GENDER Pembakuan Peran dalam Kebijakan-kebijakan di Indonesia<center></center> Pengantar: Berangkat dari prinsip yang menantang gagasan

konvensional bahwa hukum itu netral, objektif dan bebas nilai, LBH APIK Jakarta telah melakukan penelitian tentang ‘Pembakuan Peran Gender dalam Kebijakan-kebijakan di Indonesia’. Dengan menggunakan pendekatan hukum kritis,pandangan feminis terhadap hukum, gender dan negara dalam konteks Indonesia, ditemukan bahwa terdapat kebijakan-kebijakan yang tidak berkeadilan gender. Ideologi patriarki (dominasi laki-laki) faktanya telah mewujud dalam sistem hukum di Indonesia (baik dari peraturan dan kebijakan yang ada, stuktur dan budaya hukumnya), sehingga senantiasa mengekalkan ketidakadilan terhadap perempuan. Bagaimana pembakuan peran laki-laki dan perempuan dikukuhkan oleh Negara ? Konsep pembakuan peran gender yang mengkotak-kotakkan peran laki-laki/ suami dan perempuan/ istri ini hanya memungkinkan perempuan berperan di wilayah domestik (domestikasi), yakni sebagai pengurus rumah tangga sementara laki-laki di wilayah publik sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah utama. Peran gender yang memilahmilah peran perempuan dan laki-laki pada kenyataannya telah dibakukan oleh negara dalam berbagai kebijakan yang dilahirkan oleh Pemerintah Orde Baru. Kebijakankebijakan tersebut pada akhirnya hanya menyisakan ketidakadilan pada perempuan. Dengan demikian, melalui hukum, negara melakukan peran gender. Hukum, dengan demikian, dipandang sebagai agen yang menguatkan nilai-nilai jender yang dianut oleh masyarakat. Hal ini berkaitan dengan kebutuhan negara untuk menjaga dan menjamin kepentingannya. Apakah dampak dari pembakuan peran? Upaya domestikasi perempuan secara sistematis oleh negara berdasarkan ideology gender dalam kebijakan-kebijakan negara berdampak lebih jauh pada peminggiran terhadap perempuan, baik secara ekonomis, politik, sosial dan budaya, juga menimbulkan subordinasi, eksploitasi dan privatisasi kekerasan terhadap perempuan. Kebijakan-kebijakan apa sajakah yang membakukan peran jender? Ruang lingkup kebijakan yang dikritisi dalam penelitian adalah kebijakan-kebijakan yang lahir pada era Orde Baru. Dari kebijakan-kebijakan negara seperti : - pada masa Revolusi Hijau, yaitu pada Repelita I thn 1969-1974 dimana muncul Kebijakan yang memarginalkan kaum perempuan pedesaan yang awalnya

-

-

memiliki peran penting sebagai petani kemudian digeser dengan munculnya alatalat pertanian modern yang diasosiasikan dengan keahlian jenis kelamin laki-laki. Kemudian, kebijakan lain yang juga mempunyai efek pembakuan peran adalah praktek-praktek koersi terhadap perempuan yang diterapkan berkaitan dengan kebijakan pemerintah tentang kependudukan => Kebijakan KB yang dicanangkan sejak thn 1969 hanya diperuntukkan bagi kelompok perempuan Menunjukkan adanya asumsi patriarkal negara mengenai peran laki-laki dan perempuan yang menganggap bahwa urusan domestik adalah tanggung jawab perempuan. Nampak bahwa negara Orde Baru membatasi ruang lingkup kehidupan perempuan (secara sosial, ekonomi, politik) dan melegitimasi pembakuan peran gender.

Lebih rinci, teks-teks kebijakan yang dianalisa : Ø GBHN; Sebagai landasan bagi kebijakan-kebijakan lainnya dan pembangunan secara umum. Sepanjang GBHN 1978 –1998, kata ‘kodrat’ tetap hadir dalam teks. Dengan konsep peran ganda yang dianut negara, dapat disimpulkan bahwa ‘kodrat ‘ dimakni tidak hanya sebatas kemampuan biologis perempuan tetapi juga peran-peran reproduksi sosial. Jadi, dapat dideteksi adanya gagasan-gagasan mengenai pembakuan peran gender dalam GBHN. Ø Kebijakan tentang Buruh Migran Perempuan a. Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. Kep. 213/Men/89 tentang biaya Pembinaan Tenaga Kerja Indonesia dalam Rangka Pengembangan Program Antar Kerja Antar Negara ke Timur Tengah ; Dalam kebijakan ini diatur perbedaan biaya yang dikeluarkan untuk pengiriman buruh migran perempuan dengan laki-laki dengan asumsi gender bahwa buruh migran perempuan dianggap membutuhkan pembinaan. b. Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. Kep. 196/Men/1991 tentang Petunjuk Teknis Pengerahan Tenaga Kerja ke Arab Saudi Peraturan ini memuat adanya pembedaan usia antara laki-laki dan perempuan untuk menjadi buruh migran di sector informal. Ø Kebijakan tentang Pembantu Rumah Tangga (Perda No. 6 thn 1993) tentang Pembinaan Kesejahteraan Pramuwisma di DKI Jakarta dan SK Gubernur DKI Jakarta No. 1099 thn 1994) Asumsi pemerintah terhadap istilah pramuwisma yang cenderung ditujukan terhadap perempuan menyumbang pada pembakuan peran gender dalam pasal-pasal Perda. Misalnya, pasal tentang perlunya ijin bekerja dari suami bagi perempuan yang sudah bersuami. Ø Kebijakan tentang Perkawinan/ Perceraian UUP Integrasi konsep pembakuan peran dalam kebijakan tentang perkawinan yaitu melalui UU No. 1 thn 1974 tentang Perkawinan (UUP), terutama nampak dalam khususnya pasal 31, yang menyatakan bahwa “suami adalah kepala keluarga dan

istri adalah ibu rumah tangga.” Selain itu, UUP menganut asas monogamy terbuka, maksudnya bahwa pada asasnya suatu perkawinan seorang laki-laki hanya boleh mempunyai seorang isteri dan seorang perempuan hanya boleh mempunyai seorang suami. Namun, terdapat klausula yang menyatakan bahwa Pengadilan dapat memberi ijin kepada seorang suami untuk beristri lebih dari seorang karenanya terbuka kemungkinan bagi laki-laki untuk melakukan poligami. Pengaturan mengenai poligami ini tidak hanya menunjukkan bahwa dalam institusi perkawinan posisi tawar perempuan lebih rendah disbanding lakilaki tetapi juga menunjukkan bahwa negara jelas-jelas telah melegitimasi nilainilai jender perempuan yang hidup dalam masyarakat. Dalam Pasal 31 : Kedudukan suami isteri adalah sama, akan tetapi dalam ayat lain ditegaskan bahwa suami adalah kepala keluarga dan isteri adalah ibu rumah tangga. Penegasan ini merupakan pengetatan fungsi-fungsi isteri dan fungsifungsi suami secara tegas. Artinya, pasal ini melegitimasi secara eksplisit pembagian peran berdasarkan jenis kelamin. Juga, semakin dipertegas dalam pasal 34 yang menyatakan bahwa suami wajib melindungi isteri dan isteri wajib mengatur rumah tangga sebaik-baiknya. Pasal tersebut merupakan pengejawantahan dari pola pikir masyarakat yang menganggap bahwa peran lakilaki dan perempuan sudah mutlak terbagi. PP No. 45/ 1990 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah No. 10 thn 1983 tentang ijin Perkawinan dan Perceraian Pegawai Negeri Sipil. (Peraturan Pemerintah ini merupakan peraturan pelaksana dari UU Perkawinan yang khusus diberlakukan kepada Pegawai Negeri Sipil dan merupakan penyempurnaan dari PP 10 thn 1983). PP ini lebih menegaskan asas monogamy terbuka. Akan tetapi, secara tidak konsisten PP melarang perempuan PNS menjadi isteri kedua, ketiga atau keempat dengan asumsi akan merusak citranya sebagai PNS dan perempuan. Ø Kebijakan tentang Kekerasan terhadap Perempuan KUHP berkaitan dengan Penganiayaan terhadap isteri KUHP tidak mengenal konsep kekerasan berbasis gender, atau tindakantindakan kejahatan yang dilakukan karena jenis kelamin perempuan. KUHP berkaitan dengan Perkosaan Perkosaan terhadap isteri dalam perkawinan (marital rape) tidak dikenal dalam KUHP berarti KUHP mengadopsi pandangan masyarakat bahwa fungsi isteri adalah melayani suami. UU No. 62 Tahun 1958 tentang Kewarganegaraan UU ini mengadopsi ideology patriarki yang tercermin dalam ketentuan tentang status kewarganegaraan anak yang lahir dari perkawinan campuran , yaitu megikuti kewarganegaraan ayahnya.

Ø

Kebijakan Ketenagakerjaan UU No. 25 thn 1997 tentang Ketenagakerjaan : Memuat ketentuan yang mendiskriminasikan perempuan dengan memuat ketentuan larangan bekerja bagi perempuan pada waktu malam hari.

Ø Peraturan tentang Perpajakan :Keputusan Direktur Jendral Pajak No. 78/ PJ.41/ 1990 tentang Pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) kepada isteri wajib pajak yang melakukan kegiatan usaha dan atau pekerjaan bebas Ø Peraturan tentang Perpajakan: Keputusan Direktur Jendral Pajak No. 78/ PJ. 41/ 1990 tentang Pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) kepada isteri Wajib Pajak yang melakukan kegiatan Usaha dan atau Pekerjaan Bebas

Dalam ketentuan perpajakan, isteri yang bekerja atau usaha yang wajib kena pajak bukanlah wajib pajak secara pribadi melainkan sebagai ‘isteri wajib pajak.’ Dampaknya, ada hambatan bagi perempuan menikah yang hendak mengembangkan usahanya karena nomor wajib pajaknya tergantung pada suami sehingga otomatis pengembangan usahanya tergantung pada ijin suami. Penutup Ø Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh negara disamping bias gender juga bias kelas menengah serta bertentangan dengan kenyataan sosialnya. Dalam kenyataannya, kaum perempuan tidak lagi hanya sebagai pencari nafkah tetapi juga banyak yang menjadi kepala keluarga. Akibatnya timbul ketegangan antara nilai-nilai dan peraturan yang diterapkan dengan kenyataan sosial yang terus berlangsung. Ø Melalui hukum, negara melakukan pembakuan peran gender. Beberapa kebijakan mengacu pada peran perempuan dan laki-laki sebagaimana didefinisikan dalam UUP No. 1 thn 1974. Dengan demikian, UUP merupakan kebijakan yang mempunyai signifikansi dalam proses pembakuan peran yang dilakukan negara. Ø Perlu dilakukan reformasi terhadap kebijakan-kebijakan dengan mengamati dinamika proses negosiasi antara kelompok-kelompok kepentingan yang terjadi ditingkat negara untuk menentukan sasaran intervensi yang dapat dilakukan baik di tingkat struktur formal (hukum dan negara) dan di tingkat masyarakat untuk mengubah nilai-nilai gender yang dominan.

Sumber: http://www.lbh-apik.or.id/peneliltian-pembakuan_peran.htm

Perempuan Bekerja, Dilema Tak Berujung ? <center></center> Fenomena perempuan bekerja sebenarnya bukanlah barang baru di tengah masyarakat kita. Sejak zaman purba ketika manusia masih mencari penghidupan dengan cara berburu dan meramu, seorang isteri sesungguhnya sudah bekerja. Sementara suaminya pergi berburu, di rumah ia bekerja menyiapkan makanan dan mengelola hasil buruan untuk ditukarkan dengan bahan lain yang dapat dikonsumsi keluarga. Karena sistem perekonomian yang berlaku pada masyarakat purba adalah sistem barter, maka pekerjaan perempuan meski sepertinya masih berkutat di sektor domestik namun sebenarnya mengandung nilai ekonomi yang sangat tinggi. Kemudian, ketika masyarakat berkembang menjadi masyarakat agraris hingga kemudian industri, keterlibatan perempuan pun sangat besar. Bahkan dalam masyarakat berladang berbagai suku di dunia, yang banyak menjaga ternak dan mengelola ladang dengan baik itu adalah perempuan bukan laki-laki. Hal ini jelas menunjukkan bahwa keterlibatan perempuan memang bukan baru-baru saja tetapi sudah sejak zaman dulu. Dalam konteks Indonesia sebagai negara berkembang, sebenarnya tidak ada perempuan yang benar-benar menganggur. Biasanya para perempuan memiliki pekerjaan untuk juga memenuhi kebutuhan rumah tangganya entah itu mengelola sawah, membuka warung di rumah, mengkreditkan pakaian dan lain-lain. Mungkin sebagian besar masyarakat Indonesia masih beranggapan bahwa perempuan dengan pekerjaan-pekerja di atas bukan termasuk kategori perempuan bekerja. Hal ini karena perempuan bekerja identik dengan wanita karir atau wanita kantoran (yang bekerja di kantor). Pada hal, dimanapun dan kapanpun perempuan itu bekerja, seharusnya tetap dihargai pekerjaannya. Jadi tidak semata dengan ukuran gaji atau waktu bekerja saja. Annggapan ini bisa jadi juga erkait dengan arti bekerja yang berbeda antara Indonesia dengan negara-negara di Barat yang tergolong sebagai negara maju. Konsep bekerja menurut masyarakat di negara-negara Barat (negara maju) biasanya sudah terpengaruh dengan ideologi kapitalisme yang menganggap seseorang bekerja jika memenuhi kriteria tertentu misalnya; adanya penghasilan tetap dan jumlah jam kerja yang pasti. Sedangkan kebanyakan perempuan di Indonesia yang disebutkan tadi, pekerjaan mereka belum menghasilkan penghasilan tetap dan tidak terbatas waktu, bahkan baru dapat dilakukan hanya sebatas kapasitas mereka. Meski bukan fenomena baru, namun masalah perempuan bekerja nampaknya masih terus menjadi perdebatan sampai sekarang. Bagaimanapun, masyarakat masih memandang keluarga yang ideal adalah suami bekerja di luar rumah dan isteri di rumah dengan mengerjakan berbagai pekerjaan rumah. Anggapan negatif (stereotype) yang kuat di masyarakat masih menganggap idealnya suami berperan sebagai yang pencari nafkah, dan pemimpin yang penuh kasih; sedangkan istri menjalankan fungsi pengasuhan anak. Hanya, seiring dengan perkembangan zaman, tentu saja peran-peran tersebut tidak semestinya dibakukan, terlebih kondisi ekonomi yang membuat kita tidak bisa menutup

melahirkan. tentu saja memang akan ada dampak yang timbul jika suami-isteri bekerja di luar rumah. Sehingga dengan makanan dankenyamanan tersebut proses yang lain tidak terganggu. pangan. Kerja produksi dianggap tanggung jawab laki-laki. Bagaimanapun. biasanya dikerjakan di luar rumah. perawatan sehari-hari manusia baik fisik dan mental. Kerja produktif dan reproduktif Untuk dapat melihat definisi dan makna kerja dengan lebih jernih lagi maka mungkin perlu dijelaskan juga tentang kerja dengan membaginya menjadi dua bentuk kerja yaitu kerja produksi dan kerja reproduksi. di mana kedua pekerjaan tersebut dilakukan dan siapa yang melakukan pekerjaan tersebut. saya lebih suka isteri saya di rumah merawat anak-anak”. Baik kerja produksi maupun kerja reproduksi. menyusui. namun mencakup pula pengasuhan. akan tetapi adanya dukungan sistem yang tidak terus membawa perempuan pada posisi yang dilematis. bukan hanya sebatas masalah reproduksi biologis perempuan. atau mencuci maka tidak mungkin akan didapatkan makanan. Namun solusi yang diambil tidak semestinya membebankan istri dengan dua peran sekaligus yaitu peran mengasuh anak (nursery) dan mencari nafkah di luar rumah (provider). Kerja reproduksi dianggap tanggung jawab perempuan dan biasanya dikerjakan di dalam rumah. Kerja reproduktif adalah kerja “memproduksi manusia”. kenyamanan bagi anggota rumah tangga yang lain. Kerja reproduktif juga kerja yang pada prosesnya menjaga kelangsungan proses produksi. misalnya pekerjaan rumah tangga. seperti yang sudah panjang lebar diutarakan di atas. hamil. perdebatan mungkin muncul lebih karena anggapan akan stereotype dari masyarakat bahwa akan ada akibat yang timbul jika suami-isteri bekerja di luar rumah yaitu “mengganggu” keharmonisan yang telah berlangsung selama ini.Tetapi tentu saja pengertian pekerjaan reproduksi seperti ini tidak dianggap sebagai pekerjaan oleh masyarakat dan juga pemerintah padahal secara fisik ini jelas sebagai sebuah kerja. keduanya berperan penting dalam proses kehidupan manusia. papan. Kerja produktif berfungsi memenuhi kebutuhan dasar manusia seperti sandang. Walaupun seringkali jika seorang laki-laki atau suami ditanya maka akan muncul jawaban “Seandainya gaji saya cukup. Terlepas dari pembahasan di atas. nampaknya hampir semua kalangan masyarakat menyetujui bahwa perempuan mendapat kemulian dengan pekerjaannya sebagai ibu . Seperti yang pernah diungkapkan. Dalam sistem kapitalisme yang berlaku dewasa ini. terdapat kecenderungan kuat untuk memisahkan kerja produksi dan reproduksi. kesemuanya berperan penting dalam melahirkan dan memampukan seseorang untuk “berfungsi” sebagaimana mestinya dalam struktur sosial masyarakat. Tanpa ada yang melakukan pekerjaan rumah tangga seperti memasak. yang akan lebih membawa perempuan kepada beban ganda.mata bahwa kadang-kadang istripun dituntut untuk harus mampu juga berperan sebagai pencari nafkah.

tidak mengundang laki-laki untuk berkontribusi lebih besar dalam kerja reproduksi. Demikian pula sebutan “ratu” yang seharusnya berimplikasi pada peran perempuan yang lebih besar dalam pengambilan keputusan di tingkat keluarga. seolah ia adalah bagian kewajiban dari Tuhan dengan imbalan kebahagiaan di akhirat nanti. Kerja perempuan terutama di sektor reproduksi tidak pernah diperhitungkan dalam data perekonomian dan statistik. terjadi “perendahan” terhadap kerja reproduksi biologis perempuan. Di sektor publik sering kali sistem yang ada “tidak mendukung” perempuan (dan lakilaki) bekerja untuk dapat pula melakukan kerja reproduksi secara optimal sekaligus. bukan perempuan yang lebih berperan dalam pengambilan keputusan penting. Contohnya pernyataan “buat apa anak perempuan sekolah tinggi-tinggi. meskipun perempuan telah mencurahkan begitu banyak waktu dan energi. melainkan laki-laki. Perlu . nanti juga ke dapur” atau “si X (perempuan) mah paling juga kawin terus ngurus anak”. Jika kerja tersebut diperhitungkan. mendukung pula pandangan ini. Diskriminasi terselubung dilakukan guna menghindari pemberian cuti tersebut antara lain dengan preferensi tidak tertulis mengutamakan merekrut karyawan laki-laki atau karyawan perempuan lajang. Sayangnya. niscaya akan mematahkan mitos “laki-laki adalah pencari nafkah utama”. Namun yang menjadi pertanyaan kemudian adalah mengapa pekerjaan reproduksi tersebut selalu diberi sebutan sebagai “pekerjaan mulia”. Dan mengapa “pekerjaan mulia” tersebut sebagian besar dibebankan hanya kepada perempuan. pada kenyataannya. Lebih jarang lagi yang memperhitungkan nilai ekonomi pekerjaan rumah tangga. Ternyata. Institusi pendidikan. Jam kerja panjang. Meskipun cuti melahirkan telah diberlakukan secara luas. Sebenarnya di banyak tempat. kerja reproduksi yang sebagian besar dilakukan perempuan berperan sangat penting guna keberlanjutan suatu bangsa dan umat manusia pada umumnya. Norma yang berlaku dewasa ini kerja reproduksi adalah tanggung jawab perempuan. ketiadaan sarana penitipan anak di tempat kerja.rumah tangga hingga ibu rumah tangga mendapat gelar “ratu rumah tangga”. Berkomitmen tinggi terhadap anak dan keluarga dipandang tidak kompatibel dengan dunia kerja. Dengan kata lain. agama. keterlibatan perempuan dalam kerja produksi tidak mengurangi beban tanggung jawabnya di sektor reproduksi. media massa. Memberikan cuti melahirkan bagi karyawan perempuan dianggap pemborosan dan inefiesiensi. dan kesulitan perempuan bekerja untuk menyusui anaknya. masih ada yang merasa rugi memberi cuti melahirkan kepada karyawan perempuan. baik terhadap karyawan perempuan maupun laki-laki. Atas nama tradisi dan kodrat. Situasi di sektor publik sering pula tidak ramah keluarga. perempuan dipandang sewajarnya bertanggung jawab dalam arena domestik. Jarang yang mempertanyakan secara terbuka “kodrat” tersebut. adalah beberapa contoh nyata.

berkaitan dengan masalah perempuan bekerja produksi yaitu dengan bekerja di luar rumah untuk mencari nafkah. usaha warung. sebagai buruh pabrik. pada umumnya perempuan terlibat dalam perdagangan usaha kecil seperti berdagang sayur mayur di pasar tradisional. Untuk kasus kota. Diskriminasi kerja perempuan Terlepas dari persoalan sektor yang digeluti perempuan. diikuti oleh sektor perdagangan 20. Sementara bila mempekerjakan perempuan. Hal ini berlaku khususnya bagi perempuan berpendidikan menengah ke bawah. sementara untuk kasus pedesaan sebagai buruh tani. persentase buruh perempuan adalah 90% dari total buruh. Perempuan di sektor pertanian pedesaan. terdapat preferensi untuk mempekerjakan perempuan pada sektor tertentu dan jenis pekerjaan tertentu karena upah perempuan lebih rendah daripada laki-laki. Sebuah studi tentang buruh perempuan pada industri sepatu di Tangerang.2%. Hal yang perlu digarisbawahi di sini adalah bahwa kecenderungan perempuan terpinggirkan pada pekerjaan marginal tersebut tidak semata-mata disebabkan faktor pendidikan. hanya karena berkeluarga dan memiliki anak menjadi semakin tidak menarik. sementara di perkotaan sektor industri tertentu didominasi oleh perempuan. Sangat penting pula demokratisasi institusi keluarga. perempuan pada strata ini mendominasi sektor pertanian. keterlibatan perempuan di sektor manapun selalu nampak dicirikan oleh “skala bawah” dari pekerjaan perempuan. menemukan bahwa biaya tenaga kerja (upah) buruh laki-laki adalah 10-15% dari total biaya produksi. mayoritas berada di tingkat buruh tani.2%. Di pedesaan. adalah jenis-jenis pekerjaan yang lazim ditekuni perempuan. sepatu dan elektronik. 1991:18). Sejarah menunjukan bahwa perempuan dan kerja publik sebenarnya bukan hal baru bagi perempuan Indonesia terutama mereka yang berada pada strata menengah ke bawah. Perempuan di sektor industri perkotaan terutama terlibat sebagai buruh di industri tekstil. termasuk di dalamnya peningkatan peran serta laki-laki dalam kerja reproduksi dalam rumah tangga. sektor perdagangan juga banyak melibatkan perempuan. Sebuah penelitian tentang buruh perempuan . Dari kalangan pengusaha sendiri. Di sektor perdagangan. Data sensus penduduk tahun 1990 menunjukan bahwa sektor pertanian adalah sektor yang terbesar dalam menyerap tenaga kerja perempuan yaitu 49. Kasus lain dengan substansi yang sama ditemukan pula di sektor pertanian pedesaan. Di luar konteks desa-kota. Seperti yang juga sudah disinggung di atas. Dalam kasus tersebut. pun sesungguhnya sudah lazim ditemui di berbagai kelompok masyarakat. biaya tenaga kerja dapat ditekan hingga 58% dari total biaya produksi (Tjandraningsih. dan sektor industri manufaktur 14. Masalah umum yang dihadapi perempuan di sektor publik adalah kecenderungan perempuan terpinggirkan pada jenis-jenis pekerjaan yang berupah rendah.perbaikan sistem sosial secara menyeluruh agar jangan sampai suatu bangsa atau lebih parah lagi umat manusia punah. garmen. kondisi kerja buruk dan tidak memiliki keamanan kerja.6%.

nilai. Sebenarnya pihak yang diuntungkan dalam kasus diskiriminasi upah adalah .650. diskriminasi upah seringkali lebih tersamar. Diskriminasi upah yang terjadi secara eksplisit maupun implisit. Demikian pula tunjangan kesehatan hanya diberikan kepada dirinya sendiri -tidak untuk suami dan anak-. Dengan demikian -dengan memperhitungkan komponen tunjangan. bekerja di sektor publik kebanyakan atas dasar dorongan kebutuhan ekonomi. 1999: 9). Persentase buruh perempuan pada kasus tembakau adalah 80%. Meskipun besar upah pokok antara pegawai laki-laki dan perempuan sama. atau bahkan lebih.00 per hari sementara buruh lakilaki mendapat upah Rp 1. generalisasi bahwa “semua perempuan bekerja hanya untuk ‘membantu’ suami” atau “semua perempuan bekerja hanya sebagai kegiatan sampingan” banyak tidak terbukti validitasnya. Persoalannya. 1994:52). stereotip. Jika perempuan pada strata menengah ke bawah. Hal ini selain terkait dengan semakin terbukanya peluang bagi perempuan untuk memasuki sektor-sektor yang pada awalnya diperuntukkan hanya untuk laki-laki. buruh perempuan mendapat upah Rp 1.tetap dianggap lajang.total penghasilan pegawai laki-laki dan perempuan berbeda jumlahnya untuk pekerjaan yang sama. Bagi perempuan miskin. Semakin banyaknya perempuan berpendidikan yang berkeinginan untuk aktif di sektor publik merupakan konsekuensi logis dari pembukaan peluang yang lebih besar bagi anak perempuan untuk bersekolah. Seorang pegawai perempuan yang berstatus menikah -karena dia perempuantidak mendapatkan tunjangan suami atau anak. Paling tidak di kedua kasus tersebut telah terjadi penggunaan tenaga kerja perempuan untuk sektor-sektor produktif tertentu dan pemisahan kegiatan-kegiatan tertentu atas dasar jenis kelamin. Dua hal ini dapat di lihat juga melalui peningkatan atau penurunan rasio perempuan di setiap jabatan. di sektor swasta diskriminasi masih terjadi. Bagi perempuan kelas menengah ke atas yang bekerja sebagai pegawai swasta maupun sebagai pegawai negeri. Seorang pegawai perempuan -apakah berstatus menikah atau lajang. seringkali memanipulasi ideologi gender sebagai pembenaran. banyak perempuan menjadi pencari nafkah utama keluarga atau bersama-sama suami memberikan kontribusi finansial hingga 50% dari total penghasilan keluarga.850. bekerja bagi mereka adalah bagian dari aktualisasi diri.00 per hari (Indraswari.pada agro industri tembakau ekspor di Jember bahwa untuk pekerjaan di kebun tembakau. Meskipun sistem pengupahan (termasuk tunjangan) pegawai negeri tidak lagi membedakan pegawai perempuan dan laki-laki. namun komponen tunjangan keluarga dan tunjangan kesehatan dibedakan antara pegawai perempuan dan laki-laki. dalam situasi krisis ekonomi. Sedangkan bagi perempuan di kelas menengah ke atas. maka pada saat ia masuk ke sektor publik “sah-sah” saja untuk memberikan upah lebih rendah karena pekerjaan di sektor publik hanya sebagai “sampingan” untuk “membantu” suami. Karena tugas utama perempuan adalah di sektor domestik. yang mengatur hubungan antara perempuan dan laki-laki terlebih dahulu melalui pembentukan identitas feminin dan maskulin (Ratna Saptari dalam Andria dan Reichman. Ideologi gender adalah segala aturan.

posisi. dia dihardik oleh seseorang untuk tidak keluar rumah. Jika merujuk kepada hadits Nabi. Selain persoalan upah. Kalau lebih jauh menelusuri lembaran-lembaran literatur fikih. yang dengan tegas mengatakan kepadanya: “Petiklah kurma itu. 205 dan al-Mughni li Ibn Qudamah. dalam praktek kehidupan zaman Nabi Saw sesungguhnya ada banyak riwayat menyebutkan tentang sahabat perempuan yang bekerja di dalam dan di luar rumah. yang terkadang melakukan perjalanan cukup jauh. walikota. baik karena sakit. jabatan) karena ideologi patriarkis yang dominan. menteri. miskin atau karena yang lain (lihat fatwa Ibn Hajar. selama ada jaminan keamanan dan keselamatan. Lebih tegas lagi dalam fikih Hambali. Dalam Islam tidak ada masalah Sebagai agama yang diyakini untuk kasih sayang semua umat manusia. Di dalam kitab hadits (Shahih Muslim. Hal ini diindikasikan dengan minimnya jumlah perempuan yang menduduki posisi pengambil keputusan dan posisi strategis lainnya baik di sektor pemerintah maupun di sektor swasta. halaman 1211. dll. bupati. Asma bint Abu Bakr. maka Islam sesungguhnya tidak pernah menekan pihak perempuan dalam bidang pekerjaan. juz VII. apabila nyata-nyata dia tidak bisa bekerja mencari nafkah. juz II. Kemudian dia melapor kepada Nabi Saw. nomor hadits 1483) disebutkan bahwa ketika Bibi Jabir bin Abdullah keluar rumah untuk bekerja memetik kurma. juz IV. Dari gambaran persoalan diatas. h.pemilik modal yang dapat menekan biaya produksi melalui pengurangan komponen biaya tenaga kerja. Meskipun persentase perempuan lebih dari 50% dari total penduduk Indonesia. seorang lelaki yang pada awalnya sudah mengetahui dan menerima calon isterinya sebagai pekerja (baca : perempuan karir) yang setelah . namun perempuan yang menjadi anggota parlemen hanya 7-8% dari total anggota parlemen. h. Baik pekerjaan di rumah maupun luar rumah. suami juga tidak berhak sama sekali untuk melarang isteri bekerja mencari nafkah. karena bekerja adalah hak setiap orang. jumlah perempuan yang menduduki jabatan struktural. dalam perspektif perbandingan dengan laki-laki. isteri sahabat Zubair bin Awwam. termasuk akses terhadap programprogram pelatihan untuk pengembangan karir. Variasi pandangan ulama hanya muncul pada kasus seorang isteri yang bekerja tanpa restu dari suaminya. Demikian pula dapat dihitung dengan jari. selama untuk kebaikan dan kemaslahatan”. perempuan di sektor publik menghadapi kendala lebih besar untuk melakukan mobilitas vertikal (kenaikan pangkat. bekerja bercocok tanam. maupun untuk memenuhi kebutuhan keluarga. baik untuk kepentingan sosial. 573). dapat dilihat telah terjadi pula pelebaran ketimpangan ekonomi antara laki-laki dan perempuan yang ditandai oleh perbedaan upah serta ketidaksamaan akses keuntungan dan fasilitas kerja. Sebutlah misalnya. dalam pandangan banyak ulama fikih. Bahkan di dalam literatur fikih (jurisprudensi Islam) secara umum tidak ditemukan larangan perempuan bekerja.

205. h. Juni 1994 Ratna Saptari. Indraswari. Akhirnya. kecuali air susu hari pertama yang merupakan kewajiban perempuan memberikan kepada anaknya karena mengandung kolostrum yang baik untuk meningkatkan imunitas bayi baru lahir. Upaya mewujudkan Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG). Perempuan bekerja dan perubahan sosial. tak terkecuali yang berkaitan dengan masalah perempuan bekerja. April 1994 Indraswari dan Juni Thamrin. 795. Al-fiqh al-Islami wa adillatuhu. Tinjauan kebijakan pengupahan buruh di Indonesia. 573 Oleh: Swara Rahima Sumber: Kementrian Pemberdayaan Perempuan Kesetaraan Dan Keadilan Gender<center></center> I. Kalyanamitra. Tinjauan pada Agroindustri Tembakau Ekspor di Jember. Indrasari Tjandraningsih. (dd) ] Sumber Bacaan : Dedi Haryadi. perempuan sesungguhnya diperbolehkan meminta upah bila menyusui anaknya. Bahkan dalam fikih. suami tidak boleh kemudian melarang isterinya bekerja atas alasan apapun (lihat : al-fiqh al-Islami wa adillatuhu. Shahih Muslim. nomor hadits 1483. h. 1995. juz II. Fatwa Ibn Hajar. akan tetapi adalah menunjukkan penghargaan pada jerih payah ibu. juz VII. AKATIGA. Fikih membenarkan suami dan isteri. dan Juni Thamrin. Memang tentu saja hal ini tidak secara otomatis mengatakan bahwa Islam mengajarkan hubungan ibu dan bayinya dihitung dengan uang. keduanya bekerja di luar rumah dengan prasyarat-prasyarat tertentu. halaman 1211. juz IV. AKATIGA. Pekerjaan rumah tangga adalah pekerjaan yang sesungguhnya untuk perempuan dan lakilaki. 795).perkawinan juga akan terus bekerja di luar rumah. juz VII. AlMughni li Ibn Qudamah. Yang berarti fikih tidak memandang bahwa kewajiban seorang lelaki (misalnya suami) untuk mencari nafkah menjadi penghalang bagi perempuan untuk bekerja di luar rumah juga untuk mencari nafkah. di Indonesia dituangkan dalam kebijakan nasional sebagaimana ditetapkan dalam Garis-Garis Besar Haluan . berbagai jalan dapat ditempuh untuk tetap memberikan keadilan bagi perempuan. Pendahuluan Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG) sudah menjadi isu yang sangat penting dan sudah menjadi komitmen bangsa-bangsa di dunia termasuk Indonesia sehingga seluruh negara menjadi terikat dan harus melaksanakan komitmen tersebut. Potret kerja buruh perempuan. h. juz VII. Jadi pendefinisian bahwa pekerjaan di luar rumah adalah tugas laki-laki dan pekerjaan di dalam rumah adalah pekerjaan perempuan adalah hasil penafsiran terhadap teks secara sempit. h.

415) dari total (206. UU No. pemantauan dan evaluasi dengan mempertimbangkan permasalahan kebutuhan. sistem upah yang merugikan. ternyata belum dapat memberikan manfaat yang setara bagi perempuan dan laki-laki. Disamping itu pengarusutamaan gender juga merupakan salah satu dari empat key cross cutting issues dalam Propenas. 2000 tentang Program Pembangunan NasionalPROPENAS 2000-2004. propinsi maupun di kabupaten/kota. Hal ini menunjukkan bahwa hak-hak perempuan memperoleh manfaat secara optimal belum terpenuhi sehingga pembangunan nasional belum mencapai hasil yang optimal. Pelaksanaan PUG diisntruksikan kepada seluruh departemen maupun lembaga pemerintah dan non departemen di pemerintah nasional. sehingga manfaat pembangunan kurang diterima kaum perempuan. Partisipasi aktif wanita dalam setiap proses pembangunan akan mempercepat tercapainya tujuan pembangunan. Berbagai upaya pembangunan nasional yang selama ini diarahkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. baik perempuan maupun laki-laki. dan dipertegas dalam Instruksi Presiden No. Disadari bahwa keberhasilan pembangunan nasional di Indonesia baik yang dilaksanakan oleh pemerintah. Hal ini disebabkan karena kondisi dan posisi yang kurang menguntungkan dibanding laki-laki. akan memperlambat proses pembangunan atau bahkan perempuan dapat menjadi beban pembangunan itu sendiri. 9 tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender (PUG) dalam Pembangunan nasional. 25 th. perempuan kurang dapat berperan aktif.9% (102. Kenyataannya dalam beberapa aspek pembangunan. pelaksanaan. Pada pelaksanaannya sampai saat ini peran serta kaum perempuan belum dioptimalkan.264.595) penduduk Indonesia (Sensus Penduduk 2000) merupakan sumberdaya pembangunan yang cukup besar.Negara (GBHN) 1999. tingkat kesehatan dan pendidikan yang rendah.847. sebagai salah satu strategi untuk mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender. karena masih belum memanfaatkan kapasitas sumber daya manusia secara penuh. Penduduk wanita yang jumlahnya 49. untuk melakukan penyusunan program dalam perencanaan. Seperti peluang dan kesempatan yang terbatas dalam mengakses dan mengontrol sumberdaya pembangunan. swasta maupun masyarakat sangat tergantung dari peran serta laki-laki dan perempuan sebagai pelaku dan pemanfaat hasil pembangunan. Oleh karena itu program pemberdayaan perempuan telah menjadi agenda bangsa dan memerlukan dukungan semua pihak. aspirasi perempuan pada pembangunan dalam kebijakan. program/proyek dan kegiatan. Bahkan belum cukup efektif memperkecil kesenjangan yang ada. . Kurang berperannya kaum perempuan.

(50. Kondisi perempuan Indonesia Secara keseluruhan indeks kualitas hidup manusia digambarkan melalui Indeks Pembangunan Manusia/Human Development Index (HDI) yang berada pada peringkat ke-96 pada tahun 1995 yang kemudian menurun ke peringkat 109 pada tahun 1998 dari 174 negara. 70 dan 77.264.1% diantaranya laki-laki dan 49. ekonomi dan politik yang diarahkan pada pemerataan pembangunan. II. Thailand. 110 dari 173 negara. Berdasarkan Human Development Report 2003. dibandingkan Negara-negara ASEAN lainnya seperti HDI Malaysia. Kondisi dan posisi perempuan meliputi 3 (tiga) aspek tersebut di atas sebagai berikut: 1. dan arah pembangunan yang responsif gender. legislatif terhadap arti. cenderung dipahami parsial kurang kholistik. Indeks pembangunan manusia skala internasional dan nasional dilihat dri tiga aspek yaitu pendidikan. kaum perempuan masih tertinggal dibandingkan laki-laki. Pendidikan Di bidang pendidikan. Tahun 1999 berada pada peringkat 102 dari 162 negara dan tahun 2002. Philippina yang menempati urutan 59. Rendahnya pemahaman para pengambil keputusan di eksekutif. tujuan.9% perempuan). Sedangkan Gender related Development Index (GDI) berada pada peringkat ke-88 pada tahun 1995. Philippina yang masing-masing berada pada peringkat 54. Peraturan perundang-undangan masih berpihak pada salah satu jenis kelamin dengan kata lain belum mencerminkan kesetaraan gender. Thailand. yudikatif. umumnya lebih mengutamakan laki-laki daripada perempuan (ideology patriarki). Penafsiran ajaran agama yang kurang komprehensif atau cenderung tekstual kurang kontekstual. 60. mengingat mereka mempunyai peran reproduksi yang sangat berperan dalam mengembangkan sumber daya manusia masa depan. Kemudian pada tahun 2002 pada peringkat 91 dari 144 negara GDI inipun masih tertinggal dibandingkan dengan-negara di ASEAN seperti Malaysia.Faktor penyebab kesenjangan gender yaitu Tata nilai sosial budaya masyarakat. Kondisi ini antara lain disebabkan adanya pandangan dalam masyarakat yang mengutamakan dan . kemudian menurun ke peringkat 90 (1998) dan peringkat 92 (1999 dari 146 negara). Jumlah laki-laki sedikit lebih banyak dibandingkan perempuan. kemauan dan kesiapan perempuan sendiri untuk merubah keadaan secara konsisten dan konsekwen. Adanya kesenjangan pada kondisi dan posisi laki-laki dan perempuan menyebabkan perempuan belum dapat menjadi mitra kerja aktif laki-laki dalam mengatasi masalahmasalah sosial. Berdasarkan hasil Survey Penduduk 2000 (BPS) diketahui jumlah penduduk Indonesia sebesar 206. Selain itu rendahnya kualitas perempuan turut mempengaruhi kualitas generasi penerusnya.595 orang. HDI Indonesia menempati urutan ke-112 dari 175 negara. 63. Kemampuan. kesehatan dan ekonomi.

Estimasi Parameter Demografi.9. Ketertinggalan perempuan dalam bidang pendidikan tercermin dari presentase perempuan buta huruf (14. angka kematian anak. Statistik Kesejahteraan Rakyat 19992002). Statistik Kesejahteraan Rakyat 1999-2001). demikian juga dengan akses terhadap sumber daya ekonomi.69% (Sumber: BPS. Statistik Kesejahteraan Rakyat 1999-2001).54% tahun 2001) lebih besar dibandingkan laki-laki (6. Statistik Kesejahteraan Rakyat 1999-2001). (Sumber: BPS.000 (SDKI 1994). 337/100.9 tahun (2000). Angka buta huruf perempuan 12.8 sedangkan perempuan 7. Statistik Kesejahteraan Rakyat 1999-2002).8 tahun (1998) menjadi 67. Angka buta huruf perempuan pada kelompok 10 tahun ke atas secara nasional (2002) sebesar 9. 2. Sejalan dengan semakin meningkatnya kondisi kesehatan masyarakat. dengan kecenderungan meningkat selama tahun 1999-2000.87%).000 (SDKI 1997). perempuan 31.84%. Berdasarkan estimasi parameter demografi 1998 yang dikeluarkan BPS. kemampuan perempuan memperoleh peluang kerja dan berusaha masih rendah. yang ditunjukkan dengan masih tingginya angka kematian ibu (AKI) 390/100.34%. Menurunnya angka kematian anak serta meningkatnya angka harapan hidup dari 64. Dibidang kesehatan. dan menurun 307/100.mendahulukan laki-laki untuk mendapatkan pendidikan daripada perempuan. namun demikian angka kematian anak laki-laki lebih tinggi dibandingkan kematian anak perempuan laki-laki 9. angka harapan hidup (eo) pada periode 19982000 cenderung meningkat. 1998). Sedangkan ditahun 2003 TPAK laki-laki lebih besar dibanding TPAK perempuan . Child Mortality Rate (CMR) periode ini juga menunjukkan penurunan. khususnya perempuan kepala rumah tangga.29% dengan komposisi laki-laki 5. 3. (Sumber: BPS.85% dan perempuan 12. yaitu 45% (2002) sedangkan laki-laki 75. Namun angka buta huruf perempuan tetap lebih besar dari laki-laki. secara umum partisipasi perempuan masih rendah. Tetapi pada tahun 2002 terjadi penurunan angka buta huruf yang cukup signifikan. Hal ini ditunjukkan dengan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) yang masih jauh lebih rendah dibandingkan laki-laki. kemajuan di bidang kesehatan ditunjukkan dengan menurunnya angka kematian bayi (dari 49 bayi per 1000 kelahiran pada tahun 1998 menjadi 36 tahun 2000.7 tahun berbanding 65. Dibidang kesehatan dan status gizi perempuan masih merupakan masalah utama. (Sumber: BPS. (Sumber: BPS. Kesehatan Menurut Gender Statistics and indicators 2000 (BPS). (Sumber: BPS. selama periode 1998-2000 ada penurunan angka kematian bayi. Infant Mortality Rate (IMR). yaitu 69. Usia harapan hidup (life expectancy rate) perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Namun angka kematian bayi laki-laki lebih tinggi dibandingkan angka kematian bayi perempuan.28% sedangkan laki-laki 5. Ekonomi Di bidang ekonomi. Menurut Satatistik Kesejahteraan Rakyat 2003. Laki-laki 41.9 tahun.000 (SDKI 2002).

Masalah yang sering muncul adalah perdagangan perempuan. dan persamaan hak dalam keluarga. Jumlah perempuan yang menjabat sebagai Hakim Agung dan Hakim Yustisial Non Struktural di Mahkamah Agung juga menunjukkan penurunan dari 36 pada tahun 1998 menjadi 34 pada tahun 1999. antara lain dampak negatif dari proses urbanisasi. relatif tingginya angka kemiskinan dan pengangguran. (BPS.8% dari seluruh anggota DPR. laki-laki sebesar 63. Faktor Kesenjangan dibidang hukum dan politik Faktor penyebab kesenjangan kondisi dan posisi perempuan dan laki-laki dipengaruhi oleh peraturan perundang-undangan yang bias gender karena dalam bidang hukum masih banyak dijumpai substansi. dan 28 pada tahun 2002. serta rendahnya tingkat pendidikan.8%. Jumlah peraturan perundang-undangan yang diskrimintaif terhadap perempuan berjumlah kurang lebih 32 buah. Faktor penyebab kesenjangan gender pada aspek lain misalnya politik sebagai berikut: hasil Pemilu tahun 1999 yang menyertakan 57% pemilih perempuan hanya terwakili 8. 2003). (Statitik dan Indikator Gender. kekerasan. Pemilu 2004 perempuan hanya terwakili 11%.146). dan negara.861). Sedangkan tahun 2000 terjadi sedikit perubahan dimana jumlah PNS perempuan adalah 37. dan pelacuran paksa. BPS. lebih rendah dari hasil pemilu 1997 yang berjumlah 11. dan dari jumlah tersebut hanya 15. yang umumnya timbul dari berbagai faktor yang saling terkait. Pengertian Kesetaraan dan Keadilan gender . (Sumber: Statistik dan Indikator Gender Indonesia 2002).4% dari jumlah seluruh PNS (3. Masalah HAM bagi perempuan termasuk isu gender yang menuntut perhatian khusus adalah masalah penindasan dan eksploitasi.6%. IV. struktur. III. 2000). Statistik Kesejahteraan Rakya.005.12% berbanding 44.2% dari jumlah pemilih 51%. Pada tahun 1999 jumlah PNS perempuan adalah 36. dan budaya hukum yang diskriminatif gender.3%. (Sumber: Statistik dan Indikator Gender Indonesia 2002-Bab7).7% yang menduduki jabatan struktural. masyarakat.2% PNS perempuan yang menduduki jabatan struktural. lakilaki sebesar 62.yakni 76.927.81%. dan dari jumlah tersebut hanya 15. sedangkan PNS laki-laki sebesar 84.1% dari jumlah seluruh PNS (4.9%. sedangkan PNS laki-laki sebesar 84.

Pengertian gender dan seks Gender adalah perbedaan dan fungsi peran sosial yang dikonstruksikan oleh masyarakat. Sehingga memperoleh manfaat yang sama dari pembangunan. subordinasi. ekonomi. dan dapat berubah dari waktu ke waktu. marginalisasi dan kekerasan terhadap perempuan maupun laki-laki.Kesetaraan gender berarti kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan serta hak-haknya sebagai manusia. beban ganda. fungsi. sosial budaya. Dengan demikian gender dapat dikatakan pembedaan peran. Keadilan gender adalah suatu proses dan perlakuan adil terhadap perempuan dan lakilaki. Memiliki akses dan partisipasi berarti memiliki peluang atau kesempatan untuk menggunakan sumber daya dan memiliki wewenang untuk mengambil keputusan terhadap cara penggunaan dan hasil sumber daya tersebut. hukum. . Kesetaraan gender juga meliputi penghapusan diskriminasi dan ketidak adilan struktural. Terwujudnya kesetaran dan keadilan gender ditandai dengan tidak adanya diskriminasi antara perempuan dan laki-laki. serta tanggung jawab laki-laki dan perempuan Sehingga gender belum tentu sama di tempat yang berbeda. dan dengan demikian mereka memiliki akses. dan kontrol atas pembangunan serta memperoleh manfaat yang setara dan adil dari pembangunan. ketentuan sosial dan budaya ditempat mereka berada. serta kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan tersebut. Oleh karena itu gender berkaitan dengan proses keyakinan bagaimana seharusnya laki-laki dan perempuan berperan dan bertindak sesuai dengan tata nilai yang terstruktur. Oleh karena itu tidak dapat ditukar atau diubah. pendidikan dan pertahanan dan keamanan nasional (hankamnas). Seks/kodrat adalah jenis kelamin yang terdiri dari perempuan dan laki-laki yang telah ditentukan oleh Tuhan. Gender bukanlah kodrat ataupun ketentuan Tuhan. Memiliki kontrol berarti memiliki kewenangan penuh untuk mengambil keputusan atas penggunaan dan hasil sumber daya. agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik. Dengan keadilan gender berarti tidak ada pembakuan peran. kesempatan berpartisipasi. V. tanggung jawab antara perempuan dan laki-laki yang dibentuk/dikonstruksi oleh sosial budaya dan dapat berubah sesuai perkembangan zaman. Ketentuan ini berlaku sejak dahulu kala. baik terhadap laki-laki maupun perempuan. sekarang dan berlaku selamanya.

Sesungguhnya perbedaan gender dengan pemilahan sifat. Permasalah Ketidakadilan Gender Ketertinggalan perempuan mencerminkan masih adanya ketidakadilan dan ketidak setaraan antara laki-laki dan perempuan di Indonesia. dapat dipertukarkan. terhadap laki-laki dan perempuan. saling terkait dan berpengaruh secara dialektis (Achmad M. berlaku sepanjang masa. peran. Mosse. Selanjutnya Achmad M. dan dampak suatu peraturan perundang-undangan maupun kebijakan telah menimbulkan berbagai ketidakadilan karena telah berakar dalam adat. melainkan buatan manusia. hal. tetapi juga bagi kaum laki-laki. VI. 1998a. terutama pada perempuan. 1990). Namun pada kenyataannya perbedaan gender telah melahirkan berbagai ketidak adilan. ketidak adilan gender adalah suatu sistem dan struktur yang menempatkan laki-laki maupun perempuan sebagai korban dari sistem (Faqih. 1997). menyatakan. Berbagai pembedaan peran. Kondisi demikian mengakibatkan kesenjangan peran sosial dan tanggung jawab sehingga terjadi diskriminasi. norma ataupun struktur masyarakat. 2001). Gender masih diartikan oleh masyarakat sebagai perbedaan jenis kelamin. 1996). stereotipe/pelabelan negatif sekaligus perlakuan diskriminatif (Bhasin. tugas dan tanggung jawab serta kedudukan antara laki-laki dan perempuan baik secara langsung maupun tidak langsung. di belahan dunia manapun. budaya setempat. Hanya saja bila dibandingkan. hal ini dapat terlihat dari gambaran kondisi perempuan di Indonesia. tergantung waktu. 1996. dan posisi tidak menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan. Masyarakat belum memahami bahwa gender adalah suatu konstruksi budaya tentang peran fungsi dan tanggung jawab sosial antara laki-laki dan perempuan. Faqih dalam Achmad M. tidak dapat dipertukarkan. diskriminasi terhadap perempuan kurang menguntungkan dibandingkan laki-laki. Lain halnya dengan seks. dan merupakan kodrat atau ciptaan Tuhan. Bentuk-bentuk ketidakadilan akibat diskriminasi gender . menyatakan. ketidak adilan gender termanifestasikan dalam berbagai bentuk ketidakadilan. 1997). 33. Manisfestasi ketidakadilan gender tersebut masing-masing tidak bisa dipisah-pisahkan.Dengan demikian perbedaan gender dan jenis kelamin (seks) adalah Gender: dapat berubah. seks tidak dapat berubah. kekerasan terhadap perempuan (Prasetyo dan Marzuki. misalnya marginalisasi. VII. bukan merupakan kodrat Tuhan. beban kerja lebih banyak dan panjang (Ihromi. subordinasi. bukan saja bagi kaum perempuan. berlaku dimana saja. fungsi.

♣Banyak pekerjaan yang dianggap sebagai pekerjaan perempuan seperti “guru taman kanak-kanak” atau “sekretaris” dan “perawat”. Selain itu perkembangan teknologi telah menyebabkan apa yang semula dikerjakan secara manual oleh perempuan diambil alih oleh mesin yang ummunya dikerjakan oleh tenaga laki-laki. ♣Pemotongan padi dengan peralatan sabit. atau hendak berpergian ke luar negeri harus mendapat . ♣Peluang menjadi pembantu rumah tangga lebih banyak perempuan.1. mesin yang diasumsikan hanya membutuhkan tenaga dan keterampilan laki-laki. Marginalisasi perempuan sebagai salah satu bentuk ketidakadilan gender Proses marginalisasi (peminggiran/pemiskinan) yang mengakibatkan kemiskinan. menggantikan tangan perempuan dengan alat panen ani-ani. eksploitasi. banyak pekerja perempuan tersingkir dan menjadi miskin akibat dari program pembangunan seperti internsifikasi pertanian yang hanya memfokuskan petani laki-laki. 1997. Sebagai contoh apabila seorang isteri yang hendak mengikuti tugas belajar. Perempuan dipinggirkan dari berbagai jenis kegiatan pertanian dan industri yang lebih memerlukan keterampilan yang biasanya lebih banyak dimiliki laki-laki. Namun pemiskinan atas perempuan maupun laki yang disebabkan jenis kelamin merupakan salah satu bentuk ketidakadilan yang disebabkan gender. 2. ♣Usaha konveksi lebih suka menyerap tenaga perempuan. Sudah sejak dahulu ada pandangan yang menempatkan kedudukan dan peran perempuan lebih rendah dari lakilaki. tafsiran ajaran agama maupun dalam aturan birokrasi yang meletakan kaum perempuan sebagai subordinasi dari kaum laki-laki. Sebagai contoh. banyak terjadi dalam masyarakat terjadi dalam masyarakat di Negara berkembang seperti penggusuran dari kampong halaman. Seperti Program revolusi hijau yang memiskinkan perempuan dari pekerjaan di sawah yang menggunakan ani-ani. Kenyataan memperlihatkan bahwa masih ada nilai-nilai masyarakat yang membatasi ruang gerak terutama perempuan dalam kehidupan. Subordinasi Subordinasi pada dasarnya adalah keyakinan bahwa salah satu jenis kelamin dianggap lebih penting atau lebih utama dibanding jenis kelamin lainnya. Beberapa studi dilakukan untuk membahas bagaimana program pembangunan telah meminggirkan sekaligus memiskinkan perempuan (Shiva. Contoh-contoh marginalisasi: Pemupukan dan ♣pengendalian hama dengan teknologi baru yang dikerjakan laki-laki. Di Jawa misalnya revolusi hijau memperkenalkan jenis padi unggul yang panennya menggunakan sabit. 1996). Mosse. Banyak kasus dalam tradisi.

Berbagai observasi. Dalam suatu rumah tangga pada umumnya beberapa jenis kegiatan dilakukan laki-laki. 4. jika hendak aktif dalam “kegiatan laki-laki” seperti berpolitik. bahkan di tingkat pemerintah dan negara. bisnis atau birokrat. namun standar nilai tersebut banyak menghakimi dan merugikan perempuan. Kata kekerasan merupakan terjemahkan dari violence. mertua. Hal ini tidak hanya terjadi dalam lingkup rumah tangga tetapi juga terjadi di tempat kerja dan masyaraklat. baik di dalam rumah tangga sendiri maupun di tempat umum. Beban Ganda Bentuk lain dari diskriminasi dan ketidak adilan gender adalah beban ganda yang harus dilakukan oleh salah satu jenis kalamin tertentu secara berlebihan. artinya suatu serangan terhadap fisik maupun integritas mental psikologis seseorang. ia dianggap tegas. 3. yakni terjadi terhadap salah satu jenis kelamin. Pelaku kekerasan bermacam-macam. Kekerasan Berbagai bentuk tidak kekerasan terhadap perempuan sebagai akibat perbedaan. Label kaum perempuan sebagai “ibu rumah tangga” merugikan. Sementara label laki-laki sebagai pencari nakah utama. dan beberapa dilakukan oleh perempuan.izin suami. (breadwinner) mengakibatkan apa saja yang dihasilkan oleh perempuan dianggap sebagai sambilan atau tambahan dan cenderung tidak diperhitungkan. menunjukkan perempuan mengerjakan hampir 90% dari pekerjaan dalam rumah tangga. Sehingga bagi mereka yang bekerja. pemukulan dan penyiksaan. muncul dalam bebagai bentuk. seperpti pelecehan seksual sehingga secara emosional terusik. majikan. tetapi bila perempuan marah atau tersinggung dianggap emosional dan tidak dapat menahan diri. . (perempuan). Pelabelan negatif secara umum selalu melahirkan ketidakadilan. keponakan. tatapi kalau suami yang akan pergi tidak perlu izin dari isteri. ada yang bersifat individu. Pandangan stereotipe Setereotipe dimaksud adalah citra baku tentang individu atau kelompok yang tidak sesuai dengan kenyataan empiris yang ada. paman. tetangga. ada juga di dalam masyarakat itu sendiri. sepupu. Standar nilai terhadap perilaku perempuan dan laki-laki berbeda. anak laki-laki. Oleh karena itu kekerasan tidak hanya menyangkut serangan fisik saja seperti perkosaan. Misalnya pandangan terhadap perempuan yang tugas dan fungsinya hanya melaksanakan pekerjaan yang berkaitan dengan pekerjaan domistik atau kerumahtanggaan. Apabila seorang laki-laki marah. Hal ini mengakibatkan terjadinya diskriminasi dan berbagai ketidakadilan yang merugikan kaum perempuan. Salah satu stereotipe yang berkembang berdasarkan pengertian gender. 5. Pelaku bisa saja suami/ayah. tetapi juga yang bersifat non fisik.

and the world. 25 tahun 2000 Propenas ♣UU No. toleransi. PBB (1948) memberi aspirasi bagi gerakan feminis untuk memperjuangkan hak-hak perempuan (all human beings are born free and equal in dignity and rights). dan negara • Pendidik pertama dan utama bagi generasi penerus keluarga. Cairo 1994 mengagendakan perlindungan terhadap hak reproduksi perempuan dalam pembangunan yang berkelanjutan. Secara Nasional antara lain: Adanya ♣UUD 1945 yang sudah empat kali diamandemen tentang♣UU No. • 1963. Commission on the Status of Women (1967) memberi aspirasi pada lahirnya PKK.selain bekerja di tempat kerja juga masih harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga. 7 tahun 1984. Indonesia meratifikasi CRC (Convention Rights of Children). 12 tahun 2000 tentang Pemilu . the community. 1995 merinci 12 keprihatinan terhadap perempuan yang dikenal dengan 12 critical issues. 1985 setujui pembentukan UNIFEM lembaga PBB untuk perempuan dengan program WAD (Women and Development) 1979 CEDAW-PBB. 1990 menyetujui program GAD (Gender and Development) dengan strategi Pengarustuaamaan Gender. Indonesia meratifikasi CEDAW. • Pertemuan di Vienna. 1952 hak politik dan ekonomi perempuan diadopsi PBB. gerakan global emasipasi masuk dalam agenda PBB (ECOSOC) untuk diakomodasi Negara anggota. 1975) Kelebihan/potensi perempuan: • Rasa sosial. bangsa. the nation. • Konferensi di Beijing. 36 tahun 1990. 1975 menyetujui program WID (Women in Development) sebagai strategi meningkatkan peran wanita. VIII. terutama bila bergerak dalam bidang publik. Dirasakan banyak ketimpangan. dan negara Perjuangan Kesetaraan laki-laki dan perempuan (internasional) • Deklarasi HAM. • Konferensi di Nairobi. meskipun ada juga ketimpangan yang dialami kaum laki-laki di satu sisi. terutama bagi anak-anaknya • Perajut persatuan dan kesatuan hidup masyarakat. • Konferensi ICPD. Women must participate equally with men in the decision making process which help to promote peace at all the levels (Deklarasi Konferensi Mexico. melalui Keputusan Presiden No. melalui UU No. • Konferensi di Mexico. Peran perempuan di domestik dan publik Women have a vital role to play in the promotion of peace in all sphares of life. Dalam proses pembangunan. ikatan kelompok • Jiwa interpreneur (keseimbangan pendapatan-pengeluaran) • Perhatian terhadap pemenuhan kebutuhan dasar keluarga. kenyataannya perempuan sebagai sumber daya insani masih mendapat pembedan perlakuan. in the family. bangsa.

Prinsip dasar membangun kesetaran gender di Indonesia • Menghargai pluralistik • Pendekatan sosio-kultural • Peningaktan ekonomi dan kesejahteraan rakyat • Penegakan HAM dan supremasi hukum • Penghapusan kekerasan dan diskriminasi • Penyadaran pilar pembangunan • Pemerintah: sosialisasi dan advokasi • Masyarkat: sensitisasi dan advokasi • Dunia usaha. pada saat ini masih banyak kebijakan. Untuk meningkatkan status dan kualitas perempuan juga telah diupayakan namun hasilnya masih belum memadai. juga masih belum mapannya hubungan kemitraan antara pemerintah dengan masyarakat maupun lembaga-lembaga yang memiliki visi pemberdayaan perempuan yaitu dalam tahap-tahap perencanaan. yang mana belum mempertimbangkan perbedaan pengalaman. beban kerja masih berat. Penyebabnya antara lain belum adanya kesadaran gender terutama di kalangan para perencana dan pembuat keputusan. kedudukan masih rendah. 9♣IInstruksi tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional. . pemahman. Berbagai peningkatan pemberdayaan perempuan bisa dilihat dengan meningkatnya kualitas hidup perempuan dari berbagai aspek . IX. program dan kegiatan pembangunan yang belum peka gender. ketidak lengkapan data dan informasi gender yang dipisahkan menurut jenis kelamin (terpilah). dan penyadaran kepada semua pihak untuk mewujudkan kesetaran gender dan perlindungan anak dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.Presiden No. penyadaran dan advokasi • Penyatuan persepsi. meskipun masih belum optimal. aspirasi dan kepentingan antara perempuan dan laki-laki serta belum menetapkan kesetaran dan keadilan gender sebagai sasaran akhir pembangunan. Upaya-upaya dan usaha yang dilakukan pemerintah dalam rangka KKG Upaya mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender sebagai visi Kementerian Pemberdayaan Perempuan RI sebenarnya merupakan bentuk pembaruan pembangunan pemberdayaan perempuan yang selama tiga dasa warsa telah memberikan manfaat yang cukup besar. ini terlihat dari kesempatan kerja perempuan belum membaik. Di lain pihak.

Dengan demikian pemberdayaan perempuan dalam rangka mewujudkan KKG merupakan komitmen bangsa Indonesia yang pelaksanaannya menjadi tanggung jawab seluruh pihak eksekutif. pemantauan dan evaluasi kebijakan dan program pembangunan Bergesernya proporsi pekerjaan utama perempuan dari pertanian ke ranah industri. 2001) Dalam GBHN 1999-2004 menetapkan dua arah kebijakan pemberdayaan perempuan yakni pertama meningkatkan kedudukan dan peranan perempuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara melalui kebijakan nasional yang diemban oleh lembaga yang mampu memperjuangkan terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender. hal. Selain nilai-nilai budaya patriarkhi yang dilegitimasi dengan (atas nama) agama dan sistem sosial yang menempatkan perempuan dan laki-laki dalam kedudukan dan peran yang berbeda dan dibeda-bedakan. (Zaitunah Subhan. Meskipun kemajuan perempuan ini hanya bisa dinikmati pada tataran masyarakat yang sosial ekonominya mapan (menengah ke atas). . kesempatan dan akses serta kontrol dalam pembangunan. Hal ini tidak lain karena masalah struktural utamanya. yang pelaksanaannya dapat memberikan hasil terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender di segala bidang kehidupan dan pembangunan. Sebaliknya pada tingkat sosial ekonomi menengah ke bawah. serta perolehan manfaat atas hasil pembangunan. masih sering dijumpai ketimpangan antara laki-laki dan perempuan baik dalam memperoleh peluang. Kedua meningkatkan kualitas peran dan kemandirian organisasi perempuan dengan tetap mempertahankan nilai persatuan dan kesatuan serta nilai historis perjuangan perempuan dalam rangka melanjutkan usaha pemberdayaan perempuan serta kesejahteraan keluarga dan masyarakat. legislatif. masyarakat dan berbangsa serta bernegara merupakan indikator keberhasilan pemberdayaan perempuan khususnya upaya kesetaraan dan keadilan gender mulai dapat dirasakan. 17-18. meningkatnya mobilitas perempuan baik migrasi domestik maupun internasional serta semakin membaiknya peran perempuan di lingkup keluarga. tokoh-tokoh agama dan masyarakat secara keseluruhan. Sesuai dengan dua arahan kebijakan itu.pelaksanaan. yudikatif. pemerintah bertanggung jawab untuk merumuskan kebijakan-kebijakan pemberdayaan perempuan di tingkat nasional maupun daerah.

Mencakup Program Pengembangan dan Keserasian Kebijakan Pemberdayaan Perempuan. Selanjutnya Propenas telah dirumusakan secara lebih rinci setiap tahunnya ke dalam Rencana Pembangunan tahunan (Repeta). serta melalui aplikasi konsep gender dalam formulasi dan pelaksanaan kebijakan dan program untuk kesehatan reproduksi dan kependudukan. Program Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan. Kementerian Pemberdayaan Perempuan telah bekerjasama dengan UNFPA dalam melaksanakan serangkaian kegiatan Mainstreaming Gender Issues in Reproductive Health and Population Policies and Programmes. Program Sumber Daya. Upaya mengaktualisasikan dan memanifestasikan dan mengakselerasi-kan PUG di sektor strategis. Kementerian Pemberdayaan Perempuan juga telah melaksanakan program dan langkah konkrit antara lain: • Program Pengembangan dan keserasian kebijakan pemberdayaan perempuan. Tujuan utama program ini adalah tercapainya perbaikan status kesehatan reproduksi kaum perempuan dan laki-laki melalui kebijakan program kesehatan reproduksi dan kependudukan yang sensitif gender. Program Peningkatan Kesejahteraan dan Perlindungan Anak. untuk tahun 2001 (Repeta 2001). Selanjutnya dalam Rencana Strategi Kementerian Pemberdayaan Perempuan 2001-2004. Dalam rangka mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender melaui program yang peka akan permasalahan gender.Berdasarkan arah kebijakan yang dimandatkan oleh GBHN 1999-2004 untuk butir pemberdayaan perempuan. Propenas 2000-2004 telah melakukan mainstreaming kebijakan dan program pembangunan pemberdayaan perempuan. • Program Peningkatan Peranserta masyarakat dan penguatan kelembagaan PUG dilakukan dengan melalui: sosialisasi. Program Peningkatan Peran Masyarakat Pemampuan Kelembagaan Pengarusutamaan Gender. propinsi dan kabupaten/kota. serta serangkaian koordinasi telah dilakukan dalam upaya perbaikan undang-undang yang masih bias gender seperti UU No. • Pengembangan modul sosialisasi/advokasi gender. peningkatan kesejahteraan dan perlindungan anak dan upaya peningkatan kemampuan. 62 tahun 1958 tentang Kewarganegaraan. propinsi. Sarana dan Prasarana. . maka untuk mewujudkan kesetaran dan keadilan gender harus menjadi komitmen bersama. dan pelatihan analisis gender baik di tingkat pusat. dan kabupaten/kota. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan dan UU No. Mengingat produk tersebut merupakan undang-undang. Hal ini akan dicapai melalui penguatan kapasitas nasional untuk melakukan pengarusutamaan gender. advokasi. program yang disusun terdiri dari program dalam rangka pembangunan pemberdayaan perempuan.

dimana diharapkan perempuan memiliki peranan yang lebih kuat dalam proses pembangunan. dan Problem Base Analysis (PROBA). sosial. Kurangnya keikutsertaan perempuan dalam memberikan konstribusi terhadap program pembangunan menyebabkan kesenjangan yang ada terus saja terjadi. Akibat diskriminasi gender yang telah berlaku sejak lama. X. Saran dan pesan: Pada kesempatan ini dihimbau kepada para kandidat puteri Indonesia yang dibanggakan untuk berperan aktif dalam memajukan posisi dan kondisi perempuan Indonesia dalam . selain itu ketimpangan lebih banyak dialami perempuan dari pada laki-laki. politik. Kondisi yang tidak menguntungkan ini apabila tidak diatasi. kabupaten dan kota. • Pengembanagan Homepage untuk penyediaan data dan informasi program pembangunan pemberdayaan perempuan. pekerjaan. kondisi perempuan di bidang ekonomi. Kondisi ini terkait erat dengan masih kuatnya nilai-nilai tradisional terutama di pedesaan. • Tersedianya data dan informasi yang terpilah menurut jenis kelamin secara berkala dan berkesinambungan dari propinsi dan kabupaten/kota mengenai pengarusutamaan gender dalam pembangunan daerah. Bahwa status perempuan dalam kehidupan sosial dalam banyak hal masih mengalami diskriminasi haruslah diakui. dimana perempuan kurang memperoleh akses terhadap pendidikan. berbangsa dan bernegara. bermasyarakat. maka ketimpangan atau kesenjangan pada kondisi dan posisi perempuan tetap saja akan terjadi. • Fasilitasi bantuan teknis kepada daerah propinsi. pengambilan keputusan dan aspek lainnya. konsep kesetaraan dan keadilan gender dan jaringan informasi dengan website. • Penyusunan Profil Gender untuk 26 propinsi. XI. hankam dan HAM berada pada posisi yang tidak menguntungkan.• Pengembangan alat untuk analisis gender yang digunakan dalam perencanaan program dan dikenal dengan Gender Analysis Pathway (GAP). dan budaya. Kesimpulan Berdasarkan uraian di atas menunjukkan bahwa diskriminasi gender telah melahirkan ketimpangan dalam kehidupan berkeluarga. Keadaan ini menciptakan permasalahan tersendiri dalam upaya pemberdayaan perempuan.

masyarakat bangsa dan Negara. Julia Cleves Mosse. Bias Gender dalam Pendidikan. Abdul Djamil. Buku Referensi Pelatihan: Fakta dan Indikator Gender. JICA dan UNFPA. Kantor Menteri Negara Peranan Wanita. 4 Propinsi dan 16 Kabupaten/Kota Terpilih. Surakarta. MA. 2001. Tingkat Nasional. Pesan khusus untuk semua kandidat adalah menjaga jatidiri puteri Indonesia yang bermoral karena kita mempunyai macam-macam agama yang diakui dan ragam budaya yang dapat dijalankan dan dijaga kelestariannya. Jilid I Penerbit IAIN Walisongo dengan Gama Media. Panduan Gender dalam Perencanaan Partisipatif. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI. Mudahmudahan apa yang telah disampaikan dapat memberi manfaat yang sebesar-besar bagi diri sendiri. H. 2003. BPS. BPS. 2003. Dr.segala aspek/bidang pembangunan. Bias Jender dalam Pemahaman Islam. 2002. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI. BPS. dalam keluarga. misalnya melalui aktifitas peningkatan pengetahuan dan penyebarluasan seluruh informasi sebagaimana telah dipaparkan tersebut di atas. Nasaruddin Umar. Bahan Informasi . Buku 2. Bahan Informasi Pengarusutamaan Gender. MA. Apa Itu Gender. (Pengantar). serta lingkungan masyarakat luas. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI. United Nations Developmen Fund for Women. 2002. Gender Statistics and Indicators 2000. 1998. Dra. Buku 1. Keadilan dan Kesetaraan Gender untuk BUMN/BUMD dan Perusahaan Swasata. Profil Wanita Indonesia. et all. Gender dan Pembangunan. 1996. Sri Suhandjati Sukri (Editor). 3 Agustus 2004 Daftar Pustaka: Achmad Muthali’in. Jakarta. Sekaligus saya tekankan semoga semua kandidat puteri Indonesia dapat menjunjung tinggi agamanya dan jatidirinya sebagai Bangsa Indonesia yang aman dan damai. Edisi ke-2. Statistik Kesejahteraan Rakyat. Dr. 2001. 2002. Pedoman Teknis Perencanaan Pembangunan Berperspektif Gender. Deputi Bidang Kesetaraan Gender bekerjasama dengan Bangun Mitra Sejati. Muhammadiyah University Press. Diterbitkan atas kerjasama RIFKA ANNISA Women’s Crisis Centre dengan Pustaka Pelajar. Modul Pelatihan. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan. 2002. H. Kementerian Pemberdayaan Perempuan. Hj. Kantor Menteri Negara Peranan Wanita. baik pada kalangan sendiri.

2003. Pemantauan dan Penilaian. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI. (developed by dr. Ediisi ke-2. Kementerian Pemberdayaan Perempuan. mereka tidak hanya gigih dalam menyuarakan hak-haknya. Perencanaan erperspektif Gender. 2002. maka berkumpul sekira 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatra untuk menyelenggarakan kongres pertamanya dengan mengambil lokasi di Yogyakarta. and implementors. sesungguhnya telah tumbuh subur di kalangan tokoh . tores and professor rosario s. Zaitunah Subhan. Salah satu agenda pokoknya adala menggabungkan organisasi-organisasi perempuan Indonesia dalam sebuah federasi tanpa sama sekali membedakan latar belakang politik. Jong Islamieten Bond bagian Wanita dan Organisasi Wanita Utomo. Buku 4. Buku 3. Bahan Informasi Gender. adalah bukti sejarah bahwa semangat pluralisme (keberbedaan) yang merupakan modal utama untuk membangun persatuan. Adalah sejarah yang mencatat bahwa dua bulan setelah Sumpah Pemuda dideklarasikan.Pengarusutamaan Gender. persisnya pada tanggal 22 Desember 1928. UNFPA. tetapi juga berani memikul senjata turun ke medan perang untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini. 1994. del rosario with the assistance of professor rosalinda pineda-ofreneo for Unifem and NCRFW). Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI. Edisi ke-2. Kementerian Pemberdayaan Perempuan. suku. Dulu. dalam membangun Good Governance. amaryllis t. muncul kesan bahwa semangat perjuangan kaum perempuan tempo dulu ternyata tidak sedangkal semangat yang sering ditampilkan pada peringatan Hari Ibu saat ini seremonial dan bahkan konsumerisme. Bahan Informasi Pengarusutamaan Gender. Hadirnya organisasi seperti Aisyiah. Bunga Rampai “Bahan Pembelajaran Pelatihan Pengarusutamaan Gender dan Program Pembangunan Nasional”. Peningkatan Kesetaraan dan Keadilan Jender. a sourcebook for advocates. Modul 1: Apa itu Gender? UNIFEM and NCRFW. Bagaimana Mengatasi Kesenjangan Gender. planners. status sosial dan bahkan agama. Putri Indonesia. Gender and Development Making the Bureaucracy gender-responsive. Bahan Informasi Pengarusutamaan Gender. 2002. Sumber: Hari Pembebasan Kaum Perempuan<center></center> KALAU kita menyimak catatan sejarah perjalanan Hari Ibu yang setiap tahunnya diperingati pada tanggal 22 Desember. Edidisi ke-2. Wanita Katolik. BKKBN. Jong Java bagian Perempuan.

Semua itu juga memberi isyarat kepada kita bahwa gerakan kaum perempuan pada saat itu sesungguhnya tidak kalah majunya dibanding dengan perjuangan kaum perempuan saat ini. bahkan komunitas dunia banyak bicara mengenai masalah perdagangan anak dan kaum perempuan. Jangan lupa. Tidak keliru kalau momentum yang kini diperingati sebagai Hari Ibu itu hadir sebagai puncak kebangkitan kesadaran kaum perempuan Indonesia dalam rangka menghimpun kekuatan bersama untuk bisa keluar dari berbagai ketertinggalannya. maka jauh sebelumnya kaum perempuan Indonesia pernah mengungkapkannya pada Kongres PPPI tahun 1930 yang ditandai dengan lahirnya kesepakatan untuk membentuk Perkumpulan Pemberantasan Perdagangan Perempuan dan Anak-anak (P4A). dari kongresnya yang pertama itu pula lahir kesepakatan untuk mendirikan badan musyawarah bernama Perikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia (PPPI) dengan misi pokoknya untuk menjalin hubungan di antara semua perhimpunan perempuan. Yang tidak kalah pentingnya. Tuntutan kaum perempuan kepada pemerintah tentang pemberian beasiswa untuk anak perempuan dan sekolah-sekolah perempuan.wanita sejak dua pertiga abad yang lalu. Sebagai gambaran. kita pun akan segera mengetahui bahwa banyak dari isu sentral yang diangkat gerakan perempuan saat ini. adalah sejarah pula yang mencatat bahwa dari kongres perempuan Indonesia yang pertama itu berhasil dirumuskan beberapa rekomendasi penting dalam rangka memperjuangkan hak-haknya. penolakan tradisi perkawinan anak perempuan di bawah umur termasuk kawin paksa. jika saat ini kita. . termasuk di dalamnya kesepakatan penyelenggaraan kongres perempuan tahunan dalam rangka mengisi dan memelihara kelangsungan perjuangannya. sampai tuntutan pemberlakuan syarat-syarat pelaksanaan perceraian yang tidak merugikan hidup kaum perempuan. Itu semua menunjukkan bahwa jauh sebelum ada lembaga yang sekarang banyak menyuarakan arti pentingnya kesetaraan dan keadilan gender. sesungguhnya merupakan isu yang pernah diagendakan dalam perjuangan kaum perempuan tempo dulu. Bahkan jika kita menyimak catatan penting yang dihasilkan oleh kongres perempuan tahun-tahun berikutnya seperti tertuang dalam buku ”Peringatan 30 tahun Kesatuan Pergerakan Perempuan Indonesia 1928-1958”. bahkan jauh sebelum kemedekaan Indonesia diproklamasikan. Melalui kongres perempuan pertama itu pulalah berhasil dirumuskan beberapa rekomendasi yang berisi tuntutan penerbitan surat kabar sebagai media untuk meyuarakan hak-hak kaum perempuan sampai kepada tuntutan pemberian bantuan khusus bagi perempuan janda dan anak yatim. kaum perempuan Indonesia ternyata telah memiliki kesadaran mengenai arti pentingnya pendidikan dan kesehatan sebagai modal utama untuk bisa keluar dari berbagai ketertinggalannya. adalah beberapa rekomendasi penting yang lahir dari kongres perempuan pertama 75 tahun yang lalu.

diadakan pada suatu waktu. Kongres Kaum Ibu. Itulah pula awal sejarah yang kemudian mengilhami banyak organisasi perempuan setelah itu terlibat secara langsung dalam perjuangan kemerdekaan. rekomendasi megenai arti pentingnya kampanye berkait dengan segala akibat buruk yang ditimbulkan dari banyak kasus perkawinan usia dini sampai kepada upaya mempelajari hak pilih bagi kaum perempuan yang sekaligus merupakan wujud kesadaran kaum perempuan waktu itu akan arti pentingnya upaya bisa mengakses kekuasaan sebagai media untuk mewujudkan perjuangannya. di mana masih ada sahadja kaum bapak Indonesia jang mengira. kita tidak sahadja gembira hati akan kongres itu oleh karena kaum bapak belum insyaf akan keharusan kenaikan deradjat kaum ibu. . Bung Karno punya obsesi yang lebih karena ingin menjadikan gerakan perempuan waktu itu sebagai bagian dari gerakan memperjuangkan kemerdekaan. Bahkan seperti pernah ditulis Gadis Arivia dalam artiakelnya yang berjudul ”Soekarno dan Gerakan Perempuan (2001). Simak cuplikan pidato Soekarno di hadapan peserta kongres pertama kaum perempuan tanggal 22 Desember tahun 1928 waktu itu yang mengisyaratkan besarnya perhatian sekaligus pengakuan tokoh politik terhadap potensi yang dimiliki gerakan kaum perempuan pada saat itu sebagai berikut: ”Berbahagialah kongres kaum ibu. tidak bakal ada persamaan hak antara laki-laki dan perempuan bila tidak ada kemerdekaan.” (Soekarno.kita gembira ialah teristimewa djuga oleh karena di kalangan kaum ibu sendiri belum banjak jang mengetahui atau mendjadikan kewajibannja ikut menjeburkan diri di dalam perdjoangan bangsa.Bukan hanya itu. bahwa perdjoangan mengedjar keselamatan nasional bisa djuga lekas berhasil zonder sokongannja kaum ibu. Setelah Jepang menyerah. oleh karena dari pada kaum bapak masih banyak jang kurang pengetahuan akan harganja sokongan kaum ibu itu. Kalau dirinci. Tersirat dalam cuplikan pidato itu adalah sikapnya yang sangat mendorong kebangkitan kaum perempuan dalam rangka memperjuangkan hak-haknya.. kaum perempuan dari kalangan parpol dan ormas berbasis agama Aisyiah dan Wanita Katolik menjadikan perjuangan kemerdekaan sebagai agenda utamanya. Pada tahun 1930. Kongres PPPI tahun 1930 itu juga telah melahirkan rumusan kerja lebih konkret lagi yang antara lain ditandai dengan lahirnya rekomendasi yang meniscayakan arti pentingnya penyelidikan kondisi kesehatan kaum perempuan dan sebab-sebab terjadinya kematian bayi di pedesaan. Hal yang sama juga dilakukan pula oleh Wanita Muslimat dari Masyumi. Gagasan dasarnya. sesungguhnya masih begitu banyak kiprah sekaligus sumbangan pemikiran berarti yang telah diberikan kaum perempuan pada saat itu. dan belum banjak jang berkehendak akan kenaikan deradjat itu. Istri Sedar yang didirikan di Bandung muncul menyatakan diri ingin meningkatkan status perempuan Indonesia melalui perjuangan kemerdekaan. misalnya. 1928).

peminat masalah gender. mahasiswi jurusan biologi. Begitu luhur dan mulia. MIPA Universitas Padjadjaran Bandung. apalagi bila dibandingkan dengan negara-negara lain. adalah beberapa saja dari sekian banyak masalah yang harus dijadikan agenda utama perjuangan kaum perempuan Indonesia saat ini dan ke depan. bahkan berani. jumlah buku sastra Indonesia boleh dibilang sangat sedikit. kita jadikan momentum Hari Ibu itu sesuai dengan akar historisnya sebagai hari pembebasan kaum perempuan dari berbagai belenggu yang menindasnya. Lebih parahnya lagi. Itu pula sebabnya. Sumber:Pikiran Rakyat Tren Perjuangan Perempuan dalam Sastra Merangkul Tabu. masih banyaknya korban kaum perempuan akibat tindakan kekerasan dalam rumah tangga. Fak.Lima belas tahun berikutnya. Lalu bagaimana perjuangan perempuan di bidang sastra? Ternyata telah muncul fenomena pemberontakan perempuan dalam sastra yang bisa kita sebut spektakuler. sebagian yang lainnya bertugas membantu prajurit yang luka kalau bukan menyiapkan makanan bagi para prajurit yang sedang bertempur dalam rangka memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini. Bulan ini. Kian maraknya kasus perdagangan anak dan perempuan. Selama ini. masih tinginya angka kematian ibu akibat kehamilan atau melahirkan. Sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat perempuan di Jakarta menuntut pemerintah dan DPR untuk memprioritaskan hak dan kesejahteraan perempuan (SH. 9 Maret 2002). Meretas Kekerasan Tersamar<center></center> Hari perempuan sedunia yang jatuh tanggal 8 Maret lalu diperingati dengan cukup provokatif. Mereka yang tergabung dalam organisasi ini. sebagiannya berani mengangkat senjata. di Bandung lahir organisasi bernama Lasjkar Wanita Indonesia (Lasjwi) yang dibidani oleh Aruji Kartawinata. itulah kesan yang muncul kalau kita menyimak sejarah perjuangan kaum perempuan yang awalnya diilhami oleh penyelenggaraan kongres perempuan pertama pada tanggal 22 Desember tiga perempuan abad yang lalu. perempuan Indonesia pun merayakan Hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April setiap tahun. Esensi kedua hari penting bagi perempuan adalah sama: memperjuangkan hak-hak perempuan di segala bidang. tahun 1945. Wilujeng Hari Ibu!*** Penulis. apalagi penuh hura-hura. tidak berlebihan jika Hari Ibu yang setiap tahun diperingati bangsa ini. Sebaliknya. sepatutnya kita selenggarakan tidak hanya dalam bentuk seremoni yang hampa makna. karya fiksi yang sedikit ini .

Seks menarik justru karena melanggar kenormalan dalam masyarakat tradisional. Ayu menunjukkan keberanian dalam bercerita tentang eksistensi seks perempuan. Keduanya mampu menjadi trend dan dibaca oleh kalangan yang kompleks. Cerita tentang perselingkuhan Yasmin dan Saman serta kecintaan Laila pada Sihar membawa tokoh-tokohnya bertualang di negeri Paman Sam. mulai dari mereka yang gemar berburu buku-buku porno stensilan hingga doktor-doktor ilmu sastra yang mejanya penuh dengan naskah-naskah seminar. bahkan abnormal semisal bondage sadomasochis (seks sadis). di mana tubuh (body). voyeurism (ngintip). Di mana industri seks-nya melimpah. Membakar Kebekuan Fiksi sastra yang ditulis kedua pengarang perempuan ini mampu membakar kebekuan gerilya sastra sekaligus meruntuhkan tembok pembatas antara sastra pop dan sastra serius. Mungkin karena Amerika–lah yang dianggap negeri yang mampu mewakili representasi eksistensi seksual perempuan. semata untuk memperoleh keuntungan ekonomi. Beradaptasi dengan terjadinya proses pelipatgandaan dan penyebaran secara sosial tanda. Sebuah negeri yang bisa jadi dianggap sebagai media pelarian ketertekanan seksual sang tokoh pada kultur yang membesarkannya. Kehadiran buku-buku ini bagai oase bagi masyarakat yang ”kepanasan” oleh etika timur yang kuat tetapi tak berani melawannya secara frontal. Lalu apa resep mereka dalam mendobrak kebekuan sastra selama ini? Yang jelas.77). Mereka berani melawan tabu yang selama ini menjadi magma terpendam pada masyarakat yang sarat dengan konvensi-konvensi budaya. sampai surveillance sex (dokumentasi seks orang- . amateur. Mereka mampu merepresentasikan seks sebagai eksistensi keperempuanannya. tanda-tanda tubuh (body signs) serta potensi libido di balik tubuh (libidinal value) menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya komoditas. mature dan older (orang bangkotan). khususnya yang bermuatan erotis. Tanpa disengaja mereka menolak tegas kultur yang menekan eksistensi seks perempuan timur sekaligus mengejek terma dalam masyarakat komoditas. Eksistensi Seks Dalam Larung. citra. dan benda-benda komoditas. Laila dan Sihar” (hal. yang membentuk semacam sistem libidonomics yaitu sebuah sistem ekonomi yang mengeksploitasi setiap potensi libido. Hingga akhirnya muncul Ayu Utami dengan Saman dan Larung-nya serta Dewi Lestari dengan Supernova. bukan sebagai komoditas masyarakat kapitalis semata. tahun 1996: ”Cerita ini berawal dari selangkangan teman-temanku sendiri: Yasmin dan Saman. salah satu kesamaan menonjol dari sisi feminisme kedua novelis perempuan ini adalah keberanian mereka dalam mengemas cinta dan seks dalam bungkus yang benar-benar berbeda. mereka meretas fenomena kekerasan tersamar terhadap perempuan. terutama dalam hal seks.tak banyak yang mempunyai kekuatan untuk menarik perhatian publik. lewat diary tokoh Cok. bahkan ada jenis komoditi yang menjanjikan seks-seks ilegal. informasi. Mengalir deras di tengah masyarakat yang dilanda proses diseminasi sosial yang semakin cepat. Melalui perlawanan terhadap tabu ini.

Lukas lebih tertarik pada eksplorasi posisi fisik daripada eksplorasi relasi psikis seperti yang dikhayalkan Yasmin. 157) Eksistensi seksualitas perempuan Indonesia yang selama ini terkungkung budaya patriarki dilibas habis oleh Ayu Utami. kenapa aku harus menderita untuk menjaga selaput daraku sementara pacarku mendapat kenikmatan? …Aku pun melakukannya. berkemah. dan lain-lain jenis olahraga kelompok yang kebanyakan anggotanya lelaki. ”…tidak semua anak perempuan bisa melakukan itu. kaya. ”… tapi membiarkan lelaki masturbasi dengan payudara kita bukanlah pengalaman yang menyenangkan kalau terus-terusan. Juga. Aku menerimanya dan melakukan seksualitas terhadapnya. Kamu biarkan aku menyakitimu seperti polisi rahasia mengintrogasi mata-mata yang tertangkap.” (hal. menyangkal hal-hal yang lembek. Semasa sekolah dia paling banyak berlatih fisik. beragama. 160) Kerinduan Yasmin kepada Saman lebih karena perasaan superioritasnya terhadap lakilaki ini. aku sebagai nilai estetis. dan ia merasa ada supremasi pada dirinya. Itu karena suaminya. Misalnya cerita tentang bagaimana Cok melepas keperawanannya. cerdas. cantik. Pada masa itu ada rasa bangga bahwa dia memasuki dunia lelaki yang dinamis. Membuatmu menderita oleh coitus interuptus yang harfiah. senggama. seks yang digambarkan Ayu bukanlah teknik persetubuhan melainkan pemaparan problema yang bisa jadi dialami banyak wanita. Mereka menerimanya sebagai nilai moral. Kamu tak punya pilihan selain membiarkan aku menunda orgasmemu atau membiarkan kamu tersiksa tak memperolehnya. ”…Kamu biarkan aku mengikatmu pada ranjang seperti kelinci percobaan. suatu ideal. berpendidikan. Melokalisasinya pada fantasi seksual. bermoral pancasila. Bagaimana mitos kesucian keperawanan membuat Cok membiarkan sang lelaki bermasturbasi dengan payudaranya. sang bekas frater. pecah dalam tingkah laku tokoh-tokoh novel ini. Kamu biarkan jari-jariku bermain-main dengan tubuhmu seperti liliput mengeksplorasi manusia yang terdampar.” (hal. 118) .” Ejekan atas keperawanan yang menjadi momok pengaturan laki-laki terhadap perempuan dilakukan Ayu melalui tokoh Laila meskipun sosok ini mampu melawan gender keperempuanannya. setia pada suami—kembali menemukan kebebasan seksualnya bersama Saman. Tokoh Yasmin—yang sempurna. yang selama ini menjadi endapan dalam masyarakat Indonesia yang patriarkal.” (hal. Lukas. tidur bersisian dengan kawan lelaki dalam tenda dan perjalanan. Tapi dialah yang paling terlambat mengenal pria secara seksual. cross country. Hanya saja. Naik gunung. ”Mereka menerima dominasi pria sebagai suatu ide yang total dan murni.orang biasa) Problema-problema seks perempuan. …Lalu kupikir-pikir. turun tebing. Padahal Yasmin merasa berbeda dengan para perempuan yang mengukuhkan patriarki. tak pernah mengolah kekejaman pada dirinya meskipun hanya sebatas imajinasi.

Politik tanda berkaitan dengan eksistensi tubuh (pria atau wanita) yang dieksploitasi sebagai tanda atau komoditas tanda (sign comodity) dalam berbagai media. Itu sebabnya ia tak bebas ketika telah sama-sama telanjang dengan Sihar. yang terurai dalam tiga terma. Jebakan Politik Tubuh Memang keberanian Ayu Utami dalam Saman dan Larung. Keperawanan dinilai sebagai tanggung jawab. dan penyalurannya lewat berbagai kegiatan ekonomi (produksi. juga Dewi Lestari dalam Supernova-nya. Tala bukanlah seorang androgini yang maniak. Persoalan politik tubuh berkait dengan eksistensi tubuh dalam kegiatan ekonomi-politik. ”ekonomi politik hasrat” (political economy of desire) yaitu bagaimana sistem ekonomi menjadi sebuah ruang berlangsungnya pelepasan hasrat dari berbagai kungkungan. dan identitas tubuh di dalamnya. sifat-sifat rasionalitas ekonomi dikendalikan sifat-sifat irasionalitas hasrat. Sebelum kamu mengenali tubuhmu sendiri. Ketiga. berdasarkan konstruksi sosial atau ”ideologi” tertentu. Dan aku tak pergi. dua lelaki yang dicintai Laila muncul pada diri Tala. yang benar-benar belum bisa diterima kultur Indonesia dilakukan Ayu dengan metafora yang sangat indah. Lelaki takut padanya. dilihat dalam berbagai relasi sosial. ”ekonomi politik tubuh” (political economy of the body) yaitu bagaimana tubuh digunakan dalam berbagai kerangka relasi sosial dan ekonomi. bisa menjerumuskan mereka dalam jebakan politik tubuh (body politics). Gabungan sosok Saman dan Sihar. Pertama. Ketika kreativitas ekonomi dikuasai dorongan hasrat dan sensualitas. Tapi keperawanan Laila yang terjaga —seperti layaknya yang diagungkan budaya Indonesia—justru menjadi problema. Aku tahu kamu belum pernah mengalami orgasme. makna. 153) Penggambaran tentang dunia lesbian. Juga ketika bercumbu dengannya. Aku mengelus di punggung dan mencium di kening.Ternyata supremasi itu tidak dapat dibawa tokoh Laila sampai dewasa. ”ekonomi politik tanda (tubuh)” (political economy of signs) yaitu bagaimana tubuh diproduksi sebagai tanda-tanda di dalam sebuah sistem ekonomi pertandaan (sign system) masyarakat informasi yang membentuk citra. …Kupeluk kamu. distribusi. Dalam hal ini Ayu masih mencoba membela kaumnya. Peran tokoh Shakuntala (Tala) yang androgini dimunculkan Ayu secara estetis sebagai representasi kebebasan untuk memilih.” (hal. Ia tak bisa masuk ke dalam dunia pria dewasa. Hingga akhirnya Laila melupakan Tala sebagai perempuan. Tak pernah terjadi persetubuhan yang sebenarnya. konsumsi). Dalam ekonomi-politik hasrat. Ekspresi libido seks Laila terhambat. Ia hanya ingin menyelamatkan Laila. Kedua. Kerinduan Laila pada Sihar membuatnya mampu melihat faktor lelaki pada diri Tala. Kini tak kubiarkan kamu menemani lelaki itu sebelum kamu mengetahuinya. ”…Kamu berbaring di sisiku dan kulihat air mengalir dari matamu ke arah rambut. yang tercipta adalah . Ketertarikan Laila ditanggapi Tala sehingga dalam Larung ini muncul sebuah relasi seksual di mana lelaki benar-benar diabaikan.

yang dipenuhi berbagai strategi penciptaan ilusi sensualitas.sebuah ”budaya ekonomi”. 27/7/2003). yang mengondisikan orang memuja ”citra tubuh”. Yang jelas. musisi jazz Amerika. dalam wawancara dengan Kompas. aspirasi. ada juga orang yang terlahir perempuan tetapi merasa dirinya lelaki sehingga mereka hidup sebagai laki-laki. setidaknya mereka berdua telah memulainya dan berhasil menarik perhatian publik. yang dikenal sebagai lelaki ramah.Namun. seorang ayah yang berubah menjadi ibu. sebagai cara untuk mendominasi selera (taste). Sumber: Sinar Harapan Transseksual. Sugiarti. dan keinginan masyarakat dieksploitasinya. Ekspresi perlawanan terhadap kekerasan tersamar dalam ranah seks perempuan. Contohnya Brandon Teena. suami dari empat istri. Pengamat Perempuan & Budaya. apa yang beroperasi di balik aktivitas ekonomi adalah semacam ”teknokrasi sensualitas” (technocracy of sensuality)—di dalamnya nilai-nilai budaya ekonomi ditopengi tanda-tanda sensualitas. Suara Pembaruan Minggu mengetengahkan kisah Liz Riley. Contohnya. Sebaliknya. Liz Riley terlahir lelaki. Pada tanggal yang sama. ADA orang yang terlahir lelaki namun sejak kecil merasa dirinya perempuan sehingga mereka hidup layaknya perempuan. bahkan ia sempat kawin dan memiliki anak. yang menciptakan semacam ”erotisasi kebudayaan”. Setapak langkah perbaikan telah dimulai dari dunia sastra. Berbagai bentuk khayalan lewat voyeurisme diciptakan. Boys Don’t Cry. Akibatnya. yang hidupnya dikisahkan dalam film pemenang Oscar. Oleh: R. namun ia selalu merasa dirinya perempuan. justru menjadi perangsang laki-laki untuk membacanya. dan ayah bagi . Sensualitas dijadikan kendaraan ekonomi dalam rangka menciptakan keterpesonaan dan histeria massa (mass hysteria) sebagai cara mempertahankan kedinamisan ekonomi. Minoritas yang Terlupakan<center></center> BENARKAH Mbak Dorce Gamalama melawan kodrat? Pertanyaan ini mungkin timbul dalam hati saat membaca wawancara Kompas dengan artis Dorce (Kompas. sehingga akhirnya memutuskan untuk hidup sebagai ibu. Mbak Dorce mengungkapkan bahwa ia sejak kecil merasa dirinya perempuan. memang tak gampang meretas kultur yang telah tertanam kuat. Bisa jadi ekspresi kebebasan dua perempuan pengarang ini dijadikan media penumpahan keliaran libido laki-laki. Relawan pada UNICEF Indonesia. Contoh lainnya Billy Tipton. Bukan untuk menyelami ketertekanan perempuan tapi sebagai media eskapisme erotisme otak mereka.

ketika ia meninggal. jika seorang transseksual diminta menyelaraskan perilaku dengan bentuk fisiknya. Namun. transseksual memiliki sex identity berbeda dari seks fisiknya. termasuk kejutan listrik. kekurangan testosteron pada janin dengan kelamin . Penyebab transseksual belum dapat ditentukan secara pasti. Karena itu.sejumlah anak. yaitu identitas jenis kelamin (sex identity) atau identitas jender. masih ada variabel lain. Mereka merupakan contoh kaum transseksual. Menurut Kessler dan McKeena. yaitu transseksual dari perempuan ke lelaki. kini disadari bahwa sex identity lebih kuat daripada kelamin fisik. Sex identity. yang lebih banyak terjadi bukan perubahan perilaku. Jadi. karena seseorang yang tomboi. Karena itulah. Masalahnya. Mayoritas warga memiliki sex identity sesuai dengan jenis kelamin fisiknya. MFT bertubuh lelaki tetapi merasa dirinya perempuan. Jenis kelamin jiwa mulai tertanam pada usia dua tahun. masih tetap merasa perempuan). sering dianggap satu-satunya penentu perilaku jenis seseorang. para pakar menganggap transseksual merupakan orang abnormal yang perlu disembuhkan dengan aneka terapi. Dengan kata lain. Sebaliknya. Sebelum sex identity ditemukan. MFT berperilaku sebagai perempuan. Ada yang disebut male-to-female transsexual (MFT). berupa alat reproduksi. petugas jenazah mendapati ia memiliki alat genital wanita. yaitu transseksual dari lelaki ke perempuan. melainkan perubahan fisik. Brandon Teena dan Billy Tipton disebut female-to-male transsexual (FMT). sekalipun berperilaku kelaki-lakian. artinya dapat sejalan atau bertolak belakang dengan kelamin fisik. Namun. mengapa orang yang terlahir laki-laki sampai merasa dan berperilaku sebagai perempuan dan sebaliknya pada FMT. Padahal. Hakikat transseksual Selama ini alat kelamin fisik. namun biasanya mulai disadari dengan kuat menjelang remaja. Sebaliknya. pakar sekalipun. FMT bertubuh perempuan namun merasa dirinya lelaki (bukan sekadar tomboi. dalam Gender: An Ethnomethodological Approach (1978). yang ditemukan pada tahun 1972 oleh Money dan Erhardt setelah meneliti ratusan individu. semata-mata tergantung dari perasaan orang bersangkutan dan tidak selalu sejalan dengan penilaian orang. Jenis kelamin jiwa merupakan variabel mandiri terhadap seks fisik. identitas jenis kelamin adalah perasaan mendalam atau keyakinan dalam batin seseorang yang membuatnya merasa sebagai lelaki atau perempuan. yang dapat disebut jenis kelamin jiwa. masyarakat sering menyalahkan. Namun. Sebagian menduga pengaruh hormon dalam kandungan. identitas jenis kelamin adalah keyakinan mendalam pada seseorang tentang apakah dia itu pria atau wanita. Misalnya.

Sungguh beruntung jika seorang transseksual diterima lingkungannya. sebagaimana masyarakat juga tidak boleh mendiskriminasi orang yang berbeda warna kulit. yang memiliki jati diri perempuan. tetapi dari hari ke hari ia hidup dalam kehampaan. sekolah. keyakinan. Masyarakat demokratis mensyaratkan asas pluralisme dan egalitarianisme. baik keluarga. mendapat perlakuan sederajat. Para transseksual ini terpaksa memilih satu di antara dua pilihan yang sama pahitnya. kecenderungan mencari pasangan. Kaum transseksual hanyalah orang yang berbeda. Namun. Namun. Variabel yang juga menentukan perilaku adalah orientasi seks. sebab sebenarnya masih merupakan misteri. diri sendiri itu adalah jati dirinya sesuai dengan sex identity yang dimiliki. Namun. pekerjaan. kaum transseksual perlu menghindari perilaku yang menimbulkan citra negatif. Lorong kegelapan? Seorang bijak pernah mengatakan. Di lain pihak. Jutaan transseksual hidup dalam lorong kegelapan. seorang MFT. agar diterima lingkungannya. yang terlahir sebagai lelaki tetapi memiliki sex identity perempuan. Setiap orang. ia akan hidup dalam tekanan batin yang luar biasa dan tiada hentinya. perbedaan ini tidak dijadikan dasar untuk meminggirkan atau mendiskriminasikan mereka. maupun masyarakat. banyak transseksual belum dapat merasakan apa makna kemerdekaan itu sesungguhnya. Selagi mayoritas warga bangsanya mensyukuri nikmatnya hidup di alam kemerdekaan. "Apakah gunanya seseorang mendapatkan seluruh dunia tetapi kehilangan dirinya sendiri?" Banyak orang mengamini sabda tersebut.fisik lelaki dapat menyebabkannya memiliki kelamin jiwa perempuan. memperlihatkan obsesi berlebihan terhadap . Contohnya Julie Peters. transseksual tertarik terhadap lawan jenis sehingga mirip warga masyarakat umumnya. bahkan oleh keluarganya sendiri. Sebaliknya. ada juga transseksual yang tertarik kepada kaum sejenis. Dengan demikian. atau status sosialnya. sebagian besar transseksual masih belum diterima lingkungannya. menunggu kapan sinar terang akan muncul pada akhir lorong tersebut. kelebihan testosteron pada janin dengan kelamin fisik perempuan dapat menyebabkannya memiliki seks jiwa lelaki. yaitu terbuang dari lingkungannya atau berpura-pura menutupi jati dirinya. yaitu pada identitas seksualnya. akan berpura-pura menjadi "lelaki biasa". sejauh yang bersangkutan tidak melakukan hal-hal yang merugikan orang lain. karena mendapatkan dunia tetapi kehilangan dirinya sendiri. Namun. seperti berdandan terlalu mencolok. Seyogianya. Julie mengaku tetap tertarik kepada perempuan. transseksual yang terpaksa menutupi atau mengingkari jati dirinya bisa saja kelihatan sukses. sekalipun berbeda. tetapi tidak mau menerima bahwa bagi transseksual. politisi Australia. Namun. Setelah usia 40 tahun Julie memutuskan menjalani operasi dan menjadi perempuan. Umumnya. Pada pilihan kedua.

Negeri ini sedang dilanda krisis multidimensi dan untuk mengatasinya diperlukan kerja sama seluruh komponen bangsa. baik yang telah operasi maupun belum. hal yang sangat diperlukan guna membangun masyarakat dunia yang lebih manusiawi. Special Issue. seperti telah diperlihatkan Mbak Dorce dan mendiang Billy Tipton. sesuai jati diri yang mereka miliki. dalam "Transgenderism and the Concept of Gender" (International Journal of Transgenderism. dan bahkan yang tidak relevan sama sekali seperti cerita tentang siapa yang menemukan mayat bayi-bayi malang tersebut. Artikel mengenai buruknya perilaku perempuan yang adalah calon ibu marak di koran-koran baik nasional maupun lokal. masyarakat dapat menerima dengan wajar kaum transseksual. dan menjadi pekerja seks komersial. Penting sekali agar para transseksual dapat membangun citra yang positif.lelaki. Bambang Suwarno Aktivis Perempuan dan Relasi Jender. dan bukannya mempertanyakan siapa laki-laki yang bertanggung jawab atas keberadaan calon bayi . Semoga seiring dengan meningkatnya pemahaman. Lebih dari itu. tulisan ini justru ingin memperbincangkan konstruksi makna ibu dalam media massa kita. di antaranya lewat prestasi. Media massa yang mengeksploitasi peristiwa tersebut rasanya telah memojokkan perempuan. ketika perempuan yang dihujat. Prof Vern Bullough dari California State University. Tinggal di Bengkulu Sumber Kompas Cyber Media Perempuan dan Media Massa (1) <center></center> Catatan kecil ini ingin ikut serta merayakan Hari Ibu 22 Desember 2003. sehingga dari lima artikel yang disoroti dalam tulisan ini. dengan mengambil kasus lama yang terjadi di tahun 1997. klinik-klinik aborsi ilegal. menyatakan pemahaman terhadap kaum transseksual akan bermanfaat besar untuk memahami konsep jender secara lebih komprehensif. tahun 2000). maka laki-lakilah yang menjadi penghujatnya. Dengan menarik perhatian publik untuk lebih memperhatikan cerita-cerita yang dibangun media yang lebih mengutamakan cerita kehidupan perempuan pelaku aborsi. hanya satu yang ditulis oleh perempuan. Dan biasanya. hujatan panjang di media massa pun diarahkan kepada perempuan. Hari Ibu 1997 telah “dicemari” dengan ditemukannya banyak mayat calon bayi akibat aborsi ilegal. agar mereka dapat berdarma bakti secara optimal. termasuk juga bagi perempuan yang secara biologis belum menyandang predikat ibu. Di tengah perdebatan apakah nama Hari Ibu bisa mewakili kepentingan semua perempuan. Sebagai akibatnya.

Belum tentu jurnalis perempuan sudah memiliki perspektif gender dalam menurunkan tulisan dan menilai permasalah sosial yang dihadapinya. di sisi lain masih juga menjalankan praktek-praktek obsolit. ada suatu pembagian yang sangat tidak seimbang antara perempuan dan laki-laki. dituduh. Salah satu dari artikel yang menjadi sorotan dalam catatan ini. misalnya mempertanyakan penolakan perempuan untuk menjadi ibu sementara predikat tersebut masih dianggap sakral. and Gender Skepticism” (1990). media telah dengan sewena-wena membela kepentingan laki-laki. mana ada media yang juga tidak bergender?(2). Apakah ini karena media massa masih belum kuat betul atau cukup dewasa untuk membebaskan dirinya dari pelukan “diskriminasi gender” yang tiada akhir?(4) Atau memang karena mereka sendiri pada dasarnya bersifat diskriminatif terhadap perempuan? Jika kita menilik figur angka pelaku media massa. bahkan dikatakan sebagai senjata kelompok marginal untuk mendapatkan posisinya. “Kendati bukan perilaku baru. Di satu sisi. kabar menghebohkan dari Jakarta soal keberanian sejumlah wanita yang menolak menjadi ibu manusia melalui cara-cara yang menyinggung perasaan sosial … apakah sebutan “ibu” tidak lagi sesakral dan seterhormat yang kita ketahui sehingga mesti ditolak?”(3) Membaca kalimat tersebut.(5) Ketimpangan jumlah antara jurnalis perempuan dan laki-laki tentu tidak dengan sendirinya menjawab pertanyaan kenapa media kita begitu seksis. Apakah catatan ini sudah demikian prejudis mencurigai adanya konspirasi antara laki-laki dan media massa? Jika dilihat dari perilaku media. jika media massa di satu sisi mempromosikan nilai-nilai “kesejajaran” antara laki-laki dan perempuan. media massa memberikan aplaus . Apakah sebagian yang lain yang menilai sucinya posisi ibu akan tersentuh dengan kenyataan bahwa secara biologis sebenarnya mereka mampu menghadirkan sebuah kehidupan baru tetapi lebih memilih untuk tidak melakukannya? Apakah yang lain akan merasa diobjektifikasi. Karena kita hidup dalam budaya yang tidak memungkinkan kita untuk “bergender netral” seperti yang dikatakan oleh feminist Perancis Susan Bordo dalam artikelnya “Feminism. sebagian mungkin merasa bebas untuk memilih melakukannya sedangkan yang lain mungkin tidak punya pilihan lain. Ironisnya. bagaimana perempuan seharusnya bereaksi? Bagi mereka yang memilih untuk tidak menjadi ibu dengan cara tersebut mungkin akan merasa malu karena perbuatannya sudah dipublikasi.tersebut. Yang pasti. maupun dikorbankan? Tentu saja ada banyak alasan bagi perempuan untuk melakukan aborsi. tetapi juga kewajiban perempuan untuk menjaga nilai-nilai moral yang dianut lingkungan sosialnya. memilih untuk menjadi atau menolak menjadi ibu tidak hanya berurusan dengan fungsi biologis perempuan saja. sebagai agen dari propaganda adil gender. rasanya tidak berlebihan untuk meragukan sifat pembebasan media yang selama ini didengung-dengungkan. Postmodernism.

Dalam mengenangkan kasus Marsinah. masyarakat. mereka memuja-muja peran ibu sebagai faktor penentu dari masa depan bangsa dengan mempersiapkan keturunan mereka dalam menghadapi era tinggal landas. Dalam hal ini. tentu saja dengan menggunakan perspektif media massa yang maskulin. mengaku memiliki hak untuk menentukan apa yang harus dilakukan atau tidak seharusnya dilakukan oleh perempuan. tentu saja didukung oleh institusi yang bernama negara. Lalu kembali lagi peran rumah tangga ditekankan.(8) Hal ini tentu bukan hanya hasil patrimoni dari imperialisme dan kolonialisme.” (6) Secara arogan."(10) Karakterisitik media massa yang manipulatif seringkali juga merugikan perempuan jika kasus-kasus yang diangkat melibatkan perempuan. Secara sinis (atau karena cemburu?) dan dihantui oleh kontra-hegemoni kultural dan material yang dimiliki perempuan. media massa telah menjadi tidak lebih sekedar perpanjangan penindasan laki-laki terhadap perempuan. “… kesempatan pun tidak banyak buat wanita untuk berperan di luar rumah. walaupun kedengaran tidak sesuai dengan slogan kesejajaran. untuk tetap tinggal “terdomestikasi” dengan meragukan kemampuan mereka untuk berkarya di dunia publik. semakin mempertajam segregasi ranah publik-domestik. Seringkali media massa menulis bahwa partisipasi perempuan di dunia publik hanyalah bukti kejahatan kapitalisme yang mendehumanisasi mereka. Apakah mereka harus kehilangan hak-hak istimewa (privilege) yang sudah terlegitimasi hanya untuk satu posisi yang tidak jelas jika mereka harus memasuki dunia asing yang dinamakan ranah publik? “Peradaban milenium ketiga hanya bisa berharap agar kaum wanita memilih untuk tidak gagal menjadi ibu anak-anak zaman. di sisi lain mereka menuntut perempuan. bukankah diskriminasi gender sudah ada bahkan sebelum era modernisme? Model produksi kapitalisme bukankah “hanya” memanfaatkan ketimpangan gender itu yang kemudian. Tarik ulur antara meraih dunia publik dan mempertahankan dunia domestik.(7) Namun. Gagasan bahwa rumah tangga adalah urusan perempuan.pada slogan “peran ganda perempuan modern”. tetapi lebih merupakan transformasi yang muncul karena keterlibatan semua faktor ini yang terus direproduksi karena telah terbukti menguntungkan sebagian pihak yang kebetulan semakin berkuasa. bahkan membanting nilai kemanusiaan mereka di bawah nilainilai produksi dan pasar. media massa. karena reproduksi pola yang terus menerus. sebagai “lawan jenisnya”. (9) Pada saat media massa menghujat peran perempuan bekerja. terutama “kaum perempuan” dan “kaum buruh” . karena pembagian posisi peran lakilaki dan perempuan yang jelas dan tertib bisa mendukung suksesnya program-program pemerintah. tahun 1993. media menganggap bahwa keberhasilan perempuan di ranah publik tidak lebih sekedar cerita sukses negara untuk mengeksploitasi mereka dalam mendorong pembangunan nasional. betapapun dikotomi publik-domestik masih bisa diperdebatkan. bisa jadi membingungkan perempuan dalam menentukan posisi mereka.

Siapakah yang memenangkan kontes ini? Nampaknya justru media massa. berterimakasih kepada media massa karena mereka telah secara terus menerus melaporkan kasus tersebut dan menarik perhatian internasional terhadap stigma tersebut. atau juri. yang mempunyai kekuasaan untuk membentuk bagaimana cerita harus berakhir. peserta kontes yang tidak terdaftar. Reproduksi berita-berita dan spekulasi media massa yang ditampilkan secara berulang-ulang telah menghasilkan versi-versi yang semakin fantastis. bagaimana jika Marsinah bukan seorang perempuan melainkan laki-laki? Bukan Marsinah tetapi Marsono? Apa yang sebetulnya menarik perhatian media massa tentang skandal ini? Apakah pembunuhannya. apa yang terjadi jika Marsinah tidak terbunuh? Atau pertanyaan yang lebih seksis. teman-teman. mencampuri kehidupan keluarganya. Dengan malu-malu mereka mempertontonkan pencapaian mereka dan menentukan sendiri standar keberhasilannya. apakah isu gendernya. Ketika cerita-cerita tentang buruh perempuan menampilkan nama-nama lain. atau karena kecurigaan adanya praktek-praktek kekuatan politik di belakang pembunuhan ini? Media massa telah mengeksploitasi seluruh kehidupan masa lampau Marsinah. Alhasil media massa telah menciptakan skenario mereka sendiri tentang perang gender yang tidak pernah berakhir. Namun penulis berpikir. Akhir cerita berubah menjadi kabur dan hanya media massa yang sadar akan substitusi antara apakah yang sesungguhnya (real) dan reproduksi dari yang sesungguhnya (hyper-real). apakah mau secara naive terbawa arus dan mempertahankan “hegemoni kultural” yang terus-menerus dan mendapatkan penghormatan sebagai “ratu rumah tangga”. konflik kelas. dan pada akhirnya meminta penghargaan dalam bentuk fasilitas untuk menstimulasi keberhasilan yang lebih baik lagi. perempuan seringkali menjadi kikuk dan rapuh menghadapi semua tantangan ini. media massa-lah yang melahirkan “reproduksi” dari sosok Marsinah. dan meramu serta menyajikan semua ini dengan terminologi-terminologi politik yang susah dipahami. Kita mungkin tidak pernah tahu apakah sikap kritis Marsinah adalah perwujudan dari kesadaran politisnya atau hanyalah pertahanan dirinya menghadapi kesulitan hidup sehari-hari. meminta-minta pengakuan dari laki-laki. Sayangnya. pacar. Dalam ketimpangan relasi gender inilah.(workers and women)(11). Mereka telah membawa nama Marsinah ke posisi terpopuler dan paling banyak dibicarakan hanya setelah kematiannya. tetangga.(12) Secara tidak sadar hal ini mempertahankan “ketergantungan terwariskan” pada perempuan terhadap laki-laki. Tidak terelakkan juga analisa politik bahwa pembunuhan Marsinah ini adalah panggung cerita konflik antara laki-laki yang direpresentasikan oleh orang-orang yang berkuasa sebagai “pembunuh” dan perempuan diwakilkan oleh Marsinah sebagai “terbunuh”. atau sebaliknya bersikap radikal manghadapi ketidakadilan ini dan dengan sadar menerima label “pemberontak”. perempuan ditantang untuk menentukan posisinya. Media massa menggunakan “kematiannya” dan bukannya kehidupannya yang singkat sebagai bahan berita. karena siapa dia sebelum kematiannya bukanlah “berita yang pantas dipublikasikan”. .

semoga saja ada lebih banyak suara yang mendukung. Perwujudan dari rasa terima kasih itu bisa berupa pemberian kesempatan untuk berkarya cipta seperti kaum pria. yaitu jika “medianya” saja sudah tidak sensitif gender.(14) Media massa. apapun yang mereka lakukan. dimana media massa mempunyai akses bebas terhadap sumber-sumber berita dan kebebasan mengemukakan gagasannya. Sama susahnya untuk merelakan 30% posisi calon legislatif pada perempuan. mulai dari kasus TKW sampai dengan pornografi. tidak tanpa dominasi. atau setidaknya empati terhadap perempuan. dengan melihat begitu banyaknya kejadian yang menimpa perempuan sepanjang tahun ini saja. adalah saat yang paling baik untuk berterima kasih atas jasa-jasa ibu dalam melaksanakan tugas kodraatinya.“Memperingati hari yang sering disebut hari permuliaan kaum ibu ini. melainkan “ruang” yang dapat membantu perempuan menjadi tumbuh. menyusui. Sebab. kasus aborsi tidak bisa dipisahkan juga dari perilaku laki-laki. Harapannya adalah. dan kecenderungan media massa untuk menampilkannya dalam berita dengan bahasa-bahasa dan analisa yang melecehkan dan tidak berpihak pada perempuan. Apalagi di era reformasi sekarang ini. jika tidak diskriminatif gender sebetulnya adalah alat yang bisa diandalkan bagi perempuan untuk menyuarakan kepentingan mereka. sebagai penerus aspirasi masyarakat. sedang menyelesaikan studi di Universitas Leiden. Hanya melalui kesadaran inilah. dan bukan hanya yang telah dan bersedia menjadi ibu saja? Wiwik Sushartami adalah Pemerhati masalah gender dan media. justru pembagian “ruang” inilah satu-satunya gagasan yang masih susah untuk diserahkan oleh laki-laki. Belanda Catatan Belakang (1)Dua koran lokal yang dibahas dalam tulisan ini mengacu pada isu-isu nasional . “Ruang” dimana mereka bisa belajar memahami pengalaman mereka. apakah mungkin “pesannya” menjadi lebih adil terhadap perempuan? Dan satu lagi. melahirkan. tidak hanya pengalaman yang sama melainkan juga yang berbeda-beda dan personal. jika isu yang sama muncul kembali. yakni hamil. semoga tulisan ini tidak terlalu skeptis dan pesimis dengan menanyakan satu pertanyaan akhir yang belum juga terjawab. Namun.” (13) Bukanlah pernghargaan maupun pengakuan yang seharusnya diminta perempuan. Namun demikian. enam tahun sejak kasus aborsi masal tersebut meledak. bukankah Hari Ibu intinya memperingati semua perempuan. dewasa dan berpikir lebih rasional dengan kesadaran mereka sendiri. perempuan mampu untuk membebaskan diri mereka dari “alienasi” terhadap tubuh dan kehidupannya sendiri.

(New York: the Continuum Publishing Company. Kedaulatan Rakyat. Linda J. hal 4 (4)Omi Intan Naomi menuliskan bahkan jurnalisme Amerika. (9) Maila Stivens dalam G. (ibid. Bernas. hal 105. 1997). 23 December 1997. Nicholson (Ed. (London: Routledge. Chapman & Hall. 4 (7) Achmad Zaini Abar.. Feminist Theory: The Intellectual Traditions of American Feminism. 1997).). Sangkan Paran Gender. hal. paper yang disampaikan dalam International Conference on Women in the Asia-Pacific Region: Person. 11-13 Agustus 1997 (10) Abdul Munir Mulkham. NUS. hal. Revealing Women: Gendered Icons of Labor in Indonesia. Postmodernism. “Otak dan Watak Terdidik Ibu Manusia”. Inc. “Perempuan Dalam Strategi Pengembangan Sumber Daya Manusia”. Dalam “Wartawati Herstory”. Kedaulatan Rakyat. Power. 23 December 1997. 19 December 1997. 4 (11) Marsinah berumur 23 tahun ketika dibunuh. and Politics. Dia bekerja di pabrik komponen jam tangan di Jawa Timur dan dibunuh setelah keterlibatannya dalam protes menuntut pembayaran tambahan. Jadi masuk akal juga jika jurnalisme Pancasila yang kita punyai juga masih kental dengan bias gender.76. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset. dan tidak mencoba memaknai ulang nilai-nilai femininitasnya sesuai dengan nilai-nilai .Weix.: 104) (6) P. “Anak Tekhnologi Mencari Ibu”. (12) Katharina Graham mencatat beberapa kesalahan tipikal yang dibuat oleh perempuan. Concealing Politics. yang sudah seratus tahun lebih usianya saja sampai tahun 1990an masih menganut sistem gender yang timpang. hal.1990) (3)Mutrafin. (2) Susan Bordo.sehingga bisa menggambarkan juga suasana nasional. yaitu meminta perlakukan khusus untuk perempuan. Lihat Weix. hal. dalam Feminism/Postmodernism. Bonnie Kertaredja.6% jurnalis perempuan di Indonesia pada tahun 1994 menurut Serikat Jurnalis Indonesia. “Feminism. “Kembalikan Peran Wanita Sebagai Ibu Rumah Tangga”.G. (5) Secara keseluruhan hanya ada 8. Irwan Abdullah (Ed). 4 (8) Michael Barrett dalam Josephine Donovan. and Gender Skepticism”. 22 December 1997. Kedaulatan Rakyat. menentukan sendiri standar kesuksesan mereka yang lebih sering tidak sesuai dengan standar laki-laki.

Bahwa kekuasaan tidak bertumpu pada satu titik sentral termasuk tidak hanya pada pihak-pihak yang dominan.22 December 1997. Iklan kosmetik mengiklankan tentang kulit putih mulus dan tubuh langsing ideal perempuan. Kebebasan ini bagaikan sebuah representasi hak otonom publik untuk memilih bentuk sajian media yang mereka sukai. Sumber: Jurnal Perempuan Online Membangun Resistensi. Namun dibalik itu. Melihat Kembali Gereget Peringatan Hari Ibu. Alasannya. hal. Produksi Kekuasaan Michel Foucault. hal. Bernas. Donovan. 4 (14) “Alienasi” dan “gagasan tentang praksis” adalah dua dari lima fokus utama dalam feminisme sosialis kontemporer. adalah iklan kosmetik dan minyak goreng. titik perhatian utama saya adalah pada wacana feminisme. kita lupa dengan terjadinya “penyeragaman” dalam tayangan ataupun bacaan itu sendiri yang berakibat pada memaksa penonton untuk mengikuti apa yang si pembuat media inginkan. rambut lurus hitam adalah nilai yang disampaikan penonton bahwa rambut seperti demikian yang ideal bagi perempuan. Iklan tentang minyak goreng adalah contoh lain tentang nilai-nilai domestifikasi perempuan sebagai pihak yang harus bertanggungjawab atas segala kesehatan suaminya. dan peran keluarga dalam sosialisasi ideologi. Iklan yang ditayangkan terus menerus berpotensi menggiring penonton untuk “harus” mengikuti standar-standar nilai yang disematkan. 125.maskulinitas. seperti halnya pendapat Eriyanto (2001) banyak tayangan ataupun bacaan di media yang melibatkan perempuan dan yang terbanyak tentu saja adalah tayangan iklan. Contoh sederhana adalah tayangan iklan. Menyaksikan iklan shampo. Membongkar Stereotipe<center></center> Publik kini bebas memilih dan menikmati tayangan ataupun bacaan di berbagai media. 76. Foucault mengatakannya sebagai “produksi kekuasaan”. Lihat Naomi. (13) Widyastuti Purbani. Semua ini tentu tidak lepas dari motif-motif politik-ideologis tertentu dibalik penyajian tersebut. adalah salah satu filsuf postmodernis yang menawarkan analisis tentang motif-motif tertentu pada suatu media atau teks.hal. Tiga yang lainnya adalah relasi langsung antara perempuan dan akses produksi. hubungan antara perempuan dan kelas. Lihat. Bagaimana menganalisa masalah ini? Sebagaimana Sara Mills. melainkan tersebar di seluruh masyarakat . Sebagai contoh yang paling mudah.

Fotografer si lelaki tampan itu memilih membidik kameranya kepada si gadis yang berkulit putih. dibentuk. melainkan melalui reproduksi kreatif. Dalam iklan tersebut ditampilkan seorang fotografer mengambil ancang-ancang membidik dua gadis kembar. tetapi dalam bentuk strategi. 2001). Iklan yang membenarkan “kulit putih lebih cantik daripada kulit hitam” tidak dibentuk dengan reproduksi kekuasaan represif. “kulit putih”. kesadaran dan kehendak individu. Atau pada iklan minyak goreng. “rambut lurus hitam panjang”. Iklan. langsing.(tidak ada seorang pun yang memilikinya) (John Lechte. yang mencuat terus menerus sehingga secara tidak sadar masyarakat menganggap tubuh perempuan yang ideal dan normal adalah. Melalui iklan. gadis berkulit lebih gelap berwajah murung. Atas hal ini. Mengetahui hal itu. Iklan bukan lagi menjadi pelayanan terhadap konsumen. Perempuan kemudian diatur. pikiran. melainkan menormalkan individu agar perilakunya sesuai dengan yang diinginkan si pembuat iklan.”Lost the weight. Kekuasaan tidak bekerja melalui penindasan atau represi. yang lain berkulit putih. Disini tengah berlangsung bergulirnya strategi kuasa yang diproduksi terus menerus. Foucault menegaskan persoalan ini sebagai kekuasaan atas kehidupan modern atau kapitalisme. melainkan jiwa. Sebagai contoh. bertuliskan “Yes! Turunkan berat badan anda hingga 5 kg perminggu!” Katakata itu menunjukkan bahwa menjadi kurus adalah kegembiraan dan kepuasan. Jelas sekali adanya domestifikasi . berkulit putih. iklan Pond’s yang pernah ditayangkan di media televisi jelas menunjukkan bahwa kulit putih lebih baik daripada berkulit gelap. atau iklan The Cambridge Diet yang menuliskan kata-kata. yang satu berkulit gelap. Atau iklan tentang tubuh ideal perempuan langsing dan tinggi. Wacana yang dihembuskan ini secara perlahan-lahan menciptakan kategorisasi. Produksi kekuasaan yang terjadi kemudian adalah munculnya strategi untuk menghembuskan wacana “langsing”. melainkan melalui normalisasi yang positif dan produktif. seperti perilaku baik atau buruk yang sebenarnya mengendalikan perilaku masyarakat yang pada akhirnya dianggap kebenaran yang telah ditetapkan. yaitu melalui wacana. bahwa tubuh ideal perempuan seperti pada perempuan yang menjadi model iklan Tropicana Slim. bukan tubuh fisik lagi yang disentuh kuasa. adalah salah satu tayangan media yang menyebarkan kuasa (strategi) tentang normalisasi tubuh perempuan. not the fun …” dengan lingkaran merah besar yang menutupi sebagaian tubuh ramping kurus perempuan bule yang sedang melompat.”jangan-jangan kolesterol suamiku tinggi karena aku salah pilih minyak goreng”. salah satunya yaitu untuk mencapai target penjualan produk (Eriyanto. boss. diciptakan. atau pejabat. yaitu perempuan cantik adalah yang berkulit putih dan lelaki normal adalah yang menyukai perempuan berkulit putih.2001). presiden. terdapat kata-kata. Kuasa bukanlah milik raja. dan berambut lurus. individu didefinisikan. digiring untuk menjadi ramping. kemudian berusaha memutihkan kulitnya dengan harapan lelaki itu memperhatikannya.

Mansour Fakih bahkan .perempuan bahwa istrilah yang harus bertanggungjawab bila suaminya terkena penyakit tertentu. Iklan itu menunjukkan adanya bias dalam menampilkan perempuan dimana istri cenderung ditampilkan sebagai pihak yang salah.1997) sedangkan gender menjelaskan adanya pembedaan laki-laki dan perempuan yang dilihat dari konstruksi sosial-budaya. yaitu suatu konsep sosial yang berhubungan dengan pembedaan (distinction) karakter psikologi dan fungsi sosial antara perempuan dan laki-laki yang dikaitkan dengan anatomi jenis kelaminnya (sex).1989) Stereotipe tidak lepas kaitannya dengan seks dan gender. Bagaimana mungkin kulit hitam bisa menjadi putih hanya dengan kosmetik? Lagipula wacana dominan ini mengandung pelecehan terhadap ras yang berkulit hitam. Wacana dominan ini menggeser atau memarginalkan wacana lain yaitu bagi perempuan-perempuan yang tidak berkulit putih dan tidak bertubuh langsing.(Elaine.2000). Berbagai upaya mengimbangi wacana dominan ini seperti yang dilakukan Dewi Huges atau Anita Roddick yang peduli terhadap masyarakat pedalaman dengan melihat kecantikan perempuan Afrika pada akhirnya tidak mampu mengalahkan wacana dominan tadi. sedangkan laki-laki berkarakter baik bila ia sebagai individu di atas dunia yang lebih luas (Tierney). Resistensi Perempuan Melalui Media Seni Sangat memprihatinkan bila perempuan-perempuan yang tidak bisa mencapai wacana dominan tentang tubuh ideal tadi membuat mereka terobsesi dan memaksakan diri dengan berbagai upaya yang bahkan bisa membahayakan mereka. Misalnya perempuan dijelaskan berkarakter baik bila ia sebagai ibu rumah tangga atau istri yang baik (seperti pada iklan minyak goreng). berambut ikal dengan kulitnya yang berwarna. Langsing putih dan berambut lurus menjadi wacana dominan perempuan ideal di masyarakat kita. Ia menyebutnya sebagai suatu pencerahan terhadap kapitalisme (Adriana Venny. Roddick sampai bersusah payah membuat maskot “The Body Shop” serupa boneka Barbie tetapi bertubuh besar. Wacana tubuh perempuan yang tidak dominan ini diabaikan (left out). Akibatnya adalah perempuan yang tidak bertubuh langsing dan tidak berkulit putih kehilangan kepercayaan atas tubuhnyadan kehilangan identitas karakter tubuhnya sendiri. yaitu konsep yang mencakup seks dan gender dimana seks adalah indentifikasi untuk membedakan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologi (jenis kelamin) yang lebih digunakan untuk persoalan reproduksi dan aktivitas seksual(Suzanne dan wendi. Istri ideal adalah yang terus merasa bersalah bila terjadi sesuatu pada suami mereka. Masihkah kita perlu membanggakan diri atau bersedih hati karena kulit kita? Iklan-iklan yang memelihara nilai-nilai seperti itu sesungguhnya menumbuhkan stereotip baru terhadap perempuan. Masyarakat kemudian menginternalisasi “istri ideal” adalah seperti itu.

beradab. Wacana Oposisi Biner Stereotipe terhadap perempuan seperti lebih mudah dijelaskan dengan bertitik tolak pada wacana oposisi biner yang menempatkan perempuan pada posisi yang negatif dan tak berdaya. emosional. palpable). hasrat dan daya pikir laki-laki. rasional. Iklan-iklan yang membuat standar tubuh perempuan ideal membuktikan bagaimana laki-laki (lebih banyak dibagian produksi iklan) menciptakan perempuan untuk sesuai dengan fantasi mereka tentang “perempuan sexy atau cantik”. cerdas) sedangkan perempuan di wilayah kanan (pasif. perempuan adalah obyek yang pasif. Adanya stereotipe bahwa perempuan tidak boleh di luar lingkungan . Ketika menjadi pelukis. sedang perbuatan adalah pria (activity. Dalam suratnya. sedangkan laki-laki adalah penciptanya. Head/heart. Atas hal ini. sekitar tahun 1901 bahwa saudara perempuannya yang bernama Roekmini ingin menjadi pelukis di akademi senirupa di Den Haag. yang akibatnya terjadi diskriminasi dan ketidakadilan(Fakih 1997).”Perempuan itu lebih cocok untuk dilukis daripada sebagai pelukis. Seperti yang dialami pelukis Lucia Hartini dan Kartika Affandi Koberl. karena ada stereotipe dimana ibu rumah tangga seharusnya mengurus rumah tangga. kurang cerdas).” Penyair metafisis Inggris pada sekitar abad 17 bahkan menggambarkan perempuan itu cuma kata-kata (passivity. mereka dianggap “sinting” atau aneh oleh masyarakat sekitarnya. Stereotipe: Wacana Dominan. Seperti Basuki Abdullah seorang pelukis terkenal pernah berkata. Roekmini. Hélén Cixous menulis hirarki oposisi biner yang selalu menempatkan dua hal dalam relasi yang superior-inferior seperti “Activity/passivity. Dalam Sorties. sedangkan pria itu konkrit. Model-model perempuan adalah obyek yang dikreasi untuk mencapai fantasi tersebut. intelligible). stereotip oposisi biner menempatkan perempuan pada posisi yang dirugikan dimana ini terjadi pula dalam media seni. Culture/nature.(Swara Harian Kompas. bukannya melukis (Bianpoen. termasuk Indonesia masih memegang stereotip bahwa laki-laki berada di wilayah kiri (aktif. Intelligible/palpable Man/woman” (Priyatna 2000) Masyarakat manapun. kecuali dibangkitkan lawan kesenian oleh pria. Tidak hanya iklan. Wacana dominan yang berwajah stereotipe ini memagari perempuan sehingga mereka tidak mampu mengekspresikan dirinya.” Antiphanes seorang dramawan komedi Yunani juga mengatakan.1996).lebih jelas mengatakan bahwa stereotipe adalah pelabelan negatif terhadap jenis kelamin tertentu.”Perempuan tak akan hidup lagi setelah kematian. dekat dengan alam. Perempuan yang “dikerjakan” dan lelakilah yang mengerjakan. 1999). Kenyataan bahwa perempuan dalam media seni tidak diterima sebagai subyek sebetulnya sudah dialami oleh Kartini dan adiknya. yang bisa dibentuk sebagaimana yang diinginkan laki-laki. dapat disimpulkan bahwa tampaknya perempuan dalam media ditempatkan sebagai yang abstrak. tetapi tradisi tidak memberi tempat kepada anak perempuan diluar lingkungan rumah. Dalam media ini perempuan adalah obyek yang dikreasikan atau diciptakan oleh keinginan.

melainkan tulisannya Goenawan Muhammad. Ayu Utami penulis novel Saman sebagai pemenang juara pertama sayembara roman DKJ 1997-1998 sempat dicurigai bahwa itu bukan karyanya. Puas tapi Minta Tambah”. Namun. otot-otot lengan yang kencang dengan sebelah matanya keluar cahaya tajam yang menembus mata-mata yang sedang mengintip.”’Saman”. Akibatnya. Aturan-aturan itu diberikan oleh alam melalui para genius. buah pikiran Ayu Utami dicurigai sebagai buah pikiran laki-laki. Di ranah seni rupa. Dalam lukisannya itu Lucia Hartini telah mendobrak adanya stereotipe dengan menempatkan perempuan sebagai manusia berani dan aktif. Perempuan dalam lukisan itu berani dengan tinju terkepal. Kecurigaan tersebut bisa kita lihat di beberapa media massa dan gunjingan di sekitar kelompok-kelompok sastra. bukan karya sastranya. Lucia Hartini dan Kartika Affandi Koberl akhirnya mengalami kesuksesan terutama karya mereka yang sangat feminis. 1998) Membongkar Stereotip Melalui Media Seni Stereotip memang sangat merugikan perempuan yang tidak hanya dalam iklan tetapi juga masuk ke wilayah seni. Demikian pula Kartika Affandi Koberl dalam karyanya Potret Diri yang lebih menggambarkan integritas perempuan gigih dan kuat dalam menghadapi kesulitan hidup. Dalam media seni kita bisa menemukan semangat kebebasan dibandingkan dengan media iklan. dituliskan judul yang sangat melecehkan.rumah mengakibatkan Roekmini tidak pernah mendapat kesempatan belajar seni rupa seperti yang pernah dicita-citakannya (Bianpone. yang isinya mengasumsikan bahwa fragmen dari novel itu benar-benar mengundang libido pembaca (dalam hal ini berarti libido laki-laki) dengan menempatkan Ayu Utami sebagai obyek berita yang sensual. Ada faktor ketidakpercayaan masyarakat dengan mempertanyakan bagaimana mungkin perempuan dapat mencapai kesuksesannya di bidang sastra. Hans Georg Gadamer pernah mengatakan bahwa tidak ada aturan-aturan seni yang bersifat universal. Dalam Srikandi (1993) Lucia Hartini melukis perempuan yang diletakkan sebagai subyek. dibandingkan dengan media iklan.1996). Seperti apa yang dikatakan Imanuel Kant bahwa “seni murni adalah seni para genius”. yang dianggap lebih mungkin dan masuk akal. Seperti dalam surat kabar Suara Pembaharuan. Itu berarti bahwa seni tidak dapat diatur oleh adanya stereotipe ataupun konstruksi sosial yang menempatkan perempuan pada posisi yang dirugikan. Garis-garis kuasnya menaruh kontemplasi dan ekspresi perasaan yang sangat kuat. media seni ternyata dapat juga menjadi alat untuk mendobrak stereotipe itu sendiri. Begitupula di bidang sastra. dan masyarakat lebih percaya bila kesuksesan sebuah karya seni ada di tangan laki-laki (stereotipe). . Tidak ada aturan seni yang menempatkan perempuan harus sebagai obyek. (Suara Pembaharuan.

Dialah perempuan yang memimpin teater dimana pada awalnya tidak didukung oleh siapa pun. Di dalam novel-novelnya selalu ia tanamkan tentang karakter perempuan mandiri. “Hanya lelaki yang boleh menghampiri perempuan. 1998) Ayu Utami juga menggugat stereotipe masyarakat tentang hubungan lelaki dan perempuan. jika agama dipakai untuk urusan ini. dan akan pergi setelah si wanita menyerahkan kesucian … Tiba-tiba aku ingin berteriak. kataku. Mendengar itu Yasmin marah sekali.Di ranah sastra. Laila melerai dengan usul menyisihkan dulu perkara itu. dan laki-laki sebagai obyek yang dipandang. tetapi di lain hal perempuan dapat menggunakan media itu sendiri sebagai sarana resistensi untuk membongkar stereotip bila perempuan itu sendiri bisa menciptakan apa yang benar-benar ia inginkan atas tubuh. Ia juga memberontak terhadap stereotipe keperawanan perempuan. Sebab menurutku yang curang lagilagi Tuhan: dia menciptakan selaput dara. ketika dewasa. dan lelaki itu akan menghidupinya dengan hartanya. 1998) Dalam ranah teater atau drama. Sumber: Jurnal Perempuan Online . Itu dinamakan perkawinan. dibentuk dan diciptakan tubuhnya oleh imajinasi keinginan pria. (Utami. Tetapi ketika ke Beirut. 2001) Penutup Bahwa perempuan dalam media bisa menjadi obyek yang dieksploitasi. Bisma Al Huseini dari Mesir melakukan pemberontaknnya lewat media teater. Kelak. jiwa dan pikirannya sendiri. Sejak itu posisinya menguatkan perempuan lain untuk ikut berteater sebagai usaha perlawanan mereka. dia menjadi orang besar yang dihargai oleh orang lain sebagai perempuan perkasa yang memiliki cita-cita mulia. tapi kukatup mulutku rapat-rapat karena aku tak ingin kembali bertengkar. sebab menurut dia musuh kita adalah laki-laki… Apa salah laki-laki? Jawab Laila: sebab mereka mengkhianati wanita. Perempuan yang mengejar-ngejar lelaki pastilah sundal. Koordinator Jurnal Perempuan dan Jurnalis Radio Jurnal Perempuan di Yayasan Jurnal Perempuan. * Mariana Amiruddin. “Dengar kawan-kawan. pada akhirnya yang salah adalah Tuhan. Mereka cuma menginginkan keperawanan. Ia seorang aktris yang mencoba melakukan perlawanan kepada cara pandang masyarakat terhadap perempuan yang selama ini sangat stereotipe. tapi tidak membikin selaput penis”. yaitu perempuan sebagai subyek yang memandang. aku menganggapnya persundalan yang hipokrit.(Bimo Nugroho. Perempuan akan memberikan tubuhnya pada lelaki yang pantas. sehingga kami kepingin berkelahi. Ayu Utami yang ditimpa gunjingan sana-sini juga tidak mengurangi kesuksesannya. (Utami.

karena suaranya keras. enggak ada nama ceweknya. Anak laki-laki. di samping sekaligus pelestari budaya bangsa. Kelak putri saya mungkin akan merumuskan pertanyaan lain tentang apakah yang berjuang melawan penjajah hanya laki-laki. lantas siapa yang memasok makanan atau mengobati yang terluka? Untuk situasi masyarakat pada zaman kini. sungguh mati. mereka yang dimakamkan di taman pahlawan. bisa ditafsirkan adanya supremasi laki-laki sekaligus mengabaikan perempuan dalam perjuangan memerangi penjajah. Pembedaan perlakuan antara murid perempuan dan murid laki-laki juga terjadi pada upacara-upacara yang digelar di sekolah.Mengajarkan Kesetaraan Jender<center></center> KOK. Kesadaran mesti dimulai dari keluarga dan ditumbuhkembangkan di sekolah. tetapi saya sebagai bapak akan mengingatnya sebagai saat penting seorang anak menunjukkan "kekritisannya". Solo. Anak perempuan diberikan materi memasak atau menari sehingga mereka bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik atau bisa menjadi penghibur. Pak?" Pertanyaan tersebut meluncur dari mulut putri kecil saya yang masih duduk di kelas satu sekolah dasar (SD) ketika mengunjungi Taman Makam Pahlawan Kusuma Bakti. Bisa jadi putri saya tidak bermaksud protes lewat pertanyaannya tersebut. Mereka masih memiliki pola berpikir bahwa laki-laki akan menjadi pemimpin. Jurug. ya. Mary Astuti (2000) menunjuk para guru sebagai pendidik di sekolah kurang mempunyai pengalaman dalam menanamkan nilai-nilai baru dalam hubungan heteroseksual dalam pengasuhan anak di sekolah. menjadi pemimpin masyarakat. Pun. inilah awal tumbuhnya kesadaran akan kesederajatan laki-laki dan perempuan. putri kecil saya mungkin sekarang sudah lupa dengan pertanyaannya. PENDIDIKAN yang memperhatikan kesetaraan jender di sekolah-sekolah masih jauh dari yang diidealkan. Anak laki-laki akan diberikan pelajaran silat atau bela diri supaya mempunyai rasa percaya yang lebih besar karena dia akan menjadi kepala keluarga. bisa benar bisa tidak karena tidak sempat menanyakan kepada kantor penjaga makam pahlawan tentang jumlah pahlawan laki-laki dan perempuan di sana. Bahwa semua yang dimakamkan sebagai pahlawan di sana tidak ada yang putri. Mereka tidak menyadari murid perempuan juga . sedangkan anak perempuan akan menjadi ibu rumah tangga. sama sekali tidak terlintas dalam pikiran saya seumur-umur mengenai laki-laki atau perempuan. Kalau taman makam pahlawan yang ada hampir di setiap kota atau kabupaten dibangun sebagai bagian tidak terpisahkan dari sejarah perjuangan bangsa ini. selalu dipilih sebagai pemimpin upacara. Apakah terjadi di makam pahlawan di kota-kota lain? Juga.

mampu bersuara keras. oleh para penyelenggara pendidikan. dan mengandalkan ototnya. Sejak dini. perempuan dan laki-laki dibedakan dari bentuk permainan. sesungguhnya telah terjadi banyak perubahan. Dengan membarui paradigma guru lewat pelatihan yang mendalami jender. publik. Padahal. serta para guru. St Kartono Mengajar di SMU Kolese De Britto. Pembedaan yang dilakukan bukan menunjukkan perbedaan yang esensial. kepemilikan tanah. para pengarang buku pelajaran. Perempuan diposisikan sebagai makhluk lemah dan perlu dikasihani. tetapi pembedaan berdasarkan kebiasaan belaka. permainan untuk anak laki-laki adalah perang-perangan. dan pantas menjadi pemimpin upacara. kiranya terus-menerus diasah demi perubahan paradigma dan persepsi yang lebih adil jender. Sumber: Kompas Cyber Media . dan tidak ada diskriminasi yang merugikan bagi siswa perempuan ataupun laki-laki. kasar. penyanyi. Padahal. KEMBALI pada pertanyaan putri saya pada awal tulisan ini. mengurus kendaraan. Yogyakarta. guru akan dapat memperlakukan siswa secara adil jender. Cukuplah bila kelak putri saya akan mendapatkan jawaban kesetaraan jender dengan melihat komposisi anggota parlemen negaranya. Profesi polisi. dan sosial. atau militer masih dilekatkan pada laki-laki. Buku-buku pelajaran pun masih menunjukkan adanya ketimpangan jender. peran perempuan dan laki-laki dibedakan menurut peran domestik. Gedung MPR/DPR bukan makam pahlawan. sedangkan berkebun. penari. identik dengan perempuan. sementara anak perempuan main masak-masakan. Pemahaman kesetaraan jender. Kegiatan memasak selalu untuk perempuan. bersuara lantang. dan sensivitas jender. tentunya taman makam pahlawan tidak bisa diubah lagi soal perempuan atau laki-laki yang mesti ditempatkan sebagai pahlawan. Dalam buku pelajaran bahasa Indonesia dari sekolah dasar hingga sekolah menengah umum. dokter. kesadaran. atau barang-barang yang bernilai ekonomis tinggi selalu untuk lakilaki. Semasa taman kanak-kanak. Pembedaan tersebut tidak pernah diprotes siswa perempuan karena semua perlakuan tersebut mereka anggap wajar juga. sedangkan laki-laki identik dengan dunia yang keras. sementara juru masak. Betapa kecut hatinya bahwa perlakuan laki-laki dan perempuan di makam pahlawan sama saja dengan perlakuan di Gedung MPR/DPR.

dan menyapu. dipukul. Membicarakan gender tidak berarti membicarakan hal yang menyangkut perempuan saja. emosional. tidak cengeng. Karenanya. tetapi juga melalui pendidikan dalam lingkungan keluarga. dan tidak mandiri telah menjadi citra baku yang sulit diubah. Ironisnya siswa pun melihat . Stereotip perempuan yang pasif. Dalam buku ajar misalnya. mencuci. Kenyataannya juga menunjukkan. peran. gagah. Sementara gambar guru yang sedang mengajar di kelas selalu perempuan karena guru selalu diidentikkan dengan tugas mengasuh atau mendidik. dan tugas laki-laki dan perempuan yang ditetapkan oleh masyarakat berdasarkan norma. dan kepercayaan masyarakat. Sebut saja gambar seorang pilot selalu laki-laki karena pekerjaan sebagai pilot memerlukan kecakapan dan kekuatan yang "hanya" dimiliki oleh laki-laki. jika seorang perempuan mengekspresikan keinginan atau kebutuhannya maka ia akan dianggap egois. menjadi perempuan pun tidaklah mudah. Sebaliknya. serta buku ajar yang menjadi pegangan para siswa sebagaimana ditunjukkan oleh Muthalib dalam Bias Gender dalam Pendidikan ternyata sarat dengan bias gender. Mereka haruslah sosok kuat. Ketika seorang anak laki-laki diejek.Kesetaraan Gender dalam Pendidikan<center></center> BANYAK laki-laki mengatakan. dan dilecehkan oleh kawannya yang lebih besar. Bias gender ini tidak hanya berlangsung dan disosialisasikan melalui proses serta sistem pembelajaran di sekolah. Bias Gender Keadaan di atas menunjukkan adanya ketimpangan atau bias gender yang sesungguhnya merugikan baik bagi laki-laki maupun perempuan. dan perkasa. sungguh tidak mudah menjadi laki-laki karena masyarakat memiliki ekspektasi yang berlebihan terhadapnya. ia ingin tampak percaya diri. Ini menjadi beban yang sangat berat bagi anak laki-laki yang senantiasa bersembunyi di balik topeng maskulinitasnya. ia biasanya tidak ingin menunjukkan bahwa ia sebenarnya sedih dan malu. tidak rasional dan agresif. adat kebiasaan. Hal ini menjadi beban tersendiri pula bagi perempuan. Gender dimaksudkan sebagai pembagian sifat. dan tidak memperlihatkan kekhawatiran dan ketidakberdayaannya. Jika ibu atau pembantu rumah tangga (perempuan) yang selalu mengerjakan tugas-tugas domestik seperti memasak. metode. banyak ditemukan gambar maupun rumusan kalimat yang tidak mencerminkan kesetaraan gender. Pendidikan di sekolah dengan komponen pembelajaran seperti media. maka akan tertanam di benak anakanak bahwa pekerjaan domestik memang menjadi pekerjaan perempuan. kedudukan.

Jika perempuan tidak dapat memenuhinya ia akan disebut tidak tahu adat dan kasar. Sementara laki-laki diarahkan untuk tampil gagah. dan berani. ada aturan-aturan tertentu yang dituntut oleh masyarakat terhadap perempuan dan laki-laki. tetapi bahkan di tingkat nasional. Demikian pula dalam perlakuan guru terhadap siswa. Kalimat seperti "Ini ibu Budi" dan bukan "ini ibu Suci". Laki-laki nggak boleh cengeng". ia akan mengatakan "Masak laki-laki menangis. Dalam upacara bendera di sekolah selalu bisa dipastikan bahwa pembawa bendera adalah siswa perempuan. Bias gender yang berlangsung di rumah maupun di sekolah tidak hanya berdampak negatif bagi siswa atau anak perempuan tetapi juga bagi anak laki-laki. masih sering ditemukan dalam banyak buku ajar atau bahkan contoh rumusan kalimat yang disampaikan guru di dalam kelas. Belum pernah terjadi dalam sejarah: laki-laki yang membawa bendera pusaka itu.bahwa meski guru-gurunya lebih banyak berjenis kelamin perempuan. kuat. Dalam rumusan kalimat pun demikian. tetapi kepala sekolahnya umumnya laki-laki. ia akan mengatakan "anak perempuan kok tidak tahu sopan santun". Sebaliknya ketika melihat murid perempuannya naik ke atas meja misalnya. lembut. Paskibraka yang setiap tanggal 17 Agustus bertugas di istana negara. Ini akan sangat berpengaruh pada peran sosial mereka di masa datang. dan melayani. Misalnya ketika seorang guru melihat murid laki-lakinya menangis. Hal ini menanamkan pengertian kepada siswa dan masyarakat pada umumnya bahwa tugas pelayanan seperti membawa bendera. selalu menempatkan dua perempuan sebagai pembawa bendera pusaka dan duplikatnya. Siswa perempuan itu dikawal oleh dua siswa laki-laki. Anak perempuan diarahkan untuk selalu tampil cantik. "Ayah membaca Koran dan ibu memasak di dapur" dan bukan sebaliknya "Ayah memasak di dapur dan ibu membaca koran". Demikian pula jika laki-laki tidak dapat memenuhinya ia akan disebut banci. lebih luas lagi. Semuanya ini mengajarkan kepada siswa tentang apa yang layak dan tidak layak dilakukan oleh laki-laki dan apa yang layak dan tidak layak dilakukan oleh perempuan. Rumusan kalimat tersebut mencerminkan sifat feminim dan kerja domestik bagi perempuan serta sifat maskulin dan kerja publik bagi laki-laki. . yang berlangsung di dalam atau di luar kelas. Hal ini memberikan pemahaman kepada siswa bahwa hanya perempuan yang boleh menangis dan hanya laki-laki yang boleh kasar dan kurang sopan santunnya. membawa baki atau pemukul gong dalamupacara resmi sudah selayaknya menjadi tugas perempuan. penakut ata bukan laki-laki sejati. Singkatnya. Hal demikian tidak hanya terjadi di tingkat sekolah.

Kedua. ekspresi emosionalnya hilang.William Pollacek dalam Real Boys menunjukkan penemuannya. gagal studi. bayi lakilaki secara emosional lebih ekspresif dibandingkan bayi perempuan. di sekolah. karena anak laki-laki lebih banyak mempunyai persoalan hiperaktif yang mengakibatkan kemunduran konsentrasi di kelas. Sementara itu. yakni proses untuk tidak menyerupai ibunya yang dianggap masyarakat sebagai perempuan lemah dan harus dilindungi. namun ia harus melakukannya jika tidak ingin dijuluki sebagai "anak mami". Kesetaraan gender seharusnya mulai ditanamkan pada anak sejak dari lingkungan keluarga. Namun ketika sampai pada usia sekolah dasar. Penyebabnya adalah pertama. Meski berat bagi anak laki-laki untuk berpisah dari sang ibu. ada proses menjadi kuat bagi laki-laki yang selalu diajari untuk tidak menangis. Jadilah mereka kemudian anak-anak perempuan yang mengikuti stereotip yang diinginkan seperti tubuh langsing. Jadi. Tidak heran jika semakin banyak anak perempuan mengusahakan penampilan sempurna bak peragawati dengan cara-cara yang justru merusak tubuhnya. dan tidak takut. Objek yang diinginkan ini selalu berkaitan dengan tubuhnya. Laki-laki pada usia lima atau enam tahun belajar mengontrol perasaan-perasaannya dan mulai malu mengungkapkannya. Penyebabnya menurut Sommers. orang tua yang . Satu-satunya cara yang dianggap aman adalah dengan membunuh kepribadian mereka untuk kemudian mengikuti keinginan masyarakat dengan menjadi suatu objek yang diinginkan oleh lakilaki. menjelang dewasa. Keterlibatan Semua Pihak Lalu apa yang dapat dilakukan terhadap fenomena bias gender dalam pendidikan ini? Keterlibatan semua pihak sangat dibutuhkan bagi terwujudnya kehidupan yang lebih egaliter. Ayah dan ibu yang saling melayani dan menghormati akan menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya. Padahal. sebenarnya. wajah putih nan cantik. proses pemisahan dari ibunya. tidak lemah. siswa perempuan umumnya memiliki prestasi akademik yang lebih baik jika dibandingkan dengan laki-laki. kulit halus dll. pada anak perempuan selalu ada tuntutan-tuntutan di luar dirinya yang memaksa mereka tidak memiliki pilihan untuk bertahan. tentu tidak lagi didasarkan atas "apa kata ayah". Tidak mengherankan jika banyak guru mengatakan bahwa siswa laki-laki lebih banyak masuk dalam daftar penerima hukuman. Situasi dan kondisi memungkinkan mereka jauh lebih tekun dan banyak membaca buku. dan malas. Demikian pula dalam hal memutuskan berbagai persoalan keluarga.

mereka mulai menyadari bahwa aturan-aturan itu melahirkan ketidakadilan baik bagi anak perempuan maupun laki-laki. tidak boleh diperbarui. mereka dituntut oleh masyarakat untuk membesarkan anak-anaknya sesuai dengan "aturan anak perempuan" dan "aturan anak laki-laki". (18) Dra Sri Suciati. teologi seharusnya merupakan refleksi kritis agama terhadap permasalahan yang dihadapi masyarakat. M. Dalam hal ini diperlukan standardisasi buku ajar yang salah satu kriterianya adalah berwawasan gender. diharuskan tinggal di rumah demi keamanannya. Sejatinya. guru akan menjadi agen perubahan yang sangat menentukan bagi terciptanya kesetaraan gender dalam pendidikan melalui proses pembelajaran yang peka gender. Memang tidak mudah bagi orang tua untuk melakukan pemberdayaan yang setara terhadap anak perempuan dan laki-lakinya. Celakanya lagi. dibimbing. teologi ini dianggap sudah final oleh umat Islam. Seakan beban jender perempuan adalah "kodrat" dari Tuhan. Kesetaraan gender dalam proses pembelajaran memerlukan keterlibatan Depdiknas sebagai pengambil kebijakan di bidang pendidikan. Teologi dan realitas sosial . wakil sekretaris PGRI Jawa Tengah. Sebab di satu pihak. Perempuan masih diposisikan sebagai kelompok lemah yang perlu diajari. misalnya. Semua itu menjadi pembenaran bahwa perempuan tidak bisa berperan di ruang publik. dan "diamankan".Hum. Dosen FPBS IKIP PGRI Semarang. 2003). Selain itu. sekolah secara kelembagaan dan terutama guru. hanya bicara tentang konsep Tuhan dan abai terhadap masalah sosial di hadapannya (Hassan Hanafi. Sumber: Suara Merdeka Refleksi Teologi Islam mengenai Kesetaraan Jender<center></center> DALAM salah satu bukunya. Di sini peran teologi Islam diuji. Di lain pihak. Perjuangan membangun keadilan dan kesetaraan jender. Hassan Hanafi mengatakan bahwa teologi Islam sangat memprihatinkan. dan berkonsentrasi di wilayah domestik.berwawasan gender diperlukan bagi pembentukan mentalitas anak baik laki-laki maupun perempuan yang kuat dan percaya diri. tidak bisa dilepaskan dari bangunan teologis.

sebab Asy’ari dianggap sukses menciptakan sebuah konsep teologi yang membuktikan peran besar Tuhan dalam jagat raya (Nurcholish Madjid. 1992). Sudah saatnya umat Islam mengembangkan pendekatan hermeneutika filosofis. Dewasa ini. dengan harapan dapat membebaskan teologi Islam dari kebangkrutannya. Maka. akhirnya terciptalah teologi pembebasan (kiri Islam). Dengan pendekatan ini. Dalam konsep teologinya mereka menerangkan bahwa akal manusia sejalan dengan wahyu. Peristiwa pemberontakan Mu’awiyah terhadap Khalifah Ali bin Abu Thalib dicatat Harun Nasution sebagai awal munculnya perdebatan teologi (Harun Nasution. 1998). Apa yang dilakukan Hanafi adalah salah satu contoh menarik. terutama Mu’awiyah.Pada awalnya teologi Islam dibangun di atas kepentingan politik. Teks kitab suci (Al Quran) didialogkan dengan persoalan manusia. Salah satu realitas sosial yang perlu disikapi adalah diskriminasi jender. justru disesaki kepentingan . setelah ia memperoleh kursi kekhalifahan. teologi Islam berhenti berdialog dengan "realitas sosial". menurut mereka. Umat Islam terjebak dengan pendekatan hermeneutika teoretis. 1986). teologi Islam begitu modern dan relevan dengan kebutuhan manusia. konsep "fatalisme" atau "predestination" lebih dimotivasi kepentingan status quo ketimbang teologi itu sendiri. Wajar jika Asghar Ali Engineer mengatakan bahwa teologi Islam terlalu berkutat pada persoalan metafisik dan meninggalkan persoalan penting kemanusiaan (Asghar Ali Engineer. Meski agak berbeda dengan awal kemunculannya. Hanafi mendialogkan teologi dengan kolonialisme dan orientalisme. Lantas tokoh-tokoh Mu’tazilah juga dianggap sukses dalam melapangkan pengembangan filsafat dan ilmu pengetahuan yang menuntut banyak peran akal. yakni memahami teologi untuk teologi itu sendiri. teologi menjadi jauh dari kebutuhan manusia. terutama para ahli fikih (fuqoha) Dengan demikian. tanpa wahyu sekalipun manusia mampu mengetahui tentang Tuhan dan kebaikan. Bahkan. Asy’ari di tengah "keputus-asaan teologis" umat Islam berhadapan dengan Aristotelianisme yang menempatkan Tuhan pada posisi kurang signifikan. Maka. Abu Hasan Al-Asy’ari dipuji Nurcholish Madjid. Teologi yang sejatinya memosisikan perempuan sebagai mitra laki-laki. raison d’etre teologi Islam adalah tuntutan "realitas sosial". Perdebatan tersebut bermuara pada kebutuhan untuk mencari legitimasi politik. Pandangan serupa ini menjadi landasan teologis dalam mengembangkan filsafat yang saat itu ditentang keras oleh ulama. pemberontakan Mu’awiyah diyakini sebagai takdir. teologi senantiasa didialogkan dengan realitas sosialnya. Saat itu. Dalam "fatalisme". Turunnya wahyu mereka anggap sebagai afirmasi dan konfirmasi atas pengetahuan tersebut. pada masanya. Walhasil.

pandangan seperti itu tidak memiliki legitimasi teologis. Hal inilah yang ingin didekonstruksi dari paradigma pendukung patriarki bahwa feminitas senantiasa merepresentasikan kelemahan. Hasil dialog semacam ini dapat kita temukan dalam teologi feminis. relasi jender secara mengesankan telah direpresentasikan oleh Tuhan sendiri. Alasannya. irasional. Bahkan. Oleh Ibnu Arabi. paling tidak. Kemudian. yaitu sifat yang melambangkan keperkasaan (maskulin) dan keindahan (feminin). Tuhan digambarkan memiliki 99 sifat. dan seterusnya. misalnya. seperti halnya seorang ibu yang melahirkan. Sifat feminin inilah yang dieksplorasi oleh teologi feminis. meski sifat maskulin dan feminin Tuhan dikatakan sejajar. ada tiga hal yang harus dilakukan terhadap teologi Islam. Padahal. . pemeliharaan alam juga merupakan representasi sifat kasih dan sayang-Nya. ialah Huwa. merupakan cermin dari sifat feminin-Nya. Lebih tepatnya. 1989). teologi feminis adalah teologi yang menggali aspek-aspek feminin Tuhan demi kesetaraan jender. konsep ketuhanan yang metafisik diterjemahkan kepada persoalan pembebasan dan pemberdayaan perempuan. Maha Pemarah diimbangi dengan Maha Penyayang. Di dalamnya. Proses penciptaan alam semesta secara evolusi. Atas dasar itu. diskriminasi jender sesungguhnya merupakan pengingkaran terhadap Tuhan secara utuh. dialog teologi dengan permasalahan-permasalahan perempuan adalah suatu keniscayaan. Jadi. Menurut dia teologi yang ada selama ini disesaki kepentingan laki-laki. Dalam pandangan Arabi. Maha Pemberi Hukuman diimbangi dengan Maha Pengampun. Oleh karena itu. Bennet menyatakan bahwa "revolusi teologis" adalah sebuah keniscayaan jika kita menginginkan pembebasan manusia (Anne McGrew Bennet. Dalam Al Quran. Dengan demikian aspek feminin-Nya jauh lebih terasa ketimbang aspek maskulin. Kata ganti Tuhan dalam Al Quran. sifat-sifat tersebut dibagi dalam dua kelompok besar. misalnya.laki-laki. Anne McGrew Bennet. sensitif. dan tidak bisa tegas sehingga menyebabkan kaum perempuan dianggap tidak layak berperan dalam wilayah publik. Arabi menggambarkan adanya reproduksi alam semesta. sifat perkasa-Nya senantiasa didampingi oleh keluasan kasih sayang-Nya. Perendahan terhadap kualitas feminin perempuan bernilai sama dengan pengabaian kualitas feminin Tuhan. yang berarti Dia (laki-laki). Hal ini dibenarkan teolog feminis. sebenarnya sifat feminin Tuhan jauh lebih berperan.

tetapi pada kesalehan sosial. Apalagi . bukan hal yang mudah karena menyangkut perombakan kultur dan kerangka pikir wartawan dan editor.Pertama. Hal ini diperlukan guna menyadarkan umat bahwa kemunculan teologi Islam tidak berada di ruang hampa. Pencitraan perempuan di berbagai media massa di seluruh dunia masih lebih banyak bersifat stereotip sehingga tidak bisa dikatakan mewakili sesuatu yang lebih benar mengenai perempuan. yakni membela hak-hak perempuan dan menegakkan kesetaraan jender. mengeksplorasi aspek feminin Tuhan demi kesetaraan jender. Eksplorasi lebih dimaksudkan sebagai pengungkapan bahwa sifat feminin tidak identik dengan kelemahan sebagaimana dianggap oleh pendukung patriarki. Ini tidak dimaksudkan untuk membenturkan sifat feminin Tuhan dengan sifat maskulin-Nya. Sampai Konferensi Dunia IV mengenai perempuan dan pembangunan di Beijing (1995). menjadikan teologi tidak sebatas keimanan. Ketiga. Perjuangan Perombakan Kultur Upaya menghapuskan kekerasan dalam pemberitaan surat kabar. Dosen Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka) dan anggota Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) Sumber: Kompas Cyber Media Pemberitaan Sensitif Gender. Sumbangan Besar Mewujudkan Demokrasi<center></center> Revolusi teknologi ternyata tak banyak dimanfaatkan oleh pekerja media untuk membantu perempuan memperbaiki posisinya. M Hilaly Basya. baik kepentingan status quo maupun pemberontakan. media dan jaringan alternatif khusus untuk perempuan semakin berkembang dan dimanfaatkan secara efektif oleh organisasi mahasiswa dan kelompok-kelompok perempuan guna memperbaiki kesadaran sosial dan politik di antara perempuan dan anggota masyarakat Dengan demikian. melainkan meneruskannya pada aksi. Ukuran kesalehan dalam konteks gagasan ini tidak diukur dari kepatuhan menjalankan ritual. Kedua. membongkar mitos tentang teologi yang seolah-oleh terberi (taken for granted). media seharusnya dapat digunakan untuk mentransformasi pencitraan mengenai perempuan. Dengan begitu diharapkan tidak ada fanatisme sempit yang mencurigai dialog teologi dan persoalan perempuan sebagai pendangkalan akidah. melainkan penuh dengan kepentingan.

1 Tahun 1974 tentang perkawinan yang secara eksplisit menetapkan peran-laki-laki dan perempuan. Sejumlah stereotip lantas menempel pada perempuan dan laki-laki berdasarkan peran jenis kelamin itu. Kerja dalam tim seperti media cetak. pemilihan gagasan dan keseluruhan gaya pemberitaan. . buruk. Bahkan mengandung resiko dituduh mengekalkan mitos masochisme perempuan. dan menentang konsepsi tentang apa dan bagaimana seharusnya. karena struktur dan pemberitaan media massa sebenarnya adalah cermin situasi masyarakat itu sendiri. Dalam masyarakat terlanjur meyakini notion palsu yang mengatakan bahwa secara kodrati perempuan kurang pandai dan secara fisik lebih lemah dibandingkan dengan laki-laki. Karena itu. karena dianggap "menjual". Kekerasan terhadap perempuan dalam media massa tidak bisa dilepaskan dari posisi perempuan dalam masyarakat. sektor "domestik" yang dikatakan sebagai sektor statis clan consumtif sebagai milik perempuan. ideologi tertentu yang dipelajari seorang manusia sejak ia bisa berpikir. Dengan demikian pemberitaan wacana sensitifitas gender saja tidak akan mampu membuat wartawan segera mamiliki kesadaran yang cukup pada inequality yang dialami perempuan. maka dengan mudah ideologi yang diskriminatif ini tersosialisasikan. efensif. Kemarahan dan ketidaktoleran hanya akan menjadi conter productive dan tidak akan membuat perubahan yang berarti. meski iklan dijadikan alasan utama suatu media massa dapat bertahan. sekolah. sebagai besar masyarakat masih percaya pada pembagian kerja secara seksual yang mensubordinasikan perempuan. Wartawan dan struktur keredaksian juga menyerap nilai-nilai tersebut sehingga mudah tergelincir untuk melakukan kekerasan berganda terhadap perempuan korban kekerasan melalui bahasa dan konsep yang dipakai. dan lingkungan masyarakat.bila bekerja pada wilayah mind set yang melahirkan suatu sikap tertentu. ditambah oleh pola asuh yang bias gender. keluarga. memalukan. atau sudut pandang berita yang dipilih. Ciri kapitalistik juga nampak dari dikalahkannya pemuatan berita demi iklan. Ini diperkuat oleh kekuasaan negara UU No. Perjuangan untuk mencapai keadilan gender melalui pemberitaan dalam media massa masih membutuhkan waktu teramat panjang. Perspektif Perempuan dalam Media Massa Seluruh persoalan ini di dalam media massa juga tidak terlepas dari struktur modal yang kapitalistik. rasisme. narcisis. Industri media massa akan menempatkan berita-berita yang bersifat maskulin itu sebagai sesuatu yang utama. Penulisan berita dan artikel atau tulisan apapun (juga gambar) yang berperspektif perempuan bukan tidak mengandung kontradiksi. terinternalisasikan melalui pendidikan di semua lini. membutuhkan toleransi dan penghargaan pada proses. Sedangkan sektor "publik" yang dicirikan sebagai sektor dinamis dan memiliki sumber kekuasaan pada perbagai sektor kehidupan yang mengendalikan perubahan sosial sebagai milik lakilaki.

Karena itulah kesadaran perempuan tentang masalah penindasan ini harus dibongkar. komunikasi. mengontrol secara dominan. atau bahkan memundurkan kembali.Suara perempuan adalah suara yang terbisukan. Inilah yang disebut split personaliy dari media: ia bisa menjadi agen pembaharu. maka ia bukanlah demokrat sejati. Padahal inti demokrasi adalah kesetaraan hak dan kewjiban. tidak memungkinkan cara berpikir lain daripada yang dikehendaki penguasa. budaya berpikir yang harus dirombak dalam struktur besar keredaksian. Ini juga dilakukan melalui bahasa. Posisi Media Massa Namun perubahan semacam ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dalam sebuah diskusi Lembaga Pers Mahasiswa. karena membicarakan media massa media yang diekspresikan melalui bahasa tulis dan lisan. menyudutkan dan menyempitkan dan akhirnya menundukkan. ada semacam cara pandang. sehebat apapun posisi seorang pemimpin media berbicara soal demokrasi. HAM. Jurnalis harus memanfaatkan semaksimal mungkin informasi. dan pendidikan untuk memajukan perdamaian. Jadi. Namun masih perlu perbaikan yang signifikan dalam kognisi. serta pembongkaran sikap dan cara pandang personal di kalangan wartawannya. maka secara tidak sadar dia telah memposisikan dirinya sebagai penindas. orang tertindas malah tidak merasa ditindas karena manipulasi berbagai nilai yang dikukuhi dalam kehidupan masyarakat atau malah melakukan adjustment terhadap penindasan itu dan kemudian mereplikasikannya kepada pihak lain yang lemah. Mengapa? Karena kesadaran ditindas hanya ada pada golongan penindas. Ia merupakan kegiatan kegiatan sosial yang terstruktur dan terikat pada keadaan sosial tertentu. Sebagai wacana baru (newspeak). tetapi sekaligus menginginkan . namun sebaliknya media bisa digunakan untuk menahan laju pergerakan perempuan. tetapi ia meragukan atau bahkan menisbikan persoalan kesetaraan dalam hubungan perempuanlaki-laki. bahasa bukanlah sekedar alat komunikasi. Hanya dengan itu maka seluruh gerakan kesetaraan bisa mencapai tujuannya. Tetapi apa keterkaitan antar demokrasi dan perempuan? Sejarah bisa menjadi titik tempuh untuk memaparkan pergerakan posisi perempuan mulai dari pemegang peranan yang kuat dalam komunitas sampai terjadinya subordinnasi terhadap mereka. maupun afeksi. Pada banyak kasus. pada umumnya pekerja media memiliki kesadaran memadai mengenai masalah-masalah HAM. Seorang pemimpin di dalam media yang masih mengartikan feminisme sebagai pembalikan perempuan dan laki-laki atau bahkan menuduh feminisme dan gerakan kesetaraan gender sebagai gerakan untuk menindas laki-laki. Sejarah kemudian memang memperlihatkan bahwa sejarah perempuan lebih banyak dilekatkan pada subordinasi. dan keadilan yang didasarkan kesetaraan tadi. Dalam hal ini media sebagai kekuatan keempat (the fourth estate) berperan sangat besar untuk pergerakan permpuan. dan demokrasi. Sistem politik yang represif telah mengawasi perempuan secara ketat.

kemapanan sehingga enggan membongkar situasi status-quo. Meski demikian. ketidakpedulian media main stream ini bukan jalan buntu yang tidak bisa ditembus. Selalu ada jalan dengan kecerdasan membungkus isu. karena merasa hal-hal itu tidak populer. sehingga akhirnya secara perlahan tetapi pasti. media main steram berurusan dengan pemodal yang lebih mempedulikan kenginan pasar ketimbang perbaikan posisi dan kesejahteraan perempuan dan kelompok masyarakat yang dilemahkan lainnnya. isu-isu kesetaraan dan keadilan gender menjadi isu yang kian membesar dan penting dan harus diterapkan dalam setiap persoalan. yang akhirnya mengganggu bisnis media. Namun bagaimanapun harus diingat. Oleh: Akhmad Junaedi Azhar Sumber: Siar Online .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful