P. 1
Teori Dan Praktek Pengelolaan Zakat Di Indonesia

Teori Dan Praktek Pengelolaan Zakat Di Indonesia

|Views: 734|Likes:
Published by dhee_92957

More info:

Published by: dhee_92957 on May 04, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/20/2012

pdf

text

original

IBADAH / AKHLAK TEORI DAN PRAKTEK PENGELOLAAN ZAKAT DI INDONESIA

Nama : Adhi Permana Putra K. No. Mhs : 10522024

JURUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA 2011

Pada 8 Desember 1951.TEORI DAN PRAKTEK PENGELOLAAN ZAKAT DI INDONESIA Institusionalisasi zakat oleh Negara Republik Indonesia antara lain mengemuka dari pidato Presiden Soeharto pada peringatan Isra¶ Mi¶raj 26 Oktober 1968. pemerintah penjajahan menghidupkan kembali institusi Majelis Islam A`la Indonesia (MIAI). Usulan bertahun-tahun tentang pembagian peran fungsi dan tugas tak tergubris sama sekali. kementerian ini mengeluarkan edaran bahwa kementerian ini tidak berkehendak untuk mencampuri urusan pengumpulan dan pendistribusian zakat Misinya hanyalah mendorong orang untuk membayar zakat dan mengawasi supaya distribusi zakat terselenggara sebagaimana mestinya. Sebelum lahirnya PMA No. 4 tahun 1968 tentang zakat dan UU No. setiap lembaga baik Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). 38 tahun 1999. pada masa kemerdekaan dibentuklah Kementerian Agama. lalu Presiden menginstruksikan kepada tiga pejabat tinggi negara untuk menyiapkan langkah-langkah yang diperlukan untuk pengumpulan zakat secara nasional. pada abad ke-19 di Banten zakat fitrah sebagian besar dibayarkan masyarakat kepada guru agama. Pada kesempatan tersebut ia mengemukakan bahwa dirinya sebagai warga negara akan mengambil bagian dalam proses nasional pengumpulan zakat dan menyerahkan laporan tahunan terhadap pengumpul dan pendistribusinya. justru UU inilah yang menghambat perkembangan zakat. Sementara di Indonesia masalah pengelolaan zakat sampai sekarang belum tuntas. Pada tahun 1893 Pemerintah Hindia Belanda (Nederland Indies) mengeluarkan regulasi untuk menghindari penyalahgunaan zakat dengan menunjuk petugas keagamaan seperti naib dan penghulu sebagai pengelola zakat. kini . Namun upaya ini akhirnya gagal karena MIAI dibubarkan pemerintah Jepang pada akhir tahun 1943. 38 tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat. Belum tuntas permasalahan yang ditimbulkan oleh UU No. Arskal Salim menyebutkan bahwa langkah tersebut sebetulnya aneh karena sejatinya telah ada Peraturan Menteri Agama (PMA) No. Sementara itu zakat fitrah dibayarkan kepada pejabat urusan keagamaan di tingkat desa seperti khatib dan petugas masjid lainnya. Alih-alih terkoordinasi. Sebagian pihak menduga. atau pengajar Al Qur`an di desa. suatu federasi partai politik dan organisasi massa Islam yang telah hidup sebelum Perang Dunia II. Lembaga MIAI kemudian mengambil inisiatif untuk membangun baitul maal di Jawa pada tahun 1943. seluruhnya memainkan peran dan fungsi serupa. Pasca pidato. 4 tahun 1968 tentang zakat. kabupaten dan kota serta Lembaga Amil Zakat (LAZ). zakat maal dibayarkan dan dikelola kyai dan ulama lainnya. Lalu pada tahun 1905 pemerintah tersebut mengeluarkan regulasi lain (Bijblaad 6200) yang secara khusus melarang petugas pribumi (priyayi dan setingkatnya) untuk mengintervensi pengelolaan zakat. Di Jawa Timur. 38 tahun 1999 tentang Pengelolan Zakat. Padahal Indonesia telah memiliki UU No. Selanjutnya. Badan Amil Zakat (Baz) provinsi. Pada masa pendudukan Jepang. Kebijakan pemerintah Belanda itu adalah suatu upaya untuk membuat perbedaan yang nyata antara urusan negara dan urusan masyarakat muslim dalam masalah keagamaan.

Adanya rencana sentralisasi pengelolaan zakat ini akh irnya memunculkan pertanyaan. Jika ada golongan yang tertinggal. 38 tahun 1999.telah lahir rancangan amandemen UU No. tetapi tidak kepada yang lainnya jika menurut pertimbangannya hal itu sesuai dengan kepentingan Islam dan kaum muslimin. sejauh manakah Negara Indonesia berhak melakukan intervensi dalam urusan keagamaan masyarakat seperti zakat ini? Guna menjawab pertanyaan ini akan ditelusuri jati diri Negara Indonesia dalam perspektif negara kesejahteraan dan perbandingan dengan praktek-praktek pengelolaan zakat di negara tetangga. PENGELOLAAN ZAKAT DALAM TRADISI ISLAM Zakat adalah instrumen ilahiah yang diwajibkan kepada kaum muslim. Boleh juga memberi kepada yang satu. mualaf. hamba sahaya. Allah SWT berfirman dalam Surat At-taubah ayat 103 ´Ambillah zakat dari harta mereka dengan guna membersihkan dan mensucikan mereka. Jika golongan tersebut tidak lengkap. dan berdo¶alah untuk mereka. setiap golongan berhak menuntut hak masing-masing sebagaimana telah ditetapkan Allah. Ia bahkan dapat memberikan kepada sebagian golongan lebih banyak dari yang lain. gugurlah bagian amilin dan bagian itu hendaklah diserahkan kepada tujuh golongan lainnya jika mereka itu ada semua. orang-orang dalam perjalanan. . Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. tetapi tidaklah wajib bagi kepala negara membagi sama rata di antara mereka. dan para pejuang di jalan Allah (Ibnu Sabil). Siapa yang bertugas membagikan zakat? Biasanya Rasulullah SAW mengirimkan petugaspetugasnya untuk mengumpulkan zakat dan membagi-bagikannya kepada para mustahik. Sesungguhnya do¶amu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. amil. sebagaimana tidak wajib zakat itu sampai kepada mereka semua. Tidak boleh meninggalkan salah satu golongan yang ada. di mana dalam draft rancangan pemerintah disebutkan bahwa pengelolaan zakat. miskin.´ Berdasarkan surat At-Taubah ayat 60 ada delapan golongan yang berhak menerima zakat yaitu fakir. Para fuqaha berbeda pendapat dalam pembagian zakat terhadap delapan golongan tersebut. Memang. infak dan sedekah sepenuhnya dikelola oleh negara (sentralisasi) melalui Badan Amil Zakat yang dibentuk pemerintah di semua tingkatan pemerintahan. Imam Al-Syafi¶i dan sahabat-sahabatnya mengatakan bahwa jika yang membagikan zakat itu kepala negara atau wakilnya. zakat diberikan kepada golongan-golongan yang ada saja. apabila kepala pemerintahan menghimpun semua zakat dari penduduk suatu negeri dan golongan yang delapan lengkap ada. Lembaga Amil Zakat milik masyarakat yang telah ada nantinya akan berfungsi hanya sebagai unit pengumpul zakat yang terintegrasi secara institusional dengan Badan Amil Zakat milik pemerintah. orang yang berhutang. bagiannya wajib diganti.

kecuali jika ia baru mengenal Islam. Menurut Imam Hanbali. Pendapat golongan Syafi¶i serta pengikut-pengikut Hanbali tentang harta-harta yang jelas ini sama dengan pendapat mereka terhadap harta-harta yang tersembunyi. sedangkan untuk mengumpulkannya itu sulit dan untuk menyelidikinya. Adapun mereka yang tidak mengeluarkannya dengan tetap meyakini akan kewajibannya. maka dia dimaafkan disebabkan karena kejahilannya akan hukum.Khalifah Abu Bakar dan Umar ibn Khattab juga melakukan hal yang sama. Adapun mengenai harta yang jelas. Tatkala datang masa pemerintahan Utsman ibn Affan. Para fuqaha telah sepakat bahwa yang bertindak membagikan zakat itu adalah pemilikpemilik itu sendiri. Seandainya para pemilik sendiri yang membagi-bagikan zakat itu (zakat harta mereka yang tersembunyi) apakah itu lebih utama? Ataukah lebih baik mereka serahkan kepada kepala negara atau imam (petugas) yang akan membagi-bagikannya? Menurut Imam Al-Syafi¶i. maka dia berdosa karena sikapnya tersebut. tetapi hal ini tidak mengeluarkannya dari Islam dan seorang hakim (penguasa) boleh mengambil zakat tersebut dengan paksa beserta setengah hartanya sebagai hukuman atas perbuatannya. maka pembayaran zakat itu diserahkan kepada para pemilik harta itu sendiri. tidak ada bedanya antara harta-harta yang jelas maupun yang tersembunyi. sehingga ia termasuk salah satu hal yang mendasar dalam agama. menurut Malik dan Imam Hanafi. maka dia telah keluar dari Islam dan dibunuh dalam keadaan kafir. lebih baik diserahkan kepada imam jika imam itu ternyata adil. awalnya ia masih menempuh cara tersebut. menyusahkan pemilik-pemilik harta. tetapi jika diserahkan kepada negara. Maka. yakni jika zakat adalah dari hasil harta yang tersembunyi. lebih utama jika dibagi-bagikan sendiri. imam dari kaum muslimin dan para pembesarlah (pemerintah) yang berhak menagih dan memungut zakat. . Jika suatu kaum menolak untuk mengeluarkannya padahal mereka tetap meyakini kewajibannya dan mereka memiliki kekuatan untuk melarang orang memungutnya dari mereka. jelaslah bahwa zakat merupakan salah satu kewajiban yang telah disepakati oleh para ulama dan telah diketahui oleh semua umat. Akan tetapi. maka mereka harus diperangi hingga mereka mengeluarkannya. tidak ada halangannya. yang mana jika ada salah seorang dari kaum muslimin yang mengingkari kewajibannya. waktu dilihatnya banyak harta yang tersembunyi.

namun telah ditetapkan sebagai salah satu rukun Islam. Padahal zakat bukan hanya wajib. dan 4. Singapura.Ismail Luthfi Japakiya menyebutkan bahwa zakat adalah salah satu landasan utama dalam terciptanya kedamaian dan keamanan. Ada manfaat lain dengan kebijakan zakat mengurangi pajak. Sudah saatnya fiqih zakat. Dana dari baitul maal berasal dari sumber kekayaan khusus (special wealth) yaitu zakat. pinjaman. Tampak sekali . ghanimah. Fikih zakat tak boleh dibiarkan mengambang. ada perbedaan metode yang berkembang di Indonesia dan Malaysia. Tidak ikhlas. Tak bisa zakat tergantung pada kebaikan hati dan moral muzakki. dan lain-lain sumber yang tidak dimiliki oleh individu dan diserahkan kepada baitul maal. dengan segera terdongkrak jadi fiqih kemasyarakatan. Dengan fikih kemasyarakatan. Yakni status fikih individu zakat. dan sumber kekayaan umum yaitu fa¶i. 3. PERAN NEGARA INDONESIA DALAM PENGELOLAAN ZAKAT Bagaimana dengan Indonesia? Erie Sudewo memandang bahwa masih ada sebagian penduduk Indonesia yang tidak meyakini zakat itu wajib. utamanya keamanan dari kemiskinan dan penyakit. Zakat tak bisa dikembalikan kepada pribadi masing-masing. Fakir miskinnya banyak. Sementara masyarakat melalui berbagai ormas dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) hanya sekedar mengadvokasi. pajak.. dana dari baitul maal. Di negerinegeri jiran ini. Cara lain agar zakat terhimpun besar adalah dengan menerapkan zakat mengurangi pajak. dana zakat akan terhimpun besar. Inilah paradoksal di Indonesia. Selanjutnya ia berpendapat bahwa ´. Dalam penghimpunan zakat. ushr. statusnya dari fikih individu diangkat menjadi fikih kemasyarakatan (ekonomi politik dan sosial). sia-sia ibadahnya. Bagi mereka zakat harus didasarkan pada keikhlasan.Islam considers the entire community responsible for the food security of all its individuals«one of the categories to whom the revenue of zakah has to be distributed consists of the mu`allafah qulubuhum who include non-Muslims Pemikiran mutakhir terkait peran zakat dalam negara modern dikemukakan oleh Aidit Ghazali. Ia mengemukakan bahwa dalam negara Islam modern ada empat sumber pendapatan negara antara lain adalah : 1. pajak. 2. penghimpunan cenderung terkoordinasi dan terarah. dan Brunei Darussalam. Sementara sebagian muzakki tak yakin bahwa zakat itu wajib. pendapatan dari sumber daya alam masyarakat. Ini kebijakan yang hanya negara yang dapat melakukan.

tetapi sudah bertentangan dengan kemerdekaan pers. Pengendalian dan pembinaan oleh Deppen (Departemen Penerangan) seperti selama ini.pertumbuhannya dari masa ke masa. Maka. tidak memerlukan departemen semacam itu. sejak awal pendirian Negara RI. Kebijakan kesejahteraan sosial secara umum juga bersifat demikian. Sementara itu Suminto berpendapat pembubaran Depsos itu sama saja dengan pelecehan profesi pekerja sosial. Sudah selayaknya pemerintah memikirkan suatu lembaga yang bersifat operasional untuk menggantikan Depsos. Sebaliknya. Tidak hanya dalam pengelolaan zakat. Singapura dan Brunei Darussalam tampaknya punya model serupa. Sedang Malaysia punya dua corak berbeda. Namun apakah negara Indonesia memang pantas menganut paradigma kesejahteraan sosial residual ? Sejatinya. Yang setuju menilai kedua lembaga itu sudah tidak sesuai dengan semangat perkembangan zaman. tidak mendidik masyarakat agar mandiri.Akan halnya pada Undang-Undang Dasar 1945 amandemen 4 menyebutkan bahwa : . Terkait dengan pembubaran Departemen Sosial (Depsos). tak jelas memilih pendekatan kesejahteraan sosial yang mana. Berdasarkan paradigma kesejahteraan sosial. (Dalam nada yang sama Depsos dikatakan tidak efektif. Harus ada lembaga negara yang ikut menanganinya. terlalu besar. menyebutkan bahwa untuk pertama kali sepanjang sejarah Republik Indonesia. Guru Besar FISIP UI. Suatu masyarakat yang demokratis. dan hanya memperberat beban anggaran negara. Holil Sulaiman berpendapat bahwa masalah sosial tidak bisa diserahkan begitu saja pada masyarakat. bukan saja tidak lagi diperlukan. tanpa propaganda pemerintah. Pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tahun 1999 ia membubarkan dua departemen yaitu Departemen Sosial (Depsos) dan Departemen Penerangan (Deppen). Ada yang menggunakan PPZ khusus untuk menghimpun zakat saja dan ada juga yang menggunakan BM (Baitul Maal) guna menghimpun sekaligus mendayagunakan. langkah pembubaran Departemen Sosial oleh pemerintahan Gus Dur menyiratkan bahwa ia memilih paradigma kesejahteraan sosial residual. Alwi Dahlan . dan dianggap hanya membagi santunan atau mengurus izin undian). kurang bermanfaat. Masyarakat harus diberdayakan agar mampu mengembangkan pendapat dan mencari informasinya sendiri. Pembubaran departemen itu menimbulkan berbagai reaksi pro dan kontra. sama-sama terkoordinasi di bawah majelis agama Islam. misalnya. sulit juga untuk menyebut Negara RI sebagai negara kesejahteraan (welfare state). tidak lagi terdapat dalam struktur pemerintahan. di Indonesia peran negara dalam pengelolaan zakat cenderung bersifat tarik ulur. seperti yang diamanatkan pasal 34 UUD 1945. Negara berperan dalam kesejahteraan sosial masyarakat hanya ketika institusi institusi lain seperti keluarga dan pasar (market system) mengalami kegagalan. Negara berperan secara minimalis. tidak efisien. dua dari 12 departemen yang sejak awal tercantum dalam Aturan Tambahan Undang-Undang Dasar 1945. seperti terlihat di negara maju.

Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) No. 2. terkait dengan Pasal 34 amandemen 4 UUD 45 disebutkan pada ayat (2) bahwa negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai de ngan martabat kemanusiaan. dan meninggalkannya. Apakah negara termasuk delapan golongan. hal ini tentu akan menimbulkan debat berkepanjangan. memilih pekerjaan. jaminan terhadap kecelakaan kerja. zakat dapat diatur dengan Undang -Undang sejauh bersifat memaksa untuk keperluan negara. Masalahnya adalah apakah zakat termasuk kategori µpungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara?`. memilih kewarganegaraan. 40 tahun 2004 tak menyebutkan zakat sebagai salah satu komponen jaminan sosial. jaminan pensiun dan jaminan terhadap kematian. atau memiliki peran sebagai amil yang berwenang mengumpulkan dan membagikan zakat kepada delapan golongan? Kemudian. Negara mengembangkan sistim jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesu dengan martabat ai kemanusiaan. memilih tempat tinggal di wilayah negara. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang. Karena sesuai dengan surat At-Taubah ayat 60. 3.34 1. 4. Pasal. . zakat dibagikan kepada delapan golongan (asnaf). berlaku pasalpasal sebagai berikut : Pasal 28 E (1) Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya. Negara bertanggungjawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak.Pasal 23 (A): Pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara diatur dengan undang-undang. Berdasarkan pasal 23 A amandemen 4 UUD 45. jaminan hari tua. Pasalnya. Undang-Undang ini hanya mengatur seputar jaminan sosial yang terkait dengan asuransi sosial seperti jaminan kesehatan. Fakir miskin dan anak-anak telantar dipelihara oleh negara. apabila zakat dianggap sebagai instrumen agama yang merupakan bagian dari ibadah dari umat Islam. Sebaliknya. memilih pendidikan dan pengajaran. terkait dengan zakat. serta berhak kembali.

the needy and the poor. Muslims. Terkait dengan peran negara dalam pengelolaan zakat. menunjukkan bahwa pengurangan peran negara dalam hal-hal yang memang merupakan fungsinya hanya akan menimbulkan problematika baru. yang mampu menjalankan perannya secara efektif. dalam konteks kebijakan sosial yang berkeadilan. Masyarakat. Hal ini yang antara lain mendasari UU No. Muhammad Hashim Kamali menyebutkan bahwa : Islam proposes a welfare state as is evident from the overall emphasis in the Qur`an and Sunna on helping the helpless. sebagai salah satu bentuk kebijakan sosial dan public goods. negara yang kuat tidak akan bertahan lama jika tidak mampu menciptakan kesejahteraan warganya.Pasal. Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa. Negara adalah institusi yang paling absah yang memiliki kewenangan menarik pajak dari rakyat. whether from zakat or other taxes and charities.masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu Maka. Francis Fukuyama (2005) dalam bukunya State-Building : Governance and World Order in the 21st Century. Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing. 38 tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat di mana pemerintah mengelola zakat melalui Badan Amil Zakat (Pasal 6). dunia usaha dan bahkan lembaga-lembaga kemanusiaan internasional memiliki peran penting dalam penyelenggaraan pelayanan sosial. Artinya Fukuyama mengatakan bahwa negara harus diperkuat. pelayanan sosial tidak dapat dan tidak boleh diserahkan begitu saja kepada masyarakat dan pihak swasta. is one of the main purposes for which state revenues. namun juga membuka ruang bagi masyarakat untuk turut mengelola zakat melalui Lembaga Amil Zakat (pasal 7). 2. berdasarkan kedua pasal tersebut. Begitu pula sebaliknya. Benar negara bukanlah satu -satunya aktor yang dapat menyelenggarakan pelayanan sosial. Oleh karena itu. Bukan hanya memperparah kemiskinan dan kesenjangan sosial. . Namun. Bahkan di Indonesia komitmen dan peran negara dalam pelayanan sosial seharusnya diperkuat dan bukannya diperlemah seperti diusulkan kaum neoliberalisme pemuja pasar bebas. Kesejahteraan menurut Fukuyama tidak mungkin tercapai tanpa hadirnya negara yang kuat.29 1. peran negara dan masyarakat tidak dalam posisi yang paradoksal melainkan dua posisi yang bersinergi. Satisfaction of the basic requirements of those who are in need. As a pilla or the faith. Pentingnya penguatan negara ini terutama sangat signifikan dalam konteks kebijakan sosial. melainkan pula menyulut konflik sosial dan perang sipil yang meminta korban jutaan jiwa. dan karenanya paling berkewajiban menyediakan pelayanan sosial dasar bagi warganya. zakat is prescribed in the Qur`an with the specific purposes of ensuring necessary social assistance. pengumpulan dan penyaluran zakat harus dikembalikan kepada setiap orang dan setiap orang memiliki kebebasan untuk melakukan pengumpulan dan penyaluran zakat atas dasar keyakinan ibadahnya. or other.

Dasar negara Indonesia juga bukanlah Islam kendati pemerintahannya mayoritas dipimpin oleh umat Islam. Berdasarkan uraian di atas. maka sungguh tidak jelas apa pijakan filosofis. Yang terjadi selama ini adalah ketidakjelasan dan tarik ulur kebijakan dan implementasi kesejahteraan sosial. Secara praktek kesejahteraan sosial yang dilakukan Negara RI selama ini. . Pendapat Francis Fukuyuma (sebagaimana dikutip oleh Edi Suharto) dan juga Muhammad Hashim Kamali. termasuk dalam pengelolaan zakat memang harus dominan. menyiratkan bahwa peran negara dalam kesejahteraan sosial. Permasalahan kemudian adalah. Maka. yuridis. 38 tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat yang meletakkan negara sebagai satu-satunya institusi yang berwenang mengelola zakat. Konstitusi UUD 1945 dan berbagai macam perundang-undangan tidak menyebutkan secara eksplisit bahwa negara adalah satusatunya penyelenggara zakat. tidak juga menunjukkan bahwa Negara RI adalah negara kesejahteraan (welfare state) yang telah melaksanakannya kewajibannya secara penuh untuk memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya apakah dengan pendekatan institusional ataupun developmental.are to be expanded. Dalam kondisi seperti ini apakah hukumnya wajib menyerahkan pengelolaan zakat sepenuhnya kepada penguasa / negara? Muhammad Rasyid Ridha menafsirkan bahwa ketika pemerintahannya adalah pemerintahan Islam dan pemimpin-pemimpinnya adalah pemimpin muslim yang amanah maka pengelolaan zakat sepenuhnya berada di tangan negara. maupun sosiologisnya. secara legal dan konstitusional negara Indonesia tidak memiliki kewenangan secara mutlak untuk mengelola zakat. Hal ini ditunjang pula oleh kenyataan sejarah dari Sirah Nabawiyah dan kepemimpinan para khalifah yang memang mengelola langsung zakat dari masyarakat. Namun ketika pemerintahannya bukan pemerintahan Islam kendati pemimpin-pemimpinnya muslim maka ketentuan tersebut tidak berlaku secara otomatis. The Prophet himself as head of state clearly indicated that the state is committed to this purpose. Indonesia bukanlah negara Islam kendati penduduknya mayoritas muslim yang bahkan berjumlah terbesar di dunia. ketika ada upaya amandemen UU No.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->