1

KOMPONEN VERBAL DAN NONVERBAL DALAM GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA (Kajian Pragmatik) DISERTASI
Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan dalam Mencapai Derajat Doktor Program Studi Linguistik Minat Utama Linguistik Pragmatik dan Dipertahankan di Hadapan Sidang Senat TerbukaTerbatas di Bawah Pimpinan Rektor Universitas Sebelas Maret Prof. Dr. H. Much Syamsulhadi, dr., Sp.KJ. (K) Pada Hari Rabu Kliwon, 7 April 2010

Oleh : Maryono NIM. T 130906005

PROGRAM PASCASARJANA PROGRAM STUDI LINGUISTIK (S3) UNIVERSITAS SEBELAS MARET

2

SURAKARTA 2010 DISERTASI KOMPONEN VERBAL DAN NONVERBAL DALAM GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA ( Kajian Pragmatik)

Oleh : Maryono NIM. T 130906005

DISETUJUI OLEH PEMBIMBING
1. Prof. Dr. M. Sri Samiati Tarjana. NIP. 194 406 021 965 112 001 (Promotor) …………………………

2. Prof. Dr. T. Slamet Suparno, S.Kar.,M.S. NIP. 194 812 191 975 011 001 (Ko-Promotor )

…………………………

Mengetahui Ketua Program Studi S3 Linguistik

3

Prof. Dr. H. D. Edi Subroto. NIP. 194 409 271 967 081 001

KOMPONEN VERBAL DAN NONVERBAL DALAM GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA ( Kajian Pragmatik)
DISERTASI UNTUK MEMPEROLEH GELAR DOKTOR DALAM BIDANG LINGUISTIK MINAT UTAMA: LINGUISTIK PRAGMATIK DIPERTAHANKAN DI HADAPAN DEWAN PENGUJI PADA SIDANG SENAT TERBUKA TERBATAS PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA PADA TANGGAL: 7 APRIL 2010 OLEH: MARYONO LAHIR DI BOYOLALI, 15 JUNI 1960 DEWAN PENGUJI: 1. Prof. Dr. H. Much Syamsulhadi, dr., Sp.KJ. (K) (Penguji Utama) 2. Prof. Drs. Suranto, M.Sc., Ph.D. (Sekretaris merangkap Anggota) 3. Prof. Dr. M. Sri Samiati Tarjana. (Promotor merangkap anggota) 4. Prof. Dr. T. Slamet Suparno, S.Kar., M.S. (Ko-Promotor merangkap anggota) 5. Prof. Dr. H. D. Edi Subroto. (Anggota) 6. Prof. Dr. Soepomo Poedjosoedarmo. (Anggota) 7. Prof. Dr. H. Soetarno, DEA. (Anggota) 8. Dr. Sumarlam ., M.S. (Anggota) .................................... .................................... .................................... .................................... .................................... .................................... .................................... ....................................

4

Mengetahui Rektor Universitas Sebelas Maret

Prof. Dr. H. Much Syamsulhadi, dr., Sp.KJ. (K) NIP. 194611021976091001

SURAT PERNYATAAN
Yang bertanda tangan di bawah ini Nama NIM Program Program Studi Tempat/Tanggal Lahir Alamat : Maryono : T 130906005 : Pascasarjana (S3) UNS : Linguistik : Boyolali, 15 Juni 1960 : Melikan Rt 01, Rw 08, Palur, Mojolaban, Sukoharjo

Menyatakan

dengan

sesungguhnya

bahwa

disertasi

saya

yang

berjudul:

KOMPONEN VERBAL DAN NONVERBAL DALAM GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA (Kajian Pragmatik) adalah asli (bukan jiplakan) dan belum pernah diajukan oleh penulis lain untuk memperoleh gelar akademik tertentu. Semua temuan, pendapat atau gagasan orang lain yang dikutip dalam disertasi ini ditempuh melalui tradisi akademik yang berlaku dan dicantumkan dalam sumber rujukan dan atau dalam Daftar Pustaka. Apabila kemudian terbukti pernyataan ini tidak benar, saya sanggup menerima sangsi yang berlaku.

5

Surakarta, 7 April 2010 Yang membuat pernyataan

Maryono

KATA PENGANTAR
Syukur alhamndulillah penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, atas ridha dan kehendak-Nya, sehingga disertasi ini dapat selesai tepat pada waktu yang diharapkan. Sepenuhnya penulis sadari bahwa tanpa bantuan dari berbagai pihak, mustahil disertasi ini dapat selesai. Untuk itu, kanthi linambaran trapsilaning manah, perkenankan penulis sampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. H. Much Syamsulhadi, dr., Sp.KJ (K), Rektor UNS yang telah
memberi kesempatan penulis untuk menyelesaikan studi program doktor di Universitas Sebelas Maret Surakarta.

2. Prof. Dr. H. Soetarno, DEA, atas dukungan dan nasihat sejak masih menjabat
Ketua Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta sampai sekarang sehingga penulis dapat menyelesaikan program doktor di UNS.

3. Prof. Drs. Suranto, M.Sc., Ph.D, selaku Direktur Program Pascasarjana
Universitas Sebelas Maret Surakarta, yang telah memberi kesempatan penulis untuk menyelesaikan studi program doktor di UNS.

4. Prof. Dr. H. D. Edi Subroto, selaku Ketua Program Linguistik S3 UNS dan
atas bimbingan melalui berbagai disiplin yang telah diberikan kepada penulis sebagai bekal dalam menyelesaikan disertasi.

5. Prof. Dr. M. Sri Samiati Tarjana, sebagai promotor yang dengan sabar telah
membimbing, mengarahkan, dan mengoreksi sehingga penulis meraih gelar doktor.

6

6. Prof. Dr. T. Slamet Suparno, S.Kar., M.S, sebagai Ko-Promotor, yang telah
membimbing, dan mengoreksi sehingga penulis meraih gelar doktor.

7. Prof. H.B. Sutopo, M.Sc., M.Sc, Ph.D (almarhum) yang dengan sabar telah
membimbing, mengarahkan, mengoreksi, dan yang menghantarkan sampai ujian tertutup sehingga penulis dapat berlanjut meraih gelar doktor.

8. Prof. Dr. Soepomo Poedjosudarmo; Prof. Dr. Kunardi Hardjoprawiro, M.Pd;
Prof. Dr. Joko Nurkamnto; Prof. Dr. Maryono Dwiraharjo, S.U; Dr. Sumarlam., M.S, yang telah memberikan disiplin Linguistik untuk bekal penulis menyelesaikan disertasi.

9. Sunarno S.Kar., M. Sen, sebagai nara sumber primer tari Bondhan Sayuk dan
jenis tari pasihan lainnya, yang telah memberikan informasinya sehingga penulisan disertasi ini dapat selesai.

10. Sutarno Haryono S.Kar., M. Hum, sebagai teman seperjuangan dan
motivator yang mendorong penulis untuk studi S3 dan berhasil meraih gelar doktor.

11. Sri Wahyuningsih sebagai istri dan anak-anakku: Risang Janur Wendo, Laras
Ambika Resi, Linggo Sasikirana, dan Hoyi Anggraeni yang telah memberikan semangat dan doanya kepada penulis sehingga disertasi ini cepat selesai. 12. Selamat jalan istriku yang tercinta dan tersayang Sri Djarwanti S.Kar, ke hadapan-Mu ya Allah, semoga atas pengorbanan dan kasihmu selama ini, saya selalu berdoa semoga Allah SWT menerima dan memasukkan belahan hatiku dalam golongan orang ahli surga di hari Akhir. Amin. 13. Pemerintah Republik Indonesia yang memberikan kewenangan kepada Dirjen Dikti yang telah memberi Bea Siswa (BPPS). Akhirnya dengan segala kerendahan hati, penulis mohon maaf kepada semua pihak apabila terdapat kekurangan dan kesalahan yang penulis perbuat selama menyelesaikan disertasi ini. Semoga Allah tetap membimbing kami. Amin.

KOMPONEN VERBAL DAN NONVERBAL DALAM GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA (Kajian Pragmatik). dan implikatur. gérongan. Kajian komponen verbal ini untuk mengungkap: jenis-jenis tindak tutur (TT) yang dominan. objektif. rias. Tujuan penelitian untuk memahami makna bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan pada ritual perkawinan adat Jawa di Surakarta dengan menganalisis secara rinci. dan iringan gamelan (musik). peneliti menggunakan kajian: (1) teori pragmatik. observasi. fungsi TT. Teknik pengumpulan data yang sesuai dengan penelitian kualitatif dan jenis sumber data yang dimanfaatkan adalah: wawancara mendalam (in-depth interviewing). dan seimbang mengkaji tiga faktor yaitu genetik. pola lantai. (4) Menjelaskan latar belakang konsepsi penciptaan komponen verbal dan nonverbal genre tari pasihan. Strategi yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus tunggal terpancang (embedded case study research). busana. akurat. (3) teori seni pertunjukan. gerak tubuh (kinetic body moves). (2) teori budaya. sindhènan. dan afektif sebagai sumber aliran nilai. untuk mengungkap bentuk hubungan yang bersifat langsung dan tidak langsung dan implikatur genre tari pasihan. realisasi strategi kesantunan. dan (5) Menjelaskan persepsi masyarakat terhadap kehidupan genre tari pasihan gaya Surakarta. realisasi prinsip kerja sama. dan mendalam untuk menemukan dan mendeskripsikan: (1) Komponen verbal genre tari pasihan berupa sastra tembang dalam syair: pathetan. 7 April 2010 Peneliti Maryono Maryono: T 130906005. Keempat teori tersebut digunakan untuk . lengkap. ABSTRAK Topik penelitian ini adalah Komponen Verbal dan Nonverbal dalam Genre Tari Pasihan Gaya Surakarta (kajian Pragmatik). (3) Menjelaskan hubungan komponen verbal yang bersifat kebahasaan dan nonverbal yang bersifat nonkebahasaan genre tari pasihan. 2010. (2) Komponen nonverbal genre tari pasihan berupa: tema. Bentuk penelitian yang digunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan kritik holistik yang secara fokus. dan jineman. polatan (ekspresi wajah). dan (4) teori komunikasi. Disertasi. mencatat dokumen dan arsip (content analysis). Untuk mengungkap permasalahan yang menjadi tujuan penelitian disertasi ini.7 Surakarta. Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta.

8

menganalisis makna pragmatik genre tari pasihan gaya Surakarta secara komplementer. Secara prinsip teori pragmatik merupakan alat kajian yang utama terkait dengan sistem kebahasaannya yang terfokus untuk menganalisis jenis-jenis TT, jenis TT yang dominan, fungsi TT, realisasi prinsip kerja sama, realisasi strategi kesantunan, implikatur, dan daya pragmatik. Teori budaya dan teori seni pertunjukan untuk menganalisis faktor nonkebahasaan yang berupa unsur-unsur karya seni. Teori komunikasi untuk mengkaji keterkaitan antarfaktor genetik, objektif, dan afektif. Trianggulasi keempat teori tersebut merupakan sarana untuk menjamin dan mengembangkan validitas data dalam mengungkap makna pragmatik genre tari pasihan gaya Surakarta. Pokok-Pokok Temuan Penelitian. Jenis–jenis TT yang terdapat dalam genre tari pasihan gaya Surakarta terdiri dari beragam jenis yaitu: TT asertif, TT komisif, TT ekspresif, TT direktif, TT verdiktif, dan TT patik. Dari beragam jenis TT yang terdapat pada genre tari pasihan, jenis TT yang dominan adalah TT direktif. Pada penerapan prinsip kerja sama dalam bahasa verbal genre tari pasihan terjadi pelanggaran maksim kuantitas dan maksim cara, sedangkan maksim kualitas dan maksim hubungan dipatuhi. Prinsip kesantunan yang diterapkan dalam bahasa verbal genre tari pasihan didapatkan penggunaan strategi TT dengan kesantunan positif dan strategi TT secara tidak langsung (off record). Implikatur yang terdapat dalam jenis-jenis tari pasihan menunjukkan adanya simbolisasi percintaan sepasang suami istri yang dalam perjalanan kisahnya berawal dalam menghadapi permasalahan, kemudian mendapat solusi yang berangsur-angsur membaik dan berakhir bahagia. Kehadiran tari pasihan hampir dapat dipastikan disajikan dalam resepsi perkawinan merupakan wahana untuk mewisuda sepasang temantèn. Rupanya terdapat keterkaitan yang sangat erat antara kehadiran tari pasihan dalam resepsi perkawinan dengan sepasang temantèn. Implikatur yang utama pada kehadiran genre tari pasihan dalam resepsi perkawinan adalah untuk dapat diteladani dan memberikan sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temantèn. Merujuk implikatur-implikatur yang diperikan dari komplementer komponen verbal dan nonverbal jenis-jenis tari pasihan dapat diungkapkan bahwa bentuk daya pragmatik genre tari pasihan adalah berupa nasihat-nasihat tentang cinta kasih yaitu pasangan keluarga yang romantis, harmonis, dan bahagia; kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga; dan sikap-sikap ideal bagi figur suami dan figur istri. Nasihat-nasihat tentang cinta kasih tersebut bermanfaat bagi sepasang temantèn sebagai bekal untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dalam membangun sebuah keluarga. Bentuk genre tari pasihan merupakan perpaduan dua komponen besar yaitu verbal dan nonverbal. Berdasarkan jabaran komponen tersebut dapat diketemukan ciri karakteristik genre tari pasihan sebagai berikut: (a) bahasa verbal berbentuk tembang Jawa bernuansa cinta; (b) bahasa verbal yang digunakan berdasarkan status sosial; (c) hubungan komponen verbal dan nonverbal bersifat langsung dan tidak langsung; (d) tema percintaan; (e) cerita berakhir dengan bahagia (happy end); (f) disajikan berpasangan pria dan wanita; (g) pesannya berupa nasihat tentang cinta kasih; (h) gerak representatif dan presentatif diekspresikan penari dalam kualitas lembut, halus, dan romantis.

9

Berdasarkan temuan penelitian dan hasil pembahasan dari keterkaitan tiga faktor objektif, genetik, dan afektif dapat disimpulkan bahwa kehadiran genre tari pasihan dalam upacara ritual resepsi perkawinan berfungsi sebagai hiburan dan suritauladan. Kehadiran genre tari pasihan dalam resepsi perkawinan dimaksudkan oleh seniman untuk mengajak, meminta dan menyuruh sepasang temantèn untuk memahami dan meresapi pesan yang terkandung dalam bahasa verbal sastra tembang, yang disampaikan dengan bahasa nonverbal dalam bentuk visual yang estetik, supaya pasangan temantèn tersebut melakukan tindakan atau perbuatan seperti yang dicontohkan dalam pertunjukan tari pasihan tersebut. Maksud dan harapan seniman penyusun tersebut ditangkap oleh masyarakat sebagai sesuatu yang harus diteladani, mengingat gambaran percintaan pasangan suami istri yang romantis, harmonis, dan bahagia yang terdapat dalam tari tersebut dirasa sangat tepat dan diterima dengan jelas, mantap sebagai suatu bentuk pendidikan yang bersifat tidak langsung dan sangat bermanfaat bagi sepasang temantèn untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dalam menggapai keluarga bahagia lahir dan batin. Maryono: T 130906005. 2010. VERBAL AND NONVERBAL COMPONENTS IN THE SURAKARTA STYLE PASIHAN DANCE GENRE (A Pragmatic Study). Dissertation. Postgraduate Program Sebelas Maret University Surakarta.

ABSTRACT
The topic of this research is Verbal and Nonverbal Components in the Genre of the Pasihan Dance Surakarta Style. Using a pragmatic approach the aim of the research is to understand the meaning of the verbal and nonverbal language in the pasihan dance genre (a dance genre with a romantic or love theme) in the traditional Javanese wedding rituals in Surakarta by carrying out a detailed, accurate, and in-depth analysis, in order to discover and describe: (1) the verbal components in the pasihan dance genre, in the Javanese poems in: pathetan, sindhènan, gérongan, and jineman. This study of the verbal components is intended to reveal: the dominant types of speech acts, the functions of the speech acts, the realization of the cooperative principles, the realization of the politeness principles, and the implicatures; (2) the nonverbal components in the pasihan dance genre, in the form of: themes, kinetic body moves, facial expressions (polatan), floor designs, make-up, costume, and musical accompaniment played on the gamelan; (3) the relationship between the verbal and the nonverbal components in the pasihan dance genre, in order to reveal the direct and indirect relationships and implicatures of the pasihan dance genre; (4) the background of the conception of the creation of verbal and nonverbal components in the pasihan dance genre, and (5) people’s perception of the existence of the Surakarta style pasihan dance genre. The research takes the form of a qualitative study using a critical holistic approach which provides a focused, comprehensive, and balanced study of three factors, namely genetic, objective, and affective factors as the source of the values. The strategy used for this research is that of an embedded case study. The techniques used for collecting data, in accordance with the qualitative research and types of data sources available, include in-depth interviews, observation, and content analysis.

10

In order to discover the issues which are the object of the research for this dissertation, the researcher uses theoretical studies of (1) pragmatic theories, (2) cultural theories, (3) performing arts theories, and (4) communication theories. These four theories are used to provide a complementary analysis of the pragmatic meaning of the Surakarta style pasihan dance genre. In principle, the main tool is the pragmatic theory, in connection with the linguistic system which focuses on analyzing the different types of speech acts, the dominant types of speech acts, the function of the speech acts, the realization of the cooperative principles, the realization of the politeness principles, the implicatures, and the pragmatic power. The cultural and performing arts theories are used to analyse nonverbal language factors which are in the form of elements of the work of art. The communication theories are used to examine the connection between the genetic, objective, and affective factors. A triangulation of these theories is used as a means of securing and developing the validity of the data to discover the pragmatic meaning of the Surakarta style pasihan dance genre. The main findings of the research showed that there are various kinds of speech acts found in the Surakarta style pasihan dance genre, numely: assertive, commissive, expressive, directive, verdictive, and phatic. Of all these different types, the most dominant kind of speech act found in the pasihan dance genre is the directive speech act. The application of cooperative principles in the verbal language of the pasihan dance genre of shows a deviation in maxims of quantity and maxims of manner, while maxims of quality and maxims of relation are adhered to. The principle of politeness applied in the verbal language of the pasihan dance genre uses the strategy of positive politeness and performs off record speech acts. The implicature found in the different types of pasihan dance indicates that there is a symbolization of love between husband and wife, who throughout the course of the story encounter problems but subsequently find a solution. It gradually resolves their difficulties and ultimately brings about a happy ending. The pasihan dance is almost always performed at wedding receptions which are a medium for officially announcing the marriage of a newly wed couple. There is a very close connection between the presence of the pasihan dance and the bride and groom at a wedding reception. The main implicature of the presence of the pasihan dance genre at a wedding reception is that it sets an example and offers indirect suggestions for the newly wed couple to follow. With reference to the implicatures obtained from the combination of verbal and nonverbal components in different types of the pasihan dances, show that the form of pragmatic power in the pasihan dance genre is advise about love and affection, for married couple to enjoy a romantic, harmonious, and happy relationship; to display equality and togetherness; and to show an ideal attitude between husband and wife. This advice about love and affection is beneficial for a newly married couple. It provides them with knowledge to lead a better life as they set out to build a new family. The form of the pasihan dance genre is a combination of two main components, namely verbal and nonverbal. Based on the description of these two components, the characteristics of the pasihan dance genre are as follows: (a) Verbal language in the form of Javanese sung poems with a romantic nuance; (b) Verbal language which is used according to social status; (c) A direct and indirect connection between the verbal and nonverbal components; (d) A romantic theme; (e)

11

A story with a happy ending; (f) A performance by a pair of dancers, one male and one female; (g) Advice about love affection; (h) Representative and presentative movements expressed by the dancers with soft, refined, and romantic qualities. Based on the findings of the research and the results between the objective, genetic, and affective factors, it can be concluded that the performance of the pasihan dance genre at a wedding reception for the newly married couple to follow. The presence of the pasihan dance genre at a wedding reception is intended by the performing artists as a means of inviting, asking, and telling the bride and groom to understand and absorb the message in the verbal language of the text, and conveyed using nonverbal language in a visual and aesthetical form. It as hoped that they will act and behave like the example displayed in the performance of the pasihan dance. The hope and intention of the artists is captured by the audience who view the dance as a good example to follow, recognizing it as a portrayal of a romantic, harmonious, and happily married couple which is felt to be highly appropriate and also educative in an indirect way. This is highly beneficial for the newly married couple as they enter into their new lives, and strive to create a happy family, in both worldly and spiritual aspects.

DAFTAR ISI
Halaman JUDUL ……………….………………..………………………………….….…...i PENGESAHAN……………………………………………….…….………….….ii PEMERTAHANAN…………………………………………………………….…iii PERNYATAAN………………………………………………………..………….iv KATA PENGANTAR……………………………………………………………..v ABSTRAK…………………………………………………………….…….……vii ABSTRACT……………………………………………………………..………… ix DAFTAR ISI ………………………………………………………….…..……....xi DAFTAR TABEL ………….……………………………………………….......xvii DAFTAR BAGAN………………………………….………..……...……..........xix DAFTAR GAMBAR / FOTO……………………………………..………..……xx DAFTAR SINGKATAN ……………………………………..……….……...…xxi DAFTAR LAMPIRAN ……………………………………….……....…..…....xxii BAB I PENDAHULUAN ………………………………………….……….……. 1 A. Latar Belakang Masalah………..……..………………….……….……....1 B. Rumusan Masalah …………………………………...……….......……..16 C. Tujuan Penelitian………………………………………..………….........16

12

D. Manfaat Penelitian……………………………………….........................17 BAB II KAJIAN TEORI, PENELITIAN YANG RELEVAN, DAN KERANGKA PIKIR……………………………………………………………………………..18 A. Kajian Teori……………………………………………………………............18 1. Teori Pragmatik…………………....................……………..............................20 a. Konteks dalam pragmatik………………………………..………….………23 b. Teks………………………………………….……………...........................29 c. Tindak Tutur (TT)…………………………………….…………….….…...39 c.1. Tindak Tutur menurut Austin (1956)……………..............................41 c.2. Tindak Tutur menurut Searle (1979)………….. .………..………….45 c.3. Tindak Tutur menurut Yule (1996)…………………........………….46 c.4. Tindak Tutur menurut Kreidler (1998)…………...............................48 d. Prinsip Kerja Sama (PKS)…… …………………………………………....53 e. Prinsip Kesantunan (PS)…………………….…….……….………….…......58 e.1. Skala Kesantunan Leech (1983)……………………..…….................58 e.2. Skala Kesantunan Brown dan Levinson (1987)………..………….....60 f. Implikatur …………………………………….…….…………….....…….....62 g. Daya Pragmatik…………………………………….…………………….….64 2. Teori Budaya………………………………………………...………….……...66 a. Bentuk Ide atau Gagasan……...……………………….…………....….70 b. Bentuk Aktivitas………….……………………….…..………….....…70 c. Benda Fisik………………………………………………….….…....…71 3. Teori Seni Pertunjukan…………………………..…………………............…..71 a. Tema ………………………………………………………....….….…74 b. Gerak Tubuh (kinetic body moves)………………………. …….….…74 c. Polatan (ekspresi wajah) ……………………………..…….…..…......77 d. Pola Lantai (floor design)……………………………… ……...……...78 e. Rias ……………………………………………….……….….……….79 f. Busana ………………………………………………….……….……..80 g. Iringan (gendhing beksa) ………………………………………….......81 h. Estetik…………………………………………....................………….82

13

4. Teori Komunikasi ………..…………………….…...........................................83 a. Komunikator…………………………………………………....…..…85

b. Sarana atau Media…………………………………………….….…....86 c. Komunikan……………………………………….………….………...88 B. Penelitian yang Relevan…………………..…………………………..…...…..90 C. Kerangka Pikir…………………………………………………....…….……...91 BAB III METODOLOGI PENELITIAN……………………………….….….…93 A. Sasaran dan Lokasi Penelitian…………………..…………..……. …….…….93 B. Bentuk dan Strategi Penelitian…………………………...................................94 C. Jenis Data dan Sumber Data…………………….………………………….…96 D. Teknik Cuplikan (sampling)…………………………… …………….............97 E. Teknik Pengumpulan Data ……………………………….…..……………….98 1. Wawancara Mendalam (in-depth interviewing)………..............................98 2. Observasi …………………………………………………………....…..102 3. Mencatat Dokumen dan Arsip (content analysis)………..........................103 F. Pengembangan Validitas ………………………………..........………..….…103 G. Teknik Analisis………………………………………………..………… ….106 BAB IV KOMPONEN VERBAL GENRE TARI PASIHAN GAYA

SURAKARTA......................................................................................................110 A. Komponen Verbal…………………………………………………….….…..110 B. Komponen Verbal Tari Karonsih………………………………………….…112 1. Teks Pathetan Wantah Laras Pélog Pathet Lima…………..………. ….112 a. Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah………..........................…. …113 b. Konteks ………………………………………............................. …..114 c. Fungsi Tindak Tutur ................…………………………………..…..115 d. Realisasi Prinsip Kerja Sama…………………..…..............................116 e. Realisasi Prinsip Kesantunan ……………………...............................117 f. Implikatur …………………………..………...................................…117 2. Teks Sindhènan Pangkur Ngrénas Laras Pélog Pathet Lima ……….....118 a. Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah.…………….………….....….118 b. Konteks …………………………………..........................……..…...119

.................128 d...………....…125 b.....………………...….........129 e.....…... Implikatur …………………………...................152 c.....149 f..........…123 3...……. Realisasi Prinsip Kesantunan ……………....…......…133 b.............…........... Implikatur ………………………….122 f.….................. Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah...........…...…........…...154 ...........…. Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah.. Implikatur …………………………....…151 b......………….........…........ Teks Sindhènan Kinanthi Sandhung Laras Sléndro Pathet Manyura ….. Konteks ……………………………………….. Konteks ……………………………………....…132 4... Teks Gérongan Lambangsari Laras Sléndro Pathet Manyura ………........132 a........... Teks Sindhènan Mijil Sulastri Laras Pélog Pathet Barang.... Realisasi Prinsip Kerja Sama ….....….........…..........................….. Realisasi Prinsip Kesantunan ………………......... Realisasi Prinsip Kesantunan ……………....... Komponen Verbal Tari Bondhan Sayuk……………………………….…...............137 d...…. Realisasi Prinsip Kerja Sama …………………….………..120 d...................... Realisasi Prinsip Kerja Sama ………………............ ........14 c....................…….....……150 2.....….......148 e... Teks Jineman Sayuk Laras Pélog Pathet Barang ……...135 c.............………......... Realisasi Prinsip Kerja Sama …………………...….……………...…………….....…144 b... Realisasi Prinsip Kerja Sama …………………….......... Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah …………….... Konteks ………………………………………..... Fungsi Tindak Tutur ………………………………………..................…...................................126 c.....144 a...………...........124 a.......………................. Fungsi Tindak Tutur ………………………………………..............153 d.………...131 f.........……………....................145 c. Realisasi Prinsip Kesantunan ………. Fungsi Tindak Tutur …………………………... Fungsi Tindak Tutur ………………………………………... Konteks ……………………………………….....139 e...121 e...……..............….142 C..... Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah ……………..…...147 d.....………150 a......... Fungsi Tindak Tutur …………………………………………...........................…144 1..................... Implikatur ………………………….............….........141 f......….

15 e........................….... Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah ………......................167 e...………..………………………….….....…...165 c.....…………….. Realisasi Prinsip Kerja Sama ………………….……………………….....…..…158 b.......164 a...........171 B........ Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah.…. Iringan Tari…………………………………….................…..……................172 1..............…………………….…………………………….........198 6... Kinetic Body Moves atau Gerak Tubuh …....……….......... Realisasi Prinsip Kesantunan …….……….......……………..........182 3...………........ Komponen Nonverbal…………………………………………………....... Konteks ……………………………………….……..……....….161 e.........……163 4. Implikatur …………………………...... Kinetic Body Moves atau Gerak Tubuh …..234 ..... Teks Gérongan Lancaran Sayuk Laras Pélog Pathet Barang …...…. Tema………………………………………....220 2......... Implikatur …………………………....……................173 2.... Komponen Nonverbal Tari Karonsih………………………...... Rias dan Busana…………………………………...... Estetik…………………………………………….......162 f...155 f.….…..166 d.…224 3...……..……………….216 C.….…….………..159 c....…….... Realisasi Prinsip Kesantunan …………….......…....................…. Realisasi Prinsip Kerja Sama ……………….……171 A..... Polatan (ekspresi wajah)…………………...... Fungsi Tindak Tutur ………………………………................157 3..….………….... Implikatur ………………………….………….168 f....…….....…….…………………......…………….... Polatan (ekspresi wajah)……………………………………………......…………...220 1.........194 4.…... Realisasi Prinsip Kesantunan ……………..…. Pola Lantai…………….......…164 b....…....…............. Teks Gérongan Ladrang Sayuk Laras Pélog Pathet Barang ….........…....197 5... Konteks ……………………………………. Fungsi Tindak Tutur …………………………………..…………169 BAB V KOMPONEN NONVERBAL GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA…………………………………………………………...........200 7.....….......……..157 a.............….................. Komponen Nonverbal Tari Bondhan Sayuk………………………. Tema………………………………...............160 d.....

Adegan Bahagia……………………………….………….….… .. Hubungan Komponen Verbal dengan Nonverbal Tari Karonsih………......…….....16 4. Properti Boneka……………………………………….322 3.… ….337 3. Faktor Afektif…………………………………………….…. Hubungan Komponen Verbal dengan Nonverbal Tari Bondhan Sayuk…. ….... Pokok-Pokok Temuan Penelitian…………………………………… .. Persepsi Masyarakat terhadap Genre Tari Pasihan…………………….………………….. Konsepsi Penciptaan Komponen Verbal dan Nonverbal Tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk………………………………………...238 7...…………….……………………………………………. Estetik.……………. Adegan Pertemuan…………………………………………………….……………………………………...295 B.…... Iringan Tari...... Perspektif Pragmatik…………………………. Perspektif Substansi Tari: Komponen Verbal dan Nonverbal….….. …..….….320 A... Analisis…………………………………………………………..…………………………...278 2.. Adegan Pencarian………………………... Perspektif Budaya…………………………………………... Adegan Makarya (bekerja)…………………….…..…..………………….248 BAB VI HUBUNGAN KOMPONEN VERBAL DAN NONVERBAL GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA………………………………….…………………….259 3..… .………………….. Genre Tari Pasihan sebagai Hiburan……………….344 .320 1... ….. Faktor Genetik………………………………………………..……………. Genre Tari Pasihan sebagai Keteladanan……………..…314 BAB VIII PEMBAHASAN………………………………………………..324 1.. Adegan Kekudangan (menimang anak)………………………………..…………………….289 BAB VII KONSEPSI PENCIPTAAN DAN PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA………………295 A.….. ....…….324 2.…253 1.252 A.....… …..236 5..... Pola Lantai………………………………...…277 1.310 1..323 B.281 3.…253 2.… …320 2...247 8.. Rias dan busana………………………………….311 2.264 B.….... Faktor Objektif……………………………………………….. Adegan Kasmaran (percintaan)……………………………………….….…………..…....………….237 6.

.2 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks isian…….379 LAMPIRAN………………………………………………………... Tabel 4..……….….…….…..…117 3..370 C. Tabel 4.17 4.…………………… …366 A. Tabel 4.. Simpulan…………………………………………………………… .…... Saran……………………………………………………………..6 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Gérongan Lambangsari…………………………………..125 6.1 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Pathetan Wantah…….. Tabel 4..… .......3 Jenis .... Tabel 4.118 4.…..….….…375 DAFTAR NARA SUMBER………………………………………….. Tabel 4...113 2.4 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Isen-isen………………. Perspektif Historis………………………………………..…357 BAB IX PENUTUP……………………………………..….………………………………...133 .jenis TT yang melekat pada teks Sindhènan Pangkur Ngrénas……………………………………………………………..5 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Sindhènan Kinanthi Sandhung…………………………………………………………………….123 5..…..…366 B. Implikasi………………………………………………………… ….380 DAFTAR TABEL 1.………372 DAFTAR PUSTAKA ACUAN…………………………………………..….

5 Jenis-jenis gerak representatif tari Karonsih adegan III: bahagia ……………………………………....185 17. Tabel 4.. Tabel 5.…194 ..…...... Tabel 5..4 Jenis-jenis gerak presentatif tari Karonsih adegan II: pertemuan ……………………………………………….2 Jenis-jenis gerak presentatif tari Karonsih adegan I: pencarian...... Tabel 4..…. Tabel 5.….......…170 15..189 19.……170 14..……………………….……. Tabel 4.... Tabel 5.10 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Jineman Sayuk……………………………………………………………………..…..6 Jenis-jenis gerak presentatif tari Karonsih adegan III: bahagia ………………………………………………..…….…..…..12 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Gérongan Lancaran Sayuk……………………………………………………………………...…..8 Rekapitulasi gerak presentatif tari Karonsih……….193 21.9 Persentase gerak representatif dan presentatif tari Karonsih..... Tabel 5.164 13. 14 Persentase jenis –jenis TT pada komponen verbal tari Bondhan Sayuk…………………………………………………………………......…………….……….3 Jenis-jenis gerak representatif tari Karonsih adegan II: pertemuan.….158 12..... Tabel 5..…..8 Persentase jenis –jenis TT pada komponen verbal tari Karonsih….13 Rekapitulasi jenis-jenis TT pada komponen verbal tari Bondhan Sayuk……………………………………………………………………..193 22. Tabel 4. Tabel 5. Tabel 4.…..……144 10....188 18. Tabel 4...11 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Gérongan Ladrang Sayuk……………………………………………………………………….190 20...194 23.……….. Tabel 5.1 Jenis-jenis gerak representatif tari Karonsih adegan I: pencarian. ………………………….143 9. Tabel 4..……...184 16...18 7....…..7 Rekapitulasi gerak representatif tari Karonsih………. Tabel 5.. Tabel 4.9 Jenis –jenis TT yang melekat pada teks Sindhènan Mijil Sulastri……………………………………………..………..….151 11. ………………………………………. ………………………………………………….7 Rekapitulasi jenis-jenis TT pada komponen verbal tari Karonsih…143 8..

... Tabel 5... .…229 25.......…232 28........ Tabel 5. Tabel 5.13 Jenis-jenis gerak presentatif tari Bondhan Sayuk adegan II: kekudangan ……………………………………....…233 30.1 Model Analisis Interaktif……………………………………. Tabel 5..11 Jenis-jenis gerak presentatif tari Bondhan Sayuk adegan I: kasmaran ………………………………..234 31.......12 Jenis-jenis gerak representatif tari Bondhan Sayuk adegan II: kekudangan …………………………………....….…………. 16 Rekapitulasi gerak presentatif tari Bondhan Sayuk….... Tabel 5.. Tabel 5.….108 ..91 Bagan 3.....10 Jenis-jenis gerak representatif tari Bondhan Sayuk adegan I: kasmaran …………………………………..…234 DAFTAR BAGAN Bagan 2. 15 Rekapitulasi gerak representatif tari Bondhan Sayuk…..…....1 Kerangka Kritik Holistik Komponen Verbal dan Nonverbal Genre Tari Pasihan gaya Surakarta……………………………….14 Jenis-jenis gerak representatif tari Bondhan Sayuk adegan III: makarya ……………………………….19 24....…..………….....………. Tabel 5..……....…233 29...…..... 17 Persentase gerak representatif dan presentatif tari Bondhan Sayuk……………………………………………………………………......………….…231 26...... Tabel 5........231 27.....…....

..199 Gambar 2: pola lantai garis lengkung untuk mendukung suasana romantis... ketika Panji dan Sekartaji srisik bergandengan tangan.......................................................................199 Gambar 3: pola lantai garis lengkung untuk mendukung suasana bahagia....... ketika Panji ulap-ulap kiri dan Sekartaji trap jamang..20 DAFTAR GAMBAR / FOTO Gambar 1: pola lantai garis lurus untuk mendukung suasana tegang......199 ....... ketika Sekartaji berupaya mencari Panji.............

.................238 Foto: 1 Tari Karonsih: Panji dan Sekartaji dalam kemesraan dan kebersamaan…………………………………………………..............................237 Gambar 5: pola lantai garis lengkung untuk mendukung suasana romantis.....268 Foto: 6 Tari Karonsih: Panji dan Sekartaji memadu asmara………….172 Foto: 2 Tari Bondhan Sayuk: Suami dan istri dalam kebahagiaan …………..238 Gambar 6: pola lantai garis lengkung untuk mendukung suasana bahagia......…......…...274 Foto: 8.. ketika istri dan suami ènjèr ridhong berputar................................ Tari Bondhan Sayuk: Suami dan istri dalam kebersamaan..286 DAFTAR SINGKATAN ASKI CD D–a D – en : Akademi Seni Karawitan Indonesia : Compact Disk : Dasar ...220 Foto: 3 Tari Karonsih: Panji mengamati Sekartaji dalam suasana sedih………....279 Foto: 9 Tari Bondhan Sayuk: Istri meminta suami untuk bekerja………….260 Foto: 4 Tari Karonsih: Panji dan Sekartaji dalam suasana romantis………….....262 Foto: 5 Tari Karonsih: Panji dan Sekartaji memadu asmara……………….21 Gambar 4: pola lantai garis lurus untuk mendukung suasana tegang...........….......…...... ketika istri dan suami lilingan kebyok sampur....….en ............….......…........a : Dasar ..…272 Foto: 7 Tari Karonsih: Panji dan Sekartaji dalam suasana bahagia……............….282 Foto: 10 Tari Bondhan Sayuk: Suami meminta anak kepada istri…………....285 Foto: 12 Tari Bondhan Sayuk: Suami dan istri dalam kebahagiaan…………..283 Foto: 11 Tari Bondhan Sayuk: Suami bersenandung sambil menimang anak.......... ketika istri hendak meninggalkan suami.................

Dasar . Glosarium……………………………………………….…………380 ..Sn PS PKS Pa Pi Pn Pt PKD R R.22 D – an D – ana di – D – ake KOKAR KRT M.a : Visual Compact Disk DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1.ana : di ..M R. VCD Tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk…………………….ake : Konservatori Karawitan : Kanjeng Raden Tumenggung : Magister Seni : Prinsip Kesantunan : Prinsip Kerja Sama : Putra : Putri : Penutur : Petutur (mitra tutur) : Pakempalan Kagunan Jawi : Raden : Raden Mas : Raden Tumenggung : Tindak Tutur : Verba .an : Dasar ..380 Lampiran 2.T TT V–a VCD : Dasar .

23 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah .

Di situ manusia dalam masyarakat atau subkultur dengan bahasa yang sama saling berinteraksi sehingga mampu berkomunikasi berdasarkan pengalaman dan harapan kultural yang sama. with language and culture. Ketergantungan antarindividu merupakan faktor utama manusia untuk saling berkomunikasi dalam rangka meraih kehidupan yang berbudaya. Sejalan dengan pernyataan tersebut bahasa merupakan suatu sistem simbol-simbol vokal yang dipelajari dan dimiliki secara bersama. Setiap individu lahir dalam masyarakat yang telah berjalan. . karena tanpanya manusia tidak mampu berkomunikasi dan berinteraksi dengan dunia luar dirinya. Menurut Edi Subroto (tanpa tahun. maka dia harus belajar menjadi manusia dengan menghayati atau mendalami budaya kelompoknya. “Without language there could be no culture. hal: 1).24 Manusia hidup tidak mampu lepas dari lingkungan dan bertahan sendiri. sebagian besar individu tersebut melakukan melalui modalitas utama komunikasi manusia yakni bahasa. Betapa pentingnya bahasa bagi kehidupan manusia kiranya tidak perlu diragukan lagi. bahasa adalah sistem bunyi ujar yang bersifat arbitrer yang dipergunakan oleh manusia dalam suatu masyarakat (language society) untuk berkomunikasi secara umum dan wajar. dapat dikatakan belum mempunyai bekal. 1969: 104-105). sebagai sarana mewujudkan cita-citanya. he could and did become hominine” (Smith. Berbagai strategi belajar untuk menjadi manusia yang diperlukan agar dapat terinkulturasi dan tersosialisasi sepenuhnya. Bahasa sendiri merupakan sistem dari budaya manusia. betapapun hebat dan kuatnya. sistem yang terpenting di mana sistem-sistem lain terutama dicerminkan dan ditransmisikan. and man remained hominoid.

bunyi. Lenong. Seni pertunjukan sebagai bahasa seniman untuk berkomunikasi dengan penghayat merupakan bahasa pragmatik yang sangat khas penuh dengan nuansa keindahan. Kemunculan secara mandiri seperti: bunyi dalam musik. Randai. dan bahasa sebagai tindak tutur. . rupa. rupa. adapun bentuk yang utama yakni: gerak.25 Dalam kehidupan kesehariannya manusia berkomunikasi lewat beragam media atau medium. Masing-masing media dapat muncul secara mandiri dan bisa juga saling komplementer. dan bahasa) banyak terdapat pada seni pertunjukan. Wayang Wong. bergantung kebutuhan. Kethoprak. bunyi. Ludruk. Seni pertunjukan merupakan bentuk seni komplementer yang pada dasarnya merupakan salah satu bentuk bahasa pragmatik. dan bahasa. Karawitan. Hal ini dapat kita cermati dari bentuknya yang berupa seni kolektif sebagai sarana untuk mengungkapkan maksud dari seniman sebagai penutur dengan harapan dapat dihayati oleh penghayat sebagai mitra tutur. Wayang Golek. yang kesemuanya itu merupakan bahasa komunikasi yang kaya akan nuansa imajinatif dan penuh dengan multitafsir. Tari. warna pada seni rupa. Pada hakekatnya media itu berbentuk fisik. Adapun bentuk seni pertunjukan di antaranya: Wayang Purwa (Wayang Kulit). dan lainnya. Bentuk yang merupakan komplemen dari beragam media (gerak. Langendriyan. Pragmatisme pada seni pertunjukan dapat ditunjukkan dari wujudnya yang memiliki bahasa verbal dan nonverbal saling komplemen yang selalu hadir dalam konteks. Secara prinsip dapat peneliti katakan bahwa seni pertunjukan merupakan wahana yang sangat potensial sebagai sasaran kajian pragmatik.

Ini berbeda dengan bahasa. ini merupakan realitas kemunculan bentuk komplementer. . tari mempunyai muatan-muatan pesan dari penyusun tari yang hendak dikomunikasikan dengan masyarakat. Sebagai media komunikasi. bunyi dan bahasa sebagai garap iringan. dan relasi antara bentuk dan makna sangat ketat. yaitu: kinetic body moves (gerak tubuh) sebagai garap tari. serta rupa sebagai garap rias dan busana. Pertimbangan yang mendasar bahwa dalam tari. penonton umum dan penanggap) sebagai mitra tutur. yang secara spesifik telah memiliki kaidah-kaidah baku yang penafsirannya lebih bersifat rasional. dan bersifat hiburan. disipliner.26 Tari sebagai salah satu bentuk seni pertunjukan. spiritual. selain makna kata-katanya juga diungkapkan dengan lagu dan tekanan irama yang didukung iringan gamelan. merupakan perpaduan dari berbagai media komunikasi. Adapun pesan-pesan tersebut dapat berupa pesan moral. Lewat pesan akan ditangkap makna sebagai esensi dari aktivitas berkomunikasi antara penyusun tari dengan masyarakat. Penafsiran terhadap keragaman media komunikasi yang terdapat dalam tari tidak mampu hanya ditangkap secara rasional semata tetapi ketajaman rasa merupakan ujung tombak dalam menangkap makna yang sebenarnya. sehingga terasa menjadi lebih mantap. Hal ini terkait dengan konsep bahasa yang bersifat formal. Kehadiran tari sebagai ungkapan ekspresi jiwa manusia merupakan media komunikasi seorang seniman (penyusun tari ataupun penari) sebagai penutur terhadap masyarakat (pakar. bahwa masyarakat di mana saja menata hidup mereka dalam kaitannya dengan makna dari berbagai hal. kata-kata yang terdapat dalam tembang sebagai bahasa verbal. Seperti dinyatakan Spradley (1997: 120). Muatan pesan tersebut merupakan salah satu kebutuhan dasar bagi hidup manusia.

27 Dalam kehidupannya. Jadi pragmatik mengkaji maksud suatu ujaran penutur baik secara tersirat maupun tersurat di balik tuturan yang dianalisis. Rupanya dalam berkomunikasi manusia tidak selalu menggunakan bahasa yang sifatnya langsung. dan kultural yaitu siapa berbicara kepada siapa. frase atau kalimat. sosial. tetapi juga sering memilih menggunakan bahasa yang tersamar. terbuka. di mana. Bahasa yang bersifat pragmatik merupakan salah satu sasaran kajian tentang makna-makna satuan lingual secara eksternal. Dengan cara menghubung-hubungkan bentuk ujaran dengan konteks situasinya. 1995: 50). Lewat makna semantik yang dikontekstualkan akan muncul makna pragmatik yang diharapkan dalam sebuah peristiwa pertuturan. sebagaimana dikatakan Leech pragmatik adalah “The study of meaning in relation to speech situation” (lihat Wijana. bukan semata-mata hanya makna literal ujaran tersebut. Makna yang dikaji dalam pragmatik dikaitkan dengan maksud atau tujuan penutur di dalam mengutarakan suatu kata. mitra tutur harus mengetahui makna semantik ujaran itu terlebih dahulu. Namun untuk dapat mengetahui maksud ujaran penutur (makna pragmatiknya). apa adanya. untuk apa dan bagaimana. Dengan demikian tampak jelas bahwa pragmatik terikat konteks (context dependent). Bahasa merupakan sarana yang utama untuk menyampaikan pesan penutur kepada mitra tutur. manusia menggunakan bahasa sebagai sarana komunikasi dan berinteraksi secara vertikal dan horisontal dalam kedudukannya sebagai makhluk individu maupun sosial. Dalam rangka beraktivitas sehari-hari manusia memerlukan bahasa sebagai alat komunikasi yang paling efektif dan efisien. kapan. maksud dari ujaran tersebut dapat dipahami. Kajian makna dalam . tidak langsung seperti bahasa pragmatik.

Aspek-aspek situasi ujar meliputi: (1) yang menyapa (penyapa) atau yang disapa (pesapa). (3) maksim relevansi/hubungan.28 pragmatik bersifat triadis. budaya seperti: sastra. puisi. maksudnya bahwa makna pragmatik selain dibangun melalui semantik yang mencakup: (1) bentuk kebahasaan dan (2) makna juga dikaitkan dengan (3) konteks. dan berkesinambungan. Pragmatik merupakan cabang linguistik yang mengkaji makna dalam hubungannya dengan situasi ujar (konteks). (5) tuturan sebagai produk tindak verbal (Leech. dan (4) maksim cara (Grice dalam Leech. artinya suatu bentuk kebahasaan selain memiliki makna semantik juga makna pragmatik. harmonis. Pada realitasnya manusia sering tidak mengindahkan prinsip-prinsip kerjasama dalam . 1993: 11). Hubungan atau relasi dalam pragmatik bersifat triadis. (3) tujuan sebuah tuturan. Bahasa yang bersifat pragmatik banyak digunakan dalam berbagai bidang antara lain: sosial. (4) maksim kerendahan hati. syair. (2) maksim kedermawanan. 1993: 19-20). (4) tuturan sebagai bentuk tindakan atau kegiatan: tindak ujar. manusia menggunakan bahasa yang memenuhi prinsip-prinsip kerjasama. Dalam rangka menjaga hubungan dan interaksi komunikasi pada kehidupan sehari-hari tetap terjaga baik. dan tari. (2) maksim kualitas. (3) maksim pujian. (2) konteks sebuah tuturan. sehingga makna itu dapat dirumuskan dengan kalimat “Apa yang kau maksud dengan berkata x itu ?” (What do you mean by x ?). (5) maksim kesepakatan. yaitu: (1) maksim kuantitas. selaras. dan (6) maksim simpati. Selain itu juga didukung prinsip kesopanan yang meliputi: (1) maksim kearifan. politik. tembang. Kajian bahasa pragmatik lebih terfokus pada makna implikatur dari eksternal tuturan si penutur bukan makna eksplikatur yang terdapat dalam internal tuturan semata.

29 berkomunikasi sehingga terjadi pelanggaran. Dampak dari peristiwa tuturan tersebut muncul implikatur-implikatur yang akhirnya merupakan lahan pragmatik. Ketidakpatuhan para peserta tutur dalam pertuturan karena dipicu oleh motif-motif tertentu dari penutur. 2005: 2). Sedangkan H’Doubler mengutarakan bahwa tari adalah ekspresi gerak ritmis dari kajian . dan jineman. Tari adalah ungkapan perasaan manusia tentang sesuatu dengan gerak-gerak ritmis yag indah (Soedarsono. gerongan. kode. tari adalah ungkapan nilai-nilai keindahan dan keluhuran lewat gerak dan sikap. Berkomunikasi secara verbal dilakukan dengan cara menggunakan media bahasa baik yang tertulis dan lisan. Dalam hal ini penutur berupaya memasukkan maksudnya secara implisit pada ujaran yang diungkapkan. sindhenan. yakni dapat berupa teks verbal dan nonverbal. morse. rias. 1996: 6). Menurut Wisnoe Wardhana (1994: 36). Wujudnya dapat berupa aneka simbol. Adapun komunikasi yang bersifat nonverbal dilakukan dengan menggunakan alat selain bahasa. kinetic body moves (gerak tubuh). isyarat. pola lantai. lambaian tangan. busana. sebagai akumulasi beragam tuntutan akan kebutuhan hidup manusia yang begitu kompleks. Aspek verbal tari berupa cakepan (syair) teks sastra tembang yang terdapat dalam pathetan. Karena hal itu terjadi. kenthongan barulah dapat bermakna setelah diterjemahkan ke dalam bahasa manusia (Lamuddin Finoza. sirene. Sedangkan aspek nonverbalnya berupa: tema. Dengan demikian tari yang merupakan bagian dari seni pertunjukan yang memiliki aspek komunikasi verbal dan nonverbal merupakan objek kajian pragmatik yang sangat menarik. bunyi misalnya tanda lalu lintas. polatan. Terdapat dua cara untuk berkomunikasi lewat bahasa. dan iringan.

ia berkarya dengan harapan dapat dihayati. Secara garis besar bahwa semua gerak dapat menjadi gerak tari dengan cara melalui campurtangan gerak tubuh dan seleksi yang memadahi. 1980: 37). 1996: 4). And when the body speaks . tari adalah ekspresi jiwa manusia lewat medium utama gerak tubuh untuk mencapai kenikmatan keindahan. Bagaimanapun acuhnya seorang seniman terhadap publik. Rupanya gerak tubuh sangat dominan dan merupakan medium utama yang sekaligus sebagai sumber kehidupan tari. melaksanakan serta dari penciptaan bentuk-bentuk (dalam Soedarsono. Tanpa simpati publik. Dari ketiga pendapat pakar tari tersebut dapat disarikan bahwa tari merupakan ekspresi jiwa manusia sebagai tanggapan tentang nilai-nilai kemanusiaan. dikomunikasikan dalam bentuk yang indah untuk mendapatkan penghayatan yang layak. the body speaks. Sumber gerak utama yang dimaksudkan di sini adalah kinetic body moves. maka dibutuhkan juga suatu penghargaan. Menurut peneliti. karena pada dasarnya betapapun indahnya gerak tumbuh-tumbuhan yang tersapu angin. yang lambang-lambang geraknya dengan sadar dirancang untuk kenikmatan serta kepuasan dari pengalaman ulang. dengan menggunakan medium utama gerak. dorongan artistik akan layu tidak dapat berkembang. Rupanya ekspresi diri semata tidak akan memberikan kenikmatan dan kepuasan bahkan cenderung mati (Parker. ungkapan. berkomunikasi. tidak dapat dikatakan gerak tari.30 keadaan-keadaan perasaan yang secara estetis dinilai. Seperti variasi pada kutipan kata-kata terkenal Donne: “one could almost say. gerak akrobatik binatang yang menawan tetapi tanpa kehadiran gerak tubuh manusia. Jika kita cermati lebih lanjut pernyataan ketiga pakar mengenai pengertian gerak tersebut masih kabur.

form an integral part of the interactions (e. its movements. Adapun isi yang dimaksud merupakan pengalaman jiwa seniman dalam menanggapi alam. dan tanggapannya ke dalam bentuk fisik yang dapat ditangkap dengan indera (Sri Rochana. Pada dasarnya tindakan pragmatik melibatkan seorang individu secara keseluruhan dalam komunikasi. . Bentuk seni adalah hasil ciptaan seniman yang merupakan wujud dari ungkapan isi. they represent. jika gerak tubuh penutur tidak mengikuti pembicaraan penutur. in a conversation).g. 1994: 3). Secara sederhana Herbert Read berpendapat bahwa seni merupakan usaha untuk menciptakan bentuk-bentuk yang menyenangkan (1990: 2). Dengan kata lain. pandangan. Selayaknya. wujud. tindakan pragmatik sangat penting untuk menentukan dan mempertahankan kerangka meta-komunikatif untuk komunikasi. Sekarang semakin jelas bahwa ide komunikasi nonlisan sebagai tambahan atau alat bantu sederhana pada pembicaraan adalah pandangan irasional yang terlalu sempit. Di samping itu.31 in this fashion. Tidak mungkin orang bicara soal kesenian tanpa memperhatikan bentuk. a pragmatic act” (dalam Mey. or are part of. 1994: 68).. as such. the body moves. lingkungan sekitarnya secara selektif. dan gayanya (Budhisantoso. kita harus mengakui bahwa komunikasi ‘gerak tubuh’ mampu ‘menentukan suasana’ dan ‘memberi makna’ untuk komunikasi secara utuh. 2001: 223-224). dalam dimensi meta-pragmatik. bukan hanya bagian kontribusi yang diucapkan saja. Tampaklah sekarang bahwa bentuk dalam seni memiliki peranan yang sangat penting dalam rangka menyampaikan isi atau maksud yang hendak dikomunikasikan pada penghayat (mitra tutur) dari si seniman (penutur). mitra tutur juga tidak akan mengikuti dan memperhatikan.

Keberhasilan mereka menyampaikan pesan-pesan tergantung dengan kemampuan menyeleksi materi-materi sebagai sarana ungkap dan tidak lepas dari kemampuan masyarakat penikmat untuk menangkap yang sudah barang tentu mengacu pada nilai-nilai budaya dan norma-norma sosial yang hidup dan . dan bukan merupakan sesuatu yang sudah siap tersedia. Sehingga benda pacu dimaksud mampu mengubah dari pandangan verbal menjadi pandangan yang penuh makna yang berarti bagi kehidupan jiwa. supaya menjadikannya jelas bagi jiwa yang menghayati. Pada hakikatnya medium ekspresi seniman bersifat fisik. Maka tidaklah mengherankan apabila sarana untuk berekspresi dalam seni tidak bersifat instingtif. melainkan nilai-nilai kehidupan yang telah terseleksi dapat ditranspormasikan dalam bentuk yang indah. bahasa. dan wujudnya dapat berupa gerak. tidak pula bersifat stereotip. dan seringkali pencarian itu terlampau berliku-liku jalannya (Read. Pengalaman jiwa seniman sewaktu-waktu dapat dikomunikasikan lewat garap medium sesuai dengan bidangnya masing-masing. warna (rupa). Wujud tersebut tak lain agar dapat dan mampu ditangkap dengan indera manusia. baik dari seniman sebagai pengkarya maupun masyarakat sebagai penikmatnya. Untuk itu menuntut seniman bukan hanya menyajikan realitas kehidupan yang sifatnya mengimitasi atau memindahkan begitu saja. bunyi. 1990: 45). Hubungan antara bentuk fisik yang dapat diamati indera dengan isi yang hendak diungkap harus terjalin secara harmonis agar dapat mencapai sasarannya yaitu penghayat.32 Sebagai media ekspresi. Sarana tersebut setiap saat dan untuk setiap personal harus dicari. seni memiliki tujuan yaitu memberikan kepuasan dalam visi penuh simpati. garis.

1991: 14). Kesenian karaton cenderung memiliki garap lebih rumit. tari dan lainnya. Pewarisan budaya tidaklah bersifat statis. di antaranya: wayang kulit. 1991: 10). Perkembangan sekarang kedua bentuk kesenian tersebut saling mempengaruhi secara lebih kompleks. cermat dan mempunyai semacam pola-pola baku yang sering digunakan sebagai semacam pedoman. Betapapun hebatnya seorang seniman dalam berkarya tanpa diimbangi apresiasi masyarakat yang layak dan memadahi rupanya akan menjadi semakin tidak berarti sehingga bentuk-bentuk pesan yang hendak disampaikan oleh seniman tidak dapat terealisasi secara baik dan wajar dalam kehidupan masyarakat. Untuk itu dibutuhkan peningkatan kualitas apresiator dengan memperbanyak peluang aktivitas pertunjukan dan peningkatan kualitasnya. Sedangkan kesenian rakyat hidup. Dalam tari Jawa bentuk ekspresinya pada hakikatnya terwujud berdasarkan alam emosi. tetapi masing-masing . Berbeda dengan kesenian rakyat yang sifatnya spontan sangat sederhana baik bentuk maupun sistem pertunjukannya.33 berkembang. karawitan. tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat pedesaan. yaitu bentuk dan iramanya sangat kuat dilatarbelakangi oleh konsep keindahan dan tradisi kebudayaannya (Humardani. Seni pertunjukan Jawa pada umumnya dapat dikategorikan menjadi dua kelompok besar yaitu kesenian karaton dan kesenian rakyat (Humardani. Beragam bentuk seni pertunjukan karaton. wayang wong (wayang orang). Seni tradisional genre tari pasihan yang mengacu kesenian karaton merupakan salah satu budaya yang diwarisi secara turun-temurun sudah barang tentu memiliki kesinambungan dengan budaya sebelumnya. Kesenian karaton merupakan bentuk kesenian yang pada awalnya hidup dan berkembang di lingkungan karaton.

Bedhaya. Rasanya menjadi kurang utuh apabila dalam acara resepsi perkawinan tidak disajikan tari pasihan sebagai penutup pesta tersebut. Di dalam kehidupan masyarakat Jawa. sehingga kemunculan pertunjukan genre tari pasihan pada upacara perkawinan relatif sangat tinggi frekuensinya. Di dalam seni pertunjukan. dan tarian untuk anak. Srimpi. “Genre Tari Pasihan“ tampaknya cenderung menekankan rasa dan emosi dalam bentuk bahasa verbal dan nonverbal. di antaranya genre tari pasihan.34 generasi mencoba untuk mengadakan perubahan-perubahan disesuaikan dengan kondisi kehidupan masyarakat pendukungnya. simbolisme memiliki peranan sangat penting. Wireng. 1991: 73). sehingga perlu perantara yang berwujud simbol-simbol dalam puisi bukan dalam bentuk pengetahuan. Pethilan. Seolah–olah keberadaan genre tari pasihan dalam budaya Jawa sejak 1970 telah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan terutama pada upacara-upacara perkawinan (Maryono. Menurut Clifford Geertz (1992: 6). sebab simbolisme sangat menonjol peranannya dalam tradisi adat Jawa. Simbolisme semacam ini tampak pada genre tari pasihan yang hadir dalam rangkaian upacara-upacara perkawinan adat Jawa. Kehadiran genre tari pasihan (percintaan pria dan wanita) dalam kehidupan sosial masyarakat pada ritual perkawinan adat Jawa rupanya mempunyai makna simbolik yang sangat penting terutama bagi kedua mempelai dalam rangka mempersiapkan diri untuk mengarungi kehidupan di masyarakat yaitu menuju terbentuknya keluarga yang bahagia. Hal tersebut diduga menumbuhkan daya pikat perhatian masyarakat . Terbukti seni tradisional kita tetap berkembang di masyarakat. bahwa ‘simbol’ tampak terbatas pada sesuatu yang mengungkapkan secara tidak langsung.

tari Langen Asmara. Keragaman bentuk dan jenis tari duet percintaan yang terdapat di wilayah Surakarta menunjukkan sebuah kekayaan ranah budaya yang mampu memberikan warna kota Sala sebagai pusat budaya. putri luruh duet dengan gagah luruh dan sebagainya. keluar tembok karaton hidup dan berkembang meluas ke tengah-tengah kehidupan masyarakat. tari Enggarenggar. Jenis tipe karakter yang berpasangan tersebut dalam genre ini antara lain : putri luruh duet dengan alus luruh.35 dan mampu menggugah semangat kreativitas para seniman seni pertunjukan di Surakarta untuk merespon secara positif. . tari Driasmara. Genre tari pasihan gaya Surakarta merupakan suatu kelompok tari yang secara susunan berbentuk duet atau pasangan silang jenis tipe karakter dengan tema percintaan. Berkembangnya bentuk dan jenis genre tari pasihan atau genre tari duet percintaan tidak lepas dari kreativitas para penyusun tari dalam rangka memenuhi kebutuhan sosial masyarakat. Secara perlahan-lahan kehidupan tari yang semula menjadi hak monopoli keluarga kerajaan. tari Jayaningrat dan tari Setyaningsih. putri lanyap duet dengan alus luruh. Sunarno menghasilkan karya: tari Bondhan Sayuk. tari Lambangsih. kehilangan kekuasaannya sebagai orientasi nilai-nilai budaya Jawa. Rupanya hal ini terkait dengan warisan budaya khususnya tari dari kerajaan Mataram baru yaitu istana Kasunanan Surakarta Hadiningrat. dan sebagai pusat kesenian Jawa (Koentjaraningrat. Suciati Joko Suharja menciptakan tari Kusuma Aji. pusat adat-istiadat Jawa. Ketika Perang Dunia ke II berakhir. karaton-karaton di Jawa kehilangan kekuasaannya atas daerah-daerah masingmasing. tari Kusuma Ratih. 1984: 235). dan tari Gesang Rahayu. Seniman-seniman yang menanggapi secara proaktif antara lain seperti Maridi dengan karyanya: tari Endah.

Rupanya telah mengakar pada budaya Jawa. Kekuatan itu antara lain berupa magi simpatetis.36 Kehidupan genre tari pasihan hingga sekarang mengalami perkembangan sangat pesat. gerongan. Genre tari pasihan merupakan cabang seni tradisional gaya Surakarta yang banyak mengandung makna simbolis dan memiliki fungsi yang erat hubungannya dengan upacara adat ritual perkawinan masyarakat Jawa. gagasan. yaitu hubungan antara pria dan wanita. Sedangkan bagi masyarakat yang sudah agak maju dilakukan secara simbolik. tetapi juga perlu diupayakan lewat kekuatan – kekuatan yang tak kasat mata. Seperti diungkapkan Soedarsono sebagai berikut : Sadar atau tidak sadar kesuburan tanah – juga perkawinan – tidak cukup hanya dicapai lewat peningkatan sistem penanaman baru. rasa. (Soedarsono dalam Soedarso. yang hanya bisa didapatkan dengan perbuatan yang melambangkan terjadinya pembuahan. hal ini dimungkinkan adanya suatu pilihan masyarakat yang sangat tepat tentang tata nilai dan sikap untuk menjaga kelangsungan hidup budayanya sebagai warisan yang dianggap memiliki nilai tinggi. sindhenan. Seni pertunjukan genre tari pasihan gaya Surakarta sebagai karya seni memiliki beberapa aspek di antaranya aspek sastra tembang (bahasa verbal) yang berupa cakepan (syair) yang terdapat dalam pathetan. Hubungan ini pada masyarakat yang masih melestarikan budaya purba kadang-kadang dilakukan agak realistis. Kehadiran genre tari pasihan di tengah-tengah kehidupan sosial masyarakat diduga mempunyai kekuatan magis simpatetis terhadap sepasang penganten. 1991: 35) Rupanya semakin tampak bahwa genre tari pasihan merupakan media ungkap para penyusun tari (penutur) yang memuat ide. yaitu pada setiap upacara perkawinan hampir dapat dipastikan akan disajikan jenis tari pasihan. dan . emosi yang diekspresikan dalam bentuk bahasa verbal dan nonverbal yang hendak dikomunikasikan dengan penghayat (mitra tutur) dengan maksud-maksud tertentu.

Pengaruh perkembangannya dapat dibuktikan dengan munculnya berbagai bentuk tari duet percintaan. yakni tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk. Di samping itu diduga tari Karonsihan memiliki kekuatan magis simpatetis yang kuat terhadap . gerak tubuh (kinetic body moves). tari Driasmara. dalam tindakannya supaya dapat berfungsi secara baik sebagai media komunikasi. waktu. 1991: 27). yang sudah barang tentu juga terdapat perbedaan namun tidak begitu signifikan. tari Jayaningrat. tari Gesang Rahayu. mempunyai pengaruh cukup besar yaitu telah dapat memacu dan memotivasi terhadap seniman-seniman di kalangan tradisional (Maryono. Dari sejumlah jenis tari duet tersebut peneliti memfokuskan sasaran pada dua bentuk tari duet percintaan. tari Kusuma Ratih. pola lantai. tari Bondhan Sayuk. dan iringan. tari Lambangsih. Dengan pernyataan lain serupa tetapi tidak sama. tari Kusuma Aji. polatan (ekspresi wajah). Pemilihan pertama tari Karonsih dalam kajian pragmatik ini. yakni seperti: tari Endah. tari Enggar-enggar.37 jineman. busana. tidak lain didasarkan pada fakta historis. Aspekaspek tersebut membutuhkan ruang. Kehadiran tari Karonsih di tengah-tengah kehidupan masyarakat telah menjadi bagian dari kebutuhan sosial. tari Langen Asmara dan tari Setyaningsih. dan memiliki pesan. Sedangkan aspek bahasa nonverbal meliputi: tema. rias. banyak persamaannya. Karonsih merupakan awal jenis tarian duet percintaan yang mampu membawa perkembangan sangat luar biasa. Kajian pragmatik di sini akan menganalisis makna genre tari pasihan lewat implikatur-implikatur bahasa verbal dan nonverbal yang dimilikinya. Secara garis besar dapat dikatakan bahwa bentuk-bentuk tari yang termasuk dalam genre tari pasihan.

Diharapkan perbedaan yang terdapat pada tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk. Perbedaan antara Karonsih dengan Bondhan Sayuk meliputi bentuk tindak tutur verbal dan nonverbal. namun masih dalam karakteristik yang sama.38 sepasang temanten. maka hal itu dapat diamati dari jenis bahasa verbal yang digunakan pada masing-masing tari pasihan tersebut. kredibilitas. Pemilihan kedua adalah tari Bondhan Sayuk. Merujuk pada pola cerita yang tokoh-tokohnya memiliki authority scale dan social distance yang berbeda. kuantitas. sekilas dapat dicermati dari properti yang berupa boneka bayi (anak kecil). Kelayakan dan kualitas objek sasaran penelitian tidak dapat disangsikan berdasarkan eksistensi. baik dari segi tindak tutur verbal dan nonverbalnya dapat digunakan untuk mengungkap secara mendalam karakteristik genre tari pasihan dalam analisis pragmatiknya. Pada prinsipnya pemilihan sampling tari Karonsih dan Bondhan Sayuk tersebut bukan untuk generalisasi statistik (populasi) tetapi lebih fokus untuk mewakili dari keragaman informasinya yang diharapkan dapat digeneralisasi teorinya. hal ini dapat diamati dari kehadirannya yang hampir dapat dipastikan pada setiap upacara perkawinan terutama pada budaya Jawa. Realitas menunjukkan bahwa keragaman jenis tari duet percintaan gaya Surakarta merupakan salah satu aset budaya nasional yang memiliki kuantitas dan kualitas tinggi. dan kualitas genre tari pasihan sebagai seni pertunjukan yang hidup dan berkembang pesat di Jawa. Selain itu terdapat perbedaan bahasa nonverbal. didasarkan pada bentuk yang berbeda pada jenis tari duet percintaan. serta memberikan citra budaya yang mantab. Kehadiran genre tari pasihan merupakan pemenuhan kebutuhan sosial dan hayatan cukup mantap dan sekaligus menjadi benteng budaya .

adalah: mengapa masyarakat memilih pertunjukan genre tari pasihan gaya Surakarta sebagai masterpiece dalam sebuah ritual perkawinan adat Jawa. Rumusan Masalah Dari uraian latar belakang masalah yang telah peneliti paparkan tersebut di muka. Bagaimanakah penerapan prinsip kerja sama dan prinsip kesantunan dalam bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta ? 3. Bagaimana jenis-jenis tindak tutur dalam genre tari pasihan gaya Surakarta dan tindak tutur apa yang dominan. penonton umum.39 nasional yang mampu memberi warna citra diri masyarakat Surakarta sebagai pewaris high culture Mataram palace dan lebih meluas sebagai bangsa Indonesia. karya seni (pesan atau tindak tutur) sebagai sarana atau media tutur. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. terdapat masalah utama yang menjadi fokus penelitian disertasi ini. B. dan penanggap) sebagai mitra tutur (komunikan). dan masyarakat (pakar. serta mengapa terjadi dominasi ? 2. Bagaimanakah implikatur dan daya pragmatik bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta ? . Untuk itu perlu dirumuskan masalahnya dalam rangka menganalisis makna pragmatik pada genre tari pasihan. Masalah utama tersebut dapat dikaji lewat beberapa pertanyaan yang bersumber pada seniman pelakunya (penyusun tari dan penari) yang bertindak sebagai penutur (komunikator).

Latar belakang konsepsi penciptaan bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta. . akurat. Bagaimana persepsi masyarakat terhadap kehidupan genre tari pasihan gaya Surakarta ? C. Persepsi masyarakat terhadap kehidupan genre tari pasihan gaya Surakarta. Penerapan prinsip kerja sama dan prinsip kesantunan dalam bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta. 5. 4. Bagaimana latar belakang konsepsi penciptaan bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta ? 6. Jenis-jenis tindak tutur dan tindak tutur yang dominan dalam genre tari pasihan gaya Surakarta. Ciri karakteristik bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta. Bagaimana ciri karakteristik bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta ? 5. dan mendalam untuk menemukan dan mendeskripsikan: 1.40 4. 3. 6. Tujuan Penelitian Memahami bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan pada ritual perkawinan adat Jawa di Surakarta dengan menganalisis secara rinci. 2. Implikatur dan daya pragmatik bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta.

Dengan demikian manfaat yang diharapkan dari penelitian ini: (1) Membuka perspektif kajian baru. ekonomi. baik dari aspek bahasa verbal dan nonverbal. namun penelitian tari dari kaca mata linguistik rupanya masih sangat langka. antropologi. Sedangkan pragmatik merupakan disiplin ilmu yang secara spesifik mengkaji makna atau maksud penutur. politik. (4) Dapat menjadi referensi atau acuan bagi para peneliti yang terkait dengan disiplin ilmu linguistik pragmatik dan kajian sastra seni khususnya. budaya dan lainnya rupanya telah banyak dilakukan para peneliti. Spesifikasi yang dapat diunggulkan dalam kajian ini bahwa terdapat interaksi yang sangat tepat antara pragmatik dan seni pertunjukan yang masing-masing berorientasi masalah makna.41 D. (2) Memberi sumbangan bagi para pembaca untuk menambah wawasan kajian seni pertunjukan tari pasihan dari sudut pandang linguistik pragmatik. . Manfaat Penelitian Tari dikaji dari berbagai perspektif ilmu seperti sosial. (3) Memberikan motivasi terhadap pembaca pada umumnya dan para peneliti dari kalangan Lembaga Perguruan Tinggi Seni untuk meneliti bentuk-bentuk seni pertunjukan dari perspektif linguistik pragmatik. Perspektif dari kajian pragmatik akan mengarahkan peneliti untuk menganalisis seni pertunjukan (tari) secara menyeluruh. terutama kajian seni pertunjukan khususnya tari dari perspektif linguistik pragmatik. Salah satu jenis kajian linguistik yang paling tepat untuk analisis tari adalah linguistik pragmatik. Artinya seni pertunjukan memuat nilainilai kehidupan yang fundamental sebagai sumber makna.

Bentuk analisis berikutnya adalah bagaimana penerapan . peneliti menggunakan kajian: (1) teori pragmatik. TINJAUAN PUSTAKA. DAN KERANGKA PIKIR A. (3) teori seni pertunjukan. (2) teori budaya. jenis tindak tutur yang dominan. Kajian Teori Seni pertunjukan umumnya dan lebih khusus genre tari pasihan gaya Surakarta merupakan lahan kajian yang sangat menarik lewat bahasa verbal yang berupa teks sastra tembang dan bahasa nonverbal. mengapa terjadi dominasi. Dalam rangka untuk mengetahui dan mencermati makna bahasa verbal dan nonverbal yang terdapat dalam seni pertunjukan genre tari pasihan gaya Surakarta. 1) Teori pragmatik untuk menganalisis jenis-jenis tindak tutur yang terdapat pada sastra tembang sebagai bahasa verbal.42 BAB II KAJIAN TEORI. dan (4) teori komunikasi.

3) Teori seni pertunjukan untuk mengkaji elemen-elemen yang terdapat di dalam tari pasihan (bahasa nonverbal) mencakup tema. dan iringan gamelan untuk mengungkapkan faktor objektif dan faktor genetik. Selain itu juga untuk mengkaji strategi kesantunan yang digunakan oleh masing-masing peserta tutur yang terdapat dalam genre tari pasihan terkait dengan cara mengungkapkan tindak tutur terkait jarak sosial. polatan (ekspresi wajah). Jika komunikasi antara seniman dengan masyarakat terjadi perbedaan . Dalam komunikasi tersebut lebih difokuskan pada kesesuaian antara pesan makna yang dimaksudkan seniman penyusun dengan makna yang dapat ditangkap oleh masyarakat. pola lantai. Proses komunikasi antara seniman penyusun sebagai komunikator dengan masyarakat sebagai komunikan lewat media yaitu karya seni tari pasihan. wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide untuk mengungkapkan konsepsi seniman penyusun tentang bahasa verbal dan nonvberbal yang digunakan pada tari pasihan. rias. dan penggunaan muka dalam komunikasi. gerak tubuh (kinetic body moves).43 prinsip-prinsip kerja sama dalam sastra tembang. 2) Teori budaya yang terdiri dari tiga bagian yakni. busana. Teori tersebut juga untuk mengungkap implikatur dan daya pragmatik. Adapun wujud kebudayaan berupa benda-benda hasil karya manusia untuk analisis faktor objektif atau karya seninya. baik yang berupa sastra tembang dan bahasa nonverbal. hubungan peran yang berbeda. 4) Teori komunikasi digunakan untuk menganalisa bagaimana komunikasi berlangsung. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas untuk mengkaji dari faktor afektifnya yaitu mengenai pandangan masyarakat umum dan persepsi pakar terhadap pertunjukan tari pasihan.

Keempat teori tersebut digunakan untuk menganalisis makna pragmatik genre tari pasihan gaya Surakarta secara komplementer. akan tetapi harus memperhatikan situasi ujaran atau sejauh mana kontekstualnya.44 atau sebaliknya terjadi persamaan. sedangkan teori budaya dan teori seni pertunjukan untuk menganalisis faktor bahasa nonverbal. dari hasil itu dapat dicari dan dianalisis penyebabnya untuk menentukan kekuatan dan kelemahan tari pasihan sebagai media. Teori komunikasi untuk mengkaji keterkaitan antarfaktor genetik. 1. dan afektif. Untuk mengetahui makna ujaran tidak dapat hanya dilihat dari satu sisi ujaran itu sendiri. Teori Pragmatik Terkait untuk tujuan-tujuan linguistik pragmatik adalah studi tentang makna dalam hubungannya dengan situasi-situasi ujar (speech situations) (Leech. Diharapkan keempat teori tersebut mampu untuk mengungkap makna pragmatik genre tari pasihan gaya Surakarta secara menyeluruh dan mendalam. 1993: 8). Secara prinsip teori pragmatik merupakan alat kajian yang utama terkait dengan sistem kebahasaannya. Konsep ujaran menurut Parera (dalam Muhammad Rohmadi. objektif. 2004: 48) berhubungan dengan manifestasi bahasa dalam bentuk lisan. Sebagaimana dikatakan Leech bahwa seorang yang menganalisis makna pragmatik dapat disamakan dengan seorang penerima. ia berusaha mengartikan isi wacana hanya .

Hambatan sering terjadi karena penutur di dalam mengungkapkan tuturannya menggunakan bahasa yang bersifat indirect. Bahasa yang diungkapkan berupa ujaran atau tuturan baik yang bersifat lisan maupun tulis. (3) Tujuan sebuah tuturan. sulit dipahami karena untuk mencermati maksud sebuah tuturan yang disampaikan penutur kepada mitra tutur sering mengalami kendala. (5) Tuturan sebagai produk tindak verbal. ujaranujaran dalam bentuk kalimat atau tindak tutur tersebut hanya akan dipahami sebagai makna semantik yang lebih terfokus pada analisis linguistik formal.45 berdasarkan bukti kontekstual yang ada saja tanpa menjadi sasaran pesan si penutur (1993: 19). bersifat langsung manakala maksud penutur tereksplesitkan dalam bentuk-bentuk tuturannya. Terkait dengan situasi-situasi ujaran. Artinya penutur dalam menyampaikan maksudnya disiratkan pada tuturan atau maknanya di balik yang tersurat. Ujaran-ujaran dalam kalimat dapat diungkapkan makna pragmatiknya secara jelas jika kita perhatikan konteks. Leech (1993: 19-21) mengemukakan aspek-aspek situasi ujar yang meliputi lima aspek situasi ujaran sebagai berikut: (1) Yang menyapa (penyapa) atau yang disapa (pesapa). Dalam kehidupan sosial manusia berinteraksi menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi untuk maksud-maksud tertentu. Tidak langsung. sehingga mudah dipahami mitra tutur. Bentuk ungkapan dapat bersifat langsung dan tidak langsung. Untuk itu perlu dicermati secara mendalam bentuk . penutur serta situasinya. (4) Tuturan sebagai bentuk tindakan atau kegiatan: tindak ujar. Tanpa konteks. Sebagai mitra tutur berupaya untuk menafsirkan maksud penutur lewat teks yang digunakan dengan mengaitkan konteksnya. (2) Konteks sebuah tuturan.

a. Hakekat teks dalam pembicaran ini mereferensi dari pendapat: Leech (1983). dan Hoed (2003: 5-6). namun lebih mengarah pada berfungsinya suatu bahasa. Dalam analisis teks dan konteks ini. yakni bahasa yang sedang melaksanakan tugas tertentu dalam konteks situasi. Adapun hakekat konteks lebih mereferensi dari pendapat: Yule (1998). dan Cutting (2002).1.46 bahasa sebagai teks dan bagaimana konteksnya sehingga dapat berfungsi untuk mengungkap makna pragmatik. bahwa teks merupakan sebuah unit semantik yang memiliki bentuk dan bermakna bukan sekadar unit gramatikal seperti klausa atau kalimat yang lepas. kita dapat perikan liku-liku antarunit hingga komplementer antarfaktor. Teks dan Konteks Pada dasarnya teks dan konteks sangat vital terkait dengan kompetensi komunikatif sehingga konsep teks dan konteks menjadi penting untuk dikaji dalam rangka memahami implikatur pragmatik. Cook (1989). . Halliday dan Hasan (1976). Dengan demikian teks tidak tergantung pada ukuran panjang pendeknya. teks adalah potongan dari bahasa tulis maupun lisan yang maknanya dapat dirunut dari perspektif strukturnya ataupun fungsinya (Richards et al. Halliday dan Hasan (1976: 1-2). Hoed (2003: 5-6). Sejalan dengan pendapat tersebut. a. bukan kata-kata ataupun kalimat lepas. Pendapat lain. 1992: 378). Teks Menurut Leech (1983: 100). teks adalah konstruksi dari hasil penggunaan sintaksis dan fonologi bahasa secara bermakna. Richards et al (1992). Secara lebih sederhana Cook menyatakan bahwa teks juga dapat berupa bagian-bagian dari bahasa yang dikaji secara formal (1989: 14).

dan iringan. gerongan.1 Bahasa verbal. yang terkait dengan gejala budaya seperti film. musik. teks sebagai pesan budaya (nonverbal). c) realisasi kesantunan antarperan a. yang berupa teks sastra tembang yang terdapat dalam cakepan (syair) pathetan. c) polatan. Dalam bahasa nonverbal ini. pola lantai. b) jenis tindak tutur yang dominan dan mengapa terjadi dominasi. Dapat ditarik simpulannya bahwa teks adalah sebuah unit bahasa verbal dan atau nonverbal yang bermakna. Berdasarkan tujuan awal penelitian adalah kajian pragmatik. b) jenis-jenis vokabuler gerak. sindhenan. yaitu: 1. kajian peneliti lebih terfokus pada gejala budaya. pertunjukan balet atau tari. dapat peneliti kemukakan bahwa teks genre tari pasihan meliputi: a.1. dan jineman. teks sebagai pesan verbal yang membatasi teks pada gejala kebahasaan (lihat disertasi Jumanto. busana. . gerak tubuh (kinetic body moves). dengan mengutip pendapat Noth (1990). kajian peneliti lebih terfokus pada: a) jenis-jenis tindak tutur yang digunakan. maka dalam bahasa verbal ini. dan 2. 2006: 23-24). mencakup: a) motif tema yang digunakan sebagai ancangan alur adegan. rias.1. polatan (ekspresi wajah). Merujuk pada hakekat teks dari pendapat kelima pakar tersebut terkait dengan teks seni pertunjukan.47 mengatakan terdapat dua cara untuk pendekatan dasar pada sebuah teks.2 Bahasa nonverbal berupa elemen-elemen tari yang terdiri dari: tema. peristiwa upacara ataupun pertunjukan sirkus.

Konteks Munculnya konsep konteks dalam ranah linguistik merupakan konsep yang relatif baru sebagai pendobrak kemapanan aliran linguistik formal atau struktural. Artinya bahwa para kaum strukturalis terfokus pada internal bahasa yang semata-mata berorientasi pada bentuk. didominasi oleh pandangan bahwa aspek form dalam suatu bahasa merupakan satu-satunya data yang paling feasible untuk dikaji. lagu.2. e) jenis warna dan bentuk busana yang dipakai. konteks adalah sebuah konsep yang dinamis. bukan statis. baik verbal dan nonverbal tersebut merupakan satu kesatuan yang membentuk menjadi sebuah bahasa genre tari pasihan yang tidak lepas dengan konteks. Konteks dipahami sebagai lingkungan yang selalu berubah yang memungkinkan peserta tutur berinteraksi dan yang membantu mereka memahami . terutama terkait dengan masalah makna yang ditarik dari implikatur tindak tutur dalam sebuah percakapan. dan tekanan. Selama bertahun-tahun kajian linguistik. g) jenis-jenis gendhing . tidak mempertimbangkan bahwa satuan– satuan itu sebenarnya hadir dalam konteks. yang seharusnya mengaitkan dengan konteks. Akibatnya aliran struktural gagal menjelaskan berbagai masalah kebahasaan. h) intonasi yang mencakup: irama. Kedua bentuk bahasa. f) jenis-jenis pola lantai ( floor design) . baik konteks yang bersifat lingual (cotext) maupun konteks yang bersifat ekstralingual yang berupa konteks fisik maupun konteks sosial. a. Menurut Yule (1998).48 d) bentuk rias.

Sejalan dengan pendapat tersebut. mendefinisikan konteks secara lebih operasional yakni dunia fisik dan sosial serta asumsi-asumsi pengetahuan yang sama-sama dimiliki oleh penutur dan mitra tutur.49 ungkapan-ungkapan kebahasaan yang mereka gunakan dalam suatu proses komunikasi. yakni konteks verbal yang ada pada teks yang mengakibatkan adanya kohesi dan koherensi. a. pemilihan kata. Leech mengartikan konteks sebagai suatu pengetahuan latar belakang yang sama-sama dimiliki oleh penutur dan mitra tutur dan yang membantu mitra tutur dalam menafsirkan makna tuturan (1993: 20). Realisasi konteks dari teks tari pasihan dengan mengakses persepsi Cutting. intonasi dan pemilihan gerak. secara internal mencakup: perubahan raut muka atau polatan. Secara eksternal meliputi: lokasi pertunjukan dan kondisi lingkungan yang menjadi setting berlangsungnya pertunjukan. Sedangkan Cutting (2002: 3-8). yaitu keadaan fisik yang muncul bersamaan dengan terjadinya suatu interaksi ketika percakapan berlangsung (at the moment of speaking). 2) konteks pengetahuan latar (background knowledge context) yang dirinci menjadi (a) pengetahuan umum budaya (cultural general knowledge) dan (b) pengetahuan interpersonal (interpersonal knowledge).2. 3) konteks co-textual.2.2) Konteks pengetahuan latar yang dapat diperikan menjadi: .1) Keadaan fisik yang muncul bersamaan dengan terjadinya suatu interaksi ketika percakapan berlangsung dapat dirunut. peneliti dapat lebih memfokuskan kajiannya pada: a. Selanjutnya secara rinci konteks dikategorikan menjadi: 1) konteks situasi.

. norma-norma. Dari pernyataan tersebut. mengalami pembagian adat-istiadat ke dalam tingkattingkat tertentu. sekaligus mencegah hal-hal yang sumbang maupun menimbulkan keganjilan. masa hamil. 1985: 89). salah satu masa yang penting adalah masa perkawinan atau masa nikah. masa puber.2. 1992: 54-55). gagasan. Stages along the life-cycle itu meliputi: masa kelahiran. Keselarasan antara gaya hidup dan kenyataan fundamental yang dirumuskan simbol-simbol sakral bervariasi dari kebudayaan yang satu ke budaya yang lain (Geertz. masa nikah atau masa perkawinan.50 a. dan masa tua hingga kematian (Koentjaraningrat. Pandangan bagi masyarakat yang berbudaya Jawa. masa remaja. masa penyapihan. Mencermati dari sekian masa kehidupan.1)Keterkaitannya dengan budaya. merupakan bagian budaya yang terkait dengan ide-ide. peraturan dan sebagainya. Dalam keselarasan tersebut yang penting adalah apakah hubungan alamiah satu sama lainnya dimiliki oleh unsur-unsur yang terpisah. Harmonisasi dan keseimbangan antara jagad gedhe sebagai manifestasi makrokosmos dan jagad cilik sebagai manifestasi mikrokosmos merupakan faktor penentu kehidupan yang harus terjaga keberlangsungannya. rupanya keselarasan alam semesta merupakan salah satu prinsip hidup. sociofact. artifact. Realitas sepanjang hidup manusia di muka bumi. mencakup: mentifact. dapat dirunut bagaimana keterkaitan perkawinan dengan kehadiran tari pasihan. masa pascanikah.2. nilai-nilai. dan bagaimana masing-masing unsur itu harus dirangkai menjadi terpadu. Mentifact. masa kanak-kanak.

Seperti kehadiran tari pasihan pada upacaraupacara ritual perkawinan budaya Jawa. merupakan bagian budaya yang berupa seluruh total dari karya manusia berupa benda fisik dari aktivitas maupun perbuatan. peneliti akan mengkaji fungsi tari pasihan pada upacara perkawinan dalam kehidupan sosial masyarakat pendukungnya. sistem sosial itu bersifat konkret. Salah satu jenis karya manusia yang berperan dalam pembangunan rohani adalah karya seni. Pada prinsipnya semua hasil karya manusia ditujukan untuk mencukupi semua kebutuhan hidupnya yang terdiri dari dua komponen pokok. selalu menurut pola yang telah disepakati yang didasarkan pada adat tata kelakuan. tari pasihan akan dicermati secara total bentuk karya seninya dalam koridor seni pertunjukan. yaitu kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani. merupakan bagian budaya yang terkait dengan suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam social system. akan dirunut tentang: hasil penghayatan yang melibatkan seniman dan penghayat terhadap karya .2. Beragam aktivitas manusia yang saling berinteraksi satu dengan lainnya. Sociofact. yang terjadi di sekitar kita. Beragam hasil karya seni yang diciptakan manusia. Sebagai rangkaian aktivitas manusia dalam suatu masyarakat. satu diantaranya adalah jenis genre tari pasihan. dari waktu ke waktu. a. Terkait dengan kebutuhan analisis artifact.2.51 Artifact. Kehadiran tari duet pasihan pada upacara-upacara resepsi perkawinan sampai sekarang masih berlangsung. Merujuk pada asumsi tersebut.2) Keterkaitannya dengan pengetahuan interpersonal. rupanya terdapat kontribusi yang cukup signifikan. Rupanya terdapat keterkaitan yang cukup erat antara seni pertunjukan khususnya tari duet pasihan dengan kebutuhan sosial.

2. Prinsip Kerja Sama (PKS) Pada dasarnya orang dalam berkomunikasi itu hendaknya saling bekerjasama antara penutur dengan mitra tutur agar komunikasi dapat berjalan secara efektif dan efisien. dan (4) maksim cara (Grice dalam Leech. b. antarkomponen. Setiap peserta pertuturan sama-sama menyadari bahwa ada prinsip-prinsip yang mengatur tindakannya. dan interpretasi-interpretasinya terhadap tindakan dan ucapan lawan tutur (Wijana. antarkomponen. Adapun cakupan kohesi terfokus pada: keterkaitan antarunit. . a. dan implikatur dari komplementer antarunit. akan dikupas secara tuntas dan mendalam dengan teori-teori yang peneliti gunakan sebagai ancangan analisis. Dari penghayatan muncul sebuah penilaian. mencakup kohesi dan koherensi secara menyeluruh dalam tari pasihan.3) konteks co-textual.52 tari pasihan. masing-masing komponen. Cakupan koherensi terfokus pada: isi atau kandungan makna pada masing-masing unit. (3) maksim hubungan. masingmasing bagian. (2) maksim kualitas. Partisipan komunikasi sangat berkepentingan untuk memenuhi dan mematuhi prinsip kerjasama (Cooperative Principle) yang terbagi empat maksim yaitu: (1) maksim kuantitas. dan antarbagian baik yang terdapat pada teks satra tembang maupun pada elemen-elemen tari pasihan. 1996: 68). dan antarbagian tari pasihan. Sebagai arahan untuk memahami proses dan bentuk aktualisasi mengenai aplikasi analisis pemerian teks beserta konteks tari pasihan dalam ritual perkawinan budaya Jawa. pada kajian berikut. penggunaan bahasanya. Hasil penilaian atau hasil hayatan dari peserta tutur (seniman dan penghayat). terdapat persamaan atau perbedaan yang masing-masing akan dicari argumentasinya.

yaitu: (1) maksim kearifan (tact maxim). Dengan demikian penutur harus membuat dan memperlakukan mitra tutur lebih santun dalam mengungkapkan tuturannya. dan teratur secara gramatikal. (2) maksim kedermawanan (generosity maxim). (3) maksim pujian (approbation maxim). Leech berpendapat bahwa selain keempat maksim dalam prinsip kerjasama juga masih diperlukan prinsip kesantunan yang terjabar menjadi enam maksim. Merujuk pada empat maksim dari prinsip kerjasama itu bila dapat dipenuhi dari masing-masing peserta tutur maka akan terjadi komunikasi yang efektif dan efisien. dan menjaga kesopanan. ringkas. jelas. Perlu disadari bahwa sebagai anggota masyarakat bahasa penutur tidak hanya terikat pada hal-hal yang bersifat tekstual. Prinsip kerjasama rupanya tidak cukup karena dalam kehidupan dibutuhkan saling menghormati. adalah aturan pertuturan yang meminimalkan kerugian orang lain dan memaksimalkan keuntungan bagi orang lain. adalah aturan pertuturan yang memaksimalkan . menghargai. (4) maksim kerendahan hati (modesty maxim). tetapi penutur juga terikat pada aspek-aspek yang bersifat interpersonal.53 1993: 11). informasi benar tidak keliru berdasarkan suatu realitas yang sebenarnya. Terbentuknya komunikasi yang wajar tersebut karena penutur dalam memberikan informasi secukupnya tidak kurang dan tidak lebih sesuai yang diperlukan. dalam arti tidak hanya bagaimana membuat tuturan yang mudah dipahami oleh mitra tutur. adalah aturan pertuturan yang meminimalkan ketidakhormatan terhadap orang lain dan memaksimalkan pujian kepada orang lain. adalah aturan pertuturan yang meminimalkan keuntungan bagi diri sendiri dan memaksimalkan kerugian bagi diri sendiri. informasi usahakan relevan dengan pokok pembicaraan. dan informasi disampaikan dengan cara yang mudah.

(6) maksim simpati (sympathy maxim). Tampaklah bahwa ketidakpatuhan para partisipan dalam komunikasi karena pada dasarnya bahwa berkomunikasi itu lebih dipicu oleh motif-motif tertentu dari penutur. Paling tidak. penutur merasa lebih santun. dan (2) fungsi afektif yang bertujuan untuk menjaga dan memelihara hubungan sosial (Holmes dalam Asim Gunarwan. Hal itu menunjukan bahwa dalam pertuturan. adalah aturan pertuturan yang meminimalkan rasa anti pati terhadap orang lain dan memaksimalkan rasa simpati terhadap orang lain (Leech. Tidak dipatuhi karena salah satu sebabnya adalah bahwa komunikasi itu tidak selalu berupa penyampaian pesan atau informasi belaka. ternyata prinsip kerja sama itu sering tidak dipatuhi orang. karena dapat diasumsikan bahwa apa yang . Hal ini didasarkan pada fungsi bahasa yang mencakup: (1) fungsi referensial atau informatif yang tujuannya untuk menyampaikan informasi (pesan). diharapkan tidak mengancam muka. Dalam hal ini penutur berupaya memasukkan maksudnya secara implisit pada ujaran yang diungkapkan. kalau kita perhatikan praktik penggunaan bahasa di dalam komunikasi sehari-hari. adalah aturan pertuturan yang memaksimalkan kesepakatan terhadap orang lain. Namun. Namun perlu disadari semua implikatur itu bersifat probabilistis. 2006: 2). 1993 : 206-207).54 ketidakhormatan terhadap diri sendiri dan meminimalkan rasa hormat terhadap diri sendiri. nyaman. (5) maksim kesepakatan (agreement maxim). Penutur sering menyampaikan pesan tidak secara bald on record tetapi lebih banyak menyukai dengan cara off record. lebih sering maksim-maksim dalam prinsip kerja sama itu dilanggar daripada dipatuhi. aman. hubungan sosialnya tetap terjaga tanpa merasa terkendalai oleh faktor bahasa dan nonbahasa.

Dapat diinferensikan bahwa memahami maksud penutur. bahasa dapat difungsikan menjadi tiga. Tindak Tutur Fungsi bahasa dalam kehidupan manusia sebagai makhluk sosial rupanya tidak dapat disangkal lagi. tanda bahasa merupakan lambang (symbol). Bahasa sebagai fakta sosial telah diungkap pertama kali oleh Ferdinand de Saussure (1916). Untuk menarik makna sesuai dengan maksud penutur tidak cukup hanya dengan mengasumsikan makna proposisi ujaran. dan juga Sinyal (signal).55 dimaksud oleh penutur lewat tuturannya tidak pernah dapat kita ketahui dengan pasti. Peranan ujaran atau tindak tutur sangat penting dalam rangka menyampaikan maksud penutur. tidak cukup mengetahui eksplikatur ujaran. Untuk dapat menentukan makna yang sebenarnya atau menyimpulkan interpretasi yang paling mungkin. . gejala (symptom). Dalam hal ini tanda bahasa merupakan lambang yang memiliki daya sinyal untuk mengarahkan pendengar sebagai penanggap. tetapi kita juga harus mengetahui sikap penutur yang melatarbelakangi eksplikatur ujaran tersebut (Asim Gunarwan. Menurut Karl Buhler (1918). apelatif. 2006: 9). betapapun eksplisitnya proposisi. Relevansi teori Buhler dengan liku-liku pragmatik dijelaskan oleh Renkema (1993). Berdasarkan teori tanda bahasa di dalam model Organon Buhler. sesuai dengan maksud percakapan. Hal ini kemudian dikembangkan oleh para peneliti lain. kita harus mengetahui sikap penutur. Karena pragmatik merupakan kajian tentang maksud penutur. dipilih bentuk-bentuk ungkapan yang memiliki makna paling relevan dari semua siratan yang secara potensial dapat timbul. dan representatif. c. untuk mengetahui dan memahami makna ujarannya. yaitu: ekspresif.

Sekarang tampak bahwa tokoh – tokoh seperti: Ferdinand de Saussure (1916). Malinowski mengungkapkan sebuah konsep Phatic Communion: ‘A type of speech in which ties of union are created by a mere exchange of words’ (lihat Jumanto. Perkembangan selanjutnya Malinowski (1923: 310). dari hasil penelitian terhadap masyarakat primitif di Papua Melanesia. Apabila objek acuan sender sebagai message dapat diterima dan dipahami pada tingkat yang sama atau tepat oleh receiver. Mereka dengan sadar mengembangkan teori fungsi bahasa secara berkelanjutan. Malinowski (1923). Dari pernyataan tersebut jelas bahwa bahasa difungsikan sebagai tujuan sosial untuk menjaga hubungan ikatan antarpersonal bagi yang terlibat dalam sebuah pertuturan.56 bahwa ujaran yang disampaikan oleh sender dapat diterima dan dipahami pada tingkat yang sama atau berbeda oleh receiver artinya gejala tidak selalu sama dengan sinyal. Sebaliknya jika yang terjadi pemahaman receiver atas objek referensi sender berbeda bahkan berlainan sama sekali. dan harmonis. maka akan terjadi masalah pragmatik. Teori fungsi bahasa dari ketiga pakar tersebut merupakan langkah awal berkembangnya fungsi bahasa yang mendorong lahirnya teori pragmatik oleh . santun. menyatakan bahwa ujaran hanya akan dapat dipahami jika ditafsirkan dalam konteks situasi. Komunikasi fatis merupakan strategi masyarakat modern maupun masyarakat primitif dalam rangka menjaga interaksi sosial terpelihara dengan baik. Karl Buhler (1918). Terkait dengan fungsi bahasa. merupakan pakar linguistik yang telah mendeskripsikan fungsi bahasa berdasarkan realitas kehidupan bahasa dalam masyarakat. artinya bahwa komunikasi efektif dan berhasil. ramah. 2006: 36).

Contohnya: “ Peneliti mohon maaf atas keterlambatan peneliti. yang kemudian dikembangkan dan dipopulerkan secara universal oleh muridnya yang bernama Searle (1969).57 Austin (1956) yang kemudian dijabarkan dan dimanifestasikan dalam konsep-konsep tindak tutur Searle (1969) berikutnya. kita dapat mengkajinya dengan sebuah teori tindak tutur yang diperikan menjadi beberapa jenis tindak tutur.” Tuturan tersebut dimaksudkan untuk melakukan tindakan yakni melarang atau menyuruh untuk tidak menghisap rokok. tindak ilokusi (illocutionary act). . “ Sebaiknya anda tidak merokok. 2006: 83-84). “ Wah. Wijana. 1993:316. 2002: 16.” Ujaran atau tindak tutur tersebut dipergunakan untuk melakukan tindakan yaitu menyuruh untuk menyirami. seseorang dapat melakukan sesuatu selain mengatakan sesuatu.1. Searle dalam bukunya “Speech Acts: An Essay in The Philosophy of Language” (1969:23-24) mengemukakan bahwa secara pragmatik setidak-tidaknya ada tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan oleh seorang penutur. Yule. Terkait dengan liku-liku Speech act. yakni tindak lokusi (locutionary act). tanamannya layu. 1996: 17-19. Speech act menurut Austin di dalam mengutarakan tuturan. d. Jenis-jenis Tindak Tutur d. Tindak Tutur menurut Austin (1956) Teori tindak tutur pertama kali diungkapkan oleh Austin (1956).” Contoh ujaran atau kalimat tersebut dipergunakan untuk melakukan tindakan yaitu tindakan meminta maaf. seorang ahli filsafat senior dari Inggris. Cutting. Menurut Searle bahwa pada setiap komunikasi linguistik terdapat tindak tutur. dan tindak perlokusi (perlocutionary act) (lihat Leech.

Adapun ketiga jenis tindak tutur itu. yaitu locutionary act. illocutionary act atau illocutionary force. lebih lanjut dijelaskan sebagai berikut. Wijana. untuk mencermati dan memahami maksud penutur dengan seluruh aspek yang melatarbelakangi (konteks). sehingga kita sering mengalami kesulitan untuk memahami maksud tuturan atau implikaturnya. yakni subjek atau topik dan predikat atau commet (lihat Nababan. dan perlocutionary act atau perlocutionary effect merupakan teori yang akan peneliti gunakan sebagai ancangan untuk mengkaji implikatur. Tindak lokusi adalah tindak tutur untuk menyatakan sesuatu. akan tetapi banyak juga bahkan dapat peneliti katakan cukup dominan maksud penutur yang diimplisitkan pada realitas kehidupan. tetapi lebih menurut apa adanya. Tuturan yang diutarakan oleh penuturnya lebih bersifat menginformasikan sesuatu. Tindak Lokusi (locutionary act). a. Hal ini terkait dengan pemahaman bahwa pragmatik adalah cabang linguistik yang mengkaji maksud penutur (the speakers meaning) yang terdapat di balik tuturannya.58 Ketiga teori tindak tutur. b. Tindak Ilokusi (illocutionary act). tanpa tendensi atau maksudmaksud tertentu di balik kalimat atau ujaran. 1996: 18). 1987: 4. . Maksud tuturan tidak selamanya dinyatakan secara eksplisit. Bila diamati secara seksama tindak lokusi itu adalah konsep yang berkaitan dengan proposisi kalimat. Tindak tutur ini sering disebut sebagai The Act of Saying Something. Untuk itu diperlukan seperangkat pengetahuan tentang berbagai jenis tindak tutur. Kalimat atau tuturan dalam hal ini dipandang sebagai satu kesatuan yang terdiri dari minimal dua unsur.

Dalam tindak ilokusi dan perlokusi bentuk-bentuk kebahasaan sebagai simbol untuk mengungkapkan maksud yang sebenarnya. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa satu tuturan mengandung dua atau ketiga-tiganya sekaligus. tindak ini merupakan bagian sentral untuk memahami tindak tutur. Selanjutnya tindak perlokusi sebagai final maksud suatu ujaran di dalam komunikasi bahasa. Tidak semata-mata tindak perlokusi hanya ditarik dari makna ujaran. Dalam tindak lokusi bentuk-bentuk kebahasaan sebagai alat untuk mengungkapkan informasi secara eksplisit. Sebuah tuturan yang diutarakan seseorang seringkali mempunyai daya pengaruh (perlocutionary effect) atau efek bagi yang mendengarnya. Efek yang timbul ini bisa sengaja maupun tidak sengaja. Simbol itu dapat ditangkap sebagai sesuatu isyarat maksud tertentu jika wawasan budaya. Berdasarkan uraian-uraian di atas menunjukkan bahwa tindak lokusi mendasari tindak ilokusi. Tindak ilokusi disebut sebagai The Act of Doing Something. tindak ilokusi mendasari tindak perlokusi. Tindak perlokusi adalah tindak tutur yang pengutaraannya dimaksudkan untuk mempengaruhi lawan tuturnya. Tindak ilokusi sangat dominan kita jumpai dalam komunikasi sehari-hari. kebiasaan antara pendengar dan pembicara sama. Tindak Perlokusi (perlocutionary act). karena harus melibatkan konteks tuturannya. c. Kunci utama yang perlu diperhatikan .59 Tindak ilokusi adalah tindak tutur yang berfungsi untuk mengatakan atau menginformasikan sesuatu dan dipergunakan untuk melakukan sesuatu. Tindak perlokusi disebut sebagai The Act of Affecting Someone. Dapat ditegaskan bahwa setiap tuturan dari seorang penutur memungkinkan sekali mengandung salah satu dari ketiga: lokusi. ilokusi atau perlokusi.

Ekspresif. yaitu: d. direktif. menuntut. komisif.2. dan deklarasi (lihat Leech.2. Cutting. mengkritik. penyesalan. misalnya: menyuruh. Searle (1979) mengklasifikasikan tindak tutur ilokusi menjadi lima jenis tuturan. membual. mengucapkan selamat. menyatakan. 1996: 164-165. mengeluh. memesan. d. Direktif. memohon. misalnya: meminta maaf. ekspresif. memuji. dan melaporkan. meramalkan. ialah bentuk tindak tutur yang berfungsi untuk menyatakan atau mengungkapkan sikap psikologis penutur dalam menanggapi suatu keadaan. melarang. membuat hipotesa. Tindak Tutur menurut Searle (1979) Sehubungan dengan pengertian tindak tutur atau tindak ujar. ialah bentuk tindak tutur yang dimaksudkan oleh penuturnya untuk mempengaruhi mitra tutur agar melakukan tindakan sesuai dengan maksud penutur. menyarankan.1. dan menantang. mendesak. Tidaklah dipungkiri bahwa dalam kajian tindak tutur ilokusi tidak lepas dari tindak tutur lokusi dan tindak tutur perlokusi.2. dan mengeluh. mengucapkan terima kasih.2. . yakni: asertif.2. Asertif ialah bentuk tindak tutur yang mengikat penuturnya kepada kebenaran atas hal yang dikatakannya.3. misalnya: menggambarkan. mengundang. mengusulkan. menyesal. d. 2002: 16-17). untuk mencari implikatur atau makna di balik ujaran yang tersirat bukan sekadar makna yang tersurat dalam ujaran dimaksud. Dari masing-masing tindak tutur mempunyai fungsi komunikatif.60 bahwa dalam analisis pragmatik adalah mencermati ilokusi-ilokusi yang terdapat pada tindak tutur dari penutur yang hendak dikomunikasikan pada mitra tutur. d.

3.4. menolak. tawaran.5. dan pendeskripsian.3.2. d. kesukaan. d. secara garis besar fungsi tindak tutur diklasifikasi menjadi lima jenis. keadaan dan sebagainya) yang baru. untuk menyatakan atau mengemukakan deklarasi secara tepat. menekankan. dan menjatuhkan hukuman. simpulan.3. Pernyataan tersebut berdasarkan pada fakta. Komisif. Ekspresif ialah jenis tindak tutur yang menyatakan sesuatu yang dirasakan oleh penutur. memutuskan. mengucilkan.2.1. mengangkat. ialah bentuk tindak tutur yang mengikat penuturnya melaksanakan segala hal yang disebutkan dalam ujarannya. melarang. mengancam. d. d. dan bisa kesengsaraan atau kesedian. misalnya: meyakinkan. mendeklarasikan. memberi nama. Deklaratif ialah jenis tindak tutur yang mengubah dunia melalui tuturan. ialah tindak tutur yang dilakukan si penutur dengan maksud untuk menciptakan hal (status.2.3.61 d.4. kesenangan. bersumpah. membaptis. mengizinkan. mengundurkan diri. Bentuk tindak tutur direktif digunakan . berkaul dan sukarela. Tindak Tutur menurut Yule (1996) Menurut Yule (1996). kebencian. kesulitan. membatalkan.3. penegasan. yaitu: d. dalam konteks khusus. Direktif ialah jenis tindak tutur yang dipakai oleh penutur untuk menyuruh orang lain melakukan sesuatu.3. misalnya: berjanji. Tindak tutur ekspresif merupakan cerminan dari pernyataanpernyataan psikologis dan dapat berupa pernyataan kegembiraan. Representatif ialah jenis tindak tutur yang menyatakan apa yang diyakini penutur. d. Dalam hal ini penutur harus mempunyai peran institusional khusus. Deklaratif. memberikan maaf. memecat.

Tindak tutur Asertif Di sini penutur menggunakan bahasa untuk menyampaikan apa yang mereka percayai dan apa yang mereka ketahui. seperti yang dikemukakan dalam bukunya “Introducing English Semantics” (1998:183-194). dan secara umum mereka dapat dibenarkan atau disalahkan bukan hanya pada waktu tindak tutur tersebut keluar atau oleh mereka yang mendengarnya. pengetahuan. Tindak-tutur performatif ditemukan pada ucapan-ucapan pernikahan. apa yang sedang terjadi atau yang telah terjadi. benar atau salah. pemesanan. bertaruh. permohonan. penjatuhan hukuman .4.3. dan meresmikan. d. pemecatan kerja. d. ikrar.5. namun secara lebih umum mereka adalah subjek bagi penyelidikan empiris. d. misalnya tindakan mohon maaf. Komisif ialah jenis tindak tutur yang dipahami oleh penutur untuk mengikatkan dirinya terhadap tindakan-tindakan di masa yang akan datang. dan pemberian saran.4. apa yang ada atau yang telah ada.4. Kreidler mengkategorisasikan tindak tutur menjadi tujuh jenis bentuk tindak tutur. dan penolakan. Tindak tutur ini meliputi: perintah. Tindak tutur asertif bersifat menginformasikan. tindak tutur asertif selalu berkaitan dengan fakta. mengumumkan. yaitu: d. yang bentuknya dapat berupa kalimat positif dan negatif. data.62 untuk menyatakan apa yang menjadi keinginan penutur. ancaman. berjanji.1. Tindak Tutur menurut Kreidler (1998) Dalam perkembangan selanjutnya.2. Tindak tutur komisif dapat berupa: janji. Tindak tutur Performatif Tindak tutur performatif adalah tuturan yang pengutaraannya difungsikan atau digunakan untuk melakukan suatu tindakan.

Tindak tutur restrospeksi adalah jika penutur menilai sikap yang telah dilakukan mitra tutur di masa lalu. mendakwa.4. dan menyanjung. 30). menyalahkan. Tindak tutur ekspresif adalah jenis tindak tutur yang menyatakan sesuatu yang dirasakan oleh penutur. mengucapkan terima kasih. mengeluh. menyalahkan atau tanggapan yang mengarah pada penilaian yang negatif. Sikap itu bisa ditanggapi secara positif dengan mengucapkan “selamat… untuk”. bentuk menghargai. Di samping dalam bentuk tuturan di atas. dan berbelasungkawa. . mengkritik. Tuturan-tuturan ekspresif itu mencerminkan pernyataan-pernyataan psikologis yang dapat berupa: memuji. mengucapkan selamat. Menurut Fraser tindak tutur ekspresif disebut pula tindak tutur evaluatif (dalam Rustono. 1999.3.63 dan lain-lain di mana hanya orang-orang tertentu dan pada lingkungan yang sesuai yang diterima oleh mitra tutur. Tindak tutur performatif bukanlah masalah benar atau salah tetapi tujuannya adalah untuk membuat bagian dari dunia ini sepaham dengan apa yang ia katakan. Tindak tutur Ekspresif Tindak tutur ekspresif menilai atau mengevaluasi tindakan sebelumnya atau kegagalan dalam tindakan tersebut dari penutur.4. “terima kasih… untuk”. d. Kebanyakan tindak tutur performatif diungkapkan pada setting formal dan berkaitan dengan kepegawaian. d. atau mungkin hasil bertindak atau kegagalan sekarang. tindak tutur verdiktif dapat berupa tuturan yang bersifat menuduh.Tindak tutur Verdiktif Tindak tutur verdiktif adalah tindak tutur yang berorientasi pada perbuatan yang sudah terjadi atau bersifat retrospektif. “bangga… untuk”.4.

Tindak tutur komisif merupakan bentuk tindak tutur yang berfungsi untuk menyatakan janji-janji.4. mendesak.4. pengandaian. Tujuannya adalah untuk membangun solidaritas antar anggota-anggota dari lingkungannya. Tindak tutur Direktif Tindak tutur direktif kadang-kadang disebut juga tindak tutur impositif adalah tindak tutur di mana penutur menginginkan mitra tutur melakukan suatu tindakan atau mengulangi tindakan. menyuruh.5. Tindak tutur fatik merupakan bentuk tindak tutur yang berfungsi untuk menjalin hubungan sosial. “maaf peneliti”. dan menantang. yang mempunyai tujuan tertentu. mengajak. menagih. menyarankan. meminta. ikrar. ucapan-ucapan kesantunan seperti “terima kasih kembali”. Tindak tutur komisif bersifat prospektif dan berkaitan dengan komitmen penutur pada perbuatan atau tindakan yang harus dilakukan untuk waktu yang akan datang.64 d. d. Tindak tutur Patik. bukan seperti makna yang tersurat dan tersirat dalam tindak tutur verdiktif atau ekspresif. d. Tindak tutur direktif ini tuturan-tuturannya mempunyai maksud untuk memaksa. dan (3) kalimat tanya (interogatif). ucapan perpisahan. (2) kalimat berita (deklaratif). memohon. memberikan aba-aba. Pada aplikasinya tindak tutur direktif. Bahasa patik tidak begitu berfungsi dengan jelas jika dibandingkan dengan enam tipe lainnya tetapi.6.4. dapat berbentuk: (1) kalimat perintah (imperatif). Tindak tutur patik termasuk salam. ancaman dan sumpah. Tindak tutur Komisif. memerintah.7. tidak kalah arti pentingnya dalam realitas kehidupan sehari-hari. Tindak tutur fatik merupakan bentuk tindak tutur keseharian yang sangat umum yang mungkin tidak kita pelajari .

Konsep tindak tutur Austin merupakan dasar utama yang melandasi fungsi tindak tutur yang muncul di kemudian. sedangkan menurut Searle dan Yule. 2. dan Yule. meliputi tindak tutur: direktif. Sedangkan bentuk atau ragamnya tindak tutur fatik sudah terpola. dan komisif. Menurut Searle dan Kreidler tentang fungsi tindak tutur asertif mempunyai persamaan pengertian dengan fungsi tindak tutur representatif menurut Yule. Dalam perkembangannya teori tindak tutur di tangan para pakar diklasifikasikan menurut fungsinya yang secara garis besar memiliki kesamaan. Kreidler. Di samping itu menurut Searle dan Yule. persamaan juga terletak pada tindak tutur deklaratif. Persamaan istilah dan sekaligus persamaan pengertian. Kreidler.65 tapi sudah melekat dan menjadi kebiasaan sehari-hari yang bernilai baik dan beretika. Searle. Dari keempat pakar yaitu: Austin. dan Yule tentang fungsi tindak tutur tersebut dapat peneliti verifikasi sebagai berikut. ekspresif. Perbedaan istilah tetapi pengertiannya sama. fungsi tindak tutur deklaratif mempunyai persamaan pengertian dengan fungsi tindak tutur performatif menurut Kreidler. Selain itu menurut Searle dan Kreidler juga terdapat persamaan pada tindak tutur asertif. dan perlokusi. Dari hasil pengklasifikasian tersebut terdapat beberapa persamaan dan perbedaan: 1. ilokusi. . bentuk fungsi tindak tutur menurut Searle. karena Austin merupakan orang pertama kali yang mengemukakan teori tindak tutur yang membaginya menjadi tiga bentuk yaitu: lokusi.

Dari ketiga fungsi tindak tutur yang dikemukakan oleh Searle. Prediksi peneliti. Selain itu terkait juga dengan fungsi tindak tutur verdiktif dan tindak tutur fatik yang tidak dimiliki dalam fungsi tindak tuturnya Searle dan Yule. sedangkan Searle dan Yule masing-masing mengklasifikasikan menjadi lima bentuk tindak tutur. rasional. Begitu pula ketika seseorang mencintai orang lain. dan Kreidler.66 3. Peserta pertuturan sering menggunakan bahasa fatik untuk sekedar memulai pembicaraan atau sekadar basa-basi mungkin juga untuk memecahkan kesenyapan yang kesemunya itu berlangsung dalam pertuturan seharihari. dan berkualitas. ungkapan memuji merupakan pernyataan yang cukup dominan dalam sebuah pertuturan. Perbedaan jumlah fungsi tindak tutur. optimal. Selain itu dari penjabarannya fungsi tindak tutur yang . Hal ini ditunjukan oleh Kreidler yang membagi fungsi tindak tutur menjadi tujuh bentuk. Pada dasarnya penutur dalam mengungkapkan maksudnya terhadap mitra tutur tidak selalu langsung pokok pembicaraan. Terkait dengan kelebihan yang dimiliki tersebut gagasan utama pemilihan dimaksud adalah dalam rangka mencari dan menentukan implikatur yang valid sehingga pragmatik genre pasihan dapat diungkapkan secara menyeluruh. peneliti akan menggunakan fungsi tindak tutur menurut Kreidler karena tampak dari jumlah pengklasifikasian Kreidler lebih banyak yang masing-masing tindak tutur memiliki karakter yang spesifik sehingga dapat lebih mengakomodasi kebutuhan analisis bahasa verbal dan nonverbal yang terdapat dalam genre tari pasihan. kedua fungsi tindak tutur tersebut sangat bermanfaat untuk menganalisis tindak tutur teks satra tembang dan bahasa nonverbal yang terdapat pada genre tari pasihan. Yule.

rias. sindhenan. polatan (ekspresi wajah). ekspresif. dan . Terutama terkait dengan latar belakang konsepsi penciptaan bahasa verbal dan nonverbal serta ciri karakteristik genre tari pasihan gaya Surakarta. penonton umum. pola lantai. dan rinci dalam rangka menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pada rumusan masalah. yang dipaparkan dengan menggunakan bagan antara lain tindak tutur: komisif . dan penanggap sebagai masyarakat pendukung budayanya. e. dan iringan. Prinsip Kesantunan (PS) e. Mitra tutur meliputi: pakar. tindak tutur bahasa verbal yang berupa teks sastra tembang terdiri dari. Tuturan (karya seni) meliputi: a. gerongan. direktif. b. Tindak tutur tersebut akan peneliti gunakan untuk mengkaji komponenkomponen yang terdapat pada genre tari pasihan gaya Surakarta baik yang terdapat pada bahasa verbal dan nonverbal secara tajam. Skala Kesantunan Leech (1983) Teori kesantunan Leech (1983). 2. cakepan (syair) pathetan. busana.1. 1. 3. dan jineman. bahwa setiap maksim interpersonal itu dapat dimanfaatkan untuk menentukan peringkat kesantunan sebuah tuturan. Adapun unsur-unsurnya dapat diurai sebagai berikut. gerak tubuh (kinetic body moves). Penutur meliputi: seniman penyusun (pengkarya). menyeluruh. tindak tutur bahasa nonverbal yang meliputi: tema. dan penari. Berikut kesantunan menurut Leech selengkapnya: verdiktif. hal ini dapat dicermati dalam bukunya yang berjudul “Introducing English Semantics”.67 dilakukan Kreidler tampak lebih transparan.

1. Authority scale adalah skala yang menunjuk pada hubungan status sosial antara penutur dengan mitra tutur. Jarak hubungan sosial semakin jauh antara penutur dengan mitra tutur. Sebaliknya. e. Tindak tutur yang banyak merugikan penutur akan dianggap semakin santun.2. Jarak status sosial (rank rating) semakin jauh antara penutur dengan mitra tutur. Tindak tutur yang bersifat langsung semakin tidak santun. Jika pertuturan itu banyak memberikan kesempatan peserta tutur untuk memilih tuturan maka tindak tutur akan semakin santun. akan semakin tidak santun tindak tuturnya.3. dan jika banyak menguntungkan penutur akan dianggap tindak tuturnya semakin tidak santun. e.1. Indirectness scale adalah skala yang menunjuk pada langsung dan tidak langsungnya maksud tindak tutur dalam pertuturan. e. Sedangkan semakin dekat hubungan sosial antara penutur dengan mitra tutur. akan semakin santun tindak tuturnya. Cost-benefit scale adalah skala yang menunjuk pada untung ruginya peserta tutur dalam pertuturan. e.1. .1. akan semakin tidak santun tindak tuturnya. apabila pertuturan itu membatasi peserta tutur untuk memilih tuturan maka tindak tutur semakin tidak santun.1. akan semakin santun tindak tuturnya..4. Optionality scale adalah skala yang menunjuk pada sedikit-banyaknya pilihan tindak tutur yang digunakan peserta tutur dalam pertuturan. sedangkan tindak tutur yang bersifat tidak langsung akan semakin santun.5.68 e.1. Akan tetapi jika jarak status sosial semakin dekat antara penutur dengan mitra tutur. Social distance scale adalah skala yang menunjuk pada peringkat hubungan sosial antara penutur dan mitra tutur.

69 e. Menurut Goffman (1959. memelihara. 1967). yang keduanya dimaksudkan untuk menunjukkan. b) penggunaan muka dalam komunikasi. Kajian kesantunan Brown dan Levinson mencakup: a) cara mengungkapkan jarak sosial (social distance) dan hubungan peran yang berbeda dalam komunikasi. sedangkan muka negatif dimaksudkan bahwa keinginan setiap orang supaya segala tindakannya tidak dihalangi orang lain ( Brown dan Levinson. . bahwa dalam sebuah pertuturan terkait dengan pengaturan muka terbagi menjadi dua yaitu tindak tutur yang berpotensi mengancam muka (face-threatening acts/FTA) dan tindak tutur yang berpotensi menyelematkan muka (face-saving acts/FSA). Muka positif dimaksudkan bahwa keinginan setiap orang supaya segala tindakannya dihargai oleh orang lain. sedangkan strategi kesantunan negatif (negative politeness strategies) yang digunakan untuk menunjukkan adanya jarak sosial antara penutur dengan mitra tutur. Strategi kesantunan positif (positive politeness strategies) yang digunakan untuk menunjukkan kedekatan. yakni muka positif (positive face) dan muka negatif (negative face). Skala Kesantunan Brown dan Levinson (1987) Teori kesantunan Brown dan Levinson (1987) seperti dikutip Jumanto dalam disertasinya (2006: 47-53). Brown dan Levinson menggunakan dua cara yaitu strategi kesantunan positif yang mengacu pada muka positif dan strategi kesantunan negatif yang mengacu pada muka negatif. Dalam percakapan untuk mengungkapkan kesantunan. dan menyelamatkan muka dalam percakapan.2. pada dasarnya setiap orang dianggap memiliki dua muka. dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur. 1987: 62). keintiman.

keintiman.70 Teori kesantunan Brown dan Levinson dapat diringkas menjadi lima strategi. setidaknya dapat meminimalisasi . maksim hubungan atau relevansi. kita harus menghubung-hubungkan tindak ujar yang disampaikan penutur terhadap mitra tutur dengan konteks. Implikatur dan Daya Pragmatik f. 5) tidak melakukan tindak tutur atau diam (don’t do the FTA). untuk menunjukkan kedekatan. yang diasalkan dari kata “implied” yang berarti “folded in“ (terlipat) dan harus dibuka lipatan tersebut (unfolded) jika kita ingin mengetahui artinya. terdiri dari empat maksim yang digunakan dalam percakapan. 2) melakukan tindak tutur dengan menggunakan kesantunan positif mengacu muka positif (positive politiness). yaitu: maksim kuantitas. Dari sini kemudian asal makna kata implikatur. Prinsip kerja sama Grice (1975) seperti dikutip Leech (1993: 11). f. tanpa basa basi (bald on record) dengan mematuhi prinsip kerja sama Grice. Hal ini dilakukan untuk menghindari kesalahpahaman. dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur. 4) melakukan tindak tutur secara tidak langsung (off record). Implikatur Istilah implikatur berasal dari bahasa Latin plicare yang berarti “melipat. Cara yang ditempuh untuk memahami implikatur dalam komunikasi sehari-hari.” Derivasinya dalam bahasa Inggris adalah kata kerja “to imply“ yang aslinya bermakna “to fold something into something else“ (melipat sesuatu ke dalam sesuatu yang lainnya). yaitu: 1) melakukan tindak tutur secara apa adanya. maksim kualitas. untuk menunjukkan adanya jarak sosial antara penutur dengan mitra tutur.1. 3) melakukan tindak tutur dengan menggunakan kesantunan negatif mengacu muka negatif (negative politiness). dan maksim cara.

Artinya. peserta komunikasi perlu mematuhi prinsip kerjasama (Cooperative Principle). yakni makna atau pesan tambahan yang menjadi bagian dari komunikasi yang tidak dikatakan. Menurut Grice (1975: 45). menyatakan bahwa implikatur dalam pragmatik terkait dengan cara kita memahami suatu tuturan di dalam percakapan sesuai dengan yang kita harapkan. Pelanggaran terhadap maksim Grice inilah oleh para pakar pragmatik disinyalir menyebabkan timbulnya suatu implikatur percakapan. sistematis. informasinya benar atau tidak keliru. jelas. yang dijabarkan menjadi empat. yaitu maksim kuantitas. maksim hubungan dan maksim cara. komunikasi itu akan berjalan dengan efisien dan efektif jika para peserta tutur bekerjasama satu sama lain.71 kesalahan sewaktu kita menafsirkan maksud penutur. Jika keempat maksim itu dipenuhi maka penyampaian informasi akan menjadi efektif dan efisien. informasi itu relevan dengan pokok pembicaraan dan penyampaiannya baik dan mudah dipahami. Implikatur – implikatur yang disiratkan dalam ujaran merupakan sumber utama dari pragmatik yang difungsikan sebagai nilai komunikasi yang dimotifasi dari beragam keinginan penutur. Sejalan pendapat Yule. Istilah implikatur percakapan dikaitkan dengan konsep Grice tentang prinsip kerjasama (PK) dan maksim-maksimnya. Namun demikian penutur tidak selalu mematuhi maksim-maksim Grice tersebut. Yule (1998). langsung dan tidak bertele-tele. maksim kualitas. Mey . Secara ringkas seorang penutur dikatakan memenuhi maksim-maksim Grice apabila ia memberikan informasi tidak lebih atau tidak kurang dari yang dibutuhkan. Suatu respon percakapan yang tampaknya kurang tepat dapat menjadi berterima jika kita hubungkan dengan konteksnya.

implikatur percakapan adalah “ the notion of conversational implicature is one of the single most important ideas in pragmatics”. dan konteks.72 (2001) memberi batasan bahwa implikatur adalah “an additional conveyed meaning”. penutur yang memilih berkomunikasi dengan implikatur. Ia berasumsi bahwa makna dapat diperikan lewat representasi semantik sedangkan daya diperikan melalui seperangkat implikatur. Menurutnya implikatur dapat menjelaskan secara eksplisit tentang bagaimana memakai apa yang diucapkan secara lahiriah berbeda dengan apa yang dimaksud dan pemakai bahasa itu mengerti pesan yang dimaksud. Hanya dengan beberapa faktor seperti kondisi yang dapat diamati. . sedangkan mitra tutur (petutur) bertugas mengasumsikan bahwa penutur bekerjasama dalam percakapan yang mereka lakukan sehingga ia dapat mengenali makna tambahan yang dimaksudkan dalam percakapan dengan menarik simpulan (inference). Kaitan ini dapat bersifat langsung atau tidak langsung (1993: 45).2. Daya Pragmatik Leech mempostulatkan bahwa pragmatik umum mengaitkan makna suatu tuturan dengan daya pragmatik tuturan tersebut. antara makna harfiah dengan daya atau ilokusi. Dalam hal ini. Menurut Levinson (1983: 97. Tugas pragmatik adalah menjelaskan kaitan antara dua jenis arti tersebut yakni. bentuk tuturan. karena apa yang dimaksud oleh penutur dengan tuturannya tidak pernah dapat kita ketahui dengan pasti sekali. Dari ketiga pakar secara ringkas dapat disarikan. f. implikatur adalah makna yang disiratkan dalam sebuah percakapan. maksudnya yakni makna tambahan yang lebih dari yang dikomunikasikan. Dasar hipotesisnya bahwa semua implikatur itu bersifat probabilistis.

nilai-nilai. norma-norma.73 mitra tutur bertugas membuat simpulan interpretasi yang paling mungkin. Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan. Adapun wujud kebudayaan mencakup tiga (3) substansi. Jika kita cermati sebenarnya implikatur dan daya pragmatik merupakan dua buah batasan yang merujuk pada sebuah makna. gagasan. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide. tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar (Koentjacaraningrat. bahwa daya mencakup makna. 1990:180). Wujud kebudayaan berupa benda-benda hasil karya manusia. peraturan dan sebagainya. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat. Dengan tegas Leech (1993: 24). Dari beberapa pakar linguistik sependapat bahwa implikatur adalah makna yang disiratkan dalam sebuah percakapan. yakni: a. dan c. daya sekaligus juga dapat diturunkan dari makna. dapat diperikan melalui seperangkat implikatur. baik implikatur maupun daya pragmatik secara garis besar mengacu pada satu objek yang sama yakni. Artinya bahwa masing-masing batasan. makna yang disiratkan dalam sebuah pertuturan. Teori Budaya. Adapun ikatan antara makna dan daya perlu disadari. Artinya daya pragmatik kekuatan atau force yang muncul dari implikatur. merupakan . b. 2. dan secara pragmatik. menyatakan bahwa makna (sense) yaitu makna yang ditentukan secara semantis sedangkan daya (force) yaitu makna yang ditentukan secara semantis dan pragmatik. Sedangkan daya pragmatik menurut Leech.

akan dikendalikan dan diatur oleh prinsip-prinsip nilai. perilaku. Sehingga keragaman budaya sebagai latar seseorang yang telah dibentuk sejak lahir akan mempengaruhi. Seni tradisional termasuk tari sebagai budaya yang diwarisi secara turun-temurun sudah barang tentu memiliki kesinambungan dengan budaya sebelumnya. Sejalan dengan pendapat tersebut. tetapi masing-masing . peraturan yang telah disepakatinya. Pewarisan budaya tidaklah bersifat statis. saling terdapat keterkaitan antar substansinya. Untuk memahami budaya Jawa. 1983:100). Begitu pula kondisi kehidupan budaya seseorang sangat mempengaruhi persepsi dan penciptaan makna pada setiap peristiwa sosial. dan berinteraksi satu dengan lainnya. yang dalam setiap kehidupan sosial selalu melibatkan intersubjektif dan pembentukan makna. membentuk. Dalam tari Jawa bentuk ekspresinya pada hakekatnya terwujud berdasarkan alam emosi. norma-norma. Wujud ide dan gagasan-gagasan manusia memberikan jiwa atau pun roh dalam kehidupan masyarakat. kita dapat mengamati dan mencermati dari salah satu wujud kebudayaanya yang berupa seni pertunjukan tari. 2006). 1991:10). dan hasil karya seseorang beragam pula (Sutopo. Ogburn mengutarakan bahwa penemuan-penemuan baru memerlukan suatu latar belakang transmisi kebudayaan dari penemuan-penemuan terdahulu (dalam Soerjono Soekanto. dan menimbulkan sikap. Sistem sosial masyarakat yang mencakup aktivitas-aktivitas manusia dalam berkomunikasi. berhubungan. yaitu bentuk dan iramanya kuat-kuat dilatarbelakangi oleh konsep keindahan dan tradisi kebudayaannya (Humardani.74 Wujud kebudayaan tersebut dalam realitas kehidupan masyarakat sosial tidak dapat dipisah-pisahkan.

ritual maupun untuk keperluan lain yang sifatnya terkait dengan pemenuhan kebutuhan sosial masyarakat. manusia memiliki berbagai usaha lewat penemuan-penemuan baru untuk memenuhi sekaligus menjawab tuntutan kebutuhan yang muncul sesuai dengan konteks budaya yang berlaku. Seni pertunjukan tari merupakan wujud keseluruhan dari sistem. Tari sebagai wujud budaya yang merupakan hasil karya manusia diharapkan mampu memberikan manfaat.75 generasi mencoba untuk mengadakan perubahan-perubahan disesuaikan dengan kondisi kehidupan masyarakat pendukungnya. Dengan demikian tanpa jangka waktu tidak akan terjadi peristiwa perubahan. Bertolak . Karena pada dasarnya tari dapat terwujud dari komplemen berbagai elemen. baik sebagai hiburan. Seperti kehidupan seni tradisional kita yang dapat bertahan hidup dan lebih berkembang di tengah-tengah masyarakat. sehingga mampu memberikan daya apresiasi. Dalam mencapai taraf hidup yang lebih baik. Semuanya berawal dan berakhir dalam suatu proses yang terus-menerus melalui dimensi waktu (Ibrahim Alfian. saling terkait secara utuh. Wujud karya seni sebagai ekspresi seniman memiliki beragam pesan rupanya tidak mudah untuk dipahami untuk itu diperlukan sebuah kajian tersendiri. kompleksitas berbagai unsur–unsurnya yang membentuk suatu jalinan atau kesatuan. maka laju transpormasi menjadi penting artinya. Segala sesuatu yang dihadapi manusia di muka bumi ini dalam kehidupannya semua mempunyai temporalitas atau historisitas. 1999:2). Perubahan merupakan suatu kesinambungan yang lebih daripada sekedar patokan antara sebelum dan sesudah. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupan manusia tidak terlepas dari adanya kecenderungan niat yang menghendaki suatu kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya.

Terutama untuk mencermati latar belakang konsepsi penciptaan bagi penyusun tari sebagai muatan atau pesan pada genre tari pasihan gaya Surakarta yang hendak disampaikan kepada masyarakat sebagai penghayat atau penikmat. Kompleks Aktivitas. Kompleks Ide.76 dari pandangan tersebut peneliti akan menggunakan teori budaya sebagai analisis karya seni yakni genre tari pasihan. nilai-nilai. norma-norma. Pada analisisnya peneliti akan mengkaji keterkaitan nilai cinta kasih yang menjadi muatan genre tari pasihan dengan ritual perkawinan adat Jawa terutama bagi sepasang mempelai temanten. karya seni sebagai faktor objektifnya. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat akan peneliti gunakan sebagai analisis faktor afektifnya atau persepsi masyarakat terhadap sajian genre tari pasihan. a. tidak terkecuali seni tari. Nilai–nilai humanisme pada prinsipnya merupakan sumber nilai-nilai sekaligus lahan kajian yang utama dalam seni pertunjukan. Adapun isi sebagai kandungan makna pada genre tari pasihan adalah nilai cinta kasih yang merupakan salah satu nilai-nilai kehidupan yang fundamental. Pada dasarnya bahwa masyarakat sebagai penghayat adalah masyarakat heterogen yang . dan masyarakat yang bertindak penghayat sebagai faktor afektif. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide gagasan. b. Kajiannya akan terkait dengan tiga komponen yaitu seniman sebagai faktor genetik. peraturan dan sebagainya akan digunakan sebagai kajian faktor genetik. Adapun bentuk aplikasinya dirancang sebagai berikut.

Terkait dengan analisis genre tari pasihan. 3. gerongan. pola lantai. Benda Fisik. Analisis ini akan didasarkan pada aktivitas–aktivitas di lapangan terutama pada peristiwa pementasan tari duet percintaan tersebut pada ritual perkawinan adat Jawa. Karya tari tersebut terdiri dari teks verbal (teks sastra tembang) yang berupa cakepan (syair) yang terdapat dalam pathetan. Berbekal keberagaman latar kultur tersebut akan mempengaruhi hasil hayatan yang berujung pada perbedaan-perbedaan dan sekaligus persamaan persepsi masyarakat. Wujud kebudayaan berupa benda-benda hasil karya manusia terkait dengan analisis faktor objektif pada penelitian ini adalah karya seni yang berupa tari Karonsih dan tari Bondhan sayuk. peneliti akan mencermati lebih fokus pada hal-hal yang menyebabkan perbedaan dan persamaan persepsi masyarakat. busana. c. dan iringan. serta mengapa hal itu terjadi. Realitas yang demikian merupakan dinamika kehidupan yang wajar dalam dunia seni pertunjukan. sindhenan. Kedua aspek tersebut akan dikaji secara komplementer untuk mendapatkan gambaran yang utuh dan jawaban yang memadahi tentang ciri karakteristik genre tari pasihan gaya Surakarta. dan jineman.77 secara kultur beragam pula latar belakangnya. Selain itu untuk mengetahui makna yang terkandung dalam teks verbal dan nonverbal genre tari pasihan dalam rangka merunut dan mengembangkan makna yang lebih central. gerak tubuh (kinetic body moves). Teori Seni Pertunjukan. . Sedangkan aspek bahasa nonverbal meliputi: tema. polatan. rias.

Teori seni pertunjukan dapat mengungkap makna dari masing-masing unsur. Masing-masing elemen tersebut saling komplementer yang pada penyajiannya akan terikat ruang dan waktu. 1998:15) bentuk dalam pengertian yang paling abstrak berarti struktur. dan iringan. busana. yang hanya bisa kita nikmati apabila seni tersebut sedang dipertunjukkan. Mengingat seni pertunjukan merupakan sarana untuk mengekspresikan maksud seniman maka unsur-unsur yang terdapat di dalamnya akan menjadi objek analisis. Adapun elemen-eleman tari. Hal itu sejalan dengan pendapat Soedarsono. yang menyatakan bahwa seni pertunjukan sebagai seni yang hilang dalam waktu. Menurut Suzanne K.78 Seni pertunjukan pada umumnya merupakan seni kolektif. . seni sastra dan seni tari. seni rupa. polatan. gerak tubuh. Langer (dalam Widaryanto. akan tetapi lebih merupakan suatu perpaduan dari beberapa cabang seni yang merupakan satu kesatuan menjadi suatu bentuk yang utuh. Pada dasarnya bentuk seni pertunjukan tari merupakan wujud keseluruhan dari beberapa cabang seni yang sangat fundamental. ia sudah merupakan masalah yang cukup sulit apabila kita akan menelitinya. saling melengkapi dan saling mendukung sehingga membentuk suatu jalinan yang saling berinteraksi untuk membentuk menjadi sebuah konstruksi penyajian tari. yakni meliputi: seni musik. apa lagi untuk melacak sejarahnya (2003:1). artikulasi sebuah hasil kesatuan yang menyeluruh dari suatu hubungan dari berbagai faktor yang saling bergayutan. artinya bahwa seni pertunjukan dimaksud tidak dapat disajikan secara mandiri. Dari berbagai cabang seni tersebut satu dengan lainnya saling terkait. pola lantai. rias. yang utama terdiri dari: tema. karena pada prinsipnya seni pertunjukan merupakan seni sesaat.

Tema Tema adalah rujukan cerita yang dapat menghantarkan seseorang pada pemahaman esensi nilai-nilai kehidupan. dan gerak praktis (Humardani. Contohnya: angkat bahu. gerak kata baru. Adapun elemenelemen tari yang dimaksud antara lain dapat kita cermati berikut ini. gerak bagian. 1991: 6-9). antara lain: Mahabharata. mitos dan sejarah. tutup telinga dan sebagainya. gerak tari. b. gerak kata. dan pada pertunjukan teater-teater modern. layar lebar. di antaranya: gerak aktif. menurut sifatnya dapat digolongkan ke dalam berbagai bentuk gerak. a. cerita rakyat. Dengan teori seni pertunjukan akan peneliti gunakan untuk mengkaji elemen-elemen yang terkandung di dalam tari untuk mengungkapkan dari faktor objektifnya dan faktor genetik. gerak indah. yang dilakukan sedemikian rupa sehingga lawan tergerak atau terpacu. Tema dapat ditarik dari sebuah peristiwa atau cerita. Si Buta dari Gua Hantu. yang selanjutnya dijabarkan menjadi alur cerita sebagai kerangka sebuah garapan. seperti Cinderela. Si Kaya dan Si Miskin. Babad. Gerak kata adalah gerak-gerak aktif yang digunakan untuk menceriterakan suatu maksud. Kiamat Sudah Dekat. Gerak aktif adalah gerak tubuh yang mengandung maksud-maksud tertentu. Contohnya: kesatuan dari rangkaian gerak . Dalam seni pertunjukan di Indonesia cerita-cerita yang dipilih lazimnya bertolak pada sumber cerita yang pokok. pejam mata. Gerak Tubuh (kinetic body moves) Gerak tubuh manusia. Ramayana. Selain sumber-sumber cerita itu terdapat cerita-cerita fiktif yang sering diangkat dalam layar kaca.79 sejak dari antarunit hingga antarkomponen yang lebih besar dan keterkaitannya untuk pengembangan temuan makna secara total.

tangan kiri memegang perut. tangan kanan memegang kening. Pembagian tersebut rupanya tidak sepenuhnya dapat memberikan gambaran yang jelas. kepala menggeleng. dan sebagainya. Hal ini tidaklah cukup beralasan. dan dinamik tertentu. karena realitas yang kita hadapi bahwa gerak manusia selalu konteks dengan lingkungan. volume. berjalan. tangan kanan memegang kening. Gerak indah adalah gerak kata baru yang sudah mengalami penggarapan lebih sempurna untuk mengungkapkan keindahan semata tanpa maksud verbal.dan bisa juga menyesal. dimaksudkan untuk mengungkapkan rasa sedih. Gerak tubuh merupakan kekayaan makna komunikasi non verbal tanpa suara yang mampu memikat perhatian bagi seorang seniman. sebagai contoh pembatasan mengenai gerak indah dengan gerak tari yang masing-masing rupanya menghindari arti verbal maupun arti dengan gerak seharihari. karate. sehingga arti verbal maupun nonverbal tidak pernah akan dapat terlepas dengan gerak tubuh manusia sebagai kandungan maksud atau makna yang hendak diekspresikan. Gerak tari merupakan penggarapan dari gerak bagian atau gerak kata sehingga mencapai pada tingkat abstraksi gerak yang sungguh-sungguh. dan sambil duduk. Baginya tubuh merupakan objek yang tidak pernah ada habis- . Gerak praktis merupakan gerak yang mengandung guna praktis. tangan kiri memegang perut. Gerak bagian adalah bagian dari gerak kata. sehingga hasilnya seolah-olah gerak yang lepas tanpa berkaitan arti dengan gerak sehari-hari.80 kepala menunduk. bisa merenung. tangan melambai. Gerak kata baru adalah gerak kata yang sudah digarap dari segi bentuk dan diselaraskan dengan tempo. Bentuk lain: kepala mengangguk. dan sambil duduk. contohnya kepala menunduk dari rangkaian gerak kata rangkaian gerak kepala menunduk. Contohnya: berlari. bisa kecewa.

yakni gerak presentatif dan representatif. Pertimbangan yang utama untuk menjadikannya gerak tubuh dan gerak nontubuh menjadi tari adalah dengan cara mendistilisasi gerak sesuai kebutuhan ekspresi dan melihat karakteristik gaya dengan menggarap tempo. Kita akan banyak memperoleh informasi tentang kondisi emosional seseorang melalui ekspresi-ekspresi wajah mereka. Polatan (ekspresi wajah) Polatan merupakan perubahan yang lebih fokus pada perubahan raut muka atau wajah. begitu berlangsung berulang-ulang yang tidak pernah harus kehabisan materi atau bahannya. artinya gerak yang dihasilkan dari imitasi terhadap sesuatu. volume. Kedua bentuk gerak baik presentatif maupun representatif merupakan medium utama dalam rangka memenuhi keperluan ekspresi. karena wujud yang tampak sering samar-samar. dieksplorasi. dan dinamik. Gerak presentatif merupakan bentuk gerak yang tidak mempunyai arti secara khusus.81 habisnya sebagai sesuatu yang digali. Keduanya hadir dalam jagad tari. c. Secara garis besar gerak dalam tari dapat dibagi menjadi dua bagian secara kasar. gerak ini difungsikan semata-mata untuk kebutuhan ekspresi. Pada prinsipnya seluruh gerak tubuh dapat menjadi medium dalam tari. namun kemunculannya tidak mudah untuk dipisah-pisahkan secara tegas. di antaranya: apakah menunjukkan rasa sedih atau . hal itu sengaja dibuat untuk mengungkapkan ekspresi seniman atau penyusun tari. Sedangkan gerak representatif adalah gerak penghadir. dikaji. kemudian disajikan. Ekspresi wajah merupakan sarana untuk mendapatkan pemahaman lebih baik terhadap sesuatu yang sedang dikomunikasikan terhadap komunikan.

merasa takut atau sedang marah. Jika kita mengetahui dan menyadari berapa banyak otot yang terdapat pada wajah manusia. Penari lebih dominan berkomunikasi dengan media gerak. Dalam dunia tari. merasa tertarik atau menolak. dapat secara langsung berkomunikasi dengan media antawecana seperti dalam wayang wong. maka tidaklah mengherankan apa bila terdapat banyak pula macam ekspresi wajah yang dapat dihasilkan (lihat Wainwright. 2006: 42). Bagaimanapun tebal tipisnya ekspresi wajah dalam komunikasi antarperan. dan sebagainya. Mengingat bahwa dalam tari tradisi istana terutama peranperan yang karakternya tenang perubahan polatan sangat halus bahkan kerap kali tidak tampak. polatan sangat berperan untuk mengekspresikan pada tingkat emosi yang secara komplementer akan membantu ekspresi gerak tubuh dalam rangka mengekspresikan totalitas peran atau tokoh. ekspresi wajah memiliki kekuatan yang sangat besar terkait dengan penampilan karakter pribadi maupun penjiwaan seseorang terhadap peran tokoh dalam membangun kualitas komunikasi yang berlangsung antarpeserta tutur.82 senang. Sehingga wajah sebagai media ekspresi akan selalu siap difungsikan untuk peran yang dikehendaki. untuk itu kesadaran awal yang harus fokus bahwa ekspresi wajah yang dibangun dari gerak tanpa diiukuti bahasa verbal secara langsung itu harus ditopang kecerdasan. Ekspresi wajah yang terdapat pada seni pertunjukan untuk mengekspresikan peran dalam keadaan suasana tertentu yang dalam implementasinya tidak lepas dari bekal pengalaman-pengalaman psikologis bagi seniman penyaji. . ketajaman dan kepekaan rasa yang dimiliki sebagai modal utama yang selalu harus diolah. tembang dalam Langendriyan. penari sebagai aktor yang menyajikan peran.

Menurut peneliti rias dapat diklasifikasi menjadi tiga jenis. yang dominan untuk pola lantai garapan putri luruh dan peran alus lurus. 1978:23). Garis lurus mempunyai kesan kuat dan sederhana. Selain itu garis lurus juga banyak digunakan untuk garapan pola-pola perangan. masingmasing individu berusaha menampilkan wajah sesuai dengan ekspresi yang dikehendaki. Pada dasarnya garis yang terbentuk pada floor design secara garis besar terdiri dari dua pola garis dasar yaitu garis lurus dan garis lengkung (Soedarsono. Wujudnya bersifat ilusi atau bayangan yang tampak menyatu luluh komplemen dengan arah gerak tubuh penari. yang dalam pertunjukan tari Jawa banyak digunakan dalam pola garapan tari gagah dan sebagian pola garapan tari alus maupun tari putri yang berkarakter lanyap. Rias Rias adalah strategi untuk mengubah wajah pribadi dengan alat-alat kosmetik yang disesuaikan dengan karakter figur supaya tampil lebih percaya diri. Sedangkan garis lengkung lebih memberikan kesan lembut. yaitu: (1) . Garis-garis yang dibentuk penari tersebut merupakan garis imajiner yang hanya dapat ditangkap dengan kepekaan rasa. Masing-masing bentuk garis mempunyai kekuatan yang tercermin dalam kesan atau ilusi. Kadar perubahan wajah dimaksud sangat relatif artinya bahwa pada setiap rias. Pola lantai (floor design) Pola lantai merupakan garis yang dibentuk dari gerak tubuh seorang penari yang terlintas pada lantai. serta banyak difungsikan dalam garapan yang bertemakan percintaan.83 d. e.

Sedangkan rias peran adalah bentuk rias yang digunakan untuk penyajian peran sebagai tuntutan ekspresi pertunjukan.84 rias formal. Rias formal merupakan rias yang digunakan untuk kepentingan – kepentingan yang terkait dengan urusan publik. berwibawa. Begitu pula asal seseorang dapat kita ketahui dari gaya dan mode pakaian yang dikenakan. (2) rias informal. namun masing–masing daerah berbeda dalam memaknai bergantung latar belakang budayanya. Selain itu busana juga memiliki beragam warna yang dapat digunakan untuk maksud-maksud tertentu. Artinya warna dapat digunakan sebagai simbol-simbol dalam kehidupan. Merah lebih memberikan kesan berani. dan dinamis yang banyak diperuntukan tokoh-tokoh raja yang sombong. setia. Kedudukan seseorang dalam masyarakat akan tampak jika kita perhatikan dari busana yang dipakai. panggung modern. Secara umum warna-warna dasar mempunyai sifat teatrikal dan sentuhan emosional sebagai lantaran simbolisasi tertentu dalam budaya seni pertunjukan tari. Warna putih mempunyai kesan suci. agresif. f. Setidaknya dalam tari Jawa. esensi makna yang diungkapkan dapat ditarik dari kesan yang ditimbulkan dari warna-warna dimaksud. Busana Busana merupakan salah satu atribut yang dapat menunjukkan status sosial dan identitas seseorang. dan juga berhubungan dengan kehidupan nirwana. Hitam tampak memiliki kesan bijaksana. layar kaca. raksasa. dan (3) rias peran. layar lebar dan bentuk lainnya. Rias informal adalah rias yang difungsikan untuk urusan domestik. kesatria dan peran putri yang berjiwa dinamis. Bentuk rias peran lebih dikonsentrasikan untuk seni pertunjukan yang digunakan untuk penampilan di panggung seperti panggung konvensional. dan anggun terutama untuk tokoh-tokoh putri seperti .

Drupadi. Fungsi gendhing sebagai iringan dalam sebuah pertunjukan mencakup tiga peran yakni: 1) nglambari. Ratu Ayu Kencana Wungu. rupanya tidak sekadar sebagai pengiring belaka. Kehadiran gendhing di sini membentuk suasana. Jika kita cermati lebih sungguh-sungguh keberhasilan pertunjukan tari. dan 3) nyawiji (lihat dalam Waridi. Tampak bahwa warna memiliki kandungan makna atas kualitas kesan yang ditangkap oleh indera penghayat.85 Dewi Shinta. Warna hijau mempunyai kesan segar dan tumbuh lebih hidup. 2005: 17-19). Nglambari memberi pengertian bahwa dukungan gendhing dalam pertunjukan tari lebih berfungsi sebagai ilustrasi. 2) mungkus. Kontribusi iringan dalam membentuk suasana dapat berujud ilustrasi yang berfungsi sebagai background hingga taraf memberikan aksentuasi kekuatan rasa-rasa tertentu sesuai dengan kebutuhan ekspresi yang dikehendaki. Iringan (Gendhing beksa) Iringan atau Gendhing beksa atau karawitan tari merupakan iringan musik gamelan yang telah teraransir menjadi sebuah bentuk yang berupa gendhing yang mampu memberikan kontribusi kekuatan ekspresi pada tari. Sembadra. Karawitan sebagai iringan tari mampu memberikan kontribusi kekuatan rasa yang secara komplementer menyatu dengan ekspresi tari membentuk suatu ungkapan nilai-nilai kehidupan manusia yang disajikan dalam bentuk yang indah. salah satu faktornya juga sangat ditentukan unsur medium bantunya yakni karawitan yang berfungsi sebagai iringan. Warna kuning memiliki kesan keagungan dan kejayaan. dan lainnya. Kehadiran karawitan dalam pertunjukan tari gaya Surakarta. g. Misalnya iringan pathetan yang digunakan untuk ilustrasi tokoh Sekartaji pada saat .

dan volume) sebagai iringan. ritme atau irama. Adapun kedua unsur dimaksud yaitu unsur karawitan sebagai penghasil rasa musikal dan unsur tari. Salah satu contohnya iringan Ketawang Ngrenas untuk suasana sedih pada saat Dewi Sekartaji sedang mencari suaminya yaitu Raden Panji Inukertapati yang tidak kunjung bertemu. Beragam fungsi karawitan tersebut mengindikasikan bahwa karawitan tari dalam konteks penyajian tari. banyak membantu dan bahkan kerapkali menggantikan kedudukan kekuatan ekspresi tari (1991:10). Elemen-elemen yang terdapat dalam bahasa verbal maupun nonverbal pada seni pertunjukan tari Karonsih dan Bondhan Sayuk tersebut merupakan modal . karawitan (yang terpadu dari unsur-unsur melodi dalam tempo. Dalam hal ini. salah satu unsur tidak akan lebih menonjol dari yang lain. Sedangkan Nyawiji. rupanya memiliki kontribusi cukup besar. Dimaksudkan pada konteks ini. Mungkus pada konsep karawitan tari lebih cenderung pada pengertian membingkai.86 pertama keluar (maju beksan) dalam suasana sedih. karena pada dasarnya nilai estetis kesenian adalah sebuah ungkapan yang utuh. Pola iringan yang difungsikan semacam ini dapat diamati pada gendhing Lambangsari yang memiliki rasa riang dan gembira. sajian gendhing dengan garapnya secara menyeluruh sengaja digunakan sebagai pembingkai gerak terutama pola-pola gerak kebar. Bentuk kristalisasi dari unsur tari dan unsur karawitan tersebut adalah untuk pencapaian harmonisasi penyajian dalam rangka menghasilkan kekuatan dan keutuan pertunjukan. Sejalan dengan paparan tersebut. merupakan konsep karawitan tari yang mengarah pada pemersatuan dua unsur menjadi satu. Humardani menyatakan bahwa dalam tari Jawa.

jika kita berkomunikasi berarti terdapat beberapa kesamaan dengan orang lain. yang pada gilirannya akan terjadi saling pengertian yang mendalam. Dengan demikian ciri karakteristik lebih mengarah pada perbedaan-perbedaan yang menonjol dari masing-masing elemen dalam tari tersebut secara elementer. proses simbolik yang menghendaki orang-orang mengatur lingkungannya dengan (a) membangun antarsesama manusia. sengaja atau tidak sengaja. tetapi juga dalam bentuk: ekspresi muka. Selain itu juga tidak menutup kemungkinan perbedaan-perbedaan yang dihasilkan dari komplementer bahasa verbal dan nonverbal yang menurut sifatnya berupa sebuah konsep. 4. 2007: 19-20). Rogers bersama Lawrence (1981). lukisan. bahwa komunikasi adalah bentuk interaksi manusia yang saling pengaruh memengaruhi satu sama lainnya. Bentuk komunikasi di sini tidak terbatas pada komunikasi bahasa verbal.87 pembentukan ciri karakteristik yang mampu membedakan tari pasihan dengan karyakarya tari lainnya. sehingga kekhasan dari elemen-elemen dan keragaman informasi yang dapat digali akan menentukan dan mewarnai dalam menggeneralisasi teorinya. Pernyataan lebih singkat dikemukakan oleh Shannon dan Weaver (1949). seni. Teori Komunikasi Komunikasi adalah suatu transaksi. serta (d) berusaha mengubah sikap dan tingkah laku itu (lihat Book dalam Cangara. (c) untuk menguatkan sikap dan tingkah laku orang lain. Dengan demikian tampak. menyatakan bahwa komunikasi adalah suatu proses di mana dua orang atau lebih melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya. dan teknologi. Sejalan dengan definisi komunikasi tersebut. (b) melalui pertukaran informasi. seperti kesamaan bahasa atau kesamaan arti dari .

tanpa keikutsertaan salah satu unsur akan berpengaruh pada proses komunikasi. gerongan. Berdasarkan pernyataan Shannon dan Weaver. Artinya. Pernyataan dari beberapa pakar komunikasi tersebut dapat ditarik unsur-unsur komunikasinya menjadi tujuh. rias. (f) efek. (d) penerima. yaitu: a) unsur verbal berupa sastra tembang yang meliputi cakepan (syair) yang terdapat dalam pathetan. (c) media. Terfokus pada jenis tari pasihan yang bentuknya memiliki dua unsur. untuk itu. Prinsip dasar yang perlu dipahami bahwa komunikasi dalam seni pertunjukan pada hakekatnya mencakup tiga faktor pokok. sindhenan. polatan. (e) lingkungan. Komunikasi bahasa verbal yang berupa sastra tembang yang komplementer dengan Unsur–unsur nonverbal dapat mengarahkan kepada kita untuk memunculkan implikatur akan guna analisis secara pragmatik. tari sebagai bagian atau cabang seni merupakan komunikasi manusia yang cukup vital. dan jineman dan b) unsur nonverbal yang meliputi: tema. pola lantai. gerak tubuh (kinetic body moves). yakni: a. Baginya seorang seniman berkarya . dan iringan merupakan media komunikasi yang khas bagi kehidupan seniman. yaitu: (a) sumber. Komunikator Komunikator bersumber pada seniman pelakunya yang terdiri dari penyusun tari dan penari yang bertindak sebagai penutur. (b) pesan.88 simbol-simbol yang digunakan dalam berkomunikasi. Merujuk pada bentuk karya seni dalam hal ini tari pasihan merupakan media komunikasi secara utuh. Setiap unsur mempunyai peranan sangat penting dalam membangun proses komunikasi. 2007: 24). busana. teori komunikasi akan peneliti gunakan untuk menganalisis bagaimana komunikasi berlangsung. dan (g) umpan balik (lihat Cangara.

tari Driasmara. perasaan atau pikiran dengan suatu medium indera atau sensa. Kesesuaian atau kemungguhan figur seorang penari dengan tokoh yang hendak diperankan merupakan syarat yang harus diperhatikan di samping gandar atau rupa. tari Bondhan Sayuk. Seniman adalah manusia yang secara profesional menghasilkan karya-karya seni yang dapat dihayati oleh publik. Terkait dengan hadirnya genre tari pasihan. Dengan demikian peranan penari sebagai komunikator sangatlah penting. Sarana atau Media Karya seni yang berupa genre tari pasihan merupakan sarana atau media tutur bagi seorang seniman. seniman penyusun sebagai penutur hendak menuturkan sebuah nilai kehidupan. karena dengan kondisi yang tidak layak akan berdampak negatif pada hasil hayatan secara menyeluruh. tari Langen . yang dapat dialami lagi oleh yang mengungkapkan dan ditujukan atau dikomunikasikan kepada orang lain (Parker. tari Lambangsih. ia berusaha menafsirkan baik secara bentuk fisik karya seni maupun nonfisik yang berupa maksud dari penyusun tari yang kemudian disajikan dalam sebuah pementasan pada ritual perkawinan adat Jawa.89 merupakan dorongan dan tutuntan kebutuhan jiwa yang dilatarbelakangi apresiasi terhadap lingkungan manusia dan alam yang terseleksi dan senantiasa dimanifestasikan dalam bentuk yang estetik. tari Kusuma Ratih. tari Endah. Dari medium sensa itu seniman akan dapat menganyam impian-impian bagi kita mengenai hal-hal yang membuai dan memikat kita senang mengamati. Jenis tari duet percintaan yang terdapat dalam genre tersebut. b. tari Gesang Rahayu. di antaranya: tari Karonsih. Ungkapan seni dapat dilukiskan sebagai pernyataan suatu maksud. 1980:21). Adapun sebagai penari. tari Enggar-enggar.

dan tari Kusuma Aji. gembira saat mendapatkan keuntungan. Begitu pula ungkapan- ungkapan praktis seperti menyuruh makan. penonton umum. tari Jayaningrat. Ungkapan yang otomatik sifatnya insting atau berlaku secara naluriah yang dilakukan seperti orang menangis ketika didera musibah. mandi. dan merenungkan sehingga dapat memberikan sebuah pernilaian atau . Begitu pula genre tari pasihan yang terdiri dari bahasa verbal dan nonverbal merupakan jenis seni pertunjukan gaya Sala yang mengacu pada budaya istana Kasunanan Surakarta. Seni adalah suatu ekspresi. c. merasakan. Pada hakekatnya kesenian adalah ungkapan yang disengaja. tari Setyaningsih. Meskipun setiap karya seni itu adalah suatu ungkapan. itu bukan kesenian dan tidak juga estetik.90 Asmara. Seseorang dalam menghayati dengan cara mengamati sebuah karya seni (objek). dicipta. dan penanggap merupakan mitra tutur yang menghayati karya genre tari pasihan. Adapun fokus dari penelitian untuk disertasi ini adalah tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk. Komunikan Masyarakat sebagai komunikan meliputi: pakar. namun sebaliknya bukanlah setiap ungkapan itu sebuah karya seni. suatu ungkapan. Keragaman seni akibat dari keaneragaman media atau sarana yang didukung ide-ide kreatif estetik seorang seniman dalam rangka memenuhi ekspresinya. dan selalu terkait atau berhubungan dengan tradisi kebudayaannya. Lewat media bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan kandungan maksud seniman akan diaktualisasikan untuk mendapatkan tanggapan dari penghayat. dan lainnya. dengan pertimbangan kedua jenis tari tersebut diharapkan mampu mewakili informasi genre tari pasihan untuk dianalisis makna pragmatiknya.

91

tanggapannya. Betapapun sedihnya menghayati tokoh Sekartaji yang tidak kunjung bertemu, ketika berupaya mencari suaminya Panji Inukertapi, kita merasa haru mendengar sumpah kesetiaan Sekartaji yang berbunyi: Dhuh jagad dewa bathara Welasa mring dasih kang nandhang kingkin Tinilar garwa satuhu Dadya gantilaning tyas Ulun dhahat Teka aginggang sarambut Kalamun datan pinanggya Aluwung tumekeng lalis

Jabaran dari nilai kehidupan tersebut ditangan seniman diungkapkan dalam bungkus sensa yang mampu memicu dan memacu timbulnya khayalan benda dan peristiwa yang memberi kenikmatan penghayat. Khayalan tentang tindakan atau emosi yang ditimbulkan lewat karya seni, kita kemudian dalam imajinasi dapat melakukan atau mengalami. Bagi yang peka estetik seolah-olah kita dibawa memasuki badan penari sebagai tokoh-tokoh utama tersebut, kita tidak kuasa menolak terhipnotis dibuatnya berperan, senang tanpa paksaan sedikit pun untuk melakukan posisi bahkan hanyut dalam aliran kenikmatan dan kepuasan jiwa. Jika dicermati lebih dalam dari jiwa kita sendirilah sebenarnya muncul gagasan-gagasan dan beragam rasa yang merupakan isi sebuah karya seni. Seniman menyediakan sebuah susunan benda pacu atau lambang-lambang sensa yang diharapkan akan ditafsirkan seperti yang dimaksudkan olehnya. Kesadaran awal yang harus menjadi fokus perhatian, bahwa komunikasi seni atau komunikasi rasa sifatnya sangat subjektif. Artinya bahwa rasa yang disampaikan seorang seniman tidak selalu dapat diterima sama oleh penghayat. Betapapun

92

hebatnya seniman sebagai komunikator dan penghayat sebagai komunikan, karena kemantapan rasa tidak dapat diukur secara exact, namun bukan berarti tidak dapat dianalisis secara disiplin ilmiah. Persamaan yang terjadi dalam komunikasi seni sifatnya tidak mutlak, sehingga tafsir seni itu sifatnya multitafsir. Perbedaan maupun persamaan yang terjadi dalam komunikasi seni disebabkan masing-masing partisipan beragam kemampuannya. Untuk itu, baik perbedaan atau pun persamaan komunikasi seni yang terjadi dalam menanggapi karya tari pasihan, akan dianalisis bagaimana dan mengapa hal itu dapat terjadi. B. Tinjauan Pustaka Sumber tertulis baik yang berupa buku-buku cetakan, tesis, disertasi, dan hasil penelitian lain yang mengkaji seni pertunjukan tari khususnya genre tari pasihan dari perspektif pragmatik rupanya belum pernah dilakukan. Kajian nonpragmatik sekali pun relatif sangat minim yang relevan dengan penelitian peneliti dapat dipaparkan berikut ini: “Karonsih”, tulisan Maryono tahun 1991, merupakan hasil penelitian yang bersifat deskriptif, memuat secara umum tentang elemen-elemen tari, dan sedikit perubahan serta penyebarannya. Sedikit banyak tulisan ini memberikan informasi yang berarti terutama terkait dengan data bahasa verbal dan nonverbal sebagai salah satu genre tari pasihan yang akan menjadi sasaran kajian pragmatik. “Perkembangan Tari Enggar-Enggar”, tulisan Dwi Maryani tahun 1999, penelitian ini memuat deskripsi tentang gerak, iringan, rias, busana, dan penyebaran serta perkembangannya tari Enggar-Enggar. Diharapkan tulisan tersebut

93

menambah informasi mengenai vareasi ragam tari duet percintaan yang pada gilirannya dapat untuk mencermati karakteristik genre tari pasihan. “Perubahan Tari Lambangsih”, tulisan Dwi Yasmono tahun 1999, yang memaparkan tentang: struktur garap tari, rias, busana, iringan, dan perubahan terutama masalah sekaran atau vokabuler gerak dan pola lantai. Rupanya hasil kajian ini akan menambah data untuk lebih mencermati karakteristik genre tari pasihan gaya Surakarta yang sedang dikembangkan, terutama terkait dengan aspek nonverbal.

94

C. Kerangka Pikir Dalam rangka mencermati permasalahan, rumusan masalah, tujuan, manfaat, ruang lingkup, kajian teori dan metodologi, serta hasil yang hendak dicapai dalam rencana penelitian ini peneliti menggunakan kerangka pikir kritik seni holistik (Sutopo, 1995: 15-16). Sebagai berikut: 1 FAKTOR GENETIK Latar Belakang Genre Tari Pasihan 2 FAKTOR OBJEKTIF Bentuk Genre Tari Pasihan 3 FAKTOR AFEKTIF Persepsi Penghayat Terhadap Genre Tari Pasihan

Latar Belakang Penyusun

fungsi

Karakteristik Bahasa Verbal

Karakteristik Bahasa Nonverbal

Latar Belakang Penanggap

Latar Belakang Penonton Umum

Latar Belakang Pakar

Pathetan irama Konsepsi Seniman lagu Sindhenan Gerongan Jineman 4

Tema Gerak Polatan

Rias Busana Pola lantai Persepsi Masyarakat

Iringan

MAKNA PRAGMATIK Genre Tari Pasihan

95

Keterangan: 1: Seniman sebagai pencipta sebuah karya seni, dianalisis tentang latar belakang kehidupan kesenimanan dan latar belakang konsep penciptaan bahasa verbal dan nonverbal serta fungsi sebagai aplikatif muatan pesan yang hendak disampaikan lewat karya seni. 2: Karya seni sebagai faktor objektifnya, dikaji tentang bahasa verbal berupa cakepan (syair) sastra tembang yang terdapat dalam pathetan, sindhenan, gerongan, dan jineman. Sedangkan bahasa nonverbal meliputi: tema, gerak tubuh (kinetic body moves), polatan, pola lantai, rias, busana, dan iringan. Diharapkan kajian bagian ini akan dapat menemukan ciri karakteristik genre tari pasihan gaya Surakarta. 3: Persepsi masyarakat terhadap kehadiran genre tari pasihan dalam upacara ritual resepsi perkawinan. Dari hasil analisis akan dapat diketahui interpretasi makna dari masyarakat yang heterogen sebagai pendukung keberlasungan budayanya. 4: Makna pragmatik merupakan hasil analisis secara komplemen keterkaitan dari tiga faktor yakni : faktor genetik (1), faktor objektif (2), dan faktor afektif (3). Relasi ketiga faktor: 1, 2, dan 3 adalah penyusun tari (seniman) menciptakan karya seni yang kemudian karya seni itu ditanggapi masyarakat. Hubungan faktor 1 dan 3 yaitu untuk mengetahui seberapa jauh tanggapan masyarakat terhadap karya seni dan bagaimana kesesuaian antara pesan yang dimaksud seniman dengan makna yang ditangkap oleh masyarakat lewat karya genre tari pasihan.

96

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Sasaran dan Lokasi Penelitian Sasaran yang utama adalah jenis tari duet pasihan atau percintaan gaya Surakarta yang memfokuskan pada tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk, seperti telah disebutkan pada latar belakang masalah. Pertimbangan yang mendasar dari pemilihan sasaran ini adalah banyaknya jenis atau ragam tari duet percintaan khususnya gaya Surakarta. Dimaksudkan kedua bentuk tari pasihan tersebut dapat dikaji secara mendalam di dalam suatu konteks dengan karakteristik tertentu. Cuplikan ini kedudukannya bukan mewakili populasinya tetapi mewakili informasinya, sehingga jika dimungkinkan generalisasi, arahnya cenderung generalisasi teori. Keragaman jenis tari pasihan rupanya tidak dimiliki oleh daerah lain, sehingga lebih memacu peneliti untuk meneliti topik tersebut sebagai sasaran pokok. Pertimbangan lain bahwa tari pasihan disinyalir mempunyai kontribusi yang cukup penting dalam sebuah ritual tradisi perkawinan adat Jawa. Pengertian gaya Surakarta di sini lebih terfokus pada tarian yang mengakar dari tarian istana Kasunanan, tidak melibatkan Pura Mangkunegaran. Hal ini peneliti sadari, bahwa Pura Mangkunegaran tidak mempunyai tari semacam pasihan atau karonsihan. Pemilihan lokasi atau tempat adalah kotamadia Surakarta dengan pertimbangan tingginya frekuensi aktivitas pertunjukan tari pasihan, tempat tinggal para penyusun tari dan pakar seni yang terkait. B. Bentuk dan Strategi Penelitian Secara garis besar dapat dinyatakan bahwa metode penelitian kualitatif adalah metode pengkajian atau metode penelitian suatu masalah yang tidak didesain atau

Hal itu rupanya cukup beralasan. Hal ini harus disadari bagi seorang peneliti agar hasil simpulan-simpulannya sesuai dengan karakteristik teorinya (Sutopo. Pada umumnya ilmu-ilmu kebudayaan atau ilmu-ilmu humaniora lebih banyak menggunakan metode kualitatif (Edi Subroto. 2006: 29). Pernyataan tersebut sejalan dengan pendapat Moleong (2007: 15). seorang peneliti berusaha menyajikan suatu interpretasi yang didasarkan pada nilai-nilai. 2007: 5). peristiwa-peristiwa dan kaitannya dengan orang-orang atau masyarakat yang diteliti dalam konteks kehidupan dalam situasi yang sebenarnya (Edi Subroto. 2006: 28). 2007: 5). dengan memperhatikan beragam alasan mengapa dan bagaimana terjadinya tafsir makna mengenai sebuah peristiwa. Setiap peristiwa harus dicermati dan dipahami dari beragam perspektif dari orangorang yang terlibat secara aktif maupun pasif dalam peristiwa tersebut. Validitas keputusan atau hasil simpulan-simpulannya mengenai sesuatu makna dapat diwujudkan dari deskripsi yang tegas. minat. 2007: 6). dan tujuan atas interpretasi orang lain atau subjek yang diteliti yang berdasarkan juga pada nilai-nilai. Kesadaran awal yang harus mendapatkan perhatian bahwa penelitian kualitatif itu menggunakan paradigma atau perspektif fenomenologis. karena tujuan pengkajian ilmu-ilmu humaniora adalah membuat . bersama-sama dengan orang lain dalam konteks intersubjektif yang di dalamnya termasuk pula interpretasi peneliti. bahwa fenomenologi merupakan pandangan berpikir yang menekankan pada fokus kepada pengalaman-pengalaman subjektif manusia dan interpretasi-interpretasi dunia. dan tujuan mereka sendiri (Smith & Heshusius dalam Sutopo. Dalam penelitian kualitatif.97 dirancang menggunakan prosedur-prosedur statistik (Edi Subroto. minat. Artinya penelitian kualitatif berusaha memahami makna dari fenomena-fenomena. Kajian ini membentuk simpulan multiperspektif yang akan menimbulkan makna intersubjektif.

dan afektif. 1995: 8-15). serta berusaha menangkap makna dari suatu peristiwa. Latar belakang konsep penciptaan bahasa verbal dan nonverbal dan pesan makna yang hendak disampaikan lewat karya seni (faktor genetik). busana.98 deskripsi suatu situasi. pola lantai. Sedangkan bahasa nonverbal meliputi: tema. dan seimbang mengkaji tiga faktor yaitu genetik. tetapi tidak digunakan sebagai standar nilai. gerak tubuh (kinetic body moves). objektif. polatan. menginterpretasikan kejadian atau peristiwa. melainkan sebagai sumber informasi dalam aktivitas evaluasi. dan jineman. Persepsi masyarakat terhadap kehadiran genre tari pasihan dalam kehidupan sosial (faktor afektif). sindhenan. Ketiga komponen tersebut tidak dipisahkan dalam kesatuan nilai karya. Dengan demikian bentuk penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan kritik holistik yang secara fokus. Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan dan tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini lebih mengarah pada bagaimana memahami makna bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta. dan afektif sebagai sumber aliran nilai. Untuk menjawab persoalan tersebut peneliti akan memahami lebih rinci dan mendalam baik kondisi maupun proses dan juga saling keterkaitannya mengenai hal-hal pokok yang ditemukan di lapangan. rias. Selain itu juga bagaimana komplementernya dari ketiga aspek tersebut untuk menemukan keterkaitan hal-hal pokok yang terdapat di dalamnya untuk mengungkap . gerongan. objektif. secara operasional peneliti akan mendeskripsi secara rinci dan mendalam mencakup masalah bahasa verbal berupa cakepan (syair) yang terdapat dalam pathetan. Merujuk pada pola pikir pendekatan kritik holistik. lengkap. kejadian atau peristiwa. Tiga sumber nilai ini wajib dikaji secara lengkap dan seimbang supaya tidak terjadi kepincangan evaluasi (Sutopo. dan iringan (faktor objektif). mencakup tiga aspek yakni genetik.

tari Gesang Rahayu. Pertimbangan yang mendasar dari kasus tunggal. namun memiliki karakteristik yang sama. tari Lambangsih. karena permasalahan dan fokus penelitian telah ditentukan dalam proposal sebelum peneliti terjun ke lapangan artinya peneliti telah terpancang. dan tari Kusuma Aji. yang lebih berharga daripada sekadar pernyataan jumlah atau pun sekadar frekuensi dalam bentuk angka (lihat Sutopo. 2006: 40). tidak seperti penelitian eksploratif yang mana peneliti sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi di lapangan (grounded search) maka penelitian kasus ini lebih khusus disebut studi kasus terpancang (embedded case study research) (Sutopo. tari Kusuma Ratih. Rupanya sangat tepat pilihan peneliti untuk menggunakan metode kualitatif karena objek kajiannya merupakan cabang dari ilmu-ilmu humaniora yang sarat dengan makna dalam kehidupan. Jenis penelitian ini akan mampu menangkap berbagai informasi kualitatif dengan deskripsi teliti dan penuh nuansa. Strategi yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus tunggal. tari Jayaningrat. adapun jenis penelitian dengan strategi yang paling tepat adalah penelitian kualitatif deskriptif. tari Enggarenggar. tari Setyaningsih. tari Endah. tari Driasmara. karena sekali pun genre tari pasihan atau karonsihan jenisnya terdiri dari beragam tari duet percintaan seperti: Tari Karonsih. Hal ini sejalan dengan pendapat Edi Subroto bahwa ilmu-ilmu humaniora berusaha memahami realitas sosial dan realitas budaya dalam rangka memahami masalah-masalah sosial dan masalah-masalah manusia secara lebih baik (2007: 5). tari Bondhan Sayuk. Dengan demikian bentuk penelitiannya bersifat dasar (basic research). . Di samping itu. tari Langen Asmara. 2006: 227).99 makna pragmatik genre tari pasihan gaya Surakarta sebagai sebuah hasil akhir penelitian.

Sedangkan bahasa nonverbal berupa: tema. Sumber informasi objektif pada penelitian ini adalah seni pertunjukan tari. busana. Sumber informasi genetik pada penelitian ini adalah para penyusun tari pasihan. terutama terkait dengan latar belakang konsep penciptaan teks verbal dan nonverbal. e) motif tema. g) bentuk rias. gerongan. pola lantai. Dengan cara itu peneliti tidak akan berasumsi bahwa sesuatu itu sudah memang demikian keadaannya (Moleong. dan j) jenis-jenis repertoar gendhing. Data akan diperoleh peneliti dengan cara memanfaatkan pertanyaan-pertanyaan dengan kata tanya : mengapa. objektif. Sumber Data Data atau informasi yang paling dibutuhkan akan dikumpulkan dan dianalisis dalam penelitian ini adalah berupa data kualitatif. d) implikatur dan daya pragmatik. Adapun data informasi yang dikumpulkan akan terkait tiga faktor pokok yakni: genetik. dan afektif. f) jenis-jenis vokabuler gerak. i) jenis-jenis floor design (pola lantai). c) realisasi prinsip kerja sama dan prinsip kesantunan antarperan. alasan apa dan bagaimana terjadinya. serta pesan makna yang hendak disampaikan lewat karya seni. gerak tubuh (kinetic body moves). dan iringan. sindhenan. . tempat-tempat dan konservasi-konservasi dari orang yang diteliti (Edi Subroto.100 C. polatan. 2007: 11). Data kualitatif merupakan data lunak yang kaya akan deskripsi tentang orang-orang. Tindak tutur mencakup cakepan (syair): pathetan. dan jinemal sebagai bahasa verbal. fungsi. rias. Data yang dikumpulkan terutama berwujud bahasa verbal dan nonverbal. 2007: 6). h) jenis warna dan bentuk busana yang dipakai. yang hendak dikaji dari jenis informasi data teks sastra tembang dan unsur-unsur tari yang meliputi: a) jenis-jenis tindak tutur yang digunakan. b) jenis tindak tutur yang dominan dan mengapa terjadi dominasi.

Adapun jumlah informan tidak mempengaruhi secara mutlak.101 Sumber informasi afektif terdiri dari pakar. Peneliti dan narasumber memiliki posisi yang sama. penonton umum. namun yang lebih substansial adalah kualitas informasi yang dibutuhkan. dapat dipercaya baik dari segi pengetahuannya maupun kejujuran secara umum dan secara khusus dalam memberikan data yang akurat serta bersifat tidak menggurui (Fatimah Djajasudarma. Berbeda dengan responden yang sekadar memberikan jawaban secara terbatas dan terikat oleh bentukbentuk pertanyaan yang telah disusun secara ketat seorang peneliti. 2006: 57-58). karena posisi informan dengan beragam peran dan keterlibatannya dengan kemungkinan akses informasi yang dimilikinya sesuai dengan kebutuhan penelitiannya. Dalam penelitian kualitatif. dan penanggap tari pasihan. Narasumber harus dipilih orang yang handal di bidangnya. manusia sebagai Informan atau narasumber posisinya sangat penting dalam rangka memberikan informasi yang dimiliki. Informasi tersebut akan digali dari beberapa sumber data yang akan dimanfaatkan dalam penelitian ini mencakup : 1. Informan atau Narasumber Menurut Spradley informan merupakan pembicara asli (speaker) dengan bahasa atau dialeknya sendiri dan menjadi sumber informasi (1997: 35). yang terdiri dari: pakar. Faktor afektif ini akan difokuskan pada persepsi masyarakat penghayat. memadahi . dan penanggap tari pasihan dalam rangka memahami fungsi sosial di tengah-tengah masyarakat sebagai pendukung keberlangsungan budayanya. 1993: 20). tetapi mereka dapat memilih arah dan selera dalam memberikan informasi yang dimiliki (Sutopo. Oleh karena itu seorang peneliti harus jeli dalam menentukan informan. penonton umum. narasumber tidak sekedar memberikan tanggapan menurut permintaan peneliti.

Dari pengamatan langsung sebuah peristiwa pertunjukan tari pasihan. pola lantai. Berdasarkan akses informasi yang diperlukan tersebut narasumber yang peneliti pilih dalam penelitian ini terdapat empat kelompok meliputi: penyusun tari. aktivitas. Peristiwa atau Aktivitas peristiwa. Berlangsungnya pertunjukan tari tersebut merupakan sumber primer untuk analisis menyeluruh. busana. Tempat terjadinya peristiwa pertunjukan tari pasihan pada upacara ritual perkawinan. sangatlah berharga karena memiliki keterkaitan dengan munculnya implikatur . objektif . dan bahasa verbalnya yang akan dilakukan secara berulang untuk mendapatkan sumber data yang akurat tentang berlangsungnya sebuah penghayatan sekaligus mengidentifikasinya untuk menarik makna pragmatik dari peristiwa pertuturan. penari. Artifak yang merupakan benda budaya. Artifak. 3. 2. atau perilaku sebagai sumber data yang terkait dengan sasaran penelitian. Tempat atau Lokasi Tempat yang menjadi sasaran penelitian ini terutama terdapat pada sebuah upacara ritual perkawinan yang diselenggarakan di wilayah penelitian. yang harus dicermati meliputi aspek gerak. penghayat. rias.102 tidaknya data yang diberikan. dan afektif. yakni di kotamadia Surakarta. 4. serta masyarakat umum.implikatur yang sengaja dimanfaatkan oleh seniman dalam rangka mengekspresikan isi hatinya yang sudah barang tentu telah . iringan. sehingga validitas datanya dapat dipertanggungjawabkan secara akademis. akan memberi gambaran secara kongkrit tentang setting peristiwa penghayatan atau berlangsungnya sebuah pertuturan. pakar. baik faktor genetik.

terutama lebih fokus yang menurut fungsinya bersifat primer. dan gamelan. Selain itu. Salah satu artifak yang sangat berharga sebagai sumber data yang memungkinkan dapat dilacak informasinya untuk diungkap lebih dalam adalah boneka. . Dalam hal ini gamelan mempunyai peranan cukup primer dalam rangka mengaktualisasikan genre tari pasihan. Beragam benda artifak sebagai kelengkapan. Prediksi peneliti sementara bahwa artifak yang berupa boneka pada tari Bondhan Sayuk memiliki daya pragmatik. Asumsi peneliti bahwa dari bentuk atau mode busana tari akan dapat memberi gambaran tentang peran atau tokoh sedangkan dari warna dapat dicermati makna simbolisnya. Artifak yang berupa boneka yang terbuat dari bahan plastik yang dibalut dengan sehelai selendang sehingga bentuknya menyerupai bayi yang digedhong (ditimang). rupanya memiliki makna yang dalam terkait dengan sepasang mempelai temanten.103 memperhitungkan penghayat sebagai mitra tuturnya. busana tari. Artifak yang bersifat primer. Seperangkat gamelan (gamelan ageng) yang memiliki laras Slendro dan Pelog sebagai musik iringan tari merupakan artifak yang memegang peranan cukup penting dalam mewujudkan terselenggaranya pertunjukan tari pasihan. terdiri dari: boneka anak (baby). Keberadaan busana tari yang sering dipakai penari dapat dilacak dengan maksud untuk mencermati seberapa jauh keterkaitannya dengan makna yang hendak disampaikan seniman terhadap penghayat. artifak yang layak menjadi sumber data adalah busana tari. yang terlibat dalam peristiwa atau aktivitas pertunjukan genre tari pasihan.

antara lain beragam kaset ataupun CD iringan tari. gerongan. berupa data rekaman baik yang bersifat audio maupun yang berwujud visual. D. Sedangkan data rekaman yang berupa audio visual kaset VCD. Dokumen yang sifatnya tidak tertulis yang terkait dengan pertunjukan tari pasihan. Selain itu juga data yang berupa bahasa verbal seperti cakepan : pada pathetan. Teknik Pengumpulan Data Berangkat dari keragaman sumber data yang perlu digali tersebut menuntut strategi atau teknik pengumpulan data yang sesuai dengan sumber datanya untuk mendapatkan data yang mampu menjawab permasalahan yang telah diajukan. Dalam penelitian kualitatif ini peneliti akan menggunakan berbagai teknik berdasarkan sumber data dalam pengumpulan datanya. 2006: 61). sindhenan. babad. Dokumen dan Arsip Dokumen dan arsip biasanya merupakan bahan tertulis yang bergayutan dengan peristiwa atau aktivitas tertentu (Sutopo. berupa sumber cerita yang terdapat pada naskah-naskah pewayangan. merupakan rekaman beragam tari duet percintaan gaya Surakarta yang termasuk bagian genre tari pasihan. maupun serat. Adapun teknik pengumpulan data yang sesuai dengan penelitian kualitatif dan jenis sumber data yang dimanfaatkan adalah sebagai berikut: .104 5. dan jineman. Data tertulis yang berupa dokumen ataupun arsip yang terkait dengan peristiwa pertunjukan tari pasihan yang dapat dilacak dalam perpustakaan. Sumber data yang berupa dokumen dan arsip tersebut akan peneliti gunakan sebagai analisis tambahan untuk mencermati tentang makna pragmatik. Data rekaman yang berupa audio.

kelompok penyusun tari. 2006: 228). Berperan pasif peneliti hanya hadir di lapangan bertindak sebagai . Wawancara mendalam (in-depth interviewing) Manusia sebagai nara sumber atau informan merupakan sumber data yang sangat fundamental dalam penelitian kualitatif. Sehingga pengumpulan data yang diperlukan dalam menggali informasi dari informan dengan teknik wawancara mendalam. b. dan d. tidak dalam suasana formal. kelompok penghayat (lihat hal: 56-57). kelompok pakar. peneliti terlebih dulu berupaya mengenal karakteristik dari masing-masing informan yang telah ditetapkan untuk menjalin keakraban dan kedekatan emosional sehingga dapat menggali informasi sebanyak-banyaknya dalam situasi yang kooperatif dan kondusif. tidak terstruktur ketat. Sebelum wawancara. yaitu: a. Selain itu persiapan awal untuk menggali informasi. 2007: 187). Wawancara merupakan salah satu jenis pengumpulan data yang bersifat lentur dan terbuka. 2. c. dan dapat dilakukan berulang pada informan yang sama (Patton dalam Sutopo. peneliti secara garis besar merancang jenis-jenis pertanyaan pokok yang selanjutnya dapat dikembangkan di lapangan hingga ke hal-hal yang lebih rinci. Jenis pertanyaan yang dipersiapkan tidak mengikat namun lebih digunakan sebagai petunjuk secara garis besar tentang proses dan isi wawancara untuk menjaga agar pokok-pokok yang direncanakan dapat seluruhnya tercakup (Moleong. Adapun wawancara akan dilakukan dengan empat jenis kelompok. Observasi Dalam penelitian kualitatif ini peneliti mengadakan observasi langsung berperan secara pasif dan aktif. Pertemuan awal dilakukan untuk mengadakan kesepakatan-kesepakatan tentang pertemuan selanjutnya (jadwal) dan materi jika dimungkinkan.105 1. kelompok penari atau penyaji.

. Mencatat Dokumen dan Arsip (content analysis) Data yang berupa dokumen ataupun arsip yang terkait dengan peristiwa pertunjukan tari pasihan yang dapat dilacak dalam perpustakaan. 3. sehingga mendapat data secara akurat. Dokumen lain berupa kaset tape recorder yang memuat iringan tari jenis pasihan. akan dicatat dan dianalisa untuk memahami keterkaitannya dengan faktor objektif karya tari pasihan yang tengah diteliti. Selain itu dimungkinkan juga terdapat pada babad. di antaranya: cerita Panji dalam Perbandingan (1968) dan Panji Sekar (1979). Teknik ini secara garis besar digunakan peneliti untuk setiap aktivitas yang terkait dengan pengumpulan data. baik sebagai langkah awal pencatatan secara global masalah-masalah yang dianggap penting yang selanjutnya akan selalu dikembangkan pada analisis untuk dijabarkan secara rinci mendalam. berujud sumber cerita yang terkait dengan ceritera Panji. serat atau naskah. Bentuk peran aktif dalam penelitian ini peneliti mengambil peran sebagai penonton untuk mengapresiasi pertunjukan dan datang di tempat-tempat latihan membaur turut berlatih untuk mengamati dan mengetahui ciri karakteristik tindak tutur dan lebih fokus terhadap elemen-elemen genre tari pasihan. Adapun observasi tidak langsung lebih mengarah pada pengamatan dokumendokumen rekaman tari pasihan. Adapun sumber data yang diharapkan mampu memberikan gambaran liku-liku kehidupan Panji dan Sekartaji. seperti: kaset “Karonsih“ (ACD – 114) dan kaset “Beksan Enggar-enggar” (WD – 530).106 pengamat secara formal dan informal untuk mengamati kegiatan dan peristiwa pertunjukan tari pasihan agar mendapatkan data yang mantap dari fenomena yang terjadi di lapangan. Teknik simak dan catat dalam kegiatan ini akan dimanfaatkan terkait data bahasa verbal dan nonverbal.

Teknik Cuplikan (sampling) Penelitian kualitatif cenderung menggunakan teknik cuplikan yang bersifat selektif dengan pertimbangan konsep teoretis yang digunakan. 1993: 11).107 4. 2006: 37) (lihat Moleong. Untuk itu dalam penelitian kualitatif. Perekaman Teknik pengumpulan data dengan rekaman terutama dengan alat video dan rekaman suara merupakan metode yang cukup penting karena akan membantu peneliti dalam rangka memperjelas deskripsi berbagai aktivitas dan situasi di lapangan. Selain itu rekaman tari pasihan tersebut juga untuk mengembangkan pertanyaan yang mengarah pada faktor genetik dan faktor afektif. dan karakteristik empirisnya. Adapun kegiatan ini adalah merekam bentuk tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk untuk dianalisis bahasa verbal dan nonverbal dari masing-masing bentuk tari tersebut. 2007: 8. teknik cuplikannya cenderung bersifat purposive karena dipandang lebih mampu menangkap kelengkapan dan kedalaman data di dalam menghadapi realitas yang tidak tunggal. 2006:229). Dari kajian bentuk tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk ini dimaksudkan untuk menjawab rumusan masalah terkait dengan pertanyaan yang mengarah pada faktor objektif. Bentuk rekaman video yang diutamakan adalah peristiwa berlangsungnya pertunjukan khusus tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk. Fatimah. (Goetz & Le Compte dalam Sutopo. objektif dan afektif sebagai dasar menentukan makna genre tari pasihan dalam upacara resepsi perkawinan. Rekaman ini dimaksudkan untuk lebih mencermati peristiwa pertunjukan berdasarkan natural setting artinya sasaran penelitian harus tetap berada pada kondisi aslinya secara alami (Sutopo. Pemilihan sampel diarahkan lebih fokus pada sumber data yang . Hal ini dilakukan untuk mencari dan menemukan korelasi dari ketiga faktor yaitu genetik. E. keingintahuan pribadi peneliti.

Cuplikan ini kedudukannya bukan mewakili populasinya tetapi mewakili informasinya. Validitas Data Untuk menjamin dan mengembangkan validitas data yang akan dikumpulkan dalam penelitian kualitatif ini digunakan teknik trianggulasi data atau sumber. 2006). dan trianggulasi teori dari empat jenis trianggulasi yang ditawarkan Patton (dalam Sutopo.108 dipandang memiliki data penting yang terkait dengan permasalahan yang sedang diteliti. dalam beragam posisinya. 2006: 92). Oleh karena itu dalam penelitian kualitatif ini peneliti memilih informan yang diharapkan mampu memberikan informasi yang memiliki kedalaman dan keakuratan data guna menjawab permasalahan yang diajukan. Sumber lain akan dipilih berdasarkan pertimbangan ketepatan dan kelengkapan datanya. Trianggulasi data atau sumber mengarahkan peneliti dalam mengumpulkan data harus menggunakan beragam sumber data artinya data yang sejenis . karena setiap posisi akan memiliki akses informasi yang berbeda. sehingga bilamana generelisasi harus dilakukan. Untuk itu peneliti dituntut memahami peta sumber yang tersedia. kualitas. F. Adapun sejumlah informan dan informasi yang dibutuhkan dari informan tersebut lihat hal: 56-57. Informan yang dibutuhkan dipilih berdasarkan kredibilitas. Purposive sampling memberikan kesempatan secara maksimal pada kemampuan peneliti untuk menyusun teori yang dibentuk dari lapangan (grounded theory) dengan sangat memperhatikan kondisi lokal dengan kekhususan nilai-nilainya (idiografis). dan keluasan wawasan dalam suatu permasalahan yang dikaji sehingga informasi yang diperoleh betulbetul mantab kualitasnya. trianggulasi metode. secara tuntas dan valid. maka arahnya cenderung sebagai generalisasi teori (Sutopo.

peneliti menggunakan tiga informan yang berbeda yaitu: penyusun tari. pakar tari. dan observasi di lokasi ketika penari tersebut sedang menyajikan tari pasihan. Di sini yang diutamakan adalah penggunaan metode pengumpulan data yang berbeda. akan dikomparasikan dan ditarik simpulan data yang lebih kuat dan mantap validitasnya. Trianggulasi metode dalam penelitian kualitatif mengarah pada perbedaan teknik atau metode pengumpulan data pada data yang sejenis. . untuk memahami makna tari pasihan. Selain itu. dan masyarakat umum. perbedaan kemudian mencari argumen dari masing-masing untuk mendapatkan simpulan yang memadai. untuk menemukan ciri karakteristik bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan dari informan seorang penari. peneliti membutuhkan informasi dari informan yang berbeda di antaranya dari penyusun tari pakar. Untuk mengetahui alasan mengapa terjadi dominasi salah satu jenis tindak tutur dalam bahasa verbal tari pasihan. Data sementara yang diperoleh dari ketiga metode yang berbeda pada sumber data atau informan yang sama. Salah satu bentuk aplikasi dalam penelitian ini. bahkan lebih jelas untuk diusahakan mengarah sumber data yang sama untuk menguji kemantapan informasinya. Data yang terkumpul kemudian dikomparasikan untuk mengkaji alasan yang tepat guna menjawab secara akurat terkait dengan fungsi bahasa verbal dalam pertunjukan tari pasihan. Informasi dari ketiga informan tersebut kemudian dianalisis dengan cara membandingkan untuk melihat persamaan.109 akan lebih mantab kebenarannya apabila digali dari beberapa sumber data yang berbeda. peneliti menggunakan metode pengumpulan data dengan mencatat dokumentasi atau arsip yang berupa data bahasa verbal dan nonverbal kemudian melakukan wawancara secara mendalam. dan penanggap.

artinya semua simpulan dibentuk dari semua informasi yang diperoleh dari lapangan. Karena setiap teori memiliki perspektif yang khusus. dibentuk dari temuan dan kumpulan data di lapangan digunakan untuk dasar pemahaman dan penyusunan suatu simpulan (Sutopo. tetapi seluruh hasil simpulan yang dibuat dan teori yang mungkin dikembangkan. untuk mengetahui makna yang tersirat dalam tari pasihan harus menganalisis terhadap bahasa verbal dan nonverbal dengan menggunakan empat teori yaitu: (1) teori pragmatik.2006: 105). Keempat teori tersebut akan berfungsi sebagai alat kajian dan bekerja secara komplementer untuk menemukan makna tunggal yang menempatkan posisi setiap temuan berada pada satu kesatuan konteks (lihat hal: 14). 2006:98-99).110 Trianggulasi teori dibutuhkan untuk mendapatkan pandangan yang lengkap dan mendalam. (2) teori budaya. . Teknik Analisis Penelitian kualitatif bentuk analisisnya bersifat induktif. untuk itu diperlukan beberapa perspektif teori guna memperoleh hasil simpulan yang mantap dapat dipertanggungjawabkan. Sifat analisis induktif sangat mementingkan apa yang sebenarnya terjadi dan ditemukan di lapangan yang pada dasarnya bersifat khusus berdasarkan karakteristik konteksnya dalam kondisi alamiahnya. (3) teori seni pertunjukan. Bentuk aplikasinya. tidak hanya sepihak dan bersifat monoperspektif. dan (4) teori komunikasi. artinya berbeda suatu teori beragam pula cara pandangnya. mempunyai kedalaman makna dan bersifat multidimensional (Sutopo. tetapi dengan beberapa teori yang digunakan sebagai alat kajian sehingga muncul multiperspektif. G. Analisisnya tidak untuk membuktikan kebenaran hipotesis yang telah diajukan dalam proposal penelitian.

dan kemungkinan lain. Aktivitas refleksi dari setiap data yang telah terkumpul pada dasarnya merupakan kegiatan analisis yang semakin berkembang. atau mengkomparasikan antarfaktor-faktor utama yang menjadi pokok kajian berdasarkan kerangka pikir (Sutopo. bentuk keterkaitan antarunsurnya dan sebagainya). setelah peneliti mendapatkan data pada unit-unit hingga kelompok yang besar. artinya setiap unit data yang terkumpul selalu dikomparasikan dengan unit data lainnya untuk menemukan beragam hal yang dibutuhkan sesuai dengan tujuan penelitian (keluasan. sajian data.111 Proses analisis dilakukan bersamaan sejak awal dengan proses pengumpulan data. 2006). arsip maupun dokumen dan lainnya untuk mendapatkan pemantapan simpulan yang kemudian akan dikembangkan dan validitas datanya dengan mencermati tingkat kesamaan. misalnya tanggapan ciri-ciri karakteristik bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan dari informan penari. sudah merupakan hasil dari analisis yang berkelanjutan pada proses pengumpulan data. dan informan budayawan kemudian . dengan melakukan beragam teknik refleksi untuk pemantapan simpulan awal dan perluasan serta pendalaman data bagi pengumpulan data berikutnya. sehingga data yang hendak disajikan sebagai laporan. Analisis dilakukan dalam bentuk interaktif. observasi. kesepadanan. perbedaan. Adapun proses interaksi selanjutnya antarkomponen analisisnya meliputi reduksi data. Proses interaktif juga mengkomparasikan data yang didapat dari wawancara. penarikan simpulan dan verikasinya. perbedaan. Pada penelitian kualitatif kasus tunggal tentang genre tari pasihan gaya Surakarta ini. informan pakar. Sejak diperoleh data dalam unit yang paling kecil sudah mulai dikomparasikan hingga pada unit-unit atau kelompok data yang besar untuk mengelompokkan beragam variabel sesuai dengan rumusan masalah.

mengembangkan hasil wawancara yang berupa kata-kata kunci menjadi catatan lengkap. peneliti gunakan model analisis interaktif. kritis. untuk menarik makna pragmatik sebagai hasil analisis akhir penelitian.2006:120). Model analisisnya. Pengumpulan data (1) Reduksi data (3) Penarikan Simpulan/verifikasi (2) Sajian data Keterangan: Pengumpulan data yang dilakukan adalah mencatat dengan rinci.112 dikomparasikan untuk mencari dan menemukan perbedaan. Selain itu. kesamaan dengan beragam rujukannya untuk simpulan yang mantap dengan melihat keterkaitannya tujuan penelitian yang telah dirumuskan yaitu untuk menemukan ciri karakteristik genre tari pasihan gaya Surakarta. Reduksi data. dan lengkap dengan kata-kata kunci. fungsi dan persepsi masyarakat. Untuk menganalisis makna pragmatik dapat dengan mengkomparasikan antarfaktor-faktor utama dari: implikatur tindak tutur verbal dan nonverbal. Sebagai gambaran model analisis interaktif (Sutopo. peneliti melakukan pengelompokan data menurut jenisnya secara terpisah berdasarkan kelompok informasinya dan merumuskan temuan jalinan dalam .

merupakan hasil pembahasan dari sajian data dan reduksi data untuk menyimpulkan makna tunggal yang menempatkan posisi setiap temuan berada pada satu kesatuan konteks. yang dikembangkan berdasarkan temuan-temuan dari setiap kelompok data dan disajikan dalam bentuk narasi lengkap dan bukan sajian bahan mentah. Penarikan simpulan/verifikasi. . Sajian data.113 kelompok dengan rumusan singkat. disusun berdasarkan kelompok data yang sudah dirumuskan (reduksi data) kemudian melakukan pengelompokan unit sajian berdasarkan kelompok rumusan masalah. Selain itu membandingkan data antarkelompok untuk menemukan kemungkinan adanya keragaman bentuk yang terkait.

114 BAB IV BAHASA VERBAL DAN NONVERBAL GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA Genre tari pasihan gaya Surakarta merupakan habitat dari jenis-jenis karya tari duet percintaan atau tari pasihan. Sedangkan aspek bahasa nonverbal meliputi: tema. tari Langen Asmara dan tari Setyaningsih. tari Endah. Bagi seniman komposit dari bahasa verbal dan nonverbal yang terdapat pada tari . tari Enggar-enggar. tari Gesang Rahayu. tari Lambangsih. rias. Pada dasarnya bentuk tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk sebagai bagian seni pertunjukan genre tari pasihan gaya Surakarta memiliki beberapa aspek di antaranya aspek sastra tembang sebagai bahasa verbal yang berupa cakepan (syair): pathetan. pola lantai. dan iringan karawitan. diharapkan mampu menjawab rumusan masalah dari kajian pragmatik bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta. polatan (ekspresi wajah). sindhenan. dan jineman. Dalam penelitian ini peneliti terfokus pada dua jenis tari pasihan. Pemilihan kedua jenis tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk. tari Kusuma Ratih. gerak tubuh (kinetic body moves). Aspek bahasa verbal dan nonverbal tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk merupakan komposisi dua komponen yang menyatu dalam bentuk seni pertunjukan. tari Driasmara. gerongan. Secara garis besar bentuk tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk banyak persamaannya. busana. tari Jayaningrat. Adapun bentuk genre tari pasihan terdiri dari tari duet percintaan. yaitu tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk. tari Kusuma Aji. yakni seperti: tari Karonsih. yang sudah barang tentu juga terdapat perbedaan namun tidak begitu signifikan. tari Bondhan Sayuk.

a. 1991). Bentuk tari Karonsih terdiri dari dua komponen pokok. peneliti hendak menggali dan mengungkap data dari infoman berdasarkan faktor objektif. yakni sastra tembang yang merupakan bahasa verbal dan elemen-elemen lain yang terkait dan menunjang dengan tari yang merupakan bahasa nonverbal. yakni: (1) pathetan: sakpada (satu . 2) adegan pertemuan.115 Karonsih dan tari Bondhan Sayuk merupakan kesatuan makna yang utuh dan berfungsi sebagai sarana komunikasi untuk hiburan dan suritauladan. ketika beliau mendapat permintaan dari keluarga Kalitan. dan afektif. Faktor Objektif I. A. Jika dicermati lebih lanjut pertunjukan tari Karonsih dapat dibagi menjadi beberapa adegan-adegan sebagai berikut: 1) adegan pencarian. Pembagian adegan di sini berdasarkan suasana-suasana yang dibangun lewat garap gendhing dan makna sastra tembang. genetik. Karya tari Karonsih merupakan hasil susunan Maridi pada awal tahun 1970. Tari Karonsih Tari Karonsih merupakan tari tradisi gaya Surakarta jenis pasangan silang jenis karakter putri luruh dengan putra alus luruh yang bertemakan percintaan Dewi Sekartaji dengan Panji Inukertapati. Teks sastra tembang yang merupakan bahasa verbal tari Karonsih. dan 3) adegan bahagia. yang merupakan klimaks dari seluruh adegan. untuk menyajikan sebuah tari yang sesuai untuk kebutuan resepsi perkawinan Ibnu Harjanto adik Tien Suharto istri mantan presiden Indonesia yang ke dua (wawancara Maridi. Bahasa Verbal. terdiri dari beberapa bait syair yang terdapat pada garap lagu. Untuk menjelaskan tentang seluk-beluk bahasa verbal dan nonverbal pada kedua jenis tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk.

(1) Teks Pathetan Wantah Sang Retnayu Dewi Sekartaji Jengkar sking kedhaton Sang Retnayu Dewi Sekartaji Jengkar sking kedhaton Angupadi mendranira ingkang garwa Inukertapati. Kinanthi Sandhung: rongpada (dua bait).. dan (4) garap gerongan Lambangsari: rong pada. O………. Dari masing-masing bait syair tembang tersebut memiliki garap lagu atau watak lagu yang berbeda-beda. (2) garap sindhenan Pangkur Ngrenas: sakpada. Bahasa verbal yang berupa tembang Jawa tersebut terurai menjadi beragam jenis tindak tutur dan beragam makna yang dikandungnya. Dahat denira muwun. Inukertapati Menangis tersedu-sedan. seperti jabaran berikut ini. Jenis – jenis Tindak Tutur (TT) yang melekat pada teks Pathetan Wantah No Narator (Nr) Teks Verbal Pathetan Wantah Jenis-jenis TT Pemarkah 1.1 Sang Retnayu Dewi Jengkar Sekartaji Jengkar sking kedhaton Nr Asertif . (3) garap sindhenan.116 bait).O………… Terjemahan: Si cantik Dewi Sekartaji Pergi dari kerajaan Si cantik Dewi Sekartaji Pergi dari kerajaan Mencari suaminya.

Tempat: perjalanan di luar kerajaan.4 Nr Dahat muwun. e. b.O…… denira Ekspresif muwun Konteks. f. c. istri yang sangat setia terhadap suami. Tujuan: seorang istri (Dewi Sekartaji) yang mencari suami (Panji Inukertapati) yang telah meninggalkan kerajaan d. .2 Sang Retnayu Dewi Jengkar Sekartaji Jengkar sking kedhaton Nr 1. Status sosial: Dewi Sekartaji sebagai seorang istri. Tema / topik: pencarian. 1.3 Angupadi mendranira Direktif Angupadi Asertif ingkang garwa Nr Inukertapati. ia merespon dengan gerak tanpa tuturan. a.. O………. ia digambarkan sebagai figur seorang wanita.117 1. Identifikasi / latar. Peserta tutur: Narator (Pn) Dewi Sekartaji (Pt). Situasi tutur: tidak formal.

Implikatur teks Pathetan adalah menggambarkan liku-liku perjalanan Dewi Sekartaji dalam mencari dan untuk menemukan Panji Inukertapati (suaminya). lumaksono. Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Pathetan Wantah dapat diungkap: a.118 g. badan nglayang (memutar) ke kiri. Maksim kualitas dipatuhi. i. b. Maksim kuantitas dilanggar. Iringan gendhing: pathetan untuk mendukung suasana sedih. Angupadi: merupakan sebuah perbuatan untuk mencari dan berupaya menemukan dengan cara dan usaha yang sungguh-sunggguh. Mendranira: adalah sebuah tindakan yang didasari dari rasa tidak puas terhadap sesuatu. dan usap kiri – usap kanan. pandangan mata mengarah ke bawah dan perubahan gerak kepala lebih pelan dan terkesan hati-hati. badan ngglebak ke kanan hadap ke depan. kaki njujut. Pola lantai: didominasi garis–garis lurus. Gerak: Dewi Sekartaji keluar dari pojok belakang kanan stage menuju tengah dengan gerak: srisik. . Implikatur. Polatan / ekspresi wajah: Dewi Sekartaji tampak sedih kepala menunduk. h. badan putar menghadap belakang srisik mundur kemudian putar menghadap depan. kengser. ridhong sampur kiri. Jengkar sking kedhaton: merupakan pernyataan perbuatan atau tindakan dari keluarga bangsawan karena terdapat suatu permasalahan yang sangat penting yang mengharuskan dan sebagai jalan terakhir untuk pergi dari kerajaan. j.

Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Pathetan Wantah. Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Isen-isen (isian) No Narator (Nr) Teks Verbal Isen-isen Jenis-jenis TT 1. janma kang Patik koncatan nyawa. 2) melakukan TT secara tidak langsung (off record). menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif. d.1 Nr Jarweng janma. Teks Sindhenan Pangkur Ngrenas. Dhuh jagad dewa bathara Welasa mring dasih kang nandhang kingkin Tinilar garwa satuhu Dadya gantilaning tyas Ulun dhahat teka aginggang sarambut Kalamun datan pinanggya Aluwung tumekeng lalis Terjemahan: Wahai Sang Hyang Dewata Kasihanilah hambamu yang baru sedih Ditinggal suami Yang menjadi buah hati Hamba tidak dapat berpisah Jika tidak dapat bertemu Lebih baik mati . gones. Maksim cara dilanggar. Maksim hubungan dipatuhi.119 c. (2).

3 Dewi Sekartaji (Pn) Tinilar garwa satuhu Asertif satuhu 2.1 Dewi Sekartaji (Pn) Dhuh jagad dewa bathara Patik Dhuh jagad 2.jenis TT yang melekat pada teks Sindhenan Pangkur Ngrenas.5 Dewi Sekartaji (Pn) Ulun dhahat teka Direktif Ulun dhahat aginggang sarambut 2.6 Dewi Sekartaji (Pn) Kalamun pinanggya datan Direktif datan 2.120 Jenis .7 Dewi Sekartaji (Pn) Aluwung tumekeng lalis Komisif Aluwung .2 Dewi Sekartaji (Pn) Welasa mring dasih kang nandhang kingkin Direktif mring dasih 2. No Penutur (Pn) Teks Verbal Sindhenan Pangkur Ngrenas Jenis – jenis TT Pemarkah 2.4 Dewi Sekartaji (Pn) Dadya gantilaning tyas Direktif dadya 2.

Peserta tutur: Dewi Sekartaji. . Implikatur. ia digambarkan sebagai figur seorang wanita. Identifikasi / latar. Status sosial: Dewi Sekartaji sebagai seorang istri. kepala menunduk. e. f. dan memohon pada Yang Kuasa agar segera dipertemukan dengan suaminya. Gerak: Sekartaji mengekspresikan lewat gerak laras sampir sampur kanan. Situasi tutur: tidak formal. g. Iringan gendhing: Ketawang Ngrenas untuk mendukung suasana sedih. Pola lantai: didominasi garis-garis lurus. Polatan / ekspresi wajah: Dewi Sekartaji tampak sedih. j. tawing kiri ingsetan. Tempat: dalam perjalanan di luar kerajaan. Tema / topik: kesetiaan. istri yang sangat setia terhadap suami.121 Konteks. c. sekar suwun. sedih. Nandhang kingkin: Gantilaning tyas: suasana sedih yang dialami seseorang. supaya kasih asmaranya dapat menyatu kembali. Tujuan: Dewi Sekartaji dalam situasi yang rindu. melindungi dan bertanggungjawab. pandangan mata mengarah ke bawah dan perubahan gerak kepala lebih pelan dan terkesan hati-hati. a. d. b. h. merupakan kekasih sebagai belahan jiwa yang diharapkan dapat sebagai tumpuan akhir yang mampu mengayomi. i. pasrah. dan lembehan separo.

2) melakukan TT secara tidak langsung (off record). . Dalam hubungan asmara dapat sebagai bukti kesetiaan. Aluwung tumekeng lalis: sebuah pernyataan yang dilandasi emosional atau ketulusan hati untuk melakukan tindakan sebagai jalan pintas untuk mengakhiri kehidupan. Sebagai bukti kesetiaan seseorang. Aluwung tumekeng lalis. b. Maksim kualitas dipatuhi. Maksim kuantitas dilanggar. Maksim hubungan dipatuhi. d. Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Sindhenan Pangkur Ngrenas. pasrah. Bukti kesetiaan yang mendalam Dewi Sekartaji terhadap suaminya. Implikatur teks Pangkur Ngrenas adalah menggambarkan Dewi Sekartaji dalam situasi rindu. tersurat dalam bentuk tuturan yang diungkapkan dengan TT: Kalamun datan pinanggya. kemudian memohon pada Yang Kuasa agar segera dipertemukan dengan suaminya. menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif. c. Maksim cara dilanggar. sehingga berharap tidak dapat putus. Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Sindhenan Pangkur Ngrenas dapat diungkap: a. sedih.122 Aginggang sarambut: merupakan pernyataan hubungan cinta kasih yang sangat erat dan lekat.

Teks Sindhenan Kinanthi Sandhung.123 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Isen-isen No 2. Adhuh yayi garwa ningsun Teka mlengos datan angkling Mara ngadhepna pun kakang Kang wus lami nandhang brangti Kadingaren yayi duka Apa kang dadi wigati Cakepan b.2 Nr Saji siswa. rama Lamun sira darbe tresno Jenis .jenis TT Patik 2. Cakepan a. Wahai istriku Mengapa berpaling tidak menghiraukan Kemari tataplah wajah kakanda Sudah lama rindu Tidak biasa adinda marah Apa persoalannya . gones Arane basa nawala Patik (3). Wus dangu pun kakang wuyung Marang yayi wanodya di Tuhu wanita utama Mustikaning para putri Muga tansah pinaringan Kanugrahan kang salami Terjemahan: Syair a.1 Narasi (Nr) Nr Teks Verbal Isen-isen Suta nendra prajane sri Bomantara Sun bathara.

2 Panji Inukertapati (Pn) Teka mlengos datan Direktif datan angkling 3.jenis TT Patik Pemarkah 3.3 Panji Inukertapati (Pn) Mara kakang ngadhepna pun Direktif mara 3. No Penutur (Pn) Teks Verbal Sindhenan Kinanthi Sandhung Adhuh ningsun yayi garwa Jenis . Sudah lama kakanda jatuh asmara Kepada adinda wanita yang cantik Engkau wanita utama Menjadi suritauladan para wanita Semoga selalu diberi Kebahagiaan selamanya Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Sindhenan Kinanthi Sandhung.124 Syair b.4 Panji Inukertapati (Pn) Kang wus lami nandhang brangti Ekspresif nandhang 3.5 Panji Inukertapati (Pn) Kadingaren yayi duka Direktif kadingaren 3.6 Panji Inukertapati (Pn) Apa kang dadi wigati Direktif apa .1 Panji Inukertapati (Pn) Adhuh 3.

7 Panji Inukertapati (Pn) Wus dangu pun kakang wuyung Ekspresif wus dangu 3. c. .10 Panji Inukertapati (Pn) Mustikaning para putri Ekspresif mustikaning 3.8 Panji Inukertapati (Pn) Marang yayi wanodya di Direktif marang 3.9 Panji Inukertapati (Pn) Tuhu wanita utama Ekspresif utama 3. Identifikasi / latar.125 3.11 Panji Inukertapati (Pn) Muga tansah pinaringan Direktif muga 3. a. Dewi Sekartaji (Pt).12 Panji Inukertapati (Pn) Kanugrahan kang salami Direktif kanugrahan Konteks. ia merespon dengan gerak tanpa tuturan. b. Tema / topik: percintaan. Tujuan: menyatukan kembali kasih asmara antara suami dengan istri yang pernah berpisah. Peserta tutur: Panji Inukertapati (Pn).

yang digambarkan jengkeng (duduk) diikuti kedua tangan memegang sampur sambil menutup raut muka pada posisi centre stage. Datang Panji dari belakang. Gerak: Sekartaji tampak putus harapan. srisik. Dewi Sekartaji sebagai seorang istri. laras genjot. besut. panggel. ngancap. istri yang sangat setia terhadap suami. Situasi tutur: tidak formal. Suasana kemesraan Sekartaji dan Panji semakin terasa yang diungkapkan lewat gerak tangkep asta. Perasaan malu juga ditampakkan oleh kedua tokoh tersebut setelah berciuman lepas . ia digambarkan sebagai figur seorang suami yang bertanggungjawab dan sangat setia terhadap istri. Panji segera memburu Sekartaji dengan gerak berdiri srisik. Suasana marah diekspresikan Sekartaji dengan berdiri enjer. Tempat: dalam perjalanan di luar kerajaan. Status sosial: Panji Inukertapati sebagai seorang suami.126 d. f. maju lumaksono. tanjak tawing kanan. ulap-ulap tangan kiri – kanan. tangan kanan nyaut dengan kebyok kemudian mundur. g. Sekartaji merasa malu kemudian melepas kedua tangan dan srisik yang segera dikejar Panji dengan srisik nyandhet tangkep asta ngaras (berciuman). Untuk meredakan kemarahan Sekartaji. ketika Panji jengkeng njawil (memegang bahu). tangan pondhongan kemudian nyaut jeblos (tukar tempat) lalu Sekartaji memberikan sampur dan segera diterima Panji. e. Panji mencoba merayunya kembali dengan lumaksono kebyokan sampur. maju. tangan kanan nyaut. tanjak kanan. ia digambarkan sebagai figur seorang wanita. dan kengser ke kanan. nyabet ukel karna kanan.

i. tangan kanan tawing. tangan kiri menthang. laku enjer saling menjauh. kengser ke kanankiri.127 kedua tangan. pandangan dan tatapan mata keduanya banyak saling berhadapan wajah. untuk mendapatkan perhatian mitra tuturnya. Mustikaning: merupakan ungkapan yang bersifat menyanjung terhadap kelebihan seseorang. pandangan muka Sekartaji selalu menghindar dari tatapan mata Panji. maju. Iringan gendhing: Ketawang Kinanthi Sandhung untuk mendukung suasana kasmaran atau bercinta. damai dan bahagia. Asmara yang dibangun Sekartaji dan Panji Inukertapati mulai menyatu. Suasana marah. . Implikatur. Kadingaren: merupakan perbuatan atau tindakan seseorang yang tidak biasa dilakukan. kanthen tangan kanan. sedangkan Panji selalu memandang Sekartaji. hal ini diekspresikan dengan bentuk-bentuk gerak selalu bergandengan tangan. saling melempar senyum sebagai tanda cinta. h. j. Implikatur teks Kinanthi Sandhung tersebut adalah: a) Dewi Sekartaji marah terhadap Panji Inukertapati. Polatan / ekspresi wajah: ketika Sekartaji tampak putus harapan. srisik melingkar. pandangan mata mengarah ke bawah. Pola lantai: didominasi garis-garis lengkung. nandhang brangti: merupakan gambaran psikologis seseorang dalam keadaan asmara. mesra. Suasana mesra. b) Panji berusaha membujuk dan merayu istrinya. akhirnya luluh hati Dewi Sekartaji. adu tangan kiri nekuk. ekspresi wajah Sekartaji dan Panji tampak cerah dan gembira. raut muka ditutup. seperti: kanthen tangan kanan.

(4). Pra wanita marsudiya marang tindak kang utama Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada Ingkang bisa nujuprana weh reseping pamicara Nora kengguh ing panggodha darbe budi kang santosa Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira Datan kemba asih tresna sung tetreming kulawarga Sampun sami setya tuhu anggenya liron asmara Karonsih pancen pranyata dadya kembang jagad raya Cakepan b. Maksim kuantitas dilanggar. Maksim cara dilanggar.128 Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Sindhenan Kinanthi Sandhung. b. Pra wanita marsudiya marang tindak kang utama Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada Ingkang bisa nujuprana weh reseping pamicara Nora kengguh ing panggodha darbe budi kang santosa Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira Datan kemba asih tresna sung tentreming kulawarga Sang pekik wah sang dyah ayu dangu samya bagyaharja Tan kendhat tansah meminta kanugrahan ing Hyang Sukma . c. Maksim hubungan dipatuhi. menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif. Maksim kualitas dipatuhi. d. Cakepan a. 2) melakukan TT secara tidak langsung (off record). Teks Gerongan Lambangsari. Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Sindhenan Kinanthi Sandhung. dapat diungkap: a.

2 Panji Inukertapati (Pn) Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada Direktif marang garwa 4.1 Panji Inukertapati (Pn) Pra wanita marsudiya Direktif marsudiya marang tindak kang utama 4. saling mencintai menuju ketetraman keluarga Sang kesatria (Panji) dan sang Dewi Sekartaji sudah lama hidup bahagia Tiada henti selalu meminta kebahagiaan kepada Yang Maha Kuasa Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Gerongan Lambangsari. No Penutur (Pn) / Petutur (Pt) Teks Verbal Gerongan Lambangsari Jenis – jenis TT Pemarkah 4. memiliki sikap yang teguh Gantian pria berilah keseimbangan sebagai pengayom dalam perkawinan Tidak acuh.129 Terjemahan: Syair a. saling mencintai menuju ketetraman keluarga Sudah saling setia dalam bercinta cinta itu adalah nilai yang universal Syair b. Para wanita supaya selalu berbuat kebajikan Selalu setia terhadap suami. memiliki sikap yang teguh Gantian pria berilah keseimbangan sebagai pengayom dalam perkawinan Tidak acuh. menjadi pasangan yang bertanggungjawab Yang bisa menarik hati membuat harmonis dalam pembicaraan Tidak tergoda. Para wanita supaya selalu berbuat kebajikan Selalu setia terhadap suami.3 Panji Inukertapati (Pn) Ingkang bisa nujuprana weh reseping pamicara Direktif ingkang bisa . menjadi pasangan yang bertanggungjawab Yang bisa menarik hati membuat harmonis dalam pembicaraan Tidak tergoda.

5 Dewi Sekartaji (Pt) Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira Direktif nimbangana 4.9 Panji Inukertapati (Pn) Pra wanita marsudiya Direktif marsudiya marang tindak kang utama 4.12 Panji Inukertapati (Pn) Nora kengguh darbe ing budi Direktif nora kengguh panggodha kang santosa 4.10 Panji Inukertapati (Pn) Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada Direktif marang garwa 4.4 Panji Inukertapati (Pn) Nora kengguh darbe ing budi Direktif nora kengguh panggodha kang santosa 4.8 Narator Karonsih pancen pranyata dadya kembang jagad raya Asertif pancen pranyata 4.130 4.11 Panji Inukertapati (Pn) Ingkang bisa nujuprana weh reseping pamicara Direktif ingkang bisa 4.13 Dewi Sekartaji Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira Direktif nimbangana .7 Narator Sampun sami setya tuhu anggenya liron asmara Asertif sampun sami 4.6 Dewi Sekartaji (Pt) Datan kemba asih tresna sung tetreming kulawarga Direktif datan kemba 4.

. Suasana kemesraan. Tujuan: membina keluarga yang bahagia antara suami dan istri. ia digambarkan sebagai figur seorang wanita.131 (Pt) 4. f. b. Status sosial: Panji Inukertapati sebagai seorang suami. c. d. Identifikasi / latar. ngore rikma.15 Narator Sang pekik wah sang dyah ayu dangu samya Asertif samya bagyaharja Datan kemba asih tresna sung tetreming kulawarga Direktif datan kemba bagyaharja 4. a. ia digambarkan sebagai figur seorang suami yang bertanggungjawab dan sangat setia terhadap istri. g. Peserta tutur: Panji Inukertapati (Pn). Dewi Sekartaji (Pt). Situasi tutur: tidak formal. luluran. istri yang sangat setia terhadap suami. seperti motif gerak: Trap jamang. Gerak: Sekartaji dan Panji gerak yang dipilih untuk mengungkapkan suasana bahagia yang tercermin dalam rasa gembira. Dewi Sekartaji sebagai seorang istri.14 Dewi Sekartaji (Pt) 4. Tempat: di kerajaan. dan alisan. e.16 Narator Tan kendhat tansah Direktif meminta meminta kanugrahan ing Hyang Sukma Konteks. Tema / topik: kebahagiaan.

pernyataan kesetiaan yang mendalam. Pola lantai: didominasi garis-garis lengkung. seperti: lilingan. srisik kanthen tangan kanan. saling bersentuhan tangan dan badan sehingga terasa sebagai puncak kemesraannya. rimong sampur. saling mendekat. h. kanthen tangan kanan ingsetan. dan diakhiri pangkon ulap-ulap tangan kiri. mereka saling memandang dengan ekspresi wajah ceria. pandangan mata searah. Iringan gendhing: Lambangsari untuk mendukung suasana riang dan gembira. lilingan. i. . Marsudiya: Setya tuhu: tuturan perintah yang bersifat santun. senyum. lumaksono encot kanthen tangan kanan. Polatan / ekspresi wajah: kedua tokoh Sekartaji maupun Panji Inukertapati tampak gembira. keduanya banyak saling berhadapan wajah. Puncak kemesraan pada adegan bahagia ini terekspresikan pada saat Sekartaji duduk dipangkuan Panji Inukertapati. kanthen tangan kiri enjeran. dan keharmonisan diungkapkan dengan motif-motif gerak. j. kebyokan sampur. Bersetuhan badan tampak pada gerak Sekartaji dipangku Panji. mesra. Motif-motif gerak tersebut dilakukan dengan irama dinamis. cerah terutama ditampilkan pada adegan ini. damai dan bahagia.132 kebersamaan. saling melempar senyum sebagai tanda cinta. Adapun sebagai penutup ladrang Sigramangsah untuk mendukung suasana semangat. saling berhadapan. dan mesra. Implikatur.

Kembang jagad raya: ungkapan pengadaian yang dimaksudkan untuk menunjukkan kehebatan. Maksim cara dilanggar. 2) Tipe seorang suami yang ideal adalah setia terhadap istri. Maksim hubungan dipatuhi. menarik. dan mampu menciptakan ketentraman keluarga. Implikatur teks Gerongan Lambangsari terdiri dari: 1) Tipe seorang istri yang ideal adalah selalu berupaya berbuat kebajikan. setia terhadap suami. Ngayomi: merupakan sebuah tanggungjawab untuk menjamin kenyamanan. Liron asmara: mempunyai pengertian saling mencintai. Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Gerongan Lambangsari.133 Nujuprana: ungkapan yang menyatakan kecocokan atas sesuatu yang menjadikannya senang. Nimbangana: sebuah permintaan yang menghendaki mitra tuturnya berlaku bijak. dan ketenaran. c. ketenangan dan kebahagiaan orang lain. . dan bertanggungjawab. Maksim kualitas dipatuhi. 3) Nilai cinta adalah sebuah nilai universal yang dapat dijadikan landasan kehidupan berumahtangga. b. d. 4) Kebagiaan dunia dan akhirat merupakan kebutuhan hidup hakiki manusia yang diupayakan secara seimbang. mengayomi. dapat diungkap: a. Maksim kuantitas dilanggar.

penonton akan dapat menangkap makna dari pertuturan secara utuh. Diharapkan dengan mencermati peristiwa demi peristiwa yang terjadi secara kronologis sejak adegan awal sampai akhir. seperti paparan berikut: NO 1 2 3 4 5 5 6 JENIS TINDAK TUTUR Tindak Tutur Direktif Tindak Tutur Ekspresif Tindak Tutur Asertif Tindak Tutur Patik Tindak Tutur Komisif Tindak Tutur Performatif Tindak Tutur Verdiktif JUMLAH 25 7 4 5 1 - Berdasarkan prinsip kerja sama bahasa verbal yang terdapat tari Karonsih. Dari penjabaran teks verbal yang terdapat dalam tari Karonsih terdapat beragam jenis tindak tutur yang dapat peneliti klasifikasikan secara kuantitatif jenis tindak tutur direktif paling dominan. banyak menggunakan kata-kata arkais dimaksudkan oleh seniman penyusun untuk mengekspresikan rasa estetik. . Maksim kualitas dipatuhi dimaksudkan oleh penutur untuk menggambarkan peristiwa yang betul-betul terjadi pada masing-masing adegan. 2) melakukan TT secara tidak langsung (off record). Maksim kuantitas dilanggar karena dalam menyampaikan tuturan seorang penutur. b.134 Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Gerongan Lambangsari. a. menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif.

suami dan istri yang 2) Melakukan tindak tutur secara tidak langsung (off record) untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa. masing-masing hendaknya memberikan kontribusi yang relevan demi terjadinya komunikasi rasa. dan pernyataannya samar. Hal ini dimaksudkan seniman penyusun untuk menunjukkan simbolisasi keharmonisan hubungan antara peran digambarkan dalam tari. pola lantai. d. busana. dan iringan.135 c. kinetic body moves. hanya menggunakan strategi: 1) Melakukan tindak tutur dengan menggunakan kesantunan positif untuk menunjukkan kedekatan. Maksim cara dilanggar karena dalam menyampaikan tuturan seorang penutur. Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada tari Karonsih tidak terpenuhi. rias. . dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur. keintiman. terlalu panjang. hal ini dimaksudkan seniman penyusun untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa. Bahasa Nonverbal Bahasa nonverbal yang merupakan elemen-elemem dari tari Karonsih terdiri dari: tema. Untuk memahami masing-masing elemen berikut secara parsial akan dipaparkan secara komprehensif. b. polatan (ekspresi wajah). Maksim hubungan dipatuhi dimaksudkan oleh penutur untuk menjaga kerja sama antara penutur dengan mitra tutur. tidak langsung.

Adapun cerita Panji ini di Kamboja dikenal Panji . hal ini didukung pendapat Poerbatjaraka: bila kita kumpulkan seluruh bahan keterangan untuk menentukan waktu timbulnya cerita Panji. di Palembang cerita Panji ini dikenal Panji (Angreni) Palembang. Cerita Panji adalah merupakan karya sastra yang sangat terkenal di Asia Tenggara terutama di Indonesia. Tema percintaan yang diangkat dari babad Panji yang mengisahkan perjalanan cinta Dewi Sekartaji dengan Panji Inukertapati merupakan alur cerita yang disajikan dalam tari Karonsih. Jaka Bluwo. 1968: 290). cerita Panji dikenal dalam cerita Andheandhe Lumut. terutama di Pulau Jawa. Dilingkungan wilayah kekuasaan kedua kerajaan Yogyakarta dan Surakarta. Jenggala. Singasari. kesimpulan satu-satunya bahwa redaksi yang pertama kali disusun pada zaman kejayaan Majapahit. Timbulnya cerita Panji dipandang sebagai suatu revolusi kesusastraan terhadap tradisi lama (Poerbatjaraka. cerita Panji ini sangat terkenal dalam sebuah garapan dramatari yang disebut Raket. di antaranya Medang.136 1. 1968: 409). Munculnya cerita Panji pada zaman kejayaan Majapahit merupakan pernyataan yang cukup kuat. Keong Emas. Siam. Kamboja. Di Indonesia terdapat banyak versi tentang cerita Panji. Sekarang cerita Panji di wilayah Jawa Timur yang merupakan sumber awal cerita tersebut dikenal dengan cerita Ragil Kuning dan Kilisuci. dan Kethek Ogleng. dan Majapahit (abad X sampai ke XVI). dan Thailand. Di Jawa Tengah. cerita Panji ini berkembang sejak Mataram pecah menjadi dua yaitu kerajaan Yogyakarta dengan sebutan Kasultanan Ngayogyakarta dan kerajaan Surakarta lebih dikenal sebagai Kasunanan Surakarta. Kediri. Di Jawa Timur pada masa kejayaan kerajaan-kerajaan. Di daerah Pasundan cerita Panji tersebut lebih dikenal dengan sebutan Lutung Kasarung atau Panji Sunda. Wilayah Bali cerita Panji banyak dikenal dengan sebutan Malat (Poerbatjaraka.

sedangkan di Thailand disebut dengan Jataka. . dan sebagai tema tari pasihan. sedangkan Dewi Sekartaji merupakan titisan dewi asmara yaitu Bathari Kamaratih. yang dapat digunakan sebagai sumber data. sedangkan Angka Wijaya atau Abimanyu merupakan peran pengganti anak dari Sekartaji atau Candrakirana). Tokoh–tokoh utama yang berperan dalam cerita Panji adalah Panji Inukertapati sebagai suami dan Dewi Sekartraji sebagai isteri. frahmen. Tersebarnya cerita Panji di Asia Tenggara. wayang Kulit maupun wayang orang (dalam lakon Bambang Semboto. cerita Panji dapat meluas karena diangkat sebagai lakon-lakon dalam: Kethoprak. wayang Gedhok.137 Kamboja. Dewi Sekartaji diperankan oleh Sembadra. Selain dalam bentuk dongeng. sedangkan Dewi Sekartaji disebut Bossaba. Versi Kamboja. Dalam versi Jawa nama Panji Inukertapati juga disebut Panji Asmarabangun atau Panji Kasatriyan. Adapun beberapa cerita secara lengkap tentang cerita Panji dapat diamati secara berturut-turut berikut ini. Rupanya cerita Panji cukup terkenal sehingga banyak versi. Di samping itu juga terdapat sebuah mitos bahwa Panji Inukertapati merupakan titisan dari dewa Asmara yaitu Bathara Kamajaya. sehingga kisah cerita maupun tokoh-tokoh yang terlibat terdapat perbedaan-perbedaan dan juga dalam bentuk naskah tulis. terutama di Indonesia penyebarannya dari mulut ke mulut dalam bentuk dongeng. Siam dan Thailand. sedangkan Dewi Sekartaji juga sering disebut Galuh Condrokirana atau Kleting Kuning atau Dewi Limaran. untuk itu perlu peneliti kemukakan beberapa tulisan yang pada akhirnya dapat dianalisis dalam rangka menentukan versi yang dijadikan sebagai tema. nama Panji Inukertapati disebutnya Eynao atau Inao. untuk Panji Inukertapati diperankan Harjuna atau Janaka. Dramatari.

yaitu raja Lembu Amiluhur dari Jenggala yang memiliki anak laki bernama Panji Kertapati dengan raja Lembu Amijaya dari Kediri yang mempunyai anak puteri bernama Candra Kirana atau Retna Galuh atau lebih sering disebut pula Sekartaji. datang seorang patih Guna Saronta membawa sepucuk surat sebagai utusan raja Bramakumara dari Makassar. Isi surat pada intinya bahwa Raja Bramakumara menantang perang dengan Panji Kertapati sebagai balas dendam atas kematian saudaranya raja dari Nusa Kencana. Keempat raja yang menduduki tahta tersebut masih bersaudara. pengaruh kekuasaannya luas oleh karena itu mereka disegani raja-raja lainnya. Daha (Kediri). terjemahan Yanto Darmono tahun 1979. tidak pernah saling bertentangan. Ngurawan.138 1. Setelah Panji Kertapati dan Candra Kirana menikah. Sebagai pangeran muda Panji Kertapati sungguh sangat perkasa dalam peperangan. dan Singasari yang sangat masyur. dipaparkan sebagai berikut. Di Tanah Jawa. jika Panji dapat dikalahkan berarti Tanah Jawa dapat dikuasainya. selain itu beliau sangat bijaksana dan romantis dalam berkeluarga. saling menjaga hubungan sehingga menjadi sangat agung dan terkenal. yaitu Jenggala. Armada perangnya sangat kuat. Pada saat rapat besar kerajaan Kediri. mereka hidup rukun. pada waktu itu terdapat empat kerajaan.a Menurut Sunan Pakubuwono IV. Dari keempat raja itu terdapat dua raja yang berbesanan. Dalam pertemuan itu pula Panji Kertapati sebagai kesatria tumpuan dari seluruh bala . Harapan raja Bramakumara. tidak lama kemudian Panji Kertapati mendirikan sebuah kota Pandhak yang letaknya diwilayah kerajaan Kediri. perkasa dan bala tentaranya besar. dalam tulisannya yang berjudul: Panji Sekar.

Panji Kertapati mendapat dukungan dari Sekartaji istrinya. yang tidak diketahui manusia terletak di tengah hutan yang sangat keramat. kelak menjadi kesatria yang sakti. Di tengah hutan Tikbrasara Panji Kertapati perang dengan prajurit sandi dari Makassar yang akhirnya dimenangkan oleh Panji. Ungkapan Candra Kirana merupakan permintaan segera (nyidam). bagi Panji itu merupakan tanggungjawab sebagai suami yang setia terhadap istri. Perjalanan untuk mencari buah ketan dilanjutkan. namun sang istri juga mengungkapkan impiannya bahwa ia disuruh dewa untuk makan buah ketan yang terdapat di taman sari di tengah hutan Tikbrasara. Panji diperintahkan untuk segera pulang karena di dalam tamansari karaton Kediri akan muncul pencuri yang sangat sakti. gagah berani dalam medan perang dan menjadi raja yang Agung di Tanah Jawa. Manfaat lainnya dari buah ketan adalah menghilangkan segala penyakit dan dapat membuat tenteram. sehingga mereka sangat kerasan bahkan lupa untuk kembali pulang. sampai di tengah hutan Panji dan pengikutnya mendapatkan sebuah tamansari di dalamnya terdapat buah ketan yang digambarkan bagaikan surga. Taman sari tersebut merupakan buatan dewa Batara Darma. Atas kehendak dewa.139 tentara kerajaan menyanggupi tantangan dan menunggu kedatangan raja Bramakumara sebagai penantang. Patih Guna Saronta dengan akal yang licik membujuk raja Bramakumara untuk masuk ke tamansari bersamanya guna mencuri Galuh Candrakirana dengan harapan . Jika dapat makan buah ketan tersebut dewa akan meluluskan semua permintaaannya terutama bayi yang di dalam kandungan Sekartaji akan keluar anak lakilaki yang rupawan. untuk itu ia bergegas untuk mencari ke hutan yang diikuti oleh Bancak dan Dhoyok.

140 mengurangi kekuatan Panji secara perlahan-lahan.b Cerita Panji dalam perbandingan (Poerbatjaraka. Kehadiran dan permintaan Bramakumara tetap ditolak. Bala tentara dari Makassar yang dipimpin raja-raja bawahan segera menyerang Kediri. Sekartaji dicuri seorang Brahmana untuk dikawinkan dengan anaknya bernama Klana. Rasa takut yang semakin mencekam menghinggapi Galuh Candrakirana. Panji yang dengan ilmu siluman sejak awal tengah dekat dengan Galuh Istrinya segera bertindak dan menghajar Bramakumara dan Guna Saronta yang akhirnya Panji menang. Rupanya dewa meluluskan permohonan sang dewi. Brahmana dari negeri seberang yang merasa memiliki tanggungjawab sebagai orang tua yang hendak meluluskan permintaan anaknya yaitu Kalana untuk kawin dengan sang Dewi Sekartaji.1968: 100-104) cerita Panji dalam Serat Kanda dikisahkan sebagai berikut. Pada malam yang sangat gelap Guna Saronta dan Bramakumara masuk tamansari dengan ajian yang membuat semua orang di dalamnya tertidur. Keberangkatan Brahmana secara sendirian untuk menculik sang puteri disadari bahwa ia mengetahui pula bahwa Panji sebagai calon suami Sekartaji adalah seorang pahlawan yang tidak dapat ditaklukkan karena penjelmaan dewa yang lebih sakti dari pada anaknya. kemudian dalam benaknya berharap segera Panji suaminya segera dapat menolongnya. Ketika Panji putra raja Jenggala hendak dikawinkan dengan putri raja Daha (Kediri) yaitu Sekartaji terjadi penculikan di tamansari Kediri. Galuh Candrakirana lebih baik memilih bunuh diri. namun dapat dikalahkan oleh bala tentara Panji. 1. iapun bergegas menuju Kediri. ketika Bramakumara hendak memaksa Galuh. bahkan jika raja Makassar hendak memaksa. Galuh Candrakirana tidak bisa tidur datanglah Guna Saronta dan Bramakumara yang berusaha merayu agar Galuh bersedia menjadi prameswari. .

Di tengah-tengah masyarakat Jawa. Adapun ringkasan ceritanya sebagai berikut. atas kehendak ke dua orang tua mereka. Sesudah mendapatkan kemenangan raja Jenggala mengundurkan diri untuk menjadi seorang begawan dan mengangkat Panji sebagai pengganti raja di Jenggala dengan nama Dewakusuma yang didampingi Sekartaji sebagai prameswari serta para isteri selirnya. Brahmana masuk tamansari Kediri dan menculiknya Sekartaji yang segera dibawa pulang ke Talkanda yakni tempat kediamannya sendiri karena ia terpesona kecantikan sang puteri. ia memaksa dan hendak memperkosanya namun sang puteri tetap menolak dan akhirnya melarikan diri ke hutan. Setelah beberapa hari berlangsungnya pesta perkawinan. sedangkan Panji bersama Sekartaji kembali ke kerajaan. Panji dan Sekartaji dikawinkan dengan pesta secara besarbesaran. bukan untuk anaknya raja Kelana di Pulo Kencana. Kepala Brahmana dapat dipenggal oleh Panji yang selanjutnya dikirimkan kepada raja Kelana di Pulo Kencana yang disertai sepucuk surat tantangan perang. 1. raja Kalana beserta prajuritnya menyerang Jenggala. kemudian terjadi peperangan sangat dahsyat yang masing-masing saling mengeluarkan kekuatan-kekuatan gaibnya.141 Pada malam tiba. Pengejaran Brahmana terhenti karena dihadang Panji. Brahmana rupanya sangat bernafsu melihat Sekartaji. Di sebuah desa terdapat seorang janda mempunyai tujuh anak yang . Andheandhe Lumut merupakan salah satu dongeng yang sangat dikenal yang tidak lain adalah menceriterakan tentang perjalanan hidup sepasang suami-istri yakni Panji Inukertapati dengan Sekartaji atau sering desebut Galuh Candrakirana. Peperangan berakhir kekalahan dipihak kerajaan Pulo Kencana dan raja Kelana mati terbunuh oleh Panji.c Cerita Panji dalam dongeng. Sekembalinya sepasang kekasih putra-putri kerajaan tersebut.

yang tidak lain adalah Candrakirana yang menyamar untuk mencari Panji suaminya. seperti Kleting Abang. ia disuruh untuk membersihkan periuk yang sangat kotor agar menjadi seperti baru lagi ke sungai yang jauh dari rumahnya. Permintaan Yuyukangkang disanggupi. Anak yang paling bungsu rupanya sangat buruk bernama Kleting Kuning. namun tak seorangpun dapat dijumpai kemudian muncul Yuyukakang yaitu makhuk berbadan manusia berkepala kepiting raksasa yang merupakan penjilmaan dari Prabu Kelana dari negeri Sabrang yang telah lama jatuh cinta dan hendak memperistri Galuh Candrakirana. tetapi yang diminta adalah ciuman.142 masing-masing anak dengan nama panggilan depan Kleting dan nama berikutnya mengambil sebutan jenis warna. Yuyukangkang bersedia menyeberangkan dan meminta upah bukan uang atau benda lainnya. Ketika keenam saudaranya hendak mengadu cinta terhadap seorang pemuda tampan Andhe-andhe Lumut putra seorang janda Dadapan. Perlakuan ibunya terhadap Kleting Kuning sangat dibedakan dengan keenam Kleting saudaranya. selanjutnya satu-persatu Kleting diseberangkan. Enam Kleting tidak satupun yang diterima menjadi kekasih Andheandhe Lumut. mereka ditolak semua dengan alasan telah menjadi sisa dari Yuyukangkang. mereka diberi pakaian yang bagus dan wangi-wangian agar salah satu darinya dapat memikat hati pemuda dimaksud dan menjadi isterinya. jika saudaranya banyak dimanja namun Kleting Kuning lebih banyak disuruh bekerja keras dan sangat dibenci. Kleting Ijo. ketika ke enam saudaranya berangkat ke desa Dadapan. Harapan . Di tengah perjalanan menuju desa Dadapan para Kleting hendak menyeberang sungai. Kebencian ibunya terhadap Kleting Kuning tiba pada puncaknya. dan sebagainya.

ia bersemadi memohon pada dewa agar diberi kemudahan untuk membersihkan periuk yang dibawanya. kemudian permintaan Yuyukangkang disanggupi dan ia diseberangkan. Yuyukangkang menjelma menjadi Prabu Kelana. Di tepi penyeberangan Kleting Kuning hanya bertemu Yuyukangkang dan minta tolong untuk diseberangkan seperti kakaknya yang lebih dulu berangkat. Setelah pulang Kleting Kuning tinggal menjumpai ibunya yang memberitau bahwa kakaknya semua berangkat melamar Andhe-andhe Lumut ke desa Dadapan. Kleting Kuning dapat membersihkan periuk menjadi mengkilap bahkan dapat bersinar dan diberi senjata Sada Lanang (seutas lidi) yang sakti. Sekembalinya dari Dadapan enam Kleting yang jengkel hatinya karena ditolak cintanya. Permintaan Kleting Kuning ditolak Yuyukangkang bahkan diusirnya untuk segera kembali pulang. Rupanya keteguhan dan kesabaran Kleting Kuning membawa hikmah. senjata Sada Lanang dipukulkan ke sungai yang seketika itu airnya menjadi kering dan Yuyukangkang jatuh tidak berdaya. Kleting Kuning marah. Keberangkatan Kleting Kuning menyusul Kleting lainnya rupanya tidak dikehendaki ibunya. maka sebelum berangkat ia hanya boleh memakai pakaian seadanya dan mukanya dibedaki seperti badut serta diberi bau-bauan yang busuk supaya tidak diterima Andhe-andhe Lumut. Atas kuasa dewa. ia merasa gagal tidak dapat bertemu Galuh Candrakirana kemudian memutuskan kembali pulang ke negeri sabrang.143 ibunya supaya Kleting Kuning tidak mengikuti kakak-kakaknya melamar Andhe-andhe Lumut. Yuyukangkang mohon Kleting Kuning supaya mengembalikan airnya segera dan berjanji akan menyeberangkan. bertemu Kleting Kuning sambil mengungkapkan kekesalannya dengan mengejek dan menghinanya dengan sindiran bahwa yang cantik-cantik saja tidak .

. Kleting Kuning mengungkapkan maksudnya yakni untuk mengadu cinta kepada Andhe-andhe Lumut. namun ditolak si janda. Andhe-andhe Lumut segera membawa Kleting Kuning masuk kamar dan menjelma menjadi Panji Inukertapati dan Sekartaji. Berdasarkan tiga versi cerita Panji dapat dirangkum secara padat dan singkat bahwa liku-liku perjalanan cinta Dewi Sekartaji dengan Panji Inukertapati merupakan gambaran percintaan yang sangat menarik dan bermakna dalam hubungannya dengan membangun kehidupan berkeluarga. Adapun bentuk garapnya hanya menyajikan dua peran utama yakni tokoh Panji Inukertapati dengan Dewi Sekartaji. Mendengar pembicaraaan itu Andhe-andhe Lumut segera menemui Kleting Kuning dan menyatakan menerimanya. Kleting Kuning dengan hati sabar terus melangkah menuju Dadapan. dan bahagia. Tema percintaan Panji Inukertapati dengan Dewi Sekartaji merupakan tema inti yang diangkat dari ketiga versi cerita Panji tersebut. Saat bertemu janda Dadapan. Rupanya kisah tersebut menjadi sebuah inspirasi yang berarti bagi pasangan manusia yang menginginkan percintaan yang ideal. namun permasalahan-permasalahan yang dihadapi dapat diselesaikan dengan baik yang akhirnya mereka dapat berhasil menikmati hidup bahagia dalam sebuah keluarga. romantis. Suka duka yang dialami masing-masing tokoh cukup berat.144 diterima apalagi yang jelek seperti badut (badut ini rias muka Kleting Kuning akibat perlakuan ibunya yang menghendaki supaya wajahnya menjadi jelek dan tidak diterima Andhe-andhe Lumut). Ibunya terkejut melihat anaknya yang tampan sudi menerima kehadiran Kleting Kuning sebagai isterinya. Mereka sangat bahagia dan segera kembali ke istana dan disambut meriah oleh bangsawan dan seluruh rakyatnya.

menjaga keutuhan dan ketentraman keluarga. Kinetic body moves atau Gerak tubuh merupakan medium utama dalam pertunjukan tari. a). Merujuk pada . Adegan pencarian mengisahkan liku-liku perjalanan Dewi Sekartaji sebagai seorang putri raja yang pergi meninggalkan kerajaan untuk berupaya mencari Panji Inukertapati suaminya. yang telah meninggalkan kerajaan. mengisahkan tentang suasana kebahagiaan yang tengah dinikmati oleh Dewi Sekartaji dengan Panji Inukertapati sebagai sebuah keluarga. c) Adegan Bahagia. mengisahkan pertemuan antara tokoh Dewi Sekartaji dengan tokoh Panji Inukertapati sebagai sepasang suami istri yang telah lama tidak bertemu. sehingga suasana rindu yang teraktualisasi dalam beberapa rasa: marah (jengkel). setia. Suasana kebahagiaan ini diungkapkan dalam bentuk komplementer dari rasa gembira. 2. dan harapan yang menjadi komitmen bersama dengan keinginan untuk berbuat kebajikan. kebersamaan. pasrah. dan kacau. Keinginan-keinginan dari masing-masing tokoh tersebut dapat dicermati pada bahasa verbal yang tersurat dan tersirat pada cakepan gerongan Lambangsari yang merupakan cita-cita yang ideal untuk mewujudkan sebuah keluarga yang bahagia. mesra merupakan esensi yang hendak diekspresikan dalam adegan dimaksud. berdoa. tegang.145 Adapun tema percintaan dari cerita Panji tersebut secara garis besar dibagi menjadi tiga adegan yaitu: adegan pencarian.merayu. serta selalu mohon barokah kepada Yang Kuasa. malu. Dalam tari Karonsih yang merupakan seni tradisi (seni yang bersumber dari istana) terdapat beragam jenis vokabuler gerak dengan karakternya masing-masing. dan adegan bahagia. b) Adegan pertemuan. mesra. Adapun untuk menyajikan adegan pencarian tersebut diungkapkan lewat suasana sedih yang implementasinya menjadi beberapa rasa: sedih. adegan pertemuan. karena tanpa kehadirannya tidak akan tersaji sebuah karya tari.

pola-pola sekarannya bersifat presentatif dan representatif. Sekar suwun. lumaksono. badan putar menghadap belakang srisik mundur kemudian putar menghadap depan. yaitu presentatif dan representatif. Peristiwa yang terjadi untuk adegan pencarian digambarkan Dewi Sekartaji keluar dari pojok belakang kanan stage menuju tengah dengan gerak: srisik. srisik yang dilakukan secara berulang ke pojok kanan depan. kembali ke pojok kiri belakang. Adapun pembagiannya dapat dicermati pada paparan berikut ini. usap kiri – usap kanan dengan iringan pathetan. ridhong sampur kiri. kaki njujut. serta pertimbangan peristiwa dan tema yang diangkat kemudian dipilih pola-pola sekaran atau vokabuler gerak yang sesuai.146 beragam rasa yang dikehendaki meningkat pada suasana-suasana yang terdapat dalam adegan pada tari Karonsih tersebut. Sedangkan suasana ketegangan. kengser. Adegan pencarian merupakan adegan pertama yang mengawali dari seluruh rangkaian seluruh adegan secara utuh. badan ngglebak ke kanan hadap ke depan. suasana berdoa. sedih. diungkapkan lewat gerak: kengseran. kemudian srisik ke pojok belakang kanan dan dilanjutkan srisik menuju ke center stage. tawing kiri ingsetan. kekacauan. Adapun bentuk-bentuk vokabuler yang terdapat pada masing-masing adegan secara garis besar. Bentuk gerak pada adegan I pencarian secara garis besar dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis gerak. .dan Lembehan separo dengan iringan ketawang Ngrenas. badan nglayang (memutar) ke kiri. dan pasrah yang menyelimuti Sekartaji diekspresikan lewat gerak Laras Sampir sampur kanan. Di tengah-tengah pencarian Panji. badan berputar turun menjadi jengkeng dengan iringan Gangsaran nada 2 slendro yang berubah menjadi gangsaran nada 1 pelog. yang berubah menjadi tenang setelah Sekartaji dapat bertemu Panji.

147 Adegan Nama Tokoh Jenis Gerak Keterangan Representatif No I. Kedua tangan trap cetik miwir sampur Distilisasi gerak orang lari. Kedua tangan trap cetik nyempurit membuka. tangan kiri trap cetik. 5 Srisik kipat sampur. tangan kanan trap wadana miwir sampur Distilisasi gerak orang lari dengan cara mundur. Posisi kedua tangan ditekuk di depan pinggang dengan membawa sampur (selendang) Distilisasi gerak orang lari. Pindah tempat dengan cara lari kecil yang posisi kedua tangan ditekuk pingggang di depan setinggi 2 Srisik (tangan nekuk). Posisi kedua tangan menthang sampur kedua tangan lurus membuka ke samping dengan membawa . Posisi kedua tangan ditekuk di depan pinggang dengan jari-jari 3 Srisik (tangan nekuk). 4 Srisik (tangan nekuk) dengan mundur. Pencarian. Dewi Sekartaji 1 Srisik (tangan nekuk). tangan trap cetik yang kiri nyempurit dan kanannya nyekithing Distilisasi gerak orang lari. kecuali jari jempol ditekuk. Distilisasi gerak orang lari. sedangkan tangan kanan ditekuk di depan mulut dan keduanya membawa sampur. Tangan kiri ditekuk di depan pinggang.

Posisi tangan kanan lurus ke samping sejajar pinggang. membawa sampur. tangan kanan ditekuk di depan telinga kiri dan keduanya membawa sampur. 8 Lumaksono. 10 tawing kiri Distilisasi gerak orang melihat ke samping kiri. menthang sampur Distilisasi gerak orang sedang jalan. 9 Enjer Distilisasi gerak orang jalan ke samping. tangan kiri menthang dan tangan kanan trap karna miwir sampur 7 Srisik kipat sampur.148 sampur. tangan kanan ditekuk bagian di kanan depan dan pinggang keduanya Distilisasi gerak orang lari. Posisi Tangan kiri menthang dan tangan kanan trap cetik miwir sampur tangan kiri lurus ke samping sejajar pinggang. Posisi tangan kiri lurus ke samping sejajar pinggang. tangan kiri ditekuk di depan pinggang bagian kiri dan keduanya membawa sampur. Distilisasi gerak orang lari. . 6 Srisik kipat sampur.

2 Nglayang kesan berat Kaki badan merendah. namun tetap menempel lantai. kanan sampur kiri yang tangan membawa sambil mengusap leher ke kanan 5 Sampir kesan sedih Sampur dililitkan . 3 Njujut glebakan kesan liku berliku. Dewi Sekartaji 1 Kengser kesan menjauh. Pindah tempat cara kedua merupakan gerak dengan penghubung menggeser kakinya.Hadap badan yang bergantian diikuti dan kedua kaki serta naik-turun naik-turun tangan secara bergantian 4 Ridhong ulap sampur kesan sedih Sampur melilit pada tangan ditekuk. miring lalu maju pada digerakkan melengkung.149 Adegan Nama Tokoh Jenis Gerak Ekspresi Presentatif Keterangan No I Pencarian.

kengser leyekan. tangan kanan mengayun ke atas dan ke bawah. 7 sindhet gerak penghubung Kaki kiri di tekuk dibelakang kanan kaki lurus. berulang dibarengi kedua dibarengi tangan kiri ditekuk.150 sampur laras pada pundak. tangan kiri trap cetik. tangan kanan lurus lalu di tekuk dilakukan dan bergesernya kaki (ingsetan). putar badan bersama kedua tangan diputar kesan liku berliku- . tangan kanan seblak sampur. 8 Kembang pepe. 6 Sekar suwun kesan sedih Tangan kiri trap dahi.

. Panji mencoba merayunya kembali dengan lumaksono kebyokan sampur. Adapun adegan pertemuan Sekartaji dengan Panji Inukertapati digambarkan seperti berikut. tangan pondhongan kemudian nyaut jeblos (tukar tempat) lalu Sekartaji memberikan sampur dan segera diterima Panji. segera Panji mencoba untuk merayunya lalu suasana mereda muncul rasa malu yang segera berubah menjadi mesra. yang digambarkan jengkeng (duduk) diikuti kedua tangan memegang sampur sambil menutup raut muka pada posisi centre stage. dan kengser ke kanan. Suasana kemesraan Sekartaji dan Panji semakin terasa yang diungkapkan lewat gerak tangkep asta. Suasana marah diekspresikan Sekartaji dengan berdiri enjer. laras genjot. Pertemuan sepasang suami istri yang telah lama tidak berjumpa bahkan harus dilalui dengan liku-liku. tanjak kanan. Untuk meredakan kemarahan Sekartaji. tidak ditanggapi Sekartaji dengan hati gembira. maju. tangan kanan nyaut dengan kebyok kemudian mundur. Pertemuan tersebut disambut Sekartaji dengan rasa marah. Sekartaji tampak putus harapan. Setelah merasa tidak dapat menemukan Panji. srisik. besut.151 Adegan pertemuan merupakan adegan kedua yang menggambarkan pertemuan Dewi Sekartaji dengan Panji Inukertapati. Dukungan untuk mengungkapkan suasana tersebut dengan iringan ketawang Kinanthi Sandhung dengan menggunakan garap gerongan dua cakepan (bait). Sekartaji merasa malu kemudian melepas kedua tangan dan srisik yang segera dikejar Panji dengan srisik nyandhet tangkep asta ngaras (berciuman). tangan kanan nyaut. ngancap. nyabet ukel karna kanan. ketika Panji jengkeng nyathok (njawil) bahu. ulap-ulap tangan kiri – kanan. tanjak tawing kanan. panggel. Datang Panji dari belakang. maju lumaksono. Panji segera memburu Sekartaji dengan gerak berdiri srisik.

seperti: kanthen tangan kanan. Adapun jenis-jenis gerak presentatif maupun representatif yang terdapat pada adegan dua: pertemuan. tangan kanan tawing. Asmara yang dibangun Sekartaji dan Panji Inukertapati mulai menyatu. kengser ke kanan-kiri. srisik melingkar. kanthen tangan kanan. maju. hal ini diekspresikan dengan bentuk-bentuk gerak selalu bergandengan tangan. sebagai berikut. adu tangan kiri nekuk. tangan kiri menthang.152 Perasaan malu juga ditampakkan oleh kedua tokoh tersebut setelah berciuman lepas kedua tangan. dapat diklasifikasikan secara garis besar. laku enjer saling menjauh. .

153 Adegan Nama Tokoh Jenis Gerak Nama Tokoh Jenis Gerak No II. tangan kanan ditekuk di depan telinga kiri 2 enjer Distilisasi orang samping. jalan gerak ke Ulap-ulap tawing kiri Distilisasi melihat ke kiri dari orang 3 tawing kiri Distilisasi dari orang melihat Ulap-ulap tawing kanan Distilisasi dari orang melihat ke kanan Distilisasi mencubit Distilisasi berjalan dari gerak dari gerak 4 Endhan Distilisasi menghindar gerak Jengkeng. tangan kiri ditekuk depan pinggang kiri. raut muka ditutup sampur Distilisasi menangis orang Srisik kebyok sampur Representatif Keterangan 1 Distilisasi gerak lari. Pertemuan Keterangan Dewi Sekartaji Representatif Panji Inukertapati Jengkeng. tangan nyathok bahu 5 Kapyukankengser Distilisasi gerak lumaksono memberi sampur lalu . kedua tangan membawa sampur.

srisik 10 Kanthen tangan kanan.154 untuk tarik menarik 6 Srisik menthang. Tangan kiri menthang dan tangan kanan trap karna 7 Ngaras Distilisasi berciuman 8 Kanthen tangan kanan kengser Distilisasi gerak Lumaksono kebyokan sampur gerak sautan Distilisasi gerak Orang menubruk Distilisasi berjalan dari gerak Distilisasi gerak lari Srisik Distilisasi gerak lari orang bergandengan tangan kanan. srisik Distilisasi gerak pondhongan Distilisasi memondong dari gerak orang bergandengan tangan kiri sambil lari Distilisasi gerak srisik. lalu tarik menarik 9 Kanthen tangan kiri. kedua tangan ditekuk Distilisasi gerak lari orang bergandengan tangan kanan sambil lari .

155 11 Sautan jeblos Distilisasi gerak Orang menubruk Adegan Nama Tokoh Jenis Gerak Nama Tokoh Jenis Gerak II. No Pertemuan Dewi Sekartaji 1 Jengkeng. kebyokan laras 2 Nyabet ukel karno 3 4 Sindhet Sekaran golek iwak Presentatif Keterangan Panji Inukertapati kesan tenang pasrah dan besut Presentatif Keterangan Gerak penghubung kesan hati-hati genjotan kesan tenang gerak penghubung kesan tenang nyabet ngancap kesan hati-hati kesan mencari .

dan gembira.Trap jamang.156 Adegan III merupakan gambaran suasana bahagia yang tengah menyelimuti hati sepasang suami-istri yaitu Panji Inukertapati dan Dewi Sekartaji. setelah Panji Inukertapati dan Sekartaji srisik kanthen tangan kanan menuju stage depan kemudian tangan lepas mundur ke stage centre. kebersamaan. Distilisasi kedua tangan dari orang melihat ke depan Distilisasi melihat ke kiri dari orang Distilisasi dari orang . Bahagia 1 Dewi Sekartaji a. kemesraan. kedua tangan Distilisasi orang depan 3 c. yang secara bersama-sama melakukan gerak: Nama Tokoh Jenis Gerak Nama Tokoh Jenis Gerak Keterangan No III. adalah sekaran-sekaran kebar yang mempunyai rasa riang. dan keharmonisan antara Panji Inukertapati dan Sekartaji. ulap-ulap kiri melihat dari ke Representatif Panji Inukertapati Representatif Keterangan a. segar. Trap jamang. tangan kanan Distilisasi orang depan 2 b. sampur melihat dari ke b. Vokabuler gerak yang dipilih untuk mengungkapkan suasana bahagia yang tercermin dalam rasa gembira. Trap jamang. Adapun jalannya sajian gerak secara berurutan. lilingan. luluran Distilisasi dari c.

Distilisasi dari orang kedua tangan melihat ke depan .lilingan. ukel Distilisasi karno sinangga dari orang bokor melihat dengan membawa bokor di atas bahu 6 f. Distilisasi kedua tangan orang depan melihat dari ke h. srisik kanthen Distilisasi tangan kanan orang bergandengan tangan kanan gerak lari g. rimong Distilisasi sampur orang melihat dari f. trap jamang. srisik kanthen Distilisasi gerak orang lari tangan kanan bergandengan kanan tangan 8 h. kebyokan sampur Distilisasi orang melihat dari e. pacak Distilisasi gulu ingsetan melihat dari orang 7 g. lilingan. lilingan. lilingan. laku telu Distilisasi berjalan dari orang 5 e. ngore rikma Distilisasi orang rambut dari menata d. trap jamang.157 orang membersihkan kulit dengan lulur melihat 4 d.

ngalisi Distilisasi gerak orang orang duduk sambil berkaca merias cara membuat alis 13 m. enjeran gerak orang jalan ke samping sambil bergandengan tangan kiri sambil 12 l. laku telu Distilisasi orang berjalan dari i.158 9 i. alisan Distilisasi gerak lilingan Distilisasi melihat dari orang orang sedang alisan 14 n. jengkeng ngilo Distilisasi asta gerak l. ingsetan gerak j. enjeran orang samping bergandengan tangan kiri jalan gerak ke k. encot lumaksono Distilisasi kanthen gerak dari n. encot lumaksono Distilisasi dari gerak orang jalan kanthen orang jalan bergandengan . laku telu Distilisasi orang dari gerak dengan pondhongan berjalan memondong 10 j. kanthen tangan Distilisasi kiri. kanthen tangan Distilisasi kanan. kanthen tangan Distilisasi kanan bergandengan gerak orang tangan orang bergandengan tangan kanan sambil tarik menarik kanan sambil tarik menarik 11 k. kanthen tangan Distilisasi kiri.

srisik kanthen tangan kanan Distilisasi orang bergandengan tangan kanan gerak lari r. pangkon ulap. lumaksono Distilisasi dari p. srisik kanthen Distilisasi tangan kanan orang bergandengan tangan kanan gerak lari o.Distilisasi ulap tangan kiri dari q.Distilisasi ulap tangan kanan orang yang dari gerak gerak orang duduk di atas lutut.159 tangan kanan bergandengan tangan berbicara sambil tangan kanan tangan sambil berbicara 15 o. sambil melihat 18 r. srisik kanthen Distilisasi gerak orang lari tangan kanan bergandengan kanan tangan 16 p. sambil melihat diduduki lututnya. lumaksono Distilisasi dari gerak lembehan sampur kanan 17 gerak orang berjalan lembehan sampur orang berjalan kanan q. srisik kanthen tangan kanan Distilisasi gerak orang lari bergandengan kanan tangan . pangkon ulap.

dengan bersalaman kedua dengan orang temanten dan bersama temanten 21 orang tua temanten dan photo bersama photo temanten u. srisik kanthen tangan Distilisasi gerak lari u. bersalaman kedua tua dengan temanten t.160 19 s. masuk (selesai). Adegan No III. bersalaman dengan temanten 20 t. bersalaman s. bergandengan kanan masuk (selesai). orang bergandengan tangan kanan kanan. srisik kanthen tangan Distilisasi gerak orang lari tangan kanan. Bahagia 1 Tokoh Dewi Sekartaji Jenis Gerak Presentatif Keterangan Tokoh Panji Inukertapati Jenis Gerak Presentatif Keterangan kebyokan sampur Kesan berputar – ngenceng kanan putar dengan putar bercanda sambil kebyokan sampur Kesan dengan putar berputar – putar sambil bercanda .

Pencarian Dewi Sekartaji Presentatif 2 II. Jenis gerak Representatif. No Adegan Nama tokoh Jenis Gerak Jumlah vokabuler 1 I. Jenis gerak Presentatif.161 Dari paparan jenis-jenis gerak representatif dan presentatif yang terdapat pada tari Karonsih. a. Pencarian Dewi Sekartaji Representatif 2 II. Pertemuan Dewi Sekartaji Presentatif Panji Inukertapati 3 III. Bahagia Dewi Sekartaji Presentatif Panji Inukertapati 4 Jumlah total Presentatif 1 18 Presentatif 4 4 1 8 . Bahagia Dewi Sekartaji Representatif Panji Inukertapati 4 Jumlah total Representatif 21 73 Representatif 10 11 21 10 b. dapat dicermati secara kuantitatif. No Adegan Nama tokoh Jenis Gerak Jumlah vokabuler 1 I. Pertemuan Dewi Sekartaji Representatif Panji Inukertapati 3 III.

dan III I. dan menunduk.162 Jumlah persentase jenis-jenis gerak representatif dan presentatif tari Karonsih. merupakan sarana untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik terhadap sesuatu yang sedang dikomunikasikan. mengerutkan dahi. stabilitas emosional. kriminalitas. Polatan (ekspresi wajah). bibir tertutup rapat. seperti kecerdasan. No 1 2 3 4 5 Adegan I. Beberapa orang telah banyak mencoba membuktikan bahwa penampilan wajah dapat menjadi indikator yang cukup meyakinkan mengenai berbagai sifat manusia. wajah mengerut. Orang sedih dapat ditunjukkan tanpa ekspresi senyum. 19. biasanya berusaha untuk menutup wajah. 3.20 %. II. dan gertakan gigi secara bersama-sama. Selain itu ekspresi wajah dapat difungsikan . Jumlah persentase gerak presentatif = 18 : 91 X 100. Kesedihan yang mendalam dapat dicirikan meneteskan air mata. bahkan taraf kegilaan. dan III Jenis gerak representatif presentatif jumlah 73 18 91 80. Tari Karonsih. Sekarang dapat disarikan bahwa ekspresi wajah mampu memberikan kontribusi yang sangat berperan terutama untuk mengekspresikan perasaan. Ekspresi wajah atau gerak wajah bukannya wajah dalam pengertian objek yang statis. bibir bergetar. beberapa kulit wajah berwarna kemerahan. namun itu semua rupanya tidak valid. Berbeda dengan orang marah yang pada umumnya dapat dicirikan lewat tatapan mata yang kuat. Wajah sebagai alat untuk memprediksikan sifat-sifat manusia kurang memadai. II.80 % Jumlah total gerak representatif dan presentatif = 73 + 18 Jumlah persentase gerak representatif = 73 : 91 X 100.

keduanya banyak saling berhadapan wajah. kepala tegak dan pandangan mata lebih tajam disertai gerak kepala lebih tegas. Semakin jelas bahwa ekspresi wajah merupakan sarana yang cukup vital dalam berkomunikasi nonverbal. Pada adegan pencarian. baik sebagai ekspresi perasaan secara mandiri maupun membantu memperkuat pesan bahasa verbal. Berikut merupakan gambaran ekspresi wajah yang dapat dicermati pada tari pasihan lewat Polatan Sekartaji maupun Panji Inukertapati yang akan tercermin pada suasana-suasana adegan yang menggambarkan peristiwa yang tengah terjadi. Ekspresi wajah Sekartaji maupun Panji Inukertapati tampak gembira. Polatan Panji lebih terfokus pada Sekartaji. polatan lebih banyak menunduk. damai dan bahagia.163 untuk membantu memperkuat pengaruh terhadap pesan verbal. mesra. Perubahan-perubahan ekspresi wajah dalam tari pasihan. Puncak kemesraan pada adegan bahagia ini terekspresikan pada saat Sekartaji duduk dipangkuan . ketenangan ekspresi wajah lebih ditampilkan dalam rangka memperlihatkan sikap sabar untuk mendapatkan perhatian Sekartaji. demi tercapainya sebuah ekspresi dari masing-masing peran. saling melempar senyum sebagai tanda cinta. Sikap marah yang ditampilkan Sekartaji ketika bertemu awal dengan Panji. cerah terutama ditampilkan pada adegan bahagia. ekspresi wajahnya lebih banyak menunduk dan memalingkan kepala setiap dicoba untuk didekati Panji. banyak membantu memperkuat pesan bahasa verbal. Dalam seni pertunjukan khususnya pada bidang tari ekspresi wajah merupakan sarana yang cukup berperan. ketika kesedian menyelimuti Sekartaji. hal ini mengekspresikan ketegangan Sekartaji yang dapat dicermati pada peralihan adegan pencarian ke adegan pertemuan. Perubahan ekspresi mulai tampak ketika wajah Sekartaji tampak tegang.

selain bentuk dandanan yang serupa dengan wayang orang. konsep yang mendasari bahwa budaya wayang orang telah lebih dikenal masyarakat di wilayah Surakarta. pernik-pernik asesoris.164 Panji Inukertapati. mereka saling memandang dengan ekspresi wajah ceria. Begitu pula gerak-gerik wajah terpengaruh menjadi pelan. Berbeda dengan ekspresi wajah peran-peran tokoh antagonis atau lanyap atau gagah agal seperti Rahwana. lincah. Baladewa. Hal itu sangat mendorong perkembangan tari Karonsih akan lebih cepat meluas dan memasyarakat. sehingga akses untuk diterimanya dan sebaran apresiasinya tidak mengalami kendala. juga terdapat persamaan pada bahan. Kebebasan untuk bergerak lebih cepat. dan tegas. Aspek yang mempengaruhi hal tersebut adalah karakter tenang (luruh) lebih banyak dibingkai oleh dominasi gerak-gerak yang berirama pelan. Mustakaweni. Srikandi. Beberapa tokoh tersebut memiliki perubahan ekspresi wajah yang mencolok dan tampak jelas. baik dari suasana marah menjadi sedih atau sebaliknya. perubahan ekspresi wajah menjadi tampak lebih halus hampir tidak kelihatan. lincah. Terutama untuk busana. yang berkarakter jalang. . dan mesra. corak jarit (kain). sehingga seluruh gerak tubuh secara psikologis menjadi pelan. 4. senyum. corak sabuk serta jenis–jenis tatahan pada jamang irah-irahan (mahkota kepala). Warna busana lebih dominasi warna hijau. Bentuk-bentuk ekspresi wajah dalam tari pasihan yang karakternya tenang (luruh) seperti diekspresikan Sekartaji maupun Panji Inukertapati tampak tidak menyolok. emosional. Bentuk rias dan dandanan busana dalam tari Karonsih mengacu pada rias peran pada wayang orang. dan tegas sangat mempengaruhi gerak-gerik wajah untuk harmonisasi gerak seluruh tubuh untuk mencapai kualitas sebuah karakter yang tepat dan mantap.

mencakup dua bentuk utama. Secara prinsip pola lantai yang terdapat dalam tari Karonsih. sesuai dengan tokoh-tokoh sebagai pelakunya yang merupakan darah bangsawan Sekartaji dari kerajaan Jenggala dan Panji Inukertapati putra raja Kediri. Warna hijau dengan maksud warna tersebut memiliki simbolik tumbuh lebih hidup dan menjadi subur. Selain itu warna kuning emas juga menyuguhkan kesan glamor sehingga pertunjukan menjadi menarik dan mampu memikat masyarakat penonton. . Gambar: 1. kekacauan Sekartaji ketika belum dapat bertemu Panji. yaitu garis lurus dan garis lengkung. kemauan yang kuat dan tegas. Fase-fase ketegangan. Gambar: 2. Mahkota kepala yang berupa tekes panjen merupakan identitas dari bangsawan panji yang bersumber pada ceritera Babad. seperti aktualisasi adegan Sekartaji mencari Panji Inukertapati (lihat gambar: 1). Garis-garis lurus lebih banyak digunakan untuk mengungkapkan keinginan.165 coklat dan warna kuning emas. dominasi garis-garis lurus sangat kuat untuk menghantarkan pencapaian suasana tegang (lihat gambar: 2). 5. Sedangkan jarit lereng tanggung merupakan upaya mendudukan status sosial dari Panji Inukertapati dan Sekartaji sebagai putra raja. Adapun warna kuning emas memiliki kesan keagungan dan kejayaan. Pola lantai yang dibentuk dari perpindahan penari maupun jarak antarpenari merupakan salah satu unsur pendukung keberhasilan sebuah pertunjukan.

Gambar 2: pola lantai untuk sekaran trap jamang dan ulap-ulap kiri pada adegan 3.166 Garis-garis lengkung lebih difungsikan untuk mengungkapkan kesan manis. lembut. kebersamaan. Maksud yang mendasari dari kesan garis lengkung tersebut adalah kesan lembut. dan berdekatan yang kesemuanya itu dapat dicermati pada hampir seluruh sajian sekaran kebaran. . gambar: 1 gambar: 2 <<<< Gambar 1: pola lantai untuk sekaran srisik kanthen tangan pada awal kebar adegan 3. awal kemesraan kedua figur peran setelah Sekartaji luluh hatinya. manis dalam mendukung ekspresi gerak yang disajikan pada adegan bahagia terungkap kesan kegembiraan. keharmonisan sepasang peran yang ditampilkan menjadi ekspresif dan mantap. kemesraan. berjajar. Untuk adegan kebahagiaan rupanya lebih didominasi garis-garis lengkung yang berbentuk melingkar yang masing-masing tokoh pada posisi saling berhadap-hadapan. yang dalam tari ini dimaknai sebagai sarana ekspresi tentang sesuatu yang menurut bentuk dan sifatnya menunjukkan hal-hal yang manis dan lembut. Beberapa bentuk garis lengkung tersebut seperti difungsikan pada adegan pertemuan berikut ini: ketika Panji berupaya merayu terhadap Sekartaji.

Artinya bahwa rasa dalam tari akan didukung rasa yang ditimbulkan dari alunan gendhing yang secara komplemen menyatu membentuk suasana-suasana untuk mengekspresikan sebuah nilai tertentu dalam kehidupan. juga secara parsial pada masing-masing garap . Karawitan tari yang berupa repertoar gendhing-gendhing merupakan salah satu unsur yang mampu memberikan kontribusi sangat penting demi terselenggaranya sebuah pertunjukan tari. Pemilihan gendhing-gendhing dari sekian repertoar gendhing yang terdapat pada khasanah karawitan. Kejelian seorang penyusun tari tampak bahwa selain rasa musikal yang harus komplementer secara padu dengan rasa yang diungkapkan dalam tari. Iringan tari yang lazim juga disebut karawitan tari adalah gendhing-gendhing karawitan yang diaransir sedemikian rupa sehingga rasa musikal yang terbentuk dapat memenuhi kebutuhan ekspresi tari. didasarkan atas pertimbangan rasa musikal terkait dengan kecocokan suasana yang telah ditetapkan dalam tari Karonsih. 6. Karawitan tari yang berfungsi sebagai pendukung sajian tari Karonsih secara menyeluruh telah mengalami penggarapan yang cukup selektif. Gambar 4: pola lantai untuk sekaran srisik kanthen tangan pada akhir kebar adegan 3.167 Gambar: 3 gambar: 4 Gambar 3: pola lantai sekaran lilingan kebyokan dan lilingan rimong pada adegan 3.

pl. pl. pl. suling. sedih yang diekspresikan garap Pathetan Wantah Lr. suasana. terdiri dari beberapa garap lagu. 5. mengiringi adegan pencarian yang dilakukan Sekartaji terhadap Panji Inukertapati suaminya. contohnya bentuk-bentuk Pathetan dalam tari Bedhaya dan Srimpi yang menampilkan rasa agung. Teks sastra tembang yang merupakan bahasa verbal tari Karonsih. Fungsi garap Pathetan pada tari Karonsih ini sifatnya memberikan ilustrasi rasa musikal tertentu terkait dengan suasana adegannya. yakni: (1) garap pathetan (2) garap sindhenan dan (3) garap gerongan. garap Pathetan dinyanyikan secara solo oleh seorang dalang (wawancara Rusdiantara.pt.pt. dan makna tarinya. gender. Sindhenan adalah vokal putri yang menyertai karawitan (Matopangrawit. Garap sindhenan teks verbal .168 gendhing terdapat teks verbal yang berupa cakepan yang berfungsi untuk menjelaskan secara singkat dan padat tentang peristiwa yang tengah terjadi pada masing-masing adegan sehingga akan dapat tergambar secara menyeluruh tentang rasa. sl. Garap sindhenan teks verbal dalam tari Karonsih terdiri dari satu bait terdapat dalam gendhing Ketawang Pangkur Ngrenas Lr. 2008). pt. peristiwa. tema. Teks verbal Garap pathetan terdiri dari satu bait yang terdapat pada iringan pembukaan untuk adegan pertama yaitu Pathetan Wantah Lr. manyura. Berbeda yang terjadi di dunia pewayangan. dan gagah. 5.pt. berwibawa. 1967: 1). Pada awalnya garap Pathetan dalam tari dinyanyikan secara bersama oleh vokalis pria. Garap pathetan terkait dengan teks verbal ini adalah garap lagu tembang jawa yang dinyanyikan secara solo ataupun bersama dan dikomplemen dengan ricikan instrumen gamelan: rebab. 5 dan dua bait terdapat dalam gendhing Ketawang Kinanthi Sandhung Lr. Rasa semangat. dan gambang.

gagah.sl. Menurut Martopangrawit gerong adalah vokal bersama (koor) suara pria yang iramanya sama dengan karawitannya (1967: 3). Hal ini dapat dicermati pada adegan pertama yang mempresentasikan kesedian perjalanan Sekartaji dalam upaya mencari suaminya yang menggunakan garap pathetan laras pelog pathet lima dan Ketawang Pangkur Ngrenas Lr.169 adalah garap lagu tembang jawa dinyanyikan secara solo. dan manis. Fungsi garap sindhenan lebih diarahkan untuk mengekspresikan kesan feminin yang memiliki sifat halus. Jika terdapat lagu gerongan pada gendhing tersebut garap sindhenan mengikuti setelah lagu gerongan (nggandul) namun berakhir bersama. Perubahan ke laras slendro yang secara musikal memiliki nada. biasanya oleh seorang pesindhen atau vokalis wanita. Secara garis besar gendhing-gendhing dalam tari Karonsih menggunakan dua laras yaitu pelog dan slendro. Garap gerongan merupakan garap lagu tembang jawa dinyanyikan secara bersama – sama ( koor). Gendhing-gendhing yang berlaras pelog yang relatif memiliki nada-nada tinggi (tenor) rupanya kuat dan mantap untuk garap musikal yang mengungkapkan rasa sedih. 5. Dalam perkembangannya jenis garap gerongan dapat dinyanyikan oleh vokalis kelompok putra atau vokalis kelompok putri atau campuran vokalis kelompok putra dengan vokalis kelompok putri. Iringan gendhing yang menggunakan garap gerongan pada tari ini terdapat dalam gendhing Lambangsari lr. lembut.nada lebih . pt manyura yang mencakup dua bait. Fungsi garap gerongan lebih difokuskan untuk mengekspresikan kesan maskulin yang mempunyai sifat kuat. yang pengambilan suaranya menyela diantara sabetan balungan (irama ketukan nada) dan berakhir setelah sabetan balungan. yang pengambilan suara pertama dimulai tepat dengan sabetan balungan dan berakhir tepat dengan sabetan balungan. dan sigrak.pt. pl.

rasa musikal mengekspresikan suasana sedih menyatu dengan ekspresi gerak yang menggambarkan kesedihan Dewi Sekartaji. Keterpaduan yang dimaksudkan adalah menyatunya rasa musikal gendhing Ketawang Pangkur Ngrenas dengan ekspresi vokabuler gerak yang secara komplemen mengungkapkan suasana sedih yang dialami Sekartaji yang terjabar dalam beberapa rasa: sedih.pt. pt manyura. manyura pada adegan kedua hingga iringan adegan tiga yang meliputi: gendhing Lambangsari lr.170 rendah (bass) diharapkan perubahan suasana menjadi lebih terasa mencair dan terbuka. diantaranya: a. Pencarian. didukung beberapa iringan gendhing. Pengertian nyawiji di sini garap gendhing Ketawang Pangkur Ngrenas implementasinya dengan garap gerak adalah menyatu. b. gangsaran 1 pelog. Bentuk susunan iringan tari Karonsih seluruhnya dan secara urut dari adegan satu sampai adegan tiga (adegan akhir) dapat dicermati berikut ini. 5 yang merupakan iringan kedua setelah pathetan laras pelog pathet lima.pt.sl. dan gangsaran 2 slendro. pt. Adapun perubahan ke laras slendro itu diawali dari Ketawang Kinanthi Sandhung Lr. Bentuk menyatunya iringan dengan gerak. pl. kedudukannya dalam adegan pencarian ini bersifat nyawiji. Adegan : I. doa. pl. pt manyura dan ladrang Sigramangsah lr.sl. Adegan pencarian sebagai adegan pertama dalam tari Karonsih. dan pasrah. sl. 5. rasa seleh yang . dapat dicermati secara komprehensip dari beberapa elemen. Gendhing Ketawang Pangkur Ngrenas Lr. antara lain: pathetan laras pelog pathet lima. Ketawang Pangkur Ngrenas Lr. Kedudukan iringan pathetan laras pelog pathet lima pada adegan ini bersifat nglambari artinya rasa musikal yang dihasilkan dari garap pathetan laras pelog pathet lima berfungsi untuk memberikan ilustrasi terhadap suasana sedih yang dialami Dewi Sekartaji.

Pathetan Wantah Lr.c5 Jeng .kar zyx.kar sking ke - .171 terdapat pada gendhing merupakan iringan yang mendukung rasa seleh pada tari.na t zyc1 1 De .ji zyc1 1 z1x2c1 dha . pt. Kiranya tidaklah berlebihan jika gangsaran 1 pelog.Xx2c1 Sang ret . 5 ty 1 2 2 2 Xz2Xc3 Xz2c1 z1x2c3 z3x. dan gangsaran 2 Slendro mempunyai peranan cukup penting dalam menjembatani peralihan laras yang berdampak pada perubahan suasana menjadi semakin mantap. c. Gangsaran 1 pelog. Terkait dengan alur adegan kedua bentuk gangsaran tersebut merupakan fase peralihan laras dari pelog ke laras slendro. Secara urut bentuk iringan untuk adegan 1: pencarian.kar t y sking ke 1 2 yu 1 z2c3 z2c1 z1Xx2c3 Se kar . dan gangsaran 2 Slendro. pl.ct ta .x2c1 Sang ret t na yu 1 De wi Se . Implementasinya rasa musikal yang berirama 1/1 dari gangsaran mampu memberikan ilustrasi rasa tegang yang mendukung kekacauan atau ketegangan yang diekspresikan Sekartaji lewat gerak-gerak srisik yang dilakukan secara berulang-ulang dengan gerak kepala yang sedikit lebih tegas.wi z1Xx2c1 dha . pola gatra yang terdapat pada bentuk gendhing Ketawang dapat dijadikan tanda mulai bergerak ataupun berakhirnya suatu gerak pada tari. baik rasa seleh ringan maupun rasa seleh berat.ton 2 2 Jeng . merupakan iringan yang secara musikal dapat mengekspresikan suasana tegang yang kedudukannya pada adegan ini lebih bersifat nglambari.ta ji z3x. dapat dicermati paparan berikut ini.ton zyx.

Ketawang Pangkur Ngrenaswara Lr.gad de .pa .hat r t O……….172 3 A - 3 3 z1x. zyx.cy O…………. I - z2c4 z4c5 5 ker .kang z3c5 z3x.x2x1x. . 1 . .sa . .wun mu . 3 5 .wa sa . y y y de r y ni t y ra zyx1c2 mu . ..ni 1 1 ing .wa. 3 5 5 5 6 3 5 3 5 6 1 2 1 2 6 5 6 2 1 2 g1 2 1 2 1 5 z!c@ 2 n1 2 n3 5 g1 n1 g1 z@x!c^ ^ z!x#x@x#x!c@ Ti . 2 . Mu .hu .di 1 nu men . . z3x5x. 1 3 2 2 2 2 3 1 n2 2 .x5x4Xx2x1x.dra .x2x1xyct Da .ti z6x..x6c5 Dhuh ja . 2 5 .ta . 3 .wa ba . z3x2x1x2c1 We-la . 2 z3x. 3 5 5 5 p3 z5c6 1 1 2 1 2 1 3 2 z3c1 g1 . mring da-sih kang nan-dhang king-kin 2 .x2x1xyxtxrxwcq O……….tu . 1 2 1 2 1 5 1 5 .XXXx2c3 1 2 ra 3 3 3 3 ngu .x2c1 Gar .pa .wun.tha .ra . . pt. 5 Buka : 1 1 5 6 .x5x4Xx.ni-lar gar . pl. 5 p3 5 p3 .wun.x2x1x.

5 5 6 2 5 3 1 . .ra . 5 .173 .hat 2 2 z3c1 g3 gi .me – keng la Gangsaran Lr. . pt.gya 2 2 z3c1 g1 A – lu – wung tu . z5c6 1 z1XXXXXXXXXXXxX2c3 U 5 . p5 .tyas 2 n3 . . 7 .ka 1 . . 5 gan – ti 1 lan ning . 3 . z3x. z3x2x1x2c1 1 . 6 .tan pi 2 .mbut 1 2 2 1 z6x1x2c3 n1 z3c1 Ka.mun da. sl. .nang .dya . 5 5 2 5 3 6 5 z!c@ 5 g3 z3x5x.x2c1 Te .gang sa . 3 . . manyura . z3x2x1x2c1 3 .la. p6 5 5 5 z5c6 5 3 3 lun dha . 5 .x6x5c3 Da. 5 lis 1 n1 g1 p1 n1 p1 n1 p1 1 1 1 n1 n1 n1 p1 p1 p1 n1 n1 n1 p1 p1 p1 n1 n1 n1 p1 p1 p1 g1 g1 g1 Gangsaran Lr. pl. pt. 1 . . p3 . 1 a 6 2 2 6 .

. 1 . 6 .sun Wus da. . pt. 1 6 y 3 ! z.ngu pun ka-kang wu . 6 . pt. y p3 1 p. Iringan gendhing Ketawang Kinanthi Sandhung Lr.174 2 2 2 2 n2 n2 n2 n2 p2 p2 p2 p2 n2 n2 n2 n2 p2 p2 n2 p2 p2 n2 p2 p2 g2 g2 g2 g2 n2 n2 p2 p2 Adegan : II. sl. 2 2 2 . Dalam adegan dua yang mengisahkan pertemuan Dewi Sekartaji dengan Panji Inukertapati suaminya dalam suasana rindu yang teraktualisasi dalam beberapa rasa: marah (jengkel). manyura mendukung rasa kasmaran atau bercinta. Rasa musikal gendhing Ketawang Kinanthi Sandhung Lr. Pertemuan. sl. manyura merupakan satu-satunya dukungan rasa musikal yang diharapkan mampu mengekspresikan suasana rindu yang diaktualisasikan tokoh Sekartaji pertemuannya dengan Panji dalam asumsi mereka telah lama terpisah dan melalui perjalanan panjang baru dapat bertemu.yung 1 2 6 n5 2 3 5 g3 . .x!x@c# z!x@x!c6 A . .wa ning . malu.duh ya-yi gar . mesra merupakan esensi yang hendak diekspresikan dalam adegan dimaksud. manyura .c! @ 2 5 t 2 @ 3 3 e 1 ! n2 g2 nt g6 n^ @ @ @ z6x. sl. merayu. Ketawang Kinanthi Sandhung Lr. 1 . pt. 6 . 1 .

3 5 p3 -j.ma 2 . .j j j 5 .ngos da.dhang pa 3 5 ra brang pu 3 ti Kang wus la .na pun ka . Pada adegan bahagia yang disajikan sepasang suami-istri yakni Panji Inukertapati dan Sekartaji dalam suasana gembira.mi Mus . 3 .han di zj2kx1c3 kang gra wi . .ni .nu g2 da .ga la - ti mi kang sa - Adegan : III.tri n2 .ning 2 . Bentuk . Kedudukan iringan gendhing Lambangsari pada adegan ini sifatnya mungkus dan nyawiji. . 5 . .ling Ma-rang ya. 3 5 5 z5x3c563 z5x3c2 2 Ka-di-nga .j 6k 2jzX1jXXXx xj XXjx jx c2 6 zj3kx5c3 A .sah pi-na ri ngan y 1 2 p3 6 5 3 g2 3 j.c6 ! 5 ! 3 z6x!c@ n5 6 5 6 z5x3x5x5x. .tan ang .kang Tu-hu wa. mesra.175 .ren ya-yi du . .ka . . . dan harmonis menggunakan garap iringan yaitu gendhing Lambangsari laras slendro pathet manyura. . . . Bahagia.x3c2 Ma-ra nga-dhep.yi wa .ta u .ti.ka Mu-ga tan . . 2 .pa Ka .ta .jj x Xj 2 j j 1 6 y 6 gt zj6jjjkjXXXXxx!c5 x x c5jj j 2 z3XXXXXXXXXXXXXXXxX zj1xc2 zyXx1cy XXXXXXXXXXXXXXXx ztx1c2 nan .no-dya di .@# @ z!c@ 6 6z6x!c6 z5c3 Te-ka mle . 6 z.

kebersamaan. Selain itu iringan gendhing Lambangsari pada dasarnya nyawiji dengan garap geraknya. Bentuk kristalisasi dari unsur tari yang berupa vokabuler-vokabuler gerak kebar yang dinamis dan unsur karawitan yang berupa gendhing Lambangsari dengan irama sigrak. Dalam hal ini pola-pola gerak tari selalu ketat. Bentuk iringan adegan III yang berupa gendhing Lambangsari laras slendro .176 mungkus ini ditinjau dari pelaksanaan vokabuler gerak yang terdapat pada adegan tiga hampir seluruhnya menggunakan pola kendangan kebar atau ciblon yang selalu membungkus pola gerak. yaitu sejak Panji Inukertapati dan Sekartaji gerak Lumaksono. pangkon. lagu gerongan riang dan tekanan sedang. dan keharmonisan antara Panji Inukertapati dan Sekartaji dapat nyawiji. srisik menuju ke tempat duduk temanten bersalaman dengan temanten dan kedua orang tua mempelai untuk mengucapkan selamat berbahagia. Pengertian nyawiji ini mengarah pada pemersatuan dua unsur menjadi satu yaitu unsur karawitan sebagai penghasil rasa musikal dan unsur tari. Sehingga suasana bahagia yang diaktualisasikan oleh Panji Inukertapati dan Sekartaji dapat dihayati. kemesraan. Gendhing ladrang Sigramangsah disajikan dengan tabuhan keras dengan irama sedang sebagai gambaran semangat dari Sekartaji dan Panji Inukertapati untuk menyongsong kehidupan ke depan lebih semangat.ketat diikuti pola kendangan. Iringan ladrang Sigramangsah sebagai mundur beksan. Keterpaduan garap tari dan garap gendhing Lambangsari dalam rangka mengekspresikan rasa gembira. pada adegan bahagia ini adalah untuk pencapaian harmonisasi penyajian. Pada bagian akhir adegan tiga sebagai penutup iringan gendhing ladrang Sigramangsah laras slendro pathet manyura.

5 n1 z3c2 1 .da 1 j.1 3 3 1 j.1 2 2 ing . Lambangsari Lr.ta 3 3 2 2 mar .5 2 2 .ju 3 1 j.r ang 5 6 3 gar .sa 3 3 2 2 pra .3 2 5 3 ro .1 3 3 1 j.sep .tya 5 5 2 da 1 j.dha 3 5 5 3 2 2 z3c5 z5c6 6 .ya n1 z3c2 1 .ra 1 1 jz!xk@c6 pa .guh 5 6 pang .kang 6 6 weh 5 j.mba .wang 1 j.ing 5 j.ma 1 1 Pra .go .ra 5 5 3 keng .1 di 3 3 3 zj3c5 ma .dak 5 j.1 di 2 3 ta 5 j.5 ing 5 j.rang 5 j.1 2 2 1 j.mi 5 j.5 1 1 re 2 2 bi .hu 6 jz5c6 se .5 tu 5 1 1 .177 pathet manyura dan ladrang Sigramangsah laras slendro pathet manyura.wa 5 j.na 2 3 ca 5 j.wa 6 6 1 1 ni .su 6 3 jz!xk@c6 kang 5 j. manyura Irama Tanggung : 1 j.1 nu 6 3 3 . pt.5 u 2 2 ma .5 1 1 no . secara berurutan dapat dicermati paparan berikut ini. sl.3 2 2 - .1 2 2 kang se .5 2 2 tin .

6 6 1 6 5 2 3 jz#xj x x x x cj2j j6 kz!xj@c# x jjjjjjjjjjjjjjjjjjjxkjjj.trem .1 ba 6 6 3 3 lik 1 1 1 j.la - tres .5 n1 1 da .3 ku 2 2 5 j.5 1 1 5 j.ge .c3 sa .1 a 2 3 ni 2 2 .ra pri .bi nga .178 dar .1 3 3 1 j.sih 3 5 .1 2 2 1 j.ga Irama Dadi : 6 5 j.tan 5 5 3 kem .yo .ra gya 2 har 5 .be bu .ja 1 ang .ma .6 zj5jkx.ya 3 3 2 2 mring nim .nya da .di kang san - to .sa 1 j.na 5 3 2 2 z3c5 z5c6 6 sung ten .cj3jz6xl1xj6jc53 sam .ngu sa .ing (dilakukan 2 x) war .5 2 2 5 j.kik 6 1 z!XXx XXx xj@kc##z x.c@z!x x x x x@c 6 jkz6jx!cjj6j j k53 li ron ba 5 as .mi 5 j.mi wah se – tya sang dyah 6 5 tu a 2 hu yu 3 pe .pun sang 6 5 j.5 a 5 j.na 1 z3c2 1 .bang 6 3 jz!xk@c6 ra .mya 5 2 5 1 .ba 5 6 .c@z!x jjjzjx5jx jx jxxx jx jx xk.

sih pan tan 5 .gad han ing 2 ra .ta .dya kem ka .xj6xj xj c22 ck22 j jk.nu-gra hyang suks .ya xj x!cj@zkj!xc6 da .z2c3 ka .ron . manyura Irama Tanggung.ma Ladrang Sigramangsah Lr.min 3 5 zk3cj5kz5c6z x jx6xjx xj jx xjx xjx xjx xj 3 jz2xjk5c3 bang ja .dhat tan 3 j. ken .ta 2 me . sl.3 5 6 1 jk.xjyjx xj xj - cen sah 5 pra - nya . 1 1 5 6 6 6 2 5 1 1 3 2 3 p3 p5 p1 1 1 1 3 6 6 6 2 1 1 5 1 n2 n2 n3 g6 3 3 3 3 5 5 5 2 6 6 2 6 p1 p1 p3 p3 3 3 1 6 2 2 2 5 1 1 1 3 n6 n6 n6 g2 (sebanyak 5X) . pt.zj2c31 jz.179 jzk.

gangsaran 2 slendro. merayu. dan maknanya setelah Sekartaji bertemu Panji Inukertapati. sl. dan Ladrang Sigramangsah Lr. bahagia dan maknanya: 1) Dalam kehidupan rumah tangga keberadaan . pl. Pertama. sl. pt. dapat mengungkapkan suasana marah. pl. pl. malu. gendhing yang tidak menggunakan bahasa verbal terdiri dari: gangsaran 1 pelog. Komposit bahasa verbal dan nonverbal yang terdapat dalam Lambangsari Lr. manyura. selain rasa musikal yang mampu mengekspresikan suasana-suasana tertentu. manyura.180 Gendhing-gendhing iringan yang terdapat dalam tari Karonsih secara garis besar dapat dibagi menjadi dua bentuk terkait dengan bahasa verbal. pl.pt. dapat mengungkapkan suasana sedih dan maknanya menjelaskan tentang liku-liku perjalanan seorang tokoh Dewi Sekartaji yang mencari Panji Inukertapati suaminya. manyura. 5. 5. Ketawang Kinanthi Sandhung Lr. manyura dan Lambangsari Lr. mesra. jika tidak dapat bertemu. lagu dan tekanan gendhing.pt. Bentuk-bentuk gendhing yang menggunakan bahasa verbal. ia lebih baik mati. pt. Ketawang Pangkur Ngrenaswara Lr. gendhing yang menggunakan bahasa verbal terdiri dari: Pathetan Lr. pt. pt. sl. sang Dewi marah Panji berupaya untuk merayunya dan memberi perhatian. sl. dapat mengungkapkan suasana gembira. mesra. pt. Kedua. 5. Komposit bahasa verbal dan nonverbal yang terdapat dalam Pathetan Lr. dapat mengungkapkan suasana sedih. rindu.pt.pt. Komposit bahasa verbal dan bahasa nonverbal yang terdapat dalam Ketawang Kinanthi Sandhung Lr. Komplementer bahasa verbal dan nonverbal yang terdapat dalam Ketawang Pangkur Ngrenaswara Lr. 5. rupanya menjadi lebih mantap dan bermakna karena didukung kehadiran bahasa verbal yang berupa cakepan-cakepan (syair) yang menyatu dengan irama. sl. dan maknanya Dewi Sekartaji memohon kepada Dewata supaya segera dipertemukan dengan Panji Inukertapati. manyura.

manyura. dapat mengungkapkan suasana tegang. menarik. dapat dicermati berikut ini. .181 dan kebersamaan suami dan istri. Sedangkan gendhing Ladrang Sigramangsah Lr. 3) Tipe seorang suami yang ideal adalah setia terhadap istri. pt. Ketidak hadiran bahasa verbal pada bahasa nonverbal rupanya membatasi ekspresi bahasa nonverbal yang lebih mengarah pada hayatan rasa. 2) Tipe seorang istri yang ideal adalah selalu berupaya berbuat kebajikan. Dengan demikian tampak bahwa gendhing-gendhing yang tersusun untuk iringan tari Karonsih merupakan komposit bahasa verbal sastra tembang dan nonverbal gendhinggendhing karawitan untuk membangun alur adegan. dan mampu menciptakan ketentraman keluarga. dapat mengungkapkan suasana semangat. mengayomi. Bentuk gendhing yang tidak menggunakan bahasa verbal seperti gangsaran 1 pelog dan gangsaran 2 slendro. sl. dan bertanggungjawab. sebaiknya saling mengingatkan akan tugas dan tanggungjawab masing-masing yang telah disepakati. sehingga mampu mengekspresikan suasana pada masing-masing adegan dan mampu mengungkapkan makna tari Karonsih secara implisit seperti yang dimaksud seniman penyusun sebagai penutur. Bentuk komposit bahasa verbal sastra tembang dan bahasa nonverbal gendhing-gendhing iringan tersebut dapat mengungkapkan suasana dan mengungkapkan makna pada masing-masing adegan. setia terhadap suami. 4) Nilai cinta adalah sebuah nilai yang universal. Adapun bentuk komposit bahasa verbal dengan nonverbal pada tari Karonsih. 5) Kebagiaan lahir dan batin merupakan kebutuhan hidup hakiki manusia yang diupayakan secara seimbang. gagah. dan sigrak.

kanan Sang Retnayu Dewi Sekartaji Badan putar Garis V - . menthang kiri tangan nekuk tangan Garis lurus V - mencari Panji Inukertapati (suaminya). pl. kedua - Garis lurus V - Liku-liku perjalanan Dewi Sekartaji dalam tangan nekuk yang kiri nyempurit dan kanan nyekithing Jengkar kedhaton sking Kengser. pt.182 Komposit Bahasa Verbal dengan Nonverbal Tari Karonsih No Bahasa Verbal Sastra Tembang Tema. Sang Retnayu Dewi Sekartaji Rasa Semangat Srisik. 5 Keterangan 1 Pathetan Wantah Pasihan (percintaan) I. dan Rasa Vokabuler Gerak Dewi Sekartaji Bahasa Nonverbal Vokabuler Gerak Panji Inukertapati Pola lantai Iringan Hubungan Langsung Hubungan Tidak langsung Pathetan lr. Adegan. Pencarian. nyempurit.

Garis Lurus V - badan kanan. srisik lurus mundur kemudian putar depan.183 menghadap belakang. badan . ngglebak Garis lengkung Angupadi mendranira ingkang garwa Badan nglayang Posisi di tempat V - (memutar) ke kiri. menthang sampur kanan. kaki njujut. menghadap diikuti menthang sampur kanan dan tangan kiri nekuk. kiri nekuk. Jengkar kedhaton sking Lumaksono.

184 ngglebak ke kanan hadap ke depan. memutar Sindhenan Pangkur Ngrenas: Dhuh jagad dewa bathara Welasa mring dasih Rasa Laras Sampir Posisi di V - . O………. Inukertapati. usap kiri – usap kanan Garis lengkung V - 2 Ktw. Pangkur Ngrenas lr. Srisik menthang Garis lengkung Gong: ke-2 kiri. Ridhong sampur kiri.pt 5 Mundur tawing Garis lurus Gong: ke-1 kiri.O………. kengser. Dahat denira muwun.pl..

tangan nekuk trap cethik. tawing ingsetan. . pasrah. kiri Garis lengkung V situasi yang sedih. sindhet.185 kang kingkin nandhang Berdoa sampur kanan. dan memohon Ulun dhahat Teka aginggang sarambut Srisik kedua Garis lurus V pada Yang Kuasa agar segera dipertemuk Kalamun pinanggya datan Lembehan separo Posisi di tempat Rasa Aluwung lalis tumekeng Pasrah Kengser ke kanan capengan tangan kanan – kengser ke kiri capengan tangan kiri. Garis lengkung V V an dengan suaminya. tempat Dewi Sekartaji dalam Tinilar satuhu Dadya tyas garwa gantilaning Rasa Sedih Sekar suwun.

Badan kanan. seblak membalik tangan sampur. tangan ngupu Seblak. Gong: ke-4 Gong: ke-5 srisik ke pojok kiri belakang. . tangan kiri menthang tangan nekuk dan kanan Gong: ke-2 Srisik ke pojok Gong: ke-3 kanan depan.186 Gangsaran 1 Pelog Rasa Tegang Badan memutar Gong: ke-1 satu lingkaran dan diikuti berputarnya kedua nekuk tarung.

seblak Gong: ke-1 Srisik . II.187 Gangsaran 2 Slendro Badan ngglebak ke kanan.pt Manyura . Kinanthi Sandhung lr. Pertemuan. sampur. Ktw.sl. 3 Sindhenan Kinanthi Sandhung: Cakepan a. Gong: ke-2 Gong: ke-3 Badan satu memutar lingkaran ke Gong: ke-4 menghadap depan.

kebyokan Ulap-ulap tangan Posisi laras. akhirnya luluh hati Dewi Sekartaji. sambil raut lepas sampur. di dan merayu istrinya. Gong: ke-2 V - tangan memegang sampur menutup muka. Panji berusaha membujuk jengkeng. kebyok Posisi tempat garis lurus di Gong: ke-1 Sekartaji marah terhadap Panji Inukertapati. Adhuh yayi garwa ningsun Seblak sampur laras genjot.188 a. Teka mlengos datan angkling Ukel karno kanan jengkeng nyathok Garis (njawil) bahu lengkung V - Mara ngadhepna . b. kengser ke kanan. Dewi Rasa Marah jengkeng (duduk) Srisik diikuti kedua sampur. kiri – kanan dan tempat besut.

Garis lurus Gong: ke-3 V - nyabet ukel karna kanan Kang wus lami nandhang brangti Rasa Merayu mbalik. tawing V miring ke kanan srisik. kanan sampur ngglebak nyaut kanan dengan V - seblak kebyok kemudian mundur . Garis lurus tangan nyaut. kanan mbalik seblak tanjak kanan sampur kanan Kadingaren duka yayi tawing kiri lumaksono kebyokan sampur.189 pun kakang berdiri enjer berdiri srisik. maju Garis lurus Gong: ke-4 V - Apa kang wigati dadi ngembat sampur tangan kanan. mlengos ke kanan. maju lumaksono. mundur.

– lengkung kanan tangan pondhongan kemudian jeblos tempat) tangan nyaut (tukar lalu kanan memberi sampur menerima sampur Cakepan b. tanjak Garis lurus Gong: ke-5 ngancap. Wus dangu pun kakang wuyung Rasa Kemesraan putar lingkaran. tangkep asta.190 golek iwak. tangkep mundur satu memutar. srisik. kanan. endhan jeblos lalu tangan panggel. tangkep ngaras mbalik. jengkeng asta. maju sambil sambil lepas kedua Garis lengkung Gong: ke-6 V - lepas kedua tangan tangan Marang wanodya di yayi srisik. nyandhet Garis V - asta tangkep ngaras asta lengkung .

laku enjer. srisik melingkar srisik melingkar Muga tansah pinaringan berhenti. maju berhenti.kengser ke kanan. lepas (berciuman). adu kiri. tangan kanan tawing Tuhu utama wanita kanan tawing maju kanthen maju kanthen Garis lengkung Gong: ke-7 V - tangan kanan tangan kanan Mustikaning para putri kengser ke kanan. maju. adu lengkung V - tangan kiri nekuk. kanan.Garis kiri. tangan menthang. tangan kiri nekuk. maju. tangan kiri tangan kiri menthang. kanthen kanan. tangan.191 ( berciuman). kedua kedua lepas tangan. laku enjer. maju Posisi kanthen tempat di Gong: ke-8 V - tangan kanan tangan kanan .

Posisi tempat di Gong: 1.192 Kanugrahan kang salami srisik kanthen tangan kanan. Pra wanita marsudiya marang tindak kang utama Rasa Gembira ulap-ulap kiri trap jamang. kenong ke1 - V Tipe seorang istri yang adalah ideal Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada ukel karno ulap-ulap kiri Garis lengkung kenong ke2 - V selalu berupaya berbuat kebajikan. setia terhadap . lepas tangan. Lambang sari pt manyura lr. lepas tangan.sl. mundur seblak sampur. mundur seblak sampur Garis lenkung V - 4 Gerongan Lambangsari: Cakepan a. srisik kanthen tangan kanan.

mengayomi. menarik. kenong ke1 - V Tipe seorang suami yang ideal adalah setia terhadap Datan kemba asih tresna sung tetreming kulawarga rimong sampur pacak ingsetan gulu Garis lengkung kenong ke2 V - istri.193 Ingkang bisa nujuprana weh reseping pamicara luluran lembehan sampur Garis lengkung kenong ke3 V suami. dan mampu . dan bertanggung jawab trap Nora kengguh ing panggodha darbe budi kang santosa kanan sumping laku telu Garis lengkung kenong ke4 - V Rasa Mesra Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira kebyokan sampur ukel karno bokor Garis sinangga lengkung Gong: ke2.

srisik Karonsih pranyata kembang raya pancen dadya jagad tangan. kanthen srisik kanthen Garis mundur lengkung kenong ke4 V - Cinta adalah sebuah nilai yang universal. Pra wanita marsudiya marang tindak kang utama trap jamang ulap-ulap kiri tawing Posisi tempat di 3: kenong ke1 V laku telu Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada pondhongan sampur Garis lengkung kenong ke2 V - Ingkang bisa nujuprana weh reseping pamicara kanthen kanan tangan kanthen kanan tangan Garis lurus kenong ke3 V - . lepas tangan lepas tangan Gong: keCakepan b.194 menciptakan Sampun sami setya tuhu anggenya liron asmara kebyokan sampur – ngenceng kanan kebyokan sampur Garis lengkung kenong ke3 V ketentraman keluarga. mundur tangan.

ukelan Garis lengkung Gong: ke4: kenong ke1 - V Datan kemba asih tresna sung tetreming kulawarga alisan inguk-ingukan (melihat) Garis lengkung kenong ke2 V - Sang pekik wah sang dyah ayu dangu samya bagyaharja lumaksono encot kanthen tangan lumaksono encot Garis lurus kanthen tangan kenong ke3 V - .195 Nora kengguh ing panggodha darbe budi kang santosa kanthen kiri tangan kanthen kiri tangan Garis lengkung kenong ke4 V - Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira jengkeng tangan ngilo tangan (merias).

tangan. dan kanan.pt. Kebagiaan dunia akhirat Tan kendhat tansah meminta kanugrahan ing Hyang Suksma srisik tangan tangan kanthen srisik kanthen Garis kenong ke4 V merupakan kebutuhan hidup hakiki manusia yang Ldr. Sigra mangsah lr. tangan kiri lengkung kiri menthang sampur menthang sampur lumaksono lembehan sampur kanan lumaksono lembehan sampur kanan Garis lurus Gong: ke-1 pangkon ulap-ulap pangkon ulap-ulap Posisi tangan kiri tangan kanan tempat di Gong: ke-2 . manyura diupayakan secara seimbang.sl.196 Rasa bahagia.

bersalaman dengan temanten srisik kanthen tangan.a . tangan masuk (selesai).197 srisik kanthen tangan. bersalaman dengan temanten Garis lurus Gong: ke-3 bersalaman dengan bersalaman kedua dengan kedua Gong: ke-4 orang tua temanten orang tua temanten dan photo bersama dan photo bersama temanten temanten srisik kanthen tangan srisik kanthen kanan. Garis lengkung Gong: ke-5 kanan. masuk (selesai).

198

Dari komposit bahasa verbal dan nonverbal pada tari Karonsih terdapat hubungan yang bersifat langsung dan tidak langsung. Hubungan bahasa verbal dan nonverbal bersifat langsung artinya bahwa maksud bahasa verbal sesuai dengan bentuk bahasa nonverbal. Sedangkan hubungan bahasa verbal dan nonverbal bersifat tidak langsung artinya bahwa maksud bahasa verbal tidak sesuai dengan bentuk bahasa

nonverbal. Secara kuantitatif hubungan bahasa verbal dan nonverbal yang bersifat langsung tampak lebih mendominasi dibandingkan dengan yang tidak langsung. Adapun persentasenya dapat dicermati pada uraian berikut.

Tari Karonsih No Adegan Hubungan bahasa verbal dengan nonverbal 1 2 3 4 5 I, II, dan III I, II, dan III Langsung Tidak langsung 31 8 39 79,48 %, 20,52 % jumlah

Jumlah hubungan langsung dan tidak langsung = 31+ 8 Jumlah persentase hubungan langsung = 31: 39 X 100. Jumlah persentase hubungan tidak langsung = 8: 39 X 100.

2. Tari Bondhan Sayuk. Tari Bondhan Sayuk merupakan tari tradisi gaya Surakarta jenis pasangan silang jenis karakter putri dengan putra madya yang bertemakan percintaan sepasang insan manusia yang berjenis kelamin pria dan berjenis kelamin wanita. Pada dasarnya tarian ini tidak mengisahkan tokoh tertentu tetapi mengekspresikan cinta kasih sepasang suami istri secara universal terhadap anak laki-laki dan harapan-harapan serta keinginannya

199

supaya kelak menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan negara. Karya tari Bondhan Sayuk disusun oleh Sunarno pada tahun 1979. Tari ini pertama kali dipentaskan pada sebuah resepsi ritual perkawinan di gedung Bathari. Tema yang diangkat menggambarkan percintaan manusia secara universal, yang lebih mengarah pada perjalanan hidup sepasang manusia dari kalangan rakyat. Menurut Sunarno, tari Bondhan Sayuk lebih tepat untuk gambaran sepasang temanten maupun sebuah keluarga baru yang belum memiliki anak (wawancara, 2008). Gagasan awal terciptanya tari Bondhan Sayuk adalah sebuah ekspresi pribadi Sunarno yang menginginkan anak laki-laki untuk putera pertamanya. Keinginan

tersebut rupanya diridhohi oleh Sang Pencipta, anak pertama laki-laki bahkan anak kedua juga laki-laki dan anak ketiganya baru putri. Dalam perjalanan waktu tari Bondhan Sayuk sangat diminati oleh masyarakat hingga sekarang, yang pertama merupakan hiburan yang tepat dalam sebuah resepsi perkawinan dan kedua dimaknai sebagai simbolik sepasang suami dan istri yang hidup bahagia yang layak untuk diteladani sepasang temanten. Pesona yang memikat dari tari Bondhan Sayuk adalah digunakannya boneka sebagai simbolik anak yang selalu ditimang-timang dan diharapkan memberikan kekuatan magis simpatetis terhadap sepasang temanten, yaitu supaya lekas diberi anak. Jika dirunut dari bahasa verbalnya akan tampak bahwa harapan-harapan yang tersurat dan tersirat menunjukkan adanya sebuah keinginan, harapan sepasang suamiistri terhadap anak laki-laki kelak menjadi orang yang berperilaku baik dan berguna bagi masyarakat untuk membangun bangsa dan negara. Bentuk tari Bondhan Sayuk terdiri dari dua komponen pokok, yakni sastra tembang yang merupakan bahasa verbal dan

200

bahasa nonverbal yang berupa: tema, kinetic body moves, polatan (ekspresi wajah), rias, busana, pola lantai, dan iringan. Sastra tembang yang merupakan bahasa verbal tari Bondhan Sayuk, terdiri dari beberapa garap lagu, yakni: (1) garap sindhenan Mijil Sulastri: sakpupuh (satu bait), (2) garap jineman Sayuk: rong pupuh (dua bait), dan (3) garap gerongan Ladrang Sayuk: rong pupuh (dua bait). Dari masing-masing garap lagu tersebut dapat dicermati berikut ini.

a. Bahasa verbal.

(1). Teks Sindhenan Mijil Sulastri Dhuh mas rara, garwaku wong manis, Aja gawe kagal, Amung sira yekti sulistyane, Jumbuh klawan rasaningtyas mami, Binerkahan ugi, Prasetya wak-ingang.

Terjemahan:

Wahai si cantik, istriku yang manis, Jangan membuat kesal, Hanya kamulah yang benar-benar cantik, Sesuai dengan rasa yang terdapat dalam hatiku, Semoga mendapat berkah, Janji kesetiaanku.

201

Jenis –jenis TT yang melekat pada teks Sindhenan Mijil Sulastri

No

Penutur (Pn)

Bahasa Verbal : teks Sindhenan Mijil Sulastri

Jenis – jenis TT

Pemarkah

Pria (Pn) 1 Pria (Pn) 2 Pria (Pn) 3

Dhuh mas rara, garwaku wong manis, Aja gawe kagal, Direktif Amung sira yekti Ekspresif Ekspresif

wong manis

aja

sulistyane

sulistyane,

Pria (Pn)

Jumbuh

klawan

Asertif

Jumbuh

rasaningtyas mami, Pria (Pn) 4 Pria (Pn) 5 Prasetya wak-ingang. Komisif Binerkahan ugi, Direktif prasetya ugi

Konteks. Identifikasi / latar. a. Peserta tutur: Pria (Pn). Wanita (Pt), ia merespon dengan gerak tanpa tuturan.

b. Tema / topik: percintaan atau kasmaran.

202

c. Tujuan: suami menghendaki istri supaya tidak lekas marah, mengingat kasih asmara suami terhadap istri merupakan cinta yang tulus. d. Status sosial: penari pria sebagai seorang suami, ia digambarkan sebagai figur seorang suami yang bertanggungjawab dan sangat setia terhadap istri. Penari wanita sebagai seorang istri, ia digambarkan sebagai figur seorang istri yang sangat setia terhadap suami. e. Tempat: di rumah. f. Situasi tutur: tidak formal. g. Gerak: kedua penari, pria dan wanita srisik bersama, tangan kanan saling berpegangan (nyathok) dan tangan kiri lurus ke samping (menthang) menuju stage. Secara perlahan-lahan keduanya lumaksono ridhong, srisik menuju tengah stage, berhenti laku enjer menthang tangan kiri, kemudian putra besut dan putri sindhet merupakan gambaran rasa kebersamaan. Rasa kecewa diekspresikan istri lewat jengkeng, sekaran laras kebyokan, sembahan, berdiri meninggalkan suami sambil kebyokan tangan kanan-kiri kemudian suami gerak nyabet tangan kanan, besut, mendekati istri untuk merayu dengan gerak hoyogan, gajah-gajahan, songgonompo – mbalang. Rasa mesra mulai tampak ketika masing-masing peran suami dan istri saling mendekat dan berciuman dengan gerak kengser dan ngaras. Selanjutnya gerak lincak gagak bersama, suami hendak memegang istri menghindar. Suami dan istri saling mendekat, saling berpegangan tangan kemudian srisik kanthen tangan kanan sebagai gambaran awal kemesraan. h. Polatan / ekspresi wajah: ketika rasa kebersamaan masih terbina, wajah suami dan wajah istri tampak cerah dan gembira. Pada saat istri merasa kecewa

203

pandangan muka selalu menghindar dari tatapan mata suami dan pandangan mata istri banyak mengarah ke bawah. Suasana berubah menjadi semakin mesra wajah suami dan wajah istri tampak semakin cerah dan pandangan mata tampak sering saling melihat. i. Pola lantai: didominasi garis-garis lengkung. j. Iringan gendhing: Srepek Rangu-rangu dan Ketawang Mijil Sulastri untuk mendukung suasana kasmaran atau bercinta. Implikatur Kagal : Sulistyane: perasaan marah. kecantikan rupa dari seorang wanita.

Jumbuh klawan rasaningtyas: kecocokan hati yang membuat senang seseorang. Prasetya wak-ingang: ungkapan yang mengisyaratkan sebuah perjanjian tentang kesetiaan. Implikatur bahasa verbal Sindhenan Mijil Sulastri adalah ungkapan cinta yang mendalam seorang suami terhadap istrinya, dengan harapan mendapatkan perhatian demi terjalinnya kasih cinta untuk harmonisnya sebuah rumah tangga. Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Sindhenan Mijil Sulastri dapat diungkap: a. Maksim kuantitas dilanggar. b. Maksim kualitas dipatuhi. c. Maksim hubungan dipatuhi. d. Maksim cara dilanggar.

Ibunya anak laki-laki (istriku). Sakdurunge anakmu gawanen mrene. baya iki wus wanci. Asertif bapakne . Besuk menjadi anak yang pandai bekerja. Mbokne thole. Mbesuk pinter nyambut gawe. Teks Jineman Sayuk Dhuh mas jiwaku.204 Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Sindhenan Mijil Sulastri. Direktif baya iki 3 Wanita (Pn) Bapakne sithole. Sawahnya tengah menanti. Patik dhuh mas baya iki wus wanci. Sebelumnya anakmu bawalah kemari. Sawahmu tansah anganti. sekarang sudah saatnya. Ayahnya anak laki-laki (suamiku). Bapakne sithole. Tak kudange anakku sing bagus dhewe. berangkatlah bekerja. (2). Peneliti timang-timang anakku yang paling bagus. Terjemahan: Wahai belahan jiwaku. mangkat makarya. menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif. 2) melakukan TT secara tidak langsung (off record). Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Jineman Sayuk No Penutur (Pn) / Petutur (Pt) Bahasa Verbal Teks Jineman Sayuk Jenis – jenis TT Pemarkah Wanita (Pn) 1 2 Wanita (Pn) Dhuh mas jiwaku.

Ekspresif bagus 9 Pria (Pt) Mbesuk nyambut gawe. a. pinter Direktif mbesuk pinter Konteks. Peserta tutur: Wanita (Pn). Asertif mbokne 7 Pria (Pt) Sakdurunge anakmu Direktif gawanen gawanen mrene. 8 Pria (Pt) Tak kudange anakku sing bagus dhewe. Hal ini adalah untuk menunjukkan rasa kasih sayang dan kemesraan suami terhadap anak dan istri. Identifikasi / latar. b. . Kesadaran suami sebagai kepala rumah tangga menyambut kehendak istrinya dengan rasa senang untuk itu sebelum berangkat bekerja mereka saling menimang bayi sambil bersenandung secara bergantian. Tema / topik: kekudangan (menimang bayi sambil bersenandung) c. Direktif mangkat 5 Wanita (Pn) Sawahmu anganti. Pria (Pt). tansah Asertif sawahmu 6 Pria (Pt) Mbokne thole. Tujuan: istri mengingatkan akan pekerjaan suami.205 Wanita (Pn) mangkat makarya.

ia digambarkan sebagai figur seorang istri yang sangat setia terhadap suami. Istri meminta perhatian suami terhadap anak yang ditimang dengan gerak putar ke kanan. Tempat: di rumah. . lembehan tangan kanan. Istri mulai bersenandung mengingatkan pekerjaan terhadap suami dengan gerak tawing kanan sambil memandang suami sedangkan suami menyambut baik dengan gerak ukel karno kanan yang kemudian mendekati dengan gerak srisik. putar ke kiri–tangan kanan ukel karno sedangkan suami mendekat menanggapi dengan gerak panggel dan pandangan mengarah ke istri dan anaknya. Penari wanita sebagai seorang istri. tangan kiri memegang bahu istri dan tangan kanan memegang anak sambil memperhatikan dengan tawing kanan. Suami menimang anak sedangkan istrinya meledek dengan tawing kiri-tawing kanan. Situasi tutur: tidak formal. Status sosial: penari pria sebagai seorang suami. Polatan / ekspresi wajah: suami dan wajah istri tampak cerah dan gembira. suami merasa gembira dan bahagia secara perlahan-lahan mendekat. Pandangan mata suami dan istri banyak terfokus pada anak dan mereka juga sering saling berhadapan. e. ia digambarkan sebagai figur seorang suami yang bertanggungjawab dan sangat setia terhadap istri.206 d. g. h. Selanjutnya istri tawing kanan. f. Gerak: istri srisik sambil menimang anak. maju srisik mendekati suami untuk memberikan anaknya dan suami juga mendekat dengan lumaksono untuk menerimanya.

Masing-masing individu mempunyai tanggungjawab terhadap tugas dan kewajiban untuk memenuhi tuntutan kebutuhan keluarga.207 i. Implikatur bahasa verbal Jineman Sayuk mengisyaratkan bahwa dalam sebuah keluarga kebutuhan jasmani dan rohani harus seimbang. Makarya: bekerja. Dalam rangka memenuhi kebetuhan tersebut masing–masing individu yang terlibat dalam keluarga memiliki peran secara proporsional. Mbesuk pinter: sebuah harapan orang tua yang menghendaki anaknya kelak menjadi orang yang pandai. Mbokne thole: panggilan seorang ibu yang biasa untuk masyarakat pedesaan untuk menunjukkan keakraban. j. Sawahmu tansah anganti: pernyataan yang dimaksudkan tentang sebuah pekerjaan. seorang istri mempunyai peranan cukup penting dalam mendukung tugas dan kewajiban peran suami sebagai kepala . Pola lantai: didominasi garis-garis lengkung. Berdasarkan kasih cinta untuk menciptakan keharmonisan keluarga. Tak kudange: menimang bayi sambil bersenandung yang berisi tentang nasehat dan harapan-harapan orang tua terhadap anaknya. Iringan gendhing: jineman Sayuk untuk mendukung suasana kekudangan yang merepresentasikan rasa senang. Bapakne sithole: panggilan seorang ayah yang biasa untuk masyarakat pedesaan untuk menunjukkan keakraban. Implikatur Mas jiwaku: panggilan seorang kekasih.

Teks Gerongan Ladrang Sayuk Adhuh lae. labuh labet mring bangsane. . atak adhuh lae. namun juga harus disadari bahwa untuk mencukupi kebutuhan rumahtanggga diperlukan kerja keras. menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif.208 keluarga. Implikatur bahasa verbal Jineman Sayuk yaitu kegembiraan pasangan suami istri sebuah keluarga semakin mantap ketika telah diberi anak. Maksim cara dilanggar. Bekerja keras untuk bangsa. atak adhuh lae. c. 2) melakukan TT secara tidak langsung (off record). atak adhuh lae. Adhuh lae. Adhuh lae. Adhuh lae. Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Jineman Sayuk. (3). atak adhuh lae. cukat trampil tumandange. Istriku. Adhuh lae. b. anteng tajem polatane. Terjemahan: Memang baik karakternya. Maksim kualitas dipatuhi. Adhuh lae. Lincah. atak adhuh lae. sesongaran disingkirke. Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Jineman Sayuk dapat diungkap: a. dasar bregas ten atene. Maksim kuantitas dilanggar. wis mbokne enyoh anake sun arsa mangkat megawe. peneliti akan berangkat bekerja. Kesombongannya dihilangkan. Tenang fokus pandangannya. bawalah anakmu sekarang. Tindakannya tidak boleh menyeleweng. Adhuh lae. trampil dalam bekerja. Maksim hubungan dipatuhi. ora nyleweng tumindake. atak adhuh lae. d. atak adhuh lae.

labuh labet mring bangsane. disingkirke. Direktif enyoh anake .209 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Gerongan Ladrang Sayuk No Penutur (Pn) 1 Bahasa Verbal : Teks Gerongan Ladrang Sayuk Jenis –jenis TT bregas Ekspresif Pemarkah Pria (Pn) Adhuh lae. atak adhuh lae. 4 Pria (Pn) Adhuh lae. ora nyleweng Direktif ora nyleweng Direktif Labet mring sesongaran Direktif disingkirke tumindake. wis mbokne enyoh anake sun arsa mangkat megawe. atak adhuh lae. atak adhuh lae. atak adhuh lae. anteng tajem Ekspresif anteng tajem polatane. atak adhuh lae. dasar bregas ten atene. 2 Pria (Pn) Adhuh lae. 3 Pria (Pn) Adhuh lae. atak adhuh lae. 6 Pria (Pn) Adhuh lae. cukat trampil Ekspresif Cukat trampil tumandange. 7 Pria (Pn) Adhuh lae. atak adhuh lae. 5 Pria (Pn) Adhuh lae.

Penari wanita sebagai seorang istri. Situasi tutur: tidak formal. ia digambarkan sebagai figur seorang suami yang bertanggungjawab dan sangat setia terhadap istri.210 Konteks. Setelah istri menimang anak beberapa saat. ia merespon dengan gerak tanpa tuturan. Tujuan: suami mengharapkan supaya anak yang masih dalam timangan tersebut kelak menjadi orang yang berperilaku baik dan berguna bagi masyarakat lingkungannya. d. Tema / topik: kekudangan (menimang bayi sambil bersenandung) c. Anak diberikan istri sedangkan suami meledeknya dengan ogekan. e. f. ia digambarkan sebagai figur seorang istri yang sangat setia terhadap suami. Gerak: diawali suami menimang-nimang anak dengan lumaksono yang diikuti istri lumaksono lembehan sampur dan kawilan. g. Peserta tutur: Pria (Pn). kemudian anak diberikan kepada temanten putri dengan srisik. Hal ini untuk menunjukkan rasa kasih sayang orang tua terhadap anak dan istrinya. Status sosial: penari pria sebagai seorang suami. suami gerak lumaksono sambil menanti kedatangan istri. Wanita (Pt). a. tangan kanan menthang sampur dan lilingan. . b. Tempat: di rumah. Identifikasi / latar.

Iringan gendhing: Ladrang Sayuk untuk mendukung suasana kekudangan yang merepresentasikan rasa senang. kerja keras. yang biasanya untuk dihindari. j. mengisyaratkan tentang beberapa harapan orang tua terhadap seorang yang berperilaku baik mengutamakan kebajikan. ungkapan tentang keramahan dan kehalusan perangai seseorang yang diamati dari ekspresi wajah. Polatan / ekspresi wajah: suami dan wajah istri tampak cerah dan gembira. i. Labuh labet mring bangsane: sebuah ungkapan yang berusaha mengedepankan kepentingan umum. Implikatur Bregas ten atene: Cukat trampil: Anteng tajem: ungkapan tentang sikap dan perilaku yang baik. Pola lantai: didominasi garis-garis lengkung. Sesongaran: sikap sombong. gembira.211 h. Implikatur bahasa verbal Gerongan Ladrang Sayuk. pernyataan tentang kelincahan dan ketrampilan dalam bekerja. Pandangan mata suami dan istri banyak terfokus pada anak dan mereka juga sering saling berhadapan. yaitu tanggungjawab sebagai orang tua dalam mempersiapkan . Implikatur bahasa verbal Gerongan Ladrang Sayuk pada tari Tari Bondhan Sayuk. dan bahagia. Ora nyleweng : berperilaku baik dengan menghindari hal-hal yang mengarah pada perbuatan atau tindakan yang melanggar norma atau aturan yang berlaku. dan mengutamakan kepentingan umum untuk membangun bangsa.

d. sakancane. Maksim kuantitas dilanggar. . sakabehe. Teks Gerongan Lancaran Sayuk Sayuk. sayuk. sayuk. Sayuk mbangun negarane. Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Gerongan Ladrang Sayuk dapat diungkap: a. Sayuk. Sayuk. sayuk. 2) melakukan TT secara tidak langsung (off record). nyambut gawe.212 pendidikan anak sebagai generasi penerus yang memiliki kepribadian baik. Kebersamaan semuanya. menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif. sayuk. Kebersamaan dalam membangun negara. sayuk. c. berwawasan luas sehingga berguna bagi kehidupan sosial masyarakat. sayuk. Maksim cara dilanggar. (4). Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Gerongan Ladrang Sayuk. Maksim hubungan dilanggar. Kebersamaan dalam bekerja. Terjemahan: Kebersamaan dengan teman. Maksim kualitas dilanggar. b.

Pria . Direktif sayuk nyambut gawe 3 Nr Sayuk. sayuk. sayuk. b. a. nyambut gawe. sayuk. Tema / topik: makarya (bekerja). Direktif sayuk sakancane 2 Nr Sayuk. Direktif sayuk sakabehe 4 Nr Sayuk negarane. Peserta tutur: Narator. ia merespon dengan gerak tanpa tuturan. Identifikasi / latar. ia merespon dengan gerak tanpa tuturan. sakabehe. sayuk. sakancane. sayuk. mbangun Direktif sayuk mbangun Konteks. sayuk.213 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Gerongan Lancaran Sayuk No Narator (Nr) Bahasa Verbal : Teks Gerongan Lancaran Sayuk Jenis – jenis TT Pemarkah 1 Nr Sayuk. . Wanita .

Pola lantai: didominasi garis-garis lengkung. Polatan / ekspresi wajah: suami dan wajah istri tampak cerah dan gembira. Status sosial: penari pria sebagai seorang suami. d. i. enjer ridhong muter. Sebagai penutup sepasang suami istri saling mendekat bergandengan tangan kemudian srisik kanthen tangan kanan menuju tempat duduk temanten mengambil boneka anak. dan enjer muter. tawing kiri. Situasi tutur: tidak formal. e. Tujuan: suami maupun istri saling mengajak dan memberi dorongan semangat untuk bekerja secara bersama-sama dalam menyelesaikan pekerjaan dengan suasana gembira. Penari wanita sebagai seorang istri. ia digambarkan sebagai figur seorang suami yang bertanggungjawab dan sangat setia terhadap istri. lilingan kebyok sampur dan enjer muter. gerak yang dipilih antara pasangan suami dan istri berupa sekaran-sekaran yang dapat diekspresikan secara dinamis untuk menimbulkan kesan semangat dalam keadaan riang dan gembira.214 c. Arah Pandangan mata suami dan istri saling menatap. . g. berhadapan dan didukung dengan saling melempar senyuman sehingga tampak gembira dan bahagia. lilingan kebyok sampur. ia digambarkan sebagai figur seorang istri yang sangat setia terhadap suami. Wujud Kinetic body moves yang dipilih untuk istri sekaran luluran. f. h. Sekaran untuk ekspresi peran suami terdiri dari: laku telu pondhongan. Gerak: pada implementasinya. Tempat: di luar rumah.

c. seluruhnya dalam berbagai kegiatan. Maksim hubungan dilanggar. harmonis. dan bahagia. Maksim kuantitas dilanggar. Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Gerongan Lancaran Sayuk dapat diungkap: a. Implikatur Sayuk : sebuah ajakan dalam bekerja untuk bersama-sama dengan dorongan semangat. Implikatur bahasa verbal Gerongan Lancaran Sayuk pada tari Tari Bondhan Sayuk adalah gambaran kehidupan sebuah keluarga yang rukun. damai. Iringan gendhing: Lancaran Sayuk dengan irama dinamis untuk mendukung suasana kekudangan yang merepresentasikan rasa riang. . Maksim kualitas dilanggar. Kebahagiaan sebuah keluarga yang dilandasi rasa cinta akan memberikan spirit yang kuat dalam berbagai aktifitas dalam aktualisasi publik.215 j. gembira. dan berupaya menjalani kehidupan secara bersamasama. Sakancane: Nyambut gawe: Sakabehe: bersama-sama dengan teman. b. bekerja.

Sedangkan . Dari penjabaran bahasa verbal yang terdapat dalam tari Bondhan Sayuk terdapat beragam jenis tindak tutur yang dapat peneliti klasifikasikan secara kuantitatif sebagai berikut: NO 1 2 3 4 5 6 7 JENIS TINDAK TUTUR Tindak Tutur Direktif Tindak Tutur Ekspresif Tindak Tutur Asertif Tindak Tutur Komisif Tindak Tutur Patik Tindak Tutur Performatif Tindak Tutur Verdiktif JUMLAH 14 6 4 1 1 - Berdasarkan prinsip kerja sama bahasa verbal yang terdapat tari Bondhan Sayuk: a. Maksim kualitas yang dilanggar dimaksudkan oleh penutur bahwa tuturan yang berupa tembang dimanfaatkan untuk mengekspresikan rasa lagu. Maksim kuantitas dilanggar karena dalam menyampaikan tuturan seorang penutur.216 d. banyak menggunakan kata-kata arkais dimaksudkan oleh penutur untuk mengekspresikan rasa estetik. Maksim kualitas ada yang dilanggar juga ada yang dipatuhi. Maksim cara dilanggar. b. Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Gerongan Lancaran Sayuk. 2) mlakukan TT secara tidak langsung (off record). menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif.

Maksim cara dilanggar karena dalam menyampaikan tuturan seorang penutur. dan pernyataannya samar. hal ini dimaksudkan seniman penyusun untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa. c. Sedangkan maksim hubungan yang dipatuhi dimaksudkan oleh penutur untuk menjaga kerja sama antara penutur dengan mitra tutur. suami dan istri yang . d. Maksim hubungan yang dilanggar dimaksudkan oleh penutur bahwa tuturan yang berupa tembang tersebut diharapkan dapat sebagai sarana komunikasi rasa. Hal ini dimaksudkan seniman penyusun untuk menunjukkan simbolisasi keharmonisan hubungan antara peran digambarkan dalam tari.217 maksim kualitas yang dipatuhi dimaksudkan oleh penutur untuk menggambarkan peristiwa yang betul-betul terjadi pada masing-masing adegan. Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada tari Bondhan Sayuk. keintiman. tidak langsung. Maksim hubungan ada yang dilanggar juga ada yang dipatuhi. terlalu panjang. menggunakan strategi: 1) Melakukan tindak tutur dengan menggunakan kesantunan positif untuk menunjukkan kedekatan. masing-masing hendaknya memberikan kontribusi yang relevan demi terjadinya komunikasi rasa. 2) Melakukan tindak tutur secara tidak langsung (off record) untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa. dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur.

Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa berlandaskan rasa cinta yang mendalam seorang istri mengingatkan. untuk itu seorang suami dituntut harus bekerja secara sungguh-sungguh. Untuk mewujudkan cita-cita yang mulia tersebut. busana. sepasang suami istri memiliki tugas dan tanggungjawab untuk membina dan mendidik anak sedini mungkin supaya dapat tercapai harapannya. dan iringan. rias. Liku-liku perjalanan cinta sepasang suami istri beserta anak laki-lakinya dalam menjalani kehidupan yang penuh harapan-harapan terkait dengan prospek masa depan anak untuk partisipasinya pada pembangunan bangsa dan negara. seperti tersurat pada cakepan Jineman Sayuk pada bagian awal yang berbunyi: Dhuh mas jiwaku.218 b. kinetic body moves. sejarah. mangkat makarya. Selain dapat memenuhi kebutuhan yang bersifat rohani juga tidak dapat mengabaikan kebutuhan yang bersifat jasmani sebagai sarana penopang kebutuhan hidup sehari-hari. 1. polatan (ekspresi wajah). pola lantai. Bahasa Nonverbal Bahasa nonverbal tari Bondhan Sayuk terdiri dari: tema. Sawahmu tansah anganti. Bapakne sithole. menghendaki dan mendukung suami untuk bekerja demi kelangsungan hidup keluarga. baya iki wus wanci. Bentuk tema yang diangkat pada tari Bondhan Sayuk adalah tema percintaan sepasang manusia laki-laki dan perempuan secara universal. tetapi merupakan reaktualisasi dari imajinasi sepasang suami istri yang telah dianugerai seorang anak laki-laki yang masih dalam timangan. Pasangan kekasih tersebut bukan merupakan gambaran dari tokoh tertentu dari sebuah cerita. babad.Tema. atau dongeng. .

tidak menyeleweng. tidak sombong. Dari tema percintaan sepasang suami-istri yang sifatnya universal tersebut. berpartisipasi aktif dalam pembangunan bangsa dan negara. Adegan kekudangan mengungkapkan rasa gembira dan rasa bahagia. pekerja profesional. dan tegang. mengambil anaknya. Harapan-harapan mulia kedua orang tua terhadap anak laki-lakinya kelak menjadi orang yang memiliki kepribadian yang baik. istri menjadi luluh hatinya yang kemudian mereka berdua saling beradu cinta. Setelah kemesraan berakhir istri meninggalkan suami untuk suasana menjadi tegang. mesra. Adapun bentuk aktualisasinya diwujudkan sepasang suami dan istri yang sedang menimang bayi secara bergantian sambil bersenandung tentang harapan-harapan mulia sebagai orang tua terhadap anak laki-laki kelak setelah menjadi orang dewasa.219 Bentuk sajian dari tema percintaan yang diangkat pada tari Bondhan Sayuk tersebut aktualisasinya diperankan oleh: suami dan istri. untuk aktualisasinya akan membentuk sebuah alur yang terbagi menjadi beberapa adegan: a) adegan kasmaran (percintaan). Pada awalnya istri kurang perhatian terhadap suami. . yang menggunakan properti berupa boneka yang dibalut sehelai kain sebagai simbolik anak (bayi). atas rayuan suami dengan sanjungan atau pujian. Gambaran adegan kasmaran mengungkapkan rasa kecewa. a) adegan kasmaran menggambarkan sepasang suami dan istri yang sedang memadu cinta. c) adegan makarya (bekerja). b). Adegan kekudangan menggambarkan kegembiraan dan kebahagiaan sepasang suami dan istri yang telah dikaruniai seorang anak laki-laki yang diharapkan menjadi pewaris keturunan dan berguna bagi pembangunan bangsa dan negara. b) adegan kekudangan (menimang bayi sambil bersenandung) .

yang kemudian makarya dapat ditarik benang merahnya bahwa kehidupan sebuah keluarga yang didasari rasa cinta mendambakan kemesraan. Seperti gambaran adegan makarya. keharmonisan. Gerak tubuh pada tari Bondhan Sayuk adalah kristalisasi dari beberapa unsur gerak tradisional yang bersumber pada tarian tradisional karaton Kasunanan yang lebih dikenal gaya Surakarta. 2. Kinetic body moves atau Gerak tubuh. Selengkapnya peristiwa adegan kasmaran tersebut terkait dengan Kinetic body moves akan digambarkan secara kronologis sebagai berikut. Jika dicermati dari alur adegan dari kasmaran. kekudangan. di sini bentuk-bentuk vokabuler geraknya tidak tampak gerak orang makarya / bekerja.. Rasa yang hendak diekspresikan pada adegan ini yaitu puncak kegembiraan dan kebahagiaan. tetapi bagaimana vokabuler gerak tersebut mampu mengungkapkan rasa sesuai dengan kehendak penyusun. Adegan kasmaran merupakan adegan pertama yang secara garis besar menggambarkan sepasang suami dan istri sedang memadu cinta. Pola-pola gerak yang digunakan untuk gambaran-gambaran pada masing-masing adegan tidak selalu dapat dengan mudah menunjukkan aktifitas yang tengah terjadi.220 c). Berawal dari alunan kendhang sebagai pembukaan yang . Artinya pola-pola gerak yang digunakan dalam tari tidak selalu merepresentasikan secara vulgar dan jelas maksud penyusun yang tersurat pada bahasa verbalnya. Beberapa vokabuler gerak yang berupa sekaran memiliki karakteristik beragam pula. kedamaian dan kebahagiaan berupaya menyeimbangkan akan kebutuhan rohani yang teraktualisasi dalam adegan kasmaran berlanjut adegan kekudangan dan kebutuhan jasmani yang tergambar dalam adegan makarya. Adegan makarya merupakan gambaran semangat bekerja secara bersamasama antara suami dan istri dengan suasana gembira.

istri meninggalkan putra dengan gerak srisik kipat sampur dan suami mencoba lari untuk mencegah istri namun tidak dapat dengan gerak srisik. suami hendak pegang istri menghindar. pl. sekaran laras kebyokan. Kedua penari. saling mendekat srisik kanthen tangan kanan. khawatir dengan kengser mundur pelan-pelan. pl. Kebingungan semakin tampak. putra sebagai suami dan putri sebagai istri srisik bersama. adapun bentuk iringan yang mendukung suasana ketegangan tersebut adalah lancaran lr. gajah-gajahan. Secara perlahan-lahan keduanya lumaksono ridhong. Rasa kecewa diekspresikan istri lewat jengkeng. barang untuk mendukung rasa kecewa dan rasa mesra. barang. Iringan Ketawang Mijil Sulastri lr. songgonompo – mbalang. pt. mendekat hoyogan. pt. srisik menuju tengah stage. pl. Rasa mesra mulai tampak ketika masing-masing peran suami dan istri saling mendekat dan berciuman dengan gerak kengser dan ngaras. Perasaan suami tegang. . berhenti laku enjer menthang tangan kiri. berdiri meninggalkan suami sambil kebyokan tangan kanan-kiri sedangkan penari putra nyabet tangan kanan. pt. sembahan. kemudian putra besut dan putri sindhet merupakan gambaran rasa kebersamaan. Selanjutnya gerak lincak gagak bersama. besut. mundur srisik.221 diikuti secara bersama alunan seluruh ricikan balungan atau instrumen gamelan yang terkemas dalam Srepek Rangu-rangu lr. Suasana tegang diungkapkan istri mulai menjauh dengan gerak tawing kiri dan laku enjer sedangkan suami berhenti tanjak sambil tawing kiri memandangi yang putri. Istri srisik sambil menimang bayi menuju ke stage mendekati putra. barang.. kembali maju srisik. tangan kanan saling berpegangan (nyathok) dan tangan kiri lurus ke samping (menthang) menuju stage. berhenti tanjak.

suami merasa gembira dan bahagia secara perlahan-lahan mendekat. Suami menimang anak sedangkan istrinya meledek dengan tawing kiri-tawing kanan. pl. berpartisipasi aktif dalam pembangunan bangsa dan negara. bekerja secara profesional. Setelah istri srisik sambil menimang anak. pt. Seluruh sajian Kinetic body moves tersebut diiringi jineman Sayuk lr. putar ke kiri – tangan kanan ukel karno sedangkan suami mendekat menanggapi dengan gerak panggel dan pandangan mengarah ke putri dan anak. lembehan tangan kanan. Istri mengingatkan pekerjaan terhadap suami dengan gerak tawing kanan sambil memandang suami sedangkan suami menyambut baik dengan gerak ukel karno kanan yang kemudian srisik mendekati. Bentuk Kinetic body moves yang mengekspresikan adegan kekudangan dapat dicermati berikut ini. tidak menyeleweng. yang menggambarkan kegembiraan dan kehagiaan sepasang suami dan istri yang telah dikaruniai seorang anak laki-laki yang diharapkan menjadi pewaris keturunan dan berguna bagi masyarakat.222 Adegan kekudangan merupakan adegan kedua. tangan kiri memegang bahu istri dan tangan kanan memegang anak sambil memperhatikan dengan tawing kanan. Adapun bentuk aktualisasinya diwujudkan sepasang suami dan istri yang sedang menimang bayi secara bergantian sambil bersenandung tentang harapan-harapan mulia sebagai orang tua terhadap anak laki-laki kelak setelah menjadi orang dewasa. Istri meminta perhatian suami terhadap anak yang ditimang dengan gerak putar ke kanan. Selanjutnya istri tawing kanan. barang. . maju srisik mendekati suami untuk memberikan anaknya dan suami juga mendekat dengan lumaksono untuk menerimanya. Harapanharapan mulia kedua orang tua terhadap anak laki-lakinya kelak menjadi orang yang memiliki kepribadian yang baik. Adegan kekudangan mengungkapkan rasa gembira dan rasa bahagia. tidak sombong.

dan enjer muter. Wujud Kinetic body moves yang dipilih untuk istri sekaran luluran. Adapun gambaran Kinetic body moves bagian ini diiringi ladrang Sayuk lr. barang. pl. Setelah istri menimang lalu boneka anak diberikan kepada temanten putri dengan srisik. suami gerak lumaksono sambil menanti kedatangan istri. Ungkapan adegan makarya adalah gambaran semangat dalam bekerja antara suami dan istri dengan suasana gembira. membajak. seperti mencangkul. pt. lilingan kebyok sampur dan enjer muter. Gendhing sebagai . tawing kiri. Pada implementasinya. dan bahagia. diawali suami menimang-nimang anak dengan lumaksono yang diikuti istri lumaksono lembehan sampur dan kawilan. Gantian anak diberikan istri sedangkan suami meledeknya dengan ogekan. gembira. enjer ridhong muter. Sekaran untuk ekspresi peran suami terdiri dari: laku telu pondhongan. Rasa yang hendak diekspresikan pada adegan ini yaitu rasa riang.223 Ekspresi kekudangan yang berisi harapan orang tua terhadap anak. tanam padi. Sebagai penutup sepasang suami istri saling mendekat srisik kanthen tangan kanan menuju tempat duduk temanten mengambil boneka anak kemudian sebagai cucuk lampah temanten (berjalan di depan temanten untuk menggiring sepasang mempelai ke depan pintu rumah resepsi guna menghantarkan para tamu undangan yang hendak berpamitan). lilingan kebyok sampur. dan lainnya. gerak yang dipilih antara pasangan suami dan istri berupa sekaran-sekaran yang dapat diekspresikan secara dinamis untuk menimbulkan kesan semangat dalam keadaan riang dan gembira. Adegan makarya merupakan adegan ke tiga yang menjadi penutup dari seluruh alur adegan yang terdapat pada tari Bondhan Sayuk. Bentuk gambaran Kinetic body moves pada adegan makarya tidak mengekspresikan orang yang tengah bekerja menggarap sawah.tangan kanan menthang sampur dan lilingan.

pt. pl. pt. barang dan Ayak-ayakan lr. dan makarya merupakan kombinasi dari gerak representatif dan presentatif. barang. seperti paparan berikut ini. . pl.224 iringan adegan ini adalah Lancaran Sayuk lr. Secara garis besar Kinetic body moves yang terdapat pada seluruh adegan tari Bondhan Sayuk. baik adegan: kasmaran. kekudangan.

225 2) jenis-jenis vokabuler gerak atau sekaran yang terdapat dalam tari Bondhan Sayuk. Kasmaran 1 Srisik kanthen tangan kanan Distilisasi orang bergandengan tangan kanan 2 Lumaksono ridhong Distilisasi orang berjalan 3 Srisik kanthen tangan kanan Distilisasi orang bergandengan tangan kanan 4 Enjer menthang tangan kiri Distilisasi orang berjalan samping meluruskan kiri dari ke songgonompo gerak lari Srisik tangan kanan dari Lumaksono ridhong gerak lari Srisik tangan kanan SW Representatif SL Representatif Keterangan kanthen Distilisasi orang bergandengan tangan kanan Distilisasi orang berjalan kanthen Distilisasi orang bergandengan tangan kanan Distilisasi orang sesuatu gerak lari dari gerak lari dari menerima sambil tangan . Adegan Peran Jenis Gerak Peran Jenis Gerak Keterangan No I.

tawing Distilisasi kiri dari Lincak gagak.226 5 Jengkeng Distilisasi orang duduk dari mbalang Distilisasi dari orang memberi atau membuang sesuatu 6 Ngaras Distilisasi orang berciuman dari Ngaras Distilisasi orang berciuman dari 7 Lincak gagak. sambil melihat ke kiri 8 Sautan / nubruk Distilisasi orang memegang seseorang dihindari 9 Srisik kanthen tangan kanan Distilisasi orang bergandengan tangan kanan 10 Enjer tawing kiri Distilisasi orang berjalan samping dari ke Tanjak tawing kiri gerak lari Srisik tangan kanan yang dari hendak Endhan melihat ke kiri Distilisasi dari orang menghindar kanthen Distilisasi orang bergandengan tangan kanan Distilisasi gerak lari dari orang berdiri sambil melihat ke kiri sambil melihat ke kiri . sambil gerak kaki burung gagak. tawing kiri Distilisasi dari gerak kaki burung gagak.

kedua tangan menthang sampur Distilisasi orang lari. nyabet tangan kanan Distilisasi orang berjalan gerak orang lari dengan menggendhong bayi 13 Srisik mundur Distilisasi orang lari. kecuali jari jempol ditekuk. gerak Posisi Srisik (tangan nekuk). Kedua tangan trap cetik nyempurit Distilisasi orang kedua ditekuk pinggang jari-jari di lari. ( pola tersebut merupakan sikap berdiri pada . 12 Srisik dan menimang bayi Distilisasi gerak Lumaksono. kedua tangan lurus membuka samping ke dengan membawa sampur. gerak Posisi tangan depan dengan membuka.227 11 Srisik kipat sampur. gerak badan menghadap ke depan sedangkan langkah kaki mengarah ke belakang 14 Tanjak Distilisasi gerak orang berdiri.

kesannya mendekat 5 Kengser Kengser Gajah-gajahan Gerak penghubung Kesannya tenang Besut Besut SW Presentatif SL Presentatif Keterangan Gerak penghubung Gerak penghubung Kesannya tenang dan memperhatikan Gerak penghubung. Kasmaran 1 2 Sindhet Sekaran laras kebyokan 3 Kebyokan tangan kanan-kiri 4 Kengser Kesannya mengabaikan Gerak penghubung. kesannya mendekat .228 tari Jawa untuk putra yang posisi kedua kaki membuka dan ditekuk badan disertai sedikit condong ke depan ). Adegan Peran Jenis Gerak Peran Jenis Gerak Keterangan No I. kesannya mendekat Gerak penghubung.

229

Adegan

Peran

Jenis Gerak

Peran

Jenis Gerak

Keterangan No II. Kekudangan 1 Srisik dengan membawa anak Distilisasi gerak Tangan SW Representatif SL Representatif

Keterangan

kiri Menunjukkan

kasih

orang lari dengan menggendong boneka anak

memegang bahu dan peneliting tangan kanan

memegang anak gerak ke Tawing kanan Distilisasi gerak orang melihat ke kanan

2

Tawing kanan

Distilisasi orang kanan

melihat

3

Tawing kanan

Distilisasi orang kanan

gerak ke

Srisik

Distilisasi gerak orang lari

melihat

4

Srisik

Distilisasi orang lari

gerak

lumaksono

Distilisasi gerak orang berjalan

5

Memberikan anak kepada suami

Untuk timang

ditimang-

Menerima anak

Untuk timang

ditimang-

230 6 Tawing kiri-kanan Distilisasi gerak Menggendong anak Menimang-nimang boneka anak

orang melihat ke kiri lalu ke kanan 7 Lumaksono lembehan sampur Distilisasi gerak Lumaksono

Distilisasi gerak orang berjalan

orang berjalan yang kedua tangannya

membawa sampur 8 Menerima anak Untuk timang 9 Menggendong anak Menimang-nimang boneka anak 10 Srisik dengan membawa anak Distilisasi gerak Lumaksono ditimangMemberikan anak kepada istri Lilingan Untuk timang Distilisasi gerak orang meledek Distilisasi gerak orang berjalan ditimang-

orang lari dengan menggendong boneka anak

231

Adegan

Peran

Jenis Gerak

Peran

Jenis Gerak

Keterangan No II. Kekudangan 1 Lembehan ke kananke kiri sambil putar lalu ukel karno kanan 2 Kawilan Kesan meledek Ukel karno kanan Kesan perhatian meminta Panggel SW Presentatif SL Presentatif

Keterangan

memperhatikan

Kesan merespon

3

Ogekan, kanan sampur

tangan Kesan meledek menthang

232

Adegan

Peran

Jenis Gerak

Peran

Jenis Gerak

Keterangan No III. Makarya 1 Sekaran luluran Distilisasi gerak Laku pondhongan Enjer ridhong muter SW Representatif SL Representatif

Keterangan

telu Distilisasi gerak orang memondong Distilisasi gerak orang berjalan ke samping dengan melingkar

orang sedang luluran 2 Tawing kiri Distilisasi orang gerak ke

melihat

samping kiri 3 Lilingan kebyok sampur Distilisasi orang sambil sampur 4 Enjer muter Distilisasi gerak orang berjalan ke samping dengan melingkar Enjer muter gerak meledek membawa Lilingan kebyok sampur

Distilisasi gerak orang meledek sambil

membawa sampur

Distilisasi gerak orang berjalan ke samping dengan melingkar

233

Dari paparan jenis-jenis gerak presentatif dan representatif yang terdapat pada tari Bondhan Sayuk, dapat dicermati secara kuantitatif. a. Jenis gerak Representatif. Jumlah No Adegan Peran Jenis Gerak vokabuler

1

I. Kasmaran

SW

Representatif

12

SL

Representatif

14

2

II. Kekudangan

SW

Representatif

10

SL III. Makarya 3 SW

Representatif

10

Representatif

4

SL 4

Representatif

4 54

Jumlah gerak representatif, adegan I, II, dan III

b. Jenis gerak Presentatif. No Adegan Peran Jenis Gerak Jumlah vokabuler 1 I. Kasmaran SW SL 2 II. Kekudangan SW SL 4 Presentatif Presentatif Presentatif Presentatif 4 5 4 4 17

Jumlah gerak presentatif, adegan I dan II

234

Jumlah presentase jenis-jenis gerak representatif dan presentatif tari Bondhan Sayuk.

Tari Bondhan Sayuk No 1 2 3 4 5 Adegan I, II, dan III I, II, dan III Jenis gerak representatif presentatif jumlah 54 17 71 76,05 %, 23,95 %

Jumlah total gerak representatif dan presentatif = 54 + 17 Jumlah presentase gerak representatif = 54 : 71 X 100. Jumlah presentase gerak presentatif = 17 : 71 X 100.

3. Polatan (ekspresi wajah). Ekspresi wajah atau gerak wajah bukannya wajah dalam pengertian objek yang statis, merupakan sarana untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik terhadap sesuatu yang sedang dikomunikasikan. Dari pengamatan peneliti terhadap ekspresi wajah pada tari Bondhan Sayuk dapat dijabarkan seperti berikut. Pada adegan 1. kasmaran, bagian awal menggambarkan rasa kebersamaan, polatan kedua penari tampak cerah, kepala cenderung tegak, pandangan mata lebih banyak searah dan juga diseling saling menatap untuk mengekspresikan rasa romantis. Perubahan terjadi ketika rasa kecewa muncul, polatan suami sedikit tegang terfokus pada istri sedangkan kepala istri banyak menunduk, tatapan mata tidak merespon suami dan berupaya menghindar. Rasa kasmaran mulai terbangun kembali ketika sepasang suami dan istri berciuman, polatan suami dan istri tampak cerah, mulai saling menebar senyuman. Akhir adegan kasmaran suasana tegang, wajah suami dan istri tampak tegang pandangan mata tajam dan kepala tegak. Pandangan mata suami istri saling menatap secara tajam dengan

4. sedangkan pria memakai kejawen. Adegan kekudangan diawali Istri srisik sambil menimang bayi menuju ke stage mendekati suami. suasana semangat yang diekspresikan secara bersama-sama antara suami dan istri lewat sekaran-sekaran kebar semakin dinamis didukung iringan Lancaran Sayuk yang berirama 1/1. Rias dan busana.235 didukung gerak istri perlahan-lahan menjauh meninggalkan sedangkan gerak suami mendekat. Kegembiraan meningkat dan kebahagiaan semakin terasa ketika sepasang suami istri secara bergantian menimang anak. ekspresi wajah keduanya semakin tampak cerah. polatan terfokus pada istri. ekspresi wajah sepasang suami istri tampak cerah. secara perlahan-lahan suasana mulai berubah menjadi gembira. senyuman semakin meningkat dan pandangan mata banyak saling menatap menunjukkan keharmonisan dan kemesraan. Menginjak adegan makarya. gembira. Bagi orang jawa rias dan dandanan busana yang digunakan pada acara resepsi secara garis besar untuk wanita memakai kebaya dan bagian atas menggunakan sanggul atau gelung. Konsep tersebut rupanya merupakan pijakan awal yang selanjutnya dikembangkan oleh penyusun tari menjadi lebih berfungsi untuk kebutuhan ekspresi tari. Bentuk rias dan busana tari Bondhan Sayuk mengacu pada busana Jawa yang sering dipakai pada acara-acara formal sebuah resepsi. Bentuk rias dan dandanan busana tari Bondhan Sayuk seperti . Ide yang melatarbelakangi bentuk rias dan busana yang dipakai bahwa kisah cerita yang diangkat dalam tari Bondhan Sayuk adalah gambaran kehidupan sepasang suami istri yang berbudaya Jawa. sehingga kegembiraan lebih maksimal dan kebahagiaan semakin mantap.

Suami memakai dodot tanggung motif lereng. Pola lantai yang dibentuk dari Kinetic body moves merupakan komplementer keduanya yang diharapkan dapat membantu mengekspresikan suasana yang terdapat pada masing-masing adegan. mencakup dua bentuk utama. dan cundhukmentul layaknya penganten putri berbusana basahan. cundhukjungkat. terutama peran alusan atau bambangan untuk pria. Perhiasan yang dipakai putri diantaranya: gelang. Dandanan busana untuk istri memakai dodot tanggung (dodot kecil) motif lereng dan bagian kepala menggunakan gelung besar yang diberi bunga tibandhadha. yaitu garis lurus dan garis lengkung. Garis-garis lurus digunakan untuk mengungkapkan keinginan. dan suweng. Wujud rias istri menggunakan rias cantik dan rias suami menggunakan rias bagusan yang keduanya tidak menampakkan perubahan karakter secara menyolok. kelat bahu. . dan kalung. Selain itu untuk fase-fase ketegangan ketika istri hendak meninggalkan suami (lihat gambar: 2). seperti aktualisasi adegan awal kasmaran yang menggambarkan kebersamaan suami dan istri (lihat gambar: 1).236 rias dan busana yang dipakai pada peran-peran kethoprak. Kiranya dapat disimpulkan bahwa rias dan busana yang digunakan dalam tari Bondhan Sayuk untuk memberi dukungan karakter peran dan mengaktualisasikan jati diri peran. kelat bahu. Pola lantai. Warna busana dominasi coklat yang memiliki kesan kalem dan kuning emas terutama perhiasan untuk menambah daya tarik penonton. Perhiasan untuk putra diantaranya: gelang. kemauan yang kuat dan tegas. keris dan blangkonan. kalung. Secara prinsip pola lantai yang terdapat dalam tari Bondhan Sayuk. 5.

lembut. Gambar 2. . yang banyak terdapat dalam tari Bondhan Sayuk. Gambar 1: pola lantai laku telu pondhongan pada adegan tiga.237 Gambar 1. Garis-garis lengkung lebih difungsikan untuk mengungkapkan kesan manis. dan enjer ridhong muter yang terkait dengan pola-pola lantai tersebut seperti tergambar pada paparan berikut. terutama pada adegan tiga makarya. Gambar 1. Gambar 2: pola lantai lilingan kebyok sampur pada adegan tiga. Adapun bentuk-bentuk sekaran laku telu pondhongan. Gambar 2. lilingan kebyok sampur.

terdiri dari beberapa garap lagu. Gambar 3: pola lantai enjer ridhong muter pada adegan tiga. 6. Bentuk garap jineman merupakan garap lagu tembang jawa. yang dinyanyikan koor oleh vokalis putra . yang penyajiannya dimulai nyanyian solo atau tunggal tanpa iringan instrumen gamelan kemudian diikuti nyanyian secara koor dengan iringan instrumen gamelan. Bahasa verbal yang berupa teks sastra tembang yang terdapat dalam tari Bondhan Sayuk. Iringan. Bentuk iringan tari Bondhan Sayuk merupakan komplementer garap lagu Teks sastra tembang dan rasa musikal dari garap instrumen gamelan yang berupa gendhing. Sedangkan garap gerongan terdiri dari satu bait yang terdapat pada iringan Lancaran Sayuk. dan (3) garap gerongan. Garap sindhenan terdiri dari satu bait yang terdapat pada iringan Ketawang Mijil Sulastri. Garap jineman mencakup satu bait yang terdapat pada iringan Ladrang Sayuk.238 Gambar 3. yakni: (1) garap sindhenan (2) garap jineman. Maksud menggunakan garap jineman adalah untuk menonjolkan lagu dan makna yang terkandung dalam bahasa verbalnya.

pt. barang. Pengertian nyawiji di sini garap gendhing Ketawang Mijil Sulastri lr. begitu pula rasa musikal dan makna bahasa verbal yang mengekspresikan rasa cinta menyatu dengan ekspresi gerak yang menggambarkan kemesraan sepasang suami istri yang ditandai dengan gerak ciuman. pl. barang. Adegan : I. dapat dicermati secara komprehensip dari beberapa elemen. pt. kedudukannya dalam adegan kasmaran ini bersifat nyawiji. yang merupakan iringan kedua setelah Srepek Rangu-rangu lr. barang. pl. pl. Kedudukan iringan Srepek Rangu-rangu lr. pt. Susunan iringan tari Bondhan Sayuk seluruhnya dan secara urut dari adegan kasmaran. pl. barang. pt. Bentuk menyatunya iringan dengan gerak. Ketawang Mijil Sulastri lr. barang pada adegan ini bersifat nglambari artinya rasa musikal yang dihasilkan dari garap Srepek Rangu-rangu lr. Adegan kasmaran sebagai adegan pertama dalam tari Bondhan Sayuk. dan Lancaran lr. pl. pt. pt. Keterpaduan yang dimaksudkan adalah menyatunya rasa musikal gendhing Ketawang Mijil Sulastri lr.239 bersama vokalis putri. pl. pl. b) rasa seleh yang . pt. pt. Ketawang Mijil Sulastri lr. barang implementasinya dengan garap gerak adalah menyatu. pl. barang. didukung beberapa iringan gendhing. Kasmaran. barang dengan ekspresi vokabuler gerak yang secara komplementer mengungkapkan suasana kasmaran yang dialami sepasang suami istri yang terjabar dalam rasa: kecewa dan mesra. antara lain: Srepek Rangu-rangu lr. diantaranya: a) rasa musikal dan makna bahasa verbal yang mengekspresikan rasa kecewa menyatu dengan ekspresi gerak yang menggambarkan kekecewaan istri. pt. pl. barang berfungsi untuk memberikan ilustrasi terhadap rasa kebersamaan sepasang suami istri. kekudangan dan makarya dapat dicermati berikut ini.

bentuk iringan untuk adegan 1: kasmaran. pl. pt. pl. barang . pt. baik rasa seleh ringan maupun rasa seleh berat. barang. dapat dicermati Srepek Rangu-rangu lr. barang tersebut merupakan fase peralihan dari adegan kasmaran menjadi adegan kekudangan. Adapun paparan berikut ini. Lancaran lr. Implementasinya rasa musikal yang berirama 1/1 tersebut mampu memberikan ilustrasi rasa tegang yang mendukung kekacauan atau ketegangan yang diekspresikan suami maupun istri. pl. c) pola gatra yang terdapat pada bentuk gendhing Ketawang Mijil Sulastri dapat dijadikan tanda mulai bergerak ataupun berakhirnya suatu gerak pada tari. Terkait dengan alur adegan iringan Lancaran lr. merupakan iringan yang secara musikal dapat mengekspresikan suasana tegang yang kedudukannya pada adegan ini lebih bersifat nglambari. pt. pl. pt. barang Buka : kendhang : [ 2 5 ] suwuk : 7 6 2 5 7 3 o 2 5 o 7 6 o 2 5 b 7 3 3 6 xpl o 5 7 2 6 g7 3 5 3 2 3 g7 XXXXXxx2xxx x7x x Xx2x x x7 3 2 7 g6 Ketawang Mijil Sulastri lr.240 terdapat pada gendhing merupakan iringan yang mendukung rasa seleh pada tari.

. x3xx Xx XXXx3x x XXx5x x Xxg6 Xx. 2 . 2 2 . tidak menyeleweng. . . 3 p2 . 2 . 3 3 . 7 7 . .x x x6XXXx x x. 2 g7 x5x x5x x x. berpartisipasi aktif dalam pembangunan bangsa dan negara. 7 5 7 Xxn6x7 x5x6 7 XXXx5XXXXXXx7 g6 Lancaran lr.241 [ . 3 . . Kekudangan Dalam adegan kekudangan yang mengisahkan menggambarkan kegembiraan dan kebahagiaan sepasang suami dan istri yang telah dikaruniai seorang anak laki-laki yang diharapkan menjadi pewaris keturunan dan berguna bagi pembangunan bangsa dan negara. 2 . 7 7 . pt.x Xx x. barang [ . 6 2 p7 3 2 7 7 6 5 n3 X . 3 7 5 . 3 5 . 2 . Adapun bentuk aktualisasinya diwujudkan sepasang suami dan istri yang sedang menimang bayi secara bergantian sambil bersenandung tentang harapan-harapan mulia sebagai orang tua terhadap anak laki-laki kelak setelah menjadi orang dewasa. . . 2 . 7 3 . g6 x3x x x3x x x. p3 .x x xp.xxx x. 6 2 . . Dukungan iringan untuk adegan kekudangan yang mengungkapkan rasa gembira dan rasa bahagia . pl. 7 . . pekerja profesional. n7 . 7 7 . 7 . tidak sombong. . Harapanharapan mulia kedua orang tua terhadap anak laki-lakinya kelak menjadi orang yang memiliki kepribadian yang baik. g6 2 . p3 . n7 n7 . g2 g6 ] Adegan : II. .

Bentuk mungkus ini ditinjau dari pelaksanaan vokabuler gerak yang terdapat pada adegan kekudangan hampir seluruhnya menggunakan pola kendangan kebar atau ciblon yang selalu membungkus pola gerak. Selain itu iringan Ladrang Sayuk lr. pt. Pengertian nyawiji ini mengarah pada pemersatuan dari unsur tari yang berupa vokabuler-vokabuler gerak kebar yang dinamis dan unsur karawitan yang berupa Ladrang Sayuk lr. pt.ketat diikuti pola kendangan. dan nyawiji. barang dengan irama sigrak. lagu jineman yang riang dan tekanan sedang pada adegan kekudangan ini adalah untuk pencapaian harmonisasi penyajian. pl. Keterpaduan garap tari dan garap Ladrang Sayuk dalam rangka mengekspresikan rasa gembira. barang. pl. Kedudukan iringan Ladrang Sayuk lr. Garap wiled yang berirama 1 / 8 pada Ladrang Sayuk lr. pl.242 adalah Ladrang Sayuk lr. pt. barang . Jineman Sayuk laras. dan bahagia sepasang suami dan istri dapat nyawiji dan tercapai. Dalam hal ini polapola gerak tari selalu ketat. pelan. pt. barang mengisyaratkan bahwa ungkapan rasa gembira dan rasa bahagia yang terdapat pada adegan kekudangan ini suasana tampak lebih tenang dan semeleh (irama tidak tergesa-gesa. Bentuk iringan untuk adegan 2: kekudangan dapat dicermati paparan berikut ini. barang pada adegan ini sifatnya mungkus. pt. dan mantap). pt. pl. pl. barang pada dasarnya nyawiji dengan garap geraknya. pl.

243 Buka : celuk : 6 z7cx2 2 7 2 XXXXz@cc# 2 XXXXXXxxz6c7 Xxzx5x. y u 3 z6x5x3x5x6c7 z3x2x7c6 z7x2x.sah a . z6c7 5 we 5 . . 2 5 3 .nen mre-ne # z#c@ 7 z6c7 dhe .tho . . y . 3 .x3x2c7 Ba. pt.le mang-kat ma 5 6 7 z5c6 2 2 z2x3c2 kar ya z7x.ki wus wan . .wah mu tan . . . . .gus 3 z@x x x x c# z6x c5 pin . barang 5 2 5 2 5 6 5 3 .nak ku sing ba . 3 . . . .ya 5 I .e z6c7 7 @ Sa-du 5 5 5 a . .suk 7 . . . a .x6x5c3 2 X z2x3c2 z7x.pak ne si .wa .nak mu ga .ter nyam-but ga .ci Dhuh mas ji . . .ngan . .dang-e .c6 Sa .c6 ku 2 uX y 3 ba . 2 Be . .ti . 6 Tak ku . u zj2c3 u .we Ladrang Sayuk lr.wa . zj2c3 y tho-le 2 7 y zj7c2 Mbok-ne . pl. 6 z7x x xzj@c# zzzzzzzzzjz6x7x jx5c3 2 zj2c3 3 7 2 zj3c2 7 rung .

kz3c4 2 j.7 2j.e atak adhuh la .dhuh la – e se.7 jz2c7 jz3c2 7 la .3 5 j.e a-tak a .ne 2 6 3 y 2 j.e 2 7 2 7 .buh la-bet mringbangsa .3 5 3 2 5 2 5 3 5 6 zj5c6 j22 j23 5 zj.7 3 zj7c2 A-dhuh lae atak a-dhuh la .so nga .3 5 .mi – ndak .6 3 j.3 2 y j.xjkj5c6 2 j.6 j22 j23 5 j.3 4 jz3c4 A-dhuh lae atak a.xk3c4 j22 j23 j4jk.e dha .dhuh la.3 4 kz.sar bregas ten a .6 2 6 7 j.2 A-dhuh la-e atak adhuh la .sing–kir .e 7 @ 6 3 6 5 3 2 .te .nak .3 zj5cy j.7 2 6 j27 3 ne 2 j.y jz7c2 zj2c3 3 j.3 j77 j77 2 j.# j@# 7 A-dhuh lae a-tak adhuh lae 2 7 2 7 jz6c7 3 jz7c2 an-teng ta-jem po .e wis mbok ne e-nyoh a .e 5 .2 jz5c6 6 Adhuh la .6 j33 j33 jz7c2 2 5 j.e cu-kat trampil 5 2 7 2 5 j2jj j 6 tu.7 2 jz2c3 Adhuh lae a-tak a-dhuh lae o -ra nyle-weng tu .ta 2 7 j.la .6 6 7 jz@c# zj6c7 zj3c2 zj6c5 3 A-dhuh la .7 2j.3 2 7 j.nge j7j j # j@j j 6 j3j j j.3 5 zj5c6 j22 j23 5 zj5c6 2 j.6 6 j.ke 4 2 4 2 4 3 2 7 j.ma -nda .ne 5 3 5 3 6 7 3 2 3 j.ran di .244 j.3 j77 j77 2 j.6 z7c2 z2c3 3 j.

barang pada adegan ini sifatnya mungkus.245 . pt. pt. pl. pl. barang dan sebagai mundur beksan (penutup) iringan Ayak-ayakan lr. . mang - kat me - ga - we Adegan : III. . pt. Adegan makarya merupakan gambaran semangat bekerja secara bersama-sama. . Iringan Lancaran Sayuk lr. Rasa yang hendak diekspresikan pada adegan ini yaitu puncak kegembiraan dan kebahagiaan untuk menyongsong masa depan yang lebih cerah. dan nyawiji. sehingga rasanya menyatu dan harmonis. Kedudukan iringan Lancaran Sayuk lr. pl. barang yang berfungsi nglambari yang memberikan ilustrasi rasa musikal untuk mundur beksan. kompak antara suami dan istri dalam suasana gembira. Iringan yang mendukung adegan makarya yaitu Lancaran Sayuk lr. Dalam hal ini pola-pola gerak tari selalu ketat. lagu gerongan riang dan tekanan dinamis. pt.c# zj5x6jx5c3 sun 2 ar . pl. 7 z@x xj. Bentuk mungkus ini ditinjau dari pelaksanaan vokabuler gerak yang terdapat pada adegan tiga hampir seluruhnya menggunakan pola kendangan kebar atau ciblon yang selalu membungkus pola gerak.ketat diikuti pola kendangan. barang. pl. pl.sa jz6x7xxj6c5 3 . Sebagai penutup adegan makarya diiringi Ayak-ayakan lr. barang dan Ayak-ayakan lr. pt. Makarya. pt. zj6c7 5 . Bentuk nyawiji ini mengarah pada pemersatuan dua unsur menjadi satu yaitu dari unsur tari yang berupa vokabulervokabuler gerak kebar yang dinamis dan unsur karawitan yang berupa Lancaran Sayuk dengan irama sigrak. barang secara berurutan dapat dicermati paparan berikut ini.

246 Lancaran Sayuk lr. b 2 g2 .yuk sa – kan . . 6 5 5 . .yuk . [ 6 3 5 3 3 5 5 3 5 . 2 7 3 . . pt. 5 .yuk .he .yuk sa . 3 g5 5 Sa . 7 . barang . 6 . 6 5 5 . pl. o g3 b . 7 .be . 6 2 2 . . 6 sa . 6 . 7 6 6 . . 7 6 6 . 2 SS Sa yuk 7 7 . . pl. 6 . pt. 7 6 6 .yuk . 5 g6 6 Sa-yuk . 6 . . . barang Buka : . 5 3 2 .x x c3 z6c5 3 mba-ngun ne – ga - ra - ne Ayak-ayakan lr. @ .ka . 6 3 5 3 g2 7 g2 g6 g2 . . o 5 5 o b . 2 7 3 . sa. 3 .we . 6 2 2 . . sa-yuk . . 3 z6c7 . 6 sa.yuk nyam-but ga. g7 3 g6 g6 g2 5 5 3 g2 3 3 2 2 g3 g3 6 6 5 5 3 6 g2 g7 ] Suwuk : x7x x7 6 7 3 2 7 g6 . 6 5 5 3 7 g2 o . 6 . 6 5 5 3 3 5 3 3 5 . . z@x x x. sa. sa. .ne . 6 . . . 6 2 2 . . 6 5 5 . 3 .yuk . . 5 g6 6 Sa . 7 .ca . 5 g2 .

247 Komposit Bahasa Verbal dengan Nonverbal Tari Bondhan Sayuk. dengan harapan mendapat Lumaksono ridhong Lumaksono ridhong Garis lurus Gong: 2 perhatian demi terjalinnya kasih cinta untuk harmonis Keterangan 1 Pasihan/ Percintaan. I. Kasmaran: tangan kanan tangan kanan . ungkapan cinta yang mendalam seorang suami Rasa Kebersamaan Srisik kanthen Srisik kanthen Garis lurus Gong: 1 terhadap istrinya. pl. barang. pt. dan Rasa Vokabuler gerak Istri (SW) Bahasa Nonverbal Vokabuler gerak Suami (SL) Pola lantai Iringan Hubungan Langsung Hubungan Tidak Langsung Srepek Rangurangu lr. Adegan. No Bahasa Verbal Sastra Tembang Tema.

besut enjer menthang tangan kiri. barang. sekaran nyabet laras kebyokan kanan. mbalang. pl. besut tangan Posisi di tempat Gong: 1 Dhuh mas rara. Garis lengkung Gong: 2 Gong: 3 V - garwaku berdiri kebyokan gajah-gajahan. aja gawe kagol . kanan. tangan kanan. manis. Hoyogan. wong sembahan. tangan kanan-kiri songgonompo.248 Srisik tangan laku kanthen Srisik kanthen Garis lengkung Gong: 3 sebuah rumah tangga. pt. sindhet Ketawang Mijil Sulastri lr. Rasa kecewa jengkeng.

249 Amung sira yekti Rasa mesra sulistyane gerak kengser dan ngaras kengser dan ngaras Gong: 4 V - Jumbuh klawan lincak mbalik gagak. barang srisik kanthen srisik kanthen Garis lengkung Gong: 1 tangan kanan tangan kanan tawing kiri dan tanjak tawing kiri laku enjer Garis lurus Gong: 2. maju endhan sautan/nubruk jeblosan dan Gong:5 V - rasaningtyas mami. pl. pt. Prasetya ingong wak dan jeblosan Lancaran lr. lincak gagak. Binerkahan ugi. 3. dan 4 Rasa tegang srisik sampur kipat srisik kedua tangan ditekuk pinggang trap Garis lurus Gong: 5 .

10. dan 7 nyabet kanan maju srisik Gong: 8 Srisik sambil menimang anak mundur srisik.250 Gong: 6 mundur kengser. dan 11 . maju tanjak kanan Gong: 9.

lembehan tangan kanan. mbalik tawing kanan Ukel karno kanan Garis lengkung V - . tangan kiri memegang bahu istri dan tangan kanan memegang anak sambil memperhatikan dengan tawing kanan Garis lengkung V n keharmonis an keluarga. Rasa mesra Menimang anak maju. putar ke kanan. putar ke kiri – tangan kanan ukel karno maju panggel dan pandangan mengarah ke putri dan anak Garis lengkung V mendukung tugas dan kewajiban peran suami sebagai kepala keluarga.251 2 Jineman Ladrang Sayuk Dalam menciptaka Dhuh mas jiwaku. bapakne si thole. seorang istri mempunyai peranan cukup penting dalam baya iki wis wanci.

dan pinter gembira. pl. barang V - kebersamaan. mbesuk mesra. tawing kiri-kanan menimang-nimang anak Garis lengkung Ladrang Sayuk lr. bahagia.252 mangkat makarya. membelai anak (berupa boneka anak) Srisik mendekat istri V - sawahmu hanganti tansah tawing kanan. pt. nyambut gawe . maju mendekati suami lumaksono V - Sakdurunge anakmu mrene. gawanen maju srisik mendekati suami untuk memberikan anaknya mendekat untuk menerima anaknya Garis lurus V - Tak kudange anaku Rasa sing bagus dhewe. panggel V - Mbokne thole.

kerja keras. atak Menimang anak menthang tangan kiri – ogekan tajem Garis lengkung Kenong: 3 V kelak menjadi seorang yang berperilaku adhuh lae.253 adhuh lae. adhuh lae. atak Menimang anak lilingan Garis lengkung Kenong: 1 V dan mengutama kan tua adhuh lae. sesongaran disingkirke adhuh lae. atak Lumaksono lembehan sampur. labuh labet mring . kawilan lumaksono putar Garis lengkung Kenong: 1 V Harapan orang terhadap anaknya adhuh lae. cukat tumandange adhuh lae. dasar bregas ten atene adhuh lae. anteng polatane adhuh lae. atak Menimang anak lilingan Garis lengkung Kenong: 4 (Gong : 1) V baik mengutama kan kebajikan. atak Menerima anak memberikan anak kepada istri trampil Garis lengkung Kenong: 2 V laki-laki yang masih dalam timangan supaya adhuh lae.

Gerongan Sayuk pl.wis enyoh memberikan anak kepada temanten.ora srisik Lumaksono Garis lurus V kepentingan umum untuk membangun bangsa. atak lae. barang . pt. nleweng tumindake adhuh adhuh mbokne anake lae.254 bangsane Kenong: 2 adhuh adhuh lae. srisik lumaksono Kenong: 3 V - sun arsa mangkat megawe 3 lancaran Sayuk lr. atak lae.

sayuk. sakabehe Sayuk negarane mbangun Kawilan . sak kancane Sayuk. sakabehe Sayuk negarane Sayuk. sayuk. Sayuk. sayuk. dan berupaya menjalani kehidupan Sayuk. sak kancane Sayuk. sayuk. sayuk. sayuk. sayuk. mbangun Enjer ridhong Enjer ridhong Garis lengkung Gong: 7 Gong: 8 - V mendidik anak kelak menjadi orang yang Lilingan kebyok Lilingan kebyok Garis Gong: 9 V berguna . sayuk. damai. sayuk. nyambut gawe Rasa gembira. sayuk. sayuk. bahagia Trap tawing jamang - Luluran Garis lengkung Gong: 1 Gong: 2 - V Gambaran kehidupan sebuah keluarga yang rukun. sayuk. sayuk. sayuk. nyambut gawe Laku telu sampir sampur Laku telu pondhongan Garis lengkung Gong: 5 Gong: 6 - V secara bersamasama untuk membina dan Sayuk.tawing Tawing kiri Garis lengkung Gong: 3 Gong: 4 - V harmonis.255 sayuk.

Garis lurus cucuklampah temanten (selesai). sayuk. barang Srisik kanthen Srisik kanthen tangan kanan dan mengambil anak Garis lurus tangan kanan dan mengambil anak Lumaksono sambil menimang anak sebagai Lumaksono sebagai cucuklampah temanten (selesai). sayuk. Sayuk. sayuk. pl. sakabehe Sayuk negarane mbangun Enjer penthangan kedua melingkar tangan Enjer penthangan kedua tangan melingkar Garis lengkung Gong: 11 Gong: 12 - V Ayakayakan lr. . nyambut gawe sampur sampur lengkung Gong: 10 bagi bangsa dan negara. pt.256 sak kancane Sayuk. sayuk.

75 %. dan III I. Secara kuantitatif hubungan bahasa verbal dan nonverbal pada tari Bondhan Sayuk yang bersifat langsung tampak lebih mendominasi dibandingkan dengan yang tidak langsung.Dari komposit bahasa verbal dan nonverbal pada tari Bondhan Sayuk terdapat hubungan yang bersifat langsung dan tidak langsung. dan III Langsung Tidak langsung 18 6 24 jumlah Jumlah hubungan langsung dan tidak langsung = 18+ 6 4 5 Jumlah persentase hubungan langsung = 18: 24 X 100. II. Rupanya terdapat sebuah harapan dari simbolisasi boneka anak tersebut yaitu bagi pasangan temanten untuk segera diberi keturunan anak sebagai pewaris keluarga. 25 % 7. Sedangkan hubungan bahasa verbal dan nonverbal bersifat tidak langsung artinya bahwa makna bahasa verbal sastra tembang tidak sesuai dengan makna bentuk kinetic body moves. Boneka anak yang sering 257 . Hubungan bahasa verbal dan nonverbal bersifat langsung artinya bahwa makna bahasa verbal sastra tembang sesuai dengan makna bentuk kinetic body moves dari bagian bahasa nonverbal. Tari Bondhan Sayuk No Adegan Hubungan bahasa verbal dengan nonverbal 1 2 3 I. Properti boneka. II. Boneka anak yang dibalut dengan sehelai kain dimaksudkan sebagai simbolisasi anak (bayi) yang masih dalam timangan seorang ibu. Jumlah persentase hubungan tidak langsung = 6: 24 X 100. Adapun persentasenya dapat dicermati pada uraian berikut.

Kehadiran genre tari pasihan di Surakarta merupakan suatu proses yang memakan waktu cukup lama dalam sejarah yang penting bagi kehidupan dan perkembangan seni tradisional dalam seni pertunjukan Jawa. B.digunakan dalam tari Bondhan Sayuk dilengkapi dengan baterai sehingga dapat bersuara layaknya anak yang sedang menangis. Masa embrio tari pasihan sejak Abad ke VIII sampai abad ke XIX. seperti yang tertulis pada prasasti Balitung. Kehadiran Genre Tari Pasihan Dalam Seni Pertunjukan Jawa Segala sesuatu yang dihadapi manusia dimuka bumi ini dalam kehidupannya semua mempunyai temporalitas atau historisitas. garapan tari yang bertemakan percintaan di Jawa diperkirakan telah ada sejak abad IX. Untuk mengungkap latar belakang munculnya genre tari pasihan dalam kurun waktu sejarah. Bila kita runut lebih cermat. akan diamati sejak adanya bentuk garapan tari dengan tema percintaan sejak abad ke VIII zaman Mataram Kuno hingga sekarang. Faktor Genetik. Semua berawal dan berakhir dalam suatu proses yang terus menerus melalui dimensi waktu (Ibrahim Alfian. hal ini untuk kebutuhan kemasan seni pertunjukan supaya lebih menarik dan memikat penonton. Selain wayang. prasasti Balitung juga memberi keterangan bahwa pertunjukan 258 . 1999: 2). Digunakannya boneka pada tari Bondhan Sayuk sangat terkait dengan keinginan atau harapan seniman penyusunnya yang ketika itu menghendaki diberi anak pertama lahir seorang anak laki-laki. Munculnya genre tari pasihan sebagai proses sejarah merupakan permasalahan yang hendak dipaparkan sebagai awal bagian faktor genetik untuk mengantar pada analisis-analisis berikutnya.

yang tergores dalam prasasti Wimalasrama dari Jawa Timur.D. seperti adegan percintaan Sugriwa dan Dewi Tara. 1990: 7). Setelah Kerajaan Mataran Kuna di Jawa Tengah runtuh. Mengingat zaman Jawa Timur perkembangan kesusasteraan sangat maju.dramatari yang membawakan wiracarita Mahabarata dan Ramayana juga sudah ada sejak zaman Mataram Kuna. Gaya dan tehnik tarinya yang digunakan kemungkinan besar telah terekam pada relief Candi Borobudur dan Prambanan (Soedarsono. Adapun cerita Panji ini mengisahkan perjalanan cinta Panji 259 . Bertolak dari sumber yang menyebutkan bahwa wayang wwang merupakan bentuk dramatari dan wiracarita yang dibawakan sejak zaman Mataram Kuna. kemudian muncul cerita baru yaitu cerita Panji. Singasari. percintaan Puntadewa dengan Drupadi. Mengingat di dalam wiracarita Ramayana dan Mahabarata juga diwarnai oleh tema percintaan. percintaan Arjuna dengan Sembadra. 1990: 4-5). dan Majapahit (abad X sampai ke XVI). dan sebagainya. di antaranya Medang. di Jawa Timur muncul kerajaan-kerajaan. dramatari Jawa Tengah yang bernama wayang wwang tetap dilestarikan di kerajaan-kerajaan baru tersebut dengan membawakan wiracarita yang sama yaitu Ramayana dan Mahabarata. Rupanya sudah dapat diduga bahwa dalam kedua wiracarita tersebut terdapat adegan percintaan antara tokoh-tokoh utamanya. Jenggala. maka lahir pula dramatari baru yang bernama Raket (Soedarsono. Kediri. kemungkinan besar bentuk garapan tari yang bertemakan percintaan juga sudah ada sejak zaman itu. percintaan Rama Wijaya dengan Sinta. tetapi kemungkinan besar yang dipergunakan pada waktu itu adalah bentuk wayang wwang. Istilah wayang wwang baru dijumpai pada tahun 930 A. Meskipun istilah dramatari tidak disebutkan.

Danawa (raksasa). Raton. Menurut tradisi Jawa. kekuasaan politik dan budaya Jawa mulai muncul dan berkembang di Jawa Tengah di bawah rajaraja penganut Islam seperti Demak. 1999: 133). Maka tidaklah mengherankan apabila cerita Panji ini juga merupakan tema yang digunakan dalam genre tari pasihan yang hidup dan berkembang hingga sekarang. 1999: 18-19). Adapun topeng yang diciptakan untuk pertunjukan wayang topeng terdiri dari sembilan. Runtuhnya Kerajaan Majapahit diawali abad ke XVI. Kiranya dapat diduga bahwa wayang topeng tersebut merupakan bentuk dramatari yang menggunakan topeng dan membawakan cerita Panji yang di dalamnya tetap masih terdapat garap 260 .Inukertapati dengan Sekartaji. dan Turas ( sekarang Penthul atau Bancak) (Soedarsono. Pajang. Cerita Panji ini menjadi mendarah-daging di kalangan masyarakat Asia Tenggara karena kemudian dianggap sebagai salah satu cerita Jataka atau kelahiran Budha (Soedarsono. dan kemudian Mataram Baru. Cerita Panji merupakan cerita yang sangat terkenal di wilayah Asia Tenggara. Candrakirana. para wali terutama Sunan Kalijaga yang selalu dikatakan sebagai pencipta topengtopeng yang dipergunakan untuk pertunjukan wayang topeng. Bila wiracarita Ramayana jelas berasal dari India. Benco (sekarang Tembem atau Doyok). maka tidak dapat disangkal lagi bahwa cerita Panji berasal dari Jawa. wayang. Klana. Gamelan. Andaga. Dengan demikian Raket merupakan bentuk dramatari yang bertemakan percintaan yang didalamnya sudah barang tentu terdapat garap adegan percintaan antara Panji Inukertapati dengan Sekartaji yang hidup dan berkembang pada zaman Majapahit. yaitu tokoh-tokoh: Panji Kasatriyan. Gunungsari. tetap populer pada masa itu. dan wayang topeng kemungkinan besar merupakan perkembangan dari Raket.

Baladewa Rabi. Pertunjukan Wayang Wong dengan lakon-lakon Nayarana Rabi. pertunjukan wayang topeng masih dilestarikan oleh Kasunanan Surakarta. Menurut Tohiran dan Sarwo Rini. Ketika Mataram pecah menjadi dua yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta pada tahun 1755. 261 . Bedaya Ketawang. maupun peran-peran lain. dan Wayang Wong. bentuk garapan tari yang membawakan tema percintaan tetap lestari dan terdapat pada bentuk Tayub. dan Gatutkaca Rabi pada acara memeriahkan perkawinan Puteri Juliana dengan Pangeran Bernhard van Lippe Biesterfeld tahun 1937 di Sriwedari. Munculnya Tari pasihan sejak 1920-1945. Mencermati bentuk-bentuk garapan tersebut rupanya bentuk garapan tari pasihan sejak zaman Mataram Kuna di Jawa Tengah (abad ke VIII ) hingga zaman Mataram Baru di bawah pemerintahan Paku Buwana X ( abad ke XIX). tidak melestarikan wayang topeng. menunjukkan bahwa garapan tari dengan tema percintaan masih dilestarikan dan cukup berkembang baik (Rusini. Tari Gatutkaca-Pergiwa adalah bentuk tari pasihan yang merajut percintaan antara Raden Gatutkaca dengan Dewi Pergiwa.adegan percintaan antara Panji Kasatriyan dengan Candrakirana yang dilestarikan pada zaman Mataram Jawa Tengahan (abad ke XVI sampai abad ke XVIII). masih terikat dan terkait dengan kelompok. Puntadewa Rabi. Bedaya kadukmanis. Kasultanan Yogyakarta di bawah Hamengku Buwana I. bahwa tari Gatutkaca-Pergiwa itu telah muncul sebelum Indonesia merdeka tahun 1945 (Maryono. 1994: 2-3). adegan. tetapi menggubah satu bentuk dramatari baru yaitu wayang wong dengan membawakan wiracarita Mahabarata dan kemudian di Kasunanan di bawah pemerintahan Paku Buwana X. 2006: 19). Baru pada sekitar tahun 1940-an muncul tari GatutkacaPergiwa.

jadi bukan garapan tari pasihan yang sudah mandiri (lihat video wayang wong: koleksi ASKI sekarang ISI Surakarta. pernyataan Tohiran sebagai pengelola wayang wong dan Sarwo Rini sebagai seniman pada waktu itu menyatakan bahwa tari Gatutkaca-Pergiwa itu sudah ada sebelum Indonesia merdeka tahun 1945. Janger (dari Bali). Bambangan-Cakil. antara lain Gatutkaca Gandrung. yaitu untuk merayakan perkawinan Puteri Juliana dengan Pangeran Bernhard van Lippe-Biesterfeld di Sriwedari. Munculnya tari GatutkacaPergiwa diperkirakan pada sekitar tahun 1920 hingga 1945-an yang berarti pula merupakan awal munculnya tari pasihan di Surakarta. Klono. nomor: 262 . Anoman-Anggada. dan sebagainya. Di samping itu wayang wong di Surakarta juga telah membawakan lakon-lakon rabi seperti Gatutkaca Rabi terjadi pada tahun 1937. ketiga. Hal ini berdasarkan rekaman video tari yang menggambarkan percintaan Raden Irawan dengan Dewi Wanuhara tersebut merupakan rekaman sebagian dari adegan percintaan yang terdapat dalam wayang wong lakon Sri Suwela. Bondan. Kiranya hal ini dapat diterima karena pertama.Tari pasihan ini dapat diduga merupakan sempalan dari sebuah garapan wayang wong yang membawakan lakon Gatutkaca Rabi. kedua. Rupanya tidak benar apabila ada berita yang menganggap bahwa tari pasihan Raden Irawan dengan Dewi Wanuhara merupakan tari pasihan yang pertama kali muncul di Jawa pada tahun 1920-an. berita mengenai pertunjukan wayang wong dengan lakon-lakon rabi atau kromo (kawin) banyak bermunculan pada tahun 1920-an ketika wayang wong mengalami perkembangan pesat di masa pemerintahan Hamengku Buwana VIII. Gatutkaca-Sekipu. pernyataan Maridi yang mengungkapkan bahwa tari-tari yang sering pentas pada acara-acara orang punya kerja pada tahun 1940-an.

dan selama perang kemerdekaan hampir semua kegiatan diorientasikan untuk memenangkan perang. Sekar putri. Srigati. Panji. kesinambungan dari pertemuan pertama di Yogyakarta. Sulintang. tampaknya munculnya genre tari pasihan di Jawa akibat peralihan kekuasaan dari pemerintahan kerajaan ke pemerintaahan republik yang lebih mengutamakan caracara demokrasi. Pada pertemuan di Pura Mangkunegaran masing-masing peserta menyajikan tari-tarian menurut gaya yang dimiliki. sedangkan Bandung menyajikan tari-tarian seperti: tari Puja. Kehidupan kesenian dalam kurun waktu tahun 1942-1949. Yogyakarta menampilkan tari pasihan ‘Bahula-Retna Manggali’.108). Pada peristiwa budaya tahun 1956 di Pura Mangkunegaran yang lebih dikenal dengan sebutan pertemuan tiga kota yaitu Surakarta. Dewi Serang. Selain itu. Pamindo. Yogyakarta. Kupu-kupu. Surakarta menyajikan tari pasihan ‘Rara Mendut-Pranacitra’. muncul genre baru yaitu genre tari pasihan. Akan tetapi garap tari dengan tema percintaan tersebut lebih sebatas memberi gambaran tentang bentuk embrio tari pasihan yang terdapat di dalam wayang wong. Menurut Soedarsono kehadiran genre tari pasihan ini terpacu oleh munculnya tari Oleg Tambulilingan yang merupakan satu-satunya tari duet percintaan di Bali yang telah muncul pada tahun 1952. Golek Reneka. dapat dikatakan bahwa dalam periode itu hampir tidak ada kegiatan-kegiatan yang berarti. Pertemuan budaya tiga kota ini merupakan pertemuan ke-2. Hal itu disebabkan pemerintahan Jepang melarang setiap kegiatan berkumpul. dan Bandung. dan tari Samba. Graeni. Di samping itu perubahan-perubahan sosial yang terjadi dalam 263 . Munculnya Genre Tari pasihan sejak 1956-1962.

Berawal dari menggarap sawah. Pada tahun 1959. Rupanya bentuk-bentuk tari yang sifatnya masal dan bertemakan kerakyatan. Bondhan Tani merupakan tari pasihan yang menggambarkan pasangan suami dan istri di dalam kebersamaannya mengolah sawah sebagai lahan pertanian. muncul tari Bondhan Tani yang disajikan secara berpasangan dengan mengacu tema percintaan. muncul tari duet Satya Bakti yang membawakan tema percintaan dan perjuangan. dan sebagainya. Maka wajar apabila bentukbentuk tari duet percintaan yang sudah ada tidak dapat berkembang karena pada 264 . tari Gotong-royong.masyarakat mempunyai peran yang cukup besar dalam membentuk dan mempengaruhi lahirnya genre tari pasihan saat itu. Pada masa itu muncul tari yang menggambarkan kehidupan rakyat kecil seperti tari Tani. anti feodalisme yang dikembangkan PKI hidup subur. akibatnya seni yang berasal dari istana terdesak bahkan dimusuhi karena dianggap tidak merakyat dan tidak dapat untuk menarik massa. Sekitar tahun 1962. Hal ini terjadi akibat situasi politik negara yang mulai rawan. menanam padi hingga mengambil hasilnya (memanen) dilakukan secara gotong royong oleh sepasang suami-istri. Rupanya tari Satya Bakti merupakan hasil interpretasi terhadap kesadaran bela negara yang saat itu sudah mulai memudar di kalangan masyarakat. tari Nelayan. bentuk-bentuk kesenian yang mampu untuk mempengaruhi massa seperti Ketoprak dan Ludruk menjadi rebutan dua partai besar yaitu Partai Nasional Indonesia (PNI) dan Partai Komunis Indonesia (PKI). situasi negara betul-betul semakin genting. Masa menjelang tahun 1965. yaitu masing-masing organisasi politik saling mencurigai dan mulai berebut massa untuk menguasai pemerintahan.

Banyak praktisi hukum wanita mulai bermunculan. Kemitrasejajaran yang menyangkut kedudukan wanita dengan laki-laki tampak semakin meningkat dalam berbagai aspek. Masing-masing mempengaruhi pola pikir hubungan antar remaja. Hal itu tidak terlepas dari kondisi stabilitas keamanan yang berangsur-angsur mulai pulih dan terkendali serta kembali normal. yaitu kebebasan individu mulai dijamin. baik hukum. maka mulai bermunculan karya-karya individual. dan para ekonom wanita serta wanita-wanita karier hadir hampir pada semua sektor publik. terjadi perubahan tatanan politik sangat kuat yang kita sebut Orde Baru. Pembangunan nasional mulai terprogram secara periodik dan memiliki arah. Pengaruh budaya Barat.dasarnya tari-tarian duet percintaan yang menjadi genre ini merupakan tari-tarian tradisional yang mengacu pada tarian istana. politik. para politisi wanita semakin diperhitungkan dalam elite politik. itu semua tidak dapat disangkal telah mempengaruhi pola pikir hubungan antar remaja. baik yang berujud buku-buku porno. dan lainnya. 265 . ekonomi. Setelah tahun 1965. sehingga pembangunan dari berbagai bidang mulai digerakkan untuk mencapai tujuan masyarakat adil dan makmur. sehingga kemitrasejajaran antara kaum wanita dan kaum pria mulai tampak. film-film cinta hingga film yang berbau porno dan juga mode-mode pakaian yang cenderung pamer tubuh. dan jangkauan yang jelas dan transparan. tujuan. Masing-masing di antara mereka secara aktif dan berani memutuskan pilihannya sendiri bahkan menolak jika memang dirasa tidak cocok ataupun tidak sesuai dengan kehendaknya. Tentu saja faktor-faktor itu semua mempengaruhi bangkitnya genre tari duet percintaan untuk lebih bergerak hidup dan berkembang dalam menyongsong kebutuhan hidup masyarakat.

sehingga asal melihat tari-tarian yang berbentuk duet percintaan semotif Karonsih. Kehadiran tari Karonsih menjadi sangat penting karena pada perkembangannya bahwa tari Karonsih ditempatkan sebagai sarana upacara perkawinan yang memiliki nilai simbolik terhadap sepasang temanten. Pada awalnya. Keberadaan tari Karonsih dalam budaya Jawa sejak tahun 1970 telah menjadi bagian yang seolah-olah tidak dapat dipisahkan terutama pada acara-acara upacara perkawinan. Awalnya bagi penanggap dan kebanyakan masyarakat tidak memahami tari Karonsih. 266 . Lambangsih. 1991: 2). dan garap iringannya. Pada awalnya tari Karonsih disusun berdasarkan fragmen Topeng Klono Bodo yang telah diciptakan Maridi. Dengan semakin seringnya tampil di acaraacara resepsi perkawinan. Tari Karonsih adalah salah satu tari duet percintaan antara tipe karakter putri luruh dengan putra alus yang bersumber pada cerita Panji. Indikasi yang dapat diamati hingga sekarang. tari Karonsih ini disusun atas permintaan dari panitia resepsi Ibnu Harjanto dari Kalitan (Maryono. tahun 1969 dalam rangka peresmian Yayasan Kesenian Indonesia ( YKI ). baik mengenai koreografi. rias. tari Karonsih mengalami perkembangan yang sangat pesat. Penampilan perdana oleh Maridi sebagai Panji Inu Kertapati dan Endang Susilawati membawakan peran Sekartaji. Maridi sebagai seorang seniman yang kreatif menawarkan hasil karyanya yang berbentuk tari duet percintaan yaitu Karonsih. Bentuknya sangat lekat dengan bentukbentuk tari tradisional gaya Surakarta. menurut Wahyu Santoso Prabowo sebagai penari tari Karonsih yang telah dimulai sejak tahun 1973 yaitu munculnya istilah ‘Karonsihan’. Rasanya menjadi kurang utuh apabila dalam acara resepsi perkawinan tidak hadir tari Karonsih sebagai penutup pesta tersebut.Pada Tahun 1970 S. busana. seperti : Driasmara.

Karya tari Bondhan Sayuk disusun oleh Sunarno pada tahun 1979. Jakarta. Secara objektif perkembangannya dapat dicermati pada struktur sajian. tari Lambangsih. terutama di daerah Jawa Tengah. sehingga tari Karonsih ini telah mengakar pada masyarakat Jawa yang dalam kehidupannya banyak dipenuhi halhal yang berbau simbolik. tari Driasmara. iringan. Kehidupan Karonsih menyebar meluas di wilayah Pulau Jawa. tari Bondhan Sayuk. tari Kusuma Ratih. dan Jawa Timur. tari Gesang Rahayu. 2006: 28). Selain itu penyebaran tari Karonsih mengalami kemajuan sangat pesat sejak tahun 1970 hingga sekarang. tari Setyaningsih. Kehadiran tari Karonsih di tengah-tengah kehidupan masyarakat dan telah menjadi bagian dari kebutuhan sosialnya. dan properti. mempunyai pengaruh cukup besar yaitu telah dapat memacu dan memotivasi terhadap seniman-seniman di kalangan tradisional. Langen Asmara. Tema yang diangkat menggambarkan percintaan manusia secara universal. mereka akan menyebutnya tari Karonsihan (Maryono. tari Langen Asmara. tidak terkecuali juga Karonsih dan lainnya. gerak. dandanan busana.Enggar-enggar. tari Bondhan Sayuk lebih tepat untuk gambaran sepasang temanten 267 . Selain itu. seperti : tari Endah. tari Karonsih lebih awal hadir di dalam upacara-upacara perkawinan adat Jawa dan berkembang pesat hingga dijadikan sebagai bagian upacara ritual perkawinan karena dianggap mempunyai nilai simbolik yang tinggi terutama bagi kelangsungan kehidupan sepasang mempelai. dan tari Kusuma Aji. Menurut Sunarno. yang lebih mengarah pada perjalanan hidup sepasang manusia dari kalangan rakyat. Yogyakarta. tari Jayaningrat. Pengaruhnya dapat dilihat dengan munculnya berbagai bentuk tari duet percintaan. tari Enggar-enggar.

maupun sebuah keluarga baru yang belum memiliki anak (wawancara. bahwa setiap tingkat baru dalam life-cycle itu berarti menghantarkan si individu ke suatu tingkat dan lingkungan sosial yang baru dan lebih luas. Perkembangan genre tari pasihan bagaikan cendawan dimusim penghujan ini tidak terlepas dari tangan-tangan kreatif para koreografer tari seperti Maridi dan Sunarno. yang pertama merupakan hiburan yang tepat dalam sebuah resepsi perkawinan dan kedua dimaknai sebagai simbolik sepasang suami dan istri yang hidup bahagia yang layak untuk diteladani sepasang temanten. Keinginan tersebut rupanya diridhohi oleh Sang Pencipta. Dalam perjalanan waktu tari Bondhan Sayuk sangat diminati oleh masyarakat hingga sekarang. 268 . anak pertama laki-laki bahkan anak kedua juga laki-laki dan anak ketiganya baru putri. Gagasan awal terciptanya tari Bondhan Sayuk adalah sebuah ekspresi pribadi Sunarno yang menginginkan anak laki-laki untuk putera pertamanya. Sifat universal pesta dan upacara sepanjang lifecycle terjadi karena adanya suatu kesadaran secara umum di dalam budaya manusia. namun tidak semua saat peralihan itu dianggap sama pentingnya pada tiap-tiap budaya. yaitu peralihan dari tingkat hidup remaja ke tingkat hidup berkeluarga. Perkawinan merupakan salah satu dan suatu saat peralihan yang terpenting pada life-cycle dari semua manusia di seluruh dunia. Pesta dan upacara pada saat peralihan sepanjang life-cycle itu merupakan suatu hal yang universal yang hampir ada pada setiap budaya manusia. 2008). Meluasnya sebaran genre tari pasihan tidak terlepas dukungan iringan kaset yang banyak dijual di toko-toko serta eksisnya para penari di berbagai kesempatan dalam rangka memenuhi kebutuhan sosial masyarakat.

tempat. Bagi masyarakat Jawa yang masih lekat dengan budayanya. Untuk itu crisis-rites bagi seorang liminal sangat penting. mengingat upacaraupacara pada masa-masa melampaui saat-saat krisis sering dimaksudkan untuk menolak bahaya gaib yang mengancam individu dan lingkungan. Dalam periode liminal ini seorang liminar berada dalam keadaan setengah-setengah. 1972:89-90). gawat. pendidikan. 1990: 4). 1989: 157). dan pimpinan upcara tertentu. Kesakralan itu sesuai dengan pendapat Soedarsono mengenai hal-hal yang dianggap penting dalam suatu upacara ritual yaitu waktu. baik secara nyata maupun gaib (Koentjaraningrat. Demikian halnya yang terjadi pada budaya masyakat Jawa di dalam melangsungkan sebuah upacara adat perkawinan. dan kebahagiaan hidup. perlengkapan. Berkaitan dengan tindakan simbolik dan magis simpatetis bagi masyarakat Jawa dalam 269 .Di dalam aktivitas budaya manusia ada yang menganggap bahwa saat peralihan dari tingkat sosial tertentu ke tingkat sosial lainnya itu merupakan crisisrites yang penuh bahaya. Periode transisi tersebut juga disebut periode liminal yang merupakan fase tengah dalam skema ritus transisi dari praliminal untuk menuju pascaliminal. pelaku. sebaliknya jika pelaksanaan tidak mentaati konvensi-konvensi yang telah berlaku. dan ragu-ragu (Darsiti Soeratman. kedamaian. Ketentuan-ketentuan yang telah berlaku dalam upacara tersebut mereka yakini jika dilaksanakan dengan taat dan benar membawa berkah dan keselamatan. Bagi masyarakat Jawa upacara tersebut merupakan sebuah upacara yang sangat sakral sepanjang daur hidupnya. segala ritual yang menyangkut dengan perjalanan hidupnya banyak diselimuti dengan simbolsimbol yang diharapkan dapat memberikan petuah. mereka takut tertimpa malapetaka (Soedarsono. suritauladan yang bermakna untuk keselamatan. tidak menentu.

1991: 35). yakni adanya hubungan antara pria dan wanita. Rupanya. Pada masyarakat yang sudah lebih maju. Hal ini terbukti pada masyarakat Jawa sekarang yang sudah mengalami kemajuan. Pernyataan tersebut sejalan dengan pendapat Koch Grundberg yang menggambarkan sebuah tari kesuburan dari suku Indian Coneba di Brasil...perkawinan. yakni adanya hubungan antara pria dan wanita.. Salah satu sarana upacara perkawinan adat Jawa yang cukup penting adalah tari pasihan.. diperlukan kekuatan-kekuatan tertentu. They carry the vertility into every corner of the houses. yang diekspresikan para penari dengan membawa gambar tiruan organorgan wanita dengan cara sebagai berikut.. Stamping with the right foot and singing. Suddenly they jump wildly along with violent coitus motions and loud groans.. Hubungan dimaksud pada masyarakat yang masih melestarikan budaya purba kadang-kadang dilakukan lebih realistis (Soedarsono dalam Soedarso. Mereka dalam melakukan upacara perkawinan.. tindakan yang dapat melambangkan terjadinya pembuahan. (dalam Richard Kraus. penuh simbolis dan mengandung makna nilai-nilai percintaan yang sangat berarti bagi kehidupan. 270 sudah mengakar pada budaya . they dance with the upper part of their bodies bent forwards. dilakukan secara simbolis. the jump among the women – the knock the phalli one against another. untuk mendapatkan kesuburan dengan cara menanggap jenis tari duet percintaan atau tari pasihan yang merupakan tarian kesuburan yang diekspresikan lewat sebuah garapan gerak-gerak presentatif dan representatif. Kekuatan tersebut antara lain berupa magis simpatetis yang diwujudkan dengan tindakan atau perbuatan yang dapat melambangkan terjadinya pembuahan.. berkembang menuju masyarakat modern. Hampir dapat dipastikan bahwa pada setiap upacara perkawinan akan hadir tari pasihan. 1969: 21)..

ia menciptakan sebuah karya dengan harapan dapat dihayati. Ekspresi diri semata tidak akan memuaskan. Kehadiran genre tari pasihan pada ritual upacara resepsi perkawinan merupakan bahasa komunikasi seorang seniman terhadap penghayat. Bagaimanapun acuhnya seorang seniman nampaknya terhadap publik. lewat komplementer bahasa verbal dan nonverbal. baik secara simbolik maupun sebagai santapan estetis terasa menyatu dengan situasi upacara. Pemilihan bahasa verbal dan nonverbal rupanya mengalami proses penyeleksian yang ketat dengan harapan dapat dihayati oleh penonton. mengingat merupakan satu-satunya bentuk sajian tari yang bermakna. Karya tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk merupakan media aktualisasi bagi seniman dalam realitas masyarakat sebagai sarana ekspresi jiwa untuk diinteraksikan kepada publik untuk menggapai sebuah cita-cita dan pemenuhan akan kebutuhan hidup. maka dibutuhkan olehnya juga sebuah penghargaan. Peristiwa budaya ini membuat kehadiran tari pasihan dalam upacara perkawinan sangat ditunggutunggu masyarakat. Konsepsi Bahasa Verbal dan Nonverbal Tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk. 271 .masyarakat Jawa. yaitu pada setiap ada acara upacara perkawinan akan hadir tari pasihan yang hendak diteladani oleh kedua mempelai. Wujud penghargaan adalah dapat diterimanya karya tari tersebut oleh masyarakat. Sebagai media komunikasi genre tari pasihan diharapkan mampu menyampaikan pesan. untuk itu dibutuhkan kecermatan dan kreatifitas seorang seniman dalam menciptakan karya tari yang mencakup bahasa verbal dan nonverbal.

No Penutur Teks Verbal Sindhenan Pangkur Ngrenas Jenis tindak tutur Pemarkah Situasi 1 Dewi Sekartaji Dhuh jagad dewa bathara Welasa mring dasih kang nandhang kingkin Tinilar garwa satuhu 272 Patik Dhuh jagad formal 2 Dewi Sekartaji Direktif mring dasih formal 3 Dewi Asertif satuhu formal . dapat dicermati contoh berikut ini: Jenis Tindak Tutur (TT) yang melekat pada Sindhenan Pangkur Ngrenas. Secara intern jenis-jenis tindak tutur yang terdapat dalam tari pasihan menggambarkan tentang nasehat-nasehat cinta kasih dan secara ekstern diharapkan oleh seniman penyusun jenis-jenis tindak tutur direktif yang mendominasi dalam bahasa verbal yang sifatnya mengajak.Berdasarkan informasi dari seniman penyusun. Bentuk-bentuk dominasi jenis tindak tutur direktif dalam bahasa sastra tembang tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk. dan memerintah dapat menyampaikan makna bahasa verbal sastra tembang yang berupa nasehat-nasehat cinta tersebut dapat ditangkap penghayat. dominasi tindak tutur direktif yang terdapat dalam tari pasihan tersebut sangat diperlukan supaya makna keteladanan dapat lebih menyentuh dan cepat ditangkap penghayat khususnya sepasang temanten. Untuk itu bagi seniman penyusun. konsep yang mendasari tentang dominasi jenis-jenis tindak tutur direktif yang terdapat pada tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk adalah terkait dengan fungsi bahasa verbal yang terdapat dalam tari pasihan utamanya untuk suritauladan. meminta.

Bapakne sithole. Sawahmu anganti. 1 dan Lakilaki (L). mangkat makarya.Sekartaji 4 Dewi Sekartaji 5 Dewi Sekartaji 6 Dewi Sekartaji Ulun dhahat teka Direktif Ulun dhahat datan Direktif formal formal Dadya gantilaning tyas Direktif dadya formal aginggang sarambut Kalamun pinanggya datan 7 Dewi Sekartaji Aluwung tumekeng lalis Komisif Aluwung formal Jenis Tindak Tutur (TT) yang melekat pada Jineman Sayuk No Penutur Bahasa Verbal Jineman Sayuk Jenis tindak tutur Pemarkah Situasi Wanita (W) Dhuh mas jiwaku. 2 3 4 5 W W W W baya iki wus wanci. tansah Patik dhuh mas formal Direktif Asertif Direktif Asertif baya iki bapakne mangkat Sawahmu formal formal formal formal Asertif Mbokne formal 273 . 6 L Mbokne thole.

Jenis-jenis tembang tersebut memiliki watak atau rasa lagu yang bernuansa percintaan. asih tresna. seperti Pangkur Ngrenas memiliki rasa lagu jatuh cinta. dan mas jiwaku. garwa. Jineman Sayuk.sebagai bahasa tembang. asmara. mustikaning. Ekspresif bagus formal 9 L Mbesuk nyambut gawe. guru lagu. Direktif gawanen formal 8 L Tak kudange anakku sing bagus dhewe. Kinanthi Sandhung memiliki rasa lagu romantis yang lebih tepat untuk memberikan nasehat-nasehat tentang cinta kasih. Adapun jenisnya antara lain: Pangkur Ngrenas. setya. wong manis. 274 . Bahasa verbal yang berupa tembang-tembang cinta tersebut dapat dicermati dari penggunaan kata-kata cinta. Mijil Sulastri memiliki rasa lagu prihatin dan untuk mengungkapkan rasa cinta kasih atau nasehat-nasehat tentang asmara. aginggang sarambut. begitu pula gerongan Lambangsari dan Jineman Sayuk.Mijil Sulastri. Kinanthi Sandhung. sulistyane. prasetya. dan gerongan Lambangsari. dilihat dari asfek kebahasaan secara koherensi telah memperlihatkan keterpaduan antara unsur-unsur lingual dalam bentuk guru wilangan. kata dalam irama dan tekanan dengan dengan watak lagu tentang nasehat-nasehat cinta. wanodya di. pinter Direktif mbesuk pinter formal Bentuk bahasa verbal yang terdapat pada tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk merupakan bahasa tembang Jawa yang berasal dari ranah tembang macapat. wuyung. rabinira. seperti: gantilaning tyas. Dengan demikian bahasa verbal yang terdapat pada tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk.7 L Sakdurunge anakmu gawanen mrene. brangti.

Pemilihan jenis-jenis tembang tersebut selain watak atau rasa lagu sesuai dengan tema percintaan juga didasari dari latar belakang budaya penyusun tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk yang berasal dari budaya Jawa.Wayang Orang yang nota bene bentuk–bentuk seni tersebut banyak menggarap jenis-jenis tembang Jawa. Perhatian terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi dilingkungan sosial budaya sekitarnya. setelah dewasa menjadi penari profesional. Bergaulnya dengan para seniman wayang orang seperti: Rusman. Bentuk tembang Pangkur merupakan salah satu inspirasi dari sajian tokoh Gathutkaca ketika memadu asmara dengan Pergiwa yang diperankan oleh Rusman dan Darsi. ia memiliki pengalaman dalam berkecimpung dalam budaya Jawa.Wayang Orang rupanya memberikan inspirasi dan kontribusi dalam menciptakan karya tari Bondhan Sayuk. tingkah laku. Puncak kreatifitasnya dalam menciptakan karya yang berbasis bahasa verbal dalam bentuk tembang Jawa yaitu karya Langendriyan Menakjinggo Lena yang mampu memberikan perkembangan pada karya-karya Langendriyan yang berbasis tembang Jawa. seperti: Kethoprak. Dari pengalaman selama berkecimpung dalam dunia Kethoprak. masuk menyatu mempengaruhi dan mengkristal membentuk pola pikir. dan pola kehidupan Maridi sebagai seniman. Faktor lingkungan memberikan kontribusi cukup berarti dalam menunjang perkembangan kesenimanan Maridi. Begitu pula Sunarno. Bahasa verbal yang digunakan pada tari Karonsih yang secara intern sebagai alat komunikasi antar peran yang terlibat yaitu sebagai media percakapan 275 . Darsi dan Surono rupanya memberikan kontribusi yang sangat berarti dalam karya tari Karonsih terkait dengan digunakannya tembang-tembang tersebut. rasa estetik.

Konsep yang mendasari digunakannya bahasa Jawa Krama Ngoko pada tari Bondhan Sayuk. Konsep yang melatarbelakangi digunakannya bahasa Jawa Krama pada tari Karonsih. mempertimbangkan kedudukan peserta tutur yang terlibat keduanya adalah anak raja. Sehingga bahasa verbal yang digunakan untuk komunikasi peserta tutur adalah bahasa Jawa krama yang dirasa tepat dan sesuai untuk mencerminkan kehalusan terkait dengan kedudukan sosial sebagai putra bangsawan. Sebagai keluarga bangsawan sikap perilaku kedua peserta tutur memiliki adat dan etika budaya yang mencerminkan kehalusan dan keteladanan. Peserta tutur antara suami dan 276 . Dewi Sekartaji puteri raja Lembu Amijaya dari Kediri sedangkan Panji Inukertapati Kertapati putera raja Lembu Amiluhur dari Jenggala. Kedudukan peserta tutur antara suami dan istri adalah gambaran masyarakat secara umum yang lebih lazim disebut masyarakat biasa. Salah satu contoh tingkat kehalusan bahasa Jawa krama yang digunakan pertuturan Dewi Sekartaji dan Panji Inukertapati Kertapati pada tari Karonsih dapat dicermati pada bahasa tembang berikut ini: Pra wanita marsudiya marang tindak kang utama Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada Ingkang bisa nujuprana weh reseping pamicara Nora kengguh ing panggodha darbe budi kang santosa Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira Datan kemba asih tresna sung tetreming kulawarga Sampun sami setya tuhu anggenya liron asmara Karonsih pancen pranyata dadya kembang jagad raya Sedangkan bahasa verbal dalam tari Bondhan Sayuk yang digunakan untuk percakapan peran yang terlibat dalam pertuturan antara suami dengan istri berbentuk bahasa Jawa Krama Ngoko.Dewi Sekartaji dengan Panji Inukertapati menggunakan bahasa Jawa Krama. mempertimbangkan kedudukan peserta tutur yang terlibat keduanya adalah masyarakat tani.

Mbesuk pinter nyambut gawe. Mbokne thole. Untuk itu bahasa verbal dirasa sarana yang tepat untuk menjelaskan 277 . hal ini dapat dicermati dari kata-kata yang digaris bawah: Dhuh mas jiwaku. Fungsi bahasa verbal yang terdapat pada tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk adalah untuk mengungkapkan maksud dari seniman penyusun. baya iki wus wanci.istri merupakan simbol keluarga kecil dari kalangan masyarakat petani yang tercermin dari bahasa verbalnya yang cenderung ngoko yang lazim digunakan masyarakat pedesaan. Pemilihan peran suami dan istri dilatarbelakangi dari kehidupan seniman penyusunnya yang berasal dari keluarga seorang buruh tani dari desa Semono wilayah kabupaten Boyolali. Sebagai keluarga petani sikap perilaku kedua peserta tutur yang digambarkan dalam tari Bondhan Sayuk memiliki adat dan etika budaya yang lebih lugas. Sehingga bahasa verbal yang digunakan untuk komunikasi peserta tutur yang terlibat antara suami dan istri adalah bahasa Jawa krama ngoko yang dirasa tepat dan sesuai untuk mencerminkan sifat lugas. Bapakne sithole. Sawahmu tansah anganti. polos cenderung apa adanya dan tampak kurang halus (kasar). Sakdurunge anakmu gawanen mrene. Tak kudange anakku sing bagus dhewe. polos cenderung apa adanya terkait dengan kedudukan sosial sebagai masyarakat tani. mengingat bahasa nonverbal yang menjadi sarana komunikasi bersama bahasa verbal memiliki keterbatasan-keterbatasan dalam mengungkapkan maksud dari seniman penyusunnya. seperti bahasa tembang yang digunakan pertuturan ketika suami dan istri sambil menimang anak. Kedudukan bahasa verbal dalam tari Pasihan menjadi sangat penting. mangkat makarya.

Rupanya kisah tersebut menjadi sebuah inspirasi yang berarti bagi pasangan temanten yang menginginkan percintaan yang ideal. dan iringan. Wujud pasangan tersebut mengarahkan penonton supaya lebih fokus pada tema percintaan. pola lantai. busana. Lewat bahasa verbal seorang seniman akan menuangkan pikirannya secara lebih transparan dan komprehensif dalam bentuk tembang Jawa. rias. romantis. Konsep yang mendasari pemilihan tema percintaan ini terkait dengan harapan penyusun yang menghendaki kehadiran tari pasihan dalam resepsi perkawinan dapat bermakna bagi sepasang temanten.maksud dan harapan yang dikehendaki oleh seniman tanpa melalui proses distorsi bahkan lebih dapat langsung mengungkapkannya. Tema percintaan yang diangkat dalam tari pasihan tersebut secara garis besar menggambarkan perjalanan cinta sepasang suami dan istri berawal dari duka yang dialami masing-masing tokoh kemudian permasalahan-permasalahan yang dihadapi dapat diselesaikan dengan baik yang akhirnya mereka dapat berhasil menikmati hidup bahagia dalam sebuah keluarga. dan bahagia. sehingga hayatan dari penonton tidak terkontaminasi tokoh atau peran lainnya. polatan (ekspresi wajah). dan iringan sebagai bahasa nonverbal tari pasihan merupakan pola-pola tradisional yang bersumber dari budaya istana Kasunanan Surakarta. Bentuk bahasa nonverbal yang terdapat pada tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk meliputi: tema. polatan (ekspresi wajah). pola lantai. busana. rias. Adapun bentuk garapnya hanya menyajikan dua peran utama yakni pria dan wanita sebagai pasangan suami dan istri. kinetic body moves. Kinetic body moves. Tema yang dipilih untuk tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk adalah pasihan atau percintaan. Kinetic body moves 278 .

artinya gerak yang dihasilkan dari imitasi terhadap sesuatu. yang mencapai 80. Adapun gerak-gerak representatif pada genre tari pasihan tersebut 279 . namun kemunculannya tidak mudah untuk dipisah-pisahkan secara tegas. karena wujud yang tampak sering samar-samar. hal itu sengaja dibuat untuk mengungkapkan ekspresi seniman atau penyusun tari. Kedua bentuk gerak baik presentatif maupun representatif merupakan medium utama tari pasihan dalam rangka memenuhi keperluan ekspresi. gerak ini difungsikan semata-mata untuk kebutuhan ekspresi. dan III pada tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk menunjukkan gerak representatif mendominasi pada bahasa nonverbal. Dominasi gerak representatif yang terdapat pada genre tari pasihan dimaksudkan oleh seniman penyusun supaya masyarakat dan lebih khusus sepasang temanten akan merasa lebih mudah mengapresiasi tema tarian. Adapun bentuk-bentuk vokabuler sekaran yang terdapat pada tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk secara garis besar.20 % dalam tari Karonsih dan 76. Sedangkan gerak representatif adalah gerak penghadir. Keduanya hadir dalam jagad tari. yakni gerak presentatif dan representatif.05 % dalam tari Bondhan Sayuk. Dari seluruh adegan I. Semakin banyak gerak representatif dalam sebuah tarian penonton semakin mudah menafsirkan tema dari ilusi-ilusi yang diekspresikan lewat gerak sehingga pesan makna dari tari pasihan tersebut mudah ditangkap masyarakat sebagai apresiatornya. Secara garis besar gerak dalam tari dapat dibagi menjadi dua bagian secara kasar. pola-pola sekarannya bersifat presentatif dan representatif.sebagai media utama dalam sajian tari pasihan berupa pola-pola sekaran tari tradisional gaya Surakarta. II. Gerak presentatif merupakan bentuk gerak yang tidak mempunyai arti secara khusus.

untuk itu supaya seni tersebut dapat ditangkap maknanya oleh semua lapisan masyarakat maka bentuk komposit bahasa verbal dengan Kinetic body moves yang bersifat langsung dirasa sangat tepat agar mudah dihayati. Secara kuantitatif hubungan bahasa verbal dan nonverbal yang bersifat langsung tampak lebih mendominasi dibandingkan dengan yang tidak langsung. Kehadiran genre tari pasihan pada sebuah resepsi perkawinan bukan pada resepsi lainnya itu merupakan pertanda bahwa jenis-jenis tari tersebut mempunyai fungsi yang berarti dalam resepsi perkawinan yaitu sebagai suritauladan yang hendak ditindaklanjuti bagi sepasang temanten. penonton akan mencoba mengaitkan fungsi kehadiran tari pada sebuah resepsi perkawinan. Hubungan bahasa verbal dan Kinetic body moves bersifat langsung artinya bahwa makna bahasa verbal sesuai dengan makna bentuk gerak. menggoda dan gerak-gerak lainnya yang mengungkapkan kegembiraan. mencubit. Selain itu dari komposit bahasa verbal dan Kinetic body moves sebagai unsur nonverbal pada tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk terdapat hubungan yang bersifat langsung dan tidak langsung. bergandengan tangan. meledek. Berdasarkan tema percintaan yang telah terungkap.merefleksikan gerak orang bermesraan. seperti: berpelukan. Pemilihan pola-pola sekaran tari tradisional yang bersumber dari istana tersebut terkait dengan latar belakang kedua penyusun yaitu: Maridi dengan 280 . Sedangkan hubungan bahasa verbal dan Kinetic body moves bersifat tidak langsung artinya bahwa makna bahasa verbal tidak sesuai dengan makna bentuk gerak. Sehingga tema yang muncul dapat ditafsirkan yakni tema percintaan. Alasannya kehadiran genre tari pasihan pada resepsi perkawinan adalah untuk hiburan dan suritauladan temanten dan masyarakat yang kepekaan rasanya heterogen.

Masa kecilnya banyak di Pati diajak paman Sandiman yang berprofesi Polisi yang juga seorang penari. belajar tari kethekan.M Lurah Atmo Bratono dengan sanggarnya Yatno Sidoyo.M Lurah Widakdo. 7) R. belajar tari Kethekan (kera). Seperti Maridi sejak berumur sekitar usia 8 tahun.M Ng Atmo Hutoyo sebagai guru tari alus. antara lain: 1) R. 6) R. tari rakyat. 3) R.karyanya tari Karonsih dan Sunarno dengan karyanya tari Bondhan Sayuk yang sejak masih muda mereka banyak belajar tari-tarian tradisi gaya Surakarta. Bagi Sunarno sejak berumur 11 tahun. 281 . Berkat kecerdikan dan keuletan dalam upaya memperdalam tari.T Kusuma Kesawa.M Bekel Wignya Hambekso. b) Eko Prasetya. ia belajar tari di desa Semono dengan Wiryo Dimedjo (paman). Selama di Pati. belajar tari dasar (tayungan) dan Tari Gathutkaca Gandrung. terutama tari tradisional gaya Surakarta.M Suseno (dari gaya Mangkunegaran) 8) Nyai Pamarditaya. Maridi. yang menjadi panutan gaya / wiled tarian gagah S. Maridi secara diam-diam banyak berguru dengan beberapa empu tari yang akhirnya membentuk pribadinya menjadi seorang empu tari. 2) R. dan tari Bondhan. Sunarno banyak belajar tari dengan beberapa guru diantaranya: a) Sandiman (paman). tari cakil di asrama polisi Pati. 5) R. 4) R. Lurah Harto Sukolewa sebagai guru tari gagah. Adapun guru dan sanggar yang telah banyak berperan membentuk dan mengembangkan kesenimanan Maridi di dunia tari. Maridi sudah bergabung di sanggar tari: paguyuban Muda Matoyo di bawah asuhan Jogo Laksito.

tari Cantrikan. untuk meniti karirnya lebih lanjut. d) Wiryo dengan Sanggar tari Pomoi di Laweyan. dan Tari Gathutkaca Gandrung di Pakempalan Kagunan Jawi (PKD) Pati. Di samping belajar. b) S. Pada tahun 1973. Setelah lulus SMP. Pada tahun 1976. 282 . Melanjutkan S1 di ASKI lulus tahun 1981 dan mengambil S2 di Sekolah Tinggi Seni Indonesia di Surakarta. d) Secara khusus belajar tari cakilan di kursus: Kembang Djaya di Pati. Ngaliman dengan sanggarnya Baradha di Kemplayan dan kursus tari di PKJT Sasonomulyo. Selain pendidikan formal.c) Raden Irawan. selama di Surakarta ia banyak menimba ilmu dengan beberapa Guru tari antara lain: a) KRT. Sunarno masuk kuliah di Akademi Seni Karawitan Indonesia. belajar tarian dasar tayungan.Ngaliman di kursus tari PKJT sejak tahun 1972. Sunarno melanjutkan sekolah di Konservatori Karawitan Indonesia Surakarta (KOKAR) di Surakarta pada jurusan tari tahun 1970 lulus tahun 1972.Sn). jurusan Karawitan (ASKI) dan lulus sarjana muda tahun !979. ia diangkat sebagai pegawai negeri Dikbud Kodya dan sejak tahun 1982 melimpah ke ASKI sebagai dosen tetap sampai sekarang. Di samping kuliah ia juga seorang pengajar tari spesialis tari gagah di ASKI sejak tahun 1973 yang pada waktu itu baru menjadi pegawai honorer Dikbud Kodya yang diperbantukan untuk ASKI. tahun 2005 lulus tahun 2007 dengan gelar Magister Seni ( M. ia dijadikan asisten S. Kusuma Kesawa di Pawiyatan Karaton Kasunanan dan Ramayana Rara Jonggrang. c) Wiryo Tampu.

Bentuk rias dan busana yang dipakai pada tari pasihan berdasarkan pola-pola tradisi yang disesuaikan dengan sumber cerita. rias. pola lantai. busana. Bentuk iringan gamelan sebagai ilustrasi musik yang berupa gendhing-gendhing karawitan rupanya sangat tepat dan memberi kemantapan dalam mendukung sajian tari pasihan. dan iringan sebagai bahasa nonverbal tari pasihan saling mengkait untuk mendukung bahasa verbal sastra tembang menjadi bentuk sajian tari yang utuh dan berfungsi sebagai media komunikasi untuk mengungkapkan maksud seniman penyusun. kehadiran genre tari pasihan pada upacara ritual perkawinan difungsikan oleh 283 . pola lantai. busana. Pada tari Karonsih yang bersumber dari cerita Panji menggunakan dandanan Panjen dengan ciri Tekes. polatan (ekspresi wajah). Hal ini terkait dengan karakter masing-masing peran yang cennderung alus. Sebagai seni pertunjukan. rias. Komposit bahasa verbal dan nonverbal dalam genre tari pasihan merupakan perpaduan yang utuh sebagai seni pertunjukan. iringan gamelan yang terpadu dengan bahasa verbal sastra tembang diperlukan kepekaan rasa dan ketajaman pikir sehingga mampu menghayati nilai-nilai cinta kasih pada tari pasihan yang diharapkan seperti yang dimaksudkan seniman penyusun.Polatan atau ekspresi wajah pada tari pasihan pada dasarnya tidak tampak mencolok perubahannya. polatan (ekspresi wajah). Untuk menangkap makna yang terkandung dalam bahasa nonverbal yang berupa simbol-simbol kinetic body moves. Pola-pola semacam itu merupakan budaya Jawa yang merupakan dasar dari penyusun tari pasihan sehingga komplementer dari kinetic body moves. sedangkan tari Bondhan Sayuk yang bersumber dari cerita rakyat menggunakan dandanan Blangkonan untuk peran suami dan peran istri menggunakan Gelungan atau konde. luruh dan feminin.

Sedangkan suritauladan yang diharapkan oleh seniman penyusunnya didasarkan pada pesan atau muatan isi yang terkandung dalam komposit bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan yang berupa nasehat-nasehat cinta kasih tentang: pasangan keluarga yang romantis. C. harmonis.seniman penyusun sebagai hiburan dan suritauladan bagi sepasang temanten dan masyarakat pada umumnya. sajian genre tari pasihan menjadi layak karena wujudnya merupakan bentuk seni pertunjukan yang secara visual menarik. Sebagai hiburan. Beragam pendapat dari kalangan masyarakat telah muncul menanggapi hadirnya genre tari pasihan pada ritual resepsi perkawinan. dan sikap-sikap ideal bagi figur suami maupun figur istri. dan keterlatian dalam mengapresiasi tari pasihan. Pada dasarnya masing-masing penonton memiliki persepsi yang berbeda-beda tergantung dari kepekaan rasa dan ketajaman pikir yang dimiliki individu. memikat dan mengandung nilai estetik yang dapat menghibur penonton. Persepsi masyarakat terhadap kehidupan genre tari pasihan gaya Surakarta. kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga. Faktor Afektif. Informan dari kalangan masyarakat secara garis besar terdiri dari: kelompok penanggap atau 284 . latar belakang budaya. dan bahagia. Masyarakat penonton adalah kelompok orang dari beragam kalangan status sosial yang mengapresiasi tari pasihan terutama jenis tari Karonsih dan tari bondhan Sayuk. Nilai-nilai keteladanan tersebut terutama diperuntukan bagi sepasang temanten untuk bekal dalam membina rumah tangga. kemauan. Beragamnya persepsi dari masyarakat penonton tidak lepas dari bekal kepekaan rasa.

Tanpa penampilan rupawan penarinya. kelompok penonton umum. cantik. bersih akan menambah daya tarik penonton. rasa memiliki.sebagai pengguna. Setelah itu baru melihat dedek atau tinggi – rendahnya penari. Sebagai masyarakat yang berlatarbelakang budaya Jawa. niscaya penonton tidak akan menanggapi apalagi memperhatikan. Selain bentuk fisik penari yang ideal juga dukungan rias wajah yang mampu menampilkan karakterisasi peran dan busana glamor yang dapat memikat dan memberi kenikmatan indera mata.Genre tari pasihan sebagai hiburan. diharapkan dengan ketinggian yang ideal (sekitar 160 cm) dan dukungan warna kulit yang halus. Adapun informasi dari ketiga kelompok informan tersebut dapat dicermati berikut ini. Hal ini dapat dicermati sejak awal dari pelaksanaan upacara resepsi perkawinan yang menggunakan adat budaya Jawa. Taraf selanjutnya adalah kemampuan penari dalam menyajikan tari yang lebih berorientasi pada keluwesan penari dalam membawakan tarian. maupun manis. bagus. Penilaian paling awal yang tampak bagi penonton akan tertarik pada gandar atau rupa wajah penarinya yang tampan. Dari pengamatan tersebut dibenak para penonton terjadi sinergi antara kepekaan rasa dan ketajaman pikir sehingga muncul penafsiranpenafsiran terhadap karya seni. 285 . 1. melestarikan budaya yang dirasakan lebih tepat adalah budaya Jawa. dan kelompok pakar. Bagi penanggap kehadiran tari pasihan dalam ritual resepsi perkawinan adat budaya Jawa ini merupakan salah bentuk hiburan yang diperuntukkan bagi tamu undangan supaya tidak membosankan dan sekaligus untuk mengatur jalannya upacara terkait dengan jeda acara demi acara berikutnya. sehingga proses hayatan yang dikehendaki penari maupun penyusun tari tidak akan muncul.

Sinkronisasi antara gambaran nilai percintaan yang diangkat dalam tari dengan realitas nilai percintaan yang hidup dan berkembang dalam jiwa sepasang mempelai temanten yang sedang diwisuda. serta saranasarana lainnya. Dari beberapa pakar menyatakan bahwa kehadiran genre pasihan pada upacara ritual perkawinan memiliki fungsi yang dalam terutama bagi sepasang mempelai temanten. Fungsi awal yang paling sederhana secara faktual dapat dicermati adalah sebagai hiburan. seperti genre tari pasihan gaya Surakarta. pertunjukkan tari pasihan dalam upacara ritual perkawinan adat budaya Jawa terletak pada kesesuaian antara tema percintaaan yang digambarkan tari pasihan sebagai muatannya dengan peristiwa perkawinan yang mengatur sejak awal jalannya percintaan sepasang mempelai temanten secara resmi di depan publik untuk mendapatkan pengakuan status sosial dan adat budaya yang mereka miliki. Hiburan yang didapat dari sajian tari pasihan. Hiburan yang lebih tepat dipilihnya bentuk kesenian yang berbasis budaya Jawa. Kehadiran tari pasihan dalam upacara ritual resepsi perkawinan yang biasanya disajikan pada bagian akhir dari seluruh rangkaian resepsi sebagai penutup. busana basahan ataupun kejawen lengkap untuk penganten.baik yang menyangkut pemilihan hari resepsi. bentuk dekorasi (brostul) untuk penganten. 286 . tarub sebagai hiasan rumah resepsi. hiburan yang berbentuk tarian maupun karawitan secara lengkap. tersebut adalah bukti dari ketepatan atau kesesuaian yang diasumsikan dari penonton secara umum. Sebagai hiburan yang dirasa tepat atau sesuai. Bagi penonton secara umum. busana kejawen lengkap dengan keris untuk among tamu kakung (penjemput tamu pria) dan kebaya untuk among tamu wanita. merupakan pertunjukan yang bersifat hiburan.

Genre tari pasihan sebagai keteladanan. Bagi penonton umum yang sering mengapresiasi pementasan tari pasihan. mereka melihat 287 . Kesamaan persepsi dari ketiga kelompok masyarakat tersebut karena mereka memiliki latar belakang budaya yang sama. dandanan busana. Secara emosional mereka memiliki ikatan kultur yang kuat sehingga kepekaan rasa yang tertanam dalam jiwa. dedek atau tinggi rendahnya postur tubuh. mereka katakan bahwa jenis-jenis tari percintaan yang sering dilihat dalam resepsi perkawinan mempunyai maksud-maksud tertentu. memiliki wawasan kesenian dan mempunyai minat serta kepedulian terhadap seni. Pada dasarnya masing-masing individu sedikit banyak memiliki rasa kesenian yang merupakan bekal alami. kelompok penonton umum. Persepsi masyarakat yang terdiri dari kelompok penanggap atau sebagai pengguna. rias. Wujud fisik berupa gandar atau rupa wajah.bagi penonton adalah bersifat estetik. Berdasarkan pementasan taritarian pasihan yang menggambarkan orang bercinta dengan mesra. artinya kenikmatan indera penonton dari melihat pertunjukan tari pasihan merasa tertarik dan terpikat berawal dari bentuk fisik. dan kinetic body moves yang secara komplementer akan menyatu dengan wujud nonfisik yang berupa rasa. 2. sekalipun kadar kualitas berbeda namun masih mampu menggugah dan menghidupkan kembali stimulus-stimulus estetik yang sewaktuwaktu dihadapkan pada benda pacu yang berupa karya seni genre tari pasihan. Hasil komplementer dari bentuk fisik dan nonfisik dalam tari adalah rasa keindahan yang mampu memberikan hiburan yang bersifat rohani. dan kelompok pakar secara garis besar salah satu fungsi genre tari pasihan dalam ritual resepsi perkawinan adat Jawa merupakan bentuk hiburan.

dan Damarwulan & Dewi Anjasmara dalam tari Enggar-enggar tersebut mempunyai makna yang dalam yang mampu menyentuh jiwa manusia. dan kebahagiaan yang digambarkan dari sepasang tokoh-tokoh idola seperti: Panji Inukertapati & Dewi Sekartaji pada tari Karonsih. romantisme. Diharapkan dengan meneladani nilai percintaan yang disajikan lewat tari pasihan tersebut bagi sepasang temanten dapat membina hidupnya dengan nilai cinta yang sebenarnya. Kemesraan. yaitu kemesraan sebagai sepasang suami istri. di tengah-tengah kehidupan sosial masyarakat. Diharapkan keluarga yang 288 . kehalusan. Bagi penanggap nilai-nilai cinta yang demikian itu. merupakan sesuatu bekal hidup yang sangat berharga. untuk itu perlu diteladani. kegembiraan. Tema percintaan yang diangkat untuk menentukan alur garapan tari pasihan sungguh mampu mengungkapkan nilai cinta lewat liku-liku kehidupan cinta sepasang kekasih yang merupakan tokoh idola baik yang bersifat fiktif maupun nyata bagi masyarakat Jawa. Secara khusus tari pasihan merupakan simbolisasi percintaan yang mengandung nilai percintaan yang begitu tulus sebagai muatan ekspresinya. Selain itu yang dapat ditiru oleh pasangan temanten dari pementasan tari-tarian pasihan adalah kebersamaan dan kegembiraan. tari pasihan merupakan masterpiece dari seluruh sajian tari yang dipentaskan dalam sebuah upacara ritual perkawinan adat Jawa. Dewa Komajaya & Dewi Komaratih dalam tari Lambangsih. Pemilihan ini rupanya sangat terkait dengan maksud penanggap yang mampu mencermati. ketulusan. Bagi penanggap. dan berarti bagi sepasang mempelai temanten yang sedang diwisuda. memahami dan menghayati nilai-nilai yang terkandung dalam karya tari pasihan.terdapat sesuatu dari pertunjukkan itu yang dapat ditiru oleh sepasang temanten.

dibangun dan dibina sepasang temanten dengan nilai-nilai cinta mampu menciptakan keluarga yang harmonis. sehingga penafsiran-penafsiran terhadap makna dibalik karya yang dicipta menjadi semakin valid Bagi pakar. keterlatihan. damai. Mengingat bahwa seorang seniman menciptakan karya seni sedikit banyak mempunyai maksud-maksud tertentu dibalik karyanya. marah. dan wawasan berkesenian secara luas. Dari medium sensa itu seniman akan dapat menganyam impian-impian bagi kita mengenai hal-hal yang 289 . Nilai cinta yang terdapat pada tari pasihan yang merupakan akumulasi dari beragam rasa. Untuk mengetahui maksud seniman diperlukan bekal pengalaman. dan bahagia. Kepekaan rasa dan ketajaman intelek bagi pakar seni merupakan modal utama untuk mencermati dan menganalisis kehadiran sebuah karya seni di tengah-tengah kehidupan dan perkembangan sosial masyarakat dari beragam perspektif. seorang seniman berkarya merupakan dorongan dan tutuntan kebutuhan jiwa yang dilatarbelakangi apresiasi terhadap lingkungan manusia dan alam yang terseleksi dan senantiasa dimanifestasikan dalam bentuk yang estetik. senang. tetapi sering kali mengalami kesulitan untuk menginterpretasi makna sesungguhnya yang dikehendaki seniman. dan lainnya itu semua ditangan seniman diungkapkan dalam bungkus sensa yang mampu memicu dan memacu timbulnya khayalan benda dan peristiwa yang memberi kenikmatan dan kepuasan. gembira. takut. kacau. Maksud seniman tersebut tersirat pada karya seni yang kadang kala mudah ditangkap maknanya oleh penonton. kemampuan. tenang. Bagi pakar bekal apresiasinya terhadap seni dan wawasan intelektual yang dimiliki mampu menghayati secara dalam dan mengungkapkannya secara komprehenship. khawatir. bahagia. seperti: sedih.

bahwa ‘simbol’ tampak terbatas pada sesuatu yang mengungkapkan secara tidak langsung. genre tari pasihan memiliki fungsi yang dalam terutama bagi sepasang mempelai temanten yang tercermin pada komplementer bahasa verbal dan nonverbalnya. Bagi pakar. Kehadiran 290 . sehingga perlu perantara yang berwujud simbol-simbol dalam puisi bukan dalam bentuk pengetahuan. Seolah–olah keberadaan genre tari pasihan dalam budaya Jawa menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan terutama pada upacara-upacara perkawinan. Dalam menghadapi permasalahan kemudian mendapat perjalanan kisahnya berawal solusi yang menjadi berangsur-angsur membaik dan berakhir bahagia. Kehadiran genre tari pasihan (percintaan pria dan wanita) dalam kehidupan sosial masyarakat pada ritual perkawinan adat Jawa rupanya mempunyai makna simbolik yang sangat penting terutama bagi kedua mempelai dalam rangka mempersiapkan diri untuk mengarungi kehidupan di masyarakat yaitu menuju terbentuknya keluarga yang bahagia.membuai dan memikat kita senang mengamati. Seniman pada dasarnya tidak lain sebagai manusia yang menyediakan sebuah susunan benda pacu atau lambang-lambang sensa yang diharapkan akan ditafsirkan seperti yang dimaksudkan olehnya. Menurut Clifford Geertz (1992: 6). Khayalan tentang tindakan atau emosi yang ditimbulkan lewat karya seni. Pada dasarnya genre tari pasihan gaya Surakarta merupakan simbolisasi percintaan sepasang manusia yang berjenis kelamin pria dan wanita. Simbolisme semacam ini tampak pada genre tari pasihan yang hadir dalam rangkaian upacara-upacara perkawinan adat Jawa. Jika dicermati lebih dalam dari jiwa kita sendirilah sebenarnya muncul gagasan-gagasan dan beragam rasa yang merupakan isi sebuah karya seni. kita kemudian dalam imajinasi dapat melakukan atau mengalami.

kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga. suami mapun istri. Dengan kekuatan magis simpatetis akan dapat menyuburkan benih-benih cinta 291 . Rupanya terdapat korelasi yang sangat signifikan bahwa kehadiran tari pasihan dalam resepsi perkawinan diharapkan dapat diteladani dan memberikan sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temanten. Kekuatan imajinasi percintaan yang digambarkan sepasang kekasih dalam tari pasihan diharapkan dapat memberikan kekuatan magis simpatetis terhadap kehidupan jiwa sepasang mempelai temanten. Bentuk dan sikap ideal bagi sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temanten terpancar dari kekuatan cinta sepasang tokoh yang digambarkan dalam tari pasihan dimaksudkan dapat dihayati sepasang temanten sehingga bayanganbayangan cinta yang diekspresikan oleh seniman mampu memicu dan memacu kehidupan imajinasi cinta sepasang temanten. Nilai-nilai keteladanan yang dapat diserap dari aktualisasi tari pasihan yang berupa nasehat-nasehat cinta kasih diantaranya: pasangan keluarga yang romantis. yaitu mampu mempengaruhi kesuburan dalam proses perkawinan pasangan temanten. Perbuatan simbolik dalam pertunjukan tari Bondhan Sayuk lebih tampak jelas dan lebih mendekat kearah realitas tujuan bercinta dalam sebuah kehidupan keluarga. harmonis.tari pasihan hampir dapat dipastikan dalam resepsi perkawinan. dan bahagia. Hal ini juga digambarkan secara lebih aktual pada tari Bondhan Sayuk ketika tindakan atau perbuatan penari putri (peran istri) memberikan boneka anak kepada temanten putri pada bagian akhir tarian merupakan perbuatan simbolik yang menunjukkan adanya kekuatan – kekuatan tertentu yang tidak kelihatan mata yang bersifat magis simpatetis diharapkan dapat diterima penganten putri.

bahwa dalam dunia kesenian. Bahkan seniman sering mampu menghasilkan karya seni yang sangat bagus tetapi kerap tidak memiliki pendapat yang jelas dan tetap terhadap pernilaian karyanya. para pelaku dan penghayat tidak selalu memahami akan yang mereka kerjakan. Dengan demikian hanya pakarlah yang mampu untuk memahami dan menganalisis secara komprehensif dan bertanggungjawab 292 . Kesadaran awal yang harus dicermati. Di samping itu juga terdapat perbedaan pada kadar pemahaman. Pada dasarnya kedua orang mengawinkan putra-putrinya dengan cita-cita untuk segera diberi keturunan yang berupa anak. Kepekaan rasa dan ketajaman intelek pakar seni merupakan modal utama untuk mencermati dan menganalisis kehadiran sebuah karya seni di tengah-tengah kehidupan dan perkembangan sosial masyarakat dari beragam perspektif. karena bagi pakar bekal apresiasinya terhadap seni dan wawasan intelektual yang dimiliki mampu menghayati secara dalam dan mengungkapkannya secara komprehenshif. orang tidak akan dapat berharap banyak karena rasa seni yang kita hayati tidak bisa mengendap dan lekas menghilang tidak menjadi gagasan yang tenang dan mantap. Kesulitan yang tampak bahwa seni pertunjukan merupakan seni sesaat. sebagai pewaris dan penerus keluarga.yang tengah berkembang pada sepasang temanten yang akhirnya mampu melahirkan buah cinta yang berupa momongan (anak). Kesamaan persepsi dari penanggap. penonton umum dan pakar terhadap kehidupan genre tari pasihan mengidikasikan bahwa bentuk tari pasihan tersebut mengandung nilai-nilai keteladanan layak menjadi sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi sepasang temanten untuk diserap dan diimplemetasikan dalam kehidupan rumah tangga.

TT direktif. 293 . jenis TT yang dominan adalah TT direktif. Temuan pokok. Jenis–jenis TT yang terdapat dalam genre tari pasihan gaya Surakarta terdiri dari beragam jenis yaitu: TT asertif. TT ekspresif. 1. dan TT patik. Faktor objektif.pokok penelitian. yang memiliki rasa seni yang dalam tetapi tidak berbicara banyak dan sering sulit untuk mengurai karyanya.validitasnya. TT komisif. Dari beragam jenis TT yang terdapat pada genre tari pasihan. karena seniman adalah berjiwa mistik. BAB IV PEMBAHASAN A.

Gambaran secara lebih 294 . Daya pragmatik yang terdapat dalam bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan menunjukkan adanya bentuk sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temanten.2. Rupanya terdapat korelasi yang sangat signifikan bahwa kehadiran tari pasihan dalam resepsi perkawinan diharapkan dapat diteladani sepasang temanten. 3. Kekuatan imajinasi percintaan yang digambarkan sepasang kekasih dalam tari pasihan diharapkan dapat memberikan kekuatan magis simpatetis terhadap kehidupan jiwa sepasang mempelai temanten. sedangkan maksim kualitas dan maksim hubungan dipatuhi. Dalam bahasa verbal genre tari pasihan bentuk penerapkan prinsip kerja sama terjadi pelanggaran maksim kuantitas dan maksim cara. Kehadiran tari pasihan hampir dapat dipastikan dalam resepsi perkawinan yang nota bene sebagai wahana untuk mewisuda sepasang temanten. Prinsip kesantunan yang diterapkan dalam bahasa verbal genre tari pasihan dengan menggunakan strategi melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif dan strategi melakukan TT secara tidak langsung (off record). Implikatur yang terdapat dalam bahasa verbal tari pasihan menunjukkan adanya simbolisasi percintaan sepasang suami istri yang dalam perjalanan kisahnya berawal menghadapi permasalahan kemudian mendapat solusi yang menjadi berangsur-angsur membaik dan berakhir bahagia. yaitu mampu mempengaruhi kesuburan dalam proses perkawinan pasangan temanten. Hal ini terpancar dari kekuatan cinta kasih sepasang suami istri yang digambarkan dalam tari pasihan dimaksudkan dapat dihayati sepasang temanten sehingga bayangan-bayangan cinta yang diekspresikan oleh seniman mampu memicu dan memacu kehidupan imajinasi cinta sepasang temanten.

sindhenan. Perbuatan simbolik dalam pertunjukan tari Bondhan Sayuk lebih tampak jelas dan lebih mendekat kearah realitas tujuan bercinta dalam sebuah kehidupan keluarga. c) Hubungan bahasa verbal dan nonverbal bersifat langsung dan tidak langsung. Pada intinya bentuk daya pragmatik genre tari pasihan adalah berupa nasehat-nasehat tentang cinta kasih yaitu pasangan keluarga yang romantis. dan jineman dan aspek nonverbalnya berupa: tema. Nasehat-nasehat tentang cinta kasih tersebut bermanfaat bagi sepasang temanten sebagai bekal untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dalam membangun sebuah keluarga. gerongan. kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga. e) 295 . dan bahagia. Berdasarkan jabaran bahasa verbal dan nonverbal tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk dapat diketemukan ciri karakteristik genre tari pasihan sebagai berikut: a) Bahasa verbal berbentuk tembang Jawa bernuansa cinta. pola lantai. dan iringan yang secara komplementer menyatu dalam bentuk seni pertunjukan. busana. polatan. 4. harmonis. b) Bahasa verbal yang digunakan berdasarkan status sosial. dan sikapsikap ideal bagi figur suami maupun figur istri. rias.aktual pada tari Bondhan Sayuk yang merepresentasikan pasangan pria dan wanita setelah bercinta kemudian membawa boneka sebagai simbol anak dan ketika adegan akhir penari putri memberikan boneka anak kepada temanten putri. kinetic body moves (gerak tubuh). d) Tema percintaan. Bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan merupakan dua komponen besar yaitu aspek verbal berupa cakepan (syair) sastra tembang yang terdapat dalam teks pathetan. Tindakan atau perbuatan tersebut merupakan perbuatan simbolik yang menunjukkan adanya kekuatan – kekuatan tertentu yang tidak kelihatan mata yang bersifat magis simpatetis diharapkan dapat diterima temanten putri.

keintiman.Cerita berakhir dengan bahagia (happy end). Maksim kualitas dan maksim hubungan dipatuhi dimaksudkan oleh seniman supaya komunikasi rasa dapat berlangsung sehingga makna karya tari pasihan dapat ditangkap penghayat secara utuh. seniman penyusun lewat karya tari pasihan melanggar maksim kuantitas dan maksim cara dimaksudkan seniman untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa. Hal ini dimaksudkan seniman penyusun untuk menunjukkan simbolisasi keharmonisan hubungan antara peran suami dan istri yang digambarkan dalam tari sebagai bentuk suritauladan yang layak untuk diteladani sepasang temanten. Hal ini dimaksudkan oleh seniman penyusun supaya bahasa verbal yang sifatnya mengajak. meminta. dan memerintah yang tercermin dalam TT direktif dapat menyampaikan makna bahasa verbal sastra tembang yang berupa nasehat-nasehat cinta tersebut untuk diteladani sepasang temanten. f) Disajikan berpasangan pria dan wanita. Dalam menerapkan prinsip kerja sama. h) Gerak representatif dan presentatif sebagai ekspresi kinetic body moves dalam sajian. dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur. Di samping itu juga konsep yang mendasari strategi untuk melakukan TT secara tidak langsung (off record) untuk mengekspresikan 296 . Faktor genetik. Jenis TT yang mendominasi pada bahasa verbal dalam genre tari pasihan adalah TT direktif. Prinsip kesantunan yang diterapkan dalam bahasa verbal genre tari pasihan dengan menggunakan strategi melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif untuk menunjukkan kedekatan. g) Pesannya berupa nasehat tentang cinta kasih.

B. 297 . estetik. selain sebagai hiburan juga merupakan suritauladan yang sangat penting bagi sepasang temanten. karena kepekaan rasa dan ketajaman pikir pakar seni lebih mantap dan lebih berkualitas dibandingkan masyarakat pada umumnya. Genre tari pasihan merupakan jenis tari pasihan yang difungsikan sebagai hiburan dan suritauladan bagi sepasang temanten dan sosial masyarakat. dan bermakna bagi masyarakat. Kehadiran genre tari pasihan sebagai seni pertunjukan merupakan perpaduan dari bahasa verbal dan nonverbal yang secara komposit mengungkapkan makna. kehidupan genre tari pasihan dalam sosial masyarakat berfungsi sebagai hiburan dan suritauladan yang tepat bagi sepasang temanten dan masyarakat pada umumnya. Berbeda dengan persepsi pakar seni. Bagi masyarakat secara umum kehadiran tari pasihan dalam resepsi perkawinan ditangkap sekadar sebagai hiburan. Berdasarkan persepsi masyarakat. Pembahasan.rasa estetik dan menambah kemantapan rasa supaya dapat lebih menyentuh penghayat dan maknanya dapat diterima. Konsepsi tentang pemilihan bahasa verbal dan nonverbal bersifat harmoni. bahwa fungsi tari pasihan dalam resepsi perkawinan. Keseimbangan komposisi bahasa verbal dan nonverbal tampak pada setiap peristiwa dalam adegan. yaitu pada setiap ekspresi sastra tembang selalu didukung dan diikuti langsung kinetic body moves. selaras dan seimbang sehingga komplementer dari kedua komponen tersebut menjadi padu membentuk genre tari pasihan dalam aktualisasi yang berkualitas. Pemahaman tentang fungsi tari pasihan tersebut menunjukkan adanya perbedaan antara masyarakat umum dengan pakar seni. Faktor afektif.

seniman penyusun memandang perlu memanfaatkan aspek kebahasaan atau bahasa verbal dengan menggunakan kata-kata cinta yang terakumulasi dalam bentuk sastra tembang Jawa. asmara. mustikaning. kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga. Sedangkan bentuk bahasa nonverbal merupakan komplementer dari elemen-elemen: tema. kinetic body moves (gerak tubuh). 298 . seperti: gantilaning tyas. untuk menyampaikan pesan maknanya tari pasihan. dan iringan yang saling mendukung dan menyatu menjadi sebuah bentuk sajian visual yang mengungkapkan pesan makna yang terkandung dalam bahasa verbal. Genre tari pasihan merupakan beragam jenis tari yang mengangkat tema percintaan. Adapun kata-kata cinta. wuyung. prasetya. dan jineman mengandung nasehat-nasehat tentang cinta kasih bagi sepasang suami istri. wanodya di. lagu. mencakup: pasangan keluarga yang romantis. sulistyane. brangti. asih tresna. dan bahagia. Komplementer bahasa verbal sebagai kandungan makna dan bahasa nonverbal sebagai bentuk visual sudah menyatu dan berkaitan satu sama lainnya dan mampu mencerminkan kesatuan makna secara utuh. busana. wong manis. setya. rias. dan sikap-sikap ideal bagi figur suami maupun figur istri sebagai pesan makna atau isi. Diharapkan dengan kata-kata cinta yang merupakan dasar dari tema percintaan yang diangkat dalam genre tari pasihan yang disajikan dalam bentuk tembang dengan irama. aginggang sarambut. dan mas jiwaku. sindhenan. polatan. dan karakter yang berbeda-beda tersebut mengarahkan pada sepasang temanten untuk lebih meresapi dan menangkap makna secara utuh untuk diteladani dan dijadikan sebagai bekal perjalanan dan pelajaran hidup. rabinira.Bahasa verbal genre tari pasihan berupa sastra tembang dalam bentuk pathetan. pola lantai. harmonis. garwa. gerongan.

dan usulan atau anjuran. komisif. dan patik. TT verdiktif. Jenis TT direktif yang berfungsi untuk permintaan. Dari beragam jenis TT yang terdapat pada genre tari pasihan. Berdasarkan teori jenis TT yang dikemukakan Kreidler. TT komisif. yaitu: TT asertif. melarang. dan mengajak. sindhenan. Kreidler (1998: 183-194). TT performatif. TT ekspresif. Jenis-jenis TT direktif tersebut dapat dicermati berikut ini. TT direktif. mengkategorisasikan TT dalam sebuah pertuturan menjadi tujuh jenis bentuk TT. Sejalan dengan pernyataan Kreidler. permintaan.Dilihat dari aspek kebahasaan genre tari pasihan memanfaatkan jenis-jenis TT yang terdapat pada bahasa verbal teks sastra tembang dalam bentuk pathetan. jenis-jenis TT direktif yang terdapat dalam genre tari pasihan berfungsi untuk permintaan. Menurut Kreidler (1998: 189-190). gerongan. jenis-jenis TT yang terdapat dalam genre tari pasihan gaya Surakarta terdiri dari jenis-jenis TT: asertif. Tuturan Dewi Sekartaji: Dhuh jagad dewa bathara Welasa mring dasih kang nandhang kingkin Tuturan Panji Inukertapati: Muga tansah pinaringan Kanugrahan kang salami 299 . perintah. dan jineman. jenis TT yang paling dominan adalah jenis TT direktif. TT direktif adalah tuturan di mana pembicara berusaha menyuruh orang yang disapa untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu perbuatan tertentu. Bahasa verbal dalam genre tari pasihan terakumulasi dari beragam jenis TT yang menyatu saling mengkait dan saling melengkapi sebagai penunjuk isi. Secara garis besar beliau membagi tuturan direktif menjadi tiga macam: perintah. direktif. ekspresif. dan TT patik.

Sayuk mbangun negarane. ora nyleweng tumindake. atak adhuh lae. dan perintah tersebut secara akumulatif dimaksudkan oleh seniman untuk mengajak. baya iki wus wanci. sakabehe. 4. Sayuk. Dominasi dari jenis-jenis TT direktif yang terdapat dalam bahasa vebal genre tari pasihan yang sifatnya mengajak. 2. sayuk. Sayuk. Sawahmu tansah anganti. Maksud dan harapan seniman penyusun tersebut ditangkap oleh penghayat sebagai 300 . sayuk. Sakdurunge anakmu gawanen mrene. sakancane. meminta dan menyuruh terhadap sepasang temanten untuk memahami dan meresapi makna isi yang terkandung dalam bahasa sastra tembang dan supaya melakukan tindakan atau perbuatan seperti yang dicontohkan dalam pertunjukan tari pasihan tersebut. Tuturan Suami: Adhuh lae. Tuturan Panji Inukertapati: Pra wanita marsudiya marang tindak kang utama Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada Tuturan Dewi Sekartaji: Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira Datan kemba asih tresna sung tetreming kulawarga Tuturan istri: Dhuh mas jiwaku. Tuturan Suami : labuh labet mring bangsane. Sayuk. nyambut gawe. sayuk. permintaan. mangkat makarya. Jenis TT direktif yang berfungsi untuk mengajak. Bapakne sithole. sayuk. 3. Tuturan Suami: Mbokne thole. sayuk. Jenis TT direktif yang berfungsi untuk melarang. Tuturan bentuk Narasi: 1.Jenis TT direktif yang berfungsi untuk perintah. sayuk.

sesuatu yang harus diteladani. Seperti kehadiran genre tari pasihan (percintaan pria dan wanita) dalam kehidupan sosial masyarakat pada ritual perkawinan adat Jawa mempunyai makna simbolik (berupa: pasangan keluarga yang romantis. multitafsir tersebut hanya mampu ditangkap indera lewat implikatur-implikatur bahasa verbal dengan bahasa nonverbal. sistem mendidik terhadap anak tidak selalu dilakukan secara formal dan terbuka. tertutup lebih bersifat simbolik. dan bahagia. perilaku ideal bagi suami mapun istri) yang sangat penting yaitu terutama bagi kedua mempelai temanten dalam rangka mempersiapkan diri untuk membentuk keluarga yang bahagia. harmonis. dan sikap. tetapi juga dalam bentuk yang tidak langsung. Untuk menerima isi atau pesan pendidikan yang berupa pementasan genre tari pasihan diperlukan ketajaman pikir dan kepekaan rasa. harmonis. Indikasinya ditunjukkan bahwa genre tari pasihan hanya disajikan pada upacara-upacara resepsi perkawinan. bukan pada acara-acara lainnya. Bagi masyarakat Jawa. Pada dasarnya bentuk karya seni genre tari pasihan merupakan materi pendidikan yang penuh imajinatif. bukan 301 . Kehadiran genre tari pasihan dalam kehidupan sosial masyarakat pada ritual perkawinan merupakan wahana untuk mendidik anak yang telah dewasa yaitu sepasang temanten dengan cara tidak langsung yakni dengan cara simbolik. mengingat gambaran percintaan pasangan suami istri yang romantis. dan bahagia yang terdapat dalam tari tersebut dirasa sangat tepat dan ditangkap secara mantap sebagai suatu edukatif atau pengajaran yang bersifat tidak langsung dan sangat bermanfaat bagi sepasang temanten untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dalam menggapai keluarga bahagia lahir dan batin. kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga.

usahakan agar sumbangan informasi anda benar. Menurut Grice. mendranira. maksim cara. hindari ketaksaan dan usahakan agar ringkas.makna leksikal dari susunan gramatikal bahasa verbalnya. seniman memandang perlu menerapkan prinsip kerja sama dan prinsip kesantunan secara selektif dalam bahasa verbal teks-teks sastra tembang yang terdapat pada genre tari pasihan. jengkar sking. dahat. usahakan agar pernyataan anda ada relevansinya (dalam Leech. Pelanggaran maksim kuantitas yang terjadi dalam bahasa verbal genre tari pasihan adalah digunakannya kata-kata arkais. seniman melanggar maksim kuantitas dan maksim cara. Untuk mengupayakan agar kandungan makna yang dikehendaki seniman dapat ditangkap dan sampai pada pasangan temanten. Maksim kualitas. Sistem pendidikan cara simbolik ini merupakan pilihan masyarakat yang masih merasa memiliki keterikatan emosional dan kesadaran atas budaya Jawa yang dirasakan dan dianggap mengandung nilai-nilai kehidupan yang layak dan tepat untuk diimplementasikan pada masyarakat hingga sekarang. Maksim kuantitas adalah berikan informasi yang tepat sesuai yang dibutuhkan dan jangan melebihi yang dibutuhkan. Lewat cara-cara estetis bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan tersebut disajikan supaya pesan makna yang dikehendaki seniman dapat diterima. Dalam penerapan prinsip kerja sama pada bahasa verbal genre tari pasihan. prinsip kerja sama dalam pertuturan dibagi menjadi empat maksim yaitu maksim kuantitas. tepat sasaran dan lebih menyentuh sepasang temanten dengan tidak merasa dipaksa. dan maksim hubungan. Maksim cara usahakan agar informasi mudah dimengerti. 1993: 11). hindari pernyataan yang samar. Maksim hubungan. seperti: sang retnayu. mring 302 . maksim kualitas.

terdapat lima strategi. sang pekik wah sang dyah ayu. ningsun. brangti. wak-ingan. mustikaning. pinanggya.dasih. anggenya. dadya gantilaning tyas. Jenis-jenis tembang yang merupakan bahasa komunikasi dalam genre tari pasihan secara prinsip kerja sama dalam sebuah pertuturan terjadi pelanggaran maksim cara. 3) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan negatif mengacu muka negatif (negative politiness). angkling. sifatnya tersamar dan tidak ringkas karena telah terpola dengan guru lagu dan guruwilangan. untuk menunjukkan kedekatan. mas rara. aginggang sarambut. wuyung. Adapun pelanggaran maksim cara yang terjadi dalam bahasa verbal genre tari pasihan. tanpa basa basi (bald on record). nandhang kingkin. 2) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif mengacu muka positif (positive politiness). dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur. wanodya di. Pelanggaran maksim cara dalam bahasa verbal genre tari pasihan adalah digunakannya bahasa tembang yang pada dasarnya merupakan bahasa yang sulit dimengerti artinya. sulistyane. mring. Adapun pelanggaran maksim kuantitas yang terjadi dalam bahasa verbal genre tari pasihan. 4) 303 . Berdasarkan Teori kesantunan Brown dan Levinson (1987). dimaksudkan oleh seniman untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa. rasaningtyas. untuk menunjukkan adanya jarak sosial antara penutur dengan mitra tutur. dan dhuh mas jiwaku. keintiman. dimaksudkan oleh seniman untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa. lalis. nujuprana. yaitu: 1) melakukan TT secara apa adanya. Maksim kualitas dan maksim hubungan dipatuhi dimaksudkan oleh seniman supaya komunikasi rasa dapat berlangsung sehingga makna karya tari pasihan dapat ditangkap penghayat secara utuh.

Dukungan bahasa nonverbal pada tari pasihan merupakan media visual yang difungsikan sebagai sarana untuk mengekspresikan pesan makna yang dapat ditangkap oleh penghayat. Hal ini dimaksudkan seniman penyusun untuk menunjukkan simbolisasi keharmonisan hubungan antara peran suami dan istri yang digambarkan dalam tari sebagai bentuk suritauladan yang layak untuk diteladani sepasang temanten. rias. polatan. 5) tidak melakukan TT atau diam (don’t do the FTA). keintiman. pola lantai. Dalam menyampaikan pesan makna yang terdapat dalam bahasa vebal seniman penyusun memandang perlu menggunakan bahasa nonverbal. dan iringan secara akumulatif 304 . Prinsip kesantunan yang diterapkan dalam bahasa verbal genre tari pasihan dengan menggunakan strategi melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif untuk menunjukkan kedekatan. busana. Di samping itu juga konsep yang mendasari strategi untuk melakukan TT secara tidak langsung (off record) untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa supaya dapat lebih menarik dan memikat serta menyentuh penghayat dan maknanya dapat ditangkap dan diterima sepasang temanten untuk dijadikan sebagai pelajaran yang bermanfaat dalam menata kehidupan keluarga baru. Mengacu Teori kesantunan Brown dan Levinson (1987) tersebut. prinsip kesantunan yang diterapkan dalam bahasa verbal genre tari pasihan dengan menggunakan strategi melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif dan strategi melakukan TT secara tidak langsung (off record). Bentuk bahasa nonverbal yang terdiri dari tema. kinetic body moves (gerak tubuh). dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur.melakukan TT secara tidak langsung (off record).

digunakan seniman penyusun untuk mengekspresikan makna dengan cara lebih tersamar dan ungkapan suasana yang muncul merupakan ekspresi yang dirasa memiliki kekuatan untuk menyampaikan makna.akan membentuk satu bentuk simbol yang mampu mengekspresikan makna tari pasihan menjadi lebih menyentuh dan semakin mantap. Seniman sering dalam menciptakan karyanya dilandasi rasa intuitif yang dalam. Adapun jenis-jenis gerak presentatif dan representatif yang berhubungan tidak langsung dengan bahasa verbal. Strategi yang digunakan seniman penyusun dengan memanfaatkan jenis-jenis gerak presentatif dan representatif yang berhubungan langsung dan tidak langsung dengan bahasa verbal. dan iringan gamelan. Perlu disadari bahwa karya seni merupakan bentuk simbol yang memerlukan penafsiran-penafsiran. sehingga 305 . mantap dan berkualitas. tidak selalu didasari rasional belaka. Jenis-jenis gerak presentatif dan representatif yang berhubungan langsung dengan bahasa verbal akan memberi kemudahan terhadap penghayat dalam menafsirkan maksud dari seniman. mengingat aspek kebahasaan dan aspek nonbahasa memiliki makna yang sama. Akumulasi dan kombinasi dari dua strategi penyampaian pesan yang digunakan seniman yang berupa jenis-jenis gerak presentatif dan representatif yang berhubungan langsung dan tidak langsung dengan bahasa verbal menjadi sangat kuat dan mantap dengan dukungan ekspresi wajah (polatan). sehingga pesan makna yang hendak disampaikan menjadi lebih kuat dan mantap. busana. penuh estetik sehingga karya tari pasihan menjadi sarana ekspresi yang memikat. rias. Terpadunya bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan menjadi satu kesatuan seni pertunjukan yang utuh. pola lantai.

Hal ini dimaksudkan seniman penyusun untuk menunjukkan 306 . dan patik. direktif. Dari beragam jenis TT yang mendominasi pada genre tari pasihan adalah TT direktif. dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur digunakan kesantunan positif. keintiman. komisif. Pada aspek kebahasaan yang digunakan seniman penyusun dalam menerapkan prinsip kerja sama melanggar prinsip kuantitas dan prinsip cara yaitu dengan menggunakan kata-kata yang sifatnya arkais untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa. Dalam mengekspresikan maksudnya seniman juga memanfaatkan prinsip kerja sama dengan cara lebih selektif. Selain itu tari pasihan juga memanfaatkan jenis-jenis TT: asertif. dan memerintah dapat menyampaikan makna bahasa verbal sastra tembang yang berupa nasehat-nasehat cinta tersebut sesuai dengan fungsi keteladanan.kesan yang terungkap dari sajian sebuah karya seni perlu adanya perenungan kembali untuk mendapatkan sebuah makna yang utuh. untuk menyampaikan pesan maknanya tari pasihan. ekspresif. Maksim kualitas dan maksim hubungan dipatuhi dimaksudkan oleh seniman supaya komunikasi rasa dapat berlangsung sehingga makna karya tari pasihan dapat ditangkap penghayat secara utuh. meminta. seniman penyusun memandang perlu memanfaatkan aspek kebahasaan atau bahasa verbal dengan menggunakan kata-kata cinta yang terakumulasi dalam bentuk sastra tembang Jawa. Secara garis besar dapat dieksplisitkan bahwa genre tari pasihan merupakan beragam jenis tari yang mengangkat tema percintaan. hal ini dimaksudkan oleh seniman penyusun supaya bahasa verbal yang sifatnya mengajak. Selain itu untuk menunjukkan kedekatan.

Komposisi antara bahasa verbal dengan nonverbal sebagai media ekspresi secara proporsional tampak selaras dan seimbang. Kesemuanya tadi menunjukkan adanya keselarasan antara bentuk bahasa verbal 307 . Keselarasan ini tampak dalam bahasa verbal yang berupa tembang-tembang cinta didukung bahasa nonverbal yang berupa gambaran percintaan antara pria dan wanita yang menggunakan gerak-gerak yang merepresentasikan orang bercinta.simbolisasi keharmonisan hubungan antara peran suami dan istri sebagai bentuk suritauladan. Peranan penari sangat penting artinya jika penari atau seniman penyaji berkualitas. serta dukungan rasa musikal yang bernuansa percintaan. Dengan demikian tampak bahwa sebenarnya bahasa verbal itu sebagai petunjuk isi telah mencerminkan kesatuan pesan yang utuh sedangkan bahasa nonverbal bertindak sebagai pendukung dalam menyampaikan isi supaya menjadi lebih mantap. Pada realitanya bahasa nonverbal pada tari pasihan memiliki kekuatan ekspresi sangat mantap ini juga sangat tergantung pada kualitas penari. Selain itu ditunjang bentuk rias dan warna busana sama yang mencerminkan menyatunya rasa cinta antara peran pria dan wanita. Strategi melakukan TT secara tidak langsung (off record) yang dilakukan seniman terkait aspek kebahasaannya dimaksudkan untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa supaya dapat lebih menyentuh penghayat dan maknanya dapat diterima. Dalam bahasa verbal secara keseluruhan tampak adanya koherensi antaraspek–aspek kebahasaan yang terakumulasi menjadi satu kesatuan saling berkaitan sehingga mencerminkan kesatuan makna yang dapat mengarahkan penghayat terhadap kandungan isi. ekspresinya semakin kuat dan mantap sebaliknya penarinya lemah kekuatan ekspresinya juga semakin lemah.

Pernyataan tersebut muncul karena masyarakat penonton secara umum menghayati tari pasihan sebagai seni pertunjukan didasarkan pada pengamatan mereka hanya terbatas pada bentuk visual semata.dengan nonverbal pada genre tari pasihan. sehingga pandangan pakar tentang fungsi tari pasihan sebagai hiburan dan suritauladan merupakan pernyataan yang lebih tepat. kehadiran tari pasihan pada resepsi perkawinan selain sebagai hiburan. 308 . Kehadiran tari pasihan dalam ritual resepsi perkawinan adat budaya Jawa merupakan salah bentuk hiburan dan suritauladan. Hubungan bahasa verbal dan nonverbal saling komplementer menjadi bentuk yang menyatu. juga merupakan bentuk simbol percintaan yang bermakna bagi sepasang temanten untuk diteladani. Tari pasihan dipandang sebagai bentuk hiburan terutama oleh masyarakat penonton secara umum. Selain itu pandangan pakar tersebut juga mendapat rujukan dari pengamatannya bahwa pementasan jenis-jenis tari pasihan hanya pada resepsi perkawinan. Dari sisi pandangan pakar. Keseimbangan komposisi bahasa verbal dan nonverbal tercermin pada hampir seluruh sastra tembang yang terdapat dalam tari pasihan selalu diikuti dan didukung kinetic body moves. Pandangan pakar ini didasarkan pada pemahaman terhadap bahasa verbal dan penghayatan terhadap bentuk visual pada aspek nonbahasa yang terakumulasi dalam bentuk sajian tari pasihan. selaras dan seimbang sehingga bentuknya tari pasihan sebagai media ekspresi seniman penyusun merupakan komposit isi dan bentuk visual yang menunjukkan keutuhan sebuah karya seni. Bagi penonton umum bentuk yang menarik dari sisi ketampanan dan kecantikan penari dengan dukungan rias dan busana yang bagus serta dukungan suasana iringan gamelan yang dirasa sesuai rupanya telah cukup sebagai hiburan.

Pada hakekatnya tema percintaan yang digambarkan dalam genre tari pasihan adalah percintaan sepasang pria dan wanita. Kedudukan penari pria dan penari wanita dalam tari pasihan yang tampil secara berpasangan itu merupakan simbol dari percintaan. Perkawinan merupakan salah satu dan suatu saat peralihan yang terpenting pada life-cycle dari semua manusia di seluruh dunia. sehingga perannya menjadi mutlak. 1972: 89-90). Di dalam aktivitas budaya manusia ada yang menganggap bahwa saat peralihan dari tingkat sosial tertentu ke tingkat sosial lainnya itu merupakan crisis-rites yang penuh bahaya. Sifat universal pesta dan upacara sepanjang lifecycle terjadi karena adanya suatu kesadaran secara umum di dalam budaya manusia. Begitu pula tari Bondhan Sayuk yang bersumber pada tema percintaan sepasang suami istri gambaran dari kalangan rakyat biasa. yaitu peralihan dari tingkat hidup remaja ke tingkat hidup berkeluarga. bahwa setiap tingkat baru dalam life-cycle itu berarti menghantarkan si individu ke suatu tingkat dan lingkungan sosial yang baru dan lebih luas. menunjukkan bahwa penari pria berperan sebagai suami dan penari wanita berperan sebagai istri. Pesta dan upacara pada saat peralihan sepanjang life-cycle itu merupakan suatu hal yang universal yang hampir ada pada setiap budaya manusia. namun tidak semua saat peralihan itu dianggap sama pentingnya pada tiap-tiap budaya. 309 . baik secara nyata maupun gaib (Koentjaraningrat. Hal itu dapat dicermati pada tari Karonsih mengangkat tema percintaan tokoh Panji Inukertapati sebagai suami dan tokoh Dewi Sekartaji sebagai istri. Kiranya menjadi sangat tidak relevan dan tidak berarti bila penari diganti semua putri atau pria semua karena tidak lagi bermakna bagi sepasang temanten bahkan akan berkonotasi negatif. gawat.

1989: 157). Demikian halnya yang terjadi pada budaya masyakat Jawa di dalam melangsungkan sebuah upacara adat perkawinan. mereka takut tertimpa malapetaka (Soedarsono. suritauladan yang bermakna untuk keselamatan. Ketentuan-ketentuan yang telah berlaku dalam upacara tersebut mereka yakini jika dilaksanakan dengan taat dan benar membawa berkah dan keselamatan. pelaku. kedamaian. sebaliknya jika pelaksanaan tidak mentaati konvensi-konvensi yang telah berlaku. perlengkapan. yakni 310 . pendidikan. dan pimpinan upacara tertentu. Berkaitan dengan tindakan simbolik untuk mendapatkan kekuatan magis simpatetis bagi masyarakat Jawa dalam perkawinan. Dalam periode liminal ini seorang liminar berada dalam keadaan setengah-setengah. dan ragu-ragu (Darsiti Soeratman. Kesakralan itu sesuai dengan pendapat Soedarsono mengenai hal-hal yang dianggap penting dalam suatu upacara ritual yaitu waktu. mengingat upacara-upacara pada masa-masa melampaui saat-saat krisis sering dimaksudkan untuk menolak bahaya gaib yang mengancam individu dan lingkungan. Untuk itu crisis-rites bagi seorang liminal sangat penting. segala ritual yang menyangkut dengan perjalanan hidupnya banyak diselimuti dengan simbolsimbol yang diharapkan dapat memberikan petuah. tempat.Periode transisi juga disebut periode liminal yang merupakan fase tengah dalam skema ritus transisi dari praliminal untuk menuju pascaliminal. Bagi masyarakat Jawa yang masih lekat dengan budayanya. Bagi masyarakat Jawa upacara tersebut merupakan sebuah upacara yang sangat sakral sepanjang daur hidupnya. diperlukan kekuatan-kekuatan tertentu. Kekuatan tersebut antara lain berupa magis simpatetis yang diwujudkan dengan tindakan atau perbuatan yang dapat melambangkan terjadinya pembuahan. tidak menentu. dan kebahagiaan hidup. 1990: 4).

. they dance with the upper part of their bodies bent forwards.. Suddenly they jump wildly along with violent coitus motions and loud groans.. dilakukan secara simbolis. (dalam Richard Kraus. yang diekspresikan para penari dengan membawa gambar tiruan organ-organ wanita dengan cara sebagai berikut. yaitu pada setiap ada acara upacara perkawinan akan hadir tari pasihan yang hendak 311 . Pernyataan tersebut sejalan dengan pendapat Koch Grundberg yang menggambarkan sebuah tari kesuburan dari suku Indian Coneba di Brasil. berkembang menuju masyarakat modern. Hubungan dimaksud pada masyarakat yang masih melestarikan budaya purba kadang-kadang dilakukan lebih realistis (Soedarsono dalam Soedarso. 1969: 21). the jump among the women – the knock the phalli one against another.. tindakan yang dapat melambangkan terjadinya pembuahan.. penuh simbolis dan mengandung makna nilai-nilai percintaan yang sangat berarti bagi kehidupan sepasang temanten. 1991: 35).. Mereka dalam melakukan upacara perkawinan. Pada masyarakat yang sudah lebih maju. Rupanya. sudah mengakar pada budaya masyarakat Jawa. untuk mendapatkan kesuburan dengan cara menanggap jenis tari duet percintaan atau tari pasihan yang merupakan tarian kesuburan yang diekspresikan lewat sebuah garapan gerak-gerak presentatif dan representatif.. Hal ini terbukti pada masyarakat Jawa sekarang yang sudah mengalami kemajuan. Salah satu sarana upacara perkawinan adat Jawa yang cukup penting adalah tari pasihan. They carry the vertility into every corner of the houses. Stamping with the right foot and singing.. Hampir dapat dipastikan bahwa pada setiap upacara perkawinan akan hadir tari pasihan.adanya hubungan antara pria dan wanita seperti yang digambarkan pada tari pasihan.. yakni adanya hubungan antara pria dan wanita.

Menurut Clifford Geertz (1992: 6). Kehadiran genre tari pasihan yang menggambarkan percintaan pria dan wanita dalam kehidupan sosial masyarakat terutama konteksnya pada ritual perkawinan adat Jawa rupanya mempunyai makna simbolik yang sangat penting terutama bagi kedua mempelai dalam rangka mempersiapkan diri untuk mengarungi kehidupan di masyarakat yaitu menuju terbentuknya keluarga yang bahagia. sehingga perlu perantara yang berwujud simbol-simbol dalam puisi bukan dalam bentuk pengetahuan. Bagi masyarakat Jawa upacara perkawinan merupakan saat yang dianggap penting sehingga sarana–sarana yang mendukung peristiwa perkawinan sangat diperhitungkan sangat teliti.diteladani oleh kedua mempelai. Simbolisme semacam ini tampak pada genre tari pasihan yang hadir dalam rangkaian upacara-upacara perkawinan adat Jawa. bahwa ‘simbol’ tampak terbatas pada sesuatu yang mengungkapkan secara tidak langsung. Genre tari pasihan memiliki fungsi yang dalam terutama bagi sepasang mempelai temanten yang tercermin pada komplementer bahasa verbal dan nonverbalnya. Peristiwa budaya ini membuat kehadiran tari pasihan dalam upacara perkawinan sangat ditunggu-tunggu masyarakat. mengingat merupakan satu-satunya bentuk sajian tari yang bermakna. Seolah–olah keberadaan genre tari pasihan dalam budaya Jawa menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan terutama pada upacara-upacara perkawinan. Hampir dapat dipastikan sarana yang digunakan sebagai kelengkapan berlangsungnya upacara perkawinan memiliki makna simbolik yang difungsikan untuk menasehati sepasang temanten agar dapat membangun keluarga yang bahagia lahir dan batin. 312 . baik secara simbolik maupun sebagai santapan estetis terasa menyatu dengan situasi upacara.

Bentuk sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temanten terpancar dari kekuatan cinta sepasang penari pria dan wanita yang digambarkan dalam tari pasihan dimaksudkan dapat dihayati sepasang temanten sehingga bayangan-bayangan cinta yang diekspresikan oleh seniman mampu memicu dan memacu kehidupan imajinasi cinta sepasang temanten. Selain itu bentuk dukungan sugesti juga digambarkan ketika adegan penari putri memberikan boneka anak kepada 313 . Dalam perjalanan kisahnya percintaan sepasang suami istri yang digambarkan pada tari pasihan. dalam menjalani kehidupan berawal menghadapi permasalahan kemudian mendapat solusi yang menjadi berangsur-angsur membaik dan berakhir bahagia. Rupanya terdapat korelasi yang sangat signifikan bahwa kehadiran tari pasihan dalam resepsi perkawinan diharapkan dapat diteladani dan memberikan sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temanten. pasangan penari pria dan wanita setelah bercinta kemudian membawa boneka sebagai simbol telah diberi keturunan anak.Pada dasarnya genre tari pasihan gaya Surakarta merupakan simbolisasi percintaan sepasang manusia yang berjenis kelamin pria dan wanita. Selain itu kehadiran tari pasihan hampir dapat dipastikan dalam resepsi perkawinan. Kekuatan imajinasi percintaan yang digambarkan sepasang kekasih dalam tari pasihan diharapkan dapat memberikan kekuatan magis simpatetis terhadap kehidupan jiwa sepasang mempelai temanten. Hal ini juga semakin tampak jelas digambarkan secara lebih aktual pada tari Bondhan Sayuk. Simbolisasi tersebut merupakan harapan besar yang dapat memberikan sugesti sepasang temanten untuk segera diberi keturunan anak. yaitu mampu mempengaruhi kesuburan dalam proses perkawinan pasangan temanten.

harmonis. Bagi penghayat pakar seni menangkap makna berdasarkan pementasan tari pasihan. dan sikap-sikap ideal bagi figur suami maupun figur istri merupakan pesan makna yang hendak disampaikan oleh seniman penyusun. bagaimanapun handalnya seniman 314 . sebagai pewaris dan penerus keluarga. Lewat kekuatan magis simpatetis yang diekspresikan genre tari pasihan akan dapat menyuburkan benih-benih cinta yang tengah berkembang pada sepasang temanten yang akhirnya mampu melahirkan buah cinta yang berupa momongan anak. Perbedaan yang tampak adalah terletak pada kadar tebal dan tipisnya sebuah makna. dan bahagia. Artinya pesan yang dimaksudkan seniman dengan makna yang ditangkap pakar seni sama-sama dalam koridor atau wilayah nilai-nilai percintaan. kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga. Pada dasarnya kedua orang tua temanten mengawinkan putra-putrinya dengan cita-cita untuk segera diberi keturunan yang berupa anak. harmonis. terdapat pasangan suami istri yang romantis. Dari hasil komunikasi antara maksud seniman penyusun dengan tanggapan masyarakat menunjukkan adanya persamaan makna atau maksud.temanten putri. Tindakan atau perbuatan tersebut merupakan perbuatan simbolik yang menunjukkan adanya kekuatan – kekuatan tertentu yang tidak kelihatan mata yang bersifat magis simpatetis diharapkan dapat diterima temanten putri. Perbuatan simbolik dalam pertunjukan tari Bondhan Sayuk lebih tampak jelas dan lebih dekat kearah realitas tujuan bercinta dalam sebuah kehidupan keluarga. Nasehat-nasehat cinta kasih yang merupakan makna dari bahasa verbal berupa: pasangan keluarga yang romantis. dan bahagia. Pada hakekatnya dalam komunikasi seni bahwa pernyataan atau maksud X tidak pasti ditangkap atau diterima persis X.

Bagi seniman dalam menciptakan karya seni. dalam penghayatan karya seni terjadi aktivitas kreatif. Sebagai penari atau penyaji. berupaya menciptakan benda-benda pacu yang memiliki nilai estetik dalam rangka menyampaikan maksud. enerjik. Prinsip utama yang sangat penting dalam komunikasi seni adalah terjadinya komunikasi rasa. sedangkan penghayat berusaha menangkap maksud yang dikehendaki seniman tersebut dengan cara memberikan makna terhadap karya seni. Kadar pemahaman makna dalam karya seni yang berupa komunikasi rasa. Menurut Sutopo (1995: 12-13). prinsip kadarnya tetap berbeda tidak persis sama.dalam menciptakan karya seni dan hebatnya pakar seni dalam menilai karya. Kondisi pisik penari harus benar-benar dalam keadaan sehat. Seniman pada dasarnya tidak lain sebagai manusia yang menyediakan sebuah susunan benda pacu atau lambang-lambang sensa yang diharapkan akan ditafsirkan penghayat seperti yang dimaksudkan olehnya. yakni seniman dengan menciptakan kreativitas artistik sedangkan penghayat mencipta nilai dengan kreativitas estetik. seorang seniman harus mempunyai kemampuan baik pisik maupun nonpisik. dan relaks serta memiliki sistem ekspresi dan evaluasi yang baik 315 . Kelemahan yang terdapat pada genre tari pasihan sedikit banyak dipengaruhi kualitas penari yang lemah sebagai penyampai isi dan iringan tari yang berupa kaset rekaman atau CD. Kadar pemahaman juga sangat tergantung dari bekal yang dimiliki oleh seniman dan penghayat. Pada prinsipnya penafsiran terhadap keragaman media komunikasi yang terdapat dalam tari tidak mampu hanya ditangkap secara rasional semata tetapi ketajaman rasa merupakan ujung tombak dalam menangkap makna yang sebenarnya. segar secara total baik jasmani maupun rohani.

ketrampilan. 1984: 31). kelenturan. sehingga sekalipun dapat menari Jawa dengan penguasaan teknik yang sangat baik. Menurut Wisnoe Wadhana : kesempurnaan menari Jawa klasik tradisional hanya dapat diraih apabila si penari juga mendalami mistik Jawa. Selain itu penari harus juga mampu menguasai ruang dan waktu. berbobot magis. Sebagai seniman. Peranan tubuh penari sangat vital untuk sarana ekspresi. luwes dan terampil dalam penampilan. Padahal ukuran kehebatan seorang penari klasik tradisional Jawa haruslah isi. dan penguasaan irama (Wisnoe Wadhana. dan bekal pengalamannya sehari-hari diharapkan mampu menafsirkan karya-karya tari dari seorang koreografer sehingga dapat menyajikan secara ekspresi sesuai dengan peran karakternya. ketepatan gerak ekspresi. dan kepekaan rasa menjadi sangat pokok sebagai rohnya dalam sajian tari. terasakan hambar kosong belaka. Maka ia pun akan selalu patut dalam perannya. Keberhasilan mereka menyampaikan pesan-pesan tergantung dengan kemampuan menyeleksi materi-materi sebagai sarana ungkap dan tidak lepas dari kemampuan masyarakat penikmat untuk menangkap yang sudah barang tentu mengacu pada nilai-nilai budaya dan norma-norma sosial yang hidup dan berkembang. ratio.seperti: keseimbangan. Generasi sekarang banyak yang awam terhadap mistik tersebut. Selama seniman mampu mengungkapkan nilai-nilai budaya dan norma-norma sosial yang terangkum dalam sebuah pesan-pesan lewat karya tari secara indah. ia akan dapat mengarahkan sekaligus mendidik peningkatan daya apresiasi masyarakat terhadap karya-karya tari ciptaannya yang 316 . berada dalam puncak prestasi keteladanan (1994: 45-46). Persiapan nonpisik bagi penari berupa kepekaan rasa. akan terjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat dan dapat diprediksikan eksistensinya sebagai seniman mendapat dukungan dan pengakuan penuh dari masyarakat pendukungnya.

tidak terlatih. Kualitas seorang penari hanya akan tercapai bila penari mampu menghayati dan mengekspresikan sesuai dengan perannya secara totalitas jiwa. Pewarisan budaya tidaklah bersifat statis. Gabungan garap pisik dan olah rasa yang matang akan menghasilkan kualitas penari yang mumpuni atau berbobot. 1991:10). Dalam tari Jawa bentuk ekspresinya pada hakekatnya terwujud berdasarkan alam emosi. Rupanya hanya penari yang berkualitas yang terlatih yang mampu menyajikan dan menyampaikan isi atau makna yang terkandung dalam genre tari pasihan. Pada dasarnya seniman hanya menyediakan suatu susunan pacu atau lambang-lambang sensa yang diharapkannya akan kita tafsirkan seperti yang dimaksudkan olehnya (Parker. sehingga kekuatan ekspresinya akan mampu mengungkapkan isi secara mantap. yaitu bentuk dan iramanya sangat kuat dilatarbelakangi oleh konsep keindahan dan tradisi kebudayaannya (Humardani. tetapi masing-masing generasi mencoba untuk mengadakan perubahanperubahan disesuaikan dengan kondisi kehidupan masyarakat pendukungnya. Ketajaman dan kepekaan rasa yang dimiliki penari dapat teraktualisasi dalam sebuah sajian tari dan mampu menggugah intuisi para penghayat. Kelemahan dari kualitas penari sebagai penyampai isi tari yang dimaksudkan seniman merupakan kendala yang sangat vital karena hanya dari 317 . Keluluhan jiwa seorang penari dalam menyajikan karakter tari merupakan puncak prestasinya sebagai seorang seniman. Seni tradisional termasuk tari sebagai budaya yang diwarisi secara turun-temurun sudah barang tentu memiliki kesinambungan dengan budaya sebelumnya. 1980:46).pada gilirannya menumbuhkembangkan kehidupan tari secara wajar. Sebaliknya jika penarinya tidak berkualitas. ia akan lemah dan tidak mampu mengekspresikan muatan isi seperti yang diharapkan oleh seniman pencipta.

kekuatan ekspresinya menjadi semakin mantap karena selain kekuatan rasa musikal yang muncul dari garap gendhing-gendhing karawitan juga didukung kekuatan penari dalam membawakan tembang akan tampak lebih ekspresip. Kekuatan ekspresi menjadi kurang mantap jika dengan iringan yang sifatnya tidak langsung dengan iringan gamelan. Dalam sajiannya genre tari pasihan dapat diiringi gamelan secara langsung dan iringan tidak langsung yaitu dengan iringan kaset atau rekaman CD. Secara ringkas dapat dikatakan kelemahan kualitas penari dalam menyajikan jenis tari pasihan akan mempengaruhi kekuatan ekspresi dan mengurangi pada kemantapan rasa penghayat. karena selain rasa musikal yang muncul sudah terasa lemah. juga tidak mendapat dukungan ekspresi tembang dari penari secara langsung. Hasilnya akan berbeda jika sajiannya genre tari pasihan dengan iringan kaset atau rekaman CD. Hal ini merupakan kelemahan yang terdapat pada sajian genre tari pasihan jika tidak menggunakan iringan langsung dengan gamelan. 318 .ekspresi penari makna tari dapat ditangkap atau dihayati oleh penonton. Jika dengan iringan gamelan langsung.

mengingat gambaran percintaan pasangan suami istri yang romantis. dan bahagia yang terdapat dalam tari tersebut dirasa sangat tepat dan ditangkap secara mantap sebagai suatu bentuk edukatif atau pengajaran yang bersifat tidak langsung dan sangat bermanfaat bagi sepasang temanten untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dalam menggapai keluarga bahagia lahir dan batin. meminta dan menyuruh terhadap sepasang temanten untuk memahami dan meresapi makna isi yang terkandung dalam bahasa verbal sastra tembang yang disampaikan dengan bahasa nonverbal dalam bentuk visual yang estetik supaya melakukan tindakan atau perbuatan seperti yang dicontohkan dalam pertunjukan tari pasihan tersebut. Rupanya sudah mengakar pada budaya masyarakat Jawa. genetik. Kehadiran genre tari pasihan dalam resepsi perkawinan dimaksudkan oleh seniman untuk mengajak. Simpulan. Berdasarkan temuan penelitian dan hasil pembahasan dari keterkaitan tiga faktor objektif. Maksud dan harapan seniman penyusun tersebut ditangkap oleh masyarakat sebagai sesuatu yang harus diteladani. 319 .BAB V PENUTUP A. harmonis. yaitu pada setiap ada acara upacara perkawinan akan hadir tari pasihan yang hendak diteladani oleh kedua mempelai. Peranan genre tari pasihan dalam upacara ritual resepsi perkawinan memiliki makna yang cukup signifikan bagi sepasang temanten. dan afektif dapat disimpulkan bahwa kehadiran genre tari pasihan dalam upacara ritual resepsi perkawinan berfungsi sebagai hiburan dan suritauladan.

rias. Harmonisasi dan keseimbangan antara bahasa verbal dan nonverbal dalam genre tari pasihan telah mencerminkan kesatuan makna yang saling mendukung maka karya seni genre tari pasihan layak dan mantap sebagai seni pertunjukan yang berkualitas tinggi. baik secara simbolik maupun sebagai santapan estetis terasa menyatu dengan situasi upacara. polatan. Kedua komponen yaitu bahasa verbal sebagai isi atau pesan makna dan bahasa nonverbal dalam bentuk visual sebagai pendukung pemantapan makna. kinetic body moves (gerak tubuh). busana. dan iringan. Bahasa nonverbal merupakan bentuk visual yang bersifat estetik sudah memperlihatkan adanya koherensi antarelemen-elemen dan saling berkaitan untuk mendukung dalam menyampaikan isi supaya menjadi lebih mantap. ditunjukkan bahwa jenis-jenis tari pasihan tersebut sampai sekarang hidup dan 320 . sindhenan. yang sekaligus bertindak sebagai penyampai pesan makna yang secara komposit telah terkait dan saling melengkapi sebagai seni pertunjukan yang utuh dan mantap. dan mantap sebagai sebagai hiburan dan suritauladan. pola lantai. Dalam bahasa verbal telah tampak adanya koherensi antaraspek–aspek kebahasaan yang terakumulasi menjadi satu kesatuan saling berkaitan sehingga mencerminkan kesatuan makna yang dapat mengarahkan penghayat terhadap kandungan isi. gerongan. dan jineman dengan bahasa nonverbal berupa: tema.Peristiwa budaya ini membuat kehadiran tari pasihan dalam upacara perkawinan sangat ditunggu-tunggu masyarakat. Bentuk seni pertunjukan genre tari pasihan merupakan komposit bahasa verbal dalam wujud sastra tembang yang terdapat dalam bentuk pathetan. Kekuatan genre tari pasihan sebagai seni pertunjukan yang berkualitas. layak. mengingat merupakan satu-satunya bentuk sajian tari yang bermakna.

TT ekspresif. Kehadiran tari pasihan dalam resepsi perkawinan diharapkan dapat diteladani dan memberikan sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temanten. adapun bentuk perintah tersebut bersifat simbolik dalam bentuk yang estetik. Dalam mendukung kesatuan makna. dan TT patik.berkembang di masyarakat terutama pada upacara-upacara ritual resepsi perkawinan. Nilai-nilai keteladanan yang digambarkan pada genre tari pasihan pada hakekatnya merupakan bentuk simbolisasi cinta kasih sepasang suami istri. Dari beragam jenis TT yang paling dominan adalah TT direktif. bahasa verbal berfungsi untuk melengkapi dan mendukung bahasa nonverbal sebagai bentuk visual. Komplementer dua komponen bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan saling mengait. Sebagai kandungan makna atau isi. aspek bahasa verbal yang dimanfaatkan oleh seniman penyusun dalam karya tari pasihan adalah: TT asertif. Diharapkan dengan dominasi jenis TT direktif sangat tepat untuk menyuruh supaya meneladani. Pada dasarnya bahasa verbal lebih berfungsi sebagai penunjuk isi sedangkan bahasa nonverbal sebagai penyampai isi supaya lebih menyentuh jiwa penghayat dan menjadi semakin mantap. Bentuk sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temanten terpancar dari kekuatan cinta sepasang penari pria dan wanita yang digambarkan dalam tari pasihan 321 . Pada prinsipnya masing-masing komponen baik bahasa verbal maupun bahasa nonverbal memiliki kedudukan yang sama yaitu berfungsi untuk mengekspresikan maksud seniman penyusun. TT direktif. TT komisif. saling melengkapi sehingga bahasa verbal yang berupa sastra tembang mampu memperjelas dan menyatukan teks dengan bentuk visual dalam kesatuan makna yang utuh.

dan sikap-sikap ideal bagi figur suami maupun figur istri. B. yaitu mampu mempengaruhi kesuburan dalam proses perkawinan pasangan temanten. Bentuk seni pertunjukan genre tari pasihan atau tari pasihan adalah karya seni dari seniman yang berkualitas tinggi dan telah teruji terbukti sampai sekarang 322 . kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga. sebagai pewaris dan penerus keluarga. Pada dasarnya kedua orang tua temanten mengawinkan putraputrinya dengan cita-cita untuk segera diberi keturunan yang berupa anak. Diharapkan kekuatan magis simpatetis dapat mendorong menyuburkan benih-benih cinta yang tengah berkembang dan mampu memberikan sugesti terhadap sepasang temanten untuk segera diberi keturunan yang berupa momongan anak.dimaksudkan dapat dihayati sepasang temanten sehingga bayangan-bayangan cinta yang diekspresikan oleh seniman mampu memicu dan memacu kehidupan imajinasi cinta sepasang temanten. Tindakan atau perbuatan tersebut merupakan perbuatan simbolik yang menunjukkan adanya kekuatan–kekuatan tertentu yang tidak kelihatan mata yang bersifat magis simpatetis. Saran. Diharapkan nasehat-nasehat tentang cinta kasih tersebut bermanfaat bagi sepasang temanten sebagai bekal untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dalam membangun sebuah keluarga. dan bahagia. Kekuatan imajinasi percintaan yang digambarkan sepasang kekasih dalam tari pasihan diharapkan dapat memberikan kekuatan magis simpatetis terhadap kehidupan jiwa sepasang mempelai temanten. harmonis. Pada intinya bentuk daya pragmatik genre tari pasihan adalah berupa nasehat-nasehat tentang cinta kasih yaitu pasangan keluarga yang romantis.

323 . b) Pengrawit dalam mengubah jenis-jenis gendhing maupun cakepan atau bahasa verbalnya yang terdapat pada genre tari pasihan hendaknya harus sadar dan mempertimbangkan segi fungsinya.hidup dan berkembang sebagai hiburan dan suritauladan bagi bagi sepasang temanten dan masyarakat pada umumnya. hingga memahami tentang pesan makna yang disampaikan dari sebuah tari. c) Kritikus hendaknya lebih banyak memberikan penilaian terhadap karyakarya yang dipublikasikan supaya masyarakat mulai mengenal. mengetahui. Diharapkan kualitas dan kuantitas penilaian dari masyarakat terhadap tari semakin meningkat sehingga kehidupan seni pertunjukan semakin hidup dan berkembang dalam lingkungan budaya yang layak dan proporsinal. Sehingga kemantapan dan validitas sebagai sebuah karya seni yang berkualitas tidak diragukan lagi untuk itu perlu peneliti sarankan kepada: a) Penari dalam mengubah pola-pola pakaian dan pola-pola sekaran yang terdapat pada genre tari pasihan hendaknya harus sadar dan mempertimbangkan segi fungsinya.

Joan. Levinson. Modul Pembelajaran: Pengantar Linguistik. 1976. dalam Esther N. H. dan Ruqaiya Hasan. Cutting. ‘Universals in language usage: Politeness phenomena’. Geertz. Dwi Maryani.Yogyakarta: Kanisius. T. .A. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. M. Pengantar Linguistik Umum. 1999. Surakarta: STSI Press. Metode Linguistik. London and New York: Routledge. Hidayat. STSI: Surakarta. Oxford: Oxford University Press. de Saussure. Perkembangan Tari Enggar-Enggar. Bandung: PT Erisco. 1987. Ferdinand. Surakarta: UNS Press. Guy. Fatimah Djajasudarma. PN: Difa Publisher.DAFTAR PUSTAKA ACUAN Asim Gunarwan. Penelope and S. Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia. Cook. Perubahan Tari Lambangsih. 2002. EM Zul Fajri dan Ratu Aprillia Senja. Pengantar Metode Penelitian Linguistik Struktural. Pengantar Ilmu Komunikasi. 1999. Dwi Yasmono. 2007. Clifford. Hafied.K. 2007. Terjemahan: Rahayu S. Goody (ed) Questions and Politeness. Tanpa Taun. Cangara. Tanpa Tahun. STSI: Surakarta. Cambridge: Cambridge University Press. Discourse. Edi Subroto. Kebudayaan dan Agama. 1989. 2006. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. PPS-UNS. 1992. Brown. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Budhisantoso. Cohesion in English.C. Halliday. 1916. Pragmatics ang Discourse. 324 . Makalah berjudul “Implikatur Percakapan: Perspektif Grice dan Perspektif Sperber & Wilson”. 1994. London: Longman Group Ltd. 1993. Jurnal Wiled. Jakarta: Depok.D.

The Problem of Meaning in Primitive Languages dalam Ogden. Jacob L.J. 1984. Muhammad Rohmadi. Charles. 2003. Noth. Editor: Rustopo. Richards (ed). Jakarta: Diksi Insan Mulia. The Meaning of Meaning. Suzanne K.D. Ilmu Pragmatik. Bloomington: Indiana University Press. 1990. Bronislaw. Moleong.Hoed.J. Lamuddin Finoza. 1999. Geoffrey. 1990. Metodologi Penelitian Kualitatif. Humardani.A. Problematika Seni. Benny H. Trend.W. . 2001. Langer. Ibrahim Alfian. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Komunikasi Fatis Di Kalangan Penutur Jati Bahasa Inggris. 1998. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Maryono. dan I. Principles of Pragmatics. 2007. Jumanto. Pengantar Ilmu Antropologi. Mey. Leech. Oka. P. Koentjaraningrat. Bahasa dan Sastra dalam Tinjauan Semiotik dan Hermeneutik. 1987. Yogyakarta: UGM. Introducing English Semantics. Disertasi. Komposisi Bahasa Indonesia.K. 1991. Widaryanto. Lexy. Malinowski. Makalah berjudul: “Disiplin Sejarah dalam Merekonstruksi masa Lampau untuk Menyongsong Masa Depan”. 1993. W. Universitas Indonesia: UI Press. 1988. London: Routledge. 1991. . Bandung:STSI. 1983. Winfried. C. 2005.Paul. London: Longman. Surakarta: STSI Press. UI: Jakarta. London: K. Nababan. Yogyakarta: Lingkar Media. Terjemahan: Fx. STSI: Surakarta. 1923. Jakarta: PT Rineka Cipta. T. Pragmatik: Teori dan Analisis. Kebudayaan Jawa. 2004. 325 . Pemikiran & Kritiknya. Pragmatics: An Introduction. Oxford: Blackwell.D. Terjemahan: M. Karonsih. Handbook of Semiotics. dan Trubner. Kreidler. Jakarta: Balai Pustaka. Prinsip-prinsip Pragmatik. 2006.

1987. Pengantar Pengetahuan Dan Komposisi Tari. Sp. Metodologi Penelitian Kualitatif. Departemen P dan K. 2003. . 1996. Sintaksisi. Rustopo. Seni Pertunjukan. Amsterdam: John Benjamins Publishing Company. Sutopo.C et al. Yogyakarta:UGM. De Witt. Yogyakarta: Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI). Herbert. 1990. New York: Free Press. 1978. Communication Network: Towards a Newq Paradigm for Research. Kritik Seni Holistik Sebagai Model Pendekatan Penelitian Kualitatif. M. Beberapa Catatan Tentang Perkembangan Kesenian Kita. Soedarsono. Terjemahan: SD.Pakubuwono IV. Perkembangan Gamelan Kontemporer. Everett M and D. Surakarta: Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI). 1995. Lawrence Kincaid.M. Jakarta: Yayasan Harapan Kita/BP 3 TMII. Richards. Yogyakarta: CV Karyono. . 1993. Sunan. 1981. 1985. Terjemahan:Soedarso. Read. Discourse Studies: an Introductory Textbook. Jakarta: PN Buku Sastra Indonesia dan Daerah. 1992. 326 .H. Surakarta: Universitas Sebelas Maret. Humardani. R. Ilmu Bahasa Indonesia. John R. Indonesia Indah: Tari Tradisional Indonesia. . 1969. 1980. Yogyakarta: Gadjah Mada university Press. Terjemahan: Yanti Darmono. Parker. Searle. Sebelas Maret University Press. 2006. Longman Dictionary of Language Teaching and Applied Linguistics. 1991. Essex: Longman Rogers. Yogyakarta: ISI. Speech Acts: An Essay in The Philosophy of language. Renkema Jan. Soedarso Sp. Ramlan.B. Yogyakarta: Saku Dayar Sana. Cambridge: Cambridge University Press. . Teori Sosiologi tentang Perubahan Sosial. Soerjono Soekanto. Pengertian Seni. J. Makalah berjudul: “Peranan Seni Budaya dalam Sejarah Kehidupan Manusia: Kontinuitas dan Perubahannya. 1983. Jakarta: Ghalia Indonesia. H. Surakarta: Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI). 1979. 1990. Dasar-dasar Estetika.

Dasar-dasar Pragmatik. Karanganyar: penari. 1994. 327 . Hartoyo. . 1994. Sukoharjo: vokal putri (pesindhen). Singapore: National Institute of Education. 2. Yogyakarta: PT Tiara Wacana. 2006. 8. Henry Lee. Darsono. pakar tari dan budayawan.P. Metode Etnografi. Daryono. Surakarta: pakar tembang dan karawitan serta penanggap. Sukoharjo: penari. 3. Ninik Sutrangi. 1998.S. 1949. 7. Pragmatics. Pragmatik. 1969. Editor: Archibald A.Surakarta: STSI Press. Surakarta: penyusun tari. 1997. W. The Mathematical Theory of Communication. Jurnal Wiled. Nuryanto. Surakarta: penari. Claude M and Warren Weaver. Yogyakarta: Andi Offset. J. Yule. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Waridi. Nora Kustantina Dewi. Terjemahan:Misbah Zulfa Elizabeth. Surakarta: pakar tari. 1996. Rusini. Rusdiantara. 2006. Karanganyar: penari. Jr. Jakarta: Sena Wangi. Urbana: University of Illinois Press. Karawitan Wayang Kulit Purwa Gaya Surakarta. Hari Subagya. Perkembangan Tari Gambyong Gaya Surakarta 19501993. Wainwright. Boyolali: penari dan penyusun tari. Membaca Bahasa Tubuh. Wijana. 10. Smith. Gordon R. Nartutik. Dewa Putu I. 2005. Linguistics. Wisnoe Wardhana. Surakarta: penyusun tari dan penari. 9. 5. Terjemahan: Narulita Yusron. George. Sri Rochana. Voice of America Forum Lectures.Shannon. Terjemahan: Indah Fajar Wahyuni. Agus Tasman. 11. Hill. Karangannyar: pakar tembang dan karawitan. Spradley. DAFTAR NARA SUMBER 1. 4. 6. Yogyakarta: PN BACA.

penyusun tari. Slamet Suparno. Karanganyar: pakar tembang dan karawitan. dan pakar tari. 13. 328 . Surakarta: penari. Boyolali: penari. Slamet Riyadi. Sukoharjo: penangggap. 15. Sri Lestari. 14. Sunarno. Surakarta: pakar karawitan.12. 16. Sudarmin.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful