagi maka mungkin perlu dijelaskan juga tentang kerja dengan membaginya menjadi dua bentuk kerja yaitu kerja produksi dan kerja reproduksi. keduanya berperan penting dalam proses kehidupan manusia. di mana kedua pekerjaan tersebut dilakukan dan siapa yang melakukan pekerjaan tersebut. Dalam sistem kapitalisme yang berlaku dewasa ini. Terlepas dari pembahasan di atas.mata bahwa kadang-kadang istripun dituntut untuk harus mampu juga berperan sebagai pencari nafkah. papan. akan tetapi adanya dukungan sistem yang tidak terus membawa perempuan pada posisi yang dilematis. Kerja reproduksi dianggap tanggung jawab perempuan dan biasanya dikerjakan di dalam rumah. Bagaimanapun.

Atas nama tradisi dan kodrat. kerja reproduksi yang sebagian besar dilakukan perempuan berperan sangat penting guna keberlanjutan suatu bangsa dan umat manusia pada umumnya. Lebih jarang lagi yang memperhitungkan nilai ekonomi pekerjaan rumah tangga. pada kenyataannya. dan kesulitan perempuan bekerja untuk menyusui anaknya. niscaya akan mematahkan mitos “laki-laki adalah pencari nafkah utama”. Jarang yang mempertanyakan secara terbuka “kodrat” tersebut. Sayangnya. Contohnya pernyataan “buat apa anak perempuan sekolah tinggi-tinggi. agama. perempuan dipandang sewajarnya bertanggung jawab dalam arena domestik. Diskriminasi terselubung dilakukan guna menghindari pemberian cuti tersebut antara lain dengan preferensi tidak tertulis mengutamakan merekrut karyawan laki-laki atau karyawan perempuan lajang. Dengan kata lain. Perlu . ketiadaan sarana penitipan anak di tempat kerja. Kerja perempuan terutama di sektor reproduksi tidak pernah diperhitungkan dalam data perekonomian dan statistik. Di sektor publik sering kali sistem yang ada “tidak mendukung” perempuan (dan lakilaki) bekerja untuk dapat pula melakukan kerja reproduksi secara optimal sekaligus. Situasi di sektor publik sering pula tidak ramah keluarga. meskipun perempuan telah mencurahkan begitu banyak waktu dan energi. Institusi pendidikan. Demikian pula sebutan “ratu” yang seharusnya berimplikasi pada peran perempuan yang lebih besar dalam pengambilan keputusan di tingkat keluarga. Berkomitmen tinggi terhadap anak dan keluarga dipandang tidak kompatibel dengan dunia kerja. media massa. Dan mengapa “pekerjaan mulia” tersebut sebagian besar dibebankan hanya kepada perempuan. Jam kerja panjang. Meskipun cuti melahirkan telah diberlakukan secara luas. Namun yang menjadi pertanyaan kemudian adalah mengapa pekerjaan reproduksi tersebut selalu diberi sebutan sebagai “pekerjaan mulia”. Memberikan cuti melahirkan bagi karyawan perempuan dianggap pemborosan dan inefiesiensi. seolah ia adalah bagian kewajiban dari Tuhan dengan imbalan kebahagiaan di akhirat nanti. keterlibatan perempuan dalam kerja produksi tidak mengurangi beban tanggung jawabnya di sektor reproduksi. Ternyata. baik terhadap karyawan perempuan maupun laki-laki. nanti juga ke dapur” atau “si X (perempuan) mah paling juga kawin terus ngurus anak”. terjadi “perendahan” terhadap kerja reproduksi biologis perempuan. Norma yang berlaku dewasa ini kerja reproduksi adalah tanggung jawab perempuan. Sebenarnya di banyak tempat. mendukung pula pandangan ini. masih ada yang merasa rugi memberi cuti melahirkan kepada karyawan perempuan.rumah tangga hingga ibu rumah tangga mendapat gelar “ratu rumah tangga”. melainkan laki-laki. tidak mengundang laki-laki untuk berkontribusi lebih besar dalam kerja reproduksi. adalah beberapa contoh nyata. Jika kerja tersebut diperhitungkan. bukan perempuan yang lebih berperan dalam pengambilan keputusan penting.

1991:18).6%. mayoritas berada di tingkat buruh tani. Sebuah studi tentang buruh perempuan pada industri sepatu di Tangerang. persentase buruh perempuan adalah 90% dari total buruh. Di pedesaan. Seperti yang juga sudah disinggung di atas. Perempuan di sektor pertanian pedesaan. sebagai buruh pabrik. Hal ini berlaku khususnya bagi perempuan berpendidikan menengah ke bawah. Perempuan di sektor industri perkotaan terutama terlibat sebagai buruh di industri tekstil. menemukan bahwa biaya tenaga kerja (upah) buruh laki-laki adalah 10-15% dari total biaya produksi. Diskriminasi kerja perempuan Terlepas dari persoalan sektor yang digeluti perempuan. kondisi kerja buruk dan tidak memiliki keamanan kerja. sektor perdagangan juga banyak melibatkan perempuan. hanya karena berkeluarga dan memiliki anak menjadi semakin tidak menarik. perempuan pada strata ini mendominasi sektor pertanian. sementara di perkotaan sektor industri tertentu didominasi oleh perempuan. Masalah umum yang dihadapi perempuan di sektor publik adalah kecenderungan perempuan terpinggirkan pada jenis-jenis pekerjaan yang berupah rendah. Di luar konteks desa-kota. adalah jenis-jenis pekerjaan yang lazim ditekuni perempuan. Sebuah penelitian tentang buruh perempuan . sementara untuk kasus pedesaan sebagai buruh tani. Di sektor perdagangan. Hal yang perlu digarisbawahi di sini adalah bahwa kecenderungan perempuan terpinggirkan pada pekerjaan marginal tersebut tidak semata-mata disebabkan faktor pendidikan. Sangat penting pula demokratisasi institusi keluarga. Data sensus penduduk tahun 1990 menunjukan bahwa sektor pertanian adalah sektor yang terbesar dalam menyerap tenaga kerja perempuan yaitu 49. pun sesungguhnya sudah lazim ditemui di berbagai kelompok masyarakat. diikuti oleh sektor perdagangan 20. keterlibatan perempuan di sektor manapun selalu nampak dicirikan oleh “skala bawah” dari pekerjaan perempuan. pada umumnya perempuan terlibat dalam perdagangan usaha kecil seperti berdagang sayur mayur di pasar tradisional. biaya tenaga kerja dapat ditekan hingga 58% dari total biaya produksi (Tjandraningsih. berkaitan dengan masalah perempuan bekerja produksi yaitu dengan bekerja di luar rumah untuk mencari nafkah. terdapat preferensi untuk mempekerjakan perempuan pada sektor tertentu dan jenis pekerjaan tertentu karena upah perempuan lebih rendah daripada laki-laki. Kasus lain dengan substansi yang sama ditemukan pula di sektor pertanian pedesaan. sepatu dan elektronik. Sejarah menunjukan bahwa perempuan dan kerja publik sebenarnya bukan hal baru bagi perempuan Indonesia terutama mereka yang berada pada strata menengah ke bawah. Dalam kasus tersebut.2%. usaha warung. Sementara bila mempekerjakan perempuan. termasuk di dalamnya peningkatan peran serta laki-laki dalam kerja reproduksi dalam rumah tangga. dan sektor industri manufaktur 14.2%. Dari kalangan pengusaha sendiri.perbaikan sistem sosial secara menyeluruh agar jangan sampai suatu bangsa atau lebih parah lagi umat manusia punah. Untuk kasus kota. garmen.

pada agro industri tembakau ekspor di Jember bahwa untuk pekerjaan di kebun tembakau. Seorang pegawai perempuan -apakah berstatus menikah atau lajang. Ideologi gender adalah segala aturan.00 per hari sementara buruh lakilaki mendapat upah Rp 1. Persentase buruh perempuan pada kasus tembakau adalah 80%. stereotip.00 per hari (Indraswari. maka pada saat ia masuk ke sektor publik “sah-sah” saja untuk memberikan upah lebih rendah karena pekerjaan di sektor publik hanya sebagai “sampingan” untuk “membantu” suami. Semakin banyaknya perempuan berpendidikan yang berkeinginan untuk aktif di sektor publik merupakan konsekuensi logis dari pembukaan peluang yang lebih besar bagi anak perempuan untuk bersekolah.tetap dianggap lajang. diskriminasi upah seringkali lebih tersamar.total penghasilan pegawai laki-laki dan perempuan berbeda jumlahnya untuk pekerjaan yang sama. Sebenarnya pihak yang diuntungkan dalam kasus diskiriminasi upah adalah . Bagi perempuan miskin. namun komponen tunjangan keluarga dan tunjangan kesehatan dibedakan antara pegawai perempuan dan laki-laki. seringkali memanipulasi ideologi gender sebagai pembenaran. Sedangkan bagi perempuan di kelas menengah ke atas. 1994:52). bekerja bagi mereka adalah bagian dari aktualisasi diri.650. nilai. Diskriminasi upah yang terjadi secara eksplisit maupun implisit. Meskipun besar upah pokok antara pegawai laki-laki dan perempuan sama. Meskipun sistem pengupahan (termasuk tunjangan) pegawai negeri tidak lagi membedakan pegawai perempuan dan laki-laki. banyak perempuan menjadi pencari nafkah utama keluarga atau bersama-sama suami memberikan kontribusi finansial hingga 50% dari total penghasilan keluarga. Paling tidak di kedua kasus tersebut telah terjadi penggunaan tenaga kerja perempuan untuk sektor-sektor produktif tertentu dan pemisahan kegiatan-kegiatan tertentu atas dasar jenis kelamin. Dengan demikian -dengan memperhitungkan komponen tunjangan.850. dalam situasi krisis ekonomi. Seorang pegawai perempuan yang berstatus menikah -karena dia perempuantidak mendapatkan tunjangan suami atau anak. Bagi perempuan kelas menengah ke atas yang bekerja sebagai pegawai swasta maupun sebagai pegawai negeri. Jika perempuan pada strata menengah ke bawah. bekerja di sektor publik kebanyakan atas dasar dorongan kebutuhan ekonomi. Hal ini selain terkait dengan semakin terbukanya peluang bagi perempuan untuk memasuki sektor-sektor yang pada awalnya diperuntukkan hanya untuk laki-laki. generalisasi bahwa “semua perempuan bekerja hanya untuk ‘membantu’ suami” atau “semua perempuan bekerja hanya sebagai kegiatan sampingan” banyak tidak terbukti validitasnya. Dua hal ini dapat di lihat juga melalui peningkatan atau penurunan rasio perempuan di setiap jabatan. di sektor swasta diskriminasi masih terjadi. Karena tugas utama perempuan adalah di sektor domestik. Demikian pula tunjangan kesehatan hanya diberikan kepada dirinya sendiri -tidak untuk suami dan anak-. yang mengatur hubungan antara perempuan dan laki-laki terlebih dahulu melalui pembentukan identitas feminin dan maskulin (Ratna Saptari dalam Andria dan Reichman. 1999: 9). buruh perempuan mendapat upah Rp 1. atau bahkan lebih. Persoalannya.

Baik pekerjaan di rumah maupun luar rumah. jumlah perempuan yang menduduki jabatan struktural. juz II. Di dalam kitab hadits (Shahih Muslim. Dari gambaran persoalan diatas. Variasi pandangan ulama hanya muncul pada kasus seorang isteri yang bekerja tanpa restu dari suaminya. Meskipun persentase perempuan lebih dari 50% dari total penduduk Indonesia. selama untuk kebaikan dan kemaslahatan”. dalam perspektif perbandingan dengan laki-laki. Selain persoalan upah. namun perempuan yang menjadi anggota parlemen hanya 7-8% dari total anggota parlemen. apabila nyata-nyata dia tidak bisa bekerja mencari nafkah. 573). baik untuk kepentingan sosial. Sebutlah misalnya. h. Bahkan di dalam literatur fikih (jurisprudensi Islam) secara umum tidak ditemukan larangan perempuan bekerja. Kemudian dia melapor kepada Nabi Saw. yang dengan tegas mengatakan kepadanya: “Petiklah kurma itu. maupun untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Demikian pula dapat dihitung dengan jari. isteri sahabat Zubair bin Awwam. nomor hadits 1483) disebutkan bahwa ketika Bibi Jabir bin Abdullah keluar rumah untuk bekerja memetik kurma.pemilik modal yang dapat menekan biaya produksi melalui pengurangan komponen biaya tenaga kerja. Kalau lebih jauh menelusuri lembaran-lembaran literatur fikih. Lebih tegas lagi dalam fikih Hambali. jabatan) karena ideologi patriarkis yang dominan. bekerja bercocok tanam. maka Islam sesungguhnya tidak pernah menekan pihak perempuan dalam bidang pekerjaan. Jika merujuk kepada hadits Nabi. bupati. Hal ini diindikasikan dengan minimnya jumlah perempuan yang menduduki posisi pengambil keputusan dan posisi strategis lainnya baik di sektor pemerintah maupun di sektor swasta. h. dia dihardik oleh seseorang untuk tidak keluar rumah. walikota. miskin atau karena yang lain (lihat fatwa Ibn Hajar. suami juga tidak berhak sama sekali untuk melarang isteri bekerja mencari nafkah. yang terkadang melakukan perjalanan cukup jauh. menteri. dalam praktek kehidupan zaman Nabi Saw sesungguhnya ada banyak riwayat menyebutkan tentang sahabat perempuan yang bekerja di dalam dan di luar rumah. dll. Dalam Islam tidak ada masalah Sebagai agama yang diyakini untuk kasih sayang semua umat manusia. baik karena sakit. 205 dan al-Mughni li Ibn Qudamah. Asma bint Abu Bakr. dalam pandangan banyak ulama fikih. posisi. termasuk akses terhadap programprogram pelatihan untuk pengembangan karir. selama ada jaminan keamanan dan keselamatan. juz VII. seorang lelaki yang pada awalnya sudah mengetahui dan menerima calon isterinya sebagai pekerja (baca : perempuan karir) yang setelah . dapat dilihat telah terjadi pula pelebaran ketimpangan ekonomi antara laki-laki dan perempuan yang ditandai oleh perbedaan upah serta ketidaksamaan akses keuntungan dan fasilitas kerja. karena bekerja adalah hak setiap orang. juz IV. halaman 1211. perempuan di sektor publik menghadapi kendala lebih besar untuk melakukan mobilitas vertikal (kenaikan pangkat.

Upaya mewujudkan Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG). kecuali air susu hari pertama yang merupakan kewajiban perempuan memberikan kepada anaknya karena mengandung kolostrum yang baik untuk meningkatkan imunitas bayi baru lahir. 1995. (dd) ] Sumber Bacaan : Dedi Haryadi. Bahkan dalam fikih. Juni 1994 Ratna Saptari. Jadi pendefinisian bahwa pekerjaan di luar rumah adalah tugas laki-laki dan pekerjaan di dalam rumah adalah pekerjaan perempuan adalah hasil penafsiran terhadap teks secara sempit. Indrasari Tjandraningsih. Akhirnya. juz VII. suami tidak boleh kemudian melarang isterinya bekerja atas alasan apapun (lihat : al-fiqh al-Islami wa adillatuhu. Memang tentu saja hal ini tidak secara otomatis mengatakan bahwa Islam mengajarkan hubungan ibu dan bayinya dihitung dengan uang. Shahih Muslim. 573 Oleh: Swara Rahima Sumber: Kementrian Pemberdayaan Perempuan Kesetaraan Dan Keadilan Gender<center></center> I. juz VII. h. Fikih membenarkan suami dan isteri. Perempuan bekerja dan perubahan sosial. tak terkecuali yang berkaitan dengan masalah perempuan bekerja. halaman 1211. Fatwa Ibn Hajar. h. h. juz II. Pendahuluan Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG) sudah menjadi isu yang sangat penting dan sudah menjadi komitmen bangsa-bangsa di dunia termasuk Indonesia sehingga seluruh negara menjadi terikat dan harus melaksanakan komitmen tersebut. berbagai jalan dapat ditempuh untuk tetap memberikan keadilan bagi perempuan. Potret kerja buruh perempuan. April 1994 Indraswari dan Juni Thamrin. Tinjauan pada Agroindustri Tembakau Ekspor di Jember. Tinjauan kebijakan pengupahan buruh di Indonesia. juz IV. AKATIGA. di Indonesia dituangkan dalam kebijakan nasional sebagaimana ditetapkan dalam Garis-Garis Besar Haluan . h. AlMughni li Ibn Qudamah. nomor hadits 1483.perkawinan juga akan terus bekerja di luar rumah. 205. Indraswari. 795. Yang berarti fikih tidak memandang bahwa kewajiban seorang lelaki (misalnya suami) untuk mencari nafkah menjadi penghalang bagi perempuan untuk bekerja di luar rumah juga untuk mencari nafkah. AKATIGA. akan tetapi adalah menunjukkan penghargaan pada jerih payah ibu. Pekerjaan rumah tangga adalah pekerjaan yang sesungguhnya untuk perempuan dan lakilaki. Al-fiqh al-Islami wa adillatuhu. Kalyanamitra. keduanya bekerja di luar rumah dengan prasyarat-prasyarat tertentu. dan Juni Thamrin. perempuan sesungguhnya diperbolehkan meminta upah bila menyusui anaknya. 795). juz VII.

Pelaksanaan PUG diisntruksikan kepada seluruh departemen maupun lembaga pemerintah dan non departemen di pemerintah nasional. Disamping itu pengarusutamaan gender juga merupakan salah satu dari empat key cross cutting issues dalam Propenas. sehingga manfaat pembangunan kurang diterima kaum perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa hak-hak perempuan memperoleh manfaat secara optimal belum terpenuhi sehingga pembangunan nasional belum mencapai hasil yang optimal. Bahkan belum cukup efektif memperkecil kesenjangan yang ada. perempuan kurang dapat berperan aktif. Penduduk wanita yang jumlahnya 49.Negara (GBHN) 1999. pelaksanaan. propinsi maupun di kabupaten/kota. Kenyataannya dalam beberapa aspek pembangunan. Berbagai upaya pembangunan nasional yang selama ini diarahkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.595) penduduk Indonesia (Sensus Penduduk 2000) merupakan sumberdaya pembangunan yang cukup besar. akan memperlambat proses pembangunan atau bahkan perempuan dapat menjadi beban pembangunan itu sendiri.415) dari total (206. Hal ini disebabkan karena kondisi dan posisi yang kurang menguntungkan dibanding laki-laki. 2000 tentang Program Pembangunan NasionalPROPENAS 2000-2004. baik perempuan maupun laki-laki. 25 th. Disadari bahwa keberhasilan pembangunan nasional di Indonesia baik yang dilaksanakan oleh pemerintah. Partisipasi aktif wanita dalam setiap proses pembangunan akan mempercepat tercapainya tujuan pembangunan. Pada pelaksanaannya sampai saat ini peran serta kaum perempuan belum dioptimalkan. aspirasi perempuan pada pembangunan dalam kebijakan. program/proyek dan kegiatan. untuk melakukan penyusunan program dalam perencanaan. .847.264. dan dipertegas dalam Instruksi Presiden No. karena masih belum memanfaatkan kapasitas sumber daya manusia secara penuh. sistem upah yang merugikan. UU No. sebagai salah satu strategi untuk mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender. tingkat kesehatan dan pendidikan yang rendah. Kurang berperannya kaum perempuan. swasta maupun masyarakat sangat tergantung dari peran serta laki-laki dan perempuan sebagai pelaku dan pemanfaat hasil pembangunan. Oleh karena itu program pemberdayaan perempuan telah menjadi agenda bangsa dan memerlukan dukungan semua pihak.9% (102. Seperti peluang dan kesempatan yang terbatas dalam mengakses dan mengontrol sumberdaya pembangunan. ternyata belum dapat memberikan manfaat yang setara bagi perempuan dan laki-laki. 9 tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender (PUG) dalam Pembangunan nasional. pemantauan dan evaluasi dengan mempertimbangkan permasalahan kebutuhan.

kemudian menurun ke peringkat 90 (1998) dan peringkat 92 (1999 dari 146 negara). Berdasarkan Human Development Report 2003. ekonomi dan politik yang diarahkan pada pemerataan pembangunan. 60. Sedangkan Gender related Development Index (GDI) berada pada peringkat ke-88 pada tahun 1995. umumnya lebih mengutamakan laki-laki daripada perempuan (ideology patriarki).595 orang. Tahun 1999 berada pada peringkat 102 dari 162 negara dan tahun 2002. (50. Kondisi ini antara lain disebabkan adanya pandangan dalam masyarakat yang mengutamakan dan . dan arah pembangunan yang responsif gender. 63. kaum perempuan masih tertinggal dibandingkan laki-laki.1% diantaranya laki-laki dan 49. Philippina yang menempati urutan 59. cenderung dipahami parsial kurang kholistik. Thailand. Jumlah laki-laki sedikit lebih banyak dibandingkan perempuan. Philippina yang masing-masing berada pada peringkat 54. Thailand. Kondisi perempuan Indonesia Secara keseluruhan indeks kualitas hidup manusia digambarkan melalui Indeks Pembangunan Manusia/Human Development Index (HDI) yang berada pada peringkat ke-96 pada tahun 1995 yang kemudian menurun ke peringkat 109 pada tahun 1998 dari 174 negara. Kondisi dan posisi perempuan meliputi 3 (tiga) aspek tersebut di atas sebagai berikut: 1.Faktor penyebab kesenjangan gender yaitu Tata nilai sosial budaya masyarakat.264. Pendidikan Di bidang pendidikan. Kemampuan. HDI Indonesia menempati urutan ke-112 dari 175 negara. Peraturan perundang-undangan masih berpihak pada salah satu jenis kelamin dengan kata lain belum mencerminkan kesetaraan gender. legislatif terhadap arti. 70 dan 77. Penafsiran ajaran agama yang kurang komprehensif atau cenderung tekstual kurang kontekstual. kesehatan dan ekonomi. yudikatif. Selain itu rendahnya kualitas perempuan turut mempengaruhi kualitas generasi penerusnya. Rendahnya pemahaman para pengambil keputusan di eksekutif. dibandingkan Negara-negara ASEAN lainnya seperti HDI Malaysia. Indeks pembangunan manusia skala internasional dan nasional dilihat dri tiga aspek yaitu pendidikan.9% perempuan). II. Adanya kesenjangan pada kondisi dan posisi laki-laki dan perempuan menyebabkan perempuan belum dapat menjadi mitra kerja aktif laki-laki dalam mengatasi masalahmasalah sosial. tujuan. Berdasarkan hasil Survey Penduduk 2000 (BPS) diketahui jumlah penduduk Indonesia sebesar 206. kemauan dan kesiapan perempuan sendiri untuk merubah keadaan secara konsisten dan konsekwen. 110 dari 173 negara. mengingat mereka mempunyai peran reproduksi yang sangat berperan dalam mengembangkan sumber daya manusia masa depan. Kemudian pada tahun 2002 pada peringkat 91 dari 144 negara GDI inipun masih tertinggal dibandingkan dengan-negara di ASEAN seperti Malaysia.

Infant Mortality Rate (IMR). Child Mortality Rate (CMR) periode ini juga menunjukkan penurunan. (Sumber: BPS.29% dengan komposisi laki-laki 5. Statistik Kesejahteraan Rakyat 1999-2001). angka harapan hidup (eo) pada periode 19982000 cenderung meningkat.000 (SDKI 1994). Usia harapan hidup (life expectancy rate) perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki. 2. (Sumber: BPS. Berdasarkan estimasi parameter demografi 1998 yang dikeluarkan BPS. Angka buta huruf perempuan 12.8 tahun (1998) menjadi 67. Ketertinggalan perempuan dalam bidang pendidikan tercermin dari presentase perempuan buta huruf (14. dengan kecenderungan meningkat selama tahun 1999-2000.7 tahun berbanding 65. Laki-laki 41.8 sedangkan perempuan 7. dan menurun 307/100.54% tahun 2001) lebih besar dibandingkan laki-laki (6.84%. Sedangkan ditahun 2003 TPAK laki-laki lebih besar dibanding TPAK perempuan . Menurunnya angka kematian anak serta meningkatnya angka harapan hidup dari 64. namun demikian angka kematian anak laki-laki lebih tinggi dibandingkan kematian anak perempuan laki-laki 9. Namun angka buta huruf perempuan tetap lebih besar dari laki-laki. Angka buta huruf perempuan pada kelompok 10 tahun ke atas secara nasional (2002) sebesar 9. Statistik Kesejahteraan Rakyat 1999-2001). kemampuan perempuan memperoleh peluang kerja dan berusaha masih rendah. demikian juga dengan akses terhadap sumber daya ekonomi. selama periode 1998-2000 ada penurunan angka kematian bayi. Dibidang kesehatan. 1998). 3. Statistik Kesejahteraan Rakyat 1999-2002). perempuan 31. Dibidang kesehatan dan status gizi perempuan masih merupakan masalah utama. Estimasi Parameter Demografi.9 tahun (2000). Tetapi pada tahun 2002 terjadi penurunan angka buta huruf yang cukup signifikan. (Sumber: BPS. yaitu 45% (2002) sedangkan laki-laki 75. Kesehatan Menurut Gender Statistics and indicators 2000 (BPS).mendahulukan laki-laki untuk mendapatkan pendidikan daripada perempuan. yang ditunjukkan dengan masih tingginya angka kematian ibu (AKI) 390/100.34%.000 (SDKI 1997).69% (Sumber: BPS. Menurut Satatistik Kesejahteraan Rakyat 2003. (Sumber: BPS.85% dan perempuan 12. Hal ini ditunjukkan dengan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) yang masih jauh lebih rendah dibandingkan laki-laki.000 (SDKI 2002).87%). yaitu 69.28% sedangkan laki-laki 5. khususnya perempuan kepala rumah tangga. (Sumber: BPS. 337/100. Namun angka kematian bayi laki-laki lebih tinggi dibandingkan angka kematian bayi perempuan.9 tahun. Ekonomi Di bidang ekonomi. Sejalan dengan semakin meningkatnya kondisi kesehatan masyarakat. kemajuan di bidang kesehatan ditunjukkan dengan menurunnya angka kematian bayi (dari 49 bayi per 1000 kelahiran pada tahun 1998 menjadi 36 tahun 2000. Statistik Kesejahteraan Rakyat 1999-2001). Statistik Kesejahteraan Rakyat 19992002). angka kematian anak.9. secara umum partisipasi perempuan masih rendah.

005. Jumlah perempuan yang menjabat sebagai Hakim Agung dan Hakim Yustisial Non Struktural di Mahkamah Agung juga menunjukkan penurunan dari 36 pada tahun 1998 menjadi 34 pada tahun 1999. struktur.146).9%. Jumlah peraturan perundang-undangan yang diskrimintaif terhadap perempuan berjumlah kurang lebih 32 buah. dan 28 pada tahun 2002. (Sumber: Statistik dan Indikator Gender Indonesia 2002).yakni 76.1% dari jumlah seluruh PNS (4. laki-laki sebesar 63.4% dari jumlah seluruh PNS (3. IV. lebih rendah dari hasil pemilu 1997 yang berjumlah 11.8%. Sedangkan tahun 2000 terjadi sedikit perubahan dimana jumlah PNS perempuan adalah 37. Pemilu 2004 perempuan hanya terwakili 11%.81%. Faktor Kesenjangan dibidang hukum dan politik Faktor penyebab kesenjangan kondisi dan posisi perempuan dan laki-laki dipengaruhi oleh peraturan perundang-undangan yang bias gender karena dalam bidang hukum masih banyak dijumpai substansi. III.2% dari jumlah pemilih 51%. lakilaki sebesar 62. dan persamaan hak dalam keluarga. relatif tingginya angka kemiskinan dan pengangguran.7% yang menduduki jabatan struktural. (Sumber: Statistik dan Indikator Gender Indonesia 2002-Bab7).8% dari seluruh anggota DPR. Masalah yang sering muncul adalah perdagangan perempuan. antara lain dampak negatif dari proses urbanisasi.6%. Statistik Kesejahteraan Rakya.2% PNS perempuan yang menduduki jabatan struktural. Pada tahun 1999 jumlah PNS perempuan adalah 36. dan dari jumlah tersebut hanya 15. Faktor penyebab kesenjangan gender pada aspek lain misalnya politik sebagai berikut: hasil Pemilu tahun 1999 yang menyertakan 57% pemilih perempuan hanya terwakili 8.12% berbanding 44. Masalah HAM bagi perempuan termasuk isu gender yang menuntut perhatian khusus adalah masalah penindasan dan eksploitasi. BPS. kekerasan.927.861). 2003). (Statitik dan Indikator Gender. sedangkan PNS laki-laki sebesar 84. dan negara. sedangkan PNS laki-laki sebesar 84. serta rendahnya tingkat pendidikan. masyarakat. yang umumnya timbul dari berbagai faktor yang saling terkait. dan dari jumlah tersebut hanya 15. Pengertian Kesetaraan dan Keadilan gender . dan budaya hukum yang diskriminatif gender. dan pelacuran paksa.3%. (BPS. 2000).

subordinasi. Pengertian gender dan seks Gender adalah perbedaan dan fungsi peran sosial yang dikonstruksikan oleh masyarakat. Ketentuan ini berlaku sejak dahulu kala. Gender bukanlah kodrat ataupun ketentuan Tuhan. fungsi. baik terhadap laki-laki maupun perempuan. Oleh karena itu gender berkaitan dengan proses keyakinan bagaimana seharusnya laki-laki dan perempuan berperan dan bertindak sesuai dengan tata nilai yang terstruktur. agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik. Memiliki kontrol berarti memiliki kewenangan penuh untuk mengambil keputusan atas penggunaan dan hasil sumber daya. Dengan keadilan gender berarti tidak ada pembakuan peran. kesempatan berpartisipasi. V. Terwujudnya kesetaran dan keadilan gender ditandai dengan tidak adanya diskriminasi antara perempuan dan laki-laki.Kesetaraan gender berarti kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan serta hak-haknya sebagai manusia. Oleh karena itu tidak dapat ditukar atau diubah. pendidikan dan pertahanan dan keamanan nasional (hankamnas). marginalisasi dan kekerasan terhadap perempuan maupun laki-laki. ekonomi. . Sehingga memperoleh manfaat yang sama dari pembangunan. Keadilan gender adalah suatu proses dan perlakuan adil terhadap perempuan dan lakilaki. serta tanggung jawab laki-laki dan perempuan Sehingga gender belum tentu sama di tempat yang berbeda. Memiliki akses dan partisipasi berarti memiliki peluang atau kesempatan untuk menggunakan sumber daya dan memiliki wewenang untuk mengambil keputusan terhadap cara penggunaan dan hasil sumber daya tersebut. hukum. beban ganda. sosial budaya. dan kontrol atas pembangunan serta memperoleh manfaat yang setara dan adil dari pembangunan. Dengan demikian gender dapat dikatakan pembedaan peran. dan dapat berubah dari waktu ke waktu. sekarang dan berlaku selamanya. Seks/kodrat adalah jenis kelamin yang terdiri dari perempuan dan laki-laki yang telah ditentukan oleh Tuhan. Kesetaraan gender juga meliputi penghapusan diskriminasi dan ketidak adilan struktural. serta kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan tersebut. ketentuan sosial dan budaya ditempat mereka berada. dan dengan demikian mereka memiliki akses. tanggung jawab antara perempuan dan laki-laki yang dibentuk/dikonstruksi oleh sosial budaya dan dapat berubah sesuai perkembangan zaman.

Berbagai pembedaan peran. dan dampak suatu peraturan perundang-undangan maupun kebijakan telah menimbulkan berbagai ketidakadilan karena telah berakar dalam adat. dapat dipertukarkan. Lain halnya dengan seks. Bentuk-bentuk ketidakadilan akibat diskriminasi gender . norma ataupun struktur masyarakat. Selanjutnya Achmad M. budaya setempat. diskriminasi terhadap perempuan kurang menguntungkan dibandingkan laki-laki. melainkan buatan manusia. berlaku dimana saja. peran.Dengan demikian perbedaan gender dan jenis kelamin (seks) adalah Gender: dapat berubah. dan merupakan kodrat atau ciptaan Tuhan. 1998a. beban kerja lebih banyak dan panjang (Ihromi. berlaku sepanjang masa. Manisfestasi ketidakadilan gender tersebut masing-masing tidak bisa dipisah-pisahkan. Permasalah Ketidakadilan Gender Ketertinggalan perempuan mencerminkan masih adanya ketidakadilan dan ketidak setaraan antara laki-laki dan perempuan di Indonesia. seks tidak dapat berubah. bukan merupakan kodrat Tuhan. bukan saja bagi kaum perempuan. VI. ketidak adilan gender termanifestasikan dalam berbagai bentuk ketidakadilan. 1990). kekerasan terhadap perempuan (Prasetyo dan Marzuki. tergantung waktu. Sesungguhnya perbedaan gender dengan pemilahan sifat. ketidak adilan gender adalah suatu sistem dan struktur yang menempatkan laki-laki maupun perempuan sebagai korban dari sistem (Faqih. 33. Hanya saja bila dibandingkan. tidak dapat dipertukarkan. terutama pada perempuan. saling terkait dan berpengaruh secara dialektis (Achmad M. stereotipe/pelabelan negatif sekaligus perlakuan diskriminatif (Bhasin. menyatakan. 1997). Gender masih diartikan oleh masyarakat sebagai perbedaan jenis kelamin. dan posisi tidak menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan. tugas dan tanggung jawab serta kedudukan antara laki-laki dan perempuan baik secara langsung maupun tidak langsung. hal ini dapat terlihat dari gambaran kondisi perempuan di Indonesia. di belahan dunia manapun. hal. Masyarakat belum memahami bahwa gender adalah suatu konstruksi budaya tentang peran fungsi dan tanggung jawab sosial antara laki-laki dan perempuan. menyatakan. 2001). fungsi. Faqih dalam Achmad M. subordinasi. Mosse. Namun pada kenyataannya perbedaan gender telah melahirkan berbagai ketidak adilan. VII. 1997). tetapi juga bagi kaum laki-laki. misalnya marginalisasi. Kondisi demikian mengakibatkan kesenjangan peran sosial dan tanggung jawab sehingga terjadi diskriminasi. terhadap laki-laki dan perempuan. 1996). 1996.

Selain itu perkembangan teknologi telah menyebabkan apa yang semula dikerjakan secara manual oleh perempuan diambil alih oleh mesin yang ummunya dikerjakan oleh tenaga laki-laki. tafsiran ajaran agama maupun dalam aturan birokrasi yang meletakan kaum perempuan sebagai subordinasi dari kaum laki-laki. ♣Banyak pekerjaan yang dianggap sebagai pekerjaan perempuan seperti “guru taman kanak-kanak” atau “sekretaris” dan “perawat”. Di Jawa misalnya revolusi hijau memperkenalkan jenis padi unggul yang panennya menggunakan sabit. Sebagai contoh.1. eksploitasi. banyak pekerja perempuan tersingkir dan menjadi miskin akibat dari program pembangunan seperti internsifikasi pertanian yang hanya memfokuskan petani laki-laki. ♣Usaha konveksi lebih suka menyerap tenaga perempuan. 1996). mesin yang diasumsikan hanya membutuhkan tenaga dan keterampilan laki-laki. menggantikan tangan perempuan dengan alat panen ani-ani. 1997. Sudah sejak dahulu ada pandangan yang menempatkan kedudukan dan peran perempuan lebih rendah dari lakilaki. Marginalisasi perempuan sebagai salah satu bentuk ketidakadilan gender Proses marginalisasi (peminggiran/pemiskinan) yang mengakibatkan kemiskinan. Contoh-contoh marginalisasi: Pemupukan dan ♣pengendalian hama dengan teknologi baru yang dikerjakan laki-laki. banyak terjadi dalam masyarakat terjadi dalam masyarakat di Negara berkembang seperti penggusuran dari kampong halaman. Seperti Program revolusi hijau yang memiskinkan perempuan dari pekerjaan di sawah yang menggunakan ani-ani. Beberapa studi dilakukan untuk membahas bagaimana program pembangunan telah meminggirkan sekaligus memiskinkan perempuan (Shiva. Namun pemiskinan atas perempuan maupun laki yang disebabkan jenis kelamin merupakan salah satu bentuk ketidakadilan yang disebabkan gender. 2. ♣Pemotongan padi dengan peralatan sabit. Kenyataan memperlihatkan bahwa masih ada nilai-nilai masyarakat yang membatasi ruang gerak terutama perempuan dalam kehidupan. ♣Peluang menjadi pembantu rumah tangga lebih banyak perempuan. Sebagai contoh apabila seorang isteri yang hendak mengikuti tugas belajar. Banyak kasus dalam tradisi. Mosse. Subordinasi Subordinasi pada dasarnya adalah keyakinan bahwa salah satu jenis kelamin dianggap lebih penting atau lebih utama dibanding jenis kelamin lainnya. atau hendak berpergian ke luar negeri harus mendapat . Perempuan dipinggirkan dari berbagai jenis kegiatan pertanian dan industri yang lebih memerlukan keterampilan yang biasanya lebih banyak dimiliki laki-laki.

Label kaum perempuan sebagai “ibu rumah tangga” merugikan. Apabila seorang laki-laki marah. pemukulan dan penyiksaan. jika hendak aktif dalam “kegiatan laki-laki” seperti berpolitik. keponakan. baik di dalam rumah tangga sendiri maupun di tempat umum. namun standar nilai tersebut banyak menghakimi dan merugikan perempuan. ada juga di dalam masyarakat itu sendiri. Pelaku kekerasan bermacam-macam.izin suami. yakni terjadi terhadap salah satu jenis kelamin. tatapi kalau suami yang akan pergi tidak perlu izin dari isteri. Berbagai observasi. seperpti pelecehan seksual sehingga secara emosional terusik. dan beberapa dilakukan oleh perempuan. Hal ini tidak hanya terjadi dalam lingkup rumah tangga tetapi juga terjadi di tempat kerja dan masyaraklat. Sehingga bagi mereka yang bekerja. Pelabelan negatif secara umum selalu melahirkan ketidakadilan. Pelaku bisa saja suami/ayah. menunjukkan perempuan mengerjakan hampir 90% dari pekerjaan dalam rumah tangga. muncul dalam bebagai bentuk. anak laki-laki. (perempuan). Hal ini mengakibatkan terjadinya diskriminasi dan berbagai ketidakadilan yang merugikan kaum perempuan. bisnis atau birokrat. 3. Salah satu stereotipe yang berkembang berdasarkan pengertian gender. Beban Ganda Bentuk lain dari diskriminasi dan ketidak adilan gender adalah beban ganda yang harus dilakukan oleh salah satu jenis kalamin tertentu secara berlebihan. Kekerasan Berbagai bentuk tidak kekerasan terhadap perempuan sebagai akibat perbedaan. (breadwinner) mengakibatkan apa saja yang dihasilkan oleh perempuan dianggap sebagai sambilan atau tambahan dan cenderung tidak diperhitungkan. Kata kekerasan merupakan terjemahkan dari violence. majikan. Oleh karena itu kekerasan tidak hanya menyangkut serangan fisik saja seperti perkosaan. paman. tetapi bila perempuan marah atau tersinggung dianggap emosional dan tidak dapat menahan diri. Misalnya pandangan terhadap perempuan yang tugas dan fungsinya hanya melaksanakan pekerjaan yang berkaitan dengan pekerjaan domistik atau kerumahtanggaan. . 5. artinya suatu serangan terhadap fisik maupun integritas mental psikologis seseorang. bahkan di tingkat pemerintah dan negara. ia dianggap tegas. Dalam suatu rumah tangga pada umumnya beberapa jenis kegiatan dilakukan laki-laki. Sementara label laki-laki sebagai pencari nakah utama. tetangga. Standar nilai terhadap perilaku perempuan dan laki-laki berbeda. tetapi juga yang bersifat non fisik. ada yang bersifat individu. sepupu. Pandangan stereotipe Setereotipe dimaksud adalah citra baku tentang individu atau kelompok yang tidak sesuai dengan kenyataan empiris yang ada. mertua. 4.

Secara Nasional antara lain: Adanya ♣UUD 1945 yang sudah empat kali diamandemen tentang♣UU No. PBB (1948) memberi aspirasi bagi gerakan feminis untuk memperjuangkan hak-hak perempuan (all human beings are born free and equal in dignity and rights). the nation.selain bekerja di tempat kerja juga masih harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga. • Pertemuan di Vienna. bangsa. VIII. melalui Keputusan Presiden No. 7 tahun 1984. Indonesia meratifikasi CEDAW. terutama bila bergerak dalam bidang publik. Dirasakan banyak ketimpangan. the community. • 1963. 36 tahun 1990. and the world. Indonesia meratifikasi CRC (Convention Rights of Children). • Konferensi di Nairobi. • Konferensi ICPD. kenyataannya perempuan sebagai sumber daya insani masih mendapat pembedan perlakuan. 1995 merinci 12 keprihatinan terhadap perempuan yang dikenal dengan 12 critical issues. terutama bagi anak-anaknya • Perajut persatuan dan kesatuan hidup masyarakat. toleransi. Women must participate equally with men in the decision making process which help to promote peace at all the levels (Deklarasi Konferensi Mexico. dan negara Perjuangan Kesetaraan laki-laki dan perempuan (internasional) • Deklarasi HAM. 1952 hak politik dan ekonomi perempuan diadopsi PBB. in the family. 25 tahun 2000 Propenas ♣UU No. Cairo 1994 mengagendakan perlindungan terhadap hak reproduksi perempuan dalam pembangunan yang berkelanjutan. 12 tahun 2000 tentang Pemilu . Commission on the Status of Women (1967) memberi aspirasi pada lahirnya PKK. • Konferensi di Beijing. dan negara • Pendidik pertama dan utama bagi generasi penerus keluarga. 1975 menyetujui program WID (Women in Development) sebagai strategi meningkatkan peran wanita. 1975) Kelebihan/potensi perempuan: • Rasa sosial. • Konferensi di Mexico. ikatan kelompok • Jiwa interpreneur (keseimbangan pendapatan-pengeluaran) • Perhatian terhadap pemenuhan kebutuhan dasar keluarga. gerakan global emasipasi masuk dalam agenda PBB (ECOSOC) untuk diakomodasi Negara anggota. bangsa. melalui UU No. Dalam proses pembangunan. meskipun ada juga ketimpangan yang dialami kaum laki-laki di satu sisi. Peran perempuan di domestik dan publik Women have a vital role to play in the promotion of peace in all sphares of life. 1985 setujui pembentukan UNIFEM lembaga PBB untuk perempuan dengan program WAD (Women and Development) 1979 CEDAW-PBB. 1990 menyetujui program GAD (Gender and Development) dengan strategi Pengarustuaamaan Gender.

meskipun masih belum optimal. ini terlihat dari kesempatan kerja perempuan belum membaik. 9♣IInstruksi tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional. pada saat ini masih banyak kebijakan. Berbagai peningkatan pemberdayaan perempuan bisa dilihat dengan meningkatnya kualitas hidup perempuan dari berbagai aspek . kedudukan masih rendah. yang mana belum mempertimbangkan perbedaan pengalaman. juga masih belum mapannya hubungan kemitraan antara pemerintah dengan masyarakat maupun lembaga-lembaga yang memiliki visi pemberdayaan perempuan yaitu dalam tahap-tahap perencanaan. Di lain pihak. program dan kegiatan pembangunan yang belum peka gender. beban kerja masih berat. IX. Untuk meningkatkan status dan kualitas perempuan juga telah diupayakan namun hasilnya masih belum memadai. Penyebabnya antara lain belum adanya kesadaran gender terutama di kalangan para perencana dan pembuat keputusan.Presiden No. aspirasi dan kepentingan antara perempuan dan laki-laki serta belum menetapkan kesetaran dan keadilan gender sebagai sasaran akhir pembangunan. ketidak lengkapan data dan informasi gender yang dipisahkan menurut jenis kelamin (terpilah). dan penyadaran kepada semua pihak untuk mewujudkan kesetaran gender dan perlindungan anak dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Prinsip dasar membangun kesetaran gender di Indonesia • Menghargai pluralistik • Pendekatan sosio-kultural • Peningaktan ekonomi dan kesejahteraan rakyat • Penegakan HAM dan supremasi hukum • Penghapusan kekerasan dan diskriminasi • Penyadaran pilar pembangunan • Pemerintah: sosialisasi dan advokasi • Masyarkat: sensitisasi dan advokasi • Dunia usaha. . penyadaran dan advokasi • Penyatuan persepsi. pemahman. Upaya-upaya dan usaha yang dilakukan pemerintah dalam rangka KKG Upaya mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender sebagai visi Kementerian Pemberdayaan Perempuan RI sebenarnya merupakan bentuk pembaruan pembangunan pemberdayaan perempuan yang selama tiga dasa warsa telah memberikan manfaat yang cukup besar.

yang pelaksanaannya dapat memberikan hasil terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender di segala bidang kehidupan dan pembangunan. 17-18. yudikatif. 2001) Dalam GBHN 1999-2004 menetapkan dua arah kebijakan pemberdayaan perempuan yakni pertama meningkatkan kedudukan dan peranan perempuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara melalui kebijakan nasional yang diemban oleh lembaga yang mampu memperjuangkan terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender. kesempatan dan akses serta kontrol dalam pembangunan.pelaksanaan. Hal ini tidak lain karena masalah struktural utamanya. pemantauan dan evaluasi kebijakan dan program pembangunan Bergesernya proporsi pekerjaan utama perempuan dari pertanian ke ranah industri. Dengan demikian pemberdayaan perempuan dalam rangka mewujudkan KKG merupakan komitmen bangsa Indonesia yang pelaksanaannya menjadi tanggung jawab seluruh pihak eksekutif. tokoh-tokoh agama dan masyarakat secara keseluruhan. serta perolehan manfaat atas hasil pembangunan. Meskipun kemajuan perempuan ini hanya bisa dinikmati pada tataran masyarakat yang sosial ekonominya mapan (menengah ke atas). meningkatnya mobilitas perempuan baik migrasi domestik maupun internasional serta semakin membaiknya peran perempuan di lingkup keluarga. masih sering dijumpai ketimpangan antara laki-laki dan perempuan baik dalam memperoleh peluang. Sebaliknya pada tingkat sosial ekonomi menengah ke bawah. (Zaitunah Subhan. Selain nilai-nilai budaya patriarkhi yang dilegitimasi dengan (atas nama) agama dan sistem sosial yang menempatkan perempuan dan laki-laki dalam kedudukan dan peran yang berbeda dan dibeda-bedakan. hal. masyarakat dan berbangsa serta bernegara merupakan indikator keberhasilan pemberdayaan perempuan khususnya upaya kesetaraan dan keadilan gender mulai dapat dirasakan. pemerintah bertanggung jawab untuk merumuskan kebijakan-kebijakan pemberdayaan perempuan di tingkat nasional maupun daerah. Sesuai dengan dua arahan kebijakan itu. legislatif. Kedua meningkatkan kualitas peran dan kemandirian organisasi perempuan dengan tetap mempertahankan nilai persatuan dan kesatuan serta nilai historis perjuangan perempuan dalam rangka melanjutkan usaha pemberdayaan perempuan serta kesejahteraan keluarga dan masyarakat. .

untuk tahun 2001 (Repeta 2001). Selanjutnya Propenas telah dirumusakan secara lebih rinci setiap tahunnya ke dalam Rencana Pembangunan tahunan (Repeta). maka untuk mewujudkan kesetaran dan keadilan gender harus menjadi komitmen bersama. Program Peningkatan Kesejahteraan dan Perlindungan Anak. Tujuan utama program ini adalah tercapainya perbaikan status kesehatan reproduksi kaum perempuan dan laki-laki melalui kebijakan program kesehatan reproduksi dan kependudukan yang sensitif gender. propinsi. dan kabupaten/kota. Mencakup Program Pengembangan dan Keserasian Kebijakan Pemberdayaan Perempuan. . Selanjutnya dalam Rencana Strategi Kementerian Pemberdayaan Perempuan 2001-2004. • Program Peningkatan Peranserta masyarakat dan penguatan kelembagaan PUG dilakukan dengan melalui: sosialisasi. Dalam rangka mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender melaui program yang peka akan permasalahan gender. Sarana dan Prasarana. • Pengembangan modul sosialisasi/advokasi gender. Propenas 2000-2004 telah melakukan mainstreaming kebijakan dan program pembangunan pemberdayaan perempuan. Program Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan. Kementerian Pemberdayaan Perempuan juga telah melaksanakan program dan langkah konkrit antara lain: • Program Pengembangan dan keserasian kebijakan pemberdayaan perempuan. advokasi. dan pelatihan analisis gender baik di tingkat pusat.Berdasarkan arah kebijakan yang dimandatkan oleh GBHN 1999-2004 untuk butir pemberdayaan perempuan. program yang disusun terdiri dari program dalam rangka pembangunan pemberdayaan perempuan. Program Peningkatan Peran Masyarakat Pemampuan Kelembagaan Pengarusutamaan Gender. Kementerian Pemberdayaan Perempuan telah bekerjasama dengan UNFPA dalam melaksanakan serangkaian kegiatan Mainstreaming Gender Issues in Reproductive Health and Population Policies and Programmes. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan dan UU No. Upaya mengaktualisasikan dan memanifestasikan dan mengakselerasi-kan PUG di sektor strategis. serta serangkaian koordinasi telah dilakukan dalam upaya perbaikan undang-undang yang masih bias gender seperti UU No. Hal ini akan dicapai melalui penguatan kapasitas nasional untuk melakukan pengarusutamaan gender. Program Sumber Daya. peningkatan kesejahteraan dan perlindungan anak dan upaya peningkatan kemampuan. Mengingat produk tersebut merupakan undang-undang. propinsi dan kabupaten/kota. serta melalui aplikasi konsep gender dalam formulasi dan pelaksanaan kebijakan dan program untuk kesehatan reproduksi dan kependudukan. 62 tahun 1958 tentang Kewarganegaraan.

pengambilan keputusan dan aspek lainnya. konsep kesetaraan dan keadilan gender dan jaringan informasi dengan website. XI. kondisi perempuan di bidang ekonomi. dimana perempuan kurang memperoleh akses terhadap pendidikan. dan budaya. Akibat diskriminasi gender yang telah berlaku sejak lama. • Fasilitasi bantuan teknis kepada daerah propinsi. • Pengembanagan Homepage untuk penyediaan data dan informasi program pembangunan pemberdayaan perempuan. dan Problem Base Analysis (PROBA).• Pengembangan alat untuk analisis gender yang digunakan dalam perencanaan program dan dikenal dengan Gender Analysis Pathway (GAP). hankam dan HAM berada pada posisi yang tidak menguntungkan. Kesimpulan Berdasarkan uraian di atas menunjukkan bahwa diskriminasi gender telah melahirkan ketimpangan dalam kehidupan berkeluarga. bermasyarakat. pekerjaan. Kurangnya keikutsertaan perempuan dalam memberikan konstribusi terhadap program pembangunan menyebabkan kesenjangan yang ada terus saja terjadi. X. Kondisi yang tidak menguntungkan ini apabila tidak diatasi. dimana diharapkan perempuan memiliki peranan yang lebih kuat dalam proses pembangunan. • Tersedianya data dan informasi yang terpilah menurut jenis kelamin secara berkala dan berkesinambungan dari propinsi dan kabupaten/kota mengenai pengarusutamaan gender dalam pembangunan daerah. Kondisi ini terkait erat dengan masih kuatnya nilai-nilai tradisional terutama di pedesaan. Saran dan pesan: Pada kesempatan ini dihimbau kepada para kandidat puteri Indonesia yang dibanggakan untuk berperan aktif dalam memajukan posisi dan kondisi perempuan Indonesia dalam . kabupaten dan kota. • Penyusunan Profil Gender untuk 26 propinsi. sosial. berbangsa dan bernegara. maka ketimpangan atau kesenjangan pada kondisi dan posisi perempuan tetap saja akan terjadi. politik. selain itu ketimpangan lebih banyak dialami perempuan dari pada laki-laki. Bahwa status perempuan dalam kehidupan sosial dalam banyak hal masih mengalami diskriminasi haruslah diakui. Keadaan ini menciptakan permasalahan tersendiri dalam upaya pemberdayaan perempuan.

Jakarta. Pesan khusus untuk semua kandidat adalah menjaga jatidiri puteri Indonesia yang bermoral karena kita mempunyai macam-macam agama yang diakui dan ragam budaya yang dapat dijalankan dan dijaga kelestariannya. Sekaligus saya tekankan semoga semua kandidat puteri Indonesia dapat menjunjung tinggi agamanya dan jatidirinya sebagai Bangsa Indonesia yang aman dan damai. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan. baik pada kalangan sendiri. Edisi ke-2. BPS. Dr. misalnya melalui aktifitas peningkatan pengetahuan dan penyebarluasan seluruh informasi sebagaimana telah dipaparkan tersebut di atas. Kementerian Pemberdayaan Perempuan. (Pengantar). masyarakat bangsa dan Negara. Tingkat Nasional. H. Hj. 2003. Bias Gender dalam Pendidikan. MA. 2002. Apa Itu Gender. Panduan Gender dalam Perencanaan Partisipatif. Bias Jender dalam Pemahaman Islam. Sri Suhandjati Sukri (Editor). Bahan Informasi . Pedoman Teknis Perencanaan Pembangunan Berperspektif Gender. Mudahmudahan apa yang telah disampaikan dapat memberi manfaat yang sebesar-besar bagi diri sendiri. BPS. Buku Referensi Pelatihan: Fakta dan Indikator Gender. 1998.segala aspek/bidang pembangunan. Abdul Djamil. Bahan Informasi Pengarusutamaan Gender. JICA dan UNFPA. 4 Propinsi dan 16 Kabupaten/Kota Terpilih. et all. MA. Dra. Deputi Bidang Kesetaraan Gender bekerjasama dengan Bangun Mitra Sejati. 1996. United Nations Developmen Fund for Women. Dr. Buku 2. H. Keadilan dan Kesetaraan Gender untuk BUMN/BUMD dan Perusahaan Swasata. Surakarta. Profil Wanita Indonesia. Julia Cleves Mosse. 2002. 2001. Diterbitkan atas kerjasama RIFKA ANNISA Women’s Crisis Centre dengan Pustaka Pelajar. Kantor Menteri Negara Peranan Wanita. Kantor Menteri Negara Peranan Wanita. serta lingkungan masyarakat luas. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI. Jilid I Penerbit IAIN Walisongo dengan Gama Media. Muhammadiyah University Press. Buku 1. 2002. Nasaruddin Umar. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI. 2002. dalam keluarga. BPS. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI. Modul Pelatihan. Gender dan Pembangunan. 2003. 3 Agustus 2004 Daftar Pustaka: Achmad Muthali’in. 2001. Statistik Kesejahteraan Rakyat. Gender Statistics and Indicators 2000.

UNFPA. planners. 1994. BKKBN. amaryllis t. Hadirnya organisasi seperti Aisyiah. Bunga Rampai “Bahan Pembelajaran Pelatihan Pengarusutamaan Gender dan Program Pembangunan Nasional”. tores and professor rosario s. Jong Java bagian Perempuan. Sumber: Hari Pembebasan Kaum Perempuan<center></center> KALAU kita menyimak catatan sejarah perjalanan Hari Ibu yang setiap tahunnya diperingati pada tanggal 22 Desember. 2002. mereka tidak hanya gigih dalam menyuarakan hak-haknya. Adalah sejarah yang mencatat bahwa dua bulan setelah Sumpah Pemuda dideklarasikan. maka berkumpul sekira 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatra untuk menyelenggarakan kongres pertamanya dengan mengambil lokasi di Yogyakarta. Jong Islamieten Bond bagian Wanita dan Organisasi Wanita Utomo. Kementerian Pemberdayaan Perempuan. Perencanaan erperspektif Gender. Putri Indonesia. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI. Zaitunah Subhan. Bahan Informasi Pengarusutamaan Gender. Buku 4. and implementors.Pengarusutamaan Gender. (developed by dr. sesungguhnya telah tumbuh subur di kalangan tokoh . persisnya pada tanggal 22 Desember 1928. Edidisi ke-2. Dulu. Bagaimana Mengatasi Kesenjangan Gender. Kementerian Pemberdayaan Perempuan. 2003. Edisi ke-2. Ediisi ke-2. Bahan Informasi Gender. Wanita Katolik. muncul kesan bahwa semangat perjuangan kaum perempuan tempo dulu ternyata tidak sedangkal semangat yang sering ditampilkan pada peringatan Hari Ibu saat ini seremonial dan bahkan konsumerisme. Salah satu agenda pokoknya adala menggabungkan organisasi-organisasi perempuan Indonesia dalam sebuah federasi tanpa sama sekali membedakan latar belakang politik. Modul 1: Apa itu Gender? UNIFEM and NCRFW. Gender and Development Making the Bureaucracy gender-responsive. a sourcebook for advocates. dalam membangun Good Governance. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI. Bahan Informasi Pengarusutamaan Gender. tetapi juga berani memikul senjata turun ke medan perang untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini. Peningkatan Kesetaraan dan Keadilan Jender. adalah bukti sejarah bahwa semangat pluralisme (keberbedaan) yang merupakan modal utama untuk membangun persatuan. suku. del rosario with the assistance of professor rosalinda pineda-ofreneo for Unifem and NCRFW). 2002. status sosial dan bahkan agama. Buku 3. Pemantauan dan Penilaian.

bahkan jauh sebelum kemedekaan Indonesia diproklamasikan.wanita sejak dua pertiga abad yang lalu. adalah sejarah pula yang mencatat bahwa dari kongres perempuan Indonesia yang pertama itu berhasil dirumuskan beberapa rekomendasi penting dalam rangka memperjuangkan hak-haknya. adalah beberapa rekomendasi penting yang lahir dari kongres perempuan pertama 75 tahun yang lalu. maka jauh sebelumnya kaum perempuan Indonesia pernah mengungkapkannya pada Kongres PPPI tahun 1930 yang ditandai dengan lahirnya kesepakatan untuk membentuk Perkumpulan Pemberantasan Perdagangan Perempuan dan Anak-anak (P4A). Bahkan jika kita menyimak catatan penting yang dihasilkan oleh kongres perempuan tahun-tahun berikutnya seperti tertuang dalam buku ”Peringatan 30 tahun Kesatuan Pergerakan Perempuan Indonesia 1928-1958”. Tidak keliru kalau momentum yang kini diperingati sebagai Hari Ibu itu hadir sebagai puncak kebangkitan kesadaran kaum perempuan Indonesia dalam rangka menghimpun kekuatan bersama untuk bisa keluar dari berbagai ketertinggalannya. jika saat ini kita. Jangan lupa. Melalui kongres perempuan pertama itu pulalah berhasil dirumuskan beberapa rekomendasi yang berisi tuntutan penerbitan surat kabar sebagai media untuk meyuarakan hak-hak kaum perempuan sampai kepada tuntutan pemberian bantuan khusus bagi perempuan janda dan anak yatim. sesungguhnya merupakan isu yang pernah diagendakan dalam perjuangan kaum perempuan tempo dulu. termasuk di dalamnya kesepakatan penyelenggaraan kongres perempuan tahunan dalam rangka mengisi dan memelihara kelangsungan perjuangannya. sampai tuntutan pemberlakuan syarat-syarat pelaksanaan perceraian yang tidak merugikan hidup kaum perempuan. Sebagai gambaran. bahkan komunitas dunia banyak bicara mengenai masalah perdagangan anak dan kaum perempuan. kita pun akan segera mengetahui bahwa banyak dari isu sentral yang diangkat gerakan perempuan saat ini. Itu semua menunjukkan bahwa jauh sebelum ada lembaga yang sekarang banyak menyuarakan arti pentingnya kesetaraan dan keadilan gender. penolakan tradisi perkawinan anak perempuan di bawah umur termasuk kawin paksa. . Semua itu juga memberi isyarat kepada kita bahwa gerakan kaum perempuan pada saat itu sesungguhnya tidak kalah majunya dibanding dengan perjuangan kaum perempuan saat ini. kaum perempuan Indonesia ternyata telah memiliki kesadaran mengenai arti pentingnya pendidikan dan kesehatan sebagai modal utama untuk bisa keluar dari berbagai ketertinggalannya. Yang tidak kalah pentingnya. dari kongresnya yang pertama itu pula lahir kesepakatan untuk mendirikan badan musyawarah bernama Perikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia (PPPI) dengan misi pokoknya untuk menjalin hubungan di antara semua perhimpunan perempuan. Tuntutan kaum perempuan kepada pemerintah tentang pemberian beasiswa untuk anak perempuan dan sekolah-sekolah perempuan.

Kalau dirinci. diadakan pada suatu waktu. tidak bakal ada persamaan hak antara laki-laki dan perempuan bila tidak ada kemerdekaan. dan belum banjak jang berkehendak akan kenaikan deradjat itu.Bukan hanya itu. kaum perempuan dari kalangan parpol dan ormas berbasis agama Aisyiah dan Wanita Katolik menjadikan perjuangan kemerdekaan sebagai agenda utamanya. 1928). bahwa perdjoangan mengedjar keselamatan nasional bisa djuga lekas berhasil zonder sokongannja kaum ibu. .kita gembira ialah teristimewa djuga oleh karena di kalangan kaum ibu sendiri belum banjak jang mengetahui atau mendjadikan kewajibannja ikut menjeburkan diri di dalam perdjoangan bangsa. di mana masih ada sahadja kaum bapak Indonesia jang mengira. Pada tahun 1930. Kongres PPPI tahun 1930 itu juga telah melahirkan rumusan kerja lebih konkret lagi yang antara lain ditandai dengan lahirnya rekomendasi yang meniscayakan arti pentingnya penyelidikan kondisi kesehatan kaum perempuan dan sebab-sebab terjadinya kematian bayi di pedesaan. Kongres Kaum Ibu. Hal yang sama juga dilakukan pula oleh Wanita Muslimat dari Masyumi.” (Soekarno. sesungguhnya masih begitu banyak kiprah sekaligus sumbangan pemikiran berarti yang telah diberikan kaum perempuan pada saat itu. Bahkan seperti pernah ditulis Gadis Arivia dalam artiakelnya yang berjudul ”Soekarno dan Gerakan Perempuan (2001). Simak cuplikan pidato Soekarno di hadapan peserta kongres pertama kaum perempuan tanggal 22 Desember tahun 1928 waktu itu yang mengisyaratkan besarnya perhatian sekaligus pengakuan tokoh politik terhadap potensi yang dimiliki gerakan kaum perempuan pada saat itu sebagai berikut: ”Berbahagialah kongres kaum ibu. Istri Sedar yang didirikan di Bandung muncul menyatakan diri ingin meningkatkan status perempuan Indonesia melalui perjuangan kemerdekaan. Setelah Jepang menyerah. oleh karena dari pada kaum bapak masih banyak jang kurang pengetahuan akan harganja sokongan kaum ibu itu. Bung Karno punya obsesi yang lebih karena ingin menjadikan gerakan perempuan waktu itu sebagai bagian dari gerakan memperjuangkan kemerdekaan. Gagasan dasarnya. Tersirat dalam cuplikan pidato itu adalah sikapnya yang sangat mendorong kebangkitan kaum perempuan dalam rangka memperjuangkan hak-haknya. kita tidak sahadja gembira hati akan kongres itu oleh karena kaum bapak belum insyaf akan keharusan kenaikan deradjat kaum ibu.. misalnya. Itulah pula awal sejarah yang kemudian mengilhami banyak organisasi perempuan setelah itu terlibat secara langsung dalam perjuangan kemerdekaan. rekomendasi megenai arti pentingnya kampanye berkait dengan segala akibat buruk yang ditimbulkan dari banyak kasus perkawinan usia dini sampai kepada upaya mempelajari hak pilih bagi kaum perempuan yang sekaligus merupakan wujud kesadaran kaum perempuan waktu itu akan arti pentingnya upaya bisa mengakses kekuasaan sebagai media untuk mewujudkan perjuangannya.

karya fiksi yang sedikit ini . masih tinginya angka kematian ibu akibat kehamilan atau melahirkan. Lebih parahnya lagi. kita jadikan momentum Hari Ibu itu sesuai dengan akar historisnya sebagai hari pembebasan kaum perempuan dari berbagai belenggu yang menindasnya. Begitu luhur dan mulia. tidak berlebihan jika Hari Ibu yang setiap tahun diperingati bangsa ini. bahkan berani. Sebaliknya. perempuan Indonesia pun merayakan Hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April setiap tahun. Kian maraknya kasus perdagangan anak dan perempuan. Sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat perempuan di Jakarta menuntut pemerintah dan DPR untuk memprioritaskan hak dan kesejahteraan perempuan (SH. mahasiswi jurusan biologi. apalagi bila dibandingkan dengan negara-negara lain. tahun 1945. masih banyaknya korban kaum perempuan akibat tindakan kekerasan dalam rumah tangga. apalagi penuh hura-hura. sebagian yang lainnya bertugas membantu prajurit yang luka kalau bukan menyiapkan makanan bagi para prajurit yang sedang bertempur dalam rangka memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini. Fak. Bulan ini. jumlah buku sastra Indonesia boleh dibilang sangat sedikit. sepatutnya kita selenggarakan tidak hanya dalam bentuk seremoni yang hampa makna. itulah kesan yang muncul kalau kita menyimak sejarah perjuangan kaum perempuan yang awalnya diilhami oleh penyelenggaraan kongres perempuan pertama pada tanggal 22 Desember tiga perempuan abad yang lalu. Meretas Kekerasan Tersamar<center></center> Hari perempuan sedunia yang jatuh tanggal 8 Maret lalu diperingati dengan cukup provokatif. MIPA Universitas Padjadjaran Bandung. Lalu bagaimana perjuangan perempuan di bidang sastra? Ternyata telah muncul fenomena pemberontakan perempuan dalam sastra yang bisa kita sebut spektakuler. Sumber:Pikiran Rakyat Tren Perjuangan Perempuan dalam Sastra Merangkul Tabu. 9 Maret 2002). Mereka yang tergabung dalam organisasi ini. peminat masalah gender. Selama ini. Wilujeng Hari Ibu!*** Penulis. di Bandung lahir organisasi bernama Lasjkar Wanita Indonesia (Lasjwi) yang dibidani oleh Aruji Kartawinata. Itu pula sebabnya. adalah beberapa saja dari sekian banyak masalah yang harus dijadikan agenda utama perjuangan kaum perempuan Indonesia saat ini dan ke depan. sebagiannya berani mengangkat senjata.Lima belas tahun berikutnya. Esensi kedua hari penting bagi perempuan adalah sama: memperjuangkan hak-hak perempuan di segala bidang.

Cerita tentang perselingkuhan Yasmin dan Saman serta kecintaan Laila pada Sihar membawa tokoh-tokohnya bertualang di negeri Paman Sam. lewat diary tokoh Cok. Mengalir deras di tengah masyarakat yang dilanda proses diseminasi sosial yang semakin cepat. mulai dari mereka yang gemar berburu buku-buku porno stensilan hingga doktor-doktor ilmu sastra yang mejanya penuh dengan naskah-naskah seminar. voyeurism (ngintip). citra. mature dan older (orang bangkotan). Mungkin karena Amerika–lah yang dianggap negeri yang mampu mewakili representasi eksistensi seksual perempuan. Ayu menunjukkan keberanian dalam bercerita tentang eksistensi seks perempuan. Hingga akhirnya muncul Ayu Utami dengan Saman dan Larung-nya serta Dewi Lestari dengan Supernova. Seks menarik justru karena melanggar kenormalan dalam masyarakat tradisional. Lalu apa resep mereka dalam mendobrak kebekuan sastra selama ini? Yang jelas. Tanpa disengaja mereka menolak tegas kultur yang menekan eksistensi seks perempuan timur sekaligus mengejek terma dalam masyarakat komoditas. tahun 1996: ”Cerita ini berawal dari selangkangan teman-temanku sendiri: Yasmin dan Saman. informasi. semata untuk memperoleh keuntungan ekonomi. bahkan abnormal semisal bondage sadomasochis (seks sadis). amateur. Di mana industri seks-nya melimpah.77). Kehadiran buku-buku ini bagai oase bagi masyarakat yang ”kepanasan” oleh etika timur yang kuat tetapi tak berani melawannya secara frontal. khususnya yang bermuatan erotis. Beradaptasi dengan terjadinya proses pelipatgandaan dan penyebaran secara sosial tanda. terutama dalam hal seks. Keduanya mampu menjadi trend dan dibaca oleh kalangan yang kompleks. Membakar Kebekuan Fiksi sastra yang ditulis kedua pengarang perempuan ini mampu membakar kebekuan gerilya sastra sekaligus meruntuhkan tembok pembatas antara sastra pop dan sastra serius. Mereka mampu merepresentasikan seks sebagai eksistensi keperempuanannya. Mereka berani melawan tabu yang selama ini menjadi magma terpendam pada masyarakat yang sarat dengan konvensi-konvensi budaya. mereka meretas fenomena kekerasan tersamar terhadap perempuan. Melalui perlawanan terhadap tabu ini. sampai surveillance sex (dokumentasi seks orang- . di mana tubuh (body).tak banyak yang mempunyai kekuatan untuk menarik perhatian publik. Sebuah negeri yang bisa jadi dianggap sebagai media pelarian ketertekanan seksual sang tokoh pada kultur yang membesarkannya. salah satu kesamaan menonjol dari sisi feminisme kedua novelis perempuan ini adalah keberanian mereka dalam mengemas cinta dan seks dalam bungkus yang benar-benar berbeda. dan benda-benda komoditas. yang membentuk semacam sistem libidonomics yaitu sebuah sistem ekonomi yang mengeksploitasi setiap potensi libido. Laila dan Sihar” (hal. tanda-tanda tubuh (body signs) serta potensi libido di balik tubuh (libidinal value) menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya komoditas. Eksistensi Seks Dalam Larung. bukan sebagai komoditas masyarakat kapitalis semata. bahkan ada jenis komoditi yang menjanjikan seks-seks ilegal.

” Ejekan atas keperawanan yang menjadi momok pengaturan laki-laki terhadap perempuan dilakukan Ayu melalui tokoh Laila meskipun sosok ini mampu melawan gender keperempuanannya.” (hal. Kamu tak punya pilihan selain membiarkan aku menunda orgasmemu atau membiarkan kamu tersiksa tak memperolehnya. cantik. bermoral pancasila. yang selama ini menjadi endapan dalam masyarakat Indonesia yang patriarkal. Itu karena suaminya. Tapi dialah yang paling terlambat mengenal pria secara seksual. 118) . aku sebagai nilai estetis. Misalnya cerita tentang bagaimana Cok melepas keperawanannya.” (hal. Pada masa itu ada rasa bangga bahwa dia memasuki dunia lelaki yang dinamis. Naik gunung. ”Mereka menerima dominasi pria sebagai suatu ide yang total dan murni. Mereka menerimanya sebagai nilai moral. 160) Kerinduan Yasmin kepada Saman lebih karena perasaan superioritasnya terhadap lakilaki ini. kaya. cerdas.orang biasa) Problema-problema seks perempuan. ”…Kamu biarkan aku mengikatmu pada ranjang seperti kelinci percobaan. Lukas lebih tertarik pada eksplorasi posisi fisik daripada eksplorasi relasi psikis seperti yang dikhayalkan Yasmin. Melokalisasinya pada fantasi seksual. 157) Eksistensi seksualitas perempuan Indonesia yang selama ini terkungkung budaya patriarki dilibas habis oleh Ayu Utami. Semasa sekolah dia paling banyak berlatih fisik. ”…tidak semua anak perempuan bisa melakukan itu. senggama. Kamu biarkan aku menyakitimu seperti polisi rahasia mengintrogasi mata-mata yang tertangkap. ”… tapi membiarkan lelaki masturbasi dengan payudara kita bukanlah pengalaman yang menyenangkan kalau terus-terusan. tak pernah mengolah kekejaman pada dirinya meskipun hanya sebatas imajinasi. dan ia merasa ada supremasi pada dirinya. seks yang digambarkan Ayu bukanlah teknik persetubuhan melainkan pemaparan problema yang bisa jadi dialami banyak wanita. dan lain-lain jenis olahraga kelompok yang kebanyakan anggotanya lelaki. setia pada suami—kembali menemukan kebebasan seksualnya bersama Saman. Tokoh Yasmin—yang sempurna. Padahal Yasmin merasa berbeda dengan para perempuan yang mengukuhkan patriarki. berpendidikan. beragama. Hanya saja. Juga. suatu ideal. Aku menerimanya dan melakukan seksualitas terhadapnya. Kamu biarkan jari-jariku bermain-main dengan tubuhmu seperti liliput mengeksplorasi manusia yang terdampar. pecah dalam tingkah laku tokoh-tokoh novel ini. Bagaimana mitos kesucian keperawanan membuat Cok membiarkan sang lelaki bermasturbasi dengan payudaranya. tidur bersisian dengan kawan lelaki dalam tenda dan perjalanan. Lukas. cross country. turun tebing. …Lalu kupikir-pikir. sang bekas frater. kenapa aku harus menderita untuk menjaga selaput daraku sementara pacarku mendapat kenikmatan? …Aku pun melakukannya.” (hal. berkemah. Membuatmu menderita oleh coitus interuptus yang harfiah. menyangkal hal-hal yang lembek.

berdasarkan konstruksi sosial atau ”ideologi” tertentu. Ia hanya ingin menyelamatkan Laila. Ketika kreativitas ekonomi dikuasai dorongan hasrat dan sensualitas. ”ekonomi politik tanda (tubuh)” (political economy of signs) yaitu bagaimana tubuh diproduksi sebagai tanda-tanda di dalam sebuah sistem ekonomi pertandaan (sign system) masyarakat informasi yang membentuk citra. distribusi. Tak pernah terjadi persetubuhan yang sebenarnya.” (hal. Tala bukanlah seorang androgini yang maniak. dan identitas tubuh di dalamnya. Aku tahu kamu belum pernah mengalami orgasme. Lelaki takut padanya. Ekspresi libido seks Laila terhambat. Kerinduan Laila pada Sihar membuatnya mampu melihat faktor lelaki pada diri Tala. Pertama. dilihat dalam berbagai relasi sosial. Peran tokoh Shakuntala (Tala) yang androgini dimunculkan Ayu secara estetis sebagai representasi kebebasan untuk memilih. konsumsi). makna. ”ekonomi politik hasrat” (political economy of desire) yaitu bagaimana sistem ekonomi menjadi sebuah ruang berlangsungnya pelepasan hasrat dari berbagai kungkungan. bisa menjerumuskan mereka dalam jebakan politik tubuh (body politics). Tapi keperawanan Laila yang terjaga —seperti layaknya yang diagungkan budaya Indonesia—justru menjadi problema. sifat-sifat rasionalitas ekonomi dikendalikan sifat-sifat irasionalitas hasrat. …Kupeluk kamu. ”ekonomi politik tubuh” (political economy of the body) yaitu bagaimana tubuh digunakan dalam berbagai kerangka relasi sosial dan ekonomi. Jebakan Politik Tubuh Memang keberanian Ayu Utami dalam Saman dan Larung. Ketertarikan Laila ditanggapi Tala sehingga dalam Larung ini muncul sebuah relasi seksual di mana lelaki benar-benar diabaikan. Hingga akhirnya Laila melupakan Tala sebagai perempuan. yang tercipta adalah . 153) Penggambaran tentang dunia lesbian. Itu sebabnya ia tak bebas ketika telah sama-sama telanjang dengan Sihar. Persoalan politik tubuh berkait dengan eksistensi tubuh dalam kegiatan ekonomi-politik. Kedua. Dalam hal ini Ayu masih mencoba membela kaumnya. dan penyalurannya lewat berbagai kegiatan ekonomi (produksi. Gabungan sosok Saman dan Sihar. juga Dewi Lestari dalam Supernova-nya. Kini tak kubiarkan kamu menemani lelaki itu sebelum kamu mengetahuinya. Ketiga. Dalam ekonomi-politik hasrat. Sebelum kamu mengenali tubuhmu sendiri. yang benar-benar belum bisa diterima kultur Indonesia dilakukan Ayu dengan metafora yang sangat indah. dua lelaki yang dicintai Laila muncul pada diri Tala.Ternyata supremasi itu tidak dapat dibawa tokoh Laila sampai dewasa. ”…Kamu berbaring di sisiku dan kulihat air mengalir dari matamu ke arah rambut. Ia tak bisa masuk ke dalam dunia pria dewasa. Dan aku tak pergi. Keperawanan dinilai sebagai tanggung jawab. Juga ketika bercumbu dengannya. Politik tanda berkaitan dengan eksistensi tubuh (pria atau wanita) yang dieksploitasi sebagai tanda atau komoditas tanda (sign comodity) dalam berbagai media. Aku mengelus di punggung dan mencium di kening. yang terurai dalam tiga terma.

Pengamat Perempuan & Budaya. Pada tanggal yang sama. Liz Riley terlahir lelaki. Bisa jadi ekspresi kebebasan dua perempuan pengarang ini dijadikan media penumpahan keliaran libido laki-laki. Berbagai bentuk khayalan lewat voyeurisme diciptakan. Contohnya. yang dipenuhi berbagai strategi penciptaan ilusi sensualitas. Minoritas yang Terlupakan<center></center> BENARKAH Mbak Dorce Gamalama melawan kodrat? Pertanyaan ini mungkin timbul dalam hati saat membaca wawancara Kompas dengan artis Dorce (Kompas. Contoh lainnya Billy Tipton. Setapak langkah perbaikan telah dimulai dari dunia sastra. Oleh: R. bahkan ia sempat kawin dan memiliki anak. ADA orang yang terlahir lelaki namun sejak kecil merasa dirinya perempuan sehingga mereka hidup layaknya perempuan. Contohnya Brandon Teena. suami dari empat istri. Sebaliknya. aspirasi.Namun. yang dikenal sebagai lelaki ramah. Ekspresi perlawanan terhadap kekerasan tersamar dalam ranah seks perempuan. dalam wawancara dengan Kompas. sebagai cara untuk mendominasi selera (taste). Relawan pada UNICEF Indonesia. yang mengondisikan orang memuja ”citra tubuh”. namun ia selalu merasa dirinya perempuan. apa yang beroperasi di balik aktivitas ekonomi adalah semacam ”teknokrasi sensualitas” (technocracy of sensuality)—di dalamnya nilai-nilai budaya ekonomi ditopengi tanda-tanda sensualitas.sebuah ”budaya ekonomi”. yang menciptakan semacam ”erotisasi kebudayaan”. Yang jelas. Suara Pembaruan Minggu mengetengahkan kisah Liz Riley. seorang ayah yang berubah menjadi ibu. dan keinginan masyarakat dieksploitasinya. Sugiarti. Sumber: Sinar Harapan Transseksual. Bukan untuk menyelami ketertekanan perempuan tapi sebagai media eskapisme erotisme otak mereka. setidaknya mereka berdua telah memulainya dan berhasil menarik perhatian publik. ada juga orang yang terlahir perempuan tetapi merasa dirinya lelaki sehingga mereka hidup sebagai laki-laki. dan ayah bagi . 27/7/2003). Boys Don’t Cry. Sensualitas dijadikan kendaraan ekonomi dalam rangka menciptakan keterpesonaan dan histeria massa (mass hysteria) sebagai cara mempertahankan kedinamisan ekonomi. memang tak gampang meretas kultur yang telah tertanam kuat. musisi jazz Amerika. Akibatnya. yang hidupnya dikisahkan dalam film pemenang Oscar. Mbak Dorce mengungkapkan bahwa ia sejak kecil merasa dirinya perempuan. sehingga akhirnya memutuskan untuk hidup sebagai ibu. justru menjadi perangsang laki-laki untuk membacanya.

Sebagian menduga pengaruh hormon dalam kandungan. MFT berperilaku sebagai perempuan. masyarakat sering menyalahkan. semata-mata tergantung dari perasaan orang bersangkutan dan tidak selalu sejalan dengan penilaian orang. kini disadari bahwa sex identity lebih kuat daripada kelamin fisik. kekurangan testosteron pada janin dengan kelamin . dalam Gender: An Ethnomethodological Approach (1978). sekalipun berperilaku kelaki-lakian. berupa alat reproduksi. karena seseorang yang tomboi. identitas jenis kelamin adalah perasaan mendalam atau keyakinan dalam batin seseorang yang membuatnya merasa sebagai lelaki atau perempuan. masih tetap merasa perempuan). yaitu identitas jenis kelamin (sex identity) atau identitas jender. Brandon Teena dan Billy Tipton disebut female-to-male transsexual (FMT). Masalahnya. Sex identity. Sebaliknya. Namun. Karena itulah. termasuk kejutan listrik. MFT bertubuh lelaki tetapi merasa dirinya perempuan. sering dianggap satu-satunya penentu perilaku jenis seseorang. yang ditemukan pada tahun 1972 oleh Money dan Erhardt setelah meneliti ratusan individu. Mayoritas warga memiliki sex identity sesuai dengan jenis kelamin fisiknya. transseksual memiliki sex identity berbeda dari seks fisiknya. Menurut Kessler dan McKeena. pakar sekalipun. yaitu transseksual dari lelaki ke perempuan. Jadi. Namun. Namun. Misalnya. Sebaliknya. Ada yang disebut male-to-female transsexual (MFT). namun biasanya mulai disadari dengan kuat menjelang remaja. Padahal. petugas jenazah mendapati ia memiliki alat genital wanita. Hakikat transseksual Selama ini alat kelamin fisik. FMT bertubuh perempuan namun merasa dirinya lelaki (bukan sekadar tomboi. ketika ia meninggal. Dengan kata lain. para pakar menganggap transseksual merupakan orang abnormal yang perlu disembuhkan dengan aneka terapi. melainkan perubahan fisik. mengapa orang yang terlahir laki-laki sampai merasa dan berperilaku sebagai perempuan dan sebaliknya pada FMT. Jenis kelamin jiwa merupakan variabel mandiri terhadap seks fisik. yaitu transseksual dari perempuan ke lelaki. Mereka merupakan contoh kaum transseksual. masih ada variabel lain. yang dapat disebut jenis kelamin jiwa. Sebelum sex identity ditemukan.sejumlah anak. yang lebih banyak terjadi bukan perubahan perilaku. jika seorang transseksual diminta menyelaraskan perilaku dengan bentuk fisiknya. artinya dapat sejalan atau bertolak belakang dengan kelamin fisik. Karena itu. Penyebab transseksual belum dapat ditentukan secara pasti. identitas jenis kelamin adalah keyakinan mendalam pada seseorang tentang apakah dia itu pria atau wanita. Jenis kelamin jiwa mulai tertanam pada usia dua tahun.

Sebaliknya. sebagian besar transseksual masih belum diterima lingkungannya. seperti berdandan terlalu mencolok. "Apakah gunanya seseorang mendapatkan seluruh dunia tetapi kehilangan dirinya sendiri?" Banyak orang mengamini sabda tersebut. ia akan hidup dalam tekanan batin yang luar biasa dan tiada hentinya. perbedaan ini tidak dijadikan dasar untuk meminggirkan atau mendiskriminasikan mereka. Namun. maupun masyarakat. politisi Australia. Di lain pihak. bahkan oleh keluarganya sendiri. baik keluarga. sejauh yang bersangkutan tidak melakukan hal-hal yang merugikan orang lain. banyak transseksual belum dapat merasakan apa makna kemerdekaan itu sesungguhnya. menunggu kapan sinar terang akan muncul pada akhir lorong tersebut. sekolah. akan berpura-pura menjadi "lelaki biasa". kecenderungan mencari pasangan. kaum transseksual perlu menghindari perilaku yang menimbulkan citra negatif. yang memiliki jati diri perempuan. Kaum transseksual hanyalah orang yang berbeda. Variabel yang juga menentukan perilaku adalah orientasi seks. Pada pilihan kedua. memperlihatkan obsesi berlebihan terhadap . Lorong kegelapan? Seorang bijak pernah mengatakan. karena mendapatkan dunia tetapi kehilangan dirinya sendiri. yaitu terbuang dari lingkungannya atau berpura-pura menutupi jati dirinya. sebagaimana masyarakat juga tidak boleh mendiskriminasi orang yang berbeda warna kulit. diri sendiri itu adalah jati dirinya sesuai dengan sex identity yang dimiliki. sekalipun berbeda. Selagi mayoritas warga bangsanya mensyukuri nikmatnya hidup di alam kemerdekaan. Namun. yaitu pada identitas seksualnya. kelebihan testosteron pada janin dengan kelamin fisik perempuan dapat menyebabkannya memiliki seks jiwa lelaki. yang terlahir sebagai lelaki tetapi memiliki sex identity perempuan. Jutaan transseksual hidup dalam lorong kegelapan. keyakinan. Setiap orang. transseksual tertarik terhadap lawan jenis sehingga mirip warga masyarakat umumnya. Masyarakat demokratis mensyaratkan asas pluralisme dan egalitarianisme. mendapat perlakuan sederajat. transseksual yang terpaksa menutupi atau mengingkari jati dirinya bisa saja kelihatan sukses. Julie mengaku tetap tertarik kepada perempuan. agar diterima lingkungannya. Contohnya Julie Peters. Para transseksual ini terpaksa memilih satu di antara dua pilihan yang sama pahitnya. Namun. ada juga transseksual yang tertarik kepada kaum sejenis. Seyogianya. Sungguh beruntung jika seorang transseksual diterima lingkungannya.fisik lelaki dapat menyebabkannya memiliki kelamin jiwa perempuan. Namun. sebab sebenarnya masih merupakan misteri. Setelah usia 40 tahun Julie memutuskan menjalani operasi dan menjadi perempuan. Namun. tetapi dari hari ke hari ia hidup dalam kehampaan. Umumnya. pekerjaan. tetapi tidak mau menerima bahwa bagi transseksual. atau status sosialnya. Dengan demikian. seorang MFT.

ketika perempuan yang dihujat. tahun 2000). masyarakat dapat menerima dengan wajar kaum transseksual. seperti telah diperlihatkan Mbak Dorce dan mendiang Billy Tipton. termasuk juga bagi perempuan yang secara biologis belum menyandang predikat ibu. Di tengah perdebatan apakah nama Hari Ibu bisa mewakili kepentingan semua perempuan. Media massa yang mengeksploitasi peristiwa tersebut rasanya telah memojokkan perempuan. Sebagai akibatnya.lelaki. Dengan menarik perhatian publik untuk lebih memperhatikan cerita-cerita yang dibangun media yang lebih mengutamakan cerita kehidupan perempuan pelaku aborsi. sesuai jati diri yang mereka miliki. Negeri ini sedang dilanda krisis multidimensi dan untuk mengatasinya diperlukan kerja sama seluruh komponen bangsa. klinik-klinik aborsi ilegal. maka laki-lakilah yang menjadi penghujatnya. Dan biasanya. Bambang Suwarno Aktivis Perempuan dan Relasi Jender. sehingga dari lima artikel yang disoroti dalam tulisan ini. menyatakan pemahaman terhadap kaum transseksual akan bermanfaat besar untuk memahami konsep jender secara lebih komprehensif. di antaranya lewat prestasi. Semoga seiring dengan meningkatnya pemahaman. hanya satu yang ditulis oleh perempuan. Tinggal di Bengkulu Sumber Kompas Cyber Media Perempuan dan Media Massa (1) <center></center> Catatan kecil ini ingin ikut serta merayakan Hari Ibu 22 Desember 2003. Prof Vern Bullough dari California State University. Special Issue. dan bahkan yang tidak relevan sama sekali seperti cerita tentang siapa yang menemukan mayat bayi-bayi malang tersebut. dalam "Transgenderism and the Concept of Gender" (International Journal of Transgenderism. Artikel mengenai buruknya perilaku perempuan yang adalah calon ibu marak di koran-koran baik nasional maupun lokal. Hari Ibu 1997 telah “dicemari” dengan ditemukannya banyak mayat calon bayi akibat aborsi ilegal. hal yang sangat diperlukan guna membangun masyarakat dunia yang lebih manusiawi. dengan mengambil kasus lama yang terjadi di tahun 1997. baik yang telah operasi maupun belum. Penting sekali agar para transseksual dapat membangun citra yang positif. dan menjadi pekerja seks komersial. agar mereka dapat berdarma bakti secara optimal. tulisan ini justru ingin memperbincangkan konstruksi makna ibu dalam media massa kita. hujatan panjang di media massa pun diarahkan kepada perempuan. Lebih dari itu. dan bukannya mempertanyakan siapa laki-laki yang bertanggung jawab atas keberadaan calon bayi .

Apakah ini karena media massa masih belum kuat betul atau cukup dewasa untuk membebaskan dirinya dari pelukan “diskriminasi gender” yang tiada akhir?(4) Atau memang karena mereka sendiri pada dasarnya bersifat diskriminatif terhadap perempuan? Jika kita menilik figur angka pelaku media massa. maupun dikorbankan? Tentu saja ada banyak alasan bagi perempuan untuk melakukan aborsi. Yang pasti. di sisi lain masih juga menjalankan praktek-praktek obsolit. misalnya mempertanyakan penolakan perempuan untuk menjadi ibu sementara predikat tersebut masih dianggap sakral. bagaimana perempuan seharusnya bereaksi? Bagi mereka yang memilih untuk tidak menjadi ibu dengan cara tersebut mungkin akan merasa malu karena perbuatannya sudah dipublikasi. sebagai agen dari propaganda adil gender. Apakah catatan ini sudah demikian prejudis mencurigai adanya konspirasi antara laki-laki dan media massa? Jika dilihat dari perilaku media. mana ada media yang juga tidak bergender?(2). kabar menghebohkan dari Jakarta soal keberanian sejumlah wanita yang menolak menjadi ibu manusia melalui cara-cara yang menyinggung perasaan sosial … apakah sebutan “ibu” tidak lagi sesakral dan seterhormat yang kita ketahui sehingga mesti ditolak?”(3) Membaca kalimat tersebut. sebagian mungkin merasa bebas untuk memilih melakukannya sedangkan yang lain mungkin tidak punya pilihan lain. ada suatu pembagian yang sangat tidak seimbang antara perempuan dan laki-laki. jika media massa di satu sisi mempromosikan nilai-nilai “kesejajaran” antara laki-laki dan perempuan. “Kendati bukan perilaku baru. bahkan dikatakan sebagai senjata kelompok marginal untuk mendapatkan posisinya. Salah satu dari artikel yang menjadi sorotan dalam catatan ini. Di satu sisi. media telah dengan sewena-wena membela kepentingan laki-laki. tetapi juga kewajiban perempuan untuk menjaga nilai-nilai moral yang dianut lingkungan sosialnya. Apakah sebagian yang lain yang menilai sucinya posisi ibu akan tersentuh dengan kenyataan bahwa secara biologis sebenarnya mereka mampu menghadirkan sebuah kehidupan baru tetapi lebih memilih untuk tidak melakukannya? Apakah yang lain akan merasa diobjektifikasi.tersebut. Belum tentu jurnalis perempuan sudah memiliki perspektif gender dalam menurunkan tulisan dan menilai permasalah sosial yang dihadapinya. Karena kita hidup dalam budaya yang tidak memungkinkan kita untuk “bergender netral” seperti yang dikatakan oleh feminist Perancis Susan Bordo dalam artikelnya “Feminism.(5) Ketimpangan jumlah antara jurnalis perempuan dan laki-laki tentu tidak dengan sendirinya menjawab pertanyaan kenapa media kita begitu seksis. media massa memberikan aplaus . Ironisnya. Postmodernism. dituduh. memilih untuk menjadi atau menolak menjadi ibu tidak hanya berurusan dengan fungsi biologis perempuan saja. and Gender Skepticism” (1990). rasanya tidak berlebihan untuk meragukan sifat pembebasan media yang selama ini didengung-dengungkan.

tentu saja didukung oleh institusi yang bernama negara. Gagasan bahwa rumah tangga adalah urusan perempuan. Lalu kembali lagi peran rumah tangga ditekankan. betapapun dikotomi publik-domestik masih bisa diperdebatkan. mengaku memiliki hak untuk menentukan apa yang harus dilakukan atau tidak seharusnya dilakukan oleh perempuan. media massa. Dalam mengenangkan kasus Marsinah. walaupun kedengaran tidak sesuai dengan slogan kesejajaran. terutama “kaum perempuan” dan “kaum buruh” . Tarik ulur antara meraih dunia publik dan mempertahankan dunia domestik. bisa jadi membingungkan perempuan dalam menentukan posisi mereka. Secara sinis (atau karena cemburu?) dan dihantui oleh kontra-hegemoni kultural dan material yang dimiliki perempuan."(10) Karakterisitik media massa yang manipulatif seringkali juga merugikan perempuan jika kasus-kasus yang diangkat melibatkan perempuan. Dalam hal ini. bahkan membanting nilai kemanusiaan mereka di bawah nilainilai produksi dan pasar. media massa telah menjadi tidak lebih sekedar perpanjangan penindasan laki-laki terhadap perempuan. masyarakat. Seringkali media massa menulis bahwa partisipasi perempuan di dunia publik hanyalah bukti kejahatan kapitalisme yang mendehumanisasi mereka.pada slogan “peran ganda perempuan modern”. tetapi lebih merupakan transformasi yang muncul karena keterlibatan semua faktor ini yang terus direproduksi karena telah terbukti menguntungkan sebagian pihak yang kebetulan semakin berkuasa.” (6) Secara arogan. karena pembagian posisi peran lakilaki dan perempuan yang jelas dan tertib bisa mendukung suksesnya program-program pemerintah.(7) Namun.(8) Hal ini tentu bukan hanya hasil patrimoni dari imperialisme dan kolonialisme. tentu saja dengan menggunakan perspektif media massa yang maskulin. karena reproduksi pola yang terus menerus. untuk tetap tinggal “terdomestikasi” dengan meragukan kemampuan mereka untuk berkarya di dunia publik. media menganggap bahwa keberhasilan perempuan di ranah publik tidak lebih sekedar cerita sukses negara untuk mengeksploitasi mereka dalam mendorong pembangunan nasional. (9) Pada saat media massa menghujat peran perempuan bekerja. tahun 1993. Apakah mereka harus kehilangan hak-hak istimewa (privilege) yang sudah terlegitimasi hanya untuk satu posisi yang tidak jelas jika mereka harus memasuki dunia asing yang dinamakan ranah publik? “Peradaban milenium ketiga hanya bisa berharap agar kaum wanita memilih untuk tidak gagal menjadi ibu anak-anak zaman. semakin mempertajam segregasi ranah publik-domestik. sebagai “lawan jenisnya”. di sisi lain mereka menuntut perempuan. “… kesempatan pun tidak banyak buat wanita untuk berperan di luar rumah. bukankah diskriminasi gender sudah ada bahkan sebelum era modernisme? Model produksi kapitalisme bukankah “hanya” memanfaatkan ketimpangan gender itu yang kemudian. mereka memuja-muja peran ibu sebagai faktor penentu dari masa depan bangsa dengan mempersiapkan keturunan mereka dalam menghadapi era tinggal landas.

Siapakah yang memenangkan kontes ini? Nampaknya justru media massa. Tidak terelakkan juga analisa politik bahwa pembunuhan Marsinah ini adalah panggung cerita konflik antara laki-laki yang direpresentasikan oleh orang-orang yang berkuasa sebagai “pembunuh” dan perempuan diwakilkan oleh Marsinah sebagai “terbunuh”. mencampuri kehidupan keluarganya. Mereka telah membawa nama Marsinah ke posisi terpopuler dan paling banyak dibicarakan hanya setelah kematiannya. apakah mau secara naive terbawa arus dan mempertahankan “hegemoni kultural” yang terus-menerus dan mendapatkan penghormatan sebagai “ratu rumah tangga”. Kita mungkin tidak pernah tahu apakah sikap kritis Marsinah adalah perwujudan dari kesadaran politisnya atau hanyalah pertahanan dirinya menghadapi kesulitan hidup sehari-hari. Sayangnya. atau juri. bagaimana jika Marsinah bukan seorang perempuan melainkan laki-laki? Bukan Marsinah tetapi Marsono? Apa yang sebetulnya menarik perhatian media massa tentang skandal ini? Apakah pembunuhannya. Media massa menggunakan “kematiannya” dan bukannya kehidupannya yang singkat sebagai bahan berita. atau sebaliknya bersikap radikal manghadapi ketidakadilan ini dan dengan sadar menerima label “pemberontak”. Akhir cerita berubah menjadi kabur dan hanya media massa yang sadar akan substitusi antara apakah yang sesungguhnya (real) dan reproduksi dari yang sesungguhnya (hyper-real). Dalam ketimpangan relasi gender inilah. apa yang terjadi jika Marsinah tidak terbunuh? Atau pertanyaan yang lebih seksis.(12) Secara tidak sadar hal ini mempertahankan “ketergantungan terwariskan” pada perempuan terhadap laki-laki. meminta-minta pengakuan dari laki-laki. karena siapa dia sebelum kematiannya bukanlah “berita yang pantas dipublikasikan”. Ketika cerita-cerita tentang buruh perempuan menampilkan nama-nama lain. media massa-lah yang melahirkan “reproduksi” dari sosok Marsinah. peserta kontes yang tidak terdaftar. konflik kelas. pacar. Dengan malu-malu mereka mempertontonkan pencapaian mereka dan menentukan sendiri standar keberhasilannya. perempuan ditantang untuk menentukan posisinya. Namun penulis berpikir. berterimakasih kepada media massa karena mereka telah secara terus menerus melaporkan kasus tersebut dan menarik perhatian internasional terhadap stigma tersebut. Alhasil media massa telah menciptakan skenario mereka sendiri tentang perang gender yang tidak pernah berakhir. atau karena kecurigaan adanya praktek-praktek kekuatan politik di belakang pembunuhan ini? Media massa telah mengeksploitasi seluruh kehidupan masa lampau Marsinah. dan meramu serta menyajikan semua ini dengan terminologi-terminologi politik yang susah dipahami. apakah isu gendernya. dan pada akhirnya meminta penghargaan dalam bentuk fasilitas untuk menstimulasi keberhasilan yang lebih baik lagi. Reproduksi berita-berita dan spekulasi media massa yang ditampilkan secara berulang-ulang telah menghasilkan versi-versi yang semakin fantastis. teman-teman. tetangga. perempuan seringkali menjadi kikuk dan rapuh menghadapi semua tantangan ini. yang mempunyai kekuasaan untuk membentuk bagaimana cerita harus berakhir.(workers and women)(11). .

Apalagi di era reformasi sekarang ini. apapun yang mereka lakukan. apakah mungkin “pesannya” menjadi lebih adil terhadap perempuan? Dan satu lagi. Perwujudan dari rasa terima kasih itu bisa berupa pemberian kesempatan untuk berkarya cipta seperti kaum pria. tidak hanya pengalaman yang sama melainkan juga yang berbeda-beda dan personal. mulai dari kasus TKW sampai dengan pornografi. Namun. dan kecenderungan media massa untuk menampilkannya dalam berita dengan bahasa-bahasa dan analisa yang melecehkan dan tidak berpihak pada perempuan. Sebab. melahirkan. justru pembagian “ruang” inilah satu-satunya gagasan yang masih susah untuk diserahkan oleh laki-laki. semoga saja ada lebih banyak suara yang mendukung. jika isu yang sama muncul kembali. atau setidaknya empati terhadap perempuan. “Ruang” dimana mereka bisa belajar memahami pengalaman mereka. Namun demikian. yaitu jika “medianya” saja sudah tidak sensitif gender. Hanya melalui kesadaran inilah. Belanda Catatan Belakang (1)Dua koran lokal yang dibahas dalam tulisan ini mengacu pada isu-isu nasional . Harapannya adalah. sebagai penerus aspirasi masyarakat. enam tahun sejak kasus aborsi masal tersebut meledak. perempuan mampu untuk membebaskan diri mereka dari “alienasi” terhadap tubuh dan kehidupannya sendiri. tidak tanpa dominasi. adalah saat yang paling baik untuk berterima kasih atas jasa-jasa ibu dalam melaksanakan tugas kodraatinya. dimana media massa mempunyai akses bebas terhadap sumber-sumber berita dan kebebasan mengemukakan gagasannya. kasus aborsi tidak bisa dipisahkan juga dari perilaku laki-laki. Sama susahnya untuk merelakan 30% posisi calon legislatif pada perempuan.“Memperingati hari yang sering disebut hari permuliaan kaum ibu ini. dewasa dan berpikir lebih rasional dengan kesadaran mereka sendiri. menyusui. yakni hamil. sedang menyelesaikan studi di Universitas Leiden. melainkan “ruang” yang dapat membantu perempuan menjadi tumbuh. jika tidak diskriminatif gender sebetulnya adalah alat yang bisa diandalkan bagi perempuan untuk menyuarakan kepentingan mereka.” (13) Bukanlah pernghargaan maupun pengakuan yang seharusnya diminta perempuan. dengan melihat begitu banyaknya kejadian yang menimpa perempuan sepanjang tahun ini saja. dan bukan hanya yang telah dan bersedia menjadi ibu saja? Wiwik Sushartami adalah Pemerhati masalah gender dan media.(14) Media massa. semoga tulisan ini tidak terlalu skeptis dan pesimis dengan menanyakan satu pertanyaan akhir yang belum juga terjawab. bukankah Hari Ibu intinya memperingati semua perempuan.

paper yang disampaikan dalam International Conference on Women in the Asia-Pacific Region: Person. dalam Feminism/Postmodernism. NUS. yang sudah seratus tahun lebih usianya saja sampai tahun 1990an masih menganut sistem gender yang timpang. (ibid. dan tidak mencoba memaknai ulang nilai-nilai femininitasnya sesuai dengan nilai-nilai .: 104) (6) P. “Anak Tekhnologi Mencari Ibu”. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset. and Politics. Linda J. hal.. hal. 4 (8) Michael Barrett dalam Josephine Donovan. hal. Postmodernism. 23 December 1997. “Feminism. Kedaulatan Rakyat. “Perempuan Dalam Strategi Pengembangan Sumber Daya Manusia”. 4 (11) Marsinah berumur 23 tahun ketika dibunuh. (12) Katharina Graham mencatat beberapa kesalahan tipikal yang dibuat oleh perempuan. “Kembalikan Peran Wanita Sebagai Ibu Rumah Tangga”. Revealing Women: Gendered Icons of Labor in Indonesia. Dalam “Wartawati Herstory”.6% jurnalis perempuan di Indonesia pada tahun 1994 menurut Serikat Jurnalis Indonesia. Feminist Theory: The Intellectual Traditions of American Feminism. yaitu meminta perlakukan khusus untuk perempuan. Concealing Politics.Weix. Chapman & Hall. Kedaulatan Rakyat. Jadi masuk akal juga jika jurnalisme Pancasila yang kita punyai juga masih kental dengan bias gender. 4 (7) Achmad Zaini Abar. “Otak dan Watak Terdidik Ibu Manusia”. Bonnie Kertaredja.sehingga bisa menggambarkan juga suasana nasional.G.). Power.1990) (3)Mutrafin. (New York: the Continuum Publishing Company. 19 December 1997.76. (5) Secara keseluruhan hanya ada 8. (London: Routledge. 23 December 1997. hal 105. Dia bekerja di pabrik komponen jam tangan di Jawa Timur dan dibunuh setelah keterlibatannya dalam protes menuntut pembayaran tambahan. 1997). 22 December 1997. Irwan Abdullah (Ed). Bernas. Inc. (2) Susan Bordo. Lihat Weix. (9) Maila Stivens dalam G. 11-13 Agustus 1997 (10) Abdul Munir Mulkham. 1997). hal 4 (4)Omi Intan Naomi menuliskan bahkan jurnalisme Amerika. Kedaulatan Rakyat. hal. menentukan sendiri standar kesuksesan mereka yang lebih sering tidak sesuai dengan standar laki-laki. Nicholson (Ed. and Gender Skepticism”. Sangkan Paran Gender.

melainkan tersebar di seluruh masyarakat . Bagaimana menganalisa masalah ini? Sebagaimana Sara Mills. Melihat Kembali Gereget Peringatan Hari Ibu. Membongkar Stereotipe<center></center> Publik kini bebas memilih dan menikmati tayangan ataupun bacaan di berbagai media. Tiga yang lainnya adalah relasi langsung antara perempuan dan akses produksi. Lihat. 4 (14) “Alienasi” dan “gagasan tentang praksis” adalah dua dari lima fokus utama dalam feminisme sosialis kontemporer. rambut lurus hitam adalah nilai yang disampaikan penonton bahwa rambut seperti demikian yang ideal bagi perempuan. Bahwa kekuasaan tidak bertumpu pada satu titik sentral termasuk tidak hanya pada pihak-pihak yang dominan. adalah iklan kosmetik dan minyak goreng.hal. Namun dibalik itu. hubungan antara perempuan dan kelas.maskulinitas. adalah salah satu filsuf postmodernis yang menawarkan analisis tentang motif-motif tertentu pada suatu media atau teks. Foucault mengatakannya sebagai “produksi kekuasaan”. dan peran keluarga dalam sosialisasi ideologi.22 December 1997. Menyaksikan iklan shampo. titik perhatian utama saya adalah pada wacana feminisme. Sumber: Jurnal Perempuan Online Membangun Resistensi. hal. Sebagai contoh yang paling mudah. 76. kita lupa dengan terjadinya “penyeragaman” dalam tayangan ataupun bacaan itu sendiri yang berakibat pada memaksa penonton untuk mengikuti apa yang si pembuat media inginkan. Bernas. Lihat Naomi. Semua ini tentu tidak lepas dari motif-motif politik-ideologis tertentu dibalik penyajian tersebut. 125. Kebebasan ini bagaikan sebuah representasi hak otonom publik untuk memilih bentuk sajian media yang mereka sukai. (13) Widyastuti Purbani. Alasannya. Produksi Kekuasaan Michel Foucault. Donovan. seperti halnya pendapat Eriyanto (2001) banyak tayangan ataupun bacaan di media yang melibatkan perempuan dan yang terbanyak tentu saja adalah tayangan iklan. Contoh sederhana adalah tayangan iklan. hal. Iklan yang ditayangkan terus menerus berpotensi menggiring penonton untuk “harus” mengikuti standar-standar nilai yang disematkan. Iklan kosmetik mengiklankan tentang kulit putih mulus dan tubuh langsing ideal perempuan. Iklan tentang minyak goreng adalah contoh lain tentang nilai-nilai domestifikasi perempuan sebagai pihak yang harus bertanggungjawab atas segala kesehatan suaminya.

atau pejabat. digiring untuk menjadi ramping.”Lost the weight. Wacana yang dihembuskan ini secara perlahan-lahan menciptakan kategorisasi. Atau pada iklan minyak goreng. seperti perilaku baik atau buruk yang sebenarnya mengendalikan perilaku masyarakat yang pada akhirnya dianggap kebenaran yang telah ditetapkan. bertuliskan “Yes! Turunkan berat badan anda hingga 5 kg perminggu!” Katakata itu menunjukkan bahwa menjadi kurus adalah kegembiraan dan kepuasan. iklan Pond’s yang pernah ditayangkan di media televisi jelas menunjukkan bahwa kulit putih lebih baik daripada berkulit gelap. melainkan melalui normalisasi yang positif dan produktif. “rambut lurus hitam panjang”. “kulit putih”. Mengetahui hal itu. presiden. yang satu berkulit gelap. diciptakan. boss. yaitu perempuan cantik adalah yang berkulit putih dan lelaki normal adalah yang menyukai perempuan berkulit putih. Jelas sekali adanya domestifikasi . Disini tengah berlangsung bergulirnya strategi kuasa yang diproduksi terus menerus. Kuasa bukanlah milik raja. tetapi dalam bentuk strategi. individu didefinisikan. bukan tubuh fisik lagi yang disentuh kuasa. salah satunya yaitu untuk mencapai target penjualan produk (Eriyanto. Sebagai contoh. adalah salah satu tayangan media yang menyebarkan kuasa (strategi) tentang normalisasi tubuh perempuan. terdapat kata-kata. yang mencuat terus menerus sehingga secara tidak sadar masyarakat menganggap tubuh perempuan yang ideal dan normal adalah. bahwa tubuh ideal perempuan seperti pada perempuan yang menjadi model iklan Tropicana Slim. melainkan menormalkan individu agar perilakunya sesuai dengan yang diinginkan si pembuat iklan. 2001). Melalui iklan. Iklan yang membenarkan “kulit putih lebih cantik daripada kulit hitam” tidak dibentuk dengan reproduksi kekuasaan represif. Iklan. Dalam iklan tersebut ditampilkan seorang fotografer mengambil ancang-ancang membidik dua gadis kembar.”jangan-jangan kolesterol suamiku tinggi karena aku salah pilih minyak goreng”. yaitu melalui wacana. dibentuk. Fotografer si lelaki tampan itu memilih membidik kameranya kepada si gadis yang berkulit putih. melainkan melalui reproduksi kreatif. langsing. kesadaran dan kehendak individu. gadis berkulit lebih gelap berwajah murung. kemudian berusaha memutihkan kulitnya dengan harapan lelaki itu memperhatikannya. Perempuan kemudian diatur.2001). yang lain berkulit putih. Kekuasaan tidak bekerja melalui penindasan atau represi. atau iklan The Cambridge Diet yang menuliskan kata-kata. Produksi kekuasaan yang terjadi kemudian adalah munculnya strategi untuk menghembuskan wacana “langsing”. Atau iklan tentang tubuh ideal perempuan langsing dan tinggi. berkulit putih. dan berambut lurus. Atas hal ini. not the fun …” dengan lingkaran merah besar yang menutupi sebagaian tubuh ramping kurus perempuan bule yang sedang melompat. Foucault menegaskan persoalan ini sebagai kekuasaan atas kehidupan modern atau kapitalisme. melainkan jiwa. pikiran.(tidak ada seorang pun yang memilikinya) (John Lechte. Iklan bukan lagi menjadi pelayanan terhadap konsumen.

Resistensi Perempuan Melalui Media Seni Sangat memprihatinkan bila perempuan-perempuan yang tidak bisa mencapai wacana dominan tentang tubuh ideal tadi membuat mereka terobsesi dan memaksakan diri dengan berbagai upaya yang bahkan bisa membahayakan mereka.1989) Stereotipe tidak lepas kaitannya dengan seks dan gender.1997) sedangkan gender menjelaskan adanya pembedaan laki-laki dan perempuan yang dilihat dari konstruksi sosial-budaya. Wacana tubuh perempuan yang tidak dominan ini diabaikan (left out). yaitu konsep yang mencakup seks dan gender dimana seks adalah indentifikasi untuk membedakan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologi (jenis kelamin) yang lebih digunakan untuk persoalan reproduksi dan aktivitas seksual(Suzanne dan wendi. Misalnya perempuan dijelaskan berkarakter baik bila ia sebagai ibu rumah tangga atau istri yang baik (seperti pada iklan minyak goreng). Istri ideal adalah yang terus merasa bersalah bila terjadi sesuatu pada suami mereka.perempuan bahwa istrilah yang harus bertanggungjawab bila suaminya terkena penyakit tertentu. sedangkan laki-laki berkarakter baik bila ia sebagai individu di atas dunia yang lebih luas (Tierney). Iklan itu menunjukkan adanya bias dalam menampilkan perempuan dimana istri cenderung ditampilkan sebagai pihak yang salah. Wacana dominan ini menggeser atau memarginalkan wacana lain yaitu bagi perempuan-perempuan yang tidak berkulit putih dan tidak bertubuh langsing. Roddick sampai bersusah payah membuat maskot “The Body Shop” serupa boneka Barbie tetapi bertubuh besar. Akibatnya adalah perempuan yang tidak bertubuh langsing dan tidak berkulit putih kehilangan kepercayaan atas tubuhnyadan kehilangan identitas karakter tubuhnya sendiri.(Elaine. berambut ikal dengan kulitnya yang berwarna. Ia menyebutnya sebagai suatu pencerahan terhadap kapitalisme (Adriana Venny. Bagaimana mungkin kulit hitam bisa menjadi putih hanya dengan kosmetik? Lagipula wacana dominan ini mengandung pelecehan terhadap ras yang berkulit hitam. yaitu suatu konsep sosial yang berhubungan dengan pembedaan (distinction) karakter psikologi dan fungsi sosial antara perempuan dan laki-laki yang dikaitkan dengan anatomi jenis kelaminnya (sex). Berbagai upaya mengimbangi wacana dominan ini seperti yang dilakukan Dewi Huges atau Anita Roddick yang peduli terhadap masyarakat pedalaman dengan melihat kecantikan perempuan Afrika pada akhirnya tidak mampu mengalahkan wacana dominan tadi. Mansour Fakih bahkan . Langsing putih dan berambut lurus menjadi wacana dominan perempuan ideal di masyarakat kita.2000). Masyarakat kemudian menginternalisasi “istri ideal” adalah seperti itu. Masihkah kita perlu membanggakan diri atau bersedih hati karena kulit kita? Iklan-iklan yang memelihara nilai-nilai seperti itu sesungguhnya menumbuhkan stereotip baru terhadap perempuan.

Hélén Cixous menulis hirarki oposisi biner yang selalu menempatkan dua hal dalam relasi yang superior-inferior seperti “Activity/passivity. palpable). bukannya melukis (Bianpoen. Wacana Oposisi Biner Stereotipe terhadap perempuan seperti lebih mudah dijelaskan dengan bertitik tolak pada wacana oposisi biner yang menempatkan perempuan pada posisi yang negatif dan tak berdaya.” Penyair metafisis Inggris pada sekitar abad 17 bahkan menggambarkan perempuan itu cuma kata-kata (passivity. Culture/nature. 1999). sedangkan laki-laki adalah penciptanya. emosional. intelligible).”Perempuan tak akan hidup lagi setelah kematian. Dalam media ini perempuan adalah obyek yang dikreasikan atau diciptakan oleh keinginan. Tidak hanya iklan. Head/heart. Adanya stereotipe bahwa perempuan tidak boleh di luar lingkungan . yang bisa dibentuk sebagaimana yang diinginkan laki-laki.”Perempuan itu lebih cocok untuk dilukis daripada sebagai pelukis. yang akibatnya terjadi diskriminasi dan ketidakadilan(Fakih 1997).lebih jelas mengatakan bahwa stereotipe adalah pelabelan negatif terhadap jenis kelamin tertentu. Iklan-iklan yang membuat standar tubuh perempuan ideal membuktikan bagaimana laki-laki (lebih banyak dibagian produksi iklan) menciptakan perempuan untuk sesuai dengan fantasi mereka tentang “perempuan sexy atau cantik”. stereotip oposisi biner menempatkan perempuan pada posisi yang dirugikan dimana ini terjadi pula dalam media seni. karena ada stereotipe dimana ibu rumah tangga seharusnya mengurus rumah tangga. Dalam Sorties. Kenyataan bahwa perempuan dalam media seni tidak diterima sebagai subyek sebetulnya sudah dialami oleh Kartini dan adiknya. sedang perbuatan adalah pria (activity. Ketika menjadi pelukis. dapat disimpulkan bahwa tampaknya perempuan dalam media ditempatkan sebagai yang abstrak. cerdas) sedangkan perempuan di wilayah kanan (pasif. Seperti yang dialami pelukis Lucia Hartini dan Kartika Affandi Koberl. Stereotipe: Wacana Dominan. tetapi tradisi tidak memberi tempat kepada anak perempuan diluar lingkungan rumah. Seperti Basuki Abdullah seorang pelukis terkenal pernah berkata. perempuan adalah obyek yang pasif. kurang cerdas). sekitar tahun 1901 bahwa saudara perempuannya yang bernama Roekmini ingin menjadi pelukis di akademi senirupa di Den Haag. termasuk Indonesia masih memegang stereotip bahwa laki-laki berada di wilayah kiri (aktif. sedangkan pria itu konkrit. Roekmini.1996).(Swara Harian Kompas.” Antiphanes seorang dramawan komedi Yunani juga mengatakan. Intelligible/palpable Man/woman” (Priyatna 2000) Masyarakat manapun. kecuali dibangkitkan lawan kesenian oleh pria. Wacana dominan yang berwajah stereotipe ini memagari perempuan sehingga mereka tidak mampu mengekspresikan dirinya. Model-model perempuan adalah obyek yang dikreasi untuk mencapai fantasi tersebut. Atas hal ini. beradab. hasrat dan daya pikir laki-laki. Dalam suratnya. Perempuan yang “dikerjakan” dan lelakilah yang mengerjakan. mereka dianggap “sinting” atau aneh oleh masyarakat sekitarnya. dekat dengan alam. rasional.

rumah mengakibatkan Roekmini tidak pernah mendapat kesempatan belajar seni rupa seperti yang pernah dicita-citakannya (Bianpone. Begitupula di bidang sastra. media seni ternyata dapat juga menjadi alat untuk mendobrak stereotipe itu sendiri. otot-otot lengan yang kencang dengan sebelah matanya keluar cahaya tajam yang menembus mata-mata yang sedang mengintip. Kecurigaan tersebut bisa kita lihat di beberapa media massa dan gunjingan di sekitar kelompok-kelompok sastra. Itu berarti bahwa seni tidak dapat diatur oleh adanya stereotipe ataupun konstruksi sosial yang menempatkan perempuan pada posisi yang dirugikan. Garis-garis kuasnya menaruh kontemplasi dan ekspresi perasaan yang sangat kuat. Perempuan dalam lukisan itu berani dengan tinju terkepal. Ada faktor ketidakpercayaan masyarakat dengan mempertanyakan bagaimana mungkin perempuan dapat mencapai kesuksesannya di bidang sastra. melainkan tulisannya Goenawan Muhammad. yang isinya mengasumsikan bahwa fragmen dari novel itu benar-benar mengundang libido pembaca (dalam hal ini berarti libido laki-laki) dengan menempatkan Ayu Utami sebagai obyek berita yang sensual. Demikian pula Kartika Affandi Koberl dalam karyanya Potret Diri yang lebih menggambarkan integritas perempuan gigih dan kuat dalam menghadapi kesulitan hidup. dituliskan judul yang sangat melecehkan.”’Saman”. Aturan-aturan itu diberikan oleh alam melalui para genius. Dalam media seni kita bisa menemukan semangat kebebasan dibandingkan dengan media iklan. Puas tapi Minta Tambah”. buah pikiran Ayu Utami dicurigai sebagai buah pikiran laki-laki. . yang dianggap lebih mungkin dan masuk akal.1996). Lucia Hartini dan Kartika Affandi Koberl akhirnya mengalami kesuksesan terutama karya mereka yang sangat feminis. Dalam lukisannya itu Lucia Hartini telah mendobrak adanya stereotipe dengan menempatkan perempuan sebagai manusia berani dan aktif. 1998) Membongkar Stereotip Melalui Media Seni Stereotip memang sangat merugikan perempuan yang tidak hanya dalam iklan tetapi juga masuk ke wilayah seni. Dalam Srikandi (1993) Lucia Hartini melukis perempuan yang diletakkan sebagai subyek. dan masyarakat lebih percaya bila kesuksesan sebuah karya seni ada di tangan laki-laki (stereotipe). Hans Georg Gadamer pernah mengatakan bahwa tidak ada aturan-aturan seni yang bersifat universal. (Suara Pembaharuan. bukan karya sastranya. Seperti dalam surat kabar Suara Pembaharuan. Seperti apa yang dikatakan Imanuel Kant bahwa “seni murni adalah seni para genius”. dibandingkan dengan media iklan. Namun. Di ranah seni rupa. Ayu Utami penulis novel Saman sebagai pemenang juara pertama sayembara roman DKJ 1997-1998 sempat dicurigai bahwa itu bukan karyanya. Akibatnya. Tidak ada aturan seni yang menempatkan perempuan harus sebagai obyek.

Sumber: Jurnal Perempuan Online . tapi kukatup mulutku rapat-rapat karena aku tak ingin kembali bertengkar. “Dengar kawan-kawan. Ayu Utami yang ditimpa gunjingan sana-sini juga tidak mengurangi kesuksesannya. pada akhirnya yang salah adalah Tuhan. jika agama dipakai untuk urusan ini. Mereka cuma menginginkan keperawanan. yaitu perempuan sebagai subyek yang memandang. Sebab menurutku yang curang lagilagi Tuhan: dia menciptakan selaput dara. (Utami. sehingga kami kepingin berkelahi. tapi tidak membikin selaput penis”. dibentuk dan diciptakan tubuhnya oleh imajinasi keinginan pria. Tetapi ketika ke Beirut. Ia juga memberontak terhadap stereotipe keperawanan perempuan. 2001) Penutup Bahwa perempuan dalam media bisa menjadi obyek yang dieksploitasi. Bisma Al Huseini dari Mesir melakukan pemberontaknnya lewat media teater. sebab menurut dia musuh kita adalah laki-laki… Apa salah laki-laki? Jawab Laila: sebab mereka mengkhianati wanita. “Hanya lelaki yang boleh menghampiri perempuan. Mendengar itu Yasmin marah sekali. aku menganggapnya persundalan yang hipokrit. Koordinator Jurnal Perempuan dan Jurnalis Radio Jurnal Perempuan di Yayasan Jurnal Perempuan. Sejak itu posisinya menguatkan perempuan lain untuk ikut berteater sebagai usaha perlawanan mereka. Itu dinamakan perkawinan. Laila melerai dengan usul menyisihkan dulu perkara itu. Perempuan akan memberikan tubuhnya pada lelaki yang pantas. Dialah perempuan yang memimpin teater dimana pada awalnya tidak didukung oleh siapa pun. 1998) Dalam ranah teater atau drama. * Mariana Amiruddin. Ia seorang aktris yang mencoba melakukan perlawanan kepada cara pandang masyarakat terhadap perempuan yang selama ini sangat stereotipe. dia menjadi orang besar yang dihargai oleh orang lain sebagai perempuan perkasa yang memiliki cita-cita mulia. (Utami. Di dalam novel-novelnya selalu ia tanamkan tentang karakter perempuan mandiri. Kelak.(Bimo Nugroho. dan laki-laki sebagai obyek yang dipandang. kataku. tetapi di lain hal perempuan dapat menggunakan media itu sendiri sebagai sarana resistensi untuk membongkar stereotip bila perempuan itu sendiri bisa menciptakan apa yang benar-benar ia inginkan atas tubuh. Perempuan yang mengejar-ngejar lelaki pastilah sundal. 1998) Ayu Utami juga menggugat stereotipe masyarakat tentang hubungan lelaki dan perempuan.Di ranah sastra. dan akan pergi setelah si wanita menyerahkan kesucian … Tiba-tiba aku ingin berteriak. dan lelaki itu akan menghidupinya dengan hartanya. jiwa dan pikirannya sendiri. ketika dewasa.

Mereka masih memiliki pola berpikir bahwa laki-laki akan menjadi pemimpin. mereka yang dimakamkan di taman pahlawan. Mary Astuti (2000) menunjuk para guru sebagai pendidik di sekolah kurang mempunyai pengalaman dalam menanamkan nilai-nilai baru dalam hubungan heteroseksual dalam pengasuhan anak di sekolah. Jurug. ya. Bahwa semua yang dimakamkan sebagai pahlawan di sana tidak ada yang putri. inilah awal tumbuhnya kesadaran akan kesederajatan laki-laki dan perempuan. Pembedaan perlakuan antara murid perempuan dan murid laki-laki juga terjadi pada upacara-upacara yang digelar di sekolah. Anak laki-laki. tetapi saya sebagai bapak akan mengingatnya sebagai saat penting seorang anak menunjukkan "kekritisannya". Kelak putri saya mungkin akan merumuskan pertanyaan lain tentang apakah yang berjuang melawan penjajah hanya laki-laki. di samping sekaligus pelestari budaya bangsa. Anak perempuan diberikan materi memasak atau menari sehingga mereka bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik atau bisa menjadi penghibur. Bisa jadi putri saya tidak bermaksud protes lewat pertanyaannya tersebut. Kalau taman makam pahlawan yang ada hampir di setiap kota atau kabupaten dibangun sebagai bagian tidak terpisahkan dari sejarah perjuangan bangsa ini. putri kecil saya mungkin sekarang sudah lupa dengan pertanyaannya. bisa benar bisa tidak karena tidak sempat menanyakan kepada kantor penjaga makam pahlawan tentang jumlah pahlawan laki-laki dan perempuan di sana. Apakah terjadi di makam pahlawan di kota-kota lain? Juga. Anak laki-laki akan diberikan pelajaran silat atau bela diri supaya mempunyai rasa percaya yang lebih besar karena dia akan menjadi kepala keluarga. Pun.Mengajarkan Kesetaraan Jender<center></center> KOK. Mereka tidak menyadari murid perempuan juga . lantas siapa yang memasok makanan atau mengobati yang terluka? Untuk situasi masyarakat pada zaman kini. sungguh mati. menjadi pemimpin masyarakat. Pak?" Pertanyaan tersebut meluncur dari mulut putri kecil saya yang masih duduk di kelas satu sekolah dasar (SD) ketika mengunjungi Taman Makam Pahlawan Kusuma Bakti. karena suaranya keras. sama sekali tidak terlintas dalam pikiran saya seumur-umur mengenai laki-laki atau perempuan. Kesadaran mesti dimulai dari keluarga dan ditumbuhkembangkan di sekolah. sedangkan anak perempuan akan menjadi ibu rumah tangga. bisa ditafsirkan adanya supremasi laki-laki sekaligus mengabaikan perempuan dalam perjuangan memerangi penjajah. PENDIDIKAN yang memperhatikan kesetaraan jender di sekolah-sekolah masih jauh dari yang diidealkan. enggak ada nama ceweknya. selalu dipilih sebagai pemimpin upacara. Solo.

perempuan dan laki-laki dibedakan dari bentuk permainan. Kegiatan memasak selalu untuk perempuan. identik dengan perempuan. dan tidak ada diskriminasi yang merugikan bagi siswa perempuan ataupun laki-laki. Sejak dini. Dengan membarui paradigma guru lewat pelatihan yang mendalami jender. dan pantas menjadi pemimpin upacara. atau barang-barang yang bernilai ekonomis tinggi selalu untuk lakilaki. sementara anak perempuan main masak-masakan. Pembedaan yang dilakukan bukan menunjukkan perbedaan yang esensial. Pembedaan tersebut tidak pernah diprotes siswa perempuan karena semua perlakuan tersebut mereka anggap wajar juga. kesadaran. peran perempuan dan laki-laki dibedakan menurut peran domestik. oleh para penyelenggara pendidikan. Padahal. kiranya terus-menerus diasah demi perubahan paradigma dan persepsi yang lebih adil jender. guru akan dapat memperlakukan siswa secara adil jender. Yogyakarta. sementara juru masak.mampu bersuara keras. Sumber: Kompas Cyber Media . Padahal. Perempuan diposisikan sebagai makhluk lemah dan perlu dikasihani. St Kartono Mengajar di SMU Kolese De Britto. publik. Semasa taman kanak-kanak. tetapi pembedaan berdasarkan kebiasaan belaka. KEMBALI pada pertanyaan putri saya pada awal tulisan ini. tentunya taman makam pahlawan tidak bisa diubah lagi soal perempuan atau laki-laki yang mesti ditempatkan sebagai pahlawan. mengurus kendaraan. Dalam buku pelajaran bahasa Indonesia dari sekolah dasar hingga sekolah menengah umum. sedangkan laki-laki identik dengan dunia yang keras. para pengarang buku pelajaran. penyanyi. Cukuplah bila kelak putri saya akan mendapatkan jawaban kesetaraan jender dengan melihat komposisi anggota parlemen negaranya. Betapa kecut hatinya bahwa perlakuan laki-laki dan perempuan di makam pahlawan sama saja dengan perlakuan di Gedung MPR/DPR. dokter. penari. dan mengandalkan ototnya. permainan untuk anak laki-laki adalah perang-perangan. dan sosial. Pemahaman kesetaraan jender. atau militer masih dilekatkan pada laki-laki. sedangkan berkebun. kepemilikan tanah. Gedung MPR/DPR bukan makam pahlawan. bersuara lantang. Profesi polisi. serta para guru. sesungguhnya telah terjadi banyak perubahan. Buku-buku pelajaran pun masih menunjukkan adanya ketimpangan jender. dan sensivitas jender. kasar.

Ini menjadi beban yang sangat berat bagi anak laki-laki yang senantiasa bersembunyi di balik topeng maskulinitasnya. ia ingin tampak percaya diri. dan kepercayaan masyarakat. adat kebiasaan. dan perkasa. mencuci. dan tugas laki-laki dan perempuan yang ditetapkan oleh masyarakat berdasarkan norma. Kenyataannya juga menunjukkan.Kesetaraan Gender dalam Pendidikan<center></center> BANYAK laki-laki mengatakan. metode. Jika ibu atau pembantu rumah tangga (perempuan) yang selalu mengerjakan tugas-tugas domestik seperti memasak. emosional. Gender dimaksudkan sebagai pembagian sifat. ia biasanya tidak ingin menunjukkan bahwa ia sebenarnya sedih dan malu. Pendidikan di sekolah dengan komponen pembelajaran seperti media. tidak cengeng. Karenanya. banyak ditemukan gambar maupun rumusan kalimat yang tidak mencerminkan kesetaraan gender. Membicarakan gender tidak berarti membicarakan hal yang menyangkut perempuan saja. jika seorang perempuan mengekspresikan keinginan atau kebutuhannya maka ia akan dianggap egois. Stereotip perempuan yang pasif. Hal ini menjadi beban tersendiri pula bagi perempuan. tidak rasional dan agresif. Sementara gambar guru yang sedang mengajar di kelas selalu perempuan karena guru selalu diidentikkan dengan tugas mengasuh atau mendidik. Bias gender ini tidak hanya berlangsung dan disosialisasikan melalui proses serta sistem pembelajaran di sekolah. Ketika seorang anak laki-laki diejek. Dalam buku ajar misalnya. Sebaliknya. tetapi juga melalui pendidikan dalam lingkungan keluarga. peran. maka akan tertanam di benak anakanak bahwa pekerjaan domestik memang menjadi pekerjaan perempuan. menjadi perempuan pun tidaklah mudah. gagah. serta buku ajar yang menjadi pegangan para siswa sebagaimana ditunjukkan oleh Muthalib dalam Bias Gender dalam Pendidikan ternyata sarat dengan bias gender. Mereka haruslah sosok kuat. dan tidak mandiri telah menjadi citra baku yang sulit diubah. dan menyapu. Ironisnya siswa pun melihat . dan tidak memperlihatkan kekhawatiran dan ketidakberdayaannya. sungguh tidak mudah menjadi laki-laki karena masyarakat memiliki ekspektasi yang berlebihan terhadapnya. dipukul. Sebut saja gambar seorang pilot selalu laki-laki karena pekerjaan sebagai pilot memerlukan kecakapan dan kekuatan yang "hanya" dimiliki oleh laki-laki. kedudukan. Bias Gender Keadaan di atas menunjukkan adanya ketimpangan atau bias gender yang sesungguhnya merugikan baik bagi laki-laki maupun perempuan. dan dilecehkan oleh kawannya yang lebih besar.

ia akan mengatakan "anak perempuan kok tidak tahu sopan santun". lembut. yang berlangsung di dalam atau di luar kelas. tetapi bahkan di tingkat nasional. Siswa perempuan itu dikawal oleh dua siswa laki-laki. Anak perempuan diarahkan untuk selalu tampil cantik. kuat. Hal ini menanamkan pengertian kepada siswa dan masyarakat pada umumnya bahwa tugas pelayanan seperti membawa bendera. tetapi kepala sekolahnya umumnya laki-laki. dan melayani. Laki-laki nggak boleh cengeng". selalu menempatkan dua perempuan sebagai pembawa bendera pusaka dan duplikatnya. membawa baki atau pemukul gong dalamupacara resmi sudah selayaknya menjadi tugas perempuan. Sementara laki-laki diarahkan untuk tampil gagah. penakut ata bukan laki-laki sejati. ada aturan-aturan tertentu yang dituntut oleh masyarakat terhadap perempuan dan laki-laki. Belum pernah terjadi dalam sejarah: laki-laki yang membawa bendera pusaka itu. "Ayah membaca Koran dan ibu memasak di dapur" dan bukan sebaliknya "Ayah memasak di dapur dan ibu membaca koran". Ini akan sangat berpengaruh pada peran sosial mereka di masa datang. Semuanya ini mengajarkan kepada siswa tentang apa yang layak dan tidak layak dilakukan oleh laki-laki dan apa yang layak dan tidak layak dilakukan oleh perempuan. Misalnya ketika seorang guru melihat murid laki-lakinya menangis. Hal ini memberikan pemahaman kepada siswa bahwa hanya perempuan yang boleh menangis dan hanya laki-laki yang boleh kasar dan kurang sopan santunnya. Bias gender yang berlangsung di rumah maupun di sekolah tidak hanya berdampak negatif bagi siswa atau anak perempuan tetapi juga bagi anak laki-laki. Demikian pula jika laki-laki tidak dapat memenuhinya ia akan disebut banci. Jika perempuan tidak dapat memenuhinya ia akan disebut tidak tahu adat dan kasar. Paskibraka yang setiap tanggal 17 Agustus bertugas di istana negara. Kalimat seperti "Ini ibu Budi" dan bukan "ini ibu Suci". Demikian pula dalam perlakuan guru terhadap siswa. ia akan mengatakan "Masak laki-laki menangis. Singkatnya. Sebaliknya ketika melihat murid perempuannya naik ke atas meja misalnya. Dalam rumusan kalimat pun demikian.bahwa meski guru-gurunya lebih banyak berjenis kelamin perempuan. Rumusan kalimat tersebut mencerminkan sifat feminim dan kerja domestik bagi perempuan serta sifat maskulin dan kerja publik bagi laki-laki. . Hal demikian tidak hanya terjadi di tingkat sekolah. lebih luas lagi. dan berani. masih sering ditemukan dalam banyak buku ajar atau bahkan contoh rumusan kalimat yang disampaikan guru di dalam kelas. Dalam upacara bendera di sekolah selalu bisa dipastikan bahwa pembawa bendera adalah siswa perempuan.

Jadi. pada anak perempuan selalu ada tuntutan-tuntutan di luar dirinya yang memaksa mereka tidak memiliki pilihan untuk bertahan. siswa perempuan umumnya memiliki prestasi akademik yang lebih baik jika dibandingkan dengan laki-laki. karena anak laki-laki lebih banyak mempunyai persoalan hiperaktif yang mengakibatkan kemunduran konsentrasi di kelas. Padahal. bayi lakilaki secara emosional lebih ekspresif dibandingkan bayi perempuan. Kedua. Laki-laki pada usia lima atau enam tahun belajar mengontrol perasaan-perasaannya dan mulai malu mengungkapkannya. Penyebabnya adalah pertama. Jadilah mereka kemudian anak-anak perempuan yang mengikuti stereotip yang diinginkan seperti tubuh langsing. Penyebabnya menurut Sommers. dan tidak takut.William Pollacek dalam Real Boys menunjukkan penemuannya. menjelang dewasa. Satu-satunya cara yang dianggap aman adalah dengan membunuh kepribadian mereka untuk kemudian mengikuti keinginan masyarakat dengan menjadi suatu objek yang diinginkan oleh lakilaki. gagal studi. orang tua yang . ekspresi emosionalnya hilang. kulit halus dll. Namun ketika sampai pada usia sekolah dasar. Tidak mengherankan jika banyak guru mengatakan bahwa siswa laki-laki lebih banyak masuk dalam daftar penerima hukuman. Objek yang diinginkan ini selalu berkaitan dengan tubuhnya. di sekolah. namun ia harus melakukannya jika tidak ingin dijuluki sebagai "anak mami". proses pemisahan dari ibunya. Kesetaraan gender seharusnya mulai ditanamkan pada anak sejak dari lingkungan keluarga. Meski berat bagi anak laki-laki untuk berpisah dari sang ibu. Situasi dan kondisi memungkinkan mereka jauh lebih tekun dan banyak membaca buku. Sementara itu. tentu tidak lagi didasarkan atas "apa kata ayah". Demikian pula dalam hal memutuskan berbagai persoalan keluarga. Keterlibatan Semua Pihak Lalu apa yang dapat dilakukan terhadap fenomena bias gender dalam pendidikan ini? Keterlibatan semua pihak sangat dibutuhkan bagi terwujudnya kehidupan yang lebih egaliter. ada proses menjadi kuat bagi laki-laki yang selalu diajari untuk tidak menangis. dan malas. yakni proses untuk tidak menyerupai ibunya yang dianggap masyarakat sebagai perempuan lemah dan harus dilindungi. Tidak heran jika semakin banyak anak perempuan mengusahakan penampilan sempurna bak peragawati dengan cara-cara yang justru merusak tubuhnya. Ayah dan ibu yang saling melayani dan menghormati akan menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya. tidak lemah. sebenarnya. wajah putih nan cantik.

dan "diamankan".Hum. mereka dituntut oleh masyarakat untuk membesarkan anak-anaknya sesuai dengan "aturan anak perempuan" dan "aturan anak laki-laki". hanya bicara tentang konsep Tuhan dan abai terhadap masalah sosial di hadapannya (Hassan Hanafi. Sumber: Suara Merdeka Refleksi Teologi Islam mengenai Kesetaraan Jender<center></center> DALAM salah satu bukunya. sekolah secara kelembagaan dan terutama guru. teologi ini dianggap sudah final oleh umat Islam. M. Memang tidak mudah bagi orang tua untuk melakukan pemberdayaan yang setara terhadap anak perempuan dan laki-lakinya. (18) Dra Sri Suciati. teologi seharusnya merupakan refleksi kritis agama terhadap permasalahan yang dihadapi masyarakat. tidak boleh diperbarui.berwawasan gender diperlukan bagi pembentukan mentalitas anak baik laki-laki maupun perempuan yang kuat dan percaya diri. Celakanya lagi. mereka mulai menyadari bahwa aturan-aturan itu melahirkan ketidakadilan baik bagi anak perempuan maupun laki-laki. Di lain pihak. wakil sekretaris PGRI Jawa Tengah. 2003). Perempuan masih diposisikan sebagai kelompok lemah yang perlu diajari. guru akan menjadi agen perubahan yang sangat menentukan bagi terciptanya kesetaraan gender dalam pendidikan melalui proses pembelajaran yang peka gender. diharuskan tinggal di rumah demi keamanannya. Teologi dan realitas sosial . Dalam hal ini diperlukan standardisasi buku ajar yang salah satu kriterianya adalah berwawasan gender. Perjuangan membangun keadilan dan kesetaraan jender. Di sini peran teologi Islam diuji. misalnya. Kesetaraan gender dalam proses pembelajaran memerlukan keterlibatan Depdiknas sebagai pengambil kebijakan di bidang pendidikan. tidak bisa dilepaskan dari bangunan teologis. dan berkonsentrasi di wilayah domestik. Dosen FPBS IKIP PGRI Semarang. Selain itu. Hassan Hanafi mengatakan bahwa teologi Islam sangat memprihatinkan. dibimbing. Sejatinya. Semua itu menjadi pembenaran bahwa perempuan tidak bisa berperan di ruang publik. Sebab di satu pihak. Seakan beban jender perempuan adalah "kodrat" dari Tuhan.

Apa yang dilakukan Hanafi adalah salah satu contoh menarik. Salah satu realitas sosial yang perlu disikapi adalah diskriminasi jender.Pada awalnya teologi Islam dibangun di atas kepentingan politik. terutama Mu’awiyah. Peristiwa pemberontakan Mu’awiyah terhadap Khalifah Ali bin Abu Thalib dicatat Harun Nasution sebagai awal munculnya perdebatan teologi (Harun Nasution. Teologi yang sejatinya memosisikan perempuan sebagai mitra laki-laki. 1998). teologi menjadi jauh dari kebutuhan manusia. Dengan pendekatan ini. Maka. Wajar jika Asghar Ali Engineer mengatakan bahwa teologi Islam terlalu berkutat pada persoalan metafisik dan meninggalkan persoalan penting kemanusiaan (Asghar Ali Engineer. Walhasil. justru disesaki kepentingan . Dalam konsep teologinya mereka menerangkan bahwa akal manusia sejalan dengan wahyu. Hanafi mendialogkan teologi dengan kolonialisme dan orientalisme. akhirnya terciptalah teologi pembebasan (kiri Islam). Turunnya wahyu mereka anggap sebagai afirmasi dan konfirmasi atas pengetahuan tersebut. Dalam "fatalisme". Lantas tokoh-tokoh Mu’tazilah juga dianggap sukses dalam melapangkan pengembangan filsafat dan ilmu pengetahuan yang menuntut banyak peran akal. teologi Islam begitu modern dan relevan dengan kebutuhan manusia. Maka. yakni memahami teologi untuk teologi itu sendiri. sebab Asy’ari dianggap sukses menciptakan sebuah konsep teologi yang membuktikan peran besar Tuhan dalam jagat raya (Nurcholish Madjid. setelah ia memperoleh kursi kekhalifahan. Pandangan serupa ini menjadi landasan teologis dalam mengembangkan filsafat yang saat itu ditentang keras oleh ulama. raison d’etre teologi Islam adalah tuntutan "realitas sosial". 1992). Abu Hasan Al-Asy’ari dipuji Nurcholish Madjid. Sudah saatnya umat Islam mengembangkan pendekatan hermeneutika filosofis. pada masanya. pemberontakan Mu’awiyah diyakini sebagai takdir. teologi Islam berhenti berdialog dengan "realitas sosial". Umat Islam terjebak dengan pendekatan hermeneutika teoretis. Teks kitab suci (Al Quran) didialogkan dengan persoalan manusia. terutama para ahli fikih (fuqoha) Dengan demikian. tanpa wahyu sekalipun manusia mampu mengetahui tentang Tuhan dan kebaikan. Asy’ari di tengah "keputus-asaan teologis" umat Islam berhadapan dengan Aristotelianisme yang menempatkan Tuhan pada posisi kurang signifikan. menurut mereka. konsep "fatalisme" atau "predestination" lebih dimotivasi kepentingan status quo ketimbang teologi itu sendiri. Perdebatan tersebut bermuara pada kebutuhan untuk mencari legitimasi politik. dengan harapan dapat membebaskan teologi Islam dari kebangkrutannya. 1986). teologi senantiasa didialogkan dengan realitas sosialnya. Meski agak berbeda dengan awal kemunculannya. Dewasa ini. Bahkan. Saat itu.

Di dalamnya. meski sifat maskulin dan feminin Tuhan dikatakan sejajar. dan tidak bisa tegas sehingga menyebabkan kaum perempuan dianggap tidak layak berperan dalam wilayah publik. Hal ini dibenarkan teolog feminis. Lebih tepatnya. Padahal. misalnya. Maha Pemarah diimbangi dengan Maha Penyayang. Dalam Al Quran. dialog teologi dengan permasalahan-permasalahan perempuan adalah suatu keniscayaan. Alasannya. Anne McGrew Bennet. Perendahan terhadap kualitas feminin perempuan bernilai sama dengan pengabaian kualitas feminin Tuhan. sifat-sifat tersebut dibagi dalam dua kelompok besar. Jadi. yang berarti Dia (laki-laki). Proses penciptaan alam semesta secara evolusi. relasi jender secara mengesankan telah direpresentasikan oleh Tuhan sendiri. Arabi menggambarkan adanya reproduksi alam semesta. Sifat feminin inilah yang dieksplorasi oleh teologi feminis. seperti halnya seorang ibu yang melahirkan. Menurut dia teologi yang ada selama ini disesaki kepentingan laki-laki. Atas dasar itu. Dengan demikian aspek feminin-Nya jauh lebih terasa ketimbang aspek maskulin. Hal inilah yang ingin didekonstruksi dari paradigma pendukung patriarki bahwa feminitas senantiasa merepresentasikan kelemahan. paling tidak. merupakan cermin dari sifat feminin-Nya. sifat perkasa-Nya senantiasa didampingi oleh keluasan kasih sayang-Nya. Tuhan digambarkan memiliki 99 sifat. ada tiga hal yang harus dilakukan terhadap teologi Islam. . Bennet menyatakan bahwa "revolusi teologis" adalah sebuah keniscayaan jika kita menginginkan pembebasan manusia (Anne McGrew Bennet. Dalam pandangan Arabi. Oleh karena itu. ialah Huwa. misalnya. sensitif. Kata ganti Tuhan dalam Al Quran. Bahkan. pemeliharaan alam juga merupakan representasi sifat kasih dan sayang-Nya. konsep ketuhanan yang metafisik diterjemahkan kepada persoalan pembebasan dan pemberdayaan perempuan. dan seterusnya. 1989). Oleh Ibnu Arabi. teologi feminis adalah teologi yang menggali aspek-aspek feminin Tuhan demi kesetaraan jender. Kemudian. Hasil dialog semacam ini dapat kita temukan dalam teologi feminis. diskriminasi jender sesungguhnya merupakan pengingkaran terhadap Tuhan secara utuh. sebenarnya sifat feminin Tuhan jauh lebih berperan. Maha Pemberi Hukuman diimbangi dengan Maha Pengampun.laki-laki. irasional. pandangan seperti itu tidak memiliki legitimasi teologis. yaitu sifat yang melambangkan keperkasaan (maskulin) dan keindahan (feminin).

M Hilaly Basya. Kedua. Sampai Konferensi Dunia IV mengenai perempuan dan pembangunan di Beijing (1995). Ketiga. media seharusnya dapat digunakan untuk mentransformasi pencitraan mengenai perempuan. Hal ini diperlukan guna menyadarkan umat bahwa kemunculan teologi Islam tidak berada di ruang hampa. yakni membela hak-hak perempuan dan menegakkan kesetaraan jender. Apalagi . melainkan meneruskannya pada aksi. Ukuran kesalehan dalam konteks gagasan ini tidak diukur dari kepatuhan menjalankan ritual. Ini tidak dimaksudkan untuk membenturkan sifat feminin Tuhan dengan sifat maskulin-Nya. tetapi pada kesalehan sosial. menjadikan teologi tidak sebatas keimanan. media dan jaringan alternatif khusus untuk perempuan semakin berkembang dan dimanfaatkan secara efektif oleh organisasi mahasiswa dan kelompok-kelompok perempuan guna memperbaiki kesadaran sosial dan politik di antara perempuan dan anggota masyarakat Dengan demikian. Perjuangan Perombakan Kultur Upaya menghapuskan kekerasan dalam pemberitaan surat kabar. Sumbangan Besar Mewujudkan Demokrasi<center></center> Revolusi teknologi ternyata tak banyak dimanfaatkan oleh pekerja media untuk membantu perempuan memperbaiki posisinya.Pertama. melainkan penuh dengan kepentingan. Dengan begitu diharapkan tidak ada fanatisme sempit yang mencurigai dialog teologi dan persoalan perempuan sebagai pendangkalan akidah. Pencitraan perempuan di berbagai media massa di seluruh dunia masih lebih banyak bersifat stereotip sehingga tidak bisa dikatakan mewakili sesuatu yang lebih benar mengenai perempuan. bukan hal yang mudah karena menyangkut perombakan kultur dan kerangka pikir wartawan dan editor. mengeksplorasi aspek feminin Tuhan demi kesetaraan jender. Eksplorasi lebih dimaksudkan sebagai pengungkapan bahwa sifat feminin tidak identik dengan kelemahan sebagaimana dianggap oleh pendukung patriarki. baik kepentingan status quo maupun pemberontakan. membongkar mitos tentang teologi yang seolah-oleh terberi (taken for granted). Dosen Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka) dan anggota Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) Sumber: Kompas Cyber Media Pemberitaan Sensitif Gender.

Kekerasan terhadap perempuan dalam media massa tidak bisa dilepaskan dari posisi perempuan dalam masyarakat. karena dianggap "menjual". Sejumlah stereotip lantas menempel pada perempuan dan laki-laki berdasarkan peran jenis kelamin itu. buruk. Sedangkan sektor "publik" yang dicirikan sebagai sektor dinamis dan memiliki sumber kekuasaan pada perbagai sektor kehidupan yang mengendalikan perubahan sosial sebagai milik lakilaki. efensif. Penulisan berita dan artikel atau tulisan apapun (juga gambar) yang berperspektif perempuan bukan tidak mengandung kontradiksi. atau sudut pandang berita yang dipilih. Kerja dalam tim seperti media cetak. terinternalisasikan melalui pendidikan di semua lini. Dengan demikian pemberitaan wacana sensitifitas gender saja tidak akan mampu membuat wartawan segera mamiliki kesadaran yang cukup pada inequality yang dialami perempuan. dan menentang konsepsi tentang apa dan bagaimana seharusnya. Perspektif Perempuan dalam Media Massa Seluruh persoalan ini di dalam media massa juga tidak terlepas dari struktur modal yang kapitalistik. sektor "domestik" yang dikatakan sebagai sektor statis clan consumtif sebagai milik perempuan. ideologi tertentu yang dipelajari seorang manusia sejak ia bisa berpikir. Industri media massa akan menempatkan berita-berita yang bersifat maskulin itu sebagai sesuatu yang utama.bila bekerja pada wilayah mind set yang melahirkan suatu sikap tertentu. ditambah oleh pola asuh yang bias gender. Perjuangan untuk mencapai keadilan gender melalui pemberitaan dalam media massa masih membutuhkan waktu teramat panjang. pemilihan gagasan dan keseluruhan gaya pemberitaan. Karena itu. maka dengan mudah ideologi yang diskriminatif ini tersosialisasikan. keluarga.1 Tahun 1974 tentang perkawinan yang secara eksplisit menetapkan peran-laki-laki dan perempuan. Ini diperkuat oleh kekuasaan negara UU No. dan lingkungan masyarakat. rasisme. Bahkan mengandung resiko dituduh mengekalkan mitos masochisme perempuan. Wartawan dan struktur keredaksian juga menyerap nilai-nilai tersebut sehingga mudah tergelincir untuk melakukan kekerasan berganda terhadap perempuan korban kekerasan melalui bahasa dan konsep yang dipakai. Dalam masyarakat terlanjur meyakini notion palsu yang mengatakan bahwa secara kodrati perempuan kurang pandai dan secara fisik lebih lemah dibandingkan dengan laki-laki. narcisis. . Kemarahan dan ketidaktoleran hanya akan menjadi conter productive dan tidak akan membuat perubahan yang berarti. sebagai besar masyarakat masih percaya pada pembagian kerja secara seksual yang mensubordinasikan perempuan. sekolah. membutuhkan toleransi dan penghargaan pada proses. meski iklan dijadikan alasan utama suatu media massa dapat bertahan. memalukan. Ciri kapitalistik juga nampak dari dikalahkannya pemuatan berita demi iklan. karena struktur dan pemberitaan media massa sebenarnya adalah cermin situasi masyarakat itu sendiri.

karena membicarakan media massa media yang diekspresikan melalui bahasa tulis dan lisan. dan keadilan yang didasarkan kesetaraan tadi. tetapi sekaligus menginginkan . Mengapa? Karena kesadaran ditindas hanya ada pada golongan penindas.Suara perempuan adalah suara yang terbisukan. tidak memungkinkan cara berpikir lain daripada yang dikehendaki penguasa. dan demokrasi. pada umumnya pekerja media memiliki kesadaran memadai mengenai masalah-masalah HAM. Seorang pemimpin di dalam media yang masih mengartikan feminisme sebagai pembalikan perempuan dan laki-laki atau bahkan menuduh feminisme dan gerakan kesetaraan gender sebagai gerakan untuk menindas laki-laki. atau bahkan memundurkan kembali. ada semacam cara pandang. dan pendidikan untuk memajukan perdamaian. Padahal inti demokrasi adalah kesetaraan hak dan kewjiban. Dalam hal ini media sebagai kekuatan keempat (the fourth estate) berperan sangat besar untuk pergerakan permpuan. menyudutkan dan menyempitkan dan akhirnya menundukkan. bahasa bukanlah sekedar alat komunikasi. Sebagai wacana baru (newspeak). HAM. namun sebaliknya media bisa digunakan untuk menahan laju pergerakan perempuan. sehebat apapun posisi seorang pemimpin media berbicara soal demokrasi. Posisi Media Massa Namun perubahan semacam ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun masih perlu perbaikan yang signifikan dalam kognisi. Karena itulah kesadaran perempuan tentang masalah penindasan ini harus dibongkar. serta pembongkaran sikap dan cara pandang personal di kalangan wartawannya. Dalam sebuah diskusi Lembaga Pers Mahasiswa. Ia merupakan kegiatan kegiatan sosial yang terstruktur dan terikat pada keadaan sosial tertentu. Jadi. Jurnalis harus memanfaatkan semaksimal mungkin informasi. maka secara tidak sadar dia telah memposisikan dirinya sebagai penindas. Tetapi apa keterkaitan antar demokrasi dan perempuan? Sejarah bisa menjadi titik tempuh untuk memaparkan pergerakan posisi perempuan mulai dari pemegang peranan yang kuat dalam komunitas sampai terjadinya subordinnasi terhadap mereka. Ini juga dilakukan melalui bahasa. budaya berpikir yang harus dirombak dalam struktur besar keredaksian. Sejarah kemudian memang memperlihatkan bahwa sejarah perempuan lebih banyak dilekatkan pada subordinasi. tetapi ia meragukan atau bahkan menisbikan persoalan kesetaraan dalam hubungan perempuanlaki-laki. orang tertindas malah tidak merasa ditindas karena manipulasi berbagai nilai yang dikukuhi dalam kehidupan masyarakat atau malah melakukan adjustment terhadap penindasan itu dan kemudian mereplikasikannya kepada pihak lain yang lemah. maupun afeksi. Sistem politik yang represif telah mengawasi perempuan secara ketat. Hanya dengan itu maka seluruh gerakan kesetaraan bisa mencapai tujuannya. maka ia bukanlah demokrat sejati. komunikasi. mengontrol secara dominan. Inilah yang disebut split personaliy dari media: ia bisa menjadi agen pembaharu. Pada banyak kasus.

ketidakpedulian media main stream ini bukan jalan buntu yang tidak bisa ditembus. isu-isu kesetaraan dan keadilan gender menjadi isu yang kian membesar dan penting dan harus diterapkan dalam setiap persoalan. Oleh: Akhmad Junaedi Azhar Sumber: Siar Online . media main steram berurusan dengan pemodal yang lebih mempedulikan kenginan pasar ketimbang perbaikan posisi dan kesejahteraan perempuan dan kelompok masyarakat yang dilemahkan lainnnya. Selalu ada jalan dengan kecerdasan membungkus isu. Namun bagaimanapun harus diingat.kemapanan sehingga enggan membongkar situasi status-quo. yang akhirnya mengganggu bisnis media. Meski demikian. sehingga akhirnya secara perlahan tetapi pasti. karena merasa hal-hal itu tidak populer.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->