P. 1
Karakteristik Umum Masyarakat Desa

Karakteristik Umum Masyarakat Desa

|Views: 319|Likes:

More info:

Published by: Tika Mimioctavianes Mimirulbieber on May 02, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/25/2014

pdf

text

original

SOSIOLOGI PEDESAAN

MASYARAKAT JAWA PESISIRAN
Oleh Mudiahirin Thohir
1. Pendahuluan
Pada dasarnya, manusia, dalam batas-batas tertentu, memiliki kepribadian, gaya hidup, dan
kecenderungan-kecenderungan yang (a) sama dengan manusia lain; (b) sama dengan sebagian
manusia lain; dan (c) tidak sama dengan manusia lain. Bagaimana ketiga kemungkinan itu bisa
diielaskan berdasarkan pada perspektiI antropologis? Demikian pula, bagaimana karakteristik
masyarakat Jawa Pesisiran, apakah mereka memiliki karakteristik yang khas dan berbeda dengan
masyarakat Jawa yang berada dalam wilayah (sosialisasi) Negarigung dan Mancanegari? Jika
memang menuniukkan perbedaan-perbedaan, maka pada masalah-masalah apa perbedaan itu
bisa dilihat, dan Iaktor-Iaktor apa yang menyebabkan perbedaan itu ada? Kemudian ketika kita
sudah bisa menandai corak dari masyarakat Jawa Pesisiran itu, maka bagaimana kita bisa
mendekati mereka secara pas sehingga sasaran untuk dapat memberdayakan potensi mereka
dapat berialan dengan baik?
Dalam tulisan ini akan dibicarakan masalah tipologi masyarakat Jawa dan kebudayaannya,
khususnya masyarakat Jawa Pesisiran.

2. Tipologi Masyarakat Jawa
Dilihat dari dekat iauhnya dari pusat-pusat pemerintahan administratiI, masyarakat Jawa bisa
dibedakan ke dalam dua ienis yaitu (a) mereka yang tinggal di perkotaan dan, (b) yang tinggal di
pedesaan. Penduduk perkotaan adalah mereka yang tinggal di pusat-pusat kota propinsi, kota
madya, dan kabupaten. Dewasa ini penduduk yang tinggal di pusat kota kecil di Jawa seperti
kawedanan dan kecamatan pun sudah bisa dikategorikan sebagai orang-orang kota. Masalahnya
prasarana dan sarana perkotaan sudah mulai tersedia di daerah pusat-pusat kawedanan dan atau
kecamatan, kendati dalam skala yang lebih kecil dan terbatas. Salah satu ciri dari perkotaan
dalam unit yang paling kecil warganya dipimpin oleh seorang lurah bukan kepala desa. Ini
berarti, desa-desa yang tersebar dan yang masih dipimpin oleh kepala desa masuk dalam kategori
penduduk pedesaan. Namun demikian, ada iuga desa-desa yang berdekatan dengan perkotaan,
termasuk penduduk yang ada di dalamnya, yang sudah mulai bisa memanIaatkan Iasilitas dan
bahkan bergaya hidup orang kota.
Warga kota ataupun warga desa, keduanya tinggal secara menyebar dalam lingkungan yang
berbeda. Lingkungan hidup mereka, adakalanya berupa (a) pegunungan, (b) dataran, dan (c)
pantai. Istilah pantai di sini lebih mengacu kepada 'laut¨. Jadi, masyarakat pantai adalah
masyarakat yang tinggal di kawasan yang relatiI dekat dengan laut. Tetapi kalau tiniauannya
pada wilayah kebudayaan Jawa dari masa lalunya yaitu pada masa keraiaan Mataram , maka
masyarakat Jawa di sini dapat dibedakan ke dalam tiga tipe wilayah kebudayaan, yaitu (a)
negarigung, (b) mencanegari, dan (c) pasisiran.
Daerah Negarigung yaitu daerah di seputar kota Solo dan Yogyakarta. Masyarakat di kedua
daerah itu disebut 'tiyang negari¨ (orang negeri). Kebudayaan yang dahulunya berakar dari
keraton. Oleh karena berakar dari keraton, maka peradabannya masuk pada ketegori peradaban
besar. Ciri dari peradaban ini ialah: mengutamakan kehalusan (baik bahasa, tingkah laku,
maupun kesenian). Pandangan-pandangan keagamaannya (dahulunya) cenderung sinkretik
(bandingkan pada Geertz, 1984, Koentiaraningrat, 1984).
Daerah Mancanegari adalah suatu sebutan untuk daerah-daerah di luar kota Solo dan
Yogyakarta. Masyarakat yang hidup dalam peradaban ini disebut sebagai 'tiyang pinggiran¨
(orang pinggiran). Daerah Mancanegari ini merupakan daerah pinggiran dari kebudayaan yang
berkembang di keraiaan Jawa Mataram pada antara abad ke-17 hingga abad ke-19. Masyarakat
Mancanegari memiliki kemiripan-kemiripan dengan masyarakat Negarigung dalam hal
pementingan tutur bahasa dan keseniannya, kendatipun kualitasnya tidak sebaik atau sehalus
peradaban kraton. Demikian iuga soal pandangan keagamaannya (dahulunya dan mungkin
sampai sekarang) ada kecenderungan kepada agama Keiawen.
Daerah Pesisir adalah suatu daerah di sepaniang daerah pantai utara pulau Jawa. Daerah
sepaniang pantai utara (pesisiran) pulau Jawa ini dibagi ke dalam dua kategori yaitu Pesisiran
Barat dan Pesisiran Timur. Yang pertama, meliputi daerah-daerah: Demak, Kendal, Batang,
Pekalongan, Pemalang, Wirodesa, Tegal, dan Brebes. Yang kedua meliputi daerah: Cengkal
Sewu, Surabaya, Gresik, Sedayu, Tuban, Lasem, Juwana, Pati, Kudus, dan Jepara (De GraaI,
1949; Schrieke, 1959, dan RickleIs, 1974. Dikutip dari Hardiowirogo, 1983: 105).
DAERAH PANTAI UTARA JAWA (PESISIRAN) BARAT Demak, Kendal, Batang,
Pekalongan, Pemalang, Wirodesa, Tegal, dan Brebes.
TIMUR Cengkal Sewu, Surabaya, Gresik, Sedayu, Tuban, Lasem, Juwana, Pati, Kudus, dan
Jepara.
Masyarakat Pesisiran menuniukkan beberapa ciri. Sikapnya cenderung lugas, spontan, tutur kata
yang digunakan cenderung menggunakan bahasa ngoko. Keseniannya relatiI kasar dalam arti
tidak rumit, corak keagamaannya cenderung Islam puritan, dan mobilitasnya cukup tinggi. Di
samping itu cara hidup orang Jawa Pesisir cenderung boros dan menyukai kemewahan, dan suka
pamer. Dalam menghadapi atau menyelesaikan masalah cenderung tidak suka berbelit-belit.
Corak berkehidupan sosialnya cenderung egaliter. Mereka lebih menghormati tokoh-tokoh
inIormal seperti kayi daripada peiabat pemerintah.
Mengapa masyarakat Pesisiran memiliki kecenderungan seperti itu? Ini meniadi tugas kita
bersama untuk mendiskusikannya. Penulis bisa mengatakan bahwa sikap lugas dan tidak
menyukai cara-cara yang berbelit-belitmisalnya, hal ini karena dipengaruhi oleh lingkungan
hunian mereka di kawasan dataran/pantai yang transparan (berbeda dengan lingkungan
pegunungan), dan dipengaruhi oleh corak keislaman yang lebih menekankan pada 'keterus-
terangan¨. Demikian iuga sikap egaliternya, yakni menyukai hubungan antarmanusia dalam
keseiaiaran (bukan: atas bawah). Ada ungkapan 'La Iadzla li arabiyyin ala aiamiyyin illa bit
taqwa¨. (Tidak ada kelebihan antara suku Arab dengan suku di luarnya, kecuali oleh ukuran
ketaqwaan).
Kalau masyarakat pesisir cenderung boros, ada kaitannya dengan cara mereka memperoleh
penghasilan yang sering tidak tetap. Orang yang pergi melaut misalnya, dalam musim ikann
mereka dengan mudah akan memperoleh penghasilan berlebih. Pada saat seperti itu, para
nelayan, para pemilik empang-empang, dengan mudah bisa membelaniakan pendapatannya
dalam iumlah yang cukup besar. Keberanian untuk itu, ada kaitannya pula dengan perasaan ingin
pamer. Perasaan ingin pamer itu seringkali tidak dikontrol lagi oleh pendapatan riilnya, tetapi
yang penting adalah bisa membeli barang-barang mewah tadi. Oleh karena itu, orang-orang
pesisir mudah untuk melakukan transaksi dengan model hutang-piutang (lihat misalnya suasana
yang terbentuk pada hari-hari menielang Hari Raya Idul Fitri).
Berbagai sikap dan cara hidup seperti itu, tentu saia ada sisi negatiI dan positiInya. Tugas kita
selaiutnya adalah bagaimana mengurangi sisi-sisi negatiI dan mengembangkan sisi-sisi
positiInya.
3. Masyarakat Jawa Pesisir Pedesaan
Dilihat dari iaringan desa-kota, dewasa ini masyarakat Pesisir utara Jawa dapat dibedakan pada
penduduk yang tinggal di desa-desa Pesisir, dan penduduk yang tinggal di kota-kota, seperti kota
kabupaten. Penduduk yang tinggal di desa-desa, memiliki corak pekeriaan yang beragam, tetapi
yang dominan (ternyata, atau menurut data statistik) adalah pertanian sawah semi tradisional
sehingga tingkat keberhasilannya masih banyak bergantung pada 'derma alam¨) sementara itu,
minat penduduk Pesisir Jawa terhadap dunia kelautan masih sangat kecil, dan dari iumlah yang
sangat kecil itu, umumnya masih berada pada nelayan tradisional, sehingga gambaran mengenai
kehidupan umumnya nelayan di Jawa ini masih sangat memprihatinkan (bandingkan pada
Mubyarto, dkk. 1984). Yang teriadi kemudian adalah para nelayan masih tetap terpuruk ke dalam
kemiskinan, dan sebagian dari para petani sawah (apalagi yang buruh tani) mulai kehilangan
'kepercayaan diri¨ terhadap atau untuk mengandalkan hasil pertanian sehingga sebagian dari
para petani itu meniual sawah-sawahnya dan beralih kepada usaha dagang atau iasa, sementara
para buruh tani berpindah orientasi keria meniadi buruh lepas, meniadi buruh pabrik, atau
migrasi ke kota. Kalau dihitung secara statistik, penduduk usia muda yang meninggalkan desa
dan mengadu nasib ke kota-kota besar, iumlahnya sangat besar dan secara hepotesis akan
semakin membengkak taiam.(Bandingkan pada Gunawan dan Erwidodo, 1993). Sementara itu,
dalam dunia perdagangan, tidak berkembang. Kondisi ini akan melahirkan berbagai dampak,
positiI dan negatiI.
Di antara dampak yang positiI dari migrasi ke kota ialah munculnya inspirasi-inspirasi baru
karena bertambahnya wawasan perkotaan, budaya-budaya kota seperti yang dicirikhasi oleh
kesungguhan, kompetisi, dan individualistik sehingga berani memulai usaha-usaha baru.
Keberhasilan para pengraiin ukir Jepara misalnya (lihat Thohir, 1991), banyak dipengaruhi oleh
pengalaman meniadi buruh atau pekeria di kota besar seperti Jakarta. Sedang dampak yang
negatiI dari kondisi terutama perubahan keria dan migrasi (urbanisasi) antara lain adalah desa
banyak ditinggalkan oleh penduduk yang berpotensi, sehingga penduduk yang tinggal di desa
adalah mereka yang berusia tua dan anak-anak muda yang kurang kreatiI. Lebih laniut dari itu,
lahan-lahan sawah produktiI dan kekayaan laut, belum bisa menarik minat mereka untuk
memanIaatkannya. Kemudian dilihat dari segi keagamaannya, di sebagian daerah Pesisiran,
dalam hal ini masyarakat Bangsri Jepara, dalam studi awal penulis (Thohir, 1995; 1997) sulit
dikategorikan sebagai bercorak Islam puritan karena penduduk yang beragama Hindu, Kristen,
dan Islam, termasuk Islam Abangan, sangat berimbang, sementara itu pilihan pekeriaan sebagian
dari penduduk (wanita) desa-desa pesisiran itu relatiI banyak yang meniaiakan dirinya sebagai
wanita penghibur laki-laki dan pekeriaan itu dilakukan di luar desa/daerahnya sendiri (Thohir,
1997).
4. Kebudayaan Pesisir
Kebudayaan Pesisir dapat diartikan sebagai keseluruhan pengetahuan yang dipunyai dan teriiwai
oleh masyarakat Pesisir, yang isinya adalah perangkat-perangkat model pengetahuan yang secara
selektiI dapat digunakan untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan yang dihadapi,
untuk mendorong, dan untuk menciptakan tindakan-tindakan yang diperlukannya. Dalam
pengertian ini, kebudayaan adalah suatu kumpulan pedoman atau pegangan yang kegunaannya
operasional dalam hal manusia mengadaptasi diri dengan dan menghadapi lingkungan-
lingkungan tertentu (Iisik/alam, dan sosial) agar mereka itu dapat melangsungkan kehidupannya,
yaitu memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, dan untuk dapat hidup secara lebih baik lagi. Karena
itu kebudayaan iuga dinamakan sebagai disain menyeluruh dari kehidupan (lihat Suparlan, 1972;
1997).Penggunaan kebudayaan oleh para pendukungnya dalam kehidupan yang nyata, yaitu
bagaimana terwuiud dalam tindakan-tindakan sehari-hari dalam kehidupannya sebagai warga
masyarakat, teriadi karena adanya pranata-pranata sosial yang dipunyai oleh masyarakat tsb.
Kegiatan ekonomi dan pemilihan pekeriaan bagi masyarakat Pesisir misalnya meniadi petani,
nelayan, atau pedagang, dalam perspektiI kebudayaan dapat diielaskan ke dalam konsep hidup,
pilihan hidup, pemenuhan kebutuhan hidup, dan pemilihan strategi-strategi dalam kegiatan-
kegiatan ekonomi sesuai dengan tingkat-tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh warga
masyarakat yang bersangkutan dalam konteks idealisasi sesuai dengan status dan peran yang
ingin diialankan. Apabila hidup dipersepsi atau dinilai sebagai berharga sepaniang ditupang oleh
kecukupan ekonomi, untuk menunaikan tugas sosial dan keagamaan, maka 'etos keria¨ di dalam
kebudayaan itu sebetulnya mendapat nilai tinggi. Kalau etos berusaha itu diterapkan pada petani-
petani sawah, tetapi dalam kenyataannya pertanian sawah tidak mampu menaikkan taraI
kehidupan ekonomi meniadi lebih baik, maka kondisi ini muncul di samping karena teknologi
pertaniannya yang masih harus ditingkatkan, iuga dari Iaktor-Iaktor luaran yang harus dicurigai
seperti nilai iual hasil pertanian yang rendah yang tidak seimbang dengan harga-harga barang di
luar pertanian, sehingga pendapatan petani hampir selalu tidak dapat dipakai untuk memenuhi
kebutuhan dasar apalagi pemilikan sawah rata-rata sempit. Jadi, kendatipun bertani memiliki
nilai positiI dalam kebudayaan, tetapi kalau hasil riil dari pertanian tidak dapat diandalkan, maka
dunia pertanian lama-kelamaan akan cenderung ditinggalkan oleh sebagian warga masyarakat
yang bersangkutan.
Lain halnya dengan kekayaan laut. Kekayaan yang ada dalam laut (Jawa), hanya sebagian kecil
saia dari penduduk masyarakat Pesisir yang berusaha mengaisnya, itupun dalam usaha-usaha
kecil seperti kaum nelayan tradisional. Kondisi ini dalam perspektiI kebudayaan dapat diielaskan
bahwa konsep laut dan melaut bagi umumnya masyarakat Jawa Pesisir belum mendarahdaging,
tidak sebagaimana konsep sawah dan pertanian. Oleh karena belum mendarahdaging di
samping iuga gambaran mengenai melakukan kegiatan di laut penuh risiko sementara
gambaran mengenai kondisi kehidupan nelayan masih buram maka dalam proses sosialisasi
dan selama dalam pendidikan belum ada upaya-upaya untuk diorientasikan kepada kecintaan
kepada laut, baik mengenai pengetahuan kelautan, pemanIaatan kekayaan laut, maupun
teknologi kelautan. Terabaikannya kondisi ini mengakibatkan semangat untuk mencintai dan
meniadi bangga sebagai pelaut, serta kesungguhannya untuk dapat memanIaatkan kekayaan laut,
sangat berkurang. Dalam kondisi seperti itu, pemerintah seharusnya bertanggungiawab, dalam
arti perlu melakukan promosi besar-besaran dan terencana, seperti menggali kembali sastra-
sastra lama yang berkaitan dengan laut untuk diiadikan bahan bacaan anak didik, membuat Iilm-
Iilm yang dapat menggugah kecintaan dan kebanggaan sebagai pelaut, menkonsentrasikan
pendirian lembaga-lembaga pendidikan kelautan di berbagai daerah setingkat kabupaten, sampai
pada kegiatan terencana lain yang dapat mempercepat kecintaan dan kesanggupan untuk
mengelola dan memanIaatkan kekayaan laut.
5. Model Kaiian Kebudayaan
Kaiian mengenai masalah-masalah sosial ekonomi, dan sosial budaya dalam konteks
pembangunan masyarakat, hingga dewasa ini masih banyak dilakukan dalam bentuk kaiian-
kaiian makro, seperti yang terwuiud dalam penelitian-penelitian survei. Model kaiian demikian
ini memang bermanIaat terutama untuk melihat secara cepat Iaktor-Iaktor penyebab dan Iaktor-
Iaktor yang mempengaruhi. Hanya saia, penelitian-penelitian demikian, sering tidak mampu
melihat permasalahan secara holistik, di samping ukuran yang digunakan untuk melihat dan
menilai permasalahan-permasalahan yang muncul umumnya tidak menggunakan ukuran-ukuran
dari kebudayaan masyarakat yang dipelaiari.
Untuk lebih mengarah kepada pemahaman permasalahan sosial ekonomi dan sosial budaya
masyarakat, dalam kerangka peningkatan taraI keseiahteraan kehidupan masyarakat, dibutuhkan
kaii laniut dalam bentuk yang lebih memusatkan perhatian kepada pemahaman atau pengertian
(understanding) dengan menggunakan perspektiI emik. Dalam perspektiI emik itu, masyarakat
tidak diiadikan obiek tetapi iustru diiadikan subiek. Artinya, mereka perlu dilibatkan untuk
bersama-sama memahami permasalahan, menganalisis mengapa permasalahan itu muncul, dan
alternatiI-alternatiI pemecahan apa saia yang bisa ditawarkan.
6. Penutup
Corak ragam masyarakat pesisir, dewasa ini sudah mengalami berbagai perubahan. Kehidupan
laut, tidak lagi meniadi kebanggaannya. Dunia usaha cenderung ditinggalkan. Dunia pertanian,
kurang lagi diminati. Kecenderungan umum, terutama di kalangan para generasi mudanya, lebih
tertarik masuk ke sektor iasa, sebagai buruh, atau karyawan. Kecenderungan perubahan seperti
itu, tentu saia tidak datang secara tiba-tiba. Tetapi yang ielas, kecenderungan untuk atau terpaksa
meniadi buruh, akan semakin meniauhkan dari mentalitas dasar orang pesisiran yaitu: berani,
suka menghadapi tantangan, dan hidup merdeka, dalam arti meniadi iuragan di daerahnya. Kalau
tidak, merantau adalah ialan terbaiknya.
Untuk mengembalikan mentalitas seperti itu, apa lalu yang bisa kita lakukan? Inilah tugas kita.
DaItar Bacaan
DhoIier
1985 'Santri Abangan dalam Kehidupan Orang Jawa: Teropong dari Pesantren¨. Dalam Agama
dan Tantangan (Pilihan Artikel Prisma 1975- 1984). Jakarta: LP3ES.
Geertz, CliIIord
1973 The Interpretation oI Cultures . New York: Basic Book.
1984 Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa. Jakarta: Pustaka Jaya (Teriemahan
Azwab Mahasin).
Gunawan, Memed, dan Erwidodo
1993 'Urbanisasi dan Pengurangan Kemiskinan. Kasus Migrasi Desa-Kota di Jawa Barat¨.
Dalam Prisma. No. 3, Th. XII.
Hardiowirogo, Marbangun
1984 Manusia Jawa. Jakarta: Inti Idayu Press.
Keesing, Roger M
1974 'Theories oI Culture¨. Dalam Annual Review oI Anthropology.
Koentiaraningrat
1984 Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka.
Mubyarto, Loekman Sutrisno, Michael Dove
1984 Nelayan dan Kemiskinan - Studi Ekonomi Antropologi di Dua Desa Pantai. Jakarta: CV
Raiawali.
Penny, D.H dan Meneth Ginting
1984 Pekarangan Petani dan Kemiskinan. Yogyakarta: UGM Press.
RedIield, Robert
1982 Masyarakat Petani dan Kebudayaan. Jakarta: Raiawali (Teriemahan Daniel Dakidae).
Simuh
1989 Mistik Islam Keiawen Raden Ngabehi Ranggawarsita - Suatu Studi terhadap Serat Wirid
Hidayat Jati. Jakarta: UI Press.
Singarimbun, Masri, dan D.H. Penny
1976 Penduduk & Kemiskinan. Kasus Srihario di Pedesaan Jawa. Jakarta: Bhratara Karya
Aksara.
Suparlan, Parsudi
1986 'Kebudayaan dan Pembangunan¨. Dalam IKA. No. 11, Th. XIV
1993 'Antropologi untuk Indonesia¨. Dalam Membangun Martabat Manusia. EIIendi, SoIian,
dkk (eds). Jogyakarta: Gadiah Mada University Press.
1997 'Transmigrasi dalam Pembangunan Wilayah dan Kelestariannya dengan PerspektiI Sosial
Budaya: Model untuk Irian Jaya¨. Dalam Analisis. No. 3,Th. XXVI.
Thohir, Mudiahirin
1999 Wacana Masyarakat dan Kebudayaan Jawa Pesisiran. Semarang: Yayasan Bendera.
O
pengertian sosiologi pedesaan
April 1, 2010
By amelliaIitta
ƽkA8Ak1L8lS1lk uMuM MAS?A8AkA1 uLSA

MasvarakaL desa selalu memlllkl clrlŴclrl aLau dalam hldup bermasvarakaLţ vana blasanva Lampak dalam
perllaku keseharlan merekaŦ Þada slLuasl dan kondlsl LerLenLuţ sebaalan karakLerlsLlk dapaL
dlaenerallsaslkan pada kehldupan masvarakaL desa dl !awaŦ namun demlklanţ denaan adanva
perubahan soslal rellalus dan perkembanaan era lnformasl dan Leknoloalţ Lerkadana sebaalan
karakLerlsLlk LersebuL sudah ºLldak berlaku"Ŧ 8erlkuL lnl dlsampalkan se[umlah karakLerlsLlk masvarakaL
desaţ vana LerkalL denaan eLlka dan budava merekaţ vana berslfaL umum vana selama lnl maslh serlna
dlLemulŦ SeLldaknvaţ lnl men[adl salah saLu wacana baal klLa vana akan bersamaŴsama hldup dl
llnakunaan pedesaanŦ

1Ŧ Sederhana
Sebaalan besar masvarakaL desa hldup dalam kesederhanaanŦ kesederhanaan lnl Ler[adl karena dua halť
aŦ Secara ekonoml memana Lldak mampu
bŦ Secara budava memana Lldak senana menvombonakan dlrlŦ

2Ŧ Mudah curlaa
Secara umumţ masvarakaL desa akan menaruh curlaa padať
aŦ PalŴhal baru dl luar dlrlnva vana belum dlpahamlnva
bŦ Seseorana/sekelompok vana baal komunlLas mereka dlanaaap ºaslna"

3Ŧ Men[un[una Llnaal ºunaaahŴunaauh"
Sebaaal ºorana 1lmur"ţ orana desa sanaaL men[un[una Llnaal kesopanan aLau ºunaaahŴunaauh" apabllať
aŦ 8erLemu denaan LeLanaaa
bŦ 8erhadapan denaan pe[abaL
cŦ 8erhadapan denaan orana vana leblh Lua/dlLuakan
dŦ 8erhadapan denaan orana vana leblh mampu secara ekonoml
eŦ 8erhadapan denaan orana vana Llnaal LlnakaL pendldlkannva

4Ŧ Cuvubţ kekeluaraaan
Sudah men[adl karakLerlsLlk khas baal masvarakaL desa bahwa suasana kekeluaraaan dan persaudaraan
Lelah ºmendarahŴdaalna" dalam haLl sanubarl merekaŦ

3Ŧ Luaas
º8erblcara apa adanva"ţ lLulah clrl khas laln vana dlmlllkl masvarakaL desaŦ Mereka Lldak pedull apakah
ucapannva menvaklLkan aLau Lldak baal orana laln karena memana mereka Lldak berencana unLuk
menvaklLl orana lalnŦ ke[u[uranţ lLulah vana mereka mlllklŦ

6Ŧ 1erLuLup dalam hal keuanaan
8lasanva masvarakaL desa akan menuLup dlrl manakala ada orana vana berLanva LenLana slsl
kemampuan ekonoml keluaraaŦ Apalaal [lka orana LersebuL belum bealLu dlkenalnvaŦ kaLakanlahţ
mahaslswa vana sedana melakukan Luaas penellLlan survel pasLl akan sullL mendapaLkan lnformasl
LenLana [umlah pendapaLan dan penaeluaran merekaŦ
7Ŧ Þerasaan ºmlnder" Lerhadap orana koLa
SaLu fenomena vana dlLampakkan oleh masavarakaL desaţ balk secara lanasuna aLaupun Lldak lanasuna
keLlka berLemu/beraaul denaan orana koLa adalah perasaan mlndernva vana cukup besarŦ 8lasanva
mereka cenderuna unLuk dlam/Lldak banvak omonaŦ

Ŧ Menaharaal (ºnaa[enl") orana laln
MasvarakaL desa benarŴbenar memperhlLunakan kebalkan orana laln vana pernah dlLerlmanva sebaaal
ºpaLokan" unLuk membalas budl sebesarŴbesarnvaŦ 8alas budl lnl Lldak selalu dalam wu[ud maLerlal
LeLapl [uaa dalam benLuk penaharaaan soslal aLau dalam bahasa !awa blasa dlsebuL denaan ºnaa[enl"Ŧ

9Ŧ !lka dlberl [an[lţ akan selalu dllnaaL
8aal masvarakaL desaţ [an[l vana pernah dlucapkan seseorana/komunlLas LerLenLu akan sanaaL dllnaaL
oleh mereka Lerleblh berkalLan denaan kebuLuhan merekaŦ Pal lnl dldasarl oleh penaalaman/Lrauma
vana selama lnl serlna mereka alamlţ khususnva Lerhadap [an[lŴ[an[l LerkalL denaan proaram
pembanaunan dl daerahnvaŦ

Seballknva blla [an[l lLu Lldak dlLepaLlţ baal mereka akan men[adl ºluka dalam" vana bealLu membekas dl
haLl dan sullL menahapuskannvaŦ ConLoh kecllť mahaslswa men[an[lkan perLemuan dl 8alal uesa [am
19Ŧ00Ŧ uenaan LepaL wakLuţ mereka Lelah sLandbv namun mahaslswa baru daLana [am 20Ŧ00Ŧ Mereka
akan sanaaL kecewa dan selalu menalnaaL penaalaman lLuŦ

10Ŧ Suka aoLonaŴrovona
Salah saLu clrl khas masvarakaL desa vana dlmlllkl dlhamplr seluruh kawasan lndonesla adalah aoLonaŴ
rovona aLau kalau dalam masvarakaL !awa leblh dlkenal denaan lsLllah ºsambaLan"Ŧ unlknvaţ Lanpa
harus dlmlnLal perLolonaanţ serLa merLa mereka akan ºnvenakuvuna" aLau bahuŴmembahu
merlnaankan beban LeLanaaanva vana sedana punva ºaawe" aLau ha[aLanŦ Mereka Lldak
memperhlLunakan kerualan maLerlll vana dlkeluarkan unLuk membanLu orana lalnŦ Þrlnslp merekať ºrual
saLhakţ baLhl sanak"Ŧ ?ana kurana leblh arLlnvať leblh balk kehllanaan maLerl LeLapl mendapaL
keunLunaan berLambah saudaraŦ

11Ŧ uemokraLls
Se[alan denaan adanva perubahan sLrukLur oraanlsasl dl desaţ penaambllan kepuLusan Lerhadap suaLu
kealaLan pembanaunan selalu dllakukan melalul mekanlsme musvawarah unLuk mufakaLŦ ualam hal lnl
peran 8Þu (8adan Þerwakllan uesa) sanaaL penLlna dalam menaakomodasl pendapaL/lnpuL darl waraaŦ

12Ŧ 8ellalus
MasvarakaL pedesaan dlkenal sanaaL rellalusŦ ArLlnvaţ dalam keseharlan mereka LaaL men[alankan
lbadah aaamanvaŦ Secara kolekLlfţ mereka [uaa menaakLuallsasl dlrl ke dalam kealaLan budava vana
bernuansa keaaamaanŦ Mlsalnvať Lahlllanţ ra[abanţ !umaL kllwonanţ dllŦ

/. 805.9 ..9. 9.8.0.3/3.305.84.:9.9:!0887.3.37.3%2:7 .3. 03/. 03/. 07.: %:-.3  !0.3.9047.0/.07. .-.805079.5. %0.3..53..537.3..3 4.33.0.3/07.03.89.7/..03/07:3.305.72020275.3/...07.3537.9   ...33. .3!0887. 5020393./.7.83.7. $0: $:7..7..03/07:3203:3../.38050799:3203.3848.35.30.80-.0079  4039.. 205:9/.8.32020.370-08  %&#03.203. 708 $0/.7./.07.80.33.207 .5:.32070.3 05.35./9:..39.03/07:30.07.020./.03  .3-0-07.:..3.39/.30.3 .7.7.. /..7. 203:..  . 708 $0/..47.30803.03/07:38.3.3 5:..8:./.3/03..-....70-:/. .30.03/07:3:.324-9.-.3 . /.337...38:. .9..9.018  :95/.7.3-.:80.79. 5.3 0275.32:33 8.3 /.7.79 9/..7. 50887.7./..703./0 3.3 :3.7:403:3.3 9:9:7.33.8:.-..7 $.3.3  47.:39:203/8:8.3#.7..2/:..07.-./0  .3 .2.25:79./503.3 !02..3/.3  !0.3.9:80-:9..-.9/../.35079..: %:-.802 :.9.205:9/.3. ..:203008.::593  8.33.9:/.30/:..39.2203..90..3:.2..7.8.802 :.3.9.02.0-203472.07.9 :/:8 /..3.75.7.3/.07.25../.3/.-07-09 -09  47..7.3537.$44/.3 -0702-.3203:. !03:8-8.9944 944 31472.7.::3.:8 507.700  /.3/:3.3 .943 02..43.7.7.7:3/.3 !02..370-08 . 03/..:9.9..7..1  $. %0.9!0887.8:.9.39:9:7-.7.2......3:39:/.07. -078.907 070.. .5. /.2.2539:.5.25.8.07. /./:.!0887...9!0887.32.07.8 85439.-.07.3 74/08.8.03/07:3..3203:3:.:.50.3-.3.95020739.5./805..8/.8..9. !.8./..30.70../. !.32.3.3 /.3/-.8.8.03/07:3-4748/./.9/.2.73207:5.83..8. /.9..33/80-:980-.!0887.3/.3.2.5.3 74/08.0.95:3:.7:29 .3-07-09 -0928.8.9 :/:8 /.-.91./.2.749.$0: $:7./:547.3..2507.43.  03.344 0803.3/:5/.5:.07.-070/:5.3 .03/07:39/./. .2.39.9.7/4744    #!%&%# !$$# #%02..

/.:.3.40503/.7:40.-3.3 -.32:/.03/07:3-4748 . .320250740503.73.333 5..7./.98050799: 5.3507.8. 909./03.3..33 2070. /.5.7.3 5.8:.207 !07.33.33:3..7.3 508872:/.928.909./03.3.202-0.5:.7.3 /03.202-0-.7..:2.:-:3./.3 -07-0/.9.5.350720.7.8..2..8.-/03..8::7.373.5  7.2 080.3 -:.3-070- !.9.3.9.3 .6.39../.39..7.3  ./.33.20250740 503.::5-08.2070. 0..3.9.. /..3.3335.703.3203:.397.5 .1.32:/.9.5.3:39:9: .3 025.9073.7 0-07.8.9.6..:39:20.3.320.2:2. /.324/0:9..3.3.502025.7..380739/.950887.8.397.30-2030. ..40::7../.3.38..08.35.3.:3.8../43974. 0907:8 907.3.39.  %/.3 /./03.3/503.8 -.-8. 30.3 02.47..7./03.385.:928.8.-8.3 47. .33.-9 9.38::/:.9/.3:8.3 5:9.3:.2079:8073.8.3 .3..23. ..3503/.3 09.3.3.5./.00-.50./  0.9: 47...72.22:82.:./.8/03.350393.3 50:3:3.7.

.3.89.9%47  -.-08.3-:7:9. /.703..30.907..:8.7.380./..3/7 907... 5.39.5 .7#.8-049.9.2.25.3/3./-:7:05.2.8:8.9./02:/.9-072-.3.2 0283.:3.2-. -.88.2 802039.2:3.25. /.:203:7:9/. .90-07.7 5.33.3/73.5037./.3907-039:5..320./08.3/: 78903  /.3-07549038 803.2.30..-.807.. .7.3.!0887 /.7 .28..91 0-.330. 202.2./843.9.7:40 503.503/:/:.9/.3/08./..3. 8.33. 503/:/:.. $0/. 80..3..5.9:  23.8.91/.2 909.-:5.3/:.3/.8.05..37/4/4  $02039...3:2:23./.....0.50887.805079.503:8 %47  8:9 /. /08.393.-07.7.-.203.3  /.:..3548913.3-07-..32../-:7:. 49.9-08.3.8909.3 /.7.3-0753/.91-.8./.:.35007.203.32033..3907.2.7.7.:3./..3 30.5079.39.31.3./...2.8 :7-.38./49..327.//08.3/08.3857..39.3203.32.203:7..-7 ..8-.507/...2..380-...5/.3-07.30. .. .3.3 802039.7.8-.7:  0-07...3 ..2-..3.3/.38.320302-.7.3 -:/..3.370.5007.3 9/.07./. /0.35.3 2:.49..//08.9..   .3/./93.8.340503/:/:.3./49.3203.39:35./...35.-:7:9.903 !03/:/:.3803.3-07:8.9/.3:705....7.80-.2 . 02:/.3 8.90..3.8. .8. :-./.3 9073.3503/:/:.:8.393.3/.:/9:380.3.3 425098 /.2:/././...3.507:-.80297.354891/..93../:58050799: 9039:8.8 203. /08.503-:7.5/:3.307.3/.:9.35.3203./:3..25:79...7800.39:203:.3.!0887!0/08.9..8 .9:5.5.75.8830.47.3-07.89./-:7:5..-07./843.3.33..3202:.3.35007.8.3/. /072.989 503/:/::8.47..8..703. 49. 49.. /.7.38.3/423.0549088./.380-.: 27. /08.-08.90..320303.3..//08.3.920257.2:/.7.7.8.47039.9/-0/...7.9047.7 :2.8049.7/.7.393.3:7.9.2070.3-07.8-07.7: .3.79:  ...989 .:93.3 43/83.9.3.32.7.. 803. :8.91/./.38705.3.9503/:/:!0887./503..39:/.::39:203.9.-0702-.380-.388 88 548913..2 9072.3 .350749.8...39:70.3:9/./:97  07-.:5007.38.9: :2:23.503/:/:.3.:39: 202./.73.88.8..7..388 8830.3/.2-.91  .3.-07..7./:./.72030.393..3 8. .32.5.727.39..7.3.-079.3202-03.3 802./.509.7.7805079. /80-...38.7/08.3 0507..3/3.3/.91/.3..3.9.7././. .0./..7.33/.!0887.59075:7:0/..93.7503/:/: .9....9!0887:9.9:.840 08:3:..92070.30.35./.85079..:9 -0:2-8.509.3..89803.80-.7:2.79..8.794 /  .2/:3..3.. 0/:5.32. /08.25.3./. 803.3.89. -:/..9.289:/.5.397. .9:  /..7.2. 80507949.574/:91/./. 802039..3./.8 3857.743/8907:9.7..723.3 -.7.3/.3 /. .5.  54891/.8049.3/. %:.

79./.2 .507.924/050309./...59.3/...3:39:203./.3.3!0887/.9!0887 .7.3.3..8.:..83:3..080:7:.3907.3.383..393/.33.3/507:.3./.9/:3.9 507.5..5  :39:203/4743 /..9/.. 402...3!0887 0-:/.2/..5.7.3:39:202.07.320339075709. .3.3. 80091/..380.3/5:3.3 93/.:.803/7 %47     0-:/.380-.350309.

3/..2.:50.350/42./.843.3.3203.503079..59.8/7/03.33..33 0-:/.2.3 3:3.9::25:.30:3.9..203.53:3.3./.8:..39079039: 18.3.3:8./.3./. 4507.

.-07.9/5../..20303.::5././ 03/.9:/..7.75079...:.7.35.7.8.50.90344 5079..3.-.3:.3703/.5..:/8.3/.5..75079.....7:8/.25.:9.3 :.3.7.3.34080-...2.38.7.3/.3.848.9 .390703./.3.30-.:9 . //.9..9 93.9.0..7.. .3/240.39..950309.3/03..2 2.2507850910-:/.0.3/5:3..:230..3/ :.3   !03:3.33.7.../.39:80-09:3..:50/.9.39.3/./.. 9:5:3/.3.5.3:9.3 503/7.703.3.72070.2574808848.9.:9/..7.33.3  30./..80-.3848.9..3574248-08..7503/:/:2.3/:5 /.7.3 2.:.90 897.2..3202.43/83203.3-07.8.2.9.95:3-079.3.2507850910-:/.:9-..3 909./.3.2503//./.203.85079.32030:7:/.30-:/.9-07:7.9:39:203..8093. 5. :5...203/.50309.3..9 907.3..20/:5...9: -.07.80-..-:5..3 203..509...9.3-07:8.31..3 .3/.30.90.3202 3. .:7.2:8.8.3.7.320303.3.3/..243/88050799: 5020739... 57.308.:9.3.503//.2.:0948-07:8.3  0.243908/0.:9/..30.7/./.304342 :39:203:3.9/0.02-.9.:.9/0./.304342/.43805.9/....32.7.3848.3502.7:8/93.9.. ..3 0.9.3-078.3.30/:5.7:83.8 /. 2.3.438058...05..93 .3-.3 803.:9   4/0.3.7.5./03.947 1.:39:20203: 0-:9:.:9 8079.:9.3.5/. .3 .5./.3 0-:9:.7..:9  8.3.-0:2203/.3/. 43/83/.30.80.3..2.30.:9:39:/./..7.3.9. 0.7....7./..3 2.79507:20.8.5.7 -08.3.304342203.2 .38.503/.39.703..2 0-:/./3.80-..3. 2.8.703..340 0.03/07:3/93..5079.802-.38:3.80259 .5.39..80-...:9503:784 802039.33.8.3 .2 /.9.3 / 8.8.330..90/..9.5.:.3  9/. /..3.30/./.3..../843.3509.397.5.8..3. 805079203.3..3/.3:5.30.3:39: 20304.3 502.7..3/./..3.3/9:5.32.!0887-0:2203/..2./509.20-:/.9.-. 0.08:3:.7.3.3:3.9203:.7 .... 2..389..50..9.9.8.0.04342 /.3.3..903 8.2-././..39/../.380-.9..39/.3 -.848.3 -0:2...7..390703.302-.7.30-:/.9$:5.3405.30..805079.33.:39:/47039.20.:9 0.3502./03.70/:5..87/.8.320303.3-.203.9.3.203..897.43/832:3.:9 2034380397.7.33.8./.8-:7.8..3.25780.3/-07-.3.30.:.320303.38.33.8848.3 /.9!088728.897.3 33/.9.503/::33.9. :8.380-.3..2.30-:9:.5..9:20203:0-:9:./.0--..9!0887.8..7. 2./8.703.947:.3/.2.  ..25:203.3802.2...3.305.2. 8050793.-:/.3.3.8...:5.:9 -...// 202-:.-079...3/03.5.380.83.5079... 8.8...:2:23.3  .57. .3./0--...3 5.7.7.-.3.33.3/.9:8/...253./03./-.39:.3.39././.31.2.. 7...8.7./.9202.5.253:.3 ./.3-...20.2.35079.393..243805/:5  5.2-. 909.9202507..:/3.9. 094807. 8..3507.2.43/80/:5.3 %07.9/:580..80-.907:://.805.:5:3 903440...9/.320.20/:5.71.7.380.1 0/:5.502.7..998-  0.30.3-078. /:3.2./.3.93.912 12.31.8.3.54891/.3.-.304342808:..293/.. 02-.9:/907.3 93/.3:39:/.3.3/:5 50203:.5.:39:/../.8.3/.3 05.9.3./:5/5078058.30.3897.8808:.3:9.402.920.:9 2. ..:. 9:0-:/.33.243908 ..3 509..35007.5..9.

. /.82:/.380.3 $. %09.:.91.9.250785091029: 2.8./.3...8. 50309.38:7.7..3%.38:-0 793.94341:9:708 047.  ..9.3.2.3 80739/.7.79.3:3 .../.950887 /0.3802.91 ..8.3203:3.39.9  .305.:....9..:9075..30-202:8.31..:39:20.3 :3.79...203..74 805079.9. .3 0/:5.7-.233:.3-072.3:39: -078.3.7.3/02../:7.5.7.3:39:.3 .39.9.3..3-8..8/.32..35072.30.03/07:3./23.7.9 0..3 /..3..3/:3.9 /.3/.. 9-.8.2..2..947 1...88050799: .34-0909.502...9/.3 /.3. 207.3:3. /.3 :3/0789.3.44  -.:.89..3 020/ /.32039.489 /8.3 ..70-:/.3/50.8..72039..9 9/.2-039:.5072.9...350887..3 .397-.  ../-:7: ./0-.31.:.3.7/4744 ..-/.3.32.:./.3 203.3907-.8...7..05.502-.8.8:87./.:9 9/..5:897:/..9-..20/:5.8.32.250309.3848.8.19..202.9.3/.:!7088  0083 #407  %0470841:9:70 ..7.2...7.8:080947..3//.38:/.3:39:20.203.!:89.2-039:.9:-07.8.-:/..9475030-...5.9073.397 !7.207.::2:23.2.79203..3 203.808.88203.3 !..3805079 9: 9039:8.8.83  :3..3202503.30/:5.9/.2..5072.7./.3 7.3 .3:2:2 907:9.3790!782. 203...7: ..3 5072..79.3 50309.8.3.9/.3/02.:.35.3..!$  0079 1147/ %039075709.907.915020.../9.-.3/:5207/0.39:2:3..3.07.9907:9.7..3!03:7.9073. 2070.980.1080.8.9..5079. 2.3/3 /03.2-07-././. 0- 9079...3:9/.8.2.3  8:.05.39/.3.8.9. 80-.33.3...3::7.3 ::7.7.947 1.203:3.3907:://.8 0.35078509102 .9 3.7. ...0413974544  .03/07:3.04342/.7  &39:0-203.8.3.95072..-:7: .3.9 /-:9:.7.3./.3 0.2..380.3.:8..7!08.25: 20. %0702.3 4107  $.3./...3203.7.947.....2../0.203.3:8.7.2.3507. :3.7.3 .8.59.38.: /. .  &39:20302-.3848.39703 .32.8./.7.3/.25072.8.:503079.8.3 50309.39.502.30283.32:3..3   !03:9:5 47..3.9.3 .32.5033..8/./.37/4/4  &7-.0307.9./.9.8-.253::7.... 8.9:..3507:-.33.7. 49.22.9. 4  %   .507:/-.03/07:3/93...: 9/..3 3202.3  :7.747.5.3.3-8.3..5.%074543/..2.8.507:-.72.03/07:3.0 4/0..39.#0.2!782.

9:$9:/907.303/07. .3/...7.337..3 4.79.30-:/.3/.&!7088  #0/10/ #4-079 .2!02-.3 .3...!:89..3.20.9. .4039..202-.3:3...8.79....30309393 !0./.7. .30.87 /....74/!0/08..88 4  % '  %47 :/.9...30-:/.72-:3 ..7.D.30089.30283..3/. $:.23.&3.3  !033 !03/:/: 0283.9. @@D..8:8$7.8/.3 $9:/43423974544/:.79.3 .79. %0702...7.08.3 57    ..04.3!02-.79.199.3  / 0/8 4.3..3/.78:/  0-:/..9!09.4/0:39:7.f¾fff ¾f¾ f¯ ¯n nff ff¯ ½ ¯f¾fff f°– f¾f°ff¯½f ff¯ ½ f ¾ ff°¯  f 9f f¾f¾ f°° ¾  ° ¾ f–f°ff ¾ f½f – ° f¾f¾f°½f f  ½f°¯f¾fff ¾f ff -f¯° ¯f°  °–f°f f°f ½  ff°¾¾f –¾ f°½  ¯ f°–f° f°€¯f¾ f° °–  f f°–¾ f–f° ...5$07.3827.73 ..0  $2: 898.3.  O  503079..3. 1103/ $41.789.97/ /.03#.  :-.79.0 0./../03.#.9 0-:/..  !033  /.3.0789!7088   %7././.7.9/.79..33.7.3 !.30283..' #.&!7088  $3.3:3...7./03.9 ....3:8.3..3:3..79.. .7.  $:5. :/.@  .3 $02./.3. 8.3!09.794 402.8. ...3 .3$:97834 .3.20....-0#.3.!0887.!.39.7.7..3!0785091$48.2 4  % '  3974544:39:3/4308.8..7.38484450/08.-.

 f f½ f½ff nf½f°°f¯ °ff°ff f f–f°–f°f °f¯ ¯f°–¯  f f  °nf°f° ¯ °ff°–f°  ©©f° ff°–¯  f¯    @ ½ ff¯f f°–f° f¾f°f¯f¾fff ¾fff°¯ °½ ¯f°ffff ff°–f°– f°f °f°–¾¾  ¯f¯½f° °¯ f–f ½ff–©ff°– ¾  ¯ –  °f°f fff°f  ¯ff¾¾ff°–¾ f°–¯ ff°–f¾½ ° f°¾ ½f¾ff°¾¯ ° f½ff°°€¯f¾  °f°–©¯f½ ° f½ff° f°½ °– ff°¯  f   9 f¾ff°#¯° # f f½f°–f f€ °¯ °ff°– f¯½ff° ¯f¾ffff ¾f  f¾ nfff°–¾°–ff½° ff°–¾°–  f  ¯$ –f °–f°f°–ff ff½ f¾ff°¯° °ff°–n½ ¾f  f¾f°f ¯  fn ° °–° f¯$ f f°f¯°–   . fn–f  nff¯¯ ¯f¾fff ¾fff°¯ °fn–f½f f  f f f f f °ff°– ¯ ½ff¯°f  ¾ f°–$¾  ¯½f°– f–¯°f¾¯  f f°––f½#f¾°–#   .ff ¾ ¾ ¾ f# f f#  ° ¾f¯½ff°¾ ©¯fff ¾¯f¾fff ¾f f°– f °–f° f f°  ff¯  f f°– ¾€f¯¯f°–¾ f¯f°¯f¾¾ °–  ¯   f°f °¯ °©f ¾ff¾ffnf°f f–ff°–ff° ¾f¯f ¾f¯f ½  °–°–f°½ ¾ff°     f°f  f–f° ¾f¯f¾fff ¾f ½ ff¯ ¾ f°ff°  ¾ f°ff°° ©f f °f ff  f  nff °¯¯ ¯f°– f¯f¯½  nff  ff¯ ¯f°– f¾ °f°–¯ °¯ °–f°     . °©°©°–°––#°––f °––#  f–f#f°–@¯# f°– ¾f¾f°–f¯ °©°©°–°–– ¾½f°f°ff#°––f °––#f½f f  f   ¯ °–f° f°––f  f f½f° °–f°½ ©f f n  f f½f° °–f°f°–f°– f$ ff°  f f½f° °–f°f°–f°– ¯f¯½¾ nff °¯  f f½f° °–f°f°–f°–°––°–f½ °  f°°f      f–ff°  f¯ °©f ff ¾f¾ f–¯f¾fff ¾f ff¾f¾f°f  f–ff° f°½ ¾f fff°  f#¯ ° ff f–°–# ff¯f¾f° f¯  f    –f¾ #  nfff½ff f°f# fnf¾f°f°– ¯¯f¾fff ¾f .

 .f¾fff ¾f °f °f¯ ¯½ °–f° ff°f°–f°f°–½ °f  ¯f°f¾ f–f #½ff°#°¯ ¯ ff¾  ¾ ¾f ¾f°f  ff¾  ° f¾ f ff¯© ¯f f  f½©–f ff¯ °½ °–f–ff°¾¾fff ff¯ ff¾fff f¾f ¾  °–f°#°–f© °#    f  ©f°© ff°¾ f °–f f–¯f¾fff ¾f ©f°©f°–½ °f nf½f°¾ ¾ f°–$¯°f¾  °ff°¾f°–f °–f  ¯  f   ff° °–f° f°¯  f f°  f¾f ½ °–ff¯f°$f¯f f°–¾ f¯f°¾ °–¯  fff¯ ¾¾°f f f½©f°© ©f°© f °–f°½–f¯ ½ ¯ f°–°f°  f f°f    f°f f©f°© f  ½f  f–¯  fff°¯ °©f #f ff¯#f°– –¯ ¯ f¾  f f°¾¯ °–f½¾f°°f . °–f–f%#°–f© °#%f°–f° .

° n ¯ff¾¾f¯ °©f°©f°½  ¯f°  ff ¾f©f¯    °–f° ½ff ¯  f f¾f° °f¯°¯ff¾¾f f ff°–©f¯  .¾f°f ff° f©f f° ¯f°f°    .f¾fff½ ¾ff°  °f¾f°–f –¾ °f  ff¯ ¾ ff°¯  fff¯ °©ff°f°  f ff–f¯f°f  nff € ¯  f©–f¯ °–ff¾f¾   ff¯ –ff°  fff°– °f°¾f f–f¯ff° .  f f ¯ ¯½ °–f° –f°¯f f°–  ff°°¯ ¯ f°f°–f° 9°¾½¯  f #– ¾ff  f¾f°f# f°–f°– f°f   f f°–f°¯f  f½¯ ° f½f  °°–f° f¯ f¾f ff     ¯f¾  ©ff° °–f°f f°f½  ff°¾–f°¾f¾  ¾f ½ °–f¯ f° ½¾f° f f½¾f  –ff°½ ¯ f°–°f°¾ f ff°¯ f¯ f°¾¯ ¯¾fff°¯€ff ff¯f° ½ f° 9% f f°9 ff° ¾f%¾f°–f½ °°– ff¯¯ °–f¯ f¾½ ° f½f$°½ ff–f     –¾ .  f ff°¾f°–f n f f°¾ f¯ °–°–f½ °–ff¯f°    f–°– °– ff¾fnf¾¯f¾fff ¾ff°– ¯ f¯½¾ ff¾f°° ° ¾ff ff–°– °–ffff ff¯¯f¾fffff   °f °–f°¾f#¾f¯ ff°# D°°f f°½f f¾ ¯°f½ °–f° ¾ f¯ f¯  fff°#° °–°–#ff f ¯ ¯ f ¯ °–f°f° f° f°––f°ff°–¾ f°–½°f#–f #fff©ff° .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->