P. 1
PKP - Probing pada Matematika dan Diskusi pada B. Indonesia

PKP - Probing pada Matematika dan Diskusi pada B. Indonesia

|Views: 9,137|Likes:
Published by Eka L. Koncara
Read online only.

Lebih lanjut langsung saja ke: ka_koncara@yahoo.co.id
Read online only.

Lebih lanjut langsung saja ke: ka_koncara@yahoo.co.id

More info:

Published by: Eka L. Koncara on May 02, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

12/04/2013

Mutu pendidikan dapat ditingkatkan melalui pola pikir yang digunakan

sebagai landasan pelaksanaan kurikulum. Pada umumnya proses belajar mengajar

berfokus pada guru dan bukan pada siswa akibatnya kegiatan belajar mengajar

lebih ditekankan pada pengajaran daripada pembelajaran.

Kata pembelajaran dapat diartikan sebagai perubahan dalam kemampuan

sikap atau perilaku siswa yang relatif permanen sebagai akibat dari perjalanan

atau pelatihan.

Tugas seorang guru di antaranya membuat agar proses pembelajaran pada

siswa berlangsung secara efektif juga berkaitan erat dengan proses inovasi

pembelajaran yaitu kemampuan guru melakukan penelitian sederhana. Salah satu

penelitian sederhana yang dapat dilakukan guru sambil melaksanakan tugasnya di

kelas adalah “Penelitian Tindakan Kelas” yang bertujuan untuk memperbaiki

kualitas pembelajaran sekaligus memberikan kontribusi meyakinkan bagi upaya

memecahkan masalah-masalah pendidikan pada tataran praktis yaitu proses

pembelajaran di kelas.

Penelitian Tindakan Kelas merupakan penyelidikan secara sistematis

dengan tujuan menginformasikan praktek pembelajaran dalam situasi tertentu.

PTK juga merupakan suatu cara bagi guru untuk menemukan apa yang terbaik di

dalam situasi kelas mereka itu sendiri, sehingga proses pembelajaran dapat

diambil dengan sebaik-baiknya.

Penelitian Tindakan Kelas merupakan bentuk penelitian reflektif yang

dilakukan oleh guru sendiri yang hasilnya dimanfaatkan sebagai alat untuk

mengembangkan dan perbaikan pembelajaran, Mc. Niff (1992:2).

Seiring dengan berkembangnya strategi pembelajaran yang berpusat pada

peserta didik (student centred) yakni bagaimana peserta didik belajar dan

memperoleh pengetahuan mereka secara individual atau kelompok dapat

membangun sendiri pengetahuannya dari berbagai sumber belajar di sekitar kita.

2

1. Mata Pelajaran Matematika

Aliran “konstruktidristik” menyatakan kekuatan matematika antara lain

terdiri dari kemampuan untuk: 1. mengkaji, menduga dan memberi alasan secara

logis, 2. menyelesaikan soal-soal yang tidak rutin, 3. mengkomunikasikan tentang

dan melalui matematika, 4. mengaitkan ide-ide dalam matematika dan ide-ide

antara matematika dan kegiatan intelektual lain, 5. mengembangkan percaya diri,

watak dan karakter untuk mencari, mengevaluasi dan mengembangkan informasi

kuantitatif dan spesial dalam menyelesaikan masalah dalam membuat keputusan.

Hal-hal yang dapat menumbuhkan kesadaran tentang kekuatan matematika adalah

ketekunan, keuletan, kekerasan hati, minat (interest), keingintahuan (eoriosity),

dan daya temu atau daya cipta (inventiress).

Mengingat pentingnya matematika bagi pengetahuan dan teknologi maka

matematika perlu dipahami dan dikuasai oleh para siswa, hal ini dapat diwujudkan

manakala peletakan landasan dasar (Pendidikan Matematika di Sekolah Dasar)

berdasarkan pada metode dan cara pendekatan yang dilakukan sehingga sasaran

yang diharapkan dapat tercapai.

Pada kenyataannya meskipun guru dengan segenap kemampuan, dengan

menggunakan berbagai metode dan pendekatan yang dilakukan akan tetapi

kenyataanya hasil akhir dari pembelajaran kurang memuaskan.

Salah satu pembelajaran yang menjadi kendala di kelas VI B SD Negeri

Palinggihan adalah pada mata pelajaran matematika “kompetensi dasar
memecahkan masalah perbandingan dan skala.”

Pembelajaran ini dilaksanakan semester kedua tahun ajaran 2009/2010

pada tanggal 23 Februari 2010. Hasil ulangan dari kompetensi tersebut kurang

memuaska. Dari 33 siswa hanya 17 orang yang memenuhi standar kelulusan atau

51,51%. Kriteria ketuntasan klasikal ditetapkan 75% dari seluruh siswa,

permasalahan lainnya adalah dari proses pembelajaran itu sendiri yang belum

maksimal, guru kurang memberikan motivasi dan arahan, sehingga siswa tidak

ada keberanian untuk bertanya atau menjawab pertanyaan guru, hanya sebagian

siswa yang berani mengembangkan pendapatnya. Untuk mengatasi kesulitan-

3

kesulitan tersebut penulis mengambil alternatif berupa pengajaran dengan teknik

probing dalam kelompok kecil.

Atas dasar uraian yang sudah dikemukakan sebelumnya, maka

pembelajaran dalam teknik probing dalam kelompok hasil kecil, dapat dijadikan

salah satu alternatif model pembelajaran matematika di kelas VI SD Negeri

Palinggihan Purwakarta. Sebagai usaha untuk meningkatkan permasalahan siswa

tentang memecahkan masalah perbandingan dan skala.

Pembelajaran dengan teknik probing yakni suatu teknik pembelajaran

dengan membimbing siswa agar mampu membangun pengetahuannya sendiri.

Pembelajaran berbasis masalah menuntut aktivitas mental siswa dalam memahami

suatu konsep, melatih siswa untuk refleksikan persepsinya, argumen dan

komunikasi ke pihak lain, sehingga guru dapat memahami sekaligus

membimbing, mengintervensi, ide baru berupa konsep atau prinsip.

Lebih lanjut penulis tertarik untuk mengadakan Penelitian Tindakan Kelas

dengan judul “Penggunaan Teknik Probing dalam Kelompok Kecil untuk

Meningkatkan Pemahaman Matematik Siswa Kelas VI B SD Negeri Palinggihan

Purwakarta”.

2. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia

Bahasa menunjukkan bangsa. Bahasa merupakan alat komunikasi yang

mengandung beberapa sifat sistematika, mana suka, ujar manusia, dan

komunikatif. Setiap bahasa mengandung dua sistem yakni sistem bunyi dan

sistem makna. Pembelajaran akan berlangsung efektif dan efisien apabila

didukung dengan kemahiran guru mengatur strategi pembelajaran.

Membaca merupakan kegiatan memahami bahasa tulis, proses membaca

sangat rumit dan kompleks karena melibatkan beberapa aktivitas fisik dan mental.

Proses membaca terdiri dari beberapa aspek: a. aspek sensori yaitu kemampuan

untuk memahami simbol tertulis, b. aspek perseptual yaitu kemampuan untuk

menginterpretasi apa yang dilihat sebagai simbol, c. aspek skemata yaitu

kemampuan untuk menghubungkan informasi tertulis dengan struktur

pengetahuan yang telah ada, d. aspek berpikir yaitu kemampuan membuat

4

inferensi, evaluasi, dan materi yang dipelajari, e. aspek afektif yaitu yang

berkenaan dengan minat pembaca yang terpengaruh terhadap kegiatan membaca.

Interaksi antara kelima aspek tersebut secara harmonis akan menghasilkan

pemahaman membaca yang baik, yakni terciptanya komunikasi yang baik antara

penulis dan pembaca. Membaca mempunyai peran yang sangat penting untuk

menambah pengetahuan seseorang. Oleh sebab itu, agar peningkatan pemahaman

dalam diri siswa itu terjadi, guru perlu menciptakan kondisi yang memungkinkan

interaksi beberapa pihak dapat terjadi, guru harus membuat perencanaan

pembelajaran yang matang.

Pada pembelajaran Bahasa Indonesia khususnya standar kompetensi

memahami teks dengan membaca intensif dan membaca teks drama dengan

kompetensi dasar mengidentifikasi berbagai unsur (tokoh, sifat, latar, tema, jalan

cerita, dan amat) pada teks drama anak mengalami kendala. Masalah yang

dihadapi melihat dari hasil ulangan yang dilaksanakan pada semester kedua tahun

2009/2010 pada tanggal 9 Maret 2010. Hasil ulangan kompetensi dasar tersebut

masih belum memuaskan, dari 33 siswa hanya 17 orang yang memenuhi standar

kelulusan klasikal atau 51,51%. Faktor lain karena pelatihan siswa masih belum

terpusat pada pembelajaran, guru kurang memberikan motivasi yang

menyebabkan siswa tidak ada minat untuk belajar Bahasa Indonesia.

Berdasarkan pada permasalahan di atas tentu harus ada upaya agar

pencapaian hasil belajar dapat meningkat, salah satu upaya yang dilakukan penulis

untuk mengatasi hal tersebut yaitu dengan menggunakan metode diskusi dalam

pembelajaran. Sebab metode ini dapat melibatkan seluruh siswa, siswa dapat

berbagi pengetahuan, pandangan, dan keterampilan, kegiatan siswa lebih aktif

terutama dalam bentuk melalui komunikasi verbal.

Untuk itu penulis mengadakan penelitian dengan judul “Meningkatkan

Pemahaman Membaca Siswa Kelas VI B SD Negeri Palinggihan pada

Pembelajaran Bahasa Indonesia”.

5

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->