P. 1
Pemilu-Legislatif-2009-Dan-Kesiapan-Infrastruktur-Politik-Demokrasi-di-Daerah---Bab-3-2009

Pemilu-Legislatif-2009-Dan-Kesiapan-Infrastruktur-Politik-Demokrasi-di-Daerah---Bab-3-2009

|Views: 189|Likes:
Published by RenoFernandes

More info:

Published by: RenoFernandes on May 03, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/08/2015

pdf

text

original

BAB III Rekrutmen Politik Perempuan Bakal Calon Anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara Oleh: Sitti Nur

Solechah1

I.

Pendahuluan

A. Latar Belakang Masalah Pasca reformasi 1998, rezim pengganti Pemerintah Orde Baru melakukan liberalisasi yakni suatu bentuk proses demokratisasi yang dikendalikan oleh negara. Pemerintahan Habibie tidak bisa menolak tuntutan masyarakat yang dimotori mahasiswa untuk mereformasi sistem politik. Salah satu agenda yang dituntut waktu itu adalah reformasi melalui sebuah pemilihan umum secara demokratis. Para mahasiswa menganggap bahwa pemilu yang benar-benar demokratis pada tahun 1999 akan menjadi penyelesaian institusional bagi krisis politik dan ekonomi. Paralel dengan agenda Pemilu, pelembagaan partisipasi politik rakyat dalam bentuk keterlibatan dan keterwakilan publik dalam lembaga politik terbuka lebar. Hasil penelitian Demos tentang Masalah-masalah dan Pilihan-pilihan Demokratisasi di Indonesia, menunjukkan adanya fakta tentang peningkatan kebebasan untuk berkumpul, berserikat dan mengeluarkan pendapat sejak 1999 sebesar 78,9% (Demos, 2003). Hal ini diakui oleh para aktivis prodemokrasi cukup memberikan peluang bagi para aktor khususnya politisi untuk kembali memasuki arena politik. Segera setelah rejim Suharto jatuh, bermunculan partai-partai politik baru. Ada fenomena munculnya kesadaran bahwa partisipasi untuk merubah sistem politik hanya bisa dicapai melalui partai politik. Pendirian partai ini merupakan gejala yang umum di setiap proses transisi, karena secara konstitusional dan institusional partailah yang sebagian besar akan mengisi proses transisi selanjutnya ke demokrasi. Tetapi yang mengejutkan besarnya jumlah dan beragamnya partai yang didirikan berjumlah lebih dari 100 partai. Banyaknya jumlah partai itu mengindikasikan besarnya derajat penindasan dan represi yang dialami masyarakat pada era sebelumnya. Pendirian itu bisa dipahami dengan asumsi partai disatu sisi bisa menjadi aparat pelampiasan ketidakpuasan dan rasa ketertindasan, disisi lain menjadi alat pemenuhan harapan, cita-cita dan aspirasi. Bersamaan dengan munculnya kesadaran berpartai, muncul pula kesadaran dari para perempuan untuk ikut
1 Penulis adalah Peneliti Politik dan Pemerintahan Indonesia, Pusat Pengkajian Pengolahan Data Informasi (P3DI) Setjen DPR RI

62

serta berpartisipasi dalam kancah perpolitikan Indonesia. Menurut Ani Sucipto2, tuntutan peningkatan peran politik perempuan di Indonesia sudah ramai dibicarakan sejak akhir tahun 1998 setelah turunnya rejim Orde Baru. Isu dan wacana perempuan makin berkembang sejak tahun 1999, ketika pemerintah dan partai-partai politik yang ada sibuk mempersiapkan Pemilu 1999, Pemilu pertama di era reformasi. Pada Pemilu 1999 tersebut untuk pertama kalinya isu mengenai hak-hak perempuan dikedepankan dalam kampanye. Apalagi, sesuai sensus Biro Pusat Statistik (BPS) tahun 2000, jumlah perempuan Indonesia sudah lebih dari 100 juta jiwa atau jika dibandingkan dengan jumlah penduduk seluruh Indonesia sebanyak 51%, dan angka ini terus naik hingga pada Pemilu 2004 diyakini suara perempuan mencapai 52% dari keseluruhan pemilih. Untuk itu sudah waktunya perempuan menentukan sikap. Kesadaran akan pentingnya peran politik perempuan semakin nyaring disuarakan seiring dengan semakin terkuaknya sejumlah persoalan yang menimpa perempuan. Masalah-masalah yang menimpa perempuan tersebut mulai dari masalah kekerasan terhadap perempuan, kesehatan reproduksi perempuan, perdagangan wanita dan anak-anak, dan sebagainya. Dari sini muncul kesadaran bahwa sejumlah persoalan yang menimpa perempuan tidak akan bisa diselesaikan kasus per kasus karena jumlahnya cukup besar. Untuk menyelesaikan masalah-masalah itu diperlukan kebijakan politik yang melahirkan sejumlah aturan perundang-undangan. Meskipun harus menghadapi sejumlah hambatan, namun perjuangan politik perempuan bukan tanpa hasil. Masuknya ketentuan kuota 30% bagi partai politik untuk calon legislatifnya utnuk Pemilu 2004 merupakan hasil yang sangat nyata untuk perkembangan politik perempuan selanjutnya. Walaupun UU No. 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD telah mengakomodasi ketentauan kuota 30% bagi partai politik mengajukan calon anggota legislatif, namun hasil Pemilu 2004 menunjukkan bahwa anggota DPR terpilih dari perempuan masih terbilang rendah. Dari periode ke periode keterwakilan politik perempuan masih rendah seperti yang ditunjukkan pada tabel dibawah. Prosentase keterwakilan laki-laki dan perempuan di Dewan Perwakilan Rakyat Tabel 1 Periode Masa Bakti 1950 – 1955 (DPR Sementara) 1955 – 1960
2

Perempuan % 3,8 6,3

Laki-laki % 96,2 93,7

Jumlah Anggota DPR 236 272

Ani Sucipto dalam Sarwono Kusumaatmadja (Editor), Politik dan Perempuan, Penerbit Koekoesan, Jakarta, 2007, hal. 3

63

1956 – 1959 (Konstituante) 1971 – 1977 1982 – 1987 1987 – 1992 1992 – 1997 1997 – 1999 1999 – 2004 2004 – 2009

5,1 7,8 6,3 8,5 12,5 10,8 9,0 11,82

94,9 92,2 93,7 91,5 87,5 89,2 91,0 88,18

488 460 460 500 500 500 500 550

Usulan affirmative action yakni ketentuan kuota 30% bagi perempuan untuk menduduki jabatan politik kembali diatur dalam UU No. 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum anggota DPR, DPD, dan DPRD. UU tersebut mengatur bahwa partai peserta Pemilu 2004 menyertakan 30% keterwakilan perempuan dalam pencalonan anggota legislatif. Demikian juga dengan UU No. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik yang mengatur bahwa pendirian dan pembentukan partai politik menyertakan 30% keterwakilan perempuan. Demikian juga dengan kepengurusan partai politik di tingkat pusat harus menyertakan paling rendah 30% keterwakilan perempuan. Di tingkat provinsi, tidak diatur mengenai keterwakilan 30% perempuan dalam kepengurusan partai di tingkat provinsi. Terkait dengan pengajuan bakal calon Anggota DPRD Provinsi, maka daftar bakal calon anggota DPRD Provinsi ditetapkan oleh Pengurus Partai Politik Peserta Pemilu tingkat provinsi. Selanjutnya diatur bahwa daftar bakal calon tersebut memuat paling sedikit 30% keterwakilan perempuan. Lebih progresif lagi, bahwa UU Pemilu 2008 ini mengatur tentang zipper system, yakni setiap 3 orang bakal calon terdapat sekurang-kurangnya satu orang perempuan bakal calon. UU juga mengamanatkan kepada KPU Provinsi untuk mengumumkan persentase keterwkilan perempuan dalam daftar calon tetap partai politik masing-masing pada media massa cetak dan elektronik nasional. Pada Pemilu 2004, di Provinsi Sumatera Utara, dari 24 partai politik kontestan Pemilu hanya 5 yang berhasil mendudukkan wakilnya di DPRD yakni Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Golkar, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Demokrat dan Partai Amanat Nasional (PAN). Proses pencalonan yang dilakukan oleh Pengurus Partai di tingkat provinsi yang telah memasukkan kuota 30% keterwakilan perempuan dan zipper system bisa jadi tidak akan banyak berpengaruh pada hasil Pemilu nanti. Hal ini karena terpengaruh oleh keluarnya Putusan Mahkamah Konstitusi yang menetapkan bahwa terpilihnya anggota legislatif didasarkan pada suara terbanyak. B. Permasalahan Walaupun perolehan kursi bagi perempuan calon legislatif potensial terancam oleh ketentuan bahwa calon terpilih didasarkan pada suara terbanyak sebagai akibat pemberlakuan Putusan Mahkamah Konstitusi, namun hal itu merupakan perkembangan terakhir jauh setelah tahap penetapan Daftar Calon
64

Tetap ditetapkan oleh KPU, juga KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota. Di saat terbatasnya perempuan berkiprah di partai dan ditengah desakan peraturan yang mengatur partai untuk menyertakan 30% keterwakilan perempuan dalam pencalonan anggota legislatif, maka pertanyaannya adalah : 1. Bagaimana pengurus partai-partai (Partai Demokrat, Partai Keadilan Sejahtera, dan Partai Damai Sejahtera) di tingkat Provinsi Sumatera Utara melakukan rekrutmen perempuan bakal calon anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara? 2. Bagaimana strategi yang dilakukan oleh pengurus partai-partai tersebut di tingkat provinsi untuk merekrut perempuan bakal calon anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara? 3. Bagaimana kebijakan internal partai terkait dengan rekrutmen perempuan bakal calon anggota DPRD Provinsi Sumut? C. Tujuan Peneltian Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran mengenai kiprah partai politik khususnya Partai Demokrat (PD), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan Partai Damai Sejahtera (PDS) dalam berkompetisi pada Pemilu 2009. Kiprah partai yang diteliti terutama adalah kiprahnya pada tahapan pencalonan bakal calon anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara. Proses pencalonan yang akan dilihat adalah proses pencalonan perempuan bakal calon anggota DPRD Provinsi. Penelitian ini juga akan melihat penetapan kursi, khususnya penetapan kursi bagi perempuan bakal calon anggota DPRD Provinsi Sumut. Sehingga dengan penelitian lapangan ini diharapkan bisa mendapatkan masukan mengenai; bagaimana pola rekrutmen perempuan bakal calon anggota DPRD yang dilakukan oleh Partai Demokrat, PKS, dan PDS. Terkait dengan pola rekrutmen perempuan caleg oleh partai-partai tersebut, penelitian ini akan meneliti; bagaimana penjaringan perempuan caleg dilakukan? Selain itu akan diteliti pula bagaimana kebijaka n partai-partai tersebut terkait dengan perempuan caleg? Dari hasil penghitungan suara yang didapat calon legislatif dan yang didapat oleh partai, maka data informasi yang diharapkan kemudian adalah bagaimana prosentase perolehan suara/kursi yang diperoleh perempuan calon legislatif di DPRD Sumatera Utara? Penelitian ini akan dilakukan pada tanggal 10 – 14 Agustus 2009 di Provinsi Sumatera Utara. D. Kerangka Pemikiran Salah satu fungsi partai politik adalah melakukan rekrutmen politik, yaitu merekrut orang-orang untuk menjadi anggota partai dan aktif dalam aktivitas partai, serta menyeleksi anggota-anggota partai yang berbakat untuk dipersiapkan menjadi calon-calon pemimpin.3 Pada umumnya cara yang ditempuh oleh partai politik adalah dengan menarik golongan muda untuk dididik dijadikan kader. Dari para kader ini akan tampak anggota-anggota yang
3

Lihat Drs. Haryanto, Sistem Politik : Suatu Pengantar, Liberty, Yogyakarta, Cet. I Tahun 1982, hal. 93-94. Lihat juga Prof. Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2004, hal. 164. Ramlan Surbakti, Memahami Ilmu Politik, PT Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta, 1992, hal. 118

65

mempunyai bakat yang pada gilirannya dapat diorbitkan menjadi calon-calon pemimpin. Pemimpin dalam konteks ini adalah menjadi anggota lembaga perwakilan rakyat serta pejabat publik yakni kepala negara dan/atau pemerintahan, juga kepala daerah yang dipilih oleh rakyat. Kader partai atau orang dari luar partai yang diseleksi oleh partai untuk diorbitkan menjadi politisi di lembaga perwakilan selanjutnya berkompetisi dalam Pemilu. Sistem pemerintahan atau demokrasi perwakilan tidak bisa dipisahkan dari Pemilu. Max Weber dan Schumpeter menolak gagasan demokrasi langsung ala Marx dan lebih menonjolkan sistem demokrasi perwakilan4. Mereka berdua mengemukakan demokrasi sebagai sebuah sistem kompetisi kelompok elite dalam masyarakat, sesuai dengan proses perubahan masyarakat modern yang semakin terpilah-pilah menurut fungsi dan peran. Dengan makin berkembangnya birokrasi, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan sistem pembagian kerja modern, maka tidak mungkin lagi membuat suatu sistem pemerintahan yang betul-betul mampu secara langsung mengakomodasi kepentingan rakyat. Demokrasi yang efektif adalah melalui perwakilan dan dijalankan oleh mereka yang memiliki kemampuan, oleh karenanya pada hakekatnya demokrasi modern adalah kompetisi kaum elit. Namun demikian, menurut Rush dan Althoff, di kebanyakan negara berkembang, proses perekrutan sering dilakukan melalui saluran informal berdasarkan kelompok-kelompok tradisional, kesukuan, etnis atau kedaerahan. Metode perekrutan tradisional ini walaupun melalui lembaga-lembaga modern seperti partai politik namun masih mencakup relasi-relasi informal, kekeluargaan, dan relasi-relasi etnis yang menonjol dan berkuasa. Disamping itu, adalah suatu keniscayaan bahwa dalam perkembanganya suatu partai politik sering terjebak dalam hukum besi oligrakhi, sehingga partai politik sering bertindak oligarkhis. Partai politik dikuasai oleh sekelompok kecil elit partai, sehingga rekrutmen yang dilakukan partai sering menggunakan relasirelasi informal, kekeluargaan dan relasi-relasi etnis dari elit partai sehingga terjadi nepotisme dan kolusi oleh elit partai. Terkait dengan ukuran demokrasi, menurut C.C. Rodee, ukuran demokrasi yang paling jelas adalah hak pilih universal. Hak setiap warga negara untuk memilih dalam Pemilu. Dinyatakan Rodee bahwa; “…….. demokrasi mengandung arti hak pilih universal, hak semua warga negara, lakilaki dan perempuan, kaya dan miskin, untuk memilih dalam Pemilu, tidak pandang bangsa atau agama. Pembatasan hanya berlaku bagi orang yang belum dewasa, pasien rumah sakit jiwa, dan orang yang sedang menjalani proses hukum di penjara.”5 Hak pilih universal ini berhubungan dengan pemerintahan perwakilan karena hak pilih universal dinyatakan dengan memilih wakil-wakil yang kemudian bertanggungjawab untuk membuat dan mengelola atau mengawasi pelaksanaan kebijaksanaan umum. Keikutsertaan langsung pemilih dalam pembuatan kebijakan umum secara terus menerus sangat tidak dimungkinkan.
4

http://209.85.175.132/search?q=cache:-RNC5lpKhgsJ:thehikamforum.blogspot.com /2008/ 04/perkembangan-pemikirandan-praktik.html+teori+demokrasi+perwakilan&hl=id&ct=c lnk&cd=1&gl=id, diakses tanggal 11 Maret 2009 C.C. Rodee et.all., Pengantar Ilmu Politik, Terj. Zulkifly Hamid (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2000). Hal. 218

5

66

Menjadi fenomena yang umum bahwa sistem politik yang ada “kurang mewakili” semua kelompok dalam masyarakat terutama kelompok minoritas dan terpinggirkan. Tuntutan bahwa kelompok minoritas tidak sepenuhnya terwakili dalam badan legislative, dibaca oleh Will Kymlicka, “tampak mengandaikan bahwa rakyat hanya dapat ‘diwakili ‘ secara penuh oleh seseorang dari jenis kelamin, kelas, pekerjaan, etnisitas dan bahasa yang sama, dan lain-lain”6 Menyitir pendapat dari Birch dan Pitkin, Will Kymlicka menyebutkan bahwa perwakilan seperti yang disebutkan diatas disebut “perwakilan cermin/mirror representation.” Suatu kelompok warga dikatakan diwakili dalam badan legislatif apabila satu atau lebih dari anggota Dewan merupakan jenis orang yang sama dengan warga.7 Mengapa karakteristik pribadi dari wakil-wakil itu penting ? Kymlicka menyebutkan alasannya bahwa orang harus mempunyai pengalaman atau karakteristik tertentu yang sama agar dapat benar-benar memahami kebutuhan dan kepentingan masing-masing. Atas pandangan itu, seorang laki-laki kulit putih tidak tahu apa yang menjadi kepentingan seorang perempuan atau seorang laki-laki kulit hitam. Seorang laki-laki walaupun menumpahkan banyak perhatian atau rasa simpati, dengan hati-hati dan jujur, kesemuanya itu tidak bisa malampaui batas-batas pengalaman. Argumentasi lain menyebutkan bahwa walaupun seorang laki-laki kulit putih dapat memahami kepentingan perempuan atau orang kulit hitam, namun ia tidak dapat dipercaya untuk memperjuangkan kepentingan-kepentingan itu. Hal itu menurut Christine Boyle; “karena kepentingan laki-laki berbeda dengan kepentingan perempuan dalam hal pendapatan, diskriminasi, hak-hak hukum, dan pengasuhan anak, bisa disimpulkan bahwa tidak mungkin bagi laki-laki mewakili perempuan. Alasannya bukannya harus bahwa laki-laki tidak memahami kepentingan perempuan, melainkan bahwa pada titik tertentu para anggota dari satu kelompok merasa bahwa seseorang dari kelompok lain mempunyai konflik kepentingan sehingga perwakilan tidaklah mungkin, atau setidaknya sulit.”8 Argumentasi-argumentasi diatas paralel dengan pemikiran Anne Phillips, bahwa pentingnya perempuan terlibat secara langsung menjadi wakil bagi kelompoknya karena politik kehadiran dalam persamaan politik dan representasi yang adil mengharuskan hal itu. Politik kehadiran yang disebut Anne Phillips tersebut terkait dengan : “1) arti penting simbolis mengenai siapa yang ada atau menjadi wakil. Siapa yang ada atau yang menjadi wakil memiliki arti penting, khususnya bagi kelompok-kelompok yang sebelumnya
6 7 8

Will Kymlicka, Kewargaan Multikultural, Penterjemah; Edlina Hafmini Eddin, Pustaka LP3ES, Jakarta, 2002, hal. 210 Ibid, hal. 210 Ibid, hal. 211

67

ditolak atau ditindas. 2) merujuk secara langsung kepada konsekuensi-konsekuensi kebijakan yang dapat kita harapkan dari perubahan komposisi Dewan yang terpilih nantinya. Ini merupakan sebuah transformasi politik. Untuk mencapai perwakilan kepentingan yang lebih adil dan merata, maka penting untuk mendapatkan elemen-elemen perwakilan tambahan yang muncul dari kehadiran kelompok-kelompok yang tidak diikutsertakan sebelumnya.”9 Selanjutnya, Anne Phillips menguraikan bahwa politik kehadiran merupakan hal yang penting terkait dengan keterwakilan perempuan. Agar terjadi transformasi politik dan tercapai perwakilan kepentingan yang lebih adil dan merata, maka harus ada politik kehadiran yaitu melibatkan kelompok perempuan yang tidak pernah diikutsertakan sebelumnya menjadi wakil dalam proses pengambilan kebijakan. Kesetaraan jender akan sangat tergantung pada keberhasilan politik kehadiran. Ini merupakan sebuah konsekuensi kehadiran politik yang tidak dapat dihindari dalam menentang diskriminasi standard yang dipraktekkan dalam konvensi politik kepartaian saat ini. Adalah hal yang tidak sederhana untuk ‘meminta’ hal tersebut meski atas nama kesetaraan politik atau sifat dari perwakilan yang ada. Secara keseluruhan statistik terkait perkembangan politik, memperlihatkan perempuan kurang diikutsertakan. Namun dewasa ini kondisi tersebut dipandang sebagai sebuah permasalahan dan sejumlah partai politik telah menjalankan beberapa ukuran untuk meningkatkan proporsi perempuan yang terpilih. Partai-partai politik di negara-negara Nordic mempelopori hal ini dengan memperkenalkan kuota jender untuk pemilihan kandidat parlementer mulai dari pertangahan tahun 1970-an. Kuota jender ini merupakan bagian dari strategi politik affirmative action. Kebijakan affirmative action adalah tindakan proaktif untuk menghapuskan diskriminasi yang berbasiskan jender atau ras. Konsep ini juga merujuk pada tindakan positif yang dilakukan untuk memperbaiki dampak diskriminatif terhadap kelompok-kelompok yang tidak terwakili di masa lalu. Dalam pelaksanaannya, affirmative action dapat dilakukan secara sukarela maupun diwajibkan (mandatory). Pada satu dasawarsa terakhir, beberapa negara telah mencapai peningkatan yang signifikan dalam proporsi perempuan yang duduk di berbagai lembaga legislatif. Kondisi ini didukung pula oleh berbagai aktivitas LSM-LSM dan masyarakat internasional yang bersidang di Beijing tahun 1995, serta Perserikatan Antar Parlemen yang bertemu di New Delhi pada tahun 1997. Sebuah Progress Report PBB pada tahun 1995 yang secara khusus menganalisa masalah gender dan pembangunan di 174 negara dunia antara lain menyatakan:

9 Anne Phillips, The Politics of Presence: The Political Representation of Gender, Ethnicity and Race, (Oxford: Clarendon Press, 1995), hal. 45

68

“Walaupun memang benar tidak ada kaitan langsung antara tingkat partisipasi perempuan di lembaga-lembaga politik dengan kontribusi mereka terhadap kemajuan kaum perempuan, namun tingkat kerterwakilan perempuan sebesar 30 persen di lembaga-lembaga politik dapat dipandang sebagai sesuatu yang amat penting untuk menjamin agar kaum perempuan memiliki pengaruh yang bermakna dalam proses politik.”10 UU No. 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Anggota DPR, DPD, dan DPRD11 mengatur bahwa daftar bakal calon anggota legislatif yakni anggota DPR, DPRD Provinsi dan DPRD Kab/Kota memuat paling sedikit 30% (tiga puluh perseratus) keterwakilan perempuan (Pasal 51 – 53). Rumusan Pasal 53 menyatakan bahwa; “Daftar bakal calon sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 memuat paling sedikit 30% (tiga puluh perseratus) keterwakilan perempuan”. Rumusan ini mengalami kemajuan dibandingkan dengan rumusan yang sama pada UU Pemilu sebelumnya yakni UU No. 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Anggota DPR, DPD, dan DPRD yang hanya merumuskan untuk ‘memperhatikan’ seperti yang diatur dalam Pasal 65 ayat (1) yang menyatakan bahwa : “Setiap Partai Politik Peserta Pemilu dapat mengajukan calon Anggota DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota untuk setiap Daerah Pemilihan dengan memperhatikan keterwakilan perempuan sekurang-kurangnya 30%.” Lebih progresif lagi UU No. 10 tahun 2008 tentang Pemilihan Anggota DPR, DPD, dan DPRD karena mengatur pula tentang zipper system. Pasal 55 ayat (2) menyatakan bahwa; “Di dalam daftar bakal calon sebagaimana dimaksud pada ayat (1), setiap 3 (tiga) orang bakal calon terdapat sekurangkurangnya 1 (satu) orang perempuan bakal calon.” Zipper system berarti bahwa gender kandidat dalam daftar dibuat berselang seling antara laki-laki dan perempuan.

Disitir oleh Chusnul Mar’iyah, “Pengantar Untuk Edisi Bahasa Indonesia,” dalam Perempuan di Parlemen : Bukan Sekedar Jumlah, (IDEA, 2002), hal. 1 11 Klausul dalam UU No. 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan anggota DPR, DPD, dan DPRD terkait dengan affirmative action antara lain adalah: Pasal 8 ayat (1) Partai politik dapat menjadi Peserta Pemilu setelah memenuhi persyaratan: (d) menyertakan sekurang-kurangnya 30% (tiga puluh perseratus) keterwakilan perempuan pada kepengurusan partai politik tingkat pusat; Bagian Ketiga: Pendaftaran Partai Politik sebagai Calon Peserta Pemilu, pada Pasal 15:Dokumen persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (3) meliputi: d. surat keterangan dari pengurus pusat partai politik tentang penyertaan keterwakilan perempuan sekurang-kurangnya 30% (tiga puluh perseratus) sesuai dengan peraturan perundang-undangan; Pasal 53 : Daftar bakal calon sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 memuat paling sedikit 30% (tiga puluh perseratus) keterwakilan perempuan. Pasal 55 : (2) Di dalam daftar bakal calon sebagaimana dimaksud pada ayat (1), setiap 3 (tiga) orang bakal calon terdapat sekurang-kurangnya 1 (satu) orang perempuan bakal calon. Bagian Ketiga : Verifikasi Kelengkapan Administrasi Bakal Calon Anggota DPR, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota. Pasal 57 : (1) KPU melakukan verifikasi terhadap kelengkapan dan kebenaran dokumen persyaratan administrasi bakal calon anggota DPR dan verifikasi terhadap terpenuhinya jumlah s ekurang-kurangnya 30% (tiga puluh perseratus) keterwakilan perempuan. (2) KPU provinsi melakukan verifikasi terhadap kelengkapan dan kebenaran dokumen persyaratan administrasi bakal calon anggota DPRD provinsi dan verifikasi terhadap terpenuhinya jumlah sekurang-kurangnya 30% (tiga puluh perseratus) keterwakilan perempuan. (3) KPU kabupaten/kota melakukan verifikasi terhadap kelengkapan dan kebenaran dokumen persyaratan administrasi bakal calon anggota DPRD kabupaten/kota dan verifikasi terhadap terpenuhinya jumlah sekurang-kurangnya 30% (tiga puluh perseratus) keterwakilan perempuan. Pasal 58 : (2) Dalam hal daftar bakal calon tidak memuat sekurang-kurangnya 30% (tiga puluh perseratus) keterwakilan perempuan, KPU, KPU provinsi, dan KPU kabupaten/kota memberikan kesempatan kepada partai politik untuk memperbaiki daftar bakal calon tersebut.

10

69

Beberapa negara yang telah memberlakukan sistem zipper ini biasanya mengatur ketentuan itu dalam Ad/ART partai mereka. Hal ini karena tingkat kesadaran politik mereka yang tinggi. Menurut Women’s En vironment and Development Organization12, ada 13 negara yang menggunakan sistem pemilu representasi proporsional dengan sistem kuota zipper. Negara-negara tersebut berhasil mewujudkan komposisi parlemen dengan jumlah wanita yang melampaui criticall mass sebesar 30 %. Negara yang memberlakukan zipper sistem antara lain : 1. Rwanda dengan 48,8 % keterwakilan perempuan 2. Swedia dengan 47,3 % keterwakilan perempuan 3. Finlandia dengan 42% keterwakilan perempuan 4. Norwegia dengan 37,9 % keterwakilan perempuan 5. Denmark dengan 36,9 % keterwakilan perempuan 6. Belanda dengan 36,7 % keterwakilan perempuan 7. Argentina dengan 35 % keterwakilan perempuan 8. Mozambik dengan 34,8 % keterwakilan perempuan 9. Belgia dengan 34,7 % keterwakilan perempuan 10. Afrika selatan dengan 32,8 % keterwakilan perempuan 11. Austria dengan 32,2 % keterwakilan perempuan 12. Islandia dengan 31,7 % keterwakilan perempuan 13. Jerman dengan 31,6 % keterwakilan perempuan Namun demikian, UU Pemilu 2008 hanya membuka ruang terbatas bagi perempuan yakni sampai pada pencalonan beserta daftar pencalonannya, bukan pada calon jadi. Lain halnya dengan Argentina yang memperkenalkan sistem kuota pada tahun 1993. Menurut Andrew Ellis, di Argentina setidaknya 30% kandidat dari tiap daftar diharuskan perempuan, dan perempuan dalam jumlah proporsional harus berada dalam urutan ‘jadi’. Sehingga hasilnya, proporsi perempuan di legislatif Argentina meningkat dari 6% pada Tahun 1990 menjadi 28% pada Tahun 1997.13 Selain itu, sangat disayangkan bahwa UU Pemilu 2008 tidak mengatur sanksi bagi yang melanggarnya. Hal lain terkait dengan keterwakilan perempuan, berdasarkan pengalaman di sejumlah besar negara, maka sistem pemilihan berpengaruh besar pada terpilihnya perempuan bakal calon legislatif. Sistem pemilihan Proporsional Representatif lebih menguntungkan perempuan bakal calon daripada sistem distrik. Implementasi sistem pemilihan Proporsional Representatif dengan model pencalonan tertutup yang disusun secara zigzag sangat menguntungkan calon perempuan. Dalam sistem itu, partai politik lah yang mempunyai kata putus seseorang jadi atau tidak jadi terpilih. Sistem pemilihan yang diadopsi UU Pemilu 2008 adalah sistem proporsional terbuka, sebagaimana diatur dalam Pasal 5 ayat (1) UU No. 10 Tahun 2008. Pada Pemilu 2009 ini, keberadaan partai politik sebagai peserta Pemilu ditandai dengan tanda gambar dan nama-nama calon anggota
12 13

http://fatahilla.blogspot.com/2009/02/zipper-sistem-dan-eksistensi-peran.html, diakses10 Maret 2009 Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan National Democratic Institute (NDI), Proseding Seminar Internasional, Keterwakilan Perempuan dan Sistem Pemilihan Umum, Jakarta, 2001, hal. 16

70

lembaga perwakilan dari partai yang bersangkutan. Pada Pemilu tahun 2009 ini pemilih bisa memilih partai saja dan/atau dengan memilih calon anggota legislatif dari suatu partai. Tanggal 23 Desember 2008 Mahkamah Konstitusi mengeluarkan Putusan yang isinya membatalkan pasal 214 UU No. 10 Tahun 2008 yang menurut MK memuat standar ganda dalam penetapan caleg. Dengan Putusan itu MK menetapkan suara terbanyak sebagai mekanisme tunggal.14 Putusan MK ini menyulitkan partai untuk menetapkan calon jadi dengan sistem zipper. E. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yakni penelitian yang berusaha memahami arti peristiwa dan kaitannya terhadap orang dan situasi tertentu dalam suatu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata baik tertulis maupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Seperti yang dikatakan oleh Moleong, bahwa “penelitian dengan pendekatan ini melihat individu sebagai subyek yang menafsir dan memproduksi tindakan berdasarkan kompleksitas pengalaman individu atas peristiwa dan lingkungan yang mengelilinginya dan pada akhirnya menghasilkan sebuah tindakan sosial.”15 Penelitian kualitatif melakukan interpretasi terhadap data yang diperoleh untuk memberikan penjelasan dan definisi terhadap suatu gejala sosial sehingga dapat ditarik sebuah kesimpulan. Data yang diperlukan dalam penelitian ini yakni data primer dan data sekunder. Pengumpulan data primer diperoleh dengan studi literatur terhadap peraturan yang mengatur tentang Pemilu, studi dokumentasi dengan mengumpulkan dan mempelajari dokumen resmi partai atau dokumen resmi dari KPU Provinsi, dan wawancara mendalam dengan fungsionaris partai-partai, anggota KPU Provinsi dan anggota Panwaslu Provinsi, serta perwakilan dari pemantau Pemilu di Provinsi Sumatera Utara. Sementara data sekunder berupa kajian-kajian terkait peran perempuan di dunia politik, artikel dan hasil penelitian terkait dengan rekrutmen politik perempuan bakal calon anggota legislatif. Terkait dengan analisis data, penelitian ini ingin mengetahui bagaimana suatu aturan Undang-undang diimplementasikan oleh partai-partai. Setelah mengetahui secara teoritis alasan pentingnya kuota 30% keterwakilan perempuan dalam rekrutmen politik, selanjutnya mencari/mengetahui fakta-fakta di lapangan apakah partai-partai mengindahkan aturan terkait kuota 30% keterwakilan perempuan dalam pencalonan anggota legislatif pada saat tahapan dimana partai-partai mengajukan Daftar Calon Tetap (DCT) ke KPU Provinsi Sumatera Utara. Untuk memperkuat pencarian data, data akan dijaring di KPU Provinsi, Panwaslu dan dari pemantau Pemilu. Selanjutnya dilakukan penilaian terhadap partai-partai apakah partai-partai tersebut mengindahkan atau tidak pengaturan terkait 30% keterwakilan perempuan pada saat mengajukan DCT,
14 15

http://m.detik.com, diakses tanggal 15 Januari 2009 Lexi Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung, PT Remaja Rosdakarya, 1994

71

juga strategi partai-partai merekrut perempuan bakal calon anggota DPRD di Provinsi Sumatera Utara. F. Hasil Penelitian 1. Temuan Penelitian a. Rekrutmen Perempuan Calon Anggota DPRD Provinsi dari Partai Demokrat Untuk mencalonkan sebagai caleg anggota DPRD dari Partai Demokrat pada dasarnya tidak ketat. Kriteria yang digunakan Partai Demokrat untuk menjaring calon legislatif (caleg) didasarkan pada ketentuan UU, serta Petunjuk Pelaksanaan (Juklak)16 yang ditetapkan oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat. Tahapan yang dilalui dalam pencalonan adalah dengan membuka pendaftaran. Pendaftaran dibuka untuk umum, pendaftar baik yang datang dari luar partai maupun pendaftar yang sudah menjadi kader partai mendaftar sesuai dengan derah pemilihan yang diinginkan. Tidak ada Surat Keputusan yang dikeluarkan oleh Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PD Provinsi Sumut terkait dengan kriteria pencalonan. Apabila calon yang mendaftar banyak, kemudian disebarkan ke dapil-dapil, kemudian disaring berdasarkan kriteria pendidikan. Setelah pendaftaran selesai, apabila di dapil tertentu sudah cukup sesuai kuota yang ditetapkan oleh DPD Partai Demokrat, walaupun syarat rendah asal sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan UU, pendaftar bisa diterima. Tetapi apabila di dapil tertentu yang mendaftar melebihi kuota, misal dapil Sumatera Utara 1 jatahnya 10 kursi, apabila pendaftar ada 12 orang, maka caleg yang mempunyai persyaratan rendah ini dipindah ke dapil lain yang masih kurang. Pendaftaran dibuka sekaligus untuk pengurus partai/kader bersamaan waktunya dengan pendaftar untuk umum/non kader. Sedangkan menurut Juklak yang ditetapkan DPP Partai Demokrat penyusunannya dengan menempatkan kader partai terlebih dahulu di nomor-nomor atas, baru pendaftar non kader pada nomor urut berikutnya. Namun di DPD PD Sumatera Utara ketentuan di Juklak tidak berjalan sebagaimana mestinya. Ketentuan dalam Juklak ternyata tidak selalu diikuti di lapangan. Kenyataan yang terjadi di DPD PD Sumatera Utara ada beberapa pendaftar dari luar yang langsung menduduki nomor diatas.17 Ada indikasi bahwa pendaftar menyuap oknum pengurus partai. Dukungan dana dari pendaftar tidak masuk ke partai, namun ke person-person pimpinan tertentu di partai. Praktek yang terjadi di DPD Partai Demokrat Semut selanjutnya adalah bahwa berkas pendaftaran yang sudah lengkap yakni ada foto dan daftar caleg
16

Juklak yang dimaksud adalah Petunjuk Pelaksanaan No. 03/Juklak/DPP.PD/ VIII/2008 tentang Revisi juklak No. 02/Juklak/DPP.PD/VI/2008 tentang Petunjuk Pelaksanaan Mekanisme Penjaringan Calon Legislatif, yang antara lain mengatur bahwa sumber bakal calon adalah; pengurus partai/anggota legislatif maksimal 80%; Organisasi Sayap PD dan tokoh masyarakat minimal 20%. 17 Hasil wawancara dengan Bangun Tampubolon, Wakil Ketua DPD Bidang Pendidikan dan Peningkatan SDM Partai Demokrat, tanggal 12 Agustus 2009 di Kantor DPD Partai Demokrat Sumatera Utara.

72

yang disusun perdapil tersebut dilarikan oleh pengurus partai yang ada hubungan kekeluargaan dengan pimpinan partai, sedangkan pengurus lainnya tidak kuasa melawan. Daftar tersebut belum ada nomor urutnya. Daftar tersebut direncanakan akan dibawa ke rapat untuk menentukan nomor urut. Tapi ternyata diangkat/dihilangkan oleh oknum pengurus. Terkait dengan caleg perempuan, tidak ada kebijakan partai untuk memudahkan mereka menjadi caleg dari Partai Demokrat. Partai Demokrat tidak membeda-bedakan pendaftar dari laki-laki maupun pendaftar perempuan. Namun, PD memang mencari-cari caleg perempuan untuk memenuhi persyaratan 30% dan memenuhi ketentuan terkait dengan zipper system. Sulit mencari perempuan yang mau menjadi caleg perempuan dari partai Demokrat. Di Sumatera Utara sulit mencari perempuan yang mau berkiprah di partai. Biasanya perempuan yang mau berkiprah di partai adalah perempuan yang tidak mempunyai tanggungan keluarga. Pada tahap pendaftaran calon, sebelum maupun sesudahnya, DPD PD Sumut tidak mendapat pressure dari aktivis perempuan atau LSM tertentu yang menekan partai agar memasukkan perempuan dalam pencalonan. DPD PD mencari-cari perempuan, namun para perempuan yang dicari PD dan masuk ke pencalonan hanya datang sekali dalam rangka menyerahkan berkas pencalonan saja. Di dalam kepengurusan DPD PD Sumut ada sejumalh pengurus perempuan, namun hanya diatas kerta. Mereka tidak aktif, mereka kurang bisa menyesuaikan dengan kebiasaan para politisi yang bekerja tidak terikat tempat dan waktu. Pada kepengurusan DPD PD Sumut ada departemen perempuan, dan ada satu wakil ketua bidang pemberdayaan perempuan, dibawahnya ada biro yang membidangi perempuan. Departemen tersebut selama ini berjalan. Terkait dengan pemberdayaan perempuan, Partai Demokrat mempunyai wadah bagi perempuan untuk beraktivitas yakni PDRI (Perempuan Demokrat RI), PDRI mempunyai banyak kegiatan. PDRI ini merupakan organisasi sayap dari Partai Demokrat. Revisi pengurus yang terakhir, Ketua PDRI menjadi wakil ketua di DPD Bidang Perempuan. Dari sisi latar belakang caleg, memperhitungkan agama dalam arti misal seseorang beragama Kristen, tidak mungkin bagi yang bersangkutan mendaftar di daerah pemilihan Mandailing Natal (Madina) yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Didalam Juklak pencalonan ada istilah mempertimbangkan aspek hubungan emosional kultural. Termasuk dalam kategori hubungan emosional kultural adalah hubungan agama, etnis, tempat dia dibesarkan/tempat dia pernah berkiprah. Oleh karena itu caleg yang bersangkutan yang menentukan ingin di dapil mana, hanya nomornya yang tidak jelas. Dampak dari peran oligarkhi partai antara lain membuat kader-kader dan pengurus partai menjadi tidak bergairah. Demokrasi menjadi tidak berjalan, sehingga mendorong para pengurus dan kader merapat ke ketua/pimpinan. Pada akhirnya oligarkh-oligarkh itu menciptakan hubungan patron-client. Disamping itu juga menimbulkan konflik antar caleg.

73

Terkait dengn penyelenggaraan musyawarah daerah atau rapat pimpinan daerah, dilakukan sesuai dengan kalender partai. Musda atau Rapimda mengakomodasi aspirasi-aspirasi yang berkembang dan yang disampailkan peserta rapat. Namun demikian keputusan-keputusan yang dihasilkannya tidak direalisasikan. Hasil/keputusan-keputusan Musda atau Rapimda masih sebatas memenuhi tuntutan AD/ART. Apabila kalender partai mengagendakan bahwa rapimda dilaksanakan sekali dalam 2 tahun, tetap dilaksanakan tapi hasil/keputusannya tidak pernah dibuka/direalisasikan. Jadi tergantuing apabila ada hal-hal yang penting yang sedang dihadapi saja. AD/ART partai belum dilkukan secara substansial. b. Rekrutmen Perempuan Calon Anggota DPRD Provinsi dari Partai Keadilan Sejahtera Di Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PKS, kriteria rekrutmen caleg DPRD Provinsi adalah; pertama, sebagai kader PKS, minimal kader pendukung. Kader pendukung minimal 1 tahun berinteraksi dengan aktivitas di PKS, melakukan hak dan kewajiban sebagai anggota PKS. Kedua, aktif dalam kepengurusan struktur baik itu di DPW, DPD atau DPC, sebagai kader. Ketiga, diusung oleh kaderkader PKS untuk masuk dalam proses Pemilu internal. Baru setelah itu masuk ke proses Pemilu. Kriteria untuk caleg perempuan dan laki-laki ditetapkan sama. Pengkaderan terhadap anggota perempuan di PKS dilakukan secara terus menerus. Caleg-caleg PKS sebelumnya telah terlibat dalam kegiatan-kegiatan PKS. Di DPW PKS ada Bidang Pembinaan Kader (BPK). BPK ini merupakan salah satu yang merekomendasikan nama-nama kader yang layak untuk diajukan sebagai caleg. Proses pembinaan para kader PKS berada dibawah koordinasi BPK, jadi BPK yang mempunyai hak untuk membuat SK, dan bisa menentukan kader mana yang bisa dinominasikan sebagai caleg dari PKS. Walaupun amanat UU No. 10/2008 tentang Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD bahwa dalam rekrutmen caleg, partai harus melakukan secara terbuka dan demokratis. PKS telah melakukannya, dengan membentuk tim penjaringan caleg diantara kader PKS di tiap struktur kepengurusan. PKS tidak membuka pendaftaran caleg dari eksternal partai, karena PKS sendiri mempunyai banyak kader yang bisa dijadikan caleg. Selama PKS masih mempunyai kader, kader itu terlebih dahulu yang didaftar sebagai caleg. PKS mempersilahkan masyarakat yang akan bergabung dengan PKS asal bersedia mengikuti AD/ART PKS, namun sebagai anggota/kader bukan sebagai caleg. PKS tidak membuka pendaftaran sebagai caleg. Syarat pengajuan Daftar Calon Tetap yang harus memenuhi 30% caleg perempuan dipenuhi oleh PKS. Kalau dihitung secara keseluruhan di Propvinsi Sumut, caleg perempuan yang diajukan PKS malah melebihi 30%. Semua caleg perempuan tersebut semua dari kader yang sudah lama bergabung dengan PKS. Di kepengurusan DPW PKS kader perempuan lebih dari 30%. Malah menurut Nur Azizah Tambunan18 di Provinsi Sumut kader PKS lebih banyak
18

Nur Azizah Tambunan adalah Ketua Bidang Kewanitaan Dewan Suro Wilayah PKS Provinsi Sumut.

74

perempuan daripada laki-laki. DPW PKS mempunyai kader perempuan yang tidak hanya di bidang kewanitaan, tetapi juga di Polhukam, sekretaris bidang Polhukam adalah perempuan. Kader perempuan juga berada di bidang kesra yakni ketua deputinya. Selain itu salah satu ketua deputi ekuintek (ekonomi dan teknologi) juga dijabat oleh kader perempuan. Di DPW PKS ada departemen perempuan. Kader perempuan di PKS memang real ada dan aktif beraktivitas. DPW PKS didatangi Forum Peduli Perempuan untuk bersilaturrahmi dan mengingatkan tentang ketentuan 30% caleg perempuan pada saat tahapan pencalonan. Dari latar belakang pendidikan, caleg laki-laki dan perempuan rata-rata adalah sarjana. Rata-rata para kader PKS mempunyai profesi pendidik, dan wiraswasta. Dari latar belakang agama, semua caleg di DPW Sumut semuanya muslim, semua caleg diambil dari kader. Di DPW PKS Sumut tidak ada kriteria bagi caleg untuk memberikan dukungan finansial sejumlah tertentu. Proses pencalonan kader PKS menjadi caleg didasarkan pada aspirasi para kader melalui pemilu internal. Pemilu internal ini yang kemudian menghasilkan nama-nama kader PKS yang diperkirakan bisa dipercaya, yang bisa diamanatkan menjadi bakal calon anggota legislatif. Jadi para kader yang menunjuk bakal caleg melalui pemilu internal, namanama ini digodog lagi sehingga masuk ke daftar calon tetap, yang kemudian diajukan ke KPU, itu semua tidak mensyaratkan uang. Bahkan calon sendiri sering dibantu oleh kader-kader struktur di levelnya. Setelah ditetapkan dalam DPT, dan apabila mengharuskan mengeluarkan dana untuk keperluan transportasi, dan kampanye, hal itu dipandang wajar oleh kader PKS. Tetapi ada kriteria bagi caleg terpilih untuk menyisihkan potongan dari penghasilannya untuk diserahkan kepada partai. Bahkan AD/ART mengatur pemotongan untuk partai tersebut. Potongan tersebut diambil dari setiap komponen dari pendapatan kader PKS yang menjadi anggota DPR/DPRD Provinsi dan DPRD Kab/Kota dalam bentuk apapun sampai seperti SPPD yang diterima kader tersebut, dan potongan itu pada akhirnya akan diakumulasikan dan digunakan untuk kepentingan partai.19 Dalam rekrutmen caleg, tahun 2004 PKS pernah meminang tokoh non PKS untuk bergabung menjadi caleg. Pinangan PKS ada yang diterima, ada yang ditolak. PKS meminang antara lain tokoh agama, atau tokoh masyarakat setempat. Dalam meminang tokoh agama dan tokoh masyarakat tersebut PKS tidak meminta imbalan apa-apa, dan perihal meminang tersebut juga mempertimbangkan masukan dari para kader PKS. Pertimbangan tersebut dimintakan baik dari DPD, Dewan Pengurus Cabang (DPC) dan Dewan Pengurus Ranting. Pertimbangan yang masuk kemudian digodog dan dicek apakah layak dan yang bersangkutan bersedia menandatangani komitmen dengan PKS. Pinangan PKS tersebut untuk mengisi caleg di dapil yang bukan daerah kantong PKS.
Didalam Anggaran Dasar PKS pada bab XX tentang Keuangan, Pasal 26 ayat (1) mengatakan bahwa Keuangan partai berasal dari: a. Iuran Anggota, b. Sumber yang halal dan sah serta tidak mengikat sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku, dan c. Bantuan dari anggaran negara. Ayat (2) menyatakan bahwa; Ketentuan mengenai keuangan dan perbendaharaan Partai diatur dengan Panduan Dewan Pengurus Pusat.
19

75

Di PKS tidak ada perlakuan yang berbeda antara caleg perempuan dan laki-laki. Tidak ada perlakuan yang memudahkan caleg perempuan dibanding caleg laki-laki. Para kader baik laki-laki maupun perempuan sama tugas dan kewajibannya, misal Nur Azizah, yang di DCT bernomor urut satu walaupun perempuan tapi ditempatkan jauh di daerah pemilihan Sumut 5 (Labuhan Batu). Bahkan dia menjadi kordapil (koordinator daerah pemilihan) untuk pemenangan PKS di daerah tersebut. Nur Azizah memang berasal dari Labuhan Batu. Kebanyakan kader PKS ditempatkan pada basis konstituen darimana dia berasal. Dampak dari keputusan MK yang membatalkan Pasal 214 UU Pileg dimana penentuan kursi didasarkan pada mekanisme suara terbanyak, di PKS tidak menimbulkan gejolak. Tidak ada saling jegal seperti yang terjadi di partaipartai lain. Diakui oleh Nur Azizah malah banyak positifnya. Semua caleg berapapun nomornya menjadikan yang bersangkutan semakin termotivasi untuk bekerja. Pengalaman selama ini yang bernomor urut kecil yang bersemangat. Namun dengan Keputusan MK dimana penentuan kursi didasarkan pada suara terbanyak menyebabkan semua caleg termotivasi bekerja. Kader yang tidak mendapat suara banyak tidak merasa rugi, karena di PKS kader tidak keluar ongkos yang besar saat pencalonan, sehingga tidak merasa ada yang harus diamankan/dikembalikan. PKS dimana kader-2nya terdidik, menentukan kriteria pendidikan minimal S-1. Tetapi pada Pemilu 2009 ini, ada 12 kader PKS yang berpendidikan SMA. Walaupun ke 12 kader tersebut berpendidikan SMA, namun sudah lama mengabdi kepada partai dan sudah matang dalam berorganisasi, sehingga setara dengan kader yang berkualifikasi sarjana. Disamping itu mereka ditokohkan di masyarakat dan telah menunjukkan kontribusi dan loyalitasnya kepada partai. PKS mempunyai mekanisme penjaringan calon legislatif di masing-masing tingkat kepengurusan. Di tingkat nasional ada Panjatina (Penjaringan Tingkat Nasional), di tingkat wilayah ada Penjaringan Tingkat Wilayah (Panjatiwil), dan di tingkat daerah ada Penjaringan Tingkat Daerah (Panjatida). Di Panjatiwil ada kader perempuan yang masuk kedalam tim yang memberikan penilaian kepada kualifikasi calon legislatif di tingkat wilayah.20 Oligarkhi partai di PKS akan terkontrol oleh lembaga-lembaga internal dalam struktur kepengurusan. Seorang ketua tidak bisa mematahkan suatu kebijakan/keputusan atau memaksakan suatu keputusan atas pendapat pribadi. DPW PKS mempunyai presideum, jadi keputusan keluar dari hasil musyawarah atau rapat pengurus harian. Jadi tidak memungkinkan ada keputusan yang keluar sendiri diluar keputusan rapat. Sehingga keputusan yang keluar dari partai bukan keputusan pribadi. Diatas DPW ada Majelis Pertimbangan Wilayah
20

Seperti Nur Azizah Tambunan, dirinya masuk kedalam tim penilai di Panjatiwil, sejak awal dia mengikuti proses itu. Di daerah-daerah temen-temen perempuannya juga ada yang mengikuti proses itu. Dengan mengikuti proses itu dia bisa memberikan masukan, argumentasi kalau ada perbedaan-perbedaan pandangan, sehingga PKS bisa memenuhi kuota 30% keterwakilan perempuan. Selain itu juga bisa menempatkan kader perempuan PKS untuk ikut dalam pengambilan keputusan di tingkat elit DPW. Dengan dilibatkannya kader perempuan di Panjatiwil, maka kiprah perempuan dalam aktivitas partai juga dalam pencalonan tidak menemui masalah di PKS.

76

yang memberikan masukan-masukan dan kontrol/pengawasan terhadap kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh DPW. Keputusan MK terkait dengan ketentuan suara terbanyak ternyata tidak berpengaruh di PKS. Hal ini karena PKS mempunyai mekansime sendiri dalam proses menempatkan orang-orang yang akan duduk di lembaga-lembaga sperti di lembaga legislatif dan lembaga eksekutif. Namun PKS menyayangkan perubahan kebijakan di tingkat nasional seperti keputusan MA yang keluar di tengah jalan. Keputusan MA tersebut sedikit banyak mempengaruhi pola strategi partai dalam menentukan langkah-langkah pemenangan partainya. PKS merupakan salah satu partai yang dirugikan oleh Keputusan MA. MA menguatkan keputusan KPU. Apabila diikuti Keputusan MA, di tingkat nasional PKS bisa kehilangan 7 kursi, di Provinsi kehilangan 30 kursi, di Kabupaten lebih banyak lagi. Strategi memenangkan partai sebelum keluar Keputusan MK yakni dengan mengimplementasikan Pasal 214 UU No. 10 tentang Pemilihan Anggota DPR, DPD, dan DPRD Tahun 2008, dimana penetapan calon terpilih didasarkan pada nomor urut. Dengan nomor urut ini, maka proses penjaringan caleg di Pemilu internal menempatkan calon jadi pada nomor urut kecil. Namun dengan keluarnya Keputusan MK, maka siapapun dengan nomor berapapun bisa mendapat kursi asal mendapat suara yang memenuhi ketentuan dalam UU tentang Pemilu. Hal yang melegakan di PKS adalah bahwa semua caleg adalah kader PKS, sehingga siapapun dengan nomor berapapun tidak masalah. Hasil Pemilu 2009 menunjukkan bahwa akhirnya kader-kader PKS yang terpilih adalah mereka yangbernomor urut kecil. c. Rekrutmen Perempuan Calon Anggota DPRD Provinsi dari Partai Damai Sejahtera Di kepengurusan DPW PDS ada 30% perempuan. PDS sulit mencari perempuan yang bersedia menjadi caleg di PDS. Namun karena UU Pemilu menghendaki bahwa harus mengikutsertakan 30% perempuan dalam Daftar Calon Tetap, PDS mengupayakan agar DCT PDS mencapai 30% caleg perempuan. Kriteria ynag ditetapkan PDS terkait dengan caleg, dilihat dari sisi pendidikan harus minimal SMA. Selain itu caleg PDS haruslah mempunyai pengalaman sebagai anggota partai/kader PDS. Sementara Ketua Umum PDS Ruyandi Hutasoit mengatakan bahwa bakal calon legislatif minimal harus memiliki kehidupan keluarga yang baik21. PDS tidak mensyaratkan pada caleg yang diajukan dengan persyaratan harus ada dukungan dana. PDS lebih mengutamakan lamanya caleg berorganisasi di partai/menjadi kader, mengetahui visi dan misi PDS, bagaimana masalah PDS kedepan. Kriteria pencalonan yang diberlakukan untuk caleg laki-laki dan perempuan sama.Dari sisi agama, PDS menerima caleg dari agama selain

21

Ruyandi H. “PDS Seleksi Caleg Melalui Kehidupan Keluarga”, dalam http://www. indonesiaontime. com, diakses tanggal 1 Oktober 2009

77

Kristen, karena PDS bersifat nasional dan PDS bukan partai agama, PDS hanya bernuansa Kristen. Pada tahap pencalonan, tidak ada pressure yang datnag dari luar partai seperti dari aktivis perempuan/LSM yang mengadvokasi perempuan. Di PDS kader-kadernya tidak begitu ngotot untuk menjadi caleg, semuanya berjalan biasa saja. Pada saat pencalonan, tidak ada perbaikan dari verifikasi yang dilakukan KPU terkait caleg. Hanya ada nama yang dobel terdaftar di partai lain tetapi masuk juga daftar caleg PDS, sehingga PDS memberitahukan hal itu ke KPU. PDS mempunyai departemen perempuan dalam kepengurusannya di DPW PDS, namun tidak begitu aktif. DCT PDS di DPW disusun secara selang seling satu perempuan diantara dua laki-laki sesuai amanat UU. Dalam proses pencalonan di PDS tidak ditemui ada masalah. d. Perolehan Kursi Tiga Partai Politik di DPRD Provinsi Sumut Dari hasil Pemilu Legislatif Sumatera Utara yang berjumlah 100 anggota DPRD, Partai Demokrat memperoleh kursi terbanyak yakni 27 kursi, kelompok partai yang perolehan kursi terbanyak kedua adalah Partai Golongan Karya (Golkar) dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang masingmasing memperoleh 12 suara, serta Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dengan 11 kursi. Partai dengan perolehan kursi terbanyak ketiga adalah Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) masing-masing memperoleh 7 kursi. Kelompok partai yang memperoleh kursi terbanyak berikutnya adalah Partai Damai Sejahtera (PDS) dengan 5 kursi. Sementara Partai Damai Sejahtera (PDS) memperoleh 5 kursi. Urutan berikutnya adalah Partai Hanura memperoleh 4 kursi. Perolehan kursi berikutnya adalah Partai Peduli Rakyat Nasional (PPRN) dan Partai Gerindra yang masing-masing memperoleh 3 kursi. Sementara Partai Perjuangan Indonesia Baru (PIB), Partai Bintang Reformasi, Partai Persatuan Daerah, Partai Pelopor dan Partai Bulan Bintang masing-masing memperoleh 1 kursi. Anggota DPRD perempuan dari Partai demokrat berjumlah 6 orang. Sementara anggota DPRD perempuan dari PKS ada 2 orang, dan ada satu orang anggota DPRD terpilih dari PDS. Sementara itu persentase perempuan dibanding laki-laki adalah “16%. Terdapat 16 kursi perempuan anggota legislatif diantara 100 anggota DPRD Provinsi Sumut.”22 Pada saat tahap pencalonan, DCT dari ketiga partai tersebut memang memenuhi 30% perempuan bakal caleg yang diajukan ke KPU Provinsi Sumut. Bahkan DCT dari PKS melebihi 30% perempuan caleg legislatifnya. Namun dengan putusan MK yang mengamanatkan bahwa penetapan kursi hanya menggunakan mekanisme tunggal yakni suara terbanyak, telah membuyarkan harapan perempuan untuk terpilih. Perempuan caleg yang terpilih kebanyakan mereka yang bernomor urut kecil/atas. Sebagian besar masyarakat Indoensia apalagi yang tinggal di
Wawancara per telpon dengan Nur Azizah Tambunan, Anggota DPRD terpilih dari PKS, tanggal 22 Oktober 2009
22

78

pedesaan lebih banyak yang memilih caleg yang bernomor urut kecil. Banyak masyarakat yang terpengaruh oleh iklan di media massa dengan mencontohkan mencontreng no. 2. Sehingga wkatu mencontreng mereka banyak yang mencontreng nomor dua. Selain itu masyarakat juga banyak yang tidak kenal dengan caleg-caleg dalam gambar di surat suara. Sehingga hanya mencontreng gambar partai tanpa mencontreng caleg tertentu sehingga dari suara yang masuk ke partai, otomatis diberikan kepada caleg berdasarkan nomor urut. Dampak dari keputusan MK terkait dengan penetapan anggota legislatif berdasarkan suara terbanyak yang terlihat di partai diantaranya adalah munculnya konflik antar caleg. Seperti pengalaman di DPD PD Provinsi Sumatera Utara, Bangun Tampubolon mengatakan bahwa : “Diantara para caleg, ada yang saling rampok suara, dan pada umumnya partai-partai tidak siap karena pada waktu penyusunan daftar caleg itu spiritnya menurun, dan ketentuan-ketentuan aturan main di internal partai tidak dipersiapkan bagaimana menghadapi dampak dari suara terbanyak, sehingga para caleg “bermain liar”, siapa yang mempunyai kuasa dan yang mempunyai dana merekalah yang memperoleh kursi.”23 Setelah penghitungan suara, di DPW PDS ada kader yang sudah lama berorganisasi namun kalah suara dengan kader yang belum lama berkiprah di partai. Kader yang bersangkutan hanya kesal dan kecewa, tetapi tidak ada protes resmi, dan yang terpilih adalah kader yang perempuan. Sedangkan di PKS, tidak ada insiden jegal menjegal suara. Karena tidak ada keharusan di PKS untuk membayar sejumlah tertentu/mengeluarkan cost yang besar untuk menjadi caleg, sehingga apabila tidak memperoleh suara, kader yang bersangkutan tidak rugi atau tidak ada yang harus diamankan.24 Dampak lainnya adalah bisa berpengaruh pada rendahnya animo masyarakat untuk menjadi pengurus partai. Pengaruh itu akan kecil apabila seseorang menduduki jabatan dalam partai seperti ketua dan sekretaris. Sebagai elit partai, ketua dan sekretaris potensial memperoleh akses ke proyek, dan keuntungan lainnya. Akan tetapi bagi anggota partai yang tidak menduduki suatu jabatan tidak akan mendapatkan apa-apa. Apabila partai tidak bisa menyiasati maka partai akan hancur. Pengalaman di Sumut, pada Pemilu 2009 ini elit partai masih mempunyai power untuk mempermainkan suara. Dengan suara terbanyak elit partai bisa memainkan suara karena dia mempunyai saksi. Saksi dari partai yang mengangkat adalah ketua partai. Namun, pengalaman di lapangan bahwa ketua partai -dengan mengangkat saksi- beranggapan bahwa dia yang mempunyai saksi walaupun saksi itu adalah saksi dari partai. Selain itu fasilitas partai tidak dibagi sesuai ketentuan, misal ada jaket, jaket tersebut tidak dibagi kepada pengurus di tingkat ranting, ke DPC, ke DPAC. Tetapi dibagi-bagikan kepada orang-orang terdekatnya, jadi yang bersangkutan bisa menggunakan fasilitas
23 24

Hasil wawancara dengan Bangun Simbolon, op-cit Hasil wawancara dengan Nur Azizah Tambunan, op-cit

79

partai untuk kepentingan dirinya. Sehingga biaya untuk kepentingan elit didapat dari selain yang bersangkutan mempunyai power, juga mempunyai saksi di TPS, saksi di Kecamatan, saksi di Kabupaten/Kota. Selain dirinya tidak ada yang bisa melakukan hal itu. Masalah terkait dengan keberadaan saksi, saksi partai hanya satu, sementara persaingan antar caleg di internal partai membutuhkan bantuan kesaksian dari saksi. Sedangkan caleg sendiri tidak bisa mempunyai saksi yang hasil kerjanya diakui secara resmi. Saksi yang tidak secara syah diangkat oleh partai hasil kerjanya tidak bisa dijadikan sebagai bukti hukum. Disamping itu, caleg juga tidak mungkin mempunyai dana yang cukup untuk membiayai saksi yang ditempatkan pada setiap TPS. Sekalipun mampu membayar saksi sendiri, namun saksi resmi hanya satu orang dan mendapat surat tugas dari partai. Terkait dengan saksi, partai memberikan surat tugas hanya kepada satu saksi. Saksi yang diangkat partai adalah saksi partai. Namun, di lapangan saksi di partai Demokrat dan juga di partai-partai lain hanya patuh pada ketua/pimpinan partai, sehingga seperti saksi ketua/pimpinan. Pada akhirnya yang diamankan oleh saksi partai adalah kepentingan ketua/pimpinan/elit partai. Apabila ada saksi diluar saksi partai, hasil kerjanya tidak bisa dijadikan sebagai bukti hukum, karena harus dari formulir C-4. Dengan memanipulasi saksi saja banyak suara yang diperoleh. , juga fasilitas partai yang lain. Hal tersebut adalah contoh penyimpangan yang terjadi di lapangan. 2. Analisis Dari temuan-temuan tersebut diatas, diketahui bahwa Partai Demokrat dan PDS sebagai partai politik yang relatif masih baru menemui kesulitan untuk menjaring perempuan bakal calon legislatif 25. Walaupun pada akhirnya Partai Demokrat dan PDS bisa memenuhi persyaratan administratif dalam pengajuan DCT ke KPU Provinsi Sumut, namun hal itu hanya sebatas untuk memenuhi tuntutan UU. Untuk memenuhi persyaratan bakal calon legislatif (bacaleg) sejumlah 30% tersebut, kedua partai itu harus mencari-cari perempuan yang mau dicalonkan sebagai caleg. Sekalipun kedua partai tersebut berhasil memenuhi 30% perempuan bakal caleg, namun keterlibatan para perempuan tersebut hanya diatas kertas. Hal itu terbukti dari perempuan caleg PD yang hanya sekali datang ke kantor partai hanya untuk menyerahkan dokumen pencalonan.26 Namun apabila temuan penelitian terkait dengan sulitnya mencari perempuan untuk dijadikan caleg di daerah seperti informasi dari informan PD dan PDS ini dikonfrontasikan dengan pernyataan Nelly Armayanti, akan menjadi bias. Dikatakan Nelly bahwa; “Kalau dilihat di internal partai memang sedikit kader perempuan berkualitas, tapi kalau dilihat ke luar seperti di lembaga non pemerintah, banyak perempuan yang aktif dalam organisasi dan bahkan menjadi pimpinan”.27
25

Partai Demokrat berdiri pada tanggal 9 September 2001, sedangkan PDS berdiri pada tanggal 1 Oktober 2001 Hasil wawancara dengan Bangun Tampubolon, op-cit 27 Nelly Armayanti, pengamat politik perempuan dalam, 14 Caleg Perempuan Terpilih di DPRD Sumut, Waspada Online, diakses tanggal 3 September 2009
26

80

Dengan men-cross check keterangan yang saling berlawanan tersebut ada kemungkinan bahwa perempuan caleg yang dicari oleh partai adalah mereka yang berada didalam lingkup komunitas orang partai atau mempunyai hubungan kekerabatan dengan orang-orang partai dimana sulit bagi partai yang masih relatif baru mendapatkan perempuan yang mau berkiprah di partai. Sementara di DPW PKS, diperoleh informasi bahwa PKS tidak menemui kesulitan untuk memenuhi persyaratan 30% perempuan caleg. Kader PKS banyak yang perempuan, dan PKS tidak mencari-cari perempuan diluar PKS untuk dijadikan caleg. Hal itu karena caleg yang diajukan PKS semuanya dari kader PKS. Ketiga partai tersebut menetapkan kriteria penjaringan caleg secara sama antara caleg laki-laki dan perempuan. Tidak ada perbedaan persyaratan yang dikenakan baik pada caleg laki-laki dan perempuan. Dari sisi pendidikan sesuai yang tertuang di dalam UU Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD, bahwa minimal berijazah SMA. Di Partai Demokrat dan PDS menyesuaikan dengan ketentuan UU minimal berijazah SMA. Di PKS, walaupun kriteria pendidikan sesuai dengan yang diatur UU tapi rata-rata caleg PKS pada semua dapil berijazah sarjana. Dilihat dari sisi agama, PKS dalam Anggaran Dasarnya menyatakan sebagai partai yang berazaskan Islam. Kader-kader di DPW Sumut semuanya beragama Islam. Sedangkan PDS berazaskan Pancasila dan UUD 1945. Kaderkadernya di DPW Sumut semua beragama Kristen. Sedangkan Partai Demokrat berazaskan Panzasila serta mempunyai jati diri sebagai partai yang nasionalis religius. Kader-kadernya di DPD Sumatera Utara dari berbagai agama. Sedangkan dari sisi suku dan etnis, tidak ada ketentuan yang mengatur caleg mesti berasal dari suku/etnis tertentu. Namun karena di Sumatera Utara suku terbesar adalah suku Batak, sehingga kebanyakan caleg di ketiga partai tersebut didominasi orang bersuku Batak. Walaupun begitu ada juga dari caleg dari suku Jawa, dan Melayu. Terkait dengan etnis Tionghoa, di PD didalam kepengurusan partai ada sejumlah kadernya beretnis Tionghoa, namun kebanyakan mereka enggan mencalonkan sebagai caleg. Alasan rata-rata mereka bahwa dia masuk kedalam kepengurusan partai hanya untuk mencari kenyamanan berbisnis, tidak untuk mencari penghasilan sebagai anggota legislatif.28 Pengakuan dari kader di PD dan PDS menyatakan bahwa mereka kurang melihat ada ambisi dari para perempuan di daerah untuk menjadi caleg. Budaya patriarki di partai politik sangat terasa di Sumut. Hal itu seperti yang ditunjukkan oleh persepsi Bangun Tampubolon dari PD yang mengatakan bahwa kehidupan berpartai dan aktivitas politik merupakan aktivitas yang terlalu maskulin untuk perempuan. Selanjutnya ia mengatakan bahwa dirinya tidak suka dan tidak akan mengizinkan apabila istrinya berkiprah di partai.29 Namun begitu, pengakuan Nelly mengatakan bahwa “sejumlah lembaga pemberdayaan perempuan pernah menawarkan data seratusan kaum intelektual perempuan yang melek

28 29

Hasil wawancara dengan Bangun Tampubolon, op-cit Hasil wawancara dengan Bangun Simbolon, ibid

81

politik kepada sejumlah partai politik di Sumut, tetapi sejumlah partai tidak menggubrisnya.”30 PKS dan PDS tidak menerima caleg dari luar kader partai. Pendaftaran oleh PKS dan PDS dibuka sebagai kader, bukan sebagai caleg. Sementara Partai Demokrat membuka pendaftaran untuk caleg dari luar partai. Namun caleg dari luar partai dibatasi hanya untuk caleg dari organisasi sayap PD dan dari tokoh masyarakat. Sumber bakal calon PD yang berasal dari pengurus partai/anggota legislatif maksimal 80%. Sedangkan yang berasal dari organisasi sayap partai dan tokoh masyarakat minimal 20%.31 Namun begitu, fakta di lapangan berbicara lain. Praktek komersialisasi politik telah mengganggu pencalonan di DPW PD Sumut. Juklak pencalonan yang telah ditetapkan DPP PD tidak diindahkan di daerah. Praktek komersialisasi politik tersebut telah merusak pedoman/juklak partai melalui pimpinan DPD PD. Pimpinan DPD tanpa sepengetahuan kader lainnya telah menggelapkan daftar caleg yang telah disusun perdapil. Orang diluar partai yang seharusnya berada di nomor-nomor setelah nomor urutan yang diisi kader partai, tiba-tiba ada yang berada di nomor urut atas. Fakta ini telah merugikan kader PD karena daftar calon tetap (DCT) ternyata disusun diluar kantor partai dan tanpa sepengetahuan kader diluar pimpinan. Informasi yang berkembang di partai bahwa calon diluar partai yang berada pada nomor atas memberikan dukungan dana sejumlah tertentu. Namun dana tersebut tidak masuk ke partai namun ke person-person pimpinan. Praktek pencalonan yang tidak transparan di DPD PD Sumut tersebut tidak mengindahkan peraturan terkait dengan tata cara pengajuan calon anggota legislatif seperti yang telah diatur dalam Pasal 51 ayat (2) UU No. 10 tentang Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD bahwa seleksi bakal calon anggota legislatif dilakukan secara demokratis dan terbuka sesuai dengan mekanisme internal partai politik. Walaupun komersialisasi politik pada pencalonan tersebut tidak mengenal gender, namun hal ini secara tidak langsung bisa menghambat tercapainya 30% keterwakilan perempuan yang terekrut sebagai caleg. Komersialisasi politik bisa menerjang siapa saja baik laki-laki maupun perempuan. Namun, karena rata-rata perempuan masih menghadapi kendala kepada akses ekonomi dibanding lakilaki, sedikit banyak komersialisasi politik ini merugikan perempuan caleg. Terpilihnya 16 orang perempuan anggota DPRD Provinsi Sumut diantara 100 anggota Dewan secara keseluruhan, menunjukkan bahwa keterwakilan 30% perempuan di parlemen tidak tercapai. Salah satu alasan yang menghambat kegagalan mencapai 30% keterwakilan perempuan tersebut adalah karena UU No. 10 tentang Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD hanya mensyaratkan keterwakilan tersebut sebatas pada pencalonan saja. Lain halnya dengan yang dipraktekkan di Argentina, bahwa sedikitnya 30% kandidat perempuan harus ditempatkan pada nomor jadi. Sehingga dengan

30 31

Waspada Online, op-cit Ketentuan tersebut tertuang didalam Petunjuk Pelaksanaan No. 03/Juklak/DPP.PD/VIII/ 2008 tentang Revisi Juklak No. 02/Juklak/DPP.PD/VI/2008 tentang Petunjuk Pelaksanaan Mekanisme Penjaringan Calon Legislatif

82

penerapan sistem peroporsional representatif, akan menaikkan proporsi perempuan di Parlemen. Dengan hanya terpilih 16% Anggota DPRD Provinsi Sumut, menunjukkan bahwa keberadaan perempuan di negeri belum terwakili secara proporsional. Jumlah pemilih wanita yang diperkirakan 51%32 dari DPT di Provinsi Sumut belum mencerminkan bahwa perempuan diwakili perempuan. Keberadaan perempuan Sumatera Utara tidak diwakili sepenuhnya oleh perwakilan perempuan. Akibat tidak diwakili secara penuh perempuan oleh perempuan akan mengakibatkan bahwa pemahaman akan kebutuhandan kepentingan perempuan sedikit banyak akan terabaikan pada periode lima tahun mendatang. 3. Kesimpulan Rekrutmen bakal calon anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara dari Partai Demokrat dan PDS dalam beberapa hal menunjukkan ada kesamaan. Kesulitan untuk merekrut perempuan bakal calon legislatif untuk memenuhi 30% didalam DCT di kedua partai tersebut disebabkan oleh berbagai alasan antara lain adalah; pertama, kedua partai tersebut merupakan partai baru dimana pengkaderan terhadap kader perempuan belum berjalan seperti pada partaipartai yang telah lebih dulu berdiri seperti PKS. Alasan kedua, di dalam kepengurusan di tingkat provinsi, kedua partai tersebut memang mempunyai biro atau bidang kewanitaan. Tetapi di kedua partai tersebut keberadaan bidang kewanitaan hanya diatas kertas, tidak ada aktivitas dari unit tersebut. Perempuan bakal caleg yang terdaftarpun hanya sekali datang ke kantor partai untuk menyerahkan dokumen pendaftaran. Di DPW PDS proses pencalonan perempuan bakal caleg tidak menjadi hal yang luar biasa, pencalonan berjalan biasa-biasa saja. Baik calon laki-laki maupun perempuan tidak ngotot. Hal ini karena sebagai partai kecil, harapan untuk terpilih tidak besar. Sementara di Partai Demokrat, proses pencalonan bakal caleg menjadi hal yang krusial. Proses pencalonan banyak diwarnai dengan berbagai kepentingan dan penyimpangan oleh para elit partai. Sebagai partai baru, namun PD potensial mendulang banyak suara, hal ini telah membuat oligarkh-oligarkh partai bermanuver. Sementara di luar lingkaran elit partai para kader berharap dan gelisah serta saling mendekat ke elit dan sarat dengan permainan uang. Praktek yang terjadi di DPD PD Sumut berjalan secara tidak tertutup dan tidak demokratis. Pengakuan kedua partai yang sulit mencari perempuan bakal caleg menunjukkan bahwa di lingkaran partai tersebut tidak ada/kurang ada perempuan yang berkualitas yang berkiprah di partai. Apalagi dibandingkan dengan kenyataan banyaknya perempuan yang berkualitas di luar partai seperti LSM dan Ormas. Hal ini karena pengkaderan di partai tidak berjalan. Selain itu, proses pencalonan yang tidak dilakukan secara terbuka dan demokratis,

32

Http://www.indonesiaontime.com, diakses tanggal 22 Oktober 2009

83

memberi peluang kepada oligarkh partai yang banyak menentukan dalam proses pencalonan. Berlawanan dengan kenyataan yang ada di kedua partai tersebut, sebaliknya PKS tidak menemui hambatan dalam memenuhi persyaratan 30% keterwakilan perempuan dalam pencalonan. Semua bakal calon bersumber pada kader perempuan PKS sendiri. Bahkan kader PKS lebih banyak perempuan daripada laki-laki. Unit kewanitaan yang ada di DPW PKS memang benar-benar riel ada dan beraktivitas. Sehingga pengkaderan terhadap kader-kader perempuan PKS memang benar-benar berjalan. Budaya patriarki dan praktek komersialisasi politik telah mengganggu pencalonan perempuan bakal caleg seperti yang ditunjukkan oleh DPW PD Sumut. Fakta ini telah merugikan kader PD karena daftar calon tetap (DCT) ternyata disusun diluar kantor partai dan tanpa sepengetahuan kader diluar pimpinan. Komersialisasi politik ini telah merugikan perempuan caleg. Putusan Mahkamah Konstitusi No 22-24/PUU-VI/2008 yang membatalkan pasal 214 UU No. 10 tahun 2008, menghapuskan sistem nomor dalam penentuan anggota legislatif, dan menggantinya dengan mekanisme suara terbanyak semakin mempersempit peluang perempuan bakal caleg untuk duduk dalam parlemen. Sehingga keterwakilan perempuan dalam parlemen berkurang dan tidak memenuhi kuota yang ditentukan. Keterwakilan perempuan sebanyak 30% dengan menggunakan sistem zig-zag method tidak dapat terealisasi dengan baik. Sehingga caleg perempuan harus bekerja keras untuk memperoleh suara yang signifikan dalam Pemilu legislatif. Hal ini telah mengingkari dan merusak upaya affirmative action yang seharusnya diberikan kepada perempuan caleg. Terpilihnya 16 orang perempuan anggota DPRD Provinsi Sumut diantara 100 anggota Dewan secara keseluruhan, menunjukkan bahwa keterwakilan 30% perempuan di parlemen tidak tercapai. Dengan hanya terpilih 16% Anggota DPRD Provinsi Sumut, menunjukkan bahwa keberadaan perempuan di Provinsi Sumatera Utara belum terwakili secara proporsional. Jumlah pemilih perempuan yang diperkirakan 51%33 dari DPT di Provinsi Sumut belum mencerminkan bahwa perempuan diwakili perempuan. Keberadaan perempuan Sumatera Utara tidak diwakili sepenuhnya oleh perwakilan perempuan (mirror representation). Akibat tidak diwakili secara penuh perempuan oleh perempuan akan mengakibatkan bahwa pemahaman akan kebutuhandan kepentingan perempuan sedikit banyak akan terabaikan pada periode lima tahun mendatang.

Daftar Pustaka

33

Http://www.indonesiaontime.com, diakses tanggal 22 Oktober 2009

84

Kusumaatmadja, Sarwono (Editor), Politik dan Perempuan, Penerbit Koekoesan, Jakarta, 2007 Haryanto, Sistem Politik : Suatu Pengantar, Liberty, Yogyakarta, Cet. I Tahun 1982, Budiardjo, Miriam, Dasar-Dasar Ilmu Politik, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2004 Surbakti, Ramlan, Memahami Ilmu Politik, PT Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta, 1992 C.C. Rodee et.all., Pengantar Ilmu Politik, Terj. Zulkifly Hamid (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2000). Hal. 218 Kymlicka,Will, Kewargaan Multikultural, Penterjemah; Edlina Hafmini Pustaka LP3ES, Jakarta, 2002, Eddin,

Phillips, Anne The Politics of Presence: The Political Representation of Gender, Ethnicity and Race, (Oxford: Clarendon Press, 1995 IDEA, Perempuan di Parlemen : Bukan Sekedar Jumlah, Jakarta, 2002. Lexi Moleong, Metodologi Rosdakarya, 1994 Penelitian Kualitatif, Bandung, PT Remaja

Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan National Democratic Institute (NDI), Proseding Seminar Internasional, Keterwakilan Perempuan dan Sistem Pemilihan Umum, Jakarta, 2001 Muhammad Fadlillah, Seluk Beluk Partai Peserta Pemilu 2009, Penerbit Surya Media, Yogyakarta, 2009 Peraturan Perundang-undangan UU No. 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Anggota DPR, DPD, dan DPRD UU No. 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilu Keputuan KPU No 15/2008 tentang Pedoman Teknis Penetapan dan Pengumuman Hasil Pemilu, Tatacara Penetapan Perolehan Kursi, Penetapan Calon Terpilih dalam Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD

85

Putusan MK No. 22 dan 24/PUU/VI/2008 tentang Ketentuan Judicial Review terhadap Ketentuan Pasal 214 UU No. 10 tentang Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD Internet http://209.85.175.132/search?q=cache:RNC5lpKhgsJ:thehikamforum.blogspot.com/2008/04/perkembangan-pemikirandan-praktik.html+teori+demokrasi+perwakilan&hl=id&ct=clnk&cd=1&gl=id, diakses tanggal 11 Maret 2009 http://fatahilla.blogspot.com/2009/02/zipper-sistem-dan-eksistensi-peran.html, diakses10 Maret 2009 http://m.detik.com, diakses tanggal 15 Januari 2009

86

Lampiran

Interview Guide Dalam penelitian ini pemilihan partai yang akan dijadikan obyek penelitian adalah partai terbesar yakni Partai Demokrat, Partai terbesar kedua yakni Partai Keadilan Sejahtera, serta partai kecil yakni Partai Damai Sejahtera. Dari perspektif ideology juga mencerminkan atau mewakili ideology yang berbeda yakni Partai Demokrat sebagai Partai Nasionalis, Partai Keadilan Sejahtera mewakili partai berbasis Islam, serta Partai PDS yang mewakili partai berbasis Kristen. Adapun pertanyaan-pertanyaan yang dijadikan sebagai panduan adalah sebagai berikut: 1. Bagaimana pengurus partai-partai (Partai Demokrat, Partai Golkar, dan Partai Keadilan Sejahtera) di tingkat Provinsi Sumatera Utara melakukan rekrutmen perempuan bakal calon anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara ? - Apa kriteria yang ditetapkan partai dalam merekrut calon anggota DPRD Provinsi Sumut? - Adakah perbedaan persyaratan antara calon legislatif laki-laki dan perempuan? - Apakah partai melihat ada ambisi kader perempuan untuk direkrut menjadi bakal calon anggota DPRD Provinsi Sumut? - Apakah DPW/D mendapat pressure dari luar (aktivis perempuan, LSM Perempuan) untuk mengimplementasikan kuota 30% dalam pencalonan? 2. Bagaimana strategi yang dilakukan oleh pengurus partai-partai tersebut di tingkat provinsi untuk merekrut perempuan bakal calon anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara ? - Apakah partai juga merekrut anggota perempun bakal calon dari luar partai ? - Persyaratan apa yang ditetapkan partai untuk merekrut non kader partai ? - Apakah Partai anda mempunyai departemen perempuan untuk menyiapkan kader perempuan sebagai caleg ? - Apakah ada kebijakan/perlakuan khusus yang memudahkan partai merekrut perempuan bakal calon anggota DPRD Provinsi Sumut? 3. Bagaimana kebijakan internal partai terkait dengan rekrutmen perempuan bakal calon anggota DPRD Provinsi Sumut?

87

-

-

Apakah Partai anda mensyaratkan adanya dukungan finansial bagi bakal calon perempuan anggota DPRD Provinsi Sumut? Begitu pula untuk bakal calon anggota laki-laki? Dari sisi sosial kultural, apakah partai anda mempersyaratkan caleg berasal dari a. Etnis tertentu? b. Agama tertentu c. Status sosial ekonomi tertentu? d. Ada batasan umur?

88

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->