P. 1
128220408201004481

128220408201004481

|Views: 894|Likes:
Published by Mohammad Naufal

More info:

Published by: Mohammad Naufal on May 05, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/11/2012

pdf

text

original

Sections

  • a. Komunikator
  • Implikatur
  • 3. Polatan (ekspresi wajah)

1

KOMPONEN VERBAL DAN NONVERBAL

DALAM

GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA
(Kajian Pragmatik)

DISERTASI

Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan dalam Mencapai Derajat
Doktor Program Studi Linguistik Minat Utama Linguistik
Pragmatik dan Dipertahankan di Hadapan Sidang
Senat TerbukaTerbatas di Bawah Pimpinan
Rektor Universitas Sebelas Maret
Prof. Dr. H. Much Syamsulhadi, dr., Sp.KJ. (K)
Pada Hari Rabu Kliwon, 7 April 2010

Oleh :

Maryono
NIM. T 130906005

PROGRAM PASCASARJANA
PROGRAM STUDI LINGUISTIK (S3)
UNIVERSITAS SEBELAS MARET

2

SURAKARTA
2010
DISERTASI

KOMPONEN VERBAL DAN NONVERBAL

DALAM

GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA

( Kajian Pragmatik)

Oleh :

Maryono
NIM. T 130906005

DISETUJUI OLEH PEMBIMBING

1. Prof. Dr. M. Sri Samiati Tarjana.

…………………………

NIP. 194 406 021 965 112 001
(Promotor)

2. Prof. Dr. T. Slamet Suparno, S.Kar.,M.S.

…………………………

NIP. 194 812 191 975 011 001
(Ko-Promotor )

Mengetahui

Ketua Program Studi S3 Linguistik

3

Prof. Dr. H. D. Edi Subroto.
NIP. 194 409 271 967 081 001

KOMPONEN VERBAL DAN NONVERBAL
DALAM
GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA
( Kajian Pragmatik)

DISERTASI

UNTUK MEMPEROLEH GELAR DOKTOR DALAM BIDANG LINGUISTIK
MINAT UTAMA: LINGUISTIK PRAGMATIK
DIPERTAHANKAN DI HADAPAN DEWAN PENGUJI
PADA SIDANG SENAT TERBUKA TERBATAS
PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA PADA TANGGAL: 7 APRIL 2010

OLEH: MARYONO
LAHIR DI BOYOLALI, 15 JUNI 1960

DEWAN PENGUJI:

1. Prof. Dr. H. Much Syamsulhadi, dr., Sp.KJ. (K)

....................................

(Penguji Utama)

2. Prof. Drs. Suranto, M.Sc., Ph.D.

....................................

(Sekretaris merangkap Anggota)

3. Prof. Dr. M. Sri Samiati Tarjana.

....................................

(Promotor merangkap anggota)

4. Prof. Dr. T. Slamet Suparno, S.Kar., M.S.

....................................

(Ko-Promotor merangkap anggota)

5. Prof. Dr. H. D. Edi Subroto.

....................................

(Anggota)

6. Prof. Dr. Soepomo Poedjosoedarmo.

....................................

(Anggota)

7. Prof. Dr. H. Soetarno, DEA.

....................................

(Anggota)

8. Dr. Sumarlam ., M.S.

....................................

(Anggota)

4

Mengetahui
Rektor Universitas Sebelas Maret

Prof. Dr. H. Much Syamsulhadi, dr., Sp.KJ. (K)
NIP. 194611021976091001

SURAT PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini

Nama

: Maryono

NIM

: T 130906005

Program

: Pascasarjana (S3) UNS

Program Studi

: Linguistik

Tempat/Tanggal Lahir

: Boyolali, 15 Juni 1960

Alamat

: Melikan Rt 01, Rw 08, Palur,

Mojolaban, Sukoharjo

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa disertasi saya yang berjudul:

KOMPONEN VERBAL DAN NONVERBAL DALAM GENRE TARI

PASIHAN GAYA SURAKARTA (Kajian Pragmatik) adalah asli (bukan jiplakan)

dan belum pernah diajukan oleh penulis lain untuk memperoleh gelar akademik

tertentu.

Semua temuan, pendapat atau gagasan orang lain yang dikutip dalam disertasi ini

ditempuh melalui tradisi akademik yang berlaku dan dicantumkan dalam sumber

rujukan dan atau dalam Daftar Pustaka.

Apabila kemudian terbukti pernyataan ini tidak benar, saya sanggup

menerima sangsi yang berlaku.

5

Surakarta, 7 April 2010

Yang membuat pernyataan

Maryono

KATA PENGANTAR

Syukur alhamndulillah penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, atas ridha dan

kehendak-Nya, sehingga disertasi ini dapat selesai tepat pada waktu yang

diharapkan.

Sepenuhnya penulis sadari bahwa tanpa bantuan dari berbagai pihak, mustahil

disertasi ini dapat selesai. Untuk itu, kanthi linambaran trapsilaning manah,

perkenankan penulis sampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. H. Much Syamsulhadi, dr., Sp.KJ (K), Rektor UNS yang telah

memberi kesempatan penulis untuk menyelesaikan studi program doktor di

Universitas Sebelas Maret Surakarta.

2. Prof. Dr. H. Soetarno, DEA, atas dukungan dan nasihat sejak masih menjabat

Ketua Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta sampai sekarang sehingga

penulis dapat menyelesaikan program doktor di UNS.

3. Prof. Drs. Suranto, M.Sc., Ph.D, selaku Direktur Program Pascasarjana

Universitas Sebelas Maret Surakarta, yang telah memberi kesempatan penulis

untuk menyelesaikan studi program doktor di UNS.

4. Prof. Dr. H. D. Edi Subroto, selaku Ketua Program Linguistik S3 UNS dan

atas bimbingan melalui berbagai disiplin yang telah diberikan kepada penulis

sebagai bekal dalam menyelesaikan disertasi.

5. Prof. Dr. M. Sri Samiati Tarjana, sebagai promotor yang dengan sabar telah

membimbing, mengarahkan, dan mengoreksi sehingga penulis meraih gelar

doktor.

6

6. Prof. Dr. T. Slamet Suparno, S.Kar., M.S, sebagai Ko-Promotor, yang telah

membimbing, dan mengoreksi sehingga penulis meraih gelar doktor.

7. Prof. H.B. Sutopo, M.Sc., M.Sc, Ph.D (almarhum) yang dengan sabar telah

membimbing, mengarahkan, mengoreksi, dan yang menghantarkan sampai

ujian tertutup sehingga penulis dapat berlanjut meraih gelar doktor.

8. Prof. Dr. Soepomo Poedjosudarmo; Prof. Dr. Kunardi Hardjoprawiro, M.Pd;

Prof. Dr. Joko Nurkamnto; Prof. Dr. Maryono Dwiraharjo, S.U; Dr.

Sumarlam., M.S, yang telah memberikan disiplin Linguistik untuk bekal

penulis menyelesaikan disertasi.

9. Sunarno S.Kar., M. Sen, sebagai nara sumber primer tari Bondhan Sayuk dan

jenis tari pasihan lainnya, yang telah memberikan informasinya sehingga

penulisan disertasi ini dapat selesai.

10. Sutarno Haryono S.Kar., M. Hum, sebagai teman seperjuangan dan

motivator yang mendorong penulis untuk studi S3 dan berhasil meraih gelar

doktor.

11. Sri Wahyuningsih sebagai istri dan anak-anakku: Risang Janur Wendo, Laras

Ambika Resi, Linggo Sasikirana, dan Hoyi Anggraeni yang telah

memberikan semangat dan doanya kepada penulis sehingga disertasi ini cepat

selesai.

12. Selamat jalan istriku yang tercinta dan tersayang Sri Djarwanti S.Kar, ke

hadapan-Mu ya Allah, semoga atas pengorbanan dan kasihmu selama ini,

saya selalu berdoa semoga Allah SWT menerima dan memasukkan belahan

hatiku dalam golongan orang ahli surga di hari Akhir. Amin.

13. Pemerintah Republik Indonesia yang memberikan kewenangan kepada Dirjen

Dikti yang telah memberi Bea Siswa (BPPS).

Akhirnya dengan segala kerendahan hati, penulis mohon maaf kepada semua pihak

apabila terdapat kekurangan dan kesalahan yang penulis perbuat selama

menyelesaikan disertasi ini. Semoga Allah tetap membimbing kami. Amin.

7

Surakarta, 7 April 2010

Peneliti

Maryono

Maryono: T 130906005. 2010. KOMPONEN VERBAL DAN NONVERBAL
DALAM GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA (Kajian Pragmatik).

Disertasi. Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta.

ABSTRAK

Topik penelitian ini adalah Komponen Verbal dan Nonverbal dalam Genre Tari
Pasihan Gaya Surakarta (kajian Pragmatik). Tujuan penelitian untuk memahami
makna bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan pada ritual perkawinan adat
Jawa di Surakarta dengan menganalisis secara rinci, akurat, dan mendalam untuk
menemukan dan mendeskripsikan: (1) Komponen verbal genre tari pasihan berupa
sastra tembang dalam syair: pathetan, sindhènan, gérongan, dan jineman. Kajian
komponen verbal ini untuk mengungkap: jenis-jenis tindak tutur (TT) yang dominan,
fungsi TT, realisasi prinsip kerja sama, realisasi strategi kesantunan, dan implikatur.
(2) Komponen nonverbal genre tari pasihan berupa: tema, gerak tubuh (kinetic body
moves), polatan (ekspresi wajah), pola lantai, rias, busana, dan iringan gamelan
(musik). (3) Menjelaskan hubungan komponen verbal yang bersifat kebahasaan dan
nonverbal yang bersifat nonkebahasaan genre tari pasihan, untuk mengungkap
bentuk hubungan yang bersifat langsung dan tidak langsung dan implikatur genre tari
pasihan. (4) Menjelaskan latar belakang konsepsi penciptaan komponen verbal dan
nonverbal genre tari pasihan, dan (5) Menjelaskan persepsi masyarakat terhadap
kehidupan genre tari pasihan gaya Surakarta.
Bentuk penelitian yang digunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan
kritik holistik yang secara fokus, lengkap, dan seimbang mengkaji tiga faktor yaitu
genetik, objektif, dan afektif sebagai sumber aliran nilai. Strategi yang digunakan
dalam penelitian ini adalah studi kasus tunggal terpancang (embedded case study
research). Teknik pengumpulan data yang sesuai dengan penelitian kualitatif dan
jenis sumber data yang dimanfaatkan adalah: wawancara mendalam (in-depth
interviewing), observasi, mencatat dokumen dan arsip (content analysis).
Untuk mengungkap permasalahan yang menjadi tujuan penelitian disertasi
ini, peneliti menggunakan kajian: (1) teori pragmatik, (2) teori budaya, (3) teori seni
pertunjukan, dan (4) teori komunikasi. Keempat teori tersebut digunakan untuk

8

menganalisis makna pragmatik genre tari pasihan gaya Surakarta secara
komplementer. Secara prinsip teori pragmatik merupakan alat kajian yang utama
terkait dengan sistem kebahasaannya yang terfokus untuk menganalisis jenis-jenis
TT, jenis TT yang dominan, fungsi TT, realisasi prinsip kerja sama, realisasi strategi
kesantunan, implikatur, dan daya pragmatik. Teori budaya dan teori seni pertunjukan
untuk menganalisis faktor nonkebahasaan yang berupa unsur-unsur karya seni. Teori
komunikasi untuk mengkaji keterkaitan antarfaktor genetik, objektif, dan afektif.
Trianggulasi keempat teori tersebut merupakan sarana untuk menjamin dan
mengembangkan validitas data dalam mengungkap makna pragmatik genre tari
pasihan gaya Surakarta.

Pokok-Pokok Temuan Penelitian. Jenis–jenis TT yang terdapat dalam genre
tari pasihan gaya Surakarta terdiri dari beragam jenis yaitu: TT asertif, TT komisif,
TT ekspresif, TT direktif, TT verdiktif, dan TT patik. Dari beragam jenis TT yang
terdapat pada genre tari pasihan, jenis TT yang dominan adalah TT direktif.
Pada penerapan prinsip kerja sama dalam bahasa verbal genre tari pasihan
terjadi pelanggaran maksim kuantitas dan maksim cara, sedangkan maksim kualitas
dan maksim hubungan dipatuhi. Prinsip kesantunan yang diterapkan dalam bahasa
verbal genre tari pasihan didapatkan penggunaan strategi TT dengan kesantunan
positif dan strategi TT secara tidak langsung (off record).
Implikatur yang terdapat dalam jenis-jenis tari pasihan menunjukkan adanya
simbolisasi percintaan sepasang suami istri yang dalam perjalanan kisahnya berawal
dalam menghadapi permasalahan, kemudian mendapat solusi yang berangsur-angsur
membaik dan berakhir bahagia. Kehadiran tari pasihan hampir dapat dipastikan
disajikan dalam resepsi perkawinan merupakan wahana untuk mewisuda sepasang
temantèn. Rupanya terdapat keterkaitan yang sangat erat antara kehadiran tari
pasihan dalam resepsi perkawinan dengan sepasang temantèn. Implikatur yang
utama pada kehadiran genre tari pasihan dalam resepsi perkawinan adalah untuk
dapat diteladani dan memberikan sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang

temantèn.

Merujuk implikatur-implikatur yang diperikan dari komplementer komponen
verbal dan nonverbal jenis-jenis tari pasihan dapat diungkapkan bahwa bentuk daya
pragmatik genre tari pasihan adalah berupa nasihat-nasihat tentang cinta kasih yaitu
pasangan keluarga yang romantis, harmonis, dan bahagia; kesetaraan dan
kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga; dan sikap-sikap ideal bagi
figur suami dan figur istri. Nasihat-nasihat tentang cinta kasih tersebut bermanfaat
bagi sepasang temantèn sebagai bekal untuk menjalani kehidupan yang lebih baik
dalam membangun sebuah keluarga.
Bentuk genre tari pasihan merupakan perpaduan dua komponen besar yaitu
verbal dan nonverbal. Berdasarkan jabaran komponen tersebut dapat diketemukan
ciri karakteristik genre tari pasihan sebagai berikut: (a) bahasa verbal berbentuk
tembang Jawa bernuansa cinta; (b) bahasa verbal yang digunakan berdasarkan status
sosial; (c) hubungan komponen verbal dan nonverbal bersifat langsung dan tidak
langsung; (d) tema percintaan; (e) cerita berakhir dengan bahagia (happy end); (f)
disajikan berpasangan pria dan wanita; (g) pesannya berupa nasihat tentang cinta
kasih; (h) gerak representatif dan presentatif diekspresikan penari dalam kualitas
lembut, halus, dan romantis.

9

Berdasarkan temuan penelitian dan hasil pembahasan dari keterkaitan tiga
faktor objektif, genetik, dan afektif dapat disimpulkan bahwa kehadiran genre tari
pasihan dalam upacara ritual resepsi perkawinan berfungsi sebagai hiburan dan
suritauladan. Kehadiran genre tari pasihan dalam resepsi perkawinan dimaksudkan
oleh seniman untuk mengajak, meminta dan menyuruh sepasang temantèn untuk
memahami dan meresapi pesan yang terkandung dalam bahasa verbal sastra
tembang, yang disampaikan dengan bahasa nonverbal dalam bentuk visual yang
estetik, supaya pasangan temantèn tersebut melakukan tindakan atau perbuatan
seperti yang dicontohkan dalam pertunjukan tari pasihan tersebut. Maksud dan
harapan seniman penyusun tersebut ditangkap oleh masyarakat sebagai sesuatu yang
harus diteladani, mengingat gambaran percintaan pasangan suami istri yang
romantis, harmonis, dan bahagia yang terdapat dalam tari tersebut dirasa sangat tepat
dan diterima dengan jelas, mantap sebagai suatu bentuk pendidikan yang bersifat
tidak langsung dan sangat bermanfaat bagi sepasang temantèn untuk menjalani
kehidupan yang lebih baik dalam menggapai keluarga bahagia lahir dan batin.
Maryono: T 130906005. 2010. VERBAL AND NONVERBAL COMPONENTS IN
THE SURAKARTA STYLE PASIHAN DANCE GENRE (A Pragmatic Study).

Dissertation. Postgraduate Program Sebelas Maret University Surakarta.

ABSTRACT

The topic of this research is Verbal and Nonverbal Components in the Genre of the
Pasihan Dance Surakarta Style. Using a pragmatic approach the aim of the research
is to understand the meaning of the verbal and nonverbal language in the pasihan
dance genre (a dance genre with a romantic or love theme) in the traditional Javanese
wedding rituals in Surakarta by carrying out a detailed, accurate, and in-depth
analysis, in order to discover and describe: (1) the verbal components in the pasihan
dance genre, in the Javanese poems in: pathetan, sindhènan, gérongan, and jineman.
This study of the verbal components is intended to reveal: the dominant types of
speech acts, the functions of the speech acts, the realization of the cooperative
principles, the realization of the politeness principles, and the implicatures; (2) the
nonverbal components in the pasihan dance genre, in the form of: themes, kinetic
body moves, facial expressions (polatan), floor designs, make-up, costume, and
musical accompaniment played on the gamelan; (3) the relationship between the
verbal and the nonverbal components in the pasihan dance genre, in order to reveal
the direct and indirect relationships and implicatures of the pasihan dance genre; (4)
the background of the conception of the creation of verbal and nonverbal
components in the pasihan dance genre, and (5) people’s perception of the existence
of the Surakarta style pasihan dance genre.
The research takes the form of a qualitative study using a critical holistic
approach which provides a focused, comprehensive, and balanced study of three
factors, namely genetic, objective, and affective factors as the source of the values.
The strategy used for this research is that of an embedded case study. The techniques
used for collecting data, in accordance with the qualitative research and types of data
sources available, include in-depth interviews, observation, and content analysis.

10

In order to discover the issues which are the object of the research for this
dissertation, the researcher uses theoretical studies of (1) pragmatic theories, (2)
cultural theories, (3) performing arts theories, and (4) communication theories. These
four theories are used to provide a complementary analysis of the pragmatic meaning
of the Surakarta style pasihan dance genre. In principle, the main tool is the
pragmatic theory, in connection with the linguistic system which focuses on
analyzing the different types of speech acts, the dominant types of speech acts, the
function of the speech acts, the realization of the cooperative principles, the
realization of the politeness principles, the implicatures, and the pragmatic power.
The cultural and performing arts theories are used to analyse nonverbal language
factors which are in the form of elements of the work of art. The communication
theories are used to examine the connection between the genetic, objective, and
affective factors. A triangulation of these theories is used as a means of securing and
developing the validity of the data to discover the pragmatic meaning of the
Surakarta style pasihan dance genre.
The main findings of the research showed that there are various kinds of
speech acts found in the Surakarta style pasihan dance genre, numely: assertive,
commissive, expressive, directive, verdictive, and phatic. Of all these different types,
the most dominant kind of speech act found in the pasihan dance genre is the
directive speech act.

The application of cooperative principles in the verbal language of the
pasihan dance genre of shows a deviation in maxims of quantity and maxims of
manner, while maxims of quality and maxims of relation are adhered to. The
principle of politeness applied in the verbal language of the pasihan dance genre
uses the strategy of positive politeness and performs off record speech acts.
The implicature found in the different types of pasihan dance indicates that
there is a symbolization of love between husband and wife, who throughout the
course of the story encounter problems but subsequently find a solution. It gradually
resolves their difficulties and ultimately brings about a happy ending. The pasihan
dance is almost always performed at wedding receptions which are a medium for
officially announcing the marriage of a newly wed couple. There is a very close
connection between the presence of the pasihan dance and the bride and groom at a
wedding reception. The main implicature of the presence of the pasihan dance genre
at a wedding reception is that it sets an example and offers indirect suggestions for
the newly wed couple to follow.
With reference to the implicatures obtained from the combination of verbal
and nonverbal components in different types of the pasihan dances, show that the
form of pragmatic power in the pasihan dance genre is advise about love and
affection, for married couple to enjoy a romantic, harmonious, and happy
relationship; to display equality and togetherness; and to show an ideal attitude
between husband and wife. This advice about love and affection is beneficial for a
newly married couple. It provides them with knowledge to lead a better life as they
set out to build a new family.

The form of the pasihan dance genre is a combination of two main
components, namely verbal and nonverbal. Based on the description of these two
components, the characteristics of the pasihan dance genre are as follows: (a) Verbal
language in the form of Javanese sung poems with a romantic nuance; (b) Verbal
language which is used according to social status; (c) A direct and indirect
connection between the verbal and nonverbal components; (d) A romantic theme; (e)

11

A story with a happy ending; (f) A performance by a pair of dancers, one male and
one female; (g) Advice about love affection; (h) Representative and presentative
movements expressed by the dancers with soft, refined, and romantic qualities.
Based on the findings of the research and the results between the objective,
genetic, and affective factors, it can be concluded that the performance of the
pasihan dance genre at a wedding reception for the newly married couple to follow.
The presence of the pasihan dance genre at a wedding reception is intended by the
performing artists as a means of inviting, asking, and telling the bride and groom to
understand and absorb the message in the verbal language of the text, and conveyed
using nonverbal language in a visual and aesthetical form. It as hoped that they will
act and behave like the example displayed in the performance of the pasihan dance.
The hope and intention of the artists is captured by the audience who view the dance
as a good example to follow, recognizing it as a portrayal of a romantic,
harmonious, and happily married couple which is felt to be highly appropriate and
also educative in an indirect way. This is highly beneficial for the newly married
couple as they enter into their new lives, and strive to create a happy family, in both
worldly and spiritual aspects.

DAFTAR ISI

Halaman

JUDUL ……………….………………..………………………………….….…...i

PENGESAHAN……………………………………………….…….………….….ii

PEMERTAHANAN…………………………………………………………….…iii

PERNYATAAN………………………………………………………..………….iv

KATA PENGANTAR……………………………………………………………..v

ABSTRAK…………………………………………………………….…….……vii

ABSTRACT……………………………………………………………..………… ix

DAFTAR ISI ………………………………………………………….…..……....xi

DAFTAR TABEL ………….……………………………………………….......xvii

DAFTAR BAGAN………………………………….………..……...……..........xix

DAFTAR GAMBAR / FOTO……………………………………..………..……xx

DAFTAR SINGKATAN ……………………………………..……….……...…xxi

DAFTAR LAMPIRAN ……………………………………….……....…..…....xxii

BAB I PENDAHULUAN ………………………………………….……….……. 1

A. Latar Belakang Masalah………..……..………………….……….……....1

B. Rumusan Masalah …………………………………...……….......……..16

C. Tujuan Penelitian………………………………………..………….........16

12

D. Manfaat Penelitian……………………………………….........................17

BAB II KAJIAN TEORI, PENELITIAN YANG RELEVAN, DAN KERANGKA

PIKIR……………………………………………………………………………..18

A. Kajian Teori……………………………………………………………............18

1. Teori Pragmatik…………………....................……………..............................20

a. Konteks dalam pragmatik………………………………..………….………23

b. Teks………………………………………….……………...........................29

c. Tindak Tutur (TT)…………………………………….…………….….…...39

c.1. Tindak Tutur menurut Austin (1956)……………..............................41

c.2. Tindak Tutur menurut Searle (1979)………….. .………..………….45

c.3. Tindak Tutur menurut Yule (1996)…………………........………….46

c.4. Tindak Tutur menurut Kreidler (1998)…………...............................48

d. Prinsip Kerja Sama (PKS)…… …………………………………………....53

e. Prinsip Kesantunan (PS)…………………….…….……….………….…......58

e.1. Skala Kesantunan Leech (1983)……………………..…….................58

e.2. Skala Kesantunan Brown dan Levinson (1987)………..………….....60

f. Implikatur …………………………………….…….…………….....…….....62

g. Daya Pragmatik…………………………………….…………………….….64

2. Teori Budaya………………………………………………...………….……...66

a. Bentuk Ide atau Gagasan……...……………………….…………....….70

b. Bentuk Aktivitas………….……………………….…..………….....…70

c. Benda Fisik………………………………………………….….…....…71

3. Teori Seni Pertunjukan…………………………..…………………............…..71

a. Tema ………………………………………………………....….….…74

b. Gerak Tubuh (kinetic body moves)………………………. …….….…74

c. Polatan (ekspresi wajah) ……………………………..…….…..…......77

d. Pola Lantai (floor design)……………………………… ……...……...78

e. Rias ……………………………………………….……….….……….79

f. Busana ………………………………………………….……….……..80

g. Iringan (gendhing beksa) ………………………………………….......81

h. Estetik…………………………………………....................………….82

13

4. Teori Komunikasi ………..…………………….…...........................................83

a. Komunikator…………………………………………………....…..…85

b. Sarana atau Media…………………………………………….….…....86

c. Komunikan……………………………………….………….………...88

B. Penelitian yang Relevan…………………..…………………………..…...…..90

C. Kerangka Pikir…………………………………………………....…….……...91

BAB III METODOLOGI PENELITIAN……………………………….….….…93

A. Sasaran dan Lokasi Penelitian…………………..…………..……. …….…….93

B. Bentuk dan Strategi Penelitian…………………………...................................94

C. Jenis Data dan Sumber Data…………………….………………………….…96

D. Teknik Cuplikan (sampling)…………………………… …………….............97

E. Teknik Pengumpulan Data ……………………………….…..……………….98

1. Wawancara Mendalam (in-depth interviewing)………..............................98

2. Observasi …………………………………………………………....…..102

3. Mencatat Dokumen dan Arsip (content analysis)………..........................103

F. Pengembangan Validitas ………………………………..........………..….…103

G. Teknik Analisis………………………………………………..………… ….106

BAB IV KOMPONEN VERBAL GENRE TARI PASIHAN GAYA

SURAKARTA......................................................................................................110

A. Komponen Verbal…………………………………………………….….…..110

B. Komponen Verbal Tari Karonsih………………………………………….…112

1. Teks Pathetan Wantah Laras Pélog Pathet Lima…………..………. ….112

a. Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah………..........................…. …113

b. Konteks ………………………………………............................. …..114

c. Fungsi Tindak Tutur ................…………………………………..…..115

d. Realisasi Prinsip Kerja Sama…………………..…..............................116

e. Realisasi Prinsip Kesantunan ……………………...............................117

f. Implikatur …………………………..………...................................…117

2. Teks Sindhènan Pangkur Ngrénas Laras Pélog Pathet Lima ……….....118

a. Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah.…………….………….....….118

b. Konteks …………………………………..........................……..…...119

14

c. Fungsi Tindak Tutur …………………………………………......…..120

d. Realisasi Prinsip Kerja Sama ……………………......................….....121

e. Realisasi Prinsip Kesantunan ………………................................…..122

f. Implikatur …………………………..………..................................…123

3. Teks Sindhènan Kinanthi Sandhung Laras Sléndro Pathet Manyura ….124

a. Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah.…………….…………......…125

b. Konteks ……………………………………….............................…...126

c. Fungsi Tindak Tutur ………………………………………...........…..128

d. Realisasi Prinsip Kerja Sama ………………….................……..…....129

e. Realisasi Prinsip Kesantunan ……………....................................…...131

f. Implikatur …………………………..………...................................…132

4. Teks Gérongan Lambangsari Laras Sléndro Pathet Manyura ………...132

a. Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah.…………….………....…..…133

b. Konteks ………………………………………..….......................... ..135

c. Fungsi Tindak Tutur ………………………………………..…..........137

d. Realisasi Prinsip Kerja Sama …..................………………..…...........139

e. Realisasi Prinsip Kesantunan ………..............................…….......…..141

f. Implikatur …………………………..………........................................142

C. Komponen Verbal Tari Bondhan Sayuk………………………………..….…144

1. Teks Sindhènan Mijil Sulastri Laras Pélog Pathet Barang......................144

a. Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah …………….………..…....…144

b. Konteks ………………………………………..............................…..145

c. Fungsi Tindak Tutur ………………………….……………..........…..147

d. Realisasi Prinsip Kerja Sama ………………....................…...............148

e. Realisasi Prinsip Kesantunan ……………................................….......149

f. Implikatur …………………………..……...................................……150

2. Teks Jineman Sayuk Laras Pélog Pathet Barang ……................………150

a. Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah …………….….……….....…151

b. Konteks ……………………………………...........................…...…..152

c. Fungsi Tindak Tutur ………………………………………..........…..153

d. Realisasi Prinsip Kerja Sama ……………………...............................154

15

e. Realisasi Prinsip Kesantunan …………….....................................…..155

f. Implikatur …………………………..…………...................................157

3. Teks Gérongan Ladrang Sayuk Laras Pélog Pathet Barang …..............157

a. Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah ……….….………........….…158

b. Konteks ……………………………………............................…..…..159

c. Fungsi Tindak Tutur …………………………………..……..........….160

d. Realisasi Prinsip Kerja Sama …………………....................…...........161

e. Realisasi Prinsip Kesantunan ……..............................……….......…..162

f. Implikatur …………………………..……...................................……163

4. Teks Gérongan Lancaran Sayuk Laras Pélog Pathet Barang …...…….164

a. Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah.…………….…….…….....…164

b. Konteks ………………………………………...............................….165

c. Fungsi Tindak Tutur ……………………………….……..............…..166

d. Realisasi Prinsip Kerja Sama ……………….......................................167

e. Realisasi Prinsip Kesantunan …………….....................................…..168

f. Implikatur ………………………….....................................…………169

BAB V KOMPONEN NONVERBAL GENRE TARI PASIHAN GAYA

SURAKARTA………………………………………………………….….……171

A. Komponen Nonverbal………………………………………………….…….171

B. Komponen Nonverbal Tari Karonsih……………………….………….…….172

1. Tema………………………………..…………………………….….…..173

2. Kinetic Body Moves atau Gerak Tubuh …..…………………………......182

3. Polatan (ekspresi wajah)…………………………………………….......194

4. Rias dan Busana………………………………….……....…...................197

5. Pola Lantai…………….…………………..…………………….............198

6. Iringan Tari…………………………………….….…….……….......….200

7. Estetik……………………………………………............……………..216

C. Komponen Nonverbal Tari Bondhan Sayuk………………………..……….…..220

1. Tema………………………………………..………….………………..220

2. Kinetic Body Moves atau Gerak Tubuh ….……………………….….…224

3. Polatan (ekspresi wajah)………………….……….…………….….…..234

16

4. Rias dan busana………………………………….………………….......236

5. Pola Lantai……………………………….…………………….....….….237

6. Iringan Tari..……………………………………..…….….…………….238

7. Properti Boneka………………………………………...…………….....247

8. Estetik.……………………………………………............…………….248

BAB VI HUBUNGAN KOMPONEN VERBAL DAN NONVERBAL GENRE

TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA…………………………………..….252

A. Hubungan Komponen Verbal dengan Nonverbal Tari Karonsih………...…253

1. Adegan Pencarian………………………..…………………………..…253

2. Adegan Pertemuan……………………………………………………...259

3. Adegan Bahagia………………………………..…………………….....264

B. Hubungan Komponen Verbal dengan Nonverbal Tari Bondhan Sayuk….…277

1. Adegan Kasmaran (percintaan)………………………………………...278

2. Adegan Kekudangan (menimang anak)………………………………...281

3. Adegan Makarya (bekerja)…………………….…………………...…..289

BAB VII KONSEPSI PENCIPTAAN DAN PERSEPSI MASYARAKAT

TERHADAP GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA………………295

A. Konsepsi Penciptaan Komponen Verbal dan Nonverbal Tari Karonsih dan Tari

Bondhan Sayuk……………………………………….……..…………………..295

B. Persepsi Masyarakat terhadap Genre Tari Pasihan……………………....….310

1. Genre Tari Pasihan sebagai Hiburan………………..…………..….…..311

2. Genre Tari Pasihan sebagai Keteladanan…………….....…………. .…314

BAB VIII PEMBAHASAN………………………………………………..… .320

A. Pokok-Pokok Temuan Penelitian…………………………………… ....320

1. Faktor Objektif………………………………………………..… …320

2. Faktor Genetik……………………………………………….… …..322

3. Faktor Afektif…………………………………………….….…. …..323

B. Analisis………………………………………………………….… .…..324

1. Perspektif Substansi Tari: Komponen Verbal dan Nonverbal….. ….324

2. Perspektif Budaya…………………………………………........ …..337

3. Perspektif Pragmatik…………………………..…………..….… ….344

17

4. Perspektif Historis………………………………………..….… ..…357

BAB IX PENUTUP…………………………………….…………………… …366

A. Simpulan…………………………………………………………… ..…366

B. Implikasi………………………………………………………… ….….370

C. Saran…………………………………………………………….………372

DAFTAR PUSTAKA ACUAN………………………………………….…..…375

DAFTAR NARA SUMBER………………………………………….………...379

LAMPIRAN………………………………………………………..…….….….380

DAFTAR TABEL

1. Tabel 4.1 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Pathetan Wantah……..….113

2. Tabel 4.2 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks isian…….....................…117

3. Tabel 4.3 Jenis - jenis TT yang melekat pada teks Sindhènan Pangkur
Ngrénas……………………………………………………………..…...118

4. Tabel 4.4 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Isen-isen……………….….123

5. Tabel 4.5 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Sindhènan Kinanthi
Sandhung…………………………………………………………………….…..125

6. Tabel 4.6 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Gérongan
Lambangsari…………………………………..………………………………..133

18

7. Tabel 4.7 Rekapitulasi jenis-jenis TT pada komponen verbal tari Karonsih…143

8. Tabel 4.8 Persentase jenis –jenis TT pada komponen verbal tari Karonsih….143

9. Tabel 4.9 Jenis –jenis TT yang melekat pada teks Sindhènan Mijil
Sulastri…………………………………………….………………………..……144

10. Tabel 4.10 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Jineman
Sayuk……………………………………………………………………....….….151

11. Tabel 4.11 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Gérongan Ladrang
Sayuk………………………………………………………………………....…..158

12. Tabel 4.12 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Gérongan Lancaran
Sayuk…………………………………………………………………….……….164

13. Tabel 4.13 Rekapitulasi jenis-jenis TT pada komponen verbal tari Bondhan
Sayuk…………………………………………………………………….….……170

14. Tabel 4. 14 Persentase jenis –jenis TT pada komponen verbal tari Bondhan
Sayuk………………………………………………………………….…170

15. Tabel 5.1 Jenis-jenis gerak representatif tari Karonsih
adegan I: pencarian. …………………………................……………..……..184

16. Tabel 5.2 Jenis-jenis gerak presentatif tari Karonsih
adegan I: pencarian. ………………………………………………….…...….185

17. Tabel 5.3 Jenis-jenis gerak representatif tari Karonsih
adegan II: pertemuan. ………………………………………...…….…..…….188

18. Tabel 5.4 Jenis-jenis gerak presentatif tari Karonsih
adegan II: pertemuan ………………………………………………..….…..189

19. Tabel 5.5 Jenis-jenis gerak representatif tari Karonsih
adegan III: bahagia ……………………………………..………...........…..190

20. Tabel 5.6 Jenis-jenis gerak presentatif tari Karonsih
adegan III: bahagia ………………………………………………...……….193

21. Tabel 5.7 Rekapitulasi gerak representatif tari Karonsih………............….193

22. Tabel 5.8 Rekapitulasi gerak presentatif tari Karonsih………...............…..194

23. Tabel 5.9 Persentase gerak representatif dan presentatif tari Karonsih...…194

19

24. Tabel 5.10 Jenis-jenis gerak representatif tari Bondhan Sayuk
adegan I: kasmaran …………………………………..…………............…229

25. Tabel 5.11 Jenis-jenis gerak presentatif tari Bondhan Sayuk
adegan I: kasmaran ………………………………..…………...............…231

26. Tabel 5.12 Jenis-jenis gerak representatif tari Bondhan Sayuk
adegan II: kekudangan …………………………………..…………......….231

27. Tabel 5.13 Jenis-jenis gerak presentatif tari Bondhan Sayuk
adegan II: kekudangan …………………………………….……............…232

28. Tabel 5.14 Jenis-jenis gerak representatif tari Bondhan Sayuk
adegan III: makarya ………………………………..………..............….…233

29. Tabel 5. 15 Rekapitulasi gerak representatif tari Bondhan Sayuk….......…233

30. Tabel 5. 16 Rekapitulasi gerak presentatif tari Bondhan Sayuk….........….234

31. Tabel 5. 17 Persentase gerak representatif dan presentatif tari Bondhan

Sayuk…………………………………………………………………….....…234

DAFTAR BAGAN

Bagan 2.1 Kerangka Kritik Holistik Komponen Verbal dan Nonverbal Genre
Tari Pasihan gaya Surakarta………………………………......…...….91

Bagan 3.1 Model Analisis Interaktif……………………………………....….. ..108

20

DAFTAR GAMBAR / FOTO

Gambar 1: pola lantai garis lurus untuk mendukung suasana tegang,
ketika Sekartaji berupaya mencari Panji..................................................199

Gambar 2: pola lantai garis lengkung untuk mendukung suasana romantis,
ketika Panji dan Sekartaji srisik bergandengan tangan............................199

Gambar 3: pola lantai garis lengkung untuk mendukung suasana bahagia,
ketika Panji ulap-ulap kiri dan Sekartaji trap jamang.............................199

21

Gambar 4: pola lantai garis lurus untuk mendukung suasana tegang, ketika
istri hendak meninggalkan suami............................................................237

Gambar 5: pola lantai garis lengkung untuk mendukung suasana romantis,
ketika istri dan suami lilingan kebyok sampur.........................................238

Gambar 6: pola lantai garis lengkung untuk mendukung suasana bahagia,
ketika istri dan suami ènjèr ridhong berputar..........................................238

Foto: 1 Tari Karonsih: Panji dan Sekartaji dalam kemesraan dan
kebersamaan………………………………………………….................172

Foto: 2 Tari Bondhan Sayuk: Suami dan istri dalam kebahagiaan ………….….220

Foto: 3 Tari Karonsih: Panji mengamati Sekartaji dalam suasana sedih……….260

Foto: 4 Tari Karonsih: Panji dan Sekartaji dalam suasana romantis…………...262

Foto: 5 Tari Karonsih: Panji dan Sekartaji memadu asmara……………….…...268

Foto: 6 Tari Karonsih: Panji dan Sekartaji memadu asmara…………..….….…272

Foto: 7 Tari Karonsih: Panji dan Sekartaji dalam suasana bahagia……..….…..274

Foto: 8. Tari Bondhan Sayuk: Suami dan istri dalam kebersamaan.....................279

Foto: 9 Tari Bondhan Sayuk: Istri meminta suami untuk bekerja………….…...282

Foto: 10 Tari Bondhan Sayuk: Suami meminta anak kepada istri…………..….283

Foto: 11 Tari Bondhan Sayuk: Suami bersenandung sambil menimang anak.....285

Foto: 12 Tari Bondhan Sayuk: Suami dan istri dalam kebahagiaan………….....286

DAFTAR SINGKATAN

ASKI

: Akademi Seni Karawitan Indonesia

CD

: Compact Disk

D – a

: Dasar - a

D – en

: Dasar - en

22

D – an

: Dasar - an

D – ana

: Dasar - ana

di – D – ake : di - Dasar - ake

KOKAR

: Konservatori Karawitan

KRT

: Kanjeng Raden Tumenggung

M.Sn

: Magister Seni

PS

: Prinsip Kesantunan

PKS

: Prinsip Kerja Sama

Pa

: Putra

Pi

: Putri

Pn

: Penutur

Pt

: Petutur (mitra tutur)

PKD

: Pakempalan Kagunan Jawi

R

: Raden

R.M

: Raden Mas

R.T

: Raden Tumenggung

TT

: Tindak Tutur

V – a

: Verba - a

VCD

: Visual Compact Disk

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. VCD Tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk……………………....380

Lampiran 2. Glosarium……………………………………………….…………380

23

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

24

Manusia hidup tidak mampu lepas dari lingkungan dan bertahan sendiri,

betapapun hebat dan kuatnya. Ketergantungan antarindividu merupakan faktor utama

manusia untuk saling berkomunikasi dalam rangka meraih kehidupan yang

berbudaya, sebagai sarana mewujudkan cita-citanya. Setiap individu lahir dalam

masyarakat yang telah berjalan, dapat dikatakan belum mempunyai bekal, maka dia

harus belajar menjadi manusia dengan menghayati atau mendalami budaya

kelompoknya. Berbagai strategi belajar untuk menjadi manusia yang diperlukan agar

dapat terinkulturasi dan tersosialisasi sepenuhnya, sebagian besar individu tersebut

melakukan melalui modalitas utama komunikasi manusia yakni bahasa.

Menurut Edi Subroto (tanpa tahun, hal: 1), bahasa adalah sistem bunyi ujar

yang bersifat arbitrer yang dipergunakan oleh manusia dalam suatu masyarakat

(language society) untuk berkomunikasi secara umum dan wajar. Sejalan dengan

pernyataan tersebut bahasa merupakan suatu sistem simbol-simbol vokal yang

dipelajari dan dimiliki secara bersama. Di situ manusia dalam masyarakat atau

subkultur dengan bahasa yang sama saling berinteraksi sehingga mampu

berkomunikasi berdasarkan pengalaman dan harapan kultural yang sama. Bahasa

sendiri merupakan sistem dari budaya manusia, sistem yang terpenting di mana

sistem-sistem lain terutama dicerminkan dan ditransmisikan. “Without language

there could be no culture, and man remained hominoid; with language and culture,

he could and did become hominine” (Smith, 1969: 104-105). Betapa pentingnya

bahasa bagi kehidupan manusia kiranya tidak perlu diragukan lagi, karena tanpanya

manusia tidak mampu berkomunikasi dan berinteraksi dengan dunia luar dirinya.

25

Dalam kehidupan kesehariannya manusia berkomunikasi lewat beragam

media atau medium. Pada hakekatnya media itu berbentuk fisik, adapun bentuk yang

utama yakni: gerak, bunyi, rupa, dan bahasa. Masing-masing media dapat muncul

secara mandiri dan bisa juga saling komplementer, bergantung kebutuhan.

Kemunculan secara mandiri seperti: bunyi dalam musik, warna pada seni rupa, dan

bahasa sebagai tindak tutur. Bentuk yang merupakan komplemen dari beragam

media (gerak, bunyi, rupa, dan bahasa) banyak terdapat pada seni pertunjukan, yang

kesemuanya itu merupakan bahasa komunikasi yang kaya akan nuansa imajinatif dan

penuh dengan multitafsir.

Seni pertunjukan merupakan bentuk seni komplementer yang pada dasarnya

merupakan salah satu bentuk bahasa pragmatik. Hal ini dapat kita cermati dari

bentuknya yang berupa seni kolektif sebagai sarana untuk mengungkapkan maksud

dari seniman sebagai penutur dengan harapan dapat dihayati oleh penghayat sebagai

mitra tutur. Seni pertunjukan sebagai bahasa seniman untuk berkomunikasi dengan

penghayat merupakan bahasa pragmatik yang sangat khas penuh dengan nuansa

keindahan. Pragmatisme pada seni pertunjukan dapat ditunjukkan dari wujudnya

yang memiliki bahasa verbal dan nonverbal saling komplemen yang selalu hadir

dalam konteks. Secara prinsip dapat peneliti katakan bahwa seni pertunjukan

merupakan wahana yang sangat potensial sebagai sasaran kajian pragmatik. Adapun

bentuk seni pertunjukan di antaranya: Wayang Purwa (Wayang Kulit), Wayang

Wong, Wayang Golek, Kethoprak, Ludruk, Lenong, Randai, Langendriyan,

Karawitan, Tari, dan lainnya.

26

Tari sebagai salah satu bentuk seni pertunjukan, merupakan perpaduan dari

berbagai media komunikasi, yaitu: kinetic body moves (gerak tubuh) sebagai garap

tari, bunyi dan bahasa sebagai garap iringan, serta rupa sebagai garap rias dan

busana, ini merupakan realitas kemunculan bentuk komplementer. Penafsiran

terhadap keragaman media komunikasi yang terdapat dalam tari tidak mampu hanya

ditangkap secara rasional semata tetapi ketajaman rasa merupakan ujung tombak

dalam menangkap makna yang sebenarnya. Pertimbangan yang mendasar bahwa

dalam tari, kata-kata yang terdapat dalam tembang sebagai bahasa verbal, selain

makna kata-katanya juga diungkapkan dengan lagu dan tekanan irama yang

didukung iringan gamelan, sehingga terasa menjadi lebih mantap. Ini berbeda

dengan bahasa, yang secara spesifik telah memiliki kaidah-kaidah baku yang

penafsirannya lebih bersifat rasional. Hal ini terkait dengan konsep bahasa yang

bersifat formal, disipliner, dan relasi antara bentuk dan makna sangat ketat.

Kehadiran tari sebagai ungkapan ekspresi jiwa manusia merupakan media

komunikasi seorang seniman (penyusun tari ataupun penari) sebagai penutur

terhadap masyarakat (pakar, penonton umum dan penanggap) sebagai mitra tutur.

Sebagai media komunikasi, tari mempunyai muatan-muatan pesan dari penyusun tari

yang hendak dikomunikasikan dengan masyarakat. Lewat pesan akan ditangkap

makna sebagai esensi dari aktivitas berkomunikasi antara penyusun tari dengan

masyarakat. Adapun pesan-pesan tersebut dapat berupa pesan moral, spiritual, dan

bersifat hiburan. Muatan pesan tersebut merupakan salah satu kebutuhan dasar bagi

hidup manusia. Seperti dinyatakan Spradley (1997: 120), bahwa masyarakat di mana

saja menata hidup mereka dalam kaitannya dengan makna dari berbagai hal.

27

Dalam kehidupannya, manusia menggunakan bahasa sebagai sarana

komunikasi dan berinteraksi secara vertikal dan horisontal dalam kedudukannya

sebagai makhluk individu maupun sosial. Bahasa merupakan sarana yang utama

untuk menyampaikan pesan penutur kepada mitra tutur. Dalam rangka beraktivitas

sehari-hari manusia memerlukan bahasa sebagai alat komunikasi yang paling efektif

dan efisien. Rupanya dalam berkomunikasi manusia tidak selalu menggunakan

bahasa yang sifatnya langsung, terbuka, apa adanya, tetapi juga sering memilih

menggunakan bahasa yang tersamar, tidak langsung seperti bahasa pragmatik.

Bahasa yang bersifat pragmatik merupakan salah satu sasaran kajian tentang

makna-makna satuan lingual secara eksternal. Makna yang dikaji dalam pragmatik

dikaitkan dengan maksud atau tujuan penutur di dalam mengutarakan suatu kata,

frase atau kalimat. Jadi pragmatik mengkaji maksud suatu ujaran penutur baik secara

tersirat maupun tersurat di balik tuturan yang dianalisis, bukan semata-mata hanya

makna literal ujaran tersebut. Namun untuk dapat mengetahui maksud ujaran penutur

(makna pragmatiknya), mitra tutur harus mengetahui makna semantik ujaran itu

terlebih dahulu. Lewat makna semantik yang dikontekstualkan akan muncul makna

pragmatik yang diharapkan dalam sebuah peristiwa pertuturan. Dengan cara

menghubung-hubungkan bentuk ujaran dengan konteks situasinya, sosial, dan

kultural yaitu siapa berbicara kepada siapa, di mana, kapan, untuk apa dan

bagaimana, maksud dari ujaran tersebut dapat dipahami.

Dengan demikian tampak jelas bahwa pragmatik terikat konteks (context

dependent), sebagaimana dikatakan Leech pragmatik adalah “The study of meaning

in relation to speech situation” (lihat Wijana, 1995: 50). Kajian makna dalam

28

pragmatik bersifat triadis, sehingga makna itu dapat dirumuskan dengan kalimat

“Apa yang kau maksud dengan berkata x itu ?” (What do you mean by x ?).

Hubungan atau relasi dalam pragmatik bersifat triadis, artinya suatu bentuk

kebahasaan selain memiliki makna semantik juga makna pragmatik, maksudnya

bahwa makna pragmatik selain dibangun melalui semantik yang mencakup: (1)

bentuk kebahasaan dan (2) makna juga dikaitkan dengan (3) konteks. Kajian bahasa

pragmatik lebih terfokus pada makna implikatur dari eksternal tuturan si penutur

bukan makna eksplikatur yang terdapat dalam internal tuturan semata. Bahasa yang

bersifat pragmatik banyak digunakan dalam berbagai bidang antara lain: sosial,

politik, budaya seperti: sastra, syair, puisi, tembang, dan tari.

Pragmatik merupakan cabang linguistik yang mengkaji makna dalam hubungannya

dengan situasi ujar (konteks). Aspek-aspek situasi ujar meliputi: (1) yang menyapa

(penyapa) atau yang disapa (pesapa), (2) konteks sebuah tuturan, (3) tujuan sebuah

tuturan, (4) tuturan sebagai bentuk tindakan atau kegiatan: tindak ujar, (5) tuturan

sebagai produk tindak verbal (Leech, 1993: 19-20).

Dalam rangka menjaga hubungan dan interaksi komunikasi pada kehidupan

sehari-hari tetap terjaga baik, selaras, harmonis, dan berkesinambungan, manusia

menggunakan bahasa yang memenuhi prinsip-prinsip kerjasama, yaitu: (1) maksim

kuantitas, (2) maksim kualitas, (3) maksim relevansi/hubungan, dan (4) maksim cara

(Grice dalam Leech, 1993: 11). Selain itu juga didukung prinsip kesopanan yang

meliputi: (1) maksim kearifan, (2) maksim kedermawanan, (3) maksim pujian, (4)

maksim kerendahan hati, (5) maksim kesepakatan, dan (6) maksim simpati. Pada

realitasnya manusia sering tidak mengindahkan prinsip-prinsip kerjasama dalam

29

berkomunikasi sehingga terjadi pelanggaran. Karena hal itu terjadi, sebagai

akumulasi beragam tuntutan akan kebutuhan hidup manusia yang begitu kompleks.

Ketidakpatuhan para peserta tutur dalam pertuturan karena dipicu oleh motif-motif

tertentu dari penutur. Dalam hal ini penutur berupaya memasukkan maksudnya

secara implisit pada ujaran yang diungkapkan. Dampak dari peristiwa tuturan

tersebut muncul implikatur-implikatur yang akhirnya merupakan lahan kajian

pragmatik.

Terdapat dua cara untuk berkomunikasi lewat bahasa, yakni dapat berupa teks

verbal dan nonverbal. Berkomunikasi secara verbal dilakukan dengan cara

menggunakan media bahasa baik yang tertulis dan lisan. Adapun komunikasi yang

bersifat nonverbal dilakukan dengan menggunakan alat selain bahasa. Wujudnya

dapat berupa aneka simbol, isyarat, kode, bunyi misalnya tanda lalu lintas, morse,

lambaian tangan, sirene, kenthongan barulah dapat bermakna setelah diterjemahkan

ke dalam bahasa manusia (Lamuddin Finoza, 2005: 2). Dengan demikian tari yang

merupakan bagian dari seni pertunjukan yang memiliki aspek komunikasi verbal dan

nonverbal merupakan objek kajian pragmatik yang sangat menarik. Aspek verbal tari

berupa cakepan (syair) teks sastra tembang yang terdapat dalam pathetan, sindhenan,

gerongan, dan jineman. Sedangkan aspek nonverbalnya berupa: tema, kinetic body

moves (gerak tubuh), polatan, rias, busana, pola lantai, dan iringan.

Tari adalah ungkapan perasaan manusia tentang sesuatu dengan gerak-gerak

ritmis yag indah (Soedarsono, 1996: 6). Menurut Wisnoe Wardhana (1994: 36), tari

adalah ungkapan nilai-nilai keindahan dan keluhuran lewat gerak dan sikap.

Sedangkan H’Doubler mengutarakan bahwa tari adalah ekspresi gerak ritmis dari

30

keadaan-keadaan perasaan yang secara estetis dinilai, yang lambang-lambang

geraknya dengan sadar dirancang untuk kenikmatan serta kepuasan dari pengalaman

ulang, ungkapan, berkomunikasi, melaksanakan serta dari penciptaan bentuk-bentuk

(dalam Soedarsono, 1996: 4). Dari ketiga pendapat pakar tari tersebut dapat disarikan

bahwa tari merupakan ekspresi jiwa manusia sebagai tanggapan tentang nilai-nilai

kemanusiaan, dikomunikasikan dalam bentuk yang indah untuk mendapatkan

penghayatan yang layak, dengan menggunakan medium utama gerak. Jika kita

cermati lebih lanjut pernyataan ketiga pakar mengenai pengertian gerak tersebut

masih kabur, karena pada dasarnya betapapun indahnya gerak tumbuh-tumbuhan

yang tersapu angin, gerak akrobatik binatang yang menawan tetapi tanpa kehadiran

gerak tubuh manusia, tidak dapat dikatakan gerak tari.

Secara garis besar bahwa semua gerak dapat menjadi gerak tari dengan cara

melalui campurtangan gerak tubuh dan seleksi yang memadahi. Menurut peneliti, tari

adalah ekspresi jiwa manusia lewat medium utama gerak tubuh untuk mencapai

kenikmatan keindahan. Sumber gerak utama yang dimaksudkan di sini adalah kinetic

body moves. Bagaimanapun acuhnya seorang seniman terhadap publik, ia berkarya

dengan harapan dapat dihayati, maka dibutuhkan juga suatu penghargaan. Tanpa

simpati publik, dorongan artistik akan layu tidak dapat berkembang. Rupanya

ekspresi diri semata tidak akan memberikan kenikmatan dan kepuasan bahkan

cenderung mati (Parker, 1980: 37).

Rupanya gerak tubuh sangat dominan dan merupakan medium utama yang

sekaligus sebagai sumber kehidupan tari. Seperti variasi pada kutipan kata-kata

terkenal Donne: “one could almost say, the body speaks. And when the body speaks

31

in this fashion, its movements, the body moves, form an integral part of the

interactions (e.g., in a conversation); as such, they represent, or are part of, a

pragmatic act” (dalam Mey, 2001: 223-224). Sekarang semakin jelas bahwa ide

komunikasi nonlisan sebagai tambahan atau alat bantu sederhana pada pembicaraan

adalah pandangan irasional yang terlalu sempit. Selayaknya, kita harus mengakui

bahwa komunikasi ‘gerak tubuh’ mampu ‘menentukan suasana’ dan ‘memberi

makna’ untuk komunikasi secara utuh. Dengan kata lain, jika gerak tubuh penutur

tidak mengikuti pembicaraan penutur, mitra tutur juga tidak akan mengikuti dan

memperhatikan. Pada dasarnya tindakan pragmatik melibatkan seorang individu

secara keseluruhan dalam komunikasi, bukan hanya bagian kontribusi yang

diucapkan saja. Di samping itu, dalam dimensi meta-pragmatik, tindakan pragmatik

sangat penting untuk menentukan dan mempertahankan kerangka meta-komunikatif

untuk komunikasi.

Tidak mungkin orang bicara soal kesenian tanpa memperhatikan bentuk,

wujud, dan gayanya (Budhisantoso, 1994: 3). Bentuk seni adalah hasil ciptaan

seniman yang merupakan wujud dari ungkapan isi, pandangan, dan tanggapannya ke

dalam bentuk fisik yang dapat ditangkap dengan indera (Sri Rochana, 1994: 68).

Secara sederhana Herbert Read berpendapat bahwa seni merupakan usaha untuk

menciptakan bentuk-bentuk yang menyenangkan (1990: 2). Tampaklah sekarang

bahwa bentuk dalam seni memiliki peranan yang sangat penting dalam rangka

menyampaikan isi atau maksud yang hendak dikomunikasikan pada penghayat (mitra

tutur) dari si seniman (penutur). Adapun isi yang dimaksud merupakan pengalaman

jiwa seniman dalam menanggapi alam, lingkungan sekitarnya secara selektif.

32

Sebagai media ekspresi, seni memiliki tujuan yaitu memberikan kepuasan dalam visi

penuh simpati. Untuk itu menuntut seniman bukan hanya menyajikan realitas

kehidupan yang sifatnya mengimitasi atau memindahkan begitu saja, melainkan

nilai-nilai kehidupan yang telah terseleksi dapat ditranspormasikan dalam bentuk

yang indah, supaya menjadikannya jelas bagi jiwa yang menghayati.

Pengalaman jiwa seniman sewaktu-waktu dapat dikomunikasikan lewat garap

medium sesuai dengan bidangnya masing-masing. Hubungan antara bentuk fisik

yang dapat diamati indera dengan isi yang hendak diungkap harus terjalin secara

harmonis agar dapat mencapai sasarannya yaitu penghayat. Maka tidaklah

mengherankan apabila sarana untuk berekspresi dalam seni tidak bersifat instingtif,

tidak pula bersifat stereotip, dan bukan merupakan sesuatu yang sudah siap tersedia.

Sarana tersebut setiap saat dan untuk setiap personal harus dicari, dan seringkali

pencarian itu terlampau berliku-liku jalannya (Read, 1990: 45). Pada hakikatnya

medium ekspresi seniman bersifat fisik, dan wujudnya dapat berupa gerak, bahasa,

bunyi, garis, warna (rupa). Wujud tersebut tak lain agar dapat dan mampu ditangkap

dengan indera manusia, baik dari seniman sebagai pengkarya maupun masyarakat

sebagai penikmatnya. Sehingga benda pacu dimaksud mampu mengubah dari

pandangan verbal menjadi pandangan yang penuh makna yang berarti bagi

kehidupan jiwa.

Keberhasilan mereka menyampaikan pesan-pesan tergantung dengan

kemampuan menyeleksi materi-materi sebagai sarana ungkap dan tidak lepas dari

kemampuan masyarakat penikmat untuk menangkap yang sudah barang tentu

mengacu pada nilai-nilai budaya dan norma-norma sosial yang hidup dan

33

berkembang. Betapapun hebatnya seorang seniman dalam berkarya tanpa diimbangi

apresiasi masyarakat yang layak dan memadahi rupanya akan menjadi semakin tidak

berarti sehingga bentuk-bentuk pesan yang hendak disampaikan oleh seniman tidak

dapat terealisasi secara baik dan wajar dalam kehidupan masyarakat. Untuk itu

dibutuhkan peningkatan kualitas apresiator dengan memperbanyak peluang aktivitas

pertunjukan dan peningkatan kualitasnya.

Seni pertunjukan Jawa pada umumnya dapat dikategorikan menjadi dua

kelompok besar yaitu kesenian karaton dan kesenian rakyat (Humardani, 1991: 14).

Kesenian karaton merupakan bentuk kesenian yang pada awalnya hidup dan

berkembang di lingkungan karaton. Sedangkan kesenian rakyat hidup, tumbuh dan

berkembang di tengah-tengah masyarakat pedesaan. Perkembangan sekarang kedua

bentuk kesenian tersebut saling mempengaruhi secara lebih kompleks. Kesenian

karaton cenderung memiliki garap lebih rumit, cermat dan mempunyai semacam

pola-pola baku yang sering digunakan sebagai semacam pedoman. Berbeda dengan

kesenian rakyat yang sifatnya spontan sangat sederhana baik bentuk maupun sistem

pertunjukannya. Beragam bentuk seni pertunjukan karaton, di antaranya: wayang

kulit, wayang wong (wayang orang), karawitan, tari dan lainnya.

Dalam tari Jawa bentuk ekspresinya pada hakikatnya terwujud berdasarkan

alam emosi, yaitu bentuk dan iramanya sangat kuat dilatarbelakangi oleh konsep

keindahan dan tradisi kebudayaannya (Humardani, 1991: 10). Seni tradisional genre

tari pasihan yang mengacu kesenian karaton merupakan salah satu budaya yang

diwarisi secara turun-temurun sudah barang tentu memiliki kesinambungan dengan

budaya sebelumnya. Pewarisan budaya tidaklah bersifat statis, tetapi masing-masing

34

generasi mencoba untuk mengadakan perubahan-perubahan disesuaikan dengan

kondisi kehidupan masyarakat pendukungnya. Terbukti seni tradisional kita tetap

berkembang di masyarakat, di antaranya genre tari pasihan, Bedhaya, Srimpi,

Wireng, Pethilan, dan tarian untuk anak.

Di dalam seni pertunjukan, “Genre Tari Pasihan“ tampaknya cenderung

menekankan rasa dan emosi dalam bentuk bahasa verbal dan nonverbal. Kehadiran

genre tari pasihan (percintaan pria dan wanita) dalam kehidupan sosial masyarakat

pada ritual perkawinan adat Jawa rupanya mempunyai makna simbolik yang sangat

penting terutama bagi kedua mempelai dalam rangka mempersiapkan diri untuk

mengarungi kehidupan di masyarakat yaitu menuju terbentuknya keluarga yang

bahagia. Di dalam kehidupan masyarakat Jawa, simbolisme memiliki peranan sangat

penting, sebab simbolisme sangat menonjol peranannya dalam tradisi adat Jawa.

Menurut Clifford Geertz (1992: 6), bahwa ‘simbol’ tampak terbatas pada sesuatu

yang mengungkapkan secara tidak langsung, sehingga perlu perantara yang berwujud

simbol-simbol dalam puisi bukan dalam bentuk pengetahuan. Simbolisme semacam

ini tampak pada genre tari pasihan yang hadir dalam rangkaian upacara-upacara

perkawinan adat Jawa. Seolah–olah keberadaan genre tari pasihan dalam budaya

Jawa sejak 1970 telah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan terutama pada

upacara-upacara perkawinan (Maryono, 1991: 73).

Rasanya menjadi kurang utuh apabila dalam acara resepsi perkawinan tidak

disajikan tari pasihan sebagai penutup pesta tersebut, sehingga kemunculan

pertunjukan genre tari pasihan pada upacara perkawinan relatif sangat tinggi

frekuensinya. Hal tersebut diduga menumbuhkan daya pikat perhatian masyarakat

35

dan mampu menggugah semangat kreativitas para seniman seni pertunjukan di

Surakarta untuk merespon secara positif. Seniman-seniman yang menanggapi secara

proaktif antara lain seperti Maridi dengan karyanya: tari Endah, tari Lambangsih, dan

tari Gesang Rahayu. Sunarno menghasilkan karya: tari Bondhan Sayuk, tari Enggar-

enggar, tari Driasmara, tari Kusuma Ratih, tari Langen Asmara, tari Jayaningrat dan

tari Setyaningsih. Suciati Joko Suharja menciptakan tari Kusuma Aji.

Genre tari pasihan gaya Surakarta merupakan suatu kelompok tari yang

secara susunan berbentuk duet atau pasangan silang jenis tipe karakter dengan tema

percintaan. Jenis tipe karakter yang berpasangan tersebut dalam genre ini antara lain

: putri luruh duet dengan alus luruh, putri lanyap duet dengan alus luruh, putri luruh

duet dengan gagah luruh dan sebagainya. Keragaman bentuk dan jenis tari duet

percintaan yang terdapat di wilayah Surakarta menunjukkan sebuah kekayaan ranah

budaya yang mampu memberikan warna kota Sala sebagai pusat budaya. Rupanya

hal ini terkait dengan warisan budaya khususnya tari dari kerajaan Mataram baru

yaitu istana Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Ketika Perang Dunia ke II berakhir,

karaton-karaton di Jawa kehilangan kekuasaannya atas daerah-daerah masing-

masing, kehilangan kekuasaannya sebagai orientasi nilai-nilai budaya Jawa, pusat

adat-istiadat Jawa, dan sebagai pusat kesenian Jawa (Koentjaraningrat, 1984: 235).

Secara perlahan-lahan kehidupan tari yang semula menjadi hak monopoli keluarga

kerajaan, keluar tembok karaton hidup dan berkembang meluas ke tengah-tengah

kehidupan masyarakat. Berkembangnya bentuk dan jenis genre tari pasihan atau

genre tari duet percintaan tidak lepas dari kreativitas para penyusun tari dalam

rangka memenuhi kebutuhan sosial masyarakat.

36

Kehidupan genre tari pasihan hingga sekarang mengalami perkembangan

sangat pesat, hal ini dimungkinkan adanya suatu pilihan masyarakat yang sangat

tepat tentang tata nilai dan sikap untuk menjaga kelangsungan hidup budayanya

sebagai warisan yang dianggap memiliki nilai tinggi. Genre tari pasihan merupakan

cabang seni tradisional gaya Surakarta yang banyak mengandung makna simbolis

dan memiliki fungsi yang erat hubungannya dengan upacara adat ritual perkawinan

masyarakat Jawa. Rupanya telah mengakar pada budaya Jawa, yaitu pada setiap

upacara perkawinan hampir dapat dipastikan akan disajikan jenis tari pasihan.

Kehadiran genre tari pasihan di tengah-tengah kehidupan sosial masyarakat

diduga mempunyai kekuatan magis simpatetis terhadap sepasang penganten. Seperti

diungkapkan Soedarsono sebagai berikut :

Sadar atau tidak sadar kesuburan tanah – juga perkawinan – tidak cukup
hanya dicapai lewat peningkatan sistem penanaman baru, tetapi juga perlu
diupayakan lewat kekuatan – kekuatan yang tak kasat mata. Kekuatan itu
antara lain berupa magi simpatetis, yang hanya bisa didapatkan dengan
perbuatan yang melambangkan terjadinya pembuahan, yaitu hubungan antara
pria dan wanita. Hubungan ini pada masyarakat yang masih melestarikan
budaya purba kadang-kadang dilakukan agak realistis. Sedangkan bagi
masyarakat yang sudah agak maju dilakukan secara simbolik. (Soedarsono
dalam Soedarso, 1991: 35)

Rupanya semakin tampak bahwa genre tari pasihan merupakan media ungkap para

penyusun tari (penutur) yang memuat ide, gagasan, rasa, emosi yang diekspresikan

dalam bentuk bahasa verbal dan nonverbal yang hendak dikomunikasikan dengan

penghayat (mitra tutur) dengan maksud-maksud tertentu.

Seni pertunjukan genre tari pasihan gaya Surakarta sebagai karya seni

memiliki beberapa aspek di antaranya aspek sastra tembang (bahasa verbal) yang

berupa cakepan (syair) yang terdapat dalam pathetan, sindhenan, gerongan, dan

37

jineman. Sedangkan aspek bahasa nonverbal meliputi: tema, gerak tubuh (kinetic

body moves), polatan (ekspresi wajah), pola lantai, rias, busana, dan iringan. Aspek-

aspek tersebut membutuhkan ruang, waktu, dan memiliki pesan, dalam tindakannya

supaya dapat berfungsi secara baik sebagai media komunikasi. Kajian pragmatik di

sini akan menganalisis makna genre tari pasihan lewat implikatur-implikatur bahasa

verbal dan nonverbal yang dimilikinya. Secara garis besar dapat dikatakan bahwa

bentuk-bentuk tari yang termasuk dalam genre tari pasihan, banyak persamaannya,

yang sudah barang tentu juga terdapat perbedaan namun tidak begitu signifikan.

Dengan pernyataan lain serupa tetapi tidak sama. Dari sejumlah jenis tari duet

tersebut peneliti memfokuskan sasaran pada dua bentuk tari duet percintaan, yakni

tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk.

Pemilihan pertama tari Karonsih dalam kajian pragmatik ini, tidak lain

didasarkan pada fakta historis. Kehadiran tari Karonsih di tengah-tengah kehidupan

masyarakat telah menjadi bagian dari kebutuhan sosial, mempunyai pengaruh cukup

besar yaitu telah dapat memacu dan memotivasi terhadap seniman-seniman di

kalangan tradisional (Maryono, 1991: 27). Karonsih merupakan awal jenis tarian

duet percintaan yang mampu membawa perkembangan sangat luar biasa. Pengaruh

perkembangannya dapat dibuktikan dengan munculnya berbagai bentuk tari duet

percintaan, yakni seperti: tari Endah, tari Enggar-enggar, tari Kusuma Aji, tari

Lambangsih, tari Driasmara, tari Gesang Rahayu, tari Bondhan Sayuk, tari Kusuma

Ratih, tari Jayaningrat, tari Langen Asmara dan tari Setyaningsih. Di samping itu

diduga tari Karonsihan memiliki kekuatan magis simpatetis yang kuat terhadap

38

sepasang temanten, hal ini dapat diamati dari kehadirannya yang hampir dapat

dipastikan pada setiap upacara perkawinan terutama pada budaya Jawa.

Pemilihan kedua adalah tari Bondhan Sayuk, didasarkan pada bentuk yang

berbeda pada jenis tari duet percintaan, namun masih dalam karakteristik yang sama.

Perbedaan antara Karonsih dengan Bondhan Sayuk meliputi bentuk tindak tutur

verbal dan nonverbal. Merujuk pada pola cerita yang tokoh-tokohnya memiliki

authority scale dan social distance yang berbeda, maka hal itu dapat diamati dari

jenis bahasa verbal yang digunakan pada masing-masing tari pasihan tersebut. Selain

itu terdapat perbedaan bahasa nonverbal, sekilas dapat dicermati dari properti yang

berupa boneka bayi (anak kecil). Diharapkan perbedaan yang terdapat pada tari

Karonsih dan tari Bondhan Sayuk, baik dari segi tindak tutur verbal dan

nonverbalnya dapat digunakan untuk mengungkap secara mendalam karakteristik

genre tari pasihan dalam analisis pragmatiknya.

Pada prinsipnya pemilihan sampling tari Karonsih dan Bondhan Sayuk

tersebut bukan untuk generalisasi statistik (populasi) tetapi lebih fokus untuk

mewakili dari keragaman informasinya yang diharapkan dapat digeneralisasi

teorinya. Kelayakan dan kualitas objek sasaran penelitian tidak dapat disangsikan

berdasarkan eksistensi, kredibilitas, kuantitas, dan kualitas genre tari pasihan sebagai

seni pertunjukan yang hidup dan berkembang pesat di Jawa. Realitas menunjukkan

bahwa keragaman jenis tari duet percintaan gaya Surakarta merupakan salah satu aset

budaya nasional yang memiliki kuantitas dan kualitas tinggi, serta memberikan citra

budaya yang mantab. Kehadiran genre tari pasihan merupakan pemenuhan

kebutuhan sosial dan hayatan cukup mantap dan sekaligus menjadi benteng budaya

39

nasional yang mampu memberi warna citra diri masyarakat Surakarta sebagai

pewaris high culture Mataram palace dan lebih meluas sebagai bangsa Indonesia.

B. Rumusan Masalah

Dari uraian latar belakang masalah yang telah peneliti paparkan tersebut di

muka, terdapat masalah utama yang menjadi fokus penelitian disertasi ini, adalah:

mengapa masyarakat memilih pertunjukan genre tari pasihan gaya Surakarta sebagai

masterpiece dalam sebuah ritual perkawinan adat Jawa. Masalah utama tersebut

dapat dikaji lewat beberapa pertanyaan yang bersumber pada seniman pelakunya

(penyusun tari dan penari) yang bertindak sebagai penutur (komunikator), karya seni

(pesan atau tindak tutur) sebagai sarana atau media tutur, dan masyarakat (pakar,

penonton umum, dan penanggap) sebagai mitra tutur (komunikan). Untuk itu perlu

dirumuskan masalahnya dalam rangka menganalisis makna pragmatik pada genre

tari pasihan.

Rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana jenis-jenis tindak tutur dalam genre tari pasihan gaya Surakarta

dan tindak tutur apa yang dominan, serta mengapa terjadi dominasi ?

2. Bagaimanakah penerapan prinsip kerja sama dan prinsip kesantunan dalam

bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta ?

3. Bagaimanakah implikatur dan daya pragmatik bahasa verbal dan nonverbal

genre tari pasihan gaya Surakarta ?

40

4. Bagaimana ciri karakteristik bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan

gaya Surakarta ?

5. Bagaimana latar belakang konsepsi penciptaan bahasa verbal dan nonverbal

genre tari pasihan gaya Surakarta ?

6. Bagaimana persepsi masyarakat terhadap kehidupan genre tari pasihan gaya

Surakarta ?

C. Tujuan Penelitian

Memahami bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan pada ritual

perkawinan adat Jawa di Surakarta dengan menganalisis secara rinci, akurat, dan

mendalam untuk menemukan dan mendeskripsikan:

1. Jenis-jenis tindak tutur dan tindak tutur yang dominan dalam genre tari

pasihan gaya Surakarta.

2. Penerapan prinsip kerja sama dan prinsip kesantunan dalam bahasa verbal

dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta.

3. Implikatur dan daya pragmatik bahasa verbal dan nonverbal genre tari

pasihan gaya Surakarta.

4. Ciri karakteristik bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya

Surakarta.

5. Latar belakang konsepsi penciptaan bahasa verbal dan nonverbal genre

tari pasihan gaya Surakarta.

6. Persepsi masyarakat terhadap kehidupan genre tari pasihan gaya

Surakarta.

41

D. Manfaat Penelitian

Tari dikaji dari berbagai perspektif ilmu seperti sosial, politik, ekonomi,

antropologi, budaya dan lainnya rupanya telah banyak dilakukan para peneliti,

namun penelitian tari dari kaca mata linguistik rupanya masih sangat langka. Salah

satu jenis kajian linguistik yang paling tepat untuk analisis tari adalah linguistik

pragmatik. Perspektif dari kajian pragmatik akan mengarahkan peneliti untuk

menganalisis seni pertunjukan (tari) secara menyeluruh, baik dari aspek bahasa

verbal dan nonverbal. Spesifikasi yang dapat diunggulkan dalam kajian ini bahwa

terdapat interaksi yang sangat tepat antara pragmatik dan seni pertunjukan yang

masing-masing berorientasi masalah makna. Artinya seni pertunjukan memuat nilai-

nilai kehidupan yang fundamental sebagai sumber makna. Sedangkan pragmatik

merupakan disiplin ilmu yang secara spesifik mengkaji makna atau maksud penutur.

Dengan demikian manfaat yang diharapkan dari penelitian ini:

(1) Membuka perspektif kajian baru, terutama kajian seni pertunjukan

khususnya tari dari perspektif linguistik pragmatik.

(2) Memberi sumbangan bagi para pembaca untuk menambah wawasan

kajian seni pertunjukan tari pasihan dari sudut pandang linguistik pragmatik.

(3) Memberikan motivasi terhadap pembaca pada umumnya dan para

peneliti dari kalangan Lembaga Perguruan Tinggi Seni untuk meneliti bentuk-bentuk

seni pertunjukan dari perspektif linguistik pragmatik.

(4) Dapat menjadi referensi atau acuan bagi para peneliti yang terkait dengan

disiplin ilmu linguistik pragmatik dan kajian sastra seni khususnya.

42

BAB II

KAJIAN TEORI, TINJAUAN PUSTAKA, DAN KERANGKA PIKIR

A. Kajian Teori

Seni pertunjukan umumnya dan lebih khusus genre tari pasihan gaya

Surakarta merupakan lahan kajian yang sangat menarik lewat bahasa verbal yang

berupa teks sastra tembang dan bahasa nonverbal. Dalam rangka untuk mengetahui

dan mencermati makna bahasa verbal dan nonverbal yang terdapat dalam seni

pertunjukan genre tari pasihan gaya Surakarta, peneliti menggunakan kajian: (1)

teori pragmatik, (2) teori budaya, (3) teori seni pertunjukan, dan (4) teori

komunikasi.

1) Teori pragmatik untuk menganalisis jenis-jenis tindak tutur yang terdapat

pada sastra tembang sebagai bahasa verbal, jenis tindak tutur yang dominan,

mengapa terjadi dominasi. Bentuk analisis berikutnya adalah bagaimana penerapan

43

prinsip-prinsip kerja sama dalam sastra tembang. Selain itu juga untuk mengkaji

strategi kesantunan yang digunakan oleh masing-masing peserta tutur yang terdapat

dalam genre tari pasihan terkait dengan cara mengungkapkan tindak tutur terkait

jarak sosial, hubungan peran yang berbeda, dan penggunaan muka dalam

komunikasi. Teori tersebut juga untuk mengungkap implikatur dan daya pragmatik.

2) Teori budaya yang terdiri dari tiga bagian yakni, wujud kebudayaan

sebagai suatu kompleks dari ide-ide untuk mengungkapkan konsepsi seniman

penyusun tentang bahasa verbal dan nonvberbal yang digunakan pada tari pasihan.

Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas untuk mengkaji dari faktor

afektifnya yaitu mengenai pandangan masyarakat umum dan persepsi pakar terhadap

pertunjukan tari pasihan. Adapun wujud kebudayaan berupa benda-benda hasil karya

manusia untuk analisis faktor objektif atau karya seninya, baik yang berupa sastra

tembang dan bahasa nonverbal.

3) Teori seni pertunjukan untuk mengkaji elemen-elemen yang terdapat di

dalam tari pasihan (bahasa nonverbal) mencakup tema, gerak tubuh (kinetic body

moves), polatan (ekspresi wajah), pola lantai, rias, busana, dan iringan gamelan

untuk mengungkapkan faktor objektif dan faktor genetik.

4) Teori komunikasi digunakan untuk menganalisa bagaimana komunikasi

berlangsung. Proses komunikasi antara seniman penyusun sebagai komunikator

dengan masyarakat sebagai komunikan lewat media yaitu karya seni tari pasihan.

Dalam komunikasi tersebut lebih difokuskan pada kesesuaian antara pesan makna

yang dimaksudkan seniman penyusun dengan makna yang dapat ditangkap oleh

masyarakat. Jika komunikasi antara seniman dengan masyarakat terjadi perbedaan

44

atau sebaliknya terjadi persamaan, dari hasil itu dapat dicari dan dianalisis

penyebabnya untuk menentukan kekuatan dan kelemahan tari pasihan sebagai

media.

Keempat teori tersebut digunakan untuk menganalisis makna pragmatik

genre tari pasihan gaya Surakarta secara komplementer. Secara prinsip teori

pragmatik merupakan alat kajian yang utama terkait dengan sistem kebahasaannya,

sedangkan teori budaya dan teori seni pertunjukan untuk menganalisis faktor bahasa

nonverbal. Teori komunikasi untuk mengkaji keterkaitan antarfaktor genetik,

objektif, dan afektif. Diharapkan keempat teori tersebut mampu untuk mengungkap

makna pragmatik genre tari pasihan gaya Surakarta secara menyeluruh dan

mendalam.

1. Teori Pragmatik

Terkait untuk tujuan-tujuan linguistik pragmatik adalah studi tentang makna

dalam hubungannya dengan situasi-situasi ujar (speech situations) (Leech, 1993: 8).

Konsep ujaran menurut Parera (dalam Muhammad Rohmadi, 2004: 48) berhubungan

dengan manifestasi bahasa dalam bentuk lisan. Untuk mengetahui makna ujaran

tidak dapat hanya dilihat dari satu sisi ujaran itu sendiri, akan tetapi harus

memperhatikan situasi ujaran atau sejauh mana kontekstualnya. Sebagaimana

dikatakan Leech bahwa seorang yang menganalisis makna pragmatik dapat

disamakan dengan seorang penerima, ia berusaha mengartikan isi wacana hanya

45

berdasarkan bukti kontekstual yang ada saja tanpa menjadi sasaran pesan si penutur

(1993: 19).

Ujaran-ujaran dalam kalimat dapat diungkapkan makna pragmatiknya secara

jelas jika kita perhatikan konteks, penutur serta situasinya. Tanpa konteks, ujaran-

ujaran dalam bentuk kalimat atau tindak tutur tersebut hanya akan dipahami sebagai

makna semantik yang lebih terfokus pada analisis linguistik formal. Terkait dengan

situasi-situasi ujaran, Leech (1993: 19-21) mengemukakan aspek-aspek situasi ujar

yang meliputi lima aspek situasi ujaran sebagai berikut: (1) Yang menyapa (penyapa)

atau yang disapa (pesapa), (2) Konteks sebuah tuturan, (3) Tujuan sebuah tuturan,

(4) Tuturan sebagai bentuk tindakan atau kegiatan: tindak ujar, (5) Tuturan sebagai

produk tindak verbal.

Dalam kehidupan sosial manusia berinteraksi menggunakan bahasa sebagai

alat komunikasi untuk maksud-maksud tertentu. Bahasa yang diungkapkan berupa

ujaran atau tuturan baik yang bersifat lisan maupun tulis. Bentuk ungkapan dapat

bersifat langsung dan tidak langsung, bersifat langsung manakala maksud penutur

tereksplesitkan dalam bentuk-bentuk tuturannya, sehingga mudah dipahami mitra

tutur. Tidak langsung, sulit dipahami karena untuk mencermati maksud sebuah

tuturan yang disampaikan penutur kepada mitra tutur sering mengalami kendala.

Hambatan sering terjadi karena penutur di dalam mengungkapkan tuturannya

menggunakan bahasa yang bersifat indirect. Artinya penutur dalam menyampaikan

maksudnya disiratkan pada tuturan atau maknanya di balik yang tersurat. Sebagai

mitra tutur berupaya untuk menafsirkan maksud penutur lewat teks yang digunakan

dengan mengaitkan konteksnya. Untuk itu perlu dicermati secara mendalam bentuk

46

bahasa sebagai teks dan bagaimana konteksnya sehingga dapat berfungsi untuk

mengungkap makna pragmatik.

a. Teks dan Konteks

Pada dasarnya teks dan konteks sangat vital terkait dengan kompetensi

komunikatif sehingga konsep teks dan konteks menjadi penting untuk dikaji dalam

rangka memahami implikatur pragmatik. Dalam analisis teks dan konteks ini, kita

dapat perikan liku-liku antarunit hingga komplementer antarfaktor. Hakekat teks

dalam pembicaran ini mereferensi dari pendapat: Leech (1983), Richards et al

(1992), Cook (1989), Halliday dan Hasan (1976), dan Hoed (2003: 5-6). Adapun

hakekat konteks lebih mereferensi dari pendapat: Yule (1998), dan Cutting (2002).

a.1. Teks

Menurut Leech (1983: 100), teks adalah konstruksi dari hasil penggunaan

sintaksis dan fonologi bahasa secara bermakna. Sejalan dengan pendapat tersebut,

teks adalah potongan dari bahasa tulis maupun lisan yang maknanya dapat dirunut

dari perspektif strukturnya ataupun fungsinya (Richards et al, 1992: 378). Secara

lebih sederhana Cook menyatakan bahwa teks juga dapat berupa bagian-bagian dari

bahasa yang dikaji secara formal (1989: 14).

Pendapat lain, Halliday dan Hasan (1976: 1-2), bahwa teks merupakan

sebuah unit semantik yang memiliki bentuk dan bermakna bukan sekadar unit

gramatikal seperti klausa atau kalimat yang lepas. Dengan demikian teks tidak

tergantung pada ukuran panjang pendeknya, namun lebih mengarah pada

berfungsinya suatu bahasa, yakni bahasa yang sedang melaksanakan tugas tertentu

dalam konteks situasi, bukan kata-kata ataupun kalimat lepas. Hoed (2003: 5-6),

47

mengatakan terdapat dua cara untuk pendekatan dasar pada sebuah teks, dengan

mengutip pendapat Noth (1990), yaitu: 1. teks sebagai pesan budaya (nonverbal),

yang terkait dengan gejala budaya seperti film, pertunjukan balet atau tari, musik,

peristiwa upacara ataupun pertunjukan sirkus; dan 2. teks sebagai pesan verbal yang

membatasi teks pada gejala kebahasaan (lihat disertasi Jumanto, 2006: 23-24).

Dapat ditarik simpulannya bahwa teks adalah sebuah unit bahasa verbal dan

atau nonverbal yang bermakna. Merujuk pada hakekat teks dari pendapat kelima

pakar tersebut terkait dengan teks seni pertunjukan, dapat peneliti kemukakan bahwa

teks genre tari pasihan meliputi:

a.1.1 Bahasa verbal, yang berupa teks sastra tembang yang terdapat dalam

cakepan (syair) pathetan, sindhenan, gerongan, dan jineman. Berdasarkan tujuan

awal penelitian adalah kajian pragmatik, maka dalam bahasa verbal ini, kajian

peneliti lebih terfokus pada:

a) jenis-jenis tindak tutur yang digunakan,

b) jenis tindak tutur yang dominan dan mengapa terjadi dominasi,

c) realisasi kesantunan antarperan

a.1.2 Bahasa nonverbal berupa elemen-elemen tari yang terdiri dari: tema, gerak

tubuh (kinetic body moves), polatan (ekspresi wajah), pola lantai, rias, busana, dan

iringan. Dalam bahasa nonverbal ini, kajian peneliti lebih terfokus pada gejala

budaya, mencakup:

a) motif tema yang digunakan sebagai ancangan alur adegan.

b) jenis-jenis vokabuler gerak,

c) polatan,

48

d) bentuk rias,

e) jenis warna dan bentuk busana yang dipakai,

f) jenis-jenis pola lantai ( floor design) ,

g) jenis-jenis gendhing ,

h) intonasi yang mencakup: irama, lagu, dan tekanan.

Kedua bentuk bahasa, baik verbal dan nonverbal tersebut merupakan satu kesatuan

yang membentuk menjadi sebuah bahasa genre tari pasihan yang tidak lepas dengan

konteks.

a.2. Konteks

Munculnya konsep konteks dalam ranah linguistik merupakan konsep yang

relatif baru sebagai pendobrak kemapanan aliran linguistik formal atau struktural.

Selama bertahun-tahun kajian linguistik, didominasi oleh pandangan bahwa aspek

form dalam suatu bahasa merupakan satu-satunya data yang paling feasible untuk

dikaji. Artinya bahwa para kaum strukturalis terfokus pada internal bahasa yang

semata-mata berorientasi pada bentuk, tidak mempertimbangkan bahwa satuan–

satuan itu sebenarnya hadir dalam konteks, baik konteks yang bersifat lingual (co-

text) maupun konteks yang bersifat ekstralingual yang berupa konteks fisik maupun

konteks sosial. Akibatnya aliran struktural gagal menjelaskan berbagai masalah

kebahasaan, terutama terkait dengan masalah makna yang ditarik dari implikatur

tindak tutur dalam sebuah percakapan, yang seharusnya mengaitkan dengan konteks.

Menurut Yule (1998), konteks adalah sebuah konsep yang dinamis, bukan

statis. Konteks dipahami sebagai lingkungan yang selalu berubah yang

memungkinkan peserta tutur berinteraksi dan yang membantu mereka memahami

49

ungkapan-ungkapan kebahasaan yang mereka gunakan dalam suatu proses

komunikasi. Sejalan dengan pendapat tersebut, Leech mengartikan konteks sebagai

suatu pengetahuan latar belakang yang sama-sama dimiliki oleh penutur dan mitra

tutur dan yang membantu mitra tutur dalam menafsirkan makna tuturan (1993: 20).

Sedangkan Cutting (2002: 3-8), mendefinisikan konteks secara lebih

operasional yakni dunia fisik dan sosial serta asumsi-asumsi pengetahuan yang

sama-sama dimiliki oleh penutur dan mitra tutur. Selanjutnya secara rinci konteks

dikategorikan menjadi: 1) konteks situasi, yaitu keadaan fisik yang muncul

bersamaan dengan terjadinya suatu interaksi ketika percakapan berlangsung (at the

moment of speaking), 2) konteks pengetahuan latar (background knowledge context)

yang dirinci menjadi (a) pengetahuan umum budaya (cultural general knowledge)

dan (b) pengetahuan interpersonal (interpersonal knowledge). 3) konteks co-textual,

yakni konteks verbal yang ada pada teks yang mengakibatkan adanya kohesi dan

koherensi.

Realisasi konteks dari teks tari pasihan dengan mengakses persepsi Cutting,

peneliti dapat lebih memfokuskan kajiannya pada:

a.2.1) Keadaan fisik yang muncul bersamaan dengan terjadinya suatu

interaksi ketika percakapan berlangsung dapat dirunut, secara internal mencakup:

perubahan raut muka atau polatan, pemilihan kata, intonasi dan pemilihan gerak.

Secara eksternal meliputi: lokasi pertunjukan dan kondisi lingkungan yang menjadi

setting berlangsungnya pertunjukan.

a.2.2) Konteks pengetahuan latar yang dapat diperikan menjadi:

50

a.2.2.1)Keterkaitannya dengan budaya, mencakup: mentifact, artifact,

sociofact.

Mentifact, merupakan bagian budaya yang terkait dengan ide-ide, gagasan,

nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya. Pandangan bagi masyarakat

yang berbudaya Jawa, rupanya keselarasan alam semesta merupakan salah satu

prinsip hidup. Harmonisasi dan keseimbangan antara jagad gedhe sebagai

manifestasi makrokosmos dan jagad cilik sebagai manifestasi mikrokosmos

merupakan faktor penentu kehidupan yang harus terjaga keberlangsungannya. Dalam

keselarasan tersebut yang penting adalah apakah hubungan alamiah satu sama

lainnya dimiliki oleh unsur-unsur yang terpisah, dan bagaimana masing-masing

unsur itu harus dirangkai menjadi terpadu, sekaligus mencegah hal-hal yang

sumbang maupun menimbulkan keganjilan. Keselarasan antara gaya hidup dan

kenyataan fundamental yang dirumuskan simbol-simbol sakral bervariasi dari

kebudayaan yang satu ke budaya yang lain (Geertz, 1992: 54-55). Realitas sepanjang

hidup manusia di muka bumi, mengalami pembagian adat-istiadat ke dalam tingkat-

tingkat tertentu. Stages along the life-cycle itu meliputi: masa kelahiran, masa

penyapihan, masa kanak-kanak, masa remaja, masa puber, masa nikah atau masa

perkawinan, masa pascanikah, masa hamil, dan masa tua hingga kematian

(Koentjaraningrat, 1985: 89). Mencermati dari sekian masa kehidupan, salah satu

masa yang penting adalah masa perkawinan atau masa nikah. Dari pernyataan

tersebut, dapat dirunut bagaimana keterkaitan perkawinan dengan kehadiran tari

pasihan.

51

Artifact, merupakan bagian budaya yang berupa seluruh total dari karya

manusia berupa benda fisik dari aktivitas maupun perbuatan. Pada prinsipnya semua

hasil karya manusia ditujukan untuk mencukupi semua kebutuhan hidupnya yang

terdiri dari dua komponen pokok, yaitu kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani.

Salah satu jenis karya manusia yang berperan dalam pembangunan rohani adalah

karya seni. Beragam hasil karya seni yang diciptakan manusia, satu diantaranya

adalah jenis genre tari pasihan. Terkait dengan kebutuhan analisis artifact, tari

pasihan akan dicermati secara total bentuk karya seninya dalam koridor seni

pertunjukan.

Sociofact, merupakan bagian budaya yang terkait dengan suatu kompleks

aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam social system. Beragam aktivitas

manusia yang saling berinteraksi satu dengan lainnya, dari waktu ke waktu, selalu

menurut pola yang telah disepakati yang didasarkan pada adat tata kelakuan. Sebagai

rangkaian aktivitas manusia dalam suatu masyarakat, sistem sosial itu bersifat

konkret, yang terjadi di sekitar kita. Seperti kehadiran tari pasihan pada upacara-

upacara ritual perkawinan budaya Jawa, rupanya terdapat kontribusi yang cukup

signifikan. Kehadiran tari duet pasihan pada upacara-upacara resepsi perkawinan

sampai sekarang masih berlangsung. Rupanya terdapat keterkaitan yang cukup erat

antara seni pertunjukan khususnya tari duet pasihan dengan kebutuhan sosial.

Merujuk pada asumsi tersebut, peneliti akan mengkaji fungsi tari pasihan pada

upacara perkawinan dalam kehidupan sosial masyarakat pendukungnya.

a.2.2.2) Keterkaitannya dengan pengetahuan interpersonal, akan dirunut

tentang: hasil penghayatan yang melibatkan seniman dan penghayat terhadap karya

52

tari pasihan. Dari penghayatan muncul sebuah penilaian. Hasil penilaian atau hasil

hayatan dari peserta tutur (seniman dan penghayat), terdapat persamaan atau

perbedaan yang masing-masing akan dicari argumentasinya.

a.2.3) konteks co-textual, mencakup kohesi dan koherensi secara menyeluruh

dalam tari pasihan. Adapun cakupan kohesi terfokus pada: keterkaitan antarunit,

antarkomponen, dan antarbagian baik yang terdapat pada teks satra tembang

maupun pada elemen-elemen tari pasihan. Cakupan koherensi terfokus pada: isi atau

kandungan makna pada masing-masing unit, masing-masing komponen, masing-

masing bagian, dan implikatur dari komplementer antarunit, antarkomponen, dan

antarbagian tari pasihan.

Sebagai arahan untuk memahami proses dan bentuk aktualisasi mengenai

aplikasi analisis pemerian teks beserta konteks tari pasihan dalam ritual perkawinan

budaya Jawa, akan dikupas secara tuntas dan mendalam dengan teori-teori yang

peneliti gunakan sebagai ancangan analisis, pada kajian berikut.

b. Prinsip Kerja Sama (PKS)

Pada dasarnya orang dalam berkomunikasi itu hendaknya saling bekerjasama

antara penutur dengan mitra tutur agar komunikasi dapat berjalan secara efektif dan

efisien. Setiap peserta pertuturan sama-sama menyadari bahwa ada prinsip-prinsip

yang mengatur tindakannya, penggunaan bahasanya, dan interpretasi-interpretasinya

terhadap tindakan dan ucapan lawan tutur (Wijana, 1996: 68). Partisipan komunikasi

sangat berkepentingan untuk memenuhi dan mematuhi prinsip kerjasama

(Cooperative Principle) yang terbagi empat maksim yaitu: (1) maksim kuantitas, (2)

maksim kualitas, (3) maksim hubungan, dan (4) maksim cara (Grice dalam Leech,

53

1993: 11). Merujuk pada empat maksim dari prinsip kerjasama itu bila dapat

dipenuhi dari masing-masing peserta tutur maka akan terjadi komunikasi yang efektif

dan efisien. Terbentuknya komunikasi yang wajar tersebut karena penutur dalam

memberikan informasi secukupnya tidak kurang dan tidak lebih sesuai yang

diperlukan, informasi benar tidak keliru berdasarkan suatu realitas yang sebenarnya,

informasi usahakan relevan dengan pokok pembicaraan, dan informasi disampaikan

dengan cara yang mudah, jelas, ringkas, dan teratur secara gramatikal.

Prinsip kerjasama rupanya tidak cukup karena dalam kehidupan dibutuhkan

saling menghormati, menghargai, dan menjaga kesopanan. Perlu disadari bahwa

sebagai anggota masyarakat bahasa penutur tidak hanya terikat pada hal-hal yang

bersifat tekstual, dalam arti tidak hanya bagaimana membuat tuturan yang mudah

dipahami oleh mitra tutur, tetapi penutur juga terikat pada aspek-aspek yang bersifat

interpersonal. Dengan demikian penutur harus membuat dan memperlakukan mitra

tutur lebih santun dalam mengungkapkan tuturannya. Leech berpendapat bahwa

selain keempat maksim dalam prinsip kerjasama juga masih diperlukan prinsip

kesantunan yang terjabar menjadi enam maksim, yaitu: (1) maksim kearifan (tact

maxim), adalah aturan pertuturan yang meminimalkan kerugian orang lain dan

memaksimalkan keuntungan bagi orang lain; (2) maksim kedermawanan (generosity

maxim), adalah aturan pertuturan yang meminimalkan keuntungan bagi diri sendiri

dan memaksimalkan kerugian bagi diri sendiri; (3) maksim pujian (approbation

maxim), adalah aturan pertuturan yang meminimalkan ketidakhormatan terhadap

orang lain dan memaksimalkan pujian kepada orang lain; (4) maksim kerendahan

hati (modesty maxim), adalah aturan pertuturan yang memaksimalkan

54

ketidakhormatan terhadap diri sendiri dan meminimalkan rasa hormat terhadap diri

sendiri; (5) maksim kesepakatan (agreement maxim), adalah aturan pertuturan yang

memaksimalkan kesepakatan terhadap orang lain; (6) maksim simpati (sympathy

maxim), adalah aturan pertuturan yang meminimalkan rasa anti pati terhadap orang

lain dan memaksimalkan rasa simpati terhadap orang lain (Leech, 1993 : 206-207).

Namun, kalau kita perhatikan praktik penggunaan bahasa di dalam

komunikasi sehari-hari, ternyata prinsip kerja sama itu sering tidak dipatuhi orang.

Paling tidak, lebih sering maksim-maksim dalam prinsip kerja sama itu dilanggar

daripada dipatuhi. Tidak dipatuhi karena salah satu sebabnya adalah bahwa

komunikasi itu tidak selalu berupa penyampaian pesan atau informasi belaka. Hal ini

didasarkan pada fungsi bahasa yang mencakup: (1) fungsi referensial atau informatif

yang tujuannya untuk menyampaikan informasi (pesan), dan (2) fungsi afektif yang

bertujuan untuk menjaga dan memelihara hubungan sosial (Holmes dalam Asim

Gunarwan, 2006: 2).

Tampaklah bahwa ketidakpatuhan para partisipan dalam komunikasi karena

pada dasarnya bahwa berkomunikasi itu lebih dipicu oleh motif-motif tertentu dari

penutur. Dalam hal ini penutur berupaya memasukkan maksudnya secara implisit

pada ujaran yang diungkapkan. Penutur sering menyampaikan pesan tidak secara

bald on record tetapi lebih banyak menyukai dengan cara off record. Hal itu

menunjukan bahwa dalam pertuturan, penutur merasa lebih santun, nyaman, aman,

diharapkan tidak mengancam muka, hubungan sosialnya tetap terjaga tanpa merasa

terkendalai oleh faktor bahasa dan nonbahasa. Namun perlu disadari semua

implikatur itu bersifat probabilistis, karena dapat diasumsikan bahwa apa yang

55

dimaksud oleh penutur lewat tuturannya tidak pernah dapat kita ketahui dengan pasti.

Untuk dapat menentukan makna yang sebenarnya atau menyimpulkan interpretasi

yang paling mungkin, sesuai dengan maksud percakapan, dipilih bentuk-bentuk

ungkapan yang memiliki makna paling relevan dari semua siratan yang secara

potensial dapat timbul. Untuk menarik makna sesuai dengan maksud penutur tidak

cukup hanya dengan mengasumsikan makna proposisi ujaran, betapapun eksplisitnya

proposisi. Karena pragmatik merupakan kajian tentang maksud penutur, untuk

mengetahui dan memahami makna ujarannya, kita harus mengetahui sikap penutur.

Dapat diinferensikan bahwa memahami maksud penutur, tidak cukup mengetahui

eksplikatur ujaran, tetapi kita juga harus mengetahui sikap penutur yang

melatarbelakangi eksplikatur ujaran tersebut (Asim Gunarwan, 2006: 9). Peranan

ujaran atau tindak tutur sangat penting dalam rangka menyampaikan maksud

penutur.

c. Tindak Tutur

Fungsi bahasa dalam kehidupan manusia sebagai makhluk sosial rupanya

tidak dapat disangkal lagi. Bahasa sebagai fakta sosial telah diungkap pertama kali

oleh Ferdinand de Saussure (1916). Hal ini kemudian dikembangkan oleh para

peneliti lain. Menurut Karl Buhler (1918), tanda bahasa merupakan lambang

(symbol), gejala (symptom), dan juga Sinyal (signal). Dalam hal ini tanda bahasa

merupakan lambang yang memiliki daya sinyal untuk mengarahkan pendengar

sebagai penanggap. Berdasarkan teori tanda bahasa di dalam model Organon Buhler,

bahasa dapat difungsikan menjadi tiga, yaitu: ekspresif, apelatif, dan representatif.

Relevansi teori Buhler dengan liku-liku pragmatik dijelaskan oleh Renkema (1993),

56

bahwa ujaran yang disampaikan oleh sender dapat diterima dan dipahami pada

tingkat yang sama atau berbeda oleh receiver artinya gejala tidak selalu sama dengan

sinyal. Apabila objek acuan sender sebagai message dapat diterima dan dipahami

pada tingkat yang sama atau tepat oleh receiver, artinya bahwa komunikasi efektif

dan berhasil. Sebaliknya jika yang terjadi pemahaman receiver atas objek referensi

sender berbeda bahkan berlainan sama sekali, maka akan terjadi masalah pragmatik.

Perkembangan selanjutnya Malinowski (1923: 310), dari hasil penelitian

terhadap masyarakat primitif di Papua Melanesia, menyatakan bahwa ujaran hanya

akan dapat dipahami jika ditafsirkan dalam konteks situasi. Terkait dengan fungsi

bahasa, Malinowski mengungkapkan sebuah konsep Phatic Communion: ‘A type of

speech in which ties of union are created by a mere exchange of words’ (lihat

Jumanto, 2006: 36). Dari pernyataan tersebut jelas bahwa bahasa difungsikan sebagai

tujuan sosial untuk menjaga hubungan ikatan antarpersonal bagi yang terlibat dalam

sebuah pertuturan. Komunikasi fatis merupakan strategi masyarakat modern maupun

masyarakat primitif dalam rangka menjaga interaksi sosial terpelihara dengan baik,

santun, ramah, dan harmonis.

Sekarang tampak bahwa tokoh – tokoh seperti: Ferdinand de Saussure (1916),

Karl Buhler (1918), Malinowski (1923), merupakan pakar linguistik yang telah

mendeskripsikan fungsi bahasa berdasarkan realitas kehidupan bahasa dalam

masyarakat. Mereka dengan sadar mengembangkan teori fungsi bahasa secara

berkelanjutan. Teori fungsi bahasa dari ketiga pakar tersebut merupakan langkah

awal berkembangnya fungsi bahasa yang mendorong lahirnya teori pragmatik oleh

57

Austin (1956) yang kemudian dijabarkan dan dimanifestasikan dalam konsep-konsep

tindak tutur Searle (1969) berikutnya.

Speech act menurut Austin di dalam mengutarakan tuturan, seseorang dapat

melakukan sesuatu selain mengatakan sesuatu. Contohnya: “ Peneliti mohon maaf

atas keterlambatan peneliti.” Contoh ujaran atau kalimat tersebut dipergunakan untuk

melakukan tindakan yaitu tindakan meminta maaf. “ Wah, tanamannya layu.” Ujaran

atau tindak tutur tersebut dipergunakan untuk melakukan tindakan yaitu menyuruh

untuk menyirami. “ Sebaiknya anda tidak merokok.” Tuturan tersebut dimaksudkan

untuk melakukan tindakan yakni melarang atau menyuruh untuk tidak menghisap

rokok. Terkait dengan liku-liku Speech act, kita dapat mengkajinya dengan sebuah

teori tindak tutur yang diperikan menjadi beberapa jenis tindak tutur.

d. Jenis-jenis Tindak Tutur

d.1. Tindak Tutur menurut Austin (1956)

Teori tindak tutur pertama kali diungkapkan oleh Austin (1956), seorang ahli

filsafat senior dari Inggris, yang kemudian dikembangkan dan dipopulerkan secara

universal oleh muridnya yang bernama Searle (1969). Menurut Searle bahwa pada

setiap komunikasi linguistik terdapat tindak tutur. Searle dalam bukunya “Speech

Acts: An Essay in The Philosophy of Language” (1969:23-24) mengemukakan

bahwa secara pragmatik setidak-tidaknya ada tiga jenis tindakan yang dapat

diwujudkan oleh seorang penutur, yakni tindak lokusi (locutionary act), tindak

ilokusi (illocutionary act), dan tindak perlokusi (perlocutionary act) (lihat Leech,

1993:316; Wijana, 1996: 17-19; Cutting, 2002: 16; Yule, 2006: 83-84).

58

Ketiga teori tindak tutur, yaitu locutionary act, illocutionary act atau

illocutionary force, dan perlocutionary act atau perlocutionary effect merupakan

teori yang akan peneliti gunakan sebagai ancangan untuk mengkaji implikatur. Hal

ini terkait dengan pemahaman bahwa pragmatik adalah cabang linguistik yang

mengkaji maksud penutur (the speakers meaning) yang terdapat di balik tuturannya.

Maksud tuturan tidak selamanya dinyatakan secara eksplisit, akan tetapi banyak juga

bahkan dapat peneliti katakan cukup dominan maksud penutur yang diimplisitkan

pada realitas kehidupan, sehingga kita sering mengalami kesulitan untuk memahami

maksud tuturan atau implikaturnya. Untuk itu diperlukan seperangkat pengetahuan

tentang berbagai jenis tindak tutur, untuk mencermati dan memahami maksud

penutur dengan seluruh aspek yang melatarbelakangi (konteks). Adapun ketiga jenis

tindak tutur itu, lebih lanjut dijelaskan sebagai berikut.

a. Tindak Lokusi (locutionary act).

Tindak lokusi adalah tindak tutur untuk menyatakan sesuatu. Tindak tutur ini

sering disebut sebagai The Act of Saying Something. Tuturan yang diutarakan oleh

penuturnya lebih bersifat menginformasikan sesuatu, tanpa tendensi atau maksud-

maksud tertentu di balik kalimat atau ujaran, tetapi lebih menurut apa adanya. Bila

diamati secara

seksama tindak lokusi itu adalah konsep yang berkaitan dengan proposisi kalimat.

Kalimat atau tuturan dalam hal ini dipandang sebagai satu kesatuan yang terdiri dari

minimal dua unsur, yakni subjek atau topik dan predikat atau commet (lihat

Nababan, 1987: 4; Wijana, 1996: 18).

b. Tindak Ilokusi (illocutionary act).

59

Tindak ilokusi adalah tindak tutur yang berfungsi untuk mengatakan atau

menginformasikan sesuatu dan dipergunakan untuk melakukan sesuatu. Tindak

ilokusi disebut sebagai The Act of Doing Something. Tindak ilokusi sangat dominan

kita jumpai dalam komunikasi sehari-hari, tindak ini merupakan bagian sentral untuk

memahami tindak tutur.

c. Tindak Perlokusi (perlocutionary act).

Tindak perlokusi adalah tindak tutur yang pengutaraannya dimaksudkan

untuk mempengaruhi lawan tuturnya. Tindak perlokusi disebut sebagai The Act of

Affecting Someone. Sebuah tuturan yang diutarakan seseorang seringkali mempunyai

daya pengaruh (perlocutionary effect) atau efek bagi yang mendengarnya. Efek yang

timbul ini bisa sengaja maupun tidak sengaja. Berdasarkan uraian-uraian di atas

menunjukkan bahwa tindak lokusi mendasari tindak ilokusi, tindak ilokusi mendasari

tindak perlokusi. Selanjutnya tindak perlokusi sebagai final maksud suatu ujaran di

dalam komunikasi bahasa. Dalam tindak lokusi bentuk-bentuk kebahasaan sebagai

alat untuk mengungkapkan informasi secara eksplisit. Dalam tindak ilokusi dan

perlokusi bentuk-bentuk kebahasaan sebagai simbol untuk mengungkapkan maksud

yang sebenarnya. Simbol itu dapat ditangkap sebagai sesuatu isyarat maksud tertentu

jika wawasan budaya, kebiasaan antara pendengar dan pembicara sama.

Tidak semata-mata tindak perlokusi hanya ditarik dari makna ujaran, karena

harus melibatkan konteks tuturannya. Dapat ditegaskan bahwa setiap tuturan dari

seorang penutur memungkinkan sekali mengandung salah satu dari ketiga: lokusi,

ilokusi atau perlokusi. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa satu tuturan

mengandung dua atau ketiga-tiganya sekaligus. Kunci utama yang perlu diperhatikan

60

bahwa dalam analisis pragmatik adalah mencermati ilokusi-ilokusi yang terdapat

pada tindak tutur dari penutur yang hendak dikomunikasikan pada mitra tutur, untuk

mencari implikatur atau makna di balik ujaran yang tersirat bukan sekadar makna

yang tersurat dalam ujaran dimaksud. Tidaklah dipungkiri bahwa dalam kajian tindak

tutur ilokusi tidak lepas dari tindak tutur lokusi dan tindak tutur perlokusi.

d.2. Tindak Tutur menurut Searle (1979)

Sehubungan dengan pengertian tindak tutur atau tindak ujar, Searle (1979)

mengklasifikasikan tindak tutur ilokusi menjadi lima jenis tuturan, yakni: asertif,

direktif, ekspresif, komisif, dan deklarasi (lihat Leech, 1996: 164-165; Cutting, 2002:

16-17). Dari masing-masing tindak tutur mempunyai fungsi komunikatif, yaitu:

d.2.1. Asertif ialah bentuk tindak tutur yang mengikat penuturnya kepada

kebenaran atas hal yang dikatakannya, misalnya: menggambarkan, menyatakan,

membuat hipotesa, mendesak, meramalkan, membual, mengeluh, mengusulkan, dan

melaporkan.

d.2.2. Direktif, ialah bentuk tindak tutur yang dimaksudkan oleh penuturnya

untuk mempengaruhi mitra tutur agar melakukan tindakan sesuai dengan maksud

penutur, misalnya: menyuruh, memohon, mengundang, melarang, menuntut,

memesan, menyarankan, dan menantang.

d.2.3. Ekspresif, ialah bentuk tindak tutur yang berfungsi untuk menyatakan

atau mengungkapkan sikap psikologis penutur dalam menanggapi suatu keadaan,

misalnya: meminta maaf, memuji, mengucapkan selamat, mengucapkan terima

kasih, menyesal, penyesalan, mengkritik, dan mengeluh.

61

d.2.4. Komisif, ialah bentuk tindak tutur yang mengikat penuturnya

melaksanakan segala hal yang disebutkan dalam ujarannya, misalnya: berjanji,

bersumpah, mengancam, tawaran, menolak, berkaul dan sukarela.

d.2.5. Deklaratif, ialah tindak tutur yang dilakukan si penutur dengan maksud

untuk menciptakan hal (status, keadaan dan sebagainya) yang baru, misalnya:

meyakinkan, mendeklarasikan, menekankan, membaptis, memutuskan,

membatalkan, melarang, mengizinkan, memberikan maaf, memecat, mengundurkan

diri, memberi nama, mengangkat, mengucilkan, dan menjatuhkan hukuman.

d.3. Tindak Tutur menurut Yule (1996)

Menurut Yule (1996), secara garis besar fungsi tindak tutur diklasifikasi

menjadi lima jenis, yaitu:

d.3.1. Deklaratif ialah jenis tindak tutur yang mengubah dunia melalui

tuturan. Dalam hal ini penutur harus mempunyai peran institusional khusus, dalam

konteks khusus, untuk menyatakan atau mengemukakan deklarasi secara tepat.

d.3.2. Representatif ialah jenis tindak tutur yang menyatakan apa yang

diyakini penutur. Pernyataan tersebut berdasarkan pada fakta, penegasan, simpulan,

dan pendeskripsian.

d.3.3. Ekspresif ialah jenis tindak tutur yang menyatakan sesuatu yang

dirasakan oleh penutur. Tindak tutur ekspresif merupakan cerminan dari pernyataan-

pernyataan psikologis dan dapat berupa pernyataan kegembiraan, kesulitan,

kesukaan, kebencian, kesenangan, dan bisa kesengsaraan atau kesedian.

d.3.4. Direktif ialah jenis tindak tutur yang dipakai oleh penutur untuk

menyuruh orang lain melakukan sesuatu. Bentuk tindak tutur direktif digunakan

62

untuk menyatakan apa yang menjadi keinginan penutur. Tindak tutur ini meliputi:

perintah, pemesanan, permohonan, dan pemberian saran, yang bentuknya dapat

berupa kalimat positif dan negatif.

d.3.5. Komisif ialah jenis tindak tutur yang dipahami oleh penutur untuk

mengikatkan dirinya terhadap tindakan-tindakan di masa yang akan datang. Tindak

tutur komisif dapat berupa: janji, ancaman, ikrar, dan penolakan.

d.4. Tindak Tutur menurut Kreidler (1998)

Dalam perkembangan selanjutnya, Kreidler mengkategorisasikan tindak tutur

menjadi tujuh jenis bentuk tindak tutur, seperti yang dikemukakan dalam bukunya

“Introducing English Semantics” (1998:183-194), yaitu:

d.4.1. Tindak tutur Asertif

Di sini penutur menggunakan bahasa untuk menyampaikan apa yang mereka

percayai dan apa yang mereka ketahui, tindak tutur asertif selalu berkaitan dengan

fakta, pengetahuan, data, apa yang ada atau yang telah ada, apa yang sedang terjadi

atau yang telah terjadi. Tindak tutur asertif bersifat menginformasikan, benar atau

salah, dan secara umum mereka dapat dibenarkan atau disalahkan bukan hanya pada

waktu tindak tutur tersebut keluar atau oleh mereka yang mendengarnya, namun

secara lebih umum mereka adalah subjek bagi penyelidikan empiris.

d.4.2. Tindak tutur Performatif

Tindak tutur performatif adalah tuturan yang pengutaraannya difungsikan

atau digunakan untuk melakukan suatu tindakan, misalnya tindakan mohon maaf,

berjanji, bertaruh, mengumumkan, dan meresmikan. Tindak-tutur performatif

ditemukan pada ucapan-ucapan pernikahan, pemecatan kerja, penjatuhan hukuman

63

dan lain-lain di mana hanya orang-orang tertentu dan pada lingkungan yang sesuai

yang diterima oleh mitra tutur. Kebanyakan tindak tutur performatif diungkapkan

pada setting formal dan berkaitan dengan kepegawaian. Tindak tutur performatif

bukanlah masalah benar atau salah tetapi tujuannya adalah untuk membuat bagian

dari dunia ini sepaham dengan apa yang ia katakan.

d.4.3.Tindak tutur Verdiktif

Tindak tutur verdiktif adalah tindak tutur yang berorientasi pada perbuatan

yang sudah terjadi atau bersifat retrospektif. Tindak tutur restrospeksi adalah jika

penutur menilai sikap yang telah dilakukan mitra tutur di masa lalu. Sikap itu bisa

ditanggapi secara positif dengan mengucapkan “selamat… untuk”, “bangga…

untuk”, “terima kasih… untuk”, bentuk menghargai, dan berbelasungkawa. Di

samping dalam bentuk tuturan di atas, tindak tutur verdiktif dapat berupa tuturan

yang bersifat menuduh, mendakwa, menyalahkan atau tanggapan yang mengarah

pada penilaian yang negatif.

d.4.4. Tindak tutur Ekspresif

Tindak tutur ekspresif menilai atau mengevaluasi tindakan sebelumnya atau

kegagalan dalam tindakan tersebut dari penutur, atau mungkin hasil bertindak atau

kegagalan sekarang. Menurut Fraser tindak tutur ekspresif disebut pula tindak tutur

evaluatif (dalam Rustono, 1999; 30). Tindak tutur ekspresif adalah jenis tindak tutur

yang menyatakan sesuatu yang dirasakan oleh penutur. Tuturan-tuturan ekspresif itu

mencerminkan pernyataan-pernyataan psikologis yang dapat berupa: memuji,

mengucapkan terima kasih, mengkritik, mengeluh, menyalahkan, mengucapkan

selamat, dan menyanjung.

64

d.4.5. Tindak tutur Direktif

Tindak tutur direktif kadang-kadang disebut juga tindak tutur impositif adalah

tindak tutur di mana penutur menginginkan mitra tutur melakukan suatu tindakan

atau mengulangi tindakan. Tindak tutur direktif ini tuturan-tuturannya mempunyai

maksud untuk memaksa, mengajak, meminta, menyuruh, menagih, mendesak,

memohon, menyarankan, memerintah, memberikan aba-aba, dan menantang. Pada

aplikasinya tindak tutur direktif, dapat berbentuk: (1) kalimat perintah (imperatif),

(2) kalimat berita (deklaratif), dan (3) kalimat tanya (interogatif).

d.4.6. Tindak tutur Komisif.

Tindak tutur komisif merupakan bentuk tindak tutur yang berfungsi untuk

menyatakan janji-janji, ikrar, pengandaian, ancaman dan sumpah. Tindak tutur

komisif bersifat prospektif dan berkaitan dengan komitmen penutur pada perbuatan

atau tindakan yang harus dilakukan untuk waktu yang akan datang.

d.4.7. Tindak tutur Patik.

Tindak tutur fatik merupakan bentuk tindak tutur yang berfungsi untuk

menjalin hubungan sosial. Tujuannya adalah untuk membangun solidaritas antar

anggota-anggota dari lingkungannya. Bahasa patik tidak begitu berfungsi dengan

jelas jika dibandingkan dengan enam tipe lainnya tetapi, tidak kalah arti pentingnya

dalam realitas kehidupan sehari-hari. Tindak tutur patik termasuk salam, ucapan

perpisahan, ucapan-ucapan kesantunan seperti “terima kasih kembali”, “maaf

peneliti”, yang mempunyai tujuan tertentu, bukan seperti makna yang tersurat dan

tersirat dalam tindak tutur verdiktif atau ekspresif. Tindak tutur fatik merupakan

bentuk tindak tutur keseharian yang sangat umum yang mungkin tidak kita pelajari

65

tapi sudah melekat dan menjadi kebiasaan sehari-hari yang bernilai baik dan

beretika. Sedangkan bentuk atau ragamnya tindak tutur fatik sudah terpola.

Dari keempat pakar yaitu: Austin, Searle, Kreidler, dan Yule tentang fungsi

tindak tutur tersebut dapat peneliti verifikasi sebagai berikut.

Konsep tindak tutur Austin merupakan dasar utama yang melandasi fungsi

tindak tutur yang muncul di kemudian, karena Austin merupakan orang pertama kali

yang mengemukakan teori tindak tutur yang membaginya menjadi tiga bentuk yaitu:

lokusi, ilokusi, dan perlokusi.

Dalam perkembangannya teori tindak tutur di tangan para pakar

diklasifikasikan menurut fungsinya yang secara garis besar memiliki kesamaan. Dari

hasil pengklasifikasian tersebut terdapat beberapa persamaan dan perbedaan:

1. Persamaan istilah dan sekaligus persamaan pengertian, bentuk fungsi

tindak tutur menurut Searle, Kreidler, dan Yule, meliputi tindak tutur: direktif,

ekspresif, dan komisif. Selain itu menurut Searle dan Kreidler juga terdapat

persamaan pada tindak tutur asertif, sedangkan menurut Searle dan Yule, persamaan

juga terletak pada tindak tutur deklaratif.

2. Perbedaan istilah tetapi pengertiannya sama. Menurut Searle dan Kreidler

tentang fungsi tindak tutur asertif mempunyai persamaan pengertian dengan fungsi

tindak tutur representatif menurut Yule. Di samping itu menurut Searle dan Yule,

fungsi tindak tutur deklaratif mempunyai persamaan pengertian dengan fungsi tindak

tutur performatif menurut Kreidler.

66

3. Perbedaan jumlah fungsi tindak tutur. Hal ini ditunjukan oleh Kreidler

yang membagi fungsi tindak tutur menjadi tujuh bentuk, sedangkan Searle dan Yule

masing-masing mengklasifikasikan menjadi lima bentuk tindak tutur.

Dari ketiga fungsi tindak tutur yang dikemukakan oleh Searle, Yule, dan

Kreidler, peneliti akan menggunakan fungsi tindak tutur menurut Kreidler karena

tampak dari jumlah pengklasifikasian Kreidler lebih banyak yang masing-masing

tindak tutur memiliki karakter yang spesifik sehingga dapat lebih mengakomodasi

kebutuhan analisis bahasa verbal dan nonverbal yang terdapat dalam genre tari

pasihan. Selain itu terkait juga dengan fungsi tindak tutur verdiktif dan tindak tutur

fatik yang tidak dimiliki dalam fungsi tindak tuturnya Searle dan Yule. Pada

dasarnya penutur dalam mengungkapkan maksudnya terhadap mitra tutur tidak selalu

langsung pokok pembicaraan. Peserta pertuturan sering menggunakan bahasa fatik

untuk sekedar memulai pembicaraan atau sekadar basa-basi mungkin juga untuk

memecahkan kesenyapan yang kesemunya itu berlangsung dalam pertuturan sehari-

hari. Begitu pula ketika seseorang mencintai orang lain, ungkapan memuji

merupakan pernyataan yang cukup dominan dalam sebuah pertuturan. Prediksi

peneliti, kedua fungsi tindak tutur tersebut sangat bermanfaat untuk menganalisis

tindak tutur teks satra tembang dan bahasa nonverbal yang terdapat pada genre tari

pasihan.

Terkait dengan kelebihan yang dimiliki tersebut gagasan utama pemilihan

dimaksud adalah dalam rangka mencari dan menentukan implikatur yang valid

sehingga pragmatik genre pasihan dapat diungkapkan secara menyeluruh, rasional,

optimal, dan berkualitas. Selain itu dari penjabarannya fungsi tindak tutur yang

67

dilakukan Kreidler tampak lebih transparan, hal ini dapat dicermati dalam bukunya

yang berjudul “Introducing English Semantics”, yang dipaparkan dengan

menggunakan bagan antara lain tindak tutur: verdiktif, ekspresif, direktif, dan

komisif .

Tindak tutur tersebut akan peneliti gunakan untuk mengkaji komponen-

komponen yang terdapat pada genre tari pasihan gaya Surakarta baik yang terdapat

pada bahasa verbal dan nonverbal secara tajam, menyeluruh, dan rinci dalam rangka

menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pada rumusan masalah. Terutama

terkait dengan latar belakang konsepsi penciptaan bahasa verbal dan nonverbal serta

ciri karakteristik genre tari pasihan gaya Surakarta.

Adapun unsur-unsurnya dapat diurai sebagai berikut.

1. Penutur meliputi: seniman penyusun (pengkarya), dan penari.

2. Tuturan (karya seni) meliputi: a. tindak tutur bahasa verbal yang berupa

teks sastra tembang terdiri dari; cakepan (syair) pathetan, sindhenan, gerongan, dan

jineman. b. tindak tutur bahasa nonverbal yang meliputi: tema, gerak tubuh (kinetic

body moves), polatan (ekspresi wajah), pola lantai, rias, busana, dan iringan.

3. Mitra tutur meliputi: pakar, penonton umum, dan penanggap sebagai

masyarakat pendukung budayanya.

e. Prinsip Kesantunan (PS)

e.1. Skala Kesantunan Leech (1983)

Teori kesantunan Leech (1983), bahwa setiap maksim interpersonal itu dapat

dimanfaatkan untuk menentukan peringkat kesantunan sebuah tuturan. Berikut

kesantunan menurut Leech selengkapnya:

68

e.1.1. Cost-benefit scale adalah skala yang menunjuk pada untung ruginya

peserta tutur dalam pertuturan. Tindak tutur yang banyak merugikan penutur akan

dianggap semakin santun, dan jika banyak menguntungkan penutur akan dianggap

tindak tuturnya semakin tidak santun.

e.1.2. Optionality scale adalah skala yang menunjuk pada sedikit-banyaknya

pilihan tindak tutur yang digunakan peserta tutur dalam pertuturan. Jika pertuturan

itu banyak memberikan kesempatan peserta tutur untuk memilih tuturan maka tindak

tutur akan semakin santun. Sebaliknya, apabila pertuturan itu membatasi peserta

tutur untuk memilih tuturan maka tindak tutur semakin tidak santun.

e.1.3. Indirectness scale adalah skala yang menunjuk pada langsung dan tidak

langsungnya maksud tindak tutur dalam pertuturan. Tindak tutur yang bersifat

langsung semakin tidak santun, sedangkan tindak tutur yang bersifat tidak langsung

akan semakin santun.

e.1.4. Authority scale adalah skala yang menunjuk pada hubungan status

sosial antara penutur dengan mitra tutur. Jarak status sosial (rank rating) semakin

jauh antara penutur dengan mitra tutur, akan semakin santun tindak tuturnya. Akan

tetapi jika jarak status sosial semakin dekat antara penutur dengan mitra tutur, akan

semakin tidak santun tindak tuturnya..

e.1.5. Social distance scale adalah skala yang menunjuk pada peringkat

hubungan sosial antara penutur dan mitra tutur. Jarak hubungan sosial semakin jauh

antara penutur dengan mitra tutur, akan semakin santun tindak tuturnya. Sedangkan

semakin dekat hubungan sosial antara penutur dengan mitra tutur, akan semakin

tidak santun tindak tuturnya.

69

e.2. Skala Kesantunan Brown dan Levinson (1987)

Teori kesantunan Brown dan Levinson (1987) seperti dikutip Jumanto dalam

disertasinya (2006: 47-53), bahwa dalam sebuah pertuturan terkait dengan

pengaturan muka terbagi menjadi dua yaitu tindak tutur yang berpotensi mengancam

muka (face-threatening acts/FTA) dan tindak tutur yang berpotensi menyelematkan

muka (face-saving acts/FSA). Menurut Goffman (1959, 1967), pada dasarnya setiap

orang dianggap memiliki dua muka, yakni muka positif (positive face) dan muka

negatif (negative face). Muka positif dimaksudkan bahwa keinginan setiap orang

supaya segala tindakannya dihargai oleh orang lain, sedangkan muka negatif

dimaksudkan bahwa keinginan setiap orang supaya segala tindakannya tidak

dihalangi orang lain ( Brown dan Levinson, 1987: 62). Kajian kesantunan Brown dan

Levinson mencakup: a) cara mengungkapkan jarak sosial (social distance) dan

hubungan peran yang berbeda dalam komunikasi; b) penggunaan muka dalam

komunikasi, yang keduanya dimaksudkan untuk menunjukkan, memelihara, dan

menyelamatkan muka dalam percakapan. Dalam percakapan untuk mengungkapkan

kesantunan, Brown dan Levinson menggunakan dua cara yaitu strategi kesantunan

positif yang mengacu pada muka positif dan strategi kesantunan negatif yang

mengacu pada muka negatif. Strategi kesantunan positif (positive politeness

strategies) yang digunakan untuk menunjukkan kedekatan, keintiman, dan hubungan

baik antara penutur dengan mitra tutur, sedangkan strategi kesantunan negatif

(negative politeness strategies) yang digunakan untuk menunjukkan adanya jarak

sosial antara penutur dengan mitra tutur.

70

Teori kesantunan Brown dan Levinson dapat diringkas menjadi lima strategi,

yaitu: 1) melakukan tindak tutur secara apa adanya, tanpa basa basi (bald on record)

dengan mematuhi prinsip kerja sama Grice. Prinsip kerja sama Grice (1975) seperti

dikutip Leech (1993: 11), terdiri dari empat maksim yang digunakan dalam

percakapan, yaitu: maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim hubungan atau

relevansi, dan maksim cara. 2) melakukan tindak tutur dengan menggunakan

kesantunan positif mengacu muka positif (positive politiness), untuk menunjukkan

kedekatan, keintiman, dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur. 3)

melakukan tindak tutur dengan menggunakan kesantunan negatif mengacu muka

negatif (negative politiness), untuk menunjukkan adanya jarak sosial antara penutur

dengan mitra tutur. 4) melakukan tindak tutur secara tidak langsung (off record). 5)

tidak melakukan tindak tutur atau diam (don’t do the FTA).

f. Implikatur dan Daya Pragmatik

f.1. Implikatur

Istilah implikatur berasal dari bahasa Latin plicare yang berarti “melipat.”

Derivasinya dalam bahasa Inggris adalah kata kerja “to imply“ yang aslinya

bermakna “to fold something into something else“ (melipat sesuatu ke dalam sesuatu

yang lainnya). Dari sini kemudian asal makna kata implikatur, yang diasalkan dari

kata “implied” yang berarti “folded in“ (terlipat) dan harus dibuka lipatan tersebut

(unfolded) jika kita ingin mengetahui artinya. Cara yang ditempuh untuk memahami

implikatur dalam komunikasi sehari-hari, kita harus menghubung-hubungkan tindak

ujar yang disampaikan penutur terhadap mitra tutur dengan konteks. Hal ini

dilakukan untuk menghindari kesalahpahaman, setidaknya dapat meminimalisasi

71

kesalahan sewaktu kita menafsirkan maksud penutur. Implikatur – implikatur yang

disiratkan dalam ujaran merupakan sumber utama dari pragmatik yang difungsikan

sebagai nilai komunikasi yang dimotifasi dari beragam keinginan penutur.

Istilah implikatur percakapan dikaitkan dengan konsep Grice tentang prinsip

kerjasama (PK) dan maksim-maksimnya. Menurut Grice (1975: 45), komunikasi itu

akan berjalan dengan efisien dan efektif jika para peserta tutur bekerjasama satu

sama lain. Artinya, peserta komunikasi perlu mematuhi prinsip kerjasama

(Cooperative Principle), yang dijabarkan menjadi empat, yaitu maksim kuantitas,

maksim kualitas, maksim hubungan dan maksim cara. Jika keempat maksim itu

dipenuhi maka penyampaian informasi akan menjadi efektif dan efisien. Secara

ringkas seorang penutur dikatakan memenuhi maksim-maksim Grice apabila ia

memberikan informasi tidak lebih atau tidak kurang dari yang dibutuhkan,

informasinya benar atau tidak keliru, informasi itu relevan dengan pokok

pembicaraan dan penyampaiannya baik dan mudah dipahami, jelas, sistematis,

langsung dan tidak bertele-tele.

Namun demikian penutur tidak selalu

mematuhi maksim-maksim Grice tersebut. Pelanggaran terhadap maksim Grice

inilah oleh para pakar pragmatik disinyalir menyebabkan timbulnya suatu implikatur

percakapan, yakni makna atau pesan tambahan yang menjadi bagian dari komunikasi

yang tidak dikatakan.

Yule (1998), menyatakan bahwa implikatur dalam pragmatik terkait dengan

cara kita memahami suatu tuturan di dalam percakapan sesuai dengan yang kita

harapkan. Suatu respon percakapan yang tampaknya kurang tepat dapat menjadi

berterima jika kita hubungkan dengan konteksnya. Sejalan pendapat Yule, Mey

72

(2001) memberi batasan bahwa implikatur adalah “an additional conveyed

meaning”, maksudnya yakni makna tambahan yang lebih dari yang

dikomunikasikan. Dalam hal ini, penutur yang memilih berkomunikasi dengan

implikatur, sedangkan mitra tutur (petutur) bertugas mengasumsikan bahwa penutur

bekerjasama dalam percakapan yang mereka lakukan sehingga ia dapat mengenali

makna tambahan yang dimaksudkan dalam percakapan dengan menarik simpulan

(inference). Menurut Levinson (1983: 97, implikatur percakapan adalah “ the notion

of conversational implicature is one of the single most important ideas in

pragmatics”. Menurutnya implikatur dapat menjelaskan secara eksplisit tentang

bagaimana memakai apa yang diucapkan secara lahiriah berbeda dengan apa yang

dimaksud dan pemakai bahasa itu mengerti pesan yang dimaksud. Dari ketiga pakar

secara ringkas dapat disarikan, implikatur adalah makna yang disiratkan dalam

sebuah percakapan.

f.2. Daya Pragmatik

Leech mempostulatkan bahwa pragmatik umum mengaitkan makna suatu

tuturan dengan daya pragmatik tuturan tersebut. Kaitan ini dapat bersifat langsung

atau tidak langsung (1993: 45). Tugas pragmatik adalah menjelaskan kaitan antara

dua jenis arti tersebut yakni, antara makna harfiah dengan daya atau ilokusi. Ia

berasumsi bahwa makna dapat diperikan lewat representasi semantik sedangkan daya

diperikan melalui seperangkat implikatur. Dasar hipotesisnya bahwa semua

implikatur itu bersifat probabilistis, karena apa yang dimaksud oleh penutur dengan

tuturannya tidak pernah dapat kita ketahui dengan pasti sekali. Hanya dengan

beberapa faktor seperti kondisi yang dapat diamati, bentuk tuturan, dan konteks,

73

mitra tutur bertugas membuat simpulan interpretasi yang paling mungkin. Dengan

tegas Leech (1993: 24), menyatakan bahwa makna (sense) yaitu makna yang

ditentukan secara semantis sedangkan daya (force) yaitu makna yang ditentukan

secara semantis dan pragmatik. Adapun ikatan antara makna dan daya perlu disadari,

bahwa daya mencakup makna, dan secara pragmatik, daya sekaligus juga dapat

diturunkan dari makna.

Jika kita cermati sebenarnya implikatur dan daya pragmatik merupakan dua

buah batasan yang merujuk pada sebuah makna. Artinya bahwa masing-masing

batasan, baik implikatur maupun daya pragmatik secara garis besar mengacu pada

satu objek yang sama yakni, makna yang disiratkan dalam sebuah pertuturan. Dari

beberapa pakar linguistik sependapat bahwa implikatur adalah makna yang disiratkan

dalam sebuah percakapan. Sedangkan daya pragmatik menurut Leech, dapat

diperikan melalui seperangkat implikatur. Artinya daya pragmatik merupakan

kekuatan atau force yang muncul dari implikatur.

2. Teori Budaya.

Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya

manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia

dengan belajar (Koentjacaraningrat, 1990:180). Adapun wujud kebudayaan

mencakup tiga (3) substansi, yakni: a. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks

dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya; b. Wujud

kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia

dalam masyarakat; dan c. Wujud kebudayaan berupa benda-benda hasil karya

manusia.

74

Wujud kebudayaan tersebut dalam realitas kehidupan masyarakat sosial tidak

dapat dipisah-pisahkan, saling terdapat keterkaitan antar substansinya. Wujud ide

dan gagasan-gagasan manusia memberikan jiwa atau pun roh dalam kehidupan

masyarakat. Sistem sosial masyarakat yang mencakup aktivitas-aktivitas manusia

dalam berkomunikasi, berhubungan, dan berinteraksi satu dengan lainnya, akan

dikendalikan dan diatur oleh prinsip-prinsip nilai, norma-norma, peraturan yang telah

disepakatinya. Begitu pula kondisi kehidupan budaya seseorang sangat

mempengaruhi persepsi dan penciptaan makna pada setiap peristiwa sosial, yang

dalam setiap kehidupan sosial selalu melibatkan intersubjektif dan pembentukan

makna. Sehingga keragaman budaya sebagai latar seseorang yang telah dibentuk

sejak lahir akan mempengaruhi, membentuk, dan menimbulkan sikap, perilaku, dan

hasil karya seseorang beragam pula (Sutopo, 2006).

Untuk memahami budaya Jawa, kita dapat mengamati dan mencermati dari

salah satu wujud kebudayaanya yang berupa seni pertunjukan tari. Dalam tari Jawa

bentuk ekspresinya pada hakekatnya terwujud berdasarkan alam emosi, yaitu bentuk

dan iramanya kuat-kuat dilatarbelakangi oleh konsep keindahan dan tradisi

kebudayaannya (Humardani, 1991:10). Seni tradisional termasuk tari sebagai budaya

yang diwarisi secara turun-temurun sudah barang tentu memiliki kesinambungan

dengan budaya sebelumnya. Sejalan dengan pendapat tersebut, Ogburn

mengutarakan bahwa penemuan-penemuan baru memerlukan suatu latar belakang

transmisi kebudayaan dari penemuan-penemuan terdahulu (dalam Soerjono

Soekanto, 1983:100). Pewarisan budaya tidaklah bersifat statis, tetapi masing-masing

75

generasi mencoba untuk mengadakan perubahan-perubahan disesuaikan dengan

kondisi kehidupan masyarakat pendukungnya.

Perubahan merupakan suatu kesinambungan yang lebih daripada sekedar

patokan antara sebelum dan sesudah, maka laju transpormasi menjadi penting

artinya. Dengan demikian tanpa jangka waktu tidak akan terjadi peristiwa perubahan.

Segala sesuatu yang dihadapi manusia di muka bumi ini dalam kehidupannya semua

mempunyai temporalitas atau historisitas. Semuanya berawal dan berakhir dalam

suatu proses yang terus-menerus melalui dimensi waktu (Ibrahim Alfian, 1999:2).

Perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupan manusia tidak terlepas dari

adanya kecenderungan niat yang menghendaki suatu kehidupan yang lebih baik dari

sebelumnya. Dalam mencapai taraf hidup yang lebih baik, manusia memiliki

berbagai usaha lewat penemuan-penemuan baru untuk memenuhi sekaligus

menjawab tuntutan kebutuhan yang muncul sesuai dengan konteks budaya yang

berlaku. Seperti kehidupan seni tradisional kita yang dapat bertahan hidup dan lebih

berkembang di tengah-tengah masyarakat, baik sebagai hiburan, ritual maupun untuk

keperluan lain yang sifatnya terkait dengan pemenuhan kebutuhan sosial masyarakat.

Seni pertunjukan tari merupakan wujud keseluruhan dari sistem,

kompleksitas berbagai unsur–unsurnya yang membentuk suatu jalinan atau kesatuan,

saling terkait secara utuh, sehingga mampu memberikan daya apresiasi. Tari sebagai

wujud budaya yang merupakan hasil karya manusia diharapkan mampu memberikan

manfaat. Wujud karya seni sebagai ekspresi seniman memiliki beragam pesan

rupanya tidak mudah untuk dipahami untuk itu diperlukan sebuah kajian tersendiri.

Karena pada dasarnya tari dapat terwujud dari komplemen berbagai elemen. Bertolak

76

dari pandangan tersebut peneliti akan menggunakan teori budaya sebagai analisis

karya seni yakni genre tari pasihan. Kajiannya akan terkait dengan tiga komponen

yaitu seniman sebagai faktor genetik, karya seni sebagai faktor objektifnya, dan

masyarakat yang bertindak penghayat sebagai faktor afektif. Adapun bentuk

aplikasinya dirancang sebagai berikut.

a. Kompleks Ide.

Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide gagasan, nilai-nilai,

norma-norma, peraturan dan sebagainya akan digunakan sebagai kajian faktor

genetik. Terutama untuk mencermati latar belakang konsepsi penciptaan bagi

penyusun tari sebagai muatan atau pesan pada genre tari pasihan gaya Surakarta

yang hendak disampaikan kepada masyarakat sebagai penghayat atau penikmat.

Adapun isi sebagai kandungan makna pada genre tari pasihan adalah nilai cinta

kasih yang merupakan salah satu nilai-nilai kehidupan yang fundamental. Nilai–nilai

humanisme pada prinsipnya merupakan sumber nilai-nilai sekaligus lahan kajian

yang utama dalam seni pertunjukan, tidak terkecuali seni tari. Pada analisisnya

peneliti akan mengkaji keterkaitan nilai cinta kasih yang menjadi muatan genre tari

pasihan dengan ritual perkawinan adat Jawa terutama bagi sepasang mempelai

temanten.

b. Kompleks Aktivitas.

Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola

dari manusia dalam masyarakat akan peneliti gunakan sebagai analisis faktor

afektifnya atau persepsi masyarakat terhadap sajian genre tari pasihan. Pada

dasarnya bahwa masyarakat sebagai penghayat adalah masyarakat heterogen yang

77

secara kultur beragam pula latar belakangnya. Berbekal keberagaman latar kultur

tersebut akan mempengaruhi hasil hayatan yang berujung pada perbedaan-perbedaan

dan sekaligus persamaan persepsi masyarakat. Realitas yang demikian merupakan

dinamika kehidupan yang wajar dalam dunia seni pertunjukan. Terkait dengan

analisis genre tari pasihan, peneliti akan mencermati lebih fokus pada hal-hal yang

menyebabkan perbedaan dan persamaan persepsi masyarakat, serta mengapa hal itu

terjadi. Analisis ini akan didasarkan pada aktivitas–aktivitas di lapangan terutama

pada peristiwa pementasan tari duet percintaan tersebut pada ritual perkawinan adat

Jawa.

c. Benda Fisik.

Wujud kebudayaan berupa benda-benda hasil karya manusia terkait dengan

analisis faktor objektif pada penelitian ini adalah karya seni yang berupa tari

Karonsih dan tari Bondhan sayuk. Karya tari tersebut terdiri dari teks verbal (teks

sastra tembang) yang berupa cakepan (syair) yang terdapat dalam pathetan,

sindhenan, gerongan, dan jineman. Sedangkan aspek bahasa nonverbal meliputi:

tema, gerak tubuh (kinetic body moves), polatan, pola lantai, rias, busana, dan

iringan. Kedua aspek tersebut akan dikaji secara komplementer untuk mendapatkan

gambaran yang utuh dan jawaban yang memadahi tentang ciri karakteristik genre tari

pasihan gaya Surakarta. Selain itu untuk mengetahui makna yang terkandung dalam

teks verbal dan nonverbal genre tari pasihan dalam rangka merunut dan

mengembangkan makna yang lebih central.

3. Teori Seni Pertunjukan.

78

Seni pertunjukan pada umumnya merupakan seni kolektif, artinya bahwa seni

pertunjukan dimaksud tidak dapat disajikan secara mandiri, akan tetapi lebih

merupakan suatu perpaduan dari beberapa cabang seni yang merupakan satu

kesatuan menjadi suatu bentuk yang utuh. Menurut Suzanne K. Langer (dalam

Widaryanto, 1998:15) bentuk dalam pengertian yang paling abstrak berarti struktur,

artikulasi sebuah hasil kesatuan yang menyeluruh dari suatu hubungan dari berbagai

faktor yang saling bergayutan.

Pada dasarnya bentuk seni pertunjukan tari merupakan wujud keseluruhan

dari beberapa cabang seni yang sangat fundamental, yakni meliputi: seni musik, seni

rupa, seni sastra dan seni tari. Dari berbagai cabang seni tersebut satu dengan lainnya

saling terkait, saling melengkapi dan saling mendukung sehingga membentuk suatu

jalinan yang saling berinteraksi untuk membentuk menjadi sebuah konstruksi

penyajian tari. Adapun elemen-eleman tari, yang utama terdiri dari: tema, gerak

tubuh, polatan, rias, busana, pola lantai, dan iringan. Masing-masing elemen tersebut

saling komplementer yang pada penyajiannya akan terikat ruang dan waktu, karena

pada prinsipnya seni pertunjukan merupakan seni sesaat. Hal itu sejalan dengan

pendapat Soedarsono, yang menyatakan bahwa seni pertunjukan sebagai seni yang

hilang dalam waktu, yang hanya bisa kita nikmati apabila seni tersebut sedang

dipertunjukkan, ia sudah merupakan masalah yang cukup sulit apabila kita akan

menelitinya, apa lagi untuk melacak sejarahnya (2003:1).

Mengingat seni pertunjukan merupakan sarana untuk mengekspresikan

maksud seniman maka unsur-unsur yang terdapat di dalamnya akan menjadi objek

analisis. Teori seni pertunjukan dapat mengungkap makna dari masing-masing unsur,

79

sejak dari antarunit hingga antarkomponen yang lebih besar dan keterkaitannya

untuk pengembangan temuan makna secara total. Dengan teori seni pertunjukan akan

peneliti gunakan untuk mengkaji elemen-elemen yang terkandung di dalam tari

untuk mengungkapkan dari faktor objektifnya dan faktor genetik. Adapun elemen-

elemen tari yang dimaksud antara lain dapat kita cermati berikut ini.

a. Tema

Tema adalah rujukan cerita yang dapat menghantarkan seseorang pada

pemahaman esensi nilai-nilai kehidupan. Tema dapat ditarik dari sebuah peristiwa

atau cerita, yang selanjutnya dijabarkan menjadi alur cerita sebagai kerangka sebuah

garapan. Dalam seni pertunjukan di Indonesia cerita-cerita yang dipilih lazimnya

bertolak pada sumber cerita yang pokok, antara lain: Mahabharata, Ramayana,

Babad, cerita rakyat, mitos dan sejarah. Selain sumber-sumber cerita itu terdapat

cerita-cerita fiktif yang sering diangkat dalam layar kaca, layar lebar, dan pada

pertunjukan teater-teater modern, seperti Cinderela, Si Buta dari Gua Hantu, Kiamat

Sudah Dekat, Si Kaya dan Si Miskin.

b. Gerak Tubuh (kinetic body moves)

Gerak tubuh manusia, menurut sifatnya dapat digolongkan ke dalam berbagai

bentuk gerak, di antaranya: gerak aktif, gerak kata, gerak bagian, gerak kata baru,

gerak indah, gerak tari, dan gerak praktis (Humardani, 1991: 6-9). Gerak aktif adalah

gerak tubuh yang mengandung maksud-maksud tertentu, yang dilakukan sedemikian

rupa sehingga lawan tergerak atau terpacu. Contohnya: angkat bahu, pejam mata,

tutup telinga dan sebagainya. Gerak kata adalah gerak-gerak aktif yang digunakan

untuk menceriterakan suatu maksud. Contohnya: kesatuan dari rangkaian gerak

80

kepala menunduk, tangan kanan memegang kening, tangan kiri memegang perut, dan

sambil duduk, dimaksudkan untuk mengungkapkan rasa sedih, bisa kecewa, bisa

merenung,dan bisa juga menyesal. Bentuk lain: kepala mengangguk, kepala

menggeleng, tangan melambai. Gerak bagian adalah bagian dari gerak kata,

contohnya kepala menunduk dari rangkaian gerak kata rangkaian gerak kepala

menunduk, tangan kanan memegang kening, tangan kiri memegang perut, dan sambil

duduk. Gerak kata baru adalah gerak kata yang sudah digarap dari segi bentuk dan

diselaraskan dengan tempo, volume, dan dinamik tertentu. Gerak indah adalah gerak

kata baru yang sudah mengalami penggarapan lebih sempurna untuk

mengungkapkan keindahan semata tanpa maksud verbal. Gerak tari merupakan

penggarapan dari gerak bagian atau gerak kata sehingga mencapai pada tingkat

abstraksi gerak yang sungguh-sungguh, sehingga hasilnya seolah-olah gerak yang

lepas tanpa berkaitan arti dengan gerak sehari-hari. Gerak praktis merupakan gerak

yang mengandung guna praktis. Contohnya: berlari, berjalan, karate, dan sebagainya.

Pembagian tersebut rupanya tidak sepenuhnya dapat memberikan gambaran

yang jelas, sebagai contoh pembatasan mengenai gerak indah dengan gerak tari yang

masing-masing rupanya menghindari arti verbal maupun arti dengan gerak sehari-

hari. Hal ini tidaklah cukup beralasan, karena realitas yang kita hadapi bahwa gerak

manusia selalu konteks dengan lingkungan, sehingga arti verbal maupun nonverbal

tidak pernah akan dapat terlepas dengan gerak tubuh manusia sebagai kandungan

maksud atau makna yang hendak diekspresikan. Gerak tubuh merupakan kekayaan

makna komunikasi non verbal tanpa suara yang mampu memikat perhatian bagi

seorang seniman. Baginya tubuh merupakan objek yang tidak pernah ada habis-

81

habisnya sebagai sesuatu yang digali, dieksplorasi, dikaji, kemudian disajikan, begitu

berlangsung berulang-ulang yang tidak pernah harus kehabisan materi atau

bahannya.

Pada prinsipnya seluruh gerak tubuh dapat menjadi medium dalam tari.

Pertimbangan yang utama untuk menjadikannya gerak tubuh dan gerak nontubuh

menjadi tari adalah dengan cara mendistilisasi gerak sesuai kebutuhan ekspresi dan

melihat karakteristik gaya dengan menggarap tempo, volume, dan dinamik. Secara

garis besar gerak dalam tari dapat dibagi menjadi dua bagian secara kasar, yakni

gerak presentatif dan representatif. Keduanya hadir dalam jagad tari, namun

kemunculannya tidak mudah untuk dipisah-pisahkan secara tegas, karena wujud

yang tampak sering samar-samar, hal itu sengaja dibuat untuk mengungkapkan

ekspresi seniman atau penyusun tari. Gerak presentatif merupakan bentuk gerak yang

tidak mempunyai arti secara khusus, gerak ini difungsikan semata-mata untuk

kebutuhan ekspresi. Sedangkan gerak representatif adalah gerak penghadir, artinya

gerak yang dihasilkan dari imitasi terhadap sesuatu. Kedua bentuk gerak baik

presentatif maupun representatif merupakan medium utama dalam rangka memenuhi

keperluan ekspresi.

c. Polatan (ekspresi wajah)

Polatan merupakan perubahan yang lebih fokus pada perubahan raut muka

atau wajah. Ekspresi wajah merupakan sarana untuk mendapatkan pemahaman lebih

baik terhadap sesuatu yang sedang dikomunikasikan terhadap komunikan. Kita akan

banyak memperoleh informasi tentang kondisi emosional seseorang melalui

ekspresi-ekspresi wajah mereka, di antaranya: apakah menunjukkan rasa sedih atau

82

senang, merasa tertarik atau menolak, merasa takut atau sedang marah, dan

sebagainya. Jika kita mengetahui dan menyadari berapa banyak otot yang terdapat

pada wajah manusia, maka tidaklah mengherankan apa bila terdapat banyak pula

macam ekspresi wajah yang dapat dihasilkan (lihat Wainwright, 2006: 42). ekspresi

wajah memiliki kekuatan yang sangat besar terkait dengan penampilan karakter

pribadi maupun penjiwaan seseorang terhadap peran tokoh dalam membangun

kualitas komunikasi yang berlangsung antarpeserta tutur.

Ekspresi wajah yang terdapat pada seni pertunjukan untuk mengekspresikan

peran dalam keadaan suasana tertentu yang dalam implementasinya tidak lepas dari

bekal pengalaman-pengalaman psikologis bagi seniman penyaji. Dalam dunia tari,

penari sebagai aktor yang menyajikan peran, dapat secara langsung berkomunikasi

dengan media antawecana seperti dalam wayang wong, tembang dalam

Langendriyan. Penari lebih dominan berkomunikasi dengan media gerak, untuk itu

kesadaran awal yang harus fokus bahwa ekspresi wajah yang dibangun dari gerak

tanpa diiukuti bahasa verbal secara langsung itu harus ditopang kecerdasan,

ketajaman dan kepekaan rasa yang dimiliki sebagai modal utama yang selalu harus

diolah. Sehingga wajah sebagai media ekspresi akan selalu siap difungsikan untuk

peran yang dikehendaki. Mengingat bahwa dalam tari tradisi istana terutama peran-

peran yang karakternya tenang perubahan polatan sangat halus bahkan kerap kali

tidak tampak. Bagaimanapun tebal tipisnya ekspresi wajah dalam komunikasi

antarperan, polatan sangat berperan untuk mengekspresikan pada tingkat emosi yang

secara komplementer akan membantu ekspresi gerak tubuh dalam rangka

mengekspresikan totalitas peran atau tokoh.

83

d. Pola lantai (floor design)

Pola lantai merupakan garis yang dibentuk dari gerak tubuh seorang penari

yang terlintas pada lantai. Garis-garis yang dibentuk penari tersebut merupakan garis

imajiner yang hanya dapat ditangkap dengan kepekaan rasa. Wujudnya bersifat ilusi

atau bayangan yang tampak menyatu luluh komplemen dengan arah gerak tubuh

penari. Pada dasarnya garis yang terbentuk pada floor design secara garis besar

terdiri dari dua pola garis dasar yaitu garis lurus dan garis lengkung (Soedarsono,

1978:23). Masing-masing bentuk garis mempunyai kekuatan yang tercermin dalam

kesan atau ilusi. Garis lurus mempunyai kesan kuat dan sederhana, yang dalam

pertunjukan tari Jawa banyak digunakan dalam pola garapan tari gagah dan sebagian

pola garapan tari alus maupun tari putri yang berkarakter lanyap. Selain itu garis

lurus juga banyak digunakan untuk garapan pola-pola perangan. Sedangkan garis

lengkung lebih memberikan kesan lembut, yang dominan untuk pola lantai garapan

putri luruh dan peran alus lurus, serta banyak difungsikan dalam garapan yang

bertemakan percintaan.

e. Rias

Rias adalah strategi untuk mengubah wajah pribadi dengan alat-alat kosmetik

yang disesuaikan dengan karakter figur supaya tampil lebih percaya diri. Kadar

perubahan wajah dimaksud sangat relatif artinya bahwa pada setiap rias, masing-

masing individu berusaha menampilkan wajah sesuai dengan ekspresi yang

dikehendaki. Menurut peneliti rias dapat diklasifikasi menjadi tiga jenis, yaitu: (1)

84

rias formal, (2) rias informal, dan (3) rias peran. Rias formal merupakan rias yang

digunakan untuk kepentingan – kepentingan yang terkait dengan urusan publik. Rias

informal adalah rias yang difungsikan untuk urusan domestik. Sedangkan rias peran

adalah bentuk rias yang digunakan untuk penyajian peran sebagai tuntutan ekspresi

pertunjukan. Bentuk rias peran lebih dikonsentrasikan untuk seni pertunjukan yang

digunakan untuk penampilan di panggung seperti panggung konvensional, panggung

modern, layar kaca, layar lebar dan bentuk lainnya.

f. Busana

Busana merupakan salah satu atribut yang dapat menunjukkan status sosial

dan identitas seseorang. Kedudukan seseorang dalam masyarakat akan tampak jika

kita perhatikan dari busana yang dipakai. Begitu pula asal seseorang dapat kita

ketahui dari gaya dan mode pakaian yang dikenakan. Selain itu busana juga memiliki

beragam warna yang dapat digunakan untuk maksud-maksud tertentu. Artinya warna

dapat digunakan sebagai simbol-simbol dalam kehidupan, namun masing–masing

daerah berbeda dalam memaknai bergantung latar belakang budayanya. Secara

umum warna-warna dasar mempunyai sifat teatrikal dan sentuhan emosional sebagai

lantaran simbolisasi tertentu dalam budaya seni pertunjukan tari. Setidaknya dalam

tari Jawa, esensi makna yang diungkapkan dapat ditarik dari kesan yang ditimbulkan

dari warna-warna dimaksud. Warna putih mempunyai kesan suci, setia, dan juga

berhubungan dengan kehidupan nirwana. Merah lebih memberikan kesan berani,

agresif, dan dinamis yang banyak diperuntukan tokoh-tokoh raja yang sombong,

raksasa, kesatria dan peran putri yang berjiwa dinamis. Hitam tampak memiliki

kesan bijaksana, berwibawa, dan anggun terutama untuk tokoh-tokoh putri seperti

85

Dewi Shinta, Sembadra, Drupadi, Ratu Ayu Kencana Wungu, dan lainnya. Warna

hijau mempunyai kesan segar dan tumbuh lebih hidup. Warna kuning memiliki kesan

keagungan dan kejayaan. Tampak bahwa warna memiliki kandungan makna atas

kualitas kesan yang ditangkap oleh indera penghayat.

g. Iringan (Gendhing beksa)

Iringan atau Gendhing beksa atau karawitan tari merupakan iringan musik

gamelan yang telah teraransir menjadi sebuah bentuk yang berupa gendhing yang

mampu memberikan kontribusi kekuatan ekspresi pada tari. Jika kita cermati lebih

sungguh-sungguh keberhasilan pertunjukan tari, salah satu faktornya juga sangat

ditentukan unsur medium bantunya yakni karawitan yang berfungsi sebagai iringan.

Kehadiran karawitan dalam pertunjukan tari gaya Surakarta, rupanya tidak sekadar

sebagai pengiring belaka. Karawitan sebagai iringan tari mampu memberikan

kontribusi kekuatan rasa yang secara komplementer menyatu dengan ekspresi tari

membentuk suatu ungkapan nilai-nilai kehidupan manusia yang disajikan dalam

bentuk yang indah.

Fungsi gendhing sebagai iringan dalam sebuah pertunjukan mencakup tiga

peran yakni: 1) nglambari, 2) mungkus, dan 3) nyawiji (lihat dalam Waridi, 2005:

17-19). Nglambari memberi pengertian bahwa dukungan gendhing dalam

pertunjukan tari lebih berfungsi sebagai ilustrasi. Kehadiran gendhing di sini

membentuk suasana. Kontribusi iringan dalam membentuk suasana dapat berujud

ilustrasi yang berfungsi sebagai background hingga taraf memberikan aksentuasi

kekuatan rasa-rasa tertentu sesuai dengan kebutuhan ekspresi yang dikehendaki.

Misalnya iringan pathetan yang digunakan untuk ilustrasi tokoh Sekartaji pada saat

86

pertama keluar (maju beksan) dalam suasana sedih. Mungkus pada konsep karawitan

tari lebih cenderung pada pengertian membingkai. Dalam hal ini, sajian gendhing

dengan garapnya secara menyeluruh sengaja digunakan sebagai pembingkai gerak

terutama pola-pola gerak kebar. Pola iringan yang difungsikan semacam ini dapat

diamati pada gendhing Lambangsari yang memiliki rasa riang dan gembira.

Sedangkan Nyawiji, merupakan konsep karawitan tari yang mengarah pada

pemersatuan dua unsur menjadi satu. Adapun kedua unsur dimaksud yaitu unsur

karawitan sebagai penghasil rasa musikal dan unsur tari.

Bentuk kristalisasi dari unsur tari dan unsur karawitan tersebut adalah untuk

pencapaian harmonisasi penyajian dalam rangka menghasilkan kekuatan dan keutuan

pertunjukan. Dimaksudkan pada konteks ini, salah satu unsur tidak akan lebih

menonjol dari yang lain, karena pada dasarnya nilai estetis kesenian adalah sebuah

ungkapan yang utuh. Salah satu contohnya iringan Ketawang Ngrenas untuk suasana

sedih pada saat Dewi Sekartaji sedang mencari suaminya yaitu Raden Panji

Inukertapati yang tidak kunjung bertemu. Beragam fungsi karawitan tersebut

mengindikasikan bahwa karawitan tari dalam konteks penyajian tari, rupanya

memiliki kontribusi cukup besar. Sejalan dengan paparan tersebut, Humardani

menyatakan bahwa dalam tari Jawa, karawitan (yang terpadu dari unsur-unsur

melodi dalam tempo, ritme atau irama, dan volume) sebagai iringan, banyak

membantu dan bahkan kerapkali menggantikan kedudukan kekuatan ekspresi tari

(1991:10).

Elemen-elemen yang terdapat dalam bahasa verbal maupun nonverbal pada

seni pertunjukan tari Karonsih dan Bondhan Sayuk tersebut merupakan modal

87

pembentukan ciri karakteristik yang mampu membedakan tari pasihan dengan karya-

karya tari lainnya. Dengan demikian ciri karakteristik lebih mengarah pada

perbedaan-perbedaan yang menonjol dari masing-masing elemen dalam tari tersebut

secara elementer. Selain itu juga tidak menutup kemungkinan perbedaan-perbedaan

yang dihasilkan dari komplementer bahasa verbal dan nonverbal yang menurut

sifatnya berupa sebuah konsep, sehingga kekhasan dari elemen-elemen dan

keragaman informasi yang dapat digali akan menentukan dan mewarnai dalam

menggeneralisasi teorinya.

4. Teori Komunikasi

Komunikasi adalah suatu transaksi, proses simbolik yang menghendaki

orang-orang mengatur lingkungannya dengan (a) membangun antarsesama manusia;

(b) melalui pertukaran informasi; (c) untuk menguatkan sikap dan tingkah laku orang

lain; serta (d) berusaha mengubah sikap dan tingkah laku itu (lihat Book dalam

Cangara, 2007: 19-20). Sejalan dengan definisi komunikasi tersebut, Rogers bersama

Lawrence (1981), menyatakan bahwa komunikasi adalah suatu proses di mana dua

orang atau lebih melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya, yang

pada gilirannya akan terjadi saling pengertian yang mendalam. Pernyataan lebih

singkat dikemukakan oleh Shannon dan Weaver (1949), bahwa komunikasi adalah

bentuk interaksi manusia yang saling pengaruh memengaruhi satu sama lainnya,

sengaja atau tidak sengaja. Bentuk komunikasi di sini tidak terbatas pada komunikasi

bahasa verbal, tetapi juga dalam bentuk: ekspresi muka, lukisan, seni, dan teknologi.

Dengan demikian tampak, jika kita berkomunikasi berarti terdapat beberapa

kesamaan dengan orang lain, seperti kesamaan bahasa atau kesamaan arti dari

88

simbol-simbol yang digunakan dalam berkomunikasi. Pernyataan dari beberapa

pakar komunikasi tersebut dapat ditarik unsur-unsur komunikasinya menjadi tujuh,

yaitu: (a) sumber, (b) pesan, (c) media, (d) penerima, (e) lingkungan, (f) efek, dan (g)

umpan balik (lihat Cangara, 2007: 24). Setiap unsur mempunyai peranan sangat

penting dalam membangun proses komunikasi. Artinya, tanpa keikutsertaan salah

satu unsur akan berpengaruh pada proses komunikasi.

Berdasarkan pernyataan Shannon dan Weaver, tari sebagai bagian atau

cabang seni merupakan komunikasi manusia yang cukup vital. Terfokus pada jenis

tari pasihan yang bentuknya memiliki dua unsur, yaitu: a) unsur verbal berupa sastra

tembang yang meliputi cakepan (syair) yang terdapat dalam pathetan, sindhenan,

gerongan, dan jineman dan b) unsur nonverbal yang meliputi: tema, gerak tubuh

(kinetic body moves), polatan, pola lantai, rias, busana, dan iringan merupakan media

komunikasi yang khas bagi kehidupan seniman. Komunikasi bahasa verbal yang

berupa sastra tembang yang komplementer dengan Unsur–unsur nonverbal dapat

mengarahkan kepada kita untuk memunculkan implikatur akan guna analisis secara

pragmatik. Merujuk pada bentuk karya seni dalam hal ini tari pasihan merupakan

media komunikasi secara utuh, untuk itu, teori komunikasi akan peneliti gunakan

untuk menganalisis bagaimana komunikasi berlangsung. Prinsip dasar yang perlu

dipahami bahwa komunikasi dalam seni pertunjukan pada hakekatnya mencakup

tiga faktor pokok, yakni:

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->