IBADAH / AKHLAK TEORI DAN PRAKTEK PENGELOLAAN ZAKAT DI INDONESIA

Nama : Adhi Permana Putra K. No. Mhs : 10522024

JURUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA 2011

Pada tahun 1893 Pemerintah Hindia Belanda (Nederland Indies) mengeluarkan regulasi untuk menghindari penyalahgunaan zakat dengan menunjuk petugas keagamaan seperti naib dan penghulu sebagai pengelola zakat. Lembaga MIAI kemudian mengambil inisiatif untuk membangun baitul maal di Jawa pada tahun 1943. pada masa kemerdekaan dibentuklah Kementerian Agama. kabupaten dan kota serta Lembaga Amil Zakat (LAZ). lalu Presiden menginstruksikan kepada tiga pejabat tinggi negara untuk menyiapkan langkah-langkah yang diperlukan untuk pengumpulan zakat secara nasional. kementerian ini mengeluarkan edaran bahwa kementerian ini tidak berkehendak untuk mencampuri urusan pengumpulan dan pendistribusian zakat Misinya hanyalah mendorong orang untuk membayar zakat dan mengawasi supaya distribusi zakat terselenggara sebagaimana mestinya. pada abad ke-19 di Banten zakat fitrah sebagian besar dibayarkan masyarakat kepada guru agama. pemerintah penjajahan menghidupkan kembali institusi Majelis Islam A`la Indonesia (MIAI). Sementara itu zakat fitrah dibayarkan kepada pejabat urusan keagamaan di tingkat desa seperti khatib dan petugas masjid lainnya. 38 tahun 1999 tentang Pengelolan Zakat. Usulan bertahun-tahun tentang pembagian peran fungsi dan tugas tak tergubris sama sekali. Sementara di Indonesia masalah pengelolaan zakat sampai sekarang belum tuntas. setiap lembaga baik Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). Lalu pada tahun 1905 pemerintah tersebut mengeluarkan regulasi lain (Bijblaad 6200) yang secara khusus melarang petugas pribumi (priyayi dan setingkatnya) untuk mengintervensi pengelolaan zakat. 4 tahun 1968 tentang zakat dan UU No. seluruhnya memainkan peran dan fungsi serupa. Alih-alih terkoordinasi. Namun upaya ini akhirnya gagal karena MIAI dibubarkan pemerintah Jepang pada akhir tahun 1943. Selanjutnya. Kebijakan pemerintah Belanda itu adalah suatu upaya untuk membuat perbedaan yang nyata antara urusan negara dan urusan masyarakat muslim dalam masalah keagamaan. Padahal Indonesia telah memiliki UU No. Pasca pidato. suatu federasi partai politik dan organisasi massa Islam yang telah hidup sebelum Perang Dunia II. 38 tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat. Sebelum lahirnya PMA No. Sebagian pihak menduga. atau pengajar Al Qur`an di desa. 4 tahun 1968 tentang zakat. zakat maal dibayarkan dan dikelola kyai dan ulama lainnya. Belum tuntas permasalahan yang ditimbulkan oleh UU No. justru UU inilah yang menghambat perkembangan zakat. Pada 8 Desember 1951. Pada masa pendudukan Jepang. 38 tahun 1999.TEORI DAN PRAKTEK PENGELOLAAN ZAKAT DI INDONESIA Institusionalisasi zakat oleh Negara Republik Indonesia antara lain mengemuka dari pidato Presiden Soeharto pada peringatan Isra¶ Mi¶raj 26 Oktober 1968. kini . Badan Amil Zakat (Baz) provinsi. Pada kesempatan tersebut ia mengemukakan bahwa dirinya sebagai warga negara akan mengambil bagian dalam proses nasional pengumpulan zakat dan menyerahkan laporan tahunan terhadap pengumpul dan pendistribusinya. Di Jawa Timur. Arskal Salim menyebutkan bahwa langkah tersebut sebetulnya aneh karena sejatinya telah ada Peraturan Menteri Agama (PMA) No.

PENGELOLAAN ZAKAT DALAM TRADISI ISLAM Zakat adalah instrumen ilahiah yang diwajibkan kepada kaum muslim. tetapi tidak kepada yang lainnya jika menurut pertimbangannya hal itu sesuai dengan kepentingan Islam dan kaum muslimin. sebagaimana tidak wajib zakat itu sampai kepada mereka semua. orang yang berhutang. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. orang-orang dalam perjalanan. mualaf. Memang. setiap golongan berhak menuntut hak masing-masing sebagaimana telah ditetapkan Allah. dan para pejuang di jalan Allah (Ibnu Sabil). Imam Al-Syafi¶i dan sahabat-sahabatnya mengatakan bahwa jika yang membagikan zakat itu kepala negara atau wakilnya. amil. Jika ada golongan yang tertinggal. miskin. Siapa yang bertugas membagikan zakat? Biasanya Rasulullah SAW mengirimkan petugaspetugasnya untuk mengumpulkan zakat dan membagi-bagikannya kepada para mustahik. tetapi tidaklah wajib bagi kepala negara membagi sama rata di antara mereka. sejauh manakah Negara Indonesia berhak melakukan intervensi dalam urusan keagamaan masyarakat seperti zakat ini? Guna menjawab pertanyaan ini akan ditelusuri jati diri Negara Indonesia dalam perspektif negara kesejahteraan dan perbandingan dengan praktek-praktek pengelolaan zakat di negara tetangga. Tidak boleh meninggalkan salah satu golongan yang ada. bagiannya wajib diganti. apabila kepala pemerintahan menghimpun semua zakat dari penduduk suatu negeri dan golongan yang delapan lengkap ada. hamba sahaya. Boleh juga memberi kepada yang satu. dan berdo¶alah untuk mereka. Adanya rencana sentralisasi pengelolaan zakat ini akh irnya memunculkan pertanyaan. Ia bahkan dapat memberikan kepada sebagian golongan lebih banyak dari yang lain. di mana dalam draft rancangan pemerintah disebutkan bahwa pengelolaan zakat. Para fuqaha berbeda pendapat dalam pembagian zakat terhadap delapan golongan tersebut. zakat diberikan kepada golongan-golongan yang ada saja. Allah SWT berfirman dalam Surat At-taubah ayat 103 ´Ambillah zakat dari harta mereka dengan guna membersihkan dan mensucikan mereka. Sesungguhnya do¶amu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Jika golongan tersebut tidak lengkap.telah lahir rancangan amandemen UU No. 38 tahun 1999. Lembaga Amil Zakat milik masyarakat yang telah ada nantinya akan berfungsi hanya sebagai unit pengumpul zakat yang terintegrasi secara institusional dengan Badan Amil Zakat milik pemerintah. .´ Berdasarkan surat At-Taubah ayat 60 ada delapan golongan yang berhak menerima zakat yaitu fakir. gugurlah bagian amilin dan bagian itu hendaklah diserahkan kepada tujuh golongan lainnya jika mereka itu ada semua. infak dan sedekah sepenuhnya dikelola oleh negara (sentralisasi) melalui Badan Amil Zakat yang dibentuk pemerintah di semua tingkatan pemerintahan.

Jika suatu kaum menolak untuk mengeluarkannya padahal mereka tetap meyakini kewajibannya dan mereka memiliki kekuatan untuk melarang orang memungutnya dari mereka. tidak ada bedanya antara harta-harta yang jelas maupun yang tersembunyi. yakni jika zakat adalah dari hasil harta yang tersembunyi. lebih utama jika dibagi-bagikan sendiri. maka pembayaran zakat itu diserahkan kepada para pemilik harta itu sendiri. . waktu dilihatnya banyak harta yang tersembunyi. maka mereka harus diperangi hingga mereka mengeluarkannya. Tatkala datang masa pemerintahan Utsman ibn Affan. yang mana jika ada salah seorang dari kaum muslimin yang mengingkari kewajibannya. imam dari kaum muslimin dan para pembesarlah (pemerintah) yang berhak menagih dan memungut zakat. tetapi jika diserahkan kepada negara. Pendapat golongan Syafi¶i serta pengikut-pengikut Hanbali tentang harta-harta yang jelas ini sama dengan pendapat mereka terhadap harta-harta yang tersembunyi. Akan tetapi. tidak ada halangannya. awalnya ia masih menempuh cara tersebut. Seandainya para pemilik sendiri yang membagi-bagikan zakat itu (zakat harta mereka yang tersembunyi) apakah itu lebih utama? Ataukah lebih baik mereka serahkan kepada kepala negara atau imam (petugas) yang akan membagi-bagikannya? Menurut Imam Al-Syafi¶i. kecuali jika ia baru mengenal Islam. maka dia berdosa karena sikapnya tersebut. Maka. jelaslah bahwa zakat merupakan salah satu kewajiban yang telah disepakati oleh para ulama dan telah diketahui oleh semua umat. Para fuqaha telah sepakat bahwa yang bertindak membagikan zakat itu adalah pemilikpemilik itu sendiri.Khalifah Abu Bakar dan Umar ibn Khattab juga melakukan hal yang sama. sedangkan untuk mengumpulkannya itu sulit dan untuk menyelidikinya. maka dia dimaafkan disebabkan karena kejahilannya akan hukum. Adapun mereka yang tidak mengeluarkannya dengan tetap meyakini akan kewajibannya. lebih baik diserahkan kepada imam jika imam itu ternyata adil. sehingga ia termasuk salah satu hal yang mendasar dalam agama. Menurut Imam Hanbali. menyusahkan pemilik-pemilik harta. tetapi hal ini tidak mengeluarkannya dari Islam dan seorang hakim (penguasa) boleh mengambil zakat tersebut dengan paksa beserta setengah hartanya sebagai hukuman atas perbuatannya. menurut Malik dan Imam Hanafi. maka dia telah keluar dari Islam dan dibunuh dalam keadaan kafir. Adapun mengenai harta yang jelas.

Fikih zakat tak boleh dibiarkan mengambang. Dana dari baitul maal berasal dari sumber kekayaan khusus (special wealth) yaitu zakat. pendapatan dari sumber daya alam masyarakat. Padahal zakat bukan hanya wajib. Cara lain agar zakat terhimpun besar adalah dengan menerapkan zakat mengurangi pajak. Inilah paradoksal di Indonesia. Singapura. Dalam penghimpunan zakat. dana zakat akan terhimpun besar. pinjaman. Dengan fikih kemasyarakatan. namun telah ditetapkan sebagai salah satu rukun Islam. utamanya keamanan dari kemiskinan dan penyakit. dengan segera terdongkrak jadi fiqih kemasyarakatan. PERAN NEGARA INDONESIA DALAM PENGELOLAAN ZAKAT Bagaimana dengan Indonesia? Erie Sudewo memandang bahwa masih ada sebagian penduduk Indonesia yang tidak meyakini zakat itu wajib. Ada manfaat lain dengan kebijakan zakat mengurangi pajak. ada perbedaan metode yang berkembang di Indonesia dan Malaysia. Sementara masyarakat melalui berbagai ormas dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) hanya sekedar mengadvokasi. Tak bisa zakat tergantung pada kebaikan hati dan moral muzakki.. dana dari baitul maal. 2. dan Brunei Darussalam. Bagi mereka zakat harus didasarkan pada keikhlasan. Selanjutnya ia berpendapat bahwa ´. dan 4. statusnya dari fikih individu diangkat menjadi fikih kemasyarakatan (ekonomi politik dan sosial). Tidak ikhlas. pajak. Di negerinegeri jiran ini. Yakni status fikih individu zakat. Sementara sebagian muzakki tak yakin bahwa zakat itu wajib.Islam considers the entire community responsible for the food security of all its individuals«one of the categories to whom the revenue of zakah has to be distributed consists of the mu`allafah qulubuhum who include non-Muslims Pemikiran mutakhir terkait peran zakat dalam negara modern dikemukakan oleh Aidit Ghazali. ushr. penghimpunan cenderung terkoordinasi dan terarah.Ismail Luthfi Japakiya menyebutkan bahwa zakat adalah salah satu landasan utama dalam terciptanya kedamaian dan keamanan. Ini kebijakan yang hanya negara yang dapat melakukan. ghanimah. dan sumber kekayaan umum yaitu fa¶i. Tampak sekali . pajak. dan lain-lain sumber yang tidak dimiliki oleh individu dan diserahkan kepada baitul maal. Ia mengemukakan bahwa dalam negara Islam modern ada empat sumber pendapatan negara antara lain adalah : 1. Zakat tak bisa dikembalikan kepada pribadi masing-masing. Fakir miskinnya banyak. Sudah saatnya fiqih zakat. 3. sia-sia ibadahnya.

Maka. Sementara itu Suminto berpendapat pembubaran Depsos itu sama saja dengan pelecehan profesi pekerja sosial. tak jelas memilih pendekatan kesejahteraan sosial yang mana. Kebijakan kesejahteraan sosial secara umum juga bersifat demikian. sama-sama terkoordinasi di bawah majelis agama Islam. Sedang Malaysia punya dua corak berbeda.pertumbuhannya dari masa ke masa. Ada yang menggunakan PPZ khusus untuk menghimpun zakat saja dan ada juga yang menggunakan BM (Baitul Maal) guna menghimpun sekaligus mendayagunakan.Akan halnya pada Undang-Undang Dasar 1945 amandemen 4 menyebutkan bahwa : . Negara berperan dalam kesejahteraan sosial masyarakat hanya ketika institusi institusi lain seperti keluarga dan pasar (market system) mengalami kegagalan. Singapura dan Brunei Darussalam tampaknya punya model serupa. (Dalam nada yang sama Depsos dikatakan tidak efektif. Yang setuju menilai kedua lembaga itu sudah tidak sesuai dengan semangat perkembangan zaman. Berdasarkan paradigma kesejahteraan sosial. Negara berperan secara minimalis. sulit juga untuk menyebut Negara RI sebagai negara kesejahteraan (welfare state). bukan saja tidak lagi diperlukan. Alwi Dahlan . Holil Sulaiman berpendapat bahwa masalah sosial tidak bisa diserahkan begitu saja pada masyarakat. Sebaliknya. Pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tahun 1999 ia membubarkan dua departemen yaitu Departemen Sosial (Depsos) dan Departemen Penerangan (Deppen). Tidak hanya dalam pengelolaan zakat. Pembubaran departemen itu menimbulkan berbagai reaksi pro dan kontra. misalnya. seperti yang diamanatkan pasal 34 UUD 1945. Pengendalian dan pembinaan oleh Deppen (Departemen Penerangan) seperti selama ini. tidak mendidik masyarakat agar mandiri. dan dianggap hanya membagi santunan atau mengurus izin undian). di Indonesia peran negara dalam pengelolaan zakat cenderung bersifat tarik ulur. langkah pembubaran Departemen Sosial oleh pemerintahan Gus Dur menyiratkan bahwa ia memilih paradigma kesejahteraan sosial residual. tetapi sudah bertentangan dengan kemerdekaan pers. Sudah selayaknya pemerintah memikirkan suatu lembaga yang bersifat operasional untuk menggantikan Depsos. seperti terlihat di negara maju. kurang bermanfaat. tidak efisien. Guru Besar FISIP UI. Terkait dengan pembubaran Departemen Sosial (Depsos). menyebutkan bahwa untuk pertama kali sepanjang sejarah Republik Indonesia. dua dari 12 departemen yang sejak awal tercantum dalam Aturan Tambahan Undang-Undang Dasar 1945. Masyarakat harus diberdayakan agar mampu mengembangkan pendapat dan mencari informasinya sendiri. Harus ada lembaga negara yang ikut menanganinya. Suatu masyarakat yang demokratis. tidak lagi terdapat dalam struktur pemerintahan. Namun apakah negara Indonesia memang pantas menganut paradigma kesejahteraan sosial residual ? Sejatinya. sejak awal pendirian Negara RI. tidak memerlukan departemen semacam itu. tanpa propaganda pemerintah. terlalu besar. dan hanya memperberat beban anggaran negara.

zakat dibagikan kepada delapan golongan (asnaf). berlaku pasalpasal sebagai berikut : Pasal 28 E (1) Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya. memilih pekerjaan. 4. Sebaliknya. memilih tempat tinggal di wilayah negara. 40 tahun 2004 tak menyebutkan zakat sebagai salah satu komponen jaminan sosial.Pasal 23 (A): Pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara diatur dengan undang-undang. memilih pendidikan dan pengajaran. Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) No. Undang-Undang ini hanya mengatur seputar jaminan sosial yang terkait dengan asuransi sosial seperti jaminan kesehatan.34 1. Masalahnya adalah apakah zakat termasuk kategori µpungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara?`. zakat dapat diatur dengan Undang -Undang sejauh bersifat memaksa untuk keperluan negara. Berdasarkan pasal 23 A amandemen 4 UUD 45. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang. 3. apabila zakat dianggap sebagai instrumen agama yang merupakan bagian dari ibadah dari umat Islam. dan meninggalkannya. atau memiliki peran sebagai amil yang berwenang mengumpulkan dan membagikan zakat kepada delapan golongan? Kemudian. Negara mengembangkan sistim jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesu dengan martabat ai kemanusiaan. terkait dengan Pasal 34 amandemen 4 UUD 45 disebutkan pada ayat (2) bahwa negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai de ngan martabat kemanusiaan. Karena sesuai dengan surat At-Taubah ayat 60. hal ini tentu akan menimbulkan debat berkepanjangan. serta berhak kembali. Apakah negara termasuk delapan golongan. memilih kewarganegaraan. Negara bertanggungjawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak. Pasalnya. Pasal. jaminan pensiun dan jaminan terhadap kematian. jaminan terhadap kecelakaan kerja. . jaminan hari tua. Fakir miskin dan anak-anak telantar dipelihara oleh negara. terkait dengan zakat. 2.

yang mampu menjalankan perannya secara efektif. Begitu pula sebaliknya.29 1. Artinya Fukuyama mengatakan bahwa negara harus diperkuat. Negara adalah institusi yang paling absah yang memiliki kewenangan menarik pajak dari rakyat. melainkan pula menyulut konflik sosial dan perang sipil yang meminta korban jutaan jiwa. Benar negara bukanlah satu -satunya aktor yang dapat menyelenggarakan pelayanan sosial. Masyarakat. pengumpulan dan penyaluran zakat harus dikembalikan kepada setiap orang dan setiap orang memiliki kebebasan untuk melakukan pengumpulan dan penyaluran zakat atas dasar keyakinan ibadahnya. Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing. Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa. Namun. Oleh karena itu. dan karenanya paling berkewajiban menyediakan pelayanan sosial dasar bagi warganya. pelayanan sosial tidak dapat dan tidak boleh diserahkan begitu saja kepada masyarakat dan pihak swasta. dalam konteks kebijakan sosial yang berkeadilan. 38 tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat di mana pemerintah mengelola zakat melalui Badan Amil Zakat (Pasal 6). Francis Fukuyama (2005) dalam bukunya State-Building : Governance and World Order in the 21st Century.masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu Maka. dunia usaha dan bahkan lembaga-lembaga kemanusiaan internasional memiliki peran penting dalam penyelenggaraan pelayanan sosial. Kesejahteraan menurut Fukuyama tidak mungkin tercapai tanpa hadirnya negara yang kuat.Pasal. Muslims. As a pilla or the faith. zakat is prescribed in the Qur`an with the specific purposes of ensuring necessary social assistance. Pentingnya penguatan negara ini terutama sangat signifikan dalam konteks kebijakan sosial. negara yang kuat tidak akan bertahan lama jika tidak mampu menciptakan kesejahteraan warganya. menunjukkan bahwa pengurangan peran negara dalam hal-hal yang memang merupakan fungsinya hanya akan menimbulkan problematika baru. 2. Bukan hanya memperparah kemiskinan dan kesenjangan sosial. berdasarkan kedua pasal tersebut. or other. sebagai salah satu bentuk kebijakan sosial dan public goods. Muhammad Hashim Kamali menyebutkan bahwa : Islam proposes a welfare state as is evident from the overall emphasis in the Qur`an and Sunna on helping the helpless. the needy and the poor. . Terkait dengan peran negara dalam pengelolaan zakat. is one of the main purposes for which state revenues. peran negara dan masyarakat tidak dalam posisi yang paradoksal melainkan dua posisi yang bersinergi. Satisfaction of the basic requirements of those who are in need. Hal ini yang antara lain mendasari UU No. namun juga membuka ruang bagi masyarakat untuk turut mengelola zakat melalui Lembaga Amil Zakat (pasal 7). Bahkan di Indonesia komitmen dan peran negara dalam pelayanan sosial seharusnya diperkuat dan bukannya diperlemah seperti diusulkan kaum neoliberalisme pemuja pasar bebas. whether from zakat or other taxes and charities.

tidak juga menunjukkan bahwa Negara RI adalah negara kesejahteraan (welfare state) yang telah melaksanakannya kewajibannya secara penuh untuk memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya apakah dengan pendekatan institusional ataupun developmental. Konstitusi UUD 1945 dan berbagai macam perundang-undangan tidak menyebutkan secara eksplisit bahwa negara adalah satusatunya penyelenggara zakat. Berdasarkan uraian di atas. The Prophet himself as head of state clearly indicated that the state is committed to this purpose. Maka.are to be expanded. secara legal dan konstitusional negara Indonesia tidak memiliki kewenangan secara mutlak untuk mengelola zakat. Dalam kondisi seperti ini apakah hukumnya wajib menyerahkan pengelolaan zakat sepenuhnya kepada penguasa / negara? Muhammad Rasyid Ridha menafsirkan bahwa ketika pemerintahannya adalah pemerintahan Islam dan pemimpin-pemimpinnya adalah pemimpin muslim yang amanah maka pengelolaan zakat sepenuhnya berada di tangan negara. Namun ketika pemerintahannya bukan pemerintahan Islam kendati pemimpin-pemimpinnya muslim maka ketentuan tersebut tidak berlaku secara otomatis. Secara praktek kesejahteraan sosial yang dilakukan Negara RI selama ini. yuridis. maka sungguh tidak jelas apa pijakan filosofis. Permasalahan kemudian adalah. termasuk dalam pengelolaan zakat memang harus dominan. Hal ini ditunjang pula oleh kenyataan sejarah dari Sirah Nabawiyah dan kepemimpinan para khalifah yang memang mengelola langsung zakat dari masyarakat. maupun sosiologisnya. ketika ada upaya amandemen UU No. Yang terjadi selama ini adalah ketidakjelasan dan tarik ulur kebijakan dan implementasi kesejahteraan sosial. Dasar negara Indonesia juga bukanlah Islam kendati pemerintahannya mayoritas dipimpin oleh umat Islam. Indonesia bukanlah negara Islam kendati penduduknya mayoritas muslim yang bahkan berjumlah terbesar di dunia. menyiratkan bahwa peran negara dalam kesejahteraan sosial. Pendapat Francis Fukuyuma (sebagaimana dikutip oleh Edi Suharto) dan juga Muhammad Hashim Kamali. 38 tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat yang meletakkan negara sebagai satu-satunya institusi yang berwenang mengelola zakat. .