IBADAH / AKHLAK TEORI DAN PRAKTEK PENGELOLAAN ZAKAT DI INDONESIA

Nama : Adhi Permana Putra K. No. Mhs : 10522024

JURUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA 2011

Namun upaya ini akhirnya gagal karena MIAI dibubarkan pemerintah Jepang pada akhir tahun 1943. 4 tahun 1968 tentang zakat. atau pengajar Al Qur`an di desa.TEORI DAN PRAKTEK PENGELOLAAN ZAKAT DI INDONESIA Institusionalisasi zakat oleh Negara Republik Indonesia antara lain mengemuka dari pidato Presiden Soeharto pada peringatan Isra¶ Mi¶raj 26 Oktober 1968. Usulan bertahun-tahun tentang pembagian peran fungsi dan tugas tak tergubris sama sekali. Sebelum lahirnya PMA No. zakat maal dibayarkan dan dikelola kyai dan ulama lainnya. Belum tuntas permasalahan yang ditimbulkan oleh UU No. Padahal Indonesia telah memiliki UU No. seluruhnya memainkan peran dan fungsi serupa. justru UU inilah yang menghambat perkembangan zakat. lalu Presiden menginstruksikan kepada tiga pejabat tinggi negara untuk menyiapkan langkah-langkah yang diperlukan untuk pengumpulan zakat secara nasional. pada masa kemerdekaan dibentuklah Kementerian Agama. 4 tahun 1968 tentang zakat dan UU No. Di Jawa Timur. Pada 8 Desember 1951. setiap lembaga baik Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). Pada masa pendudukan Jepang. Sementara di Indonesia masalah pengelolaan zakat sampai sekarang belum tuntas. 38 tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat. Lalu pada tahun 1905 pemerintah tersebut mengeluarkan regulasi lain (Bijblaad 6200) yang secara khusus melarang petugas pribumi (priyayi dan setingkatnya) untuk mengintervensi pengelolaan zakat. Alih-alih terkoordinasi. kementerian ini mengeluarkan edaran bahwa kementerian ini tidak berkehendak untuk mencampuri urusan pengumpulan dan pendistribusian zakat Misinya hanyalah mendorong orang untuk membayar zakat dan mengawasi supaya distribusi zakat terselenggara sebagaimana mestinya. Sebagian pihak menduga. 38 tahun 1999. Arskal Salim menyebutkan bahwa langkah tersebut sebetulnya aneh karena sejatinya telah ada Peraturan Menteri Agama (PMA) No. suatu federasi partai politik dan organisasi massa Islam yang telah hidup sebelum Perang Dunia II. Pada tahun 1893 Pemerintah Hindia Belanda (Nederland Indies) mengeluarkan regulasi untuk menghindari penyalahgunaan zakat dengan menunjuk petugas keagamaan seperti naib dan penghulu sebagai pengelola zakat. Pada kesempatan tersebut ia mengemukakan bahwa dirinya sebagai warga negara akan mengambil bagian dalam proses nasional pengumpulan zakat dan menyerahkan laporan tahunan terhadap pengumpul dan pendistribusinya. Lembaga MIAI kemudian mengambil inisiatif untuk membangun baitul maal di Jawa pada tahun 1943. Sementara itu zakat fitrah dibayarkan kepada pejabat urusan keagamaan di tingkat desa seperti khatib dan petugas masjid lainnya. pada abad ke-19 di Banten zakat fitrah sebagian besar dibayarkan masyarakat kepada guru agama. kabupaten dan kota serta Lembaga Amil Zakat (LAZ). Selanjutnya. Pasca pidato. pemerintah penjajahan menghidupkan kembali institusi Majelis Islam A`la Indonesia (MIAI). Kebijakan pemerintah Belanda itu adalah suatu upaya untuk membuat perbedaan yang nyata antara urusan negara dan urusan masyarakat muslim dalam masalah keagamaan. kini . Badan Amil Zakat (Baz) provinsi. 38 tahun 1999 tentang Pengelolan Zakat.

dan para pejuang di jalan Allah (Ibnu Sabil). Boleh juga memberi kepada yang satu. setiap golongan berhak menuntut hak masing-masing sebagaimana telah ditetapkan Allah. Imam Al-Syafi¶i dan sahabat-sahabatnya mengatakan bahwa jika yang membagikan zakat itu kepala negara atau wakilnya. Memang. di mana dalam draft rancangan pemerintah disebutkan bahwa pengelolaan zakat. tetapi tidaklah wajib bagi kepala negara membagi sama rata di antara mereka. Lembaga Amil Zakat milik masyarakat yang telah ada nantinya akan berfungsi hanya sebagai unit pengumpul zakat yang terintegrasi secara institusional dengan Badan Amil Zakat milik pemerintah. miskin. orang yang berhutang.telah lahir rancangan amandemen UU No. Sesungguhnya do¶amu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. . Jika golongan tersebut tidak lengkap. bagiannya wajib diganti.´ Berdasarkan surat At-Taubah ayat 60 ada delapan golongan yang berhak menerima zakat yaitu fakir. PENGELOLAAN ZAKAT DALAM TRADISI ISLAM Zakat adalah instrumen ilahiah yang diwajibkan kepada kaum muslim. infak dan sedekah sepenuhnya dikelola oleh negara (sentralisasi) melalui Badan Amil Zakat yang dibentuk pemerintah di semua tingkatan pemerintahan. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. mualaf. sebagaimana tidak wajib zakat itu sampai kepada mereka semua. Para fuqaha berbeda pendapat dalam pembagian zakat terhadap delapan golongan tersebut. zakat diberikan kepada golongan-golongan yang ada saja. apabila kepala pemerintahan menghimpun semua zakat dari penduduk suatu negeri dan golongan yang delapan lengkap ada. tetapi tidak kepada yang lainnya jika menurut pertimbangannya hal itu sesuai dengan kepentingan Islam dan kaum muslimin. Siapa yang bertugas membagikan zakat? Biasanya Rasulullah SAW mengirimkan petugaspetugasnya untuk mengumpulkan zakat dan membagi-bagikannya kepada para mustahik. Jika ada golongan yang tertinggal. orang-orang dalam perjalanan. Allah SWT berfirman dalam Surat At-taubah ayat 103 ´Ambillah zakat dari harta mereka dengan guna membersihkan dan mensucikan mereka. Tidak boleh meninggalkan salah satu golongan yang ada. Adanya rencana sentralisasi pengelolaan zakat ini akh irnya memunculkan pertanyaan. dan berdo¶alah untuk mereka. Ia bahkan dapat memberikan kepada sebagian golongan lebih banyak dari yang lain. amil. sejauh manakah Negara Indonesia berhak melakukan intervensi dalam urusan keagamaan masyarakat seperti zakat ini? Guna menjawab pertanyaan ini akan ditelusuri jati diri Negara Indonesia dalam perspektif negara kesejahteraan dan perbandingan dengan praktek-praktek pengelolaan zakat di negara tetangga. gugurlah bagian amilin dan bagian itu hendaklah diserahkan kepada tujuh golongan lainnya jika mereka itu ada semua. hamba sahaya. 38 tahun 1999.

maka dia telah keluar dari Islam dan dibunuh dalam keadaan kafir. Pendapat golongan Syafi¶i serta pengikut-pengikut Hanbali tentang harta-harta yang jelas ini sama dengan pendapat mereka terhadap harta-harta yang tersembunyi. Jika suatu kaum menolak untuk mengeluarkannya padahal mereka tetap meyakini kewajibannya dan mereka memiliki kekuatan untuk melarang orang memungutnya dari mereka. Maka.Khalifah Abu Bakar dan Umar ibn Khattab juga melakukan hal yang sama. Menurut Imam Hanbali. waktu dilihatnya banyak harta yang tersembunyi. Seandainya para pemilik sendiri yang membagi-bagikan zakat itu (zakat harta mereka yang tersembunyi) apakah itu lebih utama? Ataukah lebih baik mereka serahkan kepada kepala negara atau imam (petugas) yang akan membagi-bagikannya? Menurut Imam Al-Syafi¶i. sehingga ia termasuk salah satu hal yang mendasar dalam agama. Adapun mengenai harta yang jelas. tidak ada halangannya. jelaslah bahwa zakat merupakan salah satu kewajiban yang telah disepakati oleh para ulama dan telah diketahui oleh semua umat. Adapun mereka yang tidak mengeluarkannya dengan tetap meyakini akan kewajibannya. . maka dia dimaafkan disebabkan karena kejahilannya akan hukum. menyusahkan pemilik-pemilik harta. sedangkan untuk mengumpulkannya itu sulit dan untuk menyelidikinya. kecuali jika ia baru mengenal Islam. tidak ada bedanya antara harta-harta yang jelas maupun yang tersembunyi. awalnya ia masih menempuh cara tersebut. Akan tetapi. yang mana jika ada salah seorang dari kaum muslimin yang mengingkari kewajibannya. maka mereka harus diperangi hingga mereka mengeluarkannya. menurut Malik dan Imam Hanafi. maka dia berdosa karena sikapnya tersebut. tetapi hal ini tidak mengeluarkannya dari Islam dan seorang hakim (penguasa) boleh mengambil zakat tersebut dengan paksa beserta setengah hartanya sebagai hukuman atas perbuatannya. Para fuqaha telah sepakat bahwa yang bertindak membagikan zakat itu adalah pemilikpemilik itu sendiri. imam dari kaum muslimin dan para pembesarlah (pemerintah) yang berhak menagih dan memungut zakat. lebih utama jika dibagi-bagikan sendiri. tetapi jika diserahkan kepada negara. Tatkala datang masa pemerintahan Utsman ibn Affan. maka pembayaran zakat itu diserahkan kepada para pemilik harta itu sendiri. yakni jika zakat adalah dari hasil harta yang tersembunyi. lebih baik diserahkan kepada imam jika imam itu ternyata adil.

Dana dari baitul maal berasal dari sumber kekayaan khusus (special wealth) yaitu zakat. Inilah paradoksal di Indonesia. 2.Islam considers the entire community responsible for the food security of all its individuals«one of the categories to whom the revenue of zakah has to be distributed consists of the mu`allafah qulubuhum who include non-Muslims Pemikiran mutakhir terkait peran zakat dalam negara modern dikemukakan oleh Aidit Ghazali. Fikih zakat tak boleh dibiarkan mengambang. Tak bisa zakat tergantung pada kebaikan hati dan moral muzakki. Fakir miskinnya banyak. Di negerinegeri jiran ini. 3. dana dari baitul maal. Selanjutnya ia berpendapat bahwa ´. Tampak sekali .Ismail Luthfi Japakiya menyebutkan bahwa zakat adalah salah satu landasan utama dalam terciptanya kedamaian dan keamanan. pendapatan dari sumber daya alam masyarakat. dana zakat akan terhimpun besar. dan Brunei Darussalam. dan 4. dan sumber kekayaan umum yaitu fa¶i. Ia mengemukakan bahwa dalam negara Islam modern ada empat sumber pendapatan negara antara lain adalah : 1. namun telah ditetapkan sebagai salah satu rukun Islam. dengan segera terdongkrak jadi fiqih kemasyarakatan. ada perbedaan metode yang berkembang di Indonesia dan Malaysia. Ada manfaat lain dengan kebijakan zakat mengurangi pajak. Yakni status fikih individu zakat. Sudah saatnya fiqih zakat. Singapura. utamanya keamanan dari kemiskinan dan penyakit. pajak. Padahal zakat bukan hanya wajib. Bagi mereka zakat harus didasarkan pada keikhlasan. Sementara masyarakat melalui berbagai ormas dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) hanya sekedar mengadvokasi. Dengan fikih kemasyarakatan. pajak. pinjaman. PERAN NEGARA INDONESIA DALAM PENGELOLAAN ZAKAT Bagaimana dengan Indonesia? Erie Sudewo memandang bahwa masih ada sebagian penduduk Indonesia yang tidak meyakini zakat itu wajib. penghimpunan cenderung terkoordinasi dan terarah. Dalam penghimpunan zakat.. Ini kebijakan yang hanya negara yang dapat melakukan. statusnya dari fikih individu diangkat menjadi fikih kemasyarakatan (ekonomi politik dan sosial). Cara lain agar zakat terhimpun besar adalah dengan menerapkan zakat mengurangi pajak. Tidak ikhlas. dan lain-lain sumber yang tidak dimiliki oleh individu dan diserahkan kepada baitul maal. ushr. ghanimah. Zakat tak bisa dikembalikan kepada pribadi masing-masing. sia-sia ibadahnya. Sementara sebagian muzakki tak yakin bahwa zakat itu wajib.

Kebijakan kesejahteraan sosial secara umum juga bersifat demikian. Ada yang menggunakan PPZ khusus untuk menghimpun zakat saja dan ada juga yang menggunakan BM (Baitul Maal) guna menghimpun sekaligus mendayagunakan. tetapi sudah bertentangan dengan kemerdekaan pers. Yang setuju menilai kedua lembaga itu sudah tidak sesuai dengan semangat perkembangan zaman. Pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tahun 1999 ia membubarkan dua departemen yaitu Departemen Sosial (Depsos) dan Departemen Penerangan (Deppen). tak jelas memilih pendekatan kesejahteraan sosial yang mana. Negara berperan secara minimalis.Akan halnya pada Undang-Undang Dasar 1945 amandemen 4 menyebutkan bahwa : . Guru Besar FISIP UI. menyebutkan bahwa untuk pertama kali sepanjang sejarah Republik Indonesia. Berdasarkan paradigma kesejahteraan sosial. seperti yang diamanatkan pasal 34 UUD 1945. dua dari 12 departemen yang sejak awal tercantum dalam Aturan Tambahan Undang-Undang Dasar 1945. Negara berperan dalam kesejahteraan sosial masyarakat hanya ketika institusi institusi lain seperti keluarga dan pasar (market system) mengalami kegagalan. Singapura dan Brunei Darussalam tampaknya punya model serupa. Tidak hanya dalam pengelolaan zakat. Namun apakah negara Indonesia memang pantas menganut paradigma kesejahteraan sosial residual ? Sejatinya. Pembubaran departemen itu menimbulkan berbagai reaksi pro dan kontra. misalnya. dan dianggap hanya membagi santunan atau mengurus izin undian). terlalu besar. tanpa propaganda pemerintah. Pengendalian dan pembinaan oleh Deppen (Departemen Penerangan) seperti selama ini. tidak lagi terdapat dalam struktur pemerintahan. Masyarakat harus diberdayakan agar mampu mengembangkan pendapat dan mencari informasinya sendiri. sejak awal pendirian Negara RI. Alwi Dahlan . bukan saja tidak lagi diperlukan. tidak memerlukan departemen semacam itu. dan hanya memperberat beban anggaran negara. (Dalam nada yang sama Depsos dikatakan tidak efektif. kurang bermanfaat. tidak mendidik masyarakat agar mandiri. tidak efisien. Terkait dengan pembubaran Departemen Sosial (Depsos). Maka. Holil Sulaiman berpendapat bahwa masalah sosial tidak bisa diserahkan begitu saja pada masyarakat. langkah pembubaran Departemen Sosial oleh pemerintahan Gus Dur menyiratkan bahwa ia memilih paradigma kesejahteraan sosial residual. seperti terlihat di negara maju. Sebaliknya. sama-sama terkoordinasi di bawah majelis agama Islam. Sedang Malaysia punya dua corak berbeda.pertumbuhannya dari masa ke masa. Sementara itu Suminto berpendapat pembubaran Depsos itu sama saja dengan pelecehan profesi pekerja sosial. Suatu masyarakat yang demokratis. Sudah selayaknya pemerintah memikirkan suatu lembaga yang bersifat operasional untuk menggantikan Depsos. di Indonesia peran negara dalam pengelolaan zakat cenderung bersifat tarik ulur. sulit juga untuk menyebut Negara RI sebagai negara kesejahteraan (welfare state). Harus ada lembaga negara yang ikut menanganinya.

serta berhak kembali. 40 tahun 2004 tak menyebutkan zakat sebagai salah satu komponen jaminan sosial. zakat dapat diatur dengan Undang -Undang sejauh bersifat memaksa untuk keperluan negara. Apakah negara termasuk delapan golongan. berlaku pasalpasal sebagai berikut : Pasal 28 E (1) Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya. jaminan pensiun dan jaminan terhadap kematian. 3. hal ini tentu akan menimbulkan debat berkepanjangan. 2. terkait dengan Pasal 34 amandemen 4 UUD 45 disebutkan pada ayat (2) bahwa negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai de ngan martabat kemanusiaan. atau memiliki peran sebagai amil yang berwenang mengumpulkan dan membagikan zakat kepada delapan golongan? Kemudian. dan meninggalkannya. jaminan hari tua. memilih pendidikan dan pengajaran. Sebaliknya. Pasal. . zakat dibagikan kepada delapan golongan (asnaf). Berdasarkan pasal 23 A amandemen 4 UUD 45. Fakir miskin dan anak-anak telantar dipelihara oleh negara. Masalahnya adalah apakah zakat termasuk kategori µpungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara?`. memilih tempat tinggal di wilayah negara. memilih kewarganegaraan. Undang-Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) No. memilih pekerjaan. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang. jaminan terhadap kecelakaan kerja. Negara mengembangkan sistim jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesu dengan martabat ai kemanusiaan. Karena sesuai dengan surat At-Taubah ayat 60. 4. Undang-Undang ini hanya mengatur seputar jaminan sosial yang terkait dengan asuransi sosial seperti jaminan kesehatan.Pasal 23 (A): Pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara diatur dengan undang-undang. terkait dengan zakat.34 1. Negara bertanggungjawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak. Pasalnya. apabila zakat dianggap sebagai instrumen agama yang merupakan bagian dari ibadah dari umat Islam.

Masyarakat. Artinya Fukuyama mengatakan bahwa negara harus diperkuat. Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa. sebagai salah satu bentuk kebijakan sosial dan public goods. Muslims.29 1. . berdasarkan kedua pasal tersebut. dalam konteks kebijakan sosial yang berkeadilan. Bahkan di Indonesia komitmen dan peran negara dalam pelayanan sosial seharusnya diperkuat dan bukannya diperlemah seperti diusulkan kaum neoliberalisme pemuja pasar bebas. Oleh karena itu. Bukan hanya memperparah kemiskinan dan kesenjangan sosial. Muhammad Hashim Kamali menyebutkan bahwa : Islam proposes a welfare state as is evident from the overall emphasis in the Qur`an and Sunna on helping the helpless. Negara adalah institusi yang paling absah yang memiliki kewenangan menarik pajak dari rakyat. pengumpulan dan penyaluran zakat harus dikembalikan kepada setiap orang dan setiap orang memiliki kebebasan untuk melakukan pengumpulan dan penyaluran zakat atas dasar keyakinan ibadahnya. namun juga membuka ruang bagi masyarakat untuk turut mengelola zakat melalui Lembaga Amil Zakat (pasal 7). zakat is prescribed in the Qur`an with the specific purposes of ensuring necessary social assistance. is one of the main purposes for which state revenues.masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu Maka. Kesejahteraan menurut Fukuyama tidak mungkin tercapai tanpa hadirnya negara yang kuat. 2. whether from zakat or other taxes and charities. or other. melainkan pula menyulut konflik sosial dan perang sipil yang meminta korban jutaan jiwa. As a pilla or the faith. Francis Fukuyama (2005) dalam bukunya State-Building : Governance and World Order in the 21st Century. Terkait dengan peran negara dalam pengelolaan zakat. yang mampu menjalankan perannya secara efektif. negara yang kuat tidak akan bertahan lama jika tidak mampu menciptakan kesejahteraan warganya. Begitu pula sebaliknya.Pasal. the needy and the poor. Benar negara bukanlah satu -satunya aktor yang dapat menyelenggarakan pelayanan sosial. dunia usaha dan bahkan lembaga-lembaga kemanusiaan internasional memiliki peran penting dalam penyelenggaraan pelayanan sosial. peran negara dan masyarakat tidak dalam posisi yang paradoksal melainkan dua posisi yang bersinergi. Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing. Pentingnya penguatan negara ini terutama sangat signifikan dalam konteks kebijakan sosial. Namun. 38 tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat di mana pemerintah mengelola zakat melalui Badan Amil Zakat (Pasal 6). pelayanan sosial tidak dapat dan tidak boleh diserahkan begitu saja kepada masyarakat dan pihak swasta. Satisfaction of the basic requirements of those who are in need. menunjukkan bahwa pengurangan peran negara dalam hal-hal yang memang merupakan fungsinya hanya akan menimbulkan problematika baru. Hal ini yang antara lain mendasari UU No. dan karenanya paling berkewajiban menyediakan pelayanan sosial dasar bagi warganya.

38 tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat yang meletakkan negara sebagai satu-satunya institusi yang berwenang mengelola zakat. Dasar negara Indonesia juga bukanlah Islam kendati pemerintahannya mayoritas dipimpin oleh umat Islam. The Prophet himself as head of state clearly indicated that the state is committed to this purpose. Maka. maka sungguh tidak jelas apa pijakan filosofis. Secara praktek kesejahteraan sosial yang dilakukan Negara RI selama ini. secara legal dan konstitusional negara Indonesia tidak memiliki kewenangan secara mutlak untuk mengelola zakat. . menyiratkan bahwa peran negara dalam kesejahteraan sosial. yuridis. termasuk dalam pengelolaan zakat memang harus dominan. Berdasarkan uraian di atas. tidak juga menunjukkan bahwa Negara RI adalah negara kesejahteraan (welfare state) yang telah melaksanakannya kewajibannya secara penuh untuk memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya apakah dengan pendekatan institusional ataupun developmental. Pendapat Francis Fukuyuma (sebagaimana dikutip oleh Edi Suharto) dan juga Muhammad Hashim Kamali. Yang terjadi selama ini adalah ketidakjelasan dan tarik ulur kebijakan dan implementasi kesejahteraan sosial. Indonesia bukanlah negara Islam kendati penduduknya mayoritas muslim yang bahkan berjumlah terbesar di dunia. Hal ini ditunjang pula oleh kenyataan sejarah dari Sirah Nabawiyah dan kepemimpinan para khalifah yang memang mengelola langsung zakat dari masyarakat. ketika ada upaya amandemen UU No.are to be expanded. Konstitusi UUD 1945 dan berbagai macam perundang-undangan tidak menyebutkan secara eksplisit bahwa negara adalah satusatunya penyelenggara zakat. Dalam kondisi seperti ini apakah hukumnya wajib menyerahkan pengelolaan zakat sepenuhnya kepada penguasa / negara? Muhammad Rasyid Ridha menafsirkan bahwa ketika pemerintahannya adalah pemerintahan Islam dan pemimpin-pemimpinnya adalah pemimpin muslim yang amanah maka pengelolaan zakat sepenuhnya berada di tangan negara. Namun ketika pemerintahannya bukan pemerintahan Islam kendati pemimpin-pemimpinnya muslim maka ketentuan tersebut tidak berlaku secara otomatis. maupun sosiologisnya. Permasalahan kemudian adalah.