P. 1
Jenis Dan Layanan Bimb. Konseling

Jenis Dan Layanan Bimb. Konseling

|Views: 6,430|Likes:
Published by Faizal

More info:

Published by: Faizal on May 04, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/20/2015

pdf

text

original

Catatan:Sering kali individu datang kepada konselor tanpa memahami
masalah yang sebenarnya ada pada dirinya. Pemahaman masalah
baru terjadi dalam proses konseling.

4.

Pendekatan dan Teori Konseling

Pa
Konseling

Partisipasi aktif dalam
proses bantuan konseling

Usaha mencari
bantuan

Kesadaran akan perlunya
bantuan orang lain

Kesadaran dan
pemahaman masalah

Individu

Pada Bab V telah disinggung sedikit tentang adanya sejumlah teori
konseling. Apabila dititik lebih lanjut teori-teori tersebut pada dasarnya dapat
dikelompokkan ke dalam tiga pendekatan, yaitu pendekatan konseling direktif,
konseling non-direktif dan konseling elektrik. Pendekatan-pendekatan itu
terutama pendekatan direktif dan non-direktif, masing-masing memiliki
pandangan yang berbeda, bahkan di sana-sini bertolak belakang, terutama
tentang hakikat tingkah laku individu dan timbulnya masalah. Perbedaan-
perbedaan tersebut mengakibatkan timbulnya perbedaan-perbedaan dalam
teknik-teknik konseling yang secara langsung diterapkan terhadap klien.

a.

Konseling Direktif
Konseling direktif berlangsung menurut langkah-langkah umum

sebagai berikut :
1)

Analisis data tentang klien

2)

Pensintesisan data untuk mengenali kekuatan-kekuatan dan
kelemahan-kelemahan klien.
3)

Diagnosis masalah

4)

Prognosis atau prediksi tentang perkembangan masalah

selanjutnya
5)

Pemecahan masalah

6)

Tindak lanjut dan peninjauan hasil-hasil konseling
Upaya pemecahan masalah didasarkan pada hasil diagnosis yang pada
umumnya berbentuk kegiatan yang langsung ditujukan pada pengubahan
tingkah laku klien.

b.

Konseling Non-Direktif
Konseling non-direktif sering juga disebut “Client Centered
Therapy
”. Pendekatan ini diperoleh oleh Carl Rogers dari Universitas
Wisconsin di Amerika Serikat. Konseling non-direktif merupakan upaya
bantuan pemecahan masalah yang berpusat pada klien. Melalui pendekatan
ini, klien diberi kesempatan mengemukakan persoalan, perasaan dan pikiran-

pikirannya secara bebas. Pendekatan ini berasumsi dasar bahwa seseorang
yang mempunyai masalah pada dasarnya tetap memiliki potensi dan mampu
mengatasi masalahnya sendiri. Tetapi oleh karena sesuatu hambatan, potensi
dan kemampuannya itu tidak dapat berkembang atau berfungsi sebagaimana
mestinya. Untuk mengembangkan dan memfungsikan kembali
kemampuannya itu klien memerlukan bantuan. Bertitik tolak dari anggapan
dan pandangan tersebut, maka dalam konseling, inisiatif dan peranan utama
pemecahan masalah diletakkan di pundak klien sendiri. Sedangkan kewajiban
dan peranan utama konselor adalah menyiapkan suasana agar potensi dan
kemampuan yang ada pada dasarnya ada pada diri klien itu berkembang
secara optimal, dengan jalan menciptakan hubungan konseling yang hangat
dan permisif. Suasana seperti itu akan memungkinkan klien mampu
memecahkan sendiri masalahnya. Dalam suasana seperti itu konselor
merupakan “agen pembangun” yang mendorong terjadinya perubahan pada
diri klien tanpa konselor sendiri banyak masuk dan terlibat langsung dalam
proses perubahan tersebut. Menurut Rogers, adalah menjadi tanggung jawab
klien untuk membantu dirinya sendiri. Salah satu prinsip yang penting dalam
konseling non-direktif adalah mengupayakan agar klien mencapai
kematangannya, produktif, merdeka dan dapat menyesuaikan diri dengan
baik.

c.

Konseling Elektrik
Pendekatan dan teori-teori konseling itu telah ditempa dan
dikembangkan oleh pencetus dan ahlinya, dan telah dipelajari oleh berbagai
kalangan dalam bidang bimbingan dan konseling. Disadari bahwa setiap
pendekatan atau teori itu mengandung kekuatan dan kelemahan, namum
semuanya telah menyumbang secara positif pada dunia bimbingan dan
konseling, baik secara teoritis maupun secara praktis. Disadari pula bahwa
dalam kenyataan praktek konseling menunjukkan bahwa tidak semua
masalah dapat dientaskan secara baik hanya dengan satu pendekatan atau

teori saja. Ada masalah yang lebih cocok diatasi dengan pendekatan direktif,
dan ada pula yang lebih cocok dengan pendekatan non-direktif atau dengan
teori khusus tertentu. Dengan pendekatan lain, tidaklah dapat ditetapkan
bahwa setiap masalah harus diatasi dengan salah satu pendekatan atau teori
saja. Pendekatan atau teori mana yang cocok digunakan sangat ditentukan
oleh beberapa faktor, antara lain :
1)Sifat masalah yang dihadapi (misalnya tingkat kesulitan dan
kekompleksannya).
2)Kemampuan klien dalam memainkan peranan dalam proses konseling.
3)Kemampuan konselor sendiri, baik pengetahuan maupun keterampilan
dalam menggunakan masing-masing pendekatan atau teori konseling.
Mereka yang mempelajari pendekatan dan teori-teori itu mungkin ada
yang tertarik dan merasa dirinya lebih cocok untuk mendalami dan
mempraktekkan satu pendekatan atau teori konseling tertentu saja, dan
mungkin ada pula yang berusaha “menggabungkan” dan-tiga teori yang
berdekatan dalam wilayah garis kontinum yang dimaksudkan di atas.
Kebanyakan diantara mereka bersikap elektrik yang mengambil berbagai
kebaikan dari kedua pendekatan ataupun dari berbagai teori konseling
yang ada itu, mengembangkan dan menerapkannya dalam praktek sesuai
dengan permasalahan klien. Sikap elektrik ini telah ada sejak lama dan
bahkan dianggap lebih tepat dan sesuai dengan filsafat atau tujuan
bimbingan dan konseling daripada sikap yang hanya mengandalkan satu
pendekatan atau satu-dua teori tertentu saja (Tolbert, 1959; Hansen, dkk.,
1977; dan Brammer & Shostrom, 1982).

5.

Konseling di Lingkungan Kerja yang Berbeda

a.

Konseling di Sekolah Dasar
Sasaran layanan konseling di SD adalah anak-anak yang masih sangat
muda. Barangkali masih ada yang beranggapan bahwa anak0anak yang masih
sangat muda jarang yang mengalami masalah sehingga layanan konseling

sebenarnya tidak diperlukan di SD. Untuk mereka yang berpendapat seperti
itu perlu diingatkan bahwa perkembangan dan kehidupan itu penuh dengan
tantangan; tidak peduli tua ataupun muda, setiap individu yang berkembang
dan hidup pasti selalu menghadapi tantangan. Di samping itu perlu
digarisbawahi pula bahwa masalah-masalah yang ternyata sudah muncul
perlu dientaskan seawal, sesegera, secepat, dan setepat mungkin. Oleh karena
itu, pelayanan bimbingan dan konseling pada umumnya, dan layanan
konseling khususnya tetap sangat diperlukan bagi mereka yang masih sangat
muda sekalipun.

Aspek-aspek lain juga muncul dalam layanan konseling di SD.
Karena anak-anak SD menurut kenyataannya masih amat tergantung pada
orang tua dan guru, maka peningkatan keterampilan berkomunikasi, sikap
dan perilaku orang tua dan guru terhadap anak-anak merupakan layanan
pokok yang justru lebih mendasar dari pada layanan konseling dalam arti
konsultasi dalam bentuk hubungan tatap muka antara konselor dan klien
(Dinkmeyer, Frust, Linduquist dan Chamley dalam Nugent, 1981).
Dibanding dengan layanan konseling perorangan, layanan konseling
kelompok agaknya lebih mungkin dilaksanakan dengan anak-anak SD.
Hal lain lagi yang perlu mendapat perhatian konselor ialah bagaimana
mendorong anak-anak untuk datang kepada konselor untuk memperoleh
layanan bimbingan. Nogent (1981) melihat empat sumber yang
memungkinkan alih tangan anak-anak kepada konselor, yaitu guru, kepala
sekolah, anak-anak itu sendiri, dan konselor sendiri. Guru-guru adalah orang-
orang yang paling banyak bergaul dan memperhatikan segenap tingkah laku
anak-anak sehari-hari di sekolah. Sikap dan kebiasaan masing-masing anak
belajar, hubungan sosial mereka satu sama lain, sampai dengan tingkah laku
yang menyimpang, seperti nakal, mencuri dan sebagainya teramati oleh guru.
Kekuatan dan kelemahan anak-anak dapat diketahui secara langsung oleh
guru. Anak-anak yang memerlukan bantuan konselor, oleh guru dapat secara
langsung diahlihtangankan kepada konselor.

Konselor sendiri juga merupakan figur yang penting sebagai sumber
alih tangan. Konselor yang aktif, yang menunjukkan banyak perhatian dan
sering berhubungan dengan anak, yang sering menampilkan diri di hadapan
anak-anak dan sering menciptakan suasana dan melakukan kegiatan yang
menyenangkan dan menguntungkan bagi anak-anak, akan dirasakan dekat
oleh anak-anak dan besar kemungkinan akan banyak dikunjungi oleh anak-
anak itu. Hubungan baik antara konselor dengan murid, ditambah dengan
pemahaman yang cukup baik dari anak-anak tentang fungsi dan peranan
konselor yang dapat diberikan kepada mereka, akan banyak menentukan
frekuensi dan intensitas pemanfaatan jasa konseling oleh anak-anak di SD.

b.

Konseling di Sekolah Menengah
Siswa sekolah menengah berbeda dari murid SD. Mereka berada pada
tahap perkembangan remaja yang merupakan transisi dari masa anak-anak ke
dewasa. Banyak gejolak menandai masa perkembangan remaja itu. Konselor
di sekolah menengah dituntut untuk memahami berbagai gejolak yang secara
potensial sering muncul itu dan cara-cara penanganannya. Bentuk-bentuk
permasalahan khusus seperti masalah hubungan muda-mudi, masalah
perkembangan seksual, masalah sosial dan ekonomi, masalah masa depan
banyak muncul di antara para remaja itu.
Pendekatan dan teknik-teknik konseling dalam berbagai bentuknya
dapat dipakai terhadap para pemuda yang sudah lebih berkembang dari pada
anak-anak SD itu. Aplikasi pendekatan dan teknik konseling serta
penyesuaiannya banyak tergantung pada keunikan klien dan masalahnya,
serta spesialisasi keahlian konselor sendiri. Tentang sumber alih tangan klien,
sama dengan yang telah diuraikan terdahulu, yaitu sangat mengandalkan pada
peranan guru, kepala sekolah, siswa dan konselor sendiri, serta orang tua.
Kehadiran konselor langsung dihadapan para siswa (di muka kelas dan pada
kesempatan-kesempatan lain), disertai dengan informasi yang tepat dan
mantap tentang fungsi konselor dan pelayanan bimbingan dan konseling pada

umumnya, akan sangat membantu peningkatan pemanfaatan layanan
konseling oleh para siswa.

c.

Konseling di Perguruan Tinggi
Perbedaan antara konseling di sekolah menengah dan di perguruan
tinggi diwarnai oleh arah perkembangan dan tujuan-tujuan yang hendak
dicapai serta kekompleksan program pendidikan dan latihan di kedua jenjang
pendidikan itu. Apabila di sekolah menengah para siswa belum akan segera
dituntut untuk bekerja atau terjun di masyarakat, maka para mahasiswa sudah
berada pada batas antara “hidup tergantung pada orang tua” dan “hidup bebas
dan mandiri”. Disamping itu, para siswa di sekolah menengah mengalami
proses pembelajaran yang secara relatif lebih terbimbing dari pada para
mahasiswa di perguruan tinggi; proses pembelajaran di perguruan tinggi
lebih bervariasi dan menuntut kemandirian mahasiswa.
Praktek pelaksanaan konseling di perguruan tinggi tidak banyak
berada dari pada pelaksanaannya di sekolah menengah. Penekanan pada
kondisi akademik dan kemandirian mewarnai pelaksanaan konseling. Sumber
alih tangan klien lebih banyak ditekankan pada keadaan mahasiswa sendiri.
Oleh karena itu permasyarakatan pelayanan bimbingan dan konseling dan
peranan konselor lebih perlu diperluas melalui berbagai media yang ada di
kampus. Unit pelayanan bimbingan dan konseling yang ada perlu bekerja
sama dengan unit-unit yang langsung berhubungan dengan mahasiswa;
pertama, untuk ikut serta memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan
konseling, dan kedua, untuk menjadi “agen alih tangan”.

d.

Konseling di Masyarakat
Dipandang dari segi masalah klien serta pendekatan dan teknik
konseling, layanan konseling di masyarakat (di luar satuan pendidikan
formal) tidak berbeda dari layanan di satuan pendidikan. Jika terdapat
perbedaan, maka hal itu terletak pada kondisi lembaga tempat konselor
bekerja. Layanan konseling dapat diselenggarakan di lembaga tertentu,

seperti lembaga kerja (perusahaan, kantor, pabrik), lembaga kemasyarakatan,
Lembaga Bantuan Hukum, Puskesmas, “Badan Penasihat Perkawinan”,
“Lembaga Kesehatan Masyarakat”, “Biro Konsultasi” dan berbagai lembaga
swadaya masyarakat lainnya. Tidak dilupakan, konselor yang membuka
“praktek pribadi”. Semua “lembaga” tempat konselor berpraktek layanan
konseling menerapkan nilai-nilai sendiri yang harus diikuti oleh konselor.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->