1

KOMPONEN VERBAL DAN NONVERBAL DALAM GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA (Kajian Pragmatik) DISERTASI
Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan dalam Mencapai Derajat Doktor Program Studi Linguistik Minat Utama Linguistik Pragmatik dan Dipertahankan di Hadapan Sidang Senat TerbukaTerbatas di Bawah Pimpinan Rektor Universitas Sebelas Maret Prof. Dr. H. Much Syamsulhadi, dr., Sp.KJ. (K) Pada Hari Rabu Kliwon, 7 April 2010

Oleh : Maryono NIM. T 130906005

PROGRAM PASCASARJANA PROGRAM STUDI LINGUISTIK (S3) UNIVERSITAS SEBELAS MARET

2

SURAKARTA 2010 DISERTASI KOMPONEN VERBAL DAN NONVERBAL DALAM GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA ( Kajian Pragmatik)

Oleh : Maryono NIM. T 130906005

DISETUJUI OLEH PEMBIMBING
1. Prof. Dr. M. Sri Samiati Tarjana. NIP. 194 406 021 965 112 001 (Promotor) …………………………

2. Prof. Dr. T. Slamet Suparno, S.Kar.,M.S. NIP. 194 812 191 975 011 001 (Ko-Promotor )

…………………………

Mengetahui Ketua Program Studi S3 Linguistik

3

Prof. Dr. H. D. Edi Subroto. NIP. 194 409 271 967 081 001

KOMPONEN VERBAL DAN NONVERBAL DALAM GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA ( Kajian Pragmatik)
DISERTASI UNTUK MEMPEROLEH GELAR DOKTOR DALAM BIDANG LINGUISTIK MINAT UTAMA: LINGUISTIK PRAGMATIK DIPERTAHANKAN DI HADAPAN DEWAN PENGUJI PADA SIDANG SENAT TERBUKA TERBATAS PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA PADA TANGGAL: 7 APRIL 2010 OLEH: MARYONO LAHIR DI BOYOLALI, 15 JUNI 1960 DEWAN PENGUJI: 1. Prof. Dr. H. Much Syamsulhadi, dr., Sp.KJ. (K) (Penguji Utama) 2. Prof. Drs. Suranto, M.Sc., Ph.D. (Sekretaris merangkap Anggota) 3. Prof. Dr. M. Sri Samiati Tarjana. (Promotor merangkap anggota) 4. Prof. Dr. T. Slamet Suparno, S.Kar., M.S. (Ko-Promotor merangkap anggota) 5. Prof. Dr. H. D. Edi Subroto. (Anggota) 6. Prof. Dr. Soepomo Poedjosoedarmo. (Anggota) 7. Prof. Dr. H. Soetarno, DEA. (Anggota) 8. Dr. Sumarlam ., M.S. (Anggota) .................................... .................................... .................................... .................................... .................................... .................................... .................................... ....................................

4

Mengetahui Rektor Universitas Sebelas Maret

Prof. Dr. H. Much Syamsulhadi, dr., Sp.KJ. (K) NIP. 194611021976091001

SURAT PERNYATAAN
Yang bertanda tangan di bawah ini Nama NIM Program Program Studi Tempat/Tanggal Lahir Alamat : Maryono : T 130906005 : Pascasarjana (S3) UNS : Linguistik : Boyolali, 15 Juni 1960 : Melikan Rt 01, Rw 08, Palur, Mojolaban, Sukoharjo

Menyatakan

dengan

sesungguhnya

bahwa

disertasi

saya

yang

berjudul:

KOMPONEN VERBAL DAN NONVERBAL DALAM GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA (Kajian Pragmatik) adalah asli (bukan jiplakan) dan belum pernah diajukan oleh penulis lain untuk memperoleh gelar akademik tertentu. Semua temuan, pendapat atau gagasan orang lain yang dikutip dalam disertasi ini ditempuh melalui tradisi akademik yang berlaku dan dicantumkan dalam sumber rujukan dan atau dalam Daftar Pustaka. Apabila kemudian terbukti pernyataan ini tidak benar, saya sanggup menerima sangsi yang berlaku.

5

Surakarta, 7 April 2010 Yang membuat pernyataan

Maryono

KATA PENGANTAR
Syukur alhamndulillah penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, atas ridha dan kehendak-Nya, sehingga disertasi ini dapat selesai tepat pada waktu yang diharapkan. Sepenuhnya penulis sadari bahwa tanpa bantuan dari berbagai pihak, mustahil disertasi ini dapat selesai. Untuk itu, kanthi linambaran trapsilaning manah, perkenankan penulis sampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. H. Much Syamsulhadi, dr., Sp.KJ (K), Rektor UNS yang telah
memberi kesempatan penulis untuk menyelesaikan studi program doktor di Universitas Sebelas Maret Surakarta.

2. Prof. Dr. H. Soetarno, DEA, atas dukungan dan nasihat sejak masih menjabat
Ketua Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta sampai sekarang sehingga penulis dapat menyelesaikan program doktor di UNS.

3. Prof. Drs. Suranto, M.Sc., Ph.D, selaku Direktur Program Pascasarjana
Universitas Sebelas Maret Surakarta, yang telah memberi kesempatan penulis untuk menyelesaikan studi program doktor di UNS.

4. Prof. Dr. H. D. Edi Subroto, selaku Ketua Program Linguistik S3 UNS dan
atas bimbingan melalui berbagai disiplin yang telah diberikan kepada penulis sebagai bekal dalam menyelesaikan disertasi.

5. Prof. Dr. M. Sri Samiati Tarjana, sebagai promotor yang dengan sabar telah
membimbing, mengarahkan, dan mengoreksi sehingga penulis meraih gelar doktor.

6

6. Prof. Dr. T. Slamet Suparno, S.Kar., M.S, sebagai Ko-Promotor, yang telah
membimbing, dan mengoreksi sehingga penulis meraih gelar doktor.

7. Prof. H.B. Sutopo, M.Sc., M.Sc, Ph.D (almarhum) yang dengan sabar telah
membimbing, mengarahkan, mengoreksi, dan yang menghantarkan sampai ujian tertutup sehingga penulis dapat berlanjut meraih gelar doktor.

8. Prof. Dr. Soepomo Poedjosudarmo; Prof. Dr. Kunardi Hardjoprawiro, M.Pd;
Prof. Dr. Joko Nurkamnto; Prof. Dr. Maryono Dwiraharjo, S.U; Dr. Sumarlam., M.S, yang telah memberikan disiplin Linguistik untuk bekal penulis menyelesaikan disertasi.

9. Sunarno S.Kar., M. Sen, sebagai nara sumber primer tari Bondhan Sayuk dan
jenis tari pasihan lainnya, yang telah memberikan informasinya sehingga penulisan disertasi ini dapat selesai.

10. Sutarno Haryono S.Kar., M. Hum, sebagai teman seperjuangan dan
motivator yang mendorong penulis untuk studi S3 dan berhasil meraih gelar doktor.

11. Sri Wahyuningsih sebagai istri dan anak-anakku: Risang Janur Wendo, Laras
Ambika Resi, Linggo Sasikirana, dan Hoyi Anggraeni yang telah memberikan semangat dan doanya kepada penulis sehingga disertasi ini cepat selesai. 12. Selamat jalan istriku yang tercinta dan tersayang Sri Djarwanti S.Kar, ke hadapan-Mu ya Allah, semoga atas pengorbanan dan kasihmu selama ini, saya selalu berdoa semoga Allah SWT menerima dan memasukkan belahan hatiku dalam golongan orang ahli surga di hari Akhir. Amin. 13. Pemerintah Republik Indonesia yang memberikan kewenangan kepada Dirjen Dikti yang telah memberi Bea Siswa (BPPS). Akhirnya dengan segala kerendahan hati, penulis mohon maaf kepada semua pihak apabila terdapat kekurangan dan kesalahan yang penulis perbuat selama menyelesaikan disertasi ini. Semoga Allah tetap membimbing kami. Amin.

Bentuk penelitian yang digunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan kritik holistik yang secara fokus. Keempat teori tersebut digunakan untuk . dan iringan gamelan (musik). pola lantai. 2010. rias. akurat. Kajian komponen verbal ini untuk mengungkap: jenis-jenis tindak tutur (TT) yang dominan. gérongan. 7 April 2010 Peneliti Maryono Maryono: T 130906005. Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta. Untuk mengungkap permasalahan yang menjadi tujuan penelitian disertasi ini. lengkap. gerak tubuh (kinetic body moves). Teknik pengumpulan data yang sesuai dengan penelitian kualitatif dan jenis sumber data yang dimanfaatkan adalah: wawancara mendalam (in-depth interviewing). Disertasi. sindhènan.7 Surakarta. dan afektif sebagai sumber aliran nilai. dan (4) teori komunikasi. realisasi prinsip kerja sama. (4) Menjelaskan latar belakang konsepsi penciptaan komponen verbal dan nonverbal genre tari pasihan. (2) Komponen nonverbal genre tari pasihan berupa: tema. polatan (ekspresi wajah). Strategi yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus tunggal terpancang (embedded case study research). Tujuan penelitian untuk memahami makna bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan pada ritual perkawinan adat Jawa di Surakarta dengan menganalisis secara rinci. untuk mengungkap bentuk hubungan yang bersifat langsung dan tidak langsung dan implikatur genre tari pasihan. mencatat dokumen dan arsip (content analysis). observasi. dan mendalam untuk menemukan dan mendeskripsikan: (1) Komponen verbal genre tari pasihan berupa sastra tembang dalam syair: pathetan. dan jineman. (3) teori seni pertunjukan. (3) Menjelaskan hubungan komponen verbal yang bersifat kebahasaan dan nonverbal yang bersifat nonkebahasaan genre tari pasihan. ABSTRAK Topik penelitian ini adalah Komponen Verbal dan Nonverbal dalam Genre Tari Pasihan Gaya Surakarta (kajian Pragmatik). KOMPONEN VERBAL DAN NONVERBAL DALAM GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA (Kajian Pragmatik). fungsi TT. (2) teori budaya. dan implikatur. realisasi strategi kesantunan. dan seimbang mengkaji tiga faktor yaitu genetik. dan (5) Menjelaskan persepsi masyarakat terhadap kehidupan genre tari pasihan gaya Surakarta. peneliti menggunakan kajian: (1) teori pragmatik. objektif. busana.

8

menganalisis makna pragmatik genre tari pasihan gaya Surakarta secara komplementer. Secara prinsip teori pragmatik merupakan alat kajian yang utama terkait dengan sistem kebahasaannya yang terfokus untuk menganalisis jenis-jenis TT, jenis TT yang dominan, fungsi TT, realisasi prinsip kerja sama, realisasi strategi kesantunan, implikatur, dan daya pragmatik. Teori budaya dan teori seni pertunjukan untuk menganalisis faktor nonkebahasaan yang berupa unsur-unsur karya seni. Teori komunikasi untuk mengkaji keterkaitan antarfaktor genetik, objektif, dan afektif. Trianggulasi keempat teori tersebut merupakan sarana untuk menjamin dan mengembangkan validitas data dalam mengungkap makna pragmatik genre tari pasihan gaya Surakarta. Pokok-Pokok Temuan Penelitian. Jenis–jenis TT yang terdapat dalam genre tari pasihan gaya Surakarta terdiri dari beragam jenis yaitu: TT asertif, TT komisif, TT ekspresif, TT direktif, TT verdiktif, dan TT patik. Dari beragam jenis TT yang terdapat pada genre tari pasihan, jenis TT yang dominan adalah TT direktif. Pada penerapan prinsip kerja sama dalam bahasa verbal genre tari pasihan terjadi pelanggaran maksim kuantitas dan maksim cara, sedangkan maksim kualitas dan maksim hubungan dipatuhi. Prinsip kesantunan yang diterapkan dalam bahasa verbal genre tari pasihan didapatkan penggunaan strategi TT dengan kesantunan positif dan strategi TT secara tidak langsung (off record). Implikatur yang terdapat dalam jenis-jenis tari pasihan menunjukkan adanya simbolisasi percintaan sepasang suami istri yang dalam perjalanan kisahnya berawal dalam menghadapi permasalahan, kemudian mendapat solusi yang berangsur-angsur membaik dan berakhir bahagia. Kehadiran tari pasihan hampir dapat dipastikan disajikan dalam resepsi perkawinan merupakan wahana untuk mewisuda sepasang temantèn. Rupanya terdapat keterkaitan yang sangat erat antara kehadiran tari pasihan dalam resepsi perkawinan dengan sepasang temantèn. Implikatur yang utama pada kehadiran genre tari pasihan dalam resepsi perkawinan adalah untuk dapat diteladani dan memberikan sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temantèn. Merujuk implikatur-implikatur yang diperikan dari komplementer komponen verbal dan nonverbal jenis-jenis tari pasihan dapat diungkapkan bahwa bentuk daya pragmatik genre tari pasihan adalah berupa nasihat-nasihat tentang cinta kasih yaitu pasangan keluarga yang romantis, harmonis, dan bahagia; kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga; dan sikap-sikap ideal bagi figur suami dan figur istri. Nasihat-nasihat tentang cinta kasih tersebut bermanfaat bagi sepasang temantèn sebagai bekal untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dalam membangun sebuah keluarga. Bentuk genre tari pasihan merupakan perpaduan dua komponen besar yaitu verbal dan nonverbal. Berdasarkan jabaran komponen tersebut dapat diketemukan ciri karakteristik genre tari pasihan sebagai berikut: (a) bahasa verbal berbentuk tembang Jawa bernuansa cinta; (b) bahasa verbal yang digunakan berdasarkan status sosial; (c) hubungan komponen verbal dan nonverbal bersifat langsung dan tidak langsung; (d) tema percintaan; (e) cerita berakhir dengan bahagia (happy end); (f) disajikan berpasangan pria dan wanita; (g) pesannya berupa nasihat tentang cinta kasih; (h) gerak representatif dan presentatif diekspresikan penari dalam kualitas lembut, halus, dan romantis.

9

Berdasarkan temuan penelitian dan hasil pembahasan dari keterkaitan tiga faktor objektif, genetik, dan afektif dapat disimpulkan bahwa kehadiran genre tari pasihan dalam upacara ritual resepsi perkawinan berfungsi sebagai hiburan dan suritauladan. Kehadiran genre tari pasihan dalam resepsi perkawinan dimaksudkan oleh seniman untuk mengajak, meminta dan menyuruh sepasang temantèn untuk memahami dan meresapi pesan yang terkandung dalam bahasa verbal sastra tembang, yang disampaikan dengan bahasa nonverbal dalam bentuk visual yang estetik, supaya pasangan temantèn tersebut melakukan tindakan atau perbuatan seperti yang dicontohkan dalam pertunjukan tari pasihan tersebut. Maksud dan harapan seniman penyusun tersebut ditangkap oleh masyarakat sebagai sesuatu yang harus diteladani, mengingat gambaran percintaan pasangan suami istri yang romantis, harmonis, dan bahagia yang terdapat dalam tari tersebut dirasa sangat tepat dan diterima dengan jelas, mantap sebagai suatu bentuk pendidikan yang bersifat tidak langsung dan sangat bermanfaat bagi sepasang temantèn untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dalam menggapai keluarga bahagia lahir dan batin. Maryono: T 130906005. 2010. VERBAL AND NONVERBAL COMPONENTS IN THE SURAKARTA STYLE PASIHAN DANCE GENRE (A Pragmatic Study). Dissertation. Postgraduate Program Sebelas Maret University Surakarta.

ABSTRACT
The topic of this research is Verbal and Nonverbal Components in the Genre of the Pasihan Dance Surakarta Style. Using a pragmatic approach the aim of the research is to understand the meaning of the verbal and nonverbal language in the pasihan dance genre (a dance genre with a romantic or love theme) in the traditional Javanese wedding rituals in Surakarta by carrying out a detailed, accurate, and in-depth analysis, in order to discover and describe: (1) the verbal components in the pasihan dance genre, in the Javanese poems in: pathetan, sindhènan, gérongan, and jineman. This study of the verbal components is intended to reveal: the dominant types of speech acts, the functions of the speech acts, the realization of the cooperative principles, the realization of the politeness principles, and the implicatures; (2) the nonverbal components in the pasihan dance genre, in the form of: themes, kinetic body moves, facial expressions (polatan), floor designs, make-up, costume, and musical accompaniment played on the gamelan; (3) the relationship between the verbal and the nonverbal components in the pasihan dance genre, in order to reveal the direct and indirect relationships and implicatures of the pasihan dance genre; (4) the background of the conception of the creation of verbal and nonverbal components in the pasihan dance genre, and (5) people’s perception of the existence of the Surakarta style pasihan dance genre. The research takes the form of a qualitative study using a critical holistic approach which provides a focused, comprehensive, and balanced study of three factors, namely genetic, objective, and affective factors as the source of the values. The strategy used for this research is that of an embedded case study. The techniques used for collecting data, in accordance with the qualitative research and types of data sources available, include in-depth interviews, observation, and content analysis.

10

In order to discover the issues which are the object of the research for this dissertation, the researcher uses theoretical studies of (1) pragmatic theories, (2) cultural theories, (3) performing arts theories, and (4) communication theories. These four theories are used to provide a complementary analysis of the pragmatic meaning of the Surakarta style pasihan dance genre. In principle, the main tool is the pragmatic theory, in connection with the linguistic system which focuses on analyzing the different types of speech acts, the dominant types of speech acts, the function of the speech acts, the realization of the cooperative principles, the realization of the politeness principles, the implicatures, and the pragmatic power. The cultural and performing arts theories are used to analyse nonverbal language factors which are in the form of elements of the work of art. The communication theories are used to examine the connection between the genetic, objective, and affective factors. A triangulation of these theories is used as a means of securing and developing the validity of the data to discover the pragmatic meaning of the Surakarta style pasihan dance genre. The main findings of the research showed that there are various kinds of speech acts found in the Surakarta style pasihan dance genre, numely: assertive, commissive, expressive, directive, verdictive, and phatic. Of all these different types, the most dominant kind of speech act found in the pasihan dance genre is the directive speech act. The application of cooperative principles in the verbal language of the pasihan dance genre of shows a deviation in maxims of quantity and maxims of manner, while maxims of quality and maxims of relation are adhered to. The principle of politeness applied in the verbal language of the pasihan dance genre uses the strategy of positive politeness and performs off record speech acts. The implicature found in the different types of pasihan dance indicates that there is a symbolization of love between husband and wife, who throughout the course of the story encounter problems but subsequently find a solution. It gradually resolves their difficulties and ultimately brings about a happy ending. The pasihan dance is almost always performed at wedding receptions which are a medium for officially announcing the marriage of a newly wed couple. There is a very close connection between the presence of the pasihan dance and the bride and groom at a wedding reception. The main implicature of the presence of the pasihan dance genre at a wedding reception is that it sets an example and offers indirect suggestions for the newly wed couple to follow. With reference to the implicatures obtained from the combination of verbal and nonverbal components in different types of the pasihan dances, show that the form of pragmatic power in the pasihan dance genre is advise about love and affection, for married couple to enjoy a romantic, harmonious, and happy relationship; to display equality and togetherness; and to show an ideal attitude between husband and wife. This advice about love and affection is beneficial for a newly married couple. It provides them with knowledge to lead a better life as they set out to build a new family. The form of the pasihan dance genre is a combination of two main components, namely verbal and nonverbal. Based on the description of these two components, the characteristics of the pasihan dance genre are as follows: (a) Verbal language in the form of Javanese sung poems with a romantic nuance; (b) Verbal language which is used according to social status; (c) A direct and indirect connection between the verbal and nonverbal components; (d) A romantic theme; (e)

11

A story with a happy ending; (f) A performance by a pair of dancers, one male and one female; (g) Advice about love affection; (h) Representative and presentative movements expressed by the dancers with soft, refined, and romantic qualities. Based on the findings of the research and the results between the objective, genetic, and affective factors, it can be concluded that the performance of the pasihan dance genre at a wedding reception for the newly married couple to follow. The presence of the pasihan dance genre at a wedding reception is intended by the performing artists as a means of inviting, asking, and telling the bride and groom to understand and absorb the message in the verbal language of the text, and conveyed using nonverbal language in a visual and aesthetical form. It as hoped that they will act and behave like the example displayed in the performance of the pasihan dance. The hope and intention of the artists is captured by the audience who view the dance as a good example to follow, recognizing it as a portrayal of a romantic, harmonious, and happily married couple which is felt to be highly appropriate and also educative in an indirect way. This is highly beneficial for the newly married couple as they enter into their new lives, and strive to create a happy family, in both worldly and spiritual aspects.

DAFTAR ISI
Halaman JUDUL ……………….………………..………………………………….….…...i PENGESAHAN……………………………………………….…….………….….ii PEMERTAHANAN…………………………………………………………….…iii PERNYATAAN………………………………………………………..………….iv KATA PENGANTAR……………………………………………………………..v ABSTRAK…………………………………………………………….…….……vii ABSTRACT……………………………………………………………..………… ix DAFTAR ISI ………………………………………………………….…..……....xi DAFTAR TABEL ………….……………………………………………….......xvii DAFTAR BAGAN………………………………….………..……...……..........xix DAFTAR GAMBAR / FOTO……………………………………..………..……xx DAFTAR SINGKATAN ……………………………………..……….……...…xxi DAFTAR LAMPIRAN ……………………………………….……....…..…....xxii BAB I PENDAHULUAN ………………………………………….……….……. 1 A. Latar Belakang Masalah………..……..………………….……….……....1 B. Rumusan Masalah …………………………………...……….......……..16 C. Tujuan Penelitian………………………………………..………….........16

12

D. Manfaat Penelitian……………………………………….........................17 BAB II KAJIAN TEORI, PENELITIAN YANG RELEVAN, DAN KERANGKA PIKIR……………………………………………………………………………..18 A. Kajian Teori……………………………………………………………............18 1. Teori Pragmatik…………………....................……………..............................20 a. Konteks dalam pragmatik………………………………..………….………23 b. Teks………………………………………….……………...........................29 c. Tindak Tutur (TT)…………………………………….…………….….…...39 c.1. Tindak Tutur menurut Austin (1956)……………..............................41 c.2. Tindak Tutur menurut Searle (1979)………….. .………..………….45 c.3. Tindak Tutur menurut Yule (1996)…………………........………….46 c.4. Tindak Tutur menurut Kreidler (1998)…………...............................48 d. Prinsip Kerja Sama (PKS)…… …………………………………………....53 e. Prinsip Kesantunan (PS)…………………….…….……….………….…......58 e.1. Skala Kesantunan Leech (1983)……………………..…….................58 e.2. Skala Kesantunan Brown dan Levinson (1987)………..………….....60 f. Implikatur …………………………………….…….…………….....…….....62 g. Daya Pragmatik…………………………………….…………………….….64 2. Teori Budaya………………………………………………...………….……...66 a. Bentuk Ide atau Gagasan……...……………………….…………....….70 b. Bentuk Aktivitas………….……………………….…..………….....…70 c. Benda Fisik………………………………………………….….…....…71 3. Teori Seni Pertunjukan…………………………..…………………............…..71 a. Tema ………………………………………………………....….….…74 b. Gerak Tubuh (kinetic body moves)………………………. …….….…74 c. Polatan (ekspresi wajah) ……………………………..…….…..…......77 d. Pola Lantai (floor design)……………………………… ……...……...78 e. Rias ……………………………………………….……….….……….79 f. Busana ………………………………………………….……….……..80 g. Iringan (gendhing beksa) ………………………………………….......81 h. Estetik…………………………………………....................………….82

13

4. Teori Komunikasi ………..…………………….…...........................................83 a. Komunikator…………………………………………………....…..…85

b. Sarana atau Media…………………………………………….….…....86 c. Komunikan……………………………………….………….………...88 B. Penelitian yang Relevan…………………..…………………………..…...…..90 C. Kerangka Pikir…………………………………………………....…….……...91 BAB III METODOLOGI PENELITIAN……………………………….….….…93 A. Sasaran dan Lokasi Penelitian…………………..…………..……. …….…….93 B. Bentuk dan Strategi Penelitian…………………………...................................94 C. Jenis Data dan Sumber Data…………………….………………………….…96 D. Teknik Cuplikan (sampling)…………………………… …………….............97 E. Teknik Pengumpulan Data ……………………………….…..……………….98 1. Wawancara Mendalam (in-depth interviewing)………..............................98 2. Observasi …………………………………………………………....…..102 3. Mencatat Dokumen dan Arsip (content analysis)………..........................103 F. Pengembangan Validitas ………………………………..........………..….…103 G. Teknik Analisis………………………………………………..………… ….106 BAB IV KOMPONEN VERBAL GENRE TARI PASIHAN GAYA

SURAKARTA......................................................................................................110 A. Komponen Verbal…………………………………………………….….…..110 B. Komponen Verbal Tari Karonsih………………………………………….…112 1. Teks Pathetan Wantah Laras Pélog Pathet Lima…………..………. ….112 a. Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah………..........................…. …113 b. Konteks ………………………………………............................. …..114 c. Fungsi Tindak Tutur ................…………………………………..…..115 d. Realisasi Prinsip Kerja Sama…………………..…..............................116 e. Realisasi Prinsip Kesantunan ……………………...............................117 f. Implikatur …………………………..………...................................…117 2. Teks Sindhènan Pangkur Ngrénas Laras Pélog Pathet Lima ……….....118 a. Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah.…………….………….....….118 b. Konteks …………………………………..........................……..…...119

131 f.......... Fungsi Tindak Tutur ……………………………………….........120 d........139 e.......…....……150 2......………..................……............…..... Teks Sindhènan Kinanthi Sandhung Laras Sléndro Pathet Manyura …...... Fungsi Tindak Tutur ………………………….. Teks Sindhènan Mijil Sulastri Laras Pélog Pathet Barang........................122 f......148 e... Konteks ……………………………………….....…...... Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah........................................135 c.....…...........………......142 C.......... Implikatur …………………………..... Realisasi Prinsip Kerja Sama ……………………..........…133 b...145 c.........129 e........ Realisasi Prinsip Kesantunan ………………... .......….……………......…..…125 b.147 d............…………….…………. Realisasi Prinsip Kerja Sama …...…144 b. Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah ……………...............................…... Konteks ………………………………………. Konteks ……………………………………...................….153 d..………………...………...........…..........141 f........... Fungsi Tindak Tutur ………………………………………..........……......….... Fungsi Tindak Tutur ………………………………………….................. Implikatur …………………………... Realisasi Prinsip Kerja Sama ……………………..…...... Realisasi Prinsip Kesantunan ………....... Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah.......................…............……......154 .. Realisasi Prinsip Kesantunan ……………....…144 1.....128 d........132 a.149 f.........…..................…....152 c.......………150 a............…....144 a.............. Realisasi Prinsip Kerja Sama ……………….. Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah ……………...126 c......………........….....14 c............................………...….…123 3.....….…132 4..…....….. Implikatur ………………………….……….. Teks Jineman Sayuk Laras Pélog Pathet Barang …….....…............. Komponen Verbal Tari Bondhan Sayuk………………………………..... Konteks ………………………………………........ Fungsi Tindak Tutur ………………………………………....... Implikatur ………………………….…....................... Realisasi Prinsip Kerja Sama …………………........ Teks Gérongan Lambangsari Laras Sléndro Pathet Manyura ………................124 a.....137 d.......…151 b....121 e....……………...... Realisasi Prinsip Kesantunan ……………...

......…………………………....……………………………..………......……171 A.....168 f......... Realisasi Prinsip Kerja Sama ………………….......197 5.....…….......... Fungsi Tindak Tutur …………………………………............….... Implikatur ………………………….………........164 a........…..194 4...……………...…….........155 f..... Iringan Tari……………………………………...............……..........…………….……. Tema……………………………….................220 2..…........…………..216 C........15 e.…….. Rias dan Busana…………………………………..172 1...........…... Fungsi Tindak Tutur ………………………………............………….................. Kinetic Body Moves atau Gerak Tubuh …...... Implikatur …………………………........…............ Pola Lantai…………….....161 e........……. Realisasi Prinsip Kesantunan ……………....... Komponen Nonverbal…………………………………………………........ Polatan (ekspresi wajah)………………….........…224 3.234 .......182 3.....….....…...….... Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah ……….. Konteks …………………………………….…. Teks Gérongan Lancaran Sayuk Laras Pélog Pathet Barang …...171 B...166 d...…158 b.....160 d.....…....... Estetik……………………………………………...........162 f..........…………………..……..……………………....….. Tema……………………………………….......... Realisasi Prinsip Kesantunan …………….…164 b....………..............………………………..... Komponen Nonverbal Tari Bondhan Sayuk………………………...167 e. Realisasi Prinsip Kerja Sama ………………...….......157 a....165 c..........…. Kinetic Body Moves atau Gerak Tubuh ….....200 7.……........ Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah.......……....…. Komponen Nonverbal Tari Karonsih………………………..... Realisasi Prinsip Kesantunan …….....…………169 BAB V KOMPONEN NONVERBAL GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA………………………………………………………….....………..159 c....……163 4.173 2.220 1...............….157 3....………....... Implikatur ………………………….…...…....……………......…......…......……...………….…........ Polatan (ekspresi wajah)…………………………………………….....198 6....…. Konteks ………………………………………. Teks Gérongan Ladrang Sayuk Laras Pélog Pathet Barang …......……………….....

….320 1. Adegan Bahagia………………………………. Adegan Pencarian………………………. Adegan Makarya (bekerja)……………………... Properti Boneka……………………………………….337 3.259 3. ….………………………….. Hubungan Komponen Verbal dengan Nonverbal Tari Bondhan Sayuk….. .. Konsepsi Penciptaan Komponen Verbal dan Nonverbal Tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk……………………………………….……………... Adegan Pertemuan……………………………………………………... Rias dan busana…………………………………..…………..……………………………………. Faktor Genetik……………………………………………….295 B.. …..278 2. Perspektif Substansi Tari: Komponen Verbal dan Nonverbal…...……………………. Pola Lantai………………………………..….……...281 3.…...…….... ….16 4. Estetik..264 B.....… .……………………………………………..…. Adegan Kekudangan (menimang anak)……………………………….…253 2...…………….323 B...237 6.... Adegan Kasmaran (percintaan)………………………………………... Iringan Tari.... Genre Tari Pasihan sebagai Hiburan………………..….289 BAB VII KONSEPSI PENCIPTAAN DAN PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA………………295 A...…..…. Pokok-Pokok Temuan Penelitian…………………………………… .……………………... Persepsi Masyarakat terhadap Genre Tari Pasihan…………………….….…………………..….… ….………….310 1.… ...… ….. Hubungan Komponen Verbal dengan Nonverbal Tari Karonsih………....…277 1.… …320 2. Faktor Objektif……………………………………………….344 ........247 8... Analisis………………………………………………………….311 2..238 7.…………………..…314 BAB VIII PEMBAHASAN……………………………………………….322 3.252 A.…………………. Genre Tari Pasihan sebagai Keteladanan…………….…..324 1.…253 1.320 A..236 5.………….. Perspektif Budaya…………………………………………...…..….…………….324 2. Faktor Afektif……………………………………………..248 BAB VI HUBUNGAN KOMPONEN VERBAL DAN NONVERBAL GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA…………………………………........ Perspektif Pragmatik………………………….

370 C.….….... Simpulan…………………………………………………………… .2 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks isian…….. Tabel 4...…....…………………… …366 A.…..…….….………...….3 Jenis .17 4...…...……………………………….5 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Sindhènan Kinanthi Sandhung……………………………………………………………………. Implikasi………………………………………………………… ….118 4.…..…366 B..133 .. Tabel 4... Saran…………………………………………………………….. Perspektif Historis……………………………………….113 2.379 LAMPIRAN……………………………………………………….125 6. Tabel 4..… .123 5. Tabel 4.....6 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Gérongan Lambangsari…………………………………..380 DAFTAR TABEL 1..….…117 3.………372 DAFTAR PUSTAKA ACUAN…………………………………………. Tabel 4...…375 DAFTAR NARA SUMBER…………………………………………. Tabel 4....4 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Isen-isen……………….jenis TT yang melekat pada teks Sindhènan Pangkur Ngrénas…………………………………………………………….…357 BAB IX PENUTUP…………………………………….1 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Pathetan Wantah…….

.....…...……170 14.... …………………………..190 20.7 Rekapitulasi jenis-jenis TT pada komponen verbal tari Karonsih…143 8.8 Persentase jenis –jenis TT pada komponen verbal tari Karonsih…...1 Jenis-jenis gerak representatif tari Karonsih adegan I: pencarian. Tabel 5....4 Jenis-jenis gerak presentatif tari Karonsih adegan II: pertemuan ……………………………………………….…194 .…….5 Jenis-jenis gerak representatif tari Karonsih adegan III: bahagia ……………………………………. Tabel 4.. Tabel 4... Tabel 4...11 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Gérongan Ladrang Sayuk……………………………………………………………………….193 21.151 11.……..185 17. Tabel 5..12 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Gérongan Lancaran Sayuk……………………………………………………………………..184 16.10 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Jineman Sayuk……………………………………………………………………..6 Jenis-jenis gerak presentatif tari Karonsih adegan III: bahagia ………………………………………………. Tabel 4..……….......…...18 7.158 12...…. Tabel 5.193 22.9 Jenis –jenis TT yang melekat pada teks Sindhènan Mijil Sulastri…………………………………………….……...…. Tabel 5..2 Jenis-jenis gerak presentatif tari Karonsih adegan I: pencarian.…..…....…. Tabel 4.….7 Rekapitulasi gerak representatif tari Karonsih………. Tabel 4.... Tabel 5... Tabel 5... Tabel 5.….. Tabel 5.9 Persentase gerak representatif dan presentatif tari Karonsih..3 Jenis-jenis gerak representatif tari Karonsih adegan II: pertemuan.194 23.....……144 10.....……….....189 19.…..8 Rekapitulasi gerak presentatif tari Karonsih……….……………………….……….. 14 Persentase jenis –jenis TT pada komponen verbal tari Bondhan Sayuk…………………………………………………………………..…170 15...188 18. …………………………………………………....143 9. Tabel 4.….…………….164 13.. Tabel 4.. Tabel 5.….13 Rekapitulasi jenis-jenis TT pada komponen verbal tari Bondhan Sayuk……………………………………………………………………. ……………………………………….

........…...…232 28.....…….234 31.…234 DAFTAR BAGAN Bagan 2........…229 25.....14 Jenis-jenis gerak representatif tari Bondhan Sayuk adegan III: makarya ……………………………….…233 29..91 Bagan 3.13 Jenis-jenis gerak presentatif tari Bondhan Sayuk adegan II: kekudangan ……………………………………. 15 Rekapitulasi gerak representatif tari Bondhan Sayuk…..11 Jenis-jenis gerak presentatif tari Bondhan Sayuk adegan I: kasmaran ………………………………... Tabel 5..19 24.….…231 26....... Tabel 5...…233 30. Tabel 5. 17 Persentase gerak representatif dan presentatif tari Bondhan Sayuk…………………………………………………………………….….…………...... ...….....…………....... Tabel 5....…...1 Model Analisis Interaktif……………………………………...10 Jenis-jenis gerak representatif tari Bondhan Sayuk adegan I: kasmaran …………………………………..………….108 .......1 Kerangka Kritik Holistik Komponen Verbal dan Nonverbal Genre Tari Pasihan gaya Surakarta………………………………....12 Jenis-jenis gerak representatif tari Bondhan Sayuk adegan II: kekudangan …………………………………. Tabel 5... Tabel 5.………..231 27... 16 Rekapitulasi gerak presentatif tari Bondhan Sayuk….... Tabel 5.…......... Tabel 5.

....... ketika Panji dan Sekartaji srisik bergandengan tangan.20 DAFTAR GAMBAR / FOTO Gambar 1: pola lantai garis lurus untuk mendukung suasana tegang................................................. ketika Sekartaji berupaya mencari Panji.199 Gambar 2: pola lantai garis lengkung untuk mendukung suasana romantis.. ketika Panji ulap-ulap kiri dan Sekartaji trap jamang.............................199 Gambar 3: pola lantai garis lengkung untuk mendukung suasana bahagia........199 ..............

.....283 Foto: 11 Tari Bondhan Sayuk: Suami bersenandung sambil menimang anak......…..............238 Foto: 1 Tari Karonsih: Panji dan Sekartaji dalam kemesraan dan kebersamaan………………………………………………….262 Foto: 5 Tari Karonsih: Panji dan Sekartaji memadu asmara………………...285 Foto: 12 Tari Bondhan Sayuk: Suami dan istri dalam kebahagiaan…………......21 Gambar 4: pola lantai garis lurus untuk mendukung suasana tegang..........en ..................220 Foto: 3 Tari Karonsih: Panji mengamati Sekartaji dalam suasana sedih………......172 Foto: 2 Tari Bondhan Sayuk: Suami dan istri dalam kebahagiaan ………….........237 Gambar 5: pola lantai garis lengkung untuk mendukung suasana romantis......279 Foto: 9 Tari Bondhan Sayuk: Istri meminta suami untuk bekerja…………..................…272 Foto: 7 Tari Karonsih: Panji dan Sekartaji dalam suasana bahagia……......282 Foto: 10 Tari Bondhan Sayuk: Suami meminta anak kepada istri………….............. Tari Bondhan Sayuk: Suami dan istri dalam kebersamaan.....a : Dasar .. ketika istri hendak meninggalkan suami.….238 Gambar 6: pola lantai garis lengkung untuk mendukung suasana bahagia.... ketika istri dan suami ènjèr ridhong berputar..….....274 Foto: 8..............….......…..….....260 Foto: 4 Tari Karonsih: Panji dan Sekartaji dalam suasana romantis…………..286 DAFTAR SINGKATAN ASKI CD D–a D – en : Akademi Seni Karawitan Indonesia : Compact Disk : Dasar .......268 Foto: 6 Tari Karonsih: Panji dan Sekartaji memadu asmara………….................... ketika istri dan suami lilingan kebyok sampur.......…..…................

ake : Konservatori Karawitan : Kanjeng Raden Tumenggung : Magister Seni : Prinsip Kesantunan : Prinsip Kerja Sama : Putra : Putri : Penutur : Petutur (mitra tutur) : Pakempalan Kagunan Jawi : Raden : Raden Mas : Raden Tumenggung : Tindak Tutur : Verba ..a : Visual Compact Disk DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1..380 Lampiran 2.…………380 . VCD Tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk…………………….ana : di .22 D – an D – ana di – D – ake KOKAR KRT M.T TT V–a VCD : Dasar .an : Dasar .Sn PS PKS Pa Pi Pn Pt PKD R R..M R. Glosarium……………………………………………….Dasar .

23 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah .

24 Manusia hidup tidak mampu lepas dari lingkungan dan bertahan sendiri. “Without language there could be no culture. Setiap individu lahir dalam masyarakat yang telah berjalan. and man remained hominoid. Berbagai strategi belajar untuk menjadi manusia yang diperlukan agar dapat terinkulturasi dan tersosialisasi sepenuhnya. dapat dikatakan belum mempunyai bekal. he could and did become hominine” (Smith. with language and culture. sebagai sarana mewujudkan cita-citanya. bahasa adalah sistem bunyi ujar yang bersifat arbitrer yang dipergunakan oleh manusia dalam suatu masyarakat (language society) untuk berkomunikasi secara umum dan wajar. karena tanpanya manusia tidak mampu berkomunikasi dan berinteraksi dengan dunia luar dirinya. sebagian besar individu tersebut melakukan melalui modalitas utama komunikasi manusia yakni bahasa. Di situ manusia dalam masyarakat atau subkultur dengan bahasa yang sama saling berinteraksi sehingga mampu berkomunikasi berdasarkan pengalaman dan harapan kultural yang sama. Ketergantungan antarindividu merupakan faktor utama manusia untuk saling berkomunikasi dalam rangka meraih kehidupan yang berbudaya. betapapun hebat dan kuatnya. Betapa pentingnya bahasa bagi kehidupan manusia kiranya tidak perlu diragukan lagi. maka dia harus belajar menjadi manusia dengan menghayati atau mendalami budaya kelompoknya. Sejalan dengan pernyataan tersebut bahasa merupakan suatu sistem simbol-simbol vokal yang dipelajari dan dimiliki secara bersama. Menurut Edi Subroto (tanpa tahun. sistem yang terpenting di mana sistem-sistem lain terutama dicerminkan dan ditransmisikan. hal: 1). . Bahasa sendiri merupakan sistem dari budaya manusia. 1969: 104-105).

yang kesemuanya itu merupakan bahasa komunikasi yang kaya akan nuansa imajinatif dan penuh dengan multitafsir. Karawitan. bergantung kebutuhan. Wayang Wong. dan bahasa. Kemunculan secara mandiri seperti: bunyi dalam musik. Langendriyan. Hal ini dapat kita cermati dari bentuknya yang berupa seni kolektif sebagai sarana untuk mengungkapkan maksud dari seniman sebagai penutur dengan harapan dapat dihayati oleh penghayat sebagai mitra tutur. Wayang Golek. Seni pertunjukan sebagai bahasa seniman untuk berkomunikasi dengan penghayat merupakan bahasa pragmatik yang sangat khas penuh dengan nuansa keindahan. Lenong. Pada hakekatnya media itu berbentuk fisik. bunyi.25 Dalam kehidupan kesehariannya manusia berkomunikasi lewat beragam media atau medium. Bentuk yang merupakan komplemen dari beragam media (gerak. dan bahasa) banyak terdapat pada seni pertunjukan. Seni pertunjukan merupakan bentuk seni komplementer yang pada dasarnya merupakan salah satu bentuk bahasa pragmatik. Secara prinsip dapat peneliti katakan bahwa seni pertunjukan merupakan wahana yang sangat potensial sebagai sasaran kajian pragmatik. dan bahasa sebagai tindak tutur. rupa. rupa. Randai. Masing-masing media dapat muncul secara mandiri dan bisa juga saling komplementer. . Kethoprak. adapun bentuk yang utama yakni: gerak. dan lainnya. warna pada seni rupa. bunyi. Adapun bentuk seni pertunjukan di antaranya: Wayang Purwa (Wayang Kulit). Pragmatisme pada seni pertunjukan dapat ditunjukkan dari wujudnya yang memiliki bahasa verbal dan nonverbal saling komplemen yang selalu hadir dalam konteks. Tari. Ludruk.

merupakan perpaduan dari berbagai media komunikasi. Muatan pesan tersebut merupakan salah satu kebutuhan dasar bagi hidup manusia. Lewat pesan akan ditangkap makna sebagai esensi dari aktivitas berkomunikasi antara penyusun tari dengan masyarakat. yaitu: kinetic body moves (gerak tubuh) sebagai garap tari. bahwa masyarakat di mana saja menata hidup mereka dalam kaitannya dengan makna dari berbagai hal. spiritual. Adapun pesan-pesan tersebut dapat berupa pesan moral. Pertimbangan yang mendasar bahwa dalam tari. Seperti dinyatakan Spradley (1997: 120). tari mempunyai muatan-muatan pesan dari penyusun tari yang hendak dikomunikasikan dengan masyarakat. dan bersifat hiburan. serta rupa sebagai garap rias dan busana. bunyi dan bahasa sebagai garap iringan. Penafsiran terhadap keragaman media komunikasi yang terdapat dalam tari tidak mampu hanya ditangkap secara rasional semata tetapi ketajaman rasa merupakan ujung tombak dalam menangkap makna yang sebenarnya. Ini berbeda dengan bahasa.26 Tari sebagai salah satu bentuk seni pertunjukan. sehingga terasa menjadi lebih mantap. ini merupakan realitas kemunculan bentuk komplementer. Kehadiran tari sebagai ungkapan ekspresi jiwa manusia merupakan media komunikasi seorang seniman (penyusun tari ataupun penari) sebagai penutur terhadap masyarakat (pakar. penonton umum dan penanggap) sebagai mitra tutur. yang secara spesifik telah memiliki kaidah-kaidah baku yang penafsirannya lebih bersifat rasional. kata-kata yang terdapat dalam tembang sebagai bahasa verbal. Sebagai media komunikasi. dan relasi antara bentuk dan makna sangat ketat. selain makna kata-katanya juga diungkapkan dengan lagu dan tekanan irama yang didukung iringan gamelan. Hal ini terkait dengan konsep bahasa yang bersifat formal. . disipliner.

tidak langsung seperti bahasa pragmatik. di mana. Jadi pragmatik mengkaji maksud suatu ujaran penutur baik secara tersirat maupun tersurat di balik tuturan yang dianalisis. untuk apa dan bagaimana.27 Dalam kehidupannya. sosial. frase atau kalimat. dan kultural yaitu siapa berbicara kepada siapa. Rupanya dalam berkomunikasi manusia tidak selalu menggunakan bahasa yang sifatnya langsung. kapan. Namun untuk dapat mengetahui maksud ujaran penutur (makna pragmatiknya). terbuka. tetapi juga sering memilih menggunakan bahasa yang tersamar. bukan semata-mata hanya makna literal ujaran tersebut. Bahasa yang bersifat pragmatik merupakan salah satu sasaran kajian tentang makna-makna satuan lingual secara eksternal. mitra tutur harus mengetahui makna semantik ujaran itu terlebih dahulu. manusia menggunakan bahasa sebagai sarana komunikasi dan berinteraksi secara vertikal dan horisontal dalam kedudukannya sebagai makhluk individu maupun sosial. apa adanya. Kajian makna dalam . Dengan demikian tampak jelas bahwa pragmatik terikat konteks (context dependent). Bahasa merupakan sarana yang utama untuk menyampaikan pesan penutur kepada mitra tutur. maksud dari ujaran tersebut dapat dipahami. sebagaimana dikatakan Leech pragmatik adalah “The study of meaning in relation to speech situation” (lihat Wijana. Dalam rangka beraktivitas sehari-hari manusia memerlukan bahasa sebagai alat komunikasi yang paling efektif dan efisien. 1995: 50). Lewat makna semantik yang dikontekstualkan akan muncul makna pragmatik yang diharapkan dalam sebuah peristiwa pertuturan. Makna yang dikaji dalam pragmatik dikaitkan dengan maksud atau tujuan penutur di dalam mengutarakan suatu kata. Dengan cara menghubung-hubungkan bentuk ujaran dengan konteks situasinya.

(4) maksim kerendahan hati. yaitu: (1) maksim kuantitas. politik. puisi. (3) maksim pujian. (3) maksim relevansi/hubungan. Bahasa yang bersifat pragmatik banyak digunakan dalam berbagai bidang antara lain: sosial. (5) maksim kesepakatan. (2) maksim kedermawanan. 1993: 19-20). harmonis. tembang. manusia menggunakan bahasa yang memenuhi prinsip-prinsip kerjasama. Selain itu juga didukung prinsip kesopanan yang meliputi: (1) maksim kearifan. (3) tujuan sebuah tuturan. Hubungan atau relasi dalam pragmatik bersifat triadis. dan (4) maksim cara (Grice dalam Leech. artinya suatu bentuk kebahasaan selain memiliki makna semantik juga makna pragmatik. syair. (4) tuturan sebagai bentuk tindakan atau kegiatan: tindak ujar. (2) konteks sebuah tuturan. (5) tuturan sebagai produk tindak verbal (Leech. maksudnya bahwa makna pragmatik selain dibangun melalui semantik yang mencakup: (1) bentuk kebahasaan dan (2) makna juga dikaitkan dengan (3) konteks. Dalam rangka menjaga hubungan dan interaksi komunikasi pada kehidupan sehari-hari tetap terjaga baik. dan (6) maksim simpati. Pragmatik merupakan cabang linguistik yang mengkaji makna dalam hubungannya dengan situasi ujar (konteks). 1993: 11). dan tari. dan berkesinambungan. Pada realitasnya manusia sering tidak mengindahkan prinsip-prinsip kerjasama dalam . sehingga makna itu dapat dirumuskan dengan kalimat “Apa yang kau maksud dengan berkata x itu ?” (What do you mean by x ?). (2) maksim kualitas. Kajian bahasa pragmatik lebih terfokus pada makna implikatur dari eksternal tuturan si penutur bukan makna eksplikatur yang terdapat dalam internal tuturan semata. Aspek-aspek situasi ujar meliputi: (1) yang menyapa (penyapa) atau yang disapa (pesapa). budaya seperti: sastra. selaras.28 pragmatik bersifat triadis.

kinetic body moves (gerak tubuh). sirene. polatan. Ketidakpatuhan para peserta tutur dalam pertuturan karena dipicu oleh motif-motif tertentu dari penutur. Wujudnya dapat berupa aneka simbol. sindhenan. 2005: 2). Aspek verbal tari berupa cakepan (syair) teks sastra tembang yang terdapat dalam pathetan. kenthongan barulah dapat bermakna setelah diterjemahkan ke dalam bahasa manusia (Lamuddin Finoza. dan iringan. bunyi misalnya tanda lalu lintas. sebagai akumulasi beragam tuntutan akan kebutuhan hidup manusia yang begitu kompleks. isyarat. tari adalah ungkapan nilai-nilai keindahan dan keluhuran lewat gerak dan sikap. pola lantai. Adapun komunikasi yang bersifat nonverbal dilakukan dengan menggunakan alat selain bahasa. busana. Berkomunikasi secara verbal dilakukan dengan cara menggunakan media bahasa baik yang tertulis dan lisan. Dengan demikian tari yang merupakan bagian dari seni pertunjukan yang memiliki aspek komunikasi verbal dan nonverbal merupakan objek kajian pragmatik yang sangat menarik. Terdapat dua cara untuk berkomunikasi lewat bahasa. yakni dapat berupa teks verbal dan nonverbal. rias. Karena hal itu terjadi. Tari adalah ungkapan perasaan manusia tentang sesuatu dengan gerak-gerak ritmis yag indah (Soedarsono. Dalam hal ini penutur berupaya memasukkan maksudnya secara implisit pada ujaran yang diungkapkan. dan jineman. Dampak dari peristiwa tuturan tersebut muncul implikatur-implikatur yang akhirnya merupakan lahan pragmatik.29 berkomunikasi sehingga terjadi pelanggaran. 1996: 6). morse. Sedangkan aspek nonverbalnya berupa: tema. lambaian tangan. Menurut Wisnoe Wardhana (1994: 36). kode. Sedangkan H’Doubler mengutarakan bahwa tari adalah ekspresi gerak ritmis dari kajian . gerongan.

Sumber gerak utama yang dimaksudkan di sini adalah kinetic body moves. ungkapan. Rupanya gerak tubuh sangat dominan dan merupakan medium utama yang sekaligus sebagai sumber kehidupan tari. Menurut peneliti. Tanpa simpati publik. melaksanakan serta dari penciptaan bentuk-bentuk (dalam Soedarsono. Bagaimanapun acuhnya seorang seniman terhadap publik. the body speaks. Jika kita cermati lebih lanjut pernyataan ketiga pakar mengenai pengertian gerak tersebut masih kabur. Rupanya ekspresi diri semata tidak akan memberikan kenikmatan dan kepuasan bahkan cenderung mati (Parker.30 keadaan-keadaan perasaan yang secara estetis dinilai. gerak akrobatik binatang yang menawan tetapi tanpa kehadiran gerak tubuh manusia. karena pada dasarnya betapapun indahnya gerak tumbuh-tumbuhan yang tersapu angin. maka dibutuhkan juga suatu penghargaan. Dari ketiga pendapat pakar tari tersebut dapat disarikan bahwa tari merupakan ekspresi jiwa manusia sebagai tanggapan tentang nilai-nilai kemanusiaan. 1980: 37). dorongan artistik akan layu tidak dapat berkembang. berkomunikasi. 1996: 4). dengan menggunakan medium utama gerak. Secara garis besar bahwa semua gerak dapat menjadi gerak tari dengan cara melalui campurtangan gerak tubuh dan seleksi yang memadahi. And when the body speaks . ia berkarya dengan harapan dapat dihayati. tari adalah ekspresi jiwa manusia lewat medium utama gerak tubuh untuk mencapai kenikmatan keindahan. yang lambang-lambang geraknya dengan sadar dirancang untuk kenikmatan serta kepuasan dari pengalaman ulang. dikomunikasikan dalam bentuk yang indah untuk mendapatkan penghayatan yang layak. Seperti variasi pada kutipan kata-kata terkenal Donne: “one could almost say. tidak dapat dikatakan gerak tari.

a pragmatic act” (dalam Mey. Dengan kata lain. kita harus mengakui bahwa komunikasi ‘gerak tubuh’ mampu ‘menentukan suasana’ dan ‘memberi makna’ untuk komunikasi secara utuh. jika gerak tubuh penutur tidak mengikuti pembicaraan penutur. mitra tutur juga tidak akan mengikuti dan memperhatikan. 1994: 3). form an integral part of the interactions (e. Sekarang semakin jelas bahwa ide komunikasi nonlisan sebagai tambahan atau alat bantu sederhana pada pembicaraan adalah pandangan irasional yang terlalu sempit. Tidak mungkin orang bicara soal kesenian tanpa memperhatikan bentuk. Tampaklah sekarang bahwa bentuk dalam seni memiliki peranan yang sangat penting dalam rangka menyampaikan isi atau maksud yang hendak dikomunikasikan pada penghayat (mitra tutur) dari si seniman (penutur). Secara sederhana Herbert Read berpendapat bahwa seni merupakan usaha untuk menciptakan bentuk-bentuk yang menyenangkan (1990: 2). dan tanggapannya ke dalam bentuk fisik yang dapat ditangkap dengan indera (Sri Rochana. or are part of. dalam dimensi meta-pragmatik. dan gayanya (Budhisantoso. tindakan pragmatik sangat penting untuk menentukan dan mempertahankan kerangka meta-komunikatif untuk komunikasi.. 2001: 223-224). lingkungan sekitarnya secara selektif. Bentuk seni adalah hasil ciptaan seniman yang merupakan wujud dari ungkapan isi. wujud.31 in this fashion. . as such. the body moves. Di samping itu. bukan hanya bagian kontribusi yang diucapkan saja. they represent. its movements. Selayaknya. pandangan. 1994: 68). Adapun isi yang dimaksud merupakan pengalaman jiwa seniman dalam menanggapi alam. in a conversation). Pada dasarnya tindakan pragmatik melibatkan seorang individu secara keseluruhan dalam komunikasi.g.

melainkan nilai-nilai kehidupan yang telah terseleksi dapat ditranspormasikan dalam bentuk yang indah. dan seringkali pencarian itu terlampau berliku-liku jalannya (Read. Maka tidaklah mengherankan apabila sarana untuk berekspresi dalam seni tidak bersifat instingtif. baik dari seniman sebagai pengkarya maupun masyarakat sebagai penikmatnya. seni memiliki tujuan yaitu memberikan kepuasan dalam visi penuh simpati. Untuk itu menuntut seniman bukan hanya menyajikan realitas kehidupan yang sifatnya mengimitasi atau memindahkan begitu saja. dan wujudnya dapat berupa gerak. Sarana tersebut setiap saat dan untuk setiap personal harus dicari. warna (rupa). Sehingga benda pacu dimaksud mampu mengubah dari pandangan verbal menjadi pandangan yang penuh makna yang berarti bagi kehidupan jiwa. dan bukan merupakan sesuatu yang sudah siap tersedia. Pengalaman jiwa seniman sewaktu-waktu dapat dikomunikasikan lewat garap medium sesuai dengan bidangnya masing-masing. Hubungan antara bentuk fisik yang dapat diamati indera dengan isi yang hendak diungkap harus terjalin secara harmonis agar dapat mencapai sasarannya yaitu penghayat. supaya menjadikannya jelas bagi jiwa yang menghayati. bahasa. Pada hakikatnya medium ekspresi seniman bersifat fisik. Wujud tersebut tak lain agar dapat dan mampu ditangkap dengan indera manusia. garis. tidak pula bersifat stereotip. Keberhasilan mereka menyampaikan pesan-pesan tergantung dengan kemampuan menyeleksi materi-materi sebagai sarana ungkap dan tidak lepas dari kemampuan masyarakat penikmat untuk menangkap yang sudah barang tentu mengacu pada nilai-nilai budaya dan norma-norma sosial yang hidup dan . bunyi. 1990: 45).32 Sebagai media ekspresi.

1991: 14). Kesenian karaton cenderung memiliki garap lebih rumit.33 berkembang. Pewarisan budaya tidaklah bersifat statis. tari dan lainnya. karawitan. cermat dan mempunyai semacam pola-pola baku yang sering digunakan sebagai semacam pedoman. Beragam bentuk seni pertunjukan karaton. Seni tradisional genre tari pasihan yang mengacu kesenian karaton merupakan salah satu budaya yang diwarisi secara turun-temurun sudah barang tentu memiliki kesinambungan dengan budaya sebelumnya. tetapi masing-masing . Perkembangan sekarang kedua bentuk kesenian tersebut saling mempengaruhi secara lebih kompleks. Kesenian karaton merupakan bentuk kesenian yang pada awalnya hidup dan berkembang di lingkungan karaton. Sedangkan kesenian rakyat hidup. 1991: 10). Dalam tari Jawa bentuk ekspresinya pada hakikatnya terwujud berdasarkan alam emosi. Berbeda dengan kesenian rakyat yang sifatnya spontan sangat sederhana baik bentuk maupun sistem pertunjukannya. Betapapun hebatnya seorang seniman dalam berkarya tanpa diimbangi apresiasi masyarakat yang layak dan memadahi rupanya akan menjadi semakin tidak berarti sehingga bentuk-bentuk pesan yang hendak disampaikan oleh seniman tidak dapat terealisasi secara baik dan wajar dalam kehidupan masyarakat. di antaranya: wayang kulit. Seni pertunjukan Jawa pada umumnya dapat dikategorikan menjadi dua kelompok besar yaitu kesenian karaton dan kesenian rakyat (Humardani. Untuk itu dibutuhkan peningkatan kualitas apresiator dengan memperbanyak peluang aktivitas pertunjukan dan peningkatan kualitasnya. wayang wong (wayang orang). tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat pedesaan. yaitu bentuk dan iramanya sangat kuat dilatarbelakangi oleh konsep keindahan dan tradisi kebudayaannya (Humardani.

bahwa ‘simbol’ tampak terbatas pada sesuatu yang mengungkapkan secara tidak langsung. Wireng. di antaranya genre tari pasihan. Di dalam seni pertunjukan. Bedhaya. Menurut Clifford Geertz (1992: 6). Pethilan.34 generasi mencoba untuk mengadakan perubahan-perubahan disesuaikan dengan kondisi kehidupan masyarakat pendukungnya. dan tarian untuk anak. “Genre Tari Pasihan“ tampaknya cenderung menekankan rasa dan emosi dalam bentuk bahasa verbal dan nonverbal. Seolah–olah keberadaan genre tari pasihan dalam budaya Jawa sejak 1970 telah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan terutama pada upacara-upacara perkawinan (Maryono. Di dalam kehidupan masyarakat Jawa. Terbukti seni tradisional kita tetap berkembang di masyarakat. Hal tersebut diduga menumbuhkan daya pikat perhatian masyarakat . Rasanya menjadi kurang utuh apabila dalam acara resepsi perkawinan tidak disajikan tari pasihan sebagai penutup pesta tersebut. Kehadiran genre tari pasihan (percintaan pria dan wanita) dalam kehidupan sosial masyarakat pada ritual perkawinan adat Jawa rupanya mempunyai makna simbolik yang sangat penting terutama bagi kedua mempelai dalam rangka mempersiapkan diri untuk mengarungi kehidupan di masyarakat yaitu menuju terbentuknya keluarga yang bahagia. sebab simbolisme sangat menonjol peranannya dalam tradisi adat Jawa. Simbolisme semacam ini tampak pada genre tari pasihan yang hadir dalam rangkaian upacara-upacara perkawinan adat Jawa. 1991: 73). sehingga kemunculan pertunjukan genre tari pasihan pada upacara perkawinan relatif sangat tinggi frekuensinya. sehingga perlu perantara yang berwujud simbol-simbol dalam puisi bukan dalam bentuk pengetahuan. Srimpi. simbolisme memiliki peranan sangat penting.

Keragaman bentuk dan jenis tari duet percintaan yang terdapat di wilayah Surakarta menunjukkan sebuah kekayaan ranah budaya yang mampu memberikan warna kota Sala sebagai pusat budaya. putri luruh duet dengan gagah luruh dan sebagainya. tari Driasmara. . karaton-karaton di Jawa kehilangan kekuasaannya atas daerah-daerah masingmasing. Genre tari pasihan gaya Surakarta merupakan suatu kelompok tari yang secara susunan berbentuk duet atau pasangan silang jenis tipe karakter dengan tema percintaan. kehilangan kekuasaannya sebagai orientasi nilai-nilai budaya Jawa. Sunarno menghasilkan karya: tari Bondhan Sayuk. Secara perlahan-lahan kehidupan tari yang semula menjadi hak monopoli keluarga kerajaan. Seniman-seniman yang menanggapi secara proaktif antara lain seperti Maridi dengan karyanya: tari Endah. tari Jayaningrat dan tari Setyaningsih. dan tari Gesang Rahayu. tari Lambangsih. putri lanyap duet dengan alus luruh. 1984: 235). Suciati Joko Suharja menciptakan tari Kusuma Aji. tari Kusuma Ratih. Rupanya hal ini terkait dengan warisan budaya khususnya tari dari kerajaan Mataram baru yaitu istana Kasunanan Surakarta Hadiningrat. tari Enggarenggar. Berkembangnya bentuk dan jenis genre tari pasihan atau genre tari duet percintaan tidak lepas dari kreativitas para penyusun tari dalam rangka memenuhi kebutuhan sosial masyarakat. dan sebagai pusat kesenian Jawa (Koentjaraningrat.35 dan mampu menggugah semangat kreativitas para seniman seni pertunjukan di Surakarta untuk merespon secara positif. keluar tembok karaton hidup dan berkembang meluas ke tengah-tengah kehidupan masyarakat. pusat adat-istiadat Jawa. Jenis tipe karakter yang berpasangan tersebut dalam genre ini antara lain : putri luruh duet dengan alus luruh. Ketika Perang Dunia ke II berakhir. tari Langen Asmara.

yang hanya bisa didapatkan dengan perbuatan yang melambangkan terjadinya pembuahan. rasa. Genre tari pasihan merupakan cabang seni tradisional gaya Surakarta yang banyak mengandung makna simbolis dan memiliki fungsi yang erat hubungannya dengan upacara adat ritual perkawinan masyarakat Jawa. yaitu pada setiap upacara perkawinan hampir dapat dipastikan akan disajikan jenis tari pasihan. dan .36 Kehidupan genre tari pasihan hingga sekarang mengalami perkembangan sangat pesat. Seni pertunjukan genre tari pasihan gaya Surakarta sebagai karya seni memiliki beberapa aspek di antaranya aspek sastra tembang (bahasa verbal) yang berupa cakepan (syair) yang terdapat dalam pathetan. yaitu hubungan antara pria dan wanita. hal ini dimungkinkan adanya suatu pilihan masyarakat yang sangat tepat tentang tata nilai dan sikap untuk menjaga kelangsungan hidup budayanya sebagai warisan yang dianggap memiliki nilai tinggi. tetapi juga perlu diupayakan lewat kekuatan – kekuatan yang tak kasat mata. Kehadiran genre tari pasihan di tengah-tengah kehidupan sosial masyarakat diduga mempunyai kekuatan magis simpatetis terhadap sepasang penganten. emosi yang diekspresikan dalam bentuk bahasa verbal dan nonverbal yang hendak dikomunikasikan dengan penghayat (mitra tutur) dengan maksud-maksud tertentu. Rupanya telah mengakar pada budaya Jawa. gagasan. Kekuatan itu antara lain berupa magi simpatetis. 1991: 35) Rupanya semakin tampak bahwa genre tari pasihan merupakan media ungkap para penyusun tari (penutur) yang memuat ide. sindhenan. Sedangkan bagi masyarakat yang sudah agak maju dilakukan secara simbolik. gerongan. Seperti diungkapkan Soedarsono sebagai berikut : Sadar atau tidak sadar kesuburan tanah – juga perkawinan – tidak cukup hanya dicapai lewat peningkatan sistem penanaman baru. (Soedarsono dalam Soedarso. Hubungan ini pada masyarakat yang masih melestarikan budaya purba kadang-kadang dilakukan agak realistis.

Aspekaspek tersebut membutuhkan ruang. tidak lain didasarkan pada fakta historis. Pengaruh perkembangannya dapat dibuktikan dengan munculnya berbagai bentuk tari duet percintaan. yakni tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk. Dengan pernyataan lain serupa tetapi tidak sama. tari Driasmara. gerak tubuh (kinetic body moves). dalam tindakannya supaya dapat berfungsi secara baik sebagai media komunikasi. dan iringan. rias. Pemilihan pertama tari Karonsih dalam kajian pragmatik ini. tari Langen Asmara dan tari Setyaningsih. Secara garis besar dapat dikatakan bahwa bentuk-bentuk tari yang termasuk dalam genre tari pasihan. busana. Karonsih merupakan awal jenis tarian duet percintaan yang mampu membawa perkembangan sangat luar biasa. tari Enggar-enggar. yakni seperti: tari Endah. Di samping itu diduga tari Karonsihan memiliki kekuatan magis simpatetis yang kuat terhadap . Sedangkan aspek bahasa nonverbal meliputi: tema. 1991: 27). polatan (ekspresi wajah). waktu. tari Kusuma Ratih. tari Gesang Rahayu. tari Bondhan Sayuk. yang sudah barang tentu juga terdapat perbedaan namun tidak begitu signifikan. Kajian pragmatik di sini akan menganalisis makna genre tari pasihan lewat implikatur-implikatur bahasa verbal dan nonverbal yang dimilikinya. pola lantai. tari Kusuma Aji. tari Jayaningrat. Dari sejumlah jenis tari duet tersebut peneliti memfokuskan sasaran pada dua bentuk tari duet percintaan.37 jineman. Kehadiran tari Karonsih di tengah-tengah kehidupan masyarakat telah menjadi bagian dari kebutuhan sosial. dan memiliki pesan. tari Lambangsih. mempunyai pengaruh cukup besar yaitu telah dapat memacu dan memotivasi terhadap seniman-seniman di kalangan tradisional (Maryono. banyak persamaannya.

Perbedaan antara Karonsih dengan Bondhan Sayuk meliputi bentuk tindak tutur verbal dan nonverbal. Kelayakan dan kualitas objek sasaran penelitian tidak dapat disangsikan berdasarkan eksistensi. dan kualitas genre tari pasihan sebagai seni pertunjukan yang hidup dan berkembang pesat di Jawa. namun masih dalam karakteristik yang sama. kuantitas. Merujuk pada pola cerita yang tokoh-tokohnya memiliki authority scale dan social distance yang berbeda. serta memberikan citra budaya yang mantab. Realitas menunjukkan bahwa keragaman jenis tari duet percintaan gaya Surakarta merupakan salah satu aset budaya nasional yang memiliki kuantitas dan kualitas tinggi. Diharapkan perbedaan yang terdapat pada tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk. Kehadiran genre tari pasihan merupakan pemenuhan kebutuhan sosial dan hayatan cukup mantap dan sekaligus menjadi benteng budaya . maka hal itu dapat diamati dari jenis bahasa verbal yang digunakan pada masing-masing tari pasihan tersebut.38 sepasang temanten. didasarkan pada bentuk yang berbeda pada jenis tari duet percintaan. baik dari segi tindak tutur verbal dan nonverbalnya dapat digunakan untuk mengungkap secara mendalam karakteristik genre tari pasihan dalam analisis pragmatiknya. Pada prinsipnya pemilihan sampling tari Karonsih dan Bondhan Sayuk tersebut bukan untuk generalisasi statistik (populasi) tetapi lebih fokus untuk mewakili dari keragaman informasinya yang diharapkan dapat digeneralisasi teorinya. Pemilihan kedua adalah tari Bondhan Sayuk. Selain itu terdapat perbedaan bahasa nonverbal. sekilas dapat dicermati dari properti yang berupa boneka bayi (anak kecil). hal ini dapat diamati dari kehadirannya yang hampir dapat dipastikan pada setiap upacara perkawinan terutama pada budaya Jawa. kredibilitas.

Rumusan Masalah Dari uraian latar belakang masalah yang telah peneliti paparkan tersebut di muka. serta mengapa terjadi dominasi ? 2. terdapat masalah utama yang menjadi fokus penelitian disertasi ini. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. dan penanggap) sebagai mitra tutur (komunikan). dan masyarakat (pakar. adalah: mengapa masyarakat memilih pertunjukan genre tari pasihan gaya Surakarta sebagai masterpiece dalam sebuah ritual perkawinan adat Jawa. Untuk itu perlu dirumuskan masalahnya dalam rangka menganalisis makna pragmatik pada genre tari pasihan. Bagaimanakah penerapan prinsip kerja sama dan prinsip kesantunan dalam bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta ? 3. Masalah utama tersebut dapat dikaji lewat beberapa pertanyaan yang bersumber pada seniman pelakunya (penyusun tari dan penari) yang bertindak sebagai penutur (komunikator). Bagaimana jenis-jenis tindak tutur dalam genre tari pasihan gaya Surakarta dan tindak tutur apa yang dominan. B. karya seni (pesan atau tindak tutur) sebagai sarana atau media tutur. Bagaimanakah implikatur dan daya pragmatik bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta ? .39 nasional yang mampu memberi warna citra diri masyarakat Surakarta sebagai pewaris high culture Mataram palace dan lebih meluas sebagai bangsa Indonesia. penonton umum.

5. Penerapan prinsip kerja sama dan prinsip kesantunan dalam bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta. Implikatur dan daya pragmatik bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta. dan mendalam untuk menemukan dan mendeskripsikan: 1. 4. Persepsi masyarakat terhadap kehidupan genre tari pasihan gaya Surakarta. Bagaimana latar belakang konsepsi penciptaan bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta ? 6.40 4. . Jenis-jenis tindak tutur dan tindak tutur yang dominan dalam genre tari pasihan gaya Surakarta. 2. Tujuan Penelitian Memahami bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan pada ritual perkawinan adat Jawa di Surakarta dengan menganalisis secara rinci. 3. Bagaimana ciri karakteristik bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta ? 5. Bagaimana persepsi masyarakat terhadap kehidupan genre tari pasihan gaya Surakarta ? C. Ciri karakteristik bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta. akurat. 6. Latar belakang konsepsi penciptaan bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta.

. Perspektif dari kajian pragmatik akan mengarahkan peneliti untuk menganalisis seni pertunjukan (tari) secara menyeluruh. (3) Memberikan motivasi terhadap pembaca pada umumnya dan para peneliti dari kalangan Lembaga Perguruan Tinggi Seni untuk meneliti bentuk-bentuk seni pertunjukan dari perspektif linguistik pragmatik. Salah satu jenis kajian linguistik yang paling tepat untuk analisis tari adalah linguistik pragmatik. Spesifikasi yang dapat diunggulkan dalam kajian ini bahwa terdapat interaksi yang sangat tepat antara pragmatik dan seni pertunjukan yang masing-masing berorientasi masalah makna. Sedangkan pragmatik merupakan disiplin ilmu yang secara spesifik mengkaji makna atau maksud penutur. terutama kajian seni pertunjukan khususnya tari dari perspektif linguistik pragmatik. budaya dan lainnya rupanya telah banyak dilakukan para peneliti. Dengan demikian manfaat yang diharapkan dari penelitian ini: (1) Membuka perspektif kajian baru. namun penelitian tari dari kaca mata linguistik rupanya masih sangat langka.41 D. politik. ekonomi. (4) Dapat menjadi referensi atau acuan bagi para peneliti yang terkait dengan disiplin ilmu linguistik pragmatik dan kajian sastra seni khususnya. (2) Memberi sumbangan bagi para pembaca untuk menambah wawasan kajian seni pertunjukan tari pasihan dari sudut pandang linguistik pragmatik. Artinya seni pertunjukan memuat nilainilai kehidupan yang fundamental sebagai sumber makna. antropologi. baik dari aspek bahasa verbal dan nonverbal. Manfaat Penelitian Tari dikaji dari berbagai perspektif ilmu seperti sosial.

Kajian Teori Seni pertunjukan umumnya dan lebih khusus genre tari pasihan gaya Surakarta merupakan lahan kajian yang sangat menarik lewat bahasa verbal yang berupa teks sastra tembang dan bahasa nonverbal. jenis tindak tutur yang dominan. (2) teori budaya. DAN KERANGKA PIKIR A. peneliti menggunakan kajian: (1) teori pragmatik. mengapa terjadi dominasi. (3) teori seni pertunjukan. 1) Teori pragmatik untuk menganalisis jenis-jenis tindak tutur yang terdapat pada sastra tembang sebagai bahasa verbal. Dalam rangka untuk mengetahui dan mencermati makna bahasa verbal dan nonverbal yang terdapat dalam seni pertunjukan genre tari pasihan gaya Surakarta. Bentuk analisis berikutnya adalah bagaimana penerapan . TINJAUAN PUSTAKA.42 BAB II KAJIAN TEORI. dan (4) teori komunikasi.

dan iringan gamelan untuk mengungkapkan faktor objektif dan faktor genetik. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas untuk mengkaji dari faktor afektifnya yaitu mengenai pandangan masyarakat umum dan persepsi pakar terhadap pertunjukan tari pasihan. rias. polatan (ekspresi wajah). busana. Selain itu juga untuk mengkaji strategi kesantunan yang digunakan oleh masing-masing peserta tutur yang terdapat dalam genre tari pasihan terkait dengan cara mengungkapkan tindak tutur terkait jarak sosial. Jika komunikasi antara seniman dengan masyarakat terjadi perbedaan . pola lantai. Teori tersebut juga untuk mengungkap implikatur dan daya pragmatik. 3) Teori seni pertunjukan untuk mengkaji elemen-elemen yang terdapat di dalam tari pasihan (bahasa nonverbal) mencakup tema. Proses komunikasi antara seniman penyusun sebagai komunikator dengan masyarakat sebagai komunikan lewat media yaitu karya seni tari pasihan. dan penggunaan muka dalam komunikasi. Adapun wujud kebudayaan berupa benda-benda hasil karya manusia untuk analisis faktor objektif atau karya seninya. gerak tubuh (kinetic body moves). 4) Teori komunikasi digunakan untuk menganalisa bagaimana komunikasi berlangsung. Dalam komunikasi tersebut lebih difokuskan pada kesesuaian antara pesan makna yang dimaksudkan seniman penyusun dengan makna yang dapat ditangkap oleh masyarakat. hubungan peran yang berbeda. baik yang berupa sastra tembang dan bahasa nonverbal. wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide untuk mengungkapkan konsepsi seniman penyusun tentang bahasa verbal dan nonvberbal yang digunakan pada tari pasihan. 2) Teori budaya yang terdiri dari tiga bagian yakni.43 prinsip-prinsip kerja sama dalam sastra tembang.

2004: 48) berhubungan dengan manifestasi bahasa dalam bentuk lisan. Untuk mengetahui makna ujaran tidak dapat hanya dilihat dari satu sisi ujaran itu sendiri. Secara prinsip teori pragmatik merupakan alat kajian yang utama terkait dengan sistem kebahasaannya. akan tetapi harus memperhatikan situasi ujaran atau sejauh mana kontekstualnya. sedangkan teori budaya dan teori seni pertunjukan untuk menganalisis faktor bahasa nonverbal. Teori komunikasi untuk mengkaji keterkaitan antarfaktor genetik. Konsep ujaran menurut Parera (dalam Muhammad Rohmadi. Diharapkan keempat teori tersebut mampu untuk mengungkap makna pragmatik genre tari pasihan gaya Surakarta secara menyeluruh dan mendalam. Teori Pragmatik Terkait untuk tujuan-tujuan linguistik pragmatik adalah studi tentang makna dalam hubungannya dengan situasi-situasi ujar (speech situations) (Leech. dari hasil itu dapat dicari dan dianalisis penyebabnya untuk menentukan kekuatan dan kelemahan tari pasihan sebagai media.44 atau sebaliknya terjadi persamaan. objektif. 1993: 8). dan afektif. ia berusaha mengartikan isi wacana hanya . 1. Sebagaimana dikatakan Leech bahwa seorang yang menganalisis makna pragmatik dapat disamakan dengan seorang penerima. Keempat teori tersebut digunakan untuk menganalisis makna pragmatik genre tari pasihan gaya Surakarta secara komplementer.

(3) Tujuan sebuah tuturan. Tanpa konteks. Artinya penutur dalam menyampaikan maksudnya disiratkan pada tuturan atau maknanya di balik yang tersurat. sulit dipahami karena untuk mencermati maksud sebuah tuturan yang disampaikan penutur kepada mitra tutur sering mengalami kendala. Tidak langsung. penutur serta situasinya. Untuk itu perlu dicermati secara mendalam bentuk . Bentuk ungkapan dapat bersifat langsung dan tidak langsung. Terkait dengan situasi-situasi ujaran. Hambatan sering terjadi karena penutur di dalam mengungkapkan tuturannya menggunakan bahasa yang bersifat indirect. sehingga mudah dipahami mitra tutur. (2) Konteks sebuah tuturan. Sebagai mitra tutur berupaya untuk menafsirkan maksud penutur lewat teks yang digunakan dengan mengaitkan konteksnya.45 berdasarkan bukti kontekstual yang ada saja tanpa menjadi sasaran pesan si penutur (1993: 19). (4) Tuturan sebagai bentuk tindakan atau kegiatan: tindak ujar. bersifat langsung manakala maksud penutur tereksplesitkan dalam bentuk-bentuk tuturannya. (5) Tuturan sebagai produk tindak verbal. Ujaran-ujaran dalam kalimat dapat diungkapkan makna pragmatiknya secara jelas jika kita perhatikan konteks. Bahasa yang diungkapkan berupa ujaran atau tuturan baik yang bersifat lisan maupun tulis. ujaranujaran dalam bentuk kalimat atau tindak tutur tersebut hanya akan dipahami sebagai makna semantik yang lebih terfokus pada analisis linguistik formal. Dalam kehidupan sosial manusia berinteraksi menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi untuk maksud-maksud tertentu. Leech (1993: 19-21) mengemukakan aspek-aspek situasi ujar yang meliputi lima aspek situasi ujaran sebagai berikut: (1) Yang menyapa (penyapa) atau yang disapa (pesapa).

Adapun hakekat konteks lebih mereferensi dari pendapat: Yule (1998). Pendapat lain. Halliday dan Hasan (1976). Halliday dan Hasan (1976: 1-2). namun lebih mengarah pada berfungsinya suatu bahasa. Hoed (2003: 5-6). Hakekat teks dalam pembicaran ini mereferensi dari pendapat: Leech (1983). dan Cutting (2002). Teks Menurut Leech (1983: 100). Dalam analisis teks dan konteks ini. dan Hoed (2003: 5-6). Dengan demikian teks tidak tergantung pada ukuran panjang pendeknya. Sejalan dengan pendapat tersebut. kita dapat perikan liku-liku antarunit hingga komplementer antarfaktor. a. teks adalah potongan dari bahasa tulis maupun lisan yang maknanya dapat dirunut dari perspektif strukturnya ataupun fungsinya (Richards et al.46 bahasa sebagai teks dan bagaimana konteksnya sehingga dapat berfungsi untuk mengungkap makna pragmatik. Richards et al (1992). . a. teks adalah konstruksi dari hasil penggunaan sintaksis dan fonologi bahasa secara bermakna. bukan kata-kata ataupun kalimat lepas. bahwa teks merupakan sebuah unit semantik yang memiliki bentuk dan bermakna bukan sekadar unit gramatikal seperti klausa atau kalimat yang lepas. Cook (1989). yakni bahasa yang sedang melaksanakan tugas tertentu dalam konteks situasi. 1992: 378).1. Teks dan Konteks Pada dasarnya teks dan konteks sangat vital terkait dengan kompetensi komunikatif sehingga konsep teks dan konteks menjadi penting untuk dikaji dalam rangka memahami implikatur pragmatik. Secara lebih sederhana Cook menyatakan bahwa teks juga dapat berupa bagian-bagian dari bahasa yang dikaji secara formal (1989: 14).

dan 2.1. yang terkait dengan gejala budaya seperti film. 2006: 23-24). gerongan. kajian peneliti lebih terfokus pada: a) jenis-jenis tindak tutur yang digunakan. busana. dapat peneliti kemukakan bahwa teks genre tari pasihan meliputi: a. musik. Dapat ditarik simpulannya bahwa teks adalah sebuah unit bahasa verbal dan atau nonverbal yang bermakna. pola lantai. pertunjukan balet atau tari. polatan (ekspresi wajah). b) jenis-jenis vokabuler gerak. c) polatan. yaitu: 1. sindhenan. gerak tubuh (kinetic body moves). b) jenis tindak tutur yang dominan dan mengapa terjadi dominasi. peristiwa upacara ataupun pertunjukan sirkus. maka dalam bahasa verbal ini. kajian peneliti lebih terfokus pada gejala budaya. Dalam bahasa nonverbal ini. teks sebagai pesan verbal yang membatasi teks pada gejala kebahasaan (lihat disertasi Jumanto.47 mengatakan terdapat dua cara untuk pendekatan dasar pada sebuah teks. teks sebagai pesan budaya (nonverbal). dengan mengutip pendapat Noth (1990).2 Bahasa nonverbal berupa elemen-elemen tari yang terdiri dari: tema. yang berupa teks sastra tembang yang terdapat dalam cakepan (syair) pathetan. c) realisasi kesantunan antarperan a. dan iringan. mencakup: a) motif tema yang digunakan sebagai ancangan alur adegan.1. . rias. dan jineman.1 Bahasa verbal. Merujuk pada hakekat teks dari pendapat kelima pakar tersebut terkait dengan teks seni pertunjukan. Berdasarkan tujuan awal penelitian adalah kajian pragmatik.

g) jenis-jenis gendhing . Artinya bahwa para kaum strukturalis terfokus pada internal bahasa yang semata-mata berorientasi pada bentuk. lagu. didominasi oleh pandangan bahwa aspek form dalam suatu bahasa merupakan satu-satunya data yang paling feasible untuk dikaji. bukan statis. h) intonasi yang mencakup: irama. e) jenis warna dan bentuk busana yang dipakai. Menurut Yule (1998).2. konteks adalah sebuah konsep yang dinamis. yang seharusnya mengaitkan dengan konteks. tidak mempertimbangkan bahwa satuan– satuan itu sebenarnya hadir dalam konteks. Konteks dipahami sebagai lingkungan yang selalu berubah yang memungkinkan peserta tutur berinteraksi dan yang membantu mereka memahami . baik verbal dan nonverbal tersebut merupakan satu kesatuan yang membentuk menjadi sebuah bahasa genre tari pasihan yang tidak lepas dengan konteks.48 d) bentuk rias. Kedua bentuk bahasa. baik konteks yang bersifat lingual (cotext) maupun konteks yang bersifat ekstralingual yang berupa konteks fisik maupun konteks sosial. terutama terkait dengan masalah makna yang ditarik dari implikatur tindak tutur dalam sebuah percakapan. Konteks Munculnya konsep konteks dalam ranah linguistik merupakan konsep yang relatif baru sebagai pendobrak kemapanan aliran linguistik formal atau struktural. Selama bertahun-tahun kajian linguistik. dan tekanan. Akibatnya aliran struktural gagal menjelaskan berbagai masalah kebahasaan. a. f) jenis-jenis pola lantai ( floor design) .

a. Realisasi konteks dari teks tari pasihan dengan mengakses persepsi Cutting. peneliti dapat lebih memfokuskan kajiannya pada: a. yakni konteks verbal yang ada pada teks yang mengakibatkan adanya kohesi dan koherensi.2) Konteks pengetahuan latar yang dapat diperikan menjadi: . yaitu keadaan fisik yang muncul bersamaan dengan terjadinya suatu interaksi ketika percakapan berlangsung (at the moment of speaking).2.1) Keadaan fisik yang muncul bersamaan dengan terjadinya suatu interaksi ketika percakapan berlangsung dapat dirunut. Secara eksternal meliputi: lokasi pertunjukan dan kondisi lingkungan yang menjadi setting berlangsungnya pertunjukan. mendefinisikan konteks secara lebih operasional yakni dunia fisik dan sosial serta asumsi-asumsi pengetahuan yang sama-sama dimiliki oleh penutur dan mitra tutur. Selanjutnya secara rinci konteks dikategorikan menjadi: 1) konteks situasi. 3) konteks co-textual. pemilihan kata. secara internal mencakup: perubahan raut muka atau polatan. intonasi dan pemilihan gerak. Leech mengartikan konteks sebagai suatu pengetahuan latar belakang yang sama-sama dimiliki oleh penutur dan mitra tutur dan yang membantu mitra tutur dalam menafsirkan makna tuturan (1993: 20).49 ungkapan-ungkapan kebahasaan yang mereka gunakan dalam suatu proses komunikasi. Sejalan dengan pendapat tersebut. 2) konteks pengetahuan latar (background knowledge context) yang dirinci menjadi (a) pengetahuan umum budaya (cultural general knowledge) dan (b) pengetahuan interpersonal (interpersonal knowledge).2. Sedangkan Cutting (2002: 3-8).

Harmonisasi dan keseimbangan antara jagad gedhe sebagai manifestasi makrokosmos dan jagad cilik sebagai manifestasi mikrokosmos merupakan faktor penentu kehidupan yang harus terjaga keberlangsungannya.2. dan masa tua hingga kematian (Koentjaraningrat. mencakup: mentifact. salah satu masa yang penting adalah masa perkawinan atau masa nikah. . 1985: 89). norma-norma. Mentifact. peraturan dan sebagainya. Dalam keselarasan tersebut yang penting adalah apakah hubungan alamiah satu sama lainnya dimiliki oleh unsur-unsur yang terpisah. rupanya keselarasan alam semesta merupakan salah satu prinsip hidup. Keselarasan antara gaya hidup dan kenyataan fundamental yang dirumuskan simbol-simbol sakral bervariasi dari kebudayaan yang satu ke budaya yang lain (Geertz. masa puber. masa kanak-kanak. 1992: 54-55).50 a. sociofact. nilai-nilai. merupakan bagian budaya yang terkait dengan ide-ide. masa pascanikah. masa remaja. Pandangan bagi masyarakat yang berbudaya Jawa. gagasan. Stages along the life-cycle itu meliputi: masa kelahiran. Dari pernyataan tersebut. Mencermati dari sekian masa kehidupan. dan bagaimana masing-masing unsur itu harus dirangkai menjadi terpadu.2. masa hamil. mengalami pembagian adat-istiadat ke dalam tingkattingkat tertentu. sekaligus mencegah hal-hal yang sumbang maupun menimbulkan keganjilan. masa nikah atau masa perkawinan. dapat dirunut bagaimana keterkaitan perkawinan dengan kehadiran tari pasihan.1)Keterkaitannya dengan budaya. masa penyapihan. Realitas sepanjang hidup manusia di muka bumi. artifact.

a. Kehadiran tari duet pasihan pada upacara-upacara resepsi perkawinan sampai sekarang masih berlangsung. Terkait dengan kebutuhan analisis artifact. dari waktu ke waktu. tari pasihan akan dicermati secara total bentuk karya seninya dalam koridor seni pertunjukan. yaitu kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani. yang terjadi di sekitar kita. merupakan bagian budaya yang berupa seluruh total dari karya manusia berupa benda fisik dari aktivitas maupun perbuatan. Merujuk pada asumsi tersebut. rupanya terdapat kontribusi yang cukup signifikan. Beragam aktivitas manusia yang saling berinteraksi satu dengan lainnya.2.51 Artifact. Seperti kehadiran tari pasihan pada upacaraupacara ritual perkawinan budaya Jawa. akan dirunut tentang: hasil penghayatan yang melibatkan seniman dan penghayat terhadap karya . Sociofact. peneliti akan mengkaji fungsi tari pasihan pada upacara perkawinan dalam kehidupan sosial masyarakat pendukungnya. merupakan bagian budaya yang terkait dengan suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam social system. Rupanya terdapat keterkaitan yang cukup erat antara seni pertunjukan khususnya tari duet pasihan dengan kebutuhan sosial. Pada prinsipnya semua hasil karya manusia ditujukan untuk mencukupi semua kebutuhan hidupnya yang terdiri dari dua komponen pokok.2. Sebagai rangkaian aktivitas manusia dalam suatu masyarakat. satu diantaranya adalah jenis genre tari pasihan. selalu menurut pola yang telah disepakati yang didasarkan pada adat tata kelakuan. Beragam hasil karya seni yang diciptakan manusia.2) Keterkaitannya dengan pengetahuan interpersonal. sistem sosial itu bersifat konkret. Salah satu jenis karya manusia yang berperan dalam pembangunan rohani adalah karya seni.

pada kajian berikut. Adapun cakupan kohesi terfokus pada: keterkaitan antarunit. Partisipan komunikasi sangat berkepentingan untuk memenuhi dan mematuhi prinsip kerjasama (Cooperative Principle) yang terbagi empat maksim yaitu: (1) maksim kuantitas.52 tari pasihan. 1996: 68). b. mencakup kohesi dan koherensi secara menyeluruh dalam tari pasihan.3) konteks co-textual. . antarkomponen. (2) maksim kualitas. masing-masing komponen. Cakupan koherensi terfokus pada: isi atau kandungan makna pada masing-masing unit. akan dikupas secara tuntas dan mendalam dengan teori-teori yang peneliti gunakan sebagai ancangan analisis. Setiap peserta pertuturan sama-sama menyadari bahwa ada prinsip-prinsip yang mengatur tindakannya. dan (4) maksim cara (Grice dalam Leech. terdapat persamaan atau perbedaan yang masing-masing akan dicari argumentasinya. a. dan antarbagian baik yang terdapat pada teks satra tembang maupun pada elemen-elemen tari pasihan. Sebagai arahan untuk memahami proses dan bentuk aktualisasi mengenai aplikasi analisis pemerian teks beserta konteks tari pasihan dalam ritual perkawinan budaya Jawa. antarkomponen. Hasil penilaian atau hasil hayatan dari peserta tutur (seniman dan penghayat).2. Prinsip Kerja Sama (PKS) Pada dasarnya orang dalam berkomunikasi itu hendaknya saling bekerjasama antara penutur dengan mitra tutur agar komunikasi dapat berjalan secara efektif dan efisien. Dari penghayatan muncul sebuah penilaian. penggunaan bahasanya. dan antarbagian tari pasihan. dan implikatur dari komplementer antarunit. (3) maksim hubungan. dan interpretasi-interpretasinya terhadap tindakan dan ucapan lawan tutur (Wijana. masingmasing bagian.

(4) maksim kerendahan hati (modesty maxim). Perlu disadari bahwa sebagai anggota masyarakat bahasa penutur tidak hanya terikat pada hal-hal yang bersifat tekstual. (2) maksim kedermawanan (generosity maxim). adalah aturan pertuturan yang meminimalkan kerugian orang lain dan memaksimalkan keuntungan bagi orang lain. adalah aturan pertuturan yang memaksimalkan . dalam arti tidak hanya bagaimana membuat tuturan yang mudah dipahami oleh mitra tutur. dan teratur secara gramatikal. jelas. adalah aturan pertuturan yang meminimalkan ketidakhormatan terhadap orang lain dan memaksimalkan pujian kepada orang lain. tetapi penutur juga terikat pada aspek-aspek yang bersifat interpersonal. informasi benar tidak keliru berdasarkan suatu realitas yang sebenarnya. dan informasi disampaikan dengan cara yang mudah. dan menjaga kesopanan. Merujuk pada empat maksim dari prinsip kerjasama itu bila dapat dipenuhi dari masing-masing peserta tutur maka akan terjadi komunikasi yang efektif dan efisien. Leech berpendapat bahwa selain keempat maksim dalam prinsip kerjasama juga masih diperlukan prinsip kesantunan yang terjabar menjadi enam maksim. adalah aturan pertuturan yang meminimalkan keuntungan bagi diri sendiri dan memaksimalkan kerugian bagi diri sendiri. menghargai. yaitu: (1) maksim kearifan (tact maxim). Terbentuknya komunikasi yang wajar tersebut karena penutur dalam memberikan informasi secukupnya tidak kurang dan tidak lebih sesuai yang diperlukan. Prinsip kerjasama rupanya tidak cukup karena dalam kehidupan dibutuhkan saling menghormati. informasi usahakan relevan dengan pokok pembicaraan. Dengan demikian penutur harus membuat dan memperlakukan mitra tutur lebih santun dalam mengungkapkan tuturannya. ringkas. (3) maksim pujian (approbation maxim).53 1993: 11).

lebih sering maksim-maksim dalam prinsip kerja sama itu dilanggar daripada dipatuhi. dan (2) fungsi afektif yang bertujuan untuk menjaga dan memelihara hubungan sosial (Holmes dalam Asim Gunarwan. karena dapat diasumsikan bahwa apa yang . hubungan sosialnya tetap terjaga tanpa merasa terkendalai oleh faktor bahasa dan nonbahasa. Dalam hal ini penutur berupaya memasukkan maksudnya secara implisit pada ujaran yang diungkapkan. Namun. adalah aturan pertuturan yang memaksimalkan kesepakatan terhadap orang lain. Hal ini didasarkan pada fungsi bahasa yang mencakup: (1) fungsi referensial atau informatif yang tujuannya untuk menyampaikan informasi (pesan).54 ketidakhormatan terhadap diri sendiri dan meminimalkan rasa hormat terhadap diri sendiri. Namun perlu disadari semua implikatur itu bersifat probabilistis. penutur merasa lebih santun. 1993 : 206-207). nyaman. ternyata prinsip kerja sama itu sering tidak dipatuhi orang. Tidak dipatuhi karena salah satu sebabnya adalah bahwa komunikasi itu tidak selalu berupa penyampaian pesan atau informasi belaka. 2006: 2). (5) maksim kesepakatan (agreement maxim). aman. kalau kita perhatikan praktik penggunaan bahasa di dalam komunikasi sehari-hari. Hal itu menunjukan bahwa dalam pertuturan. adalah aturan pertuturan yang meminimalkan rasa anti pati terhadap orang lain dan memaksimalkan rasa simpati terhadap orang lain (Leech. diharapkan tidak mengancam muka. Penutur sering menyampaikan pesan tidak secara bald on record tetapi lebih banyak menyukai dengan cara off record. Tampaklah bahwa ketidakpatuhan para partisipan dalam komunikasi karena pada dasarnya bahwa berkomunikasi itu lebih dipicu oleh motif-motif tertentu dari penutur. (6) maksim simpati (sympathy maxim). Paling tidak.

sesuai dengan maksud percakapan. Dapat diinferensikan bahwa memahami maksud penutur. tidak cukup mengetahui eksplikatur ujaran. Untuk dapat menentukan makna yang sebenarnya atau menyimpulkan interpretasi yang paling mungkin. Dalam hal ini tanda bahasa merupakan lambang yang memiliki daya sinyal untuk mengarahkan pendengar sebagai penanggap. kita harus mengetahui sikap penutur. tetapi kita juga harus mengetahui sikap penutur yang melatarbelakangi eksplikatur ujaran tersebut (Asim Gunarwan. apelatif. untuk mengetahui dan memahami makna ujarannya. Hal ini kemudian dikembangkan oleh para peneliti lain. Untuk menarik makna sesuai dengan maksud penutur tidak cukup hanya dengan mengasumsikan makna proposisi ujaran. bahasa dapat difungsikan menjadi tiga.55 dimaksud oleh penutur lewat tuturannya tidak pernah dapat kita ketahui dengan pasti. 2006: 9). gejala (symptom). Karena pragmatik merupakan kajian tentang maksud penutur. Menurut Karl Buhler (1918). c. dan representatif. Tindak Tutur Fungsi bahasa dalam kehidupan manusia sebagai makhluk sosial rupanya tidak dapat disangkal lagi. Berdasarkan teori tanda bahasa di dalam model Organon Buhler. Peranan ujaran atau tindak tutur sangat penting dalam rangka menyampaikan maksud penutur. Relevansi teori Buhler dengan liku-liku pragmatik dijelaskan oleh Renkema (1993). yaitu: ekspresif. betapapun eksplisitnya proposisi. . dan juga Sinyal (signal). Bahasa sebagai fakta sosial telah diungkap pertama kali oleh Ferdinand de Saussure (1916). tanda bahasa merupakan lambang (symbol). dipilih bentuk-bentuk ungkapan yang memiliki makna paling relevan dari semua siratan yang secara potensial dapat timbul.

dari hasil penelitian terhadap masyarakat primitif di Papua Melanesia. santun. Terkait dengan fungsi bahasa. 2006: 36). Komunikasi fatis merupakan strategi masyarakat modern maupun masyarakat primitif dalam rangka menjaga interaksi sosial terpelihara dengan baik. ramah. Karl Buhler (1918). Dari pernyataan tersebut jelas bahwa bahasa difungsikan sebagai tujuan sosial untuk menjaga hubungan ikatan antarpersonal bagi yang terlibat dalam sebuah pertuturan. Malinowski mengungkapkan sebuah konsep Phatic Communion: ‘A type of speech in which ties of union are created by a mere exchange of words’ (lihat Jumanto. Perkembangan selanjutnya Malinowski (1923: 310). Sebaliknya jika yang terjadi pemahaman receiver atas objek referensi sender berbeda bahkan berlainan sama sekali.56 bahwa ujaran yang disampaikan oleh sender dapat diterima dan dipahami pada tingkat yang sama atau berbeda oleh receiver artinya gejala tidak selalu sama dengan sinyal. maka akan terjadi masalah pragmatik. artinya bahwa komunikasi efektif dan berhasil. Sekarang tampak bahwa tokoh – tokoh seperti: Ferdinand de Saussure (1916). Apabila objek acuan sender sebagai message dapat diterima dan dipahami pada tingkat yang sama atau tepat oleh receiver. Mereka dengan sadar mengembangkan teori fungsi bahasa secara berkelanjutan. merupakan pakar linguistik yang telah mendeskripsikan fungsi bahasa berdasarkan realitas kehidupan bahasa dalam masyarakat. Malinowski (1923). Teori fungsi bahasa dari ketiga pakar tersebut merupakan langkah awal berkembangnya fungsi bahasa yang mendorong lahirnya teori pragmatik oleh . dan harmonis. menyatakan bahwa ujaran hanya akan dapat dipahami jika ditafsirkan dalam konteks situasi.

57 Austin (1956) yang kemudian dijabarkan dan dimanifestasikan dalam konsep-konsep tindak tutur Searle (1969) berikutnya. Contohnya: “ Peneliti mohon maaf atas keterlambatan peneliti. Tindak Tutur menurut Austin (1956) Teori tindak tutur pertama kali diungkapkan oleh Austin (1956). Yule. seseorang dapat melakukan sesuatu selain mengatakan sesuatu. Searle dalam bukunya “Speech Acts: An Essay in The Philosophy of Language” (1969:23-24) mengemukakan bahwa secara pragmatik setidak-tidaknya ada tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan oleh seorang penutur. “ Sebaiknya anda tidak merokok. Wijana. . 2006: 83-84). Speech act menurut Austin di dalam mengutarakan tuturan. tanamannya layu. Menurut Searle bahwa pada setiap komunikasi linguistik terdapat tindak tutur. seorang ahli filsafat senior dari Inggris. yakni tindak lokusi (locutionary act). 1996: 17-19. Jenis-jenis Tindak Tutur d. kita dapat mengkajinya dengan sebuah teori tindak tutur yang diperikan menjadi beberapa jenis tindak tutur. Terkait dengan liku-liku Speech act. d.” Contoh ujaran atau kalimat tersebut dipergunakan untuk melakukan tindakan yaitu tindakan meminta maaf.” Ujaran atau tindak tutur tersebut dipergunakan untuk melakukan tindakan yaitu menyuruh untuk menyirami. yang kemudian dikembangkan dan dipopulerkan secara universal oleh muridnya yang bernama Searle (1969). 1993:316. tindak ilokusi (illocutionary act). Cutting.1. “ Wah. dan tindak perlokusi (perlocutionary act) (lihat Leech. 2002: 16.” Tuturan tersebut dimaksudkan untuk melakukan tindakan yakni melarang atau menyuruh untuk tidak menghisap rokok.

Untuk itu diperlukan seperangkat pengetahuan tentang berbagai jenis tindak tutur. 1996: 18). Tindak Ilokusi (illocutionary act). akan tetapi banyak juga bahkan dapat peneliti katakan cukup dominan maksud penutur yang diimplisitkan pada realitas kehidupan. Tindak tutur ini sering disebut sebagai The Act of Saying Something. Kalimat atau tuturan dalam hal ini dipandang sebagai satu kesatuan yang terdiri dari minimal dua unsur. Tindak lokusi adalah tindak tutur untuk menyatakan sesuatu. tanpa tendensi atau maksudmaksud tertentu di balik kalimat atau ujaran. Tindak Lokusi (locutionary act). untuk mencermati dan memahami maksud penutur dengan seluruh aspek yang melatarbelakangi (konteks). Hal ini terkait dengan pemahaman bahwa pragmatik adalah cabang linguistik yang mengkaji maksud penutur (the speakers meaning) yang terdapat di balik tuturannya. yakni subjek atau topik dan predikat atau commet (lihat Nababan. b. tetapi lebih menurut apa adanya. a. Adapun ketiga jenis tindak tutur itu. lebih lanjut dijelaskan sebagai berikut. Wijana. 1987: 4.58 Ketiga teori tindak tutur. dan perlocutionary act atau perlocutionary effect merupakan teori yang akan peneliti gunakan sebagai ancangan untuk mengkaji implikatur. illocutionary act atau illocutionary force. . sehingga kita sering mengalami kesulitan untuk memahami maksud tuturan atau implikaturnya. Maksud tuturan tidak selamanya dinyatakan secara eksplisit. Bila diamati secara seksama tindak lokusi itu adalah konsep yang berkaitan dengan proposisi kalimat. Tuturan yang diutarakan oleh penuturnya lebih bersifat menginformasikan sesuatu. yaitu locutionary act.

Tindak perlokusi adalah tindak tutur yang pengutaraannya dimaksudkan untuk mempengaruhi lawan tuturnya. Tindak ilokusi disebut sebagai The Act of Doing Something. Tindak perlokusi disebut sebagai The Act of Affecting Someone. Dapat ditegaskan bahwa setiap tuturan dari seorang penutur memungkinkan sekali mengandung salah satu dari ketiga: lokusi. tindak ilokusi mendasari tindak perlokusi. Dalam tindak lokusi bentuk-bentuk kebahasaan sebagai alat untuk mengungkapkan informasi secara eksplisit. Simbol itu dapat ditangkap sebagai sesuatu isyarat maksud tertentu jika wawasan budaya. Efek yang timbul ini bisa sengaja maupun tidak sengaja. kebiasaan antara pendengar dan pembicara sama. Tidak semata-mata tindak perlokusi hanya ditarik dari makna ujaran. karena harus melibatkan konteks tuturannya. Dalam tindak ilokusi dan perlokusi bentuk-bentuk kebahasaan sebagai simbol untuk mengungkapkan maksud yang sebenarnya. Tindak ilokusi sangat dominan kita jumpai dalam komunikasi sehari-hari. c. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa satu tuturan mengandung dua atau ketiga-tiganya sekaligus. Sebuah tuturan yang diutarakan seseorang seringkali mempunyai daya pengaruh (perlocutionary effect) atau efek bagi yang mendengarnya. Selanjutnya tindak perlokusi sebagai final maksud suatu ujaran di dalam komunikasi bahasa. Tindak Perlokusi (perlocutionary act). tindak ini merupakan bagian sentral untuk memahami tindak tutur. ilokusi atau perlokusi. Kunci utama yang perlu diperhatikan .59 Tindak ilokusi adalah tindak tutur yang berfungsi untuk mengatakan atau menginformasikan sesuatu dan dipergunakan untuk melakukan sesuatu. Berdasarkan uraian-uraian di atas menunjukkan bahwa tindak lokusi mendasari tindak ilokusi.

Direktif. untuk mencari implikatur atau makna di balik ujaran yang tersirat bukan sekadar makna yang tersurat dalam ujaran dimaksud. misalnya: meminta maaf.3. menyatakan. dan melaporkan. mengundang. ekspresif. mengkritik.60 bahwa dalam analisis pragmatik adalah mencermati ilokusi-ilokusi yang terdapat pada tindak tutur dari penutur yang hendak dikomunikasikan pada mitra tutur. Dari masing-masing tindak tutur mempunyai fungsi komunikatif. 2002: 16-17). melarang.2. d. direktif.2. memuji. memohon. misalnya: menyuruh. d. 1996: 164-165. misalnya: menggambarkan. . mengeluh. ialah bentuk tindak tutur yang dimaksudkan oleh penuturnya untuk mempengaruhi mitra tutur agar melakukan tindakan sesuai dengan maksud penutur. yakni: asertif. Tindak Tutur menurut Searle (1979) Sehubungan dengan pengertian tindak tutur atau tindak ujar. mengusulkan. ialah bentuk tindak tutur yang berfungsi untuk menyatakan atau mengungkapkan sikap psikologis penutur dalam menanggapi suatu keadaan. mengucapkan selamat. Asertif ialah bentuk tindak tutur yang mengikat penuturnya kepada kebenaran atas hal yang dikatakannya. meramalkan. memesan. menyesal. Tidaklah dipungkiri bahwa dalam kajian tindak tutur ilokusi tidak lepas dari tindak tutur lokusi dan tindak tutur perlokusi. d. yaitu: d.2. Cutting. mendesak.2. dan menantang. menyarankan.2. dan mengeluh. dan deklarasi (lihat Leech. menuntut. Ekspresif. membuat hipotesa. membual. penyesalan. komisif. Searle (1979) mengklasifikasikan tindak tutur ilokusi menjadi lima jenis tuturan.1. mengucapkan terima kasih.

Tindak tutur ekspresif merupakan cerminan dari pernyataanpernyataan psikologis dan dapat berupa pernyataan kegembiraan. mengundurkan diri. melarang.4. untuk menyatakan atau mengemukakan deklarasi secara tepat. d. mengucilkan. secara garis besar fungsi tindak tutur diklasifikasi menjadi lima jenis. dan menjatuhkan hukuman. d.3. misalnya: berjanji. kebencian.3.5. ialah bentuk tindak tutur yang mengikat penuturnya melaksanakan segala hal yang disebutkan dalam ujarannya. ialah tindak tutur yang dilakukan si penutur dengan maksud untuk menciptakan hal (status. tawaran. kesulitan. memecat. dalam konteks khusus.2.61 d. Pernyataan tersebut berdasarkan pada fakta. simpulan. keadaan dan sebagainya) yang baru. d.3. yaitu: d. Komisif. menekankan. mengancam. membatalkan.4. d. misalnya: meyakinkan. Bentuk tindak tutur direktif digunakan .3. penegasan. Deklaratif. Tindak Tutur menurut Yule (1996) Menurut Yule (1996). bersumpah. memberikan maaf.3.2. Ekspresif ialah jenis tindak tutur yang menyatakan sesuatu yang dirasakan oleh penutur. mengangkat. membaptis. mengizinkan. memberi nama. Representatif ialah jenis tindak tutur yang menyatakan apa yang diyakini penutur. kesenangan. Deklaratif ialah jenis tindak tutur yang mengubah dunia melalui tuturan. dan pendeskripsian.1. berkaul dan sukarela. Dalam hal ini penutur harus mempunyai peran institusional khusus.2. d. Direktif ialah jenis tindak tutur yang dipakai oleh penutur untuk menyuruh orang lain melakukan sesuatu.3. memutuskan. mendeklarasikan. dan bisa kesengsaraan atau kesedian. kesukaan. menolak.

pemecatan kerja. ancaman. d. apa yang ada atau yang telah ada. Tindak Tutur menurut Kreidler (1998) Dalam perkembangan selanjutnya. ikrar.3. tindak tutur asertif selalu berkaitan dengan fakta. Tindak tutur komisif dapat berupa: janji.2. apa yang sedang terjadi atau yang telah terjadi. d. Tindak tutur ini meliputi: perintah.4. penjatuhan hukuman .5. dan meresmikan. Kreidler mengkategorisasikan tindak tutur menjadi tujuh jenis bentuk tindak tutur. namun secara lebih umum mereka adalah subjek bagi penyelidikan empiris. berjanji.62 untuk menyatakan apa yang menjadi keinginan penutur. Tindak tutur Performatif Tindak tutur performatif adalah tuturan yang pengutaraannya difungsikan atau digunakan untuk melakukan suatu tindakan. pemesanan. dan secara umum mereka dapat dibenarkan atau disalahkan bukan hanya pada waktu tindak tutur tersebut keluar atau oleh mereka yang mendengarnya. permohonan. benar atau salah.4. dan penolakan. d. Tindak tutur asertif bersifat menginformasikan. bertaruh. Tindak tutur Asertif Di sini penutur menggunakan bahasa untuk menyampaikan apa yang mereka percayai dan apa yang mereka ketahui.4. Tindak-tutur performatif ditemukan pada ucapan-ucapan pernikahan.1. Komisif ialah jenis tindak tutur yang dipahami oleh penutur untuk mengikatkan dirinya terhadap tindakan-tindakan di masa yang akan datang. dan pemberian saran. yaitu: d. data. yang bentuknya dapat berupa kalimat positif dan negatif. pengetahuan. misalnya tindakan mohon maaf. mengumumkan. seperti yang dikemukakan dalam bukunya “Introducing English Semantics” (1998:183-194).

63 dan lain-lain di mana hanya orang-orang tertentu dan pada lingkungan yang sesuai yang diterima oleh mitra tutur. . Tindak tutur Ekspresif Tindak tutur ekspresif menilai atau mengevaluasi tindakan sebelumnya atau kegagalan dalam tindakan tersebut dari penutur. d. mengucapkan terima kasih. Tindak tutur ekspresif adalah jenis tindak tutur yang menyatakan sesuatu yang dirasakan oleh penutur. Tindak tutur performatif bukanlah masalah benar atau salah tetapi tujuannya adalah untuk membuat bagian dari dunia ini sepaham dengan apa yang ia katakan.4. mengucapkan selamat.4. mengkritik. tindak tutur verdiktif dapat berupa tuturan yang bersifat menuduh.4. atau mungkin hasil bertindak atau kegagalan sekarang. mendakwa. 30). 1999. Tindak tutur restrospeksi adalah jika penutur menilai sikap yang telah dilakukan mitra tutur di masa lalu. menyalahkan atau tanggapan yang mengarah pada penilaian yang negatif. menyalahkan. Kebanyakan tindak tutur performatif diungkapkan pada setting formal dan berkaitan dengan kepegawaian.Tindak tutur Verdiktif Tindak tutur verdiktif adalah tindak tutur yang berorientasi pada perbuatan yang sudah terjadi atau bersifat retrospektif. dan menyanjung. Sikap itu bisa ditanggapi secara positif dengan mengucapkan “selamat… untuk”. “bangga… untuk”. d. Tuturan-tuturan ekspresif itu mencerminkan pernyataan-pernyataan psikologis yang dapat berupa: memuji. mengeluh. dan berbelasungkawa. “terima kasih… untuk”. Menurut Fraser tindak tutur ekspresif disebut pula tindak tutur evaluatif (dalam Rustono. Di samping dalam bentuk tuturan di atas. bentuk menghargai.3.

pengandaian. menyarankan. Tindak tutur komisif merupakan bentuk tindak tutur yang berfungsi untuk menyatakan janji-janji. memerintah. tidak kalah arti pentingnya dalam realitas kehidupan sehari-hari.4. bukan seperti makna yang tersurat dan tersirat dalam tindak tutur verdiktif atau ekspresif. Tindak tutur Patik. memberikan aba-aba. Tujuannya adalah untuk membangun solidaritas antar anggota-anggota dari lingkungannya. Tindak tutur Direktif Tindak tutur direktif kadang-kadang disebut juga tindak tutur impositif adalah tindak tutur di mana penutur menginginkan mitra tutur melakukan suatu tindakan atau mengulangi tindakan. Tindak tutur fatik merupakan bentuk tindak tutur keseharian yang sangat umum yang mungkin tidak kita pelajari . dan menantang. Tindak tutur komisif bersifat prospektif dan berkaitan dengan komitmen penutur pada perbuatan atau tindakan yang harus dilakukan untuk waktu yang akan datang. dapat berbentuk: (1) kalimat perintah (imperatif). (2) kalimat berita (deklaratif). ancaman dan sumpah.64 d. Bahasa patik tidak begitu berfungsi dengan jelas jika dibandingkan dengan enam tipe lainnya tetapi. menagih. d. dan (3) kalimat tanya (interogatif). ucapan-ucapan kesantunan seperti “terima kasih kembali”. Tindak tutur fatik merupakan bentuk tindak tutur yang berfungsi untuk menjalin hubungan sosial. Tindak tutur direktif ini tuturan-tuturannya mempunyai maksud untuk memaksa.7. yang mempunyai tujuan tertentu. mengajak. memohon. mendesak. “maaf peneliti”. ikrar. meminta. Tindak tutur Komisif. Tindak tutur patik termasuk salam.4. menyuruh.4. Pada aplikasinya tindak tutur direktif.5.6. d. ucapan perpisahan.

sedangkan menurut Searle dan Yule. Konsep tindak tutur Austin merupakan dasar utama yang melandasi fungsi tindak tutur yang muncul di kemudian. Di samping itu menurut Searle dan Yule.65 tapi sudah melekat dan menjadi kebiasaan sehari-hari yang bernilai baik dan beretika. ekspresif. Perbedaan istilah tetapi pengertiannya sama. dan komisif. Kreidler. dan perlokusi. ilokusi. Sedangkan bentuk atau ragamnya tindak tutur fatik sudah terpola. . Selain itu menurut Searle dan Kreidler juga terdapat persamaan pada tindak tutur asertif. 2. karena Austin merupakan orang pertama kali yang mengemukakan teori tindak tutur yang membaginya menjadi tiga bentuk yaitu: lokusi. Menurut Searle dan Kreidler tentang fungsi tindak tutur asertif mempunyai persamaan pengertian dengan fungsi tindak tutur representatif menurut Yule. persamaan juga terletak pada tindak tutur deklaratif. dan Yule. fungsi tindak tutur deklaratif mempunyai persamaan pengertian dengan fungsi tindak tutur performatif menurut Kreidler. meliputi tindak tutur: direktif. Dari hasil pengklasifikasian tersebut terdapat beberapa persamaan dan perbedaan: 1. dan Yule tentang fungsi tindak tutur tersebut dapat peneliti verifikasi sebagai berikut. Dalam perkembangannya teori tindak tutur di tangan para pakar diklasifikasikan menurut fungsinya yang secara garis besar memiliki kesamaan. Searle. bentuk fungsi tindak tutur menurut Searle. Persamaan istilah dan sekaligus persamaan pengertian. Kreidler. Dari keempat pakar yaitu: Austin.

Selain itu dari penjabarannya fungsi tindak tutur yang . Peserta pertuturan sering menggunakan bahasa fatik untuk sekedar memulai pembicaraan atau sekadar basa-basi mungkin juga untuk memecahkan kesenyapan yang kesemunya itu berlangsung dalam pertuturan seharihari. Perbedaan jumlah fungsi tindak tutur. Selain itu terkait juga dengan fungsi tindak tutur verdiktif dan tindak tutur fatik yang tidak dimiliki dalam fungsi tindak tuturnya Searle dan Yule. kedua fungsi tindak tutur tersebut sangat bermanfaat untuk menganalisis tindak tutur teks satra tembang dan bahasa nonverbal yang terdapat pada genre tari pasihan. dan berkualitas. Begitu pula ketika seseorang mencintai orang lain. rasional. optimal. Terkait dengan kelebihan yang dimiliki tersebut gagasan utama pemilihan dimaksud adalah dalam rangka mencari dan menentukan implikatur yang valid sehingga pragmatik genre pasihan dapat diungkapkan secara menyeluruh. Hal ini ditunjukan oleh Kreidler yang membagi fungsi tindak tutur menjadi tujuh bentuk. Yule. Prediksi peneliti. dan Kreidler. sedangkan Searle dan Yule masing-masing mengklasifikasikan menjadi lima bentuk tindak tutur. Pada dasarnya penutur dalam mengungkapkan maksudnya terhadap mitra tutur tidak selalu langsung pokok pembicaraan. peneliti akan menggunakan fungsi tindak tutur menurut Kreidler karena tampak dari jumlah pengklasifikasian Kreidler lebih banyak yang masing-masing tindak tutur memiliki karakter yang spesifik sehingga dapat lebih mengakomodasi kebutuhan analisis bahasa verbal dan nonverbal yang terdapat dalam genre tari pasihan.66 3. Dari ketiga fungsi tindak tutur yang dikemukakan oleh Searle. ungkapan memuji merupakan pernyataan yang cukup dominan dalam sebuah pertuturan.

dan rinci dalam rangka menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pada rumusan masalah. dan . ekspresif. sindhenan. dan penari. Prinsip Kesantunan (PS) e. polatan (ekspresi wajah).67 dilakukan Kreidler tampak lebih transparan. dan jineman. Adapun unsur-unsurnya dapat diurai sebagai berikut. dan iringan. Penutur meliputi: seniman penyusun (pengkarya). pola lantai. e. 3. Terutama terkait dengan latar belakang konsepsi penciptaan bahasa verbal dan nonverbal serta ciri karakteristik genre tari pasihan gaya Surakarta. gerak tubuh (kinetic body moves). tindak tutur bahasa verbal yang berupa teks sastra tembang terdiri dari. 2. tindak tutur bahasa nonverbal yang meliputi: tema. yang dipaparkan dengan menggunakan bagan antara lain tindak tutur: komisif . rias. bahwa setiap maksim interpersonal itu dapat dimanfaatkan untuk menentukan peringkat kesantunan sebuah tuturan. Skala Kesantunan Leech (1983) Teori kesantunan Leech (1983). hal ini dapat dicermati dalam bukunya yang berjudul “Introducing English Semantics”. penonton umum. menyeluruh. Tindak tutur tersebut akan peneliti gunakan untuk mengkaji komponenkomponen yang terdapat pada genre tari pasihan gaya Surakarta baik yang terdapat pada bahasa verbal dan nonverbal secara tajam. dan penanggap sebagai masyarakat pendukung budayanya. gerongan. Berikut kesantunan menurut Leech selengkapnya: verdiktif. cakepan (syair) pathetan.1. Mitra tutur meliputi: pakar. Tuturan (karya seni) meliputi: a. direktif. 1. b. busana.

3. akan semakin santun tindak tuturnya. dan jika banyak menguntungkan penutur akan dianggap tindak tuturnya semakin tidak santun. Sebaliknya. Akan tetapi jika jarak status sosial semakin dekat antara penutur dengan mitra tutur. apabila pertuturan itu membatasi peserta tutur untuk memilih tuturan maka tindak tutur semakin tidak santun. Sedangkan semakin dekat hubungan sosial antara penutur dengan mitra tutur. akan semakin santun tindak tuturnya.4. Indirectness scale adalah skala yang menunjuk pada langsung dan tidak langsungnya maksud tindak tutur dalam pertuturan.. Authority scale adalah skala yang menunjuk pada hubungan status sosial antara penutur dengan mitra tutur.2.68 e.1. Tindak tutur yang banyak merugikan penutur akan dianggap semakin santun. akan semakin tidak santun tindak tuturnya. e. Optionality scale adalah skala yang menunjuk pada sedikit-banyaknya pilihan tindak tutur yang digunakan peserta tutur dalam pertuturan.1.5. Social distance scale adalah skala yang menunjuk pada peringkat hubungan sosial antara penutur dan mitra tutur. Tindak tutur yang bersifat langsung semakin tidak santun.1. akan semakin tidak santun tindak tuturnya. Jarak hubungan sosial semakin jauh antara penutur dengan mitra tutur.1. Cost-benefit scale adalah skala yang menunjuk pada untung ruginya peserta tutur dalam pertuturan. e.1. e. Jika pertuturan itu banyak memberikan kesempatan peserta tutur untuk memilih tuturan maka tindak tutur akan semakin santun. sedangkan tindak tutur yang bersifat tidak langsung akan semakin santun.1. . e. Jarak status sosial (rank rating) semakin jauh antara penutur dengan mitra tutur.

Menurut Goffman (1959. memelihara. 1967).69 e. Muka positif dimaksudkan bahwa keinginan setiap orang supaya segala tindakannya dihargai oleh orang lain. . yakni muka positif (positive face) dan muka negatif (negative face). Kajian kesantunan Brown dan Levinson mencakup: a) cara mengungkapkan jarak sosial (social distance) dan hubungan peran yang berbeda dalam komunikasi. Skala Kesantunan Brown dan Levinson (1987) Teori kesantunan Brown dan Levinson (1987) seperti dikutip Jumanto dalam disertasinya (2006: 47-53). Strategi kesantunan positif (positive politeness strategies) yang digunakan untuk menunjukkan kedekatan.2. yang keduanya dimaksudkan untuk menunjukkan. 1987: 62). sedangkan strategi kesantunan negatif (negative politeness strategies) yang digunakan untuk menunjukkan adanya jarak sosial antara penutur dengan mitra tutur. bahwa dalam sebuah pertuturan terkait dengan pengaturan muka terbagi menjadi dua yaitu tindak tutur yang berpotensi mengancam muka (face-threatening acts/FTA) dan tindak tutur yang berpotensi menyelematkan muka (face-saving acts/FSA). b) penggunaan muka dalam komunikasi. Dalam percakapan untuk mengungkapkan kesantunan. pada dasarnya setiap orang dianggap memiliki dua muka. dan menyelamatkan muka dalam percakapan. sedangkan muka negatif dimaksudkan bahwa keinginan setiap orang supaya segala tindakannya tidak dihalangi orang lain ( Brown dan Levinson. keintiman. dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur. Brown dan Levinson menggunakan dua cara yaitu strategi kesantunan positif yang mengacu pada muka positif dan strategi kesantunan negatif yang mengacu pada muka negatif.

1. yaitu: maksim kuantitas. yaitu: 1) melakukan tindak tutur secara apa adanya.” Derivasinya dalam bahasa Inggris adalah kata kerja “to imply“ yang aslinya bermakna “to fold something into something else“ (melipat sesuatu ke dalam sesuatu yang lainnya). setidaknya dapat meminimalisasi . kita harus menghubung-hubungkan tindak ujar yang disampaikan penutur terhadap mitra tutur dengan konteks. Implikatur dan Daya Pragmatik f. f.70 Teori kesantunan Brown dan Levinson dapat diringkas menjadi lima strategi. Prinsip kerja sama Grice (1975) seperti dikutip Leech (1993: 11). Hal ini dilakukan untuk menghindari kesalahpahaman. 3) melakukan tindak tutur dengan menggunakan kesantunan negatif mengacu muka negatif (negative politiness). 5) tidak melakukan tindak tutur atau diam (don’t do the FTA). untuk menunjukkan kedekatan. Implikatur Istilah implikatur berasal dari bahasa Latin plicare yang berarti “melipat. dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur. tanpa basa basi (bald on record) dengan mematuhi prinsip kerja sama Grice. keintiman. Cara yang ditempuh untuk memahami implikatur dalam komunikasi sehari-hari. maksim hubungan atau relevansi. 4) melakukan tindak tutur secara tidak langsung (off record). Dari sini kemudian asal makna kata implikatur. terdiri dari empat maksim yang digunakan dalam percakapan. yang diasalkan dari kata “implied” yang berarti “folded in“ (terlipat) dan harus dibuka lipatan tersebut (unfolded) jika kita ingin mengetahui artinya. 2) melakukan tindak tutur dengan menggunakan kesantunan positif mengacu muka positif (positive politiness). maksim kualitas. dan maksim cara. untuk menunjukkan adanya jarak sosial antara penutur dengan mitra tutur.

komunikasi itu akan berjalan dengan efisien dan efektif jika para peserta tutur bekerjasama satu sama lain. Implikatur – implikatur yang disiratkan dalam ujaran merupakan sumber utama dari pragmatik yang difungsikan sebagai nilai komunikasi yang dimotifasi dari beragam keinginan penutur. Sejalan pendapat Yule. Menurut Grice (1975: 45). maksim kualitas. Artinya. langsung dan tidak bertele-tele. Istilah implikatur percakapan dikaitkan dengan konsep Grice tentang prinsip kerjasama (PK) dan maksim-maksimnya. maksim hubungan dan maksim cara. yaitu maksim kuantitas. Yule (1998). Suatu respon percakapan yang tampaknya kurang tepat dapat menjadi berterima jika kita hubungkan dengan konteksnya. Namun demikian penutur tidak selalu mematuhi maksim-maksim Grice tersebut. Mey . Pelanggaran terhadap maksim Grice inilah oleh para pakar pragmatik disinyalir menyebabkan timbulnya suatu implikatur percakapan. Secara ringkas seorang penutur dikatakan memenuhi maksim-maksim Grice apabila ia memberikan informasi tidak lebih atau tidak kurang dari yang dibutuhkan. informasinya benar atau tidak keliru.71 kesalahan sewaktu kita menafsirkan maksud penutur. yang dijabarkan menjadi empat. peserta komunikasi perlu mematuhi prinsip kerjasama (Cooperative Principle). sistematis. yakni makna atau pesan tambahan yang menjadi bagian dari komunikasi yang tidak dikatakan. jelas. menyatakan bahwa implikatur dalam pragmatik terkait dengan cara kita memahami suatu tuturan di dalam percakapan sesuai dengan yang kita harapkan. Jika keempat maksim itu dipenuhi maka penyampaian informasi akan menjadi efektif dan efisien. informasi itu relevan dengan pokok pembicaraan dan penyampaiannya baik dan mudah dipahami.

2. . Menurut Levinson (1983: 97. Dasar hipotesisnya bahwa semua implikatur itu bersifat probabilistis. sedangkan mitra tutur (petutur) bertugas mengasumsikan bahwa penutur bekerjasama dalam percakapan yang mereka lakukan sehingga ia dapat mengenali makna tambahan yang dimaksudkan dalam percakapan dengan menarik simpulan (inference). Menurutnya implikatur dapat menjelaskan secara eksplisit tentang bagaimana memakai apa yang diucapkan secara lahiriah berbeda dengan apa yang dimaksud dan pemakai bahasa itu mengerti pesan yang dimaksud. antara makna harfiah dengan daya atau ilokusi. f. Dari ketiga pakar secara ringkas dapat disarikan. bentuk tuturan. Tugas pragmatik adalah menjelaskan kaitan antara dua jenis arti tersebut yakni. Hanya dengan beberapa faktor seperti kondisi yang dapat diamati. implikatur adalah makna yang disiratkan dalam sebuah percakapan. Dalam hal ini. implikatur percakapan adalah “ the notion of conversational implicature is one of the single most important ideas in pragmatics”. Daya Pragmatik Leech mempostulatkan bahwa pragmatik umum mengaitkan makna suatu tuturan dengan daya pragmatik tuturan tersebut. dan konteks. penutur yang memilih berkomunikasi dengan implikatur.72 (2001) memberi batasan bahwa implikatur adalah “an additional conveyed meaning”. maksudnya yakni makna tambahan yang lebih dari yang dikomunikasikan. Kaitan ini dapat bersifat langsung atau tidak langsung (1993: 45). karena apa yang dimaksud oleh penutur dengan tuturannya tidak pernah dapat kita ketahui dengan pasti sekali. Ia berasumsi bahwa makna dapat diperikan lewat representasi semantik sedangkan daya diperikan melalui seperangkat implikatur.

Teori Budaya. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide. Sedangkan daya pragmatik menurut Leech. nilai-nilai. Adapun wujud kebudayaan mencakup tiga (3) substansi. Artinya bahwa masing-masing batasan. baik implikatur maupun daya pragmatik secara garis besar mengacu pada satu objek yang sama yakni. Wujud kebudayaan berupa benda-benda hasil karya manusia.73 mitra tutur bertugas membuat simpulan interpretasi yang paling mungkin. tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar (Koentjacaraningrat. peraturan dan sebagainya. dan c. Dengan tegas Leech (1993: 24). daya sekaligus juga dapat diturunkan dari makna. 1990:180). merupakan . Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan. dan secara pragmatik. Dari beberapa pakar linguistik sependapat bahwa implikatur adalah makna yang disiratkan dalam sebuah percakapan. 2. b. dapat diperikan melalui seperangkat implikatur. makna yang disiratkan dalam sebuah pertuturan. Artinya daya pragmatik kekuatan atau force yang muncul dari implikatur. menyatakan bahwa makna (sense) yaitu makna yang ditentukan secara semantis sedangkan daya (force) yaitu makna yang ditentukan secara semantis dan pragmatik. gagasan. Jika kita cermati sebenarnya implikatur dan daya pragmatik merupakan dua buah batasan yang merujuk pada sebuah makna. bahwa daya mencakup makna. norma-norma. yakni: a. Adapun ikatan antara makna dan daya perlu disadari. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat.

dan hasil karya seseorang beragam pula (Sutopo. Sejalan dengan pendapat tersebut.74 Wujud kebudayaan tersebut dalam realitas kehidupan masyarakat sosial tidak dapat dipisah-pisahkan. Wujud ide dan gagasan-gagasan manusia memberikan jiwa atau pun roh dalam kehidupan masyarakat. Sistem sosial masyarakat yang mencakup aktivitas-aktivitas manusia dalam berkomunikasi. 1991:10). Ogburn mengutarakan bahwa penemuan-penemuan baru memerlukan suatu latar belakang transmisi kebudayaan dari penemuan-penemuan terdahulu (dalam Soerjono Soekanto. Seni tradisional termasuk tari sebagai budaya yang diwarisi secara turun-temurun sudah barang tentu memiliki kesinambungan dengan budaya sebelumnya. yaitu bentuk dan iramanya kuat-kuat dilatarbelakangi oleh konsep keindahan dan tradisi kebudayaannya (Humardani. norma-norma. dan menimbulkan sikap. Begitu pula kondisi kehidupan budaya seseorang sangat mempengaruhi persepsi dan penciptaan makna pada setiap peristiwa sosial. saling terdapat keterkaitan antar substansinya. perilaku. Untuk memahami budaya Jawa. dan berinteraksi satu dengan lainnya. tetapi masing-masing . membentuk. Pewarisan budaya tidaklah bersifat statis. Sehingga keragaman budaya sebagai latar seseorang yang telah dibentuk sejak lahir akan mempengaruhi. kita dapat mengamati dan mencermati dari salah satu wujud kebudayaanya yang berupa seni pertunjukan tari. yang dalam setiap kehidupan sosial selalu melibatkan intersubjektif dan pembentukan makna. peraturan yang telah disepakatinya. 2006). berhubungan. 1983:100). akan dikendalikan dan diatur oleh prinsip-prinsip nilai. Dalam tari Jawa bentuk ekspresinya pada hakekatnya terwujud berdasarkan alam emosi.

Dalam mencapai taraf hidup yang lebih baik. Segala sesuatu yang dihadapi manusia di muka bumi ini dalam kehidupannya semua mempunyai temporalitas atau historisitas. saling terkait secara utuh. Seperti kehidupan seni tradisional kita yang dapat bertahan hidup dan lebih berkembang di tengah-tengah masyarakat. Dengan demikian tanpa jangka waktu tidak akan terjadi peristiwa perubahan.75 generasi mencoba untuk mengadakan perubahan-perubahan disesuaikan dengan kondisi kehidupan masyarakat pendukungnya. manusia memiliki berbagai usaha lewat penemuan-penemuan baru untuk memenuhi sekaligus menjawab tuntutan kebutuhan yang muncul sesuai dengan konteks budaya yang berlaku. baik sebagai hiburan. maka laju transpormasi menjadi penting artinya. Semuanya berawal dan berakhir dalam suatu proses yang terus-menerus melalui dimensi waktu (Ibrahim Alfian. Tari sebagai wujud budaya yang merupakan hasil karya manusia diharapkan mampu memberikan manfaat. ritual maupun untuk keperluan lain yang sifatnya terkait dengan pemenuhan kebutuhan sosial masyarakat. Seni pertunjukan tari merupakan wujud keseluruhan dari sistem. kompleksitas berbagai unsur–unsurnya yang membentuk suatu jalinan atau kesatuan. Karena pada dasarnya tari dapat terwujud dari komplemen berbagai elemen. 1999:2). Bertolak . Wujud karya seni sebagai ekspresi seniman memiliki beragam pesan rupanya tidak mudah untuk dipahami untuk itu diperlukan sebuah kajian tersendiri. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupan manusia tidak terlepas dari adanya kecenderungan niat yang menghendaki suatu kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Perubahan merupakan suatu kesinambungan yang lebih daripada sekedar patokan antara sebelum dan sesudah. sehingga mampu memberikan daya apresiasi.

tidak terkecuali seni tari. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat akan peneliti gunakan sebagai analisis faktor afektifnya atau persepsi masyarakat terhadap sajian genre tari pasihan. nilai-nilai. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide gagasan. Kompleks Aktivitas. Pada analisisnya peneliti akan mengkaji keterkaitan nilai cinta kasih yang menjadi muatan genre tari pasihan dengan ritual perkawinan adat Jawa terutama bagi sepasang mempelai temanten. Pada dasarnya bahwa masyarakat sebagai penghayat adalah masyarakat heterogen yang . Adapun bentuk aplikasinya dirancang sebagai berikut. dan masyarakat yang bertindak penghayat sebagai faktor afektif.76 dari pandangan tersebut peneliti akan menggunakan teori budaya sebagai analisis karya seni yakni genre tari pasihan. norma-norma. Kompleks Ide. Terutama untuk mencermati latar belakang konsepsi penciptaan bagi penyusun tari sebagai muatan atau pesan pada genre tari pasihan gaya Surakarta yang hendak disampaikan kepada masyarakat sebagai penghayat atau penikmat. peraturan dan sebagainya akan digunakan sebagai kajian faktor genetik. karya seni sebagai faktor objektifnya. Adapun isi sebagai kandungan makna pada genre tari pasihan adalah nilai cinta kasih yang merupakan salah satu nilai-nilai kehidupan yang fundamental. Nilai–nilai humanisme pada prinsipnya merupakan sumber nilai-nilai sekaligus lahan kajian yang utama dalam seni pertunjukan. b. Kajiannya akan terkait dengan tiga komponen yaitu seniman sebagai faktor genetik. a.

3. peneliti akan mencermati lebih fokus pada hal-hal yang menyebabkan perbedaan dan persamaan persepsi masyarakat. gerak tubuh (kinetic body moves). busana. Berbekal keberagaman latar kultur tersebut akan mempengaruhi hasil hayatan yang berujung pada perbedaan-perbedaan dan sekaligus persamaan persepsi masyarakat. dan jineman. Terkait dengan analisis genre tari pasihan. . Sedangkan aspek bahasa nonverbal meliputi: tema. c. Wujud kebudayaan berupa benda-benda hasil karya manusia terkait dengan analisis faktor objektif pada penelitian ini adalah karya seni yang berupa tari Karonsih dan tari Bondhan sayuk. Karya tari tersebut terdiri dari teks verbal (teks sastra tembang) yang berupa cakepan (syair) yang terdapat dalam pathetan. Selain itu untuk mengetahui makna yang terkandung dalam teks verbal dan nonverbal genre tari pasihan dalam rangka merunut dan mengembangkan makna yang lebih central. serta mengapa hal itu terjadi. rias. Teori Seni Pertunjukan.77 secara kultur beragam pula latar belakangnya. polatan. dan iringan. Realitas yang demikian merupakan dinamika kehidupan yang wajar dalam dunia seni pertunjukan. gerongan. sindhenan. Kedua aspek tersebut akan dikaji secara komplementer untuk mendapatkan gambaran yang utuh dan jawaban yang memadahi tentang ciri karakteristik genre tari pasihan gaya Surakarta. pola lantai. Benda Fisik. Analisis ini akan didasarkan pada aktivitas–aktivitas di lapangan terutama pada peristiwa pementasan tari duet percintaan tersebut pada ritual perkawinan adat Jawa.

gerak tubuh. 1998:15) bentuk dalam pengertian yang paling abstrak berarti struktur. yakni meliputi: seni musik. Masing-masing elemen tersebut saling komplementer yang pada penyajiannya akan terikat ruang dan waktu. polatan. . Adapun elemen-eleman tari. ia sudah merupakan masalah yang cukup sulit apabila kita akan menelitinya. pola lantai. artinya bahwa seni pertunjukan dimaksud tidak dapat disajikan secara mandiri. dan iringan. Pada dasarnya bentuk seni pertunjukan tari merupakan wujud keseluruhan dari beberapa cabang seni yang sangat fundamental. Menurut Suzanne K. yang hanya bisa kita nikmati apabila seni tersebut sedang dipertunjukkan. Hal itu sejalan dengan pendapat Soedarsono. artikulasi sebuah hasil kesatuan yang menyeluruh dari suatu hubungan dari berbagai faktor yang saling bergayutan. yang utama terdiri dari: tema. apa lagi untuk melacak sejarahnya (2003:1). busana. akan tetapi lebih merupakan suatu perpaduan dari beberapa cabang seni yang merupakan satu kesatuan menjadi suatu bentuk yang utuh. seni sastra dan seni tari.78 Seni pertunjukan pada umumnya merupakan seni kolektif. Dari berbagai cabang seni tersebut satu dengan lainnya saling terkait. Langer (dalam Widaryanto. rias. seni rupa. Teori seni pertunjukan dapat mengungkap makna dari masing-masing unsur. Mengingat seni pertunjukan merupakan sarana untuk mengekspresikan maksud seniman maka unsur-unsur yang terdapat di dalamnya akan menjadi objek analisis. yang menyatakan bahwa seni pertunjukan sebagai seni yang hilang dalam waktu. karena pada prinsipnya seni pertunjukan merupakan seni sesaat. saling melengkapi dan saling mendukung sehingga membentuk suatu jalinan yang saling berinteraksi untuk membentuk menjadi sebuah konstruksi penyajian tari.

Babad. gerak kata. yang selanjutnya dijabarkan menjadi alur cerita sebagai kerangka sebuah garapan. Si Buta dari Gua Hantu. Contohnya: angkat bahu. Tema Tema adalah rujukan cerita yang dapat menghantarkan seseorang pada pemahaman esensi nilai-nilai kehidupan. dan gerak praktis (Humardani. Gerak aktif adalah gerak tubuh yang mengandung maksud-maksud tertentu. gerak kata baru. Selain sumber-sumber cerita itu terdapat cerita-cerita fiktif yang sering diangkat dalam layar kaca. dan pada pertunjukan teater-teater modern. Ramayana. di antaranya: gerak aktif. a. antara lain: Mahabharata. gerak indah. gerak bagian. cerita rakyat. layar lebar. yang dilakukan sedemikian rupa sehingga lawan tergerak atau terpacu. Si Kaya dan Si Miskin. Tema dapat ditarik dari sebuah peristiwa atau cerita. Contohnya: kesatuan dari rangkaian gerak . b. Dalam seni pertunjukan di Indonesia cerita-cerita yang dipilih lazimnya bertolak pada sumber cerita yang pokok. Adapun elemenelemen tari yang dimaksud antara lain dapat kita cermati berikut ini. 1991: 6-9).79 sejak dari antarunit hingga antarkomponen yang lebih besar dan keterkaitannya untuk pengembangan temuan makna secara total. gerak tari. Dengan teori seni pertunjukan akan peneliti gunakan untuk mengkaji elemen-elemen yang terkandung di dalam tari untuk mengungkapkan dari faktor objektifnya dan faktor genetik. Kiamat Sudah Dekat. seperti Cinderela. Gerak kata adalah gerak-gerak aktif yang digunakan untuk menceriterakan suatu maksud. pejam mata. Gerak Tubuh (kinetic body moves) Gerak tubuh manusia. menurut sifatnya dapat digolongkan ke dalam berbagai bentuk gerak. tutup telinga dan sebagainya. mitos dan sejarah.

dan dinamik tertentu. contohnya kepala menunduk dari rangkaian gerak kata rangkaian gerak kepala menunduk. Pembagian tersebut rupanya tidak sepenuhnya dapat memberikan gambaran yang jelas. Gerak praktis merupakan gerak yang mengandung guna praktis. tangan kanan memegang kening. volume.80 kepala menunduk. tangan melambai. Gerak tari merupakan penggarapan dari gerak bagian atau gerak kata sehingga mencapai pada tingkat abstraksi gerak yang sungguh-sungguh. tangan kanan memegang kening. Bentuk lain: kepala mengangguk. bisa merenung. Gerak indah adalah gerak kata baru yang sudah mengalami penggarapan lebih sempurna untuk mengungkapkan keindahan semata tanpa maksud verbal. Contohnya: berlari.dan bisa juga menyesal. tangan kiri memegang perut. tangan kiri memegang perut. bisa kecewa. Gerak kata baru adalah gerak kata yang sudah digarap dari segi bentuk dan diselaraskan dengan tempo. Gerak bagian adalah bagian dari gerak kata. sehingga hasilnya seolah-olah gerak yang lepas tanpa berkaitan arti dengan gerak sehari-hari. Hal ini tidaklah cukup beralasan. dan sebagainya. Baginya tubuh merupakan objek yang tidak pernah ada habis- . karena realitas yang kita hadapi bahwa gerak manusia selalu konteks dengan lingkungan. dimaksudkan untuk mengungkapkan rasa sedih. dan sambil duduk. dan sambil duduk. kepala menggeleng. Gerak tubuh merupakan kekayaan makna komunikasi non verbal tanpa suara yang mampu memikat perhatian bagi seorang seniman. berjalan. sebagai contoh pembatasan mengenai gerak indah dengan gerak tari yang masing-masing rupanya menghindari arti verbal maupun arti dengan gerak seharihari. karate. sehingga arti verbal maupun nonverbal tidak pernah akan dapat terlepas dengan gerak tubuh manusia sebagai kandungan maksud atau makna yang hendak diekspresikan.

artinya gerak yang dihasilkan dari imitasi terhadap sesuatu. Ekspresi wajah merupakan sarana untuk mendapatkan pemahaman lebih baik terhadap sesuatu yang sedang dikomunikasikan terhadap komunikan.81 habisnya sebagai sesuatu yang digali. namun kemunculannya tidak mudah untuk dipisah-pisahkan secara tegas. c. dieksplorasi. Kita akan banyak memperoleh informasi tentang kondisi emosional seseorang melalui ekspresi-ekspresi wajah mereka. hal itu sengaja dibuat untuk mengungkapkan ekspresi seniman atau penyusun tari. Polatan (ekspresi wajah) Polatan merupakan perubahan yang lebih fokus pada perubahan raut muka atau wajah. yakni gerak presentatif dan representatif. Kedua bentuk gerak baik presentatif maupun representatif merupakan medium utama dalam rangka memenuhi keperluan ekspresi. gerak ini difungsikan semata-mata untuk kebutuhan ekspresi. kemudian disajikan. karena wujud yang tampak sering samar-samar. Gerak presentatif merupakan bentuk gerak yang tidak mempunyai arti secara khusus. Keduanya hadir dalam jagad tari. volume. dikaji. begitu berlangsung berulang-ulang yang tidak pernah harus kehabisan materi atau bahannya. Pada prinsipnya seluruh gerak tubuh dapat menjadi medium dalam tari. Sedangkan gerak representatif adalah gerak penghadir. Pertimbangan yang utama untuk menjadikannya gerak tubuh dan gerak nontubuh menjadi tari adalah dengan cara mendistilisasi gerak sesuai kebutuhan ekspresi dan melihat karakteristik gaya dengan menggarap tempo. di antaranya: apakah menunjukkan rasa sedih atau . dan dinamik. Secara garis besar gerak dalam tari dapat dibagi menjadi dua bagian secara kasar.

2006: 42). Dalam dunia tari. ketajaman dan kepekaan rasa yang dimiliki sebagai modal utama yang selalu harus diolah. Sehingga wajah sebagai media ekspresi akan selalu siap difungsikan untuk peran yang dikehendaki. tembang dalam Langendriyan. Penari lebih dominan berkomunikasi dengan media gerak. Ekspresi wajah yang terdapat pada seni pertunjukan untuk mengekspresikan peran dalam keadaan suasana tertentu yang dalam implementasinya tidak lepas dari bekal pengalaman-pengalaman psikologis bagi seniman penyaji. penari sebagai aktor yang menyajikan peran. ekspresi wajah memiliki kekuatan yang sangat besar terkait dengan penampilan karakter pribadi maupun penjiwaan seseorang terhadap peran tokoh dalam membangun kualitas komunikasi yang berlangsung antarpeserta tutur. . merasa tertarik atau menolak. untuk itu kesadaran awal yang harus fokus bahwa ekspresi wajah yang dibangun dari gerak tanpa diiukuti bahasa verbal secara langsung itu harus ditopang kecerdasan.82 senang. maka tidaklah mengherankan apa bila terdapat banyak pula macam ekspresi wajah yang dapat dihasilkan (lihat Wainwright. dan sebagainya. Bagaimanapun tebal tipisnya ekspresi wajah dalam komunikasi antarperan. dapat secara langsung berkomunikasi dengan media antawecana seperti dalam wayang wong. merasa takut atau sedang marah. Jika kita mengetahui dan menyadari berapa banyak otot yang terdapat pada wajah manusia. polatan sangat berperan untuk mengekspresikan pada tingkat emosi yang secara komplementer akan membantu ekspresi gerak tubuh dalam rangka mengekspresikan totalitas peran atau tokoh. Mengingat bahwa dalam tari tradisi istana terutama peranperan yang karakternya tenang perubahan polatan sangat halus bahkan kerap kali tidak tampak.

83 d. yang dalam pertunjukan tari Jawa banyak digunakan dalam pola garapan tari gagah dan sebagian pola garapan tari alus maupun tari putri yang berkarakter lanyap. Garis-garis yang dibentuk penari tersebut merupakan garis imajiner yang hanya dapat ditangkap dengan kepekaan rasa. Pada dasarnya garis yang terbentuk pada floor design secara garis besar terdiri dari dua pola garis dasar yaitu garis lurus dan garis lengkung (Soedarsono. masingmasing individu berusaha menampilkan wajah sesuai dengan ekspresi yang dikehendaki. yang dominan untuk pola lantai garapan putri luruh dan peran alus lurus. yaitu: (1) . e. Menurut peneliti rias dapat diklasifikasi menjadi tiga jenis. Rias Rias adalah strategi untuk mengubah wajah pribadi dengan alat-alat kosmetik yang disesuaikan dengan karakter figur supaya tampil lebih percaya diri. Sedangkan garis lengkung lebih memberikan kesan lembut. serta banyak difungsikan dalam garapan yang bertemakan percintaan. Wujudnya bersifat ilusi atau bayangan yang tampak menyatu luluh komplemen dengan arah gerak tubuh penari. 1978:23). Selain itu garis lurus juga banyak digunakan untuk garapan pola-pola perangan. Garis lurus mempunyai kesan kuat dan sederhana. Pola lantai (floor design) Pola lantai merupakan garis yang dibentuk dari gerak tubuh seorang penari yang terlintas pada lantai. Kadar perubahan wajah dimaksud sangat relatif artinya bahwa pada setiap rias. Masing-masing bentuk garis mempunyai kekuatan yang tercermin dalam kesan atau ilusi.

Bentuk rias peran lebih dikonsentrasikan untuk seni pertunjukan yang digunakan untuk penampilan di panggung seperti panggung konvensional. Kedudukan seseorang dalam masyarakat akan tampak jika kita perhatikan dari busana yang dipakai. dan juga berhubungan dengan kehidupan nirwana. panggung modern. dan (3) rias peran. setia. Merah lebih memberikan kesan berani.84 rias formal. raksasa. Hitam tampak memiliki kesan bijaksana. esensi makna yang diungkapkan dapat ditarik dari kesan yang ditimbulkan dari warna-warna dimaksud. layar kaca. Selain itu busana juga memiliki beragam warna yang dapat digunakan untuk maksud-maksud tertentu. Rias informal adalah rias yang difungsikan untuk urusan domestik. Sedangkan rias peran adalah bentuk rias yang digunakan untuk penyajian peran sebagai tuntutan ekspresi pertunjukan. f. Begitu pula asal seseorang dapat kita ketahui dari gaya dan mode pakaian yang dikenakan. berwibawa. kesatria dan peran putri yang berjiwa dinamis. layar lebar dan bentuk lainnya. Busana Busana merupakan salah satu atribut yang dapat menunjukkan status sosial dan identitas seseorang. dan dinamis yang banyak diperuntukan tokoh-tokoh raja yang sombong. Rias formal merupakan rias yang digunakan untuk kepentingan – kepentingan yang terkait dengan urusan publik. namun masing–masing daerah berbeda dalam memaknai bergantung latar belakang budayanya. (2) rias informal. agresif. dan anggun terutama untuk tokoh-tokoh putri seperti . Setidaknya dalam tari Jawa. Warna putih mempunyai kesan suci. Secara umum warna-warna dasar mempunyai sifat teatrikal dan sentuhan emosional sebagai lantaran simbolisasi tertentu dalam budaya seni pertunjukan tari. Artinya warna dapat digunakan sebagai simbol-simbol dalam kehidupan.

rupanya tidak sekadar sebagai pengiring belaka. Misalnya iringan pathetan yang digunakan untuk ilustrasi tokoh Sekartaji pada saat . Ratu Ayu Kencana Wungu. Kehadiran gendhing di sini membentuk suasana. Iringan (Gendhing beksa) Iringan atau Gendhing beksa atau karawitan tari merupakan iringan musik gamelan yang telah teraransir menjadi sebuah bentuk yang berupa gendhing yang mampu memberikan kontribusi kekuatan ekspresi pada tari. Jika kita cermati lebih sungguh-sungguh keberhasilan pertunjukan tari. Sembadra. g. dan 3) nyawiji (lihat dalam Waridi.85 Dewi Shinta. Nglambari memberi pengertian bahwa dukungan gendhing dalam pertunjukan tari lebih berfungsi sebagai ilustrasi. Drupadi. 2) mungkus. Kontribusi iringan dalam membentuk suasana dapat berujud ilustrasi yang berfungsi sebagai background hingga taraf memberikan aksentuasi kekuatan rasa-rasa tertentu sesuai dengan kebutuhan ekspresi yang dikehendaki. Warna hijau mempunyai kesan segar dan tumbuh lebih hidup. Warna kuning memiliki kesan keagungan dan kejayaan. Kehadiran karawitan dalam pertunjukan tari gaya Surakarta. salah satu faktornya juga sangat ditentukan unsur medium bantunya yakni karawitan yang berfungsi sebagai iringan. 2005: 17-19). Fungsi gendhing sebagai iringan dalam sebuah pertunjukan mencakup tiga peran yakni: 1) nglambari. Tampak bahwa warna memiliki kandungan makna atas kualitas kesan yang ditangkap oleh indera penghayat. Karawitan sebagai iringan tari mampu memberikan kontribusi kekuatan rasa yang secara komplementer menyatu dengan ekspresi tari membentuk suatu ungkapan nilai-nilai kehidupan manusia yang disajikan dalam bentuk yang indah. dan lainnya.

banyak membantu dan bahkan kerapkali menggantikan kedudukan kekuatan ekspresi tari (1991:10). sajian gendhing dengan garapnya secara menyeluruh sengaja digunakan sebagai pembingkai gerak terutama pola-pola gerak kebar. Bentuk kristalisasi dari unsur tari dan unsur karawitan tersebut adalah untuk pencapaian harmonisasi penyajian dalam rangka menghasilkan kekuatan dan keutuan pertunjukan. Sejalan dengan paparan tersebut. merupakan konsep karawitan tari yang mengarah pada pemersatuan dua unsur menjadi satu. karena pada dasarnya nilai estetis kesenian adalah sebuah ungkapan yang utuh. Humardani menyatakan bahwa dalam tari Jawa. rupanya memiliki kontribusi cukup besar. Salah satu contohnya iringan Ketawang Ngrenas untuk suasana sedih pada saat Dewi Sekartaji sedang mencari suaminya yaitu Raden Panji Inukertapati yang tidak kunjung bertemu. Adapun kedua unsur dimaksud yaitu unsur karawitan sebagai penghasil rasa musikal dan unsur tari. salah satu unsur tidak akan lebih menonjol dari yang lain.86 pertama keluar (maju beksan) dalam suasana sedih. karawitan (yang terpadu dari unsur-unsur melodi dalam tempo. Elemen-elemen yang terdapat dalam bahasa verbal maupun nonverbal pada seni pertunjukan tari Karonsih dan Bondhan Sayuk tersebut merupakan modal . Beragam fungsi karawitan tersebut mengindikasikan bahwa karawitan tari dalam konteks penyajian tari. Pola iringan yang difungsikan semacam ini dapat diamati pada gendhing Lambangsari yang memiliki rasa riang dan gembira. Mungkus pada konsep karawitan tari lebih cenderung pada pengertian membingkai. dan volume) sebagai iringan. Dalam hal ini. Sedangkan Nyawiji. Dimaksudkan pada konteks ini. ritme atau irama.

Sejalan dengan definisi komunikasi tersebut. Selain itu juga tidak menutup kemungkinan perbedaan-perbedaan yang dihasilkan dari komplementer bahasa verbal dan nonverbal yang menurut sifatnya berupa sebuah konsep. jika kita berkomunikasi berarti terdapat beberapa kesamaan dengan orang lain. yang pada gilirannya akan terjadi saling pengertian yang mendalam. Rogers bersama Lawrence (1981). bahwa komunikasi adalah bentuk interaksi manusia yang saling pengaruh memengaruhi satu sama lainnya. Teori Komunikasi Komunikasi adalah suatu transaksi. sehingga kekhasan dari elemen-elemen dan keragaman informasi yang dapat digali akan menentukan dan mewarnai dalam menggeneralisasi teorinya. (c) untuk menguatkan sikap dan tingkah laku orang lain. Pernyataan lebih singkat dikemukakan oleh Shannon dan Weaver (1949). dan teknologi. 2007: 19-20). sengaja atau tidak sengaja. tetapi juga dalam bentuk: ekspresi muka. seni. proses simbolik yang menghendaki orang-orang mengatur lingkungannya dengan (a) membangun antarsesama manusia. lukisan. (b) melalui pertukaran informasi. 4. serta (d) berusaha mengubah sikap dan tingkah laku itu (lihat Book dalam Cangara. Dengan demikian ciri karakteristik lebih mengarah pada perbedaan-perbedaan yang menonjol dari masing-masing elemen dalam tari tersebut secara elementer. seperti kesamaan bahasa atau kesamaan arti dari .87 pembentukan ciri karakteristik yang mampu membedakan tari pasihan dengan karyakarya tari lainnya. menyatakan bahwa komunikasi adalah suatu proses di mana dua orang atau lebih melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya. Bentuk komunikasi di sini tidak terbatas pada komunikasi bahasa verbal. Dengan demikian tampak.

Pernyataan dari beberapa pakar komunikasi tersebut dapat ditarik unsur-unsur komunikasinya menjadi tujuh. dan (g) umpan balik (lihat Cangara. polatan. dan iringan merupakan media komunikasi yang khas bagi kehidupan seniman. (b) pesan. dan jineman dan b) unsur nonverbal yang meliputi: tema. Baginya seorang seniman berkarya . gerongan. (c) media. Berdasarkan pernyataan Shannon dan Weaver. rias. (e) lingkungan. Komunikasi bahasa verbal yang berupa sastra tembang yang komplementer dengan Unsur–unsur nonverbal dapat mengarahkan kepada kita untuk memunculkan implikatur akan guna analisis secara pragmatik. teori komunikasi akan peneliti gunakan untuk menganalisis bagaimana komunikasi berlangsung. Artinya. yaitu: a) unsur verbal berupa sastra tembang yang meliputi cakepan (syair) yang terdapat dalam pathetan. tari sebagai bagian atau cabang seni merupakan komunikasi manusia yang cukup vital. busana.88 simbol-simbol yang digunakan dalam berkomunikasi. Setiap unsur mempunyai peranan sangat penting dalam membangun proses komunikasi. Komunikator Komunikator bersumber pada seniman pelakunya yang terdiri dari penyusun tari dan penari yang bertindak sebagai penutur. tanpa keikutsertaan salah satu unsur akan berpengaruh pada proses komunikasi. (f) efek. Terfokus pada jenis tari pasihan yang bentuknya memiliki dua unsur. pola lantai. gerak tubuh (kinetic body moves). (d) penerima. yaitu: (a) sumber. yakni: a. untuk itu. 2007: 24). sindhenan. Merujuk pada bentuk karya seni dalam hal ini tari pasihan merupakan media komunikasi secara utuh. Prinsip dasar yang perlu dipahami bahwa komunikasi dalam seni pertunjukan pada hakekatnya mencakup tiga faktor pokok.

Sarana atau Media Karya seni yang berupa genre tari pasihan merupakan sarana atau media tutur bagi seorang seniman. ia berusaha menafsirkan baik secara bentuk fisik karya seni maupun nonfisik yang berupa maksud dari penyusun tari yang kemudian disajikan dalam sebuah pementasan pada ritual perkawinan adat Jawa. Kesesuaian atau kemungguhan figur seorang penari dengan tokoh yang hendak diperankan merupakan syarat yang harus diperhatikan di samping gandar atau rupa. yang dapat dialami lagi oleh yang mengungkapkan dan ditujukan atau dikomunikasikan kepada orang lain (Parker. Ungkapan seni dapat dilukiskan sebagai pernyataan suatu maksud. di antaranya: tari Karonsih. Jenis tari duet percintaan yang terdapat dalam genre tersebut. tari Enggar-enggar. seniman penyusun sebagai penutur hendak menuturkan sebuah nilai kehidupan. b. tari Bondhan Sayuk. tari Driasmara. tari Gesang Rahayu. perasaan atau pikiran dengan suatu medium indera atau sensa. tari Endah.89 merupakan dorongan dan tutuntan kebutuhan jiwa yang dilatarbelakangi apresiasi terhadap lingkungan manusia dan alam yang terseleksi dan senantiasa dimanifestasikan dalam bentuk yang estetik. Terkait dengan hadirnya genre tari pasihan. Dari medium sensa itu seniman akan dapat menganyam impian-impian bagi kita mengenai hal-hal yang membuai dan memikat kita senang mengamati. Dengan demikian peranan penari sebagai komunikator sangatlah penting. Adapun sebagai penari. 1980:21). karena dengan kondisi yang tidak layak akan berdampak negatif pada hasil hayatan secara menyeluruh. Seniman adalah manusia yang secara profesional menghasilkan karya-karya seni yang dapat dihayati oleh publik. tari Kusuma Ratih. tari Langen . tari Lambangsih.

Keragaman seni akibat dari keaneragaman media atau sarana yang didukung ide-ide kreatif estetik seorang seniman dalam rangka memenuhi ekspresinya. Lewat media bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan kandungan maksud seniman akan diaktualisasikan untuk mendapatkan tanggapan dari penghayat. Komunikan Masyarakat sebagai komunikan meliputi: pakar. tari Jayaningrat. Ungkapan yang otomatik sifatnya insting atau berlaku secara naluriah yang dilakukan seperti orang menangis ketika didera musibah. Meskipun setiap karya seni itu adalah suatu ungkapan. Begitu pula ungkapan- ungkapan praktis seperti menyuruh makan. dengan pertimbangan kedua jenis tari tersebut diharapkan mampu mewakili informasi genre tari pasihan untuk dianalisis makna pragmatiknya. namun sebaliknya bukanlah setiap ungkapan itu sebuah karya seni. c. dan penanggap merupakan mitra tutur yang menghayati karya genre tari pasihan. dan tari Kusuma Aji. itu bukan kesenian dan tidak juga estetik. penonton umum. tari Setyaningsih. dicipta. Pada hakekatnya kesenian adalah ungkapan yang disengaja. Adapun fokus dari penelitian untuk disertasi ini adalah tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk. Begitu pula genre tari pasihan yang terdiri dari bahasa verbal dan nonverbal merupakan jenis seni pertunjukan gaya Sala yang mengacu pada budaya istana Kasunanan Surakarta. suatu ungkapan. gembira saat mendapatkan keuntungan. merasakan. dan lainnya.90 Asmara. Seseorang dalam menghayati dengan cara mengamati sebuah karya seni (objek). dan merenungkan sehingga dapat memberikan sebuah pernilaian atau . dan selalu terkait atau berhubungan dengan tradisi kebudayaannya. mandi. Seni adalah suatu ekspresi.

91

tanggapannya. Betapapun sedihnya menghayati tokoh Sekartaji yang tidak kunjung bertemu, ketika berupaya mencari suaminya Panji Inukertapi, kita merasa haru mendengar sumpah kesetiaan Sekartaji yang berbunyi: Dhuh jagad dewa bathara Welasa mring dasih kang nandhang kingkin Tinilar garwa satuhu Dadya gantilaning tyas Ulun dhahat Teka aginggang sarambut Kalamun datan pinanggya Aluwung tumekeng lalis

Jabaran dari nilai kehidupan tersebut ditangan seniman diungkapkan dalam bungkus sensa yang mampu memicu dan memacu timbulnya khayalan benda dan peristiwa yang memberi kenikmatan penghayat. Khayalan tentang tindakan atau emosi yang ditimbulkan lewat karya seni, kita kemudian dalam imajinasi dapat melakukan atau mengalami. Bagi yang peka estetik seolah-olah kita dibawa memasuki badan penari sebagai tokoh-tokoh utama tersebut, kita tidak kuasa menolak terhipnotis dibuatnya berperan, senang tanpa paksaan sedikit pun untuk melakukan posisi bahkan hanyut dalam aliran kenikmatan dan kepuasan jiwa. Jika dicermati lebih dalam dari jiwa kita sendirilah sebenarnya muncul gagasan-gagasan dan beragam rasa yang merupakan isi sebuah karya seni. Seniman menyediakan sebuah susunan benda pacu atau lambang-lambang sensa yang diharapkan akan ditafsirkan seperti yang dimaksudkan olehnya. Kesadaran awal yang harus menjadi fokus perhatian, bahwa komunikasi seni atau komunikasi rasa sifatnya sangat subjektif. Artinya bahwa rasa yang disampaikan seorang seniman tidak selalu dapat diterima sama oleh penghayat. Betapapun

92

hebatnya seniman sebagai komunikator dan penghayat sebagai komunikan, karena kemantapan rasa tidak dapat diukur secara exact, namun bukan berarti tidak dapat dianalisis secara disiplin ilmiah. Persamaan yang terjadi dalam komunikasi seni sifatnya tidak mutlak, sehingga tafsir seni itu sifatnya multitafsir. Perbedaan maupun persamaan yang terjadi dalam komunikasi seni disebabkan masing-masing partisipan beragam kemampuannya. Untuk itu, baik perbedaan atau pun persamaan komunikasi seni yang terjadi dalam menanggapi karya tari pasihan, akan dianalisis bagaimana dan mengapa hal itu dapat terjadi. B. Tinjauan Pustaka Sumber tertulis baik yang berupa buku-buku cetakan, tesis, disertasi, dan hasil penelitian lain yang mengkaji seni pertunjukan tari khususnya genre tari pasihan dari perspektif pragmatik rupanya belum pernah dilakukan. Kajian nonpragmatik sekali pun relatif sangat minim yang relevan dengan penelitian peneliti dapat dipaparkan berikut ini: “Karonsih”, tulisan Maryono tahun 1991, merupakan hasil penelitian yang bersifat deskriptif, memuat secara umum tentang elemen-elemen tari, dan sedikit perubahan serta penyebarannya. Sedikit banyak tulisan ini memberikan informasi yang berarti terutama terkait dengan data bahasa verbal dan nonverbal sebagai salah satu genre tari pasihan yang akan menjadi sasaran kajian pragmatik. “Perkembangan Tari Enggar-Enggar”, tulisan Dwi Maryani tahun 1999, penelitian ini memuat deskripsi tentang gerak, iringan, rias, busana, dan penyebaran serta perkembangannya tari Enggar-Enggar. Diharapkan tulisan tersebut

93

menambah informasi mengenai vareasi ragam tari duet percintaan yang pada gilirannya dapat untuk mencermati karakteristik genre tari pasihan. “Perubahan Tari Lambangsih”, tulisan Dwi Yasmono tahun 1999, yang memaparkan tentang: struktur garap tari, rias, busana, iringan, dan perubahan terutama masalah sekaran atau vokabuler gerak dan pola lantai. Rupanya hasil kajian ini akan menambah data untuk lebih mencermati karakteristik genre tari pasihan gaya Surakarta yang sedang dikembangkan, terutama terkait dengan aspek nonverbal.

94

C. Kerangka Pikir Dalam rangka mencermati permasalahan, rumusan masalah, tujuan, manfaat, ruang lingkup, kajian teori dan metodologi, serta hasil yang hendak dicapai dalam rencana penelitian ini peneliti menggunakan kerangka pikir kritik seni holistik (Sutopo, 1995: 15-16). Sebagai berikut: 1 FAKTOR GENETIK Latar Belakang Genre Tari Pasihan 2 FAKTOR OBJEKTIF Bentuk Genre Tari Pasihan 3 FAKTOR AFEKTIF Persepsi Penghayat Terhadap Genre Tari Pasihan

Latar Belakang Penyusun

fungsi

Karakteristik Bahasa Verbal

Karakteristik Bahasa Nonverbal

Latar Belakang Penanggap

Latar Belakang Penonton Umum

Latar Belakang Pakar

Pathetan irama Konsepsi Seniman lagu Sindhenan Gerongan Jineman 4

Tema Gerak Polatan

Rias Busana Pola lantai Persepsi Masyarakat

Iringan

MAKNA PRAGMATIK Genre Tari Pasihan

95

Keterangan: 1: Seniman sebagai pencipta sebuah karya seni, dianalisis tentang latar belakang kehidupan kesenimanan dan latar belakang konsep penciptaan bahasa verbal dan nonverbal serta fungsi sebagai aplikatif muatan pesan yang hendak disampaikan lewat karya seni. 2: Karya seni sebagai faktor objektifnya, dikaji tentang bahasa verbal berupa cakepan (syair) sastra tembang yang terdapat dalam pathetan, sindhenan, gerongan, dan jineman. Sedangkan bahasa nonverbal meliputi: tema, gerak tubuh (kinetic body moves), polatan, pola lantai, rias, busana, dan iringan. Diharapkan kajian bagian ini akan dapat menemukan ciri karakteristik genre tari pasihan gaya Surakarta. 3: Persepsi masyarakat terhadap kehadiran genre tari pasihan dalam upacara ritual resepsi perkawinan. Dari hasil analisis akan dapat diketahui interpretasi makna dari masyarakat yang heterogen sebagai pendukung keberlasungan budayanya. 4: Makna pragmatik merupakan hasil analisis secara komplemen keterkaitan dari tiga faktor yakni : faktor genetik (1), faktor objektif (2), dan faktor afektif (3). Relasi ketiga faktor: 1, 2, dan 3 adalah penyusun tari (seniman) menciptakan karya seni yang kemudian karya seni itu ditanggapi masyarakat. Hubungan faktor 1 dan 3 yaitu untuk mengetahui seberapa jauh tanggapan masyarakat terhadap karya seni dan bagaimana kesesuaian antara pesan yang dimaksud seniman dengan makna yang ditangkap oleh masyarakat lewat karya genre tari pasihan.

96

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Sasaran dan Lokasi Penelitian Sasaran yang utama adalah jenis tari duet pasihan atau percintaan gaya Surakarta yang memfokuskan pada tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk, seperti telah disebutkan pada latar belakang masalah. Pertimbangan yang mendasar dari pemilihan sasaran ini adalah banyaknya jenis atau ragam tari duet percintaan khususnya gaya Surakarta. Dimaksudkan kedua bentuk tari pasihan tersebut dapat dikaji secara mendalam di dalam suatu konteks dengan karakteristik tertentu. Cuplikan ini kedudukannya bukan mewakili populasinya tetapi mewakili informasinya, sehingga jika dimungkinkan generalisasi, arahnya cenderung generalisasi teori. Keragaman jenis tari pasihan rupanya tidak dimiliki oleh daerah lain, sehingga lebih memacu peneliti untuk meneliti topik tersebut sebagai sasaran pokok. Pertimbangan lain bahwa tari pasihan disinyalir mempunyai kontribusi yang cukup penting dalam sebuah ritual tradisi perkawinan adat Jawa. Pengertian gaya Surakarta di sini lebih terfokus pada tarian yang mengakar dari tarian istana Kasunanan, tidak melibatkan Pura Mangkunegaran. Hal ini peneliti sadari, bahwa Pura Mangkunegaran tidak mempunyai tari semacam pasihan atau karonsihan. Pemilihan lokasi atau tempat adalah kotamadia Surakarta dengan pertimbangan tingginya frekuensi aktivitas pertunjukan tari pasihan, tempat tinggal para penyusun tari dan pakar seni yang terkait. B. Bentuk dan Strategi Penelitian Secara garis besar dapat dinyatakan bahwa metode penelitian kualitatif adalah metode pengkajian atau metode penelitian suatu masalah yang tidak didesain atau

bersama-sama dengan orang lain dalam konteks intersubjektif yang di dalamnya termasuk pula interpretasi peneliti. Artinya penelitian kualitatif berusaha memahami makna dari fenomena-fenomena. 2007: 5). peristiwa-peristiwa dan kaitannya dengan orang-orang atau masyarakat yang diteliti dalam konteks kehidupan dalam situasi yang sebenarnya (Edi Subroto. 2006: 29). 2006: 28). Kajian ini membentuk simpulan multiperspektif yang akan menimbulkan makna intersubjektif. Hal itu rupanya cukup beralasan. Validitas keputusan atau hasil simpulan-simpulannya mengenai sesuatu makna dapat diwujudkan dari deskripsi yang tegas. Hal ini harus disadari bagi seorang peneliti agar hasil simpulan-simpulannya sesuai dengan karakteristik teorinya (Sutopo. seorang peneliti berusaha menyajikan suatu interpretasi yang didasarkan pada nilai-nilai. karena tujuan pengkajian ilmu-ilmu humaniora adalah membuat . 2007: 5). minat. dan tujuan atas interpretasi orang lain atau subjek yang diteliti yang berdasarkan juga pada nilai-nilai. Setiap peristiwa harus dicermati dan dipahami dari beragam perspektif dari orangorang yang terlibat secara aktif maupun pasif dalam peristiwa tersebut. Pada umumnya ilmu-ilmu kebudayaan atau ilmu-ilmu humaniora lebih banyak menggunakan metode kualitatif (Edi Subroto. 2007: 6). Kesadaran awal yang harus mendapatkan perhatian bahwa penelitian kualitatif itu menggunakan paradigma atau perspektif fenomenologis. dan tujuan mereka sendiri (Smith & Heshusius dalam Sutopo. bahwa fenomenologi merupakan pandangan berpikir yang menekankan pada fokus kepada pengalaman-pengalaman subjektif manusia dan interpretasi-interpretasi dunia. Pernyataan tersebut sejalan dengan pendapat Moleong (2007: 15).97 dirancang menggunakan prosedur-prosedur statistik (Edi Subroto. minat. Dalam penelitian kualitatif. dengan memperhatikan beragam alasan mengapa dan bagaimana terjadinya tafsir makna mengenai sebuah peristiwa.

pola lantai. 1995: 8-15). polatan. gerak tubuh (kinetic body moves). objektif. objektif. lengkap. Tiga sumber nilai ini wajib dikaji secara lengkap dan seimbang supaya tidak terjadi kepincangan evaluasi (Sutopo. busana. dan iringan (faktor objektif). melainkan sebagai sumber informasi dalam aktivitas evaluasi. Ketiga komponen tersebut tidak dipisahkan dalam kesatuan nilai karya. Latar belakang konsep penciptaan bahasa verbal dan nonverbal dan pesan makna yang hendak disampaikan lewat karya seni (faktor genetik). mencakup tiga aspek yakni genetik. Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan dan tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini lebih mengarah pada bagaimana memahami makna bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta. Dengan demikian bentuk penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan kritik holistik yang secara fokus. dan afektif sebagai sumber aliran nilai. dan afektif. dan jineman. rias. serta berusaha menangkap makna dari suatu peristiwa. menginterpretasikan kejadian atau peristiwa. tetapi tidak digunakan sebagai standar nilai. Merujuk pada pola pikir pendekatan kritik holistik. Sedangkan bahasa nonverbal meliputi: tema. Selain itu juga bagaimana komplementernya dari ketiga aspek tersebut untuk menemukan keterkaitan hal-hal pokok yang terdapat di dalamnya untuk mengungkap . secara operasional peneliti akan mendeskripsi secara rinci dan mendalam mencakup masalah bahasa verbal berupa cakepan (syair) yang terdapat dalam pathetan.98 deskripsi suatu situasi. sindhenan. gerongan. kejadian atau peristiwa. Persepsi masyarakat terhadap kehadiran genre tari pasihan dalam kehidupan sosial (faktor afektif). dan seimbang mengkaji tiga faktor yaitu genetik. Untuk menjawab persoalan tersebut peneliti akan memahami lebih rinci dan mendalam baik kondisi maupun proses dan juga saling keterkaitannya mengenai hal-hal pokok yang ditemukan di lapangan.

adapun jenis penelitian dengan strategi yang paling tepat adalah penelitian kualitatif deskriptif. Rupanya sangat tepat pilihan peneliti untuk menggunakan metode kualitatif karena objek kajiannya merupakan cabang dari ilmu-ilmu humaniora yang sarat dengan makna dalam kehidupan. dan tari Kusuma Aji. yang lebih berharga daripada sekadar pernyataan jumlah atau pun sekadar frekuensi dalam bentuk angka (lihat Sutopo. tidak seperti penelitian eksploratif yang mana peneliti sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi di lapangan (grounded search) maka penelitian kasus ini lebih khusus disebut studi kasus terpancang (embedded case study research) (Sutopo. Strategi yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus tunggal. Dengan demikian bentuk penelitiannya bersifat dasar (basic research). tari Enggarenggar. tari Endah. . tari Lambangsih. namun memiliki karakteristik yang sama.99 makna pragmatik genre tari pasihan gaya Surakarta sebagai sebuah hasil akhir penelitian. tari Gesang Rahayu. tari Bondhan Sayuk. tari Driasmara. 2006: 227). Di samping itu. tari Langen Asmara. Jenis penelitian ini akan mampu menangkap berbagai informasi kualitatif dengan deskripsi teliti dan penuh nuansa. tari Setyaningsih. Pertimbangan yang mendasar dari kasus tunggal. tari Jayaningrat. tari Kusuma Ratih. karena permasalahan dan fokus penelitian telah ditentukan dalam proposal sebelum peneliti terjun ke lapangan artinya peneliti telah terpancang. karena sekali pun genre tari pasihan atau karonsihan jenisnya terdiri dari beragam tari duet percintaan seperti: Tari Karonsih. Hal ini sejalan dengan pendapat Edi Subroto bahwa ilmu-ilmu humaniora berusaha memahami realitas sosial dan realitas budaya dalam rangka memahami masalah-masalah sosial dan masalah-masalah manusia secara lebih baik (2007: 5). 2006: 40).

e) motif tema. Adapun data informasi yang dikumpulkan akan terkait tiga faktor pokok yakni: genetik. Data akan diperoleh peneliti dengan cara memanfaatkan pertanyaan-pertanyaan dengan kata tanya : mengapa. pola lantai. Tindak tutur mencakup cakepan (syair): pathetan. b) jenis tindak tutur yang dominan dan mengapa terjadi dominasi. gerak tubuh (kinetic body moves). . 2007: 6). gerongan. 2007: 11). Sumber informasi genetik pada penelitian ini adalah para penyusun tari pasihan. polatan.100 C. dan j) jenis-jenis repertoar gendhing. sindhenan. alasan apa dan bagaimana terjadinya. objektif. yang hendak dikaji dari jenis informasi data teks sastra tembang dan unsur-unsur tari yang meliputi: a) jenis-jenis tindak tutur yang digunakan. dan afektif. Dengan cara itu peneliti tidak akan berasumsi bahwa sesuatu itu sudah memang demikian keadaannya (Moleong. i) jenis-jenis floor design (pola lantai). Sumber informasi objektif pada penelitian ini adalah seni pertunjukan tari. h) jenis warna dan bentuk busana yang dipakai. fungsi. g) bentuk rias. c) realisasi prinsip kerja sama dan prinsip kesantunan antarperan. d) implikatur dan daya pragmatik. Sedangkan bahasa nonverbal berupa: tema. rias. tempat-tempat dan konservasi-konservasi dari orang yang diteliti (Edi Subroto. Data yang dikumpulkan terutama berwujud bahasa verbal dan nonverbal. Data kualitatif merupakan data lunak yang kaya akan deskripsi tentang orang-orang. dan jinemal sebagai bahasa verbal. f) jenis-jenis vokabuler gerak. busana. Sumber Data Data atau informasi yang paling dibutuhkan akan dikumpulkan dan dianalisis dalam penelitian ini adalah berupa data kualitatif. terutama terkait dengan latar belakang konsep penciptaan teks verbal dan nonverbal. dan iringan. serta pesan makna yang hendak disampaikan lewat karya seni.

manusia sebagai Informan atau narasumber posisinya sangat penting dalam rangka memberikan informasi yang dimiliki. penonton umum. tetapi mereka dapat memilih arah dan selera dalam memberikan informasi yang dimiliki (Sutopo. dan penanggap tari pasihan dalam rangka memahami fungsi sosial di tengah-tengah masyarakat sebagai pendukung keberlangsungan budayanya.101 Sumber informasi afektif terdiri dari pakar. penonton umum. 2006: 57-58). Peneliti dan narasumber memiliki posisi yang sama. Berbeda dengan responden yang sekadar memberikan jawaban secara terbatas dan terikat oleh bentukbentuk pertanyaan yang telah disusun secara ketat seorang peneliti. Informasi tersebut akan digali dari beberapa sumber data yang akan dimanfaatkan dalam penelitian ini mencakup : 1. Faktor afektif ini akan difokuskan pada persepsi masyarakat penghayat. dan penanggap tari pasihan. memadahi . yang terdiri dari: pakar. Informan atau Narasumber Menurut Spradley informan merupakan pembicara asli (speaker) dengan bahasa atau dialeknya sendiri dan menjadi sumber informasi (1997: 35). narasumber tidak sekedar memberikan tanggapan menurut permintaan peneliti. Adapun jumlah informan tidak mempengaruhi secara mutlak. Dalam penelitian kualitatif. dapat dipercaya baik dari segi pengetahuannya maupun kejujuran secara umum dan secara khusus dalam memberikan data yang akurat serta bersifat tidak menggurui (Fatimah Djajasudarma. karena posisi informan dengan beragam peran dan keterlibatannya dengan kemungkinan akses informasi yang dimilikinya sesuai dengan kebutuhan penelitiannya. 1993: 20). Oleh karena itu seorang peneliti harus jeli dalam menentukan informan. Narasumber harus dipilih orang yang handal di bidangnya. namun yang lebih substansial adalah kualitas informasi yang dibutuhkan.

Tempat terjadinya peristiwa pertunjukan tari pasihan pada upacara ritual perkawinan. Berlangsungnya pertunjukan tari tersebut merupakan sumber primer untuk analisis menyeluruh. yang harus dicermati meliputi aspek gerak. pakar. yakni di kotamadia Surakarta.implikatur yang sengaja dimanfaatkan oleh seniman dalam rangka mengekspresikan isi hatinya yang sudah barang tentu telah . Artifak yang merupakan benda budaya. sangatlah berharga karena memiliki keterkaitan dengan munculnya implikatur . aktivitas. sehingga validitas datanya dapat dipertanggungjawabkan secara akademis. akan memberi gambaran secara kongkrit tentang setting peristiwa penghayatan atau berlangsungnya sebuah pertuturan. 3. busana. baik faktor genetik. penghayat. dan bahasa verbalnya yang akan dilakukan secara berulang untuk mendapatkan sumber data yang akurat tentang berlangsungnya sebuah penghayatan sekaligus mengidentifikasinya untuk menarik makna pragmatik dari peristiwa pertuturan. iringan. Peristiwa atau Aktivitas peristiwa. Tempat atau Lokasi Tempat yang menjadi sasaran penelitian ini terutama terdapat pada sebuah upacara ritual perkawinan yang diselenggarakan di wilayah penelitian. rias. penari. Berdasarkan akses informasi yang diperlukan tersebut narasumber yang peneliti pilih dalam penelitian ini terdapat empat kelompok meliputi: penyusun tari.102 tidaknya data yang diberikan. objektif . atau perilaku sebagai sumber data yang terkait dengan sasaran penelitian. Artifak. Dari pengamatan langsung sebuah peristiwa pertunjukan tari pasihan. 4. pola lantai. 2. dan afektif. serta masyarakat umum.

yang terlibat dalam peristiwa atau aktivitas pertunjukan genre tari pasihan. artifak yang layak menjadi sumber data adalah busana tari. Artifak yang bersifat primer. Keberadaan busana tari yang sering dipakai penari dapat dilacak dengan maksud untuk mencermati seberapa jauh keterkaitannya dengan makna yang hendak disampaikan seniman terhadap penghayat. rupanya memiliki makna yang dalam terkait dengan sepasang mempelai temanten. Dalam hal ini gamelan mempunyai peranan cukup primer dalam rangka mengaktualisasikan genre tari pasihan. Selain itu. . Prediksi peneliti sementara bahwa artifak yang berupa boneka pada tari Bondhan Sayuk memiliki daya pragmatik. Seperangkat gamelan (gamelan ageng) yang memiliki laras Slendro dan Pelog sebagai musik iringan tari merupakan artifak yang memegang peranan cukup penting dalam mewujudkan terselenggaranya pertunjukan tari pasihan. terdiri dari: boneka anak (baby). Salah satu artifak yang sangat berharga sebagai sumber data yang memungkinkan dapat dilacak informasinya untuk diungkap lebih dalam adalah boneka. Beragam benda artifak sebagai kelengkapan. Artifak yang berupa boneka yang terbuat dari bahan plastik yang dibalut dengan sehelai selendang sehingga bentuknya menyerupai bayi yang digedhong (ditimang). Asumsi peneliti bahwa dari bentuk atau mode busana tari akan dapat memberi gambaran tentang peran atau tokoh sedangkan dari warna dapat dicermati makna simbolisnya. dan gamelan. busana tari. terutama lebih fokus yang menurut fungsinya bersifat primer.103 memperhitungkan penghayat sebagai mitra tuturnya.

berupa sumber cerita yang terdapat pada naskah-naskah pewayangan. sindhenan. Dokumen dan Arsip Dokumen dan arsip biasanya merupakan bahan tertulis yang bergayutan dengan peristiwa atau aktivitas tertentu (Sutopo. Teknik Pengumpulan Data Berangkat dari keragaman sumber data yang perlu digali tersebut menuntut strategi atau teknik pengumpulan data yang sesuai dengan sumber datanya untuk mendapatkan data yang mampu menjawab permasalahan yang telah diajukan. berupa data rekaman baik yang bersifat audio maupun yang berwujud visual. Data tertulis yang berupa dokumen ataupun arsip yang terkait dengan peristiwa pertunjukan tari pasihan yang dapat dilacak dalam perpustakaan. merupakan rekaman beragam tari duet percintaan gaya Surakarta yang termasuk bagian genre tari pasihan. Selain itu juga data yang berupa bahasa verbal seperti cakepan : pada pathetan. Adapun teknik pengumpulan data yang sesuai dengan penelitian kualitatif dan jenis sumber data yang dimanfaatkan adalah sebagai berikut: . babad. Sumber data yang berupa dokumen dan arsip tersebut akan peneliti gunakan sebagai analisis tambahan untuk mencermati tentang makna pragmatik. Dokumen yang sifatnya tidak tertulis yang terkait dengan pertunjukan tari pasihan. Sedangkan data rekaman yang berupa audio visual kaset VCD. D. Data rekaman yang berupa audio.104 5. gerongan. Dalam penelitian kualitatif ini peneliti akan menggunakan berbagai teknik berdasarkan sumber data dalam pengumpulan datanya. maupun serat. dan jineman. 2006: 61). antara lain beragam kaset ataupun CD iringan tari.

Observasi Dalam penelitian kualitatif ini peneliti mengadakan observasi langsung berperan secara pasif dan aktif.105 1. Sebelum wawancara. 2. Adapun wawancara akan dilakukan dengan empat jenis kelompok. b. Pertemuan awal dilakukan untuk mengadakan kesepakatan-kesepakatan tentang pertemuan selanjutnya (jadwal) dan materi jika dimungkinkan. kelompok penghayat (lihat hal: 56-57). dan dapat dilakukan berulang pada informan yang sama (Patton dalam Sutopo. Wawancara mendalam (in-depth interviewing) Manusia sebagai nara sumber atau informan merupakan sumber data yang sangat fundamental dalam penelitian kualitatif. Wawancara merupakan salah satu jenis pengumpulan data yang bersifat lentur dan terbuka. Jenis pertanyaan yang dipersiapkan tidak mengikat namun lebih digunakan sebagai petunjuk secara garis besar tentang proses dan isi wawancara untuk menjaga agar pokok-pokok yang direncanakan dapat seluruhnya tercakup (Moleong. c. kelompok penyusun tari. Berperan pasif peneliti hanya hadir di lapangan bertindak sebagai . Selain itu persiapan awal untuk menggali informasi. tidak dalam suasana formal. yaitu: a. dan d. 2006: 228). peneliti secara garis besar merancang jenis-jenis pertanyaan pokok yang selanjutnya dapat dikembangkan di lapangan hingga ke hal-hal yang lebih rinci. peneliti terlebih dulu berupaya mengenal karakteristik dari masing-masing informan yang telah ditetapkan untuk menjalin keakraban dan kedekatan emosional sehingga dapat menggali informasi sebanyak-banyaknya dalam situasi yang kooperatif dan kondusif. kelompok penari atau penyaji. 2007: 187). Sehingga pengumpulan data yang diperlukan dalam menggali informasi dari informan dengan teknik wawancara mendalam. kelompok pakar. tidak terstruktur ketat.

akan dicatat dan dianalisa untuk memahami keterkaitannya dengan faktor objektif karya tari pasihan yang tengah diteliti. 3. baik sebagai langkah awal pencatatan secara global masalah-masalah yang dianggap penting yang selanjutnya akan selalu dikembangkan pada analisis untuk dijabarkan secara rinci mendalam. berujud sumber cerita yang terkait dengan ceritera Panji. Dokumen lain berupa kaset tape recorder yang memuat iringan tari jenis pasihan. sehingga mendapat data secara akurat. di antaranya: cerita Panji dalam Perbandingan (1968) dan Panji Sekar (1979). serat atau naskah. Teknik ini secara garis besar digunakan peneliti untuk setiap aktivitas yang terkait dengan pengumpulan data.106 pengamat secara formal dan informal untuk mengamati kegiatan dan peristiwa pertunjukan tari pasihan agar mendapatkan data yang mantap dari fenomena yang terjadi di lapangan. Teknik simak dan catat dalam kegiatan ini akan dimanfaatkan terkait data bahasa verbal dan nonverbal. Selain itu dimungkinkan juga terdapat pada babad. Bentuk peran aktif dalam penelitian ini peneliti mengambil peran sebagai penonton untuk mengapresiasi pertunjukan dan datang di tempat-tempat latihan membaur turut berlatih untuk mengamati dan mengetahui ciri karakteristik tindak tutur dan lebih fokus terhadap elemen-elemen genre tari pasihan. Adapun observasi tidak langsung lebih mengarah pada pengamatan dokumendokumen rekaman tari pasihan. . Adapun sumber data yang diharapkan mampu memberikan gambaran liku-liku kehidupan Panji dan Sekartaji. Mencatat Dokumen dan Arsip (content analysis) Data yang berupa dokumen ataupun arsip yang terkait dengan peristiwa pertunjukan tari pasihan yang dapat dilacak dalam perpustakaan. seperti: kaset “Karonsih“ (ACD – 114) dan kaset “Beksan Enggar-enggar” (WD – 530).

Teknik Cuplikan (sampling) Penelitian kualitatif cenderung menggunakan teknik cuplikan yang bersifat selektif dengan pertimbangan konsep teoretis yang digunakan. keingintahuan pribadi peneliti. E. (Goetz & Le Compte dalam Sutopo. 2006: 37) (lihat Moleong. Pemilihan sampel diarahkan lebih fokus pada sumber data yang . Adapun kegiatan ini adalah merekam bentuk tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk untuk dianalisis bahasa verbal dan nonverbal dari masing-masing bentuk tari tersebut. teknik cuplikannya cenderung bersifat purposive karena dipandang lebih mampu menangkap kelengkapan dan kedalaman data di dalam menghadapi realitas yang tidak tunggal. Dari kajian bentuk tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk ini dimaksudkan untuk menjawab rumusan masalah terkait dengan pertanyaan yang mengarah pada faktor objektif. objektif dan afektif sebagai dasar menentukan makna genre tari pasihan dalam upacara resepsi perkawinan. Hal ini dilakukan untuk mencari dan menemukan korelasi dari ketiga faktor yaitu genetik. Selain itu rekaman tari pasihan tersebut juga untuk mengembangkan pertanyaan yang mengarah pada faktor genetik dan faktor afektif.107 4. 1993: 11). Perekaman Teknik pengumpulan data dengan rekaman terutama dengan alat video dan rekaman suara merupakan metode yang cukup penting karena akan membantu peneliti dalam rangka memperjelas deskripsi berbagai aktivitas dan situasi di lapangan. Rekaman ini dimaksudkan untuk lebih mencermati peristiwa pertunjukan berdasarkan natural setting artinya sasaran penelitian harus tetap berada pada kondisi aslinya secara alami (Sutopo. Fatimah. Untuk itu dalam penelitian kualitatif. 2006:229). dan karakteristik empirisnya. 2007: 8. Bentuk rekaman video yang diutamakan adalah peristiwa berlangsungnya pertunjukan khusus tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk.

trianggulasi metode. F. kualitas. 2006). Untuk itu peneliti dituntut memahami peta sumber yang tersedia. karena setiap posisi akan memiliki akses informasi yang berbeda. Oleh karena itu dalam penelitian kualitatif ini peneliti memilih informan yang diharapkan mampu memberikan informasi yang memiliki kedalaman dan keakuratan data guna menjawab permasalahan yang diajukan. maka arahnya cenderung sebagai generalisasi teori (Sutopo. Cuplikan ini kedudukannya bukan mewakili populasinya tetapi mewakili informasinya. Sumber lain akan dipilih berdasarkan pertimbangan ketepatan dan kelengkapan datanya. sehingga bilamana generelisasi harus dilakukan. Informan yang dibutuhkan dipilih berdasarkan kredibilitas. 2006: 92).108 dipandang memiliki data penting yang terkait dengan permasalahan yang sedang diteliti. Validitas Data Untuk menjamin dan mengembangkan validitas data yang akan dikumpulkan dalam penelitian kualitatif ini digunakan teknik trianggulasi data atau sumber. dan keluasan wawasan dalam suatu permasalahan yang dikaji sehingga informasi yang diperoleh betulbetul mantab kualitasnya. Purposive sampling memberikan kesempatan secara maksimal pada kemampuan peneliti untuk menyusun teori yang dibentuk dari lapangan (grounded theory) dengan sangat memperhatikan kondisi lokal dengan kekhususan nilai-nilainya (idiografis). dan trianggulasi teori dari empat jenis trianggulasi yang ditawarkan Patton (dalam Sutopo. Trianggulasi data atau sumber mengarahkan peneliti dalam mengumpulkan data harus menggunakan beragam sumber data artinya data yang sejenis . dalam beragam posisinya. Adapun sejumlah informan dan informasi yang dibutuhkan dari informan tersebut lihat hal: 56-57. secara tuntas dan valid.

peneliti membutuhkan informasi dari informan yang berbeda di antaranya dari penyusun tari pakar. bahkan lebih jelas untuk diusahakan mengarah sumber data yang sama untuk menguji kemantapan informasinya. dan observasi di lokasi ketika penari tersebut sedang menyajikan tari pasihan. Informasi dari ketiga informan tersebut kemudian dianalisis dengan cara membandingkan untuk melihat persamaan. perbedaan kemudian mencari argumen dari masing-masing untuk mendapatkan simpulan yang memadai.109 akan lebih mantab kebenarannya apabila digali dari beberapa sumber data yang berbeda. Di sini yang diutamakan adalah penggunaan metode pengumpulan data yang berbeda. Trianggulasi metode dalam penelitian kualitatif mengarah pada perbedaan teknik atau metode pengumpulan data pada data yang sejenis. peneliti menggunakan metode pengumpulan data dengan mencatat dokumentasi atau arsip yang berupa data bahasa verbal dan nonverbal kemudian melakukan wawancara secara mendalam. dan masyarakat umum. dan penanggap. untuk menemukan ciri karakteristik bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan dari informan seorang penari. peneliti menggunakan tiga informan yang berbeda yaitu: penyusun tari. Data sementara yang diperoleh dari ketiga metode yang berbeda pada sumber data atau informan yang sama. untuk memahami makna tari pasihan. Selain itu. akan dikomparasikan dan ditarik simpulan data yang lebih kuat dan mantap validitasnya. Data yang terkumpul kemudian dikomparasikan untuk mengkaji alasan yang tepat guna menjawab secara akurat terkait dengan fungsi bahasa verbal dalam pertunjukan tari pasihan. Untuk mengetahui alasan mengapa terjadi dominasi salah satu jenis tindak tutur dalam bahasa verbal tari pasihan. Salah satu bentuk aplikasi dalam penelitian ini. . pakar tari.

dan (4) teori komunikasi. . artinya semua simpulan dibentuk dari semua informasi yang diperoleh dari lapangan. untuk itu diperlukan beberapa perspektif teori guna memperoleh hasil simpulan yang mantap dapat dipertanggungjawabkan. (3) teori seni pertunjukan. artinya berbeda suatu teori beragam pula cara pandangnya. tetapi seluruh hasil simpulan yang dibuat dan teori yang mungkin dikembangkan. 2006:98-99). Keempat teori tersebut akan berfungsi sebagai alat kajian dan bekerja secara komplementer untuk menemukan makna tunggal yang menempatkan posisi setiap temuan berada pada satu kesatuan konteks (lihat hal: 14). Karena setiap teori memiliki perspektif yang khusus. mempunyai kedalaman makna dan bersifat multidimensional (Sutopo. tetapi dengan beberapa teori yang digunakan sebagai alat kajian sehingga muncul multiperspektif.110 Trianggulasi teori dibutuhkan untuk mendapatkan pandangan yang lengkap dan mendalam. Bentuk aplikasinya. Sifat analisis induktif sangat mementingkan apa yang sebenarnya terjadi dan ditemukan di lapangan yang pada dasarnya bersifat khusus berdasarkan karakteristik konteksnya dalam kondisi alamiahnya. dibentuk dari temuan dan kumpulan data di lapangan digunakan untuk dasar pemahaman dan penyusunan suatu simpulan (Sutopo. Analisisnya tidak untuk membuktikan kebenaran hipotesis yang telah diajukan dalam proposal penelitian. G. Teknik Analisis Penelitian kualitatif bentuk analisisnya bersifat induktif. untuk mengetahui makna yang tersirat dalam tari pasihan harus menganalisis terhadap bahasa verbal dan nonverbal dengan menggunakan empat teori yaitu: (1) teori pragmatik.2006: 105). (2) teori budaya. tidak hanya sepihak dan bersifat monoperspektif.

observasi. arsip maupun dokumen dan lainnya untuk mendapatkan pemantapan simpulan yang kemudian akan dikembangkan dan validitas datanya dengan mencermati tingkat kesamaan. 2006). Aktivitas refleksi dari setiap data yang telah terkumpul pada dasarnya merupakan kegiatan analisis yang semakin berkembang. Analisis dilakukan dalam bentuk interaktif.111 Proses analisis dilakukan bersamaan sejak awal dengan proses pengumpulan data. informan pakar. dan informan budayawan kemudian . Adapun proses interaksi selanjutnya antarkomponen analisisnya meliputi reduksi data. sajian data. setelah peneliti mendapatkan data pada unit-unit hingga kelompok yang besar. perbedaan. bentuk keterkaitan antarunsurnya dan sebagainya). dan kemungkinan lain. Pada penelitian kualitatif kasus tunggal tentang genre tari pasihan gaya Surakarta ini. Proses interaktif juga mengkomparasikan data yang didapat dari wawancara. misalnya tanggapan ciri-ciri karakteristik bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan dari informan penari. perbedaan. Sejak diperoleh data dalam unit yang paling kecil sudah mulai dikomparasikan hingga pada unit-unit atau kelompok data yang besar untuk mengelompokkan beragam variabel sesuai dengan rumusan masalah. atau mengkomparasikan antarfaktor-faktor utama yang menjadi pokok kajian berdasarkan kerangka pikir (Sutopo. sudah merupakan hasil dari analisis yang berkelanjutan pada proses pengumpulan data. kesepadanan. dengan melakukan beragam teknik refleksi untuk pemantapan simpulan awal dan perluasan serta pendalaman data bagi pengumpulan data berikutnya. artinya setiap unit data yang terkumpul selalu dikomparasikan dengan unit data lainnya untuk menemukan beragam hal yang dibutuhkan sesuai dengan tujuan penelitian (keluasan. sehingga data yang hendak disajikan sebagai laporan. penarikan simpulan dan verikasinya.

Untuk menganalisis makna pragmatik dapat dengan mengkomparasikan antarfaktor-faktor utama dari: implikatur tindak tutur verbal dan nonverbal. untuk menarik makna pragmatik sebagai hasil analisis akhir penelitian. Selain itu. mengembangkan hasil wawancara yang berupa kata-kata kunci menjadi catatan lengkap.2006:120). peneliti gunakan model analisis interaktif. Sebagai gambaran model analisis interaktif (Sutopo. fungsi dan persepsi masyarakat. Model analisisnya. peneliti melakukan pengelompokan data menurut jenisnya secara terpisah berdasarkan kelompok informasinya dan merumuskan temuan jalinan dalam .112 dikomparasikan untuk mencari dan menemukan perbedaan. Pengumpulan data (1) Reduksi data (3) Penarikan Simpulan/verifikasi (2) Sajian data Keterangan: Pengumpulan data yang dilakukan adalah mencatat dengan rinci. dan lengkap dengan kata-kata kunci. kritis. Reduksi data. kesamaan dengan beragam rujukannya untuk simpulan yang mantap dengan melihat keterkaitannya tujuan penelitian yang telah dirumuskan yaitu untuk menemukan ciri karakteristik genre tari pasihan gaya Surakarta.

113 kelompok dengan rumusan singkat. merupakan hasil pembahasan dari sajian data dan reduksi data untuk menyimpulkan makna tunggal yang menempatkan posisi setiap temuan berada pada satu kesatuan konteks. Sajian data. disusun berdasarkan kelompok data yang sudah dirumuskan (reduksi data) kemudian melakukan pengelompokan unit sajian berdasarkan kelompok rumusan masalah. . Selain itu membandingkan data antarkelompok untuk menemukan kemungkinan adanya keragaman bentuk yang terkait. yang dikembangkan berdasarkan temuan-temuan dari setiap kelompok data dan disajikan dalam bentuk narasi lengkap dan bukan sajian bahan mentah. Penarikan simpulan/verifikasi.

tari Driasmara. tari Gesang Rahayu. sindhenan. Aspek bahasa verbal dan nonverbal tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk merupakan komposisi dua komponen yang menyatu dalam bentuk seni pertunjukan. diharapkan mampu menjawab rumusan masalah dari kajian pragmatik bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta. tari Lambangsih. Dalam penelitian ini peneliti terfokus pada dua jenis tari pasihan. tari Langen Asmara dan tari Setyaningsih.114 BAB IV BAHASA VERBAL DAN NONVERBAL GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA Genre tari pasihan gaya Surakarta merupakan habitat dari jenis-jenis karya tari duet percintaan atau tari pasihan. Adapun bentuk genre tari pasihan terdiri dari tari duet percintaan. tari Enggar-enggar. gerongan. tari Kusuma Ratih. Pemilihan kedua jenis tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk. busana. tari Jayaningrat. rias. tari Kusuma Aji. polatan (ekspresi wajah). Pada dasarnya bentuk tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk sebagai bagian seni pertunjukan genre tari pasihan gaya Surakarta memiliki beberapa aspek di antaranya aspek sastra tembang sebagai bahasa verbal yang berupa cakepan (syair): pathetan. Bagi seniman komposit dari bahasa verbal dan nonverbal yang terdapat pada tari . yakni seperti: tari Karonsih. dan jineman. gerak tubuh (kinetic body moves). Sedangkan aspek bahasa nonverbal meliputi: tema. yaitu tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk. tari Bondhan Sayuk. Secara garis besar bentuk tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk banyak persamaannya. pola lantai. dan iringan karawitan. tari Endah. yang sudah barang tentu juga terdapat perbedaan namun tidak begitu signifikan.

peneliti hendak menggali dan mengungkap data dari infoman berdasarkan faktor objektif. yakni sastra tembang yang merupakan bahasa verbal dan elemen-elemen lain yang terkait dan menunjang dengan tari yang merupakan bahasa nonverbal. Bahasa Verbal. untuk menyajikan sebuah tari yang sesuai untuk kebutuan resepsi perkawinan Ibnu Harjanto adik Tien Suharto istri mantan presiden Indonesia yang ke dua (wawancara Maridi. Jika dicermati lebih lanjut pertunjukan tari Karonsih dapat dibagi menjadi beberapa adegan-adegan sebagai berikut: 1) adegan pencarian.115 Karonsih dan tari Bondhan Sayuk merupakan kesatuan makna yang utuh dan berfungsi sebagai sarana komunikasi untuk hiburan dan suritauladan. genetik. yakni: (1) pathetan: sakpada (satu . Teks sastra tembang yang merupakan bahasa verbal tari Karonsih. ketika beliau mendapat permintaan dari keluarga Kalitan. Faktor Objektif I. dan 3) adegan bahagia. terdiri dari beberapa bait syair yang terdapat pada garap lagu. a. dan afektif. Tari Karonsih Tari Karonsih merupakan tari tradisi gaya Surakarta jenis pasangan silang jenis karakter putri luruh dengan putra alus luruh yang bertemakan percintaan Dewi Sekartaji dengan Panji Inukertapati. Pembagian adegan di sini berdasarkan suasana-suasana yang dibangun lewat garap gendhing dan makna sastra tembang. Untuk menjelaskan tentang seluk-beluk bahasa verbal dan nonverbal pada kedua jenis tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk. yang merupakan klimaks dari seluruh adegan. 2) adegan pertemuan. Karya tari Karonsih merupakan hasil susunan Maridi pada awal tahun 1970. 1991). A. Bentuk tari Karonsih terdiri dari dua komponen pokok.

dan (4) garap gerongan Lambangsari: rong pada. (2) garap sindhenan Pangkur Ngrenas: sakpada.1 Sang Retnayu Dewi Jengkar Sekartaji Jengkar sking kedhaton Nr Asertif . (1) Teks Pathetan Wantah Sang Retnayu Dewi Sekartaji Jengkar sking kedhaton Sang Retnayu Dewi Sekartaji Jengkar sking kedhaton Angupadi mendranira ingkang garwa Inukertapati. Kinanthi Sandhung: rongpada (dua bait). seperti jabaran berikut ini. Inukertapati Menangis tersedu-sedan.116 bait).O………… Terjemahan: Si cantik Dewi Sekartaji Pergi dari kerajaan Si cantik Dewi Sekartaji Pergi dari kerajaan Mencari suaminya.. (3) garap sindhenan. Jenis – jenis Tindak Tutur (TT) yang melekat pada teks Pathetan Wantah No Narator (Nr) Teks Verbal Pathetan Wantah Jenis-jenis TT Pemarkah 1. Bahasa verbal yang berupa tembang Jawa tersebut terurai menjadi beragam jenis tindak tutur dan beragam makna yang dikandungnya. Dahat denira muwun. O………. Dari masing-masing bait syair tembang tersebut memiliki garap lagu atau watak lagu yang berbeda-beda.

b. Peserta tutur: Narator (Pn) Dewi Sekartaji (Pt). Identifikasi / latar. istri yang sangat setia terhadap suami. ia merespon dengan gerak tanpa tuturan. a. c. Situasi tutur: tidak formal.. O………. e. Tujuan: seorang istri (Dewi Sekartaji) yang mencari suami (Panji Inukertapati) yang telah meninggalkan kerajaan d.117 1. 1.2 Sang Retnayu Dewi Jengkar Sekartaji Jengkar sking kedhaton Nr 1. Status sosial: Dewi Sekartaji sebagai seorang istri. . Tempat: perjalanan di luar kerajaan.4 Nr Dahat muwun. ia digambarkan sebagai figur seorang wanita. f.O…… denira Ekspresif muwun Konteks. Tema / topik: pencarian.3 Angupadi mendranira Direktif Angupadi Asertif ingkang garwa Nr Inukertapati.

badan ngglebak ke kanan hadap ke depan. Mendranira: adalah sebuah tindakan yang didasari dari rasa tidak puas terhadap sesuatu. kaki njujut. Angupadi: merupakan sebuah perbuatan untuk mencari dan berupaya menemukan dengan cara dan usaha yang sungguh-sunggguh. Gerak: Dewi Sekartaji keluar dari pojok belakang kanan stage menuju tengah dengan gerak: srisik. Implikatur teks Pathetan adalah menggambarkan liku-liku perjalanan Dewi Sekartaji dalam mencari dan untuk menemukan Panji Inukertapati (suaminya). h. kengser. lumaksono. Pola lantai: didominasi garis–garis lurus. dan usap kiri – usap kanan. ridhong sampur kiri. Iringan gendhing: pathetan untuk mendukung suasana sedih. Maksim kualitas dipatuhi. i. j. pandangan mata mengarah ke bawah dan perubahan gerak kepala lebih pelan dan terkesan hati-hati. Implikatur. b.118 g. Maksim kuantitas dilanggar. . badan putar menghadap belakang srisik mundur kemudian putar menghadap depan. badan nglayang (memutar) ke kiri. Jengkar sking kedhaton: merupakan pernyataan perbuatan atau tindakan dari keluarga bangsawan karena terdapat suatu permasalahan yang sangat penting yang mengharuskan dan sebagai jalan terakhir untuk pergi dari kerajaan. Polatan / ekspresi wajah: Dewi Sekartaji tampak sedih kepala menunduk. Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Pathetan Wantah dapat diungkap: a.

119 c. Teks Sindhenan Pangkur Ngrenas. Maksim hubungan dipatuhi. d. 2) melakukan TT secara tidak langsung (off record). janma kang Patik koncatan nyawa. menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif.1 Nr Jarweng janma. Maksim cara dilanggar. Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Pathetan Wantah. Dhuh jagad dewa bathara Welasa mring dasih kang nandhang kingkin Tinilar garwa satuhu Dadya gantilaning tyas Ulun dhahat teka aginggang sarambut Kalamun datan pinanggya Aluwung tumekeng lalis Terjemahan: Wahai Sang Hyang Dewata Kasihanilah hambamu yang baru sedih Ditinggal suami Yang menjadi buah hati Hamba tidak dapat berpisah Jika tidak dapat bertemu Lebih baik mati . gones. (2). Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Isen-isen (isian) No Narator (Nr) Teks Verbal Isen-isen Jenis-jenis TT 1.

4 Dewi Sekartaji (Pn) Dadya gantilaning tyas Direktif dadya 2.6 Dewi Sekartaji (Pn) Kalamun pinanggya datan Direktif datan 2.5 Dewi Sekartaji (Pn) Ulun dhahat teka Direktif Ulun dhahat aginggang sarambut 2.jenis TT yang melekat pada teks Sindhenan Pangkur Ngrenas. No Penutur (Pn) Teks Verbal Sindhenan Pangkur Ngrenas Jenis – jenis TT Pemarkah 2.1 Dewi Sekartaji (Pn) Dhuh jagad dewa bathara Patik Dhuh jagad 2.3 Dewi Sekartaji (Pn) Tinilar garwa satuhu Asertif satuhu 2.7 Dewi Sekartaji (Pn) Aluwung tumekeng lalis Komisif Aluwung .2 Dewi Sekartaji (Pn) Welasa mring dasih kang nandhang kingkin Direktif mring dasih 2.120 Jenis .

melindungi dan bertanggungjawab. j. sekar suwun. b. pasrah. ia digambarkan sebagai figur seorang wanita. Tujuan: Dewi Sekartaji dalam situasi yang rindu. Tempat: dalam perjalanan di luar kerajaan. . Identifikasi / latar.121 Konteks. g. Polatan / ekspresi wajah: Dewi Sekartaji tampak sedih. Situasi tutur: tidak formal. Pola lantai: didominasi garis-garis lurus. Status sosial: Dewi Sekartaji sebagai seorang istri. pandangan mata mengarah ke bawah dan perubahan gerak kepala lebih pelan dan terkesan hati-hati. Nandhang kingkin: Gantilaning tyas: suasana sedih yang dialami seseorang. supaya kasih asmaranya dapat menyatu kembali. Implikatur. istri yang sangat setia terhadap suami. sedih. f. kepala menunduk. a. Gerak: Sekartaji mengekspresikan lewat gerak laras sampir sampur kanan. Iringan gendhing: Ketawang Ngrenas untuk mendukung suasana sedih. c. dan lembehan separo. e. tawing kiri ingsetan. d. i. merupakan kekasih sebagai belahan jiwa yang diharapkan dapat sebagai tumpuan akhir yang mampu mengayomi. Tema / topik: kesetiaan. dan memohon pada Yang Kuasa agar segera dipertemukan dengan suaminya. Peserta tutur: Dewi Sekartaji. h.

Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Sindhenan Pangkur Ngrenas. menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif. Maksim kualitas dipatuhi. Maksim cara dilanggar. c. sedih. Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Sindhenan Pangkur Ngrenas dapat diungkap: a. 2) melakukan TT secara tidak langsung (off record). tersurat dalam bentuk tuturan yang diungkapkan dengan TT: Kalamun datan pinanggya. . Aluwung tumekeng lalis. Maksim hubungan dipatuhi. d. Maksim kuantitas dilanggar. sehingga berharap tidak dapat putus. pasrah. b. Aluwung tumekeng lalis: sebuah pernyataan yang dilandasi emosional atau ketulusan hati untuk melakukan tindakan sebagai jalan pintas untuk mengakhiri kehidupan. Sebagai bukti kesetiaan seseorang.122 Aginggang sarambut: merupakan pernyataan hubungan cinta kasih yang sangat erat dan lekat. Dalam hubungan asmara dapat sebagai bukti kesetiaan. kemudian memohon pada Yang Kuasa agar segera dipertemukan dengan suaminya. Implikatur teks Pangkur Ngrenas adalah menggambarkan Dewi Sekartaji dalam situasi rindu. Bukti kesetiaan yang mendalam Dewi Sekartaji terhadap suaminya.

123 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Isen-isen No 2. Cakepan a.2 Nr Saji siswa.jenis TT Patik 2. rama Lamun sira darbe tresno Jenis . Wahai istriku Mengapa berpaling tidak menghiraukan Kemari tataplah wajah kakanda Sudah lama rindu Tidak biasa adinda marah Apa persoalannya . gones Arane basa nawala Patik (3). Teks Sindhenan Kinanthi Sandhung. Wus dangu pun kakang wuyung Marang yayi wanodya di Tuhu wanita utama Mustikaning para putri Muga tansah pinaringan Kanugrahan kang salami Terjemahan: Syair a. Adhuh yayi garwa ningsun Teka mlengos datan angkling Mara ngadhepna pun kakang Kang wus lami nandhang brangti Kadingaren yayi duka Apa kang dadi wigati Cakepan b.1 Narasi (Nr) Nr Teks Verbal Isen-isen Suta nendra prajane sri Bomantara Sun bathara.

No Penutur (Pn) Teks Verbal Sindhenan Kinanthi Sandhung Adhuh ningsun yayi garwa Jenis .jenis TT Patik Pemarkah 3.5 Panji Inukertapati (Pn) Kadingaren yayi duka Direktif kadingaren 3.2 Panji Inukertapati (Pn) Teka mlengos datan Direktif datan angkling 3.6 Panji Inukertapati (Pn) Apa kang dadi wigati Direktif apa .1 Panji Inukertapati (Pn) Adhuh 3.3 Panji Inukertapati (Pn) Mara kakang ngadhepna pun Direktif mara 3.4 Panji Inukertapati (Pn) Kang wus lami nandhang brangti Ekspresif nandhang 3. Sudah lama kakanda jatuh asmara Kepada adinda wanita yang cantik Engkau wanita utama Menjadi suritauladan para wanita Semoga selalu diberi Kebahagiaan selamanya Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Sindhenan Kinanthi Sandhung.124 Syair b.

.11 Panji Inukertapati (Pn) Muga tansah pinaringan Direktif muga 3. c.7 Panji Inukertapati (Pn) Wus dangu pun kakang wuyung Ekspresif wus dangu 3. ia merespon dengan gerak tanpa tuturan. Tema / topik: percintaan.125 3. a. Tujuan: menyatukan kembali kasih asmara antara suami dengan istri yang pernah berpisah. Dewi Sekartaji (Pt). Peserta tutur: Panji Inukertapati (Pn).10 Panji Inukertapati (Pn) Mustikaning para putri Ekspresif mustikaning 3.12 Panji Inukertapati (Pn) Kanugrahan kang salami Direktif kanugrahan Konteks. Identifikasi / latar. b.8 Panji Inukertapati (Pn) Marang yayi wanodya di Direktif marang 3.9 Panji Inukertapati (Pn) Tuhu wanita utama Ekspresif utama 3.

Sekartaji merasa malu kemudian melepas kedua tangan dan srisik yang segera dikejar Panji dengan srisik nyandhet tangkep asta ngaras (berciuman). srisik. laras genjot. Dewi Sekartaji sebagai seorang istri. tangan pondhongan kemudian nyaut jeblos (tukar tempat) lalu Sekartaji memberikan sampur dan segera diterima Panji. tangan kanan nyaut. ngancap. Panji segera memburu Sekartaji dengan gerak berdiri srisik. Tempat: dalam perjalanan di luar kerajaan. e. maju lumaksono. ulap-ulap tangan kiri – kanan. nyabet ukel karna kanan. Situasi tutur: tidak formal. Perasaan malu juga ditampakkan oleh kedua tokoh tersebut setelah berciuman lepas . Gerak: Sekartaji tampak putus harapan. ia digambarkan sebagai figur seorang suami yang bertanggungjawab dan sangat setia terhadap istri. g. panggel. maju. Datang Panji dari belakang. tangan kanan nyaut dengan kebyok kemudian mundur. dan kengser ke kanan. Untuk meredakan kemarahan Sekartaji. istri yang sangat setia terhadap suami. f. Suasana kemesraan Sekartaji dan Panji semakin terasa yang diungkapkan lewat gerak tangkep asta. Suasana marah diekspresikan Sekartaji dengan berdiri enjer. Status sosial: Panji Inukertapati sebagai seorang suami. tanjak kanan. besut. Panji mencoba merayunya kembali dengan lumaksono kebyokan sampur. ketika Panji jengkeng njawil (memegang bahu). tanjak tawing kanan. yang digambarkan jengkeng (duduk) diikuti kedua tangan memegang sampur sambil menutup raut muka pada posisi centre stage. ia digambarkan sebagai figur seorang wanita.126 d.

pandangan muka Sekartaji selalu menghindar dari tatapan mata Panji. Suasana marah. Pola lantai: didominasi garis-garis lengkung. adu tangan kiri nekuk. akhirnya luluh hati Dewi Sekartaji. pandangan dan tatapan mata keduanya banyak saling berhadapan wajah. pandangan mata mengarah ke bawah. h. kanthen tangan kanan. Implikatur teks Kinanthi Sandhung tersebut adalah: a) Dewi Sekartaji marah terhadap Panji Inukertapati. damai dan bahagia. nandhang brangti: merupakan gambaran psikologis seseorang dalam keadaan asmara. Asmara yang dibangun Sekartaji dan Panji Inukertapati mulai menyatu. . tangan kanan tawing. b) Panji berusaha membujuk dan merayu istrinya. ekspresi wajah Sekartaji dan Panji tampak cerah dan gembira. j. saling melempar senyum sebagai tanda cinta. i. Iringan gendhing: Ketawang Kinanthi Sandhung untuk mendukung suasana kasmaran atau bercinta. untuk mendapatkan perhatian mitra tuturnya. srisik melingkar. seperti: kanthen tangan kanan. hal ini diekspresikan dengan bentuk-bentuk gerak selalu bergandengan tangan. laku enjer saling menjauh. Suasana mesra. Implikatur. sedangkan Panji selalu memandang Sekartaji. raut muka ditutup. Polatan / ekspresi wajah: ketika Sekartaji tampak putus harapan. tangan kiri menthang. Mustikaning: merupakan ungkapan yang bersifat menyanjung terhadap kelebihan seseorang. mesra. Kadingaren: merupakan perbuatan atau tindakan seseorang yang tidak biasa dilakukan.127 kedua tangan. maju. kengser ke kanankiri.

Cakepan a.128 Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Sindhenan Kinanthi Sandhung. 2) melakukan TT secara tidak langsung (off record). Maksim kualitas dipatuhi. b. Pra wanita marsudiya marang tindak kang utama Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada Ingkang bisa nujuprana weh reseping pamicara Nora kengguh ing panggodha darbe budi kang santosa Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira Datan kemba asih tresna sung tetreming kulawarga Sampun sami setya tuhu anggenya liron asmara Karonsih pancen pranyata dadya kembang jagad raya Cakepan b. (4). c. Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Sindhenan Kinanthi Sandhung. menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif. Teks Gerongan Lambangsari. d. dapat diungkap: a. Maksim hubungan dipatuhi. Maksim kuantitas dilanggar. Pra wanita marsudiya marang tindak kang utama Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada Ingkang bisa nujuprana weh reseping pamicara Nora kengguh ing panggodha darbe budi kang santosa Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira Datan kemba asih tresna sung tentreming kulawarga Sang pekik wah sang dyah ayu dangu samya bagyaharja Tan kendhat tansah meminta kanugrahan ing Hyang Sukma . Maksim cara dilanggar.

129 Terjemahan: Syair a. saling mencintai menuju ketetraman keluarga Sudah saling setia dalam bercinta cinta itu adalah nilai yang universal Syair b. Para wanita supaya selalu berbuat kebajikan Selalu setia terhadap suami. Para wanita supaya selalu berbuat kebajikan Selalu setia terhadap suami. menjadi pasangan yang bertanggungjawab Yang bisa menarik hati membuat harmonis dalam pembicaraan Tidak tergoda.1 Panji Inukertapati (Pn) Pra wanita marsudiya Direktif marsudiya marang tindak kang utama 4.2 Panji Inukertapati (Pn) Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada Direktif marang garwa 4. menjadi pasangan yang bertanggungjawab Yang bisa menarik hati membuat harmonis dalam pembicaraan Tidak tergoda. saling mencintai menuju ketetraman keluarga Sang kesatria (Panji) dan sang Dewi Sekartaji sudah lama hidup bahagia Tiada henti selalu meminta kebahagiaan kepada Yang Maha Kuasa Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Gerongan Lambangsari. No Penutur (Pn) / Petutur (Pt) Teks Verbal Gerongan Lambangsari Jenis – jenis TT Pemarkah 4. memiliki sikap yang teguh Gantian pria berilah keseimbangan sebagai pengayom dalam perkawinan Tidak acuh. memiliki sikap yang teguh Gantian pria berilah keseimbangan sebagai pengayom dalam perkawinan Tidak acuh.3 Panji Inukertapati (Pn) Ingkang bisa nujuprana weh reseping pamicara Direktif ingkang bisa .

4 Panji Inukertapati (Pn) Nora kengguh darbe ing budi Direktif nora kengguh panggodha kang santosa 4.6 Dewi Sekartaji (Pt) Datan kemba asih tresna sung tetreming kulawarga Direktif datan kemba 4.9 Panji Inukertapati (Pn) Pra wanita marsudiya Direktif marsudiya marang tindak kang utama 4.10 Panji Inukertapati (Pn) Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada Direktif marang garwa 4.12 Panji Inukertapati (Pn) Nora kengguh darbe ing budi Direktif nora kengguh panggodha kang santosa 4.7 Narator Sampun sami setya tuhu anggenya liron asmara Asertif sampun sami 4.130 4.11 Panji Inukertapati (Pn) Ingkang bisa nujuprana weh reseping pamicara Direktif ingkang bisa 4.5 Dewi Sekartaji (Pt) Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira Direktif nimbangana 4.8 Narator Karonsih pancen pranyata dadya kembang jagad raya Asertif pancen pranyata 4.13 Dewi Sekartaji Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira Direktif nimbangana .

Suasana kemesraan. g. Gerak: Sekartaji dan Panji gerak yang dipilih untuk mengungkapkan suasana bahagia yang tercermin dalam rasa gembira. Situasi tutur: tidak formal.16 Narator Tan kendhat tansah Direktif meminta meminta kanugrahan ing Hyang Sukma Konteks. Tema / topik: kebahagiaan. . ia digambarkan sebagai figur seorang wanita. e. dan alisan. luluran. f. b. ngore rikma. Dewi Sekartaji sebagai seorang istri. istri yang sangat setia terhadap suami. Tujuan: membina keluarga yang bahagia antara suami dan istri.14 Dewi Sekartaji (Pt) 4.15 Narator Sang pekik wah sang dyah ayu dangu samya Asertif samya bagyaharja Datan kemba asih tresna sung tetreming kulawarga Direktif datan kemba bagyaharja 4.131 (Pt) 4. Peserta tutur: Panji Inukertapati (Pn). d. Tempat: di kerajaan. ia digambarkan sebagai figur seorang suami yang bertanggungjawab dan sangat setia terhadap istri. a. Status sosial: Panji Inukertapati sebagai seorang suami. c. Dewi Sekartaji (Pt). Identifikasi / latar. seperti motif gerak: Trap jamang.

pernyataan kesetiaan yang mendalam.132 kebersamaan. srisik kanthen tangan kanan. cerah terutama ditampilkan pada adegan ini. i. kanthen tangan kiri enjeran. Puncak kemesraan pada adegan bahagia ini terekspresikan pada saat Sekartaji duduk dipangkuan Panji Inukertapati. h. . Motif-motif gerak tersebut dilakukan dengan irama dinamis. mereka saling memandang dengan ekspresi wajah ceria. Adapun sebagai penutup ladrang Sigramangsah untuk mendukung suasana semangat. Implikatur. rimong sampur. Pola lantai: didominasi garis-garis lengkung. damai dan bahagia. lumaksono encot kanthen tangan kanan. kanthen tangan kanan ingsetan. saling melempar senyum sebagai tanda cinta. dan keharmonisan diungkapkan dengan motif-motif gerak. dan diakhiri pangkon ulap-ulap tangan kiri. kebyokan sampur. Iringan gendhing: Lambangsari untuk mendukung suasana riang dan gembira. Marsudiya: Setya tuhu: tuturan perintah yang bersifat santun. lilingan. dan mesra. pandangan mata searah. mesra. saling mendekat. saling bersentuhan tangan dan badan sehingga terasa sebagai puncak kemesraannya. Bersetuhan badan tampak pada gerak Sekartaji dipangku Panji. senyum. keduanya banyak saling berhadapan wajah. j. saling berhadapan. seperti: lilingan. Polatan / ekspresi wajah: kedua tokoh Sekartaji maupun Panji Inukertapati tampak gembira.

dapat diungkap: a. 4) Kebagiaan dunia dan akhirat merupakan kebutuhan hidup hakiki manusia yang diupayakan secara seimbang. Maksim cara dilanggar. dan mampu menciptakan ketentraman keluarga. Maksim kuantitas dilanggar. Maksim hubungan dipatuhi. 3) Nilai cinta adalah sebuah nilai universal yang dapat dijadikan landasan kehidupan berumahtangga. Kembang jagad raya: ungkapan pengadaian yang dimaksudkan untuk menunjukkan kehebatan. menarik. Implikatur teks Gerongan Lambangsari terdiri dari: 1) Tipe seorang istri yang ideal adalah selalu berupaya berbuat kebajikan. . setia terhadap suami. dan ketenaran. mengayomi. dan bertanggungjawab. c. Nimbangana: sebuah permintaan yang menghendaki mitra tuturnya berlaku bijak.133 Nujuprana: ungkapan yang menyatakan kecocokan atas sesuatu yang menjadikannya senang. 2) Tipe seorang suami yang ideal adalah setia terhadap istri. Ngayomi: merupakan sebuah tanggungjawab untuk menjamin kenyamanan. Liron asmara: mempunyai pengertian saling mencintai. b. Maksim kualitas dipatuhi. d. Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Gerongan Lambangsari. ketenangan dan kebahagiaan orang lain.

penonton akan dapat menangkap makna dari pertuturan secara utuh. 2) melakukan TT secara tidak langsung (off record). . Dari penjabaran teks verbal yang terdapat dalam tari Karonsih terdapat beragam jenis tindak tutur yang dapat peneliti klasifikasikan secara kuantitatif jenis tindak tutur direktif paling dominan. seperti paparan berikut: NO 1 2 3 4 5 5 6 JENIS TINDAK TUTUR Tindak Tutur Direktif Tindak Tutur Ekspresif Tindak Tutur Asertif Tindak Tutur Patik Tindak Tutur Komisif Tindak Tutur Performatif Tindak Tutur Verdiktif JUMLAH 25 7 4 5 1 - Berdasarkan prinsip kerja sama bahasa verbal yang terdapat tari Karonsih. menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif. Maksim kuantitas dilanggar karena dalam menyampaikan tuturan seorang penutur. Diharapkan dengan mencermati peristiwa demi peristiwa yang terjadi secara kronologis sejak adegan awal sampai akhir.134 Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Gerongan Lambangsari. a. b. banyak menggunakan kata-kata arkais dimaksudkan oleh seniman penyusun untuk mengekspresikan rasa estetik. Maksim kualitas dipatuhi dimaksudkan oleh penutur untuk menggambarkan peristiwa yang betul-betul terjadi pada masing-masing adegan.

polatan (ekspresi wajah). dan iringan. kinetic body moves. Maksim cara dilanggar karena dalam menyampaikan tuturan seorang penutur. Bahasa Nonverbal Bahasa nonverbal yang merupakan elemen-elemem dari tari Karonsih terdiri dari: tema. Untuk memahami masing-masing elemen berikut secara parsial akan dipaparkan secara komprehensif. dan pernyataannya samar. Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada tari Karonsih tidak terpenuhi. hanya menggunakan strategi: 1) Melakukan tindak tutur dengan menggunakan kesantunan positif untuk menunjukkan kedekatan. Maksim hubungan dipatuhi dimaksudkan oleh penutur untuk menjaga kerja sama antara penutur dengan mitra tutur. hal ini dimaksudkan seniman penyusun untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa. Hal ini dimaksudkan seniman penyusun untuk menunjukkan simbolisasi keharmonisan hubungan antara peran digambarkan dalam tari. keintiman. masing-masing hendaknya memberikan kontribusi yang relevan demi terjadinya komunikasi rasa. dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur. suami dan istri yang 2) Melakukan tindak tutur secara tidak langsung (off record) untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa. terlalu panjang. rias. d. .135 c. pola lantai. tidak langsung. busana. b.

Kediri. Wilayah Bali cerita Panji banyak dikenal dengan sebutan Malat (Poerbatjaraka. Kamboja. Dilingkungan wilayah kekuasaan kedua kerajaan Yogyakarta dan Surakarta. Timbulnya cerita Panji dipandang sebagai suatu revolusi kesusastraan terhadap tradisi lama (Poerbatjaraka. Tema percintaan yang diangkat dari babad Panji yang mengisahkan perjalanan cinta Dewi Sekartaji dengan Panji Inukertapati merupakan alur cerita yang disajikan dalam tari Karonsih. Singasari. dan Majapahit (abad X sampai ke XVI). Di Indonesia terdapat banyak versi tentang cerita Panji. Sekarang cerita Panji di wilayah Jawa Timur yang merupakan sumber awal cerita tersebut dikenal dengan cerita Ragil Kuning dan Kilisuci. terutama di Pulau Jawa. dan Kethek Ogleng. Munculnya cerita Panji pada zaman kejayaan Majapahit merupakan pernyataan yang cukup kuat. Cerita Panji adalah merupakan karya sastra yang sangat terkenal di Asia Tenggara terutama di Indonesia. cerita Panji ini berkembang sejak Mataram pecah menjadi dua yaitu kerajaan Yogyakarta dengan sebutan Kasultanan Ngayogyakarta dan kerajaan Surakarta lebih dikenal sebagai Kasunanan Surakarta. 1968: 409).136 1. cerita Panji dikenal dalam cerita Andheandhe Lumut. hal ini didukung pendapat Poerbatjaraka: bila kita kumpulkan seluruh bahan keterangan untuk menentukan waktu timbulnya cerita Panji. cerita Panji ini sangat terkenal dalam sebuah garapan dramatari yang disebut Raket. Keong Emas. Jaka Bluwo. Di daerah Pasundan cerita Panji tersebut lebih dikenal dengan sebutan Lutung Kasarung atau Panji Sunda. di Palembang cerita Panji ini dikenal Panji (Angreni) Palembang. Adapun cerita Panji ini di Kamboja dikenal Panji . Siam. Jenggala. dan Thailand. Di Jawa Tengah. di antaranya Medang. kesimpulan satu-satunya bahwa redaksi yang pertama kali disusun pada zaman kejayaan Majapahit. Di Jawa Timur pada masa kejayaan kerajaan-kerajaan. 1968: 290).

Tokoh–tokoh utama yang berperan dalam cerita Panji adalah Panji Inukertapati sebagai suami dan Dewi Sekartraji sebagai isteri. wayang Gedhok. untuk Panji Inukertapati diperankan Harjuna atau Janaka. Tersebarnya cerita Panji di Asia Tenggara. Dramatari. frahmen. Rupanya cerita Panji cukup terkenal sehingga banyak versi. Dalam versi Jawa nama Panji Inukertapati juga disebut Panji Asmarabangun atau Panji Kasatriyan. Dewi Sekartaji diperankan oleh Sembadra. . sedangkan Dewi Sekartaji juga sering disebut Galuh Condrokirana atau Kleting Kuning atau Dewi Limaran. Versi Kamboja. Selain dalam bentuk dongeng. sedangkan di Thailand disebut dengan Jataka. sedangkan Dewi Sekartaji disebut Bossaba. sedangkan Dewi Sekartaji merupakan titisan dewi asmara yaitu Bathari Kamaratih. dan sebagai tema tari pasihan. Siam dan Thailand. sehingga kisah cerita maupun tokoh-tokoh yang terlibat terdapat perbedaan-perbedaan dan juga dalam bentuk naskah tulis. nama Panji Inukertapati disebutnya Eynao atau Inao. wayang Kulit maupun wayang orang (dalam lakon Bambang Semboto. sedangkan Angka Wijaya atau Abimanyu merupakan peran pengganti anak dari Sekartaji atau Candrakirana). yang dapat digunakan sebagai sumber data.137 Kamboja. untuk itu perlu peneliti kemukakan beberapa tulisan yang pada akhirnya dapat dianalisis dalam rangka menentukan versi yang dijadikan sebagai tema. Adapun beberapa cerita secara lengkap tentang cerita Panji dapat diamati secara berturut-turut berikut ini. cerita Panji dapat meluas karena diangkat sebagai lakon-lakon dalam: Kethoprak. Di samping itu juga terdapat sebuah mitos bahwa Panji Inukertapati merupakan titisan dari dewa Asmara yaitu Bathara Kamajaya. terutama di Indonesia penyebarannya dari mulut ke mulut dalam bentuk dongeng.

mereka hidup rukun.138 1. Isi surat pada intinya bahwa Raja Bramakumara menantang perang dengan Panji Kertapati sebagai balas dendam atas kematian saudaranya raja dari Nusa Kencana. dan Singasari yang sangat masyur. yaitu Jenggala. tidak pernah saling bertentangan. Di Tanah Jawa. Setelah Panji Kertapati dan Candra Kirana menikah. datang seorang patih Guna Saronta membawa sepucuk surat sebagai utusan raja Bramakumara dari Makassar. yaitu raja Lembu Amiluhur dari Jenggala yang memiliki anak laki bernama Panji Kertapati dengan raja Lembu Amijaya dari Kediri yang mempunyai anak puteri bernama Candra Kirana atau Retna Galuh atau lebih sering disebut pula Sekartaji. dipaparkan sebagai berikut. Armada perangnya sangat kuat. pengaruh kekuasaannya luas oleh karena itu mereka disegani raja-raja lainnya. terjemahan Yanto Darmono tahun 1979. pada waktu itu terdapat empat kerajaan. Dalam pertemuan itu pula Panji Kertapati sebagai kesatria tumpuan dari seluruh bala . perkasa dan bala tentaranya besar. selain itu beliau sangat bijaksana dan romantis dalam berkeluarga. Dari keempat raja itu terdapat dua raja yang berbesanan. Harapan raja Bramakumara. tidak lama kemudian Panji Kertapati mendirikan sebuah kota Pandhak yang letaknya diwilayah kerajaan Kediri. Keempat raja yang menduduki tahta tersebut masih bersaudara. saling menjaga hubungan sehingga menjadi sangat agung dan terkenal. Daha (Kediri). Pada saat rapat besar kerajaan Kediri. Ngurawan. jika Panji dapat dikalahkan berarti Tanah Jawa dapat dikuasainya. dalam tulisannya yang berjudul: Panji Sekar. Sebagai pangeran muda Panji Kertapati sungguh sangat perkasa dalam peperangan.a Menurut Sunan Pakubuwono IV.

Panji diperintahkan untuk segera pulang karena di dalam tamansari karaton Kediri akan muncul pencuri yang sangat sakti. Jika dapat makan buah ketan tersebut dewa akan meluluskan semua permintaaannya terutama bayi yang di dalam kandungan Sekartaji akan keluar anak lakilaki yang rupawan. Perjalanan untuk mencari buah ketan dilanjutkan. Ungkapan Candra Kirana merupakan permintaan segera (nyidam). sehingga mereka sangat kerasan bahkan lupa untuk kembali pulang. bagi Panji itu merupakan tanggungjawab sebagai suami yang setia terhadap istri. Panji Kertapati mendapat dukungan dari Sekartaji istrinya.139 tentara kerajaan menyanggupi tantangan dan menunggu kedatangan raja Bramakumara sebagai penantang. yang tidak diketahui manusia terletak di tengah hutan yang sangat keramat. Di tengah hutan Tikbrasara Panji Kertapati perang dengan prajurit sandi dari Makassar yang akhirnya dimenangkan oleh Panji. Atas kehendak dewa. sampai di tengah hutan Panji dan pengikutnya mendapatkan sebuah tamansari di dalamnya terdapat buah ketan yang digambarkan bagaikan surga. Manfaat lainnya dari buah ketan adalah menghilangkan segala penyakit dan dapat membuat tenteram. Patih Guna Saronta dengan akal yang licik membujuk raja Bramakumara untuk masuk ke tamansari bersamanya guna mencuri Galuh Candrakirana dengan harapan . kelak menjadi kesatria yang sakti. gagah berani dalam medan perang dan menjadi raja yang Agung di Tanah Jawa. untuk itu ia bergegas untuk mencari ke hutan yang diikuti oleh Bancak dan Dhoyok. Taman sari tersebut merupakan buatan dewa Batara Darma. namun sang istri juga mengungkapkan impiannya bahwa ia disuruh dewa untuk makan buah ketan yang terdapat di taman sari di tengah hutan Tikbrasara.

Bala tentara dari Makassar yang dipimpin raja-raja bawahan segera menyerang Kediri. Keberangkatan Brahmana secara sendirian untuk menculik sang puteri disadari bahwa ia mengetahui pula bahwa Panji sebagai calon suami Sekartaji adalah seorang pahlawan yang tidak dapat ditaklukkan karena penjelmaan dewa yang lebih sakti dari pada anaknya. ketika Bramakumara hendak memaksa Galuh. Kehadiran dan permintaan Bramakumara tetap ditolak. Brahmana dari negeri seberang yang merasa memiliki tanggungjawab sebagai orang tua yang hendak meluluskan permintaan anaknya yaitu Kalana untuk kawin dengan sang Dewi Sekartaji. Rasa takut yang semakin mencekam menghinggapi Galuh Candrakirana.b Cerita Panji dalam perbandingan (Poerbatjaraka. Rupanya dewa meluluskan permohonan sang dewi.140 mengurangi kekuatan Panji secara perlahan-lahan. Pada malam yang sangat gelap Guna Saronta dan Bramakumara masuk tamansari dengan ajian yang membuat semua orang di dalamnya tertidur.1968: 100-104) cerita Panji dalam Serat Kanda dikisahkan sebagai berikut. 1. namun dapat dikalahkan oleh bala tentara Panji. Galuh Candrakirana lebih baik memilih bunuh diri. . Sekartaji dicuri seorang Brahmana untuk dikawinkan dengan anaknya bernama Klana. kemudian dalam benaknya berharap segera Panji suaminya segera dapat menolongnya. bahkan jika raja Makassar hendak memaksa. Ketika Panji putra raja Jenggala hendak dikawinkan dengan putri raja Daha (Kediri) yaitu Sekartaji terjadi penculikan di tamansari Kediri. Galuh Candrakirana tidak bisa tidur datanglah Guna Saronta dan Bramakumara yang berusaha merayu agar Galuh bersedia menjadi prameswari. iapun bergegas menuju Kediri. Panji yang dengan ilmu siluman sejak awal tengah dekat dengan Galuh Istrinya segera bertindak dan menghajar Bramakumara dan Guna Saronta yang akhirnya Panji menang.

Panji dan Sekartaji dikawinkan dengan pesta secara besarbesaran. Andheandhe Lumut merupakan salah satu dongeng yang sangat dikenal yang tidak lain adalah menceriterakan tentang perjalanan hidup sepasang suami-istri yakni Panji Inukertapati dengan Sekartaji atau sering desebut Galuh Candrakirana. Brahmana rupanya sangat bernafsu melihat Sekartaji. bukan untuk anaknya raja Kelana di Pulo Kencana. Brahmana masuk tamansari Kediri dan menculiknya Sekartaji yang segera dibawa pulang ke Talkanda yakni tempat kediamannya sendiri karena ia terpesona kecantikan sang puteri. Sesudah mendapatkan kemenangan raja Jenggala mengundurkan diri untuk menjadi seorang begawan dan mengangkat Panji sebagai pengganti raja di Jenggala dengan nama Dewakusuma yang didampingi Sekartaji sebagai prameswari serta para isteri selirnya.c Cerita Panji dalam dongeng. Setelah beberapa hari berlangsungnya pesta perkawinan. Di sebuah desa terdapat seorang janda mempunyai tujuh anak yang . Di tengah-tengah masyarakat Jawa. raja Kalana beserta prajuritnya menyerang Jenggala. Kepala Brahmana dapat dipenggal oleh Panji yang selanjutnya dikirimkan kepada raja Kelana di Pulo Kencana yang disertai sepucuk surat tantangan perang. Pengejaran Brahmana terhenti karena dihadang Panji.141 Pada malam tiba. atas kehendak ke dua orang tua mereka. 1. Adapun ringkasan ceritanya sebagai berikut. sedangkan Panji bersama Sekartaji kembali ke kerajaan. Peperangan berakhir kekalahan dipihak kerajaan Pulo Kencana dan raja Kelana mati terbunuh oleh Panji. kemudian terjadi peperangan sangat dahsyat yang masing-masing saling mengeluarkan kekuatan-kekuatan gaibnya. ia memaksa dan hendak memperkosanya namun sang puteri tetap menolak dan akhirnya melarikan diri ke hutan. Sekembalinya sepasang kekasih putra-putri kerajaan tersebut.

Perlakuan ibunya terhadap Kleting Kuning sangat dibedakan dengan keenam Kleting saudaranya. jika saudaranya banyak dimanja namun Kleting Kuning lebih banyak disuruh bekerja keras dan sangat dibenci. Permintaan Yuyukangkang disanggupi. Harapan . ketika ke enam saudaranya berangkat ke desa Dadapan. Di tengah perjalanan menuju desa Dadapan para Kleting hendak menyeberang sungai. dan sebagainya. selanjutnya satu-persatu Kleting diseberangkan. tetapi yang diminta adalah ciuman. mereka ditolak semua dengan alasan telah menjadi sisa dari Yuyukangkang. Kleting Ijo. Anak yang paling bungsu rupanya sangat buruk bernama Kleting Kuning. Enam Kleting tidak satupun yang diterima menjadi kekasih Andheandhe Lumut. Yuyukangkang bersedia menyeberangkan dan meminta upah bukan uang atau benda lainnya. Ketika keenam saudaranya hendak mengadu cinta terhadap seorang pemuda tampan Andhe-andhe Lumut putra seorang janda Dadapan. Kebencian ibunya terhadap Kleting Kuning tiba pada puncaknya. ia disuruh untuk membersihkan periuk yang sangat kotor agar menjadi seperti baru lagi ke sungai yang jauh dari rumahnya.142 masing-masing anak dengan nama panggilan depan Kleting dan nama berikutnya mengambil sebutan jenis warna. namun tak seorangpun dapat dijumpai kemudian muncul Yuyukakang yaitu makhuk berbadan manusia berkepala kepiting raksasa yang merupakan penjilmaan dari Prabu Kelana dari negeri Sabrang yang telah lama jatuh cinta dan hendak memperistri Galuh Candrakirana. seperti Kleting Abang. mereka diberi pakaian yang bagus dan wangi-wangian agar salah satu darinya dapat memikat hati pemuda dimaksud dan menjadi isterinya. yang tidak lain adalah Candrakirana yang menyamar untuk mencari Panji suaminya.

Yuyukangkang mohon Kleting Kuning supaya mengembalikan airnya segera dan berjanji akan menyeberangkan. bertemu Kleting Kuning sambil mengungkapkan kekesalannya dengan mengejek dan menghinanya dengan sindiran bahwa yang cantik-cantik saja tidak . Kleting Kuning marah. ia merasa gagal tidak dapat bertemu Galuh Candrakirana kemudian memutuskan kembali pulang ke negeri sabrang. Kleting Kuning dapat membersihkan periuk menjadi mengkilap bahkan dapat bersinar dan diberi senjata Sada Lanang (seutas lidi) yang sakti. Rupanya keteguhan dan kesabaran Kleting Kuning membawa hikmah. Permintaan Kleting Kuning ditolak Yuyukangkang bahkan diusirnya untuk segera kembali pulang.143 ibunya supaya Kleting Kuning tidak mengikuti kakak-kakaknya melamar Andhe-andhe Lumut. Yuyukangkang menjelma menjadi Prabu Kelana. kemudian permintaan Yuyukangkang disanggupi dan ia diseberangkan. Di tepi penyeberangan Kleting Kuning hanya bertemu Yuyukangkang dan minta tolong untuk diseberangkan seperti kakaknya yang lebih dulu berangkat. ia bersemadi memohon pada dewa agar diberi kemudahan untuk membersihkan periuk yang dibawanya. Setelah pulang Kleting Kuning tinggal menjumpai ibunya yang memberitau bahwa kakaknya semua berangkat melamar Andhe-andhe Lumut ke desa Dadapan. Keberangkatan Kleting Kuning menyusul Kleting lainnya rupanya tidak dikehendaki ibunya. Atas kuasa dewa. senjata Sada Lanang dipukulkan ke sungai yang seketika itu airnya menjadi kering dan Yuyukangkang jatuh tidak berdaya. maka sebelum berangkat ia hanya boleh memakai pakaian seadanya dan mukanya dibedaki seperti badut serta diberi bau-bauan yang busuk supaya tidak diterima Andhe-andhe Lumut. Sekembalinya dari Dadapan enam Kleting yang jengkel hatinya karena ditolak cintanya.

namun permasalahan-permasalahan yang dihadapi dapat diselesaikan dengan baik yang akhirnya mereka dapat berhasil menikmati hidup bahagia dalam sebuah keluarga. Mereka sangat bahagia dan segera kembali ke istana dan disambut meriah oleh bangsawan dan seluruh rakyatnya. Kleting Kuning mengungkapkan maksudnya yakni untuk mengadu cinta kepada Andhe-andhe Lumut. namun ditolak si janda. . Andhe-andhe Lumut segera membawa Kleting Kuning masuk kamar dan menjelma menjadi Panji Inukertapati dan Sekartaji. Berdasarkan tiga versi cerita Panji dapat dirangkum secara padat dan singkat bahwa liku-liku perjalanan cinta Dewi Sekartaji dengan Panji Inukertapati merupakan gambaran percintaan yang sangat menarik dan bermakna dalam hubungannya dengan membangun kehidupan berkeluarga.144 diterima apalagi yang jelek seperti badut (badut ini rias muka Kleting Kuning akibat perlakuan ibunya yang menghendaki supaya wajahnya menjadi jelek dan tidak diterima Andhe-andhe Lumut). Adapun bentuk garapnya hanya menyajikan dua peran utama yakni tokoh Panji Inukertapati dengan Dewi Sekartaji. romantis. Ibunya terkejut melihat anaknya yang tampan sudi menerima kehadiran Kleting Kuning sebagai isterinya. Rupanya kisah tersebut menjadi sebuah inspirasi yang berarti bagi pasangan manusia yang menginginkan percintaan yang ideal. Saat bertemu janda Dadapan. Suka duka yang dialami masing-masing tokoh cukup berat. Kleting Kuning dengan hati sabar terus melangkah menuju Dadapan. Mendengar pembicaraaan itu Andhe-andhe Lumut segera menemui Kleting Kuning dan menyatakan menerimanya. dan bahagia. Tema percintaan Panji Inukertapati dengan Dewi Sekartaji merupakan tema inti yang diangkat dari ketiga versi cerita Panji tersebut.

serta selalu mohon barokah kepada Yang Kuasa.145 Adapun tema percintaan dari cerita Panji tersebut secara garis besar dibagi menjadi tiga adegan yaitu: adegan pencarian. mengisahkan pertemuan antara tokoh Dewi Sekartaji dengan tokoh Panji Inukertapati sebagai sepasang suami istri yang telah lama tidak bertemu. a). menjaga keutuhan dan ketentraman keluarga. adegan pertemuan. mesra. Adegan pencarian mengisahkan liku-liku perjalanan Dewi Sekartaji sebagai seorang putri raja yang pergi meninggalkan kerajaan untuk berupaya mencari Panji Inukertapati suaminya.merayu. setia. Keinginan-keinginan dari masing-masing tokoh tersebut dapat dicermati pada bahasa verbal yang tersurat dan tersirat pada cakepan gerongan Lambangsari yang merupakan cita-cita yang ideal untuk mewujudkan sebuah keluarga yang bahagia. mesra merupakan esensi yang hendak diekspresikan dalam adegan dimaksud. kebersamaan. yang telah meninggalkan kerajaan. tegang. 2. karena tanpa kehadirannya tidak akan tersaji sebuah karya tari. mengisahkan tentang suasana kebahagiaan yang tengah dinikmati oleh Dewi Sekartaji dengan Panji Inukertapati sebagai sebuah keluarga. dan harapan yang menjadi komitmen bersama dengan keinginan untuk berbuat kebajikan. Merujuk pada . dan kacau. Adapun untuk menyajikan adegan pencarian tersebut diungkapkan lewat suasana sedih yang implementasinya menjadi beberapa rasa: sedih. b) Adegan pertemuan. dan adegan bahagia. Dalam tari Karonsih yang merupakan seni tradisi (seni yang bersumber dari istana) terdapat beragam jenis vokabuler gerak dengan karakternya masing-masing. pasrah. sehingga suasana rindu yang teraktualisasi dalam beberapa rasa: marah (jengkel). Kinetic body moves atau Gerak tubuh merupakan medium utama dalam pertunjukan tari. berdoa. c) Adegan Bahagia. malu. Suasana kebahagiaan ini diungkapkan dalam bentuk komplementer dari rasa gembira.

lumaksono. Adapun pembagiannya dapat dicermati pada paparan berikut ini. srisik yang dilakukan secara berulang ke pojok kanan depan. dan pasrah yang menyelimuti Sekartaji diekspresikan lewat gerak Laras Sampir sampur kanan. kekacauan. Bentuk gerak pada adegan I pencarian secara garis besar dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis gerak. kembali ke pojok kiri belakang. sedih. kaki njujut. badan putar menghadap belakang srisik mundur kemudian putar menghadap depan. serta pertimbangan peristiwa dan tema yang diangkat kemudian dipilih pola-pola sekaran atau vokabuler gerak yang sesuai. usap kiri – usap kanan dengan iringan pathetan. tawing kiri ingsetan. Adegan pencarian merupakan adegan pertama yang mengawali dari seluruh rangkaian seluruh adegan secara utuh. kengser. suasana berdoa. pola-pola sekarannya bersifat presentatif dan representatif. badan berputar turun menjadi jengkeng dengan iringan Gangsaran nada 2 slendro yang berubah menjadi gangsaran nada 1 pelog. Di tengah-tengah pencarian Panji. Adapun bentuk-bentuk vokabuler yang terdapat pada masing-masing adegan secara garis besar. diungkapkan lewat gerak: kengseran. yang berubah menjadi tenang setelah Sekartaji dapat bertemu Panji. badan nglayang (memutar) ke kiri. Sedangkan suasana ketegangan. yaitu presentatif dan representatif. Sekar suwun.146 beragam rasa yang dikehendaki meningkat pada suasana-suasana yang terdapat dalam adegan pada tari Karonsih tersebut. Peristiwa yang terjadi untuk adegan pencarian digambarkan Dewi Sekartaji keluar dari pojok belakang kanan stage menuju tengah dengan gerak: srisik.dan Lembehan separo dengan iringan ketawang Ngrenas. kemudian srisik ke pojok belakang kanan dan dilanjutkan srisik menuju ke center stage. badan ngglebak ke kanan hadap ke depan. . ridhong sampur kiri.

Kedua tangan trap cetik nyempurit membuka. Posisi kedua tangan ditekuk di depan pinggang dengan jari-jari 3 Srisik (tangan nekuk). tangan trap cetik yang kiri nyempurit dan kanannya nyekithing Distilisasi gerak orang lari. Dewi Sekartaji 1 Srisik (tangan nekuk). Pindah tempat dengan cara lari kecil yang posisi kedua tangan ditekuk pingggang di depan setinggi 2 Srisik (tangan nekuk). Posisi kedua tangan ditekuk di depan pinggang dengan membawa sampur (selendang) Distilisasi gerak orang lari. Posisi kedua tangan menthang sampur kedua tangan lurus membuka ke samping dengan membawa . tangan kanan trap wadana miwir sampur Distilisasi gerak orang lari dengan cara mundur. 4 Srisik (tangan nekuk) dengan mundur. Kedua tangan trap cetik miwir sampur Distilisasi gerak orang lari. Pencarian. Distilisasi gerak orang lari. Tangan kiri ditekuk di depan pinggang. sedangkan tangan kanan ditekuk di depan mulut dan keduanya membawa sampur. kecuali jari jempol ditekuk.147 Adegan Nama Tokoh Jenis Gerak Keterangan Representatif No I. tangan kiri trap cetik. 5 Srisik kipat sampur.

10 tawing kiri Distilisasi gerak orang melihat ke samping kiri. tangan kanan ditekuk bagian di kanan depan dan pinggang keduanya Distilisasi gerak orang lari. Posisi tangan kanan lurus ke samping sejajar pinggang. tangan kiri ditekuk di depan pinggang bagian kiri dan keduanya membawa sampur. Posisi tangan kiri lurus ke samping sejajar pinggang. membawa sampur. 8 Lumaksono. . 6 Srisik kipat sampur. tangan kanan ditekuk di depan telinga kiri dan keduanya membawa sampur.148 sampur. 9 Enjer Distilisasi gerak orang jalan ke samping. menthang sampur Distilisasi gerak orang sedang jalan. Posisi Tangan kiri menthang dan tangan kanan trap cetik miwir sampur tangan kiri lurus ke samping sejajar pinggang. tangan kiri menthang dan tangan kanan trap karna miwir sampur 7 Srisik kipat sampur. Distilisasi gerak orang lari.

Hadap badan yang bergantian diikuti dan kedua kaki serta naik-turun naik-turun tangan secara bergantian 4 Ridhong ulap sampur kesan sedih Sampur melilit pada tangan ditekuk. Dewi Sekartaji 1 Kengser kesan menjauh. 2 Nglayang kesan berat Kaki badan merendah. miring lalu maju pada digerakkan melengkung.149 Adegan Nama Tokoh Jenis Gerak Ekspresi Presentatif Keterangan No I Pencarian. 3 Njujut glebakan kesan liku berliku. namun tetap menempel lantai. kanan sampur kiri yang tangan membawa sambil mengusap leher ke kanan 5 Sampir kesan sedih Sampur dililitkan . Pindah tempat cara kedua merupakan gerak dengan penghubung menggeser kakinya.

tangan kanan lurus lalu di tekuk dilakukan dan bergesernya kaki (ingsetan). 8 Kembang pepe. tangan kiri trap cetik. 6 Sekar suwun kesan sedih Tangan kiri trap dahi. tangan kanan seblak sampur. berulang dibarengi kedua dibarengi tangan kiri ditekuk. tangan kanan mengayun ke atas dan ke bawah. kengser leyekan. putar badan bersama kedua tangan diputar kesan liku berliku- . 7 sindhet gerak penghubung Kaki kiri di tekuk dibelakang kanan kaki lurus.150 sampur laras pada pundak.

ketika Panji jengkeng nyathok (njawil) bahu. dan kengser ke kanan. srisik. Suasana kemesraan Sekartaji dan Panji semakin terasa yang diungkapkan lewat gerak tangkep asta. Dukungan untuk mengungkapkan suasana tersebut dengan iringan ketawang Kinanthi Sandhung dengan menggunakan garap gerongan dua cakepan (bait). tangan pondhongan kemudian nyaut jeblos (tukar tempat) lalu Sekartaji memberikan sampur dan segera diterima Panji. Adapun adegan pertemuan Sekartaji dengan Panji Inukertapati digambarkan seperti berikut. maju. nyabet ukel karna kanan. segera Panji mencoba untuk merayunya lalu suasana mereda muncul rasa malu yang segera berubah menjadi mesra. .151 Adegan pertemuan merupakan adegan kedua yang menggambarkan pertemuan Dewi Sekartaji dengan Panji Inukertapati. maju lumaksono. tangan kanan nyaut. Datang Panji dari belakang. Sekartaji tampak putus harapan. Pertemuan sepasang suami istri yang telah lama tidak berjumpa bahkan harus dilalui dengan liku-liku. ngancap. tanjak kanan. panggel. Panji mencoba merayunya kembali dengan lumaksono kebyokan sampur. Setelah merasa tidak dapat menemukan Panji. tangan kanan nyaut dengan kebyok kemudian mundur. tanjak tawing kanan. yang digambarkan jengkeng (duduk) diikuti kedua tangan memegang sampur sambil menutup raut muka pada posisi centre stage. Panji segera memburu Sekartaji dengan gerak berdiri srisik. Sekartaji merasa malu kemudian melepas kedua tangan dan srisik yang segera dikejar Panji dengan srisik nyandhet tangkep asta ngaras (berciuman). Pertemuan tersebut disambut Sekartaji dengan rasa marah. Untuk meredakan kemarahan Sekartaji. ulap-ulap tangan kiri – kanan. besut. tidak ditanggapi Sekartaji dengan hati gembira. Suasana marah diekspresikan Sekartaji dengan berdiri enjer. laras genjot.

maju. sebagai berikut. tangan kanan tawing. . Adapun jenis-jenis gerak presentatif maupun representatif yang terdapat pada adegan dua: pertemuan. Asmara yang dibangun Sekartaji dan Panji Inukertapati mulai menyatu. laku enjer saling menjauh. adu tangan kiri nekuk. seperti: kanthen tangan kanan.152 Perasaan malu juga ditampakkan oleh kedua tokoh tersebut setelah berciuman lepas kedua tangan. kengser ke kanan-kiri. tangan kiri menthang. kanthen tangan kanan. dapat diklasifikasikan secara garis besar. hal ini diekspresikan dengan bentuk-bentuk gerak selalu bergandengan tangan. srisik melingkar.

tangan nyathok bahu 5 Kapyukankengser Distilisasi gerak lumaksono memberi sampur lalu . tangan kanan ditekuk di depan telinga kiri 2 enjer Distilisasi orang samping. kedua tangan membawa sampur. jalan gerak ke Ulap-ulap tawing kiri Distilisasi melihat ke kiri dari orang 3 tawing kiri Distilisasi dari orang melihat Ulap-ulap tawing kanan Distilisasi dari orang melihat ke kanan Distilisasi mencubit Distilisasi berjalan dari gerak dari gerak 4 Endhan Distilisasi menghindar gerak Jengkeng. tangan kiri ditekuk depan pinggang kiri.153 Adegan Nama Tokoh Jenis Gerak Nama Tokoh Jenis Gerak No II. raut muka ditutup sampur Distilisasi menangis orang Srisik kebyok sampur Representatif Keterangan 1 Distilisasi gerak lari. Pertemuan Keterangan Dewi Sekartaji Representatif Panji Inukertapati Jengkeng.

srisik 10 Kanthen tangan kanan.154 untuk tarik menarik 6 Srisik menthang. lalu tarik menarik 9 Kanthen tangan kiri. srisik Distilisasi gerak pondhongan Distilisasi memondong dari gerak orang bergandengan tangan kiri sambil lari Distilisasi gerak srisik. Tangan kiri menthang dan tangan kanan trap karna 7 Ngaras Distilisasi berciuman 8 Kanthen tangan kanan kengser Distilisasi gerak Lumaksono kebyokan sampur gerak sautan Distilisasi gerak Orang menubruk Distilisasi berjalan dari gerak Distilisasi gerak lari Srisik Distilisasi gerak lari orang bergandengan tangan kanan. kedua tangan ditekuk Distilisasi gerak lari orang bergandengan tangan kanan sambil lari .

155 11 Sautan jeblos Distilisasi gerak Orang menubruk Adegan Nama Tokoh Jenis Gerak Nama Tokoh Jenis Gerak II. No Pertemuan Dewi Sekartaji 1 Jengkeng. kebyokan laras 2 Nyabet ukel karno 3 4 Sindhet Sekaran golek iwak Presentatif Keterangan Panji Inukertapati kesan tenang pasrah dan besut Presentatif Keterangan Gerak penghubung kesan hati-hati genjotan kesan tenang gerak penghubung kesan tenang nyabet ngancap kesan hati-hati kesan mencari .

Trap jamang. Distilisasi kedua tangan dari orang melihat ke depan Distilisasi melihat ke kiri dari orang Distilisasi dari orang . ulap-ulap kiri melihat dari ke Representatif Panji Inukertapati Representatif Keterangan a. Vokabuler gerak yang dipilih untuk mengungkapkan suasana bahagia yang tercermin dalam rasa gembira. dan gembira. dan keharmonisan antara Panji Inukertapati dan Sekartaji. Adapun jalannya sajian gerak secara berurutan. segar. Trap jamang. yang secara bersama-sama melakukan gerak: Nama Tokoh Jenis Gerak Nama Tokoh Jenis Gerak Keterangan No III. tangan kanan Distilisasi orang depan 2 b. lilingan. setelah Panji Inukertapati dan Sekartaji srisik kanthen tangan kanan menuju stage depan kemudian tangan lepas mundur ke stage centre. Bahagia 1 Dewi Sekartaji a. kedua tangan Distilisasi orang depan 3 c. adalah sekaran-sekaran kebar yang mempunyai rasa riang. kebersamaan. Trap jamang. luluran Distilisasi dari c. kemesraan. sampur melihat dari ke b.156 Adegan III merupakan gambaran suasana bahagia yang tengah menyelimuti hati sepasang suami-istri yaitu Panji Inukertapati dan Dewi Sekartaji.

laku telu Distilisasi berjalan dari orang 5 e. srisik kanthen Distilisasi tangan kanan orang bergandengan tangan kanan gerak lari g. lilingan. srisik kanthen Distilisasi gerak orang lari tangan kanan bergandengan kanan tangan 8 h. pacak Distilisasi gulu ingsetan melihat dari orang 7 g. kebyokan sampur Distilisasi orang melihat dari e.157 orang membersihkan kulit dengan lulur melihat 4 d. lilingan.lilingan. rimong Distilisasi sampur orang melihat dari f. ukel Distilisasi karno sinangga dari orang bokor melihat dengan membawa bokor di atas bahu 6 f. lilingan. trap jamang. Distilisasi kedua tangan orang depan melihat dari ke h. trap jamang. ngore rikma Distilisasi orang rambut dari menata d. Distilisasi dari orang kedua tangan melihat ke depan .

ngalisi Distilisasi gerak orang orang duduk sambil berkaca merias cara membuat alis 13 m. alisan Distilisasi gerak lilingan Distilisasi melihat dari orang orang sedang alisan 14 n. kanthen tangan Distilisasi kanan bergandengan gerak orang tangan orang bergandengan tangan kanan sambil tarik menarik kanan sambil tarik menarik 11 k. enjeran gerak orang jalan ke samping sambil bergandengan tangan kiri sambil 12 l.158 9 i. encot lumaksono Distilisasi kanthen gerak dari n. kanthen tangan Distilisasi kiri. laku telu Distilisasi orang berjalan dari i. kanthen tangan Distilisasi kanan. kanthen tangan Distilisasi kiri. ingsetan gerak j. jengkeng ngilo Distilisasi asta gerak l. enjeran orang samping bergandengan tangan kiri jalan gerak ke k. encot lumaksono Distilisasi dari gerak orang jalan kanthen orang jalan bergandengan . laku telu Distilisasi orang dari gerak dengan pondhongan berjalan memondong 10 j.

159 tangan kanan bergandengan tangan berbicara sambil tangan kanan tangan sambil berbicara 15 o. pangkon ulap. srisik kanthen Distilisasi gerak orang lari tangan kanan bergandengan kanan tangan 16 p. srisik kanthen Distilisasi tangan kanan orang bergandengan tangan kanan gerak lari o. lumaksono Distilisasi dari p. pangkon ulap.Distilisasi ulap tangan kiri dari q. sambil melihat 18 r. srisik kanthen tangan kanan Distilisasi gerak orang lari bergandengan kanan tangan . srisik kanthen tangan kanan Distilisasi orang bergandengan tangan kanan gerak lari r. sambil melihat diduduki lututnya. lumaksono Distilisasi dari gerak lembehan sampur kanan 17 gerak orang berjalan lembehan sampur orang berjalan kanan q.Distilisasi ulap tangan kanan orang yang dari gerak gerak orang duduk di atas lutut.

masuk (selesai). bersalaman s. bersalaman kedua tua dengan temanten t. Bahagia 1 Tokoh Dewi Sekartaji Jenis Gerak Presentatif Keterangan Tokoh Panji Inukertapati Jenis Gerak Presentatif Keterangan kebyokan sampur Kesan berputar – ngenceng kanan putar dengan putar bercanda sambil kebyokan sampur Kesan dengan putar berputar – putar sambil bercanda . Adegan No III. srisik kanthen tangan Distilisasi gerak lari u. dengan bersalaman kedua dengan orang temanten dan bersama temanten 21 orang tua temanten dan photo bersama photo temanten u. bergandengan kanan masuk (selesai). bersalaman dengan temanten 20 t. orang bergandengan tangan kanan kanan. srisik kanthen tangan Distilisasi gerak orang lari tangan kanan.160 19 s.

Pertemuan Dewi Sekartaji Representatif Panji Inukertapati 3 III. Pencarian Dewi Sekartaji Representatif 2 II.161 Dari paparan jenis-jenis gerak representatif dan presentatif yang terdapat pada tari Karonsih. Jenis gerak Representatif. dapat dicermati secara kuantitatif. Jenis gerak Presentatif. a. No Adegan Nama tokoh Jenis Gerak Jumlah vokabuler 1 I. Bahagia Dewi Sekartaji Representatif Panji Inukertapati 4 Jumlah total Representatif 21 73 Representatif 10 11 21 10 b. No Adegan Nama tokoh Jenis Gerak Jumlah vokabuler 1 I. Bahagia Dewi Sekartaji Presentatif Panji Inukertapati 4 Jumlah total Presentatif 1 18 Presentatif 4 4 1 8 . Pertemuan Dewi Sekartaji Presentatif Panji Inukertapati 3 III. Pencarian Dewi Sekartaji Presentatif 2 II.

bibir bergetar. wajah mengerut.162 Jumlah persentase jenis-jenis gerak representatif dan presentatif tari Karonsih. Ekspresi wajah atau gerak wajah bukannya wajah dalam pengertian objek yang statis. dan III I. dan III Jenis gerak representatif presentatif jumlah 73 18 91 80. II. seperti kecerdasan. stabilitas emosional. biasanya berusaha untuk menutup wajah. Selain itu ekspresi wajah dapat difungsikan .80 % Jumlah total gerak representatif dan presentatif = 73 + 18 Jumlah persentase gerak representatif = 73 : 91 X 100. mengerutkan dahi. merupakan sarana untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik terhadap sesuatu yang sedang dikomunikasikan. Polatan (ekspresi wajah). 19. bibir tertutup rapat. namun itu semua rupanya tidak valid. Jumlah persentase gerak presentatif = 18 : 91 X 100. Sekarang dapat disarikan bahwa ekspresi wajah mampu memberikan kontribusi yang sangat berperan terutama untuk mengekspresikan perasaan. Beberapa orang telah banyak mencoba membuktikan bahwa penampilan wajah dapat menjadi indikator yang cukup meyakinkan mengenai berbagai sifat manusia. Tari Karonsih. No 1 2 3 4 5 Adegan I. dan gertakan gigi secara bersama-sama. Orang sedih dapat ditunjukkan tanpa ekspresi senyum. dan menunduk. Wajah sebagai alat untuk memprediksikan sifat-sifat manusia kurang memadai. Berbeda dengan orang marah yang pada umumnya dapat dicirikan lewat tatapan mata yang kuat. bahkan taraf kegilaan.20 %. 3. Kesedihan yang mendalam dapat dicirikan meneteskan air mata. beberapa kulit wajah berwarna kemerahan. kriminalitas. II.

ketika kesedian menyelimuti Sekartaji. hal ini mengekspresikan ketegangan Sekartaji yang dapat dicermati pada peralihan adegan pencarian ke adegan pertemuan. Polatan Panji lebih terfokus pada Sekartaji. ekspresi wajahnya lebih banyak menunduk dan memalingkan kepala setiap dicoba untuk didekati Panji. baik sebagai ekspresi perasaan secara mandiri maupun membantu memperkuat pesan bahasa verbal. Puncak kemesraan pada adegan bahagia ini terekspresikan pada saat Sekartaji duduk dipangkuan .163 untuk membantu memperkuat pengaruh terhadap pesan verbal. Berikut merupakan gambaran ekspresi wajah yang dapat dicermati pada tari pasihan lewat Polatan Sekartaji maupun Panji Inukertapati yang akan tercermin pada suasana-suasana adegan yang menggambarkan peristiwa yang tengah terjadi. Perubahan ekspresi mulai tampak ketika wajah Sekartaji tampak tegang. Dalam seni pertunjukan khususnya pada bidang tari ekspresi wajah merupakan sarana yang cukup berperan. Semakin jelas bahwa ekspresi wajah merupakan sarana yang cukup vital dalam berkomunikasi nonverbal. demi tercapainya sebuah ekspresi dari masing-masing peran. polatan lebih banyak menunduk. kepala tegak dan pandangan mata lebih tajam disertai gerak kepala lebih tegas. Perubahan-perubahan ekspresi wajah dalam tari pasihan. mesra. ketenangan ekspresi wajah lebih ditampilkan dalam rangka memperlihatkan sikap sabar untuk mendapatkan perhatian Sekartaji. damai dan bahagia. Ekspresi wajah Sekartaji maupun Panji Inukertapati tampak gembira. keduanya banyak saling berhadapan wajah. Sikap marah yang ditampilkan Sekartaji ketika bertemu awal dengan Panji. banyak membantu memperkuat pesan bahasa verbal. Pada adegan pencarian. saling melempar senyum sebagai tanda cinta. cerah terutama ditampilkan pada adegan bahagia.

dan tegas. corak jarit (kain). baik dari suasana marah menjadi sedih atau sebaliknya. lincah. pernik-pernik asesoris. yang berkarakter jalang. corak sabuk serta jenis–jenis tatahan pada jamang irah-irahan (mahkota kepala). Begitu pula gerak-gerik wajah terpengaruh menjadi pelan. . Srikandi. sehingga akses untuk diterimanya dan sebaran apresiasinya tidak mengalami kendala.164 Panji Inukertapati. Bentuk-bentuk ekspresi wajah dalam tari pasihan yang karakternya tenang (luruh) seperti diekspresikan Sekartaji maupun Panji Inukertapati tampak tidak menyolok. dan tegas sangat mempengaruhi gerak-gerik wajah untuk harmonisasi gerak seluruh tubuh untuk mencapai kualitas sebuah karakter yang tepat dan mantap. emosional. senyum. sehingga seluruh gerak tubuh secara psikologis menjadi pelan. Warna busana lebih dominasi warna hijau. 4. Aspek yang mempengaruhi hal tersebut adalah karakter tenang (luruh) lebih banyak dibingkai oleh dominasi gerak-gerak yang berirama pelan. mereka saling memandang dengan ekspresi wajah ceria. dan mesra. Beberapa tokoh tersebut memiliki perubahan ekspresi wajah yang mencolok dan tampak jelas. perubahan ekspresi wajah menjadi tampak lebih halus hampir tidak kelihatan. Mustakaweni. Terutama untuk busana. Berbeda dengan ekspresi wajah peran-peran tokoh antagonis atau lanyap atau gagah agal seperti Rahwana. selain bentuk dandanan yang serupa dengan wayang orang. lincah. juga terdapat persamaan pada bahan. Hal itu sangat mendorong perkembangan tari Karonsih akan lebih cepat meluas dan memasyarakat. Bentuk rias dan dandanan busana dalam tari Karonsih mengacu pada rias peran pada wayang orang. Kebebasan untuk bergerak lebih cepat. konsep yang mendasari bahwa budaya wayang orang telah lebih dikenal masyarakat di wilayah Surakarta. Baladewa.

Garis-garis lurus lebih banyak digunakan untuk mengungkapkan keinginan. 5. Fase-fase ketegangan. yaitu garis lurus dan garis lengkung. kekacauan Sekartaji ketika belum dapat bertemu Panji. . Gambar: 1.165 coklat dan warna kuning emas. mencakup dua bentuk utama. Mahkota kepala yang berupa tekes panjen merupakan identitas dari bangsawan panji yang bersumber pada ceritera Babad. Gambar: 2. Sedangkan jarit lereng tanggung merupakan upaya mendudukan status sosial dari Panji Inukertapati dan Sekartaji sebagai putra raja. kemauan yang kuat dan tegas. Selain itu warna kuning emas juga menyuguhkan kesan glamor sehingga pertunjukan menjadi menarik dan mampu memikat masyarakat penonton. seperti aktualisasi adegan Sekartaji mencari Panji Inukertapati (lihat gambar: 1). Secara prinsip pola lantai yang terdapat dalam tari Karonsih. sesuai dengan tokoh-tokoh sebagai pelakunya yang merupakan darah bangsawan Sekartaji dari kerajaan Jenggala dan Panji Inukertapati putra raja Kediri. Pola lantai yang dibentuk dari perpindahan penari maupun jarak antarpenari merupakan salah satu unsur pendukung keberhasilan sebuah pertunjukan. Warna hijau dengan maksud warna tersebut memiliki simbolik tumbuh lebih hidup dan menjadi subur. Adapun warna kuning emas memiliki kesan keagungan dan kejayaan. dominasi garis-garis lurus sangat kuat untuk menghantarkan pencapaian suasana tegang (lihat gambar: 2).

awal kemesraan kedua figur peran setelah Sekartaji luluh hatinya. keharmonisan sepasang peran yang ditampilkan menjadi ekspresif dan mantap. . lembut. Beberapa bentuk garis lengkung tersebut seperti difungsikan pada adegan pertemuan berikut ini: ketika Panji berupaya merayu terhadap Sekartaji. yang dalam tari ini dimaknai sebagai sarana ekspresi tentang sesuatu yang menurut bentuk dan sifatnya menunjukkan hal-hal yang manis dan lembut. Untuk adegan kebahagiaan rupanya lebih didominasi garis-garis lengkung yang berbentuk melingkar yang masing-masing tokoh pada posisi saling berhadap-hadapan. dan berdekatan yang kesemuanya itu dapat dicermati pada hampir seluruh sajian sekaran kebaran. berjajar. gambar: 1 gambar: 2 <<<< Gambar 1: pola lantai untuk sekaran srisik kanthen tangan pada awal kebar adegan 3. kemesraan. Gambar 2: pola lantai untuk sekaran trap jamang dan ulap-ulap kiri pada adegan 3. kebersamaan. Maksud yang mendasari dari kesan garis lengkung tersebut adalah kesan lembut. manis dalam mendukung ekspresi gerak yang disajikan pada adegan bahagia terungkap kesan kegembiraan.166 Garis-garis lengkung lebih difungsikan untuk mengungkapkan kesan manis.

Pemilihan gendhing-gendhing dari sekian repertoar gendhing yang terdapat pada khasanah karawitan. 6. Kejelian seorang penyusun tari tampak bahwa selain rasa musikal yang harus komplementer secara padu dengan rasa yang diungkapkan dalam tari. Karawitan tari yang berupa repertoar gendhing-gendhing merupakan salah satu unsur yang mampu memberikan kontribusi sangat penting demi terselenggaranya sebuah pertunjukan tari. Karawitan tari yang berfungsi sebagai pendukung sajian tari Karonsih secara menyeluruh telah mengalami penggarapan yang cukup selektif. Artinya bahwa rasa dalam tari akan didukung rasa yang ditimbulkan dari alunan gendhing yang secara komplemen menyatu membentuk suasana-suasana untuk mengekspresikan sebuah nilai tertentu dalam kehidupan. Iringan tari yang lazim juga disebut karawitan tari adalah gendhing-gendhing karawitan yang diaransir sedemikian rupa sehingga rasa musikal yang terbentuk dapat memenuhi kebutuhan ekspresi tari. Gambar 4: pola lantai untuk sekaran srisik kanthen tangan pada akhir kebar adegan 3. didasarkan atas pertimbangan rasa musikal terkait dengan kecocokan suasana yang telah ditetapkan dalam tari Karonsih. juga secara parsial pada masing-masing garap .167 Gambar: 3 gambar: 4 Gambar 3: pola lantai sekaran lilingan kebyokan dan lilingan rimong pada adegan 3.

mengiringi adegan pencarian yang dilakukan Sekartaji terhadap Panji Inukertapati suaminya. 2008). yakni: (1) garap pathetan (2) garap sindhenan dan (3) garap gerongan.pt. tema. sedih yang diekspresikan garap Pathetan Wantah Lr. contohnya bentuk-bentuk Pathetan dalam tari Bedhaya dan Srimpi yang menampilkan rasa agung. Garap pathetan terkait dengan teks verbal ini adalah garap lagu tembang jawa yang dinyanyikan secara solo ataupun bersama dan dikomplemen dengan ricikan instrumen gamelan: rebab. suasana.pt. dan makna tarinya. gender. peristiwa. berwibawa. pl. 5. Sindhenan adalah vokal putri yang menyertai karawitan (Matopangrawit. 1967: 1). dan gambang. dan gagah.168 gendhing terdapat teks verbal yang berupa cakepan yang berfungsi untuk menjelaskan secara singkat dan padat tentang peristiwa yang tengah terjadi pada masing-masing adegan sehingga akan dapat tergambar secara menyeluruh tentang rasa. manyura. pl. Garap sindhenan teks verbal . pl. Teks sastra tembang yang merupakan bahasa verbal tari Karonsih. Pada awalnya garap Pathetan dalam tari dinyanyikan secara bersama oleh vokalis pria. terdiri dari beberapa garap lagu. suling. 5 dan dua bait terdapat dalam gendhing Ketawang Kinanthi Sandhung Lr.pt. Garap sindhenan teks verbal dalam tari Karonsih terdiri dari satu bait terdapat dalam gendhing Ketawang Pangkur Ngrenas Lr. Teks verbal Garap pathetan terdiri dari satu bait yang terdapat pada iringan pembukaan untuk adegan pertama yaitu Pathetan Wantah Lr. pt. 5. Berbeda yang terjadi di dunia pewayangan. Fungsi garap Pathetan pada tari Karonsih ini sifatnya memberikan ilustrasi rasa musikal tertentu terkait dengan suasana adegannya. garap Pathetan dinyanyikan secara solo oleh seorang dalang (wawancara Rusdiantara. sl. Rasa semangat.

Menurut Martopangrawit gerong adalah vokal bersama (koor) suara pria yang iramanya sama dengan karawitannya (1967: 3). 5.sl. biasanya oleh seorang pesindhen atau vokalis wanita. Iringan gendhing yang menggunakan garap gerongan pada tari ini terdapat dalam gendhing Lambangsari lr. Gendhing-gendhing yang berlaras pelog yang relatif memiliki nada-nada tinggi (tenor) rupanya kuat dan mantap untuk garap musikal yang mengungkapkan rasa sedih.169 adalah garap lagu tembang jawa dinyanyikan secara solo. pt manyura yang mencakup dua bait. Garap gerongan merupakan garap lagu tembang jawa dinyanyikan secara bersama – sama ( koor). Jika terdapat lagu gerongan pada gendhing tersebut garap sindhenan mengikuti setelah lagu gerongan (nggandul) namun berakhir bersama.nada lebih . dan manis. Dalam perkembangannya jenis garap gerongan dapat dinyanyikan oleh vokalis kelompok putra atau vokalis kelompok putri atau campuran vokalis kelompok putra dengan vokalis kelompok putri. Perubahan ke laras slendro yang secara musikal memiliki nada. lembut. yang pengambilan suaranya menyela diantara sabetan balungan (irama ketukan nada) dan berakhir setelah sabetan balungan. dan sigrak. Fungsi garap gerongan lebih difokuskan untuk mengekspresikan kesan maskulin yang mempunyai sifat kuat. Fungsi garap sindhenan lebih diarahkan untuk mengekspresikan kesan feminin yang memiliki sifat halus. pl. yang pengambilan suara pertama dimulai tepat dengan sabetan balungan dan berakhir tepat dengan sabetan balungan. Hal ini dapat dicermati pada adegan pertama yang mempresentasikan kesedian perjalanan Sekartaji dalam upaya mencari suaminya yang menggunakan garap pathetan laras pelog pathet lima dan Ketawang Pangkur Ngrenas Lr.pt. Secara garis besar gendhing-gendhing dalam tari Karonsih menggunakan dua laras yaitu pelog dan slendro. gagah.

5 yang merupakan iringan kedua setelah pathetan laras pelog pathet lima.sl. kedudukannya dalam adegan pencarian ini bersifat nyawiji. Ketawang Pangkur Ngrenas Lr. pt manyura dan ladrang Sigramangsah lr. didukung beberapa iringan gendhing. rasa seleh yang . Adegan : I. dan gangsaran 2 slendro.sl. gangsaran 1 pelog. sl. b. manyura pada adegan kedua hingga iringan adegan tiga yang meliputi: gendhing Lambangsari lr. Keterpaduan yang dimaksudkan adalah menyatunya rasa musikal gendhing Ketawang Pangkur Ngrenas dengan ekspresi vokabuler gerak yang secara komplemen mengungkapkan suasana sedih yang dialami Sekartaji yang terjabar dalam beberapa rasa: sedih. Gendhing Ketawang Pangkur Ngrenas Lr. Bentuk menyatunya iringan dengan gerak. pt. pl. doa. Bentuk susunan iringan tari Karonsih seluruhnya dan secara urut dari adegan satu sampai adegan tiga (adegan akhir) dapat dicermati berikut ini. diantaranya: a.170 rendah (bass) diharapkan perubahan suasana menjadi lebih terasa mencair dan terbuka. Pengertian nyawiji di sini garap gendhing Ketawang Pangkur Ngrenas implementasinya dengan garap gerak adalah menyatu. pl. dapat dicermati secara komprehensip dari beberapa elemen. rasa musikal mengekspresikan suasana sedih menyatu dengan ekspresi gerak yang menggambarkan kesedihan Dewi Sekartaji. 5. Kedudukan iringan pathetan laras pelog pathet lima pada adegan ini bersifat nglambari artinya rasa musikal yang dihasilkan dari garap pathetan laras pelog pathet lima berfungsi untuk memberikan ilustrasi terhadap suasana sedih yang dialami Dewi Sekartaji. dan pasrah.pt. antara lain: pathetan laras pelog pathet lima. Adegan pencarian sebagai adegan pertama dalam tari Karonsih. Adapun perubahan ke laras slendro itu diawali dari Ketawang Kinanthi Sandhung Lr. pt manyura. Pencarian.pt.

5 ty 1 2 2 2 Xz2Xc3 Xz2c1 z1x2c3 z3x.kar t y sking ke 1 2 yu 1 z2c3 z2c1 z1Xx2c3 Se kar . dan gangsaran 2 Slendro. Terkait dengan alur adegan kedua bentuk gangsaran tersebut merupakan fase peralihan laras dari pelog ke laras slendro. baik rasa seleh ringan maupun rasa seleh berat.ta ji z3x. pola gatra yang terdapat pada bentuk gendhing Ketawang dapat dijadikan tanda mulai bergerak ataupun berakhirnya suatu gerak pada tari. Pathetan Wantah Lr.Xx2c1 Sang ret .ji zyc1 1 z1x2c1 dha . dapat dicermati paparan berikut ini.c5 Jeng . c. dan gangsaran 2 Slendro mempunyai peranan cukup penting dalam menjembatani peralihan laras yang berdampak pada perubahan suasana menjadi semakin mantap.171 terdapat pada gendhing merupakan iringan yang mendukung rasa seleh pada tari. Gangsaran 1 pelog. Implementasinya rasa musikal yang berirama 1/1 dari gangsaran mampu memberikan ilustrasi rasa tegang yang mendukung kekacauan atau ketegangan yang diekspresikan Sekartaji lewat gerak-gerak srisik yang dilakukan secara berulang-ulang dengan gerak kepala yang sedikit lebih tegas.wi z1Xx2c1 dha .ton 2 2 Jeng .x2c1 Sang ret t na yu 1 De wi Se .kar zyx.ton zyx. Kiranya tidaklah berlebihan jika gangsaran 1 pelog. merupakan iringan yang secara musikal dapat mengekspresikan suasana tegang yang kedudukannya pada adegan ini lebih bersifat nglambari.ct ta . Secara urut bentuk iringan untuk adegan 1: pencarian.kar sking ke - .na t zyc1 1 De . pt. pl.

.cy O…………. 1 3 2 2 2 2 3 1 n2 2 . z3x2x1x2c1 We-la . 1 2 1 2 1 5 1 5 .ni-lar gar .wa.hu . 2 z3x. . 3 5 5 5 p3 z5c6 1 1 2 1 2 1 3 2 z3c1 g1 ..x2c1 Gar . 3 5 . . y y y de r y ni t y ra zyx1c2 mu .ta ..x5x4Xx2x1x. I - z2c4 z4c5 5 ker .gad de .tu . mring da-sih kang nan-dhang king-kin 2 . .ni 1 1 ing .wun. .wa sa .x5x4Xx.hat r t O……….di 1 nu men . z3x5x.kang z3c5 z3x. 5 p3 5 p3 .x2x1x. Ketawang Pangkur Ngrenaswara Lr.x2x1x. pl.pa .ti z6x. zyx. 5 Buka : 1 1 5 6 .x6c5 Dhuh ja . 2 . 3 5 5 5 6 3 5 3 5 6 1 2 1 2 6 5 6 2 1 2 g1 2 1 2 1 5 z!c@ 2 n1 2 n3 5 g1 n1 g1 z@x!c^ ^ z!x#x@x#x!c@ Ti .ra .pa . . 2 5 . Mu .dra .172 3 A - 3 3 z1x.XXXx2c3 1 2 ra 3 3 3 3 ngu .x2x1xyct Da .sa .wun.wun mu .tha .wa ba .x2x1xyxtxrxwcq O………. pt. 3 . 1 .

5 gan – ti 1 lan ning . 1 a 6 2 2 6 . . .la.x6x5c3 Da. 3 . manyura .ra .tan pi 2 .mbut 1 2 2 1 z6x1x2c3 n1 z3c1 Ka. .me – keng la Gangsaran Lr. pt.nang . 5 . pt.173 . z3x2x1x2c1 1 .mun da. 5 5 2 5 3 6 5 z!c@ 5 g3 z3x5x.x2c1 Te . p6 5 5 5 z5c6 5 3 3 lun dha . z3x.hat 2 2 z3c1 g3 gi . p3 .tyas 2 n3 .gya 2 2 z3c1 g1 A – lu – wung tu . .ka 1 .dya .gang sa . . 6 . 5 . 1 . 5 5 6 2 5 3 1 . pl. sl. p5 . 7 . 3 . z3x2x1x2c1 3 . z5c6 1 z1XXXXXXXXXXXxX2c3 U 5 . . 5 lis 1 n1 g1 p1 n1 p1 n1 p1 1 1 1 n1 n1 n1 p1 p1 p1 n1 n1 n1 p1 p1 p1 n1 n1 n1 p1 p1 p1 g1 g1 g1 Gangsaran Lr. .

manyura . 1 6 y 3 ! z. 6 . sl. malu. Rasa musikal gendhing Ketawang Kinanthi Sandhung Lr. merayu.x!x@c# z!x@x!c6 A . . Dalam adegan dua yang mengisahkan pertemuan Dewi Sekartaji dengan Panji Inukertapati suaminya dalam suasana rindu yang teraktualisasi dalam beberapa rasa: marah (jengkel). 6 . pt. 6 .ngu pun ka-kang wu . .sun Wus da. Pertemuan. Iringan gendhing Ketawang Kinanthi Sandhung Lr. . manyura merupakan satu-satunya dukungan rasa musikal yang diharapkan mampu mengekspresikan suasana rindu yang diaktualisasikan tokoh Sekartaji pertemuannya dengan Panji dalam asumsi mereka telah lama terpisah dan melalui perjalanan panjang baru dapat bertemu. 2 2 2 . 1 . mesra merupakan esensi yang hendak diekspresikan dalam adegan dimaksud. pt.c! @ 2 5 t 2 @ 3 3 e 1 ! n2 g2 nt g6 n^ @ @ @ z6x. 1 .yung 1 2 6 n5 2 3 5 g3 . pt. sl.duh ya-yi gar . sl. Ketawang Kinanthi Sandhung Lr. manyura mendukung rasa kasmaran atau bercinta. 1 . .wa ning . y p3 1 p.174 2 2 2 2 n2 n2 n2 n2 p2 p2 p2 p2 n2 n2 n2 n2 p2 p2 n2 p2 p2 n2 p2 p2 g2 g2 g2 g2 n2 n2 p2 p2 Adegan : II.

dan harmonis menggunakan garap iringan yaitu gendhing Lambangsari laras slendro pathet manyura.175 .ga la - ti mi kang sa - Adegan : III. . 3 .ngos da. 5 . 2 . 3 5 p3 -j. .ka . Bentuk .@# @ z!c@ 6 6z6x!c6 z5c3 Te-ka mle .c6 ! 5 ! 3 z6x!c@ n5 6 5 6 z5x3x5x5x.mi Mus .ni . .ning 2 . . . . .ma 2 .ling Ma-rang ya. mesra.han di zj2kx1c3 kang gra wi .dhang pa 3 5 ra brang pu 3 ti Kang wus la .ka Mu-ga tan . .pa Ka .tri n2 .sah pi-na ri ngan y 1 2 p3 6 5 3 g2 3 j. .ti.na pun ka .kang Tu-hu wa.no-dya di . Pada adegan bahagia yang disajikan sepasang suami-istri yakni Panji Inukertapati dan Sekartaji dalam suasana gembira.j 6k 2jzX1jXXXx xj XXjx jx c2 6 zj3kx5c3 A .ta .ren ya-yi du . .yi wa . .tan ang . 6 z.nu g2 da .j j j 5 . .jj x Xj 2 j j 1 6 y 6 gt zj6jjjkjXXXXxx!c5 x x c5jj j 2 z3XXXXXXXXXXXXXXXxX zj1xc2 zyXx1cy XXXXXXXXXXXXXXXx ztx1c2 nan .x3c2 Ma-ra nga-dhep. Bahagia. 3 5 5 z5x3c563 z5x3c2 2 Ka-di-nga . Kedudukan iringan gendhing Lambangsari pada adegan ini sifatnya mungkus dan nyawiji.ta u .

Bentuk kristalisasi dari unsur tari yang berupa vokabuler-vokabuler gerak kebar yang dinamis dan unsur karawitan yang berupa gendhing Lambangsari dengan irama sigrak. Pengertian nyawiji ini mengarah pada pemersatuan dua unsur menjadi satu yaitu unsur karawitan sebagai penghasil rasa musikal dan unsur tari. Sehingga suasana bahagia yang diaktualisasikan oleh Panji Inukertapati dan Sekartaji dapat dihayati. Gendhing ladrang Sigramangsah disajikan dengan tabuhan keras dengan irama sedang sebagai gambaran semangat dari Sekartaji dan Panji Inukertapati untuk menyongsong kehidupan ke depan lebih semangat. pangkon. Dalam hal ini pola-pola gerak tari selalu ketat. Keterpaduan garap tari dan garap gendhing Lambangsari dalam rangka mengekspresikan rasa gembira. pada adegan bahagia ini adalah untuk pencapaian harmonisasi penyajian. yaitu sejak Panji Inukertapati dan Sekartaji gerak Lumaksono. kebersamaan. Iringan ladrang Sigramangsah sebagai mundur beksan. dan keharmonisan antara Panji Inukertapati dan Sekartaji dapat nyawiji. lagu gerongan riang dan tekanan sedang. Selain itu iringan gendhing Lambangsari pada dasarnya nyawiji dengan garap geraknya. kemesraan. srisik menuju ke tempat duduk temanten bersalaman dengan temanten dan kedua orang tua mempelai untuk mengucapkan selamat berbahagia.ketat diikuti pola kendangan. Bentuk iringan adegan III yang berupa gendhing Lambangsari laras slendro .176 mungkus ini ditinjau dari pelaksanaan vokabuler gerak yang terdapat pada adegan tiga hampir seluruhnya menggunakan pola kendangan kebar atau ciblon yang selalu membungkus pola gerak. Pada bagian akhir adegan tiga sebagai penutup iringan gendhing ladrang Sigramangsah laras slendro pathet manyura.

tya 5 5 2 da 1 j.mba .1 di 2 3 ta 5 j.su 6 3 jz!xk@c6 kang 5 j.wa 5 j.1 2 2 1 j. Lambangsari Lr.go .dak 5 j.sa 3 3 2 2 pra .177 pathet manyura dan ladrang Sigramangsah laras slendro pathet manyura.ing 5 j.ya n1 z3c2 1 .1 3 3 1 j.r ang 5 6 3 gar .1 nu 6 3 3 . manyura Irama Tanggung : 1 j.dha 3 5 5 3 2 2 z3c5 z5c6 6 .ma 1 1 Pra .na 2 3 ca 5 j.3 2 5 3 ro .5 1 1 no .5 1 1 re 2 2 bi .hu 6 jz5c6 se .3 2 2 - .ta 3 3 2 2 mar .ra 5 5 3 keng .mi 5 j.ju 3 1 j. sl.wa 6 6 1 1 ni .1 2 2 kang se .da 1 j.sep .ra 1 1 jz!xk@c6 pa .5 2 2 .5 u 2 2 ma .5 2 2 tin . pt.1 3 3 1 j. secara berurutan dapat dicermati paparan berikut ini.1 2 2 ing .5 tu 5 1 1 .kang 6 6 weh 5 j.1 di 3 3 3 zj3c5 ma .5 n1 z3c2 1 .5 ing 5 j.rang 5 j.guh 5 6 pang .wang 1 j.

c3 sa .mi 5 j.bi nga .cj3jz6xl1xj6jc53 sam .5 a 5 j.ja 1 ang .5 n1 1 da .di kang san - to .ra pri .6 zj5jkx.ra gya 2 har 5 .ya 3 3 2 2 mring nim .la - tres .1 2 2 1 j.bang 6 3 jz!xk@c6 ra .1 3 3 1 j.3 ku 2 2 5 j.1 a 2 3 ni 2 2 .c@z!x jjjzjx5jx jx jxxx jx jx xk.sih 3 5 .5 2 2 5 j.pun sang 6 5 j.yo .na 1 z3c2 1 .ge .tan 5 5 3 kem .na 5 3 2 2 z3c5 z5c6 6 sung ten .mya 5 2 5 1 .nya da .ngu sa .sa 1 j.c@z!x x x x x@c 6 jkz6jx!cjj6j j k53 li ron ba 5 as .6 6 1 6 5 2 3 jz#xj x x x x cj2j j6 kz!xj@c# x jjjjjjjjjjjjjjjjjjjxkjjj.ga Irama Dadi : 6 5 j.kik 6 1 z!XXx XXx xj@kc##z x.trem .mi wah se – tya sang dyah 6 5 tu a 2 hu yu 3 pe .ma .ba 5 6 .5 1 1 5 j.ing (dilakukan 2 x) war .1 ba 6 6 3 3 lik 1 1 1 j.be bu .178 dar .

min 3 5 zk3cj5kz5c6z x jx6xjx xj jx xjx xjx xjx xj 3 jz2xjk5c3 bang ja .xj6xj xj c22 ck22 j jk.ron .dhat tan 3 j. 1 1 5 6 6 6 2 5 1 1 3 2 3 p3 p5 p1 1 1 1 3 6 6 6 2 1 1 5 1 n2 n2 n3 g6 3 3 3 3 5 5 5 2 6 6 2 6 p1 p1 p3 p3 3 3 1 6 2 2 2 5 1 1 1 3 n6 n6 n6 g2 (sebanyak 5X) . ken .ta 2 me .nu-gra hyang suks .gad han ing 2 ra .zj2c31 jz. sl.z2c3 ka .ta .dya kem ka .ma Ladrang Sigramangsah Lr.xjyjx xj xj - cen sah 5 pra - nya . pt.179 jzk.ya xj x!cj@zkj!xc6 da . manyura Irama Tanggung.sih pan tan 5 .3 5 6 1 jk.

pt. gendhing yang tidak menggunakan bahasa verbal terdiri dari: gangsaran 1 pelog. pl. sl. dapat mengungkapkan suasana sedih. pl. sl. sl. gangsaran 2 slendro. 5. sl. pt. gendhing yang menggunakan bahasa verbal terdiri dari: Pathetan Lr. lagu dan tekanan gendhing. dan Ladrang Sigramangsah Lr. merayu.pt. manyura dan Lambangsari Lr. Komposit bahasa verbal dan nonverbal yang terdapat dalam Lambangsari Lr. pt. pt. manyura. dapat mengungkapkan suasana gembira. Ketawang Kinanthi Sandhung Lr. Pertama. rupanya menjadi lebih mantap dan bermakna karena didukung kehadiran bahasa verbal yang berupa cakepan-cakepan (syair) yang menyatu dengan irama. rindu. Komposit bahasa verbal dan nonverbal yang terdapat dalam Pathetan Lr. sang Dewi marah Panji berupaya untuk merayunya dan memberi perhatian. ia lebih baik mati.180 Gendhing-gendhing iringan yang terdapat dalam tari Karonsih secara garis besar dapat dibagi menjadi dua bentuk terkait dengan bahasa verbal. pl. 5. selain rasa musikal yang mampu mengekspresikan suasana-suasana tertentu. Ketawang Pangkur Ngrenaswara Lr. Bentuk-bentuk gendhing yang menggunakan bahasa verbal. Kedua. Komplementer bahasa verbal dan nonverbal yang terdapat dalam Ketawang Pangkur Ngrenaswara Lr. mesra. bahagia dan maknanya: 1) Dalam kehidupan rumah tangga keberadaan . dapat mengungkapkan suasana sedih dan maknanya menjelaskan tentang liku-liku perjalanan seorang tokoh Dewi Sekartaji yang mencari Panji Inukertapati suaminya. malu. dapat mengungkapkan suasana marah. manyura. dan maknanya setelah Sekartaji bertemu Panji Inukertapati.pt. pl. 5. dan maknanya Dewi Sekartaji memohon kepada Dewata supaya segera dipertemukan dengan Panji Inukertapati. Komposit bahasa verbal dan bahasa nonverbal yang terdapat dalam Ketawang Kinanthi Sandhung Lr. pt. pt. sl. mesra. manyura. manyura.pt. jika tidak dapat bertemu. 5.

Sedangkan gendhing Ladrang Sigramangsah Lr. Adapun bentuk komposit bahasa verbal dengan nonverbal pada tari Karonsih. gagah. dapat mengungkapkan suasana semangat. Bentuk gendhing yang tidak menggunakan bahasa verbal seperti gangsaran 1 pelog dan gangsaran 2 slendro. 3) Tipe seorang suami yang ideal adalah setia terhadap istri. dan mampu menciptakan ketentraman keluarga. 2) Tipe seorang istri yang ideal adalah selalu berupaya berbuat kebajikan. dapat mengungkapkan suasana tegang. setia terhadap suami. dan sigrak. sehingga mampu mengekspresikan suasana pada masing-masing adegan dan mampu mengungkapkan makna tari Karonsih secara implisit seperti yang dimaksud seniman penyusun sebagai penutur. 4) Nilai cinta adalah sebuah nilai yang universal. mengayomi. . Bentuk komposit bahasa verbal sastra tembang dan bahasa nonverbal gendhing-gendhing iringan tersebut dapat mengungkapkan suasana dan mengungkapkan makna pada masing-masing adegan.181 dan kebersamaan suami dan istri. Dengan demikian tampak bahwa gendhing-gendhing yang tersusun untuk iringan tari Karonsih merupakan komposit bahasa verbal sastra tembang dan nonverbal gendhinggendhing karawitan untuk membangun alur adegan. dapat dicermati berikut ini. 5) Kebagiaan lahir dan batin merupakan kebutuhan hidup hakiki manusia yang diupayakan secara seimbang. Ketidak hadiran bahasa verbal pada bahasa nonverbal rupanya membatasi ekspresi bahasa nonverbal yang lebih mengarah pada hayatan rasa. sebaiknya saling mengingatkan akan tugas dan tanggungjawab masing-masing yang telah disepakati. pt. manyura. sl. menarik. dan bertanggungjawab.

menthang kiri tangan nekuk tangan Garis lurus V - mencari Panji Inukertapati (suaminya).182 Komposit Bahasa Verbal dengan Nonverbal Tari Karonsih No Bahasa Verbal Sastra Tembang Tema. kanan Sang Retnayu Dewi Sekartaji Badan putar Garis V - . pl. dan Rasa Vokabuler Gerak Dewi Sekartaji Bahasa Nonverbal Vokabuler Gerak Panji Inukertapati Pola lantai Iringan Hubungan Langsung Hubungan Tidak langsung Pathetan lr. Adegan. pt. kedua - Garis lurus V - Liku-liku perjalanan Dewi Sekartaji dalam tangan nekuk yang kiri nyempurit dan kanan nyekithing Jengkar kedhaton sking Kengser. 5 Keterangan 1 Pathetan Wantah Pasihan (percintaan) I. Sang Retnayu Dewi Sekartaji Rasa Semangat Srisik. nyempurit. Pencarian.

menthang sampur kanan. kaki njujut. kiri nekuk. Jengkar kedhaton sking Lumaksono. menghadap diikuti menthang sampur kanan dan tangan kiri nekuk. ngglebak Garis lengkung Angupadi mendranira ingkang garwa Badan nglayang Posisi di tempat V - (memutar) ke kiri. Garis Lurus V - badan kanan. badan .183 menghadap belakang. srisik lurus mundur kemudian putar depan.

memutar Sindhenan Pangkur Ngrenas: Dhuh jagad dewa bathara Welasa mring dasih Rasa Laras Sampir Posisi di V - . Ridhong sampur kiri. Dahat denira muwun. Srisik menthang Garis lengkung Gong: ke-2 kiri. Inukertapati.pl.. usap kiri – usap kanan Garis lengkung V - 2 Ktw. Pangkur Ngrenas lr. O……….184 ngglebak ke kanan hadap ke depan.O……….pt 5 Mundur tawing Garis lurus Gong: ke-1 kiri. kengser.

. pasrah. kiri Garis lengkung V situasi yang sedih. tawing ingsetan. dan memohon Ulun dhahat Teka aginggang sarambut Srisik kedua Garis lurus V pada Yang Kuasa agar segera dipertemuk Kalamun pinanggya datan Lembehan separo Posisi di tempat Rasa Aluwung lalis tumekeng Pasrah Kengser ke kanan capengan tangan kanan – kengser ke kiri capengan tangan kiri. Garis lengkung V V an dengan suaminya. tangan nekuk trap cethik. tempat Dewi Sekartaji dalam Tinilar satuhu Dadya tyas garwa gantilaning Rasa Sedih Sekar suwun.185 kang kingkin nandhang Berdoa sampur kanan. sindhet.

. tangan kiri menthang tangan nekuk dan kanan Gong: ke-2 Srisik ke pojok Gong: ke-3 kanan depan. Gong: ke-4 Gong: ke-5 srisik ke pojok kiri belakang.186 Gangsaran 1 Pelog Rasa Tegang Badan memutar Gong: ke-1 satu lingkaran dan diikuti berputarnya kedua nekuk tarung. Badan kanan. seblak membalik tangan sampur. tangan ngupu Seblak.

seblak Gong: ke-1 Srisik .sl. II. Kinanthi Sandhung lr. Pertemuan. 3 Sindhenan Kinanthi Sandhung: Cakepan a. sampur. Gong: ke-2 Gong: ke-3 Badan satu memutar lingkaran ke Gong: ke-4 menghadap depan.pt Manyura . Ktw.187 Gangsaran 2 Slendro Badan ngglebak ke kanan.

Adhuh yayi garwa ningsun Seblak sampur laras genjot. Teka mlengos datan angkling Ukel karno kanan jengkeng nyathok Garis (njawil) bahu lengkung V - Mara ngadhepna . b. sambil raut lepas sampur. Dewi Rasa Marah jengkeng (duduk) Srisik diikuti kedua sampur. akhirnya luluh hati Dewi Sekartaji. Panji berusaha membujuk jengkeng. kebyok Posisi tempat garis lurus di Gong: ke-1 Sekartaji marah terhadap Panji Inukertapati. kengser ke kanan.188 a. Gong: ke-2 V - tangan memegang sampur menutup muka. kebyokan Ulap-ulap tangan Posisi laras. di dan merayu istrinya. kiri – kanan dan tempat besut.

kanan mbalik seblak tanjak kanan sampur kanan Kadingaren duka yayi tawing kiri lumaksono kebyokan sampur. tawing V miring ke kanan srisik. Garis lurus tangan nyaut. Garis lurus Gong: ke-3 V - nyabet ukel karna kanan Kang wus lami nandhang brangti Rasa Merayu mbalik. mundur. maju Garis lurus Gong: ke-4 V - Apa kang wigati dadi ngembat sampur tangan kanan. kanan sampur ngglebak nyaut kanan dengan V - seblak kebyok kemudian mundur .189 pun kakang berdiri enjer berdiri srisik. mlengos ke kanan. maju lumaksono.

– lengkung kanan tangan pondhongan kemudian jeblos tempat) tangan nyaut (tukar lalu kanan memberi sampur menerima sampur Cakepan b. tangkep mundur satu memutar. maju sambil sambil lepas kedua Garis lengkung Gong: ke-6 V - lepas kedua tangan tangan Marang wanodya di yayi srisik.190 golek iwak. tangkep ngaras mbalik. tanjak Garis lurus Gong: ke-5 ngancap. Wus dangu pun kakang wuyung Rasa Kemesraan putar lingkaran. kanan. tangkep asta. jengkeng asta. nyandhet Garis V - asta tangkep ngaras asta lengkung . endhan jeblos lalu tangan panggel. srisik.

tangan menthang. adu kiri. srisik melingkar srisik melingkar Muga tansah pinaringan berhenti. tangan. kanthen kanan. kedua kedua lepas tangan.kengser ke kanan. tangan kanan tawing Tuhu utama wanita kanan tawing maju kanthen maju kanthen Garis lengkung Gong: ke-7 V - tangan kanan tangan kanan Mustikaning para putri kengser ke kanan. tangan kiri tangan kiri menthang.191 ( berciuman). maju berhenti. maju Posisi kanthen tempat di Gong: ke-8 V - tangan kanan tangan kanan . tangan kiri nekuk. maju. laku enjer. laku enjer. maju. adu lengkung V - tangan kiri nekuk. lepas (berciuman). kanan.Garis kiri.

lepas tangan. kenong ke1 - V Tipe seorang istri yang adalah ideal Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada ukel karno ulap-ulap kiri Garis lengkung kenong ke2 - V selalu berupaya berbuat kebajikan. Posisi tempat di Gong: 1. mundur seblak sampur. srisik kanthen tangan kanan.sl. mundur seblak sampur Garis lenkung V - 4 Gerongan Lambangsari: Cakepan a.192 Kanugrahan kang salami srisik kanthen tangan kanan. lepas tangan. Pra wanita marsudiya marang tindak kang utama Rasa Gembira ulap-ulap kiri trap jamang. Lambang sari pt manyura lr. setia terhadap .

193 Ingkang bisa nujuprana weh reseping pamicara luluran lembehan sampur Garis lengkung kenong ke3 V suami. mengayomi. dan bertanggung jawab trap Nora kengguh ing panggodha darbe budi kang santosa kanan sumping laku telu Garis lengkung kenong ke4 - V Rasa Mesra Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira kebyokan sampur ukel karno bokor Garis sinangga lengkung Gong: ke2. kenong ke1 - V Tipe seorang suami yang ideal adalah setia terhadap Datan kemba asih tresna sung tetreming kulawarga rimong sampur pacak ingsetan gulu Garis lengkung kenong ke2 V - istri. dan mampu . menarik.

lepas tangan lepas tangan Gong: keCakepan b. Pra wanita marsudiya marang tindak kang utama trap jamang ulap-ulap kiri tawing Posisi tempat di 3: kenong ke1 V laku telu Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada pondhongan sampur Garis lengkung kenong ke2 V - Ingkang bisa nujuprana weh reseping pamicara kanthen kanan tangan kanthen kanan tangan Garis lurus kenong ke3 V - .194 menciptakan Sampun sami setya tuhu anggenya liron asmara kebyokan sampur – ngenceng kanan kebyokan sampur Garis lengkung kenong ke3 V ketentraman keluarga. srisik Karonsih pranyata kembang raya pancen dadya jagad tangan. mundur tangan. kanthen srisik kanthen Garis mundur lengkung kenong ke4 V - Cinta adalah sebuah nilai yang universal.

195 Nora kengguh ing panggodha darbe budi kang santosa kanthen kiri tangan kanthen kiri tangan Garis lengkung kenong ke4 V - Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira jengkeng tangan ngilo tangan (merias). ukelan Garis lengkung Gong: ke4: kenong ke1 - V Datan kemba asih tresna sung tetreming kulawarga alisan inguk-ingukan (melihat) Garis lengkung kenong ke2 V - Sang pekik wah sang dyah ayu dangu samya bagyaharja lumaksono encot kanthen tangan lumaksono encot Garis lurus kanthen tangan kenong ke3 V - .

sl.196 Rasa bahagia. Kebagiaan dunia akhirat Tan kendhat tansah meminta kanugrahan ing Hyang Suksma srisik tangan tangan kanthen srisik kanthen Garis kenong ke4 V merupakan kebutuhan hidup hakiki manusia yang Ldr. Sigra mangsah lr. dan kanan. manyura diupayakan secara seimbang.pt. tangan. tangan kiri lengkung kiri menthang sampur menthang sampur lumaksono lembehan sampur kanan lumaksono lembehan sampur kanan Garis lurus Gong: ke-1 pangkon ulap-ulap pangkon ulap-ulap Posisi tangan kiri tangan kanan tempat di Gong: ke-2 .

bersalaman dengan temanten srisik kanthen tangan.197 srisik kanthen tangan. tangan masuk (selesai). bersalaman dengan temanten Garis lurus Gong: ke-3 bersalaman dengan bersalaman kedua dengan kedua Gong: ke-4 orang tua temanten orang tua temanten dan photo bersama dan photo bersama temanten temanten srisik kanthen tangan srisik kanthen kanan. Garis lengkung Gong: ke-5 kanan.a . masuk (selesai).

198

Dari komposit bahasa verbal dan nonverbal pada tari Karonsih terdapat hubungan yang bersifat langsung dan tidak langsung. Hubungan bahasa verbal dan nonverbal bersifat langsung artinya bahwa maksud bahasa verbal sesuai dengan bentuk bahasa nonverbal. Sedangkan hubungan bahasa verbal dan nonverbal bersifat tidak langsung artinya bahwa maksud bahasa verbal tidak sesuai dengan bentuk bahasa

nonverbal. Secara kuantitatif hubungan bahasa verbal dan nonverbal yang bersifat langsung tampak lebih mendominasi dibandingkan dengan yang tidak langsung. Adapun persentasenya dapat dicermati pada uraian berikut.

Tari Karonsih No Adegan Hubungan bahasa verbal dengan nonverbal 1 2 3 4 5 I, II, dan III I, II, dan III Langsung Tidak langsung 31 8 39 79,48 %, 20,52 % jumlah

Jumlah hubungan langsung dan tidak langsung = 31+ 8 Jumlah persentase hubungan langsung = 31: 39 X 100. Jumlah persentase hubungan tidak langsung = 8: 39 X 100.

2. Tari Bondhan Sayuk. Tari Bondhan Sayuk merupakan tari tradisi gaya Surakarta jenis pasangan silang jenis karakter putri dengan putra madya yang bertemakan percintaan sepasang insan manusia yang berjenis kelamin pria dan berjenis kelamin wanita. Pada dasarnya tarian ini tidak mengisahkan tokoh tertentu tetapi mengekspresikan cinta kasih sepasang suami istri secara universal terhadap anak laki-laki dan harapan-harapan serta keinginannya

199

supaya kelak menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan negara. Karya tari Bondhan Sayuk disusun oleh Sunarno pada tahun 1979. Tari ini pertama kali dipentaskan pada sebuah resepsi ritual perkawinan di gedung Bathari. Tema yang diangkat menggambarkan percintaan manusia secara universal, yang lebih mengarah pada perjalanan hidup sepasang manusia dari kalangan rakyat. Menurut Sunarno, tari Bondhan Sayuk lebih tepat untuk gambaran sepasang temanten maupun sebuah keluarga baru yang belum memiliki anak (wawancara, 2008). Gagasan awal terciptanya tari Bondhan Sayuk adalah sebuah ekspresi pribadi Sunarno yang menginginkan anak laki-laki untuk putera pertamanya. Keinginan

tersebut rupanya diridhohi oleh Sang Pencipta, anak pertama laki-laki bahkan anak kedua juga laki-laki dan anak ketiganya baru putri. Dalam perjalanan waktu tari Bondhan Sayuk sangat diminati oleh masyarakat hingga sekarang, yang pertama merupakan hiburan yang tepat dalam sebuah resepsi perkawinan dan kedua dimaknai sebagai simbolik sepasang suami dan istri yang hidup bahagia yang layak untuk diteladani sepasang temanten. Pesona yang memikat dari tari Bondhan Sayuk adalah digunakannya boneka sebagai simbolik anak yang selalu ditimang-timang dan diharapkan memberikan kekuatan magis simpatetis terhadap sepasang temanten, yaitu supaya lekas diberi anak. Jika dirunut dari bahasa verbalnya akan tampak bahwa harapan-harapan yang tersurat dan tersirat menunjukkan adanya sebuah keinginan, harapan sepasang suamiistri terhadap anak laki-laki kelak menjadi orang yang berperilaku baik dan berguna bagi masyarakat untuk membangun bangsa dan negara. Bentuk tari Bondhan Sayuk terdiri dari dua komponen pokok, yakni sastra tembang yang merupakan bahasa verbal dan

200

bahasa nonverbal yang berupa: tema, kinetic body moves, polatan (ekspresi wajah), rias, busana, pola lantai, dan iringan. Sastra tembang yang merupakan bahasa verbal tari Bondhan Sayuk, terdiri dari beberapa garap lagu, yakni: (1) garap sindhenan Mijil Sulastri: sakpupuh (satu bait), (2) garap jineman Sayuk: rong pupuh (dua bait), dan (3) garap gerongan Ladrang Sayuk: rong pupuh (dua bait). Dari masing-masing garap lagu tersebut dapat dicermati berikut ini.

a. Bahasa verbal.

(1). Teks Sindhenan Mijil Sulastri Dhuh mas rara, garwaku wong manis, Aja gawe kagal, Amung sira yekti sulistyane, Jumbuh klawan rasaningtyas mami, Binerkahan ugi, Prasetya wak-ingang.

Terjemahan:

Wahai si cantik, istriku yang manis, Jangan membuat kesal, Hanya kamulah yang benar-benar cantik, Sesuai dengan rasa yang terdapat dalam hatiku, Semoga mendapat berkah, Janji kesetiaanku.

201

Jenis –jenis TT yang melekat pada teks Sindhenan Mijil Sulastri

No

Penutur (Pn)

Bahasa Verbal : teks Sindhenan Mijil Sulastri

Jenis – jenis TT

Pemarkah

Pria (Pn) 1 Pria (Pn) 2 Pria (Pn) 3

Dhuh mas rara, garwaku wong manis, Aja gawe kagal, Direktif Amung sira yekti Ekspresif Ekspresif

wong manis

aja

sulistyane

sulistyane,

Pria (Pn)

Jumbuh

klawan

Asertif

Jumbuh

rasaningtyas mami, Pria (Pn) 4 Pria (Pn) 5 Prasetya wak-ingang. Komisif Binerkahan ugi, Direktif prasetya ugi

Konteks. Identifikasi / latar. a. Peserta tutur: Pria (Pn). Wanita (Pt), ia merespon dengan gerak tanpa tuturan.

b. Tema / topik: percintaan atau kasmaran.

202

c. Tujuan: suami menghendaki istri supaya tidak lekas marah, mengingat kasih asmara suami terhadap istri merupakan cinta yang tulus. d. Status sosial: penari pria sebagai seorang suami, ia digambarkan sebagai figur seorang suami yang bertanggungjawab dan sangat setia terhadap istri. Penari wanita sebagai seorang istri, ia digambarkan sebagai figur seorang istri yang sangat setia terhadap suami. e. Tempat: di rumah. f. Situasi tutur: tidak formal. g. Gerak: kedua penari, pria dan wanita srisik bersama, tangan kanan saling berpegangan (nyathok) dan tangan kiri lurus ke samping (menthang) menuju stage. Secara perlahan-lahan keduanya lumaksono ridhong, srisik menuju tengah stage, berhenti laku enjer menthang tangan kiri, kemudian putra besut dan putri sindhet merupakan gambaran rasa kebersamaan. Rasa kecewa diekspresikan istri lewat jengkeng, sekaran laras kebyokan, sembahan, berdiri meninggalkan suami sambil kebyokan tangan kanan-kiri kemudian suami gerak nyabet tangan kanan, besut, mendekati istri untuk merayu dengan gerak hoyogan, gajah-gajahan, songgonompo – mbalang. Rasa mesra mulai tampak ketika masing-masing peran suami dan istri saling mendekat dan berciuman dengan gerak kengser dan ngaras. Selanjutnya gerak lincak gagak bersama, suami hendak memegang istri menghindar. Suami dan istri saling mendekat, saling berpegangan tangan kemudian srisik kanthen tangan kanan sebagai gambaran awal kemesraan. h. Polatan / ekspresi wajah: ketika rasa kebersamaan masih terbina, wajah suami dan wajah istri tampak cerah dan gembira. Pada saat istri merasa kecewa

203

pandangan muka selalu menghindar dari tatapan mata suami dan pandangan mata istri banyak mengarah ke bawah. Suasana berubah menjadi semakin mesra wajah suami dan wajah istri tampak semakin cerah dan pandangan mata tampak sering saling melihat. i. Pola lantai: didominasi garis-garis lengkung. j. Iringan gendhing: Srepek Rangu-rangu dan Ketawang Mijil Sulastri untuk mendukung suasana kasmaran atau bercinta. Implikatur Kagal : Sulistyane: perasaan marah. kecantikan rupa dari seorang wanita.

Jumbuh klawan rasaningtyas: kecocokan hati yang membuat senang seseorang. Prasetya wak-ingang: ungkapan yang mengisyaratkan sebuah perjanjian tentang kesetiaan. Implikatur bahasa verbal Sindhenan Mijil Sulastri adalah ungkapan cinta yang mendalam seorang suami terhadap istrinya, dengan harapan mendapatkan perhatian demi terjalinnya kasih cinta untuk harmonisnya sebuah rumah tangga. Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Sindhenan Mijil Sulastri dapat diungkap: a. Maksim kuantitas dilanggar. b. Maksim kualitas dipatuhi. c. Maksim hubungan dipatuhi. d. Maksim cara dilanggar.

baya iki wus wanci. mangkat makarya. (2). Sakdurunge anakmu gawanen mrene. berangkatlah bekerja. Besuk menjadi anak yang pandai bekerja. Direktif baya iki 3 Wanita (Pn) Bapakne sithole. Terjemahan: Wahai belahan jiwaku. Ayahnya anak laki-laki (suamiku). Tak kudange anakku sing bagus dhewe. sekarang sudah saatnya. Mbesuk pinter nyambut gawe.204 Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Sindhenan Mijil Sulastri. Asertif bapakne . Peneliti timang-timang anakku yang paling bagus. Mbokne thole. Patik dhuh mas baya iki wus wanci. Teks Jineman Sayuk Dhuh mas jiwaku. Bapakne sithole. Sebelumnya anakmu bawalah kemari. 2) melakukan TT secara tidak langsung (off record). Sawahmu tansah anganti. Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Jineman Sayuk No Penutur (Pn) / Petutur (Pt) Bahasa Verbal Teks Jineman Sayuk Jenis – jenis TT Pemarkah Wanita (Pn) 1 2 Wanita (Pn) Dhuh mas jiwaku. Ibunya anak laki-laki (istriku). menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif. Sawahnya tengah menanti.

205 Wanita (Pn) mangkat makarya. Asertif mbokne 7 Pria (Pt) Sakdurunge anakmu Direktif gawanen gawanen mrene. Hal ini adalah untuk menunjukkan rasa kasih sayang dan kemesraan suami terhadap anak dan istri. Ekspresif bagus 9 Pria (Pt) Mbesuk nyambut gawe. Identifikasi / latar. 8 Pria (Pt) Tak kudange anakku sing bagus dhewe. Pria (Pt). tansah Asertif sawahmu 6 Pria (Pt) Mbokne thole. Kesadaran suami sebagai kepala rumah tangga menyambut kehendak istrinya dengan rasa senang untuk itu sebelum berangkat bekerja mereka saling menimang bayi sambil bersenandung secara bergantian. . Tujuan: istri mengingatkan akan pekerjaan suami. Tema / topik: kekudangan (menimang bayi sambil bersenandung) c. pinter Direktif mbesuk pinter Konteks. Direktif mangkat 5 Wanita (Pn) Sawahmu anganti. a. b. Peserta tutur: Wanita (Pn).

e. Istri meminta perhatian suami terhadap anak yang ditimang dengan gerak putar ke kanan. Polatan / ekspresi wajah: suami dan wajah istri tampak cerah dan gembira. suami merasa gembira dan bahagia secara perlahan-lahan mendekat. lembehan tangan kanan. . Gerak: istri srisik sambil menimang anak. g. Penari wanita sebagai seorang istri.206 d. h. Pandangan mata suami dan istri banyak terfokus pada anak dan mereka juga sering saling berhadapan. Situasi tutur: tidak formal. tangan kiri memegang bahu istri dan tangan kanan memegang anak sambil memperhatikan dengan tawing kanan. ia digambarkan sebagai figur seorang suami yang bertanggungjawab dan sangat setia terhadap istri. maju srisik mendekati suami untuk memberikan anaknya dan suami juga mendekat dengan lumaksono untuk menerimanya. Status sosial: penari pria sebagai seorang suami. f. Selanjutnya istri tawing kanan. Istri mulai bersenandung mengingatkan pekerjaan terhadap suami dengan gerak tawing kanan sambil memandang suami sedangkan suami menyambut baik dengan gerak ukel karno kanan yang kemudian mendekati dengan gerak srisik. ia digambarkan sebagai figur seorang istri yang sangat setia terhadap suami. putar ke kiri–tangan kanan ukel karno sedangkan suami mendekat menanggapi dengan gerak panggel dan pandangan mengarah ke istri dan anaknya. Suami menimang anak sedangkan istrinya meledek dengan tawing kiri-tawing kanan. Tempat: di rumah.

Berdasarkan kasih cinta untuk menciptakan keharmonisan keluarga. j. Mbokne thole: panggilan seorang ibu yang biasa untuk masyarakat pedesaan untuk menunjukkan keakraban.207 i. Implikatur Mas jiwaku: panggilan seorang kekasih. Implikatur bahasa verbal Jineman Sayuk mengisyaratkan bahwa dalam sebuah keluarga kebutuhan jasmani dan rohani harus seimbang. Masing-masing individu mempunyai tanggungjawab terhadap tugas dan kewajiban untuk memenuhi tuntutan kebutuhan keluarga. seorang istri mempunyai peranan cukup penting dalam mendukung tugas dan kewajiban peran suami sebagai kepala . Dalam rangka memenuhi kebetuhan tersebut masing–masing individu yang terlibat dalam keluarga memiliki peran secara proporsional. Tak kudange: menimang bayi sambil bersenandung yang berisi tentang nasehat dan harapan-harapan orang tua terhadap anaknya. Bapakne sithole: panggilan seorang ayah yang biasa untuk masyarakat pedesaan untuk menunjukkan keakraban. Mbesuk pinter: sebuah harapan orang tua yang menghendaki anaknya kelak menjadi orang yang pandai. Makarya: bekerja. Pola lantai: didominasi garis-garis lengkung. Sawahmu tansah anganti: pernyataan yang dimaksudkan tentang sebuah pekerjaan. Iringan gendhing: jineman Sayuk untuk mendukung suasana kekudangan yang merepresentasikan rasa senang.

c. b. anteng tajem polatane. peneliti akan berangkat bekerja. d. Adhuh lae. Implikatur bahasa verbal Jineman Sayuk yaitu kegembiraan pasangan suami istri sebuah keluarga semakin mantap ketika telah diberi anak. atak adhuh lae. Tindakannya tidak boleh menyeleweng. atak adhuh lae. Adhuh lae. namun juga harus disadari bahwa untuk mencukupi kebutuhan rumahtanggga diperlukan kerja keras. ora nyleweng tumindake. cukat trampil tumandange. (3). bawalah anakmu sekarang. atak adhuh lae. Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Jineman Sayuk dapat diungkap: a. Maksim kualitas dipatuhi. Istriku. Bekerja keras untuk bangsa. Maksim hubungan dipatuhi. Adhuh lae. Teks Gerongan Ladrang Sayuk Adhuh lae. Terjemahan: Memang baik karakternya. Adhuh lae. atak adhuh lae. Maksim cara dilanggar. atak adhuh lae. Kesombongannya dihilangkan. . atak adhuh lae.208 keluarga. Adhuh lae. trampil dalam bekerja. Tenang fokus pandangannya. wis mbokne enyoh anake sun arsa mangkat megawe. Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Jineman Sayuk. Adhuh lae. dasar bregas ten atene. menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif. 2) melakukan TT secara tidak langsung (off record). labuh labet mring bangsane. Maksim kuantitas dilanggar. atak adhuh lae. sesongaran disingkirke. Lincah.

wis mbokne enyoh anake sun arsa mangkat megawe.209 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Gerongan Ladrang Sayuk No Penutur (Pn) 1 Bahasa Verbal : Teks Gerongan Ladrang Sayuk Jenis –jenis TT bregas Ekspresif Pemarkah Pria (Pn) Adhuh lae. atak adhuh lae. 2 Pria (Pn) Adhuh lae. 6 Pria (Pn) Adhuh lae. atak adhuh lae. anteng tajem Ekspresif anteng tajem polatane. 5 Pria (Pn) Adhuh lae. atak adhuh lae. 3 Pria (Pn) Adhuh lae. labuh labet mring bangsane. disingkirke. atak adhuh lae. 4 Pria (Pn) Adhuh lae. atak adhuh lae. cukat trampil Ekspresif Cukat trampil tumandange. ora nyleweng Direktif ora nyleweng Direktif Labet mring sesongaran Direktif disingkirke tumindake. Direktif enyoh anake . 7 Pria (Pn) Adhuh lae. dasar bregas ten atene. atak adhuh lae. atak adhuh lae.

Gerak: diawali suami menimang-nimang anak dengan lumaksono yang diikuti istri lumaksono lembehan sampur dan kawilan. ia merespon dengan gerak tanpa tuturan. Setelah istri menimang anak beberapa saat.210 Konteks. . Tempat: di rumah. b. Wanita (Pt). g. Identifikasi / latar. Situasi tutur: tidak formal. Tujuan: suami mengharapkan supaya anak yang masih dalam timangan tersebut kelak menjadi orang yang berperilaku baik dan berguna bagi masyarakat lingkungannya. Peserta tutur: Pria (Pn). ia digambarkan sebagai figur seorang istri yang sangat setia terhadap suami. suami gerak lumaksono sambil menanti kedatangan istri. a. Anak diberikan istri sedangkan suami meledeknya dengan ogekan. Tema / topik: kekudangan (menimang bayi sambil bersenandung) c. Hal ini untuk menunjukkan rasa kasih sayang orang tua terhadap anak dan istrinya. e. Status sosial: penari pria sebagai seorang suami. Penari wanita sebagai seorang istri. d. f. kemudian anak diberikan kepada temanten putri dengan srisik. tangan kanan menthang sampur dan lilingan. ia digambarkan sebagai figur seorang suami yang bertanggungjawab dan sangat setia terhadap istri.

pernyataan tentang kelincahan dan ketrampilan dalam bekerja. Implikatur bahasa verbal Gerongan Ladrang Sayuk pada tari Tari Bondhan Sayuk. i.211 h. ungkapan tentang keramahan dan kehalusan perangai seseorang yang diamati dari ekspresi wajah. mengisyaratkan tentang beberapa harapan orang tua terhadap seorang yang berperilaku baik mengutamakan kebajikan. j. kerja keras. yaitu tanggungjawab sebagai orang tua dalam mempersiapkan . Labuh labet mring bangsane: sebuah ungkapan yang berusaha mengedepankan kepentingan umum. Ora nyleweng : berperilaku baik dengan menghindari hal-hal yang mengarah pada perbuatan atau tindakan yang melanggar norma atau aturan yang berlaku. yang biasanya untuk dihindari. Polatan / ekspresi wajah: suami dan wajah istri tampak cerah dan gembira. Implikatur Bregas ten atene: Cukat trampil: Anteng tajem: ungkapan tentang sikap dan perilaku yang baik. Implikatur bahasa verbal Gerongan Ladrang Sayuk. Pandangan mata suami dan istri banyak terfokus pada anak dan mereka juga sering saling berhadapan. dan bahagia. Pola lantai: didominasi garis-garis lengkung. Iringan gendhing: Ladrang Sayuk untuk mendukung suasana kekudangan yang merepresentasikan rasa senang. Sesongaran: sikap sombong. dan mengutamakan kepentingan umum untuk membangun bangsa. gembira.

Kebersamaan dalam membangun negara. Sayuk. nyambut gawe. Maksim kualitas dilanggar. berwawasan luas sehingga berguna bagi kehidupan sosial masyarakat. d. b. menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif. c. Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Gerongan Ladrang Sayuk dapat diungkap: a. sayuk. Sayuk. Terjemahan: Kebersamaan dengan teman. sakancane. Kebersamaan semuanya. sakabehe. 2) melakukan TT secara tidak langsung (off record). Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Gerongan Ladrang Sayuk. Kebersamaan dalam bekerja. Maksim hubungan dilanggar. sayuk. . (4). sayuk. sayuk. Maksim cara dilanggar. Maksim kuantitas dilanggar.212 pendidikan anak sebagai generasi penerus yang memiliki kepribadian baik. sayuk. Sayuk mbangun negarane. sayuk. Teks Gerongan Lancaran Sayuk Sayuk.

Tema / topik: makarya (bekerja). sayuk. ia merespon dengan gerak tanpa tuturan. sayuk. Identifikasi / latar.213 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Gerongan Lancaran Sayuk No Narator (Nr) Bahasa Verbal : Teks Gerongan Lancaran Sayuk Jenis – jenis TT Pemarkah 1 Nr Sayuk. nyambut gawe. sayuk. mbangun Direktif sayuk mbangun Konteks. sayuk. Direktif sayuk sakabehe 4 Nr Sayuk negarane. Pria . sakabehe. sayuk. sakancane. ia merespon dengan gerak tanpa tuturan. sayuk. b. Peserta tutur: Narator. a. Direktif sayuk sakancane 2 Nr Sayuk. Direktif sayuk nyambut gawe 3 Nr Sayuk. . Wanita .

tawing kiri. Sebagai penutup sepasang suami istri saling mendekat bergandengan tangan kemudian srisik kanthen tangan kanan menuju tempat duduk temanten mengambil boneka anak. Tujuan: suami maupun istri saling mengajak dan memberi dorongan semangat untuk bekerja secara bersama-sama dalam menyelesaikan pekerjaan dengan suasana gembira. i. Arah Pandangan mata suami dan istri saling menatap. Penari wanita sebagai seorang istri. berhadapan dan didukung dengan saling melempar senyuman sehingga tampak gembira dan bahagia. d. Wujud Kinetic body moves yang dipilih untuk istri sekaran luluran. Gerak: pada implementasinya. lilingan kebyok sampur. f. enjer ridhong muter. h. Situasi tutur: tidak formal. Status sosial: penari pria sebagai seorang suami. Pola lantai: didominasi garis-garis lengkung.214 c. Polatan / ekspresi wajah: suami dan wajah istri tampak cerah dan gembira. . lilingan kebyok sampur dan enjer muter. ia digambarkan sebagai figur seorang suami yang bertanggungjawab dan sangat setia terhadap istri. e. gerak yang dipilih antara pasangan suami dan istri berupa sekaran-sekaran yang dapat diekspresikan secara dinamis untuk menimbulkan kesan semangat dalam keadaan riang dan gembira. g. ia digambarkan sebagai figur seorang istri yang sangat setia terhadap suami. Tempat: di luar rumah. Sekaran untuk ekspresi peran suami terdiri dari: laku telu pondhongan. dan enjer muter.

bekerja. b.215 j. Kebahagiaan sebuah keluarga yang dilandasi rasa cinta akan memberikan spirit yang kuat dalam berbagai aktifitas dalam aktualisasi publik. c. Maksim hubungan dilanggar. damai. . seluruhnya dalam berbagai kegiatan. Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Gerongan Lancaran Sayuk dapat diungkap: a. dan berupaya menjalani kehidupan secara bersamasama. Sakancane: Nyambut gawe: Sakabehe: bersama-sama dengan teman. dan bahagia. Iringan gendhing: Lancaran Sayuk dengan irama dinamis untuk mendukung suasana kekudangan yang merepresentasikan rasa riang. gembira. Implikatur bahasa verbal Gerongan Lancaran Sayuk pada tari Tari Bondhan Sayuk adalah gambaran kehidupan sebuah keluarga yang rukun. Maksim kualitas dilanggar. harmonis. Maksim kuantitas dilanggar. Implikatur Sayuk : sebuah ajakan dalam bekerja untuk bersama-sama dengan dorongan semangat.

Maksim cara dilanggar. Maksim kualitas yang dilanggar dimaksudkan oleh penutur bahwa tuturan yang berupa tembang dimanfaatkan untuk mengekspresikan rasa lagu. b. Maksim kualitas ada yang dilanggar juga ada yang dipatuhi. banyak menggunakan kata-kata arkais dimaksudkan oleh penutur untuk mengekspresikan rasa estetik. Sedangkan . Maksim kuantitas dilanggar karena dalam menyampaikan tuturan seorang penutur. 2) mlakukan TT secara tidak langsung (off record). Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Gerongan Lancaran Sayuk. menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif. Dari penjabaran bahasa verbal yang terdapat dalam tari Bondhan Sayuk terdapat beragam jenis tindak tutur yang dapat peneliti klasifikasikan secara kuantitatif sebagai berikut: NO 1 2 3 4 5 6 7 JENIS TINDAK TUTUR Tindak Tutur Direktif Tindak Tutur Ekspresif Tindak Tutur Asertif Tindak Tutur Komisif Tindak Tutur Patik Tindak Tutur Performatif Tindak Tutur Verdiktif JUMLAH 14 6 4 1 1 - Berdasarkan prinsip kerja sama bahasa verbal yang terdapat tari Bondhan Sayuk: a.216 d.

Hal ini dimaksudkan seniman penyusun untuk menunjukkan simbolisasi keharmonisan hubungan antara peran digambarkan dalam tari. keintiman. tidak langsung. masing-masing hendaknya memberikan kontribusi yang relevan demi terjadinya komunikasi rasa. Maksim hubungan ada yang dilanggar juga ada yang dipatuhi. hal ini dimaksudkan seniman penyusun untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa. Maksim cara dilanggar karena dalam menyampaikan tuturan seorang penutur. dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur. 2) Melakukan tindak tutur secara tidak langsung (off record) untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa. menggunakan strategi: 1) Melakukan tindak tutur dengan menggunakan kesantunan positif untuk menunjukkan kedekatan. c. terlalu panjang. Sedangkan maksim hubungan yang dipatuhi dimaksudkan oleh penutur untuk menjaga kerja sama antara penutur dengan mitra tutur. Maksim hubungan yang dilanggar dimaksudkan oleh penutur bahwa tuturan yang berupa tembang tersebut diharapkan dapat sebagai sarana komunikasi rasa. suami dan istri yang . Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada tari Bondhan Sayuk. d.217 maksim kualitas yang dipatuhi dimaksudkan oleh penutur untuk menggambarkan peristiwa yang betul-betul terjadi pada masing-masing adegan. dan pernyataannya samar.

babad. kinetic body moves. 1. Bentuk tema yang diangkat pada tari Bondhan Sayuk adalah tema percintaan sepasang manusia laki-laki dan perempuan secara universal. dan iringan. Untuk mewujudkan cita-cita yang mulia tersebut. menghendaki dan mendukung suami untuk bekerja demi kelangsungan hidup keluarga. atau dongeng. Bapakne sithole. . sejarah. baya iki wus wanci. sepasang suami istri memiliki tugas dan tanggungjawab untuk membina dan mendidik anak sedini mungkin supaya dapat tercapai harapannya. Bahasa Nonverbal Bahasa nonverbal tari Bondhan Sayuk terdiri dari: tema. Selain dapat memenuhi kebutuhan yang bersifat rohani juga tidak dapat mengabaikan kebutuhan yang bersifat jasmani sebagai sarana penopang kebutuhan hidup sehari-hari. tetapi merupakan reaktualisasi dari imajinasi sepasang suami istri yang telah dianugerai seorang anak laki-laki yang masih dalam timangan. seperti tersurat pada cakepan Jineman Sayuk pada bagian awal yang berbunyi: Dhuh mas jiwaku. busana. Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa berlandaskan rasa cinta yang mendalam seorang istri mengingatkan. pola lantai. Sawahmu tansah anganti. Liku-liku perjalanan cinta sepasang suami istri beserta anak laki-lakinya dalam menjalani kehidupan yang penuh harapan-harapan terkait dengan prospek masa depan anak untuk partisipasinya pada pembangunan bangsa dan negara. polatan (ekspresi wajah). mangkat makarya. rias.Tema. Pasangan kekasih tersebut bukan merupakan gambaran dari tokoh tertentu dari sebuah cerita.218 b. untuk itu seorang suami dituntut harus bekerja secara sungguh-sungguh.

b). c) adegan makarya (bekerja). b) adegan kekudangan (menimang bayi sambil bersenandung) . Pada awalnya istri kurang perhatian terhadap suami. pekerja profesional. Gambaran adegan kasmaran mengungkapkan rasa kecewa. istri menjadi luluh hatinya yang kemudian mereka berdua saling beradu cinta. Adegan kekudangan menggambarkan kegembiraan dan kebahagiaan sepasang suami dan istri yang telah dikaruniai seorang anak laki-laki yang diharapkan menjadi pewaris keturunan dan berguna bagi pembangunan bangsa dan negara. dan tegang. berpartisipasi aktif dalam pembangunan bangsa dan negara. Adegan kekudangan mengungkapkan rasa gembira dan rasa bahagia. Setelah kemesraan berakhir istri meninggalkan suami untuk suasana menjadi tegang.219 Bentuk sajian dari tema percintaan yang diangkat pada tari Bondhan Sayuk tersebut aktualisasinya diperankan oleh: suami dan istri. Adapun bentuk aktualisasinya diwujudkan sepasang suami dan istri yang sedang menimang bayi secara bergantian sambil bersenandung tentang harapan-harapan mulia sebagai orang tua terhadap anak laki-laki kelak setelah menjadi orang dewasa. yang menggunakan properti berupa boneka yang dibalut sehelai kain sebagai simbolik anak (bayi). tidak sombong. untuk aktualisasinya akan membentuk sebuah alur yang terbagi menjadi beberapa adegan: a) adegan kasmaran (percintaan). . Harapan-harapan mulia kedua orang tua terhadap anak laki-lakinya kelak menjadi orang yang memiliki kepribadian yang baik. a) adegan kasmaran menggambarkan sepasang suami dan istri yang sedang memadu cinta. tidak menyeleweng. mengambil anaknya. atas rayuan suami dengan sanjungan atau pujian. mesra. Dari tema percintaan sepasang suami-istri yang sifatnya universal tersebut.

Adegan kasmaran merupakan adegan pertama yang secara garis besar menggambarkan sepasang suami dan istri sedang memadu cinta. keharmonisan. Kinetic body moves atau Gerak tubuh.. Jika dicermati dari alur adegan dari kasmaran. Pola-pola gerak yang digunakan untuk gambaran-gambaran pada masing-masing adegan tidak selalu dapat dengan mudah menunjukkan aktifitas yang tengah terjadi. Adegan makarya merupakan gambaran semangat bekerja secara bersamasama antara suami dan istri dengan suasana gembira. Artinya pola-pola gerak yang digunakan dalam tari tidak selalu merepresentasikan secara vulgar dan jelas maksud penyusun yang tersurat pada bahasa verbalnya.220 c). Rasa yang hendak diekspresikan pada adegan ini yaitu puncak kegembiraan dan kebahagiaan. Selengkapnya peristiwa adegan kasmaran tersebut terkait dengan Kinetic body moves akan digambarkan secara kronologis sebagai berikut. Berawal dari alunan kendhang sebagai pembukaan yang . kedamaian dan kebahagiaan berupaya menyeimbangkan akan kebutuhan rohani yang teraktualisasi dalam adegan kasmaran berlanjut adegan kekudangan dan kebutuhan jasmani yang tergambar dalam adegan makarya. 2. Beberapa vokabuler gerak yang berupa sekaran memiliki karakteristik beragam pula. tetapi bagaimana vokabuler gerak tersebut mampu mengungkapkan rasa sesuai dengan kehendak penyusun. yang kemudian makarya dapat ditarik benang merahnya bahwa kehidupan sebuah keluarga yang didasari rasa cinta mendambakan kemesraan. kekudangan. Gerak tubuh pada tari Bondhan Sayuk adalah kristalisasi dari beberapa unsur gerak tradisional yang bersumber pada tarian tradisional karaton Kasunanan yang lebih dikenal gaya Surakarta. di sini bentuk-bentuk vokabuler geraknya tidak tampak gerak orang makarya / bekerja. Seperti gambaran adegan makarya.

pl. Istri srisik sambil menimang bayi menuju ke stage mendekati putra.. saling mendekat srisik kanthen tangan kanan. . Secara perlahan-lahan keduanya lumaksono ridhong. sembahan. berhenti laku enjer menthang tangan kiri. barang. besut. pt. Suasana tegang diungkapkan istri mulai menjauh dengan gerak tawing kiri dan laku enjer sedangkan suami berhenti tanjak sambil tawing kiri memandangi yang putri. Iringan Ketawang Mijil Sulastri lr. Kebingungan semakin tampak. khawatir dengan kengser mundur pelan-pelan. istri meninggalkan putra dengan gerak srisik kipat sampur dan suami mencoba lari untuk mencegah istri namun tidak dapat dengan gerak srisik. tangan kanan saling berpegangan (nyathok) dan tangan kiri lurus ke samping (menthang) menuju stage. mendekat hoyogan. mundur srisik. pl. barang untuk mendukung rasa kecewa dan rasa mesra. songgonompo – mbalang. sekaran laras kebyokan. Kedua penari. adapun bentuk iringan yang mendukung suasana ketegangan tersebut adalah lancaran lr. putra sebagai suami dan putri sebagai istri srisik bersama. Selanjutnya gerak lincak gagak bersama. berhenti tanjak. pt. gajah-gajahan. Rasa mesra mulai tampak ketika masing-masing peran suami dan istri saling mendekat dan berciuman dengan gerak kengser dan ngaras.221 diikuti secara bersama alunan seluruh ricikan balungan atau instrumen gamelan yang terkemas dalam Srepek Rangu-rangu lr. Rasa kecewa diekspresikan istri lewat jengkeng. kemudian putra besut dan putri sindhet merupakan gambaran rasa kebersamaan. kembali maju srisik. barang. suami hendak pegang istri menghindar. Perasaan suami tegang. pt. berdiri meninggalkan suami sambil kebyokan tangan kanan-kiri sedangkan penari putra nyabet tangan kanan. pl. srisik menuju tengah stage.

Adegan kekudangan mengungkapkan rasa gembira dan rasa bahagia. tangan kiri memegang bahu istri dan tangan kanan memegang anak sambil memperhatikan dengan tawing kanan. tidak sombong. berpartisipasi aktif dalam pembangunan bangsa dan negara. Suami menimang anak sedangkan istrinya meledek dengan tawing kiri-tawing kanan. suami merasa gembira dan bahagia secara perlahan-lahan mendekat. Adapun bentuk aktualisasinya diwujudkan sepasang suami dan istri yang sedang menimang bayi secara bergantian sambil bersenandung tentang harapan-harapan mulia sebagai orang tua terhadap anak laki-laki kelak setelah menjadi orang dewasa. bekerja secara profesional. Istri meminta perhatian suami terhadap anak yang ditimang dengan gerak putar ke kanan. pl. yang menggambarkan kegembiraan dan kehagiaan sepasang suami dan istri yang telah dikaruniai seorang anak laki-laki yang diharapkan menjadi pewaris keturunan dan berguna bagi masyarakat. Seluruh sajian Kinetic body moves tersebut diiringi jineman Sayuk lr. . putar ke kiri – tangan kanan ukel karno sedangkan suami mendekat menanggapi dengan gerak panggel dan pandangan mengarah ke putri dan anak. maju srisik mendekati suami untuk memberikan anaknya dan suami juga mendekat dengan lumaksono untuk menerimanya. pt. barang.222 Adegan kekudangan merupakan adegan kedua. Harapanharapan mulia kedua orang tua terhadap anak laki-lakinya kelak menjadi orang yang memiliki kepribadian yang baik. Istri mengingatkan pekerjaan terhadap suami dengan gerak tawing kanan sambil memandang suami sedangkan suami menyambut baik dengan gerak ukel karno kanan yang kemudian srisik mendekati. Selanjutnya istri tawing kanan. Setelah istri srisik sambil menimang anak. Bentuk Kinetic body moves yang mengekspresikan adegan kekudangan dapat dicermati berikut ini. lembehan tangan kanan. tidak menyeleweng.

Setelah istri menimang lalu boneka anak diberikan kepada temanten putri dengan srisik.tangan kanan menthang sampur dan lilingan. gerak yang dipilih antara pasangan suami dan istri berupa sekaran-sekaran yang dapat diekspresikan secara dinamis untuk menimbulkan kesan semangat dalam keadaan riang dan gembira. barang. Ungkapan adegan makarya adalah gambaran semangat dalam bekerja antara suami dan istri dengan suasana gembira. seperti mencangkul. gembira. Gantian anak diberikan istri sedangkan suami meledeknya dengan ogekan. pl. tawing kiri. dan enjer muter. suami gerak lumaksono sambil menanti kedatangan istri. Sekaran untuk ekspresi peran suami terdiri dari: laku telu pondhongan.223 Ekspresi kekudangan yang berisi harapan orang tua terhadap anak. Pada implementasinya. Gendhing sebagai . enjer ridhong muter. Adapun gambaran Kinetic body moves bagian ini diiringi ladrang Sayuk lr. Rasa yang hendak diekspresikan pada adegan ini yaitu rasa riang. Sebagai penutup sepasang suami istri saling mendekat srisik kanthen tangan kanan menuju tempat duduk temanten mengambil boneka anak kemudian sebagai cucuk lampah temanten (berjalan di depan temanten untuk menggiring sepasang mempelai ke depan pintu rumah resepsi guna menghantarkan para tamu undangan yang hendak berpamitan). membajak. dan bahagia. Adegan makarya merupakan adegan ke tiga yang menjadi penutup dari seluruh alur adegan yang terdapat pada tari Bondhan Sayuk. tanam padi. lilingan kebyok sampur. lilingan kebyok sampur dan enjer muter. Bentuk gambaran Kinetic body moves pada adegan makarya tidak mengekspresikan orang yang tengah bekerja menggarap sawah. pt. dan lainnya. diawali suami menimang-nimang anak dengan lumaksono yang diikuti istri lumaksono lembehan sampur dan kawilan. Wujud Kinetic body moves yang dipilih untuk istri sekaran luluran.

Secara garis besar Kinetic body moves yang terdapat pada seluruh adegan tari Bondhan Sayuk. kekudangan. . pt. pt. dan makarya merupakan kombinasi dari gerak representatif dan presentatif. pl. barang. barang dan Ayak-ayakan lr. baik adegan: kasmaran. pl. seperti paparan berikut ini.224 iringan adegan ini adalah Lancaran Sayuk lr.

225 2) jenis-jenis vokabuler gerak atau sekaran yang terdapat dalam tari Bondhan Sayuk. Kasmaran 1 Srisik kanthen tangan kanan Distilisasi orang bergandengan tangan kanan 2 Lumaksono ridhong Distilisasi orang berjalan 3 Srisik kanthen tangan kanan Distilisasi orang bergandengan tangan kanan 4 Enjer menthang tangan kiri Distilisasi orang berjalan samping meluruskan kiri dari ke songgonompo gerak lari Srisik tangan kanan dari Lumaksono ridhong gerak lari Srisik tangan kanan SW Representatif SL Representatif Keterangan kanthen Distilisasi orang bergandengan tangan kanan Distilisasi orang berjalan kanthen Distilisasi orang bergandengan tangan kanan Distilisasi orang sesuatu gerak lari dari gerak lari dari menerima sambil tangan . Adegan Peran Jenis Gerak Peran Jenis Gerak Keterangan No I.

tawing Distilisasi kiri dari Lincak gagak.226 5 Jengkeng Distilisasi orang duduk dari mbalang Distilisasi dari orang memberi atau membuang sesuatu 6 Ngaras Distilisasi orang berciuman dari Ngaras Distilisasi orang berciuman dari 7 Lincak gagak. sambil gerak kaki burung gagak. tawing kiri Distilisasi dari gerak kaki burung gagak. sambil melihat ke kiri 8 Sautan / nubruk Distilisasi orang memegang seseorang dihindari 9 Srisik kanthen tangan kanan Distilisasi orang bergandengan tangan kanan 10 Enjer tawing kiri Distilisasi orang berjalan samping dari ke Tanjak tawing kiri gerak lari Srisik tangan kanan yang dari hendak Endhan melihat ke kiri Distilisasi dari orang menghindar kanthen Distilisasi orang bergandengan tangan kanan Distilisasi gerak lari dari orang berdiri sambil melihat ke kiri sambil melihat ke kiri .

kecuali jari jempol ditekuk. kedua tangan menthang sampur Distilisasi orang lari. kedua tangan lurus membuka samping ke dengan membawa sampur. nyabet tangan kanan Distilisasi orang berjalan gerak orang lari dengan menggendhong bayi 13 Srisik mundur Distilisasi orang lari.227 11 Srisik kipat sampur. gerak Posisi Srisik (tangan nekuk). 12 Srisik dan menimang bayi Distilisasi gerak Lumaksono. Kedua tangan trap cetik nyempurit Distilisasi orang kedua ditekuk pinggang jari-jari di lari. gerak badan menghadap ke depan sedangkan langkah kaki mengarah ke belakang 14 Tanjak Distilisasi gerak orang berdiri. ( pola tersebut merupakan sikap berdiri pada . gerak Posisi tangan depan dengan membuka.

Adegan Peran Jenis Gerak Peran Jenis Gerak Keterangan No I.228 tari Jawa untuk putra yang posisi kedua kaki membuka dan ditekuk badan disertai sedikit condong ke depan ). kesannya mendekat . Kasmaran 1 2 Sindhet Sekaran laras kebyokan 3 Kebyokan tangan kanan-kiri 4 Kengser Kesannya mengabaikan Gerak penghubung. kesannya mendekat 5 Kengser Kengser Gajah-gajahan Gerak penghubung Kesannya tenang Besut Besut SW Presentatif SL Presentatif Keterangan Gerak penghubung Gerak penghubung Kesannya tenang dan memperhatikan Gerak penghubung. kesannya mendekat Gerak penghubung.

229

Adegan

Peran

Jenis Gerak

Peran

Jenis Gerak

Keterangan No II. Kekudangan 1 Srisik dengan membawa anak Distilisasi gerak Tangan SW Representatif SL Representatif

Keterangan

kiri Menunjukkan

kasih

orang lari dengan menggendong boneka anak

memegang bahu dan peneliting tangan kanan

memegang anak gerak ke Tawing kanan Distilisasi gerak orang melihat ke kanan

2

Tawing kanan

Distilisasi orang kanan

melihat

3

Tawing kanan

Distilisasi orang kanan

gerak ke

Srisik

Distilisasi gerak orang lari

melihat

4

Srisik

Distilisasi orang lari

gerak

lumaksono

Distilisasi gerak orang berjalan

5

Memberikan anak kepada suami

Untuk timang

ditimang-

Menerima anak

Untuk timang

ditimang-

230 6 Tawing kiri-kanan Distilisasi gerak Menggendong anak Menimang-nimang boneka anak

orang melihat ke kiri lalu ke kanan 7 Lumaksono lembehan sampur Distilisasi gerak Lumaksono

Distilisasi gerak orang berjalan

orang berjalan yang kedua tangannya

membawa sampur 8 Menerima anak Untuk timang 9 Menggendong anak Menimang-nimang boneka anak 10 Srisik dengan membawa anak Distilisasi gerak Lumaksono ditimangMemberikan anak kepada istri Lilingan Untuk timang Distilisasi gerak orang meledek Distilisasi gerak orang berjalan ditimang-

orang lari dengan menggendong boneka anak

231

Adegan

Peran

Jenis Gerak

Peran

Jenis Gerak

Keterangan No II. Kekudangan 1 Lembehan ke kananke kiri sambil putar lalu ukel karno kanan 2 Kawilan Kesan meledek Ukel karno kanan Kesan perhatian meminta Panggel SW Presentatif SL Presentatif

Keterangan

memperhatikan

Kesan merespon

3

Ogekan, kanan sampur

tangan Kesan meledek menthang

232

Adegan

Peran

Jenis Gerak

Peran

Jenis Gerak

Keterangan No III. Makarya 1 Sekaran luluran Distilisasi gerak Laku pondhongan Enjer ridhong muter SW Representatif SL Representatif

Keterangan

telu Distilisasi gerak orang memondong Distilisasi gerak orang berjalan ke samping dengan melingkar

orang sedang luluran 2 Tawing kiri Distilisasi orang gerak ke

melihat

samping kiri 3 Lilingan kebyok sampur Distilisasi orang sambil sampur 4 Enjer muter Distilisasi gerak orang berjalan ke samping dengan melingkar Enjer muter gerak meledek membawa Lilingan kebyok sampur

Distilisasi gerak orang meledek sambil

membawa sampur

Distilisasi gerak orang berjalan ke samping dengan melingkar

233

Dari paparan jenis-jenis gerak presentatif dan representatif yang terdapat pada tari Bondhan Sayuk, dapat dicermati secara kuantitatif. a. Jenis gerak Representatif. Jumlah No Adegan Peran Jenis Gerak vokabuler

1

I. Kasmaran

SW

Representatif

12

SL

Representatif

14

2

II. Kekudangan

SW

Representatif

10

SL III. Makarya 3 SW

Representatif

10

Representatif

4

SL 4

Representatif

4 54

Jumlah gerak representatif, adegan I, II, dan III

b. Jenis gerak Presentatif. No Adegan Peran Jenis Gerak Jumlah vokabuler 1 I. Kasmaran SW SL 2 II. Kekudangan SW SL 4 Presentatif Presentatif Presentatif Presentatif 4 5 4 4 17

Jumlah gerak presentatif, adegan I dan II

234

Jumlah presentase jenis-jenis gerak representatif dan presentatif tari Bondhan Sayuk.

Tari Bondhan Sayuk No 1 2 3 4 5 Adegan I, II, dan III I, II, dan III Jenis gerak representatif presentatif jumlah 54 17 71 76,05 %, 23,95 %

Jumlah total gerak representatif dan presentatif = 54 + 17 Jumlah presentase gerak representatif = 54 : 71 X 100. Jumlah presentase gerak presentatif = 17 : 71 X 100.

3. Polatan (ekspresi wajah). Ekspresi wajah atau gerak wajah bukannya wajah dalam pengertian objek yang statis, merupakan sarana untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik terhadap sesuatu yang sedang dikomunikasikan. Dari pengamatan peneliti terhadap ekspresi wajah pada tari Bondhan Sayuk dapat dijabarkan seperti berikut. Pada adegan 1. kasmaran, bagian awal menggambarkan rasa kebersamaan, polatan kedua penari tampak cerah, kepala cenderung tegak, pandangan mata lebih banyak searah dan juga diseling saling menatap untuk mengekspresikan rasa romantis. Perubahan terjadi ketika rasa kecewa muncul, polatan suami sedikit tegang terfokus pada istri sedangkan kepala istri banyak menunduk, tatapan mata tidak merespon suami dan berupaya menghindar. Rasa kasmaran mulai terbangun kembali ketika sepasang suami dan istri berciuman, polatan suami dan istri tampak cerah, mulai saling menebar senyuman. Akhir adegan kasmaran suasana tegang, wajah suami dan istri tampak tegang pandangan mata tajam dan kepala tegak. Pandangan mata suami istri saling menatap secara tajam dengan

gembira. Bentuk rias dan dandanan busana tari Bondhan Sayuk seperti . sehingga kegembiraan lebih maksimal dan kebahagiaan semakin mantap. sedangkan pria memakai kejawen. polatan terfokus pada istri. Bagi orang jawa rias dan dandanan busana yang digunakan pada acara resepsi secara garis besar untuk wanita memakai kebaya dan bagian atas menggunakan sanggul atau gelung. Menginjak adegan makarya. Kegembiraan meningkat dan kebahagiaan semakin terasa ketika sepasang suami istri secara bergantian menimang anak. Konsep tersebut rupanya merupakan pijakan awal yang selanjutnya dikembangkan oleh penyusun tari menjadi lebih berfungsi untuk kebutuhan ekspresi tari. ekspresi wajah keduanya semakin tampak cerah. 4. suasana semangat yang diekspresikan secara bersama-sama antara suami dan istri lewat sekaran-sekaran kebar semakin dinamis didukung iringan Lancaran Sayuk yang berirama 1/1. secara perlahan-lahan suasana mulai berubah menjadi gembira. ekspresi wajah sepasang suami istri tampak cerah.235 didukung gerak istri perlahan-lahan menjauh meninggalkan sedangkan gerak suami mendekat. senyuman semakin meningkat dan pandangan mata banyak saling menatap menunjukkan keharmonisan dan kemesraan. Rias dan busana. Adegan kekudangan diawali Istri srisik sambil menimang bayi menuju ke stage mendekati suami. Bentuk rias dan busana tari Bondhan Sayuk mengacu pada busana Jawa yang sering dipakai pada acara-acara formal sebuah resepsi. Ide yang melatarbelakangi bentuk rias dan busana yang dipakai bahwa kisah cerita yang diangkat dalam tari Bondhan Sayuk adalah gambaran kehidupan sepasang suami istri yang berbudaya Jawa.

Suami memakai dodot tanggung motif lereng. Pola lantai. dan suweng. cundhukjungkat.236 rias dan busana yang dipakai pada peran-peran kethoprak. kelat bahu. Warna busana dominasi coklat yang memiliki kesan kalem dan kuning emas terutama perhiasan untuk menambah daya tarik penonton. kalung. Secara prinsip pola lantai yang terdapat dalam tari Bondhan Sayuk. Selain itu untuk fase-fase ketegangan ketika istri hendak meninggalkan suami (lihat gambar: 2). dan cundhukmentul layaknya penganten putri berbusana basahan. Garis-garis lurus digunakan untuk mengungkapkan keinginan. Dandanan busana untuk istri memakai dodot tanggung (dodot kecil) motif lereng dan bagian kepala menggunakan gelung besar yang diberi bunga tibandhadha. Kiranya dapat disimpulkan bahwa rias dan busana yang digunakan dalam tari Bondhan Sayuk untuk memberi dukungan karakter peran dan mengaktualisasikan jati diri peran. . yaitu garis lurus dan garis lengkung. 5. kemauan yang kuat dan tegas. kelat bahu. seperti aktualisasi adegan awal kasmaran yang menggambarkan kebersamaan suami dan istri (lihat gambar: 1). mencakup dua bentuk utama. Perhiasan untuk putra diantaranya: gelang. Wujud rias istri menggunakan rias cantik dan rias suami menggunakan rias bagusan yang keduanya tidak menampakkan perubahan karakter secara menyolok. Pola lantai yang dibentuk dari Kinetic body moves merupakan komplementer keduanya yang diharapkan dapat membantu mengekspresikan suasana yang terdapat pada masing-masing adegan. keris dan blangkonan. terutama peran alusan atau bambangan untuk pria. Perhiasan yang dipakai putri diantaranya: gelang. dan kalung.

Gambar 1: pola lantai laku telu pondhongan pada adegan tiga. dan enjer ridhong muter yang terkait dengan pola-pola lantai tersebut seperti tergambar pada paparan berikut. Gambar 2. Adapun bentuk-bentuk sekaran laku telu pondhongan. Gambar 1. terutama pada adegan tiga makarya. Gambar 2: pola lantai lilingan kebyok sampur pada adegan tiga. Garis-garis lengkung lebih difungsikan untuk mengungkapkan kesan manis. lembut.237 Gambar 1. Gambar 2. . yang banyak terdapat dalam tari Bondhan Sayuk. lilingan kebyok sampur.

terdiri dari beberapa garap lagu. 6. Maksud menggunakan garap jineman adalah untuk menonjolkan lagu dan makna yang terkandung dalam bahasa verbalnya.238 Gambar 3. Gambar 3: pola lantai enjer ridhong muter pada adegan tiga. Bahasa verbal yang berupa teks sastra tembang yang terdapat dalam tari Bondhan Sayuk. Iringan. Bentuk garap jineman merupakan garap lagu tembang jawa. dan (3) garap gerongan. yang dinyanyikan koor oleh vokalis putra . yakni: (1) garap sindhenan (2) garap jineman. Garap jineman mencakup satu bait yang terdapat pada iringan Ladrang Sayuk. Garap sindhenan terdiri dari satu bait yang terdapat pada iringan Ketawang Mijil Sulastri. Sedangkan garap gerongan terdiri dari satu bait yang terdapat pada iringan Lancaran Sayuk. yang penyajiannya dimulai nyanyian solo atau tunggal tanpa iringan instrumen gamelan kemudian diikuti nyanyian secara koor dengan iringan instrumen gamelan. Bentuk iringan tari Bondhan Sayuk merupakan komplementer garap lagu Teks sastra tembang dan rasa musikal dari garap instrumen gamelan yang berupa gendhing.

pl. Adegan : I. Ketawang Mijil Sulastri lr. barang pada adegan ini bersifat nglambari artinya rasa musikal yang dihasilkan dari garap Srepek Rangu-rangu lr. dan Lancaran lr. pt. pt. pl. pt. pt. pt. barang dengan ekspresi vokabuler gerak yang secara komplementer mengungkapkan suasana kasmaran yang dialami sepasang suami istri yang terjabar dalam rasa: kecewa dan mesra. didukung beberapa iringan gendhing. b) rasa seleh yang . barang. pl. pl. kekudangan dan makarya dapat dicermati berikut ini. Pengertian nyawiji di sini garap gendhing Ketawang Mijil Sulastri lr. barang. barang. Susunan iringan tari Bondhan Sayuk seluruhnya dan secara urut dari adegan kasmaran. diantaranya: a) rasa musikal dan makna bahasa verbal yang mengekspresikan rasa kecewa menyatu dengan ekspresi gerak yang menggambarkan kekecewaan istri. pt. dapat dicermati secara komprehensip dari beberapa elemen. kedudukannya dalam adegan kasmaran ini bersifat nyawiji. pt. barang. Kasmaran. pt. yang merupakan iringan kedua setelah Srepek Rangu-rangu lr. Keterpaduan yang dimaksudkan adalah menyatunya rasa musikal gendhing Ketawang Mijil Sulastri lr. pt. pl. pl. begitu pula rasa musikal dan makna bahasa verbal yang mengekspresikan rasa cinta menyatu dengan ekspresi gerak yang menggambarkan kemesraan sepasang suami istri yang ditandai dengan gerak ciuman. pl. Adegan kasmaran sebagai adegan pertama dalam tari Bondhan Sayuk. barang. Ketawang Mijil Sulastri lr. Bentuk menyatunya iringan dengan gerak. barang berfungsi untuk memberikan ilustrasi terhadap rasa kebersamaan sepasang suami istri. Kedudukan iringan Srepek Rangu-rangu lr. barang implementasinya dengan garap gerak adalah menyatu. antara lain: Srepek Rangu-rangu lr.239 bersama vokalis putri. pl. pl.

pt. pt. dapat dicermati Srepek Rangu-rangu lr. Terkait dengan alur adegan iringan Lancaran lr. barang tersebut merupakan fase peralihan dari adegan kasmaran menjadi adegan kekudangan. baik rasa seleh ringan maupun rasa seleh berat. pt. pl.240 terdapat pada gendhing merupakan iringan yang mendukung rasa seleh pada tari. pl. pt. barang Buka : kendhang : [ 2 5 ] suwuk : 7 6 2 5 7 3 o 2 5 o 7 6 o 2 5 b 7 3 3 6 xpl o 5 7 2 6 g7 3 5 3 2 3 g7 XXXXXxx2xxx x7x x Xx2x x x7 3 2 7 g6 Ketawang Mijil Sulastri lr. Implementasinya rasa musikal yang berirama 1/1 tersebut mampu memberikan ilustrasi rasa tegang yang mendukung kekacauan atau ketegangan yang diekspresikan suami maupun istri. Lancaran lr. Adapun paparan berikut ini. barang . c) pola gatra yang terdapat pada bentuk gendhing Ketawang Mijil Sulastri dapat dijadikan tanda mulai bergerak ataupun berakhirnya suatu gerak pada tari. barang. pl. bentuk iringan untuk adegan 1: kasmaran. pl. merupakan iringan yang secara musikal dapat mengekspresikan suasana tegang yang kedudukannya pada adegan ini lebih bersifat nglambari.

n7 n7 . . pekerja profesional. Dukungan iringan untuk adegan kekudangan yang mengungkapkan rasa gembira dan rasa bahagia . p3 .241 [ . 2 .x x xp. pl. Adapun bentuk aktualisasinya diwujudkan sepasang suami dan istri yang sedang menimang bayi secara bergantian sambil bersenandung tentang harapan-harapan mulia sebagai orang tua terhadap anak laki-laki kelak setelah menjadi orang dewasa. 7 7 . tidak sombong. pt. 7 3 . g6 2 .x x x6XXXx x x. 2 . 3 p2 . g2 g6 ] Adegan : II. Kekudangan Dalam adegan kekudangan yang mengisahkan menggambarkan kegembiraan dan kebahagiaan sepasang suami dan istri yang telah dikaruniai seorang anak laki-laki yang diharapkan menjadi pewaris keturunan dan berguna bagi pembangunan bangsa dan negara. 7 7 . . 7 7 . . .xxx x. barang [ . . Harapanharapan mulia kedua orang tua terhadap anak laki-lakinya kelak menjadi orang yang memiliki kepribadian yang baik. 2 . 6 2 . 2 . p3 . 2 . 2 g7 x5x x5x x x. 3 7 5 . n7 . 7 5 7 Xxn6x7 x5x6 7 XXXx5XXXXXXx7 g6 Lancaran lr. tidak menyeleweng. 7 . 3 . . 6 2 p7 3 2 7 7 6 5 n3 X . . . berpartisipasi aktif dalam pembangunan bangsa dan negara. 3 3 . . x3xx Xx XXXx3x x XXx5x x Xxg6 Xx. 3 5 . . 2 2 . 7 .x Xx x. g6 x3x x x3x x x. .

barang dengan irama sigrak. pl. pt. pt. pl. pt. pt. barang. barang pada adegan ini sifatnya mungkus. Pengertian nyawiji ini mengarah pada pemersatuan dari unsur tari yang berupa vokabuler-vokabuler gerak kebar yang dinamis dan unsur karawitan yang berupa Ladrang Sayuk lr. barang . Bentuk mungkus ini ditinjau dari pelaksanaan vokabuler gerak yang terdapat pada adegan kekudangan hampir seluruhnya menggunakan pola kendangan kebar atau ciblon yang selalu membungkus pola gerak. pl. Dalam hal ini polapola gerak tari selalu ketat.242 adalah Ladrang Sayuk lr.ketat diikuti pola kendangan. Keterpaduan garap tari dan garap Ladrang Sayuk dalam rangka mengekspresikan rasa gembira. pl. lagu jineman yang riang dan tekanan sedang pada adegan kekudangan ini adalah untuk pencapaian harmonisasi penyajian. Garap wiled yang berirama 1 / 8 pada Ladrang Sayuk lr. Bentuk iringan untuk adegan 2: kekudangan dapat dicermati paparan berikut ini. Kedudukan iringan Ladrang Sayuk lr. dan nyawiji. pl. dan mantap). dan bahagia sepasang suami dan istri dapat nyawiji dan tercapai. Jineman Sayuk laras. barang mengisyaratkan bahwa ungkapan rasa gembira dan rasa bahagia yang terdapat pada adegan kekudangan ini suasana tampak lebih tenang dan semeleh (irama tidak tergesa-gesa. pt. pelan. Selain itu iringan Ladrang Sayuk lr. pt. barang pada dasarnya nyawiji dengan garap geraknya. pl.

.dang-e . .ti . . 3 .c6 ku 2 uX y 3 ba . .x3x2c7 Ba. 6 Tak ku . . barang 5 2 5 2 5 6 5 3 . . . pl.x6x5c3 2 X z2x3c2 z7x. y u 3 z6x5x3x5x6c7 z3x2x7c6 z7x2x.pak ne si . . 3 . u zj2c3 u . zj2c3 y tho-le 2 7 y zj7c2 Mbok-ne .ngan .wa . .nak mu ga .ci Dhuh mas ji . .tho . y .le mang-kat ma 5 6 7 z5c6 2 2 z2x3c2 kar ya z7x. .suk 7 . z6c7 5 we 5 .gus 3 z@x x x x c# z6x c5 pin . .we Ladrang Sayuk lr. . 6 z7x x xzj@c# zzzzzzzzzjz6x7x jx5c3 2 zj2c3 3 7 2 zj3c2 7 rung .243 Buka : celuk : 6 z7cx2 2 7 2 XXXXz@cc# 2 XXXXXXxxz6c7 Xxzx5x. pt.c6 Sa . . .ya 5 I . 2 Be .ki wus wan .sah a . .nak ku sing ba .e z6c7 7 @ Sa-du 5 5 5 a . 2 5 3 .nen mre-ne # z#c@ 7 z6c7 dhe .ter nyam-but ga . .wa . a .wah mu tan .

6 z7c2 z2c3 3 j.ne 2 6 3 y 2 j.244 j.dhuh la.e 5 .e dha .3 j77 j77 2 j.e wis mbok ne e-nyoh a .7 2 6 j27 3 ne 2 j.e a-tak a .ran di .dhuh la – e se.3 2 y j.7 2 jz2c3 Adhuh lae a-tak a-dhuh lae o -ra nyle-weng tu .3 5 .6 j33 j33 jz7c2 2 5 j.6 3 j.3 zj5cy j.3 4 jz3c4 A-dhuh lae atak a.ke 4 2 4 2 4 3 2 7 j.e 2 7 2 7 .sing–kir .# j@# 7 A-dhuh lae a-tak adhuh lae 2 7 2 7 jz6c7 3 jz7c2 an-teng ta-jem po .mi – ndak .6 6 7 jz@c# zj6c7 zj3c2 zj6c5 3 A-dhuh la .buh la-bet mringbangsa .e cu-kat trampil 5 2 7 2 5 j2jj j 6 tu.3 2 7 j.ma -nda .7 jz2c7 jz3c2 7 la .2 A-dhuh la-e atak adhuh la .la .3 j77 j77 2 j.xjkj5c6 2 j.y jz7c2 zj2c3 3 j.xk3c4 j22 j23 j4jk.e atak adhuh la .te .6 j22 j23 5 j.3 5 j.6 6 j.7 2j.kz3c4 2 j.nge j7j j # j@j j 6 j3j j j.ne 5 3 5 3 6 7 3 2 3 j.6 2 6 7 j.e 7 @ 6 3 6 5 3 2 .3 5 3 2 5 2 5 3 5 6 zj5c6 j22 j23 5 zj.2 jz5c6 6 Adhuh la .ta 2 7 j.7 3 zj7c2 A-dhuh lae atak a-dhuh la .3 4 kz.nak .so nga .sar bregas ten a .3 5 zj5c6 j22 j23 5 zj5c6 2 j.7 2j.

Iringan Lancaran Sayuk lr. pl. Kedudukan iringan Lancaran Sayuk lr. Sebagai penutup adegan makarya diiringi Ayak-ayakan lr. Iringan yang mendukung adegan makarya yaitu Lancaran Sayuk lr. pt. pl.245 . .c# zj5x6jx5c3 sun 2 ar . barang dan Ayak-ayakan lr. Adegan makarya merupakan gambaran semangat bekerja secara bersama-sama.sa jz6x7xxj6c5 3 . . Makarya. kompak antara suami dan istri dalam suasana gembira. pt.ketat diikuti pola kendangan. barang yang berfungsi nglambari yang memberikan ilustrasi rasa musikal untuk mundur beksan. barang pada adegan ini sifatnya mungkus. pl. pt. pl. pl. lagu gerongan riang dan tekanan dinamis. Dalam hal ini pola-pola gerak tari selalu ketat. Bentuk mungkus ini ditinjau dari pelaksanaan vokabuler gerak yang terdapat pada adegan tiga hampir seluruhnya menggunakan pola kendangan kebar atau ciblon yang selalu membungkus pola gerak. dan nyawiji. sehingga rasanya menyatu dan harmonis. pt. mang - kat me - ga - we Adegan : III. . Rasa yang hendak diekspresikan pada adegan ini yaitu puncak kegembiraan dan kebahagiaan untuk menyongsong masa depan yang lebih cerah. pl. barang. barang dan sebagai mundur beksan (penutup) iringan Ayak-ayakan lr. barang secara berurutan dapat dicermati paparan berikut ini. pt. pt. zj6c7 5 . Bentuk nyawiji ini mengarah pada pemersatuan dua unsur menjadi satu yaitu dari unsur tari yang berupa vokabulervokabuler gerak kebar yang dinamis dan unsur karawitan yang berupa Lancaran Sayuk dengan irama sigrak. 7 z@x xj.

pl. 5 g6 6 Sa . 3 . 7 6 6 .be .he . pt. . 6 sa . . . 3 . . b 2 g2 . g7 3 g6 g6 g2 5 5 3 g2 3 3 2 2 g3 g3 6 6 5 5 3 6 g2 g7 ] Suwuk : x7x x7 6 7 3 2 7 g6 . . 7 . 5 g6 6 Sa-yuk . 6 . 6 2 2 .yuk . 3 g5 5 Sa . 2 7 3 . pt. 6 5 5 .yuk sa – kan . 7 6 6 . 6 5 5 3 3 5 3 3 5 . 7 . .we . . sa.yuk . barang Buka : . 7 6 6 . o 5 5 o b . . pl. 6 5 5 .yuk .yuk nyam-but ga. . 6 2 2 . . 6 5 5 3 7 g2 o . [ 6 3 5 3 3 5 5 3 5 . 6 . sa. 2 SS Sa yuk 7 7 . sa-yuk . 6 3 5 3 g2 7 g2 g6 g2 . 6 . 3 z6c7 . 6 sa.yuk sa . @ . 6 . 5 . o g3 b . .246 Lancaran Sayuk lr. 6 2 2 . 2 7 3 . sa. . 6 .x x c3 z6c5 3 mba-ngun ne – ga - ra - ne Ayak-ayakan lr. . 6 .ne .ka .ca . 5 3 2 . . . . . barang . z@x x x. 5 g2 . 6 5 5 .yuk . 7 .

ungkapan cinta yang mendalam seorang suami Rasa Kebersamaan Srisik kanthen Srisik kanthen Garis lurus Gong: 1 terhadap istrinya. dengan harapan mendapat Lumaksono ridhong Lumaksono ridhong Garis lurus Gong: 2 perhatian demi terjalinnya kasih cinta untuk harmonis Keterangan 1 Pasihan/ Percintaan. barang. dan Rasa Vokabuler gerak Istri (SW) Bahasa Nonverbal Vokabuler gerak Suami (SL) Pola lantai Iringan Hubungan Langsung Hubungan Tidak Langsung Srepek Rangurangu lr.247 Komposit Bahasa Verbal dengan Nonverbal Tari Bondhan Sayuk. pl. pt. No Bahasa Verbal Sastra Tembang Tema. Adegan. I. Kasmaran: tangan kanan tangan kanan .

pl. besut enjer menthang tangan kiri. manis. kanan. mbalang. barang. sindhet Ketawang Mijil Sulastri lr. Hoyogan. sekaran nyabet laras kebyokan kanan. Rasa kecewa jengkeng. pt. wong sembahan. Garis lengkung Gong: 2 Gong: 3 V - garwaku berdiri kebyokan gajah-gajahan. tangan kanan. tangan kanan-kiri songgonompo. aja gawe kagol . besut tangan Posisi di tempat Gong: 1 Dhuh mas rara.248 Srisik tangan laku kanthen Srisik kanthen Garis lengkung Gong: 3 sebuah rumah tangga.

dan 4 Rasa tegang srisik sampur kipat srisik kedua tangan ditekuk pinggang trap Garis lurus Gong: 5 . pt.249 Amung sira yekti Rasa mesra sulistyane gerak kengser dan ngaras kengser dan ngaras Gong: 4 V - Jumbuh klawan lincak mbalik gagak. Prasetya ingong wak dan jeblosan Lancaran lr. maju endhan sautan/nubruk jeblosan dan Gong:5 V - rasaningtyas mami. pl. lincak gagak. 3. barang srisik kanthen srisik kanthen Garis lengkung Gong: 1 tangan kanan tangan kanan tawing kiri dan tanjak tawing kiri laku enjer Garis lurus Gong: 2. Binerkahan ugi.

dan 7 nyabet kanan maju srisik Gong: 8 Srisik sambil menimang anak mundur srisik.250 Gong: 6 mundur kengser. dan 11 .10. maju tanjak kanan Gong: 9.

seorang istri mempunyai peranan cukup penting dalam baya iki wis wanci. mbalik tawing kanan Ukel karno kanan Garis lengkung V - . bapakne si thole. putar ke kanan. lembehan tangan kanan. Rasa mesra Menimang anak maju.251 2 Jineman Ladrang Sayuk Dalam menciptaka Dhuh mas jiwaku. tangan kiri memegang bahu istri dan tangan kanan memegang anak sambil memperhatikan dengan tawing kanan Garis lengkung V n keharmonis an keluarga. putar ke kiri – tangan kanan ukel karno maju panggel dan pandangan mengarah ke putri dan anak Garis lengkung V mendukung tugas dan kewajiban peran suami sebagai kepala keluarga.

bahagia. pt. nyambut gawe .252 mangkat makarya. gawanen maju srisik mendekati suami untuk memberikan anaknya mendekat untuk menerima anaknya Garis lurus V - Tak kudange anaku Rasa sing bagus dhewe. tawing kiri-kanan menimang-nimang anak Garis lengkung Ladrang Sayuk lr. mbesuk mesra. membelai anak (berupa boneka anak) Srisik mendekat istri V - sawahmu hanganti tansah tawing kanan. barang V - kebersamaan. maju mendekati suami lumaksono V - Sakdurunge anakmu mrene. panggel V - Mbokne thole. pl. dan pinter gembira.

atak Menerima anak memberikan anak kepada istri trampil Garis lengkung Kenong: 2 V laki-laki yang masih dalam timangan supaya adhuh lae. kawilan lumaksono putar Garis lengkung Kenong: 1 V Harapan orang terhadap anaknya adhuh lae. dasar bregas ten atene adhuh lae. atak Menimang anak lilingan Garis lengkung Kenong: 1 V dan mengutama kan tua adhuh lae. atak Menimang anak lilingan Garis lengkung Kenong: 4 (Gong : 1) V baik mengutama kan kebajikan. anteng polatane adhuh lae. labuh labet mring . adhuh lae. cukat tumandange adhuh lae. kerja keras.253 adhuh lae. atak Menimang anak menthang tangan kiri – ogekan tajem Garis lengkung Kenong: 3 V kelak menjadi seorang yang berperilaku adhuh lae. atak Lumaksono lembehan sampur. sesongaran disingkirke adhuh lae.

nleweng tumindake adhuh adhuh mbokne anake lae. barang . Gerongan Sayuk pl. pt.wis enyoh memberikan anak kepada temanten. atak lae. atak lae. srisik lumaksono Kenong: 3 V - sun arsa mangkat megawe 3 lancaran Sayuk lr.ora srisik Lumaksono Garis lurus V kepentingan umum untuk membangun bangsa.254 bangsane Kenong: 2 adhuh adhuh lae.

255 sayuk. Sayuk. sayuk. sayuk.tawing Tawing kiri Garis lengkung Gong: 3 Gong: 4 - V harmonis. sayuk. sak kancane Sayuk. sayuk. sakabehe Sayuk negarane Sayuk. sayuk. sayuk. sayuk. mbangun Enjer ridhong Enjer ridhong Garis lengkung Gong: 7 Gong: 8 - V mendidik anak kelak menjadi orang yang Lilingan kebyok Lilingan kebyok Garis Gong: 9 V berguna . sayuk. sak kancane Sayuk. sakabehe Sayuk negarane mbangun Kawilan . sayuk. nyambut gawe Laku telu sampir sampur Laku telu pondhongan Garis lengkung Gong: 5 Gong: 6 - V secara bersamasama untuk membina dan Sayuk. sayuk. nyambut gawe Rasa gembira. sayuk. bahagia Trap tawing jamang - Luluran Garis lengkung Gong: 1 Gong: 2 - V Gambaran kehidupan sebuah keluarga yang rukun. sayuk. sayuk. dan berupaya menjalani kehidupan Sayuk. damai. sayuk.

sayuk. Sayuk. sakabehe Sayuk negarane mbangun Enjer penthangan kedua melingkar tangan Enjer penthangan kedua tangan melingkar Garis lengkung Gong: 11 Gong: 12 - V Ayakayakan lr. barang Srisik kanthen Srisik kanthen tangan kanan dan mengambil anak Garis lurus tangan kanan dan mengambil anak Lumaksono sambil menimang anak sebagai Lumaksono sebagai cucuklampah temanten (selesai). sayuk. . sayuk. pt. Garis lurus cucuklampah temanten (selesai). pl.256 sak kancane Sayuk. nyambut gawe sampur sampur lengkung Gong: 10 bagi bangsa dan negara. sayuk.

dan III I. Sedangkan hubungan bahasa verbal dan nonverbal bersifat tidak langsung artinya bahwa makna bahasa verbal sastra tembang tidak sesuai dengan makna bentuk kinetic body moves. Rupanya terdapat sebuah harapan dari simbolisasi boneka anak tersebut yaitu bagi pasangan temanten untuk segera diberi keturunan anak sebagai pewaris keluarga. Properti boneka. 75 %. Boneka anak yang sering 257 . Adapun persentasenya dapat dicermati pada uraian berikut. Boneka anak yang dibalut dengan sehelai kain dimaksudkan sebagai simbolisasi anak (bayi) yang masih dalam timangan seorang ibu. II. Jumlah persentase hubungan tidak langsung = 6: 24 X 100. Secara kuantitatif hubungan bahasa verbal dan nonverbal pada tari Bondhan Sayuk yang bersifat langsung tampak lebih mendominasi dibandingkan dengan yang tidak langsung. Hubungan bahasa verbal dan nonverbal bersifat langsung artinya bahwa makna bahasa verbal sastra tembang sesuai dengan makna bentuk kinetic body moves dari bagian bahasa nonverbal.Dari komposit bahasa verbal dan nonverbal pada tari Bondhan Sayuk terdapat hubungan yang bersifat langsung dan tidak langsung. dan III Langsung Tidak langsung 18 6 24 jumlah Jumlah hubungan langsung dan tidak langsung = 18+ 6 4 5 Jumlah persentase hubungan langsung = 18: 24 X 100. II. 25 % 7. Tari Bondhan Sayuk No Adegan Hubungan bahasa verbal dengan nonverbal 1 2 3 I.

1999: 2). hal ini untuk kebutuhan kemasan seni pertunjukan supaya lebih menarik dan memikat penonton. akan diamati sejak adanya bentuk garapan tari dengan tema percintaan sejak abad ke VIII zaman Mataram Kuno hingga sekarang. Munculnya genre tari pasihan sebagai proses sejarah merupakan permasalahan yang hendak dipaparkan sebagai awal bagian faktor genetik untuk mengantar pada analisis-analisis berikutnya. Masa embrio tari pasihan sejak Abad ke VIII sampai abad ke XIX. Faktor Genetik. prasasti Balitung juga memberi keterangan bahwa pertunjukan 258 . garapan tari yang bertemakan percintaan di Jawa diperkirakan telah ada sejak abad IX. Kehadiran genre tari pasihan di Surakarta merupakan suatu proses yang memakan waktu cukup lama dalam sejarah yang penting bagi kehidupan dan perkembangan seni tradisional dalam seni pertunjukan Jawa. Semua berawal dan berakhir dalam suatu proses yang terus menerus melalui dimensi waktu (Ibrahim Alfian.digunakan dalam tari Bondhan Sayuk dilengkapi dengan baterai sehingga dapat bersuara layaknya anak yang sedang menangis. Kehadiran Genre Tari Pasihan Dalam Seni Pertunjukan Jawa Segala sesuatu yang dihadapi manusia dimuka bumi ini dalam kehidupannya semua mempunyai temporalitas atau historisitas. Selain wayang. Digunakannya boneka pada tari Bondhan Sayuk sangat terkait dengan keinginan atau harapan seniman penyusunnya yang ketika itu menghendaki diberi anak pertama lahir seorang anak laki-laki. Bila kita runut lebih cermat. B. Untuk mengungkap latar belakang munculnya genre tari pasihan dalam kurun waktu sejarah. seperti yang tertulis pada prasasti Balitung.

maka lahir pula dramatari baru yang bernama Raket (Soedarsono. Rupanya sudah dapat diduga bahwa dalam kedua wiracarita tersebut terdapat adegan percintaan antara tokoh-tokoh utamanya. Kediri.D. seperti adegan percintaan Sugriwa dan Dewi Tara. Gaya dan tehnik tarinya yang digunakan kemungkinan besar telah terekam pada relief Candi Borobudur dan Prambanan (Soedarsono. Singasari. Adapun cerita Panji ini mengisahkan perjalanan cinta Panji 259 . 1990: 4-5). Istilah wayang wwang baru dijumpai pada tahun 930 A. Jenggala. dan sebagainya. Mengingat zaman Jawa Timur perkembangan kesusasteraan sangat maju. kemungkinan besar bentuk garapan tari yang bertemakan percintaan juga sudah ada sejak zaman itu. kemudian muncul cerita baru yaitu cerita Panji.dramatari yang membawakan wiracarita Mahabarata dan Ramayana juga sudah ada sejak zaman Mataram Kuna. Bertolak dari sumber yang menyebutkan bahwa wayang wwang merupakan bentuk dramatari dan wiracarita yang dibawakan sejak zaman Mataram Kuna. yang tergores dalam prasasti Wimalasrama dari Jawa Timur. Meskipun istilah dramatari tidak disebutkan. 1990: 7). percintaan Puntadewa dengan Drupadi. dramatari Jawa Tengah yang bernama wayang wwang tetap dilestarikan di kerajaan-kerajaan baru tersebut dengan membawakan wiracarita yang sama yaitu Ramayana dan Mahabarata. Setelah Kerajaan Mataran Kuna di Jawa Tengah runtuh. percintaan Rama Wijaya dengan Sinta. di Jawa Timur muncul kerajaan-kerajaan. percintaan Arjuna dengan Sembadra. Mengingat di dalam wiracarita Ramayana dan Mahabarata juga diwarnai oleh tema percintaan. di antaranya Medang. tetapi kemungkinan besar yang dipergunakan pada waktu itu adalah bentuk wayang wwang. dan Majapahit (abad X sampai ke XVI).

wayang. Cerita Panji ini menjadi mendarah-daging di kalangan masyarakat Asia Tenggara karena kemudian dianggap sebagai salah satu cerita Jataka atau kelahiran Budha (Soedarsono. 1999: 133). para wali terutama Sunan Kalijaga yang selalu dikatakan sebagai pencipta topengtopeng yang dipergunakan untuk pertunjukan wayang topeng. Raton. Adapun topeng yang diciptakan untuk pertunjukan wayang topeng terdiri dari sembilan. dan kemudian Mataram Baru. Benco (sekarang Tembem atau Doyok). kekuasaan politik dan budaya Jawa mulai muncul dan berkembang di Jawa Tengah di bawah rajaraja penganut Islam seperti Demak. dan wayang topeng kemungkinan besar merupakan perkembangan dari Raket. yaitu tokoh-tokoh: Panji Kasatriyan. maka tidak dapat disangkal lagi bahwa cerita Panji berasal dari Jawa. Pajang. Bila wiracarita Ramayana jelas berasal dari India. Gamelan.Inukertapati dengan Sekartaji. Maka tidaklah mengherankan apabila cerita Panji ini juga merupakan tema yang digunakan dalam genre tari pasihan yang hidup dan berkembang hingga sekarang. tetap populer pada masa itu. Klana. dan Turas ( sekarang Penthul atau Bancak) (Soedarsono. Cerita Panji merupakan cerita yang sangat terkenal di wilayah Asia Tenggara. Candrakirana. Danawa (raksasa). Kiranya dapat diduga bahwa wayang topeng tersebut merupakan bentuk dramatari yang menggunakan topeng dan membawakan cerita Panji yang di dalamnya tetap masih terdapat garap 260 . 1999: 18-19). Andaga. Dengan demikian Raket merupakan bentuk dramatari yang bertemakan percintaan yang didalamnya sudah barang tentu terdapat garap adegan percintaan antara Panji Inukertapati dengan Sekartaji yang hidup dan berkembang pada zaman Majapahit. Menurut tradisi Jawa. Gunungsari. Runtuhnya Kerajaan Majapahit diawali abad ke XVI.

Baladewa Rabi. 261 . Munculnya Tari pasihan sejak 1920-1945. dan Wayang Wong. pertunjukan wayang topeng masih dilestarikan oleh Kasunanan Surakarta. Baru pada sekitar tahun 1940-an muncul tari GatutkacaPergiwa. Puntadewa Rabi. Ketika Mataram pecah menjadi dua yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta pada tahun 1755. 1994: 2-3). 2006: 19).adegan percintaan antara Panji Kasatriyan dengan Candrakirana yang dilestarikan pada zaman Mataram Jawa Tengahan (abad ke XVI sampai abad ke XVIII). bahwa tari Gatutkaca-Pergiwa itu telah muncul sebelum Indonesia merdeka tahun 1945 (Maryono. Bedaya Ketawang. Tari Gatutkaca-Pergiwa adalah bentuk tari pasihan yang merajut percintaan antara Raden Gatutkaca dengan Dewi Pergiwa. masih terikat dan terkait dengan kelompok. Pertunjukan Wayang Wong dengan lakon-lakon Nayarana Rabi. tidak melestarikan wayang topeng. Menurut Tohiran dan Sarwo Rini. Mencermati bentuk-bentuk garapan tersebut rupanya bentuk garapan tari pasihan sejak zaman Mataram Kuna di Jawa Tengah (abad ke VIII ) hingga zaman Mataram Baru di bawah pemerintahan Paku Buwana X ( abad ke XIX). adegan. Bedaya kadukmanis. bentuk garapan tari yang membawakan tema percintaan tetap lestari dan terdapat pada bentuk Tayub. tetapi menggubah satu bentuk dramatari baru yaitu wayang wong dengan membawakan wiracarita Mahabarata dan kemudian di Kasunanan di bawah pemerintahan Paku Buwana X. menunjukkan bahwa garapan tari dengan tema percintaan masih dilestarikan dan cukup berkembang baik (Rusini. maupun peran-peran lain. Kasultanan Yogyakarta di bawah Hamengku Buwana I. dan Gatutkaca Rabi pada acara memeriahkan perkawinan Puteri Juliana dengan Pangeran Bernhard van Lippe Biesterfeld tahun 1937 di Sriwedari.

Rupanya tidak benar apabila ada berita yang menganggap bahwa tari pasihan Raden Irawan dengan Dewi Wanuhara merupakan tari pasihan yang pertama kali muncul di Jawa pada tahun 1920-an. kedua. Klono. Gatutkaca-Sekipu. Anoman-Anggada. Janger (dari Bali). Hal ini berdasarkan rekaman video tari yang menggambarkan percintaan Raden Irawan dengan Dewi Wanuhara tersebut merupakan rekaman sebagian dari adegan percintaan yang terdapat dalam wayang wong lakon Sri Suwela. Bambangan-Cakil. pernyataan Tohiran sebagai pengelola wayang wong dan Sarwo Rini sebagai seniman pada waktu itu menyatakan bahwa tari Gatutkaca-Pergiwa itu sudah ada sebelum Indonesia merdeka tahun 1945. Munculnya tari GatutkacaPergiwa diperkirakan pada sekitar tahun 1920 hingga 1945-an yang berarti pula merupakan awal munculnya tari pasihan di Surakarta. Kiranya hal ini dapat diterima karena pertama. dan sebagainya. pernyataan Maridi yang mengungkapkan bahwa tari-tari yang sering pentas pada acara-acara orang punya kerja pada tahun 1940-an. berita mengenai pertunjukan wayang wong dengan lakon-lakon rabi atau kromo (kawin) banyak bermunculan pada tahun 1920-an ketika wayang wong mengalami perkembangan pesat di masa pemerintahan Hamengku Buwana VIII. Di samping itu wayang wong di Surakarta juga telah membawakan lakon-lakon rabi seperti Gatutkaca Rabi terjadi pada tahun 1937. ketiga. antara lain Gatutkaca Gandrung. jadi bukan garapan tari pasihan yang sudah mandiri (lihat video wayang wong: koleksi ASKI sekarang ISI Surakarta.Tari pasihan ini dapat diduga merupakan sempalan dari sebuah garapan wayang wong yang membawakan lakon Gatutkaca Rabi. yaitu untuk merayakan perkawinan Puteri Juliana dengan Pangeran Bernhard van Lippe-Biesterfeld di Sriwedari. Bondan. nomor: 262 .

Kupu-kupu. dapat dikatakan bahwa dalam periode itu hampir tidak ada kegiatan-kegiatan yang berarti. Menurut Soedarsono kehadiran genre tari pasihan ini terpacu oleh munculnya tari Oleg Tambulilingan yang merupakan satu-satunya tari duet percintaan di Bali yang telah muncul pada tahun 1952. Hal itu disebabkan pemerintahan Jepang melarang setiap kegiatan berkumpul. Sekar putri. Pada pertemuan di Pura Mangkunegaran masing-masing peserta menyajikan tari-tarian menurut gaya yang dimiliki. Akan tetapi garap tari dengan tema percintaan tersebut lebih sebatas memberi gambaran tentang bentuk embrio tari pasihan yang terdapat di dalam wayang wong. Sulintang. Pertemuan budaya tiga kota ini merupakan pertemuan ke-2.108). muncul genre baru yaitu genre tari pasihan. dan selama perang kemerdekaan hampir semua kegiatan diorientasikan untuk memenangkan perang. Panji. Yogyakarta menampilkan tari pasihan ‘Bahula-Retna Manggali’. Graeni. Dewi Serang. Kehidupan kesenian dalam kurun waktu tahun 1942-1949. dan tari Samba. Selain itu. Pada peristiwa budaya tahun 1956 di Pura Mangkunegaran yang lebih dikenal dengan sebutan pertemuan tiga kota yaitu Surakarta. Yogyakarta. Pamindo. Surakarta menyajikan tari pasihan ‘Rara Mendut-Pranacitra’. tampaknya munculnya genre tari pasihan di Jawa akibat peralihan kekuasaan dari pemerintahan kerajaan ke pemerintaahan republik yang lebih mengutamakan caracara demokrasi. Srigati. Di samping itu perubahan-perubahan sosial yang terjadi dalam 263 . sedangkan Bandung menyajikan tari-tarian seperti: tari Puja. kesinambungan dari pertemuan pertama di Yogyakarta. Golek Reneka. Munculnya Genre Tari pasihan sejak 1956-1962. dan Bandung.

Berawal dari menggarap sawah. menanam padi hingga mengambil hasilnya (memanen) dilakukan secara gotong royong oleh sepasang suami-istri.masyarakat mempunyai peran yang cukup besar dalam membentuk dan mempengaruhi lahirnya genre tari pasihan saat itu. akibatnya seni yang berasal dari istana terdesak bahkan dimusuhi karena dianggap tidak merakyat dan tidak dapat untuk menarik massa. Rupanya tari Satya Bakti merupakan hasil interpretasi terhadap kesadaran bela negara yang saat itu sudah mulai memudar di kalangan masyarakat. tari Gotong-royong. Hal ini terjadi akibat situasi politik negara yang mulai rawan. Bondhan Tani merupakan tari pasihan yang menggambarkan pasangan suami dan istri di dalam kebersamaannya mengolah sawah sebagai lahan pertanian. Sekitar tahun 1962. Rupanya bentuk-bentuk tari yang sifatnya masal dan bertemakan kerakyatan. Pada tahun 1959. situasi negara betul-betul semakin genting. Maka wajar apabila bentukbentuk tari duet percintaan yang sudah ada tidak dapat berkembang karena pada 264 . Masa menjelang tahun 1965. Pada masa itu muncul tari yang menggambarkan kehidupan rakyat kecil seperti tari Tani. muncul tari duet Satya Bakti yang membawakan tema percintaan dan perjuangan. yaitu masing-masing organisasi politik saling mencurigai dan mulai berebut massa untuk menguasai pemerintahan. muncul tari Bondhan Tani yang disajikan secara berpasangan dengan mengacu tema percintaan. bentuk-bentuk kesenian yang mampu untuk mempengaruhi massa seperti Ketoprak dan Ludruk menjadi rebutan dua partai besar yaitu Partai Nasional Indonesia (PNI) dan Partai Komunis Indonesia (PKI). dan sebagainya. tari Nelayan. anti feodalisme yang dikembangkan PKI hidup subur.

Tentu saja faktor-faktor itu semua mempengaruhi bangkitnya genre tari duet percintaan untuk lebih bergerak hidup dan berkembang dalam menyongsong kebutuhan hidup masyarakat. dan lainnya. Setelah tahun 1965. Kemitrasejajaran yang menyangkut kedudukan wanita dengan laki-laki tampak semakin meningkat dalam berbagai aspek. baik hukum. Banyak praktisi hukum wanita mulai bermunculan. terjadi perubahan tatanan politik sangat kuat yang kita sebut Orde Baru. tujuan. itu semua tidak dapat disangkal telah mempengaruhi pola pikir hubungan antar remaja. Masing-masing di antara mereka secara aktif dan berani memutuskan pilihannya sendiri bahkan menolak jika memang dirasa tidak cocok ataupun tidak sesuai dengan kehendaknya. politik. dan jangkauan yang jelas dan transparan. maka mulai bermunculan karya-karya individual. film-film cinta hingga film yang berbau porno dan juga mode-mode pakaian yang cenderung pamer tubuh. yaitu kebebasan individu mulai dijamin. sehingga kemitrasejajaran antara kaum wanita dan kaum pria mulai tampak. Masing-masing mempengaruhi pola pikir hubungan antar remaja. sehingga pembangunan dari berbagai bidang mulai digerakkan untuk mencapai tujuan masyarakat adil dan makmur. Pengaruh budaya Barat. Hal itu tidak terlepas dari kondisi stabilitas keamanan yang berangsur-angsur mulai pulih dan terkendali serta kembali normal. ekonomi. Pembangunan nasional mulai terprogram secara periodik dan memiliki arah. dan para ekonom wanita serta wanita-wanita karier hadir hampir pada semua sektor publik.dasarnya tari-tarian duet percintaan yang menjadi genre ini merupakan tari-tarian tradisional yang mengacu pada tarian istana. para politisi wanita semakin diperhitungkan dalam elite politik. 265 . baik yang berujud buku-buku porno.

Dengan semakin seringnya tampil di acaraacara resepsi perkawinan. menurut Wahyu Santoso Prabowo sebagai penari tari Karonsih yang telah dimulai sejak tahun 1973 yaitu munculnya istilah ‘Karonsihan’. Awalnya bagi penanggap dan kebanyakan masyarakat tidak memahami tari Karonsih. Pada awalnya. seperti : Driasmara. 266 . tari Karonsih ini disusun atas permintaan dari panitia resepsi Ibnu Harjanto dari Kalitan (Maryono. Maridi sebagai seorang seniman yang kreatif menawarkan hasil karyanya yang berbentuk tari duet percintaan yaitu Karonsih. Lambangsih. Bentuknya sangat lekat dengan bentukbentuk tari tradisional gaya Surakarta. Keberadaan tari Karonsih dalam budaya Jawa sejak tahun 1970 telah menjadi bagian yang seolah-olah tidak dapat dipisahkan terutama pada acara-acara upacara perkawinan. baik mengenai koreografi. tahun 1969 dalam rangka peresmian Yayasan Kesenian Indonesia ( YKI ). Rasanya menjadi kurang utuh apabila dalam acara resepsi perkawinan tidak hadir tari Karonsih sebagai penutup pesta tersebut. tari Karonsih mengalami perkembangan yang sangat pesat. Indikasi yang dapat diamati hingga sekarang. rias. Tari Karonsih adalah salah satu tari duet percintaan antara tipe karakter putri luruh dengan putra alus yang bersumber pada cerita Panji. 1991: 2). busana.Pada Tahun 1970 S. Kehadiran tari Karonsih menjadi sangat penting karena pada perkembangannya bahwa tari Karonsih ditempatkan sebagai sarana upacara perkawinan yang memiliki nilai simbolik terhadap sepasang temanten. sehingga asal melihat tari-tarian yang berbentuk duet percintaan semotif Karonsih. Pada awalnya tari Karonsih disusun berdasarkan fragmen Topeng Klono Bodo yang telah diciptakan Maridi. dan garap iringannya. Penampilan perdana oleh Maridi sebagai Panji Inu Kertapati dan Endang Susilawati membawakan peran Sekartaji.

tari Setyaningsih. Selain itu penyebaran tari Karonsih mengalami kemajuan sangat pesat sejak tahun 1970 hingga sekarang. terutama di daerah Jawa Tengah. tari Gesang Rahayu. seperti : tari Endah. tari Kusuma Ratih. Jakarta. dan Jawa Timur. Pengaruhnya dapat dilihat dengan munculnya berbagai bentuk tari duet percintaan. mempunyai pengaruh cukup besar yaitu telah dapat memacu dan memotivasi terhadap seniman-seniman di kalangan tradisional. Tema yang diangkat menggambarkan percintaan manusia secara universal. Yogyakarta. 2006: 28). tari Jayaningrat. Selain itu. Secara objektif perkembangannya dapat dicermati pada struktur sajian. dan tari Kusuma Aji. Menurut Sunarno. iringan.Enggar-enggar. dandanan busana. tari Karonsih lebih awal hadir di dalam upacara-upacara perkawinan adat Jawa dan berkembang pesat hingga dijadikan sebagai bagian upacara ritual perkawinan karena dianggap mempunyai nilai simbolik yang tinggi terutama bagi kelangsungan kehidupan sepasang mempelai. tari Lambangsih. gerak. Kehidupan Karonsih menyebar meluas di wilayah Pulau Jawa. tari Driasmara. Karya tari Bondhan Sayuk disusun oleh Sunarno pada tahun 1979. tari Langen Asmara. dan properti. tari Enggar-enggar. mereka akan menyebutnya tari Karonsihan (Maryono. tari Bondhan Sayuk lebih tepat untuk gambaran sepasang temanten 267 . tidak terkecuali juga Karonsih dan lainnya. Kehadiran tari Karonsih di tengah-tengah kehidupan masyarakat dan telah menjadi bagian dari kebutuhan sosialnya. tari Bondhan Sayuk. Langen Asmara. yang lebih mengarah pada perjalanan hidup sepasang manusia dari kalangan rakyat. sehingga tari Karonsih ini telah mengakar pada masyarakat Jawa yang dalam kehidupannya banyak dipenuhi halhal yang berbau simbolik.

Perkawinan merupakan salah satu dan suatu saat peralihan yang terpenting pada life-cycle dari semua manusia di seluruh dunia.maupun sebuah keluarga baru yang belum memiliki anak (wawancara. Keinginan tersebut rupanya diridhohi oleh Sang Pencipta. Pesta dan upacara pada saat peralihan sepanjang life-cycle itu merupakan suatu hal yang universal yang hampir ada pada setiap budaya manusia. yang pertama merupakan hiburan yang tepat dalam sebuah resepsi perkawinan dan kedua dimaknai sebagai simbolik sepasang suami dan istri yang hidup bahagia yang layak untuk diteladani sepasang temanten. 2008). yaitu peralihan dari tingkat hidup remaja ke tingkat hidup berkeluarga. Dalam perjalanan waktu tari Bondhan Sayuk sangat diminati oleh masyarakat hingga sekarang. anak pertama laki-laki bahkan anak kedua juga laki-laki dan anak ketiganya baru putri. namun tidak semua saat peralihan itu dianggap sama pentingnya pada tiap-tiap budaya. Meluasnya sebaran genre tari pasihan tidak terlepas dukungan iringan kaset yang banyak dijual di toko-toko serta eksisnya para penari di berbagai kesempatan dalam rangka memenuhi kebutuhan sosial masyarakat. Sifat universal pesta dan upacara sepanjang lifecycle terjadi karena adanya suatu kesadaran secara umum di dalam budaya manusia. Perkembangan genre tari pasihan bagaikan cendawan dimusim penghujan ini tidak terlepas dari tangan-tangan kreatif para koreografer tari seperti Maridi dan Sunarno. bahwa setiap tingkat baru dalam life-cycle itu berarti menghantarkan si individu ke suatu tingkat dan lingkungan sosial yang baru dan lebih luas. Gagasan awal terciptanya tari Bondhan Sayuk adalah sebuah ekspresi pribadi Sunarno yang menginginkan anak laki-laki untuk putera pertamanya. 268 .

1972:89-90). dan ragu-ragu (Darsiti Soeratman. gawat. pelaku. mereka takut tertimpa malapetaka (Soedarsono. dan kebahagiaan hidup. mengingat upacaraupacara pada masa-masa melampaui saat-saat krisis sering dimaksudkan untuk menolak bahaya gaib yang mengancam individu dan lingkungan. 1989: 157). baik secara nyata maupun gaib (Koentjaraningrat. Ketentuan-ketentuan yang telah berlaku dalam upacara tersebut mereka yakini jika dilaksanakan dengan taat dan benar membawa berkah dan keselamatan.Di dalam aktivitas budaya manusia ada yang menganggap bahwa saat peralihan dari tingkat sosial tertentu ke tingkat sosial lainnya itu merupakan crisisrites yang penuh bahaya. dan pimpinan upcara tertentu. Demikian halnya yang terjadi pada budaya masyakat Jawa di dalam melangsungkan sebuah upacara adat perkawinan. Periode transisi tersebut juga disebut periode liminal yang merupakan fase tengah dalam skema ritus transisi dari praliminal untuk menuju pascaliminal. 1990: 4). Untuk itu crisis-rites bagi seorang liminal sangat penting. kedamaian. Bagi masyarakat Jawa upacara tersebut merupakan sebuah upacara yang sangat sakral sepanjang daur hidupnya. Kesakralan itu sesuai dengan pendapat Soedarsono mengenai hal-hal yang dianggap penting dalam suatu upacara ritual yaitu waktu. suritauladan yang bermakna untuk keselamatan. Berkaitan dengan tindakan simbolik dan magis simpatetis bagi masyarakat Jawa dalam 269 . pendidikan. segala ritual yang menyangkut dengan perjalanan hidupnya banyak diselimuti dengan simbolsimbol yang diharapkan dapat memberikan petuah. tidak menentu. perlengkapan. Bagi masyarakat Jawa yang masih lekat dengan budayanya. tempat. sebaliknya jika pelaksanaan tidak mentaati konvensi-konvensi yang telah berlaku. Dalam periode liminal ini seorang liminar berada dalam keadaan setengah-setengah.

They carry the vertility into every corner of the houses... Stamping with the right foot and singing. untuk mendapatkan kesuburan dengan cara menanggap jenis tari duet percintaan atau tari pasihan yang merupakan tarian kesuburan yang diekspresikan lewat sebuah garapan gerak-gerak presentatif dan representatif. the jump among the women – the knock the phalli one against another.. yang diekspresikan para penari dengan membawa gambar tiruan organorgan wanita dengan cara sebagai berikut. Salah satu sarana upacara perkawinan adat Jawa yang cukup penting adalah tari pasihan.perkawinan.. Hal ini terbukti pada masyarakat Jawa sekarang yang sudah mengalami kemajuan. 270 sudah mengakar pada budaya . (dalam Richard Kraus. 1991: 35). yakni adanya hubungan antara pria dan wanita.. Hampir dapat dipastikan bahwa pada setiap upacara perkawinan akan hadir tari pasihan. Mereka dalam melakukan upacara perkawinan. Rupanya. dilakukan secara simbolis.. 1969: 21). they dance with the upper part of their bodies bent forwards. diperlukan kekuatan-kekuatan tertentu. yakni adanya hubungan antara pria dan wanita. Hubungan dimaksud pada masyarakat yang masih melestarikan budaya purba kadang-kadang dilakukan lebih realistis (Soedarsono dalam Soedarso.. tindakan yang dapat melambangkan terjadinya pembuahan. berkembang menuju masyarakat modern.. Suddenly they jump wildly along with violent coitus motions and loud groans. Kekuatan tersebut antara lain berupa magis simpatetis yang diwujudkan dengan tindakan atau perbuatan yang dapat melambangkan terjadinya pembuahan. penuh simbolis dan mengandung makna nilai-nilai percintaan yang sangat berarti bagi kehidupan.. Pernyataan tersebut sejalan dengan pendapat Koch Grundberg yang menggambarkan sebuah tari kesuburan dari suku Indian Coneba di Brasil. Pada masyarakat yang sudah lebih maju.

lewat komplementer bahasa verbal dan nonverbal. maka dibutuhkan olehnya juga sebuah penghargaan. Karya tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk merupakan media aktualisasi bagi seniman dalam realitas masyarakat sebagai sarana ekspresi jiwa untuk diinteraksikan kepada publik untuk menggapai sebuah cita-cita dan pemenuhan akan kebutuhan hidup. Sebagai media komunikasi genre tari pasihan diharapkan mampu menyampaikan pesan. Wujud penghargaan adalah dapat diterimanya karya tari tersebut oleh masyarakat. mengingat merupakan satu-satunya bentuk sajian tari yang bermakna. Kehadiran genre tari pasihan pada ritual upacara resepsi perkawinan merupakan bahasa komunikasi seorang seniman terhadap penghayat.masyarakat Jawa. ia menciptakan sebuah karya dengan harapan dapat dihayati. Ekspresi diri semata tidak akan memuaskan. baik secara simbolik maupun sebagai santapan estetis terasa menyatu dengan situasi upacara. Pemilihan bahasa verbal dan nonverbal rupanya mengalami proses penyeleksian yang ketat dengan harapan dapat dihayati oleh penonton. Konsepsi Bahasa Verbal dan Nonverbal Tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk. Bagaimanapun acuhnya seorang seniman nampaknya terhadap publik. untuk itu dibutuhkan kecermatan dan kreatifitas seorang seniman dalam menciptakan karya tari yang mencakup bahasa verbal dan nonverbal. yaitu pada setiap ada acara upacara perkawinan akan hadir tari pasihan yang hendak diteladani oleh kedua mempelai. Peristiwa budaya ini membuat kehadiran tari pasihan dalam upacara perkawinan sangat ditunggutunggu masyarakat. 271 .

dapat dicermati contoh berikut ini: Jenis Tindak Tutur (TT) yang melekat pada Sindhenan Pangkur Ngrenas. Untuk itu bagi seniman penyusun. meminta. No Penutur Teks Verbal Sindhenan Pangkur Ngrenas Jenis tindak tutur Pemarkah Situasi 1 Dewi Sekartaji Dhuh jagad dewa bathara Welasa mring dasih kang nandhang kingkin Tinilar garwa satuhu 272 Patik Dhuh jagad formal 2 Dewi Sekartaji Direktif mring dasih formal 3 Dewi Asertif satuhu formal . Secara intern jenis-jenis tindak tutur yang terdapat dalam tari pasihan menggambarkan tentang nasehat-nasehat cinta kasih dan secara ekstern diharapkan oleh seniman penyusun jenis-jenis tindak tutur direktif yang mendominasi dalam bahasa verbal yang sifatnya mengajak.Berdasarkan informasi dari seniman penyusun. dominasi tindak tutur direktif yang terdapat dalam tari pasihan tersebut sangat diperlukan supaya makna keteladanan dapat lebih menyentuh dan cepat ditangkap penghayat khususnya sepasang temanten. dan memerintah dapat menyampaikan makna bahasa verbal sastra tembang yang berupa nasehat-nasehat cinta tersebut dapat ditangkap penghayat. Bentuk-bentuk dominasi jenis tindak tutur direktif dalam bahasa sastra tembang tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk. konsep yang mendasari tentang dominasi jenis-jenis tindak tutur direktif yang terdapat pada tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk adalah terkait dengan fungsi bahasa verbal yang terdapat dalam tari pasihan utamanya untuk suritauladan.

Bapakne sithole. Sawahmu anganti.Sekartaji 4 Dewi Sekartaji 5 Dewi Sekartaji 6 Dewi Sekartaji Ulun dhahat teka Direktif Ulun dhahat datan Direktif formal formal Dadya gantilaning tyas Direktif dadya formal aginggang sarambut Kalamun pinanggya datan 7 Dewi Sekartaji Aluwung tumekeng lalis Komisif Aluwung formal Jenis Tindak Tutur (TT) yang melekat pada Jineman Sayuk No Penutur Bahasa Verbal Jineman Sayuk Jenis tindak tutur Pemarkah Situasi Wanita (W) Dhuh mas jiwaku. 6 L Mbokne thole. 2 3 4 5 W W W W baya iki wus wanci. 1 dan Lakilaki (L). mangkat makarya. tansah Patik dhuh mas formal Direktif Asertif Direktif Asertif baya iki bapakne mangkat Sawahmu formal formal formal formal Asertif Mbokne formal 273 .

wanodya di.Mijil Sulastri. aginggang sarambut. prasetya. pinter Direktif mbesuk pinter formal Bentuk bahasa verbal yang terdapat pada tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk merupakan bahasa tembang Jawa yang berasal dari ranah tembang macapat. asih tresna. Jineman Sayuk. wong manis. 274 . Kinanthi Sandhung. setya. dilihat dari asfek kebahasaan secara koherensi telah memperlihatkan keterpaduan antara unsur-unsur lingual dalam bentuk guru wilangan. Mijil Sulastri memiliki rasa lagu prihatin dan untuk mengungkapkan rasa cinta kasih atau nasehat-nasehat tentang asmara. sulistyane. seperti Pangkur Ngrenas memiliki rasa lagu jatuh cinta. Dengan demikian bahasa verbal yang terdapat pada tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk. dan gerongan Lambangsari.sebagai bahasa tembang. garwa. rabinira. brangti. Kinanthi Sandhung memiliki rasa lagu romantis yang lebih tepat untuk memberikan nasehat-nasehat tentang cinta kasih. Ekspresif bagus formal 9 L Mbesuk nyambut gawe.7 L Sakdurunge anakmu gawanen mrene. mustikaning. Adapun jenisnya antara lain: Pangkur Ngrenas. kata dalam irama dan tekanan dengan dengan watak lagu tentang nasehat-nasehat cinta. asmara. Jenis-jenis tembang tersebut memiliki watak atau rasa lagu yang bernuansa percintaan. wuyung. Bahasa verbal yang berupa tembang-tembang cinta tersebut dapat dicermati dari penggunaan kata-kata cinta. seperti: gantilaning tyas. dan mas jiwaku. guru lagu. begitu pula gerongan Lambangsari dan Jineman Sayuk. Direktif gawanen formal 8 L Tak kudange anakku sing bagus dhewe.

rasa estetik.Wayang Orang yang nota bene bentuk–bentuk seni tersebut banyak menggarap jenis-jenis tembang Jawa. Darsi dan Surono rupanya memberikan kontribusi yang sangat berarti dalam karya tari Karonsih terkait dengan digunakannya tembang-tembang tersebut.Pemilihan jenis-jenis tembang tersebut selain watak atau rasa lagu sesuai dengan tema percintaan juga didasari dari latar belakang budaya penyusun tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk yang berasal dari budaya Jawa. Dari pengalaman selama berkecimpung dalam dunia Kethoprak. Begitu pula Sunarno. Bergaulnya dengan para seniman wayang orang seperti: Rusman. Bentuk tembang Pangkur merupakan salah satu inspirasi dari sajian tokoh Gathutkaca ketika memadu asmara dengan Pergiwa yang diperankan oleh Rusman dan Darsi. Bahasa verbal yang digunakan pada tari Karonsih yang secara intern sebagai alat komunikasi antar peran yang terlibat yaitu sebagai media percakapan 275 . setelah dewasa menjadi penari profesional. tingkah laku. ia memiliki pengalaman dalam berkecimpung dalam budaya Jawa. Puncak kreatifitasnya dalam menciptakan karya yang berbasis bahasa verbal dalam bentuk tembang Jawa yaitu karya Langendriyan Menakjinggo Lena yang mampu memberikan perkembangan pada karya-karya Langendriyan yang berbasis tembang Jawa. seperti: Kethoprak. dan pola kehidupan Maridi sebagai seniman.Wayang Orang rupanya memberikan inspirasi dan kontribusi dalam menciptakan karya tari Bondhan Sayuk. Faktor lingkungan memberikan kontribusi cukup berarti dalam menunjang perkembangan kesenimanan Maridi. Perhatian terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi dilingkungan sosial budaya sekitarnya. masuk menyatu mempengaruhi dan mengkristal membentuk pola pikir.

Sebagai keluarga bangsawan sikap perilaku kedua peserta tutur memiliki adat dan etika budaya yang mencerminkan kehalusan dan keteladanan. Dewi Sekartaji puteri raja Lembu Amijaya dari Kediri sedangkan Panji Inukertapati Kertapati putera raja Lembu Amiluhur dari Jenggala. Konsep yang melatarbelakangi digunakannya bahasa Jawa Krama pada tari Karonsih. Salah satu contoh tingkat kehalusan bahasa Jawa krama yang digunakan pertuturan Dewi Sekartaji dan Panji Inukertapati Kertapati pada tari Karonsih dapat dicermati pada bahasa tembang berikut ini: Pra wanita marsudiya marang tindak kang utama Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada Ingkang bisa nujuprana weh reseping pamicara Nora kengguh ing panggodha darbe budi kang santosa Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira Datan kemba asih tresna sung tetreming kulawarga Sampun sami setya tuhu anggenya liron asmara Karonsih pancen pranyata dadya kembang jagad raya Sedangkan bahasa verbal dalam tari Bondhan Sayuk yang digunakan untuk percakapan peran yang terlibat dalam pertuturan antara suami dengan istri berbentuk bahasa Jawa Krama Ngoko. Peserta tutur antara suami dan 276 . Kedudukan peserta tutur antara suami dan istri adalah gambaran masyarakat secara umum yang lebih lazim disebut masyarakat biasa.Dewi Sekartaji dengan Panji Inukertapati menggunakan bahasa Jawa Krama. Konsep yang mendasari digunakannya bahasa Jawa Krama Ngoko pada tari Bondhan Sayuk. Sehingga bahasa verbal yang digunakan untuk komunikasi peserta tutur adalah bahasa Jawa krama yang dirasa tepat dan sesuai untuk mencerminkan kehalusan terkait dengan kedudukan sosial sebagai putra bangsawan. mempertimbangkan kedudukan peserta tutur yang terlibat keduanya adalah anak raja. mempertimbangkan kedudukan peserta tutur yang terlibat keduanya adalah masyarakat tani.

Sawahmu tansah anganti. Sakdurunge anakmu gawanen mrene. Sebagai keluarga petani sikap perilaku kedua peserta tutur yang digambarkan dalam tari Bondhan Sayuk memiliki adat dan etika budaya yang lebih lugas. Fungsi bahasa verbal yang terdapat pada tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk adalah untuk mengungkapkan maksud dari seniman penyusun. mangkat makarya. baya iki wus wanci. Untuk itu bahasa verbal dirasa sarana yang tepat untuk menjelaskan 277 . Pemilihan peran suami dan istri dilatarbelakangi dari kehidupan seniman penyusunnya yang berasal dari keluarga seorang buruh tani dari desa Semono wilayah kabupaten Boyolali. polos cenderung apa adanya dan tampak kurang halus (kasar).istri merupakan simbol keluarga kecil dari kalangan masyarakat petani yang tercermin dari bahasa verbalnya yang cenderung ngoko yang lazim digunakan masyarakat pedesaan. hal ini dapat dicermati dari kata-kata yang digaris bawah: Dhuh mas jiwaku. Mbesuk pinter nyambut gawe. Kedudukan bahasa verbal dalam tari Pasihan menjadi sangat penting. Bapakne sithole. polos cenderung apa adanya terkait dengan kedudukan sosial sebagai masyarakat tani. seperti bahasa tembang yang digunakan pertuturan ketika suami dan istri sambil menimang anak. mengingat bahasa nonverbal yang menjadi sarana komunikasi bersama bahasa verbal memiliki keterbatasan-keterbatasan dalam mengungkapkan maksud dari seniman penyusunnya. Mbokne thole. Tak kudange anakku sing bagus dhewe. Sehingga bahasa verbal yang digunakan untuk komunikasi peserta tutur yang terlibat antara suami dan istri adalah bahasa Jawa krama ngoko yang dirasa tepat dan sesuai untuk mencerminkan sifat lugas.

Kinetic body moves. Rupanya kisah tersebut menjadi sebuah inspirasi yang berarti bagi pasangan temanten yang menginginkan percintaan yang ideal. polatan (ekspresi wajah). romantis. Tema yang dipilih untuk tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk adalah pasihan atau percintaan.maksud dan harapan yang dikehendaki oleh seniman tanpa melalui proses distorsi bahkan lebih dapat langsung mengungkapkannya. sehingga hayatan dari penonton tidak terkontaminasi tokoh atau peran lainnya. dan iringan. rias. Bentuk bahasa nonverbal yang terdapat pada tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk meliputi: tema. busana. Wujud pasangan tersebut mengarahkan penonton supaya lebih fokus pada tema percintaan. pola lantai. kinetic body moves. dan bahagia. polatan (ekspresi wajah). Adapun bentuk garapnya hanya menyajikan dua peran utama yakni pria dan wanita sebagai pasangan suami dan istri. busana. Lewat bahasa verbal seorang seniman akan menuangkan pikirannya secara lebih transparan dan komprehensif dalam bentuk tembang Jawa. dan iringan sebagai bahasa nonverbal tari pasihan merupakan pola-pola tradisional yang bersumber dari budaya istana Kasunanan Surakarta. Tema percintaan yang diangkat dalam tari pasihan tersebut secara garis besar menggambarkan perjalanan cinta sepasang suami dan istri berawal dari duka yang dialami masing-masing tokoh kemudian permasalahan-permasalahan yang dihadapi dapat diselesaikan dengan baik yang akhirnya mereka dapat berhasil menikmati hidup bahagia dalam sebuah keluarga. Konsep yang mendasari pemilihan tema percintaan ini terkait dengan harapan penyusun yang menghendaki kehadiran tari pasihan dalam resepsi perkawinan dapat bermakna bagi sepasang temanten. Kinetic body moves 278 . pola lantai. rias.

artinya gerak yang dihasilkan dari imitasi terhadap sesuatu. pola-pola sekarannya bersifat presentatif dan representatif. gerak ini difungsikan semata-mata untuk kebutuhan ekspresi. dan III pada tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk menunjukkan gerak representatif mendominasi pada bahasa nonverbal. yakni gerak presentatif dan representatif. II. karena wujud yang tampak sering samar-samar.sebagai media utama dalam sajian tari pasihan berupa pola-pola sekaran tari tradisional gaya Surakarta. namun kemunculannya tidak mudah untuk dipisah-pisahkan secara tegas. Dari seluruh adegan I. Gerak presentatif merupakan bentuk gerak yang tidak mempunyai arti secara khusus.05 % dalam tari Bondhan Sayuk. Sedangkan gerak representatif adalah gerak penghadir. yang mencapai 80. hal itu sengaja dibuat untuk mengungkapkan ekspresi seniman atau penyusun tari. Kedua bentuk gerak baik presentatif maupun representatif merupakan medium utama tari pasihan dalam rangka memenuhi keperluan ekspresi. Semakin banyak gerak representatif dalam sebuah tarian penonton semakin mudah menafsirkan tema dari ilusi-ilusi yang diekspresikan lewat gerak sehingga pesan makna dari tari pasihan tersebut mudah ditangkap masyarakat sebagai apresiatornya. Keduanya hadir dalam jagad tari.20 % dalam tari Karonsih dan 76. Adapun bentuk-bentuk vokabuler sekaran yang terdapat pada tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk secara garis besar. Dominasi gerak representatif yang terdapat pada genre tari pasihan dimaksudkan oleh seniman penyusun supaya masyarakat dan lebih khusus sepasang temanten akan merasa lebih mudah mengapresiasi tema tarian. Adapun gerak-gerak representatif pada genre tari pasihan tersebut 279 . Secara garis besar gerak dalam tari dapat dibagi menjadi dua bagian secara kasar.

bergandengan tangan. Selain itu dari komposit bahasa verbal dan Kinetic body moves sebagai unsur nonverbal pada tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk terdapat hubungan yang bersifat langsung dan tidak langsung. meledek. Sedangkan hubungan bahasa verbal dan Kinetic body moves bersifat tidak langsung artinya bahwa makna bahasa verbal tidak sesuai dengan makna bentuk gerak. seperti: berpelukan. Sehingga tema yang muncul dapat ditafsirkan yakni tema percintaan. Berdasarkan tema percintaan yang telah terungkap. untuk itu supaya seni tersebut dapat ditangkap maknanya oleh semua lapisan masyarakat maka bentuk komposit bahasa verbal dengan Kinetic body moves yang bersifat langsung dirasa sangat tepat agar mudah dihayati. penonton akan mencoba mengaitkan fungsi kehadiran tari pada sebuah resepsi perkawinan.merefleksikan gerak orang bermesraan. Alasannya kehadiran genre tari pasihan pada resepsi perkawinan adalah untuk hiburan dan suritauladan temanten dan masyarakat yang kepekaan rasanya heterogen. Hubungan bahasa verbal dan Kinetic body moves bersifat langsung artinya bahwa makna bahasa verbal sesuai dengan makna bentuk gerak. Secara kuantitatif hubungan bahasa verbal dan nonverbal yang bersifat langsung tampak lebih mendominasi dibandingkan dengan yang tidak langsung. Pemilihan pola-pola sekaran tari tradisional yang bersumber dari istana tersebut terkait dengan latar belakang kedua penyusun yaitu: Maridi dengan 280 . menggoda dan gerak-gerak lainnya yang mengungkapkan kegembiraan. mencubit. Kehadiran genre tari pasihan pada sebuah resepsi perkawinan bukan pada resepsi lainnya itu merupakan pertanda bahwa jenis-jenis tari tersebut mempunyai fungsi yang berarti dalam resepsi perkawinan yaitu sebagai suritauladan yang hendak ditindaklanjuti bagi sepasang temanten.

4) R. b) Eko Prasetya. belajar tari kethekan. Bagi Sunarno sejak berumur 11 tahun. yang menjadi panutan gaya / wiled tarian gagah S. 5) R. Sunarno banyak belajar tari dengan beberapa guru diantaranya: a) Sandiman (paman).T Kusuma Kesawa. Maridi secara diam-diam banyak berguru dengan beberapa empu tari yang akhirnya membentuk pribadinya menjadi seorang empu tari. 2) R. terutama tari tradisional gaya Surakarta. Maridi sudah bergabung di sanggar tari: paguyuban Muda Matoyo di bawah asuhan Jogo Laksito.M Suseno (dari gaya Mangkunegaran) 8) Nyai Pamarditaya. belajar tari dasar (tayungan) dan Tari Gathutkaca Gandrung. tari rakyat. 3) R. Berkat kecerdikan dan keuletan dalam upaya memperdalam tari.karyanya tari Karonsih dan Sunarno dengan karyanya tari Bondhan Sayuk yang sejak masih muda mereka banyak belajar tari-tarian tradisi gaya Surakarta. belajar tari Kethekan (kera). Adapun guru dan sanggar yang telah banyak berperan membentuk dan mengembangkan kesenimanan Maridi di dunia tari. antara lain: 1) R.M Lurah Atmo Bratono dengan sanggarnya Yatno Sidoyo. ia belajar tari di desa Semono dengan Wiryo Dimedjo (paman). 281 . dan tari Bondhan.M Lurah Widakdo. tari cakil di asrama polisi Pati.M Bekel Wignya Hambekso. Maridi. Seperti Maridi sejak berumur sekitar usia 8 tahun. Masa kecilnya banyak di Pati diajak paman Sandiman yang berprofesi Polisi yang juga seorang penari. 6) R. Lurah Harto Sukolewa sebagai guru tari gagah. 7) R.M Ng Atmo Hutoyo sebagai guru tari alus. Selama di Pati.

Kusuma Kesawa di Pawiyatan Karaton Kasunanan dan Ramayana Rara Jonggrang. jurusan Karawitan (ASKI) dan lulus sarjana muda tahun !979. tari Cantrikan. Sunarno melanjutkan sekolah di Konservatori Karawitan Indonesia Surakarta (KOKAR) di Surakarta pada jurusan tari tahun 1970 lulus tahun 1972.Ngaliman di kursus tari PKJT sejak tahun 1972. Melanjutkan S1 di ASKI lulus tahun 1981 dan mengambil S2 di Sekolah Tinggi Seni Indonesia di Surakarta. Pada tahun 1976. 282 . Selain pendidikan formal. tahun 2005 lulus tahun 2007 dengan gelar Magister Seni ( M. Pada tahun 1973. Sunarno masuk kuliah di Akademi Seni Karawitan Indonesia. Di samping belajar.Sn). Ngaliman dengan sanggarnya Baradha di Kemplayan dan kursus tari di PKJT Sasonomulyo. b) S. dan Tari Gathutkaca Gandrung di Pakempalan Kagunan Jawi (PKD) Pati. ia dijadikan asisten S. c) Wiryo Tampu. d) Wiryo dengan Sanggar tari Pomoi di Laweyan. untuk meniti karirnya lebih lanjut. Di samping kuliah ia juga seorang pengajar tari spesialis tari gagah di ASKI sejak tahun 1973 yang pada waktu itu baru menjadi pegawai honorer Dikbud Kodya yang diperbantukan untuk ASKI.c) Raden Irawan. d) Secara khusus belajar tari cakilan di kursus: Kembang Djaya di Pati. selama di Surakarta ia banyak menimba ilmu dengan beberapa Guru tari antara lain: a) KRT. Setelah lulus SMP. belajar tarian dasar tayungan. ia diangkat sebagai pegawai negeri Dikbud Kodya dan sejak tahun 1982 melimpah ke ASKI sebagai dosen tetap sampai sekarang.

Komposit bahasa verbal dan nonverbal dalam genre tari pasihan merupakan perpaduan yang utuh sebagai seni pertunjukan. sedangkan tari Bondhan Sayuk yang bersumber dari cerita rakyat menggunakan dandanan Blangkonan untuk peran suami dan peran istri menggunakan Gelungan atau konde. polatan (ekspresi wajah). Bentuk rias dan busana yang dipakai pada tari pasihan berdasarkan pola-pola tradisi yang disesuaikan dengan sumber cerita. rias. Bentuk iringan gamelan sebagai ilustrasi musik yang berupa gendhing-gendhing karawitan rupanya sangat tepat dan memberi kemantapan dalam mendukung sajian tari pasihan. busana. Untuk menangkap makna yang terkandung dalam bahasa nonverbal yang berupa simbol-simbol kinetic body moves. busana. iringan gamelan yang terpadu dengan bahasa verbal sastra tembang diperlukan kepekaan rasa dan ketajaman pikir sehingga mampu menghayati nilai-nilai cinta kasih pada tari pasihan yang diharapkan seperti yang dimaksudkan seniman penyusun. pola lantai. kehadiran genre tari pasihan pada upacara ritual perkawinan difungsikan oleh 283 .Polatan atau ekspresi wajah pada tari pasihan pada dasarnya tidak tampak mencolok perubahannya. Pola-pola semacam itu merupakan budaya Jawa yang merupakan dasar dari penyusun tari pasihan sehingga komplementer dari kinetic body moves. Pada tari Karonsih yang bersumber dari cerita Panji menggunakan dandanan Panjen dengan ciri Tekes. polatan (ekspresi wajah). Hal ini terkait dengan karakter masing-masing peran yang cennderung alus. pola lantai. Sebagai seni pertunjukan. luruh dan feminin. rias. dan iringan sebagai bahasa nonverbal tari pasihan saling mengkait untuk mendukung bahasa verbal sastra tembang menjadi bentuk sajian tari yang utuh dan berfungsi sebagai media komunikasi untuk mengungkapkan maksud seniman penyusun.

Faktor Afektif. Sedangkan suritauladan yang diharapkan oleh seniman penyusunnya didasarkan pada pesan atau muatan isi yang terkandung dalam komposit bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan yang berupa nasehat-nasehat cinta kasih tentang: pasangan keluarga yang romantis.seniman penyusun sebagai hiburan dan suritauladan bagi sepasang temanten dan masyarakat pada umumnya. Beragam pendapat dari kalangan masyarakat telah muncul menanggapi hadirnya genre tari pasihan pada ritual resepsi perkawinan. Sebagai hiburan. Informan dari kalangan masyarakat secara garis besar terdiri dari: kelompok penanggap atau 284 . Persepsi masyarakat terhadap kehidupan genre tari pasihan gaya Surakarta. latar belakang budaya. Pada dasarnya masing-masing penonton memiliki persepsi yang berbeda-beda tergantung dari kepekaan rasa dan ketajaman pikir yang dimiliki individu. dan sikap-sikap ideal bagi figur suami maupun figur istri. Masyarakat penonton adalah kelompok orang dari beragam kalangan status sosial yang mengapresiasi tari pasihan terutama jenis tari Karonsih dan tari bondhan Sayuk. C. kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga. sajian genre tari pasihan menjadi layak karena wujudnya merupakan bentuk seni pertunjukan yang secara visual menarik. Nilai-nilai keteladanan tersebut terutama diperuntukan bagi sepasang temanten untuk bekal dalam membina rumah tangga. Beragamnya persepsi dari masyarakat penonton tidak lepas dari bekal kepekaan rasa. dan bahagia. kemauan. dan keterlatian dalam mengapresiasi tari pasihan. harmonis. memikat dan mengandung nilai estetik yang dapat menghibur penonton.

Sebagai masyarakat yang berlatarbelakang budaya Jawa. 285 . kelompok penonton umum. bagus.sebagai pengguna. sehingga proses hayatan yang dikehendaki penari maupun penyusun tari tidak akan muncul. rasa memiliki. Adapun informasi dari ketiga kelompok informan tersebut dapat dicermati berikut ini. melestarikan budaya yang dirasakan lebih tepat adalah budaya Jawa. Taraf selanjutnya adalah kemampuan penari dalam menyajikan tari yang lebih berorientasi pada keluwesan penari dalam membawakan tarian. 1. maupun manis. diharapkan dengan ketinggian yang ideal (sekitar 160 cm) dan dukungan warna kulit yang halus.Genre tari pasihan sebagai hiburan. Selain bentuk fisik penari yang ideal juga dukungan rias wajah yang mampu menampilkan karakterisasi peran dan busana glamor yang dapat memikat dan memberi kenikmatan indera mata. Hal ini dapat dicermati sejak awal dari pelaksanaan upacara resepsi perkawinan yang menggunakan adat budaya Jawa. Setelah itu baru melihat dedek atau tinggi – rendahnya penari. Tanpa penampilan rupawan penarinya. cantik. Penilaian paling awal yang tampak bagi penonton akan tertarik pada gandar atau rupa wajah penarinya yang tampan. niscaya penonton tidak akan menanggapi apalagi memperhatikan. bersih akan menambah daya tarik penonton. Dari pengamatan tersebut dibenak para penonton terjadi sinergi antara kepekaan rasa dan ketajaman pikir sehingga muncul penafsiranpenafsiran terhadap karya seni. dan kelompok pakar. Bagi penanggap kehadiran tari pasihan dalam ritual resepsi perkawinan adat budaya Jawa ini merupakan salah bentuk hiburan yang diperuntukkan bagi tamu undangan supaya tidak membosankan dan sekaligus untuk mengatur jalannya upacara terkait dengan jeda acara demi acara berikutnya.

bentuk dekorasi (brostul) untuk penganten. merupakan pertunjukan yang bersifat hiburan.baik yang menyangkut pemilihan hari resepsi. hiburan yang berbentuk tarian maupun karawitan secara lengkap. Hiburan yang lebih tepat dipilihnya bentuk kesenian yang berbasis budaya Jawa. serta saranasarana lainnya. Sinkronisasi antara gambaran nilai percintaan yang diangkat dalam tari dengan realitas nilai percintaan yang hidup dan berkembang dalam jiwa sepasang mempelai temanten yang sedang diwisuda. tarub sebagai hiasan rumah resepsi. busana basahan ataupun kejawen lengkap untuk penganten. Fungsi awal yang paling sederhana secara faktual dapat dicermati adalah sebagai hiburan. Hiburan yang didapat dari sajian tari pasihan. seperti genre tari pasihan gaya Surakarta. Bagi penonton secara umum. 286 . Dari beberapa pakar menyatakan bahwa kehadiran genre pasihan pada upacara ritual perkawinan memiliki fungsi yang dalam terutama bagi sepasang mempelai temanten. pertunjukkan tari pasihan dalam upacara ritual perkawinan adat budaya Jawa terletak pada kesesuaian antara tema percintaaan yang digambarkan tari pasihan sebagai muatannya dengan peristiwa perkawinan yang mengatur sejak awal jalannya percintaan sepasang mempelai temanten secara resmi di depan publik untuk mendapatkan pengakuan status sosial dan adat budaya yang mereka miliki. busana kejawen lengkap dengan keris untuk among tamu kakung (penjemput tamu pria) dan kebaya untuk among tamu wanita. tersebut adalah bukti dari ketepatan atau kesesuaian yang diasumsikan dari penonton secara umum. Kehadiran tari pasihan dalam upacara ritual resepsi perkawinan yang biasanya disajikan pada bagian akhir dari seluruh rangkaian resepsi sebagai penutup. Sebagai hiburan yang dirasa tepat atau sesuai.

Pada dasarnya masing-masing individu sedikit banyak memiliki rasa kesenian yang merupakan bekal alami.bagi penonton adalah bersifat estetik. dandanan busana. dan kelompok pakar secara garis besar salah satu fungsi genre tari pasihan dalam ritual resepsi perkawinan adat Jawa merupakan bentuk hiburan. mereka melihat 287 . Persepsi masyarakat yang terdiri dari kelompok penanggap atau sebagai pengguna. rias. sekalipun kadar kualitas berbeda namun masih mampu menggugah dan menghidupkan kembali stimulus-stimulus estetik yang sewaktuwaktu dihadapkan pada benda pacu yang berupa karya seni genre tari pasihan. memiliki wawasan kesenian dan mempunyai minat serta kepedulian terhadap seni. Hasil komplementer dari bentuk fisik dan nonfisik dalam tari adalah rasa keindahan yang mampu memberikan hiburan yang bersifat rohani. Kesamaan persepsi dari ketiga kelompok masyarakat tersebut karena mereka memiliki latar belakang budaya yang sama. Berdasarkan pementasan taritarian pasihan yang menggambarkan orang bercinta dengan mesra. Genre tari pasihan sebagai keteladanan. kelompok penonton umum. mereka katakan bahwa jenis-jenis tari percintaan yang sering dilihat dalam resepsi perkawinan mempunyai maksud-maksud tertentu. Secara emosional mereka memiliki ikatan kultur yang kuat sehingga kepekaan rasa yang tertanam dalam jiwa. Bagi penonton umum yang sering mengapresiasi pementasan tari pasihan. Wujud fisik berupa gandar atau rupa wajah. dan kinetic body moves yang secara komplementer akan menyatu dengan wujud nonfisik yang berupa rasa. 2. artinya kenikmatan indera penonton dari melihat pertunjukan tari pasihan merasa tertarik dan terpikat berawal dari bentuk fisik. dedek atau tinggi rendahnya postur tubuh.

dan kebahagiaan yang digambarkan dari sepasang tokoh-tokoh idola seperti: Panji Inukertapati & Dewi Sekartaji pada tari Karonsih. Secara khusus tari pasihan merupakan simbolisasi percintaan yang mengandung nilai percintaan yang begitu tulus sebagai muatan ekspresinya. Pemilihan ini rupanya sangat terkait dengan maksud penanggap yang mampu mencermati. dan berarti bagi sepasang mempelai temanten yang sedang diwisuda. memahami dan menghayati nilai-nilai yang terkandung dalam karya tari pasihan. kegembiraan. romantisme. Diharapkan dengan meneladani nilai percintaan yang disajikan lewat tari pasihan tersebut bagi sepasang temanten dapat membina hidupnya dengan nilai cinta yang sebenarnya. kehalusan. Bagi penanggap nilai-nilai cinta yang demikian itu. dan Damarwulan & Dewi Anjasmara dalam tari Enggar-enggar tersebut mempunyai makna yang dalam yang mampu menyentuh jiwa manusia. tari pasihan merupakan masterpiece dari seluruh sajian tari yang dipentaskan dalam sebuah upacara ritual perkawinan adat Jawa. ketulusan. Kemesraan. Selain itu yang dapat ditiru oleh pasangan temanten dari pementasan tari-tarian pasihan adalah kebersamaan dan kegembiraan. Dewa Komajaya & Dewi Komaratih dalam tari Lambangsih. di tengah-tengah kehidupan sosial masyarakat. Bagi penanggap. untuk itu perlu diteladani. yaitu kemesraan sebagai sepasang suami istri. Tema percintaan yang diangkat untuk menentukan alur garapan tari pasihan sungguh mampu mengungkapkan nilai cinta lewat liku-liku kehidupan cinta sepasang kekasih yang merupakan tokoh idola baik yang bersifat fiktif maupun nyata bagi masyarakat Jawa. Diharapkan keluarga yang 288 .terdapat sesuatu dari pertunjukkan itu yang dapat ditiru oleh sepasang temanten. merupakan sesuatu bekal hidup yang sangat berharga.

tetapi sering kali mengalami kesulitan untuk menginterpretasi makna sesungguhnya yang dikehendaki seniman. Dari medium sensa itu seniman akan dapat menganyam impian-impian bagi kita mengenai hal-hal yang 289 . seperti: sedih. takut. Kepekaan rasa dan ketajaman intelek bagi pakar seni merupakan modal utama untuk mencermati dan menganalisis kehadiran sebuah karya seni di tengah-tengah kehidupan dan perkembangan sosial masyarakat dari beragam perspektif. Untuk mengetahui maksud seniman diperlukan bekal pengalaman. bahagia. senang. damai. keterlatihan. Maksud seniman tersebut tersirat pada karya seni yang kadang kala mudah ditangkap maknanya oleh penonton. dan wawasan berkesenian secara luas. khawatir.dibangun dan dibina sepasang temanten dengan nilai-nilai cinta mampu menciptakan keluarga yang harmonis. Mengingat bahwa seorang seniman menciptakan karya seni sedikit banyak mempunyai maksud-maksud tertentu dibalik karyanya. seorang seniman berkarya merupakan dorongan dan tutuntan kebutuhan jiwa yang dilatarbelakangi apresiasi terhadap lingkungan manusia dan alam yang terseleksi dan senantiasa dimanifestasikan dalam bentuk yang estetik. tenang. marah. Nilai cinta yang terdapat pada tari pasihan yang merupakan akumulasi dari beragam rasa. sehingga penafsiran-penafsiran terhadap makna dibalik karya yang dicipta menjadi semakin valid Bagi pakar. kemampuan. Bagi pakar bekal apresiasinya terhadap seni dan wawasan intelektual yang dimiliki mampu menghayati secara dalam dan mengungkapkannya secara komprehenship. gembira. dan lainnya itu semua ditangan seniman diungkapkan dalam bungkus sensa yang mampu memicu dan memacu timbulnya khayalan benda dan peristiwa yang memberi kenikmatan dan kepuasan. kacau. dan bahagia.

Seniman pada dasarnya tidak lain sebagai manusia yang menyediakan sebuah susunan benda pacu atau lambang-lambang sensa yang diharapkan akan ditafsirkan seperti yang dimaksudkan olehnya. Pada dasarnya genre tari pasihan gaya Surakarta merupakan simbolisasi percintaan sepasang manusia yang berjenis kelamin pria dan wanita. kita kemudian dalam imajinasi dapat melakukan atau mengalami. Kehadiran genre tari pasihan (percintaan pria dan wanita) dalam kehidupan sosial masyarakat pada ritual perkawinan adat Jawa rupanya mempunyai makna simbolik yang sangat penting terutama bagi kedua mempelai dalam rangka mempersiapkan diri untuk mengarungi kehidupan di masyarakat yaitu menuju terbentuknya keluarga yang bahagia. Bagi pakar. Dalam menghadapi permasalahan kemudian mendapat perjalanan kisahnya berawal solusi yang menjadi berangsur-angsur membaik dan berakhir bahagia. bahwa ‘simbol’ tampak terbatas pada sesuatu yang mengungkapkan secara tidak langsung. Khayalan tentang tindakan atau emosi yang ditimbulkan lewat karya seni. genre tari pasihan memiliki fungsi yang dalam terutama bagi sepasang mempelai temanten yang tercermin pada komplementer bahasa verbal dan nonverbalnya. Kehadiran 290 . Jika dicermati lebih dalam dari jiwa kita sendirilah sebenarnya muncul gagasan-gagasan dan beragam rasa yang merupakan isi sebuah karya seni. Seolah–olah keberadaan genre tari pasihan dalam budaya Jawa menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan terutama pada upacara-upacara perkawinan. sehingga perlu perantara yang berwujud simbol-simbol dalam puisi bukan dalam bentuk pengetahuan. Simbolisme semacam ini tampak pada genre tari pasihan yang hadir dalam rangkaian upacara-upacara perkawinan adat Jawa.membuai dan memikat kita senang mengamati. Menurut Clifford Geertz (1992: 6).

Kekuatan imajinasi percintaan yang digambarkan sepasang kekasih dalam tari pasihan diharapkan dapat memberikan kekuatan magis simpatetis terhadap kehidupan jiwa sepasang mempelai temanten. Bentuk dan sikap ideal bagi sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temanten terpancar dari kekuatan cinta sepasang tokoh yang digambarkan dalam tari pasihan dimaksudkan dapat dihayati sepasang temanten sehingga bayanganbayangan cinta yang diekspresikan oleh seniman mampu memicu dan memacu kehidupan imajinasi cinta sepasang temanten. Hal ini juga digambarkan secara lebih aktual pada tari Bondhan Sayuk ketika tindakan atau perbuatan penari putri (peran istri) memberikan boneka anak kepada temanten putri pada bagian akhir tarian merupakan perbuatan simbolik yang menunjukkan adanya kekuatan – kekuatan tertentu yang tidak kelihatan mata yang bersifat magis simpatetis diharapkan dapat diterima penganten putri. dan bahagia.tari pasihan hampir dapat dipastikan dalam resepsi perkawinan. kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga. harmonis. yaitu mampu mempengaruhi kesuburan dalam proses perkawinan pasangan temanten. Rupanya terdapat korelasi yang sangat signifikan bahwa kehadiran tari pasihan dalam resepsi perkawinan diharapkan dapat diteladani dan memberikan sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temanten. Nilai-nilai keteladanan yang dapat diserap dari aktualisasi tari pasihan yang berupa nasehat-nasehat cinta kasih diantaranya: pasangan keluarga yang romantis. suami mapun istri. Perbuatan simbolik dalam pertunjukan tari Bondhan Sayuk lebih tampak jelas dan lebih mendekat kearah realitas tujuan bercinta dalam sebuah kehidupan keluarga. Dengan kekuatan magis simpatetis akan dapat menyuburkan benih-benih cinta 291 .

orang tidak akan dapat berharap banyak karena rasa seni yang kita hayati tidak bisa mengendap dan lekas menghilang tidak menjadi gagasan yang tenang dan mantap. Kesamaan persepsi dari penanggap. Pada dasarnya kedua orang mengawinkan putra-putrinya dengan cita-cita untuk segera diberi keturunan yang berupa anak. sebagai pewaris dan penerus keluarga. bahwa dalam dunia kesenian. Di samping itu juga terdapat perbedaan pada kadar pemahaman. Kepekaan rasa dan ketajaman intelek pakar seni merupakan modal utama untuk mencermati dan menganalisis kehadiran sebuah karya seni di tengah-tengah kehidupan dan perkembangan sosial masyarakat dari beragam perspektif.yang tengah berkembang pada sepasang temanten yang akhirnya mampu melahirkan buah cinta yang berupa momongan (anak). Dengan demikian hanya pakarlah yang mampu untuk memahami dan menganalisis secara komprehensif dan bertanggungjawab 292 . para pelaku dan penghayat tidak selalu memahami akan yang mereka kerjakan. karena bagi pakar bekal apresiasinya terhadap seni dan wawasan intelektual yang dimiliki mampu menghayati secara dalam dan mengungkapkannya secara komprehenshif. penonton umum dan pakar terhadap kehidupan genre tari pasihan mengidikasikan bahwa bentuk tari pasihan tersebut mengandung nilai-nilai keteladanan layak menjadi sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi sepasang temanten untuk diserap dan diimplemetasikan dalam kehidupan rumah tangga. Kesulitan yang tampak bahwa seni pertunjukan merupakan seni sesaat. Kesadaran awal yang harus dicermati. Bahkan seniman sering mampu menghasilkan karya seni yang sangat bagus tetapi kerap tidak memiliki pendapat yang jelas dan tetap terhadap pernilaian karyanya.

TT direktif. TT ekspresif.validitasnya. BAB IV PEMBAHASAN A. Jenis–jenis TT yang terdapat dalam genre tari pasihan gaya Surakarta terdiri dari beragam jenis yaitu: TT asertif. Temuan pokok. jenis TT yang dominan adalah TT direktif. yang memiliki rasa seni yang dalam tetapi tidak berbicara banyak dan sering sulit untuk mengurai karyanya. TT komisif. Dari beragam jenis TT yang terdapat pada genre tari pasihan. 1.pokok penelitian. Faktor objektif. dan TT patik. 293 . karena seniman adalah berjiwa mistik.

yaitu mampu mempengaruhi kesuburan dalam proses perkawinan pasangan temanten. Rupanya terdapat korelasi yang sangat signifikan bahwa kehadiran tari pasihan dalam resepsi perkawinan diharapkan dapat diteladani sepasang temanten. 3. Implikatur yang terdapat dalam bahasa verbal tari pasihan menunjukkan adanya simbolisasi percintaan sepasang suami istri yang dalam perjalanan kisahnya berawal menghadapi permasalahan kemudian mendapat solusi yang menjadi berangsur-angsur membaik dan berakhir bahagia. sedangkan maksim kualitas dan maksim hubungan dipatuhi. Kekuatan imajinasi percintaan yang digambarkan sepasang kekasih dalam tari pasihan diharapkan dapat memberikan kekuatan magis simpatetis terhadap kehidupan jiwa sepasang mempelai temanten. Prinsip kesantunan yang diterapkan dalam bahasa verbal genre tari pasihan dengan menggunakan strategi melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif dan strategi melakukan TT secara tidak langsung (off record). Daya pragmatik yang terdapat dalam bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan menunjukkan adanya bentuk sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temanten. Dalam bahasa verbal genre tari pasihan bentuk penerapkan prinsip kerja sama terjadi pelanggaran maksim kuantitas dan maksim cara.2. Kehadiran tari pasihan hampir dapat dipastikan dalam resepsi perkawinan yang nota bene sebagai wahana untuk mewisuda sepasang temanten. Hal ini terpancar dari kekuatan cinta kasih sepasang suami istri yang digambarkan dalam tari pasihan dimaksudkan dapat dihayati sepasang temanten sehingga bayangan-bayangan cinta yang diekspresikan oleh seniman mampu memicu dan memacu kehidupan imajinasi cinta sepasang temanten. Gambaran secara lebih 294 .

dan iringan yang secara komplementer menyatu dalam bentuk seni pertunjukan.aktual pada tari Bondhan Sayuk yang merepresentasikan pasangan pria dan wanita setelah bercinta kemudian membawa boneka sebagai simbol anak dan ketika adegan akhir penari putri memberikan boneka anak kepada temanten putri. Berdasarkan jabaran bahasa verbal dan nonverbal tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk dapat diketemukan ciri karakteristik genre tari pasihan sebagai berikut: a) Bahasa verbal berbentuk tembang Jawa bernuansa cinta. sindhenan. kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga. Tindakan atau perbuatan tersebut merupakan perbuatan simbolik yang menunjukkan adanya kekuatan – kekuatan tertentu yang tidak kelihatan mata yang bersifat magis simpatetis diharapkan dapat diterima temanten putri. 4. dan bahagia. kinetic body moves (gerak tubuh). dan sikapsikap ideal bagi figur suami maupun figur istri. e) 295 . Perbuatan simbolik dalam pertunjukan tari Bondhan Sayuk lebih tampak jelas dan lebih mendekat kearah realitas tujuan bercinta dalam sebuah kehidupan keluarga. rias. pola lantai. d) Tema percintaan. polatan. Bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan merupakan dua komponen besar yaitu aspek verbal berupa cakepan (syair) sastra tembang yang terdapat dalam teks pathetan. gerongan. Pada intinya bentuk daya pragmatik genre tari pasihan adalah berupa nasehat-nasehat tentang cinta kasih yaitu pasangan keluarga yang romantis. harmonis. busana. dan jineman dan aspek nonverbalnya berupa: tema. c) Hubungan bahasa verbal dan nonverbal bersifat langsung dan tidak langsung. Nasehat-nasehat tentang cinta kasih tersebut bermanfaat bagi sepasang temanten sebagai bekal untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dalam membangun sebuah keluarga. b) Bahasa verbal yang digunakan berdasarkan status sosial.

Jenis TT yang mendominasi pada bahasa verbal dalam genre tari pasihan adalah TT direktif. Dalam menerapkan prinsip kerja sama. Di samping itu juga konsep yang mendasari strategi untuk melakukan TT secara tidak langsung (off record) untuk mengekspresikan 296 . f) Disajikan berpasangan pria dan wanita. Hal ini dimaksudkan oleh seniman penyusun supaya bahasa verbal yang sifatnya mengajak. dan memerintah yang tercermin dalam TT direktif dapat menyampaikan makna bahasa verbal sastra tembang yang berupa nasehat-nasehat cinta tersebut untuk diteladani sepasang temanten. Maksim kualitas dan maksim hubungan dipatuhi dimaksudkan oleh seniman supaya komunikasi rasa dapat berlangsung sehingga makna karya tari pasihan dapat ditangkap penghayat secara utuh. meminta. keintiman. Faktor genetik. h) Gerak representatif dan presentatif sebagai ekspresi kinetic body moves dalam sajian. seniman penyusun lewat karya tari pasihan melanggar maksim kuantitas dan maksim cara dimaksudkan seniman untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa. Prinsip kesantunan yang diterapkan dalam bahasa verbal genre tari pasihan dengan menggunakan strategi melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif untuk menunjukkan kedekatan.Cerita berakhir dengan bahagia (happy end). g) Pesannya berupa nasehat tentang cinta kasih. Hal ini dimaksudkan seniman penyusun untuk menunjukkan simbolisasi keharmonisan hubungan antara peran suami dan istri yang digambarkan dalam tari sebagai bentuk suritauladan yang layak untuk diteladani sepasang temanten. dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur.

297 . Bagi masyarakat secara umum kehadiran tari pasihan dalam resepsi perkawinan ditangkap sekadar sebagai hiburan. yaitu pada setiap ekspresi sastra tembang selalu didukung dan diikuti langsung kinetic body moves. Berbeda dengan persepsi pakar seni. Faktor afektif. Berdasarkan persepsi masyarakat. Keseimbangan komposisi bahasa verbal dan nonverbal tampak pada setiap peristiwa dalam adegan. selaras dan seimbang sehingga komplementer dari kedua komponen tersebut menjadi padu membentuk genre tari pasihan dalam aktualisasi yang berkualitas. Pembahasan. B. bahwa fungsi tari pasihan dalam resepsi perkawinan. kehidupan genre tari pasihan dalam sosial masyarakat berfungsi sebagai hiburan dan suritauladan yang tepat bagi sepasang temanten dan masyarakat pada umumnya.rasa estetik dan menambah kemantapan rasa supaya dapat lebih menyentuh penghayat dan maknanya dapat diterima. Genre tari pasihan merupakan jenis tari pasihan yang difungsikan sebagai hiburan dan suritauladan bagi sepasang temanten dan sosial masyarakat. Konsepsi tentang pemilihan bahasa verbal dan nonverbal bersifat harmoni. karena kepekaan rasa dan ketajaman pikir pakar seni lebih mantap dan lebih berkualitas dibandingkan masyarakat pada umumnya. Kehadiran genre tari pasihan sebagai seni pertunjukan merupakan perpaduan dari bahasa verbal dan nonverbal yang secara komposit mengungkapkan makna. dan bermakna bagi masyarakat. Pemahaman tentang fungsi tari pasihan tersebut menunjukkan adanya perbedaan antara masyarakat umum dengan pakar seni. estetik. selain sebagai hiburan juga merupakan suritauladan yang sangat penting bagi sepasang temanten.

Sedangkan bentuk bahasa nonverbal merupakan komplementer dari elemen-elemen: tema. Diharapkan dengan kata-kata cinta yang merupakan dasar dari tema percintaan yang diangkat dalam genre tari pasihan yang disajikan dalam bentuk tembang dengan irama. harmonis. polatan. brangti. asih tresna. aginggang sarambut. lagu. garwa. wuyung. sulistyane.Bahasa verbal genre tari pasihan berupa sastra tembang dalam bentuk pathetan. dan mas jiwaku. dan bahagia. kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga. untuk menyampaikan pesan maknanya tari pasihan. busana. wong manis. sindhenan. dan iringan yang saling mendukung dan menyatu menjadi sebuah bentuk sajian visual yang mengungkapkan pesan makna yang terkandung dalam bahasa verbal. dan jineman mengandung nasehat-nasehat tentang cinta kasih bagi sepasang suami istri. asmara. seniman penyusun memandang perlu memanfaatkan aspek kebahasaan atau bahasa verbal dengan menggunakan kata-kata cinta yang terakumulasi dalam bentuk sastra tembang Jawa. wanodya di. prasetya. dan karakter yang berbeda-beda tersebut mengarahkan pada sepasang temanten untuk lebih meresapi dan menangkap makna secara utuh untuk diteladani dan dijadikan sebagai bekal perjalanan dan pelajaran hidup. dan sikap-sikap ideal bagi figur suami maupun figur istri sebagai pesan makna atau isi. 298 . Komplementer bahasa verbal sebagai kandungan makna dan bahasa nonverbal sebagai bentuk visual sudah menyatu dan berkaitan satu sama lainnya dan mampu mencerminkan kesatuan makna secara utuh. kinetic body moves (gerak tubuh). Adapun kata-kata cinta. mencakup: pasangan keluarga yang romantis. pola lantai. gerongan. rabinira. setya. seperti: gantilaning tyas. mustikaning. rias. Genre tari pasihan merupakan beragam jenis tari yang mengangkat tema percintaan.

direktif. Berdasarkan teori jenis TT yang dikemukakan Kreidler. dan usulan atau anjuran. TT direktif adalah tuturan di mana pembicara berusaha menyuruh orang yang disapa untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu perbuatan tertentu. yaitu: TT asertif. Jenis-jenis TT direktif tersebut dapat dicermati berikut ini. Kreidler (1998: 183-194). perintah. jenis-jenis TT direktif yang terdapat dalam genre tari pasihan berfungsi untuk permintaan. Secara garis besar beliau membagi tuturan direktif menjadi tiga macam: perintah. Jenis TT direktif yang berfungsi untuk permintaan. Menurut Kreidler (1998: 189-190). TT verdiktif. gerongan. melarang. komisif. TT direktif. dan mengajak. mengkategorisasikan TT dalam sebuah pertuturan menjadi tujuh jenis bentuk TT. dan jineman. jenis TT yang paling dominan adalah jenis TT direktif. permintaan. Sejalan dengan pernyataan Kreidler. TT komisif. Dari beragam jenis TT yang terdapat pada genre tari pasihan. jenis-jenis TT yang terdapat dalam genre tari pasihan gaya Surakarta terdiri dari jenis-jenis TT: asertif. ekspresif. dan patik. dan TT patik. sindhenan. TT performatif. Tuturan Dewi Sekartaji: Dhuh jagad dewa bathara Welasa mring dasih kang nandhang kingkin Tuturan Panji Inukertapati: Muga tansah pinaringan Kanugrahan kang salami 299 . TT ekspresif. Bahasa verbal dalam genre tari pasihan terakumulasi dari beragam jenis TT yang menyatu saling mengkait dan saling melengkapi sebagai penunjuk isi.Dilihat dari aspek kebahasaan genre tari pasihan memanfaatkan jenis-jenis TT yang terdapat pada bahasa verbal teks sastra tembang dalam bentuk pathetan.

3. Tuturan Suami: Adhuh lae. sakabehe. 2. ora nyleweng tumindake. Sayuk. Sawahmu tansah anganti. sakancane. mangkat makarya. Tuturan Suami: Mbokne thole. sayuk. Dominasi dari jenis-jenis TT direktif yang terdapat dalam bahasa vebal genre tari pasihan yang sifatnya mengajak.Jenis TT direktif yang berfungsi untuk perintah. meminta dan menyuruh terhadap sepasang temanten untuk memahami dan meresapi makna isi yang terkandung dalam bahasa sastra tembang dan supaya melakukan tindakan atau perbuatan seperti yang dicontohkan dalam pertunjukan tari pasihan tersebut. Tuturan bentuk Narasi: 1. Jenis TT direktif yang berfungsi untuk mengajak. baya iki wus wanci. Sakdurunge anakmu gawanen mrene. nyambut gawe. Sayuk. Jenis TT direktif yang berfungsi untuk melarang. sayuk. permintaan. sayuk. Tuturan Suami : labuh labet mring bangsane. dan perintah tersebut secara akumulatif dimaksudkan oleh seniman untuk mengajak. atak adhuh lae. Sayuk. sayuk. Tuturan Panji Inukertapati: Pra wanita marsudiya marang tindak kang utama Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada Tuturan Dewi Sekartaji: Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira Datan kemba asih tresna sung tetreming kulawarga Tuturan istri: Dhuh mas jiwaku. 4. Maksud dan harapan seniman penyusun tersebut ditangkap oleh penghayat sebagai 300 . Bapakne sithole. sayuk. Sayuk mbangun negarane. sayuk.

dan bahagia. mengingat gambaran percintaan pasangan suami istri yang romantis. Bagi masyarakat Jawa. kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga. multitafsir tersebut hanya mampu ditangkap indera lewat implikatur-implikatur bahasa verbal dengan bahasa nonverbal. dan bahagia yang terdapat dalam tari tersebut dirasa sangat tepat dan ditangkap secara mantap sebagai suatu edukatif atau pengajaran yang bersifat tidak langsung dan sangat bermanfaat bagi sepasang temanten untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dalam menggapai keluarga bahagia lahir dan batin.sesuatu yang harus diteladani. Pada dasarnya bentuk karya seni genre tari pasihan merupakan materi pendidikan yang penuh imajinatif. Kehadiran genre tari pasihan dalam kehidupan sosial masyarakat pada ritual perkawinan merupakan wahana untuk mendidik anak yang telah dewasa yaitu sepasang temanten dengan cara tidak langsung yakni dengan cara simbolik. perilaku ideal bagi suami mapun istri) yang sangat penting yaitu terutama bagi kedua mempelai temanten dalam rangka mempersiapkan diri untuk membentuk keluarga yang bahagia. harmonis. tertutup lebih bersifat simbolik. tetapi juga dalam bentuk yang tidak langsung. bukan 301 . bukan pada acara-acara lainnya. sistem mendidik terhadap anak tidak selalu dilakukan secara formal dan terbuka. Seperti kehadiran genre tari pasihan (percintaan pria dan wanita) dalam kehidupan sosial masyarakat pada ritual perkawinan adat Jawa mempunyai makna simbolik (berupa: pasangan keluarga yang romantis. dan sikap. harmonis. Untuk menerima isi atau pesan pendidikan yang berupa pementasan genre tari pasihan diperlukan ketajaman pikir dan kepekaan rasa. Indikasinya ditunjukkan bahwa genre tari pasihan hanya disajikan pada upacara-upacara resepsi perkawinan.

Sistem pendidikan cara simbolik ini merupakan pilihan masyarakat yang masih merasa memiliki keterikatan emosional dan kesadaran atas budaya Jawa yang dirasakan dan dianggap mengandung nilai-nilai kehidupan yang layak dan tepat untuk diimplementasikan pada masyarakat hingga sekarang. usahakan agar pernyataan anda ada relevansinya (dalam Leech. seperti: sang retnayu. dan maksim hubungan.makna leksikal dari susunan gramatikal bahasa verbalnya. Maksim cara usahakan agar informasi mudah dimengerti. Lewat cara-cara estetis bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan tersebut disajikan supaya pesan makna yang dikehendaki seniman dapat diterima. Menurut Grice. tepat sasaran dan lebih menyentuh sepasang temanten dengan tidak merasa dipaksa. usahakan agar sumbangan informasi anda benar. Pelanggaran maksim kuantitas yang terjadi dalam bahasa verbal genre tari pasihan adalah digunakannya kata-kata arkais. prinsip kerja sama dalam pertuturan dibagi menjadi empat maksim yaitu maksim kuantitas. jengkar sking. hindari pernyataan yang samar. dahat. 1993: 11). Maksim kuantitas adalah berikan informasi yang tepat sesuai yang dibutuhkan dan jangan melebihi yang dibutuhkan. Untuk mengupayakan agar kandungan makna yang dikehendaki seniman dapat ditangkap dan sampai pada pasangan temanten. Maksim kualitas. mring 302 . seniman melanggar maksim kuantitas dan maksim cara. maksim kualitas. Maksim hubungan. mendranira. seniman memandang perlu menerapkan prinsip kerja sama dan prinsip kesantunan secara selektif dalam bahasa verbal teks-teks sastra tembang yang terdapat pada genre tari pasihan. hindari ketaksaan dan usahakan agar ringkas. Dalam penerapan prinsip kerja sama pada bahasa verbal genre tari pasihan. maksim cara.

Maksim kualitas dan maksim hubungan dipatuhi dimaksudkan oleh seniman supaya komunikasi rasa dapat berlangsung sehingga makna karya tari pasihan dapat ditangkap penghayat secara utuh. 4) 303 . dimaksudkan oleh seniman untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa. rasaningtyas. Jenis-jenis tembang yang merupakan bahasa komunikasi dalam genre tari pasihan secara prinsip kerja sama dalam sebuah pertuturan terjadi pelanggaran maksim cara. Pelanggaran maksim cara dalam bahasa verbal genre tari pasihan adalah digunakannya bahasa tembang yang pada dasarnya merupakan bahasa yang sulit dimengerti artinya. nujuprana. mas rara.dasih. sifatnya tersamar dan tidak ringkas karena telah terpola dengan guru lagu dan guruwilangan. tanpa basa basi (bald on record). untuk menunjukkan adanya jarak sosial antara penutur dengan mitra tutur. ningsun. untuk menunjukkan kedekatan. dan dhuh mas jiwaku. wuyung. terdapat lima strategi. mring. anggenya. wanodya di. mustikaning. angkling. sang pekik wah sang dyah ayu. dadya gantilaning tyas. keintiman. Berdasarkan Teori kesantunan Brown dan Levinson (1987). lalis. dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur. Adapun pelanggaran maksim kuantitas yang terjadi dalam bahasa verbal genre tari pasihan. aginggang sarambut. brangti. sulistyane. 2) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif mengacu muka positif (positive politiness). yaitu: 1) melakukan TT secara apa adanya. dimaksudkan oleh seniman untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa. 3) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan negatif mengacu muka negatif (negative politiness). nandhang kingkin. wak-ingan. pinanggya. Adapun pelanggaran maksim cara yang terjadi dalam bahasa verbal genre tari pasihan.

pola lantai. dan iringan secara akumulatif 304 . dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur. rias. Di samping itu juga konsep yang mendasari strategi untuk melakukan TT secara tidak langsung (off record) untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa supaya dapat lebih menarik dan memikat serta menyentuh penghayat dan maknanya dapat ditangkap dan diterima sepasang temanten untuk dijadikan sebagai pelajaran yang bermanfaat dalam menata kehidupan keluarga baru. Hal ini dimaksudkan seniman penyusun untuk menunjukkan simbolisasi keharmonisan hubungan antara peran suami dan istri yang digambarkan dalam tari sebagai bentuk suritauladan yang layak untuk diteladani sepasang temanten. busana. 5) tidak melakukan TT atau diam (don’t do the FTA). Prinsip kesantunan yang diterapkan dalam bahasa verbal genre tari pasihan dengan menggunakan strategi melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif untuk menunjukkan kedekatan. polatan. prinsip kesantunan yang diterapkan dalam bahasa verbal genre tari pasihan dengan menggunakan strategi melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif dan strategi melakukan TT secara tidak langsung (off record). keintiman. Dukungan bahasa nonverbal pada tari pasihan merupakan media visual yang difungsikan sebagai sarana untuk mengekspresikan pesan makna yang dapat ditangkap oleh penghayat. Mengacu Teori kesantunan Brown dan Levinson (1987) tersebut. Bentuk bahasa nonverbal yang terdiri dari tema. Dalam menyampaikan pesan makna yang terdapat dalam bahasa vebal seniman penyusun memandang perlu menggunakan bahasa nonverbal. kinetic body moves (gerak tubuh).melakukan TT secara tidak langsung (off record).

Akumulasi dan kombinasi dari dua strategi penyampaian pesan yang digunakan seniman yang berupa jenis-jenis gerak presentatif dan representatif yang berhubungan langsung dan tidak langsung dengan bahasa verbal menjadi sangat kuat dan mantap dengan dukungan ekspresi wajah (polatan). Seniman sering dalam menciptakan karyanya dilandasi rasa intuitif yang dalam. Terpadunya bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan menjadi satu kesatuan seni pertunjukan yang utuh. rias. busana. Strategi yang digunakan seniman penyusun dengan memanfaatkan jenis-jenis gerak presentatif dan representatif yang berhubungan langsung dan tidak langsung dengan bahasa verbal. Adapun jenis-jenis gerak presentatif dan representatif yang berhubungan tidak langsung dengan bahasa verbal.akan membentuk satu bentuk simbol yang mampu mengekspresikan makna tari pasihan menjadi lebih menyentuh dan semakin mantap. Perlu disadari bahwa karya seni merupakan bentuk simbol yang memerlukan penafsiran-penafsiran. sehingga 305 . tidak selalu didasari rasional belaka. penuh estetik sehingga karya tari pasihan menjadi sarana ekspresi yang memikat. digunakan seniman penyusun untuk mengekspresikan makna dengan cara lebih tersamar dan ungkapan suasana yang muncul merupakan ekspresi yang dirasa memiliki kekuatan untuk menyampaikan makna. pola lantai. sehingga pesan makna yang hendak disampaikan menjadi lebih kuat dan mantap. mantap dan berkualitas. mengingat aspek kebahasaan dan aspek nonbahasa memiliki makna yang sama. dan iringan gamelan. Jenis-jenis gerak presentatif dan representatif yang berhubungan langsung dengan bahasa verbal akan memberi kemudahan terhadap penghayat dalam menafsirkan maksud dari seniman.

Secara garis besar dapat dieksplisitkan bahwa genre tari pasihan merupakan beragam jenis tari yang mengangkat tema percintaan. dan patik.kesan yang terungkap dari sajian sebuah karya seni perlu adanya perenungan kembali untuk mendapatkan sebuah makna yang utuh. ekspresif. Maksim kualitas dan maksim hubungan dipatuhi dimaksudkan oleh seniman supaya komunikasi rasa dapat berlangsung sehingga makna karya tari pasihan dapat ditangkap penghayat secara utuh. Hal ini dimaksudkan seniman penyusun untuk menunjukkan 306 . Pada aspek kebahasaan yang digunakan seniman penyusun dalam menerapkan prinsip kerja sama melanggar prinsip kuantitas dan prinsip cara yaitu dengan menggunakan kata-kata yang sifatnya arkais untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa. Selain itu untuk menunjukkan kedekatan. keintiman. direktif. hal ini dimaksudkan oleh seniman penyusun supaya bahasa verbal yang sifatnya mengajak. komisif. untuk menyampaikan pesan maknanya tari pasihan. seniman penyusun memandang perlu memanfaatkan aspek kebahasaan atau bahasa verbal dengan menggunakan kata-kata cinta yang terakumulasi dalam bentuk sastra tembang Jawa. meminta. Selain itu tari pasihan juga memanfaatkan jenis-jenis TT: asertif. Dalam mengekspresikan maksudnya seniman juga memanfaatkan prinsip kerja sama dengan cara lebih selektif. Dari beragam jenis TT yang mendominasi pada genre tari pasihan adalah TT direktif. dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur digunakan kesantunan positif. dan memerintah dapat menyampaikan makna bahasa verbal sastra tembang yang berupa nasehat-nasehat cinta tersebut sesuai dengan fungsi keteladanan.

Pada realitanya bahasa nonverbal pada tari pasihan memiliki kekuatan ekspresi sangat mantap ini juga sangat tergantung pada kualitas penari. Komposisi antara bahasa verbal dengan nonverbal sebagai media ekspresi secara proporsional tampak selaras dan seimbang. Kesemuanya tadi menunjukkan adanya keselarasan antara bentuk bahasa verbal 307 . Peranan penari sangat penting artinya jika penari atau seniman penyaji berkualitas. Selain itu ditunjang bentuk rias dan warna busana sama yang mencerminkan menyatunya rasa cinta antara peran pria dan wanita.simbolisasi keharmonisan hubungan antara peran suami dan istri sebagai bentuk suritauladan. Dalam bahasa verbal secara keseluruhan tampak adanya koherensi antaraspek–aspek kebahasaan yang terakumulasi menjadi satu kesatuan saling berkaitan sehingga mencerminkan kesatuan makna yang dapat mengarahkan penghayat terhadap kandungan isi. Strategi melakukan TT secara tidak langsung (off record) yang dilakukan seniman terkait aspek kebahasaannya dimaksudkan untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa supaya dapat lebih menyentuh penghayat dan maknanya dapat diterima. Keselarasan ini tampak dalam bahasa verbal yang berupa tembang-tembang cinta didukung bahasa nonverbal yang berupa gambaran percintaan antara pria dan wanita yang menggunakan gerak-gerak yang merepresentasikan orang bercinta. ekspresinya semakin kuat dan mantap sebaliknya penarinya lemah kekuatan ekspresinya juga semakin lemah. serta dukungan rasa musikal yang bernuansa percintaan. Dengan demikian tampak bahwa sebenarnya bahasa verbal itu sebagai petunjuk isi telah mencerminkan kesatuan pesan yang utuh sedangkan bahasa nonverbal bertindak sebagai pendukung dalam menyampaikan isi supaya menjadi lebih mantap.

selaras dan seimbang sehingga bentuknya tari pasihan sebagai media ekspresi seniman penyusun merupakan komposit isi dan bentuk visual yang menunjukkan keutuhan sebuah karya seni. Keseimbangan komposisi bahasa verbal dan nonverbal tercermin pada hampir seluruh sastra tembang yang terdapat dalam tari pasihan selalu diikuti dan didukung kinetic body moves. Pandangan pakar ini didasarkan pada pemahaman terhadap bahasa verbal dan penghayatan terhadap bentuk visual pada aspek nonbahasa yang terakumulasi dalam bentuk sajian tari pasihan. Dari sisi pandangan pakar. sehingga pandangan pakar tentang fungsi tari pasihan sebagai hiburan dan suritauladan merupakan pernyataan yang lebih tepat. kehadiran tari pasihan pada resepsi perkawinan selain sebagai hiburan.dengan nonverbal pada genre tari pasihan. Selain itu pandangan pakar tersebut juga mendapat rujukan dari pengamatannya bahwa pementasan jenis-jenis tari pasihan hanya pada resepsi perkawinan. Hubungan bahasa verbal dan nonverbal saling komplementer menjadi bentuk yang menyatu. juga merupakan bentuk simbol percintaan yang bermakna bagi sepasang temanten untuk diteladani. 308 . Pernyataan tersebut muncul karena masyarakat penonton secara umum menghayati tari pasihan sebagai seni pertunjukan didasarkan pada pengamatan mereka hanya terbatas pada bentuk visual semata. Kehadiran tari pasihan dalam ritual resepsi perkawinan adat budaya Jawa merupakan salah bentuk hiburan dan suritauladan. Tari pasihan dipandang sebagai bentuk hiburan terutama oleh masyarakat penonton secara umum. Bagi penonton umum bentuk yang menarik dari sisi ketampanan dan kecantikan penari dengan dukungan rias dan busana yang bagus serta dukungan suasana iringan gamelan yang dirasa sesuai rupanya telah cukup sebagai hiburan.

yaitu peralihan dari tingkat hidup remaja ke tingkat hidup berkeluarga. Di dalam aktivitas budaya manusia ada yang menganggap bahwa saat peralihan dari tingkat sosial tertentu ke tingkat sosial lainnya itu merupakan crisis-rites yang penuh bahaya. Hal itu dapat dicermati pada tari Karonsih mengangkat tema percintaan tokoh Panji Inukertapati sebagai suami dan tokoh Dewi Sekartaji sebagai istri. namun tidak semua saat peralihan itu dianggap sama pentingnya pada tiap-tiap budaya. 309 . bahwa setiap tingkat baru dalam life-cycle itu berarti menghantarkan si individu ke suatu tingkat dan lingkungan sosial yang baru dan lebih luas. Kedudukan penari pria dan penari wanita dalam tari pasihan yang tampil secara berpasangan itu merupakan simbol dari percintaan. Perkawinan merupakan salah satu dan suatu saat peralihan yang terpenting pada life-cycle dari semua manusia di seluruh dunia. baik secara nyata maupun gaib (Koentjaraningrat. Kiranya menjadi sangat tidak relevan dan tidak berarti bila penari diganti semua putri atau pria semua karena tidak lagi bermakna bagi sepasang temanten bahkan akan berkonotasi negatif. gawat. 1972: 89-90). Sifat universal pesta dan upacara sepanjang lifecycle terjadi karena adanya suatu kesadaran secara umum di dalam budaya manusia. Begitu pula tari Bondhan Sayuk yang bersumber pada tema percintaan sepasang suami istri gambaran dari kalangan rakyat biasa.Pada hakekatnya tema percintaan yang digambarkan dalam genre tari pasihan adalah percintaan sepasang pria dan wanita. Pesta dan upacara pada saat peralihan sepanjang life-cycle itu merupakan suatu hal yang universal yang hampir ada pada setiap budaya manusia. menunjukkan bahwa penari pria berperan sebagai suami dan penari wanita berperan sebagai istri. sehingga perannya menjadi mutlak.

dan pimpinan upacara tertentu. perlengkapan. Bagi masyarakat Jawa yang masih lekat dengan budayanya. tidak menentu. Bagi masyarakat Jawa upacara tersebut merupakan sebuah upacara yang sangat sakral sepanjang daur hidupnya. Kekuatan tersebut antara lain berupa magis simpatetis yang diwujudkan dengan tindakan atau perbuatan yang dapat melambangkan terjadinya pembuahan. yakni 310 . Dalam periode liminal ini seorang liminar berada dalam keadaan setengah-setengah. sebaliknya jika pelaksanaan tidak mentaati konvensi-konvensi yang telah berlaku. mengingat upacara-upacara pada masa-masa melampaui saat-saat krisis sering dimaksudkan untuk menolak bahaya gaib yang mengancam individu dan lingkungan. Demikian halnya yang terjadi pada budaya masyakat Jawa di dalam melangsungkan sebuah upacara adat perkawinan. Berkaitan dengan tindakan simbolik untuk mendapatkan kekuatan magis simpatetis bagi masyarakat Jawa dalam perkawinan. tempat. Untuk itu crisis-rites bagi seorang liminal sangat penting. pelaku. 1989: 157). kedamaian. segala ritual yang menyangkut dengan perjalanan hidupnya banyak diselimuti dengan simbolsimbol yang diharapkan dapat memberikan petuah. dan ragu-ragu (Darsiti Soeratman. suritauladan yang bermakna untuk keselamatan. 1990: 4). pendidikan. mereka takut tertimpa malapetaka (Soedarsono.Periode transisi juga disebut periode liminal yang merupakan fase tengah dalam skema ritus transisi dari praliminal untuk menuju pascaliminal. Ketentuan-ketentuan yang telah berlaku dalam upacara tersebut mereka yakini jika dilaksanakan dengan taat dan benar membawa berkah dan keselamatan. dan kebahagiaan hidup. diperlukan kekuatan-kekuatan tertentu. Kesakralan itu sesuai dengan pendapat Soedarsono mengenai hal-hal yang dianggap penting dalam suatu upacara ritual yaitu waktu.

They carry the vertility into every corner of the houses. sudah mengakar pada budaya masyarakat Jawa. Salah satu sarana upacara perkawinan adat Jawa yang cukup penting adalah tari pasihan. berkembang menuju masyarakat modern. tindakan yang dapat melambangkan terjadinya pembuahan. they dance with the upper part of their bodies bent forwards.adanya hubungan antara pria dan wanita seperti yang digambarkan pada tari pasihan. 1991: 35).. Mereka dalam melakukan upacara perkawinan. untuk mendapatkan kesuburan dengan cara menanggap jenis tari duet percintaan atau tari pasihan yang merupakan tarian kesuburan yang diekspresikan lewat sebuah garapan gerak-gerak presentatif dan representatif. Pernyataan tersebut sejalan dengan pendapat Koch Grundberg yang menggambarkan sebuah tari kesuburan dari suku Indian Coneba di Brasil. Pada masyarakat yang sudah lebih maju. (dalam Richard Kraus. Rupanya.. Hampir dapat dipastikan bahwa pada setiap upacara perkawinan akan hadir tari pasihan.. Stamping with the right foot and singing. Hal ini terbukti pada masyarakat Jawa sekarang yang sudah mengalami kemajuan.... Hubungan dimaksud pada masyarakat yang masih melestarikan budaya purba kadang-kadang dilakukan lebih realistis (Soedarsono dalam Soedarso.. yang diekspresikan para penari dengan membawa gambar tiruan organ-organ wanita dengan cara sebagai berikut. Suddenly they jump wildly along with violent coitus motions and loud groans.. dilakukan secara simbolis. the jump among the women – the knock the phalli one against another. 1969: 21). penuh simbolis dan mengandung makna nilai-nilai percintaan yang sangat berarti bagi kehidupan sepasang temanten.. yakni adanya hubungan antara pria dan wanita. yaitu pada setiap ada acara upacara perkawinan akan hadir tari pasihan yang hendak 311 .

312 . mengingat merupakan satu-satunya bentuk sajian tari yang bermakna. Genre tari pasihan memiliki fungsi yang dalam terutama bagi sepasang mempelai temanten yang tercermin pada komplementer bahasa verbal dan nonverbalnya. baik secara simbolik maupun sebagai santapan estetis terasa menyatu dengan situasi upacara. Kehadiran genre tari pasihan yang menggambarkan percintaan pria dan wanita dalam kehidupan sosial masyarakat terutama konteksnya pada ritual perkawinan adat Jawa rupanya mempunyai makna simbolik yang sangat penting terutama bagi kedua mempelai dalam rangka mempersiapkan diri untuk mengarungi kehidupan di masyarakat yaitu menuju terbentuknya keluarga yang bahagia.diteladani oleh kedua mempelai. Peristiwa budaya ini membuat kehadiran tari pasihan dalam upacara perkawinan sangat ditunggu-tunggu masyarakat. Menurut Clifford Geertz (1992: 6). Seolah–olah keberadaan genre tari pasihan dalam budaya Jawa menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan terutama pada upacara-upacara perkawinan. Bagi masyarakat Jawa upacara perkawinan merupakan saat yang dianggap penting sehingga sarana–sarana yang mendukung peristiwa perkawinan sangat diperhitungkan sangat teliti. Hampir dapat dipastikan sarana yang digunakan sebagai kelengkapan berlangsungnya upacara perkawinan memiliki makna simbolik yang difungsikan untuk menasehati sepasang temanten agar dapat membangun keluarga yang bahagia lahir dan batin. sehingga perlu perantara yang berwujud simbol-simbol dalam puisi bukan dalam bentuk pengetahuan. Simbolisme semacam ini tampak pada genre tari pasihan yang hadir dalam rangkaian upacara-upacara perkawinan adat Jawa. bahwa ‘simbol’ tampak terbatas pada sesuatu yang mengungkapkan secara tidak langsung.

dalam menjalani kehidupan berawal menghadapi permasalahan kemudian mendapat solusi yang menjadi berangsur-angsur membaik dan berakhir bahagia. Selain itu kehadiran tari pasihan hampir dapat dipastikan dalam resepsi perkawinan. Simbolisasi tersebut merupakan harapan besar yang dapat memberikan sugesti sepasang temanten untuk segera diberi keturunan anak. Bentuk sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temanten terpancar dari kekuatan cinta sepasang penari pria dan wanita yang digambarkan dalam tari pasihan dimaksudkan dapat dihayati sepasang temanten sehingga bayangan-bayangan cinta yang diekspresikan oleh seniman mampu memicu dan memacu kehidupan imajinasi cinta sepasang temanten. Kekuatan imajinasi percintaan yang digambarkan sepasang kekasih dalam tari pasihan diharapkan dapat memberikan kekuatan magis simpatetis terhadap kehidupan jiwa sepasang mempelai temanten. Rupanya terdapat korelasi yang sangat signifikan bahwa kehadiran tari pasihan dalam resepsi perkawinan diharapkan dapat diteladani dan memberikan sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temanten. yaitu mampu mempengaruhi kesuburan dalam proses perkawinan pasangan temanten. Dalam perjalanan kisahnya percintaan sepasang suami istri yang digambarkan pada tari pasihan. Selain itu bentuk dukungan sugesti juga digambarkan ketika adegan penari putri memberikan boneka anak kepada 313 .Pada dasarnya genre tari pasihan gaya Surakarta merupakan simbolisasi percintaan sepasang manusia yang berjenis kelamin pria dan wanita. pasangan penari pria dan wanita setelah bercinta kemudian membawa boneka sebagai simbol telah diberi keturunan anak. Hal ini juga semakin tampak jelas digambarkan secara lebih aktual pada tari Bondhan Sayuk.

Perbedaan yang tampak adalah terletak pada kadar tebal dan tipisnya sebuah makna. Lewat kekuatan magis simpatetis yang diekspresikan genre tari pasihan akan dapat menyuburkan benih-benih cinta yang tengah berkembang pada sepasang temanten yang akhirnya mampu melahirkan buah cinta yang berupa momongan anak. Tindakan atau perbuatan tersebut merupakan perbuatan simbolik yang menunjukkan adanya kekuatan – kekuatan tertentu yang tidak kelihatan mata yang bersifat magis simpatetis diharapkan dapat diterima temanten putri. kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga. Nasehat-nasehat cinta kasih yang merupakan makna dari bahasa verbal berupa: pasangan keluarga yang romantis. dan sikap-sikap ideal bagi figur suami maupun figur istri merupakan pesan makna yang hendak disampaikan oleh seniman penyusun. sebagai pewaris dan penerus keluarga. Pada hakekatnya dalam komunikasi seni bahwa pernyataan atau maksud X tidak pasti ditangkap atau diterima persis X. dan bahagia.temanten putri. terdapat pasangan suami istri yang romantis. bagaimanapun handalnya seniman 314 . Artinya pesan yang dimaksudkan seniman dengan makna yang ditangkap pakar seni sama-sama dalam koridor atau wilayah nilai-nilai percintaan. harmonis. Pada dasarnya kedua orang tua temanten mengawinkan putra-putrinya dengan cita-cita untuk segera diberi keturunan yang berupa anak. Bagi penghayat pakar seni menangkap makna berdasarkan pementasan tari pasihan. dan bahagia. Perbuatan simbolik dalam pertunjukan tari Bondhan Sayuk lebih tampak jelas dan lebih dekat kearah realitas tujuan bercinta dalam sebuah kehidupan keluarga. Dari hasil komunikasi antara maksud seniman penyusun dengan tanggapan masyarakat menunjukkan adanya persamaan makna atau maksud. harmonis.

dalam penghayatan karya seni terjadi aktivitas kreatif. Kadar pemahaman makna dalam karya seni yang berupa komunikasi rasa. Kadar pemahaman juga sangat tergantung dari bekal yang dimiliki oleh seniman dan penghayat. segar secara total baik jasmani maupun rohani. Sebagai penari atau penyaji. seorang seniman harus mempunyai kemampuan baik pisik maupun nonpisik. prinsip kadarnya tetap berbeda tidak persis sama. Prinsip utama yang sangat penting dalam komunikasi seni adalah terjadinya komunikasi rasa. Menurut Sutopo (1995: 12-13). enerjik. sedangkan penghayat berusaha menangkap maksud yang dikehendaki seniman tersebut dengan cara memberikan makna terhadap karya seni. Kondisi pisik penari harus benar-benar dalam keadaan sehat. berupaya menciptakan benda-benda pacu yang memiliki nilai estetik dalam rangka menyampaikan maksud. Seniman pada dasarnya tidak lain sebagai manusia yang menyediakan sebuah susunan benda pacu atau lambang-lambang sensa yang diharapkan akan ditafsirkan penghayat seperti yang dimaksudkan olehnya. Kelemahan yang terdapat pada genre tari pasihan sedikit banyak dipengaruhi kualitas penari yang lemah sebagai penyampai isi dan iringan tari yang berupa kaset rekaman atau CD. yakni seniman dengan menciptakan kreativitas artistik sedangkan penghayat mencipta nilai dengan kreativitas estetik. Bagi seniman dalam menciptakan karya seni. dan relaks serta memiliki sistem ekspresi dan evaluasi yang baik 315 .dalam menciptakan karya seni dan hebatnya pakar seni dalam menilai karya. Pada prinsipnya penafsiran terhadap keragaman media komunikasi yang terdapat dalam tari tidak mampu hanya ditangkap secara rasional semata tetapi ketajaman rasa merupakan ujung tombak dalam menangkap makna yang sebenarnya.

dan penguasaan irama (Wisnoe Wadhana. Padahal ukuran kehebatan seorang penari klasik tradisional Jawa haruslah isi. Maka ia pun akan selalu patut dalam perannya. kelenturan. berbobot magis. Peranan tubuh penari sangat vital untuk sarana ekspresi. terasakan hambar kosong belaka. Persiapan nonpisik bagi penari berupa kepekaan rasa. sehingga sekalipun dapat menari Jawa dengan penguasaan teknik yang sangat baik. Generasi sekarang banyak yang awam terhadap mistik tersebut. Sebagai seniman. ia akan dapat mengarahkan sekaligus mendidik peningkatan daya apresiasi masyarakat terhadap karya-karya tari ciptaannya yang 316 . berada dalam puncak prestasi keteladanan (1994: 45-46). ketrampilan. Selama seniman mampu mengungkapkan nilai-nilai budaya dan norma-norma sosial yang terangkum dalam sebuah pesan-pesan lewat karya tari secara indah. ketepatan gerak ekspresi. luwes dan terampil dalam penampilan. Menurut Wisnoe Wadhana : kesempurnaan menari Jawa klasik tradisional hanya dapat diraih apabila si penari juga mendalami mistik Jawa.seperti: keseimbangan. 1984: 31). Selain itu penari harus juga mampu menguasai ruang dan waktu. Keberhasilan mereka menyampaikan pesan-pesan tergantung dengan kemampuan menyeleksi materi-materi sebagai sarana ungkap dan tidak lepas dari kemampuan masyarakat penikmat untuk menangkap yang sudah barang tentu mengacu pada nilai-nilai budaya dan norma-norma sosial yang hidup dan berkembang. dan kepekaan rasa menjadi sangat pokok sebagai rohnya dalam sajian tari. akan terjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat dan dapat diprediksikan eksistensinya sebagai seniman mendapat dukungan dan pengakuan penuh dari masyarakat pendukungnya. dan bekal pengalamannya sehari-hari diharapkan mampu menafsirkan karya-karya tari dari seorang koreografer sehingga dapat menyajikan secara ekspresi sesuai dengan peran karakternya. ratio.

Rupanya hanya penari yang berkualitas yang terlatih yang mampu menyajikan dan menyampaikan isi atau makna yang terkandung dalam genre tari pasihan. yaitu bentuk dan iramanya sangat kuat dilatarbelakangi oleh konsep keindahan dan tradisi kebudayaannya (Humardani. ia akan lemah dan tidak mampu mengekspresikan muatan isi seperti yang diharapkan oleh seniman pencipta. Sebaliknya jika penarinya tidak berkualitas. Kualitas seorang penari hanya akan tercapai bila penari mampu menghayati dan mengekspresikan sesuai dengan perannya secara totalitas jiwa. tidak terlatih. sehingga kekuatan ekspresinya akan mampu mengungkapkan isi secara mantap. Pada dasarnya seniman hanya menyediakan suatu susunan pacu atau lambang-lambang sensa yang diharapkannya akan kita tafsirkan seperti yang dimaksudkan olehnya (Parker. Keluluhan jiwa seorang penari dalam menyajikan karakter tari merupakan puncak prestasinya sebagai seorang seniman. Pewarisan budaya tidaklah bersifat statis.pada gilirannya menumbuhkembangkan kehidupan tari secara wajar. 1980:46). tetapi masing-masing generasi mencoba untuk mengadakan perubahanperubahan disesuaikan dengan kondisi kehidupan masyarakat pendukungnya. Dalam tari Jawa bentuk ekspresinya pada hakekatnya terwujud berdasarkan alam emosi. Ketajaman dan kepekaan rasa yang dimiliki penari dapat teraktualisasi dalam sebuah sajian tari dan mampu menggugah intuisi para penghayat. 1991:10). Seni tradisional termasuk tari sebagai budaya yang diwarisi secara turun-temurun sudah barang tentu memiliki kesinambungan dengan budaya sebelumnya. Kelemahan dari kualitas penari sebagai penyampai isi tari yang dimaksudkan seniman merupakan kendala yang sangat vital karena hanya dari 317 . Gabungan garap pisik dan olah rasa yang matang akan menghasilkan kualitas penari yang mumpuni atau berbobot.

karena selain rasa musikal yang muncul sudah terasa lemah. 318 . Kekuatan ekspresi menjadi kurang mantap jika dengan iringan yang sifatnya tidak langsung dengan iringan gamelan.ekspresi penari makna tari dapat ditangkap atau dihayati oleh penonton. Hasilnya akan berbeda jika sajiannya genre tari pasihan dengan iringan kaset atau rekaman CD. Dalam sajiannya genre tari pasihan dapat diiringi gamelan secara langsung dan iringan tidak langsung yaitu dengan iringan kaset atau rekaman CD. Jika dengan iringan gamelan langsung. juga tidak mendapat dukungan ekspresi tembang dari penari secara langsung. Secara ringkas dapat dikatakan kelemahan kualitas penari dalam menyajikan jenis tari pasihan akan mempengaruhi kekuatan ekspresi dan mengurangi pada kemantapan rasa penghayat. kekuatan ekspresinya menjadi semakin mantap karena selain kekuatan rasa musikal yang muncul dari garap gendhing-gendhing karawitan juga didukung kekuatan penari dalam membawakan tembang akan tampak lebih ekspresip. Hal ini merupakan kelemahan yang terdapat pada sajian genre tari pasihan jika tidak menggunakan iringan langsung dengan gamelan.

Berdasarkan temuan penelitian dan hasil pembahasan dari keterkaitan tiga faktor objektif.BAB V PENUTUP A. Simpulan. mengingat gambaran percintaan pasangan suami istri yang romantis. harmonis. dan bahagia yang terdapat dalam tari tersebut dirasa sangat tepat dan ditangkap secara mantap sebagai suatu bentuk edukatif atau pengajaran yang bersifat tidak langsung dan sangat bermanfaat bagi sepasang temanten untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dalam menggapai keluarga bahagia lahir dan batin. Rupanya sudah mengakar pada budaya masyarakat Jawa. 319 . dan afektif dapat disimpulkan bahwa kehadiran genre tari pasihan dalam upacara ritual resepsi perkawinan berfungsi sebagai hiburan dan suritauladan. meminta dan menyuruh terhadap sepasang temanten untuk memahami dan meresapi makna isi yang terkandung dalam bahasa verbal sastra tembang yang disampaikan dengan bahasa nonverbal dalam bentuk visual yang estetik supaya melakukan tindakan atau perbuatan seperti yang dicontohkan dalam pertunjukan tari pasihan tersebut. Kehadiran genre tari pasihan dalam resepsi perkawinan dimaksudkan oleh seniman untuk mengajak. Maksud dan harapan seniman penyusun tersebut ditangkap oleh masyarakat sebagai sesuatu yang harus diteladani. genetik. Peranan genre tari pasihan dalam upacara ritual resepsi perkawinan memiliki makna yang cukup signifikan bagi sepasang temanten. yaitu pada setiap ada acara upacara perkawinan akan hadir tari pasihan yang hendak diteladani oleh kedua mempelai.

Harmonisasi dan keseimbangan antara bahasa verbal dan nonverbal dalam genre tari pasihan telah mencerminkan kesatuan makna yang saling mendukung maka karya seni genre tari pasihan layak dan mantap sebagai seni pertunjukan yang berkualitas tinggi. rias. Bahasa nonverbal merupakan bentuk visual yang bersifat estetik sudah memperlihatkan adanya koherensi antarelemen-elemen dan saling berkaitan untuk mendukung dalam menyampaikan isi supaya menjadi lebih mantap. kinetic body moves (gerak tubuh). dan mantap sebagai sebagai hiburan dan suritauladan. Kedua komponen yaitu bahasa verbal sebagai isi atau pesan makna dan bahasa nonverbal dalam bentuk visual sebagai pendukung pemantapan makna. baik secara simbolik maupun sebagai santapan estetis terasa menyatu dengan situasi upacara. ditunjukkan bahwa jenis-jenis tari pasihan tersebut sampai sekarang hidup dan 320 . Kekuatan genre tari pasihan sebagai seni pertunjukan yang berkualitas. dan iringan. mengingat merupakan satu-satunya bentuk sajian tari yang bermakna. polatan. busana. Dalam bahasa verbal telah tampak adanya koherensi antaraspek–aspek kebahasaan yang terakumulasi menjadi satu kesatuan saling berkaitan sehingga mencerminkan kesatuan makna yang dapat mengarahkan penghayat terhadap kandungan isi. Bentuk seni pertunjukan genre tari pasihan merupakan komposit bahasa verbal dalam wujud sastra tembang yang terdapat dalam bentuk pathetan.Peristiwa budaya ini membuat kehadiran tari pasihan dalam upacara perkawinan sangat ditunggu-tunggu masyarakat. sindhenan. layak. yang sekaligus bertindak sebagai penyampai pesan makna yang secara komposit telah terkait dan saling melengkapi sebagai seni pertunjukan yang utuh dan mantap. gerongan. dan jineman dengan bahasa nonverbal berupa: tema. pola lantai.

Kehadiran tari pasihan dalam resepsi perkawinan diharapkan dapat diteladani dan memberikan sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temanten. Pada dasarnya bahasa verbal lebih berfungsi sebagai penunjuk isi sedangkan bahasa nonverbal sebagai penyampai isi supaya lebih menyentuh jiwa penghayat dan menjadi semakin mantap. Nilai-nilai keteladanan yang digambarkan pada genre tari pasihan pada hakekatnya merupakan bentuk simbolisasi cinta kasih sepasang suami istri. Dari beragam jenis TT yang paling dominan adalah TT direktif. dan TT patik. TT ekspresif. TT direktif. Pada prinsipnya masing-masing komponen baik bahasa verbal maupun bahasa nonverbal memiliki kedudukan yang sama yaitu berfungsi untuk mengekspresikan maksud seniman penyusun. TT komisif. bahasa verbal berfungsi untuk melengkapi dan mendukung bahasa nonverbal sebagai bentuk visual. Bentuk sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temanten terpancar dari kekuatan cinta sepasang penari pria dan wanita yang digambarkan dalam tari pasihan 321 . Dalam mendukung kesatuan makna.berkembang di masyarakat terutama pada upacara-upacara ritual resepsi perkawinan. aspek bahasa verbal yang dimanfaatkan oleh seniman penyusun dalam karya tari pasihan adalah: TT asertif. Komplementer dua komponen bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan saling mengait. Sebagai kandungan makna atau isi. adapun bentuk perintah tersebut bersifat simbolik dalam bentuk yang estetik. Diharapkan dengan dominasi jenis TT direktif sangat tepat untuk menyuruh supaya meneladani. saling melengkapi sehingga bahasa verbal yang berupa sastra tembang mampu memperjelas dan menyatukan teks dengan bentuk visual dalam kesatuan makna yang utuh.

Diharapkan nasehat-nasehat tentang cinta kasih tersebut bermanfaat bagi sepasang temanten sebagai bekal untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dalam membangun sebuah keluarga. Tindakan atau perbuatan tersebut merupakan perbuatan simbolik yang menunjukkan adanya kekuatan–kekuatan tertentu yang tidak kelihatan mata yang bersifat magis simpatetis.dimaksudkan dapat dihayati sepasang temanten sehingga bayangan-bayangan cinta yang diekspresikan oleh seniman mampu memicu dan memacu kehidupan imajinasi cinta sepasang temanten. harmonis. B. sebagai pewaris dan penerus keluarga. dan sikap-sikap ideal bagi figur suami maupun figur istri. Diharapkan kekuatan magis simpatetis dapat mendorong menyuburkan benih-benih cinta yang tengah berkembang dan mampu memberikan sugesti terhadap sepasang temanten untuk segera diberi keturunan yang berupa momongan anak. kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga. yaitu mampu mempengaruhi kesuburan dalam proses perkawinan pasangan temanten. Saran. Pada dasarnya kedua orang tua temanten mengawinkan putraputrinya dengan cita-cita untuk segera diberi keturunan yang berupa anak. Bentuk seni pertunjukan genre tari pasihan atau tari pasihan adalah karya seni dari seniman yang berkualitas tinggi dan telah teruji terbukti sampai sekarang 322 . Kekuatan imajinasi percintaan yang digambarkan sepasang kekasih dalam tari pasihan diharapkan dapat memberikan kekuatan magis simpatetis terhadap kehidupan jiwa sepasang mempelai temanten. dan bahagia. Pada intinya bentuk daya pragmatik genre tari pasihan adalah berupa nasehat-nasehat tentang cinta kasih yaitu pasangan keluarga yang romantis.

mengetahui. Sehingga kemantapan dan validitas sebagai sebuah karya seni yang berkualitas tidak diragukan lagi untuk itu perlu peneliti sarankan kepada: a) Penari dalam mengubah pola-pola pakaian dan pola-pola sekaran yang terdapat pada genre tari pasihan hendaknya harus sadar dan mempertimbangkan segi fungsinya. b) Pengrawit dalam mengubah jenis-jenis gendhing maupun cakepan atau bahasa verbalnya yang terdapat pada genre tari pasihan hendaknya harus sadar dan mempertimbangkan segi fungsinya.hidup dan berkembang sebagai hiburan dan suritauladan bagi bagi sepasang temanten dan masyarakat pada umumnya. Diharapkan kualitas dan kuantitas penilaian dari masyarakat terhadap tari semakin meningkat sehingga kehidupan seni pertunjukan semakin hidup dan berkembang dalam lingkungan budaya yang layak dan proporsinal. 323 . c) Kritikus hendaknya lebih banyak memberikan penilaian terhadap karyakarya yang dipublikasikan supaya masyarakat mulai mengenal. hingga memahami tentang pesan makna yang disampaikan dari sebuah tari.

Pragmatics ang Discourse. T. dalam Esther N. 1999. . PPS-UNS. Joan. Goody (ed) Questions and Politeness. Cangara. Dwi Maryani. Terjemahan: Rahayu S. STSI: Surakarta. EM Zul Fajri dan Ratu Aprillia Senja. Guy. Halliday.Yogyakarta: Kanisius. Oxford: Oxford University Press. Kebudayaan dan Agama. 2006.DAFTAR PUSTAKA ACUAN Asim Gunarwan. Edi Subroto. Cutting. Penelope and S. H. Cook.K.A. Jakarta: Depok. Pengantar Metode Penelitian Linguistik Struktural. Jurnal Wiled. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 1999. Surakarta: STSI Press. Brown. Tanpa Tahun.C. Metode Linguistik. 2002. 324 . PN: Difa Publisher. Discourse. Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia. 2007. 1987. London and New York: Routledge. Geertz. Dwi Yasmono. 1992. Budhisantoso. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. M. Surakarta: UNS Press. Perkembangan Tari Enggar-Enggar. Pengantar Ilmu Komunikasi. ‘Universals in language usage: Politeness phenomena’. Bandung: PT Erisco. Hafied. Clifford. Perubahan Tari Lambangsih. Ferdinand. Hidayat.D. Fatimah Djajasudarma. dan Ruqaiya Hasan. 1916. London: Longman Group Ltd. Makalah berjudul “Implikatur Percakapan: Perspektif Grice dan Perspektif Sperber & Wilson”. 1989. Cohesion in English. 2007. 1976. Tanpa Taun. Cambridge: Cambridge University Press. Levinson. Modul Pembelajaran: Pengantar Linguistik. Pengantar Linguistik Umum. 1994. de Saussure. 1993. STSI: Surakarta.

2005. 2006. Bandung:STSI. STSI: Surakarta. Bahasa dan Sastra dalam Tinjauan Semiotik dan Hermeneutik. Surakarta: STSI Press. . Makalah berjudul: “Disiplin Sejarah dalam Merekonstruksi masa Lampau untuk Menyongsong Masa Depan”. Pemikiran & Kritiknya. Principles of Pragmatics. 1990. Langer.A. Komunikasi Fatis Di Kalangan Penutur Jati Bahasa Inggris. Jacob L. London: Longman. 2004. Jakarta: PT Rineka Cipta. Pragmatik: Teori dan Analisis. Malinowski. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta: Diksi Insan Mulia. . dan Trubner. Richards (ed). C. Handbook of Semiotics. Trend. Moleong. Koentjaraningrat. Pragmatics: An Introduction. Editor: Rustopo. 2003. UI: Jakarta. Bloomington: Indiana University Press. 2007. Prinsip-prinsip Pragmatik. Winfried. Yogyakarta: UGM. Muhammad Rohmadi. 2001. Kreidler. 1923. 1990. Humardani. Kebudayaan Jawa. London: Routledge.J.W. Oxford: Blackwell. Benny H. Nababan. London: K. Universitas Indonesia: UI Press.D. Bronislaw. Noth. Geoffrey. Lamuddin Finoza.Paul. Mey. Ibrahim Alfian. Terjemahan: Fx. 1991. dan I.D. 1983. Pengantar Ilmu Antropologi. Suzanne K. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.K. The Problem of Meaning in Primitive Languages dalam Ogden. 1984. Jumanto. Problematika Seni.Hoed. Jakarta: Balai Pustaka.J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Maryono. T. Yogyakarta: Lingkar Media. P. Ilmu Pragmatik. Terjemahan: M. Widaryanto. 1991. 1988. W. Introducing English Semantics. Oka. Disertasi. Komposisi Bahasa Indonesia. 1999. Leech. Lexy. 325 . 1993. Karonsih. Charles. The Meaning of Meaning. 1998. 1987.

R. . 1979. Yogyakarta:UGM. Dasar-dasar Estetika. Soedarsono. Read. Parker. Sutopo. Jakarta: Ghalia Indonesia. Jakarta: PN Buku Sastra Indonesia dan Daerah. Yogyakarta: Saku Dayar Sana.H. Amsterdam: John Benjamins Publishing Company. Beberapa Catatan Tentang Perkembangan Kesenian Kita. Surakarta: Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI). Richards. 1987. 1996. 1983. 1985. Sebelas Maret University Press. Ilmu Bahasa Indonesia. Pengertian Seni. Speech Acts: An Essay in The Philosophy of language. Discourse Studies: an Introductory Textbook. New York: Free Press. 1993. 1969. 2003. J. Terjemahan:Soedarso.B. Terjemahan: SD. Sp. Surakarta: Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI).M. 1995. 1978. Yogyakarta: ISI. Kritik Seni Holistik Sebagai Model Pendekatan Penelitian Kualitatif. Humardani. Rustopo. Surakarta: Universitas Sebelas Maret. 2006. Soedarso Sp. 1990. 326 . Yogyakarta: CV Karyono. Ramlan. 1980. Searle. 1992. Renkema Jan. H. 1981. Pengantar Pengetahuan Dan Komposisi Tari. 1990. Everett M and D. John R.Pakubuwono IV.C et al. De Witt. Cambridge: Cambridge University Press. Sintaksisi. Teori Sosiologi tentang Perubahan Sosial. Jakarta: Yayasan Harapan Kita/BP 3 TMII. Seni Pertunjukan. Metodologi Penelitian Kualitatif. Perkembangan Gamelan Kontemporer. 1991. Departemen P dan K. . Communication Network: Towards a Newq Paradigm for Research. Sunan. Soerjono Soekanto. Yogyakarta: Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI). . M. Herbert. Terjemahan: Yanti Darmono. Lawrence Kincaid. Longman Dictionary of Language Teaching and Applied Linguistics. Indonesia Indah: Tari Tradisional Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada university Press. Makalah berjudul: “Peranan Seni Budaya dalam Sejarah Kehidupan Manusia: Kontinuitas dan Perubahannya. Essex: Longman Rogers. .

Hill. Karawitan Wayang Kulit Purwa Gaya Surakarta. 2.S. W. 7. Karanganyar: penari. Dewa Putu I. Terjemahan:Misbah Zulfa Elizabeth. Dasar-dasar Pragmatik. 2006. Jurnal Wiled.P. Darsono. Yogyakarta: PN BACA. pakar tari dan budayawan. 5. Terjemahan: Narulita Yusron. Surakarta: pakar tari. Urbana: University of Illinois Press. Editor: Archibald A. Pragmatik. Membaca Bahasa Tubuh. Surakarta: penari. 3. 327 . 1994. Sukoharjo: vokal putri (pesindhen). 1949. Rusdiantara. Metode Etnografi. 10. Nartutik. Yogyakarta: Andi Offset. Jr. 11. Yogyakarta: PT Tiara Wacana. 2005. The Mathematical Theory of Communication. Gordon R. DAFTAR NARA SUMBER 1. Singapore: National Institute of Education. Pragmatics. 6. 2006. Hari Subagya. Waridi. Terjemahan: Indah Fajar Wahyuni. J. Jakarta: Sena Wangi. Sri Rochana. Hartoyo. Spradley. Nuryanto. Boyolali: penari dan penyusun tari. Ninik Sutrangi. Sukoharjo: penari. 1994. Karangannyar: pakar tembang dan karawitan. . 1996. 9. Yule. Surakarta: pakar tembang dan karawitan serta penanggap. Perkembangan Tari Gambyong Gaya Surakarta 19501993. Wainwright. Linguistics. Nora Kustantina Dewi. 4. Claude M and Warren Weaver. Voice of America Forum Lectures. 1998.Surakarta: STSI Press. Surakarta: penyusun tari. 8. Henry Lee. Daryono. Surakarta: penyusun tari dan penari. 1969. Wijana. 1997.Shannon. Agus Tasman. Karanganyar: penari. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. George. Rusini. Wisnoe Wardhana. Smith.

14. dan pakar tari.12. penyusun tari. 328 . Surakarta: penari. Sunarno. Slamet Riyadi. Surakarta: pakar karawitan. Karanganyar: pakar tembang dan karawitan. 13. Sri Lestari. 15. Slamet Suparno. Boyolali: penari. Sudarmin. 16. Sukoharjo: penangggap.