1

KOMPONEN VERBAL DAN NONVERBAL DALAM GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA (Kajian Pragmatik) DISERTASI
Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan dalam Mencapai Derajat Doktor Program Studi Linguistik Minat Utama Linguistik Pragmatik dan Dipertahankan di Hadapan Sidang Senat TerbukaTerbatas di Bawah Pimpinan Rektor Universitas Sebelas Maret Prof. Dr. H. Much Syamsulhadi, dr., Sp.KJ. (K) Pada Hari Rabu Kliwon, 7 April 2010

Oleh : Maryono NIM. T 130906005

PROGRAM PASCASARJANA PROGRAM STUDI LINGUISTIK (S3) UNIVERSITAS SEBELAS MARET

2

SURAKARTA 2010 DISERTASI KOMPONEN VERBAL DAN NONVERBAL DALAM GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA ( Kajian Pragmatik)

Oleh : Maryono NIM. T 130906005

DISETUJUI OLEH PEMBIMBING
1. Prof. Dr. M. Sri Samiati Tarjana. NIP. 194 406 021 965 112 001 (Promotor) …………………………

2. Prof. Dr. T. Slamet Suparno, S.Kar.,M.S. NIP. 194 812 191 975 011 001 (Ko-Promotor )

…………………………

Mengetahui Ketua Program Studi S3 Linguistik

3

Prof. Dr. H. D. Edi Subroto. NIP. 194 409 271 967 081 001

KOMPONEN VERBAL DAN NONVERBAL DALAM GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA ( Kajian Pragmatik)
DISERTASI UNTUK MEMPEROLEH GELAR DOKTOR DALAM BIDANG LINGUISTIK MINAT UTAMA: LINGUISTIK PRAGMATIK DIPERTAHANKAN DI HADAPAN DEWAN PENGUJI PADA SIDANG SENAT TERBUKA TERBATAS PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA PADA TANGGAL: 7 APRIL 2010 OLEH: MARYONO LAHIR DI BOYOLALI, 15 JUNI 1960 DEWAN PENGUJI: 1. Prof. Dr. H. Much Syamsulhadi, dr., Sp.KJ. (K) (Penguji Utama) 2. Prof. Drs. Suranto, M.Sc., Ph.D. (Sekretaris merangkap Anggota) 3. Prof. Dr. M. Sri Samiati Tarjana. (Promotor merangkap anggota) 4. Prof. Dr. T. Slamet Suparno, S.Kar., M.S. (Ko-Promotor merangkap anggota) 5. Prof. Dr. H. D. Edi Subroto. (Anggota) 6. Prof. Dr. Soepomo Poedjosoedarmo. (Anggota) 7. Prof. Dr. H. Soetarno, DEA. (Anggota) 8. Dr. Sumarlam ., M.S. (Anggota) .................................... .................................... .................................... .................................... .................................... .................................... .................................... ....................................

4

Mengetahui Rektor Universitas Sebelas Maret

Prof. Dr. H. Much Syamsulhadi, dr., Sp.KJ. (K) NIP. 194611021976091001

SURAT PERNYATAAN
Yang bertanda tangan di bawah ini Nama NIM Program Program Studi Tempat/Tanggal Lahir Alamat : Maryono : T 130906005 : Pascasarjana (S3) UNS : Linguistik : Boyolali, 15 Juni 1960 : Melikan Rt 01, Rw 08, Palur, Mojolaban, Sukoharjo

Menyatakan

dengan

sesungguhnya

bahwa

disertasi

saya

yang

berjudul:

KOMPONEN VERBAL DAN NONVERBAL DALAM GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA (Kajian Pragmatik) adalah asli (bukan jiplakan) dan belum pernah diajukan oleh penulis lain untuk memperoleh gelar akademik tertentu. Semua temuan, pendapat atau gagasan orang lain yang dikutip dalam disertasi ini ditempuh melalui tradisi akademik yang berlaku dan dicantumkan dalam sumber rujukan dan atau dalam Daftar Pustaka. Apabila kemudian terbukti pernyataan ini tidak benar, saya sanggup menerima sangsi yang berlaku.

5

Surakarta, 7 April 2010 Yang membuat pernyataan

Maryono

KATA PENGANTAR
Syukur alhamndulillah penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, atas ridha dan kehendak-Nya, sehingga disertasi ini dapat selesai tepat pada waktu yang diharapkan. Sepenuhnya penulis sadari bahwa tanpa bantuan dari berbagai pihak, mustahil disertasi ini dapat selesai. Untuk itu, kanthi linambaran trapsilaning manah, perkenankan penulis sampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. H. Much Syamsulhadi, dr., Sp.KJ (K), Rektor UNS yang telah
memberi kesempatan penulis untuk menyelesaikan studi program doktor di Universitas Sebelas Maret Surakarta.

2. Prof. Dr. H. Soetarno, DEA, atas dukungan dan nasihat sejak masih menjabat
Ketua Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta sampai sekarang sehingga penulis dapat menyelesaikan program doktor di UNS.

3. Prof. Drs. Suranto, M.Sc., Ph.D, selaku Direktur Program Pascasarjana
Universitas Sebelas Maret Surakarta, yang telah memberi kesempatan penulis untuk menyelesaikan studi program doktor di UNS.

4. Prof. Dr. H. D. Edi Subroto, selaku Ketua Program Linguistik S3 UNS dan
atas bimbingan melalui berbagai disiplin yang telah diberikan kepada penulis sebagai bekal dalam menyelesaikan disertasi.

5. Prof. Dr. M. Sri Samiati Tarjana, sebagai promotor yang dengan sabar telah
membimbing, mengarahkan, dan mengoreksi sehingga penulis meraih gelar doktor.

6

6. Prof. Dr. T. Slamet Suparno, S.Kar., M.S, sebagai Ko-Promotor, yang telah
membimbing, dan mengoreksi sehingga penulis meraih gelar doktor.

7. Prof. H.B. Sutopo, M.Sc., M.Sc, Ph.D (almarhum) yang dengan sabar telah
membimbing, mengarahkan, mengoreksi, dan yang menghantarkan sampai ujian tertutup sehingga penulis dapat berlanjut meraih gelar doktor.

8. Prof. Dr. Soepomo Poedjosudarmo; Prof. Dr. Kunardi Hardjoprawiro, M.Pd;
Prof. Dr. Joko Nurkamnto; Prof. Dr. Maryono Dwiraharjo, S.U; Dr. Sumarlam., M.S, yang telah memberikan disiplin Linguistik untuk bekal penulis menyelesaikan disertasi.

9. Sunarno S.Kar., M. Sen, sebagai nara sumber primer tari Bondhan Sayuk dan
jenis tari pasihan lainnya, yang telah memberikan informasinya sehingga penulisan disertasi ini dapat selesai.

10. Sutarno Haryono S.Kar., M. Hum, sebagai teman seperjuangan dan
motivator yang mendorong penulis untuk studi S3 dan berhasil meraih gelar doktor.

11. Sri Wahyuningsih sebagai istri dan anak-anakku: Risang Janur Wendo, Laras
Ambika Resi, Linggo Sasikirana, dan Hoyi Anggraeni yang telah memberikan semangat dan doanya kepada penulis sehingga disertasi ini cepat selesai. 12. Selamat jalan istriku yang tercinta dan tersayang Sri Djarwanti S.Kar, ke hadapan-Mu ya Allah, semoga atas pengorbanan dan kasihmu selama ini, saya selalu berdoa semoga Allah SWT menerima dan memasukkan belahan hatiku dalam golongan orang ahli surga di hari Akhir. Amin. 13. Pemerintah Republik Indonesia yang memberikan kewenangan kepada Dirjen Dikti yang telah memberi Bea Siswa (BPPS). Akhirnya dengan segala kerendahan hati, penulis mohon maaf kepada semua pihak apabila terdapat kekurangan dan kesalahan yang penulis perbuat selama menyelesaikan disertasi ini. Semoga Allah tetap membimbing kami. Amin.

gérongan. dan (4) teori komunikasi. Disertasi. Untuk mengungkap permasalahan yang menjadi tujuan penelitian disertasi ini. busana. dan afektif sebagai sumber aliran nilai. Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta. realisasi prinsip kerja sama. 7 April 2010 Peneliti Maryono Maryono: T 130906005. polatan (ekspresi wajah). (2) teori budaya. dan implikatur. (2) Komponen nonverbal genre tari pasihan berupa: tema. dan jineman. dan iringan gamelan (musik). Keempat teori tersebut digunakan untuk . realisasi strategi kesantunan. ABSTRAK Topik penelitian ini adalah Komponen Verbal dan Nonverbal dalam Genre Tari Pasihan Gaya Surakarta (kajian Pragmatik). fungsi TT. Kajian komponen verbal ini untuk mengungkap: jenis-jenis tindak tutur (TT) yang dominan. Strategi yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus tunggal terpancang (embedded case study research). Tujuan penelitian untuk memahami makna bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan pada ritual perkawinan adat Jawa di Surakarta dengan menganalisis secara rinci. mencatat dokumen dan arsip (content analysis). lengkap. (3) Menjelaskan hubungan komponen verbal yang bersifat kebahasaan dan nonverbal yang bersifat nonkebahasaan genre tari pasihan. untuk mengungkap bentuk hubungan yang bersifat langsung dan tidak langsung dan implikatur genre tari pasihan. peneliti menggunakan kajian: (1) teori pragmatik. dan mendalam untuk menemukan dan mendeskripsikan: (1) Komponen verbal genre tari pasihan berupa sastra tembang dalam syair: pathetan.7 Surakarta. dan seimbang mengkaji tiga faktor yaitu genetik. dan (5) Menjelaskan persepsi masyarakat terhadap kehidupan genre tari pasihan gaya Surakarta. observasi. (3) teori seni pertunjukan. objektif. 2010. Teknik pengumpulan data yang sesuai dengan penelitian kualitatif dan jenis sumber data yang dimanfaatkan adalah: wawancara mendalam (in-depth interviewing). rias. KOMPONEN VERBAL DAN NONVERBAL DALAM GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA (Kajian Pragmatik). pola lantai. akurat. Bentuk penelitian yang digunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan kritik holistik yang secara fokus. sindhènan. (4) Menjelaskan latar belakang konsepsi penciptaan komponen verbal dan nonverbal genre tari pasihan. gerak tubuh (kinetic body moves).

8

menganalisis makna pragmatik genre tari pasihan gaya Surakarta secara komplementer. Secara prinsip teori pragmatik merupakan alat kajian yang utama terkait dengan sistem kebahasaannya yang terfokus untuk menganalisis jenis-jenis TT, jenis TT yang dominan, fungsi TT, realisasi prinsip kerja sama, realisasi strategi kesantunan, implikatur, dan daya pragmatik. Teori budaya dan teori seni pertunjukan untuk menganalisis faktor nonkebahasaan yang berupa unsur-unsur karya seni. Teori komunikasi untuk mengkaji keterkaitan antarfaktor genetik, objektif, dan afektif. Trianggulasi keempat teori tersebut merupakan sarana untuk menjamin dan mengembangkan validitas data dalam mengungkap makna pragmatik genre tari pasihan gaya Surakarta. Pokok-Pokok Temuan Penelitian. Jenis–jenis TT yang terdapat dalam genre tari pasihan gaya Surakarta terdiri dari beragam jenis yaitu: TT asertif, TT komisif, TT ekspresif, TT direktif, TT verdiktif, dan TT patik. Dari beragam jenis TT yang terdapat pada genre tari pasihan, jenis TT yang dominan adalah TT direktif. Pada penerapan prinsip kerja sama dalam bahasa verbal genre tari pasihan terjadi pelanggaran maksim kuantitas dan maksim cara, sedangkan maksim kualitas dan maksim hubungan dipatuhi. Prinsip kesantunan yang diterapkan dalam bahasa verbal genre tari pasihan didapatkan penggunaan strategi TT dengan kesantunan positif dan strategi TT secara tidak langsung (off record). Implikatur yang terdapat dalam jenis-jenis tari pasihan menunjukkan adanya simbolisasi percintaan sepasang suami istri yang dalam perjalanan kisahnya berawal dalam menghadapi permasalahan, kemudian mendapat solusi yang berangsur-angsur membaik dan berakhir bahagia. Kehadiran tari pasihan hampir dapat dipastikan disajikan dalam resepsi perkawinan merupakan wahana untuk mewisuda sepasang temantèn. Rupanya terdapat keterkaitan yang sangat erat antara kehadiran tari pasihan dalam resepsi perkawinan dengan sepasang temantèn. Implikatur yang utama pada kehadiran genre tari pasihan dalam resepsi perkawinan adalah untuk dapat diteladani dan memberikan sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temantèn. Merujuk implikatur-implikatur yang diperikan dari komplementer komponen verbal dan nonverbal jenis-jenis tari pasihan dapat diungkapkan bahwa bentuk daya pragmatik genre tari pasihan adalah berupa nasihat-nasihat tentang cinta kasih yaitu pasangan keluarga yang romantis, harmonis, dan bahagia; kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga; dan sikap-sikap ideal bagi figur suami dan figur istri. Nasihat-nasihat tentang cinta kasih tersebut bermanfaat bagi sepasang temantèn sebagai bekal untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dalam membangun sebuah keluarga. Bentuk genre tari pasihan merupakan perpaduan dua komponen besar yaitu verbal dan nonverbal. Berdasarkan jabaran komponen tersebut dapat diketemukan ciri karakteristik genre tari pasihan sebagai berikut: (a) bahasa verbal berbentuk tembang Jawa bernuansa cinta; (b) bahasa verbal yang digunakan berdasarkan status sosial; (c) hubungan komponen verbal dan nonverbal bersifat langsung dan tidak langsung; (d) tema percintaan; (e) cerita berakhir dengan bahagia (happy end); (f) disajikan berpasangan pria dan wanita; (g) pesannya berupa nasihat tentang cinta kasih; (h) gerak representatif dan presentatif diekspresikan penari dalam kualitas lembut, halus, dan romantis.

9

Berdasarkan temuan penelitian dan hasil pembahasan dari keterkaitan tiga faktor objektif, genetik, dan afektif dapat disimpulkan bahwa kehadiran genre tari pasihan dalam upacara ritual resepsi perkawinan berfungsi sebagai hiburan dan suritauladan. Kehadiran genre tari pasihan dalam resepsi perkawinan dimaksudkan oleh seniman untuk mengajak, meminta dan menyuruh sepasang temantèn untuk memahami dan meresapi pesan yang terkandung dalam bahasa verbal sastra tembang, yang disampaikan dengan bahasa nonverbal dalam bentuk visual yang estetik, supaya pasangan temantèn tersebut melakukan tindakan atau perbuatan seperti yang dicontohkan dalam pertunjukan tari pasihan tersebut. Maksud dan harapan seniman penyusun tersebut ditangkap oleh masyarakat sebagai sesuatu yang harus diteladani, mengingat gambaran percintaan pasangan suami istri yang romantis, harmonis, dan bahagia yang terdapat dalam tari tersebut dirasa sangat tepat dan diterima dengan jelas, mantap sebagai suatu bentuk pendidikan yang bersifat tidak langsung dan sangat bermanfaat bagi sepasang temantèn untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dalam menggapai keluarga bahagia lahir dan batin. Maryono: T 130906005. 2010. VERBAL AND NONVERBAL COMPONENTS IN THE SURAKARTA STYLE PASIHAN DANCE GENRE (A Pragmatic Study). Dissertation. Postgraduate Program Sebelas Maret University Surakarta.

ABSTRACT
The topic of this research is Verbal and Nonverbal Components in the Genre of the Pasihan Dance Surakarta Style. Using a pragmatic approach the aim of the research is to understand the meaning of the verbal and nonverbal language in the pasihan dance genre (a dance genre with a romantic or love theme) in the traditional Javanese wedding rituals in Surakarta by carrying out a detailed, accurate, and in-depth analysis, in order to discover and describe: (1) the verbal components in the pasihan dance genre, in the Javanese poems in: pathetan, sindhènan, gérongan, and jineman. This study of the verbal components is intended to reveal: the dominant types of speech acts, the functions of the speech acts, the realization of the cooperative principles, the realization of the politeness principles, and the implicatures; (2) the nonverbal components in the pasihan dance genre, in the form of: themes, kinetic body moves, facial expressions (polatan), floor designs, make-up, costume, and musical accompaniment played on the gamelan; (3) the relationship between the verbal and the nonverbal components in the pasihan dance genre, in order to reveal the direct and indirect relationships and implicatures of the pasihan dance genre; (4) the background of the conception of the creation of verbal and nonverbal components in the pasihan dance genre, and (5) people’s perception of the existence of the Surakarta style pasihan dance genre. The research takes the form of a qualitative study using a critical holistic approach which provides a focused, comprehensive, and balanced study of three factors, namely genetic, objective, and affective factors as the source of the values. The strategy used for this research is that of an embedded case study. The techniques used for collecting data, in accordance with the qualitative research and types of data sources available, include in-depth interviews, observation, and content analysis.

10

In order to discover the issues which are the object of the research for this dissertation, the researcher uses theoretical studies of (1) pragmatic theories, (2) cultural theories, (3) performing arts theories, and (4) communication theories. These four theories are used to provide a complementary analysis of the pragmatic meaning of the Surakarta style pasihan dance genre. In principle, the main tool is the pragmatic theory, in connection with the linguistic system which focuses on analyzing the different types of speech acts, the dominant types of speech acts, the function of the speech acts, the realization of the cooperative principles, the realization of the politeness principles, the implicatures, and the pragmatic power. The cultural and performing arts theories are used to analyse nonverbal language factors which are in the form of elements of the work of art. The communication theories are used to examine the connection between the genetic, objective, and affective factors. A triangulation of these theories is used as a means of securing and developing the validity of the data to discover the pragmatic meaning of the Surakarta style pasihan dance genre. The main findings of the research showed that there are various kinds of speech acts found in the Surakarta style pasihan dance genre, numely: assertive, commissive, expressive, directive, verdictive, and phatic. Of all these different types, the most dominant kind of speech act found in the pasihan dance genre is the directive speech act. The application of cooperative principles in the verbal language of the pasihan dance genre of shows a deviation in maxims of quantity and maxims of manner, while maxims of quality and maxims of relation are adhered to. The principle of politeness applied in the verbal language of the pasihan dance genre uses the strategy of positive politeness and performs off record speech acts. The implicature found in the different types of pasihan dance indicates that there is a symbolization of love between husband and wife, who throughout the course of the story encounter problems but subsequently find a solution. It gradually resolves their difficulties and ultimately brings about a happy ending. The pasihan dance is almost always performed at wedding receptions which are a medium for officially announcing the marriage of a newly wed couple. There is a very close connection between the presence of the pasihan dance and the bride and groom at a wedding reception. The main implicature of the presence of the pasihan dance genre at a wedding reception is that it sets an example and offers indirect suggestions for the newly wed couple to follow. With reference to the implicatures obtained from the combination of verbal and nonverbal components in different types of the pasihan dances, show that the form of pragmatic power in the pasihan dance genre is advise about love and affection, for married couple to enjoy a romantic, harmonious, and happy relationship; to display equality and togetherness; and to show an ideal attitude between husband and wife. This advice about love and affection is beneficial for a newly married couple. It provides them with knowledge to lead a better life as they set out to build a new family. The form of the pasihan dance genre is a combination of two main components, namely verbal and nonverbal. Based on the description of these two components, the characteristics of the pasihan dance genre are as follows: (a) Verbal language in the form of Javanese sung poems with a romantic nuance; (b) Verbal language which is used according to social status; (c) A direct and indirect connection between the verbal and nonverbal components; (d) A romantic theme; (e)

11

A story with a happy ending; (f) A performance by a pair of dancers, one male and one female; (g) Advice about love affection; (h) Representative and presentative movements expressed by the dancers with soft, refined, and romantic qualities. Based on the findings of the research and the results between the objective, genetic, and affective factors, it can be concluded that the performance of the pasihan dance genre at a wedding reception for the newly married couple to follow. The presence of the pasihan dance genre at a wedding reception is intended by the performing artists as a means of inviting, asking, and telling the bride and groom to understand and absorb the message in the verbal language of the text, and conveyed using nonverbal language in a visual and aesthetical form. It as hoped that they will act and behave like the example displayed in the performance of the pasihan dance. The hope and intention of the artists is captured by the audience who view the dance as a good example to follow, recognizing it as a portrayal of a romantic, harmonious, and happily married couple which is felt to be highly appropriate and also educative in an indirect way. This is highly beneficial for the newly married couple as they enter into their new lives, and strive to create a happy family, in both worldly and spiritual aspects.

DAFTAR ISI
Halaman JUDUL ……………….………………..………………………………….….…...i PENGESAHAN……………………………………………….…….………….….ii PEMERTAHANAN…………………………………………………………….…iii PERNYATAAN………………………………………………………..………….iv KATA PENGANTAR……………………………………………………………..v ABSTRAK…………………………………………………………….…….……vii ABSTRACT……………………………………………………………..………… ix DAFTAR ISI ………………………………………………………….…..……....xi DAFTAR TABEL ………….……………………………………………….......xvii DAFTAR BAGAN………………………………….………..……...……..........xix DAFTAR GAMBAR / FOTO……………………………………..………..……xx DAFTAR SINGKATAN ……………………………………..……….……...…xxi DAFTAR LAMPIRAN ……………………………………….……....…..…....xxii BAB I PENDAHULUAN ………………………………………….……….……. 1 A. Latar Belakang Masalah………..……..………………….……….……....1 B. Rumusan Masalah …………………………………...……….......……..16 C. Tujuan Penelitian………………………………………..………….........16

12

D. Manfaat Penelitian……………………………………….........................17 BAB II KAJIAN TEORI, PENELITIAN YANG RELEVAN, DAN KERANGKA PIKIR……………………………………………………………………………..18 A. Kajian Teori……………………………………………………………............18 1. Teori Pragmatik…………………....................……………..............................20 a. Konteks dalam pragmatik………………………………..………….………23 b. Teks………………………………………….……………...........................29 c. Tindak Tutur (TT)…………………………………….…………….….…...39 c.1. Tindak Tutur menurut Austin (1956)……………..............................41 c.2. Tindak Tutur menurut Searle (1979)………….. .………..………….45 c.3. Tindak Tutur menurut Yule (1996)…………………........………….46 c.4. Tindak Tutur menurut Kreidler (1998)…………...............................48 d. Prinsip Kerja Sama (PKS)…… …………………………………………....53 e. Prinsip Kesantunan (PS)…………………….…….……….………….…......58 e.1. Skala Kesantunan Leech (1983)……………………..…….................58 e.2. Skala Kesantunan Brown dan Levinson (1987)………..………….....60 f. Implikatur …………………………………….…….…………….....…….....62 g. Daya Pragmatik…………………………………….…………………….….64 2. Teori Budaya………………………………………………...………….……...66 a. Bentuk Ide atau Gagasan……...……………………….…………....….70 b. Bentuk Aktivitas………….……………………….…..………….....…70 c. Benda Fisik………………………………………………….….…....…71 3. Teori Seni Pertunjukan…………………………..…………………............…..71 a. Tema ………………………………………………………....….….…74 b. Gerak Tubuh (kinetic body moves)………………………. …….….…74 c. Polatan (ekspresi wajah) ……………………………..…….…..…......77 d. Pola Lantai (floor design)……………………………… ……...……...78 e. Rias ……………………………………………….……….….……….79 f. Busana ………………………………………………….……….……..80 g. Iringan (gendhing beksa) ………………………………………….......81 h. Estetik…………………………………………....................………….82

13

4. Teori Komunikasi ………..…………………….…...........................................83 a. Komunikator…………………………………………………....…..…85

b. Sarana atau Media…………………………………………….….…....86 c. Komunikan……………………………………….………….………...88 B. Penelitian yang Relevan…………………..…………………………..…...…..90 C. Kerangka Pikir…………………………………………………....…….……...91 BAB III METODOLOGI PENELITIAN……………………………….….….…93 A. Sasaran dan Lokasi Penelitian…………………..…………..……. …….…….93 B. Bentuk dan Strategi Penelitian…………………………...................................94 C. Jenis Data dan Sumber Data…………………….………………………….…96 D. Teknik Cuplikan (sampling)…………………………… …………….............97 E. Teknik Pengumpulan Data ……………………………….…..……………….98 1. Wawancara Mendalam (in-depth interviewing)………..............................98 2. Observasi …………………………………………………………....…..102 3. Mencatat Dokumen dan Arsip (content analysis)………..........................103 F. Pengembangan Validitas ………………………………..........………..….…103 G. Teknik Analisis………………………………………………..………… ….106 BAB IV KOMPONEN VERBAL GENRE TARI PASIHAN GAYA

SURAKARTA......................................................................................................110 A. Komponen Verbal…………………………………………………….….…..110 B. Komponen Verbal Tari Karonsih………………………………………….…112 1. Teks Pathetan Wantah Laras Pélog Pathet Lima…………..………. ….112 a. Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah………..........................…. …113 b. Konteks ………………………………………............................. …..114 c. Fungsi Tindak Tutur ................…………………………………..…..115 d. Realisasi Prinsip Kerja Sama…………………..…..............................116 e. Realisasi Prinsip Kesantunan ……………………...............................117 f. Implikatur …………………………..………...................................…117 2. Teks Sindhènan Pangkur Ngrénas Laras Pélog Pathet Lima ……….....118 a. Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah.…………….………….....….118 b. Konteks …………………………………..........................……..…...119

.......……….........…...14 c....…. Teks Sindhènan Kinanthi Sandhung Laras Sléndro Pathet Manyura ….... Komponen Verbal Tari Bondhan Sayuk………………………………......……….…125 b..........132 a....124 a..137 d.…............. Fungsi Tindak Tutur ………………………………………...…............... Implikatur ………………………….…..............……. Fungsi Tindak Tutur ……………………………………….........................122 f..... Teks Sindhènan Mijil Sulastri Laras Pélog Pathet Barang.……………...131 f..............…144 b..........…. Konteks ……………………………………….….......128 d..…144 1..................... Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah..144 a.................154 ...... Realisasi Prinsip Kerja Sama ……………………..…151 b................. Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah ……………...........120 d.........126 c....................142 C...121 e...... Konteks ……………………………………….......... Implikatur …………………………....…..…......152 c. Fungsi Tindak Tutur …………………………………………...…........................... Realisasi Prinsip Kesantunan ………………..........……………….…................ Realisasi Prinsip Kerja Sama …………………....................….... Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah ……………..... Realisasi Prinsip Kesantunan ……….... Teks Gérongan Lambangsari Laras Sléndro Pathet Manyura ………..... Implikatur ………………………….....……........153 d.. Realisasi Prinsip Kesantunan ……………....………............……………....…...129 e.135 c...... Realisasi Prinsip Kerja Sama …........……... Implikatur …………………………................... Realisasi Prinsip Kerja Sama ……………………....……………...... Fungsi Tindak Tutur …………………………........ Realisasi Prinsip Kesantunan ……………...............…..…………...………150 a.... Konteks …………………………………….........…...................141 f.......... Teks Jineman Sayuk Laras Pélog Pathet Barang ……......148 e...............…........ Konteks ………………………………………....…...…132 4...........149 f. Fungsi Tindak Tutur ……………………………………….……150 2..147 d..........…...…133 b.......……….…...........................145 c.... .........….......………....... Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah...…..………......... Realisasi Prinsip Kerja Sama ……………….…..........................…123 3......139 e.............

..…158 b. Realisasi Prinsip Kerja Sama …………………....….... Konteks ……………………………………....159 c....…….......…………….. Implikatur …………………………..165 c......…...........216 C..…....………....………..... Pola Lantai……………...200 7..166 d..............….......………………..…........197 5..……........….…..........164 a....……..171 B....…. Estetik…………………………………………….......…………….. Kinetic Body Moves atau Gerak Tubuh ….…….194 4.…………...... Polatan (ekspresi wajah)…………………..... Kinetic Body Moves atau Gerak Tubuh ….......157 a..................…….….............………….. Polatan (ekspresi wajah)……………………………………………............... Realisasi Prinsip Kesantunan …………….....….182 3.…224 3............... Tema……………………………………….........161 e. Teks Gérongan Lancaran Sayuk Laras Pélog Pathet Barang …............157 3...172 1......................……….………………………....162 f................……163 4.. Realisasi Prinsip Kesantunan …………….. Teks Gérongan Ladrang Sayuk Laras Pélog Pathet Barang ….... Fungsi Tindak Tutur ………………………………............... Komponen Nonverbal Tari Karonsih………………………...................……....…………169 BAB V KOMPONEN NONVERBAL GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA…………………………………………………………..155 f..167 e........…...198 6.....…...……..... Tema………………………………........…….....……………………...……171 A.…………………………….........…....173 2.…..............160 d.……....... Implikatur ………………………….. Realisasi Prinsip Kerja Sama ………………..……..220 1....... Komponen Nonverbal………………………………………………….. Realisasi Prinsip Kesantunan …….…....……….……….......…………........ Konteks ……………………………………….....….......…164 b..............…........ Iringan Tari……………………………………......…..….15 e...... Rias dan Busana………………………………….......234 ..………………….. Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah ………. Komponen Nonverbal Tari Bondhan Sayuk………………………............. Implikatur …………………………......………………………….. Fungsi Tindak Tutur ………………………………….......168 f..220 2.. Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah......…........….…………….

. Adegan Kasmaran (percintaan)……………………………………….236 5.. Adegan Pencarian……………………….320 1.........… .………………….………………………….. Faktor Genetik………………………………………………. …...…….237 6.…..324 2. Adegan Pertemuan…………………………………………………….311 2..….… …320 2..……………………………………. Analisis…………………………………………………………..………….278 2..…253 1..………………….………….281 3. Persepsi Masyarakat terhadap Genre Tari Pasihan…………………….…........….. Genre Tari Pasihan sebagai Keteladanan…………….. Rias dan busana…………………………………....... Hubungan Komponen Verbal dengan Nonverbal Tari Bondhan Sayuk….. Adegan Bahagia………………………………..….....238 7.. Faktor Afektif……………………………………………. …...…………………………………………….337 3. Adegan Kekudangan (menimang anak)………………………………. Hubungan Komponen Verbal dengan Nonverbal Tari Karonsih……….…253 2.…277 1. Perspektif Pragmatik…………………………. Perspektif Budaya………………………………………….… ..….259 3...…......289 BAB VII KONSEPSI PENCIPTAAN DAN PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA………………295 A....…………….320 A.…………... Properti Boneka……………………………………….…….…………….…..16 4.. Adegan Makarya (bekerja)…………………….. Estetik. Pokok-Pokok Temuan Penelitian…………………………………… .…………………….. Iringan Tari..323 B.…. Faktor Objektif………………………………………………....322 3...….…………………….…..…314 BAB VIII PEMBAHASAN……………………………………………….295 B... Genre Tari Pasihan sebagai Hiburan………………. …..….344 .……………....310 1...248 BAB VI HUBUNGAN KOMPONEN VERBAL DAN NONVERBAL GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA…………………………………. Konsepsi Penciptaan Komponen Verbal dan Nonverbal Tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk……………………………………….252 A..247 8...264 B.… …..…………………. . Pola Lantai……………………………….324 1.… …. Perspektif Substansi Tari: Komponen Verbal dan Nonverbal….

..…366 B.370 C.123 5. Tabel 4.. Simpulan…………………………………………………………… .. Tabel 4.4 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Isen-isen……………….....…..5 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Sindhènan Kinanthi Sandhung…………………………………………………………………….………..….379 LAMPIRAN………………………………………………………...133 ..….….…... Tabel 4...….…375 DAFTAR NARA SUMBER…………………………………………..………372 DAFTAR PUSTAKA ACUAN…………………………………………..125 6. Tabel 4.... Tabel 4.…357 BAB IX PENUTUP…………………………………….. Perspektif Historis……………………………………….… ..6 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Gérongan Lambangsari………………………………….…117 3.2 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks isian……..jenis TT yang melekat pada teks Sindhènan Pangkur Ngrénas…………………………………………………………….. Saran…………………………………………………………….….. Implikasi………………………………………………………… ….113 2.1 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Pathetan Wantah……..17 4....…….118 4. Tabel 4.…………………… …366 A...380 DAFTAR TABEL 1.….………………………………..….3 Jenis .

. Tabel 4. ………………………………………..5 Jenis-jenis gerak representatif tari Karonsih adegan III: bahagia ……………………………………. Tabel 5..2 Jenis-jenis gerak presentatif tari Karonsih adegan I: pencarian..3 Jenis-jenis gerak representatif tari Karonsih adegan II: pertemuan....…....….7 Rekapitulasi gerak representatif tari Karonsih……….….………. Tabel 5.1 Jenis-jenis gerak representatif tari Karonsih adegan I: pencarian..…..10 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Jineman Sayuk…………………………………………………………………….. Tabel 4.….6 Jenis-jenis gerak presentatif tari Karonsih adegan III: bahagia ………………………………………………..7 Rekapitulasi jenis-jenis TT pada komponen verbal tari Karonsih…143 8.193 22... Tabel 5.…...13 Rekapitulasi jenis-jenis TT pada komponen verbal tari Bondhan Sayuk……………………………………………………………………...189 19..185 17. Tabel 4.……………....8 Persentase jenis –jenis TT pada komponen verbal tari Karonsih…. Tabel 5.164 13.. Tabel 5.………………………..193 21.……170 14.……...….9 Persentase gerak representatif dan presentatif tari Karonsih.…170 15.194 23..8 Rekapitulasi gerak presentatif tari Karonsih………. …………………………………………………...190 20...... Tabel 5...……. Tabel 4..12 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Gérongan Lancaran Sayuk……………………………………………………………………....…... Tabel 5..18 7.…...9 Jenis –jenis TT yang melekat pada teks Sindhènan Mijil Sulastri……………………………………………....188 18.. ………………………….4 Jenis-jenis gerak presentatif tari Karonsih adegan II: pertemuan ………………………………………………. 14 Persentase jenis –jenis TT pada komponen verbal tari Bondhan Sayuk………………………………………………………………….. Tabel 4.….…......…….. Tabel 5...158 12..11 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Gérongan Ladrang Sayuk………………………………………………………………………. Tabel 4.143 9.184 16..…194 ..........……….. Tabel 4.……….……144 10...…. Tabel 5.151 11. Tabel 4.

.. Tabel 5..10 Jenis-jenis gerak representatif tari Bondhan Sayuk adegan I: kasmaran ………………………………….. Tabel 5.…233 29.….....12 Jenis-jenis gerak representatif tari Bondhan Sayuk adegan II: kekudangan …………………………………....….....…………...…234 DAFTAR BAGAN Bagan 2............ Tabel 5.....14 Jenis-jenis gerak representatif tari Bondhan Sayuk adegan III: makarya ………………………………..... Tabel 5......91 Bagan 3.…229 25.19 24...234 31.....11 Jenis-jenis gerak presentatif tari Bondhan Sayuk adegan I: kasmaran ………………………………. 17 Persentase gerak representatif dan presentatif tari Bondhan Sayuk……………………………………………………………………...…233 30...........13 Jenis-jenis gerak presentatif tari Bondhan Sayuk adegan II: kekudangan …………………………………….108 ...………..…... Tabel 5..…..…………..231 27...1 Kerangka Kritik Holistik Komponen Verbal dan Nonverbal Genre Tari Pasihan gaya Surakarta……………………………….………….. 15 Rekapitulasi gerak representatif tari Bondhan Sayuk…. 16 Rekapitulasi gerak presentatif tari Bondhan Sayuk….…….. Tabel 5.... ... Tabel 5.…231 26....1 Model Analisis Interaktif……………………………………....…..….... Tabel 5..…232 28..

.20 DAFTAR GAMBAR / FOTO Gambar 1: pola lantai garis lurus untuk mendukung suasana tegang.199 Gambar 2: pola lantai garis lengkung untuk mendukung suasana romantis................. ketika Sekartaji berupaya mencari Panji....... ketika Panji dan Sekartaji srisik bergandengan tangan......................................199 Gambar 3: pola lantai garis lengkung untuk mendukung suasana bahagia......199 .............................. ketika Panji ulap-ulap kiri dan Sekartaji trap jamang...........

........262 Foto: 5 Tari Karonsih: Panji dan Sekartaji memadu asmara………………........….......…............260 Foto: 4 Tari Karonsih: Panji dan Sekartaji dalam suasana romantis…………....... Tari Bondhan Sayuk: Suami dan istri dalam kebersamaan...............…............….........….......…..220 Foto: 3 Tari Karonsih: Panji mengamati Sekartaji dalam suasana sedih……….…272 Foto: 7 Tari Karonsih: Panji dan Sekartaji dalam suasana bahagia…….....237 Gambar 5: pola lantai garis lengkung untuk mendukung suasana romantis...268 Foto: 6 Tari Karonsih: Panji dan Sekartaji memadu asmara…………...286 DAFTAR SINGKATAN ASKI CD D–a D – en : Akademi Seni Karawitan Indonesia : Compact Disk : Dasar ...172 Foto: 2 Tari Bondhan Sayuk: Suami dan istri dalam kebahagiaan ………….279 Foto: 9 Tari Bondhan Sayuk: Istri meminta suami untuk bekerja………….238 Gambar 6: pola lantai garis lengkung untuk mendukung suasana bahagia.....21 Gambar 4: pola lantai garis lurus untuk mendukung suasana tegang...........282 Foto: 10 Tari Bondhan Sayuk: Suami meminta anak kepada istri…………..en .....a : Dasar .....…..... ketika istri hendak meninggalkan suami...........285 Foto: 12 Tari Bondhan Sayuk: Suami dan istri dalam kebahagiaan…………..................283 Foto: 11 Tari Bondhan Sayuk: Suami bersenandung sambil menimang anak........…............ ketika istri dan suami ènjèr ridhong berputar. ketika istri dan suami lilingan kebyok sampur...............................274 Foto: 8.....238 Foto: 1 Tari Karonsih: Panji dan Sekartaji dalam kemesraan dan kebersamaan………………………………………………….

M R.ake : Konservatori Karawitan : Kanjeng Raden Tumenggung : Magister Seni : Prinsip Kesantunan : Prinsip Kerja Sama : Putra : Putri : Penutur : Petutur (mitra tutur) : Pakempalan Kagunan Jawi : Raden : Raden Mas : Raden Tumenggung : Tindak Tutur : Verba ... Glosarium……………………………………………….an : Dasar .T TT V–a VCD : Dasar . VCD Tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk…………………….Sn PS PKS Pa Pi Pn Pt PKD R R..380 Lampiran 2.Dasar .22 D – an D – ana di – D – ake KOKAR KRT M.…………380 .a : Visual Compact Disk DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1.ana : di .

23 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah .

. sebagai sarana mewujudkan cita-citanya. with language and culture. Di situ manusia dalam masyarakat atau subkultur dengan bahasa yang sama saling berinteraksi sehingga mampu berkomunikasi berdasarkan pengalaman dan harapan kultural yang sama. 1969: 104-105). Setiap individu lahir dalam masyarakat yang telah berjalan. betapapun hebat dan kuatnya. bahasa adalah sistem bunyi ujar yang bersifat arbitrer yang dipergunakan oleh manusia dalam suatu masyarakat (language society) untuk berkomunikasi secara umum dan wajar. karena tanpanya manusia tidak mampu berkomunikasi dan berinteraksi dengan dunia luar dirinya. Menurut Edi Subroto (tanpa tahun. Ketergantungan antarindividu merupakan faktor utama manusia untuk saling berkomunikasi dalam rangka meraih kehidupan yang berbudaya. Berbagai strategi belajar untuk menjadi manusia yang diperlukan agar dapat terinkulturasi dan tersosialisasi sepenuhnya. dapat dikatakan belum mempunyai bekal. Sejalan dengan pernyataan tersebut bahasa merupakan suatu sistem simbol-simbol vokal yang dipelajari dan dimiliki secara bersama. Betapa pentingnya bahasa bagi kehidupan manusia kiranya tidak perlu diragukan lagi. Bahasa sendiri merupakan sistem dari budaya manusia.24 Manusia hidup tidak mampu lepas dari lingkungan dan bertahan sendiri. he could and did become hominine” (Smith. and man remained hominoid. sebagian besar individu tersebut melakukan melalui modalitas utama komunikasi manusia yakni bahasa. maka dia harus belajar menjadi manusia dengan menghayati atau mendalami budaya kelompoknya. hal: 1). sistem yang terpenting di mana sistem-sistem lain terutama dicerminkan dan ditransmisikan. “Without language there could be no culture.

Randai. yang kesemuanya itu merupakan bahasa komunikasi yang kaya akan nuansa imajinatif dan penuh dengan multitafsir. Adapun bentuk seni pertunjukan di antaranya: Wayang Purwa (Wayang Kulit). Kethoprak. adapun bentuk yang utama yakni: gerak. Secara prinsip dapat peneliti katakan bahwa seni pertunjukan merupakan wahana yang sangat potensial sebagai sasaran kajian pragmatik. warna pada seni rupa. dan bahasa) banyak terdapat pada seni pertunjukan. Karawitan. rupa. bergantung kebutuhan. Ludruk. Masing-masing media dapat muncul secara mandiri dan bisa juga saling komplementer. Pada hakekatnya media itu berbentuk fisik. Wayang Wong. dan bahasa sebagai tindak tutur. Seni pertunjukan sebagai bahasa seniman untuk berkomunikasi dengan penghayat merupakan bahasa pragmatik yang sangat khas penuh dengan nuansa keindahan. rupa. dan lainnya. Hal ini dapat kita cermati dari bentuknya yang berupa seni kolektif sebagai sarana untuk mengungkapkan maksud dari seniman sebagai penutur dengan harapan dapat dihayati oleh penghayat sebagai mitra tutur. bunyi. Lenong. bunyi. Kemunculan secara mandiri seperti: bunyi dalam musik. Langendriyan.25 Dalam kehidupan kesehariannya manusia berkomunikasi lewat beragam media atau medium. dan bahasa. Seni pertunjukan merupakan bentuk seni komplementer yang pada dasarnya merupakan salah satu bentuk bahasa pragmatik. Wayang Golek. Pragmatisme pada seni pertunjukan dapat ditunjukkan dari wujudnya yang memiliki bahasa verbal dan nonverbal saling komplemen yang selalu hadir dalam konteks. Bentuk yang merupakan komplemen dari beragam media (gerak. . Tari.

Lewat pesan akan ditangkap makna sebagai esensi dari aktivitas berkomunikasi antara penyusun tari dengan masyarakat. dan relasi antara bentuk dan makna sangat ketat. selain makna kata-katanya juga diungkapkan dengan lagu dan tekanan irama yang didukung iringan gamelan. . tari mempunyai muatan-muatan pesan dari penyusun tari yang hendak dikomunikasikan dengan masyarakat. Ini berbeda dengan bahasa. ini merupakan realitas kemunculan bentuk komplementer. spiritual. Kehadiran tari sebagai ungkapan ekspresi jiwa manusia merupakan media komunikasi seorang seniman (penyusun tari ataupun penari) sebagai penutur terhadap masyarakat (pakar. bahwa masyarakat di mana saja menata hidup mereka dalam kaitannya dengan makna dari berbagai hal.26 Tari sebagai salah satu bentuk seni pertunjukan. sehingga terasa menjadi lebih mantap. disipliner. yang secara spesifik telah memiliki kaidah-kaidah baku yang penafsirannya lebih bersifat rasional. Seperti dinyatakan Spradley (1997: 120). dan bersifat hiburan. Adapun pesan-pesan tersebut dapat berupa pesan moral. Hal ini terkait dengan konsep bahasa yang bersifat formal. Pertimbangan yang mendasar bahwa dalam tari. Muatan pesan tersebut merupakan salah satu kebutuhan dasar bagi hidup manusia. Penafsiran terhadap keragaman media komunikasi yang terdapat dalam tari tidak mampu hanya ditangkap secara rasional semata tetapi ketajaman rasa merupakan ujung tombak dalam menangkap makna yang sebenarnya. merupakan perpaduan dari berbagai media komunikasi. Sebagai media komunikasi. serta rupa sebagai garap rias dan busana. bunyi dan bahasa sebagai garap iringan. penonton umum dan penanggap) sebagai mitra tutur. kata-kata yang terdapat dalam tembang sebagai bahasa verbal. yaitu: kinetic body moves (gerak tubuh) sebagai garap tari.

bukan semata-mata hanya makna literal ujaran tersebut. tetapi juga sering memilih menggunakan bahasa yang tersamar. kapan. dan kultural yaitu siapa berbicara kepada siapa. Kajian makna dalam . terbuka. apa adanya. manusia menggunakan bahasa sebagai sarana komunikasi dan berinteraksi secara vertikal dan horisontal dalam kedudukannya sebagai makhluk individu maupun sosial. Rupanya dalam berkomunikasi manusia tidak selalu menggunakan bahasa yang sifatnya langsung. Dalam rangka beraktivitas sehari-hari manusia memerlukan bahasa sebagai alat komunikasi yang paling efektif dan efisien. di mana. sebagaimana dikatakan Leech pragmatik adalah “The study of meaning in relation to speech situation” (lihat Wijana. frase atau kalimat. Bahasa merupakan sarana yang utama untuk menyampaikan pesan penutur kepada mitra tutur. Dengan demikian tampak jelas bahwa pragmatik terikat konteks (context dependent). 1995: 50). Bahasa yang bersifat pragmatik merupakan salah satu sasaran kajian tentang makna-makna satuan lingual secara eksternal. mitra tutur harus mengetahui makna semantik ujaran itu terlebih dahulu. Jadi pragmatik mengkaji maksud suatu ujaran penutur baik secara tersirat maupun tersurat di balik tuturan yang dianalisis. sosial. Makna yang dikaji dalam pragmatik dikaitkan dengan maksud atau tujuan penutur di dalam mengutarakan suatu kata.27 Dalam kehidupannya. Dengan cara menghubung-hubungkan bentuk ujaran dengan konteks situasinya. Lewat makna semantik yang dikontekstualkan akan muncul makna pragmatik yang diharapkan dalam sebuah peristiwa pertuturan. untuk apa dan bagaimana. Namun untuk dapat mengetahui maksud ujaran penutur (makna pragmatiknya). maksud dari ujaran tersebut dapat dipahami. tidak langsung seperti bahasa pragmatik.

(2) maksim kualitas. syair. (4) maksim kerendahan hati. politik. yaitu: (1) maksim kuantitas. tembang. manusia menggunakan bahasa yang memenuhi prinsip-prinsip kerjasama. Bahasa yang bersifat pragmatik banyak digunakan dalam berbagai bidang antara lain: sosial. Pragmatik merupakan cabang linguistik yang mengkaji makna dalam hubungannya dengan situasi ujar (konteks). puisi. (4) tuturan sebagai bentuk tindakan atau kegiatan: tindak ujar. dan berkesinambungan. (5) tuturan sebagai produk tindak verbal (Leech. Aspek-aspek situasi ujar meliputi: (1) yang menyapa (penyapa) atau yang disapa (pesapa). artinya suatu bentuk kebahasaan selain memiliki makna semantik juga makna pragmatik. Kajian bahasa pragmatik lebih terfokus pada makna implikatur dari eksternal tuturan si penutur bukan makna eksplikatur yang terdapat dalam internal tuturan semata. (2) konteks sebuah tuturan. (5) maksim kesepakatan. Pada realitasnya manusia sering tidak mengindahkan prinsip-prinsip kerjasama dalam . 1993: 19-20). Selain itu juga didukung prinsip kesopanan yang meliputi: (1) maksim kearifan.28 pragmatik bersifat triadis. maksudnya bahwa makna pragmatik selain dibangun melalui semantik yang mencakup: (1) bentuk kebahasaan dan (2) makna juga dikaitkan dengan (3) konteks. (2) maksim kedermawanan. (3) maksim relevansi/hubungan. dan tari. (3) maksim pujian. Dalam rangka menjaga hubungan dan interaksi komunikasi pada kehidupan sehari-hari tetap terjaga baik. dan (6) maksim simpati. budaya seperti: sastra. harmonis. 1993: 11). selaras. (3) tujuan sebuah tuturan. Hubungan atau relasi dalam pragmatik bersifat triadis. sehingga makna itu dapat dirumuskan dengan kalimat “Apa yang kau maksud dengan berkata x itu ?” (What do you mean by x ?). dan (4) maksim cara (Grice dalam Leech.

tari adalah ungkapan nilai-nilai keindahan dan keluhuran lewat gerak dan sikap. Terdapat dua cara untuk berkomunikasi lewat bahasa. Ketidakpatuhan para peserta tutur dalam pertuturan karena dipicu oleh motif-motif tertentu dari penutur. dan jineman. sirene. rias. kode. kinetic body moves (gerak tubuh). Sedangkan H’Doubler mengutarakan bahwa tari adalah ekspresi gerak ritmis dari kajian . busana. morse. Aspek verbal tari berupa cakepan (syair) teks sastra tembang yang terdapat dalam pathetan. kenthongan barulah dapat bermakna setelah diterjemahkan ke dalam bahasa manusia (Lamuddin Finoza. yakni dapat berupa teks verbal dan nonverbal. pola lantai. polatan. Dampak dari peristiwa tuturan tersebut muncul implikatur-implikatur yang akhirnya merupakan lahan pragmatik. isyarat. Menurut Wisnoe Wardhana (1994: 36). bunyi misalnya tanda lalu lintas. Dalam hal ini penutur berupaya memasukkan maksudnya secara implisit pada ujaran yang diungkapkan. 1996: 6). dan iringan. lambaian tangan. Karena hal itu terjadi. Wujudnya dapat berupa aneka simbol.29 berkomunikasi sehingga terjadi pelanggaran. gerongan. Berkomunikasi secara verbal dilakukan dengan cara menggunakan media bahasa baik yang tertulis dan lisan. Sedangkan aspek nonverbalnya berupa: tema. sebagai akumulasi beragam tuntutan akan kebutuhan hidup manusia yang begitu kompleks. Adapun komunikasi yang bersifat nonverbal dilakukan dengan menggunakan alat selain bahasa. sindhenan. Dengan demikian tari yang merupakan bagian dari seni pertunjukan yang memiliki aspek komunikasi verbal dan nonverbal merupakan objek kajian pragmatik yang sangat menarik. 2005: 2). Tari adalah ungkapan perasaan manusia tentang sesuatu dengan gerak-gerak ritmis yag indah (Soedarsono.

berkomunikasi. tari adalah ekspresi jiwa manusia lewat medium utama gerak tubuh untuk mencapai kenikmatan keindahan. Bagaimanapun acuhnya seorang seniman terhadap publik. Menurut peneliti. the body speaks. Tanpa simpati publik. dorongan artistik akan layu tidak dapat berkembang. And when the body speaks . 1996: 4). yang lambang-lambang geraknya dengan sadar dirancang untuk kenikmatan serta kepuasan dari pengalaman ulang. karena pada dasarnya betapapun indahnya gerak tumbuh-tumbuhan yang tersapu angin. Sumber gerak utama yang dimaksudkan di sini adalah kinetic body moves. dikomunikasikan dalam bentuk yang indah untuk mendapatkan penghayatan yang layak. dengan menggunakan medium utama gerak. tidak dapat dikatakan gerak tari. Dari ketiga pendapat pakar tari tersebut dapat disarikan bahwa tari merupakan ekspresi jiwa manusia sebagai tanggapan tentang nilai-nilai kemanusiaan. melaksanakan serta dari penciptaan bentuk-bentuk (dalam Soedarsono. Rupanya gerak tubuh sangat dominan dan merupakan medium utama yang sekaligus sebagai sumber kehidupan tari. Jika kita cermati lebih lanjut pernyataan ketiga pakar mengenai pengertian gerak tersebut masih kabur. ungkapan. Seperti variasi pada kutipan kata-kata terkenal Donne: “one could almost say. Secara garis besar bahwa semua gerak dapat menjadi gerak tari dengan cara melalui campurtangan gerak tubuh dan seleksi yang memadahi. maka dibutuhkan juga suatu penghargaan. Rupanya ekspresi diri semata tidak akan memberikan kenikmatan dan kepuasan bahkan cenderung mati (Parker. gerak akrobatik binatang yang menawan tetapi tanpa kehadiran gerak tubuh manusia. 1980: 37).30 keadaan-keadaan perasaan yang secara estetis dinilai. ia berkarya dengan harapan dapat dihayati.

Dengan kata lain. Bentuk seni adalah hasil ciptaan seniman yang merupakan wujud dari ungkapan isi. Sekarang semakin jelas bahwa ide komunikasi nonlisan sebagai tambahan atau alat bantu sederhana pada pembicaraan adalah pandangan irasional yang terlalu sempit. its movements. or are part of. dan tanggapannya ke dalam bentuk fisik yang dapat ditangkap dengan indera (Sri Rochana. wujud. . Di samping itu. a pragmatic act” (dalam Mey.31 in this fashion. pandangan. jika gerak tubuh penutur tidak mengikuti pembicaraan penutur. dan gayanya (Budhisantoso.. they represent.g. lingkungan sekitarnya secara selektif. mitra tutur juga tidak akan mengikuti dan memperhatikan. 2001: 223-224). 1994: 3). as such. Tampaklah sekarang bahwa bentuk dalam seni memiliki peranan yang sangat penting dalam rangka menyampaikan isi atau maksud yang hendak dikomunikasikan pada penghayat (mitra tutur) dari si seniman (penutur). Tidak mungkin orang bicara soal kesenian tanpa memperhatikan bentuk. form an integral part of the interactions (e. Secara sederhana Herbert Read berpendapat bahwa seni merupakan usaha untuk menciptakan bentuk-bentuk yang menyenangkan (1990: 2). 1994: 68). Selayaknya. Pada dasarnya tindakan pragmatik melibatkan seorang individu secara keseluruhan dalam komunikasi. bukan hanya bagian kontribusi yang diucapkan saja. kita harus mengakui bahwa komunikasi ‘gerak tubuh’ mampu ‘menentukan suasana’ dan ‘memberi makna’ untuk komunikasi secara utuh. Adapun isi yang dimaksud merupakan pengalaman jiwa seniman dalam menanggapi alam. the body moves. tindakan pragmatik sangat penting untuk menentukan dan mempertahankan kerangka meta-komunikatif untuk komunikasi. in a conversation). dalam dimensi meta-pragmatik.

Maka tidaklah mengherankan apabila sarana untuk berekspresi dalam seni tidak bersifat instingtif. tidak pula bersifat stereotip. supaya menjadikannya jelas bagi jiwa yang menghayati. Wujud tersebut tak lain agar dapat dan mampu ditangkap dengan indera manusia. dan seringkali pencarian itu terlampau berliku-liku jalannya (Read. Sarana tersebut setiap saat dan untuk setiap personal harus dicari. Pengalaman jiwa seniman sewaktu-waktu dapat dikomunikasikan lewat garap medium sesuai dengan bidangnya masing-masing. Sehingga benda pacu dimaksud mampu mengubah dari pandangan verbal menjadi pandangan yang penuh makna yang berarti bagi kehidupan jiwa. Untuk itu menuntut seniman bukan hanya menyajikan realitas kehidupan yang sifatnya mengimitasi atau memindahkan begitu saja. dan wujudnya dapat berupa gerak. seni memiliki tujuan yaitu memberikan kepuasan dalam visi penuh simpati. melainkan nilai-nilai kehidupan yang telah terseleksi dapat ditranspormasikan dalam bentuk yang indah. warna (rupa). Keberhasilan mereka menyampaikan pesan-pesan tergantung dengan kemampuan menyeleksi materi-materi sebagai sarana ungkap dan tidak lepas dari kemampuan masyarakat penikmat untuk menangkap yang sudah barang tentu mengacu pada nilai-nilai budaya dan norma-norma sosial yang hidup dan . garis. 1990: 45). baik dari seniman sebagai pengkarya maupun masyarakat sebagai penikmatnya. bunyi. Pada hakikatnya medium ekspresi seniman bersifat fisik. Hubungan antara bentuk fisik yang dapat diamati indera dengan isi yang hendak diungkap harus terjalin secara harmonis agar dapat mencapai sasarannya yaitu penghayat.32 Sebagai media ekspresi. bahasa. dan bukan merupakan sesuatu yang sudah siap tersedia.

Seni pertunjukan Jawa pada umumnya dapat dikategorikan menjadi dua kelompok besar yaitu kesenian karaton dan kesenian rakyat (Humardani. cermat dan mempunyai semacam pola-pola baku yang sering digunakan sebagai semacam pedoman. Dalam tari Jawa bentuk ekspresinya pada hakikatnya terwujud berdasarkan alam emosi. Kesenian karaton merupakan bentuk kesenian yang pada awalnya hidup dan berkembang di lingkungan karaton. Beragam bentuk seni pertunjukan karaton. Pewarisan budaya tidaklah bersifat statis. Perkembangan sekarang kedua bentuk kesenian tersebut saling mempengaruhi secara lebih kompleks. yaitu bentuk dan iramanya sangat kuat dilatarbelakangi oleh konsep keindahan dan tradisi kebudayaannya (Humardani. 1991: 14). Sedangkan kesenian rakyat hidup. 1991: 10). tetapi masing-masing . Berbeda dengan kesenian rakyat yang sifatnya spontan sangat sederhana baik bentuk maupun sistem pertunjukannya. karawitan. Untuk itu dibutuhkan peningkatan kualitas apresiator dengan memperbanyak peluang aktivitas pertunjukan dan peningkatan kualitasnya. tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat pedesaan. Kesenian karaton cenderung memiliki garap lebih rumit. di antaranya: wayang kulit. Betapapun hebatnya seorang seniman dalam berkarya tanpa diimbangi apresiasi masyarakat yang layak dan memadahi rupanya akan menjadi semakin tidak berarti sehingga bentuk-bentuk pesan yang hendak disampaikan oleh seniman tidak dapat terealisasi secara baik dan wajar dalam kehidupan masyarakat. wayang wong (wayang orang).33 berkembang. Seni tradisional genre tari pasihan yang mengacu kesenian karaton merupakan salah satu budaya yang diwarisi secara turun-temurun sudah barang tentu memiliki kesinambungan dengan budaya sebelumnya. tari dan lainnya.

1991: 73). Simbolisme semacam ini tampak pada genre tari pasihan yang hadir dalam rangkaian upacara-upacara perkawinan adat Jawa. “Genre Tari Pasihan“ tampaknya cenderung menekankan rasa dan emosi dalam bentuk bahasa verbal dan nonverbal. sehingga kemunculan pertunjukan genre tari pasihan pada upacara perkawinan relatif sangat tinggi frekuensinya. Di dalam seni pertunjukan. Seolah–olah keberadaan genre tari pasihan dalam budaya Jawa sejak 1970 telah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan terutama pada upacara-upacara perkawinan (Maryono. dan tarian untuk anak. Rasanya menjadi kurang utuh apabila dalam acara resepsi perkawinan tidak disajikan tari pasihan sebagai penutup pesta tersebut. bahwa ‘simbol’ tampak terbatas pada sesuatu yang mengungkapkan secara tidak langsung. Hal tersebut diduga menumbuhkan daya pikat perhatian masyarakat . Di dalam kehidupan masyarakat Jawa. Bedhaya. Wireng. Pethilan. Kehadiran genre tari pasihan (percintaan pria dan wanita) dalam kehidupan sosial masyarakat pada ritual perkawinan adat Jawa rupanya mempunyai makna simbolik yang sangat penting terutama bagi kedua mempelai dalam rangka mempersiapkan diri untuk mengarungi kehidupan di masyarakat yaitu menuju terbentuknya keluarga yang bahagia. Menurut Clifford Geertz (1992: 6). Terbukti seni tradisional kita tetap berkembang di masyarakat. Srimpi. simbolisme memiliki peranan sangat penting. sehingga perlu perantara yang berwujud simbol-simbol dalam puisi bukan dalam bentuk pengetahuan. di antaranya genre tari pasihan. sebab simbolisme sangat menonjol peranannya dalam tradisi adat Jawa.34 generasi mencoba untuk mengadakan perubahan-perubahan disesuaikan dengan kondisi kehidupan masyarakat pendukungnya.

Berkembangnya bentuk dan jenis genre tari pasihan atau genre tari duet percintaan tidak lepas dari kreativitas para penyusun tari dalam rangka memenuhi kebutuhan sosial masyarakat. dan sebagai pusat kesenian Jawa (Koentjaraningrat. putri lanyap duet dengan alus luruh.35 dan mampu menggugah semangat kreativitas para seniman seni pertunjukan di Surakarta untuk merespon secara positif. tari Kusuma Ratih. 1984: 235). tari Driasmara. Ketika Perang Dunia ke II berakhir. keluar tembok karaton hidup dan berkembang meluas ke tengah-tengah kehidupan masyarakat. Sunarno menghasilkan karya: tari Bondhan Sayuk. tari Langen Asmara. Secara perlahan-lahan kehidupan tari yang semula menjadi hak monopoli keluarga kerajaan. tari Lambangsih. dan tari Gesang Rahayu. Seniman-seniman yang menanggapi secara proaktif antara lain seperti Maridi dengan karyanya: tari Endah. Keragaman bentuk dan jenis tari duet percintaan yang terdapat di wilayah Surakarta menunjukkan sebuah kekayaan ranah budaya yang mampu memberikan warna kota Sala sebagai pusat budaya. . putri luruh duet dengan gagah luruh dan sebagainya. Genre tari pasihan gaya Surakarta merupakan suatu kelompok tari yang secara susunan berbentuk duet atau pasangan silang jenis tipe karakter dengan tema percintaan. tari Jayaningrat dan tari Setyaningsih. kehilangan kekuasaannya sebagai orientasi nilai-nilai budaya Jawa. Jenis tipe karakter yang berpasangan tersebut dalam genre ini antara lain : putri luruh duet dengan alus luruh. Rupanya hal ini terkait dengan warisan budaya khususnya tari dari kerajaan Mataram baru yaitu istana Kasunanan Surakarta Hadiningrat. karaton-karaton di Jawa kehilangan kekuasaannya atas daerah-daerah masingmasing. Suciati Joko Suharja menciptakan tari Kusuma Aji. pusat adat-istiadat Jawa. tari Enggarenggar.

emosi yang diekspresikan dalam bentuk bahasa verbal dan nonverbal yang hendak dikomunikasikan dengan penghayat (mitra tutur) dengan maksud-maksud tertentu. gagasan. Sedangkan bagi masyarakat yang sudah agak maju dilakukan secara simbolik. (Soedarsono dalam Soedarso.36 Kehidupan genre tari pasihan hingga sekarang mengalami perkembangan sangat pesat. Seperti diungkapkan Soedarsono sebagai berikut : Sadar atau tidak sadar kesuburan tanah – juga perkawinan – tidak cukup hanya dicapai lewat peningkatan sistem penanaman baru. yaitu hubungan antara pria dan wanita. sindhenan. Seni pertunjukan genre tari pasihan gaya Surakarta sebagai karya seni memiliki beberapa aspek di antaranya aspek sastra tembang (bahasa verbal) yang berupa cakepan (syair) yang terdapat dalam pathetan. hal ini dimungkinkan adanya suatu pilihan masyarakat yang sangat tepat tentang tata nilai dan sikap untuk menjaga kelangsungan hidup budayanya sebagai warisan yang dianggap memiliki nilai tinggi. Genre tari pasihan merupakan cabang seni tradisional gaya Surakarta yang banyak mengandung makna simbolis dan memiliki fungsi yang erat hubungannya dengan upacara adat ritual perkawinan masyarakat Jawa. Rupanya telah mengakar pada budaya Jawa. Kekuatan itu antara lain berupa magi simpatetis. Kehadiran genre tari pasihan di tengah-tengah kehidupan sosial masyarakat diduga mempunyai kekuatan magis simpatetis terhadap sepasang penganten. dan . yaitu pada setiap upacara perkawinan hampir dapat dipastikan akan disajikan jenis tari pasihan. 1991: 35) Rupanya semakin tampak bahwa genre tari pasihan merupakan media ungkap para penyusun tari (penutur) yang memuat ide. yang hanya bisa didapatkan dengan perbuatan yang melambangkan terjadinya pembuahan. rasa. Hubungan ini pada masyarakat yang masih melestarikan budaya purba kadang-kadang dilakukan agak realistis. tetapi juga perlu diupayakan lewat kekuatan – kekuatan yang tak kasat mata. gerongan.

Pemilihan pertama tari Karonsih dalam kajian pragmatik ini. Karonsih merupakan awal jenis tarian duet percintaan yang mampu membawa perkembangan sangat luar biasa. tari Kusuma Ratih. yang sudah barang tentu juga terdapat perbedaan namun tidak begitu signifikan.37 jineman. dan memiliki pesan. tari Gesang Rahayu. tari Lambangsih. Pengaruh perkembangannya dapat dibuktikan dengan munculnya berbagai bentuk tari duet percintaan. Aspekaspek tersebut membutuhkan ruang. pola lantai. waktu. busana. dalam tindakannya supaya dapat berfungsi secara baik sebagai media komunikasi. gerak tubuh (kinetic body moves). tari Driasmara. yakni tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk. rias. tari Bondhan Sayuk. Secara garis besar dapat dikatakan bahwa bentuk-bentuk tari yang termasuk dalam genre tari pasihan. banyak persamaannya. tidak lain didasarkan pada fakta historis. tari Enggar-enggar. mempunyai pengaruh cukup besar yaitu telah dapat memacu dan memotivasi terhadap seniman-seniman di kalangan tradisional (Maryono. tari Langen Asmara dan tari Setyaningsih. Dengan pernyataan lain serupa tetapi tidak sama. tari Kusuma Aji. dan iringan. Sedangkan aspek bahasa nonverbal meliputi: tema. Dari sejumlah jenis tari duet tersebut peneliti memfokuskan sasaran pada dua bentuk tari duet percintaan. 1991: 27). Kehadiran tari Karonsih di tengah-tengah kehidupan masyarakat telah menjadi bagian dari kebutuhan sosial. tari Jayaningrat. Kajian pragmatik di sini akan menganalisis makna genre tari pasihan lewat implikatur-implikatur bahasa verbal dan nonverbal yang dimilikinya. polatan (ekspresi wajah). Di samping itu diduga tari Karonsihan memiliki kekuatan magis simpatetis yang kuat terhadap . yakni seperti: tari Endah.

Pemilihan kedua adalah tari Bondhan Sayuk.38 sepasang temanten. Perbedaan antara Karonsih dengan Bondhan Sayuk meliputi bentuk tindak tutur verbal dan nonverbal. Selain itu terdapat perbedaan bahasa nonverbal. serta memberikan citra budaya yang mantab. namun masih dalam karakteristik yang sama. baik dari segi tindak tutur verbal dan nonverbalnya dapat digunakan untuk mengungkap secara mendalam karakteristik genre tari pasihan dalam analisis pragmatiknya. Kelayakan dan kualitas objek sasaran penelitian tidak dapat disangsikan berdasarkan eksistensi. Realitas menunjukkan bahwa keragaman jenis tari duet percintaan gaya Surakarta merupakan salah satu aset budaya nasional yang memiliki kuantitas dan kualitas tinggi. hal ini dapat diamati dari kehadirannya yang hampir dapat dipastikan pada setiap upacara perkawinan terutama pada budaya Jawa. Merujuk pada pola cerita yang tokoh-tokohnya memiliki authority scale dan social distance yang berbeda. dan kualitas genre tari pasihan sebagai seni pertunjukan yang hidup dan berkembang pesat di Jawa. kredibilitas. Diharapkan perbedaan yang terdapat pada tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk. maka hal itu dapat diamati dari jenis bahasa verbal yang digunakan pada masing-masing tari pasihan tersebut. didasarkan pada bentuk yang berbeda pada jenis tari duet percintaan. Kehadiran genre tari pasihan merupakan pemenuhan kebutuhan sosial dan hayatan cukup mantap dan sekaligus menjadi benteng budaya . Pada prinsipnya pemilihan sampling tari Karonsih dan Bondhan Sayuk tersebut bukan untuk generalisasi statistik (populasi) tetapi lebih fokus untuk mewakili dari keragaman informasinya yang diharapkan dapat digeneralisasi teorinya. sekilas dapat dicermati dari properti yang berupa boneka bayi (anak kecil). kuantitas.

39 nasional yang mampu memberi warna citra diri masyarakat Surakarta sebagai pewaris high culture Mataram palace dan lebih meluas sebagai bangsa Indonesia. Bagaimanakah penerapan prinsip kerja sama dan prinsip kesantunan dalam bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta ? 3. Bagaimana jenis-jenis tindak tutur dalam genre tari pasihan gaya Surakarta dan tindak tutur apa yang dominan. terdapat masalah utama yang menjadi fokus penelitian disertasi ini. B. Rumusan Masalah Dari uraian latar belakang masalah yang telah peneliti paparkan tersebut di muka. serta mengapa terjadi dominasi ? 2. Masalah utama tersebut dapat dikaji lewat beberapa pertanyaan yang bersumber pada seniman pelakunya (penyusun tari dan penari) yang bertindak sebagai penutur (komunikator). adalah: mengapa masyarakat memilih pertunjukan genre tari pasihan gaya Surakarta sebagai masterpiece dalam sebuah ritual perkawinan adat Jawa. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Bagaimanakah implikatur dan daya pragmatik bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta ? . dan penanggap) sebagai mitra tutur (komunikan). karya seni (pesan atau tindak tutur) sebagai sarana atau media tutur. penonton umum. Untuk itu perlu dirumuskan masalahnya dalam rangka menganalisis makna pragmatik pada genre tari pasihan. dan masyarakat (pakar.

Bagaimana persepsi masyarakat terhadap kehidupan genre tari pasihan gaya Surakarta ? C. 6. dan mendalam untuk menemukan dan mendeskripsikan: 1. 3. Bagaimana latar belakang konsepsi penciptaan bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta ? 6. Jenis-jenis tindak tutur dan tindak tutur yang dominan dalam genre tari pasihan gaya Surakarta. akurat. Bagaimana ciri karakteristik bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta ? 5. . Implikatur dan daya pragmatik bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta. Tujuan Penelitian Memahami bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan pada ritual perkawinan adat Jawa di Surakarta dengan menganalisis secara rinci. Penerapan prinsip kerja sama dan prinsip kesantunan dalam bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta. Persepsi masyarakat terhadap kehidupan genre tari pasihan gaya Surakarta. Ciri karakteristik bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta. 5. 2. Latar belakang konsepsi penciptaan bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta.40 4. 4.

namun penelitian tari dari kaca mata linguistik rupanya masih sangat langka. Artinya seni pertunjukan memuat nilainilai kehidupan yang fundamental sebagai sumber makna. Manfaat Penelitian Tari dikaji dari berbagai perspektif ilmu seperti sosial.41 D. (2) Memberi sumbangan bagi para pembaca untuk menambah wawasan kajian seni pertunjukan tari pasihan dari sudut pandang linguistik pragmatik. Spesifikasi yang dapat diunggulkan dalam kajian ini bahwa terdapat interaksi yang sangat tepat antara pragmatik dan seni pertunjukan yang masing-masing berorientasi masalah makna. Dengan demikian manfaat yang diharapkan dari penelitian ini: (1) Membuka perspektif kajian baru. baik dari aspek bahasa verbal dan nonverbal. politik. ekonomi. budaya dan lainnya rupanya telah banyak dilakukan para peneliti. Perspektif dari kajian pragmatik akan mengarahkan peneliti untuk menganalisis seni pertunjukan (tari) secara menyeluruh. Salah satu jenis kajian linguistik yang paling tepat untuk analisis tari adalah linguistik pragmatik. (3) Memberikan motivasi terhadap pembaca pada umumnya dan para peneliti dari kalangan Lembaga Perguruan Tinggi Seni untuk meneliti bentuk-bentuk seni pertunjukan dari perspektif linguistik pragmatik. terutama kajian seni pertunjukan khususnya tari dari perspektif linguistik pragmatik. antropologi. . Sedangkan pragmatik merupakan disiplin ilmu yang secara spesifik mengkaji makna atau maksud penutur. (4) Dapat menjadi referensi atau acuan bagi para peneliti yang terkait dengan disiplin ilmu linguistik pragmatik dan kajian sastra seni khususnya.

mengapa terjadi dominasi. Bentuk analisis berikutnya adalah bagaimana penerapan . dan (4) teori komunikasi. TINJAUAN PUSTAKA. Dalam rangka untuk mengetahui dan mencermati makna bahasa verbal dan nonverbal yang terdapat dalam seni pertunjukan genre tari pasihan gaya Surakarta. 1) Teori pragmatik untuk menganalisis jenis-jenis tindak tutur yang terdapat pada sastra tembang sebagai bahasa verbal. (2) teori budaya. peneliti menggunakan kajian: (1) teori pragmatik. DAN KERANGKA PIKIR A. jenis tindak tutur yang dominan. Kajian Teori Seni pertunjukan umumnya dan lebih khusus genre tari pasihan gaya Surakarta merupakan lahan kajian yang sangat menarik lewat bahasa verbal yang berupa teks sastra tembang dan bahasa nonverbal. (3) teori seni pertunjukan.42 BAB II KAJIAN TEORI.

43 prinsip-prinsip kerja sama dalam sastra tembang. baik yang berupa sastra tembang dan bahasa nonverbal. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas untuk mengkaji dari faktor afektifnya yaitu mengenai pandangan masyarakat umum dan persepsi pakar terhadap pertunjukan tari pasihan. wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide untuk mengungkapkan konsepsi seniman penyusun tentang bahasa verbal dan nonvberbal yang digunakan pada tari pasihan. 2) Teori budaya yang terdiri dari tiga bagian yakni. dan iringan gamelan untuk mengungkapkan faktor objektif dan faktor genetik. Dalam komunikasi tersebut lebih difokuskan pada kesesuaian antara pesan makna yang dimaksudkan seniman penyusun dengan makna yang dapat ditangkap oleh masyarakat. Proses komunikasi antara seniman penyusun sebagai komunikator dengan masyarakat sebagai komunikan lewat media yaitu karya seni tari pasihan. polatan (ekspresi wajah). hubungan peran yang berbeda. busana. 4) Teori komunikasi digunakan untuk menganalisa bagaimana komunikasi berlangsung. rias. 3) Teori seni pertunjukan untuk mengkaji elemen-elemen yang terdapat di dalam tari pasihan (bahasa nonverbal) mencakup tema. Jika komunikasi antara seniman dengan masyarakat terjadi perbedaan . Selain itu juga untuk mengkaji strategi kesantunan yang digunakan oleh masing-masing peserta tutur yang terdapat dalam genre tari pasihan terkait dengan cara mengungkapkan tindak tutur terkait jarak sosial. dan penggunaan muka dalam komunikasi. pola lantai. Teori tersebut juga untuk mengungkap implikatur dan daya pragmatik. Adapun wujud kebudayaan berupa benda-benda hasil karya manusia untuk analisis faktor objektif atau karya seninya. gerak tubuh (kinetic body moves).

ia berusaha mengartikan isi wacana hanya . Diharapkan keempat teori tersebut mampu untuk mengungkap makna pragmatik genre tari pasihan gaya Surakarta secara menyeluruh dan mendalam. Untuk mengetahui makna ujaran tidak dapat hanya dilihat dari satu sisi ujaran itu sendiri. Secara prinsip teori pragmatik merupakan alat kajian yang utama terkait dengan sistem kebahasaannya. 1. dan afektif.44 atau sebaliknya terjadi persamaan. 1993: 8). akan tetapi harus memperhatikan situasi ujaran atau sejauh mana kontekstualnya. Keempat teori tersebut digunakan untuk menganalisis makna pragmatik genre tari pasihan gaya Surakarta secara komplementer. Sebagaimana dikatakan Leech bahwa seorang yang menganalisis makna pragmatik dapat disamakan dengan seorang penerima. objektif. 2004: 48) berhubungan dengan manifestasi bahasa dalam bentuk lisan. Teori Pragmatik Terkait untuk tujuan-tujuan linguistik pragmatik adalah studi tentang makna dalam hubungannya dengan situasi-situasi ujar (speech situations) (Leech. Teori komunikasi untuk mengkaji keterkaitan antarfaktor genetik. sedangkan teori budaya dan teori seni pertunjukan untuk menganalisis faktor bahasa nonverbal. Konsep ujaran menurut Parera (dalam Muhammad Rohmadi. dari hasil itu dapat dicari dan dianalisis penyebabnya untuk menentukan kekuatan dan kelemahan tari pasihan sebagai media.

Hambatan sering terjadi karena penutur di dalam mengungkapkan tuturannya menggunakan bahasa yang bersifat indirect. bersifat langsung manakala maksud penutur tereksplesitkan dalam bentuk-bentuk tuturannya. (3) Tujuan sebuah tuturan. (4) Tuturan sebagai bentuk tindakan atau kegiatan: tindak ujar. Bentuk ungkapan dapat bersifat langsung dan tidak langsung. Untuk itu perlu dicermati secara mendalam bentuk . Bahasa yang diungkapkan berupa ujaran atau tuturan baik yang bersifat lisan maupun tulis. sehingga mudah dipahami mitra tutur. penutur serta situasinya. (2) Konteks sebuah tuturan. Terkait dengan situasi-situasi ujaran. (5) Tuturan sebagai produk tindak verbal. Leech (1993: 19-21) mengemukakan aspek-aspek situasi ujar yang meliputi lima aspek situasi ujaran sebagai berikut: (1) Yang menyapa (penyapa) atau yang disapa (pesapa). sulit dipahami karena untuk mencermati maksud sebuah tuturan yang disampaikan penutur kepada mitra tutur sering mengalami kendala. Tidak langsung.45 berdasarkan bukti kontekstual yang ada saja tanpa menjadi sasaran pesan si penutur (1993: 19). Sebagai mitra tutur berupaya untuk menafsirkan maksud penutur lewat teks yang digunakan dengan mengaitkan konteksnya. Tanpa konteks. Artinya penutur dalam menyampaikan maksudnya disiratkan pada tuturan atau maknanya di balik yang tersurat. ujaranujaran dalam bentuk kalimat atau tindak tutur tersebut hanya akan dipahami sebagai makna semantik yang lebih terfokus pada analisis linguistik formal. Dalam kehidupan sosial manusia berinteraksi menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi untuk maksud-maksud tertentu. Ujaran-ujaran dalam kalimat dapat diungkapkan makna pragmatiknya secara jelas jika kita perhatikan konteks.

1. dan Hoed (2003: 5-6). teks adalah konstruksi dari hasil penggunaan sintaksis dan fonologi bahasa secara bermakna. namun lebih mengarah pada berfungsinya suatu bahasa. Dalam analisis teks dan konteks ini. Adapun hakekat konteks lebih mereferensi dari pendapat: Yule (1998). Halliday dan Hasan (1976). bukan kata-kata ataupun kalimat lepas. Pendapat lain. kita dapat perikan liku-liku antarunit hingga komplementer antarfaktor. Secara lebih sederhana Cook menyatakan bahwa teks juga dapat berupa bagian-bagian dari bahasa yang dikaji secara formal (1989: 14). Teks dan Konteks Pada dasarnya teks dan konteks sangat vital terkait dengan kompetensi komunikatif sehingga konsep teks dan konteks menjadi penting untuk dikaji dalam rangka memahami implikatur pragmatik. Teks Menurut Leech (1983: 100). . Halliday dan Hasan (1976: 1-2). Cook (1989). Dengan demikian teks tidak tergantung pada ukuran panjang pendeknya. Richards et al (1992). dan Cutting (2002). Hakekat teks dalam pembicaran ini mereferensi dari pendapat: Leech (1983).46 bahasa sebagai teks dan bagaimana konteksnya sehingga dapat berfungsi untuk mengungkap makna pragmatik. bahwa teks merupakan sebuah unit semantik yang memiliki bentuk dan bermakna bukan sekadar unit gramatikal seperti klausa atau kalimat yang lepas. Sejalan dengan pendapat tersebut. a. teks adalah potongan dari bahasa tulis maupun lisan yang maknanya dapat dirunut dari perspektif strukturnya ataupun fungsinya (Richards et al. 1992: 378). Hoed (2003: 5-6). yakni bahasa yang sedang melaksanakan tugas tertentu dalam konteks situasi. a.

teks sebagai pesan verbal yang membatasi teks pada gejala kebahasaan (lihat disertasi Jumanto. Berdasarkan tujuan awal penelitian adalah kajian pragmatik. gerongan. b) jenis-jenis vokabuler gerak. dan jineman. dengan mengutip pendapat Noth (1990). musik. dan 2. c) realisasi kesantunan antarperan a. rias. b) jenis tindak tutur yang dominan dan mengapa terjadi dominasi. dan iringan. yang berupa teks sastra tembang yang terdapat dalam cakepan (syair) pathetan. busana. 2006: 23-24).47 mengatakan terdapat dua cara untuk pendekatan dasar pada sebuah teks. yang terkait dengan gejala budaya seperti film. pola lantai. sindhenan. Merujuk pada hakekat teks dari pendapat kelima pakar tersebut terkait dengan teks seni pertunjukan. Dalam bahasa nonverbal ini. pertunjukan balet atau tari. yaitu: 1. c) polatan.1.1. dapat peneliti kemukakan bahwa teks genre tari pasihan meliputi: a. mencakup: a) motif tema yang digunakan sebagai ancangan alur adegan. teks sebagai pesan budaya (nonverbal). peristiwa upacara ataupun pertunjukan sirkus. kajian peneliti lebih terfokus pada gejala budaya. gerak tubuh (kinetic body moves). kajian peneliti lebih terfokus pada: a) jenis-jenis tindak tutur yang digunakan. .1 Bahasa verbal. maka dalam bahasa verbal ini. polatan (ekspresi wajah).2 Bahasa nonverbal berupa elemen-elemen tari yang terdiri dari: tema. Dapat ditarik simpulannya bahwa teks adalah sebuah unit bahasa verbal dan atau nonverbal yang bermakna.

Konteks Munculnya konsep konteks dalam ranah linguistik merupakan konsep yang relatif baru sebagai pendobrak kemapanan aliran linguistik formal atau struktural.2. dan tekanan. didominasi oleh pandangan bahwa aspek form dalam suatu bahasa merupakan satu-satunya data yang paling feasible untuk dikaji. terutama terkait dengan masalah makna yang ditarik dari implikatur tindak tutur dalam sebuah percakapan.48 d) bentuk rias. Akibatnya aliran struktural gagal menjelaskan berbagai masalah kebahasaan. g) jenis-jenis gendhing . lagu. Konteks dipahami sebagai lingkungan yang selalu berubah yang memungkinkan peserta tutur berinteraksi dan yang membantu mereka memahami . baik konteks yang bersifat lingual (cotext) maupun konteks yang bersifat ekstralingual yang berupa konteks fisik maupun konteks sosial. Artinya bahwa para kaum strukturalis terfokus pada internal bahasa yang semata-mata berorientasi pada bentuk. h) intonasi yang mencakup: irama. Menurut Yule (1998). Kedua bentuk bahasa. f) jenis-jenis pola lantai ( floor design) . Selama bertahun-tahun kajian linguistik. konteks adalah sebuah konsep yang dinamis. e) jenis warna dan bentuk busana yang dipakai. a. yang seharusnya mengaitkan dengan konteks. bukan statis. baik verbal dan nonverbal tersebut merupakan satu kesatuan yang membentuk menjadi sebuah bahasa genre tari pasihan yang tidak lepas dengan konteks. tidak mempertimbangkan bahwa satuan– satuan itu sebenarnya hadir dalam konteks.

1) Keadaan fisik yang muncul bersamaan dengan terjadinya suatu interaksi ketika percakapan berlangsung dapat dirunut. Leech mengartikan konteks sebagai suatu pengetahuan latar belakang yang sama-sama dimiliki oleh penutur dan mitra tutur dan yang membantu mitra tutur dalam menafsirkan makna tuturan (1993: 20). 3) konteks co-textual. Sedangkan Cutting (2002: 3-8). secara internal mencakup: perubahan raut muka atau polatan.2. yakni konteks verbal yang ada pada teks yang mengakibatkan adanya kohesi dan koherensi. a.49 ungkapan-ungkapan kebahasaan yang mereka gunakan dalam suatu proses komunikasi. yaitu keadaan fisik yang muncul bersamaan dengan terjadinya suatu interaksi ketika percakapan berlangsung (at the moment of speaking). peneliti dapat lebih memfokuskan kajiannya pada: a.2. Realisasi konteks dari teks tari pasihan dengan mengakses persepsi Cutting. Selanjutnya secara rinci konteks dikategorikan menjadi: 1) konteks situasi. Sejalan dengan pendapat tersebut. mendefinisikan konteks secara lebih operasional yakni dunia fisik dan sosial serta asumsi-asumsi pengetahuan yang sama-sama dimiliki oleh penutur dan mitra tutur. Secara eksternal meliputi: lokasi pertunjukan dan kondisi lingkungan yang menjadi setting berlangsungnya pertunjukan. intonasi dan pemilihan gerak.2) Konteks pengetahuan latar yang dapat diperikan menjadi: . pemilihan kata. 2) konteks pengetahuan latar (background knowledge context) yang dirinci menjadi (a) pengetahuan umum budaya (cultural general knowledge) dan (b) pengetahuan interpersonal (interpersonal knowledge).

sekaligus mencegah hal-hal yang sumbang maupun menimbulkan keganjilan. Realitas sepanjang hidup manusia di muka bumi. dan bagaimana masing-masing unsur itu harus dirangkai menjadi terpadu. Stages along the life-cycle itu meliputi: masa kelahiran. Dalam keselarasan tersebut yang penting adalah apakah hubungan alamiah satu sama lainnya dimiliki oleh unsur-unsur yang terpisah. dan masa tua hingga kematian (Koentjaraningrat. peraturan dan sebagainya. merupakan bagian budaya yang terkait dengan ide-ide. masa penyapihan. 1992: 54-55). gagasan. Mentifact. artifact. masa nikah atau masa perkawinan. mengalami pembagian adat-istiadat ke dalam tingkattingkat tertentu. Pandangan bagi masyarakat yang berbudaya Jawa. Keselarasan antara gaya hidup dan kenyataan fundamental yang dirumuskan simbol-simbol sakral bervariasi dari kebudayaan yang satu ke budaya yang lain (Geertz. 1985: 89). Dari pernyataan tersebut. Harmonisasi dan keseimbangan antara jagad gedhe sebagai manifestasi makrokosmos dan jagad cilik sebagai manifestasi mikrokosmos merupakan faktor penentu kehidupan yang harus terjaga keberlangsungannya. dapat dirunut bagaimana keterkaitan perkawinan dengan kehadiran tari pasihan. Mencermati dari sekian masa kehidupan. sociofact. rupanya keselarasan alam semesta merupakan salah satu prinsip hidup.1)Keterkaitannya dengan budaya. nilai-nilai.50 a. masa hamil. masa kanak-kanak.2. mencakup: mentifact. norma-norma. masa pascanikah.2. . salah satu masa yang penting adalah masa perkawinan atau masa nikah. masa remaja. masa puber.

2.51 Artifact. yaitu kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani. dari waktu ke waktu. Beragam hasil karya seni yang diciptakan manusia. Merujuk pada asumsi tersebut. Kehadiran tari duet pasihan pada upacara-upacara resepsi perkawinan sampai sekarang masih berlangsung. Rupanya terdapat keterkaitan yang cukup erat antara seni pertunjukan khususnya tari duet pasihan dengan kebutuhan sosial. selalu menurut pola yang telah disepakati yang didasarkan pada adat tata kelakuan.2) Keterkaitannya dengan pengetahuan interpersonal. yang terjadi di sekitar kita. satu diantaranya adalah jenis genre tari pasihan. akan dirunut tentang: hasil penghayatan yang melibatkan seniman dan penghayat terhadap karya . peneliti akan mengkaji fungsi tari pasihan pada upacara perkawinan dalam kehidupan sosial masyarakat pendukungnya. sistem sosial itu bersifat konkret.2. Beragam aktivitas manusia yang saling berinteraksi satu dengan lainnya. Terkait dengan kebutuhan analisis artifact. merupakan bagian budaya yang terkait dengan suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam social system. rupanya terdapat kontribusi yang cukup signifikan. Sociofact. Pada prinsipnya semua hasil karya manusia ditujukan untuk mencukupi semua kebutuhan hidupnya yang terdiri dari dua komponen pokok. Sebagai rangkaian aktivitas manusia dalam suatu masyarakat. Salah satu jenis karya manusia yang berperan dalam pembangunan rohani adalah karya seni. Seperti kehadiran tari pasihan pada upacaraupacara ritual perkawinan budaya Jawa. merupakan bagian budaya yang berupa seluruh total dari karya manusia berupa benda fisik dari aktivitas maupun perbuatan. tari pasihan akan dicermati secara total bentuk karya seninya dalam koridor seni pertunjukan. a.

dan antarbagian baik yang terdapat pada teks satra tembang maupun pada elemen-elemen tari pasihan. b. Partisipan komunikasi sangat berkepentingan untuk memenuhi dan mematuhi prinsip kerjasama (Cooperative Principle) yang terbagi empat maksim yaitu: (1) maksim kuantitas.3) konteks co-textual. masing-masing komponen. Cakupan koherensi terfokus pada: isi atau kandungan makna pada masing-masing unit. penggunaan bahasanya. Sebagai arahan untuk memahami proses dan bentuk aktualisasi mengenai aplikasi analisis pemerian teks beserta konteks tari pasihan dalam ritual perkawinan budaya Jawa. . dan (4) maksim cara (Grice dalam Leech. (3) maksim hubungan. dan interpretasi-interpretasinya terhadap tindakan dan ucapan lawan tutur (Wijana. Hasil penilaian atau hasil hayatan dari peserta tutur (seniman dan penghayat). Setiap peserta pertuturan sama-sama menyadari bahwa ada prinsip-prinsip yang mengatur tindakannya. Dari penghayatan muncul sebuah penilaian. antarkomponen. mencakup kohesi dan koherensi secara menyeluruh dalam tari pasihan. (2) maksim kualitas. dan implikatur dari komplementer antarunit.52 tari pasihan. 1996: 68). a. dan antarbagian tari pasihan. antarkomponen. Prinsip Kerja Sama (PKS) Pada dasarnya orang dalam berkomunikasi itu hendaknya saling bekerjasama antara penutur dengan mitra tutur agar komunikasi dapat berjalan secara efektif dan efisien. akan dikupas secara tuntas dan mendalam dengan teori-teori yang peneliti gunakan sebagai ancangan analisis.2. masingmasing bagian. Adapun cakupan kohesi terfokus pada: keterkaitan antarunit. pada kajian berikut. terdapat persamaan atau perbedaan yang masing-masing akan dicari argumentasinya.

(4) maksim kerendahan hati (modesty maxim). adalah aturan pertuturan yang meminimalkan keuntungan bagi diri sendiri dan memaksimalkan kerugian bagi diri sendiri. (3) maksim pujian (approbation maxim). adalah aturan pertuturan yang meminimalkan ketidakhormatan terhadap orang lain dan memaksimalkan pujian kepada orang lain. adalah aturan pertuturan yang meminimalkan kerugian orang lain dan memaksimalkan keuntungan bagi orang lain. tetapi penutur juga terikat pada aspek-aspek yang bersifat interpersonal. Dengan demikian penutur harus membuat dan memperlakukan mitra tutur lebih santun dalam mengungkapkan tuturannya. dan menjaga kesopanan. Perlu disadari bahwa sebagai anggota masyarakat bahasa penutur tidak hanya terikat pada hal-hal yang bersifat tekstual. Leech berpendapat bahwa selain keempat maksim dalam prinsip kerjasama juga masih diperlukan prinsip kesantunan yang terjabar menjadi enam maksim. ringkas. informasi benar tidak keliru berdasarkan suatu realitas yang sebenarnya. yaitu: (1) maksim kearifan (tact maxim).53 1993: 11). (2) maksim kedermawanan (generosity maxim). Merujuk pada empat maksim dari prinsip kerjasama itu bila dapat dipenuhi dari masing-masing peserta tutur maka akan terjadi komunikasi yang efektif dan efisien. Prinsip kerjasama rupanya tidak cukup karena dalam kehidupan dibutuhkan saling menghormati. dan informasi disampaikan dengan cara yang mudah. jelas. informasi usahakan relevan dengan pokok pembicaraan. adalah aturan pertuturan yang memaksimalkan . dan teratur secara gramatikal. Terbentuknya komunikasi yang wajar tersebut karena penutur dalam memberikan informasi secukupnya tidak kurang dan tidak lebih sesuai yang diperlukan. menghargai. dalam arti tidak hanya bagaimana membuat tuturan yang mudah dipahami oleh mitra tutur.

lebih sering maksim-maksim dalam prinsip kerja sama itu dilanggar daripada dipatuhi.54 ketidakhormatan terhadap diri sendiri dan meminimalkan rasa hormat terhadap diri sendiri. kalau kita perhatikan praktik penggunaan bahasa di dalam komunikasi sehari-hari. ternyata prinsip kerja sama itu sering tidak dipatuhi orang. adalah aturan pertuturan yang meminimalkan rasa anti pati terhadap orang lain dan memaksimalkan rasa simpati terhadap orang lain (Leech. Tidak dipatuhi karena salah satu sebabnya adalah bahwa komunikasi itu tidak selalu berupa penyampaian pesan atau informasi belaka. adalah aturan pertuturan yang memaksimalkan kesepakatan terhadap orang lain. diharapkan tidak mengancam muka. Hal ini didasarkan pada fungsi bahasa yang mencakup: (1) fungsi referensial atau informatif yang tujuannya untuk menyampaikan informasi (pesan). (6) maksim simpati (sympathy maxim). hubungan sosialnya tetap terjaga tanpa merasa terkendalai oleh faktor bahasa dan nonbahasa. Namun perlu disadari semua implikatur itu bersifat probabilistis. 2006: 2). Namun. Paling tidak. 1993 : 206-207). nyaman. penutur merasa lebih santun. Dalam hal ini penutur berupaya memasukkan maksudnya secara implisit pada ujaran yang diungkapkan. Hal itu menunjukan bahwa dalam pertuturan. dan (2) fungsi afektif yang bertujuan untuk menjaga dan memelihara hubungan sosial (Holmes dalam Asim Gunarwan. (5) maksim kesepakatan (agreement maxim). Penutur sering menyampaikan pesan tidak secara bald on record tetapi lebih banyak menyukai dengan cara off record. aman. Tampaklah bahwa ketidakpatuhan para partisipan dalam komunikasi karena pada dasarnya bahwa berkomunikasi itu lebih dipicu oleh motif-motif tertentu dari penutur. karena dapat diasumsikan bahwa apa yang .

dan juga Sinyal (signal). gejala (symptom).55 dimaksud oleh penutur lewat tuturannya tidak pernah dapat kita ketahui dengan pasti. yaitu: ekspresif. Hal ini kemudian dikembangkan oleh para peneliti lain. c. Bahasa sebagai fakta sosial telah diungkap pertama kali oleh Ferdinand de Saussure (1916). Untuk menarik makna sesuai dengan maksud penutur tidak cukup hanya dengan mengasumsikan makna proposisi ujaran. Berdasarkan teori tanda bahasa di dalam model Organon Buhler. Karena pragmatik merupakan kajian tentang maksud penutur. Menurut Karl Buhler (1918). betapapun eksplisitnya proposisi. tetapi kita juga harus mengetahui sikap penutur yang melatarbelakangi eksplikatur ujaran tersebut (Asim Gunarwan. bahasa dapat difungsikan menjadi tiga. 2006: 9). kita harus mengetahui sikap penutur. Tindak Tutur Fungsi bahasa dalam kehidupan manusia sebagai makhluk sosial rupanya tidak dapat disangkal lagi. Relevansi teori Buhler dengan liku-liku pragmatik dijelaskan oleh Renkema (1993). tanda bahasa merupakan lambang (symbol). dipilih bentuk-bentuk ungkapan yang memiliki makna paling relevan dari semua siratan yang secara potensial dapat timbul. untuk mengetahui dan memahami makna ujarannya. Untuk dapat menentukan makna yang sebenarnya atau menyimpulkan interpretasi yang paling mungkin. Peranan ujaran atau tindak tutur sangat penting dalam rangka menyampaikan maksud penutur. Dapat diinferensikan bahwa memahami maksud penutur. apelatif. . sesuai dengan maksud percakapan. Dalam hal ini tanda bahasa merupakan lambang yang memiliki daya sinyal untuk mengarahkan pendengar sebagai penanggap. tidak cukup mengetahui eksplikatur ujaran. dan representatif.

Sekarang tampak bahwa tokoh – tokoh seperti: Ferdinand de Saussure (1916). dan harmonis. Sebaliknya jika yang terjadi pemahaman receiver atas objek referensi sender berbeda bahkan berlainan sama sekali. dari hasil penelitian terhadap masyarakat primitif di Papua Melanesia. Terkait dengan fungsi bahasa. Malinowski (1923). Malinowski mengungkapkan sebuah konsep Phatic Communion: ‘A type of speech in which ties of union are created by a mere exchange of words’ (lihat Jumanto. menyatakan bahwa ujaran hanya akan dapat dipahami jika ditafsirkan dalam konteks situasi. Komunikasi fatis merupakan strategi masyarakat modern maupun masyarakat primitif dalam rangka menjaga interaksi sosial terpelihara dengan baik. Apabila objek acuan sender sebagai message dapat diterima dan dipahami pada tingkat yang sama atau tepat oleh receiver. ramah. Karl Buhler (1918). Perkembangan selanjutnya Malinowski (1923: 310). artinya bahwa komunikasi efektif dan berhasil. Dari pernyataan tersebut jelas bahwa bahasa difungsikan sebagai tujuan sosial untuk menjaga hubungan ikatan antarpersonal bagi yang terlibat dalam sebuah pertuturan. merupakan pakar linguistik yang telah mendeskripsikan fungsi bahasa berdasarkan realitas kehidupan bahasa dalam masyarakat. 2006: 36). santun. Teori fungsi bahasa dari ketiga pakar tersebut merupakan langkah awal berkembangnya fungsi bahasa yang mendorong lahirnya teori pragmatik oleh . Mereka dengan sadar mengembangkan teori fungsi bahasa secara berkelanjutan.56 bahwa ujaran yang disampaikan oleh sender dapat diterima dan dipahami pada tingkat yang sama atau berbeda oleh receiver artinya gejala tidak selalu sama dengan sinyal. maka akan terjadi masalah pragmatik.

Tindak Tutur menurut Austin (1956) Teori tindak tutur pertama kali diungkapkan oleh Austin (1956). Yule. tanamannya layu. yakni tindak lokusi (locutionary act).” Contoh ujaran atau kalimat tersebut dipergunakan untuk melakukan tindakan yaitu tindakan meminta maaf. yang kemudian dikembangkan dan dipopulerkan secara universal oleh muridnya yang bernama Searle (1969). seorang ahli filsafat senior dari Inggris. . d. tindak ilokusi (illocutionary act). Jenis-jenis Tindak Tutur d.1.” Tuturan tersebut dimaksudkan untuk melakukan tindakan yakni melarang atau menyuruh untuk tidak menghisap rokok.57 Austin (1956) yang kemudian dijabarkan dan dimanifestasikan dalam konsep-konsep tindak tutur Searle (1969) berikutnya. Contohnya: “ Peneliti mohon maaf atas keterlambatan peneliti.” Ujaran atau tindak tutur tersebut dipergunakan untuk melakukan tindakan yaitu menyuruh untuk menyirami. 1993:316. kita dapat mengkajinya dengan sebuah teori tindak tutur yang diperikan menjadi beberapa jenis tindak tutur. “ Wah. seseorang dapat melakukan sesuatu selain mengatakan sesuatu. Cutting. “ Sebaiknya anda tidak merokok. dan tindak perlokusi (perlocutionary act) (lihat Leech. Wijana. Searle dalam bukunya “Speech Acts: An Essay in The Philosophy of Language” (1969:23-24) mengemukakan bahwa secara pragmatik setidak-tidaknya ada tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan oleh seorang penutur. 1996: 17-19. Menurut Searle bahwa pada setiap komunikasi linguistik terdapat tindak tutur. Terkait dengan liku-liku Speech act. 2006: 83-84). 2002: 16. Speech act menurut Austin di dalam mengutarakan tuturan.

tanpa tendensi atau maksudmaksud tertentu di balik kalimat atau ujaran. tetapi lebih menurut apa adanya. Maksud tuturan tidak selamanya dinyatakan secara eksplisit. lebih lanjut dijelaskan sebagai berikut. untuk mencermati dan memahami maksud penutur dengan seluruh aspek yang melatarbelakangi (konteks). Bila diamati secara seksama tindak lokusi itu adalah konsep yang berkaitan dengan proposisi kalimat. 1996: 18). dan perlocutionary act atau perlocutionary effect merupakan teori yang akan peneliti gunakan sebagai ancangan untuk mengkaji implikatur. a. yakni subjek atau topik dan predikat atau commet (lihat Nababan. . Untuk itu diperlukan seperangkat pengetahuan tentang berbagai jenis tindak tutur. yaitu locutionary act. Hal ini terkait dengan pemahaman bahwa pragmatik adalah cabang linguistik yang mengkaji maksud penutur (the speakers meaning) yang terdapat di balik tuturannya. Tindak tutur ini sering disebut sebagai The Act of Saying Something. Tindak lokusi adalah tindak tutur untuk menyatakan sesuatu. akan tetapi banyak juga bahkan dapat peneliti katakan cukup dominan maksud penutur yang diimplisitkan pada realitas kehidupan. Tuturan yang diutarakan oleh penuturnya lebih bersifat menginformasikan sesuatu. Tindak Ilokusi (illocutionary act). Wijana. Kalimat atau tuturan dalam hal ini dipandang sebagai satu kesatuan yang terdiri dari minimal dua unsur.58 Ketiga teori tindak tutur. Adapun ketiga jenis tindak tutur itu. sehingga kita sering mengalami kesulitan untuk memahami maksud tuturan atau implikaturnya. 1987: 4. Tindak Lokusi (locutionary act). b. illocutionary act atau illocutionary force.

Namun tidak menutup kemungkinan bahwa satu tuturan mengandung dua atau ketiga-tiganya sekaligus. kebiasaan antara pendengar dan pembicara sama. karena harus melibatkan konteks tuturannya. Tindak ilokusi sangat dominan kita jumpai dalam komunikasi sehari-hari. Tindak ilokusi disebut sebagai The Act of Doing Something. ilokusi atau perlokusi. Dalam tindak ilokusi dan perlokusi bentuk-bentuk kebahasaan sebagai simbol untuk mengungkapkan maksud yang sebenarnya. tindak ilokusi mendasari tindak perlokusi. Selanjutnya tindak perlokusi sebagai final maksud suatu ujaran di dalam komunikasi bahasa. Sebuah tuturan yang diutarakan seseorang seringkali mempunyai daya pengaruh (perlocutionary effect) atau efek bagi yang mendengarnya. Tidak semata-mata tindak perlokusi hanya ditarik dari makna ujaran. Tindak perlokusi disebut sebagai The Act of Affecting Someone. Simbol itu dapat ditangkap sebagai sesuatu isyarat maksud tertentu jika wawasan budaya. c. Efek yang timbul ini bisa sengaja maupun tidak sengaja. Dapat ditegaskan bahwa setiap tuturan dari seorang penutur memungkinkan sekali mengandung salah satu dari ketiga: lokusi.59 Tindak ilokusi adalah tindak tutur yang berfungsi untuk mengatakan atau menginformasikan sesuatu dan dipergunakan untuk melakukan sesuatu. Dalam tindak lokusi bentuk-bentuk kebahasaan sebagai alat untuk mengungkapkan informasi secara eksplisit. Berdasarkan uraian-uraian di atas menunjukkan bahwa tindak lokusi mendasari tindak ilokusi. Tindak perlokusi adalah tindak tutur yang pengutaraannya dimaksudkan untuk mempengaruhi lawan tuturnya. Tindak Perlokusi (perlocutionary act). tindak ini merupakan bagian sentral untuk memahami tindak tutur. Kunci utama yang perlu diperhatikan .

2. menyatakan. Dari masing-masing tindak tutur mempunyai fungsi komunikatif. 2002: 16-17). dan deklarasi (lihat Leech. Cutting. menyesal. 1996: 164-165. Tindak Tutur menurut Searle (1979) Sehubungan dengan pengertian tindak tutur atau tindak ujar. Searle (1979) mengklasifikasikan tindak tutur ilokusi menjadi lima jenis tuturan. ialah bentuk tindak tutur yang dimaksudkan oleh penuturnya untuk mempengaruhi mitra tutur agar melakukan tindakan sesuai dengan maksud penutur. penyesalan. yakni: asertif. memohon. memesan. d. Direktif. menyarankan. komisif. yaitu: d. mendesak.2. Tidaklah dipungkiri bahwa dalam kajian tindak tutur ilokusi tidak lepas dari tindak tutur lokusi dan tindak tutur perlokusi. direktif. Asertif ialah bentuk tindak tutur yang mengikat penuturnya kepada kebenaran atas hal yang dikatakannya. misalnya: menggambarkan. untuk mencari implikatur atau makna di balik ujaran yang tersirat bukan sekadar makna yang tersurat dalam ujaran dimaksud. misalnya: meminta maaf.2. mengusulkan. melarang. dan menantang. ekspresif. ialah bentuk tindak tutur yang berfungsi untuk menyatakan atau mengungkapkan sikap psikologis penutur dalam menanggapi suatu keadaan. misalnya: menyuruh. membuat hipotesa. d. membual.2. mengucapkan selamat. dan melaporkan. Ekspresif. . mengucapkan terima kasih. mengundang. dan mengeluh. d. memuji. mengeluh.60 bahwa dalam analisis pragmatik adalah mencermati ilokusi-ilokusi yang terdapat pada tindak tutur dari penutur yang hendak dikomunikasikan pada mitra tutur.2.1. menuntut. mengkritik.3. meramalkan.

3.61 d. berkaul dan sukarela.1. Tindak tutur ekspresif merupakan cerminan dari pernyataanpernyataan psikologis dan dapat berupa pernyataan kegembiraan. mengancam. dan bisa kesengsaraan atau kesedian. bersumpah. membatalkan. simpulan. Dalam hal ini penutur harus mempunyai peran institusional khusus. memecat. Bentuk tindak tutur direktif digunakan . melarang. dan menjatuhkan hukuman.3.3.4. membaptis. tawaran. memutuskan. penegasan. Ekspresif ialah jenis tindak tutur yang menyatakan sesuatu yang dirasakan oleh penutur. memberikan maaf. memberi nama. mengizinkan. Direktif ialah jenis tindak tutur yang dipakai oleh penutur untuk menyuruh orang lain melakukan sesuatu. d. kesukaan. ialah tindak tutur yang dilakukan si penutur dengan maksud untuk menciptakan hal (status. Komisif. mengundurkan diri.3. kesenangan. misalnya: meyakinkan. Pernyataan tersebut berdasarkan pada fakta. misalnya: berjanji. menolak. kesulitan. mendeklarasikan. d.3. mengangkat.2. ialah bentuk tindak tutur yang mengikat penuturnya melaksanakan segala hal yang disebutkan dalam ujarannya. dalam konteks khusus.2. Tindak Tutur menurut Yule (1996) Menurut Yule (1996). mengucilkan. d. kebencian. keadaan dan sebagainya) yang baru. d. menekankan.5. Representatif ialah jenis tindak tutur yang menyatakan apa yang diyakini penutur. yaitu: d. Deklaratif ialah jenis tindak tutur yang mengubah dunia melalui tuturan.3. Deklaratif. dan pendeskripsian.4.2. secara garis besar fungsi tindak tutur diklasifikasi menjadi lima jenis. untuk menyatakan atau mengemukakan deklarasi secara tepat. d.

data. d. Kreidler mengkategorisasikan tindak tutur menjadi tujuh jenis bentuk tindak tutur. dan meresmikan. pemecatan kerja. pengetahuan. Tindak tutur ini meliputi: perintah. bertaruh. d.4.1. apa yang sedang terjadi atau yang telah terjadi.4. berjanji. seperti yang dikemukakan dalam bukunya “Introducing English Semantics” (1998:183-194).4. permohonan. ikrar. dan penolakan. tindak tutur asertif selalu berkaitan dengan fakta. yaitu: d. yang bentuknya dapat berupa kalimat positif dan negatif. Tindak tutur komisif dapat berupa: janji. dan secara umum mereka dapat dibenarkan atau disalahkan bukan hanya pada waktu tindak tutur tersebut keluar atau oleh mereka yang mendengarnya. misalnya tindakan mohon maaf. penjatuhan hukuman . dan pemberian saran. ancaman. d. Tindak tutur Asertif Di sini penutur menggunakan bahasa untuk menyampaikan apa yang mereka percayai dan apa yang mereka ketahui. benar atau salah.3. namun secara lebih umum mereka adalah subjek bagi penyelidikan empiris. apa yang ada atau yang telah ada. Tindak-tutur performatif ditemukan pada ucapan-ucapan pernikahan. pemesanan.5. Komisif ialah jenis tindak tutur yang dipahami oleh penutur untuk mengikatkan dirinya terhadap tindakan-tindakan di masa yang akan datang. Tindak Tutur menurut Kreidler (1998) Dalam perkembangan selanjutnya. mengumumkan. Tindak tutur asertif bersifat menginformasikan.2. Tindak tutur Performatif Tindak tutur performatif adalah tuturan yang pengutaraannya difungsikan atau digunakan untuk melakukan suatu tindakan.62 untuk menyatakan apa yang menjadi keinginan penutur.

4. Tindak tutur performatif bukanlah masalah benar atau salah tetapi tujuannya adalah untuk membuat bagian dari dunia ini sepaham dengan apa yang ia katakan. mengucapkan terima kasih. “terima kasih… untuk”.3. mengeluh. “bangga… untuk”.Tindak tutur Verdiktif Tindak tutur verdiktif adalah tindak tutur yang berorientasi pada perbuatan yang sudah terjadi atau bersifat retrospektif. Kebanyakan tindak tutur performatif diungkapkan pada setting formal dan berkaitan dengan kepegawaian. dan menyanjung. Di samping dalam bentuk tuturan di atas. atau mungkin hasil bertindak atau kegagalan sekarang. tindak tutur verdiktif dapat berupa tuturan yang bersifat menuduh. menyalahkan. . dan berbelasungkawa. Tindak tutur Ekspresif Tindak tutur ekspresif menilai atau mengevaluasi tindakan sebelumnya atau kegagalan dalam tindakan tersebut dari penutur. mendakwa. d. mengkritik. Menurut Fraser tindak tutur ekspresif disebut pula tindak tutur evaluatif (dalam Rustono. 1999. 30). Tindak tutur ekspresif adalah jenis tindak tutur yang menyatakan sesuatu yang dirasakan oleh penutur. bentuk menghargai. menyalahkan atau tanggapan yang mengarah pada penilaian yang negatif. Tuturan-tuturan ekspresif itu mencerminkan pernyataan-pernyataan psikologis yang dapat berupa: memuji.4. mengucapkan selamat.63 dan lain-lain di mana hanya orang-orang tertentu dan pada lingkungan yang sesuai yang diterima oleh mitra tutur. Tindak tutur restrospeksi adalah jika penutur menilai sikap yang telah dilakukan mitra tutur di masa lalu.4. Sikap itu bisa ditanggapi secara positif dengan mengucapkan “selamat… untuk”. d.

menagih. pengandaian. Tindak tutur komisif bersifat prospektif dan berkaitan dengan komitmen penutur pada perbuatan atau tindakan yang harus dilakukan untuk waktu yang akan datang. Tindak tutur fatik merupakan bentuk tindak tutur yang berfungsi untuk menjalin hubungan sosial. “maaf peneliti”. Tindak tutur direktif ini tuturan-tuturannya mempunyai maksud untuk memaksa. menyarankan. (2) kalimat berita (deklaratif). ancaman dan sumpah.4. Tindak tutur komisif merupakan bentuk tindak tutur yang berfungsi untuk menyatakan janji-janji. Tindak tutur Direktif Tindak tutur direktif kadang-kadang disebut juga tindak tutur impositif adalah tindak tutur di mana penutur menginginkan mitra tutur melakukan suatu tindakan atau mengulangi tindakan. Tindak tutur patik termasuk salam.64 d. Tindak tutur fatik merupakan bentuk tindak tutur keseharian yang sangat umum yang mungkin tidak kita pelajari . menyuruh.4. dan menantang.4. Bahasa patik tidak begitu berfungsi dengan jelas jika dibandingkan dengan enam tipe lainnya tetapi. mendesak. d. Tindak tutur Komisif. memberikan aba-aba. Tujuannya adalah untuk membangun solidaritas antar anggota-anggota dari lingkungannya. Tindak tutur Patik. bukan seperti makna yang tersurat dan tersirat dalam tindak tutur verdiktif atau ekspresif. d. ikrar.5.7. memerintah. Pada aplikasinya tindak tutur direktif. meminta. mengajak. memohon. dan (3) kalimat tanya (interogatif). ucapan-ucapan kesantunan seperti “terima kasih kembali”. yang mempunyai tujuan tertentu. dapat berbentuk: (1) kalimat perintah (imperatif). ucapan perpisahan. tidak kalah arti pentingnya dalam realitas kehidupan sehari-hari.6.

Kreidler.65 tapi sudah melekat dan menjadi kebiasaan sehari-hari yang bernilai baik dan beretika. Sedangkan bentuk atau ragamnya tindak tutur fatik sudah terpola. Menurut Searle dan Kreidler tentang fungsi tindak tutur asertif mempunyai persamaan pengertian dengan fungsi tindak tutur representatif menurut Yule. ekspresif. Persamaan istilah dan sekaligus persamaan pengertian. Selain itu menurut Searle dan Kreidler juga terdapat persamaan pada tindak tutur asertif. Dalam perkembangannya teori tindak tutur di tangan para pakar diklasifikasikan menurut fungsinya yang secara garis besar memiliki kesamaan. dan perlokusi. dan Yule tentang fungsi tindak tutur tersebut dapat peneliti verifikasi sebagai berikut. bentuk fungsi tindak tutur menurut Searle. dan Yule. Perbedaan istilah tetapi pengertiannya sama. sedangkan menurut Searle dan Yule. Dari hasil pengklasifikasian tersebut terdapat beberapa persamaan dan perbedaan: 1. meliputi tindak tutur: direktif. Searle. Dari keempat pakar yaitu: Austin. Di samping itu menurut Searle dan Yule. ilokusi. dan komisif. persamaan juga terletak pada tindak tutur deklaratif. karena Austin merupakan orang pertama kali yang mengemukakan teori tindak tutur yang membaginya menjadi tiga bentuk yaitu: lokusi. 2. . Konsep tindak tutur Austin merupakan dasar utama yang melandasi fungsi tindak tutur yang muncul di kemudian. Kreidler. fungsi tindak tutur deklaratif mempunyai persamaan pengertian dengan fungsi tindak tutur performatif menurut Kreidler.

Perbedaan jumlah fungsi tindak tutur. Pada dasarnya penutur dalam mengungkapkan maksudnya terhadap mitra tutur tidak selalu langsung pokok pembicaraan. Yule. ungkapan memuji merupakan pernyataan yang cukup dominan dalam sebuah pertuturan. Peserta pertuturan sering menggunakan bahasa fatik untuk sekedar memulai pembicaraan atau sekadar basa-basi mungkin juga untuk memecahkan kesenyapan yang kesemunya itu berlangsung dalam pertuturan seharihari. Dari ketiga fungsi tindak tutur yang dikemukakan oleh Searle. optimal. peneliti akan menggunakan fungsi tindak tutur menurut Kreidler karena tampak dari jumlah pengklasifikasian Kreidler lebih banyak yang masing-masing tindak tutur memiliki karakter yang spesifik sehingga dapat lebih mengakomodasi kebutuhan analisis bahasa verbal dan nonverbal yang terdapat dalam genre tari pasihan. sedangkan Searle dan Yule masing-masing mengklasifikasikan menjadi lima bentuk tindak tutur. Hal ini ditunjukan oleh Kreidler yang membagi fungsi tindak tutur menjadi tujuh bentuk. kedua fungsi tindak tutur tersebut sangat bermanfaat untuk menganalisis tindak tutur teks satra tembang dan bahasa nonverbal yang terdapat pada genre tari pasihan. Selain itu terkait juga dengan fungsi tindak tutur verdiktif dan tindak tutur fatik yang tidak dimiliki dalam fungsi tindak tuturnya Searle dan Yule. rasional. Prediksi peneliti. Begitu pula ketika seseorang mencintai orang lain. Selain itu dari penjabarannya fungsi tindak tutur yang . Terkait dengan kelebihan yang dimiliki tersebut gagasan utama pemilihan dimaksud adalah dalam rangka mencari dan menentukan implikatur yang valid sehingga pragmatik genre pasihan dapat diungkapkan secara menyeluruh.66 3. dan berkualitas. dan Kreidler.

yang dipaparkan dengan menggunakan bagan antara lain tindak tutur: komisif .1. rias. dan rinci dalam rangka menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pada rumusan masalah. menyeluruh. penonton umum. e. ekspresif. hal ini dapat dicermati dalam bukunya yang berjudul “Introducing English Semantics”. sindhenan. polatan (ekspresi wajah). direktif. Tuturan (karya seni) meliputi: a. pola lantai. dan . Mitra tutur meliputi: pakar. dan penanggap sebagai masyarakat pendukung budayanya. dan penari. dan jineman. 1. Berikut kesantunan menurut Leech selengkapnya: verdiktif. 3. Prinsip Kesantunan (PS) e. gerak tubuh (kinetic body moves). b. dan iringan. 2. cakepan (syair) pathetan. gerongan. tindak tutur bahasa nonverbal yang meliputi: tema. Skala Kesantunan Leech (1983) Teori kesantunan Leech (1983). Penutur meliputi: seniman penyusun (pengkarya). busana. bahwa setiap maksim interpersonal itu dapat dimanfaatkan untuk menentukan peringkat kesantunan sebuah tuturan. Adapun unsur-unsurnya dapat diurai sebagai berikut. Terutama terkait dengan latar belakang konsepsi penciptaan bahasa verbal dan nonverbal serta ciri karakteristik genre tari pasihan gaya Surakarta. tindak tutur bahasa verbal yang berupa teks sastra tembang terdiri dari.67 dilakukan Kreidler tampak lebih transparan. Tindak tutur tersebut akan peneliti gunakan untuk mengkaji komponenkomponen yang terdapat pada genre tari pasihan gaya Surakarta baik yang terdapat pada bahasa verbal dan nonverbal secara tajam.

Tindak tutur yang banyak merugikan penutur akan dianggap semakin santun. Authority scale adalah skala yang menunjuk pada hubungan status sosial antara penutur dengan mitra tutur. Social distance scale adalah skala yang menunjuk pada peringkat hubungan sosial antara penutur dan mitra tutur. .1.1.4. akan semakin santun tindak tuturnya. akan semakin tidak santun tindak tuturnya. Jika pertuturan itu banyak memberikan kesempatan peserta tutur untuk memilih tuturan maka tindak tutur akan semakin santun. e.5.1. akan semakin santun tindak tuturnya. Jarak status sosial (rank rating) semakin jauh antara penutur dengan mitra tutur.2. Akan tetapi jika jarak status sosial semakin dekat antara penutur dengan mitra tutur. dan jika banyak menguntungkan penutur akan dianggap tindak tuturnya semakin tidak santun. Tindak tutur yang bersifat langsung semakin tidak santun.1. sedangkan tindak tutur yang bersifat tidak langsung akan semakin santun.. Sedangkan semakin dekat hubungan sosial antara penutur dengan mitra tutur. e. apabila pertuturan itu membatasi peserta tutur untuk memilih tuturan maka tindak tutur semakin tidak santun.3. Optionality scale adalah skala yang menunjuk pada sedikit-banyaknya pilihan tindak tutur yang digunakan peserta tutur dalam pertuturan. e.68 e. e.1. akan semakin tidak santun tindak tuturnya. Jarak hubungan sosial semakin jauh antara penutur dengan mitra tutur.1. Cost-benefit scale adalah skala yang menunjuk pada untung ruginya peserta tutur dalam pertuturan. Sebaliknya. Indirectness scale adalah skala yang menunjuk pada langsung dan tidak langsungnya maksud tindak tutur dalam pertuturan.

Skala Kesantunan Brown dan Levinson (1987) Teori kesantunan Brown dan Levinson (1987) seperti dikutip Jumanto dalam disertasinya (2006: 47-53). 1987: 62). Strategi kesantunan positif (positive politeness strategies) yang digunakan untuk menunjukkan kedekatan. b) penggunaan muka dalam komunikasi. sedangkan muka negatif dimaksudkan bahwa keinginan setiap orang supaya segala tindakannya tidak dihalangi orang lain ( Brown dan Levinson. 1967). Dalam percakapan untuk mengungkapkan kesantunan. yakni muka positif (positive face) dan muka negatif (negative face). pada dasarnya setiap orang dianggap memiliki dua muka. Brown dan Levinson menggunakan dua cara yaitu strategi kesantunan positif yang mengacu pada muka positif dan strategi kesantunan negatif yang mengacu pada muka negatif. yang keduanya dimaksudkan untuk menunjukkan. keintiman.2. dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur. . sedangkan strategi kesantunan negatif (negative politeness strategies) yang digunakan untuk menunjukkan adanya jarak sosial antara penutur dengan mitra tutur. dan menyelamatkan muka dalam percakapan. Menurut Goffman (1959.69 e. memelihara. bahwa dalam sebuah pertuturan terkait dengan pengaturan muka terbagi menjadi dua yaitu tindak tutur yang berpotensi mengancam muka (face-threatening acts/FTA) dan tindak tutur yang berpotensi menyelematkan muka (face-saving acts/FSA). Kajian kesantunan Brown dan Levinson mencakup: a) cara mengungkapkan jarak sosial (social distance) dan hubungan peran yang berbeda dalam komunikasi. Muka positif dimaksudkan bahwa keinginan setiap orang supaya segala tindakannya dihargai oleh orang lain.

Implikatur Istilah implikatur berasal dari bahasa Latin plicare yang berarti “melipat.” Derivasinya dalam bahasa Inggris adalah kata kerja “to imply“ yang aslinya bermakna “to fold something into something else“ (melipat sesuatu ke dalam sesuatu yang lainnya). setidaknya dapat meminimalisasi . Dari sini kemudian asal makna kata implikatur. dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur. 2) melakukan tindak tutur dengan menggunakan kesantunan positif mengacu muka positif (positive politiness). 4) melakukan tindak tutur secara tidak langsung (off record).1. Hal ini dilakukan untuk menghindari kesalahpahaman. untuk menunjukkan adanya jarak sosial antara penutur dengan mitra tutur. tanpa basa basi (bald on record) dengan mematuhi prinsip kerja sama Grice. dan maksim cara. yaitu: 1) melakukan tindak tutur secara apa adanya. yaitu: maksim kuantitas. 5) tidak melakukan tindak tutur atau diam (don’t do the FTA). terdiri dari empat maksim yang digunakan dalam percakapan. f. kita harus menghubung-hubungkan tindak ujar yang disampaikan penutur terhadap mitra tutur dengan konteks. Cara yang ditempuh untuk memahami implikatur dalam komunikasi sehari-hari.70 Teori kesantunan Brown dan Levinson dapat diringkas menjadi lima strategi. keintiman. 3) melakukan tindak tutur dengan menggunakan kesantunan negatif mengacu muka negatif (negative politiness). yang diasalkan dari kata “implied” yang berarti “folded in“ (terlipat) dan harus dibuka lipatan tersebut (unfolded) jika kita ingin mengetahui artinya. maksim kualitas. Prinsip kerja sama Grice (1975) seperti dikutip Leech (1993: 11). untuk menunjukkan kedekatan. Implikatur dan Daya Pragmatik f. maksim hubungan atau relevansi.

informasinya benar atau tidak keliru. yaitu maksim kuantitas. Jika keempat maksim itu dipenuhi maka penyampaian informasi akan menjadi efektif dan efisien. yakni makna atau pesan tambahan yang menjadi bagian dari komunikasi yang tidak dikatakan. jelas. Suatu respon percakapan yang tampaknya kurang tepat dapat menjadi berterima jika kita hubungkan dengan konteksnya. peserta komunikasi perlu mematuhi prinsip kerjasama (Cooperative Principle). informasi itu relevan dengan pokok pembicaraan dan penyampaiannya baik dan mudah dipahami. menyatakan bahwa implikatur dalam pragmatik terkait dengan cara kita memahami suatu tuturan di dalam percakapan sesuai dengan yang kita harapkan. Artinya. Menurut Grice (1975: 45). Sejalan pendapat Yule. Istilah implikatur percakapan dikaitkan dengan konsep Grice tentang prinsip kerjasama (PK) dan maksim-maksimnya. Mey . Yule (1998). Namun demikian penutur tidak selalu mematuhi maksim-maksim Grice tersebut. yang dijabarkan menjadi empat. komunikasi itu akan berjalan dengan efisien dan efektif jika para peserta tutur bekerjasama satu sama lain. Implikatur – implikatur yang disiratkan dalam ujaran merupakan sumber utama dari pragmatik yang difungsikan sebagai nilai komunikasi yang dimotifasi dari beragam keinginan penutur. maksim kualitas. Pelanggaran terhadap maksim Grice inilah oleh para pakar pragmatik disinyalir menyebabkan timbulnya suatu implikatur percakapan. Secara ringkas seorang penutur dikatakan memenuhi maksim-maksim Grice apabila ia memberikan informasi tidak lebih atau tidak kurang dari yang dibutuhkan.71 kesalahan sewaktu kita menafsirkan maksud penutur. maksim hubungan dan maksim cara. langsung dan tidak bertele-tele. sistematis.

antara makna harfiah dengan daya atau ilokusi. penutur yang memilih berkomunikasi dengan implikatur. Menurut Levinson (1983: 97. Dasar hipotesisnya bahwa semua implikatur itu bersifat probabilistis. bentuk tuturan. implikatur percakapan adalah “ the notion of conversational implicature is one of the single most important ideas in pragmatics”. sedangkan mitra tutur (petutur) bertugas mengasumsikan bahwa penutur bekerjasama dalam percakapan yang mereka lakukan sehingga ia dapat mengenali makna tambahan yang dimaksudkan dalam percakapan dengan menarik simpulan (inference). Kaitan ini dapat bersifat langsung atau tidak langsung (1993: 45). Tugas pragmatik adalah menjelaskan kaitan antara dua jenis arti tersebut yakni. dan konteks. f.72 (2001) memberi batasan bahwa implikatur adalah “an additional conveyed meaning”. Ia berasumsi bahwa makna dapat diperikan lewat representasi semantik sedangkan daya diperikan melalui seperangkat implikatur. maksudnya yakni makna tambahan yang lebih dari yang dikomunikasikan. Daya Pragmatik Leech mempostulatkan bahwa pragmatik umum mengaitkan makna suatu tuturan dengan daya pragmatik tuturan tersebut. karena apa yang dimaksud oleh penutur dengan tuturannya tidak pernah dapat kita ketahui dengan pasti sekali. .2. Dalam hal ini. Dari ketiga pakar secara ringkas dapat disarikan. Hanya dengan beberapa faktor seperti kondisi yang dapat diamati. implikatur adalah makna yang disiratkan dalam sebuah percakapan. Menurutnya implikatur dapat menjelaskan secara eksplisit tentang bagaimana memakai apa yang diucapkan secara lahiriah berbeda dengan apa yang dimaksud dan pemakai bahasa itu mengerti pesan yang dimaksud.

nilai-nilai. Jika kita cermati sebenarnya implikatur dan daya pragmatik merupakan dua buah batasan yang merujuk pada sebuah makna. b. dan secara pragmatik. Adapun wujud kebudayaan mencakup tiga (3) substansi. yakni: a. gagasan. Sedangkan daya pragmatik menurut Leech. Wujud kebudayaan berupa benda-benda hasil karya manusia. Artinya daya pragmatik kekuatan atau force yang muncul dari implikatur. Dari beberapa pakar linguistik sependapat bahwa implikatur adalah makna yang disiratkan dalam sebuah percakapan. 1990:180). merupakan . daya sekaligus juga dapat diturunkan dari makna.73 mitra tutur bertugas membuat simpulan interpretasi yang paling mungkin. Artinya bahwa masing-masing batasan. dan c. 2. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide. dapat diperikan melalui seperangkat implikatur. makna yang disiratkan dalam sebuah pertuturan. menyatakan bahwa makna (sense) yaitu makna yang ditentukan secara semantis sedangkan daya (force) yaitu makna yang ditentukan secara semantis dan pragmatik. norma-norma. peraturan dan sebagainya. Adapun ikatan antara makna dan daya perlu disadari. tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar (Koentjacaraningrat. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat. Dengan tegas Leech (1993: 24). bahwa daya mencakup makna. Teori Budaya. baik implikatur maupun daya pragmatik secara garis besar mengacu pada satu objek yang sama yakni. Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan.

2006). saling terdapat keterkaitan antar substansinya.74 Wujud kebudayaan tersebut dalam realitas kehidupan masyarakat sosial tidak dapat dipisah-pisahkan. tetapi masing-masing . 1983:100). berhubungan. perilaku. membentuk. Seni tradisional termasuk tari sebagai budaya yang diwarisi secara turun-temurun sudah barang tentu memiliki kesinambungan dengan budaya sebelumnya. dan berinteraksi satu dengan lainnya. Pewarisan budaya tidaklah bersifat statis. norma-norma. Wujud ide dan gagasan-gagasan manusia memberikan jiwa atau pun roh dalam kehidupan masyarakat. 1991:10). dan menimbulkan sikap. Sehingga keragaman budaya sebagai latar seseorang yang telah dibentuk sejak lahir akan mempengaruhi. Untuk memahami budaya Jawa. Sistem sosial masyarakat yang mencakup aktivitas-aktivitas manusia dalam berkomunikasi. Ogburn mengutarakan bahwa penemuan-penemuan baru memerlukan suatu latar belakang transmisi kebudayaan dari penemuan-penemuan terdahulu (dalam Soerjono Soekanto. Dalam tari Jawa bentuk ekspresinya pada hakekatnya terwujud berdasarkan alam emosi. kita dapat mengamati dan mencermati dari salah satu wujud kebudayaanya yang berupa seni pertunjukan tari. peraturan yang telah disepakatinya. yaitu bentuk dan iramanya kuat-kuat dilatarbelakangi oleh konsep keindahan dan tradisi kebudayaannya (Humardani. akan dikendalikan dan diatur oleh prinsip-prinsip nilai. Sejalan dengan pendapat tersebut. dan hasil karya seseorang beragam pula (Sutopo. Begitu pula kondisi kehidupan budaya seseorang sangat mempengaruhi persepsi dan penciptaan makna pada setiap peristiwa sosial. yang dalam setiap kehidupan sosial selalu melibatkan intersubjektif dan pembentukan makna.

Tari sebagai wujud budaya yang merupakan hasil karya manusia diharapkan mampu memberikan manfaat. Seni pertunjukan tari merupakan wujud keseluruhan dari sistem. saling terkait secara utuh. sehingga mampu memberikan daya apresiasi. manusia memiliki berbagai usaha lewat penemuan-penemuan baru untuk memenuhi sekaligus menjawab tuntutan kebutuhan yang muncul sesuai dengan konteks budaya yang berlaku. Seperti kehidupan seni tradisional kita yang dapat bertahan hidup dan lebih berkembang di tengah-tengah masyarakat. Segala sesuatu yang dihadapi manusia di muka bumi ini dalam kehidupannya semua mempunyai temporalitas atau historisitas. kompleksitas berbagai unsur–unsurnya yang membentuk suatu jalinan atau kesatuan. baik sebagai hiburan. ritual maupun untuk keperluan lain yang sifatnya terkait dengan pemenuhan kebutuhan sosial masyarakat. 1999:2). Dalam mencapai taraf hidup yang lebih baik. Bertolak . Wujud karya seni sebagai ekspresi seniman memiliki beragam pesan rupanya tidak mudah untuk dipahami untuk itu diperlukan sebuah kajian tersendiri. Dengan demikian tanpa jangka waktu tidak akan terjadi peristiwa perubahan. Karena pada dasarnya tari dapat terwujud dari komplemen berbagai elemen.75 generasi mencoba untuk mengadakan perubahan-perubahan disesuaikan dengan kondisi kehidupan masyarakat pendukungnya. Semuanya berawal dan berakhir dalam suatu proses yang terus-menerus melalui dimensi waktu (Ibrahim Alfian. Perubahan merupakan suatu kesinambungan yang lebih daripada sekedar patokan antara sebelum dan sesudah. maka laju transpormasi menjadi penting artinya. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupan manusia tidak terlepas dari adanya kecenderungan niat yang menghendaki suatu kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya.

Pada analisisnya peneliti akan mengkaji keterkaitan nilai cinta kasih yang menjadi muatan genre tari pasihan dengan ritual perkawinan adat Jawa terutama bagi sepasang mempelai temanten. Terutama untuk mencermati latar belakang konsepsi penciptaan bagi penyusun tari sebagai muatan atau pesan pada genre tari pasihan gaya Surakarta yang hendak disampaikan kepada masyarakat sebagai penghayat atau penikmat. norma-norma. tidak terkecuali seni tari. Kompleks Ide. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide gagasan. a. Adapun bentuk aplikasinya dirancang sebagai berikut. peraturan dan sebagainya akan digunakan sebagai kajian faktor genetik. karya seni sebagai faktor objektifnya. Nilai–nilai humanisme pada prinsipnya merupakan sumber nilai-nilai sekaligus lahan kajian yang utama dalam seni pertunjukan. Kajiannya akan terkait dengan tiga komponen yaitu seniman sebagai faktor genetik. Pada dasarnya bahwa masyarakat sebagai penghayat adalah masyarakat heterogen yang . Kompleks Aktivitas. Adapun isi sebagai kandungan makna pada genre tari pasihan adalah nilai cinta kasih yang merupakan salah satu nilai-nilai kehidupan yang fundamental. b.76 dari pandangan tersebut peneliti akan menggunakan teori budaya sebagai analisis karya seni yakni genre tari pasihan. nilai-nilai. dan masyarakat yang bertindak penghayat sebagai faktor afektif. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat akan peneliti gunakan sebagai analisis faktor afektifnya atau persepsi masyarakat terhadap sajian genre tari pasihan.

gerak tubuh (kinetic body moves). dan iringan. Analisis ini akan didasarkan pada aktivitas–aktivitas di lapangan terutama pada peristiwa pementasan tari duet percintaan tersebut pada ritual perkawinan adat Jawa. busana. c. Kedua aspek tersebut akan dikaji secara komplementer untuk mendapatkan gambaran yang utuh dan jawaban yang memadahi tentang ciri karakteristik genre tari pasihan gaya Surakarta.77 secara kultur beragam pula latar belakangnya. dan jineman. serta mengapa hal itu terjadi. Karya tari tersebut terdiri dari teks verbal (teks sastra tembang) yang berupa cakepan (syair) yang terdapat dalam pathetan. Realitas yang demikian merupakan dinamika kehidupan yang wajar dalam dunia seni pertunjukan. polatan. Terkait dengan analisis genre tari pasihan. Wujud kebudayaan berupa benda-benda hasil karya manusia terkait dengan analisis faktor objektif pada penelitian ini adalah karya seni yang berupa tari Karonsih dan tari Bondhan sayuk. Sedangkan aspek bahasa nonverbal meliputi: tema. Benda Fisik. pola lantai. 3. gerongan. Teori Seni Pertunjukan. . peneliti akan mencermati lebih fokus pada hal-hal yang menyebabkan perbedaan dan persamaan persepsi masyarakat. sindhenan. Selain itu untuk mengetahui makna yang terkandung dalam teks verbal dan nonverbal genre tari pasihan dalam rangka merunut dan mengembangkan makna yang lebih central. rias. Berbekal keberagaman latar kultur tersebut akan mempengaruhi hasil hayatan yang berujung pada perbedaan-perbedaan dan sekaligus persamaan persepsi masyarakat.

Menurut Suzanne K. artinya bahwa seni pertunjukan dimaksud tidak dapat disajikan secara mandiri. Pada dasarnya bentuk seni pertunjukan tari merupakan wujud keseluruhan dari beberapa cabang seni yang sangat fundamental. akan tetapi lebih merupakan suatu perpaduan dari beberapa cabang seni yang merupakan satu kesatuan menjadi suatu bentuk yang utuh. artikulasi sebuah hasil kesatuan yang menyeluruh dari suatu hubungan dari berbagai faktor yang saling bergayutan. karena pada prinsipnya seni pertunjukan merupakan seni sesaat. polatan. seni rupa. ia sudah merupakan masalah yang cukup sulit apabila kita akan menelitinya. . gerak tubuh. Langer (dalam Widaryanto. seni sastra dan seni tari. pola lantai. Masing-masing elemen tersebut saling komplementer yang pada penyajiannya akan terikat ruang dan waktu. busana. saling melengkapi dan saling mendukung sehingga membentuk suatu jalinan yang saling berinteraksi untuk membentuk menjadi sebuah konstruksi penyajian tari. Adapun elemen-eleman tari. 1998:15) bentuk dalam pengertian yang paling abstrak berarti struktur.78 Seni pertunjukan pada umumnya merupakan seni kolektif. yakni meliputi: seni musik. apa lagi untuk melacak sejarahnya (2003:1). yang menyatakan bahwa seni pertunjukan sebagai seni yang hilang dalam waktu. Mengingat seni pertunjukan merupakan sarana untuk mengekspresikan maksud seniman maka unsur-unsur yang terdapat di dalamnya akan menjadi objek analisis. yang hanya bisa kita nikmati apabila seni tersebut sedang dipertunjukkan. yang utama terdiri dari: tema. Teori seni pertunjukan dapat mengungkap makna dari masing-masing unsur. Dari berbagai cabang seni tersebut satu dengan lainnya saling terkait. Hal itu sejalan dengan pendapat Soedarsono. rias. dan iringan.

Gerak aktif adalah gerak tubuh yang mengandung maksud-maksud tertentu. gerak kata baru. Tema Tema adalah rujukan cerita yang dapat menghantarkan seseorang pada pemahaman esensi nilai-nilai kehidupan. Babad. 1991: 6-9). dan pada pertunjukan teater-teater modern. Gerak Tubuh (kinetic body moves) Gerak tubuh manusia. Tema dapat ditarik dari sebuah peristiwa atau cerita. a. Si Buta dari Gua Hantu. dan gerak praktis (Humardani.79 sejak dari antarunit hingga antarkomponen yang lebih besar dan keterkaitannya untuk pengembangan temuan makna secara total. yang dilakukan sedemikian rupa sehingga lawan tergerak atau terpacu. Contohnya: kesatuan dari rangkaian gerak . seperti Cinderela. gerak bagian. antara lain: Mahabharata. Dengan teori seni pertunjukan akan peneliti gunakan untuk mengkaji elemen-elemen yang terkandung di dalam tari untuk mengungkapkan dari faktor objektifnya dan faktor genetik. tutup telinga dan sebagainya. Selain sumber-sumber cerita itu terdapat cerita-cerita fiktif yang sering diangkat dalam layar kaca. Dalam seni pertunjukan di Indonesia cerita-cerita yang dipilih lazimnya bertolak pada sumber cerita yang pokok. Gerak kata adalah gerak-gerak aktif yang digunakan untuk menceriterakan suatu maksud. Ramayana. gerak kata. gerak tari. Kiamat Sudah Dekat. b. mitos dan sejarah. Contohnya: angkat bahu. menurut sifatnya dapat digolongkan ke dalam berbagai bentuk gerak. layar lebar. cerita rakyat. pejam mata. yang selanjutnya dijabarkan menjadi alur cerita sebagai kerangka sebuah garapan. di antaranya: gerak aktif. Si Kaya dan Si Miskin. Adapun elemenelemen tari yang dimaksud antara lain dapat kita cermati berikut ini. gerak indah.

dimaksudkan untuk mengungkapkan rasa sedih. Pembagian tersebut rupanya tidak sepenuhnya dapat memberikan gambaran yang jelas. Contohnya: berlari. Gerak tubuh merupakan kekayaan makna komunikasi non verbal tanpa suara yang mampu memikat perhatian bagi seorang seniman. dan sambil duduk.80 kepala menunduk. kepala menggeleng. tangan kiri memegang perut. tangan melambai. contohnya kepala menunduk dari rangkaian gerak kata rangkaian gerak kepala menunduk. Bentuk lain: kepala mengangguk. tangan kanan memegang kening. sehingga arti verbal maupun nonverbal tidak pernah akan dapat terlepas dengan gerak tubuh manusia sebagai kandungan maksud atau makna yang hendak diekspresikan. Gerak bagian adalah bagian dari gerak kata. Hal ini tidaklah cukup beralasan. Gerak indah adalah gerak kata baru yang sudah mengalami penggarapan lebih sempurna untuk mengungkapkan keindahan semata tanpa maksud verbal. karena realitas yang kita hadapi bahwa gerak manusia selalu konteks dengan lingkungan. tangan kanan memegang kening. Baginya tubuh merupakan objek yang tidak pernah ada habis- . sebagai contoh pembatasan mengenai gerak indah dengan gerak tari yang masing-masing rupanya menghindari arti verbal maupun arti dengan gerak seharihari. Gerak kata baru adalah gerak kata yang sudah digarap dari segi bentuk dan diselaraskan dengan tempo. berjalan. bisa kecewa. sehingga hasilnya seolah-olah gerak yang lepas tanpa berkaitan arti dengan gerak sehari-hari. dan sebagainya. Gerak tari merupakan penggarapan dari gerak bagian atau gerak kata sehingga mencapai pada tingkat abstraksi gerak yang sungguh-sungguh. dan dinamik tertentu. dan sambil duduk. volume. karate. tangan kiri memegang perut.dan bisa juga menyesal. bisa merenung. Gerak praktis merupakan gerak yang mengandung guna praktis.

volume. gerak ini difungsikan semata-mata untuk kebutuhan ekspresi. Secara garis besar gerak dalam tari dapat dibagi menjadi dua bagian secara kasar. Ekspresi wajah merupakan sarana untuk mendapatkan pemahaman lebih baik terhadap sesuatu yang sedang dikomunikasikan terhadap komunikan. Keduanya hadir dalam jagad tari. yakni gerak presentatif dan representatif. artinya gerak yang dihasilkan dari imitasi terhadap sesuatu. hal itu sengaja dibuat untuk mengungkapkan ekspresi seniman atau penyusun tari. dikaji. Kedua bentuk gerak baik presentatif maupun representatif merupakan medium utama dalam rangka memenuhi keperluan ekspresi. kemudian disajikan.81 habisnya sebagai sesuatu yang digali. Pertimbangan yang utama untuk menjadikannya gerak tubuh dan gerak nontubuh menjadi tari adalah dengan cara mendistilisasi gerak sesuai kebutuhan ekspresi dan melihat karakteristik gaya dengan menggarap tempo. karena wujud yang tampak sering samar-samar. Sedangkan gerak representatif adalah gerak penghadir. dan dinamik. di antaranya: apakah menunjukkan rasa sedih atau . Polatan (ekspresi wajah) Polatan merupakan perubahan yang lebih fokus pada perubahan raut muka atau wajah. Kita akan banyak memperoleh informasi tentang kondisi emosional seseorang melalui ekspresi-ekspresi wajah mereka. c. Gerak presentatif merupakan bentuk gerak yang tidak mempunyai arti secara khusus. begitu berlangsung berulang-ulang yang tidak pernah harus kehabisan materi atau bahannya. dieksplorasi. Pada prinsipnya seluruh gerak tubuh dapat menjadi medium dalam tari. namun kemunculannya tidak mudah untuk dipisah-pisahkan secara tegas.

untuk itu kesadaran awal yang harus fokus bahwa ekspresi wajah yang dibangun dari gerak tanpa diiukuti bahasa verbal secara langsung itu harus ditopang kecerdasan. dapat secara langsung berkomunikasi dengan media antawecana seperti dalam wayang wong. ekspresi wajah memiliki kekuatan yang sangat besar terkait dengan penampilan karakter pribadi maupun penjiwaan seseorang terhadap peran tokoh dalam membangun kualitas komunikasi yang berlangsung antarpeserta tutur. Jika kita mengetahui dan menyadari berapa banyak otot yang terdapat pada wajah manusia. 2006: 42). tembang dalam Langendriyan. polatan sangat berperan untuk mengekspresikan pada tingkat emosi yang secara komplementer akan membantu ekspresi gerak tubuh dalam rangka mengekspresikan totalitas peran atau tokoh. merasa takut atau sedang marah. Sehingga wajah sebagai media ekspresi akan selalu siap difungsikan untuk peran yang dikehendaki. merasa tertarik atau menolak. Mengingat bahwa dalam tari tradisi istana terutama peranperan yang karakternya tenang perubahan polatan sangat halus bahkan kerap kali tidak tampak. Penari lebih dominan berkomunikasi dengan media gerak. . dan sebagainya. maka tidaklah mengherankan apa bila terdapat banyak pula macam ekspresi wajah yang dapat dihasilkan (lihat Wainwright. Dalam dunia tari.82 senang. penari sebagai aktor yang menyajikan peran. Bagaimanapun tebal tipisnya ekspresi wajah dalam komunikasi antarperan. ketajaman dan kepekaan rasa yang dimiliki sebagai modal utama yang selalu harus diolah. Ekspresi wajah yang terdapat pada seni pertunjukan untuk mengekspresikan peran dalam keadaan suasana tertentu yang dalam implementasinya tidak lepas dari bekal pengalaman-pengalaman psikologis bagi seniman penyaji.

yang dominan untuk pola lantai garapan putri luruh dan peran alus lurus. Sedangkan garis lengkung lebih memberikan kesan lembut. Pola lantai (floor design) Pola lantai merupakan garis yang dibentuk dari gerak tubuh seorang penari yang terlintas pada lantai. 1978:23). masingmasing individu berusaha menampilkan wajah sesuai dengan ekspresi yang dikehendaki. yang dalam pertunjukan tari Jawa banyak digunakan dalam pola garapan tari gagah dan sebagian pola garapan tari alus maupun tari putri yang berkarakter lanyap.83 d. Masing-masing bentuk garis mempunyai kekuatan yang tercermin dalam kesan atau ilusi. serta banyak difungsikan dalam garapan yang bertemakan percintaan. yaitu: (1) . Selain itu garis lurus juga banyak digunakan untuk garapan pola-pola perangan. Garis-garis yang dibentuk penari tersebut merupakan garis imajiner yang hanya dapat ditangkap dengan kepekaan rasa. Pada dasarnya garis yang terbentuk pada floor design secara garis besar terdiri dari dua pola garis dasar yaitu garis lurus dan garis lengkung (Soedarsono. Wujudnya bersifat ilusi atau bayangan yang tampak menyatu luluh komplemen dengan arah gerak tubuh penari. Garis lurus mempunyai kesan kuat dan sederhana. Kadar perubahan wajah dimaksud sangat relatif artinya bahwa pada setiap rias. Rias Rias adalah strategi untuk mengubah wajah pribadi dengan alat-alat kosmetik yang disesuaikan dengan karakter figur supaya tampil lebih percaya diri. Menurut peneliti rias dapat diklasifikasi menjadi tiga jenis. e.

84 rias formal. Busana Busana merupakan salah satu atribut yang dapat menunjukkan status sosial dan identitas seseorang. Secara umum warna-warna dasar mempunyai sifat teatrikal dan sentuhan emosional sebagai lantaran simbolisasi tertentu dalam budaya seni pertunjukan tari. raksasa. layar kaca. f. kesatria dan peran putri yang berjiwa dinamis. Kedudukan seseorang dalam masyarakat akan tampak jika kita perhatikan dari busana yang dipakai. Artinya warna dapat digunakan sebagai simbol-simbol dalam kehidupan. Rias formal merupakan rias yang digunakan untuk kepentingan – kepentingan yang terkait dengan urusan publik. Selain itu busana juga memiliki beragam warna yang dapat digunakan untuk maksud-maksud tertentu. Rias informal adalah rias yang difungsikan untuk urusan domestik. dan anggun terutama untuk tokoh-tokoh putri seperti . Setidaknya dalam tari Jawa. Merah lebih memberikan kesan berani. Bentuk rias peran lebih dikonsentrasikan untuk seni pertunjukan yang digunakan untuk penampilan di panggung seperti panggung konvensional. Warna putih mempunyai kesan suci. dan dinamis yang banyak diperuntukan tokoh-tokoh raja yang sombong. agresif. namun masing–masing daerah berbeda dalam memaknai bergantung latar belakang budayanya. Hitam tampak memiliki kesan bijaksana. berwibawa. dan juga berhubungan dengan kehidupan nirwana. dan (3) rias peran. Sedangkan rias peran adalah bentuk rias yang digunakan untuk penyajian peran sebagai tuntutan ekspresi pertunjukan. setia. Begitu pula asal seseorang dapat kita ketahui dari gaya dan mode pakaian yang dikenakan. panggung modern. (2) rias informal. layar lebar dan bentuk lainnya. esensi makna yang diungkapkan dapat ditarik dari kesan yang ditimbulkan dari warna-warna dimaksud.

Sembadra. Fungsi gendhing sebagai iringan dalam sebuah pertunjukan mencakup tiga peran yakni: 1) nglambari. Jika kita cermati lebih sungguh-sungguh keberhasilan pertunjukan tari. Kehadiran gendhing di sini membentuk suasana. Iringan (Gendhing beksa) Iringan atau Gendhing beksa atau karawitan tari merupakan iringan musik gamelan yang telah teraransir menjadi sebuah bentuk yang berupa gendhing yang mampu memberikan kontribusi kekuatan ekspresi pada tari. rupanya tidak sekadar sebagai pengiring belaka. Nglambari memberi pengertian bahwa dukungan gendhing dalam pertunjukan tari lebih berfungsi sebagai ilustrasi. salah satu faktornya juga sangat ditentukan unsur medium bantunya yakni karawitan yang berfungsi sebagai iringan. Warna kuning memiliki kesan keagungan dan kejayaan. Misalnya iringan pathetan yang digunakan untuk ilustrasi tokoh Sekartaji pada saat . dan 3) nyawiji (lihat dalam Waridi.85 Dewi Shinta. 2) mungkus. Tampak bahwa warna memiliki kandungan makna atas kualitas kesan yang ditangkap oleh indera penghayat. Kontribusi iringan dalam membentuk suasana dapat berujud ilustrasi yang berfungsi sebagai background hingga taraf memberikan aksentuasi kekuatan rasa-rasa tertentu sesuai dengan kebutuhan ekspresi yang dikehendaki. Kehadiran karawitan dalam pertunjukan tari gaya Surakarta. 2005: 17-19). g. Karawitan sebagai iringan tari mampu memberikan kontribusi kekuatan rasa yang secara komplementer menyatu dengan ekspresi tari membentuk suatu ungkapan nilai-nilai kehidupan manusia yang disajikan dalam bentuk yang indah. Ratu Ayu Kencana Wungu. Drupadi. Warna hijau mempunyai kesan segar dan tumbuh lebih hidup. dan lainnya.

sajian gendhing dengan garapnya secara menyeluruh sengaja digunakan sebagai pembingkai gerak terutama pola-pola gerak kebar. Bentuk kristalisasi dari unsur tari dan unsur karawitan tersebut adalah untuk pencapaian harmonisasi penyajian dalam rangka menghasilkan kekuatan dan keutuan pertunjukan. Elemen-elemen yang terdapat dalam bahasa verbal maupun nonverbal pada seni pertunjukan tari Karonsih dan Bondhan Sayuk tersebut merupakan modal . Salah satu contohnya iringan Ketawang Ngrenas untuk suasana sedih pada saat Dewi Sekartaji sedang mencari suaminya yaitu Raden Panji Inukertapati yang tidak kunjung bertemu. Sedangkan Nyawiji. salah satu unsur tidak akan lebih menonjol dari yang lain. Adapun kedua unsur dimaksud yaitu unsur karawitan sebagai penghasil rasa musikal dan unsur tari. Beragam fungsi karawitan tersebut mengindikasikan bahwa karawitan tari dalam konteks penyajian tari. ritme atau irama. merupakan konsep karawitan tari yang mengarah pada pemersatuan dua unsur menjadi satu. Dimaksudkan pada konteks ini. banyak membantu dan bahkan kerapkali menggantikan kedudukan kekuatan ekspresi tari (1991:10).86 pertama keluar (maju beksan) dalam suasana sedih. dan volume) sebagai iringan. karawitan (yang terpadu dari unsur-unsur melodi dalam tempo. Dalam hal ini. karena pada dasarnya nilai estetis kesenian adalah sebuah ungkapan yang utuh. Sejalan dengan paparan tersebut. Humardani menyatakan bahwa dalam tari Jawa. Pola iringan yang difungsikan semacam ini dapat diamati pada gendhing Lambangsari yang memiliki rasa riang dan gembira. Mungkus pada konsep karawitan tari lebih cenderung pada pengertian membingkai. rupanya memiliki kontribusi cukup besar.

2007: 19-20). (c) untuk menguatkan sikap dan tingkah laku orang lain. Teori Komunikasi Komunikasi adalah suatu transaksi. Dengan demikian ciri karakteristik lebih mengarah pada perbedaan-perbedaan yang menonjol dari masing-masing elemen dalam tari tersebut secara elementer. yang pada gilirannya akan terjadi saling pengertian yang mendalam. seni. sengaja atau tidak sengaja. lukisan. tetapi juga dalam bentuk: ekspresi muka. menyatakan bahwa komunikasi adalah suatu proses di mana dua orang atau lebih melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya. serta (d) berusaha mengubah sikap dan tingkah laku itu (lihat Book dalam Cangara. (b) melalui pertukaran informasi. 4. Rogers bersama Lawrence (1981). Sejalan dengan definisi komunikasi tersebut. bahwa komunikasi adalah bentuk interaksi manusia yang saling pengaruh memengaruhi satu sama lainnya. proses simbolik yang menghendaki orang-orang mengatur lingkungannya dengan (a) membangun antarsesama manusia. Pernyataan lebih singkat dikemukakan oleh Shannon dan Weaver (1949).87 pembentukan ciri karakteristik yang mampu membedakan tari pasihan dengan karyakarya tari lainnya. dan teknologi. Selain itu juga tidak menutup kemungkinan perbedaan-perbedaan yang dihasilkan dari komplementer bahasa verbal dan nonverbal yang menurut sifatnya berupa sebuah konsep. Dengan demikian tampak. sehingga kekhasan dari elemen-elemen dan keragaman informasi yang dapat digali akan menentukan dan mewarnai dalam menggeneralisasi teorinya. Bentuk komunikasi di sini tidak terbatas pada komunikasi bahasa verbal. seperti kesamaan bahasa atau kesamaan arti dari . jika kita berkomunikasi berarti terdapat beberapa kesamaan dengan orang lain.

dan jineman dan b) unsur nonverbal yang meliputi: tema.88 simbol-simbol yang digunakan dalam berkomunikasi. Komunikator Komunikator bersumber pada seniman pelakunya yang terdiri dari penyusun tari dan penari yang bertindak sebagai penutur. gerak tubuh (kinetic body moves). (d) penerima. 2007: 24). Prinsip dasar yang perlu dipahami bahwa komunikasi dalam seni pertunjukan pada hakekatnya mencakup tiga faktor pokok. teori komunikasi akan peneliti gunakan untuk menganalisis bagaimana komunikasi berlangsung. untuk itu. Berdasarkan pernyataan Shannon dan Weaver. (e) lingkungan. Artinya. dan iringan merupakan media komunikasi yang khas bagi kehidupan seniman. tari sebagai bagian atau cabang seni merupakan komunikasi manusia yang cukup vital. sindhenan. yaitu: a) unsur verbal berupa sastra tembang yang meliputi cakepan (syair) yang terdapat dalam pathetan. busana. Setiap unsur mempunyai peranan sangat penting dalam membangun proses komunikasi. dan (g) umpan balik (lihat Cangara. Merujuk pada bentuk karya seni dalam hal ini tari pasihan merupakan media komunikasi secara utuh. (c) media. (f) efek. polatan. Pernyataan dari beberapa pakar komunikasi tersebut dapat ditarik unsur-unsur komunikasinya menjadi tujuh. gerongan. tanpa keikutsertaan salah satu unsur akan berpengaruh pada proses komunikasi. rias. Komunikasi bahasa verbal yang berupa sastra tembang yang komplementer dengan Unsur–unsur nonverbal dapat mengarahkan kepada kita untuk memunculkan implikatur akan guna analisis secara pragmatik. Baginya seorang seniman berkarya . (b) pesan. yaitu: (a) sumber. Terfokus pada jenis tari pasihan yang bentuknya memiliki dua unsur. yakni: a. pola lantai.

Sarana atau Media Karya seni yang berupa genre tari pasihan merupakan sarana atau media tutur bagi seorang seniman. 1980:21). tari Bondhan Sayuk. Dari medium sensa itu seniman akan dapat menganyam impian-impian bagi kita mengenai hal-hal yang membuai dan memikat kita senang mengamati. tari Driasmara. ia berusaha menafsirkan baik secara bentuk fisik karya seni maupun nonfisik yang berupa maksud dari penyusun tari yang kemudian disajikan dalam sebuah pementasan pada ritual perkawinan adat Jawa.89 merupakan dorongan dan tutuntan kebutuhan jiwa yang dilatarbelakangi apresiasi terhadap lingkungan manusia dan alam yang terseleksi dan senantiasa dimanifestasikan dalam bentuk yang estetik. di antaranya: tari Karonsih. yang dapat dialami lagi oleh yang mengungkapkan dan ditujukan atau dikomunikasikan kepada orang lain (Parker. perasaan atau pikiran dengan suatu medium indera atau sensa. tari Langen . tari Enggar-enggar. Dengan demikian peranan penari sebagai komunikator sangatlah penting. Jenis tari duet percintaan yang terdapat dalam genre tersebut. tari Endah. Adapun sebagai penari. seniman penyusun sebagai penutur hendak menuturkan sebuah nilai kehidupan. tari Lambangsih. Kesesuaian atau kemungguhan figur seorang penari dengan tokoh yang hendak diperankan merupakan syarat yang harus diperhatikan di samping gandar atau rupa. Seniman adalah manusia yang secara profesional menghasilkan karya-karya seni yang dapat dihayati oleh publik. tari Gesang Rahayu. tari Kusuma Ratih. Ungkapan seni dapat dilukiskan sebagai pernyataan suatu maksud. karena dengan kondisi yang tidak layak akan berdampak negatif pada hasil hayatan secara menyeluruh. Terkait dengan hadirnya genre tari pasihan. b.

Komunikan Masyarakat sebagai komunikan meliputi: pakar. Pada hakekatnya kesenian adalah ungkapan yang disengaja. merasakan. Keragaman seni akibat dari keaneragaman media atau sarana yang didukung ide-ide kreatif estetik seorang seniman dalam rangka memenuhi ekspresinya. c. Begitu pula ungkapan- ungkapan praktis seperti menyuruh makan. Lewat media bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan kandungan maksud seniman akan diaktualisasikan untuk mendapatkan tanggapan dari penghayat. dan selalu terkait atau berhubungan dengan tradisi kebudayaannya. tari Setyaningsih. dan merenungkan sehingga dapat memberikan sebuah pernilaian atau . dengan pertimbangan kedua jenis tari tersebut diharapkan mampu mewakili informasi genre tari pasihan untuk dianalisis makna pragmatiknya. Ungkapan yang otomatik sifatnya insting atau berlaku secara naluriah yang dilakukan seperti orang menangis ketika didera musibah. Meskipun setiap karya seni itu adalah suatu ungkapan. itu bukan kesenian dan tidak juga estetik. Seni adalah suatu ekspresi. tari Jayaningrat. Begitu pula genre tari pasihan yang terdiri dari bahasa verbal dan nonverbal merupakan jenis seni pertunjukan gaya Sala yang mengacu pada budaya istana Kasunanan Surakarta. dan penanggap merupakan mitra tutur yang menghayati karya genre tari pasihan. gembira saat mendapatkan keuntungan. namun sebaliknya bukanlah setiap ungkapan itu sebuah karya seni. dan lainnya. Adapun fokus dari penelitian untuk disertasi ini adalah tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk. penonton umum. dan tari Kusuma Aji.90 Asmara. Seseorang dalam menghayati dengan cara mengamati sebuah karya seni (objek). dicipta. mandi. suatu ungkapan.

91

tanggapannya. Betapapun sedihnya menghayati tokoh Sekartaji yang tidak kunjung bertemu, ketika berupaya mencari suaminya Panji Inukertapi, kita merasa haru mendengar sumpah kesetiaan Sekartaji yang berbunyi: Dhuh jagad dewa bathara Welasa mring dasih kang nandhang kingkin Tinilar garwa satuhu Dadya gantilaning tyas Ulun dhahat Teka aginggang sarambut Kalamun datan pinanggya Aluwung tumekeng lalis

Jabaran dari nilai kehidupan tersebut ditangan seniman diungkapkan dalam bungkus sensa yang mampu memicu dan memacu timbulnya khayalan benda dan peristiwa yang memberi kenikmatan penghayat. Khayalan tentang tindakan atau emosi yang ditimbulkan lewat karya seni, kita kemudian dalam imajinasi dapat melakukan atau mengalami. Bagi yang peka estetik seolah-olah kita dibawa memasuki badan penari sebagai tokoh-tokoh utama tersebut, kita tidak kuasa menolak terhipnotis dibuatnya berperan, senang tanpa paksaan sedikit pun untuk melakukan posisi bahkan hanyut dalam aliran kenikmatan dan kepuasan jiwa. Jika dicermati lebih dalam dari jiwa kita sendirilah sebenarnya muncul gagasan-gagasan dan beragam rasa yang merupakan isi sebuah karya seni. Seniman menyediakan sebuah susunan benda pacu atau lambang-lambang sensa yang diharapkan akan ditafsirkan seperti yang dimaksudkan olehnya. Kesadaran awal yang harus menjadi fokus perhatian, bahwa komunikasi seni atau komunikasi rasa sifatnya sangat subjektif. Artinya bahwa rasa yang disampaikan seorang seniman tidak selalu dapat diterima sama oleh penghayat. Betapapun

92

hebatnya seniman sebagai komunikator dan penghayat sebagai komunikan, karena kemantapan rasa tidak dapat diukur secara exact, namun bukan berarti tidak dapat dianalisis secara disiplin ilmiah. Persamaan yang terjadi dalam komunikasi seni sifatnya tidak mutlak, sehingga tafsir seni itu sifatnya multitafsir. Perbedaan maupun persamaan yang terjadi dalam komunikasi seni disebabkan masing-masing partisipan beragam kemampuannya. Untuk itu, baik perbedaan atau pun persamaan komunikasi seni yang terjadi dalam menanggapi karya tari pasihan, akan dianalisis bagaimana dan mengapa hal itu dapat terjadi. B. Tinjauan Pustaka Sumber tertulis baik yang berupa buku-buku cetakan, tesis, disertasi, dan hasil penelitian lain yang mengkaji seni pertunjukan tari khususnya genre tari pasihan dari perspektif pragmatik rupanya belum pernah dilakukan. Kajian nonpragmatik sekali pun relatif sangat minim yang relevan dengan penelitian peneliti dapat dipaparkan berikut ini: “Karonsih”, tulisan Maryono tahun 1991, merupakan hasil penelitian yang bersifat deskriptif, memuat secara umum tentang elemen-elemen tari, dan sedikit perubahan serta penyebarannya. Sedikit banyak tulisan ini memberikan informasi yang berarti terutama terkait dengan data bahasa verbal dan nonverbal sebagai salah satu genre tari pasihan yang akan menjadi sasaran kajian pragmatik. “Perkembangan Tari Enggar-Enggar”, tulisan Dwi Maryani tahun 1999, penelitian ini memuat deskripsi tentang gerak, iringan, rias, busana, dan penyebaran serta perkembangannya tari Enggar-Enggar. Diharapkan tulisan tersebut

93

menambah informasi mengenai vareasi ragam tari duet percintaan yang pada gilirannya dapat untuk mencermati karakteristik genre tari pasihan. “Perubahan Tari Lambangsih”, tulisan Dwi Yasmono tahun 1999, yang memaparkan tentang: struktur garap tari, rias, busana, iringan, dan perubahan terutama masalah sekaran atau vokabuler gerak dan pola lantai. Rupanya hasil kajian ini akan menambah data untuk lebih mencermati karakteristik genre tari pasihan gaya Surakarta yang sedang dikembangkan, terutama terkait dengan aspek nonverbal.

94

C. Kerangka Pikir Dalam rangka mencermati permasalahan, rumusan masalah, tujuan, manfaat, ruang lingkup, kajian teori dan metodologi, serta hasil yang hendak dicapai dalam rencana penelitian ini peneliti menggunakan kerangka pikir kritik seni holistik (Sutopo, 1995: 15-16). Sebagai berikut: 1 FAKTOR GENETIK Latar Belakang Genre Tari Pasihan 2 FAKTOR OBJEKTIF Bentuk Genre Tari Pasihan 3 FAKTOR AFEKTIF Persepsi Penghayat Terhadap Genre Tari Pasihan

Latar Belakang Penyusun

fungsi

Karakteristik Bahasa Verbal

Karakteristik Bahasa Nonverbal

Latar Belakang Penanggap

Latar Belakang Penonton Umum

Latar Belakang Pakar

Pathetan irama Konsepsi Seniman lagu Sindhenan Gerongan Jineman 4

Tema Gerak Polatan

Rias Busana Pola lantai Persepsi Masyarakat

Iringan

MAKNA PRAGMATIK Genre Tari Pasihan

95

Keterangan: 1: Seniman sebagai pencipta sebuah karya seni, dianalisis tentang latar belakang kehidupan kesenimanan dan latar belakang konsep penciptaan bahasa verbal dan nonverbal serta fungsi sebagai aplikatif muatan pesan yang hendak disampaikan lewat karya seni. 2: Karya seni sebagai faktor objektifnya, dikaji tentang bahasa verbal berupa cakepan (syair) sastra tembang yang terdapat dalam pathetan, sindhenan, gerongan, dan jineman. Sedangkan bahasa nonverbal meliputi: tema, gerak tubuh (kinetic body moves), polatan, pola lantai, rias, busana, dan iringan. Diharapkan kajian bagian ini akan dapat menemukan ciri karakteristik genre tari pasihan gaya Surakarta. 3: Persepsi masyarakat terhadap kehadiran genre tari pasihan dalam upacara ritual resepsi perkawinan. Dari hasil analisis akan dapat diketahui interpretasi makna dari masyarakat yang heterogen sebagai pendukung keberlasungan budayanya. 4: Makna pragmatik merupakan hasil analisis secara komplemen keterkaitan dari tiga faktor yakni : faktor genetik (1), faktor objektif (2), dan faktor afektif (3). Relasi ketiga faktor: 1, 2, dan 3 adalah penyusun tari (seniman) menciptakan karya seni yang kemudian karya seni itu ditanggapi masyarakat. Hubungan faktor 1 dan 3 yaitu untuk mengetahui seberapa jauh tanggapan masyarakat terhadap karya seni dan bagaimana kesesuaian antara pesan yang dimaksud seniman dengan makna yang ditangkap oleh masyarakat lewat karya genre tari pasihan.

96

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Sasaran dan Lokasi Penelitian Sasaran yang utama adalah jenis tari duet pasihan atau percintaan gaya Surakarta yang memfokuskan pada tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk, seperti telah disebutkan pada latar belakang masalah. Pertimbangan yang mendasar dari pemilihan sasaran ini adalah banyaknya jenis atau ragam tari duet percintaan khususnya gaya Surakarta. Dimaksudkan kedua bentuk tari pasihan tersebut dapat dikaji secara mendalam di dalam suatu konteks dengan karakteristik tertentu. Cuplikan ini kedudukannya bukan mewakili populasinya tetapi mewakili informasinya, sehingga jika dimungkinkan generalisasi, arahnya cenderung generalisasi teori. Keragaman jenis tari pasihan rupanya tidak dimiliki oleh daerah lain, sehingga lebih memacu peneliti untuk meneliti topik tersebut sebagai sasaran pokok. Pertimbangan lain bahwa tari pasihan disinyalir mempunyai kontribusi yang cukup penting dalam sebuah ritual tradisi perkawinan adat Jawa. Pengertian gaya Surakarta di sini lebih terfokus pada tarian yang mengakar dari tarian istana Kasunanan, tidak melibatkan Pura Mangkunegaran. Hal ini peneliti sadari, bahwa Pura Mangkunegaran tidak mempunyai tari semacam pasihan atau karonsihan. Pemilihan lokasi atau tempat adalah kotamadia Surakarta dengan pertimbangan tingginya frekuensi aktivitas pertunjukan tari pasihan, tempat tinggal para penyusun tari dan pakar seni yang terkait. B. Bentuk dan Strategi Penelitian Secara garis besar dapat dinyatakan bahwa metode penelitian kualitatif adalah metode pengkajian atau metode penelitian suatu masalah yang tidak didesain atau

peristiwa-peristiwa dan kaitannya dengan orang-orang atau masyarakat yang diteliti dalam konteks kehidupan dalam situasi yang sebenarnya (Edi Subroto. Pada umumnya ilmu-ilmu kebudayaan atau ilmu-ilmu humaniora lebih banyak menggunakan metode kualitatif (Edi Subroto. Hal itu rupanya cukup beralasan. Pernyataan tersebut sejalan dengan pendapat Moleong (2007: 15). minat. minat. dan tujuan mereka sendiri (Smith & Heshusius dalam Sutopo. Artinya penelitian kualitatif berusaha memahami makna dari fenomena-fenomena. Dalam penelitian kualitatif. dengan memperhatikan beragam alasan mengapa dan bagaimana terjadinya tafsir makna mengenai sebuah peristiwa. 2006: 28). Setiap peristiwa harus dicermati dan dipahami dari beragam perspektif dari orangorang yang terlibat secara aktif maupun pasif dalam peristiwa tersebut. 2006: 29). 2007: 5). seorang peneliti berusaha menyajikan suatu interpretasi yang didasarkan pada nilai-nilai. dan tujuan atas interpretasi orang lain atau subjek yang diteliti yang berdasarkan juga pada nilai-nilai. Validitas keputusan atau hasil simpulan-simpulannya mengenai sesuatu makna dapat diwujudkan dari deskripsi yang tegas. bersama-sama dengan orang lain dalam konteks intersubjektif yang di dalamnya termasuk pula interpretasi peneliti. 2007: 5). Kajian ini membentuk simpulan multiperspektif yang akan menimbulkan makna intersubjektif. 2007: 6). bahwa fenomenologi merupakan pandangan berpikir yang menekankan pada fokus kepada pengalaman-pengalaman subjektif manusia dan interpretasi-interpretasi dunia.97 dirancang menggunakan prosedur-prosedur statistik (Edi Subroto. Hal ini harus disadari bagi seorang peneliti agar hasil simpulan-simpulannya sesuai dengan karakteristik teorinya (Sutopo. Kesadaran awal yang harus mendapatkan perhatian bahwa penelitian kualitatif itu menggunakan paradigma atau perspektif fenomenologis. karena tujuan pengkajian ilmu-ilmu humaniora adalah membuat .

busana. Latar belakang konsep penciptaan bahasa verbal dan nonverbal dan pesan makna yang hendak disampaikan lewat karya seni (faktor genetik). dan afektif sebagai sumber aliran nilai. Merujuk pada pola pikir pendekatan kritik holistik. objektif. gerak tubuh (kinetic body moves). polatan. dan iringan (faktor objektif). Untuk menjawab persoalan tersebut peneliti akan memahami lebih rinci dan mendalam baik kondisi maupun proses dan juga saling keterkaitannya mengenai hal-hal pokok yang ditemukan di lapangan. mencakup tiga aspek yakni genetik. dan afektif. serta berusaha menangkap makna dari suatu peristiwa. Selain itu juga bagaimana komplementernya dari ketiga aspek tersebut untuk menemukan keterkaitan hal-hal pokok yang terdapat di dalamnya untuk mengungkap . 1995: 8-15). Ketiga komponen tersebut tidak dipisahkan dalam kesatuan nilai karya. dan seimbang mengkaji tiga faktor yaitu genetik. menginterpretasikan kejadian atau peristiwa. Sedangkan bahasa nonverbal meliputi: tema.98 deskripsi suatu situasi. dan jineman. Tiga sumber nilai ini wajib dikaji secara lengkap dan seimbang supaya tidak terjadi kepincangan evaluasi (Sutopo. pola lantai. rias. secara operasional peneliti akan mendeskripsi secara rinci dan mendalam mencakup masalah bahasa verbal berupa cakepan (syair) yang terdapat dalam pathetan. lengkap. Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan dan tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini lebih mengarah pada bagaimana memahami makna bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta. objektif. sindhenan. melainkan sebagai sumber informasi dalam aktivitas evaluasi. Dengan demikian bentuk penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan kritik holistik yang secara fokus. tetapi tidak digunakan sebagai standar nilai. gerongan. kejadian atau peristiwa. Persepsi masyarakat terhadap kehadiran genre tari pasihan dalam kehidupan sosial (faktor afektif).

Dengan demikian bentuk penelitiannya bersifat dasar (basic research). karena permasalahan dan fokus penelitian telah ditentukan dalam proposal sebelum peneliti terjun ke lapangan artinya peneliti telah terpancang. karena sekali pun genre tari pasihan atau karonsihan jenisnya terdiri dari beragam tari duet percintaan seperti: Tari Karonsih. tari Driasmara. tari Lambangsih. dan tari Kusuma Aji. adapun jenis penelitian dengan strategi yang paling tepat adalah penelitian kualitatif deskriptif. 2006: 227). Rupanya sangat tepat pilihan peneliti untuk menggunakan metode kualitatif karena objek kajiannya merupakan cabang dari ilmu-ilmu humaniora yang sarat dengan makna dalam kehidupan. Hal ini sejalan dengan pendapat Edi Subroto bahwa ilmu-ilmu humaniora berusaha memahami realitas sosial dan realitas budaya dalam rangka memahami masalah-masalah sosial dan masalah-masalah manusia secara lebih baik (2007: 5). tari Bondhan Sayuk. tari Setyaningsih. tidak seperti penelitian eksploratif yang mana peneliti sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi di lapangan (grounded search) maka penelitian kasus ini lebih khusus disebut studi kasus terpancang (embedded case study research) (Sutopo. . tari Langen Asmara. tari Gesang Rahayu. namun memiliki karakteristik yang sama. tari Kusuma Ratih. Strategi yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus tunggal. Pertimbangan yang mendasar dari kasus tunggal. 2006: 40).99 makna pragmatik genre tari pasihan gaya Surakarta sebagai sebuah hasil akhir penelitian. Di samping itu. yang lebih berharga daripada sekadar pernyataan jumlah atau pun sekadar frekuensi dalam bentuk angka (lihat Sutopo. tari Endah. tari Enggarenggar. Jenis penelitian ini akan mampu menangkap berbagai informasi kualitatif dengan deskripsi teliti dan penuh nuansa. tari Jayaningrat.

Sumber informasi genetik pada penelitian ini adalah para penyusun tari pasihan. busana. h) jenis warna dan bentuk busana yang dipakai. Sedangkan bahasa nonverbal berupa: tema. . serta pesan makna yang hendak disampaikan lewat karya seni. dan j) jenis-jenis repertoar gendhing. dan afektif. Data kualitatif merupakan data lunak yang kaya akan deskripsi tentang orang-orang. d) implikatur dan daya pragmatik. Data akan diperoleh peneliti dengan cara memanfaatkan pertanyaan-pertanyaan dengan kata tanya : mengapa. sindhenan. Sumber Data Data atau informasi yang paling dibutuhkan akan dikumpulkan dan dianalisis dalam penelitian ini adalah berupa data kualitatif. c) realisasi prinsip kerja sama dan prinsip kesantunan antarperan. yang hendak dikaji dari jenis informasi data teks sastra tembang dan unsur-unsur tari yang meliputi: a) jenis-jenis tindak tutur yang digunakan. dan jinemal sebagai bahasa verbal.100 C. pola lantai. polatan. b) jenis tindak tutur yang dominan dan mengapa terjadi dominasi. Adapun data informasi yang dikumpulkan akan terkait tiga faktor pokok yakni: genetik. Dengan cara itu peneliti tidak akan berasumsi bahwa sesuatu itu sudah memang demikian keadaannya (Moleong. dan iringan. rias. Sumber informasi objektif pada penelitian ini adalah seni pertunjukan tari. fungsi. terutama terkait dengan latar belakang konsep penciptaan teks verbal dan nonverbal. g) bentuk rias. Tindak tutur mencakup cakepan (syair): pathetan. gerak tubuh (kinetic body moves). 2007: 11). objektif. tempat-tempat dan konservasi-konservasi dari orang yang diteliti (Edi Subroto. alasan apa dan bagaimana terjadinya. f) jenis-jenis vokabuler gerak. gerongan. i) jenis-jenis floor design (pola lantai). Data yang dikumpulkan terutama berwujud bahasa verbal dan nonverbal. 2007: 6). e) motif tema.

namun yang lebih substansial adalah kualitas informasi yang dibutuhkan. Informasi tersebut akan digali dari beberapa sumber data yang akan dimanfaatkan dalam penelitian ini mencakup : 1. Informan atau Narasumber Menurut Spradley informan merupakan pembicara asli (speaker) dengan bahasa atau dialeknya sendiri dan menjadi sumber informasi (1997: 35). Adapun jumlah informan tidak mempengaruhi secara mutlak. Faktor afektif ini akan difokuskan pada persepsi masyarakat penghayat. Peneliti dan narasumber memiliki posisi yang sama. yang terdiri dari: pakar. Berbeda dengan responden yang sekadar memberikan jawaban secara terbatas dan terikat oleh bentukbentuk pertanyaan yang telah disusun secara ketat seorang peneliti. 1993: 20). karena posisi informan dengan beragam peran dan keterlibatannya dengan kemungkinan akses informasi yang dimilikinya sesuai dengan kebutuhan penelitiannya. tetapi mereka dapat memilih arah dan selera dalam memberikan informasi yang dimiliki (Sutopo. dan penanggap tari pasihan dalam rangka memahami fungsi sosial di tengah-tengah masyarakat sebagai pendukung keberlangsungan budayanya. penonton umum. manusia sebagai Informan atau narasumber posisinya sangat penting dalam rangka memberikan informasi yang dimiliki. dapat dipercaya baik dari segi pengetahuannya maupun kejujuran secara umum dan secara khusus dalam memberikan data yang akurat serta bersifat tidak menggurui (Fatimah Djajasudarma. 2006: 57-58).101 Sumber informasi afektif terdiri dari pakar. narasumber tidak sekedar memberikan tanggapan menurut permintaan peneliti. memadahi . Narasumber harus dipilih orang yang handal di bidangnya. dan penanggap tari pasihan. Oleh karena itu seorang peneliti harus jeli dalam menentukan informan. penonton umum. Dalam penelitian kualitatif.

penghayat. Artifak yang merupakan benda budaya.102 tidaknya data yang diberikan. Berlangsungnya pertunjukan tari tersebut merupakan sumber primer untuk analisis menyeluruh. iringan. 3. yang harus dicermati meliputi aspek gerak. Artifak. Tempat atau Lokasi Tempat yang menjadi sasaran penelitian ini terutama terdapat pada sebuah upacara ritual perkawinan yang diselenggarakan di wilayah penelitian. Berdasarkan akses informasi yang diperlukan tersebut narasumber yang peneliti pilih dalam penelitian ini terdapat empat kelompok meliputi: penyusun tari. sehingga validitas datanya dapat dipertanggungjawabkan secara akademis. objektif . rias. yakni di kotamadia Surakarta. penari. pakar. Dari pengamatan langsung sebuah peristiwa pertunjukan tari pasihan.implikatur yang sengaja dimanfaatkan oleh seniman dalam rangka mengekspresikan isi hatinya yang sudah barang tentu telah . sangatlah berharga karena memiliki keterkaitan dengan munculnya implikatur . 2. akan memberi gambaran secara kongkrit tentang setting peristiwa penghayatan atau berlangsungnya sebuah pertuturan. Peristiwa atau Aktivitas peristiwa. dan afektif. baik faktor genetik. atau perilaku sebagai sumber data yang terkait dengan sasaran penelitian. 4. Tempat terjadinya peristiwa pertunjukan tari pasihan pada upacara ritual perkawinan. busana. pola lantai. serta masyarakat umum. dan bahasa verbalnya yang akan dilakukan secara berulang untuk mendapatkan sumber data yang akurat tentang berlangsungnya sebuah penghayatan sekaligus mengidentifikasinya untuk menarik makna pragmatik dari peristiwa pertuturan. aktivitas.

Keberadaan busana tari yang sering dipakai penari dapat dilacak dengan maksud untuk mencermati seberapa jauh keterkaitannya dengan makna yang hendak disampaikan seniman terhadap penghayat. Seperangkat gamelan (gamelan ageng) yang memiliki laras Slendro dan Pelog sebagai musik iringan tari merupakan artifak yang memegang peranan cukup penting dalam mewujudkan terselenggaranya pertunjukan tari pasihan. terdiri dari: boneka anak (baby). terutama lebih fokus yang menurut fungsinya bersifat primer. busana tari. Artifak yang berupa boneka yang terbuat dari bahan plastik yang dibalut dengan sehelai selendang sehingga bentuknya menyerupai bayi yang digedhong (ditimang). artifak yang layak menjadi sumber data adalah busana tari. . Beragam benda artifak sebagai kelengkapan.103 memperhitungkan penghayat sebagai mitra tuturnya. Artifak yang bersifat primer. Dalam hal ini gamelan mempunyai peranan cukup primer dalam rangka mengaktualisasikan genre tari pasihan. dan gamelan. Salah satu artifak yang sangat berharga sebagai sumber data yang memungkinkan dapat dilacak informasinya untuk diungkap lebih dalam adalah boneka. rupanya memiliki makna yang dalam terkait dengan sepasang mempelai temanten. Prediksi peneliti sementara bahwa artifak yang berupa boneka pada tari Bondhan Sayuk memiliki daya pragmatik. Asumsi peneliti bahwa dari bentuk atau mode busana tari akan dapat memberi gambaran tentang peran atau tokoh sedangkan dari warna dapat dicermati makna simbolisnya. yang terlibat dalam peristiwa atau aktivitas pertunjukan genre tari pasihan. Selain itu.

berupa data rekaman baik yang bersifat audio maupun yang berwujud visual. Dalam penelitian kualitatif ini peneliti akan menggunakan berbagai teknik berdasarkan sumber data dalam pengumpulan datanya. berupa sumber cerita yang terdapat pada naskah-naskah pewayangan. Teknik Pengumpulan Data Berangkat dari keragaman sumber data yang perlu digali tersebut menuntut strategi atau teknik pengumpulan data yang sesuai dengan sumber datanya untuk mendapatkan data yang mampu menjawab permasalahan yang telah diajukan. antara lain beragam kaset ataupun CD iringan tari. Adapun teknik pengumpulan data yang sesuai dengan penelitian kualitatif dan jenis sumber data yang dimanfaatkan adalah sebagai berikut: . dan jineman. maupun serat. babad. Dokumen dan Arsip Dokumen dan arsip biasanya merupakan bahan tertulis yang bergayutan dengan peristiwa atau aktivitas tertentu (Sutopo. Sumber data yang berupa dokumen dan arsip tersebut akan peneliti gunakan sebagai analisis tambahan untuk mencermati tentang makna pragmatik.104 5. Dokumen yang sifatnya tidak tertulis yang terkait dengan pertunjukan tari pasihan. merupakan rekaman beragam tari duet percintaan gaya Surakarta yang termasuk bagian genre tari pasihan. gerongan. sindhenan. Selain itu juga data yang berupa bahasa verbal seperti cakepan : pada pathetan. 2006: 61). Sedangkan data rekaman yang berupa audio visual kaset VCD. D. Data rekaman yang berupa audio. Data tertulis yang berupa dokumen ataupun arsip yang terkait dengan peristiwa pertunjukan tari pasihan yang dapat dilacak dalam perpustakaan.

dan d. Pertemuan awal dilakukan untuk mengadakan kesepakatan-kesepakatan tentang pertemuan selanjutnya (jadwal) dan materi jika dimungkinkan. kelompok pakar. kelompok penari atau penyaji. Berperan pasif peneliti hanya hadir di lapangan bertindak sebagai . Sehingga pengumpulan data yang diperlukan dalam menggali informasi dari informan dengan teknik wawancara mendalam. tidak dalam suasana formal. Observasi Dalam penelitian kualitatif ini peneliti mengadakan observasi langsung berperan secara pasif dan aktif. kelompok penghayat (lihat hal: 56-57). yaitu: a. peneliti secara garis besar merancang jenis-jenis pertanyaan pokok yang selanjutnya dapat dikembangkan di lapangan hingga ke hal-hal yang lebih rinci. c. dan dapat dilakukan berulang pada informan yang sama (Patton dalam Sutopo. tidak terstruktur ketat. Wawancara mendalam (in-depth interviewing) Manusia sebagai nara sumber atau informan merupakan sumber data yang sangat fundamental dalam penelitian kualitatif. Adapun wawancara akan dilakukan dengan empat jenis kelompok. 2007: 187). b.105 1. peneliti terlebih dulu berupaya mengenal karakteristik dari masing-masing informan yang telah ditetapkan untuk menjalin keakraban dan kedekatan emosional sehingga dapat menggali informasi sebanyak-banyaknya dalam situasi yang kooperatif dan kondusif. kelompok penyusun tari. Selain itu persiapan awal untuk menggali informasi. 2006: 228). Wawancara merupakan salah satu jenis pengumpulan data yang bersifat lentur dan terbuka. Jenis pertanyaan yang dipersiapkan tidak mengikat namun lebih digunakan sebagai petunjuk secara garis besar tentang proses dan isi wawancara untuk menjaga agar pokok-pokok yang direncanakan dapat seluruhnya tercakup (Moleong. Sebelum wawancara. 2.

berujud sumber cerita yang terkait dengan ceritera Panji. 3. Dokumen lain berupa kaset tape recorder yang memuat iringan tari jenis pasihan. Adapun sumber data yang diharapkan mampu memberikan gambaran liku-liku kehidupan Panji dan Sekartaji. Selain itu dimungkinkan juga terdapat pada babad. Mencatat Dokumen dan Arsip (content analysis) Data yang berupa dokumen ataupun arsip yang terkait dengan peristiwa pertunjukan tari pasihan yang dapat dilacak dalam perpustakaan. seperti: kaset “Karonsih“ (ACD – 114) dan kaset “Beksan Enggar-enggar” (WD – 530). Adapun observasi tidak langsung lebih mengarah pada pengamatan dokumendokumen rekaman tari pasihan. sehingga mendapat data secara akurat. baik sebagai langkah awal pencatatan secara global masalah-masalah yang dianggap penting yang selanjutnya akan selalu dikembangkan pada analisis untuk dijabarkan secara rinci mendalam. Teknik simak dan catat dalam kegiatan ini akan dimanfaatkan terkait data bahasa verbal dan nonverbal. Bentuk peran aktif dalam penelitian ini peneliti mengambil peran sebagai penonton untuk mengapresiasi pertunjukan dan datang di tempat-tempat latihan membaur turut berlatih untuk mengamati dan mengetahui ciri karakteristik tindak tutur dan lebih fokus terhadap elemen-elemen genre tari pasihan. Teknik ini secara garis besar digunakan peneliti untuk setiap aktivitas yang terkait dengan pengumpulan data. . di antaranya: cerita Panji dalam Perbandingan (1968) dan Panji Sekar (1979).106 pengamat secara formal dan informal untuk mengamati kegiatan dan peristiwa pertunjukan tari pasihan agar mendapatkan data yang mantap dari fenomena yang terjadi di lapangan. akan dicatat dan dianalisa untuk memahami keterkaitannya dengan faktor objektif karya tari pasihan yang tengah diteliti. serat atau naskah.

Teknik Cuplikan (sampling) Penelitian kualitatif cenderung menggunakan teknik cuplikan yang bersifat selektif dengan pertimbangan konsep teoretis yang digunakan. Selain itu rekaman tari pasihan tersebut juga untuk mengembangkan pertanyaan yang mengarah pada faktor genetik dan faktor afektif. E. (Goetz & Le Compte dalam Sutopo. 2007: 8. Hal ini dilakukan untuk mencari dan menemukan korelasi dari ketiga faktor yaitu genetik. dan karakteristik empirisnya. 1993: 11). 2006:229). Bentuk rekaman video yang diutamakan adalah peristiwa berlangsungnya pertunjukan khusus tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk. Perekaman Teknik pengumpulan data dengan rekaman terutama dengan alat video dan rekaman suara merupakan metode yang cukup penting karena akan membantu peneliti dalam rangka memperjelas deskripsi berbagai aktivitas dan situasi di lapangan. 2006: 37) (lihat Moleong. Dari kajian bentuk tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk ini dimaksudkan untuk menjawab rumusan masalah terkait dengan pertanyaan yang mengarah pada faktor objektif. Pemilihan sampel diarahkan lebih fokus pada sumber data yang . Rekaman ini dimaksudkan untuk lebih mencermati peristiwa pertunjukan berdasarkan natural setting artinya sasaran penelitian harus tetap berada pada kondisi aslinya secara alami (Sutopo. objektif dan afektif sebagai dasar menentukan makna genre tari pasihan dalam upacara resepsi perkawinan. Adapun kegiatan ini adalah merekam bentuk tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk untuk dianalisis bahasa verbal dan nonverbal dari masing-masing bentuk tari tersebut.107 4. Fatimah. keingintahuan pribadi peneliti. teknik cuplikannya cenderung bersifat purposive karena dipandang lebih mampu menangkap kelengkapan dan kedalaman data di dalam menghadapi realitas yang tidak tunggal. Untuk itu dalam penelitian kualitatif.

karena setiap posisi akan memiliki akses informasi yang berbeda. Oleh karena itu dalam penelitian kualitatif ini peneliti memilih informan yang diharapkan mampu memberikan informasi yang memiliki kedalaman dan keakuratan data guna menjawab permasalahan yang diajukan. Purposive sampling memberikan kesempatan secara maksimal pada kemampuan peneliti untuk menyusun teori yang dibentuk dari lapangan (grounded theory) dengan sangat memperhatikan kondisi lokal dengan kekhususan nilai-nilainya (idiografis). Trianggulasi data atau sumber mengarahkan peneliti dalam mengumpulkan data harus menggunakan beragam sumber data artinya data yang sejenis . F. secara tuntas dan valid. Sumber lain akan dipilih berdasarkan pertimbangan ketepatan dan kelengkapan datanya. 2006). Adapun sejumlah informan dan informasi yang dibutuhkan dari informan tersebut lihat hal: 56-57. dan trianggulasi teori dari empat jenis trianggulasi yang ditawarkan Patton (dalam Sutopo.108 dipandang memiliki data penting yang terkait dengan permasalahan yang sedang diteliti. Cuplikan ini kedudukannya bukan mewakili populasinya tetapi mewakili informasinya. trianggulasi metode. dan keluasan wawasan dalam suatu permasalahan yang dikaji sehingga informasi yang diperoleh betulbetul mantab kualitasnya. sehingga bilamana generelisasi harus dilakukan. dalam beragam posisinya. Validitas Data Untuk menjamin dan mengembangkan validitas data yang akan dikumpulkan dalam penelitian kualitatif ini digunakan teknik trianggulasi data atau sumber. Informan yang dibutuhkan dipilih berdasarkan kredibilitas. 2006: 92). kualitas. Untuk itu peneliti dituntut memahami peta sumber yang tersedia. maka arahnya cenderung sebagai generalisasi teori (Sutopo.

Untuk mengetahui alasan mengapa terjadi dominasi salah satu jenis tindak tutur dalam bahasa verbal tari pasihan. peneliti membutuhkan informasi dari informan yang berbeda di antaranya dari penyusun tari pakar. untuk menemukan ciri karakteristik bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan dari informan seorang penari. akan dikomparasikan dan ditarik simpulan data yang lebih kuat dan mantap validitasnya. Data yang terkumpul kemudian dikomparasikan untuk mengkaji alasan yang tepat guna menjawab secara akurat terkait dengan fungsi bahasa verbal dalam pertunjukan tari pasihan. . pakar tari. dan penanggap. bahkan lebih jelas untuk diusahakan mengarah sumber data yang sama untuk menguji kemantapan informasinya. Informasi dari ketiga informan tersebut kemudian dianalisis dengan cara membandingkan untuk melihat persamaan. Trianggulasi metode dalam penelitian kualitatif mengarah pada perbedaan teknik atau metode pengumpulan data pada data yang sejenis. untuk memahami makna tari pasihan. Di sini yang diutamakan adalah penggunaan metode pengumpulan data yang berbeda.109 akan lebih mantab kebenarannya apabila digali dari beberapa sumber data yang berbeda. peneliti menggunakan metode pengumpulan data dengan mencatat dokumentasi atau arsip yang berupa data bahasa verbal dan nonverbal kemudian melakukan wawancara secara mendalam. Salah satu bentuk aplikasi dalam penelitian ini. dan observasi di lokasi ketika penari tersebut sedang menyajikan tari pasihan. Data sementara yang diperoleh dari ketiga metode yang berbeda pada sumber data atau informan yang sama. dan masyarakat umum. perbedaan kemudian mencari argumen dari masing-masing untuk mendapatkan simpulan yang memadai. Selain itu. peneliti menggunakan tiga informan yang berbeda yaitu: penyusun tari.

mempunyai kedalaman makna dan bersifat multidimensional (Sutopo. untuk mengetahui makna yang tersirat dalam tari pasihan harus menganalisis terhadap bahasa verbal dan nonverbal dengan menggunakan empat teori yaitu: (1) teori pragmatik. (2) teori budaya. artinya semua simpulan dibentuk dari semua informasi yang diperoleh dari lapangan. 2006:98-99). (3) teori seni pertunjukan. Analisisnya tidak untuk membuktikan kebenaran hipotesis yang telah diajukan dalam proposal penelitian. Karena setiap teori memiliki perspektif yang khusus. . G. artinya berbeda suatu teori beragam pula cara pandangnya. tetapi dengan beberapa teori yang digunakan sebagai alat kajian sehingga muncul multiperspektif. tetapi seluruh hasil simpulan yang dibuat dan teori yang mungkin dikembangkan. tidak hanya sepihak dan bersifat monoperspektif. Teknik Analisis Penelitian kualitatif bentuk analisisnya bersifat induktif. Sifat analisis induktif sangat mementingkan apa yang sebenarnya terjadi dan ditemukan di lapangan yang pada dasarnya bersifat khusus berdasarkan karakteristik konteksnya dalam kondisi alamiahnya. Keempat teori tersebut akan berfungsi sebagai alat kajian dan bekerja secara komplementer untuk menemukan makna tunggal yang menempatkan posisi setiap temuan berada pada satu kesatuan konteks (lihat hal: 14). untuk itu diperlukan beberapa perspektif teori guna memperoleh hasil simpulan yang mantap dapat dipertanggungjawabkan. dibentuk dari temuan dan kumpulan data di lapangan digunakan untuk dasar pemahaman dan penyusunan suatu simpulan (Sutopo. Bentuk aplikasinya.2006: 105).110 Trianggulasi teori dibutuhkan untuk mendapatkan pandangan yang lengkap dan mendalam. dan (4) teori komunikasi.

perbedaan. Sejak diperoleh data dalam unit yang paling kecil sudah mulai dikomparasikan hingga pada unit-unit atau kelompok data yang besar untuk mengelompokkan beragam variabel sesuai dengan rumusan masalah. informan pakar. perbedaan. artinya setiap unit data yang terkumpul selalu dikomparasikan dengan unit data lainnya untuk menemukan beragam hal yang dibutuhkan sesuai dengan tujuan penelitian (keluasan. bentuk keterkaitan antarunsurnya dan sebagainya). atau mengkomparasikan antarfaktor-faktor utama yang menjadi pokok kajian berdasarkan kerangka pikir (Sutopo. dan informan budayawan kemudian . misalnya tanggapan ciri-ciri karakteristik bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan dari informan penari. kesepadanan. Proses interaktif juga mengkomparasikan data yang didapat dari wawancara. sudah merupakan hasil dari analisis yang berkelanjutan pada proses pengumpulan data. arsip maupun dokumen dan lainnya untuk mendapatkan pemantapan simpulan yang kemudian akan dikembangkan dan validitas datanya dengan mencermati tingkat kesamaan. dengan melakukan beragam teknik refleksi untuk pemantapan simpulan awal dan perluasan serta pendalaman data bagi pengumpulan data berikutnya. dan kemungkinan lain. sajian data. Pada penelitian kualitatif kasus tunggal tentang genre tari pasihan gaya Surakarta ini. 2006). sehingga data yang hendak disajikan sebagai laporan. Analisis dilakukan dalam bentuk interaktif.111 Proses analisis dilakukan bersamaan sejak awal dengan proses pengumpulan data. setelah peneliti mendapatkan data pada unit-unit hingga kelompok yang besar. observasi. penarikan simpulan dan verikasinya. Aktivitas refleksi dari setiap data yang telah terkumpul pada dasarnya merupakan kegiatan analisis yang semakin berkembang. Adapun proses interaksi selanjutnya antarkomponen analisisnya meliputi reduksi data.

mengembangkan hasil wawancara yang berupa kata-kata kunci menjadi catatan lengkap. Reduksi data. untuk menarik makna pragmatik sebagai hasil analisis akhir penelitian. dan lengkap dengan kata-kata kunci.112 dikomparasikan untuk mencari dan menemukan perbedaan. peneliti melakukan pengelompokan data menurut jenisnya secara terpisah berdasarkan kelompok informasinya dan merumuskan temuan jalinan dalam .2006:120). Model analisisnya. peneliti gunakan model analisis interaktif. Untuk menganalisis makna pragmatik dapat dengan mengkomparasikan antarfaktor-faktor utama dari: implikatur tindak tutur verbal dan nonverbal. kesamaan dengan beragam rujukannya untuk simpulan yang mantap dengan melihat keterkaitannya tujuan penelitian yang telah dirumuskan yaitu untuk menemukan ciri karakteristik genre tari pasihan gaya Surakarta. Pengumpulan data (1) Reduksi data (3) Penarikan Simpulan/verifikasi (2) Sajian data Keterangan: Pengumpulan data yang dilakukan adalah mencatat dengan rinci. kritis. Sebagai gambaran model analisis interaktif (Sutopo. fungsi dan persepsi masyarakat. Selain itu.

disusun berdasarkan kelompok data yang sudah dirumuskan (reduksi data) kemudian melakukan pengelompokan unit sajian berdasarkan kelompok rumusan masalah. yang dikembangkan berdasarkan temuan-temuan dari setiap kelompok data dan disajikan dalam bentuk narasi lengkap dan bukan sajian bahan mentah. Selain itu membandingkan data antarkelompok untuk menemukan kemungkinan adanya keragaman bentuk yang terkait.113 kelompok dengan rumusan singkat. . Sajian data. merupakan hasil pembahasan dari sajian data dan reduksi data untuk menyimpulkan makna tunggal yang menempatkan posisi setiap temuan berada pada satu kesatuan konteks. Penarikan simpulan/verifikasi.

tari Jayaningrat. Pemilihan kedua jenis tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk. dan iringan karawitan. tari Enggar-enggar. tari Gesang Rahayu. pola lantai. tari Kusuma Ratih. Dalam penelitian ini peneliti terfokus pada dua jenis tari pasihan. Aspek bahasa verbal dan nonverbal tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk merupakan komposisi dua komponen yang menyatu dalam bentuk seni pertunjukan. gerak tubuh (kinetic body moves). diharapkan mampu menjawab rumusan masalah dari kajian pragmatik bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta. dan jineman. polatan (ekspresi wajah). tari Bondhan Sayuk. Bagi seniman komposit dari bahasa verbal dan nonverbal yang terdapat pada tari . yang sudah barang tentu juga terdapat perbedaan namun tidak begitu signifikan. tari Lambangsih. Adapun bentuk genre tari pasihan terdiri dari tari duet percintaan. gerongan. tari Driasmara. tari Kusuma Aji. rias. busana.114 BAB IV BAHASA VERBAL DAN NONVERBAL GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA Genre tari pasihan gaya Surakarta merupakan habitat dari jenis-jenis karya tari duet percintaan atau tari pasihan. Secara garis besar bentuk tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk banyak persamaannya. yaitu tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk. tari Langen Asmara dan tari Setyaningsih. Pada dasarnya bentuk tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk sebagai bagian seni pertunjukan genre tari pasihan gaya Surakarta memiliki beberapa aspek di antaranya aspek sastra tembang sebagai bahasa verbal yang berupa cakepan (syair): pathetan. yakni seperti: tari Karonsih. Sedangkan aspek bahasa nonverbal meliputi: tema. sindhenan. tari Endah.

untuk menyajikan sebuah tari yang sesuai untuk kebutuan resepsi perkawinan Ibnu Harjanto adik Tien Suharto istri mantan presiden Indonesia yang ke dua (wawancara Maridi. yakni sastra tembang yang merupakan bahasa verbal dan elemen-elemen lain yang terkait dan menunjang dengan tari yang merupakan bahasa nonverbal. Jika dicermati lebih lanjut pertunjukan tari Karonsih dapat dibagi menjadi beberapa adegan-adegan sebagai berikut: 1) adegan pencarian. a. genetik. terdiri dari beberapa bait syair yang terdapat pada garap lagu. dan 3) adegan bahagia. Bahasa Verbal. ketika beliau mendapat permintaan dari keluarga Kalitan. Pembagian adegan di sini berdasarkan suasana-suasana yang dibangun lewat garap gendhing dan makna sastra tembang. dan afektif. yang merupakan klimaks dari seluruh adegan. Tari Karonsih Tari Karonsih merupakan tari tradisi gaya Surakarta jenis pasangan silang jenis karakter putri luruh dengan putra alus luruh yang bertemakan percintaan Dewi Sekartaji dengan Panji Inukertapati. Untuk menjelaskan tentang seluk-beluk bahasa verbal dan nonverbal pada kedua jenis tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk. A. Bentuk tari Karonsih terdiri dari dua komponen pokok. Faktor Objektif I. 1991). 2) adegan pertemuan. peneliti hendak menggali dan mengungkap data dari infoman berdasarkan faktor objektif. yakni: (1) pathetan: sakpada (satu .115 Karonsih dan tari Bondhan Sayuk merupakan kesatuan makna yang utuh dan berfungsi sebagai sarana komunikasi untuk hiburan dan suritauladan. Karya tari Karonsih merupakan hasil susunan Maridi pada awal tahun 1970. Teks sastra tembang yang merupakan bahasa verbal tari Karonsih.

O………… Terjemahan: Si cantik Dewi Sekartaji Pergi dari kerajaan Si cantik Dewi Sekartaji Pergi dari kerajaan Mencari suaminya.1 Sang Retnayu Dewi Jengkar Sekartaji Jengkar sking kedhaton Nr Asertif . Kinanthi Sandhung: rongpada (dua bait). Dari masing-masing bait syair tembang tersebut memiliki garap lagu atau watak lagu yang berbeda-beda. dan (4) garap gerongan Lambangsari: rong pada. O………. (1) Teks Pathetan Wantah Sang Retnayu Dewi Sekartaji Jengkar sking kedhaton Sang Retnayu Dewi Sekartaji Jengkar sking kedhaton Angupadi mendranira ingkang garwa Inukertapati.116 bait). (2) garap sindhenan Pangkur Ngrenas: sakpada. seperti jabaran berikut ini. Jenis – jenis Tindak Tutur (TT) yang melekat pada teks Pathetan Wantah No Narator (Nr) Teks Verbal Pathetan Wantah Jenis-jenis TT Pemarkah 1. Dahat denira muwun. (3) garap sindhenan. Inukertapati Menangis tersedu-sedan. Bahasa verbal yang berupa tembang Jawa tersebut terurai menjadi beragam jenis tindak tutur dan beragam makna yang dikandungnya..

. Situasi tutur: tidak formal. 1. Tema / topik: pencarian. Identifikasi / latar.2 Sang Retnayu Dewi Jengkar Sekartaji Jengkar sking kedhaton Nr 1. Peserta tutur: Narator (Pn) Dewi Sekartaji (Pt).117 1. f. c. Status sosial: Dewi Sekartaji sebagai seorang istri. ia merespon dengan gerak tanpa tuturan. O………. istri yang sangat setia terhadap suami.3 Angupadi mendranira Direktif Angupadi Asertif ingkang garwa Nr Inukertapati. Tempat: perjalanan di luar kerajaan. e. a. b.O…… denira Ekspresif muwun Konteks. ia digambarkan sebagai figur seorang wanita.4 Nr Dahat muwun. Tujuan: seorang istri (Dewi Sekartaji) yang mencari suami (Panji Inukertapati) yang telah meninggalkan kerajaan d..

dan usap kiri – usap kanan.118 g. Mendranira: adalah sebuah tindakan yang didasari dari rasa tidak puas terhadap sesuatu. . Implikatur teks Pathetan adalah menggambarkan liku-liku perjalanan Dewi Sekartaji dalam mencari dan untuk menemukan Panji Inukertapati (suaminya). Maksim kuantitas dilanggar. Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Pathetan Wantah dapat diungkap: a. b. Pola lantai: didominasi garis–garis lurus. j. badan putar menghadap belakang srisik mundur kemudian putar menghadap depan. Iringan gendhing: pathetan untuk mendukung suasana sedih. i. Gerak: Dewi Sekartaji keluar dari pojok belakang kanan stage menuju tengah dengan gerak: srisik. Implikatur. ridhong sampur kiri. Angupadi: merupakan sebuah perbuatan untuk mencari dan berupaya menemukan dengan cara dan usaha yang sungguh-sunggguh. Polatan / ekspresi wajah: Dewi Sekartaji tampak sedih kepala menunduk. Jengkar sking kedhaton: merupakan pernyataan perbuatan atau tindakan dari keluarga bangsawan karena terdapat suatu permasalahan yang sangat penting yang mengharuskan dan sebagai jalan terakhir untuk pergi dari kerajaan. kengser. kaki njujut. badan nglayang (memutar) ke kiri. lumaksono. h. Maksim kualitas dipatuhi. badan ngglebak ke kanan hadap ke depan. pandangan mata mengarah ke bawah dan perubahan gerak kepala lebih pelan dan terkesan hati-hati.

1 Nr Jarweng janma. Maksim hubungan dipatuhi. Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Pathetan Wantah. gones. Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Isen-isen (isian) No Narator (Nr) Teks Verbal Isen-isen Jenis-jenis TT 1. d. (2). Teks Sindhenan Pangkur Ngrenas. Maksim cara dilanggar. 2) melakukan TT secara tidak langsung (off record). janma kang Patik koncatan nyawa. Dhuh jagad dewa bathara Welasa mring dasih kang nandhang kingkin Tinilar garwa satuhu Dadya gantilaning tyas Ulun dhahat teka aginggang sarambut Kalamun datan pinanggya Aluwung tumekeng lalis Terjemahan: Wahai Sang Hyang Dewata Kasihanilah hambamu yang baru sedih Ditinggal suami Yang menjadi buah hati Hamba tidak dapat berpisah Jika tidak dapat bertemu Lebih baik mati .119 c. menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif.

No Penutur (Pn) Teks Verbal Sindhenan Pangkur Ngrenas Jenis – jenis TT Pemarkah 2.3 Dewi Sekartaji (Pn) Tinilar garwa satuhu Asertif satuhu 2.1 Dewi Sekartaji (Pn) Dhuh jagad dewa bathara Patik Dhuh jagad 2.7 Dewi Sekartaji (Pn) Aluwung tumekeng lalis Komisif Aluwung .5 Dewi Sekartaji (Pn) Ulun dhahat teka Direktif Ulun dhahat aginggang sarambut 2.2 Dewi Sekartaji (Pn) Welasa mring dasih kang nandhang kingkin Direktif mring dasih 2.4 Dewi Sekartaji (Pn) Dadya gantilaning tyas Direktif dadya 2.120 Jenis .jenis TT yang melekat pada teks Sindhenan Pangkur Ngrenas.6 Dewi Sekartaji (Pn) Kalamun pinanggya datan Direktif datan 2.

dan memohon pada Yang Kuasa agar segera dipertemukan dengan suaminya. sedih. Tujuan: Dewi Sekartaji dalam situasi yang rindu. a. tawing kiri ingsetan. Identifikasi / latar. istri yang sangat setia terhadap suami. e. f. c. Status sosial: Dewi Sekartaji sebagai seorang istri.121 Konteks. Nandhang kingkin: Gantilaning tyas: suasana sedih yang dialami seseorang. Gerak: Sekartaji mengekspresikan lewat gerak laras sampir sampur kanan. g. Pola lantai: didominasi garis-garis lurus. supaya kasih asmaranya dapat menyatu kembali. i. pasrah. dan lembehan separo. ia digambarkan sebagai figur seorang wanita. b. Situasi tutur: tidak formal. melindungi dan bertanggungjawab. Polatan / ekspresi wajah: Dewi Sekartaji tampak sedih. Tema / topik: kesetiaan. Tempat: dalam perjalanan di luar kerajaan. Iringan gendhing: Ketawang Ngrenas untuk mendukung suasana sedih. sekar suwun. d. Peserta tutur: Dewi Sekartaji. kepala menunduk. h. merupakan kekasih sebagai belahan jiwa yang diharapkan dapat sebagai tumpuan akhir yang mampu mengayomi. Implikatur. j. . pandangan mata mengarah ke bawah dan perubahan gerak kepala lebih pelan dan terkesan hati-hati.

Maksim cara dilanggar. Sebagai bukti kesetiaan seseorang. d. c. Dalam hubungan asmara dapat sebagai bukti kesetiaan. pasrah. sehingga berharap tidak dapat putus. Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Sindhenan Pangkur Ngrenas. Maksim kualitas dipatuhi. kemudian memohon pada Yang Kuasa agar segera dipertemukan dengan suaminya. b. Implikatur teks Pangkur Ngrenas adalah menggambarkan Dewi Sekartaji dalam situasi rindu. menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif. Aluwung tumekeng lalis.122 Aginggang sarambut: merupakan pernyataan hubungan cinta kasih yang sangat erat dan lekat. sedih. Maksim kuantitas dilanggar. tersurat dalam bentuk tuturan yang diungkapkan dengan TT: Kalamun datan pinanggya. Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Sindhenan Pangkur Ngrenas dapat diungkap: a. . 2) melakukan TT secara tidak langsung (off record). Aluwung tumekeng lalis: sebuah pernyataan yang dilandasi emosional atau ketulusan hati untuk melakukan tindakan sebagai jalan pintas untuk mengakhiri kehidupan. Bukti kesetiaan yang mendalam Dewi Sekartaji terhadap suaminya. Maksim hubungan dipatuhi.

1 Narasi (Nr) Nr Teks Verbal Isen-isen Suta nendra prajane sri Bomantara Sun bathara. Teks Sindhenan Kinanthi Sandhung. Adhuh yayi garwa ningsun Teka mlengos datan angkling Mara ngadhepna pun kakang Kang wus lami nandhang brangti Kadingaren yayi duka Apa kang dadi wigati Cakepan b. Cakepan a.123 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Isen-isen No 2.jenis TT Patik 2. Wus dangu pun kakang wuyung Marang yayi wanodya di Tuhu wanita utama Mustikaning para putri Muga tansah pinaringan Kanugrahan kang salami Terjemahan: Syair a. gones Arane basa nawala Patik (3).2 Nr Saji siswa. rama Lamun sira darbe tresno Jenis . Wahai istriku Mengapa berpaling tidak menghiraukan Kemari tataplah wajah kakanda Sudah lama rindu Tidak biasa adinda marah Apa persoalannya .

124 Syair b. No Penutur (Pn) Teks Verbal Sindhenan Kinanthi Sandhung Adhuh ningsun yayi garwa Jenis .6 Panji Inukertapati (Pn) Apa kang dadi wigati Direktif apa .jenis TT Patik Pemarkah 3. Sudah lama kakanda jatuh asmara Kepada adinda wanita yang cantik Engkau wanita utama Menjadi suritauladan para wanita Semoga selalu diberi Kebahagiaan selamanya Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Sindhenan Kinanthi Sandhung.2 Panji Inukertapati (Pn) Teka mlengos datan Direktif datan angkling 3.3 Panji Inukertapati (Pn) Mara kakang ngadhepna pun Direktif mara 3.4 Panji Inukertapati (Pn) Kang wus lami nandhang brangti Ekspresif nandhang 3.5 Panji Inukertapati (Pn) Kadingaren yayi duka Direktif kadingaren 3.1 Panji Inukertapati (Pn) Adhuh 3.

9 Panji Inukertapati (Pn) Tuhu wanita utama Ekspresif utama 3.7 Panji Inukertapati (Pn) Wus dangu pun kakang wuyung Ekspresif wus dangu 3. Identifikasi / latar. .12 Panji Inukertapati (Pn) Kanugrahan kang salami Direktif kanugrahan Konteks. Tema / topik: percintaan. Dewi Sekartaji (Pt). ia merespon dengan gerak tanpa tuturan. Peserta tutur: Panji Inukertapati (Pn).125 3. b.11 Panji Inukertapati (Pn) Muga tansah pinaringan Direktif muga 3. c.8 Panji Inukertapati (Pn) Marang yayi wanodya di Direktif marang 3.10 Panji Inukertapati (Pn) Mustikaning para putri Ekspresif mustikaning 3. a. Tujuan: menyatukan kembali kasih asmara antara suami dengan istri yang pernah berpisah.

maju lumaksono. ketika Panji jengkeng njawil (memegang bahu). Sekartaji merasa malu kemudian melepas kedua tangan dan srisik yang segera dikejar Panji dengan srisik nyandhet tangkep asta ngaras (berciuman). yang digambarkan jengkeng (duduk) diikuti kedua tangan memegang sampur sambil menutup raut muka pada posisi centre stage. dan kengser ke kanan. Panji mencoba merayunya kembali dengan lumaksono kebyokan sampur. Untuk meredakan kemarahan Sekartaji. Suasana kemesraan Sekartaji dan Panji semakin terasa yang diungkapkan lewat gerak tangkep asta. Suasana marah diekspresikan Sekartaji dengan berdiri enjer. Tempat: dalam perjalanan di luar kerajaan. tangan kanan nyaut dengan kebyok kemudian mundur. e. Datang Panji dari belakang. ngancap. tangan kanan nyaut. laras genjot. maju. tanjak tawing kanan. Dewi Sekartaji sebagai seorang istri. istri yang sangat setia terhadap suami. Perasaan malu juga ditampakkan oleh kedua tokoh tersebut setelah berciuman lepas . tanjak kanan. srisik. besut. Situasi tutur: tidak formal. tangan pondhongan kemudian nyaut jeblos (tukar tempat) lalu Sekartaji memberikan sampur dan segera diterima Panji. ia digambarkan sebagai figur seorang suami yang bertanggungjawab dan sangat setia terhadap istri. g. ulap-ulap tangan kiri – kanan. panggel. nyabet ukel karna kanan. Status sosial: Panji Inukertapati sebagai seorang suami. Gerak: Sekartaji tampak putus harapan. ia digambarkan sebagai figur seorang wanita. Panji segera memburu Sekartaji dengan gerak berdiri srisik. f.126 d.

Asmara yang dibangun Sekartaji dan Panji Inukertapati mulai menyatu. laku enjer saling menjauh. b) Panji berusaha membujuk dan merayu istrinya. Implikatur. Mustikaning: merupakan ungkapan yang bersifat menyanjung terhadap kelebihan seseorang. srisik melingkar. j. saling melempar senyum sebagai tanda cinta.127 kedua tangan. kanthen tangan kanan. i. maju. pandangan dan tatapan mata keduanya banyak saling berhadapan wajah. sedangkan Panji selalu memandang Sekartaji. Suasana marah. h. hal ini diekspresikan dengan bentuk-bentuk gerak selalu bergandengan tangan. Kadingaren: merupakan perbuatan atau tindakan seseorang yang tidak biasa dilakukan. adu tangan kiri nekuk. akhirnya luluh hati Dewi Sekartaji. seperti: kanthen tangan kanan. raut muka ditutup. pandangan mata mengarah ke bawah. . tangan kanan tawing. Suasana mesra. pandangan muka Sekartaji selalu menghindar dari tatapan mata Panji. nandhang brangti: merupakan gambaran psikologis seseorang dalam keadaan asmara. kengser ke kanankiri. Polatan / ekspresi wajah: ketika Sekartaji tampak putus harapan. damai dan bahagia. untuk mendapatkan perhatian mitra tuturnya. Iringan gendhing: Ketawang Kinanthi Sandhung untuk mendukung suasana kasmaran atau bercinta. ekspresi wajah Sekartaji dan Panji tampak cerah dan gembira. Pola lantai: didominasi garis-garis lengkung. tangan kiri menthang. Implikatur teks Kinanthi Sandhung tersebut adalah: a) Dewi Sekartaji marah terhadap Panji Inukertapati. mesra.

Teks Gerongan Lambangsari. Maksim kualitas dipatuhi. c. Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Sindhenan Kinanthi Sandhung. Maksim cara dilanggar. Maksim kuantitas dilanggar. Pra wanita marsudiya marang tindak kang utama Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada Ingkang bisa nujuprana weh reseping pamicara Nora kengguh ing panggodha darbe budi kang santosa Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira Datan kemba asih tresna sung tetreming kulawarga Sampun sami setya tuhu anggenya liron asmara Karonsih pancen pranyata dadya kembang jagad raya Cakepan b. 2) melakukan TT secara tidak langsung (off record). (4). menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif. b. Pra wanita marsudiya marang tindak kang utama Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada Ingkang bisa nujuprana weh reseping pamicara Nora kengguh ing panggodha darbe budi kang santosa Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira Datan kemba asih tresna sung tentreming kulawarga Sang pekik wah sang dyah ayu dangu samya bagyaharja Tan kendhat tansah meminta kanugrahan ing Hyang Sukma . Cakepan a. d. dapat diungkap: a. Maksim hubungan dipatuhi.128 Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Sindhenan Kinanthi Sandhung.

menjadi pasangan yang bertanggungjawab Yang bisa menarik hati membuat harmonis dalam pembicaraan Tidak tergoda. memiliki sikap yang teguh Gantian pria berilah keseimbangan sebagai pengayom dalam perkawinan Tidak acuh.1 Panji Inukertapati (Pn) Pra wanita marsudiya Direktif marsudiya marang tindak kang utama 4. Para wanita supaya selalu berbuat kebajikan Selalu setia terhadap suami. saling mencintai menuju ketetraman keluarga Sudah saling setia dalam bercinta cinta itu adalah nilai yang universal Syair b. saling mencintai menuju ketetraman keluarga Sang kesatria (Panji) dan sang Dewi Sekartaji sudah lama hidup bahagia Tiada henti selalu meminta kebahagiaan kepada Yang Maha Kuasa Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Gerongan Lambangsari. menjadi pasangan yang bertanggungjawab Yang bisa menarik hati membuat harmonis dalam pembicaraan Tidak tergoda. Para wanita supaya selalu berbuat kebajikan Selalu setia terhadap suami.2 Panji Inukertapati (Pn) Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada Direktif marang garwa 4. No Penutur (Pn) / Petutur (Pt) Teks Verbal Gerongan Lambangsari Jenis – jenis TT Pemarkah 4.129 Terjemahan: Syair a.3 Panji Inukertapati (Pn) Ingkang bisa nujuprana weh reseping pamicara Direktif ingkang bisa . memiliki sikap yang teguh Gantian pria berilah keseimbangan sebagai pengayom dalam perkawinan Tidak acuh.

7 Narator Sampun sami setya tuhu anggenya liron asmara Asertif sampun sami 4.6 Dewi Sekartaji (Pt) Datan kemba asih tresna sung tetreming kulawarga Direktif datan kemba 4.13 Dewi Sekartaji Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira Direktif nimbangana .12 Panji Inukertapati (Pn) Nora kengguh darbe ing budi Direktif nora kengguh panggodha kang santosa 4.9 Panji Inukertapati (Pn) Pra wanita marsudiya Direktif marsudiya marang tindak kang utama 4.11 Panji Inukertapati (Pn) Ingkang bisa nujuprana weh reseping pamicara Direktif ingkang bisa 4.10 Panji Inukertapati (Pn) Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada Direktif marang garwa 4.5 Dewi Sekartaji (Pt) Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira Direktif nimbangana 4.130 4.8 Narator Karonsih pancen pranyata dadya kembang jagad raya Asertif pancen pranyata 4.4 Panji Inukertapati (Pn) Nora kengguh darbe ing budi Direktif nora kengguh panggodha kang santosa 4.

Situasi tutur: tidak formal. Suasana kemesraan. . c. Dewi Sekartaji (Pt). Status sosial: Panji Inukertapati sebagai seorang suami. dan alisan. Gerak: Sekartaji dan Panji gerak yang dipilih untuk mengungkapkan suasana bahagia yang tercermin dalam rasa gembira. Tujuan: membina keluarga yang bahagia antara suami dan istri.16 Narator Tan kendhat tansah Direktif meminta meminta kanugrahan ing Hyang Sukma Konteks. istri yang sangat setia terhadap suami. ngore rikma.15 Narator Sang pekik wah sang dyah ayu dangu samya Asertif samya bagyaharja Datan kemba asih tresna sung tetreming kulawarga Direktif datan kemba bagyaharja 4. seperti motif gerak: Trap jamang. Identifikasi / latar. Peserta tutur: Panji Inukertapati (Pn). d.14 Dewi Sekartaji (Pt) 4. luluran.131 (Pt) 4. ia digambarkan sebagai figur seorang suami yang bertanggungjawab dan sangat setia terhadap istri. a. f. b. g. e. Dewi Sekartaji sebagai seorang istri. ia digambarkan sebagai figur seorang wanita. Tempat: di kerajaan. Tema / topik: kebahagiaan.

keduanya banyak saling berhadapan wajah. Bersetuhan badan tampak pada gerak Sekartaji dipangku Panji. lumaksono encot kanthen tangan kanan. j. pandangan mata searah. Iringan gendhing: Lambangsari untuk mendukung suasana riang dan gembira. dan diakhiri pangkon ulap-ulap tangan kiri. Polatan / ekspresi wajah: kedua tokoh Sekartaji maupun Panji Inukertapati tampak gembira. kanthen tangan kiri enjeran. rimong sampur. dan mesra. . saling berhadapan. saling mendekat. damai dan bahagia. seperti: lilingan. lilingan. kanthen tangan kanan ingsetan. Marsudiya: Setya tuhu: tuturan perintah yang bersifat santun. pernyataan kesetiaan yang mendalam. Implikatur. Motif-motif gerak tersebut dilakukan dengan irama dinamis. srisik kanthen tangan kanan. Pola lantai: didominasi garis-garis lengkung. senyum. cerah terutama ditampilkan pada adegan ini. saling bersentuhan tangan dan badan sehingga terasa sebagai puncak kemesraannya. i. Adapun sebagai penutup ladrang Sigramangsah untuk mendukung suasana semangat. Puncak kemesraan pada adegan bahagia ini terekspresikan pada saat Sekartaji duduk dipangkuan Panji Inukertapati. kebyokan sampur. mesra. saling melempar senyum sebagai tanda cinta. dan keharmonisan diungkapkan dengan motif-motif gerak.132 kebersamaan. mereka saling memandang dengan ekspresi wajah ceria. h.

dan mampu menciptakan ketentraman keluarga. d. Maksim kuantitas dilanggar. Maksim hubungan dipatuhi.133 Nujuprana: ungkapan yang menyatakan kecocokan atas sesuatu yang menjadikannya senang. c. 4) Kebagiaan dunia dan akhirat merupakan kebutuhan hidup hakiki manusia yang diupayakan secara seimbang. Maksim kualitas dipatuhi. mengayomi. 3) Nilai cinta adalah sebuah nilai universal yang dapat dijadikan landasan kehidupan berumahtangga. Liron asmara: mempunyai pengertian saling mencintai. Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Gerongan Lambangsari. Nimbangana: sebuah permintaan yang menghendaki mitra tuturnya berlaku bijak. dan bertanggungjawab. . Implikatur teks Gerongan Lambangsari terdiri dari: 1) Tipe seorang istri yang ideal adalah selalu berupaya berbuat kebajikan. 2) Tipe seorang suami yang ideal adalah setia terhadap istri. menarik. setia terhadap suami. ketenangan dan kebahagiaan orang lain. Ngayomi: merupakan sebuah tanggungjawab untuk menjamin kenyamanan. Maksim cara dilanggar. dan ketenaran. b. dapat diungkap: a. Kembang jagad raya: ungkapan pengadaian yang dimaksudkan untuk menunjukkan kehebatan.

menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif. Dari penjabaran teks verbal yang terdapat dalam tari Karonsih terdapat beragam jenis tindak tutur yang dapat peneliti klasifikasikan secara kuantitatif jenis tindak tutur direktif paling dominan. Maksim kualitas dipatuhi dimaksudkan oleh penutur untuk menggambarkan peristiwa yang betul-betul terjadi pada masing-masing adegan. seperti paparan berikut: NO 1 2 3 4 5 5 6 JENIS TINDAK TUTUR Tindak Tutur Direktif Tindak Tutur Ekspresif Tindak Tutur Asertif Tindak Tutur Patik Tindak Tutur Komisif Tindak Tutur Performatif Tindak Tutur Verdiktif JUMLAH 25 7 4 5 1 - Berdasarkan prinsip kerja sama bahasa verbal yang terdapat tari Karonsih. a.134 Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Gerongan Lambangsari. b. Maksim kuantitas dilanggar karena dalam menyampaikan tuturan seorang penutur. Diharapkan dengan mencermati peristiwa demi peristiwa yang terjadi secara kronologis sejak adegan awal sampai akhir. banyak menggunakan kata-kata arkais dimaksudkan oleh seniman penyusun untuk mengekspresikan rasa estetik. penonton akan dapat menangkap makna dari pertuturan secara utuh. 2) melakukan TT secara tidak langsung (off record). .

dan iringan. d. . rias. b. hanya menggunakan strategi: 1) Melakukan tindak tutur dengan menggunakan kesantunan positif untuk menunjukkan kedekatan. busana. Bahasa Nonverbal Bahasa nonverbal yang merupakan elemen-elemem dari tari Karonsih terdiri dari: tema. masing-masing hendaknya memberikan kontribusi yang relevan demi terjadinya komunikasi rasa. Untuk memahami masing-masing elemen berikut secara parsial akan dipaparkan secara komprehensif. polatan (ekspresi wajah). keintiman.135 c. Maksim cara dilanggar karena dalam menyampaikan tuturan seorang penutur. terlalu panjang. dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur. hal ini dimaksudkan seniman penyusun untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa. Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada tari Karonsih tidak terpenuhi. Maksim hubungan dipatuhi dimaksudkan oleh penutur untuk menjaga kerja sama antara penutur dengan mitra tutur. kinetic body moves. pola lantai. suami dan istri yang 2) Melakukan tindak tutur secara tidak langsung (off record) untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa. Hal ini dimaksudkan seniman penyusun untuk menunjukkan simbolisasi keharmonisan hubungan antara peran digambarkan dalam tari. tidak langsung. dan pernyataannya samar.

Kamboja. Tema percintaan yang diangkat dari babad Panji yang mengisahkan perjalanan cinta Dewi Sekartaji dengan Panji Inukertapati merupakan alur cerita yang disajikan dalam tari Karonsih. cerita Panji ini berkembang sejak Mataram pecah menjadi dua yaitu kerajaan Yogyakarta dengan sebutan Kasultanan Ngayogyakarta dan kerajaan Surakarta lebih dikenal sebagai Kasunanan Surakarta. Jaka Bluwo. 1968: 290).136 1. 1968: 409). Di Jawa Timur pada masa kejayaan kerajaan-kerajaan. Keong Emas. Jenggala. hal ini didukung pendapat Poerbatjaraka: bila kita kumpulkan seluruh bahan keterangan untuk menentukan waktu timbulnya cerita Panji. terutama di Pulau Jawa. Di Indonesia terdapat banyak versi tentang cerita Panji. Siam. Di daerah Pasundan cerita Panji tersebut lebih dikenal dengan sebutan Lutung Kasarung atau Panji Sunda. kesimpulan satu-satunya bahwa redaksi yang pertama kali disusun pada zaman kejayaan Majapahit. Dilingkungan wilayah kekuasaan kedua kerajaan Yogyakarta dan Surakarta. Singasari. di antaranya Medang. Munculnya cerita Panji pada zaman kejayaan Majapahit merupakan pernyataan yang cukup kuat. Wilayah Bali cerita Panji banyak dikenal dengan sebutan Malat (Poerbatjaraka. dan Thailand. Timbulnya cerita Panji dipandang sebagai suatu revolusi kesusastraan terhadap tradisi lama (Poerbatjaraka. di Palembang cerita Panji ini dikenal Panji (Angreni) Palembang. Sekarang cerita Panji di wilayah Jawa Timur yang merupakan sumber awal cerita tersebut dikenal dengan cerita Ragil Kuning dan Kilisuci. cerita Panji ini sangat terkenal dalam sebuah garapan dramatari yang disebut Raket. Adapun cerita Panji ini di Kamboja dikenal Panji . dan Kethek Ogleng. Kediri. cerita Panji dikenal dalam cerita Andheandhe Lumut. dan Majapahit (abad X sampai ke XVI). Di Jawa Tengah. Cerita Panji adalah merupakan karya sastra yang sangat terkenal di Asia Tenggara terutama di Indonesia.

Selain dalam bentuk dongeng. Siam dan Thailand. sedangkan di Thailand disebut dengan Jataka. frahmen. wayang Gedhok. Tokoh–tokoh utama yang berperan dalam cerita Panji adalah Panji Inukertapati sebagai suami dan Dewi Sekartraji sebagai isteri.137 Kamboja. sedangkan Dewi Sekartaji juga sering disebut Galuh Condrokirana atau Kleting Kuning atau Dewi Limaran. . Dalam versi Jawa nama Panji Inukertapati juga disebut Panji Asmarabangun atau Panji Kasatriyan. dan sebagai tema tari pasihan. untuk Panji Inukertapati diperankan Harjuna atau Janaka. Versi Kamboja. Di samping itu juga terdapat sebuah mitos bahwa Panji Inukertapati merupakan titisan dari dewa Asmara yaitu Bathara Kamajaya. sehingga kisah cerita maupun tokoh-tokoh yang terlibat terdapat perbedaan-perbedaan dan juga dalam bentuk naskah tulis. Dramatari. cerita Panji dapat meluas karena diangkat sebagai lakon-lakon dalam: Kethoprak. untuk itu perlu peneliti kemukakan beberapa tulisan yang pada akhirnya dapat dianalisis dalam rangka menentukan versi yang dijadikan sebagai tema. Tersebarnya cerita Panji di Asia Tenggara. sedangkan Dewi Sekartaji disebut Bossaba. sedangkan Dewi Sekartaji merupakan titisan dewi asmara yaitu Bathari Kamaratih. sedangkan Angka Wijaya atau Abimanyu merupakan peran pengganti anak dari Sekartaji atau Candrakirana). Adapun beberapa cerita secara lengkap tentang cerita Panji dapat diamati secara berturut-turut berikut ini. terutama di Indonesia penyebarannya dari mulut ke mulut dalam bentuk dongeng. Dewi Sekartaji diperankan oleh Sembadra. yang dapat digunakan sebagai sumber data. Rupanya cerita Panji cukup terkenal sehingga banyak versi. wayang Kulit maupun wayang orang (dalam lakon Bambang Semboto. nama Panji Inukertapati disebutnya Eynao atau Inao.

yaitu Jenggala. terjemahan Yanto Darmono tahun 1979. Di Tanah Jawa. perkasa dan bala tentaranya besar. Harapan raja Bramakumara.138 1. pengaruh kekuasaannya luas oleh karena itu mereka disegani raja-raja lainnya. Isi surat pada intinya bahwa Raja Bramakumara menantang perang dengan Panji Kertapati sebagai balas dendam atas kematian saudaranya raja dari Nusa Kencana. datang seorang patih Guna Saronta membawa sepucuk surat sebagai utusan raja Bramakumara dari Makassar. Daha (Kediri). Pada saat rapat besar kerajaan Kediri. selain itu beliau sangat bijaksana dan romantis dalam berkeluarga. dan Singasari yang sangat masyur. Dari keempat raja itu terdapat dua raja yang berbesanan. mereka hidup rukun. dalam tulisannya yang berjudul: Panji Sekar. Armada perangnya sangat kuat. jika Panji dapat dikalahkan berarti Tanah Jawa dapat dikuasainya. dipaparkan sebagai berikut. saling menjaga hubungan sehingga menjadi sangat agung dan terkenal. pada waktu itu terdapat empat kerajaan. Keempat raja yang menduduki tahta tersebut masih bersaudara. yaitu raja Lembu Amiluhur dari Jenggala yang memiliki anak laki bernama Panji Kertapati dengan raja Lembu Amijaya dari Kediri yang mempunyai anak puteri bernama Candra Kirana atau Retna Galuh atau lebih sering disebut pula Sekartaji. Ngurawan. tidak lama kemudian Panji Kertapati mendirikan sebuah kota Pandhak yang letaknya diwilayah kerajaan Kediri. Sebagai pangeran muda Panji Kertapati sungguh sangat perkasa dalam peperangan. Dalam pertemuan itu pula Panji Kertapati sebagai kesatria tumpuan dari seluruh bala . tidak pernah saling bertentangan.a Menurut Sunan Pakubuwono IV. Setelah Panji Kertapati dan Candra Kirana menikah.

Manfaat lainnya dari buah ketan adalah menghilangkan segala penyakit dan dapat membuat tenteram. untuk itu ia bergegas untuk mencari ke hutan yang diikuti oleh Bancak dan Dhoyok. sampai di tengah hutan Panji dan pengikutnya mendapatkan sebuah tamansari di dalamnya terdapat buah ketan yang digambarkan bagaikan surga. Di tengah hutan Tikbrasara Panji Kertapati perang dengan prajurit sandi dari Makassar yang akhirnya dimenangkan oleh Panji. bagi Panji itu merupakan tanggungjawab sebagai suami yang setia terhadap istri. sehingga mereka sangat kerasan bahkan lupa untuk kembali pulang. gagah berani dalam medan perang dan menjadi raja yang Agung di Tanah Jawa. Ungkapan Candra Kirana merupakan permintaan segera (nyidam). Perjalanan untuk mencari buah ketan dilanjutkan. Taman sari tersebut merupakan buatan dewa Batara Darma.139 tentara kerajaan menyanggupi tantangan dan menunggu kedatangan raja Bramakumara sebagai penantang. Panji Kertapati mendapat dukungan dari Sekartaji istrinya. yang tidak diketahui manusia terletak di tengah hutan yang sangat keramat. Patih Guna Saronta dengan akal yang licik membujuk raja Bramakumara untuk masuk ke tamansari bersamanya guna mencuri Galuh Candrakirana dengan harapan . kelak menjadi kesatria yang sakti. Atas kehendak dewa. Panji diperintahkan untuk segera pulang karena di dalam tamansari karaton Kediri akan muncul pencuri yang sangat sakti. namun sang istri juga mengungkapkan impiannya bahwa ia disuruh dewa untuk makan buah ketan yang terdapat di taman sari di tengah hutan Tikbrasara. Jika dapat makan buah ketan tersebut dewa akan meluluskan semua permintaaannya terutama bayi yang di dalam kandungan Sekartaji akan keluar anak lakilaki yang rupawan.

namun dapat dikalahkan oleh bala tentara Panji.b Cerita Panji dalam perbandingan (Poerbatjaraka. iapun bergegas menuju Kediri. Brahmana dari negeri seberang yang merasa memiliki tanggungjawab sebagai orang tua yang hendak meluluskan permintaan anaknya yaitu Kalana untuk kawin dengan sang Dewi Sekartaji.1968: 100-104) cerita Panji dalam Serat Kanda dikisahkan sebagai berikut. Rupanya dewa meluluskan permohonan sang dewi. Ketika Panji putra raja Jenggala hendak dikawinkan dengan putri raja Daha (Kediri) yaitu Sekartaji terjadi penculikan di tamansari Kediri. Keberangkatan Brahmana secara sendirian untuk menculik sang puteri disadari bahwa ia mengetahui pula bahwa Panji sebagai calon suami Sekartaji adalah seorang pahlawan yang tidak dapat ditaklukkan karena penjelmaan dewa yang lebih sakti dari pada anaknya. Rasa takut yang semakin mencekam menghinggapi Galuh Candrakirana. Bala tentara dari Makassar yang dipimpin raja-raja bawahan segera menyerang Kediri. . Sekartaji dicuri seorang Brahmana untuk dikawinkan dengan anaknya bernama Klana. Galuh Candrakirana tidak bisa tidur datanglah Guna Saronta dan Bramakumara yang berusaha merayu agar Galuh bersedia menjadi prameswari. Kehadiran dan permintaan Bramakumara tetap ditolak. Pada malam yang sangat gelap Guna Saronta dan Bramakumara masuk tamansari dengan ajian yang membuat semua orang di dalamnya tertidur.140 mengurangi kekuatan Panji secara perlahan-lahan. bahkan jika raja Makassar hendak memaksa. 1. Galuh Candrakirana lebih baik memilih bunuh diri. kemudian dalam benaknya berharap segera Panji suaminya segera dapat menolongnya. Panji yang dengan ilmu siluman sejak awal tengah dekat dengan Galuh Istrinya segera bertindak dan menghajar Bramakumara dan Guna Saronta yang akhirnya Panji menang. ketika Bramakumara hendak memaksa Galuh.

bukan untuk anaknya raja Kelana di Pulo Kencana. Di sebuah desa terdapat seorang janda mempunyai tujuh anak yang . Brahmana masuk tamansari Kediri dan menculiknya Sekartaji yang segera dibawa pulang ke Talkanda yakni tempat kediamannya sendiri karena ia terpesona kecantikan sang puteri. Peperangan berakhir kekalahan dipihak kerajaan Pulo Kencana dan raja Kelana mati terbunuh oleh Panji. atas kehendak ke dua orang tua mereka. raja Kalana beserta prajuritnya menyerang Jenggala. Panji dan Sekartaji dikawinkan dengan pesta secara besarbesaran. 1. Sesudah mendapatkan kemenangan raja Jenggala mengundurkan diri untuk menjadi seorang begawan dan mengangkat Panji sebagai pengganti raja di Jenggala dengan nama Dewakusuma yang didampingi Sekartaji sebagai prameswari serta para isteri selirnya. Di tengah-tengah masyarakat Jawa. Setelah beberapa hari berlangsungnya pesta perkawinan.141 Pada malam tiba. Brahmana rupanya sangat bernafsu melihat Sekartaji. sedangkan Panji bersama Sekartaji kembali ke kerajaan. ia memaksa dan hendak memperkosanya namun sang puteri tetap menolak dan akhirnya melarikan diri ke hutan. kemudian terjadi peperangan sangat dahsyat yang masing-masing saling mengeluarkan kekuatan-kekuatan gaibnya. Pengejaran Brahmana terhenti karena dihadang Panji. Adapun ringkasan ceritanya sebagai berikut.c Cerita Panji dalam dongeng. Kepala Brahmana dapat dipenggal oleh Panji yang selanjutnya dikirimkan kepada raja Kelana di Pulo Kencana yang disertai sepucuk surat tantangan perang. Andheandhe Lumut merupakan salah satu dongeng yang sangat dikenal yang tidak lain adalah menceriterakan tentang perjalanan hidup sepasang suami-istri yakni Panji Inukertapati dengan Sekartaji atau sering desebut Galuh Candrakirana. Sekembalinya sepasang kekasih putra-putri kerajaan tersebut.

Permintaan Yuyukangkang disanggupi. Anak yang paling bungsu rupanya sangat buruk bernama Kleting Kuning. Kebencian ibunya terhadap Kleting Kuning tiba pada puncaknya.142 masing-masing anak dengan nama panggilan depan Kleting dan nama berikutnya mengambil sebutan jenis warna. namun tak seorangpun dapat dijumpai kemudian muncul Yuyukakang yaitu makhuk berbadan manusia berkepala kepiting raksasa yang merupakan penjilmaan dari Prabu Kelana dari negeri Sabrang yang telah lama jatuh cinta dan hendak memperistri Galuh Candrakirana. selanjutnya satu-persatu Kleting diseberangkan. dan sebagainya. Yuyukangkang bersedia menyeberangkan dan meminta upah bukan uang atau benda lainnya. Kleting Ijo. Enam Kleting tidak satupun yang diterima menjadi kekasih Andheandhe Lumut. jika saudaranya banyak dimanja namun Kleting Kuning lebih banyak disuruh bekerja keras dan sangat dibenci. ketika ke enam saudaranya berangkat ke desa Dadapan. Di tengah perjalanan menuju desa Dadapan para Kleting hendak menyeberang sungai. mereka ditolak semua dengan alasan telah menjadi sisa dari Yuyukangkang. seperti Kleting Abang. yang tidak lain adalah Candrakirana yang menyamar untuk mencari Panji suaminya. Ketika keenam saudaranya hendak mengadu cinta terhadap seorang pemuda tampan Andhe-andhe Lumut putra seorang janda Dadapan. mereka diberi pakaian yang bagus dan wangi-wangian agar salah satu darinya dapat memikat hati pemuda dimaksud dan menjadi isterinya. tetapi yang diminta adalah ciuman. Harapan . Perlakuan ibunya terhadap Kleting Kuning sangat dibedakan dengan keenam Kleting saudaranya. ia disuruh untuk membersihkan periuk yang sangat kotor agar menjadi seperti baru lagi ke sungai yang jauh dari rumahnya.

Kleting Kuning marah. Permintaan Kleting Kuning ditolak Yuyukangkang bahkan diusirnya untuk segera kembali pulang. Atas kuasa dewa. Di tepi penyeberangan Kleting Kuning hanya bertemu Yuyukangkang dan minta tolong untuk diseberangkan seperti kakaknya yang lebih dulu berangkat. maka sebelum berangkat ia hanya boleh memakai pakaian seadanya dan mukanya dibedaki seperti badut serta diberi bau-bauan yang busuk supaya tidak diterima Andhe-andhe Lumut. senjata Sada Lanang dipukulkan ke sungai yang seketika itu airnya menjadi kering dan Yuyukangkang jatuh tidak berdaya. kemudian permintaan Yuyukangkang disanggupi dan ia diseberangkan. Sekembalinya dari Dadapan enam Kleting yang jengkel hatinya karena ditolak cintanya. Rupanya keteguhan dan kesabaran Kleting Kuning membawa hikmah. Yuyukangkang menjelma menjadi Prabu Kelana. Yuyukangkang mohon Kleting Kuning supaya mengembalikan airnya segera dan berjanji akan menyeberangkan. Keberangkatan Kleting Kuning menyusul Kleting lainnya rupanya tidak dikehendaki ibunya. ia bersemadi memohon pada dewa agar diberi kemudahan untuk membersihkan periuk yang dibawanya. ia merasa gagal tidak dapat bertemu Galuh Candrakirana kemudian memutuskan kembali pulang ke negeri sabrang.143 ibunya supaya Kleting Kuning tidak mengikuti kakak-kakaknya melamar Andhe-andhe Lumut. Kleting Kuning dapat membersihkan periuk menjadi mengkilap bahkan dapat bersinar dan diberi senjata Sada Lanang (seutas lidi) yang sakti. bertemu Kleting Kuning sambil mengungkapkan kekesalannya dengan mengejek dan menghinanya dengan sindiran bahwa yang cantik-cantik saja tidak . Setelah pulang Kleting Kuning tinggal menjumpai ibunya yang memberitau bahwa kakaknya semua berangkat melamar Andhe-andhe Lumut ke desa Dadapan.

144 diterima apalagi yang jelek seperti badut (badut ini rias muka Kleting Kuning akibat perlakuan ibunya yang menghendaki supaya wajahnya menjadi jelek dan tidak diterima Andhe-andhe Lumut). Saat bertemu janda Dadapan. dan bahagia. Kleting Kuning dengan hati sabar terus melangkah menuju Dadapan. namun permasalahan-permasalahan yang dihadapi dapat diselesaikan dengan baik yang akhirnya mereka dapat berhasil menikmati hidup bahagia dalam sebuah keluarga. Berdasarkan tiga versi cerita Panji dapat dirangkum secara padat dan singkat bahwa liku-liku perjalanan cinta Dewi Sekartaji dengan Panji Inukertapati merupakan gambaran percintaan yang sangat menarik dan bermakna dalam hubungannya dengan membangun kehidupan berkeluarga. . Andhe-andhe Lumut segera membawa Kleting Kuning masuk kamar dan menjelma menjadi Panji Inukertapati dan Sekartaji. Kleting Kuning mengungkapkan maksudnya yakni untuk mengadu cinta kepada Andhe-andhe Lumut. Rupanya kisah tersebut menjadi sebuah inspirasi yang berarti bagi pasangan manusia yang menginginkan percintaan yang ideal. Tema percintaan Panji Inukertapati dengan Dewi Sekartaji merupakan tema inti yang diangkat dari ketiga versi cerita Panji tersebut. Mendengar pembicaraaan itu Andhe-andhe Lumut segera menemui Kleting Kuning dan menyatakan menerimanya. Ibunya terkejut melihat anaknya yang tampan sudi menerima kehadiran Kleting Kuning sebagai isterinya. namun ditolak si janda. romantis. Suka duka yang dialami masing-masing tokoh cukup berat. Adapun bentuk garapnya hanya menyajikan dua peran utama yakni tokoh Panji Inukertapati dengan Dewi Sekartaji. Mereka sangat bahagia dan segera kembali ke istana dan disambut meriah oleh bangsawan dan seluruh rakyatnya.

berdoa. malu. sehingga suasana rindu yang teraktualisasi dalam beberapa rasa: marah (jengkel). yang telah meninggalkan kerajaan. dan adegan bahagia.merayu. Merujuk pada . dan harapan yang menjadi komitmen bersama dengan keinginan untuk berbuat kebajikan. kebersamaan. karena tanpa kehadirannya tidak akan tersaji sebuah karya tari. mesra.145 Adapun tema percintaan dari cerita Panji tersebut secara garis besar dibagi menjadi tiga adegan yaitu: adegan pencarian. mengisahkan tentang suasana kebahagiaan yang tengah dinikmati oleh Dewi Sekartaji dengan Panji Inukertapati sebagai sebuah keluarga. c) Adegan Bahagia. menjaga keutuhan dan ketentraman keluarga. tegang. setia. Adapun untuk menyajikan adegan pencarian tersebut diungkapkan lewat suasana sedih yang implementasinya menjadi beberapa rasa: sedih. Adegan pencarian mengisahkan liku-liku perjalanan Dewi Sekartaji sebagai seorang putri raja yang pergi meninggalkan kerajaan untuk berupaya mencari Panji Inukertapati suaminya. dan kacau. serta selalu mohon barokah kepada Yang Kuasa. mesra merupakan esensi yang hendak diekspresikan dalam adegan dimaksud. adegan pertemuan. b) Adegan pertemuan. a). pasrah. 2. Keinginan-keinginan dari masing-masing tokoh tersebut dapat dicermati pada bahasa verbal yang tersurat dan tersirat pada cakepan gerongan Lambangsari yang merupakan cita-cita yang ideal untuk mewujudkan sebuah keluarga yang bahagia. Kinetic body moves atau Gerak tubuh merupakan medium utama dalam pertunjukan tari. mengisahkan pertemuan antara tokoh Dewi Sekartaji dengan tokoh Panji Inukertapati sebagai sepasang suami istri yang telah lama tidak bertemu. Dalam tari Karonsih yang merupakan seni tradisi (seni yang bersumber dari istana) terdapat beragam jenis vokabuler gerak dengan karakternya masing-masing. Suasana kebahagiaan ini diungkapkan dalam bentuk komplementer dari rasa gembira.

Peristiwa yang terjadi untuk adegan pencarian digambarkan Dewi Sekartaji keluar dari pojok belakang kanan stage menuju tengah dengan gerak: srisik. . dan pasrah yang menyelimuti Sekartaji diekspresikan lewat gerak Laras Sampir sampur kanan. yaitu presentatif dan representatif.146 beragam rasa yang dikehendaki meningkat pada suasana-suasana yang terdapat dalam adegan pada tari Karonsih tersebut. sedih. Bentuk gerak pada adegan I pencarian secara garis besar dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis gerak. suasana berdoa. tawing kiri ingsetan. serta pertimbangan peristiwa dan tema yang diangkat kemudian dipilih pola-pola sekaran atau vokabuler gerak yang sesuai. Di tengah-tengah pencarian Panji. pola-pola sekarannya bersifat presentatif dan representatif. yang berubah menjadi tenang setelah Sekartaji dapat bertemu Panji. kengser. lumaksono. badan berputar turun menjadi jengkeng dengan iringan Gangsaran nada 2 slendro yang berubah menjadi gangsaran nada 1 pelog. usap kiri – usap kanan dengan iringan pathetan. badan ngglebak ke kanan hadap ke depan. srisik yang dilakukan secara berulang ke pojok kanan depan. kembali ke pojok kiri belakang. kaki njujut. Adapun pembagiannya dapat dicermati pada paparan berikut ini. kemudian srisik ke pojok belakang kanan dan dilanjutkan srisik menuju ke center stage. Adegan pencarian merupakan adegan pertama yang mengawali dari seluruh rangkaian seluruh adegan secara utuh. kekacauan.dan Lembehan separo dengan iringan ketawang Ngrenas. diungkapkan lewat gerak: kengseran. Adapun bentuk-bentuk vokabuler yang terdapat pada masing-masing adegan secara garis besar. Sekar suwun. badan nglayang (memutar) ke kiri. badan putar menghadap belakang srisik mundur kemudian putar menghadap depan. ridhong sampur kiri. Sedangkan suasana ketegangan.

4 Srisik (tangan nekuk) dengan mundur. Distilisasi gerak orang lari. kecuali jari jempol ditekuk. tangan kanan trap wadana miwir sampur Distilisasi gerak orang lari dengan cara mundur. Posisi kedua tangan ditekuk di depan pinggang dengan membawa sampur (selendang) Distilisasi gerak orang lari.147 Adegan Nama Tokoh Jenis Gerak Keterangan Representatif No I. sedangkan tangan kanan ditekuk di depan mulut dan keduanya membawa sampur. Posisi kedua tangan ditekuk di depan pinggang dengan jari-jari 3 Srisik (tangan nekuk). tangan trap cetik yang kiri nyempurit dan kanannya nyekithing Distilisasi gerak orang lari. Dewi Sekartaji 1 Srisik (tangan nekuk). Pindah tempat dengan cara lari kecil yang posisi kedua tangan ditekuk pingggang di depan setinggi 2 Srisik (tangan nekuk). Kedua tangan trap cetik miwir sampur Distilisasi gerak orang lari. Pencarian. Tangan kiri ditekuk di depan pinggang. 5 Srisik kipat sampur. tangan kiri trap cetik. Kedua tangan trap cetik nyempurit membuka. Posisi kedua tangan menthang sampur kedua tangan lurus membuka ke samping dengan membawa .

Distilisasi gerak orang lari. Posisi tangan kanan lurus ke samping sejajar pinggang. menthang sampur Distilisasi gerak orang sedang jalan. 6 Srisik kipat sampur. 8 Lumaksono. Posisi tangan kiri lurus ke samping sejajar pinggang. Posisi Tangan kiri menthang dan tangan kanan trap cetik miwir sampur tangan kiri lurus ke samping sejajar pinggang. membawa sampur.148 sampur. tangan kiri menthang dan tangan kanan trap karna miwir sampur 7 Srisik kipat sampur. 10 tawing kiri Distilisasi gerak orang melihat ke samping kiri. tangan kiri ditekuk di depan pinggang bagian kiri dan keduanya membawa sampur. tangan kanan ditekuk bagian di kanan depan dan pinggang keduanya Distilisasi gerak orang lari. . 9 Enjer Distilisasi gerak orang jalan ke samping. tangan kanan ditekuk di depan telinga kiri dan keduanya membawa sampur.

Pindah tempat cara kedua merupakan gerak dengan penghubung menggeser kakinya. miring lalu maju pada digerakkan melengkung. 2 Nglayang kesan berat Kaki badan merendah. Dewi Sekartaji 1 Kengser kesan menjauh. namun tetap menempel lantai. 3 Njujut glebakan kesan liku berliku. kanan sampur kiri yang tangan membawa sambil mengusap leher ke kanan 5 Sampir kesan sedih Sampur dililitkan .149 Adegan Nama Tokoh Jenis Gerak Ekspresi Presentatif Keterangan No I Pencarian.Hadap badan yang bergantian diikuti dan kedua kaki serta naik-turun naik-turun tangan secara bergantian 4 Ridhong ulap sampur kesan sedih Sampur melilit pada tangan ditekuk.

kengser leyekan. 7 sindhet gerak penghubung Kaki kiri di tekuk dibelakang kanan kaki lurus. putar badan bersama kedua tangan diputar kesan liku berliku- .150 sampur laras pada pundak. 6 Sekar suwun kesan sedih Tangan kiri trap dahi. tangan kiri trap cetik. tangan kanan lurus lalu di tekuk dilakukan dan bergesernya kaki (ingsetan). berulang dibarengi kedua dibarengi tangan kiri ditekuk. tangan kanan mengayun ke atas dan ke bawah. 8 Kembang pepe. tangan kanan seblak sampur.

dan kengser ke kanan. maju lumaksono. Datang Panji dari belakang. Pertemuan sepasang suami istri yang telah lama tidak berjumpa bahkan harus dilalui dengan liku-liku. Suasana kemesraan Sekartaji dan Panji semakin terasa yang diungkapkan lewat gerak tangkep asta. ngancap. Setelah merasa tidak dapat menemukan Panji. srisik. laras genjot. tangan kanan nyaut dengan kebyok kemudian mundur. maju. Dukungan untuk mengungkapkan suasana tersebut dengan iringan ketawang Kinanthi Sandhung dengan menggunakan garap gerongan dua cakepan (bait). Sekartaji merasa malu kemudian melepas kedua tangan dan srisik yang segera dikejar Panji dengan srisik nyandhet tangkep asta ngaras (berciuman). panggel. Panji mencoba merayunya kembali dengan lumaksono kebyokan sampur. besut. Adapun adegan pertemuan Sekartaji dengan Panji Inukertapati digambarkan seperti berikut. yang digambarkan jengkeng (duduk) diikuti kedua tangan memegang sampur sambil menutup raut muka pada posisi centre stage. Suasana marah diekspresikan Sekartaji dengan berdiri enjer. . Pertemuan tersebut disambut Sekartaji dengan rasa marah. tidak ditanggapi Sekartaji dengan hati gembira. ketika Panji jengkeng nyathok (njawil) bahu. ulap-ulap tangan kiri – kanan. segera Panji mencoba untuk merayunya lalu suasana mereda muncul rasa malu yang segera berubah menjadi mesra. Panji segera memburu Sekartaji dengan gerak berdiri srisik. Sekartaji tampak putus harapan. tanjak kanan.151 Adegan pertemuan merupakan adegan kedua yang menggambarkan pertemuan Dewi Sekartaji dengan Panji Inukertapati. tanjak tawing kanan. nyabet ukel karna kanan. Untuk meredakan kemarahan Sekartaji. tangan kanan nyaut. tangan pondhongan kemudian nyaut jeblos (tukar tempat) lalu Sekartaji memberikan sampur dan segera diterima Panji.

kanthen tangan kanan. maju. sebagai berikut. tangan kanan tawing. seperti: kanthen tangan kanan.152 Perasaan malu juga ditampakkan oleh kedua tokoh tersebut setelah berciuman lepas kedua tangan. tangan kiri menthang. dapat diklasifikasikan secara garis besar. kengser ke kanan-kiri. Asmara yang dibangun Sekartaji dan Panji Inukertapati mulai menyatu. srisik melingkar. . laku enjer saling menjauh. adu tangan kiri nekuk. Adapun jenis-jenis gerak presentatif maupun representatif yang terdapat pada adegan dua: pertemuan. hal ini diekspresikan dengan bentuk-bentuk gerak selalu bergandengan tangan.

tangan nyathok bahu 5 Kapyukankengser Distilisasi gerak lumaksono memberi sampur lalu . jalan gerak ke Ulap-ulap tawing kiri Distilisasi melihat ke kiri dari orang 3 tawing kiri Distilisasi dari orang melihat Ulap-ulap tawing kanan Distilisasi dari orang melihat ke kanan Distilisasi mencubit Distilisasi berjalan dari gerak dari gerak 4 Endhan Distilisasi menghindar gerak Jengkeng. kedua tangan membawa sampur. tangan kiri ditekuk depan pinggang kiri.153 Adegan Nama Tokoh Jenis Gerak Nama Tokoh Jenis Gerak No II. raut muka ditutup sampur Distilisasi menangis orang Srisik kebyok sampur Representatif Keterangan 1 Distilisasi gerak lari. tangan kanan ditekuk di depan telinga kiri 2 enjer Distilisasi orang samping. Pertemuan Keterangan Dewi Sekartaji Representatif Panji Inukertapati Jengkeng.

Tangan kiri menthang dan tangan kanan trap karna 7 Ngaras Distilisasi berciuman 8 Kanthen tangan kanan kengser Distilisasi gerak Lumaksono kebyokan sampur gerak sautan Distilisasi gerak Orang menubruk Distilisasi berjalan dari gerak Distilisasi gerak lari Srisik Distilisasi gerak lari orang bergandengan tangan kanan.154 untuk tarik menarik 6 Srisik menthang. srisik Distilisasi gerak pondhongan Distilisasi memondong dari gerak orang bergandengan tangan kiri sambil lari Distilisasi gerak srisik. lalu tarik menarik 9 Kanthen tangan kiri. srisik 10 Kanthen tangan kanan. kedua tangan ditekuk Distilisasi gerak lari orang bergandengan tangan kanan sambil lari .

155 11 Sautan jeblos Distilisasi gerak Orang menubruk Adegan Nama Tokoh Jenis Gerak Nama Tokoh Jenis Gerak II. kebyokan laras 2 Nyabet ukel karno 3 4 Sindhet Sekaran golek iwak Presentatif Keterangan Panji Inukertapati kesan tenang pasrah dan besut Presentatif Keterangan Gerak penghubung kesan hati-hati genjotan kesan tenang gerak penghubung kesan tenang nyabet ngancap kesan hati-hati kesan mencari . No Pertemuan Dewi Sekartaji 1 Jengkeng.

sampur melihat dari ke b. Distilisasi kedua tangan dari orang melihat ke depan Distilisasi melihat ke kiri dari orang Distilisasi dari orang . kebersamaan. Trap jamang. Adapun jalannya sajian gerak secara berurutan. dan keharmonisan antara Panji Inukertapati dan Sekartaji.156 Adegan III merupakan gambaran suasana bahagia yang tengah menyelimuti hati sepasang suami-istri yaitu Panji Inukertapati dan Dewi Sekartaji. lilingan. dan gembira. adalah sekaran-sekaran kebar yang mempunyai rasa riang. segar. tangan kanan Distilisasi orang depan 2 b. setelah Panji Inukertapati dan Sekartaji srisik kanthen tangan kanan menuju stage depan kemudian tangan lepas mundur ke stage centre. Vokabuler gerak yang dipilih untuk mengungkapkan suasana bahagia yang tercermin dalam rasa gembira.Trap jamang. Trap jamang. yang secara bersama-sama melakukan gerak: Nama Tokoh Jenis Gerak Nama Tokoh Jenis Gerak Keterangan No III. ulap-ulap kiri melihat dari ke Representatif Panji Inukertapati Representatif Keterangan a. luluran Distilisasi dari c. kemesraan. Bahagia 1 Dewi Sekartaji a. kedua tangan Distilisasi orang depan 3 c.

Distilisasi kedua tangan orang depan melihat dari ke h. lilingan. rimong Distilisasi sampur orang melihat dari f. laku telu Distilisasi berjalan dari orang 5 e. trap jamang. lilingan. lilingan. trap jamang. ukel Distilisasi karno sinangga dari orang bokor melihat dengan membawa bokor di atas bahu 6 f. kebyokan sampur Distilisasi orang melihat dari e. pacak Distilisasi gulu ingsetan melihat dari orang 7 g. srisik kanthen Distilisasi gerak orang lari tangan kanan bergandengan kanan tangan 8 h.lilingan. ngore rikma Distilisasi orang rambut dari menata d. srisik kanthen Distilisasi tangan kanan orang bergandengan tangan kanan gerak lari g. Distilisasi dari orang kedua tangan melihat ke depan .157 orang membersihkan kulit dengan lulur melihat 4 d.

enjeran orang samping bergandengan tangan kiri jalan gerak ke k. enjeran gerak orang jalan ke samping sambil bergandengan tangan kiri sambil 12 l. laku telu Distilisasi orang berjalan dari i. ngalisi Distilisasi gerak orang orang duduk sambil berkaca merias cara membuat alis 13 m. kanthen tangan Distilisasi kiri. laku telu Distilisasi orang dari gerak dengan pondhongan berjalan memondong 10 j. kanthen tangan Distilisasi kiri. encot lumaksono Distilisasi kanthen gerak dari n. ingsetan gerak j. encot lumaksono Distilisasi dari gerak orang jalan kanthen orang jalan bergandengan . kanthen tangan Distilisasi kanan. jengkeng ngilo Distilisasi asta gerak l. alisan Distilisasi gerak lilingan Distilisasi melihat dari orang orang sedang alisan 14 n.158 9 i. kanthen tangan Distilisasi kanan bergandengan gerak orang tangan orang bergandengan tangan kanan sambil tarik menarik kanan sambil tarik menarik 11 k.

srisik kanthen Distilisasi gerak orang lari tangan kanan bergandengan kanan tangan 16 p. srisik kanthen tangan kanan Distilisasi gerak orang lari bergandengan kanan tangan . pangkon ulap. srisik kanthen Distilisasi tangan kanan orang bergandengan tangan kanan gerak lari o. lumaksono Distilisasi dari gerak lembehan sampur kanan 17 gerak orang berjalan lembehan sampur orang berjalan kanan q.159 tangan kanan bergandengan tangan berbicara sambil tangan kanan tangan sambil berbicara 15 o. sambil melihat 18 r. pangkon ulap.Distilisasi ulap tangan kiri dari q. srisik kanthen tangan kanan Distilisasi orang bergandengan tangan kanan gerak lari r. lumaksono Distilisasi dari p.Distilisasi ulap tangan kanan orang yang dari gerak gerak orang duduk di atas lutut. sambil melihat diduduki lututnya.

Adegan No III. srisik kanthen tangan Distilisasi gerak orang lari tangan kanan. bersalaman s. dengan bersalaman kedua dengan orang temanten dan bersama temanten 21 orang tua temanten dan photo bersama photo temanten u. bersalaman kedua tua dengan temanten t. bersalaman dengan temanten 20 t. orang bergandengan tangan kanan kanan. bergandengan kanan masuk (selesai). Bahagia 1 Tokoh Dewi Sekartaji Jenis Gerak Presentatif Keterangan Tokoh Panji Inukertapati Jenis Gerak Presentatif Keterangan kebyokan sampur Kesan berputar – ngenceng kanan putar dengan putar bercanda sambil kebyokan sampur Kesan dengan putar berputar – putar sambil bercanda . srisik kanthen tangan Distilisasi gerak lari u.160 19 s. masuk (selesai).

dapat dicermati secara kuantitatif. Pertemuan Dewi Sekartaji Presentatif Panji Inukertapati 3 III. a. Bahagia Dewi Sekartaji Representatif Panji Inukertapati 4 Jumlah total Representatif 21 73 Representatif 10 11 21 10 b. Pertemuan Dewi Sekartaji Representatif Panji Inukertapati 3 III. No Adegan Nama tokoh Jenis Gerak Jumlah vokabuler 1 I. Jenis gerak Presentatif. Pencarian Dewi Sekartaji Presentatif 2 II. Bahagia Dewi Sekartaji Presentatif Panji Inukertapati 4 Jumlah total Presentatif 1 18 Presentatif 4 4 1 8 . No Adegan Nama tokoh Jenis Gerak Jumlah vokabuler 1 I. Pencarian Dewi Sekartaji Representatif 2 II.161 Dari paparan jenis-jenis gerak representatif dan presentatif yang terdapat pada tari Karonsih. Jenis gerak Representatif.

kriminalitas. stabilitas emosional. Wajah sebagai alat untuk memprediksikan sifat-sifat manusia kurang memadai. dan III Jenis gerak representatif presentatif jumlah 73 18 91 80. Beberapa orang telah banyak mencoba membuktikan bahwa penampilan wajah dapat menjadi indikator yang cukup meyakinkan mengenai berbagai sifat manusia. Kesedihan yang mendalam dapat dicirikan meneteskan air mata. merupakan sarana untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik terhadap sesuatu yang sedang dikomunikasikan. dan gertakan gigi secara bersama-sama. wajah mengerut. No 1 2 3 4 5 Adegan I. II. II. dan menunduk. Jumlah persentase gerak presentatif = 18 : 91 X 100. Orang sedih dapat ditunjukkan tanpa ekspresi senyum. dan III I.80 % Jumlah total gerak representatif dan presentatif = 73 + 18 Jumlah persentase gerak representatif = 73 : 91 X 100. mengerutkan dahi. Sekarang dapat disarikan bahwa ekspresi wajah mampu memberikan kontribusi yang sangat berperan terutama untuk mengekspresikan perasaan.20 %. seperti kecerdasan. bahkan taraf kegilaan.162 Jumlah persentase jenis-jenis gerak representatif dan presentatif tari Karonsih. Selain itu ekspresi wajah dapat difungsikan . beberapa kulit wajah berwarna kemerahan. Tari Karonsih. namun itu semua rupanya tidak valid. biasanya berusaha untuk menutup wajah. Polatan (ekspresi wajah). 3. 19. Ekspresi wajah atau gerak wajah bukannya wajah dalam pengertian objek yang statis. bibir tertutup rapat. Berbeda dengan orang marah yang pada umumnya dapat dicirikan lewat tatapan mata yang kuat. bibir bergetar.

ekspresi wajahnya lebih banyak menunduk dan memalingkan kepala setiap dicoba untuk didekati Panji. Dalam seni pertunjukan khususnya pada bidang tari ekspresi wajah merupakan sarana yang cukup berperan. ketenangan ekspresi wajah lebih ditampilkan dalam rangka memperlihatkan sikap sabar untuk mendapatkan perhatian Sekartaji. cerah terutama ditampilkan pada adegan bahagia. Ekspresi wajah Sekartaji maupun Panji Inukertapati tampak gembira. mesra. demi tercapainya sebuah ekspresi dari masing-masing peran. Semakin jelas bahwa ekspresi wajah merupakan sarana yang cukup vital dalam berkomunikasi nonverbal. keduanya banyak saling berhadapan wajah. polatan lebih banyak menunduk. Puncak kemesraan pada adegan bahagia ini terekspresikan pada saat Sekartaji duduk dipangkuan . Perubahan-perubahan ekspresi wajah dalam tari pasihan. baik sebagai ekspresi perasaan secara mandiri maupun membantu memperkuat pesan bahasa verbal. Sikap marah yang ditampilkan Sekartaji ketika bertemu awal dengan Panji. Perubahan ekspresi mulai tampak ketika wajah Sekartaji tampak tegang. hal ini mengekspresikan ketegangan Sekartaji yang dapat dicermati pada peralihan adegan pencarian ke adegan pertemuan. Berikut merupakan gambaran ekspresi wajah yang dapat dicermati pada tari pasihan lewat Polatan Sekartaji maupun Panji Inukertapati yang akan tercermin pada suasana-suasana adegan yang menggambarkan peristiwa yang tengah terjadi. banyak membantu memperkuat pesan bahasa verbal. damai dan bahagia. kepala tegak dan pandangan mata lebih tajam disertai gerak kepala lebih tegas. ketika kesedian menyelimuti Sekartaji.163 untuk membantu memperkuat pengaruh terhadap pesan verbal. Polatan Panji lebih terfokus pada Sekartaji. Pada adegan pencarian. saling melempar senyum sebagai tanda cinta.

lincah. senyum. Terutama untuk busana. 4. mereka saling memandang dengan ekspresi wajah ceria. Baladewa. Bentuk rias dan dandanan busana dalam tari Karonsih mengacu pada rias peran pada wayang orang. Hal itu sangat mendorong perkembangan tari Karonsih akan lebih cepat meluas dan memasyarakat. lincah. Mustakaweni. dan tegas sangat mempengaruhi gerak-gerik wajah untuk harmonisasi gerak seluruh tubuh untuk mencapai kualitas sebuah karakter yang tepat dan mantap. selain bentuk dandanan yang serupa dengan wayang orang. corak jarit (kain). konsep yang mendasari bahwa budaya wayang orang telah lebih dikenal masyarakat di wilayah Surakarta. . Begitu pula gerak-gerik wajah terpengaruh menjadi pelan. Bentuk-bentuk ekspresi wajah dalam tari pasihan yang karakternya tenang (luruh) seperti diekspresikan Sekartaji maupun Panji Inukertapati tampak tidak menyolok. dan tegas. baik dari suasana marah menjadi sedih atau sebaliknya. Srikandi. emosional. Kebebasan untuk bergerak lebih cepat. sehingga akses untuk diterimanya dan sebaran apresiasinya tidak mengalami kendala. yang berkarakter jalang. juga terdapat persamaan pada bahan. Berbeda dengan ekspresi wajah peran-peran tokoh antagonis atau lanyap atau gagah agal seperti Rahwana. perubahan ekspresi wajah menjadi tampak lebih halus hampir tidak kelihatan. Aspek yang mempengaruhi hal tersebut adalah karakter tenang (luruh) lebih banyak dibingkai oleh dominasi gerak-gerak yang berirama pelan. dan mesra.164 Panji Inukertapati. pernik-pernik asesoris. sehingga seluruh gerak tubuh secara psikologis menjadi pelan. corak sabuk serta jenis–jenis tatahan pada jamang irah-irahan (mahkota kepala). Beberapa tokoh tersebut memiliki perubahan ekspresi wajah yang mencolok dan tampak jelas. Warna busana lebih dominasi warna hijau.

5. Sedangkan jarit lereng tanggung merupakan upaya mendudukan status sosial dari Panji Inukertapati dan Sekartaji sebagai putra raja. Pola lantai yang dibentuk dari perpindahan penari maupun jarak antarpenari merupakan salah satu unsur pendukung keberhasilan sebuah pertunjukan. kemauan yang kuat dan tegas. mencakup dua bentuk utama. Adapun warna kuning emas memiliki kesan keagungan dan kejayaan. Secara prinsip pola lantai yang terdapat dalam tari Karonsih. dominasi garis-garis lurus sangat kuat untuk menghantarkan pencapaian suasana tegang (lihat gambar: 2). Gambar: 2. seperti aktualisasi adegan Sekartaji mencari Panji Inukertapati (lihat gambar: 1).165 coklat dan warna kuning emas. kekacauan Sekartaji ketika belum dapat bertemu Panji. Gambar: 1. Mahkota kepala yang berupa tekes panjen merupakan identitas dari bangsawan panji yang bersumber pada ceritera Babad. . Fase-fase ketegangan. Warna hijau dengan maksud warna tersebut memiliki simbolik tumbuh lebih hidup dan menjadi subur. sesuai dengan tokoh-tokoh sebagai pelakunya yang merupakan darah bangsawan Sekartaji dari kerajaan Jenggala dan Panji Inukertapati putra raja Kediri. yaitu garis lurus dan garis lengkung. Garis-garis lurus lebih banyak digunakan untuk mengungkapkan keinginan. Selain itu warna kuning emas juga menyuguhkan kesan glamor sehingga pertunjukan menjadi menarik dan mampu memikat masyarakat penonton.

berjajar. Gambar 2: pola lantai untuk sekaran trap jamang dan ulap-ulap kiri pada adegan 3. keharmonisan sepasang peran yang ditampilkan menjadi ekspresif dan mantap. dan berdekatan yang kesemuanya itu dapat dicermati pada hampir seluruh sajian sekaran kebaran. . Maksud yang mendasari dari kesan garis lengkung tersebut adalah kesan lembut. gambar: 1 gambar: 2 <<<< Gambar 1: pola lantai untuk sekaran srisik kanthen tangan pada awal kebar adegan 3. yang dalam tari ini dimaknai sebagai sarana ekspresi tentang sesuatu yang menurut bentuk dan sifatnya menunjukkan hal-hal yang manis dan lembut. kemesraan. Untuk adegan kebahagiaan rupanya lebih didominasi garis-garis lengkung yang berbentuk melingkar yang masing-masing tokoh pada posisi saling berhadap-hadapan. kebersamaan.166 Garis-garis lengkung lebih difungsikan untuk mengungkapkan kesan manis. awal kemesraan kedua figur peran setelah Sekartaji luluh hatinya. Beberapa bentuk garis lengkung tersebut seperti difungsikan pada adegan pertemuan berikut ini: ketika Panji berupaya merayu terhadap Sekartaji. lembut. manis dalam mendukung ekspresi gerak yang disajikan pada adegan bahagia terungkap kesan kegembiraan.

167 Gambar: 3 gambar: 4 Gambar 3: pola lantai sekaran lilingan kebyokan dan lilingan rimong pada adegan 3. Gambar 4: pola lantai untuk sekaran srisik kanthen tangan pada akhir kebar adegan 3. juga secara parsial pada masing-masing garap . 6. Artinya bahwa rasa dalam tari akan didukung rasa yang ditimbulkan dari alunan gendhing yang secara komplemen menyatu membentuk suasana-suasana untuk mengekspresikan sebuah nilai tertentu dalam kehidupan. Kejelian seorang penyusun tari tampak bahwa selain rasa musikal yang harus komplementer secara padu dengan rasa yang diungkapkan dalam tari. Karawitan tari yang berupa repertoar gendhing-gendhing merupakan salah satu unsur yang mampu memberikan kontribusi sangat penting demi terselenggaranya sebuah pertunjukan tari. didasarkan atas pertimbangan rasa musikal terkait dengan kecocokan suasana yang telah ditetapkan dalam tari Karonsih. Pemilihan gendhing-gendhing dari sekian repertoar gendhing yang terdapat pada khasanah karawitan. Iringan tari yang lazim juga disebut karawitan tari adalah gendhing-gendhing karawitan yang diaransir sedemikian rupa sehingga rasa musikal yang terbentuk dapat memenuhi kebutuhan ekspresi tari. Karawitan tari yang berfungsi sebagai pendukung sajian tari Karonsih secara menyeluruh telah mengalami penggarapan yang cukup selektif.

contohnya bentuk-bentuk Pathetan dalam tari Bedhaya dan Srimpi yang menampilkan rasa agung. manyura. garap Pathetan dinyanyikan secara solo oleh seorang dalang (wawancara Rusdiantara. dan gambang. mengiringi adegan pencarian yang dilakukan Sekartaji terhadap Panji Inukertapati suaminya. peristiwa. terdiri dari beberapa garap lagu.168 gendhing terdapat teks verbal yang berupa cakepan yang berfungsi untuk menjelaskan secara singkat dan padat tentang peristiwa yang tengah terjadi pada masing-masing adegan sehingga akan dapat tergambar secara menyeluruh tentang rasa. Garap sindhenan teks verbal . Teks sastra tembang yang merupakan bahasa verbal tari Karonsih.pt. Teks verbal Garap pathetan terdiri dari satu bait yang terdapat pada iringan pembukaan untuk adegan pertama yaitu Pathetan Wantah Lr. suasana. Fungsi garap Pathetan pada tari Karonsih ini sifatnya memberikan ilustrasi rasa musikal tertentu terkait dengan suasana adegannya. 1967: 1). 5 dan dua bait terdapat dalam gendhing Ketawang Kinanthi Sandhung Lr. 5. berwibawa.pt. yakni: (1) garap pathetan (2) garap sindhenan dan (3) garap gerongan. pl. gender. Rasa semangat. suling. Berbeda yang terjadi di dunia pewayangan. 5. pl. Pada awalnya garap Pathetan dalam tari dinyanyikan secara bersama oleh vokalis pria. pl. dan makna tarinya. sl. pt.pt. Garap sindhenan teks verbal dalam tari Karonsih terdiri dari satu bait terdapat dalam gendhing Ketawang Pangkur Ngrenas Lr. 2008). sedih yang diekspresikan garap Pathetan Wantah Lr. Sindhenan adalah vokal putri yang menyertai karawitan (Matopangrawit. dan gagah. tema. Garap pathetan terkait dengan teks verbal ini adalah garap lagu tembang jawa yang dinyanyikan secara solo ataupun bersama dan dikomplemen dengan ricikan instrumen gamelan: rebab.

Dalam perkembangannya jenis garap gerongan dapat dinyanyikan oleh vokalis kelompok putra atau vokalis kelompok putri atau campuran vokalis kelompok putra dengan vokalis kelompok putri. Perubahan ke laras slendro yang secara musikal memiliki nada. dan sigrak. Fungsi garap sindhenan lebih diarahkan untuk mengekspresikan kesan feminin yang memiliki sifat halus.pt. Garap gerongan merupakan garap lagu tembang jawa dinyanyikan secara bersama – sama ( koor).nada lebih . 5. Menurut Martopangrawit gerong adalah vokal bersama (koor) suara pria yang iramanya sama dengan karawitannya (1967: 3). pt manyura yang mencakup dua bait.169 adalah garap lagu tembang jawa dinyanyikan secara solo. dan manis. Iringan gendhing yang menggunakan garap gerongan pada tari ini terdapat dalam gendhing Lambangsari lr. lembut. Secara garis besar gendhing-gendhing dalam tari Karonsih menggunakan dua laras yaitu pelog dan slendro. biasanya oleh seorang pesindhen atau vokalis wanita.sl. yang pengambilan suaranya menyela diantara sabetan balungan (irama ketukan nada) dan berakhir setelah sabetan balungan. Jika terdapat lagu gerongan pada gendhing tersebut garap sindhenan mengikuti setelah lagu gerongan (nggandul) namun berakhir bersama. Gendhing-gendhing yang berlaras pelog yang relatif memiliki nada-nada tinggi (tenor) rupanya kuat dan mantap untuk garap musikal yang mengungkapkan rasa sedih. pl. gagah. Hal ini dapat dicermati pada adegan pertama yang mempresentasikan kesedian perjalanan Sekartaji dalam upaya mencari suaminya yang menggunakan garap pathetan laras pelog pathet lima dan Ketawang Pangkur Ngrenas Lr. Fungsi garap gerongan lebih difokuskan untuk mengekspresikan kesan maskulin yang mempunyai sifat kuat. yang pengambilan suara pertama dimulai tepat dengan sabetan balungan dan berakhir tepat dengan sabetan balungan.

manyura pada adegan kedua hingga iringan adegan tiga yang meliputi: gendhing Lambangsari lr. didukung beberapa iringan gendhing.pt. pt manyura dan ladrang Sigramangsah lr. gangsaran 1 pelog. rasa musikal mengekspresikan suasana sedih menyatu dengan ekspresi gerak yang menggambarkan kesedihan Dewi Sekartaji. 5. dan gangsaran 2 slendro. dan pasrah. Gendhing Ketawang Pangkur Ngrenas Lr. doa. pt. pt manyura. sl. b. rasa seleh yang .170 rendah (bass) diharapkan perubahan suasana menjadi lebih terasa mencair dan terbuka.sl. Adapun perubahan ke laras slendro itu diawali dari Ketawang Kinanthi Sandhung Lr. diantaranya: a. Adegan : I.pt. Pengertian nyawiji di sini garap gendhing Ketawang Pangkur Ngrenas implementasinya dengan garap gerak adalah menyatu. Bentuk susunan iringan tari Karonsih seluruhnya dan secara urut dari adegan satu sampai adegan tiga (adegan akhir) dapat dicermati berikut ini. Pencarian. dapat dicermati secara komprehensip dari beberapa elemen. Adegan pencarian sebagai adegan pertama dalam tari Karonsih. kedudukannya dalam adegan pencarian ini bersifat nyawiji. Keterpaduan yang dimaksudkan adalah menyatunya rasa musikal gendhing Ketawang Pangkur Ngrenas dengan ekspresi vokabuler gerak yang secara komplemen mengungkapkan suasana sedih yang dialami Sekartaji yang terjabar dalam beberapa rasa: sedih. Kedudukan iringan pathetan laras pelog pathet lima pada adegan ini bersifat nglambari artinya rasa musikal yang dihasilkan dari garap pathetan laras pelog pathet lima berfungsi untuk memberikan ilustrasi terhadap suasana sedih yang dialami Dewi Sekartaji. 5 yang merupakan iringan kedua setelah pathetan laras pelog pathet lima. pl.sl. pl. Ketawang Pangkur Ngrenas Lr. antara lain: pathetan laras pelog pathet lima. Bentuk menyatunya iringan dengan gerak.

kar zyx. Terkait dengan alur adegan kedua bentuk gangsaran tersebut merupakan fase peralihan laras dari pelog ke laras slendro.ta ji z3x. Pathetan Wantah Lr.ton zyx.c5 Jeng .na t zyc1 1 De . pt. dan gangsaran 2 Slendro. Secara urut bentuk iringan untuk adegan 1: pencarian. Gangsaran 1 pelog. dan gangsaran 2 Slendro mempunyai peranan cukup penting dalam menjembatani peralihan laras yang berdampak pada perubahan suasana menjadi semakin mantap.ton 2 2 Jeng .wi z1Xx2c1 dha . 5 ty 1 2 2 2 Xz2Xc3 Xz2c1 z1x2c3 z3x. c.ct ta . pl. pola gatra yang terdapat pada bentuk gendhing Ketawang dapat dijadikan tanda mulai bergerak ataupun berakhirnya suatu gerak pada tari. baik rasa seleh ringan maupun rasa seleh berat.171 terdapat pada gendhing merupakan iringan yang mendukung rasa seleh pada tari. merupakan iringan yang secara musikal dapat mengekspresikan suasana tegang yang kedudukannya pada adegan ini lebih bersifat nglambari.kar sking ke - .Xx2c1 Sang ret . dapat dicermati paparan berikut ini. Kiranya tidaklah berlebihan jika gangsaran 1 pelog.kar t y sking ke 1 2 yu 1 z2c3 z2c1 z1Xx2c3 Se kar .x2c1 Sang ret t na yu 1 De wi Se . Implementasinya rasa musikal yang berirama 1/1 dari gangsaran mampu memberikan ilustrasi rasa tegang yang mendukung kekacauan atau ketegangan yang diekspresikan Sekartaji lewat gerak-gerak srisik yang dilakukan secara berulang-ulang dengan gerak kepala yang sedikit lebih tegas.ji zyc1 1 z1x2c1 dha .

x2x1x. 5 p3 5 p3 .wa ba . 1 2 1 2 1 5 1 5 . I - z2c4 z4c5 5 ker . pt.XXXx2c3 1 2 ra 3 3 3 3 ngu .gad de . 2 .x2x1x. Ketawang Pangkur Ngrenaswara Lr. z3x5x. mring da-sih kang nan-dhang king-kin 2 . .ta .wa.kang z3c5 z3x.cy O………….wa sa .hu . 1 3 2 2 2 2 3 1 n2 2 . zyx. pl.ni 1 1 ing .tha .172 3 A - 3 3 z1x.pa .pa . .di 1 nu men .ni-lar gar . .x5x4Xx2x1x.ti z6x.wun. Mu .x2c1 Gar .tu ..x2x1xyxtxrxwcq O………. .hat r t O………. 1 . . 2 z3x.wun mu . z3x2x1x2c1 We-la .sa . 2 5 . .wun. 5 Buka : 1 1 5 6 . y y y de r y ni t y ra zyx1c2 mu . 3 5 5 5 6 3 5 3 5 6 1 2 1 2 6 5 6 2 1 2 g1 2 1 2 1 5 z!c@ 2 n1 2 n3 5 g1 n1 g1 z@x!c^ ^ z!x#x@x#x!c@ Ti .dra .x5x4Xx.. 3 .ra .x6c5 Dhuh ja . 3 5 .x2x1xyct Da . 3 5 5 5 p3 z5c6 1 1 2 1 2 1 3 2 z3c1 g1 .

5 5 6 2 5 3 1 . manyura .mbut 1 2 2 1 z6x1x2c3 n1 z3c1 Ka.173 .gang sa . pt. .x2c1 Te . p3 .x6x5c3 Da. 1 .hat 2 2 z3c1 g3 gi . 3 .ra . pl. .mun da. 6 . 1 a 6 2 2 6 . p6 5 5 5 z5c6 5 3 3 lun dha . 3 . pt. sl.ka 1 . .dya . 5 .me – keng la Gangsaran Lr. 5 5 2 5 3 6 5 z!c@ 5 g3 z3x5x.tan pi 2 . 5 . z5c6 1 z1XXXXXXXXXXXxX2c3 U 5 . . 5 gan – ti 1 lan ning . .nang . 5 lis 1 n1 g1 p1 n1 p1 n1 p1 1 1 1 n1 n1 n1 p1 p1 p1 n1 n1 n1 p1 p1 p1 n1 n1 n1 p1 p1 p1 g1 g1 g1 Gangsaran Lr.la.gya 2 2 z3c1 g1 A – lu – wung tu . 7 . z3x2x1x2c1 3 . . . z3x2x1x2c1 1 . z3x.tyas 2 n3 . p5 .

c! @ 2 5 t 2 @ 3 3 e 1 ! n2 g2 nt g6 n^ @ @ @ z6x. Iringan gendhing Ketawang Kinanthi Sandhung Lr. 1 . y p3 1 p. Pertemuan. . .yung 1 2 6 n5 2 3 5 g3 . 1 . 6 . pt. 6 . malu. manyura merupakan satu-satunya dukungan rasa musikal yang diharapkan mampu mengekspresikan suasana rindu yang diaktualisasikan tokoh Sekartaji pertemuannya dengan Panji dalam asumsi mereka telah lama terpisah dan melalui perjalanan panjang baru dapat bertemu. 1 6 y 3 ! z. manyura . sl. manyura mendukung rasa kasmaran atau bercinta. . 6 . 2 2 2 . mesra merupakan esensi yang hendak diekspresikan dalam adegan dimaksud. pt. pt.sun Wus da. Rasa musikal gendhing Ketawang Kinanthi Sandhung Lr. sl. . 1 .duh ya-yi gar .wa ning .ngu pun ka-kang wu .x!x@c# z!x@x!c6 A . Ketawang Kinanthi Sandhung Lr. Dalam adegan dua yang mengisahkan pertemuan Dewi Sekartaji dengan Panji Inukertapati suaminya dalam suasana rindu yang teraktualisasi dalam beberapa rasa: marah (jengkel). merayu.174 2 2 2 2 n2 n2 n2 n2 p2 p2 p2 p2 n2 n2 n2 n2 p2 p2 n2 p2 p2 n2 p2 p2 g2 g2 g2 g2 n2 n2 p2 p2 Adegan : II. sl.

Kedudukan iringan gendhing Lambangsari pada adegan ini sifatnya mungkus dan nyawiji.han di zj2kx1c3 kang gra wi .yi wa .x3c2 Ma-ra nga-dhep.ling Ma-rang ya. dan harmonis menggunakan garap iringan yaitu gendhing Lambangsari laras slendro pathet manyura. .@# @ z!c@ 6 6z6x!c6 z5c3 Te-ka mle .ning 2 .kang Tu-hu wa. .ni . 5 . 2 . .sah pi-na ri ngan y 1 2 p3 6 5 3 g2 3 j. . 3 5 5 z5x3c563 z5x3c2 2 Ka-di-nga . .ka .nu g2 da .ma 2 . . . Bahagia. .ti. . Bentuk .ngos da. 3 5 p3 -j.dhang pa 3 5 ra brang pu 3 ti Kang wus la .ga la - ti mi kang sa - Adegan : III. mesra. . 6 z.j j j 5 .ta u .c6 ! 5 ! 3 z6x!c@ n5 6 5 6 z5x3x5x5x.175 .na pun ka .tan ang .jj x Xj 2 j j 1 6 y 6 gt zj6jjjkjXXXXxx!c5 x x c5jj j 2 z3XXXXXXXXXXXXXXXxX zj1xc2 zyXx1cy XXXXXXXXXXXXXXXx ztx1c2 nan . .ta . Pada adegan bahagia yang disajikan sepasang suami-istri yakni Panji Inukertapati dan Sekartaji dalam suasana gembira. 3 .pa Ka .tri n2 .j 6k 2jzX1jXXXx xj XXjx jx c2 6 zj3kx5c3 A .ren ya-yi du .ka Mu-ga tan .no-dya di . .mi Mus .

yaitu sejak Panji Inukertapati dan Sekartaji gerak Lumaksono. Bentuk iringan adegan III yang berupa gendhing Lambangsari laras slendro . lagu gerongan riang dan tekanan sedang.ketat diikuti pola kendangan. Gendhing ladrang Sigramangsah disajikan dengan tabuhan keras dengan irama sedang sebagai gambaran semangat dari Sekartaji dan Panji Inukertapati untuk menyongsong kehidupan ke depan lebih semangat. Pengertian nyawiji ini mengarah pada pemersatuan dua unsur menjadi satu yaitu unsur karawitan sebagai penghasil rasa musikal dan unsur tari. Keterpaduan garap tari dan garap gendhing Lambangsari dalam rangka mengekspresikan rasa gembira. Selain itu iringan gendhing Lambangsari pada dasarnya nyawiji dengan garap geraknya. Pada bagian akhir adegan tiga sebagai penutup iringan gendhing ladrang Sigramangsah laras slendro pathet manyura. kemesraan. kebersamaan. pada adegan bahagia ini adalah untuk pencapaian harmonisasi penyajian. Dalam hal ini pola-pola gerak tari selalu ketat. Bentuk kristalisasi dari unsur tari yang berupa vokabuler-vokabuler gerak kebar yang dinamis dan unsur karawitan yang berupa gendhing Lambangsari dengan irama sigrak. srisik menuju ke tempat duduk temanten bersalaman dengan temanten dan kedua orang tua mempelai untuk mengucapkan selamat berbahagia. Sehingga suasana bahagia yang diaktualisasikan oleh Panji Inukertapati dan Sekartaji dapat dihayati. pangkon.176 mungkus ini ditinjau dari pelaksanaan vokabuler gerak yang terdapat pada adegan tiga hampir seluruhnya menggunakan pola kendangan kebar atau ciblon yang selalu membungkus pola gerak. Iringan ladrang Sigramangsah sebagai mundur beksan. dan keharmonisan antara Panji Inukertapati dan Sekartaji dapat nyawiji.

dak 5 j.rang 5 j.ya n1 z3c2 1 .ma 1 1 Pra .5 1 1 no .wang 1 j.hu 6 jz5c6 se .mba .1 3 3 1 j.1 di 2 3 ta 5 j.sep .1 2 2 kang se .ju 3 1 j.5 n1 z3c2 1 .na 2 3 ca 5 j.mi 5 j. sl.wa 5 j. pt.ra 1 1 jz!xk@c6 pa .5 u 2 2 ma .da 1 j.5 2 2 tin .wa 6 6 1 1 ni .5 2 2 .1 3 3 1 j.ra 5 5 3 keng .sa 3 3 2 2 pra .dha 3 5 5 3 2 2 z3c5 z5c6 6 .1 2 2 1 j.5 ing 5 j. manyura Irama Tanggung : 1 j.5 tu 5 1 1 .r ang 5 6 3 gar .1 di 3 3 3 zj3c5 ma .su 6 3 jz!xk@c6 kang 5 j.guh 5 6 pang .ta 3 3 2 2 mar .177 pathet manyura dan ladrang Sigramangsah laras slendro pathet manyura.go .tya 5 5 2 da 1 j. Lambangsari Lr.3 2 5 3 ro .5 1 1 re 2 2 bi .3 2 2 - .1 nu 6 3 3 .kang 6 6 weh 5 j. secara berurutan dapat dicermati paparan berikut ini.ing 5 j.1 2 2 ing .

tan 5 5 3 kem .di kang san - to .1 a 2 3 ni 2 2 .pun sang 6 5 j.c@z!x x x x x@c 6 jkz6jx!cjj6j j k53 li ron ba 5 as .ing (dilakukan 2 x) war .6 6 1 6 5 2 3 jz#xj x x x x cj2j j6 kz!xj@c# x jjjjjjjjjjjjjjjjjjjxkjjj.ja 1 ang .1 ba 6 6 3 3 lik 1 1 1 j.ge .mi 5 j.1 2 2 1 j.trem .nya da .ra pri .1 3 3 1 j.sa 1 j.ya 3 3 2 2 mring nim .c3 sa .bang 6 3 jz!xk@c6 ra .la - tres .kik 6 1 z!XXx XXx xj@kc##z x.mi wah se – tya sang dyah 6 5 tu a 2 hu yu 3 pe .sih 3 5 .5 2 2 5 j.bi nga .178 dar .ga Irama Dadi : 6 5 j.c@z!x jjjzjx5jx jx jxxx jx jx xk.mya 5 2 5 1 .ngu sa .na 5 3 2 2 z3c5 z5c6 6 sung ten .ra gya 2 har 5 .ma .cj3jz6xl1xj6jc53 sam .yo .5 1 1 5 j.5 n1 1 da .6 zj5jkx.be bu .na 1 z3c2 1 .5 a 5 j.ba 5 6 .3 ku 2 2 5 j.

z2c3 ka .sih pan tan 5 .ya xj x!cj@zkj!xc6 da .gad han ing 2 ra .dhat tan 3 j. sl. ken .xj6xj xj c22 ck22 j jk.nu-gra hyang suks .xjyjx xj xj - cen sah 5 pra - nya .zj2c31 jz.3 5 6 1 jk.ma Ladrang Sigramangsah Lr.ron .ta 2 me . 1 1 5 6 6 6 2 5 1 1 3 2 3 p3 p5 p1 1 1 1 3 6 6 6 2 1 1 5 1 n2 n2 n3 g6 3 3 3 3 5 5 5 2 6 6 2 6 p1 p1 p3 p3 3 3 1 6 2 2 2 5 1 1 1 3 n6 n6 n6 g2 (sebanyak 5X) .min 3 5 zk3cj5kz5c6z x jx6xjx xj jx xjx xjx xjx xj 3 jz2xjk5c3 bang ja .dya kem ka . pt. manyura Irama Tanggung.ta .179 jzk.

5. pl. dapat mengungkapkan suasana marah. Kedua. Pertama. pl. merayu. Ketawang Pangkur Ngrenaswara Lr. jika tidak dapat bertemu. 5. rindu. Komposit bahasa verbal dan nonverbal yang terdapat dalam Lambangsari Lr.pt. 5. pt. sang Dewi marah Panji berupaya untuk merayunya dan memberi perhatian.pt.180 Gendhing-gendhing iringan yang terdapat dalam tari Karonsih secara garis besar dapat dibagi menjadi dua bentuk terkait dengan bahasa verbal. manyura. pt. Komposit bahasa verbal dan bahasa nonverbal yang terdapat dalam Ketawang Kinanthi Sandhung Lr. malu. manyura. sl. Ketawang Kinanthi Sandhung Lr. dan maknanya Dewi Sekartaji memohon kepada Dewata supaya segera dipertemukan dengan Panji Inukertapati. 5. mesra. pl. mesra. rupanya menjadi lebih mantap dan bermakna karena didukung kehadiran bahasa verbal yang berupa cakepan-cakepan (syair) yang menyatu dengan irama. pt. sl. manyura. gendhing yang menggunakan bahasa verbal terdiri dari: Pathetan Lr.pt. manyura dan Lambangsari Lr. dan maknanya setelah Sekartaji bertemu Panji Inukertapati. selain rasa musikal yang mampu mengekspresikan suasana-suasana tertentu. sl. pt. dapat mengungkapkan suasana sedih dan maknanya menjelaskan tentang liku-liku perjalanan seorang tokoh Dewi Sekartaji yang mencari Panji Inukertapati suaminya. pt. dapat mengungkapkan suasana gembira.pt. lagu dan tekanan gendhing. gangsaran 2 slendro. dan Ladrang Sigramangsah Lr. Bentuk-bentuk gendhing yang menggunakan bahasa verbal. Komplementer bahasa verbal dan nonverbal yang terdapat dalam Ketawang Pangkur Ngrenaswara Lr. sl. pl. dapat mengungkapkan suasana sedih. sl. ia lebih baik mati. manyura. bahagia dan maknanya: 1) Dalam kehidupan rumah tangga keberadaan . gendhing yang tidak menggunakan bahasa verbal terdiri dari: gangsaran 1 pelog. Komposit bahasa verbal dan nonverbal yang terdapat dalam Pathetan Lr.

dan mampu menciptakan ketentraman keluarga. dapat mengungkapkan suasana semangat. 5) Kebagiaan lahir dan batin merupakan kebutuhan hidup hakiki manusia yang diupayakan secara seimbang. Bentuk gendhing yang tidak menggunakan bahasa verbal seperti gangsaran 1 pelog dan gangsaran 2 slendro.181 dan kebersamaan suami dan istri. Adapun bentuk komposit bahasa verbal dengan nonverbal pada tari Karonsih. Dengan demikian tampak bahwa gendhing-gendhing yang tersusun untuk iringan tari Karonsih merupakan komposit bahasa verbal sastra tembang dan nonverbal gendhinggendhing karawitan untuk membangun alur adegan. Bentuk komposit bahasa verbal sastra tembang dan bahasa nonverbal gendhing-gendhing iringan tersebut dapat mengungkapkan suasana dan mengungkapkan makna pada masing-masing adegan. gagah. menarik. dapat dicermati berikut ini. sehingga mampu mengekspresikan suasana pada masing-masing adegan dan mampu mengungkapkan makna tari Karonsih secara implisit seperti yang dimaksud seniman penyusun sebagai penutur. 4) Nilai cinta adalah sebuah nilai yang universal. sl. manyura. sebaiknya saling mengingatkan akan tugas dan tanggungjawab masing-masing yang telah disepakati. mengayomi. 3) Tipe seorang suami yang ideal adalah setia terhadap istri. dan sigrak. setia terhadap suami. . dapat mengungkapkan suasana tegang. pt. Ketidak hadiran bahasa verbal pada bahasa nonverbal rupanya membatasi ekspresi bahasa nonverbal yang lebih mengarah pada hayatan rasa. Sedangkan gendhing Ladrang Sigramangsah Lr. dan bertanggungjawab. 2) Tipe seorang istri yang ideal adalah selalu berupaya berbuat kebajikan.

pl. Pencarian. nyempurit.182 Komposit Bahasa Verbal dengan Nonverbal Tari Karonsih No Bahasa Verbal Sastra Tembang Tema. Adegan. 5 Keterangan 1 Pathetan Wantah Pasihan (percintaan) I. dan Rasa Vokabuler Gerak Dewi Sekartaji Bahasa Nonverbal Vokabuler Gerak Panji Inukertapati Pola lantai Iringan Hubungan Langsung Hubungan Tidak langsung Pathetan lr. menthang kiri tangan nekuk tangan Garis lurus V - mencari Panji Inukertapati (suaminya). Sang Retnayu Dewi Sekartaji Rasa Semangat Srisik. pt. kanan Sang Retnayu Dewi Sekartaji Badan putar Garis V - . kedua - Garis lurus V - Liku-liku perjalanan Dewi Sekartaji dalam tangan nekuk yang kiri nyempurit dan kanan nyekithing Jengkar kedhaton sking Kengser.

badan . Garis Lurus V - badan kanan. kaki njujut. ngglebak Garis lengkung Angupadi mendranira ingkang garwa Badan nglayang Posisi di tempat V - (memutar) ke kiri. menghadap diikuti menthang sampur kanan dan tangan kiri nekuk.183 menghadap belakang. kiri nekuk. Jengkar kedhaton sking Lumaksono. srisik lurus mundur kemudian putar depan. menthang sampur kanan.

pl. memutar Sindhenan Pangkur Ngrenas: Dhuh jagad dewa bathara Welasa mring dasih Rasa Laras Sampir Posisi di V - . Inukertapati. Dahat denira muwun. usap kiri – usap kanan Garis lengkung V - 2 Ktw. Srisik menthang Garis lengkung Gong: ke-2 kiri.. Pangkur Ngrenas lr. Ridhong sampur kiri.O……….184 ngglebak ke kanan hadap ke depan. kengser. O……….pt 5 Mundur tawing Garis lurus Gong: ke-1 kiri.

. kiri Garis lengkung V situasi yang sedih.185 kang kingkin nandhang Berdoa sampur kanan. pasrah. Garis lengkung V V an dengan suaminya. dan memohon Ulun dhahat Teka aginggang sarambut Srisik kedua Garis lurus V pada Yang Kuasa agar segera dipertemuk Kalamun pinanggya datan Lembehan separo Posisi di tempat Rasa Aluwung lalis tumekeng Pasrah Kengser ke kanan capengan tangan kanan – kengser ke kiri capengan tangan kiri. tangan nekuk trap cethik. tempat Dewi Sekartaji dalam Tinilar satuhu Dadya tyas garwa gantilaning Rasa Sedih Sekar suwun. sindhet. tawing ingsetan.

seblak membalik tangan sampur. .186 Gangsaran 1 Pelog Rasa Tegang Badan memutar Gong: ke-1 satu lingkaran dan diikuti berputarnya kedua nekuk tarung. Gong: ke-4 Gong: ke-5 srisik ke pojok kiri belakang. tangan ngupu Seblak. tangan kiri menthang tangan nekuk dan kanan Gong: ke-2 Srisik ke pojok Gong: ke-3 kanan depan. Badan kanan.

3 Sindhenan Kinanthi Sandhung: Cakepan a. seblak Gong: ke-1 Srisik . sampur. Ktw. Pertemuan. Gong: ke-2 Gong: ke-3 Badan satu memutar lingkaran ke Gong: ke-4 menghadap depan.sl. Kinanthi Sandhung lr.pt Manyura . II.187 Gangsaran 2 Slendro Badan ngglebak ke kanan.

Teka mlengos datan angkling Ukel karno kanan jengkeng nyathok Garis (njawil) bahu lengkung V - Mara ngadhepna . b. kengser ke kanan.188 a. kebyok Posisi tempat garis lurus di Gong: ke-1 Sekartaji marah terhadap Panji Inukertapati. Gong: ke-2 V - tangan memegang sampur menutup muka. kebyokan Ulap-ulap tangan Posisi laras. sambil raut lepas sampur. di dan merayu istrinya. kiri – kanan dan tempat besut. akhirnya luluh hati Dewi Sekartaji. Dewi Rasa Marah jengkeng (duduk) Srisik diikuti kedua sampur. Adhuh yayi garwa ningsun Seblak sampur laras genjot. Panji berusaha membujuk jengkeng.

kanan mbalik seblak tanjak kanan sampur kanan Kadingaren duka yayi tawing kiri lumaksono kebyokan sampur. maju lumaksono. mundur. mlengos ke kanan. kanan sampur ngglebak nyaut kanan dengan V - seblak kebyok kemudian mundur . tawing V miring ke kanan srisik. Garis lurus tangan nyaut. Garis lurus Gong: ke-3 V - nyabet ukel karna kanan Kang wus lami nandhang brangti Rasa Merayu mbalik.189 pun kakang berdiri enjer berdiri srisik. maju Garis lurus Gong: ke-4 V - Apa kang wigati dadi ngembat sampur tangan kanan.

tangkep asta. – lengkung kanan tangan pondhongan kemudian jeblos tempat) tangan nyaut (tukar lalu kanan memberi sampur menerima sampur Cakepan b. endhan jeblos lalu tangan panggel. jengkeng asta.190 golek iwak. tanjak Garis lurus Gong: ke-5 ngancap. kanan. Wus dangu pun kakang wuyung Rasa Kemesraan putar lingkaran. maju sambil sambil lepas kedua Garis lengkung Gong: ke-6 V - lepas kedua tangan tangan Marang wanodya di yayi srisik. tangkep ngaras mbalik. srisik. tangkep mundur satu memutar. nyandhet Garis V - asta tangkep ngaras asta lengkung .

laku enjer. adu kiri. maju berhenti. laku enjer. tangan kiri nekuk. maju Posisi kanthen tempat di Gong: ke-8 V - tangan kanan tangan kanan . tangan kanan tawing Tuhu utama wanita kanan tawing maju kanthen maju kanthen Garis lengkung Gong: ke-7 V - tangan kanan tangan kanan Mustikaning para putri kengser ke kanan. maju.Garis kiri.kengser ke kanan. tangan. srisik melingkar srisik melingkar Muga tansah pinaringan berhenti. maju. lepas (berciuman).191 ( berciuman). adu lengkung V - tangan kiri nekuk. kedua kedua lepas tangan. tangan menthang. tangan kiri tangan kiri menthang. kanan. kanthen kanan.

setia terhadap . srisik kanthen tangan kanan. Posisi tempat di Gong: 1. lepas tangan.192 Kanugrahan kang salami srisik kanthen tangan kanan. kenong ke1 - V Tipe seorang istri yang adalah ideal Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada ukel karno ulap-ulap kiri Garis lengkung kenong ke2 - V selalu berupaya berbuat kebajikan. mundur seblak sampur Garis lenkung V - 4 Gerongan Lambangsari: Cakepan a. Pra wanita marsudiya marang tindak kang utama Rasa Gembira ulap-ulap kiri trap jamang. lepas tangan. mundur seblak sampur.sl. Lambang sari pt manyura lr.

mengayomi. kenong ke1 - V Tipe seorang suami yang ideal adalah setia terhadap Datan kemba asih tresna sung tetreming kulawarga rimong sampur pacak ingsetan gulu Garis lengkung kenong ke2 V - istri.193 Ingkang bisa nujuprana weh reseping pamicara luluran lembehan sampur Garis lengkung kenong ke3 V suami. dan mampu . menarik. dan bertanggung jawab trap Nora kengguh ing panggodha darbe budi kang santosa kanan sumping laku telu Garis lengkung kenong ke4 - V Rasa Mesra Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira kebyokan sampur ukel karno bokor Garis sinangga lengkung Gong: ke2.

194 menciptakan Sampun sami setya tuhu anggenya liron asmara kebyokan sampur – ngenceng kanan kebyokan sampur Garis lengkung kenong ke3 V ketentraman keluarga. srisik Karonsih pranyata kembang raya pancen dadya jagad tangan. kanthen srisik kanthen Garis mundur lengkung kenong ke4 V - Cinta adalah sebuah nilai yang universal. lepas tangan lepas tangan Gong: keCakepan b. Pra wanita marsudiya marang tindak kang utama trap jamang ulap-ulap kiri tawing Posisi tempat di 3: kenong ke1 V laku telu Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada pondhongan sampur Garis lengkung kenong ke2 V - Ingkang bisa nujuprana weh reseping pamicara kanthen kanan tangan kanthen kanan tangan Garis lurus kenong ke3 V - . mundur tangan.

ukelan Garis lengkung Gong: ke4: kenong ke1 - V Datan kemba asih tresna sung tetreming kulawarga alisan inguk-ingukan (melihat) Garis lengkung kenong ke2 V - Sang pekik wah sang dyah ayu dangu samya bagyaharja lumaksono encot kanthen tangan lumaksono encot Garis lurus kanthen tangan kenong ke3 V - .195 Nora kengguh ing panggodha darbe budi kang santosa kanthen kiri tangan kanthen kiri tangan Garis lengkung kenong ke4 V - Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira jengkeng tangan ngilo tangan (merias).

manyura diupayakan secara seimbang. tangan. Sigra mangsah lr. tangan kiri lengkung kiri menthang sampur menthang sampur lumaksono lembehan sampur kanan lumaksono lembehan sampur kanan Garis lurus Gong: ke-1 pangkon ulap-ulap pangkon ulap-ulap Posisi tangan kiri tangan kanan tempat di Gong: ke-2 .196 Rasa bahagia. dan kanan. Kebagiaan dunia akhirat Tan kendhat tansah meminta kanugrahan ing Hyang Suksma srisik tangan tangan kanthen srisik kanthen Garis kenong ke4 V merupakan kebutuhan hidup hakiki manusia yang Ldr.sl.pt.

a . bersalaman dengan temanten srisik kanthen tangan.197 srisik kanthen tangan. tangan masuk (selesai). bersalaman dengan temanten Garis lurus Gong: ke-3 bersalaman dengan bersalaman kedua dengan kedua Gong: ke-4 orang tua temanten orang tua temanten dan photo bersama dan photo bersama temanten temanten srisik kanthen tangan srisik kanthen kanan. masuk (selesai). Garis lengkung Gong: ke-5 kanan.

198

Dari komposit bahasa verbal dan nonverbal pada tari Karonsih terdapat hubungan yang bersifat langsung dan tidak langsung. Hubungan bahasa verbal dan nonverbal bersifat langsung artinya bahwa maksud bahasa verbal sesuai dengan bentuk bahasa nonverbal. Sedangkan hubungan bahasa verbal dan nonverbal bersifat tidak langsung artinya bahwa maksud bahasa verbal tidak sesuai dengan bentuk bahasa

nonverbal. Secara kuantitatif hubungan bahasa verbal dan nonverbal yang bersifat langsung tampak lebih mendominasi dibandingkan dengan yang tidak langsung. Adapun persentasenya dapat dicermati pada uraian berikut.

Tari Karonsih No Adegan Hubungan bahasa verbal dengan nonverbal 1 2 3 4 5 I, II, dan III I, II, dan III Langsung Tidak langsung 31 8 39 79,48 %, 20,52 % jumlah

Jumlah hubungan langsung dan tidak langsung = 31+ 8 Jumlah persentase hubungan langsung = 31: 39 X 100. Jumlah persentase hubungan tidak langsung = 8: 39 X 100.

2. Tari Bondhan Sayuk. Tari Bondhan Sayuk merupakan tari tradisi gaya Surakarta jenis pasangan silang jenis karakter putri dengan putra madya yang bertemakan percintaan sepasang insan manusia yang berjenis kelamin pria dan berjenis kelamin wanita. Pada dasarnya tarian ini tidak mengisahkan tokoh tertentu tetapi mengekspresikan cinta kasih sepasang suami istri secara universal terhadap anak laki-laki dan harapan-harapan serta keinginannya

199

supaya kelak menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan negara. Karya tari Bondhan Sayuk disusun oleh Sunarno pada tahun 1979. Tari ini pertama kali dipentaskan pada sebuah resepsi ritual perkawinan di gedung Bathari. Tema yang diangkat menggambarkan percintaan manusia secara universal, yang lebih mengarah pada perjalanan hidup sepasang manusia dari kalangan rakyat. Menurut Sunarno, tari Bondhan Sayuk lebih tepat untuk gambaran sepasang temanten maupun sebuah keluarga baru yang belum memiliki anak (wawancara, 2008). Gagasan awal terciptanya tari Bondhan Sayuk adalah sebuah ekspresi pribadi Sunarno yang menginginkan anak laki-laki untuk putera pertamanya. Keinginan

tersebut rupanya diridhohi oleh Sang Pencipta, anak pertama laki-laki bahkan anak kedua juga laki-laki dan anak ketiganya baru putri. Dalam perjalanan waktu tari Bondhan Sayuk sangat diminati oleh masyarakat hingga sekarang, yang pertama merupakan hiburan yang tepat dalam sebuah resepsi perkawinan dan kedua dimaknai sebagai simbolik sepasang suami dan istri yang hidup bahagia yang layak untuk diteladani sepasang temanten. Pesona yang memikat dari tari Bondhan Sayuk adalah digunakannya boneka sebagai simbolik anak yang selalu ditimang-timang dan diharapkan memberikan kekuatan magis simpatetis terhadap sepasang temanten, yaitu supaya lekas diberi anak. Jika dirunut dari bahasa verbalnya akan tampak bahwa harapan-harapan yang tersurat dan tersirat menunjukkan adanya sebuah keinginan, harapan sepasang suamiistri terhadap anak laki-laki kelak menjadi orang yang berperilaku baik dan berguna bagi masyarakat untuk membangun bangsa dan negara. Bentuk tari Bondhan Sayuk terdiri dari dua komponen pokok, yakni sastra tembang yang merupakan bahasa verbal dan

200

bahasa nonverbal yang berupa: tema, kinetic body moves, polatan (ekspresi wajah), rias, busana, pola lantai, dan iringan. Sastra tembang yang merupakan bahasa verbal tari Bondhan Sayuk, terdiri dari beberapa garap lagu, yakni: (1) garap sindhenan Mijil Sulastri: sakpupuh (satu bait), (2) garap jineman Sayuk: rong pupuh (dua bait), dan (3) garap gerongan Ladrang Sayuk: rong pupuh (dua bait). Dari masing-masing garap lagu tersebut dapat dicermati berikut ini.

a. Bahasa verbal.

(1). Teks Sindhenan Mijil Sulastri Dhuh mas rara, garwaku wong manis, Aja gawe kagal, Amung sira yekti sulistyane, Jumbuh klawan rasaningtyas mami, Binerkahan ugi, Prasetya wak-ingang.

Terjemahan:

Wahai si cantik, istriku yang manis, Jangan membuat kesal, Hanya kamulah yang benar-benar cantik, Sesuai dengan rasa yang terdapat dalam hatiku, Semoga mendapat berkah, Janji kesetiaanku.

201

Jenis –jenis TT yang melekat pada teks Sindhenan Mijil Sulastri

No

Penutur (Pn)

Bahasa Verbal : teks Sindhenan Mijil Sulastri

Jenis – jenis TT

Pemarkah

Pria (Pn) 1 Pria (Pn) 2 Pria (Pn) 3

Dhuh mas rara, garwaku wong manis, Aja gawe kagal, Direktif Amung sira yekti Ekspresif Ekspresif

wong manis

aja

sulistyane

sulistyane,

Pria (Pn)

Jumbuh

klawan

Asertif

Jumbuh

rasaningtyas mami, Pria (Pn) 4 Pria (Pn) 5 Prasetya wak-ingang. Komisif Binerkahan ugi, Direktif prasetya ugi

Konteks. Identifikasi / latar. a. Peserta tutur: Pria (Pn). Wanita (Pt), ia merespon dengan gerak tanpa tuturan.

b. Tema / topik: percintaan atau kasmaran.

202

c. Tujuan: suami menghendaki istri supaya tidak lekas marah, mengingat kasih asmara suami terhadap istri merupakan cinta yang tulus. d. Status sosial: penari pria sebagai seorang suami, ia digambarkan sebagai figur seorang suami yang bertanggungjawab dan sangat setia terhadap istri. Penari wanita sebagai seorang istri, ia digambarkan sebagai figur seorang istri yang sangat setia terhadap suami. e. Tempat: di rumah. f. Situasi tutur: tidak formal. g. Gerak: kedua penari, pria dan wanita srisik bersama, tangan kanan saling berpegangan (nyathok) dan tangan kiri lurus ke samping (menthang) menuju stage. Secara perlahan-lahan keduanya lumaksono ridhong, srisik menuju tengah stage, berhenti laku enjer menthang tangan kiri, kemudian putra besut dan putri sindhet merupakan gambaran rasa kebersamaan. Rasa kecewa diekspresikan istri lewat jengkeng, sekaran laras kebyokan, sembahan, berdiri meninggalkan suami sambil kebyokan tangan kanan-kiri kemudian suami gerak nyabet tangan kanan, besut, mendekati istri untuk merayu dengan gerak hoyogan, gajah-gajahan, songgonompo – mbalang. Rasa mesra mulai tampak ketika masing-masing peran suami dan istri saling mendekat dan berciuman dengan gerak kengser dan ngaras. Selanjutnya gerak lincak gagak bersama, suami hendak memegang istri menghindar. Suami dan istri saling mendekat, saling berpegangan tangan kemudian srisik kanthen tangan kanan sebagai gambaran awal kemesraan. h. Polatan / ekspresi wajah: ketika rasa kebersamaan masih terbina, wajah suami dan wajah istri tampak cerah dan gembira. Pada saat istri merasa kecewa

203

pandangan muka selalu menghindar dari tatapan mata suami dan pandangan mata istri banyak mengarah ke bawah. Suasana berubah menjadi semakin mesra wajah suami dan wajah istri tampak semakin cerah dan pandangan mata tampak sering saling melihat. i. Pola lantai: didominasi garis-garis lengkung. j. Iringan gendhing: Srepek Rangu-rangu dan Ketawang Mijil Sulastri untuk mendukung suasana kasmaran atau bercinta. Implikatur Kagal : Sulistyane: perasaan marah. kecantikan rupa dari seorang wanita.

Jumbuh klawan rasaningtyas: kecocokan hati yang membuat senang seseorang. Prasetya wak-ingang: ungkapan yang mengisyaratkan sebuah perjanjian tentang kesetiaan. Implikatur bahasa verbal Sindhenan Mijil Sulastri adalah ungkapan cinta yang mendalam seorang suami terhadap istrinya, dengan harapan mendapatkan perhatian demi terjalinnya kasih cinta untuk harmonisnya sebuah rumah tangga. Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Sindhenan Mijil Sulastri dapat diungkap: a. Maksim kuantitas dilanggar. b. Maksim kualitas dipatuhi. c. Maksim hubungan dipatuhi. d. Maksim cara dilanggar.

Asertif bapakne . Ayahnya anak laki-laki (suamiku). Sakdurunge anakmu gawanen mrene.204 Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Sindhenan Mijil Sulastri. Direktif baya iki 3 Wanita (Pn) Bapakne sithole. sekarang sudah saatnya. Ibunya anak laki-laki (istriku). Mbesuk pinter nyambut gawe. Peneliti timang-timang anakku yang paling bagus. Sawahmu tansah anganti. Patik dhuh mas baya iki wus wanci. Tak kudange anakku sing bagus dhewe. menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif. Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Jineman Sayuk No Penutur (Pn) / Petutur (Pt) Bahasa Verbal Teks Jineman Sayuk Jenis – jenis TT Pemarkah Wanita (Pn) 1 2 Wanita (Pn) Dhuh mas jiwaku. Bapakne sithole. Teks Jineman Sayuk Dhuh mas jiwaku. (2). Sawahnya tengah menanti. Sebelumnya anakmu bawalah kemari. 2) melakukan TT secara tidak langsung (off record). Mbokne thole. Besuk menjadi anak yang pandai bekerja. baya iki wus wanci. berangkatlah bekerja. mangkat makarya. Terjemahan: Wahai belahan jiwaku.

Kesadaran suami sebagai kepala rumah tangga menyambut kehendak istrinya dengan rasa senang untuk itu sebelum berangkat bekerja mereka saling menimang bayi sambil bersenandung secara bergantian.205 Wanita (Pn) mangkat makarya. 8 Pria (Pt) Tak kudange anakku sing bagus dhewe. Pria (Pt). Asertif mbokne 7 Pria (Pt) Sakdurunge anakmu Direktif gawanen gawanen mrene. Direktif mangkat 5 Wanita (Pn) Sawahmu anganti. Identifikasi / latar. Tema / topik: kekudangan (menimang bayi sambil bersenandung) c. tansah Asertif sawahmu 6 Pria (Pt) Mbokne thole. Hal ini adalah untuk menunjukkan rasa kasih sayang dan kemesraan suami terhadap anak dan istri. Tujuan: istri mengingatkan akan pekerjaan suami. a. b. . Peserta tutur: Wanita (Pn). Ekspresif bagus 9 Pria (Pt) Mbesuk nyambut gawe. pinter Direktif mbesuk pinter Konteks.

. putar ke kiri–tangan kanan ukel karno sedangkan suami mendekat menanggapi dengan gerak panggel dan pandangan mengarah ke istri dan anaknya. Situasi tutur: tidak formal. g. maju srisik mendekati suami untuk memberikan anaknya dan suami juga mendekat dengan lumaksono untuk menerimanya. suami merasa gembira dan bahagia secara perlahan-lahan mendekat. Status sosial: penari pria sebagai seorang suami. ia digambarkan sebagai figur seorang suami yang bertanggungjawab dan sangat setia terhadap istri. Tempat: di rumah. tangan kiri memegang bahu istri dan tangan kanan memegang anak sambil memperhatikan dengan tawing kanan. f. Polatan / ekspresi wajah: suami dan wajah istri tampak cerah dan gembira.206 d. lembehan tangan kanan. ia digambarkan sebagai figur seorang istri yang sangat setia terhadap suami. Pandangan mata suami dan istri banyak terfokus pada anak dan mereka juga sering saling berhadapan. Penari wanita sebagai seorang istri. Istri mulai bersenandung mengingatkan pekerjaan terhadap suami dengan gerak tawing kanan sambil memandang suami sedangkan suami menyambut baik dengan gerak ukel karno kanan yang kemudian mendekati dengan gerak srisik. Selanjutnya istri tawing kanan. Suami menimang anak sedangkan istrinya meledek dengan tawing kiri-tawing kanan. h. Istri meminta perhatian suami terhadap anak yang ditimang dengan gerak putar ke kanan. Gerak: istri srisik sambil menimang anak. e.

Dalam rangka memenuhi kebetuhan tersebut masing–masing individu yang terlibat dalam keluarga memiliki peran secara proporsional. Implikatur bahasa verbal Jineman Sayuk mengisyaratkan bahwa dalam sebuah keluarga kebutuhan jasmani dan rohani harus seimbang. seorang istri mempunyai peranan cukup penting dalam mendukung tugas dan kewajiban peran suami sebagai kepala . Masing-masing individu mempunyai tanggungjawab terhadap tugas dan kewajiban untuk memenuhi tuntutan kebutuhan keluarga. Pola lantai: didominasi garis-garis lengkung. j. Iringan gendhing: jineman Sayuk untuk mendukung suasana kekudangan yang merepresentasikan rasa senang. Tak kudange: menimang bayi sambil bersenandung yang berisi tentang nasehat dan harapan-harapan orang tua terhadap anaknya. Berdasarkan kasih cinta untuk menciptakan keharmonisan keluarga. Implikatur Mas jiwaku: panggilan seorang kekasih. Mbesuk pinter: sebuah harapan orang tua yang menghendaki anaknya kelak menjadi orang yang pandai. Mbokne thole: panggilan seorang ibu yang biasa untuk masyarakat pedesaan untuk menunjukkan keakraban. Makarya: bekerja. Sawahmu tansah anganti: pernyataan yang dimaksudkan tentang sebuah pekerjaan.207 i. Bapakne sithole: panggilan seorang ayah yang biasa untuk masyarakat pedesaan untuk menunjukkan keakraban.

Bekerja keras untuk bangsa. labuh labet mring bangsane. atak adhuh lae. atak adhuh lae. d. wis mbokne enyoh anake sun arsa mangkat megawe. 2) melakukan TT secara tidak langsung (off record). bawalah anakmu sekarang. Adhuh lae. Implikatur bahasa verbal Jineman Sayuk yaitu kegembiraan pasangan suami istri sebuah keluarga semakin mantap ketika telah diberi anak. Adhuh lae. atak adhuh lae.208 keluarga. Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Jineman Sayuk. b. c. cukat trampil tumandange. Adhuh lae. Lincah. namun juga harus disadari bahwa untuk mencukupi kebutuhan rumahtanggga diperlukan kerja keras. anteng tajem polatane. (3). atak adhuh lae. atak adhuh lae. Teks Gerongan Ladrang Sayuk Adhuh lae. Istriku. atak adhuh lae. Adhuh lae. trampil dalam bekerja. Adhuh lae. Maksim hubungan dipatuhi. Maksim kuantitas dilanggar. atak adhuh lae. sesongaran disingkirke. Tenang fokus pandangannya. ora nyleweng tumindake. Maksim kualitas dipatuhi. Terjemahan: Memang baik karakternya. Kesombongannya dihilangkan. dasar bregas ten atene. menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif. . Adhuh lae. Maksim cara dilanggar. Tindakannya tidak boleh menyeleweng. Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Jineman Sayuk dapat diungkap: a. peneliti akan berangkat bekerja.

6 Pria (Pn) Adhuh lae. atak adhuh lae. 7 Pria (Pn) Adhuh lae. cukat trampil Ekspresif Cukat trampil tumandange. anteng tajem Ekspresif anteng tajem polatane. atak adhuh lae. atak adhuh lae. labuh labet mring bangsane. disingkirke. 3 Pria (Pn) Adhuh lae. wis mbokne enyoh anake sun arsa mangkat megawe. ora nyleweng Direktif ora nyleweng Direktif Labet mring sesongaran Direktif disingkirke tumindake. atak adhuh lae. dasar bregas ten atene. 2 Pria (Pn) Adhuh lae. 4 Pria (Pn) Adhuh lae. Direktif enyoh anake . atak adhuh lae. atak adhuh lae. atak adhuh lae.209 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Gerongan Ladrang Sayuk No Penutur (Pn) 1 Bahasa Verbal : Teks Gerongan Ladrang Sayuk Jenis –jenis TT bregas Ekspresif Pemarkah Pria (Pn) Adhuh lae. 5 Pria (Pn) Adhuh lae.

ia digambarkan sebagai figur seorang istri yang sangat setia terhadap suami. kemudian anak diberikan kepada temanten putri dengan srisik. . ia digambarkan sebagai figur seorang suami yang bertanggungjawab dan sangat setia terhadap istri. b. Peserta tutur: Pria (Pn). Wanita (Pt). Tempat: di rumah.210 Konteks. Gerak: diawali suami menimang-nimang anak dengan lumaksono yang diikuti istri lumaksono lembehan sampur dan kawilan. Situasi tutur: tidak formal. Hal ini untuk menunjukkan rasa kasih sayang orang tua terhadap anak dan istrinya. Setelah istri menimang anak beberapa saat. d. Status sosial: penari pria sebagai seorang suami. Anak diberikan istri sedangkan suami meledeknya dengan ogekan. f. Tujuan: suami mengharapkan supaya anak yang masih dalam timangan tersebut kelak menjadi orang yang berperilaku baik dan berguna bagi masyarakat lingkungannya. a. Identifikasi / latar. e. g. ia merespon dengan gerak tanpa tuturan. tangan kanan menthang sampur dan lilingan. Penari wanita sebagai seorang istri. Tema / topik: kekudangan (menimang bayi sambil bersenandung) c. suami gerak lumaksono sambil menanti kedatangan istri.

Iringan gendhing: Ladrang Sayuk untuk mendukung suasana kekudangan yang merepresentasikan rasa senang. Ora nyleweng : berperilaku baik dengan menghindari hal-hal yang mengarah pada perbuatan atau tindakan yang melanggar norma atau aturan yang berlaku. Sesongaran: sikap sombong. ungkapan tentang keramahan dan kehalusan perangai seseorang yang diamati dari ekspresi wajah. Implikatur bahasa verbal Gerongan Ladrang Sayuk. gembira. Pola lantai: didominasi garis-garis lengkung. dan mengutamakan kepentingan umum untuk membangun bangsa. Implikatur Bregas ten atene: Cukat trampil: Anteng tajem: ungkapan tentang sikap dan perilaku yang baik. dan bahagia. yaitu tanggungjawab sebagai orang tua dalam mempersiapkan . j. i. mengisyaratkan tentang beberapa harapan orang tua terhadap seorang yang berperilaku baik mengutamakan kebajikan. Pandangan mata suami dan istri banyak terfokus pada anak dan mereka juga sering saling berhadapan. Implikatur bahasa verbal Gerongan Ladrang Sayuk pada tari Tari Bondhan Sayuk. yang biasanya untuk dihindari.211 h. pernyataan tentang kelincahan dan ketrampilan dalam bekerja. Polatan / ekspresi wajah: suami dan wajah istri tampak cerah dan gembira. Labuh labet mring bangsane: sebuah ungkapan yang berusaha mengedepankan kepentingan umum. kerja keras.

Maksim kuantitas dilanggar. berwawasan luas sehingga berguna bagi kehidupan sosial masyarakat. Sayuk. Kebersamaan dalam bekerja. sayuk. Sayuk.212 pendidikan anak sebagai generasi penerus yang memiliki kepribadian baik. c. sayuk. nyambut gawe. 2) melakukan TT secara tidak langsung (off record). sayuk. d. sakabehe. sayuk. Maksim cara dilanggar. sayuk. Terjemahan: Kebersamaan dengan teman. Kebersamaan semuanya. . Teks Gerongan Lancaran Sayuk Sayuk. (4). b. Kebersamaan dalam membangun negara. menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif. sakancane. Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Gerongan Ladrang Sayuk. Sayuk mbangun negarane. Maksim hubungan dilanggar. Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Gerongan Ladrang Sayuk dapat diungkap: a. Maksim kualitas dilanggar. sayuk.

Pria . Peserta tutur: Narator. nyambut gawe. Tema / topik: makarya (bekerja). sayuk. Identifikasi / latar. sayuk. Direktif sayuk nyambut gawe 3 Nr Sayuk. sayuk. Direktif sayuk sakancane 2 Nr Sayuk. Direktif sayuk sakabehe 4 Nr Sayuk negarane. Wanita . b.213 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Gerongan Lancaran Sayuk No Narator (Nr) Bahasa Verbal : Teks Gerongan Lancaran Sayuk Jenis – jenis TT Pemarkah 1 Nr Sayuk. mbangun Direktif sayuk mbangun Konteks. sayuk. ia merespon dengan gerak tanpa tuturan. ia merespon dengan gerak tanpa tuturan. sayuk. a. sayuk. sakancane. . sakabehe.

i. Wujud Kinetic body moves yang dipilih untuk istri sekaran luluran. ia digambarkan sebagai figur seorang istri yang sangat setia terhadap suami. Pola lantai: didominasi garis-garis lengkung. h. lilingan kebyok sampur. Arah Pandangan mata suami dan istri saling menatap. g. Tujuan: suami maupun istri saling mengajak dan memberi dorongan semangat untuk bekerja secara bersama-sama dalam menyelesaikan pekerjaan dengan suasana gembira. Tempat: di luar rumah.214 c. Polatan / ekspresi wajah: suami dan wajah istri tampak cerah dan gembira. lilingan kebyok sampur dan enjer muter. Situasi tutur: tidak formal. gerak yang dipilih antara pasangan suami dan istri berupa sekaran-sekaran yang dapat diekspresikan secara dinamis untuk menimbulkan kesan semangat dalam keadaan riang dan gembira. . Sekaran untuk ekspresi peran suami terdiri dari: laku telu pondhongan. berhadapan dan didukung dengan saling melempar senyuman sehingga tampak gembira dan bahagia. ia digambarkan sebagai figur seorang suami yang bertanggungjawab dan sangat setia terhadap istri. e. dan enjer muter. tawing kiri. f. d. Penari wanita sebagai seorang istri. Sebagai penutup sepasang suami istri saling mendekat bergandengan tangan kemudian srisik kanthen tangan kanan menuju tempat duduk temanten mengambil boneka anak. Status sosial: penari pria sebagai seorang suami. enjer ridhong muter. Gerak: pada implementasinya.

. Kebahagiaan sebuah keluarga yang dilandasi rasa cinta akan memberikan spirit yang kuat dalam berbagai aktifitas dalam aktualisasi publik. b. Implikatur Sayuk : sebuah ajakan dalam bekerja untuk bersama-sama dengan dorongan semangat. dan berupaya menjalani kehidupan secara bersamasama.215 j. Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Gerongan Lancaran Sayuk dapat diungkap: a. c. Sakancane: Nyambut gawe: Sakabehe: bersama-sama dengan teman. Maksim kuantitas dilanggar. dan bahagia. damai. seluruhnya dalam berbagai kegiatan. Implikatur bahasa verbal Gerongan Lancaran Sayuk pada tari Tari Bondhan Sayuk adalah gambaran kehidupan sebuah keluarga yang rukun. Maksim kualitas dilanggar. harmonis. gembira. Iringan gendhing: Lancaran Sayuk dengan irama dinamis untuk mendukung suasana kekudangan yang merepresentasikan rasa riang. Maksim hubungan dilanggar. bekerja.

2) mlakukan TT secara tidak langsung (off record). Maksim kualitas yang dilanggar dimaksudkan oleh penutur bahwa tuturan yang berupa tembang dimanfaatkan untuk mengekspresikan rasa lagu. Maksim kualitas ada yang dilanggar juga ada yang dipatuhi. banyak menggunakan kata-kata arkais dimaksudkan oleh penutur untuk mengekspresikan rasa estetik. Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Gerongan Lancaran Sayuk. Sedangkan . b.216 d. menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif. Maksim cara dilanggar. Dari penjabaran bahasa verbal yang terdapat dalam tari Bondhan Sayuk terdapat beragam jenis tindak tutur yang dapat peneliti klasifikasikan secara kuantitatif sebagai berikut: NO 1 2 3 4 5 6 7 JENIS TINDAK TUTUR Tindak Tutur Direktif Tindak Tutur Ekspresif Tindak Tutur Asertif Tindak Tutur Komisif Tindak Tutur Patik Tindak Tutur Performatif Tindak Tutur Verdiktif JUMLAH 14 6 4 1 1 - Berdasarkan prinsip kerja sama bahasa verbal yang terdapat tari Bondhan Sayuk: a. Maksim kuantitas dilanggar karena dalam menyampaikan tuturan seorang penutur.

d. Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada tari Bondhan Sayuk. keintiman. hal ini dimaksudkan seniman penyusun untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa. suami dan istri yang . menggunakan strategi: 1) Melakukan tindak tutur dengan menggunakan kesantunan positif untuk menunjukkan kedekatan. terlalu panjang. c. Maksim hubungan ada yang dilanggar juga ada yang dipatuhi. dan pernyataannya samar.217 maksim kualitas yang dipatuhi dimaksudkan oleh penutur untuk menggambarkan peristiwa yang betul-betul terjadi pada masing-masing adegan. tidak langsung. Sedangkan maksim hubungan yang dipatuhi dimaksudkan oleh penutur untuk menjaga kerja sama antara penutur dengan mitra tutur. 2) Melakukan tindak tutur secara tidak langsung (off record) untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa. masing-masing hendaknya memberikan kontribusi yang relevan demi terjadinya komunikasi rasa. dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur. Hal ini dimaksudkan seniman penyusun untuk menunjukkan simbolisasi keharmonisan hubungan antara peran digambarkan dalam tari. Maksim cara dilanggar karena dalam menyampaikan tuturan seorang penutur. Maksim hubungan yang dilanggar dimaksudkan oleh penutur bahwa tuturan yang berupa tembang tersebut diharapkan dapat sebagai sarana komunikasi rasa.

Tema. Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa berlandaskan rasa cinta yang mendalam seorang istri mengingatkan. Selain dapat memenuhi kebutuhan yang bersifat rohani juga tidak dapat mengabaikan kebutuhan yang bersifat jasmani sebagai sarana penopang kebutuhan hidup sehari-hari. seperti tersurat pada cakepan Jineman Sayuk pada bagian awal yang berbunyi: Dhuh mas jiwaku. . kinetic body moves. Bahasa Nonverbal Bahasa nonverbal tari Bondhan Sayuk terdiri dari: tema. 1. sejarah. polatan (ekspresi wajah). tetapi merupakan reaktualisasi dari imajinasi sepasang suami istri yang telah dianugerai seorang anak laki-laki yang masih dalam timangan. babad. Liku-liku perjalanan cinta sepasang suami istri beserta anak laki-lakinya dalam menjalani kehidupan yang penuh harapan-harapan terkait dengan prospek masa depan anak untuk partisipasinya pada pembangunan bangsa dan negara. mangkat makarya. Untuk mewujudkan cita-cita yang mulia tersebut. dan iringan. baya iki wus wanci. Bapakne sithole.218 b. Pasangan kekasih tersebut bukan merupakan gambaran dari tokoh tertentu dari sebuah cerita. sepasang suami istri memiliki tugas dan tanggungjawab untuk membina dan mendidik anak sedini mungkin supaya dapat tercapai harapannya. atau dongeng. Bentuk tema yang diangkat pada tari Bondhan Sayuk adalah tema percintaan sepasang manusia laki-laki dan perempuan secara universal. menghendaki dan mendukung suami untuk bekerja demi kelangsungan hidup keluarga. rias. pola lantai. busana. Sawahmu tansah anganti. untuk itu seorang suami dituntut harus bekerja secara sungguh-sungguh.

istri menjadi luluh hatinya yang kemudian mereka berdua saling beradu cinta. mesra. a) adegan kasmaran menggambarkan sepasang suami dan istri yang sedang memadu cinta. b) adegan kekudangan (menimang bayi sambil bersenandung) . pekerja profesional. Adegan kekudangan menggambarkan kegembiraan dan kebahagiaan sepasang suami dan istri yang telah dikaruniai seorang anak laki-laki yang diharapkan menjadi pewaris keturunan dan berguna bagi pembangunan bangsa dan negara. yang menggunakan properti berupa boneka yang dibalut sehelai kain sebagai simbolik anak (bayi). . tidak menyeleweng.219 Bentuk sajian dari tema percintaan yang diangkat pada tari Bondhan Sayuk tersebut aktualisasinya diperankan oleh: suami dan istri. Adapun bentuk aktualisasinya diwujudkan sepasang suami dan istri yang sedang menimang bayi secara bergantian sambil bersenandung tentang harapan-harapan mulia sebagai orang tua terhadap anak laki-laki kelak setelah menjadi orang dewasa. Dari tema percintaan sepasang suami-istri yang sifatnya universal tersebut. Gambaran adegan kasmaran mengungkapkan rasa kecewa. Pada awalnya istri kurang perhatian terhadap suami. Setelah kemesraan berakhir istri meninggalkan suami untuk suasana menjadi tegang. Adegan kekudangan mengungkapkan rasa gembira dan rasa bahagia. tidak sombong. atas rayuan suami dengan sanjungan atau pujian. berpartisipasi aktif dalam pembangunan bangsa dan negara. untuk aktualisasinya akan membentuk sebuah alur yang terbagi menjadi beberapa adegan: a) adegan kasmaran (percintaan). dan tegang. mengambil anaknya. Harapan-harapan mulia kedua orang tua terhadap anak laki-lakinya kelak menjadi orang yang memiliki kepribadian yang baik. c) adegan makarya (bekerja). b).

. Kinetic body moves atau Gerak tubuh. Jika dicermati dari alur adegan dari kasmaran. di sini bentuk-bentuk vokabuler geraknya tidak tampak gerak orang makarya / bekerja. tetapi bagaimana vokabuler gerak tersebut mampu mengungkapkan rasa sesuai dengan kehendak penyusun. kekudangan. Selengkapnya peristiwa adegan kasmaran tersebut terkait dengan Kinetic body moves akan digambarkan secara kronologis sebagai berikut. Seperti gambaran adegan makarya. Adegan kasmaran merupakan adegan pertama yang secara garis besar menggambarkan sepasang suami dan istri sedang memadu cinta. yang kemudian makarya dapat ditarik benang merahnya bahwa kehidupan sebuah keluarga yang didasari rasa cinta mendambakan kemesraan.220 c). Adegan makarya merupakan gambaran semangat bekerja secara bersamasama antara suami dan istri dengan suasana gembira. 2. Artinya pola-pola gerak yang digunakan dalam tari tidak selalu merepresentasikan secara vulgar dan jelas maksud penyusun yang tersurat pada bahasa verbalnya. Rasa yang hendak diekspresikan pada adegan ini yaitu puncak kegembiraan dan kebahagiaan. Berawal dari alunan kendhang sebagai pembukaan yang . kedamaian dan kebahagiaan berupaya menyeimbangkan akan kebutuhan rohani yang teraktualisasi dalam adegan kasmaran berlanjut adegan kekudangan dan kebutuhan jasmani yang tergambar dalam adegan makarya. Gerak tubuh pada tari Bondhan Sayuk adalah kristalisasi dari beberapa unsur gerak tradisional yang bersumber pada tarian tradisional karaton Kasunanan yang lebih dikenal gaya Surakarta. keharmonisan. Pola-pola gerak yang digunakan untuk gambaran-gambaran pada masing-masing adegan tidak selalu dapat dengan mudah menunjukkan aktifitas yang tengah terjadi. Beberapa vokabuler gerak yang berupa sekaran memiliki karakteristik beragam pula.

Iringan Ketawang Mijil Sulastri lr. Suasana tegang diungkapkan istri mulai menjauh dengan gerak tawing kiri dan laku enjer sedangkan suami berhenti tanjak sambil tawing kiri memandangi yang putri. kembali maju srisik. gajah-gajahan. berdiri meninggalkan suami sambil kebyokan tangan kanan-kiri sedangkan penari putra nyabet tangan kanan. pl. mundur srisik. sembahan. Secara perlahan-lahan keduanya lumaksono ridhong. Rasa mesra mulai tampak ketika masing-masing peran suami dan istri saling mendekat dan berciuman dengan gerak kengser dan ngaras. Perasaan suami tegang. kemudian putra besut dan putri sindhet merupakan gambaran rasa kebersamaan. berhenti tanjak.221 diikuti secara bersama alunan seluruh ricikan balungan atau instrumen gamelan yang terkemas dalam Srepek Rangu-rangu lr. adapun bentuk iringan yang mendukung suasana ketegangan tersebut adalah lancaran lr. Kedua penari. Istri srisik sambil menimang bayi menuju ke stage mendekati putra. barang. barang untuk mendukung rasa kecewa dan rasa mesra. pl. srisik menuju tengah stage. pt. . berhenti laku enjer menthang tangan kiri. Kebingungan semakin tampak. pt. putra sebagai suami dan putri sebagai istri srisik bersama. Selanjutnya gerak lincak gagak bersama. besut. pl. Rasa kecewa diekspresikan istri lewat jengkeng. suami hendak pegang istri menghindar. pt.. sekaran laras kebyokan. songgonompo – mbalang. khawatir dengan kengser mundur pelan-pelan. mendekat hoyogan. barang. istri meninggalkan putra dengan gerak srisik kipat sampur dan suami mencoba lari untuk mencegah istri namun tidak dapat dengan gerak srisik. tangan kanan saling berpegangan (nyathok) dan tangan kiri lurus ke samping (menthang) menuju stage. saling mendekat srisik kanthen tangan kanan.

. pt. tidak menyeleweng. Seluruh sajian Kinetic body moves tersebut diiringi jineman Sayuk lr. Selanjutnya istri tawing kanan. putar ke kiri – tangan kanan ukel karno sedangkan suami mendekat menanggapi dengan gerak panggel dan pandangan mengarah ke putri dan anak. Istri meminta perhatian suami terhadap anak yang ditimang dengan gerak putar ke kanan. pl. Adegan kekudangan mengungkapkan rasa gembira dan rasa bahagia. Bentuk Kinetic body moves yang mengekspresikan adegan kekudangan dapat dicermati berikut ini. Suami menimang anak sedangkan istrinya meledek dengan tawing kiri-tawing kanan. tidak sombong.222 Adegan kekudangan merupakan adegan kedua. Adapun bentuk aktualisasinya diwujudkan sepasang suami dan istri yang sedang menimang bayi secara bergantian sambil bersenandung tentang harapan-harapan mulia sebagai orang tua terhadap anak laki-laki kelak setelah menjadi orang dewasa. maju srisik mendekati suami untuk memberikan anaknya dan suami juga mendekat dengan lumaksono untuk menerimanya. Setelah istri srisik sambil menimang anak. bekerja secara profesional. yang menggambarkan kegembiraan dan kehagiaan sepasang suami dan istri yang telah dikaruniai seorang anak laki-laki yang diharapkan menjadi pewaris keturunan dan berguna bagi masyarakat. suami merasa gembira dan bahagia secara perlahan-lahan mendekat. Istri mengingatkan pekerjaan terhadap suami dengan gerak tawing kanan sambil memandang suami sedangkan suami menyambut baik dengan gerak ukel karno kanan yang kemudian srisik mendekati. barang. lembehan tangan kanan. berpartisipasi aktif dalam pembangunan bangsa dan negara. tangan kiri memegang bahu istri dan tangan kanan memegang anak sambil memperhatikan dengan tawing kanan. Harapanharapan mulia kedua orang tua terhadap anak laki-lakinya kelak menjadi orang yang memiliki kepribadian yang baik.

Sekaran untuk ekspresi peran suami terdiri dari: laku telu pondhongan. dan lainnya. diawali suami menimang-nimang anak dengan lumaksono yang diikuti istri lumaksono lembehan sampur dan kawilan. Adegan makarya merupakan adegan ke tiga yang menjadi penutup dari seluruh alur adegan yang terdapat pada tari Bondhan Sayuk. barang. Adapun gambaran Kinetic body moves bagian ini diiringi ladrang Sayuk lr. dan enjer muter. Setelah istri menimang lalu boneka anak diberikan kepada temanten putri dengan srisik. Gantian anak diberikan istri sedangkan suami meledeknya dengan ogekan. Ungkapan adegan makarya adalah gambaran semangat dalam bekerja antara suami dan istri dengan suasana gembira. Pada implementasinya. Bentuk gambaran Kinetic body moves pada adegan makarya tidak mengekspresikan orang yang tengah bekerja menggarap sawah. enjer ridhong muter.223 Ekspresi kekudangan yang berisi harapan orang tua terhadap anak. tawing kiri. membajak. lilingan kebyok sampur dan enjer muter. pl. Wujud Kinetic body moves yang dipilih untuk istri sekaran luluran. Rasa yang hendak diekspresikan pada adegan ini yaitu rasa riang. gembira. tanam padi.tangan kanan menthang sampur dan lilingan. Gendhing sebagai . suami gerak lumaksono sambil menanti kedatangan istri. seperti mencangkul. pt. dan bahagia. gerak yang dipilih antara pasangan suami dan istri berupa sekaran-sekaran yang dapat diekspresikan secara dinamis untuk menimbulkan kesan semangat dalam keadaan riang dan gembira. Sebagai penutup sepasang suami istri saling mendekat srisik kanthen tangan kanan menuju tempat duduk temanten mengambil boneka anak kemudian sebagai cucuk lampah temanten (berjalan di depan temanten untuk menggiring sepasang mempelai ke depan pintu rumah resepsi guna menghantarkan para tamu undangan yang hendak berpamitan). lilingan kebyok sampur.

baik adegan: kasmaran. barang. pt. barang dan Ayak-ayakan lr. kekudangan. pl.224 iringan adegan ini adalah Lancaran Sayuk lr. . Secara garis besar Kinetic body moves yang terdapat pada seluruh adegan tari Bondhan Sayuk. pt. pl. seperti paparan berikut ini. dan makarya merupakan kombinasi dari gerak representatif dan presentatif.

Adegan Peran Jenis Gerak Peran Jenis Gerak Keterangan No I.225 2) jenis-jenis vokabuler gerak atau sekaran yang terdapat dalam tari Bondhan Sayuk. Kasmaran 1 Srisik kanthen tangan kanan Distilisasi orang bergandengan tangan kanan 2 Lumaksono ridhong Distilisasi orang berjalan 3 Srisik kanthen tangan kanan Distilisasi orang bergandengan tangan kanan 4 Enjer menthang tangan kiri Distilisasi orang berjalan samping meluruskan kiri dari ke songgonompo gerak lari Srisik tangan kanan dari Lumaksono ridhong gerak lari Srisik tangan kanan SW Representatif SL Representatif Keterangan kanthen Distilisasi orang bergandengan tangan kanan Distilisasi orang berjalan kanthen Distilisasi orang bergandengan tangan kanan Distilisasi orang sesuatu gerak lari dari gerak lari dari menerima sambil tangan .

sambil gerak kaki burung gagak. tawing Distilisasi kiri dari Lincak gagak.226 5 Jengkeng Distilisasi orang duduk dari mbalang Distilisasi dari orang memberi atau membuang sesuatu 6 Ngaras Distilisasi orang berciuman dari Ngaras Distilisasi orang berciuman dari 7 Lincak gagak. tawing kiri Distilisasi dari gerak kaki burung gagak. sambil melihat ke kiri 8 Sautan / nubruk Distilisasi orang memegang seseorang dihindari 9 Srisik kanthen tangan kanan Distilisasi orang bergandengan tangan kanan 10 Enjer tawing kiri Distilisasi orang berjalan samping dari ke Tanjak tawing kiri gerak lari Srisik tangan kanan yang dari hendak Endhan melihat ke kiri Distilisasi dari orang menghindar kanthen Distilisasi orang bergandengan tangan kanan Distilisasi gerak lari dari orang berdiri sambil melihat ke kiri sambil melihat ke kiri .

12 Srisik dan menimang bayi Distilisasi gerak Lumaksono. Kedua tangan trap cetik nyempurit Distilisasi orang kedua ditekuk pinggang jari-jari di lari. kedua tangan menthang sampur Distilisasi orang lari. kedua tangan lurus membuka samping ke dengan membawa sampur. ( pola tersebut merupakan sikap berdiri pada . gerak Posisi tangan depan dengan membuka. nyabet tangan kanan Distilisasi orang berjalan gerak orang lari dengan menggendhong bayi 13 Srisik mundur Distilisasi orang lari. kecuali jari jempol ditekuk. gerak Posisi Srisik (tangan nekuk). gerak badan menghadap ke depan sedangkan langkah kaki mengarah ke belakang 14 Tanjak Distilisasi gerak orang berdiri.227 11 Srisik kipat sampur.

Kasmaran 1 2 Sindhet Sekaran laras kebyokan 3 Kebyokan tangan kanan-kiri 4 Kengser Kesannya mengabaikan Gerak penghubung. kesannya mendekat Gerak penghubung. kesannya mendekat . kesannya mendekat 5 Kengser Kengser Gajah-gajahan Gerak penghubung Kesannya tenang Besut Besut SW Presentatif SL Presentatif Keterangan Gerak penghubung Gerak penghubung Kesannya tenang dan memperhatikan Gerak penghubung. Adegan Peran Jenis Gerak Peran Jenis Gerak Keterangan No I.228 tari Jawa untuk putra yang posisi kedua kaki membuka dan ditekuk badan disertai sedikit condong ke depan ).

229

Adegan

Peran

Jenis Gerak

Peran

Jenis Gerak

Keterangan No II. Kekudangan 1 Srisik dengan membawa anak Distilisasi gerak Tangan SW Representatif SL Representatif

Keterangan

kiri Menunjukkan

kasih

orang lari dengan menggendong boneka anak

memegang bahu dan peneliting tangan kanan

memegang anak gerak ke Tawing kanan Distilisasi gerak orang melihat ke kanan

2

Tawing kanan

Distilisasi orang kanan

melihat

3

Tawing kanan

Distilisasi orang kanan

gerak ke

Srisik

Distilisasi gerak orang lari

melihat

4

Srisik

Distilisasi orang lari

gerak

lumaksono

Distilisasi gerak orang berjalan

5

Memberikan anak kepada suami

Untuk timang

ditimang-

Menerima anak

Untuk timang

ditimang-

230 6 Tawing kiri-kanan Distilisasi gerak Menggendong anak Menimang-nimang boneka anak

orang melihat ke kiri lalu ke kanan 7 Lumaksono lembehan sampur Distilisasi gerak Lumaksono

Distilisasi gerak orang berjalan

orang berjalan yang kedua tangannya

membawa sampur 8 Menerima anak Untuk timang 9 Menggendong anak Menimang-nimang boneka anak 10 Srisik dengan membawa anak Distilisasi gerak Lumaksono ditimangMemberikan anak kepada istri Lilingan Untuk timang Distilisasi gerak orang meledek Distilisasi gerak orang berjalan ditimang-

orang lari dengan menggendong boneka anak

231

Adegan

Peran

Jenis Gerak

Peran

Jenis Gerak

Keterangan No II. Kekudangan 1 Lembehan ke kananke kiri sambil putar lalu ukel karno kanan 2 Kawilan Kesan meledek Ukel karno kanan Kesan perhatian meminta Panggel SW Presentatif SL Presentatif

Keterangan

memperhatikan

Kesan merespon

3

Ogekan, kanan sampur

tangan Kesan meledek menthang

232

Adegan

Peran

Jenis Gerak

Peran

Jenis Gerak

Keterangan No III. Makarya 1 Sekaran luluran Distilisasi gerak Laku pondhongan Enjer ridhong muter SW Representatif SL Representatif

Keterangan

telu Distilisasi gerak orang memondong Distilisasi gerak orang berjalan ke samping dengan melingkar

orang sedang luluran 2 Tawing kiri Distilisasi orang gerak ke

melihat

samping kiri 3 Lilingan kebyok sampur Distilisasi orang sambil sampur 4 Enjer muter Distilisasi gerak orang berjalan ke samping dengan melingkar Enjer muter gerak meledek membawa Lilingan kebyok sampur

Distilisasi gerak orang meledek sambil

membawa sampur

Distilisasi gerak orang berjalan ke samping dengan melingkar

233

Dari paparan jenis-jenis gerak presentatif dan representatif yang terdapat pada tari Bondhan Sayuk, dapat dicermati secara kuantitatif. a. Jenis gerak Representatif. Jumlah No Adegan Peran Jenis Gerak vokabuler

1

I. Kasmaran

SW

Representatif

12

SL

Representatif

14

2

II. Kekudangan

SW

Representatif

10

SL III. Makarya 3 SW

Representatif

10

Representatif

4

SL 4

Representatif

4 54

Jumlah gerak representatif, adegan I, II, dan III

b. Jenis gerak Presentatif. No Adegan Peran Jenis Gerak Jumlah vokabuler 1 I. Kasmaran SW SL 2 II. Kekudangan SW SL 4 Presentatif Presentatif Presentatif Presentatif 4 5 4 4 17

Jumlah gerak presentatif, adegan I dan II

234

Jumlah presentase jenis-jenis gerak representatif dan presentatif tari Bondhan Sayuk.

Tari Bondhan Sayuk No 1 2 3 4 5 Adegan I, II, dan III I, II, dan III Jenis gerak representatif presentatif jumlah 54 17 71 76,05 %, 23,95 %

Jumlah total gerak representatif dan presentatif = 54 + 17 Jumlah presentase gerak representatif = 54 : 71 X 100. Jumlah presentase gerak presentatif = 17 : 71 X 100.

3. Polatan (ekspresi wajah). Ekspresi wajah atau gerak wajah bukannya wajah dalam pengertian objek yang statis, merupakan sarana untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik terhadap sesuatu yang sedang dikomunikasikan. Dari pengamatan peneliti terhadap ekspresi wajah pada tari Bondhan Sayuk dapat dijabarkan seperti berikut. Pada adegan 1. kasmaran, bagian awal menggambarkan rasa kebersamaan, polatan kedua penari tampak cerah, kepala cenderung tegak, pandangan mata lebih banyak searah dan juga diseling saling menatap untuk mengekspresikan rasa romantis. Perubahan terjadi ketika rasa kecewa muncul, polatan suami sedikit tegang terfokus pada istri sedangkan kepala istri banyak menunduk, tatapan mata tidak merespon suami dan berupaya menghindar. Rasa kasmaran mulai terbangun kembali ketika sepasang suami dan istri berciuman, polatan suami dan istri tampak cerah, mulai saling menebar senyuman. Akhir adegan kasmaran suasana tegang, wajah suami dan istri tampak tegang pandangan mata tajam dan kepala tegak. Pandangan mata suami istri saling menatap secara tajam dengan

gembira. polatan terfokus pada istri. Adegan kekudangan diawali Istri srisik sambil menimang bayi menuju ke stage mendekati suami. sedangkan pria memakai kejawen. Bagi orang jawa rias dan dandanan busana yang digunakan pada acara resepsi secara garis besar untuk wanita memakai kebaya dan bagian atas menggunakan sanggul atau gelung. secara perlahan-lahan suasana mulai berubah menjadi gembira. senyuman semakin meningkat dan pandangan mata banyak saling menatap menunjukkan keharmonisan dan kemesraan. Kegembiraan meningkat dan kebahagiaan semakin terasa ketika sepasang suami istri secara bergantian menimang anak. suasana semangat yang diekspresikan secara bersama-sama antara suami dan istri lewat sekaran-sekaran kebar semakin dinamis didukung iringan Lancaran Sayuk yang berirama 1/1. Menginjak adegan makarya. sehingga kegembiraan lebih maksimal dan kebahagiaan semakin mantap. ekspresi wajah sepasang suami istri tampak cerah. Ide yang melatarbelakangi bentuk rias dan busana yang dipakai bahwa kisah cerita yang diangkat dalam tari Bondhan Sayuk adalah gambaran kehidupan sepasang suami istri yang berbudaya Jawa. Bentuk rias dan busana tari Bondhan Sayuk mengacu pada busana Jawa yang sering dipakai pada acara-acara formal sebuah resepsi. Konsep tersebut rupanya merupakan pijakan awal yang selanjutnya dikembangkan oleh penyusun tari menjadi lebih berfungsi untuk kebutuhan ekspresi tari. 4. Rias dan busana.235 didukung gerak istri perlahan-lahan menjauh meninggalkan sedangkan gerak suami mendekat. ekspresi wajah keduanya semakin tampak cerah. Bentuk rias dan dandanan busana tari Bondhan Sayuk seperti .

Garis-garis lurus digunakan untuk mengungkapkan keinginan. kelat bahu.236 rias dan busana yang dipakai pada peran-peran kethoprak. yaitu garis lurus dan garis lengkung. Perhiasan yang dipakai putri diantaranya: gelang. terutama peran alusan atau bambangan untuk pria. kelat bahu. kemauan yang kuat dan tegas. keris dan blangkonan. cundhukjungkat. dan cundhukmentul layaknya penganten putri berbusana basahan. Pola lantai yang dibentuk dari Kinetic body moves merupakan komplementer keduanya yang diharapkan dapat membantu mengekspresikan suasana yang terdapat pada masing-masing adegan. Dandanan busana untuk istri memakai dodot tanggung (dodot kecil) motif lereng dan bagian kepala menggunakan gelung besar yang diberi bunga tibandhadha. Suami memakai dodot tanggung motif lereng. kalung. . mencakup dua bentuk utama. seperti aktualisasi adegan awal kasmaran yang menggambarkan kebersamaan suami dan istri (lihat gambar: 1). Perhiasan untuk putra diantaranya: gelang. Warna busana dominasi coklat yang memiliki kesan kalem dan kuning emas terutama perhiasan untuk menambah daya tarik penonton. Secara prinsip pola lantai yang terdapat dalam tari Bondhan Sayuk. Pola lantai. Selain itu untuk fase-fase ketegangan ketika istri hendak meninggalkan suami (lihat gambar: 2). Wujud rias istri menggunakan rias cantik dan rias suami menggunakan rias bagusan yang keduanya tidak menampakkan perubahan karakter secara menyolok. 5. dan suweng. dan kalung. Kiranya dapat disimpulkan bahwa rias dan busana yang digunakan dalam tari Bondhan Sayuk untuk memberi dukungan karakter peran dan mengaktualisasikan jati diri peran.

Gambar 1: pola lantai laku telu pondhongan pada adegan tiga. lembut. Adapun bentuk-bentuk sekaran laku telu pondhongan. Gambar 2. dan enjer ridhong muter yang terkait dengan pola-pola lantai tersebut seperti tergambar pada paparan berikut. lilingan kebyok sampur.237 Gambar 1. . Garis-garis lengkung lebih difungsikan untuk mengungkapkan kesan manis. yang banyak terdapat dalam tari Bondhan Sayuk. Gambar 1. Gambar 2: pola lantai lilingan kebyok sampur pada adegan tiga. Gambar 2. terutama pada adegan tiga makarya.

Bentuk garap jineman merupakan garap lagu tembang jawa.238 Gambar 3. 6. Maksud menggunakan garap jineman adalah untuk menonjolkan lagu dan makna yang terkandung dalam bahasa verbalnya. Bahasa verbal yang berupa teks sastra tembang yang terdapat dalam tari Bondhan Sayuk. Iringan. yang penyajiannya dimulai nyanyian solo atau tunggal tanpa iringan instrumen gamelan kemudian diikuti nyanyian secara koor dengan iringan instrumen gamelan. Garap jineman mencakup satu bait yang terdapat pada iringan Ladrang Sayuk. yakni: (1) garap sindhenan (2) garap jineman. Gambar 3: pola lantai enjer ridhong muter pada adegan tiga. Bentuk iringan tari Bondhan Sayuk merupakan komplementer garap lagu Teks sastra tembang dan rasa musikal dari garap instrumen gamelan yang berupa gendhing. dan (3) garap gerongan. Sedangkan garap gerongan terdiri dari satu bait yang terdapat pada iringan Lancaran Sayuk. yang dinyanyikan koor oleh vokalis putra . Garap sindhenan terdiri dari satu bait yang terdapat pada iringan Ketawang Mijil Sulastri. terdiri dari beberapa garap lagu.

Pengertian nyawiji di sini garap gendhing Ketawang Mijil Sulastri lr. dapat dicermati secara komprehensip dari beberapa elemen. pt. barang pada adegan ini bersifat nglambari artinya rasa musikal yang dihasilkan dari garap Srepek Rangu-rangu lr. begitu pula rasa musikal dan makna bahasa verbal yang mengekspresikan rasa cinta menyatu dengan ekspresi gerak yang menggambarkan kemesraan sepasang suami istri yang ditandai dengan gerak ciuman. Ketawang Mijil Sulastri lr. diantaranya: a) rasa musikal dan makna bahasa verbal yang mengekspresikan rasa kecewa menyatu dengan ekspresi gerak yang menggambarkan kekecewaan istri. pl. barang. pl. barang. Keterpaduan yang dimaksudkan adalah menyatunya rasa musikal gendhing Ketawang Mijil Sulastri lr. pl. pt. Bentuk menyatunya iringan dengan gerak. pl. barang berfungsi untuk memberikan ilustrasi terhadap rasa kebersamaan sepasang suami istri. pt. pl. pt. b) rasa seleh yang . dan Lancaran lr. pt.239 bersama vokalis putri. yang merupakan iringan kedua setelah Srepek Rangu-rangu lr. barang implementasinya dengan garap gerak adalah menyatu. pt. pt. kedudukannya dalam adegan kasmaran ini bersifat nyawiji. Susunan iringan tari Bondhan Sayuk seluruhnya dan secara urut dari adegan kasmaran. kekudangan dan makarya dapat dicermati berikut ini. Kasmaran. Adegan kasmaran sebagai adegan pertama dalam tari Bondhan Sayuk. pt. antara lain: Srepek Rangu-rangu lr. barang. pl. pl. pl. pt. Kedudukan iringan Srepek Rangu-rangu lr. barang. didukung beberapa iringan gendhing. Ketawang Mijil Sulastri lr. barang. barang dengan ekspresi vokabuler gerak yang secara komplementer mengungkapkan suasana kasmaran yang dialami sepasang suami istri yang terjabar dalam rasa: kecewa dan mesra. pl. Adegan : I.

pl. barang . pl. pt. barang Buka : kendhang : [ 2 5 ] suwuk : 7 6 2 5 7 3 o 2 5 o 7 6 o 2 5 b 7 3 3 6 xpl o 5 7 2 6 g7 3 5 3 2 3 g7 XXXXXxx2xxx x7x x Xx2x x x7 3 2 7 g6 Ketawang Mijil Sulastri lr. pl. dapat dicermati Srepek Rangu-rangu lr. pt.240 terdapat pada gendhing merupakan iringan yang mendukung rasa seleh pada tari. c) pola gatra yang terdapat pada bentuk gendhing Ketawang Mijil Sulastri dapat dijadikan tanda mulai bergerak ataupun berakhirnya suatu gerak pada tari. pl. Lancaran lr. baik rasa seleh ringan maupun rasa seleh berat. merupakan iringan yang secara musikal dapat mengekspresikan suasana tegang yang kedudukannya pada adegan ini lebih bersifat nglambari. Implementasinya rasa musikal yang berirama 1/1 tersebut mampu memberikan ilustrasi rasa tegang yang mendukung kekacauan atau ketegangan yang diekspresikan suami maupun istri. barang tersebut merupakan fase peralihan dari adegan kasmaran menjadi adegan kekudangan. barang. pt. pt. Adapun paparan berikut ini. bentuk iringan untuk adegan 1: kasmaran. Terkait dengan alur adegan iringan Lancaran lr.

. . pekerja profesional. 2 g7 x5x x5x x x. 7 5 7 Xxn6x7 x5x6 7 XXXx5XXXXXXx7 g6 Lancaran lr. 3 . . 2 . x3xx Xx XXXx3x x XXx5x x Xxg6 Xx.x Xx x. g2 g6 ] Adegan : II. pl. 2 2 . g6 x3x x x3x x x. 7 7 . 3 3 . 2 . 6 2 . . 3 7 5 . 6 2 p7 3 2 7 7 6 5 n3 X . Dukungan iringan untuk adegan kekudangan yang mengungkapkan rasa gembira dan rasa bahagia . berpartisipasi aktif dalam pembangunan bangsa dan negara. p3 . 2 . 7 . Kekudangan Dalam adegan kekudangan yang mengisahkan menggambarkan kegembiraan dan kebahagiaan sepasang suami dan istri yang telah dikaruniai seorang anak laki-laki yang diharapkan menjadi pewaris keturunan dan berguna bagi pembangunan bangsa dan negara. . 2 . Adapun bentuk aktualisasinya diwujudkan sepasang suami dan istri yang sedang menimang bayi secara bergantian sambil bersenandung tentang harapan-harapan mulia sebagai orang tua terhadap anak laki-laki kelak setelah menjadi orang dewasa. pt.x x xp. 3 p2 . tidak sombong. .241 [ . Harapanharapan mulia kedua orang tua terhadap anak laki-lakinya kelak menjadi orang yang memiliki kepribadian yang baik.x x x6XXXx x x. 7 3 . g6 2 . . barang [ . . 2 .xxx x. n7 . . tidak menyeleweng. 7 . . 7 7 . n7 n7 . 3 5 . 7 7 . . p3 .

Garap wiled yang berirama 1 / 8 pada Ladrang Sayuk lr. Kedudukan iringan Ladrang Sayuk lr. Bentuk iringan untuk adegan 2: kekudangan dapat dicermati paparan berikut ini. pt. barang pada dasarnya nyawiji dengan garap geraknya. Jineman Sayuk laras. pt. barang mengisyaratkan bahwa ungkapan rasa gembira dan rasa bahagia yang terdapat pada adegan kekudangan ini suasana tampak lebih tenang dan semeleh (irama tidak tergesa-gesa. barang.242 adalah Ladrang Sayuk lr.ketat diikuti pola kendangan. lagu jineman yang riang dan tekanan sedang pada adegan kekudangan ini adalah untuk pencapaian harmonisasi penyajian. pl. pl. barang . Dalam hal ini polapola gerak tari selalu ketat. barang pada adegan ini sifatnya mungkus. Pengertian nyawiji ini mengarah pada pemersatuan dari unsur tari yang berupa vokabuler-vokabuler gerak kebar yang dinamis dan unsur karawitan yang berupa Ladrang Sayuk lr. Selain itu iringan Ladrang Sayuk lr. dan bahagia sepasang suami dan istri dapat nyawiji dan tercapai. barang dengan irama sigrak. pt. pl. pl. dan nyawiji. Keterpaduan garap tari dan garap Ladrang Sayuk dalam rangka mengekspresikan rasa gembira. pt. Bentuk mungkus ini ditinjau dari pelaksanaan vokabuler gerak yang terdapat pada adegan kekudangan hampir seluruhnya menggunakan pola kendangan kebar atau ciblon yang selalu membungkus pola gerak. pl. dan mantap). pl. pt. pt. pelan.

pak ne si .c6 Sa . 6 z7x x xzj@c# zzzzzzzzzjz6x7x jx5c3 2 zj2c3 3 7 2 zj3c2 7 rung . z6c7 5 we 5 . . 3 . . . . . u zj2c3 u . .nak ku sing ba .dang-e . 3 .nak mu ga . . .e z6c7 7 @ Sa-du 5 5 5 a .ci Dhuh mas ji . pt.ya 5 I .ngan .nen mre-ne # z#c@ 7 z6c7 dhe . a . .wa .243 Buka : celuk : 6 z7cx2 2 7 2 XXXXz@cc# 2 XXXXXXxxz6c7 Xxzx5x.ki wus wan . y u 3 z6x5x3x5x6c7 z3x2x7c6 z7x2x.c6 ku 2 uX y 3 ba .le mang-kat ma 5 6 7 z5c6 2 2 z2x3c2 kar ya z7x. . y . .x3x2c7 Ba.tho . pl. .sah a .gus 3 z@x x x x c# z6x c5 pin .ti . 2 Be . . zj2c3 y tho-le 2 7 y zj7c2 Mbok-ne . 2 5 3 .wa .x6x5c3 2 X z2x3c2 z7x. . 6 Tak ku . . barang 5 2 5 2 5 6 5 3 .ter nyam-but ga .suk 7 .we Ladrang Sayuk lr.wah mu tan . . .

e cu-kat trampil 5 2 7 2 5 j2jj j 6 tu.2 jz5c6 6 Adhuh la .3 5 zj5c6 j22 j23 5 zj5c6 2 j.ta 2 7 j.3 5 .xk3c4 j22 j23 j4jk.e 2 7 2 7 .e atak adhuh la .6 3 j.nge j7j j # j@j j 6 j3j j j.dhuh la – e se.y jz7c2 zj2c3 3 j.3 2 7 j.7 2j.3 j77 j77 2 j.nak .sing–kir .e 5 .6 2 6 7 j.ma -nda .3 5 3 2 5 2 5 3 5 6 zj5c6 j22 j23 5 zj.3 4 kz.ke 4 2 4 2 4 3 2 7 j.ne 5 3 5 3 6 7 3 2 3 j.sar bregas ten a .e wis mbok ne e-nyoh a .xjkj5c6 2 j.e dha .e 7 @ 6 3 6 5 3 2 .kz3c4 2 j.mi – ndak .3 4 jz3c4 A-dhuh lae atak a.7 3 zj7c2 A-dhuh lae atak a-dhuh la .e a-tak a .6 6 7 jz@c# zj6c7 zj3c2 zj6c5 3 A-dhuh la .7 2 6 j27 3 ne 2 j.6 6 j.6 z7c2 z2c3 3 j.dhuh la.7 jz2c7 jz3c2 7 la .7 2j.6 j22 j23 5 j.244 j.6 j33 j33 jz7c2 2 5 j.3 j77 j77 2 j.3 zj5cy j.ran di .ne 2 6 3 y 2 j.# j@# 7 A-dhuh lae a-tak adhuh lae 2 7 2 7 jz6c7 3 jz7c2 an-teng ta-jem po .so nga .2 A-dhuh la-e atak adhuh la .buh la-bet mringbangsa .3 2 y j.te .la .3 5 j.7 2 jz2c3 Adhuh lae a-tak a-dhuh lae o -ra nyle-weng tu .

Kedudukan iringan Lancaran Sayuk lr. barang yang berfungsi nglambari yang memberikan ilustrasi rasa musikal untuk mundur beksan. kompak antara suami dan istri dalam suasana gembira. Bentuk nyawiji ini mengarah pada pemersatuan dua unsur menjadi satu yaitu dari unsur tari yang berupa vokabulervokabuler gerak kebar yang dinamis dan unsur karawitan yang berupa Lancaran Sayuk dengan irama sigrak. pt. Adegan makarya merupakan gambaran semangat bekerja secara bersama-sama. Bentuk mungkus ini ditinjau dari pelaksanaan vokabuler gerak yang terdapat pada adegan tiga hampir seluruhnya menggunakan pola kendangan kebar atau ciblon yang selalu membungkus pola gerak. pt.c# zj5x6jx5c3 sun 2 ar . dan nyawiji. pt. lagu gerongan riang dan tekanan dinamis. barang. mang - kat me - ga - we Adegan : III. pl. barang secara berurutan dapat dicermati paparan berikut ini. pt. pl. pl. 7 z@x xj. Makarya.ketat diikuti pola kendangan. .sa jz6x7xxj6c5 3 . Rasa yang hendak diekspresikan pada adegan ini yaitu puncak kegembiraan dan kebahagiaan untuk menyongsong masa depan yang lebih cerah. barang pada adegan ini sifatnya mungkus. Sebagai penutup adegan makarya diiringi Ayak-ayakan lr. . pl. sehingga rasanya menyatu dan harmonis. pt. Iringan yang mendukung adegan makarya yaitu Lancaran Sayuk lr. zj6c7 5 . pl. . barang dan sebagai mundur beksan (penutup) iringan Ayak-ayakan lr. Dalam hal ini pola-pola gerak tari selalu ketat. pt. Iringan Lancaran Sayuk lr.245 . barang dan Ayak-ayakan lr. pl.

@ . 6 2 2 . 6 . 6 5 5 3 3 5 3 3 5 . . 6 5 5 . 2 SS Sa yuk 7 7 . 5 g6 6 Sa . 6 .ne . .ca . 6 . 6 3 5 3 g2 7 g2 g6 g2 .we . 6 . . o 5 5 o b . [ 6 3 5 3 3 5 5 3 5 . . 6 2 2 . 7 .yuk sa – kan . 6 2 2 . .x x c3 z6c5 3 mba-ngun ne – ga - ra - ne Ayak-ayakan lr. o g3 b . 7 6 6 . .ka . barang Buka : . pt. . 6 . sa-yuk .yuk sa . 7 6 6 . 3 g5 5 Sa .be . pt. . 5 . 7 . . 6 5 5 3 7 g2 o . b 2 g2 . sa.yuk .yuk . 6 sa. 5 g2 . 2 7 3 .yuk nyam-but ga. . 6 5 5 . g7 3 g6 g6 g2 5 5 3 g2 3 3 2 2 g3 g3 6 6 5 5 3 6 g2 g7 ] Suwuk : x7x x7 6 7 3 2 7 g6 . 5 g6 6 Sa-yuk . sa. . . . . 7 6 6 . . pl. z@x x x. 6 sa . 7 . 3 z6c7 . barang .yuk . 3 .246 Lancaran Sayuk lr.yuk . pl. 6 5 5 . . 5 3 2 . 6 . . 2 7 3 . sa.he . 3 .

dengan harapan mendapat Lumaksono ridhong Lumaksono ridhong Garis lurus Gong: 2 perhatian demi terjalinnya kasih cinta untuk harmonis Keterangan 1 Pasihan/ Percintaan. Kasmaran: tangan kanan tangan kanan . ungkapan cinta yang mendalam seorang suami Rasa Kebersamaan Srisik kanthen Srisik kanthen Garis lurus Gong: 1 terhadap istrinya. I. pt. No Bahasa Verbal Sastra Tembang Tema. pl. dan Rasa Vokabuler gerak Istri (SW) Bahasa Nonverbal Vokabuler gerak Suami (SL) Pola lantai Iringan Hubungan Langsung Hubungan Tidak Langsung Srepek Rangurangu lr.247 Komposit Bahasa Verbal dengan Nonverbal Tari Bondhan Sayuk. Adegan. barang.

aja gawe kagol . manis. Rasa kecewa jengkeng. pl. Garis lengkung Gong: 2 Gong: 3 V - garwaku berdiri kebyokan gajah-gajahan. sindhet Ketawang Mijil Sulastri lr. sekaran nyabet laras kebyokan kanan. mbalang. pt. kanan. Hoyogan. besut tangan Posisi di tempat Gong: 1 Dhuh mas rara. tangan kanan. tangan kanan-kiri songgonompo. besut enjer menthang tangan kiri. barang.248 Srisik tangan laku kanthen Srisik kanthen Garis lengkung Gong: 3 sebuah rumah tangga. wong sembahan.

lincak gagak.249 Amung sira yekti Rasa mesra sulistyane gerak kengser dan ngaras kengser dan ngaras Gong: 4 V - Jumbuh klawan lincak mbalik gagak. 3. dan 4 Rasa tegang srisik sampur kipat srisik kedua tangan ditekuk pinggang trap Garis lurus Gong: 5 . Binerkahan ugi. pt. pl. Prasetya ingong wak dan jeblosan Lancaran lr. maju endhan sautan/nubruk jeblosan dan Gong:5 V - rasaningtyas mami. barang srisik kanthen srisik kanthen Garis lengkung Gong: 1 tangan kanan tangan kanan tawing kiri dan tanjak tawing kiri laku enjer Garis lurus Gong: 2.

dan 11 . maju tanjak kanan Gong: 9.10. dan 7 nyabet kanan maju srisik Gong: 8 Srisik sambil menimang anak mundur srisik.250 Gong: 6 mundur kengser.

bapakne si thole. putar ke kanan. mbalik tawing kanan Ukel karno kanan Garis lengkung V - . Rasa mesra Menimang anak maju. tangan kiri memegang bahu istri dan tangan kanan memegang anak sambil memperhatikan dengan tawing kanan Garis lengkung V n keharmonis an keluarga. putar ke kiri – tangan kanan ukel karno maju panggel dan pandangan mengarah ke putri dan anak Garis lengkung V mendukung tugas dan kewajiban peran suami sebagai kepala keluarga.251 2 Jineman Ladrang Sayuk Dalam menciptaka Dhuh mas jiwaku. lembehan tangan kanan. seorang istri mempunyai peranan cukup penting dalam baya iki wis wanci.

maju mendekati suami lumaksono V - Sakdurunge anakmu mrene. nyambut gawe . mbesuk mesra.252 mangkat makarya. pl. bahagia. gawanen maju srisik mendekati suami untuk memberikan anaknya mendekat untuk menerima anaknya Garis lurus V - Tak kudange anaku Rasa sing bagus dhewe. tawing kiri-kanan menimang-nimang anak Garis lengkung Ladrang Sayuk lr. pt. membelai anak (berupa boneka anak) Srisik mendekat istri V - sawahmu hanganti tansah tawing kanan. panggel V - Mbokne thole. dan pinter gembira. barang V - kebersamaan.

labuh labet mring . atak Menerima anak memberikan anak kepada istri trampil Garis lengkung Kenong: 2 V laki-laki yang masih dalam timangan supaya adhuh lae. atak Menimang anak lilingan Garis lengkung Kenong: 1 V dan mengutama kan tua adhuh lae. kawilan lumaksono putar Garis lengkung Kenong: 1 V Harapan orang terhadap anaknya adhuh lae. atak Menimang anak lilingan Garis lengkung Kenong: 4 (Gong : 1) V baik mengutama kan kebajikan.253 adhuh lae. adhuh lae. atak Menimang anak menthang tangan kiri – ogekan tajem Garis lengkung Kenong: 3 V kelak menjadi seorang yang berperilaku adhuh lae. dasar bregas ten atene adhuh lae. anteng polatane adhuh lae. cukat tumandange adhuh lae. sesongaran disingkirke adhuh lae. kerja keras. atak Lumaksono lembehan sampur.

nleweng tumindake adhuh adhuh mbokne anake lae. atak lae. barang .254 bangsane Kenong: 2 adhuh adhuh lae. srisik lumaksono Kenong: 3 V - sun arsa mangkat megawe 3 lancaran Sayuk lr. atak lae. Gerongan Sayuk pl.wis enyoh memberikan anak kepada temanten. pt.ora srisik Lumaksono Garis lurus V kepentingan umum untuk membangun bangsa.

sakabehe Sayuk negarane mbangun Kawilan . sayuk. sayuk. sayuk. dan berupaya menjalani kehidupan Sayuk. sayuk. sayuk. sayuk. damai. nyambut gawe Laku telu sampir sampur Laku telu pondhongan Garis lengkung Gong: 5 Gong: 6 - V secara bersamasama untuk membina dan Sayuk. mbangun Enjer ridhong Enjer ridhong Garis lengkung Gong: 7 Gong: 8 - V mendidik anak kelak menjadi orang yang Lilingan kebyok Lilingan kebyok Garis Gong: 9 V berguna . sayuk. bahagia Trap tawing jamang - Luluran Garis lengkung Gong: 1 Gong: 2 - V Gambaran kehidupan sebuah keluarga yang rukun. nyambut gawe Rasa gembira. sayuk. sak kancane Sayuk. sayuk. sayuk. sayuk.255 sayuk. sak kancane Sayuk. sayuk. sayuk. Sayuk.tawing Tawing kiri Garis lengkung Gong: 3 Gong: 4 - V harmonis. sakabehe Sayuk negarane Sayuk. sayuk.

256 sak kancane Sayuk. sayuk. pt. sayuk. sayuk. . pl. Sayuk. Garis lurus cucuklampah temanten (selesai). barang Srisik kanthen Srisik kanthen tangan kanan dan mengambil anak Garis lurus tangan kanan dan mengambil anak Lumaksono sambil menimang anak sebagai Lumaksono sebagai cucuklampah temanten (selesai). sayuk. nyambut gawe sampur sampur lengkung Gong: 10 bagi bangsa dan negara. sakabehe Sayuk negarane mbangun Enjer penthangan kedua melingkar tangan Enjer penthangan kedua tangan melingkar Garis lengkung Gong: 11 Gong: 12 - V Ayakayakan lr.

Adapun persentasenya dapat dicermati pada uraian berikut. Boneka anak yang dibalut dengan sehelai kain dimaksudkan sebagai simbolisasi anak (bayi) yang masih dalam timangan seorang ibu. Sedangkan hubungan bahasa verbal dan nonverbal bersifat tidak langsung artinya bahwa makna bahasa verbal sastra tembang tidak sesuai dengan makna bentuk kinetic body moves. 25 % 7.Dari komposit bahasa verbal dan nonverbal pada tari Bondhan Sayuk terdapat hubungan yang bersifat langsung dan tidak langsung. Properti boneka. II. 75 %. Tari Bondhan Sayuk No Adegan Hubungan bahasa verbal dengan nonverbal 1 2 3 I. Jumlah persentase hubungan tidak langsung = 6: 24 X 100. Hubungan bahasa verbal dan nonverbal bersifat langsung artinya bahwa makna bahasa verbal sastra tembang sesuai dengan makna bentuk kinetic body moves dari bagian bahasa nonverbal. dan III I. Rupanya terdapat sebuah harapan dari simbolisasi boneka anak tersebut yaitu bagi pasangan temanten untuk segera diberi keturunan anak sebagai pewaris keluarga. Boneka anak yang sering 257 . Secara kuantitatif hubungan bahasa verbal dan nonverbal pada tari Bondhan Sayuk yang bersifat langsung tampak lebih mendominasi dibandingkan dengan yang tidak langsung. dan III Langsung Tidak langsung 18 6 24 jumlah Jumlah hubungan langsung dan tidak langsung = 18+ 6 4 5 Jumlah persentase hubungan langsung = 18: 24 X 100. II.

Kehadiran genre tari pasihan di Surakarta merupakan suatu proses yang memakan waktu cukup lama dalam sejarah yang penting bagi kehidupan dan perkembangan seni tradisional dalam seni pertunjukan Jawa. garapan tari yang bertemakan percintaan di Jawa diperkirakan telah ada sejak abad IX. akan diamati sejak adanya bentuk garapan tari dengan tema percintaan sejak abad ke VIII zaman Mataram Kuno hingga sekarang. 1999: 2). Masa embrio tari pasihan sejak Abad ke VIII sampai abad ke XIX. B. Faktor Genetik. Digunakannya boneka pada tari Bondhan Sayuk sangat terkait dengan keinginan atau harapan seniman penyusunnya yang ketika itu menghendaki diberi anak pertama lahir seorang anak laki-laki. Bila kita runut lebih cermat. Kehadiran Genre Tari Pasihan Dalam Seni Pertunjukan Jawa Segala sesuatu yang dihadapi manusia dimuka bumi ini dalam kehidupannya semua mempunyai temporalitas atau historisitas. prasasti Balitung juga memberi keterangan bahwa pertunjukan 258 . Semua berawal dan berakhir dalam suatu proses yang terus menerus melalui dimensi waktu (Ibrahim Alfian. hal ini untuk kebutuhan kemasan seni pertunjukan supaya lebih menarik dan memikat penonton. Selain wayang. Untuk mengungkap latar belakang munculnya genre tari pasihan dalam kurun waktu sejarah. seperti yang tertulis pada prasasti Balitung.digunakan dalam tari Bondhan Sayuk dilengkapi dengan baterai sehingga dapat bersuara layaknya anak yang sedang menangis. Munculnya genre tari pasihan sebagai proses sejarah merupakan permasalahan yang hendak dipaparkan sebagai awal bagian faktor genetik untuk mengantar pada analisis-analisis berikutnya.

Mengingat di dalam wiracarita Ramayana dan Mahabarata juga diwarnai oleh tema percintaan.dramatari yang membawakan wiracarita Mahabarata dan Ramayana juga sudah ada sejak zaman Mataram Kuna. Gaya dan tehnik tarinya yang digunakan kemungkinan besar telah terekam pada relief Candi Borobudur dan Prambanan (Soedarsono. dan sebagainya. Setelah Kerajaan Mataran Kuna di Jawa Tengah runtuh. Meskipun istilah dramatari tidak disebutkan. Istilah wayang wwang baru dijumpai pada tahun 930 A. Jenggala. tetapi kemungkinan besar yang dipergunakan pada waktu itu adalah bentuk wayang wwang. Rupanya sudah dapat diduga bahwa dalam kedua wiracarita tersebut terdapat adegan percintaan antara tokoh-tokoh utamanya. Mengingat zaman Jawa Timur perkembangan kesusasteraan sangat maju. percintaan Rama Wijaya dengan Sinta. Adapun cerita Panji ini mengisahkan perjalanan cinta Panji 259 . dan Majapahit (abad X sampai ke XVI). maka lahir pula dramatari baru yang bernama Raket (Soedarsono. dramatari Jawa Tengah yang bernama wayang wwang tetap dilestarikan di kerajaan-kerajaan baru tersebut dengan membawakan wiracarita yang sama yaitu Ramayana dan Mahabarata. 1990: 4-5). Kediri. di Jawa Timur muncul kerajaan-kerajaan. percintaan Puntadewa dengan Drupadi. seperti adegan percintaan Sugriwa dan Dewi Tara. Singasari. Bertolak dari sumber yang menyebutkan bahwa wayang wwang merupakan bentuk dramatari dan wiracarita yang dibawakan sejak zaman Mataram Kuna. yang tergores dalam prasasti Wimalasrama dari Jawa Timur. di antaranya Medang. percintaan Arjuna dengan Sembadra. kemungkinan besar bentuk garapan tari yang bertemakan percintaan juga sudah ada sejak zaman itu.D. kemudian muncul cerita baru yaitu cerita Panji. 1990: 7).

Maka tidaklah mengherankan apabila cerita Panji ini juga merupakan tema yang digunakan dalam genre tari pasihan yang hidup dan berkembang hingga sekarang. Benco (sekarang Tembem atau Doyok). Candrakirana. dan kemudian Mataram Baru. kekuasaan politik dan budaya Jawa mulai muncul dan berkembang di Jawa Tengah di bawah rajaraja penganut Islam seperti Demak. Andaga. dan Turas ( sekarang Penthul atau Bancak) (Soedarsono. Bila wiracarita Ramayana jelas berasal dari India. Cerita Panji ini menjadi mendarah-daging di kalangan masyarakat Asia Tenggara karena kemudian dianggap sebagai salah satu cerita Jataka atau kelahiran Budha (Soedarsono. dan wayang topeng kemungkinan besar merupakan perkembangan dari Raket. Danawa (raksasa). 1999: 18-19). Adapun topeng yang diciptakan untuk pertunjukan wayang topeng terdiri dari sembilan. 1999: 133). Runtuhnya Kerajaan Majapahit diawali abad ke XVI. Cerita Panji merupakan cerita yang sangat terkenal di wilayah Asia Tenggara. Dengan demikian Raket merupakan bentuk dramatari yang bertemakan percintaan yang didalamnya sudah barang tentu terdapat garap adegan percintaan antara Panji Inukertapati dengan Sekartaji yang hidup dan berkembang pada zaman Majapahit. tetap populer pada masa itu. yaitu tokoh-tokoh: Panji Kasatriyan. wayang. Klana. Menurut tradisi Jawa. maka tidak dapat disangkal lagi bahwa cerita Panji berasal dari Jawa. Gamelan. Pajang. para wali terutama Sunan Kalijaga yang selalu dikatakan sebagai pencipta topengtopeng yang dipergunakan untuk pertunjukan wayang topeng. Gunungsari.Inukertapati dengan Sekartaji. Raton. Kiranya dapat diduga bahwa wayang topeng tersebut merupakan bentuk dramatari yang menggunakan topeng dan membawakan cerita Panji yang di dalamnya tetap masih terdapat garap 260 .

Baru pada sekitar tahun 1940-an muncul tari GatutkacaPergiwa.adegan percintaan antara Panji Kasatriyan dengan Candrakirana yang dilestarikan pada zaman Mataram Jawa Tengahan (abad ke XVI sampai abad ke XVIII). Baladewa Rabi. maupun peran-peran lain. Menurut Tohiran dan Sarwo Rini. Pertunjukan Wayang Wong dengan lakon-lakon Nayarana Rabi. tidak melestarikan wayang topeng. menunjukkan bahwa garapan tari dengan tema percintaan masih dilestarikan dan cukup berkembang baik (Rusini. Mencermati bentuk-bentuk garapan tersebut rupanya bentuk garapan tari pasihan sejak zaman Mataram Kuna di Jawa Tengah (abad ke VIII ) hingga zaman Mataram Baru di bawah pemerintahan Paku Buwana X ( abad ke XIX). masih terikat dan terkait dengan kelompok. Tari Gatutkaca-Pergiwa adalah bentuk tari pasihan yang merajut percintaan antara Raden Gatutkaca dengan Dewi Pergiwa. bentuk garapan tari yang membawakan tema percintaan tetap lestari dan terdapat pada bentuk Tayub. bahwa tari Gatutkaca-Pergiwa itu telah muncul sebelum Indonesia merdeka tahun 1945 (Maryono. dan Gatutkaca Rabi pada acara memeriahkan perkawinan Puteri Juliana dengan Pangeran Bernhard van Lippe Biesterfeld tahun 1937 di Sriwedari. Ketika Mataram pecah menjadi dua yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta pada tahun 1755. Bedaya Ketawang. 1994: 2-3). adegan. Puntadewa Rabi. pertunjukan wayang topeng masih dilestarikan oleh Kasunanan Surakarta. Munculnya Tari pasihan sejak 1920-1945. Bedaya kadukmanis. Kasultanan Yogyakarta di bawah Hamengku Buwana I. 2006: 19). 261 . dan Wayang Wong. tetapi menggubah satu bentuk dramatari baru yaitu wayang wong dengan membawakan wiracarita Mahabarata dan kemudian di Kasunanan di bawah pemerintahan Paku Buwana X.

Gatutkaca-Sekipu. Hal ini berdasarkan rekaman video tari yang menggambarkan percintaan Raden Irawan dengan Dewi Wanuhara tersebut merupakan rekaman sebagian dari adegan percintaan yang terdapat dalam wayang wong lakon Sri Suwela. Anoman-Anggada. jadi bukan garapan tari pasihan yang sudah mandiri (lihat video wayang wong: koleksi ASKI sekarang ISI Surakarta. berita mengenai pertunjukan wayang wong dengan lakon-lakon rabi atau kromo (kawin) banyak bermunculan pada tahun 1920-an ketika wayang wong mengalami perkembangan pesat di masa pemerintahan Hamengku Buwana VIII. antara lain Gatutkaca Gandrung. dan sebagainya. Klono. Kiranya hal ini dapat diterima karena pertama. Munculnya tari GatutkacaPergiwa diperkirakan pada sekitar tahun 1920 hingga 1945-an yang berarti pula merupakan awal munculnya tari pasihan di Surakarta. pernyataan Tohiran sebagai pengelola wayang wong dan Sarwo Rini sebagai seniman pada waktu itu menyatakan bahwa tari Gatutkaca-Pergiwa itu sudah ada sebelum Indonesia merdeka tahun 1945. Bambangan-Cakil. Rupanya tidak benar apabila ada berita yang menganggap bahwa tari pasihan Raden Irawan dengan Dewi Wanuhara merupakan tari pasihan yang pertama kali muncul di Jawa pada tahun 1920-an.Tari pasihan ini dapat diduga merupakan sempalan dari sebuah garapan wayang wong yang membawakan lakon Gatutkaca Rabi. yaitu untuk merayakan perkawinan Puteri Juliana dengan Pangeran Bernhard van Lippe-Biesterfeld di Sriwedari. nomor: 262 . Di samping itu wayang wong di Surakarta juga telah membawakan lakon-lakon rabi seperti Gatutkaca Rabi terjadi pada tahun 1937. pernyataan Maridi yang mengungkapkan bahwa tari-tari yang sering pentas pada acara-acara orang punya kerja pada tahun 1940-an. ketiga. Bondan. kedua. Janger (dari Bali).

Sulintang.108). Pada peristiwa budaya tahun 1956 di Pura Mangkunegaran yang lebih dikenal dengan sebutan pertemuan tiga kota yaitu Surakarta. Panji. Munculnya Genre Tari pasihan sejak 1956-1962. Graeni. Golek Reneka. Akan tetapi garap tari dengan tema percintaan tersebut lebih sebatas memberi gambaran tentang bentuk embrio tari pasihan yang terdapat di dalam wayang wong. dapat dikatakan bahwa dalam periode itu hampir tidak ada kegiatan-kegiatan yang berarti. Hal itu disebabkan pemerintahan Jepang melarang setiap kegiatan berkumpul. dan selama perang kemerdekaan hampir semua kegiatan diorientasikan untuk memenangkan perang. sedangkan Bandung menyajikan tari-tarian seperti: tari Puja. Sekar putri. Pertemuan budaya tiga kota ini merupakan pertemuan ke-2. Yogyakarta. dan tari Samba. Kehidupan kesenian dalam kurun waktu tahun 1942-1949. Srigati. Menurut Soedarsono kehadiran genre tari pasihan ini terpacu oleh munculnya tari Oleg Tambulilingan yang merupakan satu-satunya tari duet percintaan di Bali yang telah muncul pada tahun 1952. Dewi Serang. dan Bandung. Surakarta menyajikan tari pasihan ‘Rara Mendut-Pranacitra’. Di samping itu perubahan-perubahan sosial yang terjadi dalam 263 . Pada pertemuan di Pura Mangkunegaran masing-masing peserta menyajikan tari-tarian menurut gaya yang dimiliki. Yogyakarta menampilkan tari pasihan ‘Bahula-Retna Manggali’. Pamindo. kesinambungan dari pertemuan pertama di Yogyakarta. muncul genre baru yaitu genre tari pasihan. Kupu-kupu. tampaknya munculnya genre tari pasihan di Jawa akibat peralihan kekuasaan dari pemerintahan kerajaan ke pemerintaahan republik yang lebih mengutamakan caracara demokrasi. Selain itu.

Bondhan Tani merupakan tari pasihan yang menggambarkan pasangan suami dan istri di dalam kebersamaannya mengolah sawah sebagai lahan pertanian. situasi negara betul-betul semakin genting. Pada masa itu muncul tari yang menggambarkan kehidupan rakyat kecil seperti tari Tani. tari Nelayan. akibatnya seni yang berasal dari istana terdesak bahkan dimusuhi karena dianggap tidak merakyat dan tidak dapat untuk menarik massa. muncul tari duet Satya Bakti yang membawakan tema percintaan dan perjuangan.masyarakat mempunyai peran yang cukup besar dalam membentuk dan mempengaruhi lahirnya genre tari pasihan saat itu. tari Gotong-royong. menanam padi hingga mengambil hasilnya (memanen) dilakukan secara gotong royong oleh sepasang suami-istri. Rupanya bentuk-bentuk tari yang sifatnya masal dan bertemakan kerakyatan. dan sebagainya. Masa menjelang tahun 1965. Berawal dari menggarap sawah. anti feodalisme yang dikembangkan PKI hidup subur. Hal ini terjadi akibat situasi politik negara yang mulai rawan. bentuk-bentuk kesenian yang mampu untuk mempengaruhi massa seperti Ketoprak dan Ludruk menjadi rebutan dua partai besar yaitu Partai Nasional Indonesia (PNI) dan Partai Komunis Indonesia (PKI). Rupanya tari Satya Bakti merupakan hasil interpretasi terhadap kesadaran bela negara yang saat itu sudah mulai memudar di kalangan masyarakat. muncul tari Bondhan Tani yang disajikan secara berpasangan dengan mengacu tema percintaan. yaitu masing-masing organisasi politik saling mencurigai dan mulai berebut massa untuk menguasai pemerintahan. Sekitar tahun 1962. Pada tahun 1959. Maka wajar apabila bentukbentuk tari duet percintaan yang sudah ada tidak dapat berkembang karena pada 264 .

dan para ekonom wanita serta wanita-wanita karier hadir hampir pada semua sektor publik. terjadi perubahan tatanan politik sangat kuat yang kita sebut Orde Baru. politik. ekonomi. Setelah tahun 1965. dan jangkauan yang jelas dan transparan.dasarnya tari-tarian duet percintaan yang menjadi genre ini merupakan tari-tarian tradisional yang mengacu pada tarian istana. baik hukum. tujuan. Kemitrasejajaran yang menyangkut kedudukan wanita dengan laki-laki tampak semakin meningkat dalam berbagai aspek. para politisi wanita semakin diperhitungkan dalam elite politik. itu semua tidak dapat disangkal telah mempengaruhi pola pikir hubungan antar remaja. Pembangunan nasional mulai terprogram secara periodik dan memiliki arah. Masing-masing mempengaruhi pola pikir hubungan antar remaja. Tentu saja faktor-faktor itu semua mempengaruhi bangkitnya genre tari duet percintaan untuk lebih bergerak hidup dan berkembang dalam menyongsong kebutuhan hidup masyarakat. dan lainnya. Hal itu tidak terlepas dari kondisi stabilitas keamanan yang berangsur-angsur mulai pulih dan terkendali serta kembali normal. baik yang berujud buku-buku porno. film-film cinta hingga film yang berbau porno dan juga mode-mode pakaian yang cenderung pamer tubuh. Banyak praktisi hukum wanita mulai bermunculan. 265 . yaitu kebebasan individu mulai dijamin. sehingga pembangunan dari berbagai bidang mulai digerakkan untuk mencapai tujuan masyarakat adil dan makmur. Pengaruh budaya Barat. sehingga kemitrasejajaran antara kaum wanita dan kaum pria mulai tampak. Masing-masing di antara mereka secara aktif dan berani memutuskan pilihannya sendiri bahkan menolak jika memang dirasa tidak cocok ataupun tidak sesuai dengan kehendaknya. maka mulai bermunculan karya-karya individual.

sehingga asal melihat tari-tarian yang berbentuk duet percintaan semotif Karonsih. baik mengenai koreografi. rias. seperti : Driasmara. Keberadaan tari Karonsih dalam budaya Jawa sejak tahun 1970 telah menjadi bagian yang seolah-olah tidak dapat dipisahkan terutama pada acara-acara upacara perkawinan. busana. Dengan semakin seringnya tampil di acaraacara resepsi perkawinan. Penampilan perdana oleh Maridi sebagai Panji Inu Kertapati dan Endang Susilawati membawakan peran Sekartaji. tari Karonsih ini disusun atas permintaan dari panitia resepsi Ibnu Harjanto dari Kalitan (Maryono. 266 . Awalnya bagi penanggap dan kebanyakan masyarakat tidak memahami tari Karonsih. tari Karonsih mengalami perkembangan yang sangat pesat. Lambangsih. 1991: 2). Bentuknya sangat lekat dengan bentukbentuk tari tradisional gaya Surakarta.Pada Tahun 1970 S. Indikasi yang dapat diamati hingga sekarang. Rasanya menjadi kurang utuh apabila dalam acara resepsi perkawinan tidak hadir tari Karonsih sebagai penutup pesta tersebut. Tari Karonsih adalah salah satu tari duet percintaan antara tipe karakter putri luruh dengan putra alus yang bersumber pada cerita Panji. menurut Wahyu Santoso Prabowo sebagai penari tari Karonsih yang telah dimulai sejak tahun 1973 yaitu munculnya istilah ‘Karonsihan’. tahun 1969 dalam rangka peresmian Yayasan Kesenian Indonesia ( YKI ). Maridi sebagai seorang seniman yang kreatif menawarkan hasil karyanya yang berbentuk tari duet percintaan yaitu Karonsih. dan garap iringannya. Kehadiran tari Karonsih menjadi sangat penting karena pada perkembangannya bahwa tari Karonsih ditempatkan sebagai sarana upacara perkawinan yang memiliki nilai simbolik terhadap sepasang temanten. Pada awalnya tari Karonsih disusun berdasarkan fragmen Topeng Klono Bodo yang telah diciptakan Maridi. Pada awalnya.

Selain itu. gerak. Kehidupan Karonsih menyebar meluas di wilayah Pulau Jawa. dan properti. Yogyakarta. tari Langen Asmara. Langen Asmara. tari Gesang Rahayu. dan Jawa Timur. tari Setyaningsih. tari Lambangsih. tari Driasmara. tari Enggar-enggar. iringan. 2006: 28). Kehadiran tari Karonsih di tengah-tengah kehidupan masyarakat dan telah menjadi bagian dari kebutuhan sosialnya. Tema yang diangkat menggambarkan percintaan manusia secara universal. sehingga tari Karonsih ini telah mengakar pada masyarakat Jawa yang dalam kehidupannya banyak dipenuhi halhal yang berbau simbolik. Secara objektif perkembangannya dapat dicermati pada struktur sajian. yang lebih mengarah pada perjalanan hidup sepasang manusia dari kalangan rakyat. tari Bondhan Sayuk lebih tepat untuk gambaran sepasang temanten 267 . Selain itu penyebaran tari Karonsih mengalami kemajuan sangat pesat sejak tahun 1970 hingga sekarang. terutama di daerah Jawa Tengah. Jakarta. dandanan busana.Enggar-enggar. mempunyai pengaruh cukup besar yaitu telah dapat memacu dan memotivasi terhadap seniman-seniman di kalangan tradisional. tari Bondhan Sayuk. tidak terkecuali juga Karonsih dan lainnya. Karya tari Bondhan Sayuk disusun oleh Sunarno pada tahun 1979. tari Karonsih lebih awal hadir di dalam upacara-upacara perkawinan adat Jawa dan berkembang pesat hingga dijadikan sebagai bagian upacara ritual perkawinan karena dianggap mempunyai nilai simbolik yang tinggi terutama bagi kelangsungan kehidupan sepasang mempelai. dan tari Kusuma Aji. tari Kusuma Ratih. tari Jayaningrat. Pengaruhnya dapat dilihat dengan munculnya berbagai bentuk tari duet percintaan. mereka akan menyebutnya tari Karonsihan (Maryono. Menurut Sunarno. seperti : tari Endah.

bahwa setiap tingkat baru dalam life-cycle itu berarti menghantarkan si individu ke suatu tingkat dan lingkungan sosial yang baru dan lebih luas. Gagasan awal terciptanya tari Bondhan Sayuk adalah sebuah ekspresi pribadi Sunarno yang menginginkan anak laki-laki untuk putera pertamanya. Dalam perjalanan waktu tari Bondhan Sayuk sangat diminati oleh masyarakat hingga sekarang. anak pertama laki-laki bahkan anak kedua juga laki-laki dan anak ketiganya baru putri. 268 . Perkembangan genre tari pasihan bagaikan cendawan dimusim penghujan ini tidak terlepas dari tangan-tangan kreatif para koreografer tari seperti Maridi dan Sunarno. Sifat universal pesta dan upacara sepanjang lifecycle terjadi karena adanya suatu kesadaran secara umum di dalam budaya manusia. Pesta dan upacara pada saat peralihan sepanjang life-cycle itu merupakan suatu hal yang universal yang hampir ada pada setiap budaya manusia.maupun sebuah keluarga baru yang belum memiliki anak (wawancara. Meluasnya sebaran genre tari pasihan tidak terlepas dukungan iringan kaset yang banyak dijual di toko-toko serta eksisnya para penari di berbagai kesempatan dalam rangka memenuhi kebutuhan sosial masyarakat. Keinginan tersebut rupanya diridhohi oleh Sang Pencipta. Perkawinan merupakan salah satu dan suatu saat peralihan yang terpenting pada life-cycle dari semua manusia di seluruh dunia. yang pertama merupakan hiburan yang tepat dalam sebuah resepsi perkawinan dan kedua dimaknai sebagai simbolik sepasang suami dan istri yang hidup bahagia yang layak untuk diteladani sepasang temanten. 2008). namun tidak semua saat peralihan itu dianggap sama pentingnya pada tiap-tiap budaya. yaitu peralihan dari tingkat hidup remaja ke tingkat hidup berkeluarga.

mengingat upacaraupacara pada masa-masa melampaui saat-saat krisis sering dimaksudkan untuk menolak bahaya gaib yang mengancam individu dan lingkungan.Di dalam aktivitas budaya manusia ada yang menganggap bahwa saat peralihan dari tingkat sosial tertentu ke tingkat sosial lainnya itu merupakan crisisrites yang penuh bahaya. Kesakralan itu sesuai dengan pendapat Soedarsono mengenai hal-hal yang dianggap penting dalam suatu upacara ritual yaitu waktu. dan pimpinan upcara tertentu. segala ritual yang menyangkut dengan perjalanan hidupnya banyak diselimuti dengan simbolsimbol yang diharapkan dapat memberikan petuah. pendidikan. sebaliknya jika pelaksanaan tidak mentaati konvensi-konvensi yang telah berlaku. tidak menentu. 1990: 4). mereka takut tertimpa malapetaka (Soedarsono. 1972:89-90). tempat. Untuk itu crisis-rites bagi seorang liminal sangat penting. Ketentuan-ketentuan yang telah berlaku dalam upacara tersebut mereka yakini jika dilaksanakan dengan taat dan benar membawa berkah dan keselamatan. dan ragu-ragu (Darsiti Soeratman. Bagi masyarakat Jawa yang masih lekat dengan budayanya. suritauladan yang bermakna untuk keselamatan. Dalam periode liminal ini seorang liminar berada dalam keadaan setengah-setengah. Demikian halnya yang terjadi pada budaya masyakat Jawa di dalam melangsungkan sebuah upacara adat perkawinan. Bagi masyarakat Jawa upacara tersebut merupakan sebuah upacara yang sangat sakral sepanjang daur hidupnya. Periode transisi tersebut juga disebut periode liminal yang merupakan fase tengah dalam skema ritus transisi dari praliminal untuk menuju pascaliminal. dan kebahagiaan hidup. Berkaitan dengan tindakan simbolik dan magis simpatetis bagi masyarakat Jawa dalam 269 . kedamaian. 1989: 157). gawat. perlengkapan. baik secara nyata maupun gaib (Koentjaraningrat. pelaku.

. diperlukan kekuatan-kekuatan tertentu.. they dance with the upper part of their bodies bent forwards.. Suddenly they jump wildly along with violent coitus motions and loud groans. Pada masyarakat yang sudah lebih maju. Stamping with the right foot and singing. berkembang menuju masyarakat modern. yakni adanya hubungan antara pria dan wanita. dilakukan secara simbolis. penuh simbolis dan mengandung makna nilai-nilai percintaan yang sangat berarti bagi kehidupan. Pernyataan tersebut sejalan dengan pendapat Koch Grundberg yang menggambarkan sebuah tari kesuburan dari suku Indian Coneba di Brasil. Rupanya.. Hampir dapat dipastikan bahwa pada setiap upacara perkawinan akan hadir tari pasihan. Kekuatan tersebut antara lain berupa magis simpatetis yang diwujudkan dengan tindakan atau perbuatan yang dapat melambangkan terjadinya pembuahan. Salah satu sarana upacara perkawinan adat Jawa yang cukup penting adalah tari pasihan. They carry the vertility into every corner of the houses. untuk mendapatkan kesuburan dengan cara menanggap jenis tari duet percintaan atau tari pasihan yang merupakan tarian kesuburan yang diekspresikan lewat sebuah garapan gerak-gerak presentatif dan representatif.perkawinan. yakni adanya hubungan antara pria dan wanita.. 270 sudah mengakar pada budaya . yang diekspresikan para penari dengan membawa gambar tiruan organorgan wanita dengan cara sebagai berikut.. Mereka dalam melakukan upacara perkawinan. Hubungan dimaksud pada masyarakat yang masih melestarikan budaya purba kadang-kadang dilakukan lebih realistis (Soedarsono dalam Soedarso.. (dalam Richard Kraus... the jump among the women – the knock the phalli one against another. 1991: 35). Hal ini terbukti pada masyarakat Jawa sekarang yang sudah mengalami kemajuan. tindakan yang dapat melambangkan terjadinya pembuahan. 1969: 21).

Pemilihan bahasa verbal dan nonverbal rupanya mengalami proses penyeleksian yang ketat dengan harapan dapat dihayati oleh penonton. mengingat merupakan satu-satunya bentuk sajian tari yang bermakna. Ekspresi diri semata tidak akan memuaskan. Konsepsi Bahasa Verbal dan Nonverbal Tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk. Peristiwa budaya ini membuat kehadiran tari pasihan dalam upacara perkawinan sangat ditunggutunggu masyarakat. lewat komplementer bahasa verbal dan nonverbal. untuk itu dibutuhkan kecermatan dan kreatifitas seorang seniman dalam menciptakan karya tari yang mencakup bahasa verbal dan nonverbal. ia menciptakan sebuah karya dengan harapan dapat dihayati. maka dibutuhkan olehnya juga sebuah penghargaan. yaitu pada setiap ada acara upacara perkawinan akan hadir tari pasihan yang hendak diteladani oleh kedua mempelai. 271 . Sebagai media komunikasi genre tari pasihan diharapkan mampu menyampaikan pesan. Kehadiran genre tari pasihan pada ritual upacara resepsi perkawinan merupakan bahasa komunikasi seorang seniman terhadap penghayat. Karya tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk merupakan media aktualisasi bagi seniman dalam realitas masyarakat sebagai sarana ekspresi jiwa untuk diinteraksikan kepada publik untuk menggapai sebuah cita-cita dan pemenuhan akan kebutuhan hidup.masyarakat Jawa. baik secara simbolik maupun sebagai santapan estetis terasa menyatu dengan situasi upacara. Bagaimanapun acuhnya seorang seniman nampaknya terhadap publik. Wujud penghargaan adalah dapat diterimanya karya tari tersebut oleh masyarakat.

dapat dicermati contoh berikut ini: Jenis Tindak Tutur (TT) yang melekat pada Sindhenan Pangkur Ngrenas.Berdasarkan informasi dari seniman penyusun. meminta. Secara intern jenis-jenis tindak tutur yang terdapat dalam tari pasihan menggambarkan tentang nasehat-nasehat cinta kasih dan secara ekstern diharapkan oleh seniman penyusun jenis-jenis tindak tutur direktif yang mendominasi dalam bahasa verbal yang sifatnya mengajak. No Penutur Teks Verbal Sindhenan Pangkur Ngrenas Jenis tindak tutur Pemarkah Situasi 1 Dewi Sekartaji Dhuh jagad dewa bathara Welasa mring dasih kang nandhang kingkin Tinilar garwa satuhu 272 Patik Dhuh jagad formal 2 Dewi Sekartaji Direktif mring dasih formal 3 Dewi Asertif satuhu formal . Bentuk-bentuk dominasi jenis tindak tutur direktif dalam bahasa sastra tembang tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk. dominasi tindak tutur direktif yang terdapat dalam tari pasihan tersebut sangat diperlukan supaya makna keteladanan dapat lebih menyentuh dan cepat ditangkap penghayat khususnya sepasang temanten. dan memerintah dapat menyampaikan makna bahasa verbal sastra tembang yang berupa nasehat-nasehat cinta tersebut dapat ditangkap penghayat. konsep yang mendasari tentang dominasi jenis-jenis tindak tutur direktif yang terdapat pada tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk adalah terkait dengan fungsi bahasa verbal yang terdapat dalam tari pasihan utamanya untuk suritauladan. Untuk itu bagi seniman penyusun.

Sekartaji 4 Dewi Sekartaji 5 Dewi Sekartaji 6 Dewi Sekartaji Ulun dhahat teka Direktif Ulun dhahat datan Direktif formal formal Dadya gantilaning tyas Direktif dadya formal aginggang sarambut Kalamun pinanggya datan 7 Dewi Sekartaji Aluwung tumekeng lalis Komisif Aluwung formal Jenis Tindak Tutur (TT) yang melekat pada Jineman Sayuk No Penutur Bahasa Verbal Jineman Sayuk Jenis tindak tutur Pemarkah Situasi Wanita (W) Dhuh mas jiwaku. 1 dan Lakilaki (L). 6 L Mbokne thole. tansah Patik dhuh mas formal Direktif Asertif Direktif Asertif baya iki bapakne mangkat Sawahmu formal formal formal formal Asertif Mbokne formal 273 . mangkat makarya. Sawahmu anganti. Bapakne sithole. 2 3 4 5 W W W W baya iki wus wanci.

setya. asmara. Dengan demikian bahasa verbal yang terdapat pada tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk.7 L Sakdurunge anakmu gawanen mrene.sebagai bahasa tembang. Kinanthi Sandhung memiliki rasa lagu romantis yang lebih tepat untuk memberikan nasehat-nasehat tentang cinta kasih. sulistyane. dan gerongan Lambangsari. 274 . aginggang sarambut. Jenis-jenis tembang tersebut memiliki watak atau rasa lagu yang bernuansa percintaan. dan mas jiwaku. Kinanthi Sandhung. Jineman Sayuk. garwa. begitu pula gerongan Lambangsari dan Jineman Sayuk. guru lagu. mustikaning. dilihat dari asfek kebahasaan secara koherensi telah memperlihatkan keterpaduan antara unsur-unsur lingual dalam bentuk guru wilangan. prasetya.Mijil Sulastri. rabinira. pinter Direktif mbesuk pinter formal Bentuk bahasa verbal yang terdapat pada tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk merupakan bahasa tembang Jawa yang berasal dari ranah tembang macapat. wong manis. asih tresna. Mijil Sulastri memiliki rasa lagu prihatin dan untuk mengungkapkan rasa cinta kasih atau nasehat-nasehat tentang asmara. seperti Pangkur Ngrenas memiliki rasa lagu jatuh cinta. kata dalam irama dan tekanan dengan dengan watak lagu tentang nasehat-nasehat cinta. Bahasa verbal yang berupa tembang-tembang cinta tersebut dapat dicermati dari penggunaan kata-kata cinta. Adapun jenisnya antara lain: Pangkur Ngrenas. Ekspresif bagus formal 9 L Mbesuk nyambut gawe. wuyung. brangti. Direktif gawanen formal 8 L Tak kudange anakku sing bagus dhewe. wanodya di. seperti: gantilaning tyas.

Wayang Orang yang nota bene bentuk–bentuk seni tersebut banyak menggarap jenis-jenis tembang Jawa. rasa estetik. Puncak kreatifitasnya dalam menciptakan karya yang berbasis bahasa verbal dalam bentuk tembang Jawa yaitu karya Langendriyan Menakjinggo Lena yang mampu memberikan perkembangan pada karya-karya Langendriyan yang berbasis tembang Jawa.Pemilihan jenis-jenis tembang tersebut selain watak atau rasa lagu sesuai dengan tema percintaan juga didasari dari latar belakang budaya penyusun tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk yang berasal dari budaya Jawa.Wayang Orang rupanya memberikan inspirasi dan kontribusi dalam menciptakan karya tari Bondhan Sayuk. Faktor lingkungan memberikan kontribusi cukup berarti dalam menunjang perkembangan kesenimanan Maridi. Dari pengalaman selama berkecimpung dalam dunia Kethoprak. Darsi dan Surono rupanya memberikan kontribusi yang sangat berarti dalam karya tari Karonsih terkait dengan digunakannya tembang-tembang tersebut. setelah dewasa menjadi penari profesional. Begitu pula Sunarno. masuk menyatu mempengaruhi dan mengkristal membentuk pola pikir. Bahasa verbal yang digunakan pada tari Karonsih yang secara intern sebagai alat komunikasi antar peran yang terlibat yaitu sebagai media percakapan 275 . seperti: Kethoprak. Perhatian terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi dilingkungan sosial budaya sekitarnya. Bergaulnya dengan para seniman wayang orang seperti: Rusman. Bentuk tembang Pangkur merupakan salah satu inspirasi dari sajian tokoh Gathutkaca ketika memadu asmara dengan Pergiwa yang diperankan oleh Rusman dan Darsi. ia memiliki pengalaman dalam berkecimpung dalam budaya Jawa. dan pola kehidupan Maridi sebagai seniman. tingkah laku.

Salah satu contoh tingkat kehalusan bahasa Jawa krama yang digunakan pertuturan Dewi Sekartaji dan Panji Inukertapati Kertapati pada tari Karonsih dapat dicermati pada bahasa tembang berikut ini: Pra wanita marsudiya marang tindak kang utama Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada Ingkang bisa nujuprana weh reseping pamicara Nora kengguh ing panggodha darbe budi kang santosa Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira Datan kemba asih tresna sung tetreming kulawarga Sampun sami setya tuhu anggenya liron asmara Karonsih pancen pranyata dadya kembang jagad raya Sedangkan bahasa verbal dalam tari Bondhan Sayuk yang digunakan untuk percakapan peran yang terlibat dalam pertuturan antara suami dengan istri berbentuk bahasa Jawa Krama Ngoko. Konsep yang mendasari digunakannya bahasa Jawa Krama Ngoko pada tari Bondhan Sayuk. Sehingga bahasa verbal yang digunakan untuk komunikasi peserta tutur adalah bahasa Jawa krama yang dirasa tepat dan sesuai untuk mencerminkan kehalusan terkait dengan kedudukan sosial sebagai putra bangsawan. mempertimbangkan kedudukan peserta tutur yang terlibat keduanya adalah masyarakat tani. Peserta tutur antara suami dan 276 . Konsep yang melatarbelakangi digunakannya bahasa Jawa Krama pada tari Karonsih. Dewi Sekartaji puteri raja Lembu Amijaya dari Kediri sedangkan Panji Inukertapati Kertapati putera raja Lembu Amiluhur dari Jenggala. Kedudukan peserta tutur antara suami dan istri adalah gambaran masyarakat secara umum yang lebih lazim disebut masyarakat biasa. Sebagai keluarga bangsawan sikap perilaku kedua peserta tutur memiliki adat dan etika budaya yang mencerminkan kehalusan dan keteladanan.Dewi Sekartaji dengan Panji Inukertapati menggunakan bahasa Jawa Krama. mempertimbangkan kedudukan peserta tutur yang terlibat keduanya adalah anak raja.

seperti bahasa tembang yang digunakan pertuturan ketika suami dan istri sambil menimang anak. Mbokne thole. Kedudukan bahasa verbal dalam tari Pasihan menjadi sangat penting. mengingat bahasa nonverbal yang menjadi sarana komunikasi bersama bahasa verbal memiliki keterbatasan-keterbatasan dalam mengungkapkan maksud dari seniman penyusunnya. polos cenderung apa adanya terkait dengan kedudukan sosial sebagai masyarakat tani. Sebagai keluarga petani sikap perilaku kedua peserta tutur yang digambarkan dalam tari Bondhan Sayuk memiliki adat dan etika budaya yang lebih lugas. Sakdurunge anakmu gawanen mrene. Bapakne sithole. Fungsi bahasa verbal yang terdapat pada tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk adalah untuk mengungkapkan maksud dari seniman penyusun. mangkat makarya. Sehingga bahasa verbal yang digunakan untuk komunikasi peserta tutur yang terlibat antara suami dan istri adalah bahasa Jawa krama ngoko yang dirasa tepat dan sesuai untuk mencerminkan sifat lugas. Sawahmu tansah anganti. hal ini dapat dicermati dari kata-kata yang digaris bawah: Dhuh mas jiwaku. Pemilihan peran suami dan istri dilatarbelakangi dari kehidupan seniman penyusunnya yang berasal dari keluarga seorang buruh tani dari desa Semono wilayah kabupaten Boyolali. Mbesuk pinter nyambut gawe. baya iki wus wanci. polos cenderung apa adanya dan tampak kurang halus (kasar). Tak kudange anakku sing bagus dhewe.istri merupakan simbol keluarga kecil dari kalangan masyarakat petani yang tercermin dari bahasa verbalnya yang cenderung ngoko yang lazim digunakan masyarakat pedesaan. Untuk itu bahasa verbal dirasa sarana yang tepat untuk menjelaskan 277 .

busana. polatan (ekspresi wajah). dan iringan. Kinetic body moves 278 . pola lantai. Rupanya kisah tersebut menjadi sebuah inspirasi yang berarti bagi pasangan temanten yang menginginkan percintaan yang ideal. Bentuk bahasa nonverbal yang terdapat pada tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk meliputi: tema. dan iringan sebagai bahasa nonverbal tari pasihan merupakan pola-pola tradisional yang bersumber dari budaya istana Kasunanan Surakarta. Adapun bentuk garapnya hanya menyajikan dua peran utama yakni pria dan wanita sebagai pasangan suami dan istri.maksud dan harapan yang dikehendaki oleh seniman tanpa melalui proses distorsi bahkan lebih dapat langsung mengungkapkannya. Tema percintaan yang diangkat dalam tari pasihan tersebut secara garis besar menggambarkan perjalanan cinta sepasang suami dan istri berawal dari duka yang dialami masing-masing tokoh kemudian permasalahan-permasalahan yang dihadapi dapat diselesaikan dengan baik yang akhirnya mereka dapat berhasil menikmati hidup bahagia dalam sebuah keluarga. rias. busana. Lewat bahasa verbal seorang seniman akan menuangkan pikirannya secara lebih transparan dan komprehensif dalam bentuk tembang Jawa. Konsep yang mendasari pemilihan tema percintaan ini terkait dengan harapan penyusun yang menghendaki kehadiran tari pasihan dalam resepsi perkawinan dapat bermakna bagi sepasang temanten. pola lantai. dan bahagia. rias. polatan (ekspresi wajah). Kinetic body moves. Tema yang dipilih untuk tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk adalah pasihan atau percintaan. romantis. kinetic body moves. Wujud pasangan tersebut mengarahkan penonton supaya lebih fokus pada tema percintaan. sehingga hayatan dari penonton tidak terkontaminasi tokoh atau peran lainnya.

Adapun bentuk-bentuk vokabuler sekaran yang terdapat pada tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk secara garis besar. karena wujud yang tampak sering samar-samar. namun kemunculannya tidak mudah untuk dipisah-pisahkan secara tegas. Dominasi gerak representatif yang terdapat pada genre tari pasihan dimaksudkan oleh seniman penyusun supaya masyarakat dan lebih khusus sepasang temanten akan merasa lebih mudah mengapresiasi tema tarian. gerak ini difungsikan semata-mata untuk kebutuhan ekspresi. pola-pola sekarannya bersifat presentatif dan representatif. Gerak presentatif merupakan bentuk gerak yang tidak mempunyai arti secara khusus. Kedua bentuk gerak baik presentatif maupun representatif merupakan medium utama tari pasihan dalam rangka memenuhi keperluan ekspresi. Sedangkan gerak representatif adalah gerak penghadir.sebagai media utama dalam sajian tari pasihan berupa pola-pola sekaran tari tradisional gaya Surakarta.20 % dalam tari Karonsih dan 76. Semakin banyak gerak representatif dalam sebuah tarian penonton semakin mudah menafsirkan tema dari ilusi-ilusi yang diekspresikan lewat gerak sehingga pesan makna dari tari pasihan tersebut mudah ditangkap masyarakat sebagai apresiatornya. artinya gerak yang dihasilkan dari imitasi terhadap sesuatu. Secara garis besar gerak dalam tari dapat dibagi menjadi dua bagian secara kasar. Dari seluruh adegan I. Keduanya hadir dalam jagad tari. II. Adapun gerak-gerak representatif pada genre tari pasihan tersebut 279 . hal itu sengaja dibuat untuk mengungkapkan ekspresi seniman atau penyusun tari. dan III pada tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk menunjukkan gerak representatif mendominasi pada bahasa nonverbal. yang mencapai 80.05 % dalam tari Bondhan Sayuk. yakni gerak presentatif dan representatif.

seperti: berpelukan. mencubit. Selain itu dari komposit bahasa verbal dan Kinetic body moves sebagai unsur nonverbal pada tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk terdapat hubungan yang bersifat langsung dan tidak langsung. Pemilihan pola-pola sekaran tari tradisional yang bersumber dari istana tersebut terkait dengan latar belakang kedua penyusun yaitu: Maridi dengan 280 . Berdasarkan tema percintaan yang telah terungkap. Hubungan bahasa verbal dan Kinetic body moves bersifat langsung artinya bahwa makna bahasa verbal sesuai dengan makna bentuk gerak. menggoda dan gerak-gerak lainnya yang mengungkapkan kegembiraan. bergandengan tangan. Sehingga tema yang muncul dapat ditafsirkan yakni tema percintaan. untuk itu supaya seni tersebut dapat ditangkap maknanya oleh semua lapisan masyarakat maka bentuk komposit bahasa verbal dengan Kinetic body moves yang bersifat langsung dirasa sangat tepat agar mudah dihayati.merefleksikan gerak orang bermesraan. Kehadiran genre tari pasihan pada sebuah resepsi perkawinan bukan pada resepsi lainnya itu merupakan pertanda bahwa jenis-jenis tari tersebut mempunyai fungsi yang berarti dalam resepsi perkawinan yaitu sebagai suritauladan yang hendak ditindaklanjuti bagi sepasang temanten. meledek. Alasannya kehadiran genre tari pasihan pada resepsi perkawinan adalah untuk hiburan dan suritauladan temanten dan masyarakat yang kepekaan rasanya heterogen. Sedangkan hubungan bahasa verbal dan Kinetic body moves bersifat tidak langsung artinya bahwa makna bahasa verbal tidak sesuai dengan makna bentuk gerak. penonton akan mencoba mengaitkan fungsi kehadiran tari pada sebuah resepsi perkawinan. Secara kuantitatif hubungan bahasa verbal dan nonverbal yang bersifat langsung tampak lebih mendominasi dibandingkan dengan yang tidak langsung.

terutama tari tradisional gaya Surakarta. Maridi secara diam-diam banyak berguru dengan beberapa empu tari yang akhirnya membentuk pribadinya menjadi seorang empu tari.M Suseno (dari gaya Mangkunegaran) 8) Nyai Pamarditaya.karyanya tari Karonsih dan Sunarno dengan karyanya tari Bondhan Sayuk yang sejak masih muda mereka banyak belajar tari-tarian tradisi gaya Surakarta. Seperti Maridi sejak berumur sekitar usia 8 tahun. Bagi Sunarno sejak berumur 11 tahun.M Ng Atmo Hutoyo sebagai guru tari alus. yang menjadi panutan gaya / wiled tarian gagah S. tari rakyat. Adapun guru dan sanggar yang telah banyak berperan membentuk dan mengembangkan kesenimanan Maridi di dunia tari. Lurah Harto Sukolewa sebagai guru tari gagah. b) Eko Prasetya. 6) R. 4) R. tari cakil di asrama polisi Pati. dan tari Bondhan. Berkat kecerdikan dan keuletan dalam upaya memperdalam tari. belajar tari kethekan. antara lain: 1) R. 3) R. 2) R. Maridi sudah bergabung di sanggar tari: paguyuban Muda Matoyo di bawah asuhan Jogo Laksito. belajar tari Kethekan (kera). Masa kecilnya banyak di Pati diajak paman Sandiman yang berprofesi Polisi yang juga seorang penari. 5) R. Selama di Pati.M Lurah Widakdo. ia belajar tari di desa Semono dengan Wiryo Dimedjo (paman). 7) R. Maridi. 281 .T Kusuma Kesawa.M Bekel Wignya Hambekso. belajar tari dasar (tayungan) dan Tari Gathutkaca Gandrung.M Lurah Atmo Bratono dengan sanggarnya Yatno Sidoyo. Sunarno banyak belajar tari dengan beberapa guru diantaranya: a) Sandiman (paman).

Pada tahun 1973. selama di Surakarta ia banyak menimba ilmu dengan beberapa Guru tari antara lain: a) KRT. Setelah lulus SMP.c) Raden Irawan.Ngaliman di kursus tari PKJT sejak tahun 1972.Sn). c) Wiryo Tampu. tahun 2005 lulus tahun 2007 dengan gelar Magister Seni ( M. Melanjutkan S1 di ASKI lulus tahun 1981 dan mengambil S2 di Sekolah Tinggi Seni Indonesia di Surakarta. d) Wiryo dengan Sanggar tari Pomoi di Laweyan. ia diangkat sebagai pegawai negeri Dikbud Kodya dan sejak tahun 1982 melimpah ke ASKI sebagai dosen tetap sampai sekarang. Di samping belajar. Sunarno melanjutkan sekolah di Konservatori Karawitan Indonesia Surakarta (KOKAR) di Surakarta pada jurusan tari tahun 1970 lulus tahun 1972. tari Cantrikan. 282 . b) S. Pada tahun 1976. ia dijadikan asisten S. Selain pendidikan formal. Sunarno masuk kuliah di Akademi Seni Karawitan Indonesia. dan Tari Gathutkaca Gandrung di Pakempalan Kagunan Jawi (PKD) Pati. Kusuma Kesawa di Pawiyatan Karaton Kasunanan dan Ramayana Rara Jonggrang. jurusan Karawitan (ASKI) dan lulus sarjana muda tahun !979. belajar tarian dasar tayungan. Di samping kuliah ia juga seorang pengajar tari spesialis tari gagah di ASKI sejak tahun 1973 yang pada waktu itu baru menjadi pegawai honorer Dikbud Kodya yang diperbantukan untuk ASKI. Ngaliman dengan sanggarnya Baradha di Kemplayan dan kursus tari di PKJT Sasonomulyo. untuk meniti karirnya lebih lanjut. d) Secara khusus belajar tari cakilan di kursus: Kembang Djaya di Pati.

pola lantai. polatan (ekspresi wajah). busana. Pola-pola semacam itu merupakan budaya Jawa yang merupakan dasar dari penyusun tari pasihan sehingga komplementer dari kinetic body moves. Bentuk rias dan busana yang dipakai pada tari pasihan berdasarkan pola-pola tradisi yang disesuaikan dengan sumber cerita. Sebagai seni pertunjukan.Polatan atau ekspresi wajah pada tari pasihan pada dasarnya tidak tampak mencolok perubahannya. kehadiran genre tari pasihan pada upacara ritual perkawinan difungsikan oleh 283 . Komposit bahasa verbal dan nonverbal dalam genre tari pasihan merupakan perpaduan yang utuh sebagai seni pertunjukan. Pada tari Karonsih yang bersumber dari cerita Panji menggunakan dandanan Panjen dengan ciri Tekes. busana. polatan (ekspresi wajah). rias. pola lantai. sedangkan tari Bondhan Sayuk yang bersumber dari cerita rakyat menggunakan dandanan Blangkonan untuk peran suami dan peran istri menggunakan Gelungan atau konde. dan iringan sebagai bahasa nonverbal tari pasihan saling mengkait untuk mendukung bahasa verbal sastra tembang menjadi bentuk sajian tari yang utuh dan berfungsi sebagai media komunikasi untuk mengungkapkan maksud seniman penyusun. rias. iringan gamelan yang terpadu dengan bahasa verbal sastra tembang diperlukan kepekaan rasa dan ketajaman pikir sehingga mampu menghayati nilai-nilai cinta kasih pada tari pasihan yang diharapkan seperti yang dimaksudkan seniman penyusun. luruh dan feminin. Untuk menangkap makna yang terkandung dalam bahasa nonverbal yang berupa simbol-simbol kinetic body moves. Hal ini terkait dengan karakter masing-masing peran yang cennderung alus. Bentuk iringan gamelan sebagai ilustrasi musik yang berupa gendhing-gendhing karawitan rupanya sangat tepat dan memberi kemantapan dalam mendukung sajian tari pasihan.

seniman penyusun sebagai hiburan dan suritauladan bagi sepasang temanten dan masyarakat pada umumnya. Sedangkan suritauladan yang diharapkan oleh seniman penyusunnya didasarkan pada pesan atau muatan isi yang terkandung dalam komposit bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan yang berupa nasehat-nasehat cinta kasih tentang: pasangan keluarga yang romantis. Pada dasarnya masing-masing penonton memiliki persepsi yang berbeda-beda tergantung dari kepekaan rasa dan ketajaman pikir yang dimiliki individu. Persepsi masyarakat terhadap kehidupan genre tari pasihan gaya Surakarta. dan keterlatian dalam mengapresiasi tari pasihan. C. Beragamnya persepsi dari masyarakat penonton tidak lepas dari bekal kepekaan rasa. kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga. Informan dari kalangan masyarakat secara garis besar terdiri dari: kelompok penanggap atau 284 . kemauan. Nilai-nilai keteladanan tersebut terutama diperuntukan bagi sepasang temanten untuk bekal dalam membina rumah tangga. sajian genre tari pasihan menjadi layak karena wujudnya merupakan bentuk seni pertunjukan yang secara visual menarik. harmonis. Beragam pendapat dari kalangan masyarakat telah muncul menanggapi hadirnya genre tari pasihan pada ritual resepsi perkawinan. latar belakang budaya. dan sikap-sikap ideal bagi figur suami maupun figur istri. memikat dan mengandung nilai estetik yang dapat menghibur penonton. Sebagai hiburan. dan bahagia. Faktor Afektif. Masyarakat penonton adalah kelompok orang dari beragam kalangan status sosial yang mengapresiasi tari pasihan terutama jenis tari Karonsih dan tari bondhan Sayuk.

Hal ini dapat dicermati sejak awal dari pelaksanaan upacara resepsi perkawinan yang menggunakan adat budaya Jawa. 1. Penilaian paling awal yang tampak bagi penonton akan tertarik pada gandar atau rupa wajah penarinya yang tampan. Dari pengamatan tersebut dibenak para penonton terjadi sinergi antara kepekaan rasa dan ketajaman pikir sehingga muncul penafsiranpenafsiran terhadap karya seni. melestarikan budaya yang dirasakan lebih tepat adalah budaya Jawa.sebagai pengguna. 285 . Sebagai masyarakat yang berlatarbelakang budaya Jawa. Tanpa penampilan rupawan penarinya.Genre tari pasihan sebagai hiburan. niscaya penonton tidak akan menanggapi apalagi memperhatikan. sehingga proses hayatan yang dikehendaki penari maupun penyusun tari tidak akan muncul. cantik. Setelah itu baru melihat dedek atau tinggi – rendahnya penari. kelompok penonton umum. dan kelompok pakar. Adapun informasi dari ketiga kelompok informan tersebut dapat dicermati berikut ini. rasa memiliki. bagus. Selain bentuk fisik penari yang ideal juga dukungan rias wajah yang mampu menampilkan karakterisasi peran dan busana glamor yang dapat memikat dan memberi kenikmatan indera mata. maupun manis. diharapkan dengan ketinggian yang ideal (sekitar 160 cm) dan dukungan warna kulit yang halus. Bagi penanggap kehadiran tari pasihan dalam ritual resepsi perkawinan adat budaya Jawa ini merupakan salah bentuk hiburan yang diperuntukkan bagi tamu undangan supaya tidak membosankan dan sekaligus untuk mengatur jalannya upacara terkait dengan jeda acara demi acara berikutnya. Taraf selanjutnya adalah kemampuan penari dalam menyajikan tari yang lebih berorientasi pada keluwesan penari dalam membawakan tarian. bersih akan menambah daya tarik penonton.

busana kejawen lengkap dengan keris untuk among tamu kakung (penjemput tamu pria) dan kebaya untuk among tamu wanita. hiburan yang berbentuk tarian maupun karawitan secara lengkap. Hiburan yang lebih tepat dipilihnya bentuk kesenian yang berbasis budaya Jawa. seperti genre tari pasihan gaya Surakarta.baik yang menyangkut pemilihan hari resepsi. Kehadiran tari pasihan dalam upacara ritual resepsi perkawinan yang biasanya disajikan pada bagian akhir dari seluruh rangkaian resepsi sebagai penutup. Bagi penonton secara umum. Sinkronisasi antara gambaran nilai percintaan yang diangkat dalam tari dengan realitas nilai percintaan yang hidup dan berkembang dalam jiwa sepasang mempelai temanten yang sedang diwisuda. Dari beberapa pakar menyatakan bahwa kehadiran genre pasihan pada upacara ritual perkawinan memiliki fungsi yang dalam terutama bagi sepasang mempelai temanten. busana basahan ataupun kejawen lengkap untuk penganten. bentuk dekorasi (brostul) untuk penganten. Sebagai hiburan yang dirasa tepat atau sesuai. tersebut adalah bukti dari ketepatan atau kesesuaian yang diasumsikan dari penonton secara umum. merupakan pertunjukan yang bersifat hiburan. 286 . Fungsi awal yang paling sederhana secara faktual dapat dicermati adalah sebagai hiburan. pertunjukkan tari pasihan dalam upacara ritual perkawinan adat budaya Jawa terletak pada kesesuaian antara tema percintaaan yang digambarkan tari pasihan sebagai muatannya dengan peristiwa perkawinan yang mengatur sejak awal jalannya percintaan sepasang mempelai temanten secara resmi di depan publik untuk mendapatkan pengakuan status sosial dan adat budaya yang mereka miliki. Hiburan yang didapat dari sajian tari pasihan. serta saranasarana lainnya. tarub sebagai hiasan rumah resepsi.

dan kelompok pakar secara garis besar salah satu fungsi genre tari pasihan dalam ritual resepsi perkawinan adat Jawa merupakan bentuk hiburan. mereka melihat 287 . Bagi penonton umum yang sering mengapresiasi pementasan tari pasihan. Berdasarkan pementasan taritarian pasihan yang menggambarkan orang bercinta dengan mesra. rias. Genre tari pasihan sebagai keteladanan. Persepsi masyarakat yang terdiri dari kelompok penanggap atau sebagai pengguna. Hasil komplementer dari bentuk fisik dan nonfisik dalam tari adalah rasa keindahan yang mampu memberikan hiburan yang bersifat rohani. sekalipun kadar kualitas berbeda namun masih mampu menggugah dan menghidupkan kembali stimulus-stimulus estetik yang sewaktuwaktu dihadapkan pada benda pacu yang berupa karya seni genre tari pasihan. Wujud fisik berupa gandar atau rupa wajah. Pada dasarnya masing-masing individu sedikit banyak memiliki rasa kesenian yang merupakan bekal alami.bagi penonton adalah bersifat estetik. dan kinetic body moves yang secara komplementer akan menyatu dengan wujud nonfisik yang berupa rasa. kelompok penonton umum. mereka katakan bahwa jenis-jenis tari percintaan yang sering dilihat dalam resepsi perkawinan mempunyai maksud-maksud tertentu. Kesamaan persepsi dari ketiga kelompok masyarakat tersebut karena mereka memiliki latar belakang budaya yang sama. Secara emosional mereka memiliki ikatan kultur yang kuat sehingga kepekaan rasa yang tertanam dalam jiwa. 2. dedek atau tinggi rendahnya postur tubuh. dandanan busana. artinya kenikmatan indera penonton dari melihat pertunjukan tari pasihan merasa tertarik dan terpikat berawal dari bentuk fisik. memiliki wawasan kesenian dan mempunyai minat serta kepedulian terhadap seni.

Diharapkan dengan meneladani nilai percintaan yang disajikan lewat tari pasihan tersebut bagi sepasang temanten dapat membina hidupnya dengan nilai cinta yang sebenarnya. tari pasihan merupakan masterpiece dari seluruh sajian tari yang dipentaskan dalam sebuah upacara ritual perkawinan adat Jawa. Tema percintaan yang diangkat untuk menentukan alur garapan tari pasihan sungguh mampu mengungkapkan nilai cinta lewat liku-liku kehidupan cinta sepasang kekasih yang merupakan tokoh idola baik yang bersifat fiktif maupun nyata bagi masyarakat Jawa. memahami dan menghayati nilai-nilai yang terkandung dalam karya tari pasihan. kehalusan. Kemesraan. Bagi penanggap. Pemilihan ini rupanya sangat terkait dengan maksud penanggap yang mampu mencermati. di tengah-tengah kehidupan sosial masyarakat. Selain itu yang dapat ditiru oleh pasangan temanten dari pementasan tari-tarian pasihan adalah kebersamaan dan kegembiraan. Secara khusus tari pasihan merupakan simbolisasi percintaan yang mengandung nilai percintaan yang begitu tulus sebagai muatan ekspresinya. romantisme. Dewa Komajaya & Dewi Komaratih dalam tari Lambangsih. dan kebahagiaan yang digambarkan dari sepasang tokoh-tokoh idola seperti: Panji Inukertapati & Dewi Sekartaji pada tari Karonsih. yaitu kemesraan sebagai sepasang suami istri. dan berarti bagi sepasang mempelai temanten yang sedang diwisuda. Bagi penanggap nilai-nilai cinta yang demikian itu. Diharapkan keluarga yang 288 . kegembiraan. dan Damarwulan & Dewi Anjasmara dalam tari Enggar-enggar tersebut mempunyai makna yang dalam yang mampu menyentuh jiwa manusia. merupakan sesuatu bekal hidup yang sangat berharga.terdapat sesuatu dari pertunjukkan itu yang dapat ditiru oleh sepasang temanten. ketulusan. untuk itu perlu diteladani.

takut. dan lainnya itu semua ditangan seniman diungkapkan dalam bungkus sensa yang mampu memicu dan memacu timbulnya khayalan benda dan peristiwa yang memberi kenikmatan dan kepuasan. kacau. seorang seniman berkarya merupakan dorongan dan tutuntan kebutuhan jiwa yang dilatarbelakangi apresiasi terhadap lingkungan manusia dan alam yang terseleksi dan senantiasa dimanifestasikan dalam bentuk yang estetik. senang. gembira. tetapi sering kali mengalami kesulitan untuk menginterpretasi makna sesungguhnya yang dikehendaki seniman. seperti: sedih. Kepekaan rasa dan ketajaman intelek bagi pakar seni merupakan modal utama untuk mencermati dan menganalisis kehadiran sebuah karya seni di tengah-tengah kehidupan dan perkembangan sosial masyarakat dari beragam perspektif.dibangun dan dibina sepasang temanten dengan nilai-nilai cinta mampu menciptakan keluarga yang harmonis. Untuk mengetahui maksud seniman diperlukan bekal pengalaman. keterlatihan. Dari medium sensa itu seniman akan dapat menganyam impian-impian bagi kita mengenai hal-hal yang 289 . tenang. Bagi pakar bekal apresiasinya terhadap seni dan wawasan intelektual yang dimiliki mampu menghayati secara dalam dan mengungkapkannya secara komprehenship. marah. kemampuan. Mengingat bahwa seorang seniman menciptakan karya seni sedikit banyak mempunyai maksud-maksud tertentu dibalik karyanya. Nilai cinta yang terdapat pada tari pasihan yang merupakan akumulasi dari beragam rasa. Maksud seniman tersebut tersirat pada karya seni yang kadang kala mudah ditangkap maknanya oleh penonton. dan bahagia. sehingga penafsiran-penafsiran terhadap makna dibalik karya yang dicipta menjadi semakin valid Bagi pakar. bahagia. dan wawasan berkesenian secara luas. damai. khawatir.

sehingga perlu perantara yang berwujud simbol-simbol dalam puisi bukan dalam bentuk pengetahuan. Seolah–olah keberadaan genre tari pasihan dalam budaya Jawa menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan terutama pada upacara-upacara perkawinan. Menurut Clifford Geertz (1992: 6). bahwa ‘simbol’ tampak terbatas pada sesuatu yang mengungkapkan secara tidak langsung. Seniman pada dasarnya tidak lain sebagai manusia yang menyediakan sebuah susunan benda pacu atau lambang-lambang sensa yang diharapkan akan ditafsirkan seperti yang dimaksudkan olehnya. genre tari pasihan memiliki fungsi yang dalam terutama bagi sepasang mempelai temanten yang tercermin pada komplementer bahasa verbal dan nonverbalnya. Dalam menghadapi permasalahan kemudian mendapat perjalanan kisahnya berawal solusi yang menjadi berangsur-angsur membaik dan berakhir bahagia. kita kemudian dalam imajinasi dapat melakukan atau mengalami. Kehadiran 290 . Pada dasarnya genre tari pasihan gaya Surakarta merupakan simbolisasi percintaan sepasang manusia yang berjenis kelamin pria dan wanita. Bagi pakar. Khayalan tentang tindakan atau emosi yang ditimbulkan lewat karya seni. Jika dicermati lebih dalam dari jiwa kita sendirilah sebenarnya muncul gagasan-gagasan dan beragam rasa yang merupakan isi sebuah karya seni.membuai dan memikat kita senang mengamati. Kehadiran genre tari pasihan (percintaan pria dan wanita) dalam kehidupan sosial masyarakat pada ritual perkawinan adat Jawa rupanya mempunyai makna simbolik yang sangat penting terutama bagi kedua mempelai dalam rangka mempersiapkan diri untuk mengarungi kehidupan di masyarakat yaitu menuju terbentuknya keluarga yang bahagia. Simbolisme semacam ini tampak pada genre tari pasihan yang hadir dalam rangkaian upacara-upacara perkawinan adat Jawa.

suami mapun istri. harmonis. Dengan kekuatan magis simpatetis akan dapat menyuburkan benih-benih cinta 291 . Kekuatan imajinasi percintaan yang digambarkan sepasang kekasih dalam tari pasihan diharapkan dapat memberikan kekuatan magis simpatetis terhadap kehidupan jiwa sepasang mempelai temanten. Nilai-nilai keteladanan yang dapat diserap dari aktualisasi tari pasihan yang berupa nasehat-nasehat cinta kasih diantaranya: pasangan keluarga yang romantis. Perbuatan simbolik dalam pertunjukan tari Bondhan Sayuk lebih tampak jelas dan lebih mendekat kearah realitas tujuan bercinta dalam sebuah kehidupan keluarga.tari pasihan hampir dapat dipastikan dalam resepsi perkawinan. yaitu mampu mempengaruhi kesuburan dalam proses perkawinan pasangan temanten. Hal ini juga digambarkan secara lebih aktual pada tari Bondhan Sayuk ketika tindakan atau perbuatan penari putri (peran istri) memberikan boneka anak kepada temanten putri pada bagian akhir tarian merupakan perbuatan simbolik yang menunjukkan adanya kekuatan – kekuatan tertentu yang tidak kelihatan mata yang bersifat magis simpatetis diharapkan dapat diterima penganten putri. kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga. dan bahagia. Bentuk dan sikap ideal bagi sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temanten terpancar dari kekuatan cinta sepasang tokoh yang digambarkan dalam tari pasihan dimaksudkan dapat dihayati sepasang temanten sehingga bayanganbayangan cinta yang diekspresikan oleh seniman mampu memicu dan memacu kehidupan imajinasi cinta sepasang temanten. Rupanya terdapat korelasi yang sangat signifikan bahwa kehadiran tari pasihan dalam resepsi perkawinan diharapkan dapat diteladani dan memberikan sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temanten.

orang tidak akan dapat berharap banyak karena rasa seni yang kita hayati tidak bisa mengendap dan lekas menghilang tidak menjadi gagasan yang tenang dan mantap. penonton umum dan pakar terhadap kehidupan genre tari pasihan mengidikasikan bahwa bentuk tari pasihan tersebut mengandung nilai-nilai keteladanan layak menjadi sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi sepasang temanten untuk diserap dan diimplemetasikan dalam kehidupan rumah tangga. Kesamaan persepsi dari penanggap. Dengan demikian hanya pakarlah yang mampu untuk memahami dan menganalisis secara komprehensif dan bertanggungjawab 292 . sebagai pewaris dan penerus keluarga. bahwa dalam dunia kesenian. Kesulitan yang tampak bahwa seni pertunjukan merupakan seni sesaat. karena bagi pakar bekal apresiasinya terhadap seni dan wawasan intelektual yang dimiliki mampu menghayati secara dalam dan mengungkapkannya secara komprehenshif. para pelaku dan penghayat tidak selalu memahami akan yang mereka kerjakan. Kesadaran awal yang harus dicermati. Bahkan seniman sering mampu menghasilkan karya seni yang sangat bagus tetapi kerap tidak memiliki pendapat yang jelas dan tetap terhadap pernilaian karyanya. Pada dasarnya kedua orang mengawinkan putra-putrinya dengan cita-cita untuk segera diberi keturunan yang berupa anak. Kepekaan rasa dan ketajaman intelek pakar seni merupakan modal utama untuk mencermati dan menganalisis kehadiran sebuah karya seni di tengah-tengah kehidupan dan perkembangan sosial masyarakat dari beragam perspektif.yang tengah berkembang pada sepasang temanten yang akhirnya mampu melahirkan buah cinta yang berupa momongan (anak). Di samping itu juga terdapat perbedaan pada kadar pemahaman.

293 . jenis TT yang dominan adalah TT direktif. Faktor objektif. Jenis–jenis TT yang terdapat dalam genre tari pasihan gaya Surakarta terdiri dari beragam jenis yaitu: TT asertif. Dari beragam jenis TT yang terdapat pada genre tari pasihan. karena seniman adalah berjiwa mistik. TT ekspresif.validitasnya. BAB IV PEMBAHASAN A. TT komisif.pokok penelitian. TT direktif. yang memiliki rasa seni yang dalam tetapi tidak berbicara banyak dan sering sulit untuk mengurai karyanya. Temuan pokok. dan TT patik. 1.

Gambaran secara lebih 294 . Dalam bahasa verbal genre tari pasihan bentuk penerapkan prinsip kerja sama terjadi pelanggaran maksim kuantitas dan maksim cara. Daya pragmatik yang terdapat dalam bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan menunjukkan adanya bentuk sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temanten. yaitu mampu mempengaruhi kesuburan dalam proses perkawinan pasangan temanten. Kehadiran tari pasihan hampir dapat dipastikan dalam resepsi perkawinan yang nota bene sebagai wahana untuk mewisuda sepasang temanten. Rupanya terdapat korelasi yang sangat signifikan bahwa kehadiran tari pasihan dalam resepsi perkawinan diharapkan dapat diteladani sepasang temanten. Implikatur yang terdapat dalam bahasa verbal tari pasihan menunjukkan adanya simbolisasi percintaan sepasang suami istri yang dalam perjalanan kisahnya berawal menghadapi permasalahan kemudian mendapat solusi yang menjadi berangsur-angsur membaik dan berakhir bahagia. Prinsip kesantunan yang diterapkan dalam bahasa verbal genre tari pasihan dengan menggunakan strategi melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif dan strategi melakukan TT secara tidak langsung (off record).2. Hal ini terpancar dari kekuatan cinta kasih sepasang suami istri yang digambarkan dalam tari pasihan dimaksudkan dapat dihayati sepasang temanten sehingga bayangan-bayangan cinta yang diekspresikan oleh seniman mampu memicu dan memacu kehidupan imajinasi cinta sepasang temanten. 3. Kekuatan imajinasi percintaan yang digambarkan sepasang kekasih dalam tari pasihan diharapkan dapat memberikan kekuatan magis simpatetis terhadap kehidupan jiwa sepasang mempelai temanten. sedangkan maksim kualitas dan maksim hubungan dipatuhi.

Pada intinya bentuk daya pragmatik genre tari pasihan adalah berupa nasehat-nasehat tentang cinta kasih yaitu pasangan keluarga yang romantis. kinetic body moves (gerak tubuh). c) Hubungan bahasa verbal dan nonverbal bersifat langsung dan tidak langsung. Perbuatan simbolik dalam pertunjukan tari Bondhan Sayuk lebih tampak jelas dan lebih mendekat kearah realitas tujuan bercinta dalam sebuah kehidupan keluarga. 4. dan bahagia. Nasehat-nasehat tentang cinta kasih tersebut bermanfaat bagi sepasang temanten sebagai bekal untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dalam membangun sebuah keluarga. dan sikapsikap ideal bagi figur suami maupun figur istri. Tindakan atau perbuatan tersebut merupakan perbuatan simbolik yang menunjukkan adanya kekuatan – kekuatan tertentu yang tidak kelihatan mata yang bersifat magis simpatetis diharapkan dapat diterima temanten putri. kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga. b) Bahasa verbal yang digunakan berdasarkan status sosial. Bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan merupakan dua komponen besar yaitu aspek verbal berupa cakepan (syair) sastra tembang yang terdapat dalam teks pathetan. dan jineman dan aspek nonverbalnya berupa: tema. harmonis. gerongan. dan iringan yang secara komplementer menyatu dalam bentuk seni pertunjukan. pola lantai. d) Tema percintaan. polatan. rias. Berdasarkan jabaran bahasa verbal dan nonverbal tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk dapat diketemukan ciri karakteristik genre tari pasihan sebagai berikut: a) Bahasa verbal berbentuk tembang Jawa bernuansa cinta.aktual pada tari Bondhan Sayuk yang merepresentasikan pasangan pria dan wanita setelah bercinta kemudian membawa boneka sebagai simbol anak dan ketika adegan akhir penari putri memberikan boneka anak kepada temanten putri. sindhenan. e) 295 . busana.

dan memerintah yang tercermin dalam TT direktif dapat menyampaikan makna bahasa verbal sastra tembang yang berupa nasehat-nasehat cinta tersebut untuk diteladani sepasang temanten. Di samping itu juga konsep yang mendasari strategi untuk melakukan TT secara tidak langsung (off record) untuk mengekspresikan 296 . keintiman. f) Disajikan berpasangan pria dan wanita. g) Pesannya berupa nasehat tentang cinta kasih. meminta. Hal ini dimaksudkan oleh seniman penyusun supaya bahasa verbal yang sifatnya mengajak. Hal ini dimaksudkan seniman penyusun untuk menunjukkan simbolisasi keharmonisan hubungan antara peran suami dan istri yang digambarkan dalam tari sebagai bentuk suritauladan yang layak untuk diteladani sepasang temanten. h) Gerak representatif dan presentatif sebagai ekspresi kinetic body moves dalam sajian. Faktor genetik. dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur. Jenis TT yang mendominasi pada bahasa verbal dalam genre tari pasihan adalah TT direktif.Cerita berakhir dengan bahagia (happy end). Maksim kualitas dan maksim hubungan dipatuhi dimaksudkan oleh seniman supaya komunikasi rasa dapat berlangsung sehingga makna karya tari pasihan dapat ditangkap penghayat secara utuh. Prinsip kesantunan yang diterapkan dalam bahasa verbal genre tari pasihan dengan menggunakan strategi melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif untuk menunjukkan kedekatan. Dalam menerapkan prinsip kerja sama. seniman penyusun lewat karya tari pasihan melanggar maksim kuantitas dan maksim cara dimaksudkan seniman untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa.

Faktor afektif. Bagi masyarakat secara umum kehadiran tari pasihan dalam resepsi perkawinan ditangkap sekadar sebagai hiburan. Keseimbangan komposisi bahasa verbal dan nonverbal tampak pada setiap peristiwa dalam adegan. karena kepekaan rasa dan ketajaman pikir pakar seni lebih mantap dan lebih berkualitas dibandingkan masyarakat pada umumnya. dan bermakna bagi masyarakat. Pemahaman tentang fungsi tari pasihan tersebut menunjukkan adanya perbedaan antara masyarakat umum dengan pakar seni. yaitu pada setiap ekspresi sastra tembang selalu didukung dan diikuti langsung kinetic body moves. Konsepsi tentang pemilihan bahasa verbal dan nonverbal bersifat harmoni. Berbeda dengan persepsi pakar seni. Genre tari pasihan merupakan jenis tari pasihan yang difungsikan sebagai hiburan dan suritauladan bagi sepasang temanten dan sosial masyarakat. bahwa fungsi tari pasihan dalam resepsi perkawinan. selain sebagai hiburan juga merupakan suritauladan yang sangat penting bagi sepasang temanten. kehidupan genre tari pasihan dalam sosial masyarakat berfungsi sebagai hiburan dan suritauladan yang tepat bagi sepasang temanten dan masyarakat pada umumnya.rasa estetik dan menambah kemantapan rasa supaya dapat lebih menyentuh penghayat dan maknanya dapat diterima. estetik. Kehadiran genre tari pasihan sebagai seni pertunjukan merupakan perpaduan dari bahasa verbal dan nonverbal yang secara komposit mengungkapkan makna. B. Berdasarkan persepsi masyarakat. selaras dan seimbang sehingga komplementer dari kedua komponen tersebut menjadi padu membentuk genre tari pasihan dalam aktualisasi yang berkualitas. Pembahasan. 297 .

sulistyane. kinetic body moves (gerak tubuh). pola lantai. busana. rabinira. Diharapkan dengan kata-kata cinta yang merupakan dasar dari tema percintaan yang diangkat dalam genre tari pasihan yang disajikan dalam bentuk tembang dengan irama. garwa. sindhenan. setya. mencakup: pasangan keluarga yang romantis. Adapun kata-kata cinta. asih tresna. gerongan. polatan. aginggang sarambut. Genre tari pasihan merupakan beragam jenis tari yang mengangkat tema percintaan. brangti. dan iringan yang saling mendukung dan menyatu menjadi sebuah bentuk sajian visual yang mengungkapkan pesan makna yang terkandung dalam bahasa verbal. dan bahagia. prasetya. Sedangkan bentuk bahasa nonverbal merupakan komplementer dari elemen-elemen: tema. wuyung. kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga. asmara. seniman penyusun memandang perlu memanfaatkan aspek kebahasaan atau bahasa verbal dengan menggunakan kata-kata cinta yang terakumulasi dalam bentuk sastra tembang Jawa. seperti: gantilaning tyas. dan jineman mengandung nasehat-nasehat tentang cinta kasih bagi sepasang suami istri. 298 . wanodya di. rias. wong manis. Komplementer bahasa verbal sebagai kandungan makna dan bahasa nonverbal sebagai bentuk visual sudah menyatu dan berkaitan satu sama lainnya dan mampu mencerminkan kesatuan makna secara utuh. dan sikap-sikap ideal bagi figur suami maupun figur istri sebagai pesan makna atau isi. lagu. mustikaning. untuk menyampaikan pesan maknanya tari pasihan.Bahasa verbal genre tari pasihan berupa sastra tembang dalam bentuk pathetan. harmonis. dan mas jiwaku. dan karakter yang berbeda-beda tersebut mengarahkan pada sepasang temanten untuk lebih meresapi dan menangkap makna secara utuh untuk diteladani dan dijadikan sebagai bekal perjalanan dan pelajaran hidup.

dan jineman. TT komisif. Tuturan Dewi Sekartaji: Dhuh jagad dewa bathara Welasa mring dasih kang nandhang kingkin Tuturan Panji Inukertapati: Muga tansah pinaringan Kanugrahan kang salami 299 . Bahasa verbal dalam genre tari pasihan terakumulasi dari beragam jenis TT yang menyatu saling mengkait dan saling melengkapi sebagai penunjuk isi. Menurut Kreidler (1998: 189-190). mengkategorisasikan TT dalam sebuah pertuturan menjadi tujuh jenis bentuk TT. Jenis-jenis TT direktif tersebut dapat dicermati berikut ini. yaitu: TT asertif. Dari beragam jenis TT yang terdapat pada genre tari pasihan. Sejalan dengan pernyataan Kreidler. TT performatif. jenis TT yang paling dominan adalah jenis TT direktif. dan usulan atau anjuran. sindhenan. dan TT patik. permintaan. gerongan. Kreidler (1998: 183-194). jenis-jenis TT direktif yang terdapat dalam genre tari pasihan berfungsi untuk permintaan. jenis-jenis TT yang terdapat dalam genre tari pasihan gaya Surakarta terdiri dari jenis-jenis TT: asertif. TT ekspresif. ekspresif. TT direktif adalah tuturan di mana pembicara berusaha menyuruh orang yang disapa untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu perbuatan tertentu. TT verdiktif. Secara garis besar beliau membagi tuturan direktif menjadi tiga macam: perintah. TT direktif.Dilihat dari aspek kebahasaan genre tari pasihan memanfaatkan jenis-jenis TT yang terdapat pada bahasa verbal teks sastra tembang dalam bentuk pathetan. melarang. direktif. Jenis TT direktif yang berfungsi untuk permintaan. perintah. dan patik. Berdasarkan teori jenis TT yang dikemukakan Kreidler. dan mengajak. komisif.

sayuk. Sayuk. Sayuk. atak adhuh lae. Dominasi dari jenis-jenis TT direktif yang terdapat dalam bahasa vebal genre tari pasihan yang sifatnya mengajak. permintaan. sakancane. Jenis TT direktif yang berfungsi untuk mengajak. Sakdurunge anakmu gawanen mrene. ora nyleweng tumindake. Sawahmu tansah anganti. Tuturan Suami: Mbokne thole. Bapakne sithole. Jenis TT direktif yang berfungsi untuk melarang. Tuturan Suami : labuh labet mring bangsane. 4. baya iki wus wanci. sayuk. 3. Sayuk mbangun negarane. mangkat makarya. Tuturan Panji Inukertapati: Pra wanita marsudiya marang tindak kang utama Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada Tuturan Dewi Sekartaji: Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira Datan kemba asih tresna sung tetreming kulawarga Tuturan istri: Dhuh mas jiwaku. dan perintah tersebut secara akumulatif dimaksudkan oleh seniman untuk mengajak. sayuk. nyambut gawe.Jenis TT direktif yang berfungsi untuk perintah. Tuturan Suami: Adhuh lae. Maksud dan harapan seniman penyusun tersebut ditangkap oleh penghayat sebagai 300 . meminta dan menyuruh terhadap sepasang temanten untuk memahami dan meresapi makna isi yang terkandung dalam bahasa sastra tembang dan supaya melakukan tindakan atau perbuatan seperti yang dicontohkan dalam pertunjukan tari pasihan tersebut. sayuk. 2. Tuturan bentuk Narasi: 1. sayuk. sayuk. Sayuk. sakabehe.

kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga. harmonis. bukan 301 . dan sikap. Kehadiran genre tari pasihan dalam kehidupan sosial masyarakat pada ritual perkawinan merupakan wahana untuk mendidik anak yang telah dewasa yaitu sepasang temanten dengan cara tidak langsung yakni dengan cara simbolik. harmonis. dan bahagia. multitafsir tersebut hanya mampu ditangkap indera lewat implikatur-implikatur bahasa verbal dengan bahasa nonverbal. Seperti kehadiran genre tari pasihan (percintaan pria dan wanita) dalam kehidupan sosial masyarakat pada ritual perkawinan adat Jawa mempunyai makna simbolik (berupa: pasangan keluarga yang romantis. tetapi juga dalam bentuk yang tidak langsung. Indikasinya ditunjukkan bahwa genre tari pasihan hanya disajikan pada upacara-upacara resepsi perkawinan. Untuk menerima isi atau pesan pendidikan yang berupa pementasan genre tari pasihan diperlukan ketajaman pikir dan kepekaan rasa. Pada dasarnya bentuk karya seni genre tari pasihan merupakan materi pendidikan yang penuh imajinatif. tertutup lebih bersifat simbolik. Bagi masyarakat Jawa. mengingat gambaran percintaan pasangan suami istri yang romantis. perilaku ideal bagi suami mapun istri) yang sangat penting yaitu terutama bagi kedua mempelai temanten dalam rangka mempersiapkan diri untuk membentuk keluarga yang bahagia.sesuatu yang harus diteladani. dan bahagia yang terdapat dalam tari tersebut dirasa sangat tepat dan ditangkap secara mantap sebagai suatu edukatif atau pengajaran yang bersifat tidak langsung dan sangat bermanfaat bagi sepasang temanten untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dalam menggapai keluarga bahagia lahir dan batin. sistem mendidik terhadap anak tidak selalu dilakukan secara formal dan terbuka. bukan pada acara-acara lainnya.

Lewat cara-cara estetis bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan tersebut disajikan supaya pesan makna yang dikehendaki seniman dapat diterima. Maksim cara usahakan agar informasi mudah dimengerti. mring 302 . seniman melanggar maksim kuantitas dan maksim cara. Maksim kualitas. seniman memandang perlu menerapkan prinsip kerja sama dan prinsip kesantunan secara selektif dalam bahasa verbal teks-teks sastra tembang yang terdapat pada genre tari pasihan. hindari pernyataan yang samar. Dalam penerapan prinsip kerja sama pada bahasa verbal genre tari pasihan. Menurut Grice. seperti: sang retnayu. maksim kualitas. Maksim hubungan. dahat. dan maksim hubungan. prinsip kerja sama dalam pertuturan dibagi menjadi empat maksim yaitu maksim kuantitas. 1993: 11). Maksim kuantitas adalah berikan informasi yang tepat sesuai yang dibutuhkan dan jangan melebihi yang dibutuhkan. Pelanggaran maksim kuantitas yang terjadi dalam bahasa verbal genre tari pasihan adalah digunakannya kata-kata arkais. Untuk mengupayakan agar kandungan makna yang dikehendaki seniman dapat ditangkap dan sampai pada pasangan temanten. usahakan agar pernyataan anda ada relevansinya (dalam Leech.makna leksikal dari susunan gramatikal bahasa verbalnya. tepat sasaran dan lebih menyentuh sepasang temanten dengan tidak merasa dipaksa. Sistem pendidikan cara simbolik ini merupakan pilihan masyarakat yang masih merasa memiliki keterikatan emosional dan kesadaran atas budaya Jawa yang dirasakan dan dianggap mengandung nilai-nilai kehidupan yang layak dan tepat untuk diimplementasikan pada masyarakat hingga sekarang. mendranira. usahakan agar sumbangan informasi anda benar. maksim cara. hindari ketaksaan dan usahakan agar ringkas. jengkar sking.

Adapun pelanggaran maksim cara yang terjadi dalam bahasa verbal genre tari pasihan. angkling. sang pekik wah sang dyah ayu. untuk menunjukkan kedekatan. nujuprana. anggenya. rasaningtyas. Pelanggaran maksim cara dalam bahasa verbal genre tari pasihan adalah digunakannya bahasa tembang yang pada dasarnya merupakan bahasa yang sulit dimengerti artinya. brangti. Berdasarkan Teori kesantunan Brown dan Levinson (1987). mustikaning. sifatnya tersamar dan tidak ringkas karena telah terpola dengan guru lagu dan guruwilangan. Jenis-jenis tembang yang merupakan bahasa komunikasi dalam genre tari pasihan secara prinsip kerja sama dalam sebuah pertuturan terjadi pelanggaran maksim cara. untuk menunjukkan adanya jarak sosial antara penutur dengan mitra tutur. sulistyane. dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur. tanpa basa basi (bald on record). dadya gantilaning tyas. ningsun. keintiman. aginggang sarambut. Maksim kualitas dan maksim hubungan dipatuhi dimaksudkan oleh seniman supaya komunikasi rasa dapat berlangsung sehingga makna karya tari pasihan dapat ditangkap penghayat secara utuh. mring. yaitu: 1) melakukan TT secara apa adanya. 3) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan negatif mengacu muka negatif (negative politiness). wuyung. wanodya di. mas rara. dan dhuh mas jiwaku. lalis. dimaksudkan oleh seniman untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa. nandhang kingkin. 2) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif mengacu muka positif (positive politiness). terdapat lima strategi. 4) 303 . pinanggya. wak-ingan.dasih. Adapun pelanggaran maksim kuantitas yang terjadi dalam bahasa verbal genre tari pasihan. dimaksudkan oleh seniman untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa.

kinetic body moves (gerak tubuh). polatan. keintiman. pola lantai. dan iringan secara akumulatif 304 . Bentuk bahasa nonverbal yang terdiri dari tema. prinsip kesantunan yang diterapkan dalam bahasa verbal genre tari pasihan dengan menggunakan strategi melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif dan strategi melakukan TT secara tidak langsung (off record). Dalam menyampaikan pesan makna yang terdapat dalam bahasa vebal seniman penyusun memandang perlu menggunakan bahasa nonverbal. rias. Mengacu Teori kesantunan Brown dan Levinson (1987) tersebut. 5) tidak melakukan TT atau diam (don’t do the FTA). dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur. busana. Dukungan bahasa nonverbal pada tari pasihan merupakan media visual yang difungsikan sebagai sarana untuk mengekspresikan pesan makna yang dapat ditangkap oleh penghayat.melakukan TT secara tidak langsung (off record). Prinsip kesantunan yang diterapkan dalam bahasa verbal genre tari pasihan dengan menggunakan strategi melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif untuk menunjukkan kedekatan. Hal ini dimaksudkan seniman penyusun untuk menunjukkan simbolisasi keharmonisan hubungan antara peran suami dan istri yang digambarkan dalam tari sebagai bentuk suritauladan yang layak untuk diteladani sepasang temanten. Di samping itu juga konsep yang mendasari strategi untuk melakukan TT secara tidak langsung (off record) untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa supaya dapat lebih menarik dan memikat serta menyentuh penghayat dan maknanya dapat ditangkap dan diterima sepasang temanten untuk dijadikan sebagai pelajaran yang bermanfaat dalam menata kehidupan keluarga baru.

Jenis-jenis gerak presentatif dan representatif yang berhubungan langsung dengan bahasa verbal akan memberi kemudahan terhadap penghayat dalam menafsirkan maksud dari seniman. penuh estetik sehingga karya tari pasihan menjadi sarana ekspresi yang memikat. mantap dan berkualitas. Terpadunya bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan menjadi satu kesatuan seni pertunjukan yang utuh. Akumulasi dan kombinasi dari dua strategi penyampaian pesan yang digunakan seniman yang berupa jenis-jenis gerak presentatif dan representatif yang berhubungan langsung dan tidak langsung dengan bahasa verbal menjadi sangat kuat dan mantap dengan dukungan ekspresi wajah (polatan). rias. Seniman sering dalam menciptakan karyanya dilandasi rasa intuitif yang dalam. sehingga 305 . Perlu disadari bahwa karya seni merupakan bentuk simbol yang memerlukan penafsiran-penafsiran. dan iringan gamelan. Strategi yang digunakan seniman penyusun dengan memanfaatkan jenis-jenis gerak presentatif dan representatif yang berhubungan langsung dan tidak langsung dengan bahasa verbal. Adapun jenis-jenis gerak presentatif dan representatif yang berhubungan tidak langsung dengan bahasa verbal. pola lantai.akan membentuk satu bentuk simbol yang mampu mengekspresikan makna tari pasihan menjadi lebih menyentuh dan semakin mantap. tidak selalu didasari rasional belaka. sehingga pesan makna yang hendak disampaikan menjadi lebih kuat dan mantap. digunakan seniman penyusun untuk mengekspresikan makna dengan cara lebih tersamar dan ungkapan suasana yang muncul merupakan ekspresi yang dirasa memiliki kekuatan untuk menyampaikan makna. busana. mengingat aspek kebahasaan dan aspek nonbahasa memiliki makna yang sama.

Selain itu tari pasihan juga memanfaatkan jenis-jenis TT: asertif. untuk menyampaikan pesan maknanya tari pasihan. dan memerintah dapat menyampaikan makna bahasa verbal sastra tembang yang berupa nasehat-nasehat cinta tersebut sesuai dengan fungsi keteladanan. seniman penyusun memandang perlu memanfaatkan aspek kebahasaan atau bahasa verbal dengan menggunakan kata-kata cinta yang terakumulasi dalam bentuk sastra tembang Jawa. Dalam mengekspresikan maksudnya seniman juga memanfaatkan prinsip kerja sama dengan cara lebih selektif. Dari beragam jenis TT yang mendominasi pada genre tari pasihan adalah TT direktif. meminta. Selain itu untuk menunjukkan kedekatan. Maksim kualitas dan maksim hubungan dipatuhi dimaksudkan oleh seniman supaya komunikasi rasa dapat berlangsung sehingga makna karya tari pasihan dapat ditangkap penghayat secara utuh. Pada aspek kebahasaan yang digunakan seniman penyusun dalam menerapkan prinsip kerja sama melanggar prinsip kuantitas dan prinsip cara yaitu dengan menggunakan kata-kata yang sifatnya arkais untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa. dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur digunakan kesantunan positif. Hal ini dimaksudkan seniman penyusun untuk menunjukkan 306 . dan patik. keintiman. ekspresif. komisif. direktif.kesan yang terungkap dari sajian sebuah karya seni perlu adanya perenungan kembali untuk mendapatkan sebuah makna yang utuh. hal ini dimaksudkan oleh seniman penyusun supaya bahasa verbal yang sifatnya mengajak. Secara garis besar dapat dieksplisitkan bahwa genre tari pasihan merupakan beragam jenis tari yang mengangkat tema percintaan.

Dalam bahasa verbal secara keseluruhan tampak adanya koherensi antaraspek–aspek kebahasaan yang terakumulasi menjadi satu kesatuan saling berkaitan sehingga mencerminkan kesatuan makna yang dapat mengarahkan penghayat terhadap kandungan isi. Peranan penari sangat penting artinya jika penari atau seniman penyaji berkualitas. Komposisi antara bahasa verbal dengan nonverbal sebagai media ekspresi secara proporsional tampak selaras dan seimbang. Strategi melakukan TT secara tidak langsung (off record) yang dilakukan seniman terkait aspek kebahasaannya dimaksudkan untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa supaya dapat lebih menyentuh penghayat dan maknanya dapat diterima. Dengan demikian tampak bahwa sebenarnya bahasa verbal itu sebagai petunjuk isi telah mencerminkan kesatuan pesan yang utuh sedangkan bahasa nonverbal bertindak sebagai pendukung dalam menyampaikan isi supaya menjadi lebih mantap. Selain itu ditunjang bentuk rias dan warna busana sama yang mencerminkan menyatunya rasa cinta antara peran pria dan wanita. Pada realitanya bahasa nonverbal pada tari pasihan memiliki kekuatan ekspresi sangat mantap ini juga sangat tergantung pada kualitas penari. ekspresinya semakin kuat dan mantap sebaliknya penarinya lemah kekuatan ekspresinya juga semakin lemah. Keselarasan ini tampak dalam bahasa verbal yang berupa tembang-tembang cinta didukung bahasa nonverbal yang berupa gambaran percintaan antara pria dan wanita yang menggunakan gerak-gerak yang merepresentasikan orang bercinta. Kesemuanya tadi menunjukkan adanya keselarasan antara bentuk bahasa verbal 307 .simbolisasi keharmonisan hubungan antara peran suami dan istri sebagai bentuk suritauladan. serta dukungan rasa musikal yang bernuansa percintaan.

juga merupakan bentuk simbol percintaan yang bermakna bagi sepasang temanten untuk diteladani. kehadiran tari pasihan pada resepsi perkawinan selain sebagai hiburan. Kehadiran tari pasihan dalam ritual resepsi perkawinan adat budaya Jawa merupakan salah bentuk hiburan dan suritauladan. Pernyataan tersebut muncul karena masyarakat penonton secara umum menghayati tari pasihan sebagai seni pertunjukan didasarkan pada pengamatan mereka hanya terbatas pada bentuk visual semata. Pandangan pakar ini didasarkan pada pemahaman terhadap bahasa verbal dan penghayatan terhadap bentuk visual pada aspek nonbahasa yang terakumulasi dalam bentuk sajian tari pasihan. sehingga pandangan pakar tentang fungsi tari pasihan sebagai hiburan dan suritauladan merupakan pernyataan yang lebih tepat. Keseimbangan komposisi bahasa verbal dan nonverbal tercermin pada hampir seluruh sastra tembang yang terdapat dalam tari pasihan selalu diikuti dan didukung kinetic body moves. Tari pasihan dipandang sebagai bentuk hiburan terutama oleh masyarakat penonton secara umum. Bagi penonton umum bentuk yang menarik dari sisi ketampanan dan kecantikan penari dengan dukungan rias dan busana yang bagus serta dukungan suasana iringan gamelan yang dirasa sesuai rupanya telah cukup sebagai hiburan.dengan nonverbal pada genre tari pasihan. Selain itu pandangan pakar tersebut juga mendapat rujukan dari pengamatannya bahwa pementasan jenis-jenis tari pasihan hanya pada resepsi perkawinan. selaras dan seimbang sehingga bentuknya tari pasihan sebagai media ekspresi seniman penyusun merupakan komposit isi dan bentuk visual yang menunjukkan keutuhan sebuah karya seni. Dari sisi pandangan pakar. Hubungan bahasa verbal dan nonverbal saling komplementer menjadi bentuk yang menyatu. 308 .

Sifat universal pesta dan upacara sepanjang lifecycle terjadi karena adanya suatu kesadaran secara umum di dalam budaya manusia. bahwa setiap tingkat baru dalam life-cycle itu berarti menghantarkan si individu ke suatu tingkat dan lingkungan sosial yang baru dan lebih luas. Begitu pula tari Bondhan Sayuk yang bersumber pada tema percintaan sepasang suami istri gambaran dari kalangan rakyat biasa. sehingga perannya menjadi mutlak. 309 . 1972: 89-90). Di dalam aktivitas budaya manusia ada yang menganggap bahwa saat peralihan dari tingkat sosial tertentu ke tingkat sosial lainnya itu merupakan crisis-rites yang penuh bahaya. Hal itu dapat dicermati pada tari Karonsih mengangkat tema percintaan tokoh Panji Inukertapati sebagai suami dan tokoh Dewi Sekartaji sebagai istri. gawat. Kedudukan penari pria dan penari wanita dalam tari pasihan yang tampil secara berpasangan itu merupakan simbol dari percintaan. baik secara nyata maupun gaib (Koentjaraningrat. Pesta dan upacara pada saat peralihan sepanjang life-cycle itu merupakan suatu hal yang universal yang hampir ada pada setiap budaya manusia. Perkawinan merupakan salah satu dan suatu saat peralihan yang terpenting pada life-cycle dari semua manusia di seluruh dunia. namun tidak semua saat peralihan itu dianggap sama pentingnya pada tiap-tiap budaya. menunjukkan bahwa penari pria berperan sebagai suami dan penari wanita berperan sebagai istri.Pada hakekatnya tema percintaan yang digambarkan dalam genre tari pasihan adalah percintaan sepasang pria dan wanita. yaitu peralihan dari tingkat hidup remaja ke tingkat hidup berkeluarga. Kiranya menjadi sangat tidak relevan dan tidak berarti bila penari diganti semua putri atau pria semua karena tidak lagi bermakna bagi sepasang temanten bahkan akan berkonotasi negatif.

Kesakralan itu sesuai dengan pendapat Soedarsono mengenai hal-hal yang dianggap penting dalam suatu upacara ritual yaitu waktu. segala ritual yang menyangkut dengan perjalanan hidupnya banyak diselimuti dengan simbolsimbol yang diharapkan dapat memberikan petuah.Periode transisi juga disebut periode liminal yang merupakan fase tengah dalam skema ritus transisi dari praliminal untuk menuju pascaliminal. sebaliknya jika pelaksanaan tidak mentaati konvensi-konvensi yang telah berlaku. pelaku. mengingat upacara-upacara pada masa-masa melampaui saat-saat krisis sering dimaksudkan untuk menolak bahaya gaib yang mengancam individu dan lingkungan. kedamaian. 1990: 4). Demikian halnya yang terjadi pada budaya masyakat Jawa di dalam melangsungkan sebuah upacara adat perkawinan. Berkaitan dengan tindakan simbolik untuk mendapatkan kekuatan magis simpatetis bagi masyarakat Jawa dalam perkawinan. yakni 310 . perlengkapan. Bagi masyarakat Jawa yang masih lekat dengan budayanya. tidak menentu. dan pimpinan upacara tertentu. Kekuatan tersebut antara lain berupa magis simpatetis yang diwujudkan dengan tindakan atau perbuatan yang dapat melambangkan terjadinya pembuahan. dan kebahagiaan hidup. suritauladan yang bermakna untuk keselamatan. 1989: 157). tempat. Bagi masyarakat Jawa upacara tersebut merupakan sebuah upacara yang sangat sakral sepanjang daur hidupnya. diperlukan kekuatan-kekuatan tertentu. mereka takut tertimpa malapetaka (Soedarsono. Ketentuan-ketentuan yang telah berlaku dalam upacara tersebut mereka yakini jika dilaksanakan dengan taat dan benar membawa berkah dan keselamatan. pendidikan. dan ragu-ragu (Darsiti Soeratman. Untuk itu crisis-rites bagi seorang liminal sangat penting. Dalam periode liminal ini seorang liminar berada dalam keadaan setengah-setengah.

. Stamping with the right foot and singing... (dalam Richard Kraus. tindakan yang dapat melambangkan terjadinya pembuahan. berkembang menuju masyarakat modern. Mereka dalam melakukan upacara perkawinan. yang diekspresikan para penari dengan membawa gambar tiruan organ-organ wanita dengan cara sebagai berikut. they dance with the upper part of their bodies bent forwards. penuh simbolis dan mengandung makna nilai-nilai percintaan yang sangat berarti bagi kehidupan sepasang temanten. 1991: 35). dilakukan secara simbolis. Hal ini terbukti pada masyarakat Jawa sekarang yang sudah mengalami kemajuan. yakni adanya hubungan antara pria dan wanita. yaitu pada setiap ada acara upacara perkawinan akan hadir tari pasihan yang hendak 311 .. Suddenly they jump wildly along with violent coitus motions and loud groans.. the jump among the women – the knock the phalli one against another. They carry the vertility into every corner of the houses. Salah satu sarana upacara perkawinan adat Jawa yang cukup penting adalah tari pasihan. Hubungan dimaksud pada masyarakat yang masih melestarikan budaya purba kadang-kadang dilakukan lebih realistis (Soedarsono dalam Soedarso.. Pernyataan tersebut sejalan dengan pendapat Koch Grundberg yang menggambarkan sebuah tari kesuburan dari suku Indian Coneba di Brasil.. sudah mengakar pada budaya masyarakat Jawa. Rupanya.adanya hubungan antara pria dan wanita seperti yang digambarkan pada tari pasihan. Pada masyarakat yang sudah lebih maju... Hampir dapat dipastikan bahwa pada setiap upacara perkawinan akan hadir tari pasihan. untuk mendapatkan kesuburan dengan cara menanggap jenis tari duet percintaan atau tari pasihan yang merupakan tarian kesuburan yang diekspresikan lewat sebuah garapan gerak-gerak presentatif dan representatif. 1969: 21).

bahwa ‘simbol’ tampak terbatas pada sesuatu yang mengungkapkan secara tidak langsung. mengingat merupakan satu-satunya bentuk sajian tari yang bermakna.diteladani oleh kedua mempelai. Bagi masyarakat Jawa upacara perkawinan merupakan saat yang dianggap penting sehingga sarana–sarana yang mendukung peristiwa perkawinan sangat diperhitungkan sangat teliti. Genre tari pasihan memiliki fungsi yang dalam terutama bagi sepasang mempelai temanten yang tercermin pada komplementer bahasa verbal dan nonverbalnya. sehingga perlu perantara yang berwujud simbol-simbol dalam puisi bukan dalam bentuk pengetahuan. Seolah–olah keberadaan genre tari pasihan dalam budaya Jawa menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan terutama pada upacara-upacara perkawinan. baik secara simbolik maupun sebagai santapan estetis terasa menyatu dengan situasi upacara. Kehadiran genre tari pasihan yang menggambarkan percintaan pria dan wanita dalam kehidupan sosial masyarakat terutama konteksnya pada ritual perkawinan adat Jawa rupanya mempunyai makna simbolik yang sangat penting terutama bagi kedua mempelai dalam rangka mempersiapkan diri untuk mengarungi kehidupan di masyarakat yaitu menuju terbentuknya keluarga yang bahagia. Peristiwa budaya ini membuat kehadiran tari pasihan dalam upacara perkawinan sangat ditunggu-tunggu masyarakat. 312 . Hampir dapat dipastikan sarana yang digunakan sebagai kelengkapan berlangsungnya upacara perkawinan memiliki makna simbolik yang difungsikan untuk menasehati sepasang temanten agar dapat membangun keluarga yang bahagia lahir dan batin. Simbolisme semacam ini tampak pada genre tari pasihan yang hadir dalam rangkaian upacara-upacara perkawinan adat Jawa. Menurut Clifford Geertz (1992: 6).

Kekuatan imajinasi percintaan yang digambarkan sepasang kekasih dalam tari pasihan diharapkan dapat memberikan kekuatan magis simpatetis terhadap kehidupan jiwa sepasang mempelai temanten. pasangan penari pria dan wanita setelah bercinta kemudian membawa boneka sebagai simbol telah diberi keturunan anak. yaitu mampu mempengaruhi kesuburan dalam proses perkawinan pasangan temanten. Selain itu kehadiran tari pasihan hampir dapat dipastikan dalam resepsi perkawinan. Simbolisasi tersebut merupakan harapan besar yang dapat memberikan sugesti sepasang temanten untuk segera diberi keturunan anak. Hal ini juga semakin tampak jelas digambarkan secara lebih aktual pada tari Bondhan Sayuk. Selain itu bentuk dukungan sugesti juga digambarkan ketika adegan penari putri memberikan boneka anak kepada 313 . Rupanya terdapat korelasi yang sangat signifikan bahwa kehadiran tari pasihan dalam resepsi perkawinan diharapkan dapat diteladani dan memberikan sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temanten. Bentuk sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temanten terpancar dari kekuatan cinta sepasang penari pria dan wanita yang digambarkan dalam tari pasihan dimaksudkan dapat dihayati sepasang temanten sehingga bayangan-bayangan cinta yang diekspresikan oleh seniman mampu memicu dan memacu kehidupan imajinasi cinta sepasang temanten. dalam menjalani kehidupan berawal menghadapi permasalahan kemudian mendapat solusi yang menjadi berangsur-angsur membaik dan berakhir bahagia.Pada dasarnya genre tari pasihan gaya Surakarta merupakan simbolisasi percintaan sepasang manusia yang berjenis kelamin pria dan wanita. Dalam perjalanan kisahnya percintaan sepasang suami istri yang digambarkan pada tari pasihan.

sebagai pewaris dan penerus keluarga. dan sikap-sikap ideal bagi figur suami maupun figur istri merupakan pesan makna yang hendak disampaikan oleh seniman penyusun. dan bahagia. Bagi penghayat pakar seni menangkap makna berdasarkan pementasan tari pasihan. Pada dasarnya kedua orang tua temanten mengawinkan putra-putrinya dengan cita-cita untuk segera diberi keturunan yang berupa anak.temanten putri. Perbuatan simbolik dalam pertunjukan tari Bondhan Sayuk lebih tampak jelas dan lebih dekat kearah realitas tujuan bercinta dalam sebuah kehidupan keluarga. Nasehat-nasehat cinta kasih yang merupakan makna dari bahasa verbal berupa: pasangan keluarga yang romantis. Pada hakekatnya dalam komunikasi seni bahwa pernyataan atau maksud X tidak pasti ditangkap atau diterima persis X. harmonis. dan bahagia. Artinya pesan yang dimaksudkan seniman dengan makna yang ditangkap pakar seni sama-sama dalam koridor atau wilayah nilai-nilai percintaan. terdapat pasangan suami istri yang romantis. Dari hasil komunikasi antara maksud seniman penyusun dengan tanggapan masyarakat menunjukkan adanya persamaan makna atau maksud. harmonis. kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga. bagaimanapun handalnya seniman 314 . Perbedaan yang tampak adalah terletak pada kadar tebal dan tipisnya sebuah makna. Lewat kekuatan magis simpatetis yang diekspresikan genre tari pasihan akan dapat menyuburkan benih-benih cinta yang tengah berkembang pada sepasang temanten yang akhirnya mampu melahirkan buah cinta yang berupa momongan anak. Tindakan atau perbuatan tersebut merupakan perbuatan simbolik yang menunjukkan adanya kekuatan – kekuatan tertentu yang tidak kelihatan mata yang bersifat magis simpatetis diharapkan dapat diterima temanten putri.

Prinsip utama yang sangat penting dalam komunikasi seni adalah terjadinya komunikasi rasa. Bagi seniman dalam menciptakan karya seni. Seniman pada dasarnya tidak lain sebagai manusia yang menyediakan sebuah susunan benda pacu atau lambang-lambang sensa yang diharapkan akan ditafsirkan penghayat seperti yang dimaksudkan olehnya. prinsip kadarnya tetap berbeda tidak persis sama. berupaya menciptakan benda-benda pacu yang memiliki nilai estetik dalam rangka menyampaikan maksud. Kadar pemahaman makna dalam karya seni yang berupa komunikasi rasa. sedangkan penghayat berusaha menangkap maksud yang dikehendaki seniman tersebut dengan cara memberikan makna terhadap karya seni. Sebagai penari atau penyaji.dalam menciptakan karya seni dan hebatnya pakar seni dalam menilai karya. segar secara total baik jasmani maupun rohani. Kelemahan yang terdapat pada genre tari pasihan sedikit banyak dipengaruhi kualitas penari yang lemah sebagai penyampai isi dan iringan tari yang berupa kaset rekaman atau CD. Kondisi pisik penari harus benar-benar dalam keadaan sehat. dan relaks serta memiliki sistem ekspresi dan evaluasi yang baik 315 . seorang seniman harus mempunyai kemampuan baik pisik maupun nonpisik. Kadar pemahaman juga sangat tergantung dari bekal yang dimiliki oleh seniman dan penghayat. Pada prinsipnya penafsiran terhadap keragaman media komunikasi yang terdapat dalam tari tidak mampu hanya ditangkap secara rasional semata tetapi ketajaman rasa merupakan ujung tombak dalam menangkap makna yang sebenarnya. yakni seniman dengan menciptakan kreativitas artistik sedangkan penghayat mencipta nilai dengan kreativitas estetik. dalam penghayatan karya seni terjadi aktivitas kreatif. Menurut Sutopo (1995: 12-13). enerjik.

akan terjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat dan dapat diprediksikan eksistensinya sebagai seniman mendapat dukungan dan pengakuan penuh dari masyarakat pendukungnya. Menurut Wisnoe Wadhana : kesempurnaan menari Jawa klasik tradisional hanya dapat diraih apabila si penari juga mendalami mistik Jawa. ratio. luwes dan terampil dalam penampilan. dan kepekaan rasa menjadi sangat pokok sebagai rohnya dalam sajian tari. dan bekal pengalamannya sehari-hari diharapkan mampu menafsirkan karya-karya tari dari seorang koreografer sehingga dapat menyajikan secara ekspresi sesuai dengan peran karakternya. berada dalam puncak prestasi keteladanan (1994: 45-46). berbobot magis. kelenturan. ketrampilan. Sebagai seniman. terasakan hambar kosong belaka. sehingga sekalipun dapat menari Jawa dengan penguasaan teknik yang sangat baik. Persiapan nonpisik bagi penari berupa kepekaan rasa. Maka ia pun akan selalu patut dalam perannya.seperti: keseimbangan. dan penguasaan irama (Wisnoe Wadhana. Peranan tubuh penari sangat vital untuk sarana ekspresi. Selain itu penari harus juga mampu menguasai ruang dan waktu. Selama seniman mampu mengungkapkan nilai-nilai budaya dan norma-norma sosial yang terangkum dalam sebuah pesan-pesan lewat karya tari secara indah. ia akan dapat mengarahkan sekaligus mendidik peningkatan daya apresiasi masyarakat terhadap karya-karya tari ciptaannya yang 316 . Keberhasilan mereka menyampaikan pesan-pesan tergantung dengan kemampuan menyeleksi materi-materi sebagai sarana ungkap dan tidak lepas dari kemampuan masyarakat penikmat untuk menangkap yang sudah barang tentu mengacu pada nilai-nilai budaya dan norma-norma sosial yang hidup dan berkembang. Padahal ukuran kehebatan seorang penari klasik tradisional Jawa haruslah isi. Generasi sekarang banyak yang awam terhadap mistik tersebut. ketepatan gerak ekspresi. 1984: 31).

Pewarisan budaya tidaklah bersifat statis.pada gilirannya menumbuhkembangkan kehidupan tari secara wajar. Dalam tari Jawa bentuk ekspresinya pada hakekatnya terwujud berdasarkan alam emosi. ia akan lemah dan tidak mampu mengekspresikan muatan isi seperti yang diharapkan oleh seniman pencipta. Pada dasarnya seniman hanya menyediakan suatu susunan pacu atau lambang-lambang sensa yang diharapkannya akan kita tafsirkan seperti yang dimaksudkan olehnya (Parker. Gabungan garap pisik dan olah rasa yang matang akan menghasilkan kualitas penari yang mumpuni atau berbobot. Rupanya hanya penari yang berkualitas yang terlatih yang mampu menyajikan dan menyampaikan isi atau makna yang terkandung dalam genre tari pasihan. Keluluhan jiwa seorang penari dalam menyajikan karakter tari merupakan puncak prestasinya sebagai seorang seniman. yaitu bentuk dan iramanya sangat kuat dilatarbelakangi oleh konsep keindahan dan tradisi kebudayaannya (Humardani. 1980:46). sehingga kekuatan ekspresinya akan mampu mengungkapkan isi secara mantap. tetapi masing-masing generasi mencoba untuk mengadakan perubahanperubahan disesuaikan dengan kondisi kehidupan masyarakat pendukungnya. Kualitas seorang penari hanya akan tercapai bila penari mampu menghayati dan mengekspresikan sesuai dengan perannya secara totalitas jiwa. Seni tradisional termasuk tari sebagai budaya yang diwarisi secara turun-temurun sudah barang tentu memiliki kesinambungan dengan budaya sebelumnya. Sebaliknya jika penarinya tidak berkualitas. Kelemahan dari kualitas penari sebagai penyampai isi tari yang dimaksudkan seniman merupakan kendala yang sangat vital karena hanya dari 317 . tidak terlatih. 1991:10). Ketajaman dan kepekaan rasa yang dimiliki penari dapat teraktualisasi dalam sebuah sajian tari dan mampu menggugah intuisi para penghayat.

ekspresi penari makna tari dapat ditangkap atau dihayati oleh penonton. Kekuatan ekspresi menjadi kurang mantap jika dengan iringan yang sifatnya tidak langsung dengan iringan gamelan. Jika dengan iringan gamelan langsung. Hal ini merupakan kelemahan yang terdapat pada sajian genre tari pasihan jika tidak menggunakan iringan langsung dengan gamelan. karena selain rasa musikal yang muncul sudah terasa lemah. Secara ringkas dapat dikatakan kelemahan kualitas penari dalam menyajikan jenis tari pasihan akan mempengaruhi kekuatan ekspresi dan mengurangi pada kemantapan rasa penghayat. kekuatan ekspresinya menjadi semakin mantap karena selain kekuatan rasa musikal yang muncul dari garap gendhing-gendhing karawitan juga didukung kekuatan penari dalam membawakan tembang akan tampak lebih ekspresip. juga tidak mendapat dukungan ekspresi tembang dari penari secara langsung. Dalam sajiannya genre tari pasihan dapat diiringi gamelan secara langsung dan iringan tidak langsung yaitu dengan iringan kaset atau rekaman CD. Hasilnya akan berbeda jika sajiannya genre tari pasihan dengan iringan kaset atau rekaman CD. 318 .

BAB V PENUTUP A. dan bahagia yang terdapat dalam tari tersebut dirasa sangat tepat dan ditangkap secara mantap sebagai suatu bentuk edukatif atau pengajaran yang bersifat tidak langsung dan sangat bermanfaat bagi sepasang temanten untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dalam menggapai keluarga bahagia lahir dan batin. harmonis. mengingat gambaran percintaan pasangan suami istri yang romantis. Maksud dan harapan seniman penyusun tersebut ditangkap oleh masyarakat sebagai sesuatu yang harus diteladani. meminta dan menyuruh terhadap sepasang temanten untuk memahami dan meresapi makna isi yang terkandung dalam bahasa verbal sastra tembang yang disampaikan dengan bahasa nonverbal dalam bentuk visual yang estetik supaya melakukan tindakan atau perbuatan seperti yang dicontohkan dalam pertunjukan tari pasihan tersebut. Berdasarkan temuan penelitian dan hasil pembahasan dari keterkaitan tiga faktor objektif. yaitu pada setiap ada acara upacara perkawinan akan hadir tari pasihan yang hendak diteladani oleh kedua mempelai. 319 . dan afektif dapat disimpulkan bahwa kehadiran genre tari pasihan dalam upacara ritual resepsi perkawinan berfungsi sebagai hiburan dan suritauladan. genetik. Kehadiran genre tari pasihan dalam resepsi perkawinan dimaksudkan oleh seniman untuk mengajak. Rupanya sudah mengakar pada budaya masyarakat Jawa. Peranan genre tari pasihan dalam upacara ritual resepsi perkawinan memiliki makna yang cukup signifikan bagi sepasang temanten. Simpulan.

dan mantap sebagai sebagai hiburan dan suritauladan. Bentuk seni pertunjukan genre tari pasihan merupakan komposit bahasa verbal dalam wujud sastra tembang yang terdapat dalam bentuk pathetan. ditunjukkan bahwa jenis-jenis tari pasihan tersebut sampai sekarang hidup dan 320 . Kedua komponen yaitu bahasa verbal sebagai isi atau pesan makna dan bahasa nonverbal dalam bentuk visual sebagai pendukung pemantapan makna. polatan. dan iringan. gerongan.Peristiwa budaya ini membuat kehadiran tari pasihan dalam upacara perkawinan sangat ditunggu-tunggu masyarakat. baik secara simbolik maupun sebagai santapan estetis terasa menyatu dengan situasi upacara. dan jineman dengan bahasa nonverbal berupa: tema. rias. pola lantai. Bahasa nonverbal merupakan bentuk visual yang bersifat estetik sudah memperlihatkan adanya koherensi antarelemen-elemen dan saling berkaitan untuk mendukung dalam menyampaikan isi supaya menjadi lebih mantap. busana. layak. Dalam bahasa verbal telah tampak adanya koherensi antaraspek–aspek kebahasaan yang terakumulasi menjadi satu kesatuan saling berkaitan sehingga mencerminkan kesatuan makna yang dapat mengarahkan penghayat terhadap kandungan isi. sindhenan. Harmonisasi dan keseimbangan antara bahasa verbal dan nonverbal dalam genre tari pasihan telah mencerminkan kesatuan makna yang saling mendukung maka karya seni genre tari pasihan layak dan mantap sebagai seni pertunjukan yang berkualitas tinggi. Kekuatan genre tari pasihan sebagai seni pertunjukan yang berkualitas. kinetic body moves (gerak tubuh). mengingat merupakan satu-satunya bentuk sajian tari yang bermakna. yang sekaligus bertindak sebagai penyampai pesan makna yang secara komposit telah terkait dan saling melengkapi sebagai seni pertunjukan yang utuh dan mantap.

TT direktif. Dari beragam jenis TT yang paling dominan adalah TT direktif. Dalam mendukung kesatuan makna. bahasa verbal berfungsi untuk melengkapi dan mendukung bahasa nonverbal sebagai bentuk visual. Pada dasarnya bahasa verbal lebih berfungsi sebagai penunjuk isi sedangkan bahasa nonverbal sebagai penyampai isi supaya lebih menyentuh jiwa penghayat dan menjadi semakin mantap. Bentuk sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temanten terpancar dari kekuatan cinta sepasang penari pria dan wanita yang digambarkan dalam tari pasihan 321 . adapun bentuk perintah tersebut bersifat simbolik dalam bentuk yang estetik. dan TT patik. Komplementer dua komponen bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan saling mengait. Kehadiran tari pasihan dalam resepsi perkawinan diharapkan dapat diteladani dan memberikan sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temanten. saling melengkapi sehingga bahasa verbal yang berupa sastra tembang mampu memperjelas dan menyatukan teks dengan bentuk visual dalam kesatuan makna yang utuh. Sebagai kandungan makna atau isi. Pada prinsipnya masing-masing komponen baik bahasa verbal maupun bahasa nonverbal memiliki kedudukan yang sama yaitu berfungsi untuk mengekspresikan maksud seniman penyusun. Diharapkan dengan dominasi jenis TT direktif sangat tepat untuk menyuruh supaya meneladani. TT ekspresif. TT komisif. Nilai-nilai keteladanan yang digambarkan pada genre tari pasihan pada hakekatnya merupakan bentuk simbolisasi cinta kasih sepasang suami istri. aspek bahasa verbal yang dimanfaatkan oleh seniman penyusun dalam karya tari pasihan adalah: TT asertif.berkembang di masyarakat terutama pada upacara-upacara ritual resepsi perkawinan.

Pada intinya bentuk daya pragmatik genre tari pasihan adalah berupa nasehat-nasehat tentang cinta kasih yaitu pasangan keluarga yang romantis.dimaksudkan dapat dihayati sepasang temanten sehingga bayangan-bayangan cinta yang diekspresikan oleh seniman mampu memicu dan memacu kehidupan imajinasi cinta sepasang temanten. Diharapkan nasehat-nasehat tentang cinta kasih tersebut bermanfaat bagi sepasang temanten sebagai bekal untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dalam membangun sebuah keluarga. dan sikap-sikap ideal bagi figur suami maupun figur istri. Saran. Kekuatan imajinasi percintaan yang digambarkan sepasang kekasih dalam tari pasihan diharapkan dapat memberikan kekuatan magis simpatetis terhadap kehidupan jiwa sepasang mempelai temanten. harmonis. Bentuk seni pertunjukan genre tari pasihan atau tari pasihan adalah karya seni dari seniman yang berkualitas tinggi dan telah teruji terbukti sampai sekarang 322 . dan bahagia. yaitu mampu mempengaruhi kesuburan dalam proses perkawinan pasangan temanten. kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga. Diharapkan kekuatan magis simpatetis dapat mendorong menyuburkan benih-benih cinta yang tengah berkembang dan mampu memberikan sugesti terhadap sepasang temanten untuk segera diberi keturunan yang berupa momongan anak. B. Pada dasarnya kedua orang tua temanten mengawinkan putraputrinya dengan cita-cita untuk segera diberi keturunan yang berupa anak. Tindakan atau perbuatan tersebut merupakan perbuatan simbolik yang menunjukkan adanya kekuatan–kekuatan tertentu yang tidak kelihatan mata yang bersifat magis simpatetis. sebagai pewaris dan penerus keluarga.

hidup dan berkembang sebagai hiburan dan suritauladan bagi bagi sepasang temanten dan masyarakat pada umumnya. mengetahui. hingga memahami tentang pesan makna yang disampaikan dari sebuah tari. Diharapkan kualitas dan kuantitas penilaian dari masyarakat terhadap tari semakin meningkat sehingga kehidupan seni pertunjukan semakin hidup dan berkembang dalam lingkungan budaya yang layak dan proporsinal. b) Pengrawit dalam mengubah jenis-jenis gendhing maupun cakepan atau bahasa verbalnya yang terdapat pada genre tari pasihan hendaknya harus sadar dan mempertimbangkan segi fungsinya. c) Kritikus hendaknya lebih banyak memberikan penilaian terhadap karyakarya yang dipublikasikan supaya masyarakat mulai mengenal. Sehingga kemantapan dan validitas sebagai sebuah karya seni yang berkualitas tidak diragukan lagi untuk itu perlu peneliti sarankan kepada: a) Penari dalam mengubah pola-pola pakaian dan pola-pola sekaran yang terdapat pada genre tari pasihan hendaknya harus sadar dan mempertimbangkan segi fungsinya. 323 .

1992.Yogyakarta: Kanisius. 1999. Clifford. Kebudayaan dan Agama. Modul Pembelajaran: Pengantar Linguistik. 2007. Surakarta: UNS Press. Cohesion in English. dalam Esther N. M. EM Zul Fajri dan Ratu Aprillia Senja. Perubahan Tari Lambangsih. Geertz. . Hidayat. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. dan Ruqaiya Hasan. Cutting. 2002. Surakarta: STSI Press. STSI: Surakarta. Halliday. Cambridge: Cambridge University Press. Cangara. Dwi Maryani. Pengantar Linguistik Umum. 324 . 1993. de Saussure. Pengantar Ilmu Komunikasi. Discourse. H. 1987. Brown. ‘Universals in language usage: Politeness phenomena’. 1999. 1916. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 2007. Fatimah Djajasudarma.D. PN: Difa Publisher. Dwi Yasmono.A. Cook. Metode Linguistik. Makalah berjudul “Implikatur Percakapan: Perspektif Grice dan Perspektif Sperber & Wilson”. Oxford: Oxford University Press. Edi Subroto. Jurnal Wiled. Penelope and S. Goody (ed) Questions and Politeness. Budhisantoso.C. Tanpa Taun. 1976. Perkembangan Tari Enggar-Enggar. Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia.DAFTAR PUSTAKA ACUAN Asim Gunarwan. Terjemahan: Rahayu S. 1994. Joan. Hafied. PPS-UNS. London: Longman Group Ltd. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Guy. Jakarta: Depok.K. T. Tanpa Tahun. 2006. Levinson. Bandung: PT Erisco. Pengantar Metode Penelitian Linguistik Struktural. Pragmatics ang Discourse. 1989. STSI: Surakarta. London and New York: Routledge. Ferdinand.

Jakarta: Balai Pustaka. The Problem of Meaning in Primitive Languages dalam Ogden. T.J. Koentjaraningrat. Bahasa dan Sastra dalam Tinjauan Semiotik dan Hermeneutik.W. Lamuddin Finoza. Disertasi. 1990.A. Terjemahan: Fx. Makalah berjudul: “Disiplin Sejarah dalam Merekonstruksi masa Lampau untuk Menyongsong Masa Depan”. Humardani. 1990. 2001. Metodologi Penelitian Kualitatif. 2003. Jakarta: Diksi Insan Mulia. Bronislaw. Geoffrey. Prinsip-prinsip Pragmatik. Noth. 1991. 1993. The Meaning of Meaning. Langer. Ilmu Pragmatik. Pemikiran & Kritiknya. 325 . 2006. 1984. Winfried. Jumanto. . Pragmatik: Teori dan Analisis.K. Leech. Jakarta: PT Rineka Cipta. . London: Routledge. 1983. dan Trubner. Oka. Suzanne K. Bandung:STSI. London: K. Malinowski. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 2007. W. Introducing English Semantics. Principles of Pragmatics.Paul. Lexy. 1923. 2004. Maryono. Handbook of Semiotics. Jacob L. 1991. STSI: Surakarta. Widaryanto. Benny H. Pragmatics: An Introduction. 1987. Mey. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Richards (ed). Trend.Hoed. Komposisi Bahasa Indonesia. Muhammad Rohmadi. Bloomington: Indiana University Press. 1988. Moleong. Yogyakarta: UGM. 1999. Karonsih. Pengantar Ilmu Antropologi. Editor: Rustopo. Kebudayaan Jawa. dan I. Nababan. Problematika Seni. P. C. 1998. London: Longman. Surakarta: STSI Press. Komunikasi Fatis Di Kalangan Penutur Jati Bahasa Inggris. UI: Jakarta. Oxford: Blackwell.D. Charles. Terjemahan: M. Ibrahim Alfian. Universitas Indonesia: UI Press.J. Kreidler.D. Yogyakarta: Lingkar Media. 2005.

Pengantar Pengetahuan Dan Komposisi Tari.B. Yogyakarta: ISI. Makalah berjudul: “Peranan Seni Budaya dalam Sejarah Kehidupan Manusia: Kontinuitas dan Perubahannya. Surakarta: Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI). Soedarso Sp. Jakarta: PN Buku Sastra Indonesia dan Daerah. Sintaksisi. Teori Sosiologi tentang Perubahan Sosial. 1996. H. Richards. . Yogyakarta: Saku Dayar Sana. R. Essex: Longman Rogers. Jakarta: Yayasan Harapan Kita/BP 3 TMII. John R. Renkema Jan. 1993. 1990. New York: Free Press. Lawrence Kincaid. Pengertian Seni. De Witt. 1992. Sebelas Maret University Press. Sp. Perkembangan Gamelan Kontemporer. Jakarta: Ghalia Indonesia. .H. Soerjono Soekanto. Discourse Studies: an Introductory Textbook. Communication Network: Towards a Newq Paradigm for Research. 1980. Everett M and D. 1981. Ilmu Bahasa Indonesia. . Surakarta: Universitas Sebelas Maret. Read. 1969. Yogyakarta: Gadjah Mada university Press. 1978. Humardani. Departemen P dan K. Yogyakarta:UGM. Indonesia Indah: Tari Tradisional Indonesia. Searle. Soedarsono. J. 1995. Seni Pertunjukan. Herbert. Rustopo. Metodologi Penelitian Kualitatif. Kritik Seni Holistik Sebagai Model Pendekatan Penelitian Kualitatif.C et al. 1991. Parker. Cambridge: Cambridge University Press. 2003. 1979. Terjemahan: SD. Terjemahan: Yanti Darmono. Sunan. Ramlan. . Yogyakarta: CV Karyono.Pakubuwono IV.M. Terjemahan:Soedarso. Yogyakarta: Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI). Speech Acts: An Essay in The Philosophy of language. Amsterdam: John Benjamins Publishing Company. 1990. 326 . 2006. M. Beberapa Catatan Tentang Perkembangan Kesenian Kita. Sutopo. 1987. 1983. 1985. Surakarta: Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI). Longman Dictionary of Language Teaching and Applied Linguistics. Dasar-dasar Estetika.

. Jakarta: Sena Wangi. Rusini. 6. Boyolali: penari dan penyusun tari. Perkembangan Tari Gambyong Gaya Surakarta 19501993. Wijana. Sri Rochana. Hari Subagya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2006. Metode Etnografi. Surakarta: penyusun tari. Darsono. Henry Lee. pakar tari dan budayawan. Karangannyar: pakar tembang dan karawitan. 1996. J. Claude M and Warren Weaver. Jurnal Wiled. 1997.Shannon. Spradley. Yogyakarta: PN BACA. 8. Sukoharjo: penari.Surakarta: STSI Press. Dewa Putu I. Pragmatics. Wisnoe Wardhana. 9. Terjemahan:Misbah Zulfa Elizabeth. Urbana: University of Illinois Press. Yule. Nartutik. Wainwright.P. Singapore: National Institute of Education. 2005. 1994.S. Surakarta: pakar tembang dan karawitan serta penanggap. 11. 3. Yogyakarta: PT Tiara Wacana. Waridi. W. George. 1998. The Mathematical Theory of Communication. DAFTAR NARA SUMBER 1. 1949. Smith. Terjemahan: Narulita Yusron. 2006. Editor: Archibald A. Ninik Sutrangi. Membaca Bahasa Tubuh. Karawitan Wayang Kulit Purwa Gaya Surakarta. Voice of America Forum Lectures. Surakarta: pakar tari. Nuryanto. 7. 1969. Nora Kustantina Dewi. Karanganyar: penari. Terjemahan: Indah Fajar Wahyuni. Hartoyo. Jr. 1994. 327 . Linguistics. Dasar-dasar Pragmatik. 4. 2. Agus Tasman. Gordon R. Daryono. 5. Rusdiantara. Surakarta: penyusun tari dan penari. Yogyakarta: Andi Offset. Surakarta: penari. Karanganyar: penari. Pragmatik. Hill. Sukoharjo: vokal putri (pesindhen). 10.

Boyolali: penari. Sri Lestari. 16. penyusun tari. Surakarta: penari. dan pakar tari. Surakarta: pakar karawitan. 13.12. Sunarno. Sukoharjo: penangggap. 14. Karanganyar: pakar tembang dan karawitan. Slamet Riyadi. 15. Sudarmin. 328 . Slamet Suparno.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful