GENDER Pembakuan Peran dalam Kebijakan-kebijakan di Indonesia<center></center> Pengantar: Berangkat dari prinsip yang menantang gagasan

konvensional bahwa hukum itu netral, objektif dan bebas nilai, LBH APIK Jakarta telah melakukan penelitian tentang ‘Pembakuan Peran Gender dalam Kebijakan-kebijakan di Indonesia’. Dengan menggunakan pendekatan hukum kritis,pandangan feminis terhadap hukum, gender dan negara dalam konteks Indonesia, ditemukan bahwa terdapat kebijakan-kebijakan yang tidak berkeadilan gender. Ideologi patriarki (dominasi laki-laki) faktanya telah mewujud dalam sistem hukum di Indonesia (baik dari peraturan dan kebijakan yang ada, stuktur dan budaya hukumnya), sehingga senantiasa mengekalkan ketidakadilan terhadap perempuan. Bagaimana pembakuan peran laki-laki dan perempuan dikukuhkan oleh Negara ? Konsep pembakuan peran gender yang mengkotak-kotakkan peran laki-laki/ suami dan perempuan/ istri ini hanya memungkinkan perempuan berperan di wilayah domestik (domestikasi), yakni sebagai pengurus rumah tangga sementara laki-laki di wilayah publik sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah utama. Peran gender yang memilahmilah peran perempuan dan laki-laki pada kenyataannya telah dibakukan oleh negara dalam berbagai kebijakan yang dilahirkan oleh Pemerintah Orde Baru. Kebijakankebijakan tersebut pada akhirnya hanya menyisakan ketidakadilan pada perempuan. Dengan demikian, melalui hukum, negara melakukan peran gender. Hukum, dengan demikian, dipandang sebagai agen yang menguatkan nilai-nilai jender yang dianut oleh masyarakat. Hal ini berkaitan dengan kebutuhan negara untuk menjaga dan menjamin kepentingannya. Apakah dampak dari pembakuan peran? Upaya domestikasi perempuan secara sistematis oleh negara berdasarkan ideology gender dalam kebijakan-kebijakan negara berdampak lebih jauh pada peminggiran terhadap perempuan, baik secara ekonomis, politik, sosial dan budaya, juga menimbulkan subordinasi, eksploitasi dan privatisasi kekerasan terhadap perempuan. Kebijakan-kebijakan apa sajakah yang membakukan peran jender? Ruang lingkup kebijakan yang dikritisi dalam penelitian adalah kebijakan-kebijakan yang lahir pada era Orde Baru. Dari kebijakan-kebijakan negara seperti : - pada masa Revolusi Hijau, yaitu pada Repelita I thn 1969-1974 dimana muncul Kebijakan yang memarginalkan kaum perempuan pedesaan yang awalnya

-

-

memiliki peran penting sebagai petani kemudian digeser dengan munculnya alatalat pertanian modern yang diasosiasikan dengan keahlian jenis kelamin laki-laki. Kemudian, kebijakan lain yang juga mempunyai efek pembakuan peran adalah praktek-praktek koersi terhadap perempuan yang diterapkan berkaitan dengan kebijakan pemerintah tentang kependudukan => Kebijakan KB yang dicanangkan sejak thn 1969 hanya diperuntukkan bagi kelompok perempuan Menunjukkan adanya asumsi patriarkal negara mengenai peran laki-laki dan perempuan yang menganggap bahwa urusan domestik adalah tanggung jawab perempuan. Nampak bahwa negara Orde Baru membatasi ruang lingkup kehidupan perempuan (secara sosial, ekonomi, politik) dan melegitimasi pembakuan peran gender.

Lebih rinci, teks-teks kebijakan yang dianalisa : Ø GBHN; Sebagai landasan bagi kebijakan-kebijakan lainnya dan pembangunan secara umum. Sepanjang GBHN 1978 –1998, kata ‘kodrat’ tetap hadir dalam teks. Dengan konsep peran ganda yang dianut negara, dapat disimpulkan bahwa ‘kodrat ‘ dimakni tidak hanya sebatas kemampuan biologis perempuan tetapi juga peran-peran reproduksi sosial. Jadi, dapat dideteksi adanya gagasan-gagasan mengenai pembakuan peran gender dalam GBHN. Ø Kebijakan tentang Buruh Migran Perempuan a. Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. Kep. 213/Men/89 tentang biaya Pembinaan Tenaga Kerja Indonesia dalam Rangka Pengembangan Program Antar Kerja Antar Negara ke Timur Tengah ; Dalam kebijakan ini diatur perbedaan biaya yang dikeluarkan untuk pengiriman buruh migran perempuan dengan laki-laki dengan asumsi gender bahwa buruh migran perempuan dianggap membutuhkan pembinaan. b. Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. Kep. 196/Men/1991 tentang Petunjuk Teknis Pengerahan Tenaga Kerja ke Arab Saudi Peraturan ini memuat adanya pembedaan usia antara laki-laki dan perempuan untuk menjadi buruh migran di sector informal. Ø Kebijakan tentang Pembantu Rumah Tangga (Perda No. 6 thn 1993) tentang Pembinaan Kesejahteraan Pramuwisma di DKI Jakarta dan SK Gubernur DKI Jakarta No. 1099 thn 1994) Asumsi pemerintah terhadap istilah pramuwisma yang cenderung ditujukan terhadap perempuan menyumbang pada pembakuan peran gender dalam pasal-pasal Perda. Misalnya, pasal tentang perlunya ijin bekerja dari suami bagi perempuan yang sudah bersuami. Ø Kebijakan tentang Perkawinan/ Perceraian UUP Integrasi konsep pembakuan peran dalam kebijakan tentang perkawinan yaitu melalui UU No. 1 thn 1974 tentang Perkawinan (UUP), terutama nampak dalam khususnya pasal 31, yang menyatakan bahwa “suami adalah kepala keluarga dan

istri adalah ibu rumah tangga.” Selain itu, UUP menganut asas monogamy terbuka, maksudnya bahwa pada asasnya suatu perkawinan seorang laki-laki hanya boleh mempunyai seorang isteri dan seorang perempuan hanya boleh mempunyai seorang suami. Namun, terdapat klausula yang menyatakan bahwa Pengadilan dapat memberi ijin kepada seorang suami untuk beristri lebih dari seorang karenanya terbuka kemungkinan bagi laki-laki untuk melakukan poligami. Pengaturan mengenai poligami ini tidak hanya menunjukkan bahwa dalam institusi perkawinan posisi tawar perempuan lebih rendah disbanding lakilaki tetapi juga menunjukkan bahwa negara jelas-jelas telah melegitimasi nilainilai jender perempuan yang hidup dalam masyarakat. Dalam Pasal 31 : Kedudukan suami isteri adalah sama, akan tetapi dalam ayat lain ditegaskan bahwa suami adalah kepala keluarga dan isteri adalah ibu rumah tangga. Penegasan ini merupakan pengetatan fungsi-fungsi isteri dan fungsifungsi suami secara tegas. Artinya, pasal ini melegitimasi secara eksplisit pembagian peran berdasarkan jenis kelamin. Juga, semakin dipertegas dalam pasal 34 yang menyatakan bahwa suami wajib melindungi isteri dan isteri wajib mengatur rumah tangga sebaik-baiknya. Pasal tersebut merupakan pengejawantahan dari pola pikir masyarakat yang menganggap bahwa peran lakilaki dan perempuan sudah mutlak terbagi. PP No. 45/ 1990 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah No. 10 thn 1983 tentang ijin Perkawinan dan Perceraian Pegawai Negeri Sipil. (Peraturan Pemerintah ini merupakan peraturan pelaksana dari UU Perkawinan yang khusus diberlakukan kepada Pegawai Negeri Sipil dan merupakan penyempurnaan dari PP 10 thn 1983). PP ini lebih menegaskan asas monogamy terbuka. Akan tetapi, secara tidak konsisten PP melarang perempuan PNS menjadi isteri kedua, ketiga atau keempat dengan asumsi akan merusak citranya sebagai PNS dan perempuan. Ø Kebijakan tentang Kekerasan terhadap Perempuan KUHP berkaitan dengan Penganiayaan terhadap isteri KUHP tidak mengenal konsep kekerasan berbasis gender, atau tindakantindakan kejahatan yang dilakukan karena jenis kelamin perempuan. KUHP berkaitan dengan Perkosaan Perkosaan terhadap isteri dalam perkawinan (marital rape) tidak dikenal dalam KUHP berarti KUHP mengadopsi pandangan masyarakat bahwa fungsi isteri adalah melayani suami. UU No. 62 Tahun 1958 tentang Kewarganegaraan UU ini mengadopsi ideology patriarki yang tercermin dalam ketentuan tentang status kewarganegaraan anak yang lahir dari perkawinan campuran , yaitu megikuti kewarganegaraan ayahnya.

Ø

Kebijakan Ketenagakerjaan UU No. 25 thn 1997 tentang Ketenagakerjaan : Memuat ketentuan yang mendiskriminasikan perempuan dengan memuat ketentuan larangan bekerja bagi perempuan pada waktu malam hari.

Ø Peraturan tentang Perpajakan :Keputusan Direktur Jendral Pajak No. 78/ PJ.41/ 1990 tentang Pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) kepada isteri wajib pajak yang melakukan kegiatan usaha dan atau pekerjaan bebas Ø Peraturan tentang Perpajakan: Keputusan Direktur Jendral Pajak No. 78/ PJ. 41/ 1990 tentang Pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) kepada isteri Wajib Pajak yang melakukan kegiatan Usaha dan atau Pekerjaan Bebas

Dalam ketentuan perpajakan, isteri yang bekerja atau usaha yang wajib kena pajak bukanlah wajib pajak secara pribadi melainkan sebagai ‘isteri wajib pajak.’ Dampaknya, ada hambatan bagi perempuan menikah yang hendak mengembangkan usahanya karena nomor wajib pajaknya tergantung pada suami sehingga otomatis pengembangan usahanya tergantung pada ijin suami. Penutup Ø Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh negara disamping bias gender juga bias kelas menengah serta bertentangan dengan kenyataan sosialnya. Dalam kenyataannya, kaum perempuan tidak lagi hanya sebagai pencari nafkah tetapi juga banyak yang menjadi kepala keluarga. Akibatnya timbul ketegangan antara nilai-nilai dan peraturan yang diterapkan dengan kenyataan sosial yang terus berlangsung. Ø Melalui hukum, negara melakukan pembakuan peran gender. Beberapa kebijakan mengacu pada peran perempuan dan laki-laki sebagaimana didefinisikan dalam UUP No. 1 thn 1974. Dengan demikian, UUP merupakan kebijakan yang mempunyai signifikansi dalam proses pembakuan peran yang dilakukan negara. Ø Perlu dilakukan reformasi terhadap kebijakan-kebijakan dengan mengamati dinamika proses negosiasi antara kelompok-kelompok kepentingan yang terjadi ditingkat negara untuk menentukan sasaran intervensi yang dapat dilakukan baik di tingkat struktur formal (hukum dan negara) dan di tingkat masyarakat untuk mengubah nilai-nilai gender yang dominan.

Sumber: http://www.lbh-apik.or.id/peneliltian-pembakuan_peran.htm

Perempuan Bekerja, Dilema Tak Berujung ? <center></center> Fenomena perempuan bekerja sebenarnya bukanlah barang baru di tengah masyarakat kita. Sejak zaman purba ketika manusia masih mencari penghidupan dengan cara berburu dan meramu, seorang isteri sesungguhnya sudah bekerja. Sementara suaminya pergi berburu, di rumah ia bekerja menyiapkan makanan dan mengelola hasil buruan untuk ditukarkan dengan bahan lain yang dapat dikonsumsi keluarga. Karena sistem perekonomian yang berlaku pada masyarakat purba adalah sistem barter, maka pekerjaan perempuan meski sepertinya masih berkutat di sektor domestik namun sebenarnya mengandung nilai ekonomi yang sangat tinggi. Kemudian, ketika masyarakat berkembang menjadi masyarakat agraris hingga kemudian industri, keterlibatan perempuan pun sangat besar. Bahkan dalam masyarakat berladang berbagai suku di dunia, yang banyak menjaga ternak dan mengelola ladang dengan baik itu adalah perempuan bukan laki-laki. Hal ini jelas menunjukkan bahwa keterlibatan perempuan memang bukan baru-baru saja tetapi sudah sejak zaman dulu. Dalam konteks Indonesia sebagai negara berkembang, sebenarnya tidak ada perempuan yang benar-benar menganggur. Biasanya para perempuan memiliki pekerjaan untuk juga memenuhi kebutuhan rumah tangganya entah itu mengelola sawah, membuka warung di rumah, mengkreditkan pakaian dan lain-lain. Mungkin sebagian besar masyarakat Indonesia masih beranggapan bahwa perempuan dengan pekerjaan-pekerja di atas bukan termasuk kategori perempuan bekerja. Hal ini karena perempuan bekerja identik dengan wanita karir atau wanita kantoran (yang bekerja di kantor). Pada hal, dimanapun dan kapanpun perempuan itu bekerja, seharusnya tetap dihargai pekerjaannya. Jadi tidak semata dengan ukuran gaji atau waktu bekerja saja. Annggapan ini bisa jadi juga erkait dengan arti bekerja yang berbeda antara Indonesia dengan negara-negara di Barat yang tergolong sebagai negara maju. Konsep bekerja menurut masyarakat di negara-negara Barat (negara maju) biasanya sudah terpengaruh dengan ideologi kapitalisme yang menganggap seseorang bekerja jika memenuhi kriteria tertentu misalnya; adanya penghasilan tetap dan jumlah jam kerja yang pasti. Sedangkan kebanyakan perempuan di Indonesia yang disebutkan tadi, pekerjaan mereka belum menghasilkan penghasilan tetap dan tidak terbatas waktu, bahkan baru dapat dilakukan hanya sebatas kapasitas mereka. Meski bukan fenomena baru, namun masalah perempuan bekerja nampaknya masih terus menjadi perdebatan sampai sekarang. Bagaimanapun, masyarakat masih memandang keluarga yang ideal adalah suami bekerja di luar rumah dan isteri di rumah dengan mengerjakan berbagai pekerjaan rumah. Anggapan negatif (stereotype) yang kuat di masyarakat masih menganggap idealnya suami berperan sebagai yang pencari nafkah, dan pemimpin yang penuh kasih; sedangkan istri menjalankan fungsi pengasuhan anak. Hanya, seiring dengan perkembangan zaman, tentu saja peran-peran tersebut tidak semestinya dibakukan, terlebih kondisi ekonomi yang membuat kita tidak bisa menutup

Kerja produktif dan reproduktif Untuk dapat melihat definisi dan makna kerja dengan lebih jernih lagi maka mungkin perlu dijelaskan juga tentang kerja dengan membaginya menjadi dua bentuk kerja yaitu kerja produksi dan kerja reproduksi. Kerja reproduksi dianggap tanggung jawab perempuan dan biasanya dikerjakan di dalam rumah. keduanya berperan penting dalam proses kehidupan manusia. kesemuanya berperan penting dalam melahirkan dan memampukan seseorang untuk “berfungsi” sebagaimana mestinya dalam struktur sosial masyarakat. bukan hanya sebatas masalah reproduksi biologis perempuan. terdapat kecenderungan kuat untuk memisahkan kerja produksi dan reproduksi. Seperti yang pernah diungkapkan. Kerja reproduktif juga kerja yang pada prosesnya menjaga kelangsungan proses produksi. pangan. perawatan sehari-hari manusia baik fisik dan mental. seperti yang sudah panjang lebar diutarakan di atas. saya lebih suka isteri saya di rumah merawat anak-anak”. perdebatan mungkin muncul lebih karena anggapan akan stereotype dari masyarakat bahwa akan ada akibat yang timbul jika suami-isteri bekerja di luar rumah yaitu “mengganggu” keharmonisan yang telah berlangsung selama ini. melahirkan. Tanpa ada yang melakukan pekerjaan rumah tangga seperti memasak. Dalam sistem kapitalisme yang berlaku dewasa ini. Bagaimanapun. papan. yang akan lebih membawa perempuan kepada beban ganda. namun mencakup pula pengasuhan. akan tetapi adanya dukungan sistem yang tidak terus membawa perempuan pada posisi yang dilematis. tentu saja memang akan ada dampak yang timbul jika suami-isteri bekerja di luar rumah. atau mencuci maka tidak mungkin akan didapatkan makanan.Tetapi tentu saja pengertian pekerjaan reproduksi seperti ini tidak dianggap sebagai pekerjaan oleh masyarakat dan juga pemerintah padahal secara fisik ini jelas sebagai sebuah kerja. kenyamanan bagi anggota rumah tangga yang lain. Sehingga dengan makanan dankenyamanan tersebut proses yang lain tidak terganggu. Baik kerja produksi maupun kerja reproduksi. Kerja produksi dianggap tanggung jawab laki-laki. Walaupun seringkali jika seorang laki-laki atau suami ditanya maka akan muncul jawaban “Seandainya gaji saya cukup. di mana kedua pekerjaan tersebut dilakukan dan siapa yang melakukan pekerjaan tersebut. Terlepas dari pembahasan di atas. Kerja reproduktif adalah kerja “memproduksi manusia”. biasanya dikerjakan di luar rumah. menyusui. nampaknya hampir semua kalangan masyarakat menyetujui bahwa perempuan mendapat kemulian dengan pekerjaannya sebagai ibu . Namun solusi yang diambil tidak semestinya membebankan istri dengan dua peran sekaligus yaitu peran mengasuh anak (nursery) dan mencari nafkah di luar rumah (provider).mata bahwa kadang-kadang istripun dituntut untuk harus mampu juga berperan sebagai pencari nafkah. misalnya pekerjaan rumah tangga. hamil. Kerja produktif berfungsi memenuhi kebutuhan dasar manusia seperti sandang.

niscaya akan mematahkan mitos “laki-laki adalah pencari nafkah utama”. Ternyata.rumah tangga hingga ibu rumah tangga mendapat gelar “ratu rumah tangga”. Atas nama tradisi dan kodrat. seolah ia adalah bagian kewajiban dari Tuhan dengan imbalan kebahagiaan di akhirat nanti. nanti juga ke dapur” atau “si X (perempuan) mah paling juga kawin terus ngurus anak”. masih ada yang merasa rugi memberi cuti melahirkan kepada karyawan perempuan. mendukung pula pandangan ini. tidak mengundang laki-laki untuk berkontribusi lebih besar dalam kerja reproduksi. Berkomitmen tinggi terhadap anak dan keluarga dipandang tidak kompatibel dengan dunia kerja. Institusi pendidikan. Situasi di sektor publik sering pula tidak ramah keluarga. Jam kerja panjang. keterlibatan perempuan dalam kerja produksi tidak mengurangi beban tanggung jawabnya di sektor reproduksi. Sayangnya. dan kesulitan perempuan bekerja untuk menyusui anaknya. adalah beberapa contoh nyata. perempuan dipandang sewajarnya bertanggung jawab dalam arena domestik. Demikian pula sebutan “ratu” yang seharusnya berimplikasi pada peran perempuan yang lebih besar dalam pengambilan keputusan di tingkat keluarga. bukan perempuan yang lebih berperan dalam pengambilan keputusan penting. kerja reproduksi yang sebagian besar dilakukan perempuan berperan sangat penting guna keberlanjutan suatu bangsa dan umat manusia pada umumnya. meskipun perempuan telah mencurahkan begitu banyak waktu dan energi. Lebih jarang lagi yang memperhitungkan nilai ekonomi pekerjaan rumah tangga. Jarang yang mempertanyakan secara terbuka “kodrat” tersebut. Dengan kata lain. Di sektor publik sering kali sistem yang ada “tidak mendukung” perempuan (dan lakilaki) bekerja untuk dapat pula melakukan kerja reproduksi secara optimal sekaligus. agama. Contohnya pernyataan “buat apa anak perempuan sekolah tinggi-tinggi. pada kenyataannya. Dan mengapa “pekerjaan mulia” tersebut sebagian besar dibebankan hanya kepada perempuan. Norma yang berlaku dewasa ini kerja reproduksi adalah tanggung jawab perempuan. Perlu . media massa. baik terhadap karyawan perempuan maupun laki-laki. Kerja perempuan terutama di sektor reproduksi tidak pernah diperhitungkan dalam data perekonomian dan statistik. Namun yang menjadi pertanyaan kemudian adalah mengapa pekerjaan reproduksi tersebut selalu diberi sebutan sebagai “pekerjaan mulia”. terjadi “perendahan” terhadap kerja reproduksi biologis perempuan. ketiadaan sarana penitipan anak di tempat kerja. Jika kerja tersebut diperhitungkan. Meskipun cuti melahirkan telah diberlakukan secara luas. Sebenarnya di banyak tempat. Diskriminasi terselubung dilakukan guna menghindari pemberian cuti tersebut antara lain dengan preferensi tidak tertulis mengutamakan merekrut karyawan laki-laki atau karyawan perempuan lajang. melainkan laki-laki. Memberikan cuti melahirkan bagi karyawan perempuan dianggap pemborosan dan inefiesiensi.

sementara untuk kasus pedesaan sebagai buruh tani. pun sesungguhnya sudah lazim ditemui di berbagai kelompok masyarakat. biaya tenaga kerja dapat ditekan hingga 58% dari total biaya produksi (Tjandraningsih. 1991:18).6%. termasuk di dalamnya peningkatan peran serta laki-laki dalam kerja reproduksi dalam rumah tangga. Seperti yang juga sudah disinggung di atas. garmen.perbaikan sistem sosial secara menyeluruh agar jangan sampai suatu bangsa atau lebih parah lagi umat manusia punah. keterlibatan perempuan di sektor manapun selalu nampak dicirikan oleh “skala bawah” dari pekerjaan perempuan. Sebuah penelitian tentang buruh perempuan . Sejarah menunjukan bahwa perempuan dan kerja publik sebenarnya bukan hal baru bagi perempuan Indonesia terutama mereka yang berada pada strata menengah ke bawah. Perempuan di sektor industri perkotaan terutama terlibat sebagai buruh di industri tekstil. sebagai buruh pabrik.2%. kondisi kerja buruk dan tidak memiliki keamanan kerja. mayoritas berada di tingkat buruh tani. Kasus lain dengan substansi yang sama ditemukan pula di sektor pertanian pedesaan. sementara di perkotaan sektor industri tertentu didominasi oleh perempuan. pada umumnya perempuan terlibat dalam perdagangan usaha kecil seperti berdagang sayur mayur di pasar tradisional. menemukan bahwa biaya tenaga kerja (upah) buruh laki-laki adalah 10-15% dari total biaya produksi. Dalam kasus tersebut. Masalah umum yang dihadapi perempuan di sektor publik adalah kecenderungan perempuan terpinggirkan pada jenis-jenis pekerjaan yang berupah rendah. Hal yang perlu digarisbawahi di sini adalah bahwa kecenderungan perempuan terpinggirkan pada pekerjaan marginal tersebut tidak semata-mata disebabkan faktor pendidikan. Di pedesaan. berkaitan dengan masalah perempuan bekerja produksi yaitu dengan bekerja di luar rumah untuk mencari nafkah. Dari kalangan pengusaha sendiri. Untuk kasus kota. Diskriminasi kerja perempuan Terlepas dari persoalan sektor yang digeluti perempuan.2%. usaha warung. Sangat penting pula demokratisasi institusi keluarga. Di sektor perdagangan. terdapat preferensi untuk mempekerjakan perempuan pada sektor tertentu dan jenis pekerjaan tertentu karena upah perempuan lebih rendah daripada laki-laki. perempuan pada strata ini mendominasi sektor pertanian. sepatu dan elektronik. Di luar konteks desa-kota. Sementara bila mempekerjakan perempuan. diikuti oleh sektor perdagangan 20. Perempuan di sektor pertanian pedesaan. Sebuah studi tentang buruh perempuan pada industri sepatu di Tangerang. Hal ini berlaku khususnya bagi perempuan berpendidikan menengah ke bawah. adalah jenis-jenis pekerjaan yang lazim ditekuni perempuan. hanya karena berkeluarga dan memiliki anak menjadi semakin tidak menarik. Data sensus penduduk tahun 1990 menunjukan bahwa sektor pertanian adalah sektor yang terbesar dalam menyerap tenaga kerja perempuan yaitu 49. dan sektor industri manufaktur 14. sektor perdagangan juga banyak melibatkan perempuan. persentase buruh perempuan adalah 90% dari total buruh.

1994:52). di sektor swasta diskriminasi masih terjadi. banyak perempuan menjadi pencari nafkah utama keluarga atau bersama-sama suami memberikan kontribusi finansial hingga 50% dari total penghasilan keluarga.00 per hari (Indraswari.650. Paling tidak di kedua kasus tersebut telah terjadi penggunaan tenaga kerja perempuan untuk sektor-sektor produktif tertentu dan pemisahan kegiatan-kegiatan tertentu atas dasar jenis kelamin. Dengan demikian -dengan memperhitungkan komponen tunjangan. bekerja bagi mereka adalah bagian dari aktualisasi diri. dalam situasi krisis ekonomi. Demikian pula tunjangan kesehatan hanya diberikan kepada dirinya sendiri -tidak untuk suami dan anak-. namun komponen tunjangan keluarga dan tunjangan kesehatan dibedakan antara pegawai perempuan dan laki-laki. seringkali memanipulasi ideologi gender sebagai pembenaran. buruh perempuan mendapat upah Rp 1.850. bekerja di sektor publik kebanyakan atas dasar dorongan kebutuhan ekonomi. Persoalannya.total penghasilan pegawai laki-laki dan perempuan berbeda jumlahnya untuk pekerjaan yang sama. Hal ini selain terkait dengan semakin terbukanya peluang bagi perempuan untuk memasuki sektor-sektor yang pada awalnya diperuntukkan hanya untuk laki-laki. Seorang pegawai perempuan -apakah berstatus menikah atau lajang. nilai. Diskriminasi upah yang terjadi secara eksplisit maupun implisit. stereotip.00 per hari sementara buruh lakilaki mendapat upah Rp 1. generalisasi bahwa “semua perempuan bekerja hanya untuk ‘membantu’ suami” atau “semua perempuan bekerja hanya sebagai kegiatan sampingan” banyak tidak terbukti validitasnya. maka pada saat ia masuk ke sektor publik “sah-sah” saja untuk memberikan upah lebih rendah karena pekerjaan di sektor publik hanya sebagai “sampingan” untuk “membantu” suami. Ideologi gender adalah segala aturan. Karena tugas utama perempuan adalah di sektor domestik. Dua hal ini dapat di lihat juga melalui peningkatan atau penurunan rasio perempuan di setiap jabatan. Meskipun besar upah pokok antara pegawai laki-laki dan perempuan sama. Sedangkan bagi perempuan di kelas menengah ke atas. Bagi perempuan miskin. Seorang pegawai perempuan yang berstatus menikah -karena dia perempuantidak mendapatkan tunjangan suami atau anak. Jika perempuan pada strata menengah ke bawah. diskriminasi upah seringkali lebih tersamar. Semakin banyaknya perempuan berpendidikan yang berkeinginan untuk aktif di sektor publik merupakan konsekuensi logis dari pembukaan peluang yang lebih besar bagi anak perempuan untuk bersekolah. Persentase buruh perempuan pada kasus tembakau adalah 80%. Sebenarnya pihak yang diuntungkan dalam kasus diskiriminasi upah adalah . Meskipun sistem pengupahan (termasuk tunjangan) pegawai negeri tidak lagi membedakan pegawai perempuan dan laki-laki.pada agro industri tembakau ekspor di Jember bahwa untuk pekerjaan di kebun tembakau. Bagi perempuan kelas menengah ke atas yang bekerja sebagai pegawai swasta maupun sebagai pegawai negeri. yang mengatur hubungan antara perempuan dan laki-laki terlebih dahulu melalui pembentukan identitas feminin dan maskulin (Ratna Saptari dalam Andria dan Reichman. 1999: 9).tetap dianggap lajang. atau bahkan lebih.

h. Selain persoalan upah. h. Lebih tegas lagi dalam fikih Hambali. maka Islam sesungguhnya tidak pernah menekan pihak perempuan dalam bidang pekerjaan. apabila nyata-nyata dia tidak bisa bekerja mencari nafkah. walikota. Sebutlah misalnya. yang dengan tegas mengatakan kepadanya: “Petiklah kurma itu. Demikian pula dapat dihitung dengan jari. 205 dan al-Mughni li Ibn Qudamah. 573). bekerja bercocok tanam. dalam praktek kehidupan zaman Nabi Saw sesungguhnya ada banyak riwayat menyebutkan tentang sahabat perempuan yang bekerja di dalam dan di luar rumah. Variasi pandangan ulama hanya muncul pada kasus seorang isteri yang bekerja tanpa restu dari suaminya. jabatan) karena ideologi patriarkis yang dominan. Jika merujuk kepada hadits Nabi. dll. halaman 1211. suami juga tidak berhak sama sekali untuk melarang isteri bekerja mencari nafkah. Hal ini diindikasikan dengan minimnya jumlah perempuan yang menduduki posisi pengambil keputusan dan posisi strategis lainnya baik di sektor pemerintah maupun di sektor swasta. termasuk akses terhadap programprogram pelatihan untuk pengembangan karir. Kemudian dia melapor kepada Nabi Saw. maupun untuk memenuhi kebutuhan keluarga. dia dihardik oleh seseorang untuk tidak keluar rumah. perempuan di sektor publik menghadapi kendala lebih besar untuk melakukan mobilitas vertikal (kenaikan pangkat. karena bekerja adalah hak setiap orang.pemilik modal yang dapat menekan biaya produksi melalui pengurangan komponen biaya tenaga kerja. Kalau lebih jauh menelusuri lembaran-lembaran literatur fikih. jumlah perempuan yang menduduki jabatan struktural. Dari gambaran persoalan diatas. Di dalam kitab hadits (Shahih Muslim. yang terkadang melakukan perjalanan cukup jauh. Bahkan di dalam literatur fikih (jurisprudensi Islam) secara umum tidak ditemukan larangan perempuan bekerja. juz VII. menteri. dalam perspektif perbandingan dengan laki-laki. baik karena sakit. bupati. baik untuk kepentingan sosial. seorang lelaki yang pada awalnya sudah mengetahui dan menerima calon isterinya sebagai pekerja (baca : perempuan karir) yang setelah . posisi. Dalam Islam tidak ada masalah Sebagai agama yang diyakini untuk kasih sayang semua umat manusia. isteri sahabat Zubair bin Awwam. namun perempuan yang menjadi anggota parlemen hanya 7-8% dari total anggota parlemen. dalam pandangan banyak ulama fikih. Baik pekerjaan di rumah maupun luar rumah. juz IV. selama untuk kebaikan dan kemaslahatan”. miskin atau karena yang lain (lihat fatwa Ibn Hajar. Asma bint Abu Bakr. dapat dilihat telah terjadi pula pelebaran ketimpangan ekonomi antara laki-laki dan perempuan yang ditandai oleh perbedaan upah serta ketidaksamaan akses keuntungan dan fasilitas kerja. Meskipun persentase perempuan lebih dari 50% dari total penduduk Indonesia. selama ada jaminan keamanan dan keselamatan. juz II. nomor hadits 1483) disebutkan bahwa ketika Bibi Jabir bin Abdullah keluar rumah untuk bekerja memetik kurma.

h. juz VII. Perempuan bekerja dan perubahan sosial. Kalyanamitra. akan tetapi adalah menunjukkan penghargaan pada jerih payah ibu. juz II. Yang berarti fikih tidak memandang bahwa kewajiban seorang lelaki (misalnya suami) untuk mencari nafkah menjadi penghalang bagi perempuan untuk bekerja di luar rumah juga untuk mencari nafkah. April 1994 Indraswari dan Juni Thamrin. nomor hadits 1483. di Indonesia dituangkan dalam kebijakan nasional sebagaimana ditetapkan dalam Garis-Garis Besar Haluan . 1995. AlMughni li Ibn Qudamah. Al-fiqh al-Islami wa adillatuhu. Pendahuluan Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG) sudah menjadi isu yang sangat penting dan sudah menjadi komitmen bangsa-bangsa di dunia termasuk Indonesia sehingga seluruh negara menjadi terikat dan harus melaksanakan komitmen tersebut. h. h. 795. suami tidak boleh kemudian melarang isterinya bekerja atas alasan apapun (lihat : al-fiqh al-Islami wa adillatuhu. Upaya mewujudkan Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG). AKATIGA. Bahkan dalam fikih. Fatwa Ibn Hajar.perkawinan juga akan terus bekerja di luar rumah. Fikih membenarkan suami dan isteri. Indraswari. Juni 1994 Ratna Saptari. berbagai jalan dapat ditempuh untuk tetap memberikan keadilan bagi perempuan. Akhirnya. keduanya bekerja di luar rumah dengan prasyarat-prasyarat tertentu. dan Juni Thamrin. tak terkecuali yang berkaitan dengan masalah perempuan bekerja. Tinjauan pada Agroindustri Tembakau Ekspor di Jember. 795). Jadi pendefinisian bahwa pekerjaan di luar rumah adalah tugas laki-laki dan pekerjaan di dalam rumah adalah pekerjaan perempuan adalah hasil penafsiran terhadap teks secara sempit. h. perempuan sesungguhnya diperbolehkan meminta upah bila menyusui anaknya. juz VII. Shahih Muslim. Indrasari Tjandraningsih. juz IV. 573 Oleh: Swara Rahima Sumber: Kementrian Pemberdayaan Perempuan Kesetaraan Dan Keadilan Gender<center></center> I. halaman 1211. Tinjauan kebijakan pengupahan buruh di Indonesia. Pekerjaan rumah tangga adalah pekerjaan yang sesungguhnya untuk perempuan dan lakilaki. juz VII. (dd) ] Sumber Bacaan : Dedi Haryadi. kecuali air susu hari pertama yang merupakan kewajiban perempuan memberikan kepada anaknya karena mengandung kolostrum yang baik untuk meningkatkan imunitas bayi baru lahir. Memang tentu saja hal ini tidak secara otomatis mengatakan bahwa Islam mengajarkan hubungan ibu dan bayinya dihitung dengan uang. Potret kerja buruh perempuan. 205. AKATIGA.

sistem upah yang merugikan. Kenyataannya dalam beberapa aspek pembangunan.847. Bahkan belum cukup efektif memperkecil kesenjangan yang ada. Pelaksanaan PUG diisntruksikan kepada seluruh departemen maupun lembaga pemerintah dan non departemen di pemerintah nasional. Oleh karena itu program pemberdayaan perempuan telah menjadi agenda bangsa dan memerlukan dukungan semua pihak. baik perempuan maupun laki-laki. Seperti peluang dan kesempatan yang terbatas dalam mengakses dan mengontrol sumberdaya pembangunan.Negara (GBHN) 1999. Hal ini menunjukkan bahwa hak-hak perempuan memperoleh manfaat secara optimal belum terpenuhi sehingga pembangunan nasional belum mencapai hasil yang optimal. untuk melakukan penyusunan program dalam perencanaan. UU No.415) dari total (206. Partisipasi aktif wanita dalam setiap proses pembangunan akan mempercepat tercapainya tujuan pembangunan. propinsi maupun di kabupaten/kota.9% (102. dan dipertegas dalam Instruksi Presiden No. tingkat kesehatan dan pendidikan yang rendah. program/proyek dan kegiatan. aspirasi perempuan pada pembangunan dalam kebijakan. Kurang berperannya kaum perempuan. Hal ini disebabkan karena kondisi dan posisi yang kurang menguntungkan dibanding laki-laki. karena masih belum memanfaatkan kapasitas sumber daya manusia secara penuh. ternyata belum dapat memberikan manfaat yang setara bagi perempuan dan laki-laki. swasta maupun masyarakat sangat tergantung dari peran serta laki-laki dan perempuan sebagai pelaku dan pemanfaat hasil pembangunan. Disamping itu pengarusutamaan gender juga merupakan salah satu dari empat key cross cutting issues dalam Propenas. Pada pelaksanaannya sampai saat ini peran serta kaum perempuan belum dioptimalkan. 2000 tentang Program Pembangunan NasionalPROPENAS 2000-2004. akan memperlambat proses pembangunan atau bahkan perempuan dapat menjadi beban pembangunan itu sendiri. . Penduduk wanita yang jumlahnya 49. pemantauan dan evaluasi dengan mempertimbangkan permasalahan kebutuhan. sehingga manfaat pembangunan kurang diterima kaum perempuan. perempuan kurang dapat berperan aktif. sebagai salah satu strategi untuk mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender. Berbagai upaya pembangunan nasional yang selama ini diarahkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. 25 th.595) penduduk Indonesia (Sensus Penduduk 2000) merupakan sumberdaya pembangunan yang cukup besar. pelaksanaan.264. 9 tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender (PUG) dalam Pembangunan nasional. Disadari bahwa keberhasilan pembangunan nasional di Indonesia baik yang dilaksanakan oleh pemerintah.

Thailand. Adanya kesenjangan pada kondisi dan posisi laki-laki dan perempuan menyebabkan perempuan belum dapat menjadi mitra kerja aktif laki-laki dalam mengatasi masalahmasalah sosial. Indeks pembangunan manusia skala internasional dan nasional dilihat dri tiga aspek yaitu pendidikan. dan arah pembangunan yang responsif gender. HDI Indonesia menempati urutan ke-112 dari 175 negara. Berdasarkan Human Development Report 2003. Sedangkan Gender related Development Index (GDI) berada pada peringkat ke-88 pada tahun 1995. dibandingkan Negara-negara ASEAN lainnya seperti HDI Malaysia. Selain itu rendahnya kualitas perempuan turut mempengaruhi kualitas generasi penerusnya. Kondisi perempuan Indonesia Secara keseluruhan indeks kualitas hidup manusia digambarkan melalui Indeks Pembangunan Manusia/Human Development Index (HDI) yang berada pada peringkat ke-96 pada tahun 1995 yang kemudian menurun ke peringkat 109 pada tahun 1998 dari 174 negara. (50. Peraturan perundang-undangan masih berpihak pada salah satu jenis kelamin dengan kata lain belum mencerminkan kesetaraan gender. Rendahnya pemahaman para pengambil keputusan di eksekutif. Tahun 1999 berada pada peringkat 102 dari 162 negara dan tahun 2002. Pendidikan Di bidang pendidikan. Kemampuan. II.Faktor penyebab kesenjangan gender yaitu Tata nilai sosial budaya masyarakat. Thailand. legislatif terhadap arti. Berdasarkan hasil Survey Penduduk 2000 (BPS) diketahui jumlah penduduk Indonesia sebesar 206. umumnya lebih mengutamakan laki-laki daripada perempuan (ideology patriarki). Penafsiran ajaran agama yang kurang komprehensif atau cenderung tekstual kurang kontekstual.264. yudikatif. 60. Kemudian pada tahun 2002 pada peringkat 91 dari 144 negara GDI inipun masih tertinggal dibandingkan dengan-negara di ASEAN seperti Malaysia. Kondisi dan posisi perempuan meliputi 3 (tiga) aspek tersebut di atas sebagai berikut: 1. Philippina yang masing-masing berada pada peringkat 54. kemauan dan kesiapan perempuan sendiri untuk merubah keadaan secara konsisten dan konsekwen. kesehatan dan ekonomi. cenderung dipahami parsial kurang kholistik. kemudian menurun ke peringkat 90 (1998) dan peringkat 92 (1999 dari 146 negara).1% diantaranya laki-laki dan 49. 110 dari 173 negara. Philippina yang menempati urutan 59. Kondisi ini antara lain disebabkan adanya pandangan dalam masyarakat yang mengutamakan dan . ekonomi dan politik yang diarahkan pada pemerataan pembangunan. tujuan. Jumlah laki-laki sedikit lebih banyak dibandingkan perempuan.9% perempuan). 70 dan 77. mengingat mereka mempunyai peran reproduksi yang sangat berperan dalam mengembangkan sumber daya manusia masa depan.595 orang. 63. kaum perempuan masih tertinggal dibandingkan laki-laki.

Laki-laki 41. 3.34%. Ketertinggalan perempuan dalam bidang pendidikan tercermin dari presentase perempuan buta huruf (14. Menurunnya angka kematian anak serta meningkatnya angka harapan hidup dari 64.54% tahun 2001) lebih besar dibandingkan laki-laki (6. khususnya perempuan kepala rumah tangga. Infant Mortality Rate (IMR). (Sumber: BPS. (Sumber: BPS.000 (SDKI 1994).84%.87%).28% sedangkan laki-laki 5. secara umum partisipasi perempuan masih rendah. yaitu 45% (2002) sedangkan laki-laki 75. yang ditunjukkan dengan masih tingginya angka kematian ibu (AKI) 390/100. selama periode 1998-2000 ada penurunan angka kematian bayi. demikian juga dengan akses terhadap sumber daya ekonomi. perempuan 31.9. angka kematian anak. Estimasi Parameter Demografi. Statistik Kesejahteraan Rakyat 1999-2001).000 (SDKI 2002). Sejalan dengan semakin meningkatnya kondisi kesehatan masyarakat. Statistik Kesejahteraan Rakyat 19992002). Dibidang kesehatan. dengan kecenderungan meningkat selama tahun 1999-2000. Angka buta huruf perempuan 12.7 tahun berbanding 65. 2. (Sumber: BPS.29% dengan komposisi laki-laki 5. angka harapan hidup (eo) pada periode 19982000 cenderung meningkat. 1998).9 tahun (2000). Hal ini ditunjukkan dengan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) yang masih jauh lebih rendah dibandingkan laki-laki.000 (SDKI 1997).mendahulukan laki-laki untuk mendapatkan pendidikan daripada perempuan. Dibidang kesehatan dan status gizi perempuan masih merupakan masalah utama. dan menurun 307/100. Statistik Kesejahteraan Rakyat 1999-2001). Berdasarkan estimasi parameter demografi 1998 yang dikeluarkan BPS. 337/100.8 sedangkan perempuan 7. Child Mortality Rate (CMR) periode ini juga menunjukkan penurunan. (Sumber: BPS.9 tahun. (Sumber: BPS. Usia harapan hidup (life expectancy rate) perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki. kemampuan perempuan memperoleh peluang kerja dan berusaha masih rendah. Tetapi pada tahun 2002 terjadi penurunan angka buta huruf yang cukup signifikan. Ekonomi Di bidang ekonomi. Namun angka buta huruf perempuan tetap lebih besar dari laki-laki. Angka buta huruf perempuan pada kelompok 10 tahun ke atas secara nasional (2002) sebesar 9. Sedangkan ditahun 2003 TPAK laki-laki lebih besar dibanding TPAK perempuan . Statistik Kesejahteraan Rakyat 1999-2002). yaitu 69.8 tahun (1998) menjadi 67. Kesehatan Menurut Gender Statistics and indicators 2000 (BPS). namun demikian angka kematian anak laki-laki lebih tinggi dibandingkan kematian anak perempuan laki-laki 9.85% dan perempuan 12. kemajuan di bidang kesehatan ditunjukkan dengan menurunnya angka kematian bayi (dari 49 bayi per 1000 kelahiran pada tahun 1998 menjadi 36 tahun 2000.69% (Sumber: BPS. Namun angka kematian bayi laki-laki lebih tinggi dibandingkan angka kematian bayi perempuan. Menurut Satatistik Kesejahteraan Rakyat 2003. Statistik Kesejahteraan Rakyat 1999-2001).

laki-laki sebesar 63.005. IV.yakni 76.6%.1% dari jumlah seluruh PNS (4. (BPS. masyarakat. (Sumber: Statistik dan Indikator Gender Indonesia 2002). dan pelacuran paksa. struktur. Jumlah peraturan perundang-undangan yang diskrimintaif terhadap perempuan berjumlah kurang lebih 32 buah. Faktor penyebab kesenjangan gender pada aspek lain misalnya politik sebagai berikut: hasil Pemilu tahun 1999 yang menyertakan 57% pemilih perempuan hanya terwakili 8. (Statitik dan Indikator Gender. Masalah HAM bagi perempuan termasuk isu gender yang menuntut perhatian khusus adalah masalah penindasan dan eksploitasi. sedangkan PNS laki-laki sebesar 84. Pada tahun 1999 jumlah PNS perempuan adalah 36.8% dari seluruh anggota DPR. Statistik Kesejahteraan Rakya. Jumlah perempuan yang menjabat sebagai Hakim Agung dan Hakim Yustisial Non Struktural di Mahkamah Agung juga menunjukkan penurunan dari 36 pada tahun 1998 menjadi 34 pada tahun 1999. lebih rendah dari hasil pemilu 1997 yang berjumlah 11.7% yang menduduki jabatan struktural. yang umumnya timbul dari berbagai faktor yang saling terkait.2% PNS perempuan yang menduduki jabatan struktural.146). Sedangkan tahun 2000 terjadi sedikit perubahan dimana jumlah PNS perempuan adalah 37.3%. 2000). Faktor Kesenjangan dibidang hukum dan politik Faktor penyebab kesenjangan kondisi dan posisi perempuan dan laki-laki dipengaruhi oleh peraturan perundang-undangan yang bias gender karena dalam bidang hukum masih banyak dijumpai substansi. Masalah yang sering muncul adalah perdagangan perempuan. III. 2003).81%. dan negara. dan budaya hukum yang diskriminatif gender. antara lain dampak negatif dari proses urbanisasi. Pengertian Kesetaraan dan Keadilan gender . dan persamaan hak dalam keluarga. dan dari jumlah tersebut hanya 15.861).2% dari jumlah pemilih 51%. dan 28 pada tahun 2002. Pemilu 2004 perempuan hanya terwakili 11%. (Sumber: Statistik dan Indikator Gender Indonesia 2002-Bab7). serta rendahnya tingkat pendidikan. relatif tingginya angka kemiskinan dan pengangguran.8%. dan dari jumlah tersebut hanya 15. sedangkan PNS laki-laki sebesar 84.9%.4% dari jumlah seluruh PNS (3.12% berbanding 44. lakilaki sebesar 62. kekerasan. BPS.927.

subordinasi. sekarang dan berlaku selamanya. Terwujudnya kesetaran dan keadilan gender ditandai dengan tidak adanya diskriminasi antara perempuan dan laki-laki. baik terhadap laki-laki maupun perempuan. ekonomi.Kesetaraan gender berarti kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan serta hak-haknya sebagai manusia. hukum. Ketentuan ini berlaku sejak dahulu kala. Dengan demikian gender dapat dikatakan pembedaan peran. agar mampu berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik. marginalisasi dan kekerasan terhadap perempuan maupun laki-laki. Dengan keadilan gender berarti tidak ada pembakuan peran. serta tanggung jawab laki-laki dan perempuan Sehingga gender belum tentu sama di tempat yang berbeda. Gender bukanlah kodrat ataupun ketentuan Tuhan. Memiliki akses dan partisipasi berarti memiliki peluang atau kesempatan untuk menggunakan sumber daya dan memiliki wewenang untuk mengambil keputusan terhadap cara penggunaan dan hasil sumber daya tersebut. Memiliki kontrol berarti memiliki kewenangan penuh untuk mengambil keputusan atas penggunaan dan hasil sumber daya. Oleh karena itu tidak dapat ditukar atau diubah. beban ganda. Oleh karena itu gender berkaitan dengan proses keyakinan bagaimana seharusnya laki-laki dan perempuan berperan dan bertindak sesuai dengan tata nilai yang terstruktur. dan dengan demikian mereka memiliki akses. Kesetaraan gender juga meliputi penghapusan diskriminasi dan ketidak adilan struktural. fungsi. Seks/kodrat adalah jenis kelamin yang terdiri dari perempuan dan laki-laki yang telah ditentukan oleh Tuhan. ketentuan sosial dan budaya ditempat mereka berada. tanggung jawab antara perempuan dan laki-laki yang dibentuk/dikonstruksi oleh sosial budaya dan dapat berubah sesuai perkembangan zaman. serta kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan tersebut. dan dapat berubah dari waktu ke waktu. sosial budaya. Sehingga memperoleh manfaat yang sama dari pembangunan. pendidikan dan pertahanan dan keamanan nasional (hankamnas). V. kesempatan berpartisipasi. Keadilan gender adalah suatu proses dan perlakuan adil terhadap perempuan dan lakilaki. Pengertian gender dan seks Gender adalah perbedaan dan fungsi peran sosial yang dikonstruksikan oleh masyarakat. dan kontrol atas pembangunan serta memperoleh manfaat yang setara dan adil dari pembangunan. .

menyatakan. Berbagai pembedaan peran.Dengan demikian perbedaan gender dan jenis kelamin (seks) adalah Gender: dapat berubah. tugas dan tanggung jawab serta kedudukan antara laki-laki dan perempuan baik secara langsung maupun tidak langsung. Faqih dalam Achmad M. ketidak adilan gender adalah suatu sistem dan struktur yang menempatkan laki-laki maupun perempuan sebagai korban dari sistem (Faqih. 1996. diskriminasi terhadap perempuan kurang menguntungkan dibandingkan laki-laki. Mosse. 2001). melainkan buatan manusia. 1990). berlaku dimana saja. 33. terutama pada perempuan. tetapi juga bagi kaum laki-laki. di belahan dunia manapun. menyatakan. tidak dapat dipertukarkan. terhadap laki-laki dan perempuan. Sesungguhnya perbedaan gender dengan pemilahan sifat. beban kerja lebih banyak dan panjang (Ihromi. seks tidak dapat berubah. Manisfestasi ketidakadilan gender tersebut masing-masing tidak bisa dipisah-pisahkan. bukan saja bagi kaum perempuan. budaya setempat. Masyarakat belum memahami bahwa gender adalah suatu konstruksi budaya tentang peran fungsi dan tanggung jawab sosial antara laki-laki dan perempuan. misalnya marginalisasi. 1996). dan merupakan kodrat atau ciptaan Tuhan. Hanya saja bila dibandingkan. peran. VII. Gender masih diartikan oleh masyarakat sebagai perbedaan jenis kelamin. Lain halnya dengan seks. tergantung waktu. subordinasi. berlaku sepanjang masa. ketidak adilan gender termanifestasikan dalam berbagai bentuk ketidakadilan. Bentuk-bentuk ketidakadilan akibat diskriminasi gender . bukan merupakan kodrat Tuhan. dan posisi tidak menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan. saling terkait dan berpengaruh secara dialektis (Achmad M. dapat dipertukarkan. 1998a. hal. Selanjutnya Achmad M. kekerasan terhadap perempuan (Prasetyo dan Marzuki. dan dampak suatu peraturan perundang-undangan maupun kebijakan telah menimbulkan berbagai ketidakadilan karena telah berakar dalam adat. Namun pada kenyataannya perbedaan gender telah melahirkan berbagai ketidak adilan. Permasalah Ketidakadilan Gender Ketertinggalan perempuan mencerminkan masih adanya ketidakadilan dan ketidak setaraan antara laki-laki dan perempuan di Indonesia. fungsi. 1997). 1997). stereotipe/pelabelan negatif sekaligus perlakuan diskriminatif (Bhasin. VI. hal ini dapat terlihat dari gambaran kondisi perempuan di Indonesia. Kondisi demikian mengakibatkan kesenjangan peran sosial dan tanggung jawab sehingga terjadi diskriminasi. norma ataupun struktur masyarakat.

Di Jawa misalnya revolusi hijau memperkenalkan jenis padi unggul yang panennya menggunakan sabit. ♣Usaha konveksi lebih suka menyerap tenaga perempuan. 2. Namun pemiskinan atas perempuan maupun laki yang disebabkan jenis kelamin merupakan salah satu bentuk ketidakadilan yang disebabkan gender. Mosse. tafsiran ajaran agama maupun dalam aturan birokrasi yang meletakan kaum perempuan sebagai subordinasi dari kaum laki-laki. Kenyataan memperlihatkan bahwa masih ada nilai-nilai masyarakat yang membatasi ruang gerak terutama perempuan dalam kehidupan. menggantikan tangan perempuan dengan alat panen ani-ani. banyak terjadi dalam masyarakat terjadi dalam masyarakat di Negara berkembang seperti penggusuran dari kampong halaman.1. 1996). Sebagai contoh apabila seorang isteri yang hendak mengikuti tugas belajar. Perempuan dipinggirkan dari berbagai jenis kegiatan pertanian dan industri yang lebih memerlukan keterampilan yang biasanya lebih banyak dimiliki laki-laki. mesin yang diasumsikan hanya membutuhkan tenaga dan keterampilan laki-laki. Seperti Program revolusi hijau yang memiskinkan perempuan dari pekerjaan di sawah yang menggunakan ani-ani. Selain itu perkembangan teknologi telah menyebabkan apa yang semula dikerjakan secara manual oleh perempuan diambil alih oleh mesin yang ummunya dikerjakan oleh tenaga laki-laki. ♣Pemotongan padi dengan peralatan sabit. ♣Banyak pekerjaan yang dianggap sebagai pekerjaan perempuan seperti “guru taman kanak-kanak” atau “sekretaris” dan “perawat”. Beberapa studi dilakukan untuk membahas bagaimana program pembangunan telah meminggirkan sekaligus memiskinkan perempuan (Shiva. banyak pekerja perempuan tersingkir dan menjadi miskin akibat dari program pembangunan seperti internsifikasi pertanian yang hanya memfokuskan petani laki-laki. Banyak kasus dalam tradisi. Contoh-contoh marginalisasi: Pemupukan dan ♣pengendalian hama dengan teknologi baru yang dikerjakan laki-laki. Sudah sejak dahulu ada pandangan yang menempatkan kedudukan dan peran perempuan lebih rendah dari lakilaki. ♣Peluang menjadi pembantu rumah tangga lebih banyak perempuan. Sebagai contoh. eksploitasi. atau hendak berpergian ke luar negeri harus mendapat . Subordinasi Subordinasi pada dasarnya adalah keyakinan bahwa salah satu jenis kelamin dianggap lebih penting atau lebih utama dibanding jenis kelamin lainnya. Marginalisasi perempuan sebagai salah satu bentuk ketidakadilan gender Proses marginalisasi (peminggiran/pemiskinan) yang mengakibatkan kemiskinan. 1997.

sepupu. pemukulan dan penyiksaan. 3. ada juga di dalam masyarakat itu sendiri.izin suami. Standar nilai terhadap perilaku perempuan dan laki-laki berbeda. 4. tetapi bila perempuan marah atau tersinggung dianggap emosional dan tidak dapat menahan diri. menunjukkan perempuan mengerjakan hampir 90% dari pekerjaan dalam rumah tangga. Beban Ganda Bentuk lain dari diskriminasi dan ketidak adilan gender adalah beban ganda yang harus dilakukan oleh salah satu jenis kalamin tertentu secara berlebihan. Apabila seorang laki-laki marah. ada yang bersifat individu. bisnis atau birokrat. muncul dalam bebagai bentuk. tatapi kalau suami yang akan pergi tidak perlu izin dari isteri. . Pandangan stereotipe Setereotipe dimaksud adalah citra baku tentang individu atau kelompok yang tidak sesuai dengan kenyataan empiris yang ada. baik di dalam rumah tangga sendiri maupun di tempat umum. tetangga. Berbagai observasi. ia dianggap tegas. anak laki-laki. jika hendak aktif dalam “kegiatan laki-laki” seperti berpolitik. (breadwinner) mengakibatkan apa saja yang dihasilkan oleh perempuan dianggap sebagai sambilan atau tambahan dan cenderung tidak diperhitungkan. Label kaum perempuan sebagai “ibu rumah tangga” merugikan. artinya suatu serangan terhadap fisik maupun integritas mental psikologis seseorang. mertua. Sehingga bagi mereka yang bekerja. majikan. bahkan di tingkat pemerintah dan negara. Pelaku kekerasan bermacam-macam. Pelaku bisa saja suami/ayah. Pelabelan negatif secara umum selalu melahirkan ketidakadilan. namun standar nilai tersebut banyak menghakimi dan merugikan perempuan. Hal ini tidak hanya terjadi dalam lingkup rumah tangga tetapi juga terjadi di tempat kerja dan masyaraklat. tetapi juga yang bersifat non fisik. paman. Sementara label laki-laki sebagai pencari nakah utama. dan beberapa dilakukan oleh perempuan. (perempuan). seperpti pelecehan seksual sehingga secara emosional terusik. Oleh karena itu kekerasan tidak hanya menyangkut serangan fisik saja seperti perkosaan. Dalam suatu rumah tangga pada umumnya beberapa jenis kegiatan dilakukan laki-laki. keponakan. Misalnya pandangan terhadap perempuan yang tugas dan fungsinya hanya melaksanakan pekerjaan yang berkaitan dengan pekerjaan domistik atau kerumahtanggaan. Kata kekerasan merupakan terjemahkan dari violence. 5. yakni terjadi terhadap salah satu jenis kelamin. Salah satu stereotipe yang berkembang berdasarkan pengertian gender. Kekerasan Berbagai bentuk tidak kekerasan terhadap perempuan sebagai akibat perbedaan. Hal ini mengakibatkan terjadinya diskriminasi dan berbagai ketidakadilan yang merugikan kaum perempuan.

in the family. and the world. the nation. melalui Keputusan Presiden No. • Pertemuan di Vienna. toleransi. Cairo 1994 mengagendakan perlindungan terhadap hak reproduksi perempuan dalam pembangunan yang berkelanjutan.selain bekerja di tempat kerja juga masih harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga. 25 tahun 2000 Propenas ♣UU No. gerakan global emasipasi masuk dalam agenda PBB (ECOSOC) untuk diakomodasi Negara anggota. 1995 merinci 12 keprihatinan terhadap perempuan yang dikenal dengan 12 critical issues. Commission on the Status of Women (1967) memberi aspirasi pada lahirnya PKK. bangsa. • Konferensi di Beijing. 1952 hak politik dan ekonomi perempuan diadopsi PBB. melalui UU No. Dirasakan banyak ketimpangan. kenyataannya perempuan sebagai sumber daya insani masih mendapat pembedan perlakuan. Peran perempuan di domestik dan publik Women have a vital role to play in the promotion of peace in all sphares of life. Secara Nasional antara lain: Adanya ♣UUD 1945 yang sudah empat kali diamandemen tentang♣UU No. • Konferensi di Nairobi. 7 tahun 1984. Women must participate equally with men in the decision making process which help to promote peace at all the levels (Deklarasi Konferensi Mexico. Indonesia meratifikasi CRC (Convention Rights of Children). 1990 menyetujui program GAD (Gender and Development) dengan strategi Pengarustuaamaan Gender. 1985 setujui pembentukan UNIFEM lembaga PBB untuk perempuan dengan program WAD (Women and Development) 1979 CEDAW-PBB. • 1963. Indonesia meratifikasi CEDAW. 1975) Kelebihan/potensi perempuan: • Rasa sosial. the community. terutama bagi anak-anaknya • Perajut persatuan dan kesatuan hidup masyarakat. 12 tahun 2000 tentang Pemilu . PBB (1948) memberi aspirasi bagi gerakan feminis untuk memperjuangkan hak-hak perempuan (all human beings are born free and equal in dignity and rights). VIII. • Konferensi di Mexico. 1975 menyetujui program WID (Women in Development) sebagai strategi meningkatkan peran wanita. • Konferensi ICPD. ikatan kelompok • Jiwa interpreneur (keseimbangan pendapatan-pengeluaran) • Perhatian terhadap pemenuhan kebutuhan dasar keluarga. terutama bila bergerak dalam bidang publik. 36 tahun 1990. dan negara • Pendidik pertama dan utama bagi generasi penerus keluarga. bangsa. meskipun ada juga ketimpangan yang dialami kaum laki-laki di satu sisi. dan negara Perjuangan Kesetaraan laki-laki dan perempuan (internasional) • Deklarasi HAM. Dalam proses pembangunan.

Prinsip dasar membangun kesetaran gender di Indonesia • Menghargai pluralistik • Pendekatan sosio-kultural • Peningaktan ekonomi dan kesejahteraan rakyat • Penegakan HAM dan supremasi hukum • Penghapusan kekerasan dan diskriminasi • Penyadaran pilar pembangunan • Pemerintah: sosialisasi dan advokasi • Masyarkat: sensitisasi dan advokasi • Dunia usaha. 9♣IInstruksi tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional. penyadaran dan advokasi • Penyatuan persepsi. IX. pemahman. Penyebabnya antara lain belum adanya kesadaran gender terutama di kalangan para perencana dan pembuat keputusan. . kedudukan masih rendah.Presiden No. Upaya-upaya dan usaha yang dilakukan pemerintah dalam rangka KKG Upaya mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender sebagai visi Kementerian Pemberdayaan Perempuan RI sebenarnya merupakan bentuk pembaruan pembangunan pemberdayaan perempuan yang selama tiga dasa warsa telah memberikan manfaat yang cukup besar. aspirasi dan kepentingan antara perempuan dan laki-laki serta belum menetapkan kesetaran dan keadilan gender sebagai sasaran akhir pembangunan. dan penyadaran kepada semua pihak untuk mewujudkan kesetaran gender dan perlindungan anak dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. program dan kegiatan pembangunan yang belum peka gender. meskipun masih belum optimal. Berbagai peningkatan pemberdayaan perempuan bisa dilihat dengan meningkatnya kualitas hidup perempuan dari berbagai aspek . pada saat ini masih banyak kebijakan. Di lain pihak. beban kerja masih berat. ini terlihat dari kesempatan kerja perempuan belum membaik. yang mana belum mempertimbangkan perbedaan pengalaman. juga masih belum mapannya hubungan kemitraan antara pemerintah dengan masyarakat maupun lembaga-lembaga yang memiliki visi pemberdayaan perempuan yaitu dalam tahap-tahap perencanaan. Untuk meningkatkan status dan kualitas perempuan juga telah diupayakan namun hasilnya masih belum memadai. ketidak lengkapan data dan informasi gender yang dipisahkan menurut jenis kelamin (terpilah).

Kedua meningkatkan kualitas peran dan kemandirian organisasi perempuan dengan tetap mempertahankan nilai persatuan dan kesatuan serta nilai historis perjuangan perempuan dalam rangka melanjutkan usaha pemberdayaan perempuan serta kesejahteraan keluarga dan masyarakat. (Zaitunah Subhan. 17-18. hal. Selain nilai-nilai budaya patriarkhi yang dilegitimasi dengan (atas nama) agama dan sistem sosial yang menempatkan perempuan dan laki-laki dalam kedudukan dan peran yang berbeda dan dibeda-bedakan. legislatif. . yang pelaksanaannya dapat memberikan hasil terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender di segala bidang kehidupan dan pembangunan. Hal ini tidak lain karena masalah struktural utamanya. 2001) Dalam GBHN 1999-2004 menetapkan dua arah kebijakan pemberdayaan perempuan yakni pertama meningkatkan kedudukan dan peranan perempuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara melalui kebijakan nasional yang diemban oleh lembaga yang mampu memperjuangkan terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender. Sesuai dengan dua arahan kebijakan itu. serta perolehan manfaat atas hasil pembangunan. masih sering dijumpai ketimpangan antara laki-laki dan perempuan baik dalam memperoleh peluang. kesempatan dan akses serta kontrol dalam pembangunan. pemerintah bertanggung jawab untuk merumuskan kebijakan-kebijakan pemberdayaan perempuan di tingkat nasional maupun daerah. pemantauan dan evaluasi kebijakan dan program pembangunan Bergesernya proporsi pekerjaan utama perempuan dari pertanian ke ranah industri. Meskipun kemajuan perempuan ini hanya bisa dinikmati pada tataran masyarakat yang sosial ekonominya mapan (menengah ke atas). Sebaliknya pada tingkat sosial ekonomi menengah ke bawah. masyarakat dan berbangsa serta bernegara merupakan indikator keberhasilan pemberdayaan perempuan khususnya upaya kesetaraan dan keadilan gender mulai dapat dirasakan. meningkatnya mobilitas perempuan baik migrasi domestik maupun internasional serta semakin membaiknya peran perempuan di lingkup keluarga. Dengan demikian pemberdayaan perempuan dalam rangka mewujudkan KKG merupakan komitmen bangsa Indonesia yang pelaksanaannya menjadi tanggung jawab seluruh pihak eksekutif.pelaksanaan. tokoh-tokoh agama dan masyarakat secara keseluruhan. yudikatif.

Program Sumber Daya. Program Peningkatan Peran Masyarakat Pemampuan Kelembagaan Pengarusutamaan Gender. Mengingat produk tersebut merupakan undang-undang. Selanjutnya Propenas telah dirumusakan secara lebih rinci setiap tahunnya ke dalam Rencana Pembangunan tahunan (Repeta). . Mencakup Program Pengembangan dan Keserasian Kebijakan Pemberdayaan Perempuan. peningkatan kesejahteraan dan perlindungan anak dan upaya peningkatan kemampuan. Dalam rangka mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender melaui program yang peka akan permasalahan gender. • Program Peningkatan Peranserta masyarakat dan penguatan kelembagaan PUG dilakukan dengan melalui: sosialisasi. Kementerian Pemberdayaan Perempuan juga telah melaksanakan program dan langkah konkrit antara lain: • Program Pengembangan dan keserasian kebijakan pemberdayaan perempuan. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan dan UU No. propinsi dan kabupaten/kota. propinsi. Selanjutnya dalam Rencana Strategi Kementerian Pemberdayaan Perempuan 2001-2004. 62 tahun 1958 tentang Kewarganegaraan. serta melalui aplikasi konsep gender dalam formulasi dan pelaksanaan kebijakan dan program untuk kesehatan reproduksi dan kependudukan. dan kabupaten/kota. Hal ini akan dicapai melalui penguatan kapasitas nasional untuk melakukan pengarusutamaan gender. Program Peningkatan Kesejahteraan dan Perlindungan Anak.Berdasarkan arah kebijakan yang dimandatkan oleh GBHN 1999-2004 untuk butir pemberdayaan perempuan. Upaya mengaktualisasikan dan memanifestasikan dan mengakselerasi-kan PUG di sektor strategis. serta serangkaian koordinasi telah dilakukan dalam upaya perbaikan undang-undang yang masih bias gender seperti UU No. Sarana dan Prasarana. dan pelatihan analisis gender baik di tingkat pusat. advokasi. Kementerian Pemberdayaan Perempuan telah bekerjasama dengan UNFPA dalam melaksanakan serangkaian kegiatan Mainstreaming Gender Issues in Reproductive Health and Population Policies and Programmes. Propenas 2000-2004 telah melakukan mainstreaming kebijakan dan program pembangunan pemberdayaan perempuan. maka untuk mewujudkan kesetaran dan keadilan gender harus menjadi komitmen bersama. program yang disusun terdiri dari program dalam rangka pembangunan pemberdayaan perempuan. Program Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan. untuk tahun 2001 (Repeta 2001). Tujuan utama program ini adalah tercapainya perbaikan status kesehatan reproduksi kaum perempuan dan laki-laki melalui kebijakan program kesehatan reproduksi dan kependudukan yang sensitif gender. • Pengembangan modul sosialisasi/advokasi gender.

berbangsa dan bernegara. • Penyusunan Profil Gender untuk 26 propinsi. Kondisi yang tidak menguntungkan ini apabila tidak diatasi. bermasyarakat. politik. dan Problem Base Analysis (PROBA). XI. hankam dan HAM berada pada posisi yang tidak menguntungkan. Kondisi ini terkait erat dengan masih kuatnya nilai-nilai tradisional terutama di pedesaan. Kesimpulan Berdasarkan uraian di atas menunjukkan bahwa diskriminasi gender telah melahirkan ketimpangan dalam kehidupan berkeluarga. pekerjaan. Keadaan ini menciptakan permasalahan tersendiri dalam upaya pemberdayaan perempuan. Bahwa status perempuan dalam kehidupan sosial dalam banyak hal masih mengalami diskriminasi haruslah diakui. konsep kesetaraan dan keadilan gender dan jaringan informasi dengan website. Saran dan pesan: Pada kesempatan ini dihimbau kepada para kandidat puteri Indonesia yang dibanggakan untuk berperan aktif dalam memajukan posisi dan kondisi perempuan Indonesia dalam . • Pengembanagan Homepage untuk penyediaan data dan informasi program pembangunan pemberdayaan perempuan. kondisi perempuan di bidang ekonomi. Kurangnya keikutsertaan perempuan dalam memberikan konstribusi terhadap program pembangunan menyebabkan kesenjangan yang ada terus saja terjadi. X. selain itu ketimpangan lebih banyak dialami perempuan dari pada laki-laki. dimana diharapkan perempuan memiliki peranan yang lebih kuat dalam proses pembangunan. maka ketimpangan atau kesenjangan pada kondisi dan posisi perempuan tetap saja akan terjadi. pengambilan keputusan dan aspek lainnya. • Fasilitasi bantuan teknis kepada daerah propinsi. dimana perempuan kurang memperoleh akses terhadap pendidikan.• Pengembangan alat untuk analisis gender yang digunakan dalam perencanaan program dan dikenal dengan Gender Analysis Pathway (GAP). kabupaten dan kota. dan budaya. Akibat diskriminasi gender yang telah berlaku sejak lama. sosial. • Tersedianya data dan informasi yang terpilah menurut jenis kelamin secara berkala dan berkesinambungan dari propinsi dan kabupaten/kota mengenai pengarusutamaan gender dalam pembangunan daerah.

2001. masyarakat bangsa dan Negara. Dra. 1998. 2002. United Nations Developmen Fund for Women. serta lingkungan masyarakat luas. misalnya melalui aktifitas peningkatan pengetahuan dan penyebarluasan seluruh informasi sebagaimana telah dipaparkan tersebut di atas. Surakarta. Nasaruddin Umar. Kantor Menteri Negara Peranan Wanita. Edisi ke-2. Tingkat Nasional. Pesan khusus untuk semua kandidat adalah menjaga jatidiri puteri Indonesia yang bermoral karena kita mempunyai macam-macam agama yang diakui dan ragam budaya yang dapat dijalankan dan dijaga kelestariannya. H. Bahan Informasi Pengarusutamaan Gender. baik pada kalangan sendiri. Mudahmudahan apa yang telah disampaikan dapat memberi manfaat yang sebesar-besar bagi diri sendiri. Buku 2. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI. Gender Statistics and Indicators 2000. Profil Wanita Indonesia. Julia Cleves Mosse. dalam keluarga. Sri Suhandjati Sukri (Editor). Muhammadiyah University Press. Modul Pelatihan. Keadilan dan Kesetaraan Gender untuk BUMN/BUMD dan Perusahaan Swasata. 2001. Jilid I Penerbit IAIN Walisongo dengan Gama Media. JICA dan UNFPA. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI. Deputi Bidang Kesetaraan Gender bekerjasama dengan Bangun Mitra Sejati. H. Pedoman Teknis Perencanaan Pembangunan Berperspektif Gender. Kantor Menteri Negara Peranan Wanita. Apa Itu Gender. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI. Statistik Kesejahteraan Rakyat. BPS. Dr. 2002. 4 Propinsi dan 16 Kabupaten/Kota Terpilih. BPS. (Pengantar). 2002. Diterbitkan atas kerjasama RIFKA ANNISA Women’s Crisis Centre dengan Pustaka Pelajar. Buku Referensi Pelatihan: Fakta dan Indikator Gender. Abdul Djamil. Buku 1. Bias Jender dalam Pemahaman Islam.segala aspek/bidang pembangunan. BPS. MA. 2003. Jakarta. 3 Agustus 2004 Daftar Pustaka: Achmad Muthali’in. Kementerian Pemberdayaan Perempuan. 2003. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan. Bias Gender dalam Pendidikan. Gender dan Pembangunan. 2002. Hj. MA. Sekaligus saya tekankan semoga semua kandidat puteri Indonesia dapat menjunjung tinggi agamanya dan jatidirinya sebagai Bangsa Indonesia yang aman dan damai. Dr. Bahan Informasi . Panduan Gender dalam Perencanaan Partisipatif. 1996. et all.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan. Bagaimana Mengatasi Kesenjangan Gender. 2002. Dulu. 1994. Edisi ke-2. sesungguhnya telah tumbuh subur di kalangan tokoh . and implementors. suku. Bahan Informasi Pengarusutamaan Gender. Salah satu agenda pokoknya adala menggabungkan organisasi-organisasi perempuan Indonesia dalam sebuah federasi tanpa sama sekali membedakan latar belakang politik. tores and professor rosario s. 2002. Bunga Rampai “Bahan Pembelajaran Pelatihan Pengarusutamaan Gender dan Program Pembangunan Nasional”. persisnya pada tanggal 22 Desember 1928. Buku 4. Modul 1: Apa itu Gender? UNIFEM and NCRFW. Kementerian Pemberdayaan Perempuan. Pemantauan dan Penilaian. Jong Java bagian Perempuan. mereka tidak hanya gigih dalam menyuarakan hak-haknya. 2003. Adalah sejarah yang mencatat bahwa dua bulan setelah Sumpah Pemuda dideklarasikan. status sosial dan bahkan agama. Wanita Katolik. (developed by dr. Ediisi ke-2. muncul kesan bahwa semangat perjuangan kaum perempuan tempo dulu ternyata tidak sedangkal semangat yang sering ditampilkan pada peringatan Hari Ibu saat ini seremonial dan bahkan konsumerisme. Edidisi ke-2. UNFPA. maka berkumpul sekira 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatra untuk menyelenggarakan kongres pertamanya dengan mengambil lokasi di Yogyakarta. a sourcebook for advocates. Bahan Informasi Pengarusutamaan Gender. dalam membangun Good Governance. Buku 3. Jong Islamieten Bond bagian Wanita dan Organisasi Wanita Utomo. Bahan Informasi Gender. Sumber: Hari Pembebasan Kaum Perempuan<center></center> KALAU kita menyimak catatan sejarah perjalanan Hari Ibu yang setiap tahunnya diperingati pada tanggal 22 Desember. tetapi juga berani memikul senjata turun ke medan perang untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini. Zaitunah Subhan. del rosario with the assistance of professor rosalinda pineda-ofreneo for Unifem and NCRFW).Pengarusutamaan Gender. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI. amaryllis t. Gender and Development Making the Bureaucracy gender-responsive. BKKBN. adalah bukti sejarah bahwa semangat pluralisme (keberbedaan) yang merupakan modal utama untuk membangun persatuan. Peningkatan Kesetaraan dan Keadilan Jender. Putri Indonesia. Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI. Hadirnya organisasi seperti Aisyiah. Perencanaan erperspektif Gender. planners.

kita pun akan segera mengetahui bahwa banyak dari isu sentral yang diangkat gerakan perempuan saat ini. . adalah sejarah pula yang mencatat bahwa dari kongres perempuan Indonesia yang pertama itu berhasil dirumuskan beberapa rekomendasi penting dalam rangka memperjuangkan hak-haknya. penolakan tradisi perkawinan anak perempuan di bawah umur termasuk kawin paksa. Itu semua menunjukkan bahwa jauh sebelum ada lembaga yang sekarang banyak menyuarakan arti pentingnya kesetaraan dan keadilan gender.wanita sejak dua pertiga abad yang lalu. termasuk di dalamnya kesepakatan penyelenggaraan kongres perempuan tahunan dalam rangka mengisi dan memelihara kelangsungan perjuangannya. Tuntutan kaum perempuan kepada pemerintah tentang pemberian beasiswa untuk anak perempuan dan sekolah-sekolah perempuan. sampai tuntutan pemberlakuan syarat-syarat pelaksanaan perceraian yang tidak merugikan hidup kaum perempuan. Yang tidak kalah pentingnya. Jangan lupa. Melalui kongres perempuan pertama itu pulalah berhasil dirumuskan beberapa rekomendasi yang berisi tuntutan penerbitan surat kabar sebagai media untuk meyuarakan hak-hak kaum perempuan sampai kepada tuntutan pemberian bantuan khusus bagi perempuan janda dan anak yatim. Tidak keliru kalau momentum yang kini diperingati sebagai Hari Ibu itu hadir sebagai puncak kebangkitan kesadaran kaum perempuan Indonesia dalam rangka menghimpun kekuatan bersama untuk bisa keluar dari berbagai ketertinggalannya. bahkan jauh sebelum kemedekaan Indonesia diproklamasikan. jika saat ini kita. Sebagai gambaran. Semua itu juga memberi isyarat kepada kita bahwa gerakan kaum perempuan pada saat itu sesungguhnya tidak kalah majunya dibanding dengan perjuangan kaum perempuan saat ini. sesungguhnya merupakan isu yang pernah diagendakan dalam perjuangan kaum perempuan tempo dulu. bahkan komunitas dunia banyak bicara mengenai masalah perdagangan anak dan kaum perempuan. adalah beberapa rekomendasi penting yang lahir dari kongres perempuan pertama 75 tahun yang lalu. maka jauh sebelumnya kaum perempuan Indonesia pernah mengungkapkannya pada Kongres PPPI tahun 1930 yang ditandai dengan lahirnya kesepakatan untuk membentuk Perkumpulan Pemberantasan Perdagangan Perempuan dan Anak-anak (P4A). dari kongresnya yang pertama itu pula lahir kesepakatan untuk mendirikan badan musyawarah bernama Perikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia (PPPI) dengan misi pokoknya untuk menjalin hubungan di antara semua perhimpunan perempuan. kaum perempuan Indonesia ternyata telah memiliki kesadaran mengenai arti pentingnya pendidikan dan kesehatan sebagai modal utama untuk bisa keluar dari berbagai ketertinggalannya. Bahkan jika kita menyimak catatan penting yang dihasilkan oleh kongres perempuan tahun-tahun berikutnya seperti tertuang dalam buku ”Peringatan 30 tahun Kesatuan Pergerakan Perempuan Indonesia 1928-1958”.

Simak cuplikan pidato Soekarno di hadapan peserta kongres pertama kaum perempuan tanggal 22 Desember tahun 1928 waktu itu yang mengisyaratkan besarnya perhatian sekaligus pengakuan tokoh politik terhadap potensi yang dimiliki gerakan kaum perempuan pada saat itu sebagai berikut: ”Berbahagialah kongres kaum ibu. . Kongres Kaum Ibu. 1928). Gagasan dasarnya. kaum perempuan dari kalangan parpol dan ormas berbasis agama Aisyiah dan Wanita Katolik menjadikan perjuangan kemerdekaan sebagai agenda utamanya. Itulah pula awal sejarah yang kemudian mengilhami banyak organisasi perempuan setelah itu terlibat secara langsung dalam perjuangan kemerdekaan. Setelah Jepang menyerah.. rekomendasi megenai arti pentingnya kampanye berkait dengan segala akibat buruk yang ditimbulkan dari banyak kasus perkawinan usia dini sampai kepada upaya mempelajari hak pilih bagi kaum perempuan yang sekaligus merupakan wujud kesadaran kaum perempuan waktu itu akan arti pentingnya upaya bisa mengakses kekuasaan sebagai media untuk mewujudkan perjuangannya.Bukan hanya itu. tidak bakal ada persamaan hak antara laki-laki dan perempuan bila tidak ada kemerdekaan.” (Soekarno. oleh karena dari pada kaum bapak masih banyak jang kurang pengetahuan akan harganja sokongan kaum ibu itu. Kongres PPPI tahun 1930 itu juga telah melahirkan rumusan kerja lebih konkret lagi yang antara lain ditandai dengan lahirnya rekomendasi yang meniscayakan arti pentingnya penyelidikan kondisi kesehatan kaum perempuan dan sebab-sebab terjadinya kematian bayi di pedesaan. Kalau dirinci. kita tidak sahadja gembira hati akan kongres itu oleh karena kaum bapak belum insyaf akan keharusan kenaikan deradjat kaum ibu. dan belum banjak jang berkehendak akan kenaikan deradjat itu. bahwa perdjoangan mengedjar keselamatan nasional bisa djuga lekas berhasil zonder sokongannja kaum ibu. sesungguhnya masih begitu banyak kiprah sekaligus sumbangan pemikiran berarti yang telah diberikan kaum perempuan pada saat itu. Bahkan seperti pernah ditulis Gadis Arivia dalam artiakelnya yang berjudul ”Soekarno dan Gerakan Perempuan (2001). Istri Sedar yang didirikan di Bandung muncul menyatakan diri ingin meningkatkan status perempuan Indonesia melalui perjuangan kemerdekaan. Bung Karno punya obsesi yang lebih karena ingin menjadikan gerakan perempuan waktu itu sebagai bagian dari gerakan memperjuangkan kemerdekaan. diadakan pada suatu waktu. Hal yang sama juga dilakukan pula oleh Wanita Muslimat dari Masyumi. di mana masih ada sahadja kaum bapak Indonesia jang mengira. misalnya.kita gembira ialah teristimewa djuga oleh karena di kalangan kaum ibu sendiri belum banjak jang mengetahui atau mendjadikan kewajibannja ikut menjeburkan diri di dalam perdjoangan bangsa. Pada tahun 1930. Tersirat dalam cuplikan pidato itu adalah sikapnya yang sangat mendorong kebangkitan kaum perempuan dalam rangka memperjuangkan hak-haknya.

Meretas Kekerasan Tersamar<center></center> Hari perempuan sedunia yang jatuh tanggal 8 Maret lalu diperingati dengan cukup provokatif. Kian maraknya kasus perdagangan anak dan perempuan. Bulan ini. sepatutnya kita selenggarakan tidak hanya dalam bentuk seremoni yang hampa makna.Lima belas tahun berikutnya. Sebaliknya. masih banyaknya korban kaum perempuan akibat tindakan kekerasan dalam rumah tangga. Lebih parahnya lagi. 9 Maret 2002). Itu pula sebabnya. mahasiswi jurusan biologi. Wilujeng Hari Ibu!*** Penulis. Lalu bagaimana perjuangan perempuan di bidang sastra? Ternyata telah muncul fenomena pemberontakan perempuan dalam sastra yang bisa kita sebut spektakuler. karya fiksi yang sedikit ini . masih tinginya angka kematian ibu akibat kehamilan atau melahirkan. Sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat perempuan di Jakarta menuntut pemerintah dan DPR untuk memprioritaskan hak dan kesejahteraan perempuan (SH. apalagi penuh hura-hura. Sumber:Pikiran Rakyat Tren Perjuangan Perempuan dalam Sastra Merangkul Tabu. itulah kesan yang muncul kalau kita menyimak sejarah perjuangan kaum perempuan yang awalnya diilhami oleh penyelenggaraan kongres perempuan pertama pada tanggal 22 Desember tiga perempuan abad yang lalu. tahun 1945. Fak. Mereka yang tergabung dalam organisasi ini. sebagiannya berani mengangkat senjata. Begitu luhur dan mulia. tidak berlebihan jika Hari Ibu yang setiap tahun diperingati bangsa ini. di Bandung lahir organisasi bernama Lasjkar Wanita Indonesia (Lasjwi) yang dibidani oleh Aruji Kartawinata. peminat masalah gender. bahkan berani. Selama ini. apalagi bila dibandingkan dengan negara-negara lain. jumlah buku sastra Indonesia boleh dibilang sangat sedikit. adalah beberapa saja dari sekian banyak masalah yang harus dijadikan agenda utama perjuangan kaum perempuan Indonesia saat ini dan ke depan. perempuan Indonesia pun merayakan Hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April setiap tahun. sebagian yang lainnya bertugas membantu prajurit yang luka kalau bukan menyiapkan makanan bagi para prajurit yang sedang bertempur dalam rangka memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini. kita jadikan momentum Hari Ibu itu sesuai dengan akar historisnya sebagai hari pembebasan kaum perempuan dari berbagai belenggu yang menindasnya. MIPA Universitas Padjadjaran Bandung. Esensi kedua hari penting bagi perempuan adalah sama: memperjuangkan hak-hak perempuan di segala bidang.

semata untuk memperoleh keuntungan ekonomi. Kehadiran buku-buku ini bagai oase bagi masyarakat yang ”kepanasan” oleh etika timur yang kuat tetapi tak berani melawannya secara frontal. Mungkin karena Amerika–lah yang dianggap negeri yang mampu mewakili representasi eksistensi seksual perempuan. mereka meretas fenomena kekerasan tersamar terhadap perempuan. sampai surveillance sex (dokumentasi seks orang- . Mereka berani melawan tabu yang selama ini menjadi magma terpendam pada masyarakat yang sarat dengan konvensi-konvensi budaya. Di mana industri seks-nya melimpah. mature dan older (orang bangkotan). informasi. Tanpa disengaja mereka menolak tegas kultur yang menekan eksistensi seks perempuan timur sekaligus mengejek terma dalam masyarakat komoditas. bukan sebagai komoditas masyarakat kapitalis semata. terutama dalam hal seks. Lalu apa resep mereka dalam mendobrak kebekuan sastra selama ini? Yang jelas. khususnya yang bermuatan erotis. tanda-tanda tubuh (body signs) serta potensi libido di balik tubuh (libidinal value) menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya komoditas. Melalui perlawanan terhadap tabu ini. Sebuah negeri yang bisa jadi dianggap sebagai media pelarian ketertekanan seksual sang tokoh pada kultur yang membesarkannya. Mengalir deras di tengah masyarakat yang dilanda proses diseminasi sosial yang semakin cepat.tak banyak yang mempunyai kekuatan untuk menarik perhatian publik. Membakar Kebekuan Fiksi sastra yang ditulis kedua pengarang perempuan ini mampu membakar kebekuan gerilya sastra sekaligus meruntuhkan tembok pembatas antara sastra pop dan sastra serius. Laila dan Sihar” (hal. salah satu kesamaan menonjol dari sisi feminisme kedua novelis perempuan ini adalah keberanian mereka dalam mengemas cinta dan seks dalam bungkus yang benar-benar berbeda. Cerita tentang perselingkuhan Yasmin dan Saman serta kecintaan Laila pada Sihar membawa tokoh-tokohnya bertualang di negeri Paman Sam. Mereka mampu merepresentasikan seks sebagai eksistensi keperempuanannya. tahun 1996: ”Cerita ini berawal dari selangkangan teman-temanku sendiri: Yasmin dan Saman. Ayu menunjukkan keberanian dalam bercerita tentang eksistensi seks perempuan. di mana tubuh (body). bahkan ada jenis komoditi yang menjanjikan seks-seks ilegal. dan benda-benda komoditas. bahkan abnormal semisal bondage sadomasochis (seks sadis). voyeurism (ngintip). amateur. Beradaptasi dengan terjadinya proses pelipatgandaan dan penyebaran secara sosial tanda. Hingga akhirnya muncul Ayu Utami dengan Saman dan Larung-nya serta Dewi Lestari dengan Supernova. Seks menarik justru karena melanggar kenormalan dalam masyarakat tradisional. yang membentuk semacam sistem libidonomics yaitu sebuah sistem ekonomi yang mengeksploitasi setiap potensi libido. Keduanya mampu menjadi trend dan dibaca oleh kalangan yang kompleks. lewat diary tokoh Cok.77). mulai dari mereka yang gemar berburu buku-buku porno stensilan hingga doktor-doktor ilmu sastra yang mejanya penuh dengan naskah-naskah seminar. Eksistensi Seks Dalam Larung. citra.

…Lalu kupikir-pikir. berkemah. kenapa aku harus menderita untuk menjaga selaput daraku sementara pacarku mendapat kenikmatan? …Aku pun melakukannya. cerdas. Kamu tak punya pilihan selain membiarkan aku menunda orgasmemu atau membiarkan kamu tersiksa tak memperolehnya. Tokoh Yasmin—yang sempurna. menyangkal hal-hal yang lembek. Kamu biarkan jari-jariku bermain-main dengan tubuhmu seperti liliput mengeksplorasi manusia yang terdampar.” (hal. Aku menerimanya dan melakukan seksualitas terhadapnya.” (hal. aku sebagai nilai estetis. Padahal Yasmin merasa berbeda dengan para perempuan yang mengukuhkan patriarki. 118) . Mereka menerimanya sebagai nilai moral. ”…tidak semua anak perempuan bisa melakukan itu. bermoral pancasila. dan ia merasa ada supremasi pada dirinya. 160) Kerinduan Yasmin kepada Saman lebih karena perasaan superioritasnya terhadap lakilaki ini.orang biasa) Problema-problema seks perempuan. cross country. Itu karena suaminya.” (hal. Kamu biarkan aku menyakitimu seperti polisi rahasia mengintrogasi mata-mata yang tertangkap. tidur bersisian dengan kawan lelaki dalam tenda dan perjalanan. beragama. yang selama ini menjadi endapan dalam masyarakat Indonesia yang patriarkal. cantik. Bagaimana mitos kesucian keperawanan membuat Cok membiarkan sang lelaki bermasturbasi dengan payudaranya. Naik gunung. pecah dalam tingkah laku tokoh-tokoh novel ini. Membuatmu menderita oleh coitus interuptus yang harfiah. berpendidikan. Pada masa itu ada rasa bangga bahwa dia memasuki dunia lelaki yang dinamis. dan lain-lain jenis olahraga kelompok yang kebanyakan anggotanya lelaki. Semasa sekolah dia paling banyak berlatih fisik. sang bekas frater. seks yang digambarkan Ayu bukanlah teknik persetubuhan melainkan pemaparan problema yang bisa jadi dialami banyak wanita. 157) Eksistensi seksualitas perempuan Indonesia yang selama ini terkungkung budaya patriarki dilibas habis oleh Ayu Utami. kaya. Melokalisasinya pada fantasi seksual. senggama. Misalnya cerita tentang bagaimana Cok melepas keperawanannya. turun tebing.” Ejekan atas keperawanan yang menjadi momok pengaturan laki-laki terhadap perempuan dilakukan Ayu melalui tokoh Laila meskipun sosok ini mampu melawan gender keperempuanannya. suatu ideal. setia pada suami—kembali menemukan kebebasan seksualnya bersama Saman. ”Mereka menerima dominasi pria sebagai suatu ide yang total dan murni. ”… tapi membiarkan lelaki masturbasi dengan payudara kita bukanlah pengalaman yang menyenangkan kalau terus-terusan. Tapi dialah yang paling terlambat mengenal pria secara seksual. ”…Kamu biarkan aku mengikatmu pada ranjang seperti kelinci percobaan. Juga. Lukas. tak pernah mengolah kekejaman pada dirinya meskipun hanya sebatas imajinasi. Hanya saja. Lukas lebih tertarik pada eksplorasi posisi fisik daripada eksplorasi relasi psikis seperti yang dikhayalkan Yasmin.

Aku tahu kamu belum pernah mengalami orgasme. dan penyalurannya lewat berbagai kegiatan ekonomi (produksi. Ketertarikan Laila ditanggapi Tala sehingga dalam Larung ini muncul sebuah relasi seksual di mana lelaki benar-benar diabaikan. Ia tak bisa masuk ke dalam dunia pria dewasa. Lelaki takut padanya. Juga ketika bercumbu dengannya. Tak pernah terjadi persetubuhan yang sebenarnya. Keperawanan dinilai sebagai tanggung jawab. Dalam ekonomi-politik hasrat. …Kupeluk kamu. Jebakan Politik Tubuh Memang keberanian Ayu Utami dalam Saman dan Larung. Peran tokoh Shakuntala (Tala) yang androgini dimunculkan Ayu secara estetis sebagai representasi kebebasan untuk memilih. Gabungan sosok Saman dan Sihar. Pertama. Kini tak kubiarkan kamu menemani lelaki itu sebelum kamu mengetahuinya. Politik tanda berkaitan dengan eksistensi tubuh (pria atau wanita) yang dieksploitasi sebagai tanda atau komoditas tanda (sign comodity) dalam berbagai media. Ekspresi libido seks Laila terhambat. Ia hanya ingin menyelamatkan Laila.” (hal.Ternyata supremasi itu tidak dapat dibawa tokoh Laila sampai dewasa. Aku mengelus di punggung dan mencium di kening. dan identitas tubuh di dalamnya. konsumsi). 153) Penggambaran tentang dunia lesbian. sifat-sifat rasionalitas ekonomi dikendalikan sifat-sifat irasionalitas hasrat. Hingga akhirnya Laila melupakan Tala sebagai perempuan. distribusi. yang terurai dalam tiga terma. Persoalan politik tubuh berkait dengan eksistensi tubuh dalam kegiatan ekonomi-politik. dilihat dalam berbagai relasi sosial. dua lelaki yang dicintai Laila muncul pada diri Tala. yang benar-benar belum bisa diterima kultur Indonesia dilakukan Ayu dengan metafora yang sangat indah. yang tercipta adalah . bisa menjerumuskan mereka dalam jebakan politik tubuh (body politics). berdasarkan konstruksi sosial atau ”ideologi” tertentu. Kedua. Ketika kreativitas ekonomi dikuasai dorongan hasrat dan sensualitas. juga Dewi Lestari dalam Supernova-nya. ”…Kamu berbaring di sisiku dan kulihat air mengalir dari matamu ke arah rambut. ”ekonomi politik hasrat” (political economy of desire) yaitu bagaimana sistem ekonomi menjadi sebuah ruang berlangsungnya pelepasan hasrat dari berbagai kungkungan. Sebelum kamu mengenali tubuhmu sendiri. Ketiga. Tala bukanlah seorang androgini yang maniak. Tapi keperawanan Laila yang terjaga —seperti layaknya yang diagungkan budaya Indonesia—justru menjadi problema. Kerinduan Laila pada Sihar membuatnya mampu melihat faktor lelaki pada diri Tala. Dalam hal ini Ayu masih mencoba membela kaumnya. Itu sebabnya ia tak bebas ketika telah sama-sama telanjang dengan Sihar. makna. Dan aku tak pergi. ”ekonomi politik tanda (tubuh)” (political economy of signs) yaitu bagaimana tubuh diproduksi sebagai tanda-tanda di dalam sebuah sistem ekonomi pertandaan (sign system) masyarakat informasi yang membentuk citra. ”ekonomi politik tubuh” (political economy of the body) yaitu bagaimana tubuh digunakan dalam berbagai kerangka relasi sosial dan ekonomi.

Sebaliknya. memang tak gampang meretas kultur yang telah tertanam kuat. sehingga akhirnya memutuskan untuk hidup sebagai ibu. Setapak langkah perbaikan telah dimulai dari dunia sastra. sebagai cara untuk mendominasi selera (taste). suami dari empat istri. dan ayah bagi . Liz Riley terlahir lelaki. Suara Pembaruan Minggu mengetengahkan kisah Liz Riley. yang menciptakan semacam ”erotisasi kebudayaan”. Oleh: R. Contoh lainnya Billy Tipton. Relawan pada UNICEF Indonesia. ada juga orang yang terlahir perempuan tetapi merasa dirinya lelaki sehingga mereka hidup sebagai laki-laki. seorang ayah yang berubah menjadi ibu. Akibatnya. Boys Don’t Cry. setidaknya mereka berdua telah memulainya dan berhasil menarik perhatian publik. Sugiarti. ADA orang yang terlahir lelaki namun sejak kecil merasa dirinya perempuan sehingga mereka hidup layaknya perempuan. Minoritas yang Terlupakan<center></center> BENARKAH Mbak Dorce Gamalama melawan kodrat? Pertanyaan ini mungkin timbul dalam hati saat membaca wawancara Kompas dengan artis Dorce (Kompas. dalam wawancara dengan Kompas. Pengamat Perempuan & Budaya. Mbak Dorce mengungkapkan bahwa ia sejak kecil merasa dirinya perempuan. Pada tanggal yang sama. yang dipenuhi berbagai strategi penciptaan ilusi sensualitas. Contohnya. yang dikenal sebagai lelaki ramah. Sensualitas dijadikan kendaraan ekonomi dalam rangka menciptakan keterpesonaan dan histeria massa (mass hysteria) sebagai cara mempertahankan kedinamisan ekonomi. namun ia selalu merasa dirinya perempuan.Namun. dan keinginan masyarakat dieksploitasinya.sebuah ”budaya ekonomi”. Berbagai bentuk khayalan lewat voyeurisme diciptakan. justru menjadi perangsang laki-laki untuk membacanya. Bukan untuk menyelami ketertekanan perempuan tapi sebagai media eskapisme erotisme otak mereka. Contohnya Brandon Teena. Sumber: Sinar Harapan Transseksual. aspirasi. yang mengondisikan orang memuja ”citra tubuh”. yang hidupnya dikisahkan dalam film pemenang Oscar. 27/7/2003). Yang jelas. Ekspresi perlawanan terhadap kekerasan tersamar dalam ranah seks perempuan. musisi jazz Amerika. Bisa jadi ekspresi kebebasan dua perempuan pengarang ini dijadikan media penumpahan keliaran libido laki-laki. bahkan ia sempat kawin dan memiliki anak. apa yang beroperasi di balik aktivitas ekonomi adalah semacam ”teknokrasi sensualitas” (technocracy of sensuality)—di dalamnya nilai-nilai budaya ekonomi ditopengi tanda-tanda sensualitas.

artinya dapat sejalan atau bertolak belakang dengan kelamin fisik. semata-mata tergantung dari perasaan orang bersangkutan dan tidak selalu sejalan dengan penilaian orang. Jenis kelamin jiwa mulai tertanam pada usia dua tahun. melainkan perubahan fisik. yang lebih banyak terjadi bukan perubahan perilaku. petugas jenazah mendapati ia memiliki alat genital wanita. sering dianggap satu-satunya penentu perilaku jenis seseorang. masih tetap merasa perempuan). masih ada variabel lain. Ada yang disebut male-to-female transsexual (MFT). Brandon Teena dan Billy Tipton disebut female-to-male transsexual (FMT). Misalnya. Penyebab transseksual belum dapat ditentukan secara pasti. Jadi. termasuk kejutan listrik. Mereka merupakan contoh kaum transseksual. Namun. Mayoritas warga memiliki sex identity sesuai dengan jenis kelamin fisiknya. yaitu identitas jenis kelamin (sex identity) atau identitas jender. MFT berperilaku sebagai perempuan. berupa alat reproduksi. kekurangan testosteron pada janin dengan kelamin . transseksual memiliki sex identity berbeda dari seks fisiknya. Masalahnya. Sex identity. Dengan kata lain. Padahal. Sebelum sex identity ditemukan. ketika ia meninggal. para pakar menganggap transseksual merupakan orang abnormal yang perlu disembuhkan dengan aneka terapi. Jenis kelamin jiwa merupakan variabel mandiri terhadap seks fisik. Menurut Kessler dan McKeena. masyarakat sering menyalahkan. Hakikat transseksual Selama ini alat kelamin fisik. kini disadari bahwa sex identity lebih kuat daripada kelamin fisik. Sebaliknya.sejumlah anak. dalam Gender: An Ethnomethodological Approach (1978). yang ditemukan pada tahun 1972 oleh Money dan Erhardt setelah meneliti ratusan individu. pakar sekalipun. karena seseorang yang tomboi. FMT bertubuh perempuan namun merasa dirinya lelaki (bukan sekadar tomboi. namun biasanya mulai disadari dengan kuat menjelang remaja. mengapa orang yang terlahir laki-laki sampai merasa dan berperilaku sebagai perempuan dan sebaliknya pada FMT. yang dapat disebut jenis kelamin jiwa. Namun. Sebaliknya. jika seorang transseksual diminta menyelaraskan perilaku dengan bentuk fisiknya. sekalipun berperilaku kelaki-lakian. Karena itulah. Sebagian menduga pengaruh hormon dalam kandungan. yaitu transseksual dari lelaki ke perempuan. Namun. MFT bertubuh lelaki tetapi merasa dirinya perempuan. Karena itu. identitas jenis kelamin adalah perasaan mendalam atau keyakinan dalam batin seseorang yang membuatnya merasa sebagai lelaki atau perempuan. yaitu transseksual dari perempuan ke lelaki. identitas jenis kelamin adalah keyakinan mendalam pada seseorang tentang apakah dia itu pria atau wanita.

akan berpura-pura menjadi "lelaki biasa". Dengan demikian. Masyarakat demokratis mensyaratkan asas pluralisme dan egalitarianisme. maupun masyarakat. ia akan hidup dalam tekanan batin yang luar biasa dan tiada hentinya. Kaum transseksual hanyalah orang yang berbeda. Namun. Lorong kegelapan? Seorang bijak pernah mengatakan. sebagaimana masyarakat juga tidak boleh mendiskriminasi orang yang berbeda warna kulit. perbedaan ini tidak dijadikan dasar untuk meminggirkan atau mendiskriminasikan mereka. kecenderungan mencari pasangan. yaitu terbuang dari lingkungannya atau berpura-pura menutupi jati dirinya. politisi Australia. Jutaan transseksual hidup dalam lorong kegelapan. Para transseksual ini terpaksa memilih satu di antara dua pilihan yang sama pahitnya. yang memiliki jati diri perempuan. yaitu pada identitas seksualnya. "Apakah gunanya seseorang mendapatkan seluruh dunia tetapi kehilangan dirinya sendiri?" Banyak orang mengamini sabda tersebut. Namun. agar diterima lingkungannya. seorang MFT. kelebihan testosteron pada janin dengan kelamin fisik perempuan dapat menyebabkannya memiliki seks jiwa lelaki. Selagi mayoritas warga bangsanya mensyukuri nikmatnya hidup di alam kemerdekaan. Julie mengaku tetap tertarik kepada perempuan.fisik lelaki dapat menyebabkannya memiliki kelamin jiwa perempuan. sekolah. yang terlahir sebagai lelaki tetapi memiliki sex identity perempuan. sebagian besar transseksual masih belum diterima lingkungannya. keyakinan. Contohnya Julie Peters. sebab sebenarnya masih merupakan misteri. sekalipun berbeda. Namun. tetapi tidak mau menerima bahwa bagi transseksual. transseksual tertarik terhadap lawan jenis sehingga mirip warga masyarakat umumnya. mendapat perlakuan sederajat. Namun. Di lain pihak. karena mendapatkan dunia tetapi kehilangan dirinya sendiri. Setiap orang. ada juga transseksual yang tertarik kepada kaum sejenis. sejauh yang bersangkutan tidak melakukan hal-hal yang merugikan orang lain. diri sendiri itu adalah jati dirinya sesuai dengan sex identity yang dimiliki. memperlihatkan obsesi berlebihan terhadap . pekerjaan. Sungguh beruntung jika seorang transseksual diterima lingkungannya. menunggu kapan sinar terang akan muncul pada akhir lorong tersebut. banyak transseksual belum dapat merasakan apa makna kemerdekaan itu sesungguhnya. Seyogianya. Umumnya. Setelah usia 40 tahun Julie memutuskan menjalani operasi dan menjadi perempuan. Namun. tetapi dari hari ke hari ia hidup dalam kehampaan. transseksual yang terpaksa menutupi atau mengingkari jati dirinya bisa saja kelihatan sukses. baik keluarga. bahkan oleh keluarganya sendiri. Variabel yang juga menentukan perilaku adalah orientasi seks. kaum transseksual perlu menghindari perilaku yang menimbulkan citra negatif. Sebaliknya. atau status sosialnya. Pada pilihan kedua. seperti berdandan terlalu mencolok.

Special Issue. ketika perempuan yang dihujat. Dengan menarik perhatian publik untuk lebih memperhatikan cerita-cerita yang dibangun media yang lebih mengutamakan cerita kehidupan perempuan pelaku aborsi. Bambang Suwarno Aktivis Perempuan dan Relasi Jender. sehingga dari lima artikel yang disoroti dalam tulisan ini. Di tengah perdebatan apakah nama Hari Ibu bisa mewakili kepentingan semua perempuan. masyarakat dapat menerima dengan wajar kaum transseksual. maka laki-lakilah yang menjadi penghujatnya. dengan mengambil kasus lama yang terjadi di tahun 1997. Hari Ibu 1997 telah “dicemari” dengan ditemukannya banyak mayat calon bayi akibat aborsi ilegal. Semoga seiring dengan meningkatnya pemahaman.lelaki. menyatakan pemahaman terhadap kaum transseksual akan bermanfaat besar untuk memahami konsep jender secara lebih komprehensif. Sebagai akibatnya. termasuk juga bagi perempuan yang secara biologis belum menyandang predikat ibu. dalam "Transgenderism and the Concept of Gender" (International Journal of Transgenderism. Prof Vern Bullough dari California State University. sesuai jati diri yang mereka miliki. Dan biasanya. seperti telah diperlihatkan Mbak Dorce dan mendiang Billy Tipton. Lebih dari itu. baik yang telah operasi maupun belum. dan bahkan yang tidak relevan sama sekali seperti cerita tentang siapa yang menemukan mayat bayi-bayi malang tersebut. tulisan ini justru ingin memperbincangkan konstruksi makna ibu dalam media massa kita. Artikel mengenai buruknya perilaku perempuan yang adalah calon ibu marak di koran-koran baik nasional maupun lokal. agar mereka dapat berdarma bakti secara optimal. Negeri ini sedang dilanda krisis multidimensi dan untuk mengatasinya diperlukan kerja sama seluruh komponen bangsa. Penting sekali agar para transseksual dapat membangun citra yang positif. tahun 2000). klinik-klinik aborsi ilegal. Media massa yang mengeksploitasi peristiwa tersebut rasanya telah memojokkan perempuan. di antaranya lewat prestasi. dan menjadi pekerja seks komersial. Tinggal di Bengkulu Sumber Kompas Cyber Media Perempuan dan Media Massa (1) <center></center> Catatan kecil ini ingin ikut serta merayakan Hari Ibu 22 Desember 2003. dan bukannya mempertanyakan siapa laki-laki yang bertanggung jawab atas keberadaan calon bayi . hal yang sangat diperlukan guna membangun masyarakat dunia yang lebih manusiawi. hanya satu yang ditulis oleh perempuan. hujatan panjang di media massa pun diarahkan kepada perempuan.

“Kendati bukan perilaku baru. media massa memberikan aplaus . maupun dikorbankan? Tentu saja ada banyak alasan bagi perempuan untuk melakukan aborsi. rasanya tidak berlebihan untuk meragukan sifat pembebasan media yang selama ini didengung-dengungkan. memilih untuk menjadi atau menolak menjadi ibu tidak hanya berurusan dengan fungsi biologis perempuan saja. Karena kita hidup dalam budaya yang tidak memungkinkan kita untuk “bergender netral” seperti yang dikatakan oleh feminist Perancis Susan Bordo dalam artikelnya “Feminism. Yang pasti. tetapi juga kewajiban perempuan untuk menjaga nilai-nilai moral yang dianut lingkungan sosialnya. mana ada media yang juga tidak bergender?(2). sebagai agen dari propaganda adil gender. Ironisnya.tersebut. Di satu sisi. misalnya mempertanyakan penolakan perempuan untuk menjadi ibu sementara predikat tersebut masih dianggap sakral. bahkan dikatakan sebagai senjata kelompok marginal untuk mendapatkan posisinya. Apakah sebagian yang lain yang menilai sucinya posisi ibu akan tersentuh dengan kenyataan bahwa secara biologis sebenarnya mereka mampu menghadirkan sebuah kehidupan baru tetapi lebih memilih untuk tidak melakukannya? Apakah yang lain akan merasa diobjektifikasi. sebagian mungkin merasa bebas untuk memilih melakukannya sedangkan yang lain mungkin tidak punya pilihan lain. di sisi lain masih juga menjalankan praktek-praktek obsolit. bagaimana perempuan seharusnya bereaksi? Bagi mereka yang memilih untuk tidak menjadi ibu dengan cara tersebut mungkin akan merasa malu karena perbuatannya sudah dipublikasi. kabar menghebohkan dari Jakarta soal keberanian sejumlah wanita yang menolak menjadi ibu manusia melalui cara-cara yang menyinggung perasaan sosial … apakah sebutan “ibu” tidak lagi sesakral dan seterhormat yang kita ketahui sehingga mesti ditolak?”(3) Membaca kalimat tersebut.(5) Ketimpangan jumlah antara jurnalis perempuan dan laki-laki tentu tidak dengan sendirinya menjawab pertanyaan kenapa media kita begitu seksis. ada suatu pembagian yang sangat tidak seimbang antara perempuan dan laki-laki. Postmodernism. media telah dengan sewena-wena membela kepentingan laki-laki. dituduh. Apakah ini karena media massa masih belum kuat betul atau cukup dewasa untuk membebaskan dirinya dari pelukan “diskriminasi gender” yang tiada akhir?(4) Atau memang karena mereka sendiri pada dasarnya bersifat diskriminatif terhadap perempuan? Jika kita menilik figur angka pelaku media massa. jika media massa di satu sisi mempromosikan nilai-nilai “kesejajaran” antara laki-laki dan perempuan. Belum tentu jurnalis perempuan sudah memiliki perspektif gender dalam menurunkan tulisan dan menilai permasalah sosial yang dihadapinya. Apakah catatan ini sudah demikian prejudis mencurigai adanya konspirasi antara laki-laki dan media massa? Jika dilihat dari perilaku media. Salah satu dari artikel yang menjadi sorotan dalam catatan ini. and Gender Skepticism” (1990).

(9) Pada saat media massa menghujat peran perempuan bekerja. untuk tetap tinggal “terdomestikasi” dengan meragukan kemampuan mereka untuk berkarya di dunia publik."(10) Karakterisitik media massa yang manipulatif seringkali juga merugikan perempuan jika kasus-kasus yang diangkat melibatkan perempuan. Gagasan bahwa rumah tangga adalah urusan perempuan. tentu saja didukung oleh institusi yang bernama negara. Seringkali media massa menulis bahwa partisipasi perempuan di dunia publik hanyalah bukti kejahatan kapitalisme yang mendehumanisasi mereka. terutama “kaum perempuan” dan “kaum buruh” .(8) Hal ini tentu bukan hanya hasil patrimoni dari imperialisme dan kolonialisme. bukankah diskriminasi gender sudah ada bahkan sebelum era modernisme? Model produksi kapitalisme bukankah “hanya” memanfaatkan ketimpangan gender itu yang kemudian. semakin mempertajam segregasi ranah publik-domestik.pada slogan “peran ganda perempuan modern”. tetapi lebih merupakan transformasi yang muncul karena keterlibatan semua faktor ini yang terus direproduksi karena telah terbukti menguntungkan sebagian pihak yang kebetulan semakin berkuasa. Apakah mereka harus kehilangan hak-hak istimewa (privilege) yang sudah terlegitimasi hanya untuk satu posisi yang tidak jelas jika mereka harus memasuki dunia asing yang dinamakan ranah publik? “Peradaban milenium ketiga hanya bisa berharap agar kaum wanita memilih untuk tidak gagal menjadi ibu anak-anak zaman.(7) Namun. di sisi lain mereka menuntut perempuan. media menganggap bahwa keberhasilan perempuan di ranah publik tidak lebih sekedar cerita sukses negara untuk mengeksploitasi mereka dalam mendorong pembangunan nasional. “… kesempatan pun tidak banyak buat wanita untuk berperan di luar rumah. Dalam mengenangkan kasus Marsinah. walaupun kedengaran tidak sesuai dengan slogan kesejajaran. Secara sinis (atau karena cemburu?) dan dihantui oleh kontra-hegemoni kultural dan material yang dimiliki perempuan. tentu saja dengan menggunakan perspektif media massa yang maskulin. Tarik ulur antara meraih dunia publik dan mempertahankan dunia domestik. karena pembagian posisi peran lakilaki dan perempuan yang jelas dan tertib bisa mendukung suksesnya program-program pemerintah. Lalu kembali lagi peran rumah tangga ditekankan. bisa jadi membingungkan perempuan dalam menentukan posisi mereka. media massa telah menjadi tidak lebih sekedar perpanjangan penindasan laki-laki terhadap perempuan. karena reproduksi pola yang terus menerus. bahkan membanting nilai kemanusiaan mereka di bawah nilainilai produksi dan pasar. Dalam hal ini. betapapun dikotomi publik-domestik masih bisa diperdebatkan. masyarakat. tahun 1993.” (6) Secara arogan. sebagai “lawan jenisnya”. mengaku memiliki hak untuk menentukan apa yang harus dilakukan atau tidak seharusnya dilakukan oleh perempuan. media massa. mereka memuja-muja peran ibu sebagai faktor penentu dari masa depan bangsa dengan mempersiapkan keturunan mereka dalam menghadapi era tinggal landas.

teman-teman. Namun penulis berpikir.(workers and women)(11). Dengan malu-malu mereka mempertontonkan pencapaian mereka dan menentukan sendiri standar keberhasilannya. Alhasil media massa telah menciptakan skenario mereka sendiri tentang perang gender yang tidak pernah berakhir. atau sebaliknya bersikap radikal manghadapi ketidakadilan ini dan dengan sadar menerima label “pemberontak”. apakah isu gendernya. dan pada akhirnya meminta penghargaan dalam bentuk fasilitas untuk menstimulasi keberhasilan yang lebih baik lagi. yang mempunyai kekuasaan untuk membentuk bagaimana cerita harus berakhir. Akhir cerita berubah menjadi kabur dan hanya media massa yang sadar akan substitusi antara apakah yang sesungguhnya (real) dan reproduksi dari yang sesungguhnya (hyper-real). berterimakasih kepada media massa karena mereka telah secara terus menerus melaporkan kasus tersebut dan menarik perhatian internasional terhadap stigma tersebut. atau karena kecurigaan adanya praktek-praktek kekuatan politik di belakang pembunuhan ini? Media massa telah mengeksploitasi seluruh kehidupan masa lampau Marsinah.(12) Secara tidak sadar hal ini mempertahankan “ketergantungan terwariskan” pada perempuan terhadap laki-laki. media massa-lah yang melahirkan “reproduksi” dari sosok Marsinah. Mereka telah membawa nama Marsinah ke posisi terpopuler dan paling banyak dibicarakan hanya setelah kematiannya. perempuan ditantang untuk menentukan posisinya. dan meramu serta menyajikan semua ini dengan terminologi-terminologi politik yang susah dipahami. . apakah mau secara naive terbawa arus dan mempertahankan “hegemoni kultural” yang terus-menerus dan mendapatkan penghormatan sebagai “ratu rumah tangga”. atau juri. meminta-minta pengakuan dari laki-laki. Tidak terelakkan juga analisa politik bahwa pembunuhan Marsinah ini adalah panggung cerita konflik antara laki-laki yang direpresentasikan oleh orang-orang yang berkuasa sebagai “pembunuh” dan perempuan diwakilkan oleh Marsinah sebagai “terbunuh”. perempuan seringkali menjadi kikuk dan rapuh menghadapi semua tantangan ini. Ketika cerita-cerita tentang buruh perempuan menampilkan nama-nama lain. peserta kontes yang tidak terdaftar. Dalam ketimpangan relasi gender inilah. Kita mungkin tidak pernah tahu apakah sikap kritis Marsinah adalah perwujudan dari kesadaran politisnya atau hanyalah pertahanan dirinya menghadapi kesulitan hidup sehari-hari. apa yang terjadi jika Marsinah tidak terbunuh? Atau pertanyaan yang lebih seksis. konflik kelas. karena siapa dia sebelum kematiannya bukanlah “berita yang pantas dipublikasikan”. tetangga. Media massa menggunakan “kematiannya” dan bukannya kehidupannya yang singkat sebagai bahan berita. Sayangnya. bagaimana jika Marsinah bukan seorang perempuan melainkan laki-laki? Bukan Marsinah tetapi Marsono? Apa yang sebetulnya menarik perhatian media massa tentang skandal ini? Apakah pembunuhannya. Siapakah yang memenangkan kontes ini? Nampaknya justru media massa. Reproduksi berita-berita dan spekulasi media massa yang ditampilkan secara berulang-ulang telah menghasilkan versi-versi yang semakin fantastis. mencampuri kehidupan keluarganya. pacar.

bukankah Hari Ibu intinya memperingati semua perempuan. justru pembagian “ruang” inilah satu-satunya gagasan yang masih susah untuk diserahkan oleh laki-laki. dan bukan hanya yang telah dan bersedia menjadi ibu saja? Wiwik Sushartami adalah Pemerhati masalah gender dan media. dimana media massa mempunyai akses bebas terhadap sumber-sumber berita dan kebebasan mengemukakan gagasannya.“Memperingati hari yang sering disebut hari permuliaan kaum ibu ini. Perwujudan dari rasa terima kasih itu bisa berupa pemberian kesempatan untuk berkarya cipta seperti kaum pria. tidak tanpa dominasi. melahirkan. “Ruang” dimana mereka bisa belajar memahami pengalaman mereka. mulai dari kasus TKW sampai dengan pornografi. atau setidaknya empati terhadap perempuan. dan kecenderungan media massa untuk menampilkannya dalam berita dengan bahasa-bahasa dan analisa yang melecehkan dan tidak berpihak pada perempuan. yakni hamil. sedang menyelesaikan studi di Universitas Leiden. Belanda Catatan Belakang (1)Dua koran lokal yang dibahas dalam tulisan ini mengacu pada isu-isu nasional . melainkan “ruang” yang dapat membantu perempuan menjadi tumbuh. jika isu yang sama muncul kembali. tidak hanya pengalaman yang sama melainkan juga yang berbeda-beda dan personal.” (13) Bukanlah pernghargaan maupun pengakuan yang seharusnya diminta perempuan. dengan melihat begitu banyaknya kejadian yang menimpa perempuan sepanjang tahun ini saja. Sebab. menyusui. semoga saja ada lebih banyak suara yang mendukung. Harapannya adalah. dewasa dan berpikir lebih rasional dengan kesadaran mereka sendiri. perempuan mampu untuk membebaskan diri mereka dari “alienasi” terhadap tubuh dan kehidupannya sendiri. adalah saat yang paling baik untuk berterima kasih atas jasa-jasa ibu dalam melaksanakan tugas kodraatinya. semoga tulisan ini tidak terlalu skeptis dan pesimis dengan menanyakan satu pertanyaan akhir yang belum juga terjawab. Namun. jika tidak diskriminatif gender sebetulnya adalah alat yang bisa diandalkan bagi perempuan untuk menyuarakan kepentingan mereka. enam tahun sejak kasus aborsi masal tersebut meledak. Apalagi di era reformasi sekarang ini. Namun demikian. yaitu jika “medianya” saja sudah tidak sensitif gender. kasus aborsi tidak bisa dipisahkan juga dari perilaku laki-laki. Hanya melalui kesadaran inilah. sebagai penerus aspirasi masyarakat. apakah mungkin “pesannya” menjadi lebih adil terhadap perempuan? Dan satu lagi.(14) Media massa. Sama susahnya untuk merelakan 30% posisi calon legislatif pada perempuan. apapun yang mereka lakukan.

paper yang disampaikan dalam International Conference on Women in the Asia-Pacific Region: Person.Weix. 19 December 1997. Kedaulatan Rakyat.sehingga bisa menggambarkan juga suasana nasional.6% jurnalis perempuan di Indonesia pada tahun 1994 menurut Serikat Jurnalis Indonesia. Nicholson (Ed. hal. yaitu meminta perlakukan khusus untuk perempuan. Feminist Theory: The Intellectual Traditions of American Feminism. “Kembalikan Peran Wanita Sebagai Ibu Rumah Tangga”. dan tidak mencoba memaknai ulang nilai-nilai femininitasnya sesuai dengan nilai-nilai . (2) Susan Bordo. 4 (7) Achmad Zaini Abar. Irwan Abdullah (Ed).. NUS.G. (12) Katharina Graham mencatat beberapa kesalahan tipikal yang dibuat oleh perempuan.76. “Otak dan Watak Terdidik Ibu Manusia”. 23 December 1997. Chapman & Hall. Linda J. Kedaulatan Rakyat. 1997). Dalam “Wartawati Herstory”. yang sudah seratus tahun lebih usianya saja sampai tahun 1990an masih menganut sistem gender yang timpang. 1997). Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset. hal. (9) Maila Stivens dalam G. Concealing Politics. and Politics.). hal. (New York: the Continuum Publishing Company.: 104) (6) P. 4 (8) Michael Barrett dalam Josephine Donovan. 11-13 Agustus 1997 (10) Abdul Munir Mulkham. Inc. Dia bekerja di pabrik komponen jam tangan di Jawa Timur dan dibunuh setelah keterlibatannya dalam protes menuntut pembayaran tambahan. Postmodernism. Kedaulatan Rakyat. (London: Routledge. hal 4 (4)Omi Intan Naomi menuliskan bahkan jurnalisme Amerika. hal 105. Sangkan Paran Gender. Bonnie Kertaredja. menentukan sendiri standar kesuksesan mereka yang lebih sering tidak sesuai dengan standar laki-laki. 4 (11) Marsinah berumur 23 tahun ketika dibunuh. and Gender Skepticism”. Lihat Weix. (5) Secara keseluruhan hanya ada 8. hal. Revealing Women: Gendered Icons of Labor in Indonesia. 22 December 1997. “Perempuan Dalam Strategi Pengembangan Sumber Daya Manusia”. Jadi masuk akal juga jika jurnalisme Pancasila yang kita punyai juga masih kental dengan bias gender. “Feminism. “Anak Tekhnologi Mencari Ibu”.1990) (3)Mutrafin. Power. 23 December 1997. dalam Feminism/Postmodernism. (ibid. Bernas.

125. hal. Iklan tentang minyak goreng adalah contoh lain tentang nilai-nilai domestifikasi perempuan sebagai pihak yang harus bertanggungjawab atas segala kesehatan suaminya. Namun dibalik itu. Produksi Kekuasaan Michel Foucault. kita lupa dengan terjadinya “penyeragaman” dalam tayangan ataupun bacaan itu sendiri yang berakibat pada memaksa penonton untuk mengikuti apa yang si pembuat media inginkan. Alasannya. adalah salah satu filsuf postmodernis yang menawarkan analisis tentang motif-motif tertentu pada suatu media atau teks. hubungan antara perempuan dan kelas. Tiga yang lainnya adalah relasi langsung antara perempuan dan akses produksi. 76. Kebebasan ini bagaikan sebuah representasi hak otonom publik untuk memilih bentuk sajian media yang mereka sukai. 4 (14) “Alienasi” dan “gagasan tentang praksis” adalah dua dari lima fokus utama dalam feminisme sosialis kontemporer.hal. (13) Widyastuti Purbani. Melihat Kembali Gereget Peringatan Hari Ibu. Sebagai contoh yang paling mudah. Sumber: Jurnal Perempuan Online Membangun Resistensi. titik perhatian utama saya adalah pada wacana feminisme. Contoh sederhana adalah tayangan iklan. Lihat Naomi. Bagaimana menganalisa masalah ini? Sebagaimana Sara Mills. Donovan. rambut lurus hitam adalah nilai yang disampaikan penonton bahwa rambut seperti demikian yang ideal bagi perempuan. melainkan tersebar di seluruh masyarakat .maskulinitas. Iklan kosmetik mengiklankan tentang kulit putih mulus dan tubuh langsing ideal perempuan. Membongkar Stereotipe<center></center> Publik kini bebas memilih dan menikmati tayangan ataupun bacaan di berbagai media. dan peran keluarga dalam sosialisasi ideologi. Foucault mengatakannya sebagai “produksi kekuasaan”. Iklan yang ditayangkan terus menerus berpotensi menggiring penonton untuk “harus” mengikuti standar-standar nilai yang disematkan. Lihat. seperti halnya pendapat Eriyanto (2001) banyak tayangan ataupun bacaan di media yang melibatkan perempuan dan yang terbanyak tentu saja adalah tayangan iklan. adalah iklan kosmetik dan minyak goreng. Bernas. Bahwa kekuasaan tidak bertumpu pada satu titik sentral termasuk tidak hanya pada pihak-pihak yang dominan. Menyaksikan iklan shampo.22 December 1997. Semua ini tentu tidak lepas dari motif-motif politik-ideologis tertentu dibalik penyajian tersebut. hal.

not the fun …” dengan lingkaran merah besar yang menutupi sebagaian tubuh ramping kurus perempuan bule yang sedang melompat. Atau iklan tentang tubuh ideal perempuan langsing dan tinggi. Produksi kekuasaan yang terjadi kemudian adalah munculnya strategi untuk menghembuskan wacana “langsing”. yaitu melalui wacana. kemudian berusaha memutihkan kulitnya dengan harapan lelaki itu memperhatikannya. salah satunya yaitu untuk mencapai target penjualan produk (Eriyanto. terdapat kata-kata. Iklan. adalah salah satu tayangan media yang menyebarkan kuasa (strategi) tentang normalisasi tubuh perempuan. Kekuasaan tidak bekerja melalui penindasan atau represi. presiden. Jelas sekali adanya domestifikasi . Foucault menegaskan persoalan ini sebagai kekuasaan atas kehidupan modern atau kapitalisme. Fotografer si lelaki tampan itu memilih membidik kameranya kepada si gadis yang berkulit putih. pikiran. dan berambut lurus. Mengetahui hal itu. Melalui iklan. bertuliskan “Yes! Turunkan berat badan anda hingga 5 kg perminggu!” Katakata itu menunjukkan bahwa menjadi kurus adalah kegembiraan dan kepuasan. melainkan menormalkan individu agar perilakunya sesuai dengan yang diinginkan si pembuat iklan. melainkan melalui reproduksi kreatif.(tidak ada seorang pun yang memilikinya) (John Lechte. gadis berkulit lebih gelap berwajah murung.”jangan-jangan kolesterol suamiku tinggi karena aku salah pilih minyak goreng”. Kuasa bukanlah milik raja.”Lost the weight. melainkan jiwa. boss. Sebagai contoh. yang satu berkulit gelap. Atas hal ini. seperti perilaku baik atau buruk yang sebenarnya mengendalikan perilaku masyarakat yang pada akhirnya dianggap kebenaran yang telah ditetapkan. tetapi dalam bentuk strategi. bukan tubuh fisik lagi yang disentuh kuasa. berkulit putih. langsing. kesadaran dan kehendak individu. atau iklan The Cambridge Diet yang menuliskan kata-kata. Atau pada iklan minyak goreng. yaitu perempuan cantik adalah yang berkulit putih dan lelaki normal adalah yang menyukai perempuan berkulit putih. digiring untuk menjadi ramping. 2001). yang lain berkulit putih.2001). melainkan melalui normalisasi yang positif dan produktif. Iklan yang membenarkan “kulit putih lebih cantik daripada kulit hitam” tidak dibentuk dengan reproduksi kekuasaan represif. dibentuk. Wacana yang dihembuskan ini secara perlahan-lahan menciptakan kategorisasi. bahwa tubuh ideal perempuan seperti pada perempuan yang menjadi model iklan Tropicana Slim. iklan Pond’s yang pernah ditayangkan di media televisi jelas menunjukkan bahwa kulit putih lebih baik daripada berkulit gelap. Dalam iklan tersebut ditampilkan seorang fotografer mengambil ancang-ancang membidik dua gadis kembar. yang mencuat terus menerus sehingga secara tidak sadar masyarakat menganggap tubuh perempuan yang ideal dan normal adalah. atau pejabat. Disini tengah berlangsung bergulirnya strategi kuasa yang diproduksi terus menerus. Iklan bukan lagi menjadi pelayanan terhadap konsumen. “rambut lurus hitam panjang”. Perempuan kemudian diatur. “kulit putih”. individu didefinisikan. diciptakan.

1997) sedangkan gender menjelaskan adanya pembedaan laki-laki dan perempuan yang dilihat dari konstruksi sosial-budaya. Wacana tubuh perempuan yang tidak dominan ini diabaikan (left out).(Elaine.2000). Mansour Fakih bahkan . Masyarakat kemudian menginternalisasi “istri ideal” adalah seperti itu. Misalnya perempuan dijelaskan berkarakter baik bila ia sebagai ibu rumah tangga atau istri yang baik (seperti pada iklan minyak goreng). Langsing putih dan berambut lurus menjadi wacana dominan perempuan ideal di masyarakat kita. Berbagai upaya mengimbangi wacana dominan ini seperti yang dilakukan Dewi Huges atau Anita Roddick yang peduli terhadap masyarakat pedalaman dengan melihat kecantikan perempuan Afrika pada akhirnya tidak mampu mengalahkan wacana dominan tadi.1989) Stereotipe tidak lepas kaitannya dengan seks dan gender. Resistensi Perempuan Melalui Media Seni Sangat memprihatinkan bila perempuan-perempuan yang tidak bisa mencapai wacana dominan tentang tubuh ideal tadi membuat mereka terobsesi dan memaksakan diri dengan berbagai upaya yang bahkan bisa membahayakan mereka. Istri ideal adalah yang terus merasa bersalah bila terjadi sesuatu pada suami mereka. Bagaimana mungkin kulit hitam bisa menjadi putih hanya dengan kosmetik? Lagipula wacana dominan ini mengandung pelecehan terhadap ras yang berkulit hitam. berambut ikal dengan kulitnya yang berwarna. Wacana dominan ini menggeser atau memarginalkan wacana lain yaitu bagi perempuan-perempuan yang tidak berkulit putih dan tidak bertubuh langsing. Masihkah kita perlu membanggakan diri atau bersedih hati karena kulit kita? Iklan-iklan yang memelihara nilai-nilai seperti itu sesungguhnya menumbuhkan stereotip baru terhadap perempuan.perempuan bahwa istrilah yang harus bertanggungjawab bila suaminya terkena penyakit tertentu. sedangkan laki-laki berkarakter baik bila ia sebagai individu di atas dunia yang lebih luas (Tierney). Roddick sampai bersusah payah membuat maskot “The Body Shop” serupa boneka Barbie tetapi bertubuh besar. Ia menyebutnya sebagai suatu pencerahan terhadap kapitalisme (Adriana Venny. yaitu konsep yang mencakup seks dan gender dimana seks adalah indentifikasi untuk membedakan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologi (jenis kelamin) yang lebih digunakan untuk persoalan reproduksi dan aktivitas seksual(Suzanne dan wendi. yaitu suatu konsep sosial yang berhubungan dengan pembedaan (distinction) karakter psikologi dan fungsi sosial antara perempuan dan laki-laki yang dikaitkan dengan anatomi jenis kelaminnya (sex). Akibatnya adalah perempuan yang tidak bertubuh langsing dan tidak berkulit putih kehilangan kepercayaan atas tubuhnyadan kehilangan identitas karakter tubuhnya sendiri. Iklan itu menunjukkan adanya bias dalam menampilkan perempuan dimana istri cenderung ditampilkan sebagai pihak yang salah.

sedang perbuatan adalah pria (activity. cerdas) sedangkan perempuan di wilayah kanan (pasif. intelligible).”Perempuan tak akan hidup lagi setelah kematian.(Swara Harian Kompas. sedangkan laki-laki adalah penciptanya. emosional. Roekmini. rasional. palpable). karena ada stereotipe dimana ibu rumah tangga seharusnya mengurus rumah tangga. Hélén Cixous menulis hirarki oposisi biner yang selalu menempatkan dua hal dalam relasi yang superior-inferior seperti “Activity/passivity. Iklan-iklan yang membuat standar tubuh perempuan ideal membuktikan bagaimana laki-laki (lebih banyak dibagian produksi iklan) menciptakan perempuan untuk sesuai dengan fantasi mereka tentang “perempuan sexy atau cantik”. Dalam suratnya. dekat dengan alam. Perempuan yang “dikerjakan” dan lelakilah yang mengerjakan. 1999). termasuk Indonesia masih memegang stereotip bahwa laki-laki berada di wilayah kiri (aktif.” Penyair metafisis Inggris pada sekitar abad 17 bahkan menggambarkan perempuan itu cuma kata-kata (passivity. Wacana Oposisi Biner Stereotipe terhadap perempuan seperti lebih mudah dijelaskan dengan bertitik tolak pada wacana oposisi biner yang menempatkan perempuan pada posisi yang negatif dan tak berdaya. Head/heart. bukannya melukis (Bianpoen. Wacana dominan yang berwajah stereotipe ini memagari perempuan sehingga mereka tidak mampu mengekspresikan dirinya. Dalam Sorties. mereka dianggap “sinting” atau aneh oleh masyarakat sekitarnya. stereotip oposisi biner menempatkan perempuan pada posisi yang dirugikan dimana ini terjadi pula dalam media seni. Seperti yang dialami pelukis Lucia Hartini dan Kartika Affandi Koberl. perempuan adalah obyek yang pasif. yang bisa dibentuk sebagaimana yang diinginkan laki-laki. Adanya stereotipe bahwa perempuan tidak boleh di luar lingkungan . sekitar tahun 1901 bahwa saudara perempuannya yang bernama Roekmini ingin menjadi pelukis di akademi senirupa di Den Haag. beradab. dapat disimpulkan bahwa tampaknya perempuan dalam media ditempatkan sebagai yang abstrak. Stereotipe: Wacana Dominan. Intelligible/palpable Man/woman” (Priyatna 2000) Masyarakat manapun. Culture/nature. Model-model perempuan adalah obyek yang dikreasi untuk mencapai fantasi tersebut. hasrat dan daya pikir laki-laki. kecuali dibangkitkan lawan kesenian oleh pria. Ketika menjadi pelukis. kurang cerdas).1996).lebih jelas mengatakan bahwa stereotipe adalah pelabelan negatif terhadap jenis kelamin tertentu. Kenyataan bahwa perempuan dalam media seni tidak diterima sebagai subyek sebetulnya sudah dialami oleh Kartini dan adiknya. yang akibatnya terjadi diskriminasi dan ketidakadilan(Fakih 1997). Dalam media ini perempuan adalah obyek yang dikreasikan atau diciptakan oleh keinginan. tetapi tradisi tidak memberi tempat kepada anak perempuan diluar lingkungan rumah.” Antiphanes seorang dramawan komedi Yunani juga mengatakan.”Perempuan itu lebih cocok untuk dilukis daripada sebagai pelukis. Tidak hanya iklan. Atas hal ini. sedangkan pria itu konkrit. Seperti Basuki Abdullah seorang pelukis terkenal pernah berkata.

”’Saman”. dibandingkan dengan media iklan. Garis-garis kuasnya menaruh kontemplasi dan ekspresi perasaan yang sangat kuat. Namun. Tidak ada aturan seni yang menempatkan perempuan harus sebagai obyek. Dalam lukisannya itu Lucia Hartini telah mendobrak adanya stereotipe dengan menempatkan perempuan sebagai manusia berani dan aktif. Kecurigaan tersebut bisa kita lihat di beberapa media massa dan gunjingan di sekitar kelompok-kelompok sastra.1996). yang dianggap lebih mungkin dan masuk akal. . Ada faktor ketidakpercayaan masyarakat dengan mempertanyakan bagaimana mungkin perempuan dapat mencapai kesuksesannya di bidang sastra. dan masyarakat lebih percaya bila kesuksesan sebuah karya seni ada di tangan laki-laki (stereotipe). (Suara Pembaharuan. Dalam media seni kita bisa menemukan semangat kebebasan dibandingkan dengan media iklan.rumah mengakibatkan Roekmini tidak pernah mendapat kesempatan belajar seni rupa seperti yang pernah dicita-citakannya (Bianpone. Seperti apa yang dikatakan Imanuel Kant bahwa “seni murni adalah seni para genius”. buah pikiran Ayu Utami dicurigai sebagai buah pikiran laki-laki. dituliskan judul yang sangat melecehkan. otot-otot lengan yang kencang dengan sebelah matanya keluar cahaya tajam yang menembus mata-mata yang sedang mengintip. Akibatnya. melainkan tulisannya Goenawan Muhammad. Ayu Utami penulis novel Saman sebagai pemenang juara pertama sayembara roman DKJ 1997-1998 sempat dicurigai bahwa itu bukan karyanya. Hans Georg Gadamer pernah mengatakan bahwa tidak ada aturan-aturan seni yang bersifat universal. Begitupula di bidang sastra. Perempuan dalam lukisan itu berani dengan tinju terkepal. Puas tapi Minta Tambah”. yang isinya mengasumsikan bahwa fragmen dari novel itu benar-benar mengundang libido pembaca (dalam hal ini berarti libido laki-laki) dengan menempatkan Ayu Utami sebagai obyek berita yang sensual. Demikian pula Kartika Affandi Koberl dalam karyanya Potret Diri yang lebih menggambarkan integritas perempuan gigih dan kuat dalam menghadapi kesulitan hidup. Seperti dalam surat kabar Suara Pembaharuan. Aturan-aturan itu diberikan oleh alam melalui para genius. Itu berarti bahwa seni tidak dapat diatur oleh adanya stereotipe ataupun konstruksi sosial yang menempatkan perempuan pada posisi yang dirugikan. 1998) Membongkar Stereotip Melalui Media Seni Stereotip memang sangat merugikan perempuan yang tidak hanya dalam iklan tetapi juga masuk ke wilayah seni. Di ranah seni rupa. Lucia Hartini dan Kartika Affandi Koberl akhirnya mengalami kesuksesan terutama karya mereka yang sangat feminis. Dalam Srikandi (1993) Lucia Hartini melukis perempuan yang diletakkan sebagai subyek. bukan karya sastranya. media seni ternyata dapat juga menjadi alat untuk mendobrak stereotipe itu sendiri.

dan lelaki itu akan menghidupinya dengan hartanya. Koordinator Jurnal Perempuan dan Jurnalis Radio Jurnal Perempuan di Yayasan Jurnal Perempuan. “Dengar kawan-kawan. (Utami. 1998) Ayu Utami juga menggugat stereotipe masyarakat tentang hubungan lelaki dan perempuan. (Utami. Bisma Al Huseini dari Mesir melakukan pemberontaknnya lewat media teater. ketika dewasa. Sumber: Jurnal Perempuan Online . Tetapi ketika ke Beirut. tapi tidak membikin selaput penis”.Di ranah sastra. Sejak itu posisinya menguatkan perempuan lain untuk ikut berteater sebagai usaha perlawanan mereka. jika agama dipakai untuk urusan ini. dia menjadi orang besar yang dihargai oleh orang lain sebagai perempuan perkasa yang memiliki cita-cita mulia. Ayu Utami yang ditimpa gunjingan sana-sini juga tidak mengurangi kesuksesannya. kataku. tapi kukatup mulutku rapat-rapat karena aku tak ingin kembali bertengkar. dan akan pergi setelah si wanita menyerahkan kesucian … Tiba-tiba aku ingin berteriak. Mendengar itu Yasmin marah sekali. Laila melerai dengan usul menyisihkan dulu perkara itu. sehingga kami kepingin berkelahi. 2001) Penutup Bahwa perempuan dalam media bisa menjadi obyek yang dieksploitasi. Sebab menurutku yang curang lagilagi Tuhan: dia menciptakan selaput dara. Dialah perempuan yang memimpin teater dimana pada awalnya tidak didukung oleh siapa pun. pada akhirnya yang salah adalah Tuhan. aku menganggapnya persundalan yang hipokrit.(Bimo Nugroho. Perempuan akan memberikan tubuhnya pada lelaki yang pantas. Kelak. * Mariana Amiruddin. Ia juga memberontak terhadap stereotipe keperawanan perempuan. Mereka cuma menginginkan keperawanan. Di dalam novel-novelnya selalu ia tanamkan tentang karakter perempuan mandiri. tetapi di lain hal perempuan dapat menggunakan media itu sendiri sebagai sarana resistensi untuk membongkar stereotip bila perempuan itu sendiri bisa menciptakan apa yang benar-benar ia inginkan atas tubuh. 1998) Dalam ranah teater atau drama. Itu dinamakan perkawinan. Ia seorang aktris yang mencoba melakukan perlawanan kepada cara pandang masyarakat terhadap perempuan yang selama ini sangat stereotipe. “Hanya lelaki yang boleh menghampiri perempuan. jiwa dan pikirannya sendiri. sebab menurut dia musuh kita adalah laki-laki… Apa salah laki-laki? Jawab Laila: sebab mereka mengkhianati wanita. dan laki-laki sebagai obyek yang dipandang. dibentuk dan diciptakan tubuhnya oleh imajinasi keinginan pria. yaitu perempuan sebagai subyek yang memandang. Perempuan yang mengejar-ngejar lelaki pastilah sundal.

Kelak putri saya mungkin akan merumuskan pertanyaan lain tentang apakah yang berjuang melawan penjajah hanya laki-laki. sama sekali tidak terlintas dalam pikiran saya seumur-umur mengenai laki-laki atau perempuan. ya. Mereka masih memiliki pola berpikir bahwa laki-laki akan menjadi pemimpin. Bisa jadi putri saya tidak bermaksud protes lewat pertanyaannya tersebut. bisa ditafsirkan adanya supremasi laki-laki sekaligus mengabaikan perempuan dalam perjuangan memerangi penjajah. putri kecil saya mungkin sekarang sudah lupa dengan pertanyaannya. di samping sekaligus pelestari budaya bangsa. Anak perempuan diberikan materi memasak atau menari sehingga mereka bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik atau bisa menjadi penghibur. Pembedaan perlakuan antara murid perempuan dan murid laki-laki juga terjadi pada upacara-upacara yang digelar di sekolah. bisa benar bisa tidak karena tidak sempat menanyakan kepada kantor penjaga makam pahlawan tentang jumlah pahlawan laki-laki dan perempuan di sana. Apakah terjadi di makam pahlawan di kota-kota lain? Juga. PENDIDIKAN yang memperhatikan kesetaraan jender di sekolah-sekolah masih jauh dari yang diidealkan. Anak laki-laki. sedangkan anak perempuan akan menjadi ibu rumah tangga. Kalau taman makam pahlawan yang ada hampir di setiap kota atau kabupaten dibangun sebagai bagian tidak terpisahkan dari sejarah perjuangan bangsa ini. Mereka tidak menyadari murid perempuan juga . selalu dipilih sebagai pemimpin upacara. Kesadaran mesti dimulai dari keluarga dan ditumbuhkembangkan di sekolah. inilah awal tumbuhnya kesadaran akan kesederajatan laki-laki dan perempuan. enggak ada nama ceweknya. Anak laki-laki akan diberikan pelajaran silat atau bela diri supaya mempunyai rasa percaya yang lebih besar karena dia akan menjadi kepala keluarga.Mengajarkan Kesetaraan Jender<center></center> KOK. menjadi pemimpin masyarakat. tetapi saya sebagai bapak akan mengingatnya sebagai saat penting seorang anak menunjukkan "kekritisannya". sungguh mati. Pun. karena suaranya keras. Jurug. lantas siapa yang memasok makanan atau mengobati yang terluka? Untuk situasi masyarakat pada zaman kini. Mary Astuti (2000) menunjuk para guru sebagai pendidik di sekolah kurang mempunyai pengalaman dalam menanamkan nilai-nilai baru dalam hubungan heteroseksual dalam pengasuhan anak di sekolah. Bahwa semua yang dimakamkan sebagai pahlawan di sana tidak ada yang putri. Pak?" Pertanyaan tersebut meluncur dari mulut putri kecil saya yang masih duduk di kelas satu sekolah dasar (SD) ketika mengunjungi Taman Makam Pahlawan Kusuma Bakti. Solo. mereka yang dimakamkan di taman pahlawan.

guru akan dapat memperlakukan siswa secara adil jender. Semasa taman kanak-kanak. Padahal. sedangkan berkebun. dan pantas menjadi pemimpin upacara. Pembedaan tersebut tidak pernah diprotes siswa perempuan karena semua perlakuan tersebut mereka anggap wajar juga. tentunya taman makam pahlawan tidak bisa diubah lagi soal perempuan atau laki-laki yang mesti ditempatkan sebagai pahlawan. sementara anak perempuan main masak-masakan. bersuara lantang. para pengarang buku pelajaran. dokter. Yogyakarta. oleh para penyelenggara pendidikan. permainan untuk anak laki-laki adalah perang-perangan. kesadaran. kiranya terus-menerus diasah demi perubahan paradigma dan persepsi yang lebih adil jender. atau militer masih dilekatkan pada laki-laki. penyanyi. Buku-buku pelajaran pun masih menunjukkan adanya ketimpangan jender.mampu bersuara keras. publik. Cukuplah bila kelak putri saya akan mendapatkan jawaban kesetaraan jender dengan melihat komposisi anggota parlemen negaranya. KEMBALI pada pertanyaan putri saya pada awal tulisan ini. tetapi pembedaan berdasarkan kebiasaan belaka. dan sosial. Sejak dini. Padahal. perempuan dan laki-laki dibedakan dari bentuk permainan. sementara juru masak. serta para guru. Betapa kecut hatinya bahwa perlakuan laki-laki dan perempuan di makam pahlawan sama saja dengan perlakuan di Gedung MPR/DPR. peran perempuan dan laki-laki dibedakan menurut peran domestik. Perempuan diposisikan sebagai makhluk lemah dan perlu dikasihani. Dalam buku pelajaran bahasa Indonesia dari sekolah dasar hingga sekolah menengah umum. Gedung MPR/DPR bukan makam pahlawan. penari. sesungguhnya telah terjadi banyak perubahan. sedangkan laki-laki identik dengan dunia yang keras. dan tidak ada diskriminasi yang merugikan bagi siswa perempuan ataupun laki-laki. Pemahaman kesetaraan jender. identik dengan perempuan. dan sensivitas jender. Pembedaan yang dilakukan bukan menunjukkan perbedaan yang esensial. Dengan membarui paradigma guru lewat pelatihan yang mendalami jender. St Kartono Mengajar di SMU Kolese De Britto. dan mengandalkan ototnya. kepemilikan tanah. mengurus kendaraan. kasar. Sumber: Kompas Cyber Media . atau barang-barang yang bernilai ekonomis tinggi selalu untuk lakilaki. Kegiatan memasak selalu untuk perempuan. Profesi polisi.

Karenanya. Membicarakan gender tidak berarti membicarakan hal yang menyangkut perempuan saja. banyak ditemukan gambar maupun rumusan kalimat yang tidak mencerminkan kesetaraan gender. mencuci. Pendidikan di sekolah dengan komponen pembelajaran seperti media. tidak rasional dan agresif. gagah. Sebut saja gambar seorang pilot selalu laki-laki karena pekerjaan sebagai pilot memerlukan kecakapan dan kekuatan yang "hanya" dimiliki oleh laki-laki. ia biasanya tidak ingin menunjukkan bahwa ia sebenarnya sedih dan malu. Hal ini menjadi beban tersendiri pula bagi perempuan. jika seorang perempuan mengekspresikan keinginan atau kebutuhannya maka ia akan dianggap egois. sungguh tidak mudah menjadi laki-laki karena masyarakat memiliki ekspektasi yang berlebihan terhadapnya. dan kepercayaan masyarakat. dan dilecehkan oleh kawannya yang lebih besar. Kenyataannya juga menunjukkan. emosional. dan menyapu. dan tidak mandiri telah menjadi citra baku yang sulit diubah. Ketika seorang anak laki-laki diejek. metode. tidak cengeng. Ironisnya siswa pun melihat . tetapi juga melalui pendidikan dalam lingkungan keluarga. Bias gender ini tidak hanya berlangsung dan disosialisasikan melalui proses serta sistem pembelajaran di sekolah. dipukul. peran.Kesetaraan Gender dalam Pendidikan<center></center> BANYAK laki-laki mengatakan. Sebaliknya. Gender dimaksudkan sebagai pembagian sifat. dan perkasa. menjadi perempuan pun tidaklah mudah. Jika ibu atau pembantu rumah tangga (perempuan) yang selalu mengerjakan tugas-tugas domestik seperti memasak. dan tugas laki-laki dan perempuan yang ditetapkan oleh masyarakat berdasarkan norma. Dalam buku ajar misalnya. Sementara gambar guru yang sedang mengajar di kelas selalu perempuan karena guru selalu diidentikkan dengan tugas mengasuh atau mendidik. adat kebiasaan. kedudukan. serta buku ajar yang menjadi pegangan para siswa sebagaimana ditunjukkan oleh Muthalib dalam Bias Gender dalam Pendidikan ternyata sarat dengan bias gender. dan tidak memperlihatkan kekhawatiran dan ketidakberdayaannya. Mereka haruslah sosok kuat. maka akan tertanam di benak anakanak bahwa pekerjaan domestik memang menjadi pekerjaan perempuan. ia ingin tampak percaya diri. Stereotip perempuan yang pasif. Ini menjadi beban yang sangat berat bagi anak laki-laki yang senantiasa bersembunyi di balik topeng maskulinitasnya. Bias Gender Keadaan di atas menunjukkan adanya ketimpangan atau bias gender yang sesungguhnya merugikan baik bagi laki-laki maupun perempuan.

Demikian pula jika laki-laki tidak dapat memenuhinya ia akan disebut banci. lebih luas lagi. dan melayani. Paskibraka yang setiap tanggal 17 Agustus bertugas di istana negara. Ini akan sangat berpengaruh pada peran sosial mereka di masa datang. Sementara laki-laki diarahkan untuk tampil gagah. tetapi kepala sekolahnya umumnya laki-laki. yang berlangsung di dalam atau di luar kelas. Siswa perempuan itu dikawal oleh dua siswa laki-laki. Hal demikian tidak hanya terjadi di tingkat sekolah. "Ayah membaca Koran dan ibu memasak di dapur" dan bukan sebaliknya "Ayah memasak di dapur dan ibu membaca koran". Bias gender yang berlangsung di rumah maupun di sekolah tidak hanya berdampak negatif bagi siswa atau anak perempuan tetapi juga bagi anak laki-laki. Misalnya ketika seorang guru melihat murid laki-lakinya menangis. selalu menempatkan dua perempuan sebagai pembawa bendera pusaka dan duplikatnya. Hal ini menanamkan pengertian kepada siswa dan masyarakat pada umumnya bahwa tugas pelayanan seperti membawa bendera. tetapi bahkan di tingkat nasional. dan berani. Dalam rumusan kalimat pun demikian. Anak perempuan diarahkan untuk selalu tampil cantik. Rumusan kalimat tersebut mencerminkan sifat feminim dan kerja domestik bagi perempuan serta sifat maskulin dan kerja publik bagi laki-laki. ia akan mengatakan "Masak laki-laki menangis. ada aturan-aturan tertentu yang dituntut oleh masyarakat terhadap perempuan dan laki-laki. Semuanya ini mengajarkan kepada siswa tentang apa yang layak dan tidak layak dilakukan oleh laki-laki dan apa yang layak dan tidak layak dilakukan oleh perempuan. . Laki-laki nggak boleh cengeng". penakut ata bukan laki-laki sejati. Sebaliknya ketika melihat murid perempuannya naik ke atas meja misalnya. ia akan mengatakan "anak perempuan kok tidak tahu sopan santun". Singkatnya. Kalimat seperti "Ini ibu Budi" dan bukan "ini ibu Suci". Belum pernah terjadi dalam sejarah: laki-laki yang membawa bendera pusaka itu.bahwa meski guru-gurunya lebih banyak berjenis kelamin perempuan. Demikian pula dalam perlakuan guru terhadap siswa. masih sering ditemukan dalam banyak buku ajar atau bahkan contoh rumusan kalimat yang disampaikan guru di dalam kelas. lembut. kuat. Hal ini memberikan pemahaman kepada siswa bahwa hanya perempuan yang boleh menangis dan hanya laki-laki yang boleh kasar dan kurang sopan santunnya. membawa baki atau pemukul gong dalamupacara resmi sudah selayaknya menjadi tugas perempuan. Dalam upacara bendera di sekolah selalu bisa dipastikan bahwa pembawa bendera adalah siswa perempuan. Jika perempuan tidak dapat memenuhinya ia akan disebut tidak tahu adat dan kasar.

bayi lakilaki secara emosional lebih ekspresif dibandingkan bayi perempuan. Ayah dan ibu yang saling melayani dan menghormati akan menjadi contoh yang baik bagi anak-anaknya. Jadi. orang tua yang . Keterlibatan Semua Pihak Lalu apa yang dapat dilakukan terhadap fenomena bias gender dalam pendidikan ini? Keterlibatan semua pihak sangat dibutuhkan bagi terwujudnya kehidupan yang lebih egaliter. di sekolah. gagal studi. Padahal. kulit halus dll. Tidak mengherankan jika banyak guru mengatakan bahwa siswa laki-laki lebih banyak masuk dalam daftar penerima hukuman. namun ia harus melakukannya jika tidak ingin dijuluki sebagai "anak mami". Penyebabnya menurut Sommers. karena anak laki-laki lebih banyak mempunyai persoalan hiperaktif yang mengakibatkan kemunduran konsentrasi di kelas. Meski berat bagi anak laki-laki untuk berpisah dari sang ibu. ekspresi emosionalnya hilang. Jadilah mereka kemudian anak-anak perempuan yang mengikuti stereotip yang diinginkan seperti tubuh langsing. Satu-satunya cara yang dianggap aman adalah dengan membunuh kepribadian mereka untuk kemudian mengikuti keinginan masyarakat dengan menjadi suatu objek yang diinginkan oleh lakilaki. pada anak perempuan selalu ada tuntutan-tuntutan di luar dirinya yang memaksa mereka tidak memiliki pilihan untuk bertahan. Namun ketika sampai pada usia sekolah dasar. siswa perempuan umumnya memiliki prestasi akademik yang lebih baik jika dibandingkan dengan laki-laki. Demikian pula dalam hal memutuskan berbagai persoalan keluarga. dan malas. yakni proses untuk tidak menyerupai ibunya yang dianggap masyarakat sebagai perempuan lemah dan harus dilindungi. sebenarnya. dan tidak takut. tentu tidak lagi didasarkan atas "apa kata ayah". tidak lemah. menjelang dewasa. wajah putih nan cantik. Penyebabnya adalah pertama. Kesetaraan gender seharusnya mulai ditanamkan pada anak sejak dari lingkungan keluarga. Tidak heran jika semakin banyak anak perempuan mengusahakan penampilan sempurna bak peragawati dengan cara-cara yang justru merusak tubuhnya. proses pemisahan dari ibunya.William Pollacek dalam Real Boys menunjukkan penemuannya. Objek yang diinginkan ini selalu berkaitan dengan tubuhnya. ada proses menjadi kuat bagi laki-laki yang selalu diajari untuk tidak menangis. Situasi dan kondisi memungkinkan mereka jauh lebih tekun dan banyak membaca buku. Kedua. Sementara itu. Laki-laki pada usia lima atau enam tahun belajar mengontrol perasaan-perasaannya dan mulai malu mengungkapkannya.

Perjuangan membangun keadilan dan kesetaraan jender. dan berkonsentrasi di wilayah domestik. dan "diamankan".Hum. Memang tidak mudah bagi orang tua untuk melakukan pemberdayaan yang setara terhadap anak perempuan dan laki-lakinya. Celakanya lagi. Dalam hal ini diperlukan standardisasi buku ajar yang salah satu kriterianya adalah berwawasan gender. guru akan menjadi agen perubahan yang sangat menentukan bagi terciptanya kesetaraan gender dalam pendidikan melalui proses pembelajaran yang peka gender. mereka dituntut oleh masyarakat untuk membesarkan anak-anaknya sesuai dengan "aturan anak perempuan" dan "aturan anak laki-laki". Teologi dan realitas sosial . Kesetaraan gender dalam proses pembelajaran memerlukan keterlibatan Depdiknas sebagai pengambil kebijakan di bidang pendidikan. Dosen FPBS IKIP PGRI Semarang. tidak bisa dilepaskan dari bangunan teologis. Hassan Hanafi mengatakan bahwa teologi Islam sangat memprihatinkan. (18) Dra Sri Suciati. sekolah secara kelembagaan dan terutama guru. teologi seharusnya merupakan refleksi kritis agama terhadap permasalahan yang dihadapi masyarakat. Seakan beban jender perempuan adalah "kodrat" dari Tuhan. dibimbing. Selain itu. Di sini peran teologi Islam diuji. Perempuan masih diposisikan sebagai kelompok lemah yang perlu diajari. Sumber: Suara Merdeka Refleksi Teologi Islam mengenai Kesetaraan Jender<center></center> DALAM salah satu bukunya. tidak boleh diperbarui. M. 2003). Semua itu menjadi pembenaran bahwa perempuan tidak bisa berperan di ruang publik. diharuskan tinggal di rumah demi keamanannya. misalnya. teologi ini dianggap sudah final oleh umat Islam. Sebab di satu pihak. Di lain pihak. hanya bicara tentang konsep Tuhan dan abai terhadap masalah sosial di hadapannya (Hassan Hanafi. wakil sekretaris PGRI Jawa Tengah.berwawasan gender diperlukan bagi pembentukan mentalitas anak baik laki-laki maupun perempuan yang kuat dan percaya diri. Sejatinya. mereka mulai menyadari bahwa aturan-aturan itu melahirkan ketidakadilan baik bagi anak perempuan maupun laki-laki.

Bahkan. Saat itu. setelah ia memperoleh kursi kekhalifahan. teologi Islam begitu modern dan relevan dengan kebutuhan manusia. tanpa wahyu sekalipun manusia mampu mengetahui tentang Tuhan dan kebaikan. Teologi yang sejatinya memosisikan perempuan sebagai mitra laki-laki. Walhasil. justru disesaki kepentingan . yakni memahami teologi untuk teologi itu sendiri. menurut mereka. Lantas tokoh-tokoh Mu’tazilah juga dianggap sukses dalam melapangkan pengembangan filsafat dan ilmu pengetahuan yang menuntut banyak peran akal. Asy’ari di tengah "keputus-asaan teologis" umat Islam berhadapan dengan Aristotelianisme yang menempatkan Tuhan pada posisi kurang signifikan. teologi menjadi jauh dari kebutuhan manusia. 1986). Apa yang dilakukan Hanafi adalah salah satu contoh menarik. Hanafi mendialogkan teologi dengan kolonialisme dan orientalisme. Wajar jika Asghar Ali Engineer mengatakan bahwa teologi Islam terlalu berkutat pada persoalan metafisik dan meninggalkan persoalan penting kemanusiaan (Asghar Ali Engineer. Maka. teologi senantiasa didialogkan dengan realitas sosialnya. Meski agak berbeda dengan awal kemunculannya. Salah satu realitas sosial yang perlu disikapi adalah diskriminasi jender. Abu Hasan Al-Asy’ari dipuji Nurcholish Madjid. Umat Islam terjebak dengan pendekatan hermeneutika teoretis. Dalam konsep teologinya mereka menerangkan bahwa akal manusia sejalan dengan wahyu. Dewasa ini. akhirnya terciptalah teologi pembebasan (kiri Islam). 1998). terutama Mu’awiyah. Peristiwa pemberontakan Mu’awiyah terhadap Khalifah Ali bin Abu Thalib dicatat Harun Nasution sebagai awal munculnya perdebatan teologi (Harun Nasution. pemberontakan Mu’awiyah diyakini sebagai takdir. sebab Asy’ari dianggap sukses menciptakan sebuah konsep teologi yang membuktikan peran besar Tuhan dalam jagat raya (Nurcholish Madjid. Dengan pendekatan ini. konsep "fatalisme" atau "predestination" lebih dimotivasi kepentingan status quo ketimbang teologi itu sendiri. Dalam "fatalisme". Maka. terutama para ahli fikih (fuqoha) Dengan demikian. teologi Islam berhenti berdialog dengan "realitas sosial".Pada awalnya teologi Islam dibangun di atas kepentingan politik. raison d’etre teologi Islam adalah tuntutan "realitas sosial". 1992). Perdebatan tersebut bermuara pada kebutuhan untuk mencari legitimasi politik. Teks kitab suci (Al Quran) didialogkan dengan persoalan manusia. dengan harapan dapat membebaskan teologi Islam dari kebangkrutannya. pada masanya. Pandangan serupa ini menjadi landasan teologis dalam mengembangkan filsafat yang saat itu ditentang keras oleh ulama. Turunnya wahyu mereka anggap sebagai afirmasi dan konfirmasi atas pengetahuan tersebut. Sudah saatnya umat Islam mengembangkan pendekatan hermeneutika filosofis.

Dalam pandangan Arabi. yaitu sifat yang melambangkan keperkasaan (maskulin) dan keindahan (feminin). yang berarti Dia (laki-laki). Sifat feminin inilah yang dieksplorasi oleh teologi feminis. sifat perkasa-Nya senantiasa didampingi oleh keluasan kasih sayang-Nya. 1989). Menurut dia teologi yang ada selama ini disesaki kepentingan laki-laki. Dalam Al Quran. Hal inilah yang ingin didekonstruksi dari paradigma pendukung patriarki bahwa feminitas senantiasa merepresentasikan kelemahan. meski sifat maskulin dan feminin Tuhan dikatakan sejajar. Tuhan digambarkan memiliki 99 sifat. teologi feminis adalah teologi yang menggali aspek-aspek feminin Tuhan demi kesetaraan jender. Bennet menyatakan bahwa "revolusi teologis" adalah sebuah keniscayaan jika kita menginginkan pembebasan manusia (Anne McGrew Bennet. seperti halnya seorang ibu yang melahirkan. Lebih tepatnya. merupakan cermin dari sifat feminin-Nya. Maha Pemberi Hukuman diimbangi dengan Maha Pengampun. Di dalamnya. Padahal. konsep ketuhanan yang metafisik diterjemahkan kepada persoalan pembebasan dan pemberdayaan perempuan. Dengan demikian aspek feminin-Nya jauh lebih terasa ketimbang aspek maskulin. Jadi. sifat-sifat tersebut dibagi dalam dua kelompok besar. Hasil dialog semacam ini dapat kita temukan dalam teologi feminis. Arabi menggambarkan adanya reproduksi alam semesta. relasi jender secara mengesankan telah direpresentasikan oleh Tuhan sendiri. Proses penciptaan alam semesta secara evolusi. sensitif. ialah Huwa. Anne McGrew Bennet. dan tidak bisa tegas sehingga menyebabkan kaum perempuan dianggap tidak layak berperan dalam wilayah publik. misalnya. Alasannya. dan seterusnya. Oleh karena itu. Maha Pemarah diimbangi dengan Maha Penyayang.laki-laki. Hal ini dibenarkan teolog feminis. pandangan seperti itu tidak memiliki legitimasi teologis. pemeliharaan alam juga merupakan representasi sifat kasih dan sayang-Nya. Kata ganti Tuhan dalam Al Quran. ada tiga hal yang harus dilakukan terhadap teologi Islam. Kemudian. dialog teologi dengan permasalahan-permasalahan perempuan adalah suatu keniscayaan. . paling tidak. Atas dasar itu. misalnya. Bahkan. Perendahan terhadap kualitas feminin perempuan bernilai sama dengan pengabaian kualitas feminin Tuhan. irasional. diskriminasi jender sesungguhnya merupakan pengingkaran terhadap Tuhan secara utuh. sebenarnya sifat feminin Tuhan jauh lebih berperan. Oleh Ibnu Arabi.

melainkan meneruskannya pada aksi. membongkar mitos tentang teologi yang seolah-oleh terberi (taken for granted). Hal ini diperlukan guna menyadarkan umat bahwa kemunculan teologi Islam tidak berada di ruang hampa. Dengan begitu diharapkan tidak ada fanatisme sempit yang mencurigai dialog teologi dan persoalan perempuan sebagai pendangkalan akidah. melainkan penuh dengan kepentingan. Dosen Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka) dan anggota Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) Sumber: Kompas Cyber Media Pemberitaan Sensitif Gender. Sumbangan Besar Mewujudkan Demokrasi<center></center> Revolusi teknologi ternyata tak banyak dimanfaatkan oleh pekerja media untuk membantu perempuan memperbaiki posisinya. Ukuran kesalehan dalam konteks gagasan ini tidak diukur dari kepatuhan menjalankan ritual. media seharusnya dapat digunakan untuk mentransformasi pencitraan mengenai perempuan. M Hilaly Basya. baik kepentingan status quo maupun pemberontakan. mengeksplorasi aspek feminin Tuhan demi kesetaraan jender. Sampai Konferensi Dunia IV mengenai perempuan dan pembangunan di Beijing (1995). yakni membela hak-hak perempuan dan menegakkan kesetaraan jender. media dan jaringan alternatif khusus untuk perempuan semakin berkembang dan dimanfaatkan secara efektif oleh organisasi mahasiswa dan kelompok-kelompok perempuan guna memperbaiki kesadaran sosial dan politik di antara perempuan dan anggota masyarakat Dengan demikian. Eksplorasi lebih dimaksudkan sebagai pengungkapan bahwa sifat feminin tidak identik dengan kelemahan sebagaimana dianggap oleh pendukung patriarki. Ini tidak dimaksudkan untuk membenturkan sifat feminin Tuhan dengan sifat maskulin-Nya. Apalagi . menjadikan teologi tidak sebatas keimanan. Ketiga. tetapi pada kesalehan sosial.Pertama. bukan hal yang mudah karena menyangkut perombakan kultur dan kerangka pikir wartawan dan editor. Kedua. Perjuangan Perombakan Kultur Upaya menghapuskan kekerasan dalam pemberitaan surat kabar. Pencitraan perempuan di berbagai media massa di seluruh dunia masih lebih banyak bersifat stereotip sehingga tidak bisa dikatakan mewakili sesuatu yang lebih benar mengenai perempuan.

membutuhkan toleransi dan penghargaan pada proses. memalukan. buruk. pemilihan gagasan dan keseluruhan gaya pemberitaan.1 Tahun 1974 tentang perkawinan yang secara eksplisit menetapkan peran-laki-laki dan perempuan. ideologi tertentu yang dipelajari seorang manusia sejak ia bisa berpikir. Ini diperkuat oleh kekuasaan negara UU No. Wartawan dan struktur keredaksian juga menyerap nilai-nilai tersebut sehingga mudah tergelincir untuk melakukan kekerasan berganda terhadap perempuan korban kekerasan melalui bahasa dan konsep yang dipakai. Bahkan mengandung resiko dituduh mengekalkan mitos masochisme perempuan. sektor "domestik" yang dikatakan sebagai sektor statis clan consumtif sebagai milik perempuan. ditambah oleh pola asuh yang bias gender. Sedangkan sektor "publik" yang dicirikan sebagai sektor dinamis dan memiliki sumber kekuasaan pada perbagai sektor kehidupan yang mengendalikan perubahan sosial sebagai milik lakilaki. sekolah.bila bekerja pada wilayah mind set yang melahirkan suatu sikap tertentu. Ciri kapitalistik juga nampak dari dikalahkannya pemuatan berita demi iklan. karena dianggap "menjual". Kemarahan dan ketidaktoleran hanya akan menjadi conter productive dan tidak akan membuat perubahan yang berarti. maka dengan mudah ideologi yang diskriminatif ini tersosialisasikan. Sejumlah stereotip lantas menempel pada perempuan dan laki-laki berdasarkan peran jenis kelamin itu. atau sudut pandang berita yang dipilih. narcisis. keluarga. rasisme. Perjuangan untuk mencapai keadilan gender melalui pemberitaan dalam media massa masih membutuhkan waktu teramat panjang. Karena itu. Kekerasan terhadap perempuan dalam media massa tidak bisa dilepaskan dari posisi perempuan dalam masyarakat. Dengan demikian pemberitaan wacana sensitifitas gender saja tidak akan mampu membuat wartawan segera mamiliki kesadaran yang cukup pada inequality yang dialami perempuan. meski iklan dijadikan alasan utama suatu media massa dapat bertahan. terinternalisasikan melalui pendidikan di semua lini. Perspektif Perempuan dalam Media Massa Seluruh persoalan ini di dalam media massa juga tidak terlepas dari struktur modal yang kapitalistik. dan menentang konsepsi tentang apa dan bagaimana seharusnya. sebagai besar masyarakat masih percaya pada pembagian kerja secara seksual yang mensubordinasikan perempuan. Industri media massa akan menempatkan berita-berita yang bersifat maskulin itu sebagai sesuatu yang utama. Penulisan berita dan artikel atau tulisan apapun (juga gambar) yang berperspektif perempuan bukan tidak mengandung kontradiksi. Dalam masyarakat terlanjur meyakini notion palsu yang mengatakan bahwa secara kodrati perempuan kurang pandai dan secara fisik lebih lemah dibandingkan dengan laki-laki. karena struktur dan pemberitaan media massa sebenarnya adalah cermin situasi masyarakat itu sendiri. dan lingkungan masyarakat. efensif. . Kerja dalam tim seperti media cetak.

budaya berpikir yang harus dirombak dalam struktur besar keredaksian. dan pendidikan untuk memajukan perdamaian. Dalam sebuah diskusi Lembaga Pers Mahasiswa. komunikasi. Pada banyak kasus. Ini juga dilakukan melalui bahasa. Seorang pemimpin di dalam media yang masih mengartikan feminisme sebagai pembalikan perempuan dan laki-laki atau bahkan menuduh feminisme dan gerakan kesetaraan gender sebagai gerakan untuk menindas laki-laki. Dalam hal ini media sebagai kekuatan keempat (the fourth estate) berperan sangat besar untuk pergerakan permpuan. Jadi. Jurnalis harus memanfaatkan semaksimal mungkin informasi. Sistem politik yang represif telah mengawasi perempuan secara ketat. HAM. tidak memungkinkan cara berpikir lain daripada yang dikehendaki penguasa. karena membicarakan media massa media yang diekspresikan melalui bahasa tulis dan lisan. dan keadilan yang didasarkan kesetaraan tadi. dan demokrasi. maka secara tidak sadar dia telah memposisikan dirinya sebagai penindas. ada semacam cara pandang. Padahal inti demokrasi adalah kesetaraan hak dan kewjiban. Mengapa? Karena kesadaran ditindas hanya ada pada golongan penindas. atau bahkan memundurkan kembali. tetapi sekaligus menginginkan . maupun afeksi. Namun masih perlu perbaikan yang signifikan dalam kognisi. orang tertindas malah tidak merasa ditindas karena manipulasi berbagai nilai yang dikukuhi dalam kehidupan masyarakat atau malah melakukan adjustment terhadap penindasan itu dan kemudian mereplikasikannya kepada pihak lain yang lemah. serta pembongkaran sikap dan cara pandang personal di kalangan wartawannya. mengontrol secara dominan. Sebagai wacana baru (newspeak). menyudutkan dan menyempitkan dan akhirnya menundukkan. Inilah yang disebut split personaliy dari media: ia bisa menjadi agen pembaharu. Posisi Media Massa Namun perubahan semacam ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tetapi apa keterkaitan antar demokrasi dan perempuan? Sejarah bisa menjadi titik tempuh untuk memaparkan pergerakan posisi perempuan mulai dari pemegang peranan yang kuat dalam komunitas sampai terjadinya subordinnasi terhadap mereka.Suara perempuan adalah suara yang terbisukan. Sejarah kemudian memang memperlihatkan bahwa sejarah perempuan lebih banyak dilekatkan pada subordinasi. pada umumnya pekerja media memiliki kesadaran memadai mengenai masalah-masalah HAM. Karena itulah kesadaran perempuan tentang masalah penindasan ini harus dibongkar. tetapi ia meragukan atau bahkan menisbikan persoalan kesetaraan dalam hubungan perempuanlaki-laki. namun sebaliknya media bisa digunakan untuk menahan laju pergerakan perempuan. Hanya dengan itu maka seluruh gerakan kesetaraan bisa mencapai tujuannya. maka ia bukanlah demokrat sejati. sehebat apapun posisi seorang pemimpin media berbicara soal demokrasi. bahasa bukanlah sekedar alat komunikasi. Ia merupakan kegiatan kegiatan sosial yang terstruktur dan terikat pada keadaan sosial tertentu.

isu-isu kesetaraan dan keadilan gender menjadi isu yang kian membesar dan penting dan harus diterapkan dalam setiap persoalan. Meski demikian. Namun bagaimanapun harus diingat. yang akhirnya mengganggu bisnis media.kemapanan sehingga enggan membongkar situasi status-quo. sehingga akhirnya secara perlahan tetapi pasti. media main steram berurusan dengan pemodal yang lebih mempedulikan kenginan pasar ketimbang perbaikan posisi dan kesejahteraan perempuan dan kelompok masyarakat yang dilemahkan lainnnya. ketidakpedulian media main stream ini bukan jalan buntu yang tidak bisa ditembus. karena merasa hal-hal itu tidak populer. Selalu ada jalan dengan kecerdasan membungkus isu. Oleh: Akhmad Junaedi Azhar Sumber: Siar Online .