P. 1
Pluralisme

Pluralisme

|Views: 458|Likes:
Published by amrisjenar

More info:

Published by: amrisjenar on May 03, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/06/2013

pdf

text

original

A.

Latar Belakang Masalah Istilah ‘pluralisme’ yang berarti ‘beragam’, pendapat orang tentang istilah ini juga beraneka ragam pula. Secara harfiah pluralisme berarti jamak, beberapa, berbagai hal, keberbagaian atau banyak. Oleh karenanya sesuatu dikatakan plural pasti terdiri dari banyak hal; jenis, berbagai sudut pandang serta latar belakang. 1 Dengan kata Pluralisme adalah gagasan atau pandangan yang mengakui adanya hal-hal yang bersifat banyak dan berbeda-beda (heterogen) di suatu komunitas masyarakat.2 Istilah pluralisme sendiri sesungguhnya adalah istilah lama yang hari-hari ini kian mendapatkan perhatian penuh dari semua orang. Dikatakan istilah lama karena perbincangan mengenai pluralitas telah dielaborasi secara lebih jauh oleh para pemikir filsafat Yunani secara konseptual dengan aneka ragam alternatif memecahkannya. Para pemikir tersebut mendefinisikan pluralitas secara berbeda-beda lengkap dengan beragam tawaran solusi menghadapi pluralitas. Permenides menawarkan solusi yang berbeda dengan Heraklitos, begitu pula pendapat Plato tidak sama dengan apa yang dikemu-kakan Aristoteles.3 Hal itu berarti bahwa isu pluralitas sebenarnya setua usia manusia. Dalam kehidupan praktis sehari-hari, umat manusia telah menjalani kehidupan yang pluralistik secara alamiah dan wajar-wajar saja. Kehidupan mengalir apa adanya tanpa ada prasangka dan perhitungan lain yang lebih rumit. Persoalan menyeruak
Syafa’atun Elmirzanah, et. al., Pluralisme, Konflik dan Perdamaian Studi Bersama Antar Iman, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), 7. 2 Lorens Bagus, Kamus Filasafat, Gramedia, Jakarta, 2000, hal. 853 3 Perbincangan pluralisme menurut Amin Abdullah sesungguhnya tak lebih seperti put a new wine in the old bottle (memasukkan minuman anggur baru dalam kemasan lama). Baca M. Amin Abdullah, Dinamika Islam Kultural: Pemetaan Atas Wacana Islam Kontemporer, Bandung: Mizan, 2000), 68.
1

ketika berbagai kepentingan dan pertimbangan tadi menempel dalam pola interaksi antar manusia. Apalagi jika kepentingan yang disebut di atas lebih menonjol, maka gesekan dan konflik adalah sesuatu yang tak terelakkan. Demikian juga dalam menyikapi pluralisme beragama, Alwi Shihab memberi gabaran cukup baik dalam mengartikulasikan pluralisme agama. Menurutnya, “Pluralisme agama adalah bahwa tiap pemeluk agama dituntut bukan saja mengakui keberadaan dan hak orang lain, tetapi juga terlibat dalam usaha memahami perbedaan dan persamaan, guna tercapainya kerukunan dalam kebhinekaan”. Hal ini senada dengan pernyataan Adhyaksa Dault bahwa pluralitas di satu segi dipandang sebagai sesuatu yang dengan mudah diikat dalam selogan Bhinneka Tuggal Ika. 4Melalui pemahaman tentang pluralisme yang benar dengan diikuti upaya mewujudkan kehidupan yang damai seperti inilah akan tercipta toleransi antar umat beragama. Toleransi yang sesungguhnya, yang mengajak setiap umat beragama untuk jujur mengakui dan mengekspresikan keberagamaannya tanpa ditutup-tutupi. Dengan demikian identitas masing-masing umat beragama tidak tereliminasi, bahkan masingmasing agama dengan bebas dapat mengembangkannya. Inilah toleransi yang dulu pernah dianjurkan oleh Kuntowijoyo.5 Jika Pluralitas telah menjadi kenyataan dalam kehidupan masyarakat (Pluralistic Societi), maka kebutuhan yang segera muncul mukan meredam dan menyembunyikan pluralitas yang ada, atau memaksanya agar menghablur, melainkan member ruang terbuka agar berbagai perbedaan tersebut muncul kepermukaan,

Adhiyaksa Dault, Islam dan Nasionalisme: Reposisi Wacana Universal Dalam Konteks Nasional, (Jakarta: Pustaka Alkausar, 2005), hal. 88 5 Bachtiar Effendi, “Menyoal Pluralisme di Indonesia” dalam Living Together in Plural Societies; Pengalaman Indonesia Inggris, ed. Raja Juli Antoni (Yogyakarta: Pustaka Perlajar, 2002), 239-249.

4

berkelindan dan berdialektika secara wajar.6 Pengabaian hak-hak minoritas oleh kelompok mayoritas adalah kecenderungan arogan yang dapat memunculkan konflik dan pertentangan peradaban.7 Pernyataan ini memiliki implikasi strategis dalam mencermati realitas kebijakan komunitas dalam sebuah negara. Negara Muslim pada umumnya menunjukkan sikap toleransi yang cukup baik dibandingkan dengan negara Kristen Barat. Adalah sangat signifikan jika dihadapkan betapa sikap masyarakat Islam terhadap penganut Yahudi, dengan perlakuan Kristen Eropa terhadap minoritas Yahudi selama berabad-abad.8 Karena itu, persoalan yang penting didiskusikan kembali adalah posisi minoritas non-muslim ditengah-tengah mayoritas muslim. Berkaitan dengan itu belakangan ini sering dibicarakan bagaimana "nasib" masyarakat non-muslim di Aceh ketika diberlakukannya penerapan syariat Islam.9 Secara de facto masyarakat Aceh adalah masyarakat yang sosio-kulturalnya mencerminkan ruh yang Islam. Akan tetapi, ketika ada 'kebijakan politik' penegakkan syariat Islam secara luas diberikan kewenangan bagi masyarakat Aceh, sehingga telah memunculkan harapan dan tantangan yang amat varian, salah satunya adalah sering orang mempertanyakan "Bagaimana non-muslim ?". Meskipun demikian, semua pihak diharapkan berkenan mengevaluasi kembali kepada berbagai pemikiran dan data sejarah yang diwarisi oleh masyarakat Islam. Konsekuensi ini akan memberi arti serta solusi terhadap problematika tersebut. Namun tanpa berlebihan dan tidak cenderung emosional, dapat ditegaskan bahwa penegakan syariat Islam di Aceh adalah sangat didukung oleh sosio-kultural
6

Samoel Koto, Pluralitas dan Demokrasi, Makalah Diskusi Mingguan INDEMO, Jakarta

2002 Hasan Hanafi, pemikiran muslim kontemporer, tesis tersebut diperoleh ketika penulis aktif sebagai peserta acara International Conference on Word Peace di IAIN Alauddin Makassar. 8 Ann Elizabeth Mayer. Islam and Human Righ: Tradition and Politics (London: Pinter Publisher), 1991, hal. 148. 9 UU Nomor 44 tahun 1999 dan Perda Nomor 5 tahun 2000 adalah ketentuan yang menegaskan diberlakukannya penegakan syariat Islam di Aceh.
7

masyarakat Aceh yang memang Islami ditambah lagi dengan keputusan 'politik' pemerintah yang telah memberikan payung hokum (kewenangan) untuk itu. Di dalam penegakan syariat, masyarakat muslim harus kembali kepada nilai syariat itu sendiri yang berpola untuk mendatangkan kemaslahatan kehidupan manusia. Dalam berinteraski antara manusia adalah dinilai sama, tidak ada perbedaan di antara manusia itu kecuali ketakwaannya. Karena itu, posisi non-muslim dalam tataran normatif keislaman adalah jelas dan tidak perlu dikhawatirkan di dalam prilaku kehidupan mayoritas Muslim, apalagi dalam aspek interaksi bermuamalah. Sebab aspek agama (keyakinan) telah banyak ilmuan membicarakan dan mengkaji serta membatasi kecenderungan yang menyangkut bidang aqidah

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka yang menjadi pokok permasalahan dan dicari penyelesaiannya sebagai berikut: 1.
2.

Bagaimana pluralisme beragama dalam sudut pandang Islam? Bagaimana masyarakat Aceh memposisikan kelompok non-muslim dalam kerangka pelaksanaan syari’at Islam?

3.

Bagaimana solusi yang diberikan Masyarakat Aceh apabila non-muslim melanggar aturan-aturan yang diterapkan?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian Adapun tujuan 1. Untuk mengetahui pluralisme beragama dalam sudut pandang Islam.

2. Untuk mengetahui masyarakat Aceh memposisikan kelompok non-muslim dalam kerangka pelaksanaan syari’at Islam. 3. Untuk mengetahui solusi yang diberikan Masyarakat Aceh apabila non-muslim melanggar aturan-aturan yang diterapkan. Sedangkan manfaat penelitian ini adalah:
a.

Diharapkan berguna untuk menambah khazanah ilmu pengetahuan, khususnya Darussalam. Pluralisme agama dalam lingkungan syariat di Nanggroe Aceh

b. Untuk mengetahui bagaimana masyarakat Aceh memposisikan kelompok non-

muslim dalam kerangka pelaksanaan syariat Islam.
c. Untuk mengetahui solusi yang diberikan masyarakat Aceh bila non- muslim

melanggar aturan yang telah ditetapkan..

D.

Kerangka Teoritis Allah Swt, telah menegaskan bahwa Dia telah menunjukkan dua jalan kepada

manusia, yaitu jalan yang benar itu adalah Islam dan jalan yang tidak benar adalah pengingkaran (kufr) terhadap Islam. Dengan potensi akal yang dimiliki manusia, ia diberika kebebasan untuk kemudian menerima Islam atau menolaknya.10 Tetapi, bagaimanapun juga dalam penghayatan agama, potensi akal menjadi strategis, karena memang, “Agama itu adalah (menuntut) akal, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak berakal”, demikian rasulullah Saw, bersabda. Dengan fitrah dan potensi akal, manusia akan bisa memilih jalan hidupnya sendiri. Nabi Muhammad telah berhasil gemilang merealisasikan secara baik pesan al10

Lihat surat al-Balad: 10, al-Insan: 3, al-Kahf: 29.

Quran. Konstitusi Madinah adalah bukti kongkrit, misalnya secara tegas digariskan bahwa kaum non-muslim dibenarkan hidup secara bersama dibawah kepemimpinan nabi.11 Kalaupun ada pembicaraan, bahwa nabi Saw pernah bertindak tegas terhadap kaum yahudi, sikap itu semata bukanlah ditunjukkan karena perbedaan agama (minoritas non-muslim) tetapi karena kegagalan mereka mentaati kekuasaan politik yang ada di tangan Nabi. Lain halnya, ketika beliau pergi ke Thaif yang diterima secara tidak bersahabat oleh penduduk disana, beliau hanya berucap: “Saya hanya mengajak anda sekalian kepada kebenaran, jika anda tidak ingin mendengarkan, ya tidak apa-apa”. Penjabaran dari syariat Islam dalam realitas sejarahnya, menyangkut kebebasan beragama adalah sangat diperhatikan dan bahkan menjadi sesuatu yang problematik dalam “kajian keagamaan” setelah tampilnya konsep zimmi.12 Term ini mendapat bahasan yang serius dalam literature keagamaan dalam tataran konsep Negara dan masyarakat dalam islam, atau lebih dikenal dengan bahasan al-Fiqh alSiyasah. Memang terdapat klaim bahwa konsep zimmi itu bersifat diskriminatif yang sangat menyedihkan yang harus diderita oleh kalangan zimmi. Dalam konteks sejarahnya, tradisi zimmi yang muncul di tengah kaum muslim itu adalah produk modifikasi tradisi Arab yang dikenal dengan jiwar, yaitu tradisi memberi-kan perlindungan kepada pihak asing. Diakui atau tidak, terdapat oknum penguasa muslim yang bertindak diskriminatif terhadap kalangan zimmi. Seperti kebijakan al-Mutawakkil (W. 481 M) memberikan

11

W. Montgomery Watt. Islamic Political Thought (Edinburg: University Press), hal. 130-

134. Zimmi, zimmah mengandung arti “suatu perjanjian” yang menyatakan pihak muslim setuju untuk menghargai pihak non-muslim dan pelanggaran terhadapnya dikenal zam (dicela). Dalam konteks hokum, istilah zimmah menunjuk kepada status tertentu yang dengannya seseorang akan mendapatkan hak tertentu yang dijamin oleh Negara.
12

batasan pakaian yang boleh dipakai atau tidak boleh dipakai dan hal lainnya. Terhadap hal ini adalah lumrah, kalaupun ini disebut penyimpangan yang dilakukan oknum penguasa muslim, saya pikir masih dalam batas kewajaran, fenomena seperti ini kapan dan dimana saja pun dapat terjadi. Masyarakat Islam harus realistis, al-Quran telah memberikan penegasan tentang diperlukannya sikap toleransi yang harus ditunjukkan oleh penguasa dan masyarakat muslim terhadap kelompok minoritas non-muslim. Banyak kalangan di negara Islam atau mayoritas muslim yang memperhatikan ini, yaitu memberikan penganut agama dan kepercayaan lain kebebasan hidup damai di tengah kaum muslim dan kesempatan yang seluas-luasnya untukberpartisipasi dalam aneka kegiatan, sepanjang tidak menyangkut penyelenggaraan ibadah. Lain halnya dengan kondisi minoritas-muslim di tengah-tengah non-muslim terdapat fenomena yang menarik perhatian. Sepertinya menunjukkan situasi yang berbeda, adalah sulit untuk menemukan orang-orang Islam yang mengemban posisi strategis di negara-negara yang mayoritas non-muslim. Bahkan, posisi muslim senantiasa ditempatkan dalam ‘bahaya’, dapat dilihat pada kaum muslim moro di Fillipina dan muslim India. Kelompok minoritas non-muslim massive dipersoalkan ketika dihadapkan pada realitas ia berada di tengah-tengah masyarakart muslim. Semangat deklarasi HAM yang menjadi acuan PBB telah memposisikan kelompok minoritas non-muslim di tengah kaum muslim muncul sebagai masalah. Perbedaan agama tidak menjadi cukup alasan untuk memberikan per-lakuan yang berbeda kepada satu individu dengan individu lain dalam hal-hal yang sangat mendasar.13 Bagaimanapun juga, diskriminasi atas dasar agama telah
Diantara teks deklarasi HAM berbunyi: “Setiap individu mendapat hak dan kebebasan yang sama terhadap hal-hal yang telah ditetapkan dalam deklarasi ini tanpa mengenal perbedaan suku, warna kulit, seks, bahasa, agama, politik, nasionalisme, kekayaan, kelahiran, dan status lainnya”.
13

menjadi salah satu sumber konflik, bahkan perang antar sesama manusia. Tidak mengherankan jika AN. Wilson mengemukan bahwa "Relegion is the tragedy of mankind" Pada dasarnya, pemikiran seperti itu adalah wujud ke-khawatiran bahwa jika Islam, realitasnya menjadi salah satu kekuatan di dunia, berkuasa ia tidak akan memberikan peluang hidup yang layak kepada minoritas non-muslim. Apalagi diperburuk oleh kenyataan adanya gerakan yang diklaim sebagai fundamentalisme atau muslim militan yang ter-'lanjur' divonis bersemangat untuk menghancurkan agama lain. Lain halnya, dengan kenyataan historis Islam yang didiskripsikan sebagai the relegion of sword yang dikait-kaitkan dengan term dar al-harb dan dar al-Islam. Mungkin saja, fenonema keagamaan hari ini akan menimbul-kan semakin luasnya kekhawatiran nonmuslim, penegakan syariat Islam dilihat sebagai sesuatu yang menakutkan, ke-kejaman dan ketidakadilan. Prinsip ini tidak semestinya terjadi, karena kekhawatiran itu adalah tidak berdasar. Kita perlu melihat kembali kemasan normatif kelslaman dan bagaimana realisasinya dalam perjalanan sejarah.

E. Tela’ah Kepustakaan Sejauh pemahaman peneliti, masalah pluralisme beragama dalam wilayah syari’at belum ada yang membahas dan meneliti secara spesifik. Namun beberapa intelektual dalam menuliskan tentang flural dalam aspek yang berbeda. Seperti Tobroni dan Syamsul Arifin, Islam Pluralisme Budaya dan Politik: Refleksi tiologi Untuk Aksi Dalam Keberagamaan dan Pendidikan, mengupas tentang agama sebagai tema yang paling penting sehingga terkesan demikian besar terlebih dalm era postmodent dan masalah yang bersifat keagamaan sehingga berpengaruh sekali terhadap proses terhadap perkembangan manusia, terutama dalam aspek humanistik, moral, etika dan estetika. Kemudian Anis Malik Thoha, dalam bukunya Tren

Pluralisme: Tinjauan Kritis, mengatakan bahwa tren-tren pluralism agama secara umum dapat diklarifikasi kedalam empat katagori; Humanisme Sekuler, Teologi Global, Sinkritisme dan Hikmah Abadi. Sedangkan Syamsul Rijal, Kelompok Minoritas dalam Realitas Syariat Islam di Aceh, dalam syariat di Wilayah Syariat mengungkapkan posisi kelompok lain yang minoritas dalam kontek penegakan syariat Islam yang bersifat ketentraman publik yang diatur secara sistematis tidak hanya sebatas normative tetapi juga realistik. Imam Sukardi Dkk, Pilar Islam bagi Pluralisme Modern, 2003 Menelusuru aspek agama sebagai perspektif dalam menilai dan memandang sesuatu yang sarat dengan muatan moral sehingga identitas keagamaan adalah sebagai sebuah pespektif yang dapat menetukan cara pandang seseorang, disamping itu ia mengutip pendapat Kaarl marx mengatakan bahwa agama adalah candu dan pendapat Carnap berpendapat tuhan adalah sesuatu yang tidak bermakna, dalam hal itu Imam Sukardi dan kawankawan menghubungkannya dengan moralitas; berkaralistik sama atau saling bertentangan. Sysamsul Rijal, Kelompok Minoritas dalam Realitas Syariat Islam di Aceh, dalam Syariat Diwilayah Syariat, 2002, mengupas dalam konteks penegakan syariat Islam yang bersifat ketentraman publik. Diperlukan pengaturan mekanisme yang sistematis sesuai semangat hidup terkini, tidak hanya sebatas normative tetapi juga bersifat realistis sehingga syariat Islam di Aceh menjadi potret kehidupan masyarakat muslim di era modern. F. Metode Penelitian 1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan di Kota Lhokseumawe, mengingat kota Lhokseumawe merupakan kota plural dan terdapat beragam keyakinan (agama), sehingga sangat layak untuk melaksanakan penelitian. 2. Populasi dan Sample Populasi dalam penelitian ini adalah pengurus Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) di tiga Kecamatan Kota Lhokseumawe; yaitu Kecamatan Banda Sakti, Muara Dua, dan Muara Satu. Sedangkan sample dipilih secara purposive atau sample tujuan (beberapa pengurus inti), dengan pertimbangan bahwa mengingat waktu dan jadwal yang sangat singkat serta tenaga dan dana yang terbatas, sehingga tidak memungkinkan untuk mengambil sample yang lebih banyak dan luas. 3. Data Penelitian Jenis data yang dikumpulkan menurut sifat data adalah data kualitatif. Cara memperoleh data adalah dengan mengumpulkan data primer dan sekunder. Data primer dikumpulkan adalah diperoleh langsung dari responden, artinya pengumpulan data peneliti menggunakan metode wawancara. Sedangkan data sekunder yang dikumpulkan bersumber pada dokumen adalah yang terdapat dalam buku-buku dan media cetak yang berhubungan dengan permasalahan dan tujuan penelitian ini. Sedangkan alat (instrument) pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah pedoman wawancara, alat perekam suara dan alat perekam gambar.

4. Teknik Pengolahan dan Analisis Data Setelah data dikumpulkan dari lapangan dengan lengkap, tahap berikutnya adalah mengolah data. Teknik mengolah data dilakukan dengan; editing, coding, dan

display. Sedangkan analisis data peneliti mengunakan metode kualitatif. Metode ini digunakan untuk analisis deskriptif terhadap variable penelitian dengan memberikan standar jawaban, yang selanjutnya dikategorikan ke dalam tingkat masing-masing. Sesuai analitis diskriptif tersebut, peneliti menggunakan dua pendekatan sebagai dasar analisis, yaitu: pendekatan sosio-historik.14 dan content analysis.15

G. Daftar Pustaka Adhiyaksa Dault, Islam dan Nasionalisme: Reposisi Wacana Universal Dalam Konteks Nasional, (Jakarta: Pustaka Alkausar), 2005
Jalaluddin Rakhmat, Metode Penelitian Komunikasi Dilengkapi Contoh Analisis Statistik, Cet. V, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1997), hlm. 21 15 Noeng Muhadjir, Metodologi Penelitian Kuantitatif, Edisi III, Cet. VII, (Yogyakarta: Reka Sarasin, 1996), hlm. 49
14

Ann Elizabeth Mayer. Islam and Human Righ: Tradition and Politics (London: Pinter Publisher), 1991 Bachtiar Effendi, “Menyoal Pluralisme di Indonesia” dalam Living Together in Plural Societies; Pengalaman Indonesia Inggris, ed. Raja Juli Antoni Yogyakarta: Pustaka Perlajar, 2002 Hasan Hanafi, pemikiran muslim kontemporer, tesis tersebut diperoleh ketika penulis aktif sebagai peserta acara International Conference on Word Peace di IAIN Alauddin Makassar. Jalaluddin Rakhmat, Metode Penelitian Komunikasi Dilengkapi Contoh Analisis Statistik, Cet. V, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1997 Lorens Bagus, Kamus Filasafat, Gramedia, Jakarta, 2000 M. Amin Abdullah, Dinamika Islam Kultural: Pemetaan Atas Wacana Islam Kontemporer, Bandung: Mizan, 2000 Noeng Muhadjir, Metodologi Penelitian Kuantitatif, Edisi III, Cet. VII, Yogyakarta: Reka Sarasin, 1996 Syafa’atun Elmirzanah, et. al., Pluralisme, Konflik dan Perdamaian Studi Bersama Antar Iman, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002 Samoel Koto, Pluralitas dan Demokrasi, Makalah Diskusi Mingguan INDEMO, Jakarta 2002 UU Nomor 44 tahun 1999 dan Perda Nomor 5 tahun 2000 W. Montgomery Watt, Islamic Political Thought Edinburg: University

Proposal Penelitian

ISLAM DAN PLURALISME (Tinjauan Hubungan dan Kerjasama Komunitas Muslim dan Kelompok Civil Society di Kota Lhokseumawe)

Usulan Penelitian Tesis

Oleh: ZAMRI, S. Sos.I
Nim. 09 Komi 1710

S U M ATE A R U TA RA

I A
E

I N
A

M

D

N

PROGRAM PASCASARJANA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA 2011

OUT LINE

Kata Pengantar Abstrak Daftar Isi BAB SATU : PENDAHULUAN A.
B. C. D. E. F. G. H.

Latar Belakang Masalah …………………………………. 1 Rumusan Masalah .......…………………………………… 4 Tujuan dan Manfaat Penelitian …………………………... 4 Kerangka Teoritis ................................................................ 5 Tela’ah Kepustakaan ……………………………………... 8 Metode Penelitian ……..………………………………….. 9 Daftar Pustaka.................. ………………………………… 10 Jadwal Penelitian .................................................................. 11

BAB DUA : KAJIAN PUSTAKA A. Kerangka Teori B. Hasil Penelitian C. Kerangka Berfikir dan Hipotesis BAB TIGA : PELAKSANAAN PENELITIAN A. Perencanaan Penelitian B. Pelaksanaan Penelitian C. Observasi dan Anaslisis BAB EMPAT: HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian B. Pembagian Hasil BAB LIMA : PENUTUP A. Kesimpulan Lampiran-Lampiran

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->