P. 1
Jenis Dan Layanan Bimb. Konseling

Jenis Dan Layanan Bimb. Konseling

|Views: 6,430|Likes:
Published by Faizal

More info:

Published by: Faizal on May 04, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/20/2015

pdf

text

original

Unsur-unsur konseling perorangan tampil secara nyata dalam konseling
kelompok. Kalau demikian adanya, apa yang membedakan konseling kelompok
dari konseling perorangan? Satu hal yang paling pokok ialah dinamika interaksi
sosial yang dapat berkembang dengan intensif dalam suasana kelompok, yang
justru tidak dapat dijumpai dalam konseling perorangan. Disitulah keunggulan
konseling kelompok. Melalui dinamika interaksi sosial yang terjadi diantara
anggota kelompok, masalah yang dialami oleh masing-masing individu anggota
kelompok dicoba untuk dientaskan. Peranan konselor sebagai “agen
pembangunan” dalam konseling perorangan diperkuat oleh peranan dinamika

interaksi sosial dalam suasana kelompok. Dengan demikian, proses pengentasan
masalah individu dalam konseling kelompok mendapatkan dimensi yang lebih
luas. Kalau dalam konseling perorangan klien hanya memetik manfaat dari
hubungannya dengan konselor saja, dalam konseling kelompok klien
memperoleh bahan-bahan bagi pengembangan diri dan pengentasan masalahnya
biak dari konselor maupun rekan-rekan anggota kelompok. Lebih dari itu lagi,
dinamika interaksi sosial yang secara intensif terjadi dalam suasana kelompok
akan meningkatkan kemampuan berkomunikasi dan keterampilan sosial pada
umumnya, meningkatkan kemampuan pengendalian diri, tenggang rasa atau
teposaliro. Dalam kaitan itu suasana kelompok menjadi tempat penempaan sikap,
keterampilan dan keberanian sosial yang bertenggang rasa (Prayitno, 1985).
Mengenai kondisi homogenitas heterogenitas yang terdapat di dalam
konseling kelompok dapat dilihat bahwa anggota kelompok sedapat-dapatnya
homogen, dalam arti semua anggota kelompok diharapkan dapat
menyumbangkan sesuatu dalam pengembangan dinamik interaksi sosial yang
terjadi di dalam kelompok. Untuk itu dikehendaki kemampuan para anggota
yang seimbang. Dalam keadaan tertentu, konselor dapat menghadirkan seorang
(atau lebih) klien tertentu ke dalam suasana konseling kelompok. “Klien khusus”
ini dihadirkan di sana dengan tujuan untuk melibatkannya ke dalam interaksi
sosial yang terjadi dalam kelompok, dan dengan keterlibatan yang intensif yang
terjadi dalam kelompok, dan dengan keterlibatan yang intensif itu ia (atau
mereka) diharapkan dapat memetik berbagai hal berkenaan dengan masalah-
masalah yang ia atau mereka alami. “Tujuan khusus” untuk “klien khusus” itu
tidak perlu disampaikan kepada anggota kelompok lainnya. Hal ini dimaksudkan
agar dalam dinamika interaksi sosial “klien khusus” itu tidak diperlukan secara
khusus. Mereka justru diberi kesempatan untuk menjalani keterlibatan sosial
dalam kenyataan yang sebenarnya, tidak berpura-pura, dan tidak diatur secara
tersendiri.

Untuk memasuki konseling kelompok para anggota atau klien pada
awalnya tidak memerlukan persiapan tertentu. Dengan demikian masalah yang

akan mereka bawa masing-masing ke dalam kelompok besar kemungkinan
berbeda-beda; atau bahkan ada diatara mereka yang menurut kategori Bordin
“tidak bermasalah”. Masalah-masalah yang dibawa oleh masing-masing anggota
itu nantinya akan dikemukakan dalam kegiatan kelompok. Oleh karena itu akan
muncul sejumlah masalah yang berbeda-beda yang akan dibicarakan melalui
dinamika interaksi sosial dalam kelompok itu.
Satu hal yang perlu mendapat perhatian khusus, ialah sifat isi
pembicaraan dalam konseling kelompok. Sebagaimana dalam konseling
perorangan, konseling kelompok menghendaki agar para klien (para peserta)
dapat mengungkapkan dan mengemukakan keadaan diri masing-masing
sepenuh-penuhnya dan seterbuka mungkin. Dalam hal ini, asas kerahasiaan
menjadi menonjol. Masing-masing klien perlu mempercayai konselor dan rekan-
rekan mereka sesama anggota kelompok, bahwa kerahasiaan segenap apa yang
mereka kemukakan terjamin sepenuhnya. Meyer dan Smith pada tahun 1977
melalui penelitiannya membuktikan bahwa kurangnya kepercayaan para anggota
tentang terjaminnya kerahasiaan itu akan mengurangi sikap keterbukaan para
anggota (dalam Davis, 1980). Selanjutnya, Davis sendiri mengungkapkan,
berdasarkan hasil penelitiannya bahwa pernyataan konselor yang meyakinkan
dihadapan segenap anggota kelompok bahwa ia benar-benar akan menjaga
kerahasiaan seluruh anggota kelompok secara signifikan mempengaruhi
kehendak dan sikap para anggota itu mengemukakan apa yang ingin
dikemukakan di dalam kelompok itu. Lebih jauh, konselor juga harus membina
semua anggota kelompok agar mereka menyadari pentingnya menjaga rahasia
itu, dan agar mereka saling menjaga rahasia temannya, sehingga dengan
demikian mereka saling mempercayai. Sikap konselor dan para anggota serta
suasana yang sepenuhnya sejalan dengan asas kerahasiaan itu merupakan salah
satu aturan yang khas harus diikuti oleh seluruh warga kelompok, dan hal itu
merupakan ciri khusus pula dari konseling kelompok.
Dari gambaran tersebut tampak dengan jelas perbedaan antara bimbingan
kelompok dan konseling kelompok, yaitu sebagai berikut :

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->