P. 1
Serba-serbi Masyarakat Maritim

Serba-serbi Masyarakat Maritim

|Views: 2,531|Likes:
Published by Sastrawidjaja

More info:

Published by: Sastrawidjaja on May 02, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/14/2013

pdf

text

original

SERBA-SERBI MASYARAKAT MARITIM

SASTRAWIDJAJA

Editor
Tajerin

SASTRAWIDJAJA
PENELITI SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT MARITIM

Divisi Perbitan Buku Riset Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan Dan Perikanan BADAN RISET KELAUTAN DAN PERIKANAN JAKARTA

Perpustakaan Nasional: katalog dalam terbitan (KDT) Sastrawidjaja Serba-Serbi Masyarakat Maritim/Sastrawidjaja Jakarta: Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan Dan Perikanan, 2006 xv…, hlm. 21 cm Bibliografi: hlm ….. ISBN ……………

1. Sosial. I. Judul.

II. Sastrawidjaja

Hak cipta 2006, pada penulis Dilarang mengutip sebagian atau seluruh isi buku ini dengan cara apapun, termasuk dengan cara penggunaan mesin fotokopi, tanpa izin sah dari penerbit Cetakan pertama, 2006

……………………….. Sastrawidjaja SERBA-SERBI MASYARAKAT MARITIM

Hak penerbitan pada Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan Dan Perikanan Jakarta Desain cover oleh …….. Dicetak di ………………………..

Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan Dan Perikanan Jl. K.S. Tubun Petamburan VI Jakarta 10260 Telepon: (021) 53670083 Fax : (021) 53650158 E - mail : prppse@cbn.net.id

KATA SAMBUTAN KEPALA BALAI BESAR RISET SOSIAL EKONOMI KELAUTAN DAN PERIKANAN Indonesia sebagai negara kepulauan, maka wajar kalau di dalamnya terdapat banyak penduduk yang aktivitas kehidupannya berbasiskan maritim, dan daerah pantai yang berhubungan dengannya. Kemudian, bila di kaitkan dengan letak Indonesia yang sangat strategis, yaitu diapit oleh Samudera Pasifik dan Samudera Hindia serta oleh Benua Asia dan Australia, maka keuntungan strategis ini jelas sangat mendukung kehidupan masyarakat maritim, dan penduduk Indonesia pada umumnya, karena bangsa Indonesia mendapat keuntungan paling besar dari posisi maritim global. Melalui tulisan serba-serbi masyarakat maritim ini, sedikit menyadarkan kita kembali, betapa jati diri kita sebagai bangsa maritim terbesar di dunia, sangatlah penting memposisikannya kembali, bahwa sumber daya maritim yang selama ini hanya di pandang sebagai “pelengkap”, justru harus di kembalikan sebagai sumber kekuatan maha dahsyat bangsa di masa depan. Kekuatan maha dahsyat tersebut kalau diukur secara keseluruhan dari nilai ekonomi total produk maritim (perikanan dan produk bioteknologi perairan Indonesia), diperkirakan mencapai 82 miliar dolar AS per tahun. Potensi ekonomi yang berasal dari minyak dan gas bumi yang 72 persen produksinya, berasal dari kawasan pesisir dan laut. Ditambah lagi dengan potensi ekonomi jasa perhubungan yang menggunakan perairan maritim, diperkirakan 12 miliar dolar AS per tahun. Berdasarkan perhitungan 15 tahun terakhir, Indonesia ternyata mengeluarkan devisa lebih dari 10 miliar dolar AS per tahunnya untuk membayar armada pelayaran asing yang mengangkut lebih dari 95 persen dari total barang yang di ekspor dan diimpor ke Indonesia, dan yang mengangkut 45 persen dari total barang yang di kapalkan antar pulau di wilayah Indonesia (Rohmin Dahuri, 2005). Jadi dari sini, sedikit tergambarkan, peran masyarakat maritim sesungguhnya sangat penting dalam membangun bangsanya, melalui berbagai kegiatan untuk mensejahterakan bangsanya, yang di ikut sertakan secara total sebagai satu kesatuan konsep holistik bangsa. Maritim Nusantara ini, juga mengandung kekayaan alam yang sangat besar dan beraneka ragam, baik yang dapat diperbaharui seperti; ikan, terumbu karang, hutan mangrove, rumput laut, produk-produk bioteknologi, tetapi juga memiliki sumber daya pertambangan yang tidak dapat diperbaharui seperti minyak dan gas bumi, timah, bijih besi, baukset, serta mineral lainnya. Kemudian kita juga memiliki sumber energi yang dapat diperbaharui seperti energi maritim yaitu pasang surut, gelombang, angin, dan OTEC atau Ocean Thermal Energy Convertion; juga ditambah lagi dengan jasa-jasa lingkungan maritim seperti pariwisata bahari dan transportasi maritim. Pengakuan kehidupan berbasiskan perairan tersebut menjadi lebih nyata dan terasa, setelah Negara yang berisikan konsepsi Nusantara (Archipelagic State), yang telah di perjuangkan sejak deklarasi Djoeanda (1957) yang kemudian telah diterima masyarakat dunia, dan ditetapkan dalam Konvensi Hukum Laut PBB, United Nation Convention on Law of the Sea (UNCLOS) 1982, maka wilayah laut Indonesia menjadi sangat luas, yaitu 5,8 juta km, sama dengan tiga perempat dari keseluruhan luas wilayah Indonesia. Setelah pengakuan PBB, maka dengan luas laut yang demikian besar di dalamnya mengandung lebih dari 17.500 buah pulau, yaitu pulau besar dan pulau kecil yang ikut di kelilingi oleh garis pantai sepanjang 81.000 km. Garis pantai sepanjang itu adalah termasuk garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada, dan karenanya Indonesia juga dikenal sebagai negara maritim dan kepulauan terbesar di dunia. Dari peran geopolitik maritim, jelaslah bagi kita bahwa pengakuan PBB telah juga menempatkan maritim memiliki peran geoekonomi. Masyarakat yang hidup di kepulauan nusantara sejak memproklamasikan dirinya pada tanggal 17 Agustus 1945 sebagai bangsa yang merdeka, maka secara kebangsaan masyarakat yang mendiami nusantara ini menjadi bangsa besar yaitu bangsa Indonesia. Masyarakat bangsa ini merupakan salah satu masyarakat di dunia yang hidup dan berkembang di banyak kepulauan Indonesia, besar dan kecil , karena berada di tengah-tengah lautan. Sejarah telah membuktikan

pula bahwa masyarakat yang berdiam di pulau-pulau ini tetap mampu melangsungkan kehidupannya, tidak terkecuali mereka yang hidup di pulau-pulau kecil ter-pencil, walaupun berada jauh di tengah lautan. Oleh karena itu, keunikan yang di miliki oleh bangsa ini perlu digali dan di ketahui, paling tidak fenomena tentang kehidupan dari sudut ekonomi dan sosial lainnya. Indonesia sejak pengakuan UNCLOS tahun 1982, sebagai bangsa telah resmi menjadi negara kepulauan, maka bersamaan dengan itu beribu-ribu pulau-pulau besar dan kecil ikut terhimpun dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari bangsa ini, walaupun pulau-pulau tersebut dipisahkan oleh lautan yang jaraknya bermil-mil dari satu pulau ke kepulauan lainnya, ini memberikan kebebasan bagi anak bangsa ini untuk dapat memanfaatkannya bagi manusia Indonesia. Dalam upaya memperkenalkan beragam corak dan tata cara serba-serbi masyarakat maritim, baik kehidupan masyarakat yang bersifat sosial dan kebudayaan yang langsung terkait dengan lautan dan perairan atau tidak, maka tulisan ini merupakan sekelumit informasi tentang serba-serbi kehidupan tersebut. Dan apabila semua elemen yang ada di Indonesia dapat bersinergi secara total dan holistik membangun sektor maritim, maka bukan tidak mungkin bahwa sektor maritim akan mampu membuahkan pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan (sustained economic growth), dengan menjadikan sektor maritim dan daratan sebagai dua tungku ekonomi sebagai sebuah sistem yang mampu mengatasi masalah pengangguran dan kemiskinan menuju Indonesia yang maju, makmur, dan damai. Pada kontek inilah, maka Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan ikut berperan menyelenggarakan riset, dan mendorong tumbuh kembangnya kreatifitas dan menerbitkan buah pemikiran dalam ikut serta mencarikan solusi sebagai masukan, dan dasar dalam mengembangkan ke ilmuan maritim kenusantaraan.

Kepala Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Dr. Agus Heri Purnomo

Kata Pengantar
Indonesia sebagai negara yang di kelilingi oleh samudera dan lautan telah diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 1982, merupakan salah satu negara kepulauan yang besar. Jumlah penduduk negara kepulauan ini yang di proklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 pada saat pengakuan tersebut telah mencapai 150 juta jiwa dan telah tersebar di seluruh kepulauan nusantara. Penduduk yang berdiam diseluruh kepulauan ini tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh lautan, apalagi di lihat dari sisi geografisnya yang berada di antara dua samudera besar, ternyata telah ikut menguntungkan aktivitas kegiatan masyarakatnya. Ternyata iklim yang ada di nusantara sangat mempengaruhi pola arus angin yang berada di sekitar kepulauan nusantara. Arus angin yang di pengaruhi oleh Iklim inilah yang telah di manfaatkan oleh penduduk Indonesia untuk menggerakkan perahu-perahu, dan kapal-kapal laut tersebut yang telah mampu menghubungkan dan mempersatukan pulau-pulau, juga mengangkut dan memindahkan berbagai kebutuhan hidup masyarakatnya ke berbagai belahan kepulauan di nusantara ini. Dalam upaya memperkenalkan beragam corak dan tata cara (serba-serbi) masyarakat maritim, baik kehidupan masyarakat yang bersifat sosial dan kebudayaan yang langsung terkait dengan lautan dan perairan atau tidak, maka tulisan ini merupakan sekelumit informasi tentang serba-serbi kehidupan tersebut. Tulisan ini hanya membahas, atas dasar pada fenomena yang dapat di lihat atau di rasakan denyutnya di dalam kehidupan masyarakat maritim berupa pranata sosial; seperti alam laut dengan sekitarnya, peralatan kehidupan yang di ciptakan dan di gunakan, kehidupan sosial, kegiatan ekonomi dan industri berbasiskan maritim. Masyarakat maritim yang mendiami pulau-pulau kecil dan pantai-pantai terpencil hampir tidak dikenal oleh sebagian besar oleh orang di nusantara ini, hal tersebut telah menyebabkan mereka termarjinalkan dari berbagai bidang pembangunan kebangsaan, karena itu perlu ada upaya mengenali kebudayaannya. Kebudayaan adalah sesuatu kumpulan pedoman atau pegangan yang kegunaannya operasional dalam hal manusia mengadaptasi diri dengan dan menghadapi lingkungan tertentu (lingkungan fisik/alam, sosial dan kebudayaan) untuk dapat melangsungkan kehidupannya, yaitu memenuhi kebutuhan-kebutuhannya dan untuk dapat hidup secara lebih baik lagi. Karena itu, seringkali, kebudayaan juga dinamakan sebagai blueprint (cetak biru) atau desain menyeluruh kehidupan masyarakat (Suparlan, 1986; Spradley, 1972). Agar mampu melakukan adaptasi diri, maka perlu dikenali ciri-ciri suatu tindakan sosial. Pertama, yang bersifat faktual, yaitu suatu tipe tindakan yang terwujud yang berdasarkan pada orientasi atau di pengaruhi oleh nilai-nilai dan tujuan-tujuan yang hendak dicapai. Kedua, tindakan sosial yang bersifat tradisional, yaitu suatu tipe tindakan sosial yang berorientasi atau dipengaruhi oleh adanya ikatan tradisi yang ada dalam masyarakat yang bersangkutan. Ketiga, tindakan sosial yang bersifat afektual, yaitu tindakan sosial yang berorientasi atau sangat di pengaruhi oleh perasaan, seperti rasa pantas atau tidak pantas, senang atau tidak senang, aman atau tidak aman, bangga atau tidak bangga, dan lain sebagainya. Di lihat dari kepatuhan masyarakat terhadap tata-nilai yang telah ada di dalam masyarakat, seperti: kepemimpinan, organisasi/lembaga, manajemen masyarakat maritim ikut dalam penyelenggaraan pemerintahan yang cukup baik dan posisif. Nilai-nilai universal, seperti kerukunan, kerja keras, dan penghargaan, hal tersebut dapat di lihat dari harmonisnya kehidupan masyarakat yang senantiasa saling tolong menolong dan saling memperhatikan. Dalam hal mengikuti program kebaikan yang dianjurkan oleh pemimpinnya, secara fenomial senantiasa memunculkan adanya sikap saling pengertian dengan suasana yang kondusif, saling percaya antara yang memimpin dengan yang dipimpin, sehingga berbagai ketegangan sosial dengan mudah dapat diredam. Dalam hal cara mengelola kepentingan bersama di dalam kampung (manajemen dan organisasi), tampak adanya saling keterbukaan, untuk mewujutkan kepentingan umum secara bersama-sama. Kemudian, berdasarkan hasil pertimbangan yang transfaran melalui

musyawarah yang di landasi dengan hukum adat yang telah ada di dalam masyarakat, dan juga aturan agama Islam yang berlaku, sehingga kedamaian bersama senantiasa tetap terjaga. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih komprehensip, maka perlu ada batasan pengertian masyarakat maritim. Definisi yang dianut selama ini, baru sebatas pengertian nelayan, yang diartikan hanya sebagai orang yang mencari ikan di laut. Batasan ini memberi penggambaran bahwa nelayan di pandang atau diartikan tidak lebih hanya sebagai tenaga kerja, bukan dalam kontek bagian dari sistem kemasyarakatan masyarakat maritim. Di dalam hubungannya dengan informasi yang disajikan dalam serbi-serbi ini, penulis lebih menitik beratkan pada kegiatan sistem kemasyarakatan maritim. Oleh karena itu masyarakat maritim yang dimaksudkan adalah sistem kelompok masyarakat yang berbudaya, bersosial, berekonomi, berorganisasi, berteknologi yang mewujutkan kehidupannya tersebut di dalam negara kesatuan Republik Indonesia. Kemudian, pekerjaan seperti menangkap ikan atau mengambil biota laut lainnya atau membudidayakan ikan, pengolah hasil tangkapan, pembuat sarana maritim atau segala pekerjaan yang terkait langsung dan tidak langsung yang dapat mempengaruhi dan berpengaruh dengan perairan lautan, termasuk kedalam sistem kehidupan masyarakat maritim. Serba-serbi tulisan ini mengambil contoh fenomena kehidupan masyarakat maritim di Pasuruan, Kepulauan Riau, Bengkulu Selatan, Lampung Barat, Pandeglang, dan Lombok Timur adalah untuk sedikit memberikan gambaran tentang aktivitas kehidupan masyarakat maritim yang ada di sebagian wilayah nusantara. Penyajian informasi sangat bervariasi, tidak mendalam dan juga sangat fenominal, tujuannya hanya ingin mengatakan bahwa masyarakat maritim di nusantara ini tetap ada dan keberadaannya perlu menjadi perhatian kita bersama. Apapun corak dan cara, bagaimana mereka hidup dan berkehidupan, tetap saja masyarakat maritim itu bagian integral dan tidak dapat di pisahkan dalam mewujutkan dan membesarkan bangsa maritim yang besar ini ke dalam negara kesatuan Republik Indonesia.

UCAPAN TERIMAKASIH Penulis sangat menyadari, buku serba-serbi masyarakat maritim ini masih banyak sekali kekurangan dan kelemahannya disana sini, karena itu sangatlah pantas kalau penulis memohonkan pengertian dan maklumnya dari siapapun yang berkenan dengan buku ini. Penulis menulis buku ini mempunyai maksud untuk berbagi cerita, pemikiran dan idealisme dalam upaya mengisi pembangunan kebangsaan yang tercinta, “Indonesia” yang terbentuk diatas kawasan yang di dalamnya mempunyai perairan luas dan sempit, juga mempunyai pulau-pulau besar dan kecil yang bertebaran di Nusantara, dan yang di dalamnya ada banyak kehidupan. Terdorong oleh keinginan untuk berbagi tersebut, maka penulisan buku ini adalah baru mampu menyajikan sekelumit informasi kekayaan dunia maritim yang terangkat dari dalam masyarakat maritim, diantara begitu banyak kekayaan informasi kehidupan lainnya yang belum mampu terungkapkan. Menyadari begitu banyak kekurangan dan keterbatasan yang dimiliki penulis, maka selama menyusun penulisan, penulis merasa sangat beruntung karena banyak dibantu oleh berbagai pihak yang ikut menyumbangkan pemikiran dan tenaganya, baik secara langsung maupun secara tidak langsung, dan begitu juga berbagai referensi yang relevan dengan tulisan buku ini. Sehubungan dengan hal itu, dalam kesempatan ini penulis mengucapkan juga terimakasih kepada semua pihak, khususnya kepada; Dr. Agus Heri Purnom, selaku Kepala Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan yang telah memberikan dorongan dan kesempatan ke pada penulis memperbincangkan berbagai hal yang terkait dengan buku ini sehingga dapat terwujut menjadi uraian tulisan, atas segala saran dan dorongannya sangatlah berarti bagi penulis. Ir. Zahri Nasution yang telah memberikan dorongan agar ada buku yang menginformasikan tentang serba-serbi kehidupan kemasyarakatan yang berbasiskan perairan, khususnya perairan kelautan. Dari dorongan tersebut dilakukanlah berbagai perbincangan yang terkait dengan kehidupan kemasyarakatan maritim, dan hasil perbincangan itu muncullah berbagai inspirasi penyempurnaan penulisan buku ini. Juga tidak lupa kepada Ir. Manadiyanto yang ikut menjadi editor, senantiasa memberikan semangat dan melakukan pengkoreksian yang sangat berarti bagi penyempurnaan penulisan buku ini, yaitu mulai dari wacana hingga memformulasikan pemikiran-pemikiran yang perlu dikritisi bersama. Dan kepada Ir. Sapto Adi Pranowo juga tidak kalah besarnya sumbangsih beliau dalam menyempurnakan penulisan buku ini, baik dari sisi isu informasi yang akan disajikan maupun yang perlu mendapatkan forsi perhatian khusus. Kemudian khususnya kepada Ir. Tajerin yang bersedia menjadi editor buku ini, sesuai dengan pengalaman beliau sebagai anak bangsa yang dilahirkan di lingkungan masyarakat maritim dan ditambah lagi dengan pengalamannya sebagai peneliti, maka unsur-unsur kepekaan dan kebijakan beliau sangatlah membantu di dalam mengedit dan menyempurnakan penulisan buku ini. Dan selanjutnya kepada teman-teman yang ikut membantu hingga terwujutnya buku ini, penulis mengucapkan banyak-banyak terimakasih. Penulis Sastrawidjaja

Daftar Isi
I. MASYARAKAT MARITIM A. PENDAHULUAN B. KONSEP PEMIKIRAN C. PENUTUP II. MASYARAKAT MARITIM PASURUAN PENDAHULUAN KEARIFAN LOKAL. 1. Eksistensi Tata-nilai 2. Sikap Masyarakat Maritim Terhadap Tata-nilai 3. Mekanisme Pengelolaan Sumberdaya Maritim EKONOMI. 1. Aktifitas Ekonomi 2. Status dan Peranan Masyarakat. 3. Akses Terhadap Sumberdaya Ekonomi. 4. Sistem Bagi Hasil. 5. Tingkat Ketergantungan Terhadap Sumberdaya POLITIK. 1. Prinsip-prinsip Kepemimpinan. 2. Konflik dan Manajemen Konflik. 3. Akses Aturan Representasi Publik. 4. Sikap Masyarakat Terhadap Keputusan 5. Prinsip-prinsip Hubungan Lokal Dengan Luar. KELEMBAGAAN. 1. Eksistensi Kelembagaan. 2. Peranan Kelembagaan 3. Akses Masyarakat Terhadap Kelembagaan PENUTUP III. MASYARAKAT MARITIM KEPULAUAN RIAU I.PENDAHULUAN 1.Keadaan Lingkungan Ekologi 2. Gambaran Umum II.FAKTOR PRODUKSI 1. Perizinan 2. Alat Produksi 3. Produksi 3. Nilai Produksi

III.PENGUSAHAAN MARITIM 1. Pengeluaran Pendapatan Penduduk 2. Penangkapan Ikan. 4. Pembudidayaan Ikan Laut 5. Pengolahan Ikan IV. PENUTUP

IV.

MASYARAKAT MARITIM BENGKULU SELATAN I.PENDAHULUAN 1. Gambaran Umum II.FAKTOR PRODUKSI 1. Sarana Tangkap 2. Armada Penangkapan 3. Perikanan Budidaya 4. Pengolahan Produk III. PENGUSAHAAN MARITIM 1. Kegiatan Usaha Maritim 2. Perikanan Laut 3. Perikanan Darat 4. Pengolahan Produk Maritim IV.EKONOMI MASYARAKAT MARITIM V. PENUTUP

V.

MASYARAKAT MARITIM LAMPUNG BARAT I.PENDAHULUAN. 1. Monografi Daerah II.GAMBARAN PEMBANGUNAN 1. Kebijakan Pembangunan 2. Kebijakan Moneter. 3. Pertumbuhan Ekonomi Lambar 4. Pertumbuhan Ekonomi Maritim. III. PENGUSAHAAN MARITIM 1. Perikanan Tangkap 2. Perikanan Budidaya 3. Pengolahan Produksi Maritim 4. Masyarakat Maritim IV. PENUTUP

VI.

MASYARAKAT MARITIM PANDEGLANG PENDAHULUAN PENGETAHUAN LOKAL. 1. Pengelolaan dan Pemanfaatan Sumberdaya Maritim 2. Konservasi Sumberdaya Maritim 3. Penegakan Peraturan SISTEM RELIGI 1. Agama Yang Dianut 2. Hubungan Agama Dengan Kegiatan Ekonomi Masyarakat 3. Peranan Agama Dalam Kegiatan Sosial Politik Masyarakat. EKONOMI. 1. Kegiatan Produksi 2. Aktivitas Berproduksi 3. Tingkat Ketergantungan Terhadap Sumberdaya. 4. Distribusi Hasil Kegiatan Ekonomi 5. Tingkat Konsumsi Ikan KELEMBAGAAN 1. Asal Usul Lembaga 2. Fungsi Lembaga 3. Aturan Main Dalam Lembaga POLITIK 1. Kepemimpinan Dalam Pemerintahan 2. Penilaian Kepemimpinan Oleh Masyarakat. 3. Proses Aturan Representasi Publik 4. Hubungan Pemegang Kekuasaan Lokal dengan Luar PENUTUP

VII.

MASYARAKAT MARITIM LOMBOK TIMUR I. PENDAHULUAN Monografi Kabupaten Lombok Timur II. GAMBARAN PEMBANGUNAN 1. Indikator Maritim Kabupaten Lotim 2. Penduduk Desa Pantai 3. Kebijakan Fiskal Maritim 4.Pertumbuhan Ekonomi Lotim III. PENGUSAHAAN MARITIM 1. Kegiatan Usaha Maritim 2. Maritim Laut. 3. Armada Penangkapan 4. Alat Penangkapan di Laut

5. Perikanan Laut 6. Produksi Hasil Penngkapan di Laut 7. Perikanan Budidaya Laut 8. Perikanan Budidaya Rumput Laut. 9. Perikanan Budidaya Darat 10. Pengolahan Hasil Maritim IV. PENUTUP

DAFTAR TABEL III. 1. Tabel. 1. Perkembangan Indikator Perikanan di Propinsi Riau Tahun 2000 III. 2. Tabel. 2. Perkembangan Indikator Perikanan Kabupaten Kepulaian Riau Tahun 2000 IV. 3. Tabel. 1. Tabel Luas Daerah Menurut Ketinggian Per Kecamatan di Kabupaten Bengkulu Selatan Tahun 2000 (Km2) IV. 4. Tabel. 2. Nama-Nama Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Berdasarkan Kecamatan di Kabupaten Bengkulu Selatan, Tahun 2000 IV. 5. Tabel 3. Tabel Banyaknya Perahu/Kapal Penangkap Ikan Per Rataan Luas Pantai di Kabupaten Bengkulu Selatan Th. 2000 IV. 6. Tabel 4. Luas Usaha Perikanan Darat Berdasarkan Kecamatan di Kabupaten Bengkulu Selatan Tahun 2000 IV. 7. Tabel. 5. Biaya Investasi Armada Penangkapan Tradisional Per-Unit di Bengkulu Selatan, Tahun 2000 IV. 8. Tabel. 6. Produktivitas Perikanan Darat Berdasarkan Perbandingan Luasan Lahan, Di Bengkulu Selatan. V. 9. Tabel 1. Indikator Perikanan Kabupaten Lampung Barat, Tahun 2000 V. 10. Tabel 2. Pertumbuhan Ekonomi Berdasarkan Lapangan Usaha Tahun 1997 - 2000 V. 11. Tabel 3. Kontribusi Perikanan Atas Dasar Harga Yang Berlaku Terhadap Perikanan Dan PDRB Lampung Barat 1993-2000/ juta Rupiah. V. 12. Tabel 4. Investasi Usaha Penangkapan Ikan Laut di Lampung Barat, Tahun 2000 VII. 13. Tabel. 1. Indikator Maritim Kabupaten Lombok Timur, Tahun 1996 – 2001. VII.14. Tabel. 2. Laju Pertumbuhan Persentase PDRB Kabupaten Lotim Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan 1993. Tahun 1997 – 2000. VII.15. Tabel.3. Distribusi Persentase Dan Laju Pertumbuhan PDRB Kabupaten Lotim Atas Dasar Harga Konstan 1993 Sektor Usaha Perikanan, Peternakan, Kehutanan dan Maritim Tahun 1997 – 2000. VII.16. Tabel 4. Biaya Investasi Dan Operasi Kegiatan Penangkapan VII.17. Tabel 5. Biaya Investasi Budidaya Rumput Laut, 2002. VII.18. Tabel. 6. Pengolahan Produk Pindang Cumi-Cumi, Kabupaten Lombok Timur, Tahun 2002.

DAFTAR GAMBAR I. 1. Gambar 1. VI. 2. Gambar 1. Kerangka Pemikiran Masyarakat maritim. Kerangka Pemikiran Sosio dan Antropologi Masyarakat Maritim

BAB.I. SERBA-SERBI MASYARAKAT MARITIM
A. PENDAHULUAN

Pulau-pulau besar dan kecil bertebaran di nusantara ini, telah banyak dihuni oleh penduduk asli yang secara turun temurun mendiaminya, karena itu mereka telah mampu membangun kebudayaan yang bercirikan kenusantaraan. Tebaran kepulauan ini secara alami kesemuanya di kelilingi oleh perairan laut. Karena itu kebudayaan nusantara sering di cirikan berhubungan erat dengan perairan laut, sehingga ada slogan yang menyebutkan ”nenek moyangku orang pelaut”, dengan sendirinya, kebudayaan ini dapat juga disebut sebagai bagian kebudayaan masyarakat maritim. Masyarakat yang hidup di kepulauan nusantara sejak memproklamasikan dirinya pada tanggal 17 Agustus 1945 sebagai bangsa yang merdeka, maka secara kebangsaan masyarakat yang mendiami nusantara ini menjadi bangsa besar yaitu bangsa Indonesia. Masyarakat bangsa ini merupakan salah satu masyarakat di dunia yang hidup dan berkembang di banyak kepulauan Indonesia, besar dan kecil , karena berada di tengah-tengah lautan. Sejarah telah membuktikan pula bahwa masyarakat yang berdiam di pulau-pulau ini tetap mampu melangsungkan kehidupannya, tidak terkecuali mereka yang hidup di pulau-pulau kecil terpencil, walaupun berada jauh di tengah lautan. Oleh karena itu, keunikan yang di miliki oleh bangsa ini perlu digali dan di ketahui, paling tidak fenomena tentang kehidupan dari sudut ekonomi dan sosial lainnya. Indonesia sejak pengakuan UNCLOS tahun 1982, sebagai bangsa telah resmi menjadi negara kepulauan, maka bersamaan dengan itu beribu-ribu pulau-pulau besar dan kecil ikut terhimpun dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari bangsa ini, walaupun pulau-pulau tersebut dipisahkan oleh lautan yang jaraknya bermil-mil dari satu pulau ke kepulauan lainnya, ini memberikan kebebasan bagi anak bangsa ini untuk memanfaatkannya bagi manusia Indonesia. Adapun pulau-pulau kecil yang bertebaran di nusantara ini telah banyak juga dihuni oleh penduduk asli yang secara turun temurun mendiaminya, karena itu mereka telah mampu membangun kebudayaan yang bercirikan laut, sehingga mereka lebih dekat dengan kenyataan dari slogan ”nenek moyangku orang pelaut”. Kenyataan-kenyataan inilah yang kemudian dapat menguatkan pula bahwa kebudayaan masyarakat yang berbasiskan maritim memang mewujut dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Masyarakat maritim yang mendiami pulau-pulau kecil hampir-hampir tidak dikenal oleh sebagian besar orang di nusantara ini, karenanya hal tersebut telah menyebabkan mereka termarjinalkan dari berbagai bidang pembangunan kebangsaan. Kebudayaan Masyarakat maritim dalam pandangan Emic View atau gambaran sebagaimana yang diakui oleh pendukung suatu gejala tertentu, secara sederhana dapat ditelusuri dalam tiga aspek, yaitu (1) pengetahuan (cognitive); (2) sikap (attitute); dan (30 praktek (practice). Dapat dijelaskan, menurut (Hunter & Philip Whitten, 1976) pengertian (meaning) yang mengacu pada interpretasi yang di letakkan atau di kenakan pada masyarakat yang bersangkutan (secara emic) pada suatu gejala tertentu; biasanya sangat etnosentris dan dari segi budaya bersifat relatif. Setiap interpretasi dijadikan dasar untuk mendapatkan keahlian. Menurut aliran struktural Prancis, interpretasi terhadap gejala itu (yang didasari oleh pemiliknya) adalah manifestasi permukaan dari pengertian yang sebenarnya. Pengertian yang sebenarnya seharusnya ditemukan dalam fenomena biologi, kebudayaan, dan psikologis yang universal bagi kehidupan masyarakat. Masyarakat maritim mempunyai sumber penghidupan sangat berbeda dengan masyarakat daratan, perbedaannya adalah sumber penghidupan utama mereka tergantung langsung dari hasil laut, maka fenomena biologi, kebudayaan, dan psikologis teradaptasikan dengan lingkungan alam laut, dan pengetahuan, sikap dan praktek menjadi ciri spesifik dalam

menjalin hubungan sosial dan ekonomi kepada masyarakat yang berada di dalam atau diluar kebudayaan mereka. Pranata sosial adalah sistem antar-hubungan peranan-peranan dan norma-norma yang terwujud sebagai tradisi untuk usaha-usaha pemenuhan kebutuhan sosial utama tertentu (Suparlan, 1984; 1986). Lebih lanjut dikatakan bahwa pranata sosiallah yang memungkinkan kebudayaan dioperasikan dalam kehidupan nyata, yaitu yang terwujud dalam struktur-struktur yang ada dalam masyarakat. Oleh sebab itu, terdapat banyak pranata sosial dalam kehidupan satu masyarakat, misalnya, pranata kesehatan, ekonomi, politik, kekerabatan, pendidikan, dan lain sebagainya (Suparlan, 1984 dan Koentjaraningrat, 1979). Pranata sosial di dalam masyarakat maritim seperti yang digambarkan tersebut secara fenomial dapat dijumpai dan dibuktikan keberadaannya di dalam struktur kehidupan bermasyarakat. Masyarakat yang terpencil umumnya menjadikan peranan keluarga sangat penting, karena pentingnya itu maka di operasionalkan melalui sistem kekerabatan yang menekankan pada keharusan-keharusan menjaga martabat keturunan melalui berbagai petunjuk yang ada dalam kebudayaannya. Di dalam masyarakat maritim peran-peran kekeluargaan menjadi sangat penting dan dikembangkan sedemikian rupa, sehingga pola hubungan kekerabatan dapat diketahui melalui struktur sosial yang terbentuk dari suatu suku anak bangsa. Karena peran yang penting inilah, maka aspek kehidupan yang berekenaan dengan budaya, sosial, ekonomi, hukum dan teknologi peralatan kehidupan menjadi sistem tersendiri, sehingga di pulau-pulau kecil sekalipun peran-peran tersebut tetap berfungsi, dan khusus sistem ekonomi maritim masih mampu menghubungkan pemilik barang dengan penjual barang dan jasa dalam upayanya memenuhi kebutuhan hidup masyarakat, apakah dia yang hidup di pulau terpencil di tengah samudera lautan hindia sekalipun. B. DASAR PEMIKIRAN Masyarakat maritim yang mendiami pulau-pulau kecil hampir tidak dikenal oleh sebagian besar orang di nusantara ini, hal tersebut telah menyebabkan mereka termarjinalkan dari berbagai bidang pembangunan kebangsaan, karena itu perlu ada upaya mengenali kebudayaannya. Ilmu antropologi bicara tentang antar hubungan fungsional dari bagian-bagian suatu kebudayaan, atau tentang integrasi masing-masing bagian itu. Dengan demikian, para ahli antropologi mengartikan bahwa bagian-bagian yang berbeda-beda dalam satu kebudayaan sebenarnya tidak hanya saling berkaitan erat, tetapi juga merupakan gabungan fungsional yang mempunyai kegunaan, dan merupakan satuan yang dinamis (Foster dan Anderson, 1986; dan Kalangie, 1986). Oleh sebab itu, terdapat banyak pranata sosial dalam kehidupan satu masyarakat, misalnya, pranata religi, kesehatan, ekonomi, politik, kekerabatan, pendidikan, dan lain sebagainya (Suparlan, 1984 dan Koentjaraningrat, 1979). Sedangkan jarak sosial mengacu pada keadaan jauh dan tidak sesuai yang timbul dalam interaksi antarmanusia dalam satu masyarakat (Suyono, 1985) Tindakan kebudayaan suatu masyarakat pada dasarnya memiliki hubungan resiprokal dengan sumberdaya alam dan lingkungan disekitarnya. Sementara dalam wacana masalah pembangunan, derajat sosial dan kebudayaan masyarakat juga tidak dapat dipisahkan oleh kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Kemudian berdasarkan pada pemahaman ini maka kebudayaan masyarakat maritim secra fenomial dapat terrepleksikan dalam bentuknya di kehidupan ke lautan melalui pranata sosial. Fenomena makro sosial dan kebudayaan masyarakat (pranata sosial dalam masyarakat) dan fenomena mikro sosial dan kebudayaan masyarakat (individu atau pranata sosial dalam keluarga) secara nyata ada dan hidup di negara maritim ini, Indonesia. Hal ini penting dibaca bersama karena ”individu” memiliki karakter tersendiri pada saat belum terjadi interaksi, namun saat interaksi terjadi (dengan individu lain) di dalam suatu masyarakat berbangsa, maka yang muncul adalah karakter masyarakat itu sendiri. Untuk masyarakat maritim dengan jelas dapat dikenali dari lingkungan tempat tinggalnya, peralatan kehidupannya, struktur sosial yang terbentuk dan norma-norma kehidupan yang diberlakukan dalam menata individu dan individu di dalam masyarakatnya. Karena itu konsep

kebudayaan masyarakat maritim meliputi dan mencakup pranata sosial dalam kehidupan satu masyarakat, yaitu, pranata religi, kesehatan, ekonomi, politik, kekerabatan, pendidikan. Kondisi kebudayaan tersebut di pandang sebagai cerminan beberapa faktor utama yang menjadi pengenal kebudayaan masyarakat maritim. Adapun deskripsi kerangka pemikiran dan ruang tersebut dapat disajikan dalam Gambar 1 sebagai berikut:
Manusia Maritim Pulau-Pulau Besar dan Kecil

Adaptasi Lingkungan - Fisik/Alam - Kebudayaan - Sosial

Masyakarat Maritim

Tindakan Sosial
- Faktual - Tradisional - Afektual

Kebudayaan
- Pengetahuan - Sikap - Praktek

Fenomena
- Biologis - Kebudayaan - Sosial/Psikologis

Pranata Sosial Kekerabatan, Religi, Ekonomi, Pendidikan, Kesehatan Politik Hukum

Kebudayaan Masyarakat maritim

Gambar 1. Kerangka Pemikiran Masyarakat maritim. 1.Kebudayaan Masyarakat Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan yang dipunyai oleh makhluk manusia sebagai makhluk sosial; yang isinya adalah perangkat-perangkat model-model pengetahuan yang secara selektif dapat digunakan untuk memahami dan menginterpretasikan lingkungan yang dihadapi, dan untuk mendorong dan menciptakan tindakan-tindakan yang diperlukannya. Dalam pengertian ini, kebudayaan adalah sesuatu kumpulan pedoman atau pegangan yang kegunaannya operasional dalam hal manusia mengadaptasi diri dengan dan menghadapi lingkungan tertentu

(lingkungan fisik/alam, sosial dan kebudayaan) untuk dapat melangsungkan kehidupannya, yaitu memenuhi kebutuhan-kebutuhannya dan untuk dapat hidup secara lebih baik lagi. Karena itu, seringkali, kebudayaan juga dinamakan sebagai blueprint (cetak biru) atau desain menyeluruh kehidupan masyarakat (Suparlan, 1986; Spradley, 1972). Masyarakat yang berdiam di pulaupulau terpencil seperti di kepulauan Indonesia, dalam hal anggota masyarakatnya mengadaptasi diri dengan lingkungan alam sekitarnya dan menghadapi lingkungan tersebut yang berupa lingkungan fisik/alam, sosial dan kebudayaan termasuk ekonomi untuk dapat melangsungkan kehidupannya, adalah usaha yang harus selalu di lakukan agar mampu mempertahankan generasi ke generasi lanjutannya. Kehidupan yang telah terbentuk di kepulauan Indonesia, merupakan kehidupan yang berciri khusus, kekhususan itu dapat di lihat dari kemampuannya beradaptasi dengan segala situasi baik yang datang dari luar atau yang berasal dari dalam. Upaya adaptasi merupakan upaya bertahan untuk dapat hidup dengan layak menurut kaidah-kaidah kebudayaan mereka sendiri. Kembali pada cara pandang di dalam ilmu antropologi dan sudah sejak lama dikenal sebagai trade mark ilmu antropologi, yang beranggapan bahwa batas-batas dari satu pranata dengan pranata yang lain dalam satu kebudayaan tidak pasti; suatu pranata tidak dapat dipelajari sendiri, namun harus dikaji dalam kontek pranata yang lainnya yang menopang atau ditopang oleh pranata ”kebudayaan asli Masyarakat maritim di pulau-pulau kecil". Antar pranata yang terjadi dan terbentuk di dalam masyarakat maritim di kepulauan Indonesia adalah memiliki atau merupakan satu jaringan hubungan sistem yang sudah terpolakan. Maka hampir secara otomatis para ahli antropologi menyerahkan perhatian mereka pada seluruh sistem. Artinya, para ahli antropologi bicara tentang antar hubungan fungsional dari bagian-bagian suatu kebudayaan, atau tentang integrasi masing-masing bagian itu. Dengan demikian, para ahli antropologi mengartikan bahwa bagian-bagian yang berbeda-beda dalam satu kebudayaan sebenarnya tidak hanya saling berkaitan erat, tetapi juga merupakan gabungan fungsional yang mempunyai kegunaan, dan merupakan satuan yang dinamis (Foster dan Anderson, 1986; dan Kalangie, 1986). Ditambah dengan unsur lainnya yang sering disebut perspektif antropologi yakni relativisme kebudayaan atau suatu sikap yang menunjukkan kemauan untuk memandang dengan simpati bentuk-bentuk budaya dari masyarakat lain dan tidak menilai kebudayaan kebudayaan masyarakat maritim menurut norma umumnya, tetapi sesuai dengan nyatanya, maka ilmu antropologi akan menyumbang banyak hal bagi ilmu-ilmu antropologi dan sosial. 2.Ekonomi Masyarakat Dalam kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat maritim yang tidak dapat dipenuhi sendiri, usaha ini, sebagaimana dikatakan (Suparlan, 1986 ), ada tiga wujud (atau kecenderungan ) yang memberi ciri suatu tindakan sosial. Pertama, yang bersifat faktual, yaitu suatu tipe tindakan yang terwujud yang berdasarkan pada orientasi atau dipengaruhi oleh nilainilai dan tujuan-tujuan yang hendak dicapai. Kedua, tindakan sosial yang bersifat tradisional, yaitu suatu tipe tindakan sosial yang berorientasi atau dipengaruhi oleh adanya ikatan tradisi yang ada dalam masyarakat yang bersangkutan. Ketiga, tindakan sosial yang bersifat afektual, yaitu tindakan sosial yang berorientasi atau sangat dipengaruhi oleh perasaan, seperti rasa pantas atau tidak pantas, senang atau tidak senang, aman atau tidak aman, bangga atau tidak bangga, dan lain sebagainya. Pembahasan tulisan tentang masyarakat maritim dari pranata ekonomi, adalah lebih diarahkan pada ciri tindakan sosial yang bersifat faktual tentang ekonomi, yaitu kasus masyarakat di pulau kepulauan Indonesia. Tinjauan tulisan bersifat pengamatan fenomial lokal yang berkenaan dengan; aktifitas ekonomi (menyangkut aspek produksi dan konsumsi), status dan peranan masyarakat, akses terhadap sumberdaya ekonomi, sistem bagi hasil, dan tingkat ketergantungan terhadap sumberdaya.

3.Aktifitas Ekonomi Di daerah pedesaan, seperti halnya di banyak kepulauan Indonesia, diduga tindakan sosial itu cenderung bercirikan tradisional dan afektual. Oleh sebab itu, pertanyaannya mengapa masyarakat tetap bertahan hidup dipulau terpencil, hal ini mungkin di latarbelakangi oleh sikapsikap tradisional dan afektual tersebut. Masalahnya untuk meningkatkan pemberdayaan masyarakat maritim dimasa depan bagaimana keadaannya disikapi dalam situasi empirik dan secara konseptual, inilah yang perlu pengkajian lebih dalam. Ciri tradisional dalam persfektive yaitu suatu tipe tindakan sosial yang berorientasi atau dipengaruhi oleh adanya ikatan tradisi yang ada dalam masyarakat yang bersangkutan. Masyarakat maritim di kepulauan Indonesia mata pencaharian utamanya dari kegiatan menangkap ikan dan mengambil biota laut lainnya dan bertani. Pekerjaan ini secara rutin di lakukan oleh hampir semua orang yang berdiam di desa tersebut. Kebiasaan waktu bekerja yang telah menjadi bagian kehidupan bersama yaitu dimulai sejak pagi hari hingga sore hari. Pekerjaan utama yang di lakukan adalah mencari nafkah hidup yang bersumber dari daratan, lautan atau peternakan. Penduduk kepulauan Indonesia pedoman kerjanya lebih didasarkan pada hukumhukum alam yang terjadi disekitar kehidupan mereka, termasuk curahan tenaga kerjanya disesuaikan dengan waktu-waktu yang telah tertentu pula. Ada sebagian masyarakat maritim, mereka mulai pergi melaut sekitar jam 4.30 pagi dan pulang kembali mendarat sekitar jam 16.00 sore harinya. Ikan hasil tangkapan langsung dibawa pulang dan kemudian ibu rumah tangga melakukan pekerjaan untuk di olah menjadi produk ikan olahan asin yang seterusnya dijual kepenampung ikan. Siklus kerja masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya berlangsung terus setiap hari, dan ini dapat juga disebut sebagai tindakan sosial yang bersifat afektual, yaitu tindakan sosial yang berorientasi atau sangat dipengaruhi oleh perasaan, seperti rasa pantas atau tidak pantas, senang atau tidak senang, aman atau tidak aman, bangga atau tidak bangga, dan lain sebagainya (Suparlan, Parsudi (Ed.), 1986). Perwujutan dari sifat afektual ini dapat dengan mudah dikenali contohnya pada hari-hari tertentu yang berlaku bagi semua masyarakat di kepulauan Indonesia, seperti hari raya atau pesta adat semua masyarakat di pulau berhenti sejenak melakukan kegiatan penangkapan atau perikanan, dan begitu juga kalau ada anggota keluarga yang mempunyai hajat perkawinan atau menemui kemalangan. Rasa solidaridas sosial di dalam masyarakat sangat tinggi, hal ini diwujutkan dengan bentuk parsisipasi secara aktif terhadap kegiatan kemasyarakatan. Kemampuan menyisihkan nilai hasil pekerjaan untuk investasi salah satunya dapat di lihat dari pembangunan sarana perumahan, banyak juga ditemukan rumah-rumah permanen dari bahan kayu dengan lingkungan yang asri, termasuk bangunan tempat ibadah Masjid. Kesemua hal yang tersebut tadi memberikan indikasi bahwa masyarakat maritim kepulauan Indonesia telah mampu mengatur kehidupan sosialnya dengan baik, dalam artian mampu melakukan hidup yang lebih hemat. Kalau ditinjau dari investasi sarana ekonomi dalam bentuk pembelian dan perbaikan peralatan penangkapan perahu (Non powered boat), jaring (nettings) dan mesin (machines), tampaknya tidak banyak melakukan investasi secara besar-besaran kepada peralatan penangkapan, hal ini terlihat dengan ukuran, dan volume perahu yang kecil-kecil dan masih banyak yang menggunakan dayung. Sampai sekarang armada penangkapan yang tergolong kecil ini masih mendominasi dan diperkirakan lebih dari 70% dari total armada penangkapan yang ada. 4.Status dan Peranan Masyarakat. Pekerjaan yang ada di dalam masyarakat maritim telah terdeferensiasi menurut sifat pekerjaannya. Di lihat dari gender, kaum laki-laki melakukan pekerjaan penangkapan ikan ditengah laut, sedangkan kaum perempuan melakukan pekerjaan perdagangan ikan, pengolahan dan ada juga yang ikut membantu memperbaiki jaring. Jenis-jenis pekerjaan yang berdasarkan

spesialisasi atau keterampilan ini yang telah di lakukan secara turun temurun, telah menciptakan kondisi kerja yang saling tergantung secara harmoni. Sifat pekerjaan yang menuntut lebih banyak di perairan di lakukan oleh laki-laki (berlayar, menangkap ikan, menyelam, memperbaiki mesin, memperbaiki perahu, memasang jaring dan menentukan arus dan musim ikan). Adapun sifat pekerjaan yang menuntut lebih banyak di lakukan di darat, umumnya adalah pekerjaan perempuan (mendagangkan ikan/udang (shrimp), melakukan pengolahan pengawetan ikan, mengatur rumah tangga selama lakinya ke laut) dan pekerjaan sosial lainnya. Bentuk hubungan positif antara spesialisasi dan reward and punishment (tercermin dari sharing system) hal ini dapat di lihat dan diketahui secara jelas. Setiap pekerjaan spesialis mendapat pengakuan dan dihargai dengan prosentase atau bagian tertentu yang berbeda dengan bagian orang yang tidak mempunyai spesialisasi. Dari hasil tangkapan setiap kali mendarat, langsung di lakukan pembagian hasil berdasarkan sistem bagi hasil yang telah berlaku dan diakui secara umum oleh setiap anggota masyarakat maritim di kepulauan Indonesia. Pembagian bagi hasil ini, untuk pemilik mendapatkan 2,5 (dua) bagian, nakhoda 1,5 (satu setengah) bagian dan anggota lainnya masing-masing 1 (satu) bagian. Jadi kisaran total bagian adalah antara 4 (empat) bagian hingga 5 (lima) bagian. Kemampuan membangun kerjasama secara nyata untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu diantara anggota masyarakat maritim telah terjalin dengan baik sekali, baik dalam hubungan sosial, kekerabatan dan keagamaan. Di dalam perahu, pembagian pekerjaan telah sangat jelas dan harus di lakukan secara bersama-sama, sehingga setiap orang yang ada diatas perahu kemampuannya menbangun kerjasama sangat besar, karena nasib mereka secara bersamaan tergantung dari kerjasamanya tersebut. Jadi budaya bekerja bersama-sama diatas perahu, selama pelayaran, antar perahu nelayan dan antar anggota masyarakat satu kaum merupakan kerjasama mutlak yang harus di lakukan, prinsip ketaatan kepada aturan-aturan yang diberlakukan untuk membangun keharmonisan kerjasama telah menjadi bagian yang diutamakan secara bersamasama. Jaringan kerja sama kolektif telah menjadikan hubungan yang mampu saling memberi antara lain: 1) jaminan subsistensi terhadap buruh/nelayan yang paling bawah dan 2) interdependensi antar elemen. Jaminan subsistensi adalah memberikan kesempatan kepada semua anggota masyarakat maritim yang ingin bekerja di laut dengan cara mengikuti pelayaran pada perahu-perahu yang akan pergi menangkap ikan, statusnya adalah sebagai anak buah perahu (ABK), dan atas jasanya itu maka diberikan bagian hasil. Di lihat dari interdependensi antar elemen, ternyata antar masyarakat maritim saling memberikan informasi dan kesempatan untuk ikut melakukan kegiatan usaha penangkapan di lokasi fishing ground yang sama, bersamaan dengan itu terbentuk pula jaringan perdagangan hasil tangkapan ikan atau biota laut lainnya udang (shrimp) , kepiting (mud crubs), dan lain lain. Ditinjau dari sini, maka ada hubungan timbal balik yang saling membutuhkan antara nelayan penangkap (marine fishing), para bakul (retailers) ikan/udang (shrimp)/kepiting (mud crubs) dan juga ibu rumah tangga yang berfungsi menjualkan hasil tangkapan atau mengolahnya menjadi produk ikan olahan. 5.Akses Terhadap Sumberdaya Ekonomi. Struktur yang baik apabila jika terjadi interdependensi yang simetris (bargaining position/power sharing) terhadap akses ke sumberdaya ekonomi. Interdependensi yang simetris secara ideal agak sulit dikenali tanpa adanya riset yang mendalam mengenai ekonomi maritim. Interdependensi masih dapat dikenali secara umum melalui struktur kegiatan ekonomi yang di lakukan oleh masyarakat maritim mulai dari pengeksploitasian sumberdaya, pemasaran hasil dan sistem bagi hasil yang diberlakukan pada umumnya oleh sebagian besar masyarakat maritim. Setiap anggota masyarakat maritim yang ada di kepulauan Indonesia mempunyai kesempatan yang sama untuk melakukan kegiatan penangkapan di laut setiap saat, faktor pembatasnya hanyalah terletak pada peralatan tangkap yang mereka miliki saja. Dari sisi kesempatan untuk berusaha melakukan penangkapan tidak ada deskriminasi yang diakibatkan

karena hak kepemilikan, sumberdaya laut adalah menjadi hak milik bersama. Untuk menjaga agar belum terjadi eksploitasi berlebihan, maka alat tangkap yang dianggap merusak habitat ikan ( mini trawl atau modifikasinya) di lakukan pelarangan dan agar ditaati bersama. Pelanggaran terhadap komitmen bersama inilah sebenarnya yang menjadi penyebab adanya konflik ditengah laut yang kadang-kadang terjadi dan berakibat kepada kerusakan material atau kehilangan jiwa. Pemasaran hasil tangkapan umumnya di lakukan oleh pedagang yang ada di tempat atau di kepulauan Indonesia, dan selanjutnya dipasarkan kepada pihak lainnya yang ada diluar kepulauan Indonesia. Nelayan penangkap bebas melakukan penjualan hasil tangkapannya kepada siapa saja yang mereka inginkan, terkecuali mereka yang terikat karena perjanjian (tertulis atau tidak tertulis) yang diakibatkan karena adanya pinjaman lebih dahulu kepada juragan sebelum melakukan penangkapan di laut. Untuk menjaga keseimbangan hubungan sosial akibat kegiatan ekonomi, maka sistem bagi hasillah yang dipakai sebagai sarana ekonomi masyarakat maritim dalam melakukan kegiatan usaha penangkapannya di laut. Keterampilan fungsional yang terkait dengan kehidupan sehari-hari, khususnya masyarakat maritim adalah keterampilan yang terkait langsung dengan ekonomi yaitu kegiatan penangkapan, pengolahan, pembuatan peralatan penangkapan, pemasaran dan pembiayaan. Kegiatan penangkapan merupakan keterampilan kelompok fungsional yang umumnya dimiliki oleh kaum laki-laki, sehingga pergi ke laut untuk melakukan penangkapan merupakan bagian utama pekerjaan mereka. Pengolahan produk hasil tangkapan umumnya banyak di lakukan oleh kaum perempuan, sehingga kelompok keterampilan ini seolah-olah menjadi bagian kehidupan perempuan. Produk olahan yang mereka buat umumnya masih terbatas pada produk olahan tradisional, seperti ikan asin, pengasapan, pemindangan atau pembuatan ebi. Adapun kelompok fungsional pembuatan peralatan penangkapan, untuk pembuatan perahu umumnya di lakukan oleh laki-laki, sedangkan pembuatan jaring atau bubu kadang-kadang di lakukan juga oleh perempuan, termasuk perbaikannya. Kelompok fungsional pemasaran hasil tangkapan untuk skala kecil dan masih berada disekitar Kepulauan Indonesia banyak di lakukan oleh perempuan, sedangkan pemasaran dalam jumlah partai besar umumnya telah di lakukan oleh laki-laki. Dari pola ini tergambarkan pembagian pekerjaan antara laki-laki dengan perempuan; keterampilan pemasaran ditingkat pengecer di lakukan oleh perempuan dan sedangkan pemasaran ditingkat pengumpul telah di lakukan oleh laki-laki. Adapun pengelolaan pembiayaan usaha sering di lakukan oleh perempuan, khususnya pada skala usaha kecil (pengecer, persiapan biaya eksploitasi), tetapi pada tingkatan skala yang lebih besar maka pengelolaan pembiayaan di lakukan oleh laki-laki, termasuk meminjamkan pada pihak ketiga (nelayan penangkap, dan nelayan pengecer). Persepsi terhadap sumberdaya alam terkait konsepsi hak kepemilikan (sea tenure) menjadi bagian penting bagi seluruh anggota masyarakat maritim di Kepulauan Indonesia. Sumberdaya alam yang dipersepsikan oleh masyarakat maritim adalah merupakan hak milik Allah, karena itu wajib dipelihara bersama dan hasilnya dimanfaatkan bersama-sama. Dalam merealisasikan persepsi ini ada juga sebagian masyarakatnya memandang bahwa ikan di laut itu tidak akan habis, karena itu boleh saja melakukan usaha kegiatan penangkapan kapanpun seseorang itu mau selagi dia mampu. Dari persepsi yang mengatakan sumberdaya alam dapat dieksploitasi sepanjang waktu, telah menyebabkan terjadinay pertambahan alat tangkap, karena daerah fishing ground yang dimiliki bersama terbatas telah menyebabkan terjadinya keluhan bahwa mulai ada penurunan hasil tangkapan. Penurunan hasil tangkapan oleh sebagian besar anggota masyarakat maritim Kepulauan Indonesia penyebab utamanya dikarenakan oleh nelayan pendatang yang melakukan pencurian di wilayah penangkapan mereka dengan menggunakan alat tangkap yang lebih besar dan alat tangkap aktif seperti mini trawl. Reaksi masyarakat adalah menentangnya dengan keras, sehingga sering terjadi konflik sosial.

6.Sistem Bagi Hasil. Sistem bagi hasil merupakan alat bantu ekonomi yang mengatur mekanisme usaha kegiatan penangkapan antara pemilik modal (perahu, jaring dan mesin) dengan tenaga kerja yang melakukan penangkapan atau sering disebut sebagai anak buah perahu (ABK). Mempelajari sistem bagi hasil yang telah diterapkan tampaknya masih mengundang pertanyaan yaitu "Apakah pembagian insentif yg ada telah menggambarkan sebaran kontribusi dari masing2 pelaku kegiatan". Susunan pembagian hasil tangkapan umumnya adalah untuk bagian kasko 1 bagian, jaring 1 bagian, mesin 1 bagian, eksploitasi 1 bagian dan anak buah perahu 1 bagian, sehingga total bagian adalah 5 bagian. Dari besaran pembagian ini tampaknya sebaran kontribusi dari masing-masing pelaku kegiatan sudah terpenuhi, tetapi prinsip keadilannya sering belum tercapai karena kasko, jaring dan mesin sering dibiayai oleh juragan (supplier), sehingga ada keterkaitan tidak langsung setiap kali menjualkan hasil tangkapannya harus kepada pemberi modal kerja (suppliernya). Pembagian insentif melalui sistem bagi hasil yang telah ada, dapat dikatakan apabila usaha kegiatan penangkapan tidak tergantung pada juragan (supplier) sebagai pemberi pinjaman modal kerja, sebenarnya telah dapat memberikan peluang kesejahteraan kepada maritim di Kepulauan Indonesia. Adanya peranan juragan menjadi semakin penting di dalam menjalankan kehidupan ekonomi masyarakat dikarenakan banyak anggota masyarakat maritim yang permodalan kerjanya terbatas, sehingga menyebabkan mereka tidak dapat pergi ke laut apabila tidak meminjam modal kerja ke juragan. 7. Ketergantungan Terhadap Sumberdaya. Masyarakat maritim kepulauan Indonesia menjadikan laut sebagai sumber mata pencaharian utamanya dalam menggantungkan hidup. Dengan demikian sumberdaya laut adalah hidup matinya masyarakat mereka, maka ditinjau dari pandangan ini sangatlah beralasan mereka sangat tergantung pada sumberdaya maritim yang berada disekitar kampung mereka dan selalu siap untuk memanfaatkannya dan menjaganya bersama-sama. Diversifikasi mata pencaharian alternatif yang dikembangkan oleh masyaraka maritim adalah terkait erat dengan hasil sumberdaya maritimnya, seperti perikanan tangkap atau dari perikanan budidaya. Mata pencaharian alternatif di lihat dari struktur diversifikasi kegiatan usaha seperti penangkapan, pengolahan, perdagangan, pembuatan peralatan penangkapan tampaknya masih terbatas. Dihubungkan dengan pertanyaan "seberapa jauh tersedia dan mau menjalankan mata pencaharian alternatif di dalam maupun diluar sektor ke lautan "?. Pertanyaan ini masih sulit dijawab, karena sifat masyarakatnya yang menetap dan usaha kegiatannya cenderung berkembang sedikit (stagnant), yang dicirikan perahunya masih kecil-kecil. Perkembangan alat penangkapan yang terjadi di daerah lainnya yang telah merubah perahu kecilnya menjadi perahu yang lebih besar tidak mempunyai pengaruh terhadap perbahan dinamika ekonomi masyarakat maritim di wilayah kepulauan Indonesia pada umumnya. Untuk kasus kepulauan Indonesia diketahui agak sulit menerima pengembangan dari luar secara cepat (drastic), hal ini terjadi, dimana ada suatu kondisi masyarakatnya cenderung tetap mempertahankan keadaan yang telah ada selama ini. Jadi mata pencaharian alternatif, terutama yang berasal di luar masyarakatnya akan sulit diterima, terkecuali orang tersebut keluar dari desanya. Ciri tradisional mata pencaharian utama dari kegiatan menangkap ikan dan mengambil biota laut lainnya dan bertani karena ada ikatan tradisi di dalam masyarakat maritim di kepulauan Indonesia. Dari sifat afektualnya dapat dikenali pada hari-hari tertentu berlaku bagi semua masyarakat di kepulauan Indonesia, seperti hari raya atau pesta adat yang mempunyai solidaritas tinggi, semua masyarakat di pulau berhenti sejenak melakukan kegiatan penangkapan atau perikanan, dan begitu juga kalau ada anggota keluarga yang mempunyai hajat perkawinan atau menemui kemalangan. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, ditinjau dari investasi sarana ekonomi dalam bentuk pembelian dan perbaikan peralatan penangkapan seperti; perahu, jaring dan mesin, menyatakan tidak banyak melakukan investasi secara besar-besaran kepada peralatan

penangkapan, hal ini terlihat dari ukuran, volume perahu yang kecil-kecil dan masih banyak yang menggunakan dayung. Pekerjaan yang ada di dalam masyarakat telah terdeferensiasi menurut sifat pekerjaannya. Di lihat dari gender, kaum laki-laki melakukan pekerjaan penangkapan ikan ditengah laut, sedangkan kaum perempuan melakukan pekerjaan perdagangan ikan, pengolahan dan ada juga yang ikut membantu memperbaiki jaring. Bentuk hubungan positif antara spesialisasi dan reward and punishment yang tercermin dari sistem bagi hasil (sharing system), setiap pekerjaan spesialis telah mendapat pengakuan dan dihargai dengan prosentase atau bagian tertentu yang berbeda dengan bagian orang yang tidak mempunyai spesialisasi. Kemampuan membangun kerjasama secara nyata untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu diantara anggota masyarakat telah terjalin dengan baik sekali, baik dalam hubungan sosial, kekerabatan dan keagamaan. Di lihat dari interdependensi antar elemen, ternyata antar elemen ekonomi saling memberikan informasi dan kesempatan untuk ikut melakukan kegiatan usaha penangkapan di lokasi penangkapan (fishing ground) yang sama, bersamaan dengan itu terbentuk pula jaringan perdagangan hasil tangkapan ikan atau biota laut lainnya. Setiap anggota masyarakat yang ada di kepulauan Indonesia mempunyai kesempatan yang sama untuk melakukan kegiatan penangkapan di laut setiap saat, faktor pembatasnya hanyalah terletak pada peralatan tangkap yang mereka miliki saja. Keterampilan fungsional yang terkait dengan kehidupan sehari-hari, adalah keterampilan yang terkait langsung dengan ekonomi yaitu kegiatan penangkapan, pengolahan, pembuatan peralatan penangkapan, pemasaran dan pembiayaan. Persepsi terhadap sumberdaya alam yang di kaitkan dengan konsepsi hak kepemilikan (sea tenure) menjadi bagian penting bagi seluruh anggota masyarakat di kepulauan Indonesia. Dari persepsi yang mengatakan sumberdaya alam dapat dieksploitasi sepanjang waktu, telah menyebabkan terjadinya pertambahan alat tangkap, karena daerah fishing ground yang dimiliki bersama terbatas telah menyebabkan terjadinya keluhan bahwa mulai ada penurunan hasil tangkapan. Sistem bagi hasil merupakan alat bantu ekonomi yang mengatur mekanisme usaha kegiatan penangkapan antara pemilik modal (perahu, jaring dan mesin) dengan tenaga kerja yang melakukan penangkapan atau sering disebut sebagai anak buah perahu (ABK). Peranan juragan semakin penting di dalam menjalankan kehidupan ekonomi masyarakat, karena banyak anggota masyarakat yang permodalan kerjanya terbatas, telah menyebabkan mereka tidak dapat pergi ke laut apabila tidak meminjam modal kerja ke juragan. Diversifikasi mata pencaharian alternatif yang perlu dikembangkan oleh masyarakat harus terkait erat dengan hasil sumberdaya maritim. Mata pencaharian alternatif di lihat dari struktur diversifikasi kegiatan usaha seperti penangkapan, pengolahan, perdagangan, pembuatan peralatan penangkapan masih terbatas. Untuk mengatasi hal tersebut, maka perlu ada program pemberdayaan ekonomi secara khusus dan berbasiskan kekhususan masyarakat maritim yang ada di kepulauan Indonesia. Sarana perhubungan yang secara tradisional dimiliki oleh masyarakat maritim perlu didukung dengan sarana perhubungan yang lebih besar. Pengembangan sarana ini di kaitkan langsung dengan keunggulan sumberdaya kepulauan Indonesia, seperti pariwisata ke lautan. C. PENUTUP Dari gambaran tentang masyarakat maritim yang di dalamnya mengandung pemaknaan proses adaptasi lingkungan, tindakan social, untuk selanjutnya menciptakan kebudayaan, membentuk system nilai-nilai melalui pranata social yang terbentuk kemudian, dan di dalamnya ada nilai-nilai yang berkaitan dengan kekerabatan, religi, ekonomi, pendidikan, kesehatan dan politik serta hukum, maka masyarakat maritim tidaklah dapat dimaknai hanya sebagai objek tunggal anse, tetapi dia harus dimaknai sebagai objek multi-dimensional yang mempunyai system nilai-nilai tersendiri. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih komprehensip, maka perlu ada batasan pengertian masyarakat maritim. Definisi yang telah dianut selama ini, masyarakat maritim itu di identikkan dengan nelayan, yang di maknai pengertiannya tidak lebih hanya

diartikan sebagai orang yang mencari ikan di laut. Batasan ini memberi paradigma bahwa nelayan adalah tidak lebih berfungsi hanya sebagai tenaga kerja, bukan dalam kontek bagian dari system nilai-nilai kemasyarakatan maritim. Masyarakat maritim yang dimaksudkan pada uraian tulisan ini lebih menitik beratkan pada pendekatan system nilai-nilai kemasyarakatan maritim yang sumber penghidupannya berbasiskan kemaritiman, sehingga masyarakat yang terbentuk adalah masyarakat yang berbudaya dan bersosial berbasis perairan, yang berekonomi, yang berhukum, yang berteknologi dan yang berpengetahuan spesifik mengikuti kaedah-kaedah ekologi kemaritiman. Dengan demikian nelayan dapat dipahami adalah sebutan orang yang kehidupannya sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh lingkungan perairan, sehingga nelayan adalah orang yang mengerti kemaritiman, keilmuan maritim, keteknologian maritim, kebudayaan dan kesosialan maritim, hukum-hukum kemaritiman dan ekonomi kemaritiman. Oleh karena itu nelayan yang dimaksudkan adalah sub kelompok masyarakat maritim yang bekerja menangkap atau membudidayakan ikan, sedangkan sub-sub kelompok masyarakat nelayan lainnya dapat di lihat sebagai pengolah hasil tangkapan, dan pembuat sarana kemaritiman tetapi harus lebih luas seperti; pengangkut barang dan orang dengan perahu atau kapal, pemandu wisata bahari, penyelam atau perenang, pekerja tambang bawah laut, seniman, pemangku adat dan lain-lainnya.. DAFTAR PUSTAKA Foster, George M. & Barbara G. Anderson, 1986. Antropologi Kesehatan (terjemahan), Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press). Hunter, David E., Philip Whitten, 1976. Encyclopedia of Anthropology, New York: Harper & Row, Publishers, Inc. Kalangie, Nico S, 1986. Kerangka Konseptual Sistem Perawatan Kesehatan, dalam Berita Antropologi, No. 44 Thn XII, Jakarta: Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia. Koentjaraningrat, 1979. Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta: Aksara Baru. Spradley, James P. (Ed), 1972. Foundation of Cultural Knowledge, dalam James P. Spradley (Ed), Culture and Cognation: Rules, Maps, dan Plans, San Francisco: Chandler Publishing Company. Suparlan, Parsudi (Ed.), 1984. Kemiskinan di Perkotaan, Jakarta: Sinar Harapan dan Yayasan Obor Indonesia. Suparlan, Parsudi (Ed.), 1986. Kebudayaan dan Pembangunan, dalam Terbitan Berkala Media IKA, No. 11, Thn XIV, Jakarta: Ikatan Kekerabatan Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, hlm. 106-135. Suyono, Aryono, 1985. Kamus Antropologi, Jakarta: Akademika Prasindo.

BAB II MASYARAKAT MARITIM PASURUAN PENDAHULUAN Masyarakat maritim yang berdiam di wilayah Kabupaten Pasuruan, daerah Propinsi Jawa Timur, telah sejak lama memanfaatkan sumberdaya maritim yang berada disekitar wilayahnya sebagai tempat hidup dan mencari kehidupan. Kehidupan sosial budaya masyarakat maritim di Pasuruan secara umum pada dasarnya memiliki hubungan resiprokal dengan sumberdaya alam dan lingkungan disekitarnya. Disamping itu dalam masalah pembangunan, kehidupan sosial budaya masyarakat maritim tidak pula dapat dipisahkan dari kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah, yaitu pemerintah daerah dan propinsi, bahkan pemerintah Pusat. Persoalan yang sering menjadi kendala adalah proses mempertemukan peranan pemerintah dan masyarakat secara egaliter sehingga menjadi pendorong kemajuan dan mutlak diperlukan di dalam konsep pemberdayaan. Berdasarkan pada pemahaman ini maka kondisi sosial budaya masyarakat maritim yang terkait dengan permasalahan pemberdayaan tidak dapat dilepaskan dari aspek-aspek sosiologi dan antropologi (Wiradi, Gunawan. 1997). Pemahaman terhadap kedua aspek ini menjadi penting karena fenomena makro sosial budaya masyarakat dari sistem sosial di dalam masyarakat dan fenomena mikro sosial budaya masyarakat dari individu atau sistem sosial dalam keluarga adalah sesuartu yang tidak bisa dipisahkan. Pemahaman atas fenomena sosial budaya secara menyeluruh tersebut penting di lakukan mengingat manusia sebagai ”individu” memiliki karakter tersendiri pada saat tidak melakukan atau terjadi interaksi dengan manusia lain. Namun saat terjadi interaksi dengan individu lain di dalam suatu masyarakat, kejadian yang umumnya muncul adalah karakter masyarakat. Khusus masyarakat maritim di Pasuruan, maka karakter yang muncul dalam kehidupan sosial (kearifan lokal), ekonomi, politik dan kelembagaan adalah karakter masyarakat maritim Pasuruan. Fenomina ini dapat diketahui dari pola kehidupan, mereka membentuk dan menyesuaikan diri dengan sistem ekologi yang berlaku di wilayahnya (Taryoto, Andin. 1999). Menurut Dahuri (2000), secara parsial pembangunan sektor kelautan dan perikanan belum berdasarkan kondisi masyarakat nelayan yang masih termarjinalkan tersebut, maka pemberdayaan sosial ekonomi masyarakat merupakan paradigma yang penting dalam pelaksanaan pembangunan sektor kelautan dan maritim saat ini. Paradigma pemberdayaan bukan saja berupa tuntutan atas pembagian secara adil aset ekonomi tetapi juga merupakan semangat untuk meruntuhkan dominasi birokrasi dalam mengatur dan menentukan berbagai bidang kehidupan rakyat (Hikmat, 2001). Hal ini mengingat dua elemen terpenting di dalam konsep pemberdayaan adalah mempertemukan peranan pemerintah dan masyarakat secara egaliter. Masyarakat dengan potensi sosial (social capital)-nya serta pemerintah dengan kebijakannya, secara bersama-sama akan memberikan corak warna terhadap sumberdaya dan pengelolaannya. Hal inilah yang akan menjadi fokus terpenting di dalam penentuan konsep pemberdayaan. Lebih lanjut, (Pranadji, T, 2003) mengartikan bahwa pemberdayaan sebagai pemahaman secara psikologis pengaruh kontrol individu terhadap keadaan sosial, kekuatan politik dan hak-haknya menurut peraturan perundangan yang ada. Selain itu disebutkan juga bahwa pemberdayaan merupakan sebuah upaya untuk mengaktualisasikan potensi yang sudah dimiliki oleh masyarakat. Atau dengan kata lain, pemberdayaan diletakkan pada kekuasaan tingkat individu dan sosial (Hikmat, 2001). Dalam wacana pembangunan masyarakat, konsep ini sangat terkait dengan konsep mandiri, partisipasi, jaringan kerja dan keadilan. Sehingga keberhasilan dalam pemberdayaan masyarakat dalam

konteks pembangunan antara lain bermakna bahwa suatu masyarakat tersebut menjadi bagian dari pelaku pembangunan itu sendiri. Sifat sumberdaya maritim yang ”common property” dan ”open access” membentuk kondisi sosial budaya masyarakat nelayan yang khas dan relatif berbeda dengan masyarakat pedesaan lainnya (terrestrial villagers). Hal ini seringkali diabaikan di dalam perumusan kebijakan pemberdayaan masyarakat nelayan yang masih lebih banyak mengadopsi hasil kajian sosial budaya masyarakat daratan (terrestrial). Oleh karena itu, sosial budaya masyarakat maritim dapat difungsikan juga dalam upaya mendukung kegiatan pemberdayaan masyarakat baik di perairan pesisir, pulau-pulau kecil serta perairan pedalaman (Dahuri, R. 2003). Dengan adanya pengetahuan mengenai potensi dan kendala, diharapkan program pemberdayaan masyarakat maritim, khususnya di Pasuruan dapat dicapai secara lebih baik dan sempurna. KEARIFAN LOKAL. Kearifan lokal yang dimaksudkan adalah berkenaan dengan sifat-sifat kearifan tentang; eksistensi tata-nilai, sikap masyarakat maritim masyarakat terhadap tata-nilai, serta mekanisme pengelolaan sumberdaya maritim (internal dan eksternal). Tulisan ini lebih banyak didasarkan pada pengamatan fenomena yang terjadi dalam masyarakat maritim, sehingga bahasannyapun cenderung berpihak pada pengamatan indra yang terjadi di masyarakat maritim pada umumnya. Wilayah pengamatan fenomena kehidupan masyarakat maritim, untuk memberikan sedikit gambaran didasarkan pada masyarakat maritim yang ada di Pasuruan. 1. Eksistensi Tata-Nilai. Dari hasil wawancara dan diskusi dengan penduduk setempat yang pekerjaannya sebagai nelayan, dapat disimak bahwa mereka pada umumnya cenderung menjalankan dan mempertahankan tata-nilai yang di pandang positif bagi masyarakat pada umumnya. Tata-nilai yang positif bagi masyarakat maritim Pasuruan antara lain adanya pengakuan terhadap normanorma adat yang bersifat kesederhanaan yaitu masyarakat yang berpegang teguh hanya pada satu nilai dalam menghadapi suatu permasalahan hidupnya. Kecenderungan ini dapat di lihat dari adanya rasa malu dan harga diri yang tinggi dari masyarakatnya serta sangat rentan dan reaksioner terhadap setiap informasi dan permasalahan yang dihadapinya. Kemampuan untuk menghindari berbuat yang bertentangan dengan kaidah umum yang berlaku setempat dibuktikan oleh masyarakatnya dengan tidak banyak yang melakukan kegiatan penangkapan lebih dari satu hari atau melakukan andon ketempat lainnya. Mereka menghindari kebiasaan yang telah berlaku sejak lama ini dengan melanggarnya, seperti melakukan kegiatan penangkapan dengan perahu yang lebih besar dan bermalam di tempat fishing ground yang bukan fishing ground milik masyarakat mereka. Kondisi masyarakat dalam budaya kesederhanaan cenderung membelenggu, dan akan membangun patron klien yang sempit serta ketundukkan yang mutlak dan emosional terhadap elit yang memiliki pengaruh, baik pengaruh sumberdaya ekonomi, kekuasaan, maupun agama (Koentjaraningrat, 1979). Dengan kondisi ini, masyarakat menghadapi inovasi menjadi sangat lamban, keadaan ini dapat di lihat dari perkembangan fisik peralatan penangkapannya (perahu) yang ukurannya relatif tetap dan jumlah power mesin juga relatif tetap, sehingga pengoperasian perahu cukup di lakukan oleh 2 (dua) atau 3 (tiga) orang saja. Dari pengamatan dan informasi yang ditemukan melalui tokoh masyarakatnya diketahui masih sederhananya kemampuan untuk memanfaatkan dan mengubah (rekayasa) hasil temuan baru dari luar maupun dalam yang berimplikasi terhadap perbaikan kinerja usaha kegiatan masyarakat maritim setempat. Belum antusiasnya penerimaan masyarakat maritim terhadap inovasi teknologi ini, karena masyarakatnya yang kental patron clien masih cenderung menutup diri, mereka masih mengidentifikasikan dirinya dan tergantung dengan sikap kelompok elit masyarakatnya ( tokoh masyarakat).

Dari sisi kompetisi atau prestasi kerja, masyarakat maritim Pasuruan masih tergolong sederhana, hal ini dapat diketahui dari sifat rutinitas kerjanya yang one day fishing, artinya kegiatan penangkapan hanya di lakukan dalam waktu pendek dan tidak mengejar volume penangkapan yang berlebihan. Hasil tangkapan apabila telah dapat menutup biaya operasional dan sedikit memberikan keuntungan di pandang oleh masyarakat telah berhasil baik untuk hari itu. 2. Sikap Masyarakat Maritim Terhadap Tata-nilai masyarakat maritim masyarakat dengan menyikapi nilai seperti ini mengandung nilai-nilai positif yang dimiliki oleh anggota masyarakat, yaitu tidak mengejar pendapatan sebanyakbanyaknya dengan mengabaikan lingkungan alamnya. Jadi dengan sifat budaya kesederhanaan yang mereka miliki, wajarlah kalau mereka mempunyai rasa harga diri yang kuat secara kolektif, bilamana daerah fishing ground mereka disatroni oleh nelayan datangan lainnya. Jadi upaya mempertahankan diri telah mengubah sikap pembelaan berlebihan yang cenderung agressif pula, dan bagi pihak lain dianggap melawan hukum negara. Pandangan masyarakat terhadap tata-nilai yang mereka miliki merupakan kebanggaan kelompok, karena itu ikatan kerjasama kelompok masyarakat maritim Pasuruan sangat kuat. Kekuatan ini dibuktikan oleh sikap kuat mempertahankan diri yang secara kolektif melakukan penyerangan balik kepada setiap nelayan pendatang yang mengganggu wilayah penangkapan mereka, yang mana secara tradisional telah menjadi milik mereka menjadi terganggu atau diganggu. Dari sikap yang dimiliki inilah maka bagi nelayan luaran Pasuruan sering dianggap menjalankan tradisi kepemimpinan keras, opini ini berlaku karena sikap agresif dari masyarakat maritim Pasuruan mempertahankan wilayah penghidupannya yaitu laut yang telah diakui sebagai tempat penangkapan ikan yang berlaku hanya bagi masyarakat maritim penduduk Pasuruan menurut pandangan mereka sendiri. Masyarakat maritim yang sederhana ini di lihat dari keterbukaannya terhadap IPTEK, kalau di lihat secara fhisik dapat dikatakan belum, hal ini diketahui oleh lambannya IPTEK itu sendiri diterima sebagai masukan baru bagi masyarakatnya, untuk melakukan perbaikan dan perubahan mutu atau kualitas teknik penangkapan (palka insulasi atau perpanjangan waktu operasi penangkapan) yang hampir belum terjadi. Apabila ditinjau dari keterbukaan terhadap pendidikan, masyarakat maritim Pasuruan telah cukup maju, hal ini ditunjukkan oleh adanya beberapa anggota keluarga masyarakat maritim yang telah mampu menyelesaikan pendidikannya setara Sarjana. Dari sisi pendidikan, jadi ada keinginan kearah kemajuan. IPTEK bagi masyarakat maritim baru di pandang sebagai informasi, belum menjadi bagian langsung penggerak kemajuan dan menjadi innovator perubahan sosial di dalam kehidupan bermasyarakat. 3. Mekanisme Pengelolaan Sumberdaya Maritim Keberadaan sumberdaya maritim yang terletak di wilayah pantai Utara Jawa, berada dibagian Barat Kabupaten Pasuruan. Perairan ini sifat penangkapannya open access, artinya setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk dapat melakukan penangkapan ikan di daerah fishing ground yang sama. Di lihat dari pertambahan armada penangkapannya, dari tahun ke tahun cenderung sesuai dengan laju pertambahan penduduknya. Penduduk masyarakat maritim Pasuruan cenderung menetap, maka wilayah penangkapan menjadi kewajiban bersama untuk menjaganya dari kegiatan penangkapan yang di lakukan oleh nelayan datangan. Keberadaan mekanisme pengelolaan, menyangkut fishing ground, pengaturan alat tangkap, musim penangkapan dan fishing right di lakukan secara bersama-sama, dan hal ini tercerminkan dari acara petik laut. Upacara tersebut biasanya diikuti oleh semua lapisan masyarakat maritim. Hak kepemilikan fishing ground adalah dimiliki bersama, tidak ada hak kepemilikan perorangan, dengan demikian musim penangkapan sangat tergantung dari keberadaan musim ikan dan udang (shrimp). Musim penangkapan umumnya di lakukan pada bulan-bulan Mei hingga Nopember

untuk musim banyak ikan, dan bulan-bulan berikutnya hasil tangkapannya menjadi menurun, tetapi tidak pernah mengalami paceklik total. Pelanggaran terhadap fishing ground dan alat tangkap biasanya diselesaikan melalui delik pengaduan kepada pemuka masyarakat (tokoh agama). Dengan telah adanya lembaga Dewan Perwakilan Desa, maka sekarang pengaduannya dapat pula disalurkan melalui DPD, kemudian apabila tidak dapat juga diselesaikan, baru kemudian diajukan ke Kepala Desa untuk diselesaikan secara musyawarah di lembaga Desa. Bentuk dan mekanisme sanksi atas pelanggaran hukum adat yang berlaku di masyarakat maritim menjadikan peranan kepala Desa dan tokoh masyarakat mempunyai posisi dan menjadi sangat penting dan strategis dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang muncul di dalam masyarakat maritim. Keberadaan dan penerapan sanksi atas pelanggaran hukum adat harus didukung oleh kepemimpinan yang kuat dari kepala Desa, ini dapat terjadi apabila kepala Desa didukung oleh semua komponen yang ada di dalam masyarakat maritim. Untuk masyarakat maritim di Pasuruan persyaratan dukungan cukup besar, karena pemimpin buat mereka adalah panutan atau contoh keteladanan. Persyaratan keteladanan akan menjamin keamanan terkendali dengan baik. EKONOMI. Ekonomi yang dimaksudkan adalah berkenaan dengan sifat-sifat yang ditinjau dari; aktifitas ekonomi, status dan peranan masyarakat, akses terhadap sumberdaya ekonomi, sistem bagi hasil, dan tingkat ketergantungan terhadap sumberdaya. 1. Aktifitas Ekonomi Berdasarkan curahan energi fisik masyarakat dalam memanfaatkan sumberdaya maritim per-satuan waktu, dan ketekunannya dalam memanfaatkan waktu, sehingga keberadaan aktifitas ekonomi di sektor maritim ini dapat dikenali hingga sampai sekarang. Masyarakat maritim di Pasuruan, mata pencaharian utamanya dari kegiatan menangkap ikan dan mengambil biota laut lainnya. Pekerjaan ini secera rutin di lakukan oleh hampir semua orang yang berdiam di desadesa maritim yang terletak di wilayah pesisir tersebut. Waktu kerja yang telah menjadi bagian kehidupan bersama yaitu dimulai sejak sebelum sembahyang subuh hingga selesai sembahyang subuh. Penduduk Pasuruan yang sebagian terbesar adalah muslim, maka pedoman bekerjanyapun lebih di dasarkan pada hukum-hukum agama Islam. Keadaan tersebut dapat di lihat dari curahan tenaga kerjanya yang telah banyak disesuaikan dengan waktu-waktu yang berhubungan dengan hukum Islam. Sebagai contoh; mereka mulai bekerja pergi ke laut sekitar jam 4.30 pagi dan pulang kembali mendarat sekitar jam 16.00 sore harinya. Ikan hasil tangkapan langsung dibawa pulang dan ibu rumah tangga akan melakukan pekerjaan pengolahan ikan, atau dijual ke penampung ikan atau udang. Siklus kerja seperti ini berlangsung terus setiap hari, tetapi pada hari Jum'at, semua nelayan tidak pergi ke laut dan begitu juga kalau ada anggota keluarga yang menemui keseripahan (kemalangan). Jadi rasa solidaridas sosial masyarakatnya sangat tinggi, sehingga aktifitas ekonomi dapat ditunda sejenak, dan hal ini diwujutkan dengan tidak ada yang pergi ke laut. Kemampuan menyisihkan nilai hasil pekerjaan untuk investasi salah satunya dapat di lihat dari pembangunan sarana perumahan yang telah cukup baik, keadaan tersebut dapat di lihat dari banyak juga ditemukan rumah-rumah permanen dengan lingkungan yang asri, termasuk bangunan tempat ibadah (Masjid) yang besar-besar dan terawat rapi. Kesemua hal yang tersebut tadi memberikan indikasi bahwa masyarakat maritim Pasuruan telah mampu mengatur kehidupan sosialnya dengan baik, dalam artian mampu melakukan hidup yang lebih hemat. Kalau ditinjau dari investasi sarana ekonomi dalam bentuk pembelian dan perbaikan peralatan penangkapan (perahu, jaring dan mesin), tampaknya tidak banyak melakukan investasi secara besar-besaran kepada peralatan penangkapan, hal ini terlihat dengan ukuran, dan volume perahu yang cenderung tidak banyak mengalami perubahan (5-8 ton) saja. Dengan ukuran armada penangkapan yang relatif kecil, memberikan gambaran pula, masyarakat maritim Pasuruan

cenderung hanya memanfaatkan sumberdaya yang tersedia hanya di lingkungan dan wilayah mereka sendiri, tidak banyak melakukan eksploitasi maritim ke tempat-tempat lainnya. Kalaupun ada, sifatnya hanya temporal. 2. Status dan Peranan Masyarakat. Pekerjaan yang ada di dalam masyarakat maritim telah terdeferensiasi menurut sifat pekerjaannya. Di lihat dari gender, kaum laki-laki melakukan pekerjaan penangkapan ikan ditengah laut, sedangkan kaum perempuan melakukan pekerjaan perdagangan ikan, pengolahan dan perbaikan jaring. Jenis-jenis pekerjaan yang berdasarkan spesialisasi (keahlian) ini yang di lakukan secara turun temurun, telah menciptakan kondisi kerja yang saling tergantung secara harmoni. Sifat pekerjaan yang menuntut lebih banyak di perairan di lakukan oleh laki-laki adalah; berlayar, menangkap ikan, menyelam, memperbaiki mesin, memperbaiki perahu, memasang jaring dan menentukan arus dan musim ikan. Adapun sifat pekerjaan yang menuntut lebih banyak di lakukan di darat, umumnya adalah pekerjaan perempuan ialah; mendagangkan ikan atau udang, melakukan pengolahan pengawetan ikan, mengatur rumah tangga selama kaum laki-lakinya ke laut serta pekerjaan sosial lainnya. Bentuk hubungan positif antara spesialisasi dan reward and punishment dapat di lihat dari sharing system, dalam prakteknya hal ini dapat di lihat dan diketahui secara jelas. Setiap pekerjaan spesialis mendapat pengakuan dan dihargai dengan prosentase atau bagian tertentu yang berbeda dengan bagian orang yang tidak mempunyai spesialisasi. Dari hasil tangkapan setiap kali mendarat, langsung di lakukan pembagian hasil berdasarkan sistem bagi hasil yang telah berlaku dan diakui secara umum oleh setiap anggota masyarakat maritim di Pasuruan. Pembagian bagi hasil ini, untuk pemilik mendapatkan 2,5 (dua) bagian, nakhoda 1,5 (satu setengah) bagian dan anggota lainnya masing-masing 1 (satu) bagian. Jadi kisaran total bagian adalah antara 4 (empat) bagian hingga 5 (lima) bagian.

Kemampuan membangun kerjasama secara nyata untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu diantara anggota masyarakat maritim telah terjalin dengan baik sekali, baik dalam hubungan sosial, kekerabatan dan keagamaan. Di dalam perahu, pembagian pekerjaan telah sangat jelas dan harus di lakukan secara bersama-sama, sehingga setiap orang yang ada diatas perahu kemampuannya menbangun kerjasama sangat besar, karena nasib mereka secara bersamaan tergantung dari kerjasamanya tersebut. Jadi budaya bekerja bersama-sama diatas perahu, selama pelayaran, antar perahu nelayan dan antar anggota masyarakat satu kaum merupakan kerjasama mutlak yang harus di lakukan, prinsip ketaatan kepada aturan-aturan yang diberlakukan untuk membangun keharmonisan kerjasama telah menjadi bagian yang diutamakan secara bersamasama. Jaringan kerja sama kolektif telah menjadikan hubungan yang mampu saling memberi antara lain dapat di lihat dari: 1) jaminan subsistensi terhadap buruh nelayan yang paling bawah dan 2) interdependensi antar elemen yang membentuk jaringan kerjasama kolektif yang bersifat simetris (Pranadji, T. 2003). Adapun yang dimaksud dengan jaminan subsistensi, adalah memberikan kesempatan kepada semua anggota masyarakat maritim yang ingin bekerja di laut dengan cara mengikuti pelayaran pada perahu-perahu yang akan pergi menangkap ikan, statusnya adalah anak buah perahu (ABK), dan atas jasanya itu maka diberikan bagian hasil. Kemudian kalau di lihat dari interdependensi antar elemen, ternyata antar nelayan saling meberikan informasi dan kesempatan untuk ikut melakukan kegiatan usaha penangkapan di lokasi fishing ground yang sama, bersamaan dengan itu terbentuk pula jaringan perdagangan hasil tangkapan ikan atau biota laut lainnya Udang (shrimp), kepiting (mud crubs), dll. Ditinjau dari sini, maka ada hubungan timbal balik yang saling membutuhkan antara nelayan penangkap, para bakul (pedagang) ikan/udang (shrimp)/kepiting (mud crubs) dan juga ibu rumah tangga yang berfungsi menjualkan hasil tangkapan atau mengolahnya menjadi produk ikan olahan. 3. Akses Terhadap Sumberdaya Ekonomi. Berdasarkan pendekatan struktur, struktur yang baik adalah apabila dapat terjadi interdependensi yang simetris (bargaining position/power sharing) terhadap akses ke sumberdaya ekonomi. Interdependensi yang simetris secara ideal agak sulit dikenali tanpa adanya riset yang mendalam mengenai ekonomi maritim. Interdependensi masih dapat dikenali secara umum melalui struktur kegiatan ekonomi yang di lakukan oleh masyarakat maritim, yaitu mulai dari pengeksploitasian sumberdaya, pemasaran hasil dan sistem bagi hasil yang diberlakukan umumnya oleh sebagian besar masyarakat maritim. Setiap anggota masyarakat maritim yang ada di Pasuruan mempunyai kesempatan yang sama untuk melakukan kegiatan penangkapan di laut setiap saat, faktor pembatasnya hanyalah terletak pada peralatan tangkap yang mereka miliki saja. Dari sisi kesempatan untuk berusaha melakukan penangkapan tidak ada deskriminasi yang diakibatkan karena hak kepemilikan, sumberdaya maritim adalah menjadi hak milik bersama. Untuk menjaga agar tidak terjadi eksploitasi berlebihan, maka alat tangkap yang dianggap merusak habitat ikan seperti, mini trowl atau modifikasinya, di lakukan pelarangan dan ditaati bersama. Pelanggaran oleh seseorang terhadap komitmen bersama inilah yang sebenarnya menjadi penyebab adanya konflik ditengah laut, dan akibatnya kadang-kadang yang terjadi adalah kerusakan materi atau kehilangan jiwa. Adapun pemasaran hasil tangkapan, umumnya di lakukan oleh pedagang yang ada di tempat atau di Pasuruan, dan selanjutnya dipasarkan kepada pihak lainnya yang ada diluar Pasuruan. Nelayan penangkap, ada kecenderungan bebas melakukan penjualan hasil tangkapannya kepada siapa saja yang mereka inginkan, terkecuali mereka yang terikat karena perjanjian (tertulis atau tidak tertulis) yang diakibatkan karena adanya pinjaman lebih dahulu kepada juragan sebelum melakukan penangkapan di laut. Untuk menjaga keseimbangan hubungan sosial akibat kegiatan ekonomi, maka sistem bagi hasillah yang dipakai sebagai sarana ekonomi masyarakat maritim dalam melakukan kegiatan usaha penangkapannya di laut.

Keterampilan fungsional yang terkait dengan kehidupan sehari-hari, khususnya masyarakat maritim adalah keterampilan yang terkait langsung dengan ekonomi yaitu kegiatan penangkapan, pengolahan, pembuatan peralatan penangkapan, pemasaran dan pembiayaan. Kegiatan penangkapan merupakan keterampilan kelompok fungsional yang umumnya dimiliki oleh kaum laki-laki, sehingga pergi ke laut untuk melakukan penangkapan merupakan bagian utama pekerjaan mereka. Pengolahan produk hasil tangkapan umumnya banyak di lakukan oleh kaum perempuan, sehingga kelompok keterampilan ini seolah-olah menjadi bagian kehidupan perempuan. Produk olahan yang mereka buat umumnya masih terbatas pada produk olahan tradisional, seperti ikan asin, pengasapan, pemindangan atau pembuatan ebi. Adapun kelompok fungsional pembuatan peralatan penangkapan, untuk pembuatan perahu umumnya di lakukan oleh laki-laki, sedangkan pembuatan jaring atau bubu kadang-kadang di lakukan juga oleh perempuan, termasuk perbaikannya. Kelompok fungsional pemasaran hasil tangkapan untuk skala kecil dan masih berada disekitar Pasuruan banyak di lakukan oleh perempuan, sedangkan pemasaran dalam jumlah partai besar umumnya telah di lakukan oleh lakilaki. Dari pola ini tergambarkan pembagian pekerjaan antara laki-laki dengan perempuan; keterampilan pemasaran ditingkat pengecer di lakukan oleh perempuan dan sedangkan pemasaran ditingkat pengumpul telah di lakukan oleh laki-laki. Dari sisi pengelolaan pembiayaan usaha sering di lakukan oleh perempuan, khususnya pada skala usaha kecil (pengecer, persiapan biaya eksploitasi), tetapi pada tingkatan skala yang lebih besar maka pengelolaan pembiayaan di lakukan oleh laki-laki, termasuk meminjamkan pada pihak ketiga (nelayan penangkap, dan nelayan pengecer). Persepsi terhadap sumberdaya alam yang terkait konsepsi hak kepemilikan (sea tenure) menjadi bagian penting bagi seluruh anggota masyarakat maritim di Pasuruan. Sumberdaya alam yang dipersepsikan oleh masyarakat maritim adalah merupakan hak milik Allah, karena itu wajib dipelihara bersama dan hasilnya dimanfaatkan bersama-sama. Dalam merealisasikan persepsi ini ada juga sebagian masyarakatnya memandang bahwa ikan di laut itu tidak akan habis, karena itu boleh saja melakukan usaha kegiatan penangkapan kapanpun seseorang itu mau selagi dia mampu. Dari persepsi yang mengatakan sumberdaya alam dapat dieksploitasi sepanjang waktu, telah menyebabkan terjadinya pertambahan alat tangkap. Konsekkwensi dari pertambahan alat tangkap, karena daerah fishing ground yang dimiliki bersama terbatas, telah menyebabkan terjadinya keluhan bahwa mulai ada penurunan hasil tangkapan. Penurunan hasil tangkapan oleh sebagian besar anggota masyarakat maritim Pasuruan penyebab utamanya ada yang menduga dikarenakan oleh nelayan pendatang yang melakukan pencurian di wilayah penangkapan mereka dengan menggunakan alat tangkap yang lebih besar dan alat tangkap aktif seperti mini trawl. Dugaan seperti ini memerlukan pembuktian ilmiah, karena itu sangatlah penting peranan riset maritim dapat ditingkatkan, sehingga mampu mengimbangi informasi yang kebenarannya belum teruji. Masyarakat akan menjadi tentram, kepastian usahapun akan berpihak pada masyarakat maritim. Reaksi masyarakat akan menjadi lebih bijasana dan terkendali, sehingga kemungkinan terjadinya konflik sosial secara frontal dapat dihindari bersama, masyarakat dan pemerintah. 4. Sistem Bagi Hasil. Sistem bagi hasil merupakan alat bantu ekonomi yang mengatur mekanisme usaha kegiatan penangkapan antara pemilik modal (perahu (board), jaring dan mesin) dengan tenaga kerja yang melakukan penangkapan atau sering disebut sebagai anak buah perahu (ABK). Mempelajari sistem bagi hasil yang telah diterapkan tampaknya masih mengundang pertanyaan yaitu "Apakah pembagian insentif yang ada telah menggambarkan sebaran kontribusi dari masing2 pelaku kegiatan". Susunan pembagian hasil tangkapan umumnya yang banyak dilakukan adalah untuk bagian kasko 1 bagian, jaring 1 bagian, mesin 1 bagian, eksploitasi 1 bagian dan anak buah perahu 1 bagian, sehingga total bagian adalah 5 bagian. Dari besaran pembagian ini tampaknya sebaran kontribusi dari masing-masing pelaku kegiatan sudah terpenuhi, karena masing-masing pelaku mendapatkan bagiannya. Akan tetapi apabila dicermati

lebih dalam di lihat dari prinsip keadilannya, tampaknya sering belum tercapai, karena yang membiayai permodalan untuk pembelian kasko, jaring dan mesin hanya dibiayai oleh juragan atau pemilik modal yang bertindak sebagai supplier. Dari fenomena di lapangan tampak seperti ada keterkaitan langsung atau tidak langsung akibat dari kepemilikan tersebut terhadap setiap kali menjualkan hasil tangkapannya yaitu kecenderungan harus kepada pemberi modal kerja sebagai juragan atau suppliernya. Pembagian insentif melalui sistem bagi hasil yang telah ada, dapat dikatakan, apabila usaha kegiatan penangkapan tidak tergantung pada juragan sebagai pemilik modal atau supplier sebagai pemberi pinjaman modal kerja, sebenarnya telah dapat memberikan peluang kesejahteraan kepada nelayan di Pasuruan. Juragan menjadi semakin penting karena peranannya di dalam menjalankan kehidupan ekonomi masyarakat maritim adalah berkedudukan strategis, bukan saja dari sisi ekonomi, tetapi peranannya dari aspek social dan kepemimpinan. Peranan tersebut secara social diakui oleh masyarakat sampai saat ini, hal tersebut terjadi dikarenakan banyak anggota masyarakat maritim yang permodalan kerjanya terbatas, sehingga menyebabkan mereka tidak dapat pergi ke laut apabila tidak meminjam modal kerja ke juragannya. 5. Tingkat Ketergantungan Terhadap Sumberdaya. Masyarakat maritim di Pasuruan menjadikan laut sebagai sumber mata pencaharian utamanya dalam menggantungkan hidup. Dengan demikian sumberdaya laut dapat dikatakan mempunyai peran yang sangat penting dalam mendukung keberlanjutan kehidupan mereka. Dalam kata lain, mungkin dapat juga dikatan sumberdaya maritim ikut menentukan hidup matinya masyarakat mereka, maka ditinjau dari pandangan ini sangatlah beralasan mereka sangat tergantung pada sumberdaya maritim yang berada disekitar kampung mereka dan selalu siap untuk memanfaatkannya dan menjaganya bersama-sama. Diversifikasi mata pencaharian alternatif yang dikembangkan oleh masyarakat nelayan adalah terkait erat dengan hasil sumberdaya maritimnya, baik dari usaha penangkapan atau dari usaha pembudidayaan. Kemudian mata pencaharian alternatif ini, apabila dicoba untuk melihatnya dari struktur diversifikasi kegiatan usaha seperti; penangkapan, pengolahan, perdagangan, pembuatan peralatan penangkapan, tampaknya masih terbatas. Dihubungkan dengan pertanyaan "seberapa jauh tersedia dan mau menjalankan mata pencaharian alternatif di dalam maupun diluar sektor maritim)"?. Untuk menjawab pertanyaan ini tentu membutuhkan keseriusan pengamatan dari berbagai aspek yang mendukung kehidupan masyarakat maritim. Dan pertanyaan ini masih sulit dijawab, karena dengan sifat masyarakatnya yang menetap dan usaha kegiatannya ada yang cenderung perkembangannya terbatas, terutama di lihat dari aspek ekonominya, yaitu yang dicirikan perahunya masih kecil-kecil, jarak penangkapannya ke fishing ground terbatas, lama penangkapan lebih banyak one day fishing, serta jenis ikan yang tertangkap juga terbatas dengan volume tangkapannya masih sedikit, tidak terselektif, jadi diversifikasi mata pencahariannya belum ikut berkembang. Kemudian, ada daerah lain yang menunjukkan perkembangan armada penangkapan, dengan ditandai oleh adanya perubahan ukuran kasko kapal, alat penangkapan, juga jumlah ABK, tetapi tidak menjadi pemicu ikut berubahnya jumlah mata pencaharian alternatif. Hal ini berhubungan dengan sifat kegiatan yang tercipta dari sumber daya maritim itu sendiri. Secara umum tampak yang terjadi di masyarakat maritim, walaupun ada beberapa daerah yang telah merubah perahu kecilnya menjadi perahu yang lebih besar, hal ini tidak selalu diikuti dengan perubahan secara proporsional pada kegiatan usaha penangkapan lainnya. Oleh karena itu keadaan masyarakat maritim belum banyak berubah dan mempunyai pengaruh terhadap perubahan dinamika ekonomi masyarakat maritim pada umumnya. Untukmasyarakat maritim di Pasuruan, terlihat agak lamban menerima perubahan dan pengembangan dari luar secara cepat, hal ini terjadi, karena sikap masyarakat yang cenderung tetap mempertahankan keadaan yang telah ada selama ini. Jadi mata pencaharian alternatif, terutama yang berasal dari luar komunitas masyarakatnya akan diseksi secara social, ekonomi dan teknik, karena dampak negatif yang

mungkin tidak mereka inginkan, akan mengganggu keberlangsungan kehidupan masyarakat, jadi resiko yang mungkin timbul sedapat mungkin dikecilkan secara bersama-sama. POLITIK. Politik yang dimaksudkan adalah berkaitan dan berkenaan dengan sifat-sifat dari; prinsipprinsip kepemimpinan, konflik dan manajemen konflik, akses aturan representasi publik, sikap masyarakat terhadap keputusan yang diambil, dan prinsip-prinsip hubungan pemegang kekuasaan lokal dengan luar. 1. Prinsip-prinsip Kepemimpinan. Prinsip kepemimpinan yang dimaksudkan adalah mencakup dan mengenai visi, integritas, daya empati, sistematik atau terorganisir, komunikatif dan rasionalitas, dan Inspiring and directing yang telah ada dan dipraktekkan di dalam masyarakat maritim Pasuruan. Kepemimpinan formal yang dikehendaki oleh masyarakat maritim, sesuai dengan resiko yang ditimbulkan oleh lingkungan pekerjaannya di laut, ternyata ada yang ikut mempengaruhi sikap bertindak, adalah diantaranya dicirikan bersikap tegas. Untuk mewujutkan itu maka pemimpin yang umumnya muncul adalah yang berasal dari tokoh masyarakat, pilihan tersebut terjadi karena mempunyai kaitan dengan sejarah keturunan seseorang, sehingga kebaikan kepemimpinannya ikut diingat dan dipuji, sehingga bagi masyarakat menjadi kroteria calon pemimpin mereka yang akan terpilih. Berkenaan dengan visi adalah menyangkut seberapa jauh pemimpin yang ada memiliki visi yang jelas dan meyakinkan. Sejauh mana visi tersebut dapat dipahami, menjadi bagian pengetahuan dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat dimasa datang. Visi yang dimiliki pemimpin masyarakat tergantung darimana dia berasal, untuk kriteria pertama umumnya memiliki visi untuk meningkatkan kesejahteraan dan menjaga kedamaian masyarakat maritimnya. Kedua umumnya mempunyai visi lebih menekankan kepada penciptaan keharmonian pada kepemimpinannya. Kesejahteraan yang dimaksud adalah kesejahteraan yang didapat dengan cara-cara yang baik dan menurut aqidah agama (Islam), dan kedamaian yang dicapai melalui kegiatan keagamaan atau kegiatan sosial yang syarat dengan pesan moral kebaikan yang ditandai oleh tidak bohong, angkuh, atau mau menang sendiri. Untuk keharmonisan biasanya dapat di lihat dari rasa tentram yang dimiliki oleh anggota masyarakatnya, ketentraman dicirikan dengan adanya kewibawaan, keengganan dan dan rasa terlindungi dari pemimpinnya. Berkaitan dengan integritas adalah seberapa jauh anggota masyarakat setempat memberikan penilaian terhadap tokoh/pemimpinnya di lihat dari aspek kejujuran, mengemban kepercayaan dan menerapkan prinsip keadilan serta memiliki kematangan emosional. Pada umumnya integritas pemimpin yang dikehendaki adalah pemimpin yang sepenuhnya mencurahkan perhatiannya untuk mengayomi masyarakatnya sehingga masyarakatnya memiliki kebanggaan atas kepemimpinannya, masyarakat merasa punya orang yang mampu mengangkat harkat pribadinya dihadapan masyarakat kelompok lainnya. Pemimpin dalam masyuarakat saat ini adalah yang mempunyai empati tinggi karena memiliki daya menyangkut kemampuan memahami dan menempatkan diri pada kondisi persepsi pihak lain yaitu anggota masyarakat untuk mendapatkan manfaat bersama apabila ada permasalahan. Prinsip ini juga dapat di lihat dari seringnya kepala desa dengan aparatnya yang lain ikut terjun langsung menyelesaikan setiap permasalahan yang muncul dari masyarakat maritimnya, baik berkenaan dengan sesama masyarakat maritim atau dengan masyarakat maritim desa lainnya. Pengorbanan yang diberikan adalah seringnya tidak kenal pamrih dalam setiap kali melaksanakan tugas-tugas desanya sehingga kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinannya semakin besar. Dari kepercayaan yang diperoleh tersebut ternyata mampu dan telah dapat digunakan untuk menggerakkan kemajuan ekonomi masyarakat maritim setempat lebih cepat dan terarah. Dari sisi pengorganisasian dalam menjalankan setiap rencana kerja, tampaknya pemimpin dari tokoh masyarakatnya telah mampu untuk saling mengisi kerjasama yaitu antara DPD dengan

Kepala Desa dan Tokoh masyarakat lainnya, hal ini tercemin dari adanya kemampuan memahami tentang pentingnya melakukan pekerjaan secara terencana, logis dan terukur yang di lakukan secara bersama-sama, sehingga kesalahan paham dan kesalahan tafsir terhadap berbagai informasi yang dating, akan dengan cepat sekali dapat diluruskan secara bersama-sama. Komunikatif dan rasionalitas yang dimiliki oleh seseorang pemimpin, adalah berhubungan dengan kepemimpinan yang memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik dengan anggota masyarakat yang dipimpinnya. Dimana saja pemimpin desanya berada senantiasa disambut dengan empati, dan ini menunjukkan bahwa pemimpin desa dan tokoh masyarakat adalah kebanggaan mereka yang patut dibanggakan, apalagi terhadap tamu yang datang dari luaran, jarang ada nada miring yang diperdengarkan. Hal ini adalah hasil dari kekentalan berkomunikasi dan komunikasi yang disampaikan ternyata dihargai dan dihormati oleh masyarakatnya dengan mengindahkan segala petunjuk dan tuntunan yang diberikan oleh aparat desanya dan hasilnya kemudian tokoh masyarakatnya ikut berperan aktif sebagai penjelas masyarakat lebih lanjut. 2. Konflik dan Manajemen Konflik. Sejauhmana pemimpin memiliki kemampuan dalam pemecahan konflik yang terjadi di masyarakat dan menggalang kebersamaan secara sukarela untuk mencapai win-win solution. Konflik yang terjadi antar komunitas, akar permasalahannya tidak disebabkan oleh faktor tunggal, tetapi muncul dari berbagai faktor multidimensional yang melibatkan persoalan yang terkait dengan status dan harga diri, kekuasaan serta perebutan sumberdaya yang langkah. Yang terkait dengan status dan harga diri lebih banyak terkait dengan dimensi politik yang diikuti oleh berbagai kelompok masyarakat yang berbeda. Perselisihan yang diakibatkan olehnya melalui kepemimpinan yang bijaksana dapat meredam ketegangan konflik antar masyarakat maritimnya. Tokoh yang mewakili masyarakat yang ada di DPD telah mampu memfungsikan dirinya sebagai perwakilan masyarakat pendukungnya, sehingga pemecahan konflik dapat diredam dan tidak menyebar. Contoh sebuah peristiwa, peristiwa perselisihan antar kampung maritim senantiasa dapat diredam dan diselesaikan dengan baik oleh kedua belah pihak dan begitu juga terhadap peristiwa perselisihan lainnya juga ikut dapat dipulihkan seperti sediakala. Ini merupakan bentuk kepemimpinan dalam masyarakat yang taat kepada pemimpinnya. Adapun ekses negatif dari kegiatan pemilu-pemilu yang diselenggarakan oleh pemerintah baik di tingkat nasional ataupun local tidak berkelanjutan meruncing, kesadaran masyarakat dapat difasilitasi oleh tokohnya masing-masing dan kebersamaan dalam masyarakat mampu diwujutkan, dan hal ini dapat dibuktikan dengan kondusifnya kehidupan bermasyarakat, semua orang merasa aman dan dapat melaksanakan kegiatan sosial dan ekonominya masing-masing. Faktor lain yang berpotensi dapat memicu konflik antar warga masyarakat maritim, adalah umumnya karena terbatasnya sumberdaya maritim di perairan pantai laut Jawa dan Kabupaten Pasuruan khususnya. Masyarakat maritim di Pasuruan dengan kepemimpinan yang dipimpin oleh lurah desa yang diterima oleh semua anggota warganya yang menerapkan azas kebersamaan dan lembut telah mampu mengajak masyarakat untuk kembali ke norma-norma kehidupan kampung yang harmoni dan rukun. Kepemimpinan ini diterima karena lurahnya dapat dan empati mengakomodir semua keluhan dan informasi masyarakatnya dengan sempatik dan serius. Sejauhmana pemimpin memiliki kemampuan mengajarkan penggunaan rasionalitas yang tinggi pada setiap pengambilan keputusan. Penggunaan pendekatan rasionalitas dapat diwujutkan karena kepemimpinan pemimpin masyarakat maritim di Pasuruan yang berwawasan dan banyak yang berpengalaman dan intelektualitas. Dengan adanya kemampuan intelektualitas ditambah dengan wawasan dan kemampuan kepemimpinan, yang ditopang juga oleh kesejarahan cikal bakal seseorang pemimpin yang baik keadaan tersebut, telah menjadikannya sebagai pemimpin yang dapat diterima oleh semua orang. Atas dasar kekuatan tersebutlah maka keputusankeputusan yang dibuat oleh aparat desa di masyarakat maritim dapat diterima dan dipahami, karena keputusan yang dibuat umumnya senantiasa telah mempertimbangkan berbagai dampak negatif dan positifnya yang mungkin terjadi di dalam masyarakat.

3. Akses Aturan Representasi Publik. Azas transfaransi yang dijadikan bahan sebagai dasar pengambilan keputusan adalah menyangkut sejauhmana faktor2 yang dijadikan dasar pengambilan keputusan boleh diketahui secara luas oleh anggota dan mencerminkan sesuatu yang memang penting sesuai permasalahan yang dihadapi bersama secara rasional. Sebagai contoh, dari hasil perbincangan pertemuan dengan Lurah Desa Kalirejo yang memaparkan program kerja kelurahan yang terkait dengan pemberdayaan masyarakat maritim yang ada di desa kelurahannya. Dari pemaparan yang telah diberikan, dapat diketahui bahwa kelurahan sangat berupaya untuk meningkatkan sumberdaya manusia melalui pendidikan, baik mulai dari tingkat Sekolah Dasar hingga ke jenjang Perguruan tinggi. Disadari pula pendidikan yang mampu diikuti masih terbatas, karena pada umumnya masih di tingkatan SD, sedangkan yang mampu melanjutkan ke SMP, SMA dan perguruan tinggi masih sedikit sekali. Program kelurahan dalam bidang peningkatan sumber daya manusia ini diikuti pula dengan program-program pemberdayaan masyarakat maritim, termasuk di dalamnya adalah penataan kelembagaan masyarakat, manajemen pemerintahan, prosedur pemilihan kepemimpinan di kelurahan serta penyelenggaraan pemerintahan desa semakin ditingkatkan. Untuk desa Kalirejo, prinsip-prinsip demokrasi dan transfaransi selalu dikedepankan dalam menanggulangi berbagai macam persoalan di desa, seperti proses pengusulan calon lurah, pembuatan rencana pembangunan desa melalui musyawarah, meningkatkan kerjasama yang lebih erat dengan Dewan Perwakilan Desa (DPD), sehingga keinginan-keinginan masyarakat dapat ditampung dan disalurkan dengan benar. Hasil yang dicapai hingga saat ini adalah terciptanya keamanan kampung, karena sebelumnya ada terjadi berbagai benturan dan sekarang telah menghilang, kehidupan masyarakat lebih rukun dan punya saling pengertian, pencurian juga berkurang. Terhadap program pemerintah, kepercayaan masyarakat juga mulai tumbuh dengan kesadaran berpartisipasi aktif, seperti keikut sertaan dalam program PEMP, dan ternyata bagi masyarakat program ini dianggap dapat membantu ekonomi masyarakat. 4. Sikap Masyarakat Terhadap Keputusan Yang Diambil. Untuk desa masyarakat maritim, factor-faktor yang dinilai penting, yang mencerminkan alur pemikiran yang dapat diterima secara kolektif, adalah memakai prinsip-prinsip demokrasi dan transfaran, yang harus selalu dikedepankan dalam menanggulangi berbagai macam persoalan di desa, seperti proses pengusulan calon lurah, pembuatan rencana pembangunan desa melalui musyawarah, meningkatkan kerjasama yang lebih erat dengan Dewan Perwakilan Desa (DPD), dengan demikian sehingga keinginan-keinginan masyarakat dapat ditampung dan disalurkan dengan benar. Masyarakat yang diberi kebebasan untuk melakukan komunikasi langsung kepada lurahnya, baik secara perorangan maupun dengan kelompok untuk menyampaikan berbagai saran atau usulan demi kebaikan kampungnya. Cara seperti ini memberikan dampak positif tersendiri kepada percepatan pembangunan daerah yang mempunyai anggota masyarakat maritim. Demikian pula masyarakat diberi kesempatan untuk melakukan penilaian dan pengawasan terhadap kelemahan pada penerapan azas rasionalitas dan akuntabilitas, sehingga keputusan yang telah diambil dapat dikaji kembali secara transfaran dan bersama-sama secara adil, dan apabila perlu membuat keputusan baru lagi. Keterbukaan adalah keinginan bersama yang didambakan banyak pihak yang saling berkepentingan. 5. Prinsip-prinsip Hubungan Lokal Dengan Luar. Hubungan pemegang kekuasaan lokal dengan luar di lihat dari Conflict of interest hal ini ada kaitannya dengan benturan kepentingan. Benturan kepentingan umumnya tidaklah diakibatkan oleh faktor tunggal tetapi seringkali terjadi karena tatanan yang multi dimensional, termasuk di dalamnya kadang-kadang karena konflik yang terpendam yang tidak terselesaikan. Sehingga, ada juga disaat tertentu terjadi upaya instabilitas internal kampung. Apabila kondisi

memungkinkan maka goncangan dapat timbul dengan tiba-tiba. Untuk mengurangi dan menghindarinya maka perlu ada. Pertama alam demokrasi perlu ditumbuhkan secara perlahan dengan tidak mengenyampingkan ketokohan tradisional, kedua ada upaya perbaikan kondisi ekonomi yang memadai, ketiga peningkatan intelektualitas dan keempat yaitu terhadap moral masyarakat. Apabila keempat faktor ini dapat ditumbuh kembangkan dalam budaya masyarakat, maka pola hubungan kekuasaan lokal dengan luar akan berjalan lebih transfaran dan harmonis, saling menghargai dan bermartabat. KELEMBAGAAN. Untuk aspek lembaga, ini berkenaan dengan sifat-sifat yang terkait dengan kelembagaan; eksistensi kelembagaan, peranan kelembagaan, akses masyarakat terhadap kelembagaan dan reposisi. 1. Eksistensi Kelembagaan. Eksistensi yang dimaksudkan adalah tentang fungsi penyaluran kelembagaan yaitu keberadaan lembaga yang berfungsi menyalurkan aspirasi masyarakat kedalam penyelenggaraan pemerintahan di tingkat Kabupaten atau Kota. Di dalam lembaga formal pemerintahan di tingkat desa telah dibentuk lembaga-lembaga yang dibutuhkan yang disesuaikan dengan peraturan pemerintah yang berlaku. Lembaga yang ada di dalam pemerintahan setingkat kelurahan ialah Dewan Perwakilan Desa (DPD) dan Lurah. Selain dari itu lembaga-lembaga resmi pemerintahan lainnya melaksanakan program kerjanya ditingkat desa di lakukan secara fungsional dengan berkoordinasi ke Kecamatan, seperti kesehatan, pendidikan, agama, keamanan dan lain-lainnya. Kelembagaan formal di tingkat desa ini ini secara organisatoris mempunyai hirarki langsung ke organisasi yang lebih tinggi yaitu Kecamatan dan selanjutnya ke Bupati. Aspirasi masyarakat maritim, baik bersifat perorangan ataupun kelompok yang ingin disalurkan, kelembagaan yang berwenang menampung dan menyalurkan aspirasi tersebut yaitu DPD, karena anggota DPD dipilih langsung oleh masyarakat maritimnya. Aspirasi yang bersifat kelompok umumnya dibawa dan diajukan oleh tokoh masyarakat informal yang kepemimpinannya diakui oleh masyarakat. Pemimpin informal ini dikenal sebagai Kiay, atau Tokoh yang disegani seperti nakhoda, atau juragan adalah kepemimpinan yang mempunyai kekuatan riil di dalam masyarakat. Apalagi masyarakat maritim umumnya masih sebagian besar menganut kepemimpinan tradisional, yaitu kepemimpinan yang dicirikan dengan kekerabatan atau kesamaan etnis dan suku, dalam kehidupan masyarakat maritim masih terasa sangat kental. 2. Peranan Kelembagaan Dari hasil pengamatan terhadap fenomena lembaga-lembaga yang ada di dalam masyarakat maritim, dan hal ini di kaitkan dengan pola kerja berbasiskan gender, juga informasi dari beberapa pemuka masyarakat didapat kesan bahwa peranan kelembagaan informal dan formal masih berfungsi. Sebagai contoh kelembagaan formal DPD sebagai representasi dari masyarakat maritim, mereka mampu menjalin kerjasama yang harmonis yang ditunjukkan oleh dedikasi anggota DPD yang tinggi dan transfaran. Aspirasi masyarakat dapat juga mempengaruhi atau digunakan untuk pengambilan keputusan. Aspirasi masyarakat nelayan yang datang dapat melalui kelompok atau perorangan. Untuk aspirasi yang datang dari kelompok, dan kelompok ini tampaknya mendapat dukungan dan legalitas pemimpin informalnya, umumnya akan mendapatkan perhatian yang sunguh-sungguh, seperti dari DPD dan kelembagaan kelurahan yang berkepentingan seperti lurah, dan pihak keamanan. Oleh sebab itu peranan kelembagaan DPD akan menjadi nyata apabila mampu menjalin kerjasama yang erat dengan berbagai kalangan masyarakat, karena keberadaannya memang dibutuhkan. Apabila aspirasi tersebut di pandang perlu untuk ditindak lanjuti ke lembaga yang lebih tinggi lagi, maka Kepala desa akan

menyalurkannya ke Kecamatan untuk dicarikan jalan keluarnya, yaitu dapat berupa programprogram kebijakan. 3. Akses Masyarakat Terhadap Kelembagaan. Akses masyarakat untuk dapat menjadi pemimpin di suatu lembaga banyak dipengaruhi oleh asal usul atau kemampuan yang dimiliki oleh seorang calon pemimpin. Kemampuan sering dihubungkan dan erat kaitannya dengan kepemimpinan seseorang. Besarnya kekuatan dan saluran yang efektif bagi masyarakat untuk mengontrol pelaksanaan keputusan sangat dipengaruhi oleh sifat kepemimpinan yang tumbuh dan berkembang di daerah, hal dapat terlihat dari dua ciri utama. Pertama kepemimpinan yang dicirikan datang dari masyarakat yang menggunakan keberanian dan kekuatan, dan Kedua, kepemimpinan yang datang dari masyarakat yang disegani karena kebaikannya secara moral dan keluarga terpandang. Kelembagaan yang terbentuk dari lembaga formal (Kelurahan) kadangkala diisi oleh kedua lapisan kepemimpinan ini yang datang silih berganti. Dari pengamatan di lapangan kedua cirri ini ada juga ditemukan, sehingga kesan yang diberikan oleh anggota warganya, ada sifat kepemimpinan yang dirasakan di dalam masyarakat yaitu agak menekan atau memaksakan, sedangkan sifat kepemimpinan lainnya dikesankan sebagai pemimpin yang mengayomi. Akibat dari pola kedua kepemimpinan ini manfaatnya bagi masyarakat sudah dapat dirasakan dan dinilai bersama. Dengan adanya kelembagaan DPD, maka kedua kepentingan dalam masyarakat nelayan yang tercermin melalui pemimpin yang dipilihnya tersebut mulai dapat terakomodir bersama. Masing-masing kelompok masyarakat aspirasinya dapat tertampung, sehingga mereka merasa mampu melaksanakan pengontrolan terhadap keputusan kebijakan yang dibuat oleh Lurah atau instansi resmi lainnya yang dianggap merugikan kepentingan kelompok masyarakatnya. 4. Reposisi Nelayan. Pengontrolan pelaksanaan suatu keputusan yang di lakukan di berbagai tingkatan, kebiasaan yang masih berlaku umumnya masih bersandarkan pada pemimpin kelompoknya masing-masing. Masyarakat yang kental kepemimpinannya dibawah pembinaan seorang Kiay, maka Kiaylah yang dianggap mampu mewakili mereka dan karena itu informasi apapun yang disampaikan oleh Kiaynya akan dianggap benar dan cukup dimengerti untuk ditaati. Jadi pola kepemimpinan patron client di masyarakat maritim masih sangat kental, karenanya ketokohan seseorang sangat terkait dengan asal usul dari tokoh itu sendiri. Kekuatan dan saluran yang efektif bagi masyarakat untuk mengontrol pelaksanaan keputusan yang ada sampai saat ini masih belum terlalu jelas dan tegas bagi semua orang. Masyarakat nelayan telah diberi kekuatan dan saluran melalui lembaga formal, seperti DPD, untuk turut memperbaiki kebijakan yang dirasakan tidak sesuai oleh lembaga yang berwenang, akan tetapi lembaga formal seperti DPD, sekarang ini masih dianggap belum optimal, karena masih baru sehingga pelaksanaannya kadang-kadang masih mengalami berbagai hambatan yang bersifat dilematis. Pada satu sisi ingin berfungsi tegas, lugas dan sesuai aturan yang berlaku, tetapi masyarakat merasa bukan kulturnya seperti itu dan pada sisi lain bertindak dan bersikap sesuai dengan irama keinginan masyarakat, tetapi kadangkala dianggap DPD tidak mampu tegas mendukung dan memperjuangkan aspirasi masyarakatnya. Reposisi nelayan adalah cara memberikan kekuatan melalui saluran formal dan informal terhadap proses mempertemukan bottom-up ke top-down dari proses perancangan kepentingan umum sampai ke pelaksanaan sebuah kegiatan yang terkait langsung dan tidak langsung dengan hajat kehidupan masyarakat maritim. Wadah yang ideal adalah demokratisasi pemilihan anggota DPD dan Lurah secara terbuka dan trasfaran bagi semua masyarakat maritim yang ada di Pasuruan.

PENUTUP Sifat sumberdaya maritim yang ”common property” dan ”open access” membentuk kondisi sosial budaya masyarakat maritim yang khas dan relatif berbeda dengan masyarakat pedesaan lainnya (terrestrial villagers). Hal ini seringkali diabaikan di dalam perumusan kebijakan pemberdayaan masyarakat maritim yang masih lebih banyak mengadopsi hasil kajian sosial budaya masyarakat daratan (terrestrial). Oleh karena itu, sosial budaya masyarakat maritim dapat difungsikan juga dalam upaya mendukung kegiatan pemberdayaan masyarakat baik di perairan pesisir, pulau-pulau kecil serta perairan pedalaman (Dahuri, R. 2003). Dengan adanya pengetahuan mengenai potensi dan kendala, diharapkan program pemberdayaan masyarakat maritim, akan dapat dicapai secara lebih baik dan sempurna. Untuk itu perlu juga dikenali makna dari kearifan lokal, kearifan adalah berkenaan dengan sifat-sifat tentang; eksistensi tata-nilai, sikap masyarakat maritim terhadap tata-nilai, serta mekanisme pengelolaan sumberdaya maritim (internal dan eksternal). Tulisan ini lebih banyak mendasarkan pada pengamatan fenomena yang terjadi dalam masyarakat maritim, sehingga bahasannyapun cenderung berpihak pada pengamatan indra yang terjadi di masyarakat maritim pada umumnya. Wilayah pengamatan fenomena kehidupan masyarakat maritim agar dapat memberikan sedikit gambaran, maka fenomenanya didasarkan pada masyarakat maritim yang ada di Pasuruan. Dari pandangan fenomena tersebut dapat juga diketahui bahwa masyarakat maritim Pasuruan juga telah mengenal dan mempraktekkan ekonomi maritim. Yang dimaksudkan dengan ekonomi maritim ditinjau dari pemaknaan fenomena, maka yang dimaksudkan adalah sifat-sifat yang terlihat aktifitas ekonomi, status dan peranan masyarakat, akses terhadap sumberdaya ekonomi, sistem bagi hasil, dan tingkat ketergantungan terhadap sumberdaya. Kesemua sifat-sifat tersebut menampakkan pengaplikasiannya yang spesifik maritim, sehingga menjadi satu kesatuan pembentuk kehidupan bermasyarakat. Kehidupan masyarakat maritim juga telah mengenal kaedah-kaedah moral yang dapat mempersatukan masyarakat maritim secara harmoni dan berdaya guna. Untuk itu pengenalan terhadap praktek politik di dalam masyarakat maritim perlu juga dipahami. Pemahaman politik yang dimaksudkan adalah berkaitan dengan sifat-sifat dari prinsip-prinsip kepemimpinan, konflik dan manajemen konflik, akses aturan representasi publik, sikap masyarakat terhadap keputusan yang diambil, dan prinsip-prinsip hubungan pemegang kekuasaan lokal dengan luar. Di dalam masyarakat maritim kesemua sifat-sifat tersebut secara fenomial dapat dikenali sebagai sistem kehidupan. Kemudian dalam prakteknya dapat dikenali juga telah ada kelembagaan yang ekses di dalam masyarakat maritim. Untuk itu aspek lembaga yang berkenaan dengan sifat-sifat yang terkait dengan eksistensi kelembagaan, peranan kelembagaan, dan akses masyarakat terhadap kelembagaan ternyata juga dapat ditemukan di berbagai daerah dari masyarakat maritim yang ada di nusantara. DAFTAR PUSTAKA Dahuri, R. 2000. Pendayagunaan Sumberdaya Kelautan Untuk Kesejahteraan Rakyat. Lembaga Informasi dan Studi Pembangunan Indonesia, LISPI, Jakarta. 146 p. Dahuri, R. 2003. Paradigma Baru Pembangunan Indoensia Berbasis Kelautan. Orasi Ilmiah. Guru Besar Tetap Bidang Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Perikanan Bogor. Bogor. 233 p. Hikmat, R. Harry., 2001. Strategi Pemberdayaan Masyarakat. Humaniora Utama Press. Bandung. Cetakan Pertama. 260 p. Pranadji, T. 2003. Menuju Transformasi Kelembagaan Dalam Pembangunan Perikanan dan Pedesaan. Puslitbang Sosial Ekonomi Perikanan. Badan Litbang Perikanan Departemen Perikanan. Bogor. 175p.

Taryoto, Andin. 1999. Internalisasi Aspek-Aspek Sosial Budaya dalam Proses Industrialisasi Perikanan. dalam I.W.Rusastra dkk (Eds.). Dinamika Inovasi Sosial Ekonomi dan Kelembagaan Perikanan. Hal. 7575-582. Pusat Penelitian Sosek Perikanan. Badan Litbang Perikanan. Departemen Perikanan. Jakarta. Wiradi, Gunawan. 1997. Rekayasa Sosial Dalam Menghadapi Era Industrialisasi Perikanan. dalam T. Sudaryanto dkk (Penyunting). Prosiding Industrialisasi, Rekayasa Sosial dan Peranan Pemerintah Dalam Pembangunan Perikanan. Hal.63-70. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Perikanan. Badan Litbang Perikanan. Departemen Perikanan. Jakarta. Koentjaraningrat, 1979. Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta: Aksara Baru.

BAB III III.MASYARAKAT MARITIM RIAU KEPULAUAN I.PENDAHULUAN Tulisan ini didasarkan pada informasi yang didapat sebelum Propinsi Riau terbagi menjadi dua Propinsi, yaitu Propinsi Riau Kepulauan. Masyarakat maritim yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah masyarakat yang sumber penghidupannya dari perairan, sehingga arah pengungkapan akan lebih di tekankan pada hasil-hasil komoditi perikanan. Komoditi perikanan inilah yang menjadi dasar-dasar pembahasan terhadap masyarakat maritim yang ada di Riau kepulauan. Riau Kepulauan terdiri dari banyak gugusan pulau-pulau kecil. Wilayah kepulauan riau di batasi; sebelah Utara dengan Kabupaten Natuna dan Malaysia Timur, sedang ke Selatan dengan Propinsi Sumatra Selatan dan Propinsi Jambi, sebelah Barat dengan Kabupaten Karimun Kota Batang, kemudian ke arah Timur dengan Propinsi Kalimantan Barat. Luas perairan lautnya 96.474,40 Km2 (95,73%) dan daratannya 4.303, 35 Km2 (4, 27%) yang membentuk gugusan pulau-pulau yaitu: 1. Bintan, 2. Singkep, 3. Lingga, 4. Senayang 5. Tambelan serta ratusan pulaupulau kecil lainnya dengan total luas wilayah 3.010,13 Km2 atau 3, 18% dari luas Propinsi Riau yang 329.867,65 Km2. Penduduknya sebagian terbesar penghidupannya tergantung pada perairan laut. Riau kepulauan adalah penghasil produksi maritim terbesar, pada tahun 2000 produksi ikannya mencapai 165.897,7 Ton (53,7%) dari total produksi di Propinsi Riau yang sebesar 308.808,8 Ton. Produksi terbesar adalah ikan, yaitu mencapai 93,4% dari produksi laut, dan sisanya 6,7 % berasal dari perairan umum, tambak dan kolam. Nilai produksi maritim pada tahun 1999 mencapai Rp1.021,92 miliar dan di tahun 2000 terjadi peningkatan menjadi Rp 1.163,59 miliar. Dari informasi ini berarti di sektor maritim mempunyai prospek yang cukup baik dalam menopang pertumbuhan ekonomi daerah, dan hal tersebut ditandai oleh banyaknya bidang usaha yang bergerak di sector produksi kemaritiman, pengolahan, perdagangan, transportasi dan warung makanan. Sebagai contoh, saat ini ada tercatat kelompok usaha bersama (KUB) sebanyak 20 buah. Bentuk usaha tersebut adalah berbentuk “ Koperasi/KUD” sebanyak 5 buah, sedangkan yang bergerak di bidang “ lokasi Pantai di sektor maritim” tercatat 30 unit. Bidang usaha yang ada berupa: Pengumpul atau Expor ikan segar, teri kering, ikan kerapu hidup, dan napoleon, ikan hidup, udang (shrimp) segar, ikan Rasbora, ikan beku, pengolahan sarimi beku, tepung ikan. Usaha yang telah mempunyai badan hokum untuk usaha berupa KUD (4 buah), CV (5 buah), PT (18 buah), Primkopal Lanal (1 buah), Puskopal (1 buah), dan perorangan (1 buah) atau (Dinas Perikanan Propinsi Riau, 2001). Dengan banyaknya bidang usaha yang telah tumbuh di sektor maritim, maka Riau kepulauan pertumbuhan ekonominya sangat terkait erat dengan kegiatan masyarakat maritim yang ada di kepulauan tersebut. Pelaksanaan Otonomi Daerah khususnya menyangkut kebijakan perancangan pembangunan menyebabkan beberapa masalah yang muncul, permasalah itu antara lain berkenaan dengan kewenangan yang cenderung masih di multitafsirkan. Sebagai contoh, menurut kewenangan, Kabupaten atau Kota seharusnya mempunyai kebijakan yang menyangkut operasional didaerahnya, sedangkan di Propinsi memfasilitasi kegiatan operasional kabupaten atau kota. Untuk menghindari kesalahan cara pandang berfikir dalam membuat perencanaan pembangunan, maka pengertian otonomi hendaknya diartikan pemberian sebagian kewenangan dari daerah Propinsi ke Kabupaten atau Kota, jadi seharusnyalah ada dokumen perencanaan pembangunan daerah yang terdiri dari “Pola Dasar” (Poldas), Pola Pembangunan Daerah (Propeda) dan Rencana Strategis Pembangunan Daerah (Renstrada). Dengan demikian pelaksanaan kebijakan khususnya di bidang Fiskal tidak akan tumpang tindih baik secara kebijakan (Policy) maupun dalam teknis Operasional.

1.Keadaan Lingkungan Ekologi Riau Kepulauan setelah dimekarkan pada pertengahan tahun 2000 menjadi 3 (tiga) kabupaten, yakni Kabupaten Natuna, Kabupaten Karimun, dan Riau Kepulauan berdasarkan Undang-Undang No.13 Tahun 2000, maka Riau Kepulauan luas wilayahnya menjadi 100.777,75 Km2 dengan perbandingan luas daratan 4.303, 35 Km2 (4,27%) dan luas lautannya 96.474,40 Km2 (95,23%). Daratannya sendiri memiliki 513 buah pulau besar dan kecil yang tersebar di Daerah Selat Malaka dan Laut Cina Selatan. Adapun sungai- sungai yang mengalir di Riau kepulauan umumnya adalah sungai- sungai kecil dan dangkal, tidak cukup untuk pelayaran. Kemudian di daerah Kecamatan Singkep, Kundur dan Karimun banyak ditemukan bekas galian Timah dan masyarakat menyebutnya sebagai kolong, yang mempunyai luas antara 1 Ha s/d 3 Ha. Kolong-kolong ini mulai dimanfaatkan untuk pemeliharaan ikan air tawar, tetapi hasilnya belum memuaskan. Kedalaman air disekitar Riau kepulauan sekitar 40 m dengan salinitas 28 %, untuk lepas pantai 35 %. Kecepatan arus dan perbedaan pasang surut tidak sebesar di Selat Malaka, arus disini dicirikan dengan cara bergantian karena di pengaruhi oleh masa air yang datang dari Laut Cina Selatan dan Laut Jawa. Iklim yang terjadi adalah iklim tropis basah, dimana setiap setengah tahun berubah antara musim kemarau dan musim hujan dan berdasarkan mata angin yang berlaku ada musim Utara, Selatan, Barat, dan Timur. Musim- musim ini sangat mempengaruhi aktivitas usaha maritim, yaitu baik usaha penagkapan maupun usaha budi daya ikan. Penduduk yang ada sampai tahun 2000 adalah 318.566 jiwa dengan perbandingan 159.721 jiwa laki-laki dan 158.845 jiwa perempuan, sedangkan mata pencaharian utamanya sebagai nelayan atau petani ikan sekitar 48.372 jiwa atau 17,4 %. Sarana Transportasi yang digunakan umumnya adalah transportasi laut, sehingga telah menjadi urat nadi kegiatan di berbagai bidang usaha. Untuk mendukung transportasi tersebut pihak swasta banyak yang bergerak di sektor usaha ini, pemerintah telah membangun 2 (dua) Pelabuhan Nusantara yaitu Pelabuhan Sri Payung di Tanjung Pinang dan Pelabuhan Sri Bay Intan di Kijang yang dapat disandari kapal ukuran besar. 2.Gambaran Umum Kebijakan di bidang ekonomi, pemerintah daerah melalui strategi pembangunan sektor maritim, Riau Kepulauan Tahun 2000 kebijakannya masih mengacu kepada kebijakan Pembangunan Maritim Nasional dengan menitik beratkan pada tujuan pembangunan, yaitu meningkatkan dan merangsang Investasi pada sektor maritim, terutama pada usaha skala kecil dan menengah. Dari krisis Moneter yang terjadi sejak tahun 1997 yang ditandai oleh tingkat Inflasi yang tinggi mencapai 80% pada tahun 1998, telah menyebabkan kegiatan usaha di berbagai sektor mengalami kegagalan sehingga memunculkan banyak pengangguran. Untuk sektor maritim di Riau kepulauan justru aktivitas usaha mengalami sebaliknya, yaitu adanya peningkatan pendapatan bagi masyarakat maritim karena hasil-hasil maritim yang bernilai ekspor dijual dengan berpedoman pada tingkat kenaikan kurs US$ terhadap rupiah. Tetapi pernyataan ini hanya diberikan oleh beberapa pengusaha sector maritim, akan tetapi kejadian ini ini secara resmi belum tercatat di dalam statistik BPS kabupaten baik volume maupun nilainya. Dari kekuatan pasar yang terbentuk, dan posisi strategis geografis yang di miliki Riau kepulauan, telah menguntungkan usaha maritim penangkapan, budidaya dan pengolahan produk, sebab hasil produksinya di nilai dan dihargai sesuai dengan kurs yang berlaku, ini berarti sangat menguntungkan nelayan. Di sektor maritim pada saat terjadinya krisis moneter, di Riau kepulauan, belum terjadi pengurangan lapangan pekerjaan, justru ada penambahan bidang usaha, seperti meningkatnya jumlah rumah tangga maritim (RTP), alat produksi, perizinan penangkapan. Perubahan ini dapat menjadi indikator bahwa gejolak krisis moneter secara nasional tidak berpengaruh negatif terhadap sektor maritim sebagaimana tergambarkan dalam perkembangan indicator maritim di Propinsi Riau Tahun 2000 pada (Tabel 1) dan (Tabel 2). Akan tetapi saat ini kebijakan pendukung ekonomi di sektor maritim belum juga terbentuk, walaupun krisis ekonomi itu tidak

mampu menerpa ketahanan sector maritim, tetapi sampai sekarang hampir belum juga ada lembaga keuangan yang secara pasti ikut menjamin sektor maritim, seperti kebijakan bunga bank, kebijakan penjaminan bank, perkreditan khusus dan lain-lain kebijakan ekonomi yang mampu mendorong perkembangan ekonomi di sektor maritim Riau kepulauan. Kebijakan pembangunan di sektor maritim Riau kepulauan telah menghasilkan berbagai dampak yang dapat di lihat dari perkembangan indikator maritimnya. Dampak secara keseluruhan dapatlah disebut juga sebagai hasil dari kebijakan ekonomi yang dijalankan oleh pemerintah daerah yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Gambaran makro tentang keberhasilan perkembangan ekonomi di sektor maritim di Riau Kepulauan terbaca dalam (Tabel 2) berikut dengan indikator perubahannya. Tabel. 1. Perkembangan Indikator Maritim Di Propinsi Riau, Tahun 2000 NO Komoditi 1999 2000 %
1. Jumlah Ikan total (Ton) Harga Ikan Total (Rp1000) Harga rata-rata (Rp/Kg) Ikan Laut (Ton) Harga Ikan (Rp1000) Harga Rata-rata (Rp/Kg) Ikan Budidaya Laut (Ton) Harga Ikan (Rp1000) Harga Rata-rata (Rp/Kg) 284,595 1.162.340 4.084 263,475 1.021.924 9.921 2,368 50.447 21.304 308,808 1.324.733 4.200 286,290 1.163.593 4.064 2,182 57.935 26.540 2,85 116 5857 59,03 +5236 24,58

2.

3.

Komoditi Ikan Perairan Umum (Ton) Harga Ikan (Rp1000) Harga Rata-rata (Rp/Kg) 5. Ikan Tambak (Ton) Harga Ikan (Rp1000) Harga Rata-rata (Rp/Kg) 6. Ikan Kolam (Ton) Harga Ikan (Rp1000) Harga Rata-rata (Rp/Kg) 7. Ikan Keramba (Ton) Harga Ikan (Rp1000) Harga Rata-rata (Rp/Kg) Sumber: Dinas Perikanan di Propinsi Riau, 2001

NO 4.

1999 12,558 52,289 4.165 0,297 5.437 2.367 3,224 30.092 5.471 0,395 2.150 5.442

2000 13,285 61.597 4.636 0,617 5.269 8.540 5,827 34.033 5.662 0,422 2.306 5.462

% +471 11,31 6173 260 191 3,49 20 0,36

Di dalam laporan buku tahunan statistik maritim di Propinsi Riau tahun 2000, Pemerintah di Propinsi Riau melalui Dinas Perikanan ada menerakan rata-rata harga ikan, yaitu antara tahun 1999-2000 per kgramnya. Untuk ikan laut ternyata mengalami penurunan 59,03%, ikan perairan umum naik 11,31% , ikan tambak naik 260%, ikan kolam naik 3,49% dan ikan keramba mengalami kenaikan 0,36%, sedangkan rata-rata total kenaikanya adalah 2,86%. Kalau di hubungkan dengan pergeseran atau fluktuasi harga per komoditi maritim, informasi yang didapat adalah bahwa ada kecenderungan harga ikan meningkat selama periode 1999-2000, tetapi gerakannya sangatlah kecil. Faktor penyebab kecenderungan perubahan yang kecil tersebut karena fluktuatif harga kurs dollar Amerika tidak terlalu tajam dan juga ditandai dengan ada kecenderungan yang semakin menurun juga, kisaran penurunan antara antara U$ 1=Rp 9000Rp12000, dan pada tahun 2002 justru telah mencapai di bawah Rp 9000. (Dinas Perikanan, 2001) Indikator ekonomi berdasarkan rata-rata harga ikan memberikan gambaran umum, bahwa yang terjadi di daerah Riau kepulauan dan sekitarnya menunjukkan pembentukan harga ikan melalui mekanisme pasar tampak tidak terlalu berjalan normal, hal tersebut terindikasi dari

penurunan harga yang terjadi di sektor penangkapan. Kegiatan penangkapan yang selama ini dikenal dengan banyak ketergantungannya kepada pihak luar. Pihak luar ini yang mengendalikan pasar dan mereka adalah pemilik modal (Tauke), karena yang paling mudah terkena perubahan harga, sehingga mereka kurang mampu membuat posisi tawar yang lebih kuat, dengan demikian perubahan ekonomi justru berdampak langsung terhadap tingkat pendapatan yang mereka terima. Tetapi secara umum, pengaruh gejolak ekonomi tidak terlalu berpengaruh di sektor penangkapan dan maritim lainnya, hal tersebut dapat di lihat dari jumlah rumah tangga maritim dari 1998-2000 yang menunjukan kenaikan yang signifikan (RTP tahun 2000 sebesar 12.093) dibandingkan dengan jumlah kapal maritim yang mencapai 8.864 unit, ini berarti perbandingannya adalah 1 : 0,73 unit di tahun 2000 atau dengan kata lain setiap RTP memiliki kurang dari satu kapal. Perbandingan total jumlah jiwa dengan jumlah jiwa masyarakat maritim yang bidang usahanya penangkapan adalah 318.566 : 684.65 atau 4,6 : 1, dan kalau di asumsikan setiap RTP terdiri dari 8 jiwa, maka jadilah sektor penangkapan masih cukup besar perannya dalam sektor ekonomi atau menjadi sumber usaha masyarakat. Di lihat dari rumah tangga maritim berdasarkan perkembangan yang terjadi, maka sejak dari tahun 1998 sampai dengan tahun 2000, perkembangannya dapat tergambarkan sebagai berikut; untuk kegiatan masyarakat maritim di usaha penangkapan mengalami kenaikan 42,75%, untuk usaha budidaya laut mengalami kenaikan 67,47%, dan kemudian usaha budi daya air tawar juga ikut mengalami kenaikan sebesar 86,36%. Jadi dari indikator RTP, dapat dikatakan semua kegiatan masyarakat maritim dalam pengusahaann penangkapan dan pembudidayaan menunjukkan ada peningkatan. Angka peningkatan ini mengindikasikan bahwa masyarakat maritim yang kegiatan usahanya pada sektor penangkapan dan pembudidayaan tetap menjadi tumpuan sumber penghidupan mereka. Di lihat dari variasi kegiatan usaha juga mengalami pertumbuhan, hal ini yang ditunjukan dari usaha pembudidayaan ikan mencapai 0,16%. Walaupun terlihat kecil, tapi mengingat luasnya wilayah, ini adalah prospek bagi masyarakat maritim. I. FAKTOR PRODUKSI Faktor produksi yang dimaksudkan adalah berkenaan dengan upaya yang diperlukan untuk dapat menghasilkan produksi baik dalam bentuk volume ataupun nilai. Maka kisaran uraian hanya terbatas pada aspek-aspek perizinan, alat produksi, produksi, dan nilai produksi saja. 1.Perizinan Untuk mengatur usaha di sector maritim, pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan, yaitu berupa perizinan. Perizinan bentuk dan macamnya dapat di lihat dari jenis-jenis perizinan yang dibuat dan dikeluarkan sesuai dengan bidang usaha yaitu: 1) Penangkapan ikan, 2) Pengumpul atau pengangkut dan 3) TGKP. Adapun dasar penerbitan izin adalah perda tahun. I Riau No.9 /89/ Tanggal 15 September 1863 berupa “Surat Izin Usaha Perikanan (SIUP) dan Surat Izin Kapal Perikanan (SIKP) yang terbit tahun 2000. Karena perizinan ini penting maka diharapkan partisipasi masyarakat maritim dan peranan pelayanan pemerintah ikut menentukan keberhasilan ditaatinya perizinan tersebut. Sampai saat ini pelaksanaan perizinan belum optimal, karena masih banyak kendala yang dihadapi, yaitu seperti keterbatasan aparat pengawas dan kesadaran masyarakat penggunanya. 2.Alat Produksi Alat produksi yang dimaksudkan adalah peralatan yang digunakan oleh masyarakat maritim untuk memanfaatkan sumber daya maritimnya. Peralatan tersebut dapat berupa perahu, jaring, jala, pancing, keramba, dan lain-lainnya. Jumlah secara total peralatan ini telah mencapai 19.488 pada tahun 2000. Apabila jumlah peralatan dibandingkan dengan dengan jumlah RTP yang sebanyak 12.700 perbandingannya adalah 1 : 1,5 dan angka ini menunjukkan bahwa setiap RTP tidak hanya mempunyai satu peralatan produksi untuk usaha, tetapi peralatannya lebih dari

satu. Dengan jumlah peralatan lebih banyak disbanding RTP, maka tampak bahwa gambaran usahanya telah bervariasi dan masyarakat maritim Riau kepulauan dalam berusaha telah mengenal rasionalisasi sehingga tidak merugi dan mereka tidak hanya menggantungkan untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya pada satu alat produksi saja. Apabila di lihat dari pertumbuhan per-alat produksi, dapat tergambarkan juga yang menunjukkan kemajuan yang cukup berarti bila membandingkannya antara tahun 1998 dengan tahun 2000. Per-alat tangkap pertumbuhannya dapat terlihat sebagai berikut, untuk penangkapan ikan perubahanya 65,40 %, kemudian kapal motor perubahanya 95,49%, sedangkan motor tempel perubahanya justru mengalami minus 51,11%, dan untuk perahu tanpa motor perubahanya berubah menjadi 22,05%, yang selanjutnya diikuti juga oleh perubahan keramba yang mengalami 63,28%. Di lihat dari perubahan yang terjadi, ini menunjukkan arah yang proporsional dan signifikan, karena besarnya prosentase angka perubahan yang terjadi. Dari perubahan-perubahan ini, justru perubahan yang menarik adalah terjadinya pergeseran alat produksi motor tempel yang turun ( 51,11%) dengan sebaliknya terjadinya penigkatan kapal motor yang mencapai 95,49%. Berarti di dalam masyarakat maritim memberikan juga gambaran, ada kecenderungan untuk lebih mengefisienkan alat produksi mereka ke arah yang mampu memberikan pendapatan yang lebih besar, hal ini tercermin dari pergeseran peralatan produksi yang mereka gunakan. Untuk kegiatan usaha keramba budidaya maritim disekitar Riau kepulauan ikut menunjukan perkembangan yang cukup berarti, dari 1.054 kantong tahun 1998 telah menjadi 1.721 kantong atau mengalami peningkatan sebanyak 63,28%. Jadi alat produksi di masyarakat maritim Riau kepulauan, setelah krisis moneter, justru terdorong kearah perkembangan baru. Fenomena ini cukup menggembirakan bagi masyarakat maritim, karena komoditi maritim ternyata mempunyai kekuatan pasar tersendiri, maka usaha di sector maritim membuktikan ikut mempunyai prospek yang baik. 3.Produksi Kegiatan masyarakat maritim di lihat dari di lihat dari produksi ikan yang dapat dihasilkan dari usaha penangkapan dan budidaya laut, dan budidaya air tawar, tampak dengan jelas mengindikasikan ada perubahan yang positif bila membandingkan angka produksi th 1998 dengan tahun 2000. Besaran perubahan apabila di lihat secara presentase, gambarannya adalah sebagai berikut; untuk usaha penangkapan mengalami perubahan 76,08%, sedangkan untuk budidaya laut perubahanya 203,74%, dan kemudian bagi budidaya air tawar ternyata mengalami perubahan sekitar 40,62%. Dari perobahan secara poresentase tersebut, dapat di ketahui dan tergambarkan dengan jelas bahwa usaha masyarakat maritim di Riau kepulauan memberikan prospek yang cukup baik, yaitu ditandai dengan perubahan-perubahan yang bernilai positif. Usaha kegiatan penangkapan mengalami peningkatan hasil produksi cukup signifikan (76,08%), keadaan tersebut terjadi salah satu penyebabnya karena wilayah ini berdekatan dengan Pusat kegiatan ekonomi yang transaksi ekonominya cukup tinggi. Akibat dari transaksi ekonomi yang tinggi tersebut telah ikut mendorong terciptanya pasar-pasar sekunder dan terseir di sector usaha maritim, dan juga mempunyai ampak positif pada sektor usaha penagkapan. Pada tahun 1998 rata-rata harga ikan Tongkol (Eastern little tunas) Rp 5.958, Kembung (Indian mackerels) Rp 8625, Selar (Trevalies) Rp9.625, Tenggiri (Narrow barred king mackerels) Rp 18.717 dan Udang besar segar (Giant tiger shrimp) Rp 52.083 dan Udang kecil (Small shrimp) Rp 21.583. Keadaan ini bila dibandingkan dengan tahuna tahun 2000 ternyata mengalami banyak perubahan juga, seperti adanya kenaikan presentase harga ikan, masing-masing untuk Tongkol 37,05%, Kembung 68,11%, Selar 54,10%, Tenggiri 36,55% dan Udang besar 24,80% dan Udang kecil 38,99%. (BPS Kabupaten Kepulauan Riau, 2000). Penggambaran perubahan yang tercatat di dalam statistik, ikut memberikan kejelasan penggambaran tentang gerakan ekonomi yang berasal dari komoditi maritim, yang ternyata sangat memberikan prospek kesejahteraan bagi kehidupan masyarakat maritim. Untuk selanjutnya dengan informasi perubahan harga ikan dan udang

(shrimp) yang positip terhadap gejolak pasar, sehingga dimasa datang tentulah diharapkan secara signifikan akan ikut mempengaruhi aktivitas usaha untuk berproduksi bagi pelaku usaha maritim.
Tabel 2. Perkembangan Indikator Maritim Kabupaten Kepulauan Riau, Tahun 1998-2000

Indikator Rumah Tangga Perikanan
1.Penangkapan 2.Budidaya Laut 3.Budidaya Air Payau 4.Budidaya Air Tawar

Satuan

1998

Tahun 1999

2000

RTP RTP RTP RTP Unit Unit Unit Unit Kantong

8.471 329 30 7.849 2.219 135 3.654 1.054

8.740 367 56 9.233 3.904 149 4.347 1.202

12.093 551 56 12.983 4.338 66 4.460 1.721

Alat Produksi
1. Penangkapan Ikan 2. Kapal Motor 3. Motor Tempel 4. Perahu Tanpa Motor 5. Keramba

Produksi
1. Penangkapan 2. Budidaya Laut 3. Budidaya Air Payau 4. Budidaya Air Tawar Ton Ton Ton Ton 20.334,9 18,1 4,800 25.766,0 428,3 5,500 35.806,8 449,853 6,750

Nilai Produksi
1. Penangkapan 2. Budidaya Laut 3. Budidaya Air Payau 4. Budidaya Air Tawar Rp. 1000 Rp. 1000 Rp. 1000 Rp. 1000 110.151.600,00 9.274.800,00 57.600,00 142.381.864,90 21.767.300,00 62.000 212.813.228,00 21.184.470,00 6,750

Volume Pemasaran
1. Ekspor 2. Antar Pulau 3. Lokal Ton Ton Ton 3.239,25 226,62 16.428,02 4.419,03 421,12 19.942,98 5.674,23 3.810,94 27.532,36

Nilai Pemasaran 1. Ekspor 2. Antar Pulau 3. Lokal Pendapatan RTP
1. Penangkapan Laut 2. Budidaya Laut 3. Budidaya Air Payau 4. Budidaya Air Tawar

Rp. 1000 Rp. 1000 Rp. 1000

8.831.452,50 1.219.210,00 92.299.302,00

14.765.520,00 1.757.342,50 115.582.283,50

26.281.028,00 24.169.946,00 160.287.772,00

Rp. 1000 Rp. 1000 Rp. 1000 Rp. 1000

9.102,36 19.733,19 1.344,00

11.171,07 41.518,01 1.510,00

12.318,64 34.878,21 1.742,00

Konsumsi

Kg

-

-

70,53

Tabel 2. Perkembangan Indikator Maritim Kabupaten Kepulauan Riau, Tahun 1998-2000

Indikator Perizinan
1. Penangkapan Ikan 2. Pengumpul atau Pengangkut 3. TDKP

Satuan
Buah Buah Buah 295/108 71/8 -

Tahun
295/109 59/10 378 304/106 62/12 150

Kelembagaan Nelayan
1. Jumlah Kelompok 2. Jumlah Anggota 3. Jumlah KUD 4. Jumlah Anggota KUD Klp Orang Buah Orang 121 1.278 9 4.778 129 1.359 12 4.838 140 1.459 14 5.001

Sarana Penunjang
1. Pabrik Es 2. Kapasitas Pabrik Es 3. Gold Storage 4. TPI Atau PPI 5. Pelabuhan Maritim Buah Ton/HariI Buah Buah Buah 13 2 1 17 2 1 17 86 2 1 -

Sumber: Dinas Kelautan Riau Kepulauan,2001

4.Nilai Produksi Dari produksi yang telah dihasilkan masyarakat maritim dari kegiatan penangkapan dan pembudidayaan ikan, ternyata sector maritim ikut mampu menyumbangkan nilai devisa yang cukup berarti. Nilai produksi hasil maritim adalah indikator yang dapat memberikan gambaran tentang besaran volume ekonomi dari sektor maritim. Di lihat dari besaran perubahan presentase nilai produksi yang terjadi selama kurun waktu antara 1998-2000, untuk berbagai kegiatan usaha adalah sebagai berikut; kegiatan usaha penangkapan mencapai 93,20%, sedangkan budidaya Laut (Mariculture) ada sebanyak 128,41%, dan kemudian dari budidaya Air Tawar (Freshwater pond) 32,04%. Maka sumbangan pertumbuhan yang memberikan kontribusi terbesar ada di sektor budidaya laut, karena berdasarkan besaran pertumbuhanya yang cukup tinggi dibandingkan dengan kegiatan usaha lainnya, seperti penangkapan dan budidaya air tawar. Dari angka presentase, tampaknya budidaya laut berprospek cukup baik di wilayah maritim Riau kepulauan. Prospek tersebut dipicu dengan makin membaiknya permintaan ikan hidup baik dipasaran lokal maupun pasar Internasional, seperti Singapura, Hongkong, Thailand, dan Malaysia serta lain-lain. Angka ekspor ikan hidup memang masih sulit ditentukan, tetapi dari hasil wawancara dan peninjauan di lapangan memberikan indikasi, budidaya laut semakin diminati masyarakat. Produksi hasil budidaya laut pasarnya tetap terbuka dan lancar. Pasar ini tetap baik karena pasar ikan hidup mempunyai karakteristik sendiri, dimana kapal pengangkut ikan hidup secara rutin datang ke pembudidaya untuk membeli ikan-ikan yang dibesarkan oleh pembudidaya ikan laut di dalam keramba jaring apung disekitar kepulauan Riau. III.PENGUSAHAAN MARITIM Pengusahaan maritim yang dimaksudkan adalah berkenaan dengan kegiatan yang dilakukan masyarakat maritim dalam upaya pengusahaan sumber daya maritim. Pengusahaan tersebut adalah melalui kegiatan usaha. Usaha yang dilakukan adalah berkaitan dengan kemaritiman, dan untuk tulisan ini hanya dibatasi pada kegiatan usaha penangkapan ikan,

pembudidayaan ikan dan pengolahan ikan serta pengaruhnya terhadap pengeluaran pendapatan masyarakat maritim. Berdasarkan laju pertumbuhan ekonomi atau wilayah secara agregat, dari informasi Bappeda Riau kepulauan tahun 2000 ada gambaran yang memberikan tentang pertumbuhan yang terjadi. Pertumbuhan rata-rata tahun 2000 adalah sebesar 5,63%, angka ini lebih tinggi dibandingkan dari tahun 1999 yang hanya 4,20%. Pertumbuhan sebesar tersebut, adalah merupakan kontribusi dari berbagai sector. Untuk sektor maritim yang diwakili oleh perikanan menyumbang pertumbuhan 4,43%. Riau kepulauan yang luas lautnya, lebih luas dari daratan, maka kontribusi sektor maritim terhadap perikanan cukup besar atau lebih dari kesetaraan 3,8 ribu Ton (Dinas Perikanan Kepri, Tahun 2000). Daerah Kecamatan yang paling banyak menangkap atau berproduksi adalah di daerah Senayang sebanyak 7.556,5 Ton, Bintan Timur 6.773,4 Ton, sedangkan produksi dari Kecamatan lainnya dibawah 5.000 Ton (BPS Kepri, 2000). Adapun daerah ini di lihat dari pendapatan perkapita, baik berdasarkan dari harga yang berlaku maupun atas dasar harga konstan, telah mengalami kenaikan yang cukup berarti. Sebagai gambaran, pada tahun 1999 “Pendapatan Perkapita” adalah 4,78 Juta Rupiah dan pada tahun 2000 meningkat menjadi 5,20 Juta Rupiah, ini berarti ada kenaikan 7,45%. Bila di lihat dari Pendapatan Perkapita atas dasar harga konstan 1993, pada tahun 2000 mengalami kenaikan 1,98%, yaitu dari 2.17 Juta Rupiah di tahun 1999 menjadi 2.22 Juta Rupiah pada tahun 2000. Maka jelas sektor maritim ikut memegang peranan penting dalam mengundang pertumbuhan ekonomi daerah Riau kepulauan. 1.Pengeluaran Pendapatan Penduduk Krisis moneter ternyata telah ikut menyebabkan terjadinya pergeseran komposisi pengeluaran pendapatan dari penduduk yang berdiam di Riau kepulauan. Tendensi adanya pergeseran pengeluaran dapat diketahui dari, tadinya pada tahun 1995 samapi 1998 pengeluaran bukan hanya untuk pangan, tetapi sejak tahun 1998, walaupun terjadi juga pertumbuhan ekonomi, pengeluaran ternyata lebih terkonsentrasi hanya untuk memenuhi kebutuhan makanan. Dari angka presentase pengeluaran dapat diketahui, perbandingan komposisi pengeluaran, di tahun 1998 pengeluaran untuk makanan mencapai 68,37%, sedangkan di tahun 1995 pengeluaran untuk makanan hanya sebesar 63,11%, jadi di lihat dari pengeluaran non pangannya poerbandingannya adalah 31,68% dan 39,67%. Hal tersebut memberikan gambaran bahwa pergeseran pengeluaran yang cukup besar terjadi setelah krisis moneter, masyarakat lebih mengutamakan untuk makanan dibandingkan pengeluaran lainya. (BPS Kepri, 2000). Implikasi dari pergeseran pengeluaran ini tampak pada tahun 2000, adanya stagnasi pembangunan Fisik dan juga banyak pencari kerja yang tidak mampu disalurkan. Pada tahun 2000 perbandingan antara pencari kerja dengan angkatan kerja yaitu 1:15 yang artinya, dalam setiap 15 orang angkatan kerja terdapat seorang, dari mereka yang mencari lapangan pekerjaan. Perubahan pergeseran pengeluaran perkapita tersebut jelas memberikan indikator adanya pertumbuhan ekonomi yang belum mampu banyak mendorong kesejahteraan, yang ditandai dengan besarnya perbedaan antara penawaran dan permintaan tenaga kerja. Penawaran tenaga kerja sering lebih besar dari permintaan, sehingga tenaga kerja yang dapat di tempatkan jauh lebih sedikit dari pencari kerja. Keadaan ini jelas masih menjadi beban pembangunan, sehingga harus ada upaya prioritas pengeluaran pendapatan penduduk bergeser kearah investasi barang dan jasa, sehingga penciptaan lapangan pekerjaan baru dapat terjadi.

2.Penangkapan Ikan. Usaha kegiatan penangkapan ikan dalam kenyataanya merupakan bagian kegiatan masyarakat maritim dalam upaya mereka untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Penangkapan ikan memerlukan kelengkapan teknologi yang harus sesuai dengan karakteristik perairan dimana ikan atau biota laut itu berada. Pada daerah tertentu, penangkapan ikan sering di kaitkan secara

langsung dengan alat produksi yang merupakan peralatan penangkapan yang mereka gunakan seperti: Penangkap ikan dengan jarring (Nets), pancing (Hook and line), bagan (Raft net) , tangkul atau Serok (Scoop net), bubu (Portable traps) atau lainnya. Di Riau kepulauan masyarakat maritimnya sering pula mengelompokkan orang (nelayan) sesuai dengan alat tangkap yang mereka gunakan itu. Pada tahun 2000 secara total peralatan produksi ada sebanyak 12.983 buah. Disamping dengan peralatan produksi, pengelompokan juga sering dengan pendekatan armada maritim yang digunakan, yaitu yang didasarkan pada besar kecilnya armada, atau kapal atau perahu yang digunakan. Dari pengelompokan ini tahun 2000 total armada maritim tercatat 8.864 unit yang terdiri dari; dengan pembagian kelompok untuk kapal motor sebanyak 4.338 unit 48,93%, dan kapal motor tempel sebanyak 66 unit 0,74%, serta perahu tanpa motor sebanyak 4.460 unit 50,31%. (Dinas Perikanan, 2001). Dari hasil beberapa informasi, untuk setiap unit penangkapan, kebutuhan biaya investasinya per unit usaha yang siap di pakai operasi penangkapan untuk kegiatan usaha skala kecil pada tahun 2000, gambaran umumnya adalah sebagai berikut. 1) Nelayan jaring dengan Kapal motor 7 PK (8 Th). a. b. c. d. e. Kasko Mesin 7 PK Jaring 10 Pis Peralatan Lainnya Perizinan Total Modal Modal Operasi Kerja Rp.3.000.000 Rp.1.000.000 Rp.1.500.000 Rp. 750.000 Rp. 150.000 -------------------Rp.6.400.000 Rp. 500.000 -------------------Rp.6.900.000

f.

g. Total Kebutuhan Modal

2). Nelayan Pancing Dengan Perahu Tanpa Motor (10 Th) a. b. c. d. e. f. g. Kasko Pancing 500 mata Peralatan Lainnya Perizinan Rp. 2.000.000 Rp. 750.000 Rp. 250.000 Rp. 75.000 -------------------Total Modal Rp. 3.075.000 Modal Opersi Kerja Rp. 300.000 -------------------Total Kebutuhan Modal Rp. 3.375.000

3). Nelayan Bagan. (7 Th). Nelayan bagan adalah yang menggunakan bagan tancap yang berada disekitar kepulauan Bintan. a. b. c. d. e. f. g. Kayu untuk Bagan Paku dan Tali pengikat Tenaga kerja pemasangan Jaring Bagan Perahu tanpa motor Peralatan lainnya (lampu) Perizinan Rp. 5.000.000 Rp. 500.000 Rp. 750.000 Rp. 1.000.000 Rp. 1.500.000 Rp. 500.000 Rp. 100.000 -------------------Rp. 9.350.000 Rp. 250.000 -------------------Rp. 9.600.000

Total modal h. Modal operasi kerja i. Total kebutuhan Modal

4). Nelayan Tangkul (Serok). (15 Th). Untuk dapat menangkap ikan dengan tangkul dibutuhkan perlengkapan sebagai berikut. a. b. c. d. e. f. g. Kayu untuk Tangkul Paku dan Tali pengikat Tenaga kerja pemasangan Jaring Tangkul Perahu tanpa motor Peralatan lainnya (lampu) Perizinan Rp. 1.500.000 Rp. 200.000 Rp. 250.000 Rp. 500.000 Rp. 750.000 Rp. 150.000 Rp. 50.000 -------------------Rp. 3.400.000 Rp. 100.000 -------------------Rp. 3.500.000

Total modal h. Modal operasi kerja i. Total kebutuhan Modal

5). Nelayan Bubu (5 Th) Nelayan bubu adalah nelayan yang menggunakan alat tangkap utamanya adalah bubu. Pada sekitar tahun 1990 nelayan masih menggunakan bahan dasar bubu dari bambu dan rotan, tetapi sekarang dengan kawat baja yang dijalin berbentuk kassa, dan ukuran rata-rata per bubu adalah 40 x 60 x 40 m. a. Bubu siap jadi 10 x Rp.150.000 Rp. 1.500.000 b. Perahu Tanpa Motor Rp. 2.500.000 c. Tali dan Pemberat atau Timah Rp. 500.000 d. Peralatan Lain Rp. 250.000 e. Perizinan Rp. 50.000 Total modal Modal kerja Rp. 4.300.000 Rp. 500.000 Rp. 4.800.000

f.

g. Total Kebutuhan modal

3. Pembudidayaan Ikan Laut Pembudidayaan ikan laut di lapangan dapat ditemukan dari kelompok masyarakat nelayan yang mengusahakan pembudidayaan ikan di air laut (Mari Culture), sekarang ini banyak menggunakan teknik jaring apung. Bahan peralatan jarring apung adalah terdiri dari: jaring, kayu, tali pengikat, drum kosong (dari plastik atau seng) dan dilengkapi perahu (board), serta pondok pekerjaan. Untuk setiap unit usaha, rata-rata kotak jaring apungnya berukuran 3 x4 x 2 m memiliki 3 keramba, dan ikan yang di budidayakan umumnya terdiri dari ikan Kerapu, Napoleon, Kakap merah. Pada tahun 2000, jumlah unit usaha budidaya ikan di laut (Keramba) berjumlah 1.721 unit, jumlah tersebut dimiliki oleh 551 RTP, dengan demikian ini berarti setiap RTP memiliki 3 unit yang setiap unitnya mempunyai rata-rata 3 keramba. Di lihat dari total produksi, ternyata pembudidaya keramba di laut telah mampu menghasilkan 449,891 Ton, dan nilai yang dihasilkannya sebesar Rp. 21.184.470.000. Adapun menurut catatatn Dinas Kelautan, pendapatan pembudidayaan ikan laut dengan teknik keramba ini ternyata sebesar Rp. 34.878.210,- (Dinas Perikanan Riau Kepulauan, 2001). Jadi kegiatan usaha pembudidayaan ikan di laut memberikan prospek yang mampu pada akhirnya mendorong kesejahteraan masyarakat. 4.Pengolahan Ikan Sebagai gambaran tentang kegiatan usaha yang dilakukan masyarakat maritim setelah hasil sumber daya maritim dapat diambil dari habitatnya, missal ikan ikan yang berhasil ditangkap dari penggunaan peralatan produksi, atau dari pembudidayaan ikan. Hasil tangkapan atau pembudidayaan, sebagian ada yang dijual segar, tetapi ada juga yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, berupa pengolahan. Produk olahan yang diolah oleh masyarakat maritim pada tahun 2000, baik berupa dalam bentuk segar, dikeringkan dengan penggaraman, menurut (Dinas Perikanan Riau Kepulauan, tahun 2001) hasil masing-masing adalah: segar sebanyak 20.976,3 Ton, kering/garam ada 13.551,1 Ton dan jumlah produksi ikan olahan Kepri sebanyak 35.806,8 Ton. Kemudian dari jenis-jenis ikan yang diolah mencapai 31 jenis, diantaranya adalah ikan parang ( 2.198,1 Ton ( 6,13 %), selar 2.059,3 Ton ( 5,75 %), Teri (Anchovies) 2.482,3 Ton ( 6,93 %), Tembang (Fringescale Sardinella) 2.085,3 Ton ( 5,82 %), Kembung (Indian Mackerels) 1.404,9 Ton ( 3,92 %), Tenggiri (Narrow barred king mackerels) 2.523,5 Ton ( 7,04 %), Tongkol (Eastern little tunas) 3.493,2 Ton ( 9,75 %), Udang (Shrimp) 1.283,3 Ton ( 3,58 %), Ekor Kuning (Yelow tails) 3.649,9 Ton ( 10,19 %) dan bawal (Pomfret) 1.216,8 Ton ( 3,39 %) dan Jenis ikan lainnya rata-rata dibawah satu Ton. Jadi masyarakat maritim secara budaya mempunyai juga teknologi pemrosesan ikan agar menjadi lebih awet dan mempunyai nilai ekonomi. Ini adalah pengetahuan spesifik yang dimiliki masyarakat maririm, dan pengetahuan inilah yang menjamin keberlangsungan masyarakat maritim tetap hidup. Kalau di lihat dari tingkatan teknologi yang digunakan, maka tampak bahwa usaha pengolahan umumnya masih di golongkan pada usaha tradisional, karena proses teknologinya masih sederhana dan di lakukan dengan sederhana pula. Alat Bantu pengawetan yang umumnya digunakan yaitu garam untuk pengolahan kering/garam, dan es untuk mempertahankan kesegaran ikan segar. Kegiatan pengusahaan dapat digolongkan masih dalam skala kecil atau usaha kecil dan menengah, dan hasil produksinya dijual ke pasar local. Ada sebagian pedagang menjadi pengumpul yang disebut sebagai pedagang besar, produk dari masyarakat maritim ini kemudian sebagian di ekspor ke singapura, Malaysia atau Hongkong. IV.EKONOMI MASYARAKAT MARITIM Sektor maritim di Riau kepulauan, sesuai dengan kondisi geografis wilayah yang perairanya lebih luas dari daratannya, dan terdiri dari pulau-pulau kecil yang tersebar dikawasan dengan total luas 3.000,13 Km2 mempunyai prospek usaha kegiatan kemaritiman yang cukup menjanjikan. Masyarakat maritim di Riau kepulauan banyak aktivitas usahanya terkait secara

langsung dengan perairan laut yang mengelilingi pulau-pulau tempat tinggal mereka, maka sektor maritim adalah salah satu unsur penting yang memberikan kontribusi ekonomi. Pemerintah Daerah telah menjadikan sektor maritim sebagai landasan kuat bagi pertumbuhan ekonominya, sehingga peran sector maritim menjadi andalan sebagai pemicu utama pembangunan wilayah ini. Dalam jangka panjang diharapkan dengan adanya kemajuan di sektor maritim, maka pertumbuhan ekonomi dapat terjadi, sekaligus mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Dalam upaya mensejahterakan masyarakat, pendekatan pengaturan sector maririm didekati dengan mengeluarkan kebijakan fiscal. Tujuan kebijakan yang dibuat karena ada keinginan agar sumberdaya maritim dapat dimanfaatkan dan mensejahterakan masyarakat melalui perencanaan yang baik. Ketahanan sektor maritim di Riau kepulauan secara kuantitatif indikatornya menunjukan nilai positif, yang berarti ada pertumbuhan kegiatan ekonomi di sektor maritim. Dari Indikator-indikator Rumah Tangga Perikanan, Alat Produksi, Produksi, Nilai Produksi, Volume Pemasaran, Nilai Pemasaran dan Pendapatan RTP dari sub sektor kegiatan usaha penangkapan, budidaya laut, budidaya air tawar, cukup baik. Angka ini didapat dari perbandingan antara tahun 1998 sampai dengan tahun 2000, kesemuanya menunjukan angka yang meningkat. Maka jelaslah bahwa dari indikator maritim, dapat memberikan prospek bahwa sektor maritim mampu diandalkan untuk masa depan sebagai penyumbang PAD daerah, apalagi kelebihan sector maritim karena sifatnya yang dapat diperbaharui. Di lihat dari perhitungan PDRB tahun 2000 Riau kepulauan mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 5,63% dibanding tahun 1999 yang hanya 4,43%, apabila didasarkan pada harga konstan 1993. Dari pertumbuhan tersebut maka pendapatan perkapita atas dasar harga yang berlaku dan konstan, juga ikut naik yaitu dari 4,76 Juta menjadi 5,20 Juta, atau mengalami kenaikan 7,45%. Sumbangan pendapatan ini juga berasal dari sektor maritim, dan jelas peranan sektor maritim bagi Riau kepulauan makin menjadi penting dan strategis. Secara umum, walaupun Riau kepulauan mengalami ada perbaikan ekonomi, tetapi kalau ditinjau dari komposisi pengeluaran pendapatan, maka terlihat jelas prioritas pengeluaran masyarakat masih untuk memenuhi kebutuhan makanan sebesar (68,37%), (Badan Pusat Statistik, 2000). Prosentase pengeluaran ini menggambarkan juga berarti pertumbuhan belum mampu dalam waktu yang singkat ikut memulihkan kesejateraan masyarakat, sehingga belanja barang dan jasa belum menjadi menonjol, dengan demikian investasi dibeberapa sector juga ikut masih tersendat. Gambaran sektor rill maritim yang di lakukan oleh masyarakat maritim melalui kegiatan usaha penangkapan, pembudidayaan ikan dan pengolahan produk ikan dapat ditunjukan oleh dan dari alat usaha penangkapan yang tercatat sebanyak 12.983 buah dan total armada penangkapan 8.864 buah. Maka sebenarnya keberadaan sektor maritim, sumber dayanya telah mampu mendukung aktivitas usaha sektor rill maritim melalui berbagi upaya pengusahaan ekonomi, utamanya usaha sektor penangkapan. Adapun usaha sektor pembudidayaan yang berkembang adalah keramba jaring apung, pada tahun 2000 usaha ini telah mencapai 1.721 unit, dan dimiliki oleh 551 RTP, dan dari nilai produksinya rata-ratanya/RTP mencapai Rp 34.878.210. Sektor pengolahan produk juga ikut berkembang, khususnya dari hasil kegiatan usaha penangkapan, dan total produksi olahan baik segar ataupun pengeringan/garam mencapai 35.806,8 Ton. Sektor maritim ternyata memberikan sumbangan ekonomi yang cukup signifikan dalam perekonomian Riau kepulauan. Masyarakat nelayan sebagai pelaku utama usaha kegiatan di sektor maritim menanggapi dengan positif kebijakan pemerintah di bidang ekonomi sepanjang diterapkan secara adil dan terbuka, mereka menyadari kemajuan Riau kepulauan juga menjadi bagian tanggung jawab mereka sebagai bagian dari penduduk yang berdiam dan hidup di daerah ini. Upaya pengoptimalan implementasi program pemanfaatan sumberdaya maritim yang secara pengelolaan terbagi oleh tiga legalitas, yaitu di tingkat Nasional, di Propinsi dan Kabupaten, di lapangan masih menemui berbagai hambatan teknis. Hambatan yang terjadi karena kewenangan di Propinsi dan Kabupten ada juga terjadi tumpang tindih. Untuk itu perlu ada kesamaan paradigma pelaksanaan program pembangunan sesuai dengan kewenangan masing-

masing sehingga pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya melalui kebijakan ekonomi tidak membahayakan kelestarian sumberdaya itu sendiri dan akhirnya mampu mensejahterakan masyarakat. V. PENUTUP Riau kepulauan adalah wilayah yang bercirikan kepulauan dan luas daratannya lebih sedikit dibanding perairan lautnya, daerah ini mempunyai sumberdaya maritim yang secara pontensial dapat diandalkan untuk menopang kesejateraan masyarakat maritim dan masyarakat pada umumnya. Pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya maritim harus didasari oleh prundangundangan dan peraturan yang jelas, terutama dalam hal kebijakan ekonomi, sehingga kehilangan pendapatan dari sektor maritim yang dapat berkelanjutan mampu dihindari, karena kebijakan didukung oleh masyarakat penggunanya (Stakeholder). Pengaruh krisis moneter di sektor maritim tidak tampak menghambat pertumbuhan ekonomi usaha kegiatan masyarakat nelayan, hal ini tercermin dengan masih adanya kecenderungan peningkatan kegiatan usaha penangkapan, pembudidayaan dan pengolahan produk. Nilai kurs Dollar yang berfluktuasi meningkat, justru memberikan nilai tambah tersendiri pada komoditi maritim, harga udang (shrimp) dan kerapu hidup naik mengikuti kenaikan kurs Dollar di pasar Internasional. Perkembangan indikator maritim dari RTP, alat produksi, produksi, nilai produksi, volume pemasaran, nilai pemasaran, pendapatan RTP, perizinan dan kelembagaan kesemuanya dari tahun 1998 sampai dengan tahun 2000 menunjukan trend yang meningkat, maka dapat dikatakan performance ekonomi maritim, berdasarkan indikator yang ada, tetap memberikan prospek yang cerah dan dapat diandalkan sebagai pendukung utama kesejahteraan. Berdasarkan PDRB, pendapatan regional dan pengeluaran pendapatan penduduk pertumbuhan ekonomi rata-rata pada tahun 2000 sebesar 5,63% lebih tinggi dibandigkan tahun 1999 atas dasar harga konstan tahun 1993. Gambaran dilapangan tentang performance kegiatan usaha maritim dapat di lihat dari diversifikasi bidang usaha yang terdiri dari penangkapan, budidaya ikan laut (keramba), pengolahan produksi hasil tangkapan. Bidang-bidang usaha ini diketahui masyarakat maritim tetap bertahan, dan keberadaan kegiatan usaha tersebut ditandai oleh kemampuannya menghasilkan produksi dan nilai produksi. Jadi masyarakat maritim dalam praktek yang lebih luas terkait juga dengan system pemerintahan. Oleh karena itu untuk mendapatkan gambaran yang lebih komprehensip, maka perlu dipahami dengan utuh batasan pengertian masyarakat maritim. Pengertian yang dianut selama ini, tersirat makna bahwa masyarakat maritim itu di identikkan dengan nelayan, yang di maknai pengertiannya tidak lebih hanya sebagai orang yang mencari ikan di laut atau biota lainnya. Batasan ini memberi paradigma bahwa nelayan adalah tidak lebih hanya sebagai tenaga kerja, bukan dalam kontek bagian dari sistem kemasyarakatan maritim. Masyarakat maritim sebenarnya lebih menitik beratkan pada pengertian pendekatan sistem kemasyarakatan maritim yang sumber penghidupannya berbasiskan kemaritiman, sehingga masyarakat yang terbentuk adalah masyarakat yang berbudaya dan bersosial berbasis perairan, yang berekonomi, yang berhukum, yang berteknologi dan yang berpengetahuan spesifik mengikuti hukum-hukum kemaritiman. Nelayan adalah sebutan orang yang kehidupannya sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh lingkungan perairan, sehingga nelayan adalah orang yang mengerti kemaritiman, keilmuan maritim, keteknologian maritim, kebudayaan dan kesosialan maritim, hukum-hukum kemaritiman dan ekonomi kemaritiman. Oleh karena itu nelayan yang dimaksudkan adalah sub kelompok masyarakat maritim yang bekerja menangkap atau membudidayakan ikan, sedangkan sub-sub kelompok masyarakat nelayan lainnya dapat di lihat sebagai pengolah hasil tangkapan, dan pembuat sarana kemaritiman, pengangkut barang dan orang dengan perahu atau kapal, pemandu wisata bahari, penyelam atau perenang, pekerja tambang bawah laut, seniman, pemangku adat dan lain-lainnya.

DAFTAR PUSTAKA Dinas Perikanan Propinsi Riau, 2001. Laporan Pelaksanaan Tugas Sub Dinas Pengolahan Dan Pemasaran Hasil, Pekanbaru. Badan Pusat Statistik, 2000. Riau Dalam Angka, di Propinsi Riau. Badan Pusat Statistik, 2000. Kepulauan Riau Dalam Angka. Kerjasama Bappeda dan Badan Pusat Statistik Kabupaten Kepulauan Riau. Dinas Perikanan , 2001. Laporan Tahunan Dinas Perikanan Kabupaten Kepulauan Riau, Tanjung Pinang.

BAB IV MASYARAKAT MARITIM BENGKULU SELATAN I. PENDAHULUAN Sebagai konsekuensi logis berlakunya undang-undang No. 22/1999 dan Undang- undang No. 25/1999 serta PP. No. 25/2000, maka Kabupaten Bengkulu Selatan mengubah paradigma pembangunannya ke arah paradigma pembangunan baru. Arah perubahan adalah mendasarkan dan mengandung semangat desentralisasi, berpola pendekatan wilayah, serta berorientasi pada pengembangan keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif. Kebijakan pembangunan pemerintah Kabupaten Bengkulu Selatan berpedoman pada pernyataan kehendak masyarakat, hal ini menunjukkan pembaharuan disegala bidang, terutama sektor ekonomi, politik, hukum serta agama dan sosial budaya sebagai upaya penanggulangan krisis. Oleh karena itu strategi pembangunannya adalah; penyelamatan pembangunan ekonomi kerakyatan, mengatasi kemiskinan, menciptakan lapangan kerja baru dan perluasan lapangan kerja serta menjaga hubungan harmonis terhadap tugas-tugas dekonsentrasi dan tugas pembantuan. Adapun untuk meningkatkan pendapatan daerah yaitu melalui kebijakan fiskal, berupa penarikan pajak dan retribusi yang dibuat melalui Peraturan Daerah. Kebijakan ini menjadi sangat penting, karena itu harus juga mempertimbangkan azas keadilan, dan akhirnya diharapkan mampu melakukan peningkatan kesejahteraan masyarakat dan penjaminan pembagian pendapatan secara merata. Pembangunan daerah Kabupaten merupakan bagian integral dari pembangunan nasional dan pembangunan Propinsi, yang antara lain bertujuan untuk meningkatkan taraf kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan, sehingga dicapai suatu kehidupan masyarakat yang adil dan makmur. Sektor maritim adalah bagian integral pembangunan daerah yang sangat penting, karena itu pemerintah Kabupaten bersama-sama masyarakat maritim mendorong perekonomian daerah untuk menjadi menjadi lebih baik. Peran pemerintah menyediakan dan mengembangkan sarana dan prasarana pembangunan, seperti dermaga, pelabuhan, jalan, listrik. Adapun peran masyarakat sebagai partisipasi pada kegiatan pembanguna sektor maritim, hal ini dicerminkan dari kontribusinya pada pembentukan pendapatan asli daerah melalui kebijakan fiskal daerah. Sehubungan dengan hal-hal tersebut maka tulisan ini akan meninjau hal-hal yang berkenaan dengan; faktor produksi maritim yang meliputi penangkapan, pembudidayaan dan pengolahan, serta pengusahaan maritim dan ekonomi masyarakat maritim. Dan kemudian diharapkan tulisan ini sedikit memberikan gambaran terhadap kegiatan masyarakat maritim yang ada di Kabupaten bengkulu Selatan. Keadaan Umum. Kabupaten Bengkulu Selatan adalah bagian dari wilayah Propinsi Bengkulu yang secara administrasi dibatasi oleh : - Sebelah Utara berbatasan dengan Kodya Bengkulu, Sebelah Timur dengan Propinsi Sumatera Selatan, sebelah selatan dengan Propinsi Lampung dan sebelah barat dengan Samudera Indonesia. Luas wilayah Kabupaten Bengkulu Selatan adalah 594.914 Ha. (5.949.14 Km2) yang diairi + 60 sungai besar dan kecil yang hulunya berada disisi Bukit Barisan dan mengalir ke Barat Samudera Indonesia dan beriklim tropis yang dipengaruhi angin pesat dengan kecepatan rata-rata 10 km/jam dan bersuhu rata-rata antara 250C dengan maksimum 31.40 C s/d 32.50C, serta kelembabannya rata-rata 80%. Penduduk yang berdiam di Kabupaten Bengkulu Selatan pada tahun 1999 tercatat 366.094 jiwa, penduduk laki-laki 183.709 jiwa sedangkan perempuan 182.385 jiwa, adapun kepadatan jiwa/km2 adalah 62.62 orang. Sumberdaya manusia dapat di lihat dari struktur umur penduduk dimana proporsi penduduk usia produktif semakin meningkat dan gambaran angkatan kerja tyang mencari kerja menurut kelompok pendidikan pada tahun 1999 adalah SLTP 25 orang, SLTA 150 orang, Sarmud/DPL 82 orang dan Sarjana 186 orang. Dari peraturan Daerah Bengkulu Selatan No. 6 Tahun 1996, tanggal 26 Agustus 1996, Tentang Rencana Umum Tata Ruang, penggunaan, pemanfaatan ruang

dibagi dua kawasan, yaitu budi daya dan non budi daya dengan pembagian untuk: a.). Kawasan Budidaya 421.414 Ha. yang terdiri dari; 1.Perkebunan 146.687,50 Ha. 2. Lahan Basah 85.250 Ha. 3. Lahan Kering 173.477,50 Ha, dan 4. Maritim laut/tambak 15.999 Ha. Dan untuk b). Adalah kawasan Non Budidaya seluas 173.500 Ha. (Bappeda, 2000). Wilayah pembangunan perikanan darat ada di satuan wilayah pembangunan (SWP II) yang berpusat di kota Tais (Kecamatan Seluma, Kecamatan Mas Mambang, dan Kecamatan Talo). Sedangkan di SWP III yang berPusat di kota Bintuhan, pembangunan maritim menjadi titik berat pembangunannya. Untuk merealisasikan pembangunan di wilayah masing-masing daerah sangat ditentukan oleh factor iklim, fisik wilayah, dan sosial budaya. Permasalahan pembangunan yang banyak dihadapi di sektor maritim, ketiga faktor tersebut diatas masih sangat berperan, sehingga perkembangannya sangat lamban. Kegiatan ekonomi yang berbasiskan maritim ternyata belum menjadi andalan, walaupun potensi kemaritiman begitu besar, pilihan kegiatan masyarakat masih lebih mengutamakan berbasiskan daratan. Tampaknya pilihan tersebut sangat beralasan, karena luas daerah di lihat dari ketinggiannya antara 0 – 25 m hanya 68.868 km2 (11.58%) kalau dibandingkan dengan dengan total luasan 594.10 km2. Sebagai gambaran dapat di lihat pada Tabel. 1 yang menyajikan data luas daerah menurut ketinggian berdasarkan Kecamatan. Tabel 1. Tabel Luas Daerah Menurut Ketinggian Per Kecamatan di Kabupaten Bengkulu Selatan Tahun 2000 (Km2)
Kecamatan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. Kaur Selatan Nasal Maje Kaur Tengah Kinal Kaur Utara Tj. Kemuning Manna Kota Manna Kedurang Seginim Pino Pino Raya Talo S. Alas S. Alas Maras Seluma Sukaraja Jumlah Persentase 0 – 25 m 1.675 775 2.075 650 250 0 2.400 1.862 2.250 0 0 0 3.280 14.400 1.200 6.065 9.584 22.400 68.866 0.115758 11.57581 25-100 m 6.210 8.450 5.000 6.950 3.350 19.675 1.525 4.264 6.132 8.900 8.992 4.800 19.920 17.152 22.938 240 24.010 14.400 182.908 0.307453 30.745434 100-500 m 6.479 12.800 11.200 14.000 11.380 12.710 0 0 0 9.890 9.250 17.600 4.630 14.500 14.929 0 15.025 12.800 167.193 0.2810377 28.103773 500-1000 227 17.600 14.400 12.800 4.800 9.400 0 0 0 4.800 2.800 1.600 400 9.450 10.150 0 13.200 9.600 111.227 0.186963 18.69635 1000 m+ 519 16.000 8.000 6.400 0 18.600 0 0 0 7.000 200 0 0 3.700 3.500 0 500 300 64.719 0.108787335 10.87873353 Jumlah 15.110 55.625 40.675 40.800 19.780 60.385 3.925 6.126 8.382 30.590 21.242 24.000 28.230 59.202 52.717 6.305 62.319 59.500 549.913 1 100

Dari data dalam tabel, ternyata daerah potensial yang berhadapan langsung dengan maritim adalah Kecamatan Tolo, Semidang Alas Maras, Seluma dan Sukaraja. Untuk pengembangan kawasan maritim dapat dilakukan di Kecamatan Talo dan Sukaraja. Kecamatan ini mempunyai rata-rata jumlah anggota rumah tangga untuk wilayah Kecamatan; Talo (4.3 = 51 jiwa per km. 2), Semidang Alas Maras (4.4 = 71 jiwa per km. 2), Seluma (4.1 = 64 jiwa per km2), dan Sukaraja (4.0 = 77 jiwa per km2), yang kesemuanya masih sangat jarang. Dari kenyataan yang ada maka sektor maritim masih menghadapi berbagai kendala untuk dapat mengembangkannya.

II.

FAKTOR PRODUKSI Faktor produksi yang dimaksudkan pada tulisan ini adalah faktor-faktor yang ikut mempengaruhi kegiatan ekonomi masyarakat maritim yang terbatas pada kegiatan penangkapan perikanan dalam upaya mereka memenuhi kebutuhan hidupnya. Faktor produksi tersebut meliputi sarana dan peralatan penangkapan ikan di laut, peralatan pembudidayaan ikan dan proses pengolahan produk maritim. 1.SaranaTangkap Sarana tangkap adlah perangkat keras yang membantu atau memfasilitasi kegiatan penangkapan ikan sejak dari persiapan di darat hingga mendaratkan kembali hasil tangkapan ikannya. Kalau memperhatikan kesungguhan program pembangunan di sector maritim, yang terealisasi sampai dengan tahun 2000, ternyata jumlah tempat pelelangan ikan (TPI) yang telah menjadi binaan Dinas Kelautan dan Perikanan ada sebanyak 16 unit. TPI tersebut tersebar di berbagai Kecamatan yang ada kegiatan maritimnya, khususnya disekitar kegiatan maritim tangkap. Kalau mempelajari data yang diterbitkan oleh Bengkulu Selatan dalam angka tahun 2000, ternyata dapat diketahui, Pusat-Pusat kegiatan maritim yang banyak aktifitasnya ada di; Kecamatan Kaur Selatan 3 (tiga) TPI, juga di Semidang Alas Maras dengan 2 (dua) TPI, sedangkan di Kecamatan lainnya hanya satu TPI. Tabel 2: Nama-Nama Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Berdasarkan Kecamatan di Kabupaten Bengkulu Selatan, Tahun 2000 Kecamatan
1. Kaur Selatan

TPI
W. Hawang Pasar Lama Sekunyit Merpas Linau Tj. Padan Mentiring Tanjung Bulan Pasar Bawah Sulau Pasar Pino Pasar Talo Maras-maras Padang Bakung Pasar Seluma Pasar Ngalam

Desa/Kelurahan
W. Hawang Pasar Lama Sekunyit Merpas Linau Padang Baru Mentiring Tj. Bulan Ps. Bawah Air Sulau Pasar Pino Pasar Talo Talang Alai Padang Bakung Pasar Seluma Pasar Ngalam

2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16.

Nasal Maje Kaur Tengah Kinal Kaur Utara Tanjung Kemuning Manna Kota Manna Kedurang Seginim Pino Pino Raya Talo Semidang Alas Semidang Alas Maras

17. Seluma 18. Sukaraja

Jumlah

16 TPI

Dengan banyaknya TPI yang ingin dikembangkan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan, sebenarnya tertumpu harapan bagi daerah bahwa sektor maritim dapat menjadi andalan ekonomi daerah. Permasalahan yang dihadapi bagi daerah dan dianggap cukup berat, adalah kenyataan sarana dan prasarana yang telah dibangun tidak tahan lama. Ketidak tahanan tersebut disebabkan oleh topografi daerah yang labil dan bersamaan dengan itu juga karena besarnya arus dan gelombang pantai barat. Gelombang besar ini terjadi karena berhadapan langsung dengan samudera Indonesia, dan akibat lebih lanjut menyebabkan beban biaya

pemeliharaan dan pembangunan menjadi sangat besar dan berat. Berdasarkan kenyataan di lapangan, pada beberapa tahun terakhir, ada beberapa TPI tidak dapat difungsikan lagi karena tergusur oleh gelombang atau kadang-kadang posisi tempat pendaratan terpaksa berpindah tempat karena adanya perobahan pola arus air laut. 2.Armada Penangkapan Luas daratan pantai Kabupaten Bengkulu Selatan adalah 68.866 km2 dengan rata-rata kepadatan armada penangkapan per-km2 untuk setiap 1 unit armada penangkapan di setiap Kecamatan antara 9 – 2,489 km2. Maka tampak jelas tentang ketidak merataan jumlah armada pada setiap Kecamatan yang ada di Bengkulu Selatan, keadaan seperti itu dengan demikian merupakan kendala tersendiri bagi pemberdayaan daerah maritim. Kepadatan armada penangkapan yang sangat jarang ini kalau juga dibandingkan dengan rata-ratanya luasan pantai, maka ternyata setiap 1 unit armada memiliki 91 km2. Dari perbandingan ini, maka dapat dikatakan bahwa Kabupaten Bengkulu Selatan masih memberikan peluang untuk menambah armada penangkapannya, apalagi setiap armada hanya mampu menampung volume 23.134 kg saja. Hal ini juga mengandung arti produktivitas kapasitas armada terpasang dibandingkan dengan luasan pantainya masih sangat rendah untuk setiap km-nya. Tabel 3: Tabel Banyaknya Perahu/Kapal Penangkap Ikan Per Rataan Luas Pantai di Kabupaten Bengkulu Selatan Th. 2000
Perahu/Kpl Tidak Bermotor 50 8 14 25 16 0 34 0 2 3 0 0 18 73 0 25 10 9 287 1.500 430.500 Motor Tempel 118 22 27 18 13 0 12 200 116 4 0 0 16 40 0 39 9 0 434 2.000 1.085.000 Kapal Motor 7 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 150 0 0 0 7 3.000 21.000 Jumlah Luas Pantai 1.675 775 2.075 650 250 0 2.400 1.862 2.250 0 0 0 3.280 14.400 1.200 6.065 9.584 22.400 66.416 Rata2/ Luas (km2) 10 26 51 15 9 0 52 9 19 0 0 0 96 127 8 95 504 2.489 91 23.134

Kecamatan

1. Kaur Selatan 2. Nasal 3. Maje 4. Kaur Tengah 5. Kinal 6. Kaur Utara 7. T. Kemuning 8. Manna 9. Kota Manna 10. Kedurang 11. Seginim 12. Pino 13. Pino Raya 14. Talo 15. Semidang Alas 16. S. Alas Maras 17. Seluma 18. Sukaraja Jumlah Rata2 kapasitas/Kg. Total Kapasitas *) Angka yang diolah

175 30 41 43 29 0 46 0 118 7 0 0 34 113 0 64 19 9 728 7.000 1.536.500

Berdasarkan informasi yang tersedia, jumlah total kapasitas terpasang sebanyak 1.536.500 kg atau rata-rata kapasitas 7000 kg saja. Apabila di lihat per armada, untuk yang tidak bermotor 430.500 kg atau rata-rata kapasitas 1.500 kg, motor Tempel (Out board motor) 1.085.000 kg atau rata-rata kapasitasnya 2.000kg dan kapal Motor (In board motor) hanya 21.000 kg dengan rata-rata kapasitas 3.000 kg. dan apabila total kapasitas terpasang dibandingkan dengan luasan pantainya, maka ternyata setiap km2 potensi eksploitasinya baru 23.134 kg. Memperhatikan sifat maritim yang dapat diperharui, sebenarnya realisasi produksi yang dapat dihasilkan dengan mengekploitasi sumber daya alam yang masih tersedia amatlah menjanjikan untuk dimasa yang akan datang, tetapi perlu keseriusan prencanaan yang rasional dan terintegrasi.

Dari perkembangan armada periode tahun 1996 – 2000 ternyata tidak mengalami lonjakan yang berarti, dimana pada tahun 1996 (620), 1997 (679), 1998 (570), 1999 (693), dan 2000 (728), maka deretan angka tersebut menggambarkan armada penangkapan di Bengkulu Selatan perkembangannya relatif lambat. Perkembangan yang lambat tersebut banyak disebabkan karena pantainya curam dan bergelombang besar, lautnya adalah laut lepas, sehingga tempat pendaratan ikan sulit dikembangkan, hal tersebut menyebabkan resiko penangkapan nelayan menjadi besar, dan faktor tersebut mengakibatkan masyarakat maritim enggan mengembangkan dirinya. 3. Perikanan Budidaya Perikanan budidaya di Bengkulu Selatan kegiatan usahanya adalah terbagi pada pada perairan umum (Inland open freshwater) 4.505 Ha, Kolam (Freshwater pond) 856 Ha, Sawah (Paddy field) 352 Ha, sedangkan Tambak (Brackis water) Baru 5 Ha, sedangkan Keramba ( Inponding net culture) belum ada. Sebagaimana dalam Tabel 4. dapat terlihat luasan usaha perikanan daratnya sebagai berikut. Tabel 4: Luas Usaha Perikanan Darat Berdasarkan Kecamatan di Kabupaten Bengkulu Selatan Tahun 2000
Kecamatan 1. Kaur Selatan 2. Nasal 3. Maje 4. Kaur Tengah 5. Kinal 6. Kaur Utara 7. T. Kemuning 8. Manna 9. Kota Manna 10. Kedurang 11. Seginim 12. Pino 13. Pino Raya 14. Talo 15. Semidang Alas 16. Semidang Alas Maras 17. Seluma 18. Sukaraja Jumlah 2000 1999 1998 1997 1996 Perairan Umum (Ha) 91 59.6 76 217.6 183 213.1 138 116 82 373 515 175 162 137 179 120 1.226 440 4.505 4.504.50 4.496.00 4.542.00 4.698.00 4.483.00 Kolam (Ha) 3 2 2 7 5 8 13 26 32 129 193 216 121 19 14 12 59 5 856 856.4 553 532 535 535 Sawah (Ha) 2 1 2 3 1 2 4 19 18 137 129 12 8 3 4 2 66.05.0 5 352 41803 415.1 421 296.6 409.6 Tambak (Ha) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 5 5 5 0 0 0 0 Keramba (Ha) 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Jumlah 96 63 80 228 189 223 155 161 132 639 827 403 291 159 197 134 1.285 455 5.718

Luas usaha perikanan budidaya sebanyak 5.718 Ha, dan dibandingkan dengan luas daratannya yang 594.913 km2 adalah sangat kecil, yaitu hanya 0.000961 % saja, jadi sangatlah kecil sumber daya yang diusahakan tersebut. Daerah yang mempunyai kegiatan usaha perikanan darat yang potensial adalah Kecamatan Kaur Tengah (217.6 Ha), Kaur Utara (213.1 ha), Kedurang (373 Ha), Seginim (515 Ha), Seluma (1.226 Ha) dan Sukaraja (440 Ha). Maka tampak dengan jelas kegiatan usaha perikanan pembudidayaan, masyarakat maritim di daerah ini masih tergolong ketinggalan dibandingkan dengan daerah lainnya. Jadi masyarakat perlu pendorongan tentang potensi ekonomi yang tersedia dari sector pembudidayaan. Apabila potensi ini termanfaatkan dengan baik, yaitu dari teknik budidaya, social kemasyarakatan, pemasaran dan pengaruh dari aspek budaya, maka realisasi potensi tersebut dapat ikut mensejahterkan masyarakatnya.

4. Pengolahan Produk Kegiatan usaha masyarakat maritim yang ada di kawasan pesisir dan dekat sungai di daerah Kabupaten Bengkulu Selatan belum banyak di lakukan. Kegiatan usaha pengolahan produk dari ikan dan biota laut lainnya, baik melalui hasil tangkapan yang di lakukan masyarakat maritim, di daerah ini belum menjadi kegiatan usaha utama sebagai sumber penghidupan keluarga, karena itu usaha industri produk maritim pada skala rumah tangga maupun skala menengah belum ada. Indikasi bahwa kegiatan usaha ini belum menjadi kegiatan usaha utama dapat diketahui di dalam statistik Bengkulu Selatan Dalam Angka 2000, yaitu belum ditemukan adanya data-datanya. Pengolahan produk dari hasil maritim untuk wilayah pesisir di Bengkulu Selatan akan dapat dikembangkan, apabila hasil penangkapan dapat ditingkatkan lagi. Tetapi peningkatan tersebut mengalami kesulitan, termasuk juga diversifikasi produknya. Memperhatikan luasan kawasan dengan panjangnya garis pantai yang dimiliki dan lautan yang langsung ke ZEE, sebenarnya daerah ini memiliki potensi besar untuk usaha sektor penangkapan. Kalau potensi itu termanfaatkan dengan baik, maka usaha pengolahan produk hasil maritim juga dapat didorong, karena ketersediaan hasil tangkapan ikan laut yang secara terus menerus dapat diadakan. Dari kenyataan-kenyataan yang ada, terlihat dengan gambling bahwa usaha penangkapan skala menengah ke atas yang sesuai untuk di kembangkan. Agar perkembangan itu dapat terwujut, tentulah perlu ada dorongan intensif kebijakan spesifik yang mampu membuat pengusaha penangkapan ikan di laut dapat bersaing dan menguntungkan. III.PENGUSAHAAN MARITIM Pengusahaan maritim yang dimaksudkan pada tulisan ini adalah hanya memberikan penggambaran tentang kegiatan masyarakat maritim dalam upaya mereka memenuhi kebutuhan hidupnya melalui kegiatan usaha di sub kegiatan perikanan. Adapun cakupan ulasan yang dikemukakan hanya terbatas pada kegiatan usaha maritim, perikanan laut, perikanan darat dan pengolahan produk maritim. Dari penggambaran yang ada, diharapkan ada pemahaman bahwa sektor maritim tidak hanya diartikan sebagai orang yang berkecimpung di air, tetapi maritim memberikan kehidupan bagi manusia, karena itu sumber daya maritim akan termanfaatkan bagi kehidupan manusia apabila dimengerti dengan baik tentang kharakterisitk kemaritiman tersebut. Dengan demikian ilmu yang diperlukan haruslah mencakup berbagai bidang yang berbasiskan kemaritiman, seperti teknologi yang berbasiskan maritim atau perairan, sifat-sifat produk yang dihasilkan, aspek-aspek ekonomi yang sesuai dengan kemaritiman, aspek sosial dan budaya yang berlaku bagi masyarakat maritim. Jadi pengusahaan maritim merupakan upaya penggabungan dari berbagai bidang yang diperlukan yang terkait dengan kemaritiman. 1. Kegiatan Usaha Maritim Usaha maritim adalah kegiatan ekonomi yang berbasiskan kemaritiman. Dalam hal ini kegiatan usaha tersebut dibatasi pada penangkapan ikan yang dilakukan oleh anggota masyarakat maritim. Usaha kegiatan penangkapan ikan di laut di Bengkulu Selatan tergolong masih belum berkembang, keadaan ini dapat di lihat dari teknologi yang dipakai yaitu masih tradisional. Ciri ketradisionalan yaitu armada penangkapannya yang kebanyakan masih berupa perahu tidak bermotor lebih banyak, sedangkan yang bermotor berukuran kecil jumlahnya mendominasi. Alat tangkap yang digunakan berupa jaring, di lihat dari ukurannya juga tidak terlalu besar, dan jenis jaring yang banyak digunakan adalah gill net, pancing dan jaring udang (shrimp). Di lihat dari kapasitas rata-rata untuk perahu/kapal tidak bermotor baru 1.500 kg, dan motor tempel 2000 kg, sedangkan untuk kapal motor 3000 kg. Jadi dari gambaran kemampuan yang ada, maka upaya yang di lakukan masyarakat maritim masih minim sekali. Kalau membandingkan dengan usaha perikanan budidaya, juga menunjukkan usahanya masih terbatas, keterbatasannya dapat di lihat dari skala usaha yang masih setingkat rumah tangga. Adapun untuk usaha industri pengolahan

yang bahan bakunya berupa ikan dari hasil tangkapan di laut, menampakkan juga belum berkembang optimal. 2. Perikanan Laut Usaha penangkapan dengan perahu/kapal yang tidak bermotor dan kapal di Bengkulu Selatan gambaran pengusahaannya adalah sebagai berikut. Untuk dapat berusaha di kegiatan penangkapan, persyaratan yang harus dipenuhi adalah: 1) ada investasi terhadap sarana penangkapan, 2) biaya operasi penangkapan, 3) administrasi izin usaha perahu motor/kapal maritim (Perda No. 16 Tahun 2001), 4) melakukan pelelangan hasil penangkapan di tempat Pelelangan Ikan (TPI) berdasarkan (Perda No. 15 Tahun 2001) dan membayar retribusi di TPI. Kegiatan usaha penangkapan dapat dikelompokkan menurut jenis armadanya. Berdasarkan data yang tersedia dari hasil wawancara bulan April 2002, didapat informasi, untuk setiap unit penangkapan biaya investasi per unit usaha armada penangkapan adalah di dalam Tabel. 5 sebagai berikut: Tabel. 5. Biaya Investasi Armada Penangkapan Tradisional Per-Unit di Bengkulu Selatan, Tahun 2000
Armada Penangkapan A. Investasi a. Kasko b. Mesin c. Jaring d. Pancing e. Perizinan f. Modal operasi g. Lain-lain Total B. Biaya Operasional a. Oli/Bensin b. Rokok c. Ransum d. Cadangan Total Total Kebutuhan Biaya P/KTM (Rp) 2.500.000 1.250.000 500.000 250.000 50.000 4.550.000 15.000 15.000 5.000 35.000 4.585.000 Investasi MT (Rp) 3.500.000 1.000.000 2.000.000 500.000 40.000 300.000 75.000 7.415.000 17.500 15.000 15.000 10.000 57.500 7.472.500 KM (Rp) 8.000.000 4.000.000 3.000.000 500.000 100.000 1.000.000 150.000 16.750.000 50.000 20.000 25.000 25.000 120.000 16.870.000

Melihat jumlah total biaya investasi per unit usaha berdasarkan jenis armada penangkapannya, maka usaha penangkapan membutuhkan investasi yang cukup besar, terutama bagi masyarakat maritim yang tingkat pendapatannya masih rendah, biaya ini masih dianggap sangat memberatkan. Dengan kondisi lingkungan ekologi laut yang berombak besar dan berhadapan langsung dengan laut lepas, jelas kegiatan usaha penangkapan di daerah pantai Barat sangat sulit berkembang atau dikembangkan. Agar masyarakat maritim mampu mengembangkan diri diusaha penangkapan, jelaslah bantuan peranan pemerintah menjadi penting, dan juga sangat perlu mempunyai program bantuan berbasiskan kebutuhan masyarakat penangkap ikan. Seperti perkreditan khusus nelayan, sarana penunjang tempat pendaratan, jalan dan pasar ikan yang dilengkapi air bersih, es dan sarana transportasi khusus ikan dan hasil perairan.

3. Perikanan Darat Usaha perikanan darat, terutama yang di lakukan di perairan umum, kolam, sawah dan tambak masih sangat terbatas. Usaha yang ada belum berkembang dengan baik, umumnya berada di perairan umum dan kolam. Sampai saat ini, daerah yang banyak mengusahakan perikanan perairan umum terdapat di daerah Kecamatan Kaur Tengah (217.6 Ha), Kaur Utara (213.1 Ha), Kedurang (373 Ha), Seginim (515 Ha), Seluma (1.226 Ha) dan Sukaraja (440 Ha). Adapun pengusahaan di kolam (Freshwater pond) masih tergolong sedikit, yang cukup maju hanyalah di Kedurang (129 Ha), Seginim (183 Ha) dan Pino (121 Ha). Kalau usaha perikanan ini di lihat dari kemampuan berproduksi, kelihatannya masih rendah, karena pengushaannya masih sangat tradisional, belum banyak peran teknologi, masih sangat mengandalkan alam. Kenyataan tersebut dapat di lihat dari perbandingan antara luasan lahan ( Ha ) dengan produksinya, dari angka lima tahun terakhir ini memberikan penggambaran sebagai berikut: Tabel. 6. Produktivitas Perikanan Darat Berdasarkan Perbandingan Luasan Lahan, Di Bengkulu Selatan.
Perairan Kolam Umum/ha (Ha) 1996 4.483 535 1997 4.698 535 1998 4.542 532 1999 4.496 553 2000 4.504 856 Sumber : Bengkulu Selatan dalam angka 2000 Tahun Jumlah (Ha) 5018 5233 5074 5049 5360 Produksi (Ton) 1.228 1.042 1.082 1.414 1.192 Produktivitas (Kg) 244.719 199.121 213.244 280.05 222.59

Gambaran lima tahun terakhir jelas menunjukan produktivitas produksi perikanan darat masih sangat rendah produksi per Kolam hanya sekitar 200 kg saja. Jadi campur tangan teknologi secara umum dapat dikatakan di daerah Bengkulu Selatan masih sangat sedikit, pengetahuan masyarakat tampaknya hanya berbasiskan cerita keluarga secara turun temurun. Dengan potensi wilayah yang besar, maka peran pemerintah untuk mampu mendongkrak pertumbuhan perikanan di darat ini peranannya masih sangat besar. Praktek pembudidayaan ikan mas dan ikan lainnya

masih sangat dipengaruhi oleh peran keluarga dan adat istiadat daerah setempat, yaitu berdasarkan kebiasaan yang berlaku di daerah Kecamatan masing-masing. Dengan demikian dapat disimpulkan, daerah ini dalam upaya pengusahaan kolam ikan belum intensif dan masih menggantungkan dengan alam, jadi belum banyak perubahan cara dengan memanfaatkan teknologi mutakhir. 4. Pengolahan Produk Maritim Usaha dalam bentuk industri rumah tangga atau berbentuk badan usaha yang menjadikan produk maritim sebagai industri pengolahan belum banyak di lakukan masyarakat. Pengolahan produk hasil maritim masih terbatas untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dalam bentuk sayur mayur, belum menjadi industri usaha. Karena itu produk ikan olahan seperti ikan asin, ikan asap, apa lagi produk ikan olahan seperti nuget, sosis dan lain-lain hampir tidak dikenal, dan tidak dapat ditemukan dengan mudah. Bentuk usaha yang di lakukan baru terbatas pada hasil tangkapan nelayan, atau hasil kolam langsung di jual ke pasar dalam bentuk segar atau hidup tanpa perlakuan tertentu seperti pengepakan. Untuk hasil tangkapan udang (shrimp), pemasarannya melalui agen-agen khusus dan umumnya di jual ke luar daerah dari Bengkulu Selatan. III. EKONOMI MASYARAKAT MARITIM Kabupaten Bengkulu Selatan secara geografis daratannya lebih luas dari perairan laut, sungai, dan danaunya, maka peranan sektor maritim dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya belumlah signifikan dalam membentuk pertumbuhan ekonominya. Dari prospek ke depan, sektor maritim diharapkan dapat berkembang apabila sarana, prasarana dan sektor finansial dapat mendukung. Untuk membangun dan mempersiapkan prasarana dan sarana dengan kondisi topografi pantai yang curam dengan gelombang besar membutuhkan banyak pembiayaan. Apabila dicermati lebih lanjut, kendala lainnya bukan hanya bersifat fisik, tetapi juga non-fisik, seperti sumber daya manusia masyarakat maritimnya. Tofografi wilayah yang berbukit-bukit, pantainya berhadapan langsung pada lautan samudera dengan arus dan gelombang yang kuat, tentulah kegiatan usaha di sektor kemaritiman harus sesuai dengan kondisi kemaritimannya tersebut. Tampaknya usaha kemaritiman yang sesuai adalah armada yang besar dengan padat modal dan tenaga nelayan yang terampil. Keadaan seperti tersebut sulit di lakukan oleh nelayan yang ada sekarang ini, karena keterbatasan berbagai faktor diluar jangkauan mereka. Pemerintah Kabupaten Bengkulu Selatan setelah otonomi daerah di terapkan, program pertama berupaya memberdayakan sumber daya maritim yang mereka miliki, salah satunya adalah membuat beberapa kebijakan fiskal. Perda yang mengandung fiskal dan termasuk retribusi di dalamnya adalah Perda No. 16 Tahun 2001 dan No. 15 Tahun 2001. Dari Perda ini diharapkan akan dapat mendorong kegiatan usaha sektor maritim, meningkatkan kesejahteraan, membuka lapangan kerja dan meningkatkan PAD. Berdasarkan kenyataan di lapangan yang masih memiliki berbagai keterbatasan, maka pelaksanaan Perda-perda tersebut belum dapat di lakukan optimal. Memperhatikan keadaan tersebut, kebijakan yang diambil, untuk sementara belum dilaksanakan secara ketat, tetapi masih bertujuan untuk mensosialisasikan pentingnya Perda dalam mendukung roda pemerintahan dari sektor maritim, sekaligus penginventarisasian permasalahan yang sesungguhnya dihadapi oleh nelayan. Ketahanan sektor maritim di Bengkulu Selatan dapat di lihat dari indikator maritim, meliputi armada penangkapan, budidaya dan pengolahan produk. Adapun untuk kegiatan usaha penangkapan, kegiatannya lebih ke arah penangkapan ikan di laut dan di perairan umum. Potensi wilayah dibandingkan dengan armada ternyata setiap armada memiliki 91 km2 wilayah jelajah, jadi masih sangat jarang, tetapi belum didukung oleh kemampuan produksi, secara rata-rata perunit armada penangkapan baru mencapai 23.13 Kg. Dari sub kegiatan pembudidayaan, Bengkulu Selatan masih membutuhkan pengusaha yang mampu memanfaatkan potensi sumber daya lahan budidaya yang tersedia, peluangnya masih terbuka, dimana lahan yang diusahakan baru mencapai

0.000961% dari 594.913 m2. Menilik dari angka ini maka realisasi sumber daya budidaya sangatlah kecil dibanding dengan potensinya. Kalaupun di lihat dari tingkat produktivitasnya, juga masih rendah, yaitu baru 222 Kg/Ha. Hal ini mencerminkan juga, ternyata usaha budidaya ikan masih belum berkembang dan menjadi sumber penghidupan utama masyarakat Bengkulu Selatan. Untuk pengolahan produk dari hasil maritim, sampai saat ini belum ada yang mengusahakannya menjadi industri rumah tangga, apalagi yang berbentuk perusahaan. Maka sub sektor pengolahan belumlah menjadi prospek ekonomi Bengkulu Selatan. Industri pengolahan memang erat kaitannya dengan tingkat pemanfaatan dan pengusahaan sumber dayanya. Kegiatan usaha maritim memberikan gambaran, bahwa sektor ini tingkat kegiatannya masih rendah, dan sebagai contoh tentang rendahnya kegiatan tersebut salah satunya dari besaran modal investasi usaha. Untuk armada penangkapan per-unitnya antara Rp. 4.550.000 – Rp. 16.750.000 yang relatif kecil, tapi mahal bagi masyarakat maritim. Biaya investasi yang dirasakan mahal ini juga berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan masyarakat maritim berinvestasi. Pengaruhnya adalah aktivitas penangkapan masih sederhana, dan usaha penangkapan belum berkembang. Untuk usaha perikanan darat, masih berupa usaha sambilan ditingkat keluarga yang ada hubungannya dengan kegiatan budaya atau adat istiadat. Jadi belum bersifat komersial. Adapun sub sektor pengolahan juga masih belum berkembang. V. PENUTUP Berdasarkan indikator maritim; yaitu maritim tangkap, armada penangkapan, budi daya dan pengolahan produk maritim yang memberikan indikasi tingkat kegiatannya masih sederhana yaitu sejak tahun 1996 – 2000, maka dapat diinformasikan bahwa performance activitas pemanfaatan sumber daya sektor maritim masih belum berkembang dengan baik. Untuk meningkatkan kemampuan usaha maritim baik di sektor penangkapan, budi daya maupun pengolahan memerlukan program-program yang berpihak kepada masyarakat, seperti pembinaan, zonasi wilayah, sistem perbankan dan Co. Manajemen. Dari gambaran indikator ekonomi maritim, pertumbuhan ekonomi Bengkulu Selatan, memberikan gambaran, pemerintah daerah telah berupaya untuk memacu pertumbuhan dengan membuat berbagai program, khususnya di sektor maritim. Peranan sektor maritim di tahun-tahun yang akan datang diharapkan akan semakin menjadi penting. Berdasarkan gambaran di lapangan dapat diketahui, kegiatan-kegiatan usaha maritim masih sederhana, hal ini tercermin dengan skala usaha dan diversifikasi usaha kegiatan masih terbatas. Kegiatan usaha penangkapan masih skala kecil dengan alat tangkap dan armadanya tradisional, begitu juga budidaya ikan belum berkembang ke arah intensifikasi, serta bidang kegiatan pengolahan produk belum mengarah pada usaha yang bersifat industri. Dari gambaran ini maka secara umum kegiatan maritim pada tatanan yang belum berkembang. Untuk mendorong berkembangnya usaha sektor maritim, maka perlu pendorongan dari semua pihak yaitu masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, dan pemerintah, yang menjadikan sektor maritim sebagai aset pertumbuhan riil daerah. DAFTAR PUSTAKA Bappeda, 2000, Data Pokok Perencanaan Pembangunan Kabupaten Bengkulu Selatan, Pemerintah Kabupaten Bengkulu Selatan, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. Pemda Bengkulu Selatan, 2000, Bengkulu Selatan Dalam Rangka Kerja sama Pemerintah Daerah Bengkulu Selatan Dengan Badan Pusat Statistik, Kabupaten Bengkulu Selatan. Perda, 2001, Peraturan daerah No. 15 Tahun 2001 Tentang Retribusi Tempat Pelelangan Ikan (TPI), Lembaran Daerah Kabupaten Bengkulu Selatan. Perda, 2001, Peraturan daerah No. 16 Tahun 2001 Tentang Retribusi izin Usaha Maritim dan Izin Perahu Motor/Kapal MaritimLembaran Daerah Kabupaten Bengkulu Selatan.

BAB V V.MASYARAKAT MARITIM LAMPUNG BARAT I. PENDAHULUAN. Pembangunan Daerah Kabupaten Lampung Barat (Lambar) tidak dapat dipisahkan dengan pembangunan Provinsi, yaitu bertujuan meningkatkan kesejateraan masyarakat secara berkelanjutan, sehingga dicapai suatu kehidupan masyarakat yang adil dan makmur. Kegiatan pembangunan yang di lakukan oleh pemerintah kabupaten membutuhkan dana yang bersumber dari PAD dan dari pendapatan bukan PAD (non – PAD). Menurut UU No. 22 Tahun 1999, sumber PAD Kabupaten adalah: 1.) Hasil Pajak Daerah, 2.) Hasil Retribusi Daerah, 3). Hasil Perusahaan Milik Daerah, 4). Lain-lain pendapatan Daerah yang sah. Sedangkan sumber nonPAD adalah dari: 1). Dana Perimbangan, 2). Pinjaman Daerah, dan 3). Lain-lain pendapatan daerah yang sah. Dengan telah berlakunya UU No. 22/1999, UU No. 25/1999 dan PP No. 25/2000, maka kabupaten Lampung Barat yang merupakan bagian kesatuan wilayah Indonesia harus mengubah paradigma pembangunannya dengan yang baru, yaitu melakukan perubahan mendasar dan mengandung semangat desentralisasi, berpola pendekatan wilayah, serta berorientasi pada pengembangan keunggulan komperatif dan keunggulan kompetitif. Salah satu komponen penting dalam pembangunan Daerah Kabupaten adalah peran Pemerintah bersama-sama masyarakat mendorong perekonomian regional menjadi semakin maju. Kebijakan Ekonomi adalah instrumen legalitas yang dapat membantu pencapaian pembangunan, pemerintah melakukan fungsi pelayanan umum dan masyarakat sebagai partisipan dalam kegiatan pembangunan yang di cerminkan oleh kontribusi mereka dalam pembentukan pendapatan PAD. Kabupaten Lambar terletak pada 40 47’ 16”- 50 56’ 42” LS dan 1030 35’ 8’’- 1040 33’ 51” BT dengan luas Daerah 4.950,40 km² (4.950,40Ha) atau 13,99% dari luas provinsi lampung. Batas wilayah adalah dengan; Sebelah Utara dengan: Kabupaten Bengkulu Selatan dan Ogan Komering Ulu, Sebelah Selatan dengan Samudra Indonesia, Sebelah Barat dengan Samudra Indonesia, Sebelah Timur dengan Kabupaten Tanggamus, Lampung Utara dan Lampung Tengah. Lambar terletak pada ketinggian 0-1200 m dpl yang dibagi menjadi wilayah daratan berbukit (500-1000 m dpl) dan wilayah pesisir (0-500 m dpl). Disamping itu tanahnya di dominasi oleh endapan gunung berapi dengan jenis Andisol, Ultisol, dan Inseptisol. Tanahnya relatif subur dan juga mengandung mineral tipe galian C. Musimnya adalah Barat dan Barat Laut pada bulan November- Maret dan Timur dan Tenggara bulan Juli- Agustus dengan temperatur antara 330C220C yang beriklim tropis. Penduduk yang berdiam di daerah Lambar pada tahun 2000 sebanyak 365,999 jiwa yang tersebar di 6 (enam) Kecamatan dengan rata-rata kepadatan per Km2 sama dengan 74 jiwa/Km2. Sumber maritim yang ada, yaitu di lihat dari batas kewenangan pengelolaan wilayah laut pembagian untuk pemerintah daerah se tingkat Kabupaten/Kota. II. GAMBARAN PEMBANGUNAN. 1. Kebijakan Pembangunan Pada pasal 1 UU No. 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah dinyatakan bahwa Otonomi Daerah adalah kewenangan daerah otonomi untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 1 ini memberikan pungutan bahwa daerah harus mampu: a). Berinisiatif sendiri (menyusun kebijakan daerah dan rencana pelaksanaannya). b). Memiliki alat pelaksanaan sendiri yang berkualitas. c). Membuat peraturan sendiri (dengan Perda). d). Menggali sumber-sumber keuangan sendiri menetapkan pajak (Fiscal), retribusi dan lain-lain usaha yang sah sesuai dengan perda yang berlaku. Tabel 1. Indikator Perikanan Kabupaten Lampung Barat, Tahun 2000

Indikator I. RTP. 1. Penangkapan. 2. Perairan Umum. 3. Budidaya Kolam. 4. Mina padi. 5. Keramba/Jarpun 6. Pedagang Ikan. II. Alat Produksi. 1. Perahu Tanpa Motor. 2. Motor Tempel. 3. Kapal Motor. 4. Alat Tangkap. III. Produksi. 1. Penangkapan di Laut. 2. Perairan Umum. 3. Keramba/Jarpun 4. Tambak. 5. Kolam. 6. Mina Padi. VIII. Konsumsi IX. Perizinan 1. Penangkapan 2. Pengumpul X. Kelembagaan Nelayan 1. Kelompok 2. KUD 3. TPI 4. Pengusaha

Satuan RTP RTP RTP RTP RTP RTP Unit Unit Unit Unit Ton Ton Ton Ton Ton Ton Kg/Kap/Th

1996 3.330 819 631 951 54 52 417 111 13 1412 6.298 330,9 11,4 306,9 233,3 17,50 4 4

1997 3.643 845 643 1.003 59 59 432 123 8 2.967 6.373,2 321,3 12,5 296 224,4 17,90 4 4 723 19 2 17

Tahun 1998 3.650 867 698 1.032 66 68 487 124 8 2043 6.702,1 323,7 13,5 302 230,6 19,81 4 4 733 19 2 17

1999 3.743 895 764 1.045 69 79 492 126 18 2.977 6.737,3 324 9,4 294,5 252,7 19,90 6 4 735 19 2 19

2000 3.850 897 798 1.070 76 88 497 129 28 2045 6.773,6 459,6 11,6 262,3 262,3 20 9 5 763 19 2 21

Buah Buah Buah Buah

713 19 2 17

Otonomi daerah pada daerah kabupaten meletakkan dasar semakin banyak urusan-urusan, baik jumlah maupun jenisnya, dari pemerintah Pusat dan atau pemerintah daerah propinsi yang diserahkan kepada pemerintah kabupaten, termasuk fiskal. Bagi daerah otonomi setingkat Kabupaten, terbuka peluang memanfaatkan sumberdayanya, temasuk sektor kelautan dan perikanan bagi kepentingan peningkatan PAD. Sesuai pasal 79 Undang-undang No.22/1999 dan pasal 3 Undang-undang No. 25/1999 tentang perimbangan antara Pusat dan Daerah, disebutkan PAD terdiri atas; a). Hasil Pajak Daerah. b).Hasil Retribusi Daerah. c). Hasil Perusahaan Milik Daerah, d).Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan. e). Lain-Lain Pendapatan Daerah Yang Sah. Adapun PAD yang berasal dari pajak daerah dan hasil retribusi daerah, besar atau kecil penerimaannya dapat dipengaruhi oleh: a).Besar atau Kecil obyek pajak atau retribusi. b). Kemampuan Aparatur Pemungut. c). Tingkat Kesadaran Hukum Wajib Pajak Retribusi. Dengan demikian betapa pentingnya penerimaan pajak dan retribusi daerah bagi pengembangan ekonomi suatu daerah. Pajak daerah adalah iuran wajib yang di lakukan oleh orang pribadi atau badan kepada daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang, yang dapat dipaksakan berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku, yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan daerah dan pembangunan daerah. Retribusi daerah adalah pemungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan atau diberikan oleh pemda untuk kepentingan orang pribadi atau badan. Dengan adanya Undang-undang No. 18/1997 tentang Pajak dan Rertibusi Daerah, telah terjadi pembatasan jumlah pajak dan retribusi yang dapat dipungut oleh Pemda. Menurut ketentuan, terdapat 6 jenis pajak daerah, 3 (tiga) golongan retribusi daerah, dimana sebelumnya terdapat lebih dari 40 jenis pajak retribusi daerah.

a). 6 Jenis pajak daerah: 1).Pajak Hotel Dan Restoran. 2).Pajak Hiburan. 3).Pajak Reklame. 4). Pajak Penerangan Jalan. 5). Pajak Pengambilan Dan Pengolahan Bahan Galian Golongan C. 6). Pajak Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan. b). Sedangkan 3 (tiga) Golongan Retribusi Daerah ialah: 1). Retribusi Jasa Umum. 2). Retribusi jasa Usaha. 4). Retribusi Untuk Perizinan Tertentu. Di sektor Maritim, retribusi (Retribution)sangat populer diterapkan sebelum tahun 1997, maka dengan adanya UU No.18/1997, di dalamnya ada penjelasan pasal 2 tentang batasan pajak dan retribusi, pemda menjadi jelas ruang lingkupnya dalam menciptakan perda di daerahnya. Agar sektor maritim dapat memberikan kontribusi pada PAD, upaya pembuatan Perda di sektor maritim, Lambar sedang mengusahakan pembuatan rancangannya, yaitu berkenaan dengan retribusi ke tiga golongan tersebut yang akan diterapkan di maritim. Mengingat potensi maritim; laut, darat dan pengolahan yang cukup menjanjikan, maka diharapkan sektor pontensial penyumbang pendapatan asli daerah secara bertahap dapat digali dan di penuhi oleh sektor maritim Lambar. Untuk saat ini, kontribusi tersebut masih sangat minim, dan perda khusus di sektor maritim tentang retribusi belum terwujud. Masyarakat maritim sebagai pemanfaat sumberdaya masih bebas melakukan usahanya tanpa ada kewajiban yang di atur perda untuk membayar pajak atau retribusi daerah. Mereka baru dikenai dengan perda No.02/1999 tentang Retribusi Pasar Grosir dan atau Pertokoan yang objeknya di TPI Krui dan TPI Biha. 2. Pertumbuhan Ekonomi Maritim. Pertumbuhan ekonomi maritim tidak dapat terpisah dari pertumbuhan ekonomi Lampung Barat. Pada tahun 1998 ada pertumbuhan 5,20%, dan pada tahun 1997 pertumbuhan tersebut masih mengalami minus, yaitu –1,42%. Tingkat pertumbuhan mulai mengalami perbaikan, walaupun masih relatif sederhana, di mana pada tahun 1999 pertumbuhan terjadi 6,92%, dan di tahun 2000 justru mengalami penurunan menjadi 5,64%, tetapi angka ini masih menunjukan pertumbuhan yang positif. Dalam 4 (empat) tahun terakhir, secara makro regional, tanda perbaikan ekonomi menunjukan cenderung ke arah pertumbuhan. Ketahanan ekonomi ditopang oleh pertumbuhan yang selalu positif, dari lapangan usaha listrik dan air bersih serta pengangkutan dan komunikasi, adapun sektor usaha lainya pernah mengalami pertumbuhan negatip. Untuk sektor perikanan masih menunjukan kekuatan pemulihan yang tinggi, yaitu pada periode tiga (3) tahun terakhir yang selalu positif dengan angka pertumbuhan relatif baik. Ketahanan tersebut tidak lepas dari kontribusi sektor maritim sejak tahun 1993 – 2000 yang tidak pernah mengalami pertumbuhan negatip. Tabel 2. Pertumbuhan Ekonomi Berdasarkan Lapangan Usaha Tahun 1997 - 2000
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Lapangan Usaha Perikanan Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan Listrik dan Air Bersih Bangunan Perdagangan, Hotel & Restoran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan & Perawatan Jasa – Jasa PDRB 1997 9,12 9,21 13,79 27,77 8,95 3,85 9,90 2,84 1,06 -1,49 1998 27,80 -38,95 -2,33 5,78 -38,03 -15,05 20,68 -7,91 -5,20 5,20 1999 2,33 -3,82 11,73 18,58 -1,08 20,16 17,17 -16,16 19,46 5,92 2000 3,99 11,98 2,91 2,88 12,99 11,92 8,84 4,99 1,67 5,64

Sektor usaha perikanan termasuk maritim yang ikut membentuk PDRB, dilihat dari peranan sektor perikanan dibandingkan dengan sektor lainnya (tanaman bahan makanan, tanaman perkebunan, peternakan dan hasil – hasilnya, kehutanan dan maritim) masih yang terbesar. Perkembangannya dari tahun 1997 sebesar 55,65%, dan tahun 1998 meningkat menjadi 72,41%, tahun 1999 turun menjadi 67,12% dan pada tahun 2000 menjadi 69,70%. Dari deretan angka

presentase ini, jelas terlihat kontribusi perikanan dalam menggerakan ekonomi Lambar sangatlah dominan. Perikanan yang merupakan sub sektor maritim, kontribusinya terhadap PDRB gambarannya di lapangan usaha perikanannya seperti berikut. Tabel 3. Kontribusi Perikanan Atas Dasar Harga Yang Berlaku Terhadap Perikanan Dan PDRB Lampung Barat 1993-2000/ juta Rupiah.
Tahun 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 Angka Absolut Perikanan 5.948 7.134 9.870 12.774 16.846 24.719 43.200 44.772 Kontribusi Perikanan 6,17 5,12 6,14 6,68 8,00 4,16 6,65 6,17 PDRB 3,34 2,90 3,33 3,77 4,52 3,51 4,47 4,30

Dari kontribusi presentase terhadap PDRB, jelas memperlihatkan tendensi yang bersifat positip terhadap pertumbuhan ekonomi. Dari angka ini terbaca ada kecenderungan investasi usaha terjadi pada pembangunan ekonomi sektor maritim, yaitu ada konsistensinya antara kontribusi maritim terhadap perikanan dan PDRB yang semakin meningkat (Tabel 3). Dari sisi moneter memperlihatkan pada ketahanannya terhadap gejala fluktuasi moneter yang ditandai dengan kurs rupiah terhadap US $ yang semakin melemah, justru berdampak positip terhadap sektor maritim, karena masih mengalami pertumbuhan positip. Potensi maritim sebagaimana tercantum dalam laporan-laporan dinas Perikanan dan Kelautan (2001), jelas apabila dapat ditingkatkan realisasinya, maka akan mampu memacu pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi lagi. Sampai periode tahun 2000 sub sektor perikanan dalam berperan mendorong pembangunan ekonomi telah dapat melakukan dan menghasilkan kebijakan program yaitu: 1. produksi mencapai 7.819,4 Ton atau mengalami kenaikan sebesar 2,65% dibanding tahun 1999. Produksi penangkapan di laut adalah sumber produksi paling besar yaitu mencapai 6.773,6 Ton atau sebesar 83,16% dari total produksi. 2. Pendapatan petani ikan dan nelayan mengalami penigkatan yaitu untuk nelayan 4,52% dan pertani ikan sebesar 11,67% 3. Konsumsi ikan mengalami penigkatan 1,75% atau mencapai 21,46 Kg/ kapita/Tahun. 4. Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sub sektor maritim menigkat 62,15% dari Rp 9.405.000 menjadi Rp 15.250.000. 5. Armada penangkapan ikan berkembang 1,78% dan jumlah alat tangkap ikut meningkat 0,77% dari tahun sebelumnya. Untuk meningkatkan jumlah produk dan tumbuhnya usaha dibidang pengolahan, upaya pemukiman di lakukan dengan cara membuat kelompok kerja di 6 lokasi dengan total jiwa 120 orang. Daerah pemasaran ikan segar atau olahan dari Lambar ke Telukbetung, Batu Raja, Muara Dua, Palembang, dan Jakarta di upayakan terus meningkat. Di tahun 2000 ini ada peningkatan pemasaran ikan, hal ini terjadi karena ada dukungan sarana dan prasarana transportasi serta peranan koperasi mina. Maka jelaslah peran serta sektor maritim masih dapat ditingkatkan, tetapi faktor-faktor penghambat teknis seperti Geografi wilayah yang tidak dapat diabaikan dan non Teknis tentang ketepatan perencanaan dan pelaksanaan program, masih memerlukan perbaikan dan peningkatan, baik SDM-nya maupun anggarannya. III. PENGUSAHAAN MARITIM

Pengusahaan maritim yang dimaksudkan dalam uraian tulisan ini hanya terbatas pada pengusahaan perikanan, yaitu perikanan tangkap dan perikanan budidaya, termasuk pengolahannya dan masyarakat maritim. Pengusahaan di sektor maritim sebenarnya mencakup bukan saja pengusahaan perikanan, tetapi juga banyak bidang kegiatan usaha-usaha yang ada kaitannya dengan sumber daya maritim, seperti; wisata maritim, transportasi maritim, pertambangan bawah laut, jasa kemaritiman dan lain-lainnya. 1. Perikanan Tangkap Luas wilayah administrasi pengelolaan pemanfaatan perairan Laut, masing-masing memiliki potensi sumber daya maritim dalam Ton/Tahunnya. Untuk pemda kabupaten Lambar yang memiliki 4 mil Laut sumber daya maritimnya sebesar 16.500 Ton/Tahun, pemda provinsi lampung memiliki 8 mil laut sumber daya maritimnya sebesar 33.000 Ton/Tahun, dan pemerintah Pusat memiliki 200 mil laut sumber daya maritimnya sebesar 90.000 Ton/Tahun. Produksi tongkol pada tahun 2000 telah mencapai 6.737,6 Ton dan tahun 1999 sebesar 6.737,3 ton, dan tahun 1998 sebanyak 6.702,1 Ton. Jadi ada kencenderungan meningkat dari tahun ketahun dan rata-rata peningkatannya sebesar 0,26%. Ini memberikan gambaran nelayan di lampung barat berusaha di sektor penangkapan mulai melihat bidang usaha maritim dapat memberikan prospek ekonomi kehidupan. Untuk melihat kencenderungan tersebut tercermin dari perkembangan armada penangkapannya, di di pesisir tengah (312 unit), pesisir Utara (140 unit) dan pesisir selatan (178 unit). Armada penangkapan ini juga didukung alat tangkap sebanyak 2.092 unit, dan sejak tahun 1998 sampai sekarang mengalami kenaikan juga. Gambaran kegiatan usaha tangkap yang ada saat ini masih di dominasi oleh perahu tanpa motor (500 unit) atau 79,37% nya dari total armada penangkapan. Jumlah armada yang tercatat untuk motor tempel sebanyak (122 Unit) atau 19,36% sedangkan kapal motor hanya 8 buah atau 1,26% saja, jadi komposisi armadanya masih sangat timpang. Di lihat dari alat tangkap yang digunakan ternyata Rawai Hanyut (Drift long line) 600 unit atau jaring Insang 630 Unit atau sedangkan armadanya masih perahu tanpa motor yang mendominasi, maka kegiatan usaha penangkapan ini jelas dalam bentuk sederhana, skala kecil dan beraktivitas di tepi pantai yang terseleksi. Di lihat dari rata-ratanya, setiap armada mengoperasikan lebih dari satu alat tangkap, yaitu (2097: 630 = 3,3). Untuk dapat melakukan kegiatan usaha penangkapan perlu memiliki modal Investasi, untuk setiap unit perahu skala kecil, biaya investasi minimal yang perlu disediakan seperti terlihat pada Tabel 4. berikut ini; Tabel 4. Investasi Usaha Penangkapan Ikan Laut di Lampung Barat, Tahun 2002
Keterangan Investasi 1. Kasko 2. Mesin 3. Alat tangkap; -Rawai Hanyut (Drift long line) -Jaring Insang (Gill nets) -Pancing Tangan (Hook and line) - Pancing Tanda (Troll line) 4. Alat Bantu -Jangkar -Tali Temali - Surat Izin 5. Modal Kerja Total Investasi Jumlah Armada Jumlah Alat Tangkap I. PTM 1.000.000 500.000 500.000 300.000 400.000 75.000 58.000 150.000 2.975.000 500 MT 2.500.000 1.250.000 750.000 1.250.000 750.000 75.000 75.000 250.000 6.900.000 122 2097 Buah. KM 2.000.000 2.500.000 1.500.000 1.250.000 750.000 100.000 100.000 580.000 11.000.000 8

Sumber: Data lapangan diolah, 2002. PTM = Perahu Tanpa Motor ;MT = Motor Tempel ;KM= Kapal Motor

Dari Tabel 4, kegiatan usaha penangkapan, minimal baru dapat di lakukan bila mampu berinvestasi sebesar Rp. 2.975.000 dan untuk usaha yang lebih besar lagi membutuhkan biaya investasi yang lebih banyak. Armada penangkapan yang digunakan tergolong Tradisional dan lautan yang dihadapi adalah lautan lepas atau samudra, maka tampak sekali kemampuan masyarakat untuk memanfaatkan sumberdaya laut seperti Ikan, biota laut Lainya, sangatlah terbatas. Upaya pemberdayaan maritim laut dalam waktu pendek sangat sukar ditingkatkan, mengingat kondisi alamnya yang menuntut investasi besar, kalau dapat dilakukan maka baru mampu mendapatkan hasil yang lebih baik, armada penangkapan akan mampu menambah kemampuan jelajah dan jua peningkatan keterampilan teknis dan Non Teknis termasuk manajemen usaha. 2. Perikanan Budidaya Peluang usaha budidaya laut yang dapat dikembangkan adalah teknik pembudidayaan dengan jaring keramba apung. Ikan yang dapat di budidayakan adalah teripang, kakap (Giant sea perch), kerapu dan baronang, tetapi sayang, peluang usaha pembudidayaan ini belum banyak dapat dilakukan, karena sarana pasar sebagai pendukung belum tersedia. Adapun kegiatan usaha yang di lakukan masyarakat baru terbatas pada skala kecil. Berdasarkan potensi lahan untuk air payau, lahan yang tersedia ada 6.500 Ha, dan yang teletak di Kecamatan Pesisir Selatan dan Kecamatan Bengkunat 5.000 Ha sedangkan Kecamatan Pesisir Utara 1.500 Ha, akan tetapi potensi yang tersedia ini belum diusahakan secara komersial. Dari potensi lahan air tawar, Lambar memiliki cukup banyak yaitu 944 Ha, dan pemanfaatannya baru mencapai 258,9 Ha atau sekitar (27,43%). Kemudian jenis-jenis ikan yang di budidayakan adalah; ikan mas (Common carp), mujair (Mozammbique tilapia), tawes (Java barb) , nila (Nile tilapia), lele (Cat fishes), patin, dan bawal. Adapun dari sifat usaha, kegiatannya masih tradisional, sehingga produktivitasnya tergolong masih sederhana. Padahal kalau dilihat peluang usaha, untuk usaha skala besar, wilayahnya memberikan dukungan, sebab jenis perairan yang dimiliki sangat beragam dan luas. Berdasarkan lokasi, pemerintah mengarahkan di wilayah Kecamatan Belalau, yaitu seluas 2117 Ha serta Balik Bukit, dan Sukau seluas 4.084 Ha. Dari luas lahan air tawar yang ada 10.234 Ha, dan lahan ini baru dapat dimanfaatkan seluas 1.600 Ha, inipun tingkat produktifitasnya masih rendah. Sebagian masyarakat membudidayakan ikannya dengan cara memanfaatkan lahan perairan umum yang di tanami padi, teknik pembudidayaan ini dikenal dengan mina padi (Paddy field culture), dan baru meliputi 58,68% dari luas seluruh lahan persawahan teknis dan tradisional. Kegiatan usaha di perikanan darat dapat dibagi menjadi 3 (tiga) upaya usaha pemanfaatan, yaitu melalui budidaya ikan di kolam, perairan umum dan pemanfaatan mina padi. Kegiatan usaha budidaya ini masih dilaksanakan secara tradisional, belum dengan skala bisnis usaha besar. Modal usaha yang dibutuhkan masih sederhana, karena itu skala usaha yang di lakukan petani ikan di Lambar belum dapat berkembang pesat dan menghasilkan produksi yang mampu memasok daerah lainnya. Pemanfaatan lahan pembudidayaan di Kecamatan Balik Bukit, dan Sukau yang memanfaatkan jenis perairan Danau dan Sungai dengan luas perairan yang tersedia 4.084 Ha dengan potensi budidaya 1.633 Ha, baru dimanfaatkan oleh 22 Unit keramba jaring apung dengan produksi 150 Kg per unitnya/musim dengan waktu tanam selama 6 bulan. Pemanfaatan usaha pembudidayaan dengan sistem mina padi di lahan sawah tradisional seluas 2.772,6 Ha, sampai saat ini rata-rata produksi per Ha-nya baru mencapai 100 Kg/Hanya. Kegiatan usaha pembudidayaan dengan KJA, biaya investasi yang dibutuhkan per-unit adalah Rp 500.000, biaya ini belum termasuk biaya operasi dan tenaga kerja. Sedangkan mina padi yang dilakukan masyarakat masih berbentuk sambilan, setiap musim tanam, bibit ikan yang dibutuhkan 300 ekor, dan harga per ekornya Rp 150 sehingga biaya bibit = Rp.45.000. Adapun hasil pemanenan rata-rata keberhasilannya baru sebanyak 100 Kg, dan harga rata-rata per Kg-nya laku dijual seharga Rp 7.500 . Maka tambahan pendapatan kotornya menjadi sebesar Rp 750.000/tons.

3. Pengolahan Produksi Maritim Dari produksi ikan tahun 2000 tercatat sebesar 7.819,4 Ton diolah dalam bentuk: 1). Segar 6.705,7 Ton, dari ikan laut 5.825,1 Ton dan Air Tawar 880,5 Ton, dan 2). Dalam bentuk olahan menghasilkan produk jadi 712,75 Ton atau setara dengan 1.113,7 Ton berat ikan basah dengan rendemen pengolahan 64%. Kegiatan usaha pengolahan adalah sebagian ekonomi maritim, karena itu ada hubungan langsung antara sumberdaya-penangkapan/ pembudidayaanpengolahan- dan pemasaran- baru sampai pada konsumsi yaitu bahan baku industri maritim atau konsumsi langsung. Produk olahan yang dihasilkan industri skala kecil (traditional) hanya berupa pengasinan dan pemanggangan atau pengasapan. Untuk meningkatkan jumlah produk dan tumbuhnya usaha dibidang pengolahan, upaya di lakukan dengan cara membuat kelompok kerja di 6 lokasi dengan total jiwa 120 orang. Daerah pemasaran ikan dari Lambar dalam bentuk segar atau olahan ditujukan ke Telukbetung, Batu Raja, Muara Dua, Palembang, dan Jakarta. Di tahun 2000 ini ada peningkatan pemasaran ikan, hal ini terjadi karena ada dukungan sarana dan prasarana transportasi serta peranan koperasi Mina. Usaha yang mengembangkan hasil olahan ikan baik dari hasil tangkap di laut, perairan umum atau Mina Padi belum menjadi bidang usaha yang di tekuni masyarakat sebagai sumber penghidupan utama, tetapi masih sambilan. Dari data wawancara di lapangan belum didapatkan secara sempurna masyarakat yang menjadikan kegiatan pengolahan menjadi sebuah usaha bisnis tersendiri. 4. Masyarakat Maritim Unsur penting dalam pembangunan masyarakat maritim, adalah peranan pemerintah bersama-sama dengan masyarakat mendorong perekonomian regional menjadi semakin maju. Kabupaten Lampung Barat secara geografis memiliki daerah yang subur, baik tanahnya maupun perairannya, dan sektor maritim dapat memberikan kontribusi yang berarti terhadap pendapatan regional, karena besarnya potensi sumberdaya yang tersedia. Dengan jumlah penduduk sebanyak 365.999 jiwa, yang mendiami kawasan seluas 4.950,40 Km2 atau setara dengan 13,99% dari luas Provinsi Lampung, sangat pontensial bagi kemajuan Lambar. Partisipasi bersama masyarakat maritim agar optimal dalam mendorong ekonomi kearah berkembang yang lebih baik, perlu diatur di dalam kebijakan Daerah. Dasar legalitas kebijakan seperti berkenaan dengan fiskal, telah sangat jelas di dalam UU No.22/1999 tentang Pemerintahan Daerah. Landasan legalitas itu juga didukung oleh UU No 25/1999 tentang perimbangan antara Pusat dan Daerah, dengan demikian, telah ada hak sebagai kewenangan pemda mendapatkan pendapatan dari daerahnya. Pemda kabupaten Lambar sampai tahun 2002, belum memiliki perda di sektor maritim, sehingga pelaksanaan fiskal belum optimal dan untuk obyek retribusi, tarif atau iuran dari sektor maritim Laut (Marine), Perairan Umum (Inland open water) dan Pengolahan (Processing) masih menggunakan perda yang dibuat Provinsi Lampung. Potensi maritim yang berkontribusi pada PDRB Lampung berdasarkan lapangan usaha cukup berarti, itu dapat ditandai oleh presentase pertumbuhan perikanan yang positif pada 3 (tiga) tahun terakhir1998,1999, 2000. Sumbangan ke PDRB untuk masing-masing tahun tersebut tercatat sebesar 27,80%, 2,33% dan 3,99%. Sub sektor maritim secara presentase atas dasar harga yang berlaku sejak tahun 1993 ssampai dengan tahun 2000 menyumbang secara positif dengan angka presentase antara 2,90% hingga 4,52%. Di lihat dari presentase dan nilai absolut maritim antara Rp. 5. 948.000 – Rp 8.000.000 yang dibandingkan dengan potensi sumberdaya yang ada (Laut 16.500 Ton/Th, air payau 6.500 Ha, air tawar 944 Ha), adalah masih sangat jauh dengan realisasi kemampuan saat ini. Apabila upaya kemampuan ditingkatkan 2½ % saja, maka kontribusi ekonomi sektor maritim akan mampu menyediakan lapangan pekerjaan lebih banyak lagi. Adapun dilihat dari dukungan sarana dan prasarana yang tersedia, yang terprogramkan menunjukkan adanya keinginan kemajuan yang berarti. Dari pembinaan program Dinas Perikanan dan Kelautan dapat ditunjukan oleh: 1). Program ketahanan pangan nasional (budidaya ikan keramba, motorisasi perahu nelayan, pembinaan gizi anak sekolah, peningkatan

produksi benih ikan air tawar, re-stoaking), 2). Pengembangan agribisnis maritim, 3). Pengembangan sarana atau prasarana maritim. Di lihat dari indikator maritim, maka daya dukung yang tersedia (RTP, Alat Produksi, Produksi, Nilai Produksi, Pemasaran, Pendapatan RTP, Perizinan dan Kelembagaan) masih bisa ditingkatkan lagi, yaitu dengan cara mengefektifkan kebijakan fiskal sektor maritim, penganggaran dan sumberdaya manusia maritim. Kegiatan usaha maritim yang di lakukan langsung oleh pelaku maritim seperti Nelayan Penangkap Ikan, Pembudidaya dan Pengolahan ikan, menunjukkan indikator usaha yang masih bersifat tradisional, keadaan tersebut ditandai oleh adanya keterbatasan kemampuan fisik dan Non Fisik. Dari ukuran fisik, armada penangkapan dan alat tangkap yang tersedia, yang digunakan oleh masyarakat nelayan, masih sangat lemah dibandingkan dengan karateristik laut yang ganas dan bersifat samudra. Dengan kemampuan peralatan yang mereka miliki untuk mengekspoitasi hasil sumberdaya ikan atau biota laut di dalamnya maka sangatlah lemah. Untuk mengatasi kendala kelemahan ini, maka program pemerintah untuk sektor laut haruslah dibuat yang sesuai dengan sifat pengusahaan dan kemampuan masyarakat maritim yang ada. Program yang bersesuaian tersebut dilihat oleh masyarakat maritim sebagai peluang perbaikan kehidupan melalui upaya bersama-sama. Pendekatan manajemen yang dapat dikembangkan yaitu menjadikan masyarakat maritim sebagai pelaku kegiatan usaha di sektornya. Kenyataan yang ada saat ini, dimana keikut sertaan masyarakat maritim yang masih di dominasi oleh armada penangkapan Tanpa Motor (29,37%) sebagai kendala perluasan, karena itu kemampuan sumber daya manusia maritim perlu juga ditingkatkan, karena merekalah sebagai basis yang menjadi pendukung utama perkembangan maritim laut. Untuk perikanan budidaya, sumber dayanya secara pontensial selalu dapat diperbaharui dan dengan lahan 10.234 Ha, adalah prospek yang cukup baik. Prospek ini dapat terwujut apabila pendekatannya dapat tepat lokasi, kebudayaan, dan kegiatan usaha yang ditumbuhkan dari bottom-up. Pendekatan berbasis bottom-up akan mengurangi ketidak sinkronisasian program pemerintahan dengan daya dukung pelaku masyarakat maritim. Lapangan usaha pengolahan produk hasil maritim masih sedikit ditekuni masyarakat, dan memperhatikan sumberdaya yang ada, maka untuk memberikan peluang tumbuh kembangnya industri pengolahan hasil sektor maritim, pendekatanya lebih di titik beratkan pada pengolahan segar, dan untuk jangka panjang adalah pemanfaatan hasil laut dalam bentuk olahan yang di diversifikasikan untuk ekspor ikanikan laut segar, lobster, udang (shrimp), kerapu (Giant sea perch), beronang dan ikan laut yang memiliki nilai komersial tinggi lainnya. Sarana pendukungnya harus terintegrasi, mulai dari rancangan kasko, penanganan di atas kapal, penanganan selama transportasi, penanganan selama proses pengolahan, penanganan pemasaran dan hingga konsumen. IV.PENUTUP Kabupaten Lampung Barat yang merupakan bagian kesatuan wilayah Indonesia mengubah paradigma pembangunannya dengan melakukan perubahan yang mengandung semangat desentralisasi, berpola pendekatan wilayah, serta berorientasi pada pengembangan keunggulan komperatif dan keunggulan kompetitif. Salah satu komponen penting dalam pembangunan Daerah Kabupaten adalah peran Pemerintah bersama-sama dengan masyarakat ikut mendorong perekonomian regional menjadi semakin maju. Kebijakan ekonomi dilandasi instrumen legalitas yang dapat membantu pencapaian pembangunan, pemerintah melakukan fungsi pelayanan umum dan masyarakat sebagai partisipan dalam kegiatan pembangunan yang di cerminkan oleh kontribusi mereka dalam pembentukan pendapatan PAD. Kebijakan

pembangunan di sektor maritim yang diterapkan oleh Pemda Kabupaten Lampung Barat berupa upaya pembuatan perda meliputi retribusi jasa umum, jasa usaha dan perizinan. Pelaksanaan fiskal masih mengacu pada perda yang dikeluarkan Provinsi yang terkait dengan sektor maritim. Potensi maritim cukup besar dan sumberdaya pendukung lainya juga
mulai digalakkan, sehingga sektor maritim dimasa depan diharapkan sebagai penyumbang PAD,

dan melalui kebijakan fiskal yang tepat dan layak bagi masyarakat pengguna sumberdaya maritim seperti; laut, perairan umum dan pengolahan agar mampu kontribusinya dapat ditingkatkan. Dari indikator ekonomi maritim, pertumbuhan ekonomi Lambar masih memperlihatkan keterbatasan dan juga masih perlu banyak upaya-upaya kearah perbaikan yang lebih baik. Keterbatasan yang terjadi bukan karena semata- mata faktor internal, tetapi juga dipengaruhi faktor eksternal, yaitu dana pembangunan, investasi yang rendah, sumber daya manusia yang menyandarkan usaha ekonominya di sektor maritim masih terbatas, serta partisipasi masyarakat yang masih memerlukan motivasi dan dorongan agar ikut memajukan maritim. Kontribusi sektor maritim terhadap PDRB pada beberapa tahun terakhir selalu menunjukan posisi positip, tetapi presentasenya masih rendah. Dengan angka kontribusi yang positip dari sektor maritim, hal ini menunjukan bahwa sektor maritim tetap tahan terhadap goncangan krisis ekonomi, dan walaupun kurs US $ terhadap rupiah makin menguat, berarti rupiah semakin lemah, tetapi kegiatan usaha di sektor maritim Kabupaten Lambar tetap mampu bertahan. Jadi prospek ekonomi sektor maritim pondasinya cukup kuat, maka perlu mendapat prioritas pembangunan. Kondisi geografis yang berbukit-bukit, dengan jumlah penduduk yang mendiami wilayah masih sedikit yang mendiami wilayah Kabupaten begitu luas, maka keadaan tersebut menjadi penghambat utama pemacuan kemajuan sektor maritim diberbagai bidang dan lapangan, temasuk pengolahan produk dan pemasaran hasil-hasil maritim. Alternatip pemacuan pembangunan adalah dengan pendekatan agroindustri yang terintegratif antara sumberdaya, industri pengolahan, pariwisata dan sarana transportasi perairan dan daratan yang saling menunjang atau melengkapi. Untuk mewujudkannya perlu riset yang mendalam dengan kepastian dukungan administrasi dan legalitas pemerintah dan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA PDRB, 2000. Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Lampung Barat. Kerja Sama Badan Pusat Statistik Dan Bappeda Kabupaten Lampung Barat, Liwa. Laporan Tahunan, 2001. Laporan Tahunan Dinas Perikanan Dan Kelautan Kabupaten Lampung Barat, Liwa. Laporan Tahunan, 2002. Laporan Tahunan Dinas Perikanan Dan Kelautan Kabupaten Lampung Barat, Liwa. Laporan Tahunan, 2000. Laporan Tahunan Dinas Perikanan Dan Kelautan Kabupaten Lampung Barat, Liwa. Laporan Tahunan, 1999. Laporan Tahunan Dinas Perikanan Dan Kelautan Kabupaten Lampung Barat, Liwa. Laporan Tahunan, 1998. Laporan Tahunan Dinas Perikanan Dan Kelautan Kabupaten Lampung Barat, Liwa. Pendapatan Asli Daerah, 2001. Inventarisasi Dan Penggalian Sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Lampung Barat Tahun Anggaran 2001. Kerjasama Bappeda Kabupaten Lampung Barat Dengan Lembaga Penelitian Universitas Lampung, Bandar Lampung, 2001.

BAB VI VI.MASYARAKAT MARITIM BANTEN BARAT I. LATAR BELAKANG

Kehidupan sosial budaya suatu masyarakat, pada dasarnya memiliki hubungan resiprokal dengan sumberdaya alam dan lingkungan disekitarnya. Sementara dalam wacana masalah pembangunan, kehidupan sosial budaya masyarakat, juga tidak dapat dipisahkan oleh kebijakankebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Kemudian berdasarkan pada pemahaman ini, maka kondisi sosial budaya masyarakat maritim adalah ada kaitannya dengan masalah-masalah pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan merupakan upaya meningkatkan peran hidup mereka dalam ikut mensejahterakan mereka, untuk mewujutkannya dapat dilakukan melalui rekayasa sosial. Oleh karena itu pemahaman yang menyeluruh terhadap fenomena masyarakat maritim menjadi sangat penting, dengan adanya pemahaman yang utuh maka inti permasalahan yang terjadi di sebuah masyarakat dapat ditemui dan dikenali secara gamblang dan jelas. Praktek pemberdayaan, akhirnya dapat di lakukan dengan menggunakan dua pendekatan, yaitu pertama secara sosiologi dan kedua secara antropologi. Keduanya digunakan untuk mengkaji fenomena makro sosial budaya masyarakat maritim (sistem sosial dalam masyarakat) dan fenomena mikro sosial budaya masyarakat (individu atau sistem sosial dalam keluarga). Fenomena makro dan mikro sama pentingnya di dalam struktur sosial budaya masyarakat maritim. Sebagai contoh, kedudukan sosial budaya masyarakat ”individu”, mereka memiliki karakter tersendiri pada saat sebelum terjadi interaksi, namun saat interaksi terjadi yaitu dengan individu lain di dalam suatu masyarakat, maka yang muncul adalah karakter masyarakat itu sendiri. Keterkaitan kedua fenomena tersebut, merupakan poin terpenting di dalam upaya melihat potensi-potensi yang ada, sehingga akan didapatkan gambaran potensi dari masyarakat atau individu, mana yang menjadi penghambat ataupun pendorong dalam upaya pemberdayaan. Adapun deskripsi kerangka pemikiran tersebut diatas disajikan dalam Gambar 1 sebagai berikut:
Masyarakat Sumberdaya Pemerintah

Antropologi
Sosial Budaya Masyarakat Maritim

Sosiologi

Keadilan Partisipasi Kemandirian Jaringan kerja

-

Pengetahuan lokal Sistem Religi Ekonomi Kelembagaan Politik

Masyarakat Maritim

Gambar 1. Kerangka Pemikiran Sosio dan Antropologi Masyarakat Maritim Di dalam konsep pemberdayaan, mempertemukan peranan pemerintah dan masyarakat secara egaliter merupakan hal yang mutlak diperlukan. Masyarakat dengan potensi sosial (social capital)-nya serta pemerintah dengan kebijakannya, secara bersama-sama akan memberikan corak warna terhadap sumberdaya dan pengelolaannya. Hal inilah yang perlu diketahui dan yang bersumber dari masyarakat maritim, baik secara langsung maupun secara tidak langsung, salah satunya melalui penelaahan fenomena yang terjadi di lapangan. Kondisi sosial budaya yang di lihat berdasarkan fenomena yang terjadi 1mencakup kearifan lokal, sistem religi, ekonomi,

politik dan kelembagaan. Kondisi sosial budaya tersebut di pandang sebagai cerminan beberapa faktor utama yang diharapkan menjadi potensi pemberdayaan masyarakat. Karena untuk dapat melakukan pemberdayaan yang pada intinya adalah cara mengaktualisasikan potensi masyarakat itu sendiri perlu kedekatan pemahaman mendasar tentang karakteristik proses kehidupan masyarakat. Pemahaman terhadap proses dapat juga melalui pendekatan sosiologi maupun antropologi, dan kemudian di integrasikan dengan konsep kemandirian, partisipasi, jaringan kerja dan keadilan yang selanjutnya digunakan untuk mengidentifikasikan kondisi-kondisi sosial budaya tersebut. Dari pendekatan konsep ini, sehingga pada akhirnya di dapatkan potensi maupun kendala atau hambatan pada tingkat unit individu atau keluarga dan juga pada tingkat komunitas atau masyarakat dalam upaya pengenalan masyarakat maritim. Desa masyarakat maritim Banten Barat yang tercermin di desa Labuhan Teluk, desa Carita dan desa Pasauran, lokasi desa-desa tersebut secara geografis di lihat dari tofografinya hampir sama, yaitu terletak di pantai Barat yang berhadapan langsung dengan lautan Samudera Hindia. Pantai Barat ini mempunyai ciri yaitu memiliki daerah pantai yang sempit dan curam dengan gelombang lautnya besar. Kemudian daerah ini juga sedikit memiliki pantai yang berpasir luas dengan gelombang yang tenang, tempat-tempat tersebut sangat terbatas, dan hal ini telah menyebabkan jumlah konsentrasi masyarakat maritim relatif kecil dan terpencar-pencar. Masyarakat maritim yang hidup dan mencari penghidupan di daerah ini, di lihat dari asal-usul sukunya adalah berbeda-beda. Suku-suku tersebut adalah dari sunda, cirebon dan bugis. Masingmasing suku mempunyai kebiasaan menggunakan alat tangkap tertentu, karena itu dari cara melakukan penangkapan ikan atau memanfaatkan sumberdaya ke lautan dapat di lihat dari peralatan penangkapan ciri kesukuan tersebut, seperti bagan tancap dan bagan apung, dominan dari suku bugis, sedangkan payang dan pancing banyak di lakukan oleh masyarakat nelayan sunda, kemudian untuk jaring arad dan purse-seine oleh masyarakat nelayan dari Cirebon. Dilihat dari pola kehidupan, masyarakat nelayan didaerah ini ada yang menetap, dan ada juga yang tidak menetap. Masyarakat maritim yang suka menetap terutama dari masyarakat nelayan yang berasal dari Pandeglang dan Serang, dan juga dari suku Bugis. Sedangkan masyarakat maritim dari Cirebon dan Rembang melakukan perpindahan secara teratur mengikuti waktu musim ikan. Dari peralatan penangkapan, seperti perahu, jaring dan mesin serta peralatan lainnya cukup bervariasi. Adapun volume hasil tangkapan dan tempat penangkapannya dipengaruhi oleh alat tangkapnya. Jaring purse-seine menggunakan ukuran perahu yang lebih besar dengan GT mencapai 20 - 30 ton, bermesin in-board dan jaring ukuran panjangnya mencapai 150 meter. Untuk perahu dengan kapasitas 3 - 5 ton, bermesin motor tempel biasanya menggunakan jaring payang dengan panjang sekitar 25 meter, juga pancing dan arad. Kegiatan penangkapan umumnya di lakukan hanya satu hari melaut (one day fishing) dengan lokasi sekitar 4 - 5 mil laut dari pantai. Untuk penangkapan ikan yang menggunakan bagan, perahu (board) yang dipakai adalah ukuran kecil dan bagannya di tempatkan tidak terlalu jauh dari tempat tinggal mereka.

II.

Dinamika Masyarakat Maritim

PENGETAHUAN LOKAL. Batasan pengetahuan lokal bagi masyarakat maritim yang dimaksudkan dalam uraian ini, adalah hanya berkenaan dengan pengelolaan dan pemanfaatan, konservasi, dan penegakan peraturan. 1. Pengelolaan dan Pemanfaatan Sumberdaya Maritim. Pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya maritim akan di lihat dari persepsi yang tumbuh di dalam masyarakat maritim tentang sistem dan mekanisme pengelolaan dan pemanfaatan. Persepsi masyarakat maritim lebih ditekankan kepada konsepsi hak kepemilikan dalam pengaturan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya maritim. Persepsi terhadap

sumberdaya alam yang terkait konsepsi hak kepemilikan (sea tenure) menjadi bagian penting bagi seluruh anggota masyarakat maritim Banten Barat di desa Labuhan Teluk, desa Carita dan desa Pasauran. Sumberdaya alam yang dipersepsikan oleh masyarakat maritim merupakan hak milik Yang Maha Kuasa (Allah), karena itu wajib dipelihara bersama dan hasilnya dimanfaatkan bersama-sama. Dalam merealisasikan persepsi ini, paling tidak ada dua pandangan sistem pengelolaan dan pemanfaatan yang terjadi; Pertama, ada sebagian masyarakatnya memandang bahwa ikan di laut itu tidak akan habis, karena itu boleh saja melakukan usaha kegiatan penangkapan, kapanpun seseorang itu mau selagi dia mampu. Kedua, sumberdaya laut apabila tidak dikendalikan dengan baik, ikan yang ada di dalamnya akan berkurang. Sistem pengelolaan dan pemanfaatan berdasarkan persepsi pertama menghasilkan pandangan, bahwa sumberdaya laut dapat dieksploitasi sepanjang waktu, karena bersifat open acceses. Property right, system yang menyangkut fishing ground karena sifatnya milik bersama, pengelolaannya diserahkan kepada masyarakat penangkap sendiri tanpa ada pembatasan yang tegas. Dalam upaya pemanfaatan, maka setiap anggota masyarakat bebas melakukan usaha penangkapan di daerah tersebut tanpa ada aturan yang tegas dan ketat. Adapun yang berkenaan dengan pengaturan alat tangkap dan musim penangkapan, masyarakat nelayan hingga sampai sekarang, belum mempunyai tatacara pengaturan penangkapan yang berasal dari dan oleh masyarakat nelayan sendiri. Karena belum ada pengaturan yang tegas tadi, telah menyebabkan terjadinya pertambahan alat tangkap, tetapi karena daerah fishing ground yang dimiliki bersama terbatas, hal tersebut telah menyebabkan terjadinya keluhan terhadap penurunan hasil tangkapan. Mekanisme Pengelolaan Sumberdaya Maritim dari internal dan eksternal. Keberadaan sumberdaya maritim tangkap terletak di wilayah pantai Barat Pulau Jawa, berada dibagian Lautan Hindia. Perairan ini sifat penangkapannya open access, artinya setiap orang dari penduduk desa Teluk, desa Carita dan desa Pasauran mempunyai kesempatan yang sama untuk dapat melakukan penangkapan ikan di daerah fishing ground yang sama. Pertambahan armada penangkapannya dari tahun ke tahun cenderung sesuai dengan laju pertambahan penduduknya yang tidak terlalu tinggi. Penduduk masyarakat maritim Banten Barat di desa Labuhan Teluk, desa Carita dan desa Pasauran sifatnya menetap, maka penjagaan wilayah penangkapan menjadi kewajiban bersama, untuk menjaganya dari kegiatan penangkapan yang di lakukan oleh nelayan datangan. Keberadaan mekanisme pengelolaan, menyangkut fishing ground, pengaturan alat tangkap, musim penangkapan dan fishing right di lakukan secara bersama-sama. Hak kepemilikan fishing ground adalah dimiliki bersama, tidak ada hak kepemilikan perorangan, dengan demikian musim penangkapan sangat tergantung dari keberadaan musim ikan dan udang (shrimp). Musim penangkapan umumnya di lakukan pada bulan-bulan April hingga Desember dan tiga bulan sisanya dianggap musim paceklik. Akibat kurangnya kemampuan mengendalikan daerah fishing ground, sebagian besar anggota masyarakatmaritim Banten Barat di desa Labuhan Teluk, desa Carita dan desa Pasauran dalam upaya melakukan penjagaan fishing ground yang mereka miliki, telah melakukan reaksi penentangan terhadap nelayan pendatang. Masyarakat maritim, pada umumnya menyatakan penyebab utama hasil penangkapan mereka berkurang, karena adanya nelayan pendatang yang melakukan pencurian di wilayah penangkapan mereka, mereka datang menggunakan alat tangkap yang lebih besar dan alat tangkap aktif seperti mini trawl atau arad. 2. Konservasi Sumberdaya Maritim Konsepsi upaya konservasi sumberdaya maritim, di runut dari kesejarahan, ternyata masyarakat maritim di sekitar pantai Barat Kabupaten Pandeglang dan Serang telah mengenal konservasi. Konservasi yang mereka maksudkan adalah adalah upaya melindungi dari kerusakan di lokasi-lokasi tertentu secara bersama Bentuk perlindungan adalah berupa memberikan pemberitaan bahwa di daerah tertentu tersebut memiliki bahaya tertentu yang dapat mengakibatkan celaka bagi pelanggarnya (Koentjaraningrat, 1994). Berita kecelakaan biasanya membuat orang berhati-hati pada saat berada di daerah karang yang dilindungi. Dengan cara penuturan yang sakral, maka kepatuhan nelayan untuk tidak menghampiri atau melakukan

kegiatan penangkapan di daerah tersebut membantu dapat terjaganya daerah tersebut dengan baik dalam waktu yang cukup lama. Adapun upaya konservasi yang dikenalkan secara formal oleh institusi pemerintah, masyarakat maritim belum mengenalnya secara luas. Terhambatnya pengenalan tersebut, karena konsep konservasi yang dimaksudkan, belum menjadi bagian kehidupan bersama, disamping itu konservasi yang dimaksudkan kadang kala artinya berbeda dengan daerah larangan yang dimaksudkan oleh masyarakat. Mekanisme penerapan upaya konservasi sumberdaya maritim, sesuai dengan konsepsi yang dianut oleh masyarakat, yaitu daerah larangan bersama yang terlindungi karena kesakralannya. Maka penerapan konservasi melalui nilai-nilai kesakralan, caranya penghormatan perlindungan di lakukan melalui upacara-upacara keagamaan tertentu berdasarkan keyakinan, yang telah diturunkan secara turun temurun. Prakteknya dalam masyarakat maritim dapat berupa sedekah laut atau nadran yang dilakukan pada bulan Maulud. Upacara ini biasanya dilakukan beramai-ramai menandai adanya rasa syukur. Kemudian kehidupan masyarakat dapat dapat berjalan lebih baik, sumber daya maritim memberikan hasilnya lebih banyak, karena itulah ada timbal balik untuk saling menghormati. Sebagai contoh yang lain, untuk perahu (board) yang baru selesai dibuat dan siap pertama kali diturunkan ke laut, dalam bahasa keseharian masyarakat maritim disebut temurunan, perlu juga dilakukan upacara tolak bala. Upacara tolak bala terkait juga sebenarnya dengan konservasi daerah maritim. Untuk itu yang mengikuti upacara pembacaan doa atau tolak bala, biasanya mengawalinya dengan melakukan upacara ritual. Agar upacara ini dianggap sempurna, maka perlu memenuhi berbagai macam persyaratan, seperti adanya kembang-kembangan, buah-buahan, kemenyan, nasi kuning atau tumpengan dan lainlainnya. Persyaratan tersebut disesuaikan dengan kebiasaan setempat. Maksud dari upacara adalah agar pemilik dan pemakai kapal senantiasa mentaati kesakralan di daerah maritim, dimanapun mereka melakukan kegiatan penangkapan ikan supaya tidak ikut membahayakan masyarakat maritm secara keseluruhannya dan mereka tetap selamat. 3. Penegakan Peraturan Mekanisme penegakan peraturan tentang pemanfaatan, pengelolaan dan konservasi sumberdaya maritim, dan di lihat dari sanksi atas pelanggaran peraturan. Mekanisme sanksi atas pelanggaran pemanfaatan sumber daya maritim yang di lakukan oleh masyarakat maritim Banten Barat di Desa nelayan Labuhan Teluk, dan desa Carita Kabupaten Pandeglang dan di desa Pasauran Kabupaten Serang untuk menegakkan peraturan biasanya dilakukan melalui beberapa tahapan. Pertama apabila terjadi pelanggaran, masyarakat menyerahkannya kepada tokoh masyarakat atau pemuka agama (Kiay), agar diberi sanksi sesuai dengan hukum kebiasaan yang telah berlaku menurut adat istiadat setempat, hal ini berlaku kalau pelanggarnya dari penduduk setempat. Kedua, apabila permasalah pelanggaran tidak dapat juga diselesaikan, langkah selanjutnya masyarakat mengadukannya kepada aparat yang berwenang, yaitu Dinas Perikanan dan Kelautan, Polisi Air atau aparat hukum lainnya. Maksud pengaduan ini agar dapat diproses lebih lanjut untuk dapat ditetapkan sanksinya sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan negara yang berlaku. Adapun mekanisme sanksi atas pelanggaran pengelolaan proses tahapannya sama dengan pelanggaran pemanfaatan, tetapi penekanannya kepada masyarakat mengajak supaya ikut berpartisipasi bersama. Pertama, pelanggar diberitahukan kepada tokoh masyarakat atau pemuka agama (Kiay) telah terjadi pelanggaran pengelolaan, seperti pengambilan batu karang seenaknya. Pemuka masyarakat akan mengingatkan pentingnya ikut berpartisipasi mengelola sumberdaya maritim, karena itu adalah sumber penghidupan mereka. Pembangkangan terhadap hukum kebiasaan yang telah berlaku menurut adat istiadat setempat adlah berupa sanksi sosial. Kalau akibat yang disebabkannya merusak kepentingan umum masyarakat, maka dilanjutkan dengan proses pengaduan ke lembaga formal. Kedua, aparat yang berwenang dari Dinas Perikanan dan Kelautan, juga Polisi Air atau aparat hukum lainnya, menindak lanjutinya dengan memberikan informasi sanksi-sanksi terhadap pengelola yang mengabaikan peraturan dan perundang-

undangan negara yang berlaku. Kalau masalah pelanggarannya bersifat perdata, maka penyelesaiannya melalui hukum perdata. Mekanisme dan bentuk sanksi atas pelanggaran pengaturan sumberdaya maritim dari masyarakat datangan, terutama berkenaan dengan penegakan peraturan yang pelaksanaannya secara efektif,. Untuk mengetahuinya, hal ini memerlukan banyak informasi dan data yang terpercaya yang ada di dalam masyarakat maritim. Berdasarkan pengamatan fenomena di lapangan, masyarakat nelayan pendatang dengan masyarakat maritim Banten Barat asli di desa Labuhan Teluk, dan desa Carita dapat bersosialisasi dengan erat, mereka saling membutuhkan. Dapat diketahui, banyak masyarakat nelayan pendatang yang melakukan kegiatan penangkapan secara regulir di daerah pantai Barat Banten. Pendatang tersebut umumnya berasal dari daerah Cirebon, dan daerah Rembang, masyarakat dari kedua daerah tersebut ternyata dapat melaksanakan kegiatan penangkapannya dengan tidak mengalamai hambatan dan gangguan dari masyarakat tempatan. Bentuk-bentuk sanksi yang diberlakukan dapat dijalankan dan dipatuhi dengan baik, khususnya terhadap masyarakat maritim yang mematuhi hukum kebiasaan yang berlaku di tempat yang mereka datangi. Bukti kepatuhan, ternyata masing-masing nelayan dapat melakukan kerjasama penangkapan di lokasi yang sama walaupun berbeda asal usulnya, dengan tanpa menimbulkan kerusuhan atau ketegangan social. SISTEM RELIGI. Sistem religi yang dimaksudkan adalah berkaitan dengan agama yang dianut, hubungan antara agama dengan kegiatan ekonomi dan peranan agama dalam kegiatan sosial politik masyarakat. 1. Agama. Agama yang dianut oleh sebagian besar masyarakat maritim di pantai Barat Propinsi Banten adalah agama Islam, jumlah pemeluknya lebih dari 99,00%, dan mereka telah menjadikannya sebagai dasar pandangan kehidupan. Agama yang yang diyakini oleh masyarakat maritim Banten Barat di desa Labuhan Teluk, desa Carita dan desa Pasauran adalah Islam, maka kehidupan bermasyarakatnya didasarkan pada nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Islam. Berdasarkan fenomena di lapangan melalui pengamatan kehidupan masyarakat, maka di lihat dari tempat ibadah dan kegiatan keagamaan yang ada, sarana pendukungnya banyak ditemukan, seperti mushollah, masjid, pendidikan yang bernafaskan Islam dan juga pengajian-pengajian atau majelis taklim. Dari sarana pendukung dan bentuk-bentuk kegiatan yang ada tersebut, maka telah mencerminkan bahwa masyarakat maritim di daerah ini terhadap Agamanya ada kepatuhan. Apalagi, apabila kita berbicara tentang nilai-nilai kehidupan, maka sendi-sendi kehidupan bermasyarakat dalam menjalankan kegiatan ekonomi akan banyak diargumentasikan dan di dasarkan pada nilai-nilai agama. Dalam menjalin hubungan kehidupan, masyarakat telah memadukan hubungan mereka secara vertikal terhadap Allah swt, dan hubungan horizontal terhadap manusia dan alam sekitarnya. Jalinan hubungan yang bersifat horizontal syarat dan di isi dengan nilai-nilai ajaran agama Islam. Karena itu apabila ada perselisihan antar kehidupan yang berkenaan dengan kemanusiaan, alternatif jalan penyelesaiannya, lebih didasarkan pada ajaran agama untuk di selesaikan secara kekeluargaan dan ridho serta ikhlas kepadaNya. Penyadaran seperti ini, maka di masyarakat maritim seolah-olah telah mendarah dagiing, sehingga telah mampu menciptakan hubungan sosial dan ekonomi yang harmonis, saling menjaga nilai-nilai yang baik bagi semua golongan yang ada di masyarakat. Adapun hubungan mereka sebagai manusia terhadap alam, sesuai dengan ajaran agama yang mereka terima dan amalkan, bahwa alam beserta segala isinya adalah ciptaan Allah dan milik Allah, sedangkan kita hanya diberi kesempatan untuk memanfaatkannya, oleh sebab itu setiap orang telah dituntut untuk ikut menjaga alam sekitarnya, djangan ada nafsu berlebihan untuk merusaknya.

2. Hubungan Agama Dengan Kegiatan Ekonomi. Pandangan dan kepercayaan tentang hubungan antara agama dengan kegiatan ekonomi masyarakat tampak cukup erat. Sumberdaya alam yang telah dipersepsikan oleh masyarakat maritim, adalah merupakan hak milik Yang Maha Kuasa (Allah), karena itu wajib dipelihara bersama dan hasilnya dimanfaatkan bersama-sama pula. Hubungan antara agama dengan ekonomi dapat di lihat dalam pembentukan nilai-nilai baik dan bijak, seperti semua orang tidak boleh berbuat curang, setiap tindakan hendaknya didasari oleh niat ibadah, dalam hal melaksanakan pembagian hasil tangkapan harus di lakukan secara adil, dan kekayaan alam yang terkandung di dalam laut tidak boleh dieksploitasi sewenang-wenang dan merusak, kekayaan laut yang ada di dalamnya harus dijaga bersama, supaya terpupuk kesadaran tidak akan menghancurkan sumber kehidupan anak cucu dimasa depan. Jadi nilai-nilai dari ajaran-ajaran agama telah ikut mempengaruhi kegiatan ekonomi, terutama dalam hal cara-cara pemanfaatannya. Di dalam upaya memanfaatkan sumberdaya alam, yaitu kegiatan melakukan penangkapan ikan atau pengambilan biota di laut, sebagian besar masyarakat sebelum melakukannya masih tidak lupa memanjatkan permohon melalui doa kepada Yang Maha Kuasa. Permohonan doa ini dapat dilakukan melalui upacara kenduri (selamatan), yaitu mengumpulkan sebagian warga anggota masyarakat maritim menghadiri syukuran di suatu tempat tertentu atau di salah satu rumah warga. Tujuan kenduri, dengan memunajatkan doa bersama kepada Khalik, mudah-mudahan permohonannya Kabul, yaitu agar diberi kemudahan rezki yang banyak dan keselamatan selama mencari rezki ditengah laut. 3. Peranan Agama Dalam Kegiatan Sosial Politik Peranan agama dalam kegiatan sosial politik secara langsung dan tidak langsung ikut berpengaruh. Pengaruh yang dimaksudkan oleh masyarakat maritim adalah pengaruh dalam bersikap terhadap suatu keputusan politik tertentu yang kadangkala telah diterjemahkan dalam bentuk program-program kebijakan. Indikasi bahwa sebuah kebijakan yang telah dibuat oleh pemerintah untuk meningkatkan peran serta dalam pembangunan, yaitu dengan jalan ikut berpartisipasi aktif memanfaatkan hasil pembangunan tersebut, pembangunannya kadangkala dapat berbentuk bangunan fisik. Pemanfaatan dari suatu hasil pembangunan yang bersifat fisik, kadangkala acapkali tidak dimanfaatkan optimal. Kenapa menjadi tidak optimal termanfaatkan, rupanya banyak factor yang ikut mempengaruhinya, seperti peranan pemuka masyarakat sebagai tokoh agama yang kurang di ikut sertakan dalam proses pembangunannya. Jadi peranan tokoh agama dalam kegiatan social politik ikut menjadi penting, karena ada anggapan, rendahnya partisipasi seorang tokoh dalam proses pembangunan, hal ini mengindikasikan bahwa pembangunan tersebut tidak memberikan manfaat kemaslahatan lebih besar pada masyarakat. Pengambilan keputusan dalam kegiatan sosial politik masyarakat kerapkali dipengaruhi oleh tokoh-tokoh agama, hal ini dapat terjadi karena tokoh masyarakat khususnya para Kiay adalah orang yang dapat dipercaya. Karena dia merupakan orang kepercayaan dalam masyarakat yang bersangkutan. Contohnya adalah pada saat menentukan kesepakatan siapa yang sebaiknya memimpin desa setingkat RT, RW atau Kepala Desa, masyarakat biasanya senantiasa melakukan konsultasi sebelum menentukan pilihannya. Adapun terhadap pertanyaan yang terkait dengan penggunaan konsepsi atau paham agama dalam mendukung atau menolak suatu program pembangunan, hal ini memerlukan penelusuran jawaban yang harus hati-hati. Konsepsi agama dalam mendukung program pembangunan pada dasarnya selalu tidak bertentangan dengan tujuan baik pembangunan tersebut yang diselenggarakan oleh pemerintah atau oleh masyarakat sendiri. Permasalahan yang muncul, adalah seringkali berkenaan dengan teknis pelaksanaan pembangunan itu sendiri, yaitu yang akan menyentuh kebutuhan langsung masyarakat maritim sebagai penggunanya. Teknis pelaksanaan yang tidak melibatkan secara utuh kehidupan masyarakat maritim, seperti aspek sosial, agama dan hukum menyebabkan tertolaknya rencana pelaksanaan pembangunan itu sendiri. Jadi dari sudut sosial politik masyarakat, peranan agama ternyata ikut berperan dalam menentukan berhasil tidaknya sebuah proses pembangunan

di dalam masyarakat maritim. Karena itu peranan tokoh-tokoh agama dari sudut sosial politik masyarakat, kenyataannya ikut memainkan peranan penting dan menjadi titik sentral keberhasilan dan kegagalan sebuah proses pembangunan dalam jangka panjang. EKONOMI. Ekonomi yang dimaksudkan adalah berkenaan dengan sifat-sifat yang ditinjau dari; orientasi kegiatan berproduksi, aktifitas produksi, tingkat ketergantungan terhadap sumberdaya, distribusi hasil kegiatan ekonomi dan tingkat konsumsi ikan. 1. Kegiatan Berproduksi. Orientasi masyarakat maritim Banten Barat di sekitar Kabupaten Pandeglang dan Serang, tujuan utamanya melakukan kegiatan penangkapan ikan dan pengambilan biota laut lainnya untuk menyambung penghidupan, oleh karena itu setiap hasil tangkapan yang didapat dari kegiatan penangkapan akan langsung di jual kepada pembeli. Maka jelaslah bahwa kegiatan penangkapan ikan untuk memenuhi kebutuhan pasar yang tersedia di sektor maritim, dan melalui cara jual beli ikan atau bentuk lainnya, maka cara-cara inilah yang telah menjamin sistem pasar jual beli ikan dan biota laut lainnya di lingkungan masyarakat maritim terus menerus dapat berlanjut. Volume hasil tangkapan yang dikhususkan untuk konsumsi rumah tangga, berdasarkan pengamatan fenomena di lapangan, mereka umumnya mempunyai kecenderungan mengatakan sedikit sekali, yaitu sekitar 15% saja. Kecilnya untuk konsumsi, dikarenakan ikan hasil tangkapan prioritas utamanya untuk memenuhi pembiayaan keluarga. Padahal kalau diperhatikan, mereka hampir setiap hari mendapatkan ikan, akan tetapi ternyata ikan-ikan tersebut dan biota laut lainnya lebih diutamakan untuk dijual ke pasar. Pemasaran hasil tangkapan, umumnya secara tradisional telah di lakukan oleh pedagang yang ada di tempat atau di desa Labuhan Teluk, desa Carita dan desa Pasauran, dan selanjutnya pedagang-pedagang inilah yang memasarkannya kepada pihak lainnya yang ada diluar daerah mereka. Nelayan penangkap bebas melakukan penjualan hasil tangkapannya kepada siapa saja yang mereka inginkan, terkecuali mereka yang terikat karena perjanjian yang bersifat tertulis atau tidak tertulis, atau yang diakibatkan karena adanya pinjaman lebih dahulu kepada juragan sebelum melakukan penangkapan ikan di laut. Untuk menjaga keseimbangan hubungan sosial akibat dari kegiatan ekonomi, maka sistem bagi hasillah yang dipakai sebagai sarana ekonomi masyarakat maritim dalam melakukan kegiatan usaha penangkapannya di laut. Pandangan terhadap inovasi, adalah berkenaan dengan keadaan kemampuan masyarakat, untuk dapat memanfaatkan atau merekayasa hasil temuan baru dari luar maupun dari dalam, yang berimplipikasi terhadap perbaikan kinerja usaha maritim setempat (Nasution, Z., dkk, 2004 ). Dari hasil pengamatan fenomena di lapangan, sejak tahun 1985 hingga tahun 2004, di lihat dari peralatan kehidupan yang masyarakat maritim gunakan, seperti perahu, jaring dan mesin hampir tidak mengalami perubahan yang signifikan. Adapun kemampuan peralatan yang lebih baik bagi penangkapan, hingga sekarang masih jarang ditemukan. Kebutuhan peralatan penangkapan masyarakat maritim mengharapkan ada peralatan yang mampu menghasilkan hasil tangkapan ikan lebih banyak dan efisein. Dari inovasi teknologi yang terjadi, tampaknya baru sebatas penggunaan palka berinsulasi tempat ikan untuk kapal yang menggunakan jaring purse-sein, sedangkan kapal/perahu lainnya masih menggunakan palka tanpa insulasi. Alat bantu penanganan ikan diatas perahu yang di praktekkan oleh nelayan adalah baru sebatas termos es besar atau kotak es yang terbuat dari busa plastik untuk sebagai tempat menempatkan ikan hasil tangkapan. Dengan kenyataan bahwa teknologi penangkapan belum banyak berubah, maka kinerja yang terbentuk selama ini mulai dari diatas kapal, setelah pendaratan, selama penjualan yang meliputi pentransfortasian dan pelelangan, mereka masih menggunakan cara-cara tradisional. Adapun pembagian pekerjaan, caranya masih berdasarkan pada fungsi-fungsi kepemilikan kapal, juragan/pedagang besar yang juga merangkap sebagai pemilik modal, dan nelayan penangkap yang sifatnya tetap saja, ternyata banyak yang tidak menguasai harga pasar ikan yang

dijualkannya tersebut. Peranan anak buah perahu/kapal masih diwakili oleh pemilik perahu/kapal atau orang suruhan dari pemilik modal dan mereka masih berposisi sebagai penerima hasil transaksi akhir. Cara berkomunikasi yang cepat berubah, hanyalah terjadi di tingkat pemilik kapal/perahu saja, juragan yang sifat kerjanya sangat mobile, mereka telah mampu menggunakan teknologi komunikasi yang lebih canggih. Pengaruh dari alat komunikasi ini, adalah penguasaan informasi pasar yang tetap pengendaliannya berada lebih besar di tangan mereka. Nelayan penangkap tetap saja berada dipihak yang lemah dan belum mengalami inovasi, yaitu mulai dari teknik penangkapannya, kerjasamanya ataupun kemampuan memanfaatkan peluangnya yang terjadi akibat bergesernya cara-cara berkomunikasi secara tradisonal kearah yang lebih maju. Perubahan tersebut yang mampu memanfaatkannya hanyalah juragan dan pemilik kapal/perahu saja. 2. Aktivitas Berproduksi. Alat tangkap dominan yang digunakan mayarakat maritim di desa Labuhan Teluk, desa Carita dan desa Pasauran dalam mendapatkan hasil sumber daya maritim, guna menunjang proses produksi atau pemanenan adalah perahu kayu, mulai dari ukuran kecil hingga sedang, dan alat tangkapnya berupa jaring purse-seine, payang, pancing yang dibantu dengan mesin penggerak untuk mesin in-boat dan out-boat. Alat tangkap yang lainnya dapat berupa bagan tancap dan juga bagan apung. Perahu yang dipakai masyarakat maritim adalah perahu kayu yang umumnya dibuat oleh masyarakat sendiri, khusus untuk perahu-perahu ukuran kecil dibantu dengan mesin penggerak motor tempel ber-merk Yamaha atau Donfeng. Perahu kayu ini belum dilengkapi dengan palka berinsulasi yang baik untuk menahan es supaya tidak hilang meleleh. Nelayan yang menggunakan peralatan tangkap seperti ini, umumnya adalah pemakai jaring payang, dan arad. Daerah penangkapan mereka tidak terlalu jauh dari lepas pantai yaitu sekitar 2 - 4 mil laut dengan lama kegiatan penangkapan hanya satu hari, yaitu dimulai dari jam 04.30 pagi dan mendarat kembali sekitar jam 15.00 sore hari. Hasil tangkapan umumnya adalah ikan tembang, kembung kecil dan tongkol kecil. Untuk kapal besar yang kaskonya masih terbuat dari kayu, telah membuat yang baik, sebagian palkanya berinsulasi yaitu terdiri dari kayu, busa plastik, kayu dan kadangkadang dilapisi fiber-glass, sehingga ikan hasil tangkapan dapat ditangani dengan baik, mutunya tidak cepat rusak. Kapal jenis ini menggunakan alat tangkap umumnya purse-seine dan payang besar dengan jumlah ABK dari 15 sampai 20 orang, lama operasi bisa mencapai 2 (dua) dan 3 (tiga) hari dengan lokasi penangkapan mencapai sekitar Selat Sunda dan Ujung Kulon. Hasil tangkapan dapat berupa cakalang (Skipjack Tuna), tongkol (Eastern Little Tunas), tembang (Fringescale Sardinella), kembung (Indian Mackerels), tenggiri (Narrow Barred King Mackerels), layur (Hardtail/Cutlas fishes) dan lain-lainnya. Keterampilan fungsional yang dimilki masyarakat maritim yang terkait dengan kehidupannya sehari-hari, sebagai pelaku ekonomi maritim adalah berupa keterampilan yang terkait langsung dengan kegiatan usaha ekonomi, yaitu kegiatan usaha penangkapan, usaha pengolahan, usaha pembuatan peralatan penangkapan, usaha pemasaran dan pembiayaan. Kegiatan usaha penangkapan merupakan keterampilan kelompok fungsional yang umumnya hanya dimiliki oleh kaum laki-laki, sehingga pergi ke laut untuk melakukan penangkapan merupakan bagian utama pekerjaan mereka. Usaha pengolahan produk hasil tangkapan, umumnya banyak di lakukan oleh kaum perempuan, sehingga kelompok fungsional keterampilan ini seolah-olah menjadi bagian kehidupan perempuan. Hasil produk olahan yang mereka buat, umumnya masih terbatas pada produk olahan tradisional, seperti ikan asin, pengasapan, pemindangan. Adapun kelompok fungsional pembuatan peralatan penangkapan, untuk pembuatan perahu umumnya di lakukan oleh laki-laki, sedangkan pembuatan jaring kadang-kadang di lakukan juga oleh perempuan, termasuk perbaikannya. Kelompok fungsional pemasaran hasil tangkapan untuk skala kecil dan masih berada disekitar desa Labuhan Teluk, desa Carita dan desa Pasauran banyak di lakukan oleh perempuan, sedangkan pemasaran dalam jumlah partai besar umumnya telah di lakukan oleh laki-laki. Dari pola ini tergambarkan pembagian pekerjaan antara

laki-laki dengan perempuan; keterampilan pemasaran ditingkat pengecer di lakukan oleh perempuan dan sedangkan pemasaran ditingkat pengumpul telah di lakukan oleh laki-laki. Pengelolaan pembiayaan usaha sering di lakukan oleh perempuan, khususnya pada skala usaha kecil setingkat pengecer, atau mempersiapkan pembiayaan untuk eksploitasi, tetapi pada tingkatan skala yang lebih besar, maka pengelolaan pembiayaan di telah lakukan oleh laki-laki, termasuk meminjamkan pada pihak ketiga seperti nelayan penangkap, dan nelayan pengecer. Kemampuan masyarakat maritim dalam membangun kerjasama secara nyata untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu yang memerlukan tenaga kerja lebih dari satu orang dalam proses produksi telah terjalin dengan baik sekali, baik dalam hubungan sosial, kekerabatan dan keagamaan. Di dalam perahu agar dapat menghasilkan produksi hasil tangkapan yang baik, pembagian pekerjaannya telah sangat jelas dan harus di lakukan secara bersama-sama, sehingga setiap orang yang ada diatas perahu, kemampuannya menbangun kerjasama yang didasarkan pada fungsi kerja masing-masing telah mempunyai kemampuan sangat besar, karena, nasib mereka secara bersamaan tergantung dari kerjasamanya tersebut. Jadi budaya bekerja bersama-sama diatas perahu, selama pelayaran, antar perahu nelayan dan antar anggota masyarakat satu kaum merupakan kerjasama mutlak yang harus di lakukan, prinsip ketaatan kepada aturan-aturan yang diberlakukan untuk membangun keharmonisan kerjasama telah menjadi bagian yang diutamakan secara bersama-sama pula. 3. Tingkat Ketergantungan Pada Sumberdaya. Masyarakat nelayan desa Labuhan Teluk, desa Carita dan desa Pasauran kebanyakan telah menjadikan laut sebagai sumber mata pencaharian utamanya dalam menggantungkan hidup. Dengan demikian sumberdaya laut menjadi bagian penting di dalam mendukung kehidupan masyarakat maritim, maka ditinjau dari pandangan ini, sangatlah beralasan mereka sangat memperhatikan sumberdaya maritim yang berada disekitar kampung mereka, dan kalau mereka anggap ada hal-hal yang akan bermanfaat dan mengganggu sumber penghidupannya, mereka selalu siap untuk memanfaatkannya dan juga menjaganya bersama-sama. Dilihat dari tingkat ketergantungan terhadap sumberdaya maritim, ternyata juga berkaitan langsung dengan pembiayaan investasi untuk dapat memanfaatkan sumber daya tersebut. Sebagai contoh, dalam upaya nelayan melakukan investasi pada usaha penangkapan ikan. Sesuai dengan keahlian yang dimiliki oleh masing-masing nelayan, dari fenomena yang ada tampak secara perorangan di lihat dari kemampuan menyisihkan nilai hasil pekerjaannya untuk melakukan investasi ke sarana ekonomi dalam bentuk pembelian dan perbaikan peralatan penangkapan, yaitu perahu, jaring dan mesin, mereka belum banyak melakukannya. Sebagai gambaran, investasi secara besar-besaran kepada peralatan penangkapan belum terlihat nyata, hal ini diindikasikan dengan ukuran, dan volume perahu yang cenderung tidak banyak mengalami perubahan. Kegiatan usaha penangkapan yang menggunakan kapal pukat cincin (purse-sein board), bobotnya hanya antara 20 GT hingga 40 GT dengan kapasitas dari 10 ton hingga 20 ton saja. Dari nelayan skala kecil yang jarak operasinya ke daerah penangkapan hanya 2 hingga 4 mil laut, juga tampak fenomena tentang nyisihan hasil tangkapan untuk investasi, juga cenderung tidak banyak mengalami perkembangan, bahkan ada lkecenderungan beberapa perahu tidak dapat lagi beroperasi karena biaya operasionalnya tidak mampu ditutupi dengan nilai hasil tagkapannya. Kemudian yang juga cukup menarik dari tiga desa masyarakat maritim, kelakuan apabila di lihat dari kemampuan menyisihkan hasil pendapatan mereka dari kegiatan penangkapan untuk investasi masa depan secara fenomial dapat diamati dalam bentuk pembangunan perumahan. Pertama, untuk desa Labuhan Teluk rata-rata masyarakat maritim memiliki perumahan yang masih sederhana dengan tipe-tipe; bangunan semi permanen, sebagian ada juga yang permanen. Kalau keadaan ini dilihat dari fenomena perbandingan antara tahun 1985 dengan tahun 2004 memang menunjukkan adanya perubahan, tetapi perubahan yang terjadi tidaklah pesat. Kedua, untuk desa Carita, nelayannya juga kurang mengalami kemajuan yang berarti, padahal disekitar perkampungan mereka telah berdiri beragam hotel dan tempat rekreasi pantai yang cukup baik

dan terkenal serta selalu ramai pengunjung, tetapi dampaknya terhadap perekmbangan desa masyarakat maritim disekitarnya belum begitu menggembirakan, kenapa hal ini ikut terjadi, tampaknya masih memerlukan peninjauan tersendiri yang lebih mendalam lagi. Ketiga, di desa Pasauran, perkampungan mereka masih sederhana dengan kehidupan ekonomi juga sederhana, kesederhanaan terjadi karena peralatan penangkapan yang mereka gunakan umumnya dalam bentuk skala kecil. Perkembangan yang terjadi apabila di kaitkan dengan diversifikasi mata pencaharian alternatif. Diversivikasi mata pencaharian alternatif akan ikut dikembangkan oleh masyarakat maritim, berdasarkan dari fenomena yang ada, sangat jelas terkait erat dengan hasil sumberdaya maritimnya, baik dari maritim tangkap atau dari budidaya. Mata pencaharian alternatif di lihat dari struktur diversifikasi kegiatan usaha seperti penangkapan, pengolahan, perdagangan, pembuatan peralatan penangkapan tampaknya masih terbatas. Perkembangan alat penangkapan yang terjadi di daerah lainnya yang telah menjadikan daerah mereka sebagai daerah penangkapan baru yang di lakukan secara reguler yang datang dari Cirebon dan Rembang, ternyata juga tidak merubah banyak perahu kecilnya menjadi perahu yang lebih besar, dan tidak pula mempunyai pengaruh terhadap perubahan dinamika ekonomi masyarakat maritim di wilayah pantai Barat Banten pada umumnya. Untuk desa Labuhan Teluk, dari pengamatan sejak tahun 1980 hingga sekarang belum terlalu banyak mengalami perubahan sarana maritim yang lebih baik dengan manajemen yang juga baik. Dari beberapa pengamatan, kesulitan menerima pengembangan dari luar secara drastis atau cepat, hal ini dapat terjadi, karena masyarakatnya ada kecenderungan tetap mempertahankan keadaan yang telah ada selama ini. Jadi mata pencaharian alternatif, terutama yang berasal dari luar masyarakatnya akan sulit diterima, mereka tidak ingin menambah resiko baru bagi kestabilan kehidupan mereka. Sikap bertahan ini terjadi mungkin terkait dengan pantai Barat Pulau Jawa yang bergelombang ganas dan pantainya sempit serta tidak terlindung, kondisi alam yang sedemikian ganas dengan kemampuan yang sangat terbatas, telah menyulitkan mereka untuk menerima hal-hal baru dari luar, alas an utamanya karena resiko keamanan yang akan mereka dapatkan mungkin lebih besar lagi. 4. Distribusi Kegiatan Ekonomi. Saling ketergantungan fungsional dalam kegiatan ekonomi sektor maritim adalah keterkaitan antar sumberdaya, peralatan penangkapan, pasar dan manusia. Kegiatan ekonomi adalah merupakan representasi dari adanya permintaan dan penawaran . Penawaran terjadi karena adanya hasil produksi dari exploitasi sumberdaya, dan permintaan terjadi karena adanya pasar, sedangkan teknologi penangkapan dan manusia merupakan sarana penggeraknya (Dahuri, R. 2003). Keterkaitan ini dapat ditinjau dari dua sisi, pertama, keterkaitan secara langsung dan kedua, keterkaitan secara tidak langsung. Keterkaitan langsung adalah peran dari sumberdaya ikan dan biota lainnya, dan kegiatan penangkapan yang menghasilkan produksi hasil tangkapan dalam bentuk segar dan olahan, dan pasar menciptakan penawaran dan permintaannya, kemudian keterkaitan ini dapat pula disebut sebagai hubungan positif. Keterkaitan yang tidak bersifat langsung, yaitu peranan kegiatan yang di lakukan oleh para pemegang modal, pedagang kecil dan besar, dan juga komisioner atau perantara. Peranan mereka menggerakkan kegiatan ekonomi cukup besar, karena mekanisme pasar sebagian terbesar berada dibawah pengendalian mereka, dab bentuk pengendalian seperti mempertemukan pembeli lokal dan pembeli dari luar, juga termasuk norma-norma pasar yang berlaku di daerah yang menjadi pengendalian mereka. Apabila memperhatikan pekerjaan spesialis, tampak dengan jelas setiap pekerjaan spesialis mendapat pengakuan dan dihargai dengan prosentase atau bagian tertentu yang berbeda dengan bagian orang yang tidak mempunyai spesialisasi yang diatur dan tercermin secara jelas dalam sistem bagi hasil. Peran dari sistem bagi hasil adalah mengatur mekanisme mulai dari persiapan penangkapan, hasil tangkapan setiap kali mendarat, dan pelaksanaan pembagian hasil produksi tangkapan berdasarkan sistem bagi hasil yang telah berlaku dan diakui secara umum oleh setiap anggota masyarakat nelayan di desa Labuhan Teluk, desa Carita dan desa Pasauran. Pembagian

bagi hasil ini, untuk pemilik mendapatkan 2,5 (dua) bagian, nakhoda 1,5 (satu setengah) bagian dan anggota lainnya masing-masing 1 (satu) bagian, sedangkan pemberi pinjaman mendapat 10% dari raman kotor setiap kali kapal/perahu mendarat dan menjual hasil tangkapannya. Potongan 10% tidak mengurangi jumlah modal pinjaman yang diberikan oleh peminjam, terkecuali kalau seluruh modal pinjamannya di kembalikan secara kontan. Adapun kisaran jumlah total bagian yang dibagikan adalah antara 4 (empat) bagian hingga 5 (lima) bagian untuk kapal ukuran antara 3 hingga 7 GT, sedangkan Kapal purse-sein bisa mencapai 25 bagian. Jadi jelas sekali peran sistem bagi hasil dalam mewujutkan kegiatan ekonomi masyarakat maritim, dan sistem inilah yang mengakar dalam kehidupan mereka, termasuk hubungan sosial dan moral yang hidup dalam masyarakat, semuanya terkait dengan peranan sistem bagi hasil tersebut. Distribusi kegiatan ekonomi kalau dilihat dari strukturnya, maka berdasarkan keseimbangan pendistribusian terjadi interdependensi yang simetris, yaitu dimana berdasarkan posisi tawar menawar atau pembagian kekuatan (bargaining position/power sharing) terhadap akses ke sumberdaya ekonomi berada pada titik berimbang. Interdependensi yang simetris secara ideal agak sulit dikenali tanpa adanya riset yang mendalam mengenai ekonomi maritim. Interdependensi secara kasar masih dapat dikenali secara umum melalui struktur kegiatan ekonomi yang di lakukan oleh masyarakat maritim melalui pembagian pekerjaannya, mulai dari pengeksploitasian sumberdaya, pemasaran hasil dan sistem bagi hasil yang diberlakukan, dan masyarakat maritim mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, apabila di lihat dari interdependensi antar elemen, ternyata antar nelayan mempraktekkan saling memberikan informasi dan kesempatan untuk ikut melakukan kegiatan usaha penangkapan di lokasi fishing ground yang sama, bersamaan dengan itu terbentuk pula jaringan perdagangan hasil tangkapan ikan atau biota laut lainnya, yaitu ikan, udang (shrimp), kepiting (mud crubs), dan biota laut lainnya. Begitu juga hubungan timbal balik akibat dari kegiatan ekonomi, juga terjadi antara kegiatan usaha yang dilakukan laki-laki, seperti penangkapan ikan dengan kegiatan usaha yang dilakukan perempuan, seperti pedagang kecil di tingkat retailer atau kegiatan pengolahan ikan. Ditinjau dari sini, maka ada hubungan timbal balik yang saling membutuhkan antara nelayan penangkap, dengan kaum perempuan yang umumnya adalah para pelaku usaha pengecer ikan/udang (shrimp)/kepiting (mud crubs) atau biota laut lainnya, dan juga ibu rumah tangga yang merangkap sebagai yang menjualkan hasil tangkapan atau mengolahnya menjadi produk ikan olahan. Pekerjaan yang ada di dalam masyarakat maritim telah terdeferensiasi menghasilkan struktur kerja menurut sifat pekerjaannya (Taryono, Andin. 1999). Di lihat dari gender, kaum laki-laki melakukan pekerjaan penangkapan ikan ditengah laut, sedangkan kaum perempuan melakukan pekerjaan perdagangan ikan, pengolahan dan perbaikan jaring. Jenis-jenis pekerjaan yang berdasarkan spesialisasi atau keahlian ini telah di lakukan secara turun temurun. Maka pekerjaan di masyarakat maritim telah menciptakan kondisi kerja yang saling tergantung secara harmoni. Keharmonian itu dapat dilihat, pekerjaan yang menuntut lebih banyak di perairan, di lakukan oleh laki-laki seperti berlayar, menangkap ikan, menyelam, memperbaiki mesin, memperbaiki perahu, memasang jaring dan menentukan arus dan musim ikan. Adapun pekerjaan yang menuntut lebih banyak di lakukan di darat, umumnya telah menjadi pekerjaan perempuan, seperti mendagangkan ikan, udang (shrimp), melakukan pengolahan pengawetan ikan, dan mengatur rumah tangga selama suaminya dan kaum lelakinya ke laut. Kemampuan membangun kerjasama secara nyata, untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu diantara anggota masyarakat maritim telah terjalin dengan baik sekali, baik dalam hubungan sosial, kekerabatan dan keagamaan (Wahyono dkk, 2001) . Pembagian pekerjaan tersebut dengan jelas sekali terlihat di dalam perahu atau kapal. Pembagian pekerjaan yang telah sangat jelas dan harus di lakukan secara bersama-sama ini tujuannya adalah agar setiap orang yang ada diatas perahu selamat. Kemampuan membangun kerjasama yang sangat besar tercipta karena didorong supaya nasib mereka tidak celaka, kecelakaan itu dapat dihindari apabila secara bersamaan mampu menciptakan keharmonisan kerja yang bertanggung jawab. Jadi budaya bekerja bersama-

sama diatas perahu, selama pelayaran, antar perahu nelayan dan antar anggota masyarakat satu kaum merupakan kerjasama mutlak yang harus di lakukan, prinsip ketaatan kepada aturan-aturan yang diberlakukan untuk membangun keharmonisan kerjasama telah menjadi bagian yang diutamakan secara bersama-sama. Praktek sistem bagi hasil adalah cerminan kegiatan ekonomi, sosial dan hukum yang berlaku di dalam masyarakat maritim (Kusnadi, 2000). Sistem bagi hasil merupakan alat bantu ekonomi yang mengatur mekanisme usaha kegiatan usaha penangkapan antara pemilik modal yang biasanya menjadi pemilik perahu, jaring dan mesin, sehingga tenaga kerja yang melakukan penangkapan atau sering disebut sebagai anak buah perahu (ABK) terikat kepadanya. Jadi peran sistem bagi hasil dalam mewujutkan kegiatan ekonomi masyarakat maritim adalah sangat mengakar dalam kehidupan mereka, termasuk bentuk-bentuk hubungan sosial dan moral yang hidup dalam masyarakat, semuanya terkait dengan peranan sistem bagi hasil tersebut. Untuk contoh sebuah kasus di masyarakat maritim pantai Barat Banten, untuk usaha kegiatan penangkapan susunannya adalah sebagai berikut; a). produksi hasil tangkapan kotor yang dikalikan dengan harga ikan di pelelangan atau penjualan langsung, yang disebut sebagai hasil penjualan kotor. b). hasil penjualan kotor dipotong sebanyak 10% terlebih dahulu bagi yang menggunakan modal pinjaman dan sisanya dipotong dengan biaya eksploitasi. c). Sisa pendapatn setelah dipotong biaya eksploitasi, kemudian dibagi dua bagian, satu bagian untuk pemilik dan satu bagian lagi untuk tenaga kerja. d). hasil bagian dari tenaga kerja kemudian dibagi menurut spesialisasi pekerjaannya; d.1. Nakhoda mendapat 1.5 bagian d.2. Juru mesin mendapat 1,25 bagian d.3. Juru batu mendapat 0,25 bagian d.4. Tenaga kerja lainnya mendapat masing-masing 1 bagian. Disisi lainnya, dalam menjalani kehidupan, masyarakat nmaritim ada juga yang melakukan praktek pembagian hasil dengan susunan; pembagian untuk kasko 1 bagian, untuk jaring 1 bagian, untuk mesin 1 bagian, untuk biaya eksploitasi 1 bagian dan untuk anak buah perahu 1 bagian, sehingga total bagian adalah 5 bagian. Dari besaran pembagian ini, di dalam masyarakat menampakkan sebaran kontribusi dari masing-masing pelaku kegiatan sesuai dengan spesilisasinya sudah terpenuhi, tetapi dilihat dari prinsip-prinsip keadilannya tampaknya belum tercapai. Ketidak adilan tersebut belum tercapai karena bagian kasko, bagian jaring dan bagian mesin karena sering dibiayai oleh pemilik modal atau juragan dalam bahasa daerah. Kedudukan kepemilikan menyebabkan juragan mempunyai kekuatan ikut mengatur penjualan ikan hasil tangkapan nelayan. Ada keterkaitan langsung antara nelayan dengan juragan, dalam hal menjual ikan hasil tangkapan, seperti ada kewajiban menjualkannya kepada pemilik modal, walaupun melalui mekanisme pelelangan ikan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Pembagian insentif melalui sistem bagi hasil belum dijalankan oleh semua orang, dapat dikatakan usaha kegiatan penangkapan tergantung pada juragan yang bertindak sebagai supplier, sebagai pemberi pinjaman modal kerja, dapat memberikan peluang kesejahteraan kepada masyarakat maritim (Pranadji, T. 2003). Dalam kenyataan social, secara fenomena peranan juragan menjadi semakin penting di dalam menjalankan kehidupan ekonomi masyarakat, dikarenakan banyak anggota nelayan yang permodalan kerjanya terbatas, sehingga menyebabkan mereka tidak dapat pergi ke laut apabila tidak meminjam modal kerja dari juragannya. Peran pemilik modal sebenarnya dapat di revitalisasikan menjadi lembaga permodalan masyarakat maritim yang terkelola dengan baik menurut peraturan, apabila ada paying hukumnya. KELEMBAGAAN

Kelembagaan yang dimaksudkan adalah berkenaan dengan sifat-sifat yang ditinjau dari; asal usul lembaga, fungsi lembaga,dan aturan main dalam lembaga. 1. Asal Usul Lembaga. Sejarah terbentuknya suatu lembaga di dalam masyarakat maritim di Kabupaten Pandeglang dan Serang, di lihat dari proses pembentukannya, ada dua tipe kelembagaan. Pertama, kelembagaan yang bersifat formal, lembaga ini diprogramkan oleh pemerintah yang diperuntukkan bagi masyarakat maritim, tipe kelembagaan adalah mewadahi kegiatan ekonomi, untuk itu dibuatkan pula panduan AD/ARTnya, seperti Koperasi Mina. Adapun untuk HNSI, kelembagaannya bersifat social, juga disiapkan pula AD/ARTnya, sedangkan untuk Tempat Pelelangan Ikan (TPI), aturan kerjanya disiapkan oleh pemerintah. Kedua, kelembagaan yang berasal dari masyarakat maritim, umumnya bersifat non-formal, tipe kelembagaan adalah mewadahi kegiatan social, atau keagamaan, bentuknya biasanya berupa kelompok pengajian (majelis taklim), asosiasi penjualan ikan dan lain-lainnya. Kemudian pada umumnya, jenis-jenis kelembagaan yang murni swadaya masyarakat tidak banyak yang dilengkapai dengan AD/ART. 2. Fungsi Lembaga. Keberadaan lembaga seperti Koperasi Mina, secara fenomial dapat dikatakan belum optimal fungsinya dalam menjalankan aktivitasnya, tetapi untuk HNSI sejauh ini sedikit banyaknya telah ikut dapat meredam atau menyelesaikan konflik yang terjadi dalam masyarakat Nelayan. Sebagai contoh, konflik yang terjadi di daerah penangkapan ikan di Kabupaten Pandeglang dan Serang, umumnya terpicu oleh nelayan datangan dari Pulau Sumatera. Nelayan datangan yang ikut menangkap ikan dengan tanpa aturan yang baik menurut masyarakat maritim, akan mengundang kecemburuna dan ke tidak adilan. Nelayan pendatang ini umumnya menggunakan armada penangkapan dalam ukuran besar, yaitu diatas 40 GT. Nelayan pendatang ini oleh masyarakat maritim telah dianggap merugikan, karena hasil tangkapan tangkapan mereka ikut berkurang. Sikap yang ditunjukkan oleh masyarakat maritim tempatan adalah melindungi kepentingan mereka, dengan cara mengusir atau melakukan penangkapan terhadap nelayan pendatang tersebut. Penyelesaian konflik yang pernah terjadi selalu diupayakan dengan jalan musayawarah, begitu juga kalau terjadi dengan diantara sesama nelayan lokal. Peranan tokoh masyarakat ikut mendamaikan cukup besar, hal ini biasanya dilakukan oleh masyarakat sendiri melalui organisasi formal seperti HNSI. Adapun untuk penggalangan kebersamaan yang di lakukan oleh lembaga formal seperti Koperasi Mina, HNSI, dalam hal ini masyarakat maritim melihatnya masih kurang berperan, kekurangan tersebut disebabkan karena pengorganisasiannya kurang menyentuh kebutuhan masyarakat, masyarakat cenderung menjadikannya hanya sebagai organisasi yang terpisah dari kebutuhan langsung dalam kehidupan bermasyarakat mereka. 3. Aturan Main Lembaga. Setiap lembaga, baik yang formal atau yang in-formal memiliki aturan mainnya sendirisendiri dalam melakukan kegiatan kelembagaannya. Masyarakat nelayan sebagai anggota masyarakat yang apabila ikut menjadi salah satu kegiatan atau menjadi anggota suatu kelembagaan seperti koperasi, HNSI, kelompok pengajian, asosiasi perdagangan atau paguyuban sosial tertentu, dan lain lainnya harus mengikuti aturan main tersebut. Dalam hal memiliki dan mempunyai kemampuan penggunaan rasionalitas pada setiap pengambilan keputusan di dalam lembaga tersebut, masyarakat masih cenderung menyerahkannya pada pemimpin mereka saja. Dari fenomena di lapangan terhadap tanda-tanda organisasi formal atau in-formal, penandaannya hanya sebagai simbolek saja tentang keberadaan mereka. Informasi yang didapatkan melalui beberapa tokoh masyarakat, kelembagaan yang ada, baru sebatas Koperasi, HNSI dan Pengajian. Mengenai aturan main yang ada di dalam kelembagaan tersebut, ternyata tidak semua anggota, apalagi masyarakat mengetahuinya secara terbuka. Maka secara umum dapat dikatakan, sementara ini masyarakat maritim belum mempunyai daya kemampuan menggunakan

rasionalitasnya untuk ikut berproses secara wajar dan terbuka ikut menentukan dan mengambil berbagai keputusan dari lembaga-lembaga yang ada dan tersedia di masyarakat. Kemampuan masyarakat maritim yang menjadi anggota suatu lembaga tertentu dalam bersikap untuk menghindari berbuat yang bertentangan dengan kaidah umum sehingga eksistensi norma-norma masyarakat yang berlaku setempat terhadap ketaatan terhadap hak dan kewajiban sebagai anggota suatu lembaga agar masih tetap terjaga, secara fenomial kepatuhan itu dimiliki oleh setiap anggota masyarakatnya, itu dibuktikan dengan kebersamaan yang kental. Masyarakat maritim menunjukkan sikap koperatif, bilamana kegiatan usaha penangkapan, pengolahan, perdagangan ikan dan biota lainnya dapat saling menguntungkan (Dahuri, R. 2000). Sikap menentang akan terjadi apabila ada masyarakat datangan yang memaksakan kehendaknya, sehingga anggota masyarakat maritim tempatan harus ikut pada kehendak cara-cara yang dibuat dan ditentukan oleh pendatang. Jadi norma-norma kerjasama yang lembut dapat menjadi keras, keadaan itu terpicu bila dianggap ada jagoan dari suku etnis tertentu sebagai pendatang telah merugikan di lingkungan masyarakat. Norma umum yang berlaku supaya tetap hidup harmonis, dapat menyimpang kepada kekerasan, seperti sikap mengusir atau meniadakan karena ada penentangan dari jagoan pendatang tersebut. Keberadaan dan penerapan sanksi atas pelanggaran terhadap norma-norma yang berlaku atau diterapkan di dalam kehidupan social masyarakat maritim, kalau di lihat dari bentuk dan mekanisme sanksi atas pelanggaran terhadap norma-norma masyarakat, aturan kebiasaan yang dipakai adalah sebagai berikut; a). Terhadap pelanggaran norma-norma umum yang berlaku dalam masyarakat, yaitu seperti mempermalukan, tidak mengindahkan kesepakatan perjanjian yang telah diterima masyarakat, menganggap norma yang ada dan hidup dalam masyarakat tidak penting, dll, maka akan ditempuh dengan cara-cara musyawarah. Lembaga musyawarah yaitu mempertemukan setiap orang atau kelompok yang berselisih dan kemudian dipimpin oleh tokoh masyarakat atau orang yang dituakan, kemudian secara adil mencari kebenaran bersama untuk menemukan akar perselisihan, atas kesepakatan kedua belah pihak, maka kata mufakatpun diputuskan. Inti kesepakatan adalah mentaati bersama hasil musyawarah, dan kedua belah pihak tidak melakukannya kembali. b).Terhadap pelanggaran berat yang bersifat kriminal atau perdata, masyarakat mengadukannya kepada yang berwajib setelah bermusyawarah terlebih dahulu dengan pemuka masyarakat yang ada di tempat kejadian, tujuannya agar dapat diselesaikan menurut hukum dan peraturan yang berlaku. c).Terhadap orang yang sengaja mengabaikan semua aturan yang berlaku yaitu norma-norma dan hukum formal, apabila tidak ada penyelesaian maka masyarakat dapat bersikap tegas secara massal. Tindakan masyarakat secara massal biasanya mengarah pada kekerasan, seperti adanya penangkapan kapal yang melanggar fishing ground akan dirusak atau di usir dengan cara kekerasan. POLITIK. Yang dimaksudkan dengan politik lebih ditujukan kepada yang berkenaan dengan; kepemimpinan, penilaian kepemimpinan oleh masyarakat, proses pengambilan keputusan publik, dan hubungan pemegang kekuasaan lokal dengan luar. 1. Kepemimpinan. Berkenaan dengan pemimpin adalah yang berhubungan dengan sejauh mana kepemimpinan dapat dipahami, yang kemudian menjadi bagian pengetahuan dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat dimasa datang (Haryanto, R. Harry, 2001). Kepemimpinan yang dimiliki oleh seorang pemimpin masyarakat maritim ada kecenderungan dengan type dari organisasi atau kelembagaan yang dia pimpin. Kepemimpinan ditingkat desa di dalam masyarakat maritim, minimal mempunyai dua pola kepemimpinan; Pertama yaitu kepemimpinan berdasarkan kelembagaan formal seperti kepala desa dan Kedua, kepemimpinan berdasarkan kelembagaan in-formal seperti tokoh masyarakat. Untuk kriteria pertama, umumnya memiliki tujuan ingin meningkatkan kesejahteraan dan menjaga kedamaian masyarakat maritimnya

berdasarkan aturan-aturan yang telah berlaku. Kedua umumnya mempunyai keinginan yang lebih menekankan kepada penciptaan keseganan pada kepemimpinannya untuk mencapai kesejahteraan. Kesejahteraan yang dimaksud adalah kesejahteraan yang didapat dengan cara-cara yang baik dan menurut aqidah ajaran-ajaran agama, terutama agama Islam, dan kedamaian dicapai melalui kegiatan keagamaan atau kegiatan sosial yang syarat dengan pesan moral kebaikan, seperti tidak bohong, angkuh, atau mau menang sendiri. Untuk keseganan biasanya melalui pendekatan agak lebih keras, sehingga pemimpin mereka tersebut memang dianggap berwibawa dengan ketegasannya tersebut. Pemimpin in-formal di dalam masyuarakan maritim dihargai masyarakat karena mampu menjembatani kepentingan nelayan yang ada di desa Labuhan Teluk, desa Carita dan desa Pasauran. Penilaian ini terjadi karena pemimpin mereka dianggap mampu memiliki daya, yaitu menyangkut kemampuan memahami dan menempatkan diri pada kondisi dan persepsi pihak lain, yaitu anggota masyarakat di dalam masyarakat maritim, atau di luar nelayan mendapatkan manfaat bersama apabila ada permasalahan. Prinsip ini juga dinilai, baik oleh masyarakat nelayan dari sisi daya kepemimpinan yang dicirikan mampu berkorban untuk memperoleh kepercayaan masyarakat. Dimana, kepercayaan tersebutlah yang dapat digunakan oleh seorang pemimpin untuk menggerakkan kemajuan ekonomi masyarakat maritim setempat secara lebih cepat dan terarah. Dari kepemimpinan in-formal yang ada di masyarakat maritim ada terlihat fenomena tentang daya empati, ini dapat di lihat dari seringnya tokoh masyarakat bersama dan berada di lingkungan masyarakat, mereka menyatu ikut terjun langsung menyelesaikan setiap permasalahan yang mucul dari masyarakat maritimnya, baik berkenaan dengan sesama masyarakat maritim atau dengan masyarakat maritim desa lainnya. Pengorbanan yang diberikan, adalah seringnya tidak kenal pamrih dalam setiap kali melaksanakan kegiatan sosial di dalam masyarakatnya, sehingga kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinannya semakin besar. Dari kepercayaan yang diperoleh tersebut, ternyata mampu dan telah dapat digunakan untuk menggerakkan kemajuan ekonomi masyarakat nelayan setempat lebih cepat dan terarah.

Gambar: Tokoh informal masyarakat maritim.

Pemimpin yang memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik dengan anggota masyarakat yang dipimpinnya, sehingga mengkomunikasikan keinginannya yang rasional dapat ditangkap dan dipahami dengan jelas oleh lawan bicaranya. Kemampuan berkomunikasi dari seorang pemimpin dapat terdeteksi dari hasil diskusi dengan tokoh masyarakat, mereka menginformasikan sebagian besar pemimpin di dalam masyarakat telah mampu menyerap sebagian besar keinginan masyarakatnya. Hasil yang didapatkan adalah sedikitnya gejolak salah pengertian atau ketidak puasan terhadap pemimpin yang datang dari anggota masyarakat. Dimana saja pemimpin mereka berada, senantiasa disambut dengan empati, dan ini menunjukkan bahwa pemimpin desa dan tokoh masyarakat adalah kebanggaan mereka yang patut dibanggakan. Berita yang diberikan pada umumnya kepada tamu yang datang dari luaran, hampir tidak terdengar nada miring yang diperdengarkan. Hal ini adalah hasil dari kekentalan berkomunikasi pemimpin, dan komunikasi yang disampaikan, ternyata dihargai dan dihormati oleh masyarakatnya. Bentuk penghormatan adalah berupa mengindahkan segala petunjuk dan tuntunan yang diberikan oleh pemimpin masyarakatnya, yaitu berupa ikut berperan aktif menyampaikan pesan-pesan yang diberikan oleh pemimpinnya kepada berbagai pihak yang dianggap perlu. Adapun yang berkenaan dengan kemampuan pemimpin memberi inspirasi, yang dimaksudkan adalah menggerakkan masyarakat kearah pembangunan kesejahteraan yang lebih baik melalui kegiatan usaha penangkapan ikan di laut. Menggerakkan kegiatan usaha yang dimaksudkan adalah berusaha secara baik mengikuti norma-norma kebiasaan yang telah berlaku di dalam masyarakat maritim. Usaha yang baik ini adalah usaha yang saling memberikan peluang untuk hidup lebih baik, tidak melakukan penjegalan usaha pada pihak-pihak lain, sehingga mengakibatkan kerugian, baik bersama-sama maupun perorangan. Adapun tindakan mengarahkan anggota masyarakat yang dipimpinnya, adalah agar semua masyarakat tetap dapat menjaga kebersamaan, ketertiban, keamanan, sehingga peluang usaha sebagai daerah pariwisata dapat terbuka dengan lebih baik lagi. Pendatang yang berwisata merasa aman dan mau berlama-lama di daerah ini, untuk itu pemimpinnya mengarahkan supaya masyarakat senantiasa dapat menjaga kesopanan dan ketertiban serta keharmonisan pada semua golongan dan lapisan masyarakat. 2. Penilaian Kepemimpinan. Penilaian kepemimpinan adalah berhubungan dengan seberapa jauh anggota masyarakat setempat memberikan penilaian terhadap tokoh pemimpin di lihat dari aspek kejujuran, mengemban kepercayaan dan menerapkan prinsip keadilan serta memiliki kematangan emosional. Aspek kejujuran, mengemban kepercayaan dan menerapkan prinsip keadilan serta memiliki kematangan emosional adalah aspek-aspek yang tidak bisa dilepaskan dengan integritas. Integritas yang dimaksudkan oleh masyarakat dalam diskusi adalah seberapa jauh anggota masyarakat setempat ikut memberikan penilaian terhadap pemimpinnya selama mereka menjadi tokoh atau menjalankan kepemimpinan mereka di dalam masyarakat nelayan. Pada umumnya integritas pemimpin yang dikehendaki adalah pemimpin yang sepenuhnya mencurahkan perhatiannya untuk mengayomi masyarakatnya sehingga masyarakatnya memiliki kebanggaan atas kepemimpinannya, dan masyarakat merasa punya orang yang mampu mengangkat harkat pribadinya dihadapan masyarakat kelompok lainnya. Di daerah desa Labuhan Teluk, desa Carita dan desa Pasauran, tipe kepemimpinan yang dimaksudkan masih banyak bertumpu kepada pendekar atau Ustad. Pendekar disegani karena kewibawaannya, yang terpercaya dan disegani, dan ustad karena merekalah yang dianggap masyarakat memiliki kejujuran, amanah, adil dan berwajah teduh, jumlah orang yang memiliki criteria diatas tidak terlalu banyak. 3. Pengambilan Keputusan Publik. Proses pengambilan keputusan adalah suatu kondisi yang berkaitan dengan transparansi, akuntabel, terbuka dan terhindar dari conflict of interest. Untuk transparansi, ini lebih banyak menekankan pada faktor-faktor yang dijadikan dasar pengambilan keputusan yang boleh diketahui secara luas oleh anggota masyarakat. Dari informasi tokoh masyarakat maritim melalui

diskusi, tergambarkan bahwa faktor-faktor yang biasa menjadi bahan pertimbangan untuk membuat keputusan adalah menyangkut kepentingan masyarakat luas. Di dalam organisasi formal, seperti Kepala Desa, proses pembuatan keputusannya sekarang ini melalui musyawarah antara DPD dengan Lurahnya/Kepala Desanya terlebih dahulu. Masyarakat maritim dapat menyalurkan aspirasinya melalui DPD yang telah dipilih secara langsung oleh masyarakatnya untuk dapat memperjuangkan aspirasi mereka dan di perjuangkan dalam persidangan-persidangan DPD agar menjadi program Lurah. Dari fenomena secara umum, proses ini belum sepenuhnya terbuka, karena sebagian besar masyarakat maritim masih buta huruf, sehingga aturan-aturan formal yang telah ada masih sulit dipahami oleh mereka tersebut. Adapun yang menjadi anggota HNSI, proses pengambilan keputusan organisasinya didasarkan pada aturan-aturan HNSI, yang ada di dalam AD dan ARTnya, dengan demikian setiap keputusan harus didasarkan pada aturan yang telah ada tersebut. Tingkat transparansi yang terjadi belum dapat dengan jelas diberitakan, untuk aspek ini masih perlu penggalian lebih lanjut. Adapun di lembaga-lembaga in-formal yang tumbuh dan diadalkan oleh masyarakat, proses pengambilan keputusannya di tingkat pemimpin lembaga masih banyak menggunakan pendekatan kepercayaan. Jadi proses keputusan hanya berada di beberapa tangan saja, khususnya pimpinan teras. Proses pengambilan keputusan dihubungkan dengan faktor-faktor yang dinilai penting pada unsur kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat, dan ini mencerminkan pemikiran yang dapat diterima secara kolektif, sejauh ini ada benarnya. Kebenaran tersebut dapat di lihat dari keberlangsungan kehidupan masyarakat maritim yang relatif harmoni sepanjang waktu, keadaan ini tercipta dikarenakan adanya norma-norma kebiasaan berupa nilai-nilai budaya yang dipatuhi bersama, sehingga mampu merakit dinamika kehidupan bersama secara baik. Nilai-nilai budaya inilah yang mendasari proses pengambilan keputusan (Cernea, M.M., 1988), sehingga setiap hasil keputusan yang diambil di berbagai level, senantiasa dapat diterima oleh masyarakat pada umumnya, dipatuhi dan dijalankan. Adapun yang berkaitan dengan persinggungan sosial dan budaya yang cenderung saling merugikan hampir-hampir tidak ada. Buktinya, menurut beberapa tokoh masyarakat setempat, pariwisata dapat berjalan, kegiatan kebudayaan datangan dapat diterima, begitu juga kegiatan sosial tidak menciptakan antagonisme nilai-nilai, dan aktivitas ekonomi tetap berlangsung dengan normal. Di lihat dari aturan representasi publik, masyarakat maritim diberi kebebasan untuk melakukan komunikasi langsung kepada pemimpinpemimpinnya, yaitu pemimpin formal seperti lurahnya, baik secara perorangan maupun dengan kelompok untuk menyampaikan berbagai saran atau usulan demi kebaikan kampungnya. Demikian pula masyarakat diberi kesempatan untuk melakukan penilaian dan pengawasan terhadap kelemahan pada penerapan azas rasionalitas dan akuntabilitas, sehingga keputusan yang telah diambil dapat dikaji kembali secara transfaran dan bersama-sama secara adil, dan apabila perlu membuat keputusan baru lagi melalui aturan-aturan yang telah ada. Untuk pemimpin yang memimpin lembaga-lembaga informal, proses keterbukaan untuk diaudit belum banyak di lakukan oleh masyarakat, karena aturan-aturannya masih banyak menerapkan prinsip-prinsip kebiasaan saja, yang secara tradisional menjadi bagian kehidupan bermasyarakat masyarakat maritim umumnya. Proses keterbukaan untuk diaudit belum dapat di lakukan (Wiradi, Gunawan. 1997), alasan masyarakat pada umumnya karena tindakan itu di pandang tidak sopan, kadang-kadang dianggap berlebihan, perlakuan itu justru dianggap tidak tahu aturan, tidak layak atau kurang pada tempatnya. Misalnya mengemukakan pertanyaan yang dilakukan dengan suara keras, suara terlalu tinggi, atau menggunakan kosa kata yang tidak lazim bagi kesopanan, maka pertanyaan-pertanyaan itu disikapi kurang layak. Dari segi maksud dan tujuan sebenarnya baik, tapi belum pada tempatnya diterapkan pada pemimpin informal, karena mereka bekerja tanpa pamrih. Justru kalau dilakukan akan dianggap bertentangan dengan norma lazim yang berlaku umum, walaupun tujuannya hanya sekedar untuk mendapat penjelasan dari orang yang dianggap terhormat atau disegani dilingkungan masyarakatnya. Pada masyarakat tradisional, proses pengambilan keputusan merupakan bagian sakral yang dimiliki oleh seorang

pemimpin, oleh sebab itu setiap keputusan yang telah diberitakan kepada masyarakatnya, kalau ada peninjauan ulang akan dianggap sebagai tindakan yang tidak terhormat dan patut dicela. 4. Hubungan Lokal dengan Luar. Hubungan lokal dengan luar, di lihat dari kepentingan yang saling berlawanan, sebenarnya merupakan hubungan timbal balik terhadap satu kepentingan bersama. Kalau berdasarkan Undang-Undang No. 22/1999 Tentang Otonomi Daerah, bahwa wilayah perairan laut daerah setingkat Kabupaten diberi kewenangan pengelolaan sejauh 4 mil laut. Dengan demikian Kabupaten Pandeglang dan Serang secara administratif memiliki hak pengelolaan terhadap perairan lautnya. Perairan laut ini mempunyai sumberdaya ikan yang banyak, hal ini kerapkali juga menarik perhatian nelayan penangkap ikan dari daerah lain untuk ikut menangkap ikan diwilayah perairan yang menjadi bagian pemanfaatan masyarakat maritim Kabupaten Pandeglang dan Serang. Hubungan saling kepentingan ini menjadi tidak harmonis tatkala terjadi ketidak seimbangan peralatan penangkapan yang digunakan, hal tersebut kerapkali di pandang sebagai penyebab masyarakat maritim tempatan merasa dirugikan. Pada titik inilah mulai terjadi benturan kepentingan (Kusnadi, 2002). Benturan kepentingan umumnya tidaklah diakibatkan oleh faktor tunggal semata, tetapi seringkali terjadi karena adanya tatanan pengeksploitasian yang berlebihan, demi mendapatkan nilai ekonomi yang lebih tinggi, sehingga mengabaikan norma-norma dan nilai-nilai masyarakat setempat. Perasaan ketakberdayaan, terhina dan diacuhkan dapat membangkitkan perselisihan sosial yang tajam. Apabila pengabaian nilai-nilai kebudayaan masyarakat maritim tempatan telah dianggap berlebihan, maka kondisi sosial yang rawan akan membesar. Kemudian tatkala kondisi memungkinkan, maka goncangan dapat timbul dengan tibatiba, dan untuk menghindari hal-hal tersebut, maka perlu ada saling pemahaman yang mendalam terhadap inti pertentangan dari aspek sosial dan kebudayaan, karenanya perlu diperhatikan; a). Pertama alam demokrasi perlu ditumbuhkan secara perlahan dengan tidak mengenyampingkan ketokohan tradisional. b).Kedua ada upaya perbaikan kondisi ekonomi yang memadai. c).Ketiga peningkatan intelektualitas, dan d).Keempat yaitu terhadap moral masyarakat. Apabila keempat faktor ini dapat ditumbuh kembangkan dalam budaya masyarakat maritim, maka pola hubungan kekuasaan lokal dengan luar akan berjalan lebih transfaran dan harmonis, saling menghargai dan bermartabat dan dapat terjadi di wilayah perairan laut Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Serang, Propinsi Banten. PENUTUP Masyarakat dengan potensi sosial (social capital)-nya serta pemerintah dengan kebijakannya, secara bersama-sama akan memberikan corak warna terhadap sumberdaya dan pengelolaannya. Hal inilah yang perlu diketahui dan yang bersumber dari masyarakat maritim, baik secara langsung maupun secara tidak langsung, salah satunya melalui penelaahan fenomena yang terjadi di lapangan. Kondisi sosial budaya yang di lihat berdasarkan fenomena yang terjadi mencakup kearifan local, religi, ekonomi, politik dan kelembagaan. Kondisi sosial budaya tersebut di pandang sebagai cerminan beberapa faktor utama yang diharapkan menjadi potensi pemberdayaan masyarakat. Karena untuk dapat melakukan pemberdayaan yang pada intinya adalah cara mengaktualisasikan potensi masyarakat itu sendiri perlu kedekatan pemahaman mendasar tentang karakteristik proses kehidupan masyarakat. Pemahaman terhadap proses dapat juga melalui pendekatan sosiologi maupun antropologi, dan kemudian di integrasikan dengan konsep kemandirian, partisipasi, jaringan kerja dan keadilan yang selanjutnya digunakan untuk mengidentifikasikan kondisi-kondisi sosial budaya tersebut. Dari pendekatan konsep ini, sehingga pada akhirnya di dapatkan potensi maupun kendala atau hambatan pada tingkat unit individu atau keluarga dan juga pada tingkat komunitas atau masyarakat dalam upaya pengenalan masyarakat maritim.

Dari pandangan fenomena, dapat juga diketahui bahwa masyarakat maritim juga telah mengenal dan mempraktekkan e konomi maritim. Yang dimaksudkan dengan ekonomi
maritim ditinjau dari pemaknaan fenomena, adalah berkenaan dengan sifat-sifat yang terlihat dari aktifitas ekonomi, status dan peranan masyarakat, akses terhadap sumberdaya ekonomi, sistem bagi hasil, dan tingkat ketergantungan terhadap sumberdaya. Kesemua sifat-sifat tersebut menampakkan pengaplikasiannya yang spesifik maritim, sehingga menjadi satu kesatuan pembentuk kehidupan bermasyarakat. Kehidupan masyarakat maritim juga telah mengenal kaedah-kaedah moral yang dapat mempersatukan masyarakat maritim secara harmoni dan berdaya guna. Untuk itu pengenalan terhadap praktek politik di dalam masyarakat maritim perlu juga dipahami. Pemahaman politik yang dimaksudkan adalah berkaitan dengan sifat-sifat dari prinsip-prinsip kepemimpinan, konflik dan manajemen konflik, akses aturan representasi publik, sikap masyarakat terhadap keputusan yang diambil, dan prinsip-prinsip hubungan pemegang kekuasaan lokal dengan luar. Di dalam masyarakat maritim kesemua sifat-sifat tersebut secara fenomial dapat dikenali sebagai sistem kehidupan. Kemudian dalam prakteknya dapat dikenali juga telah ada kelembagaan yang ekses di dalam masyarakat maritim. Untuk itu aspek lembaga yang berkenaan dengan sifat-sifat yang terkait dengan eksistensi kelembagaan, peranan kelembagaan, dan akses masyarakat terhadap kelembagaan ternyata juga dapat ditemukan di berbagai daerah dari masyarakat maritim yang ada di nusantara. Desa masyarakat maritim Banten Barat yang tercermin di desa Labuhan Teluk, desa Carita dan desa Pasauran, lokasi desa-desa tersebut secara geografis di lihat dari tofografinya hampir sama, yaitu terletak di pantai Barat yang berhadapan langsung dengan lautan Samudera Hindia. Pantai Barat ini mempunyai ciri yaitu memiliki daerah pantai yang sempit dan curam dengan gelombang lautnya besar. Kemudian daerah ini juga sedikit memiliki pantai yang berpasir luas dengan gelombang yang tenang, tempat-tempat tersebut sangat terbatas, dan hal ini telah menyebabkan jumlah konsentrasi masyarakat maritim relatif kecil dan terpencar-pencar. Masyarakat maritim yang hidup dan mencari penghidupan di daerah ini, di lihat dari asal-usul sukunya adalah berbeda-beda. Suku-suku tersebut adalah dari Sunda, Cirebon dan Bugis. Masingmasing suku mempunyai kebiasaan menggunakan alat tangkap tertentu, karena itu dari cara melakukan penangkapan ikan atau memanfaatkan sumberdaya kelautan dapat di lihat dari peralatan penangkapan ciri kesukuan tersebut, seperti bagan tancap dan bagan apung. Alat tangkap bagan dominan berasal dari suku Bugis, sedangkan payang dan pancing banyak di lakukan oleh masyarakat maritim yang dikerjakan oleh nelayan sunda, kemudian untuk jaring arad dan purse-seine oleh masyarakat maritim yang berasal dari nelayan Cirebon. Dilihat dari pola kehidupan, masyarakat maritim didaerah ini ada yang menetap, dan ada juga yang tidak menetap. Masyarakat maritim yang suka menetap terutama dari nelayan yang berasal dari Pandeglang dan Serang, dan juga dari suku Bugis. Sedangkan masyarakat maritim dari Cirebon dan Rembang melakukan perpindahan secara teratur mengikuti waktu musim ikan. Sifat sumberdaya maritim yang ”common property” dan ”open access” membentuk kondisi sosial budaya masyarakat maritim yang khas dan relatif berbeda dengan masyarakat pedesaan lainnya (terrestrial villagers). Hal ini seringkali diabaikan di dalam perumusan kebijakan pemberdayaan masyarakat maritim, yang masih lebih banyak mengadopsi hasil kajian sosial budaya masyarakat daratan (terrestrial). Oleh karena itu, sosial budaya masyarakat maritim dapat difungsikan juga dalam upaya mendukung kegiatan pemberdayaan masyarakat baik di perairan pesisir, pulau-pulau kecil serta perairan pedalaman (Dahuri, R. 2003). Dengan adanya pengetahuan mengenai potensi dan kendala, diharapkan program pemberdayaan masyarakat maritim, akan dapat dicapai secara lebih baik dan sempurna. Untuk itu perlu juga dikenali makna dari kearifan local, religi, ekonomi, politik dan kelembagaan. Kearifan adalah berkenaan dengan sifat-sifat tentang eksistensi tata-nilai, sikap masyarakat maritim terhadap tatanilai, serta mekanisme pengelolaan sumberdaya maritim (internal dan eksternal) yang dapat mendorong dan mempererat pembangunan nusantara.

DAFTAR PUSTAKA Cernea, M.M., 1988. Sosiologi Untuk Proyek-Proyek Pembangunan. dalam M.M. Cernea (Ed). Mengutamakan Manusia Dalam Pembangunan; Variabel-Variabel Sosiologi di dalam Pembangunan Pedesaan. pp. 3-26. Publikasi Bank Dunia. Penerjemah; B.B.Teku. Universitas Indonesia Press. Jakarta. Dahuri, R. 2000. Pendayagunaan Sumberdaya Kelautan Untuk Kesejahteraan Rakyat. Lembaga Informasi dan Studi Pembangunan Indonesia, LISPI, Jakarta. 146 p. Dahuri, R. 2003. Paradigma Baru Pembangunan Indoensia Berbasis Kelautan. Orasi Ilmiah. Guru Besar Tetap Bidang Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Perikanan Bogor. Bogor. 233 p. Haryanto, R. dan T. A. Tomagala, 1997. Indikator Keluarga Sejahtera: Instrumen Pemantau Keberdayaan Keluarga Untuk Mengentaskan Kemiskinan. Jurnal Sosiologi Indonesia. No. 2 September 1997. Diterbitkan Oleh: Ikatan Sosiologi Indonesia, Jakarta. Hikmat, R. Harry., 2001. Strategi Pemberdayaan Masyarakat. Humaniora Utama Press. Bandung. Cetakan Pertama. 260 p. Koentjaraningrat, 1994. Bunga Rampai Kebudayaan, Mentalitas dan Kebudayaan. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 149 p. Kusnadi, 2000. Nelayan: Strategi Adaptasi dan Jaringan Sosial. Humaniora Utama Press. Bandung. 244 p. Kusnadi, 2002. Konflik Sosial Nelayan: Kemiskinan dan Perebutan Sumberdaya Maritim. Penerbit LkiS. Yogyakarta. 190 p. Nasution, Z., dkk, 2004. Riset Sosio Antropologi Dalam Rangka Pemberdayaan Masyarakat Nelayan, Laporan Teknis. Bagian Proyek Riset Pengolahan Produk dan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan. PRPPSE, BRKP. Pranadji, T. 2003. Menuju Transformasi Kelembagaan Dalam Pembangunan Perikanan dan Pedesaan. Puslitbang Sosial Ekonomi Perikanan. Badan Litbang Perikanan Departemen Perikanan. Bogor. 175p. Taryoto, Andin. 1999. Internalisasi Aspek-Aspek Sosial Budaya dalam Proses Industrialisasi Perikanan. dalam I.W.Rusastra dkk (Eds.). Dinamika Inovasi Sosial Ekonomi dan Kelembagaan Perikanan. Hal. 7575-582. Pusat Penelitian Sosek Perikanan. Badan Litbang Perikanan. Departemen Perikanan. Jakarta. Wahyono, Ari., I.G.P. Antariksa, Masyhuri Imron, Ratna Indrawasih, dan Sudiyono. 2001. Pemberdayaan Masyarakat Nelayan. Penerbit Media Pressindo bekerjasama dengan Yayasan Adikarya IKAPI dan Ford Foundation. Cetakan Pertama. Jakarta. 226 p. Wiradi, Gunawan. 1997. Rekayasa Sosial Dalam Menghadapi Era Industrialisasi Perikanan. dalam T. Sudaryanto dkk (Penyunting). Prosiding Industrialisasi, Rekayasa Sosial dan Peranan Pemerintah Dalam Pembangunan Perikanan. Hal.63-70. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Perikanan. Badan Litbang Perikanan. Departemen Perikanan. Jakarta.

BAB VII MASYARAKAT MARITIM LOMBOK TIMUR

I. PENDAHULUAN Propinsi Nusa Tenggara Barat mempunyai panjang pantai 2.000 km, adalah merupakan potensi besar yang dapat diandalkan oleh daerah ini sebagai sumber pendapatan yang dapat diperbaharui. Sektor maritim di daerah Kabupaten Lotim terdiri dari perikanan laut dan perikanan budidaya, yang didukung oleh RTP untuk perusahaan (41.183) buah, Perahu/Kapal (14.813) dan luas perikanan budidayanya (11.137,ha) (Statistik Perikanan NTB, 2000). Sektor maritimnya tersebar diberbagai Kabupaten, yaitu Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, Sumbawa, Dompu, Bima dan Kodya Mataram. Untuk Kabupaten Lombok Timur, sektor maritimnya cukup besar dan berkembang dengan baik. Kegiatan usaha di NTB untuk sektor penangkapan begitu ragamnya sesuai dengan alat penangkapan yang juga begitu beragam sesuai dengan alat penangkapnya, jumlahnya mencapai lebih dari 16 jenis. Disamping itu terdapat juga perikanan budidaya rumput laut, mutiara, kerapu, lobster, teripang dan kerang-kerangan. Untuk melakukan semua kegiatan tersebut dilaksanakan oleh sumberdaya manusia, terutama nelayan yang berdiam di desa-desa pantai, yang jumlahnya mencapai 21 desa/kelurahan. Penduduk yang mendiami desa-desa tersebut mencapai 194.460 dari luas wilayah 578,61 km . Dilihat dari kepadatan penduduk rata-rata per km2nya adalah 336 orang. Penduduk yang mengkhususkan pekerjaannya sebagai nelayan ada sebanyak 16.597 jiwa. Keadaan Umum Lombok Timur Kabupaten Lombok Timur di lihat dari letak dan keadaan alamnya adalah sebagai berikut; Lotim terletak pada 116o - 117o BT, 8o - 9o LS, dan batas wilayahnya pada sebelah Barat Kabupaten Lombok Barat dan Lombok Tengah, sebelah Timur pada Selat Alas, sebelah Utara Laut jawa dan sebelah Selatan dengan Samudera Indonesia. Adapun luas wilayahnya adalah 160.555 ha, yang dibagi untuk lahan sawah 45.336 ha, dan lahan kering 115.219 ha. Berdasarkan tofografinya, daerah ini terletak di kaki gunung Rinjani, dengan dataran sedang dan tinggi, cocok untuk persawahan, pantainya di kelilingi laut yang potensial dikembangkan pula, sehingga banyak didiami penduduk. Iklim di Lotim tergolong beriklim tropis yang dipengaruhi oleh angin dari Utara dan Selatan, serta perubahan tekanan udara pada garis khatulistiwa. Rata-rata hujannya relatif tinggi, tetapi bervariasi yang terjadi antara bulan-bulan Nopember, Desember, Januari, Pebruari, Maret dan April. Wilayah administrasi pemerintahan sejak era otonomi daerah, dari 10 Kecamatan telah dapat dikembangkan menjadi 20 buah dan rata-rata jumlah desa per-Kecamatan sebanyak 4 - 7 desa. Untuk memimpin daerah ini perlu kualitas pendidikan yang memadai. Lotim memiliki kepala desa yang berpendidikan setingkat SLTA sebanyak 75%, ditambah juga rata-rata berpengalaman yang memadai. Program ditingkat legislatif, produk hukum yang dapat dihasilkan berupa Peraturan Daerah, sampai dengan tahun 2001 telah mencapai 98 buah. Rinciannya adalah terdiri dari; berupa Keputusan Dewan 19 buah, Perda 22 buah, dan Statemen/Pernyataan berjumlah 57 buah. Jadi Lotim telah berupaya membuat kepastian hukum yang memayungi masyarakatnya, dan diharapkan dapat memacu kemajuan dan kepastian program-program yang akan dilaksanakan pada masa-masa yang akan datang. Dari sisi kependudukan, Lotim termasuk mengalami pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi, dimana pada tahun 1971 baru ada 371 jiwa/km2 dan telah meningkat menjadi 452 jiwa/km2 di tahun 1980, selanjutnya di tahun 1990 telah mencapai 539 jiwa/km2 dan pada tahun 2000 menjadi 606 jiwa/km2, (BPS, 2001. Lombok Timur Dalam Angka). Konsekwensi logis dari pertambahan yang pesat ini adalah timbulnya perubahan di sektor perikanan, berupa pengurangan lahan untuk perumahan, termasuk kualitas lingkungan, seperti kelestarian hutan, eksploitasi berlebihan terhadap sumberdaya air alam. Dari tinjauan sex ratio, Lotim memiliki tendensi dependency ratio/angka beban tanggungan yang semakin mengecil dan famili size juga menurun, yaitu dari 4,5 tahun 1980, dan 4,3 tahun 1990 dan 3,7 tahun 2000, penyebabnya adalah karena angka kelahiran juga menurun, adanya mobilitas penduduk laki-laki lebih tingi dibanding

perempuan, sehingga proporsi penduduk usia produktif meningkat. Ketenaga kerjaan berdasarkan hasil sensus penduduk (SP) tahun 2000 TPAK mencapai angka 75,85 (Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja) dengan basis perhitungan penduduk berusia 15 tahun keatas. Dari persentase penduduk menurut jenis kegiatan, ada gambaran yang bekerja di sektor jasa-jasa 10,95%, industri 4,80%, perikanan 65,92% dan lain-lain 8,47%. Proporsi penyerapan tenaga kerja menggambarkan struktur perekonomian dengan sharing pembentukan PDRB di tahun 2000 mencapai 41,26%. Ditinjau dari kualitas partisipasi, ternyata, persentase penduduk yang bekerja menurut status pekerjaan sebagai buruh karyawan 35,45%, pekerja keluarga 21,43%, berusaha sendiri 21,13%, berusaha dibantu pekerja tidak tetap 20,18% dan berusaha dibantu buruh tetap sebanyak 1,13%. Maka di lihat dari kualitas partisipasi yang direpresentasikan oleh status pekerjaan, kondisinya dapat dikatakan belum memadai, karena 21,43% masih berstatus sebagai pekerja keluarga/pekerja tak dibayar (pengangguran terselubung) dan sebagai buruh/karyawan 35%. Jadi tenaga kerja yang benar-benar produktif masih terbatas. III. GAMBARAN PEMBANGUNAN

1. Indikator Maritim Kabupaten Lotim Indikator maritim menunjukkan tingkat kegiatan yang ada di sektor maritim berdasarkan sumberdaya alamnya yang dimanfaatkan. Untuk sub-sektor perikanan tangkap, yang khususnya di lakukan di perairan laut, dapat di lihat dari aspek jumlah kapal penangkap ikan, jumlah alat tangkap dan produksi hasil tangkapan. Adapun untuk sub-sektor perikanan budidaya dicerminkan oleh luas areal budidaya, potensi areal dan produksi, serta jumlah nelayan dan penduduk desa/kelurahan pantai. Sektor maritim atau sumberdaya pesisir dan laut, lambat laun akan menjadi tumpuan kegiatan ekonomi dimasa depan, dengan alasan, makin terbatasnya sumberdaya spasial di daratan dan luasnya wilayah pantai dan laut, berikut kekayaan yang terkandung di dalamnya. Kabupaten Lotim yang wilayahnya sebagian besar berbatasan dengan wilayah pesisir dan pantai, maka program kearah pengoptimalan usaha maritim serta eksploitasi sumberdaya laut lainnya, menjadi sangat rasional bagi kesinambungan pertumbuhan peningkatan skala ekonomi daerah, guna peningkatan kesejahteraan.

Tabel. 1. Indikator Maritim Kabupaten Lombok Timur, Tahun 1996 – 2001.
No 1. Keterangan 1996 Jum Nelayan/Penduduk Desa a. Jumlah Nelayan b. Jumlah Penduduk c. Luas (Km2) d. Kepadatan Maritim Laut a. Kapal Penangkap a.1. Jukung&Sampan a.2. Perahu Motor a.3. Kapal Motor a.4. Jumlah b. Alat Penangkap b.1. Jala Oras b.2. Jala Rompo b.3. Jala Buang b.4. Purse-seine b.5. Jaring Insang Hanyut b.6. Jaring Insang Tetap b.7. Jaring lingkar apung 16.005 194.460 578.61 336 1997 16.097 194.560 578.61 336 Tahun 1998 1999 16.195 194.670 578.61 336 16.490 194.890 578.61 336 2000 16.597 194.960 578.61 336 2001 16.798 195.460 578.61 336

2.

2.366 1.465 158 3.989 251 32 0 66 105 468 25

1.898 2.120 183 4.111 355 42 0 75 225 567 25

1.928 1.905 165 3.998 459 42 0 85 235 568 25

3.000 1.951 189 5.140 551 52 0 98 242 668 25

3.982 1.972 189 5.143 551 55 0 106 251 678 25

2.282 1.976 189 4.447 659 59 0 109 275 692 30

b.8. Jaring klitik 731 731 731 b.9. Bagan tancap 67 67 67 b.10. Bagan sampan 0 0 0 b.11. Pancing rawai 327 437 567 b.12. Pancing biasa 1.5 13 1.413 1.613 b.13. Pancing tonda 101 121 119 b.14. Sero/balot 0 0 0 b.15. Bubu 70 70 70 b.16. Lain-lain 75 75 75 c.Produksi Penangkapan c.1. Laut (ton) 8.588 13.890 13.713 c.2. Perairan Umum (ton) 385 249 210 8.974 14.139 13.924 JUMLAH Maritim Budidaya 3. a. Rumput Laut a.1. Luas areal (Ha) 126 136 461 a.2. Produksi Basah (Ton) 7.612 8.331 5.737 Sumber; Hasil Sensus Penduduk Tahun 2000. Lombok Timur Dalam Angka

731 67 0 627 1.821 131 0 70 75 18.357 182 18.540

731 67 0 677 1.830 143 0 70 75 18.272 221 18.540

740 67 0 750 1.850 120 0 75 79 15.499 213 15.712

200 7.579

400 7.769

405 7.865

2. Penduduk Desa Maritim Kabupaten Lotim memiliki luas daerah pantai yang telah didiami oleh penduduk berupa desa pantai mencapai 578,61 km2. Desa pantai ini tersebar di sepanjang wilayah pesisir dan berhadapan langsung dengan laut kearah pantai dan ke daerah daratan. Dari hasil sensus penduduk pada tahun 2000, jumlah penduduk yang berdiam di desa pantai mencapai 194.460 jiwa, dimana sumber penghidupan utamanya sangat besar dipengaruhi oleh hasil perairan yang ada disekitarnya. Di lihat dari tenaga kerja yang mengkhususkan pekerjaan utamanya sebagai nelayan ada sebanyak 16.597 (BPS, 2001. Lombok Timur Dalam Angka). Jadi nelayan yang dimaksudkan disini adalah masyarakat maritim dimana mereka menggunakan berbagai peralatan produksi yang sesuai dengan lingkungan pekerjaannya di perairan. Menarik untuk diamati, jumlah penduduk yang berdiam di pantai menggantungkan penghidupannya dari kegiatan berbagai bidang usaha kegiatan maritim yang menghasilkan produksi dari laut. Hasil produksi dari laut tersebut yaitu mulai dari hasil tangkapan ikan dan biota laut lainnya, termasuk juga kegiatan usaha produk lanjutannya dan jasa. Dari kegiatan usaha masyarakat maritim mempunyai peran besar terhadap pemenuhan kebutuhan sebagian kehidupan manusia. Masyarakat maritim berdasarkan perbandingan prosentase terhadap jumlah penduduk lainnya masih relatif kecil yaitu 8,54% saja, tetapi mereka tidak dapat diabaikan dan digantikan dengan masyarakat lainnya. Dalam kenyataan social masyarakat maritim ini masih sering dikategorikan bukan bagian integral dari desa, sehingga masyarkat maritim masih sering di pandang bukan inti dari pembentuk masyarakat desa pantai. Dari paradigma pencitraan yang ada, kadangkala telah menciptakan berbagai fenomena kerancuan dalam pembuatan program pembangunan. Tujuan program untuk meningkatkan peran dan kesejahteraan masyarakat maritim yang berdiam di desa pantai kadangkala tidak mencapai sasaran. Untuk Lotim, maka perlu pencitraan menekankan pada program yang menitik beratkan pada orientasi bahwa nelayan adalah masyarkat maritim tersendiri yang dicirikan oleh karakteristik sosiologis, ekonomi, teknologi dan adat kebiasaan hidup yang dimilikinya tersendiri. Dengan pemahaman inilah maka program pemberdayaan mereka akan sesuai dengan sumber penghidupannya yang ditentukan dan dipengaruhi oleh ekologi perairan. Jadi pengakuan terhadap karakteristik masyarakat maritim yang utuh, maka penduduk yang berdiam di desa pantai adalah inti penggerak dan pembinaan yang akan di lakukan oleh siapapun menjadi tetap berada di pusatnya masyarakat maritim. 3. Kebijakan Fiskal Maritim

Pemerintah daerah Kabupaten Lotim, dalam hal pembuatan kebijakan telah membuat rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Lombok Timur Tentang retribusi Izin Usaha Perikanan tahun 2001 (Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Lombok Timur Nomor……Tahun 2001 Tentang Retribusi izin Usaha Perikanan). Rancangan perda tersebut telah diserahkan kepada DPRD untuk dibahas dan disahkan sebagai perda yang dapat diberlakukan di daerah. Pendekatan fiskal berupa retribusi yang dikenakan kepada usaha maritim yang di lakukan oleh perorangan dan badan hukum. Karena itu objek fiskalnya berupa komoditi hasil perikanan yang dikenakan retribusi atas jasa-jasa TPI dan retribusi Izin Usaha perikanan. Usaha perikanan untuk budidaya dan tarif retribusi usahanya didasarkan pada tingkatan usaha tradisional, semi intensif dan intensif atas dasar luasan (Ha atau Are). Usaha maritim untuk usaha kegiatan penangkapan adalah atas dasar besar armada, daya mesin dan alat tangkap yang digunakan. Untuk usaha pengolahan atau pemasaran, pengenaan tarifnya atas dasar besar investasi. Kemudian untuk Pengiriman Hasil Perikanan dan Surat Pemeriksaan Ikan Olahan/Hidup didasarkan pada tariff sampel dan jam pemeriksaan. Memperhatikan cakupan objek fiskal yang akan dikenakan pada sektor maritim, tampak begitu jelas ragamnya, yaitu jenis retribusi yang akan dilaksanakan, dan apabila kondisi ekonomi tumbuh dengan baik, dan pelaksanaan retribusi dapat efektif dijalankan, maka sumbangan PAD dari sektor maritim untuk pembangunan daerah akan mempunyai arti yang sangat besar. Dari diskusi dengan masyarakat maritim, tersirat optimisme bahwa, terkait dengan sektor maritim, ada beberapa harapan yang dapat disumbangkan oleh sektor maritim, hasil dari pemberdayaan sektor maritim, baik melalui penangkapan, budidaya maupun pengolahan terhadap kontribusinya dalam mendorong perbaikan kesejahteraan masyarakat. Melihat kenyataan yang ada, akibat dari dihapuskannya retribusi pelelangan ikan di tahun 1997, dan sejak itu tidak ada pungutan retribusi resmi dari pemerintah, ternyata memperlemah pembinaan yang dapat di lakukan oleh instansi terkait, seperti Dinas Perikanan dan Kelautan. Oleh karena itu, kondisi fisik dan manajemen di tempat-tempat pelelangan tampak kurang terurus, dan dana pungutan hasil maritim kurang jelas, serta tidak dapat dipertanggung jawabkan. Rancangan perda yang sedang diusulkan adalah jalan keluar terbaik setelah otonomi daerah diberlakukan, karena akan ada payung hukum yang jelas untuk melaksanakan kebijkan fiskal melalui retribusi di sektor maritim. Hasil dari retribusi jelas akan memberikan dampak positip bagi pembangunan sektor maritim, apabila didukung oleh semua pihak. Untuk mampu meningkatkan daya dukung tersebut, melalui partisipasi aktif dari masyarakat pengguna sektor maritim, maka perlu ada perbaikan dan peningkatan pelayanan, dan penyuluhan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakaat, khususnya masyarakat maritim. 4. Pertumbuhan Ekonomi Untuk melihat pertumbuhan ekonomi, dapat didekati dengan informasi statistik yang bersifat lintas sektoral, khususnya di bidang ekonomi. Statistik Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), adalah alat yang banyak dipakai untuk mengetahui tingkat keberhasilan pembangunan, sebagai masukan dalam perencanaan pembangunan, perumusan kebijakan, sekaligus bahan evaluasi pembangunan diberbagai sektor di tingkat regional. PDRB adalah salah satu indikator makro yang dapat menunjukkan kondisi perekonomian ditingkat regional setiap tahunnya. Dari sebab itu, PDRB akan dapat membantu mengetahui tentang; 1). Kemampuan sumberdaya ekonomi yang dihasilkan oleh suatu daerah 2). Struktur perekonomian dan peranan sektor ekonomi dalam suatu daerah 3). Tingkat laju perekonomian secara keseluruhan atau setiap sektor dari tahun ke tahun 4). Tingkat kemakmuran suatu daerah 5). Perkembangan harga komoditi secara keseluruhan. Pengukuran tingkat pertumbuhan ekonomi Lotim menggunakan PDRB atas harga dasar konstan. Alasan pemilihan harga konstan karena pertumbuhan ekonomi semata-mata hanya dicerminkan oleh pertumbuhan riil barang dan jasa yang dihasilkan pada periode tertntu, tanpa dipengaruhi oleh perubahan harga. Pertumbuhan ekonomi yang ditunjukkan oleh PDRBnya dari periode tahun 1997 – 2000, pencapaian tertinggi adalah 5,52%, yaitu dicapai pada tahun

1997, kemudian akibat krisis ekonomi, turun drastis menjadi angka minus -2,81% pada tahun 1998. Kemudian pada dua tahun terakhir, yakni tahun 1999 dan 2000 telah mulai membaik, dengan pertumbuhan positip yaitu sebesar 2,33% menjadi 2,44% (Tabel, 2). Dari masing-masing sektor, dapat diketahui bahwa kontribusi terbesar berasal dari perikanan dengan tingkat pertumbuhan rata-rata 1,45%, selama kurun waktu tahun 1997 –2000. Pertumbuhan yang rendah ini masih lebih baik dibandingkan dengan sub sektor tanaman pangan yang tumbuh – 0,57% saja, sedangkan sektor lainnya, yaitu perkebunan, peternakan, kehutanan dan maritim mencapai pertumbuhan rata-rata positip, namun karena kontribusinya tidak terlalu dominan, sehingga pengaruhnya tidak terlalu besar terhadap pertumbuhan rata-rata sub sektor. Sub sektor yang mempunyai peranan cukup besar dengan pertumbuhan diatas rata-rata adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran, sedangkan yang lainnya seperti jasa-jasa masih berada dibawah rata-rata yaitu 1,41%. Tabel. 2. Laju Pertumbuhan Persentase PDRB Kabupaten Lotim Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan 1993. Tahun 1997 – 2000.
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Lapangan Usaha 1997 3,03 7,04 9,12 11,67 9,24 8,82 9,32 11,21 3,42 5,52 1998 - 1,54 - 16,72 - 4,14 - 0,22 - 14,71 - 3,40 -, 3,42 - 6,99 - 1,71 - 2,81 1999 3,00 4,99 5,91 14,71 3,14 1,84 4,16 - 15,71 0,58 2,33 2000 1,30 4,53 5,97 6,00 5,62 4,25 4,44 2,69 - 0,07 2,44 Perikanan Pertabangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas dan Air Bersih Bangunan Perdagangan Hotel dan Restoran Pengngkutan dan Komunikasi Bank, Usaha Persewaan &Jasa Perusahaan Jasa-Jasa PDRB Sumber: PDRB Kab. Lotim Tahun 2000. RataRata 1,45 - 0,04 2,22 8,04 0,82 2,88 5,34 - 2,20 1,41 1,87

6. Pertumbuhan Ekonomi Maritim Ekonomi maritim dimaksudkan adalah kontribusi sektor maritim yang dapat disumbangkan terhadap pertumbuhan regional ekonomi daerah. Dari sektor maritim, ingin diketahui besaran peranannya terhadap sumbangan pertumbuhan, khususnya di sektor maritim. Untuk mengetahui besaran pertumbuhan, maka di lakukan perbandingan antar sub sektor dalam kelompok usaha perikanan atas dasar distribusi persentase dan laju pertumbuhan PDRB. Dari distribusi persentase, terlihat perkembangan rata-rata antar sub sektor dalam empat (4) tahun terakhir adalah 38,88 persen, dan sektor maritim hanya menyumbang sebesar 2,82% saja. Untuk sektor maritim yang diwakili oleh sub sector perikanan, ditinjau dari perkembangan antar tahun, ternyata tidak terlalu berfluktuasi, walaupun ada kecenderungan menurun, hal ini menunjukkan bahwa sektor maritim pertumbuhan ekonominya cenderung stagnan, artinya tidak banyak mengalami perubahan. Ditinjau dari laju pertumbuhan, dari PDRB tahunan 1977 – 2000, (BPS, 2001, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) ternyata memperlihatkan fluktuasi yang cukup tajam. Pada tahun 1998 telah terjadi penurunan yang sangat tajam angkanya menjadi 1,54, naik lagi di tahun 1999 menjadi 3,00 dan turun lagi pada tahun 2000 yaitu 1,30. Dari gambaran fluktusi ini menandakan pertumbuhan sektor ekonomi dari sub sektor perikanan masih sangat labil, hanya sub sektor perkebunan yang cukup kuat, diikuti kehutanan dan peternakan, sedangkan maritim relatif rendah 0,92. Sektor maritim, laju pertumbuhannya sangat fluktuatif. Pada tahun 1997 mencapai pertumbuhan tertinggi 5,4% dan pada tahun 1998 turun sangat tajam menjadi pada angka -4,94. Hal ini disebabkan oleh resisi ekonomi, dimana banyak investor yang menarik kegiatannya dari NTB, termasuk di Lotim, sehingga sektor maritim ikut juga terganggu. Pemulihan pertumbuhan, mulai terjadi pada tahun 1999 yaitu 2,16 masih cukup rendah, dan di tahun 2000 terjadi penurunan kembali 1,01. Adapun rata-rata pertumbuhan pada empat tahun terakhir, yaitu hanya 0,92% (Tabel 3), jadi kontribusi sektor maritim terhadap laju pertumbuhan regional masih kecil

sekali. Untuk meningkatkan laju pertumbuhan pada sektor maritim, tampak jelas membutuhkan usaha yang ekstra besar, mengingat sederhananya laju yang dimiliki oleh sub sektor ini. Tabel. 3. Distribusi Persentase Dan Laju Pertumbuhan PDRB Kabupaten Lotim Atas Dasar Harga Konstan 1993 Sektor Usaha Perikanan, Peternakan, Kehutanan dan Maritim Tahun 1997 – 2000.
No. I Keterangan Pertanian Peternakan Distribusi Prsentase 1997 20,43 4,36 1998 25,73 4,46 1999 26,07 4,30 2000 24,73 4,41 PDRB 24,24 4,38 II Laju Prtmbhan 1997 2,77 3,63 1998 - 5,38 - 0,58 1999 3,65 - 1,21 2000 - 2,73 5,04 PDRB - 0,43 1,72 Sumber: PDRB Kab. Lotim Tahun 1997 – 2000. Perkebunan 6,29 7,47 7,56 8,38 7,42 2,58 15,47 3,58 13,53 8,79 Kehutanan 0,02 0,02 0,02 0,02 0,02 12,36 1,48 1,25 - 1,03 3,52 Perikanan 2,87 2,81 2,81 2,77 2,82 5,44 - 4,94 2,16 1,04 0,92 PDRB 39,72 40,49 40,76 40,30 38,88 3,03 - 1,54 3,00 1,30 2,20

IV.

PENGUSAHAAN MARITIM

A. Perikanan Penangkapan Pengusahaan maritim di lapangan yang dimaksudkan adalah kegiatan riil yang dilaksanakan oleh pelaku usaha sektor maritim, khususnya di kegiatan perikanan penangkapan. Berdasarkan (Tabel 1), misalnya dilihat dari tipe armada, skala usaha, produksi dari sub-sektor penangkapan dan sub-sektor budidaya masih tergolong tradisonal. Ciri-ciri tradisionalnya dapat diketahui dari; kapasitas perahu, peralatan teknologi yang digunakan, jarak tempat lokasi penangkapan, yang kesemuanya menunjukkan pada skala kecil dan menengah. Dengan kondisi sarana dan prasarana yang tersedia yang dimiliki oleh masyarakat maritim, maka upaya yang mampu di lakukan terhadap sumberdaya laut dan air tawar (budidaya) masih terbatas. Jadi manfaat yang dapat di lakukan baru sebatas upaya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari saja, belum sampai pada ekspansi usaha secara besar-besaran. Dengan luas wilayah 160.555 Ha yang dibatasi oleh Selat Alas, Laut Jawa dan Samudera Indonesia menunjukkan Kabupaten Lotim hampir di kelilingi oleh perairan air laut. Pantai yang mengelilingi Lotim mempunyai ciri-ciri tidak rata, tetapi banyak yang berbentuk teluk dan tanjung yang berarti memiliki karakteristik ekologi pantai yang berbeda-beda. Dengan banyaknya teluk dan pantai yang landai akan memberikan banyak peluang bagi pemanfaatannya dan bentuk pemanfaatannya dapat berupa kegiatan usaha penangkapn atau kegiatan usaha budidaya laut. Di daerah Lotim, bidang usaha yang kegiatannya berbasis penangkapan dan budidaya laut yang telah banyak di lakukan oleh masyarakatnya, karena penduduk yang berdiam di desa pantai menjadikan laut sebagai tempat mencari penghidupannya. 1. Armada Penangkapan Kegiatan usaha maritim melalui penangkapan ikan dan pengambilan biota laut lainnya, adalah kegiatan usaha yang teknologi pendukung dan manajemennya berdasarkan perburuan. Produk yang dihasilkan melalui perburuan tersebut berupa berbagai jenis ikan, atau biota laut lainnya seperti teripang, kerang mutiara, kerang yola. Untuk jenis-jenis ikan dan biota laut tertentu pengambilannya dilakukan dengan cara penyelaman, komoditi yang didapatkan umumnya bernilai ekonomi yang lebih baik. Untuk kegiatan usaha maritim melalui penangkapan ikan, sarana pendukung utama yang diperlukan adalah perahu atau kapal dan alat penangkap. Perahu dan Kapal perkembangannya berfluktuatif, dapat dilihat sejak dari tahun 1996, baik yang

bermotor atau tidak, dapat tergambarkan yaitu dari 3.989 unit telah mengalami peningkatan menjadi 4.111 unit di tahun 1997, kemudian terjadi penurunan lagi pada tahun 1998 yaitu menjadi 3.998 unit, lantas naik lagi hingga 5.140 unit di tahun 1999 dan tahun 2000 adalah 5.133 unit, yang berarti di tahun 2000 ternyata mengalami penurunan kembali. Fluktuasi ini mencerminkan betapa dinamisnya perkembangan usaha ekonomi penangkapan antar waktu yang terjadi di Lotim. Sebagai catatan, peristiwa krisis moneter juga ikut mempengaruhi kegiatan usaha penangkapan ikan di laut, hal ini tercermin juga di armada penangkapan kapal motor yang menggunakan bahan bakar solar dimana faktor biaya operasi yang mahal membuat sebagian nelayan cenderung menggunakan kembali perahu tanpa motor. Armada penangkapan meningkat kembali pada tahun 1999, ini karena harga komoditi dari kegiatan usaha maritim tetap baik, yaitu kurs dolar US ikut meningkat, sehingga kembali usaha maritim tangkap menjadi tumpuan usaha banyak orang, yang berlanjut hingga tahun-tahun berikutnya. Kegiatan usaha maritim masih didominasi oleh penangkapan menggunakan perahu jukung dan sampan. Dilihat dari persentasenya armada tersebut mencapai 77,42 persennya dari total armada, dan persentase ini dari tahun ke tahun belum banyak mengalami perubahan. Maka dapat dikatakan usaha penangkapan masih tradisional, skala kecil, lama operasi harian, fishing ground dibawah 4 mil laut, biaya operasi sederhana dan jumlah tenaga kisarannya antara 2 - 3 orang deagan volume hasil tangkapan yang masih terbatas. Armada yang telah lebih maju hanya 22,68% saja, itupun berupa perahu motor masih lebih banyak dibandingkan kapal motor. Jelas terlihat daya kemampuan pengeksploitasian sumberdaya laut melalui kegiatan usaha penangkapan yang mampu di lakukan masyarakat maritim Lotim masih sangat terbatas. 2. Alat Penangkapan di Laut Alat tangkap yang dipakai oleh masyarakat maritim lebih dari 16 jenis, ini menunjukkan bahwa masyarakat sangat mengenal lingkungn ekologi laut daerahnya, sehingga untuk dapat menangkap ikan sesuai dengan ekologinya dibuatkan alat tangkap yang berbeda-beda. Di lihat dari jumlah kepemilikan, alat-alat tangkap yang paling banyak digunakan adalah; jala oras 451 unit, jaring insang 873 unit, pancing rawai 727 unit, pancing biasa 1.813 unit dan pancing tonda 111 unit dan jaring klitik 731 unit. Adapun alat tangkap yang juga tergolong banyak, tetapi tidak dominan adalah purse-seine 96 unit, bagan tancap 67 unit dan bubu 70 unit. Kalau dikelompokkan lagi, maka alat tangkap yang dipakai umumnya bersifat pasip dan semi aktip. Dengan sifat alat tangkap yang biasanya di lakukan masyarakat maritim ini, jelaslah tidak bersifat destruktip atau merusak lingkungan dan pada jangka panjang tidak akan merusak lingkungan. Kebijakan pengembangan armada penangkapan guna meningkatkan eksploitasi penangkapan dengan tetap mempertahankan alat tangkap yang telah biasa dioperasikan di daerah ini, maka sumberdaya maritim tidak akan mengalami tekanan lingkungan yang terlalu berat. Sumberdaya alam akan mampu memulihkan dirinya lagi, dan kelestarian tetap terkendali dan terjaga dengan baik, sementara manfaat ekonomi dapat terus dinikmati oleh daerah dan masyarakat maritim. Pemerintah, sebagai pemegang kewenangan pengelolaan dan pemanfaatan ekonomi sumberdaya alam daerahnya, khususnya maritim, pada setiap pembuatan kebijakan dan pengimplementasiannya berupa program-program kerja, haruslah bersifaat rasional dan terintegrasi dengan berbagai sektor lainnya yang terkait, dengan menempatkan masyarakat maritim sebagai pelaku dan berfungsi sebagai partnership pemerintah dalam melaksanakan pengawasannya. 3. Investasi di Maritim Untuk dapat melakukan kegiatan usaha di daerah maritim Kabupaten Lombok Timur, saat ini pemerintah sangat mendorongnya, sehingga peraturan yang dibuat mengarah kepada memberikan kemudahan berusaha bagi seseorang atau badan hukum yang ingin melakukan penangkapan ikan di laut. Adapun persyaratan umum yang perlu dimiliki agar praktek usaha penangkapan ikan di laut dapat dilakukan adalah: a).Biaya pembuatan perahu/kapal. b).Biaya

perlatan penangkapan. c). Membayar biaya izin usaha penangkapan. dan d). Membayar biaya pelelangan hasil penangkapan. Dari uraian (Tabel 4), agar dapat melakukan aktivitas penangkapan harus ada pembiayaan investasi atau biaya tetap dan biaya variabel (tidak tetap). Jadi usaha ini sangat tergantung pada kedua jenis pembiayaan tersebut sebelum kegiatan dapat dilangsungkan. Pengusahaan penangkapan ikan di Lombok Timur di lakukan oleh nelayan yang mempunyai armada penangkapan ukuran kecil, sedang dan menengah. Gambaran tentang armada tersebut seperti tertera di dalam Tabel yang mencerminkan besarnya investasi yang dibutuhkan oleh setiap usaha kegiatan penangkapan ikan. Ada tiga tipe armada penangkapan yang ada di Lotim, yaitu jenis perahu jukung, perahu motor dan kapal motor. Adapun biaya investasi yang dibutuhkan dari setiap jenis besarannya berbeda. Untuk usaha penangkapan yang menggunakan armada perahu jukung, kebutuhan dana investasinya sampai dapat beroperasi minimal satu kali, adalah Rp. 2.790.000,- dan Rp. 75.000,- adalah biaya untuk sekali pergi menangkap ikan. Jadi total dana yang dibutuhkan untuk dapat berusaha di sektor penangkapan dengan armada jukung adalah Rp. 2.865.000,.

Tabel 4. Biaya investasi dan operasi kegiatan penangkapan
Armada Penangkapan Jukung (Rp.)
A. Investasi 1. Kasko 2. Mesin 3. Jaring 4. Perizinan 5. Modal operasi 6. Lain-lain Total B. Biaya operasi/trip 1. Es dan garam 2. Ransum 3. Oli, Solar, M. tanah 4. Cadangan Total Total Kebutuhan Biaya
Sumber: Data Lapangan yang diolah, 2002.

Investasi Perahu Motor (Rp.)
3.000.000 2.400.000 2.750.000 75.000 500.000 500.000 9.225.000 60.000 100.000 142.500 25.000 3.275.000 12.500.000

Kapal Motor (Rp.)
14.000.000 70.000.000 40.000.000 250.000 1.500.000 5.000.000 130.750.000 325.000 500.000 630.000 250.000 1.705.000 132.455.000

1.500.000 0 1.250.000 25.000 15.000 0 2.790.000 50.000 25.000 0 0 75.000 2.865.000

Adapun jenis perahu motor, biaya investasinya Rp. 9.225.000,- dan biaya operasionalnya Rp. 3.275.000,- maka total dana yang dibutuhkan adalah sebesar Rp. 12.500.000,- Kemudian usaha kapal motor dana yang harus ada dan disiapkan adalah untuk biaya investasi Rp. 130.750.000,- dan biaya operasional sebesar Rp. 1.705.000,-. Dengan demikian total dana yang diperlukan agar dapat melakukan penangkapan sebesar Rp. 132.455.000,-(Tabel. 4). Memperhatikan kebutuhan dasar dana yang harus ada bagi setiap orang yang ingin berusaha pada sektor penangkapan, jelas besar dana tersebut sangat terkait dengan besarnya armada yang akan digunakan. Di Lombok Timur, armada yang menggunakan perahu jukung jumlahnya 51,31% atau lebih dari separuhnya masyarakat maritim masih mempunyai daya yang rendah untuk dapat meningkatkan kemampuan usaha penangkapannya ke arah yang lebih berdaya tangkap tinggi. Dengan kondisi ini dimana hanya 4,25% saja yang mampu menggunakan armada penangkapan dengan ukuran besar, berarti kesempatan berusaha masih terbuka lebar, hanya saja peran

pemerintah harus mampu memfasilitasinya dengan program-program yang lebih memihak pada sektor maritim. 4. Produksi Penangkapan di Laut Ikan hasil tangkapan yang dapat didaratkan oleh nelayan sejak dari tahun 1996 sampai dengan tahun 2001, cenderung berfluktuasi. Kegiatan sektor maritim, gambarn umumnya dapat di lihat dari statistik produksi selama 5 (lima) tahun terakhir, dimana hasil penangkapan tampak menurun pada tahun 2001 sekitar 15,17% dibandingkan tahun 2000. Penurunan hasil tangkapan yang terjadi, perlu dicermati secara holistik, karena aktivitas usaha penangkapan ikan, disamping dipengaruhi oleh faktor alam, juga ada faktor eksternal yang secara tidak langsung ikut berpengaruh, seperti harga ikan, input produksi yang meningkat solar, mesin dan juga faktor keamanan. Adapun jenis-jenis ikan yang dihasilkan dari penangkapan, ada lebih dari 19 jenis, sedangkan jenis-jenis ikan yang tertangkap pertahunnya lebih dari 100 ton ada sebanyak 18 jenis. Untuk jenis ikan yang bernilai ekonomi, baik di pasar lokal dan internasional dapat disebutkan, antara lain Kerapu, Kakap, Tuna dan Cakalang, tetapi produktivitasnya masih tergolong rendah. Bagi kegiatan penangkapan oleh nelayan, jenis-jenis ikan ini menjadi target penangkapan, khususnya Kerapu dan Kakap, karena harganya di pasar cukup tinggi. Ikan ini dapat dijual dalam bentuk hidup, atau telah di pelet, yang laku keras di pasar-pasar ekspor dengan tujuan Hongkong atau Jepang. Mencermati perubahan yang terjadi pada hasil tangkapan ikan, yang secara fenomena senantiasa berubah-ubah sepanjang waktu, keadaan tersebut perlu dijadikan bahan masukan pada setiap pembuatan kebijakan dan program operasional yang ditujukan kepada masyarakat nelayan. Tujuan kecermatan dilakukan adalah agar disaat tingkat produksi mengalami paceklik, ada program bamper (penyanggah) yang memfasilitasi usaha masyarakat desa pantai, dengan demikian diharapkan kegiatan ekonominya tetap bisa tumbuh dan berkembang, dan masyarakat nelayan tidak terpuruk pada kondisi tergadai secara ekonomi pada kelompok tertentu, baik secara sosial ataupun secara ekonomi. B. Perikanan Budidaya Laut Perikanan budidaya yang berkembang di Lotim lebih diarahkan pada budidaya di laut (mary culture), yaitu berupa budidaya rumput laut, mutiara, ikan kerapu, udang lobster dan teripang serta kekerangan. Usaha pembudidayaan yang telah di lakukan baru sebatas pada budidaya rumput laut yang berlokasi di teluk Ekas, teluk Serewe, teluk Sembung, Batu Nampor dan Batu Dagong, begitu juga sesuai untuk pembudidayaan ikan kerapu dan lobster, sedangkan daerah yang lainnya masih dalam bentuk potensi wilayah. 1. Budidaya Laut Budidaya laut meliputi pembudidayaan ikan, lobster, kekerangan dan teripang. Budidaya komoditi ini akan mempunyai prospek pasar yang baik, karena komoditinya bernilai ekonomi tinggi di pasaran lokal dan internasional. Budidaya mutiara yang berpusat di teluk Ekas, telah menunjukkan aktivitas kearah perkembangannya. Pengusahaan pembudidayaan ada yang di lakukan oleh pengusaha yang mespesialisasikan pada budidaya mutiara dan ada juga yang di lakukan oleh masyarakat melalui kelompok usaha yang dibina oleh instansi pemerintah (PEMPDKP). Potensi wilayah yang tersedia, ada seluas 2.295 Ha, dan yang dimanfaatkan baru seluas 735 Ha. Produksi hasil budidaya di dalam statistik maritim daerah belum tertera, tetapi menurut aparat Dinas Perikanan dan Kelautan Lotim, telah mulai mampu berproduksi. Produksi yang dihasilkan belum optimal, karena bidang usaha ini di Lotim sedang dikembangkan. Budidaya lobster, secara parsial telah banyak di lakukan masyarakat, produksi yang dihasilkan masih tergolong rendah, seperti pada tahun 2001 baru mencapai 0,72 ton, padahal lahan budidaya yang dimiliki potensinya ada 522 Ha. Pasar lobster tidak hanya disekitar Lombok, tetapi telah meluas ke Bali dan bahkan sebagian di ekspor, maka jelas budidaya lobster adalah bidang usaha yang cukup menjanjikan. Pembudidayaan yang di lakukan baru sebatas pembesaran dan bibitnya

kebanyakan bersumber dari alam. Budidaya teripang dan kekerangan belum di lakukan, tetapi potensi lahan perairan untuk budidaya cukup luas, yaitu masing-masing 692 Ha dan 152 Ha. Kondisi lingkungan menurut masyarakat maritim adalah daerah yang sangat layak untuk usaha pembudidayaan laut tersebut. 2. Perikanan Budidaya Perikanan budidaya di Lombok Timur berdasarkan data statistik belum tercatat, pencatatannya baru dilakukan sehingga penggambaran budidaya di laut kurang jelas, padahal masyarakat maritim sejak lama telah mempraktekkan budidaya maritim. Di beberapa daerah, seperti di Teluk Ekas, Batu Nampar, dan Batu Dagong, telah ada kegiatan pembudidayaan di lakukan, yaitu berupa pembesaran lobster, pembesaran kerapu, termasuk rumput laut, tetapi skalanya masih kecil-kecil. Budidaya yang sedang digalakkan saat ini adalah budidaya kerang Mutiara, pembudidayaannya lebih banyak di lakukan oleh pengusaha yang sebelumnya telah pernah melakukan pembudidayaan kerang mutiara di tempat-tempat lain, tetapi hasilnya belum banyak. Kegiatan budidaya rumput laut yang telah berproduksi ada di teluk Ekas, teluk Serewe, Sembung, batu Nampor dan batu Dagong, dimana perairan lautnya sesuai untuk budidaya ini, daerah lainnyapun sebenarnya cukup baik juga. Perkembangan budidaya telah ada sejak tahun 1996, dimana arealnya pada saat itu baru 126 Ha, dan setiap tahun selalu beertambah dan pada tahun 2001 telah mencapai 405 Ha. Di lihat dari produksinya, budidaya ini baru mencapai antara 7-8 ribu ton basah. Pada tahun 2001 pembudidaya rumput laut menambah usahanya ke sector kgiatan usaha lainnya yaitu ikan kerapu, sehingga mengalami perbaikan produksi. Budidaya kerapu dimasa datang dengan menggandengan budidaya rumput laut dapat menjadi saling melengkapi usaha pembudidayaan laut, sebab akan memberikan prospek yang lebih baik. Tabel 5. Biaya investasi Budidaya Rumput Laut, 2002.
No. I Keterangan 3X3m (Rp) 50.000 75.000 100.000 250.000 475.000 75.000 25.000 4.000 2.500 1.500 112.000 587.000 Luasan (m) 4X4m (Rp) 75.000 100.000 150.000 250.000 575.0000 100.000 25.000 4.000 2.500 1.750 133.250 708.250 Investasi 1. Bambu 2. Tali 3. Tenaga Kerja 4. Perahu Kecil TOTAL BIAYA II Biaya Operasi 1. Bibit 2. Penanaman 3. Pemeliharaan 4. Pemanenan 5. Pengeringan TOTAL BIAYA TOTAL KEBUTUHAN BIAYA Sumber: Data lapangan yang diolah, 2002.

Pengusahaan pembudidayaan rumput laut membutuhkan biaya investasi untuk setiap petak bambunya adalah antara Rp. 475.000,- - Rp. 575.000,- (Tabel. 5), jadi kegiatan usaha budidaya baru dapat di lakukan apabila tersedia dana untuk membuat sarana budidayanya. Dalam pengoperasian selanjutnya, dibutuhkan juga biaya operasional, kebutuhan biaya operasional untuk setiap kali penanaman bibit sampai dengan pemanenannya kisarannya adalah Rp. 112.000,- Rp. 133.250,- jadi apabila ingin melakukan usaha pembudidayaan rumput laut, minimal tersedia dana untuk pembuatan sarana dan modal kerja adalah sebesar Rp. 587.000,- - Rp. 708.250,Pengusahaan rumput laut menurut informasi dari pelaku usaha budidaya, tingkat keberhasilannya sangat tergantung pada kesuburan lokasi, musim dan harga dari rumput laut itu sendiri. Maka jelas pengusahaan rumput laut di tingkat lokal sangat ditentukan oleh pembeli dan harga

ekspornya. Tapi pada jangka panjang, usaha pembudidayaan ini masih dapat menguntungkan pembudidaya. 4. Pengolahan Hasil Kegiatan usaha di sector maritim menghasilkan produksi sebagai bahan baku industri atau untuk langsung di konsumsi, bahan baku industri yang bersumber dari hasil maritim dapat berasal dari Kegiatan usaha penangkapan ikan atau pengambilan biota laut lainnya atau pembudidayaan. Kabupaten Lombok Timur sebagai daerah yang mempunyai perairan, juga menghasilkan berbagai produk maritim. Produk maritim yang telah mengalami proses pengolahan antara lain; minyak ikan, pengasinan, pemindangan, ikan segar dan mutiara. Dalam statistik perikanan, usaha industri pengolahan ini belum dianggap cukup signifikan di dalam kegiatan ekonomi masyarakat maritim yang mengkhususkan kegiatan pada bidang usaha pengolahan atau sebagai mata pencaharian dari usaha industri pengolahan yang berasal dari maritim. Jadi industri pengolahan belum berkembang dengan baik sebagai bidang usaha, tetapi teknologi pengolahan, bagi masyarakat maritim telah mengetahuinya dengan baik. Sehingga ada yang telah mengusahakannya, walaupun masih pada bentuk skala kecil dan sederhana. Tabel. 6. Pengolahan Produk Pindang Cumi-Cumi, Kabupaten Lombok Timur, Tahun 2002.
No. I Keterangan Pindang Cumi dengan Sewa/100 Kg 2.500.000 125.000 250.000 100.000 2.975.000 1.650.000 3.750 13.500 22.500 12.500 12.500 1.714.750 4.689.750 Investasi 1. Modal Usaha 2. Izin Tempat 3. Peralatan Pemindangan 4. Lain-lain Total Biaya Investasi II Biaya Operasi 1. Cumi-Cumi 2. G a r am 3. Minyak Tanah 4. Tenaga Kerja 5. B a s k o m 6. Daun Pisang Total Biaya Total Kebutuhan Biaya Catatan : 100 kg menjadi 5 lubang a 20 kg Sumber; Data lapangan yang diolah, 2002.

Dapat dicontohkan, pengolahan pindang dan cumi-cumi, masyarakat maritim di sekitar Tanjung Luar, mereka telah ada yang berusaha di sektor industri pengolahan ini yang menjadikannya sebagai kegiatan usaha. Untuk dapat berusaha, kebutuhan dana yang diperlukan agar bisa memulai usaha industri pengolahan pada skala usaha rumah tangga, masyarakat maritim harus memiliki modal minimal. Modal ini diperuntukkan sebagai biaya investasi dan operasional. Untuk mengolah produk pindang cumi-cumi per 100 kg atau dengan pemasakan 5 lubang tungku sekaligus dibutuhkan modal dasar untuk biaya investasi sarana Rp. 2.975.000,- ditambah biaya operasi pengolahan Rp. 1.714.750,- maka kebutuhan dana bagi yang melakukan usaha pemindangan cumi-cumi adalah sebesar Rp. 4.689.750,-(Tabel. 6). Biaya ini dapat menjadi bahan informasi bagi pengusaha yang baru, mereka akan mengalami banyak kesulitan apabila tidak hati-hati, kesulitan itu muncul mengingat kemungkinan ketidakpastian penjualan produknya. Untuk menghindari kesulitan maka dianjurkan bagi pemula perlu ada penjenjangan skala usaha yang harus di lakukan terlebih dulu, sehingga dapat menghindari terjadinya kerugian yang lebih besar.

Upaya yang di lakukan masyarakat maritim, seperti di Tanjung Luar, hasil tangkapan ikan di olah menjadi produk pindang. Ada dua cara pengolahannya; Pertama, diolah dengan cara perebusan di dalam air garam setengah tawar. Produknya berupa pindang ikan cumi-cumi dan ikan pelagis kecil. Kedua, diolah dengan cara perebusan dengan garam peril, perbandingannya antara 1 : 0,5, dan produk yang dihasilkan agak asin, berupa pindang asin, dari jenis ikan yang agak besar, seperti tongkol, dan daging ikan cucut. Ketiga, pengolahan minyak ikan cucut, terutama jenis ikan cucut taji yang di lakukan dalam bentuk home industri, dengan cara teknik ekstraksi yang dimurnikan. Hasil produksinya adalah kemasan minyak ikan cucut botolan yang siap untuk dipasarkan. Keempat, adalah penanganan ikan segar dengan cara pengesan, yaitu dari jenis-jenis ikan laut yang bernilai ekonomi tinggi, yang dijual pada pelanggan tertentu. Jenis-jenis ikannya adalah kerapu, kakap merah dan lain-lainnya. Jadi pengolahan produk yang ada di Kabupaten Lotim, jenis dan macam produk yang dihasilkan masih sangat terbatas, termasuk sub sektor budidaya, namun di lihat dari prospektif, daerah ini mempunyai peluang cukup besar dan menjanjikan, karena kondisi alam yang dimiliki cukup mendukung perkembangan kearah tersebut, yaitu pertumbuhan ekonomi daerah yang maju. Dan pemerintah daerah dalam upaya memberdayakan sektor maritim supaya mampu tumbuh dan berkembang dengan baik dalam mengisi pembangunan, di sektor maritim daerah perlu memasukkan program khusus yang disesuaikan dengan karakteristik ekologi maritim. Tujuan program khusus tersebut adalah untuk memudahkan pembinaan kepastian usaha ekonomi yang akan di lakukan oleh masyarakat mulai dari perbankan, industri, tenaga kerja, transportasi dan pemasaran. PENUTUP Kabupaten Lombok Timur (Lotim) terletak di Pulau Lombok, yang di kelilingi oleh laut dengan tanahnya yang bergunung (Gunung Rinjani) dan berbukit-bukit. Penghidupan masyarakat di daerah ini lebih banyak mengandalkan perikanan, disamping sektor-sektor lainnya, seperti pertambangan, industri, perdagangan, perhotelan dan restoran, transportasi, perbankan dan jasajasa lainnya. Sektor perikanan rata-rata PDRBnya pada empat tahun terakhir ini sebesar 38,88 persen, berarti masih cukup signifikan terhadap sektor-sektor lainnya. Perikanan masih berada di dalam sektor maritim, maka jelas sektor maritim ikut memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan PDRB, namun di lihat dari kemajuan yang dicapai oleh sektor ini masih sangat lamban. Di kaitkan dengan penduduk, kepadatannya telah mencapai 606 jiwa/km2 pada tahun 2000 (hasil sensus penduduk, 2000), konsekwensinya adalah tekanan terhadap lahan perikanan yang berubah fungsi menjadi makin jelas. Lahan yang terbatas akan memaksa perubahan struktur pendapatan masyarakat, maka pada jangka panjang sektor maritim (penangkapan dan budidaya) akan menjadi alternatif bagi sebagian penduduk yang berdiam di Lotim. Pada tahun 2000, jumlah penduduk yang terkait dengan maritim (tangkap) ada 194.460 jiwa dan yang terlibat langsung ada sebanyak 16.597 jiwa. Berdasarkan indikator maritim, strukturnya menunjukkan tingkat kegiatan-kegiatan yang tercipta di sektor maritim. Elemen dasar adalah sumberdaya alam maritim yang tersedia dan ada manusia yang hidup dengan sumber mata pencahariannya dari maritim. Kedua elemen dasar tersebut menciptakan teknologi peralatan kehidupan berupa armada penangkapan (perahu/kapal) yang diikuti derivasi teknologi pendukung lainnya, yaitu alat tangkap. Armada yang tersedia telah mencapai 4.447 unit dengan alat tangkap sesuai dengan kebutuhan, saat ini telah mencapai 5.086 unit. Dari perbandingan antara armada dengan alat tangkap, ternyata alat tangkap lebih banyak, berarti ragam alat tangkap sebagai teknologi derivatif dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi alam sekitar, dimana masyarakatnya hidup. Disamping teknologi armada, juga dikembangkan teknologi pembudidayaan. Untuk budidaya laut, harus didukung oleh perahu/kapal, karena lokasinya ditengah laut. Pembudidayaan maritim mulai berkembang di Lotim, pembudidayaan itu ada di teluk Ekas, Batu Nampor dan Batu Dagong. Perkembangan upaya pemanfaatan sumberdaya maritim melalui kegiatan usaha penangkapan, dapat diketahui melalui armada perahu/kapal. Sejak tahun 1996 sampai tahun 2000 armada perahu/kapal

mengalami fluktuasi. Fluktuasi jumlah armada ada kaitannya dengan resisi ekonomi, yang dimulai oleh adanya krisis moneter. Sebelumnya ada usaha di sektor penangkapan yang mengalami peningkatan, kemudian karena ada usaha penampung ikan dan pengolah ikan dalam bentuk olahan segar mulai mengurangi usahanya, hal ini ikut berdampak negatif bagi nelayan, yaitu pada tahun 2000 terjadi penurunan 4.447 yang tahun sebelumnya mencapai 5.143 unit usaha penangkapan. Selain dari itu, faktor biaya eksploitasi dari BBM juga memicu perubahan kegiatan dari kapal bermotor beralih pada kapal tanpa motor, dan ini juga ikut mempengaruhi tingkat produktivitas nelayan. Dengan kapal yang lebih kecil, jelas ikut merubah alat tangkap yang digunakan, dari ukuran yang lebih besar ke ukuran yang lebih kecil, karena fishing groundnya juga ikut terbatas. Produksi hasil tangkapan juga ikut berfluktuasi, angka di tahun 2001 memberikan gambaran bahwa terjadi penurunan sebesar 15,17%. Faktor penyebab penurunan disebabkan karena pengaruh faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah seperti permodalan usaha yang makin terbatas dan faktor eksternal seperti harga ikan, input produksi yang dipengaruhi BBM. Maka untuk sektor maritim, dari usaha penangkapan terlihat jelas ada perubahan-perubahan yang bertendensi ke arah penurunan, baik armada, alat tangkap dan produksi. Dari perubahan ini maka sektor penangkapan perlu ada bantuan upaya pendorongan melalui berbagai kegiatan kebijakan agar masyarakat maritim yang berdiam di daerah pantai kesejahteraannya tidak menurun dan mempengaruhi kualitas kehidupan mereka. Dari sub sektor maritim budidaya , Kabupaten Lotim belum menunjukkan perkembangan yang cukup maju, dan ini ditandai oleh volume dan jenis pembudidayaan ikan di laut masih terbatas. Adapun potensi wilayah cukup menjanjikan, dengan daerah potensial untuk pembudidayaan yang cukup luas. Budidaya yang telah mulai ada, adalah rumput laut yang produksinya mencapai 7 – 8 ribu ton basah, dan usaha ini cenderung bertambah luas. Pada tahun 2001, mulai ada pula usaha pembudidayaan lobster, kerapu dan kerang mutiara, tetapi produksinya belum dapat diketahui dengan jelas. Dengan adanya usaha pembudidayaan yang baru, dari komoditi maritim, selain rumput laut, ini memberikan informasi bahwa Lotim menarik bagi pengusaha untuk menjadi tempat berusaha yang mempunyai prospek keuntungan. Industri pengolahan produk maritim, baik dari hasil tangkapan, maupun dari budidaya, masih terbatas pada pengolahan ikan segar untuk perdagangan segar. Pengolahan produk dalam bentuk ikan asin, pindang, atau olahan lainnya (sosis, nuget) belum banyak dikenal dan di lakukan. Industri pindang ikan yang ada di Selong, volume dan aktivitasnyapun masih terbatas, termasuk minyak ekstraksi hati ikan hiu laut dalam. Berdasarkan indikator ekonomi, Kabupaten Lombok Timur mengalami pertumbuhan yang lambat, dapat diketahui melalui PDRB-nya mulai dari tahun 19972000 yang berfluktuatif. Pada tahun 1998 mengalami pertumbuhan negatif sebesar -2,81, hal ini disebabkan karena terjadinya krisis moneter secara nasional, kemudian pada tahun-tahun berikutnya ada pertumbuhan positif, tetapi cenderung meningkat dengan kisaran sederhana. Rata-rata total pertumbuhan berdasarkan lapangan usaha atas dasar harga konstan 1993 selama empat tahun terakhir adalah 1,87, maka gerakan ekonomi daerah Lombok Timur masih memberikan harapan berkembang dan dapat dikembangkan apabila pemerintah memberikan kemudahan diberbagai sektor ekonomi. Untuk sektor maritim distribusi persentase pertumbuhannya mengalami pertumbuhan positif, tidak pernah negatif yaitu dengan kisaran 2,87 - 2,77. Ditinjau dari laju pertumbuhannya, maka fluktuasinya cukup menajam, bahkan ada mengalami laju pertumbuhan negatif, yaitu pada tahun 1998 sebesar -4,94, hal ini terjadi karena pengaruh langsung dari krisis moneter. Sektor maritim mulai tahun 1999 mengalami pertumbuhan positif, tetapi masih sangat sederhana (2,16%) dan menurun kembali menjadi (1,01%). Memperhatikan besaran angka pertumbuhan berdasarkan laju pertumbuhan atas dasar harga konstan 1993, maka sub sektor usaha maritim kontribusinya terhadap PDRB Lombok Timur masih sangat rendah. Dengan kontribusi yang sangat rendah yang mampu diberikan oleh sektor maritim pada pertumbuhan ekonomi Lombok Timur, jelas program pemacuan yang diprioritaskan pada sektor ini juga menjadi rendah, hal ini tercantum dengan terbatasnya sarana dan prasarana yang tersedia untuk sektor maritim. Upaya

yang di lakukan pemda Lotim melalui Dinas Kelautan adalah membuat rancangan Perda tentang Retribusi Izin Usaha Kelautan tahun 2001. Dengan perda ini diharapkan akan mampu melakukan pembinaan dan sekaligus pemacuan pembangunan sektor maritim, dengan demikian peranan sektor maritim dapat ditingkatkan dan kontribusi yang dihasilkan terhadap PDRB akan dapat meningkat. Bersamaan dengan itu, sektor moneter dapat juga digerakkan, yaitu pengembangan usaha melalui peningkatan permodalan kredit bergulir yang diprioritaskan pada nelayan penangkap dan pembudidaya di laut. (Ikan dan Rumput Laut). Kegiatan usaha maritim dilapangan masih tergolong pada skala kecil dan menengah, untuk kegiatan usaha maritim penangkapan ikan masih di dominasi armada tanpa motor dengan biaya investasi untuk "perahu jukung" sebesar Rp 2.790.000,-, kemudian Perahu Motor Kecil Rp 9.225.000,- dan Kapal Motor Rp 130.750.000,-. Nelayan laut masih sedikit yang menggunakan perahu motor, apalagi Kapal Motor, sehingga usaha penangkapan di Lotim belum besar kemampuannya ikut memanfaatkan sumberdaya maritim yang ada. Kegiatan usaha di sector maritim yang diusahakan baru sebatas secara pembudidayaan, yang mampu di lakukan oleh masyarakat maritim. Untuk membuat satu petak bambu pembudidayaan rumput laut misalnya yang ukurannya 3 X 3 m, dibutuhkan biaya investasi Rp 475.000, untuk ukuran 4 X 4 m biaya investasinya 575.000. Total kebutuhan biaya per unitnya adalah Rp 587.000 dan Rp 708.250. Di lihat dari perkembangan, tampaknya pada saat ini masih menguntungkan, karena masih ada kecenderungan pertambahan pembudidayaan di laut. Pengolahan komoditi hasil tangkapan nelayan (ikan dan biota laut lainnya) belum banyak yang dapat dikembangkan oleh masyarakat. Dapat di lihat dari diversifikasi produk olahan yang dihasilkan masih terbatas, yaitu asinan, pindang, minyak ikan dan dalam bentuk segar. Dari sedikitnya jenis komoditi olahan yang dihasilkan, telah menggambarkan bahwa industri pengolahan hasil laut, ternyata belum berkembang pesat, karena itu agar usaha ekonomi dari sub sktor industri yang berbahan baku hasil laut dapat maju perlu kebijakan yang memudahkan yang berpihak kepada sector maritim. DAFTAR PUSTAKA Statistik Perikanan NTB, 2000. Buku Tahunan Statistik Perikanan Tahun 2000 BPS, 2001, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Lombok Timur Tahun 1998 2000 Kerjasama Bappeda Kabupaten Lombok Timur Dengan Badan Pusat Statistik Kabupaten Lombok Timur. Katalog BPS : 9205.5203. BPS, 2001. Lombok Timur Dalam Angka, Badan Pusat Statistik Kabupaten Lombok Timur. Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Lombok Timur Nomor……Tahun 2001 Tentang Retribusi izin Usaha Perikanan.

Daftar Riwayat Hidup
Drs. Sastrawidjaja kelahiran Tanjung Sakti, 1 Nopember 1951 adalah lulusan Fakultas Ekonomi, Universitas Islam Indonesia Yogyakarta tahun 1979. Pengalaman pekerjaan, sejak tahun 1980 hingga sampai tahun 2000 sebagai peneliti social ekonomi perikanan di Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian. Kemudian sejak tahun 2001 menjadi sebagai peneliti social ekonomi

perikanan di Pusat Riset Pengembangan Produk dan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, dan pada tahun 2005 sebagai peneliti di Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, Badan Riset Kelautan dan Perikanan, Departemen Kelautan dan Perikanan hingga sampai dengan sekarang. Penulis telah banyak menghasilkan tulisan ilmiah yang diterbitkan di jurnal penelitian, proceeding dan juga buku yang selalu berkaitan dengan Kelautan dan Perikanan. Hingga sampai saat ini tetap konsisten menggeluti permasalahan social ekonomi Perikanan nusantara.

SERBA-SERBI MASYARAKAT MARITIM

Tulisan ini menggambarkan sekelumit tentang keberadaan dan kegiatan masyarakat maritim yang ada di sebagian daerah nusantara. Gambaran yang diberikan lebih menekankan pada penggambaran informasi fenomena umum yang terjadi di masyarakat maritim, seperti kegiatan ekonomi, social, kearifan local, kelembagaan, dan politik. Fenomena itu dituangkan dalam bentuk uraian penggambaran kasar ditinjau dari pandangan penindaian pengamatan, baik melalui penindaian di lapangan ataupun referensi laporan resmi pemerintah. Hasil penindaian menginformasikan serba-serbi masyarakat maritim dari sisi pandangan formal dan dari sisi pengamatan riset. Mudah-mudahan tulisan ini dapat memberikan manfaat bagi nusantara sebagai bangsa maritim yang keberadaannya telah resmi diakui oleh masyarakat dunia.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->