P. 1
MAKALAH Identitas Profesional Dan an Profesi

MAKALAH Identitas Profesional Dan an Profesi

|Views: 1,809|Likes:
Published by choliex
Makalah ”Identitas Profesional dan Pengembangan Profesi”
Makalah ”Identitas Profesional dan Pengembangan Profesi”

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: choliex on May 02, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/18/2012

pdf

text

original

MAKALAH

IDENTITAS PROFESIONAL DAN PENGEMBANGAN PROFESI
Diajukan sebagai pelengkap tugas semester II Mata kuliah Profesi Bimbingan Konseling Dosen Pengampu :Dra. Sumarwiyah, M.Pd

Disusun oleh kelompok 9 kelas II E: 1. 2. 3. 4. 5. Iwan Tarwadi Sri Wurdyaningsih Anis Eka Ernawati Eny Megawati Aziz Avrianto (2010-31-008) (2010-31-036) (2010-31-046) (2010-31-050) (2010-31-244)

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING UNIVERSITAS MURIA KUDUS 2011/2012

KATA PENGANTAR

Limpahan pujian senantiasa atas kehadirat Allah SWT, yang telah mengaruniakan rahmat serta hidayatNya kepada penulis, sehingga penulis mampu menyelesaikan makalah yang berjudul ”Identitas Profesional dan Pengembangan Profesi” guna memenuhi tugas mata kuliah Profesi Bimbingan dan Konseling. Dalam pembuatan makalah ini penulis menyadari bahwa banyak kekeliruan , hal itu semata-mata karena penulis masih dalam proses pelatihan. Untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran pembaca. Tidak lupa penulis menyampaikan terima kasih kepada : 1. Dra. Sumarwiyah, M.Pd selaku dosen pengampu mata kuliah Profesi Bimbingan dan Konseling. 2. Teman-teman penulis yang sudah bersedia memberi dukungan atau motivasi dalam bentuk apapun.

Kudus, 18 Maret 2011

Penulis

BAB I PNDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Istilah ‘profesi” memang selalu menyangkut pekerjaan, tetapi tidak semua pekerjaan dapat disebut profesi. Untuk mecegah kesimpang-siuran tentang arti profesi dan hal-hal yang bersangkut paut dengan itu, berikut ini dikemukakan beberapa istilah yang berkaitan profesi. Berkaitan dengan “profesi” ada beberapa istilah yang hendaknya tidak dicampuradukkan, yaitu profesi, profesional, profesionalisme, profesionalitas, dan profesionalisasi. “Profesi” adalah suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian dari para petugasnya. Artinya, pekerjaan yang disebut profesi, tidak bisa dilakukan oleh orang yang tidak terlatih dan tidak disiapkan secara khusus terlebih dahulu untuk melakukan pekerjaan itu. ”Profesional” menunjuk kepada dua hal. Pertama, orang yang menyandang suatu profesi. Jika orang tersebut benar-benar ahli, maka disebut seorang “profesional”. Kedua, penampilan seorang dalam melakukan pekerjaan yang sesuai dengan profesinya. Dalam pengertian kedua ini, istilah profesional sering dipertentangkan dengan istilah non-profesional atau amatiran. “Profesionalisme” menunjuk kepada komitmen para anggota suatu profesi untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya dan terus-menerus mengembangkan strategi-strategi yang digunakannya dalam melakukan pekerjaan yang sesuai dengan profesinya. “Profesionalitas”, mengacu kepada sikap para anggota suatu profesi terhadap profesinya serta derajat pengetahuan dan keahlian yang mereka miliki dalam rangka melakukan pekerjaannya. “Profesionalisasi” menunjuk pada proses peningkatan kualifikasi maupun kemampuan para anggota suatu profesi dalam mencapai kriteria yang standar dalam penampilannya sebagai anggota suatu profesi. Profesionalisasi pada dasarnya merupakan serangkaian proses pengembangan keprofesionalan, baik

dilakukan melalui pendidikan/latihan pra-jabatan (pre-service training) maupun pendidikan/latihan dalam jabatan (in-service training). Oleh sebab itu, profesionalisasi merupakan proses yang berlangsung sepanjang hayat dan tanpa henti. Setelah mengetahui istilah profesi pada kesempatan kali ini kami akan membahas tentang identitas profesional dan pengembangan profesi. B. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang tersebut perlu kiranya merumuskan masalah sebagai pijakan untuk terfokusnya kajian tentang Identitas Profesional dan Pengembangan Profesi, Adapun perumusan masalah yang dapat diambil garis besarnya adalah sebagai berikut: 1. 2. 3. Apakah pengertian identitas profesional ? Bagaimana pengembangan profesi Bimbingan dan

Konseling ? Bagaimana Pengembangan Standarisasi Profesi Konseling

C. TUJUAN PENULISAN Dalam penyusunan makalah ini, penyusun memiliki tujuan : 1. 2. 3. Memhami pengertian identitas profesional Bimbingan dan Menerapkan Mengetahui pengembangan cara profesi Bimbingan dan Konseling. Konseling pengembangan standarisasi profesi Konseling

BAB II ISI A. Pengertian Identitas Profesional Dilihat dari segi bahasa identitas berasal dari bahasa inggris yaitu identity yang dapat diartikan sebagai ciri-ciri, tanda-tanda atau jati diri. Ciri-ciri adalah suatu yang menandai suatu benda atau orang. Jadi identity atau identitas atau jati diri dapat memiliki dua arti : 1. Identitas atau jati diri yang menunjuk pada ciri-ciri yang melekat pada diri seseorang atau sebuah benda. 2. Identitas atau jati diri dapat berupa surat keterangan yang dapat menjelaskan pribadi seseorang dan riwayat hidup seseorang. Sedangkan profesional adalah menunjuk kepada dua hal. Pertama, orang yang menyandang suatu profesi. Jika orang tersebut benar-benar ahli, maka disebut seorang “profesional”. Kedua, penampilan seorang dalam melakukan pekerjaan yang sesuai dengan profesinya. Jadi identitas profesional adalah seseorang yang memiliki ciri-ciri atau tanda-tanda yang ahli dalam suatu bidang atau menyandang suatu profesi. Identitas profesional berkaitan dengan organisasi kemasyarakatan yang mewadahi seluruh spesifikasi yang ada didalam profesi yang dimaksud. Perekat utama dari organisasi itu adalah sebutan profesi itu sendiri, yang didalamnya bisa dikembangkan sejenis himpunan / ikatan / kumpulan yang berorientasi itu. Pada saat ini profesi bimbingan dan konseling di Indonesia mewadahi diri dalam organisasi profesi yang diberi nama Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN), yang sebelumnya bernama Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI) yang berdiri sejak tahun 1975. Kepengurusan organisasi ini ada di tingkat nasional, daerah (provinsi), dan cabang (kabupaten / kota). Secara keilmuan, seni, dan profesi, perubahan nama membawa implikasi bagi upaya –

upaya pengokohan identitas profesi. Di dalam ABKIN ada sejumlah divisi yang berupa himpunan atau ikatan tenaga profesi konseling dalam bidang tugas tertentu. Fungsi organisasi profesional Fungsi organisasi profesional (dalam hal ini ABKIN) diarahkan kepada upaya-upaya berikut: a. Memantapkan landasan keilmuan dan teknologi dalam wilayah pelayanan konseling b. Menetapkan standard profesi konseling c. Mengdakan kolaborasi dengan lembaga pendidikan konselor dalam menyiapkan tenaga profesi konseling d. Menyiapkan atau melaksanakan upaya kredensialisasi bagi tenaga proesi konseling dan lembaga pengembangannya e. Mensupervisi pelayanan konseling yang di lakukan oleh perorangan maupun lembaga f. Melakukan advokasi,baik terhadap anggota profesi maupun penerima layanan profesi konseling Tujuan ABKIN (Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia ) adalah • Turut aktif dalam upaya menyukseskan pembangunan nasional, khususnya di bidang pendidikan dengan jalan memberi jalan memberi sumbangan pemikiran dan menunjang pelaksanaan pragam yang menjadi garis kebijaksanaan pemerintah. • Mengembangkan serta memajukan bimbingan dan konseling sebagai ilmu dan profesi dalam rangka ikut mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi. • Mempertinggi kesadaran, sikap dan kemampuan profesional personil bimbingan dan konseling agar lebih terarah, berhasilguna dan berdayaguna dalam menjalankan tugasnya. Kode Etik Profesi

Kode etik profesi adalah norma-norma yang harus diindahkan atau diperhatikan oleh tenaga profesi dalam menjalankan tugas profesi dan dalam kehidupannya di dalam masyarakat. Norma – norma itu berisi apa yang boleh dan diharapkan dilakukan apa serta apa yang tidak boleh dilakukan oleh tenaga profesi. Pelanggaran terhadap norma-norma tersebut akan mendapatkan sanksi. Ditegakkannya kode etik profesi bertujuan untuk: • • • • • Menjungjung tinggi martabat profesi Melindungi pelanggan dari perbuatan mal-praktik Meningkatkan mutu profesi Menjaga standar mutu dan status profesi Menegakkan ikatan antara tenega profesi dan profesi yang disandangnya

B. Pengembangan Profesi Bimbingan dan Konseling Sebagai profesi yang handal, bimbingan dan konseling masih perlu dikembangkan, bahkan diperjuangkan. Pengembangan profesi bimbingan dan konseling antara lain melalui :

a) Standardisasi Unjuk Kerja Profesional Konselor Masih banyak orang yang memandang bahwa pekerjaan dan Bimbingan dan Konseling dapat dilakukan oleh siapa pun juga, asalkan mampu berkomunikasi dan berwawancara. Anggapan lain mengatakan bahwa pelayanan bimbingan dan konseling semata-mata diarahkan kepada pemberian bantuan berkenaan dengan upaya pemecahan masalah dalam arti yang sempit saja. Ini jelas merupakan anggapan yang keliru. Sebagaimana telah diuraikan pada Bab VI, pelayanan bimbingan dan konseling tidak semata-mata diarahkan kepada pemecahan masalah saja, tetapi mencakup berbagai jenis layanan dan kegiatan yang mengacu pada terwujudnya fungsi-fungsi yang luas. Berbagai jenis bantuan dan kegiatan menuntut adanyaunjuk kerja profesional tertentu. Di Indonesia memang belum ada rumusan tentang unjuk kerja profesional konselor yang standar. Usaha untuk merintis terwujudnya rumusan tentang unjuk kerja itu telah dilakukan oleh Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI) pada Konvensi Nasional VII IPBI di Denpasar, Bali (1989). Upaya ini lebih dikonkretkan lagi pada Konvensi Nasional VIII di Padang (1991). Rumusan unjuk kerja yang pernah disampaikan dan dibicarakan dalam konvensi IPBI di Padang itu dapat dilihat pada lampiran. Walaupun rumusan butir-butir (sebanyak 225 butir) itu tampak sudah terinci, namun pengkajian lebih lanjut masih amat perlu dilakukan untuk menguji apakah butir-butir tersebut memang sudah tepat sesuai dengan kebutuhan lapangan, serta cukup praktis dan memberikan arah kepada para konselor bagi pelaksanaan layanan terhadap klien. Hasil pengkajian itu kemungkinan besar akan mengubah, menambah merinci rumusan-rumusan yang sudah ada itu.

b) Standardisasi Penyiapan Konselor Tujuan penyiapan konselor ialah agar para (calon) konselor memiliki wawasan dan menguasai serta dapat melaksanakan dengan sebaik-baiknya materi dan ketrampian yang terkandung di dalam butir-butir rumusan unjuk kerja. Penyiapan konselor itu dilakukan melalui program pendidikan prajabatan,

program penyetaraan, ataupun pendidikan dalam jabatan (seperti penataran). Khusus tentang penyiapan konselor melalui program pendidikan dalam jabatan, waktunya cukup lama, dimulai dari seleksi dan penerimaan calon peserta didik yang akan mengikuti program sampai para lulusannya diwisuda. Program pendidikan prajabatan konselor adalah jenjang pendidikan tinggi. 1. Seleksi / Penerimaan Peserta didik. Seleksi atau pemilihan calon peserta didik merupakan tahap awal dalam proses penyiapan konselor. Kegiatan ini memegang peranan yang amat penting dan menentukan dalam upaya pemerolehan calon konselor yang diharapkan. Bukanlah bibit yang baik akan menghasilkan buah yang baik pula? Komisi tugas, standar, dan kualifikasi konselor Amerika Serikat (Dalam Mortensen & Schmuller, 1976). 2. Pendidikan Konselor Untuk dapat melaksanakan tugas-tugas dalam bidang bimbingan dan konseling, yaitu unjuk kerja konselor secara baik (calon) konselor dituntut memiliki pengetahuan, ketrampilan, dan sikap dan sikap yang diperoleh memadai. melalui Pengetahuan, ketrampilan, tersebut

pendidikankhusus. Untuk pelayanan profesional bimbingan dan konseling yang didasarkan pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu, maka pengetahuan, sikap dan ketrampilan konselor yang (akan) ditugaskan pada sekolah tertentu itu perlu disesuiakan dengan berbagai tuntutan dan kondisi sasaran layanan, termasuk umur, tingkat pendidikan, dan tahap perkembangan anak.

c) Akreditasi Lembaga pendidikan konselor perlu diakreditasi untuk menjamin mutu lulusannya. Akreditasi meliputi penilaian tehadap misi, tujuan, struktur dan isi program, penilaian keberhasilan mahasisiwa dan keberhasilan program, potensi pengembangan lembaga unsur – unsur penunjang, dan hubungan masyarakat.

Akreditasi dikenakan terhadap lembaga pendidikan baik milik pemerintah maupun swasta. Penyelenggara akreditasi ialah pemerintah dengan bantuan organisasi profesi bimbingan dan konseling. Akriditasi merupakan prosedur yang secara resmi diakui bagi suatu profesi untuk mempengaruhi jenis dan mutu anggota profesi yang dimaksut (steinhouser & Bradley, dalam Prayitno, (1987) Tujuan pokok akreditasi adalah untuk mamantapkan kredibilitas profesi. Tujuan ini lebih lanjut dirumuskan sebagai berikut: 1) Untuk menilai bahwa program yang ada memenuhi standar yang ditetapkan oleh profesi. 2) Untuk menegaskan misi dan tujuan program. 3) Untuk menarik calon konselor dan tenaga pengajar yang bermutu tinggi. 4) Untuk membntu para para lulusan yang memenuhi tuntutan kredensial seperti lisensi. 5) Untuk meningkatkan kemampuan progam dan pengakuan terhadap progam tersebut. 6) Untuk meningkatkan progam dari penampilan dan penutupan. 7) Untuk membantu mahasiswa yang berpotensi dalam seleksi memakai progam pendiodikan konselor. 8) Memungkinkan mahasiswa dan staf pengajar berperan serta dalam evaluasi progam secara intensif. 9) Membantu para pemakai lulusan untuk mengetahui progam mana yang telah standar. 10) Untuk mendapatkan kepercayaan dari masyarakat pendidikan, masyarakat profesi, dan masyarakat pada umumnya tentang kemantapan pelayanan bimbingan dan konseling. d) Sertifikasi dan Lisensi Sertifikasi merupakan upaya lebih lanjut untuk lebih memantapkan dan menjamin profesionalisasi bimbingan dan konseling. Para lulusan pendidikan konselor yang akan bekerja dilembaga lembaga pemerintah misalnya sekolah

diharuskan menempuh program sertifikasi yang diselenggarakan oleh pemerintah. Sedangkan mereka yang hendak bekerja diluar lembaga atau badan pemerintah diwajibkan memperoleh lisensi atau sertifikat kredensial dari organisasi profesi bimbingan dan konseling. e) Pengembangan Organisasi Profesi Organisasi profesi adalah himpunan orang orang yang mempunyai profesi yang sama. Sesuai dengan dasar pembentukan dan sifat organisasi itu sendiri, yaitu profesi dan profesional, tujuan organisasi profesi dapat dirumuskan ke dalam “Tri Darma Organisasi Profesi”, yaitu : • • • Pengembangan ilmu Pengembangan pelayanan Penegak kode etik professional

Ketiga darma organisasi profesi itu saling bersangkutan, yang satu menunjang yang lain. Organisasi profesi bimbingan dan konseling dikehendaki dapat menjalankan ketiga dramanya itu sebagai mana diharapakan. Keikutsertaan dalam program akreditasi lembaga pendidikan konselor, sertifikasi, dan pemberian lisensi tidak lain adalah wujud dari pelaksanaan ketiga darma itu.demikian juga perumusan untuk kerja dan pembinaan serta pengembangan melalui pendidikan konselor tidak terlepas dari upaya pengembangan profesi yang menjadi sisi organisasi profesi bimbingan dan konseling. C. Pengembangan Standarisasi Profesi Konseling 1. Pertimbangan dan Arah Pengembangan Profesi • Rasional Permaslahan yang menimpa individu atau kelompok warga masyarakat tidak boleh dibiarkan begitu saja, melainkan perlu diberi pelayanan untuk memenuhi kebutuhan mereka dalam menjalani dan meraih perikehidupan dengan pengembangan potensial yang optimal dan membahagiaan. Pelayanan yang dimaksudkan adalah pelayanan konseling oleh tenaga ahli yang telah secara resmi menyandang gelar profesi konselor. Tamatan progam S1 Bimbingan dan Konseling (BK) belum dapat dikategorikan

sebagai konselor profesional. Oleh karena itu mahasiswa yang memenuhi persyaratan dididik dalam progam pascasarjana yang dapat berupa: 1. Progam Pendidikan Konselor (PPK) 2. Progam Magister dan Doktor untuk memperkuat bidang akademik, penelitian, dan pengembangan BK • Pilar Profesi Profesi merupakan pekerjaan atau karir yang bersifat pelayanan keahlian dengan tingkat ketepatan yang tinggi untuk kebahagiaan pelanggan (klien, pasien, dsb) berdasarkan norma – norma yang berlaku. Dengan orientasi seperti ini, suatu profesi perlu mengembangkan dan menegakkan hal-hal berikut: 1. Ilmu dan Teknologi 2. Visi dan Misi 3. Suatu Profesi perlu ada dukungan 4. Keseragaman 5. Implikasi profesi

Pendidikan Berorientasi Profesi 1. Penyiapan tenaga BK yang memakai standar professional 2. Jurusan / progam study / konsentrasi sebagai ujung tombak pendidikan di Perguruan Tinggi bertanggung jawab atas pembinaan para calon pelaksana pekerjaan profesional dan profesi, terutama pada tingkat prajabatan. 3. Akuntabilitas pendidikan tenaga profesional merupakan pengendalian mutu lembaga berdasarkan standar profesi

2. Standar Profesi • • Visi dan Misi Ruang Lingkup Profesi Ruang lingkup dan spesifikasi lapangan kerja konseling dapat digolongkan ke dalam:

1. 2. 3. 4. 5. •

Konseling Sekolah Konseling Karir Konseling Perkawinan dan Keluarga Konseling Kesehatan Mental Konseling Rehabilitasi

Kompetensi Profesi Kompetensi profesi konseling meliputi kompetensi profesional dan kompetensi akademik, sesuai dengan jenjang pendidikan prajabatan.

3. Progam Pendidikan Tenaga Profesi BK • Misi Pendidikan tenaga profesi BK mempunyai misi untuk: 1. Menyelanggarakan pendidikan tenaga profesi konseling sesuai dengan tuntutan pelayanan dan pengembangan profesi, tuntutan masyarakat dan peraturan yang berlaku untuk menghasilkan tenaga profesi yang menyandang visi, misi, dan kompetensi, serta menegakkan pilar – pilar profesi dalam melaksanakan 2. Bekerjasama pemerintah, konseling 3. Bekerjasama dengan instansi dan lembaga terkait, baik formal maupum non formal, dalam penyelenggaraan pelayanan profesi konseling 4. Bekerjasama ( ABKIN) dengan organisasi profesi dan konseling dalam pengembangan penyelenggaraan dan mengembangkan dan dalam pelayanan profesi kebijakan dan konseling ditengah masyarakat luas. dengan melaksanakan khususnya pengembangan

penyelenggaraan pendidikan tenaga dan pelayanan profesi

pelayanan profesi konseling sesuai dengan syarat-syarat dan cara-cara profesional 5. Menyelenggarakan Tri Darma Perguruan Tinggi, khususnya dalam profesi konseling

Paradigma Profesi konseling merupakan keahlian pelayanan pengembangan pribadi dan pemecahan masalah yang mementingkan pemenuhan kebutuhan dan kebahagiaan pelanggan sesuai martabat, nilai, potensi, dan keunikan individu berdasarkan kajian dan penerapan ilmu dan teknologi dengan acuan dasar ilmu pendidikan psikologis yang dikemas dalam kaji terapan konseling yang diwarnai oleh budaya Indonesia

Pola Pendidikan Tenaga Profesi BK Pendidikan dasar bagi tenaga profesi BK adalah jenjang sarjana (S1) BK. Pada jalur profesi para sarjana BK yang memenuhi persyaratan dapat menempuh progam Pendidikan Profesi Konselor (PPK), untuk mendapatkan gelar profesi konselor. Kelanjutan progam ini adalah Pendidikan Spesialis (P.sp). Prgam PPK bertujuan untuk menghasilkan tenaga profesi ahli yang menyandang gelar profesi konselor yang mampu melaksanakan pelayanan profesi konseling bagi masyarakat luas.

4. Kredensialisasi Profesi Dalam dunia profesi, kemampuan seorang tenaga profesi atau lembaga yang bersangkut paut dengan profesi diuji dan kepadanya diberikan tanda bukti bahwa yang bersangkutan benar-benar diyakini dan dapat diberi kepercayaan untuk melaksanakan tugas dalam bidang profesi yang dimaksudkan. Aturan kredensial yang dilakukan berdasarkan pihak pihak yang berwenang antara lain: • • • Lisensi Sertifikasi Akreditasi

5. Kode Etik Profesi Kode etik profesi adalah norma-norma yang harus diindahkan atau diperhatikan oleh setiap tenaga profesi dalam menjalankan tugas profesi dan dalam masyarakat. Norma – norma itu berisi apa yang boleh dan diharapkan dilakukan serta apa yang tidak boleh dilakukan oleh tenaga

profesi. Pelanggaran terhadap norma – norma tersebut akan mendapatkan sanksi. Tujuan kode etik diantaranya : • • • • • • Menjunjung tinggi martabat profesi Melindungi pelanggan dari perbuatan malpraktik Meningkatkan mutu profesi Menjaga standar mutu dan status profesi Pengembangan Progam Pendidikan Sarjana (S1) BK Pengembangan Progam pendidikan Pascasarjana BK 1. Pengembangan Progam PKK 2. Pengeembangan Progam Pendidikan Magister (S2) dan Doktor (S3) Bk • • • Pengembangan Progam Pendidikan dalam Jabatan Pengembangan Kredensialisasi Profesi Pengembangan Legalitas dan Organisasi

6. Upaya Pengembangan

BAB III PENUTUP Kesimpulan Identitas profesional adalah seseorang yang memiliki ciri-ciri atau tandatanda yang ahli dalam suatu bidang atau menyandang suatu profesi. Identitas profesional berkaitan dengan organisasi kemasyarakatan yang mewadahi seluruh spesifikasi yang ada didalam profesi yang dimaksud. Perekat utama dari organisasi itu adalah sebutan profesi itu sendiri, yang didalamnya bisa dikembangkan sejenis himpunan / ikatan / kumpulan yang berorientasi itu. Pengembangan profesi bimbingan dan konseling antara lain melalui: 1. Standardisasi Unjuk Kerja Profesional Konselor 2. Standardisasi Penyiapan Konselor 3. Akreditasi 4. Sertifikasi dan Lisensi 5. Pengembangan Organisasi Profesi Pengembangan Standarisasi Profesi Konseling dapat melalui beberapa thap sebagai berikut : 1. Pertimbangan dan Arah Pengembangan Profesi 2. Standar Profesi 3. Progam Pendidikan Tenaga Profesi BK

4. Kredensialisasi Profesi 5. Kode Etik Profesi 6. Upaya Pengembangan

DAFTAR PUSTAKA http://cybercounselingstain.bigforumpro.com/forum http://sholahuddin.edublogs.org/2010/04/21/bimbingan-konseling-sebagaiprofesi/ Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Tengah. 2002. Peran Bimbingan Konseling Dalam Rangka Mewujudkan Pendidikan Kecakapan Hidup di Sekolah. Jawa Tengah : Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah Prayitno dan Amti Erman. 1994. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta : Rineka Cipta

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->