P. 1
Skripsi - Menyunting Surat Dengan Metode Inkuiri

Skripsi - Menyunting Surat Dengan Metode Inkuiri

|Views: 4,128|Likes:
Published by Eka L. Koncara
Read online only.

Lebih lanjut langsung saja ke: ka_koncara@yahoo.co.id
Read online only.

Lebih lanjut langsung saja ke: ka_koncara@yahoo.co.id

More info:

Published by: Eka L. Koncara on May 02, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

04/03/2014

Hj.

IMAS HODIJAH 0621210062

MODEL PEMBELAJARAN MENYUNTING SURAT RESMI DENGAN MENGGUNAKAN METODE INTERAKTIF (Studi Kuasi Eksperimen terhadap Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Tegalwaru Purwakarta Tahun Pelajaran 2009/2010)

DISETUJUI DAN DISAHKAN OLEH PEMBIMBING

Pembimbing I,

Pembimbing II,

Prof. DR. H. Kosadi Hidayat, M.Pd.

Cucu Agus Hidayat, S.Pd., M.Pd.

Mengetahui

Ketua STKIP Subang,

Ketua Jurusan,

Drs. Asep Priatna, M.Pd.

Prof. DR. H. Kosadi Hidayat, M.Pd.

LEMBAR PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “Model Pembelajaran Menyunting Surat Resmi dengan Menggunakan Metode Inkuiri (Studi Kuasi Eksperimen terhadap Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Plered Purwakarta Tahun Pelajaran 2009/2010)” ini sepenuhnya karya saya sendiri. Tidak ada bagian di dalamnya merupakan plagiat dari karya orang lain dan saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakat keilmuan. Atas pernyataan ini, saya siap menanggung resiko/sanksi yang dijatuhkan kepada saya apabila kemudian ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan karya saya ini, atau ada klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.

Subang, Aguastus 2010 Yang Membuat Pernyataan,

Hj.IMAS HODIJAH 0621210062

RIWAYAT HIDUP

Penulis, Imas Hodijah dilahirkan di Purwakarta pada tanggal 29 November 1969 sebagai anak

ketiga dari empat bersaudara dari Bapak Adin dan Ibunda Cicih Setiasah. Penulis berdomisili di Kp. Pangkalan RT. 02/RT 01 Desa Palingihan Plered Purwakarta. Penulis masuk SD Negeri Pasakmulya Kec. Kiarapedes dan lulus pada tahun 1983. Penulis melanjutkan sekolah ke SMP 1 Wanayasa dan lulus pada tahun 1986. Selanjutnya, penulis meneruskan sekolah ke SPG Negeri Purwakarta dan lulus pada tahun 1989. Pada tahun 2003, penulis diangkat menjadi Guru Bantu. Pada tahun 2007, penulis diangkat menjadi PNS. Selanjutnya, penulis menempuh pendidikan S1 di STKIP Purwakarta. Penulis diterima sebagai mahasiswa pada Jurusan Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah. Alhamdulillah pada tahun 2010, penulis dapat menyelesaikan studi S1 dengan mengambil tugas akhir penyusunan skripsi ini dengan judul : “Model Pembelajaran Menyunting Surat Resmi dengan Menggunakan Metode Inkuiri (Studi Kuasi Eksperimen terhadap Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Plered Purwakarta Tahun Pelajaran 2009/2010)”.

MOTTO : Kesenangan hidup itu tidak berarti harus memiliki kekayan dunia sebanyak-banyaknya. Bahkan hal itu tidak akan membawa kepada kesenangan yang sebenarnya. Kesenangan hidup berarti kesenangan badaniah dan rohaniah. Badan merasa enak dan jiwa merasa tentram. Dan yang paling penting adalah kesenangan jiwa baik untuk waktu yang sekarang maupun untuk waktu yang akan datang.

Janganlah anda menjanjikan sesuatu yang tak dapat anda laksanakan, tetapi sekali berjanji usahakanlah dengan sungguh-sungguh menepati janji anda.

Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan yang tidak dimiliki oleh orang lain.

Kupersembahkan suamiku,

skripsi

ini

untuk tuaku,

anak-anaku,

orang

saudara-saudaraku yang terkasih dan tersayang

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyusun dan menyelesaikan skripsi ini sesuai dengan agenda yang telah direncanakan. Skripsi ini berjudul : “Model Pembelajaran Menyunting Surat Resmi dengan Menggunakan Metode Inkuiri (Studi Kuasi Eksperimen terhadap Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Plered Purwakarta Tahun Pelajaran 2009/2010)”, disusun untuk memenuhi salah satu syarat Ujian Lisan Sarjana Pendidikan dan untuk memenuhi sebagian dari sayarat memproleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah STKIP Subang. Isi skripsi ini merupakan sebagian kecil dari masalah yang ada dalam pengajaran bahasa Indonesia. Selain itu, dalam penyajiannya masih terlihat kekurangan. Untuk itu, penulis membuka dengan senang hati segala kritik, saran, dan masukan yang konstruktif demi kesempurnaan skripsi ini. Meskipun demikian, penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan pengajaran bahasa, keilmuan, dan kependidikan. Dalam proses penyusunan skripsi ini, penulis sering mengalami hambatan dan rintangan. Namun, berkat rahmat dan hidayah Allah SWT, akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Selain itu, bantuan dan motivasi dari berbagai pihak turut pula memperlancar penyusunan skripsi ini. Untuk itu, dalam kesempatan yang berharga ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebanyakbanyaknya kepada :

1. Bapak Drs. Asep Priatna, M.Pd., selaku ketua STKIP Subang yang telah memberi kesempatan kepada penulis untuk menyusun skripsi melalui penerbitan SK Ketua STKIP; 2. Bapak Prof. Dr. H. Kosadi Hidayat, M.Pd., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, yang telah mendorong penulis untuk menyusun skripsi ini; 3. Bapak. Prof. Dr. H. Kosadi Hidayat, M.Pd., selaku selaku Dosen Pembimbing I dan Bapak Cucu Agus Hidayat, S.Pd., M.Pd, selaku Dosen Pembimbing II, yang telah membimbing penulis dalam menyusun dan menyelesaikan skripsi ini hingga menghantarkan penulis menuju Sidang Ujian Lisan Sarjana Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah ; 4. Seluruh staf dosen, dan staf tata usaha STKIP Subang yang telah membantu penulis memperlancar studi; 5. Kepala SMP Negeri 2 Plered Kabupaten Purwakata, yang telah memberi rekomendasi kepada penulis untuk mengadakan penelitian di sekolah tersebut; 6. Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 2 Plered Kabupaten Purwakata yang telah memberi waktu untuk mengadakan penelitian di kelas; 7. Rekan-rekan mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah yang selalu bersedia berdiskusi dengan penulis untuk membahas penyusunankripsi ini ; 8. Suamiku, orang tuaku, dan seluruh keluarga besarku yang selalu memberikan do’a restu dan dorongan kepada penulis untuk menyusun dan menyelesaikan skripsi ini;

9. Berbagai pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu, yang turut membantu penyelesain skripsi ini. Semoga semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyusun dan menyelesaikan skripsi ini mendapat imbalan yang sepadan dari Allah SWT. Akhirnya, penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi pengembangan keilmuan, pengajaran, dan pendidikan, khususnya pengajaran bahasa Indonesia. Subang, Agustus 2010 Penulis,

ABSTRAK

Hj.IMAS HODIJAH. Model Pembelajaran Menyunting Surat Resmi dengan Menggunakan Metode Inkuiri (Studi Kuasi Eksperimen terhadap Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Plered Purwakarta Tahun Pelajaran 2009/2010). Skripsi. Subang : Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, STKIP Subang, Agustus 2010. Penelitian ini bertujuan ingin mengetahui kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi sebelum menggunakan metode inkuiri dan sesudah menggunakan metode inkuiri. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui perbedaan yang signifikan tentang kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi sebelum dan sesudah menggunakan metode inkuiri. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuasi eksperimen. Dengan metode ini, penulis meneliti suatu efek atau pengaruh perlakuan (treatment) yang diberikan pada sekelompok subjek eksperimen dan dibandingkan dengan kelompok kontrol dalam suatu percobaan penggunaan metode interkatif dalam menyunting surat resmi. Pelaksanaan metode ini didukung oleh penggunaan desain eksperimen yang relevan dalam menata sampel, treatment, observasi (tes), dan kontrol. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Plered Purwakarta yang berjumlah 360 orang. Sampel yang digunakan sebanyak 40 orang siswa kelas VIII B yang diambil dengan teknik random sampling, yaitu teknik cluster sampling dan persentase. Kepada sampel diberikan instrumen tes menyunting surat resmi untuk memperoleh data variabel X (menyunting surat resmi dengan metode inkuiri) dan variabel Y (menyunting surat resmi tanpa metode inkuiri) dalam waktu yang berbeda. Analisis data menggunakan teknik “t” tes, yakni teknik analisis statistik untuk mengetahui perbedaan mean variabel X dan variabel Y. Melalui penghitungan diperoleh nilai hitung (to) sebesar 3,10. Dengan menggunakan df (degree of freedom) atau derajat bebas sebesar 80, nilai “to” dibandingkan dengan nilai t tabel (tt) untuk menguji hipotesis. Hasil pembandingan menunjukkan bahwa nilai ”to” sebesar 3,10 ternyata lebih besar dibandingkan dengan nilai “tt” sebesar 1,99 dan 2,64 pda taraf signifikansi 5% dan taraf signifikansi 1%. Dengan demikian, hipotesis alternatif (Ha) diterima. Kesimpulan penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi sebelum menggunakan metode inkuiri kurang baik dengan nilai rata-rata sebesar 5,5. Kedua, kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi sesudah menggunakan metode inkuiri cukup baik dengan nilai rata-rata sebesar 6,4. Ketiga, hipotesis alternatif diterima, yakni ada perbedaan yang signifikan tentang kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi sebelum dan sesudah menggunakan metode inkuiri.

DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR ……………………………………………… ABSTRAK ……………………………………………………….. DAFTAR ISI ……………………………………………………….. DAFTAR TABEL …………………………………………………. DAFTAR BAGAN ... …………………………………………….. DAFTAR GAMBAR ........................................................................ i iv v viii ix x

DAFTAR LAMPIRAN …………………………………………… ………… xi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah …………………………………. ………………..………… …..……… 1 4 4 5 6 6 1

1.2 Pembatasan dan Perumusan Masalah

1.2.1 Pembatasan Masalah …………………………. 1.2.2 Perumusan Masalah …………………………… 1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian …….…………… 1.3.1 Tujuan Penelitian ………………………………

1.3.2 Kegunaan Penelitian ...…………………………... 6 1.4 Variabel Penelitian .......................................................... 1.5 Definisi Istilah ................................................................ 1.6 Kerangka Pemikiran ...................................................... 1.7 Anggapan Dasar dan Hipotesis Penelitian ................. 1.7.1 Anggapan Dasar ………….…………… 8 9 10 12 12 13 14

1.7.2 Hipotesis Penelitian .....……………………….... 1.8 Metodologi Penelitian ....................................................

1.9 Lokasi dan Sampel Penelitian ........................................

15

BAB II LANDASAN TEORETIS TENTANG MENYUNTING SURAT RESMI DENGAN NETODE INKUIRI .................................... 17 2.1 Konsep Surat Resmi ........................................................... 17 2.1.1 Pengertian Surat Resmi .............................................. 17 2.1.2 Jenis-jenis Surat Resmi ............................................. 18 2.1.3 Bagian-bagian Surat Resmi ...................................... 19

2.1.5 Bentul-bentuk Surat Resmi ........................................ 33 2.2 Menyunting Surat .............................................................. 41

2.2.1 Pengertian Menyunting Surat .................................... 41 2.2.2 Tujuan Menyunting Surat Resmi ............................... 42 2.2.3 Aspek-aspek Surat Resmi yang Disunting ................ 43 2.2.4 Prosedur Menyunting Surat Resmi ............................ 44 2.2.5 Penilaian Menyunting Surat Resmi ........................... 46 2.3 Metode Inkuiri .................................................................... 2.3.1 Pengertian Metode Inkuiri ....................................... 47 47

2.3.2 Penggunaan Metode Inkuiri dalam Menyunting Surat 47 BAB III 49 METODOLOGI PENELITIAN .........………………………… 3.1 Metode Penelitian ………….………………….....………. 49 3.2 Desain Penelitian …………………....……………………. 50 3.3 Operasional Variabel Penelitian………………………..… 52 3.4 Populasi dan Sampel Penelitian ………………………..... 54 3.4.1 Populasi Penelitian ……………………………….... 54 3.4.2 Sampel Penelitian ………………………………...... 55

3.5 Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data ....................…. 3.6 Prosedur Penelitian dan Teknik Analisis Data .................. 3.6.1 Prosedur Penelitian …………………………...…… 3.6.2 Teknik Analisis Data …………………………...…. 3.7 Rancangan Pengujian Hipotesis BAB IV ………………….....

56 58 58 63 65

HASIL PENELITIAN, ANALISIS DATA, DAN PEMBAHASAN .................................................…………..… 67 4.1 Hasil Penelitian …..……………………………………... 67 4.1.1 Deskripsi Data ……..……………………………… 4.1.2 Analisis Data …...………..………………………... 4.1.3 Pengujian Hipotesis 4.2 Pembahasan Hasil Penelitian ...…………………………. .....………………...…. 68 76 83 85

BAB V 88

KESIMPULAN DAN SARAN …….…………………....…. 5.1 Kesimpulan …………………………………………...... 5.2 Saran – saran …………………………………....……... 88 90 91 93 103

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………..……….. LAMPIRAN – LAMPIRAN …………………………………….……. RIWAYAT HIDUP ………………………………………………..…..

DAFTAR TABEL

Tabel Nomor

Halaman

2.1 Cirir-ciri Surat Resmi ......................................................................... 18 2.2 Klasifikasi Bagian-bagian Surat .......................................................... 21 3.1 Variabel Indikator dan Indikator Variabel .......................................... 3.2 Populasi Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Plered Purwakarta Tahun Pelajaran 2009/2010 ............................................................... 3.3 Kisi-Kisi Instrumen Tes Menyunting Surat Resmi ........................... 54 57 53

3.4 Pedoman Penilaian Menyunting Surat Resmi .................................... 59 3.5 Pedoman Interpretasi Tingkat Kemampuan Menyunting Surat Resmi 62 4.1 Data Berupa Skor Menyunting Surat Resmi tanpa Menggunakan Metode Inkuiri (Variabel Y).................................... 4.2 Data Berupa Skor Menyunting Surat Resmi dengan Menggunakan Metode Inkuiri (Variabel X).................................... 4.3 Nilai Kemampuan Menyunting Surat Resmi .................................... 4.4 Distribusi Frekuensi Nilai Variabel X ................................................ 4.5 Distribusi Frekuensi Nilai Variabel Y ......................................... 4.6 Persiapan Penghitungan Mean, SD, SE Variabel X ..……………. 4.7 Persiapan Penghitungan Mean, SD, SE Variabel Y..........………… 4.8 Rekapitulasi Mean , SD, SE Variabel X dan Variabel Y..………… 70 72 77 77 78 78 81 68

DAFTAR BAGAN

Bagan Nomor

Halaman

1.1 Kerangka Pemikiran ............................................................................. 12 3.1 Prates-Pascates Satu Kelompok ......................................................... 51

3.2 Variabel Penelitian ...........................................................…………… 53

DAFTAR GAMBAR

2.1 Bagian-bagian Surat ...........................................................................

20

2.2 Jarak Bagian-bagian Surat ................................................................... 22 2.3 Penulisan Alamat Luar Surat .............................................................. 29 2.4 Bentuk Lurus Penuh .......................................................................... 34

2.5 Bentuk Surat Lurus .............................................................................. 35 2.6 Bentu Surat Setengah Lurus ................................................................ 2.7 Bentuk Surat Lekuk ............................................................................ 2.8 Bentuk Indonesia ................................................................................ 2.9 Bentuk Persegi .................................................................................... 2.10 Bentuk British Style ......................................................................... 4.1Grafik Distribusi Frekuensi Nilai Var X dan Var Y .................. 36 37 38 39 40 75

DAFTAR LAMPIRAN

1. SK Pengangkatan Dosen Pembimbing dan Penulisan Skripsi Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP Subang…….. 2. Surat Permohonan Izin Penelitian dari STKIP Subang ……………. 3. Surat Keterangan Telah Melaksanakan Penelitian dari Kepala SMP Negeri 2 Plered Purwakarta ..........................................…………… 4. Buku Bimbingan Skripsi ………………………………………….. 5. Instrumen Penelitian ……………………………………………….. 6. Data Penelitian …………………………………………………….. 7. Nukilan Tabel Nilai “t” untuk berbagai df ........................................ 95 96 97 98 99 93 94

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah Menulis merupakan suatu proses kreatif memindahkan gagasan yang

hendak dikomunikasikan ke dalam lambang-lambang tulisan. Representasi pikiran secara tertulis tersebut diaktualisasikan ke dalam beragam bentuk tulisan. Salah satu bentuk atau jenis hasil ekspresi tulis adalah surat. Menurut Rusyana (1986:34) surat adalah “jenis karangan yang digunakan untuk mengutarakan sesuatu kepada pihak lain, dengan maksud agar pihak lain itu melakukan sesuatu, biasanya membalas pula dengan karangan sejenis”. Dilihat dari segi tindak berbahasa, surat adalah “percakapan yang tertulis” (Soedjito dan Solchan,1991:1). Sementara, dari segi bentuk dan isi, Muchlisoh, dkk., (1995:285) mendefinisikan surat sebagai berikut. Sehelai kertas atau lebih yang didalamnya dituliskan suatu informasi yang perlu diketahui oleh orang tertentu atau suatu pertanyaan yang harus dijawab oleh penerimanya. Dengan demikian, surat memiliki fungsi sebagai alat komunikasi tidak langsung atau komunikasi tidak tatap muka. Dari pengertian-pengertian di atas, dapat dikemukakan bahwa surat merupakan salah satu karangan berbentuk paparan atau dialog tidak langsung yang ditulis pada media kertas. Dengan demikian, menulis surat pada prinsipnya merupakan bentuk komunikasi dan memiliki karakteristik yang khas di samping mengandung kesamaan dengan menulis jenis tulisan lainnya.

1

Kemampuan siswa dalam menulis surat sangat penting. Urgensitasnya itu bukan saja menyangkut kepentingan pencapaian kompetensi linguistik dan keterampilan berbahasa, tetapi juga kepentingan personal dan sosial. Kemampuan menulis surat yang memadai akan memberikan keuntungan yang berkaitan dengan reaktualisasi hasil belajar, relevansinya dengan fungsi sosial, dan implikasi kompetensi personal. Selain kemampuan menulis surat, siswa juga diarahkan agar mampu menyunting surat. Menyunting surat adalah “mengedit atau

menyempurnakan naskah surat“ (Moeliono,ed., 1990:871). Dengan menyunting surat siswa dapat mengidentifikasi kesalahan dan memberikan rekomendasi bagi perbaikannya, baik dari segi bahasa, isi, maupun tifografinya. Menyunting surat merupakan bagian dari proses penulisan sekaligus sebagai strategi penulisan surat yang baik. Berkaitan dengan kegiatan menyunting surat ini, Purwo (1997:8) mengemukakan pendapat sebagai berikut. Termasuk di dalam kegiatan menulis ialah kegiatan menemukan kesalahan dalam menulis (tidak hanya ejaan dan tanda baca, tetapi kelengkapan atau kejelasan kalimat, bahkan pemilihan kata). Siswa tidak hanya dilatih untuk menemukan kesalahan sendiri, tetapi juga untuk memperbaiki dan membenahinya. Jika siswa belum bisa melakukan hal itu untuk tulisannya sendiri, mereka diminta untuk melakukan hal itu pada tulisan temannya. Mengingat kemampuan para siswa dalam menyunting surat sangat penting dan fungsional, maka menyunting surat dimasukkan ke dalam kurikulum mata pelajaran bahasa Indonesia untuk SMP. Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMP, standar kompetensi menyunting surat resmi ialah “mengungkapkan informasi dalam bentuk iklan baris, resensi, dan karangan” dengan kompetensi dasar “menyunting karangan dengan perpedoman pada ketepatan ejaan, tanda baca,

2

pilihan kata, keefektifan kalimat, keterpaduan paragraf, dan kebulatan wacana” (Depdiknas, 2006:241). Indikator kemampuan menyunting surat resmi

menyangkut kemampuan memperbaiki naskah surat dari segi isi, bentuk, dan bahasa. Berdasarkan uraian tersebut, menyunting surat menjadi salah satu cara meningkatkan kemampuan siswa menulis surat resmi. Dengan melakukan kegiatan penyuntingan surat, diharapkan siswa mampu menulis surat dengan lebih cermat dan efektif. Dapat dikatakan bahwa kemampuan menyunting surat sangat penting dimiliki oleh siswa sebagai jalan menuju kemampuan menulis surat resmi dengan baik. Siswa dapat menulis surat resmi berdasarkan kesalahan dan perbaikan yang dilakukannya. Misalnya, pada aspek kebahasaan (ejaan, tanda baca, struktur kata, struktur kalimat, dan penataan paragraf), aspek penyajian (tata urutan, komponen, dan bentuk surat), dan aspek estetika/perwajahan (pemanfaatan ruang atau format surat) akan lebih baik dan bermakna. Untuk mencapai kompetensi dasar tersebut, telah banyak upaya instruksional yang telah dilakukan guru dan siswa untuk membentuk kompetensi siswa dalam menulis surat. Namun demikian, dalam kenyataannya di lapangan kemampuan siswa dalam menyunting surat masih belum memuaskan. Kekurangmampuan siswa dalam menyunting surat resmi tidak boleh dibiarkan. Kekurangmampuan siswa akan berpengaruh pada kompetensi menulis surat. Untuk itu, perlu dicari upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut yang relevan dengan permasalahan yang sebenarnya dan dapat diaplikasikan dengan baik. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi kelemahan siswa dalam

3

menulis surat resmi adalah dengan memilih dan mengunakan teknik pembelajaran yang relevan. Salah satunya ialah dengan melaksanakan pembelajaran menyunting surat resmi dengan metode inkuiri. Metode inkuiri atau metode penyelidikan merupakan cara belajar dengan memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan masalah dan mengolah data yang tersedia. Untuk tujuan tersebut, penulis akan melakukan penelitian dengan merumuskan judul penelitian ini seperti berikut : “Model Pembelajaran Menyunting Surat Resmi dengan Menggunakan Metode Inkuiri (Studi Kuasi Eksperimen terhadap Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Plered Purwakarta Tahun Pelajaran 2009/2010)”.

1.2 1.2.1

Pembatasan dan Perumusan Masalah Pembatasan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas, permasalahan dalam

penelitian ini dapat diidentifikasi sebagai berikut. Kemampuan para siswa SMP pada umumnya dalam menyunting surat resmi masih belum memuaskan. Hal ini terlihat pada kemampuan memperbaiki isi gagasan, struktur kata atau pilihan kata yang kurang tepat, struktur kalimat yang masih kurang efektif, dan aspek ejaan serta tanda baca yang ditemukan masih ada kesalahan. Untuk mengetahui lebih objektif tentang kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi, penulis bermaksud melakukan penelitian menyunting surat resmi dengan metode inkuiri pada siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Plered Purwakarta tahun pelajaran 2009/2010.

4

Untuk memperjelas ruang lingkup masalah penelitian, diperlukan pembatasan masalah. Masalah dalam penelitian ini dibatasi pada kegiatan meneliti dan mendeskripsikan kemampuan siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Plered tahun pelajaran 2009/2010 dalam menyunting surat resmi sebelum menggunakan

metode inkuiri; meneliti dan mendeskripsikan kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi setelah menggunakan metode inkuiri. Selain itu, diteliti perbedaan kemampuan menyunting surat resmi sebelum dan sesudah

menggunakan metode inkuiri.

1.2.2

Perumusan Masalah Berdasarkan pembatasan masalah di atas, secara umum rumusan masalah

dalam penelitian ini adalah “Bagaimana kemampuan siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Plered Purwakarta tahun pelajaran 2008/2009 dalam menyunting surat resmi dengan menggunakan metode inkuiri ?” Untuk menetapkan fokus penelitian atau fokus analisis agar lebih spesifik dan jelas, perumusan masalah di atas masih bersifat umum dan perlu dirinci menjadi rumusan masalah yang lebih spesifik dan operasional. Adapun rincian perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. 1) Bagaimanakah kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi sebelum mengikuti pembelajaran dengan menggunakan metode inkuiri ? 2) Bagaimana kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi sesudah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan metode inkuiri ?

5

3) Apakah terdapat perbedaan yang signifikan tentang kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan metode inkuiri ?

1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1.3.1 Tujuan Penelitian Sesuai dengan perumusan masalah di atas, secara umum tujuan penelitian ini ialah ingin meneliti dan mendeskripsikan gambaran kemampuan siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Plered Purwakarta tahun pelajaran 2008/2009 dalam menyunting surat resmi dengan menggunakan metode inkuiri. Sementara itu, secara khusus tujuan penelitian ini ialah untuk : 1) mengetahui gambaran tentang kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi sebelum mengikuti pembelajaran dengan menggunakan metode inkuiri; 2) mengetahui gambaran tentang kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi sesudah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan metode inkuiri; dan 3) membuktikan apakah terdapat perbedaan yang signifikan tentang kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan metode inkuiri.

6

1.3.2

Kegunaan Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara praktis dan

teoretis baik bagi penulis maupun beberapa pihak yang terkait dan berkepentingan. Adapun manfaat yang dimaksud sebagai berikut. 1) Bagi penulis Penelitian ini bermanfaat untuk menambah wawasan tentang masalah yang diteliti dan memperdalam pemahaman empirik terhadap masalah yang diteliti yakni, menyunting surat resmi. Hasil penelitian ini dapat memperkuat keyakinan penulis tentang masalah dan memberikan sumbangan untuk memperkaya teori tentang menyunting surat resmi. 2) Bagi guru mata pelajaran Bahasa Indonesia Penelitian ini bermanfaat sebagai masukan tentang kondisi objektif kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi. Para guru mata pelajaran Bahasa Indonesia dapat membuat perencanaan pembelajaran menyunting surat resmi dengan fokus pada penggunaan media pembelajaran yang tepat dan stimulatif, diantaranya dengan metode inkuiri. 3) Bagi para siswa Penelitian ini bermanfaat untuk memberi informasi mengenai kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi. Dengan demikian, para siswa dapat mengetahui letak kelemahan dalam menyunting surat resmi buku harian, sehingga siswa dapat lebih cermat dan tertib dalam menyunting surat resmi.

7

4) Bagi pengembangan keilmuan Hasil penelitian ini bermanfaat untuk mengembangkan disiplin keilmuan, baik teoritis maupun praktis, yang berkaitan dengan pengajaran menyunting surat resmi dan pengajaran menulis pada umumnya. 5) Bagi Lembaga (Sekolah) Penelitian ini bermanfaat bagi sekolah untuk dijadikan masukan tentang kondisi aktual proses dan hasil pembelajaran menyunting surat resmi. Selain itu, hasil penelitian dapat dijadikan masukan bagi pimpinan sekolah dan seluruh staf guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

1.4

Variabel Penelitian Variabel merupakan gejala, karakteristik, atau objek yang diteliti yang

dapat diamati, diukur, dan dinilai, baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif. Dalam penelitian eksperimen ini terdapat dua variabel. Kedua variabel tersebut adalah variabel bebas (independent variabel) atau variabel penyebab dan variabel terikat (dependent variabel) atau variabel akibat. Variabel bebas menjadi penyebab munculnya kondisi pada variabel terikat, sedangkan variabel terikat merupakan akibat atau gejala yang muncul akibat dari variabel bebas dalam suatu pecobaan. Yang menjadi variabel bebas adalah metode inkuiri. Sementara itu, yang manjadi variabel terikat adalah kemampuan menyunting surat resmi. Metode inkuiri menjadi variabel bebas yang digunakan, dimanipulasi, dan diteliti pengaruhnya terhadap kemampuan menyunting surat resmi. Untuk memastikan

8

adanya data dari setiap variabel atau untuk memperjelas pengukuran terhadap variabel, dibutuhkan variabel kontrol di samping variabel eksperimen. Karena itu, variabel yang dapat diperoleh datanya adalah variabel eksperimen (variabel X), yakni nilai kemampuan menyunting surat resmi dengan menggunakan metode inkuiri dan variabel kontrol (variabel Y), yakni nilai kemampuan menyunting surat resmi tanpa menggunakan metode inkuiri.

1.5

Definisi Istilah Definisi istilah dirumuskan untuk menciptakan makna tunggal terhadap

istilah atau konsep yang terdapat dalam judul atau variabel penelitian agar terhindar dari perbedaan penafsiran terhadap judul penelitian, sekaligus memudahkan penentuan objek masalah yang diteliti. Berkaitan dengan hal tersebut, definisi istilah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. 1) Model pembelajaran merupakan rancangan pengajaran yang menggambarkan beberapa proses bertujuan dan situasi lingkungan yang dihasilkan dengan mengarahkan siswa berinteraksi dalam setiap arah perubahan perilaku mereka. Model pembelajaran dituangkan ke dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang berbasis kompetensi dengan komponen-komponen nama sekolah, mata pelajaran, standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, alokasi waktu, skenario pembelajaran, media, sumber, dan penilaian. 2) Pembelajaran adalah suatu rangkaian events (kejadian, peristiwa, kondisi, dsb.) yang secara sengaja dirancang untuk mempengaruhi pembelajar

9

sehingga proses belajarnya dapat berlangsung dengan mudah dan berhasil (Depdiknas, 2004:6). 3) Menulis adalah kegiatan berkomunikasi mengungkapkan pikiran, perasaan, dan kehendak kepada orang lain secara tertulis (Suriamihardja, 1996 : 2). 4) Surat resmi adalah surat yang dikirimkan oleh kantor pemerintah/swasta kepada kantor pemerintah atau dikirimkan oleh perorangan kepada kantor pemerintah dan sebaliknya. (Soedjito dan Solchan, 1991:14). 5) Metode inkuiri adalah metode penyelidikan yang melibatkan proses mental dengan kegiatan-kegiatan mengajukan pertanyaan, merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, merancang dan melaksanakan percobaan,

mengumpulkan dan menganalisis data, menarik kesimpulan (Mulyasa, 2008:109). Berdasarkan definisi-definisi di atas, variabel penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut. Model pembelajaran menyunting surat resmi dengan menggunakan metode inkuiri berarti contoh; pola; acuan; ragam dari suatu rangkaian events (kejadian, peristiwa, kondisi, dsb.) belajar yang dirancang untuk mempengaruhi pembelajar dalam proses belajar memperbaiki surat resmi dengan cara menyelidiki dan menganalisis kesalahan.

1.6

Kerangka Pemikiran Menyunting surat menjadi salah satu kompetensi dasar menulis yang harus

dikuasai oleh siswa. Menyunting surat adalah “mengedit atau menyempurnakan naskah” (Moeliono, ed., 1990:871). Melalui kegiatan menyunting aspek surat

10

diharapkan para siswa mampu menemukan dan memperbaiki kesalahan atau kekurangan surat dari segi bahasa, isi, dan sistematika dan memanfaatkannnya untuk kegiatan menulis surat dengan baik. Berkenaan dengan kegiatan menyunting surat ini, Depdiknas (2003:6) memberikan penjelasan tentang menyunting, yaitu sebagai berikut. Menyunting merupakan salah satu kompetensi yang dituntut di dalam daftar kompetensi dasar yang senantiasa hadir dalam kegiatan mengarang. Melalui kegiatan menyunting, siswa ditajamkan keterampilannya mengidentifikasi kesalahan atau kekurangjelasan mengungkapkan sesuatu dan dilatih melakukan pembenahan baik secara sendiri-sendiri maupun dalam diskusi dengan teman. Karena peranannya itu, menyunting surat yang baik dan benar sangat penting dimiliki oleh setiap orang, terutama para pelajar. Kemampuan memperbaiki komposisi surat yang meliputi aspek kebahasaan, isi, dan sistem penyajiannnya perlu dimiliki sebagai modal untuk menulis surat dengan baik. Memperbaiki aspek kebahasan, isi, dan bentuk penting dikuasai, menginggat semua informasi yang ditulis akan mudah dimengerti jika menggunakan ejaan, tanda baca, diksi, struktur kata, kalimat, paragraf, gagasan, dan isi yang baik dan benar. Para siswa perlu memiliki kemampuan menyunting aspek kebahasan surat sebagai bagian dari upaya melatih kemampuan menulis surat dengan baik. Melalui kegiatan menyunting surat, siswa akan dilatih menemukan dan memperbaik kesalahan aspek kebahasaan surat dan menjadikannnya sebagai pengalaman penting untuk menulis surat dengan baik dan benar. Kemampuan menyunting surat yang baik memiliki korelasi resiprokal dengan kemampuan siswa menulis surat dengan lebih baik. Kendati demikian, kemampuan siswa dalam menyunting mamsih belum memuaskan dan perlu

11

ditingkatkan. Salah satu upaya mengatasi permasalahn tersebut ialah dengan menggunakan metode inkuiri. Berdasarkan uraian di atas, kerangka pemikiran penelitian ini daapat diringkas sebagai berikut. Kemampuan menyunting surat sangat penting

Menyuntung kebahasaan surat bermanfaat untuk menulis surat dengan baik, benar, dan efektif

Kemampuan siswa dalam menyuntung masih belum baik

Metode inkuiri dapat digunakan untuk mengatasai permasalahan dalam menyunting surat

1.7 1.7.1

Anggapan Dasar dan Hipotesis Penelitian Angapan Dasar Anggapan dasar atau asumsi merupakan sebuah titik tolak pemikiran yang

kebenarannya diterima oleh peneliti. Anggapan dasar atau asumsi yang melatar belakangi penelitian ini adalah sebagai berikut. 1) Menyunting surat resmi merupakan salah satu kompetensi dasar yang harus diajarkan dan dimahirkan kepada siswa SMP sebagai bagian dari kompetensi menulis secara umum (Depdiknas, 2006:233). 2) Kemampuan siswa dalam menyunting surat masih belum memuaskan.

12

3) Metode inkuiri dapat membantu siswa mampu menyunting surat resmi dengan baik dan bermakna. Metode inkuiri dapat dijadikan stimulus bagi siswa dalam menyunting surat resmi dengan baik.

1.7.2

Hipotesis Penelitian Hipotesis merupakan rumusan jawaban atau kesimpulan sementara yang

harus diuji dengan data yang terkumpul melalui kegiatan penelitian. Hipotesis dalam penelitian ini disusun dalam dua bentuk perumusan sebagai dasar implementasi analisis data. Hipotesis itu berbentuk hipotesis alternatif/hipotesis kerja (Ha) dan hipotesis nihil/nol (Ho). Penggunaan dua hipotesis ini dimaksudkan agar penulis tidak memiliki kecenderungan untuk mengarahkan hasil penelitian yang bersifat memihak. Berkaitan dengan hal itu, Arikunto (1993: 66) berpendapat bahwa dalam penelitian, hipotesis alternatif (Ha) diubah menjadi hipotesis nihil/nol (Ho), agar peneliti tidak mempunyai prasangka atau tidak terpengaruh pernyataan Ha. Kemudian dikembalikan lagi ke Ha pada rumusan akhir pengetasan hipotesis. Adapun hipotesis yang dimaksud adalah sebagai berikut. 1) Hipotesis alternatif/kerja (Ha) : “Terdapat perbedaan yang signifikan tentang kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan metode inkuiri”.

13

2) Hipotesis nihil/nol (Ho) : “Tidak terdapat perbedaan yang signifikan tentang kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan metode inkuiri”.

1.8

Metodologi Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen

dengan jenis eksperimen semu. Metode tersebut digunakan karena penelitian ini bertujuan ingin meneliti kemungkinan adanya efek dari adanya sebuah kondisi perlakuan (treatment) kepada sebuah kelompok eksperimen dan

memperbandingkannya dengan kelompok kontrol. Melalui penelitian ini ingin diketahui efek penggunaan metode inkuiri terhadap kemampuan siswa menyunting surat resmi. Desain penelitian eksperimen yang digunakan ialah Pretest and Postest Group Design (Arikunto, 1993:77). Di dalam desain ini, tes dilakukan sebanyak dua kali, yaitu sebelum eksperimen dan sesudah eksperimen. Observasi yang dilakukan sebelum eksperimen (O1) disebut pretes dan observasi sesudah eksperimen (O2) disebut postes. Perbedaan antara O1 dan O2, yakni O2 diasumsikan merupakan efek dari treatment atau eksperimen. Skema desain tersebur tampak gambar berikut. Pretes (T1) O1 Treatment (Perlakuan) X Postes (T2) O2
--

O

1

14

Teknik dalam penelitian ini dikategorikan ke dalam dua jenis, yaitu teknik pengumpulan data dan teknik pengolahan data. Teknik pengumpulan data yang digunakan ialah teknik tes. Tes tersebut meliputi tes awal (pretes) dan tes akhir (postes). Tes tersebut berupa tes keterampilan menulis petunuk sebelum dan sesudah menggunakan metode inkuiri. Dengan demikian, instrumen pengumpulan data yang akan digunakan adalah instrumen tes menyunting surat resmi. Analisis data dilakukan dengan memperhatikan metode penelitian, desain penelitian, dan tujuan penelitian. Teknik analisis data atau pengolahan data untuk menguji hipotesis digunakan teknik statistik parametris, yaitu uji t atau t-test. Untuk keperluan uji hipotesis, dilakukan beberapa langkah, yaitu mengajukan kembali hipotesis, menetapkan degrees of freedom (df) atau derajat bebas (db) dengan rumus df= (N1+N2)-2, menetapkan kriteria signifikansi dengan uji dua pihak, yaitu taraf signifikansi (keberartian) sebesar 1% dan 5% dan taraf reliability (kepercayaan) sebesar 99% dan 95%, dan membandingkan nilai hitung (to) dengan dengan nilai t tabel (tt). Pengujian hipotesisnya adalah sebagai berikut. Jika pada taraf signifikansi 1% dan 5% nilai hitung (to) lebih besar daripada nilai t tabel (tt), maka hipotesis alternatif (Ha) diterima dan hipotesis nihil (Ho) ditolak. Sebaliknya, jika nilai hitung (to) lebih kecil daripada nilai t tabel (tt), maka hipotesis alternatif (Ha) ditolak dan hipotesis nihil (Ho) diterima.

15

1.9 Lokasi dan Sampel Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan di SMP Negeri 2 Plered Purwakarta. Kegiatan di lokasi tersebut diantaranya adalah kegiatan mengumpulkan data dari sampel penelitian melalui kegiatan pembelajaran. Penetapan lokasi penelitian di sekolah tersebut didasarkan pada beberapa pertimbangan, yaitu jarak yang ditempuh relatif dekat, waktu tempuh tidak terlalu lama, dan dana yang digunakan relatif efisien. Sumber data mengacu pada populasi dan sampel. Populasi merupakan keseluruhan objek atau subjek penelitian. Berdasarkan sumber data sebagai subjek penelitian dan bentuk data sebagai subjek penelitian, maka populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIIII SMP Negeri 2 Plered Purwakarata tahun ajaran 2009/2010 beserta seluruh data yang berjumlah 200 siswa. Sampel penelitian adalah sebagian dari wakil populasi yang akan diteliti. Sampel dalam penelitian ini diambil dengan teknik sampling, yaitu purposive sampling, sebanyak 40 orang siswa kelas kelas VIIII SMP Negeri 2 Plered Purwakarata tahun ajaran 2009/2010. Agenda pelaksanaan penelitian ini meliputi tiga tahap, yaitu tahap

persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap penyelesaian. Tahap persiapan meliputi kegiatan menyerahkan judul dan proposal, seminar proposal, penetapan dosen pembimbing, dan perbaikan proposal. Tahap pelaksanan meliputi kegiatan penyusunan Bab I, II, dan III dengan bimbingan, pengumpulan data, pengolahan data, penyusunan Bab IV dan Bab V dengan bimbingan, dan penyusunan draf

16

skripsi terakhir. Tahap penyelesaian meliputi kegiatan seminar prasidang, penggandaan skripsi, ujian sidang, dan revisi serta penjilidan.

1.10 Sistematika Penulisan Skripsi ini akan diusun dengan mengikuti sistematika penulisan berikut. KATA PENGANTAR ABSTRAK DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN BAB I PENDAHULUAN Dalam bab ini akan diuraikan latar belakang masalah, perumusan dan pembatasan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, kerangka pemikiran, anggapan dasar dan hipotesis, variabel penelitian, definisi operasional, metodologi, lokasi dan sampel, dan sistematika penulisan. BAB II LANDASAN TEORI Bab ini berisi uraian tentang landasan teoritis yang menyangkut masalah pengajaran menyunting surat resmi, metode inkuiri, kemampuan menyunting surat resmi dengan metode inkuiri, dan aspek penilaian buku harian.

17

BAB III METODOLOGI PENELITIAN Bab ini berisi uraian tentang metode dan desain penelitian, operasional variabel penelitian, populasi dan sampel, teknik dan instumen pengumpul data, teknik aalisis data, dan rancangan uji hipotesis. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab ini berisi uraian hasil penelitian, deskripsi data, pengujian hipotesis, temuan dan pembahasan. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Bab ini berisi kesimpulan penelitian dan saran-saran. DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN RIWAYAT HIDUP

1.10

Lokasi dan Sampel Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan di SMP Negeri 2 Plered Purwakarta.

Kegiatan di lokasi tersebut diantaranya adalah kegiatan mengumpulkan data dari sampel penelitian melalui kegiatan pembelajaran. Penetapan lokasi penelitian di sekolah tersebut didasarkan pada beberapa pertimbangan, yaitu jarak yang ditempuh relatif dekat, waktu tempuh tidak terlalu lama, dan dana yang digunakan relatif efisien. Sumber data mengacu pada populasi dan sampel. Populasi merupakan keseluruhan objek atau subjek penelitian. Berdasarkan sumber data sebagai subjek penelitian dan bentuk data sebagai subjek penelitian, maka populasi dalam

18

penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIIII SMP Negeri 2 Plered Purwakarata tahun ajaran 2009/2010 beserta seluruh data yang berjumlah 200 siswa. Sampel penelitian adalah sebagian dari wakil populasi yang akan diteliti. Sampel dalam penelitian ini diambil dengan teknik sampling, yaitu purposive sampling, sebanyak 40 orang siswa kelas kelas VIIII SMP Negeri 2 Plered Purwakarata tahun ajaran 2009/2010. Agenda pelaksanaan penelitian ini meliputi tiga tahap, yaitu tahap

persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap penyelesaian. Tahap persiapan meliputi kegiatan menyerahkan judul dan proposal, seminar proposal, penetapan dosen pembimbing, dan perbaikan proposal. Tahap pelaksanan meliputi kegiatan penyusunan Bab I, II, dan III dengan bimbingan, pengumpulan data, pengolahan data, penyusunan Bab IV dan Bab V dengan bimbingan, dan penyusunan draf skripsi terakhir. Tahap penyelesaian meliputi kegiatan seminar prasidang, penggandaan skripsi, ujian sidang, dan revisi serta penjilidan.

19

BAB II LANDASAN TEORITIS TENTANG MENYUNTING SURAT RESMI DENGAN MERODE INKUIRI

2.1 2.1.1

Konsep Surat Resmi Pengertian Surat Resmi Tarigan, et.al. (1998:8.39) membagi surat atas dua jenis, yaitu surat

pribadi dan surat resmi (dinas). Sementara itu, Soedjito dan Solchan (1991:14) membedakan surat atas tiga jenis, yaitu surat pribadi, surat resmi (dinas), dan surat niaga (dagang). Baik Tarigan (1998: 8.39) maupun Soedjito dan Solchan (199:14) sependapat bahwa surat resmi (surat dinas) adalah surat yang dikirim oleh individu atau lembaga kepada lembaga yang bersifat resmi. Sebuah surat dikatakan resmi apabila ditulis oleh seseorang atau instansi, jawatan, organisasi, dan sejenisnya untuk instansi lain atau individu dengan memperhatikan bentuk surat yang lazim, bahasa yang baku/resmi, dan sifat-sifat keformalan lainnya. Konsep tersebut sekaligus mencakup makna surat dinas. Karena itu, surat resmi dering disamakan dengan surat dinas. Sebuah surat dikatakan bersifat kedinasan jika isinya berupa informasi mengenai urusan dinas dan bersifat resmi. Karena menyangkut hubungan formal, maka sifatnya surat harus resmi dengan memperhatikan bahasa baku, lugas, dan seperlunya saja. Kadang-kadang semua komponen surat ditulis dalam surat resmi.

Berdasarkan uraian di atas, dapat penulis simpulkan bahwa surat resmi/ dinas ialah surat yang dikirim oleh individu atau lembaga/organisasi kepada lembaga atau individu atau sebaliknya yang berisi informasi tentang urusan dinas dan bersifat resmi. Dari pengertian tersebut ada beberapa karakteristik surat resmi. Berikut ciri-ciri yang dimaksud dalam bentuk tabel. Tabel 2.1 Ciri-Ciri Surat Resmi No. Aspek 1. Pengirim Ciri-ciri Pengirim bisa dari perseorangan atau lembaga, instani, jawatan, perusahaan, organisasi dari jenisnya, baik pemerintah maupun swasta. 2. Penerima Penerima (terkirim) bisa perseorangan, lembaga, instansi, jawatan, perusahaan, organisasi dan sejenisnya, baik pemerintah maupun swasta. 3. Informasi/pesan Informasi/pesan menyangkut urusan kedinasan yang bersifat resmi/formal dalam lingkungan kedinasan atau keformalan. 4. Bentuk Surat Surat resmi biasanya disusun dalam bentuk yang lazim dalam korespondensi yang bersifat resmi dengan memperhatikan bagian-bagian surat. 5. Penulisan Surat resmi dibuat dengan cara diketik atau ditulis tangan dengan memperhatikan kerapian,

18

kejelasan, kelogisan, kelugasan, dan keefektifan. 6. Bahasa Bahasa yang digunakan adalah bahasa yang benar/baku sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.

2.1.2

Jenis-Jenis Surat Resmi Baik Soedjito dan Solchan (1991:14) mendeskripsikan jenis-jenis surat

resmi meliputi surat undangan, permohonan, pemberitahuan, pengantar, keputusan, perjanjian, kuasa, instruksi, lamaran pekerjaan, nota dinas, ucapan terima kasih, wasiat dan sebagainya. Semua jenis surat tersebut tidak dijadikan bahan pembelajaran untuk siswa SMP, baik untuk kelas 7, kelas 8, dan kelas 9. Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendiaikan SMP, jenis surat yang

dijadikan kompetensi dasar, khususnya jenis surat resmi adalah surat permohonan, surat undangan, dan jenis surat lain yang relevan dengan kebutuhan siswa. Dalam konteks penelitian ini, jenis surat yang akan diangkat sebagai bagian dari penelitian kompetensi menyunting surat resmi yang juga menjadi salah satu variabel penelitian hanya satu jenis surat, yaitu surat undangan. Jenis surat ini dipilih karena faktor keseringan dan fungsinya dalam berkorespondensi sangat penting. Siswa diharapkan dapat menyunting surat resmi dengan baik sehingga dapat surat undangan dengan baik pula. 2.1.3 Bagian-bagian Surat Resmi Bagian-bagian surat adalah komponen-komponen yang mengisi letak surat. Bagian-bagian surat untuk jenis surat resmi biasanya lengkap. Umumnya

19

komponen surat meliputi, yaitu : kepala surat, nama tempat dan tanggal, nomor surat, lampiran, hal/perihal, alamat surat, salam pembuka, isi (tubuh) surat, salam penutup, dan tembusan. Unsur lain yang selalu ada dalam surat resmi adalah tanda tangan, nama terang, nomor induk pegawai dan cap. Surat resmi yang dikirim oleh perseorangan dapat menggunakan sebagian dari seluruh komponen surat tersebut. Kepala surat, nomor surat, tembusan dan cap surat boleh diabaikan. Akan tetapi, ciri keformalan surat yang dikirim tentu saja masih dapat ditemukan. Dalam hal ini, selain dari bagian-bagian surat yang dihadirkan, juga dari penggunaan bahasa yang baku, lugas atau resmi. Untuk lebih jelas, berikut ini gambar bagian-bagian surat yang disadur dari Soedjito dan Solchan (1991:23).

20

a

--------------------------------------- (1) ____________________________________ --------------- (3) --------------- (4) --------------- (5) --------------- (2)

b

------------------------- (6) ------------------------------------------------(7) --------------------------------------- (8a) -------------------------------------------------------------------------------------- (8b) -------------------------------------------------------------------------------------- (8c) ---------------------------------------------------------------------- (9) (10) --------------------- (11) --------------------- (12)

c

Keterangan : a/(1) : Kepala Surat b : Pembukaan c : Isi surat d : Penutup (2) : Nama tempat dan tanggal (3) : Nomor (4) : Lampiran (5) : Hal/Perihal (6) : Alamat (7) : Salam pembuka (8a) : Pembukaan (8b) : Isi sesungguhnya (8c) : Penutup (9) : Salam penutup (10) : Tanda tangan (11) : Nama terang (12) : NIP (13) : Tembusan (14) : Cap (Stempel)

(14) d --------------------- (13) -----------------------------------------

Gambar 2.1 Bagian bagian Surat

Bagian-bagian surat di atas dapat dikelompokkan ke dalam empat rangka surat. Menurut Marjo (2005:45) rangka surat terdiri dari kop surat, leher surat, badan surat, dan kaki surat. Berikut ini klasifikasi bagian-bagian tersebut.

21

Tabel 2.2 Klasifikasi Bagian-Bagian Surat BAGIAN SURAT a. b. c. d. Kop Surat e. f. g. h. a. b. c. Leher Surat d. e. f. Nama organisasi/badan atau perusahaan Alamat lengkap Nomor telepon, telex, kotak pos Alamat kawat Alamat kantor Jenis usaha Nama bankir perusahaan Lambang perusahaan/logo. Tanggal surat Nomor surat Lampiran Hal/perihal Sifat surat Alamat yang dituju

ASPEK BAGIAN SURAT

g. Salam pembuka Badan surat h. Kalimat pembuka i. j. Isi surat Kalimat penutup

22

a. b. c. Kaki surat d. e. f. g.

Salam penutup Nama dan jabatan Tanda tangan Nama lengkap Tembusan Stempel badan, organisasi, perusahaan Inisial pembuat surat.

Dalam menggunakan bagian-bagian surat tersebut, perlu diperhatikan penataannya. Hal ini dimaksudkan agar perwujudan surat menampakkan keharmonisan bentuk sajian, mencerminkan kerapihan penulisan, dan

memperlihatkan bentuk yang benar. Berikut ini gambar jarak bagian-bagian surat seperti diungkapkan oleh Soedjito dan Solchan (1991:24).

23

--------------------------------------- (1) ________________________________ 4 Kait 2 Kait --------------- (3) --------------- (4) --------------- (5) 2 Kait --------------- (2)

------------------------- (6) ----------------------------2 Kait --------------------(7) 2 Kait --------------------------------------- (8a) -----------------------------------------------2 Kait --------------------------------------- (8b) -----------------------------------------------2 Kait --------------------------------------- (8c) -----------------------------------------------3 Kait ----------------------- (9) (10) 4 Kait --------------------- (11) --------------------- (12) --------------------- (13) Gambar 2.2 Jarak Bagian-Bagian Surat ---------------------

Untuk memperjelas bagian-bagian surat, berikut deskripsi bagian-bagian surat secara ringkas.

24

1) Kepala Surat atau Kop Surat Kepala surat disebut juga kop surat. Biasanya diketik ditengah-tengah dan boleh juga ditulis disebelah kiri atas. Kepala surat disusun (kadang-kadang sudah dicetak) dalam bentuk yang menarik. Isi kepala surat antara lain : lambang, nama unit organisasi/lembaga, alamat, nomor telepon (jika ada), nomor kotak pos (jika ada), dan nama alamat kawat (jika ada). Untuk surat niaga, dapat dilengkapi nama bankir, nama usahanya, gambar yang bersifat reklame, dan alamat kantor (pusat atau cabang). Kepala surat itu menunjukkan keresmian sebuah surat. Karena itu, untuk surat pribadi kepala surat tidak perlu ditulis. Menurut Silmi (2002:6), kepala surat berfungsi sebagai “alamat pengenal, alat pemberian informasi, dan sebagai tanda advertensi atau iklan”. Berikut contoh kepala surat. ORGANISASI SISWA INTRA SEKOLAH (OSIS) SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP) NEGERI 1 TEGALWARU Jalan Raya Sukapadi Tegalwaru No.11 Telepon (0264) 270000

2) Tempat dan Tanggal Surat Tanggal surat berisi tempat, tanggal, bulan dan tahun surat ditulis atau dikirim. Jika dalam kepala surat sudah tertera alamat, maka untuk alamat pada tanggal surat tidak perlu ditulis lagi. Tanggal surat ini dtulis atau diketik di sebelah kiri atas (bentuk surat lurus penuh) atau di sebelah kanan atas (bentuk setengah lurus dan Indonesia).

25

Ada beberapa ketentuan dalam menulis tanggal surat. Nama bulan hendaknya ditulis dengan huruf secara utuh atau tidak boleh disingkat dan diganti dengan angka. Demikian pula dengan angka tahun, hendaknya ditulis lengkap, jangan ditulis dua angka terakhir saja. Di belakang angka tahun tidak boleh ada tanda titik ( . ). Letak penulisan tempat dan tanggal surat yang dibuat, meski disesuaikan dengan bentuk (format) surat. Kebanyakan tempat dan tanggal surat di sebelah pojok kanan atas. Berikut contoh tanggal surat. Tegalwaru, 20 April 2010

3) Nomor Surat Dalam surat resmi yang dikirim oleh organisasi atau lembaga, nomor surat selalu dicantumkan. Nomor surat berisi nomor surat yang dikirimkan (keluar), kode dan tahun. Nomor surat ditulis segaris dengan tanggal surat (untuk bentuk lurus, setengah lurus dan Indonesia). Fungsi nomor surat adalah salah satu atau kombinasi dari fungsi-fungsi berikut. Memudahkan pengaturan penyimpanan, memudahkan mecnari kembali, mengetahui jumlah surat yang keluar, mempercepat penyelesaian surat-menyurat (membalas surat), dan memudahkan petugas kearsipan. Contoh nomor surat adalah seperti berikut. Nomor : 05/OSISOR/2010

26

4) Lampiran Jika bersama surat yang dikirimkan disertakan surat atau lembaranlembaran tambahan, maka perlu dituliskan dalam lampiran. Lampiran berfungsi menerangkan jumlah keterangan lain yang ikut disertakan dalam surat. Jika tidak ada yang dilampirkan, cukup dituliskan dengan cara berikut, yaitu lampiran atau tidak dituliskan. Contoh lampiran adalah seperti berikut. Lampiran : 4 (empat) helai Lampiran : 4 (empat) eksampler Lamp. lembar 5) Hal/Perihal Hal/perihal menunjukkan isi atau inti surat secara singkat. Dengan membaca hal/perihal, secara cepat dapat diketahui masalah yang ditulis dalam surat itu. Karena itu, hal/perihal dapat disamakan dengan judul karangan biasa yang wujud dan cara menulisnya berupa frase (bukan kalimat) dan huruf pertama setiap kata ditulis dengan huruf kapital. Sama dengan lampiran, di belakang hal/perihal tidak boleh ada tanda titik ( . ). Menurut Silmi (2004 8) hal/perihal berfungsi untuk intisari surat secara keseluruhan, intisari pokok permasalahan, dan referensi atau acuan bagi petugas administrasi. Adakalnya pengirim surat menunjukkan sifat yang dikirim. Sifat surat biasanya ditulis di bawah nomor surat atau di bawah hal/perihal. Sifat surat resmi dapat dibedakan atas tiga jenis, yaitu : (1) rahasia, (2) penting, dan (3) biasa. Surat rahasia ialah surat yang dipakai untuk naskah, dokumen, rekomendasi atau surat lain yang bersifat rahasia (tertutup). Surat penting ialah surat yang isinya : 4 (empat)

27

mengandung kepentingan yang mengikat, memerlukan tanda lanjut dan mengandung informasi yang diperlukan dalam waktu lama, misalnya : surat keputusan, peraturan, instruksi, dan sebagainya. Sementara, surat biasa ialah surat yang informasinya tidak rahasia/penting atau kegunaannya relatif singkat dan terbuka. Misalnya surat undangan, pengumuman, dan sebagainya. Mengenai hal/perihal, berikut contohnya. Perihal : Undangan Rapat OSIS 6) Alamat Surat/Alamat Dalam Alamat surat menunjukkan alamat pihak yang dituju. Ada dua macam alamat surat, yaitu alamat dalam (ditulis dalam surat) dan alamat luar (ditulis pada amplop). Isi alamat surat biasanya mengenai hal-hal berikut, yaitu (1) nama orang/ nama jabatan, (2) nama jalan dan nomor rumah/gedung/kantor, dan (3) nama kota. Ketiga unsur pokok ini masih ditambah dengan penggunaan beberapa kata, yaitu (4) kata kepada, (5) kata sapaan kalimat/Yth, (6) kata sapaan atau sebutan (Saudara, Bapak, atau Ibu), dan (7) kata depan di yang ditulis di depan nama kota. Beberapa ketentuan dalam penulisan alamat surat ialah sebagai berikut : a) Penggunaan kata depan dan kepada (1) Kata depan Kepada merupakan kepala alamat surat diketik berdiri sendiri pada bagian atas (terpisah) atau di kiri dengan menggunakan tanda baca titik dua ( : ) atau diketik satu baris dengan pihak yang dituju. (2) Kepala kalimat Kepada boleh tidak dituliskan, karena sudah jelas kepada siapa surat itu ditujukan.

28

(3) Kata depan Kepada dipakai di depan kata yang menunjukkan orang, tidak dipakai di depan nama kantor/perusahaan/jawatan/instansi. b) Penggunaan kata sapaan hormat (Yth.) (1) Ucapan penghormatan Yang terhormat dapat disingkat menjadi Yth., dengan diakhiri tanda baca titik ( . ). (2) Penulisan Yth. di belakang kata Kepada secara berdiri sendiri atau menggantung (tanpa diikuti kata sebutan/jabatan) tidak tepat. (3) Penulisan Yth. boleh lebih dari satu apabila penulisan alamat surat berganda. c) Kata sebutan dan nama orang/jabatan/pimpinan (1) Di belakang Yth. dituliskan kata sebutan Saudara (disingkat Sdr.), Bapak (jangan disingkat Bp./Bpk.), atau Ibu. (2) Di belakang kata sebutan Bapak, Ibu, atau Sdr. dituliskan nama orang, jabatan, pimpinan, dan sejenisnya. Nama orang hendaknya ditulis lengkap (jangan disingkat atau dipendekkan) untuk menjaga kesopanan). (3) Kata sebutan Bapak, Ibu atau Sdr. di depan nama orang atau jabatan boleh tidak dicantumkan untuk menunjukkan sifat resmi serta menghilangkan basa-basi. Jika ditujukan kepada perseorangan, ucapan penghormatan Yth. yang diikuti oleh kata sebutan Bapak, Ibu, Sdr. hendaknya ditulis. (4) Surat hendaknya dialamatkan kepada pejabatnya, bukan nama kantornya. Jika pejabat itu tidak diketahui dengan pasti namanya, misalnya Rektor, maka dapat dipakai sebutan “Kepala” atau “Pimpinan”.

29

d) Nama jalan, nomor rumah/kantor, dan nama kota (1) Nama jalan hendaknya ditulis lengkap, jangan disingkat atau

dipendekkan. Misalnya : Jalan Jenderal Sudirman. (2) Nama kota diketik berdiri sendiri tanpa digaris bawahi dan tidak diberi tanda baca titik ( . ) (3) Nama kota biasanya kata depan di. Kata depan di sebagai pengantar nama kota ditulis menyatu, tidak menggantung atau terpisah. Kata depan di boleh dihilangkan. Demikianlah deskripsi tentang alamat dalam surat. Berikut ini beberapa contoh alamat surat. Kepada Yth. Sdr. Drs. Supono Jalan Jengkol 13 Purwakarta Yth. Kepala SMP Negeri 1 Tegalwaru Jalan Raya Sukapanen Tegalindah Purwakarta Untuk alamat luar dituliskan pada amplop yang berukuran 10,5 x 23 Cm. Alamat luar disusun berturut-turut sebagai berikut : (1) kata depan Kepada, (2) kata sapaan hormat/Yth, (3) kata sebutan, (4) nama orang atau jabatan, (5) nama instansi, (6) nama jalan, gang, nomor rumah/kantor, dan (7) nama kota dan kode pos.

30

Alamat yang dituju terletak pada seperempat bagian sebelah kanan bawah sampul. Hurup K pada kata Kepada terletak tepat di titik tengah sampul. Alamat pengirim dapat dituliskan pada salah satu dari tiga kemungkinan. Pertama, pada halaman muka di sudut kiri atas/tengah. Kedua, pada halaman muka di sudut kiri bawah. Ketiga pada halaman belakang sampul di bagian atas tengah. Berikut contoh alamat surat bagian luar. Ryan Romadona Jalan Ahmad Yani 13 Purwakarta

Kepada : Yth. Bapak Mahendra Jalan Beludru 31 Bandung

Ryan Romadona Jalan Ahmad Yani 13 Purwakarta

Gambar 2.3 Penulisan Alamat Luar Surat

31

7) Salam Pembuka Salam pembuka merupakan salam hormat atau tanda hormat sebagai pembuka sebelum menyampaikan isi surat. Dalam beberapa jenis surat resmi, salam pembuka yang sering digunakan ialah Dengan hormat yang ditulis terpisah di bawah alamat surat. Sering pula dijumpai salam pembuka bernafaskan keagamaan, seperti Assalamu’alaikum Wr. Wb. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penulisan salam pembuka di antaranya ialah : a. Salam pembuka ditulis mandiri di bawah alamat surat dan diakhiri dengan tanda baca koma ( , ). b. Salam pembuka Dengan hormat tidak boleh disingkat menjadi Dh. atau DH. c. Salam pembuka Dengan hormat dapat dihilangkah dan diintegrasikan pada kalimat pertama pembukaan surat, misalnya : Kami beritahukan dengan hormat bahwa … Dengan hormat kami sampaikan bahwa …

Contoh-contoh yang lainnya misalnya : Tuan yang terhormat, Nyonya yang terhormat, salam sejahtera, salam bahagia, dan lain-lain. 8) Isi Surat/Tubuh Surat Isi surat umumnya terdiri atas tiga bagian, yaitu (1) pembukaan, (2) isi yang sesungguhnya/isi pokok, dan (3) penutup. Dengan demikian, isi surat disusun dalam tiga paragraf. Meskipun demikian, pada beberapa surat, dapat ditemukan hanya dua bagian saja yang ditulis. Bagian pembuka dan isi pokok

32

digabungkan, lalu diakhiri penutup surat. Dengan demikian, paragraf pertama tubuh surat itu sekaligus memaparkan isi yang dimaksud. Pembukaan berguna untuk mengantar dan menarik perhatian pembaca terhadap pokok surat. Untuk itum harus digunakan kalimat-kalimat pembuka yang sesuai dengan maksud dan tujuan surat. Isi pokok surat berisi sesuatu yang diberitahukan, dikemukakan, ditanyakan, disusun dan sebagainya yang dikirim kepada penerima surat. Sementara, penutup surat merupakan kesimpulan yang berfungsi sebagai kunci isi surat. Isi penutup surat merupakan salah satu dari empat kemungkinan berikut, yaitu : (1) untuk menyatakan rasa terima kasih, (2) untuk menunjukkan suatu kenyataan yang telah disebutkan sebelumnya, (3) untuk menyatakan suatu harapan, dan (4) untuk menyatakan sesuatu yang dinantikan. 9) Salam Penutup Salam penutup merupakan salah satu bagian penutup surat,s elain bagian lainnya, yaitu : nama jabatan, nama terang, tanda tangan, nomor kepegawaian, cap/stempel, dan tembusan. Salam penutup dalam surat mengandung makna sebagai ucapan hormat di bagian akhir surat. Karena itu, salam penutup selalu ditulis serangkai dengan bagian-bagian tersebut. Penulisan salam penutup biasanya disesuaikan dengan penulisan salam pembuka. Jika pada salam pembuka digunakan ucapan hormat assalamu’alaikum dan dengan hormat, maka dalam salam penutup digunakan ucapan wassalam, salam kami, atau hormat kami/hormat saya.

33

Berikut contoh salam penutup. Wasalam, Sekretaris, ttd Ryan Romadona 10) Tembusan Tembusan/tindasan (c.c. = carbon copy) dilihat jika isi surat yang dikirim kepada pihak yang sebenarnya dituju, perlu juga diketahui oleh pihak-pihak lain yang ada hubungannya dengan isi surat tersebut. Dengan cara demikian, yang dikirimi surat akan mengerti siapa saja yang juga diberitahu tentang isi surat itu. Apabila pihak lain dipandang tidak perlu mengetahui isi surat itu, maka tembusan tidak perlu ditulis. Dalam surat resmi terdapat bermacam-macam penulisan tembusan. Ketentuan penulisan tembusan diantaranya adalah sebagai berikut : a) Penulisan kata tembusan boleh menggunakan huruf kecil, baik digarisbawahi atau tidak dengan huruf kapital di awal kata. Contoh : Tembusan : atau Tembusan :

b) Penulisan kata tembusan boleh juga menggunakan huruf kapital semua, baik digarisbawahi atau tidak. Contoh : TEMBUSAN : atau TEMBUSAN :

c) Ketentuan a dan b di atas digunakan dengan menambah kata sapaan hormat dibelakangnya (Yth.). Contoh : Tembusan Yth. : atau Tembusan Yth.:

34

TEMBUSAN YTH. :

atau

TEMBUSAN YTH.:

d) Ketentuan c di atas digunakan dengan menambah kata-kata disampaikan kepada Yth. : di belakang kata ketentuan. e) Isi tembusan yang sering dijumpai, yaitu arsip atau pertinggal tidak perlu dicantumkan, sebab setiap mengetik surat untuk dikirimkan dengan sendirinya ditinggalkan/disimpan selembar sebagai arsip. Berikut contoh penulisan tembusan. Tembusan Yth. : 1. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta 2. Kepala SMP Negeri 1 Tegalwaru TEMBUSAN : 1. Yth. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Purwakarta 2. Yth. Kepala SMP Negeri 1 Tegalwaru 3. 2.1.3 Bentuk-Bentuk Surat Resmi Yang dimaksud bentuk surat adalah susunan letak bagian-bagian surat. Variasi susunan bagian-bagian surat menyebabkan timbulnya bermacam-macam bentuk surat. Dengan adanya variasi bentuk surat, memberikan kemungkinan pemilihan bentuk surat yang tepat guna memperoleh efisiensi penulisan surat. Berkaitan dengan variasi bentuk surat itu, Soedjito dan Solehan (1991:15) menjelaskan adanya lima bentuk surat dalam surat menyurat resmi, yaitu : bentuk lurus penuh, bentuk lurus, bentuk setengah lurus, bentuk lekuk, dan bentuk Indonesia. Sementara itu, Marjo (2005 : 60) mengemukakan beberapa bentuk surat, yaitu bentuk lurus penuh, bentuk lurus, bentuk setengah lurus, bentuk

35

persegi, bentuk sederhana, bentuk lekuk, bentuk resmi/dinas pemerintah, bentuk Amerika, bentuk personal Inggris, bentuk bisnis Inggris, dan bentuk lengkap. 1) Bentuk Lurus Penuh (Full Block Style) Pada bentuk surat lurus penuh, semua bagian surat diketik mulai dari margin kiri yang sama. Paragraf yang satu dengan yang lain berjarak satu baris. Bentuk surat tersebut adalah seperti berikut. --------------------------------------- (1) ________________________________ ---------------------(2) --------------- (3) --------------- (4) --------------- (5) ------------------------- (6) ---------------------------------------------------------- (7) ----------------------------------------------- (8a)

----------------------------------------------------------------------------------------------- (8b) ------------------------------------------------------- --------------------------------------- (8c) ---------------------------------------------------------------------- (9) (10) --------------------- (11) --------------------- (12) ------------------------ (13) --------------------(Soedjito dan Solchan, 1991 : 25) --------------------Gambar 2.4 Bentuk Lurus Penuh

36

2) Bentuk Lurus (Block Style) Pada surat bentuk ini, semua bagian surat kecuali tanggal dan salam penutup, diketik mulai dari margin yang sama. Tanggal dan salam penutup diketik di sebelah kanan bawah. Pengetikan sama seperti bentuk lurus penuh. Berikut gambar surat lurus. --------------------------------------- (1) ________________________________ --------------- (3) --------------- (4) --------------- (5) ------------------------- (6) ------------------------------------------------ (7) ----------------------------------------------- (8a) --------------- (2)

----------------------------------------------------------------------------------------------- (8b) ----------------------------------------------------------------------------------------------- (8c) ---------------------------------------------------------------------- (9) (10) --------------------- (11) --------------------- (12) --------------------------- (13) ----------------------------------------(Soedjito dan Solchan, 1991: 22) Gambar 2.5 Bentuk Surat Lurus

37

3) Bentuk Setengah Lurus (Semi Block Style) Semua bagian surat, kecuali isi surat, diketik sama seperti bentuk lurus. Setiap alinea baru diketik sesudah 5 ketukan dari margin kiri. Alinea yang satu dengan yang lain tidak berjarak. Berikut gambar bentuk surat yang dimaksud.

--------------------------------------- (1) ________________________________ --------------- (3) --------------- (4) --------------- (5) --------------- (2)

------------------------- (6) ------------------------------------------------ (7) --------------------------------------- (8a) -------------------------------------------------------------------------------------- (8b) -------------------------------------------------------------------------------------- (8c) ---------------------------------------------------------------------- (9) (10) --------------------- (11) --------------------- (12) ------------------------- (13) ----------------------------------------(Soedjito dan Solchan, 1991:29) Gambar 2.6 Bentuk Surat Setengah Lurus

38

4) Bentuk Lekuk (Idented Style) Pada bentuk surat lekuk, semua bagian surat kecuali alamat, diketik sama seperti bentuk setengah lurus. Alamat surat diketik sebagai berikut. a) Baris pertama (nama orang pejabat) diketik mulai dari margin kiri. b) Baris kedua (nama jalan) diketik sesudah lima ketukan dari margin kiri. c) Baris ketiga diketik sesudah lima ketukan dari nama jalan. --------------------------------------- (1) ________________________________ --------------- (3) --------------- (4) --------------- (5) --------------- (2)

------------------------- (6) ------------------------------------------------ (7) --------------------------------------- (8a) -------------------------------------------------------------------------------------- (8b) -------------------------------------------------------------------------------------- (8c) ---------------------------------------------------------------------- (9) (10) --------------------- (11) --------------------- (12) ------------------------- (13) ----------------------------------------(Soedjito dan Solchan, 1991:31) Gambar 2.7 Bentuk Surat Lekuk 39

5) Bentuk Indonesia (Indonesian Style) Pada bentuk ini, semua bagian surat, kecuali alamat diketik sama seperti bentuk setengah lurus. Alamat surat diketik sebelah kanan di bawah tanggal surat, sebaris dengan hal/perihal. Berikut bentuk surat yang dimaksud.

--------------------------------------- (1) ________________________________ --------------- (3) --------------- (4) --------------- (5) ----------------- (2)

------------------------- (6) ------------------------------------------------ (7) --------------------------------------- (8a) -------------------------------------------------------------------------------------- (8b) -------------------------------------------------------------------------------------- (8c) ---------------------------------------------------------------------- (9) (10) --------------------- (11) --------------------- (12) ------------------------- (13) ----------------------------------------(Soedjito dan Solchan, 1992:33) Gambar 2.8 Bentuk Indonesia

40

6) Bentuk Persegi (Square Block Style) Pada bentuk ini, semua bagian surat, kecuali tempat/tanggal surat dan hal diketik mulai dari margin kiri. Berikut bentuk surat tersebut.

--------------------------------------- (1) ________________________________ ----------------- (2) ------------------------- (6) -------------------------------------------------------------------- (5) --------------------, (7) ------------------------------------------------ (8a) ----------------------------------------------------------------------------------------------- (8b) ----------------------------------------------------------------------------------------------- (8c) ---------------------------------------------------------------------- (9) (10) --------------------- (11)

(Marjo, 2005:69) Gambar 2.9 Bentuk Perdegi

41

7) Bentuk Surat Pribadi Inggris (British Style) Pada bentuk surat ini, ada beberapa komponen surat yang tidak ditulis. Alamat, salam penutup, nama pengirim, dan tanda tangan ditulis di sebelah kanan. Selebihnya di sebelah kiri. Berikut bentuk surat tersebut.

------------------------------------------------(1) ---------------------- (2) -------------------------------------

------------------------- (6)

----------------------------------------------------------------------------------------------- (8a) ----------------------------------------------------------------------------------------------- (8b) ----------------------------------------------------------------------------------------------- (8c) ---------------------------------------------------------------------- (9) (10) --------------------- (11) --------------------------------------------------------------------------------Gambar (alamat pengirim) 2.10 Bentuk British Style ( Marjo, 2005: 82)

42

2.2 Menyunting Surat Resmi 2.2.1 Pengertian Menyunting Surat

Menurut Moeliono, ed. (1990:871) menyunting adalah “mengedit atau menyempurnakan naskah“.Dengan demikian, menyunting surat resmi adalah mengedit atau menyempurnakan naskah surat resmi. Selain pengertian tersebut, Anang, dkk. (2004:6) memberikan pengertian menyunting yang lebih luas, yaitu sebagai berikut. Menyunting adalah merapikan naskah agar siap cetak dengan melihat kembali, membaca, atau memperbaiki naskah secara keseluruhan, baik dari segi bahasa maupun dari segi materinya, penyajiannnya, kelayakannnya, dan kebenaran materi (isi) naskah yang akan diterbitkan. Perbaikan itu dilakukan berdasarkan beberapa pertimbangan berkaitan dengan kaidah penulisan. Menyunting surat merupakan bagian dari proses penulisan sekaligus sebagai strategi penulisan surat yang baik. Dengan menyunting surat resmi, siswa dapat mengidentifikasi kesalahan yang terdapat dalam surat dan memberikan rekomendasi serta upaya untuk memperbaiki kesalahan yang ada pada surat resmi, baik dari segi bahasa, isi surat, maupun tifografinya atau teknik perewajahannnya. Berkaitan dengan kegiatan menyunting surat ini, Purwo (1997:8) mengemukakan pendapat sebagai berikut. Termasuk di dalam kegiatan menulis ialah kegiatan menemukan kesalahan dalam menulis (tidak hanya ejaan dan tanda baca, tetapi kelengkapan atau kejelasan kalimat, bahkan pemilihan kata). Siswa tidak hanya dilatih untuk menemukan kesalahan sendiri, tetapi juga untuk memperbaiki dan membenahinya. Jika siswa belum bisa melakukan hal itu untuk tulisannya sendiri, mereka diminta untuk melakukan hal itu pada tulisan temannnya. Berdasarkan uraian tersebut, menyunting surat menjadi salah satu cara mengurangi kekurangmampuan siswa menulis surat resmi. Dengan melakukan

43

kegiatan penyuntingan terhadap surat, diharapkan siswa mampu menulis surat dengan lebih cermat dan efektif.

2.2.2 Tujuan Menyunting Surat Resmi Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi kelemahan siswa dalam menulis surat resmi adalah dengan melaksanakan pembelajaran menyunting surat secara tepat dan efektif, baik aspek kebahasaan, isi, dan penyajiannnya atau tifografinya. Penyuntingan surat resmi dimaksudkan bukan saja untuk menghasilkan tulisan yang enak dibaca, tetapi juga mnghindari tulisan dari berbagai kesalahan. Dengan disunting, surat resmi yang ditulis dapat dijaga kualitasnya, seperti keruntutan, kelogisan, ketepatan pemakaian bahasa, atau kelengkapan unsur tulisan lainnya. Dengan demikian, seorang penyunting dapat menjaga kelayakan dan kepantasan tulisan itu untuk dibaca atau disampaikan kepada orang lain yang menjadi sasaran tulisan tersebut. Melalui kegiatan menyunting surat, sebenarnya penyunting dapat melakukan kritik dan otokritik, saran, atau catatan-catatan demi perbaikan tulisannnya. Dalam kaitan ini, Anang (2004:6) berpendapat sebagai berikut. Penulislah yang tahu seluk beluk tulisannnya. Selain itu, kegiatan menyunting merupakan kegiatan akhir dari rangkaian kegiatan menulis. Pada bagian ini diharapkan penulis dapat merenungkan kembali hasil tulisannnya. Apakah tuliasan itu sudah runtut, logis, pemakaian bahasanya sudah tepat dan unsur kelengkapan tulisan sudah lengkap.

44

2.2.3

Aspek-aspek Surat Resmi yang Disunting Subyantoro (2004:50) berpendapat bahwa ”aspek menyunting dalam tes

menulis mencakup penyuntingan bahasa, penyuntingan teknik (ejaan, tanda baca, dan sistematika), dan penyuntingan isi”. Pendapat senada dikemukakan Anang (2004:6) yang berpendapat bahwa ada tiga aspek pokok yang harus disunting dalam tulisan atau naskah, yaitu “isi, organisasi, dan bahasa”. Dengan demikian, apabila dijabarkan aspek-aspek bahasa yang disunting mencakup penulisan ejaan (pemakaian huruf, penulisan huruf, penulisan huruf kapital, penulisan huruf miring), penulisan kata (kata dasar, kata tururnan, bentuk ulang, gabungan kata, kata ganti, kata depan, partikel, singkatan, akronim), penulisan angka dan lambang bilangan, penulisan unsur serapan, pemakaian tanda baca, penulisan kalimat (keefekktifan), penulisan paragraf (kepaduan, kesatuan, kelengkapan). Sementara, aspek isi menyangkut kejelasan pengembangan isi surat dan aspek teknik penyajian atau perwajahan mencakup tata urutan, komponen, bentuk surat, pemanfaatan ruang, dan atau format surat. Sejalan dengan uraian di atas, Semi (1995:111) mengatakan bahwa ”tugas penyuntingan tulisan berita menyangkut dua kelompok, yaitu mencegah terjadinya kesalahan atau kelemahan pemakaian bahasa dan mencegah terjadinya kesalahan isi”. Aspek pertama dalam penyuntingan adalah memperbaiki atau

menyempurnakan pemakaian bahasa. Dalam hubungan ini, yang perlu di perhatikan adalah sebagai berikut : (1) kesalahan pemakaian ejaan, seperti kesalahan penetapan tanda koma, huruf besar, penulisan kata, dan pengeja nama; (2) kesalahan pemakaian istilah atau ungkapan; (3) kesalahan pemakaian kalimat,

45

seperti kalimat rancu, kalimat tidak efektif, kalimat tidak memiliki fungsi, dan unsur kalimat yang tidak lengkap, dan (4) kesalahan penyusunan paragraf, seperti paragraf tidak di kembangkan dengan baik, atau pengembangan paragraf yang berlebihan. Sementara, kesalahan dalam bidang isi adalah (1) menjaga tidak terjadi kesalahan dalam penyajian fakta; (2) kesalahan dalam penulisan srtuktur surat; (3) pengulangan penyampaiain isi sehingga terkesan tidak hemat dan tidak lugas; (4) menjaga agar jangan sampai ada fakta yang tertinggal; (5) menjaga jangan sampai ada unsur yang merupakan pencemaran nama baik seseorang, organisasi, atau lembaga.

2.2.4

Prosedur Menyunting Surat Resmi Menurut Anang, dkk. (2004:6) kegiatan menyunting dapat dilakukan

melalui beberapa proses, yaitu melihat kembali, membaca, atau memperbaiki naskah secara keseluruhan, baik dari segi bahasa maupun dari segi materinya, penyajiannnya, kelayakannnya, dan kebenaran materi (isi) naskah. Senada dengan pendapat itu, Semi (1995:109) mengemukakan tiga langkah menyunting, yaitu membaca dengan kritis, memotong atau menambah, dan susun serta periksa kembali. Uraian selengkapnya adalah sebagai berikut. 1) Membaca dengan Kritis Bacalah tulisan (surat resmi) dengan kritis. Berlakulah seolah-olah kita sedang membaca tulisan orang lain, dan tulisan itu belum pernah ditemui sebelumnya. Dengan cara demikian, diharapkan akan ditemukan berbagai kelemahan atau kekerungan yang patut diperbaiki. Di dalam membaca kritis itu

46

selalulah bertanya apakah maksud tulisan itu sama dengan yang anda maksudkan semula sebelum menulis. Perhatikan dengan cermat adakah kesalahan yang terlihat, baik kesalahan ejaan, tanda baca, penulisan nama orang atau tempat, penulisan angka, kalimat yang rancu, kalimat yang tidak berfungsi, kompenen surat, dan lain-lain. Dengan membaca kritis, anda dapat melakukan penyuntingan yang baik. 2) Menghilangkan dan Menambah Menghilangkan bagian tulisan yang tidak perlu bukanlah perbuatan yang tercela. Buanglah kata yang berlebih dan kalimat yang tidak berguna atau tidak berfungsi. Bila dirasa ada perulangan yang tidak perlu, jangan digunakan. Bahkan, paragraf yang dirasakan kurang penting juga patut dibuang. Dengan begitu, diharapkan surat akan menjadi efektif dan bagus. Jika ada sesuatu yang patut di hilangkan atau di buang, tentu saja ada kemungkinan terdapat sesuatu yang perlu ditambah atau dilengkapi guna memperjelas pengertian dan gagasan. Bila ada paragraf yang belum dikembangkan secara memadai, kembangkanlah. Bila ada kata yang kurang, tambahkanlah. Hal itu tentu saja dilakukan bukan untuk memperpanjang tulisan, tetapi karena ingin menyempurnakanya. Kegiatan menyunting pada tahap ini dapat sipecah-pecah lagi ke dalam kegiatan yang lebih kecil, yaitu (1) mengidentifikasi bagian yang salah, (2) menghilangkan bagian yang salah/berlebih, (3) melengkapi yang seharusnya ada tetapi belum ada, (4) mengganti bagian yang tidak tepat (aparagraf, kalimat, kata), (5) memperbaiki urutan, struktur, ejaan, tanda baca, sistematika, atau isi, dan (6) mengidentifikasi penggunaan bahasa/ejaan yang tidak tepat/yang tepat.

47

3) Susun dan Periksa Kembali Setelah kedua kegiatan itu dilakukan, sekarang saatnya melakukan penyusunan kembali surat tersebut menurut tata susunan yang diinginkan. Bila naskah telah disusun rapi dan diketik/ditulis ulang, masih tetap perlu membacanya kembali, karena ada kemungkinan munculnya kesalahan lain yang tidak diinginkan. Perhatikan juga pada tahapan terakhir ini, masalah perwajahan tulisan, seperti bentuk surat, letak komponen surat, ukuran huruf, spasi ketikan, dan penampilan lain. Dengan demikian, surat resmi tersebut akan menjadi surat yang baik dan siap dikirimkan kepada penerima surat.

2.2.5 Penilaian Menyunting Surat Resmi Indikator penyuntingan dalam tes menulis surat dapat digunakan secara efektif untuk mengukur kemampuan menggunakan bahasa dalam konteks tertentu. Kemampuan meggunakan kata, kalimat, tanda penghubung dengan berbagai bentuk dan ragam dapat diukur dengan indikator menyunting ini. Indikator menyunting dalam tes menulis dipecah-pecah lagi ke dalam indikator yang lebih kecil, yaitu kemampuan (1) mengidentifikasi bagian yang salah, (2) menghilangkan bagian yang salah/berlebih, (3) melengkapi yang seharusnya ada tetapi belum ada, (4) mengganti bagian yang tidak tepat (aparagraf, kalimat, kata), (5) memperbaiki urutan, struktur, ejaan, tanda baca, sistematika, atau isi, dan (6) mengidentifikasi penggunaan bahasa/ejaan yang tidak tepat/yang tepat.

48

2.3 Metode Inkuiri 2.3.1 Penertian Metode Inkuiri Beberapa ahli pendidikan berbeda pendapat tentang istilah doscovery (discoveri) dan inkuiri. Ada yang menggunakannnya bersamaan dengan inquiry (inkuiri) dan ada pula yang membedakan artinya. Robert B. Sund (dalam Subana dan Sunarti, 2009:112) mengatakan bahwa discovery adalah proses mental pada diri individu untuk mengasimiisai konep dan prinsip-prinsip. Dengan kata lain, suatu kegiatan pelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat menemukan konsep dan prinsip melalui proses mentalnya sendiri. Pengajaran dengan discovery harus meliputi pengalaman belajar yang dapat mengembangkan siswa untuk menemukan konsep sendiri. Adapun yang dimaksud dengan inkuisi (inquiry) adalah suatu perluasan dari proses discovery. Sebagai tambahan pada proses discovery, inquiry mengandung proses mental yang lebih tinggi tingkatanya. Misalnya merumuskan masalah, merancang dan melakukan percobaan, mengumpulkan dan menganalisis data, menarik kesimpulan, berdsikap jujur, objektif, penuh keingintahuan, terbuka, dan sebagainya. Siswa melakukan kegiatan inkuiri jika ia mampu merumuskan masalahnya sendiri, merumuskan hipotesis, medesain percobaan, mengumpulkan dan menganalisis data, dan menarik kesimpulan.

49

2.3.2

Penggunaan Metode Inkuiri dalam Menyunting Surat Proses belajar melalui metode inkuiri meliputi beberapa kegiatran siswa.

Menurut Amin (dalam Subana dan Sunarti, 2009:113), proses tersebut ialah : (1) bertanya, tidak semata-mata mendengarkan dan menghafal; (2) bertindak, tidak semata-mata melihat dan mendengarkan; (3) memberi pemecahan, tidak sematamata mendapatkan; (4) menemukan problema, tidak semata-mata belajar faktafakta; (5) menganalisis, tidak semata-mata mengamati; (6) membuat sintesa, tidak hanya membuktikan, (7 )berpikir, tidak semata-mata melamun/membayangkan; (8) menghasilkan, tisak semata-mata menggunakan; (9) menyusun, tidak sematamata mengumpulkan; dan (10) menciptakan. Adapun hal-hal yang harus didorong dalam proses belajar siswa ialah memberikan otonomi kepada siswa, kebebasan dan dukungan pekada siswa, bersikap terbuka, percaya pada diri sendiiri, dan membetuk konsep sendiri. Peranan guru dalm metode inkuiri ialah menciptakan kebebasan untuk memiliki dan mengekspresikan ide, menyediakan lingkungan belajar yang responsif, dan membantu siswa menemukan pengarahan agar terbina keterampilan dan pengetahuannya. Dalam kaitan dengan menyunting surat, siswa diberikan rangsangan masalah (bahasa, isi, dan bentuk surat) yang salah. Kemudian, siswa menyusun dugaan masalah. Selanjutnya, siswa menemukan dan menganalisis masalah. Pada tahap akhir, siswa memperbaiki kesalahan aspek-aspek surat tersebut.

50

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1

Metode Penelitian Tujuan penelitian ini ialah ingin meneliti dan mengetahui suatu keadaan

atau gejala yang muncul pada kondisi tertentu akibat dari suatu percobaan dan mengamati setiap gejala yang muncul secermat mungkin, sehingga dapat diketahui hubungan sebab-akibat munculnya gejala tersebut. Dengan perkataan lain, melalui penelitian ini akan diselididki kemungkinan adanya kondisi hubungan kausalitas sebagai efek atau pengaruh dari perlakuan (treatment) dalam suatu percobaan yang diberikan kepada sebuah kelompok eksperimen dan membandingkannya dengan subjek kelompok kontrol yang sama yang tidak mendapat perlakuan. Percobaan yang dimaksud ialah pembelajaran menyunting surat resmi dengan menggunakan metode inkuiri. Oleh karena itu, metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan jenis kuasi eksperimen atau eksperimen semu. Dalam hal ini, Suhardjono (1995:73) memberikan keterangan sebagai berikut. Penelitian eksperimen (eksperimental research) adalah penelitian untuk menyelidiki kemungkinan saling berhubungan sebab-akibat dengan cara mengenakan kepada satu atau lebih kelompok eksperimen satu atau lebih kondisi perlakuan dan membandingkan hasilnya dengan satu atau lebih kelompok kontrol yang tidak diberi perlakuan.

51

Penelitian eksperimen (eksperimental research) ini merupakan penelitian yang dilakukan untuk menyelidiki kemungkinan timbulnya efek pada sebuah kelompok penelitian dengan mengenakan kondisi perlakuan (treatment), kemudian hasilnya dibandingkan dengan kelompok yang sama sebagai kelompok kontrol yang tidak diberi perlakuan, sehingga diketahui efek kausalitas dari pemberian perlakuan tersebut. Penggunaan metode eksperimen difokuskan pada kegiatan percobaan metode inkuiri dalam menyunting surat resmi.

3.2

Desain Penelitian Dalam penelitian eksperimen diperluksan sebiah desain yang cocok untuk

memperjelas kedudukan dan hubungan variabel serta memperlancar proses penelitain. Dalam riset eksperimental ini, desain selalu dilibatkan tiga hal, yaitu sampel, perlakuan, dan ukuran atau observasi. Keterlaksanaan eksperimen banyak ditentukan oleh kecermatan dalam menggunakan desain penelitian atau memperlakukan subjek penelitian, manipulasi, dan melakukan observasi (pengukuran), sehingga diperlukan desain riset eksperimental yang tepat dan cocok dengan tujuan penelitian ini. Desain eksperimental memiliki beberapa jenis. Dalam penelitian ini, desain eksperimen yang akan digunakan ialah Desain Prates-Pascates Satu Kelompok atau One Group Pretest-Postest Design (Sukmadinata, 2005:208). Skema desain tersebut tampak pada bagan berikut.

52

Pretes (T1) O1

Treatment (Perlakuan) X

Postes (T2) O2

Bagan 3.1 Prates-Pascates Satu Kelompok Keterangan : O1 X O2 = Tes Awal (Pretes) = Perlakuan/Treatment =Tes Akhis (Postes) Sesuai dengan desain tersebut, tes dilakukan kepada satu kelompok sampel sebanyak dua kali, yaitu sebelum eksperimen (pretes) dan sesudah eksperimen (postes). Observasi yang dilakukan sebelum eksperimen (O1) disebut pretes dan observasi sesudah eksperimen (O2) disebut postes. Pretes diberikan untuk mengukur kemampuan awal sampel penelitian sebelum diberi perlakuan atau sebelum diberi penjelasan tentang penggunaan metode inkuiri dalam

pembelajaran menyunting surat resmi. Kemudian, kepada sampel diberikan perlakuan (treatment). Selanjutnya, diberikan postes sebagai langkah untuk mengetahui perkembangan kemampuan sampel dalam menyunting surat resmi dengan metode inkuiri. Perkembangan hasil belajar tersebut dapat diihat dari perbandingan skor prates dan postes. Perbedaan antara O1 dan O2 atau O2 - O1 diasumsikan merupakan efek dari treatment atau perlakuan.

53

3.3

Operasional Variabel Penelitian Djojosuroto dan Sumaryati (2009:11) mengatakan bahwa variabel adalah

karakteristik atau ciri-ciri dari orang, benda-benda atau keadaan yang mempunyai nilai-nikai yang berbeda-beda. Berdasarkan pengertian itu, variabel mengacu pada gejala, karakteristik, peristiwa, keadaan, yang kemunculannya bervariasi pada setiap subjek. Operasional variabel berarti batasan tentang keberadaan variabel secara operasional, bentuk dan jenis datanya, pengukurannya, dan substansi kedudukan dan kaitan dengan variabel lain. Setiap variabel harus menujukkan data dan cara mengukurnya. Dalam penelitian ini, terdapat dua variabel utama, yaitu variabel bebas (independent variable) atau variabel penyebab dan variabel terikat (dependent variable) atau variabel akibat. Yang menjadi variabel bebas adalah metode inkuiri. Sementara itu, yang menjadi variabel terikat adalah kemampuan menyunting surat resmi. Sebagai variabel bebas, metode inkuiri dimanipulasi, diukur, dan diteliti pengaruhnya terhadap kemampuan menyunting surat resmi sebagai variabel terikat. Tingkat kemampuan menyunting surat resmi dengan menggunakan metode inkuiri harus dinetralisir oleh variabel lain, yaitu variabel kontrol. Variabel kontrol ini menjadi faktor untuk menetralisir pengaruh variabel luar terhadap hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Karena itu, variabel yang diteliti dalam penelitian eksperimen ini adalah variabel eksperimen (variabel X), yakni nilai kemampuan menyunting surat resmi dengan menggunakan metode inkuiri dan variabel kontrol (variabel Y), yakni nilai kemampuan menyunting surat resmi tanpa menggunakan metode inkuiri.

54

Adapun kedudukan variabel tersebut dapat dilihat pada bagan berikut. Variabel Bebas Metode Inkuiri

Variabel Penelitian

Variabel Eksperimen (X) = Menyunting surat resmi dengan menggunakan metode inkuiri

Variabel Kontrol (Y) = Menyunting surat resmi tanpa menggunakan metode inkuiri

Variabel Terikat Kemampuan Menyunting Surat Resmi

Bagan 3.2 Variabel Penelitian

55

Berdasarkan uraian di atas, indikator variabel tersebut ialah sebagai berikut. Tabel 3.1 Variabel dan Indikator Variabel

Variabel dan Subvariabel Menyunting resmi a. dengan metode inkuiri. b. tanpa metode inkuiri. surat

Indikator

Mampu menyunting surat resmi sesuai dengan konteks dengan mempperhatikan kriteria, yaitu : (1) ejaan dan tanda baca; (2) pilihan kata; (3) keefektifan kalimat; (4) keterpaduan paragraf;

(5) kebulatan wacana.

3.4

Populasi dan Sampel Penelitian

3.4.1 Populasi Penelitian Populasi adalah himpunan keseluruhan karakteristik dari objek yang diteliti (Sedarmayanti dan Hidayat, 2002:121). Populasi mengacu pada keseluruhan subjek penelitian yang menjadi objek penelitian, baik dalam bentuk manusia maupun bukan manusia. Berdasarkan sumber data sebagai subjek penelitian dan bentuk data sebagai objek penelitian, populasi dalam penelitian ini 56

adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Plered Purwakarta dan hasil tes menyunting surat resmi yang berjumlah 200 orang. Berikut ini data jumlah populasi siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Plered Purwakarta Tahun Pelajaran 2009/2010. Tabel 3.2 Populasi Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Plered Purwakarta Tahun Pelajaran 2009/2010

No.

Kelas

Jumlah

1. 2. 3. 4. 5. Jumlah

VIII A VIII B VIII C VIII D VIII E

40 40 40 40 40 360

3.4.2

Sampel Penelitian Sampel penelitian adalah sebagian atau wakil dari wakil populasi yang

akan diteliti. Teknik sampling yang digunakan dalam menentukan besarnya jumlah sampel adalah teknik cluster sampling. Berkaitan dengan teknik cluster sampling ini, Ali (1987:67) menyatakan sebagai berikut.

57

Pada cluster sampling, sampel terdiri dari sekelompok anggota yang terhimpun pada gugus (cluster), bukan anggota populasi yang diambil secara satu persatu (secara individual). Terlihat di sini bahwa cluster sampling mengambil sekelompok individu, bukan mengambil secara individu anggota populasi menjadi sampel penelitian. Berdasarkan kutipan di atas dapat dikatakan bahwa teknik sampel kelompok (cluster sampling) mengambil besarnya sampel dari gugus atau kelompok individu (kelas) tertentu yang secara representatif memiliki

homogenitas dan mewakili populasi secara keseluruhamn. Dalam penelitian ini, penulis mengambil sampel kelas VIII B SMP Negeri 2 Plered Purwakarta sebanyak 40 orang siswa.

3.5

Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data

3.5.1 Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data merupakan cara mengumpulkan data variabel yang diteliti. Teknik penelitian yang digunakan ialah teknik tes. Teknik tes merupakan cara melakukan penilaian yang berbentuk latihan, pertanyaan, atau tugas yang harus dikerjakan siswa untuk mendapatkan data kemampuan atau prestasi siswa. Teknik tes yang dimaksud adalah teknik tes menyunting surat resmi yang digunakan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi dalam kaitan dengan uji coba penggunaan metode inkuiri. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini merupakan data primer berupa skor yang diperoleh dari tes menyunting surat resmi dengan menggunakan metode inkuiri pada siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Plered Purwakarta tahun pelajaran 2009/2010. Data tersebut diperoleh melalui dua tahap, yaitu:

58

1) Pretes, yaitu tes yang diberikan sebelum pembelajaran dimulai yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan awal siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Plered Purwakarta tahun pelajaran 2009/2010 dalam menyunting surat resmi sebelum menggunakan metode inkuiri. 2) Postes, yaitu tes yang diberikan setelah pembelajaran dilaksanakan yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan menyunting surat resmi siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Plered Purwakarta tahun pelajaran 2009/2010 dalam menyunting surat resmi dengan menggunakan metode inkuiri.

3.5.2

Instrumen Pengumpulan Data Instrumen pengumpulan data merupakan alat untuk mengumpulkan data

dari subjek penelitian. Berdasarkan jenis dan bentuk data yang akan dikumpulkan, instrumen tes yang akan digunakan adalah instrumen tes menyunting surat resmi. Instrumen ini berbentuk tes menyunting surat resmi. Alat tes ini digunakan untuk mengumpulkan data berupa kemampuan subjek penelitian dalam pembelajaran menyunting surat resmi dalam kaitan dengan percobaan penggunaan metode inkuiri. Instrumen tes itu digunakan pada pretes dan postes dengan bentuk yang berbeda. Dalam menyusun instrumen, dipertimbangkan fungsi tes, aspek yang dinilai, bentuk tes, petunjuk pengerjaan, dan tujuan alat tes. Aspek-aspek atau kategori yang tercakup dalam instrumen diarahkan untuk menilai kemampuan sampel dalam menyunting surat resmi dengan aspek-aspek penilaian meliputi : (1)

59

ejaan dan tanda baca; (2) pilihan kata; paragraf; (5) kebulatan isi surat.

(3) struktur kalimat; (4) kepaduan

Dalam menyusun instrumen, dilakukan beberapa langkah, di antaranya menyusun kisi-kisi instrumen tes; menyusun alat tes dengan sejumlah petunjuk pengerjaannya; menyunting butir-butir soal; dan menggandakan instrumen. Kisikisi instrumen tes menyunting surat resmi dengan metode inkuiri memuat variabel, subevariabel, kategori/indikator, sumber data, dan teknik pengumpulan data (Sukmadinata, 2005:235). Kisi-kisi yang dimaksud berikut. Tabel 3.3 Kisi-Kisi Instrumen Tes Menyunting Surat Resmi
Variabel / Subvariabel Kemampuan menyunting Kategori/Indikator Sumber Data Teknik/Instrumen Mampu menyunting surat 40 siswa kelas Teknik surat resmi pada spek : VIII SMP instrumen dan tes

tampak pada tabel

resmi sebelum dan (1) ejaan dan tanda baca; sesudah menggunakan metode inkuiri : a. Bahasa b. Isi c. Penyajian (2) pilihan kata; (3) keefektifan kalimat; (4) keterpaduan paragraf;

Negeri 2 Plered menyunting surat Purwakarta resmi dan sebelum setelah

menggunakan metode inkuiri

(5) kebulatan wacana.

60

3.6 3.6.1

Prosedur Penelitian dan Teknik Analisis Data Prosedur Penelitian Prosedur penelitian merupakan langkah-langkah penelitian yang

dilakukan. Prosedur penelitian ini dilakukan dengan memperhatikan tujuan penelitian, metode penelitian, desain penelitian, dan bentuk data. Penulis melakukan beberapa prosedur umum penelitian, yaitu : (1) mengidentifikasi, membatasi, dan merumuskan masalah; (2) merumuskan hipotesis penelitian; (3) menyusun rencana operasional yang meliputi: menentukan variabel, memilih desain yang digunakan, menentukan sampel, menyusun instrumen, membuat prosedur pengumpulan data, dan merumuskan teknik analisis data; (4) melaksanakan eksperimen atau mengumpulkan data; (5) menyusun data untuk mempermudah analisis data; (6) menentukan taraf signifikansi dan reliabilitas yang digunakan dalam pengujian hipotesis; (7) menganalisis data secara statistik untuk menguji hipotesis; dan (8) membahas serta menyimpulkan hasil penelitian. Dalam kaitan dengan pengolahan data, dilakukan beberapa langkah berikut. 1) Pemberian Skor (Scoring) Menurut Purwanto (2006:72) penskoran (scoring) merupakan suatu proses pengubahan jawaban-jawaban tes menjadi angka-angka atau mengadakan kuantifikasi. Penskoran dilakukan terhadap data mentah (raw-score) yang dikumpulkan yang diperoleh dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Data mentah berupa karangan belum bisa memberikan arti, sehingga perlu

61

ikoreksi dan diberi skor. Penskoran menggunakan Pedoman Penilaian Karangan Narasi yang berisi sepuluh aspek penilaian seperti tampak pada tabel berikut. Tabel 3.4 Pedoman Penilaian Menyunting Surat Resmi No. Aspek Penilaian Skala Nilai Bobot Skor Tertinggi 1. 2. 3. 4. 5. Ejaan dan Tanda Baca Diksi atau Pilihan Kata Struktur Kalimat Paragraf Kebulatan Isi Jumlah Skor 1-5 1-5 1-5 1-5 1-5 2 2 2 2 2 10 10 10 10 10 10 50

Skala nilai melambangkan beberapa makna atau deskripsi arti setiap aspek penilaian. Makna nilai pada skala nilai tersebut adalah sebagai berikut. Nilai 5 berarti sangat bagus, nilai 4 berarti bagus, nilai 3 berarti cukup bagus, nilai 2 berarti kurang bagus, dan nilai 1 berarti tidak bagus/jelek. Bobot yang diberikan kepada setiap aspek penilaian sama, disesuaikan dengan tingkat kepentingan, kebutuhan, dan kesulitan atau tujuan tertentu. Dengan menggunakan pedoman penilaian di atas akan diperoleh skor poster. Skor tertinggi yang mungkin

diperoleh oleh siswa adalah 50 dan skor terendah adalah 10. Berikut ini deskriptor dan indikator masing-masing aspek penilaian menyunting surat resmi dengan skala 1 – 5.

62

Tabel 3.5 Deskriptor Aspek Penilaian Menyunting Surat Resmi Nilai Ejaan dan Tanda Baca Mampu menyunting ejaan dan tanda baca dengan : 5 4 3 2 1 Sangat baik dan benar. Baik dan benar. Cukup baik dan benar. Kurang baik dan benar. . Tidak baik dan benar. Pilihan Kata Mampu menyunting diksi dengan : 5 4 3 2 1 Sangat baik dan benar. Baik dan benar. Cukup baik dan benar. Kurang baik dan benar. . Tidak baik dan benar. Penyusunan Kalimat Mampu menyunting kalimat dengan : 5 4 3 2 1 Sangat baik dan benar. Baik dan benar. Cukup baik dan benar. Kurang baik dan benar. . Tidak baik dan benar. Deskriptor

63

Penyusunan Paragraf Mampu menyunting paragraf dengan : 5 4 3 2 1 Sangat baik dan benar. Baik dan benar. Cukup baik dan benar. Kurang baik dan benar. . Tidak baik dan benar. Kebulatan Isi Mampu menyunting isi surat dengan : 5 4 3 2 1 Sangat baik dan benar. Baik dan benar. Cukup baik dan benar. Kurang baik dan benar. . Tidak baik dan benar.

2) Penilaian (Grading atau Valuing) Penilaian dalam hal ini merupakan pemberian nilai (grading atau valuing), yaitu sebagai suatui proses untuk mengukur kadar pencapaian seseorang (Nurgiyantoro, 1988:5). Data hasil penilaian berupa nilai (angka) yang dapat dijadikan bahan pemberian pertimbangan, keputusan, dan proses penganalisisan data secara statistik. Untuk memperoleh nilai, dilakukan konversi skor ke dalam skala nilai 1-10. Teknik pengubahan skor menjadi nilai ditempuh dengan menggunakan rumus berikut.
NP = R _________ SM X 10

(Purwanto, 2006:103)

64

Keterangan : NP R SM 10 = Nilai yang dicari = Skor mentah yang diperoleh = Skor maksimum ideal = Bilangan tetap Dengan diperoleh nilai, dapat ditentukan batas ketuntasan belajar atau kemampuan menyunting surat resmi secara klasikal dan individual. Secara individual, paling sedikit siswa mencapai 60 % penguasaan kompetensi dasar (Depdiknas, 2004:39). Secara purposive, siswa dianggap mampu menyunting surat resmi jika memperoleh nilai sebesar 60% dari skor tertinggi. Sebaliknya, siswa tidak mampu menyunting surat resmi jika memperoleh nikai di bawah 60% dari skor tertinggi. Sementara itu, tingkat keberhasilan secara klasikal adalah sebesar 75 % dari siswa memperoleh nilai sebesar 60 % dari skor tertinggi. Penentuan persentase ini didasarkan poada kondisi sekolah dan tujuan tertentu. Deskripsi kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi dilakukan pula secara verbal untuk setiap aspek penilaiannya. Berikut ini pedoman interpretasi tingkat kemampuan menyunting surat resmi siswa.

65

Tabel 3.6 Pedoman Interpretasi Tingkat Kemampuan Menyunting surat resmi Nilai 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Makna Buruk Sekali Buruk Kurang Sekali Kurang Hampir Sedang Sedang Cukup Baik Baik Sekali Sempurna

Adapun untuk kriteria persentase keberhasilan pembelajaran setiap siklus menggunakan rumus : f __________ X 100 n

p= Keterangan : p f n 100

= Persentase yang dicari = Frekuensi nilai yang diperoleh = Jumlah siswa yang dijadikan sampel = Bilangan tetap (konstan) 66

3.6.2

Teknik Analisis Data Analisis data dilakukan dengan memperhatikan metode penelitian, desain

penelitian, dan tujuan penelitian. Langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut : (1) pengumpulan dan penyusunan data, (2) penataan dan klasifikasi, (3) tabulasi data termasuk pengubahan skor menjadi nilai, (4) pemaduan atau perangkuman data, (5) pengolahan atau analisis data dengan teknik statistik, dan (6) penapsiran dan penyimpulan. Analisis data dilakukan untuk mencari perbedaan mean variabel X dan variabel Y. Oleh karena itu, teknik analisis data untuk menguji hipotesis yang digunakan adalah teknik analisis statistik tes-t (T-tes). Tes-t (T-tes) digunakan untuk membandingkan rata-rata atau mean (M) dan standar error (SE) perbedaan dua mean dua kelompok eksperimen dan kontrol. Teknik ini membantu penulis menentukan perbedaan-perbedaan antara dua kelompok sebagai hasil dari percobaan, sekaligus mengetahui pengaruh metode inkuiri terhadap kemampuan menyunting surat resmi. Dalam menganalisis data, mean variabel X dan mean variabel Y dihitung secara statistik. Teknik analisis data untuk menguji diterima atau ditolaknya hipotesis penelitian menggunakan rumus t-tes, sehingga diperoleh nilai “to”

(nilai t hitung) dan dibandingkan dengan nilai “tt” (nilai t tabel). Nilai “to” adalah perbedaan dua mean, sedangkan “tt” adalah harga kritik "t" yang terdapat pada tabel nilai t. Rumus t-tes (to) yang digunakan ialah : to = M1 - M2 SEM1 – SEM2 (Sudijono, 1992:297) 67

Keterangan : to M1 M2 SEM1 – SEM2 = Perbedaan dua mean = = = Mean variabel X Mean variabel Y Standar eror perbedaan dua mean

Untuk memperoleh nilai hitung (nilai to), dilakukan beberapa tahap penghitungan, yaitu sebagai berikut. 1. Menyiapkan tabel distribusi frekuensi nilai variabel X dan nilai variabel Y. 2. Menentukan mean (M), standar deviasi (SD), dan standar Error (SE), nilai variabel X dan nilai variabel Y dengan rumus :
M1 fX N1

atau M 2

fY N2

SD1

1 ( N1)( N1

fX ) (

fX ) atau SD2
SD 2 N2 1

1 ( N 2)( N2

fY)(

fY )

SEM 1

SD1 atau N1 1

SEM 2

3. Mencari standar error dari perbedaan mean variabel X dan mean variabel Y (SEM1 – SEM2) dengan menggunakan rumus:
SEM 1 SEM 2 SEM 1 SEM 2

4. Mencari nilai to atau perbedaan mean variabel X dan variabel Y dengan menggunakan rumus: to = M1 - M2 SEM1 – SEM2

68

5. Menafsirkan dan membandingkan nilai “to” dengan nilai “tt” dengan melihat tabel nilai “tt” dengan terlebih dahulu menetapkan df atau db. 6. Menguji hipotesis dan menyimpulkan hasil penelitian.

3.7

Rancangan Pengujian Hipotesis Dalam rancangan uji hipotesis ini dilakukan beberapa tahapan, yaitu

mengajukan kembali rumusan hipotesis, menentukan taraf signifikansi dan reliability, menganalisis data, mencari nilai hitung, menetapkan derajat bebas (db) atau degrees of freedom (df), dan merumuskan kriteria pengujian hipotesis. Hipotesis penelitian yang akan diuji dalam riset eksperimental ini terdiri dari dua bentuk rumusan, yaitu hipotesis alternatif (Ha) dan hipotesis nihil (Ho). Rumusan kedua hipotesis tersebut adalah sebagai berikut. 1) Hipotesis alternatif/kerja (Ha): Ada perbedaan yang signifikan tentang kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi sebelum menggunakan metode inkuiri dan sesudah menggunakan metode inkuiri. 2) Hipotesis nihil/nol (Ho): Tidak ada perbedaan yang signifikan tentang kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi sebelum menggunakan metode inkuiri dan sesudah menggunakan metode inkuiri. Taraf signifikansi dan reliability menggunakan pengujian dua pihak, yaitu taraf signifikansi 5% dan taraf signifikansi 1% atau taraf reliability 95 % dan taraf reliability 99 %. Untuk menguji hipotesis mana yang diterima dan ditolak, nilai

69

hitung (to) dibandingkan dengan harga kritik “t” atau nilai t tabel (tt), baik pada taraf signifikansi 5% maupun pada taraf signifikansi 1%. Pembandingan nilai tersebut dilakukan dengan terlebih dahulu menetapkan besarnya derajat bebas (db) atau degrees of freedom (df). Untuk menetapkan df, diggunakan rumus df = (N1+N2) -2 (Sudijono, 1992:299). Dengan diketahuinya df, kriteria pengujian hipotesis adalah seperti berikut. Jika pada taraf signifikansi 5% dan 1%, “to” lebih besar daripada “tt”, maka Ha diterima dan Ho ditolak. Sebaliknya, jika pada taraf signifikansi 5% dan 1%, “to” lebih kecil daripada “tt”, maka Ha ditolak dan Ho diterima.

70

BAB IV HASIL PENELITIAN, ANALISIS DATA, DAN PEMBAHASAN

4.1

Hasil-hasil Penelitian Data hasil penelitian diperoleh melalui kegiatan penelitian di SMP Negeri

2 Plered Purwakarta. Pengumpukan data dilakukan dengan menggunakan instrumen tes kemampuan menyunting surat resmi dengan dan tanpa menggunakan metode inkuiri terhadap sampel sebagai subjek penelitian yang berjumlah 40 orang siswa kelas VIII. Sampel diambil dari populasi siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Plered Purwakarta yang berjumlah 360 orang siswa dengan menggunakan metode cluster sampling. Berdasarkan desain penelitian yang digunakan, 40 sampel itu diposisikan sebagai subjek kelompok eksperimen dan sebagai subjek kelompok kontrol. Kepada subjek penelitian itu diberikan tes untuk memperoleh data dengan menggunakan instrumen yang berbeda. Instrumen tes pertama yang digunakan adalah instrumen tes menyunting surat resmi tanpa menggunakan metode inkuiri. Tes pertama (pretes) dilakukan tanpa memberikan perlakuan (treatment). Sementara itu, instrumen tes kedua yang digunakan adalah instrumen tes menyunting surat resmi dengan metode inkuiri. Tes kedua (postes) dilakukan dengan terlebih dahulu memberikan perlakuan (treatment). Dengan demikian, dari hasil pelaksanaan pengumpulan data diperoleh dua buah data mentah, yaitu

67

suntingan surat resmi yang dilakukan tanpa menggunakan metode inkuiri dan dengan menggunakan metode inkuiri. 4.1.1 Deskripsi Data Data statistik berupa skor kemampuan menyunting surat resmi siswa, baik dengan maupun tanpa menggunakan metode inkuiri diperoleh dengan melakukan penilaian terhadap hasil kerja siswa dengan menggunakan pedoman penilaian menyunting surat resmi. Pedoman tersebut memuat lima aspek penilaian, yaitu : ejaan dan tanda baca, pilihan kata, struktur kalimat, paragraf, dan kebuilatan isi. Setiap aspek penilaian memiliki skala nilai 1 sampai 5 dengan bobot untuk kelima aspek penilaian tersebut ialah 2, 2, 2, 2, dan 2. Skala nilai melambangkan makna atau arti setiap aspek penilaian kualitatif, yaitu : nilai 5 berarti sangat bagus, nilai 4 berarti bagus, nilai 3 berarti cukup bagus, nilai 2 berarti kurang bagus, dan nilai 1 berarti tidak bagus/jelek. Dengan demikian, skor tertinggi yang mungkin diperoleh siswa ialah 50 dan skor terendah ialah 10. Berikut ini deskripsi data berupa skor kemampuan menyunting surat resmi siswa sebelum menggunakan metode inkuiri dan sesudah menggunakan metode inkuiri.

68

Tabel 4.1 Data Berupa Skor Kemampuan Menyuntung Surat Resmi Tanpa Menggunakan Metode Inkuiri (Variabel Y) Nomor Subjek
1 2

Nilai Aspek Penilaian Nomor
3 4 5

Skor 6 8 8 8 8 8 8 8 8 4 8 4 6 4 8 4 6 6 8 8 4 6 6 6 8 6 6 6 6 6 4 8 4 6 4 8 4 6 6 6 6 4

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21.

3 2 2 4 2 2 3 3 2 2 4 2 3 2 4 2 3 3 2 3 2

9 3 3 12 3 3 12 12 3 6 12 6 9 6 12 6 9 9 3 12 6

6 6 6 8 6 6 6 6 6 4 8 4 6 4 8 4 6 6 6 6 4 69

30 25 25 40 25 25 35 35 25 20 40 20 30 20 40 20 30 30 25 35 20

22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40.

2 2 2 4 2 3 2 3 2 3 2 3 2 3 2 2 3 2 3

3 3 6 12 3 9 6 9 6 9 6 12 6 9 3 3 9 3 9

6 6 4 8 6 6 4 6 4 6 4 6 4 6 6 6 6 6 6

8 8 4 8 8 6 4 6 4 6 4 8 4 6 8 8 6 8 6

6 6 4 8 6 6 4 6 4 6 4 6 4 6 6 6 6 6 6

25 25 20 40 25 30 20 30 20 30 20 35 20 30 25 25 30 25 30

70

Tabel 4.2 Data Berupa Skor Kemampuan Menyunting Surat Resmi Dengan Menggunakan Metode inkuiri (Variabel X) Nomor Subjek
1 2

Nilai Aspek Penilaian Nomor
3 4 5

Skor 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 6 8 8 8 4 8 8 8 8 4 8 6 6 6 8 6 6 6 6 6 8 6 8 6 8 4 8 6 6 8 4

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21.

4 3 2 3 4 3 2 3 3 2 4 3 4 2 4 2 4 3 2 4 2

12 12 3 12 12 12 3 12 12 3 12 9 12 3 12 6 12 12 3 12 6

8 6 6 6 8 6 6 6 6 6 8 6 8 6 8 4 8 6 6 8 4 71

40 35 25 35 40 35 25 35 35 25 40 30 40 25 40 20 35 40 35 40 20

22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38. 39. 40.

3 4 3 4 3 4 3 2 3 3 2 4 2 2 3 2 3 2 3

12 12 12 12 9 12 9 6 9 12 6 12 6 3 9 6 9 3 9

6 8 6 8 6 8 6 4 6 6 4 8 4 6 6 4 6 6 6

8 8 8 8 6 8 6 4 6 8 4 8 4 8 6 4 6 8 6

6 8 6 8 6 8 6 4 6 6 4 8 4 6 6 4 6 6 6

35 40 35 40 30 40 35 20 30 35 30 35 20 30 30 20 30 25 30

Skor yang diperoleh diubah menjadi nilai berstandar 1-10. Konversi dilakukan untuk memudahkan penganalisisan data untuk kepentingan pengujian hipotesis. Pengubahan skor menjadi nilai tersebut ditempuh dengan menggunakan rumus. Rumus konversi nilai yang dimaksud adalah seperti berikut. R __________ SM

NP =

X 10

(Purwanto, 2006:103)

72

Keterangan : NP R SM 10 = Nilai yang dicari = Skor mentah yang diperoleh = Skor maksimum ideal = Bilangan tetap

Berdasarkan rumus konversi nilai tersebut, nilai kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi dengan menggunakan metode inkuiri (data variabel X) dan tanpa metode inkuiri (data variabel Y) dapat diketahui. Berikut ini distribusi nilai kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi dengan menggunakan metode inkuiri dan tanpa metode inkuiri yang disajikan dalam bentuk tabel. Tabel 4.3 Nilai Kemampuan Menyunting Surat Resmi dengan Metode Inkuiri (Variabel X) dan Tanpa Metode Inkuiri (Variabel Y) Nilai Kemampuan Menyunting Surat Resmi Nomor Subjek Dengan Menggunakan Metode Inkuiri (Variabel X) 1 2 3 4 5 6 8 7 5 7 8 7 Tanpa Menggunakan Metode Inkuiri (Variabel Y) 6 5 5 8 5 5

73

7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36

5 7 7 5 8 6 8 5 8 4 7 8 7 8 4 7 8 7 8 6 8 7 4 6 7 6 7 4 6 6 74

7 7 5 4 8 4 6 4 8 4 6 6 5 7 4 5 5 4 8 5 6 4 6 4 6 4 7 4 6 5

37 38 39 40

4 6 5 6

5 6 5 6

Untuk mengetahui pencapaian tingkat keberhasilan atau kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi digunakan batas keberhasilan sebesar 75% dari skor tertinggi yang diperoleh siswa. Batas keberhasilan individual adalah bernilai 6. Dengan perkataan lain, siswa dianggap mampu menyunting surat resmi, jika ia memperoleh nilai 6 atau di atas nilai 6 dan siswa dianggap tidak mampu menyunting surat resmi, jika ia memperoleh nilai di bawah nilai 6. Berdasarkan tabel 4.1 di atas, siswa yang mampu menyunting surat dengan menggunakan metode inkuiri berjumlah 30 orang atau 75% dan siswa yang tidak mampu menyunting surat resmi dengan menggunagakan metode inkuiri berjumlah 10 orang atau 25%. Distribusi nilai yang diperoleh lima orang yang memperoleh nilai 4, lima orang memperoleh nilai 5, delapan orang yang memperoleh nilai 6, duabelas orang yang memperoleh nilai 7, dan sepuluh orang yang memperoleh nilai 8. Sementara itu, siswa yang mampu menyunting surat resmi tanpa menggunakan metode inkuiri berjumlah 18 orang atau 45% dan siswa yang tidak mampu menyunting surat resmi tanpa menggunakan metode inkuiri berjumlah 22 orang. Distribusi nilai kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi tanpa menggunakan metode inkuiri diketahui ada sepuluh orang yang memperoleh nilai 4, duabelas orang yang memperoleh nilai 5, sepuluh orang yang memperoleh

75

nilai 6, empat orang yang mendapat nilai 7, dan empat orang yang memperoleh nilai 8. Distribusi nilai tersebut menunjukkan adanya perbedaan prestasi subjek penelitian. Secara umum, nilai variabel X lebih baik daripada nilai variabel Y. Dengan perkataan lain, kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi dengan menggunakan metode inkuiri lebih baik dibandingkan ketika mereka mampu menyunting surat resmi tanpa menggunakan meode inkuiri. Dalam hal ini, terdapat perbedaan kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi dengan menggunakan metode inkuiri dan tanpa menggunakan metode inkuiri. Disitribusi nilai Variabel X dan Variabel Y dapat dilihat pada bagan berikut. Grafik 4.1 Diatribusi Nilai Variabel X dan Variabel Y
14 12 10 8 6 4 2 0 Frek uesni Nilai Var X Frek uensi Nilai Var Y

8 10 4

7 12 4

6 8 10

5 5 12

4 5 10

76

4.1.2

Analisis Data Analisis data secara statistik dimaksudkan memperoleh nilai hitung yang

berguna dalam menguji hipotesis penelitian yang diajukan dan membuat kesimpulan hasil penelitian. Uraian pada bagian ini akan difokuskan pada pengolahan data dalam rangka pengujian hipotesis. Analisis data dilakukan dengan parameter statistik. Metode analisis data yang digunakan adalah metode analisis t-Tes. Tes “t” digunakan untuk mencari perbedaan dua mean, sehingga diperoleh nilai hitung (to). Untuk memperoleh nilai to (perbedaan dua mean), digunakan rumus berikut.

to

M1 M 2 SEM 1 SEM 2
(Sudijono, 1992:297)

Keterangan : to M1 M2 = perbedaan dua mean = mean variabel X = mean variabel Y

SEM1 – SEM2 = standar error perbedaan dua mean

Dalam mencari nilai hitung atau to , penulis melakukan beberapa tahap penghitungan sebagai berikut. 1) Menyiapkan Tabel Distribusi Frekuensi Nilai Variabel X dan Nilai Variabel Y

77

Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Nilai Prates (Variabel X) VARIABEL X Nilai 8 7 6 5 4 Tanda IIII IIII IIII IIII II IIII III IIII IIII Frekuensi 10 12 8 5 5 N = 40

Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Nilai Prates (Variabel Y) VARIABEL Y Nilai 8 7 6 5 4 Tanda IIII IIII IIII IIII IIII IIII II IIII IIII Frekuensi 4 4 10 12 10 N = 40

2) Menentukan Mean (M), Standar Deviasi (SD), dan Standar Error (SE) Nilai Pascates (Variabel X) dan Nilai Prates (Variabel Y) 78

Sebelum menentukan Mean, SD, dan SE variabel X dan variabel Y, dipersiapkan perhitungan awal seperti tampak pada tabel berikut. Tabel 4.6 Persiapan Penghitungan Mean, Sd, Dan SeVariabel X X 8 7 6 5 4 f 10 12 8 5 5 N=40 fx 80 84 48 25 20 fx = 257 x2 64 49 36 25 16 fx2 640 588 288 125 80 fx2 = 1.721

Adapun persiapan penghitungan Mean, SD, dan SE Variabel Y tersaji pada tabel berikut. Tabel 4.7 Persiapan Penghitungan Mean, Sd, Dan Se Variabel Y Y 8 7 6 5 4 F 4 4 10 12 10 N = 40 fy 32 28 60 60 40 fy =220 Y2 64 49 36 25 16 Fy2 256 196 360 300 160 fy2 = 1.272

79

Untuk memperoleh Mean (M), Standar Deviasi (SD), dan Standar Error (SE) Variabel X dan Variabel Y (M1 atau M2, SD1 atau SD2, dan SE1 atau SE2), penulis menggunakan rumus yang berikut.

M1

fx N1
1 N1
1 N2

atau

M2

fx N2
fx )²

SD1

( N1 )(

fx ²) (

atau

SD2

( N 2 )(

fy ²) (

fy ) ²

SEM 1

SD1 atau SEM 2 N1 1

SD2 N2 1
(Sudijono, 1992:152)

Dengan menggunakan rumus di atas, penghitungan mean, standar deviasi, dan standar error variabel X adalah sebagai berikut.

M1

fx N1
257 40

M1

M1
SD1

=

6,4
fx ²) ( fx )²

1 ( N 2 )( N2

SD1

1 (40)(1.721) (257)² 40

SD1

1 (68.840)- (66.049) 40

80

SD1

1 2.791 40

SD1

1 x52,829 40

SD1 = 1,320

SEM 1

SD1 N1 1
1,320 40 1

SEM 1

SEM 1

1,320 39

SEM 1

1,320 6.244

SEM1 = 0,211 Penghitungan mean, standar deviasi, dan standar error variabel Y dilakukan dengan menggunakan rumus yang sama. Berikut ini proses dan hasil penghitungannya.

M2

fy N1
220 40

M2

M2
SD2

= 5,5
1 ( N 2 )( N2 fy ²) ( fy )²

SD2

1 (40) (1.272) - (220)² 40

81

SD2

1 (50.880)- (48.400) 40

SD2

1 2.480 40
1 x 49,799 40

SD2

SD2 = 1,244

SEM 2

SD2 N2 1
1,244 40 1 1,244 39 1,244 6,244

SEM 2

SEM 2

SEM 2

SEM2 = 0,199 Berikut ini, rekapitulasi mean, standar deviasi, dan standar error untuk kedua variabel tersebut. Tabel 4.9 Mean (M), Standar Deviasi (SD), dan Srandar Error (SE) Variabel X danVariabel Y VARIABEL X 6,4 1,320 0,211 Mean (M) Standar Deviasi (SD) Standar Error (SEM) VARIABEL Y 5,5 1,244 0,199

82

3) Mencari Standar Error dari Perbedaan Mean Variabel X dan Mean Variabel Y Untuk mengetahui nilai standar error dari perbedaan mean variabel X dan variabel Y ( SEM1 - SEM2), diggunakan rumus berikut.

SE M1 SEM 2

SE M1 ² SE M2 ²
(Sudijono, 1992:308)

Dengan menggunakan rumus di atas, nilai standar error perbedaan mean variabel X dan mean variabel Y ( SEM1 – SEM2) adalah sebagai berikut. SEM1 – SEM2 = SEM12 + SEM22

SEM1 SEM 2 SEM1 SEM 2 SEM1 SEM 2
SE M1 SEM 2

0,211² 0,199² 0,044521 0,039601 0,084122
0,290

4) Mencari to atau perbedaan Mean Variabel X dan Mean Variabel Y Dalam memperoleh nilai to (perbedaan dua mean), penulis menggunakan rumus berikut.

to

M1 M 2 SEM 1 SEM 2
(Sudijono, 1992:297)

Dengan diketahuinya mean variabel X (M1), mean variabel Y (M2), dan standar error dari perbedaan mean variabel X dan variabel Y (SEM1 – SEM2), maka nilai to adalah 3,10. Nilai to tersebut diperoleh melalui penghitungan dengan rumus tersebut diatas, yaitu :

83

to

6,4 - 5,5 0,290
0,9 0,290

to

to = 3,10

4.1.3

Pengujian Hipotesis Dalam menguji hipotesis penelitian, dilakukan beberapa tahap, yaitu

menyusun kembali hipotesis penelitian, menetapkan taraf signifikansi dengan pengujian dua pihak, menentukan kriteria pengujian hipotesis, melakukan interpretasi nilai “to” dengan berkonsultasi pada Tabel Nilai “t” untuk berbagai df, dan menarik kesimpulan. Dalam penelitian ini, hipotesis yang diuji terdiri dari dua rumusan, yaitu hipotesis alternatif atau hipotesis kerja (Ha) dan hipotesis nihil atau hipotesis nol (Ho). Hipotesis alternatif (Ha) berbunyi : “Terdapat perbedaan yang signifikan tentang kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi dengan menggunakan metode inkuiri dan tanpa menggunakan metode inkuiri”. Sementara itu, hipotesis nihil (Ho) berbunyi : “Tidak terdapat perbedaan yang signifikan tentang kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi dengan menggunakan metode inkuiri dan tanpa menggunakan metode inkuiri”. Taraf signifikansi yang digunakan dalam pengujian hipotesis adalah taraf signifikansi (kebermaknaan) 1% atau taraf kepercayaan 99% dan taraf signifikansi (kebermaknaan) 5% atau taraf kepercayaan 95%. Nilai to yang diperoleh melalui perhitungan akan dibandingkan dengan besarnya nilai “tt” atau harga kritik “t” 84

yang terdapat pada Tabel Nilai “t” berdasarkan taraf signifikansi tersebut, dengan terlebih dahulu menetapkan derajat kebebasan (db). Rumus untuk menentukan derajat kebebasan (db) atau degrees of freedom (df) yang digunakan adalah df atau db = (N1 + N2) – 2 (Sudijono, 1992:299). Dengan menggunakan rumus tersebut, maka df yang diketahui adalah 78 (40+40-2 ). Karena df sebesar 78 tidak dijumpai dalam Tabel Nilai “t”, maka digunakan df yang terdekat, yaitu 80. Pada Tabel Nilai “t” diketahui harga kritik “t” pada taraf signifikansi 5% atau taraf kepercayaan (5%) dengan df 80 bernilai 1,99. Adapun harga kritik “t” pada taraf signifikansi 1% atau taraf kepercayaan 95% dengan df 80 bernilai 2,64. Dengan demikian, nilai to kebih besar daripada tt, yaitu : 1,99 3,10 2,64 ( 5% : tt ) to ( 1% : tt )

Sementara itu, kriteria pengujian hipotesis adalah sebagai berikut. Jika pada taraf signifikansi 1% dan 5% nilai to lebih besar daripada tt, maka Ha diterima dan Ho ditolak. Sebaliknya, jika to lebih kecil daripada tt, maka Ha ditolak dan Ho diterima. Karena nilai to lebih besar daripada tt, maka hipotesis alternatif (Ha) yang menyatakan “Terdapat perbedaan yang signifikan tentang kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi dengan menggunakan metode inkuiri dan tanpa menggunakan metode inkuiri”, diterima. Sebaliknya, hipotesis hipotesis nihil (Ho) yang menyatakan “Tidak terdapat perbedaan yang signifikan

85

tentang kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi dengan menggunakan metode inkuiri dan tanpa menggunakan metode inkuiri”, ditolak. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis di atas, dapat diartikan bahwa antara kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi dengan menggunakan metode inkuiri lebih baik dibandingkan dengan kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi tanpa menggunakan metode inkuiri. Dengan perkataan lain, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan kemampuan menyunting surat resmi dengan menggunakan metode inkuiri dan tanpa menggunakan metode inkuiri.

4.2

Pembahasan Hasil Penelitian Keterampilan menyunting surat, khususnya keterampilan menyunting

surat resmi sangat penting dikuasai oleh siswa. Menyunting surat resmi sangat penting untuk melatih ketelitian, kecermatan, dan ketertiban dalam berbahasa tulis. Namun, kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi secara faktual masih belum memuaskan dan perlu terus ditingkatkan melalui penerapan metode yang lebih variatif dan menarik. Untuk itu, penelitian ini dilaksanakan dalam upaya memberikan kontribusi implementasi metodologis, yaitu penelitian tentang kemampuan menyunting surat resmi dengan menggunakan metode inkuiri dan tanpa menggunakan metode inkuiti. Data yang diperoleh dari subjek penelitian dengan menggunakan instrumen penelitian dan pedoman penilaian kemampuan menyunting surat resmi berupa 40 nilai kemampuan menyunting surat resmi dengan menggunakan metode inkuiri dan tanpa metode inkuiri. Berdasarkan distribusi nilai, diketahui jumlah

86

siswa yang mampu menyunting surat resmi dengan metode inkuiri sebanyak 30 orang atau sebesar 75 %. Sementara itu, jumlah siswa yang tidak mampu menyunting surat resmi dengan baik sebanyak 10 orang atau sebesar 25%. Hal ini sesuai batas persentase keberhasilan klasikal yang telah ditetapkan sebesar 75 %. Distribusi nilai yang diperoleh adalah sepuluh orang yang memperoleh nilai 8, duabelas orang yang memperoleh nilai 7 , delapan orang yang memperoleh nilai 6, lima orang memperoleh nilai 5, dan lima orang yang memperoleh nilai 4. Nilai rata-rata kemampuan menyunting surat resmi dengan menggunakan metode inkuiriadalah 6,4. Sementara itu, siswa yang yang mampu menyunting surat resmi tanpa menggunakan metode inkuiri sebanyak 18 orang atau sebesar 45%, sedangkan yang tidak mampu menyunting surat resmi dengan baik sebanyak 22 orang atau sebesar 55 %. Persentase ini berada di bawah batas persentase keberhasilan klasikal yang telah ditetapkan sebesar 75 %. Distribusi nilai yang diperoleh adalah empat orang yang memperoleh nilai 8, empat orang yang mendapat nilai 7, sepuluh orang yang memperoleh nilai 6, duabelas orang yang memperoleh nilai 5, dan sepuluh orang yang memperoleh nilai 4. Nilai rata-rata kemampuan menyunting surat resmi tanpa menggunakan metode inkuiri adalah 5,5. Berdasarkan distribusi nilai, frekuensi nilai, nilai rata-rata, dan persentase keberhasilan sebagaimana diuraikan di atas, menunjukkan adanya perbedaan nilai dan kemampuan subjek penelitian dalam memahami isi bacaan. Nilai kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi dengan menggunakan metode inkuiri lebih baik dibandingkan dengan nilai kemampuan menyunting surat resmi para siswa

87

tanpa menggunakan metode inkuiri. Untuk keperluan pengujian hipotesis, data tersebut perlu dianalisis secara statistik. Analisis data dengan menggunakan metode Tes “t” memperoleh nilai to (perbedaan dua mean). Nilai to dicari, karena untuk menguji hipotesis, penulis akan membandingkan harga nilai to dengan harga kritik “tt” yang terdapat pada Tabel Nilai “t”. Berdasarkan hasil penghitungan, diketahui nilai to sebesar 3,10. Nilai to ini jauh lebih besar daripada nilai tt sebesar 1,99 pada taraf signifikansi 5% atau taraf kepercayaan 95% dan 2,64 pada taraf signifikansi 1% atau taraf kepercayaan 99%. Karena nilai to lebih besar daripada tt, maka hipotesis nihil (Ho) ditolak dan hipotesis alternatif (Ha) yang menyatakan “terdapat perbedaan yang signifikan tentang kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi dengan dan tanpa menggunakan metode inkuiri” diterima. Dengan diterimanya hipotesis alterrnatif, dapat diartikan bahwa

kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi dengan menggunakan metode inkuiri lebih baik daripada kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi tanpa menggunakan metode inkuiri. Temuan ini menunjukkan bahwa metode inkuiri lebih efektif digunakan sebagai metode dalam menyunting surat resmi karena berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan siswa dalam memahami surat. Karena itu, untuk para guru sebaiknya dipertimbangkan penggunaan metode inkuiri dalam pembelajaran menyunting surat.

88

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1

Kesimpulan Berdasarkan uraian hasil analisis data dan temuan penelitian sepeeti

diuraikan pada bab IV, kesimpulan penelitian ini adalah sebagai berikut. 1) Kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi tanpa menggunakan metode inkuiri kurang memuaskan. Hal ini ditunjukkan oleh nilai rata-rata yang

diperoleh sebagai hasil pelaksanaan tes, yaitu sebesar 5,5. Siswa yang mampu menyunting surat resmi tanpa menggunakan metode inkuiri berjumlah 18 orang atau 45% dan yang tidak mampu menyunting surat resmi berjumlah 22 orang atau 55%. Kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi tanpa menggunakan metode inkuiri diketahui ada sepuluh orang yang memperoleh nilai 4, duabelas orang yang memperoleh nilai 5, sepuluh orang yang memperoleh nilai 6, empat orang yang mendapat nilai 7, dan empat orang yang memperoleh nilai 8. 2) Kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi dengan menggunakan metode inkuiri cukup memuaskan. Hal ini ditunjukkan oleh nilai rata-rata yang diperoleh sebagai hasil pelaksanaan tes, yaitu sebesar 6,4. Siswa yang mampu menyunting surat resmi dengan menggunakan metode inkuiri

berjumlah 30 orang atau 75% dan siswa yang tidak mampu menyunting surat resmi berjumlah 10 orang atau 25%. Distribusi nilai variabel X terdapat lima orang yang memperoleh nilai 4, lima orang memperoleh nilai 5, delapan orang

89

yang memperoleh nilai 6, duabelas orang yang memperoleh nilai 7, dan sepuluh orang yang memperoleh nilai 8. 3) Berkaitan dengan pengujian hipotesis, hipotesis alternatif (Ha) yang menyatakan “Terdapat perbedaan yang signifikan tentang kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi dengan menggunakan metode inkuiri dan tanpa menggunakan metode inkuiri” diterima. Sedangkan rumusan hipotesis nihil (Ho) yang menyatakan “Tidak terdapat perbedaan yang signifikan tentang kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi dengan menggunakan metode inkuiri dan tanpa menggunakan metode inkuiri”, ditolak. Hal ini terbukti setelah dilakukan pembandingan nilai hitung (to) dengan harga kritik “tt” dengan menggunakan df 80. Ternyata nilai to atau nilai perbedaan mean variabel X dan mean variabel Y hasil penghitungan sebesar 3,10, lebih besar daripada nilai “tt” yang ada pada Tabel Nilai “t”, yaitu sebesar 1,99 pada taraf signifikasi 5% atau taraf kepercayaan 95% dan sebesar 2,64 pada taraf signifikasi 1% atau taraf kepercayaan 99%. Berdasarkan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi dengan menggunakan metode inkuiri lebih baik dibandingkan kemampuan mereka dalam menyunting surat resmi tanpa menggunakan metode inkuiri. Dengan perkataan lain, terdapat perbedaan yang signifikan tentang kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi dengan menggunakan metode inkuiri dan tanpa menggunakan metode inkuiri.

90

5.2 Saran -saran Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi komponen pendidikan dan pengajaran. Dalam kaitan itu, ada beberapa saran yang dapat disampaikan. Saran-saran tersebut adalah sebagai berikut. 1) Untuk para guru bahasa Indonesia, hendaknya terus berupaya meningkatkan kemampuan siswa dalam menyunting surat resmi dengan lebih baik. Hal ini sangat penting untuk meningkatkan kecermatan dalam berbahasa. Dalam kaitan ini perlu pembelajaran menyunting surat resmi dengan metode yang tepat. 2) Kemampuan siswa yang masih belum memuaskan dalam menyunting surat resmi hendaknya dijadikan bahan introspeksi bagi guru dan siswa. Bagi guru, hal tersebut harus ditindaklanjuti dengan perencanaan dan pelaksanaan pengajaran menyunting surat resmi dengan lebih baik lagi. Dalam kaitan ini, hasil pembelajaran membaca sebaiknya langsung diikuti dengan kegiatan evaluasi dan refleksi. 3) Kelemahan pembelajaran menyunting surat resmi selama ini terletak pada penggunaan metode pembelajaran yang kurang bervariasi. Sebaiknya para guru memilih dan menggunakan teknik yang menarik daya kreasi siswa dalam memahami isi bacaan. Salah satu di antaranya adalah dengan metode inkuiri. 4) Para siswa hendaknya semakin menyadari pentingnya keterampilan

menyunting surat resmi bagi kepentingan studi dan kehidupan sehari-hari. Karena itu, kegiatan menyunting surat sebaiknya terus dilakukan dengan penuh minat dan motivasi.

91

DAFTAR PUSTAKA

Akhadiah (1994). Pembinaan Keterampilan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta : PT. Rineka Cipta. Arikunto, Suharsimi. (1993). Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : PT Rineka Cipta. Chaer, Abdul. (1994). Linguistik Umum. Jakarta : Rineka Cipta. Depdikbud. (1993). Kurikulum SLTP, GBPP Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Jakarta : Depdikbud. Depdikbud. (1999). Depdikbud. Pokok-pokok Pengajaran Bahasa Indonesia. Jakarta:

Depdiknas. (2006). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SMP. Jakarta : Depdiknas. De Uci, Oom Somara.2002 “Membaca dan Menulis Kenapa Tidak ? Buletin Pusat Perbukuan. Vol.6. Tahun 2002. Jakarta : Pusbuk. Hadi, Farid dan Boediono Issas. (1997). Petunjuk Praktis Berbahasa Indonesia. Jakarta : Depdikbud. Keraf Gorys (1984) Komposisi Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa. Ende – Flores : Nusa Indah. Marjo, Y.S. (2005). Surat-surat Lengkap. Jakarta : Setia Kawan. Mulyasa, E. (2008). Menjadi Guru Profesional. Bandung : Rosda. Moeliono, Anton, ed., (1990). Kamus Besar Bahasa Indonesia. (edisi ke-3) Jakarta : Depdiknas. Muchlisoh, et. al., (1995) Materi Pokok Pendidikan Bahasa Indonesia 3. Jakarta :Universitas Terbuka. Mulyati, Yeti, et. al. (1998). Buku Materi Pokok Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Tinggi. Jakarta : Universitas Terbuka. Nafiah, Hadi. (1981). Anda Ingin Jadi Pengarang. Surabaya : Usaha Nasional

92

Nurgiyantoro, Burhan (1988). Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Yogyakarta : BPFE. Poerwadarminta, W.J.S. (1985). Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta : PN Balai Pustaka. Rusyana, Yus. (1986). Buku Materi Pokok Keterampilan Menulis. Jakarta : Karunika. Semi, M. Atar. (1995). Dasar-dasar Keterampilan Menulis. Bandung : Mugantara. Silmi, Sikka Mutiara. (2004). Panduan Menulis Surat Lengkap. Yogyakarta: Absolut. Sudijono, Anas. (1992). Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta : CV. Rajawali. Sudjana, Nana. (1989). Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung : CV. Sinar Baru.. Sudjana, Nana. (2005). Tuntunan Penulisan Karya Ilmiah : Makalah-SkripsiTesis-Disertasi. Bandung : Sinar Baru Algensindo. Sudjana, Nana. (1989). Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung : CV. Sinar Baru.. Sudjana, Nana. (2005). Tuntunan Penulisan Karya Ilmiah : Makalah-SkripsiTesis-Disertasi. Bandung : Sinar Baru Algensindo. Sugiyono. (1988). Metode Penelitian Administrasi. Bandung : Alpabeta. Suhendar dan Mien Supinah. (1992). MKDU Menulis. Bandung : Pionir Jaya. Sukmadinata, Nana Syaodih. (2005). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung. Rosda. Soedjito dan Solchan. (1991). Surat Menyurat Resmi Bahasa Indonesia. Bandung : Remaja Rosdakarya. Suriamihardja, Agus. (1996). Petunjuk Praktis Menulis. Jakarta : Depdikbud. Syamsudin, A.R. (1992). Study Wacana : Teori, Analisis, dan Pengajaran. Bandung : FPBS – IKIP. Tarigan, Djago (1991). Membina Keterampilan Menulis Paragraf. Bandung: Angkasa. 93

Tarigan, Djago. (1998). Kependidikan Keterampilan Berbahasa. Depdikbud.

Jakarta:

Tarigan, Djago dan H.G. Tarigan, (1990). Teknik Pengajaran Keterampilan Berbahasa. Bandung : Angkasa. Tarigan, Djago, et. al, (1998). Buku Materi Pokok pendidikan bahsa dan Sastra Indonesia di kelas rendah. Bandung : Angkasa. Tarigan, Djago. (1998). Buku Materi Pokok Kependidikan Keterampilan Berbahasa. Modul 1-4. Jakarta : Depdikbud. Tarigan, Henry Guntur. (1992). Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung : Angkasa Tarigan, H.G. (1992). Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung : Angkasa. Tarigan, H.G. (1993). Prinsip-Prinsip Dasar Metode Pembelajaran Bahasa. Bandung : CV Angkasa. Riset Pelajaran

94

INSTRUMEN PENELITIAN Alat Pengumpulan Data Menyunting Surat Dinas dengan Metode Inkuiri Lokasi Penelitian : SMP Negeri 2 Plered Subjek Penelitian : Sampel Siswa Kelas VIII Waktu : 70 Menit Petunjuk Umum : 1. Tulislah nama dan nomor urut tesmu pada kolom identitas yang telah disediakan ! 2. Bacalah setiap petunjuk khusus sebelum kamu mengerjakan tes ! 3. Periksalah kembali hasil pekerjaanmu sebelum dikumpulkan ! Petunjuk Khusus : 1. Bacalah contoh surat dinas berikut! 2. Carilah kesalahan kebahasaan dan isi surat tersebut! 3. Perbaiki kesalahan yang ada pada surat dengan menulis kembali surat dinas tersebut ! ORGANISASI SISWA INTRA SEKOLAH (OSIS) SMP NEGERI 2 PUTRA BANGSA Jalan Raya Sukasari 10 Purwakarta

Nomor : 021/OSIS/III/2010. Lampiran : Satu Berkas. Hal : Undangan. Yth. Bapak Erwin Gutawa SMP Negeri 2 Plered Purwakarta.

20 Oktober 2009.

Dengan hormat Dengan ini dalam upaya bulan Bahasa, OSIS SMP 2 Putra Bangsa akan mengadakan kegiatan Lomba Majalah Dinding antar kelas pada tanggal 28 Oktober 2010. Sehubungan dengan hal tersebut, kami mohon bapak erwin gutawa berkenan menjadi juri lomba tersebut. Demikianlah permintaan kami ini disampaikan. Atas perhatian bapak kami ucapkan banyak-banyak terima kasih. Hormat kami Sandi Asmara

NAMA :

NOMOR URUT TES :

__________________________________________________________________ __________________________________________________________________ __________________________________________________________________ __________________________________________________________________ __________________________________________________________________ __________________________________________________________________ __________________________________________________________________ __________________________________________________________________ __________________________________________________________________ __________________________________________________________________ __________________________________________________________________ __________________________________________________________________ __________________________________________________________________ __________________________________________________________________ __________________________________________________________________ __________________________________________________________________ __________________________________________________________________ __________________________________________________________________ __________________________________________________________________ __________________________________________________________________ __________________________________________________________________ __________________________________________________________________ __________________________________________________________________ __________________________________________________________________ __________________________________________________________________ __________________________________________________________________ __________________________________________________________________ __________________________________________________________________ __________________________________________________________________ __________________________________________________________________ __________________________________________________________________ __________________________________________________________________ __________________________________________________________________ __________________________________________________________________ __________________________________________________________________ __________________________________________________________________ __________________________________________________________________ __________________________________________________________________

96

Kunci Jawaban

ORGANISASI SISWA INTRA SEKOLAH (OSIS) SMP NEGERI 2 PUTRA BANGSA Jalan Raya Sukasari 10 Purwakarta

Nomor : 021/OSIS/III/2010 Lampiran : Satu Berkas Hal : Undangan Yth. Bapak Erwin Gutawa SMP Negeri 2 Plered Purwakarta

20 Oktober 2009

Dengan hormat, Dalam rangka Bulan Bahasa, OSIS SMP 2 Putra Bangsa akan mengadakan kegiatan Lomba Majalah Dinding antarkelas pada tanggal 28 Oktober 2010. Sehubungan dengan hal tersebut, kami mohon Bapak Erwin Gutawa berkenan menjadi juri lomba tersebut. Demikian permohonan ini kami sampaikan. Atas perhatian Bapak kami ucapkan terima kasih. Hormat kami, Sandi Asmara

97

Alat Pengumpulan Data Menyunting Surat Dinas tanpa Metode Inkuiri Lokasi Penelitian : SMP Negeri 2 Plered Subjek Penelitian : Sampel Siswa Kelas VIII Waktu : 70 Menit Petunjuk Umum : 1. Tulislah nama dan nomor urut tesmu pada kolom identitas yang telah disediakan ! 2. Bacalah setiap petunjuk khusus sebelum kamu mengerjakan tes ! 3. Periksalah kembali hasil pekerjaanmu sebelum dikumpulkan !

NAMA :

NOMOR URUT TES :

Petunjuk Khusus : Lingkarilah huruf A, B, C, atau D yang terletak di depan alternatif jawaban yang paling tepat ! 1. Amati penulisan kepala surat berikut ! DEPARTEMENT PENDIDIKAN NASIONAL PROYEK PENELITIAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA PUSAT PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN BAHASA Jl. Diponegoro, Nomer 82, Jakarta, Tilpon 022-484584, Kotak Pos 2625 Pada kepala surat di atas terdapat kesalahan ejaan, kecuali … A. Kotak Pos. C. Nomer. B. Depertement. D. Tilpon. 2. Amati penulisan alamat surat berikut ! Purwakarta, 24 Februarai ‘07 Kepada Yth. Bapak Pimpinan PT Ayam Super Cabang Sumpit di Purwakarta Pada alamat surat di atas, terdapat kesalahaan ejaan, yaitu … A. Februari seharusnya Pebruari. C. PT seharusnya P.T. B. ’07 seharusnya 2007 D. Yth. Seharusnya yth.

98

3. Amati penulisan salam pembuka berikut ! Dengan hormat ; Di belakang salam pembuka seharusnya dibubuhi tanda baca… A. Titik (.). C. Tanda koma (,). B. Tanda hubung (-). D. Titik dua (:). 4. Atas perhatian Bapak/Ibu, saya mengucapkan banyak-banyak terima kasih. Kata yang digunakan pada bagian penutup surat di atas yang perlu dihilangkan adalah … A. perhatian. C. Atas. B. Terima kasih. D. banyak-banyak. 5. Kami mengharap Bapak/Ibu/Saudara pada upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional 3 Mei 2007 yang diselenggarakan… Pada kalimat pembuka surat di atas tedapat kata yang seharusnya ada, yaitu … A. Kehadiran. C. Penjelasan. B. Keterangan. D. Perjanjian. a. Demikianlah surat tugas ini. Kalimat penutup surat di atas perlu dilengkapi, yaitu dengan pernyataan… A. diserahkan untuk dilaksanakan. A. diberikan untuk dilaksanakan sebagaimana mestinya. C. diperintahkan untuk dilaksanakan. D. diinstruksikan untuk ditindaklanjuti. 6. Wassalam. Penulisan salam penutup yang benar adalah … A. Wasalam. C. Wasalam, B. Wassalam, D. Wassalam; 8. Demikianlah surat ini kami sampaikan. Atas kehadiran Saudara, kami mengucapkan terima kasih. Paragraf penutup surat di atas sangat cocok untuk jenis surat… A. Permohonan. C. Instruksi. B. Tugas. D. Undangan. 9. Berikut ini penulisan tembusan yang benar, kecuali… A. Tembusan : C.Tembusan YTH. : B. Tembusan : D. TEMBUSAN YTH.: 10. Jika ada bahan-bahan yang dilampirkan, maka pembuka surat dapat menggunakan kalimat atau frase … A. Dengan ini. C. Sehubungan dengan. B. Bersama surat ini. D. Membalas surat Saudara.

99

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->