1

KOMPONEN VERBAL DAN NONVERBAL DALAM GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA (Kajian Pragmatik) DISERTASI
Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan dalam Mencapai Derajat Doktor Program Studi Linguistik Minat Utama Linguistik Pragmatik dan Dipertahankan di Hadapan Sidang Senat TerbukaTerbatas di Bawah Pimpinan Rektor Universitas Sebelas Maret Prof. Dr. H. Much Syamsulhadi, dr., Sp.KJ. (K) Pada Hari Rabu Kliwon, 7 April 2010

Oleh : Maryono NIM. T 130906005

PROGRAM PASCASARJANA PROGRAM STUDI LINGUISTIK (S3) UNIVERSITAS SEBELAS MARET

2

SURAKARTA 2010 DISERTASI KOMPONEN VERBAL DAN NONVERBAL DALAM GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA ( Kajian Pragmatik)

Oleh : Maryono NIM. T 130906005

DISETUJUI OLEH PEMBIMBING
1. Prof. Dr. M. Sri Samiati Tarjana. NIP. 194 406 021 965 112 001 (Promotor) …………………………

2. Prof. Dr. T. Slamet Suparno, S.Kar.,M.S. NIP. 194 812 191 975 011 001 (Ko-Promotor )

…………………………

Mengetahui Ketua Program Studi S3 Linguistik

3

Prof. Dr. H. D. Edi Subroto. NIP. 194 409 271 967 081 001

KOMPONEN VERBAL DAN NONVERBAL DALAM GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA ( Kajian Pragmatik)
DISERTASI UNTUK MEMPEROLEH GELAR DOKTOR DALAM BIDANG LINGUISTIK MINAT UTAMA: LINGUISTIK PRAGMATIK DIPERTAHANKAN DI HADAPAN DEWAN PENGUJI PADA SIDANG SENAT TERBUKA TERBATAS PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA PADA TANGGAL: 7 APRIL 2010 OLEH: MARYONO LAHIR DI BOYOLALI, 15 JUNI 1960 DEWAN PENGUJI: 1. Prof. Dr. H. Much Syamsulhadi, dr., Sp.KJ. (K) (Penguji Utama) 2. Prof. Drs. Suranto, M.Sc., Ph.D. (Sekretaris merangkap Anggota) 3. Prof. Dr. M. Sri Samiati Tarjana. (Promotor merangkap anggota) 4. Prof. Dr. T. Slamet Suparno, S.Kar., M.S. (Ko-Promotor merangkap anggota) 5. Prof. Dr. H. D. Edi Subroto. (Anggota) 6. Prof. Dr. Soepomo Poedjosoedarmo. (Anggota) 7. Prof. Dr. H. Soetarno, DEA. (Anggota) 8. Dr. Sumarlam ., M.S. (Anggota) .................................... .................................... .................................... .................................... .................................... .................................... .................................... ....................................

4

Mengetahui Rektor Universitas Sebelas Maret

Prof. Dr. H. Much Syamsulhadi, dr., Sp.KJ. (K) NIP. 194611021976091001

SURAT PERNYATAAN
Yang bertanda tangan di bawah ini Nama NIM Program Program Studi Tempat/Tanggal Lahir Alamat : Maryono : T 130906005 : Pascasarjana (S3) UNS : Linguistik : Boyolali, 15 Juni 1960 : Melikan Rt 01, Rw 08, Palur, Mojolaban, Sukoharjo

Menyatakan

dengan

sesungguhnya

bahwa

disertasi

saya

yang

berjudul:

KOMPONEN VERBAL DAN NONVERBAL DALAM GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA (Kajian Pragmatik) adalah asli (bukan jiplakan) dan belum pernah diajukan oleh penulis lain untuk memperoleh gelar akademik tertentu. Semua temuan, pendapat atau gagasan orang lain yang dikutip dalam disertasi ini ditempuh melalui tradisi akademik yang berlaku dan dicantumkan dalam sumber rujukan dan atau dalam Daftar Pustaka. Apabila kemudian terbukti pernyataan ini tidak benar, saya sanggup menerima sangsi yang berlaku.

5

Surakarta, 7 April 2010 Yang membuat pernyataan

Maryono

KATA PENGANTAR
Syukur alhamndulillah penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, atas ridha dan kehendak-Nya, sehingga disertasi ini dapat selesai tepat pada waktu yang diharapkan. Sepenuhnya penulis sadari bahwa tanpa bantuan dari berbagai pihak, mustahil disertasi ini dapat selesai. Untuk itu, kanthi linambaran trapsilaning manah, perkenankan penulis sampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. H. Much Syamsulhadi, dr., Sp.KJ (K), Rektor UNS yang telah
memberi kesempatan penulis untuk menyelesaikan studi program doktor di Universitas Sebelas Maret Surakarta.

2. Prof. Dr. H. Soetarno, DEA, atas dukungan dan nasihat sejak masih menjabat
Ketua Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta sampai sekarang sehingga penulis dapat menyelesaikan program doktor di UNS.

3. Prof. Drs. Suranto, M.Sc., Ph.D, selaku Direktur Program Pascasarjana
Universitas Sebelas Maret Surakarta, yang telah memberi kesempatan penulis untuk menyelesaikan studi program doktor di UNS.

4. Prof. Dr. H. D. Edi Subroto, selaku Ketua Program Linguistik S3 UNS dan
atas bimbingan melalui berbagai disiplin yang telah diberikan kepada penulis sebagai bekal dalam menyelesaikan disertasi.

5. Prof. Dr. M. Sri Samiati Tarjana, sebagai promotor yang dengan sabar telah
membimbing, mengarahkan, dan mengoreksi sehingga penulis meraih gelar doktor.

6

6. Prof. Dr. T. Slamet Suparno, S.Kar., M.S, sebagai Ko-Promotor, yang telah
membimbing, dan mengoreksi sehingga penulis meraih gelar doktor.

7. Prof. H.B. Sutopo, M.Sc., M.Sc, Ph.D (almarhum) yang dengan sabar telah
membimbing, mengarahkan, mengoreksi, dan yang menghantarkan sampai ujian tertutup sehingga penulis dapat berlanjut meraih gelar doktor.

8. Prof. Dr. Soepomo Poedjosudarmo; Prof. Dr. Kunardi Hardjoprawiro, M.Pd;
Prof. Dr. Joko Nurkamnto; Prof. Dr. Maryono Dwiraharjo, S.U; Dr. Sumarlam., M.S, yang telah memberikan disiplin Linguistik untuk bekal penulis menyelesaikan disertasi.

9. Sunarno S.Kar., M. Sen, sebagai nara sumber primer tari Bondhan Sayuk dan
jenis tari pasihan lainnya, yang telah memberikan informasinya sehingga penulisan disertasi ini dapat selesai.

10. Sutarno Haryono S.Kar., M. Hum, sebagai teman seperjuangan dan
motivator yang mendorong penulis untuk studi S3 dan berhasil meraih gelar doktor.

11. Sri Wahyuningsih sebagai istri dan anak-anakku: Risang Janur Wendo, Laras
Ambika Resi, Linggo Sasikirana, dan Hoyi Anggraeni yang telah memberikan semangat dan doanya kepada penulis sehingga disertasi ini cepat selesai. 12. Selamat jalan istriku yang tercinta dan tersayang Sri Djarwanti S.Kar, ke hadapan-Mu ya Allah, semoga atas pengorbanan dan kasihmu selama ini, saya selalu berdoa semoga Allah SWT menerima dan memasukkan belahan hatiku dalam golongan orang ahli surga di hari Akhir. Amin. 13. Pemerintah Republik Indonesia yang memberikan kewenangan kepada Dirjen Dikti yang telah memberi Bea Siswa (BPPS). Akhirnya dengan segala kerendahan hati, penulis mohon maaf kepada semua pihak apabila terdapat kekurangan dan kesalahan yang penulis perbuat selama menyelesaikan disertasi ini. Semoga Allah tetap membimbing kami. Amin.

7 Surakarta. dan jineman. untuk mengungkap bentuk hubungan yang bersifat langsung dan tidak langsung dan implikatur genre tari pasihan. 2010. dan seimbang mengkaji tiga faktor yaitu genetik. objektif. fungsi TT. akurat. dan afektif sebagai sumber aliran nilai. (2) Komponen nonverbal genre tari pasihan berupa: tema. (3) teori seni pertunjukan. (3) Menjelaskan hubungan komponen verbal yang bersifat kebahasaan dan nonverbal yang bersifat nonkebahasaan genre tari pasihan. mencatat dokumen dan arsip (content analysis). Tujuan penelitian untuk memahami makna bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan pada ritual perkawinan adat Jawa di Surakarta dengan menganalisis secara rinci. Strategi yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus tunggal terpancang (embedded case study research). dan mendalam untuk menemukan dan mendeskripsikan: (1) Komponen verbal genre tari pasihan berupa sastra tembang dalam syair: pathetan. lengkap. realisasi strategi kesantunan. Keempat teori tersebut digunakan untuk . Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta. Untuk mengungkap permasalahan yang menjadi tujuan penelitian disertasi ini. sindhènan. dan implikatur. realisasi prinsip kerja sama. rias. Bentuk penelitian yang digunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan kritik holistik yang secara fokus. gérongan. observasi. 7 April 2010 Peneliti Maryono Maryono: T 130906005. (2) teori budaya. ABSTRAK Topik penelitian ini adalah Komponen Verbal dan Nonverbal dalam Genre Tari Pasihan Gaya Surakarta (kajian Pragmatik). busana. Teknik pengumpulan data yang sesuai dengan penelitian kualitatif dan jenis sumber data yang dimanfaatkan adalah: wawancara mendalam (in-depth interviewing). Kajian komponen verbal ini untuk mengungkap: jenis-jenis tindak tutur (TT) yang dominan. peneliti menggunakan kajian: (1) teori pragmatik. dan (5) Menjelaskan persepsi masyarakat terhadap kehidupan genre tari pasihan gaya Surakarta. KOMPONEN VERBAL DAN NONVERBAL DALAM GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA (Kajian Pragmatik). (4) Menjelaskan latar belakang konsepsi penciptaan komponen verbal dan nonverbal genre tari pasihan. dan (4) teori komunikasi. Disertasi. pola lantai. polatan (ekspresi wajah). gerak tubuh (kinetic body moves). dan iringan gamelan (musik).

8

menganalisis makna pragmatik genre tari pasihan gaya Surakarta secara komplementer. Secara prinsip teori pragmatik merupakan alat kajian yang utama terkait dengan sistem kebahasaannya yang terfokus untuk menganalisis jenis-jenis TT, jenis TT yang dominan, fungsi TT, realisasi prinsip kerja sama, realisasi strategi kesantunan, implikatur, dan daya pragmatik. Teori budaya dan teori seni pertunjukan untuk menganalisis faktor nonkebahasaan yang berupa unsur-unsur karya seni. Teori komunikasi untuk mengkaji keterkaitan antarfaktor genetik, objektif, dan afektif. Trianggulasi keempat teori tersebut merupakan sarana untuk menjamin dan mengembangkan validitas data dalam mengungkap makna pragmatik genre tari pasihan gaya Surakarta. Pokok-Pokok Temuan Penelitian. Jenis–jenis TT yang terdapat dalam genre tari pasihan gaya Surakarta terdiri dari beragam jenis yaitu: TT asertif, TT komisif, TT ekspresif, TT direktif, TT verdiktif, dan TT patik. Dari beragam jenis TT yang terdapat pada genre tari pasihan, jenis TT yang dominan adalah TT direktif. Pada penerapan prinsip kerja sama dalam bahasa verbal genre tari pasihan terjadi pelanggaran maksim kuantitas dan maksim cara, sedangkan maksim kualitas dan maksim hubungan dipatuhi. Prinsip kesantunan yang diterapkan dalam bahasa verbal genre tari pasihan didapatkan penggunaan strategi TT dengan kesantunan positif dan strategi TT secara tidak langsung (off record). Implikatur yang terdapat dalam jenis-jenis tari pasihan menunjukkan adanya simbolisasi percintaan sepasang suami istri yang dalam perjalanan kisahnya berawal dalam menghadapi permasalahan, kemudian mendapat solusi yang berangsur-angsur membaik dan berakhir bahagia. Kehadiran tari pasihan hampir dapat dipastikan disajikan dalam resepsi perkawinan merupakan wahana untuk mewisuda sepasang temantèn. Rupanya terdapat keterkaitan yang sangat erat antara kehadiran tari pasihan dalam resepsi perkawinan dengan sepasang temantèn. Implikatur yang utama pada kehadiran genre tari pasihan dalam resepsi perkawinan adalah untuk dapat diteladani dan memberikan sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temantèn. Merujuk implikatur-implikatur yang diperikan dari komplementer komponen verbal dan nonverbal jenis-jenis tari pasihan dapat diungkapkan bahwa bentuk daya pragmatik genre tari pasihan adalah berupa nasihat-nasihat tentang cinta kasih yaitu pasangan keluarga yang romantis, harmonis, dan bahagia; kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga; dan sikap-sikap ideal bagi figur suami dan figur istri. Nasihat-nasihat tentang cinta kasih tersebut bermanfaat bagi sepasang temantèn sebagai bekal untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dalam membangun sebuah keluarga. Bentuk genre tari pasihan merupakan perpaduan dua komponen besar yaitu verbal dan nonverbal. Berdasarkan jabaran komponen tersebut dapat diketemukan ciri karakteristik genre tari pasihan sebagai berikut: (a) bahasa verbal berbentuk tembang Jawa bernuansa cinta; (b) bahasa verbal yang digunakan berdasarkan status sosial; (c) hubungan komponen verbal dan nonverbal bersifat langsung dan tidak langsung; (d) tema percintaan; (e) cerita berakhir dengan bahagia (happy end); (f) disajikan berpasangan pria dan wanita; (g) pesannya berupa nasihat tentang cinta kasih; (h) gerak representatif dan presentatif diekspresikan penari dalam kualitas lembut, halus, dan romantis.

9

Berdasarkan temuan penelitian dan hasil pembahasan dari keterkaitan tiga faktor objektif, genetik, dan afektif dapat disimpulkan bahwa kehadiran genre tari pasihan dalam upacara ritual resepsi perkawinan berfungsi sebagai hiburan dan suritauladan. Kehadiran genre tari pasihan dalam resepsi perkawinan dimaksudkan oleh seniman untuk mengajak, meminta dan menyuruh sepasang temantèn untuk memahami dan meresapi pesan yang terkandung dalam bahasa verbal sastra tembang, yang disampaikan dengan bahasa nonverbal dalam bentuk visual yang estetik, supaya pasangan temantèn tersebut melakukan tindakan atau perbuatan seperti yang dicontohkan dalam pertunjukan tari pasihan tersebut. Maksud dan harapan seniman penyusun tersebut ditangkap oleh masyarakat sebagai sesuatu yang harus diteladani, mengingat gambaran percintaan pasangan suami istri yang romantis, harmonis, dan bahagia yang terdapat dalam tari tersebut dirasa sangat tepat dan diterima dengan jelas, mantap sebagai suatu bentuk pendidikan yang bersifat tidak langsung dan sangat bermanfaat bagi sepasang temantèn untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dalam menggapai keluarga bahagia lahir dan batin. Maryono: T 130906005. 2010. VERBAL AND NONVERBAL COMPONENTS IN THE SURAKARTA STYLE PASIHAN DANCE GENRE (A Pragmatic Study). Dissertation. Postgraduate Program Sebelas Maret University Surakarta.

ABSTRACT
The topic of this research is Verbal and Nonverbal Components in the Genre of the Pasihan Dance Surakarta Style. Using a pragmatic approach the aim of the research is to understand the meaning of the verbal and nonverbal language in the pasihan dance genre (a dance genre with a romantic or love theme) in the traditional Javanese wedding rituals in Surakarta by carrying out a detailed, accurate, and in-depth analysis, in order to discover and describe: (1) the verbal components in the pasihan dance genre, in the Javanese poems in: pathetan, sindhènan, gérongan, and jineman. This study of the verbal components is intended to reveal: the dominant types of speech acts, the functions of the speech acts, the realization of the cooperative principles, the realization of the politeness principles, and the implicatures; (2) the nonverbal components in the pasihan dance genre, in the form of: themes, kinetic body moves, facial expressions (polatan), floor designs, make-up, costume, and musical accompaniment played on the gamelan; (3) the relationship between the verbal and the nonverbal components in the pasihan dance genre, in order to reveal the direct and indirect relationships and implicatures of the pasihan dance genre; (4) the background of the conception of the creation of verbal and nonverbal components in the pasihan dance genre, and (5) people’s perception of the existence of the Surakarta style pasihan dance genre. The research takes the form of a qualitative study using a critical holistic approach which provides a focused, comprehensive, and balanced study of three factors, namely genetic, objective, and affective factors as the source of the values. The strategy used for this research is that of an embedded case study. The techniques used for collecting data, in accordance with the qualitative research and types of data sources available, include in-depth interviews, observation, and content analysis.

10

In order to discover the issues which are the object of the research for this dissertation, the researcher uses theoretical studies of (1) pragmatic theories, (2) cultural theories, (3) performing arts theories, and (4) communication theories. These four theories are used to provide a complementary analysis of the pragmatic meaning of the Surakarta style pasihan dance genre. In principle, the main tool is the pragmatic theory, in connection with the linguistic system which focuses on analyzing the different types of speech acts, the dominant types of speech acts, the function of the speech acts, the realization of the cooperative principles, the realization of the politeness principles, the implicatures, and the pragmatic power. The cultural and performing arts theories are used to analyse nonverbal language factors which are in the form of elements of the work of art. The communication theories are used to examine the connection between the genetic, objective, and affective factors. A triangulation of these theories is used as a means of securing and developing the validity of the data to discover the pragmatic meaning of the Surakarta style pasihan dance genre. The main findings of the research showed that there are various kinds of speech acts found in the Surakarta style pasihan dance genre, numely: assertive, commissive, expressive, directive, verdictive, and phatic. Of all these different types, the most dominant kind of speech act found in the pasihan dance genre is the directive speech act. The application of cooperative principles in the verbal language of the pasihan dance genre of shows a deviation in maxims of quantity and maxims of manner, while maxims of quality and maxims of relation are adhered to. The principle of politeness applied in the verbal language of the pasihan dance genre uses the strategy of positive politeness and performs off record speech acts. The implicature found in the different types of pasihan dance indicates that there is a symbolization of love between husband and wife, who throughout the course of the story encounter problems but subsequently find a solution. It gradually resolves their difficulties and ultimately brings about a happy ending. The pasihan dance is almost always performed at wedding receptions which are a medium for officially announcing the marriage of a newly wed couple. There is a very close connection between the presence of the pasihan dance and the bride and groom at a wedding reception. The main implicature of the presence of the pasihan dance genre at a wedding reception is that it sets an example and offers indirect suggestions for the newly wed couple to follow. With reference to the implicatures obtained from the combination of verbal and nonverbal components in different types of the pasihan dances, show that the form of pragmatic power in the pasihan dance genre is advise about love and affection, for married couple to enjoy a romantic, harmonious, and happy relationship; to display equality and togetherness; and to show an ideal attitude between husband and wife. This advice about love and affection is beneficial for a newly married couple. It provides them with knowledge to lead a better life as they set out to build a new family. The form of the pasihan dance genre is a combination of two main components, namely verbal and nonverbal. Based on the description of these two components, the characteristics of the pasihan dance genre are as follows: (a) Verbal language in the form of Javanese sung poems with a romantic nuance; (b) Verbal language which is used according to social status; (c) A direct and indirect connection between the verbal and nonverbal components; (d) A romantic theme; (e)

11

A story with a happy ending; (f) A performance by a pair of dancers, one male and one female; (g) Advice about love affection; (h) Representative and presentative movements expressed by the dancers with soft, refined, and romantic qualities. Based on the findings of the research and the results between the objective, genetic, and affective factors, it can be concluded that the performance of the pasihan dance genre at a wedding reception for the newly married couple to follow. The presence of the pasihan dance genre at a wedding reception is intended by the performing artists as a means of inviting, asking, and telling the bride and groom to understand and absorb the message in the verbal language of the text, and conveyed using nonverbal language in a visual and aesthetical form. It as hoped that they will act and behave like the example displayed in the performance of the pasihan dance. The hope and intention of the artists is captured by the audience who view the dance as a good example to follow, recognizing it as a portrayal of a romantic, harmonious, and happily married couple which is felt to be highly appropriate and also educative in an indirect way. This is highly beneficial for the newly married couple as they enter into their new lives, and strive to create a happy family, in both worldly and spiritual aspects.

DAFTAR ISI
Halaman JUDUL ……………….………………..………………………………….….…...i PENGESAHAN……………………………………………….…….………….….ii PEMERTAHANAN…………………………………………………………….…iii PERNYATAAN………………………………………………………..………….iv KATA PENGANTAR……………………………………………………………..v ABSTRAK…………………………………………………………….…….……vii ABSTRACT……………………………………………………………..………… ix DAFTAR ISI ………………………………………………………….…..……....xi DAFTAR TABEL ………….……………………………………………….......xvii DAFTAR BAGAN………………………………….………..……...……..........xix DAFTAR GAMBAR / FOTO……………………………………..………..……xx DAFTAR SINGKATAN ……………………………………..……….……...…xxi DAFTAR LAMPIRAN ……………………………………….……....…..…....xxii BAB I PENDAHULUAN ………………………………………….……….……. 1 A. Latar Belakang Masalah………..……..………………….……….……....1 B. Rumusan Masalah …………………………………...……….......……..16 C. Tujuan Penelitian………………………………………..………….........16

12

D. Manfaat Penelitian……………………………………….........................17 BAB II KAJIAN TEORI, PENELITIAN YANG RELEVAN, DAN KERANGKA PIKIR……………………………………………………………………………..18 A. Kajian Teori……………………………………………………………............18 1. Teori Pragmatik…………………....................……………..............................20 a. Konteks dalam pragmatik………………………………..………….………23 b. Teks………………………………………….……………...........................29 c. Tindak Tutur (TT)…………………………………….…………….….…...39 c.1. Tindak Tutur menurut Austin (1956)……………..............................41 c.2. Tindak Tutur menurut Searle (1979)………….. .………..………….45 c.3. Tindak Tutur menurut Yule (1996)…………………........………….46 c.4. Tindak Tutur menurut Kreidler (1998)…………...............................48 d. Prinsip Kerja Sama (PKS)…… …………………………………………....53 e. Prinsip Kesantunan (PS)…………………….…….……….………….…......58 e.1. Skala Kesantunan Leech (1983)……………………..…….................58 e.2. Skala Kesantunan Brown dan Levinson (1987)………..………….....60 f. Implikatur …………………………………….…….…………….....…….....62 g. Daya Pragmatik…………………………………….…………………….….64 2. Teori Budaya………………………………………………...………….……...66 a. Bentuk Ide atau Gagasan……...……………………….…………....….70 b. Bentuk Aktivitas………….……………………….…..………….....…70 c. Benda Fisik………………………………………………….….…....…71 3. Teori Seni Pertunjukan…………………………..…………………............…..71 a. Tema ………………………………………………………....….….…74 b. Gerak Tubuh (kinetic body moves)………………………. …….….…74 c. Polatan (ekspresi wajah) ……………………………..…….…..…......77 d. Pola Lantai (floor design)……………………………… ……...……...78 e. Rias ……………………………………………….……….….……….79 f. Busana ………………………………………………….……….……..80 g. Iringan (gendhing beksa) ………………………………………….......81 h. Estetik…………………………………………....................………….82

13

4. Teori Komunikasi ………..…………………….…...........................................83 a. Komunikator…………………………………………………....…..…85

b. Sarana atau Media…………………………………………….….…....86 c. Komunikan……………………………………….………….………...88 B. Penelitian yang Relevan…………………..…………………………..…...…..90 C. Kerangka Pikir…………………………………………………....…….……...91 BAB III METODOLOGI PENELITIAN……………………………….….….…93 A. Sasaran dan Lokasi Penelitian…………………..…………..……. …….…….93 B. Bentuk dan Strategi Penelitian…………………………...................................94 C. Jenis Data dan Sumber Data…………………….………………………….…96 D. Teknik Cuplikan (sampling)…………………………… …………….............97 E. Teknik Pengumpulan Data ……………………………….…..……………….98 1. Wawancara Mendalam (in-depth interviewing)………..............................98 2. Observasi …………………………………………………………....…..102 3. Mencatat Dokumen dan Arsip (content analysis)………..........................103 F. Pengembangan Validitas ………………………………..........………..….…103 G. Teknik Analisis………………………………………………..………… ….106 BAB IV KOMPONEN VERBAL GENRE TARI PASIHAN GAYA

SURAKARTA......................................................................................................110 A. Komponen Verbal…………………………………………………….….…..110 B. Komponen Verbal Tari Karonsih………………………………………….…112 1. Teks Pathetan Wantah Laras Pélog Pathet Lima…………..………. ….112 a. Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah………..........................…. …113 b. Konteks ………………………………………............................. …..114 c. Fungsi Tindak Tutur ................…………………………………..…..115 d. Realisasi Prinsip Kerja Sama…………………..…..............................116 e. Realisasi Prinsip Kesantunan ……………………...............................117 f. Implikatur …………………………..………...................................…117 2. Teks Sindhènan Pangkur Ngrénas Laras Pélog Pathet Lima ……….....118 a. Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah.…………….………….....….118 b. Konteks …………………………………..........................……..…...119

................ Fungsi Tindak Tutur ……………………………………….....14 c........................................……….……. Fungsi Tindak Tutur ……………………………………….137 d........... Teks Sindhènan Mijil Sulastri Laras Pélog Pathet Barang.. Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah.............…...... Realisasi Prinsip Kerja Sama ……………………....……….. Konteks ………………………………………...... Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah ……………. Realisasi Prinsip Kesantunan …………….. Fungsi Tindak Tutur ………………………………………........………………..……150 2....….. Realisasi Prinsip Kesantunan ……………….... Realisasi Prinsip Kerja Sama …………………….......135 c.....…151 b....... Konteks ………………………………………............……. Implikatur …………………………......... Konteks ……………………………………. Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah …………….149 f. Teks Sindhènan Kinanthi Sandhung Laras Sléndro Pathet Manyura …..............152 c.................145 c...…........141 f..............……………..........….......…………….128 d..142 C.......................….………....…125 b.....120 d.………..144 a......…...…........122 f. Realisasi Prinsip Kesantunan ……….........….......... Implikatur …………………………..….........121 e......…132 4...…133 b.........…123 3.....….147 d.......................................……….........154 .....132 a........148 e........……..... Implikatur ………………………….......…..….............. Fungsi Tindak Tutur …………………………………………... Realisasi Prinsip Kerja Sama …………………..........…....... Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah.. Teks Gérongan Lambangsari Laras Sléndro Pathet Manyura ………....….....139 e............... Realisasi Prinsip Kerja Sama ………………........... Realisasi Prinsip Kesantunan …………….…..............153 d.....………150 a....…...................………….... Komponen Verbal Tari Bondhan Sayuk………………………………..........….. Fungsi Tindak Tutur ………………………….….......………...…144 1... Implikatur …………………………............................................... Teks Jineman Sayuk Laras Pélog Pathet Barang ……. Konteks ……………………………………….…144 b.....….…................….............................129 e.. .......126 c...........……………. Realisasi Prinsip Kerja Sama …..…..131 f.....124 a.........................

..............….…………169 BAB V KOMPONEN NONVERBAL GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA…………………………………………………………... Implikatur ………………………….173 2.... Komponen Nonverbal Tari Bondhan Sayuk……………………….......…...….…. Fungsi Tindak Tutur …………………………………..…………………..…. Fungsi Tindak Tutur ………………………………...…..162 f.…......……163 4.…158 b........167 e....….234 ....……....…......200 7....….……...155 f.……......….................……... Teks Gérongan Lancaran Sayuk Laras Pélog Pathet Barang …..220 1..…164 b.168 f...............…….……....………......171 B.....165 c...194 4.157 3.... Tema………………………………………..161 e........... Kinetic Body Moves atau Gerak Tubuh …....... Realisasi Prinsip Kerja Sama …………………..…………….... Realisasi Prinsip Kesantunan …………….. Polatan (ekspresi wajah)………………….…............……...………............ Komponen Nonverbal………………………………………………….......... Tema………………………………........159 c. Realisasi Prinsip Kerja Sama ………………..........166 d....220 2..……......................…………….............157 a........………….......…...197 5..................………………………........... Komponen Nonverbal Tari Karonsih………………………....... Realisasi Prinsip Kesantunan ……..……………... Implikatur …………………………...... Implikatur …………………………. Pola Lantai…………….160 d...... Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah..……..........164 a..…………...……171 A...... Rias dan Busana…………………………………..………….………..... Realisasi Prinsip Kesantunan …………….……….......…………………………....…....... Teks Gérongan Ladrang Sayuk Laras Pélog Pathet Barang …..198 6.......….........…224 3...…......... Kinetic Body Moves atau Gerak Tubuh ….....182 3....………......……..15 e................ Konteks ………………………………………............….……………………………............….…..................…. Konteks ……………………………………... Polatan (ekspresi wajah)…………………………………………….....216 C....... Iringan Tari…………………………………….......………………..……………………... Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah ………...172 1.....….............. Estetik……………………………………………......

..289 BAB VII KONSEPSI PENCIPTAAN DAN PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA………………295 A.247 8. Adegan Pencarian……………………….. Properti Boneka………………………………………..322 3.….… …320 2.16 4.259 3...…. Adegan Makarya (bekerja)…………………….344 ... .…………..… …....…..……………………………………..…………….. Perspektif Pragmatik…………………………...236 5... Adegan Pertemuan…………………………………………………….. Konsepsi Penciptaan Komponen Verbal dan Nonverbal Tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk……………………………………….…………………..237 6...310 1..320 1...….324 1...238 7.311 2..320 A. Iringan Tari..278 2... Adegan Bahagia………………………………..………….…...…253 2..…314 BAB VIII PEMBAHASAN……………………………………………….295 B.. Perspektif Budaya…………………………………………..…... …. Perspektif Substansi Tari: Komponen Verbal dan Nonverbal…. Hubungan Komponen Verbal dengan Nonverbal Tari Bondhan Sayuk….…...... Genre Tari Pasihan sebagai Keteladanan…………….... Hubungan Komponen Verbal dengan Nonverbal Tari Karonsih……….……………..…………………………………………….... …..264 B.………….323 B.…………….... …..… ..…………………….. Pokok-Pokok Temuan Penelitian…………………………………… ..…......… ….248 BAB VI HUBUNGAN KOMPONEN VERBAL DAN NONVERBAL GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA…………………………………. Faktor Genetik……………………………………………….….. Faktor Objektif……………………………………………….… .…277 1. Analisis…………………………………………………………...337 3.……. Genre Tari Pasihan sebagai Hiburan………………... Estetik.. Pola Lantai……………………………….... Rias dan busana………………………………….….. Faktor Afektif……………………………………………..……………………. Persepsi Masyarakat terhadap Genre Tari Pasihan……………………..…………………..281 3.………………………….324 2..252 A.….………………….….…253 1.……. Adegan Kekudangan (menimang anak)………………………………. Adegan Kasmaran (percintaan)……………………………………….

jenis TT yang melekat pada teks Sindhènan Pangkur Ngrénas……………………………………………………………..17 4.…………………… …366 A.…..….…...2 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks isian…….………372 DAFTAR PUSTAKA ACUAN…………………………………………..379 LAMPIRAN………………………………………………………...…366 B. Saran…………………………………………………………….1 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Pathetan Wantah…….….….….. Tabel 4. Tabel 4..370 C.3 Jenis .... Tabel 4...... Tabel 4.. Tabel 4.4 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Isen-isen………………..……………………………….125 6.……….5 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Sindhènan Kinanthi Sandhung…………………………………………………………………….133 ..…357 BAB IX PENUTUP…………………………………….. Tabel 4.. Simpulan…………………………………………………………… .. Perspektif Historis……………………………………….380 DAFTAR TABEL 1..…117 3.6 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Gérongan Lambangsari…………………………………..113 2.… .…. Implikasi………………………………………………………… ….….....….……..118 4...123 5..…375 DAFTAR NARA SUMBER…………………………………………..

Tabel 4. Tabel 5...9 Jenis –jenis TT yang melekat pada teks Sindhènan Mijil Sulastri…………………………………………….….8 Persentase jenis –jenis TT pada komponen verbal tari Karonsih…..7 Rekapitulasi jenis-jenis TT pada komponen verbal tari Karonsih…143 8......3 Jenis-jenis gerak representatif tari Karonsih adegan II: pertemuan.190 20.11 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Gérongan Ladrang Sayuk………………………………………………………………………......….185 17. Tabel 5. Tabel 5.151 11.…170 15.194 23..………. Tabel 5.. Tabel 4.….164 13. Tabel 4.. Tabel 4...4 Jenis-jenis gerak presentatif tari Karonsih adegan II: pertemuan ………………………………………………..18 7.188 18. Tabel 5.……... Tabel 5. …………………………………………………..………………………. 14 Persentase jenis –jenis TT pada komponen verbal tari Bondhan Sayuk…………………………………………………………………..10 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Jineman Sayuk……………………………………………………………………..….….....…..…..6 Jenis-jenis gerak presentatif tari Karonsih adegan III: bahagia ………………………………………………... Tabel 4...….9 Persentase gerak representatif dan presentatif tari Karonsih.……………..193 22. Tabel 4. Tabel 4...………...…….8 Rekapitulasi gerak presentatif tari Karonsih………... Tabel 5.……170 14.. ………………………………………....12 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Gérongan Lancaran Sayuk…………………………………………………………………….193 21.…....184 16..158 12....……..……144 10.….189 19.. Tabel 5.. Tabel 5... ………………………….5 Jenis-jenis gerak representatif tari Karonsih adegan III: bahagia ……………………………………..13 Rekapitulasi jenis-jenis TT pada komponen verbal tari Bondhan Sayuk…………………………………………………………………….. Tabel 4..….1 Jenis-jenis gerak representatif tari Karonsih adegan I: pencarian.…..........…194 ..2 Jenis-jenis gerak presentatif tari Karonsih adegan I: pencarian....143 9.………..7 Rekapitulasi gerak representatif tari Karonsih……….

........... Tabel 5..…..…229 25...108 ...234 31. Tabel 5.13 Jenis-jenis gerak presentatif tari Bondhan Sayuk adegan II: kekudangan …………………………………….12 Jenis-jenis gerak representatif tari Bondhan Sayuk adegan II: kekudangan …………………………………...…232 28.. 17 Persentase gerak representatif dan presentatif tari Bondhan Sayuk……………………………………………………………………..19 24.……...11 Jenis-jenis gerak presentatif tari Bondhan Sayuk adegan I: kasmaran ……………………………….1 Kerangka Kritik Holistik Komponen Verbal dan Nonverbal Genre Tari Pasihan gaya Surakarta………………………………. Tabel 5.10 Jenis-jenis gerak representatif tari Bondhan Sayuk adegan I: kasmaran …………………………………...…. Tabel 5..........…………..…....….14 Jenis-jenis gerak representatif tari Bondhan Sayuk adegan III: makarya ………………………………...231 27.….…234 DAFTAR BAGAN Bagan 2...91 Bagan 3...…233 29. ..... Tabel 5.. 15 Rekapitulasi gerak representatif tari Bondhan Sayuk….…231 26........…......…233 30.....…………..………….......……….1 Model Analisis Interaktif…………………………………….... Tabel 5. Tabel 5..... Tabel 5... 16 Rekapitulasi gerak presentatif tari Bondhan Sayuk…........

.. ketika Panji ulap-ulap kiri dan Sekartaji trap jamang..199 Gambar 3: pola lantai garis lengkung untuk mendukung suasana bahagia..............199 Gambar 2: pola lantai garis lengkung untuk mendukung suasana romantis.............199 ..20 DAFTAR GAMBAR / FOTO Gambar 1: pola lantai garis lurus untuk mendukung suasana tegang.................... ketika Panji dan Sekartaji srisik bergandengan tangan............................................. ketika Sekartaji berupaya mencari Panji.............

.....283 Foto: 11 Tari Bondhan Sayuk: Suami bersenandung sambil menimang anak.................21 Gambar 4: pola lantai garis lurus untuk mendukung suasana tegang.279 Foto: 9 Tari Bondhan Sayuk: Istri meminta suami untuk bekerja…………..........….238 Gambar 6: pola lantai garis lengkung untuk mendukung suasana bahagia...286 DAFTAR SINGKATAN ASKI CD D–a D – en : Akademi Seni Karawitan Indonesia : Compact Disk : Dasar ............................…272 Foto: 7 Tari Karonsih: Panji dan Sekartaji dalam suasana bahagia…….... ketika istri dan suami ènjèr ridhong berputar.238 Foto: 1 Tari Karonsih: Panji dan Sekartaji dalam kemesraan dan kebersamaan…………………………………………………........ ketika istri dan suami lilingan kebyok sampur..........172 Foto: 2 Tari Bondhan Sayuk: Suami dan istri dalam kebahagiaan …………........260 Foto: 4 Tari Karonsih: Panji dan Sekartaji dalam suasana romantis………….a : Dasar ...268 Foto: 6 Tari Karonsih: Panji dan Sekartaji memadu asmara………….....237 Gambar 5: pola lantai garis lengkung untuk mendukung suasana romantis.…..............262 Foto: 5 Tari Karonsih: Panji dan Sekartaji memadu asmara……………….................285 Foto: 12 Tari Bondhan Sayuk: Suami dan istri dalam kebahagiaan…………..…....220 Foto: 3 Tari Karonsih: Panji mengamati Sekartaji dalam suasana sedih………...…...............282 Foto: 10 Tari Bondhan Sayuk: Suami meminta anak kepada istri………….....................…....274 Foto: 8.….... Tari Bondhan Sayuk: Suami dan istri dalam kebersamaan..…......................en .…....... ketika istri hendak meninggalkan suami.

Sn PS PKS Pa Pi Pn Pt PKD R R.an : Dasar .T TT V–a VCD : Dasar . Glosarium………………………………………………..22 D – an D – ana di – D – ake KOKAR KRT M..380 Lampiran 2.…………380 .M R.. VCD Tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk…………………….ana : di .a : Visual Compact Disk DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1.ake : Konservatori Karawitan : Kanjeng Raden Tumenggung : Magister Seni : Prinsip Kesantunan : Prinsip Kerja Sama : Putra : Putri : Penutur : Petutur (mitra tutur) : Pakempalan Kagunan Jawi : Raden : Raden Mas : Raden Tumenggung : Tindak Tutur : Verba .Dasar .

Latar Belakang Masalah .23 BAB I PENDAHULUAN A.

Betapa pentingnya bahasa bagi kehidupan manusia kiranya tidak perlu diragukan lagi. karena tanpanya manusia tidak mampu berkomunikasi dan berinteraksi dengan dunia luar dirinya. sistem yang terpenting di mana sistem-sistem lain terutama dicerminkan dan ditransmisikan.24 Manusia hidup tidak mampu lepas dari lingkungan dan bertahan sendiri. bahasa adalah sistem bunyi ujar yang bersifat arbitrer yang dipergunakan oleh manusia dalam suatu masyarakat (language society) untuk berkomunikasi secara umum dan wajar. Bahasa sendiri merupakan sistem dari budaya manusia. “Without language there could be no culture. Sejalan dengan pernyataan tersebut bahasa merupakan suatu sistem simbol-simbol vokal yang dipelajari dan dimiliki secara bersama. sebagai sarana mewujudkan cita-citanya. . betapapun hebat dan kuatnya. sebagian besar individu tersebut melakukan melalui modalitas utama komunikasi manusia yakni bahasa. and man remained hominoid. dapat dikatakan belum mempunyai bekal. he could and did become hominine” (Smith. maka dia harus belajar menjadi manusia dengan menghayati atau mendalami budaya kelompoknya. 1969: 104-105). Setiap individu lahir dalam masyarakat yang telah berjalan. with language and culture. Di situ manusia dalam masyarakat atau subkultur dengan bahasa yang sama saling berinteraksi sehingga mampu berkomunikasi berdasarkan pengalaman dan harapan kultural yang sama. hal: 1). Ketergantungan antarindividu merupakan faktor utama manusia untuk saling berkomunikasi dalam rangka meraih kehidupan yang berbudaya. Berbagai strategi belajar untuk menjadi manusia yang diperlukan agar dapat terinkulturasi dan tersosialisasi sepenuhnya. Menurut Edi Subroto (tanpa tahun.

Ludruk. Masing-masing media dapat muncul secara mandiri dan bisa juga saling komplementer. bunyi. Secara prinsip dapat peneliti katakan bahwa seni pertunjukan merupakan wahana yang sangat potensial sebagai sasaran kajian pragmatik. warna pada seni rupa. dan bahasa sebagai tindak tutur. rupa. dan bahasa. Kethoprak. Hal ini dapat kita cermati dari bentuknya yang berupa seni kolektif sebagai sarana untuk mengungkapkan maksud dari seniman sebagai penutur dengan harapan dapat dihayati oleh penghayat sebagai mitra tutur. Lenong. . Tari. Wayang Golek. dan bahasa) banyak terdapat pada seni pertunjukan. bunyi. Kemunculan secara mandiri seperti: bunyi dalam musik. Bentuk yang merupakan komplemen dari beragam media (gerak. yang kesemuanya itu merupakan bahasa komunikasi yang kaya akan nuansa imajinatif dan penuh dengan multitafsir.25 Dalam kehidupan kesehariannya manusia berkomunikasi lewat beragam media atau medium. Pada hakekatnya media itu berbentuk fisik. bergantung kebutuhan. adapun bentuk yang utama yakni: gerak. Seni pertunjukan merupakan bentuk seni komplementer yang pada dasarnya merupakan salah satu bentuk bahasa pragmatik. Langendriyan. Randai. Seni pertunjukan sebagai bahasa seniman untuk berkomunikasi dengan penghayat merupakan bahasa pragmatik yang sangat khas penuh dengan nuansa keindahan. Adapun bentuk seni pertunjukan di antaranya: Wayang Purwa (Wayang Kulit). rupa. Pragmatisme pada seni pertunjukan dapat ditunjukkan dari wujudnya yang memiliki bahasa verbal dan nonverbal saling komplemen yang selalu hadir dalam konteks. dan lainnya. Karawitan. Wayang Wong.

merupakan perpaduan dari berbagai media komunikasi. ini merupakan realitas kemunculan bentuk komplementer. Ini berbeda dengan bahasa.26 Tari sebagai salah satu bentuk seni pertunjukan. . bunyi dan bahasa sebagai garap iringan. penonton umum dan penanggap) sebagai mitra tutur. kata-kata yang terdapat dalam tembang sebagai bahasa verbal. Seperti dinyatakan Spradley (1997: 120). Pertimbangan yang mendasar bahwa dalam tari. bahwa masyarakat di mana saja menata hidup mereka dalam kaitannya dengan makna dari berbagai hal. Kehadiran tari sebagai ungkapan ekspresi jiwa manusia merupakan media komunikasi seorang seniman (penyusun tari ataupun penari) sebagai penutur terhadap masyarakat (pakar. dan relasi antara bentuk dan makna sangat ketat. serta rupa sebagai garap rias dan busana. Hal ini terkait dengan konsep bahasa yang bersifat formal. Adapun pesan-pesan tersebut dapat berupa pesan moral. yaitu: kinetic body moves (gerak tubuh) sebagai garap tari. dan bersifat hiburan. spiritual. Muatan pesan tersebut merupakan salah satu kebutuhan dasar bagi hidup manusia. yang secara spesifik telah memiliki kaidah-kaidah baku yang penafsirannya lebih bersifat rasional. Lewat pesan akan ditangkap makna sebagai esensi dari aktivitas berkomunikasi antara penyusun tari dengan masyarakat. Sebagai media komunikasi. Penafsiran terhadap keragaman media komunikasi yang terdapat dalam tari tidak mampu hanya ditangkap secara rasional semata tetapi ketajaman rasa merupakan ujung tombak dalam menangkap makna yang sebenarnya. tari mempunyai muatan-muatan pesan dari penyusun tari yang hendak dikomunikasikan dengan masyarakat. selain makna kata-katanya juga diungkapkan dengan lagu dan tekanan irama yang didukung iringan gamelan. sehingga terasa menjadi lebih mantap. disipliner.

Dalam rangka beraktivitas sehari-hari manusia memerlukan bahasa sebagai alat komunikasi yang paling efektif dan efisien. maksud dari ujaran tersebut dapat dipahami. Rupanya dalam berkomunikasi manusia tidak selalu menggunakan bahasa yang sifatnya langsung. frase atau kalimat. Dengan cara menghubung-hubungkan bentuk ujaran dengan konteks situasinya. kapan. tetapi juga sering memilih menggunakan bahasa yang tersamar. apa adanya. di mana.27 Dalam kehidupannya. terbuka. Kajian makna dalam . manusia menggunakan bahasa sebagai sarana komunikasi dan berinteraksi secara vertikal dan horisontal dalam kedudukannya sebagai makhluk individu maupun sosial. untuk apa dan bagaimana. tidak langsung seperti bahasa pragmatik. Makna yang dikaji dalam pragmatik dikaitkan dengan maksud atau tujuan penutur di dalam mengutarakan suatu kata. 1995: 50). mitra tutur harus mengetahui makna semantik ujaran itu terlebih dahulu. Bahasa yang bersifat pragmatik merupakan salah satu sasaran kajian tentang makna-makna satuan lingual secara eksternal. Jadi pragmatik mengkaji maksud suatu ujaran penutur baik secara tersirat maupun tersurat di balik tuturan yang dianalisis. sosial. Dengan demikian tampak jelas bahwa pragmatik terikat konteks (context dependent). Namun untuk dapat mengetahui maksud ujaran penutur (makna pragmatiknya). bukan semata-mata hanya makna literal ujaran tersebut. Lewat makna semantik yang dikontekstualkan akan muncul makna pragmatik yang diharapkan dalam sebuah peristiwa pertuturan. sebagaimana dikatakan Leech pragmatik adalah “The study of meaning in relation to speech situation” (lihat Wijana. Bahasa merupakan sarana yang utama untuk menyampaikan pesan penutur kepada mitra tutur. dan kultural yaitu siapa berbicara kepada siapa.

budaya seperti: sastra. tembang. selaras. Hubungan atau relasi dalam pragmatik bersifat triadis. Dalam rangka menjaga hubungan dan interaksi komunikasi pada kehidupan sehari-hari tetap terjaga baik. (5) tuturan sebagai produk tindak verbal (Leech. dan (4) maksim cara (Grice dalam Leech. Pragmatik merupakan cabang linguistik yang mengkaji makna dalam hubungannya dengan situasi ujar (konteks). syair. (3) tujuan sebuah tuturan. 1993: 11). Aspek-aspek situasi ujar meliputi: (1) yang menyapa (penyapa) atau yang disapa (pesapa). yaitu: (1) maksim kuantitas. (2) maksim kedermawanan. dan tari. sehingga makna itu dapat dirumuskan dengan kalimat “Apa yang kau maksud dengan berkata x itu ?” (What do you mean by x ?). Pada realitasnya manusia sering tidak mengindahkan prinsip-prinsip kerjasama dalam . (3) maksim pujian. harmonis. manusia menggunakan bahasa yang memenuhi prinsip-prinsip kerjasama.28 pragmatik bersifat triadis. puisi. Kajian bahasa pragmatik lebih terfokus pada makna implikatur dari eksternal tuturan si penutur bukan makna eksplikatur yang terdapat dalam internal tuturan semata. artinya suatu bentuk kebahasaan selain memiliki makna semantik juga makna pragmatik. dan berkesinambungan. Bahasa yang bersifat pragmatik banyak digunakan dalam berbagai bidang antara lain: sosial. 1993: 19-20). (4) tuturan sebagai bentuk tindakan atau kegiatan: tindak ujar. politik. (4) maksim kerendahan hati. dan (6) maksim simpati. maksudnya bahwa makna pragmatik selain dibangun melalui semantik yang mencakup: (1) bentuk kebahasaan dan (2) makna juga dikaitkan dengan (3) konteks. (5) maksim kesepakatan. (3) maksim relevansi/hubungan. (2) konteks sebuah tuturan. (2) maksim kualitas. Selain itu juga didukung prinsip kesopanan yang meliputi: (1) maksim kearifan.

2005: 2). Menurut Wisnoe Wardhana (1994: 36). Karena hal itu terjadi. Ketidakpatuhan para peserta tutur dalam pertuturan karena dipicu oleh motif-motif tertentu dari penutur. gerongan. Tari adalah ungkapan perasaan manusia tentang sesuatu dengan gerak-gerak ritmis yag indah (Soedarsono. pola lantai. lambaian tangan. rias. Dampak dari peristiwa tuturan tersebut muncul implikatur-implikatur yang akhirnya merupakan lahan pragmatik. sindhenan. Aspek verbal tari berupa cakepan (syair) teks sastra tembang yang terdapat dalam pathetan. isyarat. kinetic body moves (gerak tubuh). morse. kode. kenthongan barulah dapat bermakna setelah diterjemahkan ke dalam bahasa manusia (Lamuddin Finoza. busana. sebagai akumulasi beragam tuntutan akan kebutuhan hidup manusia yang begitu kompleks. Terdapat dua cara untuk berkomunikasi lewat bahasa. Dalam hal ini penutur berupaya memasukkan maksudnya secara implisit pada ujaran yang diungkapkan. Adapun komunikasi yang bersifat nonverbal dilakukan dengan menggunakan alat selain bahasa. bunyi misalnya tanda lalu lintas. Berkomunikasi secara verbal dilakukan dengan cara menggunakan media bahasa baik yang tertulis dan lisan. Dengan demikian tari yang merupakan bagian dari seni pertunjukan yang memiliki aspek komunikasi verbal dan nonverbal merupakan objek kajian pragmatik yang sangat menarik. Sedangkan H’Doubler mengutarakan bahwa tari adalah ekspresi gerak ritmis dari kajian . polatan. sirene. yakni dapat berupa teks verbal dan nonverbal. Sedangkan aspek nonverbalnya berupa: tema. 1996: 6). dan iringan. dan jineman. Wujudnya dapat berupa aneka simbol.29 berkomunikasi sehingga terjadi pelanggaran. tari adalah ungkapan nilai-nilai keindahan dan keluhuran lewat gerak dan sikap.

dengan menggunakan medium utama gerak. Tanpa simpati publik. maka dibutuhkan juga suatu penghargaan. Bagaimanapun acuhnya seorang seniman terhadap publik. dikomunikasikan dalam bentuk yang indah untuk mendapatkan penghayatan yang layak. Jika kita cermati lebih lanjut pernyataan ketiga pakar mengenai pengertian gerak tersebut masih kabur. 1980: 37).30 keadaan-keadaan perasaan yang secara estetis dinilai. melaksanakan serta dari penciptaan bentuk-bentuk (dalam Soedarsono. tari adalah ekspresi jiwa manusia lewat medium utama gerak tubuh untuk mencapai kenikmatan keindahan. Seperti variasi pada kutipan kata-kata terkenal Donne: “one could almost say. 1996: 4). Sumber gerak utama yang dimaksudkan di sini adalah kinetic body moves. tidak dapat dikatakan gerak tari. Rupanya ekspresi diri semata tidak akan memberikan kenikmatan dan kepuasan bahkan cenderung mati (Parker. And when the body speaks . ungkapan. Secara garis besar bahwa semua gerak dapat menjadi gerak tari dengan cara melalui campurtangan gerak tubuh dan seleksi yang memadahi. yang lambang-lambang geraknya dengan sadar dirancang untuk kenikmatan serta kepuasan dari pengalaman ulang. ia berkarya dengan harapan dapat dihayati. Menurut peneliti. Rupanya gerak tubuh sangat dominan dan merupakan medium utama yang sekaligus sebagai sumber kehidupan tari. karena pada dasarnya betapapun indahnya gerak tumbuh-tumbuhan yang tersapu angin. the body speaks. gerak akrobatik binatang yang menawan tetapi tanpa kehadiran gerak tubuh manusia. berkomunikasi. dorongan artistik akan layu tidak dapat berkembang. Dari ketiga pendapat pakar tari tersebut dapat disarikan bahwa tari merupakan ekspresi jiwa manusia sebagai tanggapan tentang nilai-nilai kemanusiaan.

Adapun isi yang dimaksud merupakan pengalaman jiwa seniman dalam menanggapi alam. wujud. its movements. kita harus mengakui bahwa komunikasi ‘gerak tubuh’ mampu ‘menentukan suasana’ dan ‘memberi makna’ untuk komunikasi secara utuh. Pada dasarnya tindakan pragmatik melibatkan seorang individu secara keseluruhan dalam komunikasi. mitra tutur juga tidak akan mengikuti dan memperhatikan. pandangan. 1994: 3). they represent. the body moves. Bentuk seni adalah hasil ciptaan seniman yang merupakan wujud dari ungkapan isi. Di samping itu. dan gayanya (Budhisantoso. Selayaknya.31 in this fashion. a pragmatic act” (dalam Mey. 2001: 223-224). bukan hanya bagian kontribusi yang diucapkan saja. Tidak mungkin orang bicara soal kesenian tanpa memperhatikan bentuk. as such. dalam dimensi meta-pragmatik. in a conversation). form an integral part of the interactions (e. 1994: 68).. dan tanggapannya ke dalam bentuk fisik yang dapat ditangkap dengan indera (Sri Rochana. or are part of. tindakan pragmatik sangat penting untuk menentukan dan mempertahankan kerangka meta-komunikatif untuk komunikasi. Tampaklah sekarang bahwa bentuk dalam seni memiliki peranan yang sangat penting dalam rangka menyampaikan isi atau maksud yang hendak dikomunikasikan pada penghayat (mitra tutur) dari si seniman (penutur). Secara sederhana Herbert Read berpendapat bahwa seni merupakan usaha untuk menciptakan bentuk-bentuk yang menyenangkan (1990: 2). Dengan kata lain. jika gerak tubuh penutur tidak mengikuti pembicaraan penutur. lingkungan sekitarnya secara selektif.g. Sekarang semakin jelas bahwa ide komunikasi nonlisan sebagai tambahan atau alat bantu sederhana pada pembicaraan adalah pandangan irasional yang terlalu sempit. .

bunyi. Pengalaman jiwa seniman sewaktu-waktu dapat dikomunikasikan lewat garap medium sesuai dengan bidangnya masing-masing. Pada hakikatnya medium ekspresi seniman bersifat fisik. supaya menjadikannya jelas bagi jiwa yang menghayati. bahasa. dan bukan merupakan sesuatu yang sudah siap tersedia. garis. Wujud tersebut tak lain agar dapat dan mampu ditangkap dengan indera manusia. 1990: 45). baik dari seniman sebagai pengkarya maupun masyarakat sebagai penikmatnya. melainkan nilai-nilai kehidupan yang telah terseleksi dapat ditranspormasikan dalam bentuk yang indah. warna (rupa). Keberhasilan mereka menyampaikan pesan-pesan tergantung dengan kemampuan menyeleksi materi-materi sebagai sarana ungkap dan tidak lepas dari kemampuan masyarakat penikmat untuk menangkap yang sudah barang tentu mengacu pada nilai-nilai budaya dan norma-norma sosial yang hidup dan . dan wujudnya dapat berupa gerak. tidak pula bersifat stereotip. Sarana tersebut setiap saat dan untuk setiap personal harus dicari. Hubungan antara bentuk fisik yang dapat diamati indera dengan isi yang hendak diungkap harus terjalin secara harmonis agar dapat mencapai sasarannya yaitu penghayat. Maka tidaklah mengherankan apabila sarana untuk berekspresi dalam seni tidak bersifat instingtif. seni memiliki tujuan yaitu memberikan kepuasan dalam visi penuh simpati. Untuk itu menuntut seniman bukan hanya menyajikan realitas kehidupan yang sifatnya mengimitasi atau memindahkan begitu saja. Sehingga benda pacu dimaksud mampu mengubah dari pandangan verbal menjadi pandangan yang penuh makna yang berarti bagi kehidupan jiwa. dan seringkali pencarian itu terlampau berliku-liku jalannya (Read.32 Sebagai media ekspresi.

Kesenian karaton cenderung memiliki garap lebih rumit. tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat pedesaan. 1991: 10). cermat dan mempunyai semacam pola-pola baku yang sering digunakan sebagai semacam pedoman. Pewarisan budaya tidaklah bersifat statis. yaitu bentuk dan iramanya sangat kuat dilatarbelakangi oleh konsep keindahan dan tradisi kebudayaannya (Humardani. tari dan lainnya. karawitan. 1991: 14). Seni tradisional genre tari pasihan yang mengacu kesenian karaton merupakan salah satu budaya yang diwarisi secara turun-temurun sudah barang tentu memiliki kesinambungan dengan budaya sebelumnya. Beragam bentuk seni pertunjukan karaton. Betapapun hebatnya seorang seniman dalam berkarya tanpa diimbangi apresiasi masyarakat yang layak dan memadahi rupanya akan menjadi semakin tidak berarti sehingga bentuk-bentuk pesan yang hendak disampaikan oleh seniman tidak dapat terealisasi secara baik dan wajar dalam kehidupan masyarakat. Dalam tari Jawa bentuk ekspresinya pada hakikatnya terwujud berdasarkan alam emosi. Sedangkan kesenian rakyat hidup. Kesenian karaton merupakan bentuk kesenian yang pada awalnya hidup dan berkembang di lingkungan karaton. tetapi masing-masing . Seni pertunjukan Jawa pada umumnya dapat dikategorikan menjadi dua kelompok besar yaitu kesenian karaton dan kesenian rakyat (Humardani. wayang wong (wayang orang).33 berkembang. Untuk itu dibutuhkan peningkatan kualitas apresiator dengan memperbanyak peluang aktivitas pertunjukan dan peningkatan kualitasnya. Perkembangan sekarang kedua bentuk kesenian tersebut saling mempengaruhi secara lebih kompleks. Berbeda dengan kesenian rakyat yang sifatnya spontan sangat sederhana baik bentuk maupun sistem pertunjukannya. di antaranya: wayang kulit.

Pethilan. Wireng. Srimpi. Di dalam kehidupan masyarakat Jawa. Kehadiran genre tari pasihan (percintaan pria dan wanita) dalam kehidupan sosial masyarakat pada ritual perkawinan adat Jawa rupanya mempunyai makna simbolik yang sangat penting terutama bagi kedua mempelai dalam rangka mempersiapkan diri untuk mengarungi kehidupan di masyarakat yaitu menuju terbentuknya keluarga yang bahagia. Simbolisme semacam ini tampak pada genre tari pasihan yang hadir dalam rangkaian upacara-upacara perkawinan adat Jawa. di antaranya genre tari pasihan. simbolisme memiliki peranan sangat penting. bahwa ‘simbol’ tampak terbatas pada sesuatu yang mengungkapkan secara tidak langsung. Seolah–olah keberadaan genre tari pasihan dalam budaya Jawa sejak 1970 telah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan terutama pada upacara-upacara perkawinan (Maryono. Hal tersebut diduga menumbuhkan daya pikat perhatian masyarakat . dan tarian untuk anak. sehingga kemunculan pertunjukan genre tari pasihan pada upacara perkawinan relatif sangat tinggi frekuensinya. Rasanya menjadi kurang utuh apabila dalam acara resepsi perkawinan tidak disajikan tari pasihan sebagai penutup pesta tersebut. Bedhaya. 1991: 73). Terbukti seni tradisional kita tetap berkembang di masyarakat.34 generasi mencoba untuk mengadakan perubahan-perubahan disesuaikan dengan kondisi kehidupan masyarakat pendukungnya. sebab simbolisme sangat menonjol peranannya dalam tradisi adat Jawa. “Genre Tari Pasihan“ tampaknya cenderung menekankan rasa dan emosi dalam bentuk bahasa verbal dan nonverbal. Di dalam seni pertunjukan. sehingga perlu perantara yang berwujud simbol-simbol dalam puisi bukan dalam bentuk pengetahuan. Menurut Clifford Geertz (1992: 6).

Berkembangnya bentuk dan jenis genre tari pasihan atau genre tari duet percintaan tidak lepas dari kreativitas para penyusun tari dalam rangka memenuhi kebutuhan sosial masyarakat. Keragaman bentuk dan jenis tari duet percintaan yang terdapat di wilayah Surakarta menunjukkan sebuah kekayaan ranah budaya yang mampu memberikan warna kota Sala sebagai pusat budaya. tari Driasmara. pusat adat-istiadat Jawa. tari Enggarenggar. tari Jayaningrat dan tari Setyaningsih. Suciati Joko Suharja menciptakan tari Kusuma Aji. tari Langen Asmara. Secara perlahan-lahan kehidupan tari yang semula menjadi hak monopoli keluarga kerajaan. Sunarno menghasilkan karya: tari Bondhan Sayuk. tari Kusuma Ratih. tari Lambangsih. Rupanya hal ini terkait dengan warisan budaya khususnya tari dari kerajaan Mataram baru yaitu istana Kasunanan Surakarta Hadiningrat. 1984: 235). kehilangan kekuasaannya sebagai orientasi nilai-nilai budaya Jawa. putri lanyap duet dengan alus luruh. keluar tembok karaton hidup dan berkembang meluas ke tengah-tengah kehidupan masyarakat.35 dan mampu menggugah semangat kreativitas para seniman seni pertunjukan di Surakarta untuk merespon secara positif. Ketika Perang Dunia ke II berakhir. . karaton-karaton di Jawa kehilangan kekuasaannya atas daerah-daerah masingmasing. Genre tari pasihan gaya Surakarta merupakan suatu kelompok tari yang secara susunan berbentuk duet atau pasangan silang jenis tipe karakter dengan tema percintaan. Jenis tipe karakter yang berpasangan tersebut dalam genre ini antara lain : putri luruh duet dengan alus luruh. dan sebagai pusat kesenian Jawa (Koentjaraningrat. dan tari Gesang Rahayu. Seniman-seniman yang menanggapi secara proaktif antara lain seperti Maridi dengan karyanya: tari Endah. putri luruh duet dengan gagah luruh dan sebagainya.

Genre tari pasihan merupakan cabang seni tradisional gaya Surakarta yang banyak mengandung makna simbolis dan memiliki fungsi yang erat hubungannya dengan upacara adat ritual perkawinan masyarakat Jawa. tetapi juga perlu diupayakan lewat kekuatan – kekuatan yang tak kasat mata. Kehadiran genre tari pasihan di tengah-tengah kehidupan sosial masyarakat diduga mempunyai kekuatan magis simpatetis terhadap sepasang penganten. Seperti diungkapkan Soedarsono sebagai berikut : Sadar atau tidak sadar kesuburan tanah – juga perkawinan – tidak cukup hanya dicapai lewat peningkatan sistem penanaman baru. yang hanya bisa didapatkan dengan perbuatan yang melambangkan terjadinya pembuahan. Sedangkan bagi masyarakat yang sudah agak maju dilakukan secara simbolik. yaitu hubungan antara pria dan wanita. dan . gerongan. yaitu pada setiap upacara perkawinan hampir dapat dipastikan akan disajikan jenis tari pasihan.36 Kehidupan genre tari pasihan hingga sekarang mengalami perkembangan sangat pesat. Kekuatan itu antara lain berupa magi simpatetis. (Soedarsono dalam Soedarso. 1991: 35) Rupanya semakin tampak bahwa genre tari pasihan merupakan media ungkap para penyusun tari (penutur) yang memuat ide. rasa. Rupanya telah mengakar pada budaya Jawa. gagasan. sindhenan. Hubungan ini pada masyarakat yang masih melestarikan budaya purba kadang-kadang dilakukan agak realistis. hal ini dimungkinkan adanya suatu pilihan masyarakat yang sangat tepat tentang tata nilai dan sikap untuk menjaga kelangsungan hidup budayanya sebagai warisan yang dianggap memiliki nilai tinggi. Seni pertunjukan genre tari pasihan gaya Surakarta sebagai karya seni memiliki beberapa aspek di antaranya aspek sastra tembang (bahasa verbal) yang berupa cakepan (syair) yang terdapat dalam pathetan. emosi yang diekspresikan dalam bentuk bahasa verbal dan nonverbal yang hendak dikomunikasikan dengan penghayat (mitra tutur) dengan maksud-maksud tertentu.

busana.37 jineman. tidak lain didasarkan pada fakta historis. yakni seperti: tari Endah. yakni tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk. tari Gesang Rahayu. Aspekaspek tersebut membutuhkan ruang. Dengan pernyataan lain serupa tetapi tidak sama. tari Enggar-enggar. Dari sejumlah jenis tari duet tersebut peneliti memfokuskan sasaran pada dua bentuk tari duet percintaan. tari Driasmara. mempunyai pengaruh cukup besar yaitu telah dapat memacu dan memotivasi terhadap seniman-seniman di kalangan tradisional (Maryono. dan iringan. Secara garis besar dapat dikatakan bahwa bentuk-bentuk tari yang termasuk dalam genre tari pasihan. dalam tindakannya supaya dapat berfungsi secara baik sebagai media komunikasi. Sedangkan aspek bahasa nonverbal meliputi: tema. pola lantai. rias. Kehadiran tari Karonsih di tengah-tengah kehidupan masyarakat telah menjadi bagian dari kebutuhan sosial. yang sudah barang tentu juga terdapat perbedaan namun tidak begitu signifikan. tari Kusuma Ratih. gerak tubuh (kinetic body moves). tari Bondhan Sayuk. Karonsih merupakan awal jenis tarian duet percintaan yang mampu membawa perkembangan sangat luar biasa. tari Jayaningrat. dan memiliki pesan. banyak persamaannya. tari Kusuma Aji. Pemilihan pertama tari Karonsih dalam kajian pragmatik ini. Kajian pragmatik di sini akan menganalisis makna genre tari pasihan lewat implikatur-implikatur bahasa verbal dan nonverbal yang dimilikinya. tari Langen Asmara dan tari Setyaningsih. tari Lambangsih. Di samping itu diduga tari Karonsihan memiliki kekuatan magis simpatetis yang kuat terhadap . waktu. Pengaruh perkembangannya dapat dibuktikan dengan munculnya berbagai bentuk tari duet percintaan. polatan (ekspresi wajah). 1991: 27).

sekilas dapat dicermati dari properti yang berupa boneka bayi (anak kecil). serta memberikan citra budaya yang mantab. Realitas menunjukkan bahwa keragaman jenis tari duet percintaan gaya Surakarta merupakan salah satu aset budaya nasional yang memiliki kuantitas dan kualitas tinggi. Pada prinsipnya pemilihan sampling tari Karonsih dan Bondhan Sayuk tersebut bukan untuk generalisasi statistik (populasi) tetapi lebih fokus untuk mewakili dari keragaman informasinya yang diharapkan dapat digeneralisasi teorinya. kuantitas. kredibilitas. hal ini dapat diamati dari kehadirannya yang hampir dapat dipastikan pada setiap upacara perkawinan terutama pada budaya Jawa. Perbedaan antara Karonsih dengan Bondhan Sayuk meliputi bentuk tindak tutur verbal dan nonverbal. namun masih dalam karakteristik yang sama. Selain itu terdapat perbedaan bahasa nonverbal. Kehadiran genre tari pasihan merupakan pemenuhan kebutuhan sosial dan hayatan cukup mantap dan sekaligus menjadi benteng budaya . dan kualitas genre tari pasihan sebagai seni pertunjukan yang hidup dan berkembang pesat di Jawa. Kelayakan dan kualitas objek sasaran penelitian tidak dapat disangsikan berdasarkan eksistensi. didasarkan pada bentuk yang berbeda pada jenis tari duet percintaan. baik dari segi tindak tutur verbal dan nonverbalnya dapat digunakan untuk mengungkap secara mendalam karakteristik genre tari pasihan dalam analisis pragmatiknya. maka hal itu dapat diamati dari jenis bahasa verbal yang digunakan pada masing-masing tari pasihan tersebut. Diharapkan perbedaan yang terdapat pada tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk. Merujuk pada pola cerita yang tokoh-tokohnya memiliki authority scale dan social distance yang berbeda. Pemilihan kedua adalah tari Bondhan Sayuk.38 sepasang temanten.

39 nasional yang mampu memberi warna citra diri masyarakat Surakarta sebagai pewaris high culture Mataram palace dan lebih meluas sebagai bangsa Indonesia. dan penanggap) sebagai mitra tutur (komunikan). penonton umum. Bagaimanakah penerapan prinsip kerja sama dan prinsip kesantunan dalam bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta ? 3. adalah: mengapa masyarakat memilih pertunjukan genre tari pasihan gaya Surakarta sebagai masterpiece dalam sebuah ritual perkawinan adat Jawa. serta mengapa terjadi dominasi ? 2. Bagaimanakah implikatur dan daya pragmatik bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta ? . karya seni (pesan atau tindak tutur) sebagai sarana atau media tutur. B. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. dan masyarakat (pakar. Rumusan Masalah Dari uraian latar belakang masalah yang telah peneliti paparkan tersebut di muka. terdapat masalah utama yang menjadi fokus penelitian disertasi ini. Untuk itu perlu dirumuskan masalahnya dalam rangka menganalisis makna pragmatik pada genre tari pasihan. Masalah utama tersebut dapat dikaji lewat beberapa pertanyaan yang bersumber pada seniman pelakunya (penyusun tari dan penari) yang bertindak sebagai penutur (komunikator). Bagaimana jenis-jenis tindak tutur dalam genre tari pasihan gaya Surakarta dan tindak tutur apa yang dominan.

Implikatur dan daya pragmatik bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta.40 4. Persepsi masyarakat terhadap kehidupan genre tari pasihan gaya Surakarta. 6. Bagaimana persepsi masyarakat terhadap kehidupan genre tari pasihan gaya Surakarta ? C. Ciri karakteristik bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta. akurat. Jenis-jenis tindak tutur dan tindak tutur yang dominan dalam genre tari pasihan gaya Surakarta. 4. Penerapan prinsip kerja sama dan prinsip kesantunan dalam bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta. dan mendalam untuk menemukan dan mendeskripsikan: 1. . Bagaimana ciri karakteristik bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta ? 5. Latar belakang konsepsi penciptaan bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta. Bagaimana latar belakang konsepsi penciptaan bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta ? 6. 3. Tujuan Penelitian Memahami bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan pada ritual perkawinan adat Jawa di Surakarta dengan menganalisis secara rinci. 2. 5.

Perspektif dari kajian pragmatik akan mengarahkan peneliti untuk menganalisis seni pertunjukan (tari) secara menyeluruh. . Spesifikasi yang dapat diunggulkan dalam kajian ini bahwa terdapat interaksi yang sangat tepat antara pragmatik dan seni pertunjukan yang masing-masing berorientasi masalah makna. Dengan demikian manfaat yang diharapkan dari penelitian ini: (1) Membuka perspektif kajian baru. Salah satu jenis kajian linguistik yang paling tepat untuk analisis tari adalah linguistik pragmatik. terutama kajian seni pertunjukan khususnya tari dari perspektif linguistik pragmatik. namun penelitian tari dari kaca mata linguistik rupanya masih sangat langka. (3) Memberikan motivasi terhadap pembaca pada umumnya dan para peneliti dari kalangan Lembaga Perguruan Tinggi Seni untuk meneliti bentuk-bentuk seni pertunjukan dari perspektif linguistik pragmatik. (2) Memberi sumbangan bagi para pembaca untuk menambah wawasan kajian seni pertunjukan tari pasihan dari sudut pandang linguistik pragmatik.41 D. baik dari aspek bahasa verbal dan nonverbal. (4) Dapat menjadi referensi atau acuan bagi para peneliti yang terkait dengan disiplin ilmu linguistik pragmatik dan kajian sastra seni khususnya. Sedangkan pragmatik merupakan disiplin ilmu yang secara spesifik mengkaji makna atau maksud penutur. ekonomi. budaya dan lainnya rupanya telah banyak dilakukan para peneliti. politik. antropologi. Manfaat Penelitian Tari dikaji dari berbagai perspektif ilmu seperti sosial. Artinya seni pertunjukan memuat nilainilai kehidupan yang fundamental sebagai sumber makna.

(2) teori budaya. Kajian Teori Seni pertunjukan umumnya dan lebih khusus genre tari pasihan gaya Surakarta merupakan lahan kajian yang sangat menarik lewat bahasa verbal yang berupa teks sastra tembang dan bahasa nonverbal.42 BAB II KAJIAN TEORI. TINJAUAN PUSTAKA. DAN KERANGKA PIKIR A. 1) Teori pragmatik untuk menganalisis jenis-jenis tindak tutur yang terdapat pada sastra tembang sebagai bahasa verbal. jenis tindak tutur yang dominan. (3) teori seni pertunjukan. dan (4) teori komunikasi. Dalam rangka untuk mengetahui dan mencermati makna bahasa verbal dan nonverbal yang terdapat dalam seni pertunjukan genre tari pasihan gaya Surakarta. peneliti menggunakan kajian: (1) teori pragmatik. Bentuk analisis berikutnya adalah bagaimana penerapan . mengapa terjadi dominasi.

3) Teori seni pertunjukan untuk mengkaji elemen-elemen yang terdapat di dalam tari pasihan (bahasa nonverbal) mencakup tema. Selain itu juga untuk mengkaji strategi kesantunan yang digunakan oleh masing-masing peserta tutur yang terdapat dalam genre tari pasihan terkait dengan cara mengungkapkan tindak tutur terkait jarak sosial. Proses komunikasi antara seniman penyusun sebagai komunikator dengan masyarakat sebagai komunikan lewat media yaitu karya seni tari pasihan. dan penggunaan muka dalam komunikasi. hubungan peran yang berbeda. wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide untuk mengungkapkan konsepsi seniman penyusun tentang bahasa verbal dan nonvberbal yang digunakan pada tari pasihan. Adapun wujud kebudayaan berupa benda-benda hasil karya manusia untuk analisis faktor objektif atau karya seninya. polatan (ekspresi wajah). pola lantai. Dalam komunikasi tersebut lebih difokuskan pada kesesuaian antara pesan makna yang dimaksudkan seniman penyusun dengan makna yang dapat ditangkap oleh masyarakat. rias. Jika komunikasi antara seniman dengan masyarakat terjadi perbedaan . 2) Teori budaya yang terdiri dari tiga bagian yakni. busana. 4) Teori komunikasi digunakan untuk menganalisa bagaimana komunikasi berlangsung. gerak tubuh (kinetic body moves). dan iringan gamelan untuk mengungkapkan faktor objektif dan faktor genetik.43 prinsip-prinsip kerja sama dalam sastra tembang. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas untuk mengkaji dari faktor afektifnya yaitu mengenai pandangan masyarakat umum dan persepsi pakar terhadap pertunjukan tari pasihan. Teori tersebut juga untuk mengungkap implikatur dan daya pragmatik. baik yang berupa sastra tembang dan bahasa nonverbal.

Untuk mengetahui makna ujaran tidak dapat hanya dilihat dari satu sisi ujaran itu sendiri. objektif. Konsep ujaran menurut Parera (dalam Muhammad Rohmadi. Teori Pragmatik Terkait untuk tujuan-tujuan linguistik pragmatik adalah studi tentang makna dalam hubungannya dengan situasi-situasi ujar (speech situations) (Leech. dan afektif. akan tetapi harus memperhatikan situasi ujaran atau sejauh mana kontekstualnya.44 atau sebaliknya terjadi persamaan. Sebagaimana dikatakan Leech bahwa seorang yang menganalisis makna pragmatik dapat disamakan dengan seorang penerima. dari hasil itu dapat dicari dan dianalisis penyebabnya untuk menentukan kekuatan dan kelemahan tari pasihan sebagai media. sedangkan teori budaya dan teori seni pertunjukan untuk menganalisis faktor bahasa nonverbal. Teori komunikasi untuk mengkaji keterkaitan antarfaktor genetik. ia berusaha mengartikan isi wacana hanya . Diharapkan keempat teori tersebut mampu untuk mengungkap makna pragmatik genre tari pasihan gaya Surakarta secara menyeluruh dan mendalam. 1993: 8). 2004: 48) berhubungan dengan manifestasi bahasa dalam bentuk lisan. Keempat teori tersebut digunakan untuk menganalisis makna pragmatik genre tari pasihan gaya Surakarta secara komplementer. Secara prinsip teori pragmatik merupakan alat kajian yang utama terkait dengan sistem kebahasaannya. 1.

Bahasa yang diungkapkan berupa ujaran atau tuturan baik yang bersifat lisan maupun tulis. Bentuk ungkapan dapat bersifat langsung dan tidak langsung. penutur serta situasinya. Sebagai mitra tutur berupaya untuk menafsirkan maksud penutur lewat teks yang digunakan dengan mengaitkan konteksnya. Terkait dengan situasi-situasi ujaran. (5) Tuturan sebagai produk tindak verbal. Untuk itu perlu dicermati secara mendalam bentuk . Ujaran-ujaran dalam kalimat dapat diungkapkan makna pragmatiknya secara jelas jika kita perhatikan konteks. (3) Tujuan sebuah tuturan. Tidak langsung. Tanpa konteks.45 berdasarkan bukti kontekstual yang ada saja tanpa menjadi sasaran pesan si penutur (1993: 19). Artinya penutur dalam menyampaikan maksudnya disiratkan pada tuturan atau maknanya di balik yang tersurat. Dalam kehidupan sosial manusia berinteraksi menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi untuk maksud-maksud tertentu. sehingga mudah dipahami mitra tutur. Leech (1993: 19-21) mengemukakan aspek-aspek situasi ujar yang meliputi lima aspek situasi ujaran sebagai berikut: (1) Yang menyapa (penyapa) atau yang disapa (pesapa). bersifat langsung manakala maksud penutur tereksplesitkan dalam bentuk-bentuk tuturannya. (2) Konteks sebuah tuturan. Hambatan sering terjadi karena penutur di dalam mengungkapkan tuturannya menggunakan bahasa yang bersifat indirect. sulit dipahami karena untuk mencermati maksud sebuah tuturan yang disampaikan penutur kepada mitra tutur sering mengalami kendala. ujaranujaran dalam bentuk kalimat atau tindak tutur tersebut hanya akan dipahami sebagai makna semantik yang lebih terfokus pada analisis linguistik formal. (4) Tuturan sebagai bentuk tindakan atau kegiatan: tindak ujar.

Hakekat teks dalam pembicaran ini mereferensi dari pendapat: Leech (1983). a. Richards et al (1992). kita dapat perikan liku-liku antarunit hingga komplementer antarfaktor. Dalam analisis teks dan konteks ini. Cook (1989). dan Cutting (2002). bahwa teks merupakan sebuah unit semantik yang memiliki bentuk dan bermakna bukan sekadar unit gramatikal seperti klausa atau kalimat yang lepas. Dengan demikian teks tidak tergantung pada ukuran panjang pendeknya. namun lebih mengarah pada berfungsinya suatu bahasa. yakni bahasa yang sedang melaksanakan tugas tertentu dalam konteks situasi. teks adalah konstruksi dari hasil penggunaan sintaksis dan fonologi bahasa secara bermakna. Teks Menurut Leech (1983: 100). Pendapat lain. Adapun hakekat konteks lebih mereferensi dari pendapat: Yule (1998). teks adalah potongan dari bahasa tulis maupun lisan yang maknanya dapat dirunut dari perspektif strukturnya ataupun fungsinya (Richards et al.46 bahasa sebagai teks dan bagaimana konteksnya sehingga dapat berfungsi untuk mengungkap makna pragmatik. Halliday dan Hasan (1976). Halliday dan Hasan (1976: 1-2). Hoed (2003: 5-6). 1992: 378). a. Sejalan dengan pendapat tersebut. . Teks dan Konteks Pada dasarnya teks dan konteks sangat vital terkait dengan kompetensi komunikatif sehingga konsep teks dan konteks menjadi penting untuk dikaji dalam rangka memahami implikatur pragmatik. bukan kata-kata ataupun kalimat lepas.1. dan Hoed (2003: 5-6). Secara lebih sederhana Cook menyatakan bahwa teks juga dapat berupa bagian-bagian dari bahasa yang dikaji secara formal (1989: 14).

yaitu: 1.1 Bahasa verbal. sindhenan. yang terkait dengan gejala budaya seperti film. b) jenis-jenis vokabuler gerak. Dalam bahasa nonverbal ini. Berdasarkan tujuan awal penelitian adalah kajian pragmatik.1. dengan mengutip pendapat Noth (1990). Merujuk pada hakekat teks dari pendapat kelima pakar tersebut terkait dengan teks seni pertunjukan. peristiwa upacara ataupun pertunjukan sirkus. dan 2. . musik. c) polatan. Dapat ditarik simpulannya bahwa teks adalah sebuah unit bahasa verbal dan atau nonverbal yang bermakna. dan jineman. maka dalam bahasa verbal ini.1. busana. gerak tubuh (kinetic body moves). c) realisasi kesantunan antarperan a. teks sebagai pesan budaya (nonverbal). pola lantai. pertunjukan balet atau tari. gerongan. polatan (ekspresi wajah). dan iringan. rias.2 Bahasa nonverbal berupa elemen-elemen tari yang terdiri dari: tema.47 mengatakan terdapat dua cara untuk pendekatan dasar pada sebuah teks. b) jenis tindak tutur yang dominan dan mengapa terjadi dominasi. kajian peneliti lebih terfokus pada: a) jenis-jenis tindak tutur yang digunakan. teks sebagai pesan verbal yang membatasi teks pada gejala kebahasaan (lihat disertasi Jumanto. mencakup: a) motif tema yang digunakan sebagai ancangan alur adegan. dapat peneliti kemukakan bahwa teks genre tari pasihan meliputi: a. yang berupa teks sastra tembang yang terdapat dalam cakepan (syair) pathetan. 2006: 23-24). kajian peneliti lebih terfokus pada gejala budaya.

baik konteks yang bersifat lingual (cotext) maupun konteks yang bersifat ekstralingual yang berupa konteks fisik maupun konteks sosial.2. Selama bertahun-tahun kajian linguistik. dan tekanan. Menurut Yule (1998). bukan statis. Konteks dipahami sebagai lingkungan yang selalu berubah yang memungkinkan peserta tutur berinteraksi dan yang membantu mereka memahami . tidak mempertimbangkan bahwa satuan– satuan itu sebenarnya hadir dalam konteks. lagu. didominasi oleh pandangan bahwa aspek form dalam suatu bahasa merupakan satu-satunya data yang paling feasible untuk dikaji. a. Akibatnya aliran struktural gagal menjelaskan berbagai masalah kebahasaan. Konteks Munculnya konsep konteks dalam ranah linguistik merupakan konsep yang relatif baru sebagai pendobrak kemapanan aliran linguistik formal atau struktural. g) jenis-jenis gendhing .48 d) bentuk rias. Kedua bentuk bahasa. f) jenis-jenis pola lantai ( floor design) . konteks adalah sebuah konsep yang dinamis. Artinya bahwa para kaum strukturalis terfokus pada internal bahasa yang semata-mata berorientasi pada bentuk. e) jenis warna dan bentuk busana yang dipakai. h) intonasi yang mencakup: irama. yang seharusnya mengaitkan dengan konteks. baik verbal dan nonverbal tersebut merupakan satu kesatuan yang membentuk menjadi sebuah bahasa genre tari pasihan yang tidak lepas dengan konteks. terutama terkait dengan masalah makna yang ditarik dari implikatur tindak tutur dalam sebuah percakapan.

Leech mengartikan konteks sebagai suatu pengetahuan latar belakang yang sama-sama dimiliki oleh penutur dan mitra tutur dan yang membantu mitra tutur dalam menafsirkan makna tuturan (1993: 20). a. peneliti dapat lebih memfokuskan kajiannya pada: a. secara internal mencakup: perubahan raut muka atau polatan. 2) konteks pengetahuan latar (background knowledge context) yang dirinci menjadi (a) pengetahuan umum budaya (cultural general knowledge) dan (b) pengetahuan interpersonal (interpersonal knowledge). mendefinisikan konteks secara lebih operasional yakni dunia fisik dan sosial serta asumsi-asumsi pengetahuan yang sama-sama dimiliki oleh penutur dan mitra tutur. yaitu keadaan fisik yang muncul bersamaan dengan terjadinya suatu interaksi ketika percakapan berlangsung (at the moment of speaking).2. yakni konteks verbal yang ada pada teks yang mengakibatkan adanya kohesi dan koherensi.1) Keadaan fisik yang muncul bersamaan dengan terjadinya suatu interaksi ketika percakapan berlangsung dapat dirunut. Sejalan dengan pendapat tersebut. intonasi dan pemilihan gerak. Secara eksternal meliputi: lokasi pertunjukan dan kondisi lingkungan yang menjadi setting berlangsungnya pertunjukan.2) Konteks pengetahuan latar yang dapat diperikan menjadi: . Selanjutnya secara rinci konteks dikategorikan menjadi: 1) konteks situasi. Realisasi konteks dari teks tari pasihan dengan mengakses persepsi Cutting. 3) konteks co-textual.2. Sedangkan Cutting (2002: 3-8). pemilihan kata.49 ungkapan-ungkapan kebahasaan yang mereka gunakan dalam suatu proses komunikasi.

masa remaja. rupanya keselarasan alam semesta merupakan salah satu prinsip hidup. masa puber. mengalami pembagian adat-istiadat ke dalam tingkattingkat tertentu. norma-norma. masa kanak-kanak.2. masa penyapihan. . sociofact. salah satu masa yang penting adalah masa perkawinan atau masa nikah. Realitas sepanjang hidup manusia di muka bumi. sekaligus mencegah hal-hal yang sumbang maupun menimbulkan keganjilan. peraturan dan sebagainya. Pandangan bagi masyarakat yang berbudaya Jawa. masa pascanikah. 1992: 54-55). dan bagaimana masing-masing unsur itu harus dirangkai menjadi terpadu. Mentifact. masa hamil.2. 1985: 89). dan masa tua hingga kematian (Koentjaraningrat. artifact. Dalam keselarasan tersebut yang penting adalah apakah hubungan alamiah satu sama lainnya dimiliki oleh unsur-unsur yang terpisah. Stages along the life-cycle itu meliputi: masa kelahiran. Mencermati dari sekian masa kehidupan. dapat dirunut bagaimana keterkaitan perkawinan dengan kehadiran tari pasihan. mencakup: mentifact.1)Keterkaitannya dengan budaya. Dari pernyataan tersebut. merupakan bagian budaya yang terkait dengan ide-ide. Harmonisasi dan keseimbangan antara jagad gedhe sebagai manifestasi makrokosmos dan jagad cilik sebagai manifestasi mikrokosmos merupakan faktor penentu kehidupan yang harus terjaga keberlangsungannya. nilai-nilai. gagasan.50 a. masa nikah atau masa perkawinan. Keselarasan antara gaya hidup dan kenyataan fundamental yang dirumuskan simbol-simbol sakral bervariasi dari kebudayaan yang satu ke budaya yang lain (Geertz.

yaitu kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani. Kehadiran tari duet pasihan pada upacara-upacara resepsi perkawinan sampai sekarang masih berlangsung. Beragam hasil karya seni yang diciptakan manusia.2. Beragam aktivitas manusia yang saling berinteraksi satu dengan lainnya. Sebagai rangkaian aktivitas manusia dalam suatu masyarakat. peneliti akan mengkaji fungsi tari pasihan pada upacara perkawinan dalam kehidupan sosial masyarakat pendukungnya. merupakan bagian budaya yang berupa seluruh total dari karya manusia berupa benda fisik dari aktivitas maupun perbuatan. tari pasihan akan dicermati secara total bentuk karya seninya dalam koridor seni pertunjukan. sistem sosial itu bersifat konkret. a. selalu menurut pola yang telah disepakati yang didasarkan pada adat tata kelakuan. Merujuk pada asumsi tersebut. yang terjadi di sekitar kita. Seperti kehadiran tari pasihan pada upacaraupacara ritual perkawinan budaya Jawa. Pada prinsipnya semua hasil karya manusia ditujukan untuk mencukupi semua kebutuhan hidupnya yang terdiri dari dua komponen pokok. dari waktu ke waktu. Sociofact. Rupanya terdapat keterkaitan yang cukup erat antara seni pertunjukan khususnya tari duet pasihan dengan kebutuhan sosial. Salah satu jenis karya manusia yang berperan dalam pembangunan rohani adalah karya seni. rupanya terdapat kontribusi yang cukup signifikan. merupakan bagian budaya yang terkait dengan suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam social system.2. akan dirunut tentang: hasil penghayatan yang melibatkan seniman dan penghayat terhadap karya .2) Keterkaitannya dengan pengetahuan interpersonal. Terkait dengan kebutuhan analisis artifact. satu diantaranya adalah jenis genre tari pasihan.51 Artifact.

Cakupan koherensi terfokus pada: isi atau kandungan makna pada masing-masing unit. (2) maksim kualitas. dan antarbagian tari pasihan. Sebagai arahan untuk memahami proses dan bentuk aktualisasi mengenai aplikasi analisis pemerian teks beserta konteks tari pasihan dalam ritual perkawinan budaya Jawa. masingmasing bagian. mencakup kohesi dan koherensi secara menyeluruh dalam tari pasihan. terdapat persamaan atau perbedaan yang masing-masing akan dicari argumentasinya. b.3) konteks co-textual. Adapun cakupan kohesi terfokus pada: keterkaitan antarunit. pada kajian berikut. Hasil penilaian atau hasil hayatan dari peserta tutur (seniman dan penghayat). penggunaan bahasanya. a. Partisipan komunikasi sangat berkepentingan untuk memenuhi dan mematuhi prinsip kerjasama (Cooperative Principle) yang terbagi empat maksim yaitu: (1) maksim kuantitas. Dari penghayatan muncul sebuah penilaian. dan interpretasi-interpretasinya terhadap tindakan dan ucapan lawan tutur (Wijana. (3) maksim hubungan. 1996: 68). masing-masing komponen. Setiap peserta pertuturan sama-sama menyadari bahwa ada prinsip-prinsip yang mengatur tindakannya.2. dan (4) maksim cara (Grice dalam Leech. . antarkomponen. Prinsip Kerja Sama (PKS) Pada dasarnya orang dalam berkomunikasi itu hendaknya saling bekerjasama antara penutur dengan mitra tutur agar komunikasi dapat berjalan secara efektif dan efisien. dan antarbagian baik yang terdapat pada teks satra tembang maupun pada elemen-elemen tari pasihan.52 tari pasihan. akan dikupas secara tuntas dan mendalam dengan teori-teori yang peneliti gunakan sebagai ancangan analisis. dan implikatur dari komplementer antarunit. antarkomponen.

(2) maksim kedermawanan (generosity maxim). dan menjaga kesopanan. ringkas.53 1993: 11). dalam arti tidak hanya bagaimana membuat tuturan yang mudah dipahami oleh mitra tutur. dan teratur secara gramatikal. Leech berpendapat bahwa selain keempat maksim dalam prinsip kerjasama juga masih diperlukan prinsip kesantunan yang terjabar menjadi enam maksim. yaitu: (1) maksim kearifan (tact maxim). adalah aturan pertuturan yang meminimalkan ketidakhormatan terhadap orang lain dan memaksimalkan pujian kepada orang lain. Merujuk pada empat maksim dari prinsip kerjasama itu bila dapat dipenuhi dari masing-masing peserta tutur maka akan terjadi komunikasi yang efektif dan efisien. jelas. tetapi penutur juga terikat pada aspek-aspek yang bersifat interpersonal. Terbentuknya komunikasi yang wajar tersebut karena penutur dalam memberikan informasi secukupnya tidak kurang dan tidak lebih sesuai yang diperlukan. Perlu disadari bahwa sebagai anggota masyarakat bahasa penutur tidak hanya terikat pada hal-hal yang bersifat tekstual. (3) maksim pujian (approbation maxim). Prinsip kerjasama rupanya tidak cukup karena dalam kehidupan dibutuhkan saling menghormati. Dengan demikian penutur harus membuat dan memperlakukan mitra tutur lebih santun dalam mengungkapkan tuturannya. informasi benar tidak keliru berdasarkan suatu realitas yang sebenarnya. adalah aturan pertuturan yang meminimalkan kerugian orang lain dan memaksimalkan keuntungan bagi orang lain. (4) maksim kerendahan hati (modesty maxim). dan informasi disampaikan dengan cara yang mudah. informasi usahakan relevan dengan pokok pembicaraan. menghargai. adalah aturan pertuturan yang meminimalkan keuntungan bagi diri sendiri dan memaksimalkan kerugian bagi diri sendiri. adalah aturan pertuturan yang memaksimalkan .

Hal itu menunjukan bahwa dalam pertuturan. 2006: 2). diharapkan tidak mengancam muka. kalau kita perhatikan praktik penggunaan bahasa di dalam komunikasi sehari-hari. penutur merasa lebih santun.54 ketidakhormatan terhadap diri sendiri dan meminimalkan rasa hormat terhadap diri sendiri. Tampaklah bahwa ketidakpatuhan para partisipan dalam komunikasi karena pada dasarnya bahwa berkomunikasi itu lebih dipicu oleh motif-motif tertentu dari penutur. nyaman. ternyata prinsip kerja sama itu sering tidak dipatuhi orang. Dalam hal ini penutur berupaya memasukkan maksudnya secara implisit pada ujaran yang diungkapkan. 1993 : 206-207). adalah aturan pertuturan yang memaksimalkan kesepakatan terhadap orang lain. karena dapat diasumsikan bahwa apa yang . aman. dan (2) fungsi afektif yang bertujuan untuk menjaga dan memelihara hubungan sosial (Holmes dalam Asim Gunarwan. Paling tidak. Namun perlu disadari semua implikatur itu bersifat probabilistis. Namun. (5) maksim kesepakatan (agreement maxim). Tidak dipatuhi karena salah satu sebabnya adalah bahwa komunikasi itu tidak selalu berupa penyampaian pesan atau informasi belaka. lebih sering maksim-maksim dalam prinsip kerja sama itu dilanggar daripada dipatuhi. Hal ini didasarkan pada fungsi bahasa yang mencakup: (1) fungsi referensial atau informatif yang tujuannya untuk menyampaikan informasi (pesan). Penutur sering menyampaikan pesan tidak secara bald on record tetapi lebih banyak menyukai dengan cara off record. adalah aturan pertuturan yang meminimalkan rasa anti pati terhadap orang lain dan memaksimalkan rasa simpati terhadap orang lain (Leech. (6) maksim simpati (sympathy maxim). hubungan sosialnya tetap terjaga tanpa merasa terkendalai oleh faktor bahasa dan nonbahasa.

dan juga Sinyal (signal). Tindak Tutur Fungsi bahasa dalam kehidupan manusia sebagai makhluk sosial rupanya tidak dapat disangkal lagi. Bahasa sebagai fakta sosial telah diungkap pertama kali oleh Ferdinand de Saussure (1916). yaitu: ekspresif. sesuai dengan maksud percakapan. 2006: 9). tetapi kita juga harus mengetahui sikap penutur yang melatarbelakangi eksplikatur ujaran tersebut (Asim Gunarwan. . apelatif. Dapat diinferensikan bahwa memahami maksud penutur. kita harus mengetahui sikap penutur. Peranan ujaran atau tindak tutur sangat penting dalam rangka menyampaikan maksud penutur. dan representatif. dipilih bentuk-bentuk ungkapan yang memiliki makna paling relevan dari semua siratan yang secara potensial dapat timbul. betapapun eksplisitnya proposisi.55 dimaksud oleh penutur lewat tuturannya tidak pernah dapat kita ketahui dengan pasti. Menurut Karl Buhler (1918). c. Relevansi teori Buhler dengan liku-liku pragmatik dijelaskan oleh Renkema (1993). bahasa dapat difungsikan menjadi tiga. Untuk menarik makna sesuai dengan maksud penutur tidak cukup hanya dengan mengasumsikan makna proposisi ujaran. tidak cukup mengetahui eksplikatur ujaran. untuk mengetahui dan memahami makna ujarannya. Berdasarkan teori tanda bahasa di dalam model Organon Buhler. Hal ini kemudian dikembangkan oleh para peneliti lain. Dalam hal ini tanda bahasa merupakan lambang yang memiliki daya sinyal untuk mengarahkan pendengar sebagai penanggap. Karena pragmatik merupakan kajian tentang maksud penutur. gejala (symptom). Untuk dapat menentukan makna yang sebenarnya atau menyimpulkan interpretasi yang paling mungkin. tanda bahasa merupakan lambang (symbol).

Sekarang tampak bahwa tokoh – tokoh seperti: Ferdinand de Saussure (1916).56 bahwa ujaran yang disampaikan oleh sender dapat diterima dan dipahami pada tingkat yang sama atau berbeda oleh receiver artinya gejala tidak selalu sama dengan sinyal. santun. menyatakan bahwa ujaran hanya akan dapat dipahami jika ditafsirkan dalam konteks situasi. artinya bahwa komunikasi efektif dan berhasil. dari hasil penelitian terhadap masyarakat primitif di Papua Melanesia. Mereka dengan sadar mengembangkan teori fungsi bahasa secara berkelanjutan. Sebaliknya jika yang terjadi pemahaman receiver atas objek referensi sender berbeda bahkan berlainan sama sekali. maka akan terjadi masalah pragmatik. Terkait dengan fungsi bahasa. Karl Buhler (1918). 2006: 36). merupakan pakar linguistik yang telah mendeskripsikan fungsi bahasa berdasarkan realitas kehidupan bahasa dalam masyarakat. Dari pernyataan tersebut jelas bahwa bahasa difungsikan sebagai tujuan sosial untuk menjaga hubungan ikatan antarpersonal bagi yang terlibat dalam sebuah pertuturan. dan harmonis. Teori fungsi bahasa dari ketiga pakar tersebut merupakan langkah awal berkembangnya fungsi bahasa yang mendorong lahirnya teori pragmatik oleh . Malinowski mengungkapkan sebuah konsep Phatic Communion: ‘A type of speech in which ties of union are created by a mere exchange of words’ (lihat Jumanto. Perkembangan selanjutnya Malinowski (1923: 310). Komunikasi fatis merupakan strategi masyarakat modern maupun masyarakat primitif dalam rangka menjaga interaksi sosial terpelihara dengan baik. Apabila objek acuan sender sebagai message dapat diterima dan dipahami pada tingkat yang sama atau tepat oleh receiver. ramah. Malinowski (1923).

Tindak Tutur menurut Austin (1956) Teori tindak tutur pertama kali diungkapkan oleh Austin (1956). . Yule. tindak ilokusi (illocutionary act). dan tindak perlokusi (perlocutionary act) (lihat Leech. “ Sebaiknya anda tidak merokok.1. “ Wah.” Contoh ujaran atau kalimat tersebut dipergunakan untuk melakukan tindakan yaitu tindakan meminta maaf. seseorang dapat melakukan sesuatu selain mengatakan sesuatu. Menurut Searle bahwa pada setiap komunikasi linguistik terdapat tindak tutur.57 Austin (1956) yang kemudian dijabarkan dan dimanifestasikan dalam konsep-konsep tindak tutur Searle (1969) berikutnya. kita dapat mengkajinya dengan sebuah teori tindak tutur yang diperikan menjadi beberapa jenis tindak tutur. 2002: 16. tanamannya layu. yakni tindak lokusi (locutionary act). Terkait dengan liku-liku Speech act. yang kemudian dikembangkan dan dipopulerkan secara universal oleh muridnya yang bernama Searle (1969). 1996: 17-19.” Ujaran atau tindak tutur tersebut dipergunakan untuk melakukan tindakan yaitu menyuruh untuk menyirami.” Tuturan tersebut dimaksudkan untuk melakukan tindakan yakni melarang atau menyuruh untuk tidak menghisap rokok. Speech act menurut Austin di dalam mengutarakan tuturan. Cutting. Contohnya: “ Peneliti mohon maaf atas keterlambatan peneliti. Searle dalam bukunya “Speech Acts: An Essay in The Philosophy of Language” (1969:23-24) mengemukakan bahwa secara pragmatik setidak-tidaknya ada tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan oleh seorang penutur. 2006: 83-84). seorang ahli filsafat senior dari Inggris. Jenis-jenis Tindak Tutur d. 1993:316. d. Wijana.

tanpa tendensi atau maksudmaksud tertentu di balik kalimat atau ujaran. Tindak Lokusi (locutionary act). b. Bila diamati secara seksama tindak lokusi itu adalah konsep yang berkaitan dengan proposisi kalimat. a. 1987: 4. . Wijana. yakni subjek atau topik dan predikat atau commet (lihat Nababan. Tuturan yang diutarakan oleh penuturnya lebih bersifat menginformasikan sesuatu. yaitu locutionary act. Adapun ketiga jenis tindak tutur itu. lebih lanjut dijelaskan sebagai berikut. Untuk itu diperlukan seperangkat pengetahuan tentang berbagai jenis tindak tutur. 1996: 18). Tindak tutur ini sering disebut sebagai The Act of Saying Something. akan tetapi banyak juga bahkan dapat peneliti katakan cukup dominan maksud penutur yang diimplisitkan pada realitas kehidupan. Tindak lokusi adalah tindak tutur untuk menyatakan sesuatu. Maksud tuturan tidak selamanya dinyatakan secara eksplisit.58 Ketiga teori tindak tutur. untuk mencermati dan memahami maksud penutur dengan seluruh aspek yang melatarbelakangi (konteks). sehingga kita sering mengalami kesulitan untuk memahami maksud tuturan atau implikaturnya. dan perlocutionary act atau perlocutionary effect merupakan teori yang akan peneliti gunakan sebagai ancangan untuk mengkaji implikatur. tetapi lebih menurut apa adanya. illocutionary act atau illocutionary force. Hal ini terkait dengan pemahaman bahwa pragmatik adalah cabang linguistik yang mengkaji maksud penutur (the speakers meaning) yang terdapat di balik tuturannya. Tindak Ilokusi (illocutionary act). Kalimat atau tuturan dalam hal ini dipandang sebagai satu kesatuan yang terdiri dari minimal dua unsur.

Sebuah tuturan yang diutarakan seseorang seringkali mempunyai daya pengaruh (perlocutionary effect) atau efek bagi yang mendengarnya. tindak ilokusi mendasari tindak perlokusi. kebiasaan antara pendengar dan pembicara sama. Simbol itu dapat ditangkap sebagai sesuatu isyarat maksud tertentu jika wawasan budaya. Dapat ditegaskan bahwa setiap tuturan dari seorang penutur memungkinkan sekali mengandung salah satu dari ketiga: lokusi. Berdasarkan uraian-uraian di atas menunjukkan bahwa tindak lokusi mendasari tindak ilokusi. Tidak semata-mata tindak perlokusi hanya ditarik dari makna ujaran. Selanjutnya tindak perlokusi sebagai final maksud suatu ujaran di dalam komunikasi bahasa. Tindak ilokusi sangat dominan kita jumpai dalam komunikasi sehari-hari. Kunci utama yang perlu diperhatikan . Tindak Perlokusi (perlocutionary act). Namun tidak menutup kemungkinan bahwa satu tuturan mengandung dua atau ketiga-tiganya sekaligus. ilokusi atau perlokusi. karena harus melibatkan konteks tuturannya. Dalam tindak ilokusi dan perlokusi bentuk-bentuk kebahasaan sebagai simbol untuk mengungkapkan maksud yang sebenarnya. Tindak ilokusi disebut sebagai The Act of Doing Something. tindak ini merupakan bagian sentral untuk memahami tindak tutur. Tindak perlokusi disebut sebagai The Act of Affecting Someone. Tindak perlokusi adalah tindak tutur yang pengutaraannya dimaksudkan untuk mempengaruhi lawan tuturnya.59 Tindak ilokusi adalah tindak tutur yang berfungsi untuk mengatakan atau menginformasikan sesuatu dan dipergunakan untuk melakukan sesuatu. Efek yang timbul ini bisa sengaja maupun tidak sengaja. Dalam tindak lokusi bentuk-bentuk kebahasaan sebagai alat untuk mengungkapkan informasi secara eksplisit. c.

dan deklarasi (lihat Leech. Asertif ialah bentuk tindak tutur yang mengikat penuturnya kepada kebenaran atas hal yang dikatakannya. komisif. Searle (1979) mengklasifikasikan tindak tutur ilokusi menjadi lima jenis tuturan.2. Tidaklah dipungkiri bahwa dalam kajian tindak tutur ilokusi tidak lepas dari tindak tutur lokusi dan tindak tutur perlokusi. 2002: 16-17). dan melaporkan.2. ekspresif. . menyesal. mengkritik. untuk mencari implikatur atau makna di balik ujaran yang tersirat bukan sekadar makna yang tersurat dalam ujaran dimaksud. menuntut.1. Direktif.2. mengucapkan selamat. menyarankan. menyatakan. memuji. meramalkan. penyesalan. d. Ekspresif. yakni: asertif. d. misalnya: menggambarkan. misalnya: menyuruh.3. mengeluh. yaitu: d. dan mengeluh.2. mengusulkan. membuat hipotesa. mendesak. memohon. ialah bentuk tindak tutur yang berfungsi untuk menyatakan atau mengungkapkan sikap psikologis penutur dalam menanggapi suatu keadaan. misalnya: meminta maaf. memesan.2. direktif. Tindak Tutur menurut Searle (1979) Sehubungan dengan pengertian tindak tutur atau tindak ujar. Dari masing-masing tindak tutur mempunyai fungsi komunikatif. melarang. mengundang. Cutting. dan menantang. mengucapkan terima kasih. membual.60 bahwa dalam analisis pragmatik adalah mencermati ilokusi-ilokusi yang terdapat pada tindak tutur dari penutur yang hendak dikomunikasikan pada mitra tutur. 1996: 164-165. d. ialah bentuk tindak tutur yang dimaksudkan oleh penuturnya untuk mempengaruhi mitra tutur agar melakukan tindakan sesuai dengan maksud penutur.

berkaul dan sukarela. memberi nama. kesukaan. Pernyataan tersebut berdasarkan pada fakta. Dalam hal ini penutur harus mempunyai peran institusional khusus. untuk menyatakan atau mengemukakan deklarasi secara tepat. Direktif ialah jenis tindak tutur yang dipakai oleh penutur untuk menyuruh orang lain melakukan sesuatu. Ekspresif ialah jenis tindak tutur yang menyatakan sesuatu yang dirasakan oleh penutur. misalnya: meyakinkan. mengucilkan. Representatif ialah jenis tindak tutur yang menyatakan apa yang diyakini penutur. mendeklarasikan. secara garis besar fungsi tindak tutur diklasifikasi menjadi lima jenis. tawaran.3. Deklaratif ialah jenis tindak tutur yang mengubah dunia melalui tuturan. memecat. memberikan maaf. Bentuk tindak tutur direktif digunakan . d. dan bisa kesengsaraan atau kesedian.5.4. yaitu: d. Tindak tutur ekspresif merupakan cerminan dari pernyataanpernyataan psikologis dan dapat berupa pernyataan kegembiraan. mengancam. kebencian.2. mengangkat. keadaan dan sebagainya) yang baru.3. Deklaratif. menekankan. dan pendeskripsian. mengizinkan.3. misalnya: berjanji. Komisif. dan menjatuhkan hukuman. membaptis. d.1.3. melarang. penegasan.4. d.3.61 d. mengundurkan diri. simpulan. dalam konteks khusus. memutuskan. ialah tindak tutur yang dilakukan si penutur dengan maksud untuk menciptakan hal (status. d.2. kesenangan.3. bersumpah. Tindak Tutur menurut Yule (1996) Menurut Yule (1996).2. ialah bentuk tindak tutur yang mengikat penuturnya melaksanakan segala hal yang disebutkan dalam ujarannya. kesulitan. menolak. membatalkan. d.

pemesanan. penjatuhan hukuman . dan penolakan. Tindak tutur Asertif Di sini penutur menggunakan bahasa untuk menyampaikan apa yang mereka percayai dan apa yang mereka ketahui. Tindak tutur ini meliputi: perintah.2. misalnya tindakan mohon maaf. pengetahuan. d. Tindak tutur Performatif Tindak tutur performatif adalah tuturan yang pengutaraannya difungsikan atau digunakan untuk melakukan suatu tindakan. apa yang sedang terjadi atau yang telah terjadi. dan secara umum mereka dapat dibenarkan atau disalahkan bukan hanya pada waktu tindak tutur tersebut keluar atau oleh mereka yang mendengarnya. berjanji. pemecatan kerja. dan pemberian saran. yaitu: d. Tindak Tutur menurut Kreidler (1998) Dalam perkembangan selanjutnya. dan meresmikan.3. permohonan. Kreidler mengkategorisasikan tindak tutur menjadi tujuh jenis bentuk tindak tutur. namun secara lebih umum mereka adalah subjek bagi penyelidikan empiris. Komisif ialah jenis tindak tutur yang dipahami oleh penutur untuk mengikatkan dirinya terhadap tindakan-tindakan di masa yang akan datang. ancaman.4. bertaruh.5. mengumumkan. d.62 untuk menyatakan apa yang menjadi keinginan penutur. data. yang bentuknya dapat berupa kalimat positif dan negatif. Tindak tutur komisif dapat berupa: janji.4.4. d. Tindak-tutur performatif ditemukan pada ucapan-ucapan pernikahan. Tindak tutur asertif bersifat menginformasikan. seperti yang dikemukakan dalam bukunya “Introducing English Semantics” (1998:183-194). benar atau salah. ikrar. tindak tutur asertif selalu berkaitan dengan fakta. apa yang ada atau yang telah ada.1.

bentuk menghargai. Tindak tutur restrospeksi adalah jika penutur menilai sikap yang telah dilakukan mitra tutur di masa lalu. Tindak tutur performatif bukanlah masalah benar atau salah tetapi tujuannya adalah untuk membuat bagian dari dunia ini sepaham dengan apa yang ia katakan. Kebanyakan tindak tutur performatif diungkapkan pada setting formal dan berkaitan dengan kepegawaian. mendakwa. Tindak tutur ekspresif adalah jenis tindak tutur yang menyatakan sesuatu yang dirasakan oleh penutur. Tindak tutur Ekspresif Tindak tutur ekspresif menilai atau mengevaluasi tindakan sebelumnya atau kegagalan dalam tindakan tersebut dari penutur.3. atau mungkin hasil bertindak atau kegagalan sekarang. “terima kasih… untuk”.4. Di samping dalam bentuk tuturan di atas.4. tindak tutur verdiktif dapat berupa tuturan yang bersifat menuduh. .63 dan lain-lain di mana hanya orang-orang tertentu dan pada lingkungan yang sesuai yang diterima oleh mitra tutur. dan berbelasungkawa. mengucapkan terima kasih. 30). mengkritik.Tindak tutur Verdiktif Tindak tutur verdiktif adalah tindak tutur yang berorientasi pada perbuatan yang sudah terjadi atau bersifat retrospektif. Menurut Fraser tindak tutur ekspresif disebut pula tindak tutur evaluatif (dalam Rustono.4. “bangga… untuk”. mengucapkan selamat. menyalahkan. menyalahkan atau tanggapan yang mengarah pada penilaian yang negatif. d. mengeluh. dan menyanjung. Sikap itu bisa ditanggapi secara positif dengan mengucapkan “selamat… untuk”. d. 1999. Tuturan-tuturan ekspresif itu mencerminkan pernyataan-pernyataan psikologis yang dapat berupa: memuji.

4. dan menantang. tidak kalah arti pentingnya dalam realitas kehidupan sehari-hari. ancaman dan sumpah. dapat berbentuk: (1) kalimat perintah (imperatif). Pada aplikasinya tindak tutur direktif. Tindak tutur komisif merupakan bentuk tindak tutur yang berfungsi untuk menyatakan janji-janji.64 d. “maaf peneliti”.4. menyuruh. memerintah.4. ucapan-ucapan kesantunan seperti “terima kasih kembali”. Tujuannya adalah untuk membangun solidaritas antar anggota-anggota dari lingkungannya. Tindak tutur komisif bersifat prospektif dan berkaitan dengan komitmen penutur pada perbuatan atau tindakan yang harus dilakukan untuk waktu yang akan datang. menagih. ucapan perpisahan.6. Tindak tutur Direktif Tindak tutur direktif kadang-kadang disebut juga tindak tutur impositif adalah tindak tutur di mana penutur menginginkan mitra tutur melakukan suatu tindakan atau mengulangi tindakan. bukan seperti makna yang tersurat dan tersirat dalam tindak tutur verdiktif atau ekspresif. meminta. d. Tindak tutur fatik merupakan bentuk tindak tutur yang berfungsi untuk menjalin hubungan sosial. yang mempunyai tujuan tertentu. Tindak tutur Komisif. ikrar. d. dan (3) kalimat tanya (interogatif). memberikan aba-aba. menyarankan. memohon.5. Tindak tutur Patik. Tindak tutur fatik merupakan bentuk tindak tutur keseharian yang sangat umum yang mungkin tidak kita pelajari . pengandaian. Tindak tutur patik termasuk salam. Tindak tutur direktif ini tuturan-tuturannya mempunyai maksud untuk memaksa. mendesak. (2) kalimat berita (deklaratif).7. Bahasa patik tidak begitu berfungsi dengan jelas jika dibandingkan dengan enam tipe lainnya tetapi. mengajak.

Dari keempat pakar yaitu: Austin. bentuk fungsi tindak tutur menurut Searle. fungsi tindak tutur deklaratif mempunyai persamaan pengertian dengan fungsi tindak tutur performatif menurut Kreidler. Kreidler. Perbedaan istilah tetapi pengertiannya sama. meliputi tindak tutur: direktif. Menurut Searle dan Kreidler tentang fungsi tindak tutur asertif mempunyai persamaan pengertian dengan fungsi tindak tutur representatif menurut Yule. dan komisif. Sedangkan bentuk atau ragamnya tindak tutur fatik sudah terpola. Persamaan istilah dan sekaligus persamaan pengertian. dan perlokusi. . ekspresif. Di samping itu menurut Searle dan Yule. 2.65 tapi sudah melekat dan menjadi kebiasaan sehari-hari yang bernilai baik dan beretika. Konsep tindak tutur Austin merupakan dasar utama yang melandasi fungsi tindak tutur yang muncul di kemudian. persamaan juga terletak pada tindak tutur deklaratif. sedangkan menurut Searle dan Yule. ilokusi. Dalam perkembangannya teori tindak tutur di tangan para pakar diklasifikasikan menurut fungsinya yang secara garis besar memiliki kesamaan. dan Yule. karena Austin merupakan orang pertama kali yang mengemukakan teori tindak tutur yang membaginya menjadi tiga bentuk yaitu: lokusi. dan Yule tentang fungsi tindak tutur tersebut dapat peneliti verifikasi sebagai berikut. Searle. Dari hasil pengklasifikasian tersebut terdapat beberapa persamaan dan perbedaan: 1. Kreidler. Selain itu menurut Searle dan Kreidler juga terdapat persamaan pada tindak tutur asertif.

66 3. Dari ketiga fungsi tindak tutur yang dikemukakan oleh Searle. kedua fungsi tindak tutur tersebut sangat bermanfaat untuk menganalisis tindak tutur teks satra tembang dan bahasa nonverbal yang terdapat pada genre tari pasihan. Peserta pertuturan sering menggunakan bahasa fatik untuk sekedar memulai pembicaraan atau sekadar basa-basi mungkin juga untuk memecahkan kesenyapan yang kesemunya itu berlangsung dalam pertuturan seharihari. Selain itu terkait juga dengan fungsi tindak tutur verdiktif dan tindak tutur fatik yang tidak dimiliki dalam fungsi tindak tuturnya Searle dan Yule. optimal. Yule. Terkait dengan kelebihan yang dimiliki tersebut gagasan utama pemilihan dimaksud adalah dalam rangka mencari dan menentukan implikatur yang valid sehingga pragmatik genre pasihan dapat diungkapkan secara menyeluruh. Hal ini ditunjukan oleh Kreidler yang membagi fungsi tindak tutur menjadi tujuh bentuk. Selain itu dari penjabarannya fungsi tindak tutur yang . peneliti akan menggunakan fungsi tindak tutur menurut Kreidler karena tampak dari jumlah pengklasifikasian Kreidler lebih banyak yang masing-masing tindak tutur memiliki karakter yang spesifik sehingga dapat lebih mengakomodasi kebutuhan analisis bahasa verbal dan nonverbal yang terdapat dalam genre tari pasihan. rasional. ungkapan memuji merupakan pernyataan yang cukup dominan dalam sebuah pertuturan. dan Kreidler. Begitu pula ketika seseorang mencintai orang lain. dan berkualitas. sedangkan Searle dan Yule masing-masing mengklasifikasikan menjadi lima bentuk tindak tutur. Perbedaan jumlah fungsi tindak tutur. Prediksi peneliti. Pada dasarnya penutur dalam mengungkapkan maksudnya terhadap mitra tutur tidak selalu langsung pokok pembicaraan.

Mitra tutur meliputi: pakar. Berikut kesantunan menurut Leech selengkapnya: verdiktif. dan penanggap sebagai masyarakat pendukung budayanya. dan . yang dipaparkan dengan menggunakan bagan antara lain tindak tutur: komisif . Prinsip Kesantunan (PS) e. cakepan (syair) pathetan. 1.67 dilakukan Kreidler tampak lebih transparan. dan rinci dalam rangka menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pada rumusan masalah. penonton umum. Tindak tutur tersebut akan peneliti gunakan untuk mengkaji komponenkomponen yang terdapat pada genre tari pasihan gaya Surakarta baik yang terdapat pada bahasa verbal dan nonverbal secara tajam. b. tindak tutur bahasa nonverbal yang meliputi: tema. pola lantai. 3. dan jineman. gerongan. rias. e. dan penari. direktif. Skala Kesantunan Leech (1983) Teori kesantunan Leech (1983). Adapun unsur-unsurnya dapat diurai sebagai berikut. Terutama terkait dengan latar belakang konsepsi penciptaan bahasa verbal dan nonverbal serta ciri karakteristik genre tari pasihan gaya Surakarta. gerak tubuh (kinetic body moves). ekspresif. sindhenan. polatan (ekspresi wajah). dan iringan. busana.1. bahwa setiap maksim interpersonal itu dapat dimanfaatkan untuk menentukan peringkat kesantunan sebuah tuturan. Penutur meliputi: seniman penyusun (pengkarya). menyeluruh. Tuturan (karya seni) meliputi: a. tindak tutur bahasa verbal yang berupa teks sastra tembang terdiri dari. hal ini dapat dicermati dalam bukunya yang berjudul “Introducing English Semantics”. 2.

1. sedangkan tindak tutur yang bersifat tidak langsung akan semakin santun. Jarak status sosial (rank rating) semakin jauh antara penutur dengan mitra tutur. e. Jarak hubungan sosial semakin jauh antara penutur dengan mitra tutur. e. Cost-benefit scale adalah skala yang menunjuk pada untung ruginya peserta tutur dalam pertuturan.1. Authority scale adalah skala yang menunjuk pada hubungan status sosial antara penutur dengan mitra tutur. Tindak tutur yang banyak merugikan penutur akan dianggap semakin santun. Akan tetapi jika jarak status sosial semakin dekat antara penutur dengan mitra tutur.5. Indirectness scale adalah skala yang menunjuk pada langsung dan tidak langsungnya maksud tindak tutur dalam pertuturan.1.2.1. e. Sedangkan semakin dekat hubungan sosial antara penutur dengan mitra tutur. apabila pertuturan itu membatasi peserta tutur untuk memilih tuturan maka tindak tutur semakin tidak santun.3. Sebaliknya. e. Optionality scale adalah skala yang menunjuk pada sedikit-banyaknya pilihan tindak tutur yang digunakan peserta tutur dalam pertuturan. Social distance scale adalah skala yang menunjuk pada peringkat hubungan sosial antara penutur dan mitra tutur. dan jika banyak menguntungkan penutur akan dianggap tindak tuturnya semakin tidak santun. . akan semakin santun tindak tuturnya. Tindak tutur yang bersifat langsung semakin tidak santun. akan semakin tidak santun tindak tuturnya.4..68 e. Jika pertuturan itu banyak memberikan kesempatan peserta tutur untuk memilih tuturan maka tindak tutur akan semakin santun.1.1. akan semakin santun tindak tuturnya. akan semakin tidak santun tindak tuturnya.

2. sedangkan muka negatif dimaksudkan bahwa keinginan setiap orang supaya segala tindakannya tidak dihalangi orang lain ( Brown dan Levinson. . dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur. keintiman. 1967). pada dasarnya setiap orang dianggap memiliki dua muka. 1987: 62). Skala Kesantunan Brown dan Levinson (1987) Teori kesantunan Brown dan Levinson (1987) seperti dikutip Jumanto dalam disertasinya (2006: 47-53). sedangkan strategi kesantunan negatif (negative politeness strategies) yang digunakan untuk menunjukkan adanya jarak sosial antara penutur dengan mitra tutur. Strategi kesantunan positif (positive politeness strategies) yang digunakan untuk menunjukkan kedekatan. dan menyelamatkan muka dalam percakapan. Muka positif dimaksudkan bahwa keinginan setiap orang supaya segala tindakannya dihargai oleh orang lain. bahwa dalam sebuah pertuturan terkait dengan pengaturan muka terbagi menjadi dua yaitu tindak tutur yang berpotensi mengancam muka (face-threatening acts/FTA) dan tindak tutur yang berpotensi menyelematkan muka (face-saving acts/FSA). Brown dan Levinson menggunakan dua cara yaitu strategi kesantunan positif yang mengacu pada muka positif dan strategi kesantunan negatif yang mengacu pada muka negatif.69 e. Menurut Goffman (1959. yakni muka positif (positive face) dan muka negatif (negative face). memelihara. b) penggunaan muka dalam komunikasi. Dalam percakapan untuk mengungkapkan kesantunan. yang keduanya dimaksudkan untuk menunjukkan. Kajian kesantunan Brown dan Levinson mencakup: a) cara mengungkapkan jarak sosial (social distance) dan hubungan peran yang berbeda dalam komunikasi.

yaitu: 1) melakukan tindak tutur secara apa adanya. Dari sini kemudian asal makna kata implikatur. tanpa basa basi (bald on record) dengan mematuhi prinsip kerja sama Grice. untuk menunjukkan adanya jarak sosial antara penutur dengan mitra tutur. yaitu: maksim kuantitas.70 Teori kesantunan Brown dan Levinson dapat diringkas menjadi lima strategi. maksim kualitas. terdiri dari empat maksim yang digunakan dalam percakapan. keintiman. Hal ini dilakukan untuk menghindari kesalahpahaman. f. dan maksim cara. untuk menunjukkan kedekatan. 5) tidak melakukan tindak tutur atau diam (don’t do the FTA).” Derivasinya dalam bahasa Inggris adalah kata kerja “to imply“ yang aslinya bermakna “to fold something into something else“ (melipat sesuatu ke dalam sesuatu yang lainnya). Implikatur Istilah implikatur berasal dari bahasa Latin plicare yang berarti “melipat.1. setidaknya dapat meminimalisasi . kita harus menghubung-hubungkan tindak ujar yang disampaikan penutur terhadap mitra tutur dengan konteks. Cara yang ditempuh untuk memahami implikatur dalam komunikasi sehari-hari. 4) melakukan tindak tutur secara tidak langsung (off record). dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur. Implikatur dan Daya Pragmatik f. 2) melakukan tindak tutur dengan menggunakan kesantunan positif mengacu muka positif (positive politiness). yang diasalkan dari kata “implied” yang berarti “folded in“ (terlipat) dan harus dibuka lipatan tersebut (unfolded) jika kita ingin mengetahui artinya. Prinsip kerja sama Grice (1975) seperti dikutip Leech (1993: 11). 3) melakukan tindak tutur dengan menggunakan kesantunan negatif mengacu muka negatif (negative politiness). maksim hubungan atau relevansi.

informasinya benar atau tidak keliru. Yule (1998). yaitu maksim kuantitas. maksim hubungan dan maksim cara. langsung dan tidak bertele-tele. Jika keempat maksim itu dipenuhi maka penyampaian informasi akan menjadi efektif dan efisien. Suatu respon percakapan yang tampaknya kurang tepat dapat menjadi berterima jika kita hubungkan dengan konteksnya. Artinya. yakni makna atau pesan tambahan yang menjadi bagian dari komunikasi yang tidak dikatakan.71 kesalahan sewaktu kita menafsirkan maksud penutur. komunikasi itu akan berjalan dengan efisien dan efektif jika para peserta tutur bekerjasama satu sama lain. Namun demikian penutur tidak selalu mematuhi maksim-maksim Grice tersebut. Implikatur – implikatur yang disiratkan dalam ujaran merupakan sumber utama dari pragmatik yang difungsikan sebagai nilai komunikasi yang dimotifasi dari beragam keinginan penutur. Mey . Pelanggaran terhadap maksim Grice inilah oleh para pakar pragmatik disinyalir menyebabkan timbulnya suatu implikatur percakapan. Secara ringkas seorang penutur dikatakan memenuhi maksim-maksim Grice apabila ia memberikan informasi tidak lebih atau tidak kurang dari yang dibutuhkan. sistematis. informasi itu relevan dengan pokok pembicaraan dan penyampaiannya baik dan mudah dipahami. Sejalan pendapat Yule. Istilah implikatur percakapan dikaitkan dengan konsep Grice tentang prinsip kerjasama (PK) dan maksim-maksimnya. Menurut Grice (1975: 45). maksim kualitas. jelas. peserta komunikasi perlu mematuhi prinsip kerjasama (Cooperative Principle). yang dijabarkan menjadi empat. menyatakan bahwa implikatur dalam pragmatik terkait dengan cara kita memahami suatu tuturan di dalam percakapan sesuai dengan yang kita harapkan.

bentuk tuturan. Ia berasumsi bahwa makna dapat diperikan lewat representasi semantik sedangkan daya diperikan melalui seperangkat implikatur. karena apa yang dimaksud oleh penutur dengan tuturannya tidak pernah dapat kita ketahui dengan pasti sekali. Menurutnya implikatur dapat menjelaskan secara eksplisit tentang bagaimana memakai apa yang diucapkan secara lahiriah berbeda dengan apa yang dimaksud dan pemakai bahasa itu mengerti pesan yang dimaksud. antara makna harfiah dengan daya atau ilokusi. Tugas pragmatik adalah menjelaskan kaitan antara dua jenis arti tersebut yakni. . maksudnya yakni makna tambahan yang lebih dari yang dikomunikasikan. penutur yang memilih berkomunikasi dengan implikatur. dan konteks. Dasar hipotesisnya bahwa semua implikatur itu bersifat probabilistis. f. Kaitan ini dapat bersifat langsung atau tidak langsung (1993: 45). implikatur percakapan adalah “ the notion of conversational implicature is one of the single most important ideas in pragmatics”. implikatur adalah makna yang disiratkan dalam sebuah percakapan. Dari ketiga pakar secara ringkas dapat disarikan. Daya Pragmatik Leech mempostulatkan bahwa pragmatik umum mengaitkan makna suatu tuturan dengan daya pragmatik tuturan tersebut. sedangkan mitra tutur (petutur) bertugas mengasumsikan bahwa penutur bekerjasama dalam percakapan yang mereka lakukan sehingga ia dapat mengenali makna tambahan yang dimaksudkan dalam percakapan dengan menarik simpulan (inference). Menurut Levinson (1983: 97. Hanya dengan beberapa faktor seperti kondisi yang dapat diamati.2.72 (2001) memberi batasan bahwa implikatur adalah “an additional conveyed meaning”. Dalam hal ini.

Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide. gagasan. 1990:180). merupakan . b. yakni: a. norma-norma. Artinya daya pragmatik kekuatan atau force yang muncul dari implikatur. makna yang disiratkan dalam sebuah pertuturan. dan c. tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar (Koentjacaraningrat. daya sekaligus juga dapat diturunkan dari makna. dapat diperikan melalui seperangkat implikatur. menyatakan bahwa makna (sense) yaitu makna yang ditentukan secara semantis sedangkan daya (force) yaitu makna yang ditentukan secara semantis dan pragmatik. nilai-nilai. Teori Budaya. baik implikatur maupun daya pragmatik secara garis besar mengacu pada satu objek yang sama yakni. Dari beberapa pakar linguistik sependapat bahwa implikatur adalah makna yang disiratkan dalam sebuah percakapan. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat. peraturan dan sebagainya. Wujud kebudayaan berupa benda-benda hasil karya manusia. Sedangkan daya pragmatik menurut Leech. Adapun wujud kebudayaan mencakup tiga (3) substansi.73 mitra tutur bertugas membuat simpulan interpretasi yang paling mungkin. bahwa daya mencakup makna. dan secara pragmatik. Adapun ikatan antara makna dan daya perlu disadari. Artinya bahwa masing-masing batasan. Jika kita cermati sebenarnya implikatur dan daya pragmatik merupakan dua buah batasan yang merujuk pada sebuah makna. 2. Dengan tegas Leech (1993: 24). Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan.

dan menimbulkan sikap. norma-norma. dan berinteraksi satu dengan lainnya. Seni tradisional termasuk tari sebagai budaya yang diwarisi secara turun-temurun sudah barang tentu memiliki kesinambungan dengan budaya sebelumnya. yang dalam setiap kehidupan sosial selalu melibatkan intersubjektif dan pembentukan makna. Untuk memahami budaya Jawa. berhubungan. 1983:100). kita dapat mengamati dan mencermati dari salah satu wujud kebudayaanya yang berupa seni pertunjukan tari. saling terdapat keterkaitan antar substansinya. Sehingga keragaman budaya sebagai latar seseorang yang telah dibentuk sejak lahir akan mempengaruhi. Pewarisan budaya tidaklah bersifat statis. Dalam tari Jawa bentuk ekspresinya pada hakekatnya terwujud berdasarkan alam emosi. Begitu pula kondisi kehidupan budaya seseorang sangat mempengaruhi persepsi dan penciptaan makna pada setiap peristiwa sosial.74 Wujud kebudayaan tersebut dalam realitas kehidupan masyarakat sosial tidak dapat dipisah-pisahkan. yaitu bentuk dan iramanya kuat-kuat dilatarbelakangi oleh konsep keindahan dan tradisi kebudayaannya (Humardani. Wujud ide dan gagasan-gagasan manusia memberikan jiwa atau pun roh dalam kehidupan masyarakat. Sistem sosial masyarakat yang mencakup aktivitas-aktivitas manusia dalam berkomunikasi. 2006). akan dikendalikan dan diatur oleh prinsip-prinsip nilai. perilaku. tetapi masing-masing . membentuk. dan hasil karya seseorang beragam pula (Sutopo. 1991:10). Sejalan dengan pendapat tersebut. Ogburn mengutarakan bahwa penemuan-penemuan baru memerlukan suatu latar belakang transmisi kebudayaan dari penemuan-penemuan terdahulu (dalam Soerjono Soekanto. peraturan yang telah disepakatinya.

manusia memiliki berbagai usaha lewat penemuan-penemuan baru untuk memenuhi sekaligus menjawab tuntutan kebutuhan yang muncul sesuai dengan konteks budaya yang berlaku. Wujud karya seni sebagai ekspresi seniman memiliki beragam pesan rupanya tidak mudah untuk dipahami untuk itu diperlukan sebuah kajian tersendiri. Perubahan merupakan suatu kesinambungan yang lebih daripada sekedar patokan antara sebelum dan sesudah. Karena pada dasarnya tari dapat terwujud dari komplemen berbagai elemen. kompleksitas berbagai unsur–unsurnya yang membentuk suatu jalinan atau kesatuan. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupan manusia tidak terlepas dari adanya kecenderungan niat yang menghendaki suatu kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. maka laju transpormasi menjadi penting artinya. baik sebagai hiburan. Tari sebagai wujud budaya yang merupakan hasil karya manusia diharapkan mampu memberikan manfaat. sehingga mampu memberikan daya apresiasi. Dengan demikian tanpa jangka waktu tidak akan terjadi peristiwa perubahan. 1999:2). Seni pertunjukan tari merupakan wujud keseluruhan dari sistem. Bertolak . Semuanya berawal dan berakhir dalam suatu proses yang terus-menerus melalui dimensi waktu (Ibrahim Alfian.75 generasi mencoba untuk mengadakan perubahan-perubahan disesuaikan dengan kondisi kehidupan masyarakat pendukungnya. saling terkait secara utuh. ritual maupun untuk keperluan lain yang sifatnya terkait dengan pemenuhan kebutuhan sosial masyarakat. Segala sesuatu yang dihadapi manusia di muka bumi ini dalam kehidupannya semua mempunyai temporalitas atau historisitas. Dalam mencapai taraf hidup yang lebih baik. Seperti kehidupan seni tradisional kita yang dapat bertahan hidup dan lebih berkembang di tengah-tengah masyarakat.

Adapun bentuk aplikasinya dirancang sebagai berikut. Kajiannya akan terkait dengan tiga komponen yaitu seniman sebagai faktor genetik. Pada analisisnya peneliti akan mengkaji keterkaitan nilai cinta kasih yang menjadi muatan genre tari pasihan dengan ritual perkawinan adat Jawa terutama bagi sepasang mempelai temanten. Kompleks Ide. tidak terkecuali seni tari. Pada dasarnya bahwa masyarakat sebagai penghayat adalah masyarakat heterogen yang . peraturan dan sebagainya akan digunakan sebagai kajian faktor genetik. b. Nilai–nilai humanisme pada prinsipnya merupakan sumber nilai-nilai sekaligus lahan kajian yang utama dalam seni pertunjukan. dan masyarakat yang bertindak penghayat sebagai faktor afektif.76 dari pandangan tersebut peneliti akan menggunakan teori budaya sebagai analisis karya seni yakni genre tari pasihan. Adapun isi sebagai kandungan makna pada genre tari pasihan adalah nilai cinta kasih yang merupakan salah satu nilai-nilai kehidupan yang fundamental. Kompleks Aktivitas. nilai-nilai. Terutama untuk mencermati latar belakang konsepsi penciptaan bagi penyusun tari sebagai muatan atau pesan pada genre tari pasihan gaya Surakarta yang hendak disampaikan kepada masyarakat sebagai penghayat atau penikmat. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat akan peneliti gunakan sebagai analisis faktor afektifnya atau persepsi masyarakat terhadap sajian genre tari pasihan. a. norma-norma. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide gagasan. karya seni sebagai faktor objektifnya.

Selain itu untuk mengetahui makna yang terkandung dalam teks verbal dan nonverbal genre tari pasihan dalam rangka merunut dan mengembangkan makna yang lebih central. . busana. Wujud kebudayaan berupa benda-benda hasil karya manusia terkait dengan analisis faktor objektif pada penelitian ini adalah karya seni yang berupa tari Karonsih dan tari Bondhan sayuk. Benda Fisik. sindhenan. peneliti akan mencermati lebih fokus pada hal-hal yang menyebabkan perbedaan dan persamaan persepsi masyarakat. Teori Seni Pertunjukan. dan jineman. Berbekal keberagaman latar kultur tersebut akan mempengaruhi hasil hayatan yang berujung pada perbedaan-perbedaan dan sekaligus persamaan persepsi masyarakat. serta mengapa hal itu terjadi. rias. Analisis ini akan didasarkan pada aktivitas–aktivitas di lapangan terutama pada peristiwa pementasan tari duet percintaan tersebut pada ritual perkawinan adat Jawa. polatan. c. gerongan. Sedangkan aspek bahasa nonverbal meliputi: tema. Karya tari tersebut terdiri dari teks verbal (teks sastra tembang) yang berupa cakepan (syair) yang terdapat dalam pathetan. gerak tubuh (kinetic body moves). 3. Realitas yang demikian merupakan dinamika kehidupan yang wajar dalam dunia seni pertunjukan. Kedua aspek tersebut akan dikaji secara komplementer untuk mendapatkan gambaran yang utuh dan jawaban yang memadahi tentang ciri karakteristik genre tari pasihan gaya Surakarta.77 secara kultur beragam pula latar belakangnya. dan iringan. Terkait dengan analisis genre tari pasihan. pola lantai.

rias. saling melengkapi dan saling mendukung sehingga membentuk suatu jalinan yang saling berinteraksi untuk membentuk menjadi sebuah konstruksi penyajian tari. seni sastra dan seni tari. pola lantai. 1998:15) bentuk dalam pengertian yang paling abstrak berarti struktur. karena pada prinsipnya seni pertunjukan merupakan seni sesaat. yang utama terdiri dari: tema. Menurut Suzanne K. Adapun elemen-eleman tari. Pada dasarnya bentuk seni pertunjukan tari merupakan wujud keseluruhan dari beberapa cabang seni yang sangat fundamental. artinya bahwa seni pertunjukan dimaksud tidak dapat disajikan secara mandiri. yakni meliputi: seni musik. Dari berbagai cabang seni tersebut satu dengan lainnya saling terkait. yang hanya bisa kita nikmati apabila seni tersebut sedang dipertunjukkan. Masing-masing elemen tersebut saling komplementer yang pada penyajiannya akan terikat ruang dan waktu. gerak tubuh. Mengingat seni pertunjukan merupakan sarana untuk mengekspresikan maksud seniman maka unsur-unsur yang terdapat di dalamnya akan menjadi objek analisis. Teori seni pertunjukan dapat mengungkap makna dari masing-masing unsur. busana. ia sudah merupakan masalah yang cukup sulit apabila kita akan menelitinya. yang menyatakan bahwa seni pertunjukan sebagai seni yang hilang dalam waktu. Langer (dalam Widaryanto. akan tetapi lebih merupakan suatu perpaduan dari beberapa cabang seni yang merupakan satu kesatuan menjadi suatu bentuk yang utuh. Hal itu sejalan dengan pendapat Soedarsono. dan iringan.78 Seni pertunjukan pada umumnya merupakan seni kolektif. . seni rupa. artikulasi sebuah hasil kesatuan yang menyeluruh dari suatu hubungan dari berbagai faktor yang saling bergayutan. polatan. apa lagi untuk melacak sejarahnya (2003:1).

1991: 6-9). Selain sumber-sumber cerita itu terdapat cerita-cerita fiktif yang sering diangkat dalam layar kaca. gerak kata. dan pada pertunjukan teater-teater modern. Babad.79 sejak dari antarunit hingga antarkomponen yang lebih besar dan keterkaitannya untuk pengembangan temuan makna secara total. gerak tari. Adapun elemenelemen tari yang dimaksud antara lain dapat kita cermati berikut ini. menurut sifatnya dapat digolongkan ke dalam berbagai bentuk gerak. Tema dapat ditarik dari sebuah peristiwa atau cerita. Kiamat Sudah Dekat. gerak bagian. Gerak kata adalah gerak-gerak aktif yang digunakan untuk menceriterakan suatu maksud. Gerak Tubuh (kinetic body moves) Gerak tubuh manusia. tutup telinga dan sebagainya. dan gerak praktis (Humardani. gerak kata baru. Ramayana. b. cerita rakyat. seperti Cinderela. antara lain: Mahabharata. Gerak aktif adalah gerak tubuh yang mengandung maksud-maksud tertentu. pejam mata. Dalam seni pertunjukan di Indonesia cerita-cerita yang dipilih lazimnya bertolak pada sumber cerita yang pokok. mitos dan sejarah. Contohnya: kesatuan dari rangkaian gerak . Dengan teori seni pertunjukan akan peneliti gunakan untuk mengkaji elemen-elemen yang terkandung di dalam tari untuk mengungkapkan dari faktor objektifnya dan faktor genetik. yang dilakukan sedemikian rupa sehingga lawan tergerak atau terpacu. Contohnya: angkat bahu. Tema Tema adalah rujukan cerita yang dapat menghantarkan seseorang pada pemahaman esensi nilai-nilai kehidupan. Si Buta dari Gua Hantu. a. layar lebar. gerak indah. yang selanjutnya dijabarkan menjadi alur cerita sebagai kerangka sebuah garapan. Si Kaya dan Si Miskin. di antaranya: gerak aktif.

Gerak tari merupakan penggarapan dari gerak bagian atau gerak kata sehingga mencapai pada tingkat abstraksi gerak yang sungguh-sungguh. kepala menggeleng. contohnya kepala menunduk dari rangkaian gerak kata rangkaian gerak kepala menunduk. Baginya tubuh merupakan objek yang tidak pernah ada habis- . Hal ini tidaklah cukup beralasan. tangan kanan memegang kening. karate. dan sambil duduk.80 kepala menunduk. bisa kecewa.dan bisa juga menyesal. Gerak bagian adalah bagian dari gerak kata. volume. Contohnya: berlari. berjalan. Gerak praktis merupakan gerak yang mengandung guna praktis. tangan kiri memegang perut. dan sambil duduk. sehingga hasilnya seolah-olah gerak yang lepas tanpa berkaitan arti dengan gerak sehari-hari. dimaksudkan untuk mengungkapkan rasa sedih. karena realitas yang kita hadapi bahwa gerak manusia selalu konteks dengan lingkungan. tangan kanan memegang kening. tangan kiri memegang perut. Pembagian tersebut rupanya tidak sepenuhnya dapat memberikan gambaran yang jelas. dan sebagainya. sehingga arti verbal maupun nonverbal tidak pernah akan dapat terlepas dengan gerak tubuh manusia sebagai kandungan maksud atau makna yang hendak diekspresikan. Gerak kata baru adalah gerak kata yang sudah digarap dari segi bentuk dan diselaraskan dengan tempo. tangan melambai. Bentuk lain: kepala mengangguk. Gerak tubuh merupakan kekayaan makna komunikasi non verbal tanpa suara yang mampu memikat perhatian bagi seorang seniman. sebagai contoh pembatasan mengenai gerak indah dengan gerak tari yang masing-masing rupanya menghindari arti verbal maupun arti dengan gerak seharihari. dan dinamik tertentu. Gerak indah adalah gerak kata baru yang sudah mengalami penggarapan lebih sempurna untuk mengungkapkan keindahan semata tanpa maksud verbal. bisa merenung.

namun kemunculannya tidak mudah untuk dipisah-pisahkan secara tegas. Kedua bentuk gerak baik presentatif maupun representatif merupakan medium utama dalam rangka memenuhi keperluan ekspresi. Secara garis besar gerak dalam tari dapat dibagi menjadi dua bagian secara kasar. dieksplorasi. Kita akan banyak memperoleh informasi tentang kondisi emosional seseorang melalui ekspresi-ekspresi wajah mereka. Pertimbangan yang utama untuk menjadikannya gerak tubuh dan gerak nontubuh menjadi tari adalah dengan cara mendistilisasi gerak sesuai kebutuhan ekspresi dan melihat karakteristik gaya dengan menggarap tempo. yakni gerak presentatif dan representatif. dikaji. Ekspresi wajah merupakan sarana untuk mendapatkan pemahaman lebih baik terhadap sesuatu yang sedang dikomunikasikan terhadap komunikan. gerak ini difungsikan semata-mata untuk kebutuhan ekspresi. begitu berlangsung berulang-ulang yang tidak pernah harus kehabisan materi atau bahannya. c. karena wujud yang tampak sering samar-samar. volume. artinya gerak yang dihasilkan dari imitasi terhadap sesuatu. Gerak presentatif merupakan bentuk gerak yang tidak mempunyai arti secara khusus. hal itu sengaja dibuat untuk mengungkapkan ekspresi seniman atau penyusun tari. Keduanya hadir dalam jagad tari. di antaranya: apakah menunjukkan rasa sedih atau .81 habisnya sebagai sesuatu yang digali. kemudian disajikan. dan dinamik. Sedangkan gerak representatif adalah gerak penghadir. Pada prinsipnya seluruh gerak tubuh dapat menjadi medium dalam tari. Polatan (ekspresi wajah) Polatan merupakan perubahan yang lebih fokus pada perubahan raut muka atau wajah.

Bagaimanapun tebal tipisnya ekspresi wajah dalam komunikasi antarperan. Sehingga wajah sebagai media ekspresi akan selalu siap difungsikan untuk peran yang dikehendaki. Mengingat bahwa dalam tari tradisi istana terutama peranperan yang karakternya tenang perubahan polatan sangat halus bahkan kerap kali tidak tampak. Jika kita mengetahui dan menyadari berapa banyak otot yang terdapat pada wajah manusia. penari sebagai aktor yang menyajikan peran. . Penari lebih dominan berkomunikasi dengan media gerak. ekspresi wajah memiliki kekuatan yang sangat besar terkait dengan penampilan karakter pribadi maupun penjiwaan seseorang terhadap peran tokoh dalam membangun kualitas komunikasi yang berlangsung antarpeserta tutur. merasa tertarik atau menolak. Ekspresi wajah yang terdapat pada seni pertunjukan untuk mengekspresikan peran dalam keadaan suasana tertentu yang dalam implementasinya tidak lepas dari bekal pengalaman-pengalaman psikologis bagi seniman penyaji. untuk itu kesadaran awal yang harus fokus bahwa ekspresi wajah yang dibangun dari gerak tanpa diiukuti bahasa verbal secara langsung itu harus ditopang kecerdasan. dan sebagainya. dapat secara langsung berkomunikasi dengan media antawecana seperti dalam wayang wong. 2006: 42).82 senang. Dalam dunia tari. maka tidaklah mengherankan apa bila terdapat banyak pula macam ekspresi wajah yang dapat dihasilkan (lihat Wainwright. tembang dalam Langendriyan. ketajaman dan kepekaan rasa yang dimiliki sebagai modal utama yang selalu harus diolah. polatan sangat berperan untuk mengekspresikan pada tingkat emosi yang secara komplementer akan membantu ekspresi gerak tubuh dalam rangka mengekspresikan totalitas peran atau tokoh. merasa takut atau sedang marah.

Menurut peneliti rias dapat diklasifikasi menjadi tiga jenis. yang dominan untuk pola lantai garapan putri luruh dan peran alus lurus.83 d. 1978:23). Pola lantai (floor design) Pola lantai merupakan garis yang dibentuk dari gerak tubuh seorang penari yang terlintas pada lantai. Garis lurus mempunyai kesan kuat dan sederhana. masingmasing individu berusaha menampilkan wajah sesuai dengan ekspresi yang dikehendaki. yang dalam pertunjukan tari Jawa banyak digunakan dalam pola garapan tari gagah dan sebagian pola garapan tari alus maupun tari putri yang berkarakter lanyap. serta banyak difungsikan dalam garapan yang bertemakan percintaan. Masing-masing bentuk garis mempunyai kekuatan yang tercermin dalam kesan atau ilusi. Rias Rias adalah strategi untuk mengubah wajah pribadi dengan alat-alat kosmetik yang disesuaikan dengan karakter figur supaya tampil lebih percaya diri. yaitu: (1) . Garis-garis yang dibentuk penari tersebut merupakan garis imajiner yang hanya dapat ditangkap dengan kepekaan rasa. Selain itu garis lurus juga banyak digunakan untuk garapan pola-pola perangan. Sedangkan garis lengkung lebih memberikan kesan lembut. Kadar perubahan wajah dimaksud sangat relatif artinya bahwa pada setiap rias. Pada dasarnya garis yang terbentuk pada floor design secara garis besar terdiri dari dua pola garis dasar yaitu garis lurus dan garis lengkung (Soedarsono. e. Wujudnya bersifat ilusi atau bayangan yang tampak menyatu luluh komplemen dengan arah gerak tubuh penari.

esensi makna yang diungkapkan dapat ditarik dari kesan yang ditimbulkan dari warna-warna dimaksud. Selain itu busana juga memiliki beragam warna yang dapat digunakan untuk maksud-maksud tertentu. Hitam tampak memiliki kesan bijaksana. Warna putih mempunyai kesan suci. layar kaca. Busana Busana merupakan salah satu atribut yang dapat menunjukkan status sosial dan identitas seseorang. Rias formal merupakan rias yang digunakan untuk kepentingan – kepentingan yang terkait dengan urusan publik. Rias informal adalah rias yang difungsikan untuk urusan domestik. Bentuk rias peran lebih dikonsentrasikan untuk seni pertunjukan yang digunakan untuk penampilan di panggung seperti panggung konvensional. Artinya warna dapat digunakan sebagai simbol-simbol dalam kehidupan. f. Merah lebih memberikan kesan berani. panggung modern. Secara umum warna-warna dasar mempunyai sifat teatrikal dan sentuhan emosional sebagai lantaran simbolisasi tertentu dalam budaya seni pertunjukan tari. kesatria dan peran putri yang berjiwa dinamis.84 rias formal. agresif. dan juga berhubungan dengan kehidupan nirwana. dan (3) rias peran. layar lebar dan bentuk lainnya. Sedangkan rias peran adalah bentuk rias yang digunakan untuk penyajian peran sebagai tuntutan ekspresi pertunjukan. berwibawa. setia. namun masing–masing daerah berbeda dalam memaknai bergantung latar belakang budayanya. dan anggun terutama untuk tokoh-tokoh putri seperti . dan dinamis yang banyak diperuntukan tokoh-tokoh raja yang sombong. (2) rias informal. Setidaknya dalam tari Jawa. Kedudukan seseorang dalam masyarakat akan tampak jika kita perhatikan dari busana yang dipakai. raksasa. Begitu pula asal seseorang dapat kita ketahui dari gaya dan mode pakaian yang dikenakan.

Iringan (Gendhing beksa) Iringan atau Gendhing beksa atau karawitan tari merupakan iringan musik gamelan yang telah teraransir menjadi sebuah bentuk yang berupa gendhing yang mampu memberikan kontribusi kekuatan ekspresi pada tari. Warna kuning memiliki kesan keagungan dan kejayaan. Kontribusi iringan dalam membentuk suasana dapat berujud ilustrasi yang berfungsi sebagai background hingga taraf memberikan aksentuasi kekuatan rasa-rasa tertentu sesuai dengan kebutuhan ekspresi yang dikehendaki. g. Drupadi. Karawitan sebagai iringan tari mampu memberikan kontribusi kekuatan rasa yang secara komplementer menyatu dengan ekspresi tari membentuk suatu ungkapan nilai-nilai kehidupan manusia yang disajikan dalam bentuk yang indah. Nglambari memberi pengertian bahwa dukungan gendhing dalam pertunjukan tari lebih berfungsi sebagai ilustrasi. salah satu faktornya juga sangat ditentukan unsur medium bantunya yakni karawitan yang berfungsi sebagai iringan. 2) mungkus. Ratu Ayu Kencana Wungu. Kehadiran gendhing di sini membentuk suasana. Sembadra. Misalnya iringan pathetan yang digunakan untuk ilustrasi tokoh Sekartaji pada saat . Tampak bahwa warna memiliki kandungan makna atas kualitas kesan yang ditangkap oleh indera penghayat. dan 3) nyawiji (lihat dalam Waridi.85 Dewi Shinta. rupanya tidak sekadar sebagai pengiring belaka. 2005: 17-19). dan lainnya. Fungsi gendhing sebagai iringan dalam sebuah pertunjukan mencakup tiga peran yakni: 1) nglambari. Kehadiran karawitan dalam pertunjukan tari gaya Surakarta. Warna hijau mempunyai kesan segar dan tumbuh lebih hidup. Jika kita cermati lebih sungguh-sungguh keberhasilan pertunjukan tari.

Dimaksudkan pada konteks ini. merupakan konsep karawitan tari yang mengarah pada pemersatuan dua unsur menjadi satu. karena pada dasarnya nilai estetis kesenian adalah sebuah ungkapan yang utuh. Dalam hal ini. salah satu unsur tidak akan lebih menonjol dari yang lain. Salah satu contohnya iringan Ketawang Ngrenas untuk suasana sedih pada saat Dewi Sekartaji sedang mencari suaminya yaitu Raden Panji Inukertapati yang tidak kunjung bertemu. rupanya memiliki kontribusi cukup besar. karawitan (yang terpadu dari unsur-unsur melodi dalam tempo. Sedangkan Nyawiji. Pola iringan yang difungsikan semacam ini dapat diamati pada gendhing Lambangsari yang memiliki rasa riang dan gembira. sajian gendhing dengan garapnya secara menyeluruh sengaja digunakan sebagai pembingkai gerak terutama pola-pola gerak kebar. banyak membantu dan bahkan kerapkali menggantikan kedudukan kekuatan ekspresi tari (1991:10). Elemen-elemen yang terdapat dalam bahasa verbal maupun nonverbal pada seni pertunjukan tari Karonsih dan Bondhan Sayuk tersebut merupakan modal . Humardani menyatakan bahwa dalam tari Jawa. Adapun kedua unsur dimaksud yaitu unsur karawitan sebagai penghasil rasa musikal dan unsur tari. ritme atau irama. Bentuk kristalisasi dari unsur tari dan unsur karawitan tersebut adalah untuk pencapaian harmonisasi penyajian dalam rangka menghasilkan kekuatan dan keutuan pertunjukan. Sejalan dengan paparan tersebut. Mungkus pada konsep karawitan tari lebih cenderung pada pengertian membingkai. dan volume) sebagai iringan.86 pertama keluar (maju beksan) dalam suasana sedih. Beragam fungsi karawitan tersebut mengindikasikan bahwa karawitan tari dalam konteks penyajian tari.

serta (d) berusaha mengubah sikap dan tingkah laku itu (lihat Book dalam Cangara. seperti kesamaan bahasa atau kesamaan arti dari . Bentuk komunikasi di sini tidak terbatas pada komunikasi bahasa verbal. jika kita berkomunikasi berarti terdapat beberapa kesamaan dengan orang lain.87 pembentukan ciri karakteristik yang mampu membedakan tari pasihan dengan karyakarya tari lainnya. (c) untuk menguatkan sikap dan tingkah laku orang lain. menyatakan bahwa komunikasi adalah suatu proses di mana dua orang atau lebih melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya. dan teknologi. sehingga kekhasan dari elemen-elemen dan keragaman informasi yang dapat digali akan menentukan dan mewarnai dalam menggeneralisasi teorinya. Pernyataan lebih singkat dikemukakan oleh Shannon dan Weaver (1949). Dengan demikian tampak. bahwa komunikasi adalah bentuk interaksi manusia yang saling pengaruh memengaruhi satu sama lainnya. lukisan. 4. 2007: 19-20). proses simbolik yang menghendaki orang-orang mengatur lingkungannya dengan (a) membangun antarsesama manusia. sengaja atau tidak sengaja. Dengan demikian ciri karakteristik lebih mengarah pada perbedaan-perbedaan yang menonjol dari masing-masing elemen dalam tari tersebut secara elementer. seni. Selain itu juga tidak menutup kemungkinan perbedaan-perbedaan yang dihasilkan dari komplementer bahasa verbal dan nonverbal yang menurut sifatnya berupa sebuah konsep. Teori Komunikasi Komunikasi adalah suatu transaksi. yang pada gilirannya akan terjadi saling pengertian yang mendalam. (b) melalui pertukaran informasi. Rogers bersama Lawrence (1981). tetapi juga dalam bentuk: ekspresi muka. Sejalan dengan definisi komunikasi tersebut.

yakni: a. rias. Baginya seorang seniman berkarya . Komunikator Komunikator bersumber pada seniman pelakunya yang terdiri dari penyusun tari dan penari yang bertindak sebagai penutur. Artinya. (e) lingkungan. untuk itu. yaitu: a) unsur verbal berupa sastra tembang yang meliputi cakepan (syair) yang terdapat dalam pathetan. sindhenan. (d) penerima. Komunikasi bahasa verbal yang berupa sastra tembang yang komplementer dengan Unsur–unsur nonverbal dapat mengarahkan kepada kita untuk memunculkan implikatur akan guna analisis secara pragmatik. (b) pesan. yaitu: (a) sumber. Prinsip dasar yang perlu dipahami bahwa komunikasi dalam seni pertunjukan pada hakekatnya mencakup tiga faktor pokok. Merujuk pada bentuk karya seni dalam hal ini tari pasihan merupakan media komunikasi secara utuh. teori komunikasi akan peneliti gunakan untuk menganalisis bagaimana komunikasi berlangsung. pola lantai. (f) efek. Berdasarkan pernyataan Shannon dan Weaver. polatan. 2007: 24). Pernyataan dari beberapa pakar komunikasi tersebut dapat ditarik unsur-unsur komunikasinya menjadi tujuh. tari sebagai bagian atau cabang seni merupakan komunikasi manusia yang cukup vital.88 simbol-simbol yang digunakan dalam berkomunikasi. dan iringan merupakan media komunikasi yang khas bagi kehidupan seniman. busana. gerongan. tanpa keikutsertaan salah satu unsur akan berpengaruh pada proses komunikasi. Setiap unsur mempunyai peranan sangat penting dalam membangun proses komunikasi. dan (g) umpan balik (lihat Cangara. Terfokus pada jenis tari pasihan yang bentuknya memiliki dua unsur. gerak tubuh (kinetic body moves). (c) media. dan jineman dan b) unsur nonverbal yang meliputi: tema.

tari Langen . tari Lambangsih. Ungkapan seni dapat dilukiskan sebagai pernyataan suatu maksud. tari Enggar-enggar. tari Gesang Rahayu. 1980:21). Sarana atau Media Karya seni yang berupa genre tari pasihan merupakan sarana atau media tutur bagi seorang seniman. Seniman adalah manusia yang secara profesional menghasilkan karya-karya seni yang dapat dihayati oleh publik. Adapun sebagai penari. b. di antaranya: tari Karonsih. tari Bondhan Sayuk. Kesesuaian atau kemungguhan figur seorang penari dengan tokoh yang hendak diperankan merupakan syarat yang harus diperhatikan di samping gandar atau rupa. Terkait dengan hadirnya genre tari pasihan. Dengan demikian peranan penari sebagai komunikator sangatlah penting. yang dapat dialami lagi oleh yang mengungkapkan dan ditujukan atau dikomunikasikan kepada orang lain (Parker. tari Kusuma Ratih. ia berusaha menafsirkan baik secara bentuk fisik karya seni maupun nonfisik yang berupa maksud dari penyusun tari yang kemudian disajikan dalam sebuah pementasan pada ritual perkawinan adat Jawa. perasaan atau pikiran dengan suatu medium indera atau sensa. tari Endah. tari Driasmara. seniman penyusun sebagai penutur hendak menuturkan sebuah nilai kehidupan. Dari medium sensa itu seniman akan dapat menganyam impian-impian bagi kita mengenai hal-hal yang membuai dan memikat kita senang mengamati. Jenis tari duet percintaan yang terdapat dalam genre tersebut. karena dengan kondisi yang tidak layak akan berdampak negatif pada hasil hayatan secara menyeluruh.89 merupakan dorongan dan tutuntan kebutuhan jiwa yang dilatarbelakangi apresiasi terhadap lingkungan manusia dan alam yang terseleksi dan senantiasa dimanifestasikan dalam bentuk yang estetik.

Begitu pula ungkapan- ungkapan praktis seperti menyuruh makan. Seseorang dalam menghayati dengan cara mengamati sebuah karya seni (objek). itu bukan kesenian dan tidak juga estetik. dengan pertimbangan kedua jenis tari tersebut diharapkan mampu mewakili informasi genre tari pasihan untuk dianalisis makna pragmatiknya. dan merenungkan sehingga dapat memberikan sebuah pernilaian atau . Ungkapan yang otomatik sifatnya insting atau berlaku secara naluriah yang dilakukan seperti orang menangis ketika didera musibah. dan lainnya. Pada hakekatnya kesenian adalah ungkapan yang disengaja. namun sebaliknya bukanlah setiap ungkapan itu sebuah karya seni. dicipta. Seni adalah suatu ekspresi. tari Setyaningsih. dan selalu terkait atau berhubungan dengan tradisi kebudayaannya. penonton umum. suatu ungkapan. dan penanggap merupakan mitra tutur yang menghayati karya genre tari pasihan. Komunikan Masyarakat sebagai komunikan meliputi: pakar. tari Jayaningrat.90 Asmara. Keragaman seni akibat dari keaneragaman media atau sarana yang didukung ide-ide kreatif estetik seorang seniman dalam rangka memenuhi ekspresinya. gembira saat mendapatkan keuntungan. Lewat media bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan kandungan maksud seniman akan diaktualisasikan untuk mendapatkan tanggapan dari penghayat. dan tari Kusuma Aji. Adapun fokus dari penelitian untuk disertasi ini adalah tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk. c. merasakan. mandi. Begitu pula genre tari pasihan yang terdiri dari bahasa verbal dan nonverbal merupakan jenis seni pertunjukan gaya Sala yang mengacu pada budaya istana Kasunanan Surakarta. Meskipun setiap karya seni itu adalah suatu ungkapan.

91

tanggapannya. Betapapun sedihnya menghayati tokoh Sekartaji yang tidak kunjung bertemu, ketika berupaya mencari suaminya Panji Inukertapi, kita merasa haru mendengar sumpah kesetiaan Sekartaji yang berbunyi: Dhuh jagad dewa bathara Welasa mring dasih kang nandhang kingkin Tinilar garwa satuhu Dadya gantilaning tyas Ulun dhahat Teka aginggang sarambut Kalamun datan pinanggya Aluwung tumekeng lalis

Jabaran dari nilai kehidupan tersebut ditangan seniman diungkapkan dalam bungkus sensa yang mampu memicu dan memacu timbulnya khayalan benda dan peristiwa yang memberi kenikmatan penghayat. Khayalan tentang tindakan atau emosi yang ditimbulkan lewat karya seni, kita kemudian dalam imajinasi dapat melakukan atau mengalami. Bagi yang peka estetik seolah-olah kita dibawa memasuki badan penari sebagai tokoh-tokoh utama tersebut, kita tidak kuasa menolak terhipnotis dibuatnya berperan, senang tanpa paksaan sedikit pun untuk melakukan posisi bahkan hanyut dalam aliran kenikmatan dan kepuasan jiwa. Jika dicermati lebih dalam dari jiwa kita sendirilah sebenarnya muncul gagasan-gagasan dan beragam rasa yang merupakan isi sebuah karya seni. Seniman menyediakan sebuah susunan benda pacu atau lambang-lambang sensa yang diharapkan akan ditafsirkan seperti yang dimaksudkan olehnya. Kesadaran awal yang harus menjadi fokus perhatian, bahwa komunikasi seni atau komunikasi rasa sifatnya sangat subjektif. Artinya bahwa rasa yang disampaikan seorang seniman tidak selalu dapat diterima sama oleh penghayat. Betapapun

92

hebatnya seniman sebagai komunikator dan penghayat sebagai komunikan, karena kemantapan rasa tidak dapat diukur secara exact, namun bukan berarti tidak dapat dianalisis secara disiplin ilmiah. Persamaan yang terjadi dalam komunikasi seni sifatnya tidak mutlak, sehingga tafsir seni itu sifatnya multitafsir. Perbedaan maupun persamaan yang terjadi dalam komunikasi seni disebabkan masing-masing partisipan beragam kemampuannya. Untuk itu, baik perbedaan atau pun persamaan komunikasi seni yang terjadi dalam menanggapi karya tari pasihan, akan dianalisis bagaimana dan mengapa hal itu dapat terjadi. B. Tinjauan Pustaka Sumber tertulis baik yang berupa buku-buku cetakan, tesis, disertasi, dan hasil penelitian lain yang mengkaji seni pertunjukan tari khususnya genre tari pasihan dari perspektif pragmatik rupanya belum pernah dilakukan. Kajian nonpragmatik sekali pun relatif sangat minim yang relevan dengan penelitian peneliti dapat dipaparkan berikut ini: “Karonsih”, tulisan Maryono tahun 1991, merupakan hasil penelitian yang bersifat deskriptif, memuat secara umum tentang elemen-elemen tari, dan sedikit perubahan serta penyebarannya. Sedikit banyak tulisan ini memberikan informasi yang berarti terutama terkait dengan data bahasa verbal dan nonverbal sebagai salah satu genre tari pasihan yang akan menjadi sasaran kajian pragmatik. “Perkembangan Tari Enggar-Enggar”, tulisan Dwi Maryani tahun 1999, penelitian ini memuat deskripsi tentang gerak, iringan, rias, busana, dan penyebaran serta perkembangannya tari Enggar-Enggar. Diharapkan tulisan tersebut

93

menambah informasi mengenai vareasi ragam tari duet percintaan yang pada gilirannya dapat untuk mencermati karakteristik genre tari pasihan. “Perubahan Tari Lambangsih”, tulisan Dwi Yasmono tahun 1999, yang memaparkan tentang: struktur garap tari, rias, busana, iringan, dan perubahan terutama masalah sekaran atau vokabuler gerak dan pola lantai. Rupanya hasil kajian ini akan menambah data untuk lebih mencermati karakteristik genre tari pasihan gaya Surakarta yang sedang dikembangkan, terutama terkait dengan aspek nonverbal.

94

C. Kerangka Pikir Dalam rangka mencermati permasalahan, rumusan masalah, tujuan, manfaat, ruang lingkup, kajian teori dan metodologi, serta hasil yang hendak dicapai dalam rencana penelitian ini peneliti menggunakan kerangka pikir kritik seni holistik (Sutopo, 1995: 15-16). Sebagai berikut: 1 FAKTOR GENETIK Latar Belakang Genre Tari Pasihan 2 FAKTOR OBJEKTIF Bentuk Genre Tari Pasihan 3 FAKTOR AFEKTIF Persepsi Penghayat Terhadap Genre Tari Pasihan

Latar Belakang Penyusun

fungsi

Karakteristik Bahasa Verbal

Karakteristik Bahasa Nonverbal

Latar Belakang Penanggap

Latar Belakang Penonton Umum

Latar Belakang Pakar

Pathetan irama Konsepsi Seniman lagu Sindhenan Gerongan Jineman 4

Tema Gerak Polatan

Rias Busana Pola lantai Persepsi Masyarakat

Iringan

MAKNA PRAGMATIK Genre Tari Pasihan

95

Keterangan: 1: Seniman sebagai pencipta sebuah karya seni, dianalisis tentang latar belakang kehidupan kesenimanan dan latar belakang konsep penciptaan bahasa verbal dan nonverbal serta fungsi sebagai aplikatif muatan pesan yang hendak disampaikan lewat karya seni. 2: Karya seni sebagai faktor objektifnya, dikaji tentang bahasa verbal berupa cakepan (syair) sastra tembang yang terdapat dalam pathetan, sindhenan, gerongan, dan jineman. Sedangkan bahasa nonverbal meliputi: tema, gerak tubuh (kinetic body moves), polatan, pola lantai, rias, busana, dan iringan. Diharapkan kajian bagian ini akan dapat menemukan ciri karakteristik genre tari pasihan gaya Surakarta. 3: Persepsi masyarakat terhadap kehadiran genre tari pasihan dalam upacara ritual resepsi perkawinan. Dari hasil analisis akan dapat diketahui interpretasi makna dari masyarakat yang heterogen sebagai pendukung keberlasungan budayanya. 4: Makna pragmatik merupakan hasil analisis secara komplemen keterkaitan dari tiga faktor yakni : faktor genetik (1), faktor objektif (2), dan faktor afektif (3). Relasi ketiga faktor: 1, 2, dan 3 adalah penyusun tari (seniman) menciptakan karya seni yang kemudian karya seni itu ditanggapi masyarakat. Hubungan faktor 1 dan 3 yaitu untuk mengetahui seberapa jauh tanggapan masyarakat terhadap karya seni dan bagaimana kesesuaian antara pesan yang dimaksud seniman dengan makna yang ditangkap oleh masyarakat lewat karya genre tari pasihan.

96

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Sasaran dan Lokasi Penelitian Sasaran yang utama adalah jenis tari duet pasihan atau percintaan gaya Surakarta yang memfokuskan pada tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk, seperti telah disebutkan pada latar belakang masalah. Pertimbangan yang mendasar dari pemilihan sasaran ini adalah banyaknya jenis atau ragam tari duet percintaan khususnya gaya Surakarta. Dimaksudkan kedua bentuk tari pasihan tersebut dapat dikaji secara mendalam di dalam suatu konteks dengan karakteristik tertentu. Cuplikan ini kedudukannya bukan mewakili populasinya tetapi mewakili informasinya, sehingga jika dimungkinkan generalisasi, arahnya cenderung generalisasi teori. Keragaman jenis tari pasihan rupanya tidak dimiliki oleh daerah lain, sehingga lebih memacu peneliti untuk meneliti topik tersebut sebagai sasaran pokok. Pertimbangan lain bahwa tari pasihan disinyalir mempunyai kontribusi yang cukup penting dalam sebuah ritual tradisi perkawinan adat Jawa. Pengertian gaya Surakarta di sini lebih terfokus pada tarian yang mengakar dari tarian istana Kasunanan, tidak melibatkan Pura Mangkunegaran. Hal ini peneliti sadari, bahwa Pura Mangkunegaran tidak mempunyai tari semacam pasihan atau karonsihan. Pemilihan lokasi atau tempat adalah kotamadia Surakarta dengan pertimbangan tingginya frekuensi aktivitas pertunjukan tari pasihan, tempat tinggal para penyusun tari dan pakar seni yang terkait. B. Bentuk dan Strategi Penelitian Secara garis besar dapat dinyatakan bahwa metode penelitian kualitatif adalah metode pengkajian atau metode penelitian suatu masalah yang tidak didesain atau

Kesadaran awal yang harus mendapatkan perhatian bahwa penelitian kualitatif itu menggunakan paradigma atau perspektif fenomenologis. Artinya penelitian kualitatif berusaha memahami makna dari fenomena-fenomena. bersama-sama dengan orang lain dalam konteks intersubjektif yang di dalamnya termasuk pula interpretasi peneliti. 2006: 29). 2007: 6). dengan memperhatikan beragam alasan mengapa dan bagaimana terjadinya tafsir makna mengenai sebuah peristiwa. Pernyataan tersebut sejalan dengan pendapat Moleong (2007: 15). Setiap peristiwa harus dicermati dan dipahami dari beragam perspektif dari orangorang yang terlibat secara aktif maupun pasif dalam peristiwa tersebut. seorang peneliti berusaha menyajikan suatu interpretasi yang didasarkan pada nilai-nilai. minat. 2007: 5). Kajian ini membentuk simpulan multiperspektif yang akan menimbulkan makna intersubjektif. Validitas keputusan atau hasil simpulan-simpulannya mengenai sesuatu makna dapat diwujudkan dari deskripsi yang tegas. Pada umumnya ilmu-ilmu kebudayaan atau ilmu-ilmu humaniora lebih banyak menggunakan metode kualitatif (Edi Subroto. dan tujuan atas interpretasi orang lain atau subjek yang diteliti yang berdasarkan juga pada nilai-nilai. 2006: 28). Hal ini harus disadari bagi seorang peneliti agar hasil simpulan-simpulannya sesuai dengan karakteristik teorinya (Sutopo.97 dirancang menggunakan prosedur-prosedur statistik (Edi Subroto. Hal itu rupanya cukup beralasan. bahwa fenomenologi merupakan pandangan berpikir yang menekankan pada fokus kepada pengalaman-pengalaman subjektif manusia dan interpretasi-interpretasi dunia. minat. karena tujuan pengkajian ilmu-ilmu humaniora adalah membuat . 2007: 5). dan tujuan mereka sendiri (Smith & Heshusius dalam Sutopo. Dalam penelitian kualitatif. peristiwa-peristiwa dan kaitannya dengan orang-orang atau masyarakat yang diteliti dalam konteks kehidupan dalam situasi yang sebenarnya (Edi Subroto.

menginterpretasikan kejadian atau peristiwa. sindhenan. Untuk menjawab persoalan tersebut peneliti akan memahami lebih rinci dan mendalam baik kondisi maupun proses dan juga saling keterkaitannya mengenai hal-hal pokok yang ditemukan di lapangan. tetapi tidak digunakan sebagai standar nilai. Ketiga komponen tersebut tidak dipisahkan dalam kesatuan nilai karya. 1995: 8-15). rias. secara operasional peneliti akan mendeskripsi secara rinci dan mendalam mencakup masalah bahasa verbal berupa cakepan (syair) yang terdapat dalam pathetan. Latar belakang konsep penciptaan bahasa verbal dan nonverbal dan pesan makna yang hendak disampaikan lewat karya seni (faktor genetik). mencakup tiga aspek yakni genetik. objektif. polatan. dan afektif. melainkan sebagai sumber informasi dalam aktivitas evaluasi. kejadian atau peristiwa. Tiga sumber nilai ini wajib dikaji secara lengkap dan seimbang supaya tidak terjadi kepincangan evaluasi (Sutopo. Dengan demikian bentuk penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan kritik holistik yang secara fokus. dan jineman. pola lantai. busana. Selain itu juga bagaimana komplementernya dari ketiga aspek tersebut untuk menemukan keterkaitan hal-hal pokok yang terdapat di dalamnya untuk mengungkap . Sedangkan bahasa nonverbal meliputi: tema. dan iringan (faktor objektif). gerongan.98 deskripsi suatu situasi. dan afektif sebagai sumber aliran nilai. dan seimbang mengkaji tiga faktor yaitu genetik. Merujuk pada pola pikir pendekatan kritik holistik. Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan dan tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini lebih mengarah pada bagaimana memahami makna bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta. serta berusaha menangkap makna dari suatu peristiwa. Persepsi masyarakat terhadap kehadiran genre tari pasihan dalam kehidupan sosial (faktor afektif). lengkap. gerak tubuh (kinetic body moves). objektif.

karena permasalahan dan fokus penelitian telah ditentukan dalam proposal sebelum peneliti terjun ke lapangan artinya peneliti telah terpancang. 2006: 40). tari Bondhan Sayuk. tari Enggarenggar. Hal ini sejalan dengan pendapat Edi Subroto bahwa ilmu-ilmu humaniora berusaha memahami realitas sosial dan realitas budaya dalam rangka memahami masalah-masalah sosial dan masalah-masalah manusia secara lebih baik (2007: 5). namun memiliki karakteristik yang sama. tari Kusuma Ratih. tari Jayaningrat. tari Gesang Rahayu. tidak seperti penelitian eksploratif yang mana peneliti sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi di lapangan (grounded search) maka penelitian kasus ini lebih khusus disebut studi kasus terpancang (embedded case study research) (Sutopo. tari Setyaningsih. karena sekali pun genre tari pasihan atau karonsihan jenisnya terdiri dari beragam tari duet percintaan seperti: Tari Karonsih. dan tari Kusuma Aji. tari Lambangsih. Di samping itu. tari Driasmara. adapun jenis penelitian dengan strategi yang paling tepat adalah penelitian kualitatif deskriptif. Pertimbangan yang mendasar dari kasus tunggal. tari Langen Asmara. Rupanya sangat tepat pilihan peneliti untuk menggunakan metode kualitatif karena objek kajiannya merupakan cabang dari ilmu-ilmu humaniora yang sarat dengan makna dalam kehidupan. 2006: 227). tari Endah. Jenis penelitian ini akan mampu menangkap berbagai informasi kualitatif dengan deskripsi teliti dan penuh nuansa. yang lebih berharga daripada sekadar pernyataan jumlah atau pun sekadar frekuensi dalam bentuk angka (lihat Sutopo. . Strategi yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus tunggal.99 makna pragmatik genre tari pasihan gaya Surakarta sebagai sebuah hasil akhir penelitian. Dengan demikian bentuk penelitiannya bersifat dasar (basic research).

polatan. e) motif tema. f) jenis-jenis vokabuler gerak.100 C. Sumber informasi genetik pada penelitian ini adalah para penyusun tari pasihan. rias. dan iringan. Dengan cara itu peneliti tidak akan berasumsi bahwa sesuatu itu sudah memang demikian keadaannya (Moleong. b) jenis tindak tutur yang dominan dan mengapa terjadi dominasi. busana. objektif. sindhenan. gerak tubuh (kinetic body moves). pola lantai. fungsi. Adapun data informasi yang dikumpulkan akan terkait tiga faktor pokok yakni: genetik. Sedangkan bahasa nonverbal berupa: tema. 2007: 6). Sumber Data Data atau informasi yang paling dibutuhkan akan dikumpulkan dan dianalisis dalam penelitian ini adalah berupa data kualitatif. h) jenis warna dan bentuk busana yang dipakai. dan j) jenis-jenis repertoar gendhing. Sumber informasi objektif pada penelitian ini adalah seni pertunjukan tari. c) realisasi prinsip kerja sama dan prinsip kesantunan antarperan. Data yang dikumpulkan terutama berwujud bahasa verbal dan nonverbal. tempat-tempat dan konservasi-konservasi dari orang yang diteliti (Edi Subroto. Tindak tutur mencakup cakepan (syair): pathetan. i) jenis-jenis floor design (pola lantai). dan afektif. terutama terkait dengan latar belakang konsep penciptaan teks verbal dan nonverbal. dan jinemal sebagai bahasa verbal. gerongan. Data kualitatif merupakan data lunak yang kaya akan deskripsi tentang orang-orang. alasan apa dan bagaimana terjadinya. 2007: 11). Data akan diperoleh peneliti dengan cara memanfaatkan pertanyaan-pertanyaan dengan kata tanya : mengapa. g) bentuk rias. . serta pesan makna yang hendak disampaikan lewat karya seni. yang hendak dikaji dari jenis informasi data teks sastra tembang dan unsur-unsur tari yang meliputi: a) jenis-jenis tindak tutur yang digunakan. d) implikatur dan daya pragmatik.

tetapi mereka dapat memilih arah dan selera dalam memberikan informasi yang dimiliki (Sutopo. Peneliti dan narasumber memiliki posisi yang sama. karena posisi informan dengan beragam peran dan keterlibatannya dengan kemungkinan akses informasi yang dimilikinya sesuai dengan kebutuhan penelitiannya. 2006: 57-58). Narasumber harus dipilih orang yang handal di bidangnya. Berbeda dengan responden yang sekadar memberikan jawaban secara terbatas dan terikat oleh bentukbentuk pertanyaan yang telah disusun secara ketat seorang peneliti. dan penanggap tari pasihan. penonton umum. manusia sebagai Informan atau narasumber posisinya sangat penting dalam rangka memberikan informasi yang dimiliki. Informan atau Narasumber Menurut Spradley informan merupakan pembicara asli (speaker) dengan bahasa atau dialeknya sendiri dan menjadi sumber informasi (1997: 35). memadahi . dapat dipercaya baik dari segi pengetahuannya maupun kejujuran secara umum dan secara khusus dalam memberikan data yang akurat serta bersifat tidak menggurui (Fatimah Djajasudarma. penonton umum.101 Sumber informasi afektif terdiri dari pakar. Adapun jumlah informan tidak mempengaruhi secara mutlak. Oleh karena itu seorang peneliti harus jeli dalam menentukan informan. dan penanggap tari pasihan dalam rangka memahami fungsi sosial di tengah-tengah masyarakat sebagai pendukung keberlangsungan budayanya. yang terdiri dari: pakar. namun yang lebih substansial adalah kualitas informasi yang dibutuhkan. 1993: 20). narasumber tidak sekedar memberikan tanggapan menurut permintaan peneliti. Informasi tersebut akan digali dari beberapa sumber data yang akan dimanfaatkan dalam penelitian ini mencakup : 1. Dalam penelitian kualitatif. Faktor afektif ini akan difokuskan pada persepsi masyarakat penghayat.

baik faktor genetik. atau perilaku sebagai sumber data yang terkait dengan sasaran penelitian. busana. Tempat terjadinya peristiwa pertunjukan tari pasihan pada upacara ritual perkawinan. Peristiwa atau Aktivitas peristiwa. 3. Artifak.102 tidaknya data yang diberikan.implikatur yang sengaja dimanfaatkan oleh seniman dalam rangka mengekspresikan isi hatinya yang sudah barang tentu telah . akan memberi gambaran secara kongkrit tentang setting peristiwa penghayatan atau berlangsungnya sebuah pertuturan. rias. dan afektif. serta masyarakat umum. iringan. sangatlah berharga karena memiliki keterkaitan dengan munculnya implikatur . pakar. Artifak yang merupakan benda budaya. yang harus dicermati meliputi aspek gerak. penari. sehingga validitas datanya dapat dipertanggungjawabkan secara akademis. dan bahasa verbalnya yang akan dilakukan secara berulang untuk mendapatkan sumber data yang akurat tentang berlangsungnya sebuah penghayatan sekaligus mengidentifikasinya untuk menarik makna pragmatik dari peristiwa pertuturan. Tempat atau Lokasi Tempat yang menjadi sasaran penelitian ini terutama terdapat pada sebuah upacara ritual perkawinan yang diselenggarakan di wilayah penelitian. yakni di kotamadia Surakarta. Dari pengamatan langsung sebuah peristiwa pertunjukan tari pasihan. 2. Berdasarkan akses informasi yang diperlukan tersebut narasumber yang peneliti pilih dalam penelitian ini terdapat empat kelompok meliputi: penyusun tari. penghayat. 4. Berlangsungnya pertunjukan tari tersebut merupakan sumber primer untuk analisis menyeluruh. aktivitas. pola lantai. objektif .

103 memperhitungkan penghayat sebagai mitra tuturnya. Salah satu artifak yang sangat berharga sebagai sumber data yang memungkinkan dapat dilacak informasinya untuk diungkap lebih dalam adalah boneka. . Artifak yang berupa boneka yang terbuat dari bahan plastik yang dibalut dengan sehelai selendang sehingga bentuknya menyerupai bayi yang digedhong (ditimang). Keberadaan busana tari yang sering dipakai penari dapat dilacak dengan maksud untuk mencermati seberapa jauh keterkaitannya dengan makna yang hendak disampaikan seniman terhadap penghayat. Prediksi peneliti sementara bahwa artifak yang berupa boneka pada tari Bondhan Sayuk memiliki daya pragmatik. Seperangkat gamelan (gamelan ageng) yang memiliki laras Slendro dan Pelog sebagai musik iringan tari merupakan artifak yang memegang peranan cukup penting dalam mewujudkan terselenggaranya pertunjukan tari pasihan. artifak yang layak menjadi sumber data adalah busana tari. yang terlibat dalam peristiwa atau aktivitas pertunjukan genre tari pasihan. Artifak yang bersifat primer. Beragam benda artifak sebagai kelengkapan. terdiri dari: boneka anak (baby). Selain itu. dan gamelan. busana tari. Asumsi peneliti bahwa dari bentuk atau mode busana tari akan dapat memberi gambaran tentang peran atau tokoh sedangkan dari warna dapat dicermati makna simbolisnya. Dalam hal ini gamelan mempunyai peranan cukup primer dalam rangka mengaktualisasikan genre tari pasihan. terutama lebih fokus yang menurut fungsinya bersifat primer. rupanya memiliki makna yang dalam terkait dengan sepasang mempelai temanten.

Adapun teknik pengumpulan data yang sesuai dengan penelitian kualitatif dan jenis sumber data yang dimanfaatkan adalah sebagai berikut: . merupakan rekaman beragam tari duet percintaan gaya Surakarta yang termasuk bagian genre tari pasihan. Data tertulis yang berupa dokumen ataupun arsip yang terkait dengan peristiwa pertunjukan tari pasihan yang dapat dilacak dalam perpustakaan. Dokumen yang sifatnya tidak tertulis yang terkait dengan pertunjukan tari pasihan. berupa data rekaman baik yang bersifat audio maupun yang berwujud visual. Selain itu juga data yang berupa bahasa verbal seperti cakepan : pada pathetan. Dokumen dan Arsip Dokumen dan arsip biasanya merupakan bahan tertulis yang bergayutan dengan peristiwa atau aktivitas tertentu (Sutopo. babad. berupa sumber cerita yang terdapat pada naskah-naskah pewayangan. D. Data rekaman yang berupa audio. Teknik Pengumpulan Data Berangkat dari keragaman sumber data yang perlu digali tersebut menuntut strategi atau teknik pengumpulan data yang sesuai dengan sumber datanya untuk mendapatkan data yang mampu menjawab permasalahan yang telah diajukan. antara lain beragam kaset ataupun CD iringan tari. dan jineman. maupun serat. gerongan. Sedangkan data rekaman yang berupa audio visual kaset VCD. 2006: 61). Sumber data yang berupa dokumen dan arsip tersebut akan peneliti gunakan sebagai analisis tambahan untuk mencermati tentang makna pragmatik. sindhenan.104 5. Dalam penelitian kualitatif ini peneliti akan menggunakan berbagai teknik berdasarkan sumber data dalam pengumpulan datanya.

2006: 228). 2007: 187). Sehingga pengumpulan data yang diperlukan dalam menggali informasi dari informan dengan teknik wawancara mendalam. b. Pertemuan awal dilakukan untuk mengadakan kesepakatan-kesepakatan tentang pertemuan selanjutnya (jadwal) dan materi jika dimungkinkan. peneliti secara garis besar merancang jenis-jenis pertanyaan pokok yang selanjutnya dapat dikembangkan di lapangan hingga ke hal-hal yang lebih rinci. Wawancara merupakan salah satu jenis pengumpulan data yang bersifat lentur dan terbuka. Selain itu persiapan awal untuk menggali informasi. dan d. 2. tidak dalam suasana formal. Sebelum wawancara. Observasi Dalam penelitian kualitatif ini peneliti mengadakan observasi langsung berperan secara pasif dan aktif. tidak terstruktur ketat. kelompok pakar. kelompok penyusun tari. Adapun wawancara akan dilakukan dengan empat jenis kelompok. c. Jenis pertanyaan yang dipersiapkan tidak mengikat namun lebih digunakan sebagai petunjuk secara garis besar tentang proses dan isi wawancara untuk menjaga agar pokok-pokok yang direncanakan dapat seluruhnya tercakup (Moleong. yaitu: a. peneliti terlebih dulu berupaya mengenal karakteristik dari masing-masing informan yang telah ditetapkan untuk menjalin keakraban dan kedekatan emosional sehingga dapat menggali informasi sebanyak-banyaknya dalam situasi yang kooperatif dan kondusif.105 1. kelompok penari atau penyaji. kelompok penghayat (lihat hal: 56-57). Berperan pasif peneliti hanya hadir di lapangan bertindak sebagai . dan dapat dilakukan berulang pada informan yang sama (Patton dalam Sutopo. Wawancara mendalam (in-depth interviewing) Manusia sebagai nara sumber atau informan merupakan sumber data yang sangat fundamental dalam penelitian kualitatif.

3. Mencatat Dokumen dan Arsip (content analysis) Data yang berupa dokumen ataupun arsip yang terkait dengan peristiwa pertunjukan tari pasihan yang dapat dilacak dalam perpustakaan. Dokumen lain berupa kaset tape recorder yang memuat iringan tari jenis pasihan. Bentuk peran aktif dalam penelitian ini peneliti mengambil peran sebagai penonton untuk mengapresiasi pertunjukan dan datang di tempat-tempat latihan membaur turut berlatih untuk mengamati dan mengetahui ciri karakteristik tindak tutur dan lebih fokus terhadap elemen-elemen genre tari pasihan. Teknik simak dan catat dalam kegiatan ini akan dimanfaatkan terkait data bahasa verbal dan nonverbal. serat atau naskah. Selain itu dimungkinkan juga terdapat pada babad. Adapun observasi tidak langsung lebih mengarah pada pengamatan dokumendokumen rekaman tari pasihan. seperti: kaset “Karonsih“ (ACD – 114) dan kaset “Beksan Enggar-enggar” (WD – 530). akan dicatat dan dianalisa untuk memahami keterkaitannya dengan faktor objektif karya tari pasihan yang tengah diteliti. sehingga mendapat data secara akurat. Adapun sumber data yang diharapkan mampu memberikan gambaran liku-liku kehidupan Panji dan Sekartaji. Teknik ini secara garis besar digunakan peneliti untuk setiap aktivitas yang terkait dengan pengumpulan data. berujud sumber cerita yang terkait dengan ceritera Panji. di antaranya: cerita Panji dalam Perbandingan (1968) dan Panji Sekar (1979).106 pengamat secara formal dan informal untuk mengamati kegiatan dan peristiwa pertunjukan tari pasihan agar mendapatkan data yang mantap dari fenomena yang terjadi di lapangan. . baik sebagai langkah awal pencatatan secara global masalah-masalah yang dianggap penting yang selanjutnya akan selalu dikembangkan pada analisis untuk dijabarkan secara rinci mendalam.

objektif dan afektif sebagai dasar menentukan makna genre tari pasihan dalam upacara resepsi perkawinan. Untuk itu dalam penelitian kualitatif. dan karakteristik empirisnya. Teknik Cuplikan (sampling) Penelitian kualitatif cenderung menggunakan teknik cuplikan yang bersifat selektif dengan pertimbangan konsep teoretis yang digunakan. Adapun kegiatan ini adalah merekam bentuk tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk untuk dianalisis bahasa verbal dan nonverbal dari masing-masing bentuk tari tersebut. (Goetz & Le Compte dalam Sutopo. 2006: 37) (lihat Moleong. Dari kajian bentuk tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk ini dimaksudkan untuk menjawab rumusan masalah terkait dengan pertanyaan yang mengarah pada faktor objektif. Rekaman ini dimaksudkan untuk lebih mencermati peristiwa pertunjukan berdasarkan natural setting artinya sasaran penelitian harus tetap berada pada kondisi aslinya secara alami (Sutopo. teknik cuplikannya cenderung bersifat purposive karena dipandang lebih mampu menangkap kelengkapan dan kedalaman data di dalam menghadapi realitas yang tidak tunggal. Bentuk rekaman video yang diutamakan adalah peristiwa berlangsungnya pertunjukan khusus tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk. Perekaman Teknik pengumpulan data dengan rekaman terutama dengan alat video dan rekaman suara merupakan metode yang cukup penting karena akan membantu peneliti dalam rangka memperjelas deskripsi berbagai aktivitas dan situasi di lapangan. E. Fatimah. Hal ini dilakukan untuk mencari dan menemukan korelasi dari ketiga faktor yaitu genetik. keingintahuan pribadi peneliti.107 4. 2007: 8. 1993: 11). Selain itu rekaman tari pasihan tersebut juga untuk mengembangkan pertanyaan yang mengarah pada faktor genetik dan faktor afektif. Pemilihan sampel diarahkan lebih fokus pada sumber data yang . 2006:229).

Validitas Data Untuk menjamin dan mengembangkan validitas data yang akan dikumpulkan dalam penelitian kualitatif ini digunakan teknik trianggulasi data atau sumber. dan keluasan wawasan dalam suatu permasalahan yang dikaji sehingga informasi yang diperoleh betulbetul mantab kualitasnya. Oleh karena itu dalam penelitian kualitatif ini peneliti memilih informan yang diharapkan mampu memberikan informasi yang memiliki kedalaman dan keakuratan data guna menjawab permasalahan yang diajukan.108 dipandang memiliki data penting yang terkait dengan permasalahan yang sedang diteliti. Cuplikan ini kedudukannya bukan mewakili populasinya tetapi mewakili informasinya. F. kualitas. Untuk itu peneliti dituntut memahami peta sumber yang tersedia. dalam beragam posisinya. 2006: 92). Sumber lain akan dipilih berdasarkan pertimbangan ketepatan dan kelengkapan datanya. Adapun sejumlah informan dan informasi yang dibutuhkan dari informan tersebut lihat hal: 56-57. karena setiap posisi akan memiliki akses informasi yang berbeda. Purposive sampling memberikan kesempatan secara maksimal pada kemampuan peneliti untuk menyusun teori yang dibentuk dari lapangan (grounded theory) dengan sangat memperhatikan kondisi lokal dengan kekhususan nilai-nilainya (idiografis). trianggulasi metode. sehingga bilamana generelisasi harus dilakukan. 2006). maka arahnya cenderung sebagai generalisasi teori (Sutopo. secara tuntas dan valid. Trianggulasi data atau sumber mengarahkan peneliti dalam mengumpulkan data harus menggunakan beragam sumber data artinya data yang sejenis . dan trianggulasi teori dari empat jenis trianggulasi yang ditawarkan Patton (dalam Sutopo. Informan yang dibutuhkan dipilih berdasarkan kredibilitas.

Selain itu. peneliti menggunakan metode pengumpulan data dengan mencatat dokumentasi atau arsip yang berupa data bahasa verbal dan nonverbal kemudian melakukan wawancara secara mendalam. pakar tari. untuk memahami makna tari pasihan. Untuk mengetahui alasan mengapa terjadi dominasi salah satu jenis tindak tutur dalam bahasa verbal tari pasihan. akan dikomparasikan dan ditarik simpulan data yang lebih kuat dan mantap validitasnya. Salah satu bentuk aplikasi dalam penelitian ini. Informasi dari ketiga informan tersebut kemudian dianalisis dengan cara membandingkan untuk melihat persamaan. Data yang terkumpul kemudian dikomparasikan untuk mengkaji alasan yang tepat guna menjawab secara akurat terkait dengan fungsi bahasa verbal dalam pertunjukan tari pasihan. bahkan lebih jelas untuk diusahakan mengarah sumber data yang sama untuk menguji kemantapan informasinya. perbedaan kemudian mencari argumen dari masing-masing untuk mendapatkan simpulan yang memadai. dan penanggap. Trianggulasi metode dalam penelitian kualitatif mengarah pada perbedaan teknik atau metode pengumpulan data pada data yang sejenis. dan observasi di lokasi ketika penari tersebut sedang menyajikan tari pasihan. peneliti menggunakan tiga informan yang berbeda yaitu: penyusun tari. . Data sementara yang diperoleh dari ketiga metode yang berbeda pada sumber data atau informan yang sama. peneliti membutuhkan informasi dari informan yang berbeda di antaranya dari penyusun tari pakar. Di sini yang diutamakan adalah penggunaan metode pengumpulan data yang berbeda. dan masyarakat umum.109 akan lebih mantab kebenarannya apabila digali dari beberapa sumber data yang berbeda. untuk menemukan ciri karakteristik bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan dari informan seorang penari.

untuk itu diperlukan beberapa perspektif teori guna memperoleh hasil simpulan yang mantap dapat dipertanggungjawabkan. artinya berbeda suatu teori beragam pula cara pandangnya. (3) teori seni pertunjukan. G. Bentuk aplikasinya. Sifat analisis induktif sangat mementingkan apa yang sebenarnya terjadi dan ditemukan di lapangan yang pada dasarnya bersifat khusus berdasarkan karakteristik konteksnya dalam kondisi alamiahnya. tetapi dengan beberapa teori yang digunakan sebagai alat kajian sehingga muncul multiperspektif. Teknik Analisis Penelitian kualitatif bentuk analisisnya bersifat induktif. tetapi seluruh hasil simpulan yang dibuat dan teori yang mungkin dikembangkan. dan (4) teori komunikasi. dibentuk dari temuan dan kumpulan data di lapangan digunakan untuk dasar pemahaman dan penyusunan suatu simpulan (Sutopo.110 Trianggulasi teori dibutuhkan untuk mendapatkan pandangan yang lengkap dan mendalam. artinya semua simpulan dibentuk dari semua informasi yang diperoleh dari lapangan. Karena setiap teori memiliki perspektif yang khusus. (2) teori budaya. untuk mengetahui makna yang tersirat dalam tari pasihan harus menganalisis terhadap bahasa verbal dan nonverbal dengan menggunakan empat teori yaitu: (1) teori pragmatik. Keempat teori tersebut akan berfungsi sebagai alat kajian dan bekerja secara komplementer untuk menemukan makna tunggal yang menempatkan posisi setiap temuan berada pada satu kesatuan konteks (lihat hal: 14). 2006:98-99). .2006: 105). Analisisnya tidak untuk membuktikan kebenaran hipotesis yang telah diajukan dalam proposal penelitian. tidak hanya sepihak dan bersifat monoperspektif. mempunyai kedalaman makna dan bersifat multidimensional (Sutopo.

dan informan budayawan kemudian . sajian data. penarikan simpulan dan verikasinya. dengan melakukan beragam teknik refleksi untuk pemantapan simpulan awal dan perluasan serta pendalaman data bagi pengumpulan data berikutnya. informan pakar. atau mengkomparasikan antarfaktor-faktor utama yang menjadi pokok kajian berdasarkan kerangka pikir (Sutopo. perbedaan. 2006). Sejak diperoleh data dalam unit yang paling kecil sudah mulai dikomparasikan hingga pada unit-unit atau kelompok data yang besar untuk mengelompokkan beragam variabel sesuai dengan rumusan masalah. setelah peneliti mendapatkan data pada unit-unit hingga kelompok yang besar. Analisis dilakukan dalam bentuk interaktif. Pada penelitian kualitatif kasus tunggal tentang genre tari pasihan gaya Surakarta ini. artinya setiap unit data yang terkumpul selalu dikomparasikan dengan unit data lainnya untuk menemukan beragam hal yang dibutuhkan sesuai dengan tujuan penelitian (keluasan. bentuk keterkaitan antarunsurnya dan sebagainya). misalnya tanggapan ciri-ciri karakteristik bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan dari informan penari. sudah merupakan hasil dari analisis yang berkelanjutan pada proses pengumpulan data. perbedaan. sehingga data yang hendak disajikan sebagai laporan.111 Proses analisis dilakukan bersamaan sejak awal dengan proses pengumpulan data. arsip maupun dokumen dan lainnya untuk mendapatkan pemantapan simpulan yang kemudian akan dikembangkan dan validitas datanya dengan mencermati tingkat kesamaan. Aktivitas refleksi dari setiap data yang telah terkumpul pada dasarnya merupakan kegiatan analisis yang semakin berkembang. Proses interaktif juga mengkomparasikan data yang didapat dari wawancara. Adapun proses interaksi selanjutnya antarkomponen analisisnya meliputi reduksi data. dan kemungkinan lain. observasi. kesepadanan.

peneliti gunakan model analisis interaktif. kritis. Untuk menganalisis makna pragmatik dapat dengan mengkomparasikan antarfaktor-faktor utama dari: implikatur tindak tutur verbal dan nonverbal. Reduksi data.112 dikomparasikan untuk mencari dan menemukan perbedaan. mengembangkan hasil wawancara yang berupa kata-kata kunci menjadi catatan lengkap. fungsi dan persepsi masyarakat. peneliti melakukan pengelompokan data menurut jenisnya secara terpisah berdasarkan kelompok informasinya dan merumuskan temuan jalinan dalam . Model analisisnya. dan lengkap dengan kata-kata kunci.2006:120). Selain itu. Sebagai gambaran model analisis interaktif (Sutopo. Pengumpulan data (1) Reduksi data (3) Penarikan Simpulan/verifikasi (2) Sajian data Keterangan: Pengumpulan data yang dilakukan adalah mencatat dengan rinci. kesamaan dengan beragam rujukannya untuk simpulan yang mantap dengan melihat keterkaitannya tujuan penelitian yang telah dirumuskan yaitu untuk menemukan ciri karakteristik genre tari pasihan gaya Surakarta. untuk menarik makna pragmatik sebagai hasil analisis akhir penelitian.

Sajian data. yang dikembangkan berdasarkan temuan-temuan dari setiap kelompok data dan disajikan dalam bentuk narasi lengkap dan bukan sajian bahan mentah. Selain itu membandingkan data antarkelompok untuk menemukan kemungkinan adanya keragaman bentuk yang terkait. . disusun berdasarkan kelompok data yang sudah dirumuskan (reduksi data) kemudian melakukan pengelompokan unit sajian berdasarkan kelompok rumusan masalah. merupakan hasil pembahasan dari sajian data dan reduksi data untuk menyimpulkan makna tunggal yang menempatkan posisi setiap temuan berada pada satu kesatuan konteks. Penarikan simpulan/verifikasi.113 kelompok dengan rumusan singkat.

Sedangkan aspek bahasa nonverbal meliputi: tema. tari Langen Asmara dan tari Setyaningsih. Secara garis besar bentuk tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk banyak persamaannya. tari Endah. tari Bondhan Sayuk. dan jineman. tari Driasmara. tari Gesang Rahayu. dan iringan karawitan.114 BAB IV BAHASA VERBAL DAN NONVERBAL GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA Genre tari pasihan gaya Surakarta merupakan habitat dari jenis-jenis karya tari duet percintaan atau tari pasihan. Adapun bentuk genre tari pasihan terdiri dari tari duet percintaan. pola lantai. rias. busana. yaitu tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk. gerongan. gerak tubuh (kinetic body moves). tari Enggar-enggar. Aspek bahasa verbal dan nonverbal tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk merupakan komposisi dua komponen yang menyatu dalam bentuk seni pertunjukan. tari Kusuma Ratih. yang sudah barang tentu juga terdapat perbedaan namun tidak begitu signifikan. Pada dasarnya bentuk tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk sebagai bagian seni pertunjukan genre tari pasihan gaya Surakarta memiliki beberapa aspek di antaranya aspek sastra tembang sebagai bahasa verbal yang berupa cakepan (syair): pathetan. Dalam penelitian ini peneliti terfokus pada dua jenis tari pasihan. yakni seperti: tari Karonsih. Pemilihan kedua jenis tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk. polatan (ekspresi wajah). tari Jayaningrat. sindhenan. tari Lambangsih. tari Kusuma Aji. Bagi seniman komposit dari bahasa verbal dan nonverbal yang terdapat pada tari . diharapkan mampu menjawab rumusan masalah dari kajian pragmatik bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta.

115 Karonsih dan tari Bondhan Sayuk merupakan kesatuan makna yang utuh dan berfungsi sebagai sarana komunikasi untuk hiburan dan suritauladan. untuk menyajikan sebuah tari yang sesuai untuk kebutuan resepsi perkawinan Ibnu Harjanto adik Tien Suharto istri mantan presiden Indonesia yang ke dua (wawancara Maridi. A. Pembagian adegan di sini berdasarkan suasana-suasana yang dibangun lewat garap gendhing dan makna sastra tembang. Teks sastra tembang yang merupakan bahasa verbal tari Karonsih. terdiri dari beberapa bait syair yang terdapat pada garap lagu. genetik. Tari Karonsih Tari Karonsih merupakan tari tradisi gaya Surakarta jenis pasangan silang jenis karakter putri luruh dengan putra alus luruh yang bertemakan percintaan Dewi Sekartaji dengan Panji Inukertapati. Faktor Objektif I. Karya tari Karonsih merupakan hasil susunan Maridi pada awal tahun 1970. peneliti hendak menggali dan mengungkap data dari infoman berdasarkan faktor objektif. Untuk menjelaskan tentang seluk-beluk bahasa verbal dan nonverbal pada kedua jenis tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk. dan afektif. Jika dicermati lebih lanjut pertunjukan tari Karonsih dapat dibagi menjadi beberapa adegan-adegan sebagai berikut: 1) adegan pencarian. Bentuk tari Karonsih terdiri dari dua komponen pokok. yakni: (1) pathetan: sakpada (satu . 2) adegan pertemuan. Bahasa Verbal. yang merupakan klimaks dari seluruh adegan. yakni sastra tembang yang merupakan bahasa verbal dan elemen-elemen lain yang terkait dan menunjang dengan tari yang merupakan bahasa nonverbal. a. dan 3) adegan bahagia. 1991). ketika beliau mendapat permintaan dari keluarga Kalitan.

Kinanthi Sandhung: rongpada (dua bait). (1) Teks Pathetan Wantah Sang Retnayu Dewi Sekartaji Jengkar sking kedhaton Sang Retnayu Dewi Sekartaji Jengkar sking kedhaton Angupadi mendranira ingkang garwa Inukertapati. Dahat denira muwun. Jenis – jenis Tindak Tutur (TT) yang melekat pada teks Pathetan Wantah No Narator (Nr) Teks Verbal Pathetan Wantah Jenis-jenis TT Pemarkah 1.1 Sang Retnayu Dewi Jengkar Sekartaji Jengkar sking kedhaton Nr Asertif . O………. Bahasa verbal yang berupa tembang Jawa tersebut terurai menjadi beragam jenis tindak tutur dan beragam makna yang dikandungnya. dan (4) garap gerongan Lambangsari: rong pada. (2) garap sindhenan Pangkur Ngrenas: sakpada. Inukertapati Menangis tersedu-sedan. Dari masing-masing bait syair tembang tersebut memiliki garap lagu atau watak lagu yang berbeda-beda.116 bait). (3) garap sindhenan.O………… Terjemahan: Si cantik Dewi Sekartaji Pergi dari kerajaan Si cantik Dewi Sekartaji Pergi dari kerajaan Mencari suaminya. seperti jabaran berikut ini..

O………. b. istri yang sangat setia terhadap suami.3 Angupadi mendranira Direktif Angupadi Asertif ingkang garwa Nr Inukertapati. Tujuan: seorang istri (Dewi Sekartaji) yang mencari suami (Panji Inukertapati) yang telah meninggalkan kerajaan d.117 1. a.. e.4 Nr Dahat muwun. c.O…… denira Ekspresif muwun Konteks. Tempat: perjalanan di luar kerajaan. Tema / topik: pencarian. Peserta tutur: Narator (Pn) Dewi Sekartaji (Pt). ia merespon dengan gerak tanpa tuturan. Situasi tutur: tidak formal. . Identifikasi / latar. 1.2 Sang Retnayu Dewi Jengkar Sekartaji Jengkar sking kedhaton Nr 1. ia digambarkan sebagai figur seorang wanita. Status sosial: Dewi Sekartaji sebagai seorang istri. f.

kengser. Angupadi: merupakan sebuah perbuatan untuk mencari dan berupaya menemukan dengan cara dan usaha yang sungguh-sunggguh. badan ngglebak ke kanan hadap ke depan. Maksim kualitas dipatuhi.118 g. Gerak: Dewi Sekartaji keluar dari pojok belakang kanan stage menuju tengah dengan gerak: srisik. Pola lantai: didominasi garis–garis lurus. h. i. . Maksim kuantitas dilanggar. Iringan gendhing: pathetan untuk mendukung suasana sedih. kaki njujut. Mendranira: adalah sebuah tindakan yang didasari dari rasa tidak puas terhadap sesuatu. badan putar menghadap belakang srisik mundur kemudian putar menghadap depan. Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Pathetan Wantah dapat diungkap: a. Jengkar sking kedhaton: merupakan pernyataan perbuatan atau tindakan dari keluarga bangsawan karena terdapat suatu permasalahan yang sangat penting yang mengharuskan dan sebagai jalan terakhir untuk pergi dari kerajaan. b. ridhong sampur kiri. Implikatur. badan nglayang (memutar) ke kiri. Implikatur teks Pathetan adalah menggambarkan liku-liku perjalanan Dewi Sekartaji dalam mencari dan untuk menemukan Panji Inukertapati (suaminya). Polatan / ekspresi wajah: Dewi Sekartaji tampak sedih kepala menunduk. lumaksono. j. pandangan mata mengarah ke bawah dan perubahan gerak kepala lebih pelan dan terkesan hati-hati. dan usap kiri – usap kanan.

menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif. 2) melakukan TT secara tidak langsung (off record).119 c. Teks Sindhenan Pangkur Ngrenas. Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Isen-isen (isian) No Narator (Nr) Teks Verbal Isen-isen Jenis-jenis TT 1. gones. Dhuh jagad dewa bathara Welasa mring dasih kang nandhang kingkin Tinilar garwa satuhu Dadya gantilaning tyas Ulun dhahat teka aginggang sarambut Kalamun datan pinanggya Aluwung tumekeng lalis Terjemahan: Wahai Sang Hyang Dewata Kasihanilah hambamu yang baru sedih Ditinggal suami Yang menjadi buah hati Hamba tidak dapat berpisah Jika tidak dapat bertemu Lebih baik mati .1 Nr Jarweng janma. d. Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Pathetan Wantah. Maksim cara dilanggar. Maksim hubungan dipatuhi. (2). janma kang Patik koncatan nyawa.

7 Dewi Sekartaji (Pn) Aluwung tumekeng lalis Komisif Aluwung .jenis TT yang melekat pada teks Sindhenan Pangkur Ngrenas.3 Dewi Sekartaji (Pn) Tinilar garwa satuhu Asertif satuhu 2.6 Dewi Sekartaji (Pn) Kalamun pinanggya datan Direktif datan 2.1 Dewi Sekartaji (Pn) Dhuh jagad dewa bathara Patik Dhuh jagad 2.2 Dewi Sekartaji (Pn) Welasa mring dasih kang nandhang kingkin Direktif mring dasih 2.120 Jenis .5 Dewi Sekartaji (Pn) Ulun dhahat teka Direktif Ulun dhahat aginggang sarambut 2.4 Dewi Sekartaji (Pn) Dadya gantilaning tyas Direktif dadya 2. No Penutur (Pn) Teks Verbal Sindhenan Pangkur Ngrenas Jenis – jenis TT Pemarkah 2.

j. i. pasrah. a. ia digambarkan sebagai figur seorang wanita. Tema / topik: kesetiaan. Situasi tutur: tidak formal. b. c. dan memohon pada Yang Kuasa agar segera dipertemukan dengan suaminya.121 Konteks. istri yang sangat setia terhadap suami. Pola lantai: didominasi garis-garis lurus. Polatan / ekspresi wajah: Dewi Sekartaji tampak sedih. supaya kasih asmaranya dapat menyatu kembali. melindungi dan bertanggungjawab. g. Gerak: Sekartaji mengekspresikan lewat gerak laras sampir sampur kanan. h. Identifikasi / latar. f. pandangan mata mengarah ke bawah dan perubahan gerak kepala lebih pelan dan terkesan hati-hati. kepala menunduk. Status sosial: Dewi Sekartaji sebagai seorang istri. sedih. . Tujuan: Dewi Sekartaji dalam situasi yang rindu. merupakan kekasih sebagai belahan jiwa yang diharapkan dapat sebagai tumpuan akhir yang mampu mengayomi. tawing kiri ingsetan. d. e. Tempat: dalam perjalanan di luar kerajaan. Peserta tutur: Dewi Sekartaji. sekar suwun. Implikatur. Iringan gendhing: Ketawang Ngrenas untuk mendukung suasana sedih. Nandhang kingkin: Gantilaning tyas: suasana sedih yang dialami seseorang. dan lembehan separo.

c. Maksim cara dilanggar. kemudian memohon pada Yang Kuasa agar segera dipertemukan dengan suaminya. d. Implikatur teks Pangkur Ngrenas adalah menggambarkan Dewi Sekartaji dalam situasi rindu. Aluwung tumekeng lalis. Dalam hubungan asmara dapat sebagai bukti kesetiaan. Bukti kesetiaan yang mendalam Dewi Sekartaji terhadap suaminya. sehingga berharap tidak dapat putus. . Maksim kuantitas dilanggar. Sebagai bukti kesetiaan seseorang. menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif. 2) melakukan TT secara tidak langsung (off record). Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Sindhenan Pangkur Ngrenas dapat diungkap: a. tersurat dalam bentuk tuturan yang diungkapkan dengan TT: Kalamun datan pinanggya. b. Aluwung tumekeng lalis: sebuah pernyataan yang dilandasi emosional atau ketulusan hati untuk melakukan tindakan sebagai jalan pintas untuk mengakhiri kehidupan. Maksim kualitas dipatuhi. Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Sindhenan Pangkur Ngrenas. Maksim hubungan dipatuhi. sedih.122 Aginggang sarambut: merupakan pernyataan hubungan cinta kasih yang sangat erat dan lekat. pasrah.

Wahai istriku Mengapa berpaling tidak menghiraukan Kemari tataplah wajah kakanda Sudah lama rindu Tidak biasa adinda marah Apa persoalannya . Adhuh yayi garwa ningsun Teka mlengos datan angkling Mara ngadhepna pun kakang Kang wus lami nandhang brangti Kadingaren yayi duka Apa kang dadi wigati Cakepan b.123 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Isen-isen No 2. Teks Sindhenan Kinanthi Sandhung.2 Nr Saji siswa. Cakepan a. rama Lamun sira darbe tresno Jenis . gones Arane basa nawala Patik (3).jenis TT Patik 2. Wus dangu pun kakang wuyung Marang yayi wanodya di Tuhu wanita utama Mustikaning para putri Muga tansah pinaringan Kanugrahan kang salami Terjemahan: Syair a.1 Narasi (Nr) Nr Teks Verbal Isen-isen Suta nendra prajane sri Bomantara Sun bathara.

124 Syair b.4 Panji Inukertapati (Pn) Kang wus lami nandhang brangti Ekspresif nandhang 3. Sudah lama kakanda jatuh asmara Kepada adinda wanita yang cantik Engkau wanita utama Menjadi suritauladan para wanita Semoga selalu diberi Kebahagiaan selamanya Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Sindhenan Kinanthi Sandhung.6 Panji Inukertapati (Pn) Apa kang dadi wigati Direktif apa .3 Panji Inukertapati (Pn) Mara kakang ngadhepna pun Direktif mara 3.5 Panji Inukertapati (Pn) Kadingaren yayi duka Direktif kadingaren 3.1 Panji Inukertapati (Pn) Adhuh 3.2 Panji Inukertapati (Pn) Teka mlengos datan Direktif datan angkling 3. No Penutur (Pn) Teks Verbal Sindhenan Kinanthi Sandhung Adhuh ningsun yayi garwa Jenis .jenis TT Patik Pemarkah 3.

Tujuan: menyatukan kembali kasih asmara antara suami dengan istri yang pernah berpisah. b.7 Panji Inukertapati (Pn) Wus dangu pun kakang wuyung Ekspresif wus dangu 3.9 Panji Inukertapati (Pn) Tuhu wanita utama Ekspresif utama 3. ia merespon dengan gerak tanpa tuturan. a. Dewi Sekartaji (Pt). Tema / topik: percintaan.11 Panji Inukertapati (Pn) Muga tansah pinaringan Direktif muga 3. Peserta tutur: Panji Inukertapati (Pn).12 Panji Inukertapati (Pn) Kanugrahan kang salami Direktif kanugrahan Konteks.10 Panji Inukertapati (Pn) Mustikaning para putri Ekspresif mustikaning 3. .8 Panji Inukertapati (Pn) Marang yayi wanodya di Direktif marang 3.125 3. Identifikasi / latar. c.

Datang Panji dari belakang. besut. Gerak: Sekartaji tampak putus harapan. Panji mencoba merayunya kembali dengan lumaksono kebyokan sampur. ia digambarkan sebagai figur seorang wanita. laras genjot. yang digambarkan jengkeng (duduk) diikuti kedua tangan memegang sampur sambil menutup raut muka pada posisi centre stage. srisik. Suasana kemesraan Sekartaji dan Panji semakin terasa yang diungkapkan lewat gerak tangkep asta. tangan kanan nyaut.126 d. dan kengser ke kanan. Suasana marah diekspresikan Sekartaji dengan berdiri enjer. istri yang sangat setia terhadap suami. Panji segera memburu Sekartaji dengan gerak berdiri srisik. g. tanjak kanan. tangan kanan nyaut dengan kebyok kemudian mundur. e. maju. ketika Panji jengkeng njawil (memegang bahu). tanjak tawing kanan. nyabet ukel karna kanan. Untuk meredakan kemarahan Sekartaji. ulap-ulap tangan kiri – kanan. ngancap. Perasaan malu juga ditampakkan oleh kedua tokoh tersebut setelah berciuman lepas . maju lumaksono. f. Situasi tutur: tidak formal. Status sosial: Panji Inukertapati sebagai seorang suami. tangan pondhongan kemudian nyaut jeblos (tukar tempat) lalu Sekartaji memberikan sampur dan segera diterima Panji. panggel. ia digambarkan sebagai figur seorang suami yang bertanggungjawab dan sangat setia terhadap istri. Dewi Sekartaji sebagai seorang istri. Sekartaji merasa malu kemudian melepas kedua tangan dan srisik yang segera dikejar Panji dengan srisik nyandhet tangkep asta ngaras (berciuman). Tempat: dalam perjalanan di luar kerajaan.

seperti: kanthen tangan kanan. h. saling melempar senyum sebagai tanda cinta. . Polatan / ekspresi wajah: ketika Sekartaji tampak putus harapan. tangan kiri menthang. Suasana marah. akhirnya luluh hati Dewi Sekartaji. pandangan mata mengarah ke bawah. ekspresi wajah Sekartaji dan Panji tampak cerah dan gembira. Iringan gendhing: Ketawang Kinanthi Sandhung untuk mendukung suasana kasmaran atau bercinta. raut muka ditutup. Suasana mesra. kengser ke kanankiri. laku enjer saling menjauh. nandhang brangti: merupakan gambaran psikologis seseorang dalam keadaan asmara. Mustikaning: merupakan ungkapan yang bersifat menyanjung terhadap kelebihan seseorang. hal ini diekspresikan dengan bentuk-bentuk gerak selalu bergandengan tangan. Pola lantai: didominasi garis-garis lengkung. adu tangan kiri nekuk. pandangan muka Sekartaji selalu menghindar dari tatapan mata Panji. Implikatur teks Kinanthi Sandhung tersebut adalah: a) Dewi Sekartaji marah terhadap Panji Inukertapati. kanthen tangan kanan. sedangkan Panji selalu memandang Sekartaji. Kadingaren: merupakan perbuatan atau tindakan seseorang yang tidak biasa dilakukan. pandangan dan tatapan mata keduanya banyak saling berhadapan wajah. Asmara yang dibangun Sekartaji dan Panji Inukertapati mulai menyatu. Implikatur. mesra. i. untuk mendapatkan perhatian mitra tuturnya. b) Panji berusaha membujuk dan merayu istrinya. maju. damai dan bahagia.127 kedua tangan. srisik melingkar. j. tangan kanan tawing.

menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif. Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Sindhenan Kinanthi Sandhung. dapat diungkap: a. 2) melakukan TT secara tidak langsung (off record). Cakepan a. Pra wanita marsudiya marang tindak kang utama Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada Ingkang bisa nujuprana weh reseping pamicara Nora kengguh ing panggodha darbe budi kang santosa Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira Datan kemba asih tresna sung tentreming kulawarga Sang pekik wah sang dyah ayu dangu samya bagyaharja Tan kendhat tansah meminta kanugrahan ing Hyang Sukma . Pra wanita marsudiya marang tindak kang utama Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada Ingkang bisa nujuprana weh reseping pamicara Nora kengguh ing panggodha darbe budi kang santosa Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira Datan kemba asih tresna sung tetreming kulawarga Sampun sami setya tuhu anggenya liron asmara Karonsih pancen pranyata dadya kembang jagad raya Cakepan b. d. Maksim hubungan dipatuhi.128 Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Sindhenan Kinanthi Sandhung. (4). Teks Gerongan Lambangsari. Maksim kuantitas dilanggar. Maksim cara dilanggar. Maksim kualitas dipatuhi. b. c.

menjadi pasangan yang bertanggungjawab Yang bisa menarik hati membuat harmonis dalam pembicaraan Tidak tergoda. memiliki sikap yang teguh Gantian pria berilah keseimbangan sebagai pengayom dalam perkawinan Tidak acuh. menjadi pasangan yang bertanggungjawab Yang bisa menarik hati membuat harmonis dalam pembicaraan Tidak tergoda. saling mencintai menuju ketetraman keluarga Sudah saling setia dalam bercinta cinta itu adalah nilai yang universal Syair b. No Penutur (Pn) / Petutur (Pt) Teks Verbal Gerongan Lambangsari Jenis – jenis TT Pemarkah 4. Para wanita supaya selalu berbuat kebajikan Selalu setia terhadap suami. Para wanita supaya selalu berbuat kebajikan Selalu setia terhadap suami.129 Terjemahan: Syair a.3 Panji Inukertapati (Pn) Ingkang bisa nujuprana weh reseping pamicara Direktif ingkang bisa .2 Panji Inukertapati (Pn) Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada Direktif marang garwa 4. saling mencintai menuju ketetraman keluarga Sang kesatria (Panji) dan sang Dewi Sekartaji sudah lama hidup bahagia Tiada henti selalu meminta kebahagiaan kepada Yang Maha Kuasa Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Gerongan Lambangsari. memiliki sikap yang teguh Gantian pria berilah keseimbangan sebagai pengayom dalam perkawinan Tidak acuh.1 Panji Inukertapati (Pn) Pra wanita marsudiya Direktif marsudiya marang tindak kang utama 4.

5 Dewi Sekartaji (Pt) Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira Direktif nimbangana 4.12 Panji Inukertapati (Pn) Nora kengguh darbe ing budi Direktif nora kengguh panggodha kang santosa 4.7 Narator Sampun sami setya tuhu anggenya liron asmara Asertif sampun sami 4.130 4.10 Panji Inukertapati (Pn) Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada Direktif marang garwa 4.13 Dewi Sekartaji Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira Direktif nimbangana .6 Dewi Sekartaji (Pt) Datan kemba asih tresna sung tetreming kulawarga Direktif datan kemba 4.9 Panji Inukertapati (Pn) Pra wanita marsudiya Direktif marsudiya marang tindak kang utama 4.11 Panji Inukertapati (Pn) Ingkang bisa nujuprana weh reseping pamicara Direktif ingkang bisa 4.4 Panji Inukertapati (Pn) Nora kengguh darbe ing budi Direktif nora kengguh panggodha kang santosa 4.8 Narator Karonsih pancen pranyata dadya kembang jagad raya Asertif pancen pranyata 4.

14 Dewi Sekartaji (Pt) 4. Dewi Sekartaji (Pt). luluran. e. Peserta tutur: Panji Inukertapati (Pn). Dewi Sekartaji sebagai seorang istri. Identifikasi / latar. c. ngore rikma. d. Suasana kemesraan.15 Narator Sang pekik wah sang dyah ayu dangu samya Asertif samya bagyaharja Datan kemba asih tresna sung tetreming kulawarga Direktif datan kemba bagyaharja 4. Gerak: Sekartaji dan Panji gerak yang dipilih untuk mengungkapkan suasana bahagia yang tercermin dalam rasa gembira. b. seperti motif gerak: Trap jamang. Situasi tutur: tidak formal.131 (Pt) 4. ia digambarkan sebagai figur seorang suami yang bertanggungjawab dan sangat setia terhadap istri. Tema / topik: kebahagiaan. ia digambarkan sebagai figur seorang wanita.16 Narator Tan kendhat tansah Direktif meminta meminta kanugrahan ing Hyang Sukma Konteks. g. a. Status sosial: Panji Inukertapati sebagai seorang suami. Tempat: di kerajaan. istri yang sangat setia terhadap suami. . f. Tujuan: membina keluarga yang bahagia antara suami dan istri. dan alisan.

mesra. pandangan mata searah. Puncak kemesraan pada adegan bahagia ini terekspresikan pada saat Sekartaji duduk dipangkuan Panji Inukertapati. srisik kanthen tangan kanan.132 kebersamaan. cerah terutama ditampilkan pada adegan ini. Adapun sebagai penutup ladrang Sigramangsah untuk mendukung suasana semangat. Pola lantai: didominasi garis-garis lengkung. saling berhadapan. saling bersentuhan tangan dan badan sehingga terasa sebagai puncak kemesraannya. kanthen tangan kiri enjeran. h. lumaksono encot kanthen tangan kanan. lilingan. dan mesra. Bersetuhan badan tampak pada gerak Sekartaji dipangku Panji. Marsudiya: Setya tuhu: tuturan perintah yang bersifat santun. saling melempar senyum sebagai tanda cinta. Motif-motif gerak tersebut dilakukan dengan irama dinamis. kanthen tangan kanan ingsetan. senyum. dan diakhiri pangkon ulap-ulap tangan kiri. Implikatur. i. j. saling mendekat. seperti: lilingan. . rimong sampur. mereka saling memandang dengan ekspresi wajah ceria. kebyokan sampur. pernyataan kesetiaan yang mendalam. Polatan / ekspresi wajah: kedua tokoh Sekartaji maupun Panji Inukertapati tampak gembira. Iringan gendhing: Lambangsari untuk mendukung suasana riang dan gembira. dan keharmonisan diungkapkan dengan motif-motif gerak. damai dan bahagia. keduanya banyak saling berhadapan wajah.

dapat diungkap: a. Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Gerongan Lambangsari. Liron asmara: mempunyai pengertian saling mencintai. d. Kembang jagad raya: ungkapan pengadaian yang dimaksudkan untuk menunjukkan kehebatan. Implikatur teks Gerongan Lambangsari terdiri dari: 1) Tipe seorang istri yang ideal adalah selalu berupaya berbuat kebajikan.133 Nujuprana: ungkapan yang menyatakan kecocokan atas sesuatu yang menjadikannya senang. . Ngayomi: merupakan sebuah tanggungjawab untuk menjamin kenyamanan. Maksim cara dilanggar. 4) Kebagiaan dunia dan akhirat merupakan kebutuhan hidup hakiki manusia yang diupayakan secara seimbang. mengayomi. menarik. 3) Nilai cinta adalah sebuah nilai universal yang dapat dijadikan landasan kehidupan berumahtangga. Maksim hubungan dipatuhi. Maksim kualitas dipatuhi. dan bertanggungjawab. b. 2) Tipe seorang suami yang ideal adalah setia terhadap istri. dan ketenaran. c. Nimbangana: sebuah permintaan yang menghendaki mitra tuturnya berlaku bijak. Maksim kuantitas dilanggar. setia terhadap suami. dan mampu menciptakan ketentraman keluarga. ketenangan dan kebahagiaan orang lain.

a. 2) melakukan TT secara tidak langsung (off record).134 Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Gerongan Lambangsari. Dari penjabaran teks verbal yang terdapat dalam tari Karonsih terdapat beragam jenis tindak tutur yang dapat peneliti klasifikasikan secara kuantitatif jenis tindak tutur direktif paling dominan. penonton akan dapat menangkap makna dari pertuturan secara utuh. menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif. Maksim kuantitas dilanggar karena dalam menyampaikan tuturan seorang penutur. b. banyak menggunakan kata-kata arkais dimaksudkan oleh seniman penyusun untuk mengekspresikan rasa estetik. seperti paparan berikut: NO 1 2 3 4 5 5 6 JENIS TINDAK TUTUR Tindak Tutur Direktif Tindak Tutur Ekspresif Tindak Tutur Asertif Tindak Tutur Patik Tindak Tutur Komisif Tindak Tutur Performatif Tindak Tutur Verdiktif JUMLAH 25 7 4 5 1 - Berdasarkan prinsip kerja sama bahasa verbal yang terdapat tari Karonsih. . Maksim kualitas dipatuhi dimaksudkan oleh penutur untuk menggambarkan peristiwa yang betul-betul terjadi pada masing-masing adegan. Diharapkan dengan mencermati peristiwa demi peristiwa yang terjadi secara kronologis sejak adegan awal sampai akhir.

Maksim cara dilanggar karena dalam menyampaikan tuturan seorang penutur. tidak langsung. dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur. b. dan pernyataannya samar. Untuk memahami masing-masing elemen berikut secara parsial akan dipaparkan secara komprehensif. hal ini dimaksudkan seniman penyusun untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa. masing-masing hendaknya memberikan kontribusi yang relevan demi terjadinya komunikasi rasa. . keintiman. dan iringan. Maksim hubungan dipatuhi dimaksudkan oleh penutur untuk menjaga kerja sama antara penutur dengan mitra tutur. Bahasa Nonverbal Bahasa nonverbal yang merupakan elemen-elemem dari tari Karonsih terdiri dari: tema. pola lantai. suami dan istri yang 2) Melakukan tindak tutur secara tidak langsung (off record) untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa. Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada tari Karonsih tidak terpenuhi. kinetic body moves. hanya menggunakan strategi: 1) Melakukan tindak tutur dengan menggunakan kesantunan positif untuk menunjukkan kedekatan.135 c. polatan (ekspresi wajah). Hal ini dimaksudkan seniman penyusun untuk menunjukkan simbolisasi keharmonisan hubungan antara peran digambarkan dalam tari. busana. rias. terlalu panjang. d.

Adapun cerita Panji ini di Kamboja dikenal Panji . Cerita Panji adalah merupakan karya sastra yang sangat terkenal di Asia Tenggara terutama di Indonesia. Kamboja. Timbulnya cerita Panji dipandang sebagai suatu revolusi kesusastraan terhadap tradisi lama (Poerbatjaraka. Di daerah Pasundan cerita Panji tersebut lebih dikenal dengan sebutan Lutung Kasarung atau Panji Sunda.136 1. Kediri. cerita Panji ini sangat terkenal dalam sebuah garapan dramatari yang disebut Raket. di Palembang cerita Panji ini dikenal Panji (Angreni) Palembang. Munculnya cerita Panji pada zaman kejayaan Majapahit merupakan pernyataan yang cukup kuat. Wilayah Bali cerita Panji banyak dikenal dengan sebutan Malat (Poerbatjaraka. Jenggala. cerita Panji dikenal dalam cerita Andheandhe Lumut. dan Majapahit (abad X sampai ke XVI). Di Jawa Tengah. di antaranya Medang. kesimpulan satu-satunya bahwa redaksi yang pertama kali disusun pada zaman kejayaan Majapahit. hal ini didukung pendapat Poerbatjaraka: bila kita kumpulkan seluruh bahan keterangan untuk menentukan waktu timbulnya cerita Panji. Sekarang cerita Panji di wilayah Jawa Timur yang merupakan sumber awal cerita tersebut dikenal dengan cerita Ragil Kuning dan Kilisuci. Keong Emas. cerita Panji ini berkembang sejak Mataram pecah menjadi dua yaitu kerajaan Yogyakarta dengan sebutan Kasultanan Ngayogyakarta dan kerajaan Surakarta lebih dikenal sebagai Kasunanan Surakarta. terutama di Pulau Jawa. Dilingkungan wilayah kekuasaan kedua kerajaan Yogyakarta dan Surakarta. 1968: 290). Tema percintaan yang diangkat dari babad Panji yang mengisahkan perjalanan cinta Dewi Sekartaji dengan Panji Inukertapati merupakan alur cerita yang disajikan dalam tari Karonsih. Singasari. dan Thailand. Di Indonesia terdapat banyak versi tentang cerita Panji. Siam. Jaka Bluwo. Di Jawa Timur pada masa kejayaan kerajaan-kerajaan. 1968: 409). dan Kethek Ogleng.

untuk Panji Inukertapati diperankan Harjuna atau Janaka. sedangkan di Thailand disebut dengan Jataka. Rupanya cerita Panji cukup terkenal sehingga banyak versi. sedangkan Dewi Sekartaji juga sering disebut Galuh Condrokirana atau Kleting Kuning atau Dewi Limaran. wayang Kulit maupun wayang orang (dalam lakon Bambang Semboto. Dramatari. . Dalam versi Jawa nama Panji Inukertapati juga disebut Panji Asmarabangun atau Panji Kasatriyan. untuk itu perlu peneliti kemukakan beberapa tulisan yang pada akhirnya dapat dianalisis dalam rangka menentukan versi yang dijadikan sebagai tema. Adapun beberapa cerita secara lengkap tentang cerita Panji dapat diamati secara berturut-turut berikut ini. wayang Gedhok. Versi Kamboja. Tokoh–tokoh utama yang berperan dalam cerita Panji adalah Panji Inukertapati sebagai suami dan Dewi Sekartraji sebagai isteri. nama Panji Inukertapati disebutnya Eynao atau Inao. sedangkan Dewi Sekartaji merupakan titisan dewi asmara yaitu Bathari Kamaratih. sedangkan Dewi Sekartaji disebut Bossaba. Tersebarnya cerita Panji di Asia Tenggara. Dewi Sekartaji diperankan oleh Sembadra. cerita Panji dapat meluas karena diangkat sebagai lakon-lakon dalam: Kethoprak. dan sebagai tema tari pasihan. Siam dan Thailand. terutama di Indonesia penyebarannya dari mulut ke mulut dalam bentuk dongeng. sedangkan Angka Wijaya atau Abimanyu merupakan peran pengganti anak dari Sekartaji atau Candrakirana).137 Kamboja. yang dapat digunakan sebagai sumber data. Selain dalam bentuk dongeng. sehingga kisah cerita maupun tokoh-tokoh yang terlibat terdapat perbedaan-perbedaan dan juga dalam bentuk naskah tulis. frahmen. Di samping itu juga terdapat sebuah mitos bahwa Panji Inukertapati merupakan titisan dari dewa Asmara yaitu Bathara Kamajaya.

datang seorang patih Guna Saronta membawa sepucuk surat sebagai utusan raja Bramakumara dari Makassar. Harapan raja Bramakumara. tidak lama kemudian Panji Kertapati mendirikan sebuah kota Pandhak yang letaknya diwilayah kerajaan Kediri.138 1. Pada saat rapat besar kerajaan Kediri. mereka hidup rukun. selain itu beliau sangat bijaksana dan romantis dalam berkeluarga. Ngurawan. Keempat raja yang menduduki tahta tersebut masih bersaudara. Di Tanah Jawa. pengaruh kekuasaannya luas oleh karena itu mereka disegani raja-raja lainnya. Setelah Panji Kertapati dan Candra Kirana menikah. saling menjaga hubungan sehingga menjadi sangat agung dan terkenal. Dalam pertemuan itu pula Panji Kertapati sebagai kesatria tumpuan dari seluruh bala . Armada perangnya sangat kuat. Dari keempat raja itu terdapat dua raja yang berbesanan. yaitu Jenggala. Daha (Kediri). jika Panji dapat dikalahkan berarti Tanah Jawa dapat dikuasainya. tidak pernah saling bertentangan.a Menurut Sunan Pakubuwono IV. dan Singasari yang sangat masyur. pada waktu itu terdapat empat kerajaan. perkasa dan bala tentaranya besar. Sebagai pangeran muda Panji Kertapati sungguh sangat perkasa dalam peperangan. yaitu raja Lembu Amiluhur dari Jenggala yang memiliki anak laki bernama Panji Kertapati dengan raja Lembu Amijaya dari Kediri yang mempunyai anak puteri bernama Candra Kirana atau Retna Galuh atau lebih sering disebut pula Sekartaji. dalam tulisannya yang berjudul: Panji Sekar. terjemahan Yanto Darmono tahun 1979. Isi surat pada intinya bahwa Raja Bramakumara menantang perang dengan Panji Kertapati sebagai balas dendam atas kematian saudaranya raja dari Nusa Kencana. dipaparkan sebagai berikut.

namun sang istri juga mengungkapkan impiannya bahwa ia disuruh dewa untuk makan buah ketan yang terdapat di taman sari di tengah hutan Tikbrasara. Di tengah hutan Tikbrasara Panji Kertapati perang dengan prajurit sandi dari Makassar yang akhirnya dimenangkan oleh Panji. sampai di tengah hutan Panji dan pengikutnya mendapatkan sebuah tamansari di dalamnya terdapat buah ketan yang digambarkan bagaikan surga. bagi Panji itu merupakan tanggungjawab sebagai suami yang setia terhadap istri. Ungkapan Candra Kirana merupakan permintaan segera (nyidam). yang tidak diketahui manusia terletak di tengah hutan yang sangat keramat. Atas kehendak dewa. Patih Guna Saronta dengan akal yang licik membujuk raja Bramakumara untuk masuk ke tamansari bersamanya guna mencuri Galuh Candrakirana dengan harapan . Perjalanan untuk mencari buah ketan dilanjutkan. Manfaat lainnya dari buah ketan adalah menghilangkan segala penyakit dan dapat membuat tenteram. kelak menjadi kesatria yang sakti. Taman sari tersebut merupakan buatan dewa Batara Darma. Panji Kertapati mendapat dukungan dari Sekartaji istrinya. gagah berani dalam medan perang dan menjadi raja yang Agung di Tanah Jawa. Jika dapat makan buah ketan tersebut dewa akan meluluskan semua permintaaannya terutama bayi yang di dalam kandungan Sekartaji akan keluar anak lakilaki yang rupawan.139 tentara kerajaan menyanggupi tantangan dan menunggu kedatangan raja Bramakumara sebagai penantang. Panji diperintahkan untuk segera pulang karena di dalam tamansari karaton Kediri akan muncul pencuri yang sangat sakti. untuk itu ia bergegas untuk mencari ke hutan yang diikuti oleh Bancak dan Dhoyok. sehingga mereka sangat kerasan bahkan lupa untuk kembali pulang.

b Cerita Panji dalam perbandingan (Poerbatjaraka. 1. Galuh Candrakirana lebih baik memilih bunuh diri. iapun bergegas menuju Kediri. Keberangkatan Brahmana secara sendirian untuk menculik sang puteri disadari bahwa ia mengetahui pula bahwa Panji sebagai calon suami Sekartaji adalah seorang pahlawan yang tidak dapat ditaklukkan karena penjelmaan dewa yang lebih sakti dari pada anaknya. Rasa takut yang semakin mencekam menghinggapi Galuh Candrakirana. . Galuh Candrakirana tidak bisa tidur datanglah Guna Saronta dan Bramakumara yang berusaha merayu agar Galuh bersedia menjadi prameswari.1968: 100-104) cerita Panji dalam Serat Kanda dikisahkan sebagai berikut. Kehadiran dan permintaan Bramakumara tetap ditolak. namun dapat dikalahkan oleh bala tentara Panji. Pada malam yang sangat gelap Guna Saronta dan Bramakumara masuk tamansari dengan ajian yang membuat semua orang di dalamnya tertidur.140 mengurangi kekuatan Panji secara perlahan-lahan. bahkan jika raja Makassar hendak memaksa. Sekartaji dicuri seorang Brahmana untuk dikawinkan dengan anaknya bernama Klana. Brahmana dari negeri seberang yang merasa memiliki tanggungjawab sebagai orang tua yang hendak meluluskan permintaan anaknya yaitu Kalana untuk kawin dengan sang Dewi Sekartaji. kemudian dalam benaknya berharap segera Panji suaminya segera dapat menolongnya. Ketika Panji putra raja Jenggala hendak dikawinkan dengan putri raja Daha (Kediri) yaitu Sekartaji terjadi penculikan di tamansari Kediri. ketika Bramakumara hendak memaksa Galuh. Rupanya dewa meluluskan permohonan sang dewi. Panji yang dengan ilmu siluman sejak awal tengah dekat dengan Galuh Istrinya segera bertindak dan menghajar Bramakumara dan Guna Saronta yang akhirnya Panji menang. Bala tentara dari Makassar yang dipimpin raja-raja bawahan segera menyerang Kediri.

c Cerita Panji dalam dongeng. atas kehendak ke dua orang tua mereka. Brahmana rupanya sangat bernafsu melihat Sekartaji. ia memaksa dan hendak memperkosanya namun sang puteri tetap menolak dan akhirnya melarikan diri ke hutan. Di sebuah desa terdapat seorang janda mempunyai tujuh anak yang .141 Pada malam tiba. Panji dan Sekartaji dikawinkan dengan pesta secara besarbesaran. Adapun ringkasan ceritanya sebagai berikut. Sekembalinya sepasang kekasih putra-putri kerajaan tersebut. Peperangan berakhir kekalahan dipihak kerajaan Pulo Kencana dan raja Kelana mati terbunuh oleh Panji. sedangkan Panji bersama Sekartaji kembali ke kerajaan. Pengejaran Brahmana terhenti karena dihadang Panji. bukan untuk anaknya raja Kelana di Pulo Kencana. 1. kemudian terjadi peperangan sangat dahsyat yang masing-masing saling mengeluarkan kekuatan-kekuatan gaibnya. Brahmana masuk tamansari Kediri dan menculiknya Sekartaji yang segera dibawa pulang ke Talkanda yakni tempat kediamannya sendiri karena ia terpesona kecantikan sang puteri. Setelah beberapa hari berlangsungnya pesta perkawinan. Di tengah-tengah masyarakat Jawa. Sesudah mendapatkan kemenangan raja Jenggala mengundurkan diri untuk menjadi seorang begawan dan mengangkat Panji sebagai pengganti raja di Jenggala dengan nama Dewakusuma yang didampingi Sekartaji sebagai prameswari serta para isteri selirnya. raja Kalana beserta prajuritnya menyerang Jenggala. Andheandhe Lumut merupakan salah satu dongeng yang sangat dikenal yang tidak lain adalah menceriterakan tentang perjalanan hidup sepasang suami-istri yakni Panji Inukertapati dengan Sekartaji atau sering desebut Galuh Candrakirana. Kepala Brahmana dapat dipenggal oleh Panji yang selanjutnya dikirimkan kepada raja Kelana di Pulo Kencana yang disertai sepucuk surat tantangan perang.

yang tidak lain adalah Candrakirana yang menyamar untuk mencari Panji suaminya. Kebencian ibunya terhadap Kleting Kuning tiba pada puncaknya. ia disuruh untuk membersihkan periuk yang sangat kotor agar menjadi seperti baru lagi ke sungai yang jauh dari rumahnya. Di tengah perjalanan menuju desa Dadapan para Kleting hendak menyeberang sungai.142 masing-masing anak dengan nama panggilan depan Kleting dan nama berikutnya mengambil sebutan jenis warna. ketika ke enam saudaranya berangkat ke desa Dadapan. dan sebagainya. mereka ditolak semua dengan alasan telah menjadi sisa dari Yuyukangkang. Ketika keenam saudaranya hendak mengadu cinta terhadap seorang pemuda tampan Andhe-andhe Lumut putra seorang janda Dadapan. tetapi yang diminta adalah ciuman. jika saudaranya banyak dimanja namun Kleting Kuning lebih banyak disuruh bekerja keras dan sangat dibenci. Anak yang paling bungsu rupanya sangat buruk bernama Kleting Kuning. Kleting Ijo. Enam Kleting tidak satupun yang diterima menjadi kekasih Andheandhe Lumut. Harapan . mereka diberi pakaian yang bagus dan wangi-wangian agar salah satu darinya dapat memikat hati pemuda dimaksud dan menjadi isterinya. Perlakuan ibunya terhadap Kleting Kuning sangat dibedakan dengan keenam Kleting saudaranya. namun tak seorangpun dapat dijumpai kemudian muncul Yuyukakang yaitu makhuk berbadan manusia berkepala kepiting raksasa yang merupakan penjilmaan dari Prabu Kelana dari negeri Sabrang yang telah lama jatuh cinta dan hendak memperistri Galuh Candrakirana. selanjutnya satu-persatu Kleting diseberangkan. Permintaan Yuyukangkang disanggupi. seperti Kleting Abang. Yuyukangkang bersedia menyeberangkan dan meminta upah bukan uang atau benda lainnya.

maka sebelum berangkat ia hanya boleh memakai pakaian seadanya dan mukanya dibedaki seperti badut serta diberi bau-bauan yang busuk supaya tidak diterima Andhe-andhe Lumut. Keberangkatan Kleting Kuning menyusul Kleting lainnya rupanya tidak dikehendaki ibunya. Rupanya keteguhan dan kesabaran Kleting Kuning membawa hikmah. senjata Sada Lanang dipukulkan ke sungai yang seketika itu airnya menjadi kering dan Yuyukangkang jatuh tidak berdaya. Kleting Kuning dapat membersihkan periuk menjadi mengkilap bahkan dapat bersinar dan diberi senjata Sada Lanang (seutas lidi) yang sakti. Yuyukangkang mohon Kleting Kuning supaya mengembalikan airnya segera dan berjanji akan menyeberangkan. Setelah pulang Kleting Kuning tinggal menjumpai ibunya yang memberitau bahwa kakaknya semua berangkat melamar Andhe-andhe Lumut ke desa Dadapan. ia bersemadi memohon pada dewa agar diberi kemudahan untuk membersihkan periuk yang dibawanya. kemudian permintaan Yuyukangkang disanggupi dan ia diseberangkan. Kleting Kuning marah. Permintaan Kleting Kuning ditolak Yuyukangkang bahkan diusirnya untuk segera kembali pulang. bertemu Kleting Kuning sambil mengungkapkan kekesalannya dengan mengejek dan menghinanya dengan sindiran bahwa yang cantik-cantik saja tidak . Yuyukangkang menjelma menjadi Prabu Kelana.143 ibunya supaya Kleting Kuning tidak mengikuti kakak-kakaknya melamar Andhe-andhe Lumut. Atas kuasa dewa. ia merasa gagal tidak dapat bertemu Galuh Candrakirana kemudian memutuskan kembali pulang ke negeri sabrang. Sekembalinya dari Dadapan enam Kleting yang jengkel hatinya karena ditolak cintanya. Di tepi penyeberangan Kleting Kuning hanya bertemu Yuyukangkang dan minta tolong untuk diseberangkan seperti kakaknya yang lebih dulu berangkat.

namun permasalahan-permasalahan yang dihadapi dapat diselesaikan dengan baik yang akhirnya mereka dapat berhasil menikmati hidup bahagia dalam sebuah keluarga. Adapun bentuk garapnya hanya menyajikan dua peran utama yakni tokoh Panji Inukertapati dengan Dewi Sekartaji. Ibunya terkejut melihat anaknya yang tampan sudi menerima kehadiran Kleting Kuning sebagai isterinya. Mereka sangat bahagia dan segera kembali ke istana dan disambut meriah oleh bangsawan dan seluruh rakyatnya. Mendengar pembicaraaan itu Andhe-andhe Lumut segera menemui Kleting Kuning dan menyatakan menerimanya. Suka duka yang dialami masing-masing tokoh cukup berat. Rupanya kisah tersebut menjadi sebuah inspirasi yang berarti bagi pasangan manusia yang menginginkan percintaan yang ideal. romantis. . Andhe-andhe Lumut segera membawa Kleting Kuning masuk kamar dan menjelma menjadi Panji Inukertapati dan Sekartaji. Kleting Kuning dengan hati sabar terus melangkah menuju Dadapan. dan bahagia. namun ditolak si janda. Tema percintaan Panji Inukertapati dengan Dewi Sekartaji merupakan tema inti yang diangkat dari ketiga versi cerita Panji tersebut. Kleting Kuning mengungkapkan maksudnya yakni untuk mengadu cinta kepada Andhe-andhe Lumut.144 diterima apalagi yang jelek seperti badut (badut ini rias muka Kleting Kuning akibat perlakuan ibunya yang menghendaki supaya wajahnya menjadi jelek dan tidak diterima Andhe-andhe Lumut). Saat bertemu janda Dadapan. Berdasarkan tiga versi cerita Panji dapat dirangkum secara padat dan singkat bahwa liku-liku perjalanan cinta Dewi Sekartaji dengan Panji Inukertapati merupakan gambaran percintaan yang sangat menarik dan bermakna dalam hubungannya dengan membangun kehidupan berkeluarga.

sehingga suasana rindu yang teraktualisasi dalam beberapa rasa: marah (jengkel). adegan pertemuan. mesra merupakan esensi yang hendak diekspresikan dalam adegan dimaksud. Adapun untuk menyajikan adegan pencarian tersebut diungkapkan lewat suasana sedih yang implementasinya menjadi beberapa rasa: sedih. Kinetic body moves atau Gerak tubuh merupakan medium utama dalam pertunjukan tari. dan harapan yang menjadi komitmen bersama dengan keinginan untuk berbuat kebajikan. pasrah. Suasana kebahagiaan ini diungkapkan dalam bentuk komplementer dari rasa gembira. Keinginan-keinginan dari masing-masing tokoh tersebut dapat dicermati pada bahasa verbal yang tersurat dan tersirat pada cakepan gerongan Lambangsari yang merupakan cita-cita yang ideal untuk mewujudkan sebuah keluarga yang bahagia. mengisahkan tentang suasana kebahagiaan yang tengah dinikmati oleh Dewi Sekartaji dengan Panji Inukertapati sebagai sebuah keluarga. menjaga keutuhan dan ketentraman keluarga. dan adegan bahagia. kebersamaan. malu. 2. a). c) Adegan Bahagia. Merujuk pada . Adegan pencarian mengisahkan liku-liku perjalanan Dewi Sekartaji sebagai seorang putri raja yang pergi meninggalkan kerajaan untuk berupaya mencari Panji Inukertapati suaminya.145 Adapun tema percintaan dari cerita Panji tersebut secara garis besar dibagi menjadi tiga adegan yaitu: adegan pencarian. setia. karena tanpa kehadirannya tidak akan tersaji sebuah karya tari. serta selalu mohon barokah kepada Yang Kuasa. dan kacau. b) Adegan pertemuan. mesra.merayu. yang telah meninggalkan kerajaan. mengisahkan pertemuan antara tokoh Dewi Sekartaji dengan tokoh Panji Inukertapati sebagai sepasang suami istri yang telah lama tidak bertemu. Dalam tari Karonsih yang merupakan seni tradisi (seni yang bersumber dari istana) terdapat beragam jenis vokabuler gerak dengan karakternya masing-masing. tegang. berdoa.

badan putar menghadap belakang srisik mundur kemudian putar menghadap depan. kemudian srisik ke pojok belakang kanan dan dilanjutkan srisik menuju ke center stage. ridhong sampur kiri. srisik yang dilakukan secara berulang ke pojok kanan depan. kembali ke pojok kiri belakang.146 beragam rasa yang dikehendaki meningkat pada suasana-suasana yang terdapat dalam adegan pada tari Karonsih tersebut. lumaksono. yang berubah menjadi tenang setelah Sekartaji dapat bertemu Panji. kengser. Bentuk gerak pada adegan I pencarian secara garis besar dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis gerak. . tawing kiri ingsetan. serta pertimbangan peristiwa dan tema yang diangkat kemudian dipilih pola-pola sekaran atau vokabuler gerak yang sesuai. Di tengah-tengah pencarian Panji. badan ngglebak ke kanan hadap ke depan. Sedangkan suasana ketegangan. Adapun pembagiannya dapat dicermati pada paparan berikut ini. kaki njujut. kekacauan. badan berputar turun menjadi jengkeng dengan iringan Gangsaran nada 2 slendro yang berubah menjadi gangsaran nada 1 pelog. yaitu presentatif dan representatif. usap kiri – usap kanan dengan iringan pathetan. Adapun bentuk-bentuk vokabuler yang terdapat pada masing-masing adegan secara garis besar. badan nglayang (memutar) ke kiri. diungkapkan lewat gerak: kengseran. dan pasrah yang menyelimuti Sekartaji diekspresikan lewat gerak Laras Sampir sampur kanan.dan Lembehan separo dengan iringan ketawang Ngrenas. pola-pola sekarannya bersifat presentatif dan representatif. suasana berdoa. Peristiwa yang terjadi untuk adegan pencarian digambarkan Dewi Sekartaji keluar dari pojok belakang kanan stage menuju tengah dengan gerak: srisik. sedih. Adegan pencarian merupakan adegan pertama yang mengawali dari seluruh rangkaian seluruh adegan secara utuh. Sekar suwun.

Posisi kedua tangan ditekuk di depan pinggang dengan membawa sampur (selendang) Distilisasi gerak orang lari. Kedua tangan trap cetik miwir sampur Distilisasi gerak orang lari. sedangkan tangan kanan ditekuk di depan mulut dan keduanya membawa sampur. Posisi kedua tangan ditekuk di depan pinggang dengan jari-jari 3 Srisik (tangan nekuk). Kedua tangan trap cetik nyempurit membuka. Pencarian. 4 Srisik (tangan nekuk) dengan mundur. Distilisasi gerak orang lari. Posisi kedua tangan menthang sampur kedua tangan lurus membuka ke samping dengan membawa .147 Adegan Nama Tokoh Jenis Gerak Keterangan Representatif No I. Dewi Sekartaji 1 Srisik (tangan nekuk). tangan trap cetik yang kiri nyempurit dan kanannya nyekithing Distilisasi gerak orang lari. 5 Srisik kipat sampur. tangan kiri trap cetik. Tangan kiri ditekuk di depan pinggang. tangan kanan trap wadana miwir sampur Distilisasi gerak orang lari dengan cara mundur. Pindah tempat dengan cara lari kecil yang posisi kedua tangan ditekuk pingggang di depan setinggi 2 Srisik (tangan nekuk). kecuali jari jempol ditekuk.

148 sampur. Distilisasi gerak orang lari. Posisi tangan kiri lurus ke samping sejajar pinggang. 8 Lumaksono. tangan kiri menthang dan tangan kanan trap karna miwir sampur 7 Srisik kipat sampur. tangan kanan ditekuk di depan telinga kiri dan keduanya membawa sampur. tangan kanan ditekuk bagian di kanan depan dan pinggang keduanya Distilisasi gerak orang lari. . 6 Srisik kipat sampur. 9 Enjer Distilisasi gerak orang jalan ke samping. Posisi Tangan kiri menthang dan tangan kanan trap cetik miwir sampur tangan kiri lurus ke samping sejajar pinggang. membawa sampur. 10 tawing kiri Distilisasi gerak orang melihat ke samping kiri. menthang sampur Distilisasi gerak orang sedang jalan. Posisi tangan kanan lurus ke samping sejajar pinggang. tangan kiri ditekuk di depan pinggang bagian kiri dan keduanya membawa sampur.

Pindah tempat cara kedua merupakan gerak dengan penghubung menggeser kakinya.149 Adegan Nama Tokoh Jenis Gerak Ekspresi Presentatif Keterangan No I Pencarian. 3 Njujut glebakan kesan liku berliku. Dewi Sekartaji 1 Kengser kesan menjauh. kanan sampur kiri yang tangan membawa sambil mengusap leher ke kanan 5 Sampir kesan sedih Sampur dililitkan . 2 Nglayang kesan berat Kaki badan merendah. miring lalu maju pada digerakkan melengkung.Hadap badan yang bergantian diikuti dan kedua kaki serta naik-turun naik-turun tangan secara bergantian 4 Ridhong ulap sampur kesan sedih Sampur melilit pada tangan ditekuk. namun tetap menempel lantai.

tangan kanan seblak sampur. putar badan bersama kedua tangan diputar kesan liku berliku- .150 sampur laras pada pundak. 7 sindhet gerak penghubung Kaki kiri di tekuk dibelakang kanan kaki lurus. berulang dibarengi kedua dibarengi tangan kiri ditekuk. 6 Sekar suwun kesan sedih Tangan kiri trap dahi. tangan kiri trap cetik. 8 Kembang pepe. kengser leyekan. tangan kanan mengayun ke atas dan ke bawah. tangan kanan lurus lalu di tekuk dilakukan dan bergesernya kaki (ingsetan).

besut. dan kengser ke kanan. ulap-ulap tangan kiri – kanan. Adapun adegan pertemuan Sekartaji dengan Panji Inukertapati digambarkan seperti berikut. Dukungan untuk mengungkapkan suasana tersebut dengan iringan ketawang Kinanthi Sandhung dengan menggunakan garap gerongan dua cakepan (bait). Untuk meredakan kemarahan Sekartaji. Setelah merasa tidak dapat menemukan Panji. maju. tidak ditanggapi Sekartaji dengan hati gembira. Datang Panji dari belakang. segera Panji mencoba untuk merayunya lalu suasana mereda muncul rasa malu yang segera berubah menjadi mesra. Pertemuan sepasang suami istri yang telah lama tidak berjumpa bahkan harus dilalui dengan liku-liku. laras genjot. tanjak tawing kanan. tangan pondhongan kemudian nyaut jeblos (tukar tempat) lalu Sekartaji memberikan sampur dan segera diterima Panji. tangan kanan nyaut. Panji mencoba merayunya kembali dengan lumaksono kebyokan sampur. srisik. ketika Panji jengkeng nyathok (njawil) bahu. Suasana marah diekspresikan Sekartaji dengan berdiri enjer. nyabet ukel karna kanan. Sekartaji merasa malu kemudian melepas kedua tangan dan srisik yang segera dikejar Panji dengan srisik nyandhet tangkep asta ngaras (berciuman). Pertemuan tersebut disambut Sekartaji dengan rasa marah. Sekartaji tampak putus harapan. Panji segera memburu Sekartaji dengan gerak berdiri srisik. Suasana kemesraan Sekartaji dan Panji semakin terasa yang diungkapkan lewat gerak tangkep asta. tangan kanan nyaut dengan kebyok kemudian mundur. yang digambarkan jengkeng (duduk) diikuti kedua tangan memegang sampur sambil menutup raut muka pada posisi centre stage. tanjak kanan. maju lumaksono. . ngancap.151 Adegan pertemuan merupakan adegan kedua yang menggambarkan pertemuan Dewi Sekartaji dengan Panji Inukertapati. panggel.

maju. . adu tangan kiri nekuk. dapat diklasifikasikan secara garis besar. srisik melingkar. sebagai berikut. laku enjer saling menjauh. seperti: kanthen tangan kanan. Adapun jenis-jenis gerak presentatif maupun representatif yang terdapat pada adegan dua: pertemuan. kengser ke kanan-kiri. tangan kanan tawing. hal ini diekspresikan dengan bentuk-bentuk gerak selalu bergandengan tangan. kanthen tangan kanan. Asmara yang dibangun Sekartaji dan Panji Inukertapati mulai menyatu. tangan kiri menthang.152 Perasaan malu juga ditampakkan oleh kedua tokoh tersebut setelah berciuman lepas kedua tangan.

jalan gerak ke Ulap-ulap tawing kiri Distilisasi melihat ke kiri dari orang 3 tawing kiri Distilisasi dari orang melihat Ulap-ulap tawing kanan Distilisasi dari orang melihat ke kanan Distilisasi mencubit Distilisasi berjalan dari gerak dari gerak 4 Endhan Distilisasi menghindar gerak Jengkeng.153 Adegan Nama Tokoh Jenis Gerak Nama Tokoh Jenis Gerak No II. raut muka ditutup sampur Distilisasi menangis orang Srisik kebyok sampur Representatif Keterangan 1 Distilisasi gerak lari. tangan nyathok bahu 5 Kapyukankengser Distilisasi gerak lumaksono memberi sampur lalu . kedua tangan membawa sampur. tangan kiri ditekuk depan pinggang kiri. Pertemuan Keterangan Dewi Sekartaji Representatif Panji Inukertapati Jengkeng. tangan kanan ditekuk di depan telinga kiri 2 enjer Distilisasi orang samping.

srisik 10 Kanthen tangan kanan.154 untuk tarik menarik 6 Srisik menthang. srisik Distilisasi gerak pondhongan Distilisasi memondong dari gerak orang bergandengan tangan kiri sambil lari Distilisasi gerak srisik. Tangan kiri menthang dan tangan kanan trap karna 7 Ngaras Distilisasi berciuman 8 Kanthen tangan kanan kengser Distilisasi gerak Lumaksono kebyokan sampur gerak sautan Distilisasi gerak Orang menubruk Distilisasi berjalan dari gerak Distilisasi gerak lari Srisik Distilisasi gerak lari orang bergandengan tangan kanan. lalu tarik menarik 9 Kanthen tangan kiri. kedua tangan ditekuk Distilisasi gerak lari orang bergandengan tangan kanan sambil lari .

No Pertemuan Dewi Sekartaji 1 Jengkeng.155 11 Sautan jeblos Distilisasi gerak Orang menubruk Adegan Nama Tokoh Jenis Gerak Nama Tokoh Jenis Gerak II. kebyokan laras 2 Nyabet ukel karno 3 4 Sindhet Sekaran golek iwak Presentatif Keterangan Panji Inukertapati kesan tenang pasrah dan besut Presentatif Keterangan Gerak penghubung kesan hati-hati genjotan kesan tenang gerak penghubung kesan tenang nyabet ngancap kesan hati-hati kesan mencari .

adalah sekaran-sekaran kebar yang mempunyai rasa riang. Vokabuler gerak yang dipilih untuk mengungkapkan suasana bahagia yang tercermin dalam rasa gembira.Trap jamang. Adapun jalannya sajian gerak secara berurutan. kedua tangan Distilisasi orang depan 3 c. kemesraan. Trap jamang. tangan kanan Distilisasi orang depan 2 b. luluran Distilisasi dari c. Bahagia 1 Dewi Sekartaji a. lilingan. kebersamaan. yang secara bersama-sama melakukan gerak: Nama Tokoh Jenis Gerak Nama Tokoh Jenis Gerak Keterangan No III. Distilisasi kedua tangan dari orang melihat ke depan Distilisasi melihat ke kiri dari orang Distilisasi dari orang . segar. dan keharmonisan antara Panji Inukertapati dan Sekartaji. setelah Panji Inukertapati dan Sekartaji srisik kanthen tangan kanan menuju stage depan kemudian tangan lepas mundur ke stage centre. dan gembira.156 Adegan III merupakan gambaran suasana bahagia yang tengah menyelimuti hati sepasang suami-istri yaitu Panji Inukertapati dan Dewi Sekartaji. sampur melihat dari ke b. Trap jamang. ulap-ulap kiri melihat dari ke Representatif Panji Inukertapati Representatif Keterangan a.

lilingan. trap jamang. Distilisasi dari orang kedua tangan melihat ke depan . ngore rikma Distilisasi orang rambut dari menata d. lilingan. Distilisasi kedua tangan orang depan melihat dari ke h. srisik kanthen Distilisasi tangan kanan orang bergandengan tangan kanan gerak lari g.157 orang membersihkan kulit dengan lulur melihat 4 d. laku telu Distilisasi berjalan dari orang 5 e. pacak Distilisasi gulu ingsetan melihat dari orang 7 g. ukel Distilisasi karno sinangga dari orang bokor melihat dengan membawa bokor di atas bahu 6 f. trap jamang.lilingan. srisik kanthen Distilisasi gerak orang lari tangan kanan bergandengan kanan tangan 8 h. rimong Distilisasi sampur orang melihat dari f. kebyokan sampur Distilisasi orang melihat dari e. lilingan.

kanthen tangan Distilisasi kiri. ingsetan gerak j. laku telu Distilisasi orang dari gerak dengan pondhongan berjalan memondong 10 j. kanthen tangan Distilisasi kiri. alisan Distilisasi gerak lilingan Distilisasi melihat dari orang orang sedang alisan 14 n.158 9 i. jengkeng ngilo Distilisasi asta gerak l. enjeran orang samping bergandengan tangan kiri jalan gerak ke k. kanthen tangan Distilisasi kanan bergandengan gerak orang tangan orang bergandengan tangan kanan sambil tarik menarik kanan sambil tarik menarik 11 k. enjeran gerak orang jalan ke samping sambil bergandengan tangan kiri sambil 12 l. ngalisi Distilisasi gerak orang orang duduk sambil berkaca merias cara membuat alis 13 m. laku telu Distilisasi orang berjalan dari i. encot lumaksono Distilisasi kanthen gerak dari n. kanthen tangan Distilisasi kanan. encot lumaksono Distilisasi dari gerak orang jalan kanthen orang jalan bergandengan .

srisik kanthen tangan kanan Distilisasi gerak orang lari bergandengan kanan tangan . sambil melihat 18 r. pangkon ulap.Distilisasi ulap tangan kanan orang yang dari gerak gerak orang duduk di atas lutut. pangkon ulap. srisik kanthen tangan kanan Distilisasi orang bergandengan tangan kanan gerak lari r. sambil melihat diduduki lututnya. srisik kanthen Distilisasi gerak orang lari tangan kanan bergandengan kanan tangan 16 p. srisik kanthen Distilisasi tangan kanan orang bergandengan tangan kanan gerak lari o. lumaksono Distilisasi dari p. lumaksono Distilisasi dari gerak lembehan sampur kanan 17 gerak orang berjalan lembehan sampur orang berjalan kanan q.Distilisasi ulap tangan kiri dari q.159 tangan kanan bergandengan tangan berbicara sambil tangan kanan tangan sambil berbicara 15 o.

bergandengan kanan masuk (selesai). Adegan No III. srisik kanthen tangan Distilisasi gerak orang lari tangan kanan. bersalaman kedua tua dengan temanten t. bersalaman dengan temanten 20 t. dengan bersalaman kedua dengan orang temanten dan bersama temanten 21 orang tua temanten dan photo bersama photo temanten u. srisik kanthen tangan Distilisasi gerak lari u. masuk (selesai). orang bergandengan tangan kanan kanan.160 19 s. Bahagia 1 Tokoh Dewi Sekartaji Jenis Gerak Presentatif Keterangan Tokoh Panji Inukertapati Jenis Gerak Presentatif Keterangan kebyokan sampur Kesan berputar – ngenceng kanan putar dengan putar bercanda sambil kebyokan sampur Kesan dengan putar berputar – putar sambil bercanda . bersalaman s.

Jenis gerak Presentatif. Pertemuan Dewi Sekartaji Representatif Panji Inukertapati 3 III. Pencarian Dewi Sekartaji Representatif 2 II. Bahagia Dewi Sekartaji Representatif Panji Inukertapati 4 Jumlah total Representatif 21 73 Representatif 10 11 21 10 b. a. No Adegan Nama tokoh Jenis Gerak Jumlah vokabuler 1 I. Pertemuan Dewi Sekartaji Presentatif Panji Inukertapati 3 III. dapat dicermati secara kuantitatif.161 Dari paparan jenis-jenis gerak representatif dan presentatif yang terdapat pada tari Karonsih. No Adegan Nama tokoh Jenis Gerak Jumlah vokabuler 1 I. Jenis gerak Representatif. Bahagia Dewi Sekartaji Presentatif Panji Inukertapati 4 Jumlah total Presentatif 1 18 Presentatif 4 4 1 8 . Pencarian Dewi Sekartaji Presentatif 2 II.

seperti kecerdasan. Kesedihan yang mendalam dapat dicirikan meneteskan air mata. Polatan (ekspresi wajah). namun itu semua rupanya tidak valid.80 % Jumlah total gerak representatif dan presentatif = 73 + 18 Jumlah persentase gerak representatif = 73 : 91 X 100. Wajah sebagai alat untuk memprediksikan sifat-sifat manusia kurang memadai. wajah mengerut. bibir tertutup rapat. biasanya berusaha untuk menutup wajah. merupakan sarana untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik terhadap sesuatu yang sedang dikomunikasikan. 19.20 %. Orang sedih dapat ditunjukkan tanpa ekspresi senyum. No 1 2 3 4 5 Adegan I. dan III I. Beberapa orang telah banyak mencoba membuktikan bahwa penampilan wajah dapat menjadi indikator yang cukup meyakinkan mengenai berbagai sifat manusia. 3. dan menunduk. mengerutkan dahi. kriminalitas. bahkan taraf kegilaan. bibir bergetar. Berbeda dengan orang marah yang pada umumnya dapat dicirikan lewat tatapan mata yang kuat. II. Sekarang dapat disarikan bahwa ekspresi wajah mampu memberikan kontribusi yang sangat berperan terutama untuk mengekspresikan perasaan. dan gertakan gigi secara bersama-sama. dan III Jenis gerak representatif presentatif jumlah 73 18 91 80. stabilitas emosional. Tari Karonsih. beberapa kulit wajah berwarna kemerahan.162 Jumlah persentase jenis-jenis gerak representatif dan presentatif tari Karonsih. II. Ekspresi wajah atau gerak wajah bukannya wajah dalam pengertian objek yang statis. Jumlah persentase gerak presentatif = 18 : 91 X 100. Selain itu ekspresi wajah dapat difungsikan .

Ekspresi wajah Sekartaji maupun Panji Inukertapati tampak gembira. ketenangan ekspresi wajah lebih ditampilkan dalam rangka memperlihatkan sikap sabar untuk mendapatkan perhatian Sekartaji. demi tercapainya sebuah ekspresi dari masing-masing peran. ekspresi wajahnya lebih banyak menunduk dan memalingkan kepala setiap dicoba untuk didekati Panji.163 untuk membantu memperkuat pengaruh terhadap pesan verbal. polatan lebih banyak menunduk. Perubahan ekspresi mulai tampak ketika wajah Sekartaji tampak tegang. ketika kesedian menyelimuti Sekartaji. Pada adegan pencarian. mesra. saling melempar senyum sebagai tanda cinta. kepala tegak dan pandangan mata lebih tajam disertai gerak kepala lebih tegas. Puncak kemesraan pada adegan bahagia ini terekspresikan pada saat Sekartaji duduk dipangkuan . Semakin jelas bahwa ekspresi wajah merupakan sarana yang cukup vital dalam berkomunikasi nonverbal. Polatan Panji lebih terfokus pada Sekartaji. Berikut merupakan gambaran ekspresi wajah yang dapat dicermati pada tari pasihan lewat Polatan Sekartaji maupun Panji Inukertapati yang akan tercermin pada suasana-suasana adegan yang menggambarkan peristiwa yang tengah terjadi. Sikap marah yang ditampilkan Sekartaji ketika bertemu awal dengan Panji. keduanya banyak saling berhadapan wajah. damai dan bahagia. hal ini mengekspresikan ketegangan Sekartaji yang dapat dicermati pada peralihan adegan pencarian ke adegan pertemuan. Dalam seni pertunjukan khususnya pada bidang tari ekspresi wajah merupakan sarana yang cukup berperan. cerah terutama ditampilkan pada adegan bahagia. baik sebagai ekspresi perasaan secara mandiri maupun membantu memperkuat pesan bahasa verbal. Perubahan-perubahan ekspresi wajah dalam tari pasihan. banyak membantu memperkuat pesan bahasa verbal.

pernik-pernik asesoris. Beberapa tokoh tersebut memiliki perubahan ekspresi wajah yang mencolok dan tampak jelas. Mustakaweni.164 Panji Inukertapati. Bentuk rias dan dandanan busana dalam tari Karonsih mengacu pada rias peran pada wayang orang. Hal itu sangat mendorong perkembangan tari Karonsih akan lebih cepat meluas dan memasyarakat. dan mesra. sehingga akses untuk diterimanya dan sebaran apresiasinya tidak mengalami kendala. sehingga seluruh gerak tubuh secara psikologis menjadi pelan. Baladewa. senyum. juga terdapat persamaan pada bahan. mereka saling memandang dengan ekspresi wajah ceria. corak jarit (kain). lincah. Srikandi. Bentuk-bentuk ekspresi wajah dalam tari pasihan yang karakternya tenang (luruh) seperti diekspresikan Sekartaji maupun Panji Inukertapati tampak tidak menyolok. baik dari suasana marah menjadi sedih atau sebaliknya. Berbeda dengan ekspresi wajah peran-peran tokoh antagonis atau lanyap atau gagah agal seperti Rahwana. Kebebasan untuk bergerak lebih cepat. . Aspek yang mempengaruhi hal tersebut adalah karakter tenang (luruh) lebih banyak dibingkai oleh dominasi gerak-gerak yang berirama pelan. Begitu pula gerak-gerik wajah terpengaruh menjadi pelan. Warna busana lebih dominasi warna hijau. dan tegas sangat mempengaruhi gerak-gerik wajah untuk harmonisasi gerak seluruh tubuh untuk mencapai kualitas sebuah karakter yang tepat dan mantap. Terutama untuk busana. 4. perubahan ekspresi wajah menjadi tampak lebih halus hampir tidak kelihatan. konsep yang mendasari bahwa budaya wayang orang telah lebih dikenal masyarakat di wilayah Surakarta. selain bentuk dandanan yang serupa dengan wayang orang. lincah. dan tegas. corak sabuk serta jenis–jenis tatahan pada jamang irah-irahan (mahkota kepala). emosional. yang berkarakter jalang.

Garis-garis lurus lebih banyak digunakan untuk mengungkapkan keinginan. Sedangkan jarit lereng tanggung merupakan upaya mendudukan status sosial dari Panji Inukertapati dan Sekartaji sebagai putra raja. Adapun warna kuning emas memiliki kesan keagungan dan kejayaan. dominasi garis-garis lurus sangat kuat untuk menghantarkan pencapaian suasana tegang (lihat gambar: 2). mencakup dua bentuk utama. Selain itu warna kuning emas juga menyuguhkan kesan glamor sehingga pertunjukan menjadi menarik dan mampu memikat masyarakat penonton. . Gambar: 1. Pola lantai yang dibentuk dari perpindahan penari maupun jarak antarpenari merupakan salah satu unsur pendukung keberhasilan sebuah pertunjukan. Gambar: 2. seperti aktualisasi adegan Sekartaji mencari Panji Inukertapati (lihat gambar: 1). yaitu garis lurus dan garis lengkung. Warna hijau dengan maksud warna tersebut memiliki simbolik tumbuh lebih hidup dan menjadi subur. Mahkota kepala yang berupa tekes panjen merupakan identitas dari bangsawan panji yang bersumber pada ceritera Babad. sesuai dengan tokoh-tokoh sebagai pelakunya yang merupakan darah bangsawan Sekartaji dari kerajaan Jenggala dan Panji Inukertapati putra raja Kediri. Fase-fase ketegangan. kekacauan Sekartaji ketika belum dapat bertemu Panji. Secara prinsip pola lantai yang terdapat dalam tari Karonsih. 5.165 coklat dan warna kuning emas. kemauan yang kuat dan tegas.

yang dalam tari ini dimaknai sebagai sarana ekspresi tentang sesuatu yang menurut bentuk dan sifatnya menunjukkan hal-hal yang manis dan lembut. Beberapa bentuk garis lengkung tersebut seperti difungsikan pada adegan pertemuan berikut ini: ketika Panji berupaya merayu terhadap Sekartaji. . gambar: 1 gambar: 2 <<<< Gambar 1: pola lantai untuk sekaran srisik kanthen tangan pada awal kebar adegan 3. awal kemesraan kedua figur peran setelah Sekartaji luluh hatinya. kemesraan. lembut. kebersamaan. manis dalam mendukung ekspresi gerak yang disajikan pada adegan bahagia terungkap kesan kegembiraan. berjajar. Untuk adegan kebahagiaan rupanya lebih didominasi garis-garis lengkung yang berbentuk melingkar yang masing-masing tokoh pada posisi saling berhadap-hadapan.166 Garis-garis lengkung lebih difungsikan untuk mengungkapkan kesan manis. Maksud yang mendasari dari kesan garis lengkung tersebut adalah kesan lembut. Gambar 2: pola lantai untuk sekaran trap jamang dan ulap-ulap kiri pada adegan 3. dan berdekatan yang kesemuanya itu dapat dicermati pada hampir seluruh sajian sekaran kebaran. keharmonisan sepasang peran yang ditampilkan menjadi ekspresif dan mantap.

Pemilihan gendhing-gendhing dari sekian repertoar gendhing yang terdapat pada khasanah karawitan. 6. Kejelian seorang penyusun tari tampak bahwa selain rasa musikal yang harus komplementer secara padu dengan rasa yang diungkapkan dalam tari. Iringan tari yang lazim juga disebut karawitan tari adalah gendhing-gendhing karawitan yang diaransir sedemikian rupa sehingga rasa musikal yang terbentuk dapat memenuhi kebutuhan ekspresi tari. Karawitan tari yang berupa repertoar gendhing-gendhing merupakan salah satu unsur yang mampu memberikan kontribusi sangat penting demi terselenggaranya sebuah pertunjukan tari. didasarkan atas pertimbangan rasa musikal terkait dengan kecocokan suasana yang telah ditetapkan dalam tari Karonsih. Karawitan tari yang berfungsi sebagai pendukung sajian tari Karonsih secara menyeluruh telah mengalami penggarapan yang cukup selektif. Artinya bahwa rasa dalam tari akan didukung rasa yang ditimbulkan dari alunan gendhing yang secara komplemen menyatu membentuk suasana-suasana untuk mengekspresikan sebuah nilai tertentu dalam kehidupan. juga secara parsial pada masing-masing garap . Gambar 4: pola lantai untuk sekaran srisik kanthen tangan pada akhir kebar adegan 3.167 Gambar: 3 gambar: 4 Gambar 3: pola lantai sekaran lilingan kebyokan dan lilingan rimong pada adegan 3.

Garap sindhenan teks verbal . pl. Sindhenan adalah vokal putri yang menyertai karawitan (Matopangrawit. sl. pl.pt.168 gendhing terdapat teks verbal yang berupa cakepan yang berfungsi untuk menjelaskan secara singkat dan padat tentang peristiwa yang tengah terjadi pada masing-masing adegan sehingga akan dapat tergambar secara menyeluruh tentang rasa.pt. manyura. Berbeda yang terjadi di dunia pewayangan. dan gambang. Garap pathetan terkait dengan teks verbal ini adalah garap lagu tembang jawa yang dinyanyikan secara solo ataupun bersama dan dikomplemen dengan ricikan instrumen gamelan: rebab. dan makna tarinya. 5 dan dua bait terdapat dalam gendhing Ketawang Kinanthi Sandhung Lr. 1967: 1). Rasa semangat. contohnya bentuk-bentuk Pathetan dalam tari Bedhaya dan Srimpi yang menampilkan rasa agung. terdiri dari beberapa garap lagu. pt. sedih yang diekspresikan garap Pathetan Wantah Lr. Pada awalnya garap Pathetan dalam tari dinyanyikan secara bersama oleh vokalis pria. 5. garap Pathetan dinyanyikan secara solo oleh seorang dalang (wawancara Rusdiantara. yakni: (1) garap pathetan (2) garap sindhenan dan (3) garap gerongan. Garap sindhenan teks verbal dalam tari Karonsih terdiri dari satu bait terdapat dalam gendhing Ketawang Pangkur Ngrenas Lr. Fungsi garap Pathetan pada tari Karonsih ini sifatnya memberikan ilustrasi rasa musikal tertentu terkait dengan suasana adegannya. tema. peristiwa. suasana.pt. Teks verbal Garap pathetan terdiri dari satu bait yang terdapat pada iringan pembukaan untuk adegan pertama yaitu Pathetan Wantah Lr. 5. 2008). Teks sastra tembang yang merupakan bahasa verbal tari Karonsih. pl. mengiringi adegan pencarian yang dilakukan Sekartaji terhadap Panji Inukertapati suaminya. gender. berwibawa. dan gagah. suling.

Gendhing-gendhing yang berlaras pelog yang relatif memiliki nada-nada tinggi (tenor) rupanya kuat dan mantap untuk garap musikal yang mengungkapkan rasa sedih. biasanya oleh seorang pesindhen atau vokalis wanita.nada lebih . Secara garis besar gendhing-gendhing dalam tari Karonsih menggunakan dua laras yaitu pelog dan slendro.pt.sl. Garap gerongan merupakan garap lagu tembang jawa dinyanyikan secara bersama – sama ( koor). Jika terdapat lagu gerongan pada gendhing tersebut garap sindhenan mengikuti setelah lagu gerongan (nggandul) namun berakhir bersama. gagah. Iringan gendhing yang menggunakan garap gerongan pada tari ini terdapat dalam gendhing Lambangsari lr. Dalam perkembangannya jenis garap gerongan dapat dinyanyikan oleh vokalis kelompok putra atau vokalis kelompok putri atau campuran vokalis kelompok putra dengan vokalis kelompok putri. yang pengambilan suaranya menyela diantara sabetan balungan (irama ketukan nada) dan berakhir setelah sabetan balungan. Fungsi garap sindhenan lebih diarahkan untuk mengekspresikan kesan feminin yang memiliki sifat halus. Hal ini dapat dicermati pada adegan pertama yang mempresentasikan kesedian perjalanan Sekartaji dalam upaya mencari suaminya yang menggunakan garap pathetan laras pelog pathet lima dan Ketawang Pangkur Ngrenas Lr. Menurut Martopangrawit gerong adalah vokal bersama (koor) suara pria yang iramanya sama dengan karawitannya (1967: 3). Perubahan ke laras slendro yang secara musikal memiliki nada. 5. pl. pt manyura yang mencakup dua bait. yang pengambilan suara pertama dimulai tepat dengan sabetan balungan dan berakhir tepat dengan sabetan balungan. dan manis. lembut.169 adalah garap lagu tembang jawa dinyanyikan secara solo. dan sigrak. Fungsi garap gerongan lebih difokuskan untuk mengekspresikan kesan maskulin yang mempunyai sifat kuat.

pt manyura. antara lain: pathetan laras pelog pathet lima. Adegan pencarian sebagai adegan pertama dalam tari Karonsih. Gendhing Ketawang Pangkur Ngrenas Lr. dan pasrah. b. kedudukannya dalam adegan pencarian ini bersifat nyawiji. Adegan : I. pt.pt. 5 yang merupakan iringan kedua setelah pathetan laras pelog pathet lima. Pengertian nyawiji di sini garap gendhing Ketawang Pangkur Ngrenas implementasinya dengan garap gerak adalah menyatu. 5.sl. dapat dicermati secara komprehensip dari beberapa elemen. Bentuk menyatunya iringan dengan gerak. Ketawang Pangkur Ngrenas Lr. Bentuk susunan iringan tari Karonsih seluruhnya dan secara urut dari adegan satu sampai adegan tiga (adegan akhir) dapat dicermati berikut ini. Adapun perubahan ke laras slendro itu diawali dari Ketawang Kinanthi Sandhung Lr. sl.sl.pt. Pencarian. pl. diantaranya: a. Keterpaduan yang dimaksudkan adalah menyatunya rasa musikal gendhing Ketawang Pangkur Ngrenas dengan ekspresi vokabuler gerak yang secara komplemen mengungkapkan suasana sedih yang dialami Sekartaji yang terjabar dalam beberapa rasa: sedih. pl. rasa musikal mengekspresikan suasana sedih menyatu dengan ekspresi gerak yang menggambarkan kesedihan Dewi Sekartaji. manyura pada adegan kedua hingga iringan adegan tiga yang meliputi: gendhing Lambangsari lr. Kedudukan iringan pathetan laras pelog pathet lima pada adegan ini bersifat nglambari artinya rasa musikal yang dihasilkan dari garap pathetan laras pelog pathet lima berfungsi untuk memberikan ilustrasi terhadap suasana sedih yang dialami Dewi Sekartaji. didukung beberapa iringan gendhing. dan gangsaran 2 slendro. pt manyura dan ladrang Sigramangsah lr.170 rendah (bass) diharapkan perubahan suasana menjadi lebih terasa mencair dan terbuka. rasa seleh yang . gangsaran 1 pelog. doa.

ton 2 2 Jeng . 5 ty 1 2 2 2 Xz2Xc3 Xz2c1 z1x2c3 z3x.171 terdapat pada gendhing merupakan iringan yang mendukung rasa seleh pada tari.ji zyc1 1 z1x2c1 dha .c5 Jeng .wi z1Xx2c1 dha . merupakan iringan yang secara musikal dapat mengekspresikan suasana tegang yang kedudukannya pada adegan ini lebih bersifat nglambari. Gangsaran 1 pelog. dan gangsaran 2 Slendro. Secara urut bentuk iringan untuk adegan 1: pencarian.kar zyx.na t zyc1 1 De . pola gatra yang terdapat pada bentuk gendhing Ketawang dapat dijadikan tanda mulai bergerak ataupun berakhirnya suatu gerak pada tari. Kiranya tidaklah berlebihan jika gangsaran 1 pelog.ct ta . Implementasinya rasa musikal yang berirama 1/1 dari gangsaran mampu memberikan ilustrasi rasa tegang yang mendukung kekacauan atau ketegangan yang diekspresikan Sekartaji lewat gerak-gerak srisik yang dilakukan secara berulang-ulang dengan gerak kepala yang sedikit lebih tegas. baik rasa seleh ringan maupun rasa seleh berat.x2c1 Sang ret t na yu 1 De wi Se . Terkait dengan alur adegan kedua bentuk gangsaran tersebut merupakan fase peralihan laras dari pelog ke laras slendro.ton zyx.ta ji z3x. c. dan gangsaran 2 Slendro mempunyai peranan cukup penting dalam menjembatani peralihan laras yang berdampak pada perubahan suasana menjadi semakin mantap. pt. Pathetan Wantah Lr.kar sking ke - .Xx2c1 Sang ret . dapat dicermati paparan berikut ini. pl.kar t y sking ke 1 2 yu 1 z2c3 z2c1 z1Xx2c3 Se kar .

tu . Mu . 3 5 5 5 p3 z5c6 1 1 2 1 2 1 3 2 z3c1 g1 . 1 . 1 3 2 2 2 2 3 1 n2 2 .ra . . y y y de r y ni t y ra zyx1c2 mu . z3x5x. z3x2x1x2c1 We-la . pl. zyx.XXXx2c3 1 2 ra 3 3 3 3 ngu .x2x1x.ni-lar gar .pa .wa ba .x2x1xyxtxrxwcq O………. .pa .ta .wa.sa .dra . 2 .x2x1x.tha . .cy O…………. I - z2c4 z4c5 5 ker .wun. Ketawang Pangkur Ngrenaswara Lr.x5x4Xx.gad de . .x5x4Xx2x1x. 3 5 . 5 p3 5 p3 . 3 .x2x1xyct Da . 2 5 .wun mu . .x2c1 Gar . mring da-sih kang nan-dhang king-kin 2 .wa sa .. 5 Buka : 1 1 5 6 .x6c5 Dhuh ja .ni 1 1 ing .ti z6x.172 3 A - 3 3 z1x. 3 5 5 5 6 3 5 3 5 6 1 2 1 2 6 5 6 2 1 2 g1 2 1 2 1 5 z!c@ 2 n1 2 n3 5 g1 n1 g1 z@x!c^ ^ z!x#x@x#x!c@ Ti . . pt. 1 2 1 2 1 5 1 5 .wun.hu .hat r t O………. 2 z3x.di 1 nu men .kang z3c5 z3x..

p6 5 5 5 z5c6 5 3 3 lun dha . . sl. p5 . 5 5 2 5 3 6 5 z!c@ 5 g3 z3x5x.la.mun da.tan pi 2 .x2c1 Te . 5 . z3x2x1x2c1 1 . 6 .mbut 1 2 2 1 z6x1x2c3 n1 z3c1 Ka. 3 . .ka 1 . 3 . .gya 2 2 z3c1 g1 A – lu – wung tu . pl. p3 . 1 a 6 2 2 6 . z3x. .me – keng la Gangsaran Lr. 5 lis 1 n1 g1 p1 n1 p1 n1 p1 1 1 1 n1 n1 n1 p1 p1 p1 n1 n1 n1 p1 p1 p1 n1 n1 n1 p1 p1 p1 g1 g1 g1 Gangsaran Lr.tyas 2 n3 . . manyura .dya . 1 . pt.173 .hat 2 2 z3c1 g3 gi . .nang . z5c6 1 z1XXXXXXXXXXXxX2c3 U 5 . pt. 5 . z3x2x1x2c1 3 . 5 gan – ti 1 lan ning . 5 5 6 2 5 3 1 . 7 .x6x5c3 Da.gang sa . .ra .

pt. pt. sl. malu.ngu pun ka-kang wu . manyura mendukung rasa kasmaran atau bercinta. 1 . . 6 . sl. pt. 6 .174 2 2 2 2 n2 n2 n2 n2 p2 p2 p2 p2 n2 n2 n2 n2 p2 p2 n2 p2 p2 n2 p2 p2 g2 g2 g2 g2 n2 n2 p2 p2 Adegan : II.duh ya-yi gar . 2 2 2 . . Rasa musikal gendhing Ketawang Kinanthi Sandhung Lr.x!x@c# z!x@x!c6 A . merayu. sl. .sun Wus da.wa ning . 6 . Ketawang Kinanthi Sandhung Lr. 1 . Iringan gendhing Ketawang Kinanthi Sandhung Lr. manyura merupakan satu-satunya dukungan rasa musikal yang diharapkan mampu mengekspresikan suasana rindu yang diaktualisasikan tokoh Sekartaji pertemuannya dengan Panji dalam asumsi mereka telah lama terpisah dan melalui perjalanan panjang baru dapat bertemu. 1 . mesra merupakan esensi yang hendak diekspresikan dalam adegan dimaksud. 1 6 y 3 ! z. y p3 1 p. .yung 1 2 6 n5 2 3 5 g3 .c! @ 2 5 t 2 @ 3 3 e 1 ! n2 g2 nt g6 n^ @ @ @ z6x. Pertemuan. Dalam adegan dua yang mengisahkan pertemuan Dewi Sekartaji dengan Panji Inukertapati suaminya dalam suasana rindu yang teraktualisasi dalam beberapa rasa: marah (jengkel). manyura .

.ka Mu-ga tan . 3 5 p3 -j. Kedudukan iringan gendhing Lambangsari pada adegan ini sifatnya mungkus dan nyawiji.ni .175 .na pun ka . 2 .ma 2 .tri n2 .j 6k 2jzX1jXXXx xj XXjx jx c2 6 zj3kx5c3 A .x3c2 Ma-ra nga-dhep.j j j 5 . 6 z.ta . .han di zj2kx1c3 kang gra wi . . dan harmonis menggunakan garap iringan yaitu gendhing Lambangsari laras slendro pathet manyura. Pada adegan bahagia yang disajikan sepasang suami-istri yakni Panji Inukertapati dan Sekartaji dalam suasana gembira. .yi wa .no-dya di .sah pi-na ri ngan y 1 2 p3 6 5 3 g2 3 j. .nu g2 da . Bentuk . mesra.ren ya-yi du .ka . 3 5 5 z5x3c563 z5x3c2 2 Ka-di-nga . .ling Ma-rang ya. .pa Ka . . 3 .kang Tu-hu wa.ga la - ti mi kang sa - Adegan : III.ngos da. 5 . .tan ang .ti.mi Mus .ning 2 .@# @ z!c@ 6 6z6x!c6 z5c3 Te-ka mle . .ta u .dhang pa 3 5 ra brang pu 3 ti Kang wus la . Bahagia.c6 ! 5 ! 3 z6x!c@ n5 6 5 6 z5x3x5x5x. .jj x Xj 2 j j 1 6 y 6 gt zj6jjjkjXXXXxx!c5 x x c5jj j 2 z3XXXXXXXXXXXXXXXxX zj1xc2 zyXx1cy XXXXXXXXXXXXXXXx ztx1c2 nan . .

kemesraan. Selain itu iringan gendhing Lambangsari pada dasarnya nyawiji dengan garap geraknya.176 mungkus ini ditinjau dari pelaksanaan vokabuler gerak yang terdapat pada adegan tiga hampir seluruhnya menggunakan pola kendangan kebar atau ciblon yang selalu membungkus pola gerak. pada adegan bahagia ini adalah untuk pencapaian harmonisasi penyajian. lagu gerongan riang dan tekanan sedang.ketat diikuti pola kendangan. dan keharmonisan antara Panji Inukertapati dan Sekartaji dapat nyawiji. Sehingga suasana bahagia yang diaktualisasikan oleh Panji Inukertapati dan Sekartaji dapat dihayati. srisik menuju ke tempat duduk temanten bersalaman dengan temanten dan kedua orang tua mempelai untuk mengucapkan selamat berbahagia. Gendhing ladrang Sigramangsah disajikan dengan tabuhan keras dengan irama sedang sebagai gambaran semangat dari Sekartaji dan Panji Inukertapati untuk menyongsong kehidupan ke depan lebih semangat. Pada bagian akhir adegan tiga sebagai penutup iringan gendhing ladrang Sigramangsah laras slendro pathet manyura. yaitu sejak Panji Inukertapati dan Sekartaji gerak Lumaksono. Keterpaduan garap tari dan garap gendhing Lambangsari dalam rangka mengekspresikan rasa gembira. Dalam hal ini pola-pola gerak tari selalu ketat. Pengertian nyawiji ini mengarah pada pemersatuan dua unsur menjadi satu yaitu unsur karawitan sebagai penghasil rasa musikal dan unsur tari. pangkon. Bentuk kristalisasi dari unsur tari yang berupa vokabuler-vokabuler gerak kebar yang dinamis dan unsur karawitan yang berupa gendhing Lambangsari dengan irama sigrak. Iringan ladrang Sigramangsah sebagai mundur beksan. Bentuk iringan adegan III yang berupa gendhing Lambangsari laras slendro . kebersamaan.

pt.3 2 5 3 ro .5 2 2 tin .wa 5 j.dak 5 j.1 di 3 3 3 zj3c5 ma .su 6 3 jz!xk@c6 kang 5 j.ju 3 1 j. sl.da 1 j.1 2 2 ing .guh 5 6 pang .5 u 2 2 ma .r ang 5 6 3 gar .ya n1 z3c2 1 .ing 5 j.wang 1 j.dha 3 5 5 3 2 2 z3c5 z5c6 6 . secara berurutan dapat dicermati paparan berikut ini.go . manyura Irama Tanggung : 1 j.5 2 2 .5 n1 z3c2 1 .ra 5 5 3 keng .5 1 1 no .1 2 2 kang se .ma 1 1 Pra .1 3 3 1 j.1 3 3 1 j.hu 6 jz5c6 se .mi 5 j.kang 6 6 weh 5 j.sa 3 3 2 2 pra .5 tu 5 1 1 .1 2 2 1 j.rang 5 j.wa 6 6 1 1 ni .177 pathet manyura dan ladrang Sigramangsah laras slendro pathet manyura.ta 3 3 2 2 mar .1 nu 6 3 3 .mba .sep .ra 1 1 jz!xk@c6 pa .3 2 2 - .5 1 1 re 2 2 bi .1 di 2 3 ta 5 j.tya 5 5 2 da 1 j.5 ing 5 j.na 2 3 ca 5 j. Lambangsari Lr.

mya 5 2 5 1 .ba 5 6 .ja 1 ang .5 n1 1 da .5 1 1 5 j.trem .sih 3 5 .6 zj5jkx.yo .cj3jz6xl1xj6jc53 sam .1 ba 6 6 3 3 lik 1 1 1 j.c@z!x jjjzjx5jx jx jxxx jx jx xk.di kang san - to .bang 6 3 jz!xk@c6 ra .sa 1 j.ngu sa .na 1 z3c2 1 .bi nga .5 a 5 j.c3 sa .5 2 2 5 j.ra gya 2 har 5 .mi wah se – tya sang dyah 6 5 tu a 2 hu yu 3 pe .na 5 3 2 2 z3c5 z5c6 6 sung ten .3 ku 2 2 5 j.ma .mi 5 j.be bu .6 6 1 6 5 2 3 jz#xj x x x x cj2j j6 kz!xj@c# x jjjjjjjjjjjjjjjjjjjxkjjj.c@z!x x x x x@c 6 jkz6jx!cjj6j j k53 li ron ba 5 as .178 dar .ing (dilakukan 2 x) war .ge .ra pri .1 a 2 3 ni 2 2 .1 2 2 1 j.pun sang 6 5 j.tan 5 5 3 kem .nya da .ga Irama Dadi : 6 5 j.1 3 3 1 j.kik 6 1 z!XXx XXx xj@kc##z x.ya 3 3 2 2 mring nim .la - tres .

1 1 5 6 6 6 2 5 1 1 3 2 3 p3 p5 p1 1 1 1 3 6 6 6 2 1 1 5 1 n2 n2 n3 g6 3 3 3 3 5 5 5 2 6 6 2 6 p1 p1 p3 p3 3 3 1 6 2 2 2 5 1 1 1 3 n6 n6 n6 g2 (sebanyak 5X) .nu-gra hyang suks .ta .ma Ladrang Sigramangsah Lr.ta 2 me .min 3 5 zk3cj5kz5c6z x jx6xjx xj jx xjx xjx xjx xj 3 jz2xjk5c3 bang ja .ya xj x!cj@zkj!xc6 da . pt. sl.sih pan tan 5 .gad han ing 2 ra .xj6xj xj c22 ck22 j jk.dya kem ka .3 5 6 1 jk. ken .xjyjx xj xj - cen sah 5 pra - nya . manyura Irama Tanggung.z2c3 ka .ron .dhat tan 3 j.zj2c31 jz.179 jzk.

rupanya menjadi lebih mantap dan bermakna karena didukung kehadiran bahasa verbal yang berupa cakepan-cakepan (syair) yang menyatu dengan irama. pt. dapat mengungkapkan suasana sedih. dan maknanya setelah Sekartaji bertemu Panji Inukertapati. sl. gangsaran 2 slendro. 5. 5. Bentuk-bentuk gendhing yang menggunakan bahasa verbal.pt. rindu. Kedua. gendhing yang menggunakan bahasa verbal terdiri dari: Pathetan Lr. Ketawang Pangkur Ngrenaswara Lr. dapat mengungkapkan suasana gembira. 5. bahagia dan maknanya: 1) Dalam kehidupan rumah tangga keberadaan . pt. jika tidak dapat bertemu.pt. sl. dapat mengungkapkan suasana marah. sang Dewi marah Panji berupaya untuk merayunya dan memberi perhatian. 5. pt. Komposit bahasa verbal dan bahasa nonverbal yang terdapat dalam Ketawang Kinanthi Sandhung Lr. pl. pl. sl. manyura dan Lambangsari Lr. sl. pl. pt. dan maknanya Dewi Sekartaji memohon kepada Dewata supaya segera dipertemukan dengan Panji Inukertapati. Komplementer bahasa verbal dan nonverbal yang terdapat dalam Ketawang Pangkur Ngrenaswara Lr. manyura. manyura. gendhing yang tidak menggunakan bahasa verbal terdiri dari: gangsaran 1 pelog. Pertama. Komposit bahasa verbal dan nonverbal yang terdapat dalam Lambangsari Lr.180 Gendhing-gendhing iringan yang terdapat dalam tari Karonsih secara garis besar dapat dibagi menjadi dua bentuk terkait dengan bahasa verbal. dan Ladrang Sigramangsah Lr.pt. pt. lagu dan tekanan gendhing. mesra. malu. ia lebih baik mati. merayu. Ketawang Kinanthi Sandhung Lr. sl. manyura. manyura. mesra. dapat mengungkapkan suasana sedih dan maknanya menjelaskan tentang liku-liku perjalanan seorang tokoh Dewi Sekartaji yang mencari Panji Inukertapati suaminya. Komposit bahasa verbal dan nonverbal yang terdapat dalam Pathetan Lr.pt. pl. selain rasa musikal yang mampu mengekspresikan suasana-suasana tertentu.

5) Kebagiaan lahir dan batin merupakan kebutuhan hidup hakiki manusia yang diupayakan secara seimbang. Ketidak hadiran bahasa verbal pada bahasa nonverbal rupanya membatasi ekspresi bahasa nonverbal yang lebih mengarah pada hayatan rasa. dapat dicermati berikut ini. manyura. dapat mengungkapkan suasana tegang. Bentuk komposit bahasa verbal sastra tembang dan bahasa nonverbal gendhing-gendhing iringan tersebut dapat mengungkapkan suasana dan mengungkapkan makna pada masing-masing adegan. dan sigrak. pt. mengayomi. 2) Tipe seorang istri yang ideal adalah selalu berupaya berbuat kebajikan. dan mampu menciptakan ketentraman keluarga. Sedangkan gendhing Ladrang Sigramangsah Lr. menarik. gagah. 3) Tipe seorang suami yang ideal adalah setia terhadap istri. sl. dan bertanggungjawab.181 dan kebersamaan suami dan istri. Bentuk gendhing yang tidak menggunakan bahasa verbal seperti gangsaran 1 pelog dan gangsaran 2 slendro. . setia terhadap suami. Dengan demikian tampak bahwa gendhing-gendhing yang tersusun untuk iringan tari Karonsih merupakan komposit bahasa verbal sastra tembang dan nonverbal gendhinggendhing karawitan untuk membangun alur adegan. sebaiknya saling mengingatkan akan tugas dan tanggungjawab masing-masing yang telah disepakati. 4) Nilai cinta adalah sebuah nilai yang universal. sehingga mampu mengekspresikan suasana pada masing-masing adegan dan mampu mengungkapkan makna tari Karonsih secara implisit seperti yang dimaksud seniman penyusun sebagai penutur. Adapun bentuk komposit bahasa verbal dengan nonverbal pada tari Karonsih. dapat mengungkapkan suasana semangat.

5 Keterangan 1 Pathetan Wantah Pasihan (percintaan) I.182 Komposit Bahasa Verbal dengan Nonverbal Tari Karonsih No Bahasa Verbal Sastra Tembang Tema. dan Rasa Vokabuler Gerak Dewi Sekartaji Bahasa Nonverbal Vokabuler Gerak Panji Inukertapati Pola lantai Iringan Hubungan Langsung Hubungan Tidak langsung Pathetan lr. Adegan. Pencarian. Sang Retnayu Dewi Sekartaji Rasa Semangat Srisik. nyempurit. pl. kanan Sang Retnayu Dewi Sekartaji Badan putar Garis V - . menthang kiri tangan nekuk tangan Garis lurus V - mencari Panji Inukertapati (suaminya). kedua - Garis lurus V - Liku-liku perjalanan Dewi Sekartaji dalam tangan nekuk yang kiri nyempurit dan kanan nyekithing Jengkar kedhaton sking Kengser. pt.

ngglebak Garis lengkung Angupadi mendranira ingkang garwa Badan nglayang Posisi di tempat V - (memutar) ke kiri. kiri nekuk. kaki njujut. menthang sampur kanan. srisik lurus mundur kemudian putar depan. Jengkar kedhaton sking Lumaksono.183 menghadap belakang. badan . Garis Lurus V - badan kanan. menghadap diikuti menthang sampur kanan dan tangan kiri nekuk.

O………. Dahat denira muwun.pl. Srisik menthang Garis lengkung Gong: ke-2 kiri. Inukertapati. memutar Sindhenan Pangkur Ngrenas: Dhuh jagad dewa bathara Welasa mring dasih Rasa Laras Sampir Posisi di V - . kengser. Ridhong sampur kiri.184 ngglebak ke kanan hadap ke depan. Pangkur Ngrenas lr. usap kiri – usap kanan Garis lengkung V - 2 Ktw. O……….pt 5 Mundur tawing Garis lurus Gong: ke-1 kiri..

tawing ingsetan. . dan memohon Ulun dhahat Teka aginggang sarambut Srisik kedua Garis lurus V pada Yang Kuasa agar segera dipertemuk Kalamun pinanggya datan Lembehan separo Posisi di tempat Rasa Aluwung lalis tumekeng Pasrah Kengser ke kanan capengan tangan kanan – kengser ke kiri capengan tangan kiri. tempat Dewi Sekartaji dalam Tinilar satuhu Dadya tyas garwa gantilaning Rasa Sedih Sekar suwun. Garis lengkung V V an dengan suaminya. kiri Garis lengkung V situasi yang sedih. sindhet. pasrah. tangan nekuk trap cethik.185 kang kingkin nandhang Berdoa sampur kanan.

. Gong: ke-4 Gong: ke-5 srisik ke pojok kiri belakang. seblak membalik tangan sampur.186 Gangsaran 1 Pelog Rasa Tegang Badan memutar Gong: ke-1 satu lingkaran dan diikuti berputarnya kedua nekuk tarung. tangan ngupu Seblak. Badan kanan. tangan kiri menthang tangan nekuk dan kanan Gong: ke-2 Srisik ke pojok Gong: ke-3 kanan depan.

Kinanthi Sandhung lr. Gong: ke-2 Gong: ke-3 Badan satu memutar lingkaran ke Gong: ke-4 menghadap depan.sl. Ktw.pt Manyura . 3 Sindhenan Kinanthi Sandhung: Cakepan a. Pertemuan.187 Gangsaran 2 Slendro Badan ngglebak ke kanan. sampur. seblak Gong: ke-1 Srisik . II.

188 a. Teka mlengos datan angkling Ukel karno kanan jengkeng nyathok Garis (njawil) bahu lengkung V - Mara ngadhepna . Gong: ke-2 V - tangan memegang sampur menutup muka. di dan merayu istrinya. kebyokan Ulap-ulap tangan Posisi laras. b. kengser ke kanan. kebyok Posisi tempat garis lurus di Gong: ke-1 Sekartaji marah terhadap Panji Inukertapati. Dewi Rasa Marah jengkeng (duduk) Srisik diikuti kedua sampur. Adhuh yayi garwa ningsun Seblak sampur laras genjot. Panji berusaha membujuk jengkeng. akhirnya luluh hati Dewi Sekartaji. kiri – kanan dan tempat besut. sambil raut lepas sampur.

maju Garis lurus Gong: ke-4 V - Apa kang wigati dadi ngembat sampur tangan kanan. maju lumaksono. kanan sampur ngglebak nyaut kanan dengan V - seblak kebyok kemudian mundur . mlengos ke kanan. Garis lurus tangan nyaut. mundur. tawing V miring ke kanan srisik.189 pun kakang berdiri enjer berdiri srisik. Garis lurus Gong: ke-3 V - nyabet ukel karna kanan Kang wus lami nandhang brangti Rasa Merayu mbalik. kanan mbalik seblak tanjak kanan sampur kanan Kadingaren duka yayi tawing kiri lumaksono kebyokan sampur.

nyandhet Garis V - asta tangkep ngaras asta lengkung . tanjak Garis lurus Gong: ke-5 ngancap. maju sambil sambil lepas kedua Garis lengkung Gong: ke-6 V - lepas kedua tangan tangan Marang wanodya di yayi srisik. kanan. – lengkung kanan tangan pondhongan kemudian jeblos tempat) tangan nyaut (tukar lalu kanan memberi sampur menerima sampur Cakepan b. tangkep mundur satu memutar. tangkep ngaras mbalik. srisik. tangkep asta. endhan jeblos lalu tangan panggel. jengkeng asta. Wus dangu pun kakang wuyung Rasa Kemesraan putar lingkaran.190 golek iwak.

laku enjer. maju Posisi kanthen tempat di Gong: ke-8 V - tangan kanan tangan kanan . tangan kanan tawing Tuhu utama wanita kanan tawing maju kanthen maju kanthen Garis lengkung Gong: ke-7 V - tangan kanan tangan kanan Mustikaning para putri kengser ke kanan. laku enjer. kanthen kanan. tangan. adu lengkung V - tangan kiri nekuk. maju. tangan kiri tangan kiri menthang. kedua kedua lepas tangan. lepas (berciuman). kanan.191 ( berciuman). srisik melingkar srisik melingkar Muga tansah pinaringan berhenti.kengser ke kanan. maju berhenti. tangan menthang. adu kiri.Garis kiri. maju. tangan kiri nekuk.

lepas tangan. mundur seblak sampur Garis lenkung V - 4 Gerongan Lambangsari: Cakepan a. srisik kanthen tangan kanan. Lambang sari pt manyura lr. mundur seblak sampur. Pra wanita marsudiya marang tindak kang utama Rasa Gembira ulap-ulap kiri trap jamang. lepas tangan.192 Kanugrahan kang salami srisik kanthen tangan kanan. kenong ke1 - V Tipe seorang istri yang adalah ideal Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada ukel karno ulap-ulap kiri Garis lengkung kenong ke2 - V selalu berupaya berbuat kebajikan. Posisi tempat di Gong: 1. setia terhadap .sl.

kenong ke1 - V Tipe seorang suami yang ideal adalah setia terhadap Datan kemba asih tresna sung tetreming kulawarga rimong sampur pacak ingsetan gulu Garis lengkung kenong ke2 V - istri. menarik. dan mampu . mengayomi.193 Ingkang bisa nujuprana weh reseping pamicara luluran lembehan sampur Garis lengkung kenong ke3 V suami. dan bertanggung jawab trap Nora kengguh ing panggodha darbe budi kang santosa kanan sumping laku telu Garis lengkung kenong ke4 - V Rasa Mesra Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira kebyokan sampur ukel karno bokor Garis sinangga lengkung Gong: ke2.

mundur tangan. Pra wanita marsudiya marang tindak kang utama trap jamang ulap-ulap kiri tawing Posisi tempat di 3: kenong ke1 V laku telu Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada pondhongan sampur Garis lengkung kenong ke2 V - Ingkang bisa nujuprana weh reseping pamicara kanthen kanan tangan kanthen kanan tangan Garis lurus kenong ke3 V - .194 menciptakan Sampun sami setya tuhu anggenya liron asmara kebyokan sampur – ngenceng kanan kebyokan sampur Garis lengkung kenong ke3 V ketentraman keluarga. lepas tangan lepas tangan Gong: keCakepan b. kanthen srisik kanthen Garis mundur lengkung kenong ke4 V - Cinta adalah sebuah nilai yang universal. srisik Karonsih pranyata kembang raya pancen dadya jagad tangan.

ukelan Garis lengkung Gong: ke4: kenong ke1 - V Datan kemba asih tresna sung tetreming kulawarga alisan inguk-ingukan (melihat) Garis lengkung kenong ke2 V - Sang pekik wah sang dyah ayu dangu samya bagyaharja lumaksono encot kanthen tangan lumaksono encot Garis lurus kanthen tangan kenong ke3 V - .195 Nora kengguh ing panggodha darbe budi kang santosa kanthen kiri tangan kanthen kiri tangan Garis lengkung kenong ke4 V - Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira jengkeng tangan ngilo tangan (merias).

pt.196 Rasa bahagia. tangan kiri lengkung kiri menthang sampur menthang sampur lumaksono lembehan sampur kanan lumaksono lembehan sampur kanan Garis lurus Gong: ke-1 pangkon ulap-ulap pangkon ulap-ulap Posisi tangan kiri tangan kanan tempat di Gong: ke-2 . Sigra mangsah lr.sl. Kebagiaan dunia akhirat Tan kendhat tansah meminta kanugrahan ing Hyang Suksma srisik tangan tangan kanthen srisik kanthen Garis kenong ke4 V merupakan kebutuhan hidup hakiki manusia yang Ldr. dan kanan. manyura diupayakan secara seimbang. tangan.

197 srisik kanthen tangan.a . masuk (selesai). bersalaman dengan temanten srisik kanthen tangan. bersalaman dengan temanten Garis lurus Gong: ke-3 bersalaman dengan bersalaman kedua dengan kedua Gong: ke-4 orang tua temanten orang tua temanten dan photo bersama dan photo bersama temanten temanten srisik kanthen tangan srisik kanthen kanan. Garis lengkung Gong: ke-5 kanan. tangan masuk (selesai).

198

Dari komposit bahasa verbal dan nonverbal pada tari Karonsih terdapat hubungan yang bersifat langsung dan tidak langsung. Hubungan bahasa verbal dan nonverbal bersifat langsung artinya bahwa maksud bahasa verbal sesuai dengan bentuk bahasa nonverbal. Sedangkan hubungan bahasa verbal dan nonverbal bersifat tidak langsung artinya bahwa maksud bahasa verbal tidak sesuai dengan bentuk bahasa

nonverbal. Secara kuantitatif hubungan bahasa verbal dan nonverbal yang bersifat langsung tampak lebih mendominasi dibandingkan dengan yang tidak langsung. Adapun persentasenya dapat dicermati pada uraian berikut.

Tari Karonsih No Adegan Hubungan bahasa verbal dengan nonverbal 1 2 3 4 5 I, II, dan III I, II, dan III Langsung Tidak langsung 31 8 39 79,48 %, 20,52 % jumlah

Jumlah hubungan langsung dan tidak langsung = 31+ 8 Jumlah persentase hubungan langsung = 31: 39 X 100. Jumlah persentase hubungan tidak langsung = 8: 39 X 100.

2. Tari Bondhan Sayuk. Tari Bondhan Sayuk merupakan tari tradisi gaya Surakarta jenis pasangan silang jenis karakter putri dengan putra madya yang bertemakan percintaan sepasang insan manusia yang berjenis kelamin pria dan berjenis kelamin wanita. Pada dasarnya tarian ini tidak mengisahkan tokoh tertentu tetapi mengekspresikan cinta kasih sepasang suami istri secara universal terhadap anak laki-laki dan harapan-harapan serta keinginannya

199

supaya kelak menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan negara. Karya tari Bondhan Sayuk disusun oleh Sunarno pada tahun 1979. Tari ini pertama kali dipentaskan pada sebuah resepsi ritual perkawinan di gedung Bathari. Tema yang diangkat menggambarkan percintaan manusia secara universal, yang lebih mengarah pada perjalanan hidup sepasang manusia dari kalangan rakyat. Menurut Sunarno, tari Bondhan Sayuk lebih tepat untuk gambaran sepasang temanten maupun sebuah keluarga baru yang belum memiliki anak (wawancara, 2008). Gagasan awal terciptanya tari Bondhan Sayuk adalah sebuah ekspresi pribadi Sunarno yang menginginkan anak laki-laki untuk putera pertamanya. Keinginan

tersebut rupanya diridhohi oleh Sang Pencipta, anak pertama laki-laki bahkan anak kedua juga laki-laki dan anak ketiganya baru putri. Dalam perjalanan waktu tari Bondhan Sayuk sangat diminati oleh masyarakat hingga sekarang, yang pertama merupakan hiburan yang tepat dalam sebuah resepsi perkawinan dan kedua dimaknai sebagai simbolik sepasang suami dan istri yang hidup bahagia yang layak untuk diteladani sepasang temanten. Pesona yang memikat dari tari Bondhan Sayuk adalah digunakannya boneka sebagai simbolik anak yang selalu ditimang-timang dan diharapkan memberikan kekuatan magis simpatetis terhadap sepasang temanten, yaitu supaya lekas diberi anak. Jika dirunut dari bahasa verbalnya akan tampak bahwa harapan-harapan yang tersurat dan tersirat menunjukkan adanya sebuah keinginan, harapan sepasang suamiistri terhadap anak laki-laki kelak menjadi orang yang berperilaku baik dan berguna bagi masyarakat untuk membangun bangsa dan negara. Bentuk tari Bondhan Sayuk terdiri dari dua komponen pokok, yakni sastra tembang yang merupakan bahasa verbal dan

200

bahasa nonverbal yang berupa: tema, kinetic body moves, polatan (ekspresi wajah), rias, busana, pola lantai, dan iringan. Sastra tembang yang merupakan bahasa verbal tari Bondhan Sayuk, terdiri dari beberapa garap lagu, yakni: (1) garap sindhenan Mijil Sulastri: sakpupuh (satu bait), (2) garap jineman Sayuk: rong pupuh (dua bait), dan (3) garap gerongan Ladrang Sayuk: rong pupuh (dua bait). Dari masing-masing garap lagu tersebut dapat dicermati berikut ini.

a. Bahasa verbal.

(1). Teks Sindhenan Mijil Sulastri Dhuh mas rara, garwaku wong manis, Aja gawe kagal, Amung sira yekti sulistyane, Jumbuh klawan rasaningtyas mami, Binerkahan ugi, Prasetya wak-ingang.

Terjemahan:

Wahai si cantik, istriku yang manis, Jangan membuat kesal, Hanya kamulah yang benar-benar cantik, Sesuai dengan rasa yang terdapat dalam hatiku, Semoga mendapat berkah, Janji kesetiaanku.

201

Jenis –jenis TT yang melekat pada teks Sindhenan Mijil Sulastri

No

Penutur (Pn)

Bahasa Verbal : teks Sindhenan Mijil Sulastri

Jenis – jenis TT

Pemarkah

Pria (Pn) 1 Pria (Pn) 2 Pria (Pn) 3

Dhuh mas rara, garwaku wong manis, Aja gawe kagal, Direktif Amung sira yekti Ekspresif Ekspresif

wong manis

aja

sulistyane

sulistyane,

Pria (Pn)

Jumbuh

klawan

Asertif

Jumbuh

rasaningtyas mami, Pria (Pn) 4 Pria (Pn) 5 Prasetya wak-ingang. Komisif Binerkahan ugi, Direktif prasetya ugi

Konteks. Identifikasi / latar. a. Peserta tutur: Pria (Pn). Wanita (Pt), ia merespon dengan gerak tanpa tuturan.

b. Tema / topik: percintaan atau kasmaran.

202

c. Tujuan: suami menghendaki istri supaya tidak lekas marah, mengingat kasih asmara suami terhadap istri merupakan cinta yang tulus. d. Status sosial: penari pria sebagai seorang suami, ia digambarkan sebagai figur seorang suami yang bertanggungjawab dan sangat setia terhadap istri. Penari wanita sebagai seorang istri, ia digambarkan sebagai figur seorang istri yang sangat setia terhadap suami. e. Tempat: di rumah. f. Situasi tutur: tidak formal. g. Gerak: kedua penari, pria dan wanita srisik bersama, tangan kanan saling berpegangan (nyathok) dan tangan kiri lurus ke samping (menthang) menuju stage. Secara perlahan-lahan keduanya lumaksono ridhong, srisik menuju tengah stage, berhenti laku enjer menthang tangan kiri, kemudian putra besut dan putri sindhet merupakan gambaran rasa kebersamaan. Rasa kecewa diekspresikan istri lewat jengkeng, sekaran laras kebyokan, sembahan, berdiri meninggalkan suami sambil kebyokan tangan kanan-kiri kemudian suami gerak nyabet tangan kanan, besut, mendekati istri untuk merayu dengan gerak hoyogan, gajah-gajahan, songgonompo – mbalang. Rasa mesra mulai tampak ketika masing-masing peran suami dan istri saling mendekat dan berciuman dengan gerak kengser dan ngaras. Selanjutnya gerak lincak gagak bersama, suami hendak memegang istri menghindar. Suami dan istri saling mendekat, saling berpegangan tangan kemudian srisik kanthen tangan kanan sebagai gambaran awal kemesraan. h. Polatan / ekspresi wajah: ketika rasa kebersamaan masih terbina, wajah suami dan wajah istri tampak cerah dan gembira. Pada saat istri merasa kecewa

203

pandangan muka selalu menghindar dari tatapan mata suami dan pandangan mata istri banyak mengarah ke bawah. Suasana berubah menjadi semakin mesra wajah suami dan wajah istri tampak semakin cerah dan pandangan mata tampak sering saling melihat. i. Pola lantai: didominasi garis-garis lengkung. j. Iringan gendhing: Srepek Rangu-rangu dan Ketawang Mijil Sulastri untuk mendukung suasana kasmaran atau bercinta. Implikatur Kagal : Sulistyane: perasaan marah. kecantikan rupa dari seorang wanita.

Jumbuh klawan rasaningtyas: kecocokan hati yang membuat senang seseorang. Prasetya wak-ingang: ungkapan yang mengisyaratkan sebuah perjanjian tentang kesetiaan. Implikatur bahasa verbal Sindhenan Mijil Sulastri adalah ungkapan cinta yang mendalam seorang suami terhadap istrinya, dengan harapan mendapatkan perhatian demi terjalinnya kasih cinta untuk harmonisnya sebuah rumah tangga. Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Sindhenan Mijil Sulastri dapat diungkap: a. Maksim kuantitas dilanggar. b. Maksim kualitas dipatuhi. c. Maksim hubungan dipatuhi. d. Maksim cara dilanggar.

Direktif baya iki 3 Wanita (Pn) Bapakne sithole. Bapakne sithole. Ayahnya anak laki-laki (suamiku). 2) melakukan TT secara tidak langsung (off record). (2). Sawahnya tengah menanti. Mbesuk pinter nyambut gawe. berangkatlah bekerja. Teks Jineman Sayuk Dhuh mas jiwaku. Peneliti timang-timang anakku yang paling bagus. sekarang sudah saatnya.204 Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Sindhenan Mijil Sulastri. Sakdurunge anakmu gawanen mrene. Mbokne thole. Terjemahan: Wahai belahan jiwaku. Asertif bapakne . Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Jineman Sayuk No Penutur (Pn) / Petutur (Pt) Bahasa Verbal Teks Jineman Sayuk Jenis – jenis TT Pemarkah Wanita (Pn) 1 2 Wanita (Pn) Dhuh mas jiwaku. Tak kudange anakku sing bagus dhewe. mangkat makarya. baya iki wus wanci. Besuk menjadi anak yang pandai bekerja. Sawahmu tansah anganti. Sebelumnya anakmu bawalah kemari. Ibunya anak laki-laki (istriku). menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif. Patik dhuh mas baya iki wus wanci.

b. a. pinter Direktif mbesuk pinter Konteks. . Pria (Pt). Hal ini adalah untuk menunjukkan rasa kasih sayang dan kemesraan suami terhadap anak dan istri. 8 Pria (Pt) Tak kudange anakku sing bagus dhewe. Peserta tutur: Wanita (Pn). tansah Asertif sawahmu 6 Pria (Pt) Mbokne thole. Tema / topik: kekudangan (menimang bayi sambil bersenandung) c. Ekspresif bagus 9 Pria (Pt) Mbesuk nyambut gawe. Direktif mangkat 5 Wanita (Pn) Sawahmu anganti. Tujuan: istri mengingatkan akan pekerjaan suami. Identifikasi / latar. Kesadaran suami sebagai kepala rumah tangga menyambut kehendak istrinya dengan rasa senang untuk itu sebelum berangkat bekerja mereka saling menimang bayi sambil bersenandung secara bergantian.205 Wanita (Pn) mangkat makarya. Asertif mbokne 7 Pria (Pt) Sakdurunge anakmu Direktif gawanen gawanen mrene.

. Gerak: istri srisik sambil menimang anak. lembehan tangan kanan. Penari wanita sebagai seorang istri. Polatan / ekspresi wajah: suami dan wajah istri tampak cerah dan gembira. ia digambarkan sebagai figur seorang istri yang sangat setia terhadap suami. e. Selanjutnya istri tawing kanan.206 d. Tempat: di rumah. Status sosial: penari pria sebagai seorang suami. suami merasa gembira dan bahagia secara perlahan-lahan mendekat. tangan kiri memegang bahu istri dan tangan kanan memegang anak sambil memperhatikan dengan tawing kanan. maju srisik mendekati suami untuk memberikan anaknya dan suami juga mendekat dengan lumaksono untuk menerimanya. h. Istri mulai bersenandung mengingatkan pekerjaan terhadap suami dengan gerak tawing kanan sambil memandang suami sedangkan suami menyambut baik dengan gerak ukel karno kanan yang kemudian mendekati dengan gerak srisik. g. f. Istri meminta perhatian suami terhadap anak yang ditimang dengan gerak putar ke kanan. ia digambarkan sebagai figur seorang suami yang bertanggungjawab dan sangat setia terhadap istri. Suami menimang anak sedangkan istrinya meledek dengan tawing kiri-tawing kanan. Situasi tutur: tidak formal. Pandangan mata suami dan istri banyak terfokus pada anak dan mereka juga sering saling berhadapan. putar ke kiri–tangan kanan ukel karno sedangkan suami mendekat menanggapi dengan gerak panggel dan pandangan mengarah ke istri dan anaknya.

Iringan gendhing: jineman Sayuk untuk mendukung suasana kekudangan yang merepresentasikan rasa senang. Sawahmu tansah anganti: pernyataan yang dimaksudkan tentang sebuah pekerjaan. seorang istri mempunyai peranan cukup penting dalam mendukung tugas dan kewajiban peran suami sebagai kepala . j. Dalam rangka memenuhi kebetuhan tersebut masing–masing individu yang terlibat dalam keluarga memiliki peran secara proporsional. Implikatur bahasa verbal Jineman Sayuk mengisyaratkan bahwa dalam sebuah keluarga kebutuhan jasmani dan rohani harus seimbang. Implikatur Mas jiwaku: panggilan seorang kekasih. Mbokne thole: panggilan seorang ibu yang biasa untuk masyarakat pedesaan untuk menunjukkan keakraban. Pola lantai: didominasi garis-garis lengkung. Berdasarkan kasih cinta untuk menciptakan keharmonisan keluarga. Tak kudange: menimang bayi sambil bersenandung yang berisi tentang nasehat dan harapan-harapan orang tua terhadap anaknya. Makarya: bekerja. Mbesuk pinter: sebuah harapan orang tua yang menghendaki anaknya kelak menjadi orang yang pandai. Bapakne sithole: panggilan seorang ayah yang biasa untuk masyarakat pedesaan untuk menunjukkan keakraban.207 i. Masing-masing individu mempunyai tanggungjawab terhadap tugas dan kewajiban untuk memenuhi tuntutan kebutuhan keluarga.

Adhuh lae. atak adhuh lae. menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif. d. Terjemahan: Memang baik karakternya. Maksim kualitas dipatuhi. Tindakannya tidak boleh menyeleweng. Lincah. atak adhuh lae. Adhuh lae. namun juga harus disadari bahwa untuk mencukupi kebutuhan rumahtanggga diperlukan kerja keras. Adhuh lae. cukat trampil tumandange. atak adhuh lae. trampil dalam bekerja. Adhuh lae. wis mbokne enyoh anake sun arsa mangkat megawe. Bekerja keras untuk bangsa. Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Jineman Sayuk dapat diungkap: a. Maksim cara dilanggar. Teks Gerongan Ladrang Sayuk Adhuh lae. . dasar bregas ten atene. atak adhuh lae. (3). atak adhuh lae. Istriku. atak adhuh lae. b.208 keluarga. labuh labet mring bangsane. Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Jineman Sayuk. c. anteng tajem polatane. peneliti akan berangkat bekerja. Adhuh lae. Tenang fokus pandangannya. Maksim hubungan dipatuhi. Kesombongannya dihilangkan. 2) melakukan TT secara tidak langsung (off record). Implikatur bahasa verbal Jineman Sayuk yaitu kegembiraan pasangan suami istri sebuah keluarga semakin mantap ketika telah diberi anak. Adhuh lae. ora nyleweng tumindake. atak adhuh lae. sesongaran disingkirke. Maksim kuantitas dilanggar. bawalah anakmu sekarang.

disingkirke. 4 Pria (Pn) Adhuh lae. anteng tajem Ekspresif anteng tajem polatane. atak adhuh lae.209 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Gerongan Ladrang Sayuk No Penutur (Pn) 1 Bahasa Verbal : Teks Gerongan Ladrang Sayuk Jenis –jenis TT bregas Ekspresif Pemarkah Pria (Pn) Adhuh lae. ora nyleweng Direktif ora nyleweng Direktif Labet mring sesongaran Direktif disingkirke tumindake. atak adhuh lae. 6 Pria (Pn) Adhuh lae. atak adhuh lae. atak adhuh lae. wis mbokne enyoh anake sun arsa mangkat megawe. atak adhuh lae. Direktif enyoh anake . atak adhuh lae. 5 Pria (Pn) Adhuh lae. dasar bregas ten atene. 3 Pria (Pn) Adhuh lae. cukat trampil Ekspresif Cukat trampil tumandange. 2 Pria (Pn) Adhuh lae. atak adhuh lae. labuh labet mring bangsane. 7 Pria (Pn) Adhuh lae.

ia digambarkan sebagai figur seorang suami yang bertanggungjawab dan sangat setia terhadap istri. e. Wanita (Pt). f. Status sosial: penari pria sebagai seorang suami. Setelah istri menimang anak beberapa saat. d. . ia merespon dengan gerak tanpa tuturan.210 Konteks. Tujuan: suami mengharapkan supaya anak yang masih dalam timangan tersebut kelak menjadi orang yang berperilaku baik dan berguna bagi masyarakat lingkungannya. Tempat: di rumah. g. a. Anak diberikan istri sedangkan suami meledeknya dengan ogekan. ia digambarkan sebagai figur seorang istri yang sangat setia terhadap suami. Tema / topik: kekudangan (menimang bayi sambil bersenandung) c. Gerak: diawali suami menimang-nimang anak dengan lumaksono yang diikuti istri lumaksono lembehan sampur dan kawilan. tangan kanan menthang sampur dan lilingan. Peserta tutur: Pria (Pn). Hal ini untuk menunjukkan rasa kasih sayang orang tua terhadap anak dan istrinya. b. Situasi tutur: tidak formal. suami gerak lumaksono sambil menanti kedatangan istri. kemudian anak diberikan kepada temanten putri dengan srisik. Penari wanita sebagai seorang istri. Identifikasi / latar.

Labuh labet mring bangsane: sebuah ungkapan yang berusaha mengedepankan kepentingan umum. pernyataan tentang kelincahan dan ketrampilan dalam bekerja. Pandangan mata suami dan istri banyak terfokus pada anak dan mereka juga sering saling berhadapan. j. Implikatur Bregas ten atene: Cukat trampil: Anteng tajem: ungkapan tentang sikap dan perilaku yang baik.211 h. Polatan / ekspresi wajah: suami dan wajah istri tampak cerah dan gembira. Sesongaran: sikap sombong. Implikatur bahasa verbal Gerongan Ladrang Sayuk. gembira. dan bahagia. Implikatur bahasa verbal Gerongan Ladrang Sayuk pada tari Tari Bondhan Sayuk. Iringan gendhing: Ladrang Sayuk untuk mendukung suasana kekudangan yang merepresentasikan rasa senang. yaitu tanggungjawab sebagai orang tua dalam mempersiapkan . dan mengutamakan kepentingan umum untuk membangun bangsa. mengisyaratkan tentang beberapa harapan orang tua terhadap seorang yang berperilaku baik mengutamakan kebajikan. i. yang biasanya untuk dihindari. kerja keras. Pola lantai: didominasi garis-garis lengkung. Ora nyleweng : berperilaku baik dengan menghindari hal-hal yang mengarah pada perbuatan atau tindakan yang melanggar norma atau aturan yang berlaku. ungkapan tentang keramahan dan kehalusan perangai seseorang yang diamati dari ekspresi wajah.

(4). Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Gerongan Ladrang Sayuk.212 pendidikan anak sebagai generasi penerus yang memiliki kepribadian baik. sayuk. Kebersamaan semuanya. b. Kebersamaan dalam bekerja. berwawasan luas sehingga berguna bagi kehidupan sosial masyarakat. sayuk. Maksim kualitas dilanggar. Maksim cara dilanggar. Maksim hubungan dilanggar. d. nyambut gawe. Maksim kuantitas dilanggar. sayuk. c. sayuk. Teks Gerongan Lancaran Sayuk Sayuk. Sayuk. 2) melakukan TT secara tidak langsung (off record). sayuk. Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Gerongan Ladrang Sayuk dapat diungkap: a. sakancane. sayuk. Kebersamaan dalam membangun negara. . menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif. sakabehe. Sayuk. Sayuk mbangun negarane. Terjemahan: Kebersamaan dengan teman.

sayuk. ia merespon dengan gerak tanpa tuturan. Tema / topik: makarya (bekerja). nyambut gawe. sayuk. Direktif sayuk sakancane 2 Nr Sayuk. Identifikasi / latar. Wanita . Direktif sayuk sakabehe 4 Nr Sayuk negarane. sakabehe. sayuk. a. sayuk. mbangun Direktif sayuk mbangun Konteks. .213 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Gerongan Lancaran Sayuk No Narator (Nr) Bahasa Verbal : Teks Gerongan Lancaran Sayuk Jenis – jenis TT Pemarkah 1 Nr Sayuk. b. Direktif sayuk nyambut gawe 3 Nr Sayuk. sayuk. sakancane. ia merespon dengan gerak tanpa tuturan. Pria . sayuk. Peserta tutur: Narator.

e.214 c. gerak yang dipilih antara pasangan suami dan istri berupa sekaran-sekaran yang dapat diekspresikan secara dinamis untuk menimbulkan kesan semangat dalam keadaan riang dan gembira. ia digambarkan sebagai figur seorang suami yang bertanggungjawab dan sangat setia terhadap istri. Arah Pandangan mata suami dan istri saling menatap. Tempat: di luar rumah. tawing kiri. g. i. Sekaran untuk ekspresi peran suami terdiri dari: laku telu pondhongan. lilingan kebyok sampur. h. Sebagai penutup sepasang suami istri saling mendekat bergandengan tangan kemudian srisik kanthen tangan kanan menuju tempat duduk temanten mengambil boneka anak. Wujud Kinetic body moves yang dipilih untuk istri sekaran luluran. enjer ridhong muter. . Pola lantai: didominasi garis-garis lengkung. d. f. ia digambarkan sebagai figur seorang istri yang sangat setia terhadap suami. berhadapan dan didukung dengan saling melempar senyuman sehingga tampak gembira dan bahagia. Gerak: pada implementasinya. lilingan kebyok sampur dan enjer muter. Tujuan: suami maupun istri saling mengajak dan memberi dorongan semangat untuk bekerja secara bersama-sama dalam menyelesaikan pekerjaan dengan suasana gembira. Penari wanita sebagai seorang istri. Status sosial: penari pria sebagai seorang suami. Polatan / ekspresi wajah: suami dan wajah istri tampak cerah dan gembira. dan enjer muter. Situasi tutur: tidak formal.

Maksim hubungan dilanggar.215 j. gembira. seluruhnya dalam berbagai kegiatan. harmonis. damai. dan bahagia. Implikatur bahasa verbal Gerongan Lancaran Sayuk pada tari Tari Bondhan Sayuk adalah gambaran kehidupan sebuah keluarga yang rukun. Implikatur Sayuk : sebuah ajakan dalam bekerja untuk bersama-sama dengan dorongan semangat. dan berupaya menjalani kehidupan secara bersamasama. . Iringan gendhing: Lancaran Sayuk dengan irama dinamis untuk mendukung suasana kekudangan yang merepresentasikan rasa riang. Sakancane: Nyambut gawe: Sakabehe: bersama-sama dengan teman. b. Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Gerongan Lancaran Sayuk dapat diungkap: a. Maksim kuantitas dilanggar. Kebahagiaan sebuah keluarga yang dilandasi rasa cinta akan memberikan spirit yang kuat dalam berbagai aktifitas dalam aktualisasi publik. c. Maksim kualitas dilanggar. bekerja.

Maksim kualitas yang dilanggar dimaksudkan oleh penutur bahwa tuturan yang berupa tembang dimanfaatkan untuk mengekspresikan rasa lagu. banyak menggunakan kata-kata arkais dimaksudkan oleh penutur untuk mengekspresikan rasa estetik. b.216 d. menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif. 2) mlakukan TT secara tidak langsung (off record). Dari penjabaran bahasa verbal yang terdapat dalam tari Bondhan Sayuk terdapat beragam jenis tindak tutur yang dapat peneliti klasifikasikan secara kuantitatif sebagai berikut: NO 1 2 3 4 5 6 7 JENIS TINDAK TUTUR Tindak Tutur Direktif Tindak Tutur Ekspresif Tindak Tutur Asertif Tindak Tutur Komisif Tindak Tutur Patik Tindak Tutur Performatif Tindak Tutur Verdiktif JUMLAH 14 6 4 1 1 - Berdasarkan prinsip kerja sama bahasa verbal yang terdapat tari Bondhan Sayuk: a. Maksim kualitas ada yang dilanggar juga ada yang dipatuhi. Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Gerongan Lancaran Sayuk. Maksim kuantitas dilanggar karena dalam menyampaikan tuturan seorang penutur. Sedangkan . Maksim cara dilanggar.

dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur. 2) Melakukan tindak tutur secara tidak langsung (off record) untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa. terlalu panjang. menggunakan strategi: 1) Melakukan tindak tutur dengan menggunakan kesantunan positif untuk menunjukkan kedekatan. Hal ini dimaksudkan seniman penyusun untuk menunjukkan simbolisasi keharmonisan hubungan antara peran digambarkan dalam tari. Maksim hubungan ada yang dilanggar juga ada yang dipatuhi. keintiman. Maksim cara dilanggar karena dalam menyampaikan tuturan seorang penutur. suami dan istri yang . masing-masing hendaknya memberikan kontribusi yang relevan demi terjadinya komunikasi rasa. Maksim hubungan yang dilanggar dimaksudkan oleh penutur bahwa tuturan yang berupa tembang tersebut diharapkan dapat sebagai sarana komunikasi rasa. dan pernyataannya samar. hal ini dimaksudkan seniman penyusun untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa. Sedangkan maksim hubungan yang dipatuhi dimaksudkan oleh penutur untuk menjaga kerja sama antara penutur dengan mitra tutur. Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada tari Bondhan Sayuk. tidak langsung. d.217 maksim kualitas yang dipatuhi dimaksudkan oleh penutur untuk menggambarkan peristiwa yang betul-betul terjadi pada masing-masing adegan. c.

rias. Bahasa Nonverbal Bahasa nonverbal tari Bondhan Sayuk terdiri dari: tema. Untuk mewujudkan cita-cita yang mulia tersebut. pola lantai. Bentuk tema yang diangkat pada tari Bondhan Sayuk adalah tema percintaan sepasang manusia laki-laki dan perempuan secara universal. Liku-liku perjalanan cinta sepasang suami istri beserta anak laki-lakinya dalam menjalani kehidupan yang penuh harapan-harapan terkait dengan prospek masa depan anak untuk partisipasinya pada pembangunan bangsa dan negara. mangkat makarya. Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa berlandaskan rasa cinta yang mendalam seorang istri mengingatkan. sejarah. seperti tersurat pada cakepan Jineman Sayuk pada bagian awal yang berbunyi: Dhuh mas jiwaku. untuk itu seorang suami dituntut harus bekerja secara sungguh-sungguh. babad. Pasangan kekasih tersebut bukan merupakan gambaran dari tokoh tertentu dari sebuah cerita.218 b. baya iki wus wanci. kinetic body moves. 1. polatan (ekspresi wajah). tetapi merupakan reaktualisasi dari imajinasi sepasang suami istri yang telah dianugerai seorang anak laki-laki yang masih dalam timangan. dan iringan. . sepasang suami istri memiliki tugas dan tanggungjawab untuk membina dan mendidik anak sedini mungkin supaya dapat tercapai harapannya. busana. Sawahmu tansah anganti. Selain dapat memenuhi kebutuhan yang bersifat rohani juga tidak dapat mengabaikan kebutuhan yang bersifat jasmani sebagai sarana penopang kebutuhan hidup sehari-hari.Tema. menghendaki dan mendukung suami untuk bekerja demi kelangsungan hidup keluarga. atau dongeng. Bapakne sithole.

pekerja profesional. b). b) adegan kekudangan (menimang bayi sambil bersenandung) . Dari tema percintaan sepasang suami-istri yang sifatnya universal tersebut. dan tegang. .219 Bentuk sajian dari tema percintaan yang diangkat pada tari Bondhan Sayuk tersebut aktualisasinya diperankan oleh: suami dan istri. berpartisipasi aktif dalam pembangunan bangsa dan negara. yang menggunakan properti berupa boneka yang dibalut sehelai kain sebagai simbolik anak (bayi). untuk aktualisasinya akan membentuk sebuah alur yang terbagi menjadi beberapa adegan: a) adegan kasmaran (percintaan). mengambil anaknya. Adegan kekudangan mengungkapkan rasa gembira dan rasa bahagia. istri menjadi luluh hatinya yang kemudian mereka berdua saling beradu cinta. tidak menyeleweng. Gambaran adegan kasmaran mengungkapkan rasa kecewa. Setelah kemesraan berakhir istri meninggalkan suami untuk suasana menjadi tegang. a) adegan kasmaran menggambarkan sepasang suami dan istri yang sedang memadu cinta. c) adegan makarya (bekerja). tidak sombong. Adegan kekudangan menggambarkan kegembiraan dan kebahagiaan sepasang suami dan istri yang telah dikaruniai seorang anak laki-laki yang diharapkan menjadi pewaris keturunan dan berguna bagi pembangunan bangsa dan negara. Adapun bentuk aktualisasinya diwujudkan sepasang suami dan istri yang sedang menimang bayi secara bergantian sambil bersenandung tentang harapan-harapan mulia sebagai orang tua terhadap anak laki-laki kelak setelah menjadi orang dewasa. Harapan-harapan mulia kedua orang tua terhadap anak laki-lakinya kelak menjadi orang yang memiliki kepribadian yang baik. atas rayuan suami dengan sanjungan atau pujian. Pada awalnya istri kurang perhatian terhadap suami. mesra.

kekudangan. Berawal dari alunan kendhang sebagai pembukaan yang . di sini bentuk-bentuk vokabuler geraknya tidak tampak gerak orang makarya / bekerja. Gerak tubuh pada tari Bondhan Sayuk adalah kristalisasi dari beberapa unsur gerak tradisional yang bersumber pada tarian tradisional karaton Kasunanan yang lebih dikenal gaya Surakarta. yang kemudian makarya dapat ditarik benang merahnya bahwa kehidupan sebuah keluarga yang didasari rasa cinta mendambakan kemesraan. Adegan kasmaran merupakan adegan pertama yang secara garis besar menggambarkan sepasang suami dan istri sedang memadu cinta. Rasa yang hendak diekspresikan pada adegan ini yaitu puncak kegembiraan dan kebahagiaan. kedamaian dan kebahagiaan berupaya menyeimbangkan akan kebutuhan rohani yang teraktualisasi dalam adegan kasmaran berlanjut adegan kekudangan dan kebutuhan jasmani yang tergambar dalam adegan makarya. Jika dicermati dari alur adegan dari kasmaran. keharmonisan. Selengkapnya peristiwa adegan kasmaran tersebut terkait dengan Kinetic body moves akan digambarkan secara kronologis sebagai berikut.. tetapi bagaimana vokabuler gerak tersebut mampu mengungkapkan rasa sesuai dengan kehendak penyusun. Pola-pola gerak yang digunakan untuk gambaran-gambaran pada masing-masing adegan tidak selalu dapat dengan mudah menunjukkan aktifitas yang tengah terjadi.220 c). Beberapa vokabuler gerak yang berupa sekaran memiliki karakteristik beragam pula. 2. Kinetic body moves atau Gerak tubuh. Adegan makarya merupakan gambaran semangat bekerja secara bersamasama antara suami dan istri dengan suasana gembira. Artinya pola-pola gerak yang digunakan dalam tari tidak selalu merepresentasikan secara vulgar dan jelas maksud penyusun yang tersurat pada bahasa verbalnya. Seperti gambaran adegan makarya.

Istri srisik sambil menimang bayi menuju ke stage mendekati putra. Secara perlahan-lahan keduanya lumaksono ridhong. sembahan. adapun bentuk iringan yang mendukung suasana ketegangan tersebut adalah lancaran lr. kembali maju srisik. srisik menuju tengah stage.. mundur srisik. Rasa mesra mulai tampak ketika masing-masing peran suami dan istri saling mendekat dan berciuman dengan gerak kengser dan ngaras. Kebingungan semakin tampak. berdiri meninggalkan suami sambil kebyokan tangan kanan-kiri sedangkan penari putra nyabet tangan kanan. pt. berhenti tanjak. Perasaan suami tegang. pt. Iringan Ketawang Mijil Sulastri lr. khawatir dengan kengser mundur pelan-pelan. mendekat hoyogan.221 diikuti secara bersama alunan seluruh ricikan balungan atau instrumen gamelan yang terkemas dalam Srepek Rangu-rangu lr. tangan kanan saling berpegangan (nyathok) dan tangan kiri lurus ke samping (menthang) menuju stage. istri meninggalkan putra dengan gerak srisik kipat sampur dan suami mencoba lari untuk mencegah istri namun tidak dapat dengan gerak srisik. . kemudian putra besut dan putri sindhet merupakan gambaran rasa kebersamaan. pl. putra sebagai suami dan putri sebagai istri srisik bersama. saling mendekat srisik kanthen tangan kanan. gajah-gajahan. sekaran laras kebyokan. barang. berhenti laku enjer menthang tangan kiri. barang untuk mendukung rasa kecewa dan rasa mesra. Suasana tegang diungkapkan istri mulai menjauh dengan gerak tawing kiri dan laku enjer sedangkan suami berhenti tanjak sambil tawing kiri memandangi yang putri. pt. pl. Rasa kecewa diekspresikan istri lewat jengkeng. pl. Kedua penari. barang. Selanjutnya gerak lincak gagak bersama. suami hendak pegang istri menghindar. songgonompo – mbalang. besut.

pt.222 Adegan kekudangan merupakan adegan kedua. Bentuk Kinetic body moves yang mengekspresikan adegan kekudangan dapat dicermati berikut ini. Istri mengingatkan pekerjaan terhadap suami dengan gerak tawing kanan sambil memandang suami sedangkan suami menyambut baik dengan gerak ukel karno kanan yang kemudian srisik mendekati. putar ke kiri – tangan kanan ukel karno sedangkan suami mendekat menanggapi dengan gerak panggel dan pandangan mengarah ke putri dan anak. yang menggambarkan kegembiraan dan kehagiaan sepasang suami dan istri yang telah dikaruniai seorang anak laki-laki yang diharapkan menjadi pewaris keturunan dan berguna bagi masyarakat. tidak sombong. tangan kiri memegang bahu istri dan tangan kanan memegang anak sambil memperhatikan dengan tawing kanan. barang. Seluruh sajian Kinetic body moves tersebut diiringi jineman Sayuk lr. tidak menyeleweng. lembehan tangan kanan. Selanjutnya istri tawing kanan. suami merasa gembira dan bahagia secara perlahan-lahan mendekat. berpartisipasi aktif dalam pembangunan bangsa dan negara. Istri meminta perhatian suami terhadap anak yang ditimang dengan gerak putar ke kanan. Setelah istri srisik sambil menimang anak. . Harapanharapan mulia kedua orang tua terhadap anak laki-lakinya kelak menjadi orang yang memiliki kepribadian yang baik. Adapun bentuk aktualisasinya diwujudkan sepasang suami dan istri yang sedang menimang bayi secara bergantian sambil bersenandung tentang harapan-harapan mulia sebagai orang tua terhadap anak laki-laki kelak setelah menjadi orang dewasa. bekerja secara profesional. Suami menimang anak sedangkan istrinya meledek dengan tawing kiri-tawing kanan. Adegan kekudangan mengungkapkan rasa gembira dan rasa bahagia. maju srisik mendekati suami untuk memberikan anaknya dan suami juga mendekat dengan lumaksono untuk menerimanya. pl.

membajak. dan bahagia. diawali suami menimang-nimang anak dengan lumaksono yang diikuti istri lumaksono lembehan sampur dan kawilan. barang. Gendhing sebagai . suami gerak lumaksono sambil menanti kedatangan istri. pl. dan enjer muter. Sebagai penutup sepasang suami istri saling mendekat srisik kanthen tangan kanan menuju tempat duduk temanten mengambil boneka anak kemudian sebagai cucuk lampah temanten (berjalan di depan temanten untuk menggiring sepasang mempelai ke depan pintu rumah resepsi guna menghantarkan para tamu undangan yang hendak berpamitan). Ungkapan adegan makarya adalah gambaran semangat dalam bekerja antara suami dan istri dengan suasana gembira. Setelah istri menimang lalu boneka anak diberikan kepada temanten putri dengan srisik. gembira. Rasa yang hendak diekspresikan pada adegan ini yaitu rasa riang. tanam padi. seperti mencangkul. enjer ridhong muter. Adegan makarya merupakan adegan ke tiga yang menjadi penutup dari seluruh alur adegan yang terdapat pada tari Bondhan Sayuk. Bentuk gambaran Kinetic body moves pada adegan makarya tidak mengekspresikan orang yang tengah bekerja menggarap sawah. Pada implementasinya. Gantian anak diberikan istri sedangkan suami meledeknya dengan ogekan. gerak yang dipilih antara pasangan suami dan istri berupa sekaran-sekaran yang dapat diekspresikan secara dinamis untuk menimbulkan kesan semangat dalam keadaan riang dan gembira. lilingan kebyok sampur. lilingan kebyok sampur dan enjer muter.223 Ekspresi kekudangan yang berisi harapan orang tua terhadap anak. dan lainnya.tangan kanan menthang sampur dan lilingan. Adapun gambaran Kinetic body moves bagian ini diiringi ladrang Sayuk lr. tawing kiri. Wujud Kinetic body moves yang dipilih untuk istri sekaran luluran. Sekaran untuk ekspresi peran suami terdiri dari: laku telu pondhongan. pt.

Secara garis besar Kinetic body moves yang terdapat pada seluruh adegan tari Bondhan Sayuk. kekudangan. baik adegan: kasmaran. . barang dan Ayak-ayakan lr. pl.224 iringan adegan ini adalah Lancaran Sayuk lr. pt. pt. dan makarya merupakan kombinasi dari gerak representatif dan presentatif. seperti paparan berikut ini. barang. pl.

Adegan Peran Jenis Gerak Peran Jenis Gerak Keterangan No I.225 2) jenis-jenis vokabuler gerak atau sekaran yang terdapat dalam tari Bondhan Sayuk. Kasmaran 1 Srisik kanthen tangan kanan Distilisasi orang bergandengan tangan kanan 2 Lumaksono ridhong Distilisasi orang berjalan 3 Srisik kanthen tangan kanan Distilisasi orang bergandengan tangan kanan 4 Enjer menthang tangan kiri Distilisasi orang berjalan samping meluruskan kiri dari ke songgonompo gerak lari Srisik tangan kanan dari Lumaksono ridhong gerak lari Srisik tangan kanan SW Representatif SL Representatif Keterangan kanthen Distilisasi orang bergandengan tangan kanan Distilisasi orang berjalan kanthen Distilisasi orang bergandengan tangan kanan Distilisasi orang sesuatu gerak lari dari gerak lari dari menerima sambil tangan .

sambil gerak kaki burung gagak. tawing Distilisasi kiri dari Lincak gagak. sambil melihat ke kiri 8 Sautan / nubruk Distilisasi orang memegang seseorang dihindari 9 Srisik kanthen tangan kanan Distilisasi orang bergandengan tangan kanan 10 Enjer tawing kiri Distilisasi orang berjalan samping dari ke Tanjak tawing kiri gerak lari Srisik tangan kanan yang dari hendak Endhan melihat ke kiri Distilisasi dari orang menghindar kanthen Distilisasi orang bergandengan tangan kanan Distilisasi gerak lari dari orang berdiri sambil melihat ke kiri sambil melihat ke kiri .226 5 Jengkeng Distilisasi orang duduk dari mbalang Distilisasi dari orang memberi atau membuang sesuatu 6 Ngaras Distilisasi orang berciuman dari Ngaras Distilisasi orang berciuman dari 7 Lincak gagak. tawing kiri Distilisasi dari gerak kaki burung gagak.

nyabet tangan kanan Distilisasi orang berjalan gerak orang lari dengan menggendhong bayi 13 Srisik mundur Distilisasi orang lari. kedua tangan lurus membuka samping ke dengan membawa sampur. gerak badan menghadap ke depan sedangkan langkah kaki mengarah ke belakang 14 Tanjak Distilisasi gerak orang berdiri. Kedua tangan trap cetik nyempurit Distilisasi orang kedua ditekuk pinggang jari-jari di lari. 12 Srisik dan menimang bayi Distilisasi gerak Lumaksono. kecuali jari jempol ditekuk. gerak Posisi Srisik (tangan nekuk).227 11 Srisik kipat sampur. kedua tangan menthang sampur Distilisasi orang lari. ( pola tersebut merupakan sikap berdiri pada . gerak Posisi tangan depan dengan membuka.

Adegan Peran Jenis Gerak Peran Jenis Gerak Keterangan No I. Kasmaran 1 2 Sindhet Sekaran laras kebyokan 3 Kebyokan tangan kanan-kiri 4 Kengser Kesannya mengabaikan Gerak penghubung. kesannya mendekat Gerak penghubung. kesannya mendekat 5 Kengser Kengser Gajah-gajahan Gerak penghubung Kesannya tenang Besut Besut SW Presentatif SL Presentatif Keterangan Gerak penghubung Gerak penghubung Kesannya tenang dan memperhatikan Gerak penghubung. kesannya mendekat .228 tari Jawa untuk putra yang posisi kedua kaki membuka dan ditekuk badan disertai sedikit condong ke depan ).

229

Adegan

Peran

Jenis Gerak

Peran

Jenis Gerak

Keterangan No II. Kekudangan 1 Srisik dengan membawa anak Distilisasi gerak Tangan SW Representatif SL Representatif

Keterangan

kiri Menunjukkan

kasih

orang lari dengan menggendong boneka anak

memegang bahu dan peneliting tangan kanan

memegang anak gerak ke Tawing kanan Distilisasi gerak orang melihat ke kanan

2

Tawing kanan

Distilisasi orang kanan

melihat

3

Tawing kanan

Distilisasi orang kanan

gerak ke

Srisik

Distilisasi gerak orang lari

melihat

4

Srisik

Distilisasi orang lari

gerak

lumaksono

Distilisasi gerak orang berjalan

5

Memberikan anak kepada suami

Untuk timang

ditimang-

Menerima anak

Untuk timang

ditimang-

230 6 Tawing kiri-kanan Distilisasi gerak Menggendong anak Menimang-nimang boneka anak

orang melihat ke kiri lalu ke kanan 7 Lumaksono lembehan sampur Distilisasi gerak Lumaksono

Distilisasi gerak orang berjalan

orang berjalan yang kedua tangannya

membawa sampur 8 Menerima anak Untuk timang 9 Menggendong anak Menimang-nimang boneka anak 10 Srisik dengan membawa anak Distilisasi gerak Lumaksono ditimangMemberikan anak kepada istri Lilingan Untuk timang Distilisasi gerak orang meledek Distilisasi gerak orang berjalan ditimang-

orang lari dengan menggendong boneka anak

231

Adegan

Peran

Jenis Gerak

Peran

Jenis Gerak

Keterangan No II. Kekudangan 1 Lembehan ke kananke kiri sambil putar lalu ukel karno kanan 2 Kawilan Kesan meledek Ukel karno kanan Kesan perhatian meminta Panggel SW Presentatif SL Presentatif

Keterangan

memperhatikan

Kesan merespon

3

Ogekan, kanan sampur

tangan Kesan meledek menthang

232

Adegan

Peran

Jenis Gerak

Peran

Jenis Gerak

Keterangan No III. Makarya 1 Sekaran luluran Distilisasi gerak Laku pondhongan Enjer ridhong muter SW Representatif SL Representatif

Keterangan

telu Distilisasi gerak orang memondong Distilisasi gerak orang berjalan ke samping dengan melingkar

orang sedang luluran 2 Tawing kiri Distilisasi orang gerak ke

melihat

samping kiri 3 Lilingan kebyok sampur Distilisasi orang sambil sampur 4 Enjer muter Distilisasi gerak orang berjalan ke samping dengan melingkar Enjer muter gerak meledek membawa Lilingan kebyok sampur

Distilisasi gerak orang meledek sambil

membawa sampur

Distilisasi gerak orang berjalan ke samping dengan melingkar

233

Dari paparan jenis-jenis gerak presentatif dan representatif yang terdapat pada tari Bondhan Sayuk, dapat dicermati secara kuantitatif. a. Jenis gerak Representatif. Jumlah No Adegan Peran Jenis Gerak vokabuler

1

I. Kasmaran

SW

Representatif

12

SL

Representatif

14

2

II. Kekudangan

SW

Representatif

10

SL III. Makarya 3 SW

Representatif

10

Representatif

4

SL 4

Representatif

4 54

Jumlah gerak representatif, adegan I, II, dan III

b. Jenis gerak Presentatif. No Adegan Peran Jenis Gerak Jumlah vokabuler 1 I. Kasmaran SW SL 2 II. Kekudangan SW SL 4 Presentatif Presentatif Presentatif Presentatif 4 5 4 4 17

Jumlah gerak presentatif, adegan I dan II

234

Jumlah presentase jenis-jenis gerak representatif dan presentatif tari Bondhan Sayuk.

Tari Bondhan Sayuk No 1 2 3 4 5 Adegan I, II, dan III I, II, dan III Jenis gerak representatif presentatif jumlah 54 17 71 76,05 %, 23,95 %

Jumlah total gerak representatif dan presentatif = 54 + 17 Jumlah presentase gerak representatif = 54 : 71 X 100. Jumlah presentase gerak presentatif = 17 : 71 X 100.

3. Polatan (ekspresi wajah). Ekspresi wajah atau gerak wajah bukannya wajah dalam pengertian objek yang statis, merupakan sarana untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik terhadap sesuatu yang sedang dikomunikasikan. Dari pengamatan peneliti terhadap ekspresi wajah pada tari Bondhan Sayuk dapat dijabarkan seperti berikut. Pada adegan 1. kasmaran, bagian awal menggambarkan rasa kebersamaan, polatan kedua penari tampak cerah, kepala cenderung tegak, pandangan mata lebih banyak searah dan juga diseling saling menatap untuk mengekspresikan rasa romantis. Perubahan terjadi ketika rasa kecewa muncul, polatan suami sedikit tegang terfokus pada istri sedangkan kepala istri banyak menunduk, tatapan mata tidak merespon suami dan berupaya menghindar. Rasa kasmaran mulai terbangun kembali ketika sepasang suami dan istri berciuman, polatan suami dan istri tampak cerah, mulai saling menebar senyuman. Akhir adegan kasmaran suasana tegang, wajah suami dan istri tampak tegang pandangan mata tajam dan kepala tegak. Pandangan mata suami istri saling menatap secara tajam dengan

235 didukung gerak istri perlahan-lahan menjauh meninggalkan sedangkan gerak suami mendekat. 4. secara perlahan-lahan suasana mulai berubah menjadi gembira. sehingga kegembiraan lebih maksimal dan kebahagiaan semakin mantap. Konsep tersebut rupanya merupakan pijakan awal yang selanjutnya dikembangkan oleh penyusun tari menjadi lebih berfungsi untuk kebutuhan ekspresi tari. sedangkan pria memakai kejawen. ekspresi wajah sepasang suami istri tampak cerah. polatan terfokus pada istri. senyuman semakin meningkat dan pandangan mata banyak saling menatap menunjukkan keharmonisan dan kemesraan. Bentuk rias dan busana tari Bondhan Sayuk mengacu pada busana Jawa yang sering dipakai pada acara-acara formal sebuah resepsi. Kegembiraan meningkat dan kebahagiaan semakin terasa ketika sepasang suami istri secara bergantian menimang anak. Bagi orang jawa rias dan dandanan busana yang digunakan pada acara resepsi secara garis besar untuk wanita memakai kebaya dan bagian atas menggunakan sanggul atau gelung. ekspresi wajah keduanya semakin tampak cerah. gembira. Bentuk rias dan dandanan busana tari Bondhan Sayuk seperti . Ide yang melatarbelakangi bentuk rias dan busana yang dipakai bahwa kisah cerita yang diangkat dalam tari Bondhan Sayuk adalah gambaran kehidupan sepasang suami istri yang berbudaya Jawa. suasana semangat yang diekspresikan secara bersama-sama antara suami dan istri lewat sekaran-sekaran kebar semakin dinamis didukung iringan Lancaran Sayuk yang berirama 1/1. Rias dan busana. Adegan kekudangan diawali Istri srisik sambil menimang bayi menuju ke stage mendekati suami. Menginjak adegan makarya.

236 rias dan busana yang dipakai pada peran-peran kethoprak. kalung. yaitu garis lurus dan garis lengkung. cundhukjungkat. Suami memakai dodot tanggung motif lereng. Wujud rias istri menggunakan rias cantik dan rias suami menggunakan rias bagusan yang keduanya tidak menampakkan perubahan karakter secara menyolok. Dandanan busana untuk istri memakai dodot tanggung (dodot kecil) motif lereng dan bagian kepala menggunakan gelung besar yang diberi bunga tibandhadha. mencakup dua bentuk utama. Perhiasan yang dipakai putri diantaranya: gelang. Pola lantai yang dibentuk dari Kinetic body moves merupakan komplementer keduanya yang diharapkan dapat membantu mengekspresikan suasana yang terdapat pada masing-masing adegan. kelat bahu. dan cundhukmentul layaknya penganten putri berbusana basahan. Pola lantai. Warna busana dominasi coklat yang memiliki kesan kalem dan kuning emas terutama perhiasan untuk menambah daya tarik penonton. dan suweng. keris dan blangkonan. Secara prinsip pola lantai yang terdapat dalam tari Bondhan Sayuk. . terutama peran alusan atau bambangan untuk pria. Garis-garis lurus digunakan untuk mengungkapkan keinginan. kemauan yang kuat dan tegas. kelat bahu. 5. Perhiasan untuk putra diantaranya: gelang. dan kalung. Kiranya dapat disimpulkan bahwa rias dan busana yang digunakan dalam tari Bondhan Sayuk untuk memberi dukungan karakter peran dan mengaktualisasikan jati diri peran. Selain itu untuk fase-fase ketegangan ketika istri hendak meninggalkan suami (lihat gambar: 2). seperti aktualisasi adegan awal kasmaran yang menggambarkan kebersamaan suami dan istri (lihat gambar: 1).

terutama pada adegan tiga makarya. lembut. . Adapun bentuk-bentuk sekaran laku telu pondhongan. dan enjer ridhong muter yang terkait dengan pola-pola lantai tersebut seperti tergambar pada paparan berikut. Gambar 1. lilingan kebyok sampur. yang banyak terdapat dalam tari Bondhan Sayuk. Garis-garis lengkung lebih difungsikan untuk mengungkapkan kesan manis.237 Gambar 1. Gambar 1: pola lantai laku telu pondhongan pada adegan tiga. Gambar 2. Gambar 2: pola lantai lilingan kebyok sampur pada adegan tiga. Gambar 2.

Sedangkan garap gerongan terdiri dari satu bait yang terdapat pada iringan Lancaran Sayuk. Bahasa verbal yang berupa teks sastra tembang yang terdapat dalam tari Bondhan Sayuk. Maksud menggunakan garap jineman adalah untuk menonjolkan lagu dan makna yang terkandung dalam bahasa verbalnya. dan (3) garap gerongan. Garap sindhenan terdiri dari satu bait yang terdapat pada iringan Ketawang Mijil Sulastri. Iringan.238 Gambar 3. Garap jineman mencakup satu bait yang terdapat pada iringan Ladrang Sayuk. Bentuk iringan tari Bondhan Sayuk merupakan komplementer garap lagu Teks sastra tembang dan rasa musikal dari garap instrumen gamelan yang berupa gendhing. 6. Bentuk garap jineman merupakan garap lagu tembang jawa. terdiri dari beberapa garap lagu. yakni: (1) garap sindhenan (2) garap jineman. yang penyajiannya dimulai nyanyian solo atau tunggal tanpa iringan instrumen gamelan kemudian diikuti nyanyian secara koor dengan iringan instrumen gamelan. yang dinyanyikan koor oleh vokalis putra . Gambar 3: pola lantai enjer ridhong muter pada adegan tiga.

pt. Ketawang Mijil Sulastri lr. barang. barang. barang berfungsi untuk memberikan ilustrasi terhadap rasa kebersamaan sepasang suami istri. pt.239 bersama vokalis putri. barang. barang dengan ekspresi vokabuler gerak yang secara komplementer mengungkapkan suasana kasmaran yang dialami sepasang suami istri yang terjabar dalam rasa: kecewa dan mesra. pt. pl. barang. pt. pl. Ketawang Mijil Sulastri lr. begitu pula rasa musikal dan makna bahasa verbal yang mengekspresikan rasa cinta menyatu dengan ekspresi gerak yang menggambarkan kemesraan sepasang suami istri yang ditandai dengan gerak ciuman. pl. pl. pl. Bentuk menyatunya iringan dengan gerak. b) rasa seleh yang . dan Lancaran lr. pt. pl. Susunan iringan tari Bondhan Sayuk seluruhnya dan secara urut dari adegan kasmaran. pt. kekudangan dan makarya dapat dicermati berikut ini. antara lain: Srepek Rangu-rangu lr. pl. Adegan : I. didukung beberapa iringan gendhing. Keterpaduan yang dimaksudkan adalah menyatunya rasa musikal gendhing Ketawang Mijil Sulastri lr. pt. pt. pl. dapat dicermati secara komprehensip dari beberapa elemen. Kasmaran. barang. barang pada adegan ini bersifat nglambari artinya rasa musikal yang dihasilkan dari garap Srepek Rangu-rangu lr. kedudukannya dalam adegan kasmaran ini bersifat nyawiji. Kedudukan iringan Srepek Rangu-rangu lr. barang implementasinya dengan garap gerak adalah menyatu. diantaranya: a) rasa musikal dan makna bahasa verbal yang mengekspresikan rasa kecewa menyatu dengan ekspresi gerak yang menggambarkan kekecewaan istri. yang merupakan iringan kedua setelah Srepek Rangu-rangu lr. Adegan kasmaran sebagai adegan pertama dalam tari Bondhan Sayuk. pl. Pengertian nyawiji di sini garap gendhing Ketawang Mijil Sulastri lr. pt.

pt. pl. c) pola gatra yang terdapat pada bentuk gendhing Ketawang Mijil Sulastri dapat dijadikan tanda mulai bergerak ataupun berakhirnya suatu gerak pada tari. pt. Lancaran lr. barang . pt. dapat dicermati Srepek Rangu-rangu lr. barang Buka : kendhang : [ 2 5 ] suwuk : 7 6 2 5 7 3 o 2 5 o 7 6 o 2 5 b 7 3 3 6 xpl o 5 7 2 6 g7 3 5 3 2 3 g7 XXXXXxx2xxx x7x x Xx2x x x7 3 2 7 g6 Ketawang Mijil Sulastri lr. Terkait dengan alur adegan iringan Lancaran lr.240 terdapat pada gendhing merupakan iringan yang mendukung rasa seleh pada tari. bentuk iringan untuk adegan 1: kasmaran. pt. pl. Adapun paparan berikut ini. pl. barang tersebut merupakan fase peralihan dari adegan kasmaran menjadi adegan kekudangan. barang. pl. merupakan iringan yang secara musikal dapat mengekspresikan suasana tegang yang kedudukannya pada adegan ini lebih bersifat nglambari. Implementasinya rasa musikal yang berirama 1/1 tersebut mampu memberikan ilustrasi rasa tegang yang mendukung kekacauan atau ketegangan yang diekspresikan suami maupun istri. baik rasa seleh ringan maupun rasa seleh berat.

2 . . 3 5 . .x x xp. Dukungan iringan untuk adegan kekudangan yang mengungkapkan rasa gembira dan rasa bahagia . tidak sombong. 7 7 . 7 . 3 3 . . . p3 . Adapun bentuk aktualisasinya diwujudkan sepasang suami dan istri yang sedang menimang bayi secara bergantian sambil bersenandung tentang harapan-harapan mulia sebagai orang tua terhadap anak laki-laki kelak setelah menjadi orang dewasa. g2 g6 ] Adegan : II. pl. .x x x6XXXx x x. 2 g7 x5x x5x x x. Harapanharapan mulia kedua orang tua terhadap anak laki-lakinya kelak menjadi orang yang memiliki kepribadian yang baik. . 7 7 .241 [ . 7 7 . p3 . 3 . x3xx Xx XXXx3x x XXx5x x Xxg6 Xx. 6 2 . n7 n7 . 7 3 . 2 . pekerja profesional. 3 7 5 . g6 2 . . pt. 7 5 7 Xxn6x7 x5x6 7 XXXx5XXXXXXx7 g6 Lancaran lr. 7 . . barang [ . tidak menyeleweng. 2 .xxx x. 3 p2 . 2 . 6 2 p7 3 2 7 7 6 5 n3 X . Kekudangan Dalam adegan kekudangan yang mengisahkan menggambarkan kegembiraan dan kebahagiaan sepasang suami dan istri yang telah dikaruniai seorang anak laki-laki yang diharapkan menjadi pewaris keturunan dan berguna bagi pembangunan bangsa dan negara. . g6 x3x x x3x x x. berpartisipasi aktif dalam pembangunan bangsa dan negara.x Xx x. . . 2 . n7 . 2 2 .

pl. pl. Selain itu iringan Ladrang Sayuk lr. barang pada dasarnya nyawiji dengan garap geraknya. Bentuk mungkus ini ditinjau dari pelaksanaan vokabuler gerak yang terdapat pada adegan kekudangan hampir seluruhnya menggunakan pola kendangan kebar atau ciblon yang selalu membungkus pola gerak. pl. Dalam hal ini polapola gerak tari selalu ketat. barang mengisyaratkan bahwa ungkapan rasa gembira dan rasa bahagia yang terdapat pada adegan kekudangan ini suasana tampak lebih tenang dan semeleh (irama tidak tergesa-gesa. dan bahagia sepasang suami dan istri dapat nyawiji dan tercapai. Pengertian nyawiji ini mengarah pada pemersatuan dari unsur tari yang berupa vokabuler-vokabuler gerak kebar yang dinamis dan unsur karawitan yang berupa Ladrang Sayuk lr. Bentuk iringan untuk adegan 2: kekudangan dapat dicermati paparan berikut ini. pt. pt. pelan. barang pada adegan ini sifatnya mungkus. dan nyawiji.ketat diikuti pola kendangan. Kedudukan iringan Ladrang Sayuk lr. Jineman Sayuk laras. pt. pl. lagu jineman yang riang dan tekanan sedang pada adegan kekudangan ini adalah untuk pencapaian harmonisasi penyajian. Garap wiled yang berirama 1 / 8 pada Ladrang Sayuk lr.242 adalah Ladrang Sayuk lr. pt. Keterpaduan garap tari dan garap Ladrang Sayuk dalam rangka mengekspresikan rasa gembira. barang . barang. dan mantap). pt. barang dengan irama sigrak. pl. pl. pt.

c6 Sa .le mang-kat ma 5 6 7 z5c6 2 2 z2x3c2 kar ya z7x. . 6 z7x x xzj@c# zzzzzzzzzjz6x7x jx5c3 2 zj2c3 3 7 2 zj3c2 7 rung . .243 Buka : celuk : 6 z7cx2 2 7 2 XXXXz@cc# 2 XXXXXXxxz6c7 Xxzx5x. .ter nyam-but ga . z6c7 5 we 5 . .wa .ti .ci Dhuh mas ji . . u zj2c3 u . pt. 3 . 2 5 3 .wah mu tan .ki wus wan . .dang-e . .nen mre-ne # z#c@ 7 z6c7 dhe .ya 5 I .tho .sah a . a .c6 ku 2 uX y 3 ba . pl.we Ladrang Sayuk lr. .nak mu ga .nak ku sing ba . . . .wa . 6 Tak ku . . . y . .gus 3 z@x x x x c# z6x c5 pin .pak ne si . y u 3 z6x5x3x5x6c7 z3x2x7c6 z7x2x. zj2c3 y tho-le 2 7 y zj7c2 Mbok-ne .e z6c7 7 @ Sa-du 5 5 5 a .suk 7 . 3 .x6x5c3 2 X z2x3c2 z7x. .ngan . . . barang 5 2 5 2 5 6 5 3 .x3x2c7 Ba. 2 Be .

mi – ndak .e dha .xk3c4 j22 j23 j4jk.nge j7j j # j@j j 6 j3j j j.3 4 kz.3 5 j.244 j.y jz7c2 zj2c3 3 j.3 j77 j77 2 j.7 2 6 j27 3 ne 2 j.kz3c4 2 j.ma -nda .2 jz5c6 6 Adhuh la .buh la-bet mringbangsa .3 5 .7 3 zj7c2 A-dhuh lae atak a-dhuh la .6 3 j.7 2j.3 2 y j.3 zj5cy j.ke 4 2 4 2 4 3 2 7 j.sing–kir .dhuh la – e se.e 7 @ 6 3 6 5 3 2 .ran di .e a-tak a .ne 5 3 5 3 6 7 3 2 3 j.xjkj5c6 2 j.dhuh la.3 5 zj5c6 j22 j23 5 zj5c6 2 j.6 6 j.6 2 6 7 j.la .3 j77 j77 2 j.7 jz2c7 jz3c2 7 la .e wis mbok ne e-nyoh a .nak .te .6 z7c2 z2c3 3 j.e 2 7 2 7 .e cu-kat trampil 5 2 7 2 5 j2jj j 6 tu.sar bregas ten a .3 2 7 j.7 2j.ne 2 6 3 y 2 j.e atak adhuh la .7 2 jz2c3 Adhuh lae a-tak a-dhuh lae o -ra nyle-weng tu .e 5 .6 j33 j33 jz7c2 2 5 j.so nga .6 6 7 jz@c# zj6c7 zj3c2 zj6c5 3 A-dhuh la .2 A-dhuh la-e atak adhuh la .# j@# 7 A-dhuh lae a-tak adhuh lae 2 7 2 7 jz6c7 3 jz7c2 an-teng ta-jem po .3 5 3 2 5 2 5 3 5 6 zj5c6 j22 j23 5 zj.3 4 jz3c4 A-dhuh lae atak a.6 j22 j23 5 j.ta 2 7 j.

sehingga rasanya menyatu dan harmonis. 7 z@x xj. Dalam hal ini pola-pola gerak tari selalu ketat. barang. Sebagai penutup adegan makarya diiringi Ayak-ayakan lr. zj6c7 5 . pt. Rasa yang hendak diekspresikan pada adegan ini yaitu puncak kegembiraan dan kebahagiaan untuk menyongsong masa depan yang lebih cerah. Bentuk nyawiji ini mengarah pada pemersatuan dua unsur menjadi satu yaitu dari unsur tari yang berupa vokabulervokabuler gerak kebar yang dinamis dan unsur karawitan yang berupa Lancaran Sayuk dengan irama sigrak. pl. . Iringan Lancaran Sayuk lr. pt. Bentuk mungkus ini ditinjau dari pelaksanaan vokabuler gerak yang terdapat pada adegan tiga hampir seluruhnya menggunakan pola kendangan kebar atau ciblon yang selalu membungkus pola gerak. . pl. pl. pl. pt. Adegan makarya merupakan gambaran semangat bekerja secara bersama-sama. kompak antara suami dan istri dalam suasana gembira. pt. pl. . dan nyawiji.ketat diikuti pola kendangan. barang dan Ayak-ayakan lr.c# zj5x6jx5c3 sun 2 ar . pt. barang secara berurutan dapat dicermati paparan berikut ini. mang - kat me - ga - we Adegan : III. pt.sa jz6x7xxj6c5 3 . pl.245 . Kedudukan iringan Lancaran Sayuk lr. barang yang berfungsi nglambari yang memberikan ilustrasi rasa musikal untuk mundur beksan. Makarya. lagu gerongan riang dan tekanan dinamis. Iringan yang mendukung adegan makarya yaitu Lancaran Sayuk lr. barang pada adegan ini sifatnya mungkus. barang dan sebagai mundur beksan (penutup) iringan Ayak-ayakan lr.

6 . 2 7 3 . . pt.yuk . 7 6 6 .246 Lancaran Sayuk lr. 7 . 6 2 2 . .ca . barang Buka : . o g3 b . . . 6 5 5 . 6 5 5 . 7 6 6 .yuk . 6 5 5 . 6 3 5 3 g2 7 g2 g6 g2 . z@x x x. 6 . 2 7 3 . 5 . sa. . 3 g5 5 Sa . b 2 g2 . 6 5 5 3 7 g2 o . g7 3 g6 g6 g2 5 5 3 g2 3 3 2 2 g3 g3 6 6 5 5 3 6 g2 g7 ] Suwuk : x7x x7 6 7 3 2 7 g6 .yuk sa – kan . . 6 . sa-yuk .yuk .yuk sa . 6 5 5 3 3 5 3 3 5 . . 6 sa . . [ 6 3 5 3 3 5 5 3 5 .we . 6 . . sa. 3 z6c7 .yuk nyam-but ga.be . pl. 6 . . 6 2 2 . . 6 . .ne . 3 . 6 2 2 . @ .ka . 7 . sa. 7 . . 3 . pl. .yuk .x x c3 z6c5 3 mba-ngun ne – ga - ra - ne Ayak-ayakan lr. o 5 5 o b . 5 g2 . . barang . pt. 5 g6 6 Sa-yuk . 5 g6 6 Sa . 5 3 2 . 2 SS Sa yuk 7 7 . . . 6 sa. 7 6 6 .he .

dan Rasa Vokabuler gerak Istri (SW) Bahasa Nonverbal Vokabuler gerak Suami (SL) Pola lantai Iringan Hubungan Langsung Hubungan Tidak Langsung Srepek Rangurangu lr. ungkapan cinta yang mendalam seorang suami Rasa Kebersamaan Srisik kanthen Srisik kanthen Garis lurus Gong: 1 terhadap istrinya. dengan harapan mendapat Lumaksono ridhong Lumaksono ridhong Garis lurus Gong: 2 perhatian demi terjalinnya kasih cinta untuk harmonis Keterangan 1 Pasihan/ Percintaan. barang. No Bahasa Verbal Sastra Tembang Tema. Adegan. pt. I. pl.247 Komposit Bahasa Verbal dengan Nonverbal Tari Bondhan Sayuk. Kasmaran: tangan kanan tangan kanan .

besut enjer menthang tangan kiri. tangan kanan-kiri songgonompo. sindhet Ketawang Mijil Sulastri lr. sekaran nyabet laras kebyokan kanan. manis. Rasa kecewa jengkeng. Hoyogan. mbalang.248 Srisik tangan laku kanthen Srisik kanthen Garis lengkung Gong: 3 sebuah rumah tangga. aja gawe kagol . besut tangan Posisi di tempat Gong: 1 Dhuh mas rara. tangan kanan. wong sembahan. barang. Garis lengkung Gong: 2 Gong: 3 V - garwaku berdiri kebyokan gajah-gajahan. pt. pl. kanan.

pl. dan 4 Rasa tegang srisik sampur kipat srisik kedua tangan ditekuk pinggang trap Garis lurus Gong: 5 . maju endhan sautan/nubruk jeblosan dan Gong:5 V - rasaningtyas mami. lincak gagak. pt. Prasetya ingong wak dan jeblosan Lancaran lr. barang srisik kanthen srisik kanthen Garis lengkung Gong: 1 tangan kanan tangan kanan tawing kiri dan tanjak tawing kiri laku enjer Garis lurus Gong: 2. 3. Binerkahan ugi.249 Amung sira yekti Rasa mesra sulistyane gerak kengser dan ngaras kengser dan ngaras Gong: 4 V - Jumbuh klawan lincak mbalik gagak.

dan 11 .10. dan 7 nyabet kanan maju srisik Gong: 8 Srisik sambil menimang anak mundur srisik. maju tanjak kanan Gong: 9.250 Gong: 6 mundur kengser.

251 2 Jineman Ladrang Sayuk Dalam menciptaka Dhuh mas jiwaku. putar ke kiri – tangan kanan ukel karno maju panggel dan pandangan mengarah ke putri dan anak Garis lengkung V mendukung tugas dan kewajiban peran suami sebagai kepala keluarga. lembehan tangan kanan. bapakne si thole. tangan kiri memegang bahu istri dan tangan kanan memegang anak sambil memperhatikan dengan tawing kanan Garis lengkung V n keharmonis an keluarga. mbalik tawing kanan Ukel karno kanan Garis lengkung V - . Rasa mesra Menimang anak maju. seorang istri mempunyai peranan cukup penting dalam baya iki wis wanci. putar ke kanan.

mbesuk mesra.252 mangkat makarya. membelai anak (berupa boneka anak) Srisik mendekat istri V - sawahmu hanganti tansah tawing kanan. panggel V - Mbokne thole. gawanen maju srisik mendekati suami untuk memberikan anaknya mendekat untuk menerima anaknya Garis lurus V - Tak kudange anaku Rasa sing bagus dhewe. barang V - kebersamaan. nyambut gawe . dan pinter gembira. maju mendekati suami lumaksono V - Sakdurunge anakmu mrene. bahagia. tawing kiri-kanan menimang-nimang anak Garis lengkung Ladrang Sayuk lr. pt. pl.

kerja keras. dasar bregas ten atene adhuh lae. kawilan lumaksono putar Garis lengkung Kenong: 1 V Harapan orang terhadap anaknya adhuh lae. cukat tumandange adhuh lae. labuh labet mring . atak Menerima anak memberikan anak kepada istri trampil Garis lengkung Kenong: 2 V laki-laki yang masih dalam timangan supaya adhuh lae.253 adhuh lae. adhuh lae. atak Menimang anak lilingan Garis lengkung Kenong: 1 V dan mengutama kan tua adhuh lae. atak Lumaksono lembehan sampur. atak Menimang anak menthang tangan kiri – ogekan tajem Garis lengkung Kenong: 3 V kelak menjadi seorang yang berperilaku adhuh lae. sesongaran disingkirke adhuh lae. anteng polatane adhuh lae. atak Menimang anak lilingan Garis lengkung Kenong: 4 (Gong : 1) V baik mengutama kan kebajikan.

barang .wis enyoh memberikan anak kepada temanten. Gerongan Sayuk pl. srisik lumaksono Kenong: 3 V - sun arsa mangkat megawe 3 lancaran Sayuk lr. nleweng tumindake adhuh adhuh mbokne anake lae. atak lae.ora srisik Lumaksono Garis lurus V kepentingan umum untuk membangun bangsa.254 bangsane Kenong: 2 adhuh adhuh lae. atak lae. pt.

sayuk. sayuk. nyambut gawe Rasa gembira.255 sayuk. damai. Sayuk. sayuk. sak kancane Sayuk. sak kancane Sayuk.tawing Tawing kiri Garis lengkung Gong: 3 Gong: 4 - V harmonis. sayuk. mbangun Enjer ridhong Enjer ridhong Garis lengkung Gong: 7 Gong: 8 - V mendidik anak kelak menjadi orang yang Lilingan kebyok Lilingan kebyok Garis Gong: 9 V berguna . sayuk. sayuk. dan berupaya menjalani kehidupan Sayuk. sayuk. sayuk. sakabehe Sayuk negarane mbangun Kawilan . sakabehe Sayuk negarane Sayuk. sayuk. sayuk. sayuk. sayuk. nyambut gawe Laku telu sampir sampur Laku telu pondhongan Garis lengkung Gong: 5 Gong: 6 - V secara bersamasama untuk membina dan Sayuk. bahagia Trap tawing jamang - Luluran Garis lengkung Gong: 1 Gong: 2 - V Gambaran kehidupan sebuah keluarga yang rukun. sayuk. sayuk.

sayuk. pt. barang Srisik kanthen Srisik kanthen tangan kanan dan mengambil anak Garis lurus tangan kanan dan mengambil anak Lumaksono sambil menimang anak sebagai Lumaksono sebagai cucuklampah temanten (selesai). nyambut gawe sampur sampur lengkung Gong: 10 bagi bangsa dan negara. Garis lurus cucuklampah temanten (selesai). sayuk. sayuk. . sayuk. sakabehe Sayuk negarane mbangun Enjer penthangan kedua melingkar tangan Enjer penthangan kedua tangan melingkar Garis lengkung Gong: 11 Gong: 12 - V Ayakayakan lr. Sayuk.256 sak kancane Sayuk. pl.

Rupanya terdapat sebuah harapan dari simbolisasi boneka anak tersebut yaitu bagi pasangan temanten untuk segera diberi keturunan anak sebagai pewaris keluarga. Jumlah persentase hubungan tidak langsung = 6: 24 X 100. 75 %.Dari komposit bahasa verbal dan nonverbal pada tari Bondhan Sayuk terdapat hubungan yang bersifat langsung dan tidak langsung. Boneka anak yang sering 257 . II. Properti boneka. Tari Bondhan Sayuk No Adegan Hubungan bahasa verbal dengan nonverbal 1 2 3 I. Adapun persentasenya dapat dicermati pada uraian berikut. II. dan III Langsung Tidak langsung 18 6 24 jumlah Jumlah hubungan langsung dan tidak langsung = 18+ 6 4 5 Jumlah persentase hubungan langsung = 18: 24 X 100. Hubungan bahasa verbal dan nonverbal bersifat langsung artinya bahwa makna bahasa verbal sastra tembang sesuai dengan makna bentuk kinetic body moves dari bagian bahasa nonverbal. Sedangkan hubungan bahasa verbal dan nonverbal bersifat tidak langsung artinya bahwa makna bahasa verbal sastra tembang tidak sesuai dengan makna bentuk kinetic body moves. Secara kuantitatif hubungan bahasa verbal dan nonverbal pada tari Bondhan Sayuk yang bersifat langsung tampak lebih mendominasi dibandingkan dengan yang tidak langsung. Boneka anak yang dibalut dengan sehelai kain dimaksudkan sebagai simbolisasi anak (bayi) yang masih dalam timangan seorang ibu. 25 % 7. dan III I.

Digunakannya boneka pada tari Bondhan Sayuk sangat terkait dengan keinginan atau harapan seniman penyusunnya yang ketika itu menghendaki diberi anak pertama lahir seorang anak laki-laki. Selain wayang. prasasti Balitung juga memberi keterangan bahwa pertunjukan 258 . Faktor Genetik. akan diamati sejak adanya bentuk garapan tari dengan tema percintaan sejak abad ke VIII zaman Mataram Kuno hingga sekarang. garapan tari yang bertemakan percintaan di Jawa diperkirakan telah ada sejak abad IX. Untuk mengungkap latar belakang munculnya genre tari pasihan dalam kurun waktu sejarah. Bila kita runut lebih cermat. hal ini untuk kebutuhan kemasan seni pertunjukan supaya lebih menarik dan memikat penonton. Semua berawal dan berakhir dalam suatu proses yang terus menerus melalui dimensi waktu (Ibrahim Alfian. 1999: 2). seperti yang tertulis pada prasasti Balitung. Munculnya genre tari pasihan sebagai proses sejarah merupakan permasalahan yang hendak dipaparkan sebagai awal bagian faktor genetik untuk mengantar pada analisis-analisis berikutnya. Kehadiran genre tari pasihan di Surakarta merupakan suatu proses yang memakan waktu cukup lama dalam sejarah yang penting bagi kehidupan dan perkembangan seni tradisional dalam seni pertunjukan Jawa. Masa embrio tari pasihan sejak Abad ke VIII sampai abad ke XIX. Kehadiran Genre Tari Pasihan Dalam Seni Pertunjukan Jawa Segala sesuatu yang dihadapi manusia dimuka bumi ini dalam kehidupannya semua mempunyai temporalitas atau historisitas.digunakan dalam tari Bondhan Sayuk dilengkapi dengan baterai sehingga dapat bersuara layaknya anak yang sedang menangis. B.

Adapun cerita Panji ini mengisahkan perjalanan cinta Panji 259 . kemungkinan besar bentuk garapan tari yang bertemakan percintaan juga sudah ada sejak zaman itu. di Jawa Timur muncul kerajaan-kerajaan. yang tergores dalam prasasti Wimalasrama dari Jawa Timur. 1990: 7). Istilah wayang wwang baru dijumpai pada tahun 930 A. dan sebagainya. percintaan Puntadewa dengan Drupadi. 1990: 4-5).dramatari yang membawakan wiracarita Mahabarata dan Ramayana juga sudah ada sejak zaman Mataram Kuna. kemudian muncul cerita baru yaitu cerita Panji. tetapi kemungkinan besar yang dipergunakan pada waktu itu adalah bentuk wayang wwang. seperti adegan percintaan Sugriwa dan Dewi Tara. Kediri. percintaan Arjuna dengan Sembadra. Setelah Kerajaan Mataran Kuna di Jawa Tengah runtuh. Gaya dan tehnik tarinya yang digunakan kemungkinan besar telah terekam pada relief Candi Borobudur dan Prambanan (Soedarsono. dan Majapahit (abad X sampai ke XVI). Jenggala. percintaan Rama Wijaya dengan Sinta. Mengingat zaman Jawa Timur perkembangan kesusasteraan sangat maju. Mengingat di dalam wiracarita Ramayana dan Mahabarata juga diwarnai oleh tema percintaan. maka lahir pula dramatari baru yang bernama Raket (Soedarsono. Rupanya sudah dapat diduga bahwa dalam kedua wiracarita tersebut terdapat adegan percintaan antara tokoh-tokoh utamanya. Singasari. di antaranya Medang. Meskipun istilah dramatari tidak disebutkan. Bertolak dari sumber yang menyebutkan bahwa wayang wwang merupakan bentuk dramatari dan wiracarita yang dibawakan sejak zaman Mataram Kuna.D. dramatari Jawa Tengah yang bernama wayang wwang tetap dilestarikan di kerajaan-kerajaan baru tersebut dengan membawakan wiracarita yang sama yaitu Ramayana dan Mahabarata.

Cerita Panji merupakan cerita yang sangat terkenal di wilayah Asia Tenggara. Kiranya dapat diduga bahwa wayang topeng tersebut merupakan bentuk dramatari yang menggunakan topeng dan membawakan cerita Panji yang di dalamnya tetap masih terdapat garap 260 . Pajang. Candrakirana. Gunungsari. Raton. dan kemudian Mataram Baru. Gamelan. Cerita Panji ini menjadi mendarah-daging di kalangan masyarakat Asia Tenggara karena kemudian dianggap sebagai salah satu cerita Jataka atau kelahiran Budha (Soedarsono. tetap populer pada masa itu. Danawa (raksasa). dan Turas ( sekarang Penthul atau Bancak) (Soedarsono. yaitu tokoh-tokoh: Panji Kasatriyan. Maka tidaklah mengherankan apabila cerita Panji ini juga merupakan tema yang digunakan dalam genre tari pasihan yang hidup dan berkembang hingga sekarang. Bila wiracarita Ramayana jelas berasal dari India. Adapun topeng yang diciptakan untuk pertunjukan wayang topeng terdiri dari sembilan. Andaga. 1999: 133). Klana. maka tidak dapat disangkal lagi bahwa cerita Panji berasal dari Jawa. Dengan demikian Raket merupakan bentuk dramatari yang bertemakan percintaan yang didalamnya sudah barang tentu terdapat garap adegan percintaan antara Panji Inukertapati dengan Sekartaji yang hidup dan berkembang pada zaman Majapahit. Benco (sekarang Tembem atau Doyok). dan wayang topeng kemungkinan besar merupakan perkembangan dari Raket. Menurut tradisi Jawa. 1999: 18-19).Inukertapati dengan Sekartaji. Runtuhnya Kerajaan Majapahit diawali abad ke XVI. para wali terutama Sunan Kalijaga yang selalu dikatakan sebagai pencipta topengtopeng yang dipergunakan untuk pertunjukan wayang topeng. kekuasaan politik dan budaya Jawa mulai muncul dan berkembang di Jawa Tengah di bawah rajaraja penganut Islam seperti Demak. wayang.

Baru pada sekitar tahun 1940-an muncul tari GatutkacaPergiwa. bahwa tari Gatutkaca-Pergiwa itu telah muncul sebelum Indonesia merdeka tahun 1945 (Maryono. dan Wayang Wong. maupun peran-peran lain. Menurut Tohiran dan Sarwo Rini. masih terikat dan terkait dengan kelompok. Munculnya Tari pasihan sejak 1920-1945. tetapi menggubah satu bentuk dramatari baru yaitu wayang wong dengan membawakan wiracarita Mahabarata dan kemudian di Kasunanan di bawah pemerintahan Paku Buwana X. 1994: 2-3). adegan. Mencermati bentuk-bentuk garapan tersebut rupanya bentuk garapan tari pasihan sejak zaman Mataram Kuna di Jawa Tengah (abad ke VIII ) hingga zaman Mataram Baru di bawah pemerintahan Paku Buwana X ( abad ke XIX). menunjukkan bahwa garapan tari dengan tema percintaan masih dilestarikan dan cukup berkembang baik (Rusini. pertunjukan wayang topeng masih dilestarikan oleh Kasunanan Surakarta. Kasultanan Yogyakarta di bawah Hamengku Buwana I.adegan percintaan antara Panji Kasatriyan dengan Candrakirana yang dilestarikan pada zaman Mataram Jawa Tengahan (abad ke XVI sampai abad ke XVIII). bentuk garapan tari yang membawakan tema percintaan tetap lestari dan terdapat pada bentuk Tayub. 261 . Ketika Mataram pecah menjadi dua yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta pada tahun 1755. dan Gatutkaca Rabi pada acara memeriahkan perkawinan Puteri Juliana dengan Pangeran Bernhard van Lippe Biesterfeld tahun 1937 di Sriwedari. tidak melestarikan wayang topeng. Puntadewa Rabi. Tari Gatutkaca-Pergiwa adalah bentuk tari pasihan yang merajut percintaan antara Raden Gatutkaca dengan Dewi Pergiwa. Bedaya kadukmanis. Pertunjukan Wayang Wong dengan lakon-lakon Nayarana Rabi. Baladewa Rabi. 2006: 19). Bedaya Ketawang.

jadi bukan garapan tari pasihan yang sudah mandiri (lihat video wayang wong: koleksi ASKI sekarang ISI Surakarta. antara lain Gatutkaca Gandrung. kedua. Rupanya tidak benar apabila ada berita yang menganggap bahwa tari pasihan Raden Irawan dengan Dewi Wanuhara merupakan tari pasihan yang pertama kali muncul di Jawa pada tahun 1920-an. Kiranya hal ini dapat diterima karena pertama. Munculnya tari GatutkacaPergiwa diperkirakan pada sekitar tahun 1920 hingga 1945-an yang berarti pula merupakan awal munculnya tari pasihan di Surakarta. Di samping itu wayang wong di Surakarta juga telah membawakan lakon-lakon rabi seperti Gatutkaca Rabi terjadi pada tahun 1937. Anoman-Anggada. Klono.Tari pasihan ini dapat diduga merupakan sempalan dari sebuah garapan wayang wong yang membawakan lakon Gatutkaca Rabi. yaitu untuk merayakan perkawinan Puteri Juliana dengan Pangeran Bernhard van Lippe-Biesterfeld di Sriwedari. dan sebagainya. nomor: 262 . Bondan. Janger (dari Bali). pernyataan Maridi yang mengungkapkan bahwa tari-tari yang sering pentas pada acara-acara orang punya kerja pada tahun 1940-an. ketiga. berita mengenai pertunjukan wayang wong dengan lakon-lakon rabi atau kromo (kawin) banyak bermunculan pada tahun 1920-an ketika wayang wong mengalami perkembangan pesat di masa pemerintahan Hamengku Buwana VIII. Bambangan-Cakil. Hal ini berdasarkan rekaman video tari yang menggambarkan percintaan Raden Irawan dengan Dewi Wanuhara tersebut merupakan rekaman sebagian dari adegan percintaan yang terdapat dalam wayang wong lakon Sri Suwela. pernyataan Tohiran sebagai pengelola wayang wong dan Sarwo Rini sebagai seniman pada waktu itu menyatakan bahwa tari Gatutkaca-Pergiwa itu sudah ada sebelum Indonesia merdeka tahun 1945. Gatutkaca-Sekipu.

dan tari Samba. Munculnya Genre Tari pasihan sejak 1956-1962. Golek Reneka. Surakarta menyajikan tari pasihan ‘Rara Mendut-Pranacitra’. tampaknya munculnya genre tari pasihan di Jawa akibat peralihan kekuasaan dari pemerintahan kerajaan ke pemerintaahan republik yang lebih mengutamakan caracara demokrasi. Graeni. Pada pertemuan di Pura Mangkunegaran masing-masing peserta menyajikan tari-tarian menurut gaya yang dimiliki. Yogyakarta. Yogyakarta menampilkan tari pasihan ‘Bahula-Retna Manggali’. Sekar putri. Hal itu disebabkan pemerintahan Jepang melarang setiap kegiatan berkumpul. Kehidupan kesenian dalam kurun waktu tahun 1942-1949. muncul genre baru yaitu genre tari pasihan. Srigati. Panji. Akan tetapi garap tari dengan tema percintaan tersebut lebih sebatas memberi gambaran tentang bentuk embrio tari pasihan yang terdapat di dalam wayang wong. Pamindo. kesinambungan dari pertemuan pertama di Yogyakarta. Sulintang. dan Bandung. Di samping itu perubahan-perubahan sosial yang terjadi dalam 263 . Pertemuan budaya tiga kota ini merupakan pertemuan ke-2. Menurut Soedarsono kehadiran genre tari pasihan ini terpacu oleh munculnya tari Oleg Tambulilingan yang merupakan satu-satunya tari duet percintaan di Bali yang telah muncul pada tahun 1952.108). sedangkan Bandung menyajikan tari-tarian seperti: tari Puja. dapat dikatakan bahwa dalam periode itu hampir tidak ada kegiatan-kegiatan yang berarti. Dewi Serang. Selain itu. Pada peristiwa budaya tahun 1956 di Pura Mangkunegaran yang lebih dikenal dengan sebutan pertemuan tiga kota yaitu Surakarta. dan selama perang kemerdekaan hampir semua kegiatan diorientasikan untuk memenangkan perang. Kupu-kupu.

Sekitar tahun 1962. muncul tari duet Satya Bakti yang membawakan tema percintaan dan perjuangan. anti feodalisme yang dikembangkan PKI hidup subur. Rupanya bentuk-bentuk tari yang sifatnya masal dan bertemakan kerakyatan. Berawal dari menggarap sawah. akibatnya seni yang berasal dari istana terdesak bahkan dimusuhi karena dianggap tidak merakyat dan tidak dapat untuk menarik massa. Hal ini terjadi akibat situasi politik negara yang mulai rawan. Rupanya tari Satya Bakti merupakan hasil interpretasi terhadap kesadaran bela negara yang saat itu sudah mulai memudar di kalangan masyarakat. menanam padi hingga mengambil hasilnya (memanen) dilakukan secara gotong royong oleh sepasang suami-istri. situasi negara betul-betul semakin genting.masyarakat mempunyai peran yang cukup besar dalam membentuk dan mempengaruhi lahirnya genre tari pasihan saat itu. Pada tahun 1959. tari Gotong-royong. bentuk-bentuk kesenian yang mampu untuk mempengaruhi massa seperti Ketoprak dan Ludruk menjadi rebutan dua partai besar yaitu Partai Nasional Indonesia (PNI) dan Partai Komunis Indonesia (PKI). tari Nelayan. Maka wajar apabila bentukbentuk tari duet percintaan yang sudah ada tidak dapat berkembang karena pada 264 . yaitu masing-masing organisasi politik saling mencurigai dan mulai berebut massa untuk menguasai pemerintahan. Bondhan Tani merupakan tari pasihan yang menggambarkan pasangan suami dan istri di dalam kebersamaannya mengolah sawah sebagai lahan pertanian. dan sebagainya. muncul tari Bondhan Tani yang disajikan secara berpasangan dengan mengacu tema percintaan. Pada masa itu muncul tari yang menggambarkan kehidupan rakyat kecil seperti tari Tani. Masa menjelang tahun 1965.

film-film cinta hingga film yang berbau porno dan juga mode-mode pakaian yang cenderung pamer tubuh. tujuan. terjadi perubahan tatanan politik sangat kuat yang kita sebut Orde Baru. sehingga pembangunan dari berbagai bidang mulai digerakkan untuk mencapai tujuan masyarakat adil dan makmur. dan jangkauan yang jelas dan transparan. Hal itu tidak terlepas dari kondisi stabilitas keamanan yang berangsur-angsur mulai pulih dan terkendali serta kembali normal. Masing-masing di antara mereka secara aktif dan berani memutuskan pilihannya sendiri bahkan menolak jika memang dirasa tidak cocok ataupun tidak sesuai dengan kehendaknya. Kemitrasejajaran yang menyangkut kedudukan wanita dengan laki-laki tampak semakin meningkat dalam berbagai aspek. Pengaruh budaya Barat. baik yang berujud buku-buku porno. Masing-masing mempengaruhi pola pikir hubungan antar remaja. Pembangunan nasional mulai terprogram secara periodik dan memiliki arah. ekonomi. yaitu kebebasan individu mulai dijamin. 265 . baik hukum. sehingga kemitrasejajaran antara kaum wanita dan kaum pria mulai tampak. Tentu saja faktor-faktor itu semua mempengaruhi bangkitnya genre tari duet percintaan untuk lebih bergerak hidup dan berkembang dalam menyongsong kebutuhan hidup masyarakat.dasarnya tari-tarian duet percintaan yang menjadi genre ini merupakan tari-tarian tradisional yang mengacu pada tarian istana. dan para ekonom wanita serta wanita-wanita karier hadir hampir pada semua sektor publik. itu semua tidak dapat disangkal telah mempengaruhi pola pikir hubungan antar remaja. politik. Banyak praktisi hukum wanita mulai bermunculan. maka mulai bermunculan karya-karya individual. dan lainnya. para politisi wanita semakin diperhitungkan dalam elite politik. Setelah tahun 1965.

Keberadaan tari Karonsih dalam budaya Jawa sejak tahun 1970 telah menjadi bagian yang seolah-olah tidak dapat dipisahkan terutama pada acara-acara upacara perkawinan. tari Karonsih ini disusun atas permintaan dari panitia resepsi Ibnu Harjanto dari Kalitan (Maryono. Maridi sebagai seorang seniman yang kreatif menawarkan hasil karyanya yang berbentuk tari duet percintaan yaitu Karonsih. 266 . baik mengenai koreografi. 1991: 2). rias. Kehadiran tari Karonsih menjadi sangat penting karena pada perkembangannya bahwa tari Karonsih ditempatkan sebagai sarana upacara perkawinan yang memiliki nilai simbolik terhadap sepasang temanten. Awalnya bagi penanggap dan kebanyakan masyarakat tidak memahami tari Karonsih.Pada Tahun 1970 S. Indikasi yang dapat diamati hingga sekarang. Pada awalnya tari Karonsih disusun berdasarkan fragmen Topeng Klono Bodo yang telah diciptakan Maridi. tari Karonsih mengalami perkembangan yang sangat pesat. Lambangsih. Dengan semakin seringnya tampil di acaraacara resepsi perkawinan. tahun 1969 dalam rangka peresmian Yayasan Kesenian Indonesia ( YKI ). Tari Karonsih adalah salah satu tari duet percintaan antara tipe karakter putri luruh dengan putra alus yang bersumber pada cerita Panji. dan garap iringannya. Pada awalnya. Penampilan perdana oleh Maridi sebagai Panji Inu Kertapati dan Endang Susilawati membawakan peran Sekartaji. busana. seperti : Driasmara. Bentuknya sangat lekat dengan bentukbentuk tari tradisional gaya Surakarta. sehingga asal melihat tari-tarian yang berbentuk duet percintaan semotif Karonsih. menurut Wahyu Santoso Prabowo sebagai penari tari Karonsih yang telah dimulai sejak tahun 1973 yaitu munculnya istilah ‘Karonsihan’. Rasanya menjadi kurang utuh apabila dalam acara resepsi perkawinan tidak hadir tari Karonsih sebagai penutup pesta tersebut.

Langen Asmara. tari Enggar-enggar. tari Driasmara. Selain itu penyebaran tari Karonsih mengalami kemajuan sangat pesat sejak tahun 1970 hingga sekarang. Yogyakarta. 2006: 28). dan tari Kusuma Aji. gerak. dandanan busana. tari Gesang Rahayu. yang lebih mengarah pada perjalanan hidup sepasang manusia dari kalangan rakyat. Secara objektif perkembangannya dapat dicermati pada struktur sajian. mempunyai pengaruh cukup besar yaitu telah dapat memacu dan memotivasi terhadap seniman-seniman di kalangan tradisional. Selain itu. dan properti. Tema yang diangkat menggambarkan percintaan manusia secara universal. tari Jayaningrat. tari Setyaningsih. tari Bondhan Sayuk lebih tepat untuk gambaran sepasang temanten 267 . tari Langen Asmara. tari Lambangsih. tari Karonsih lebih awal hadir di dalam upacara-upacara perkawinan adat Jawa dan berkembang pesat hingga dijadikan sebagai bagian upacara ritual perkawinan karena dianggap mempunyai nilai simbolik yang tinggi terutama bagi kelangsungan kehidupan sepasang mempelai. mereka akan menyebutnya tari Karonsihan (Maryono. iringan. tari Bondhan Sayuk. Jakarta. Kehadiran tari Karonsih di tengah-tengah kehidupan masyarakat dan telah menjadi bagian dari kebutuhan sosialnya. Pengaruhnya dapat dilihat dengan munculnya berbagai bentuk tari duet percintaan. Kehidupan Karonsih menyebar meluas di wilayah Pulau Jawa. dan Jawa Timur. terutama di daerah Jawa Tengah. Menurut Sunarno. tari Kusuma Ratih.Enggar-enggar. seperti : tari Endah. sehingga tari Karonsih ini telah mengakar pada masyarakat Jawa yang dalam kehidupannya banyak dipenuhi halhal yang berbau simbolik. Karya tari Bondhan Sayuk disusun oleh Sunarno pada tahun 1979. tidak terkecuali juga Karonsih dan lainnya.

Pesta dan upacara pada saat peralihan sepanjang life-cycle itu merupakan suatu hal yang universal yang hampir ada pada setiap budaya manusia. anak pertama laki-laki bahkan anak kedua juga laki-laki dan anak ketiganya baru putri. 2008). yang pertama merupakan hiburan yang tepat dalam sebuah resepsi perkawinan dan kedua dimaknai sebagai simbolik sepasang suami dan istri yang hidup bahagia yang layak untuk diteladani sepasang temanten. Perkembangan genre tari pasihan bagaikan cendawan dimusim penghujan ini tidak terlepas dari tangan-tangan kreatif para koreografer tari seperti Maridi dan Sunarno. Perkawinan merupakan salah satu dan suatu saat peralihan yang terpenting pada life-cycle dari semua manusia di seluruh dunia. yaitu peralihan dari tingkat hidup remaja ke tingkat hidup berkeluarga.maupun sebuah keluarga baru yang belum memiliki anak (wawancara. Dalam perjalanan waktu tari Bondhan Sayuk sangat diminati oleh masyarakat hingga sekarang. Sifat universal pesta dan upacara sepanjang lifecycle terjadi karena adanya suatu kesadaran secara umum di dalam budaya manusia. 268 . bahwa setiap tingkat baru dalam life-cycle itu berarti menghantarkan si individu ke suatu tingkat dan lingkungan sosial yang baru dan lebih luas. Gagasan awal terciptanya tari Bondhan Sayuk adalah sebuah ekspresi pribadi Sunarno yang menginginkan anak laki-laki untuk putera pertamanya. namun tidak semua saat peralihan itu dianggap sama pentingnya pada tiap-tiap budaya. Meluasnya sebaran genre tari pasihan tidak terlepas dukungan iringan kaset yang banyak dijual di toko-toko serta eksisnya para penari di berbagai kesempatan dalam rangka memenuhi kebutuhan sosial masyarakat. Keinginan tersebut rupanya diridhohi oleh Sang Pencipta.

Bagi masyarakat Jawa yang masih lekat dengan budayanya. dan kebahagiaan hidup. gawat. pendidikan. Periode transisi tersebut juga disebut periode liminal yang merupakan fase tengah dalam skema ritus transisi dari praliminal untuk menuju pascaliminal. 1989: 157). baik secara nyata maupun gaib (Koentjaraningrat. tempat. Dalam periode liminal ini seorang liminar berada dalam keadaan setengah-setengah. 1972:89-90). sebaliknya jika pelaksanaan tidak mentaati konvensi-konvensi yang telah berlaku.Di dalam aktivitas budaya manusia ada yang menganggap bahwa saat peralihan dari tingkat sosial tertentu ke tingkat sosial lainnya itu merupakan crisisrites yang penuh bahaya. pelaku. 1990: 4). Kesakralan itu sesuai dengan pendapat Soedarsono mengenai hal-hal yang dianggap penting dalam suatu upacara ritual yaitu waktu. kedamaian. Bagi masyarakat Jawa upacara tersebut merupakan sebuah upacara yang sangat sakral sepanjang daur hidupnya. Demikian halnya yang terjadi pada budaya masyakat Jawa di dalam melangsungkan sebuah upacara adat perkawinan. Ketentuan-ketentuan yang telah berlaku dalam upacara tersebut mereka yakini jika dilaksanakan dengan taat dan benar membawa berkah dan keselamatan. tidak menentu. mengingat upacaraupacara pada masa-masa melampaui saat-saat krisis sering dimaksudkan untuk menolak bahaya gaib yang mengancam individu dan lingkungan. segala ritual yang menyangkut dengan perjalanan hidupnya banyak diselimuti dengan simbolsimbol yang diharapkan dapat memberikan petuah. mereka takut tertimpa malapetaka (Soedarsono. suritauladan yang bermakna untuk keselamatan. dan ragu-ragu (Darsiti Soeratman. Untuk itu crisis-rites bagi seorang liminal sangat penting. Berkaitan dengan tindakan simbolik dan magis simpatetis bagi masyarakat Jawa dalam 269 . perlengkapan. dan pimpinan upcara tertentu.

. They carry the vertility into every corner of the houses. Suddenly they jump wildly along with violent coitus motions and loud groans.. they dance with the upper part of their bodies bent forwards. Rupanya... penuh simbolis dan mengandung makna nilai-nilai percintaan yang sangat berarti bagi kehidupan. yakni adanya hubungan antara pria dan wanita. Stamping with the right foot and singing. Hampir dapat dipastikan bahwa pada setiap upacara perkawinan akan hadir tari pasihan.. (dalam Richard Kraus. tindakan yang dapat melambangkan terjadinya pembuahan. Pernyataan tersebut sejalan dengan pendapat Koch Grundberg yang menggambarkan sebuah tari kesuburan dari suku Indian Coneba di Brasil. yang diekspresikan para penari dengan membawa gambar tiruan organorgan wanita dengan cara sebagai berikut.. 1991: 35).. Pada masyarakat yang sudah lebih maju.. berkembang menuju masyarakat modern. Hubungan dimaksud pada masyarakat yang masih melestarikan budaya purba kadang-kadang dilakukan lebih realistis (Soedarsono dalam Soedarso. Hal ini terbukti pada masyarakat Jawa sekarang yang sudah mengalami kemajuan. Kekuatan tersebut antara lain berupa magis simpatetis yang diwujudkan dengan tindakan atau perbuatan yang dapat melambangkan terjadinya pembuahan. yakni adanya hubungan antara pria dan wanita. diperlukan kekuatan-kekuatan tertentu. 1969: 21). 270 sudah mengakar pada budaya . untuk mendapatkan kesuburan dengan cara menanggap jenis tari duet percintaan atau tari pasihan yang merupakan tarian kesuburan yang diekspresikan lewat sebuah garapan gerak-gerak presentatif dan representatif.. dilakukan secara simbolis. Mereka dalam melakukan upacara perkawinan. the jump among the women – the knock the phalli one against another. Salah satu sarana upacara perkawinan adat Jawa yang cukup penting adalah tari pasihan.perkawinan.

yaitu pada setiap ada acara upacara perkawinan akan hadir tari pasihan yang hendak diteladani oleh kedua mempelai. ia menciptakan sebuah karya dengan harapan dapat dihayati. Ekspresi diri semata tidak akan memuaskan. untuk itu dibutuhkan kecermatan dan kreatifitas seorang seniman dalam menciptakan karya tari yang mencakup bahasa verbal dan nonverbal. Karya tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk merupakan media aktualisasi bagi seniman dalam realitas masyarakat sebagai sarana ekspresi jiwa untuk diinteraksikan kepada publik untuk menggapai sebuah cita-cita dan pemenuhan akan kebutuhan hidup. baik secara simbolik maupun sebagai santapan estetis terasa menyatu dengan situasi upacara. Sebagai media komunikasi genre tari pasihan diharapkan mampu menyampaikan pesan. lewat komplementer bahasa verbal dan nonverbal. mengingat merupakan satu-satunya bentuk sajian tari yang bermakna. Peristiwa budaya ini membuat kehadiran tari pasihan dalam upacara perkawinan sangat ditunggutunggu masyarakat. Kehadiran genre tari pasihan pada ritual upacara resepsi perkawinan merupakan bahasa komunikasi seorang seniman terhadap penghayat. Pemilihan bahasa verbal dan nonverbal rupanya mengalami proses penyeleksian yang ketat dengan harapan dapat dihayati oleh penonton. Konsepsi Bahasa Verbal dan Nonverbal Tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk. 271 . Bagaimanapun acuhnya seorang seniman nampaknya terhadap publik. Wujud penghargaan adalah dapat diterimanya karya tari tersebut oleh masyarakat.masyarakat Jawa. maka dibutuhkan olehnya juga sebuah penghargaan.

dominasi tindak tutur direktif yang terdapat dalam tari pasihan tersebut sangat diperlukan supaya makna keteladanan dapat lebih menyentuh dan cepat ditangkap penghayat khususnya sepasang temanten. Bentuk-bentuk dominasi jenis tindak tutur direktif dalam bahasa sastra tembang tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk. dan memerintah dapat menyampaikan makna bahasa verbal sastra tembang yang berupa nasehat-nasehat cinta tersebut dapat ditangkap penghayat. dapat dicermati contoh berikut ini: Jenis Tindak Tutur (TT) yang melekat pada Sindhenan Pangkur Ngrenas. meminta.Berdasarkan informasi dari seniman penyusun. No Penutur Teks Verbal Sindhenan Pangkur Ngrenas Jenis tindak tutur Pemarkah Situasi 1 Dewi Sekartaji Dhuh jagad dewa bathara Welasa mring dasih kang nandhang kingkin Tinilar garwa satuhu 272 Patik Dhuh jagad formal 2 Dewi Sekartaji Direktif mring dasih formal 3 Dewi Asertif satuhu formal . Untuk itu bagi seniman penyusun. Secara intern jenis-jenis tindak tutur yang terdapat dalam tari pasihan menggambarkan tentang nasehat-nasehat cinta kasih dan secara ekstern diharapkan oleh seniman penyusun jenis-jenis tindak tutur direktif yang mendominasi dalam bahasa verbal yang sifatnya mengajak. konsep yang mendasari tentang dominasi jenis-jenis tindak tutur direktif yang terdapat pada tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk adalah terkait dengan fungsi bahasa verbal yang terdapat dalam tari pasihan utamanya untuk suritauladan.

tansah Patik dhuh mas formal Direktif Asertif Direktif Asertif baya iki bapakne mangkat Sawahmu formal formal formal formal Asertif Mbokne formal 273 . Sawahmu anganti. Bapakne sithole. 2 3 4 5 W W W W baya iki wus wanci. mangkat makarya. 6 L Mbokne thole.Sekartaji 4 Dewi Sekartaji 5 Dewi Sekartaji 6 Dewi Sekartaji Ulun dhahat teka Direktif Ulun dhahat datan Direktif formal formal Dadya gantilaning tyas Direktif dadya formal aginggang sarambut Kalamun pinanggya datan 7 Dewi Sekartaji Aluwung tumekeng lalis Komisif Aluwung formal Jenis Tindak Tutur (TT) yang melekat pada Jineman Sayuk No Penutur Bahasa Verbal Jineman Sayuk Jenis tindak tutur Pemarkah Situasi Wanita (W) Dhuh mas jiwaku. 1 dan Lakilaki (L).

7 L Sakdurunge anakmu gawanen mrene. asmara.Mijil Sulastri. mustikaning. Mijil Sulastri memiliki rasa lagu prihatin dan untuk mengungkapkan rasa cinta kasih atau nasehat-nasehat tentang asmara. Direktif gawanen formal 8 L Tak kudange anakku sing bagus dhewe. garwa. Dengan demikian bahasa verbal yang terdapat pada tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk. Bahasa verbal yang berupa tembang-tembang cinta tersebut dapat dicermati dari penggunaan kata-kata cinta. seperti Pangkur Ngrenas memiliki rasa lagu jatuh cinta. Jenis-jenis tembang tersebut memiliki watak atau rasa lagu yang bernuansa percintaan. wong manis. guru lagu. dilihat dari asfek kebahasaan secara koherensi telah memperlihatkan keterpaduan antara unsur-unsur lingual dalam bentuk guru wilangan. setya. aginggang sarambut. dan mas jiwaku. pinter Direktif mbesuk pinter formal Bentuk bahasa verbal yang terdapat pada tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk merupakan bahasa tembang Jawa yang berasal dari ranah tembang macapat. kata dalam irama dan tekanan dengan dengan watak lagu tentang nasehat-nasehat cinta. Kinanthi Sandhung memiliki rasa lagu romantis yang lebih tepat untuk memberikan nasehat-nasehat tentang cinta kasih. prasetya. wanodya di. Ekspresif bagus formal 9 L Mbesuk nyambut gawe. wuyung. Jineman Sayuk. seperti: gantilaning tyas. sulistyane. 274 . asih tresna. dan gerongan Lambangsari. Adapun jenisnya antara lain: Pangkur Ngrenas. Kinanthi Sandhung. brangti. rabinira.sebagai bahasa tembang. begitu pula gerongan Lambangsari dan Jineman Sayuk.

Wayang Orang yang nota bene bentuk–bentuk seni tersebut banyak menggarap jenis-jenis tembang Jawa. Puncak kreatifitasnya dalam menciptakan karya yang berbasis bahasa verbal dalam bentuk tembang Jawa yaitu karya Langendriyan Menakjinggo Lena yang mampu memberikan perkembangan pada karya-karya Langendriyan yang berbasis tembang Jawa. Faktor lingkungan memberikan kontribusi cukup berarti dalam menunjang perkembangan kesenimanan Maridi. Perhatian terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi dilingkungan sosial budaya sekitarnya. Bahasa verbal yang digunakan pada tari Karonsih yang secara intern sebagai alat komunikasi antar peran yang terlibat yaitu sebagai media percakapan 275 .Pemilihan jenis-jenis tembang tersebut selain watak atau rasa lagu sesuai dengan tema percintaan juga didasari dari latar belakang budaya penyusun tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk yang berasal dari budaya Jawa. rasa estetik. Dari pengalaman selama berkecimpung dalam dunia Kethoprak. ia memiliki pengalaman dalam berkecimpung dalam budaya Jawa. Bentuk tembang Pangkur merupakan salah satu inspirasi dari sajian tokoh Gathutkaca ketika memadu asmara dengan Pergiwa yang diperankan oleh Rusman dan Darsi. Bergaulnya dengan para seniman wayang orang seperti: Rusman. setelah dewasa menjadi penari profesional. tingkah laku. masuk menyatu mempengaruhi dan mengkristal membentuk pola pikir.Wayang Orang rupanya memberikan inspirasi dan kontribusi dalam menciptakan karya tari Bondhan Sayuk. seperti: Kethoprak. dan pola kehidupan Maridi sebagai seniman. Begitu pula Sunarno. Darsi dan Surono rupanya memberikan kontribusi yang sangat berarti dalam karya tari Karonsih terkait dengan digunakannya tembang-tembang tersebut.

Salah satu contoh tingkat kehalusan bahasa Jawa krama yang digunakan pertuturan Dewi Sekartaji dan Panji Inukertapati Kertapati pada tari Karonsih dapat dicermati pada bahasa tembang berikut ini: Pra wanita marsudiya marang tindak kang utama Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada Ingkang bisa nujuprana weh reseping pamicara Nora kengguh ing panggodha darbe budi kang santosa Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira Datan kemba asih tresna sung tetreming kulawarga Sampun sami setya tuhu anggenya liron asmara Karonsih pancen pranyata dadya kembang jagad raya Sedangkan bahasa verbal dalam tari Bondhan Sayuk yang digunakan untuk percakapan peran yang terlibat dalam pertuturan antara suami dengan istri berbentuk bahasa Jawa Krama Ngoko. mempertimbangkan kedudukan peserta tutur yang terlibat keduanya adalah anak raja. Sehingga bahasa verbal yang digunakan untuk komunikasi peserta tutur adalah bahasa Jawa krama yang dirasa tepat dan sesuai untuk mencerminkan kehalusan terkait dengan kedudukan sosial sebagai putra bangsawan. Konsep yang melatarbelakangi digunakannya bahasa Jawa Krama pada tari Karonsih.Dewi Sekartaji dengan Panji Inukertapati menggunakan bahasa Jawa Krama. Dewi Sekartaji puteri raja Lembu Amijaya dari Kediri sedangkan Panji Inukertapati Kertapati putera raja Lembu Amiluhur dari Jenggala. Kedudukan peserta tutur antara suami dan istri adalah gambaran masyarakat secara umum yang lebih lazim disebut masyarakat biasa. Sebagai keluarga bangsawan sikap perilaku kedua peserta tutur memiliki adat dan etika budaya yang mencerminkan kehalusan dan keteladanan. mempertimbangkan kedudukan peserta tutur yang terlibat keduanya adalah masyarakat tani. Konsep yang mendasari digunakannya bahasa Jawa Krama Ngoko pada tari Bondhan Sayuk. Peserta tutur antara suami dan 276 .

Fungsi bahasa verbal yang terdapat pada tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk adalah untuk mengungkapkan maksud dari seniman penyusun. Untuk itu bahasa verbal dirasa sarana yang tepat untuk menjelaskan 277 . Sehingga bahasa verbal yang digunakan untuk komunikasi peserta tutur yang terlibat antara suami dan istri adalah bahasa Jawa krama ngoko yang dirasa tepat dan sesuai untuk mencerminkan sifat lugas. mengingat bahasa nonverbal yang menjadi sarana komunikasi bersama bahasa verbal memiliki keterbatasan-keterbatasan dalam mengungkapkan maksud dari seniman penyusunnya. Pemilihan peran suami dan istri dilatarbelakangi dari kehidupan seniman penyusunnya yang berasal dari keluarga seorang buruh tani dari desa Semono wilayah kabupaten Boyolali. Sakdurunge anakmu gawanen mrene. Sawahmu tansah anganti. baya iki wus wanci. Mbokne thole. Kedudukan bahasa verbal dalam tari Pasihan menjadi sangat penting. Mbesuk pinter nyambut gawe. Tak kudange anakku sing bagus dhewe. seperti bahasa tembang yang digunakan pertuturan ketika suami dan istri sambil menimang anak. hal ini dapat dicermati dari kata-kata yang digaris bawah: Dhuh mas jiwaku. mangkat makarya. Sebagai keluarga petani sikap perilaku kedua peserta tutur yang digambarkan dalam tari Bondhan Sayuk memiliki adat dan etika budaya yang lebih lugas. polos cenderung apa adanya terkait dengan kedudukan sosial sebagai masyarakat tani. polos cenderung apa adanya dan tampak kurang halus (kasar).istri merupakan simbol keluarga kecil dari kalangan masyarakat petani yang tercermin dari bahasa verbalnya yang cenderung ngoko yang lazim digunakan masyarakat pedesaan. Bapakne sithole.

dan iringan sebagai bahasa nonverbal tari pasihan merupakan pola-pola tradisional yang bersumber dari budaya istana Kasunanan Surakarta. dan bahagia. pola lantai. Wujud pasangan tersebut mengarahkan penonton supaya lebih fokus pada tema percintaan. rias. polatan (ekspresi wajah). busana. Bentuk bahasa nonverbal yang terdapat pada tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk meliputi: tema. romantis. Adapun bentuk garapnya hanya menyajikan dua peran utama yakni pria dan wanita sebagai pasangan suami dan istri. Kinetic body moves 278 . busana.maksud dan harapan yang dikehendaki oleh seniman tanpa melalui proses distorsi bahkan lebih dapat langsung mengungkapkannya. Rupanya kisah tersebut menjadi sebuah inspirasi yang berarti bagi pasangan temanten yang menginginkan percintaan yang ideal. Tema yang dipilih untuk tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk adalah pasihan atau percintaan. sehingga hayatan dari penonton tidak terkontaminasi tokoh atau peran lainnya. Kinetic body moves. rias. Konsep yang mendasari pemilihan tema percintaan ini terkait dengan harapan penyusun yang menghendaki kehadiran tari pasihan dalam resepsi perkawinan dapat bermakna bagi sepasang temanten. dan iringan. Lewat bahasa verbal seorang seniman akan menuangkan pikirannya secara lebih transparan dan komprehensif dalam bentuk tembang Jawa. polatan (ekspresi wajah). kinetic body moves. pola lantai. Tema percintaan yang diangkat dalam tari pasihan tersebut secara garis besar menggambarkan perjalanan cinta sepasang suami dan istri berawal dari duka yang dialami masing-masing tokoh kemudian permasalahan-permasalahan yang dihadapi dapat diselesaikan dengan baik yang akhirnya mereka dapat berhasil menikmati hidup bahagia dalam sebuah keluarga.

gerak ini difungsikan semata-mata untuk kebutuhan ekspresi. Kedua bentuk gerak baik presentatif maupun representatif merupakan medium utama tari pasihan dalam rangka memenuhi keperluan ekspresi. Keduanya hadir dalam jagad tari. Adapun gerak-gerak representatif pada genre tari pasihan tersebut 279 . Semakin banyak gerak representatif dalam sebuah tarian penonton semakin mudah menafsirkan tema dari ilusi-ilusi yang diekspresikan lewat gerak sehingga pesan makna dari tari pasihan tersebut mudah ditangkap masyarakat sebagai apresiatornya. pola-pola sekarannya bersifat presentatif dan representatif.sebagai media utama dalam sajian tari pasihan berupa pola-pola sekaran tari tradisional gaya Surakarta. karena wujud yang tampak sering samar-samar. hal itu sengaja dibuat untuk mengungkapkan ekspresi seniman atau penyusun tari. namun kemunculannya tidak mudah untuk dipisah-pisahkan secara tegas. II. Dari seluruh adegan I.05 % dalam tari Bondhan Sayuk. Gerak presentatif merupakan bentuk gerak yang tidak mempunyai arti secara khusus. yakni gerak presentatif dan representatif. yang mencapai 80. Adapun bentuk-bentuk vokabuler sekaran yang terdapat pada tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk secara garis besar. Secara garis besar gerak dalam tari dapat dibagi menjadi dua bagian secara kasar. Dominasi gerak representatif yang terdapat pada genre tari pasihan dimaksudkan oleh seniman penyusun supaya masyarakat dan lebih khusus sepasang temanten akan merasa lebih mudah mengapresiasi tema tarian. Sedangkan gerak representatif adalah gerak penghadir.20 % dalam tari Karonsih dan 76. artinya gerak yang dihasilkan dari imitasi terhadap sesuatu. dan III pada tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk menunjukkan gerak representatif mendominasi pada bahasa nonverbal.

Alasannya kehadiran genre tari pasihan pada resepsi perkawinan adalah untuk hiburan dan suritauladan temanten dan masyarakat yang kepekaan rasanya heterogen. Sehingga tema yang muncul dapat ditafsirkan yakni tema percintaan. Berdasarkan tema percintaan yang telah terungkap. meledek. Hubungan bahasa verbal dan Kinetic body moves bersifat langsung artinya bahwa makna bahasa verbal sesuai dengan makna bentuk gerak. untuk itu supaya seni tersebut dapat ditangkap maknanya oleh semua lapisan masyarakat maka bentuk komposit bahasa verbal dengan Kinetic body moves yang bersifat langsung dirasa sangat tepat agar mudah dihayati. mencubit. Sedangkan hubungan bahasa verbal dan Kinetic body moves bersifat tidak langsung artinya bahwa makna bahasa verbal tidak sesuai dengan makna bentuk gerak. Selain itu dari komposit bahasa verbal dan Kinetic body moves sebagai unsur nonverbal pada tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk terdapat hubungan yang bersifat langsung dan tidak langsung. seperti: berpelukan. menggoda dan gerak-gerak lainnya yang mengungkapkan kegembiraan. penonton akan mencoba mengaitkan fungsi kehadiran tari pada sebuah resepsi perkawinan.merefleksikan gerak orang bermesraan. Pemilihan pola-pola sekaran tari tradisional yang bersumber dari istana tersebut terkait dengan latar belakang kedua penyusun yaitu: Maridi dengan 280 . bergandengan tangan. Secara kuantitatif hubungan bahasa verbal dan nonverbal yang bersifat langsung tampak lebih mendominasi dibandingkan dengan yang tidak langsung. Kehadiran genre tari pasihan pada sebuah resepsi perkawinan bukan pada resepsi lainnya itu merupakan pertanda bahwa jenis-jenis tari tersebut mempunyai fungsi yang berarti dalam resepsi perkawinan yaitu sebagai suritauladan yang hendak ditindaklanjuti bagi sepasang temanten.

Adapun guru dan sanggar yang telah banyak berperan membentuk dan mengembangkan kesenimanan Maridi di dunia tari. 3) R. 7) R. Maridi. antara lain: 1) R. ia belajar tari di desa Semono dengan Wiryo Dimedjo (paman).T Kusuma Kesawa.M Ng Atmo Hutoyo sebagai guru tari alus. Maridi secara diam-diam banyak berguru dengan beberapa empu tari yang akhirnya membentuk pribadinya menjadi seorang empu tari. Berkat kecerdikan dan keuletan dalam upaya memperdalam tari. yang menjadi panutan gaya / wiled tarian gagah S. belajar tari dasar (tayungan) dan Tari Gathutkaca Gandrung. Seperti Maridi sejak berumur sekitar usia 8 tahun.M Lurah Widakdo. 281 . Selama di Pati. b) Eko Prasetya. Maridi sudah bergabung di sanggar tari: paguyuban Muda Matoyo di bawah asuhan Jogo Laksito. 6) R.M Bekel Wignya Hambekso. belajar tari Kethekan (kera). Lurah Harto Sukolewa sebagai guru tari gagah. tari cakil di asrama polisi Pati. Masa kecilnya banyak di Pati diajak paman Sandiman yang berprofesi Polisi yang juga seorang penari.M Lurah Atmo Bratono dengan sanggarnya Yatno Sidoyo.M Suseno (dari gaya Mangkunegaran) 8) Nyai Pamarditaya. Bagi Sunarno sejak berumur 11 tahun. belajar tari kethekan. dan tari Bondhan.karyanya tari Karonsih dan Sunarno dengan karyanya tari Bondhan Sayuk yang sejak masih muda mereka banyak belajar tari-tarian tradisi gaya Surakarta. terutama tari tradisional gaya Surakarta. tari rakyat. Sunarno banyak belajar tari dengan beberapa guru diantaranya: a) Sandiman (paman). 4) R. 2) R. 5) R.

d) Wiryo dengan Sanggar tari Pomoi di Laweyan. tari Cantrikan. Setelah lulus SMP. c) Wiryo Tampu.c) Raden Irawan. Pada tahun 1973. Di samping kuliah ia juga seorang pengajar tari spesialis tari gagah di ASKI sejak tahun 1973 yang pada waktu itu baru menjadi pegawai honorer Dikbud Kodya yang diperbantukan untuk ASKI. selama di Surakarta ia banyak menimba ilmu dengan beberapa Guru tari antara lain: a) KRT. Kusuma Kesawa di Pawiyatan Karaton Kasunanan dan Ramayana Rara Jonggrang. Selain pendidikan formal. Di samping belajar. Sunarno melanjutkan sekolah di Konservatori Karawitan Indonesia Surakarta (KOKAR) di Surakarta pada jurusan tari tahun 1970 lulus tahun 1972. Pada tahun 1976. 282 . b) S. d) Secara khusus belajar tari cakilan di kursus: Kembang Djaya di Pati.Ngaliman di kursus tari PKJT sejak tahun 1972. dan Tari Gathutkaca Gandrung di Pakempalan Kagunan Jawi (PKD) Pati. ia dijadikan asisten S. Melanjutkan S1 di ASKI lulus tahun 1981 dan mengambil S2 di Sekolah Tinggi Seni Indonesia di Surakarta. Sunarno masuk kuliah di Akademi Seni Karawitan Indonesia. tahun 2005 lulus tahun 2007 dengan gelar Magister Seni ( M. untuk meniti karirnya lebih lanjut. belajar tarian dasar tayungan. Ngaliman dengan sanggarnya Baradha di Kemplayan dan kursus tari di PKJT Sasonomulyo. jurusan Karawitan (ASKI) dan lulus sarjana muda tahun !979. ia diangkat sebagai pegawai negeri Dikbud Kodya dan sejak tahun 1982 melimpah ke ASKI sebagai dosen tetap sampai sekarang.Sn).

Untuk menangkap makna yang terkandung dalam bahasa nonverbal yang berupa simbol-simbol kinetic body moves. pola lantai. Komposit bahasa verbal dan nonverbal dalam genre tari pasihan merupakan perpaduan yang utuh sebagai seni pertunjukan. kehadiran genre tari pasihan pada upacara ritual perkawinan difungsikan oleh 283 . rias. Pada tari Karonsih yang bersumber dari cerita Panji menggunakan dandanan Panjen dengan ciri Tekes. Sebagai seni pertunjukan. polatan (ekspresi wajah). iringan gamelan yang terpadu dengan bahasa verbal sastra tembang diperlukan kepekaan rasa dan ketajaman pikir sehingga mampu menghayati nilai-nilai cinta kasih pada tari pasihan yang diharapkan seperti yang dimaksudkan seniman penyusun. Pola-pola semacam itu merupakan budaya Jawa yang merupakan dasar dari penyusun tari pasihan sehingga komplementer dari kinetic body moves. luruh dan feminin. dan iringan sebagai bahasa nonverbal tari pasihan saling mengkait untuk mendukung bahasa verbal sastra tembang menjadi bentuk sajian tari yang utuh dan berfungsi sebagai media komunikasi untuk mengungkapkan maksud seniman penyusun. sedangkan tari Bondhan Sayuk yang bersumber dari cerita rakyat menggunakan dandanan Blangkonan untuk peran suami dan peran istri menggunakan Gelungan atau konde. Bentuk rias dan busana yang dipakai pada tari pasihan berdasarkan pola-pola tradisi yang disesuaikan dengan sumber cerita. Hal ini terkait dengan karakter masing-masing peran yang cennderung alus. pola lantai. polatan (ekspresi wajah). busana. Bentuk iringan gamelan sebagai ilustrasi musik yang berupa gendhing-gendhing karawitan rupanya sangat tepat dan memberi kemantapan dalam mendukung sajian tari pasihan.Polatan atau ekspresi wajah pada tari pasihan pada dasarnya tidak tampak mencolok perubahannya. rias. busana.

kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga. Sedangkan suritauladan yang diharapkan oleh seniman penyusunnya didasarkan pada pesan atau muatan isi yang terkandung dalam komposit bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan yang berupa nasehat-nasehat cinta kasih tentang: pasangan keluarga yang romantis. Faktor Afektif. dan keterlatian dalam mengapresiasi tari pasihan. sajian genre tari pasihan menjadi layak karena wujudnya merupakan bentuk seni pertunjukan yang secara visual menarik. Sebagai hiburan. Masyarakat penonton adalah kelompok orang dari beragam kalangan status sosial yang mengapresiasi tari pasihan terutama jenis tari Karonsih dan tari bondhan Sayuk.seniman penyusun sebagai hiburan dan suritauladan bagi sepasang temanten dan masyarakat pada umumnya. Informan dari kalangan masyarakat secara garis besar terdiri dari: kelompok penanggap atau 284 . Nilai-nilai keteladanan tersebut terutama diperuntukan bagi sepasang temanten untuk bekal dalam membina rumah tangga. dan sikap-sikap ideal bagi figur suami maupun figur istri. kemauan. harmonis. memikat dan mengandung nilai estetik yang dapat menghibur penonton. Pada dasarnya masing-masing penonton memiliki persepsi yang berbeda-beda tergantung dari kepekaan rasa dan ketajaman pikir yang dimiliki individu. latar belakang budaya. C. dan bahagia. Beragamnya persepsi dari masyarakat penonton tidak lepas dari bekal kepekaan rasa. Persepsi masyarakat terhadap kehidupan genre tari pasihan gaya Surakarta. Beragam pendapat dari kalangan masyarakat telah muncul menanggapi hadirnya genre tari pasihan pada ritual resepsi perkawinan.

maupun manis. sehingga proses hayatan yang dikehendaki penari maupun penyusun tari tidak akan muncul. 285 . rasa memiliki. Sebagai masyarakat yang berlatarbelakang budaya Jawa. melestarikan budaya yang dirasakan lebih tepat adalah budaya Jawa. Selain bentuk fisik penari yang ideal juga dukungan rias wajah yang mampu menampilkan karakterisasi peran dan busana glamor yang dapat memikat dan memberi kenikmatan indera mata. Tanpa penampilan rupawan penarinya. Dari pengamatan tersebut dibenak para penonton terjadi sinergi antara kepekaan rasa dan ketajaman pikir sehingga muncul penafsiranpenafsiran terhadap karya seni. Bagi penanggap kehadiran tari pasihan dalam ritual resepsi perkawinan adat budaya Jawa ini merupakan salah bentuk hiburan yang diperuntukkan bagi tamu undangan supaya tidak membosankan dan sekaligus untuk mengatur jalannya upacara terkait dengan jeda acara demi acara berikutnya. Adapun informasi dari ketiga kelompok informan tersebut dapat dicermati berikut ini. bersih akan menambah daya tarik penonton.sebagai pengguna. diharapkan dengan ketinggian yang ideal (sekitar 160 cm) dan dukungan warna kulit yang halus. kelompok penonton umum. niscaya penonton tidak akan menanggapi apalagi memperhatikan. Setelah itu baru melihat dedek atau tinggi – rendahnya penari. cantik. Hal ini dapat dicermati sejak awal dari pelaksanaan upacara resepsi perkawinan yang menggunakan adat budaya Jawa. bagus. Taraf selanjutnya adalah kemampuan penari dalam menyajikan tari yang lebih berorientasi pada keluwesan penari dalam membawakan tarian.Genre tari pasihan sebagai hiburan. dan kelompok pakar. 1. Penilaian paling awal yang tampak bagi penonton akan tertarik pada gandar atau rupa wajah penarinya yang tampan.

baik yang menyangkut pemilihan hari resepsi. Dari beberapa pakar menyatakan bahwa kehadiran genre pasihan pada upacara ritual perkawinan memiliki fungsi yang dalam terutama bagi sepasang mempelai temanten. Hiburan yang didapat dari sajian tari pasihan. bentuk dekorasi (brostul) untuk penganten. serta saranasarana lainnya. Bagi penonton secara umum. Kehadiran tari pasihan dalam upacara ritual resepsi perkawinan yang biasanya disajikan pada bagian akhir dari seluruh rangkaian resepsi sebagai penutup. pertunjukkan tari pasihan dalam upacara ritual perkawinan adat budaya Jawa terletak pada kesesuaian antara tema percintaaan yang digambarkan tari pasihan sebagai muatannya dengan peristiwa perkawinan yang mengatur sejak awal jalannya percintaan sepasang mempelai temanten secara resmi di depan publik untuk mendapatkan pengakuan status sosial dan adat budaya yang mereka miliki. Sebagai hiburan yang dirasa tepat atau sesuai. Sinkronisasi antara gambaran nilai percintaan yang diangkat dalam tari dengan realitas nilai percintaan yang hidup dan berkembang dalam jiwa sepasang mempelai temanten yang sedang diwisuda. seperti genre tari pasihan gaya Surakarta. tarub sebagai hiasan rumah resepsi. busana kejawen lengkap dengan keris untuk among tamu kakung (penjemput tamu pria) dan kebaya untuk among tamu wanita. tersebut adalah bukti dari ketepatan atau kesesuaian yang diasumsikan dari penonton secara umum. busana basahan ataupun kejawen lengkap untuk penganten. merupakan pertunjukan yang bersifat hiburan. Fungsi awal yang paling sederhana secara faktual dapat dicermati adalah sebagai hiburan. Hiburan yang lebih tepat dipilihnya bentuk kesenian yang berbasis budaya Jawa. 286 . hiburan yang berbentuk tarian maupun karawitan secara lengkap.

dandanan busana. Kesamaan persepsi dari ketiga kelompok masyarakat tersebut karena mereka memiliki latar belakang budaya yang sama. dan kelompok pakar secara garis besar salah satu fungsi genre tari pasihan dalam ritual resepsi perkawinan adat Jawa merupakan bentuk hiburan. Bagi penonton umum yang sering mengapresiasi pementasan tari pasihan. sekalipun kadar kualitas berbeda namun masih mampu menggugah dan menghidupkan kembali stimulus-stimulus estetik yang sewaktuwaktu dihadapkan pada benda pacu yang berupa karya seni genre tari pasihan. artinya kenikmatan indera penonton dari melihat pertunjukan tari pasihan merasa tertarik dan terpikat berawal dari bentuk fisik. Secara emosional mereka memiliki ikatan kultur yang kuat sehingga kepekaan rasa yang tertanam dalam jiwa. dan kinetic body moves yang secara komplementer akan menyatu dengan wujud nonfisik yang berupa rasa. Pada dasarnya masing-masing individu sedikit banyak memiliki rasa kesenian yang merupakan bekal alami. rias. mereka katakan bahwa jenis-jenis tari percintaan yang sering dilihat dalam resepsi perkawinan mempunyai maksud-maksud tertentu. 2. mereka melihat 287 . memiliki wawasan kesenian dan mempunyai minat serta kepedulian terhadap seni. Genre tari pasihan sebagai keteladanan.bagi penonton adalah bersifat estetik. Berdasarkan pementasan taritarian pasihan yang menggambarkan orang bercinta dengan mesra. kelompok penonton umum. Persepsi masyarakat yang terdiri dari kelompok penanggap atau sebagai pengguna. Hasil komplementer dari bentuk fisik dan nonfisik dalam tari adalah rasa keindahan yang mampu memberikan hiburan yang bersifat rohani. dedek atau tinggi rendahnya postur tubuh. Wujud fisik berupa gandar atau rupa wajah.

kegembiraan. romantisme. Tema percintaan yang diangkat untuk menentukan alur garapan tari pasihan sungguh mampu mengungkapkan nilai cinta lewat liku-liku kehidupan cinta sepasang kekasih yang merupakan tokoh idola baik yang bersifat fiktif maupun nyata bagi masyarakat Jawa. dan berarti bagi sepasang mempelai temanten yang sedang diwisuda. Bagi penanggap nilai-nilai cinta yang demikian itu. Selain itu yang dapat ditiru oleh pasangan temanten dari pementasan tari-tarian pasihan adalah kebersamaan dan kegembiraan. di tengah-tengah kehidupan sosial masyarakat. Diharapkan dengan meneladani nilai percintaan yang disajikan lewat tari pasihan tersebut bagi sepasang temanten dapat membina hidupnya dengan nilai cinta yang sebenarnya. memahami dan menghayati nilai-nilai yang terkandung dalam karya tari pasihan. Diharapkan keluarga yang 288 . Bagi penanggap. untuk itu perlu diteladani. Secara khusus tari pasihan merupakan simbolisasi percintaan yang mengandung nilai percintaan yang begitu tulus sebagai muatan ekspresinya. dan Damarwulan & Dewi Anjasmara dalam tari Enggar-enggar tersebut mempunyai makna yang dalam yang mampu menyentuh jiwa manusia. yaitu kemesraan sebagai sepasang suami istri. Dewa Komajaya & Dewi Komaratih dalam tari Lambangsih.terdapat sesuatu dari pertunjukkan itu yang dapat ditiru oleh sepasang temanten. merupakan sesuatu bekal hidup yang sangat berharga. Pemilihan ini rupanya sangat terkait dengan maksud penanggap yang mampu mencermati. tari pasihan merupakan masterpiece dari seluruh sajian tari yang dipentaskan dalam sebuah upacara ritual perkawinan adat Jawa. dan kebahagiaan yang digambarkan dari sepasang tokoh-tokoh idola seperti: Panji Inukertapati & Dewi Sekartaji pada tari Karonsih. Kemesraan. ketulusan. kehalusan.

Dari medium sensa itu seniman akan dapat menganyam impian-impian bagi kita mengenai hal-hal yang 289 . Kepekaan rasa dan ketajaman intelek bagi pakar seni merupakan modal utama untuk mencermati dan menganalisis kehadiran sebuah karya seni di tengah-tengah kehidupan dan perkembangan sosial masyarakat dari beragam perspektif. senang. gembira. tetapi sering kali mengalami kesulitan untuk menginterpretasi makna sesungguhnya yang dikehendaki seniman. dan wawasan berkesenian secara luas. sehingga penafsiran-penafsiran terhadap makna dibalik karya yang dicipta menjadi semakin valid Bagi pakar. bahagia. tenang. Untuk mengetahui maksud seniman diperlukan bekal pengalaman. kemampuan. dan bahagia. damai.dibangun dan dibina sepasang temanten dengan nilai-nilai cinta mampu menciptakan keluarga yang harmonis. kacau. dan lainnya itu semua ditangan seniman diungkapkan dalam bungkus sensa yang mampu memicu dan memacu timbulnya khayalan benda dan peristiwa yang memberi kenikmatan dan kepuasan. keterlatihan. seorang seniman berkarya merupakan dorongan dan tutuntan kebutuhan jiwa yang dilatarbelakangi apresiasi terhadap lingkungan manusia dan alam yang terseleksi dan senantiasa dimanifestasikan dalam bentuk yang estetik. marah. Mengingat bahwa seorang seniman menciptakan karya seni sedikit banyak mempunyai maksud-maksud tertentu dibalik karyanya. Maksud seniman tersebut tersirat pada karya seni yang kadang kala mudah ditangkap maknanya oleh penonton. seperti: sedih. Bagi pakar bekal apresiasinya terhadap seni dan wawasan intelektual yang dimiliki mampu menghayati secara dalam dan mengungkapkannya secara komprehenship. khawatir. Nilai cinta yang terdapat pada tari pasihan yang merupakan akumulasi dari beragam rasa. takut.

kita kemudian dalam imajinasi dapat melakukan atau mengalami. Bagi pakar. Simbolisme semacam ini tampak pada genre tari pasihan yang hadir dalam rangkaian upacara-upacara perkawinan adat Jawa. Pada dasarnya genre tari pasihan gaya Surakarta merupakan simbolisasi percintaan sepasang manusia yang berjenis kelamin pria dan wanita. Seolah–olah keberadaan genre tari pasihan dalam budaya Jawa menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan terutama pada upacara-upacara perkawinan.membuai dan memikat kita senang mengamati. Kehadiran 290 . Dalam menghadapi permasalahan kemudian mendapat perjalanan kisahnya berawal solusi yang menjadi berangsur-angsur membaik dan berakhir bahagia. Khayalan tentang tindakan atau emosi yang ditimbulkan lewat karya seni. Kehadiran genre tari pasihan (percintaan pria dan wanita) dalam kehidupan sosial masyarakat pada ritual perkawinan adat Jawa rupanya mempunyai makna simbolik yang sangat penting terutama bagi kedua mempelai dalam rangka mempersiapkan diri untuk mengarungi kehidupan di masyarakat yaitu menuju terbentuknya keluarga yang bahagia. Seniman pada dasarnya tidak lain sebagai manusia yang menyediakan sebuah susunan benda pacu atau lambang-lambang sensa yang diharapkan akan ditafsirkan seperti yang dimaksudkan olehnya. Jika dicermati lebih dalam dari jiwa kita sendirilah sebenarnya muncul gagasan-gagasan dan beragam rasa yang merupakan isi sebuah karya seni. sehingga perlu perantara yang berwujud simbol-simbol dalam puisi bukan dalam bentuk pengetahuan. genre tari pasihan memiliki fungsi yang dalam terutama bagi sepasang mempelai temanten yang tercermin pada komplementer bahasa verbal dan nonverbalnya. Menurut Clifford Geertz (1992: 6). bahwa ‘simbol’ tampak terbatas pada sesuatu yang mengungkapkan secara tidak langsung.

dan bahagia. Hal ini juga digambarkan secara lebih aktual pada tari Bondhan Sayuk ketika tindakan atau perbuatan penari putri (peran istri) memberikan boneka anak kepada temanten putri pada bagian akhir tarian merupakan perbuatan simbolik yang menunjukkan adanya kekuatan – kekuatan tertentu yang tidak kelihatan mata yang bersifat magis simpatetis diharapkan dapat diterima penganten putri. Rupanya terdapat korelasi yang sangat signifikan bahwa kehadiran tari pasihan dalam resepsi perkawinan diharapkan dapat diteladani dan memberikan sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temanten. harmonis.tari pasihan hampir dapat dipastikan dalam resepsi perkawinan. Bentuk dan sikap ideal bagi sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temanten terpancar dari kekuatan cinta sepasang tokoh yang digambarkan dalam tari pasihan dimaksudkan dapat dihayati sepasang temanten sehingga bayanganbayangan cinta yang diekspresikan oleh seniman mampu memicu dan memacu kehidupan imajinasi cinta sepasang temanten. Kekuatan imajinasi percintaan yang digambarkan sepasang kekasih dalam tari pasihan diharapkan dapat memberikan kekuatan magis simpatetis terhadap kehidupan jiwa sepasang mempelai temanten. kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga. Nilai-nilai keteladanan yang dapat diserap dari aktualisasi tari pasihan yang berupa nasehat-nasehat cinta kasih diantaranya: pasangan keluarga yang romantis. yaitu mampu mempengaruhi kesuburan dalam proses perkawinan pasangan temanten. Dengan kekuatan magis simpatetis akan dapat menyuburkan benih-benih cinta 291 . suami mapun istri. Perbuatan simbolik dalam pertunjukan tari Bondhan Sayuk lebih tampak jelas dan lebih mendekat kearah realitas tujuan bercinta dalam sebuah kehidupan keluarga.

Bahkan seniman sering mampu menghasilkan karya seni yang sangat bagus tetapi kerap tidak memiliki pendapat yang jelas dan tetap terhadap pernilaian karyanya. sebagai pewaris dan penerus keluarga. Kesulitan yang tampak bahwa seni pertunjukan merupakan seni sesaat. Dengan demikian hanya pakarlah yang mampu untuk memahami dan menganalisis secara komprehensif dan bertanggungjawab 292 . Di samping itu juga terdapat perbedaan pada kadar pemahaman. penonton umum dan pakar terhadap kehidupan genre tari pasihan mengidikasikan bahwa bentuk tari pasihan tersebut mengandung nilai-nilai keteladanan layak menjadi sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi sepasang temanten untuk diserap dan diimplemetasikan dalam kehidupan rumah tangga. Pada dasarnya kedua orang mengawinkan putra-putrinya dengan cita-cita untuk segera diberi keturunan yang berupa anak. orang tidak akan dapat berharap banyak karena rasa seni yang kita hayati tidak bisa mengendap dan lekas menghilang tidak menjadi gagasan yang tenang dan mantap. karena bagi pakar bekal apresiasinya terhadap seni dan wawasan intelektual yang dimiliki mampu menghayati secara dalam dan mengungkapkannya secara komprehenshif. Kesadaran awal yang harus dicermati. Kepekaan rasa dan ketajaman intelek pakar seni merupakan modal utama untuk mencermati dan menganalisis kehadiran sebuah karya seni di tengah-tengah kehidupan dan perkembangan sosial masyarakat dari beragam perspektif. para pelaku dan penghayat tidak selalu memahami akan yang mereka kerjakan. Kesamaan persepsi dari penanggap.yang tengah berkembang pada sepasang temanten yang akhirnya mampu melahirkan buah cinta yang berupa momongan (anak). bahwa dalam dunia kesenian.

TT komisif. dan TT patik.pokok penelitian. Temuan pokok. Dari beragam jenis TT yang terdapat pada genre tari pasihan. 1. 293 .validitasnya. yang memiliki rasa seni yang dalam tetapi tidak berbicara banyak dan sering sulit untuk mengurai karyanya. Jenis–jenis TT yang terdapat dalam genre tari pasihan gaya Surakarta terdiri dari beragam jenis yaitu: TT asertif. jenis TT yang dominan adalah TT direktif. TT direktif. Faktor objektif. TT ekspresif. karena seniman adalah berjiwa mistik. BAB IV PEMBAHASAN A.

Gambaran secara lebih 294 . Kekuatan imajinasi percintaan yang digambarkan sepasang kekasih dalam tari pasihan diharapkan dapat memberikan kekuatan magis simpatetis terhadap kehidupan jiwa sepasang mempelai temanten.2. Dalam bahasa verbal genre tari pasihan bentuk penerapkan prinsip kerja sama terjadi pelanggaran maksim kuantitas dan maksim cara. Rupanya terdapat korelasi yang sangat signifikan bahwa kehadiran tari pasihan dalam resepsi perkawinan diharapkan dapat diteladani sepasang temanten. sedangkan maksim kualitas dan maksim hubungan dipatuhi. Prinsip kesantunan yang diterapkan dalam bahasa verbal genre tari pasihan dengan menggunakan strategi melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif dan strategi melakukan TT secara tidak langsung (off record). Kehadiran tari pasihan hampir dapat dipastikan dalam resepsi perkawinan yang nota bene sebagai wahana untuk mewisuda sepasang temanten. Implikatur yang terdapat dalam bahasa verbal tari pasihan menunjukkan adanya simbolisasi percintaan sepasang suami istri yang dalam perjalanan kisahnya berawal menghadapi permasalahan kemudian mendapat solusi yang menjadi berangsur-angsur membaik dan berakhir bahagia. 3. Daya pragmatik yang terdapat dalam bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan menunjukkan adanya bentuk sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temanten. yaitu mampu mempengaruhi kesuburan dalam proses perkawinan pasangan temanten. Hal ini terpancar dari kekuatan cinta kasih sepasang suami istri yang digambarkan dalam tari pasihan dimaksudkan dapat dihayati sepasang temanten sehingga bayangan-bayangan cinta yang diekspresikan oleh seniman mampu memicu dan memacu kehidupan imajinasi cinta sepasang temanten.

dan sikapsikap ideal bagi figur suami maupun figur istri. harmonis. Bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan merupakan dua komponen besar yaitu aspek verbal berupa cakepan (syair) sastra tembang yang terdapat dalam teks pathetan. gerongan. dan jineman dan aspek nonverbalnya berupa: tema. Perbuatan simbolik dalam pertunjukan tari Bondhan Sayuk lebih tampak jelas dan lebih mendekat kearah realitas tujuan bercinta dalam sebuah kehidupan keluarga. Berdasarkan jabaran bahasa verbal dan nonverbal tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk dapat diketemukan ciri karakteristik genre tari pasihan sebagai berikut: a) Bahasa verbal berbentuk tembang Jawa bernuansa cinta. Pada intinya bentuk daya pragmatik genre tari pasihan adalah berupa nasehat-nasehat tentang cinta kasih yaitu pasangan keluarga yang romantis. pola lantai. rias. Nasehat-nasehat tentang cinta kasih tersebut bermanfaat bagi sepasang temanten sebagai bekal untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dalam membangun sebuah keluarga. b) Bahasa verbal yang digunakan berdasarkan status sosial. sindhenan. polatan. dan bahagia. kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga. c) Hubungan bahasa verbal dan nonverbal bersifat langsung dan tidak langsung. d) Tema percintaan. Tindakan atau perbuatan tersebut merupakan perbuatan simbolik yang menunjukkan adanya kekuatan – kekuatan tertentu yang tidak kelihatan mata yang bersifat magis simpatetis diharapkan dapat diterima temanten putri. dan iringan yang secara komplementer menyatu dalam bentuk seni pertunjukan. e) 295 .aktual pada tari Bondhan Sayuk yang merepresentasikan pasangan pria dan wanita setelah bercinta kemudian membawa boneka sebagai simbol anak dan ketika adegan akhir penari putri memberikan boneka anak kepada temanten putri. kinetic body moves (gerak tubuh). busana. 4.

Dalam menerapkan prinsip kerja sama.Cerita berakhir dengan bahagia (happy end). Hal ini dimaksudkan oleh seniman penyusun supaya bahasa verbal yang sifatnya mengajak. Prinsip kesantunan yang diterapkan dalam bahasa verbal genre tari pasihan dengan menggunakan strategi melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif untuk menunjukkan kedekatan. keintiman. g) Pesannya berupa nasehat tentang cinta kasih. dan memerintah yang tercermin dalam TT direktif dapat menyampaikan makna bahasa verbal sastra tembang yang berupa nasehat-nasehat cinta tersebut untuk diteladani sepasang temanten. meminta. f) Disajikan berpasangan pria dan wanita. Di samping itu juga konsep yang mendasari strategi untuk melakukan TT secara tidak langsung (off record) untuk mengekspresikan 296 . Maksim kualitas dan maksim hubungan dipatuhi dimaksudkan oleh seniman supaya komunikasi rasa dapat berlangsung sehingga makna karya tari pasihan dapat ditangkap penghayat secara utuh. dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur. Jenis TT yang mendominasi pada bahasa verbal dalam genre tari pasihan adalah TT direktif. seniman penyusun lewat karya tari pasihan melanggar maksim kuantitas dan maksim cara dimaksudkan seniman untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa. Hal ini dimaksudkan seniman penyusun untuk menunjukkan simbolisasi keharmonisan hubungan antara peran suami dan istri yang digambarkan dalam tari sebagai bentuk suritauladan yang layak untuk diteladani sepasang temanten. h) Gerak representatif dan presentatif sebagai ekspresi kinetic body moves dalam sajian. Faktor genetik.

rasa estetik dan menambah kemantapan rasa supaya dapat lebih menyentuh penghayat dan maknanya dapat diterima. B. dan bermakna bagi masyarakat. 297 . kehidupan genre tari pasihan dalam sosial masyarakat berfungsi sebagai hiburan dan suritauladan yang tepat bagi sepasang temanten dan masyarakat pada umumnya. Pembahasan. Genre tari pasihan merupakan jenis tari pasihan yang difungsikan sebagai hiburan dan suritauladan bagi sepasang temanten dan sosial masyarakat. bahwa fungsi tari pasihan dalam resepsi perkawinan. Bagi masyarakat secara umum kehadiran tari pasihan dalam resepsi perkawinan ditangkap sekadar sebagai hiburan. Keseimbangan komposisi bahasa verbal dan nonverbal tampak pada setiap peristiwa dalam adegan. estetik. Pemahaman tentang fungsi tari pasihan tersebut menunjukkan adanya perbedaan antara masyarakat umum dengan pakar seni. selain sebagai hiburan juga merupakan suritauladan yang sangat penting bagi sepasang temanten. yaitu pada setiap ekspresi sastra tembang selalu didukung dan diikuti langsung kinetic body moves. Konsepsi tentang pemilihan bahasa verbal dan nonverbal bersifat harmoni. selaras dan seimbang sehingga komplementer dari kedua komponen tersebut menjadi padu membentuk genre tari pasihan dalam aktualisasi yang berkualitas. Kehadiran genre tari pasihan sebagai seni pertunjukan merupakan perpaduan dari bahasa verbal dan nonverbal yang secara komposit mengungkapkan makna. Berbeda dengan persepsi pakar seni. karena kepekaan rasa dan ketajaman pikir pakar seni lebih mantap dan lebih berkualitas dibandingkan masyarakat pada umumnya. Berdasarkan persepsi masyarakat. Faktor afektif.

dan karakter yang berbeda-beda tersebut mengarahkan pada sepasang temanten untuk lebih meresapi dan menangkap makna secara utuh untuk diteladani dan dijadikan sebagai bekal perjalanan dan pelajaran hidup. pola lantai. 298 . dan jineman mengandung nasehat-nasehat tentang cinta kasih bagi sepasang suami istri. rabinira. dan bahagia. untuk menyampaikan pesan maknanya tari pasihan. busana. asmara. Komplementer bahasa verbal sebagai kandungan makna dan bahasa nonverbal sebagai bentuk visual sudah menyatu dan berkaitan satu sama lainnya dan mampu mencerminkan kesatuan makna secara utuh. sulistyane. prasetya. Genre tari pasihan merupakan beragam jenis tari yang mengangkat tema percintaan. lagu. garwa. seperti: gantilaning tyas. Diharapkan dengan kata-kata cinta yang merupakan dasar dari tema percintaan yang diangkat dalam genre tari pasihan yang disajikan dalam bentuk tembang dengan irama. polatan. rias. wuyung. wanodya di. sindhenan. mencakup: pasangan keluarga yang romantis. Adapun kata-kata cinta. mustikaning. dan mas jiwaku. setya. aginggang sarambut. seniman penyusun memandang perlu memanfaatkan aspek kebahasaan atau bahasa verbal dengan menggunakan kata-kata cinta yang terakumulasi dalam bentuk sastra tembang Jawa. dan iringan yang saling mendukung dan menyatu menjadi sebuah bentuk sajian visual yang mengungkapkan pesan makna yang terkandung dalam bahasa verbal. kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga. asih tresna. wong manis. harmonis. dan sikap-sikap ideal bagi figur suami maupun figur istri sebagai pesan makna atau isi. kinetic body moves (gerak tubuh).Bahasa verbal genre tari pasihan berupa sastra tembang dalam bentuk pathetan. brangti. gerongan. Sedangkan bentuk bahasa nonverbal merupakan komplementer dari elemen-elemen: tema.

TT ekspresif. dan mengajak. Tuturan Dewi Sekartaji: Dhuh jagad dewa bathara Welasa mring dasih kang nandhang kingkin Tuturan Panji Inukertapati: Muga tansah pinaringan Kanugrahan kang salami 299 . komisif. TT verdiktif. Jenis TT direktif yang berfungsi untuk permintaan.Dilihat dari aspek kebahasaan genre tari pasihan memanfaatkan jenis-jenis TT yang terdapat pada bahasa verbal teks sastra tembang dalam bentuk pathetan. TT direktif. TT direktif adalah tuturan di mana pembicara berusaha menyuruh orang yang disapa untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu perbuatan tertentu. perintah. Jenis-jenis TT direktif tersebut dapat dicermati berikut ini. Dari beragam jenis TT yang terdapat pada genre tari pasihan. dan TT patik. dan jineman. TT komisif. Bahasa verbal dalam genre tari pasihan terakumulasi dari beragam jenis TT yang menyatu saling mengkait dan saling melengkapi sebagai penunjuk isi. Secara garis besar beliau membagi tuturan direktif menjadi tiga macam: perintah. dan patik. dan usulan atau anjuran. jenis-jenis TT direktif yang terdapat dalam genre tari pasihan berfungsi untuk permintaan. Menurut Kreidler (1998: 189-190). direktif. Berdasarkan teori jenis TT yang dikemukakan Kreidler. sindhenan. permintaan. Sejalan dengan pernyataan Kreidler. gerongan. yaitu: TT asertif. TT performatif. mengkategorisasikan TT dalam sebuah pertuturan menjadi tujuh jenis bentuk TT. Kreidler (1998: 183-194). jenis-jenis TT yang terdapat dalam genre tari pasihan gaya Surakarta terdiri dari jenis-jenis TT: asertif. ekspresif. jenis TT yang paling dominan adalah jenis TT direktif. melarang.

dan perintah tersebut secara akumulatif dimaksudkan oleh seniman untuk mengajak. Tuturan bentuk Narasi: 1. sakancane. Tuturan Suami: Mbokne thole. Dominasi dari jenis-jenis TT direktif yang terdapat dalam bahasa vebal genre tari pasihan yang sifatnya mengajak. permintaan. Tuturan Suami: Adhuh lae. Bapakne sithole. sayuk. Tuturan Suami : labuh labet mring bangsane. Sayuk. ora nyleweng tumindake. sayuk. Tuturan Panji Inukertapati: Pra wanita marsudiya marang tindak kang utama Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada Tuturan Dewi Sekartaji: Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira Datan kemba asih tresna sung tetreming kulawarga Tuturan istri: Dhuh mas jiwaku.Jenis TT direktif yang berfungsi untuk perintah. 4. sayuk. 2. Sayuk. mangkat makarya. Sayuk. atak adhuh lae. 3. sayuk. baya iki wus wanci. Maksud dan harapan seniman penyusun tersebut ditangkap oleh penghayat sebagai 300 . sakabehe. Jenis TT direktif yang berfungsi untuk mengajak. meminta dan menyuruh terhadap sepasang temanten untuk memahami dan meresapi makna isi yang terkandung dalam bahasa sastra tembang dan supaya melakukan tindakan atau perbuatan seperti yang dicontohkan dalam pertunjukan tari pasihan tersebut. Sakdurunge anakmu gawanen mrene. sayuk. sayuk. nyambut gawe. Jenis TT direktif yang berfungsi untuk melarang. Sayuk mbangun negarane. Sawahmu tansah anganti.

Untuk menerima isi atau pesan pendidikan yang berupa pementasan genre tari pasihan diperlukan ketajaman pikir dan kepekaan rasa. tertutup lebih bersifat simbolik. Indikasinya ditunjukkan bahwa genre tari pasihan hanya disajikan pada upacara-upacara resepsi perkawinan. harmonis. bukan pada acara-acara lainnya. multitafsir tersebut hanya mampu ditangkap indera lewat implikatur-implikatur bahasa verbal dengan bahasa nonverbal. Pada dasarnya bentuk karya seni genre tari pasihan merupakan materi pendidikan yang penuh imajinatif. mengingat gambaran percintaan pasangan suami istri yang romantis. dan bahagia yang terdapat dalam tari tersebut dirasa sangat tepat dan ditangkap secara mantap sebagai suatu edukatif atau pengajaran yang bersifat tidak langsung dan sangat bermanfaat bagi sepasang temanten untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dalam menggapai keluarga bahagia lahir dan batin. Bagi masyarakat Jawa. harmonis. sistem mendidik terhadap anak tidak selalu dilakukan secara formal dan terbuka. Seperti kehadiran genre tari pasihan (percintaan pria dan wanita) dalam kehidupan sosial masyarakat pada ritual perkawinan adat Jawa mempunyai makna simbolik (berupa: pasangan keluarga yang romantis.sesuatu yang harus diteladani. kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga. dan bahagia. tetapi juga dalam bentuk yang tidak langsung. perilaku ideal bagi suami mapun istri) yang sangat penting yaitu terutama bagi kedua mempelai temanten dalam rangka mempersiapkan diri untuk membentuk keluarga yang bahagia. Kehadiran genre tari pasihan dalam kehidupan sosial masyarakat pada ritual perkawinan merupakan wahana untuk mendidik anak yang telah dewasa yaitu sepasang temanten dengan cara tidak langsung yakni dengan cara simbolik. dan sikap. bukan 301 .

Maksim cara usahakan agar informasi mudah dimengerti. Menurut Grice. seperti: sang retnayu. Pelanggaran maksim kuantitas yang terjadi dalam bahasa verbal genre tari pasihan adalah digunakannya kata-kata arkais. seniman melanggar maksim kuantitas dan maksim cara. maksim cara. dan maksim hubungan. maksim kualitas. seniman memandang perlu menerapkan prinsip kerja sama dan prinsip kesantunan secara selektif dalam bahasa verbal teks-teks sastra tembang yang terdapat pada genre tari pasihan. Dalam penerapan prinsip kerja sama pada bahasa verbal genre tari pasihan. Untuk mengupayakan agar kandungan makna yang dikehendaki seniman dapat ditangkap dan sampai pada pasangan temanten. prinsip kerja sama dalam pertuturan dibagi menjadi empat maksim yaitu maksim kuantitas. usahakan agar pernyataan anda ada relevansinya (dalam Leech. Maksim hubungan. Lewat cara-cara estetis bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan tersebut disajikan supaya pesan makna yang dikehendaki seniman dapat diterima. hindari ketaksaan dan usahakan agar ringkas. tepat sasaran dan lebih menyentuh sepasang temanten dengan tidak merasa dipaksa. usahakan agar sumbangan informasi anda benar. Maksim kuantitas adalah berikan informasi yang tepat sesuai yang dibutuhkan dan jangan melebihi yang dibutuhkan. mendranira. hindari pernyataan yang samar.makna leksikal dari susunan gramatikal bahasa verbalnya. mring 302 . dahat. 1993: 11). Maksim kualitas. jengkar sking. Sistem pendidikan cara simbolik ini merupakan pilihan masyarakat yang masih merasa memiliki keterikatan emosional dan kesadaran atas budaya Jawa yang dirasakan dan dianggap mengandung nilai-nilai kehidupan yang layak dan tepat untuk diimplementasikan pada masyarakat hingga sekarang.

sang pekik wah sang dyah ayu. keintiman. lalis. brangti. angkling. pinanggya. Adapun pelanggaran maksim cara yang terjadi dalam bahasa verbal genre tari pasihan. nujuprana. Adapun pelanggaran maksim kuantitas yang terjadi dalam bahasa verbal genre tari pasihan. Berdasarkan Teori kesantunan Brown dan Levinson (1987). 3) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan negatif mengacu muka negatif (negative politiness). yaitu: 1) melakukan TT secara apa adanya. terdapat lima strategi. dimaksudkan oleh seniman untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa. dimaksudkan oleh seniman untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa. dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur.dasih. Maksim kualitas dan maksim hubungan dipatuhi dimaksudkan oleh seniman supaya komunikasi rasa dapat berlangsung sehingga makna karya tari pasihan dapat ditangkap penghayat secara utuh. sulistyane. wuyung. tanpa basa basi (bald on record). 4) 303 . rasaningtyas. 2) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif mengacu muka positif (positive politiness). Pelanggaran maksim cara dalam bahasa verbal genre tari pasihan adalah digunakannya bahasa tembang yang pada dasarnya merupakan bahasa yang sulit dimengerti artinya. dadya gantilaning tyas. sifatnya tersamar dan tidak ringkas karena telah terpola dengan guru lagu dan guruwilangan. wak-ingan. untuk menunjukkan kedekatan. aginggang sarambut. wanodya di. mustikaning. anggenya. untuk menunjukkan adanya jarak sosial antara penutur dengan mitra tutur. mas rara. nandhang kingkin. ningsun. Jenis-jenis tembang yang merupakan bahasa komunikasi dalam genre tari pasihan secara prinsip kerja sama dalam sebuah pertuturan terjadi pelanggaran maksim cara. dan dhuh mas jiwaku. mring.

5) tidak melakukan TT atau diam (don’t do the FTA). busana. Mengacu Teori kesantunan Brown dan Levinson (1987) tersebut. prinsip kesantunan yang diterapkan dalam bahasa verbal genre tari pasihan dengan menggunakan strategi melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif dan strategi melakukan TT secara tidak langsung (off record). Bentuk bahasa nonverbal yang terdiri dari tema. Dalam menyampaikan pesan makna yang terdapat dalam bahasa vebal seniman penyusun memandang perlu menggunakan bahasa nonverbal.melakukan TT secara tidak langsung (off record). Prinsip kesantunan yang diterapkan dalam bahasa verbal genre tari pasihan dengan menggunakan strategi melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif untuk menunjukkan kedekatan. pola lantai. keintiman. polatan. Di samping itu juga konsep yang mendasari strategi untuk melakukan TT secara tidak langsung (off record) untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa supaya dapat lebih menarik dan memikat serta menyentuh penghayat dan maknanya dapat ditangkap dan diterima sepasang temanten untuk dijadikan sebagai pelajaran yang bermanfaat dalam menata kehidupan keluarga baru. Dukungan bahasa nonverbal pada tari pasihan merupakan media visual yang difungsikan sebagai sarana untuk mengekspresikan pesan makna yang dapat ditangkap oleh penghayat. dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur. kinetic body moves (gerak tubuh). rias. dan iringan secara akumulatif 304 . Hal ini dimaksudkan seniman penyusun untuk menunjukkan simbolisasi keharmonisan hubungan antara peran suami dan istri yang digambarkan dalam tari sebagai bentuk suritauladan yang layak untuk diteladani sepasang temanten.

Terpadunya bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan menjadi satu kesatuan seni pertunjukan yang utuh. Perlu disadari bahwa karya seni merupakan bentuk simbol yang memerlukan penafsiran-penafsiran. mengingat aspek kebahasaan dan aspek nonbahasa memiliki makna yang sama. Strategi yang digunakan seniman penyusun dengan memanfaatkan jenis-jenis gerak presentatif dan representatif yang berhubungan langsung dan tidak langsung dengan bahasa verbal. Seniman sering dalam menciptakan karyanya dilandasi rasa intuitif yang dalam. busana. tidak selalu didasari rasional belaka. penuh estetik sehingga karya tari pasihan menjadi sarana ekspresi yang memikat. dan iringan gamelan. mantap dan berkualitas. Akumulasi dan kombinasi dari dua strategi penyampaian pesan yang digunakan seniman yang berupa jenis-jenis gerak presentatif dan representatif yang berhubungan langsung dan tidak langsung dengan bahasa verbal menjadi sangat kuat dan mantap dengan dukungan ekspresi wajah (polatan). pola lantai.akan membentuk satu bentuk simbol yang mampu mengekspresikan makna tari pasihan menjadi lebih menyentuh dan semakin mantap. sehingga 305 . rias. digunakan seniman penyusun untuk mengekspresikan makna dengan cara lebih tersamar dan ungkapan suasana yang muncul merupakan ekspresi yang dirasa memiliki kekuatan untuk menyampaikan makna. Jenis-jenis gerak presentatif dan representatif yang berhubungan langsung dengan bahasa verbal akan memberi kemudahan terhadap penghayat dalam menafsirkan maksud dari seniman. Adapun jenis-jenis gerak presentatif dan representatif yang berhubungan tidak langsung dengan bahasa verbal. sehingga pesan makna yang hendak disampaikan menjadi lebih kuat dan mantap.

Selain itu tari pasihan juga memanfaatkan jenis-jenis TT: asertif. untuk menyampaikan pesan maknanya tari pasihan. keintiman. Pada aspek kebahasaan yang digunakan seniman penyusun dalam menerapkan prinsip kerja sama melanggar prinsip kuantitas dan prinsip cara yaitu dengan menggunakan kata-kata yang sifatnya arkais untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa. Maksim kualitas dan maksim hubungan dipatuhi dimaksudkan oleh seniman supaya komunikasi rasa dapat berlangsung sehingga makna karya tari pasihan dapat ditangkap penghayat secara utuh. meminta. dan memerintah dapat menyampaikan makna bahasa verbal sastra tembang yang berupa nasehat-nasehat cinta tersebut sesuai dengan fungsi keteladanan. seniman penyusun memandang perlu memanfaatkan aspek kebahasaan atau bahasa verbal dengan menggunakan kata-kata cinta yang terakumulasi dalam bentuk sastra tembang Jawa. dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur digunakan kesantunan positif. Dalam mengekspresikan maksudnya seniman juga memanfaatkan prinsip kerja sama dengan cara lebih selektif. hal ini dimaksudkan oleh seniman penyusun supaya bahasa verbal yang sifatnya mengajak. direktif. Dari beragam jenis TT yang mendominasi pada genre tari pasihan adalah TT direktif. Selain itu untuk menunjukkan kedekatan.kesan yang terungkap dari sajian sebuah karya seni perlu adanya perenungan kembali untuk mendapatkan sebuah makna yang utuh. ekspresif. dan patik. Hal ini dimaksudkan seniman penyusun untuk menunjukkan 306 . komisif. Secara garis besar dapat dieksplisitkan bahwa genre tari pasihan merupakan beragam jenis tari yang mengangkat tema percintaan.

Selain itu ditunjang bentuk rias dan warna busana sama yang mencerminkan menyatunya rasa cinta antara peran pria dan wanita. Keselarasan ini tampak dalam bahasa verbal yang berupa tembang-tembang cinta didukung bahasa nonverbal yang berupa gambaran percintaan antara pria dan wanita yang menggunakan gerak-gerak yang merepresentasikan orang bercinta. Kesemuanya tadi menunjukkan adanya keselarasan antara bentuk bahasa verbal 307 . Strategi melakukan TT secara tidak langsung (off record) yang dilakukan seniman terkait aspek kebahasaannya dimaksudkan untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa supaya dapat lebih menyentuh penghayat dan maknanya dapat diterima. ekspresinya semakin kuat dan mantap sebaliknya penarinya lemah kekuatan ekspresinya juga semakin lemah. Peranan penari sangat penting artinya jika penari atau seniman penyaji berkualitas. Dengan demikian tampak bahwa sebenarnya bahasa verbal itu sebagai petunjuk isi telah mencerminkan kesatuan pesan yang utuh sedangkan bahasa nonverbal bertindak sebagai pendukung dalam menyampaikan isi supaya menjadi lebih mantap. Komposisi antara bahasa verbal dengan nonverbal sebagai media ekspresi secara proporsional tampak selaras dan seimbang. Dalam bahasa verbal secara keseluruhan tampak adanya koherensi antaraspek–aspek kebahasaan yang terakumulasi menjadi satu kesatuan saling berkaitan sehingga mencerminkan kesatuan makna yang dapat mengarahkan penghayat terhadap kandungan isi.simbolisasi keharmonisan hubungan antara peran suami dan istri sebagai bentuk suritauladan. Pada realitanya bahasa nonverbal pada tari pasihan memiliki kekuatan ekspresi sangat mantap ini juga sangat tergantung pada kualitas penari. serta dukungan rasa musikal yang bernuansa percintaan.

Keseimbangan komposisi bahasa verbal dan nonverbal tercermin pada hampir seluruh sastra tembang yang terdapat dalam tari pasihan selalu diikuti dan didukung kinetic body moves. Bagi penonton umum bentuk yang menarik dari sisi ketampanan dan kecantikan penari dengan dukungan rias dan busana yang bagus serta dukungan suasana iringan gamelan yang dirasa sesuai rupanya telah cukup sebagai hiburan. Pernyataan tersebut muncul karena masyarakat penonton secara umum menghayati tari pasihan sebagai seni pertunjukan didasarkan pada pengamatan mereka hanya terbatas pada bentuk visual semata. Pandangan pakar ini didasarkan pada pemahaman terhadap bahasa verbal dan penghayatan terhadap bentuk visual pada aspek nonbahasa yang terakumulasi dalam bentuk sajian tari pasihan. selaras dan seimbang sehingga bentuknya tari pasihan sebagai media ekspresi seniman penyusun merupakan komposit isi dan bentuk visual yang menunjukkan keutuhan sebuah karya seni. kehadiran tari pasihan pada resepsi perkawinan selain sebagai hiburan. juga merupakan bentuk simbol percintaan yang bermakna bagi sepasang temanten untuk diteladani. Tari pasihan dipandang sebagai bentuk hiburan terutama oleh masyarakat penonton secara umum.dengan nonverbal pada genre tari pasihan. 308 . sehingga pandangan pakar tentang fungsi tari pasihan sebagai hiburan dan suritauladan merupakan pernyataan yang lebih tepat. Dari sisi pandangan pakar. Hubungan bahasa verbal dan nonverbal saling komplementer menjadi bentuk yang menyatu. Kehadiran tari pasihan dalam ritual resepsi perkawinan adat budaya Jawa merupakan salah bentuk hiburan dan suritauladan. Selain itu pandangan pakar tersebut juga mendapat rujukan dari pengamatannya bahwa pementasan jenis-jenis tari pasihan hanya pada resepsi perkawinan.

menunjukkan bahwa penari pria berperan sebagai suami dan penari wanita berperan sebagai istri. Di dalam aktivitas budaya manusia ada yang menganggap bahwa saat peralihan dari tingkat sosial tertentu ke tingkat sosial lainnya itu merupakan crisis-rites yang penuh bahaya. Sifat universal pesta dan upacara sepanjang lifecycle terjadi karena adanya suatu kesadaran secara umum di dalam budaya manusia. Kedudukan penari pria dan penari wanita dalam tari pasihan yang tampil secara berpasangan itu merupakan simbol dari percintaan. Perkawinan merupakan salah satu dan suatu saat peralihan yang terpenting pada life-cycle dari semua manusia di seluruh dunia. baik secara nyata maupun gaib (Koentjaraningrat. bahwa setiap tingkat baru dalam life-cycle itu berarti menghantarkan si individu ke suatu tingkat dan lingkungan sosial yang baru dan lebih luas. 1972: 89-90). Hal itu dapat dicermati pada tari Karonsih mengangkat tema percintaan tokoh Panji Inukertapati sebagai suami dan tokoh Dewi Sekartaji sebagai istri. 309 .Pada hakekatnya tema percintaan yang digambarkan dalam genre tari pasihan adalah percintaan sepasang pria dan wanita. gawat. sehingga perannya menjadi mutlak. Pesta dan upacara pada saat peralihan sepanjang life-cycle itu merupakan suatu hal yang universal yang hampir ada pada setiap budaya manusia. Kiranya menjadi sangat tidak relevan dan tidak berarti bila penari diganti semua putri atau pria semua karena tidak lagi bermakna bagi sepasang temanten bahkan akan berkonotasi negatif. Begitu pula tari Bondhan Sayuk yang bersumber pada tema percintaan sepasang suami istri gambaran dari kalangan rakyat biasa. yaitu peralihan dari tingkat hidup remaja ke tingkat hidup berkeluarga. namun tidak semua saat peralihan itu dianggap sama pentingnya pada tiap-tiap budaya.

Demikian halnya yang terjadi pada budaya masyakat Jawa di dalam melangsungkan sebuah upacara adat perkawinan. Ketentuan-ketentuan yang telah berlaku dalam upacara tersebut mereka yakini jika dilaksanakan dengan taat dan benar membawa berkah dan keselamatan. sebaliknya jika pelaksanaan tidak mentaati konvensi-konvensi yang telah berlaku. mereka takut tertimpa malapetaka (Soedarsono. Kesakralan itu sesuai dengan pendapat Soedarsono mengenai hal-hal yang dianggap penting dalam suatu upacara ritual yaitu waktu.Periode transisi juga disebut periode liminal yang merupakan fase tengah dalam skema ritus transisi dari praliminal untuk menuju pascaliminal. tidak menentu. mengingat upacara-upacara pada masa-masa melampaui saat-saat krisis sering dimaksudkan untuk menolak bahaya gaib yang mengancam individu dan lingkungan. dan pimpinan upacara tertentu. Bagi masyarakat Jawa yang masih lekat dengan budayanya. dan kebahagiaan hidup. 1989: 157). segala ritual yang menyangkut dengan perjalanan hidupnya banyak diselimuti dengan simbolsimbol yang diharapkan dapat memberikan petuah. tempat. pelaku. dan ragu-ragu (Darsiti Soeratman. Berkaitan dengan tindakan simbolik untuk mendapatkan kekuatan magis simpatetis bagi masyarakat Jawa dalam perkawinan. suritauladan yang bermakna untuk keselamatan. Dalam periode liminal ini seorang liminar berada dalam keadaan setengah-setengah. Untuk itu crisis-rites bagi seorang liminal sangat penting. Kekuatan tersebut antara lain berupa magis simpatetis yang diwujudkan dengan tindakan atau perbuatan yang dapat melambangkan terjadinya pembuahan. perlengkapan. Bagi masyarakat Jawa upacara tersebut merupakan sebuah upacara yang sangat sakral sepanjang daur hidupnya. diperlukan kekuatan-kekuatan tertentu. yakni 310 . pendidikan. kedamaian. 1990: 4).

untuk mendapatkan kesuburan dengan cara menanggap jenis tari duet percintaan atau tari pasihan yang merupakan tarian kesuburan yang diekspresikan lewat sebuah garapan gerak-gerak presentatif dan representatif. sudah mengakar pada budaya masyarakat Jawa. Suddenly they jump wildly along with violent coitus motions and loud groans.. Mereka dalam melakukan upacara perkawinan. Stamping with the right foot and singing. the jump among the women – the knock the phalli one against another.. yaitu pada setiap ada acara upacara perkawinan akan hadir tari pasihan yang hendak 311 . 1969: 21)... Pernyataan tersebut sejalan dengan pendapat Koch Grundberg yang menggambarkan sebuah tari kesuburan dari suku Indian Coneba di Brasil. Salah satu sarana upacara perkawinan adat Jawa yang cukup penting adalah tari pasihan. 1991: 35).. tindakan yang dapat melambangkan terjadinya pembuahan.adanya hubungan antara pria dan wanita seperti yang digambarkan pada tari pasihan. penuh simbolis dan mengandung makna nilai-nilai percintaan yang sangat berarti bagi kehidupan sepasang temanten. dilakukan secara simbolis. Pada masyarakat yang sudah lebih maju. Hal ini terbukti pada masyarakat Jawa sekarang yang sudah mengalami kemajuan. berkembang menuju masyarakat modern. they dance with the upper part of their bodies bent forwards. They carry the vertility into every corner of the houses. Rupanya. yakni adanya hubungan antara pria dan wanita.... Hampir dapat dipastikan bahwa pada setiap upacara perkawinan akan hadir tari pasihan. (dalam Richard Kraus. yang diekspresikan para penari dengan membawa gambar tiruan organ-organ wanita dengan cara sebagai berikut.. Hubungan dimaksud pada masyarakat yang masih melestarikan budaya purba kadang-kadang dilakukan lebih realistis (Soedarsono dalam Soedarso.

baik secara simbolik maupun sebagai santapan estetis terasa menyatu dengan situasi upacara. Seolah–olah keberadaan genre tari pasihan dalam budaya Jawa menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan terutama pada upacara-upacara perkawinan. mengingat merupakan satu-satunya bentuk sajian tari yang bermakna. bahwa ‘simbol’ tampak terbatas pada sesuatu yang mengungkapkan secara tidak langsung. sehingga perlu perantara yang berwujud simbol-simbol dalam puisi bukan dalam bentuk pengetahuan. Hampir dapat dipastikan sarana yang digunakan sebagai kelengkapan berlangsungnya upacara perkawinan memiliki makna simbolik yang difungsikan untuk menasehati sepasang temanten agar dapat membangun keluarga yang bahagia lahir dan batin. Bagi masyarakat Jawa upacara perkawinan merupakan saat yang dianggap penting sehingga sarana–sarana yang mendukung peristiwa perkawinan sangat diperhitungkan sangat teliti.diteladani oleh kedua mempelai. Peristiwa budaya ini membuat kehadiran tari pasihan dalam upacara perkawinan sangat ditunggu-tunggu masyarakat. Genre tari pasihan memiliki fungsi yang dalam terutama bagi sepasang mempelai temanten yang tercermin pada komplementer bahasa verbal dan nonverbalnya. 312 . Simbolisme semacam ini tampak pada genre tari pasihan yang hadir dalam rangkaian upacara-upacara perkawinan adat Jawa. Kehadiran genre tari pasihan yang menggambarkan percintaan pria dan wanita dalam kehidupan sosial masyarakat terutama konteksnya pada ritual perkawinan adat Jawa rupanya mempunyai makna simbolik yang sangat penting terutama bagi kedua mempelai dalam rangka mempersiapkan diri untuk mengarungi kehidupan di masyarakat yaitu menuju terbentuknya keluarga yang bahagia. Menurut Clifford Geertz (1992: 6).

Pada dasarnya genre tari pasihan gaya Surakarta merupakan simbolisasi percintaan sepasang manusia yang berjenis kelamin pria dan wanita. Rupanya terdapat korelasi yang sangat signifikan bahwa kehadiran tari pasihan dalam resepsi perkawinan diharapkan dapat diteladani dan memberikan sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temanten. dalam menjalani kehidupan berawal menghadapi permasalahan kemudian mendapat solusi yang menjadi berangsur-angsur membaik dan berakhir bahagia. Selain itu kehadiran tari pasihan hampir dapat dipastikan dalam resepsi perkawinan. Dalam perjalanan kisahnya percintaan sepasang suami istri yang digambarkan pada tari pasihan. Simbolisasi tersebut merupakan harapan besar yang dapat memberikan sugesti sepasang temanten untuk segera diberi keturunan anak. Kekuatan imajinasi percintaan yang digambarkan sepasang kekasih dalam tari pasihan diharapkan dapat memberikan kekuatan magis simpatetis terhadap kehidupan jiwa sepasang mempelai temanten. yaitu mampu mempengaruhi kesuburan dalam proses perkawinan pasangan temanten. Hal ini juga semakin tampak jelas digambarkan secara lebih aktual pada tari Bondhan Sayuk. Bentuk sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temanten terpancar dari kekuatan cinta sepasang penari pria dan wanita yang digambarkan dalam tari pasihan dimaksudkan dapat dihayati sepasang temanten sehingga bayangan-bayangan cinta yang diekspresikan oleh seniman mampu memicu dan memacu kehidupan imajinasi cinta sepasang temanten. pasangan penari pria dan wanita setelah bercinta kemudian membawa boneka sebagai simbol telah diberi keturunan anak. Selain itu bentuk dukungan sugesti juga digambarkan ketika adegan penari putri memberikan boneka anak kepada 313 .

Pada dasarnya kedua orang tua temanten mengawinkan putra-putrinya dengan cita-cita untuk segera diberi keturunan yang berupa anak. terdapat pasangan suami istri yang romantis. Tindakan atau perbuatan tersebut merupakan perbuatan simbolik yang menunjukkan adanya kekuatan – kekuatan tertentu yang tidak kelihatan mata yang bersifat magis simpatetis diharapkan dapat diterima temanten putri. Perbedaan yang tampak adalah terletak pada kadar tebal dan tipisnya sebuah makna. Nasehat-nasehat cinta kasih yang merupakan makna dari bahasa verbal berupa: pasangan keluarga yang romantis. Perbuatan simbolik dalam pertunjukan tari Bondhan Sayuk lebih tampak jelas dan lebih dekat kearah realitas tujuan bercinta dalam sebuah kehidupan keluarga. sebagai pewaris dan penerus keluarga. Bagi penghayat pakar seni menangkap makna berdasarkan pementasan tari pasihan. Dari hasil komunikasi antara maksud seniman penyusun dengan tanggapan masyarakat menunjukkan adanya persamaan makna atau maksud. dan sikap-sikap ideal bagi figur suami maupun figur istri merupakan pesan makna yang hendak disampaikan oleh seniman penyusun. harmonis. dan bahagia. Artinya pesan yang dimaksudkan seniman dengan makna yang ditangkap pakar seni sama-sama dalam koridor atau wilayah nilai-nilai percintaan. bagaimanapun handalnya seniman 314 . kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga. Lewat kekuatan magis simpatetis yang diekspresikan genre tari pasihan akan dapat menyuburkan benih-benih cinta yang tengah berkembang pada sepasang temanten yang akhirnya mampu melahirkan buah cinta yang berupa momongan anak. harmonis. Pada hakekatnya dalam komunikasi seni bahwa pernyataan atau maksud X tidak pasti ditangkap atau diterima persis X. dan bahagia.temanten putri.

Sebagai penari atau penyaji. Kondisi pisik penari harus benar-benar dalam keadaan sehat. enerjik. Kadar pemahaman juga sangat tergantung dari bekal yang dimiliki oleh seniman dan penghayat. Pada prinsipnya penafsiran terhadap keragaman media komunikasi yang terdapat dalam tari tidak mampu hanya ditangkap secara rasional semata tetapi ketajaman rasa merupakan ujung tombak dalam menangkap makna yang sebenarnya.dalam menciptakan karya seni dan hebatnya pakar seni dalam menilai karya. sedangkan penghayat berusaha menangkap maksud yang dikehendaki seniman tersebut dengan cara memberikan makna terhadap karya seni. dan relaks serta memiliki sistem ekspresi dan evaluasi yang baik 315 . Prinsip utama yang sangat penting dalam komunikasi seni adalah terjadinya komunikasi rasa. berupaya menciptakan benda-benda pacu yang memiliki nilai estetik dalam rangka menyampaikan maksud. yakni seniman dengan menciptakan kreativitas artistik sedangkan penghayat mencipta nilai dengan kreativitas estetik. seorang seniman harus mempunyai kemampuan baik pisik maupun nonpisik. Bagi seniman dalam menciptakan karya seni. Kadar pemahaman makna dalam karya seni yang berupa komunikasi rasa. Menurut Sutopo (1995: 12-13). Kelemahan yang terdapat pada genre tari pasihan sedikit banyak dipengaruhi kualitas penari yang lemah sebagai penyampai isi dan iringan tari yang berupa kaset rekaman atau CD. segar secara total baik jasmani maupun rohani. dalam penghayatan karya seni terjadi aktivitas kreatif. prinsip kadarnya tetap berbeda tidak persis sama. Seniman pada dasarnya tidak lain sebagai manusia yang menyediakan sebuah susunan benda pacu atau lambang-lambang sensa yang diharapkan akan ditafsirkan penghayat seperti yang dimaksudkan olehnya.

Sebagai seniman. berada dalam puncak prestasi keteladanan (1994: 45-46). akan terjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat dan dapat diprediksikan eksistensinya sebagai seniman mendapat dukungan dan pengakuan penuh dari masyarakat pendukungnya. sehingga sekalipun dapat menari Jawa dengan penguasaan teknik yang sangat baik. Menurut Wisnoe Wadhana : kesempurnaan menari Jawa klasik tradisional hanya dapat diraih apabila si penari juga mendalami mistik Jawa. dan penguasaan irama (Wisnoe Wadhana. luwes dan terampil dalam penampilan. dan kepekaan rasa menjadi sangat pokok sebagai rohnya dalam sajian tari. 1984: 31). Selain itu penari harus juga mampu menguasai ruang dan waktu. ketepatan gerak ekspresi. ratio. Keberhasilan mereka menyampaikan pesan-pesan tergantung dengan kemampuan menyeleksi materi-materi sebagai sarana ungkap dan tidak lepas dari kemampuan masyarakat penikmat untuk menangkap yang sudah barang tentu mengacu pada nilai-nilai budaya dan norma-norma sosial yang hidup dan berkembang. dan bekal pengalamannya sehari-hari diharapkan mampu menafsirkan karya-karya tari dari seorang koreografer sehingga dapat menyajikan secara ekspresi sesuai dengan peran karakternya. Maka ia pun akan selalu patut dalam perannya. Peranan tubuh penari sangat vital untuk sarana ekspresi. Selama seniman mampu mengungkapkan nilai-nilai budaya dan norma-norma sosial yang terangkum dalam sebuah pesan-pesan lewat karya tari secara indah. kelenturan. terasakan hambar kosong belaka. Padahal ukuran kehebatan seorang penari klasik tradisional Jawa haruslah isi.seperti: keseimbangan. berbobot magis. Persiapan nonpisik bagi penari berupa kepekaan rasa. ia akan dapat mengarahkan sekaligus mendidik peningkatan daya apresiasi masyarakat terhadap karya-karya tari ciptaannya yang 316 . ketrampilan. Generasi sekarang banyak yang awam terhadap mistik tersebut.

Pewarisan budaya tidaklah bersifat statis. sehingga kekuatan ekspresinya akan mampu mengungkapkan isi secara mantap.pada gilirannya menumbuhkembangkan kehidupan tari secara wajar. 1991:10). Rupanya hanya penari yang berkualitas yang terlatih yang mampu menyajikan dan menyampaikan isi atau makna yang terkandung dalam genre tari pasihan. Sebaliknya jika penarinya tidak berkualitas. ia akan lemah dan tidak mampu mengekspresikan muatan isi seperti yang diharapkan oleh seniman pencipta. Keluluhan jiwa seorang penari dalam menyajikan karakter tari merupakan puncak prestasinya sebagai seorang seniman. tidak terlatih. Kelemahan dari kualitas penari sebagai penyampai isi tari yang dimaksudkan seniman merupakan kendala yang sangat vital karena hanya dari 317 . Ketajaman dan kepekaan rasa yang dimiliki penari dapat teraktualisasi dalam sebuah sajian tari dan mampu menggugah intuisi para penghayat. Gabungan garap pisik dan olah rasa yang matang akan menghasilkan kualitas penari yang mumpuni atau berbobot. Dalam tari Jawa bentuk ekspresinya pada hakekatnya terwujud berdasarkan alam emosi. yaitu bentuk dan iramanya sangat kuat dilatarbelakangi oleh konsep keindahan dan tradisi kebudayaannya (Humardani. tetapi masing-masing generasi mencoba untuk mengadakan perubahanperubahan disesuaikan dengan kondisi kehidupan masyarakat pendukungnya. Seni tradisional termasuk tari sebagai budaya yang diwarisi secara turun-temurun sudah barang tentu memiliki kesinambungan dengan budaya sebelumnya. Kualitas seorang penari hanya akan tercapai bila penari mampu menghayati dan mengekspresikan sesuai dengan perannya secara totalitas jiwa. Pada dasarnya seniman hanya menyediakan suatu susunan pacu atau lambang-lambang sensa yang diharapkannya akan kita tafsirkan seperti yang dimaksudkan olehnya (Parker. 1980:46).

318 . Jika dengan iringan gamelan langsung. Hal ini merupakan kelemahan yang terdapat pada sajian genre tari pasihan jika tidak menggunakan iringan langsung dengan gamelan. Dalam sajiannya genre tari pasihan dapat diiringi gamelan secara langsung dan iringan tidak langsung yaitu dengan iringan kaset atau rekaman CD. Hasilnya akan berbeda jika sajiannya genre tari pasihan dengan iringan kaset atau rekaman CD. Secara ringkas dapat dikatakan kelemahan kualitas penari dalam menyajikan jenis tari pasihan akan mempengaruhi kekuatan ekspresi dan mengurangi pada kemantapan rasa penghayat.ekspresi penari makna tari dapat ditangkap atau dihayati oleh penonton. kekuatan ekspresinya menjadi semakin mantap karena selain kekuatan rasa musikal yang muncul dari garap gendhing-gendhing karawitan juga didukung kekuatan penari dalam membawakan tembang akan tampak lebih ekspresip. juga tidak mendapat dukungan ekspresi tembang dari penari secara langsung. Kekuatan ekspresi menjadi kurang mantap jika dengan iringan yang sifatnya tidak langsung dengan iringan gamelan. karena selain rasa musikal yang muncul sudah terasa lemah.

genetik. Simpulan. Kehadiran genre tari pasihan dalam resepsi perkawinan dimaksudkan oleh seniman untuk mengajak. Rupanya sudah mengakar pada budaya masyarakat Jawa.BAB V PENUTUP A. Peranan genre tari pasihan dalam upacara ritual resepsi perkawinan memiliki makna yang cukup signifikan bagi sepasang temanten. dan afektif dapat disimpulkan bahwa kehadiran genre tari pasihan dalam upacara ritual resepsi perkawinan berfungsi sebagai hiburan dan suritauladan. 319 . Maksud dan harapan seniman penyusun tersebut ditangkap oleh masyarakat sebagai sesuatu yang harus diteladani. yaitu pada setiap ada acara upacara perkawinan akan hadir tari pasihan yang hendak diteladani oleh kedua mempelai. dan bahagia yang terdapat dalam tari tersebut dirasa sangat tepat dan ditangkap secara mantap sebagai suatu bentuk edukatif atau pengajaran yang bersifat tidak langsung dan sangat bermanfaat bagi sepasang temanten untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dalam menggapai keluarga bahagia lahir dan batin. mengingat gambaran percintaan pasangan suami istri yang romantis. Berdasarkan temuan penelitian dan hasil pembahasan dari keterkaitan tiga faktor objektif. meminta dan menyuruh terhadap sepasang temanten untuk memahami dan meresapi makna isi yang terkandung dalam bahasa verbal sastra tembang yang disampaikan dengan bahasa nonverbal dalam bentuk visual yang estetik supaya melakukan tindakan atau perbuatan seperti yang dicontohkan dalam pertunjukan tari pasihan tersebut. harmonis.

rias. dan mantap sebagai sebagai hiburan dan suritauladan. Dalam bahasa verbal telah tampak adanya koherensi antaraspek–aspek kebahasaan yang terakumulasi menjadi satu kesatuan saling berkaitan sehingga mencerminkan kesatuan makna yang dapat mengarahkan penghayat terhadap kandungan isi. sindhenan.Peristiwa budaya ini membuat kehadiran tari pasihan dalam upacara perkawinan sangat ditunggu-tunggu masyarakat. pola lantai. busana. mengingat merupakan satu-satunya bentuk sajian tari yang bermakna. dan iringan. ditunjukkan bahwa jenis-jenis tari pasihan tersebut sampai sekarang hidup dan 320 . Bahasa nonverbal merupakan bentuk visual yang bersifat estetik sudah memperlihatkan adanya koherensi antarelemen-elemen dan saling berkaitan untuk mendukung dalam menyampaikan isi supaya menjadi lebih mantap. Kekuatan genre tari pasihan sebagai seni pertunjukan yang berkualitas. Kedua komponen yaitu bahasa verbal sebagai isi atau pesan makna dan bahasa nonverbal dalam bentuk visual sebagai pendukung pemantapan makna. Harmonisasi dan keseimbangan antara bahasa verbal dan nonverbal dalam genre tari pasihan telah mencerminkan kesatuan makna yang saling mendukung maka karya seni genre tari pasihan layak dan mantap sebagai seni pertunjukan yang berkualitas tinggi. dan jineman dengan bahasa nonverbal berupa: tema. polatan. Bentuk seni pertunjukan genre tari pasihan merupakan komposit bahasa verbal dalam wujud sastra tembang yang terdapat dalam bentuk pathetan. gerongan. layak. baik secara simbolik maupun sebagai santapan estetis terasa menyatu dengan situasi upacara. yang sekaligus bertindak sebagai penyampai pesan makna yang secara komposit telah terkait dan saling melengkapi sebagai seni pertunjukan yang utuh dan mantap. kinetic body moves (gerak tubuh).

Diharapkan dengan dominasi jenis TT direktif sangat tepat untuk menyuruh supaya meneladani. Bentuk sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temanten terpancar dari kekuatan cinta sepasang penari pria dan wanita yang digambarkan dalam tari pasihan 321 . Nilai-nilai keteladanan yang digambarkan pada genre tari pasihan pada hakekatnya merupakan bentuk simbolisasi cinta kasih sepasang suami istri. Kehadiran tari pasihan dalam resepsi perkawinan diharapkan dapat diteladani dan memberikan sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temanten. TT direktif. Komplementer dua komponen bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan saling mengait.berkembang di masyarakat terutama pada upacara-upacara ritual resepsi perkawinan. bahasa verbal berfungsi untuk melengkapi dan mendukung bahasa nonverbal sebagai bentuk visual. Pada dasarnya bahasa verbal lebih berfungsi sebagai penunjuk isi sedangkan bahasa nonverbal sebagai penyampai isi supaya lebih menyentuh jiwa penghayat dan menjadi semakin mantap. adapun bentuk perintah tersebut bersifat simbolik dalam bentuk yang estetik. Sebagai kandungan makna atau isi. dan TT patik. Dalam mendukung kesatuan makna. saling melengkapi sehingga bahasa verbal yang berupa sastra tembang mampu memperjelas dan menyatukan teks dengan bentuk visual dalam kesatuan makna yang utuh. TT komisif. TT ekspresif. aspek bahasa verbal yang dimanfaatkan oleh seniman penyusun dalam karya tari pasihan adalah: TT asertif. Dari beragam jenis TT yang paling dominan adalah TT direktif. Pada prinsipnya masing-masing komponen baik bahasa verbal maupun bahasa nonverbal memiliki kedudukan yang sama yaitu berfungsi untuk mengekspresikan maksud seniman penyusun.

Pada intinya bentuk daya pragmatik genre tari pasihan adalah berupa nasehat-nasehat tentang cinta kasih yaitu pasangan keluarga yang romantis. harmonis. Pada dasarnya kedua orang tua temanten mengawinkan putraputrinya dengan cita-cita untuk segera diberi keturunan yang berupa anak. sebagai pewaris dan penerus keluarga. kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga.dimaksudkan dapat dihayati sepasang temanten sehingga bayangan-bayangan cinta yang diekspresikan oleh seniman mampu memicu dan memacu kehidupan imajinasi cinta sepasang temanten. Bentuk seni pertunjukan genre tari pasihan atau tari pasihan adalah karya seni dari seniman yang berkualitas tinggi dan telah teruji terbukti sampai sekarang 322 . yaitu mampu mempengaruhi kesuburan dalam proses perkawinan pasangan temanten. dan bahagia. Kekuatan imajinasi percintaan yang digambarkan sepasang kekasih dalam tari pasihan diharapkan dapat memberikan kekuatan magis simpatetis terhadap kehidupan jiwa sepasang mempelai temanten. Diharapkan nasehat-nasehat tentang cinta kasih tersebut bermanfaat bagi sepasang temanten sebagai bekal untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dalam membangun sebuah keluarga. B. Tindakan atau perbuatan tersebut merupakan perbuatan simbolik yang menunjukkan adanya kekuatan–kekuatan tertentu yang tidak kelihatan mata yang bersifat magis simpatetis. Diharapkan kekuatan magis simpatetis dapat mendorong menyuburkan benih-benih cinta yang tengah berkembang dan mampu memberikan sugesti terhadap sepasang temanten untuk segera diberi keturunan yang berupa momongan anak. Saran. dan sikap-sikap ideal bagi figur suami maupun figur istri.

c) Kritikus hendaknya lebih banyak memberikan penilaian terhadap karyakarya yang dipublikasikan supaya masyarakat mulai mengenal. Sehingga kemantapan dan validitas sebagai sebuah karya seni yang berkualitas tidak diragukan lagi untuk itu perlu peneliti sarankan kepada: a) Penari dalam mengubah pola-pola pakaian dan pola-pola sekaran yang terdapat pada genre tari pasihan hendaknya harus sadar dan mempertimbangkan segi fungsinya. mengetahui. b) Pengrawit dalam mengubah jenis-jenis gendhing maupun cakepan atau bahasa verbalnya yang terdapat pada genre tari pasihan hendaknya harus sadar dan mempertimbangkan segi fungsinya. hingga memahami tentang pesan makna yang disampaikan dari sebuah tari. Diharapkan kualitas dan kuantitas penilaian dari masyarakat terhadap tari semakin meningkat sehingga kehidupan seni pertunjukan semakin hidup dan berkembang dalam lingkungan budaya yang layak dan proporsinal. 323 .hidup dan berkembang sebagai hiburan dan suritauladan bagi bagi sepasang temanten dan masyarakat pada umumnya.

Metode Linguistik. M. 1916.Yogyakarta: Kanisius. Perkembangan Tari Enggar-Enggar. Dwi Yasmono. ‘Universals in language usage: Politeness phenomena’. Pragmatics ang Discourse. Halliday. EM Zul Fajri dan Ratu Aprillia Senja. Modul Pembelajaran: Pengantar Linguistik. Hafied. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Pengantar Linguistik Umum. dalam Esther N. 2007. PPS-UNS.DAFTAR PUSTAKA ACUAN Asim Gunarwan. Cohesion in English. Jakarta: Depok. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. . Surakarta: UNS Press. Cambridge: Cambridge University Press. Pengantar Ilmu Komunikasi. PN: Difa Publisher. Goody (ed) Questions and Politeness. 1994. T. de Saussure. Makalah berjudul “Implikatur Percakapan: Perspektif Grice dan Perspektif Sperber & Wilson”. Terjemahan: Rahayu S. 2002. Cangara. Pengantar Metode Penelitian Linguistik Struktural. 2007. 2006. 1987. Discourse. Tanpa Tahun. Cook. Oxford: Oxford University Press. 1993. STSI: Surakarta. 1989. London and New York: Routledge.C. Fatimah Djajasudarma. Tanpa Taun. Edi Subroto. Budhisantoso. Ferdinand. Clifford. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Dwi Maryani. 324 .D.K. Penelope and S.A. Jurnal Wiled. Cutting. H. Kebudayaan dan Agama. 1976. Geertz. 1999. Surakarta: STSI Press. Perubahan Tari Lambangsih. Joan. dan Ruqaiya Hasan. London: Longman Group Ltd. 1999. Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia. Hidayat. Brown. STSI: Surakarta. Levinson. Bandung: PT Erisco. 1992. Guy.

325 . Trend. Pengantar Ilmu Antropologi. Richards (ed). Pragmatics: An Introduction. Bloomington: Indiana University Press. 1998. Karonsih.J. Terjemahan: M. Ibrahim Alfian. Mey. Bahasa dan Sastra dalam Tinjauan Semiotik dan Hermeneutik. Lamuddin Finoza.J. 2004. London: Routledge. W. Terjemahan: Fx. Jakarta: Balai Pustaka. 2003. Bronislaw. 2001. Lexy. Disertasi. Muhammad Rohmadi. Principles of Pragmatics.W. Makalah berjudul: “Disiplin Sejarah dalam Merekonstruksi masa Lampau untuk Menyongsong Masa Depan”. Handbook of Semiotics. Widaryanto.Hoed. 1984. London: K. Winfried. Pemikiran & Kritiknya. Leech. P. London: Longman. 1999. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Suzanne K. Pragmatik: Teori dan Analisis. Komunikasi Fatis Di Kalangan Penutur Jati Bahasa Inggris. Malinowski. Charles. The Meaning of Meaning. 1988. Geoffrey. The Problem of Meaning in Primitive Languages dalam Ogden. Ilmu Pragmatik. Problematika Seni. . 1987. Jacob L.D. Komposisi Bahasa Indonesia. Maryono. Jakarta: Diksi Insan Mulia. Jumanto. Yogyakarta: Lingkar Media. 1990. Bandung:STSI. Universitas Indonesia: UI Press. Kebudayaan Jawa. Nababan. 2005. 1983. Noth. 2006.K. Koentjaraningrat.D. Benny H. 1991. Surakarta: STSI Press. Langer. dan Trubner. Oka. Humardani. Moleong. Jakarta: PT Rineka Cipta. T. Editor: Rustopo. Oxford: Blackwell. 1990. 1923. 1991. STSI: Surakarta. Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: UGM. Kreidler. 1993. UI: Jakarta. . Introducing English Semantics. Prinsip-prinsip Pragmatik.A. dan I. C. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2007.Paul.

. Soedarso Sp. Longman Dictionary of Language Teaching and Applied Linguistics. Surakarta: Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI). Herbert. 1983. Renkema Jan. Terjemahan: Yanti Darmono. Sunan. J. 1981. Lawrence Kincaid. . 1980. Rustopo. 1978. Dasar-dasar Estetika. Discourse Studies: an Introductory Textbook. Yogyakarta:UGM. Jakarta: PN Buku Sastra Indonesia dan Daerah. Humardani. Beberapa Catatan Tentang Perkembangan Kesenian Kita. 2006. Departemen P dan K. Terjemahan: SD. Soedarsono.B. Indonesia Indah: Tari Tradisional Indonesia. Kritik Seni Holistik Sebagai Model Pendekatan Penelitian Kualitatif. Jakarta: Yayasan Harapan Kita/BP 3 TMII. 1991. 1995. Sutopo. R. Searle. Yogyakarta: Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI). 1993. Yogyakarta: ISI. Teori Sosiologi tentang Perubahan Sosial. Parker. . Speech Acts: An Essay in The Philosophy of language. 1985. Jakarta: Ghalia Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada university Press. Essex: Longman Rogers. . 1979. Makalah berjudul: “Peranan Seni Budaya dalam Sejarah Kehidupan Manusia: Kontinuitas dan Perubahannya. Everett M and D. Communication Network: Towards a Newq Paradigm for Research. Sebelas Maret University Press.M. Amsterdam: John Benjamins Publishing Company. 326 . 1969. Metodologi Penelitian Kualitatif. Seni Pertunjukan. 1990. Terjemahan:Soedarso.Pakubuwono IV. 1990. H.C et al. 2003. Ilmu Bahasa Indonesia. Perkembangan Gamelan Kontemporer. Soerjono Soekanto. Cambridge: Cambridge University Press. Yogyakarta: CV Karyono. Pengantar Pengetahuan Dan Komposisi Tari. 1987.H. New York: Free Press. 1992. M. Read. Surakarta: Universitas Sebelas Maret. Richards. Yogyakarta: Saku Dayar Sana. Ramlan. Pengertian Seni. Sintaksisi. De Witt. Sp. 1996. John R. Surakarta: Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI).

Jurnal Wiled. 1969. 11. Terjemahan: Narulita Yusron. 1949.Shannon.P. Metode Etnografi. 7. Hartoyo. Darsono. 1998. Daryono. Singapore: National Institute of Education. Gordon R. Voice of America Forum Lectures. Surakarta: pakar tembang dan karawitan serta penanggap. Sukoharjo: vokal putri (pesindhen). Yogyakarta: PN BACA. Wainwright. George. Wisnoe Wardhana. Surakarta: pakar tari. 327 . 5. Nuryanto. 2006. 2. Terjemahan: Indah Fajar Wahyuni. 6. Nartutik. Dasar-dasar Pragmatik. 1994. 4. Pragmatik. Waridi. Sri Rochana.Surakarta: STSI Press. Urbana: University of Illinois Press. Karanganyar: penari. 1997. Dewa Putu I. The Mathematical Theory of Communication. . Linguistics. DAFTAR NARA SUMBER 1. Hari Subagya. pakar tari dan budayawan. Ninik Sutrangi. Yule. Nora Kustantina Dewi. 2006. Membaca Bahasa Tubuh. Yogyakarta: Andi Offset. Perkembangan Tari Gambyong Gaya Surakarta 19501993. Jr. Surakarta: penyusun tari dan penari. Smith. Yogyakarta: PT Tiara Wacana. 8. 3. Boyolali: penari dan penyusun tari. Karangannyar: pakar tembang dan karawitan. Hill. 9. 10.S. Karanganyar: penari. J. Rusdiantara. 2005. Agus Tasman. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Terjemahan:Misbah Zulfa Elizabeth. Surakarta: penyusun tari. 1996. Henry Lee. Pragmatics. W. Karawitan Wayang Kulit Purwa Gaya Surakarta. Surakarta: penari. Wijana. Editor: Archibald A. 1994. Jakarta: Sena Wangi. Rusini. Sukoharjo: penari. Spradley. Claude M and Warren Weaver.

16. 15. Surakarta: pakar karawitan.12. Karanganyar: pakar tembang dan karawitan. Sudarmin. 328 . dan pakar tari. Sri Lestari. Slamet Riyadi. Slamet Suparno. 14. penyusun tari. 13. Sukoharjo: penangggap. Surakarta: penari. Sunarno. Boyolali: penari.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful