1

KOMPONEN VERBAL DAN NONVERBAL DALAM GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA (Kajian Pragmatik) DISERTASI
Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan dalam Mencapai Derajat Doktor Program Studi Linguistik Minat Utama Linguistik Pragmatik dan Dipertahankan di Hadapan Sidang Senat TerbukaTerbatas di Bawah Pimpinan Rektor Universitas Sebelas Maret Prof. Dr. H. Much Syamsulhadi, dr., Sp.KJ. (K) Pada Hari Rabu Kliwon, 7 April 2010

Oleh : Maryono NIM. T 130906005

PROGRAM PASCASARJANA PROGRAM STUDI LINGUISTIK (S3) UNIVERSITAS SEBELAS MARET

2

SURAKARTA 2010 DISERTASI KOMPONEN VERBAL DAN NONVERBAL DALAM GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA ( Kajian Pragmatik)

Oleh : Maryono NIM. T 130906005

DISETUJUI OLEH PEMBIMBING
1. Prof. Dr. M. Sri Samiati Tarjana. NIP. 194 406 021 965 112 001 (Promotor) …………………………

2. Prof. Dr. T. Slamet Suparno, S.Kar.,M.S. NIP. 194 812 191 975 011 001 (Ko-Promotor )

…………………………

Mengetahui Ketua Program Studi S3 Linguistik

3

Prof. Dr. H. D. Edi Subroto. NIP. 194 409 271 967 081 001

KOMPONEN VERBAL DAN NONVERBAL DALAM GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA ( Kajian Pragmatik)
DISERTASI UNTUK MEMPEROLEH GELAR DOKTOR DALAM BIDANG LINGUISTIK MINAT UTAMA: LINGUISTIK PRAGMATIK DIPERTAHANKAN DI HADAPAN DEWAN PENGUJI PADA SIDANG SENAT TERBUKA TERBATAS PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA PADA TANGGAL: 7 APRIL 2010 OLEH: MARYONO LAHIR DI BOYOLALI, 15 JUNI 1960 DEWAN PENGUJI: 1. Prof. Dr. H. Much Syamsulhadi, dr., Sp.KJ. (K) (Penguji Utama) 2. Prof. Drs. Suranto, M.Sc., Ph.D. (Sekretaris merangkap Anggota) 3. Prof. Dr. M. Sri Samiati Tarjana. (Promotor merangkap anggota) 4. Prof. Dr. T. Slamet Suparno, S.Kar., M.S. (Ko-Promotor merangkap anggota) 5. Prof. Dr. H. D. Edi Subroto. (Anggota) 6. Prof. Dr. Soepomo Poedjosoedarmo. (Anggota) 7. Prof. Dr. H. Soetarno, DEA. (Anggota) 8. Dr. Sumarlam ., M.S. (Anggota) .................................... .................................... .................................... .................................... .................................... .................................... .................................... ....................................

4

Mengetahui Rektor Universitas Sebelas Maret

Prof. Dr. H. Much Syamsulhadi, dr., Sp.KJ. (K) NIP. 194611021976091001

SURAT PERNYATAAN
Yang bertanda tangan di bawah ini Nama NIM Program Program Studi Tempat/Tanggal Lahir Alamat : Maryono : T 130906005 : Pascasarjana (S3) UNS : Linguistik : Boyolali, 15 Juni 1960 : Melikan Rt 01, Rw 08, Palur, Mojolaban, Sukoharjo

Menyatakan

dengan

sesungguhnya

bahwa

disertasi

saya

yang

berjudul:

KOMPONEN VERBAL DAN NONVERBAL DALAM GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA (Kajian Pragmatik) adalah asli (bukan jiplakan) dan belum pernah diajukan oleh penulis lain untuk memperoleh gelar akademik tertentu. Semua temuan, pendapat atau gagasan orang lain yang dikutip dalam disertasi ini ditempuh melalui tradisi akademik yang berlaku dan dicantumkan dalam sumber rujukan dan atau dalam Daftar Pustaka. Apabila kemudian terbukti pernyataan ini tidak benar, saya sanggup menerima sangsi yang berlaku.

5

Surakarta, 7 April 2010 Yang membuat pernyataan

Maryono

KATA PENGANTAR
Syukur alhamndulillah penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, atas ridha dan kehendak-Nya, sehingga disertasi ini dapat selesai tepat pada waktu yang diharapkan. Sepenuhnya penulis sadari bahwa tanpa bantuan dari berbagai pihak, mustahil disertasi ini dapat selesai. Untuk itu, kanthi linambaran trapsilaning manah, perkenankan penulis sampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. H. Much Syamsulhadi, dr., Sp.KJ (K), Rektor UNS yang telah
memberi kesempatan penulis untuk menyelesaikan studi program doktor di Universitas Sebelas Maret Surakarta.

2. Prof. Dr. H. Soetarno, DEA, atas dukungan dan nasihat sejak masih menjabat
Ketua Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta sampai sekarang sehingga penulis dapat menyelesaikan program doktor di UNS.

3. Prof. Drs. Suranto, M.Sc., Ph.D, selaku Direktur Program Pascasarjana
Universitas Sebelas Maret Surakarta, yang telah memberi kesempatan penulis untuk menyelesaikan studi program doktor di UNS.

4. Prof. Dr. H. D. Edi Subroto, selaku Ketua Program Linguistik S3 UNS dan
atas bimbingan melalui berbagai disiplin yang telah diberikan kepada penulis sebagai bekal dalam menyelesaikan disertasi.

5. Prof. Dr. M. Sri Samiati Tarjana, sebagai promotor yang dengan sabar telah
membimbing, mengarahkan, dan mengoreksi sehingga penulis meraih gelar doktor.

6

6. Prof. Dr. T. Slamet Suparno, S.Kar., M.S, sebagai Ko-Promotor, yang telah
membimbing, dan mengoreksi sehingga penulis meraih gelar doktor.

7. Prof. H.B. Sutopo, M.Sc., M.Sc, Ph.D (almarhum) yang dengan sabar telah
membimbing, mengarahkan, mengoreksi, dan yang menghantarkan sampai ujian tertutup sehingga penulis dapat berlanjut meraih gelar doktor.

8. Prof. Dr. Soepomo Poedjosudarmo; Prof. Dr. Kunardi Hardjoprawiro, M.Pd;
Prof. Dr. Joko Nurkamnto; Prof. Dr. Maryono Dwiraharjo, S.U; Dr. Sumarlam., M.S, yang telah memberikan disiplin Linguistik untuk bekal penulis menyelesaikan disertasi.

9. Sunarno S.Kar., M. Sen, sebagai nara sumber primer tari Bondhan Sayuk dan
jenis tari pasihan lainnya, yang telah memberikan informasinya sehingga penulisan disertasi ini dapat selesai.

10. Sutarno Haryono S.Kar., M. Hum, sebagai teman seperjuangan dan
motivator yang mendorong penulis untuk studi S3 dan berhasil meraih gelar doktor.

11. Sri Wahyuningsih sebagai istri dan anak-anakku: Risang Janur Wendo, Laras
Ambika Resi, Linggo Sasikirana, dan Hoyi Anggraeni yang telah memberikan semangat dan doanya kepada penulis sehingga disertasi ini cepat selesai. 12. Selamat jalan istriku yang tercinta dan tersayang Sri Djarwanti S.Kar, ke hadapan-Mu ya Allah, semoga atas pengorbanan dan kasihmu selama ini, saya selalu berdoa semoga Allah SWT menerima dan memasukkan belahan hatiku dalam golongan orang ahli surga di hari Akhir. Amin. 13. Pemerintah Republik Indonesia yang memberikan kewenangan kepada Dirjen Dikti yang telah memberi Bea Siswa (BPPS). Akhirnya dengan segala kerendahan hati, penulis mohon maaf kepada semua pihak apabila terdapat kekurangan dan kesalahan yang penulis perbuat selama menyelesaikan disertasi ini. Semoga Allah tetap membimbing kami. Amin.

observasi. Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta. (4) Menjelaskan latar belakang konsepsi penciptaan komponen verbal dan nonverbal genre tari pasihan. Untuk mengungkap permasalahan yang menjadi tujuan penelitian disertasi ini. Tujuan penelitian untuk memahami makna bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan pada ritual perkawinan adat Jawa di Surakarta dengan menganalisis secara rinci. (3) Menjelaskan hubungan komponen verbal yang bersifat kebahasaan dan nonverbal yang bersifat nonkebahasaan genre tari pasihan. peneliti menggunakan kajian: (1) teori pragmatik. dan jineman. (2) Komponen nonverbal genre tari pasihan berupa: tema. Keempat teori tersebut digunakan untuk . dan iringan gamelan (musik). 2010. realisasi prinsip kerja sama. Kajian komponen verbal ini untuk mengungkap: jenis-jenis tindak tutur (TT) yang dominan. untuk mengungkap bentuk hubungan yang bersifat langsung dan tidak langsung dan implikatur genre tari pasihan. dan (4) teori komunikasi. Strategi yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus tunggal terpancang (embedded case study research). dan afektif sebagai sumber aliran nilai. dan implikatur. mencatat dokumen dan arsip (content analysis). sindhènan. Disertasi. busana. ABSTRAK Topik penelitian ini adalah Komponen Verbal dan Nonverbal dalam Genre Tari Pasihan Gaya Surakarta (kajian Pragmatik). polatan (ekspresi wajah). KOMPONEN VERBAL DAN NONVERBAL DALAM GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA (Kajian Pragmatik).7 Surakarta. fungsi TT. akurat. gerak tubuh (kinetic body moves). (3) teori seni pertunjukan. dan (5) Menjelaskan persepsi masyarakat terhadap kehidupan genre tari pasihan gaya Surakarta. 7 April 2010 Peneliti Maryono Maryono: T 130906005. dan seimbang mengkaji tiga faktor yaitu genetik. Teknik pengumpulan data yang sesuai dengan penelitian kualitatif dan jenis sumber data yang dimanfaatkan adalah: wawancara mendalam (in-depth interviewing). (2) teori budaya. objektif. Bentuk penelitian yang digunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan kritik holistik yang secara fokus. pola lantai. rias. dan mendalam untuk menemukan dan mendeskripsikan: (1) Komponen verbal genre tari pasihan berupa sastra tembang dalam syair: pathetan. lengkap. gérongan. realisasi strategi kesantunan.

8

menganalisis makna pragmatik genre tari pasihan gaya Surakarta secara komplementer. Secara prinsip teori pragmatik merupakan alat kajian yang utama terkait dengan sistem kebahasaannya yang terfokus untuk menganalisis jenis-jenis TT, jenis TT yang dominan, fungsi TT, realisasi prinsip kerja sama, realisasi strategi kesantunan, implikatur, dan daya pragmatik. Teori budaya dan teori seni pertunjukan untuk menganalisis faktor nonkebahasaan yang berupa unsur-unsur karya seni. Teori komunikasi untuk mengkaji keterkaitan antarfaktor genetik, objektif, dan afektif. Trianggulasi keempat teori tersebut merupakan sarana untuk menjamin dan mengembangkan validitas data dalam mengungkap makna pragmatik genre tari pasihan gaya Surakarta. Pokok-Pokok Temuan Penelitian. Jenis–jenis TT yang terdapat dalam genre tari pasihan gaya Surakarta terdiri dari beragam jenis yaitu: TT asertif, TT komisif, TT ekspresif, TT direktif, TT verdiktif, dan TT patik. Dari beragam jenis TT yang terdapat pada genre tari pasihan, jenis TT yang dominan adalah TT direktif. Pada penerapan prinsip kerja sama dalam bahasa verbal genre tari pasihan terjadi pelanggaran maksim kuantitas dan maksim cara, sedangkan maksim kualitas dan maksim hubungan dipatuhi. Prinsip kesantunan yang diterapkan dalam bahasa verbal genre tari pasihan didapatkan penggunaan strategi TT dengan kesantunan positif dan strategi TT secara tidak langsung (off record). Implikatur yang terdapat dalam jenis-jenis tari pasihan menunjukkan adanya simbolisasi percintaan sepasang suami istri yang dalam perjalanan kisahnya berawal dalam menghadapi permasalahan, kemudian mendapat solusi yang berangsur-angsur membaik dan berakhir bahagia. Kehadiran tari pasihan hampir dapat dipastikan disajikan dalam resepsi perkawinan merupakan wahana untuk mewisuda sepasang temantèn. Rupanya terdapat keterkaitan yang sangat erat antara kehadiran tari pasihan dalam resepsi perkawinan dengan sepasang temantèn. Implikatur yang utama pada kehadiran genre tari pasihan dalam resepsi perkawinan adalah untuk dapat diteladani dan memberikan sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temantèn. Merujuk implikatur-implikatur yang diperikan dari komplementer komponen verbal dan nonverbal jenis-jenis tari pasihan dapat diungkapkan bahwa bentuk daya pragmatik genre tari pasihan adalah berupa nasihat-nasihat tentang cinta kasih yaitu pasangan keluarga yang romantis, harmonis, dan bahagia; kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga; dan sikap-sikap ideal bagi figur suami dan figur istri. Nasihat-nasihat tentang cinta kasih tersebut bermanfaat bagi sepasang temantèn sebagai bekal untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dalam membangun sebuah keluarga. Bentuk genre tari pasihan merupakan perpaduan dua komponen besar yaitu verbal dan nonverbal. Berdasarkan jabaran komponen tersebut dapat diketemukan ciri karakteristik genre tari pasihan sebagai berikut: (a) bahasa verbal berbentuk tembang Jawa bernuansa cinta; (b) bahasa verbal yang digunakan berdasarkan status sosial; (c) hubungan komponen verbal dan nonverbal bersifat langsung dan tidak langsung; (d) tema percintaan; (e) cerita berakhir dengan bahagia (happy end); (f) disajikan berpasangan pria dan wanita; (g) pesannya berupa nasihat tentang cinta kasih; (h) gerak representatif dan presentatif diekspresikan penari dalam kualitas lembut, halus, dan romantis.

9

Berdasarkan temuan penelitian dan hasil pembahasan dari keterkaitan tiga faktor objektif, genetik, dan afektif dapat disimpulkan bahwa kehadiran genre tari pasihan dalam upacara ritual resepsi perkawinan berfungsi sebagai hiburan dan suritauladan. Kehadiran genre tari pasihan dalam resepsi perkawinan dimaksudkan oleh seniman untuk mengajak, meminta dan menyuruh sepasang temantèn untuk memahami dan meresapi pesan yang terkandung dalam bahasa verbal sastra tembang, yang disampaikan dengan bahasa nonverbal dalam bentuk visual yang estetik, supaya pasangan temantèn tersebut melakukan tindakan atau perbuatan seperti yang dicontohkan dalam pertunjukan tari pasihan tersebut. Maksud dan harapan seniman penyusun tersebut ditangkap oleh masyarakat sebagai sesuatu yang harus diteladani, mengingat gambaran percintaan pasangan suami istri yang romantis, harmonis, dan bahagia yang terdapat dalam tari tersebut dirasa sangat tepat dan diterima dengan jelas, mantap sebagai suatu bentuk pendidikan yang bersifat tidak langsung dan sangat bermanfaat bagi sepasang temantèn untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dalam menggapai keluarga bahagia lahir dan batin. Maryono: T 130906005. 2010. VERBAL AND NONVERBAL COMPONENTS IN THE SURAKARTA STYLE PASIHAN DANCE GENRE (A Pragmatic Study). Dissertation. Postgraduate Program Sebelas Maret University Surakarta.

ABSTRACT
The topic of this research is Verbal and Nonverbal Components in the Genre of the Pasihan Dance Surakarta Style. Using a pragmatic approach the aim of the research is to understand the meaning of the verbal and nonverbal language in the pasihan dance genre (a dance genre with a romantic or love theme) in the traditional Javanese wedding rituals in Surakarta by carrying out a detailed, accurate, and in-depth analysis, in order to discover and describe: (1) the verbal components in the pasihan dance genre, in the Javanese poems in: pathetan, sindhènan, gérongan, and jineman. This study of the verbal components is intended to reveal: the dominant types of speech acts, the functions of the speech acts, the realization of the cooperative principles, the realization of the politeness principles, and the implicatures; (2) the nonverbal components in the pasihan dance genre, in the form of: themes, kinetic body moves, facial expressions (polatan), floor designs, make-up, costume, and musical accompaniment played on the gamelan; (3) the relationship between the verbal and the nonverbal components in the pasihan dance genre, in order to reveal the direct and indirect relationships and implicatures of the pasihan dance genre; (4) the background of the conception of the creation of verbal and nonverbal components in the pasihan dance genre, and (5) people’s perception of the existence of the Surakarta style pasihan dance genre. The research takes the form of a qualitative study using a critical holistic approach which provides a focused, comprehensive, and balanced study of three factors, namely genetic, objective, and affective factors as the source of the values. The strategy used for this research is that of an embedded case study. The techniques used for collecting data, in accordance with the qualitative research and types of data sources available, include in-depth interviews, observation, and content analysis.

10

In order to discover the issues which are the object of the research for this dissertation, the researcher uses theoretical studies of (1) pragmatic theories, (2) cultural theories, (3) performing arts theories, and (4) communication theories. These four theories are used to provide a complementary analysis of the pragmatic meaning of the Surakarta style pasihan dance genre. In principle, the main tool is the pragmatic theory, in connection with the linguistic system which focuses on analyzing the different types of speech acts, the dominant types of speech acts, the function of the speech acts, the realization of the cooperative principles, the realization of the politeness principles, the implicatures, and the pragmatic power. The cultural and performing arts theories are used to analyse nonverbal language factors which are in the form of elements of the work of art. The communication theories are used to examine the connection between the genetic, objective, and affective factors. A triangulation of these theories is used as a means of securing and developing the validity of the data to discover the pragmatic meaning of the Surakarta style pasihan dance genre. The main findings of the research showed that there are various kinds of speech acts found in the Surakarta style pasihan dance genre, numely: assertive, commissive, expressive, directive, verdictive, and phatic. Of all these different types, the most dominant kind of speech act found in the pasihan dance genre is the directive speech act. The application of cooperative principles in the verbal language of the pasihan dance genre of shows a deviation in maxims of quantity and maxims of manner, while maxims of quality and maxims of relation are adhered to. The principle of politeness applied in the verbal language of the pasihan dance genre uses the strategy of positive politeness and performs off record speech acts. The implicature found in the different types of pasihan dance indicates that there is a symbolization of love between husband and wife, who throughout the course of the story encounter problems but subsequently find a solution. It gradually resolves their difficulties and ultimately brings about a happy ending. The pasihan dance is almost always performed at wedding receptions which are a medium for officially announcing the marriage of a newly wed couple. There is a very close connection between the presence of the pasihan dance and the bride and groom at a wedding reception. The main implicature of the presence of the pasihan dance genre at a wedding reception is that it sets an example and offers indirect suggestions for the newly wed couple to follow. With reference to the implicatures obtained from the combination of verbal and nonverbal components in different types of the pasihan dances, show that the form of pragmatic power in the pasihan dance genre is advise about love and affection, for married couple to enjoy a romantic, harmonious, and happy relationship; to display equality and togetherness; and to show an ideal attitude between husband and wife. This advice about love and affection is beneficial for a newly married couple. It provides them with knowledge to lead a better life as they set out to build a new family. The form of the pasihan dance genre is a combination of two main components, namely verbal and nonverbal. Based on the description of these two components, the characteristics of the pasihan dance genre are as follows: (a) Verbal language in the form of Javanese sung poems with a romantic nuance; (b) Verbal language which is used according to social status; (c) A direct and indirect connection between the verbal and nonverbal components; (d) A romantic theme; (e)

11

A story with a happy ending; (f) A performance by a pair of dancers, one male and one female; (g) Advice about love affection; (h) Representative and presentative movements expressed by the dancers with soft, refined, and romantic qualities. Based on the findings of the research and the results between the objective, genetic, and affective factors, it can be concluded that the performance of the pasihan dance genre at a wedding reception for the newly married couple to follow. The presence of the pasihan dance genre at a wedding reception is intended by the performing artists as a means of inviting, asking, and telling the bride and groom to understand and absorb the message in the verbal language of the text, and conveyed using nonverbal language in a visual and aesthetical form. It as hoped that they will act and behave like the example displayed in the performance of the pasihan dance. The hope and intention of the artists is captured by the audience who view the dance as a good example to follow, recognizing it as a portrayal of a romantic, harmonious, and happily married couple which is felt to be highly appropriate and also educative in an indirect way. This is highly beneficial for the newly married couple as they enter into their new lives, and strive to create a happy family, in both worldly and spiritual aspects.

DAFTAR ISI
Halaman JUDUL ……………….………………..………………………………….….…...i PENGESAHAN……………………………………………….…….………….….ii PEMERTAHANAN…………………………………………………………….…iii PERNYATAAN………………………………………………………..………….iv KATA PENGANTAR……………………………………………………………..v ABSTRAK…………………………………………………………….…….……vii ABSTRACT……………………………………………………………..………… ix DAFTAR ISI ………………………………………………………….…..……....xi DAFTAR TABEL ………….……………………………………………….......xvii DAFTAR BAGAN………………………………….………..……...……..........xix DAFTAR GAMBAR / FOTO……………………………………..………..……xx DAFTAR SINGKATAN ……………………………………..……….……...…xxi DAFTAR LAMPIRAN ……………………………………….……....…..…....xxii BAB I PENDAHULUAN ………………………………………….……….……. 1 A. Latar Belakang Masalah………..……..………………….……….……....1 B. Rumusan Masalah …………………………………...……….......……..16 C. Tujuan Penelitian………………………………………..………….........16

12

D. Manfaat Penelitian……………………………………….........................17 BAB II KAJIAN TEORI, PENELITIAN YANG RELEVAN, DAN KERANGKA PIKIR……………………………………………………………………………..18 A. Kajian Teori……………………………………………………………............18 1. Teori Pragmatik…………………....................……………..............................20 a. Konteks dalam pragmatik………………………………..………….………23 b. Teks………………………………………….……………...........................29 c. Tindak Tutur (TT)…………………………………….…………….….…...39 c.1. Tindak Tutur menurut Austin (1956)……………..............................41 c.2. Tindak Tutur menurut Searle (1979)………….. .………..………….45 c.3. Tindak Tutur menurut Yule (1996)…………………........………….46 c.4. Tindak Tutur menurut Kreidler (1998)…………...............................48 d. Prinsip Kerja Sama (PKS)…… …………………………………………....53 e. Prinsip Kesantunan (PS)…………………….…….……….………….…......58 e.1. Skala Kesantunan Leech (1983)……………………..…….................58 e.2. Skala Kesantunan Brown dan Levinson (1987)………..………….....60 f. Implikatur …………………………………….…….…………….....…….....62 g. Daya Pragmatik…………………………………….…………………….….64 2. Teori Budaya………………………………………………...………….……...66 a. Bentuk Ide atau Gagasan……...……………………….…………....….70 b. Bentuk Aktivitas………….……………………….…..………….....…70 c. Benda Fisik………………………………………………….….…....…71 3. Teori Seni Pertunjukan…………………………..…………………............…..71 a. Tema ………………………………………………………....….….…74 b. Gerak Tubuh (kinetic body moves)………………………. …….….…74 c. Polatan (ekspresi wajah) ……………………………..…….…..…......77 d. Pola Lantai (floor design)……………………………… ……...……...78 e. Rias ……………………………………………….……….….……….79 f. Busana ………………………………………………….……….……..80 g. Iringan (gendhing beksa) ………………………………………….......81 h. Estetik…………………………………………....................………….82

13

4. Teori Komunikasi ………..…………………….…...........................................83 a. Komunikator…………………………………………………....…..…85

b. Sarana atau Media…………………………………………….….…....86 c. Komunikan……………………………………….………….………...88 B. Penelitian yang Relevan…………………..…………………………..…...…..90 C. Kerangka Pikir…………………………………………………....…….……...91 BAB III METODOLOGI PENELITIAN……………………………….….….…93 A. Sasaran dan Lokasi Penelitian…………………..…………..……. …….…….93 B. Bentuk dan Strategi Penelitian…………………………...................................94 C. Jenis Data dan Sumber Data…………………….………………………….…96 D. Teknik Cuplikan (sampling)…………………………… …………….............97 E. Teknik Pengumpulan Data ……………………………….…..……………….98 1. Wawancara Mendalam (in-depth interviewing)………..............................98 2. Observasi …………………………………………………………....…..102 3. Mencatat Dokumen dan Arsip (content analysis)………..........................103 F. Pengembangan Validitas ………………………………..........………..….…103 G. Teknik Analisis………………………………………………..………… ….106 BAB IV KOMPONEN VERBAL GENRE TARI PASIHAN GAYA

SURAKARTA......................................................................................................110 A. Komponen Verbal…………………………………………………….….…..110 B. Komponen Verbal Tari Karonsih………………………………………….…112 1. Teks Pathetan Wantah Laras Pélog Pathet Lima…………..………. ….112 a. Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah………..........................…. …113 b. Konteks ………………………………………............................. …..114 c. Fungsi Tindak Tutur ................…………………………………..…..115 d. Realisasi Prinsip Kerja Sama…………………..…..............................116 e. Realisasi Prinsip Kesantunan ……………………...............................117 f. Implikatur …………………………..………...................................…117 2. Teks Sindhènan Pangkur Ngrénas Laras Pélog Pathet Lima ……….....118 a. Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah.…………….………….....….118 b. Konteks …………………………………..........................……..…...119

. Realisasi Prinsip Kesantunan …………….. Teks Sindhènan Mijil Sulastri Laras Pélog Pathet Barang.... Konteks …………………………………….124 a...129 e........135 c........139 e..... Implikatur …………………………...………....... Teks Jineman Sayuk Laras Pélog Pathet Barang ……...…133 b...........…...........…....……………........…151 b...148 e............………...…132 4................. Implikatur …………………………........ Fungsi Tindak Tutur ……………………………………….…..152 c...…. Realisasi Prinsip Kesantunan ……………….... Konteks ………………………………………....122 f..........….149 f....................................................….......147 d. Realisasi Prinsip Kerja Sama ………………........…125 b. Realisasi Prinsip Kesantunan ……….121 e........145 c....………......... Implikatur ………………………….................. Fungsi Tindak Tutur ………………………….........…144 b... Realisasi Prinsip Kerja Sama …………………….... Realisasi Prinsip Kesantunan ……………...…....…..……150 2..............…………….126 c.. Fungsi Tindak Tutur …………………………………………..137 d.. Konteks ………………………………………..... Konteks ………………………………………....….......….............................................................. Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah ……………..…..................... Fungsi Tindak Tutur ………………………………………..........141 f.............................……….................... Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah …………….............…............. Komponen Verbal Tari Bondhan Sayuk………………………………....... Teks Gérongan Lambangsari Laras Sléndro Pathet Manyura ………...... Realisasi Prinsip Kerja Sama ……………………..........128 d..…144 1......... Implikatur …………………………........144 a.…... Realisasi Prinsip Kerja Sama …......…………... ..... Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah..….....14 c....…...153 d.…….….………........…... Fungsi Tindak Tutur ………………………………………........................…........……………....………150 a.…123 3......131 f...... Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah..……....... Teks Sindhènan Kinanthi Sandhung Laras Sléndro Pathet Manyura …....................….………………......154 .....……......….......………..........…..................................120 d....... Realisasi Prinsip Kerja Sama …………………..142 C..132 a.….....

................. Fungsi Tindak Tutur ………………………………...........167 e...…..…164 b..................…158 b...…........... Kinetic Body Moves atau Gerak Tubuh ….... Implikatur …………………………... Konteks ……………………………………. Teks Gérongan Lancaran Sayuk Laras Pélog Pathet Barang …...………......159 c.....157 a.......….……...……….........….....164 a..…..……………......…....…..………………………….......... Komponen Nonverbal Tari Karonsih……………………….......…...173 2.……....162 f......……...194 4....………….......197 5...... Pola Lantai…………….……163 4..168 f..........….15 e....…...172 1..…..…......... Komponen Nonverbal………………………………………………….........…………………….... Iringan Tari……………………………………...161 e............ Implikatur …………………………. Realisasi Prinsip Kerja Sama ………………….... Estetik……………………………………………...………………….......……...............……... Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah.…224 3.....….....……................ Konteks ……………………………………….. Komponen Nonverbal Tari Bondhan Sayuk………………………...…………169 BAB V KOMPONEN NONVERBAL GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA…………………………………………………………...….......198 6..........……………...………….…….. Rias dan Busana…………………………………..165 c..……171 A....…..166 d...........…......……........................…... Realisasi Prinsip Kesantunan ……………......……….171 B....216 C...182 3... Kinetic Body Moves atau Gerak Tubuh …............... Tema………………………………………. Polatan (ekspresi wajah)………………….157 3...…….. Implikatur …………………………....………... Teks Gérongan Ladrang Sayuk Laras Pélog Pathet Barang …..........………………………....…...........………………... Tema………………………………............….155 f... Polatan (ekspresi wajah)……………………………………………....…………….200 7...….234 .. Realisasi Prinsip Kesantunan ……………....…………………………….....…...................…………...……....220 2....... Fungsi Tindak Tutur …………………………………...... Realisasi Prinsip Kesantunan ……...160 d........ Realisasi Prinsip Kerja Sama ……………….……….....220 1.. Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah ……….................

..295 B.………….… ...……………………………………………...264 B.…253 1...…………….…. Genre Tari Pasihan sebagai Keteladanan…………….311 2.…………………….…..…………….… ….……………………………………...238 7. Estetik..324 1....………………………….….…......… ...........…………………. Adegan Bahagia………………………………. …..247 8.…….322 3.... ….281 3.320 A.344 . Hubungan Komponen Verbal dengan Nonverbal Tari Karonsih……….……... Persepsi Masyarakat terhadap Genre Tari Pasihan…………………….………….324 2..……………. Properti Boneka……………………………………….320 1.252 A.....337 3. Konsepsi Penciptaan Komponen Verbal dan Nonverbal Tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk………………………………………..…………………..236 5.. Perspektif Budaya…………………………………………..…. Genre Tari Pasihan sebagai Hiburan………………. Faktor Objektif……………………………………………….310 1. Adegan Pertemuan…………………………………………………….….. Faktor Afektif……………………………………………..………….…277 1.….…………………. Iringan Tari.. ......……………………. Perspektif Pragmatik…………………………. Adegan Makarya (bekerja)…………………….248 BAB VI HUBUNGAN KOMPONEN VERBAL DAN NONVERBAL GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA…………………………………..….. Adegan Kasmaran (percintaan)………………………………………... Faktor Genetik………………………………………………. Pola Lantai……………………………….16 4..…....259 3. Pokok-Pokok Temuan Penelitian…………………………………… .… …....289 BAB VII KONSEPSI PENCIPTAAN DAN PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA………………295 A. Adegan Pencarian……………………….…...237 6..…253 2. Perspektif Substansi Tari: Komponen Verbal dan Nonverbal…..….... Rias dan busana…………………………………... Analisis………………………………………………………….…314 BAB VIII PEMBAHASAN……………………………………………….… …320 2... Hubungan Komponen Verbal dengan Nonverbal Tari Bondhan Sayuk…. Adegan Kekudangan (menimang anak)………………………………... ….323 B..278 2..….

.….113 2......….123 5.380 DAFTAR TABEL 1. Tabel 4...125 6. Tabel 4..370 C.…. Tabel 4..3 Jenis ....…375 DAFTAR NARA SUMBER………………………………………….4 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Isen-isen……………….….... Perspektif Historis……………………………………….jenis TT yang melekat pada teks Sindhènan Pangkur Ngrénas……………………………………………………………... Tabel 4.....…366 B.…117 3.…………………… …366 A.17 4.1 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Pathetan Wantah……...………………………………. Saran…………………………………………………………….379 LAMPIRAN………………………………………………………. Simpulan…………………………………………………………… ..133 . Tabel 4..…….....….5 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Sindhènan Kinanthi Sandhung…………………………………………………………………….………..….….118 4.6 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Gérongan Lambangsari…………………………………. Tabel 4.….…357 BAB IX PENUTUP……………………………………. Implikasi………………………………………………………… ….… ..………372 DAFTAR PUSTAKA ACUAN………………………………………….2 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks isian……...….

..………………………....…. Tabel 4.………. Tabel 4..…...185 17.9 Persentase gerak representatif dan presentatif tari Karonsih.. Tabel 5.193 21.11 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Gérongan Ladrang Sayuk………………………………………………………………………..164 13..10 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Jineman Sayuk…………………………………………………………………….193 22.190 20.. Tabel 4...8 Rekapitulasi gerak presentatif tari Karonsih………..... Tabel 4.... ………………………………………..….. Tabel 4..….194 23.151 11.……………..12 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Gérongan Lancaran Sayuk……………………………………………………………………..….….……….…170 15. …………………………………………………...158 12..….189 19.5 Jenis-jenis gerak representatif tari Karonsih adegan III: bahagia ……………………………………...…....184 16..1 Jenis-jenis gerak representatif tari Karonsih adegan I: pencarian. Tabel 5.7 Rekapitulasi jenis-jenis TT pada komponen verbal tari Karonsih…143 8..…. Tabel 5.188 18..….........18 7........7 Rekapitulasi gerak representatif tari Karonsih………. Tabel 5....……... Tabel 4.6 Jenis-jenis gerak presentatif tari Karonsih adegan III: bahagia ……………………………………………….…...……..2 Jenis-jenis gerak presentatif tari Karonsih adegan I: pencarian.. Tabel 5..8 Persentase jenis –jenis TT pada komponen verbal tari Karonsih…. Tabel 5. Tabel 5.9 Jenis –jenis TT yang melekat pada teks Sindhènan Mijil Sulastri…………………………………………….3 Jenis-jenis gerak representatif tari Karonsih adegan II: pertemuan.. 14 Persentase jenis –jenis TT pada komponen verbal tari Bondhan Sayuk………………………………………………………………….…..143 9..13 Rekapitulasi jenis-jenis TT pada komponen verbal tari Bondhan Sayuk……………………………………………………………………. Tabel 4...…194 . Tabel 4. …………………………....……170 14..4 Jenis-jenis gerak presentatif tari Karonsih adegan II: pertemuan ………………………………………………. Tabel 5.……144 10. Tabel 5..…….………...

..... Tabel 5....231 27.....…..………….108 ......... 16 Rekapitulasi gerak presentatif tari Bondhan Sayuk….…233 30. Tabel 5..…….. Tabel 5......…229 25.…234 DAFTAR BAGAN Bagan 2..…231 26...…..234 31..19 24.......11 Jenis-jenis gerak presentatif tari Bondhan Sayuk adegan I: kasmaran ………………………………...........………….………..... Tabel 5...…..1 Kerangka Kritik Holistik Komponen Verbal dan Nonverbal Genre Tari Pasihan gaya Surakarta……………………………….………….…. Tabel 5......10 Jenis-jenis gerak representatif tari Bondhan Sayuk adegan I: kasmaran ………………………………….1 Model Analisis Interaktif…………………………………….....13 Jenis-jenis gerak presentatif tari Bondhan Sayuk adegan II: kekudangan …………………………………….. Tabel 5...12 Jenis-jenis gerak representatif tari Bondhan Sayuk adegan II: kekudangan …………………………………. Tabel 5..14 Jenis-jenis gerak representatif tari Bondhan Sayuk adegan III: makarya ………………………………........…233 29.…...91 Bagan 3. ..........…232 28. 17 Persentase gerak representatif dan presentatif tari Bondhan Sayuk…………………………………………………………………….…. Tabel 5.. 15 Rekapitulasi gerak representatif tari Bondhan Sayuk….

199 ..20 DAFTAR GAMBAR / FOTO Gambar 1: pola lantai garis lurus untuk mendukung suasana tegang............ ketika Sekartaji berupaya mencari Panji...199 Gambar 2: pola lantai garis lengkung untuk mendukung suasana romantis.............199 Gambar 3: pola lantai garis lengkung untuk mendukung suasana bahagia.................................... ketika Panji dan Sekartaji srisik bergandengan tangan........ ketika Panji ulap-ulap kiri dan Sekartaji trap jamang.....................................

...220 Foto: 3 Tari Karonsih: Panji mengamati Sekartaji dalam suasana sedih………...172 Foto: 2 Tari Bondhan Sayuk: Suami dan istri dalam kebahagiaan …………......274 Foto: 8.......282 Foto: 10 Tari Bondhan Sayuk: Suami meminta anak kepada istri…………....................a : Dasar ...….....…... ketika istri hendak meninggalkan suami...237 Gambar 5: pola lantai garis lengkung untuk mendukung suasana romantis...........238 Foto: 1 Tari Karonsih: Panji dan Sekartaji dalam kemesraan dan kebersamaan…………………………………………………......285 Foto: 12 Tari Bondhan Sayuk: Suami dan istri dalam kebahagiaan…………...............262 Foto: 5 Tari Karonsih: Panji dan Sekartaji memadu asmara………………............................21 Gambar 4: pola lantai garis lurus untuk mendukung suasana tegang..........238 Gambar 6: pola lantai garis lengkung untuk mendukung suasana bahagia..........260 Foto: 4 Tari Karonsih: Panji dan Sekartaji dalam suasana romantis…………...…..........283 Foto: 11 Tari Bondhan Sayuk: Suami bersenandung sambil menimang anak...... ketika istri dan suami ènjèr ridhong berputar...…....…...279 Foto: 9 Tari Bondhan Sayuk: Istri meminta suami untuk bekerja………….....................…..286 DAFTAR SINGKATAN ASKI CD D–a D – en : Akademi Seni Karawitan Indonesia : Compact Disk : Dasar .............…....en .…272 Foto: 7 Tari Karonsih: Panji dan Sekartaji dalam suasana bahagia……....... ketika istri dan suami lilingan kebyok sampur.....…....... Tari Bondhan Sayuk: Suami dan istri dalam kebersamaan.268 Foto: 6 Tari Karonsih: Panji dan Sekartaji memadu asmara………….

an : Dasar .380 Lampiran 2.…………380 . VCD Tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk…………………….a : Visual Compact Disk DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1.Sn PS PKS Pa Pi Pn Pt PKD R R.ake : Konservatori Karawitan : Kanjeng Raden Tumenggung : Magister Seni : Prinsip Kesantunan : Prinsip Kerja Sama : Putra : Putri : Penutur : Petutur (mitra tutur) : Pakempalan Kagunan Jawi : Raden : Raden Mas : Raden Tumenggung : Tindak Tutur : Verba ..T TT V–a VCD : Dasar .ana : di .Dasar .22 D – an D – ana di – D – ake KOKAR KRT M...M R. Glosarium……………………………………………….

23 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah .

he could and did become hominine” (Smith. 1969: 104-105). Ketergantungan antarindividu merupakan faktor utama manusia untuk saling berkomunikasi dalam rangka meraih kehidupan yang berbudaya. . hal: 1). betapapun hebat dan kuatnya. Berbagai strategi belajar untuk menjadi manusia yang diperlukan agar dapat terinkulturasi dan tersosialisasi sepenuhnya. and man remained hominoid. dapat dikatakan belum mempunyai bekal.24 Manusia hidup tidak mampu lepas dari lingkungan dan bertahan sendiri. bahasa adalah sistem bunyi ujar yang bersifat arbitrer yang dipergunakan oleh manusia dalam suatu masyarakat (language society) untuk berkomunikasi secara umum dan wajar. maka dia harus belajar menjadi manusia dengan menghayati atau mendalami budaya kelompoknya. Betapa pentingnya bahasa bagi kehidupan manusia kiranya tidak perlu diragukan lagi. sistem yang terpenting di mana sistem-sistem lain terutama dicerminkan dan ditransmisikan. Menurut Edi Subroto (tanpa tahun. karena tanpanya manusia tidak mampu berkomunikasi dan berinteraksi dengan dunia luar dirinya. Bahasa sendiri merupakan sistem dari budaya manusia. Sejalan dengan pernyataan tersebut bahasa merupakan suatu sistem simbol-simbol vokal yang dipelajari dan dimiliki secara bersama. sebagian besar individu tersebut melakukan melalui modalitas utama komunikasi manusia yakni bahasa. Setiap individu lahir dalam masyarakat yang telah berjalan. Di situ manusia dalam masyarakat atau subkultur dengan bahasa yang sama saling berinteraksi sehingga mampu berkomunikasi berdasarkan pengalaman dan harapan kultural yang sama. with language and culture. sebagai sarana mewujudkan cita-citanya. “Without language there could be no culture.

Masing-masing media dapat muncul secara mandiri dan bisa juga saling komplementer. bunyi. Lenong. bergantung kebutuhan. Wayang Golek. Ludruk. Randai. Wayang Wong. Adapun bentuk seni pertunjukan di antaranya: Wayang Purwa (Wayang Kulit). rupa. dan bahasa sebagai tindak tutur. Tari. Pragmatisme pada seni pertunjukan dapat ditunjukkan dari wujudnya yang memiliki bahasa verbal dan nonverbal saling komplemen yang selalu hadir dalam konteks. Pada hakekatnya media itu berbentuk fisik. . Seni pertunjukan sebagai bahasa seniman untuk berkomunikasi dengan penghayat merupakan bahasa pragmatik yang sangat khas penuh dengan nuansa keindahan. dan lainnya. warna pada seni rupa. Hal ini dapat kita cermati dari bentuknya yang berupa seni kolektif sebagai sarana untuk mengungkapkan maksud dari seniman sebagai penutur dengan harapan dapat dihayati oleh penghayat sebagai mitra tutur. Secara prinsip dapat peneliti katakan bahwa seni pertunjukan merupakan wahana yang sangat potensial sebagai sasaran kajian pragmatik. Kemunculan secara mandiri seperti: bunyi dalam musik. rupa. yang kesemuanya itu merupakan bahasa komunikasi yang kaya akan nuansa imajinatif dan penuh dengan multitafsir. adapun bentuk yang utama yakni: gerak. Kethoprak. dan bahasa) banyak terdapat pada seni pertunjukan. dan bahasa. Seni pertunjukan merupakan bentuk seni komplementer yang pada dasarnya merupakan salah satu bentuk bahasa pragmatik. Karawitan.25 Dalam kehidupan kesehariannya manusia berkomunikasi lewat beragam media atau medium. Langendriyan. bunyi. Bentuk yang merupakan komplemen dari beragam media (gerak.

spiritual. tari mempunyai muatan-muatan pesan dari penyusun tari yang hendak dikomunikasikan dengan masyarakat. kata-kata yang terdapat dalam tembang sebagai bahasa verbal. dan relasi antara bentuk dan makna sangat ketat.26 Tari sebagai salah satu bentuk seni pertunjukan. disipliner. ini merupakan realitas kemunculan bentuk komplementer. bahwa masyarakat di mana saja menata hidup mereka dalam kaitannya dengan makna dari berbagai hal. Seperti dinyatakan Spradley (1997: 120). dan bersifat hiburan. serta rupa sebagai garap rias dan busana. yaitu: kinetic body moves (gerak tubuh) sebagai garap tari. Sebagai media komunikasi. Ini berbeda dengan bahasa. yang secara spesifik telah memiliki kaidah-kaidah baku yang penafsirannya lebih bersifat rasional. Penafsiran terhadap keragaman media komunikasi yang terdapat dalam tari tidak mampu hanya ditangkap secara rasional semata tetapi ketajaman rasa merupakan ujung tombak dalam menangkap makna yang sebenarnya. Lewat pesan akan ditangkap makna sebagai esensi dari aktivitas berkomunikasi antara penyusun tari dengan masyarakat. . selain makna kata-katanya juga diungkapkan dengan lagu dan tekanan irama yang didukung iringan gamelan. sehingga terasa menjadi lebih mantap. Kehadiran tari sebagai ungkapan ekspresi jiwa manusia merupakan media komunikasi seorang seniman (penyusun tari ataupun penari) sebagai penutur terhadap masyarakat (pakar. bunyi dan bahasa sebagai garap iringan. Pertimbangan yang mendasar bahwa dalam tari. penonton umum dan penanggap) sebagai mitra tutur. Hal ini terkait dengan konsep bahasa yang bersifat formal. merupakan perpaduan dari berbagai media komunikasi. Muatan pesan tersebut merupakan salah satu kebutuhan dasar bagi hidup manusia. Adapun pesan-pesan tersebut dapat berupa pesan moral.

untuk apa dan bagaimana. dan kultural yaitu siapa berbicara kepada siapa.27 Dalam kehidupannya. Namun untuk dapat mengetahui maksud ujaran penutur (makna pragmatiknya). manusia menggunakan bahasa sebagai sarana komunikasi dan berinteraksi secara vertikal dan horisontal dalam kedudukannya sebagai makhluk individu maupun sosial. Rupanya dalam berkomunikasi manusia tidak selalu menggunakan bahasa yang sifatnya langsung. sosial. tetapi juga sering memilih menggunakan bahasa yang tersamar. Kajian makna dalam . Bahasa yang bersifat pragmatik merupakan salah satu sasaran kajian tentang makna-makna satuan lingual secara eksternal. Dalam rangka beraktivitas sehari-hari manusia memerlukan bahasa sebagai alat komunikasi yang paling efektif dan efisien. Jadi pragmatik mengkaji maksud suatu ujaran penutur baik secara tersirat maupun tersurat di balik tuturan yang dianalisis. frase atau kalimat. maksud dari ujaran tersebut dapat dipahami. tidak langsung seperti bahasa pragmatik. Lewat makna semantik yang dikontekstualkan akan muncul makna pragmatik yang diharapkan dalam sebuah peristiwa pertuturan. 1995: 50). Dengan demikian tampak jelas bahwa pragmatik terikat konteks (context dependent). bukan semata-mata hanya makna literal ujaran tersebut. kapan. di mana. mitra tutur harus mengetahui makna semantik ujaran itu terlebih dahulu. Makna yang dikaji dalam pragmatik dikaitkan dengan maksud atau tujuan penutur di dalam mengutarakan suatu kata. apa adanya. terbuka. Bahasa merupakan sarana yang utama untuk menyampaikan pesan penutur kepada mitra tutur. sebagaimana dikatakan Leech pragmatik adalah “The study of meaning in relation to speech situation” (lihat Wijana. Dengan cara menghubung-hubungkan bentuk ujaran dengan konteks situasinya.

yaitu: (1) maksim kuantitas. dan (6) maksim simpati. sehingga makna itu dapat dirumuskan dengan kalimat “Apa yang kau maksud dengan berkata x itu ?” (What do you mean by x ?). Dalam rangka menjaga hubungan dan interaksi komunikasi pada kehidupan sehari-hari tetap terjaga baik. (5) tuturan sebagai produk tindak verbal (Leech. Selain itu juga didukung prinsip kesopanan yang meliputi: (1) maksim kearifan.28 pragmatik bersifat triadis. (4) maksim kerendahan hati. (2) konteks sebuah tuturan. manusia menggunakan bahasa yang memenuhi prinsip-prinsip kerjasama. (2) maksim kualitas. budaya seperti: sastra. maksudnya bahwa makna pragmatik selain dibangun melalui semantik yang mencakup: (1) bentuk kebahasaan dan (2) makna juga dikaitkan dengan (3) konteks. politik. (3) maksim pujian. tembang. syair. (5) maksim kesepakatan. dan tari. dan (4) maksim cara (Grice dalam Leech. Pragmatik merupakan cabang linguistik yang mengkaji makna dalam hubungannya dengan situasi ujar (konteks). Pada realitasnya manusia sering tidak mengindahkan prinsip-prinsip kerjasama dalam . artinya suatu bentuk kebahasaan selain memiliki makna semantik juga makna pragmatik. Kajian bahasa pragmatik lebih terfokus pada makna implikatur dari eksternal tuturan si penutur bukan makna eksplikatur yang terdapat dalam internal tuturan semata. selaras. harmonis. (4) tuturan sebagai bentuk tindakan atau kegiatan: tindak ujar. (2) maksim kedermawanan. Hubungan atau relasi dalam pragmatik bersifat triadis. 1993: 19-20). (3) tujuan sebuah tuturan. (3) maksim relevansi/hubungan. 1993: 11). Aspek-aspek situasi ujar meliputi: (1) yang menyapa (penyapa) atau yang disapa (pesapa). Bahasa yang bersifat pragmatik banyak digunakan dalam berbagai bidang antara lain: sosial. dan berkesinambungan. puisi.

bunyi misalnya tanda lalu lintas. Dampak dari peristiwa tuturan tersebut muncul implikatur-implikatur yang akhirnya merupakan lahan pragmatik. yakni dapat berupa teks verbal dan nonverbal. kenthongan barulah dapat bermakna setelah diterjemahkan ke dalam bahasa manusia (Lamuddin Finoza. gerongan. Aspek verbal tari berupa cakepan (syair) teks sastra tembang yang terdapat dalam pathetan. isyarat. 1996: 6). Terdapat dua cara untuk berkomunikasi lewat bahasa. kode. Tari adalah ungkapan perasaan manusia tentang sesuatu dengan gerak-gerak ritmis yag indah (Soedarsono. Dengan demikian tari yang merupakan bagian dari seni pertunjukan yang memiliki aspek komunikasi verbal dan nonverbal merupakan objek kajian pragmatik yang sangat menarik. morse. busana. pola lantai. kinetic body moves (gerak tubuh). polatan. Wujudnya dapat berupa aneka simbol. Adapun komunikasi yang bersifat nonverbal dilakukan dengan menggunakan alat selain bahasa. Sedangkan aspek nonverbalnya berupa: tema. Berkomunikasi secara verbal dilakukan dengan cara menggunakan media bahasa baik yang tertulis dan lisan.29 berkomunikasi sehingga terjadi pelanggaran. Dalam hal ini penutur berupaya memasukkan maksudnya secara implisit pada ujaran yang diungkapkan. Menurut Wisnoe Wardhana (1994: 36). dan jineman. sebagai akumulasi beragam tuntutan akan kebutuhan hidup manusia yang begitu kompleks. sindhenan. Karena hal itu terjadi. Ketidakpatuhan para peserta tutur dalam pertuturan karena dipicu oleh motif-motif tertentu dari penutur. 2005: 2). Sedangkan H’Doubler mengutarakan bahwa tari adalah ekspresi gerak ritmis dari kajian . rias. lambaian tangan. sirene. tari adalah ungkapan nilai-nilai keindahan dan keluhuran lewat gerak dan sikap. dan iringan.

gerak akrobatik binatang yang menawan tetapi tanpa kehadiran gerak tubuh manusia. 1996: 4). Sumber gerak utama yang dimaksudkan di sini adalah kinetic body moves. Tanpa simpati publik. 1980: 37). And when the body speaks . maka dibutuhkan juga suatu penghargaan. ia berkarya dengan harapan dapat dihayati. Menurut peneliti. dorongan artistik akan layu tidak dapat berkembang. karena pada dasarnya betapapun indahnya gerak tumbuh-tumbuhan yang tersapu angin. melaksanakan serta dari penciptaan bentuk-bentuk (dalam Soedarsono. yang lambang-lambang geraknya dengan sadar dirancang untuk kenikmatan serta kepuasan dari pengalaman ulang. berkomunikasi. Rupanya gerak tubuh sangat dominan dan merupakan medium utama yang sekaligus sebagai sumber kehidupan tari. dikomunikasikan dalam bentuk yang indah untuk mendapatkan penghayatan yang layak.30 keadaan-keadaan perasaan yang secara estetis dinilai. dengan menggunakan medium utama gerak. tari adalah ekspresi jiwa manusia lewat medium utama gerak tubuh untuk mencapai kenikmatan keindahan. Rupanya ekspresi diri semata tidak akan memberikan kenikmatan dan kepuasan bahkan cenderung mati (Parker. the body speaks. ungkapan. Seperti variasi pada kutipan kata-kata terkenal Donne: “one could almost say. tidak dapat dikatakan gerak tari. Jika kita cermati lebih lanjut pernyataan ketiga pakar mengenai pengertian gerak tersebut masih kabur. Secara garis besar bahwa semua gerak dapat menjadi gerak tari dengan cara melalui campurtangan gerak tubuh dan seleksi yang memadahi. Bagaimanapun acuhnya seorang seniman terhadap publik. Dari ketiga pendapat pakar tari tersebut dapat disarikan bahwa tari merupakan ekspresi jiwa manusia sebagai tanggapan tentang nilai-nilai kemanusiaan.

a pragmatic act” (dalam Mey. its movements. Sekarang semakin jelas bahwa ide komunikasi nonlisan sebagai tambahan atau alat bantu sederhana pada pembicaraan adalah pandangan irasional yang terlalu sempit. Selayaknya. in a conversation). mitra tutur juga tidak akan mengikuti dan memperhatikan. . dan gayanya (Budhisantoso. Tampaklah sekarang bahwa bentuk dalam seni memiliki peranan yang sangat penting dalam rangka menyampaikan isi atau maksud yang hendak dikomunikasikan pada penghayat (mitra tutur) dari si seniman (penutur)..31 in this fashion. lingkungan sekitarnya secara selektif. pandangan.g. bukan hanya bagian kontribusi yang diucapkan saja. 1994: 68). the body moves. Secara sederhana Herbert Read berpendapat bahwa seni merupakan usaha untuk menciptakan bentuk-bentuk yang menyenangkan (1990: 2). Tidak mungkin orang bicara soal kesenian tanpa memperhatikan bentuk. wujud. jika gerak tubuh penutur tidak mengikuti pembicaraan penutur. they represent. Adapun isi yang dimaksud merupakan pengalaman jiwa seniman dalam menanggapi alam. dan tanggapannya ke dalam bentuk fisik yang dapat ditangkap dengan indera (Sri Rochana. Di samping itu. form an integral part of the interactions (e. Dengan kata lain. kita harus mengakui bahwa komunikasi ‘gerak tubuh’ mampu ‘menentukan suasana’ dan ‘memberi makna’ untuk komunikasi secara utuh. dalam dimensi meta-pragmatik. or are part of. 2001: 223-224). as such. tindakan pragmatik sangat penting untuk menentukan dan mempertahankan kerangka meta-komunikatif untuk komunikasi. 1994: 3). Bentuk seni adalah hasil ciptaan seniman yang merupakan wujud dari ungkapan isi. Pada dasarnya tindakan pragmatik melibatkan seorang individu secara keseluruhan dalam komunikasi.

Sehingga benda pacu dimaksud mampu mengubah dari pandangan verbal menjadi pandangan yang penuh makna yang berarti bagi kehidupan jiwa. seni memiliki tujuan yaitu memberikan kepuasan dalam visi penuh simpati. melainkan nilai-nilai kehidupan yang telah terseleksi dapat ditranspormasikan dalam bentuk yang indah. bunyi. dan seringkali pencarian itu terlampau berliku-liku jalannya (Read. 1990: 45). supaya menjadikannya jelas bagi jiwa yang menghayati. baik dari seniman sebagai pengkarya maupun masyarakat sebagai penikmatnya. warna (rupa). Wujud tersebut tak lain agar dapat dan mampu ditangkap dengan indera manusia. dan wujudnya dapat berupa gerak. garis. bahasa. Maka tidaklah mengherankan apabila sarana untuk berekspresi dalam seni tidak bersifat instingtif. Untuk itu menuntut seniman bukan hanya menyajikan realitas kehidupan yang sifatnya mengimitasi atau memindahkan begitu saja. Keberhasilan mereka menyampaikan pesan-pesan tergantung dengan kemampuan menyeleksi materi-materi sebagai sarana ungkap dan tidak lepas dari kemampuan masyarakat penikmat untuk menangkap yang sudah barang tentu mengacu pada nilai-nilai budaya dan norma-norma sosial yang hidup dan . Pengalaman jiwa seniman sewaktu-waktu dapat dikomunikasikan lewat garap medium sesuai dengan bidangnya masing-masing. Sarana tersebut setiap saat dan untuk setiap personal harus dicari. dan bukan merupakan sesuatu yang sudah siap tersedia. Pada hakikatnya medium ekspresi seniman bersifat fisik. tidak pula bersifat stereotip.32 Sebagai media ekspresi. Hubungan antara bentuk fisik yang dapat diamati indera dengan isi yang hendak diungkap harus terjalin secara harmonis agar dapat mencapai sasarannya yaitu penghayat.

1991: 10). cermat dan mempunyai semacam pola-pola baku yang sering digunakan sebagai semacam pedoman.33 berkembang. Seni pertunjukan Jawa pada umumnya dapat dikategorikan menjadi dua kelompok besar yaitu kesenian karaton dan kesenian rakyat (Humardani. tari dan lainnya. Kesenian karaton cenderung memiliki garap lebih rumit. 1991: 14). Betapapun hebatnya seorang seniman dalam berkarya tanpa diimbangi apresiasi masyarakat yang layak dan memadahi rupanya akan menjadi semakin tidak berarti sehingga bentuk-bentuk pesan yang hendak disampaikan oleh seniman tidak dapat terealisasi secara baik dan wajar dalam kehidupan masyarakat. Dalam tari Jawa bentuk ekspresinya pada hakikatnya terwujud berdasarkan alam emosi. Berbeda dengan kesenian rakyat yang sifatnya spontan sangat sederhana baik bentuk maupun sistem pertunjukannya. Untuk itu dibutuhkan peningkatan kualitas apresiator dengan memperbanyak peluang aktivitas pertunjukan dan peningkatan kualitasnya. yaitu bentuk dan iramanya sangat kuat dilatarbelakangi oleh konsep keindahan dan tradisi kebudayaannya (Humardani. Seni tradisional genre tari pasihan yang mengacu kesenian karaton merupakan salah satu budaya yang diwarisi secara turun-temurun sudah barang tentu memiliki kesinambungan dengan budaya sebelumnya. wayang wong (wayang orang). di antaranya: wayang kulit. karawitan. tetapi masing-masing . Perkembangan sekarang kedua bentuk kesenian tersebut saling mempengaruhi secara lebih kompleks. Sedangkan kesenian rakyat hidup. Pewarisan budaya tidaklah bersifat statis. Beragam bentuk seni pertunjukan karaton. tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat pedesaan. Kesenian karaton merupakan bentuk kesenian yang pada awalnya hidup dan berkembang di lingkungan karaton.

Terbukti seni tradisional kita tetap berkembang di masyarakat. di antaranya genre tari pasihan. “Genre Tari Pasihan“ tampaknya cenderung menekankan rasa dan emosi dalam bentuk bahasa verbal dan nonverbal. Seolah–olah keberadaan genre tari pasihan dalam budaya Jawa sejak 1970 telah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan terutama pada upacara-upacara perkawinan (Maryono. bahwa ‘simbol’ tampak terbatas pada sesuatu yang mengungkapkan secara tidak langsung. dan tarian untuk anak. Wireng. Rasanya menjadi kurang utuh apabila dalam acara resepsi perkawinan tidak disajikan tari pasihan sebagai penutup pesta tersebut. Di dalam kehidupan masyarakat Jawa. sehingga perlu perantara yang berwujud simbol-simbol dalam puisi bukan dalam bentuk pengetahuan.34 generasi mencoba untuk mengadakan perubahan-perubahan disesuaikan dengan kondisi kehidupan masyarakat pendukungnya. sehingga kemunculan pertunjukan genre tari pasihan pada upacara perkawinan relatif sangat tinggi frekuensinya. Bedhaya. Kehadiran genre tari pasihan (percintaan pria dan wanita) dalam kehidupan sosial masyarakat pada ritual perkawinan adat Jawa rupanya mempunyai makna simbolik yang sangat penting terutama bagi kedua mempelai dalam rangka mempersiapkan diri untuk mengarungi kehidupan di masyarakat yaitu menuju terbentuknya keluarga yang bahagia. Srimpi. Pethilan. sebab simbolisme sangat menonjol peranannya dalam tradisi adat Jawa. Simbolisme semacam ini tampak pada genre tari pasihan yang hadir dalam rangkaian upacara-upacara perkawinan adat Jawa. simbolisme memiliki peranan sangat penting. Menurut Clifford Geertz (1992: 6). 1991: 73). Di dalam seni pertunjukan. Hal tersebut diduga menumbuhkan daya pikat perhatian masyarakat .

karaton-karaton di Jawa kehilangan kekuasaannya atas daerah-daerah masingmasing. Seniman-seniman yang menanggapi secara proaktif antara lain seperti Maridi dengan karyanya: tari Endah. putri luruh duet dengan gagah luruh dan sebagainya.35 dan mampu menggugah semangat kreativitas para seniman seni pertunjukan di Surakarta untuk merespon secara positif. tari Driasmara. keluar tembok karaton hidup dan berkembang meluas ke tengah-tengah kehidupan masyarakat. tari Enggarenggar. Ketika Perang Dunia ke II berakhir. putri lanyap duet dengan alus luruh. Secara perlahan-lahan kehidupan tari yang semula menjadi hak monopoli keluarga kerajaan. dan tari Gesang Rahayu. dan sebagai pusat kesenian Jawa (Koentjaraningrat. Genre tari pasihan gaya Surakarta merupakan suatu kelompok tari yang secara susunan berbentuk duet atau pasangan silang jenis tipe karakter dengan tema percintaan. tari Kusuma Ratih. Sunarno menghasilkan karya: tari Bondhan Sayuk. tari Langen Asmara. Berkembangnya bentuk dan jenis genre tari pasihan atau genre tari duet percintaan tidak lepas dari kreativitas para penyusun tari dalam rangka memenuhi kebutuhan sosial masyarakat. tari Lambangsih. tari Jayaningrat dan tari Setyaningsih. 1984: 235). Keragaman bentuk dan jenis tari duet percintaan yang terdapat di wilayah Surakarta menunjukkan sebuah kekayaan ranah budaya yang mampu memberikan warna kota Sala sebagai pusat budaya. Rupanya hal ini terkait dengan warisan budaya khususnya tari dari kerajaan Mataram baru yaitu istana Kasunanan Surakarta Hadiningrat. kehilangan kekuasaannya sebagai orientasi nilai-nilai budaya Jawa. Jenis tipe karakter yang berpasangan tersebut dalam genre ini antara lain : putri luruh duet dengan alus luruh. pusat adat-istiadat Jawa. . Suciati Joko Suharja menciptakan tari Kusuma Aji.

Hubungan ini pada masyarakat yang masih melestarikan budaya purba kadang-kadang dilakukan agak realistis.36 Kehidupan genre tari pasihan hingga sekarang mengalami perkembangan sangat pesat. Seni pertunjukan genre tari pasihan gaya Surakarta sebagai karya seni memiliki beberapa aspek di antaranya aspek sastra tembang (bahasa verbal) yang berupa cakepan (syair) yang terdapat dalam pathetan. Kehadiran genre tari pasihan di tengah-tengah kehidupan sosial masyarakat diduga mempunyai kekuatan magis simpatetis terhadap sepasang penganten. sindhenan. Sedangkan bagi masyarakat yang sudah agak maju dilakukan secara simbolik. yaitu hubungan antara pria dan wanita. Seperti diungkapkan Soedarsono sebagai berikut : Sadar atau tidak sadar kesuburan tanah – juga perkawinan – tidak cukup hanya dicapai lewat peningkatan sistem penanaman baru. yang hanya bisa didapatkan dengan perbuatan yang melambangkan terjadinya pembuahan. Rupanya telah mengakar pada budaya Jawa. Kekuatan itu antara lain berupa magi simpatetis. dan . 1991: 35) Rupanya semakin tampak bahwa genre tari pasihan merupakan media ungkap para penyusun tari (penutur) yang memuat ide. rasa. gerongan. hal ini dimungkinkan adanya suatu pilihan masyarakat yang sangat tepat tentang tata nilai dan sikap untuk menjaga kelangsungan hidup budayanya sebagai warisan yang dianggap memiliki nilai tinggi. Genre tari pasihan merupakan cabang seni tradisional gaya Surakarta yang banyak mengandung makna simbolis dan memiliki fungsi yang erat hubungannya dengan upacara adat ritual perkawinan masyarakat Jawa. emosi yang diekspresikan dalam bentuk bahasa verbal dan nonverbal yang hendak dikomunikasikan dengan penghayat (mitra tutur) dengan maksud-maksud tertentu. yaitu pada setiap upacara perkawinan hampir dapat dipastikan akan disajikan jenis tari pasihan. (Soedarsono dalam Soedarso. tetapi juga perlu diupayakan lewat kekuatan – kekuatan yang tak kasat mata. gagasan.

Kehadiran tari Karonsih di tengah-tengah kehidupan masyarakat telah menjadi bagian dari kebutuhan sosial. dan iringan. tari Driasmara. mempunyai pengaruh cukup besar yaitu telah dapat memacu dan memotivasi terhadap seniman-seniman di kalangan tradisional (Maryono. 1991: 27). Dari sejumlah jenis tari duet tersebut peneliti memfokuskan sasaran pada dua bentuk tari duet percintaan. yakni seperti: tari Endah. Secara garis besar dapat dikatakan bahwa bentuk-bentuk tari yang termasuk dalam genre tari pasihan. tari Gesang Rahayu.37 jineman. waktu. gerak tubuh (kinetic body moves). Sedangkan aspek bahasa nonverbal meliputi: tema. Pengaruh perkembangannya dapat dibuktikan dengan munculnya berbagai bentuk tari duet percintaan. tari Jayaningrat. pola lantai. tari Kusuma Ratih. dan memiliki pesan. Kajian pragmatik di sini akan menganalisis makna genre tari pasihan lewat implikatur-implikatur bahasa verbal dan nonverbal yang dimilikinya. Dengan pernyataan lain serupa tetapi tidak sama. Di samping itu diduga tari Karonsihan memiliki kekuatan magis simpatetis yang kuat terhadap . busana. banyak persamaannya. Pemilihan pertama tari Karonsih dalam kajian pragmatik ini. tari Kusuma Aji. rias. Aspekaspek tersebut membutuhkan ruang. tidak lain didasarkan pada fakta historis. tari Bondhan Sayuk. tari Langen Asmara dan tari Setyaningsih. polatan (ekspresi wajah). tari Enggar-enggar. dalam tindakannya supaya dapat berfungsi secara baik sebagai media komunikasi. Karonsih merupakan awal jenis tarian duet percintaan yang mampu membawa perkembangan sangat luar biasa. yang sudah barang tentu juga terdapat perbedaan namun tidak begitu signifikan. yakni tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk. tari Lambangsih.

sekilas dapat dicermati dari properti yang berupa boneka bayi (anak kecil). baik dari segi tindak tutur verbal dan nonverbalnya dapat digunakan untuk mengungkap secara mendalam karakteristik genre tari pasihan dalam analisis pragmatiknya. dan kualitas genre tari pasihan sebagai seni pertunjukan yang hidup dan berkembang pesat di Jawa. Kelayakan dan kualitas objek sasaran penelitian tidak dapat disangsikan berdasarkan eksistensi. hal ini dapat diamati dari kehadirannya yang hampir dapat dipastikan pada setiap upacara perkawinan terutama pada budaya Jawa. namun masih dalam karakteristik yang sama. serta memberikan citra budaya yang mantab.38 sepasang temanten. maka hal itu dapat diamati dari jenis bahasa verbal yang digunakan pada masing-masing tari pasihan tersebut. didasarkan pada bentuk yang berbeda pada jenis tari duet percintaan. Selain itu terdapat perbedaan bahasa nonverbal. Realitas menunjukkan bahwa keragaman jenis tari duet percintaan gaya Surakarta merupakan salah satu aset budaya nasional yang memiliki kuantitas dan kualitas tinggi. Merujuk pada pola cerita yang tokoh-tokohnya memiliki authority scale dan social distance yang berbeda. Pada prinsipnya pemilihan sampling tari Karonsih dan Bondhan Sayuk tersebut bukan untuk generalisasi statistik (populasi) tetapi lebih fokus untuk mewakili dari keragaman informasinya yang diharapkan dapat digeneralisasi teorinya. kuantitas. kredibilitas. Perbedaan antara Karonsih dengan Bondhan Sayuk meliputi bentuk tindak tutur verbal dan nonverbal. Pemilihan kedua adalah tari Bondhan Sayuk. Kehadiran genre tari pasihan merupakan pemenuhan kebutuhan sosial dan hayatan cukup mantap dan sekaligus menjadi benteng budaya . Diharapkan perbedaan yang terdapat pada tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk.

Bagaimana jenis-jenis tindak tutur dalam genre tari pasihan gaya Surakarta dan tindak tutur apa yang dominan. adalah: mengapa masyarakat memilih pertunjukan genre tari pasihan gaya Surakarta sebagai masterpiece dalam sebuah ritual perkawinan adat Jawa. Rumusan Masalah Dari uraian latar belakang masalah yang telah peneliti paparkan tersebut di muka. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. karya seni (pesan atau tindak tutur) sebagai sarana atau media tutur.39 nasional yang mampu memberi warna citra diri masyarakat Surakarta sebagai pewaris high culture Mataram palace dan lebih meluas sebagai bangsa Indonesia. Bagaimanakah implikatur dan daya pragmatik bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta ? . terdapat masalah utama yang menjadi fokus penelitian disertasi ini. dan masyarakat (pakar. B. Untuk itu perlu dirumuskan masalahnya dalam rangka menganalisis makna pragmatik pada genre tari pasihan. Bagaimanakah penerapan prinsip kerja sama dan prinsip kesantunan dalam bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta ? 3. penonton umum. dan penanggap) sebagai mitra tutur (komunikan). serta mengapa terjadi dominasi ? 2. Masalah utama tersebut dapat dikaji lewat beberapa pertanyaan yang bersumber pada seniman pelakunya (penyusun tari dan penari) yang bertindak sebagai penutur (komunikator).

Bagaimana persepsi masyarakat terhadap kehidupan genre tari pasihan gaya Surakarta ? C. 5. Implikatur dan daya pragmatik bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta. Tujuan Penelitian Memahami bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan pada ritual perkawinan adat Jawa di Surakarta dengan menganalisis secara rinci. 4. 3. Persepsi masyarakat terhadap kehidupan genre tari pasihan gaya Surakarta. . Bagaimana latar belakang konsepsi penciptaan bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta ? 6. Jenis-jenis tindak tutur dan tindak tutur yang dominan dalam genre tari pasihan gaya Surakarta. akurat. Ciri karakteristik bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta. Latar belakang konsepsi penciptaan bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta. Penerapan prinsip kerja sama dan prinsip kesantunan dalam bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta. 2. Bagaimana ciri karakteristik bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta ? 5. dan mendalam untuk menemukan dan mendeskripsikan: 1. 6.40 4.

(3) Memberikan motivasi terhadap pembaca pada umumnya dan para peneliti dari kalangan Lembaga Perguruan Tinggi Seni untuk meneliti bentuk-bentuk seni pertunjukan dari perspektif linguistik pragmatik. Perspektif dari kajian pragmatik akan mengarahkan peneliti untuk menganalisis seni pertunjukan (tari) secara menyeluruh. Salah satu jenis kajian linguistik yang paling tepat untuk analisis tari adalah linguistik pragmatik. politik. Spesifikasi yang dapat diunggulkan dalam kajian ini bahwa terdapat interaksi yang sangat tepat antara pragmatik dan seni pertunjukan yang masing-masing berorientasi masalah makna. baik dari aspek bahasa verbal dan nonverbal. namun penelitian tari dari kaca mata linguistik rupanya masih sangat langka.41 D. terutama kajian seni pertunjukan khususnya tari dari perspektif linguistik pragmatik. ekonomi. . Sedangkan pragmatik merupakan disiplin ilmu yang secara spesifik mengkaji makna atau maksud penutur. Artinya seni pertunjukan memuat nilainilai kehidupan yang fundamental sebagai sumber makna. budaya dan lainnya rupanya telah banyak dilakukan para peneliti. antropologi. (4) Dapat menjadi referensi atau acuan bagi para peneliti yang terkait dengan disiplin ilmu linguistik pragmatik dan kajian sastra seni khususnya. (2) Memberi sumbangan bagi para pembaca untuk menambah wawasan kajian seni pertunjukan tari pasihan dari sudut pandang linguistik pragmatik. Dengan demikian manfaat yang diharapkan dari penelitian ini: (1) Membuka perspektif kajian baru. Manfaat Penelitian Tari dikaji dari berbagai perspektif ilmu seperti sosial.

(2) teori budaya. peneliti menggunakan kajian: (1) teori pragmatik. (3) teori seni pertunjukan. Dalam rangka untuk mengetahui dan mencermati makna bahasa verbal dan nonverbal yang terdapat dalam seni pertunjukan genre tari pasihan gaya Surakarta. mengapa terjadi dominasi. TINJAUAN PUSTAKA. dan (4) teori komunikasi. Bentuk analisis berikutnya adalah bagaimana penerapan .42 BAB II KAJIAN TEORI. DAN KERANGKA PIKIR A. jenis tindak tutur yang dominan. Kajian Teori Seni pertunjukan umumnya dan lebih khusus genre tari pasihan gaya Surakarta merupakan lahan kajian yang sangat menarik lewat bahasa verbal yang berupa teks sastra tembang dan bahasa nonverbal. 1) Teori pragmatik untuk menganalisis jenis-jenis tindak tutur yang terdapat pada sastra tembang sebagai bahasa verbal.

43 prinsip-prinsip kerja sama dalam sastra tembang. rias. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas untuk mengkaji dari faktor afektifnya yaitu mengenai pandangan masyarakat umum dan persepsi pakar terhadap pertunjukan tari pasihan. Dalam komunikasi tersebut lebih difokuskan pada kesesuaian antara pesan makna yang dimaksudkan seniman penyusun dengan makna yang dapat ditangkap oleh masyarakat. 4) Teori komunikasi digunakan untuk menganalisa bagaimana komunikasi berlangsung. wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide untuk mengungkapkan konsepsi seniman penyusun tentang bahasa verbal dan nonvberbal yang digunakan pada tari pasihan. pola lantai. Proses komunikasi antara seniman penyusun sebagai komunikator dengan masyarakat sebagai komunikan lewat media yaitu karya seni tari pasihan. Teori tersebut juga untuk mengungkap implikatur dan daya pragmatik. gerak tubuh (kinetic body moves). dan penggunaan muka dalam komunikasi. Jika komunikasi antara seniman dengan masyarakat terjadi perbedaan . Adapun wujud kebudayaan berupa benda-benda hasil karya manusia untuk analisis faktor objektif atau karya seninya. 3) Teori seni pertunjukan untuk mengkaji elemen-elemen yang terdapat di dalam tari pasihan (bahasa nonverbal) mencakup tema. busana. 2) Teori budaya yang terdiri dari tiga bagian yakni. polatan (ekspresi wajah). hubungan peran yang berbeda. baik yang berupa sastra tembang dan bahasa nonverbal. Selain itu juga untuk mengkaji strategi kesantunan yang digunakan oleh masing-masing peserta tutur yang terdapat dalam genre tari pasihan terkait dengan cara mengungkapkan tindak tutur terkait jarak sosial. dan iringan gamelan untuk mengungkapkan faktor objektif dan faktor genetik.

ia berusaha mengartikan isi wacana hanya . dari hasil itu dapat dicari dan dianalisis penyebabnya untuk menentukan kekuatan dan kelemahan tari pasihan sebagai media. 1993: 8). Teori Pragmatik Terkait untuk tujuan-tujuan linguistik pragmatik adalah studi tentang makna dalam hubungannya dengan situasi-situasi ujar (speech situations) (Leech. Konsep ujaran menurut Parera (dalam Muhammad Rohmadi.44 atau sebaliknya terjadi persamaan. sedangkan teori budaya dan teori seni pertunjukan untuk menganalisis faktor bahasa nonverbal. Diharapkan keempat teori tersebut mampu untuk mengungkap makna pragmatik genre tari pasihan gaya Surakarta secara menyeluruh dan mendalam. 1. 2004: 48) berhubungan dengan manifestasi bahasa dalam bentuk lisan. Teori komunikasi untuk mengkaji keterkaitan antarfaktor genetik. objektif. Secara prinsip teori pragmatik merupakan alat kajian yang utama terkait dengan sistem kebahasaannya. dan afektif. akan tetapi harus memperhatikan situasi ujaran atau sejauh mana kontekstualnya. Keempat teori tersebut digunakan untuk menganalisis makna pragmatik genre tari pasihan gaya Surakarta secara komplementer. Sebagaimana dikatakan Leech bahwa seorang yang menganalisis makna pragmatik dapat disamakan dengan seorang penerima. Untuk mengetahui makna ujaran tidak dapat hanya dilihat dari satu sisi ujaran itu sendiri.

Leech (1993: 19-21) mengemukakan aspek-aspek situasi ujar yang meliputi lima aspek situasi ujaran sebagai berikut: (1) Yang menyapa (penyapa) atau yang disapa (pesapa). bersifat langsung manakala maksud penutur tereksplesitkan dalam bentuk-bentuk tuturannya.45 berdasarkan bukti kontekstual yang ada saja tanpa menjadi sasaran pesan si penutur (1993: 19). penutur serta situasinya. (3) Tujuan sebuah tuturan. Tidak langsung. Untuk itu perlu dicermati secara mendalam bentuk . Terkait dengan situasi-situasi ujaran. Tanpa konteks. sulit dipahami karena untuk mencermati maksud sebuah tuturan yang disampaikan penutur kepada mitra tutur sering mengalami kendala. Bentuk ungkapan dapat bersifat langsung dan tidak langsung. Bahasa yang diungkapkan berupa ujaran atau tuturan baik yang bersifat lisan maupun tulis. (5) Tuturan sebagai produk tindak verbal. sehingga mudah dipahami mitra tutur. Dalam kehidupan sosial manusia berinteraksi menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi untuk maksud-maksud tertentu. Sebagai mitra tutur berupaya untuk menafsirkan maksud penutur lewat teks yang digunakan dengan mengaitkan konteksnya. Ujaran-ujaran dalam kalimat dapat diungkapkan makna pragmatiknya secara jelas jika kita perhatikan konteks. Artinya penutur dalam menyampaikan maksudnya disiratkan pada tuturan atau maknanya di balik yang tersurat. (4) Tuturan sebagai bentuk tindakan atau kegiatan: tindak ujar. ujaranujaran dalam bentuk kalimat atau tindak tutur tersebut hanya akan dipahami sebagai makna semantik yang lebih terfokus pada analisis linguistik formal. (2) Konteks sebuah tuturan. Hambatan sering terjadi karena penutur di dalam mengungkapkan tuturannya menggunakan bahasa yang bersifat indirect.

yakni bahasa yang sedang melaksanakan tugas tertentu dalam konteks situasi. Teks dan Konteks Pada dasarnya teks dan konteks sangat vital terkait dengan kompetensi komunikatif sehingga konsep teks dan konteks menjadi penting untuk dikaji dalam rangka memahami implikatur pragmatik. dan Hoed (2003: 5-6). Dengan demikian teks tidak tergantung pada ukuran panjang pendeknya. . Teks Menurut Leech (1983: 100).1. Hoed (2003: 5-6). dan Cutting (2002). teks adalah konstruksi dari hasil penggunaan sintaksis dan fonologi bahasa secara bermakna. a. Dalam analisis teks dan konteks ini. Adapun hakekat konteks lebih mereferensi dari pendapat: Yule (1998). bukan kata-kata ataupun kalimat lepas. Sejalan dengan pendapat tersebut. Hakekat teks dalam pembicaran ini mereferensi dari pendapat: Leech (1983). Halliday dan Hasan (1976: 1-2). a. teks adalah potongan dari bahasa tulis maupun lisan yang maknanya dapat dirunut dari perspektif strukturnya ataupun fungsinya (Richards et al. Cook (1989). Secara lebih sederhana Cook menyatakan bahwa teks juga dapat berupa bagian-bagian dari bahasa yang dikaji secara formal (1989: 14). Pendapat lain. 1992: 378). namun lebih mengarah pada berfungsinya suatu bahasa. Halliday dan Hasan (1976).46 bahasa sebagai teks dan bagaimana konteksnya sehingga dapat berfungsi untuk mengungkap makna pragmatik. Richards et al (1992). bahwa teks merupakan sebuah unit semantik yang memiliki bentuk dan bermakna bukan sekadar unit gramatikal seperti klausa atau kalimat yang lepas. kita dapat perikan liku-liku antarunit hingga komplementer antarfaktor.

mencakup: a) motif tema yang digunakan sebagai ancangan alur adegan. dapat peneliti kemukakan bahwa teks genre tari pasihan meliputi: a. kajian peneliti lebih terfokus pada gejala budaya. . teks sebagai pesan budaya (nonverbal). busana.1. maka dalam bahasa verbal ini. c) polatan. polatan (ekspresi wajah). pertunjukan balet atau tari. c) realisasi kesantunan antarperan a. b) jenis tindak tutur yang dominan dan mengapa terjadi dominasi. yang terkait dengan gejala budaya seperti film. yaitu: 1. peristiwa upacara ataupun pertunjukan sirkus. sindhenan. teks sebagai pesan verbal yang membatasi teks pada gejala kebahasaan (lihat disertasi Jumanto. pola lantai. Dalam bahasa nonverbal ini. kajian peneliti lebih terfokus pada: a) jenis-jenis tindak tutur yang digunakan.2 Bahasa nonverbal berupa elemen-elemen tari yang terdiri dari: tema. Merujuk pada hakekat teks dari pendapat kelima pakar tersebut terkait dengan teks seni pertunjukan. dan iringan.1 Bahasa verbal.1. yang berupa teks sastra tembang yang terdapat dalam cakepan (syair) pathetan.47 mengatakan terdapat dua cara untuk pendekatan dasar pada sebuah teks. gerongan. dan jineman. b) jenis-jenis vokabuler gerak. 2006: 23-24). dengan mengutip pendapat Noth (1990). rias. Dapat ditarik simpulannya bahwa teks adalah sebuah unit bahasa verbal dan atau nonverbal yang bermakna. gerak tubuh (kinetic body moves). Berdasarkan tujuan awal penelitian adalah kajian pragmatik. musik. dan 2.

dan tekanan. Konteks dipahami sebagai lingkungan yang selalu berubah yang memungkinkan peserta tutur berinteraksi dan yang membantu mereka memahami . didominasi oleh pandangan bahwa aspek form dalam suatu bahasa merupakan satu-satunya data yang paling feasible untuk dikaji. tidak mempertimbangkan bahwa satuan– satuan itu sebenarnya hadir dalam konteks. baik verbal dan nonverbal tersebut merupakan satu kesatuan yang membentuk menjadi sebuah bahasa genre tari pasihan yang tidak lepas dengan konteks. Menurut Yule (1998). Kedua bentuk bahasa. Konteks Munculnya konsep konteks dalam ranah linguistik merupakan konsep yang relatif baru sebagai pendobrak kemapanan aliran linguistik formal atau struktural. konteks adalah sebuah konsep yang dinamis. lagu. Selama bertahun-tahun kajian linguistik. terutama terkait dengan masalah makna yang ditarik dari implikatur tindak tutur dalam sebuah percakapan. yang seharusnya mengaitkan dengan konteks. e) jenis warna dan bentuk busana yang dipakai. f) jenis-jenis pola lantai ( floor design) . h) intonasi yang mencakup: irama. Artinya bahwa para kaum strukturalis terfokus pada internal bahasa yang semata-mata berorientasi pada bentuk. g) jenis-jenis gendhing . baik konteks yang bersifat lingual (cotext) maupun konteks yang bersifat ekstralingual yang berupa konteks fisik maupun konteks sosial. bukan statis. a. Akibatnya aliran struktural gagal menjelaskan berbagai masalah kebahasaan.2.48 d) bentuk rias.

Realisasi konteks dari teks tari pasihan dengan mengakses persepsi Cutting. yakni konteks verbal yang ada pada teks yang mengakibatkan adanya kohesi dan koherensi. pemilihan kata. Leech mengartikan konteks sebagai suatu pengetahuan latar belakang yang sama-sama dimiliki oleh penutur dan mitra tutur dan yang membantu mitra tutur dalam menafsirkan makna tuturan (1993: 20). mendefinisikan konteks secara lebih operasional yakni dunia fisik dan sosial serta asumsi-asumsi pengetahuan yang sama-sama dimiliki oleh penutur dan mitra tutur. a.2) Konteks pengetahuan latar yang dapat diperikan menjadi: . intonasi dan pemilihan gerak. Sejalan dengan pendapat tersebut. peneliti dapat lebih memfokuskan kajiannya pada: a. 3) konteks co-textual. Secara eksternal meliputi: lokasi pertunjukan dan kondisi lingkungan yang menjadi setting berlangsungnya pertunjukan. secara internal mencakup: perubahan raut muka atau polatan. yaitu keadaan fisik yang muncul bersamaan dengan terjadinya suatu interaksi ketika percakapan berlangsung (at the moment of speaking). Selanjutnya secara rinci konteks dikategorikan menjadi: 1) konteks situasi. 2) konteks pengetahuan latar (background knowledge context) yang dirinci menjadi (a) pengetahuan umum budaya (cultural general knowledge) dan (b) pengetahuan interpersonal (interpersonal knowledge).49 ungkapan-ungkapan kebahasaan yang mereka gunakan dalam suatu proses komunikasi. Sedangkan Cutting (2002: 3-8).1) Keadaan fisik yang muncul bersamaan dengan terjadinya suatu interaksi ketika percakapan berlangsung dapat dirunut.2.2.

Realitas sepanjang hidup manusia di muka bumi.2. salah satu masa yang penting adalah masa perkawinan atau masa nikah. mengalami pembagian adat-istiadat ke dalam tingkattingkat tertentu. Dari pernyataan tersebut. mencakup: mentifact. sekaligus mencegah hal-hal yang sumbang maupun menimbulkan keganjilan. dan bagaimana masing-masing unsur itu harus dirangkai menjadi terpadu. Keselarasan antara gaya hidup dan kenyataan fundamental yang dirumuskan simbol-simbol sakral bervariasi dari kebudayaan yang satu ke budaya yang lain (Geertz. masa puber. gagasan. .50 a. masa remaja. peraturan dan sebagainya. norma-norma. dapat dirunut bagaimana keterkaitan perkawinan dengan kehadiran tari pasihan. artifact. masa hamil. masa penyapihan. 1992: 54-55). rupanya keselarasan alam semesta merupakan salah satu prinsip hidup.1)Keterkaitannya dengan budaya. 1985: 89).2. nilai-nilai. masa kanak-kanak. merupakan bagian budaya yang terkait dengan ide-ide. masa nikah atau masa perkawinan. sociofact. Dalam keselarasan tersebut yang penting adalah apakah hubungan alamiah satu sama lainnya dimiliki oleh unsur-unsur yang terpisah. masa pascanikah. Mentifact. Mencermati dari sekian masa kehidupan. dan masa tua hingga kematian (Koentjaraningrat. Harmonisasi dan keseimbangan antara jagad gedhe sebagai manifestasi makrokosmos dan jagad cilik sebagai manifestasi mikrokosmos merupakan faktor penentu kehidupan yang harus terjaga keberlangsungannya. Stages along the life-cycle itu meliputi: masa kelahiran. Pandangan bagi masyarakat yang berbudaya Jawa.

2. yaitu kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani. Beragam aktivitas manusia yang saling berinteraksi satu dengan lainnya. yang terjadi di sekitar kita. akan dirunut tentang: hasil penghayatan yang melibatkan seniman dan penghayat terhadap karya . Sebagai rangkaian aktivitas manusia dalam suatu masyarakat. Rupanya terdapat keterkaitan yang cukup erat antara seni pertunjukan khususnya tari duet pasihan dengan kebutuhan sosial. a. satu diantaranya adalah jenis genre tari pasihan. peneliti akan mengkaji fungsi tari pasihan pada upacara perkawinan dalam kehidupan sosial masyarakat pendukungnya.2.51 Artifact.2) Keterkaitannya dengan pengetahuan interpersonal. rupanya terdapat kontribusi yang cukup signifikan. Merujuk pada asumsi tersebut. merupakan bagian budaya yang terkait dengan suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam social system. Kehadiran tari duet pasihan pada upacara-upacara resepsi perkawinan sampai sekarang masih berlangsung. sistem sosial itu bersifat konkret. dari waktu ke waktu. selalu menurut pola yang telah disepakati yang didasarkan pada adat tata kelakuan. Terkait dengan kebutuhan analisis artifact. Pada prinsipnya semua hasil karya manusia ditujukan untuk mencukupi semua kebutuhan hidupnya yang terdiri dari dua komponen pokok. Beragam hasil karya seni yang diciptakan manusia. tari pasihan akan dicermati secara total bentuk karya seninya dalam koridor seni pertunjukan. Sociofact. Seperti kehadiran tari pasihan pada upacaraupacara ritual perkawinan budaya Jawa. Salah satu jenis karya manusia yang berperan dalam pembangunan rohani adalah karya seni. merupakan bagian budaya yang berupa seluruh total dari karya manusia berupa benda fisik dari aktivitas maupun perbuatan.

antarkomponen. (2) maksim kualitas. dan interpretasi-interpretasinya terhadap tindakan dan ucapan lawan tutur (Wijana. a. Hasil penilaian atau hasil hayatan dari peserta tutur (seniman dan penghayat). Sebagai arahan untuk memahami proses dan bentuk aktualisasi mengenai aplikasi analisis pemerian teks beserta konteks tari pasihan dalam ritual perkawinan budaya Jawa.52 tari pasihan. terdapat persamaan atau perbedaan yang masing-masing akan dicari argumentasinya. dan antarbagian baik yang terdapat pada teks satra tembang maupun pada elemen-elemen tari pasihan. Cakupan koherensi terfokus pada: isi atau kandungan makna pada masing-masing unit. mencakup kohesi dan koherensi secara menyeluruh dalam tari pasihan. akan dikupas secara tuntas dan mendalam dengan teori-teori yang peneliti gunakan sebagai ancangan analisis. Partisipan komunikasi sangat berkepentingan untuk memenuhi dan mematuhi prinsip kerjasama (Cooperative Principle) yang terbagi empat maksim yaitu: (1) maksim kuantitas. masingmasing bagian. pada kajian berikut. dan antarbagian tari pasihan. Prinsip Kerja Sama (PKS) Pada dasarnya orang dalam berkomunikasi itu hendaknya saling bekerjasama antara penutur dengan mitra tutur agar komunikasi dapat berjalan secara efektif dan efisien.2.3) konteks co-textual. dan implikatur dari komplementer antarunit. penggunaan bahasanya. masing-masing komponen. antarkomponen. (3) maksim hubungan. dan (4) maksim cara (Grice dalam Leech. 1996: 68). Adapun cakupan kohesi terfokus pada: keterkaitan antarunit. b. . Dari penghayatan muncul sebuah penilaian. Setiap peserta pertuturan sama-sama menyadari bahwa ada prinsip-prinsip yang mengatur tindakannya.

jelas.53 1993: 11). informasi usahakan relevan dengan pokok pembicaraan. yaitu: (1) maksim kearifan (tact maxim). (2) maksim kedermawanan (generosity maxim). informasi benar tidak keliru berdasarkan suatu realitas yang sebenarnya. Leech berpendapat bahwa selain keempat maksim dalam prinsip kerjasama juga masih diperlukan prinsip kesantunan yang terjabar menjadi enam maksim. Merujuk pada empat maksim dari prinsip kerjasama itu bila dapat dipenuhi dari masing-masing peserta tutur maka akan terjadi komunikasi yang efektif dan efisien. Perlu disadari bahwa sebagai anggota masyarakat bahasa penutur tidak hanya terikat pada hal-hal yang bersifat tekstual. dalam arti tidak hanya bagaimana membuat tuturan yang mudah dipahami oleh mitra tutur. adalah aturan pertuturan yang meminimalkan keuntungan bagi diri sendiri dan memaksimalkan kerugian bagi diri sendiri. dan teratur secara gramatikal. (4) maksim kerendahan hati (modesty maxim). Dengan demikian penutur harus membuat dan memperlakukan mitra tutur lebih santun dalam mengungkapkan tuturannya. adalah aturan pertuturan yang meminimalkan kerugian orang lain dan memaksimalkan keuntungan bagi orang lain. Terbentuknya komunikasi yang wajar tersebut karena penutur dalam memberikan informasi secukupnya tidak kurang dan tidak lebih sesuai yang diperlukan. ringkas. adalah aturan pertuturan yang meminimalkan ketidakhormatan terhadap orang lain dan memaksimalkan pujian kepada orang lain. dan informasi disampaikan dengan cara yang mudah. dan menjaga kesopanan. menghargai. Prinsip kerjasama rupanya tidak cukup karena dalam kehidupan dibutuhkan saling menghormati. (3) maksim pujian (approbation maxim). tetapi penutur juga terikat pada aspek-aspek yang bersifat interpersonal. adalah aturan pertuturan yang memaksimalkan .

nyaman. adalah aturan pertuturan yang memaksimalkan kesepakatan terhadap orang lain. Paling tidak. penutur merasa lebih santun. adalah aturan pertuturan yang meminimalkan rasa anti pati terhadap orang lain dan memaksimalkan rasa simpati terhadap orang lain (Leech. (6) maksim simpati (sympathy maxim). karena dapat diasumsikan bahwa apa yang . Hal ini didasarkan pada fungsi bahasa yang mencakup: (1) fungsi referensial atau informatif yang tujuannya untuk menyampaikan informasi (pesan). ternyata prinsip kerja sama itu sering tidak dipatuhi orang. dan (2) fungsi afektif yang bertujuan untuk menjaga dan memelihara hubungan sosial (Holmes dalam Asim Gunarwan. hubungan sosialnya tetap terjaga tanpa merasa terkendalai oleh faktor bahasa dan nonbahasa.54 ketidakhormatan terhadap diri sendiri dan meminimalkan rasa hormat terhadap diri sendiri. aman. 1993 : 206-207). Tidak dipatuhi karena salah satu sebabnya adalah bahwa komunikasi itu tidak selalu berupa penyampaian pesan atau informasi belaka. Namun. Penutur sering menyampaikan pesan tidak secara bald on record tetapi lebih banyak menyukai dengan cara off record. Tampaklah bahwa ketidakpatuhan para partisipan dalam komunikasi karena pada dasarnya bahwa berkomunikasi itu lebih dipicu oleh motif-motif tertentu dari penutur. Hal itu menunjukan bahwa dalam pertuturan. diharapkan tidak mengancam muka. kalau kita perhatikan praktik penggunaan bahasa di dalam komunikasi sehari-hari. 2006: 2). Namun perlu disadari semua implikatur itu bersifat probabilistis. Dalam hal ini penutur berupaya memasukkan maksudnya secara implisit pada ujaran yang diungkapkan. lebih sering maksim-maksim dalam prinsip kerja sama itu dilanggar daripada dipatuhi. (5) maksim kesepakatan (agreement maxim).

betapapun eksplisitnya proposisi. Peranan ujaran atau tindak tutur sangat penting dalam rangka menyampaikan maksud penutur. Bahasa sebagai fakta sosial telah diungkap pertama kali oleh Ferdinand de Saussure (1916). tanda bahasa merupakan lambang (symbol). . apelatif. Menurut Karl Buhler (1918). dan representatif. Hal ini kemudian dikembangkan oleh para peneliti lain. dipilih bentuk-bentuk ungkapan yang memiliki makna paling relevan dari semua siratan yang secara potensial dapat timbul. c. untuk mengetahui dan memahami makna ujarannya. dan juga Sinyal (signal). Berdasarkan teori tanda bahasa di dalam model Organon Buhler. Relevansi teori Buhler dengan liku-liku pragmatik dijelaskan oleh Renkema (1993). Dapat diinferensikan bahwa memahami maksud penutur. Untuk menarik makna sesuai dengan maksud penutur tidak cukup hanya dengan mengasumsikan makna proposisi ujaran. kita harus mengetahui sikap penutur. yaitu: ekspresif. Tindak Tutur Fungsi bahasa dalam kehidupan manusia sebagai makhluk sosial rupanya tidak dapat disangkal lagi.55 dimaksud oleh penutur lewat tuturannya tidak pernah dapat kita ketahui dengan pasti. bahasa dapat difungsikan menjadi tiga. sesuai dengan maksud percakapan. Karena pragmatik merupakan kajian tentang maksud penutur. tidak cukup mengetahui eksplikatur ujaran. gejala (symptom). Dalam hal ini tanda bahasa merupakan lambang yang memiliki daya sinyal untuk mengarahkan pendengar sebagai penanggap. 2006: 9). tetapi kita juga harus mengetahui sikap penutur yang melatarbelakangi eksplikatur ujaran tersebut (Asim Gunarwan. Untuk dapat menentukan makna yang sebenarnya atau menyimpulkan interpretasi yang paling mungkin.

Malinowski (1923). dari hasil penelitian terhadap masyarakat primitif di Papua Melanesia. artinya bahwa komunikasi efektif dan berhasil. Sekarang tampak bahwa tokoh – tokoh seperti: Ferdinand de Saussure (1916). Apabila objek acuan sender sebagai message dapat diterima dan dipahami pada tingkat yang sama atau tepat oleh receiver. Malinowski mengungkapkan sebuah konsep Phatic Communion: ‘A type of speech in which ties of union are created by a mere exchange of words’ (lihat Jumanto. 2006: 36). Dari pernyataan tersebut jelas bahwa bahasa difungsikan sebagai tujuan sosial untuk menjaga hubungan ikatan antarpersonal bagi yang terlibat dalam sebuah pertuturan. dan harmonis. Sebaliknya jika yang terjadi pemahaman receiver atas objek referensi sender berbeda bahkan berlainan sama sekali. Teori fungsi bahasa dari ketiga pakar tersebut merupakan langkah awal berkembangnya fungsi bahasa yang mendorong lahirnya teori pragmatik oleh . Komunikasi fatis merupakan strategi masyarakat modern maupun masyarakat primitif dalam rangka menjaga interaksi sosial terpelihara dengan baik. Terkait dengan fungsi bahasa. merupakan pakar linguistik yang telah mendeskripsikan fungsi bahasa berdasarkan realitas kehidupan bahasa dalam masyarakat. maka akan terjadi masalah pragmatik. Mereka dengan sadar mengembangkan teori fungsi bahasa secara berkelanjutan. santun. Karl Buhler (1918). Perkembangan selanjutnya Malinowski (1923: 310).56 bahwa ujaran yang disampaikan oleh sender dapat diterima dan dipahami pada tingkat yang sama atau berbeda oleh receiver artinya gejala tidak selalu sama dengan sinyal. ramah. menyatakan bahwa ujaran hanya akan dapat dipahami jika ditafsirkan dalam konteks situasi.

1. Contohnya: “ Peneliti mohon maaf atas keterlambatan peneliti.” Contoh ujaran atau kalimat tersebut dipergunakan untuk melakukan tindakan yaitu tindakan meminta maaf. tanamannya layu. Menurut Searle bahwa pada setiap komunikasi linguistik terdapat tindak tutur. 1993:316. seorang ahli filsafat senior dari Inggris.” Ujaran atau tindak tutur tersebut dipergunakan untuk melakukan tindakan yaitu menyuruh untuk menyirami. tindak ilokusi (illocutionary act). d. Terkait dengan liku-liku Speech act. 2002: 16. Speech act menurut Austin di dalam mengutarakan tuturan. Jenis-jenis Tindak Tutur d. Searle dalam bukunya “Speech Acts: An Essay in The Philosophy of Language” (1969:23-24) mengemukakan bahwa secara pragmatik setidak-tidaknya ada tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan oleh seorang penutur. 2006: 83-84). seseorang dapat melakukan sesuatu selain mengatakan sesuatu.57 Austin (1956) yang kemudian dijabarkan dan dimanifestasikan dalam konsep-konsep tindak tutur Searle (1969) berikutnya.” Tuturan tersebut dimaksudkan untuk melakukan tindakan yakni melarang atau menyuruh untuk tidak menghisap rokok. yakni tindak lokusi (locutionary act). . “ Sebaiknya anda tidak merokok. Yule. dan tindak perlokusi (perlocutionary act) (lihat Leech. 1996: 17-19. Tindak Tutur menurut Austin (1956) Teori tindak tutur pertama kali diungkapkan oleh Austin (1956). kita dapat mengkajinya dengan sebuah teori tindak tutur yang diperikan menjadi beberapa jenis tindak tutur. “ Wah. Wijana. yang kemudian dikembangkan dan dipopulerkan secara universal oleh muridnya yang bernama Searle (1969). Cutting.

Tindak tutur ini sering disebut sebagai The Act of Saying Something. Kalimat atau tuturan dalam hal ini dipandang sebagai satu kesatuan yang terdiri dari minimal dua unsur. Untuk itu diperlukan seperangkat pengetahuan tentang berbagai jenis tindak tutur. illocutionary act atau illocutionary force. 1987: 4.58 Ketiga teori tindak tutur. 1996: 18). sehingga kita sering mengalami kesulitan untuk memahami maksud tuturan atau implikaturnya. a. Wijana. lebih lanjut dijelaskan sebagai berikut. tetapi lebih menurut apa adanya. b. . akan tetapi banyak juga bahkan dapat peneliti katakan cukup dominan maksud penutur yang diimplisitkan pada realitas kehidupan. Tindak Lokusi (locutionary act). Bila diamati secara seksama tindak lokusi itu adalah konsep yang berkaitan dengan proposisi kalimat. dan perlocutionary act atau perlocutionary effect merupakan teori yang akan peneliti gunakan sebagai ancangan untuk mengkaji implikatur. Tindak lokusi adalah tindak tutur untuk menyatakan sesuatu. tanpa tendensi atau maksudmaksud tertentu di balik kalimat atau ujaran. Hal ini terkait dengan pemahaman bahwa pragmatik adalah cabang linguistik yang mengkaji maksud penutur (the speakers meaning) yang terdapat di balik tuturannya. Adapun ketiga jenis tindak tutur itu. Tindak Ilokusi (illocutionary act). Maksud tuturan tidak selamanya dinyatakan secara eksplisit. untuk mencermati dan memahami maksud penutur dengan seluruh aspek yang melatarbelakangi (konteks). yaitu locutionary act. Tuturan yang diutarakan oleh penuturnya lebih bersifat menginformasikan sesuatu. yakni subjek atau topik dan predikat atau commet (lihat Nababan.

Tindak perlokusi disebut sebagai The Act of Affecting Someone. Kunci utama yang perlu diperhatikan . Simbol itu dapat ditangkap sebagai sesuatu isyarat maksud tertentu jika wawasan budaya. Selanjutnya tindak perlokusi sebagai final maksud suatu ujaran di dalam komunikasi bahasa. Tindak ilokusi sangat dominan kita jumpai dalam komunikasi sehari-hari. Berdasarkan uraian-uraian di atas menunjukkan bahwa tindak lokusi mendasari tindak ilokusi. tindak ini merupakan bagian sentral untuk memahami tindak tutur. Dalam tindak lokusi bentuk-bentuk kebahasaan sebagai alat untuk mengungkapkan informasi secara eksplisit. Tindak perlokusi adalah tindak tutur yang pengutaraannya dimaksudkan untuk mempengaruhi lawan tuturnya. Dalam tindak ilokusi dan perlokusi bentuk-bentuk kebahasaan sebagai simbol untuk mengungkapkan maksud yang sebenarnya. Sebuah tuturan yang diutarakan seseorang seringkali mempunyai daya pengaruh (perlocutionary effect) atau efek bagi yang mendengarnya. c. Tidak semata-mata tindak perlokusi hanya ditarik dari makna ujaran. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa satu tuturan mengandung dua atau ketiga-tiganya sekaligus. Tindak ilokusi disebut sebagai The Act of Doing Something. tindak ilokusi mendasari tindak perlokusi.59 Tindak ilokusi adalah tindak tutur yang berfungsi untuk mengatakan atau menginformasikan sesuatu dan dipergunakan untuk melakukan sesuatu. Efek yang timbul ini bisa sengaja maupun tidak sengaja. ilokusi atau perlokusi. kebiasaan antara pendengar dan pembicara sama. Tindak Perlokusi (perlocutionary act). karena harus melibatkan konteks tuturannya. Dapat ditegaskan bahwa setiap tuturan dari seorang penutur memungkinkan sekali mengandung salah satu dari ketiga: lokusi.

2. mengucapkan terima kasih. Cutting. Searle (1979) mengklasifikasikan tindak tutur ilokusi menjadi lima jenis tuturan. ekspresif. dan melaporkan. Tindak Tutur menurut Searle (1979) Sehubungan dengan pengertian tindak tutur atau tindak ujar. memesan. mengucapkan selamat. mengkritik. untuk mencari implikatur atau makna di balik ujaran yang tersirat bukan sekadar makna yang tersurat dalam ujaran dimaksud. . melarang. mendesak. misalnya: menggambarkan. menuntut.60 bahwa dalam analisis pragmatik adalah mencermati ilokusi-ilokusi yang terdapat pada tindak tutur dari penutur yang hendak dikomunikasikan pada mitra tutur. memuji. ialah bentuk tindak tutur yang berfungsi untuk menyatakan atau mengungkapkan sikap psikologis penutur dalam menanggapi suatu keadaan. mengusulkan. menyesal. dan menantang. Asertif ialah bentuk tindak tutur yang mengikat penuturnya kepada kebenaran atas hal yang dikatakannya. membuat hipotesa. meramalkan. 1996: 164-165. komisif. d. ialah bentuk tindak tutur yang dimaksudkan oleh penuturnya untuk mempengaruhi mitra tutur agar melakukan tindakan sesuai dengan maksud penutur.3. mengundang. membual. Ekspresif. menyatakan. penyesalan. misalnya: menyuruh. d. memohon. 2002: 16-17). misalnya: meminta maaf. mengeluh.2. yaitu: d. dan deklarasi (lihat Leech. Dari masing-masing tindak tutur mempunyai fungsi komunikatif. direktif.1. yakni: asertif. Tidaklah dipungkiri bahwa dalam kajian tindak tutur ilokusi tidak lepas dari tindak tutur lokusi dan tindak tutur perlokusi. dan mengeluh.2.2.2. Direktif. menyarankan. d.

5. kesenangan. menolak. tawaran. Pernyataan tersebut berdasarkan pada fakta. memutuskan. memberikan maaf.3. dan menjatuhkan hukuman. kebencian. Direktif ialah jenis tindak tutur yang dipakai oleh penutur untuk menyuruh orang lain melakukan sesuatu. menekankan. mengangkat. penegasan.3. dan pendeskripsian. Tindak tutur ekspresif merupakan cerminan dari pernyataanpernyataan psikologis dan dapat berupa pernyataan kegembiraan. Representatif ialah jenis tindak tutur yang menyatakan apa yang diyakini penutur. secara garis besar fungsi tindak tutur diklasifikasi menjadi lima jenis. mengancam. memecat. kesulitan. Deklaratif. keadaan dan sebagainya) yang baru. berkaul dan sukarela.2.4. Tindak Tutur menurut Yule (1996) Menurut Yule (1996).4. untuk menyatakan atau mengemukakan deklarasi secara tepat. simpulan. memberi nama. d.3.3. melarang. d. Ekspresif ialah jenis tindak tutur yang menyatakan sesuatu yang dirasakan oleh penutur.2. Deklaratif ialah jenis tindak tutur yang mengubah dunia melalui tuturan.61 d. Komisif. d. Dalam hal ini penutur harus mempunyai peran institusional khusus. ialah tindak tutur yang dilakukan si penutur dengan maksud untuk menciptakan hal (status. yaitu: d.1. membatalkan. mendeklarasikan.3. bersumpah. dalam konteks khusus. kesukaan. d.3. mengucilkan. mengundurkan diri. misalnya: meyakinkan.2. membaptis. d. mengizinkan. dan bisa kesengsaraan atau kesedian. misalnya: berjanji. ialah bentuk tindak tutur yang mengikat penuturnya melaksanakan segala hal yang disebutkan dalam ujarannya. Bentuk tindak tutur direktif digunakan .

yaitu: d. ikrar. d.3. pemecatan kerja. Tindak tutur Performatif Tindak tutur performatif adalah tuturan yang pengutaraannya difungsikan atau digunakan untuk melakukan suatu tindakan. dan meresmikan. dan pemberian saran. Tindak tutur komisif dapat berupa: janji.62 untuk menyatakan apa yang menjadi keinginan penutur. apa yang sedang terjadi atau yang telah terjadi. ancaman. pengetahuan. pemesanan. apa yang ada atau yang telah ada.4. bertaruh. benar atau salah. permohonan.4. Tindak tutur ini meliputi: perintah. mengumumkan. dan secara umum mereka dapat dibenarkan atau disalahkan bukan hanya pada waktu tindak tutur tersebut keluar atau oleh mereka yang mendengarnya. dan penolakan. namun secara lebih umum mereka adalah subjek bagi penyelidikan empiris. seperti yang dikemukakan dalam bukunya “Introducing English Semantics” (1998:183-194). Tindak tutur Asertif Di sini penutur menggunakan bahasa untuk menyampaikan apa yang mereka percayai dan apa yang mereka ketahui. yang bentuknya dapat berupa kalimat positif dan negatif. d. berjanji.2. tindak tutur asertif selalu berkaitan dengan fakta.4. data. Kreidler mengkategorisasikan tindak tutur menjadi tujuh jenis bentuk tindak tutur. Tindak tutur asertif bersifat menginformasikan. Tindak-tutur performatif ditemukan pada ucapan-ucapan pernikahan. penjatuhan hukuman . d. misalnya tindakan mohon maaf. Komisif ialah jenis tindak tutur yang dipahami oleh penutur untuk mengikatkan dirinya terhadap tindakan-tindakan di masa yang akan datang.1.5. Tindak Tutur menurut Kreidler (1998) Dalam perkembangan selanjutnya.

mengkritik. mengeluh. “terima kasih… untuk”. d. tindak tutur verdiktif dapat berupa tuturan yang bersifat menuduh. Tindak tutur ekspresif adalah jenis tindak tutur yang menyatakan sesuatu yang dirasakan oleh penutur. Tindak tutur Ekspresif Tindak tutur ekspresif menilai atau mengevaluasi tindakan sebelumnya atau kegagalan dalam tindakan tersebut dari penutur.4. menyalahkan atau tanggapan yang mengarah pada penilaian yang negatif. Tindak tutur restrospeksi adalah jika penutur menilai sikap yang telah dilakukan mitra tutur di masa lalu. Di samping dalam bentuk tuturan di atas. 30). mendakwa. Kebanyakan tindak tutur performatif diungkapkan pada setting formal dan berkaitan dengan kepegawaian. mengucapkan terima kasih. Tuturan-tuturan ekspresif itu mencerminkan pernyataan-pernyataan psikologis yang dapat berupa: memuji. dan menyanjung. menyalahkan. d. mengucapkan selamat.Tindak tutur Verdiktif Tindak tutur verdiktif adalah tindak tutur yang berorientasi pada perbuatan yang sudah terjadi atau bersifat retrospektif. “bangga… untuk”. dan berbelasungkawa. atau mungkin hasil bertindak atau kegagalan sekarang. 1999. bentuk menghargai.3.4. Sikap itu bisa ditanggapi secara positif dengan mengucapkan “selamat… untuk”. . Tindak tutur performatif bukanlah masalah benar atau salah tetapi tujuannya adalah untuk membuat bagian dari dunia ini sepaham dengan apa yang ia katakan.63 dan lain-lain di mana hanya orang-orang tertentu dan pada lingkungan yang sesuai yang diterima oleh mitra tutur.4. Menurut Fraser tindak tutur ekspresif disebut pula tindak tutur evaluatif (dalam Rustono.

menyarankan. d. dan menantang. memerintah. ikrar. Bahasa patik tidak begitu berfungsi dengan jelas jika dibandingkan dengan enam tipe lainnya tetapi. Tindak tutur fatik merupakan bentuk tindak tutur keseharian yang sangat umum yang mungkin tidak kita pelajari . tidak kalah arti pentingnya dalam realitas kehidupan sehari-hari. “maaf peneliti”. Tindak tutur Komisif.4.5. mendesak. Pada aplikasinya tindak tutur direktif. dapat berbentuk: (1) kalimat perintah (imperatif). ancaman dan sumpah. pengandaian. menyuruh. yang mempunyai tujuan tertentu. dan (3) kalimat tanya (interogatif).4. Tindak tutur fatik merupakan bentuk tindak tutur yang berfungsi untuk menjalin hubungan sosial.4. bukan seperti makna yang tersurat dan tersirat dalam tindak tutur verdiktif atau ekspresif. ucapan perpisahan. memohon. memberikan aba-aba. Tindak tutur direktif ini tuturan-tuturannya mempunyai maksud untuk memaksa.6. meminta. (2) kalimat berita (deklaratif). Tindak tutur patik termasuk salam. mengajak. Tindak tutur Patik.64 d. menagih. Tindak tutur komisif bersifat prospektif dan berkaitan dengan komitmen penutur pada perbuatan atau tindakan yang harus dilakukan untuk waktu yang akan datang. ucapan-ucapan kesantunan seperti “terima kasih kembali”. Tindak tutur komisif merupakan bentuk tindak tutur yang berfungsi untuk menyatakan janji-janji. Tindak tutur Direktif Tindak tutur direktif kadang-kadang disebut juga tindak tutur impositif adalah tindak tutur di mana penutur menginginkan mitra tutur melakukan suatu tindakan atau mengulangi tindakan. d. Tujuannya adalah untuk membangun solidaritas antar anggota-anggota dari lingkungannya.7.

dan Yule. Dari keempat pakar yaitu: Austin. meliputi tindak tutur: direktif. Kreidler. Perbedaan istilah tetapi pengertiannya sama. Persamaan istilah dan sekaligus persamaan pengertian. bentuk fungsi tindak tutur menurut Searle. ilokusi. Di samping itu menurut Searle dan Yule. 2. Selain itu menurut Searle dan Kreidler juga terdapat persamaan pada tindak tutur asertif. dan Yule tentang fungsi tindak tutur tersebut dapat peneliti verifikasi sebagai berikut. Konsep tindak tutur Austin merupakan dasar utama yang melandasi fungsi tindak tutur yang muncul di kemudian. . sedangkan menurut Searle dan Yule.65 tapi sudah melekat dan menjadi kebiasaan sehari-hari yang bernilai baik dan beretika. ekspresif. Dalam perkembangannya teori tindak tutur di tangan para pakar diklasifikasikan menurut fungsinya yang secara garis besar memiliki kesamaan. dan perlokusi. dan komisif. Searle. fungsi tindak tutur deklaratif mempunyai persamaan pengertian dengan fungsi tindak tutur performatif menurut Kreidler. Menurut Searle dan Kreidler tentang fungsi tindak tutur asertif mempunyai persamaan pengertian dengan fungsi tindak tutur representatif menurut Yule. Kreidler. Dari hasil pengklasifikasian tersebut terdapat beberapa persamaan dan perbedaan: 1. karena Austin merupakan orang pertama kali yang mengemukakan teori tindak tutur yang membaginya menjadi tiga bentuk yaitu: lokusi. Sedangkan bentuk atau ragamnya tindak tutur fatik sudah terpola. persamaan juga terletak pada tindak tutur deklaratif.

Dari ketiga fungsi tindak tutur yang dikemukakan oleh Searle. dan Kreidler. Selain itu dari penjabarannya fungsi tindak tutur yang . sedangkan Searle dan Yule masing-masing mengklasifikasikan menjadi lima bentuk tindak tutur. Prediksi peneliti.66 3. peneliti akan menggunakan fungsi tindak tutur menurut Kreidler karena tampak dari jumlah pengklasifikasian Kreidler lebih banyak yang masing-masing tindak tutur memiliki karakter yang spesifik sehingga dapat lebih mengakomodasi kebutuhan analisis bahasa verbal dan nonverbal yang terdapat dalam genre tari pasihan. Hal ini ditunjukan oleh Kreidler yang membagi fungsi tindak tutur menjadi tujuh bentuk. rasional. kedua fungsi tindak tutur tersebut sangat bermanfaat untuk menganalisis tindak tutur teks satra tembang dan bahasa nonverbal yang terdapat pada genre tari pasihan. optimal. Perbedaan jumlah fungsi tindak tutur. Begitu pula ketika seseorang mencintai orang lain. dan berkualitas. Peserta pertuturan sering menggunakan bahasa fatik untuk sekedar memulai pembicaraan atau sekadar basa-basi mungkin juga untuk memecahkan kesenyapan yang kesemunya itu berlangsung dalam pertuturan seharihari. Selain itu terkait juga dengan fungsi tindak tutur verdiktif dan tindak tutur fatik yang tidak dimiliki dalam fungsi tindak tuturnya Searle dan Yule. ungkapan memuji merupakan pernyataan yang cukup dominan dalam sebuah pertuturan. Terkait dengan kelebihan yang dimiliki tersebut gagasan utama pemilihan dimaksud adalah dalam rangka mencari dan menentukan implikatur yang valid sehingga pragmatik genre pasihan dapat diungkapkan secara menyeluruh. Yule. Pada dasarnya penutur dalam mengungkapkan maksudnya terhadap mitra tutur tidak selalu langsung pokok pembicaraan.

dan iringan. Terutama terkait dengan latar belakang konsepsi penciptaan bahasa verbal dan nonverbal serta ciri karakteristik genre tari pasihan gaya Surakarta. Prinsip Kesantunan (PS) e. direktif.67 dilakukan Kreidler tampak lebih transparan. 1. hal ini dapat dicermati dalam bukunya yang berjudul “Introducing English Semantics”. Berikut kesantunan menurut Leech selengkapnya: verdiktif. tindak tutur bahasa nonverbal yang meliputi: tema. gerongan. sindhenan. ekspresif. e. bahwa setiap maksim interpersonal itu dapat dimanfaatkan untuk menentukan peringkat kesantunan sebuah tuturan. dan rinci dalam rangka menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pada rumusan masalah. Tindak tutur tersebut akan peneliti gunakan untuk mengkaji komponenkomponen yang terdapat pada genre tari pasihan gaya Surakarta baik yang terdapat pada bahasa verbal dan nonverbal secara tajam. dan . tindak tutur bahasa verbal yang berupa teks sastra tembang terdiri dari. cakepan (syair) pathetan.1. b. pola lantai. Penutur meliputi: seniman penyusun (pengkarya). busana. Mitra tutur meliputi: pakar. yang dipaparkan dengan menggunakan bagan antara lain tindak tutur: komisif . Tuturan (karya seni) meliputi: a. dan penari. polatan (ekspresi wajah). penonton umum. Skala Kesantunan Leech (1983) Teori kesantunan Leech (1983). Adapun unsur-unsurnya dapat diurai sebagai berikut. rias. 2. dan penanggap sebagai masyarakat pendukung budayanya. gerak tubuh (kinetic body moves). menyeluruh. dan jineman. 3.

Authority scale adalah skala yang menunjuk pada hubungan status sosial antara penutur dengan mitra tutur. Tindak tutur yang bersifat langsung semakin tidak santun. akan semakin tidak santun tindak tuturnya. sedangkan tindak tutur yang bersifat tidak langsung akan semakin santun. Tindak tutur yang banyak merugikan penutur akan dianggap semakin santun. Jika pertuturan itu banyak memberikan kesempatan peserta tutur untuk memilih tuturan maka tindak tutur akan semakin santun.4.1. . e.1. Jarak status sosial (rank rating) semakin jauh antara penutur dengan mitra tutur.1. Indirectness scale adalah skala yang menunjuk pada langsung dan tidak langsungnya maksud tindak tutur dalam pertuturan. Akan tetapi jika jarak status sosial semakin dekat antara penutur dengan mitra tutur. akan semakin santun tindak tuturnya.5. Social distance scale adalah skala yang menunjuk pada peringkat hubungan sosial antara penutur dan mitra tutur.68 e. apabila pertuturan itu membatasi peserta tutur untuk memilih tuturan maka tindak tutur semakin tidak santun.1.3. Sebaliknya. e.1. dan jika banyak menguntungkan penutur akan dianggap tindak tuturnya semakin tidak santun. Optionality scale adalah skala yang menunjuk pada sedikit-banyaknya pilihan tindak tutur yang digunakan peserta tutur dalam pertuturan..2. Cost-benefit scale adalah skala yang menunjuk pada untung ruginya peserta tutur dalam pertuturan. Sedangkan semakin dekat hubungan sosial antara penutur dengan mitra tutur. e. Jarak hubungan sosial semakin jauh antara penutur dengan mitra tutur. e. akan semakin santun tindak tuturnya.1. akan semakin tidak santun tindak tuturnya.

sedangkan strategi kesantunan negatif (negative politeness strategies) yang digunakan untuk menunjukkan adanya jarak sosial antara penutur dengan mitra tutur. dan menyelamatkan muka dalam percakapan. Menurut Goffman (1959. Dalam percakapan untuk mengungkapkan kesantunan. keintiman. memelihara. sedangkan muka negatif dimaksudkan bahwa keinginan setiap orang supaya segala tindakannya tidak dihalangi orang lain ( Brown dan Levinson. b) penggunaan muka dalam komunikasi. Skala Kesantunan Brown dan Levinson (1987) Teori kesantunan Brown dan Levinson (1987) seperti dikutip Jumanto dalam disertasinya (2006: 47-53). dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur. 1987: 62). . bahwa dalam sebuah pertuturan terkait dengan pengaturan muka terbagi menjadi dua yaitu tindak tutur yang berpotensi mengancam muka (face-threatening acts/FTA) dan tindak tutur yang berpotensi menyelematkan muka (face-saving acts/FSA). Muka positif dimaksudkan bahwa keinginan setiap orang supaya segala tindakannya dihargai oleh orang lain. Brown dan Levinson menggunakan dua cara yaitu strategi kesantunan positif yang mengacu pada muka positif dan strategi kesantunan negatif yang mengacu pada muka negatif.2. pada dasarnya setiap orang dianggap memiliki dua muka. yang keduanya dimaksudkan untuk menunjukkan. yakni muka positif (positive face) dan muka negatif (negative face). 1967). Kajian kesantunan Brown dan Levinson mencakup: a) cara mengungkapkan jarak sosial (social distance) dan hubungan peran yang berbeda dalam komunikasi.69 e. Strategi kesantunan positif (positive politeness strategies) yang digunakan untuk menunjukkan kedekatan.

5) tidak melakukan tindak tutur atau diam (don’t do the FTA). kita harus menghubung-hubungkan tindak ujar yang disampaikan penutur terhadap mitra tutur dengan konteks. yaitu: maksim kuantitas. f. terdiri dari empat maksim yang digunakan dalam percakapan. tanpa basa basi (bald on record) dengan mematuhi prinsip kerja sama Grice. untuk menunjukkan adanya jarak sosial antara penutur dengan mitra tutur. Prinsip kerja sama Grice (1975) seperti dikutip Leech (1993: 11). 4) melakukan tindak tutur secara tidak langsung (off record). Hal ini dilakukan untuk menghindari kesalahpahaman. Implikatur dan Daya Pragmatik f. dan maksim cara. 3) melakukan tindak tutur dengan menggunakan kesantunan negatif mengacu muka negatif (negative politiness). yaitu: 1) melakukan tindak tutur secara apa adanya.1. setidaknya dapat meminimalisasi . untuk menunjukkan kedekatan.” Derivasinya dalam bahasa Inggris adalah kata kerja “to imply“ yang aslinya bermakna “to fold something into something else“ (melipat sesuatu ke dalam sesuatu yang lainnya). dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur. maksim kualitas. 2) melakukan tindak tutur dengan menggunakan kesantunan positif mengacu muka positif (positive politiness). Implikatur Istilah implikatur berasal dari bahasa Latin plicare yang berarti “melipat. Cara yang ditempuh untuk memahami implikatur dalam komunikasi sehari-hari. keintiman.70 Teori kesantunan Brown dan Levinson dapat diringkas menjadi lima strategi. maksim hubungan atau relevansi. Dari sini kemudian asal makna kata implikatur. yang diasalkan dari kata “implied” yang berarti “folded in“ (terlipat) dan harus dibuka lipatan tersebut (unfolded) jika kita ingin mengetahui artinya.

Pelanggaran terhadap maksim Grice inilah oleh para pakar pragmatik disinyalir menyebabkan timbulnya suatu implikatur percakapan. Mey . maksim kualitas. Suatu respon percakapan yang tampaknya kurang tepat dapat menjadi berterima jika kita hubungkan dengan konteksnya. Sejalan pendapat Yule. Menurut Grice (1975: 45). jelas. Namun demikian penutur tidak selalu mematuhi maksim-maksim Grice tersebut. Istilah implikatur percakapan dikaitkan dengan konsep Grice tentang prinsip kerjasama (PK) dan maksim-maksimnya. Jika keempat maksim itu dipenuhi maka penyampaian informasi akan menjadi efektif dan efisien. Artinya. Yule (1998). informasi itu relevan dengan pokok pembicaraan dan penyampaiannya baik dan mudah dipahami. yang dijabarkan menjadi empat. Secara ringkas seorang penutur dikatakan memenuhi maksim-maksim Grice apabila ia memberikan informasi tidak lebih atau tidak kurang dari yang dibutuhkan. Implikatur – implikatur yang disiratkan dalam ujaran merupakan sumber utama dari pragmatik yang difungsikan sebagai nilai komunikasi yang dimotifasi dari beragam keinginan penutur. peserta komunikasi perlu mematuhi prinsip kerjasama (Cooperative Principle).71 kesalahan sewaktu kita menafsirkan maksud penutur. informasinya benar atau tidak keliru. yaitu maksim kuantitas. menyatakan bahwa implikatur dalam pragmatik terkait dengan cara kita memahami suatu tuturan di dalam percakapan sesuai dengan yang kita harapkan. maksim hubungan dan maksim cara. komunikasi itu akan berjalan dengan efisien dan efektif jika para peserta tutur bekerjasama satu sama lain. yakni makna atau pesan tambahan yang menjadi bagian dari komunikasi yang tidak dikatakan. sistematis. langsung dan tidak bertele-tele.

Menurutnya implikatur dapat menjelaskan secara eksplisit tentang bagaimana memakai apa yang diucapkan secara lahiriah berbeda dengan apa yang dimaksud dan pemakai bahasa itu mengerti pesan yang dimaksud. maksudnya yakni makna tambahan yang lebih dari yang dikomunikasikan.72 (2001) memberi batasan bahwa implikatur adalah “an additional conveyed meaning”. Dari ketiga pakar secara ringkas dapat disarikan. Tugas pragmatik adalah menjelaskan kaitan antara dua jenis arti tersebut yakni. Dalam hal ini. Kaitan ini dapat bersifat langsung atau tidak langsung (1993: 45). karena apa yang dimaksud oleh penutur dengan tuturannya tidak pernah dapat kita ketahui dengan pasti sekali. Hanya dengan beberapa faktor seperti kondisi yang dapat diamati. . Ia berasumsi bahwa makna dapat diperikan lewat representasi semantik sedangkan daya diperikan melalui seperangkat implikatur. implikatur adalah makna yang disiratkan dalam sebuah percakapan. dan konteks. Dasar hipotesisnya bahwa semua implikatur itu bersifat probabilistis. implikatur percakapan adalah “ the notion of conversational implicature is one of the single most important ideas in pragmatics”. antara makna harfiah dengan daya atau ilokusi. Daya Pragmatik Leech mempostulatkan bahwa pragmatik umum mengaitkan makna suatu tuturan dengan daya pragmatik tuturan tersebut. bentuk tuturan. Menurut Levinson (1983: 97. penutur yang memilih berkomunikasi dengan implikatur. sedangkan mitra tutur (petutur) bertugas mengasumsikan bahwa penutur bekerjasama dalam percakapan yang mereka lakukan sehingga ia dapat mengenali makna tambahan yang dimaksudkan dalam percakapan dengan menarik simpulan (inference).2. f.

bahwa daya mencakup makna. Dari beberapa pakar linguistik sependapat bahwa implikatur adalah makna yang disiratkan dalam sebuah percakapan. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide. peraturan dan sebagainya. Artinya bahwa masing-masing batasan. gagasan. dan c. daya sekaligus juga dapat diturunkan dari makna.73 mitra tutur bertugas membuat simpulan interpretasi yang paling mungkin. Dengan tegas Leech (1993: 24). yakni: a. baik implikatur maupun daya pragmatik secara garis besar mengacu pada satu objek yang sama yakni. b. dan secara pragmatik. norma-norma. Sedangkan daya pragmatik menurut Leech. Adapun wujud kebudayaan mencakup tiga (3) substansi. Wujud kebudayaan berupa benda-benda hasil karya manusia. Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan. Jika kita cermati sebenarnya implikatur dan daya pragmatik merupakan dua buah batasan yang merujuk pada sebuah makna. Adapun ikatan antara makna dan daya perlu disadari. Teori Budaya. tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar (Koentjacaraningrat. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat. 2. makna yang disiratkan dalam sebuah pertuturan. merupakan . Artinya daya pragmatik kekuatan atau force yang muncul dari implikatur. dapat diperikan melalui seperangkat implikatur. nilai-nilai. 1990:180). menyatakan bahwa makna (sense) yaitu makna yang ditentukan secara semantis sedangkan daya (force) yaitu makna yang ditentukan secara semantis dan pragmatik.

yaitu bentuk dan iramanya kuat-kuat dilatarbelakangi oleh konsep keindahan dan tradisi kebudayaannya (Humardani. Sehingga keragaman budaya sebagai latar seseorang yang telah dibentuk sejak lahir akan mempengaruhi. saling terdapat keterkaitan antar substansinya. membentuk. Dalam tari Jawa bentuk ekspresinya pada hakekatnya terwujud berdasarkan alam emosi. Pewarisan budaya tidaklah bersifat statis. peraturan yang telah disepakatinya. yang dalam setiap kehidupan sosial selalu melibatkan intersubjektif dan pembentukan makna. dan menimbulkan sikap. Wujud ide dan gagasan-gagasan manusia memberikan jiwa atau pun roh dalam kehidupan masyarakat.74 Wujud kebudayaan tersebut dalam realitas kehidupan masyarakat sosial tidak dapat dipisah-pisahkan. dan hasil karya seseorang beragam pula (Sutopo. norma-norma. dan berinteraksi satu dengan lainnya. Sistem sosial masyarakat yang mencakup aktivitas-aktivitas manusia dalam berkomunikasi. Begitu pula kondisi kehidupan budaya seseorang sangat mempengaruhi persepsi dan penciptaan makna pada setiap peristiwa sosial. Seni tradisional termasuk tari sebagai budaya yang diwarisi secara turun-temurun sudah barang tentu memiliki kesinambungan dengan budaya sebelumnya. 2006). 1983:100). 1991:10). tetapi masing-masing . Untuk memahami budaya Jawa. kita dapat mengamati dan mencermati dari salah satu wujud kebudayaanya yang berupa seni pertunjukan tari. perilaku. berhubungan. Sejalan dengan pendapat tersebut. akan dikendalikan dan diatur oleh prinsip-prinsip nilai. Ogburn mengutarakan bahwa penemuan-penemuan baru memerlukan suatu latar belakang transmisi kebudayaan dari penemuan-penemuan terdahulu (dalam Soerjono Soekanto.

Perubahan merupakan suatu kesinambungan yang lebih daripada sekedar patokan antara sebelum dan sesudah. Seperti kehidupan seni tradisional kita yang dapat bertahan hidup dan lebih berkembang di tengah-tengah masyarakat. kompleksitas berbagai unsur–unsurnya yang membentuk suatu jalinan atau kesatuan. Semuanya berawal dan berakhir dalam suatu proses yang terus-menerus melalui dimensi waktu (Ibrahim Alfian. Tari sebagai wujud budaya yang merupakan hasil karya manusia diharapkan mampu memberikan manfaat. maka laju transpormasi menjadi penting artinya. Karena pada dasarnya tari dapat terwujud dari komplemen berbagai elemen. 1999:2). Bertolak . Dengan demikian tanpa jangka waktu tidak akan terjadi peristiwa perubahan. Dalam mencapai taraf hidup yang lebih baik. sehingga mampu memberikan daya apresiasi. saling terkait secara utuh. baik sebagai hiburan. ritual maupun untuk keperluan lain yang sifatnya terkait dengan pemenuhan kebutuhan sosial masyarakat. manusia memiliki berbagai usaha lewat penemuan-penemuan baru untuk memenuhi sekaligus menjawab tuntutan kebutuhan yang muncul sesuai dengan konteks budaya yang berlaku. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupan manusia tidak terlepas dari adanya kecenderungan niat yang menghendaki suatu kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Segala sesuatu yang dihadapi manusia di muka bumi ini dalam kehidupannya semua mempunyai temporalitas atau historisitas. Wujud karya seni sebagai ekspresi seniman memiliki beragam pesan rupanya tidak mudah untuk dipahami untuk itu diperlukan sebuah kajian tersendiri.75 generasi mencoba untuk mengadakan perubahan-perubahan disesuaikan dengan kondisi kehidupan masyarakat pendukungnya. Seni pertunjukan tari merupakan wujud keseluruhan dari sistem.

norma-norma. Kajiannya akan terkait dengan tiga komponen yaitu seniman sebagai faktor genetik. karya seni sebagai faktor objektifnya. peraturan dan sebagainya akan digunakan sebagai kajian faktor genetik. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide gagasan. b. dan masyarakat yang bertindak penghayat sebagai faktor afektif. Kompleks Aktivitas. a. Kompleks Ide. Nilai–nilai humanisme pada prinsipnya merupakan sumber nilai-nilai sekaligus lahan kajian yang utama dalam seni pertunjukan. Pada analisisnya peneliti akan mengkaji keterkaitan nilai cinta kasih yang menjadi muatan genre tari pasihan dengan ritual perkawinan adat Jawa terutama bagi sepasang mempelai temanten. tidak terkecuali seni tari. nilai-nilai. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat akan peneliti gunakan sebagai analisis faktor afektifnya atau persepsi masyarakat terhadap sajian genre tari pasihan.76 dari pandangan tersebut peneliti akan menggunakan teori budaya sebagai analisis karya seni yakni genre tari pasihan. Adapun isi sebagai kandungan makna pada genre tari pasihan adalah nilai cinta kasih yang merupakan salah satu nilai-nilai kehidupan yang fundamental. Terutama untuk mencermati latar belakang konsepsi penciptaan bagi penyusun tari sebagai muatan atau pesan pada genre tari pasihan gaya Surakarta yang hendak disampaikan kepada masyarakat sebagai penghayat atau penikmat. Adapun bentuk aplikasinya dirancang sebagai berikut. Pada dasarnya bahwa masyarakat sebagai penghayat adalah masyarakat heterogen yang .

dan iringan. Benda Fisik. Analisis ini akan didasarkan pada aktivitas–aktivitas di lapangan terutama pada peristiwa pementasan tari duet percintaan tersebut pada ritual perkawinan adat Jawa. pola lantai. Wujud kebudayaan berupa benda-benda hasil karya manusia terkait dengan analisis faktor objektif pada penelitian ini adalah karya seni yang berupa tari Karonsih dan tari Bondhan sayuk. peneliti akan mencermati lebih fokus pada hal-hal yang menyebabkan perbedaan dan persamaan persepsi masyarakat. . c. Terkait dengan analisis genre tari pasihan.77 secara kultur beragam pula latar belakangnya. polatan. sindhenan. serta mengapa hal itu terjadi. Karya tari tersebut terdiri dari teks verbal (teks sastra tembang) yang berupa cakepan (syair) yang terdapat dalam pathetan. dan jineman. gerongan. 3. Selain itu untuk mengetahui makna yang terkandung dalam teks verbal dan nonverbal genre tari pasihan dalam rangka merunut dan mengembangkan makna yang lebih central. busana. Sedangkan aspek bahasa nonverbal meliputi: tema. gerak tubuh (kinetic body moves). Kedua aspek tersebut akan dikaji secara komplementer untuk mendapatkan gambaran yang utuh dan jawaban yang memadahi tentang ciri karakteristik genre tari pasihan gaya Surakarta. Teori Seni Pertunjukan. Berbekal keberagaman latar kultur tersebut akan mempengaruhi hasil hayatan yang berujung pada perbedaan-perbedaan dan sekaligus persamaan persepsi masyarakat. Realitas yang demikian merupakan dinamika kehidupan yang wajar dalam dunia seni pertunjukan. rias.

ia sudah merupakan masalah yang cukup sulit apabila kita akan menelitinya. Teori seni pertunjukan dapat mengungkap makna dari masing-masing unsur. artinya bahwa seni pertunjukan dimaksud tidak dapat disajikan secara mandiri.78 Seni pertunjukan pada umumnya merupakan seni kolektif. yakni meliputi: seni musik. yang menyatakan bahwa seni pertunjukan sebagai seni yang hilang dalam waktu. polatan. Menurut Suzanne K. Langer (dalam Widaryanto. artikulasi sebuah hasil kesatuan yang menyeluruh dari suatu hubungan dari berbagai faktor yang saling bergayutan. busana. dan iringan. saling melengkapi dan saling mendukung sehingga membentuk suatu jalinan yang saling berinteraksi untuk membentuk menjadi sebuah konstruksi penyajian tari. Mengingat seni pertunjukan merupakan sarana untuk mengekspresikan maksud seniman maka unsur-unsur yang terdapat di dalamnya akan menjadi objek analisis. 1998:15) bentuk dalam pengertian yang paling abstrak berarti struktur. Masing-masing elemen tersebut saling komplementer yang pada penyajiannya akan terikat ruang dan waktu. Hal itu sejalan dengan pendapat Soedarsono. Adapun elemen-eleman tari. Pada dasarnya bentuk seni pertunjukan tari merupakan wujud keseluruhan dari beberapa cabang seni yang sangat fundamental. gerak tubuh. seni sastra dan seni tari. yang utama terdiri dari: tema. rias. akan tetapi lebih merupakan suatu perpaduan dari beberapa cabang seni yang merupakan satu kesatuan menjadi suatu bentuk yang utuh. apa lagi untuk melacak sejarahnya (2003:1). pola lantai. . seni rupa. karena pada prinsipnya seni pertunjukan merupakan seni sesaat. Dari berbagai cabang seni tersebut satu dengan lainnya saling terkait. yang hanya bisa kita nikmati apabila seni tersebut sedang dipertunjukkan.

a. menurut sifatnya dapat digolongkan ke dalam berbagai bentuk gerak. dan pada pertunjukan teater-teater modern. gerak indah. pejam mata. yang selanjutnya dijabarkan menjadi alur cerita sebagai kerangka sebuah garapan. 1991: 6-9). cerita rakyat. gerak tari. antara lain: Mahabharata. tutup telinga dan sebagainya. gerak kata. Kiamat Sudah Dekat. Ramayana. Contohnya: kesatuan dari rangkaian gerak . Gerak kata adalah gerak-gerak aktif yang digunakan untuk menceriterakan suatu maksud. Si Buta dari Gua Hantu. Selain sumber-sumber cerita itu terdapat cerita-cerita fiktif yang sering diangkat dalam layar kaca. di antaranya: gerak aktif. gerak bagian. Gerak aktif adalah gerak tubuh yang mengandung maksud-maksud tertentu. Dengan teori seni pertunjukan akan peneliti gunakan untuk mengkaji elemen-elemen yang terkandung di dalam tari untuk mengungkapkan dari faktor objektifnya dan faktor genetik. Contohnya: angkat bahu. Dalam seni pertunjukan di Indonesia cerita-cerita yang dipilih lazimnya bertolak pada sumber cerita yang pokok. Si Kaya dan Si Miskin. Babad. layar lebar.79 sejak dari antarunit hingga antarkomponen yang lebih besar dan keterkaitannya untuk pengembangan temuan makna secara total. dan gerak praktis (Humardani. Gerak Tubuh (kinetic body moves) Gerak tubuh manusia. mitos dan sejarah. yang dilakukan sedemikian rupa sehingga lawan tergerak atau terpacu. Tema Tema adalah rujukan cerita yang dapat menghantarkan seseorang pada pemahaman esensi nilai-nilai kehidupan. seperti Cinderela. b. gerak kata baru. Adapun elemenelemen tari yang dimaksud antara lain dapat kita cermati berikut ini. Tema dapat ditarik dari sebuah peristiwa atau cerita.

dimaksudkan untuk mengungkapkan rasa sedih. sehingga arti verbal maupun nonverbal tidak pernah akan dapat terlepas dengan gerak tubuh manusia sebagai kandungan maksud atau makna yang hendak diekspresikan. karena realitas yang kita hadapi bahwa gerak manusia selalu konteks dengan lingkungan. Gerak tubuh merupakan kekayaan makna komunikasi non verbal tanpa suara yang mampu memikat perhatian bagi seorang seniman. Hal ini tidaklah cukup beralasan. contohnya kepala menunduk dari rangkaian gerak kata rangkaian gerak kepala menunduk. Bentuk lain: kepala mengangguk. tangan kiri memegang perut. dan sebagainya. kepala menggeleng. tangan melambai. Baginya tubuh merupakan objek yang tidak pernah ada habis- . sehingga hasilnya seolah-olah gerak yang lepas tanpa berkaitan arti dengan gerak sehari-hari. bisa merenung. berjalan. tangan kanan memegang kening. dan dinamik tertentu. Gerak bagian adalah bagian dari gerak kata. Gerak kata baru adalah gerak kata yang sudah digarap dari segi bentuk dan diselaraskan dengan tempo. tangan kiri memegang perut. Gerak indah adalah gerak kata baru yang sudah mengalami penggarapan lebih sempurna untuk mengungkapkan keindahan semata tanpa maksud verbal. bisa kecewa. tangan kanan memegang kening. dan sambil duduk. dan sambil duduk. Gerak praktis merupakan gerak yang mengandung guna praktis. Gerak tari merupakan penggarapan dari gerak bagian atau gerak kata sehingga mencapai pada tingkat abstraksi gerak yang sungguh-sungguh.80 kepala menunduk. karate. volume.dan bisa juga menyesal. Pembagian tersebut rupanya tidak sepenuhnya dapat memberikan gambaran yang jelas. Contohnya: berlari. sebagai contoh pembatasan mengenai gerak indah dengan gerak tari yang masing-masing rupanya menghindari arti verbal maupun arti dengan gerak seharihari.

gerak ini difungsikan semata-mata untuk kebutuhan ekspresi. Keduanya hadir dalam jagad tari. yakni gerak presentatif dan representatif.81 habisnya sebagai sesuatu yang digali. Kita akan banyak memperoleh informasi tentang kondisi emosional seseorang melalui ekspresi-ekspresi wajah mereka. namun kemunculannya tidak mudah untuk dipisah-pisahkan secara tegas. kemudian disajikan. Gerak presentatif merupakan bentuk gerak yang tidak mempunyai arti secara khusus. volume. Kedua bentuk gerak baik presentatif maupun representatif merupakan medium utama dalam rangka memenuhi keperluan ekspresi. Secara garis besar gerak dalam tari dapat dibagi menjadi dua bagian secara kasar. dan dinamik. artinya gerak yang dihasilkan dari imitasi terhadap sesuatu. dikaji. c. karena wujud yang tampak sering samar-samar. Pada prinsipnya seluruh gerak tubuh dapat menjadi medium dalam tari. Pertimbangan yang utama untuk menjadikannya gerak tubuh dan gerak nontubuh menjadi tari adalah dengan cara mendistilisasi gerak sesuai kebutuhan ekspresi dan melihat karakteristik gaya dengan menggarap tempo. Polatan (ekspresi wajah) Polatan merupakan perubahan yang lebih fokus pada perubahan raut muka atau wajah. begitu berlangsung berulang-ulang yang tidak pernah harus kehabisan materi atau bahannya. hal itu sengaja dibuat untuk mengungkapkan ekspresi seniman atau penyusun tari. Sedangkan gerak representatif adalah gerak penghadir. dieksplorasi. di antaranya: apakah menunjukkan rasa sedih atau . Ekspresi wajah merupakan sarana untuk mendapatkan pemahaman lebih baik terhadap sesuatu yang sedang dikomunikasikan terhadap komunikan.

Penari lebih dominan berkomunikasi dengan media gerak. Sehingga wajah sebagai media ekspresi akan selalu siap difungsikan untuk peran yang dikehendaki. Ekspresi wajah yang terdapat pada seni pertunjukan untuk mengekspresikan peran dalam keadaan suasana tertentu yang dalam implementasinya tidak lepas dari bekal pengalaman-pengalaman psikologis bagi seniman penyaji. tembang dalam Langendriyan. 2006: 42). Mengingat bahwa dalam tari tradisi istana terutama peranperan yang karakternya tenang perubahan polatan sangat halus bahkan kerap kali tidak tampak. ekspresi wajah memiliki kekuatan yang sangat besar terkait dengan penampilan karakter pribadi maupun penjiwaan seseorang terhadap peran tokoh dalam membangun kualitas komunikasi yang berlangsung antarpeserta tutur. dan sebagainya. untuk itu kesadaran awal yang harus fokus bahwa ekspresi wajah yang dibangun dari gerak tanpa diiukuti bahasa verbal secara langsung itu harus ditopang kecerdasan. . merasa takut atau sedang marah. dapat secara langsung berkomunikasi dengan media antawecana seperti dalam wayang wong.82 senang. merasa tertarik atau menolak. Bagaimanapun tebal tipisnya ekspresi wajah dalam komunikasi antarperan. polatan sangat berperan untuk mengekspresikan pada tingkat emosi yang secara komplementer akan membantu ekspresi gerak tubuh dalam rangka mengekspresikan totalitas peran atau tokoh. Dalam dunia tari. maka tidaklah mengherankan apa bila terdapat banyak pula macam ekspresi wajah yang dapat dihasilkan (lihat Wainwright. ketajaman dan kepekaan rasa yang dimiliki sebagai modal utama yang selalu harus diolah. Jika kita mengetahui dan menyadari berapa banyak otot yang terdapat pada wajah manusia. penari sebagai aktor yang menyajikan peran.

serta banyak difungsikan dalam garapan yang bertemakan percintaan. Rias Rias adalah strategi untuk mengubah wajah pribadi dengan alat-alat kosmetik yang disesuaikan dengan karakter figur supaya tampil lebih percaya diri.83 d. yaitu: (1) . Wujudnya bersifat ilusi atau bayangan yang tampak menyatu luluh komplemen dengan arah gerak tubuh penari. Pola lantai (floor design) Pola lantai merupakan garis yang dibentuk dari gerak tubuh seorang penari yang terlintas pada lantai. Selain itu garis lurus juga banyak digunakan untuk garapan pola-pola perangan. e. Pada dasarnya garis yang terbentuk pada floor design secara garis besar terdiri dari dua pola garis dasar yaitu garis lurus dan garis lengkung (Soedarsono. yang dalam pertunjukan tari Jawa banyak digunakan dalam pola garapan tari gagah dan sebagian pola garapan tari alus maupun tari putri yang berkarakter lanyap. 1978:23). Sedangkan garis lengkung lebih memberikan kesan lembut. Menurut peneliti rias dapat diklasifikasi menjadi tiga jenis. Masing-masing bentuk garis mempunyai kekuatan yang tercermin dalam kesan atau ilusi. yang dominan untuk pola lantai garapan putri luruh dan peran alus lurus. Kadar perubahan wajah dimaksud sangat relatif artinya bahwa pada setiap rias. masingmasing individu berusaha menampilkan wajah sesuai dengan ekspresi yang dikehendaki. Garis lurus mempunyai kesan kuat dan sederhana. Garis-garis yang dibentuk penari tersebut merupakan garis imajiner yang hanya dapat ditangkap dengan kepekaan rasa.

Merah lebih memberikan kesan berani. setia. dan dinamis yang banyak diperuntukan tokoh-tokoh raja yang sombong. Setidaknya dalam tari Jawa. dan anggun terutama untuk tokoh-tokoh putri seperti . namun masing–masing daerah berbeda dalam memaknai bergantung latar belakang budayanya. esensi makna yang diungkapkan dapat ditarik dari kesan yang ditimbulkan dari warna-warna dimaksud. panggung modern. f. (2) rias informal. Busana Busana merupakan salah satu atribut yang dapat menunjukkan status sosial dan identitas seseorang. Selain itu busana juga memiliki beragam warna yang dapat digunakan untuk maksud-maksud tertentu. Hitam tampak memiliki kesan bijaksana. dan juga berhubungan dengan kehidupan nirwana. Bentuk rias peran lebih dikonsentrasikan untuk seni pertunjukan yang digunakan untuk penampilan di panggung seperti panggung konvensional. Secara umum warna-warna dasar mempunyai sifat teatrikal dan sentuhan emosional sebagai lantaran simbolisasi tertentu dalam budaya seni pertunjukan tari. Warna putih mempunyai kesan suci.84 rias formal. dan (3) rias peran. Rias formal merupakan rias yang digunakan untuk kepentingan – kepentingan yang terkait dengan urusan publik. Rias informal adalah rias yang difungsikan untuk urusan domestik. raksasa. Sedangkan rias peran adalah bentuk rias yang digunakan untuk penyajian peran sebagai tuntutan ekspresi pertunjukan. Begitu pula asal seseorang dapat kita ketahui dari gaya dan mode pakaian yang dikenakan. layar lebar dan bentuk lainnya. layar kaca. agresif. berwibawa. kesatria dan peran putri yang berjiwa dinamis. Artinya warna dapat digunakan sebagai simbol-simbol dalam kehidupan. Kedudukan seseorang dalam masyarakat akan tampak jika kita perhatikan dari busana yang dipakai.

85 Dewi Shinta. Kontribusi iringan dalam membentuk suasana dapat berujud ilustrasi yang berfungsi sebagai background hingga taraf memberikan aksentuasi kekuatan rasa-rasa tertentu sesuai dengan kebutuhan ekspresi yang dikehendaki. rupanya tidak sekadar sebagai pengiring belaka. 2) mungkus. 2005: 17-19). Karawitan sebagai iringan tari mampu memberikan kontribusi kekuatan rasa yang secara komplementer menyatu dengan ekspresi tari membentuk suatu ungkapan nilai-nilai kehidupan manusia yang disajikan dalam bentuk yang indah. Sembadra. dan lainnya. Nglambari memberi pengertian bahwa dukungan gendhing dalam pertunjukan tari lebih berfungsi sebagai ilustrasi. Warna kuning memiliki kesan keagungan dan kejayaan. salah satu faktornya juga sangat ditentukan unsur medium bantunya yakni karawitan yang berfungsi sebagai iringan. Ratu Ayu Kencana Wungu. dan 3) nyawiji (lihat dalam Waridi. Jika kita cermati lebih sungguh-sungguh keberhasilan pertunjukan tari. Kehadiran karawitan dalam pertunjukan tari gaya Surakarta. Warna hijau mempunyai kesan segar dan tumbuh lebih hidup. Misalnya iringan pathetan yang digunakan untuk ilustrasi tokoh Sekartaji pada saat . Iringan (Gendhing beksa) Iringan atau Gendhing beksa atau karawitan tari merupakan iringan musik gamelan yang telah teraransir menjadi sebuah bentuk yang berupa gendhing yang mampu memberikan kontribusi kekuatan ekspresi pada tari. Fungsi gendhing sebagai iringan dalam sebuah pertunjukan mencakup tiga peran yakni: 1) nglambari. Kehadiran gendhing di sini membentuk suasana. Drupadi. Tampak bahwa warna memiliki kandungan makna atas kualitas kesan yang ditangkap oleh indera penghayat. g.

rupanya memiliki kontribusi cukup besar. dan volume) sebagai iringan. Sedangkan Nyawiji. Mungkus pada konsep karawitan tari lebih cenderung pada pengertian membingkai. Dalam hal ini. Adapun kedua unsur dimaksud yaitu unsur karawitan sebagai penghasil rasa musikal dan unsur tari. karawitan (yang terpadu dari unsur-unsur melodi dalam tempo. Dimaksudkan pada konteks ini. banyak membantu dan bahkan kerapkali menggantikan kedudukan kekuatan ekspresi tari (1991:10). Sejalan dengan paparan tersebut.86 pertama keluar (maju beksan) dalam suasana sedih. Elemen-elemen yang terdapat dalam bahasa verbal maupun nonverbal pada seni pertunjukan tari Karonsih dan Bondhan Sayuk tersebut merupakan modal . merupakan konsep karawitan tari yang mengarah pada pemersatuan dua unsur menjadi satu. Beragam fungsi karawitan tersebut mengindikasikan bahwa karawitan tari dalam konteks penyajian tari. sajian gendhing dengan garapnya secara menyeluruh sengaja digunakan sebagai pembingkai gerak terutama pola-pola gerak kebar. Salah satu contohnya iringan Ketawang Ngrenas untuk suasana sedih pada saat Dewi Sekartaji sedang mencari suaminya yaitu Raden Panji Inukertapati yang tidak kunjung bertemu. ritme atau irama. Humardani menyatakan bahwa dalam tari Jawa. Bentuk kristalisasi dari unsur tari dan unsur karawitan tersebut adalah untuk pencapaian harmonisasi penyajian dalam rangka menghasilkan kekuatan dan keutuan pertunjukan. karena pada dasarnya nilai estetis kesenian adalah sebuah ungkapan yang utuh. Pola iringan yang difungsikan semacam ini dapat diamati pada gendhing Lambangsari yang memiliki rasa riang dan gembira. salah satu unsur tidak akan lebih menonjol dari yang lain.

(b) melalui pertukaran informasi. Selain itu juga tidak menutup kemungkinan perbedaan-perbedaan yang dihasilkan dari komplementer bahasa verbal dan nonverbal yang menurut sifatnya berupa sebuah konsep. Dengan demikian tampak. Bentuk komunikasi di sini tidak terbatas pada komunikasi bahasa verbal.87 pembentukan ciri karakteristik yang mampu membedakan tari pasihan dengan karyakarya tari lainnya. 4. (c) untuk menguatkan sikap dan tingkah laku orang lain. menyatakan bahwa komunikasi adalah suatu proses di mana dua orang atau lebih melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya. Teori Komunikasi Komunikasi adalah suatu transaksi. yang pada gilirannya akan terjadi saling pengertian yang mendalam. proses simbolik yang menghendaki orang-orang mengatur lingkungannya dengan (a) membangun antarsesama manusia. 2007: 19-20). seperti kesamaan bahasa atau kesamaan arti dari . sehingga kekhasan dari elemen-elemen dan keragaman informasi yang dapat digali akan menentukan dan mewarnai dalam menggeneralisasi teorinya. Pernyataan lebih singkat dikemukakan oleh Shannon dan Weaver (1949). seni. Sejalan dengan definisi komunikasi tersebut. dan teknologi. bahwa komunikasi adalah bentuk interaksi manusia yang saling pengaruh memengaruhi satu sama lainnya. tetapi juga dalam bentuk: ekspresi muka. lukisan. jika kita berkomunikasi berarti terdapat beberapa kesamaan dengan orang lain. serta (d) berusaha mengubah sikap dan tingkah laku itu (lihat Book dalam Cangara. Rogers bersama Lawrence (1981). sengaja atau tidak sengaja. Dengan demikian ciri karakteristik lebih mengarah pada perbedaan-perbedaan yang menonjol dari masing-masing elemen dalam tari tersebut secara elementer.

(e) lingkungan. Pernyataan dari beberapa pakar komunikasi tersebut dapat ditarik unsur-unsur komunikasinya menjadi tujuh. (f) efek. dan jineman dan b) unsur nonverbal yang meliputi: tema. pola lantai. tari sebagai bagian atau cabang seni merupakan komunikasi manusia yang cukup vital. Prinsip dasar yang perlu dipahami bahwa komunikasi dalam seni pertunjukan pada hakekatnya mencakup tiga faktor pokok. untuk itu. (d) penerima. busana. Setiap unsur mempunyai peranan sangat penting dalam membangun proses komunikasi. tanpa keikutsertaan salah satu unsur akan berpengaruh pada proses komunikasi. Baginya seorang seniman berkarya . rias.88 simbol-simbol yang digunakan dalam berkomunikasi. dan (g) umpan balik (lihat Cangara. yakni: a. Berdasarkan pernyataan Shannon dan Weaver. Terfokus pada jenis tari pasihan yang bentuknya memiliki dua unsur. Komunikasi bahasa verbal yang berupa sastra tembang yang komplementer dengan Unsur–unsur nonverbal dapat mengarahkan kepada kita untuk memunculkan implikatur akan guna analisis secara pragmatik. Artinya. (b) pesan. dan iringan merupakan media komunikasi yang khas bagi kehidupan seniman. teori komunikasi akan peneliti gunakan untuk menganalisis bagaimana komunikasi berlangsung. 2007: 24). yaitu: a) unsur verbal berupa sastra tembang yang meliputi cakepan (syair) yang terdapat dalam pathetan. polatan. gerongan. gerak tubuh (kinetic body moves). Merujuk pada bentuk karya seni dalam hal ini tari pasihan merupakan media komunikasi secara utuh. yaitu: (a) sumber. Komunikator Komunikator bersumber pada seniman pelakunya yang terdiri dari penyusun tari dan penari yang bertindak sebagai penutur. sindhenan. (c) media.

tari Bondhan Sayuk. ia berusaha menafsirkan baik secara bentuk fisik karya seni maupun nonfisik yang berupa maksud dari penyusun tari yang kemudian disajikan dalam sebuah pementasan pada ritual perkawinan adat Jawa. tari Langen . Sarana atau Media Karya seni yang berupa genre tari pasihan merupakan sarana atau media tutur bagi seorang seniman. Ungkapan seni dapat dilukiskan sebagai pernyataan suatu maksud. Terkait dengan hadirnya genre tari pasihan. Kesesuaian atau kemungguhan figur seorang penari dengan tokoh yang hendak diperankan merupakan syarat yang harus diperhatikan di samping gandar atau rupa. tari Gesang Rahayu. tari Lambangsih. tari Driasmara. Dengan demikian peranan penari sebagai komunikator sangatlah penting. di antaranya: tari Karonsih. Dari medium sensa itu seniman akan dapat menganyam impian-impian bagi kita mengenai hal-hal yang membuai dan memikat kita senang mengamati. tari Kusuma Ratih. seniman penyusun sebagai penutur hendak menuturkan sebuah nilai kehidupan. tari Enggar-enggar. perasaan atau pikiran dengan suatu medium indera atau sensa. yang dapat dialami lagi oleh yang mengungkapkan dan ditujukan atau dikomunikasikan kepada orang lain (Parker. Adapun sebagai penari. 1980:21).89 merupakan dorongan dan tutuntan kebutuhan jiwa yang dilatarbelakangi apresiasi terhadap lingkungan manusia dan alam yang terseleksi dan senantiasa dimanifestasikan dalam bentuk yang estetik. tari Endah. b. Jenis tari duet percintaan yang terdapat dalam genre tersebut. karena dengan kondisi yang tidak layak akan berdampak negatif pada hasil hayatan secara menyeluruh. Seniman adalah manusia yang secara profesional menghasilkan karya-karya seni yang dapat dihayati oleh publik.

dan lainnya. Pada hakekatnya kesenian adalah ungkapan yang disengaja. penonton umum. dengan pertimbangan kedua jenis tari tersebut diharapkan mampu mewakili informasi genre tari pasihan untuk dianalisis makna pragmatiknya. Begitu pula genre tari pasihan yang terdiri dari bahasa verbal dan nonverbal merupakan jenis seni pertunjukan gaya Sala yang mengacu pada budaya istana Kasunanan Surakarta.90 Asmara. Keragaman seni akibat dari keaneragaman media atau sarana yang didukung ide-ide kreatif estetik seorang seniman dalam rangka memenuhi ekspresinya. gembira saat mendapatkan keuntungan. c. mandi. dicipta. suatu ungkapan. tari Jayaningrat. Seseorang dalam menghayati dengan cara mengamati sebuah karya seni (objek). dan selalu terkait atau berhubungan dengan tradisi kebudayaannya. Seni adalah suatu ekspresi. Ungkapan yang otomatik sifatnya insting atau berlaku secara naluriah yang dilakukan seperti orang menangis ketika didera musibah. dan tari Kusuma Aji. Meskipun setiap karya seni itu adalah suatu ungkapan. merasakan. Begitu pula ungkapan- ungkapan praktis seperti menyuruh makan. Komunikan Masyarakat sebagai komunikan meliputi: pakar. dan merenungkan sehingga dapat memberikan sebuah pernilaian atau . dan penanggap merupakan mitra tutur yang menghayati karya genre tari pasihan. namun sebaliknya bukanlah setiap ungkapan itu sebuah karya seni. Adapun fokus dari penelitian untuk disertasi ini adalah tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk. itu bukan kesenian dan tidak juga estetik. tari Setyaningsih. Lewat media bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan kandungan maksud seniman akan diaktualisasikan untuk mendapatkan tanggapan dari penghayat.

91

tanggapannya. Betapapun sedihnya menghayati tokoh Sekartaji yang tidak kunjung bertemu, ketika berupaya mencari suaminya Panji Inukertapi, kita merasa haru mendengar sumpah kesetiaan Sekartaji yang berbunyi: Dhuh jagad dewa bathara Welasa mring dasih kang nandhang kingkin Tinilar garwa satuhu Dadya gantilaning tyas Ulun dhahat Teka aginggang sarambut Kalamun datan pinanggya Aluwung tumekeng lalis

Jabaran dari nilai kehidupan tersebut ditangan seniman diungkapkan dalam bungkus sensa yang mampu memicu dan memacu timbulnya khayalan benda dan peristiwa yang memberi kenikmatan penghayat. Khayalan tentang tindakan atau emosi yang ditimbulkan lewat karya seni, kita kemudian dalam imajinasi dapat melakukan atau mengalami. Bagi yang peka estetik seolah-olah kita dibawa memasuki badan penari sebagai tokoh-tokoh utama tersebut, kita tidak kuasa menolak terhipnotis dibuatnya berperan, senang tanpa paksaan sedikit pun untuk melakukan posisi bahkan hanyut dalam aliran kenikmatan dan kepuasan jiwa. Jika dicermati lebih dalam dari jiwa kita sendirilah sebenarnya muncul gagasan-gagasan dan beragam rasa yang merupakan isi sebuah karya seni. Seniman menyediakan sebuah susunan benda pacu atau lambang-lambang sensa yang diharapkan akan ditafsirkan seperti yang dimaksudkan olehnya. Kesadaran awal yang harus menjadi fokus perhatian, bahwa komunikasi seni atau komunikasi rasa sifatnya sangat subjektif. Artinya bahwa rasa yang disampaikan seorang seniman tidak selalu dapat diterima sama oleh penghayat. Betapapun

92

hebatnya seniman sebagai komunikator dan penghayat sebagai komunikan, karena kemantapan rasa tidak dapat diukur secara exact, namun bukan berarti tidak dapat dianalisis secara disiplin ilmiah. Persamaan yang terjadi dalam komunikasi seni sifatnya tidak mutlak, sehingga tafsir seni itu sifatnya multitafsir. Perbedaan maupun persamaan yang terjadi dalam komunikasi seni disebabkan masing-masing partisipan beragam kemampuannya. Untuk itu, baik perbedaan atau pun persamaan komunikasi seni yang terjadi dalam menanggapi karya tari pasihan, akan dianalisis bagaimana dan mengapa hal itu dapat terjadi. B. Tinjauan Pustaka Sumber tertulis baik yang berupa buku-buku cetakan, tesis, disertasi, dan hasil penelitian lain yang mengkaji seni pertunjukan tari khususnya genre tari pasihan dari perspektif pragmatik rupanya belum pernah dilakukan. Kajian nonpragmatik sekali pun relatif sangat minim yang relevan dengan penelitian peneliti dapat dipaparkan berikut ini: “Karonsih”, tulisan Maryono tahun 1991, merupakan hasil penelitian yang bersifat deskriptif, memuat secara umum tentang elemen-elemen tari, dan sedikit perubahan serta penyebarannya. Sedikit banyak tulisan ini memberikan informasi yang berarti terutama terkait dengan data bahasa verbal dan nonverbal sebagai salah satu genre tari pasihan yang akan menjadi sasaran kajian pragmatik. “Perkembangan Tari Enggar-Enggar”, tulisan Dwi Maryani tahun 1999, penelitian ini memuat deskripsi tentang gerak, iringan, rias, busana, dan penyebaran serta perkembangannya tari Enggar-Enggar. Diharapkan tulisan tersebut

93

menambah informasi mengenai vareasi ragam tari duet percintaan yang pada gilirannya dapat untuk mencermati karakteristik genre tari pasihan. “Perubahan Tari Lambangsih”, tulisan Dwi Yasmono tahun 1999, yang memaparkan tentang: struktur garap tari, rias, busana, iringan, dan perubahan terutama masalah sekaran atau vokabuler gerak dan pola lantai. Rupanya hasil kajian ini akan menambah data untuk lebih mencermati karakteristik genre tari pasihan gaya Surakarta yang sedang dikembangkan, terutama terkait dengan aspek nonverbal.

94

C. Kerangka Pikir Dalam rangka mencermati permasalahan, rumusan masalah, tujuan, manfaat, ruang lingkup, kajian teori dan metodologi, serta hasil yang hendak dicapai dalam rencana penelitian ini peneliti menggunakan kerangka pikir kritik seni holistik (Sutopo, 1995: 15-16). Sebagai berikut: 1 FAKTOR GENETIK Latar Belakang Genre Tari Pasihan 2 FAKTOR OBJEKTIF Bentuk Genre Tari Pasihan 3 FAKTOR AFEKTIF Persepsi Penghayat Terhadap Genre Tari Pasihan

Latar Belakang Penyusun

fungsi

Karakteristik Bahasa Verbal

Karakteristik Bahasa Nonverbal

Latar Belakang Penanggap

Latar Belakang Penonton Umum

Latar Belakang Pakar

Pathetan irama Konsepsi Seniman lagu Sindhenan Gerongan Jineman 4

Tema Gerak Polatan

Rias Busana Pola lantai Persepsi Masyarakat

Iringan

MAKNA PRAGMATIK Genre Tari Pasihan

95

Keterangan: 1: Seniman sebagai pencipta sebuah karya seni, dianalisis tentang latar belakang kehidupan kesenimanan dan latar belakang konsep penciptaan bahasa verbal dan nonverbal serta fungsi sebagai aplikatif muatan pesan yang hendak disampaikan lewat karya seni. 2: Karya seni sebagai faktor objektifnya, dikaji tentang bahasa verbal berupa cakepan (syair) sastra tembang yang terdapat dalam pathetan, sindhenan, gerongan, dan jineman. Sedangkan bahasa nonverbal meliputi: tema, gerak tubuh (kinetic body moves), polatan, pola lantai, rias, busana, dan iringan. Diharapkan kajian bagian ini akan dapat menemukan ciri karakteristik genre tari pasihan gaya Surakarta. 3: Persepsi masyarakat terhadap kehadiran genre tari pasihan dalam upacara ritual resepsi perkawinan. Dari hasil analisis akan dapat diketahui interpretasi makna dari masyarakat yang heterogen sebagai pendukung keberlasungan budayanya. 4: Makna pragmatik merupakan hasil analisis secara komplemen keterkaitan dari tiga faktor yakni : faktor genetik (1), faktor objektif (2), dan faktor afektif (3). Relasi ketiga faktor: 1, 2, dan 3 adalah penyusun tari (seniman) menciptakan karya seni yang kemudian karya seni itu ditanggapi masyarakat. Hubungan faktor 1 dan 3 yaitu untuk mengetahui seberapa jauh tanggapan masyarakat terhadap karya seni dan bagaimana kesesuaian antara pesan yang dimaksud seniman dengan makna yang ditangkap oleh masyarakat lewat karya genre tari pasihan.

96

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Sasaran dan Lokasi Penelitian Sasaran yang utama adalah jenis tari duet pasihan atau percintaan gaya Surakarta yang memfokuskan pada tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk, seperti telah disebutkan pada latar belakang masalah. Pertimbangan yang mendasar dari pemilihan sasaran ini adalah banyaknya jenis atau ragam tari duet percintaan khususnya gaya Surakarta. Dimaksudkan kedua bentuk tari pasihan tersebut dapat dikaji secara mendalam di dalam suatu konteks dengan karakteristik tertentu. Cuplikan ini kedudukannya bukan mewakili populasinya tetapi mewakili informasinya, sehingga jika dimungkinkan generalisasi, arahnya cenderung generalisasi teori. Keragaman jenis tari pasihan rupanya tidak dimiliki oleh daerah lain, sehingga lebih memacu peneliti untuk meneliti topik tersebut sebagai sasaran pokok. Pertimbangan lain bahwa tari pasihan disinyalir mempunyai kontribusi yang cukup penting dalam sebuah ritual tradisi perkawinan adat Jawa. Pengertian gaya Surakarta di sini lebih terfokus pada tarian yang mengakar dari tarian istana Kasunanan, tidak melibatkan Pura Mangkunegaran. Hal ini peneliti sadari, bahwa Pura Mangkunegaran tidak mempunyai tari semacam pasihan atau karonsihan. Pemilihan lokasi atau tempat adalah kotamadia Surakarta dengan pertimbangan tingginya frekuensi aktivitas pertunjukan tari pasihan, tempat tinggal para penyusun tari dan pakar seni yang terkait. B. Bentuk dan Strategi Penelitian Secara garis besar dapat dinyatakan bahwa metode penelitian kualitatif adalah metode pengkajian atau metode penelitian suatu masalah yang tidak didesain atau

peristiwa-peristiwa dan kaitannya dengan orang-orang atau masyarakat yang diteliti dalam konteks kehidupan dalam situasi yang sebenarnya (Edi Subroto. seorang peneliti berusaha menyajikan suatu interpretasi yang didasarkan pada nilai-nilai. Kesadaran awal yang harus mendapatkan perhatian bahwa penelitian kualitatif itu menggunakan paradigma atau perspektif fenomenologis. 2007: 5). 2007: 6). Artinya penelitian kualitatif berusaha memahami makna dari fenomena-fenomena. bahwa fenomenologi merupakan pandangan berpikir yang menekankan pada fokus kepada pengalaman-pengalaman subjektif manusia dan interpretasi-interpretasi dunia. karena tujuan pengkajian ilmu-ilmu humaniora adalah membuat . Hal ini harus disadari bagi seorang peneliti agar hasil simpulan-simpulannya sesuai dengan karakteristik teorinya (Sutopo. minat. 2006: 28). Dalam penelitian kualitatif. Hal itu rupanya cukup beralasan. Validitas keputusan atau hasil simpulan-simpulannya mengenai sesuatu makna dapat diwujudkan dari deskripsi yang tegas. minat. bersama-sama dengan orang lain dalam konteks intersubjektif yang di dalamnya termasuk pula interpretasi peneliti. dan tujuan mereka sendiri (Smith & Heshusius dalam Sutopo. Kajian ini membentuk simpulan multiperspektif yang akan menimbulkan makna intersubjektif. dengan memperhatikan beragam alasan mengapa dan bagaimana terjadinya tafsir makna mengenai sebuah peristiwa. 2007: 5).97 dirancang menggunakan prosedur-prosedur statistik (Edi Subroto. Pada umumnya ilmu-ilmu kebudayaan atau ilmu-ilmu humaniora lebih banyak menggunakan metode kualitatif (Edi Subroto. 2006: 29). dan tujuan atas interpretasi orang lain atau subjek yang diteliti yang berdasarkan juga pada nilai-nilai. Pernyataan tersebut sejalan dengan pendapat Moleong (2007: 15). Setiap peristiwa harus dicermati dan dipahami dari beragam perspektif dari orangorang yang terlibat secara aktif maupun pasif dalam peristiwa tersebut.

melainkan sebagai sumber informasi dalam aktivitas evaluasi. menginterpretasikan kejadian atau peristiwa. lengkap. dan afektif. tetapi tidak digunakan sebagai standar nilai. Merujuk pada pola pikir pendekatan kritik holistik. serta berusaha menangkap makna dari suatu peristiwa. dan jineman. sindhenan. Sedangkan bahasa nonverbal meliputi: tema. objektif. Persepsi masyarakat terhadap kehadiran genre tari pasihan dalam kehidupan sosial (faktor afektif). dan seimbang mengkaji tiga faktor yaitu genetik. busana. dan afektif sebagai sumber aliran nilai. gerongan. Tiga sumber nilai ini wajib dikaji secara lengkap dan seimbang supaya tidak terjadi kepincangan evaluasi (Sutopo. gerak tubuh (kinetic body moves). Latar belakang konsep penciptaan bahasa verbal dan nonverbal dan pesan makna yang hendak disampaikan lewat karya seni (faktor genetik). 1995: 8-15). Untuk menjawab persoalan tersebut peneliti akan memahami lebih rinci dan mendalam baik kondisi maupun proses dan juga saling keterkaitannya mengenai hal-hal pokok yang ditemukan di lapangan. dan iringan (faktor objektif). secara operasional peneliti akan mendeskripsi secara rinci dan mendalam mencakup masalah bahasa verbal berupa cakepan (syair) yang terdapat dalam pathetan. rias. mencakup tiga aspek yakni genetik. Dengan demikian bentuk penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan kritik holistik yang secara fokus. pola lantai.98 deskripsi suatu situasi. objektif. Selain itu juga bagaimana komplementernya dari ketiga aspek tersebut untuk menemukan keterkaitan hal-hal pokok yang terdapat di dalamnya untuk mengungkap . polatan. kejadian atau peristiwa. Ketiga komponen tersebut tidak dipisahkan dalam kesatuan nilai karya. Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan dan tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini lebih mengarah pada bagaimana memahami makna bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta.

karena sekali pun genre tari pasihan atau karonsihan jenisnya terdiri dari beragam tari duet percintaan seperti: Tari Karonsih. tari Langen Asmara. yang lebih berharga daripada sekadar pernyataan jumlah atau pun sekadar frekuensi dalam bentuk angka (lihat Sutopo. 2006: 227). tari Endah. Pertimbangan yang mendasar dari kasus tunggal. tari Bondhan Sayuk. dan tari Kusuma Aji. . Strategi yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus tunggal. Jenis penelitian ini akan mampu menangkap berbagai informasi kualitatif dengan deskripsi teliti dan penuh nuansa. Rupanya sangat tepat pilihan peneliti untuk menggunakan metode kualitatif karena objek kajiannya merupakan cabang dari ilmu-ilmu humaniora yang sarat dengan makna dalam kehidupan. tari Kusuma Ratih. tari Driasmara. Hal ini sejalan dengan pendapat Edi Subroto bahwa ilmu-ilmu humaniora berusaha memahami realitas sosial dan realitas budaya dalam rangka memahami masalah-masalah sosial dan masalah-masalah manusia secara lebih baik (2007: 5). tari Lambangsih. Dengan demikian bentuk penelitiannya bersifat dasar (basic research). Di samping itu. adapun jenis penelitian dengan strategi yang paling tepat adalah penelitian kualitatif deskriptif. tari Gesang Rahayu. tidak seperti penelitian eksploratif yang mana peneliti sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi di lapangan (grounded search) maka penelitian kasus ini lebih khusus disebut studi kasus terpancang (embedded case study research) (Sutopo. tari Enggarenggar. 2006: 40).99 makna pragmatik genre tari pasihan gaya Surakarta sebagai sebuah hasil akhir penelitian. karena permasalahan dan fokus penelitian telah ditentukan dalam proposal sebelum peneliti terjun ke lapangan artinya peneliti telah terpancang. tari Jayaningrat. namun memiliki karakteristik yang sama. tari Setyaningsih.

busana. Dengan cara itu peneliti tidak akan berasumsi bahwa sesuatu itu sudah memang demikian keadaannya (Moleong. pola lantai. rias. Data akan diperoleh peneliti dengan cara memanfaatkan pertanyaan-pertanyaan dengan kata tanya : mengapa. dan jinemal sebagai bahasa verbal. e) motif tema. fungsi. objektif. c) realisasi prinsip kerja sama dan prinsip kesantunan antarperan. serta pesan makna yang hendak disampaikan lewat karya seni. dan afektif. alasan apa dan bagaimana terjadinya. i) jenis-jenis floor design (pola lantai). gerak tubuh (kinetic body moves). 2007: 11). f) jenis-jenis vokabuler gerak. terutama terkait dengan latar belakang konsep penciptaan teks verbal dan nonverbal. . 2007: 6). dan iringan. sindhenan. g) bentuk rias. h) jenis warna dan bentuk busana yang dipakai. tempat-tempat dan konservasi-konservasi dari orang yang diteliti (Edi Subroto. Sumber Data Data atau informasi yang paling dibutuhkan akan dikumpulkan dan dianalisis dalam penelitian ini adalah berupa data kualitatif. polatan. Adapun data informasi yang dikumpulkan akan terkait tiga faktor pokok yakni: genetik. Data yang dikumpulkan terutama berwujud bahasa verbal dan nonverbal. Sumber informasi objektif pada penelitian ini adalah seni pertunjukan tari.100 C. b) jenis tindak tutur yang dominan dan mengapa terjadi dominasi. Tindak tutur mencakup cakepan (syair): pathetan. yang hendak dikaji dari jenis informasi data teks sastra tembang dan unsur-unsur tari yang meliputi: a) jenis-jenis tindak tutur yang digunakan. gerongan. d) implikatur dan daya pragmatik. Sedangkan bahasa nonverbal berupa: tema. dan j) jenis-jenis repertoar gendhing. Sumber informasi genetik pada penelitian ini adalah para penyusun tari pasihan. Data kualitatif merupakan data lunak yang kaya akan deskripsi tentang orang-orang.

1993: 20). karena posisi informan dengan beragam peran dan keterlibatannya dengan kemungkinan akses informasi yang dimilikinya sesuai dengan kebutuhan penelitiannya. Informan atau Narasumber Menurut Spradley informan merupakan pembicara asli (speaker) dengan bahasa atau dialeknya sendiri dan menjadi sumber informasi (1997: 35). Peneliti dan narasumber memiliki posisi yang sama. memadahi . Narasumber harus dipilih orang yang handal di bidangnya. penonton umum. tetapi mereka dapat memilih arah dan selera dalam memberikan informasi yang dimiliki (Sutopo. penonton umum. manusia sebagai Informan atau narasumber posisinya sangat penting dalam rangka memberikan informasi yang dimiliki. yang terdiri dari: pakar.101 Sumber informasi afektif terdiri dari pakar. Dalam penelitian kualitatif. namun yang lebih substansial adalah kualitas informasi yang dibutuhkan. dapat dipercaya baik dari segi pengetahuannya maupun kejujuran secara umum dan secara khusus dalam memberikan data yang akurat serta bersifat tidak menggurui (Fatimah Djajasudarma. Oleh karena itu seorang peneliti harus jeli dalam menentukan informan. Informasi tersebut akan digali dari beberapa sumber data yang akan dimanfaatkan dalam penelitian ini mencakup : 1. narasumber tidak sekedar memberikan tanggapan menurut permintaan peneliti. Berbeda dengan responden yang sekadar memberikan jawaban secara terbatas dan terikat oleh bentukbentuk pertanyaan yang telah disusun secara ketat seorang peneliti. 2006: 57-58). dan penanggap tari pasihan. Adapun jumlah informan tidak mempengaruhi secara mutlak. Faktor afektif ini akan difokuskan pada persepsi masyarakat penghayat. dan penanggap tari pasihan dalam rangka memahami fungsi sosial di tengah-tengah masyarakat sebagai pendukung keberlangsungan budayanya.

Berlangsungnya pertunjukan tari tersebut merupakan sumber primer untuk analisis menyeluruh. dan bahasa verbalnya yang akan dilakukan secara berulang untuk mendapatkan sumber data yang akurat tentang berlangsungnya sebuah penghayatan sekaligus mengidentifikasinya untuk menarik makna pragmatik dari peristiwa pertuturan. Tempat atau Lokasi Tempat yang menjadi sasaran penelitian ini terutama terdapat pada sebuah upacara ritual perkawinan yang diselenggarakan di wilayah penelitian. Artifak. Peristiwa atau Aktivitas peristiwa. busana. atau perilaku sebagai sumber data yang terkait dengan sasaran penelitian. sangatlah berharga karena memiliki keterkaitan dengan munculnya implikatur .102 tidaknya data yang diberikan. objektif . penghayat. baik faktor genetik. akan memberi gambaran secara kongkrit tentang setting peristiwa penghayatan atau berlangsungnya sebuah pertuturan. Berdasarkan akses informasi yang diperlukan tersebut narasumber yang peneliti pilih dalam penelitian ini terdapat empat kelompok meliputi: penyusun tari.implikatur yang sengaja dimanfaatkan oleh seniman dalam rangka mengekspresikan isi hatinya yang sudah barang tentu telah . 2. iringan. pakar. dan afektif. 3. yakni di kotamadia Surakarta. aktivitas. serta masyarakat umum. Artifak yang merupakan benda budaya. yang harus dicermati meliputi aspek gerak. pola lantai. penari. Dari pengamatan langsung sebuah peristiwa pertunjukan tari pasihan. 4. rias. sehingga validitas datanya dapat dipertanggungjawabkan secara akademis. Tempat terjadinya peristiwa pertunjukan tari pasihan pada upacara ritual perkawinan.

Beragam benda artifak sebagai kelengkapan. terutama lebih fokus yang menurut fungsinya bersifat primer. Salah satu artifak yang sangat berharga sebagai sumber data yang memungkinkan dapat dilacak informasinya untuk diungkap lebih dalam adalah boneka. dan gamelan. Artifak yang bersifat primer. yang terlibat dalam peristiwa atau aktivitas pertunjukan genre tari pasihan. Selain itu. busana tari. terdiri dari: boneka anak (baby). Keberadaan busana tari yang sering dipakai penari dapat dilacak dengan maksud untuk mencermati seberapa jauh keterkaitannya dengan makna yang hendak disampaikan seniman terhadap penghayat. Asumsi peneliti bahwa dari bentuk atau mode busana tari akan dapat memberi gambaran tentang peran atau tokoh sedangkan dari warna dapat dicermati makna simbolisnya. Dalam hal ini gamelan mempunyai peranan cukup primer dalam rangka mengaktualisasikan genre tari pasihan.103 memperhitungkan penghayat sebagai mitra tuturnya. Prediksi peneliti sementara bahwa artifak yang berupa boneka pada tari Bondhan Sayuk memiliki daya pragmatik. Artifak yang berupa boneka yang terbuat dari bahan plastik yang dibalut dengan sehelai selendang sehingga bentuknya menyerupai bayi yang digedhong (ditimang). artifak yang layak menjadi sumber data adalah busana tari. Seperangkat gamelan (gamelan ageng) yang memiliki laras Slendro dan Pelog sebagai musik iringan tari merupakan artifak yang memegang peranan cukup penting dalam mewujudkan terselenggaranya pertunjukan tari pasihan. . rupanya memiliki makna yang dalam terkait dengan sepasang mempelai temanten.

Dalam penelitian kualitatif ini peneliti akan menggunakan berbagai teknik berdasarkan sumber data dalam pengumpulan datanya. merupakan rekaman beragam tari duet percintaan gaya Surakarta yang termasuk bagian genre tari pasihan. Teknik Pengumpulan Data Berangkat dari keragaman sumber data yang perlu digali tersebut menuntut strategi atau teknik pengumpulan data yang sesuai dengan sumber datanya untuk mendapatkan data yang mampu menjawab permasalahan yang telah diajukan. Data tertulis yang berupa dokumen ataupun arsip yang terkait dengan peristiwa pertunjukan tari pasihan yang dapat dilacak dalam perpustakaan. dan jineman. Sedangkan data rekaman yang berupa audio visual kaset VCD. Sumber data yang berupa dokumen dan arsip tersebut akan peneliti gunakan sebagai analisis tambahan untuk mencermati tentang makna pragmatik. Dokumen dan Arsip Dokumen dan arsip biasanya merupakan bahan tertulis yang bergayutan dengan peristiwa atau aktivitas tertentu (Sutopo. berupa data rekaman baik yang bersifat audio maupun yang berwujud visual. Selain itu juga data yang berupa bahasa verbal seperti cakepan : pada pathetan. 2006: 61). gerongan. berupa sumber cerita yang terdapat pada naskah-naskah pewayangan. maupun serat. babad. Data rekaman yang berupa audio. Adapun teknik pengumpulan data yang sesuai dengan penelitian kualitatif dan jenis sumber data yang dimanfaatkan adalah sebagai berikut: . D. antara lain beragam kaset ataupun CD iringan tari. Dokumen yang sifatnya tidak tertulis yang terkait dengan pertunjukan tari pasihan.104 5. sindhenan.

2. Wawancara merupakan salah satu jenis pengumpulan data yang bersifat lentur dan terbuka. yaitu: a. kelompok pakar. peneliti terlebih dulu berupaya mengenal karakteristik dari masing-masing informan yang telah ditetapkan untuk menjalin keakraban dan kedekatan emosional sehingga dapat menggali informasi sebanyak-banyaknya dalam situasi yang kooperatif dan kondusif. Jenis pertanyaan yang dipersiapkan tidak mengikat namun lebih digunakan sebagai petunjuk secara garis besar tentang proses dan isi wawancara untuk menjaga agar pokok-pokok yang direncanakan dapat seluruhnya tercakup (Moleong. Observasi Dalam penelitian kualitatif ini peneliti mengadakan observasi langsung berperan secara pasif dan aktif. kelompok penyusun tari. b. Sehingga pengumpulan data yang diperlukan dalam menggali informasi dari informan dengan teknik wawancara mendalam. Selain itu persiapan awal untuk menggali informasi.105 1. kelompok penari atau penyaji. dan d. dan dapat dilakukan berulang pada informan yang sama (Patton dalam Sutopo. Sebelum wawancara. tidak dalam suasana formal. 2007: 187). kelompok penghayat (lihat hal: 56-57). c. tidak terstruktur ketat. peneliti secara garis besar merancang jenis-jenis pertanyaan pokok yang selanjutnya dapat dikembangkan di lapangan hingga ke hal-hal yang lebih rinci. 2006: 228). Wawancara mendalam (in-depth interviewing) Manusia sebagai nara sumber atau informan merupakan sumber data yang sangat fundamental dalam penelitian kualitatif. Berperan pasif peneliti hanya hadir di lapangan bertindak sebagai . Adapun wawancara akan dilakukan dengan empat jenis kelompok. Pertemuan awal dilakukan untuk mengadakan kesepakatan-kesepakatan tentang pertemuan selanjutnya (jadwal) dan materi jika dimungkinkan.

3. berujud sumber cerita yang terkait dengan ceritera Panji. Teknik simak dan catat dalam kegiatan ini akan dimanfaatkan terkait data bahasa verbal dan nonverbal. akan dicatat dan dianalisa untuk memahami keterkaitannya dengan faktor objektif karya tari pasihan yang tengah diteliti. Selain itu dimungkinkan juga terdapat pada babad. Bentuk peran aktif dalam penelitian ini peneliti mengambil peran sebagai penonton untuk mengapresiasi pertunjukan dan datang di tempat-tempat latihan membaur turut berlatih untuk mengamati dan mengetahui ciri karakteristik tindak tutur dan lebih fokus terhadap elemen-elemen genre tari pasihan. Mencatat Dokumen dan Arsip (content analysis) Data yang berupa dokumen ataupun arsip yang terkait dengan peristiwa pertunjukan tari pasihan yang dapat dilacak dalam perpustakaan. di antaranya: cerita Panji dalam Perbandingan (1968) dan Panji Sekar (1979). seperti: kaset “Karonsih“ (ACD – 114) dan kaset “Beksan Enggar-enggar” (WD – 530). sehingga mendapat data secara akurat. serat atau naskah. Teknik ini secara garis besar digunakan peneliti untuk setiap aktivitas yang terkait dengan pengumpulan data.106 pengamat secara formal dan informal untuk mengamati kegiatan dan peristiwa pertunjukan tari pasihan agar mendapatkan data yang mantap dari fenomena yang terjadi di lapangan. Dokumen lain berupa kaset tape recorder yang memuat iringan tari jenis pasihan. Adapun observasi tidak langsung lebih mengarah pada pengamatan dokumendokumen rekaman tari pasihan. baik sebagai langkah awal pencatatan secara global masalah-masalah yang dianggap penting yang selanjutnya akan selalu dikembangkan pada analisis untuk dijabarkan secara rinci mendalam. Adapun sumber data yang diharapkan mampu memberikan gambaran liku-liku kehidupan Panji dan Sekartaji. .

Rekaman ini dimaksudkan untuk lebih mencermati peristiwa pertunjukan berdasarkan natural setting artinya sasaran penelitian harus tetap berada pada kondisi aslinya secara alami (Sutopo. E. keingintahuan pribadi peneliti. Untuk itu dalam penelitian kualitatif. (Goetz & Le Compte dalam Sutopo. Fatimah. Adapun kegiatan ini adalah merekam bentuk tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk untuk dianalisis bahasa verbal dan nonverbal dari masing-masing bentuk tari tersebut. 1993: 11). 2007: 8. Selain itu rekaman tari pasihan tersebut juga untuk mengembangkan pertanyaan yang mengarah pada faktor genetik dan faktor afektif. Perekaman Teknik pengumpulan data dengan rekaman terutama dengan alat video dan rekaman suara merupakan metode yang cukup penting karena akan membantu peneliti dalam rangka memperjelas deskripsi berbagai aktivitas dan situasi di lapangan. Bentuk rekaman video yang diutamakan adalah peristiwa berlangsungnya pertunjukan khusus tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk. 2006: 37) (lihat Moleong. 2006:229). Pemilihan sampel diarahkan lebih fokus pada sumber data yang . dan karakteristik empirisnya. Teknik Cuplikan (sampling) Penelitian kualitatif cenderung menggunakan teknik cuplikan yang bersifat selektif dengan pertimbangan konsep teoretis yang digunakan. teknik cuplikannya cenderung bersifat purposive karena dipandang lebih mampu menangkap kelengkapan dan kedalaman data di dalam menghadapi realitas yang tidak tunggal.107 4. Dari kajian bentuk tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk ini dimaksudkan untuk menjawab rumusan masalah terkait dengan pertanyaan yang mengarah pada faktor objektif. Hal ini dilakukan untuk mencari dan menemukan korelasi dari ketiga faktor yaitu genetik. objektif dan afektif sebagai dasar menentukan makna genre tari pasihan dalam upacara resepsi perkawinan.

Cuplikan ini kedudukannya bukan mewakili populasinya tetapi mewakili informasinya. 2006: 92). Untuk itu peneliti dituntut memahami peta sumber yang tersedia. sehingga bilamana generelisasi harus dilakukan. Trianggulasi data atau sumber mengarahkan peneliti dalam mengumpulkan data harus menggunakan beragam sumber data artinya data yang sejenis . trianggulasi metode. Sumber lain akan dipilih berdasarkan pertimbangan ketepatan dan kelengkapan datanya. dan trianggulasi teori dari empat jenis trianggulasi yang ditawarkan Patton (dalam Sutopo. maka arahnya cenderung sebagai generalisasi teori (Sutopo. 2006). Validitas Data Untuk menjamin dan mengembangkan validitas data yang akan dikumpulkan dalam penelitian kualitatif ini digunakan teknik trianggulasi data atau sumber. Purposive sampling memberikan kesempatan secara maksimal pada kemampuan peneliti untuk menyusun teori yang dibentuk dari lapangan (grounded theory) dengan sangat memperhatikan kondisi lokal dengan kekhususan nilai-nilainya (idiografis). Adapun sejumlah informan dan informasi yang dibutuhkan dari informan tersebut lihat hal: 56-57. F. secara tuntas dan valid. karena setiap posisi akan memiliki akses informasi yang berbeda.108 dipandang memiliki data penting yang terkait dengan permasalahan yang sedang diteliti. Informan yang dibutuhkan dipilih berdasarkan kredibilitas. Oleh karena itu dalam penelitian kualitatif ini peneliti memilih informan yang diharapkan mampu memberikan informasi yang memiliki kedalaman dan keakuratan data guna menjawab permasalahan yang diajukan. kualitas. dan keluasan wawasan dalam suatu permasalahan yang dikaji sehingga informasi yang diperoleh betulbetul mantab kualitasnya. dalam beragam posisinya.

dan penanggap. Di sini yang diutamakan adalah penggunaan metode pengumpulan data yang berbeda. Salah satu bentuk aplikasi dalam penelitian ini. Data yang terkumpul kemudian dikomparasikan untuk mengkaji alasan yang tepat guna menjawab secara akurat terkait dengan fungsi bahasa verbal dalam pertunjukan tari pasihan. Selain itu. dan observasi di lokasi ketika penari tersebut sedang menyajikan tari pasihan.109 akan lebih mantab kebenarannya apabila digali dari beberapa sumber data yang berbeda. . peneliti membutuhkan informasi dari informan yang berbeda di antaranya dari penyusun tari pakar. akan dikomparasikan dan ditarik simpulan data yang lebih kuat dan mantap validitasnya. peneliti menggunakan tiga informan yang berbeda yaitu: penyusun tari. untuk memahami makna tari pasihan. Informasi dari ketiga informan tersebut kemudian dianalisis dengan cara membandingkan untuk melihat persamaan. peneliti menggunakan metode pengumpulan data dengan mencatat dokumentasi atau arsip yang berupa data bahasa verbal dan nonverbal kemudian melakukan wawancara secara mendalam. Untuk mengetahui alasan mengapa terjadi dominasi salah satu jenis tindak tutur dalam bahasa verbal tari pasihan. perbedaan kemudian mencari argumen dari masing-masing untuk mendapatkan simpulan yang memadai. untuk menemukan ciri karakteristik bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan dari informan seorang penari. pakar tari. bahkan lebih jelas untuk diusahakan mengarah sumber data yang sama untuk menguji kemantapan informasinya. dan masyarakat umum. Data sementara yang diperoleh dari ketiga metode yang berbeda pada sumber data atau informan yang sama. Trianggulasi metode dalam penelitian kualitatif mengarah pada perbedaan teknik atau metode pengumpulan data pada data yang sejenis.

artinya semua simpulan dibentuk dari semua informasi yang diperoleh dari lapangan. . (2) teori budaya. artinya berbeda suatu teori beragam pula cara pandangnya. Analisisnya tidak untuk membuktikan kebenaran hipotesis yang telah diajukan dalam proposal penelitian. 2006:98-99). mempunyai kedalaman makna dan bersifat multidimensional (Sutopo. dan (4) teori komunikasi. tetapi dengan beberapa teori yang digunakan sebagai alat kajian sehingga muncul multiperspektif.110 Trianggulasi teori dibutuhkan untuk mendapatkan pandangan yang lengkap dan mendalam. (3) teori seni pertunjukan. Bentuk aplikasinya. dibentuk dari temuan dan kumpulan data di lapangan digunakan untuk dasar pemahaman dan penyusunan suatu simpulan (Sutopo. untuk mengetahui makna yang tersirat dalam tari pasihan harus menganalisis terhadap bahasa verbal dan nonverbal dengan menggunakan empat teori yaitu: (1) teori pragmatik. tidak hanya sepihak dan bersifat monoperspektif. Teknik Analisis Penelitian kualitatif bentuk analisisnya bersifat induktif. Karena setiap teori memiliki perspektif yang khusus. tetapi seluruh hasil simpulan yang dibuat dan teori yang mungkin dikembangkan. Keempat teori tersebut akan berfungsi sebagai alat kajian dan bekerja secara komplementer untuk menemukan makna tunggal yang menempatkan posisi setiap temuan berada pada satu kesatuan konteks (lihat hal: 14). untuk itu diperlukan beberapa perspektif teori guna memperoleh hasil simpulan yang mantap dapat dipertanggungjawabkan. G. Sifat analisis induktif sangat mementingkan apa yang sebenarnya terjadi dan ditemukan di lapangan yang pada dasarnya bersifat khusus berdasarkan karakteristik konteksnya dalam kondisi alamiahnya.2006: 105).

111 Proses analisis dilakukan bersamaan sejak awal dengan proses pengumpulan data. sudah merupakan hasil dari analisis yang berkelanjutan pada proses pengumpulan data. Sejak diperoleh data dalam unit yang paling kecil sudah mulai dikomparasikan hingga pada unit-unit atau kelompok data yang besar untuk mengelompokkan beragam variabel sesuai dengan rumusan masalah. sajian data. misalnya tanggapan ciri-ciri karakteristik bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan dari informan penari. observasi. perbedaan. Pada penelitian kualitatif kasus tunggal tentang genre tari pasihan gaya Surakarta ini. bentuk keterkaitan antarunsurnya dan sebagainya). 2006). Analisis dilakukan dalam bentuk interaktif. dengan melakukan beragam teknik refleksi untuk pemantapan simpulan awal dan perluasan serta pendalaman data bagi pengumpulan data berikutnya. sehingga data yang hendak disajikan sebagai laporan. dan informan budayawan kemudian . kesepadanan. Proses interaktif juga mengkomparasikan data yang didapat dari wawancara. Aktivitas refleksi dari setiap data yang telah terkumpul pada dasarnya merupakan kegiatan analisis yang semakin berkembang. setelah peneliti mendapatkan data pada unit-unit hingga kelompok yang besar. arsip maupun dokumen dan lainnya untuk mendapatkan pemantapan simpulan yang kemudian akan dikembangkan dan validitas datanya dengan mencermati tingkat kesamaan. dan kemungkinan lain. atau mengkomparasikan antarfaktor-faktor utama yang menjadi pokok kajian berdasarkan kerangka pikir (Sutopo. artinya setiap unit data yang terkumpul selalu dikomparasikan dengan unit data lainnya untuk menemukan beragam hal yang dibutuhkan sesuai dengan tujuan penelitian (keluasan. Adapun proses interaksi selanjutnya antarkomponen analisisnya meliputi reduksi data. penarikan simpulan dan verikasinya. perbedaan. informan pakar.

Reduksi data.2006:120). Sebagai gambaran model analisis interaktif (Sutopo. kritis. Model analisisnya. dan lengkap dengan kata-kata kunci. fungsi dan persepsi masyarakat.112 dikomparasikan untuk mencari dan menemukan perbedaan. Untuk menganalisis makna pragmatik dapat dengan mengkomparasikan antarfaktor-faktor utama dari: implikatur tindak tutur verbal dan nonverbal. kesamaan dengan beragam rujukannya untuk simpulan yang mantap dengan melihat keterkaitannya tujuan penelitian yang telah dirumuskan yaitu untuk menemukan ciri karakteristik genre tari pasihan gaya Surakarta. mengembangkan hasil wawancara yang berupa kata-kata kunci menjadi catatan lengkap. Pengumpulan data (1) Reduksi data (3) Penarikan Simpulan/verifikasi (2) Sajian data Keterangan: Pengumpulan data yang dilakukan adalah mencatat dengan rinci. peneliti melakukan pengelompokan data menurut jenisnya secara terpisah berdasarkan kelompok informasinya dan merumuskan temuan jalinan dalam . untuk menarik makna pragmatik sebagai hasil analisis akhir penelitian. peneliti gunakan model analisis interaktif. Selain itu.

Penarikan simpulan/verifikasi. yang dikembangkan berdasarkan temuan-temuan dari setiap kelompok data dan disajikan dalam bentuk narasi lengkap dan bukan sajian bahan mentah. . merupakan hasil pembahasan dari sajian data dan reduksi data untuk menyimpulkan makna tunggal yang menempatkan posisi setiap temuan berada pada satu kesatuan konteks. Selain itu membandingkan data antarkelompok untuk menemukan kemungkinan adanya keragaman bentuk yang terkait. disusun berdasarkan kelompok data yang sudah dirumuskan (reduksi data) kemudian melakukan pengelompokan unit sajian berdasarkan kelompok rumusan masalah. Sajian data.113 kelompok dengan rumusan singkat.

yakni seperti: tari Karonsih. dan iringan karawitan. tari Lambangsih. rias. Dalam penelitian ini peneliti terfokus pada dua jenis tari pasihan. tari Endah. gerak tubuh (kinetic body moves). Bagi seniman komposit dari bahasa verbal dan nonverbal yang terdapat pada tari . Secara garis besar bentuk tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk banyak persamaannya. Sedangkan aspek bahasa nonverbal meliputi: tema. tari Bondhan Sayuk. tari Driasmara. tari Jayaningrat.114 BAB IV BAHASA VERBAL DAN NONVERBAL GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA Genre tari pasihan gaya Surakarta merupakan habitat dari jenis-jenis karya tari duet percintaan atau tari pasihan. Aspek bahasa verbal dan nonverbal tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk merupakan komposisi dua komponen yang menyatu dalam bentuk seni pertunjukan. yang sudah barang tentu juga terdapat perbedaan namun tidak begitu signifikan. diharapkan mampu menjawab rumusan masalah dari kajian pragmatik bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta. sindhenan. polatan (ekspresi wajah). tari Langen Asmara dan tari Setyaningsih. tari Kusuma Ratih. Pemilihan kedua jenis tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk. busana. dan jineman. pola lantai. tari Gesang Rahayu. gerongan. tari Enggar-enggar. Pada dasarnya bentuk tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk sebagai bagian seni pertunjukan genre tari pasihan gaya Surakarta memiliki beberapa aspek di antaranya aspek sastra tembang sebagai bahasa verbal yang berupa cakepan (syair): pathetan. tari Kusuma Aji. Adapun bentuk genre tari pasihan terdiri dari tari duet percintaan. yaitu tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk.

a. dan afektif. peneliti hendak menggali dan mengungkap data dari infoman berdasarkan faktor objektif. Teks sastra tembang yang merupakan bahasa verbal tari Karonsih. dan 3) adegan bahagia. A. Pembagian adegan di sini berdasarkan suasana-suasana yang dibangun lewat garap gendhing dan makna sastra tembang. Faktor Objektif I. Tari Karonsih Tari Karonsih merupakan tari tradisi gaya Surakarta jenis pasangan silang jenis karakter putri luruh dengan putra alus luruh yang bertemakan percintaan Dewi Sekartaji dengan Panji Inukertapati.115 Karonsih dan tari Bondhan Sayuk merupakan kesatuan makna yang utuh dan berfungsi sebagai sarana komunikasi untuk hiburan dan suritauladan. yakni sastra tembang yang merupakan bahasa verbal dan elemen-elemen lain yang terkait dan menunjang dengan tari yang merupakan bahasa nonverbal. 2) adegan pertemuan. Karya tari Karonsih merupakan hasil susunan Maridi pada awal tahun 1970. yang merupakan klimaks dari seluruh adegan. terdiri dari beberapa bait syair yang terdapat pada garap lagu. Jika dicermati lebih lanjut pertunjukan tari Karonsih dapat dibagi menjadi beberapa adegan-adegan sebagai berikut: 1) adegan pencarian. genetik. ketika beliau mendapat permintaan dari keluarga Kalitan. Untuk menjelaskan tentang seluk-beluk bahasa verbal dan nonverbal pada kedua jenis tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk. untuk menyajikan sebuah tari yang sesuai untuk kebutuan resepsi perkawinan Ibnu Harjanto adik Tien Suharto istri mantan presiden Indonesia yang ke dua (wawancara Maridi. Bentuk tari Karonsih terdiri dari dua komponen pokok. 1991). Bahasa Verbal. yakni: (1) pathetan: sakpada (satu .

O……….O………… Terjemahan: Si cantik Dewi Sekartaji Pergi dari kerajaan Si cantik Dewi Sekartaji Pergi dari kerajaan Mencari suaminya. Jenis – jenis Tindak Tutur (TT) yang melekat pada teks Pathetan Wantah No Narator (Nr) Teks Verbal Pathetan Wantah Jenis-jenis TT Pemarkah 1. Dahat denira muwun. (1) Teks Pathetan Wantah Sang Retnayu Dewi Sekartaji Jengkar sking kedhaton Sang Retnayu Dewi Sekartaji Jengkar sking kedhaton Angupadi mendranira ingkang garwa Inukertapati.1 Sang Retnayu Dewi Jengkar Sekartaji Jengkar sking kedhaton Nr Asertif . Dari masing-masing bait syair tembang tersebut memiliki garap lagu atau watak lagu yang berbeda-beda. (2) garap sindhenan Pangkur Ngrenas: sakpada. Kinanthi Sandhung: rongpada (dua bait). seperti jabaran berikut ini.116 bait). Bahasa verbal yang berupa tembang Jawa tersebut terurai menjadi beragam jenis tindak tutur dan beragam makna yang dikandungnya. Inukertapati Menangis tersedu-sedan. (3) garap sindhenan.. dan (4) garap gerongan Lambangsari: rong pada.

b. ia merespon dengan gerak tanpa tuturan.O…… denira Ekspresif muwun Konteks. Peserta tutur: Narator (Pn) Dewi Sekartaji (Pt).117 1. istri yang sangat setia terhadap suami.3 Angupadi mendranira Direktif Angupadi Asertif ingkang garwa Nr Inukertapati. . Tujuan: seorang istri (Dewi Sekartaji) yang mencari suami (Panji Inukertapati) yang telah meninggalkan kerajaan d. Status sosial: Dewi Sekartaji sebagai seorang istri. c. e. Tema / topik: pencarian. a.. Situasi tutur: tidak formal.4 Nr Dahat muwun. 1.2 Sang Retnayu Dewi Jengkar Sekartaji Jengkar sking kedhaton Nr 1. O………. f. Identifikasi / latar. Tempat: perjalanan di luar kerajaan. ia digambarkan sebagai figur seorang wanita.

badan nglayang (memutar) ke kiri. lumaksono. . Polatan / ekspresi wajah: Dewi Sekartaji tampak sedih kepala menunduk. ridhong sampur kiri. Maksim kuantitas dilanggar. badan putar menghadap belakang srisik mundur kemudian putar menghadap depan. Implikatur. Jengkar sking kedhaton: merupakan pernyataan perbuatan atau tindakan dari keluarga bangsawan karena terdapat suatu permasalahan yang sangat penting yang mengharuskan dan sebagai jalan terakhir untuk pergi dari kerajaan. i. Maksim kualitas dipatuhi. pandangan mata mengarah ke bawah dan perubahan gerak kepala lebih pelan dan terkesan hati-hati. Gerak: Dewi Sekartaji keluar dari pojok belakang kanan stage menuju tengah dengan gerak: srisik. Angupadi: merupakan sebuah perbuatan untuk mencari dan berupaya menemukan dengan cara dan usaha yang sungguh-sunggguh. dan usap kiri – usap kanan. kaki njujut. Implikatur teks Pathetan adalah menggambarkan liku-liku perjalanan Dewi Sekartaji dalam mencari dan untuk menemukan Panji Inukertapati (suaminya). Iringan gendhing: pathetan untuk mendukung suasana sedih. Pola lantai: didominasi garis–garis lurus.118 g. Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Pathetan Wantah dapat diungkap: a. badan ngglebak ke kanan hadap ke depan. Mendranira: adalah sebuah tindakan yang didasari dari rasa tidak puas terhadap sesuatu. kengser. b. h. j.

janma kang Patik koncatan nyawa. 2) melakukan TT secara tidak langsung (off record). Dhuh jagad dewa bathara Welasa mring dasih kang nandhang kingkin Tinilar garwa satuhu Dadya gantilaning tyas Ulun dhahat teka aginggang sarambut Kalamun datan pinanggya Aluwung tumekeng lalis Terjemahan: Wahai Sang Hyang Dewata Kasihanilah hambamu yang baru sedih Ditinggal suami Yang menjadi buah hati Hamba tidak dapat berpisah Jika tidak dapat bertemu Lebih baik mati . Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Isen-isen (isian) No Narator (Nr) Teks Verbal Isen-isen Jenis-jenis TT 1. Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Pathetan Wantah. (2).119 c. Maksim hubungan dipatuhi.1 Nr Jarweng janma. menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif. Teks Sindhenan Pangkur Ngrenas. d. gones. Maksim cara dilanggar.

6 Dewi Sekartaji (Pn) Kalamun pinanggya datan Direktif datan 2.7 Dewi Sekartaji (Pn) Aluwung tumekeng lalis Komisif Aluwung .jenis TT yang melekat pada teks Sindhenan Pangkur Ngrenas.2 Dewi Sekartaji (Pn) Welasa mring dasih kang nandhang kingkin Direktif mring dasih 2.1 Dewi Sekartaji (Pn) Dhuh jagad dewa bathara Patik Dhuh jagad 2. No Penutur (Pn) Teks Verbal Sindhenan Pangkur Ngrenas Jenis – jenis TT Pemarkah 2.120 Jenis .4 Dewi Sekartaji (Pn) Dadya gantilaning tyas Direktif dadya 2.3 Dewi Sekartaji (Pn) Tinilar garwa satuhu Asertif satuhu 2.5 Dewi Sekartaji (Pn) Ulun dhahat teka Direktif Ulun dhahat aginggang sarambut 2.

f. ia digambarkan sebagai figur seorang wanita. Peserta tutur: Dewi Sekartaji. i. Situasi tutur: tidak formal. dan lembehan separo. istri yang sangat setia terhadap suami. a. kepala menunduk. Tempat: dalam perjalanan di luar kerajaan. Status sosial: Dewi Sekartaji sebagai seorang istri. dan memohon pada Yang Kuasa agar segera dipertemukan dengan suaminya. pandangan mata mengarah ke bawah dan perubahan gerak kepala lebih pelan dan terkesan hati-hati. Implikatur. Tema / topik: kesetiaan. Tujuan: Dewi Sekartaji dalam situasi yang rindu. Identifikasi / latar. . tawing kiri ingsetan. Polatan / ekspresi wajah: Dewi Sekartaji tampak sedih. Nandhang kingkin: Gantilaning tyas: suasana sedih yang dialami seseorang. g. Gerak: Sekartaji mengekspresikan lewat gerak laras sampir sampur kanan. sedih. pasrah. Iringan gendhing: Ketawang Ngrenas untuk mendukung suasana sedih. Pola lantai: didominasi garis-garis lurus. j. h. sekar suwun. d. e. merupakan kekasih sebagai belahan jiwa yang diharapkan dapat sebagai tumpuan akhir yang mampu mengayomi. c.121 Konteks. b. melindungi dan bertanggungjawab. supaya kasih asmaranya dapat menyatu kembali.

menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif. Aluwung tumekeng lalis. b. sehingga berharap tidak dapat putus. Maksim cara dilanggar. kemudian memohon pada Yang Kuasa agar segera dipertemukan dengan suaminya. Implikatur teks Pangkur Ngrenas adalah menggambarkan Dewi Sekartaji dalam situasi rindu. Sebagai bukti kesetiaan seseorang. Maksim kualitas dipatuhi. . sedih. Maksim kuantitas dilanggar. pasrah. Maksim hubungan dipatuhi. tersurat dalam bentuk tuturan yang diungkapkan dengan TT: Kalamun datan pinanggya. Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Sindhenan Pangkur Ngrenas.122 Aginggang sarambut: merupakan pernyataan hubungan cinta kasih yang sangat erat dan lekat. d. 2) melakukan TT secara tidak langsung (off record). Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Sindhenan Pangkur Ngrenas dapat diungkap: a. Aluwung tumekeng lalis: sebuah pernyataan yang dilandasi emosional atau ketulusan hati untuk melakukan tindakan sebagai jalan pintas untuk mengakhiri kehidupan. c. Dalam hubungan asmara dapat sebagai bukti kesetiaan. Bukti kesetiaan yang mendalam Dewi Sekartaji terhadap suaminya.

gones Arane basa nawala Patik (3). Teks Sindhenan Kinanthi Sandhung.1 Narasi (Nr) Nr Teks Verbal Isen-isen Suta nendra prajane sri Bomantara Sun bathara.2 Nr Saji siswa. Adhuh yayi garwa ningsun Teka mlengos datan angkling Mara ngadhepna pun kakang Kang wus lami nandhang brangti Kadingaren yayi duka Apa kang dadi wigati Cakepan b.jenis TT Patik 2.123 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Isen-isen No 2. Cakepan a. Wahai istriku Mengapa berpaling tidak menghiraukan Kemari tataplah wajah kakanda Sudah lama rindu Tidak biasa adinda marah Apa persoalannya . Wus dangu pun kakang wuyung Marang yayi wanodya di Tuhu wanita utama Mustikaning para putri Muga tansah pinaringan Kanugrahan kang salami Terjemahan: Syair a. rama Lamun sira darbe tresno Jenis .

4 Panji Inukertapati (Pn) Kang wus lami nandhang brangti Ekspresif nandhang 3.6 Panji Inukertapati (Pn) Apa kang dadi wigati Direktif apa . Sudah lama kakanda jatuh asmara Kepada adinda wanita yang cantik Engkau wanita utama Menjadi suritauladan para wanita Semoga selalu diberi Kebahagiaan selamanya Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Sindhenan Kinanthi Sandhung.124 Syair b.1 Panji Inukertapati (Pn) Adhuh 3.3 Panji Inukertapati (Pn) Mara kakang ngadhepna pun Direktif mara 3.2 Panji Inukertapati (Pn) Teka mlengos datan Direktif datan angkling 3. No Penutur (Pn) Teks Verbal Sindhenan Kinanthi Sandhung Adhuh ningsun yayi garwa Jenis .jenis TT Patik Pemarkah 3.5 Panji Inukertapati (Pn) Kadingaren yayi duka Direktif kadingaren 3.

ia merespon dengan gerak tanpa tuturan. Peserta tutur: Panji Inukertapati (Pn). .9 Panji Inukertapati (Pn) Tuhu wanita utama Ekspresif utama 3.12 Panji Inukertapati (Pn) Kanugrahan kang salami Direktif kanugrahan Konteks. Tujuan: menyatukan kembali kasih asmara antara suami dengan istri yang pernah berpisah. b.10 Panji Inukertapati (Pn) Mustikaning para putri Ekspresif mustikaning 3. Dewi Sekartaji (Pt).125 3. Identifikasi / latar.11 Panji Inukertapati (Pn) Muga tansah pinaringan Direktif muga 3. Tema / topik: percintaan.7 Panji Inukertapati (Pn) Wus dangu pun kakang wuyung Ekspresif wus dangu 3. a. c.8 Panji Inukertapati (Pn) Marang yayi wanodya di Direktif marang 3.

besut. ulap-ulap tangan kiri – kanan. Situasi tutur: tidak formal. g. nyabet ukel karna kanan. panggel. srisik. ngancap. tangan pondhongan kemudian nyaut jeblos (tukar tempat) lalu Sekartaji memberikan sampur dan segera diterima Panji. istri yang sangat setia terhadap suami. tanjak kanan. tangan kanan nyaut. f. laras genjot. dan kengser ke kanan. Dewi Sekartaji sebagai seorang istri. Gerak: Sekartaji tampak putus harapan. yang digambarkan jengkeng (duduk) diikuti kedua tangan memegang sampur sambil menutup raut muka pada posisi centre stage. Sekartaji merasa malu kemudian melepas kedua tangan dan srisik yang segera dikejar Panji dengan srisik nyandhet tangkep asta ngaras (berciuman).126 d. maju lumaksono. ia digambarkan sebagai figur seorang wanita. tangan kanan nyaut dengan kebyok kemudian mundur. Perasaan malu juga ditampakkan oleh kedua tokoh tersebut setelah berciuman lepas . Panji mencoba merayunya kembali dengan lumaksono kebyokan sampur. e. tanjak tawing kanan. Datang Panji dari belakang. Suasana marah diekspresikan Sekartaji dengan berdiri enjer. ia digambarkan sebagai figur seorang suami yang bertanggungjawab dan sangat setia terhadap istri. ketika Panji jengkeng njawil (memegang bahu). Suasana kemesraan Sekartaji dan Panji semakin terasa yang diungkapkan lewat gerak tangkep asta. Untuk meredakan kemarahan Sekartaji. Panji segera memburu Sekartaji dengan gerak berdiri srisik. maju. Tempat: dalam perjalanan di luar kerajaan. Status sosial: Panji Inukertapati sebagai seorang suami.

akhirnya luluh hati Dewi Sekartaji. Pola lantai: didominasi garis-garis lengkung. ekspresi wajah Sekartaji dan Panji tampak cerah dan gembira. b) Panji berusaha membujuk dan merayu istrinya. Suasana mesra. tangan kiri menthang. pandangan muka Sekartaji selalu menghindar dari tatapan mata Panji. tangan kanan tawing.127 kedua tangan. sedangkan Panji selalu memandang Sekartaji. Kadingaren: merupakan perbuatan atau tindakan seseorang yang tidak biasa dilakukan. kanthen tangan kanan. damai dan bahagia. raut muka ditutup. laku enjer saling menjauh. seperti: kanthen tangan kanan. Implikatur. hal ini diekspresikan dengan bentuk-bentuk gerak selalu bergandengan tangan. Asmara yang dibangun Sekartaji dan Panji Inukertapati mulai menyatu. Iringan gendhing: Ketawang Kinanthi Sandhung untuk mendukung suasana kasmaran atau bercinta. i. kengser ke kanankiri. pandangan mata mengarah ke bawah. j. maju. h. srisik melingkar. . pandangan dan tatapan mata keduanya banyak saling berhadapan wajah. mesra. untuk mendapatkan perhatian mitra tuturnya. Polatan / ekspresi wajah: ketika Sekartaji tampak putus harapan. saling melempar senyum sebagai tanda cinta. adu tangan kiri nekuk. Suasana marah. Mustikaning: merupakan ungkapan yang bersifat menyanjung terhadap kelebihan seseorang. nandhang brangti: merupakan gambaran psikologis seseorang dalam keadaan asmara. Implikatur teks Kinanthi Sandhung tersebut adalah: a) Dewi Sekartaji marah terhadap Panji Inukertapati.

menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif. Maksim kualitas dipatuhi. (4). Maksim hubungan dipatuhi.128 Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Sindhenan Kinanthi Sandhung. c. Teks Gerongan Lambangsari. 2) melakukan TT secara tidak langsung (off record). d. Cakepan a. Maksim cara dilanggar. Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Sindhenan Kinanthi Sandhung. dapat diungkap: a. Pra wanita marsudiya marang tindak kang utama Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada Ingkang bisa nujuprana weh reseping pamicara Nora kengguh ing panggodha darbe budi kang santosa Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira Datan kemba asih tresna sung tentreming kulawarga Sang pekik wah sang dyah ayu dangu samya bagyaharja Tan kendhat tansah meminta kanugrahan ing Hyang Sukma . Pra wanita marsudiya marang tindak kang utama Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada Ingkang bisa nujuprana weh reseping pamicara Nora kengguh ing panggodha darbe budi kang santosa Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira Datan kemba asih tresna sung tetreming kulawarga Sampun sami setya tuhu anggenya liron asmara Karonsih pancen pranyata dadya kembang jagad raya Cakepan b. Maksim kuantitas dilanggar. b.

3 Panji Inukertapati (Pn) Ingkang bisa nujuprana weh reseping pamicara Direktif ingkang bisa . No Penutur (Pn) / Petutur (Pt) Teks Verbal Gerongan Lambangsari Jenis – jenis TT Pemarkah 4. saling mencintai menuju ketetraman keluarga Sudah saling setia dalam bercinta cinta itu adalah nilai yang universal Syair b. Para wanita supaya selalu berbuat kebajikan Selalu setia terhadap suami. Para wanita supaya selalu berbuat kebajikan Selalu setia terhadap suami.2 Panji Inukertapati (Pn) Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada Direktif marang garwa 4. menjadi pasangan yang bertanggungjawab Yang bisa menarik hati membuat harmonis dalam pembicaraan Tidak tergoda. memiliki sikap yang teguh Gantian pria berilah keseimbangan sebagai pengayom dalam perkawinan Tidak acuh. saling mencintai menuju ketetraman keluarga Sang kesatria (Panji) dan sang Dewi Sekartaji sudah lama hidup bahagia Tiada henti selalu meminta kebahagiaan kepada Yang Maha Kuasa Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Gerongan Lambangsari. memiliki sikap yang teguh Gantian pria berilah keseimbangan sebagai pengayom dalam perkawinan Tidak acuh.1 Panji Inukertapati (Pn) Pra wanita marsudiya Direktif marsudiya marang tindak kang utama 4.129 Terjemahan: Syair a. menjadi pasangan yang bertanggungjawab Yang bisa menarik hati membuat harmonis dalam pembicaraan Tidak tergoda.

9 Panji Inukertapati (Pn) Pra wanita marsudiya Direktif marsudiya marang tindak kang utama 4.10 Panji Inukertapati (Pn) Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada Direktif marang garwa 4.7 Narator Sampun sami setya tuhu anggenya liron asmara Asertif sampun sami 4.6 Dewi Sekartaji (Pt) Datan kemba asih tresna sung tetreming kulawarga Direktif datan kemba 4.12 Panji Inukertapati (Pn) Nora kengguh darbe ing budi Direktif nora kengguh panggodha kang santosa 4.11 Panji Inukertapati (Pn) Ingkang bisa nujuprana weh reseping pamicara Direktif ingkang bisa 4.130 4.5 Dewi Sekartaji (Pt) Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira Direktif nimbangana 4.4 Panji Inukertapati (Pn) Nora kengguh darbe ing budi Direktif nora kengguh panggodha kang santosa 4.13 Dewi Sekartaji Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira Direktif nimbangana .8 Narator Karonsih pancen pranyata dadya kembang jagad raya Asertif pancen pranyata 4.

Peserta tutur: Panji Inukertapati (Pn). luluran.14 Dewi Sekartaji (Pt) 4. ia digambarkan sebagai figur seorang wanita. Tema / topik: kebahagiaan. Dewi Sekartaji sebagai seorang istri. d.15 Narator Sang pekik wah sang dyah ayu dangu samya Asertif samya bagyaharja Datan kemba asih tresna sung tetreming kulawarga Direktif datan kemba bagyaharja 4. Tempat: di kerajaan. a. Status sosial: Panji Inukertapati sebagai seorang suami. Suasana kemesraan. Identifikasi / latar. ia digambarkan sebagai figur seorang suami yang bertanggungjawab dan sangat setia terhadap istri. g.16 Narator Tan kendhat tansah Direktif meminta meminta kanugrahan ing Hyang Sukma Konteks. c. . Dewi Sekartaji (Pt). ngore rikma. dan alisan. Gerak: Sekartaji dan Panji gerak yang dipilih untuk mengungkapkan suasana bahagia yang tercermin dalam rasa gembira. seperti motif gerak: Trap jamang. e. b. f. istri yang sangat setia terhadap suami. Situasi tutur: tidak formal.131 (Pt) 4. Tujuan: membina keluarga yang bahagia antara suami dan istri.

Puncak kemesraan pada adegan bahagia ini terekspresikan pada saat Sekartaji duduk dipangkuan Panji Inukertapati. dan diakhiri pangkon ulap-ulap tangan kiri. saling bersentuhan tangan dan badan sehingga terasa sebagai puncak kemesraannya. seperti: lilingan. kanthen tangan kiri enjeran. h. dan mesra. Iringan gendhing: Lambangsari untuk mendukung suasana riang dan gembira. keduanya banyak saling berhadapan wajah. cerah terutama ditampilkan pada adegan ini. pandangan mata searah. kanthen tangan kanan ingsetan. Motif-motif gerak tersebut dilakukan dengan irama dinamis. senyum. saling berhadapan. Adapun sebagai penutup ladrang Sigramangsah untuk mendukung suasana semangat. lumaksono encot kanthen tangan kanan. saling mendekat. pernyataan kesetiaan yang mendalam. . j. rimong sampur. Marsudiya: Setya tuhu: tuturan perintah yang bersifat santun. srisik kanthen tangan kanan. damai dan bahagia. Implikatur. kebyokan sampur. Pola lantai: didominasi garis-garis lengkung. i. Polatan / ekspresi wajah: kedua tokoh Sekartaji maupun Panji Inukertapati tampak gembira. dan keharmonisan diungkapkan dengan motif-motif gerak. Bersetuhan badan tampak pada gerak Sekartaji dipangku Panji. mereka saling memandang dengan ekspresi wajah ceria.132 kebersamaan. mesra. saling melempar senyum sebagai tanda cinta. lilingan.

setia terhadap suami. Kembang jagad raya: ungkapan pengadaian yang dimaksudkan untuk menunjukkan kehebatan. 3) Nilai cinta adalah sebuah nilai universal yang dapat dijadikan landasan kehidupan berumahtangga. Maksim cara dilanggar. dan ketenaran. 2) Tipe seorang suami yang ideal adalah setia terhadap istri. mengayomi. c. dan mampu menciptakan ketentraman keluarga. 4) Kebagiaan dunia dan akhirat merupakan kebutuhan hidup hakiki manusia yang diupayakan secara seimbang. d. dapat diungkap: a. Maksim hubungan dipatuhi.133 Nujuprana: ungkapan yang menyatakan kecocokan atas sesuatu yang menjadikannya senang. Implikatur teks Gerongan Lambangsari terdiri dari: 1) Tipe seorang istri yang ideal adalah selalu berupaya berbuat kebajikan. Liron asmara: mempunyai pengertian saling mencintai. Ngayomi: merupakan sebuah tanggungjawab untuk menjamin kenyamanan. dan bertanggungjawab. Nimbangana: sebuah permintaan yang menghendaki mitra tuturnya berlaku bijak. Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Gerongan Lambangsari. b. . menarik. Maksim kualitas dipatuhi. ketenangan dan kebahagiaan orang lain. Maksim kuantitas dilanggar.

Diharapkan dengan mencermati peristiwa demi peristiwa yang terjadi secara kronologis sejak adegan awal sampai akhir.134 Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Gerongan Lambangsari. Dari penjabaran teks verbal yang terdapat dalam tari Karonsih terdapat beragam jenis tindak tutur yang dapat peneliti klasifikasikan secara kuantitatif jenis tindak tutur direktif paling dominan. . menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif. Maksim kuantitas dilanggar karena dalam menyampaikan tuturan seorang penutur. a. 2) melakukan TT secara tidak langsung (off record). b. penonton akan dapat menangkap makna dari pertuturan secara utuh. Maksim kualitas dipatuhi dimaksudkan oleh penutur untuk menggambarkan peristiwa yang betul-betul terjadi pada masing-masing adegan. banyak menggunakan kata-kata arkais dimaksudkan oleh seniman penyusun untuk mengekspresikan rasa estetik. seperti paparan berikut: NO 1 2 3 4 5 5 6 JENIS TINDAK TUTUR Tindak Tutur Direktif Tindak Tutur Ekspresif Tindak Tutur Asertif Tindak Tutur Patik Tindak Tutur Komisif Tindak Tutur Performatif Tindak Tutur Verdiktif JUMLAH 25 7 4 5 1 - Berdasarkan prinsip kerja sama bahasa verbal yang terdapat tari Karonsih.

hanya menggunakan strategi: 1) Melakukan tindak tutur dengan menggunakan kesantunan positif untuk menunjukkan kedekatan. pola lantai. dan iringan. suami dan istri yang 2) Melakukan tindak tutur secara tidak langsung (off record) untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa. Maksim hubungan dipatuhi dimaksudkan oleh penutur untuk menjaga kerja sama antara penutur dengan mitra tutur. hal ini dimaksudkan seniman penyusun untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa. tidak langsung. masing-masing hendaknya memberikan kontribusi yang relevan demi terjadinya komunikasi rasa. Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada tari Karonsih tidak terpenuhi. terlalu panjang. kinetic body moves. d. dan pernyataannya samar. dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur.135 c. polatan (ekspresi wajah). busana. Hal ini dimaksudkan seniman penyusun untuk menunjukkan simbolisasi keharmonisan hubungan antara peran digambarkan dalam tari. rias. keintiman. . Bahasa Nonverbal Bahasa nonverbal yang merupakan elemen-elemem dari tari Karonsih terdiri dari: tema. b. Maksim cara dilanggar karena dalam menyampaikan tuturan seorang penutur. Untuk memahami masing-masing elemen berikut secara parsial akan dipaparkan secara komprehensif.

di antaranya Medang. Jenggala. 1968: 290). 1968: 409). cerita Panji dikenal dalam cerita Andheandhe Lumut. terutama di Pulau Jawa. dan Thailand. cerita Panji ini sangat terkenal dalam sebuah garapan dramatari yang disebut Raket. Timbulnya cerita Panji dipandang sebagai suatu revolusi kesusastraan terhadap tradisi lama (Poerbatjaraka. Siam. Kediri. Di Jawa Tengah. Keong Emas. dan Kethek Ogleng. hal ini didukung pendapat Poerbatjaraka: bila kita kumpulkan seluruh bahan keterangan untuk menentukan waktu timbulnya cerita Panji. Sekarang cerita Panji di wilayah Jawa Timur yang merupakan sumber awal cerita tersebut dikenal dengan cerita Ragil Kuning dan Kilisuci. kesimpulan satu-satunya bahwa redaksi yang pertama kali disusun pada zaman kejayaan Majapahit. Singasari. di Palembang cerita Panji ini dikenal Panji (Angreni) Palembang. Munculnya cerita Panji pada zaman kejayaan Majapahit merupakan pernyataan yang cukup kuat. Di Jawa Timur pada masa kejayaan kerajaan-kerajaan. Di Indonesia terdapat banyak versi tentang cerita Panji. cerita Panji ini berkembang sejak Mataram pecah menjadi dua yaitu kerajaan Yogyakarta dengan sebutan Kasultanan Ngayogyakarta dan kerajaan Surakarta lebih dikenal sebagai Kasunanan Surakarta. Di daerah Pasundan cerita Panji tersebut lebih dikenal dengan sebutan Lutung Kasarung atau Panji Sunda.136 1. Adapun cerita Panji ini di Kamboja dikenal Panji . Dilingkungan wilayah kekuasaan kedua kerajaan Yogyakarta dan Surakarta. Kamboja. Wilayah Bali cerita Panji banyak dikenal dengan sebutan Malat (Poerbatjaraka. dan Majapahit (abad X sampai ke XVI). Jaka Bluwo. Tema percintaan yang diangkat dari babad Panji yang mengisahkan perjalanan cinta Dewi Sekartaji dengan Panji Inukertapati merupakan alur cerita yang disajikan dalam tari Karonsih. Cerita Panji adalah merupakan karya sastra yang sangat terkenal di Asia Tenggara terutama di Indonesia.

Rupanya cerita Panji cukup terkenal sehingga banyak versi. frahmen. untuk Panji Inukertapati diperankan Harjuna atau Janaka. sehingga kisah cerita maupun tokoh-tokoh yang terlibat terdapat perbedaan-perbedaan dan juga dalam bentuk naskah tulis. Siam dan Thailand. wayang Kulit maupun wayang orang (dalam lakon Bambang Semboto. sedangkan Dewi Sekartaji disebut Bossaba. Tokoh–tokoh utama yang berperan dalam cerita Panji adalah Panji Inukertapati sebagai suami dan Dewi Sekartraji sebagai isteri. Tersebarnya cerita Panji di Asia Tenggara. wayang Gedhok. sedangkan Dewi Sekartaji merupakan titisan dewi asmara yaitu Bathari Kamaratih. Dewi Sekartaji diperankan oleh Sembadra. sedangkan Dewi Sekartaji juga sering disebut Galuh Condrokirana atau Kleting Kuning atau Dewi Limaran. sedangkan Angka Wijaya atau Abimanyu merupakan peran pengganti anak dari Sekartaji atau Candrakirana). Dramatari. sedangkan di Thailand disebut dengan Jataka. Di samping itu juga terdapat sebuah mitos bahwa Panji Inukertapati merupakan titisan dari dewa Asmara yaitu Bathara Kamajaya. yang dapat digunakan sebagai sumber data. terutama di Indonesia penyebarannya dari mulut ke mulut dalam bentuk dongeng. Selain dalam bentuk dongeng. untuk itu perlu peneliti kemukakan beberapa tulisan yang pada akhirnya dapat dianalisis dalam rangka menentukan versi yang dijadikan sebagai tema. Versi Kamboja. .137 Kamboja. cerita Panji dapat meluas karena diangkat sebagai lakon-lakon dalam: Kethoprak. dan sebagai tema tari pasihan. Adapun beberapa cerita secara lengkap tentang cerita Panji dapat diamati secara berturut-turut berikut ini. nama Panji Inukertapati disebutnya Eynao atau Inao. Dalam versi Jawa nama Panji Inukertapati juga disebut Panji Asmarabangun atau Panji Kasatriyan.

dan Singasari yang sangat masyur. jika Panji dapat dikalahkan berarti Tanah Jawa dapat dikuasainya. Dari keempat raja itu terdapat dua raja yang berbesanan. saling menjaga hubungan sehingga menjadi sangat agung dan terkenal. Pada saat rapat besar kerajaan Kediri. Setelah Panji Kertapati dan Candra Kirana menikah. mereka hidup rukun. Ngurawan. Armada perangnya sangat kuat. Di Tanah Jawa. Sebagai pangeran muda Panji Kertapati sungguh sangat perkasa dalam peperangan. pengaruh kekuasaannya luas oleh karena itu mereka disegani raja-raja lainnya.a Menurut Sunan Pakubuwono IV. tidak pernah saling bertentangan.138 1. Daha (Kediri). datang seorang patih Guna Saronta membawa sepucuk surat sebagai utusan raja Bramakumara dari Makassar. dalam tulisannya yang berjudul: Panji Sekar. selain itu beliau sangat bijaksana dan romantis dalam berkeluarga. yaitu raja Lembu Amiluhur dari Jenggala yang memiliki anak laki bernama Panji Kertapati dengan raja Lembu Amijaya dari Kediri yang mempunyai anak puteri bernama Candra Kirana atau Retna Galuh atau lebih sering disebut pula Sekartaji. Keempat raja yang menduduki tahta tersebut masih bersaudara. Dalam pertemuan itu pula Panji Kertapati sebagai kesatria tumpuan dari seluruh bala . Harapan raja Bramakumara. pada waktu itu terdapat empat kerajaan. Isi surat pada intinya bahwa Raja Bramakumara menantang perang dengan Panji Kertapati sebagai balas dendam atas kematian saudaranya raja dari Nusa Kencana. yaitu Jenggala. perkasa dan bala tentaranya besar. dipaparkan sebagai berikut. terjemahan Yanto Darmono tahun 1979. tidak lama kemudian Panji Kertapati mendirikan sebuah kota Pandhak yang letaknya diwilayah kerajaan Kediri.

Patih Guna Saronta dengan akal yang licik membujuk raja Bramakumara untuk masuk ke tamansari bersamanya guna mencuri Galuh Candrakirana dengan harapan . Manfaat lainnya dari buah ketan adalah menghilangkan segala penyakit dan dapat membuat tenteram. namun sang istri juga mengungkapkan impiannya bahwa ia disuruh dewa untuk makan buah ketan yang terdapat di taman sari di tengah hutan Tikbrasara.139 tentara kerajaan menyanggupi tantangan dan menunggu kedatangan raja Bramakumara sebagai penantang. Panji diperintahkan untuk segera pulang karena di dalam tamansari karaton Kediri akan muncul pencuri yang sangat sakti. bagi Panji itu merupakan tanggungjawab sebagai suami yang setia terhadap istri. Panji Kertapati mendapat dukungan dari Sekartaji istrinya. kelak menjadi kesatria yang sakti. Taman sari tersebut merupakan buatan dewa Batara Darma. Ungkapan Candra Kirana merupakan permintaan segera (nyidam). Atas kehendak dewa. sampai di tengah hutan Panji dan pengikutnya mendapatkan sebuah tamansari di dalamnya terdapat buah ketan yang digambarkan bagaikan surga. yang tidak diketahui manusia terletak di tengah hutan yang sangat keramat. Perjalanan untuk mencari buah ketan dilanjutkan. Di tengah hutan Tikbrasara Panji Kertapati perang dengan prajurit sandi dari Makassar yang akhirnya dimenangkan oleh Panji. Jika dapat makan buah ketan tersebut dewa akan meluluskan semua permintaaannya terutama bayi yang di dalam kandungan Sekartaji akan keluar anak lakilaki yang rupawan. untuk itu ia bergegas untuk mencari ke hutan yang diikuti oleh Bancak dan Dhoyok. gagah berani dalam medan perang dan menjadi raja yang Agung di Tanah Jawa. sehingga mereka sangat kerasan bahkan lupa untuk kembali pulang.

1968: 100-104) cerita Panji dalam Serat Kanda dikisahkan sebagai berikut. Galuh Candrakirana lebih baik memilih bunuh diri. Ketika Panji putra raja Jenggala hendak dikawinkan dengan putri raja Daha (Kediri) yaitu Sekartaji terjadi penculikan di tamansari Kediri.b Cerita Panji dalam perbandingan (Poerbatjaraka. . Galuh Candrakirana tidak bisa tidur datanglah Guna Saronta dan Bramakumara yang berusaha merayu agar Galuh bersedia menjadi prameswari. Keberangkatan Brahmana secara sendirian untuk menculik sang puteri disadari bahwa ia mengetahui pula bahwa Panji sebagai calon suami Sekartaji adalah seorang pahlawan yang tidak dapat ditaklukkan karena penjelmaan dewa yang lebih sakti dari pada anaknya. kemudian dalam benaknya berharap segera Panji suaminya segera dapat menolongnya. Pada malam yang sangat gelap Guna Saronta dan Bramakumara masuk tamansari dengan ajian yang membuat semua orang di dalamnya tertidur. Panji yang dengan ilmu siluman sejak awal tengah dekat dengan Galuh Istrinya segera bertindak dan menghajar Bramakumara dan Guna Saronta yang akhirnya Panji menang.140 mengurangi kekuatan Panji secara perlahan-lahan. ketika Bramakumara hendak memaksa Galuh. Rupanya dewa meluluskan permohonan sang dewi. Brahmana dari negeri seberang yang merasa memiliki tanggungjawab sebagai orang tua yang hendak meluluskan permintaan anaknya yaitu Kalana untuk kawin dengan sang Dewi Sekartaji. Kehadiran dan permintaan Bramakumara tetap ditolak. namun dapat dikalahkan oleh bala tentara Panji. Sekartaji dicuri seorang Brahmana untuk dikawinkan dengan anaknya bernama Klana. iapun bergegas menuju Kediri. Bala tentara dari Makassar yang dipimpin raja-raja bawahan segera menyerang Kediri. bahkan jika raja Makassar hendak memaksa. Rasa takut yang semakin mencekam menghinggapi Galuh Candrakirana. 1.

c Cerita Panji dalam dongeng. 1. Adapun ringkasan ceritanya sebagai berikut. Setelah beberapa hari berlangsungnya pesta perkawinan. Sekembalinya sepasang kekasih putra-putri kerajaan tersebut. Brahmana masuk tamansari Kediri dan menculiknya Sekartaji yang segera dibawa pulang ke Talkanda yakni tempat kediamannya sendiri karena ia terpesona kecantikan sang puteri. kemudian terjadi peperangan sangat dahsyat yang masing-masing saling mengeluarkan kekuatan-kekuatan gaibnya. Di tengah-tengah masyarakat Jawa. bukan untuk anaknya raja Kelana di Pulo Kencana. sedangkan Panji bersama Sekartaji kembali ke kerajaan.141 Pada malam tiba. Kepala Brahmana dapat dipenggal oleh Panji yang selanjutnya dikirimkan kepada raja Kelana di Pulo Kencana yang disertai sepucuk surat tantangan perang. Di sebuah desa terdapat seorang janda mempunyai tujuh anak yang . raja Kalana beserta prajuritnya menyerang Jenggala. Brahmana rupanya sangat bernafsu melihat Sekartaji. atas kehendak ke dua orang tua mereka. Panji dan Sekartaji dikawinkan dengan pesta secara besarbesaran. Andheandhe Lumut merupakan salah satu dongeng yang sangat dikenal yang tidak lain adalah menceriterakan tentang perjalanan hidup sepasang suami-istri yakni Panji Inukertapati dengan Sekartaji atau sering desebut Galuh Candrakirana. Peperangan berakhir kekalahan dipihak kerajaan Pulo Kencana dan raja Kelana mati terbunuh oleh Panji. Pengejaran Brahmana terhenti karena dihadang Panji. ia memaksa dan hendak memperkosanya namun sang puteri tetap menolak dan akhirnya melarikan diri ke hutan. Sesudah mendapatkan kemenangan raja Jenggala mengundurkan diri untuk menjadi seorang begawan dan mengangkat Panji sebagai pengganti raja di Jenggala dengan nama Dewakusuma yang didampingi Sekartaji sebagai prameswari serta para isteri selirnya.

Ketika keenam saudaranya hendak mengadu cinta terhadap seorang pemuda tampan Andhe-andhe Lumut putra seorang janda Dadapan. selanjutnya satu-persatu Kleting diseberangkan. dan sebagainya. Yuyukangkang bersedia menyeberangkan dan meminta upah bukan uang atau benda lainnya. seperti Kleting Abang. yang tidak lain adalah Candrakirana yang menyamar untuk mencari Panji suaminya. Kleting Ijo. namun tak seorangpun dapat dijumpai kemudian muncul Yuyukakang yaitu makhuk berbadan manusia berkepala kepiting raksasa yang merupakan penjilmaan dari Prabu Kelana dari negeri Sabrang yang telah lama jatuh cinta dan hendak memperistri Galuh Candrakirana. Enam Kleting tidak satupun yang diterima menjadi kekasih Andheandhe Lumut. jika saudaranya banyak dimanja namun Kleting Kuning lebih banyak disuruh bekerja keras dan sangat dibenci. Harapan . mereka ditolak semua dengan alasan telah menjadi sisa dari Yuyukangkang. ia disuruh untuk membersihkan periuk yang sangat kotor agar menjadi seperti baru lagi ke sungai yang jauh dari rumahnya. Kebencian ibunya terhadap Kleting Kuning tiba pada puncaknya. ketika ke enam saudaranya berangkat ke desa Dadapan. tetapi yang diminta adalah ciuman. Perlakuan ibunya terhadap Kleting Kuning sangat dibedakan dengan keenam Kleting saudaranya.142 masing-masing anak dengan nama panggilan depan Kleting dan nama berikutnya mengambil sebutan jenis warna. Anak yang paling bungsu rupanya sangat buruk bernama Kleting Kuning. mereka diberi pakaian yang bagus dan wangi-wangian agar salah satu darinya dapat memikat hati pemuda dimaksud dan menjadi isterinya. Permintaan Yuyukangkang disanggupi. Di tengah perjalanan menuju desa Dadapan para Kleting hendak menyeberang sungai.

bertemu Kleting Kuning sambil mengungkapkan kekesalannya dengan mengejek dan menghinanya dengan sindiran bahwa yang cantik-cantik saja tidak . senjata Sada Lanang dipukulkan ke sungai yang seketika itu airnya menjadi kering dan Yuyukangkang jatuh tidak berdaya. Keberangkatan Kleting Kuning menyusul Kleting lainnya rupanya tidak dikehendaki ibunya. kemudian permintaan Yuyukangkang disanggupi dan ia diseberangkan. Kleting Kuning marah. Kleting Kuning dapat membersihkan periuk menjadi mengkilap bahkan dapat bersinar dan diberi senjata Sada Lanang (seutas lidi) yang sakti. Rupanya keteguhan dan kesabaran Kleting Kuning membawa hikmah. Permintaan Kleting Kuning ditolak Yuyukangkang bahkan diusirnya untuk segera kembali pulang. Sekembalinya dari Dadapan enam Kleting yang jengkel hatinya karena ditolak cintanya. Atas kuasa dewa.143 ibunya supaya Kleting Kuning tidak mengikuti kakak-kakaknya melamar Andhe-andhe Lumut. Yuyukangkang mohon Kleting Kuning supaya mengembalikan airnya segera dan berjanji akan menyeberangkan. Yuyukangkang menjelma menjadi Prabu Kelana. ia bersemadi memohon pada dewa agar diberi kemudahan untuk membersihkan periuk yang dibawanya. maka sebelum berangkat ia hanya boleh memakai pakaian seadanya dan mukanya dibedaki seperti badut serta diberi bau-bauan yang busuk supaya tidak diterima Andhe-andhe Lumut. Setelah pulang Kleting Kuning tinggal menjumpai ibunya yang memberitau bahwa kakaknya semua berangkat melamar Andhe-andhe Lumut ke desa Dadapan. Di tepi penyeberangan Kleting Kuning hanya bertemu Yuyukangkang dan minta tolong untuk diseberangkan seperti kakaknya yang lebih dulu berangkat. ia merasa gagal tidak dapat bertemu Galuh Candrakirana kemudian memutuskan kembali pulang ke negeri sabrang.

Adapun bentuk garapnya hanya menyajikan dua peran utama yakni tokoh Panji Inukertapati dengan Dewi Sekartaji. Rupanya kisah tersebut menjadi sebuah inspirasi yang berarti bagi pasangan manusia yang menginginkan percintaan yang ideal. namun permasalahan-permasalahan yang dihadapi dapat diselesaikan dengan baik yang akhirnya mereka dapat berhasil menikmati hidup bahagia dalam sebuah keluarga. romantis. Andhe-andhe Lumut segera membawa Kleting Kuning masuk kamar dan menjelma menjadi Panji Inukertapati dan Sekartaji. Suka duka yang dialami masing-masing tokoh cukup berat. . Kleting Kuning mengungkapkan maksudnya yakni untuk mengadu cinta kepada Andhe-andhe Lumut. dan bahagia. Tema percintaan Panji Inukertapati dengan Dewi Sekartaji merupakan tema inti yang diangkat dari ketiga versi cerita Panji tersebut. Mereka sangat bahagia dan segera kembali ke istana dan disambut meriah oleh bangsawan dan seluruh rakyatnya.144 diterima apalagi yang jelek seperti badut (badut ini rias muka Kleting Kuning akibat perlakuan ibunya yang menghendaki supaya wajahnya menjadi jelek dan tidak diterima Andhe-andhe Lumut). Berdasarkan tiga versi cerita Panji dapat dirangkum secara padat dan singkat bahwa liku-liku perjalanan cinta Dewi Sekartaji dengan Panji Inukertapati merupakan gambaran percintaan yang sangat menarik dan bermakna dalam hubungannya dengan membangun kehidupan berkeluarga. Saat bertemu janda Dadapan. Ibunya terkejut melihat anaknya yang tampan sudi menerima kehadiran Kleting Kuning sebagai isterinya. Mendengar pembicaraaan itu Andhe-andhe Lumut segera menemui Kleting Kuning dan menyatakan menerimanya. Kleting Kuning dengan hati sabar terus melangkah menuju Dadapan. namun ditolak si janda.

Adapun untuk menyajikan adegan pencarian tersebut diungkapkan lewat suasana sedih yang implementasinya menjadi beberapa rasa: sedih. kebersamaan. karena tanpa kehadirannya tidak akan tersaji sebuah karya tari. menjaga keutuhan dan ketentraman keluarga. mesra. b) Adegan pertemuan. mengisahkan pertemuan antara tokoh Dewi Sekartaji dengan tokoh Panji Inukertapati sebagai sepasang suami istri yang telah lama tidak bertemu. sehingga suasana rindu yang teraktualisasi dalam beberapa rasa: marah (jengkel). Kinetic body moves atau Gerak tubuh merupakan medium utama dalam pertunjukan tari. setia. tegang. berdoa. dan harapan yang menjadi komitmen bersama dengan keinginan untuk berbuat kebajikan. 2. yang telah meninggalkan kerajaan. dan kacau. malu. mengisahkan tentang suasana kebahagiaan yang tengah dinikmati oleh Dewi Sekartaji dengan Panji Inukertapati sebagai sebuah keluarga. Keinginan-keinginan dari masing-masing tokoh tersebut dapat dicermati pada bahasa verbal yang tersurat dan tersirat pada cakepan gerongan Lambangsari yang merupakan cita-cita yang ideal untuk mewujudkan sebuah keluarga yang bahagia. c) Adegan Bahagia. Dalam tari Karonsih yang merupakan seni tradisi (seni yang bersumber dari istana) terdapat beragam jenis vokabuler gerak dengan karakternya masing-masing. dan adegan bahagia. pasrah. Merujuk pada . a). adegan pertemuan. serta selalu mohon barokah kepada Yang Kuasa. Suasana kebahagiaan ini diungkapkan dalam bentuk komplementer dari rasa gembira.145 Adapun tema percintaan dari cerita Panji tersebut secara garis besar dibagi menjadi tiga adegan yaitu: adegan pencarian. mesra merupakan esensi yang hendak diekspresikan dalam adegan dimaksud. Adegan pencarian mengisahkan liku-liku perjalanan Dewi Sekartaji sebagai seorang putri raja yang pergi meninggalkan kerajaan untuk berupaya mencari Panji Inukertapati suaminya.merayu.

Adapun pembagiannya dapat dicermati pada paparan berikut ini. sedih. ridhong sampur kiri. lumaksono. Peristiwa yang terjadi untuk adegan pencarian digambarkan Dewi Sekartaji keluar dari pojok belakang kanan stage menuju tengah dengan gerak: srisik. Di tengah-tengah pencarian Panji. kengser. pola-pola sekarannya bersifat presentatif dan representatif. Adegan pencarian merupakan adegan pertama yang mengawali dari seluruh rangkaian seluruh adegan secara utuh. yang berubah menjadi tenang setelah Sekartaji dapat bertemu Panji. Sedangkan suasana ketegangan. badan putar menghadap belakang srisik mundur kemudian putar menghadap depan. . diungkapkan lewat gerak: kengseran.dan Lembehan separo dengan iringan ketawang Ngrenas. badan nglayang (memutar) ke kiri. kembali ke pojok kiri belakang. Adapun bentuk-bentuk vokabuler yang terdapat pada masing-masing adegan secara garis besar. yaitu presentatif dan representatif. kemudian srisik ke pojok belakang kanan dan dilanjutkan srisik menuju ke center stage. usap kiri – usap kanan dengan iringan pathetan. kekacauan. kaki njujut. Bentuk gerak pada adegan I pencarian secara garis besar dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis gerak. suasana berdoa. badan berputar turun menjadi jengkeng dengan iringan Gangsaran nada 2 slendro yang berubah menjadi gangsaran nada 1 pelog. dan pasrah yang menyelimuti Sekartaji diekspresikan lewat gerak Laras Sampir sampur kanan. serta pertimbangan peristiwa dan tema yang diangkat kemudian dipilih pola-pola sekaran atau vokabuler gerak yang sesuai. Sekar suwun. tawing kiri ingsetan.146 beragam rasa yang dikehendaki meningkat pada suasana-suasana yang terdapat dalam adegan pada tari Karonsih tersebut. badan ngglebak ke kanan hadap ke depan. srisik yang dilakukan secara berulang ke pojok kanan depan.

kecuali jari jempol ditekuk. tangan kiri trap cetik.147 Adegan Nama Tokoh Jenis Gerak Keterangan Representatif No I. Kedua tangan trap cetik nyempurit membuka. tangan kanan trap wadana miwir sampur Distilisasi gerak orang lari dengan cara mundur. Kedua tangan trap cetik miwir sampur Distilisasi gerak orang lari. 4 Srisik (tangan nekuk) dengan mundur. Pencarian. 5 Srisik kipat sampur. Posisi kedua tangan menthang sampur kedua tangan lurus membuka ke samping dengan membawa . Posisi kedua tangan ditekuk di depan pinggang dengan jari-jari 3 Srisik (tangan nekuk). tangan trap cetik yang kiri nyempurit dan kanannya nyekithing Distilisasi gerak orang lari. Posisi kedua tangan ditekuk di depan pinggang dengan membawa sampur (selendang) Distilisasi gerak orang lari. Tangan kiri ditekuk di depan pinggang. Distilisasi gerak orang lari. sedangkan tangan kanan ditekuk di depan mulut dan keduanya membawa sampur. Pindah tempat dengan cara lari kecil yang posisi kedua tangan ditekuk pingggang di depan setinggi 2 Srisik (tangan nekuk). Dewi Sekartaji 1 Srisik (tangan nekuk).

tangan kiri ditekuk di depan pinggang bagian kiri dan keduanya membawa sampur. Posisi tangan kiri lurus ke samping sejajar pinggang. tangan kanan ditekuk bagian di kanan depan dan pinggang keduanya Distilisasi gerak orang lari.148 sampur. Posisi tangan kanan lurus ke samping sejajar pinggang. Distilisasi gerak orang lari. menthang sampur Distilisasi gerak orang sedang jalan. membawa sampur. 9 Enjer Distilisasi gerak orang jalan ke samping. tangan kiri menthang dan tangan kanan trap karna miwir sampur 7 Srisik kipat sampur. 8 Lumaksono. 6 Srisik kipat sampur. 10 tawing kiri Distilisasi gerak orang melihat ke samping kiri. Posisi Tangan kiri menthang dan tangan kanan trap cetik miwir sampur tangan kiri lurus ke samping sejajar pinggang. . tangan kanan ditekuk di depan telinga kiri dan keduanya membawa sampur.

kanan sampur kiri yang tangan membawa sambil mengusap leher ke kanan 5 Sampir kesan sedih Sampur dililitkan .Hadap badan yang bergantian diikuti dan kedua kaki serta naik-turun naik-turun tangan secara bergantian 4 Ridhong ulap sampur kesan sedih Sampur melilit pada tangan ditekuk. Dewi Sekartaji 1 Kengser kesan menjauh.149 Adegan Nama Tokoh Jenis Gerak Ekspresi Presentatif Keterangan No I Pencarian. 3 Njujut glebakan kesan liku berliku. namun tetap menempel lantai. 2 Nglayang kesan berat Kaki badan merendah. miring lalu maju pada digerakkan melengkung. Pindah tempat cara kedua merupakan gerak dengan penghubung menggeser kakinya.

tangan kanan mengayun ke atas dan ke bawah. putar badan bersama kedua tangan diputar kesan liku berliku- . kengser leyekan. tangan kanan seblak sampur. 8 Kembang pepe. berulang dibarengi kedua dibarengi tangan kiri ditekuk. tangan kiri trap cetik. 6 Sekar suwun kesan sedih Tangan kiri trap dahi.150 sampur laras pada pundak. 7 sindhet gerak penghubung Kaki kiri di tekuk dibelakang kanan kaki lurus. tangan kanan lurus lalu di tekuk dilakukan dan bergesernya kaki (ingsetan).

ketika Panji jengkeng nyathok (njawil) bahu. ulap-ulap tangan kiri – kanan. tangan kanan nyaut. panggel. Pertemuan sepasang suami istri yang telah lama tidak berjumpa bahkan harus dilalui dengan liku-liku. besut. yang digambarkan jengkeng (duduk) diikuti kedua tangan memegang sampur sambil menutup raut muka pada posisi centre stage. . maju lumaksono. Datang Panji dari belakang. tangan kanan nyaut dengan kebyok kemudian mundur. Suasana marah diekspresikan Sekartaji dengan berdiri enjer. Setelah merasa tidak dapat menemukan Panji. ngancap. laras genjot. tanjak kanan. nyabet ukel karna kanan. Dukungan untuk mengungkapkan suasana tersebut dengan iringan ketawang Kinanthi Sandhung dengan menggunakan garap gerongan dua cakepan (bait). tidak ditanggapi Sekartaji dengan hati gembira. srisik. Suasana kemesraan Sekartaji dan Panji semakin terasa yang diungkapkan lewat gerak tangkep asta. dan kengser ke kanan. maju. tangan pondhongan kemudian nyaut jeblos (tukar tempat) lalu Sekartaji memberikan sampur dan segera diterima Panji. tanjak tawing kanan.151 Adegan pertemuan merupakan adegan kedua yang menggambarkan pertemuan Dewi Sekartaji dengan Panji Inukertapati. Panji segera memburu Sekartaji dengan gerak berdiri srisik. Sekartaji tampak putus harapan. Pertemuan tersebut disambut Sekartaji dengan rasa marah. Adapun adegan pertemuan Sekartaji dengan Panji Inukertapati digambarkan seperti berikut. Sekartaji merasa malu kemudian melepas kedua tangan dan srisik yang segera dikejar Panji dengan srisik nyandhet tangkep asta ngaras (berciuman). Untuk meredakan kemarahan Sekartaji. segera Panji mencoba untuk merayunya lalu suasana mereda muncul rasa malu yang segera berubah menjadi mesra. Panji mencoba merayunya kembali dengan lumaksono kebyokan sampur.

maju. tangan kiri menthang. tangan kanan tawing.152 Perasaan malu juga ditampakkan oleh kedua tokoh tersebut setelah berciuman lepas kedua tangan. Adapun jenis-jenis gerak presentatif maupun representatif yang terdapat pada adegan dua: pertemuan. sebagai berikut. Asmara yang dibangun Sekartaji dan Panji Inukertapati mulai menyatu. hal ini diekspresikan dengan bentuk-bentuk gerak selalu bergandengan tangan. kengser ke kanan-kiri. kanthen tangan kanan. adu tangan kiri nekuk. srisik melingkar. dapat diklasifikasikan secara garis besar. laku enjer saling menjauh. seperti: kanthen tangan kanan. .

tangan kiri ditekuk depan pinggang kiri. Pertemuan Keterangan Dewi Sekartaji Representatif Panji Inukertapati Jengkeng. tangan nyathok bahu 5 Kapyukankengser Distilisasi gerak lumaksono memberi sampur lalu . kedua tangan membawa sampur.153 Adegan Nama Tokoh Jenis Gerak Nama Tokoh Jenis Gerak No II. jalan gerak ke Ulap-ulap tawing kiri Distilisasi melihat ke kiri dari orang 3 tawing kiri Distilisasi dari orang melihat Ulap-ulap tawing kanan Distilisasi dari orang melihat ke kanan Distilisasi mencubit Distilisasi berjalan dari gerak dari gerak 4 Endhan Distilisasi menghindar gerak Jengkeng. tangan kanan ditekuk di depan telinga kiri 2 enjer Distilisasi orang samping. raut muka ditutup sampur Distilisasi menangis orang Srisik kebyok sampur Representatif Keterangan 1 Distilisasi gerak lari.

srisik Distilisasi gerak pondhongan Distilisasi memondong dari gerak orang bergandengan tangan kiri sambil lari Distilisasi gerak srisik. kedua tangan ditekuk Distilisasi gerak lari orang bergandengan tangan kanan sambil lari . Tangan kiri menthang dan tangan kanan trap karna 7 Ngaras Distilisasi berciuman 8 Kanthen tangan kanan kengser Distilisasi gerak Lumaksono kebyokan sampur gerak sautan Distilisasi gerak Orang menubruk Distilisasi berjalan dari gerak Distilisasi gerak lari Srisik Distilisasi gerak lari orang bergandengan tangan kanan. lalu tarik menarik 9 Kanthen tangan kiri. srisik 10 Kanthen tangan kanan.154 untuk tarik menarik 6 Srisik menthang.

155 11 Sautan jeblos Distilisasi gerak Orang menubruk Adegan Nama Tokoh Jenis Gerak Nama Tokoh Jenis Gerak II. kebyokan laras 2 Nyabet ukel karno 3 4 Sindhet Sekaran golek iwak Presentatif Keterangan Panji Inukertapati kesan tenang pasrah dan besut Presentatif Keterangan Gerak penghubung kesan hati-hati genjotan kesan tenang gerak penghubung kesan tenang nyabet ngancap kesan hati-hati kesan mencari . No Pertemuan Dewi Sekartaji 1 Jengkeng.

Trap jamang. sampur melihat dari ke b. Distilisasi kedua tangan dari orang melihat ke depan Distilisasi melihat ke kiri dari orang Distilisasi dari orang . Bahagia 1 Dewi Sekartaji a. kedua tangan Distilisasi orang depan 3 c. tangan kanan Distilisasi orang depan 2 b. segar. kebersamaan. luluran Distilisasi dari c. Trap jamang. ulap-ulap kiri melihat dari ke Representatif Panji Inukertapati Representatif Keterangan a. adalah sekaran-sekaran kebar yang mempunyai rasa riang. lilingan. yang secara bersama-sama melakukan gerak: Nama Tokoh Jenis Gerak Nama Tokoh Jenis Gerak Keterangan No III.Trap jamang. dan gembira. setelah Panji Inukertapati dan Sekartaji srisik kanthen tangan kanan menuju stage depan kemudian tangan lepas mundur ke stage centre.156 Adegan III merupakan gambaran suasana bahagia yang tengah menyelimuti hati sepasang suami-istri yaitu Panji Inukertapati dan Dewi Sekartaji. dan keharmonisan antara Panji Inukertapati dan Sekartaji. Vokabuler gerak yang dipilih untuk mengungkapkan suasana bahagia yang tercermin dalam rasa gembira. Adapun jalannya sajian gerak secara berurutan. kemesraan.

lilingan. trap jamang. pacak Distilisasi gulu ingsetan melihat dari orang 7 g. kebyokan sampur Distilisasi orang melihat dari e. Distilisasi dari orang kedua tangan melihat ke depan . lilingan. rimong Distilisasi sampur orang melihat dari f. ukel Distilisasi karno sinangga dari orang bokor melihat dengan membawa bokor di atas bahu 6 f. lilingan. trap jamang. ngore rikma Distilisasi orang rambut dari menata d. Distilisasi kedua tangan orang depan melihat dari ke h. laku telu Distilisasi berjalan dari orang 5 e. srisik kanthen Distilisasi gerak orang lari tangan kanan bergandengan kanan tangan 8 h. srisik kanthen Distilisasi tangan kanan orang bergandengan tangan kanan gerak lari g.157 orang membersihkan kulit dengan lulur melihat 4 d. lilingan.

jengkeng ngilo Distilisasi asta gerak l. kanthen tangan Distilisasi kanan. laku telu Distilisasi orang dari gerak dengan pondhongan berjalan memondong 10 j. ingsetan gerak j. encot lumaksono Distilisasi kanthen gerak dari n. ngalisi Distilisasi gerak orang orang duduk sambil berkaca merias cara membuat alis 13 m. laku telu Distilisasi orang berjalan dari i. kanthen tangan Distilisasi kanan bergandengan gerak orang tangan orang bergandengan tangan kanan sambil tarik menarik kanan sambil tarik menarik 11 k. enjeran orang samping bergandengan tangan kiri jalan gerak ke k. kanthen tangan Distilisasi kiri. encot lumaksono Distilisasi dari gerak orang jalan kanthen orang jalan bergandengan . kanthen tangan Distilisasi kiri.158 9 i. alisan Distilisasi gerak lilingan Distilisasi melihat dari orang orang sedang alisan 14 n. enjeran gerak orang jalan ke samping sambil bergandengan tangan kiri sambil 12 l.

pangkon ulap. srisik kanthen tangan kanan Distilisasi orang bergandengan tangan kanan gerak lari r. srisik kanthen Distilisasi tangan kanan orang bergandengan tangan kanan gerak lari o. pangkon ulap.Distilisasi ulap tangan kiri dari q.159 tangan kanan bergandengan tangan berbicara sambil tangan kanan tangan sambil berbicara 15 o. sambil melihat diduduki lututnya. lumaksono Distilisasi dari p. srisik kanthen Distilisasi gerak orang lari tangan kanan bergandengan kanan tangan 16 p. sambil melihat 18 r. lumaksono Distilisasi dari gerak lembehan sampur kanan 17 gerak orang berjalan lembehan sampur orang berjalan kanan q.Distilisasi ulap tangan kanan orang yang dari gerak gerak orang duduk di atas lutut. srisik kanthen tangan kanan Distilisasi gerak orang lari bergandengan kanan tangan .

bersalaman dengan temanten 20 t. orang bergandengan tangan kanan kanan. bersalaman kedua tua dengan temanten t. dengan bersalaman kedua dengan orang temanten dan bersama temanten 21 orang tua temanten dan photo bersama photo temanten u. masuk (selesai). bergandengan kanan masuk (selesai). srisik kanthen tangan Distilisasi gerak orang lari tangan kanan. bersalaman s. Bahagia 1 Tokoh Dewi Sekartaji Jenis Gerak Presentatif Keterangan Tokoh Panji Inukertapati Jenis Gerak Presentatif Keterangan kebyokan sampur Kesan berputar – ngenceng kanan putar dengan putar bercanda sambil kebyokan sampur Kesan dengan putar berputar – putar sambil bercanda . srisik kanthen tangan Distilisasi gerak lari u. Adegan No III.160 19 s.

a. Bahagia Dewi Sekartaji Presentatif Panji Inukertapati 4 Jumlah total Presentatif 1 18 Presentatif 4 4 1 8 . Pertemuan Dewi Sekartaji Representatif Panji Inukertapati 3 III. No Adegan Nama tokoh Jenis Gerak Jumlah vokabuler 1 I. Pencarian Dewi Sekartaji Presentatif 2 II.161 Dari paparan jenis-jenis gerak representatif dan presentatif yang terdapat pada tari Karonsih. Pertemuan Dewi Sekartaji Presentatif Panji Inukertapati 3 III. Pencarian Dewi Sekartaji Representatif 2 II. No Adegan Nama tokoh Jenis Gerak Jumlah vokabuler 1 I. Jenis gerak Presentatif. Bahagia Dewi Sekartaji Representatif Panji Inukertapati 4 Jumlah total Representatif 21 73 Representatif 10 11 21 10 b. Jenis gerak Representatif. dapat dicermati secara kuantitatif.

beberapa kulit wajah berwarna kemerahan. kriminalitas.80 % Jumlah total gerak representatif dan presentatif = 73 + 18 Jumlah persentase gerak representatif = 73 : 91 X 100. II. 3. Orang sedih dapat ditunjukkan tanpa ekspresi senyum. merupakan sarana untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik terhadap sesuatu yang sedang dikomunikasikan. bibir bergetar. mengerutkan dahi. dan III I.20 %. biasanya berusaha untuk menutup wajah. Berbeda dengan orang marah yang pada umumnya dapat dicirikan lewat tatapan mata yang kuat. wajah mengerut. dan gertakan gigi secara bersama-sama. Beberapa orang telah banyak mencoba membuktikan bahwa penampilan wajah dapat menjadi indikator yang cukup meyakinkan mengenai berbagai sifat manusia. Selain itu ekspresi wajah dapat difungsikan . 19. namun itu semua rupanya tidak valid. stabilitas emosional. Jumlah persentase gerak presentatif = 18 : 91 X 100. Tari Karonsih. dan menunduk. bahkan taraf kegilaan. bibir tertutup rapat. dan III Jenis gerak representatif presentatif jumlah 73 18 91 80. seperti kecerdasan. No 1 2 3 4 5 Adegan I. Polatan (ekspresi wajah). Ekspresi wajah atau gerak wajah bukannya wajah dalam pengertian objek yang statis. Sekarang dapat disarikan bahwa ekspresi wajah mampu memberikan kontribusi yang sangat berperan terutama untuk mengekspresikan perasaan.162 Jumlah persentase jenis-jenis gerak representatif dan presentatif tari Karonsih. Wajah sebagai alat untuk memprediksikan sifat-sifat manusia kurang memadai. II. Kesedihan yang mendalam dapat dicirikan meneteskan air mata.

saling melempar senyum sebagai tanda cinta. Sikap marah yang ditampilkan Sekartaji ketika bertemu awal dengan Panji. baik sebagai ekspresi perasaan secara mandiri maupun membantu memperkuat pesan bahasa verbal. Perubahan ekspresi mulai tampak ketika wajah Sekartaji tampak tegang. cerah terutama ditampilkan pada adegan bahagia.163 untuk membantu memperkuat pengaruh terhadap pesan verbal. keduanya banyak saling berhadapan wajah. Berikut merupakan gambaran ekspresi wajah yang dapat dicermati pada tari pasihan lewat Polatan Sekartaji maupun Panji Inukertapati yang akan tercermin pada suasana-suasana adegan yang menggambarkan peristiwa yang tengah terjadi. Dalam seni pertunjukan khususnya pada bidang tari ekspresi wajah merupakan sarana yang cukup berperan. kepala tegak dan pandangan mata lebih tajam disertai gerak kepala lebih tegas. Semakin jelas bahwa ekspresi wajah merupakan sarana yang cukup vital dalam berkomunikasi nonverbal. ketenangan ekspresi wajah lebih ditampilkan dalam rangka memperlihatkan sikap sabar untuk mendapatkan perhatian Sekartaji. damai dan bahagia. polatan lebih banyak menunduk. mesra. demi tercapainya sebuah ekspresi dari masing-masing peran. Ekspresi wajah Sekartaji maupun Panji Inukertapati tampak gembira. Pada adegan pencarian. ketika kesedian menyelimuti Sekartaji. hal ini mengekspresikan ketegangan Sekartaji yang dapat dicermati pada peralihan adegan pencarian ke adegan pertemuan. banyak membantu memperkuat pesan bahasa verbal. ekspresi wajahnya lebih banyak menunduk dan memalingkan kepala setiap dicoba untuk didekati Panji. Puncak kemesraan pada adegan bahagia ini terekspresikan pada saat Sekartaji duduk dipangkuan . Polatan Panji lebih terfokus pada Sekartaji. Perubahan-perubahan ekspresi wajah dalam tari pasihan.

pernik-pernik asesoris. Begitu pula gerak-gerik wajah terpengaruh menjadi pelan. corak jarit (kain). Berbeda dengan ekspresi wajah peran-peran tokoh antagonis atau lanyap atau gagah agal seperti Rahwana. Bentuk rias dan dandanan busana dalam tari Karonsih mengacu pada rias peran pada wayang orang. Beberapa tokoh tersebut memiliki perubahan ekspresi wajah yang mencolok dan tampak jelas. juga terdapat persamaan pada bahan. Hal itu sangat mendorong perkembangan tari Karonsih akan lebih cepat meluas dan memasyarakat. Terutama untuk busana. 4. sehingga seluruh gerak tubuh secara psikologis menjadi pelan. lincah. Mustakaweni. dan mesra. dan tegas sangat mempengaruhi gerak-gerik wajah untuk harmonisasi gerak seluruh tubuh untuk mencapai kualitas sebuah karakter yang tepat dan mantap. Aspek yang mempengaruhi hal tersebut adalah karakter tenang (luruh) lebih banyak dibingkai oleh dominasi gerak-gerak yang berirama pelan. perubahan ekspresi wajah menjadi tampak lebih halus hampir tidak kelihatan. baik dari suasana marah menjadi sedih atau sebaliknya. corak sabuk serta jenis–jenis tatahan pada jamang irah-irahan (mahkota kepala). Baladewa. dan tegas. Warna busana lebih dominasi warna hijau.164 Panji Inukertapati. Srikandi. sehingga akses untuk diterimanya dan sebaran apresiasinya tidak mengalami kendala. Bentuk-bentuk ekspresi wajah dalam tari pasihan yang karakternya tenang (luruh) seperti diekspresikan Sekartaji maupun Panji Inukertapati tampak tidak menyolok. Kebebasan untuk bergerak lebih cepat. yang berkarakter jalang. lincah. senyum. . mereka saling memandang dengan ekspresi wajah ceria. selain bentuk dandanan yang serupa dengan wayang orang. emosional. konsep yang mendasari bahwa budaya wayang orang telah lebih dikenal masyarakat di wilayah Surakarta.

Fase-fase ketegangan. Mahkota kepala yang berupa tekes panjen merupakan identitas dari bangsawan panji yang bersumber pada ceritera Babad. Pola lantai yang dibentuk dari perpindahan penari maupun jarak antarpenari merupakan salah satu unsur pendukung keberhasilan sebuah pertunjukan. seperti aktualisasi adegan Sekartaji mencari Panji Inukertapati (lihat gambar: 1).165 coklat dan warna kuning emas. Sedangkan jarit lereng tanggung merupakan upaya mendudukan status sosial dari Panji Inukertapati dan Sekartaji sebagai putra raja. kekacauan Sekartaji ketika belum dapat bertemu Panji. Secara prinsip pola lantai yang terdapat dalam tari Karonsih. Gambar: 1. Adapun warna kuning emas memiliki kesan keagungan dan kejayaan. dominasi garis-garis lurus sangat kuat untuk menghantarkan pencapaian suasana tegang (lihat gambar: 2). kemauan yang kuat dan tegas. Garis-garis lurus lebih banyak digunakan untuk mengungkapkan keinginan. Gambar: 2. yaitu garis lurus dan garis lengkung. Warna hijau dengan maksud warna tersebut memiliki simbolik tumbuh lebih hidup dan menjadi subur. . sesuai dengan tokoh-tokoh sebagai pelakunya yang merupakan darah bangsawan Sekartaji dari kerajaan Jenggala dan Panji Inukertapati putra raja Kediri. 5. Selain itu warna kuning emas juga menyuguhkan kesan glamor sehingga pertunjukan menjadi menarik dan mampu memikat masyarakat penonton. mencakup dua bentuk utama.

dan berdekatan yang kesemuanya itu dapat dicermati pada hampir seluruh sajian sekaran kebaran.166 Garis-garis lengkung lebih difungsikan untuk mengungkapkan kesan manis. Beberapa bentuk garis lengkung tersebut seperti difungsikan pada adegan pertemuan berikut ini: ketika Panji berupaya merayu terhadap Sekartaji. Gambar 2: pola lantai untuk sekaran trap jamang dan ulap-ulap kiri pada adegan 3. kebersamaan. manis dalam mendukung ekspresi gerak yang disajikan pada adegan bahagia terungkap kesan kegembiraan. Untuk adegan kebahagiaan rupanya lebih didominasi garis-garis lengkung yang berbentuk melingkar yang masing-masing tokoh pada posisi saling berhadap-hadapan. berjajar. . keharmonisan sepasang peran yang ditampilkan menjadi ekspresif dan mantap. gambar: 1 gambar: 2 <<<< Gambar 1: pola lantai untuk sekaran srisik kanthen tangan pada awal kebar adegan 3. Maksud yang mendasari dari kesan garis lengkung tersebut adalah kesan lembut. kemesraan. yang dalam tari ini dimaknai sebagai sarana ekspresi tentang sesuatu yang menurut bentuk dan sifatnya menunjukkan hal-hal yang manis dan lembut. lembut. awal kemesraan kedua figur peran setelah Sekartaji luluh hatinya.

Karawitan tari yang berfungsi sebagai pendukung sajian tari Karonsih secara menyeluruh telah mengalami penggarapan yang cukup selektif. Pemilihan gendhing-gendhing dari sekian repertoar gendhing yang terdapat pada khasanah karawitan. Karawitan tari yang berupa repertoar gendhing-gendhing merupakan salah satu unsur yang mampu memberikan kontribusi sangat penting demi terselenggaranya sebuah pertunjukan tari. Gambar 4: pola lantai untuk sekaran srisik kanthen tangan pada akhir kebar adegan 3. 6. Kejelian seorang penyusun tari tampak bahwa selain rasa musikal yang harus komplementer secara padu dengan rasa yang diungkapkan dalam tari. Iringan tari yang lazim juga disebut karawitan tari adalah gendhing-gendhing karawitan yang diaransir sedemikian rupa sehingga rasa musikal yang terbentuk dapat memenuhi kebutuhan ekspresi tari. juga secara parsial pada masing-masing garap . Artinya bahwa rasa dalam tari akan didukung rasa yang ditimbulkan dari alunan gendhing yang secara komplemen menyatu membentuk suasana-suasana untuk mengekspresikan sebuah nilai tertentu dalam kehidupan.167 Gambar: 3 gambar: 4 Gambar 3: pola lantai sekaran lilingan kebyokan dan lilingan rimong pada adegan 3. didasarkan atas pertimbangan rasa musikal terkait dengan kecocokan suasana yang telah ditetapkan dalam tari Karonsih.

5 dan dua bait terdapat dalam gendhing Ketawang Kinanthi Sandhung Lr. Garap pathetan terkait dengan teks verbal ini adalah garap lagu tembang jawa yang dinyanyikan secara solo ataupun bersama dan dikomplemen dengan ricikan instrumen gamelan: rebab. Pada awalnya garap Pathetan dalam tari dinyanyikan secara bersama oleh vokalis pria. Garap sindhenan teks verbal .pt. Teks verbal Garap pathetan terdiri dari satu bait yang terdapat pada iringan pembukaan untuk adegan pertama yaitu Pathetan Wantah Lr. dan gambang. pt. tema. pl. dan makna tarinya. suling. suasana. yakni: (1) garap pathetan (2) garap sindhenan dan (3) garap gerongan. 5. Berbeda yang terjadi di dunia pewayangan. 2008). 5. 1967: 1). sl. pl.168 gendhing terdapat teks verbal yang berupa cakepan yang berfungsi untuk menjelaskan secara singkat dan padat tentang peristiwa yang tengah terjadi pada masing-masing adegan sehingga akan dapat tergambar secara menyeluruh tentang rasa. manyura. Garap sindhenan teks verbal dalam tari Karonsih terdiri dari satu bait terdapat dalam gendhing Ketawang Pangkur Ngrenas Lr. Rasa semangat. dan gagah. gender.pt. sedih yang diekspresikan garap Pathetan Wantah Lr. Teks sastra tembang yang merupakan bahasa verbal tari Karonsih. pl. mengiringi adegan pencarian yang dilakukan Sekartaji terhadap Panji Inukertapati suaminya. Sindhenan adalah vokal putri yang menyertai karawitan (Matopangrawit.pt. Fungsi garap Pathetan pada tari Karonsih ini sifatnya memberikan ilustrasi rasa musikal tertentu terkait dengan suasana adegannya. berwibawa. garap Pathetan dinyanyikan secara solo oleh seorang dalang (wawancara Rusdiantara. peristiwa. contohnya bentuk-bentuk Pathetan dalam tari Bedhaya dan Srimpi yang menampilkan rasa agung. terdiri dari beberapa garap lagu.

Jika terdapat lagu gerongan pada gendhing tersebut garap sindhenan mengikuti setelah lagu gerongan (nggandul) namun berakhir bersama. yang pengambilan suara pertama dimulai tepat dengan sabetan balungan dan berakhir tepat dengan sabetan balungan. Fungsi garap gerongan lebih difokuskan untuk mengekspresikan kesan maskulin yang mempunyai sifat kuat. Menurut Martopangrawit gerong adalah vokal bersama (koor) suara pria yang iramanya sama dengan karawitannya (1967: 3). 5.169 adalah garap lagu tembang jawa dinyanyikan secara solo. Secara garis besar gendhing-gendhing dalam tari Karonsih menggunakan dua laras yaitu pelog dan slendro. biasanya oleh seorang pesindhen atau vokalis wanita. Gendhing-gendhing yang berlaras pelog yang relatif memiliki nada-nada tinggi (tenor) rupanya kuat dan mantap untuk garap musikal yang mengungkapkan rasa sedih. Fungsi garap sindhenan lebih diarahkan untuk mengekspresikan kesan feminin yang memiliki sifat halus. lembut. pt manyura yang mencakup dua bait.nada lebih . Iringan gendhing yang menggunakan garap gerongan pada tari ini terdapat dalam gendhing Lambangsari lr. Perubahan ke laras slendro yang secara musikal memiliki nada. gagah.sl. Garap gerongan merupakan garap lagu tembang jawa dinyanyikan secara bersama – sama ( koor). pl. Hal ini dapat dicermati pada adegan pertama yang mempresentasikan kesedian perjalanan Sekartaji dalam upaya mencari suaminya yang menggunakan garap pathetan laras pelog pathet lima dan Ketawang Pangkur Ngrenas Lr.pt. yang pengambilan suaranya menyela diantara sabetan balungan (irama ketukan nada) dan berakhir setelah sabetan balungan. Dalam perkembangannya jenis garap gerongan dapat dinyanyikan oleh vokalis kelompok putra atau vokalis kelompok putri atau campuran vokalis kelompok putra dengan vokalis kelompok putri. dan manis. dan sigrak.

pt. Bentuk menyatunya iringan dengan gerak. b. pl. Gendhing Ketawang Pangkur Ngrenas Lr.sl. didukung beberapa iringan gendhing. 5 yang merupakan iringan kedua setelah pathetan laras pelog pathet lima.pt. pt. Bentuk susunan iringan tari Karonsih seluruhnya dan secara urut dari adegan satu sampai adegan tiga (adegan akhir) dapat dicermati berikut ini. Adegan : I. rasa seleh yang . 5. rasa musikal mengekspresikan suasana sedih menyatu dengan ekspresi gerak yang menggambarkan kesedihan Dewi Sekartaji.sl. Keterpaduan yang dimaksudkan adalah menyatunya rasa musikal gendhing Ketawang Pangkur Ngrenas dengan ekspresi vokabuler gerak yang secara komplemen mengungkapkan suasana sedih yang dialami Sekartaji yang terjabar dalam beberapa rasa: sedih. Kedudukan iringan pathetan laras pelog pathet lima pada adegan ini bersifat nglambari artinya rasa musikal yang dihasilkan dari garap pathetan laras pelog pathet lima berfungsi untuk memberikan ilustrasi terhadap suasana sedih yang dialami Dewi Sekartaji. diantaranya: a. dan pasrah. dapat dicermati secara komprehensip dari beberapa elemen. Adapun perubahan ke laras slendro itu diawali dari Ketawang Kinanthi Sandhung Lr. Adegan pencarian sebagai adegan pertama dalam tari Karonsih. pl. dan gangsaran 2 slendro. sl. Pencarian. kedudukannya dalam adegan pencarian ini bersifat nyawiji. antara lain: pathetan laras pelog pathet lima. pt manyura dan ladrang Sigramangsah lr. gangsaran 1 pelog. pt manyura. manyura pada adegan kedua hingga iringan adegan tiga yang meliputi: gendhing Lambangsari lr. Pengertian nyawiji di sini garap gendhing Ketawang Pangkur Ngrenas implementasinya dengan garap gerak adalah menyatu. doa. Ketawang Pangkur Ngrenas Lr.170 rendah (bass) diharapkan perubahan suasana menjadi lebih terasa mencair dan terbuka.

kar zyx.ton zyx. baik rasa seleh ringan maupun rasa seleh berat. pl. Secara urut bentuk iringan untuk adegan 1: pencarian. Kiranya tidaklah berlebihan jika gangsaran 1 pelog. dan gangsaran 2 Slendro.ji zyc1 1 z1x2c1 dha .ct ta . pola gatra yang terdapat pada bentuk gendhing Ketawang dapat dijadikan tanda mulai bergerak ataupun berakhirnya suatu gerak pada tari.171 terdapat pada gendhing merupakan iringan yang mendukung rasa seleh pada tari. 5 ty 1 2 2 2 Xz2Xc3 Xz2c1 z1x2c3 z3x. dan gangsaran 2 Slendro mempunyai peranan cukup penting dalam menjembatani peralihan laras yang berdampak pada perubahan suasana menjadi semakin mantap.Xx2c1 Sang ret . dapat dicermati paparan berikut ini.c5 Jeng .kar sking ke - . Terkait dengan alur adegan kedua bentuk gangsaran tersebut merupakan fase peralihan laras dari pelog ke laras slendro.wi z1Xx2c1 dha .ton 2 2 Jeng .x2c1 Sang ret t na yu 1 De wi Se . merupakan iringan yang secara musikal dapat mengekspresikan suasana tegang yang kedudukannya pada adegan ini lebih bersifat nglambari. pt.kar t y sking ke 1 2 yu 1 z2c3 z2c1 z1Xx2c3 Se kar . Pathetan Wantah Lr. c. Implementasinya rasa musikal yang berirama 1/1 dari gangsaran mampu memberikan ilustrasi rasa tegang yang mendukung kekacauan atau ketegangan yang diekspresikan Sekartaji lewat gerak-gerak srisik yang dilakukan secara berulang-ulang dengan gerak kepala yang sedikit lebih tegas.ta ji z3x. Gangsaran 1 pelog.na t zyc1 1 De .

x5x4Xx. 3 . 2 5 .ra . 2 z3x. 5 Buka : 1 1 5 6 . zyx.x2c1 Gar . mring da-sih kang nan-dhang king-kin 2 . pl. 2 . .x2x1x.ti z6x. 3 5 5 5 6 3 5 3 5 6 1 2 1 2 6 5 6 2 1 2 g1 2 1 2 1 5 z!c@ 2 n1 2 n3 5 g1 n1 g1 z@x!c^ ^ z!x#x@x#x!c@ Ti .hu .172 3 A - 3 3 z1x.hat r t O……….wa.pa .cy O…………. z3x5x.di 1 nu men .x6c5 Dhuh ja .wun. Mu .wa ba . Ketawang Pangkur Ngrenaswara Lr. 5 p3 5 p3 .ta .pa .wun mu . .XXXx2c3 1 2 ra 3 3 3 3 ngu .x5x4Xx2x1x.wa sa .sa . I - z2c4 z4c5 5 ker . 1 2 1 2 1 5 1 5 . .x2x1xyxtxrxwcq O………. y y y de r y ni t y ra zyx1c2 mu ..kang z3c5 z3x. . pt.ni 1 1 ing .tha .. 1 3 2 2 2 2 3 1 n2 2 .gad de .ni-lar gar . . 1 . 3 5 .wun.dra . 3 5 5 5 p3 z5c6 1 1 2 1 2 1 3 2 z3c1 g1 . z3x2x1x2c1 We-la . .x2x1xyct Da .tu .x2x1x.

5 . p5 . . .tyas 2 n3 .hat 2 2 z3c1 g3 gi .ra . . . 5 gan – ti 1 lan ning .gang sa .ka 1 . . sl. 1 a 6 2 2 6 . z3x2x1x2c1 1 . . 6 . p6 5 5 5 z5c6 5 3 3 lun dha . 5 5 6 2 5 3 1 . z3x2x1x2c1 3 .mun da. manyura .tan pi 2 . p3 .la. 3 . 5 .dya .nang . 7 .me – keng la Gangsaran Lr. pt. 5 5 2 5 3 6 5 z!c@ 5 g3 z3x5x. 1 .x2c1 Te .173 . pt. z5c6 1 z1XXXXXXXXXXXxX2c3 U 5 .gya 2 2 z3c1 g1 A – lu – wung tu . 5 lis 1 n1 g1 p1 n1 p1 n1 p1 1 1 1 n1 n1 n1 p1 p1 p1 n1 n1 n1 p1 p1 p1 n1 n1 n1 p1 p1 p1 g1 g1 g1 Gangsaran Lr. z3x.x6x5c3 Da. . 3 . pl.mbut 1 2 2 1 z6x1x2c3 n1 z3c1 Ka.

manyura mendukung rasa kasmaran atau bercinta.x!x@c# z!x@x!c6 A . .duh ya-yi gar . manyura merupakan satu-satunya dukungan rasa musikal yang diharapkan mampu mengekspresikan suasana rindu yang diaktualisasikan tokoh Sekartaji pertemuannya dengan Panji dalam asumsi mereka telah lama terpisah dan melalui perjalanan panjang baru dapat bertemu.c! @ 2 5 t 2 @ 3 3 e 1 ! n2 g2 nt g6 n^ @ @ @ z6x. Ketawang Kinanthi Sandhung Lr. mesra merupakan esensi yang hendak diekspresikan dalam adegan dimaksud. .174 2 2 2 2 n2 n2 n2 n2 p2 p2 p2 p2 n2 n2 n2 n2 p2 p2 n2 p2 p2 n2 p2 p2 g2 g2 g2 g2 n2 n2 p2 p2 Adegan : II. 1 6 y 3 ! z. merayu. 6 . pt. 1 . manyura . . Pertemuan. .sun Wus da. 6 . sl. 1 . Rasa musikal gendhing Ketawang Kinanthi Sandhung Lr. 2 2 2 .yung 1 2 6 n5 2 3 5 g3 . pt.wa ning . y p3 1 p. Iringan gendhing Ketawang Kinanthi Sandhung Lr. pt.ngu pun ka-kang wu . sl. 1 . sl. 6 . Dalam adegan dua yang mengisahkan pertemuan Dewi Sekartaji dengan Panji Inukertapati suaminya dalam suasana rindu yang teraktualisasi dalam beberapa rasa: marah (jengkel). malu.

mi Mus . 6 z.ti. . .175 .kang Tu-hu wa. 3 5 5 z5x3c563 z5x3c2 2 Ka-di-nga .ka Mu-ga tan . .j 6k 2jzX1jXXXx xj XXjx jx c2 6 zj3kx5c3 A . .sah pi-na ri ngan y 1 2 p3 6 5 3 g2 3 j.ren ya-yi du . dan harmonis menggunakan garap iringan yaitu gendhing Lambangsari laras slendro pathet manyura. . .tan ang .ka .dhang pa 3 5 ra brang pu 3 ti Kang wus la .jj x Xj 2 j j 1 6 y 6 gt zj6jjjkjXXXXxx!c5 x x c5jj j 2 z3XXXXXXXXXXXXXXXxX zj1xc2 zyXx1cy XXXXXXXXXXXXXXXx ztx1c2 nan . .han di zj2kx1c3 kang gra wi . 3 5 p3 -j. .ta u . 5 .x3c2 Ma-ra nga-dhep.@# @ z!c@ 6 6z6x!c6 z5c3 Te-ka mle .pa Ka .no-dya di . .ling Ma-rang ya. Bentuk . Kedudukan iringan gendhing Lambangsari pada adegan ini sifatnya mungkus dan nyawiji. . 3 .ma 2 . mesra.ni .ngos da.nu g2 da .tri n2 .na pun ka .ning 2 . . Pada adegan bahagia yang disajikan sepasang suami-istri yakni Panji Inukertapati dan Sekartaji dalam suasana gembira. .j j j 5 .c6 ! 5 ! 3 z6x!c@ n5 6 5 6 z5x3x5x5x.ta .ga la - ti mi kang sa - Adegan : III. Bahagia. 2 .yi wa .

srisik menuju ke tempat duduk temanten bersalaman dengan temanten dan kedua orang tua mempelai untuk mengucapkan selamat berbahagia. kebersamaan.176 mungkus ini ditinjau dari pelaksanaan vokabuler gerak yang terdapat pada adegan tiga hampir seluruhnya menggunakan pola kendangan kebar atau ciblon yang selalu membungkus pola gerak. Keterpaduan garap tari dan garap gendhing Lambangsari dalam rangka mengekspresikan rasa gembira. Bentuk iringan adegan III yang berupa gendhing Lambangsari laras slendro . Selain itu iringan gendhing Lambangsari pada dasarnya nyawiji dengan garap geraknya. Pada bagian akhir adegan tiga sebagai penutup iringan gendhing ladrang Sigramangsah laras slendro pathet manyura. dan keharmonisan antara Panji Inukertapati dan Sekartaji dapat nyawiji. Sehingga suasana bahagia yang diaktualisasikan oleh Panji Inukertapati dan Sekartaji dapat dihayati.ketat diikuti pola kendangan. pangkon. lagu gerongan riang dan tekanan sedang. Iringan ladrang Sigramangsah sebagai mundur beksan. yaitu sejak Panji Inukertapati dan Sekartaji gerak Lumaksono. kemesraan. Pengertian nyawiji ini mengarah pada pemersatuan dua unsur menjadi satu yaitu unsur karawitan sebagai penghasil rasa musikal dan unsur tari. Gendhing ladrang Sigramangsah disajikan dengan tabuhan keras dengan irama sedang sebagai gambaran semangat dari Sekartaji dan Panji Inukertapati untuk menyongsong kehidupan ke depan lebih semangat. Dalam hal ini pola-pola gerak tari selalu ketat. Bentuk kristalisasi dari unsur tari yang berupa vokabuler-vokabuler gerak kebar yang dinamis dan unsur karawitan yang berupa gendhing Lambangsari dengan irama sigrak. pada adegan bahagia ini adalah untuk pencapaian harmonisasi penyajian.

da 1 j.dak 5 j.ju 3 1 j.ra 5 5 3 keng .5 1 1 no .sep .ing 5 j.1 2 2 ing .sa 3 3 2 2 pra .5 u 2 2 ma .5 2 2 tin .1 di 2 3 ta 5 j.3 2 2 - .mi 5 j.5 ing 5 j. secara berurutan dapat dicermati paparan berikut ini.na 2 3 ca 5 j.wang 1 j.ta 3 3 2 2 mar .r ang 5 6 3 gar .ra 1 1 jz!xk@c6 pa .ma 1 1 Pra .5 n1 z3c2 1 .1 di 3 3 3 zj3c5 ma .mba .wa 5 j.go . Lambangsari Lr.1 nu 6 3 3 .ya n1 z3c2 1 .5 1 1 re 2 2 bi .kang 6 6 weh 5 j.su 6 3 jz!xk@c6 kang 5 j.tya 5 5 2 da 1 j. manyura Irama Tanggung : 1 j.177 pathet manyura dan ladrang Sigramangsah laras slendro pathet manyura.1 3 3 1 j. pt.1 2 2 1 j.5 2 2 .hu 6 jz5c6 se .dha 3 5 5 3 2 2 z3c5 z5c6 6 .1 2 2 kang se . sl.rang 5 j.wa 6 6 1 1 ni .3 2 5 3 ro .5 tu 5 1 1 .1 3 3 1 j.guh 5 6 pang .

ra pri .ngu sa .di kang san - to .3 ku 2 2 5 j.ing (dilakukan 2 x) war .sih 3 5 .la - tres .bang 6 3 jz!xk@c6 ra .178 dar .6 zj5jkx.mya 5 2 5 1 .ga Irama Dadi : 6 5 j.5 n1 1 da .mi wah se – tya sang dyah 6 5 tu a 2 hu yu 3 pe .tan 5 5 3 kem .bi nga .sa 1 j.ja 1 ang .c@z!x jjjzjx5jx jx jxxx jx jx xk.na 1 z3c2 1 .nya da .5 1 1 5 j.5 2 2 5 j.1 ba 6 6 3 3 lik 1 1 1 j.6 6 1 6 5 2 3 jz#xj x x x x cj2j j6 kz!xj@c# x jjjjjjjjjjjjjjjjjjjxkjjj.1 a 2 3 ni 2 2 .1 3 3 1 j.yo .ma .ge .ra gya 2 har 5 .na 5 3 2 2 z3c5 z5c6 6 sung ten .ba 5 6 .c3 sa .be bu .cj3jz6xl1xj6jc53 sam .5 a 5 j.trem .1 2 2 1 j.mi 5 j.kik 6 1 z!XXx XXx xj@kc##z x.pun sang 6 5 j.ya 3 3 2 2 mring nim .c@z!x x x x x@c 6 jkz6jx!cjj6j j k53 li ron ba 5 as .

1 1 5 6 6 6 2 5 1 1 3 2 3 p3 p5 p1 1 1 1 3 6 6 6 2 1 1 5 1 n2 n2 n3 g6 3 3 3 3 5 5 5 2 6 6 2 6 p1 p1 p3 p3 3 3 1 6 2 2 2 5 1 1 1 3 n6 n6 n6 g2 (sebanyak 5X) .3 5 6 1 jk.ta 2 me . ken .nu-gra hyang suks .dya kem ka . manyura Irama Tanggung.xjyjx xj xj - cen sah 5 pra - nya . sl.min 3 5 zk3cj5kz5c6z x jx6xjx xj jx xjx xjx xjx xj 3 jz2xjk5c3 bang ja .sih pan tan 5 .dhat tan 3 j.ta .xj6xj xj c22 ck22 j jk.gad han ing 2 ra .ma Ladrang Sigramangsah Lr.ron .179 jzk.z2c3 ka .ya xj x!cj@zkj!xc6 da .zj2c31 jz. pt.

Ketawang Pangkur Ngrenaswara Lr.pt. sl. gendhing yang tidak menggunakan bahasa verbal terdiri dari: gangsaran 1 pelog. manyura. 5. Pertama. 5. sl. sl. rindu. rupanya menjadi lebih mantap dan bermakna karena didukung kehadiran bahasa verbal yang berupa cakepan-cakepan (syair) yang menyatu dengan irama. dapat mengungkapkan suasana marah. pl.180 Gendhing-gendhing iringan yang terdapat dalam tari Karonsih secara garis besar dapat dibagi menjadi dua bentuk terkait dengan bahasa verbal. merayu. manyura. gangsaran 2 slendro. dan maknanya Dewi Sekartaji memohon kepada Dewata supaya segera dipertemukan dengan Panji Inukertapati. dapat mengungkapkan suasana gembira. 5. Komposit bahasa verbal dan nonverbal yang terdapat dalam Pathetan Lr. dan Ladrang Sigramangsah Lr. Bentuk-bentuk gendhing yang menggunakan bahasa verbal. mesra. pt. manyura. pl. jika tidak dapat bertemu. Ketawang Kinanthi Sandhung Lr.pt. selain rasa musikal yang mampu mengekspresikan suasana-suasana tertentu. sl. Komposit bahasa verbal dan nonverbal yang terdapat dalam Lambangsari Lr. bahagia dan maknanya: 1) Dalam kehidupan rumah tangga keberadaan . Kedua. malu. pt. dan maknanya setelah Sekartaji bertemu Panji Inukertapati. pt. gendhing yang menggunakan bahasa verbal terdiri dari: Pathetan Lr. 5. manyura. sl. dapat mengungkapkan suasana sedih dan maknanya menjelaskan tentang liku-liku perjalanan seorang tokoh Dewi Sekartaji yang mencari Panji Inukertapati suaminya. pt. sang Dewi marah Panji berupaya untuk merayunya dan memberi perhatian. Komposit bahasa verbal dan bahasa nonverbal yang terdapat dalam Ketawang Kinanthi Sandhung Lr.pt. pl. lagu dan tekanan gendhing. dapat mengungkapkan suasana sedih. mesra. manyura dan Lambangsari Lr. ia lebih baik mati. pl.pt. pt. Komplementer bahasa verbal dan nonverbal yang terdapat dalam Ketawang Pangkur Ngrenaswara Lr.

dapat mengungkapkan suasana semangat. mengayomi.181 dan kebersamaan suami dan istri. dan bertanggungjawab. gagah. dapat mengungkapkan suasana tegang. Bentuk gendhing yang tidak menggunakan bahasa verbal seperti gangsaran 1 pelog dan gangsaran 2 slendro. Dengan demikian tampak bahwa gendhing-gendhing yang tersusun untuk iringan tari Karonsih merupakan komposit bahasa verbal sastra tembang dan nonverbal gendhinggendhing karawitan untuk membangun alur adegan. sehingga mampu mengekspresikan suasana pada masing-masing adegan dan mampu mengungkapkan makna tari Karonsih secara implisit seperti yang dimaksud seniman penyusun sebagai penutur. Ketidak hadiran bahasa verbal pada bahasa nonverbal rupanya membatasi ekspresi bahasa nonverbal yang lebih mengarah pada hayatan rasa. sebaiknya saling mengingatkan akan tugas dan tanggungjawab masing-masing yang telah disepakati. 5) Kebagiaan lahir dan batin merupakan kebutuhan hidup hakiki manusia yang diupayakan secara seimbang. 4) Nilai cinta adalah sebuah nilai yang universal. sl. 3) Tipe seorang suami yang ideal adalah setia terhadap istri. Sedangkan gendhing Ladrang Sigramangsah Lr. manyura. 2) Tipe seorang istri yang ideal adalah selalu berupaya berbuat kebajikan. dan mampu menciptakan ketentraman keluarga. Bentuk komposit bahasa verbal sastra tembang dan bahasa nonverbal gendhing-gendhing iringan tersebut dapat mengungkapkan suasana dan mengungkapkan makna pada masing-masing adegan. setia terhadap suami. . menarik. dan sigrak. dapat dicermati berikut ini. pt. Adapun bentuk komposit bahasa verbal dengan nonverbal pada tari Karonsih.

5 Keterangan 1 Pathetan Wantah Pasihan (percintaan) I. Pencarian. menthang kiri tangan nekuk tangan Garis lurus V - mencari Panji Inukertapati (suaminya). dan Rasa Vokabuler Gerak Dewi Sekartaji Bahasa Nonverbal Vokabuler Gerak Panji Inukertapati Pola lantai Iringan Hubungan Langsung Hubungan Tidak langsung Pathetan lr. kedua - Garis lurus V - Liku-liku perjalanan Dewi Sekartaji dalam tangan nekuk yang kiri nyempurit dan kanan nyekithing Jengkar kedhaton sking Kengser.182 Komposit Bahasa Verbal dengan Nonverbal Tari Karonsih No Bahasa Verbal Sastra Tembang Tema. pl. nyempurit. Adegan. pt. Sang Retnayu Dewi Sekartaji Rasa Semangat Srisik. kanan Sang Retnayu Dewi Sekartaji Badan putar Garis V - .

kaki njujut. kiri nekuk. menthang sampur kanan.183 menghadap belakang. Jengkar kedhaton sking Lumaksono. srisik lurus mundur kemudian putar depan. ngglebak Garis lengkung Angupadi mendranira ingkang garwa Badan nglayang Posisi di tempat V - (memutar) ke kiri. Garis Lurus V - badan kanan. badan . menghadap diikuti menthang sampur kanan dan tangan kiri nekuk.

Dahat denira muwun..pl. O………. memutar Sindhenan Pangkur Ngrenas: Dhuh jagad dewa bathara Welasa mring dasih Rasa Laras Sampir Posisi di V - . usap kiri – usap kanan Garis lengkung V - 2 Ktw. Pangkur Ngrenas lr. Srisik menthang Garis lengkung Gong: ke-2 kiri. kengser. Inukertapati.pt 5 Mundur tawing Garis lurus Gong: ke-1 kiri.184 ngglebak ke kanan hadap ke depan.O………. Ridhong sampur kiri.

. dan memohon Ulun dhahat Teka aginggang sarambut Srisik kedua Garis lurus V pada Yang Kuasa agar segera dipertemuk Kalamun pinanggya datan Lembehan separo Posisi di tempat Rasa Aluwung lalis tumekeng Pasrah Kengser ke kanan capengan tangan kanan – kengser ke kiri capengan tangan kiri. kiri Garis lengkung V situasi yang sedih. tawing ingsetan. tempat Dewi Sekartaji dalam Tinilar satuhu Dadya tyas garwa gantilaning Rasa Sedih Sekar suwun. pasrah. sindhet. Garis lengkung V V an dengan suaminya.185 kang kingkin nandhang Berdoa sampur kanan. tangan nekuk trap cethik.

Badan kanan.186 Gangsaran 1 Pelog Rasa Tegang Badan memutar Gong: ke-1 satu lingkaran dan diikuti berputarnya kedua nekuk tarung. . Gong: ke-4 Gong: ke-5 srisik ke pojok kiri belakang. tangan ngupu Seblak. tangan kiri menthang tangan nekuk dan kanan Gong: ke-2 Srisik ke pojok Gong: ke-3 kanan depan. seblak membalik tangan sampur.

pt Manyura . Pertemuan.187 Gangsaran 2 Slendro Badan ngglebak ke kanan.sl. seblak Gong: ke-1 Srisik . Gong: ke-2 Gong: ke-3 Badan satu memutar lingkaran ke Gong: ke-4 menghadap depan. II. 3 Sindhenan Kinanthi Sandhung: Cakepan a. Kinanthi Sandhung lr. sampur. Ktw.

kengser ke kanan. Teka mlengos datan angkling Ukel karno kanan jengkeng nyathok Garis (njawil) bahu lengkung V - Mara ngadhepna . Gong: ke-2 V - tangan memegang sampur menutup muka. di dan merayu istrinya. b. kebyokan Ulap-ulap tangan Posisi laras. akhirnya luluh hati Dewi Sekartaji.188 a. Panji berusaha membujuk jengkeng. kebyok Posisi tempat garis lurus di Gong: ke-1 Sekartaji marah terhadap Panji Inukertapati. kiri – kanan dan tempat besut. Dewi Rasa Marah jengkeng (duduk) Srisik diikuti kedua sampur. Adhuh yayi garwa ningsun Seblak sampur laras genjot. sambil raut lepas sampur.

Garis lurus tangan nyaut. kanan sampur ngglebak nyaut kanan dengan V - seblak kebyok kemudian mundur . mundur. tawing V miring ke kanan srisik. kanan mbalik seblak tanjak kanan sampur kanan Kadingaren duka yayi tawing kiri lumaksono kebyokan sampur. maju Garis lurus Gong: ke-4 V - Apa kang wigati dadi ngembat sampur tangan kanan. mlengos ke kanan. Garis lurus Gong: ke-3 V - nyabet ukel karna kanan Kang wus lami nandhang brangti Rasa Merayu mbalik.189 pun kakang berdiri enjer berdiri srisik. maju lumaksono.

endhan jeblos lalu tangan panggel. nyandhet Garis V - asta tangkep ngaras asta lengkung . srisik. tangkep mundur satu memutar. – lengkung kanan tangan pondhongan kemudian jeblos tempat) tangan nyaut (tukar lalu kanan memberi sampur menerima sampur Cakepan b. tangkep asta. Wus dangu pun kakang wuyung Rasa Kemesraan putar lingkaran. jengkeng asta. maju sambil sambil lepas kedua Garis lengkung Gong: ke-6 V - lepas kedua tangan tangan Marang wanodya di yayi srisik. tanjak Garis lurus Gong: ke-5 ngancap. tangkep ngaras mbalik.190 golek iwak. kanan.

kedua kedua lepas tangan. tangan kiri nekuk. laku enjer. kanan. tangan menthang.Garis kiri. tangan kanan tawing Tuhu utama wanita kanan tawing maju kanthen maju kanthen Garis lengkung Gong: ke-7 V - tangan kanan tangan kanan Mustikaning para putri kengser ke kanan. tangan. laku enjer. adu kiri. srisik melingkar srisik melingkar Muga tansah pinaringan berhenti.kengser ke kanan. maju. adu lengkung V - tangan kiri nekuk. maju. maju Posisi kanthen tempat di Gong: ke-8 V - tangan kanan tangan kanan . lepas (berciuman). kanthen kanan. maju berhenti. tangan kiri tangan kiri menthang.191 ( berciuman).

lepas tangan. mundur seblak sampur Garis lenkung V - 4 Gerongan Lambangsari: Cakepan a. setia terhadap . srisik kanthen tangan kanan. Posisi tempat di Gong: 1. Lambang sari pt manyura lr.192 Kanugrahan kang salami srisik kanthen tangan kanan.sl. mundur seblak sampur. Pra wanita marsudiya marang tindak kang utama Rasa Gembira ulap-ulap kiri trap jamang. lepas tangan. kenong ke1 - V Tipe seorang istri yang adalah ideal Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada ukel karno ulap-ulap kiri Garis lengkung kenong ke2 - V selalu berupaya berbuat kebajikan.

menarik. dan bertanggung jawab trap Nora kengguh ing panggodha darbe budi kang santosa kanan sumping laku telu Garis lengkung kenong ke4 - V Rasa Mesra Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira kebyokan sampur ukel karno bokor Garis sinangga lengkung Gong: ke2. kenong ke1 - V Tipe seorang suami yang ideal adalah setia terhadap Datan kemba asih tresna sung tetreming kulawarga rimong sampur pacak ingsetan gulu Garis lengkung kenong ke2 V - istri.193 Ingkang bisa nujuprana weh reseping pamicara luluran lembehan sampur Garis lengkung kenong ke3 V suami. dan mampu . mengayomi.

kanthen srisik kanthen Garis mundur lengkung kenong ke4 V - Cinta adalah sebuah nilai yang universal. srisik Karonsih pranyata kembang raya pancen dadya jagad tangan. mundur tangan. lepas tangan lepas tangan Gong: keCakepan b. Pra wanita marsudiya marang tindak kang utama trap jamang ulap-ulap kiri tawing Posisi tempat di 3: kenong ke1 V laku telu Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada pondhongan sampur Garis lengkung kenong ke2 V - Ingkang bisa nujuprana weh reseping pamicara kanthen kanan tangan kanthen kanan tangan Garis lurus kenong ke3 V - .194 menciptakan Sampun sami setya tuhu anggenya liron asmara kebyokan sampur – ngenceng kanan kebyokan sampur Garis lengkung kenong ke3 V ketentraman keluarga.

195 Nora kengguh ing panggodha darbe budi kang santosa kanthen kiri tangan kanthen kiri tangan Garis lengkung kenong ke4 V - Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira jengkeng tangan ngilo tangan (merias). ukelan Garis lengkung Gong: ke4: kenong ke1 - V Datan kemba asih tresna sung tetreming kulawarga alisan inguk-ingukan (melihat) Garis lengkung kenong ke2 V - Sang pekik wah sang dyah ayu dangu samya bagyaharja lumaksono encot kanthen tangan lumaksono encot Garis lurus kanthen tangan kenong ke3 V - .

tangan kiri lengkung kiri menthang sampur menthang sampur lumaksono lembehan sampur kanan lumaksono lembehan sampur kanan Garis lurus Gong: ke-1 pangkon ulap-ulap pangkon ulap-ulap Posisi tangan kiri tangan kanan tempat di Gong: ke-2 .196 Rasa bahagia. Kebagiaan dunia akhirat Tan kendhat tansah meminta kanugrahan ing Hyang Suksma srisik tangan tangan kanthen srisik kanthen Garis kenong ke4 V merupakan kebutuhan hidup hakiki manusia yang Ldr. manyura diupayakan secara seimbang.pt. Sigra mangsah lr.sl. dan kanan. tangan.

197 srisik kanthen tangan. bersalaman dengan temanten srisik kanthen tangan. tangan masuk (selesai). bersalaman dengan temanten Garis lurus Gong: ke-3 bersalaman dengan bersalaman kedua dengan kedua Gong: ke-4 orang tua temanten orang tua temanten dan photo bersama dan photo bersama temanten temanten srisik kanthen tangan srisik kanthen kanan. masuk (selesai). Garis lengkung Gong: ke-5 kanan.a .

198

Dari komposit bahasa verbal dan nonverbal pada tari Karonsih terdapat hubungan yang bersifat langsung dan tidak langsung. Hubungan bahasa verbal dan nonverbal bersifat langsung artinya bahwa maksud bahasa verbal sesuai dengan bentuk bahasa nonverbal. Sedangkan hubungan bahasa verbal dan nonverbal bersifat tidak langsung artinya bahwa maksud bahasa verbal tidak sesuai dengan bentuk bahasa

nonverbal. Secara kuantitatif hubungan bahasa verbal dan nonverbal yang bersifat langsung tampak lebih mendominasi dibandingkan dengan yang tidak langsung. Adapun persentasenya dapat dicermati pada uraian berikut.

Tari Karonsih No Adegan Hubungan bahasa verbal dengan nonverbal 1 2 3 4 5 I, II, dan III I, II, dan III Langsung Tidak langsung 31 8 39 79,48 %, 20,52 % jumlah

Jumlah hubungan langsung dan tidak langsung = 31+ 8 Jumlah persentase hubungan langsung = 31: 39 X 100. Jumlah persentase hubungan tidak langsung = 8: 39 X 100.

2. Tari Bondhan Sayuk. Tari Bondhan Sayuk merupakan tari tradisi gaya Surakarta jenis pasangan silang jenis karakter putri dengan putra madya yang bertemakan percintaan sepasang insan manusia yang berjenis kelamin pria dan berjenis kelamin wanita. Pada dasarnya tarian ini tidak mengisahkan tokoh tertentu tetapi mengekspresikan cinta kasih sepasang suami istri secara universal terhadap anak laki-laki dan harapan-harapan serta keinginannya

199

supaya kelak menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan negara. Karya tari Bondhan Sayuk disusun oleh Sunarno pada tahun 1979. Tari ini pertama kali dipentaskan pada sebuah resepsi ritual perkawinan di gedung Bathari. Tema yang diangkat menggambarkan percintaan manusia secara universal, yang lebih mengarah pada perjalanan hidup sepasang manusia dari kalangan rakyat. Menurut Sunarno, tari Bondhan Sayuk lebih tepat untuk gambaran sepasang temanten maupun sebuah keluarga baru yang belum memiliki anak (wawancara, 2008). Gagasan awal terciptanya tari Bondhan Sayuk adalah sebuah ekspresi pribadi Sunarno yang menginginkan anak laki-laki untuk putera pertamanya. Keinginan

tersebut rupanya diridhohi oleh Sang Pencipta, anak pertama laki-laki bahkan anak kedua juga laki-laki dan anak ketiganya baru putri. Dalam perjalanan waktu tari Bondhan Sayuk sangat diminati oleh masyarakat hingga sekarang, yang pertama merupakan hiburan yang tepat dalam sebuah resepsi perkawinan dan kedua dimaknai sebagai simbolik sepasang suami dan istri yang hidup bahagia yang layak untuk diteladani sepasang temanten. Pesona yang memikat dari tari Bondhan Sayuk adalah digunakannya boneka sebagai simbolik anak yang selalu ditimang-timang dan diharapkan memberikan kekuatan magis simpatetis terhadap sepasang temanten, yaitu supaya lekas diberi anak. Jika dirunut dari bahasa verbalnya akan tampak bahwa harapan-harapan yang tersurat dan tersirat menunjukkan adanya sebuah keinginan, harapan sepasang suamiistri terhadap anak laki-laki kelak menjadi orang yang berperilaku baik dan berguna bagi masyarakat untuk membangun bangsa dan negara. Bentuk tari Bondhan Sayuk terdiri dari dua komponen pokok, yakni sastra tembang yang merupakan bahasa verbal dan

200

bahasa nonverbal yang berupa: tema, kinetic body moves, polatan (ekspresi wajah), rias, busana, pola lantai, dan iringan. Sastra tembang yang merupakan bahasa verbal tari Bondhan Sayuk, terdiri dari beberapa garap lagu, yakni: (1) garap sindhenan Mijil Sulastri: sakpupuh (satu bait), (2) garap jineman Sayuk: rong pupuh (dua bait), dan (3) garap gerongan Ladrang Sayuk: rong pupuh (dua bait). Dari masing-masing garap lagu tersebut dapat dicermati berikut ini.

a. Bahasa verbal.

(1). Teks Sindhenan Mijil Sulastri Dhuh mas rara, garwaku wong manis, Aja gawe kagal, Amung sira yekti sulistyane, Jumbuh klawan rasaningtyas mami, Binerkahan ugi, Prasetya wak-ingang.

Terjemahan:

Wahai si cantik, istriku yang manis, Jangan membuat kesal, Hanya kamulah yang benar-benar cantik, Sesuai dengan rasa yang terdapat dalam hatiku, Semoga mendapat berkah, Janji kesetiaanku.

201

Jenis –jenis TT yang melekat pada teks Sindhenan Mijil Sulastri

No

Penutur (Pn)

Bahasa Verbal : teks Sindhenan Mijil Sulastri

Jenis – jenis TT

Pemarkah

Pria (Pn) 1 Pria (Pn) 2 Pria (Pn) 3

Dhuh mas rara, garwaku wong manis, Aja gawe kagal, Direktif Amung sira yekti Ekspresif Ekspresif

wong manis

aja

sulistyane

sulistyane,

Pria (Pn)

Jumbuh

klawan

Asertif

Jumbuh

rasaningtyas mami, Pria (Pn) 4 Pria (Pn) 5 Prasetya wak-ingang. Komisif Binerkahan ugi, Direktif prasetya ugi

Konteks. Identifikasi / latar. a. Peserta tutur: Pria (Pn). Wanita (Pt), ia merespon dengan gerak tanpa tuturan.

b. Tema / topik: percintaan atau kasmaran.

202

c. Tujuan: suami menghendaki istri supaya tidak lekas marah, mengingat kasih asmara suami terhadap istri merupakan cinta yang tulus. d. Status sosial: penari pria sebagai seorang suami, ia digambarkan sebagai figur seorang suami yang bertanggungjawab dan sangat setia terhadap istri. Penari wanita sebagai seorang istri, ia digambarkan sebagai figur seorang istri yang sangat setia terhadap suami. e. Tempat: di rumah. f. Situasi tutur: tidak formal. g. Gerak: kedua penari, pria dan wanita srisik bersama, tangan kanan saling berpegangan (nyathok) dan tangan kiri lurus ke samping (menthang) menuju stage. Secara perlahan-lahan keduanya lumaksono ridhong, srisik menuju tengah stage, berhenti laku enjer menthang tangan kiri, kemudian putra besut dan putri sindhet merupakan gambaran rasa kebersamaan. Rasa kecewa diekspresikan istri lewat jengkeng, sekaran laras kebyokan, sembahan, berdiri meninggalkan suami sambil kebyokan tangan kanan-kiri kemudian suami gerak nyabet tangan kanan, besut, mendekati istri untuk merayu dengan gerak hoyogan, gajah-gajahan, songgonompo – mbalang. Rasa mesra mulai tampak ketika masing-masing peran suami dan istri saling mendekat dan berciuman dengan gerak kengser dan ngaras. Selanjutnya gerak lincak gagak bersama, suami hendak memegang istri menghindar. Suami dan istri saling mendekat, saling berpegangan tangan kemudian srisik kanthen tangan kanan sebagai gambaran awal kemesraan. h. Polatan / ekspresi wajah: ketika rasa kebersamaan masih terbina, wajah suami dan wajah istri tampak cerah dan gembira. Pada saat istri merasa kecewa

203

pandangan muka selalu menghindar dari tatapan mata suami dan pandangan mata istri banyak mengarah ke bawah. Suasana berubah menjadi semakin mesra wajah suami dan wajah istri tampak semakin cerah dan pandangan mata tampak sering saling melihat. i. Pola lantai: didominasi garis-garis lengkung. j. Iringan gendhing: Srepek Rangu-rangu dan Ketawang Mijil Sulastri untuk mendukung suasana kasmaran atau bercinta. Implikatur Kagal : Sulistyane: perasaan marah. kecantikan rupa dari seorang wanita.

Jumbuh klawan rasaningtyas: kecocokan hati yang membuat senang seseorang. Prasetya wak-ingang: ungkapan yang mengisyaratkan sebuah perjanjian tentang kesetiaan. Implikatur bahasa verbal Sindhenan Mijil Sulastri adalah ungkapan cinta yang mendalam seorang suami terhadap istrinya, dengan harapan mendapatkan perhatian demi terjalinnya kasih cinta untuk harmonisnya sebuah rumah tangga. Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Sindhenan Mijil Sulastri dapat diungkap: a. Maksim kuantitas dilanggar. b. Maksim kualitas dipatuhi. c. Maksim hubungan dipatuhi. d. Maksim cara dilanggar.

2) melakukan TT secara tidak langsung (off record). Ayahnya anak laki-laki (suamiku). Teks Jineman Sayuk Dhuh mas jiwaku. Besuk menjadi anak yang pandai bekerja. sekarang sudah saatnya. Mbokne thole. Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Jineman Sayuk No Penutur (Pn) / Petutur (Pt) Bahasa Verbal Teks Jineman Sayuk Jenis – jenis TT Pemarkah Wanita (Pn) 1 2 Wanita (Pn) Dhuh mas jiwaku. menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif. Direktif baya iki 3 Wanita (Pn) Bapakne sithole. Sawahmu tansah anganti. mangkat makarya. Terjemahan: Wahai belahan jiwaku. Asertif bapakne . baya iki wus wanci. Bapakne sithole. Tak kudange anakku sing bagus dhewe. Sakdurunge anakmu gawanen mrene. Ibunya anak laki-laki (istriku). Sawahnya tengah menanti. Peneliti timang-timang anakku yang paling bagus. Patik dhuh mas baya iki wus wanci. Sebelumnya anakmu bawalah kemari. berangkatlah bekerja. (2). Mbesuk pinter nyambut gawe.204 Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Sindhenan Mijil Sulastri.

tansah Asertif sawahmu 6 Pria (Pt) Mbokne thole. Pria (Pt). Identifikasi / latar. Tema / topik: kekudangan (menimang bayi sambil bersenandung) c. pinter Direktif mbesuk pinter Konteks. Peserta tutur: Wanita (Pn). Direktif mangkat 5 Wanita (Pn) Sawahmu anganti. Tujuan: istri mengingatkan akan pekerjaan suami. Asertif mbokne 7 Pria (Pt) Sakdurunge anakmu Direktif gawanen gawanen mrene. a. Ekspresif bagus 9 Pria (Pt) Mbesuk nyambut gawe.205 Wanita (Pn) mangkat makarya. . Kesadaran suami sebagai kepala rumah tangga menyambut kehendak istrinya dengan rasa senang untuk itu sebelum berangkat bekerja mereka saling menimang bayi sambil bersenandung secara bergantian. 8 Pria (Pt) Tak kudange anakku sing bagus dhewe. Hal ini adalah untuk menunjukkan rasa kasih sayang dan kemesraan suami terhadap anak dan istri. b.

Istri meminta perhatian suami terhadap anak yang ditimang dengan gerak putar ke kanan. . Gerak: istri srisik sambil menimang anak. ia digambarkan sebagai figur seorang istri yang sangat setia terhadap suami. Penari wanita sebagai seorang istri. e. suami merasa gembira dan bahagia secara perlahan-lahan mendekat. g. Pandangan mata suami dan istri banyak terfokus pada anak dan mereka juga sering saling berhadapan. f. putar ke kiri–tangan kanan ukel karno sedangkan suami mendekat menanggapi dengan gerak panggel dan pandangan mengarah ke istri dan anaknya. Suami menimang anak sedangkan istrinya meledek dengan tawing kiri-tawing kanan. maju srisik mendekati suami untuk memberikan anaknya dan suami juga mendekat dengan lumaksono untuk menerimanya. Situasi tutur: tidak formal. Tempat: di rumah.206 d. ia digambarkan sebagai figur seorang suami yang bertanggungjawab dan sangat setia terhadap istri. Istri mulai bersenandung mengingatkan pekerjaan terhadap suami dengan gerak tawing kanan sambil memandang suami sedangkan suami menyambut baik dengan gerak ukel karno kanan yang kemudian mendekati dengan gerak srisik. tangan kiri memegang bahu istri dan tangan kanan memegang anak sambil memperhatikan dengan tawing kanan. Selanjutnya istri tawing kanan. Status sosial: penari pria sebagai seorang suami. h. lembehan tangan kanan. Polatan / ekspresi wajah: suami dan wajah istri tampak cerah dan gembira.

Sawahmu tansah anganti: pernyataan yang dimaksudkan tentang sebuah pekerjaan.207 i. Makarya: bekerja. Iringan gendhing: jineman Sayuk untuk mendukung suasana kekudangan yang merepresentasikan rasa senang. Berdasarkan kasih cinta untuk menciptakan keharmonisan keluarga. Dalam rangka memenuhi kebetuhan tersebut masing–masing individu yang terlibat dalam keluarga memiliki peran secara proporsional. j. Implikatur bahasa verbal Jineman Sayuk mengisyaratkan bahwa dalam sebuah keluarga kebutuhan jasmani dan rohani harus seimbang. Mbokne thole: panggilan seorang ibu yang biasa untuk masyarakat pedesaan untuk menunjukkan keakraban. Pola lantai: didominasi garis-garis lengkung. seorang istri mempunyai peranan cukup penting dalam mendukung tugas dan kewajiban peran suami sebagai kepala . Implikatur Mas jiwaku: panggilan seorang kekasih. Masing-masing individu mempunyai tanggungjawab terhadap tugas dan kewajiban untuk memenuhi tuntutan kebutuhan keluarga. Bapakne sithole: panggilan seorang ayah yang biasa untuk masyarakat pedesaan untuk menunjukkan keakraban. Mbesuk pinter: sebuah harapan orang tua yang menghendaki anaknya kelak menjadi orang yang pandai. Tak kudange: menimang bayi sambil bersenandung yang berisi tentang nasehat dan harapan-harapan orang tua terhadap anaknya.

Maksim hubungan dipatuhi. peneliti akan berangkat bekerja. Kesombongannya dihilangkan. Implikatur bahasa verbal Jineman Sayuk yaitu kegembiraan pasangan suami istri sebuah keluarga semakin mantap ketika telah diberi anak.208 keluarga. Maksim kuantitas dilanggar. . c. labuh labet mring bangsane. atak adhuh lae. wis mbokne enyoh anake sun arsa mangkat megawe. Lincah. atak adhuh lae. Tindakannya tidak boleh menyeleweng. Terjemahan: Memang baik karakternya. Adhuh lae. Teks Gerongan Ladrang Sayuk Adhuh lae. atak adhuh lae. Adhuh lae. Adhuh lae. Maksim cara dilanggar. Maksim kualitas dipatuhi. atak adhuh lae. atak adhuh lae. dasar bregas ten atene. b. Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Jineman Sayuk dapat diungkap: a. Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Jineman Sayuk. 2) melakukan TT secara tidak langsung (off record). sesongaran disingkirke. bawalah anakmu sekarang. Adhuh lae. Adhuh lae. Bekerja keras untuk bangsa. (3). namun juga harus disadari bahwa untuk mencukupi kebutuhan rumahtanggga diperlukan kerja keras. Adhuh lae. atak adhuh lae. trampil dalam bekerja. cukat trampil tumandange. Istriku. d. ora nyleweng tumindake. menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif. atak adhuh lae. Tenang fokus pandangannya. anteng tajem polatane.

disingkirke. 2 Pria (Pn) Adhuh lae. 5 Pria (Pn) Adhuh lae. ora nyleweng Direktif ora nyleweng Direktif Labet mring sesongaran Direktif disingkirke tumindake. 4 Pria (Pn) Adhuh lae. anteng tajem Ekspresif anteng tajem polatane. cukat trampil Ekspresif Cukat trampil tumandange.209 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Gerongan Ladrang Sayuk No Penutur (Pn) 1 Bahasa Verbal : Teks Gerongan Ladrang Sayuk Jenis –jenis TT bregas Ekspresif Pemarkah Pria (Pn) Adhuh lae. Direktif enyoh anake . atak adhuh lae. dasar bregas ten atene. wis mbokne enyoh anake sun arsa mangkat megawe. atak adhuh lae. atak adhuh lae. 3 Pria (Pn) Adhuh lae. atak adhuh lae. atak adhuh lae. atak adhuh lae. atak adhuh lae. labuh labet mring bangsane. 7 Pria (Pn) Adhuh lae. 6 Pria (Pn) Adhuh lae.

a. Penari wanita sebagai seorang istri. Tema / topik: kekudangan (menimang bayi sambil bersenandung) c. Tujuan: suami mengharapkan supaya anak yang masih dalam timangan tersebut kelak menjadi orang yang berperilaku baik dan berguna bagi masyarakat lingkungannya. Situasi tutur: tidak formal. ia merespon dengan gerak tanpa tuturan. d. b. Peserta tutur: Pria (Pn). kemudian anak diberikan kepada temanten putri dengan srisik. Hal ini untuk menunjukkan rasa kasih sayang orang tua terhadap anak dan istrinya. g. Wanita (Pt).210 Konteks. Anak diberikan istri sedangkan suami meledeknya dengan ogekan. f. Setelah istri menimang anak beberapa saat. Gerak: diawali suami menimang-nimang anak dengan lumaksono yang diikuti istri lumaksono lembehan sampur dan kawilan. ia digambarkan sebagai figur seorang suami yang bertanggungjawab dan sangat setia terhadap istri. ia digambarkan sebagai figur seorang istri yang sangat setia terhadap suami. suami gerak lumaksono sambil menanti kedatangan istri. Identifikasi / latar. Tempat: di rumah. . e. Status sosial: penari pria sebagai seorang suami. tangan kanan menthang sampur dan lilingan.

Iringan gendhing: Ladrang Sayuk untuk mendukung suasana kekudangan yang merepresentasikan rasa senang. Implikatur bahasa verbal Gerongan Ladrang Sayuk pada tari Tari Bondhan Sayuk. Polatan / ekspresi wajah: suami dan wajah istri tampak cerah dan gembira. Labuh labet mring bangsane: sebuah ungkapan yang berusaha mengedepankan kepentingan umum. Implikatur bahasa verbal Gerongan Ladrang Sayuk. dan bahagia. j. dan mengutamakan kepentingan umum untuk membangun bangsa. pernyataan tentang kelincahan dan ketrampilan dalam bekerja. Pandangan mata suami dan istri banyak terfokus pada anak dan mereka juga sering saling berhadapan. yang biasanya untuk dihindari. kerja keras. ungkapan tentang keramahan dan kehalusan perangai seseorang yang diamati dari ekspresi wajah.211 h. i. Sesongaran: sikap sombong. Implikatur Bregas ten atene: Cukat trampil: Anteng tajem: ungkapan tentang sikap dan perilaku yang baik. yaitu tanggungjawab sebagai orang tua dalam mempersiapkan . gembira. Ora nyleweng : berperilaku baik dengan menghindari hal-hal yang mengarah pada perbuatan atau tindakan yang melanggar norma atau aturan yang berlaku. Pola lantai: didominasi garis-garis lengkung. mengisyaratkan tentang beberapa harapan orang tua terhadap seorang yang berperilaku baik mengutamakan kebajikan.

Kebersamaan semuanya. sayuk. sakancane. . Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Gerongan Ladrang Sayuk. (4). sayuk. menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif. 2) melakukan TT secara tidak langsung (off record). Maksim kuantitas dilanggar. sayuk. Maksim hubungan dilanggar. c. nyambut gawe. berwawasan luas sehingga berguna bagi kehidupan sosial masyarakat. Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Gerongan Ladrang Sayuk dapat diungkap: a. Kebersamaan dalam bekerja. b.212 pendidikan anak sebagai generasi penerus yang memiliki kepribadian baik. sayuk. d. Sayuk. sayuk. Sayuk mbangun negarane. Kebersamaan dalam membangun negara. Maksim kualitas dilanggar. Maksim cara dilanggar. Sayuk. Terjemahan: Kebersamaan dengan teman. Teks Gerongan Lancaran Sayuk Sayuk. sayuk. sakabehe.

Direktif sayuk nyambut gawe 3 Nr Sayuk. Direktif sayuk sakabehe 4 Nr Sayuk negarane. ia merespon dengan gerak tanpa tuturan. mbangun Direktif sayuk mbangun Konteks. sayuk.213 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Gerongan Lancaran Sayuk No Narator (Nr) Bahasa Verbal : Teks Gerongan Lancaran Sayuk Jenis – jenis TT Pemarkah 1 Nr Sayuk. nyambut gawe. Tema / topik: makarya (bekerja). Peserta tutur: Narator. sakancane. sayuk. b. Direktif sayuk sakancane 2 Nr Sayuk. a. Identifikasi / latar. sayuk. Pria . Wanita . sayuk. sayuk. . ia merespon dengan gerak tanpa tuturan. sayuk. sakabehe.

f. Arah Pandangan mata suami dan istri saling menatap. berhadapan dan didukung dengan saling melempar senyuman sehingga tampak gembira dan bahagia. Status sosial: penari pria sebagai seorang suami. gerak yang dipilih antara pasangan suami dan istri berupa sekaran-sekaran yang dapat diekspresikan secara dinamis untuk menimbulkan kesan semangat dalam keadaan riang dan gembira. Tempat: di luar rumah. g. tawing kiri. Sebagai penutup sepasang suami istri saling mendekat bergandengan tangan kemudian srisik kanthen tangan kanan menuju tempat duduk temanten mengambil boneka anak. Penari wanita sebagai seorang istri. lilingan kebyok sampur. dan enjer muter. lilingan kebyok sampur dan enjer muter.214 c. Sekaran untuk ekspresi peran suami terdiri dari: laku telu pondhongan. ia digambarkan sebagai figur seorang suami yang bertanggungjawab dan sangat setia terhadap istri. e. Gerak: pada implementasinya. h. . i. Situasi tutur: tidak formal. Polatan / ekspresi wajah: suami dan wajah istri tampak cerah dan gembira. ia digambarkan sebagai figur seorang istri yang sangat setia terhadap suami. Wujud Kinetic body moves yang dipilih untuk istri sekaran luluran. enjer ridhong muter. d. Pola lantai: didominasi garis-garis lengkung. Tujuan: suami maupun istri saling mengajak dan memberi dorongan semangat untuk bekerja secara bersama-sama dalam menyelesaikan pekerjaan dengan suasana gembira.

c. Kebahagiaan sebuah keluarga yang dilandasi rasa cinta akan memberikan spirit yang kuat dalam berbagai aktifitas dalam aktualisasi publik. Implikatur bahasa verbal Gerongan Lancaran Sayuk pada tari Tari Bondhan Sayuk adalah gambaran kehidupan sebuah keluarga yang rukun. bekerja. . Implikatur Sayuk : sebuah ajakan dalam bekerja untuk bersama-sama dengan dorongan semangat. Sakancane: Nyambut gawe: Sakabehe: bersama-sama dengan teman. harmonis. Maksim kualitas dilanggar. Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Gerongan Lancaran Sayuk dapat diungkap: a. Maksim hubungan dilanggar. damai. b. seluruhnya dalam berbagai kegiatan. Iringan gendhing: Lancaran Sayuk dengan irama dinamis untuk mendukung suasana kekudangan yang merepresentasikan rasa riang.215 j. dan bahagia. gembira. Maksim kuantitas dilanggar. dan berupaya menjalani kehidupan secara bersamasama.

menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif. 2) mlakukan TT secara tidak langsung (off record). Maksim kualitas ada yang dilanggar juga ada yang dipatuhi. banyak menggunakan kata-kata arkais dimaksudkan oleh penutur untuk mengekspresikan rasa estetik. b. Maksim kuantitas dilanggar karena dalam menyampaikan tuturan seorang penutur. Maksim cara dilanggar. Maksim kualitas yang dilanggar dimaksudkan oleh penutur bahwa tuturan yang berupa tembang dimanfaatkan untuk mengekspresikan rasa lagu. Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Gerongan Lancaran Sayuk. Dari penjabaran bahasa verbal yang terdapat dalam tari Bondhan Sayuk terdapat beragam jenis tindak tutur yang dapat peneliti klasifikasikan secara kuantitatif sebagai berikut: NO 1 2 3 4 5 6 7 JENIS TINDAK TUTUR Tindak Tutur Direktif Tindak Tutur Ekspresif Tindak Tutur Asertif Tindak Tutur Komisif Tindak Tutur Patik Tindak Tutur Performatif Tindak Tutur Verdiktif JUMLAH 14 6 4 1 1 - Berdasarkan prinsip kerja sama bahasa verbal yang terdapat tari Bondhan Sayuk: a.216 d. Sedangkan .

Maksim hubungan yang dilanggar dimaksudkan oleh penutur bahwa tuturan yang berupa tembang tersebut diharapkan dapat sebagai sarana komunikasi rasa. suami dan istri yang . masing-masing hendaknya memberikan kontribusi yang relevan demi terjadinya komunikasi rasa. Maksim hubungan ada yang dilanggar juga ada yang dipatuhi. d.217 maksim kualitas yang dipatuhi dimaksudkan oleh penutur untuk menggambarkan peristiwa yang betul-betul terjadi pada masing-masing adegan. Hal ini dimaksudkan seniman penyusun untuk menunjukkan simbolisasi keharmonisan hubungan antara peran digambarkan dalam tari. Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada tari Bondhan Sayuk. Maksim cara dilanggar karena dalam menyampaikan tuturan seorang penutur. Sedangkan maksim hubungan yang dipatuhi dimaksudkan oleh penutur untuk menjaga kerja sama antara penutur dengan mitra tutur. c. keintiman. dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur. menggunakan strategi: 1) Melakukan tindak tutur dengan menggunakan kesantunan positif untuk menunjukkan kedekatan. dan pernyataannya samar. tidak langsung. terlalu panjang. hal ini dimaksudkan seniman penyusun untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa. 2) Melakukan tindak tutur secara tidak langsung (off record) untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa.

Pasangan kekasih tersebut bukan merupakan gambaran dari tokoh tertentu dari sebuah cerita.218 b. sejarah.Tema. sepasang suami istri memiliki tugas dan tanggungjawab untuk membina dan mendidik anak sedini mungkin supaya dapat tercapai harapannya. Bapakne sithole. polatan (ekspresi wajah). Liku-liku perjalanan cinta sepasang suami istri beserta anak laki-lakinya dalam menjalani kehidupan yang penuh harapan-harapan terkait dengan prospek masa depan anak untuk partisipasinya pada pembangunan bangsa dan negara. babad. dan iringan. untuk itu seorang suami dituntut harus bekerja secara sungguh-sungguh. baya iki wus wanci. menghendaki dan mendukung suami untuk bekerja demi kelangsungan hidup keluarga. Untuk mewujudkan cita-cita yang mulia tersebut. Bahasa Nonverbal Bahasa nonverbal tari Bondhan Sayuk terdiri dari: tema. seperti tersurat pada cakepan Jineman Sayuk pada bagian awal yang berbunyi: Dhuh mas jiwaku. pola lantai. mangkat makarya. Selain dapat memenuhi kebutuhan yang bersifat rohani juga tidak dapat mengabaikan kebutuhan yang bersifat jasmani sebagai sarana penopang kebutuhan hidup sehari-hari. 1. tetapi merupakan reaktualisasi dari imajinasi sepasang suami istri yang telah dianugerai seorang anak laki-laki yang masih dalam timangan. Sawahmu tansah anganti. atau dongeng. rias. Bentuk tema yang diangkat pada tari Bondhan Sayuk adalah tema percintaan sepasang manusia laki-laki dan perempuan secara universal. Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa berlandaskan rasa cinta yang mendalam seorang istri mengingatkan. busana. kinetic body moves. .

tidak menyeleweng. Setelah kemesraan berakhir istri meninggalkan suami untuk suasana menjadi tegang. . Gambaran adegan kasmaran mengungkapkan rasa kecewa. atas rayuan suami dengan sanjungan atau pujian. dan tegang. Dari tema percintaan sepasang suami-istri yang sifatnya universal tersebut. yang menggunakan properti berupa boneka yang dibalut sehelai kain sebagai simbolik anak (bayi).219 Bentuk sajian dari tema percintaan yang diangkat pada tari Bondhan Sayuk tersebut aktualisasinya diperankan oleh: suami dan istri. untuk aktualisasinya akan membentuk sebuah alur yang terbagi menjadi beberapa adegan: a) adegan kasmaran (percintaan). Adegan kekudangan mengungkapkan rasa gembira dan rasa bahagia. Adapun bentuk aktualisasinya diwujudkan sepasang suami dan istri yang sedang menimang bayi secara bergantian sambil bersenandung tentang harapan-harapan mulia sebagai orang tua terhadap anak laki-laki kelak setelah menjadi orang dewasa. tidak sombong. c) adegan makarya (bekerja). mengambil anaknya. mesra. pekerja profesional. b) adegan kekudangan (menimang bayi sambil bersenandung) . Pada awalnya istri kurang perhatian terhadap suami. berpartisipasi aktif dalam pembangunan bangsa dan negara. Harapan-harapan mulia kedua orang tua terhadap anak laki-lakinya kelak menjadi orang yang memiliki kepribadian yang baik. istri menjadi luluh hatinya yang kemudian mereka berdua saling beradu cinta. a) adegan kasmaran menggambarkan sepasang suami dan istri yang sedang memadu cinta. Adegan kekudangan menggambarkan kegembiraan dan kebahagiaan sepasang suami dan istri yang telah dikaruniai seorang anak laki-laki yang diharapkan menjadi pewaris keturunan dan berguna bagi pembangunan bangsa dan negara. b).

Berawal dari alunan kendhang sebagai pembukaan yang . Jika dicermati dari alur adegan dari kasmaran. Kinetic body moves atau Gerak tubuh. Rasa yang hendak diekspresikan pada adegan ini yaitu puncak kegembiraan dan kebahagiaan. keharmonisan. kekudangan. Artinya pola-pola gerak yang digunakan dalam tari tidak selalu merepresentasikan secara vulgar dan jelas maksud penyusun yang tersurat pada bahasa verbalnya. Adegan kasmaran merupakan adegan pertama yang secara garis besar menggambarkan sepasang suami dan istri sedang memadu cinta. Pola-pola gerak yang digunakan untuk gambaran-gambaran pada masing-masing adegan tidak selalu dapat dengan mudah menunjukkan aktifitas yang tengah terjadi. 2. Adegan makarya merupakan gambaran semangat bekerja secara bersamasama antara suami dan istri dengan suasana gembira. Seperti gambaran adegan makarya. tetapi bagaimana vokabuler gerak tersebut mampu mengungkapkan rasa sesuai dengan kehendak penyusun.. Gerak tubuh pada tari Bondhan Sayuk adalah kristalisasi dari beberapa unsur gerak tradisional yang bersumber pada tarian tradisional karaton Kasunanan yang lebih dikenal gaya Surakarta. yang kemudian makarya dapat ditarik benang merahnya bahwa kehidupan sebuah keluarga yang didasari rasa cinta mendambakan kemesraan.220 c). kedamaian dan kebahagiaan berupaya menyeimbangkan akan kebutuhan rohani yang teraktualisasi dalam adegan kasmaran berlanjut adegan kekudangan dan kebutuhan jasmani yang tergambar dalam adegan makarya. di sini bentuk-bentuk vokabuler geraknya tidak tampak gerak orang makarya / bekerja. Beberapa vokabuler gerak yang berupa sekaran memiliki karakteristik beragam pula. Selengkapnya peristiwa adegan kasmaran tersebut terkait dengan Kinetic body moves akan digambarkan secara kronologis sebagai berikut.

Iringan Ketawang Mijil Sulastri lr. pl. Perasaan suami tegang. Kebingungan semakin tampak. berdiri meninggalkan suami sambil kebyokan tangan kanan-kiri sedangkan penari putra nyabet tangan kanan. pt.. pt. gajah-gajahan. sembahan. Rasa kecewa diekspresikan istri lewat jengkeng. saling mendekat srisik kanthen tangan kanan. mendekat hoyogan. berhenti laku enjer menthang tangan kiri. Selanjutnya gerak lincak gagak bersama. sekaran laras kebyokan. adapun bentuk iringan yang mendukung suasana ketegangan tersebut adalah lancaran lr. . barang. tangan kanan saling berpegangan (nyathok) dan tangan kiri lurus ke samping (menthang) menuju stage. pt. istri meninggalkan putra dengan gerak srisik kipat sampur dan suami mencoba lari untuk mencegah istri namun tidak dapat dengan gerak srisik.221 diikuti secara bersama alunan seluruh ricikan balungan atau instrumen gamelan yang terkemas dalam Srepek Rangu-rangu lr. barang. besut. Kedua penari. Secara perlahan-lahan keduanya lumaksono ridhong. pl. kembali maju srisik. songgonompo – mbalang. kemudian putra besut dan putri sindhet merupakan gambaran rasa kebersamaan. khawatir dengan kengser mundur pelan-pelan. Suasana tegang diungkapkan istri mulai menjauh dengan gerak tawing kiri dan laku enjer sedangkan suami berhenti tanjak sambil tawing kiri memandangi yang putri. suami hendak pegang istri menghindar. berhenti tanjak. mundur srisik. Rasa mesra mulai tampak ketika masing-masing peran suami dan istri saling mendekat dan berciuman dengan gerak kengser dan ngaras. srisik menuju tengah stage. Istri srisik sambil menimang bayi menuju ke stage mendekati putra. pl. barang untuk mendukung rasa kecewa dan rasa mesra. putra sebagai suami dan putri sebagai istri srisik bersama.

bekerja secara profesional. barang. Selanjutnya istri tawing kanan. tangan kiri memegang bahu istri dan tangan kanan memegang anak sambil memperhatikan dengan tawing kanan. Istri mengingatkan pekerjaan terhadap suami dengan gerak tawing kanan sambil memandang suami sedangkan suami menyambut baik dengan gerak ukel karno kanan yang kemudian srisik mendekati. tidak sombong. pl. tidak menyeleweng. lembehan tangan kanan. putar ke kiri – tangan kanan ukel karno sedangkan suami mendekat menanggapi dengan gerak panggel dan pandangan mengarah ke putri dan anak. berpartisipasi aktif dalam pembangunan bangsa dan negara. Harapanharapan mulia kedua orang tua terhadap anak laki-lakinya kelak menjadi orang yang memiliki kepribadian yang baik. Setelah istri srisik sambil menimang anak. . maju srisik mendekati suami untuk memberikan anaknya dan suami juga mendekat dengan lumaksono untuk menerimanya. Bentuk Kinetic body moves yang mengekspresikan adegan kekudangan dapat dicermati berikut ini. Istri meminta perhatian suami terhadap anak yang ditimang dengan gerak putar ke kanan.222 Adegan kekudangan merupakan adegan kedua. yang menggambarkan kegembiraan dan kehagiaan sepasang suami dan istri yang telah dikaruniai seorang anak laki-laki yang diharapkan menjadi pewaris keturunan dan berguna bagi masyarakat. Seluruh sajian Kinetic body moves tersebut diiringi jineman Sayuk lr. Suami menimang anak sedangkan istrinya meledek dengan tawing kiri-tawing kanan. Adapun bentuk aktualisasinya diwujudkan sepasang suami dan istri yang sedang menimang bayi secara bergantian sambil bersenandung tentang harapan-harapan mulia sebagai orang tua terhadap anak laki-laki kelak setelah menjadi orang dewasa. Adegan kekudangan mengungkapkan rasa gembira dan rasa bahagia. pt. suami merasa gembira dan bahagia secara perlahan-lahan mendekat.

pl. Sekaran untuk ekspresi peran suami terdiri dari: laku telu pondhongan. diawali suami menimang-nimang anak dengan lumaksono yang diikuti istri lumaksono lembehan sampur dan kawilan. Gendhing sebagai . seperti mencangkul. Wujud Kinetic body moves yang dipilih untuk istri sekaran luluran. lilingan kebyok sampur.223 Ekspresi kekudangan yang berisi harapan orang tua terhadap anak. lilingan kebyok sampur dan enjer muter. Adegan makarya merupakan adegan ke tiga yang menjadi penutup dari seluruh alur adegan yang terdapat pada tari Bondhan Sayuk. Ungkapan adegan makarya adalah gambaran semangat dalam bekerja antara suami dan istri dengan suasana gembira. Rasa yang hendak diekspresikan pada adegan ini yaitu rasa riang.tangan kanan menthang sampur dan lilingan. Pada implementasinya. gerak yang dipilih antara pasangan suami dan istri berupa sekaran-sekaran yang dapat diekspresikan secara dinamis untuk menimbulkan kesan semangat dalam keadaan riang dan gembira. gembira. dan bahagia. tanam padi. barang. membajak. Adapun gambaran Kinetic body moves bagian ini diiringi ladrang Sayuk lr. Bentuk gambaran Kinetic body moves pada adegan makarya tidak mengekspresikan orang yang tengah bekerja menggarap sawah. tawing kiri. Sebagai penutup sepasang suami istri saling mendekat srisik kanthen tangan kanan menuju tempat duduk temanten mengambil boneka anak kemudian sebagai cucuk lampah temanten (berjalan di depan temanten untuk menggiring sepasang mempelai ke depan pintu rumah resepsi guna menghantarkan para tamu undangan yang hendak berpamitan). pt. Gantian anak diberikan istri sedangkan suami meledeknya dengan ogekan. dan enjer muter. Setelah istri menimang lalu boneka anak diberikan kepada temanten putri dengan srisik. dan lainnya. enjer ridhong muter. suami gerak lumaksono sambil menanti kedatangan istri.

barang. . pl. seperti paparan berikut ini. barang dan Ayak-ayakan lr. baik adegan: kasmaran. pt. pl. dan makarya merupakan kombinasi dari gerak representatif dan presentatif.224 iringan adegan ini adalah Lancaran Sayuk lr. Secara garis besar Kinetic body moves yang terdapat pada seluruh adegan tari Bondhan Sayuk. kekudangan. pt.

Kasmaran 1 Srisik kanthen tangan kanan Distilisasi orang bergandengan tangan kanan 2 Lumaksono ridhong Distilisasi orang berjalan 3 Srisik kanthen tangan kanan Distilisasi orang bergandengan tangan kanan 4 Enjer menthang tangan kiri Distilisasi orang berjalan samping meluruskan kiri dari ke songgonompo gerak lari Srisik tangan kanan dari Lumaksono ridhong gerak lari Srisik tangan kanan SW Representatif SL Representatif Keterangan kanthen Distilisasi orang bergandengan tangan kanan Distilisasi orang berjalan kanthen Distilisasi orang bergandengan tangan kanan Distilisasi orang sesuatu gerak lari dari gerak lari dari menerima sambil tangan .225 2) jenis-jenis vokabuler gerak atau sekaran yang terdapat dalam tari Bondhan Sayuk. Adegan Peran Jenis Gerak Peran Jenis Gerak Keterangan No I.

sambil gerak kaki burung gagak. tawing Distilisasi kiri dari Lincak gagak. tawing kiri Distilisasi dari gerak kaki burung gagak. sambil melihat ke kiri 8 Sautan / nubruk Distilisasi orang memegang seseorang dihindari 9 Srisik kanthen tangan kanan Distilisasi orang bergandengan tangan kanan 10 Enjer tawing kiri Distilisasi orang berjalan samping dari ke Tanjak tawing kiri gerak lari Srisik tangan kanan yang dari hendak Endhan melihat ke kiri Distilisasi dari orang menghindar kanthen Distilisasi orang bergandengan tangan kanan Distilisasi gerak lari dari orang berdiri sambil melihat ke kiri sambil melihat ke kiri .226 5 Jengkeng Distilisasi orang duduk dari mbalang Distilisasi dari orang memberi atau membuang sesuatu 6 Ngaras Distilisasi orang berciuman dari Ngaras Distilisasi orang berciuman dari 7 Lincak gagak.

kedua tangan menthang sampur Distilisasi orang lari. 12 Srisik dan menimang bayi Distilisasi gerak Lumaksono. kecuali jari jempol ditekuk. kedua tangan lurus membuka samping ke dengan membawa sampur. nyabet tangan kanan Distilisasi orang berjalan gerak orang lari dengan menggendhong bayi 13 Srisik mundur Distilisasi orang lari. gerak Posisi Srisik (tangan nekuk). ( pola tersebut merupakan sikap berdiri pada . Kedua tangan trap cetik nyempurit Distilisasi orang kedua ditekuk pinggang jari-jari di lari. gerak Posisi tangan depan dengan membuka.227 11 Srisik kipat sampur. gerak badan menghadap ke depan sedangkan langkah kaki mengarah ke belakang 14 Tanjak Distilisasi gerak orang berdiri.

kesannya mendekat Gerak penghubung.228 tari Jawa untuk putra yang posisi kedua kaki membuka dan ditekuk badan disertai sedikit condong ke depan ). Kasmaran 1 2 Sindhet Sekaran laras kebyokan 3 Kebyokan tangan kanan-kiri 4 Kengser Kesannya mengabaikan Gerak penghubung. Adegan Peran Jenis Gerak Peran Jenis Gerak Keterangan No I. kesannya mendekat 5 Kengser Kengser Gajah-gajahan Gerak penghubung Kesannya tenang Besut Besut SW Presentatif SL Presentatif Keterangan Gerak penghubung Gerak penghubung Kesannya tenang dan memperhatikan Gerak penghubung. kesannya mendekat .

229

Adegan

Peran

Jenis Gerak

Peran

Jenis Gerak

Keterangan No II. Kekudangan 1 Srisik dengan membawa anak Distilisasi gerak Tangan SW Representatif SL Representatif

Keterangan

kiri Menunjukkan

kasih

orang lari dengan menggendong boneka anak

memegang bahu dan peneliting tangan kanan

memegang anak gerak ke Tawing kanan Distilisasi gerak orang melihat ke kanan

2

Tawing kanan

Distilisasi orang kanan

melihat

3

Tawing kanan

Distilisasi orang kanan

gerak ke

Srisik

Distilisasi gerak orang lari

melihat

4

Srisik

Distilisasi orang lari

gerak

lumaksono

Distilisasi gerak orang berjalan

5

Memberikan anak kepada suami

Untuk timang

ditimang-

Menerima anak

Untuk timang

ditimang-

230 6 Tawing kiri-kanan Distilisasi gerak Menggendong anak Menimang-nimang boneka anak

orang melihat ke kiri lalu ke kanan 7 Lumaksono lembehan sampur Distilisasi gerak Lumaksono

Distilisasi gerak orang berjalan

orang berjalan yang kedua tangannya

membawa sampur 8 Menerima anak Untuk timang 9 Menggendong anak Menimang-nimang boneka anak 10 Srisik dengan membawa anak Distilisasi gerak Lumaksono ditimangMemberikan anak kepada istri Lilingan Untuk timang Distilisasi gerak orang meledek Distilisasi gerak orang berjalan ditimang-

orang lari dengan menggendong boneka anak

231

Adegan

Peran

Jenis Gerak

Peran

Jenis Gerak

Keterangan No II. Kekudangan 1 Lembehan ke kananke kiri sambil putar lalu ukel karno kanan 2 Kawilan Kesan meledek Ukel karno kanan Kesan perhatian meminta Panggel SW Presentatif SL Presentatif

Keterangan

memperhatikan

Kesan merespon

3

Ogekan, kanan sampur

tangan Kesan meledek menthang

232

Adegan

Peran

Jenis Gerak

Peran

Jenis Gerak

Keterangan No III. Makarya 1 Sekaran luluran Distilisasi gerak Laku pondhongan Enjer ridhong muter SW Representatif SL Representatif

Keterangan

telu Distilisasi gerak orang memondong Distilisasi gerak orang berjalan ke samping dengan melingkar

orang sedang luluran 2 Tawing kiri Distilisasi orang gerak ke

melihat

samping kiri 3 Lilingan kebyok sampur Distilisasi orang sambil sampur 4 Enjer muter Distilisasi gerak orang berjalan ke samping dengan melingkar Enjer muter gerak meledek membawa Lilingan kebyok sampur

Distilisasi gerak orang meledek sambil

membawa sampur

Distilisasi gerak orang berjalan ke samping dengan melingkar

233

Dari paparan jenis-jenis gerak presentatif dan representatif yang terdapat pada tari Bondhan Sayuk, dapat dicermati secara kuantitatif. a. Jenis gerak Representatif. Jumlah No Adegan Peran Jenis Gerak vokabuler

1

I. Kasmaran

SW

Representatif

12

SL

Representatif

14

2

II. Kekudangan

SW

Representatif

10

SL III. Makarya 3 SW

Representatif

10

Representatif

4

SL 4

Representatif

4 54

Jumlah gerak representatif, adegan I, II, dan III

b. Jenis gerak Presentatif. No Adegan Peran Jenis Gerak Jumlah vokabuler 1 I. Kasmaran SW SL 2 II. Kekudangan SW SL 4 Presentatif Presentatif Presentatif Presentatif 4 5 4 4 17

Jumlah gerak presentatif, adegan I dan II

234

Jumlah presentase jenis-jenis gerak representatif dan presentatif tari Bondhan Sayuk.

Tari Bondhan Sayuk No 1 2 3 4 5 Adegan I, II, dan III I, II, dan III Jenis gerak representatif presentatif jumlah 54 17 71 76,05 %, 23,95 %

Jumlah total gerak representatif dan presentatif = 54 + 17 Jumlah presentase gerak representatif = 54 : 71 X 100. Jumlah presentase gerak presentatif = 17 : 71 X 100.

3. Polatan (ekspresi wajah). Ekspresi wajah atau gerak wajah bukannya wajah dalam pengertian objek yang statis, merupakan sarana untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik terhadap sesuatu yang sedang dikomunikasikan. Dari pengamatan peneliti terhadap ekspresi wajah pada tari Bondhan Sayuk dapat dijabarkan seperti berikut. Pada adegan 1. kasmaran, bagian awal menggambarkan rasa kebersamaan, polatan kedua penari tampak cerah, kepala cenderung tegak, pandangan mata lebih banyak searah dan juga diseling saling menatap untuk mengekspresikan rasa romantis. Perubahan terjadi ketika rasa kecewa muncul, polatan suami sedikit tegang terfokus pada istri sedangkan kepala istri banyak menunduk, tatapan mata tidak merespon suami dan berupaya menghindar. Rasa kasmaran mulai terbangun kembali ketika sepasang suami dan istri berciuman, polatan suami dan istri tampak cerah, mulai saling menebar senyuman. Akhir adegan kasmaran suasana tegang, wajah suami dan istri tampak tegang pandangan mata tajam dan kepala tegak. Pandangan mata suami istri saling menatap secara tajam dengan

sedangkan pria memakai kejawen. ekspresi wajah keduanya semakin tampak cerah. Adegan kekudangan diawali Istri srisik sambil menimang bayi menuju ke stage mendekati suami. ekspresi wajah sepasang suami istri tampak cerah.235 didukung gerak istri perlahan-lahan menjauh meninggalkan sedangkan gerak suami mendekat. senyuman semakin meningkat dan pandangan mata banyak saling menatap menunjukkan keharmonisan dan kemesraan. Konsep tersebut rupanya merupakan pijakan awal yang selanjutnya dikembangkan oleh penyusun tari menjadi lebih berfungsi untuk kebutuhan ekspresi tari. polatan terfokus pada istri. Bentuk rias dan dandanan busana tari Bondhan Sayuk seperti . suasana semangat yang diekspresikan secara bersama-sama antara suami dan istri lewat sekaran-sekaran kebar semakin dinamis didukung iringan Lancaran Sayuk yang berirama 1/1. Bagi orang jawa rias dan dandanan busana yang digunakan pada acara resepsi secara garis besar untuk wanita memakai kebaya dan bagian atas menggunakan sanggul atau gelung. 4. secara perlahan-lahan suasana mulai berubah menjadi gembira. Rias dan busana. gembira. sehingga kegembiraan lebih maksimal dan kebahagiaan semakin mantap. Kegembiraan meningkat dan kebahagiaan semakin terasa ketika sepasang suami istri secara bergantian menimang anak. Menginjak adegan makarya. Bentuk rias dan busana tari Bondhan Sayuk mengacu pada busana Jawa yang sering dipakai pada acara-acara formal sebuah resepsi. Ide yang melatarbelakangi bentuk rias dan busana yang dipakai bahwa kisah cerita yang diangkat dalam tari Bondhan Sayuk adalah gambaran kehidupan sepasang suami istri yang berbudaya Jawa.

236 rias dan busana yang dipakai pada peran-peran kethoprak. Dandanan busana untuk istri memakai dodot tanggung (dodot kecil) motif lereng dan bagian kepala menggunakan gelung besar yang diberi bunga tibandhadha. Perhiasan untuk putra diantaranya: gelang. cundhukjungkat. Kiranya dapat disimpulkan bahwa rias dan busana yang digunakan dalam tari Bondhan Sayuk untuk memberi dukungan karakter peran dan mengaktualisasikan jati diri peran. Wujud rias istri menggunakan rias cantik dan rias suami menggunakan rias bagusan yang keduanya tidak menampakkan perubahan karakter secara menyolok. dan cundhukmentul layaknya penganten putri berbusana basahan. Suami memakai dodot tanggung motif lereng. Pola lantai yang dibentuk dari Kinetic body moves merupakan komplementer keduanya yang diharapkan dapat membantu mengekspresikan suasana yang terdapat pada masing-masing adegan. terutama peran alusan atau bambangan untuk pria. 5. kalung. Garis-garis lurus digunakan untuk mengungkapkan keinginan. . Pola lantai. dan kalung. yaitu garis lurus dan garis lengkung. seperti aktualisasi adegan awal kasmaran yang menggambarkan kebersamaan suami dan istri (lihat gambar: 1). Warna busana dominasi coklat yang memiliki kesan kalem dan kuning emas terutama perhiasan untuk menambah daya tarik penonton. kemauan yang kuat dan tegas. Secara prinsip pola lantai yang terdapat dalam tari Bondhan Sayuk. dan suweng. mencakup dua bentuk utama. kelat bahu. Perhiasan yang dipakai putri diantaranya: gelang. kelat bahu. keris dan blangkonan. Selain itu untuk fase-fase ketegangan ketika istri hendak meninggalkan suami (lihat gambar: 2).

. lembut. yang banyak terdapat dalam tari Bondhan Sayuk. dan enjer ridhong muter yang terkait dengan pola-pola lantai tersebut seperti tergambar pada paparan berikut. Gambar 1: pola lantai laku telu pondhongan pada adegan tiga. Gambar 2. terutama pada adegan tiga makarya. lilingan kebyok sampur. Gambar 1. Adapun bentuk-bentuk sekaran laku telu pondhongan.237 Gambar 1. Gambar 2: pola lantai lilingan kebyok sampur pada adegan tiga. Garis-garis lengkung lebih difungsikan untuk mengungkapkan kesan manis. Gambar 2.

Iringan. 6. Bentuk iringan tari Bondhan Sayuk merupakan komplementer garap lagu Teks sastra tembang dan rasa musikal dari garap instrumen gamelan yang berupa gendhing. Bentuk garap jineman merupakan garap lagu tembang jawa. Sedangkan garap gerongan terdiri dari satu bait yang terdapat pada iringan Lancaran Sayuk. yakni: (1) garap sindhenan (2) garap jineman. dan (3) garap gerongan. yang dinyanyikan koor oleh vokalis putra . Gambar 3: pola lantai enjer ridhong muter pada adegan tiga. Maksud menggunakan garap jineman adalah untuk menonjolkan lagu dan makna yang terkandung dalam bahasa verbalnya. Bahasa verbal yang berupa teks sastra tembang yang terdapat dalam tari Bondhan Sayuk. yang penyajiannya dimulai nyanyian solo atau tunggal tanpa iringan instrumen gamelan kemudian diikuti nyanyian secara koor dengan iringan instrumen gamelan. terdiri dari beberapa garap lagu. Garap sindhenan terdiri dari satu bait yang terdapat pada iringan Ketawang Mijil Sulastri.238 Gambar 3. Garap jineman mencakup satu bait yang terdapat pada iringan Ladrang Sayuk.

barang. Ketawang Mijil Sulastri lr. dapat dicermati secara komprehensip dari beberapa elemen. kedudukannya dalam adegan kasmaran ini bersifat nyawiji. pt. pt. pl. Keterpaduan yang dimaksudkan adalah menyatunya rasa musikal gendhing Ketawang Mijil Sulastri lr. didukung beberapa iringan gendhing. b) rasa seleh yang . dan Lancaran lr. Susunan iringan tari Bondhan Sayuk seluruhnya dan secara urut dari adegan kasmaran. pl. pl. barang pada adegan ini bersifat nglambari artinya rasa musikal yang dihasilkan dari garap Srepek Rangu-rangu lr. antara lain: Srepek Rangu-rangu lr. pt. pt. pl. Kedudukan iringan Srepek Rangu-rangu lr. barang berfungsi untuk memberikan ilustrasi terhadap rasa kebersamaan sepasang suami istri. Pengertian nyawiji di sini garap gendhing Ketawang Mijil Sulastri lr. pl. barang. barang. pt. Adegan : I. diantaranya: a) rasa musikal dan makna bahasa verbal yang mengekspresikan rasa kecewa menyatu dengan ekspresi gerak yang menggambarkan kekecewaan istri. Bentuk menyatunya iringan dengan gerak. barang. pl. pt.239 bersama vokalis putri. yang merupakan iringan kedua setelah Srepek Rangu-rangu lr. barang dengan ekspresi vokabuler gerak yang secara komplementer mengungkapkan suasana kasmaran yang dialami sepasang suami istri yang terjabar dalam rasa: kecewa dan mesra. barang. kekudangan dan makarya dapat dicermati berikut ini. pt. pl. Ketawang Mijil Sulastri lr. Kasmaran. pt. pt. Adegan kasmaran sebagai adegan pertama dalam tari Bondhan Sayuk. barang implementasinya dengan garap gerak adalah menyatu. begitu pula rasa musikal dan makna bahasa verbal yang mengekspresikan rasa cinta menyatu dengan ekspresi gerak yang menggambarkan kemesraan sepasang suami istri yang ditandai dengan gerak ciuman. pl. pl.

Adapun paparan berikut ini. barang . c) pola gatra yang terdapat pada bentuk gendhing Ketawang Mijil Sulastri dapat dijadikan tanda mulai bergerak ataupun berakhirnya suatu gerak pada tari. pl. pt. pl. Lancaran lr. pl. barang Buka : kendhang : [ 2 5 ] suwuk : 7 6 2 5 7 3 o 2 5 o 7 6 o 2 5 b 7 3 3 6 xpl o 5 7 2 6 g7 3 5 3 2 3 g7 XXXXXxx2xxx x7x x Xx2x x x7 3 2 7 g6 Ketawang Mijil Sulastri lr. dapat dicermati Srepek Rangu-rangu lr. merupakan iringan yang secara musikal dapat mengekspresikan suasana tegang yang kedudukannya pada adegan ini lebih bersifat nglambari. Terkait dengan alur adegan iringan Lancaran lr. baik rasa seleh ringan maupun rasa seleh berat. pt. barang tersebut merupakan fase peralihan dari adegan kasmaran menjadi adegan kekudangan.240 terdapat pada gendhing merupakan iringan yang mendukung rasa seleh pada tari. barang. pt. bentuk iringan untuk adegan 1: kasmaran. pl. Implementasinya rasa musikal yang berirama 1/1 tersebut mampu memberikan ilustrasi rasa tegang yang mendukung kekacauan atau ketegangan yang diekspresikan suami maupun istri. pt.

. 2 . 7 7 . 2 2 . 2 . g6 x3x x x3x x x. 2 . tidak menyeleweng. barang [ . 6 2 . . . 7 5 7 Xxn6x7 x5x6 7 XXXx5XXXXXXx7 g6 Lancaran lr. . . . g6 2 . . pt. Adapun bentuk aktualisasinya diwujudkan sepasang suami dan istri yang sedang menimang bayi secara bergantian sambil bersenandung tentang harapan-harapan mulia sebagai orang tua terhadap anak laki-laki kelak setelah menjadi orang dewasa.x x xp. 7 7 . 3 7 5 . 2 . berpartisipasi aktif dalam pembangunan bangsa dan negara. Harapanharapan mulia kedua orang tua terhadap anak laki-lakinya kelak menjadi orang yang memiliki kepribadian yang baik. n7 n7 . 3 .x x x6XXXx x x. 7 7 . 3 p2 . . .241 [ . 7 . 6 2 p7 3 2 7 7 6 5 n3 X .x Xx x. g2 g6 ] Adegan : II. pl. 7 . p3 . pekerja profesional. 3 5 . n7 . tidak sombong. Kekudangan Dalam adegan kekudangan yang mengisahkan menggambarkan kegembiraan dan kebahagiaan sepasang suami dan istri yang telah dikaruniai seorang anak laki-laki yang diharapkan menjadi pewaris keturunan dan berguna bagi pembangunan bangsa dan negara. 7 3 . 2 g7 x5x x5x x x. 3 3 . . . Dukungan iringan untuk adegan kekudangan yang mengungkapkan rasa gembira dan rasa bahagia .xxx x. 2 . x3xx Xx XXXx3x x XXx5x x Xxg6 Xx. p3 .

dan nyawiji. barang . Bentuk iringan untuk adegan 2: kekudangan dapat dicermati paparan berikut ini. barang dengan irama sigrak. Dalam hal ini polapola gerak tari selalu ketat. Bentuk mungkus ini ditinjau dari pelaksanaan vokabuler gerak yang terdapat pada adegan kekudangan hampir seluruhnya menggunakan pola kendangan kebar atau ciblon yang selalu membungkus pola gerak. pt. pelan. Garap wiled yang berirama 1 / 8 pada Ladrang Sayuk lr. pl. barang mengisyaratkan bahwa ungkapan rasa gembira dan rasa bahagia yang terdapat pada adegan kekudangan ini suasana tampak lebih tenang dan semeleh (irama tidak tergesa-gesa. Selain itu iringan Ladrang Sayuk lr. pt. Jineman Sayuk laras.ketat diikuti pola kendangan. barang pada adegan ini sifatnya mungkus. pt. pl. pt. pl. pl. barang pada dasarnya nyawiji dengan garap geraknya. pl. barang. pl. dan bahagia sepasang suami dan istri dapat nyawiji dan tercapai.242 adalah Ladrang Sayuk lr. pt. lagu jineman yang riang dan tekanan sedang pada adegan kekudangan ini adalah untuk pencapaian harmonisasi penyajian. Pengertian nyawiji ini mengarah pada pemersatuan dari unsur tari yang berupa vokabuler-vokabuler gerak kebar yang dinamis dan unsur karawitan yang berupa Ladrang Sayuk lr. pt. dan mantap). Keterpaduan garap tari dan garap Ladrang Sayuk dalam rangka mengekspresikan rasa gembira. Kedudukan iringan Ladrang Sayuk lr.

c6 ku 2 uX y 3 ba . . 2 5 3 .ya 5 I .nak ku sing ba .ti . . .suk 7 . 6 Tak ku . . 6 z7x x xzj@c# zzzzzzzzzjz6x7x jx5c3 2 zj2c3 3 7 2 zj3c2 7 rung . . zj2c3 y tho-le 2 7 y zj7c2 Mbok-ne . pt. .wa . .gus 3 z@x x x x c# z6x c5 pin . .wah mu tan .le mang-kat ma 5 6 7 z5c6 2 2 z2x3c2 kar ya z7x. . barang 5 2 5 2 5 6 5 3 . .sah a .nen mre-ne # z#c@ 7 z6c7 dhe .nak mu ga . .ngan . .ki wus wan .ter nyam-but ga . u zj2c3 u . a .dang-e . . .x6x5c3 2 X z2x3c2 z7x. .x3x2c7 Ba. . pl. 3 .243 Buka : celuk : 6 z7cx2 2 7 2 XXXXz@cc# 2 XXXXXXxxz6c7 Xxzx5x.we Ladrang Sayuk lr. z6c7 5 we 5 . y u 3 z6x5x3x5x6c7 z3x2x7c6 z7x2x. y . 2 Be .c6 Sa .ci Dhuh mas ji .e z6c7 7 @ Sa-du 5 5 5 a . .wa .pak ne si . 3 .tho .

xk3c4 j22 j23 j4jk.buh la-bet mringbangsa .dhuh la – e se.6 j22 j23 5 j.e wis mbok ne e-nyoh a .e 5 .2 jz5c6 6 Adhuh la .3 2 y j.3 5 .nak .e 2 7 2 7 .e a-tak a .6 6 7 jz@c# zj6c7 zj3c2 zj6c5 3 A-dhuh la .6 3 j.7 2 6 j27 3 ne 2 j.ne 5 3 5 3 6 7 3 2 3 j.3 j77 j77 2 j.3 4 jz3c4 A-dhuh lae atak a.e dha .6 z7c2 z2c3 3 j.3 j77 j77 2 j.ne 2 6 3 y 2 j.sing–kir .e 7 @ 6 3 6 5 3 2 .3 5 j.so nga .3 2 7 j.2 A-dhuh la-e atak adhuh la .3 5 3 2 5 2 5 3 5 6 zj5c6 j22 j23 5 zj.la .244 j.7 jz2c7 jz3c2 7 la .7 3 zj7c2 A-dhuh lae atak a-dhuh la .ma -nda .6 j33 j33 jz7c2 2 5 j.3 5 zj5c6 j22 j23 5 zj5c6 2 j.nge j7j j # j@j j 6 j3j j j.e cu-kat trampil 5 2 7 2 5 j2jj j 6 tu.te .y jz7c2 zj2c3 3 j.7 2j.7 2j.xjkj5c6 2 j.dhuh la.ran di .kz3c4 2 j.3 zj5cy j.mi – ndak .6 2 6 7 j.ke 4 2 4 2 4 3 2 7 j.e atak adhuh la .sar bregas ten a .3 4 kz.# j@# 7 A-dhuh lae a-tak adhuh lae 2 7 2 7 jz6c7 3 jz7c2 an-teng ta-jem po .7 2 jz2c3 Adhuh lae a-tak a-dhuh lae o -ra nyle-weng tu .6 6 j.ta 2 7 j.

pl.c# zj5x6jx5c3 sun 2 ar . sehingga rasanya menyatu dan harmonis. pl. . zj6c7 5 .245 . Bentuk nyawiji ini mengarah pada pemersatuan dua unsur menjadi satu yaitu dari unsur tari yang berupa vokabulervokabuler gerak kebar yang dinamis dan unsur karawitan yang berupa Lancaran Sayuk dengan irama sigrak. pl. Kedudukan iringan Lancaran Sayuk lr. barang secara berurutan dapat dicermati paparan berikut ini. pl. pl. pt. barang. mang - kat me - ga - we Adegan : III. 7 z@x xj. pt. barang dan sebagai mundur beksan (penutup) iringan Ayak-ayakan lr. barang yang berfungsi nglambari yang memberikan ilustrasi rasa musikal untuk mundur beksan. pt. pt.sa jz6x7xxj6c5 3 . Dalam hal ini pola-pola gerak tari selalu ketat. pt.ketat diikuti pola kendangan. Iringan yang mendukung adegan makarya yaitu Lancaran Sayuk lr. . Rasa yang hendak diekspresikan pada adegan ini yaitu puncak kegembiraan dan kebahagiaan untuk menyongsong masa depan yang lebih cerah. dan nyawiji. pt. Adegan makarya merupakan gambaran semangat bekerja secara bersama-sama. Sebagai penutup adegan makarya diiringi Ayak-ayakan lr. kompak antara suami dan istri dalam suasana gembira. barang pada adegan ini sifatnya mungkus. Makarya. lagu gerongan riang dan tekanan dinamis. Bentuk mungkus ini ditinjau dari pelaksanaan vokabuler gerak yang terdapat pada adegan tiga hampir seluruhnya menggunakan pola kendangan kebar atau ciblon yang selalu membungkus pola gerak. barang dan Ayak-ayakan lr. Iringan Lancaran Sayuk lr. pl. .

6 .he .yuk . barang . 3 . 7 . 5 g2 .be . 6 sa . 6 2 2 . sa. . 5 3 2 . . 6 2 2 . . 6 3 5 3 g2 7 g2 g6 g2 . 6 5 5 3 3 5 3 3 5 . sa. o 5 5 o b . 5 g6 6 Sa-yuk . 6 5 5 . sa. 6 . 5 . . . sa-yuk . barang Buka : . [ 6 3 5 3 3 5 5 3 5 . 7 6 6 .ca .ka .we . pl. 2 7 3 .yuk . g7 3 g6 g6 g2 5 5 3 g2 3 3 2 2 g3 g3 6 6 5 5 3 6 g2 g7 ] Suwuk : x7x x7 6 7 3 2 7 g6 . @ . 7 6 6 .yuk nyam-but ga. . 3 z6c7 .yuk . 3 g5 5 Sa . . 6 2 2 . 6 5 5 3 7 g2 o . . . . 6 5 5 . 3 . .ne . 2 7 3 .x x c3 z6c5 3 mba-ngun ne – ga - ra - ne Ayak-ayakan lr. z@x x x. . . 7 . 6 .yuk . 7 . 6 . 6 5 5 . 5 g6 6 Sa . b 2 g2 . pt.246 Lancaran Sayuk lr. 6 sa. pt. . 7 6 6 . pl.yuk sa . . o g3 b . 6 . . .yuk sa – kan . 6 . 2 SS Sa yuk 7 7 .

No Bahasa Verbal Sastra Tembang Tema. I. dengan harapan mendapat Lumaksono ridhong Lumaksono ridhong Garis lurus Gong: 2 perhatian demi terjalinnya kasih cinta untuk harmonis Keterangan 1 Pasihan/ Percintaan. Kasmaran: tangan kanan tangan kanan . barang. ungkapan cinta yang mendalam seorang suami Rasa Kebersamaan Srisik kanthen Srisik kanthen Garis lurus Gong: 1 terhadap istrinya. pt. pl. dan Rasa Vokabuler gerak Istri (SW) Bahasa Nonverbal Vokabuler gerak Suami (SL) Pola lantai Iringan Hubungan Langsung Hubungan Tidak Langsung Srepek Rangurangu lr. Adegan.247 Komposit Bahasa Verbal dengan Nonverbal Tari Bondhan Sayuk.

besut tangan Posisi di tempat Gong: 1 Dhuh mas rara. pl. pt. wong sembahan.248 Srisik tangan laku kanthen Srisik kanthen Garis lengkung Gong: 3 sebuah rumah tangga. barang. sekaran nyabet laras kebyokan kanan. tangan kanan. Rasa kecewa jengkeng. Garis lengkung Gong: 2 Gong: 3 V - garwaku berdiri kebyokan gajah-gajahan. Hoyogan. manis. tangan kanan-kiri songgonompo. kanan. aja gawe kagol . sindhet Ketawang Mijil Sulastri lr. mbalang. besut enjer menthang tangan kiri.

maju endhan sautan/nubruk jeblosan dan Gong:5 V - rasaningtyas mami. Prasetya ingong wak dan jeblosan Lancaran lr. pl.249 Amung sira yekti Rasa mesra sulistyane gerak kengser dan ngaras kengser dan ngaras Gong: 4 V - Jumbuh klawan lincak mbalik gagak. pt. barang srisik kanthen srisik kanthen Garis lengkung Gong: 1 tangan kanan tangan kanan tawing kiri dan tanjak tawing kiri laku enjer Garis lurus Gong: 2. 3. dan 4 Rasa tegang srisik sampur kipat srisik kedua tangan ditekuk pinggang trap Garis lurus Gong: 5 . lincak gagak. Binerkahan ugi.

dan 7 nyabet kanan maju srisik Gong: 8 Srisik sambil menimang anak mundur srisik. maju tanjak kanan Gong: 9.250 Gong: 6 mundur kengser. dan 11 .10.

Rasa mesra Menimang anak maju. bapakne si thole.251 2 Jineman Ladrang Sayuk Dalam menciptaka Dhuh mas jiwaku. mbalik tawing kanan Ukel karno kanan Garis lengkung V - . tangan kiri memegang bahu istri dan tangan kanan memegang anak sambil memperhatikan dengan tawing kanan Garis lengkung V n keharmonis an keluarga. putar ke kanan. seorang istri mempunyai peranan cukup penting dalam baya iki wis wanci. putar ke kiri – tangan kanan ukel karno maju panggel dan pandangan mengarah ke putri dan anak Garis lengkung V mendukung tugas dan kewajiban peran suami sebagai kepala keluarga. lembehan tangan kanan.

nyambut gawe . tawing kiri-kanan menimang-nimang anak Garis lengkung Ladrang Sayuk lr. panggel V - Mbokne thole. dan pinter gembira. pl. pt.252 mangkat makarya. bahagia. membelai anak (berupa boneka anak) Srisik mendekat istri V - sawahmu hanganti tansah tawing kanan. mbesuk mesra. gawanen maju srisik mendekati suami untuk memberikan anaknya mendekat untuk menerima anaknya Garis lurus V - Tak kudange anaku Rasa sing bagus dhewe. barang V - kebersamaan. maju mendekati suami lumaksono V - Sakdurunge anakmu mrene.

kerja keras. anteng polatane adhuh lae. labuh labet mring . kawilan lumaksono putar Garis lengkung Kenong: 1 V Harapan orang terhadap anaknya adhuh lae. atak Menimang anak menthang tangan kiri – ogekan tajem Garis lengkung Kenong: 3 V kelak menjadi seorang yang berperilaku adhuh lae. adhuh lae. dasar bregas ten atene adhuh lae. sesongaran disingkirke adhuh lae. cukat tumandange adhuh lae. atak Menimang anak lilingan Garis lengkung Kenong: 1 V dan mengutama kan tua adhuh lae. atak Menerima anak memberikan anak kepada istri trampil Garis lengkung Kenong: 2 V laki-laki yang masih dalam timangan supaya adhuh lae. atak Lumaksono lembehan sampur. atak Menimang anak lilingan Garis lengkung Kenong: 4 (Gong : 1) V baik mengutama kan kebajikan.253 adhuh lae.

Gerongan Sayuk pl.254 bangsane Kenong: 2 adhuh adhuh lae. srisik lumaksono Kenong: 3 V - sun arsa mangkat megawe 3 lancaran Sayuk lr. nleweng tumindake adhuh adhuh mbokne anake lae. pt. atak lae. barang . atak lae.ora srisik Lumaksono Garis lurus V kepentingan umum untuk membangun bangsa.wis enyoh memberikan anak kepada temanten.

sayuk. sayuk. dan berupaya menjalani kehidupan Sayuk. sayuk. sayuk. damai. sayuk. sayuk. sayuk. nyambut gawe Rasa gembira. sakabehe Sayuk negarane Sayuk. sayuk.255 sayuk. Sayuk. bahagia Trap tawing jamang - Luluran Garis lengkung Gong: 1 Gong: 2 - V Gambaran kehidupan sebuah keluarga yang rukun. sayuk. sak kancane Sayuk. mbangun Enjer ridhong Enjer ridhong Garis lengkung Gong: 7 Gong: 8 - V mendidik anak kelak menjadi orang yang Lilingan kebyok Lilingan kebyok Garis Gong: 9 V berguna . sayuk. sayuk. sak kancane Sayuk. nyambut gawe Laku telu sampir sampur Laku telu pondhongan Garis lengkung Gong: 5 Gong: 6 - V secara bersamasama untuk membina dan Sayuk.tawing Tawing kiri Garis lengkung Gong: 3 Gong: 4 - V harmonis. sayuk. sakabehe Sayuk negarane mbangun Kawilan . sayuk. sayuk.

barang Srisik kanthen Srisik kanthen tangan kanan dan mengambil anak Garis lurus tangan kanan dan mengambil anak Lumaksono sambil menimang anak sebagai Lumaksono sebagai cucuklampah temanten (selesai). pl. . sayuk. sayuk. pt.256 sak kancane Sayuk. sakabehe Sayuk negarane mbangun Enjer penthangan kedua melingkar tangan Enjer penthangan kedua tangan melingkar Garis lengkung Gong: 11 Gong: 12 - V Ayakayakan lr. nyambut gawe sampur sampur lengkung Gong: 10 bagi bangsa dan negara. sayuk. Garis lurus cucuklampah temanten (selesai). sayuk. Sayuk.

Jumlah persentase hubungan tidak langsung = 6: 24 X 100. Sedangkan hubungan bahasa verbal dan nonverbal bersifat tidak langsung artinya bahwa makna bahasa verbal sastra tembang tidak sesuai dengan makna bentuk kinetic body moves. II. 25 % 7. 75 %. Hubungan bahasa verbal dan nonverbal bersifat langsung artinya bahwa makna bahasa verbal sastra tembang sesuai dengan makna bentuk kinetic body moves dari bagian bahasa nonverbal. II. Boneka anak yang dibalut dengan sehelai kain dimaksudkan sebagai simbolisasi anak (bayi) yang masih dalam timangan seorang ibu. Secara kuantitatif hubungan bahasa verbal dan nonverbal pada tari Bondhan Sayuk yang bersifat langsung tampak lebih mendominasi dibandingkan dengan yang tidak langsung. dan III Langsung Tidak langsung 18 6 24 jumlah Jumlah hubungan langsung dan tidak langsung = 18+ 6 4 5 Jumlah persentase hubungan langsung = 18: 24 X 100. dan III I. Adapun persentasenya dapat dicermati pada uraian berikut. Boneka anak yang sering 257 . Tari Bondhan Sayuk No Adegan Hubungan bahasa verbal dengan nonverbal 1 2 3 I.Dari komposit bahasa verbal dan nonverbal pada tari Bondhan Sayuk terdapat hubungan yang bersifat langsung dan tidak langsung. Rupanya terdapat sebuah harapan dari simbolisasi boneka anak tersebut yaitu bagi pasangan temanten untuk segera diberi keturunan anak sebagai pewaris keluarga. Properti boneka.

digunakan dalam tari Bondhan Sayuk dilengkapi dengan baterai sehingga dapat bersuara layaknya anak yang sedang menangis. Kehadiran Genre Tari Pasihan Dalam Seni Pertunjukan Jawa Segala sesuatu yang dihadapi manusia dimuka bumi ini dalam kehidupannya semua mempunyai temporalitas atau historisitas. 1999: 2). Semua berawal dan berakhir dalam suatu proses yang terus menerus melalui dimensi waktu (Ibrahim Alfian. akan diamati sejak adanya bentuk garapan tari dengan tema percintaan sejak abad ke VIII zaman Mataram Kuno hingga sekarang. Bila kita runut lebih cermat. hal ini untuk kebutuhan kemasan seni pertunjukan supaya lebih menarik dan memikat penonton. Kehadiran genre tari pasihan di Surakarta merupakan suatu proses yang memakan waktu cukup lama dalam sejarah yang penting bagi kehidupan dan perkembangan seni tradisional dalam seni pertunjukan Jawa. seperti yang tertulis pada prasasti Balitung. garapan tari yang bertemakan percintaan di Jawa diperkirakan telah ada sejak abad IX. Untuk mengungkap latar belakang munculnya genre tari pasihan dalam kurun waktu sejarah. Selain wayang. prasasti Balitung juga memberi keterangan bahwa pertunjukan 258 . Digunakannya boneka pada tari Bondhan Sayuk sangat terkait dengan keinginan atau harapan seniman penyusunnya yang ketika itu menghendaki diberi anak pertama lahir seorang anak laki-laki. Faktor Genetik. Masa embrio tari pasihan sejak Abad ke VIII sampai abad ke XIX. B. Munculnya genre tari pasihan sebagai proses sejarah merupakan permasalahan yang hendak dipaparkan sebagai awal bagian faktor genetik untuk mengantar pada analisis-analisis berikutnya.

percintaan Arjuna dengan Sembadra. di antaranya Medang. maka lahir pula dramatari baru yang bernama Raket (Soedarsono. Singasari. yang tergores dalam prasasti Wimalasrama dari Jawa Timur. percintaan Puntadewa dengan Drupadi. di Jawa Timur muncul kerajaan-kerajaan. dan Majapahit (abad X sampai ke XVI). kemudian muncul cerita baru yaitu cerita Panji. Adapun cerita Panji ini mengisahkan perjalanan cinta Panji 259 . Mengingat zaman Jawa Timur perkembangan kesusasteraan sangat maju. Jenggala. Meskipun istilah dramatari tidak disebutkan. Istilah wayang wwang baru dijumpai pada tahun 930 A. Setelah Kerajaan Mataran Kuna di Jawa Tengah runtuh.dramatari yang membawakan wiracarita Mahabarata dan Ramayana juga sudah ada sejak zaman Mataram Kuna. Mengingat di dalam wiracarita Ramayana dan Mahabarata juga diwarnai oleh tema percintaan. tetapi kemungkinan besar yang dipergunakan pada waktu itu adalah bentuk wayang wwang. kemungkinan besar bentuk garapan tari yang bertemakan percintaan juga sudah ada sejak zaman itu. percintaan Rama Wijaya dengan Sinta. Kediri. dramatari Jawa Tengah yang bernama wayang wwang tetap dilestarikan di kerajaan-kerajaan baru tersebut dengan membawakan wiracarita yang sama yaitu Ramayana dan Mahabarata. 1990: 4-5). Bertolak dari sumber yang menyebutkan bahwa wayang wwang merupakan bentuk dramatari dan wiracarita yang dibawakan sejak zaman Mataram Kuna. 1990: 7). dan sebagainya.D. seperti adegan percintaan Sugriwa dan Dewi Tara. Gaya dan tehnik tarinya yang digunakan kemungkinan besar telah terekam pada relief Candi Borobudur dan Prambanan (Soedarsono. Rupanya sudah dapat diduga bahwa dalam kedua wiracarita tersebut terdapat adegan percintaan antara tokoh-tokoh utamanya.

Andaga. wayang. Kiranya dapat diduga bahwa wayang topeng tersebut merupakan bentuk dramatari yang menggunakan topeng dan membawakan cerita Panji yang di dalamnya tetap masih terdapat garap 260 . Maka tidaklah mengherankan apabila cerita Panji ini juga merupakan tema yang digunakan dalam genre tari pasihan yang hidup dan berkembang hingga sekarang. Cerita Panji merupakan cerita yang sangat terkenal di wilayah Asia Tenggara. Gamelan. Cerita Panji ini menjadi mendarah-daging di kalangan masyarakat Asia Tenggara karena kemudian dianggap sebagai salah satu cerita Jataka atau kelahiran Budha (Soedarsono. Adapun topeng yang diciptakan untuk pertunjukan wayang topeng terdiri dari sembilan. 1999: 18-19). Candrakirana. 1999: 133). para wali terutama Sunan Kalijaga yang selalu dikatakan sebagai pencipta topengtopeng yang dipergunakan untuk pertunjukan wayang topeng. Dengan demikian Raket merupakan bentuk dramatari yang bertemakan percintaan yang didalamnya sudah barang tentu terdapat garap adegan percintaan antara Panji Inukertapati dengan Sekartaji yang hidup dan berkembang pada zaman Majapahit. Pajang.Inukertapati dengan Sekartaji. Benco (sekarang Tembem atau Doyok). Gunungsari. dan kemudian Mataram Baru. Runtuhnya Kerajaan Majapahit diawali abad ke XVI. Menurut tradisi Jawa. Raton. maka tidak dapat disangkal lagi bahwa cerita Panji berasal dari Jawa. dan wayang topeng kemungkinan besar merupakan perkembangan dari Raket. Danawa (raksasa). tetap populer pada masa itu. Bila wiracarita Ramayana jelas berasal dari India. Klana. kekuasaan politik dan budaya Jawa mulai muncul dan berkembang di Jawa Tengah di bawah rajaraja penganut Islam seperti Demak. yaitu tokoh-tokoh: Panji Kasatriyan. dan Turas ( sekarang Penthul atau Bancak) (Soedarsono.

dan Wayang Wong.adegan percintaan antara Panji Kasatriyan dengan Candrakirana yang dilestarikan pada zaman Mataram Jawa Tengahan (abad ke XVI sampai abad ke XVIII). tetapi menggubah satu bentuk dramatari baru yaitu wayang wong dengan membawakan wiracarita Mahabarata dan kemudian di Kasunanan di bawah pemerintahan Paku Buwana X. Ketika Mataram pecah menjadi dua yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta pada tahun 1755. Bedaya kadukmanis. Kasultanan Yogyakarta di bawah Hamengku Buwana I. adegan. 2006: 19). Munculnya Tari pasihan sejak 1920-1945. 261 . Menurut Tohiran dan Sarwo Rini. Bedaya Ketawang. 1994: 2-3). Baru pada sekitar tahun 1940-an muncul tari GatutkacaPergiwa. dan Gatutkaca Rabi pada acara memeriahkan perkawinan Puteri Juliana dengan Pangeran Bernhard van Lippe Biesterfeld tahun 1937 di Sriwedari. Pertunjukan Wayang Wong dengan lakon-lakon Nayarana Rabi. maupun peran-peran lain. Baladewa Rabi. bahwa tari Gatutkaca-Pergiwa itu telah muncul sebelum Indonesia merdeka tahun 1945 (Maryono. Tari Gatutkaca-Pergiwa adalah bentuk tari pasihan yang merajut percintaan antara Raden Gatutkaca dengan Dewi Pergiwa. pertunjukan wayang topeng masih dilestarikan oleh Kasunanan Surakarta. menunjukkan bahwa garapan tari dengan tema percintaan masih dilestarikan dan cukup berkembang baik (Rusini. Puntadewa Rabi. tidak melestarikan wayang topeng. bentuk garapan tari yang membawakan tema percintaan tetap lestari dan terdapat pada bentuk Tayub. masih terikat dan terkait dengan kelompok. Mencermati bentuk-bentuk garapan tersebut rupanya bentuk garapan tari pasihan sejak zaman Mataram Kuna di Jawa Tengah (abad ke VIII ) hingga zaman Mataram Baru di bawah pemerintahan Paku Buwana X ( abad ke XIX).

ketiga. kedua. berita mengenai pertunjukan wayang wong dengan lakon-lakon rabi atau kromo (kawin) banyak bermunculan pada tahun 1920-an ketika wayang wong mengalami perkembangan pesat di masa pemerintahan Hamengku Buwana VIII. pernyataan Maridi yang mengungkapkan bahwa tari-tari yang sering pentas pada acara-acara orang punya kerja pada tahun 1940-an. Kiranya hal ini dapat diterima karena pertama. Anoman-Anggada. Munculnya tari GatutkacaPergiwa diperkirakan pada sekitar tahun 1920 hingga 1945-an yang berarti pula merupakan awal munculnya tari pasihan di Surakarta. nomor: 262 . Bambangan-Cakil. Bondan.Tari pasihan ini dapat diduga merupakan sempalan dari sebuah garapan wayang wong yang membawakan lakon Gatutkaca Rabi. pernyataan Tohiran sebagai pengelola wayang wong dan Sarwo Rini sebagai seniman pada waktu itu menyatakan bahwa tari Gatutkaca-Pergiwa itu sudah ada sebelum Indonesia merdeka tahun 1945. yaitu untuk merayakan perkawinan Puteri Juliana dengan Pangeran Bernhard van Lippe-Biesterfeld di Sriwedari. Klono. Gatutkaca-Sekipu. dan sebagainya. Rupanya tidak benar apabila ada berita yang menganggap bahwa tari pasihan Raden Irawan dengan Dewi Wanuhara merupakan tari pasihan yang pertama kali muncul di Jawa pada tahun 1920-an. Janger (dari Bali). Di samping itu wayang wong di Surakarta juga telah membawakan lakon-lakon rabi seperti Gatutkaca Rabi terjadi pada tahun 1937. antara lain Gatutkaca Gandrung. jadi bukan garapan tari pasihan yang sudah mandiri (lihat video wayang wong: koleksi ASKI sekarang ISI Surakarta. Hal ini berdasarkan rekaman video tari yang menggambarkan percintaan Raden Irawan dengan Dewi Wanuhara tersebut merupakan rekaman sebagian dari adegan percintaan yang terdapat dalam wayang wong lakon Sri Suwela.

sedangkan Bandung menyajikan tari-tarian seperti: tari Puja. Sekar putri. kesinambungan dari pertemuan pertama di Yogyakarta. Srigati. Munculnya Genre Tari pasihan sejak 1956-1962.108). Pada pertemuan di Pura Mangkunegaran masing-masing peserta menyajikan tari-tarian menurut gaya yang dimiliki. Sulintang. Pamindo. Graeni. Panji. Kehidupan kesenian dalam kurun waktu tahun 1942-1949. Kupu-kupu. Akan tetapi garap tari dengan tema percintaan tersebut lebih sebatas memberi gambaran tentang bentuk embrio tari pasihan yang terdapat di dalam wayang wong. tampaknya munculnya genre tari pasihan di Jawa akibat peralihan kekuasaan dari pemerintahan kerajaan ke pemerintaahan republik yang lebih mengutamakan caracara demokrasi. Menurut Soedarsono kehadiran genre tari pasihan ini terpacu oleh munculnya tari Oleg Tambulilingan yang merupakan satu-satunya tari duet percintaan di Bali yang telah muncul pada tahun 1952. Selain itu. Golek Reneka. Surakarta menyajikan tari pasihan ‘Rara Mendut-Pranacitra’. dan selama perang kemerdekaan hampir semua kegiatan diorientasikan untuk memenangkan perang. Dewi Serang. dapat dikatakan bahwa dalam periode itu hampir tidak ada kegiatan-kegiatan yang berarti. Hal itu disebabkan pemerintahan Jepang melarang setiap kegiatan berkumpul. dan tari Samba. Pertemuan budaya tiga kota ini merupakan pertemuan ke-2. Di samping itu perubahan-perubahan sosial yang terjadi dalam 263 . Yogyakarta menampilkan tari pasihan ‘Bahula-Retna Manggali’. Pada peristiwa budaya tahun 1956 di Pura Mangkunegaran yang lebih dikenal dengan sebutan pertemuan tiga kota yaitu Surakarta. muncul genre baru yaitu genre tari pasihan. Yogyakarta. dan Bandung.

dan sebagainya. menanam padi hingga mengambil hasilnya (memanen) dilakukan secara gotong royong oleh sepasang suami-istri. Hal ini terjadi akibat situasi politik negara yang mulai rawan. Rupanya bentuk-bentuk tari yang sifatnya masal dan bertemakan kerakyatan. Pada masa itu muncul tari yang menggambarkan kehidupan rakyat kecil seperti tari Tani. Maka wajar apabila bentukbentuk tari duet percintaan yang sudah ada tidak dapat berkembang karena pada 264 . akibatnya seni yang berasal dari istana terdesak bahkan dimusuhi karena dianggap tidak merakyat dan tidak dapat untuk menarik massa. muncul tari Bondhan Tani yang disajikan secara berpasangan dengan mengacu tema percintaan. yaitu masing-masing organisasi politik saling mencurigai dan mulai berebut massa untuk menguasai pemerintahan. tari Gotong-royong. Bondhan Tani merupakan tari pasihan yang menggambarkan pasangan suami dan istri di dalam kebersamaannya mengolah sawah sebagai lahan pertanian. Rupanya tari Satya Bakti merupakan hasil interpretasi terhadap kesadaran bela negara yang saat itu sudah mulai memudar di kalangan masyarakat. Berawal dari menggarap sawah. Sekitar tahun 1962. anti feodalisme yang dikembangkan PKI hidup subur. Masa menjelang tahun 1965.masyarakat mempunyai peran yang cukup besar dalam membentuk dan mempengaruhi lahirnya genre tari pasihan saat itu. situasi negara betul-betul semakin genting. tari Nelayan. Pada tahun 1959. muncul tari duet Satya Bakti yang membawakan tema percintaan dan perjuangan. bentuk-bentuk kesenian yang mampu untuk mempengaruhi massa seperti Ketoprak dan Ludruk menjadi rebutan dua partai besar yaitu Partai Nasional Indonesia (PNI) dan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Pembangunan nasional mulai terprogram secara periodik dan memiliki arah. sehingga kemitrasejajaran antara kaum wanita dan kaum pria mulai tampak. dan jangkauan yang jelas dan transparan. baik hukum. 265 . ekonomi. baik yang berujud buku-buku porno. politik. itu semua tidak dapat disangkal telah mempengaruhi pola pikir hubungan antar remaja. film-film cinta hingga film yang berbau porno dan juga mode-mode pakaian yang cenderung pamer tubuh. Setelah tahun 1965. Masing-masing di antara mereka secara aktif dan berani memutuskan pilihannya sendiri bahkan menolak jika memang dirasa tidak cocok ataupun tidak sesuai dengan kehendaknya. yaitu kebebasan individu mulai dijamin. Banyak praktisi hukum wanita mulai bermunculan. Kemitrasejajaran yang menyangkut kedudukan wanita dengan laki-laki tampak semakin meningkat dalam berbagai aspek. tujuan. Masing-masing mempengaruhi pola pikir hubungan antar remaja. Tentu saja faktor-faktor itu semua mempengaruhi bangkitnya genre tari duet percintaan untuk lebih bergerak hidup dan berkembang dalam menyongsong kebutuhan hidup masyarakat. maka mulai bermunculan karya-karya individual. Pengaruh budaya Barat. para politisi wanita semakin diperhitungkan dalam elite politik. Hal itu tidak terlepas dari kondisi stabilitas keamanan yang berangsur-angsur mulai pulih dan terkendali serta kembali normal. sehingga pembangunan dari berbagai bidang mulai digerakkan untuk mencapai tujuan masyarakat adil dan makmur. terjadi perubahan tatanan politik sangat kuat yang kita sebut Orde Baru.dasarnya tari-tarian duet percintaan yang menjadi genre ini merupakan tari-tarian tradisional yang mengacu pada tarian istana. dan lainnya. dan para ekonom wanita serta wanita-wanita karier hadir hampir pada semua sektor publik.

Maridi sebagai seorang seniman yang kreatif menawarkan hasil karyanya yang berbentuk tari duet percintaan yaitu Karonsih. Kehadiran tari Karonsih menjadi sangat penting karena pada perkembangannya bahwa tari Karonsih ditempatkan sebagai sarana upacara perkawinan yang memiliki nilai simbolik terhadap sepasang temanten. Rasanya menjadi kurang utuh apabila dalam acara resepsi perkawinan tidak hadir tari Karonsih sebagai penutup pesta tersebut. 266 . rias. Pada awalnya.Pada Tahun 1970 S. baik mengenai koreografi. busana. tari Karonsih mengalami perkembangan yang sangat pesat. Tari Karonsih adalah salah satu tari duet percintaan antara tipe karakter putri luruh dengan putra alus yang bersumber pada cerita Panji. sehingga asal melihat tari-tarian yang berbentuk duet percintaan semotif Karonsih. Dengan semakin seringnya tampil di acaraacara resepsi perkawinan. tahun 1969 dalam rangka peresmian Yayasan Kesenian Indonesia ( YKI ). 1991: 2). Awalnya bagi penanggap dan kebanyakan masyarakat tidak memahami tari Karonsih. tari Karonsih ini disusun atas permintaan dari panitia resepsi Ibnu Harjanto dari Kalitan (Maryono. seperti : Driasmara. Indikasi yang dapat diamati hingga sekarang. Penampilan perdana oleh Maridi sebagai Panji Inu Kertapati dan Endang Susilawati membawakan peran Sekartaji. dan garap iringannya. Lambangsih. Pada awalnya tari Karonsih disusun berdasarkan fragmen Topeng Klono Bodo yang telah diciptakan Maridi. menurut Wahyu Santoso Prabowo sebagai penari tari Karonsih yang telah dimulai sejak tahun 1973 yaitu munculnya istilah ‘Karonsihan’. Bentuknya sangat lekat dengan bentukbentuk tari tradisional gaya Surakarta. Keberadaan tari Karonsih dalam budaya Jawa sejak tahun 1970 telah menjadi bagian yang seolah-olah tidak dapat dipisahkan terutama pada acara-acara upacara perkawinan.

tari Enggar-enggar. tari Kusuma Ratih. Menurut Sunarno. Secara objektif perkembangannya dapat dicermati pada struktur sajian. tari Driasmara. Karya tari Bondhan Sayuk disusun oleh Sunarno pada tahun 1979. dan Jawa Timur. Kehidupan Karonsih menyebar meluas di wilayah Pulau Jawa. Jakarta. terutama di daerah Jawa Tengah. Selain itu penyebaran tari Karonsih mengalami kemajuan sangat pesat sejak tahun 1970 hingga sekarang. tidak terkecuali juga Karonsih dan lainnya. Pengaruhnya dapat dilihat dengan munculnya berbagai bentuk tari duet percintaan. tari Setyaningsih. tari Jayaningrat. Langen Asmara. gerak. mempunyai pengaruh cukup besar yaitu telah dapat memacu dan memotivasi terhadap seniman-seniman di kalangan tradisional. Selain itu. Tema yang diangkat menggambarkan percintaan manusia secara universal. tari Lambangsih. yang lebih mengarah pada perjalanan hidup sepasang manusia dari kalangan rakyat. mereka akan menyebutnya tari Karonsihan (Maryono. dandanan busana. 2006: 28). tari Bondhan Sayuk lebih tepat untuk gambaran sepasang temanten 267 . tari Gesang Rahayu. iringan. Kehadiran tari Karonsih di tengah-tengah kehidupan masyarakat dan telah menjadi bagian dari kebutuhan sosialnya. Yogyakarta. tari Langen Asmara.Enggar-enggar. seperti : tari Endah. dan properti. tari Bondhan Sayuk. sehingga tari Karonsih ini telah mengakar pada masyarakat Jawa yang dalam kehidupannya banyak dipenuhi halhal yang berbau simbolik. tari Karonsih lebih awal hadir di dalam upacara-upacara perkawinan adat Jawa dan berkembang pesat hingga dijadikan sebagai bagian upacara ritual perkawinan karena dianggap mempunyai nilai simbolik yang tinggi terutama bagi kelangsungan kehidupan sepasang mempelai. dan tari Kusuma Aji.

Dalam perjalanan waktu tari Bondhan Sayuk sangat diminati oleh masyarakat hingga sekarang. Pesta dan upacara pada saat peralihan sepanjang life-cycle itu merupakan suatu hal yang universal yang hampir ada pada setiap budaya manusia. 268 . namun tidak semua saat peralihan itu dianggap sama pentingnya pada tiap-tiap budaya. anak pertama laki-laki bahkan anak kedua juga laki-laki dan anak ketiganya baru putri. Gagasan awal terciptanya tari Bondhan Sayuk adalah sebuah ekspresi pribadi Sunarno yang menginginkan anak laki-laki untuk putera pertamanya.maupun sebuah keluarga baru yang belum memiliki anak (wawancara. yang pertama merupakan hiburan yang tepat dalam sebuah resepsi perkawinan dan kedua dimaknai sebagai simbolik sepasang suami dan istri yang hidup bahagia yang layak untuk diteladani sepasang temanten. Meluasnya sebaran genre tari pasihan tidak terlepas dukungan iringan kaset yang banyak dijual di toko-toko serta eksisnya para penari di berbagai kesempatan dalam rangka memenuhi kebutuhan sosial masyarakat. Perkembangan genre tari pasihan bagaikan cendawan dimusim penghujan ini tidak terlepas dari tangan-tangan kreatif para koreografer tari seperti Maridi dan Sunarno. Keinginan tersebut rupanya diridhohi oleh Sang Pencipta. bahwa setiap tingkat baru dalam life-cycle itu berarti menghantarkan si individu ke suatu tingkat dan lingkungan sosial yang baru dan lebih luas. 2008). yaitu peralihan dari tingkat hidup remaja ke tingkat hidup berkeluarga. Sifat universal pesta dan upacara sepanjang lifecycle terjadi karena adanya suatu kesadaran secara umum di dalam budaya manusia. Perkawinan merupakan salah satu dan suatu saat peralihan yang terpenting pada life-cycle dari semua manusia di seluruh dunia.

kedamaian. suritauladan yang bermakna untuk keselamatan. mengingat upacaraupacara pada masa-masa melampaui saat-saat krisis sering dimaksudkan untuk menolak bahaya gaib yang mengancam individu dan lingkungan. dan pimpinan upcara tertentu. 1990: 4).Di dalam aktivitas budaya manusia ada yang menganggap bahwa saat peralihan dari tingkat sosial tertentu ke tingkat sosial lainnya itu merupakan crisisrites yang penuh bahaya. 1989: 157). Bagi masyarakat Jawa upacara tersebut merupakan sebuah upacara yang sangat sakral sepanjang daur hidupnya. tidak menentu. segala ritual yang menyangkut dengan perjalanan hidupnya banyak diselimuti dengan simbolsimbol yang diharapkan dapat memberikan petuah. Bagi masyarakat Jawa yang masih lekat dengan budayanya. Dalam periode liminal ini seorang liminar berada dalam keadaan setengah-setengah. Untuk itu crisis-rites bagi seorang liminal sangat penting. perlengkapan. tempat. sebaliknya jika pelaksanaan tidak mentaati konvensi-konvensi yang telah berlaku. baik secara nyata maupun gaib (Koentjaraningrat. Ketentuan-ketentuan yang telah berlaku dalam upacara tersebut mereka yakini jika dilaksanakan dengan taat dan benar membawa berkah dan keselamatan. gawat. mereka takut tertimpa malapetaka (Soedarsono. Kesakralan itu sesuai dengan pendapat Soedarsono mengenai hal-hal yang dianggap penting dalam suatu upacara ritual yaitu waktu. pelaku. Demikian halnya yang terjadi pada budaya masyakat Jawa di dalam melangsungkan sebuah upacara adat perkawinan. dan kebahagiaan hidup. 1972:89-90). dan ragu-ragu (Darsiti Soeratman. pendidikan. Periode transisi tersebut juga disebut periode liminal yang merupakan fase tengah dalam skema ritus transisi dari praliminal untuk menuju pascaliminal. Berkaitan dengan tindakan simbolik dan magis simpatetis bagi masyarakat Jawa dalam 269 .

yang diekspresikan para penari dengan membawa gambar tiruan organorgan wanita dengan cara sebagai berikut. the jump among the women – the knock the phalli one against another. Hampir dapat dipastikan bahwa pada setiap upacara perkawinan akan hadir tari pasihan. penuh simbolis dan mengandung makna nilai-nilai percintaan yang sangat berarti bagi kehidupan. yakni adanya hubungan antara pria dan wanita.. They carry the vertility into every corner of the houses.. 270 sudah mengakar pada budaya . Kekuatan tersebut antara lain berupa magis simpatetis yang diwujudkan dengan tindakan atau perbuatan yang dapat melambangkan terjadinya pembuahan. they dance with the upper part of their bodies bent forwards. untuk mendapatkan kesuburan dengan cara menanggap jenis tari duet percintaan atau tari pasihan yang merupakan tarian kesuburan yang diekspresikan lewat sebuah garapan gerak-gerak presentatif dan representatif. Hal ini terbukti pada masyarakat Jawa sekarang yang sudah mengalami kemajuan. Mereka dalam melakukan upacara perkawinan. berkembang menuju masyarakat modern. Salah satu sarana upacara perkawinan adat Jawa yang cukup penting adalah tari pasihan.... 1969: 21)..perkawinan. 1991: 35)... dilakukan secara simbolis.. tindakan yang dapat melambangkan terjadinya pembuahan. Rupanya. (dalam Richard Kraus. Suddenly they jump wildly along with violent coitus motions and loud groans. Pernyataan tersebut sejalan dengan pendapat Koch Grundberg yang menggambarkan sebuah tari kesuburan dari suku Indian Coneba di Brasil. diperlukan kekuatan-kekuatan tertentu. Hubungan dimaksud pada masyarakat yang masih melestarikan budaya purba kadang-kadang dilakukan lebih realistis (Soedarsono dalam Soedarso. yakni adanya hubungan antara pria dan wanita. Stamping with the right foot and singing. Pada masyarakat yang sudah lebih maju.

Karya tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk merupakan media aktualisasi bagi seniman dalam realitas masyarakat sebagai sarana ekspresi jiwa untuk diinteraksikan kepada publik untuk menggapai sebuah cita-cita dan pemenuhan akan kebutuhan hidup. Pemilihan bahasa verbal dan nonverbal rupanya mengalami proses penyeleksian yang ketat dengan harapan dapat dihayati oleh penonton. maka dibutuhkan olehnya juga sebuah penghargaan. mengingat merupakan satu-satunya bentuk sajian tari yang bermakna. Peristiwa budaya ini membuat kehadiran tari pasihan dalam upacara perkawinan sangat ditunggutunggu masyarakat. Wujud penghargaan adalah dapat diterimanya karya tari tersebut oleh masyarakat. Konsepsi Bahasa Verbal dan Nonverbal Tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk. untuk itu dibutuhkan kecermatan dan kreatifitas seorang seniman dalam menciptakan karya tari yang mencakup bahasa verbal dan nonverbal. Sebagai media komunikasi genre tari pasihan diharapkan mampu menyampaikan pesan. Bagaimanapun acuhnya seorang seniman nampaknya terhadap publik. ia menciptakan sebuah karya dengan harapan dapat dihayati. Ekspresi diri semata tidak akan memuaskan. lewat komplementer bahasa verbal dan nonverbal. yaitu pada setiap ada acara upacara perkawinan akan hadir tari pasihan yang hendak diteladani oleh kedua mempelai. 271 . baik secara simbolik maupun sebagai santapan estetis terasa menyatu dengan situasi upacara.masyarakat Jawa. Kehadiran genre tari pasihan pada ritual upacara resepsi perkawinan merupakan bahasa komunikasi seorang seniman terhadap penghayat.

Secara intern jenis-jenis tindak tutur yang terdapat dalam tari pasihan menggambarkan tentang nasehat-nasehat cinta kasih dan secara ekstern diharapkan oleh seniman penyusun jenis-jenis tindak tutur direktif yang mendominasi dalam bahasa verbal yang sifatnya mengajak. No Penutur Teks Verbal Sindhenan Pangkur Ngrenas Jenis tindak tutur Pemarkah Situasi 1 Dewi Sekartaji Dhuh jagad dewa bathara Welasa mring dasih kang nandhang kingkin Tinilar garwa satuhu 272 Patik Dhuh jagad formal 2 Dewi Sekartaji Direktif mring dasih formal 3 Dewi Asertif satuhu formal . dominasi tindak tutur direktif yang terdapat dalam tari pasihan tersebut sangat diperlukan supaya makna keteladanan dapat lebih menyentuh dan cepat ditangkap penghayat khususnya sepasang temanten. meminta. dapat dicermati contoh berikut ini: Jenis Tindak Tutur (TT) yang melekat pada Sindhenan Pangkur Ngrenas.Berdasarkan informasi dari seniman penyusun. dan memerintah dapat menyampaikan makna bahasa verbal sastra tembang yang berupa nasehat-nasehat cinta tersebut dapat ditangkap penghayat. konsep yang mendasari tentang dominasi jenis-jenis tindak tutur direktif yang terdapat pada tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk adalah terkait dengan fungsi bahasa verbal yang terdapat dalam tari pasihan utamanya untuk suritauladan. Bentuk-bentuk dominasi jenis tindak tutur direktif dalam bahasa sastra tembang tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk. Untuk itu bagi seniman penyusun.

1 dan Lakilaki (L). 6 L Mbokne thole.Sekartaji 4 Dewi Sekartaji 5 Dewi Sekartaji 6 Dewi Sekartaji Ulun dhahat teka Direktif Ulun dhahat datan Direktif formal formal Dadya gantilaning tyas Direktif dadya formal aginggang sarambut Kalamun pinanggya datan 7 Dewi Sekartaji Aluwung tumekeng lalis Komisif Aluwung formal Jenis Tindak Tutur (TT) yang melekat pada Jineman Sayuk No Penutur Bahasa Verbal Jineman Sayuk Jenis tindak tutur Pemarkah Situasi Wanita (W) Dhuh mas jiwaku. Sawahmu anganti. Bapakne sithole. mangkat makarya. tansah Patik dhuh mas formal Direktif Asertif Direktif Asertif baya iki bapakne mangkat Sawahmu formal formal formal formal Asertif Mbokne formal 273 . 2 3 4 5 W W W W baya iki wus wanci.

Kinanthi Sandhung memiliki rasa lagu romantis yang lebih tepat untuk memberikan nasehat-nasehat tentang cinta kasih. seperti: gantilaning tyas. wanodya di. wuyung. 274 . kata dalam irama dan tekanan dengan dengan watak lagu tentang nasehat-nasehat cinta. guru lagu. mustikaning. dan gerongan Lambangsari. prasetya. rabinira. setya.7 L Sakdurunge anakmu gawanen mrene. garwa. Dengan demikian bahasa verbal yang terdapat pada tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk. brangti.Mijil Sulastri. asmara. dilihat dari asfek kebahasaan secara koherensi telah memperlihatkan keterpaduan antara unsur-unsur lingual dalam bentuk guru wilangan.sebagai bahasa tembang. Jineman Sayuk. begitu pula gerongan Lambangsari dan Jineman Sayuk. pinter Direktif mbesuk pinter formal Bentuk bahasa verbal yang terdapat pada tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk merupakan bahasa tembang Jawa yang berasal dari ranah tembang macapat. sulistyane. Ekspresif bagus formal 9 L Mbesuk nyambut gawe. dan mas jiwaku. Bahasa verbal yang berupa tembang-tembang cinta tersebut dapat dicermati dari penggunaan kata-kata cinta. seperti Pangkur Ngrenas memiliki rasa lagu jatuh cinta. aginggang sarambut. Direktif gawanen formal 8 L Tak kudange anakku sing bagus dhewe. Mijil Sulastri memiliki rasa lagu prihatin dan untuk mengungkapkan rasa cinta kasih atau nasehat-nasehat tentang asmara. wong manis. Jenis-jenis tembang tersebut memiliki watak atau rasa lagu yang bernuansa percintaan. asih tresna. Adapun jenisnya antara lain: Pangkur Ngrenas. Kinanthi Sandhung.

Dari pengalaman selama berkecimpung dalam dunia Kethoprak. Faktor lingkungan memberikan kontribusi cukup berarti dalam menunjang perkembangan kesenimanan Maridi. ia memiliki pengalaman dalam berkecimpung dalam budaya Jawa. dan pola kehidupan Maridi sebagai seniman. masuk menyatu mempengaruhi dan mengkristal membentuk pola pikir.Wayang Orang rupanya memberikan inspirasi dan kontribusi dalam menciptakan karya tari Bondhan Sayuk. Begitu pula Sunarno.Wayang Orang yang nota bene bentuk–bentuk seni tersebut banyak menggarap jenis-jenis tembang Jawa. rasa estetik. Puncak kreatifitasnya dalam menciptakan karya yang berbasis bahasa verbal dalam bentuk tembang Jawa yaitu karya Langendriyan Menakjinggo Lena yang mampu memberikan perkembangan pada karya-karya Langendriyan yang berbasis tembang Jawa. tingkah laku. Bergaulnya dengan para seniman wayang orang seperti: Rusman. setelah dewasa menjadi penari profesional. Bentuk tembang Pangkur merupakan salah satu inspirasi dari sajian tokoh Gathutkaca ketika memadu asmara dengan Pergiwa yang diperankan oleh Rusman dan Darsi. Bahasa verbal yang digunakan pada tari Karonsih yang secara intern sebagai alat komunikasi antar peran yang terlibat yaitu sebagai media percakapan 275 . seperti: Kethoprak.Pemilihan jenis-jenis tembang tersebut selain watak atau rasa lagu sesuai dengan tema percintaan juga didasari dari latar belakang budaya penyusun tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk yang berasal dari budaya Jawa. Darsi dan Surono rupanya memberikan kontribusi yang sangat berarti dalam karya tari Karonsih terkait dengan digunakannya tembang-tembang tersebut. Perhatian terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi dilingkungan sosial budaya sekitarnya.

Salah satu contoh tingkat kehalusan bahasa Jawa krama yang digunakan pertuturan Dewi Sekartaji dan Panji Inukertapati Kertapati pada tari Karonsih dapat dicermati pada bahasa tembang berikut ini: Pra wanita marsudiya marang tindak kang utama Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada Ingkang bisa nujuprana weh reseping pamicara Nora kengguh ing panggodha darbe budi kang santosa Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira Datan kemba asih tresna sung tetreming kulawarga Sampun sami setya tuhu anggenya liron asmara Karonsih pancen pranyata dadya kembang jagad raya Sedangkan bahasa verbal dalam tari Bondhan Sayuk yang digunakan untuk percakapan peran yang terlibat dalam pertuturan antara suami dengan istri berbentuk bahasa Jawa Krama Ngoko. mempertimbangkan kedudukan peserta tutur yang terlibat keduanya adalah masyarakat tani. Peserta tutur antara suami dan 276 . Dewi Sekartaji puteri raja Lembu Amijaya dari Kediri sedangkan Panji Inukertapati Kertapati putera raja Lembu Amiluhur dari Jenggala.Dewi Sekartaji dengan Panji Inukertapati menggunakan bahasa Jawa Krama. Kedudukan peserta tutur antara suami dan istri adalah gambaran masyarakat secara umum yang lebih lazim disebut masyarakat biasa. Sebagai keluarga bangsawan sikap perilaku kedua peserta tutur memiliki adat dan etika budaya yang mencerminkan kehalusan dan keteladanan. Sehingga bahasa verbal yang digunakan untuk komunikasi peserta tutur adalah bahasa Jawa krama yang dirasa tepat dan sesuai untuk mencerminkan kehalusan terkait dengan kedudukan sosial sebagai putra bangsawan. mempertimbangkan kedudukan peserta tutur yang terlibat keduanya adalah anak raja. Konsep yang melatarbelakangi digunakannya bahasa Jawa Krama pada tari Karonsih. Konsep yang mendasari digunakannya bahasa Jawa Krama Ngoko pada tari Bondhan Sayuk.

Sebagai keluarga petani sikap perilaku kedua peserta tutur yang digambarkan dalam tari Bondhan Sayuk memiliki adat dan etika budaya yang lebih lugas. mangkat makarya. Untuk itu bahasa verbal dirasa sarana yang tepat untuk menjelaskan 277 . polos cenderung apa adanya dan tampak kurang halus (kasar). seperti bahasa tembang yang digunakan pertuturan ketika suami dan istri sambil menimang anak. Kedudukan bahasa verbal dalam tari Pasihan menjadi sangat penting. Sehingga bahasa verbal yang digunakan untuk komunikasi peserta tutur yang terlibat antara suami dan istri adalah bahasa Jawa krama ngoko yang dirasa tepat dan sesuai untuk mencerminkan sifat lugas. polos cenderung apa adanya terkait dengan kedudukan sosial sebagai masyarakat tani. hal ini dapat dicermati dari kata-kata yang digaris bawah: Dhuh mas jiwaku. Mbokne thole. mengingat bahasa nonverbal yang menjadi sarana komunikasi bersama bahasa verbal memiliki keterbatasan-keterbatasan dalam mengungkapkan maksud dari seniman penyusunnya.istri merupakan simbol keluarga kecil dari kalangan masyarakat petani yang tercermin dari bahasa verbalnya yang cenderung ngoko yang lazim digunakan masyarakat pedesaan. Tak kudange anakku sing bagus dhewe. Sawahmu tansah anganti. Sakdurunge anakmu gawanen mrene. Mbesuk pinter nyambut gawe. Pemilihan peran suami dan istri dilatarbelakangi dari kehidupan seniman penyusunnya yang berasal dari keluarga seorang buruh tani dari desa Semono wilayah kabupaten Boyolali. Fungsi bahasa verbal yang terdapat pada tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk adalah untuk mengungkapkan maksud dari seniman penyusun. Bapakne sithole. baya iki wus wanci.

dan iringan sebagai bahasa nonverbal tari pasihan merupakan pola-pola tradisional yang bersumber dari budaya istana Kasunanan Surakarta. dan iringan. busana. Bentuk bahasa nonverbal yang terdapat pada tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk meliputi: tema. Tema percintaan yang diangkat dalam tari pasihan tersebut secara garis besar menggambarkan perjalanan cinta sepasang suami dan istri berawal dari duka yang dialami masing-masing tokoh kemudian permasalahan-permasalahan yang dihadapi dapat diselesaikan dengan baik yang akhirnya mereka dapat berhasil menikmati hidup bahagia dalam sebuah keluarga. kinetic body moves. Kinetic body moves. rias. rias. Tema yang dipilih untuk tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk adalah pasihan atau percintaan. pola lantai. Rupanya kisah tersebut menjadi sebuah inspirasi yang berarti bagi pasangan temanten yang menginginkan percintaan yang ideal. Lewat bahasa verbal seorang seniman akan menuangkan pikirannya secara lebih transparan dan komprehensif dalam bentuk tembang Jawa. sehingga hayatan dari penonton tidak terkontaminasi tokoh atau peran lainnya. polatan (ekspresi wajah). pola lantai. Wujud pasangan tersebut mengarahkan penonton supaya lebih fokus pada tema percintaan. polatan (ekspresi wajah).maksud dan harapan yang dikehendaki oleh seniman tanpa melalui proses distorsi bahkan lebih dapat langsung mengungkapkannya. Kinetic body moves 278 . Konsep yang mendasari pemilihan tema percintaan ini terkait dengan harapan penyusun yang menghendaki kehadiran tari pasihan dalam resepsi perkawinan dapat bermakna bagi sepasang temanten. romantis. Adapun bentuk garapnya hanya menyajikan dua peran utama yakni pria dan wanita sebagai pasangan suami dan istri. dan bahagia. busana.

hal itu sengaja dibuat untuk mengungkapkan ekspresi seniman atau penyusun tari. II. Secara garis besar gerak dalam tari dapat dibagi menjadi dua bagian secara kasar. Adapun bentuk-bentuk vokabuler sekaran yang terdapat pada tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk secara garis besar.20 % dalam tari Karonsih dan 76. Sedangkan gerak representatif adalah gerak penghadir. yakni gerak presentatif dan representatif. gerak ini difungsikan semata-mata untuk kebutuhan ekspresi. namun kemunculannya tidak mudah untuk dipisah-pisahkan secara tegas.05 % dalam tari Bondhan Sayuk. Semakin banyak gerak representatif dalam sebuah tarian penonton semakin mudah menafsirkan tema dari ilusi-ilusi yang diekspresikan lewat gerak sehingga pesan makna dari tari pasihan tersebut mudah ditangkap masyarakat sebagai apresiatornya. artinya gerak yang dihasilkan dari imitasi terhadap sesuatu. Dominasi gerak representatif yang terdapat pada genre tari pasihan dimaksudkan oleh seniman penyusun supaya masyarakat dan lebih khusus sepasang temanten akan merasa lebih mudah mengapresiasi tema tarian. Kedua bentuk gerak baik presentatif maupun representatif merupakan medium utama tari pasihan dalam rangka memenuhi keperluan ekspresi. dan III pada tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk menunjukkan gerak representatif mendominasi pada bahasa nonverbal. Gerak presentatif merupakan bentuk gerak yang tidak mempunyai arti secara khusus. yang mencapai 80. Adapun gerak-gerak representatif pada genre tari pasihan tersebut 279 . Keduanya hadir dalam jagad tari. pola-pola sekarannya bersifat presentatif dan representatif. karena wujud yang tampak sering samar-samar.sebagai media utama dalam sajian tari pasihan berupa pola-pola sekaran tari tradisional gaya Surakarta. Dari seluruh adegan I.

mencubit. Hubungan bahasa verbal dan Kinetic body moves bersifat langsung artinya bahwa makna bahasa verbal sesuai dengan makna bentuk gerak. Alasannya kehadiran genre tari pasihan pada resepsi perkawinan adalah untuk hiburan dan suritauladan temanten dan masyarakat yang kepekaan rasanya heterogen. penonton akan mencoba mengaitkan fungsi kehadiran tari pada sebuah resepsi perkawinan. meledek. seperti: berpelukan. untuk itu supaya seni tersebut dapat ditangkap maknanya oleh semua lapisan masyarakat maka bentuk komposit bahasa verbal dengan Kinetic body moves yang bersifat langsung dirasa sangat tepat agar mudah dihayati. menggoda dan gerak-gerak lainnya yang mengungkapkan kegembiraan. Selain itu dari komposit bahasa verbal dan Kinetic body moves sebagai unsur nonverbal pada tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk terdapat hubungan yang bersifat langsung dan tidak langsung. Berdasarkan tema percintaan yang telah terungkap. Sedangkan hubungan bahasa verbal dan Kinetic body moves bersifat tidak langsung artinya bahwa makna bahasa verbal tidak sesuai dengan makna bentuk gerak. Secara kuantitatif hubungan bahasa verbal dan nonverbal yang bersifat langsung tampak lebih mendominasi dibandingkan dengan yang tidak langsung.merefleksikan gerak orang bermesraan. Pemilihan pola-pola sekaran tari tradisional yang bersumber dari istana tersebut terkait dengan latar belakang kedua penyusun yaitu: Maridi dengan 280 . bergandengan tangan. Sehingga tema yang muncul dapat ditafsirkan yakni tema percintaan. Kehadiran genre tari pasihan pada sebuah resepsi perkawinan bukan pada resepsi lainnya itu merupakan pertanda bahwa jenis-jenis tari tersebut mempunyai fungsi yang berarti dalam resepsi perkawinan yaitu sebagai suritauladan yang hendak ditindaklanjuti bagi sepasang temanten.

Bagi Sunarno sejak berumur 11 tahun. Adapun guru dan sanggar yang telah banyak berperan membentuk dan mengembangkan kesenimanan Maridi di dunia tari. Berkat kecerdikan dan keuletan dalam upaya memperdalam tari.karyanya tari Karonsih dan Sunarno dengan karyanya tari Bondhan Sayuk yang sejak masih muda mereka banyak belajar tari-tarian tradisi gaya Surakarta. 281 .M Suseno (dari gaya Mangkunegaran) 8) Nyai Pamarditaya. Maridi secara diam-diam banyak berguru dengan beberapa empu tari yang akhirnya membentuk pribadinya menjadi seorang empu tari. dan tari Bondhan. 3) R. yang menjadi panutan gaya / wiled tarian gagah S.M Lurah Atmo Bratono dengan sanggarnya Yatno Sidoyo. tari rakyat.T Kusuma Kesawa. ia belajar tari di desa Semono dengan Wiryo Dimedjo (paman). terutama tari tradisional gaya Surakarta. Masa kecilnya banyak di Pati diajak paman Sandiman yang berprofesi Polisi yang juga seorang penari. antara lain: 1) R. Seperti Maridi sejak berumur sekitar usia 8 tahun.M Ng Atmo Hutoyo sebagai guru tari alus. belajar tari Kethekan (kera). 2) R. belajar tari kethekan. Lurah Harto Sukolewa sebagai guru tari gagah. belajar tari dasar (tayungan) dan Tari Gathutkaca Gandrung. 4) R. 7) R. tari cakil di asrama polisi Pati. 6) R. 5) R. Sunarno banyak belajar tari dengan beberapa guru diantaranya: a) Sandiman (paman). b) Eko Prasetya.M Bekel Wignya Hambekso. Selama di Pati.M Lurah Widakdo. Maridi sudah bergabung di sanggar tari: paguyuban Muda Matoyo di bawah asuhan Jogo Laksito. Maridi.

c) Wiryo Tampu.c) Raden Irawan. tari Cantrikan. d) Secara khusus belajar tari cakilan di kursus: Kembang Djaya di Pati. selama di Surakarta ia banyak menimba ilmu dengan beberapa Guru tari antara lain: a) KRT. jurusan Karawitan (ASKI) dan lulus sarjana muda tahun !979. ia dijadikan asisten S. ia diangkat sebagai pegawai negeri Dikbud Kodya dan sejak tahun 1982 melimpah ke ASKI sebagai dosen tetap sampai sekarang. dan Tari Gathutkaca Gandrung di Pakempalan Kagunan Jawi (PKD) Pati. untuk meniti karirnya lebih lanjut. Selain pendidikan formal. b) S.Sn). Kusuma Kesawa di Pawiyatan Karaton Kasunanan dan Ramayana Rara Jonggrang. tahun 2005 lulus tahun 2007 dengan gelar Magister Seni ( M. Di samping belajar. Melanjutkan S1 di ASKI lulus tahun 1981 dan mengambil S2 di Sekolah Tinggi Seni Indonesia di Surakarta. Ngaliman dengan sanggarnya Baradha di Kemplayan dan kursus tari di PKJT Sasonomulyo. Di samping kuliah ia juga seorang pengajar tari spesialis tari gagah di ASKI sejak tahun 1973 yang pada waktu itu baru menjadi pegawai honorer Dikbud Kodya yang diperbantukan untuk ASKI. Sunarno melanjutkan sekolah di Konservatori Karawitan Indonesia Surakarta (KOKAR) di Surakarta pada jurusan tari tahun 1970 lulus tahun 1972. Sunarno masuk kuliah di Akademi Seni Karawitan Indonesia. Setelah lulus SMP. belajar tarian dasar tayungan. d) Wiryo dengan Sanggar tari Pomoi di Laweyan. 282 .Ngaliman di kursus tari PKJT sejak tahun 1972. Pada tahun 1973. Pada tahun 1976.

rias. Bentuk rias dan busana yang dipakai pada tari pasihan berdasarkan pola-pola tradisi yang disesuaikan dengan sumber cerita.Polatan atau ekspresi wajah pada tari pasihan pada dasarnya tidak tampak mencolok perubahannya. rias. Pola-pola semacam itu merupakan budaya Jawa yang merupakan dasar dari penyusun tari pasihan sehingga komplementer dari kinetic body moves. Sebagai seni pertunjukan. iringan gamelan yang terpadu dengan bahasa verbal sastra tembang diperlukan kepekaan rasa dan ketajaman pikir sehingga mampu menghayati nilai-nilai cinta kasih pada tari pasihan yang diharapkan seperti yang dimaksudkan seniman penyusun. pola lantai. kehadiran genre tari pasihan pada upacara ritual perkawinan difungsikan oleh 283 . sedangkan tari Bondhan Sayuk yang bersumber dari cerita rakyat menggunakan dandanan Blangkonan untuk peran suami dan peran istri menggunakan Gelungan atau konde. Hal ini terkait dengan karakter masing-masing peran yang cennderung alus. Komposit bahasa verbal dan nonverbal dalam genre tari pasihan merupakan perpaduan yang utuh sebagai seni pertunjukan. Pada tari Karonsih yang bersumber dari cerita Panji menggunakan dandanan Panjen dengan ciri Tekes. luruh dan feminin. pola lantai. Bentuk iringan gamelan sebagai ilustrasi musik yang berupa gendhing-gendhing karawitan rupanya sangat tepat dan memberi kemantapan dalam mendukung sajian tari pasihan. busana. dan iringan sebagai bahasa nonverbal tari pasihan saling mengkait untuk mendukung bahasa verbal sastra tembang menjadi bentuk sajian tari yang utuh dan berfungsi sebagai media komunikasi untuk mengungkapkan maksud seniman penyusun. polatan (ekspresi wajah). polatan (ekspresi wajah). Untuk menangkap makna yang terkandung dalam bahasa nonverbal yang berupa simbol-simbol kinetic body moves. busana.

Masyarakat penonton adalah kelompok orang dari beragam kalangan status sosial yang mengapresiasi tari pasihan terutama jenis tari Karonsih dan tari bondhan Sayuk. latar belakang budaya. Sedangkan suritauladan yang diharapkan oleh seniman penyusunnya didasarkan pada pesan atau muatan isi yang terkandung dalam komposit bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan yang berupa nasehat-nasehat cinta kasih tentang: pasangan keluarga yang romantis.seniman penyusun sebagai hiburan dan suritauladan bagi sepasang temanten dan masyarakat pada umumnya. C. kemauan. Faktor Afektif. Persepsi masyarakat terhadap kehidupan genre tari pasihan gaya Surakarta. Beragamnya persepsi dari masyarakat penonton tidak lepas dari bekal kepekaan rasa. sajian genre tari pasihan menjadi layak karena wujudnya merupakan bentuk seni pertunjukan yang secara visual menarik. dan sikap-sikap ideal bagi figur suami maupun figur istri. dan keterlatian dalam mengapresiasi tari pasihan. harmonis. kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga. Sebagai hiburan. memikat dan mengandung nilai estetik yang dapat menghibur penonton. Informan dari kalangan masyarakat secara garis besar terdiri dari: kelompok penanggap atau 284 . Pada dasarnya masing-masing penonton memiliki persepsi yang berbeda-beda tergantung dari kepekaan rasa dan ketajaman pikir yang dimiliki individu. Beragam pendapat dari kalangan masyarakat telah muncul menanggapi hadirnya genre tari pasihan pada ritual resepsi perkawinan. Nilai-nilai keteladanan tersebut terutama diperuntukan bagi sepasang temanten untuk bekal dalam membina rumah tangga. dan bahagia.

Adapun informasi dari ketiga kelompok informan tersebut dapat dicermati berikut ini. diharapkan dengan ketinggian yang ideal (sekitar 160 cm) dan dukungan warna kulit yang halus. Sebagai masyarakat yang berlatarbelakang budaya Jawa. niscaya penonton tidak akan menanggapi apalagi memperhatikan. maupun manis. sehingga proses hayatan yang dikehendaki penari maupun penyusun tari tidak akan muncul. bersih akan menambah daya tarik penonton. Taraf selanjutnya adalah kemampuan penari dalam menyajikan tari yang lebih berorientasi pada keluwesan penari dalam membawakan tarian. Hal ini dapat dicermati sejak awal dari pelaksanaan upacara resepsi perkawinan yang menggunakan adat budaya Jawa. kelompok penonton umum. Dari pengamatan tersebut dibenak para penonton terjadi sinergi antara kepekaan rasa dan ketajaman pikir sehingga muncul penafsiranpenafsiran terhadap karya seni. dan kelompok pakar. bagus. Tanpa penampilan rupawan penarinya. Bagi penanggap kehadiran tari pasihan dalam ritual resepsi perkawinan adat budaya Jawa ini merupakan salah bentuk hiburan yang diperuntukkan bagi tamu undangan supaya tidak membosankan dan sekaligus untuk mengatur jalannya upacara terkait dengan jeda acara demi acara berikutnya.Genre tari pasihan sebagai hiburan. cantik.sebagai pengguna. melestarikan budaya yang dirasakan lebih tepat adalah budaya Jawa. Selain bentuk fisik penari yang ideal juga dukungan rias wajah yang mampu menampilkan karakterisasi peran dan busana glamor yang dapat memikat dan memberi kenikmatan indera mata. 285 . Penilaian paling awal yang tampak bagi penonton akan tertarik pada gandar atau rupa wajah penarinya yang tampan. rasa memiliki. Setelah itu baru melihat dedek atau tinggi – rendahnya penari. 1.

bentuk dekorasi (brostul) untuk penganten.baik yang menyangkut pemilihan hari resepsi. merupakan pertunjukan yang bersifat hiburan. Dari beberapa pakar menyatakan bahwa kehadiran genre pasihan pada upacara ritual perkawinan memiliki fungsi yang dalam terutama bagi sepasang mempelai temanten. 286 . Fungsi awal yang paling sederhana secara faktual dapat dicermati adalah sebagai hiburan. pertunjukkan tari pasihan dalam upacara ritual perkawinan adat budaya Jawa terletak pada kesesuaian antara tema percintaaan yang digambarkan tari pasihan sebagai muatannya dengan peristiwa perkawinan yang mengatur sejak awal jalannya percintaan sepasang mempelai temanten secara resmi di depan publik untuk mendapatkan pengakuan status sosial dan adat budaya yang mereka miliki. serta saranasarana lainnya. tarub sebagai hiasan rumah resepsi. Kehadiran tari pasihan dalam upacara ritual resepsi perkawinan yang biasanya disajikan pada bagian akhir dari seluruh rangkaian resepsi sebagai penutup. Bagi penonton secara umum. Sinkronisasi antara gambaran nilai percintaan yang diangkat dalam tari dengan realitas nilai percintaan yang hidup dan berkembang dalam jiwa sepasang mempelai temanten yang sedang diwisuda. Hiburan yang lebih tepat dipilihnya bentuk kesenian yang berbasis budaya Jawa. tersebut adalah bukti dari ketepatan atau kesesuaian yang diasumsikan dari penonton secara umum. busana kejawen lengkap dengan keris untuk among tamu kakung (penjemput tamu pria) dan kebaya untuk among tamu wanita. hiburan yang berbentuk tarian maupun karawitan secara lengkap. seperti genre tari pasihan gaya Surakarta. Sebagai hiburan yang dirasa tepat atau sesuai. Hiburan yang didapat dari sajian tari pasihan. busana basahan ataupun kejawen lengkap untuk penganten.

dan kelompok pakar secara garis besar salah satu fungsi genre tari pasihan dalam ritual resepsi perkawinan adat Jawa merupakan bentuk hiburan. Berdasarkan pementasan taritarian pasihan yang menggambarkan orang bercinta dengan mesra. dedek atau tinggi rendahnya postur tubuh. Wujud fisik berupa gandar atau rupa wajah. Genre tari pasihan sebagai keteladanan. Secara emosional mereka memiliki ikatan kultur yang kuat sehingga kepekaan rasa yang tertanam dalam jiwa. Persepsi masyarakat yang terdiri dari kelompok penanggap atau sebagai pengguna. rias. 2. Bagi penonton umum yang sering mengapresiasi pementasan tari pasihan. mereka melihat 287 . artinya kenikmatan indera penonton dari melihat pertunjukan tari pasihan merasa tertarik dan terpikat berawal dari bentuk fisik. Kesamaan persepsi dari ketiga kelompok masyarakat tersebut karena mereka memiliki latar belakang budaya yang sama. kelompok penonton umum. mereka katakan bahwa jenis-jenis tari percintaan yang sering dilihat dalam resepsi perkawinan mempunyai maksud-maksud tertentu. Pada dasarnya masing-masing individu sedikit banyak memiliki rasa kesenian yang merupakan bekal alami. sekalipun kadar kualitas berbeda namun masih mampu menggugah dan menghidupkan kembali stimulus-stimulus estetik yang sewaktuwaktu dihadapkan pada benda pacu yang berupa karya seni genre tari pasihan. memiliki wawasan kesenian dan mempunyai minat serta kepedulian terhadap seni. dan kinetic body moves yang secara komplementer akan menyatu dengan wujud nonfisik yang berupa rasa. Hasil komplementer dari bentuk fisik dan nonfisik dalam tari adalah rasa keindahan yang mampu memberikan hiburan yang bersifat rohani.bagi penonton adalah bersifat estetik. dandanan busana.

Selain itu yang dapat ditiru oleh pasangan temanten dari pementasan tari-tarian pasihan adalah kebersamaan dan kegembiraan. memahami dan menghayati nilai-nilai yang terkandung dalam karya tari pasihan. Kemesraan.terdapat sesuatu dari pertunjukkan itu yang dapat ditiru oleh sepasang temanten. Diharapkan dengan meneladani nilai percintaan yang disajikan lewat tari pasihan tersebut bagi sepasang temanten dapat membina hidupnya dengan nilai cinta yang sebenarnya. dan berarti bagi sepasang mempelai temanten yang sedang diwisuda. Tema percintaan yang diangkat untuk menentukan alur garapan tari pasihan sungguh mampu mengungkapkan nilai cinta lewat liku-liku kehidupan cinta sepasang kekasih yang merupakan tokoh idola baik yang bersifat fiktif maupun nyata bagi masyarakat Jawa. dan Damarwulan & Dewi Anjasmara dalam tari Enggar-enggar tersebut mempunyai makna yang dalam yang mampu menyentuh jiwa manusia. Bagi penanggap. romantisme. ketulusan. kehalusan. Diharapkan keluarga yang 288 . untuk itu perlu diteladani. tari pasihan merupakan masterpiece dari seluruh sajian tari yang dipentaskan dalam sebuah upacara ritual perkawinan adat Jawa. Dewa Komajaya & Dewi Komaratih dalam tari Lambangsih. kegembiraan. di tengah-tengah kehidupan sosial masyarakat. merupakan sesuatu bekal hidup yang sangat berharga. yaitu kemesraan sebagai sepasang suami istri. Bagi penanggap nilai-nilai cinta yang demikian itu. Pemilihan ini rupanya sangat terkait dengan maksud penanggap yang mampu mencermati. dan kebahagiaan yang digambarkan dari sepasang tokoh-tokoh idola seperti: Panji Inukertapati & Dewi Sekartaji pada tari Karonsih. Secara khusus tari pasihan merupakan simbolisasi percintaan yang mengandung nilai percintaan yang begitu tulus sebagai muatan ekspresinya.

senang. Kepekaan rasa dan ketajaman intelek bagi pakar seni merupakan modal utama untuk mencermati dan menganalisis kehadiran sebuah karya seni di tengah-tengah kehidupan dan perkembangan sosial masyarakat dari beragam perspektif. marah. sehingga penafsiran-penafsiran terhadap makna dibalik karya yang dicipta menjadi semakin valid Bagi pakar. dan wawasan berkesenian secara luas. tetapi sering kali mengalami kesulitan untuk menginterpretasi makna sesungguhnya yang dikehendaki seniman. gembira.dibangun dan dibina sepasang temanten dengan nilai-nilai cinta mampu menciptakan keluarga yang harmonis. Dari medium sensa itu seniman akan dapat menganyam impian-impian bagi kita mengenai hal-hal yang 289 . Untuk mengetahui maksud seniman diperlukan bekal pengalaman. takut. khawatir. kacau. Maksud seniman tersebut tersirat pada karya seni yang kadang kala mudah ditangkap maknanya oleh penonton. dan lainnya itu semua ditangan seniman diungkapkan dalam bungkus sensa yang mampu memicu dan memacu timbulnya khayalan benda dan peristiwa yang memberi kenikmatan dan kepuasan. damai. dan bahagia. bahagia. keterlatihan. Mengingat bahwa seorang seniman menciptakan karya seni sedikit banyak mempunyai maksud-maksud tertentu dibalik karyanya. seperti: sedih. Bagi pakar bekal apresiasinya terhadap seni dan wawasan intelektual yang dimiliki mampu menghayati secara dalam dan mengungkapkannya secara komprehenship. Nilai cinta yang terdapat pada tari pasihan yang merupakan akumulasi dari beragam rasa. tenang. kemampuan. seorang seniman berkarya merupakan dorongan dan tutuntan kebutuhan jiwa yang dilatarbelakangi apresiasi terhadap lingkungan manusia dan alam yang terseleksi dan senantiasa dimanifestasikan dalam bentuk yang estetik.

Pada dasarnya genre tari pasihan gaya Surakarta merupakan simbolisasi percintaan sepasang manusia yang berjenis kelamin pria dan wanita. Seolah–olah keberadaan genre tari pasihan dalam budaya Jawa menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan terutama pada upacara-upacara perkawinan. Seniman pada dasarnya tidak lain sebagai manusia yang menyediakan sebuah susunan benda pacu atau lambang-lambang sensa yang diharapkan akan ditafsirkan seperti yang dimaksudkan olehnya. kita kemudian dalam imajinasi dapat melakukan atau mengalami. sehingga perlu perantara yang berwujud simbol-simbol dalam puisi bukan dalam bentuk pengetahuan. Dalam menghadapi permasalahan kemudian mendapat perjalanan kisahnya berawal solusi yang menjadi berangsur-angsur membaik dan berakhir bahagia.membuai dan memikat kita senang mengamati. Khayalan tentang tindakan atau emosi yang ditimbulkan lewat karya seni. Kehadiran 290 . Jika dicermati lebih dalam dari jiwa kita sendirilah sebenarnya muncul gagasan-gagasan dan beragam rasa yang merupakan isi sebuah karya seni. bahwa ‘simbol’ tampak terbatas pada sesuatu yang mengungkapkan secara tidak langsung. Simbolisme semacam ini tampak pada genre tari pasihan yang hadir dalam rangkaian upacara-upacara perkawinan adat Jawa. genre tari pasihan memiliki fungsi yang dalam terutama bagi sepasang mempelai temanten yang tercermin pada komplementer bahasa verbal dan nonverbalnya. Bagi pakar. Kehadiran genre tari pasihan (percintaan pria dan wanita) dalam kehidupan sosial masyarakat pada ritual perkawinan adat Jawa rupanya mempunyai makna simbolik yang sangat penting terutama bagi kedua mempelai dalam rangka mempersiapkan diri untuk mengarungi kehidupan di masyarakat yaitu menuju terbentuknya keluarga yang bahagia. Menurut Clifford Geertz (1992: 6).

tari pasihan hampir dapat dipastikan dalam resepsi perkawinan. Rupanya terdapat korelasi yang sangat signifikan bahwa kehadiran tari pasihan dalam resepsi perkawinan diharapkan dapat diteladani dan memberikan sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temanten. Hal ini juga digambarkan secara lebih aktual pada tari Bondhan Sayuk ketika tindakan atau perbuatan penari putri (peran istri) memberikan boneka anak kepada temanten putri pada bagian akhir tarian merupakan perbuatan simbolik yang menunjukkan adanya kekuatan – kekuatan tertentu yang tidak kelihatan mata yang bersifat magis simpatetis diharapkan dapat diterima penganten putri. Dengan kekuatan magis simpatetis akan dapat menyuburkan benih-benih cinta 291 . yaitu mampu mempengaruhi kesuburan dalam proses perkawinan pasangan temanten. dan bahagia. Nilai-nilai keteladanan yang dapat diserap dari aktualisasi tari pasihan yang berupa nasehat-nasehat cinta kasih diantaranya: pasangan keluarga yang romantis. suami mapun istri. Perbuatan simbolik dalam pertunjukan tari Bondhan Sayuk lebih tampak jelas dan lebih mendekat kearah realitas tujuan bercinta dalam sebuah kehidupan keluarga. Kekuatan imajinasi percintaan yang digambarkan sepasang kekasih dalam tari pasihan diharapkan dapat memberikan kekuatan magis simpatetis terhadap kehidupan jiwa sepasang mempelai temanten. Bentuk dan sikap ideal bagi sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temanten terpancar dari kekuatan cinta sepasang tokoh yang digambarkan dalam tari pasihan dimaksudkan dapat dihayati sepasang temanten sehingga bayanganbayangan cinta yang diekspresikan oleh seniman mampu memicu dan memacu kehidupan imajinasi cinta sepasang temanten. harmonis. kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga.

Kesulitan yang tampak bahwa seni pertunjukan merupakan seni sesaat. Bahkan seniman sering mampu menghasilkan karya seni yang sangat bagus tetapi kerap tidak memiliki pendapat yang jelas dan tetap terhadap pernilaian karyanya.yang tengah berkembang pada sepasang temanten yang akhirnya mampu melahirkan buah cinta yang berupa momongan (anak). Kesadaran awal yang harus dicermati. sebagai pewaris dan penerus keluarga. penonton umum dan pakar terhadap kehidupan genre tari pasihan mengidikasikan bahwa bentuk tari pasihan tersebut mengandung nilai-nilai keteladanan layak menjadi sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi sepasang temanten untuk diserap dan diimplemetasikan dalam kehidupan rumah tangga. Pada dasarnya kedua orang mengawinkan putra-putrinya dengan cita-cita untuk segera diberi keturunan yang berupa anak. orang tidak akan dapat berharap banyak karena rasa seni yang kita hayati tidak bisa mengendap dan lekas menghilang tidak menjadi gagasan yang tenang dan mantap. bahwa dalam dunia kesenian. Di samping itu juga terdapat perbedaan pada kadar pemahaman. Kepekaan rasa dan ketajaman intelek pakar seni merupakan modal utama untuk mencermati dan menganalisis kehadiran sebuah karya seni di tengah-tengah kehidupan dan perkembangan sosial masyarakat dari beragam perspektif. Dengan demikian hanya pakarlah yang mampu untuk memahami dan menganalisis secara komprehensif dan bertanggungjawab 292 . karena bagi pakar bekal apresiasinya terhadap seni dan wawasan intelektual yang dimiliki mampu menghayati secara dalam dan mengungkapkannya secara komprehenshif. para pelaku dan penghayat tidak selalu memahami akan yang mereka kerjakan. Kesamaan persepsi dari penanggap.

karena seniman adalah berjiwa mistik. TT komisif.pokok penelitian. jenis TT yang dominan adalah TT direktif. Dari beragam jenis TT yang terdapat pada genre tari pasihan. BAB IV PEMBAHASAN A. yang memiliki rasa seni yang dalam tetapi tidak berbicara banyak dan sering sulit untuk mengurai karyanya. 293 . 1. Jenis–jenis TT yang terdapat dalam genre tari pasihan gaya Surakarta terdiri dari beragam jenis yaitu: TT asertif. Temuan pokok. TT ekspresif. dan TT patik. TT direktif. Faktor objektif.validitasnya.

Dalam bahasa verbal genre tari pasihan bentuk penerapkan prinsip kerja sama terjadi pelanggaran maksim kuantitas dan maksim cara.2. Prinsip kesantunan yang diterapkan dalam bahasa verbal genre tari pasihan dengan menggunakan strategi melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif dan strategi melakukan TT secara tidak langsung (off record). Hal ini terpancar dari kekuatan cinta kasih sepasang suami istri yang digambarkan dalam tari pasihan dimaksudkan dapat dihayati sepasang temanten sehingga bayangan-bayangan cinta yang diekspresikan oleh seniman mampu memicu dan memacu kehidupan imajinasi cinta sepasang temanten. 3. Implikatur yang terdapat dalam bahasa verbal tari pasihan menunjukkan adanya simbolisasi percintaan sepasang suami istri yang dalam perjalanan kisahnya berawal menghadapi permasalahan kemudian mendapat solusi yang menjadi berangsur-angsur membaik dan berakhir bahagia. Daya pragmatik yang terdapat dalam bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan menunjukkan adanya bentuk sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temanten. Rupanya terdapat korelasi yang sangat signifikan bahwa kehadiran tari pasihan dalam resepsi perkawinan diharapkan dapat diteladani sepasang temanten. yaitu mampu mempengaruhi kesuburan dalam proses perkawinan pasangan temanten. Kehadiran tari pasihan hampir dapat dipastikan dalam resepsi perkawinan yang nota bene sebagai wahana untuk mewisuda sepasang temanten. sedangkan maksim kualitas dan maksim hubungan dipatuhi. Kekuatan imajinasi percintaan yang digambarkan sepasang kekasih dalam tari pasihan diharapkan dapat memberikan kekuatan magis simpatetis terhadap kehidupan jiwa sepasang mempelai temanten. Gambaran secara lebih 294 .

sindhenan. dan sikapsikap ideal bagi figur suami maupun figur istri. e) 295 . busana. Nasehat-nasehat tentang cinta kasih tersebut bermanfaat bagi sepasang temanten sebagai bekal untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dalam membangun sebuah keluarga. 4. polatan.aktual pada tari Bondhan Sayuk yang merepresentasikan pasangan pria dan wanita setelah bercinta kemudian membawa boneka sebagai simbol anak dan ketika adegan akhir penari putri memberikan boneka anak kepada temanten putri. Tindakan atau perbuatan tersebut merupakan perbuatan simbolik yang menunjukkan adanya kekuatan – kekuatan tertentu yang tidak kelihatan mata yang bersifat magis simpatetis diharapkan dapat diterima temanten putri. rias. dan iringan yang secara komplementer menyatu dalam bentuk seni pertunjukan. Perbuatan simbolik dalam pertunjukan tari Bondhan Sayuk lebih tampak jelas dan lebih mendekat kearah realitas tujuan bercinta dalam sebuah kehidupan keluarga. gerongan. c) Hubungan bahasa verbal dan nonverbal bersifat langsung dan tidak langsung. d) Tema percintaan. kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga. Bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan merupakan dua komponen besar yaitu aspek verbal berupa cakepan (syair) sastra tembang yang terdapat dalam teks pathetan. b) Bahasa verbal yang digunakan berdasarkan status sosial. kinetic body moves (gerak tubuh). pola lantai. Pada intinya bentuk daya pragmatik genre tari pasihan adalah berupa nasehat-nasehat tentang cinta kasih yaitu pasangan keluarga yang romantis. dan jineman dan aspek nonverbalnya berupa: tema. dan bahagia. harmonis. Berdasarkan jabaran bahasa verbal dan nonverbal tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk dapat diketemukan ciri karakteristik genre tari pasihan sebagai berikut: a) Bahasa verbal berbentuk tembang Jawa bernuansa cinta.

seniman penyusun lewat karya tari pasihan melanggar maksim kuantitas dan maksim cara dimaksudkan seniman untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa. Faktor genetik. keintiman. Maksim kualitas dan maksim hubungan dipatuhi dimaksudkan oleh seniman supaya komunikasi rasa dapat berlangsung sehingga makna karya tari pasihan dapat ditangkap penghayat secara utuh. Hal ini dimaksudkan seniman penyusun untuk menunjukkan simbolisasi keharmonisan hubungan antara peran suami dan istri yang digambarkan dalam tari sebagai bentuk suritauladan yang layak untuk diteladani sepasang temanten. f) Disajikan berpasangan pria dan wanita. Jenis TT yang mendominasi pada bahasa verbal dalam genre tari pasihan adalah TT direktif. h) Gerak representatif dan presentatif sebagai ekspresi kinetic body moves dalam sajian. Di samping itu juga konsep yang mendasari strategi untuk melakukan TT secara tidak langsung (off record) untuk mengekspresikan 296 . dan memerintah yang tercermin dalam TT direktif dapat menyampaikan makna bahasa verbal sastra tembang yang berupa nasehat-nasehat cinta tersebut untuk diteladani sepasang temanten.Cerita berakhir dengan bahagia (happy end). Dalam menerapkan prinsip kerja sama. meminta. dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur. Hal ini dimaksudkan oleh seniman penyusun supaya bahasa verbal yang sifatnya mengajak. g) Pesannya berupa nasehat tentang cinta kasih. Prinsip kesantunan yang diterapkan dalam bahasa verbal genre tari pasihan dengan menggunakan strategi melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif untuk menunjukkan kedekatan.

dan bermakna bagi masyarakat. kehidupan genre tari pasihan dalam sosial masyarakat berfungsi sebagai hiburan dan suritauladan yang tepat bagi sepasang temanten dan masyarakat pada umumnya.rasa estetik dan menambah kemantapan rasa supaya dapat lebih menyentuh penghayat dan maknanya dapat diterima. Faktor afektif. Genre tari pasihan merupakan jenis tari pasihan yang difungsikan sebagai hiburan dan suritauladan bagi sepasang temanten dan sosial masyarakat. selaras dan seimbang sehingga komplementer dari kedua komponen tersebut menjadi padu membentuk genre tari pasihan dalam aktualisasi yang berkualitas. selain sebagai hiburan juga merupakan suritauladan yang sangat penting bagi sepasang temanten. estetik. B. Konsepsi tentang pemilihan bahasa verbal dan nonverbal bersifat harmoni. Keseimbangan komposisi bahasa verbal dan nonverbal tampak pada setiap peristiwa dalam adegan. 297 . karena kepekaan rasa dan ketajaman pikir pakar seni lebih mantap dan lebih berkualitas dibandingkan masyarakat pada umumnya. Pemahaman tentang fungsi tari pasihan tersebut menunjukkan adanya perbedaan antara masyarakat umum dengan pakar seni. yaitu pada setiap ekspresi sastra tembang selalu didukung dan diikuti langsung kinetic body moves. Bagi masyarakat secara umum kehadiran tari pasihan dalam resepsi perkawinan ditangkap sekadar sebagai hiburan. Berbeda dengan persepsi pakar seni. bahwa fungsi tari pasihan dalam resepsi perkawinan. Pembahasan. Berdasarkan persepsi masyarakat. Kehadiran genre tari pasihan sebagai seni pertunjukan merupakan perpaduan dari bahasa verbal dan nonverbal yang secara komposit mengungkapkan makna.

wong manis. busana. wanodya di. polatan. setya. dan mas jiwaku. untuk menyampaikan pesan maknanya tari pasihan. brangti. rabinira. Komplementer bahasa verbal sebagai kandungan makna dan bahasa nonverbal sebagai bentuk visual sudah menyatu dan berkaitan satu sama lainnya dan mampu mencerminkan kesatuan makna secara utuh. garwa. gerongan. aginggang sarambut. Adapun kata-kata cinta. 298 . mencakup: pasangan keluarga yang romantis. asmara. lagu. dan sikap-sikap ideal bagi figur suami maupun figur istri sebagai pesan makna atau isi. Diharapkan dengan kata-kata cinta yang merupakan dasar dari tema percintaan yang diangkat dalam genre tari pasihan yang disajikan dalam bentuk tembang dengan irama. Sedangkan bentuk bahasa nonverbal merupakan komplementer dari elemen-elemen: tema. rias. dan jineman mengandung nasehat-nasehat tentang cinta kasih bagi sepasang suami istri. kinetic body moves (gerak tubuh). seperti: gantilaning tyas. seniman penyusun memandang perlu memanfaatkan aspek kebahasaan atau bahasa verbal dengan menggunakan kata-kata cinta yang terakumulasi dalam bentuk sastra tembang Jawa. sulistyane. kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga. sindhenan. dan bahagia. asih tresna. Genre tari pasihan merupakan beragam jenis tari yang mengangkat tema percintaan. dan iringan yang saling mendukung dan menyatu menjadi sebuah bentuk sajian visual yang mengungkapkan pesan makna yang terkandung dalam bahasa verbal. prasetya. dan karakter yang berbeda-beda tersebut mengarahkan pada sepasang temanten untuk lebih meresapi dan menangkap makna secara utuh untuk diteladani dan dijadikan sebagai bekal perjalanan dan pelajaran hidup. wuyung.Bahasa verbal genre tari pasihan berupa sastra tembang dalam bentuk pathetan. mustikaning. pola lantai. harmonis.

TT ekspresif. TT performatif. Jenis-jenis TT direktif tersebut dapat dicermati berikut ini. TT komisif. Kreidler (1998: 183-194). mengkategorisasikan TT dalam sebuah pertuturan menjadi tujuh jenis bentuk TT. Jenis TT direktif yang berfungsi untuk permintaan. melarang. TT direktif adalah tuturan di mana pembicara berusaha menyuruh orang yang disapa untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu perbuatan tertentu. dan mengajak. Berdasarkan teori jenis TT yang dikemukakan Kreidler. jenis TT yang paling dominan adalah jenis TT direktif. TT verdiktif. Sejalan dengan pernyataan Kreidler. dan usulan atau anjuran. dan jineman. Bahasa verbal dalam genre tari pasihan terakumulasi dari beragam jenis TT yang menyatu saling mengkait dan saling melengkapi sebagai penunjuk isi. direktif. Tuturan Dewi Sekartaji: Dhuh jagad dewa bathara Welasa mring dasih kang nandhang kingkin Tuturan Panji Inukertapati: Muga tansah pinaringan Kanugrahan kang salami 299 . Dari beragam jenis TT yang terdapat pada genre tari pasihan. permintaan. komisif. perintah. Secara garis besar beliau membagi tuturan direktif menjadi tiga macam: perintah. Menurut Kreidler (1998: 189-190). ekspresif. jenis-jenis TT direktif yang terdapat dalam genre tari pasihan berfungsi untuk permintaan. jenis-jenis TT yang terdapat dalam genre tari pasihan gaya Surakarta terdiri dari jenis-jenis TT: asertif.Dilihat dari aspek kebahasaan genre tari pasihan memanfaatkan jenis-jenis TT yang terdapat pada bahasa verbal teks sastra tembang dalam bentuk pathetan. dan patik. yaitu: TT asertif. TT direktif. dan TT patik. gerongan. sindhenan.

sayuk. 2. sakancane. Tuturan bentuk Narasi: 1. 3. Sayuk. sayuk. Maksud dan harapan seniman penyusun tersebut ditangkap oleh penghayat sebagai 300 . Sayuk. Sakdurunge anakmu gawanen mrene. Tuturan Suami: Adhuh lae.Jenis TT direktif yang berfungsi untuk perintah. sayuk. ora nyleweng tumindake. meminta dan menyuruh terhadap sepasang temanten untuk memahami dan meresapi makna isi yang terkandung dalam bahasa sastra tembang dan supaya melakukan tindakan atau perbuatan seperti yang dicontohkan dalam pertunjukan tari pasihan tersebut. atak adhuh lae. baya iki wus wanci. Tuturan Suami : labuh labet mring bangsane. sayuk. Sawahmu tansah anganti. Sayuk. sayuk. Jenis TT direktif yang berfungsi untuk mengajak. nyambut gawe. permintaan. 4. Tuturan Suami: Mbokne thole. sakabehe. mangkat makarya. Bapakne sithole. Dominasi dari jenis-jenis TT direktif yang terdapat dalam bahasa vebal genre tari pasihan yang sifatnya mengajak. dan perintah tersebut secara akumulatif dimaksudkan oleh seniman untuk mengajak. Sayuk mbangun negarane. Jenis TT direktif yang berfungsi untuk melarang. sayuk. Tuturan Panji Inukertapati: Pra wanita marsudiya marang tindak kang utama Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada Tuturan Dewi Sekartaji: Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira Datan kemba asih tresna sung tetreming kulawarga Tuturan istri: Dhuh mas jiwaku.

Kehadiran genre tari pasihan dalam kehidupan sosial masyarakat pada ritual perkawinan merupakan wahana untuk mendidik anak yang telah dewasa yaitu sepasang temanten dengan cara tidak langsung yakni dengan cara simbolik. dan bahagia yang terdapat dalam tari tersebut dirasa sangat tepat dan ditangkap secara mantap sebagai suatu edukatif atau pengajaran yang bersifat tidak langsung dan sangat bermanfaat bagi sepasang temanten untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dalam menggapai keluarga bahagia lahir dan batin. Pada dasarnya bentuk karya seni genre tari pasihan merupakan materi pendidikan yang penuh imajinatif. Untuk menerima isi atau pesan pendidikan yang berupa pementasan genre tari pasihan diperlukan ketajaman pikir dan kepekaan rasa. Indikasinya ditunjukkan bahwa genre tari pasihan hanya disajikan pada upacara-upacara resepsi perkawinan. tertutup lebih bersifat simbolik. dan bahagia.sesuatu yang harus diteladani. bukan 301 . tetapi juga dalam bentuk yang tidak langsung. multitafsir tersebut hanya mampu ditangkap indera lewat implikatur-implikatur bahasa verbal dengan bahasa nonverbal. Seperti kehadiran genre tari pasihan (percintaan pria dan wanita) dalam kehidupan sosial masyarakat pada ritual perkawinan adat Jawa mempunyai makna simbolik (berupa: pasangan keluarga yang romantis. perilaku ideal bagi suami mapun istri) yang sangat penting yaitu terutama bagi kedua mempelai temanten dalam rangka mempersiapkan diri untuk membentuk keluarga yang bahagia. bukan pada acara-acara lainnya. dan sikap. sistem mendidik terhadap anak tidak selalu dilakukan secara formal dan terbuka. Bagi masyarakat Jawa. harmonis. kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga. mengingat gambaran percintaan pasangan suami istri yang romantis. harmonis.

Untuk mengupayakan agar kandungan makna yang dikehendaki seniman dapat ditangkap dan sampai pada pasangan temanten. maksim kualitas. Maksim hubungan. hindari ketaksaan dan usahakan agar ringkas. mendranira. seperti: sang retnayu. Dalam penerapan prinsip kerja sama pada bahasa verbal genre tari pasihan. dahat. mring 302 . prinsip kerja sama dalam pertuturan dibagi menjadi empat maksim yaitu maksim kuantitas. Menurut Grice. Lewat cara-cara estetis bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan tersebut disajikan supaya pesan makna yang dikehendaki seniman dapat diterima.makna leksikal dari susunan gramatikal bahasa verbalnya. tepat sasaran dan lebih menyentuh sepasang temanten dengan tidak merasa dipaksa. Sistem pendidikan cara simbolik ini merupakan pilihan masyarakat yang masih merasa memiliki keterikatan emosional dan kesadaran atas budaya Jawa yang dirasakan dan dianggap mengandung nilai-nilai kehidupan yang layak dan tepat untuk diimplementasikan pada masyarakat hingga sekarang. usahakan agar sumbangan informasi anda benar. dan maksim hubungan. Maksim kualitas. Maksim cara usahakan agar informasi mudah dimengerti. jengkar sking. Maksim kuantitas adalah berikan informasi yang tepat sesuai yang dibutuhkan dan jangan melebihi yang dibutuhkan. maksim cara. hindari pernyataan yang samar. Pelanggaran maksim kuantitas yang terjadi dalam bahasa verbal genre tari pasihan adalah digunakannya kata-kata arkais. seniman melanggar maksim kuantitas dan maksim cara. usahakan agar pernyataan anda ada relevansinya (dalam Leech. seniman memandang perlu menerapkan prinsip kerja sama dan prinsip kesantunan secara selektif dalam bahasa verbal teks-teks sastra tembang yang terdapat pada genre tari pasihan. 1993: 11).

dimaksudkan oleh seniman untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa.dasih. keintiman. sifatnya tersamar dan tidak ringkas karena telah terpola dengan guru lagu dan guruwilangan. wak-ingan. sang pekik wah sang dyah ayu. Jenis-jenis tembang yang merupakan bahasa komunikasi dalam genre tari pasihan secara prinsip kerja sama dalam sebuah pertuturan terjadi pelanggaran maksim cara. 3) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan negatif mengacu muka negatif (negative politiness). tanpa basa basi (bald on record). untuk menunjukkan kedekatan. rasaningtyas. brangti. 2) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif mengacu muka positif (positive politiness). Adapun pelanggaran maksim kuantitas yang terjadi dalam bahasa verbal genre tari pasihan. wuyung. mas rara. nujuprana. dimaksudkan oleh seniman untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa. wanodya di. Berdasarkan Teori kesantunan Brown dan Levinson (1987). mring. untuk menunjukkan adanya jarak sosial antara penutur dengan mitra tutur. dan dhuh mas jiwaku. Maksim kualitas dan maksim hubungan dipatuhi dimaksudkan oleh seniman supaya komunikasi rasa dapat berlangsung sehingga makna karya tari pasihan dapat ditangkap penghayat secara utuh. dadya gantilaning tyas. ningsun. dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur. Adapun pelanggaran maksim cara yang terjadi dalam bahasa verbal genre tari pasihan. anggenya. angkling. mustikaning. lalis. nandhang kingkin. sulistyane. terdapat lima strategi. aginggang sarambut. Pelanggaran maksim cara dalam bahasa verbal genre tari pasihan adalah digunakannya bahasa tembang yang pada dasarnya merupakan bahasa yang sulit dimengerti artinya. 4) 303 . pinanggya. yaitu: 1) melakukan TT secara apa adanya.

dan iringan secara akumulatif 304 . Mengacu Teori kesantunan Brown dan Levinson (1987) tersebut. prinsip kesantunan yang diterapkan dalam bahasa verbal genre tari pasihan dengan menggunakan strategi melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif dan strategi melakukan TT secara tidak langsung (off record). pola lantai. Dukungan bahasa nonverbal pada tari pasihan merupakan media visual yang difungsikan sebagai sarana untuk mengekspresikan pesan makna yang dapat ditangkap oleh penghayat. Prinsip kesantunan yang diterapkan dalam bahasa verbal genre tari pasihan dengan menggunakan strategi melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif untuk menunjukkan kedekatan. busana. Di samping itu juga konsep yang mendasari strategi untuk melakukan TT secara tidak langsung (off record) untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa supaya dapat lebih menarik dan memikat serta menyentuh penghayat dan maknanya dapat ditangkap dan diterima sepasang temanten untuk dijadikan sebagai pelajaran yang bermanfaat dalam menata kehidupan keluarga baru. kinetic body moves (gerak tubuh).melakukan TT secara tidak langsung (off record). Bentuk bahasa nonverbal yang terdiri dari tema. dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur. Dalam menyampaikan pesan makna yang terdapat dalam bahasa vebal seniman penyusun memandang perlu menggunakan bahasa nonverbal. Hal ini dimaksudkan seniman penyusun untuk menunjukkan simbolisasi keharmonisan hubungan antara peran suami dan istri yang digambarkan dalam tari sebagai bentuk suritauladan yang layak untuk diteladani sepasang temanten. keintiman. polatan. rias. 5) tidak melakukan TT atau diam (don’t do the FTA).

Seniman sering dalam menciptakan karyanya dilandasi rasa intuitif yang dalam. Akumulasi dan kombinasi dari dua strategi penyampaian pesan yang digunakan seniman yang berupa jenis-jenis gerak presentatif dan representatif yang berhubungan langsung dan tidak langsung dengan bahasa verbal menjadi sangat kuat dan mantap dengan dukungan ekspresi wajah (polatan). dan iringan gamelan. tidak selalu didasari rasional belaka. Jenis-jenis gerak presentatif dan representatif yang berhubungan langsung dengan bahasa verbal akan memberi kemudahan terhadap penghayat dalam menafsirkan maksud dari seniman. sehingga pesan makna yang hendak disampaikan menjadi lebih kuat dan mantap. mantap dan berkualitas. Adapun jenis-jenis gerak presentatif dan representatif yang berhubungan tidak langsung dengan bahasa verbal. sehingga 305 . Strategi yang digunakan seniman penyusun dengan memanfaatkan jenis-jenis gerak presentatif dan representatif yang berhubungan langsung dan tidak langsung dengan bahasa verbal. penuh estetik sehingga karya tari pasihan menjadi sarana ekspresi yang memikat. mengingat aspek kebahasaan dan aspek nonbahasa memiliki makna yang sama. Perlu disadari bahwa karya seni merupakan bentuk simbol yang memerlukan penafsiran-penafsiran. busana. pola lantai. digunakan seniman penyusun untuk mengekspresikan makna dengan cara lebih tersamar dan ungkapan suasana yang muncul merupakan ekspresi yang dirasa memiliki kekuatan untuk menyampaikan makna. rias. Terpadunya bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan menjadi satu kesatuan seni pertunjukan yang utuh.akan membentuk satu bentuk simbol yang mampu mengekspresikan makna tari pasihan menjadi lebih menyentuh dan semakin mantap.

Selain itu untuk menunjukkan kedekatan. keintiman. Dari beragam jenis TT yang mendominasi pada genre tari pasihan adalah TT direktif. komisif. untuk menyampaikan pesan maknanya tari pasihan. hal ini dimaksudkan oleh seniman penyusun supaya bahasa verbal yang sifatnya mengajak. ekspresif. dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur digunakan kesantunan positif. direktif.kesan yang terungkap dari sajian sebuah karya seni perlu adanya perenungan kembali untuk mendapatkan sebuah makna yang utuh. seniman penyusun memandang perlu memanfaatkan aspek kebahasaan atau bahasa verbal dengan menggunakan kata-kata cinta yang terakumulasi dalam bentuk sastra tembang Jawa. Maksim kualitas dan maksim hubungan dipatuhi dimaksudkan oleh seniman supaya komunikasi rasa dapat berlangsung sehingga makna karya tari pasihan dapat ditangkap penghayat secara utuh. Dalam mengekspresikan maksudnya seniman juga memanfaatkan prinsip kerja sama dengan cara lebih selektif. meminta. dan memerintah dapat menyampaikan makna bahasa verbal sastra tembang yang berupa nasehat-nasehat cinta tersebut sesuai dengan fungsi keteladanan. dan patik. Pada aspek kebahasaan yang digunakan seniman penyusun dalam menerapkan prinsip kerja sama melanggar prinsip kuantitas dan prinsip cara yaitu dengan menggunakan kata-kata yang sifatnya arkais untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa. Selain itu tari pasihan juga memanfaatkan jenis-jenis TT: asertif. Hal ini dimaksudkan seniman penyusun untuk menunjukkan 306 . Secara garis besar dapat dieksplisitkan bahwa genre tari pasihan merupakan beragam jenis tari yang mengangkat tema percintaan.

Strategi melakukan TT secara tidak langsung (off record) yang dilakukan seniman terkait aspek kebahasaannya dimaksudkan untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa supaya dapat lebih menyentuh penghayat dan maknanya dapat diterima. Komposisi antara bahasa verbal dengan nonverbal sebagai media ekspresi secara proporsional tampak selaras dan seimbang. Selain itu ditunjang bentuk rias dan warna busana sama yang mencerminkan menyatunya rasa cinta antara peran pria dan wanita. Dalam bahasa verbal secara keseluruhan tampak adanya koherensi antaraspek–aspek kebahasaan yang terakumulasi menjadi satu kesatuan saling berkaitan sehingga mencerminkan kesatuan makna yang dapat mengarahkan penghayat terhadap kandungan isi. serta dukungan rasa musikal yang bernuansa percintaan. Kesemuanya tadi menunjukkan adanya keselarasan antara bentuk bahasa verbal 307 . ekspresinya semakin kuat dan mantap sebaliknya penarinya lemah kekuatan ekspresinya juga semakin lemah. Dengan demikian tampak bahwa sebenarnya bahasa verbal itu sebagai petunjuk isi telah mencerminkan kesatuan pesan yang utuh sedangkan bahasa nonverbal bertindak sebagai pendukung dalam menyampaikan isi supaya menjadi lebih mantap. Keselarasan ini tampak dalam bahasa verbal yang berupa tembang-tembang cinta didukung bahasa nonverbal yang berupa gambaran percintaan antara pria dan wanita yang menggunakan gerak-gerak yang merepresentasikan orang bercinta. Pada realitanya bahasa nonverbal pada tari pasihan memiliki kekuatan ekspresi sangat mantap ini juga sangat tergantung pada kualitas penari.simbolisasi keharmonisan hubungan antara peran suami dan istri sebagai bentuk suritauladan. Peranan penari sangat penting artinya jika penari atau seniman penyaji berkualitas.

Pernyataan tersebut muncul karena masyarakat penonton secara umum menghayati tari pasihan sebagai seni pertunjukan didasarkan pada pengamatan mereka hanya terbatas pada bentuk visual semata. Keseimbangan komposisi bahasa verbal dan nonverbal tercermin pada hampir seluruh sastra tembang yang terdapat dalam tari pasihan selalu diikuti dan didukung kinetic body moves. sehingga pandangan pakar tentang fungsi tari pasihan sebagai hiburan dan suritauladan merupakan pernyataan yang lebih tepat. Selain itu pandangan pakar tersebut juga mendapat rujukan dari pengamatannya bahwa pementasan jenis-jenis tari pasihan hanya pada resepsi perkawinan. selaras dan seimbang sehingga bentuknya tari pasihan sebagai media ekspresi seniman penyusun merupakan komposit isi dan bentuk visual yang menunjukkan keutuhan sebuah karya seni. Bagi penonton umum bentuk yang menarik dari sisi ketampanan dan kecantikan penari dengan dukungan rias dan busana yang bagus serta dukungan suasana iringan gamelan yang dirasa sesuai rupanya telah cukup sebagai hiburan. Hubungan bahasa verbal dan nonverbal saling komplementer menjadi bentuk yang menyatu. 308 .dengan nonverbal pada genre tari pasihan. Kehadiran tari pasihan dalam ritual resepsi perkawinan adat budaya Jawa merupakan salah bentuk hiburan dan suritauladan. Tari pasihan dipandang sebagai bentuk hiburan terutama oleh masyarakat penonton secara umum. kehadiran tari pasihan pada resepsi perkawinan selain sebagai hiburan. Pandangan pakar ini didasarkan pada pemahaman terhadap bahasa verbal dan penghayatan terhadap bentuk visual pada aspek nonbahasa yang terakumulasi dalam bentuk sajian tari pasihan. juga merupakan bentuk simbol percintaan yang bermakna bagi sepasang temanten untuk diteladani. Dari sisi pandangan pakar.

Perkawinan merupakan salah satu dan suatu saat peralihan yang terpenting pada life-cycle dari semua manusia di seluruh dunia. Kedudukan penari pria dan penari wanita dalam tari pasihan yang tampil secara berpasangan itu merupakan simbol dari percintaan. Hal itu dapat dicermati pada tari Karonsih mengangkat tema percintaan tokoh Panji Inukertapati sebagai suami dan tokoh Dewi Sekartaji sebagai istri. 1972: 89-90). baik secara nyata maupun gaib (Koentjaraningrat. bahwa setiap tingkat baru dalam life-cycle itu berarti menghantarkan si individu ke suatu tingkat dan lingkungan sosial yang baru dan lebih luas. namun tidak semua saat peralihan itu dianggap sama pentingnya pada tiap-tiap budaya. Begitu pula tari Bondhan Sayuk yang bersumber pada tema percintaan sepasang suami istri gambaran dari kalangan rakyat biasa. Sifat universal pesta dan upacara sepanjang lifecycle terjadi karena adanya suatu kesadaran secara umum di dalam budaya manusia. Di dalam aktivitas budaya manusia ada yang menganggap bahwa saat peralihan dari tingkat sosial tertentu ke tingkat sosial lainnya itu merupakan crisis-rites yang penuh bahaya. menunjukkan bahwa penari pria berperan sebagai suami dan penari wanita berperan sebagai istri. 309 . gawat. Pesta dan upacara pada saat peralihan sepanjang life-cycle itu merupakan suatu hal yang universal yang hampir ada pada setiap budaya manusia. sehingga perannya menjadi mutlak. Kiranya menjadi sangat tidak relevan dan tidak berarti bila penari diganti semua putri atau pria semua karena tidak lagi bermakna bagi sepasang temanten bahkan akan berkonotasi negatif. yaitu peralihan dari tingkat hidup remaja ke tingkat hidup berkeluarga.Pada hakekatnya tema percintaan yang digambarkan dalam genre tari pasihan adalah percintaan sepasang pria dan wanita.

1989: 157). pelaku. tidak menentu. Bagi masyarakat Jawa upacara tersebut merupakan sebuah upacara yang sangat sakral sepanjang daur hidupnya. Demikian halnya yang terjadi pada budaya masyakat Jawa di dalam melangsungkan sebuah upacara adat perkawinan. Dalam periode liminal ini seorang liminar berada dalam keadaan setengah-setengah. mereka takut tertimpa malapetaka (Soedarsono. Kesakralan itu sesuai dengan pendapat Soedarsono mengenai hal-hal yang dianggap penting dalam suatu upacara ritual yaitu waktu. pendidikan. dan pimpinan upacara tertentu. Berkaitan dengan tindakan simbolik untuk mendapatkan kekuatan magis simpatetis bagi masyarakat Jawa dalam perkawinan. dan kebahagiaan hidup. kedamaian. Bagi masyarakat Jawa yang masih lekat dengan budayanya. mengingat upacara-upacara pada masa-masa melampaui saat-saat krisis sering dimaksudkan untuk menolak bahaya gaib yang mengancam individu dan lingkungan. Untuk itu crisis-rites bagi seorang liminal sangat penting. Ketentuan-ketentuan yang telah berlaku dalam upacara tersebut mereka yakini jika dilaksanakan dengan taat dan benar membawa berkah dan keselamatan. perlengkapan. dan ragu-ragu (Darsiti Soeratman. tempat. yakni 310 . Kekuatan tersebut antara lain berupa magis simpatetis yang diwujudkan dengan tindakan atau perbuatan yang dapat melambangkan terjadinya pembuahan.Periode transisi juga disebut periode liminal yang merupakan fase tengah dalam skema ritus transisi dari praliminal untuk menuju pascaliminal. suritauladan yang bermakna untuk keselamatan. diperlukan kekuatan-kekuatan tertentu. segala ritual yang menyangkut dengan perjalanan hidupnya banyak diselimuti dengan simbolsimbol yang diharapkan dapat memberikan petuah. 1990: 4). sebaliknya jika pelaksanaan tidak mentaati konvensi-konvensi yang telah berlaku.

. yang diekspresikan para penari dengan membawa gambar tiruan organ-organ wanita dengan cara sebagai berikut. (dalam Richard Kraus. Pada masyarakat yang sudah lebih maju. Hampir dapat dipastikan bahwa pada setiap upacara perkawinan akan hadir tari pasihan. Pernyataan tersebut sejalan dengan pendapat Koch Grundberg yang menggambarkan sebuah tari kesuburan dari suku Indian Coneba di Brasil.adanya hubungan antara pria dan wanita seperti yang digambarkan pada tari pasihan.. berkembang menuju masyarakat modern. Suddenly they jump wildly along with violent coitus motions and loud groans. Hal ini terbukti pada masyarakat Jawa sekarang yang sudah mengalami kemajuan.. yakni adanya hubungan antara pria dan wanita. Rupanya. untuk mendapatkan kesuburan dengan cara menanggap jenis tari duet percintaan atau tari pasihan yang merupakan tarian kesuburan yang diekspresikan lewat sebuah garapan gerak-gerak presentatif dan representatif. They carry the vertility into every corner of the houses. 1991: 35). dilakukan secara simbolis. Mereka dalam melakukan upacara perkawinan. sudah mengakar pada budaya masyarakat Jawa.. they dance with the upper part of their bodies bent forwards. Salah satu sarana upacara perkawinan adat Jawa yang cukup penting adalah tari pasihan. Stamping with the right foot and singing.. 1969: 21).. tindakan yang dapat melambangkan terjadinya pembuahan. the jump among the women – the knock the phalli one against another... penuh simbolis dan mengandung makna nilai-nilai percintaan yang sangat berarti bagi kehidupan sepasang temanten.. Hubungan dimaksud pada masyarakat yang masih melestarikan budaya purba kadang-kadang dilakukan lebih realistis (Soedarsono dalam Soedarso. yaitu pada setiap ada acara upacara perkawinan akan hadir tari pasihan yang hendak 311 .

baik secara simbolik maupun sebagai santapan estetis terasa menyatu dengan situasi upacara. Simbolisme semacam ini tampak pada genre tari pasihan yang hadir dalam rangkaian upacara-upacara perkawinan adat Jawa. 312 . Kehadiran genre tari pasihan yang menggambarkan percintaan pria dan wanita dalam kehidupan sosial masyarakat terutama konteksnya pada ritual perkawinan adat Jawa rupanya mempunyai makna simbolik yang sangat penting terutama bagi kedua mempelai dalam rangka mempersiapkan diri untuk mengarungi kehidupan di masyarakat yaitu menuju terbentuknya keluarga yang bahagia. sehingga perlu perantara yang berwujud simbol-simbol dalam puisi bukan dalam bentuk pengetahuan. Seolah–olah keberadaan genre tari pasihan dalam budaya Jawa menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan terutama pada upacara-upacara perkawinan. Genre tari pasihan memiliki fungsi yang dalam terutama bagi sepasang mempelai temanten yang tercermin pada komplementer bahasa verbal dan nonverbalnya. Bagi masyarakat Jawa upacara perkawinan merupakan saat yang dianggap penting sehingga sarana–sarana yang mendukung peristiwa perkawinan sangat diperhitungkan sangat teliti. mengingat merupakan satu-satunya bentuk sajian tari yang bermakna. Hampir dapat dipastikan sarana yang digunakan sebagai kelengkapan berlangsungnya upacara perkawinan memiliki makna simbolik yang difungsikan untuk menasehati sepasang temanten agar dapat membangun keluarga yang bahagia lahir dan batin. Peristiwa budaya ini membuat kehadiran tari pasihan dalam upacara perkawinan sangat ditunggu-tunggu masyarakat. Menurut Clifford Geertz (1992: 6). bahwa ‘simbol’ tampak terbatas pada sesuatu yang mengungkapkan secara tidak langsung.diteladani oleh kedua mempelai.

Selain itu bentuk dukungan sugesti juga digambarkan ketika adegan penari putri memberikan boneka anak kepada 313 . Kekuatan imajinasi percintaan yang digambarkan sepasang kekasih dalam tari pasihan diharapkan dapat memberikan kekuatan magis simpatetis terhadap kehidupan jiwa sepasang mempelai temanten. Bentuk sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temanten terpancar dari kekuatan cinta sepasang penari pria dan wanita yang digambarkan dalam tari pasihan dimaksudkan dapat dihayati sepasang temanten sehingga bayangan-bayangan cinta yang diekspresikan oleh seniman mampu memicu dan memacu kehidupan imajinasi cinta sepasang temanten. dalam menjalani kehidupan berawal menghadapi permasalahan kemudian mendapat solusi yang menjadi berangsur-angsur membaik dan berakhir bahagia.Pada dasarnya genre tari pasihan gaya Surakarta merupakan simbolisasi percintaan sepasang manusia yang berjenis kelamin pria dan wanita. Rupanya terdapat korelasi yang sangat signifikan bahwa kehadiran tari pasihan dalam resepsi perkawinan diharapkan dapat diteladani dan memberikan sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temanten. Dalam perjalanan kisahnya percintaan sepasang suami istri yang digambarkan pada tari pasihan. Hal ini juga semakin tampak jelas digambarkan secara lebih aktual pada tari Bondhan Sayuk. yaitu mampu mempengaruhi kesuburan dalam proses perkawinan pasangan temanten. Selain itu kehadiran tari pasihan hampir dapat dipastikan dalam resepsi perkawinan. pasangan penari pria dan wanita setelah bercinta kemudian membawa boneka sebagai simbol telah diberi keturunan anak. Simbolisasi tersebut merupakan harapan besar yang dapat memberikan sugesti sepasang temanten untuk segera diberi keturunan anak.

terdapat pasangan suami istri yang romantis. dan sikap-sikap ideal bagi figur suami maupun figur istri merupakan pesan makna yang hendak disampaikan oleh seniman penyusun. Lewat kekuatan magis simpatetis yang diekspresikan genre tari pasihan akan dapat menyuburkan benih-benih cinta yang tengah berkembang pada sepasang temanten yang akhirnya mampu melahirkan buah cinta yang berupa momongan anak. Bagi penghayat pakar seni menangkap makna berdasarkan pementasan tari pasihan. bagaimanapun handalnya seniman 314 . Artinya pesan yang dimaksudkan seniman dengan makna yang ditangkap pakar seni sama-sama dalam koridor atau wilayah nilai-nilai percintaan. kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga. dan bahagia.temanten putri. Perbuatan simbolik dalam pertunjukan tari Bondhan Sayuk lebih tampak jelas dan lebih dekat kearah realitas tujuan bercinta dalam sebuah kehidupan keluarga. Perbedaan yang tampak adalah terletak pada kadar tebal dan tipisnya sebuah makna. Dari hasil komunikasi antara maksud seniman penyusun dengan tanggapan masyarakat menunjukkan adanya persamaan makna atau maksud. sebagai pewaris dan penerus keluarga. Tindakan atau perbuatan tersebut merupakan perbuatan simbolik yang menunjukkan adanya kekuatan – kekuatan tertentu yang tidak kelihatan mata yang bersifat magis simpatetis diharapkan dapat diterima temanten putri. harmonis. dan bahagia. Pada hakekatnya dalam komunikasi seni bahwa pernyataan atau maksud X tidak pasti ditangkap atau diterima persis X. Pada dasarnya kedua orang tua temanten mengawinkan putra-putrinya dengan cita-cita untuk segera diberi keturunan yang berupa anak. harmonis. Nasehat-nasehat cinta kasih yang merupakan makna dari bahasa verbal berupa: pasangan keluarga yang romantis.

Menurut Sutopo (1995: 12-13). berupaya menciptakan benda-benda pacu yang memiliki nilai estetik dalam rangka menyampaikan maksud. Sebagai penari atau penyaji. Pada prinsipnya penafsiran terhadap keragaman media komunikasi yang terdapat dalam tari tidak mampu hanya ditangkap secara rasional semata tetapi ketajaman rasa merupakan ujung tombak dalam menangkap makna yang sebenarnya. Kadar pemahaman makna dalam karya seni yang berupa komunikasi rasa. Bagi seniman dalam menciptakan karya seni. dalam penghayatan karya seni terjadi aktivitas kreatif. dan relaks serta memiliki sistem ekspresi dan evaluasi yang baik 315 . seorang seniman harus mempunyai kemampuan baik pisik maupun nonpisik. Seniman pada dasarnya tidak lain sebagai manusia yang menyediakan sebuah susunan benda pacu atau lambang-lambang sensa yang diharapkan akan ditafsirkan penghayat seperti yang dimaksudkan olehnya. yakni seniman dengan menciptakan kreativitas artistik sedangkan penghayat mencipta nilai dengan kreativitas estetik. Prinsip utama yang sangat penting dalam komunikasi seni adalah terjadinya komunikasi rasa. segar secara total baik jasmani maupun rohani.dalam menciptakan karya seni dan hebatnya pakar seni dalam menilai karya. enerjik. Kadar pemahaman juga sangat tergantung dari bekal yang dimiliki oleh seniman dan penghayat. Kelemahan yang terdapat pada genre tari pasihan sedikit banyak dipengaruhi kualitas penari yang lemah sebagai penyampai isi dan iringan tari yang berupa kaset rekaman atau CD. Kondisi pisik penari harus benar-benar dalam keadaan sehat. sedangkan penghayat berusaha menangkap maksud yang dikehendaki seniman tersebut dengan cara memberikan makna terhadap karya seni. prinsip kadarnya tetap berbeda tidak persis sama.

ia akan dapat mengarahkan sekaligus mendidik peningkatan daya apresiasi masyarakat terhadap karya-karya tari ciptaannya yang 316 . Persiapan nonpisik bagi penari berupa kepekaan rasa. terasakan hambar kosong belaka. Maka ia pun akan selalu patut dalam perannya. berbobot magis. luwes dan terampil dalam penampilan. ketepatan gerak ekspresi. sehingga sekalipun dapat menari Jawa dengan penguasaan teknik yang sangat baik. Keberhasilan mereka menyampaikan pesan-pesan tergantung dengan kemampuan menyeleksi materi-materi sebagai sarana ungkap dan tidak lepas dari kemampuan masyarakat penikmat untuk menangkap yang sudah barang tentu mengacu pada nilai-nilai budaya dan norma-norma sosial yang hidup dan berkembang. 1984: 31). akan terjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat dan dapat diprediksikan eksistensinya sebagai seniman mendapat dukungan dan pengakuan penuh dari masyarakat pendukungnya. Padahal ukuran kehebatan seorang penari klasik tradisional Jawa haruslah isi. ratio. dan kepekaan rasa menjadi sangat pokok sebagai rohnya dalam sajian tari. berada dalam puncak prestasi keteladanan (1994: 45-46). Selama seniman mampu mengungkapkan nilai-nilai budaya dan norma-norma sosial yang terangkum dalam sebuah pesan-pesan lewat karya tari secara indah. Generasi sekarang banyak yang awam terhadap mistik tersebut. Sebagai seniman. Selain itu penari harus juga mampu menguasai ruang dan waktu. kelenturan. dan bekal pengalamannya sehari-hari diharapkan mampu menafsirkan karya-karya tari dari seorang koreografer sehingga dapat menyajikan secara ekspresi sesuai dengan peran karakternya. ketrampilan. Menurut Wisnoe Wadhana : kesempurnaan menari Jawa klasik tradisional hanya dapat diraih apabila si penari juga mendalami mistik Jawa.seperti: keseimbangan. Peranan tubuh penari sangat vital untuk sarana ekspresi. dan penguasaan irama (Wisnoe Wadhana.

Dalam tari Jawa bentuk ekspresinya pada hakekatnya terwujud berdasarkan alam emosi. Seni tradisional termasuk tari sebagai budaya yang diwarisi secara turun-temurun sudah barang tentu memiliki kesinambungan dengan budaya sebelumnya. Rupanya hanya penari yang berkualitas yang terlatih yang mampu menyajikan dan menyampaikan isi atau makna yang terkandung dalam genre tari pasihan. Keluluhan jiwa seorang penari dalam menyajikan karakter tari merupakan puncak prestasinya sebagai seorang seniman. tetapi masing-masing generasi mencoba untuk mengadakan perubahanperubahan disesuaikan dengan kondisi kehidupan masyarakat pendukungnya. 1991:10). Kualitas seorang penari hanya akan tercapai bila penari mampu menghayati dan mengekspresikan sesuai dengan perannya secara totalitas jiwa.pada gilirannya menumbuhkembangkan kehidupan tari secara wajar. ia akan lemah dan tidak mampu mengekspresikan muatan isi seperti yang diharapkan oleh seniman pencipta. yaitu bentuk dan iramanya sangat kuat dilatarbelakangi oleh konsep keindahan dan tradisi kebudayaannya (Humardani. Ketajaman dan kepekaan rasa yang dimiliki penari dapat teraktualisasi dalam sebuah sajian tari dan mampu menggugah intuisi para penghayat. sehingga kekuatan ekspresinya akan mampu mengungkapkan isi secara mantap. 1980:46). Kelemahan dari kualitas penari sebagai penyampai isi tari yang dimaksudkan seniman merupakan kendala yang sangat vital karena hanya dari 317 . tidak terlatih. Gabungan garap pisik dan olah rasa yang matang akan menghasilkan kualitas penari yang mumpuni atau berbobot. Pewarisan budaya tidaklah bersifat statis. Pada dasarnya seniman hanya menyediakan suatu susunan pacu atau lambang-lambang sensa yang diharapkannya akan kita tafsirkan seperti yang dimaksudkan olehnya (Parker. Sebaliknya jika penarinya tidak berkualitas.

juga tidak mendapat dukungan ekspresi tembang dari penari secara langsung. Kekuatan ekspresi menjadi kurang mantap jika dengan iringan yang sifatnya tidak langsung dengan iringan gamelan.ekspresi penari makna tari dapat ditangkap atau dihayati oleh penonton. Hal ini merupakan kelemahan yang terdapat pada sajian genre tari pasihan jika tidak menggunakan iringan langsung dengan gamelan. Jika dengan iringan gamelan langsung. karena selain rasa musikal yang muncul sudah terasa lemah. kekuatan ekspresinya menjadi semakin mantap karena selain kekuatan rasa musikal yang muncul dari garap gendhing-gendhing karawitan juga didukung kekuatan penari dalam membawakan tembang akan tampak lebih ekspresip. Dalam sajiannya genre tari pasihan dapat diiringi gamelan secara langsung dan iringan tidak langsung yaitu dengan iringan kaset atau rekaman CD. 318 . Hasilnya akan berbeda jika sajiannya genre tari pasihan dengan iringan kaset atau rekaman CD. Secara ringkas dapat dikatakan kelemahan kualitas penari dalam menyajikan jenis tari pasihan akan mempengaruhi kekuatan ekspresi dan mengurangi pada kemantapan rasa penghayat.

Rupanya sudah mengakar pada budaya masyarakat Jawa. Simpulan. yaitu pada setiap ada acara upacara perkawinan akan hadir tari pasihan yang hendak diteladani oleh kedua mempelai. harmonis. meminta dan menyuruh terhadap sepasang temanten untuk memahami dan meresapi makna isi yang terkandung dalam bahasa verbal sastra tembang yang disampaikan dengan bahasa nonverbal dalam bentuk visual yang estetik supaya melakukan tindakan atau perbuatan seperti yang dicontohkan dalam pertunjukan tari pasihan tersebut. dan bahagia yang terdapat dalam tari tersebut dirasa sangat tepat dan ditangkap secara mantap sebagai suatu bentuk edukatif atau pengajaran yang bersifat tidak langsung dan sangat bermanfaat bagi sepasang temanten untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dalam menggapai keluarga bahagia lahir dan batin. Berdasarkan temuan penelitian dan hasil pembahasan dari keterkaitan tiga faktor objektif. dan afektif dapat disimpulkan bahwa kehadiran genre tari pasihan dalam upacara ritual resepsi perkawinan berfungsi sebagai hiburan dan suritauladan. Peranan genre tari pasihan dalam upacara ritual resepsi perkawinan memiliki makna yang cukup signifikan bagi sepasang temanten. Kehadiran genre tari pasihan dalam resepsi perkawinan dimaksudkan oleh seniman untuk mengajak. Maksud dan harapan seniman penyusun tersebut ditangkap oleh masyarakat sebagai sesuatu yang harus diteladani. 319 . genetik. mengingat gambaran percintaan pasangan suami istri yang romantis.BAB V PENUTUP A.

Bentuk seni pertunjukan genre tari pasihan merupakan komposit bahasa verbal dalam wujud sastra tembang yang terdapat dalam bentuk pathetan. Harmonisasi dan keseimbangan antara bahasa verbal dan nonverbal dalam genre tari pasihan telah mencerminkan kesatuan makna yang saling mendukung maka karya seni genre tari pasihan layak dan mantap sebagai seni pertunjukan yang berkualitas tinggi. dan iringan. rias. dan jineman dengan bahasa nonverbal berupa: tema. polatan. Dalam bahasa verbal telah tampak adanya koherensi antaraspek–aspek kebahasaan yang terakumulasi menjadi satu kesatuan saling berkaitan sehingga mencerminkan kesatuan makna yang dapat mengarahkan penghayat terhadap kandungan isi. Kedua komponen yaitu bahasa verbal sebagai isi atau pesan makna dan bahasa nonverbal dalam bentuk visual sebagai pendukung pemantapan makna. sindhenan. layak. kinetic body moves (gerak tubuh).Peristiwa budaya ini membuat kehadiran tari pasihan dalam upacara perkawinan sangat ditunggu-tunggu masyarakat. dan mantap sebagai sebagai hiburan dan suritauladan. ditunjukkan bahwa jenis-jenis tari pasihan tersebut sampai sekarang hidup dan 320 . Bahasa nonverbal merupakan bentuk visual yang bersifat estetik sudah memperlihatkan adanya koherensi antarelemen-elemen dan saling berkaitan untuk mendukung dalam menyampaikan isi supaya menjadi lebih mantap. yang sekaligus bertindak sebagai penyampai pesan makna yang secara komposit telah terkait dan saling melengkapi sebagai seni pertunjukan yang utuh dan mantap. baik secara simbolik maupun sebagai santapan estetis terasa menyatu dengan situasi upacara. pola lantai. mengingat merupakan satu-satunya bentuk sajian tari yang bermakna. Kekuatan genre tari pasihan sebagai seni pertunjukan yang berkualitas. gerongan. busana.

berkembang di masyarakat terutama pada upacara-upacara ritual resepsi perkawinan. Komplementer dua komponen bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan saling mengait. Dalam mendukung kesatuan makna. Dari beragam jenis TT yang paling dominan adalah TT direktif. TT komisif. dan TT patik. adapun bentuk perintah tersebut bersifat simbolik dalam bentuk yang estetik. TT direktif. Sebagai kandungan makna atau isi. Bentuk sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temanten terpancar dari kekuatan cinta sepasang penari pria dan wanita yang digambarkan dalam tari pasihan 321 . Kehadiran tari pasihan dalam resepsi perkawinan diharapkan dapat diteladani dan memberikan sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temanten. bahasa verbal berfungsi untuk melengkapi dan mendukung bahasa nonverbal sebagai bentuk visual. aspek bahasa verbal yang dimanfaatkan oleh seniman penyusun dalam karya tari pasihan adalah: TT asertif. Pada dasarnya bahasa verbal lebih berfungsi sebagai penunjuk isi sedangkan bahasa nonverbal sebagai penyampai isi supaya lebih menyentuh jiwa penghayat dan menjadi semakin mantap. Nilai-nilai keteladanan yang digambarkan pada genre tari pasihan pada hakekatnya merupakan bentuk simbolisasi cinta kasih sepasang suami istri. saling melengkapi sehingga bahasa verbal yang berupa sastra tembang mampu memperjelas dan menyatukan teks dengan bentuk visual dalam kesatuan makna yang utuh. Diharapkan dengan dominasi jenis TT direktif sangat tepat untuk menyuruh supaya meneladani. Pada prinsipnya masing-masing komponen baik bahasa verbal maupun bahasa nonverbal memiliki kedudukan yang sama yaitu berfungsi untuk mengekspresikan maksud seniman penyusun. TT ekspresif.

dan bahagia. harmonis. yaitu mampu mempengaruhi kesuburan dalam proses perkawinan pasangan temanten. Diharapkan kekuatan magis simpatetis dapat mendorong menyuburkan benih-benih cinta yang tengah berkembang dan mampu memberikan sugesti terhadap sepasang temanten untuk segera diberi keturunan yang berupa momongan anak. Diharapkan nasehat-nasehat tentang cinta kasih tersebut bermanfaat bagi sepasang temanten sebagai bekal untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dalam membangun sebuah keluarga. Kekuatan imajinasi percintaan yang digambarkan sepasang kekasih dalam tari pasihan diharapkan dapat memberikan kekuatan magis simpatetis terhadap kehidupan jiwa sepasang mempelai temanten. kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga. Tindakan atau perbuatan tersebut merupakan perbuatan simbolik yang menunjukkan adanya kekuatan–kekuatan tertentu yang tidak kelihatan mata yang bersifat magis simpatetis. B. Pada dasarnya kedua orang tua temanten mengawinkan putraputrinya dengan cita-cita untuk segera diberi keturunan yang berupa anak. Bentuk seni pertunjukan genre tari pasihan atau tari pasihan adalah karya seni dari seniman yang berkualitas tinggi dan telah teruji terbukti sampai sekarang 322 . dan sikap-sikap ideal bagi figur suami maupun figur istri. sebagai pewaris dan penerus keluarga.dimaksudkan dapat dihayati sepasang temanten sehingga bayangan-bayangan cinta yang diekspresikan oleh seniman mampu memicu dan memacu kehidupan imajinasi cinta sepasang temanten. Saran. Pada intinya bentuk daya pragmatik genre tari pasihan adalah berupa nasehat-nasehat tentang cinta kasih yaitu pasangan keluarga yang romantis.

c) Kritikus hendaknya lebih banyak memberikan penilaian terhadap karyakarya yang dipublikasikan supaya masyarakat mulai mengenal. 323 . b) Pengrawit dalam mengubah jenis-jenis gendhing maupun cakepan atau bahasa verbalnya yang terdapat pada genre tari pasihan hendaknya harus sadar dan mempertimbangkan segi fungsinya. Sehingga kemantapan dan validitas sebagai sebuah karya seni yang berkualitas tidak diragukan lagi untuk itu perlu peneliti sarankan kepada: a) Penari dalam mengubah pola-pola pakaian dan pola-pola sekaran yang terdapat pada genre tari pasihan hendaknya harus sadar dan mempertimbangkan segi fungsinya. Diharapkan kualitas dan kuantitas penilaian dari masyarakat terhadap tari semakin meningkat sehingga kehidupan seni pertunjukan semakin hidup dan berkembang dalam lingkungan budaya yang layak dan proporsinal.hidup dan berkembang sebagai hiburan dan suritauladan bagi bagi sepasang temanten dan masyarakat pada umumnya. mengetahui. hingga memahami tentang pesan makna yang disampaikan dari sebuah tari.

Oxford: Oxford University Press. PPS-UNS. Pragmatics ang Discourse. 1916. Penelope and S. Halliday. Fatimah Djajasudarma. London: Longman Group Ltd. Dwi Maryani. 1989.Yogyakarta: Kanisius. Edi Subroto. 1976. H. Tanpa Taun.DAFTAR PUSTAKA ACUAN Asim Gunarwan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 2002. Terjemahan: Rahayu S. Modul Pembelajaran: Pengantar Linguistik. Guy. Pengantar Metode Penelitian Linguistik Struktural. Cohesion in English. Jurnal Wiled. 1999.A. Cambridge: Cambridge University Press. Discourse. Dwi Yasmono. Cutting. Ferdinand. Perkembangan Tari Enggar-Enggar. EM Zul Fajri dan Ratu Aprillia Senja.C. T. Goody (ed) Questions and Politeness. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Metode Linguistik. ‘Universals in language usage: Politeness phenomena’. 1987. Bandung: PT Erisco. 2007. 1994. Jakarta: Depok. M. STSI: Surakarta. London and New York: Routledge. STSI: Surakarta. 1999. Levinson. 1993. Perubahan Tari Lambangsih. Geertz. Tanpa Tahun. Hidayat. Surakarta: UNS Press. 324 . Makalah berjudul “Implikatur Percakapan: Perspektif Grice dan Perspektif Sperber & Wilson”. Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia. Hafied. dalam Esther N.K. de Saussure. Joan. Surakarta: STSI Press. 2006. dan Ruqaiya Hasan. Brown. 1992. Cangara. Pengantar Ilmu Komunikasi. 2007. Cook. Pengantar Linguistik Umum. PN: Difa Publisher. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Kebudayaan dan Agama. . Clifford.D. Budhisantoso.

Geoffrey. Leech. 1998. Widaryanto. Nababan. The Problem of Meaning in Primitive Languages dalam Ogden. dan Trubner. 1987. London: Longman. 2003. Disertasi. Jumanto. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Lexy. Ibrahim Alfian. The Meaning of Meaning. Koentjaraningrat. Langer. . Malinowski. 1983. Jakarta: PT Rineka Cipta. Bahasa dan Sastra dalam Tinjauan Semiotik dan Hermeneutik. Trend.K. Universitas Indonesia: UI Press.J. 1984. Jacob L.A. Pemikiran & Kritiknya. 2004. P. Surakarta: STSI Press. STSI: Surakarta. Yogyakarta: UGM. Bloomington: Indiana University Press. Terjemahan: Fx. . Jakarta: Balai Pustaka. Yogyakarta: Lingkar Media. C.Paul. Terjemahan: M. 1923. Winfried. Karonsih. Pragmatik: Teori dan Analisis. Editor: Rustopo. Pragmatics: An Introduction.W. 1999. Charles. Lamuddin Finoza. 1991. Pengantar Ilmu Antropologi. London: Routledge. Mey. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Metodologi Penelitian Kualitatif. 1990. 325 . 1993. T. Benny H. Richards (ed). Kebudayaan Jawa. 1988. dan I. 2006. Prinsip-prinsip Pragmatik. Humardani. 2007. Bronislaw. Komunikasi Fatis Di Kalangan Penutur Jati Bahasa Inggris.D. Moleong. London: K.Hoed. W. UI: Jakarta. Maryono. Problematika Seni. Bandung:STSI. Noth. Suzanne K. Ilmu Pragmatik. Komposisi Bahasa Indonesia. Principles of Pragmatics. 2001.J. 2005. 1990. Jakarta: Diksi Insan Mulia.D. Kreidler. Makalah berjudul: “Disiplin Sejarah dalam Merekonstruksi masa Lampau untuk Menyongsong Masa Depan”. Introducing English Semantics. Handbook of Semiotics. Muhammad Rohmadi. Oxford: Blackwell. Oka. 1991.

Parker. M. Yogyakarta: Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI). Pengertian Seni. Surakarta: Universitas Sebelas Maret. 1980. H. Dasar-dasar Estetika. Pengantar Pengetahuan Dan Komposisi Tari. Metodologi Penelitian Kualitatif. Terjemahan: Yanti Darmono. Jakarta: Ghalia Indonesia. J. Sutopo. Yogyakarta: CV Karyono. Soedarso Sp. 326 .Pakubuwono IV. Jakarta: PN Buku Sastra Indonesia dan Daerah. 1978. 1969. 1995. Makalah berjudul: “Peranan Seni Budaya dalam Sejarah Kehidupan Manusia: Kontinuitas dan Perubahannya. Yogyakarta: Saku Dayar Sana. Yogyakarta: ISI. Teori Sosiologi tentang Perubahan Sosial. Terjemahan: SD. Kritik Seni Holistik Sebagai Model Pendekatan Penelitian Kualitatif. Essex: Longman Rogers. Richards. Cambridge: Cambridge University Press. Beberapa Catatan Tentang Perkembangan Kesenian Kita.C et al. Everett M and D. 1983. Longman Dictionary of Language Teaching and Applied Linguistics. Ramlan. 1990. Speech Acts: An Essay in The Philosophy of language. 1991. Jakarta: Yayasan Harapan Kita/BP 3 TMII. Soerjono Soekanto. Sunan. Indonesia Indah: Tari Tradisional Indonesia. 2003. Soedarsono. Communication Network: Towards a Newq Paradigm for Research. Yogyakarta: Gadjah Mada university Press. 1981. Rustopo. 1996. Surakarta: Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI). . Humardani. Ilmu Bahasa Indonesia. 1985. . Departemen P dan K. John R. Searle. Seni Pertunjukan. Sintaksisi. Sebelas Maret University Press.B. 1993. Discourse Studies: an Introductory Textbook.H. De Witt. 1987. Read. Terjemahan:Soedarso. . 2006. Perkembangan Gamelan Kontemporer. Lawrence Kincaid.M. Amsterdam: John Benjamins Publishing Company. Sp. 1992. Surakarta: Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI). 1979. New York: Free Press. . 1990. Renkema Jan. Herbert. Yogyakarta:UGM. R.

Surakarta: STSI Press. Wijana. 2006. Hartoyo. Wainwright. Singapore: National Institute of Education. 1997. 1949. George. Waridi. Surakarta: penari. Editor: Archibald A. Yule. pakar tari dan budayawan. Boyolali: penari dan penyusun tari. 327 . Terjemahan: Indah Fajar Wahyuni. Hill. Wisnoe Wardhana. Dewa Putu I. Surakarta: pakar tari. 2006. Karanganyar: penari. Karanganyar: penari. Karangannyar: pakar tembang dan karawitan. Jakarta: Sena Wangi. Linguistics. Gordon R. Urbana: University of Illinois Press. Terjemahan: Narulita Yusron. 6. Hari Subagya. Agus Tasman. Surakarta: pakar tembang dan karawitan serta penanggap. Nuryanto. Surakarta: penyusun tari.S. Nora Kustantina Dewi. 1994. Yogyakarta: Andi Offset. Pragmatics. Dasar-dasar Pragmatik. The Mathematical Theory of Communication. 1969. Claude M and Warren Weaver. 4. W. Jr. 2005. 7. 3. Perkembangan Tari Gambyong Gaya Surakarta 19501993. Smith. 1998. Ninik Sutrangi. Yogyakarta: PN BACA. J. 1994. Surakarta: penyusun tari dan penari. Spradley. Pragmatik. 10. Karawitan Wayang Kulit Purwa Gaya Surakarta. Terjemahan:Misbah Zulfa Elizabeth. Sri Rochana. Nartutik. 5. 1996. 8. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Sukoharjo: penari. Henry Lee. 2. DAFTAR NARA SUMBER 1. . Daryono. Rusini. Sukoharjo: vokal putri (pesindhen). 11. Metode Etnografi. 9.Shannon. Yogyakarta: PT Tiara Wacana. Rusdiantara. Membaca Bahasa Tubuh. Voice of America Forum Lectures. Darsono.P. Jurnal Wiled.

dan pakar tari. Sri Lestari. 13. Karanganyar: pakar tembang dan karawitan. 15. Sukoharjo: penangggap. Surakarta: pakar karawitan. 14. 16. Surakarta: penari. penyusun tari. 328 . Boyolali: penari. Slamet Riyadi. Slamet Suparno.12. Sunarno. Sudarmin.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful