P. 1
Jenis Dan Layanan Bimb. Konseling

Jenis Dan Layanan Bimb. Konseling

|Views: 6,430|Likes:
Published by Faizal

More info:

Published by: Faizal on May 04, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/20/2015

pdf

text

original

Masih ada beberapa kegiatan khusus yang memerlukan perhatian
konselor, khusus konselor yang bekerja di sekolah, untuk dapat diselenggarakan
dengan baik. Di sini hanya akan disinggung tiga kegiatan, yaitu konperensi
kasus; bimbingan ke rumah siswa, dan alih tangan klien.

a.

Konferensi Kasus
Konferensi kasus diselenggarakan untuk membicarakan suatu kasus.
Di sekolah, konferensi kasus biasanya diselenggarakan untuk membantu
permasalahan yang dialami oleh seorang siswa. Tujuan konferensi kasus
ialah untuk :
1)Diperolehnya gambaran yang lebih jelas, mendalam dan menyeluruh
tentang permasalahan siswa. Gambaran yang diperoleh itu lengkap
dengan saling sangkut paut data atau keterangan yang satu dengan yang
lain.

2)Terkomunikasinya sejumlah aspek permasalahan kepada pihak-pihak
yang berkepentingan dan yang bersangkutan, sehingga penanganan
masalah itu menjadi lebih mudah dan tuntas.
3)Terkoordinasinya penanganan masalah yang dimaksud sehingga upaya
penanganan itu lebih efektif dan efisien.
Dalam penstrukturan itu konselor perlu membangun persepsi dan
tujuan bersama dengan pertemuan itu dengan arahan sebagai berikut :
1)Tidak menekankan pada nama dan identitas siswa yang permasalahannya
dibicarakan.
2)Tujuan pertemuan pada umumnya, dan semua pembicaraan pada
khususnya ialah semata-mata untuk kepentingan perkembangan dan
kehidupan klien; semua isi pembicaraan ialah untuk kebahagiaan klien.
3)Semua pembicaraan dilakukan secara terbuka, tetapi tidak membicarakan
hal-hal yang negatif tentang diri siswa yang bersangkutan. Permasalahan

siswa disoroti secara objektif dan tidak ditafsirkan secara negatif atau
mengarah kepada hal-hal yang merugikan siswa.
4)Penafsiran data dan rencana-rencana kegiatan dilakukan secara nasional,
sistematik, dan ilmiah.
5)Semua pihak berpegang teguh pada asas kerahasiaan. Semua isi
pembicaraan terbatas hanya untuk keperluan pada saat pertemuan itu saja,
dan tidak boleh dibawa keluar.

b.

Kunjungan Rumah
Kegiatan kunjungan rumah, dan juga pemanggilan orang tua ke
sekolah, setidak-tidaknya memiliki tiga tujuan utama, yaitu :
1)Memperoleh data tambahan tentang permasalahan siswa, khususnya yang
bersangkut paut dengan keadaan rumah/orang tua,
2)Menyampaikan kepada orang tua tentang permasalahan anaknya,
3)Membangun komitmen orang tua terhadap penanganan masalah anaknya.
Ketiga tujuan itu sering kali tampil sekaligus pada waktu kunjungan
rumah atau pemanggilan orang tua ke sekolah; namun demikian, dapat pula
terjadi ketiganya direncanakan secara bertahap sesuai dengan tahap-tahap
penanganan masalah. Untuk menyampaikan tujuan yang mana pun, sebagian
atau bertahap, dalam kunjungan rumah konselor terlebih dahulu :
1)Menyampaikan perlunya kunjungan rumah kepada siswa yang
bersangkutan. Siswa perlu memahami perlunya dan kegunaan kunjungan
itu berkenaan dengan penanganan masalahnya. Kunjungan rumah tidak
dapat dilakukan sebelum siswa memahami kegunaannya itu, dan
mempersilahkannya.
2)Menyusun rencana dan agenda yang konkrit dan menyampaikannya
kepada orang tua yang akan dikunjungi itu. Kunjungan rumah tidak dapat
dilakukan sebelum orang tua mengizinkannya.

c.

Alih Tangan

Kegiatan alih tangan meliputi dua jalur, yaitu jalur kepada konselor
dan jalur dari konselor. Jalur kepada konselor, dalam arti konselor menerima
“kiriman” klien dari pihak-pihak lain, seperti orang tua, kepala sekolah, guru,
pihak atau ahli lain (misalnya dokter, psikiater, psikolog, kepala suatu kantor
atau perusahaan). Sedangkan jalur dari konselor, dalam arti konselor
“mengirimkan” klien yang belum tuntas ditangani kepada ahli-ahli lain,
seperti konselor yang lebih senior, konselor yang membidangi spesialisasi
tertentu, ahli-ahli lain (misalnya guru bidang studi, psikolog, psikiater,
dokter). Konselor menerima klien dari pihak lain dengan harapan klien itu
dapat ditangani sesuai dengan permasalahan klien yang belum atau tidak
tuntas ditangani oleh pihak lain itu; atau permasalahan klien itu tidak sesuai
dengan bidang keahlian pihak yang mengirimkan klien itu. Di sisi lain,
konselor mengalihtangankan klien kepada pihak lain apabila masalah yang
dihadapi klien memang di luar kewenangan konselor untuk menanganinya,
atau setelah konselor berusaha sekuat tenaga memberikan bantuan, namun
permasalahan klien belum berhasil ditangani secara tuntas.
Dalam kaitan itu, Cornier & Bernard (1982) mengemukakan beberapa
praktek yang salah yang hendaknya tidak dilakukan konselor dalam kegiatan
alih tangan, yaitu :
1)Klien tidak diberi alternatif pilihan kepada ahli mana ia akan dialih-
tangankan.
2)Konselor mengalihtangankan klien kepada pihak yang keahliannya
diragukan, atau kepada ahli yang reputasinya kurang dikenal.
3)Konselor membicarakan permasalahan klien kepada calon ahli tempat
alih tangan tanpa persetujuan klien.
4)Konselor menyebutkan nama klien kepada calon ahli tempat alih tangan.
Pelayanan bimbingan dan konseling meliputi berbagai layanan dan
kegiatan penunjang yang semua itu hendaknya dilakukan konselor,
khususnya konselor yang bekerja pada lembaga tertentu (misalnya sekolah)
dengan sejumlah warga lembaga yang menjadi tanggung jawab penuh

konselor sebagai sasaran layanan. Layanan orientasi mengacu pada
diperkenalkannya individu atau klien kepada lingkungan yang baru
dimasukinya. Dengan program orientasi itu proses penyesuaian diri individu
kepada lingkungan biasanya akan lebih cepat sehingga ia dapat menjalani
perkembangan dan kehidupannya di lingkungan yang baru itu secara optimal.
Layanan informasi amat dibutuhkan oleh individu-individu yang
perlu mempertimbangkan dan hendaknya mengambil keputusan tentang
sesuatu (misalnya pilihan sekolah lanjutan), tetapi belum memiliki
pemahaman yang cukup tentang berbagai hal berkenaan dengan apa yang
hendak diputuskan itu. secara garis besar diketahui adanya informasi
pendidikan, informasi jabatan/pekerjaan, dan informasi sosial-budaya.
Berbagai informasi itu diperlukan oleh individu-individu, baik di sekolah
maupun di luar sekolah. Metode layanan informasi yang lazim dipakai ialah
ceramah, diskusi, karyawisata, buku panduan, dan konferensi karier.
Pada siswa yang mengalami masalah belajar, seperti keterlambatan
akademik, ketercepatan belajar, sangat lambat belajar, kurang motivasi
belajar, serta bersikap dan berkebiasaan belajar buruk dalam belajar
memerlukan bimbingan belajar. Masalah-masalah belajar itu dapat
diidentifikasi, melalui sejumlah cara, yaitu melalui pengadministrasian tes
hasil belajar, tes kemampuan dasar, tes diagnostik, analisis hasil belajar atau
karya, dan pengungkapan sikap dan kebiasaan belajar. Upaya penanganan
masalah belajar itu dilakukan melalui sejumlah layanan, antara lain
pengajaran perbaikan, kegiatan pengayaan, peningkatan motivasi, sikap dan
kebiasaan belajar. Semua layanan itu sangat memerlukan kerja sama antara
konselor, guru dan personel sekolah lainnya.
Konseling program merupakan layanan yang amat khas, yaitu
komunikasi langsung tatap muka antara klien dan konselor. Layanan khas ini
sering dianggap sebagai “jantung hatinya” pelayanan bimbingan dan
konseling secara keseluruhan. Apabila “jantung hati” itu telah dikuasai, maka
layanan-layanan lainnya akan mengikut. Layanan konseling perorangan juga

diberi sifat “resmi” dalam arti bahwa layanan itu merupakan usaha yang
disengaja dengan niat yang mantap, memiliki tujuan yang tidak bisa lain
kecuali untuk kepentingan dan kebahagiaan klien, dilaksanakan dalam format
tertentu, dengan mempergunakan metode yang terukur dan teruji, serta
hasilnya dievaluasi dan ditindaklanjuti. Dalam sifatnya yang “resmi” itu
layanan konseling berupa mengentaskan masalah klien melalui sejumlah
langkah umum, yaitu pengenalan/pemahaman masalah klien, analisis sebab-
sebab timbulnya masalah, aplikasi metode khusus pengentasan, evaluasi dan
tindak lanjut. Langkah-langkah umum tersebut diwarnai oleh lima tahap
keefektifan konseling. Para konselor yang menyelenggarakan layanan
konseling perorangan yang unik itu biasanya mendasarkan pelaksanaan
layanan pada pendekatan ataupun teori konseling tertentu. Secara garis besar
pada umumnya dikenal tiga pendekatan, yaitu pendekatan konseling direktif,
non-direktif, dan elektrik. Konselor dapat menganut salah satu pendekatan
itu, namun agaknya pendekatan elektrik lebih banyak pengaruhnya. Layanan
konseling itu dapat diselenggarakan di segenap lingkungan kerja yang
berbeda, di sekolah dasar, sekolah menengah, perguruan tinggi, dan di
masyarakat pada umumnya.

Layanan bimbingan dan konseling kelompok memberikan
kekhususan tersendiri terhadap pelayanan bimbingan dan konseling secara
keseluruhan. Layanan kelompok itu memiliki beberapa keunggulan, yang
paling pokok ialah bahwa ia lebih efisien, lebih ekonomis. Dinamika
interaksi sosial yang terjadi di dalam kelompok memberikan warna khas yang
tidak dapat terjadi pada konseling perorangan misalnya, dan kekhasan ini
memberikan keunggulan yang lain. Interaksi sosial itu memungkinkan
terjadinya suasana bimbingan yang nyata (yang terjadi sehari-hari) di dalam
kelompok. Kekhususan out pula yang merupakan media tersedia bagi upaya
pengentasan masalah klien melalui konseling kelompok. Di samping itu,
konseling kelompok di satu sisi dapat menjadi lahan penjajagan bagi
pelaksanaan konseling perorangan untuk klien tertentu, dan di sisi lain

menjadi lahan latihan pengembangan keterampilan berkomunikasi dan
berinteraksi sosial bagi klien yang oleh konseling perorangan disarankan
untuk melakukan latihan yang dimaksudkan itu. Begitu menonjolkan
keunggulan yang dapat ditampilkan oleh layanan konseling kelompok,
sampai-sampai diramalkan bahwa pada tahun 2000 nanti seluruh pelayanan
bimbingan dan konseling didominasi oleh layanan konseling kelompok.
Pelaksanaan berbagai layanan tersebut perlu ditunjang oleh sejumlah
kegiatan. Instrumentasi bimbingan dan konseling dengan mempergunakan
berbagai teknik tes dan non-teknis perlu dikembangkan oleh konselor.
Penggunaan setiap instrumen hendaknya disertai pertimbangan yang matang,
kemampuan dan ketepatan pengadministrasian/pengolahan dan penafsiran,
serta tanggung jawab yang tinggi. Pemakaian berbagai instrumen itu,
ditambah dengan penyelenggaraan sejumlah prosedur lainnya (antara lain
pengamatan, wawancara dan pengumpulan bahan akan menghasilkan
berbagai data, baik data pribadi, data umum, maupun data kelompok. Data
pribadi disimpan secara khusus dalam bentuk himpunan data. Sedangkan data
umum dan data kelompok dikumpulkan dalam kemasan tersendiri. Semua
data itu, sesuai dengan relevansinya masing-masing, dipergunakan untuk
menunjang sikap jenis layanan yang disebut di atas.
Kegiatan penunjang lain yang cukup penting adalah konferensi kasus,
kunjungan ke rumah, dan penyelenggaraan alih tangan. Masing-masing
kegiatan tersebut memiliki tujuan dan pola-pola pelaksanaannya sendiri yang
kesemuanya tidak lain untuk meningkatkan penyelenggaraan dan
keberhasilan segenap fungsi pelayanan bimbingan dan konseling.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->