P. 1
Akad-Akad Bank Syariah

Akad-Akad Bank Syariah

|Views: 513|Likes:
Published by faluppie

More info:

Published by: faluppie on May 02, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/12/2013

pdf

text

original

BAB 5, AKAD-AKAD DALAM BANK SYARIAH

BAB 5 AKAD-AKAD DALAM BANK SYARIAH
A. ANTARA WA’AD DENGAN AKAD Fikih muamalat Islam membedakan antara wa’ad dengan akad. Wa’ad adalah janji (promise) antara satu pihak kepada pihak lainnya, sementara akad adalah kontrak antara dua belah pihak. Wa’ad hanya

mengikat satu pihak, yakni pihak yang memberi janji berkewajiban untuk melaksanakan kewajibannya. Sedangkan pihak yang diberi janji tidak memikul kewajiban apa-apa terhadap pihak lainnya. Dalam wa’ad, terms and condition-nya belum ditetapkan secara rinci dan spesifik (belum well defined). Bila pihak yang berjanji tidak dapat memenuhi janjinya, maka sanksi yang diterimanya lebih merupakan sanksi moral.
Wa’ad:

1. Janji (promise) antara satu pihak kepada pihak lainnya (hanya mengikat satu pihak) one-way. 2. Terms & Condition-nya tidak well-defined; atau 3. Belum ada kewajiban yang ditunaikan oleh pihak manapun, walaupun terms & condition-nya sudah

well-defined

Di lain pihak, akad mengikat kedua belah pihak yang saling bersepakat, yakni masing-masing pihak terikat untuk melaksanakan kewajiban mereka masing-masing yang telah disepakati terlebih dahulu. Dalam akad, terms and condition-nya sudah ditetapkan secara rinci dan spesifik (sudah well-defined). Bila salah satu atau kedua pihak yang terikat dalam kontrak itu tidak dapat memenuhi kewajibannya, maka ia/mereka menerima sanksi seperti yang sudah disepakati dalam akad.

63

kafalah. dari segi ada atau tidak adanya kompensasi. yang artinya kebaikan). Tentu saja ia tidak berkewajiban menanggung biaya yang timbul dari pelaksanaan akad tabarru’. AKAD-AKAD DALAM BANK SYARIAH B. akad tabarru’ adalah akad melakukan kebaikan yang mengharapkan balasan dari Allah SWT semata. fikih muamalat membagi lagi akad menjadi dua bagian. Dalam akad tabarru’. Itu sebabnya akad ini tidak bertujuan untuk mencari keuntungan komersil. Tapi ia tidak boleh sedikitpun mengambil laba dari akad tabarru’ itu. I. hibah. dll. Ia akan menjadi akad tijarah. maka ia bukan lagi akad tabarru’. Artinya. shadaqah. ANTARA TABARRU’ DENGAN TIJARAH Selanjutnya. ia boleh meminta pengganti biaya yang dikeluarkan dalam melaksanakan akad tabarru’. pihak yang berbuat kebaikan tersebut boleh meminta kepada counter-part-nya untuk sekadar menutupi biaya (cover the cost) yang dikeluarkannya untuk dapat melakukan akad tabarru’ tersebut. ”Memerah susu kambing sekedar untuk biaya memelihara kambingnya”. maka ia tidak boleh mengambil manfaat (keuntungan komersil) dari akad tabarru’ tersebut. Namun demikian. Pada hakekatnya. merupakan ungkapan yang dikutip dari hadits ketika menerangkan akad rahn yang merupakan salah satu akad tabarru’.BAB 5. 64 . Akad tabarru’ dilakukan dengan tujuan tolong-menolong dalam rangka berbuat kebaikan (tabarru’ berasal dari kata birr dalam bahasa Arab. rahn. bila akad tabarru’ dilakukan dengan mengambil keuntungan komersil. Contoh akad-akad tabarru’ adalah qard. wadi’ah. hiwalah.waqf. pihak yang berbuat kebaikan tersebut tidak berhak mensyaratkan imbalan apapun kepada pihak lainnya. AKAD TABARRU’ Akad tabarru’ (gratuitous contract) adalah segala macam perjanjian yang menyangkut not-for profit transaction (transaksi nir- laba). Bila ia ingin tetap menjadi akad tabarru’. Imbalan dari akad tabarru’ adalah dari Allah SWT. Transaksi ini pada hakekatnya bukan transaksi bisnis untuk mencari keuntungan komersil. Konsekuensi logisnya.hadiah. wakalah. bukan dari manusia. yakni akad tabarru’ dan akad tijarah/mu’awadah.

Gambar 5. by specifying the job. shadaqah. preparing yourself to do something if something happens wakalah wadi’ah kafalah giving something hibah. Bila akadnya adalah meminjamkan sesuatu. Pada dasarnya.1. maka objek pinjamannya dapat berupa uang (lending $) atau jasa kita (lending 65 . i.e. etc. Skema Akad Tabarru’ Gambar 5.BAB 5. di atas memberikan skema akad-akad tabarru’ tersebut. akad tabarru’ ini adalah memberikan sesuatu (giving something) atau meminjamkan sesuatu (lending something).1.e. to provide custody contingent wakalah.i. waqf. AKAD-AKAD DALAM BANK SYARIAH Akad Tabarru’ giving/lending something lending $ lending $ lending $ + collateral lending $ to take over loan from other party Qard Rahn hiwalah lending yourself lending yourself now to do something on behalf of others wakalah.

yakni bila kita menawarkan jasa kita untuk menjadi wakil seseorang. Meminjamkan Jasa Kita (lending yourself) 3. Qard adalah akad untuk meminjamkan uang. 1 66 . dengan Istilah qard ini jangan dicampuradukkan dengan istilah qard al-hasan. yakni qard.BAB 5. ada tiga bentuk akad meminjamkan uang. karena akad ini tidak mensyaratkan bahwa uang yang diberikan harus dikembalikan.1 Selanjutnya. bila akad wakalah ini kita rinci tugasnya. Karena kita melakukan sesuatu atas nama orang yang kita bantu tersebut. Dengan demikian. Meminjamkan Jasa Kita (lending yourself) Seperti akad meminjamkan uang. maka sebenarnya kita menjadi wakil orang itu. jika dalam meminjamkan uang ini si pemberi pinjaman mensyaratkan suatu jaminan dalam bentuk atau jumlah tertentu. Bila pinjaman ini diberikan tanpa mensyaratkan apapun. Itu sebabnya akad ini diberi nama wakalah. Ad. Ada lagi suatu bentuk pemberian pinjaman uang. rahn. Memberikan sesuatu (giving something) Ad. maka hal ini disebut wakalah. Sedangkan qard alhasan pada hakekatnya adalah sedekah. di mana tujuannya adalah untuk mengambil alih piutang dari pihak lain. Meminjamkan Uang (lending $) 2. akad meminjamkan jasa juga terbagi menjadi 3 jenis. 2. 1. yakni: 1. Bentuk pemberian pinjaman uang dengan maksud seperti ini disebut Jadi. dsb) saat ini untuk melakukan sesuatu atas nama orang lain. selain mengembalikan pinjaman tersebut setelah jangka waktu tertentu maka bentuk meminjamkan uang seperti ini disebut dengan qard. Meminjamkan Uang (lending $) Akad meminjamkan uang ini ada beberapa macam lagi jenisnya. kita mempunyai 3 (tiga) bentuk umum akad tabarru’. yakni sebagai berikut. Bila kita meminjamkan “diri kita” (yakni jasa keahlian/keterampilan. hiwalah. AKAD-AKAD DALAM BANK SYARIAH yourself). maka bentuk pemberian pinjaman seperti ini disebut dengan rahn. Selanjutnya. karena keduanya berbeda. setidaknya ada 3 jenis. dan hiwalah.

Sebaliknya. maka bank tersebut dalam perjalanan kontrak tersebut tidak boleh merubah akad tersebut menjadi akad tijarah dengan mengambil keuntungan dari jasa wadiah tersebut. dll. maka akadnya dinamakan waqf. jika akad tijarah sudah disepakati. dengan demikian bank melakukan akad tabarru’). dan kafalah. maka bentuk peminjaman jasa seperti ini disebut akad wadi’ah. maka akad tersebut tidak boleh dirubah menjadi akad tijarah (yakni akad komersil. bersyarat. sehingga menggugurkan kewajiban pihak yang belum menunaikan kewajibannya. Misalkan Bank setuju untuk menerima titipan mobil dari nasabahnya (akad wadiah. si pelaku memberikan sesuatu kepada orang lain. Sedangkan hibah dan hadiah adalah pemberian sesuatu secara sukarela kepada orang lain.BAB 5. Dalam semua akad-akad tersebut. Dalam hal ini. Begitu akad tabarru’ sudah disepakati. maka akad tersebut boleh dirubah menjadi akad tabarru’ bila pihak yang tertahan haknya dengan rela melepaskan haknya. Asisten hanya bertugas mengajar (yakni melakukan sesuatu atas nama dosen) bila dosen berhalangan (yakni bila terpenuhi kondisinya. Ada variasi lain dari akad wakalah. seorang dosen kondisinya. Dengan demikian. 67 . ada 3 (tiga) akad meminjamkan jasa. jika sesuatu terjadi). maka kita bersedia memberikan jasa kita untuk melakukan sesuatu atas nama orang lain.”. Tugas Anda adalah menggantikan saya mengajar bila saya Dalam kasus ini. yang akan segera kita bahas) kecuali ada kesepakatan dari kedua belah pihak untuk mengikatkan diri dalam akad tijarah tersebut.hadiah. shadaqah. 3. wakalah. Jadi asisten ini tidak otomatis menjadi wakil dosen. Memberikan sesuatu (giving something) Yang termasuk ke dalam golongan ini adalah akad-akad sebagai berikut: hibah.waqf. yakni contingent wakalah (wakalah bersyarat). jika terpenuhi Misalkan. Wakalah bersyarat ini dalam terminologi fikih disebut sebagai akad kafalah. yang terjadi adalah wakalah berhalangan. Bila penggunaannya untuk kepentingan umum dan agama. yakni: Ad. menyatakan kepada asistennya demikian: “Anda adalah asisten saya. wadi’ah. AKAD-AKAD DALAM BANK SYARIAH tugas menyediakan jasa custody (penitipan. Objek waqf ini tidak boleh diperjualbelikan begitu dinyatakan sebagai aset waqf. pemeliharaan). atau jika sesuatu terjadi.

akad ini tidak dapat digunakan untuk tujuan-tujuan komersil. penggunaan akad tabarru’ sering sangat vital dalam transaksi komersil. Tijarah dan Tabarru’ Fungsi Akad Tabarru’ Akad tabarru’ ini adalah akad-akad untuk mencari keuntungan akhirat.3. II. berbeda dengan akad tabarru’. Namun demikian. karena itu bersifat komersil. Bahkan pada kenyataannya. Jadi. Contoh akad tijarah adalah akad-akad investasi. Bank syariah sebagai lembaga keuangan yang bertujuan untuk mendapatkan laba tidak dapat mengandalkan akad-akad tabarru’ untuk mendapatkan laba. Bila tujuan kita adalah mendapatkan laba. jual-beli. maka gunakanlah akad-akad yang bersifat komersil. dll. sewa-menyewa. Gambar 5. keuntungan. yakni akad tijarah. karena itu bukan akad bisnis.BAB 5. 68 . (Skema Akad-Akad) di bawah ini memberikan ringkasan yang komprehensif mengenai akad-akad yang lazim digunakan dalam fikih muamalah dalam bidang ekonomi. AKAD TIJARAH Seperti yang telah kita singgung di atas. maka akad tijarah/mu’awadah (compensational contract) adalah segala macam perjanjian yang menyangkut for profit Akad-akad ini dilakukan dengan tujuan mencari transaction. karena akad tabarru’ ini dapat digunakan untuk menjembatani atau memperlancar akad-akad tijarah. bukan berarti akad tabarru’ sama sekali tidak dapat digunakan dalam kegiatan komersil.2. AKAD-AKAD DALAM BANK SYARIAH Tijarah boleh X Tidak boleh Tabarru’ Gambar 5.

Waqf Natural Certainty Contracts Natural Uncertainty Contracts 1. ‘inan. mudharabah) 2.BAB 5.Hibah 7. abdan. Mukhabarah Teori Pertukaran Teori Percampuran Gambar 5. Selanjutnya. 4. Skema Akad-Akad Pertama-tama kita harus membedakan antara wa’d dengan akad (sudah kita bahas di bagian sebelumnya). Musaqah 4. Musyarakah (wujuh.Rahn 6.Kafalah 5.3. 2. yakni akad tabarru’ (akad 69 . Muzara’ah 3.Qard 2. 3.Wadiah 3. AKAD-AKAD DALAM BANK SYARIAH Wa’ad Akad Not for profit transaction Tabarru’ For profit transaction Tijarah 1. Murabahah Salam Istishna’ Ijarah 1.Wakalah 4. muwafadhah. akad ini terbagi menjadi dua kelompok besar.

Natural Uncertainty Contracts. Yang termasuk dalam kategori ini adalah kontrak-kontrak jualbeli. upah-mengupah. negatif. harganya (price). karena itu objek pertukarannya (baik barang maupun jasa) pun harus ditetapkan di awal akad dengan pasti. yakni cash flow dan timing-nya tidak pasti karena sangat bergantung pada hasil investasi. dan Istishna’) b. C. yakni sebagai berikut: Dalam bab 4 kita telah menyinggung konsep natural certainty contracts (NCC) dan natural uncertainty contracts (NUC) dalam a. pihak-pihak yang bertransaksi saling mempertukarkan asetnya (baik real assets maupun financial assets). ANTARA NATURAL UNCERTAINTY DENGAN NATURAL CERTAINTY CONTRACTS kaitannya dengan teori pertukaran dan teori percampuran. Tingkat return investasinya bisa positif. Dalam bentuk yang pertama. Natural Certainty Contracts Bagian C berikut ini akan membahas kedua bentuk akad di atas dengan lebih rinci. Jadi masing-masing pihak tetap berdiri-sendiri (tidak saling bercampur 70 . kedua belah pihak saling mempertukarkan aset yang dimilikinya.BAB 5. karena sudah disepakati oleh kedua belah pihak yang bertransaksi di awal akad (fixed and predetermined). mutunya (quality). Natural Certainty Contracts (NCC) Dalam NCC. I. Akad Jual-Beli (Al-Bai’. Salam. dan 2. Akad Sewa-Menyewa (Ijarah dan IMBT) Dalam akad-akad di atas. cash flow dan timing-nya bisa diprediksi dengan relatif pasti. Jadi. berdasarkan tingkat kepastian dari hasil yang diperolehnya. yakni: 1. Akad tabarru’ dapat berupa memberikan sesuatu atau meminjamkan sesuatu (uang atau jasa). dll. kontrak-kontrak ini secara “sunnatullah” (by their nature) menawarkan return yang tetap dan pasti. dan waktu penyerahannya (time of delivery). AKAD-AKAD DALAM BANK SYARIAH kebaikan) dan akad tijarah (akad bisnis). Sedangkan dalam bentuk yang kedua sebaliknyalah yang terjadi. akad tijarah pun dapat kita bagi menjadi dua kelompok besar. baik jumlahnya (quantity). Kemudian. atau nol (not fixed and not predetermined). sewa-menyewa.

2. AKAD-AKAD DALAM BANK SYARIAH membentuk usaha baru). barang diserahkan di awal periode. Akad Jual-Beli (Al-Bai’.BAB 5. kemudian sebagai gantinya B menyerahkan uang kepada A. Jual-beli dapat juga dilaksanakan tidak secara tunai. tapi dengan cicilan. akad murabahah ini pada mulanya digunakan untuk bertransaksi dengan anak kecil atau dengan orang yang kurang akalnya. 3. Juga tidak ada percampuran aset si A dengan aset si B. Di sini barang ditukarkan dengan uang. karena nasabah diasumsikan tidak begitu mengetahui teknis perhitungan bagi hasil (dengan demikian dapat dianalogikan sebagai orang yang kurang mengerti. yakni di awal transaksi (tunai).4. sedangkan uang dapat diserahkan pada periode selanjutnya. 71 . Bentuk jual-beli seperti ini dinamakan murabahah (terambil dari kata bahasa Arab ribhu= keuntungan). 4.3 di atas terlihat bahwa baik uang maupun barang diserahkan di muka pada saat yang bersamaan. dan Istishna’) Gambar 5. Jadi bank syariah memberitahukan tingkat keuntungan yang diambilnya kepada nasabah. akad murabahah pun digunakan dalam praktek perbankan syariah. seperti anak kecil). sedangkan naqdan artinya tunai). atau dapat juga dilakukan secara sekaligus (lump-sum) di akhir periode. sehingga tidak ada pertanggungan resiko bersama. a. sehingga terjadilah kontrak jual-beli (al-bai’). Dalam gambar 5. Pada dasarnya ada 4 (empat) bentuk akad al-Bai’. Kita juga mengenal suatu akad jual beli. berikut ini memberikan skema akad jual-beli (al-Bai’). Yang ada misalnya adalah si A memberikan barang ke B. Salam. Pada jenis ini. Jual beli cicilan ini disebut al-bai’ muajjal. Dewasa ini. al-Bai’ naqdan al-Bai’ Muajjal Salam Istishna’ al-Bai’ naqdan adalah akad jual beli biasa yang dilakukan secara tunai. (Al-Bai’ berarti jual beli. di mana si penjual menyatakan dengan terbuka kepada si pembeli mengenai tingkat keuntungan yang diambilnya. Hal ini dilakukan untuk menghindari mereka dari penipuan. yakni: 1. Pembayaran ini dapat dilakukan secara cicilan selama periode hutang. Dalam ilmu fikih.

Dalam jual beli salam. Jual beli salam adalah kebalikan dari jual beli muajjal. Akad Al-Bai’ barangnya dilakukan secara cicilan selama periode pembiayaan (jadi tidak dilakukan secara lump-sum di awal). Akad istishna’ sebenarnya adalah akad salam yang pembayaran atas 72 . Bentuk jual beli yang terakhir adalah jual beli istishna’. AKAD-AKAD DALAM BANK SYARIAH Bentuk jual beli yang ketiga adalah jual beli salam. barang yang ingin dibeli biasanya belum ada (misalnya masih harus diproduksi).BAB 5. Dalam jual-beli jenis ini.4. uang diserahkan sekaligus di muka sedangkan barangnya diserahkan di akhir periode pembiayaan. Al-Bai’ Naqdan Rp Bai’ muajjal Rp Rp Rp Rp Salam Rp Istishna’ Rp Rp Rp Rp Rp Gambar 5.

ijarah muntahia bittamlik (IMBT). Akad Sewa-Menyewa (Ijarah dan IMBT) Ijarah no transfer of title Rp Rp Rp Rp Rp IMBT transfer of title at the end of period Rp Rp promise to sell or hibah at the beginning of period Rp Rp Rp Gambar 5. Pada ijarah. Selain akad jual beli. b. Objek ijarah tetap menjadi milik yang menyewakan. Skema akad sewa-menyewa ini diberikan pada gambar 5. maka disebut sewa-menyewa. tidak terjadi perpindahan kepemilikan objek ijarah. Sedangkan ju’alah adalah akad ijarah yang pembayarannya didasarkan atas kinerja (performance) objek yang disewa/diupah. disebut upah-mengupah. Bila digunakan untuk mendapatkan manfaat barang.5. Ijarah yang membuka 73 .BAB 5. Namun demikian. baik jasa atas barang ataupun jasa atas tenaga kerja. pada zaman modern ini muncul inovasi baru dalam ijarah. yakni akad ijarah. di mana si peminjam dimungkinkan untuk memiliki objek ijarahnya di akhir periode peminjaman. dan ju’alah.5. Sedangkan jika digunakan untuk mendapatkan manfaat tenaga kerja. dalam NCC ada pula akad sewa menyewa. Akad Al-Ijarah Ijarah adalah akad untuk memanfaatkan jasa. di bawah ini. AKAD-AKAD DALAM BANK SYARIAH Akad-akad al-Bai’ ini akan kita bahas lebih lanjut di bab 7 ketika kita membicarakan pembiayaan murabahah.

dan kemudian menanggung resiko bersama-sama untuk mendapatkan keuntungan. terjadi percampuran antara modal dengan reputasi/nama baik seseorang (wujuh. dan mudharabah. Musyarakah (wujuh. berikut ini memberikan ikhtisar akad-akad NUC di atas. kontrak ini tidak memberikan kepastian pendapatan (return). Musaqah d. baik dari segi jumlah (amount) maupun waktu (timing)-nya. II. Akad-akad al-Ijarah ini akan kita bahas lebih lanjut di bab 8 ketika kita membicarakan pembiayaan ijarah dan IMBT. Di sini. AKAD-AKAD DALAM BANK SYARIAH kemungkinan perpindahan kepemilikan atas objek ijarahnya ini disebut sebagai Ijarah Muntahia Bittamlik (IMBT). Bentuk syirkah selanjutnya adalah syirkah ‘abdan. muwafadhah. Karena itu. pihak-pihak yang bertransaksi saling mencampurkan asetnya (baik real assets maupun financial assets) menjadi satu kesatuan. Kontrak investasi ini secara “sunnatullah” (by their nature) tidak menawarkan return yang tetap dan pasti. keuntungan dan kerugian ditanggung bersama. yakni Rp X dicampur dengan Rp X juga. yakni: mufawadhah. ‘inan.BAB 5. Muzara’ah c. misalnya Rp X dicampur dengan Rp Y. Dalam syirkah wujuh. Sedangkan pada syirkah ‘inan. para pihak yang berserikat mencampurkan modal dalam jumlah yang tidak sama. Misalnya ketika konsultan perbankan syariah bergabung dengan konsultan information technology untuk mengerjakan proyek sistem informasi Bank Syariah Z. abdan. Dalam syirkah mufawadhah. ‘inan. Dalam syirkah bentuk ini. tidak terjadi percampuran modal (dalam Contoh-contoh NUC adalah sebagai berikut: 74 . wujuh. Akad musyarakah (atau disebut juga syirkah) mempunyai 5 (lima) variasi. mudharabah) b. abdan. Yang termasuk dalam kontrak ini adalah kontrak-kontrak investasi. a. Mukhabarah Gambar 5. para pihak yang berserikat mencampurkan modal dalam jumlah yang sama. berasal dari kata bahasa Arab yang berarti wajah=reputasi). Natural Uncertainty Contracts (NUC) Dalam NUC.5. Jadi sifatnya tidak “fixed and predetermined”. di mana terjadi percampuran jasa-jasa antara orang yang berserikat.

tetapi yang terjadi adalah percampuran /keterampilan dari pihak-pihak yang berserikat. Rp X + Rp X syirkah mufawadhah Rp X + Rp Y syirkah inan Rp X + atau syirkah wujuh M U S Y A R A K A H + syirkah ‘abdan Rp X + syirkah mudharabah Bila rugi. Natural Uncertainty Contracts syirkah Bentuk syirkah yang terakhir adalah syirkah mudharabah. Dalam ini.6.BAB 5. AKAD-AKAD DALAM BANK SYARIAH arti uang). pembagian berdasarkan kesepakatan nisbah. keahlian S Y I R K A H Bila untung. pembagian berdasarkan porsi modal. Akad Tijarah. MUZARA’AH= Pertanian tanaman setahun MUKHABARAH= bila bibitnya berasal dari pemilik tanah MUSAQAT= Pertanian tanaman tahunan Gambar 5. 75 . terjadi percampuran antara modal dengan jasa (keahlian/keterampilan) dari pihak-pihak yang berserikat.

BAB 5. Bila untung. dalam syirkah mufawadhah. Untung sebesar apapun dapat diserap oleh pihak mana saja. Bila rugi. maka besarnya jumlah keuntungan maupun kerugian yang diterima bagi masing-masing pihak jumlahnya sama pula. pembagian berdasarkan kesepakatan nisbah. karena porsi modal pihak-pihak yang berserikat besarnya sama. Bila bisnis rugi. $$$$$$ Untung dibagi menurut nisbah Bisnis Rugi dibagi menurut porsi modal 1. Dengan demikian. AKAD-AKAD DALAM BANK SYARIAH Dalam semua bentuk syirkah tersebut. pembagian berdasarkan porsi modal. tidak semua pihak memiliki kemampuan menyerap kerugian yang sama. Perbedaan penetapan ini dikarenakan adanya perbedaan kemampuan menyerap (absorpsi) untung dan rugi. maka jumlah keuntungan yang diterima berdasarkan kesepakatan nisbah. bila terjadi kerugian. Sedangkan bila rugi. maka masing-masing pihak akan menanggung 76 . Dengan demikian. 2. maka besar kerugian yang ditanggung disesuaikan dengan besarnya modal yang diinvestasikan ke dalam bisnis tersebut. berlaku ketentuan sebagai berikut: bila bisnis untung maka pembagian keuntungannya didasarkan menurut nisbah bagi hasil yang telah disepakati oleh pihak-pihak yang bercampur. Dalam syirkah ‘inan. karena jumlah porsi modal yang dicampurkan oleh masing-masing pihak berbeda jumlahnya. maka pembagian kerugiannya didasarkan menurut porsi modal masing-masing pihak yang bercampur. Sedangkan bila rugi.

Sedangkan bila rugi. Pihak yang mengkontribusikan jasanya (mudharib) tidak menanggung kerugian finansial apapun. kita merubah hal-hal yang sudah pasti 77 . maka penyandang modal (shahib almal) yang akan menanggung kerugian finansialnya. karena ia memang tidak memberikan kontribusi finansial apapun. tidak perlu menanggung kerugian finansial. maka disebut mukhabarah. karena ia tidak menyumbangkan modal finansial apapun. Bentuk kerugian yang ditanggung oleh mudharib berupa hilangnya waktu dan usaha yang selama ini sudah ia kerahkan tanpa mendapatkan imbalan apapun. Bila Natural Certainty Contracts dirubah menjadi uncertain. Dalam syirkah wujuh. Pembedaan antara natural certainty contracts (NCC) dengan natural uncertainty contracts (NUC) ini sangat penting. Bila terjadi laba. Pihak yang menyumbangkan reputasi/nama baik. yakni dalam bentuk hilangnya segala jasa yang telah mereka kontribusikan. demikian pula halnya. Sedangkan bila terjadi kerugian. Dengan kata lain. maka terjadilah gharar (ketidakpastian. Namun demikian. karena keduanya memiliki karakteristik khas yang tidak boleh dicampuradukkan. maka kedua belah pihak akan sama-sama menanggungnya. maka hanya pemilik modal saja yang akan menanggung kerugian finansial yang terjadi. Bentuk kontrak bagi hasil yang diterapkan pada tanaman pertanian setahun dinamakan muzara’ah. terdapat juga kontrak investasi untuk bidang pertanian yang pada prinsipnya sama dengan prinsip syirkah.BAB 5. yakni jatuhnya reputasi/nama baiknya. Sedangkan bentuk kontrak bagi hasil yang diterapkan pada tanaman pertanian tahunan disebut musaqat. bila terjadi keuntungan maka laba tersebut dibagi menurut nisbah bagi hasil yang disepakati oleh kedua belah pihak. pada dasarnya ia tetap menanggung kerugian pula. maka keuntungan pun dibagi berdasarkan kesepakatan nisbah antara masing-masing pihak. Bila bibitnya berasal dari pemilik tanah. Dalam syirkah mudharabah. Sedangkan bila rugi. AKAD-AKAD DALAM BANK SYARIAH kerugian sebesar proporsi modal yang ditanamkan dalam syirkah tersebut. Dalam syirkah ‘abdan. unknown to both parties). Selain musyarakah. bila terjadi laba. maka laba itu akan dibagi menurut nisbah yang disepakati oleh pihakpihak yang berserikat.

7. Upah) Natural Uncertainty Contracts: uncertain cash-flow. baik amount maupun timingnya.BAB 5. berikut. Riba Nasiah Bila Natural Uncertainty Contracts dirubah menjadi certain. (Kontrak Jual-Beli. AKAD-AKAD DALAM BANK SYARIAH menjadi tidak pasti. Gambar 5. Riba Nasi’ah dan Gharar kita merubah hal-hal yang harusnya tidak pasti menjadi pasti. Demikian pula sebaliknya dilarang. dan seorang itu tidak mengetahui apa yang dihasilkannya esok. karena itu Contracts Gharar X Natural Certainty Contracts: certain cash-flow. Ilustrasi kejadian ini diberikan pada gambar 5.7. karena itu dilarang2. Tetapi justru hal itulah yang dilakukan oleh perbankan konvensional dengan penerapan sistem bunganya. X Riba Nasiah Gharar (ketidakpastian. uncertain to both parties). maka terjadilah riba nasiah. Bila Riba Natural Certainty Contracts dirubah menjadi uncertain. Hal ini pun melanggar sunnatullah. dilarang. yakni bila Natural Uncertainty Contracts dirubah menjadi certain. Hal ini melanggar “sunnatullah”. baik amount maupun timing-nya. 78 . Sewa. QS Luqman: 34. Artinya 2 ”Wama tadri nafsun ma dza taksibu ghadan”.

Setelah kita memiliki bekal pengetahuan akad-akad ini. Karena itu. kita harus mencoba untuk “menerjemahkan” konsep akad-akad ini ke dalam produk-produk perbankan. AKAD-AKAD DALAM BANK SYARIAH D.BAB 5. yakni bab 6 akan membahas produkproduk dan jasa yang lazim ditawarkan oleh suatu bank syariah modern. 79 . PENUTUP Bahasan kita di bab 5 ini telah mencakup semua akad-akad fikih muamalah Islam dalam bidang ekonomi yang lazim digunakan. maka langkah selanjutnya adalah menerapkan konsep akad-akad tersebut ke dalam praktek perbankan modern. Bab selanjutnya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->