1

JURNAL BIOLOGI SUMATERA
(Sumatran Journal of Biology)

Volume 1, Nomor 1 Januari 2006
ISSN 1907−5537

PENANGGUNG JAWAB
Dwi Suryanto

KETUA EDITOR (CHIEF EDITOR)

Erman Munir

Erman Munir, Ternala A. Barus, Dwi Suryanto, Retno Widhiastuti

DEWAN EDITOR (EDITORIAL BOARD)

EDITOR TEKNIK (MANAGING EDITOR)
Riyanto Sinaga, Erni Jumilawaty

BENDAHARA
Nunuk Priyani

Departemen Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Sumatera Utara, Medan, Indonesia

PENERBIT (PUBLISHER)

Departemen Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Sumatera Utara, Medan, Indonesia Jln. Bioteknologi No. 1, Kampus USU, Padang Bulan, Medan 20155

ALAMAT EDITOR (EDITORIAL ADDRESS)

2

DAFTAR ISI JURNAL BIOLOGI SUMATERA (Sumatran Journal of Biology)

ISSN 1907-5537

Halaman Identifikasi Jenis dan Jumlah Bakteri pada Pasien Mikosis Kulit. Kiki Nurtjahja, Dwi Suryanto, dan Lavarina Winda............................................................................................................. Pengujian Degradasi Klorpromazin HCl dalam Plasma Secara In Vitro. M.T. Simanjuntak ....... Efek Pemberian Monosodium Glutamat (MSG) terhadap Perkembangan Embrio Mencit (Mus musculus L.) Strain DDW Selama Periode Praimplantasi hingga Organogenesis. Emita Sabri, Deny Supriharti, dan Gunawan E. Utama ................................................................................. Inisiasi In Vitro Biji Muda Terong Belanda (Solanum betaceum Cav.) Berastagi Sumatera Utara pada Komposisi Media dan Zat Tumbuh yang Berbeda. Elimasni, Isnaini Nurwahyuni, dan M. Zaidun Sofyan........................................................................................................................... Perilaku Harian Pecuk Hitam (Phalacrocorax sulcirostis) Saat Musim Berbiak di Suaka Margasatwa Pulau Rambut, Jakarta. Erni Jumilawaty ................................................................... 1–2 3–7

8 – 14

15 – 19 20 – 23

respectively. Jalan Kolam No. Jumlah koloni yang tumbuh . pemakaian antibiotika. dagu dan leher (tinea barbae). dan Lavarina Winda2) Departemen Biologi. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi jenis dan jumlah bakteri yang terdapat pada pasien-pasien mikosis kulit. Sediaan dibiarkan pada temperatur kamar selama 2-5 menit. Tricophyton dan Epidermophyton (Rippon 1988. Hasil kerokan kemudian diletakkan pada gelas objek steril selanjutnya ditambahkan 1-2 tetes KOH 10%. No. Sampel untuk diagnosis diperoleh dari kerokan (scrapping) dan usapan lesi kulit/rambut dari 30 pasien yang sebelumnya diduga terinfeksi jamur. 24 h. Adanya hifa atau konidia menunjukkan infeksi disebabkan oleh jamur. 1 – 2 ISSN 1907-5537 Vol. body (tinea corporis). The number of bacteria colonies were calculated. jari-jari tangan (tinea manus). Five species bacteria were found. By adding potassium hydroxide (KOH) 10%. Jalan Bioteknologi No. scrapping. Jamur-jamur ini menyerang permukaan tubuh yang terkeratinisasi seperti kulit pada tubuh. dikenal tinea pada kulit kepala (tinea kapitis). Tergantung pada bagian tubuh yang diserang. Bagian yang terinfeksi dibersihkan dengan alkohol 70%. which was found in all tinea. Medan 20155 2 Fakultas Biologi. 1. 24 jam. Hasil pengenceran dikultur pada media nutrient agar. diinkubasi 37oC. The second number was Streptococcus faecalis. Selain itu mikosis pada kulit dipredisposisi oleh higiene yang kurang sehat. Escherichia coli. tinea manus. Bakteri ini berasal dari flora normal tubuh atau berasal dari lingkungan. Padang Bulan. the colonies were determined by Gram stainning. permukaan badan (tinea korporis). mycosis PENDAHULUAN Infeksi jamur pada kulit atau mikosis banyak diderita penduduk khususnya yang tinggal di daerah tropis. dilayangkan beberapa kali di atas api kecil dan dilihat di bawah mikroskop. Most patients were infected by tinea tinea corporis. Januari 2006. the highest number of bacteria was Staphylococcus aureus. Thirty samples of patients mycosis were investigated by scrapping method at head skin (tinea capitis). Bila pemeriksaan positif (ditandai adanya hifa atau konidia pada hasil scrapping) dilanjutkan dengan kultur bakteri. The positive samples were diluted to 10-2 in sterile distilled water. and Proteus vulgaris. 1 1 IDENTIFIKASI JENIS DAN JUMLAH BAKTERI PADA PASIEN MIKOSIS KULIT 1 Kiki Nurtjahja1). Mainiadi 2002). FMIPA. hasil kerokan diencerkan dengan akuades hingga 10-2. Iklim panas dan lembab merupakan salah satu penyebab tingginya insiden tersebut. tinea cruris. Kultur Bakteri. Chung & Bennett 1992 dan Morello et al 1994). and tinea capitis. 1. Namun jamur ini tidak menginfeksi ke jaringan kulit yang lebih dalam. lipat paha (tinea kruris). respectively. Universitas Sumatera Utara. Keywords: tinea. The samples were cultured in solidified nutrient agar (NA) media for 37oC. epidermidis (Rippon 1988. Dwi Suryanto1). Mikosis kulit atau disebut juga dengan “ring worm” atau dalam istilah klinis disebut dengan tinea disebabkan oleh 3 genus jamur yaitu Microsporum. Enterobacter aerogenes. each sample was tested microscopically to examine the presence of parasitic fungi. The aim of the study is to observe the presence of bacterial species as secondary infection on superficial primary mycosis. tinea pedis. Medan 20223 Abstract The occurrence of bacteria on superficial mycosis (tinea) has been studied. Pada tinea pedis menunjukkan bahwa pemeriksaan lebih lanjut ditemukan peningkatan jumlah bakteri Gram negatif yaitu Staphylococcus aureus dan S. and upper tight (tinea cruris). nail (tinea manus). Infeksi sekunder oleh bakteri pada saat serangan jamur terjadi karena kekebalan tubuh menurun akibat infeksi yang sedang terjadi. kulit yang berambut seperti pada kepala. 1. adanya sumber penularan. dan kuku. hlm. feet (tinea pedis).Jurnal Biologi Sumatera. kaki (tinea pedis) dan pada kuku (tinea ungium). dan penyakit kronis (Adiguna 2001). BAHAN DAN METODE Pemeriksaan Mikroskopis. Infeksi positif oleh jamur dikerok dengan skalpel. Universitas Medan Area.

2 NURTJAHJA ET AL. 3rd edition. S.(Rippon. bagian tubuh yang terinfeksi dan keadaan imunologik penderita. dan bakteri Gram. tinea manus. Edisi ke-3 Jakarta: FKUI.300 12. faecalis E. Pada keadaan kulit yang mengalami luka maka akan terjadi infeksi sekunder oleh jamur dan bakteri. aureus paling banyak dijumpai pada tinea korporis. M. 1992. Seluruh sampel menunjukkan uji positif adanya hifa spora jamur.700 39. Biologi Sumatera dihitung.S. Medan: RSUP H. Medical Mycology. aureus S.900 5. J. DAFTAR PUSTAKA Adiguna. menurunnya daya tahan tubuh. Staphylococcus aureus adalah sangat patogen pada kulit. Kedua jenis mikroorganisme ini dapat menyebabkan penyakit kulit.000 2. Adam Malik. aerogenes S. dan simon citrate agar. 2002. penyakit kronis atau terjadi luka pada kulit maka flora normal tersebut dapat menimbulkan infeksi. Kwon-Chung KJ. Bakteri teridentifikasi Gram + atau bentuk kokus dikultur kembali dengan media MSA (Mannitol Salt Agar) dan diuji dengan uji katalase. Jumlah dan jenis bakteri yang dijumpai pada 30 pasien dermatofitosis (tinea) Dermatofitosis (tinea) Tinea kapitis Tinea korporis Tinea kruris 7 Tinea manus Tinea pedis 3 8 Jumlah sampel 2 10 Jumlah sel bakteri 3. aureus S. Di antara flora normal yang paling sering dijumpai pada permukaan kulit adalah bakteri dan jamur. Streptococcus. sulfur indole motility agar (SIM). Di antara bakteri yang sering menyebabkan infeksi sekunder pada kulit adalah dari genus Staphylococcus. Medical Mycology. Infeksi Sekunder pada Dermatofitosis di Poliklinik Penyakit Kulit dan Kelamin. Mainiadi. Di antara bakteri tersebut. vulgaris Permukaan kulit manusia tidak steril.700 2. Bakteri Gram – dan bentuk batang dikultur dengan media reaksi biokimia seperti triple sugar iron agar (TSI).600 2. Spesies bakteri yang paling sering dijumpai pada setiap tinea adalah Staphylococcus aureus diikuti dengan Enterobacter aerogenes dan Staphylococcus faecalis. Dari hasil kultur dijumpai 5 spesies bakteri. Mikrobiologi Kulit dalam Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Bakteri Escherichia coli dan Proteus vulgaris hanya dijumpai pada tinea pedis. Jakarta: FKUI. faecalis E. Bakteri dapat menginfeksi epidermis atau jaringan yang lebih dalam.100 12. 1988). infeksinya dapat bervariasi sesuai dengan bakteri penyebabnya.100 3. Philadelphia: WB Saunders Co. tinea kruris.600 28. Namun beberapa faktor predisposisi seperti higiene yang kurang. Wiryadi BE.500 Jenis bakteri S.faecalis E. mikroorganisme demikian disebut sebagai flora normal tubuh manusia. aerogenes S. aureus S. 2002). 2001. 2002. tinea kruris. aureus S. Mikroorganisme tersebut secara alami berada pada permukaan kulit dan dalam kondisi normal tidak menimbulkan penyakit. Jenis bakteri diidentifikasi dengan pewarnaan Gram. HASIL DAN PEMBAHASAN Pemeriksaan Mikroskopis. dan tinea kapitis. Rippon JW. aureus S . tinea pedis. Epidemiologi Dermatomikosis di Indonesia dalam Dermatomikosis Superfisial.700 37. coli P. Pada kulit banyak terakumulasi sisa-sisa metabolisme tubuh sehingga mikroorganisme dapat tumbuh pada permukaan kulit (Wiryadi.000 8. 1988. Hasil pengamatan pemeriksaan mikroskopis dan kultur bakteri terhadap 30 sampel penderita dermatofitosis (tinea) dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini: Tabel 1. Sebagian besar sampel pasien menderita tinea korporis diikuti berturut-turut oleh tinea pedis. Kultur Bakteri. Philadelphia: Lea & Febiger. Bennet JE. .

while in plasma was done with addition of enzyme inhibitor of NaF with different concentration. adsorpsi voltametri. 1997). sakit kepala. Berbagai metode penetapan kadar fenotiazin dan turunannya dapat dilakukan secara spektrofotometri. mengantuk. Menurut Simanjuntak dan Bangun (2004). Januari 2006. Kampus USU Medan Abstract The degradation test of chlorpromazin hydrochloride in condensation of buffer solution attempt animal plasma and by in vitro. The experimental data was analyzed by analysis of variance (ANOVA) and Least Significant Difference (LSD). pusing. Kromatografi Cair Kinerja Tinggi. 1966). Promagtil®. Salah satu kriteria obat yang harus dimonitor dalam tubuh adalah obat-obat yang mempunyai indeks terapi yang sempit.Jurnal Biologi Sumatera. 7. No. Test of degradation of chlorpromazin hydrochloride also done at temperature 30°C. 1 3 PENGUJIAN DEGRADASI KLORPROMAZIN HCl DALAM PLASMA SECARA IN VITRO M. Pertama kali dikembangkan pada tahun 1950 untuk digunakan sebagai pengobatan anestesi (Mayer.T. mulut kering. kalsium dan vitamin B1 dapat mempengaruhi absorbsi klorpromazin HCl pada kelinci bila diberikan secara oral. sedangkan penyimpanan pada temperatur 37°C klorpromazin HCl dalam darah yang tidak diawetkan akan terurai sebesar 50% (Batziris. and enzyme activity. The result of research indicated that the degradation of chlorpromazin hydrochloride was influenced by pH.5. Simanjuntak Departemen Farmasi. 8. fluoroimmunoassay. 1982). Jalan Bioteknologi No. The degradation test of chlorpromazin hydrochloride was conducted in condensation of buffer solution done at pH 4. 6. 2000). di mana perubahan oksidatif dipercepat dengan adanya ion logam (Mayer. analgetikum. temperature. FMIPA. 3 – 7 ISSN 1907-5537 Vol. 1. 1. jantung berdebar. konstipasi. Klorpromazin hidroklorida (CPZ) merupakan derivat dari fenotiazin yang terdiri dari senyawa dimetilaminopropil. kelakuan. PENDAHULUAN Psikotropik ialah obat yang bekerja pada atau mempengaruhi fungsi psikis.0. potassium ferri cyanide solution and acetic acid with aquabidest as the solvent. Berdasarkan uraian di atas maka penulis melakukan penelitian pengaruh pH dan temperatur terhadap laju peruraian klorpromazin HCl dalam larutan air dan plasma hewan percobaan secara in vitro. Total chlorpromazin hydrochloride in plasma was measured by using spectrophotometer at 710 nm with addition of ferri chloride solution. Metode spektrofotometri yang dilakukan adalah berdasarkan reaksi oksidasi klorpromazin HCl dengan Fe (III) dan membentuk khelat dengan ferisianida dalam asam asetat yang menghasilkan warna biru prusia dan absorbsi maksimum 700-720 nm (Nagaraja. atau pengalaman (World Health Organization. 1990). Kromatografi Cair-Gas. Klorpromazin HCl mengalami metabolisme sangat luas dan indeks terapi yang sempit sehingga konsentrasi dan peruraian obat dalam plasma perlu dipantau (Wilson & Gisvold. Klorpromazin HCl digunakan sebagai antiemetikum.0.0. 1990). konduktometri. dan titrasi. dan mempergunakan kelinci sebagai model hewan percobaan. sirup. and 11. 1996). sedativum. 2000). . Dalam perdagangan klorpromazin HCl terdapat dalam bentuk sediaan tablet. Bentuk garamnya di bawah pengaruh cahaya dan oksigen akan berwarna gelap. Klorpromazin HCl dalam darah yang disimpan pada temperatur 4°C tidak mengalami peruraian. Monitoring obat dilakukan dengan mengukur konsentrasi obat dalam darah dengan maksud untuk memastikan bahwa obat berada dalam indeks terapetik. Klorpromazin HCl secara kimia merupakan senyawa yang kurang stabil. Sediaan oral klorpromazin yang sering digunakan adalah tablet antara lain tablet Largactil®. 37°C and 50°C in condensation of buffer solution pH 7.0. dan tenggorokan (Shannon. dan injeksi. hlm.3 (Foye.0. spektrofluorometri. Universitas Sumatera Utara. Efek samping yang ditimbulkan dari klorpromazin HCl berupa lesu. Klorpromazin HCl adalah turunan fenotiazin dengan pKa=9.

0 diinkubasi selama 5 menit pada temperatur yang diinginkan (30°C. supernatant (bagian etanol) dipisah dan dimasukkan ke dalam tabung. Lalu reaksi dihentikan pada waktu yang bervariasi dari 1 jam. 12 jam. Untuk menentukan laju peruraian larutan klorpromazin HCl dalam plasma kelinci ditambahkan enzim inhibitor NaF dengan konsentrasi total pencampuran: 50 mg/ml. 4 jam.0. pH 6.0 kg. 9 jam. Pengujian Laju Peruraian Klorpromazin HCl dalam Plasma Kelinci. Untuk menentukan konsentrasi dari klorpromazin HCl dalam berbagai pH yang lainnya dilakukan dengan prosedur yang sama seperti di atas. Pada percobaan in vitro yang digunakan dalam percobaan ini adalah larutan buffer dengan pH yang ditentukan dan plasma dari hewan percobaan yaitu kelinci dengan berat badan 2.5 pada temperatur 37°C dengan variasi waktu reaksi: 1 jam. pisahkan supernatan (bagian etanol) dan dimasukkan ke dalam tabung. pipet tetes. 2 jam. 25 mg/ml. 6 jam. Untuk menentukan laju peruraian larutan klorpromazin HCl dalam plasma kelinci dilakukan dengan cara sebagai berikut: ke dalam tabung reaksi 15 ml dipipet 1 ml larutan plasma.5 mg/ml) ke dalam larutan buffer yang telah diinkubasi di atas sehingga konsentrasi total klorpromazin (50 mg/ml. stopwatch. 9 jam. neraca analitik. 4 jam.0. Alat yang digunakan dalam penelitian adalah tabung reaksi. 37°C. spektrofotometri visibel. 12. pengujian laju peruraian klorpromazin HCl dalam larutan buffer pH 4. etanol. asam asetat glasial. kalium ferri sianida. Penentuan Laju Peruraian Klorpromazin HCl dalam Larutan Buffer. pengujian laju peruraian klorpromazin HCl dalam plasma kelinci dengan variasi waktu reaksi: 1 jam. Alat. bola karet. 12 jam dengan mempergunakan 4 ml larutan etanol 96%. mikro pipet 100 μl. 9 jam. labu taker. Pengujian Laju Peruraian Klorpromazin HCl dalam Plasma Tanpa atau dengan Inhibitor NaF. 12 jam dengan mempergunakan “stop solution” berupa larutan buffer yang telah didinginkan dalam campuran es dan garam sebanyak 5 ml. 50°C. pH 8. Kelinci Jantan berat 1. asam fosfat. 6.4 SIMANJUNTAK J.5 mg/ml). 9 jam.0 pada Temperatur 30°C. garam dapur. 4 jam. Tahap II. alumunium foil. aquadestilata. NaF. 12 jam.0.0. kalium dihidrogen fosfat. gelas beaker. 3000 rpm. pH meter. termometer. 6 jam. 11. 2 jam. efendorf.0. es. Penentuan Laju Peruraian Larutan Klorpromazin HCl pH 7.5 dengan cara sebagai berikut: dipipet ke dalam tabung reaksi 15 ml 1 ml larutan buffer dan kemudian diinkubasi di dalam penangas air pada suhu 37°C selama 5 menit dipipet 100 μl larutan klorpromazin HCl ke dalam larutan buffer yang telah diinkubasi di atas. maat pipet. 4 jam. Tahap IV. 37°C. Dicampur sampai homogen memakai bantuan pengaduk sentuh dan disentrifugasi selama 10 menit. 2 jam. rak tabung. Lalu reaksi dihentikan pada waktu yang bervariasi dari 1 jam. 7.5 mg/ml dilakukan dengan cara sebagai berikut: Ke dalam tabung reaksi 15 ml dipipet 1 ml larutan plasma. touch mixer. 37°C.5 – 2 kg.0 pada temperatur 30°C. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah aqua bidestilata. 50°C). centrifuge. kertas perkamen. 50°C. 12 jam. 9 jam. Untuk menentukan laju peruraian larutan klorpromazin HCl pH 7. Rancangan Percobaan Uji In Vitro. Subjek Uji. baskom plastik. dengan variasi waktu reaksi: 1 jam. Biologi Sumatera BAHAN DAN METODE Bahan. 6 jam. 3000 rpm. natrium hidroksida. 275 mg/ml. batang pengaduk. 8. Tahap III. 2 jam. diinkubasi selama 5 menit pada temperatur 37°C. 9 jam. 137. diinkubasi selama 5 menit. Kemudian dipipet 100 μl larutan klorpromazin HCl ke dalam larutan buffer yang telah diinkubasi di atas. Pada tahap I. 2 jam.0. 50°C dilakukan dengan cara sebagai berikut: Ke dalam tabung reaksi 15 ml dipipet 1 ml larutan buffer pH 7. 9 jam. 4 jam. 12 jam. pH 7. pH 11. 4 jam. Untuk menentukan laju peruraian klorpromazin HCl sesuai dengan rancangan uji tahap I adalah dengan memakai variasi larutan buffer pada pH 4. Konsentrasi dari klorpromazin HCl ditentukan dengan metode spektrofotometri pada panjang gelombang maksimum. 12 jam dengan penambahan 4 ml larutan etanol 96%. 6 jam. kemudian dipipet 100 µl larutan klorpromazin HCl ke dalam larutan buffer yang telah diinkubasi di atas. dicampur dengan bantuan pengaduk sentuh dan disentrifugas selama 10 menit.0. 6 jam. pengujian laju peruraian klorpromazin HCl larutan buffer pH 7. .0. Konsentrasi dari klorpromazin HCl ditentukan secara spektrofotometri pada panjang gelombang maksimum. klorpromazin HCl. 37°C. 2 jam. Rancangan percobaan ini dibagi menjadi 4 tahap rancangan uji. 12. 6 jam. pengujian laju peruraian klorpromazin HCl dalam plasma tanpa atau dengan penambahan enzim inhibitor NaF dengan variasi waktu reaksi: 1 jam. ferri klorida. 25 mg/ml. Selanjutnya ditentukan secara spektrofotometri pada panjang gelombang maksimum. Kemudian dipipet 100 μl larutan klorpromazin HCl konsentrasi (550 mg/ml. Lalu reaksi dihentikan pada waktu yang bervariasi dari 1 jam. gelas ukur. termos es.0 pada temperatur 30°C. 2 jam. 4 jam. 6 jam. waterbath.

Laju peruraian klorpromazin HCl juga dapat ditentukan dengan menghitung harga energi aktivasi. Hasil uji statistik dari pengaruh temperatur terhadap laju peruraian klorpromazin HCl dalam larutan buffer pH=.0032 216. 1992). diperoleh harga Fhitung=5.0 0.0.286 Keterangan: kobs=konstanta laju laju peruraian t ½ (menit)=waktu paruh obat pH larutan dapar k obs (menit-1) t ½ (menit) 4.00022 3165.0009 770. Sedangkan laju peruraian klorpromazin HCl dalam plasma dengan penambahan NaF tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan laju peruraian pada larutan buffer pH 7. Energi aktivasi (Ea) adalah energi minimum yang diperlukan agar suatu zat terurai.971 berarti lebih besar dari Ftabel=3.0>pH=7. Dari hasil uji statistik laju peruraian larutan klorpromazin HCl menggunakan Anova dan LSD dengan taraf kepercayaan (p=0.0 harga Kobs paling kecil dan harga t ½ paling besar. Dengan rincian bahwa perbedaan signifikan terhadap laju peruraian klorpromazin HCl adalah antara temperatur 30°C dengan 50°C. 1. Pada Gambar 2 terlihat bahwa laju peruraian klorpromazin HCl mengikuti reaksi orde satu dan akan meningkat dengan semakin tinggi temperatur.0011 630 7. di mana pada pH 7. Hal ini menunjukkan bahwa laju peruraian klorpromazin HCl dalam larutan buffer menunjukkan perbedaan yang signifikan.33. Harga kobs dan t½ klorpromazin HCl dalam larutan dapar sedangkan laju peruraian pada temperatur 30°C dengan 37°C tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan.0 0. bila dibandingkan dengan tanpa penambahan NaF.00 Total NaF 50 mg 0. 25 mg.625 37 0.575.5) diperoleh harga Fhitung=6. Tabel 2. tingkatan laju peruraian klorpromazin HCl dalam larutan buffer adalah pH=4.0.5>pH=6.20 Keterangan: kobs=konstanta laju laju peruraian t½ (menit)=waktu paruh obat Pengaruh Temperatur.55 (Sudjana. Tabel 3.00 Total NaF 25 mg 0.00049 1414. lebih besar dari Ftabel=3.49 (Sudjana.25 Keterangan: kobs=konstanta laju laju peruraian t½ (menit)=waktu paruh obat .500 50 0. Hal ini juga dapat dilihat pada Tabel 1. Hal ini disebabkan karena laju peruraian klorpromazin HCl yang lebih besar dalam plasma terjadi akibat aktivitas enzim.825 yang berarti lebih besar dari Ftabel=3.5 mg.0.Vol.0006 1155 11. 2006 J.0002 3465 8.0 0. Hasil analisis menunjukkan bahwa laju peruraian klorpromazin HCl dalam plasma mungkin dipengaruhi oleh kerja suatu enzim.0147 47.5 mg 0.5) berdasarkan konsentrasi. Laju Peruraian Klorpromazin HCl dalam Plasma Kelinci dengan atau Tanpa Penambahan NaF. Harga kobs dan t½ larutan klorpromazin HCl dalam plasma tanpa atau dengan NaF pada temperatur 37°C Perlakuan Kobs (menit-1) t ½ (menit) Tanpa NaF 0. 50 mg).0 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan di mana Fhitung=5.50 Total NaF 12. Dari hasil percobaan diperoleh bahwa laju peruraian klorpromazin HCl dalam plasma dengan penambahan NaF dengan konsentrasi 50 mg/ml memiliki profil yang hampir sama dengan laju peruraian pada larutan buffer pH 7.0025 277. Enzim meningkatkan reaksi spontan pada temperatur fisiologis.00016 4331. Semakin tinggi harga Ea dari suatu zat maka laju peruraiannya akan semakin kecil.00024 2887. Dengan uji statistik menggunakan Anova terlihat bahwa laju peruraian klorpromazin dalam plasma dibandingkan dengan laju peruraian dalam plasma dengan penambahan NaF dan laju peruraian pada larutan buffer pH=7.0 (Tabel 2) menggunakan Anova dan LSD dengan taraf kepercayaan (p=0. semakin besar konsentrasi NaF yang ditambahkan laju peruraian klorpromazin HCl semakin menurun.0 0. 1993). Hal ini menunjukkan bahwa laju peruraian klorpromazin HCl dalam larutan berbagai temperatur yang diuji berbeda secara signifikan (Sudjana.0>pH=11. Dari Gambar 1 terlihat bahwa klorpromazin HCl mengikuti reaksi orde satu dan lebih stabil pada pH 7. Dari Gambar 3 dan Tabel 3 dapat dilihat bahwa laju peruraian klorpromazin HCl mengikuti orde satu dan dipengaruhi oleh konsentrasi NaF (12.0>pH= 8. 1992).98 kkal/mol. Dengan peningkatan temperatur Energi aktivasi diperoleh sebesar 4305.14 6. Tabel. Harga kobs dan t½ klorpromazin HCl temperatur berbeda t ½ (menit) Kobs (menit-1) Temperatur (°C) 30 0.5 0. temperatur 37°C dengan 50°C. Biologi Sumatera 5 HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh pH terhadap Laju Peruraian Klorpromazin HCl.0007 990. Jadi.0.

5 1 0.450 3.500 0. Biologi Sumatera 5.0 pH 8.500 4.350 0 100 200 300 400 Wakt u (menit ) Suhu kamar (30 C) Suhu 37 C Suhu 50 C 500 600 700 800 Gambar 2.000 3.5 mg 800 Gambar 3.500 3. Laju peruraian klorpromazin HCl dalam larutan buffer pH 7.0 dengan temperatur yang berbeda 4.5 4 3.000 1.000 0 100 200 300 400 Waktu (menit) pH 4.0 pH 11.000 4.6 SIMANJUNTAK J.550 3.0 .5 500 600 700 800 Gambar 1.650 Log C + 3 3.0 Plasma + NaF 25 mg 200 400 Waktu (menit) Plasma Plasma NaF 50 mg 600 Plasma + NaF 12.5 0 0 pH 7.0 pH 6.000 2. Laju peruraian klorpromazin HCl dalam larutan buffer dengan pH berbeda 3.500 1. Profil laju peruraian larutan klorpromazin HCl dalam plasma tanpa atau dengan penambahan NaF dan larutan buffer pH 7.000 0.0 pH 7.500 2.600 3.5 Log C + 3 3 2.500 Log C + 3 3.400 3.700 3.5 2 1.

. Farmasetika. Kinetics of Nikkomycin Z Degradation in Aqueous Solution and in Plasma. 1997. Seeman P. Prof. Farmakope Indonesia. Biol Pharm Bull 20:557-580. Drug Guide.. Hakim Bangun. 1993. Jakarta. Kimia Fisika. Bapak Drs.. Devissaquet J. Edisi IV. 1993. Edisi IV. selaku Kepala Lembaga penelitian FMIPA USU atas bantuan fasilitas yang diberikan. Monash University. 2000. Phil. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Tokumura T. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Jakarta: Universitas Indonesia. Martin A. Iron (II) and 1. New Orleans: Division Nursing Our Lady of Holy Cross College. 1. Senyawa Obat. Medan: Jurusan Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara. Shahib H. 1972. 1993. Japan: Department of Pharmacology. Penerjemah: Wattimena.Vol. Mayer K. Indian Journal of Chemical Technology 11: 639-642. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada Press.. Biologi Sumatera 7 UCAPAN TERIMA KASIH Disampaikan kepada: 1. Juniaton K. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 2. Horie T. Analytical Sciences. 2000. dkk. Anief M. Atkins PW. Apt. Takata Y. A Simple Spectrophotometric Determination of Some Phenothiazine Drugs in Pharmacetical samples. 3. Ranggappa KS. Dinesh ND. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Pengantar Statistik. Saudara Ronald Sidabutar atas bantuan teknis untuk penelitian ini. DR. Jakarta: Penerbit Erlangga.. Edisi kedua. Edisi ketiga. Penerjemah: Yoshita. Nagaraja P. Swarbrick J. 2006 J. 1999. Cammarata A. 1995. Gowda NMM. Roth S. M. Surabaya: Universitas Airlangga Press. pp. Pemeriksaan Absorbsi Intestinal Klorpromazin HCl dengan Pemberian Peroral pada Kelinci Percobaan. Guyot-Herman AM. Tanu I. Jakarta: Bagian Farmakologi. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2004. Batziris H. 1993. Basavaiah K. Farmakologi dan Terapi. Ansel HC. Edisi keempat. Faculty of Pharmaceutical Science. 1997. 1989. DAFTAR PUSTAKA Aiache JM. Pemahaman Seluk Beluk Biokimia dan Penerapan Enzim Bandung: PT Citra Aditya Bakti. 1127-1130. 1992.Sc. 2004. 16. Farmasetika Biofarmasi. 1994. Biochemistry Biophysiology. Postmortem Artefacts Associated with Physychotropic Drugs. atas diskusi yang diberikan. Simanjuntak MT. Departemen Kesehatan RI. 1990. Sudjanah. A Rabbit Model for Evaluation of Klorpromazine Induced Orthostatic Hypotension. 10-phenantroline. Shannon MT. 1990. Farmasi Fisik. Harry Agusnar. Bangun H. Indirect Spectrophotometric Determination of some Biologically Important Phenothiazines using Potassium Dichromat. Edisi keempat.

8. Medan 20155 Abstrak Telah dilakukan penelitian mengenai efek pemberian monosodium glutamat (MSG) terhadap perkembangan embrio mencit (Mus musculus L.000 per tahun. 1981).000 ton per tahun.000 ton per tahun (Dhindsa. Keluarga yang makin sibuk. anopthalmia. dan Gunawan E. dan di Indonesia sudah mencapai 17. 1.000 ton per tahun. Total pemakaian MSG di beberapa negara cukup tinggi misal Jepang. Korea. 2000). embriotoksik. Keywords: MSG. teratogenik PENDAHULUAN Kesibukan yang meningkat di tengah masyarakat perkotaan dan pesatnya kemajuan teknologi informasi membawa dampak perubahan gaya hidup.4. Universitas Sumatera Utara. 30. menurunkan berat uterus dan testis. baik yang bersumber dari nabati maupun hewani (Winarno. 9.) strain DDW selama periode praimplantasi hingga organogenesis. micin. 2000). MSG menyebabkan secara nyata peningkatan persentase kehilangan praimplantasi serta meningkatkan secara nyata persentase fetus yang mengalami malformasi. Dari penelitian diperoleh hasil bahwa pemberian MSG pada induk mencit umur kehamilan 0 hari hingga 16 hari tidak mempengaruhi implantasi dan berat badan fetus hidup. Penelitian mengenai efek toksik dari MSG ini menunjukkan hasil yang mengejutkan. Asam glutamat merupakan salah satu jenis asam amino non esensial yang merupakan bagian dari kerangka utama dari berbagai jenis molekul protein yang terdapat dalam makanan.) STRAIN DDW SELAMA PERIODE PRAIMPLANTASI HINGGA ORGANOGENESIS Emita Sabri. kira–kira sampai 15. Dengan demikian dapat disimpulkan pada penelitian ini pemberian MSG pada induk mencit yang sedang hamil bersifat embriotoksik dan teratogenik. yang ditandai dengan peningkatan persentase kematian intra uterus berupa embrio yang diresorp. hlm. secara gavage sebanyak 0. Dari berbagai macam penelitian yang dilakukan pada neonatal dengan pemberian MSG dosis besar melalui suntikan diketahui bahwa MSG dapat menyebabkan kerusakan sistem saraf dan mata pada bagian retina. misalnya bahan penyedap. Utama Departemen Biologi. waktu yang tersedia untuk memasak makanan sendiri makin berkurang dan akhirnya tergantung pada bahan makanan awetan dan kemasan yang belakangan ini makin banyak dijual di pasar–pasar tradisional dan swalayan (Darmawan. atau moto ini sudah lama akrab di kalangan ibu rumah tangga karena biasa digunakan sebagai bahan penyedap masakan (Dhindsa. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) non faktorial yang terdiri dari 2 kelompok yaitu kelompok perlakuan dengan dosis 2. 1. Jhon Olney (1996) dalam Winarno (1994) mengemukakan MSG .6 mg/ml akuades. serta kerusakan fungsi reproduksi (Takasaki 1979). Termasuk pula penggunaan berbagai macam penyedap rasa yang digunakan untuk keperluan sehari-hari baik berasal dari olahan tradisional maupun secara sintetis yang menggunakan bahan kimia (Anggara. 2001). Jalan Bioteknologi No. FMIPA. Deny Supriharti. menyebabkan kemandulan pada jantan dan betina. 8 – 14 ISSN 1907-5537 Vol. acorea sedangkan malformasi internal berupa hidrosephalus. MSG diberikan pada induk mencit dimulai sejak umur kehamilan 0 hari hingga 16 hari. Padang Bulan. Malformasi yang ditemukan pada fetus adalah malformasi eksternal berupa mikropthalmia.1 ml/10 g bb. No. Perubahan ini juga mempengaruhi pola konsumsi makanan dengan lebih banyak mengkonsumsi jenis makanan cepat saji. Bahan kimia yang lebih dikenal dengan nama vetsin. 1 EFEK PEMBERIAN MONOSODIUM GLUTAMAT (MSG) TERHADAP PERKEMBANGAN EMBRIO MENCIT (Mus musculus L. Januari 2006. 4. 1994). Vetsin biasanya berbentuk kristal halus dan berwarna putih yang dibuat melalui proses fermentasi dari bahan dasar pati (gandum) dan gula molases (tetes tebu) yang diberi nama sebagai garam natrium dari asam glutamat atau lebih dikenal dengan nama monosodium glutamat (MSG) (Anggara. sedangkan kelompok kontrol terdiri dari kelompok kontrol tanpa perlakuan dan kontrol akuades. sedangkan di Amerika kira–kira 26.8 Jurnal Biologi Sumatera. MSG menyebabkan secara nyata menurunkan jumlah fetus hidup. 1981).

dibilas dengan air mengalir kemudian ditetesi dengan larutan hydrochloric acid 1% dan larutan potassium ferricyanide 2% yang ditandai dengan bintik hitam pada uterus (Taylor. Perlakuan terdiri atas satu faktor yaitu dosis bahan yang digunakan. Pemberian pakan dan minum dilakukan setiap hari secara ad libitum. 1986). 1986). Data non parametrik berupa persen embrio yang diresorpsi. Rancangan Penelitian. Mencit betina dewasa berumur 12 minggu dengan kisaran berat badan 25 sampai 30 g dan berada pada tahap estrus dikawinkan dengan seekor mencit jantan pasangannya. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa serbuk monosodium glutamat (MSG) dengan merek dagang dari salah satu penyedap rasa yang diperoleh dari pasar swalayan. 2006 J. Apabila keesokan harinya terdapat sumbat vagina maka kopulasi telah terjadi dan dinyatakan sebagai kehamilan pada 0 hari (Taylor. embrio yang di resorpsi.4 mg/4ml akuades (P1). persen fetus mati. dan 9600 mg/kg bb dalam 4 ml akuades sedangkan kelompok kontrol diberi 4 ml akuades tanpa MSG dan tanpa diberi apapun. jumlah fetus hidup.6 mg/4 ml akuades (P3) Jumlah ulangan untuk tiap kelompok perlakuan ditentukan dengan menggunakan rumus yang digunakan Sugandi & Sugiarto (1994). Serbuk MSG ditimbang beratnya sesuai dengan dosis perlakuan yang telah ditetapkan (Nizamuddin. Umur mencit perlakuan 12 minggu dengan kisaran berat badan 25-30 g (Smith. 1986). 1995). persen kehilangan praimplantasi dihitung Manson & Kang (1989).1 ml/10 g bb. Serbuk MSG ini berupa kristal putih yang mengandung 99% MSG dan terbungkus dalam kantung plastik tertutup. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian tentang pengaruh MSG dengan dosis perlakuan 2. persen malformasi. Kelompok perlakuan diberi MSG dengan dosis 2400 mg/kg bb. mata. persen embrio diresorpsi. 1996).8 mg/4 ml akuades (P2) ▪ Perlakuan dengan dosis 9. Apabila terdapat perbedaan yang sangat nyata maka dilanjutkan dengan uji Duncan (Gomez & Gomez. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen dengan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 2 kelompok yaitu kelompok perlakuan dan kelompok kontrol.4 mg/4 ml akuades (P1) ▪ Perlakuan dengan dosis 4. tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian MSG terhadap gangguan perkembangan embrio (Mus musculus L. Dari pengamatan yang diperoleh dianalisis secara statistik dengan analisis varian (anava) untuk membandingkan data parametrik berupa berat fetus hidup. 1994). dan jumlah korpus luteum pada kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol. Setelah pembedahan. Sebelum perlakuan berat badan induk mencit ditimbang. 4. Untuk menghitung persen fetus hidup. setelah pemberian dilakukan selama 49 hari ternyata MSG dapat mempengaruhi proses spermatogenesis. korpus luteum. Selanjutnya mencit dari kelompok perlakuan dan kelompok kontrol dibunuh dengan cara dislokasi leher pada umur kehamilan 18 hari.Vol. 1. dengan volume pemberian 0. dan malformasi dianalisis dengan menggunakan uji Wilcoxon’s rank sum test (Wilcoxon & Wilcox 1965 dalam Sabri. ▪ Kontrol tanpa perlakuan (K0) ▪ Kontrol Pelarut dengan dosis 0 mg/4 ml akuades (KP0) ▪ Perlakuan dengan dosis 2. Hewan percobaan yang dipergunakan adalah mencit (Mus musculus L. Kemudian pada tahun yang sama dilaporkan bahwa penyuntikan MSG pada bayi monyet dapat menyebabkan bayi monyet tersebut menjadi pendek serta mengalami kerusakan mata pada bagian retina (Winarno. Namun. Mencit dipelihara dalam kandang terbuat dari plastik yang diberi alas sekam yang diganti 2 kali seminggu. dan otak dilakukan pemotongan dengan pisau silet menggunakan metode penyayatan razor blade (Taylor.) betina strain DDW. jumlah fetus hidup. persen fetus mati. Cara Kerja. 1988).8 ml/4 ml akusdes (P2). uterus ditetesi larutan ammonium sulphate 10% selama 10 menit. 4800 mg/kg bb. penelitian tentang efek toksik pemberian MSG terhadap perkembangan embrio belum pernah dilakukan. Pemberian MSG pada hewan uji dilakukan secara oral menggunakan jarum gavage pada induk mencit umur kehamilan 0 hingga 16 hari. 2000). Dari hasil penelitiannya. Untuk pengamatan malformasi pada bagian hidung. Oleh karena itu. dan 9. Fetus hidup ditimbang berat kemudian diamati kelainan-kelainan eksternal dan internal.) selama periode praimplantasi hingga organogenesis lanjut. dilakukan pengamatan meliputi jumlah implantasi.6 mg/4 ml akuades (P3) . BAHAN DAN METODE Hewan Percobaan. fetus mati. Untuk memastikan embrio yang diresorpsi. Nizamuddin (2000) telah melakukan penelitian mengenai efek toksik pemberian MSG pada tikus jantan. Biologi Sumatera 9 yang diberikan sebagai makanan pada tikus putih dapat mengakibatkan kerusakan pada beberapa sel syaraf khususnya di bagian hipotalamus. Analisis Data. Bahan Uji. persen kehilangan praimplantasi. jumlah implantasi.

Winarno (1995) menyatakan bahwa MSG merupakan garam natrium dari asam glutamat yang dihasilkan dari proses pembuatan gula molases yang membentuk glutamin. jumlah fetus hidup. Hal ini diduga karena pemberian MSG dilakukan secara terus menerus selama 0 hingga 16 hari kehamilan induk mencit dapat mengganggu tahap perkembangan embrio pada waktu pembelahan atau cleavage. jumlah implantasi. Kedua senyawa tersebut mudah terhidrolisis dengan penambahan asam atau basa. Dan jumlah korpus luteum tertinggi terdapat pada P3 dan menunjukkan peningkatan jika dibandingkan dengan K0. dan P1. Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa jumlah korpus luteum dari ketiga kelompok perlakuan cenderung mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan kedua kelompok kontrol. Besarnya jumlah korpus luteum antara kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol tersebut menggambarkan telur yang diovulasikan.07) juga menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata bila dibandingkan dengan kelompok K0 dan KP0. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pemberian MSG selama induk mencit hamil bersifat embriotoksik.80) cenderung menurun dibandingkan KP0 (9. Kelompok perlakuan dosis P1 (1.35±1. Akhirnya terakumulasi pada embrio mencit melalui pembuluh darah dan mempengaruhi perkembangan fetus mencit tersebut. P2 (1. J.08). Hasil analisis sidik ragam terhadap penampilan reproduksi induk mencit yang sedang hamil (Tabel 1) meliputi berat badan fetus hidup. maka dalam perkembangannya mengalami kerusakan yang sangat parah sehingga tidak dapat hidup. P1. Pada penelitian ini terjadi penurunan jumlah fetus hidup berkaitan erat dengan semakin meningkatnya jumlah kematian intrauterus terutama berupa embrio diresorpsi (Tabel 2) dan seiring dengan kenaikan dosis MSG yang diberikan pada induk mencit. Pada perlakuan P1 menyebabkan malformasi sebesar 2. tetapi sejauh ini belum diketahui senyawa yang lebih berperan aktif dalam menyebabkan kematian intrauterus. selanjutnya jumlah fetus hidup pada kelompok P1 (7. begitu pula pada kelompok P3 (5. Persentase penampilan organ reproduksi yang diamati dalam penelitian ini meliputi persentase fetus yang mengalami malformasi. tetapi mungkin disebabkan oleh faktor genetik serta faktor internal dari induk mencit yang berbedabeda. kelompok KP0 dan kelompok P1. meski secara statistik tidak berbeda. persentase kematian intrauterus berupa persentase embrio diresopsi dan persentase kehilangan praimplantasi yang dapat dilihat pada Table 2.40). Hal ini diduga karena pemberian MSG yang dilakukan secara terus menerus sejak kehamilan 0 hingga 16 hari masuk ke dalam tubuh induk mencit.05% (1. Namun setelah dilakukan analisis sidik ragam menunjukkan bahwa jumlah implantasi (Tabel 1) antara ketiga kelompok perlakuan dengan kedua kelompok yang masing-masing tidak menunjukkan adanya perbedaan. Sadler (1993) menambahkan embrio mudah diserang atau diganggu pada tingkat dini. dan P2. Pengaruh Pemberian MSG terhadap Persentase Penampilan Organ Reproduksi Induk Mencit Secara Gavage pada Umur 0 Hari Hingga 16 Hari Kehamilan. Meskipun kedua senyawa tersebut merupakan komponen yang aktif. dan P3 (1. Jumlah fetus hidup yang diperoleh pada kelompok K0 (9. Hasil menunjukkan bahwa persentase fetus yang mengalami malformasi 0% terjadi pada kelompok K0 dan KP0. Dengan demikian pemberian MSG selama umur kebuntingan induk mencit cenderung tidak bersifat sebagai anti implantasi.35). Biologi Sumatera dan kelompok kontrol terdiri dari kontrol tanpa perlakuan (K0) dan kontrol pelarut (KP0) yang diberikan pada induk mencit (Mus musculus L.80) menunjukkan perbedaan yang nyata menurun jika dibandingkan dengan kelompok K0. KP0. Oleh karenanya sel-sel embrional tidak mencapai tahap blastokista yang normal untuk dapat terimplantasi pada uterus. kemudian adanya ketidakmampuan induk mencit untuk menetralisir dan mendetoksifikasi senyawasenyawa kimia yang masuk ke dalam tubuh induk mencit.60) dengan kelompok KP0 (9. Hasil analisis sidik ragam kelompok P2 (5. Terjadinya variasi peningkatan jumlah korpus luteum antara kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol diduga tidak disebabkan oleh pemberian dosis MSG. Analisis statistik jumlah implantasi antara ketiga kelompok perlakuan menunjukkan adanya penurunan bila dibandingkan dengan kedua kelompok kontrol. kemudian diubah menjadi asam glutamat dan gugus karboksilat. Meskipun banyak telur yang diovulasikan tetapi terjadi kehilangan jumlah praimplantasi yang tinggi dan berbeda nyata (P2) bila dibandingkan dengan kelompok K0 (Tabel 2).) albino strain DDW selama umur kehamilan 0 hingga 16 hari menggunakan jarum gavage dengan volume pemberian 0.1 ml/10 g bb yang dapat dilihat dari beberapa tabel di bawah.35) tidak berbeda nyata dengan kelompok KP0 (1. Pengaruh Pemberian MSG terhadap Rataan Penampilan Organ Reproduksi Induk Mencit dan Keadaan Fetus Hidup Selama 0 hingga 16 hari Kehamilan.05).40) tidak menunjukkan perbedaan.40) menunjukkan perbedaan yang nyata menurun jika dibandingkan dengan kelompok K0. dan jumlah korpus luteum menunjukkan bahwa berat badan fetus hidup pada kelompok K0 (1. .10 SABRI ET AL.10) yang tidak berbeda nyata dengan kelompok K0 dan KP0. KP0.

Vol. KP0. Pada kelompok K0 persentase embrio diresopsi sebesar 0.40) dan menunjukkan perbedaan yang nyata jika dibandingkan K0.88±0. Namun pada P2 persentase sebesar 22.22% (10.20) dan menunjukkan perbedaan yang nyata jika dibandingkan dengan K0. P2 merupakan dosis yang cukup optimal dalam menyebabkan kehilangan praimplantasi. Sedangkan pada perlakuan P3 persentase kehilangan praimplantasi sebesar 16. kerentanan terhadap teratogenesis tergantung dari genotip dari suatu konseptus dan cara-cara interaksi dengan faktor lingkungan yang meliputi perbedaan spesies. KP0. kelainan mikropthalmia tidak dijumpai pada K0 dan KP0.93±1. KP0 dan P1. Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa hasil analisis statistik Wilcoxon’s rank sum test menunjukkan persentase kehilangan praimplantasi pada kelompok K0 sebesar 3. Besarnya persentase kehilangan praimplantasi ini diduga karena pemberian MSG mulai 0 hari hingga 16 kehamilan dan berlangsung secara terus menerus tanpa ada selang interval waktu. 1968).21% (3. Kelainan mikropthalmia merupakan kelainan yang terjadi pada bagian mata yang menyebabkan salah satu bagian lensa mengecil pada sebelah kanan ataupun pada sebelah kiri (Taylor.70% (16. dan P1. P3 merupakan dosis yang optimal dalam menyebabkan kematian intrauterus yang berupa embrio diresopsi. Demikian pula pada P2 (5. dan hidrosefalus (Tabel 3).26±1. Pengaruh Pemberian MSG terhadap Kejadian Kelainan Eksternal dan Internal pada Fetus Mencit Setelah Induk Diberi MSG Secara Gavage pada Umur Kehamilan 0 Hari Hingga 16 Hari. Biologi Sumatera 11 Fetus yang mengalami malformasi pada kelompok P2 cenderung meningkat bila dibandingkan kedua kelompok kontrol.92% (5. Hal ini mungkin disebabkan karena faktor internal dari induk mencit itu sendiri atau juga terjadi secara alami. 1. Menurut Wilson (1973). Namun pada P3 persentase embrio diresopsi sebesar 8.19±0. dan P2.06) dan pada KP0 persentasenya meningkat sebesar 2.00) dan menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata dengan K0. tetapi berdasarkan hasil uji statistik tidak berbeda. tetapi uji statistik menunjukkan tidak berbeda nyata dengan K0.17) dan menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata dengan kelompok K0 maupun KP0. 2006 J. Pada penelitian ini. anoptalmia. Hal ini didukung oleh Parthodiharjo (1980) dalam Tampubolon (2000) yang menyatakan.39±1. Kejadian kelainan eksternal pada fetus mencit yang induknya diberi MSG berupa mikropthalmia. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan. serta didukung oleh kemampuan induk mencit untuk menetralisir zat atau senyawa kimia yang bersifat toksik. Pada perlakuan P1 persentase munculnya kelainan . tetapi bila kematian yang terjadi pada akhir kebuntingan maka fetus akan diresopsi seluruhnya sehingga dihasilkan fetus yang mengalami maserasi.02) dan secara statistik tidak berbeda nyata jika dibandingkan dengan KP0 yang besarnya 5. serta penyebab dari faktor lain.29) yang menunjukkan perbedaan yang nyata jika dibandingkan dengan K0. sehingga sel-sel embrional tidak dapat mencapai tahap blatokista yang normal. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa persentase kematian intrauterus (Tabel 2) hanya berupa embrio diresopsi yang menunjukkan adanya peningkatan embrio diresopsi baik pada kedua kelompok kontrol maupun kelompok perlakuan. meskipun secara statistik tidak berbeda.18± 1. Kejadian ini diduga karena semakin meningkatnya pemberian dosis MSG yang diberikan. perbedaan strain dan lingkungan. P1. meskipun adanya peningkatan persentase embrio diresorpsi. dan acorea. Pada perlakuan P1 persentase embrio diresopsi sebesar 5. KP0. akorea.06).67% (3. dan P1.02). dan P2. P1.40%). Seperti yang dikemukakan oleh Schardein (1985) dalam Peniati (1994). Namun pada perlakuan P3 persentase fetus yang mengalami malformasi sebesar 11. Ini berarti bahwa terjadinya peningkatan persentase embrio diresopsi tersebut sejalan dengan kenaikan dosis MSG yang diberikan.00% (1. Malformasi yang ditemukan pada ketiga kelompok perlakuan berupa mikroptalmia. sedangkan kelainan internal yang muncul pada fetus mencit adalah hidrosephalus.80% (1. sehingga cenderung meningkatkan persentase malformasi pada fetus.62±1. Pada perlakuan P1 persentase kehilangan praimplantasinya sebesar 6. KP0. KP0.05% (2. Dengan demikian penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian MSG selama umur kehamilan induk mencit bersifat embriotoksik. anopthalmia.59% (1.24±1. Selain itu juga tergantung kerentanan dan kondisi fisiologis dari induk mencit yang berbeda-beda.64±1.77±0. bahwa perubahan komposisi substansi sangat mempengaruhi pertumbuhan embrio dan apabila substansi yang diperlukan embrio tersebut dimasuki zat atau bahan lain yang sifatnya toksik maka zat atau bahan tersebut dapat memasuki sistem peredaran darah kemudian akan mempengaruhi perkembangan embrio sehingga mengakibatkan embrio mati. bahwa kematian fetus pada awal kebuntingan merupakan ciri utama dari toksisitas perkembangan dan kematian yang terjadi berupa embrio resopsi yang ditandai oleh adanya bekas implantasi. yang dapat dilihat pada Tabel 3.02) juga menunjukkan perbedaan yang tidak nyata jika dibandingkan dengan K0.67% (5. Dengan demikian dapat mengganggu tahap perkembangan embrio pada waktu pembelahan.

bahwa pada K0 dan KP0 tidak dijumpai adanya kelainan anopthalmia. kemudian lipatan penutup primer mulai terbentuk dan serabut-serabut saraf muncul pada tangkai optik sehingga pada perkembangan selanjutnya serabut lensa ini berkembang secara vertikal maupun lateral mengisi rongga mata. Gilbert (1988) menyatakan bahwa mata terbentuk dari dinding otak depan. Kelainan acorea merupakan kelainan pada mata yang disebabkan karena salah satu bagian mata tidak mempunyai lensa mata (Taylor.00% yang menunjukkan perbedaan yang nyata dibandingkan K0. Sedangkan kelainan acorea ditemukan pada P2 persentasenya sebesar 1. Rugh (1968) menyatakan bahwa pada hari ke-11 kantung lensa mata mulai menutup dari epitel ektoderm bagian kepala sehingga lensa mata mulai muncul keluar. Seperti yang diungkapkan oleh Taylor (1968). sedang menurut Sadler (1993) kelainan mikropthalmia ini merupakan keadaan di mana seluruh mata terlalu kecil dan volume bola mata dapat berkurang sampai dua per tiga dari normal.82%. Rugh (1968) menyatakan organogenesis otak terjadi pada umur kebuntingan 7 sampai 14 hari. P1. Tetapi pada P1 dan P2 persentase kejadiannya meningkat sebesar 2.82% dan pada P3 menunjukkan peningkatan sebesar 3. dan P1. Dari Tabel 3 dapat dilihat. Kelainan ini tidak dijumpai pada K0. Plakoda lensa tersebut mengalami invaginasi juga membentuk kantung lensa. dan menunjukkan perbedaan yang tidak nyata dari K0l. Dari Tabel 3 dapat dilihat bahwa kelainan hidrosephalus ini tidak dijumpai pada kelompok K0 dan KP0.11%. 1968). sehingga salah satu bagian mata tidak dapat terbentuk pada saat organogenesis mata. yang akhirnya akan membentuk serabut lensa sekunder sehingga lensa mata akan mengecil (Gilbert. Keadaan ini menunjukkan bahwa tingkat kejadian munculnya kelainan mikropthalmia ini mungkin belum begitu tinggi sehingga secara analisis statistik Wilcoxon’s rank sum test juga menunjukkan hasil yang tidak berbeda antara kedua kelompok kontrol. P3 merupakan dosis yang optimal dalam menyebabkan kelainan hidrosephalus. Meskipun terjadi sedikit peningkatan persentase kelainan mikropthalmia ini. Rugh (1968) menambahkan bahwa pada hari ke-13 ini serabut-serabut lensa menyelaputi kantung lensa. Terjadinya kelainan anopthalmia ini diduga disebabkan karena pemberian MSG mengganggu terbentuknya kantung optik primer dari dinding otak depan sehingga plakoda lensa tidak dapat berinvaginasi membentuk kantung lensa dalam proses pembentukan mata. KP0.12 SABRI ET AL.27%. Pada P1. KP0. Mikropthalmia kerapkali merupakan akibat infeksi dalam rahim seperti sitomegalo virus atau toksoplasmosis. persentase kejadiannya sebesar 1. Plakoda lensa menginduksi kantung optik primer untuk membentuk cawan optik sehingga sel-sel mesenkim dari cawan optik yang berada di bagian posterior akan membentuk tangkai optik sehingga akhirnya membetuk mata. Dalam penelitian ini terlihat bahwa kelainan mikropthalmia tidak disebabkan oleh infeksi dalam rahim seperti sitomegalo virus dan toksoplasmosis. J. kemudian sel-sel mesenkim dari kantung optik primer tersebut akan menginduksi lapisan ektoderm hingga membentuk plakoda lensa. hidrosephalus ada 2 macam yaitu hidrosephalus internal yang ditandai oleh terjadinya pengumpulan cairan otak secara tidak normal di dalam ventrikel otak. Pada bagian anterior membentuk kantung optik primer. Sedangkan pada P3 persentasenya cenderung mengalami peningkatan yang cukup tinggi sebesar 15. Tingginya kejadian hidrosephalus pada kelompok perlakukan jika dibandingkan dengan kelompok kontrol mungkin disebabkan karena MSG yang diberikan pada saat dalam pembentukan otak. serabut-serabut lensa. namun berdasarkan hasil uji statistik tidak berbeda dari kelompok K0 dan KP0. Terjadinya kelainan acorea ini diduga karena pemberian MSG dapat mengganggu pembentukan lensa mata yang berasal dari kantung lensa yang akan berkembang membentuk lensa dari periode organogenesis mata sehingga lensa mata gagal terbentuk (Gilbert. dan fisura choroid mulai terbentuk.11% begitu pula pada P2 persentasenya sebesar 1. Biasanya kelainan ini dihubungkan dengan cacat mata lainnya. yaitu pada saat proses diferensiasi jaringan lensa di mana sel-sel epitel ekuatorial di bagian posterior yang mengelilingi jaringan lensa tidak mengalami pemanjangan ke arah anterior untuk membentuk serabut lensa primer yang akan menutupi seluruh rongga lensa mata.75%. dan hidrosephalus eksternal yang ditandai oleh penimbunan cairan otak di . Keadaan ini menunjukkan bahwa tingkat kejadian dari munculnya kelainan hidrosephalus meningkat sejalan dengan peningkatan dosis MSG yang diberikan. 1988). pada P2 persentasenya sebesar 1. Biologi Sumatera mikropthalmia sebesar 1. tetapi kelainan mikropthalmia diduga karena pemberian MSG yang mengganggu periode organogenesis mata. 1968).75%. 1988). meski tidak menunjukkan adanya perbedaan yang nyata dari kelompok K0 dan KP0. dan P1. meski demikian hasil analisis statistik menunjukkan tidak berbeda nyata dengan K0.82% dan P3.22% dan 7. dan pada P3 persentasenya sebesar 3. Kelainan anopthalmia merupakan kelainan menyebabkan kehilangan salah satu bagian mata baik sebelah kanan ataupun sebelah kiri (Taylor. Terjadinya hidrosephalus disebabkan oleh adanya penimbunan cairan otak dalam ventrikel serebrum. KP0. dan P2.

02) 22.05) K0 Tabel 3.80 aA 9.75 15.22 (10.93 ±1.40 bA 7.05 (1.02) 6.35 aA 9.17) 8.11 1.00 (1.40 aA 10.17) 5.60 P2 1.60 a 17.29) 16.23) P3 11.82 1.46 ±1.67* (3.88 ±0.92 (5.00* Keterangan: Uji statistik Wilcoxon’s Rank Sum Test *Berbeda nyata dari kontrol (p<0. Pada penelitian ini kelainan hidrosephalus yang mucul adalah hidrosephalus internal yaitu hidrosephalus yang disebabkan oleh adanya penimbunan cairan otak pada ventrikel lateral (ventrikel I dan ventrikel II) karena adanya penyumbatan pada rongga otak tengah (mesensephalon) yang disebut akuaduktus silvius sehingga cairan otak tersebut tidak dapat mengalir menuju ventrikel ke IV kemudian akan terkumpul diventrikel lateral dan biasanya hidrosephalus ini disertai dengan adanya penipisan mantel (selaput) yang melapisi rongga otak (Sadler.00 P1 1.21 (3.75 3. Biologi Sumatera 13 permukaan otak dan durameter.06) 5. Rataan penampilan organ reproduksi induk mencit pada kehamilan 0 hingga 16 hari setelah diberi MSG secara gavage Berat Badan Fetus Jumlah Fetus Jumlah Implantasi Jumlah Korpus Hidup (g) Hidup Luteum K0 1.75 3.60 aA 10.05* (2.Vol.07 aA 5.40 a 15.00 a 11.35±1.19 (1. Tabel 1.22 P2 5 11 1.60 KP0 1.80a 19.20) Persentase Kehilangan Praimplantasi 3.80 P3 1.39 ±1.05 aA 7. Kejadian kelainan eksternal dan internal pada fetus mencit yang induknya diberi MSG secara gavage pada umur kehamilan 0 hingga 16 hari Jumlah Fetus Mengalami Malformasi (%) Jumlah Jumlah Fetus Malformasi Eksternal Malformasi Internal Perlakuan Induk Hidup Mikropthalmia Anopthalmia Acorea Hidrosephalus K0 5 22 0 0 0 0 KP0 5 22 0 0 0 0 P1 5 18 1.18±1.35 aA 9.59 (1. Persentase penampilan organ reproduksi induk mencit pada umur kehamilan 0 hingga 16 hari diberi MSG secara gavage Perlakuan Persentase Fetus Mengalami Malformasi Persentase Kematian Intrauterus Embrio Resorb 0.27 P3 5 16 3.10) P2 5.05) . 1993).08 aA 5.00) 0 (0) KP0 0 (0) P1 2.24±1.02) 5.40 (1.11 0 2.26±1.40) Keterangan: Uji statistik Wilcoxon’s Rank Sum Test *Berbeda nyata dari kontrol (p<0.67 (5.62±1.20 Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama pada masing-masing perlakuan tidak berbeda nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan berbeda nyata pada taraf 1% (huruf besar) menurut uji Duncan (DnMRT) Perlakuan Tabel 2.80abA 8.70* (16. 2006 J.19 ±0.06) 2.80 a 14.82 7.82 1.71±1.77±0.93 ±1.80 (1. 1.

1992. Tesis. 1994. Edisi Keempat. Suntoro HS. 1990. Secon Edition. Taylor. Pembiakan. Methods For Asssing Female Reproduvtive and Development Toxicology in Principles and Methods of Toxicology. Kamaludin. New York: AW Hayes Raven Press.K. Fisiologi Reproduksi pada Mamalia dan Unggas.V. Edidi Ke-2. Edisi Ke-20. Pascasarjana. 1983. Paper Teratologi. Jakarta: Penerbit PT Penebar Swadaya. Embriologi Kedokteran. Mayes P. Dhindsa KS. 1981. 2: 19-23 C. Edisi Pertama. Bandung: Penerbit Tarsito. Nizamuddin. Metode Pewarnaan. London: Academic Press. Ltd. Biokimia’ Harper. 1989. Departemen Pendidikan Nasional. dari Satu Sel Menjadi Organisme. Sugandi E. 1995. Takasaki Y.) terhadap Perkembangan Prenaral Mencit (Mus musculus) Swiss Webster Albino. Bandung. Practical Teratology. Manson J. An Atlas of Human Anatomy. 2000. Benih Masa Depan. Yogyakarta: Penerbit Andi Offset. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 1988.. Prosedur Penelitian Untuk Penelitian Pertanian. Aditif Makanan Dan Obat-obatan.A. Pemeliharaan. Biologi Sumatera DAFTAR PUSTAKA Anggara U. Gomez. 1994. Rancangan Percobaan. Anatomi dan Fisiologi Ternak. 2000. 1994. Syhrum MH. 1992. Nalbandov A. Pengaruh Ekstrak Kencur (Kaempferia galanga L. Kang Y. Sabri. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Jakarta: Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia . Pengaruh Monosodium Glutamat (MSG) Per Oral terhadap Spermatogenesis dan Jumlah Anak Tikus Putih Jantan Dewasa.M. Sukra Y. Jakarta: Penerbit Penerbit Buku Kedokteran EGC. Histological Changes in The Thyroid Gland Induced By Monosodium Glutamat In Mice. Jakarta: Universitas Indonesia Press. Pusat Penyelidikan Racun Negara (USM). ITB. Darmawan I. 1986. Sinopsis Histologis.14 SABRI ET AL. Yatim W. Nutrisi dan Makanan Tambahan. Frandson RD.J. Sugiarto. Gomez. dan Penggunaan Hewan Percobaan di Daerah Tropis. Jakarta: Penerbit Bhratara Karya Aksara. Medan: Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. 1979. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. 1996. Reproduksi dan Embriologi. J. Tambajong J. . Smith JB. Jurnal Kedokteran Yarsi 8: 93-113. Reproduksi dan Embriologi. Japan. 2000. 1995. Jurnal Kedokteran Malaysia. Harahap R. 2001. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. E. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia Press. 2000. Toxicological Studies of Monosodium Glutamate in Rodents. Sadler TW. Gravner D. 1988.

Sumatera Utara. FMIPA. batang. Bagian tanaman yang digunakan untuk kultur jaringan biasanya adalah jaringan yang masih muda yang berasal dari organ vegetatif seperti akar. 1. Januari 2006. 1. sehingga produksi buah belum seperti yang diharapkan. Media mempunyai 2 fungsi utama. Keberhasilan kultur in vitro ditentukan oleh media dan macam tanaman. yaitu untuk mennyuplai nutrisi dan . Faktor komposisi media: yaitu ½ MS dan MS penuh. Penelitian dirancang dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dalam Faktorial dengan 5 kali ulangan. 15 – 19 ISSN 1907-5537 Vol. seperti protoplasma. yaitu hanya 39 ton pada tahun 2000.4 D dan tidak berbeda nyata dengan 2 mg/L 2. 2 mg/L 2. Menurut Faucon (1998) dan Borowicz (2001) penyakit yang umum menyerang terong belanda di negara-negara Amerika Latin adalah jenis-jenis jamur mikorhiza dan berbagai jenis nematoda yang memberi pengaruh terhadap produksi buah. Medan 20155 Abstrak Telah dilakukan penelitian tentang inisiasi in vitro biji muda terong belanda (Solanum betaceum Cav. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media yang terbaik untuk proliferasi dan diferensiasi eksplan adalah media MS. Universitas Sumatera Utara. Solanum betaceum PENDAHULUAN Dalam usaha meningkatkan perekonomian bangsa sangat diperlukan pengembangan berbagai usaha baik dari sektor industri maupun sektor pertanian dan pangan. Dalam 2 tahun ini. dan M. bahkan sudah mulai merambah ke daerah Jakarta serta daerah Jawa lainnya. Sedangkan zat pengatur tumbuh terbaik didapatkan pada penambahan 2 mg/L 2. Isnaini Nurwahyuni. jaringan. Keywords: immature seed. kelompok sel. dan daun maupun organ generatif seperti embrio. Terong belanda telah dikenal di kalangan masyarakat Sumatera Utara dalam bentuk minuman jus buah segar yang sangat diminati. sel. terong belanda ini juga mempunyai potensi yang cukup baik untuk dijadikan sebagai buah kering yang tentunya akan menambah nilai ekonominya. 1 15 INISIASI IN VITRO BIJI MUDA TERONG BELANDA (Solanum betaceum Cav. terong belanda mulai dikembangkan pengolahannya dalam bentuk sirup yang ternyata cukup diminati oleh masyarakat baik dari daerah Medan sekitarnya. sehingga bagian-bagian tersebut dapat memperbanyak diri dan bersegrerasi menjadi tanaman lengkap kembali (Djapfar. anther.) Berastagi Sumatera Utara pada komposisi media dan zat pengatur tumbuh yang berbeda. Selain itu hama dan penyakit yang sering menyerang tanaman terong belanda sering merupakan faktor pembatas yang mempengaruhi kualitas buah yang dihasilkan. Kultur jaringan adalah suatu metode untuk mengisolasi bagian tanaman.) BERASTAGI SUMATERA UTARA PADA KOMPOSISI MEDIA DAN ZAT TUMBUH YANG BERBEDA Elimasni. Selain itu. No. 1990).4 D. Terong belanda (Solanum betaceum Cav. meski pada tahun 2002 terjadi pelonjakan yang sangat signifikan yaitu menjadi 101 ton dengan tingkat pertumbuhan 123%. dan organ serta menumbuhkan dalam kondisi aseptik. Hal ini dapat dilihat dari data produksi yang dikeluarkan oleh Departemen Pertanian (2003). terutama usaha-usaha untuk meningkatkan baik kualitas maupun kuantitas jenisjenis pangan yang bernilai ekonomis. hal yang sama juga didapatkan untuk panjang tunas. hlm. karena rasanya yang asam manis. Jalan Bioteknologi No. Padang Bulan. 1 mg/L BAP dan 1mg/L BAP + 2 mg/L 2. akan tetapi produksi sirup dan selai terong belanda belum dalam jumlah yang banyak karena ketersediaan buahnya yang relatif belum banyak.4 D. biji.) merupakan tanaman jenis terong-terongan dari famili Solanaceae.Jurnal Biologi Sumatera. Kabupaten Karo. 1995). Zaidun Sofyan Departemen Biologi. Penelitian tentang terong belanda ini masih dirasakan kurang sekali dan belum ada yang meneliti tentang upaya peningkatan produktivitas dengan cara perbanyakan secara in vitro baik pada organ vegetatif maupun pada organ generatif yaitu dengan teknik kultur jaringan. atau ovul serta bagian lain dari bunga (Mathius & Harris. faktor kedua adalah zat pengatur tumbuh yaitu: kontrol.4 D + 1 mg/L BAP. Upaya budi daya terong belanda yang dilakukan selama ini lebih bersifat tradisional. Terong belanda tumbuh di Indonesia hanya pada beberapa daerah terutama di daerah Berastagi.

Adanya variasi media untuk tanaman menimbulkan beberapa macam media yang digunakan untuk kultur yaitu Murashige dan Skoog. Sumatera Utara. Uji statistik yang akan digunakan untuk menguji antar kelompok adalah uji Anova (Prahardini. dan lain-lain. tipe proliferasi – differensiasi eksplan b. Bahan yang digunakan adalah buah muda terong belanda yang diambil dari Berastagi. Hendaryono & Wijayani. 1993). Bahan steril clorox dan alkohol serta bahan antioksidan L–cystein.4 D adalah auksin yang paling aktif dan dipergunakan sebagai herbisida (Wattimena. Ruang pelihara disemprot dengan larutan aseptik 2 kali sehari dengan alkohol 70%. et al. Zat pengatur tumbuh adalah kelompok hormon. Persentase pembentukan kalus c. di mana menurut susunan kimianya kinetin adalah 6–furfurilaminopurin (Wattimena. Metodologi Penelitian. Kemudian biji dibersihkan dari kotoran dengan mencuci di bawah air mengalir dan merendamnya selama 30 menit dalam larutan deterjen. MS. Media MS paling banyak digunakan terutama untuk tanaman hortikultura (Prihardini. 1993). sedangkan pengaruh zat pengatur tumbuh dan . Alat-alat yang dipakai direndam dalam alkohol 96%. 6–benzyl amino purine (BAP) mempunyai struktur yang serupa dengan kinetin. Woddy Plant Medium (WPM). Setelah itu eksplan direndam dalam betadine 10% selama 5 menit dan selanjutnya dikeringkan dengan menggunakan kertas saring steril. zat pengatur 2. NAA dipergunakan sebagai hormon akar sedangkan 2.4 diklorofenoksi asetat (2.4 D) adalah senyawa tanpa ciri-ciri indol tetapi mempunyai aktivitas biologis seperti IAA. Sitokinin mempengaruhi berbagai proses fisiologi di dalam tanaman dan juga berpengaruh di dalam perkembangan embrio. Faktor komposisi media A1 : media ½ MS A2 : media MS II.4 D dan BAP. Sejumlah senyawasenyawa subtitusi adenin yang mempunyai aktivitas seperti sitokinin terdapat di dalam pertumbuhan kalus tembakau. providode iodine. Laminar air flow dihidupkan dan dibersihkan dengan alkohol 96% selama 15 menit... baik hormon tumbuhan alamiah maupun sintetis yang berupa bahan-bahan kimia bukan unsur hara tanaman dan tidak dijumpai pada tanaman tetapi bila diberikan pada tanaman mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya (Djafar. Inokulasi Eksplan Biji.16 ELIMASNI ET AL. 1988). Parameter yang Diamati a. zat pengatur tumbuh juga memegang peranan penting dalam melakukan teknik kultur. et al. Persentase eksplan yang terkontaminasi HASIL DAN PEMBAHASAN Tipe Proliferasi – Diferensiasi pada Biji.4 D B3 : 1 mg/l BAP B4 : 2 mg 2. 1998. 1994). Botol berisi eksplan ini ditempatkan pada rak kultur untuk penyimpanan dengan suhu ruang dijaga sekitar 26–28ºC dengan perioditas cahaya selama 16 jam terang dan 8 jam gelap dengan menggunakan lampu folurescense 30 watt. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial dengan 2 faktor yang diteliti yaitu: I. Asam naftalena asetat (NAA) dan asam 2. Biji yang diperoleh dimasukkan ke dalam larutan asam askorbat 100 ml/l dan kemudian dibilas dengan akuades (Prihardini. 1988). Biologi Sumatera untuk mengarahkan pertumbuhan melalui zat pengatur tumbuh (Katuuk. 1993). Gamborg (B5). BAHAN DAN METODE Persiapan Bahan. Faktor Zat Tumbuh B1 : kontrol (tanpa zat pengatur) B2 : 2 mg/l 2. Linsmaier. aluminium foil dari botol kultur dibuka dan eksplan diinokulasikan dengan posisi biji terbenam sebagian ke dalam media. Untuk itu peneliti ingin melakukan penelitian pendahuluan tentang kemungkinan pembudidayaan terong belanda ini dengan melakukan pengkulturan pada organ generatifnya atau biji muda dengan menggunakan komposisi media dan zat pengatur tumbuh yang berbeda. 1990). Dengan bantuan pinset steril.4 D + 1 mg/l BAP Masing-masing perlakuan akan terdiri dari 10 botol sampel dengan 3 kali ulangan. Media MS dan ½ MS padat. Pengambilan Sampel. Eksplan biji kemudian direndam dalam larutan clorox 10% selama 5 menit dan dicuci lagi dengan akuades.. et al. Senyawa-senyawa yang tidak mempunyai ciri-ciri indol tetapi mempunyai gugus asam asetat juga mempunyai keaktifan biologis seperti IAA. kemudian botol ditutup kembali. Jumlah tunas d. Eksplan sudah siap untuk ditanam pada media kultur. dan belate. Selain media. Buah terong belanda sebagai sumber eksplan diambil dari daerah Brastagi dan dipisahkan bijinya dari daging buahnya. Nitsch dan Nitsch. Kabupaten Karo. Dari hasil uji statistik diketahui perlakuan komposisi media yang berbeda memberikan pengaruh berbeda nyata terhadap proliferasi–diferensiasi eksplan. J.

Pengaruh zat pengatur tumbuh terhadap persentase pertumbuhan kalus tertinggi ditemukan pada perlakuan B1 dan B3 yaitu sekitar 80%. dan vitamin dengan jumlah yang lebih tinggi dan konsentrasi ini cukup untuk mendukung pertumbuhan kalus yang relatif lebih banyak.04 87. Zat pengatur tumbuh tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap proliferasi– diferensiasi eksplan. Selanjutnya Heddy (1996) juga menyatakan bahwa media MS dengan penambahan auksin dan sitokinin banyak dipakai untuk inisiasi kalus pada kultur tanaman. Penambahan BAP dalam kultur berfungsi untuk mendorong sitokinesis tanpa diikuti diferensiasi sel atau jaringan.13Aa Rataan 59. Untuk uji rata-rata proliferasi–diferensiasi eksplan dapat dilihat pada Tabel 1.07).13 87. auksin digunakan secara luas dalam kultur jaringan untuk merangsang proliferasi eksplan. Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan bahwa 2. juga menyatakan bahwa proliferasi– diferensiasi eksplan terjadi karena adanya pembelahan sel oleh auksin.13 73. Hal ini menunjukkan bahwa penambahan auksin pada media kultur baik secara mandiri maupun secara kombinasi berpengaruh terhadap tipe proliferasi–diferensiasi eksplan. (1991). Biologi Sumatera 17 interaksinya tidak berbeda nyata. (1991) menyatakan . Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar eksplan yang dikulturkan berkalus. Pada perlakuan B3 gabungan antara 2. Tabel 1.13 87. Demikian juga dengan Gardner. Hal ini disebabkan karena dalam media MS terkandung beberapa komponen garam-garam anorganik yang dibutuhkan oleh eksplan untuk proliferasi terutama adanya unsur N yang diberikan dalam 2 senyawa yaitu dalam bentuk ammonium nitrat dan kalium nitrat.13 87.Vol. Persentase kalus yang tinggi pada B1 dan B3 ini disebabkan oleh aktivitas 2. Jadi dengan demikian kebutuhan tanaman terhadap hara makro dan mikro terpenuhi sehingga menyebabkan eksplan berkembang lebih bagus dari media ½ MS. kecuali komposisi media dan zat pengatur tumbuh. Rata-rata persentase kultur berkalus (%) pada kultur biji terong belanda pada komposisi media dan zat pengatur tumbuh yang berbeda A/B B0 B1 B2 B3 Rataan A1 0 80 0 60 35bB A2 60 80 60 100 75aA Rataan 30bB 80aA 30bB 80aA Keterangan: Notasi yang menunjukkan perbedaan sangat nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan taraf 1% (huruf besar) menurut uji Duncan. Tabel 2. Namun dari data terlihat bahwa perlakuan B1 (2 mg/l 2. Media MS memang merupakan komposisi media tumbuh yang biasa digunakan. Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa proliferasi – diferensiasi eksplan terbaik didapatkan pada perlakuan A2 (media MS) (87. 2006 J.13 87.4 D + 1 mg/l BAP) merupakan perlakuan terbaik dibandingkan dengan perlakuan B0 dan B2 terhadap proliferasi–diferensiasi eksplan. Ini disebabkan karena media MS mengandung komposisi unsur-unsur hara makro. Persentasi Kultur yang Berkalus (%). et al.13 66.07Ab A2 87.13) yang berbeda nyata dengan A1 (media ½ MS) (66. 1. Hal ini sesuai dengan penelitian Jenimar (1993). Heddy (1996) dan Gardner et al. Hasil uji DnMRT terhadap persentase kalus ditampilkan pada Tabel 2.13 Keterangan: Notasi yang menunjukkan perbedaan sangat nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan taraf 1% (huruf besar) menurut uji Duncan. Selanjutnya Heddy (1996) menyatakan bahwa 2. Rata-rata pembentukan tipe proliferasi– diferensiasi eksplan pada kultur biji terong belanda pada komposisi media dan zat pengatur tumbuh yang berbeda A/B B0 B1 B2 B3 Rataan A1 30.4 D merupakan jenis auksin yang mempunyai potensi tinggi untuk proliferasi– diferensiasi eksplan.4 D) (87. Gunawan (1987) menyatakan bahwa media dasar MS merupakan komposisi media tumbuh yang sangat baik digunakan untuk inisiasi eksplan pada perbanyakan tanaman.13) dan B3 (2. di mana eksplan tunas kentang yang dikulturkan dalam media MS menghasilkan proliferaasidifensiasi eksplan hingga 80%.13 59.4-D yang ditambahkan ke dalam kultur. Menurut Gunawan (1987). pengujian secara statistik menunjukkan bahwa interaksi tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentasi eksplan berkalus.05 87.4-D dan BAP memberikan rasio yang seimbang di antara kelompok zat tumbuh tersebut sehingga kultur diarahkan untuk pembentukan kalus. Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa persentase kalus tertinggi ditemukan pada perlakuan A2 (medium MS) yaitu 75% dari eksplan yang ditanaman berkalus dan berbeda nyata dengan A1 (medium ½ MS).96 87.09 87. yang berbeda nyata dengan kedua perlakuan lainnya B0 dan B2. Gunawan (1987) menyatakan bahwa media dasar MS merupakan komposisi media tumbuh yang sangat baik digunakan untuk pertumbuhan kalus pada kebanyakan tanaman. mikro.4-D lebih responsif dalam membentuk kalus jika dibandingkan dengan jenis auksin lainnya. Kemudian vitamin B yang juga diberikan dalam beberapa jenis.

Cetakan ke-2. Keberadaan BAP endogen yang berasosiasi dengan BAP eksogen menyebabkan ekplan tersebut berdiferensiasi membentuk tunas. Kombinasi perlakuan antara komposisi media dan zat pengatur tumbuh secara statistik tidak berpengaruh namun dari hasil yang ditemukan pada perlakuan A2B3 didapatkan persentase kalus tertinggi yaitu 100%. DAFTAR PUSTAKA Borowicz V.desserttropical. Dari Tabel 3 di atas terlihat bahwa perlakuan B2 dan B3 memberikan jumlah tunas tertinggi pada kultur biji muda terong belanda yaitu 1. USU.00bcAB B2 2. Teknik Kultur Jaringan Pengenalan dan Petunjuk Perbanyakan Tanaman Secara Vegetatif.20 1. kotoran. Gunawan LW. Ed-4. Faucon P & Borowicz. Departemen Pertanian. Teknik Kultur Jaringan.5%-1% selama 5-10 menit. Pada kondisi ini terjadi kerjasama yang sinergis dari kedua zat pengatur tumbuh tersebut yang menyebabkan terjadinya pembelahan sel secara lebih cepat. sehingga dibutuhkan seni kerja yang baik. Jakarta: UI Press. 2003.00 1. inisiasi kultur yang bebas kantaminan merupakan langkah yang sangat penting karena pada bahan tanaman banyak mengandung debu. Data jumlah tunas dapat dilihat pada Tabel 3. Medan. Gunawan (1995) mengatakan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 2001.deptan. 1996. Yogyakarta: Kanisius.18 ELIMASNI ET AL.40 1.00 1. Pearce RB & Mitchell RL.50cB B1 1. Fisiologi Tanaman Budidaya. Djafar ZR. 2001. Palembang.90aA Rataan 1. Persentase Eksplan yang Terkontaminasi.4-D pada Perbanyakan Kentang Secara Kultur Jaringan.16%. Keterangan: Notasi yang menunjukkan perbedaan sangat nyata pada taraf 5% (huruf kecil) dan taraf 1% (huruf besar) menurut uji Duncan. Nilai ini tertinggi di antara perlakuanperlakuan yang lain.60 2. PAU Bioteknologi IPB. Herdaryono DPS & Wijayani A. Rata-rata jumlah tunas pada kultur biji terong belanda pada komposisi media dan zat pengatur tumbuh yang berbeda A/B A1 A2 Rataan B0 0. J. Hormon Tumbuhan.id. Jakarta: Rajawali. Dasar-Dasar Agronomi. Jenimar.4-D dengan BAP menghasilkan rasio konsentrasi yang seimbang untuk mendukung pertumbuhan kultur membentuk kalus. . Tabel 3.80 0. Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman. dan berbagai kontaminan yang dapat mengkontaminasi eksplan. http://www. 1987. Dari hasil ini terlihat bahwa penambahan 2. Tamarillo. 1990. eksplan yang berasal dari alam memiliki tingkat kontaminasi yang tinggi. 1993. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Bogor. Biologi Sumatera bahwa kalus terbentuk karena adanya pembelahan sel yang dipicu oleh auksin dan 2. Menurut Yusnita (2003). Kalau dibandingkan dengan penelitian-penelitian lain dengan kondisi laboratatorium yang sama persentase kultur yang terkontaminasi tergolong sedikit. Data Agribisnis Wilayah Sumatera. dan penggunaan tween-20 selama 5-10 menit.com Gardner FP.90. 1991.4-D merupakan jenis auksin yang berpotensi tinggi untuk membentuk kalus. Badan Kerjasama Universitas Wilayah Barat.90aA B3 1.30 1. Dari hasil analisa statistik bahwa interaksi dan komposisi media tidak memberikan pengaruh yang nyata kecuali zat pengatur tumbuh berpengaruh nyata terhadap jumlah tunas. Heddy S. Tree tomato.35 Kontaminasi kebanyakan dari jenis bakteri. http://www. Do arbuscular mycorhyzal fungi alter plant pathogen relations. meskipun demikian hal ini dapat diatasi apabila teknik sterilisasi dan penanaman dilakukan dengan cara yang aseptik seperti misalnya perendaman eksplan di dalam larutan NaOCl 0. Menurut Wilkins (1992) dan Sutopo (1993) bahwa sitokinin dalam kultur jaringan berperan dalam pembelahan sel dan pembentukan tunas. hal ini kemungkinan disebabkan karena kondisi biji dari terong belanda ini yang berlendir dan agak susah dihilangkan walaupun sudah digosok dan dicuci selama satu jam dalam air mengalir. Jumlah Tunas.go. 1994. Ecology 82: 3057-3068. dan berbagai prosedur sterilisasi. Hal ini disebabkan karena sterilisasi dan proses penanaman dilakukan secara aseptik dan menuruti prosedurprosedur yang sudah teruji. sesuai dengan jenis eksplan yang digunakan.40 1. Hal ini disebabkan karena penambahan BAP ke dalam media pertumbuhan sehingga eksplan yang tumbuh berdiferensiasi ke arah tunas. Agronomi Network WUAE Project.agribisnis. Fakultas Pertanian.20 0. Penggunaan Zat Pengatur Tumbuh BAP dan 2. Persentase ekplan yang terkontaminasi pada kultur biji muda terong belanda sebanyak 4.

Biologi Sumatera 19 Katuuk JRP. 1998. Wattimena GA. 1992. 1993. 1993. 2006 J. Prahandini PE. Warta Puslit Bioteknologi 1: 2. Komposisi Media dan Eksplan Untuk Inisiasi Salak Secara In Vitro. Sutopo L. Jakarta: Agromedia. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Teknik Kultur Jaringan dalam Mikropropogasi Tanaman. PAU Bioteknologi IPB.Vol. . Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. 1995. Bogor. Teknologi In Vitro Untuk Pengadaan Tanaman Perkebunan. 1. Jakarta: Rajawali Press. Teknologi Benih. Sudaryono RT & Purnomo S. Bioteknologi Tanaman. Kultur Jaringan Cara Memperbanyak Tanaman Secara Efisien. Jakarta. Mathius NT & Nurhaimi H. 2003. Yusnita.

JAKARTA Erni Jumilawaty Departemen Biologi. Jakarta was observed during February–June 2001.00 AM. breeding season. Jalan.e 06. take care of child. Medan 20155 Abstract Black Cormorants (Phalacrocorax sulcirostis) Daily Behavior ofreeding Season in Pulau Rambut Wildlife Sanctuary. There were 10 pair cormorant selected for study daily behavior in theirs nest. body maintenance. Perilaku harian organisme merupakan faktor yang berasal dari hewan itu sendiri. Studi ini bertujuan untuk mengetahui perilaku harian burung pecuk pada saat musim berbiak tiba meliputi perilaku membuat sarang. locomotion (1430 point). bangau bluwok.00 AM. Padang Bulan. Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 1.00 PM child of cormorant were eaten four time in 11 hour i. 1992. 2 jenis kowak (Mardiastuti. locomotion and social behavior. di mana organisme membutuhkan keamanan dan ketersediaan makanan lebih baik dibandingkan pada saat tidak memasuki musim berbiak. Nest contruction and take care of child were done by two parents.00 PM and 16. 1991).12 days. dan perilaku lainnya yang dilakukan pada saat musim berbiak. Januari 2006. agonistik.00 AM. Universitas Sumatera Utara. Turn over ensued to three time in 11 hour i. pecuk ular.00 WIB dengan menggunakan metode scan sampling. Burung-burung ini memiliki musim berbiak yang hampir bersamaan pada setiap tahunnya sehingga merupakan pemandangan yang sangat menarik untuk mengamati perilaku harian dari burung-burung tersebut pada saat musim berbiak tiba. daily behavior. No. Bioteknologi No. Pohon tempat bersarang ditandai dengan pita dan diberi nomor. BAHAN DAN METODE Studi ini dilaksanakan pada bulan FebruariJuni 2001 bertepatan dengan musim biak 2001 di Suaka Margasatwa Pulau Rambut. Pulau Rambut Wildlife PENDAHULUAN Setiap organisme memiliki kemampuan untuk hidup. 3 jenis pecuk. Faktor yang sangat menentukan perilaku ini di antaranya habitat tempat tinggalnya meliputi keamanan dan ketersediaan sumber daya hayati yang dapat mendukung kelestariannya terutama pada saat berbiak. Perilaku yang diamati meliputi: mengeram. dengan mengambil 10 pasang pecuk yang sedang berbiak. perawatan diri. 1 PERILAKU HARIAN PECUK HITAM (Phalacrocorax sulcirostis) SAAT MUSIM BERBIAK DI SUAKA MARGASATWA PULAU RAMBUT. .00 – 17.20 Jurnal Biologi Sumatera. Keywords: cormorant. melompat. 1965. Nest contruction were spent 7 . dan berkembang biak pada habitat yang sesuai dengannya. dan terbang dengan mencocokkan gambar perilaku berdasarkan buku acuan menurut (Van Tets.00 – 17. hlm. 13. Mahmud. Suaka Margasatwa Pulau Rambut (106˚31’30”E. jenis perilaku harian yang kelihatan pada saat musim berbiak tiba akan berbeda dengan jenis perilaku yang tampak pada jenis burung lainnya. take care of child (1352 point) and social interaction (1307 point) were in the greatest quantities and turn over brood (53 point) were smaller quantities than the others behavior.07. 3 jenis kuntul. 20 – 23 ISSN 1907-5537 Vol. 265 hours were spent to study behavior. membuat sarang.00-17.00 – 13. Seperti halnya pada burung air.00 PM dan 16. Setiap hewan memiliki karakter perilaku harian yang berbeda sesuai anatomi dan morfologi tubuh yang dimilikinya. tumbuh. 12. FMIPA. mengasuh anakan. that is nest construction. Body maintenance (2709 point). Mendall. 5˚57’S) merupakan sebuah pulau kecil dan masih merupakan bagian dari Kepulauan Seribu.00 – 10.00 – 10. Salah satu cara untuk mempertahankan hidupnya adalah dengan mempertahankan perilaku keseharian pada saat musim berbiak. 1936 dan Johnsgard.00 – 14. memberi makan.e 09. Pulau Rambut dihuni 14 jenis burung-burung air yaitu: 2 jenis cangak. roko-roko. 1. Pulau ini merupakan habitat burung air terbesar di Jawa Barat dan telah ditetapkan menjadi Suaka Margasatwa pada tahun 1999 melalui SK. 09.00 PM. The nests were marked with textile band. Studi dilakukan dari sebuah pohon dengan bantuan teropong binokuler mulai jam 06. 275/kpts-II/1999. pelatuk besi.00 . 1993).

Untuk mengetahui apakah anakan sudah menetas dapat dilakukan dengan cara: 1) melihat cangkang yang terdapat di sekitar pohon yang diamati. 2006 J.00-7. Data keseluruhan jumlah dan persentase perilaku diringkas pada Gambar 4 dan 5.00 WIB dan antara jam 8. Pada Gambar 1-3 dapat dilihat bahwa aktivitas perilaku paling banyak dilakukan pada jam 10. 10. mengasuh anak dan membuat sarang paling tinggi terjadi pada jam 06. diikuti dengan lokomosi. Bila dibandingkan dengan hasil penelitian Sarjono (1995) dan Fithri (1987) perilaku istirahat pecuk yang sedang berbiak lebih kecil dibandingkan dengan pecuk non berbiak. Kesulitan membedakan ini terutama pada saat pengamatan perilaku mengasuh anakan dan mengeram. dan interaksi sosial. perilaku mengeram dan perilaku mengasuh anak. diiringi dengan aktivitas perawatan tubuh yang selalu mengikuti semua aktivitas lainnya. menelisik. Setiap memberi makan. Seiring dengan bertambahnya usia anakan. . hal ini disebabkan ke 4 aktivitas ini saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. aktivitas induk mencari makan juga akan bertambah selain itu bila anakan sudah hampir besar induk juga harus menambah ranting untuk sarang.00 WIB. siang.00 WIB.0010. aktivitas paling rendah terjadi pada saat sore hari di mana pecuk sudah kembali ke sarang setelah lelah melakukan aktivitas pada saat siang dan pagi hari. Sedangkan pointing. 1. Sedang waktu istirahat lebih rendah bila dibandingkan dengan pecuk yang tidak berbiak. dan sore (Gambar 1-3) dapat dilihat bahwa aktivitas paling tinggi pecuk pada saat bersarang terjadi pada saat siang hari. 2) mendengarkan suara anakan.00 (sore hari) WIB. dibandingkan pecuk yang tidak dalam keadaan berbiak. Pada Gambar 4 terlihat bahwa puncak perilaku mengeram terjadi dua kali yaitu pada jam 6. Hal kedua dapat dilakukan bila pengamatan dilakukan dekat dengan objek.00-14.00-14. Dengan kata lain pecuk yang sedang berbiak lebih banyak melakukan aktivitas utama di antaranya perawatan tubuh. induk datang 2-4 kali datang dan pergi. Baru setelah anakan berumur seminggu terlihat mulai menggerakgerakkan kepalanya. Umumnya ke-15 individu ini memperlihatkan jam pertukaran yang hampir sama setiap hari.00-17. Pada pagi hari pecuk lebih banyak menghabiskan waktunya untuk merawat dan melindungi anakan. Kenyataannya.00-7. hal ini dikarenakan pecuk lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengeram. dan duduk di dalam sarang untuk melindungi anakan. Pada Gambar 4 dapat dilihat ada 3 aktivitas yang dilakukan dengan proporsi yang hampir sama yaitu perilaku perawatan tubuh. Nest worring umumnya dilakukan pada saat siang hari saat udara panas bersamaan dengan kegiatan cooling dan panting. Aktivitas mengeram. Pada Gambar 4 terdapat variasi jam pertukaran pengeraman dan pemberian makan atau mengasuh anak. dan mengasuh anakan. Dari semua aktivitas selama mengeram yang paling sering dilakukan oleh pecuk adalah berputar.00-12. Untuk memberi makan anakan biasanya induk dapat berkali-kali datang dan pergi sampai anakan benar-benar memperoleh makanannya.00-17. Biologi Sumatera 21 HASIL DAN PEMBAHASAN Perilaku harian pecuk yang diamati dalam penelitian ini meliputi: perilaku membuat sarang. Hal ini diduga erat kaitannya dengan faktor suhu. Hasil pengamatan jumlah dan persentase lama aktivitas masing-masing dibagi menjadi tiga waktu yang diringkas pada Gambar 1. dan sore hari). gaving paling sering dilakukan pada saat banyak gangguan dan umum dilakukan pada saat siang hari. berdiri. sulit untuk mengetahui apakah anakan sudah menetas atau belum karena anakan tidak mengeluarkan suara.00 (pagi hari) WIB. dan mengasuh anak. Gambar 1-3 terlihat 4 aktivitas yang paling sering dilakukan yaitu: perawatan diri. dan interaksi sosial. dan 3 yaitu jam pengamatan 06. 2. sehingga lokomosi merupakan kegiatan yang senantiasa dilakukan. lokomosi. karena pohon sarang tidak di panjat seperti pemeriksaan harian telur.00 WIB) induk melindungi telur dan anakan dari udara yang lembab (menghangatkan) dan pada saat menjelang siang di mana suhu udara mulai naik dan sinar matahari mulai meningkat maka induk akan melindungi anakan dan telur dari sinar matahari.Vol.00-10. 3) mengamati bila induk sering berdiri dan jarang terlihat mengeram serta seperti menarik sesuatu dari dalam sarang (selain ranting). interaksi sosial dan mengasuh anakan (pagi dan siang). Berdasarkan pembagian waktu pengamatan pagi. Yang dimaksud dengan mengeram ini meliputi mengeram dalam arti sebenarnya. Pecuk yang mengeram lebih banyak melakukan beberapa aktivitas dibandingkan dengan yang mengasuh anakan. Persentase perilaku perawatan diri memiliki nilai tertinggi pada ketiga waktu pengamatan (pagi. lokomosi.00 WIB dan terendah pada jam 14.00 WIB. di mana pada saat pagi hari (6. lokomosi. melindungi.00 (siang hari) WIB dan 14. hal ini disebabkan data yang diperoleh selama pengamatan berasal dari 15 individu yang berbeda. meskipun terjadi perbedaan hanya beberapa menit (10-15 menit dari jam pertukaran di hari sebelumnya). siang. interaksi sosial. Semua jenis kegiatan dan gerakan yang dilakukan oleh pecuk selama pengamatan dicocokkan dengan hasil pengamatan van Tets (1965).

Persentase perilaku pecuk pada jam 06.00 (pagi hari) WIB di Suaka Margasatwa Pulau Rambut.00 (sore hari) WIB di Suaka Margasatwa Pulau Rambut.00 (siang hari) WIB di Suaka Margasatwa Pulau Rambut. Persentase perilaku pecuk pada jam 10.22 JUMILAWATY J. 2001 Gambar 3.00-17. Biologi Sumatera Gambar 1. Persentase pecuk pada jam 14.00-10. 2001 . 2001 Gambar 2.00-14.

1987. 1974. Patterns of Pair-Formation and Nest-Building in The European Cormorant Phalacrocorax carbo sinensis. Emu 96: 118-121. Observational Study of Behaviour: Sampling Method. Jakarta. 1995. Ardea 83: 199-212. 1982. 1988. . Studi Perilaku Makan Burung Pecuk Kecil (Phalacrocorax niger) Dan Pecuk Besar (P. Biologi Sumatera 23 Gambar 4. Bogor. Ornithology an Ecological Approach. Van Tets GF. 2006 J. Skripsi mahasiswa. Faaborg J. Behaviour of The Little Pied Cormorant Phalacrocorax melanoleucos. New York: Senders College Publishing. Ekologi Pecuk Hitam (Phalacrocorax sulcirostris Brandt. Ardea 83: 11-25. 1. 1995. Bogor. Behaviour 49: 227-265. Kansas: The Allen Press.Vol. Lawrence. Ardea 83: 2736. 1931) di Taman Burung Kota Baru Bandar Kemayoran. Sarjono AP. The Netherlands: a Recent and Succesfull adaptation to a Turbid Environment. Wing-Spreding Behaviour of Cormorant Phalacrocorax carbo. The Life of Birds. Skripsi Mahasiswa Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam IPB. Kortlandt A. Sellers RM. 1965. New Jersey: Prentice Hall Fithri A. Matthews CW & Fordham RA. Van Eerden MR & Voslamber B. Mass Fishing by Cormorants Phalacrocorax carbo at Lake Ijsselmeer. 1995. Comparative Study of Some Sosial Communication Patterns in The Pelecaniformes. sulcirostris). Histogram perbedaan tiga aktivitas utama pecuk di tiga lokasi tanpa membedakan waktu pengamatan DAFTAR PUSTAKA Altmann J. Welty JC. 1995. 1995. Fakultas Kehutanan IPB. Histogram jumlah perilaku pecuk pada setiap jam pengmatan Gambar 5.

dan 3 halaman cetak masing-masing untuk artikel hasil penelitian. Pembahasan berisikan interpretasi terhadap hasil penelitian dan dikaitkan dengan hasil-hasil yang pernah dilaporkan. Hindari penggunaan grafik atau gambar yang berlebihan bila dapat disajikan dalam tubuh tulisan dengan singkat. spesifik. dan/atau e-mail. 8. 2001). gambar. ulas balik (Review/Minireview) dan komunikasi singkat (Rapid Communication). Pada bagian Bahan dan Metode harus berisikan informasi teknis sehingga peneliti lain dapat mengulangi berdasarkan teknik percobaan yang dikemukakan. dan keterangan gambar harus dimulai dari halaman baru. Biol. Pada bagian judul harus terdapat jenis naskah. Pendahuluan memberikan latar belakang yang cukup agar pembaca memahami dan memperkirakan hasil yang akan dicapai tanpa harus merujuk pada penerbitan-penerbitan sebelumnya. dan kesimpulan. dan catatan kaki terhadap koresponden harus ditujukan lengkap dengan nomor telepon. dan Pembahasan. faksimili. Hindari pengulangan metode dan hasil penelitian serta hal-hal yang telah dicantumkan dalam bagian Pendahuluan. gambar atau langsung dalam tubuh tulisan. Setiap lembarnya diberi nomor halaman. akan tetapi naskah yang sudah diterima untuk publikasi tetapi belum terbit dapat dimasukkan dalam Daftar Pustaka dengan menyebutkan nama jurnal dan diikuti oleh kata diterima untuk publikasi atau in press. Naskah yang isinya tidak sesuai dengan pedoman penulisan dan penulisannya tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia dan bahasa Inggris tidak akan dipublikasi dan Editor tidak berkewajiban mengembalikan naskah bersangkutan. hasil dan pembahasan.24 JURNAL BIOLOGI SUMATERA (J Biol Sum) Sumatran Journal of Biology PEDOMAN PENULISAN Naskah: Jurnal Biologi Sumatera menerima naskah dari berbagai bidang ilmu biologi baik murni maupun terapan. daftar pustaka. Abreviasi harus ditulis penuh untuk pertama kali muncul dan penggunaan kependekan dalam judul dan abstrak harus dihindari. Cara penulisan dapat mengikuti salah satu dari berikut: . gambar. metode. Penggunaan nama genus dan spesies ditulis cetak miring. ditulis nama penulis pertama saja dan diikuti dengan kata et al. Data yang tidak dipublikasi tidak dapat digunakan sebagai sumber kepustakaan. Data yang terdapat dalam abstrak merupakan data yang sangat penting. dan informatif. dan alamat penulis. dan keterangan gambar diletakkan pada akhir naskah.) merupakan naskah yang belum pernah diterbitkan dalam jurnal lainnya. Nama generik zat kimia yang digunakan harus ditulis. Aspek-aspek yang baru dan penting harus tercermin dalam abstrak. Maksimum lima kata kunci dalam bahasa Inggris ditulis di bawah abstrak. Untuk Ulas Balik dan Komunikasi Singkat ditulis sebagai naskah sinambung tanpa sub judul bahan dan metode. Dalam abstrak harus terkandung tujuan. Bila penulis lebih dari dua. Format: Seluruh isi naskah termasuk abstrak. nama lengkap. isi. Naskah dapat berupa artikel hasil penelitian (Original Article). Naskah yang dipublikasi di Jurnal Biologi Sumatera (J. Abstrak. ucapan terima kasih. Daftar Pustaka: Daftar Pustaka ditulis memakai sistem tahun nama (Harvard) dan diurut menurut abjad. isi. tabel. Tabel. tabel. yang dicetak miring (contoh Suryanto et al. Ketepatan penggunaan Daftar Pustaka merupakan tanggung jawab penuh penulis. Hasil yang disajikan dalam naskah merupakan hasil yang signifikan dan berarti penting bagi naskah. Standar abreviasi dan unit harus menggunakan standar internasional. Panjang maksimum naskah adalah 6. Abstrak: Abstrak ditulis dalam bahasa Inggris (Abstract) dan tidak lebih dari 250 kata. hasil. Hasil dapat disajikan dalam bentuk tabel. Judul: Judul harus singkat. Tulisan: Tulisan untuk naskah artikel hasil penelitian terdiri dari Pendahuluan. ulas balik dan komunikasi singkat. Bahan dan Metode. Sum. Seluruh nama penulis dicantumkan dalam daftar pustaka (tidak ada penggunaan et al dalam Daftar Pustaka). Naskah dapat ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. daftar isi. Cara penulisan rujukan dalam teks dengan menyebutkan penulis diikuti tahun penerbitan (contoh: bila di akhir teks ditulis [Munir & Suryanto 2004) dan bila di awal teks ditulis Munir & Suryanto (2004)]. Hasil dan Pembahasan juga dapat digabung. Pendahuluan juga harus berisikan latar belakang beserta tujuan dari penelitian. Hasil. gambar dan keterangan gambar diketik pada kertas ukuran HVS A-4 dengan jarak dua spasi dengan menggunakan huruf Times New Roman ukuran 12 point. Nama jurnal dipendekkan menurut abreviasi yang lazim dari The List of Serial Title Word Abreviation yang dikeluarkan oleh Pusat Internasional ISSN dan dicetak miring. Untuk kondisi tertentu nama dan merek alat beserta kondisi percobaan harus dicantumkan.

Cambridge: Cambridge University Press. Skripsi/Tesis/Disertasi: Rahmawati S..colostate. 1998. September 17-19. [20 Maret 2003]. File elektronik dapat dikirim ke: biologi. Lebar maksimum tabel harus sesuai dengan lebar maksimum area cetak yaitu 8. Buku: Boaden PJS. Di dalam: Proceedings of The 5th International Wood Science Symposium JSPS-LIPI Core University Program in the Field of Wood Science.5 cm atau 18 cm. Mycol Res 106:259-276. Jarosz M.000. Crawford DL (ed). Engineering of bioremediation process: Need and limitations. Kelebihan halaman dikenakan biaya tambahan sebesar Rp.5 cm atau 18 cm.pdf. 100.(lima puluh ribu rupiah) per halaman cetak.) jantan dewasa strain DDW. Gambar atau foto hanya yang berwarna hitam putih dan harus jelas untuk dapat diperbanyak. Setiap tabel diberi judul yang informatif. 1. 2003.usu@lycos. Lebar maksimum gambar harus sesuai dengan lebar maksimum area cetak yaitu 8. Buyck B. Tabel: Tabel diberi nomor secara berurutan sebagaimana muncul dalam teks. Universitas Sumatera Utara.(seratus ribu rupiah) untuk setiap artikel yang diterbitkan. Abstrak Seminar Nasional Kimia. Masingmasing gambar harus diserahkan dalam lembaran yang terpisah dan siap jadi tanpa perlu perubahan ukuran dan bentuk dan masing-masingnya dilengkapi dengan keterangan yang cukup.ansci. Kontribusi Penerbitan: Setiap penulis dibebani biaya cetak sebesar Rp. Kampus USU. Naskah dikirimkan kepada: Editor Jurnal Biologi Sumatera Departemen Biologi.. Bila dalam tabel terdapat kependekan harus dijelaskan dengan catatan kaki. Molecular phylogeny of the genus Russula in Europe with a comparison of modern infrageneric classification. Uctuk R. Prosiding: Nasution Z. Pada disket atau CD dituliskan nama penulis pertama dan nama dokumennya. The effect of phosphor and nitrogen addition on crude oil degradation by Candida sp. Evaluation of single cell protein as a protein supplement for finishing cattle. Medan 20155. 2002. 2000.) terhadap gambaran sel-sel Leydig mencit (Mus musculus L. Bioremediation: Principles and applications. Jln. 11 Oktober 2003. Universitas Sumatera Utara. Korus RA. New York: Blackie. Kyoto.com .000. Di dalam Crawford RL. Fakultas MIPA. http://www. Sporleder R. Internet : Phetteplace H. Pengaruh pemberian ekstrak biji pepaya (Carica papaya L. 1985. Flaherti V. hlm 27. Simorangkir J. Seed R. Abstrak Priyani N.edu/documents/ren ut/2000/pdf/hp001. Gambar: Seluruh gambar atau foto harus dirujuk di dalam teks dan diberi nomor secara berurutan. Penulis mendapatkan satu eksemplar terbitan dan 5 (lima) salinan artikel.25 Jurnal: Millar SL. [Skripsi]. Johnson D. Bioteknologi No. Medan. 2004. Medan: Fakultas MIPA. An Introduction to Coastal Ecology. The forest ecology in the Lake Toba catchment area. hlm 287-293. 2003. Pengiriman Naskah: Penulis diminta untuk mengirimkan dua eksemplar asli beserta dokumen (file) dalam disket atau compact disc (CD) dengan program Microsoft Word. 50. Bab dalam Buku: Admassu W.