P. 1
SKRIPSI ATHEIS

SKRIPSI ATHEIS

|Views: 7,269|Likes:
Published by Faizal

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: Faizal on May 03, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/11/2013

pdf

text

original

Istilah tema menurut Scharbach (dalam Aminuddin, 1995:91)

berasal dari bahasa Italia yang berarti ³tempat meletakkan suatu

perangkat´. Disebut demikian karena tema adalah ide yang mendasari

suatu cerita sehingga berperanan juga sebagai pangkal tolak pengarang

dalam memaparkan karya fiksi yang diciptakannya. Oleh sebab itu,

penyikapan terhadap tema yang diberikan pengarangnya dengan

9

pembaca umumnya terbalik. Seorang pengarang harus memahami tema

cerita yang akan dipaparkan sebelum melaksanakan proses kreatif

penciptaan, sementara pembaca baru dapat memahami tema bila mereka

telah selesai memahami unsur-unsur signifikan yang menjadi media

pemapar tema tersebut. Tema merupakan kaitan antara makna dengan

tujuan pemaparan prosa fiksi oleh pengarang, maka untuk memahami

tema terlebih dahulu pembaca harus memahami unsur-unsur signifikan

yang membangun suatu cerita, menyimpulkan makna yang dikandungnya,

serta mampu menghubungkannya dengan tujuan penciptaan

pengarangnya.

Tema adalah sesuatu yang menjadi dasar cerita. Ia selalu berkaitan

dengan berbagai pengalaman kehidupan, seperti masalah cinta, kasih,

rindu, takut, maut, religious, dan sebagainya. Dalam hal tertentu, sering

tema dapat disinonimkan dengan ide atau tujuan utama cerita (Laelasari,

2006:250). Pemilihan tema tertentu ke dalam sebuah karya, bersifat

subjektif. Masalah kehidupan yang dianggap menarik perhatian

pengarang sehinga merasa terdorong untuk mengungkapkannya ke

dalam bentuk karya. Atau, pengarang menganggap masalah itu penting,

mengharukan, sehingga merasa perlu untuk mendialogkannya ke dalam

karya sebagai sarana mengajak pembaca untuk merenungkannya.

Sebagai sebuah makna, pada umumnya tema tidak dilukiskan,

paling tidak pelukisan yang secara langsung atau khusus. Kehadiran tema

adalah terimplisit dan merasuki keseluruhan cerita, dan inilah yang

10

menyebabkan kecilnya kemungkinan pelukisan secara langsung tersebut.

Hal ini pulalah antara lain yang menyebabkan tidak mudahnya penafsiran

tema. Penafsiran tema (utama) diprasyarati oleh pemahaman cerita

secara keseluruhan. Namun, adakalanya dapat juga ditemukan adanya

kalimat-kalimat (atau alinea-alinea percakapan) tertentu yang dapat

ditafsirkan sebagai sesuatu yang mengandung tema pokok (Nurgiyantoro,

2007:69).

Aminuddin (1995:67) menyatakan bahwa setting adalah latar

peristiwa dalam karya fiksi, baik berupa tempat, waktu, maupun peristiwa,

serta memiliki fungsi fisikal dan fungsi psikologis. Untuk membedakan

setting yang bersifat psikologis itu, dapat kita lihat contoh kutipan di bawah

ini.

Anak kecil itu masih duduk sendiri di atas gundukan sampah yang

menjulang. Di tangannya tergenggam kertas-kertas bekas,

sementara di sebelah kanannya tumpuan kertas-kertas, kardus

pilihan yang dikumpulkannya. Matanya yang kecil dan manis itu

melihat ke atas, memandanga fajar yang pelan-pelan

memancarkan sinar.

(³Burik´, N.K.S. Hendrowinoto)

Setelah membaca kutipan di atas, setting cerita, yaitu 1) gundukan

sampah yng menjulang, 2) tumpukan kertas dan kardus pilihan, serta 3)

fajar yang perlahan memancarkan sinar. Dalam rangka membangun

logika Makassar.persitiwa dalam suatu cerita, ketiga setting itu memiliki

fungsi yang bersifat fisikal. Akan tetapi, pada sisi lain, setting itu juga

mampu mengimprentasikan makna tertetu, misalnya dengan melihat anak

11

kecil yang pagi-pagi sudah duduk di gundukan sampah, dan bukannya

masih lelap tertidur di atas kasur, pembaca sudah dapat memastikan

bahwa anak kecil tersebut tentu anak seorang yang tidak mampu. Hal itu

diperjelas dengan adanya setting berupa tumpukan kertas dan kardus

pilihan si anak.

Akan tetapi, meskipun ia anak kecil dari golongan bawah, pada sisi

lain juga masih diberi setting berupa fajar yang mamancarkan sinar.

Pemberian setting itu dalam hal ini juga memberikan perbedaan makna

tertentu, mungkin ada harapan bahwa anak kecil tersebut suatu saat akan

menjumpai kehidupan yang lebih baik, atau mungkin juga pemberian

tanda bahwa meskipun sekarang nasib anak itu menderita, di depan

masih menunggu sejuta harapan. Selain itu, pemberian setting itu juga

akan mampu mengajak emosi pembaca, mungkin rasa iba atau sedih.

Setting yang mampu menuansakan makna tertentu serta mampu

mangajak emosi pembaca demikian itulah yang disebut dengan setting

yang bersifat psikologis atau metaforis.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan perbedaan antara

setting yang bersifat fisikal dengan setting yang bersifat psikologis, yaitu 1)

setting bersifat fisikal berhubungan dengan tempat dan benda-benda

dalam lingkungan tertentu yang tidak menuansakan makna apa-apa,

sedangakan setting psikologis adalah setting berupa lingkungan atau

benda-benda dalam ligkungan tertentu yang mampu menuansakan suatu

makna serta mampumengajuk emosi pembaca, 2) Setting fisikal hanya

12

terbatas pada sesuatu yang bersifat fisik, sedangkan setting psikologis

dapat berupa suasana maupun sikap serta jalan pikiran suatu lingkungan

masyarakat tertentu, 3) Untuk memahami setting yang bersifat fisikal,

pembaca cukup melihat dari apa yang tersurat, sedangkan pemahaman

terhadap setting yang bersifat psikologis membutuhkan adanya

penghayatan dan penafsiran, 4) Terdapat saling pengaruh dan

ketumpangtindihan antara setting fisikal dengan setting psikologis.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->