1

KOMPONEN VERBAL DAN NONVERBAL DALAM GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA (Kajian Pragmatik) DISERTASI
Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan dalam Mencapai Derajat Doktor Program Studi Linguistik Minat Utama Linguistik Pragmatik dan Dipertahankan di Hadapan Sidang Senat TerbukaTerbatas di Bawah Pimpinan Rektor Universitas Sebelas Maret Prof. Dr. H. Much Syamsulhadi, dr., Sp.KJ. (K) Pada Hari Rabu Kliwon, 7 April 2010

Oleh : Maryono NIM. T 130906005

PROGRAM PASCASARJANA PROGRAM STUDI LINGUISTIK (S3) UNIVERSITAS SEBELAS MARET

2

SURAKARTA 2010 DISERTASI KOMPONEN VERBAL DAN NONVERBAL DALAM GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA ( Kajian Pragmatik)

Oleh : Maryono NIM. T 130906005

DISETUJUI OLEH PEMBIMBING
1. Prof. Dr. M. Sri Samiati Tarjana. NIP. 194 406 021 965 112 001 (Promotor) …………………………

2. Prof. Dr. T. Slamet Suparno, S.Kar.,M.S. NIP. 194 812 191 975 011 001 (Ko-Promotor )

…………………………

Mengetahui Ketua Program Studi S3 Linguistik

3

Prof. Dr. H. D. Edi Subroto. NIP. 194 409 271 967 081 001

KOMPONEN VERBAL DAN NONVERBAL DALAM GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA ( Kajian Pragmatik)
DISERTASI UNTUK MEMPEROLEH GELAR DOKTOR DALAM BIDANG LINGUISTIK MINAT UTAMA: LINGUISTIK PRAGMATIK DIPERTAHANKAN DI HADAPAN DEWAN PENGUJI PADA SIDANG SENAT TERBUKA TERBATAS PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA PADA TANGGAL: 7 APRIL 2010 OLEH: MARYONO LAHIR DI BOYOLALI, 15 JUNI 1960 DEWAN PENGUJI: 1. Prof. Dr. H. Much Syamsulhadi, dr., Sp.KJ. (K) (Penguji Utama) 2. Prof. Drs. Suranto, M.Sc., Ph.D. (Sekretaris merangkap Anggota) 3. Prof. Dr. M. Sri Samiati Tarjana. (Promotor merangkap anggota) 4. Prof. Dr. T. Slamet Suparno, S.Kar., M.S. (Ko-Promotor merangkap anggota) 5. Prof. Dr. H. D. Edi Subroto. (Anggota) 6. Prof. Dr. Soepomo Poedjosoedarmo. (Anggota) 7. Prof. Dr. H. Soetarno, DEA. (Anggota) 8. Dr. Sumarlam ., M.S. (Anggota) .................................... .................................... .................................... .................................... .................................... .................................... .................................... ....................................

4

Mengetahui Rektor Universitas Sebelas Maret

Prof. Dr. H. Much Syamsulhadi, dr., Sp.KJ. (K) NIP. 194611021976091001

SURAT PERNYATAAN
Yang bertanda tangan di bawah ini Nama NIM Program Program Studi Tempat/Tanggal Lahir Alamat : Maryono : T 130906005 : Pascasarjana (S3) UNS : Linguistik : Boyolali, 15 Juni 1960 : Melikan Rt 01, Rw 08, Palur, Mojolaban, Sukoharjo

Menyatakan

dengan

sesungguhnya

bahwa

disertasi

saya

yang

berjudul:

KOMPONEN VERBAL DAN NONVERBAL DALAM GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA (Kajian Pragmatik) adalah asli (bukan jiplakan) dan belum pernah diajukan oleh penulis lain untuk memperoleh gelar akademik tertentu. Semua temuan, pendapat atau gagasan orang lain yang dikutip dalam disertasi ini ditempuh melalui tradisi akademik yang berlaku dan dicantumkan dalam sumber rujukan dan atau dalam Daftar Pustaka. Apabila kemudian terbukti pernyataan ini tidak benar, saya sanggup menerima sangsi yang berlaku.

5

Surakarta, 7 April 2010 Yang membuat pernyataan

Maryono

KATA PENGANTAR
Syukur alhamndulillah penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, atas ridha dan kehendak-Nya, sehingga disertasi ini dapat selesai tepat pada waktu yang diharapkan. Sepenuhnya penulis sadari bahwa tanpa bantuan dari berbagai pihak, mustahil disertasi ini dapat selesai. Untuk itu, kanthi linambaran trapsilaning manah, perkenankan penulis sampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. H. Much Syamsulhadi, dr., Sp.KJ (K), Rektor UNS yang telah
memberi kesempatan penulis untuk menyelesaikan studi program doktor di Universitas Sebelas Maret Surakarta.

2. Prof. Dr. H. Soetarno, DEA, atas dukungan dan nasihat sejak masih menjabat
Ketua Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta sampai sekarang sehingga penulis dapat menyelesaikan program doktor di UNS.

3. Prof. Drs. Suranto, M.Sc., Ph.D, selaku Direktur Program Pascasarjana
Universitas Sebelas Maret Surakarta, yang telah memberi kesempatan penulis untuk menyelesaikan studi program doktor di UNS.

4. Prof. Dr. H. D. Edi Subroto, selaku Ketua Program Linguistik S3 UNS dan
atas bimbingan melalui berbagai disiplin yang telah diberikan kepada penulis sebagai bekal dalam menyelesaikan disertasi.

5. Prof. Dr. M. Sri Samiati Tarjana, sebagai promotor yang dengan sabar telah
membimbing, mengarahkan, dan mengoreksi sehingga penulis meraih gelar doktor.

6

6. Prof. Dr. T. Slamet Suparno, S.Kar., M.S, sebagai Ko-Promotor, yang telah
membimbing, dan mengoreksi sehingga penulis meraih gelar doktor.

7. Prof. H.B. Sutopo, M.Sc., M.Sc, Ph.D (almarhum) yang dengan sabar telah
membimbing, mengarahkan, mengoreksi, dan yang menghantarkan sampai ujian tertutup sehingga penulis dapat berlanjut meraih gelar doktor.

8. Prof. Dr. Soepomo Poedjosudarmo; Prof. Dr. Kunardi Hardjoprawiro, M.Pd;
Prof. Dr. Joko Nurkamnto; Prof. Dr. Maryono Dwiraharjo, S.U; Dr. Sumarlam., M.S, yang telah memberikan disiplin Linguistik untuk bekal penulis menyelesaikan disertasi.

9. Sunarno S.Kar., M. Sen, sebagai nara sumber primer tari Bondhan Sayuk dan
jenis tari pasihan lainnya, yang telah memberikan informasinya sehingga penulisan disertasi ini dapat selesai.

10. Sutarno Haryono S.Kar., M. Hum, sebagai teman seperjuangan dan
motivator yang mendorong penulis untuk studi S3 dan berhasil meraih gelar doktor.

11. Sri Wahyuningsih sebagai istri dan anak-anakku: Risang Janur Wendo, Laras
Ambika Resi, Linggo Sasikirana, dan Hoyi Anggraeni yang telah memberikan semangat dan doanya kepada penulis sehingga disertasi ini cepat selesai. 12. Selamat jalan istriku yang tercinta dan tersayang Sri Djarwanti S.Kar, ke hadapan-Mu ya Allah, semoga atas pengorbanan dan kasihmu selama ini, saya selalu berdoa semoga Allah SWT menerima dan memasukkan belahan hatiku dalam golongan orang ahli surga di hari Akhir. Amin. 13. Pemerintah Republik Indonesia yang memberikan kewenangan kepada Dirjen Dikti yang telah memberi Bea Siswa (BPPS). Akhirnya dengan segala kerendahan hati, penulis mohon maaf kepada semua pihak apabila terdapat kekurangan dan kesalahan yang penulis perbuat selama menyelesaikan disertasi ini. Semoga Allah tetap membimbing kami. Amin.

dan afektif sebagai sumber aliran nilai. sindhènan. dan (4) teori komunikasi. Disertasi.7 Surakarta. dan iringan gamelan (musik). Untuk mengungkap permasalahan yang menjadi tujuan penelitian disertasi ini. realisasi strategi kesantunan. Keempat teori tersebut digunakan untuk . dan mendalam untuk menemukan dan mendeskripsikan: (1) Komponen verbal genre tari pasihan berupa sastra tembang dalam syair: pathetan. (3) teori seni pertunjukan. peneliti menggunakan kajian: (1) teori pragmatik. (2) teori budaya. pola lantai. Bentuk penelitian yang digunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan kritik holistik yang secara fokus. gerak tubuh (kinetic body moves). 7 April 2010 Peneliti Maryono Maryono: T 130906005. Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta. mencatat dokumen dan arsip (content analysis). Tujuan penelitian untuk memahami makna bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan pada ritual perkawinan adat Jawa di Surakarta dengan menganalisis secara rinci. busana. objektif. fungsi TT. Teknik pengumpulan data yang sesuai dengan penelitian kualitatif dan jenis sumber data yang dimanfaatkan adalah: wawancara mendalam (in-depth interviewing). akurat. 2010. (3) Menjelaskan hubungan komponen verbal yang bersifat kebahasaan dan nonverbal yang bersifat nonkebahasaan genre tari pasihan. rias. gérongan. (2) Komponen nonverbal genre tari pasihan berupa: tema. lengkap. dan (5) Menjelaskan persepsi masyarakat terhadap kehidupan genre tari pasihan gaya Surakarta. KOMPONEN VERBAL DAN NONVERBAL DALAM GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA (Kajian Pragmatik). dan implikatur. ABSTRAK Topik penelitian ini adalah Komponen Verbal dan Nonverbal dalam Genre Tari Pasihan Gaya Surakarta (kajian Pragmatik). dan seimbang mengkaji tiga faktor yaitu genetik. Strategi yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus tunggal terpancang (embedded case study research). realisasi prinsip kerja sama. untuk mengungkap bentuk hubungan yang bersifat langsung dan tidak langsung dan implikatur genre tari pasihan. observasi. dan jineman. polatan (ekspresi wajah). Kajian komponen verbal ini untuk mengungkap: jenis-jenis tindak tutur (TT) yang dominan. (4) Menjelaskan latar belakang konsepsi penciptaan komponen verbal dan nonverbal genre tari pasihan.

8

menganalisis makna pragmatik genre tari pasihan gaya Surakarta secara komplementer. Secara prinsip teori pragmatik merupakan alat kajian yang utama terkait dengan sistem kebahasaannya yang terfokus untuk menganalisis jenis-jenis TT, jenis TT yang dominan, fungsi TT, realisasi prinsip kerja sama, realisasi strategi kesantunan, implikatur, dan daya pragmatik. Teori budaya dan teori seni pertunjukan untuk menganalisis faktor nonkebahasaan yang berupa unsur-unsur karya seni. Teori komunikasi untuk mengkaji keterkaitan antarfaktor genetik, objektif, dan afektif. Trianggulasi keempat teori tersebut merupakan sarana untuk menjamin dan mengembangkan validitas data dalam mengungkap makna pragmatik genre tari pasihan gaya Surakarta. Pokok-Pokok Temuan Penelitian. Jenis–jenis TT yang terdapat dalam genre tari pasihan gaya Surakarta terdiri dari beragam jenis yaitu: TT asertif, TT komisif, TT ekspresif, TT direktif, TT verdiktif, dan TT patik. Dari beragam jenis TT yang terdapat pada genre tari pasihan, jenis TT yang dominan adalah TT direktif. Pada penerapan prinsip kerja sama dalam bahasa verbal genre tari pasihan terjadi pelanggaran maksim kuantitas dan maksim cara, sedangkan maksim kualitas dan maksim hubungan dipatuhi. Prinsip kesantunan yang diterapkan dalam bahasa verbal genre tari pasihan didapatkan penggunaan strategi TT dengan kesantunan positif dan strategi TT secara tidak langsung (off record). Implikatur yang terdapat dalam jenis-jenis tari pasihan menunjukkan adanya simbolisasi percintaan sepasang suami istri yang dalam perjalanan kisahnya berawal dalam menghadapi permasalahan, kemudian mendapat solusi yang berangsur-angsur membaik dan berakhir bahagia. Kehadiran tari pasihan hampir dapat dipastikan disajikan dalam resepsi perkawinan merupakan wahana untuk mewisuda sepasang temantèn. Rupanya terdapat keterkaitan yang sangat erat antara kehadiran tari pasihan dalam resepsi perkawinan dengan sepasang temantèn. Implikatur yang utama pada kehadiran genre tari pasihan dalam resepsi perkawinan adalah untuk dapat diteladani dan memberikan sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temantèn. Merujuk implikatur-implikatur yang diperikan dari komplementer komponen verbal dan nonverbal jenis-jenis tari pasihan dapat diungkapkan bahwa bentuk daya pragmatik genre tari pasihan adalah berupa nasihat-nasihat tentang cinta kasih yaitu pasangan keluarga yang romantis, harmonis, dan bahagia; kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga; dan sikap-sikap ideal bagi figur suami dan figur istri. Nasihat-nasihat tentang cinta kasih tersebut bermanfaat bagi sepasang temantèn sebagai bekal untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dalam membangun sebuah keluarga. Bentuk genre tari pasihan merupakan perpaduan dua komponen besar yaitu verbal dan nonverbal. Berdasarkan jabaran komponen tersebut dapat diketemukan ciri karakteristik genre tari pasihan sebagai berikut: (a) bahasa verbal berbentuk tembang Jawa bernuansa cinta; (b) bahasa verbal yang digunakan berdasarkan status sosial; (c) hubungan komponen verbal dan nonverbal bersifat langsung dan tidak langsung; (d) tema percintaan; (e) cerita berakhir dengan bahagia (happy end); (f) disajikan berpasangan pria dan wanita; (g) pesannya berupa nasihat tentang cinta kasih; (h) gerak representatif dan presentatif diekspresikan penari dalam kualitas lembut, halus, dan romantis.

9

Berdasarkan temuan penelitian dan hasil pembahasan dari keterkaitan tiga faktor objektif, genetik, dan afektif dapat disimpulkan bahwa kehadiran genre tari pasihan dalam upacara ritual resepsi perkawinan berfungsi sebagai hiburan dan suritauladan. Kehadiran genre tari pasihan dalam resepsi perkawinan dimaksudkan oleh seniman untuk mengajak, meminta dan menyuruh sepasang temantèn untuk memahami dan meresapi pesan yang terkandung dalam bahasa verbal sastra tembang, yang disampaikan dengan bahasa nonverbal dalam bentuk visual yang estetik, supaya pasangan temantèn tersebut melakukan tindakan atau perbuatan seperti yang dicontohkan dalam pertunjukan tari pasihan tersebut. Maksud dan harapan seniman penyusun tersebut ditangkap oleh masyarakat sebagai sesuatu yang harus diteladani, mengingat gambaran percintaan pasangan suami istri yang romantis, harmonis, dan bahagia yang terdapat dalam tari tersebut dirasa sangat tepat dan diterima dengan jelas, mantap sebagai suatu bentuk pendidikan yang bersifat tidak langsung dan sangat bermanfaat bagi sepasang temantèn untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dalam menggapai keluarga bahagia lahir dan batin. Maryono: T 130906005. 2010. VERBAL AND NONVERBAL COMPONENTS IN THE SURAKARTA STYLE PASIHAN DANCE GENRE (A Pragmatic Study). Dissertation. Postgraduate Program Sebelas Maret University Surakarta.

ABSTRACT
The topic of this research is Verbal and Nonverbal Components in the Genre of the Pasihan Dance Surakarta Style. Using a pragmatic approach the aim of the research is to understand the meaning of the verbal and nonverbal language in the pasihan dance genre (a dance genre with a romantic or love theme) in the traditional Javanese wedding rituals in Surakarta by carrying out a detailed, accurate, and in-depth analysis, in order to discover and describe: (1) the verbal components in the pasihan dance genre, in the Javanese poems in: pathetan, sindhènan, gérongan, and jineman. This study of the verbal components is intended to reveal: the dominant types of speech acts, the functions of the speech acts, the realization of the cooperative principles, the realization of the politeness principles, and the implicatures; (2) the nonverbal components in the pasihan dance genre, in the form of: themes, kinetic body moves, facial expressions (polatan), floor designs, make-up, costume, and musical accompaniment played on the gamelan; (3) the relationship between the verbal and the nonverbal components in the pasihan dance genre, in order to reveal the direct and indirect relationships and implicatures of the pasihan dance genre; (4) the background of the conception of the creation of verbal and nonverbal components in the pasihan dance genre, and (5) people’s perception of the existence of the Surakarta style pasihan dance genre. The research takes the form of a qualitative study using a critical holistic approach which provides a focused, comprehensive, and balanced study of three factors, namely genetic, objective, and affective factors as the source of the values. The strategy used for this research is that of an embedded case study. The techniques used for collecting data, in accordance with the qualitative research and types of data sources available, include in-depth interviews, observation, and content analysis.

10

In order to discover the issues which are the object of the research for this dissertation, the researcher uses theoretical studies of (1) pragmatic theories, (2) cultural theories, (3) performing arts theories, and (4) communication theories. These four theories are used to provide a complementary analysis of the pragmatic meaning of the Surakarta style pasihan dance genre. In principle, the main tool is the pragmatic theory, in connection with the linguistic system which focuses on analyzing the different types of speech acts, the dominant types of speech acts, the function of the speech acts, the realization of the cooperative principles, the realization of the politeness principles, the implicatures, and the pragmatic power. The cultural and performing arts theories are used to analyse nonverbal language factors which are in the form of elements of the work of art. The communication theories are used to examine the connection between the genetic, objective, and affective factors. A triangulation of these theories is used as a means of securing and developing the validity of the data to discover the pragmatic meaning of the Surakarta style pasihan dance genre. The main findings of the research showed that there are various kinds of speech acts found in the Surakarta style pasihan dance genre, numely: assertive, commissive, expressive, directive, verdictive, and phatic. Of all these different types, the most dominant kind of speech act found in the pasihan dance genre is the directive speech act. The application of cooperative principles in the verbal language of the pasihan dance genre of shows a deviation in maxims of quantity and maxims of manner, while maxims of quality and maxims of relation are adhered to. The principle of politeness applied in the verbal language of the pasihan dance genre uses the strategy of positive politeness and performs off record speech acts. The implicature found in the different types of pasihan dance indicates that there is a symbolization of love between husband and wife, who throughout the course of the story encounter problems but subsequently find a solution. It gradually resolves their difficulties and ultimately brings about a happy ending. The pasihan dance is almost always performed at wedding receptions which are a medium for officially announcing the marriage of a newly wed couple. There is a very close connection between the presence of the pasihan dance and the bride and groom at a wedding reception. The main implicature of the presence of the pasihan dance genre at a wedding reception is that it sets an example and offers indirect suggestions for the newly wed couple to follow. With reference to the implicatures obtained from the combination of verbal and nonverbal components in different types of the pasihan dances, show that the form of pragmatic power in the pasihan dance genre is advise about love and affection, for married couple to enjoy a romantic, harmonious, and happy relationship; to display equality and togetherness; and to show an ideal attitude between husband and wife. This advice about love and affection is beneficial for a newly married couple. It provides them with knowledge to lead a better life as they set out to build a new family. The form of the pasihan dance genre is a combination of two main components, namely verbal and nonverbal. Based on the description of these two components, the characteristics of the pasihan dance genre are as follows: (a) Verbal language in the form of Javanese sung poems with a romantic nuance; (b) Verbal language which is used according to social status; (c) A direct and indirect connection between the verbal and nonverbal components; (d) A romantic theme; (e)

11

A story with a happy ending; (f) A performance by a pair of dancers, one male and one female; (g) Advice about love affection; (h) Representative and presentative movements expressed by the dancers with soft, refined, and romantic qualities. Based on the findings of the research and the results between the objective, genetic, and affective factors, it can be concluded that the performance of the pasihan dance genre at a wedding reception for the newly married couple to follow. The presence of the pasihan dance genre at a wedding reception is intended by the performing artists as a means of inviting, asking, and telling the bride and groom to understand and absorb the message in the verbal language of the text, and conveyed using nonverbal language in a visual and aesthetical form. It as hoped that they will act and behave like the example displayed in the performance of the pasihan dance. The hope and intention of the artists is captured by the audience who view the dance as a good example to follow, recognizing it as a portrayal of a romantic, harmonious, and happily married couple which is felt to be highly appropriate and also educative in an indirect way. This is highly beneficial for the newly married couple as they enter into their new lives, and strive to create a happy family, in both worldly and spiritual aspects.

DAFTAR ISI
Halaman JUDUL ……………….………………..………………………………….….…...i PENGESAHAN……………………………………………….…….………….….ii PEMERTAHANAN…………………………………………………………….…iii PERNYATAAN………………………………………………………..………….iv KATA PENGANTAR……………………………………………………………..v ABSTRAK…………………………………………………………….…….……vii ABSTRACT……………………………………………………………..………… ix DAFTAR ISI ………………………………………………………….…..……....xi DAFTAR TABEL ………….……………………………………………….......xvii DAFTAR BAGAN………………………………….………..……...……..........xix DAFTAR GAMBAR / FOTO……………………………………..………..……xx DAFTAR SINGKATAN ……………………………………..……….……...…xxi DAFTAR LAMPIRAN ……………………………………….……....…..…....xxii BAB I PENDAHULUAN ………………………………………….……….……. 1 A. Latar Belakang Masalah………..……..………………….……….……....1 B. Rumusan Masalah …………………………………...……….......……..16 C. Tujuan Penelitian………………………………………..………….........16

12

D. Manfaat Penelitian……………………………………….........................17 BAB II KAJIAN TEORI, PENELITIAN YANG RELEVAN, DAN KERANGKA PIKIR……………………………………………………………………………..18 A. Kajian Teori……………………………………………………………............18 1. Teori Pragmatik…………………....................……………..............................20 a. Konteks dalam pragmatik………………………………..………….………23 b. Teks………………………………………….……………...........................29 c. Tindak Tutur (TT)…………………………………….…………….….…...39 c.1. Tindak Tutur menurut Austin (1956)……………..............................41 c.2. Tindak Tutur menurut Searle (1979)………….. .………..………….45 c.3. Tindak Tutur menurut Yule (1996)…………………........………….46 c.4. Tindak Tutur menurut Kreidler (1998)…………...............................48 d. Prinsip Kerja Sama (PKS)…… …………………………………………....53 e. Prinsip Kesantunan (PS)…………………….…….……….………….…......58 e.1. Skala Kesantunan Leech (1983)……………………..…….................58 e.2. Skala Kesantunan Brown dan Levinson (1987)………..………….....60 f. Implikatur …………………………………….…….…………….....…….....62 g. Daya Pragmatik…………………………………….…………………….….64 2. Teori Budaya………………………………………………...………….……...66 a. Bentuk Ide atau Gagasan……...……………………….…………....….70 b. Bentuk Aktivitas………….……………………….…..………….....…70 c. Benda Fisik………………………………………………….….…....…71 3. Teori Seni Pertunjukan…………………………..…………………............…..71 a. Tema ………………………………………………………....….….…74 b. Gerak Tubuh (kinetic body moves)………………………. …….….…74 c. Polatan (ekspresi wajah) ……………………………..…….…..…......77 d. Pola Lantai (floor design)……………………………… ……...……...78 e. Rias ……………………………………………….……….….……….79 f. Busana ………………………………………………….……….……..80 g. Iringan (gendhing beksa) ………………………………………….......81 h. Estetik…………………………………………....................………….82

13

4. Teori Komunikasi ………..…………………….…...........................................83 a. Komunikator…………………………………………………....…..…85

b. Sarana atau Media…………………………………………….….…....86 c. Komunikan……………………………………….………….………...88 B. Penelitian yang Relevan…………………..…………………………..…...…..90 C. Kerangka Pikir…………………………………………………....…….……...91 BAB III METODOLOGI PENELITIAN……………………………….….….…93 A. Sasaran dan Lokasi Penelitian…………………..…………..……. …….…….93 B. Bentuk dan Strategi Penelitian…………………………...................................94 C. Jenis Data dan Sumber Data…………………….………………………….…96 D. Teknik Cuplikan (sampling)…………………………… …………….............97 E. Teknik Pengumpulan Data ……………………………….…..……………….98 1. Wawancara Mendalam (in-depth interviewing)………..............................98 2. Observasi …………………………………………………………....…..102 3. Mencatat Dokumen dan Arsip (content analysis)………..........................103 F. Pengembangan Validitas ………………………………..........………..….…103 G. Teknik Analisis………………………………………………..………… ….106 BAB IV KOMPONEN VERBAL GENRE TARI PASIHAN GAYA

SURAKARTA......................................................................................................110 A. Komponen Verbal…………………………………………………….….…..110 B. Komponen Verbal Tari Karonsih………………………………………….…112 1. Teks Pathetan Wantah Laras Pélog Pathet Lima…………..………. ….112 a. Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah………..........................…. …113 b. Konteks ………………………………………............................. …..114 c. Fungsi Tindak Tutur ................…………………………………..…..115 d. Realisasi Prinsip Kerja Sama…………………..…..............................116 e. Realisasi Prinsip Kesantunan ……………………...............................117 f. Implikatur …………………………..………...................................…117 2. Teks Sindhènan Pangkur Ngrénas Laras Pélog Pathet Lima ……….....118 a. Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah.…………….………….....….118 b. Konteks …………………………………..........................……..…...119

................135 c................121 e.....…....................... Konteks ………………………………………....……150 2.154 . Komponen Verbal Tari Bondhan Sayuk………………………………....122 f.….....………...... Fungsi Tindak Tutur ………………………………………….................…... Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah …………….…132 4...................................…125 b..139 e....…....................................….... Realisasi Prinsip Kesantunan …………….........…...... Teks Jineman Sayuk Laras Pélog Pathet Barang ……...........…...... Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah....…144 1............ Realisasi Prinsip Kerja Sama ……………………........120 d.... Realisasi Prinsip Kesantunan …………….…144 b.137 d. Fungsi Tindak Tutur ………………………………………...….. Konteks …………………………………….142 C.124 a................…................149 f..…......147 d........... Realisasi Prinsip Kerja Sama ……………………... Realisasi Prinsip Kerja Sama …................…151 b....…...145 c........ Implikatur ………………………….....……. Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah............... Teks Sindhènan Kinanthi Sandhung Laras Sléndro Pathet Manyura …... Teks Sindhènan Mijil Sulastri Laras Pélog Pathet Barang.…................131 f......................126 c..............……….141 f.......…123 3..... Realisasi Prinsip Kerja Sama ……………….........……………..132 a...……….................... ....………........ Implikatur ………………………….………...........…………...... Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah ……………..... Realisasi Prinsip Kesantunan ……….................. Teks Gérongan Lambangsari Laras Sléndro Pathet Manyura ………..... Implikatur …………………………. Fungsi Tindak Tutur ………………………………………... Konteks ………………………………………...... Implikatur …………………………..…....…….....…........14 c.....148 e.......…....153 d.. Fungsi Tindak Tutur ………………………….........144 a......…................….......... Konteks ………………………………………...……........... Realisasi Prinsip Kesantunan ……………….…133 b.........……………......….. Realisasi Prinsip Kerja Sama ………………….………150 a.........………......152 c....………………...............…………….......129 e... Fungsi Tindak Tutur ………………………………………...........................…...….….…..................128 d.....

.....198 6.....……………... Rias dan Busana…………………………………. Iringan Tari……………………………………....... Fungsi Tindak Tutur ……………………………….................166 d.…..……………………...220 2...........162 f.......…........168 f....…...... Tema………………………………. Polatan (ekspresi wajah)…………………………………………….…...…………………………….... Konteks ……………………………………….......................…………………....….……. Polatan (ekspresi wajah)…………………..…... Realisasi Prinsip Kerja Sama ………………......……163 4........220 1..………..............…………169 BAB V KOMPONEN NONVERBAL GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA………………………………………………………….. Komponen Nonverbal Tari Bondhan Sayuk……………………….160 d.….…164 b.............…........ Kinetic Body Moves atau Gerak Tubuh ….…….... Realisasi Prinsip Kesantunan ……………...15 e.………...……...…….....…158 b....…....…………. Komponen Nonverbal Tari Karonsih………………………...................... Realisasi Prinsip Kesantunan ……....……….............173 2.………...………….... Fungsi Tindak Tutur …………………………………...……..……….......…….........182 3..............234 .. Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah.......200 7..……...…......…........... Implikatur …………………………...........216 C... Komponen Nonverbal………………………………………………….…………….....……………….…..197 5..…....... Teks Gérongan Lancaran Sayuk Laras Pélog Pathet Barang …..172 1....... Implikatur …………………………............171 B........... Kinetic Body Moves atau Gerak Tubuh …..........................164 a.......……171 A...….....……………..….... Tema………………………………………........165 c.......…..... Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah ………...167 e....….....………………………....…...... Pola Lantai……………............ Teks Gérongan Ladrang Sayuk Laras Pélog Pathet Barang ….....194 4.…….........……....………………………….……......…........... Realisasi Prinsip Kesantunan ……………..159 c.…..157 a...... Realisasi Prinsip Kerja Sama …………………..157 3......…224 3.....….......…………........ Estetik……………………………………………....155 f..161 e. Konteks ……………………………………. Implikatur ………………………….

Faktor Afektif……………………………………………. .310 1.....………………………….259 3.……. Estetik. Persepsi Masyarakat terhadap Genre Tari Pasihan……………………. Adegan Makarya (bekerja)……………………...…....247 8. Perspektif Budaya…………………………………………..252 A.… …..…………….…253 2.……..…... Pokok-Pokok Temuan Penelitian…………………………………… ... Genre Tari Pasihan sebagai Keteladanan…………….16 4..323 B.…...289 BAB VII KONSEPSI PENCIPTAAN DAN PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA………………295 A..………….…..….... Hubungan Komponen Verbal dengan Nonverbal Tari Bondhan Sayuk….…253 1..…314 BAB VIII PEMBAHASAN………………………………………………...…………………..…. Adegan Pencarian………………………. Adegan Kasmaran (percintaan)………………………………………..311 2.320 1.237 6.236 5...…………..238 7.320 A...…………………………………….…277 1. Faktor Objektif………………………………………………. …....…..….248 BAB VI HUBUNGAN KOMPONEN VERBAL DAN NONVERBAL GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA………………………………….324 2..……………. Properti Boneka………………………………………..…………………………………………….322 3....… …320 2..… .…………………... Genre Tari Pasihan sebagai Hiburan………………. Rias dan busana…………………………………...….. Adegan Pertemuan……………………………………………………. Perspektif Substansi Tari: Komponen Verbal dan Nonverbal…..…...344 .281 3.... ….… ….... Iringan Tari..337 3. Analisis…………………………………………………………..…...295 B..…………………….. Hubungan Komponen Verbal dengan Nonverbal Tari Karonsih………..324 1..…………... Adegan Bahagia………………………………. Faktor Genetik………………………………………………. Pola Lantai……………………………….278 2. ….264 B... Adegan Kekudangan (menimang anak)……………………………….. Konsepsi Penciptaan Komponen Verbal dan Nonverbal Tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk………………………………………..……………. Perspektif Pragmatik…………………………....………………….…..……………………....… .

.…..….…117 3.………..…...4 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Isen-isen………………. Tabel 4....113 2.118 4..370 C..5 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Sindhènan Kinanthi Sandhung…………………………………………………………………….1 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Pathetan Wantah…….379 LAMPIRAN……………………………………………………….…………………… …366 A.6 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Gérongan Lambangsari………………………………….17 4....………372 DAFTAR PUSTAKA ACUAN…………………………………………. Implikasi………………………………………………………… …. Simpulan…………………………………………………………… .. Perspektif Historis……………………………………….…... Tabel 4.....…366 B.………………………………. Saran…………………………………………………………….…..3 Jenis ... Tabel 4. Tabel 4. Tabel 4.2 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks isian…….123 5.…...… .….…….380 DAFTAR TABEL 1.....125 6.jenis TT yang melekat pada teks Sindhènan Pangkur Ngrénas……………………………………………………………..…357 BAB IX PENUTUP…………………………………….…...…375 DAFTAR NARA SUMBER………………………………………….….133 .. Tabel 4..

189 19.193 22....151 11..…170 15.. Tabel 5... 14 Persentase jenis –jenis TT pada komponen verbal tari Bondhan Sayuk…………………………………………………………………. Tabel 5..….193 21.7 Rekapitulasi gerak representatif tari Karonsih………. Tabel 5..9 Jenis –jenis TT yang melekat pada teks Sindhènan Mijil Sulastri…………………………………………….188 18.8 Persentase jenis –jenis TT pada komponen verbal tari Karonsih….1 Jenis-jenis gerak representatif tari Karonsih adegan I: pencarian.. Tabel 5.. Tabel 5..... Tabel 5....... Tabel 4.……...……144 10..13 Rekapitulasi jenis-jenis TT pada komponen verbal tari Bondhan Sayuk……………………………………………………………………....….7 Rekapitulasi jenis-jenis TT pada komponen verbal tari Karonsih…143 8......….. ………………………………………………….185 17.... ………………………….5 Jenis-jenis gerak representatif tari Karonsih adegan III: bahagia ……………………………………. Tabel 4.…. Tabel 4. Tabel 4.. Tabel 4..184 16..4 Jenis-jenis gerak presentatif tari Karonsih adegan II: pertemuan ………………………………………………. Tabel 5.18 7.…194 .9 Persentase gerak representatif dan presentatif tari Karonsih..143 9.....158 12..164 13..190 20.…………….2 Jenis-jenis gerak presentatif tari Karonsih adegan I: pencarian...……….……….…..….......…...6 Jenis-jenis gerak presentatif tari Karonsih adegan III: bahagia ………………………………………………..10 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Jineman Sayuk……………………………………………………………………...…... Tabel 4.………...….3 Jenis-jenis gerak representatif tari Karonsih adegan II: pertemuan. Tabel 4.…….. Tabel 5.....11 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Gérongan Ladrang Sayuk……………………………………………………………………….….194 23. Tabel 5..……170 14. Tabel 4..…….….12 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Gérongan Lancaran Sayuk…………………………………………………………………….………………………....….8 Rekapitulasi gerak presentatif tari Karonsih………. ……………………………………….

...1 Model Analisis Interaktif……………………………………... Tabel 5.. 17 Persentase gerak representatif dan presentatif tari Bondhan Sayuk……………………………………………………………………....…...234 31.….......…231 26...…….... Tabel 5.... Tabel 5...... Tabel 5..………….... Tabel 5..………....... Tabel 5..…229 25.………….108 .12 Jenis-jenis gerak representatif tari Bondhan Sayuk adegan II: kekudangan …………………………………... 15 Rekapitulasi gerak representatif tari Bondhan Sayuk….…232 28....…………....…233 30.231 27.... 16 Rekapitulasi gerak presentatif tari Bondhan Sayuk…....13 Jenis-jenis gerak presentatif tari Bondhan Sayuk adegan II: kekudangan ……………………………………....…..…..….....91 Bagan 3....19 24..…234 DAFTAR BAGAN Bagan 2. Tabel 5. .…233 29.10 Jenis-jenis gerak representatif tari Bondhan Sayuk adegan I: kasmaran ………………………………….........1 Kerangka Kritik Holistik Komponen Verbal dan Nonverbal Genre Tari Pasihan gaya Surakarta……………………………….......…..14 Jenis-jenis gerak representatif tari Bondhan Sayuk adegan III: makarya ………………………………..11 Jenis-jenis gerak presentatif tari Bondhan Sayuk adegan I: kasmaran ……………………………….. Tabel 5...

............199 ........199 Gambar 3: pola lantai garis lengkung untuk mendukung suasana bahagia..........20 DAFTAR GAMBAR / FOTO Gambar 1: pola lantai garis lurus untuk mendukung suasana tegang.............. ketika Sekartaji berupaya mencari Panji. ketika Panji dan Sekartaji srisik bergandengan tangan..............................199 Gambar 2: pola lantai garis lengkung untuk mendukung suasana romantis................ ketika Panji ulap-ulap kiri dan Sekartaji trap jamang....................

…........................................... ketika istri hendak meninggalkan suami.....21 Gambar 4: pola lantai garis lurus untuk mendukung suasana tegang......274 Foto: 8.286 DAFTAR SINGKATAN ASKI CD D–a D – en : Akademi Seni Karawitan Indonesia : Compact Disk : Dasar .. Tari Bondhan Sayuk: Suami dan istri dalam kebersamaan..........…....279 Foto: 9 Tari Bondhan Sayuk: Istri meminta suami untuk bekerja………….......282 Foto: 10 Tari Bondhan Sayuk: Suami meminta anak kepada istri…………........a : Dasar .....268 Foto: 6 Tari Karonsih: Panji dan Sekartaji memadu asmara…………........….......238 Gambar 6: pola lantai garis lengkung untuk mendukung suasana bahagia..........…. ketika istri dan suami ènjèr ridhong berputar... ketika istri dan suami lilingan kebyok sampur........….172 Foto: 2 Tari Bondhan Sayuk: Suami dan istri dalam kebahagiaan …………............262 Foto: 5 Tari Karonsih: Panji dan Sekartaji memadu asmara……………….............283 Foto: 11 Tari Bondhan Sayuk: Suami bersenandung sambil menimang anak....….....en ........….....220 Foto: 3 Tari Karonsih: Panji mengamati Sekartaji dalam suasana sedih………...237 Gambar 5: pola lantai garis lengkung untuk mendukung suasana romantis.260 Foto: 4 Tari Karonsih: Panji dan Sekartaji dalam suasana romantis…………........…272 Foto: 7 Tari Karonsih: Panji dan Sekartaji dalam suasana bahagia…….........238 Foto: 1 Tari Karonsih: Panji dan Sekartaji dalam kemesraan dan kebersamaan…………………………………………………....…........285 Foto: 12 Tari Bondhan Sayuk: Suami dan istri dalam kebahagiaan…………...............

ake : Konservatori Karawitan : Kanjeng Raden Tumenggung : Magister Seni : Prinsip Kesantunan : Prinsip Kerja Sama : Putra : Putri : Penutur : Petutur (mitra tutur) : Pakempalan Kagunan Jawi : Raden : Raden Mas : Raden Tumenggung : Tindak Tutur : Verba .an : Dasar ...380 Lampiran 2. VCD Tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk…………………….T TT V–a VCD : Dasar .ana : di .Dasar .22 D – an D – ana di – D – ake KOKAR KRT M.M R. Glosarium……………………………………………….a : Visual Compact Disk DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1.Sn PS PKS Pa Pi Pn Pt PKD R R..…………380 .

23 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah .

sebagian besar individu tersebut melakukan melalui modalitas utama komunikasi manusia yakni bahasa. sebagai sarana mewujudkan cita-citanya. dapat dikatakan belum mempunyai bekal. “Without language there could be no culture. Berbagai strategi belajar untuk menjadi manusia yang diperlukan agar dapat terinkulturasi dan tersosialisasi sepenuhnya. hal: 1). bahasa adalah sistem bunyi ujar yang bersifat arbitrer yang dipergunakan oleh manusia dalam suatu masyarakat (language society) untuk berkomunikasi secara umum dan wajar. Di situ manusia dalam masyarakat atau subkultur dengan bahasa yang sama saling berinteraksi sehingga mampu berkomunikasi berdasarkan pengalaman dan harapan kultural yang sama. Betapa pentingnya bahasa bagi kehidupan manusia kiranya tidak perlu diragukan lagi. Bahasa sendiri merupakan sistem dari budaya manusia. with language and culture. . Setiap individu lahir dalam masyarakat yang telah berjalan. Ketergantungan antarindividu merupakan faktor utama manusia untuk saling berkomunikasi dalam rangka meraih kehidupan yang berbudaya. 1969: 104-105). Sejalan dengan pernyataan tersebut bahasa merupakan suatu sistem simbol-simbol vokal yang dipelajari dan dimiliki secara bersama. sistem yang terpenting di mana sistem-sistem lain terutama dicerminkan dan ditransmisikan. karena tanpanya manusia tidak mampu berkomunikasi dan berinteraksi dengan dunia luar dirinya.24 Manusia hidup tidak mampu lepas dari lingkungan dan bertahan sendiri. and man remained hominoid. he could and did become hominine” (Smith. maka dia harus belajar menjadi manusia dengan menghayati atau mendalami budaya kelompoknya. Menurut Edi Subroto (tanpa tahun. betapapun hebat dan kuatnya.

Kemunculan secara mandiri seperti: bunyi dalam musik. adapun bentuk yang utama yakni: gerak. Pragmatisme pada seni pertunjukan dapat ditunjukkan dari wujudnya yang memiliki bahasa verbal dan nonverbal saling komplemen yang selalu hadir dalam konteks. warna pada seni rupa. Tari. dan lainnya. bunyi. dan bahasa) banyak terdapat pada seni pertunjukan. Wayang Golek. . Seni pertunjukan sebagai bahasa seniman untuk berkomunikasi dengan penghayat merupakan bahasa pragmatik yang sangat khas penuh dengan nuansa keindahan. Kethoprak. Langendriyan. bunyi. bergantung kebutuhan.25 Dalam kehidupan kesehariannya manusia berkomunikasi lewat beragam media atau medium. dan bahasa sebagai tindak tutur. Ludruk. Wayang Wong. Adapun bentuk seni pertunjukan di antaranya: Wayang Purwa (Wayang Kulit). rupa. Hal ini dapat kita cermati dari bentuknya yang berupa seni kolektif sebagai sarana untuk mengungkapkan maksud dari seniman sebagai penutur dengan harapan dapat dihayati oleh penghayat sebagai mitra tutur. Pada hakekatnya media itu berbentuk fisik. Lenong. rupa. Randai. Secara prinsip dapat peneliti katakan bahwa seni pertunjukan merupakan wahana yang sangat potensial sebagai sasaran kajian pragmatik. Karawitan. yang kesemuanya itu merupakan bahasa komunikasi yang kaya akan nuansa imajinatif dan penuh dengan multitafsir. Seni pertunjukan merupakan bentuk seni komplementer yang pada dasarnya merupakan salah satu bentuk bahasa pragmatik. Masing-masing media dapat muncul secara mandiri dan bisa juga saling komplementer. dan bahasa. Bentuk yang merupakan komplemen dari beragam media (gerak.

bahwa masyarakat di mana saja menata hidup mereka dalam kaitannya dengan makna dari berbagai hal. yang secara spesifik telah memiliki kaidah-kaidah baku yang penafsirannya lebih bersifat rasional. Muatan pesan tersebut merupakan salah satu kebutuhan dasar bagi hidup manusia. selain makna kata-katanya juga diungkapkan dengan lagu dan tekanan irama yang didukung iringan gamelan. sehingga terasa menjadi lebih mantap. dan relasi antara bentuk dan makna sangat ketat. bunyi dan bahasa sebagai garap iringan. merupakan perpaduan dari berbagai media komunikasi. spiritual. . disipliner. Lewat pesan akan ditangkap makna sebagai esensi dari aktivitas berkomunikasi antara penyusun tari dengan masyarakat. Kehadiran tari sebagai ungkapan ekspresi jiwa manusia merupakan media komunikasi seorang seniman (penyusun tari ataupun penari) sebagai penutur terhadap masyarakat (pakar. yaitu: kinetic body moves (gerak tubuh) sebagai garap tari. Ini berbeda dengan bahasa. tari mempunyai muatan-muatan pesan dari penyusun tari yang hendak dikomunikasikan dengan masyarakat. Sebagai media komunikasi. ini merupakan realitas kemunculan bentuk komplementer. Penafsiran terhadap keragaman media komunikasi yang terdapat dalam tari tidak mampu hanya ditangkap secara rasional semata tetapi ketajaman rasa merupakan ujung tombak dalam menangkap makna yang sebenarnya. Adapun pesan-pesan tersebut dapat berupa pesan moral. serta rupa sebagai garap rias dan busana. penonton umum dan penanggap) sebagai mitra tutur. Hal ini terkait dengan konsep bahasa yang bersifat formal. Seperti dinyatakan Spradley (1997: 120).26 Tari sebagai salah satu bentuk seni pertunjukan. kata-kata yang terdapat dalam tembang sebagai bahasa verbal. Pertimbangan yang mendasar bahwa dalam tari. dan bersifat hiburan.

Lewat makna semantik yang dikontekstualkan akan muncul makna pragmatik yang diharapkan dalam sebuah peristiwa pertuturan. 1995: 50). maksud dari ujaran tersebut dapat dipahami. Namun untuk dapat mengetahui maksud ujaran penutur (makna pragmatiknya). di mana. dan kultural yaitu siapa berbicara kepada siapa. Dengan cara menghubung-hubungkan bentuk ujaran dengan konteks situasinya. Bahasa yang bersifat pragmatik merupakan salah satu sasaran kajian tentang makna-makna satuan lingual secara eksternal. tetapi juga sering memilih menggunakan bahasa yang tersamar. bukan semata-mata hanya makna literal ujaran tersebut. Dalam rangka beraktivitas sehari-hari manusia memerlukan bahasa sebagai alat komunikasi yang paling efektif dan efisien. Dengan demikian tampak jelas bahwa pragmatik terikat konteks (context dependent). Makna yang dikaji dalam pragmatik dikaitkan dengan maksud atau tujuan penutur di dalam mengutarakan suatu kata. kapan. frase atau kalimat. Bahasa merupakan sarana yang utama untuk menyampaikan pesan penutur kepada mitra tutur. manusia menggunakan bahasa sebagai sarana komunikasi dan berinteraksi secara vertikal dan horisontal dalam kedudukannya sebagai makhluk individu maupun sosial. terbuka. Rupanya dalam berkomunikasi manusia tidak selalu menggunakan bahasa yang sifatnya langsung. mitra tutur harus mengetahui makna semantik ujaran itu terlebih dahulu. apa adanya. Kajian makna dalam . sosial. Jadi pragmatik mengkaji maksud suatu ujaran penutur baik secara tersirat maupun tersurat di balik tuturan yang dianalisis.27 Dalam kehidupannya. sebagaimana dikatakan Leech pragmatik adalah “The study of meaning in relation to speech situation” (lihat Wijana. untuk apa dan bagaimana. tidak langsung seperti bahasa pragmatik.

(2) maksim kualitas. (3) tujuan sebuah tuturan. (5) tuturan sebagai produk tindak verbal (Leech. tembang. (3) maksim pujian. (2) maksim kedermawanan. syair. (4) tuturan sebagai bentuk tindakan atau kegiatan: tindak ujar.28 pragmatik bersifat triadis. Hubungan atau relasi dalam pragmatik bersifat triadis. dan berkesinambungan. Bahasa yang bersifat pragmatik banyak digunakan dalam berbagai bidang antara lain: sosial. 1993: 19-20). maksudnya bahwa makna pragmatik selain dibangun melalui semantik yang mencakup: (1) bentuk kebahasaan dan (2) makna juga dikaitkan dengan (3) konteks. 1993: 11). Selain itu juga didukung prinsip kesopanan yang meliputi: (1) maksim kearifan. yaitu: (1) maksim kuantitas. sehingga makna itu dapat dirumuskan dengan kalimat “Apa yang kau maksud dengan berkata x itu ?” (What do you mean by x ?). artinya suatu bentuk kebahasaan selain memiliki makna semantik juga makna pragmatik. harmonis. puisi. Dalam rangka menjaga hubungan dan interaksi komunikasi pada kehidupan sehari-hari tetap terjaga baik. Pragmatik merupakan cabang linguistik yang mengkaji makna dalam hubungannya dengan situasi ujar (konteks). politik. (4) maksim kerendahan hati. (2) konteks sebuah tuturan. Kajian bahasa pragmatik lebih terfokus pada makna implikatur dari eksternal tuturan si penutur bukan makna eksplikatur yang terdapat dalam internal tuturan semata. selaras. manusia menggunakan bahasa yang memenuhi prinsip-prinsip kerjasama. Pada realitasnya manusia sering tidak mengindahkan prinsip-prinsip kerjasama dalam . (3) maksim relevansi/hubungan. dan (4) maksim cara (Grice dalam Leech. Aspek-aspek situasi ujar meliputi: (1) yang menyapa (penyapa) atau yang disapa (pesapa). (5) maksim kesepakatan. budaya seperti: sastra. dan tari. dan (6) maksim simpati.

isyarat. Dengan demikian tari yang merupakan bagian dari seni pertunjukan yang memiliki aspek komunikasi verbal dan nonverbal merupakan objek kajian pragmatik yang sangat menarik. Menurut Wisnoe Wardhana (1994: 36). kinetic body moves (gerak tubuh). dan iringan. Wujudnya dapat berupa aneka simbol. sirene. dan jineman. kode. pola lantai. Terdapat dua cara untuk berkomunikasi lewat bahasa. Karena hal itu terjadi. Sedangkan H’Doubler mengutarakan bahwa tari adalah ekspresi gerak ritmis dari kajian . Berkomunikasi secara verbal dilakukan dengan cara menggunakan media bahasa baik yang tertulis dan lisan. gerongan. kenthongan barulah dapat bermakna setelah diterjemahkan ke dalam bahasa manusia (Lamuddin Finoza. Dalam hal ini penutur berupaya memasukkan maksudnya secara implisit pada ujaran yang diungkapkan. yakni dapat berupa teks verbal dan nonverbal. lambaian tangan. rias. Aspek verbal tari berupa cakepan (syair) teks sastra tembang yang terdapat dalam pathetan. sindhenan. 2005: 2). Dampak dari peristiwa tuturan tersebut muncul implikatur-implikatur yang akhirnya merupakan lahan pragmatik. busana. Sedangkan aspek nonverbalnya berupa: tema. Ketidakpatuhan para peserta tutur dalam pertuturan karena dipicu oleh motif-motif tertentu dari penutur. Tari adalah ungkapan perasaan manusia tentang sesuatu dengan gerak-gerak ritmis yag indah (Soedarsono. 1996: 6). tari adalah ungkapan nilai-nilai keindahan dan keluhuran lewat gerak dan sikap. polatan.29 berkomunikasi sehingga terjadi pelanggaran. bunyi misalnya tanda lalu lintas. Adapun komunikasi yang bersifat nonverbal dilakukan dengan menggunakan alat selain bahasa. sebagai akumulasi beragam tuntutan akan kebutuhan hidup manusia yang begitu kompleks. morse.

30 keadaan-keadaan perasaan yang secara estetis dinilai. yang lambang-lambang geraknya dengan sadar dirancang untuk kenikmatan serta kepuasan dari pengalaman ulang. Tanpa simpati publik. berkomunikasi. karena pada dasarnya betapapun indahnya gerak tumbuh-tumbuhan yang tersapu angin. Dari ketiga pendapat pakar tari tersebut dapat disarikan bahwa tari merupakan ekspresi jiwa manusia sebagai tanggapan tentang nilai-nilai kemanusiaan. Secara garis besar bahwa semua gerak dapat menjadi gerak tari dengan cara melalui campurtangan gerak tubuh dan seleksi yang memadahi. Seperti variasi pada kutipan kata-kata terkenal Donne: “one could almost say. Jika kita cermati lebih lanjut pernyataan ketiga pakar mengenai pengertian gerak tersebut masih kabur. gerak akrobatik binatang yang menawan tetapi tanpa kehadiran gerak tubuh manusia. dikomunikasikan dalam bentuk yang indah untuk mendapatkan penghayatan yang layak. ia berkarya dengan harapan dapat dihayati. Sumber gerak utama yang dimaksudkan di sini adalah kinetic body moves. the body speaks. dorongan artistik akan layu tidak dapat berkembang. maka dibutuhkan juga suatu penghargaan. Rupanya ekspresi diri semata tidak akan memberikan kenikmatan dan kepuasan bahkan cenderung mati (Parker. tari adalah ekspresi jiwa manusia lewat medium utama gerak tubuh untuk mencapai kenikmatan keindahan. 1980: 37). Menurut peneliti. And when the body speaks . tidak dapat dikatakan gerak tari. Bagaimanapun acuhnya seorang seniman terhadap publik. dengan menggunakan medium utama gerak. melaksanakan serta dari penciptaan bentuk-bentuk (dalam Soedarsono. ungkapan. 1996: 4). Rupanya gerak tubuh sangat dominan dan merupakan medium utama yang sekaligus sebagai sumber kehidupan tari.

or are part of. Adapun isi yang dimaksud merupakan pengalaman jiwa seniman dalam menanggapi alam.. 1994: 68). its movements. dalam dimensi meta-pragmatik. wujud. 1994: 3). lingkungan sekitarnya secara selektif. Pada dasarnya tindakan pragmatik melibatkan seorang individu secara keseluruhan dalam komunikasi. pandangan. the body moves. a pragmatic act” (dalam Mey. Secara sederhana Herbert Read berpendapat bahwa seni merupakan usaha untuk menciptakan bentuk-bentuk yang menyenangkan (1990: 2). kita harus mengakui bahwa komunikasi ‘gerak tubuh’ mampu ‘menentukan suasana’ dan ‘memberi makna’ untuk komunikasi secara utuh. Di samping itu. 2001: 223-224). in a conversation). they represent. Tidak mungkin orang bicara soal kesenian tanpa memperhatikan bentuk. Dengan kata lain.g. tindakan pragmatik sangat penting untuk menentukan dan mempertahankan kerangka meta-komunikatif untuk komunikasi. jika gerak tubuh penutur tidak mengikuti pembicaraan penutur. . dan gayanya (Budhisantoso. as such. Sekarang semakin jelas bahwa ide komunikasi nonlisan sebagai tambahan atau alat bantu sederhana pada pembicaraan adalah pandangan irasional yang terlalu sempit. Bentuk seni adalah hasil ciptaan seniman yang merupakan wujud dari ungkapan isi. Tampaklah sekarang bahwa bentuk dalam seni memiliki peranan yang sangat penting dalam rangka menyampaikan isi atau maksud yang hendak dikomunikasikan pada penghayat (mitra tutur) dari si seniman (penutur). form an integral part of the interactions (e. bukan hanya bagian kontribusi yang diucapkan saja.31 in this fashion. mitra tutur juga tidak akan mengikuti dan memperhatikan. Selayaknya. dan tanggapannya ke dalam bentuk fisik yang dapat ditangkap dengan indera (Sri Rochana.

Pengalaman jiwa seniman sewaktu-waktu dapat dikomunikasikan lewat garap medium sesuai dengan bidangnya masing-masing. Wujud tersebut tak lain agar dapat dan mampu ditangkap dengan indera manusia. tidak pula bersifat stereotip. Untuk itu menuntut seniman bukan hanya menyajikan realitas kehidupan yang sifatnya mengimitasi atau memindahkan begitu saja. Maka tidaklah mengherankan apabila sarana untuk berekspresi dalam seni tidak bersifat instingtif. bahasa. melainkan nilai-nilai kehidupan yang telah terseleksi dapat ditranspormasikan dalam bentuk yang indah. Pada hakikatnya medium ekspresi seniman bersifat fisik. seni memiliki tujuan yaitu memberikan kepuasan dalam visi penuh simpati. supaya menjadikannya jelas bagi jiwa yang menghayati. 1990: 45). bunyi. Sarana tersebut setiap saat dan untuk setiap personal harus dicari. Keberhasilan mereka menyampaikan pesan-pesan tergantung dengan kemampuan menyeleksi materi-materi sebagai sarana ungkap dan tidak lepas dari kemampuan masyarakat penikmat untuk menangkap yang sudah barang tentu mengacu pada nilai-nilai budaya dan norma-norma sosial yang hidup dan . dan seringkali pencarian itu terlampau berliku-liku jalannya (Read. baik dari seniman sebagai pengkarya maupun masyarakat sebagai penikmatnya.32 Sebagai media ekspresi. Hubungan antara bentuk fisik yang dapat diamati indera dengan isi yang hendak diungkap harus terjalin secara harmonis agar dapat mencapai sasarannya yaitu penghayat. dan wujudnya dapat berupa gerak. Sehingga benda pacu dimaksud mampu mengubah dari pandangan verbal menjadi pandangan yang penuh makna yang berarti bagi kehidupan jiwa. warna (rupa). garis. dan bukan merupakan sesuatu yang sudah siap tersedia.

Sedangkan kesenian rakyat hidup. Untuk itu dibutuhkan peningkatan kualitas apresiator dengan memperbanyak peluang aktivitas pertunjukan dan peningkatan kualitasnya. di antaranya: wayang kulit. 1991: 14). tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat pedesaan. 1991: 10). Betapapun hebatnya seorang seniman dalam berkarya tanpa diimbangi apresiasi masyarakat yang layak dan memadahi rupanya akan menjadi semakin tidak berarti sehingga bentuk-bentuk pesan yang hendak disampaikan oleh seniman tidak dapat terealisasi secara baik dan wajar dalam kehidupan masyarakat.33 berkembang. Seni tradisional genre tari pasihan yang mengacu kesenian karaton merupakan salah satu budaya yang diwarisi secara turun-temurun sudah barang tentu memiliki kesinambungan dengan budaya sebelumnya. cermat dan mempunyai semacam pola-pola baku yang sering digunakan sebagai semacam pedoman. tetapi masing-masing . Perkembangan sekarang kedua bentuk kesenian tersebut saling mempengaruhi secara lebih kompleks. tari dan lainnya. Dalam tari Jawa bentuk ekspresinya pada hakikatnya terwujud berdasarkan alam emosi. Beragam bentuk seni pertunjukan karaton. Kesenian karaton cenderung memiliki garap lebih rumit. yaitu bentuk dan iramanya sangat kuat dilatarbelakangi oleh konsep keindahan dan tradisi kebudayaannya (Humardani. Pewarisan budaya tidaklah bersifat statis. Kesenian karaton merupakan bentuk kesenian yang pada awalnya hidup dan berkembang di lingkungan karaton. karawitan. Berbeda dengan kesenian rakyat yang sifatnya spontan sangat sederhana baik bentuk maupun sistem pertunjukannya. Seni pertunjukan Jawa pada umumnya dapat dikategorikan menjadi dua kelompok besar yaitu kesenian karaton dan kesenian rakyat (Humardani. wayang wong (wayang orang).

Di dalam seni pertunjukan. “Genre Tari Pasihan“ tampaknya cenderung menekankan rasa dan emosi dalam bentuk bahasa verbal dan nonverbal. Simbolisme semacam ini tampak pada genre tari pasihan yang hadir dalam rangkaian upacara-upacara perkawinan adat Jawa. Bedhaya. sehingga perlu perantara yang berwujud simbol-simbol dalam puisi bukan dalam bentuk pengetahuan.34 generasi mencoba untuk mengadakan perubahan-perubahan disesuaikan dengan kondisi kehidupan masyarakat pendukungnya. Menurut Clifford Geertz (1992: 6). 1991: 73). sebab simbolisme sangat menonjol peranannya dalam tradisi adat Jawa. Kehadiran genre tari pasihan (percintaan pria dan wanita) dalam kehidupan sosial masyarakat pada ritual perkawinan adat Jawa rupanya mempunyai makna simbolik yang sangat penting terutama bagi kedua mempelai dalam rangka mempersiapkan diri untuk mengarungi kehidupan di masyarakat yaitu menuju terbentuknya keluarga yang bahagia. dan tarian untuk anak. simbolisme memiliki peranan sangat penting. Terbukti seni tradisional kita tetap berkembang di masyarakat. Wireng. Seolah–olah keberadaan genre tari pasihan dalam budaya Jawa sejak 1970 telah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan terutama pada upacara-upacara perkawinan (Maryono. di antaranya genre tari pasihan. Srimpi. Rasanya menjadi kurang utuh apabila dalam acara resepsi perkawinan tidak disajikan tari pasihan sebagai penutup pesta tersebut. bahwa ‘simbol’ tampak terbatas pada sesuatu yang mengungkapkan secara tidak langsung. sehingga kemunculan pertunjukan genre tari pasihan pada upacara perkawinan relatif sangat tinggi frekuensinya. Hal tersebut diduga menumbuhkan daya pikat perhatian masyarakat . Pethilan. Di dalam kehidupan masyarakat Jawa.

tari Langen Asmara. kehilangan kekuasaannya sebagai orientasi nilai-nilai budaya Jawa. karaton-karaton di Jawa kehilangan kekuasaannya atas daerah-daerah masingmasing.35 dan mampu menggugah semangat kreativitas para seniman seni pertunjukan di Surakarta untuk merespon secara positif. Jenis tipe karakter yang berpasangan tersebut dalam genre ini antara lain : putri luruh duet dengan alus luruh. Ketika Perang Dunia ke II berakhir. Berkembangnya bentuk dan jenis genre tari pasihan atau genre tari duet percintaan tidak lepas dari kreativitas para penyusun tari dalam rangka memenuhi kebutuhan sosial masyarakat. Suciati Joko Suharja menciptakan tari Kusuma Aji. putri luruh duet dengan gagah luruh dan sebagainya. 1984: 235). pusat adat-istiadat Jawa. Rupanya hal ini terkait dengan warisan budaya khususnya tari dari kerajaan Mataram baru yaitu istana Kasunanan Surakarta Hadiningrat. dan tari Gesang Rahayu. Seniman-seniman yang menanggapi secara proaktif antara lain seperti Maridi dengan karyanya: tari Endah. Keragaman bentuk dan jenis tari duet percintaan yang terdapat di wilayah Surakarta menunjukkan sebuah kekayaan ranah budaya yang mampu memberikan warna kota Sala sebagai pusat budaya. . putri lanyap duet dengan alus luruh. Secara perlahan-lahan kehidupan tari yang semula menjadi hak monopoli keluarga kerajaan. tari Enggarenggar. Genre tari pasihan gaya Surakarta merupakan suatu kelompok tari yang secara susunan berbentuk duet atau pasangan silang jenis tipe karakter dengan tema percintaan. dan sebagai pusat kesenian Jawa (Koentjaraningrat. tari Jayaningrat dan tari Setyaningsih. tari Driasmara. keluar tembok karaton hidup dan berkembang meluas ke tengah-tengah kehidupan masyarakat. Sunarno menghasilkan karya: tari Bondhan Sayuk. tari Lambangsih. tari Kusuma Ratih.

rasa. Rupanya telah mengakar pada budaya Jawa. yang hanya bisa didapatkan dengan perbuatan yang melambangkan terjadinya pembuahan. Kehadiran genre tari pasihan di tengah-tengah kehidupan sosial masyarakat diduga mempunyai kekuatan magis simpatetis terhadap sepasang penganten. 1991: 35) Rupanya semakin tampak bahwa genre tari pasihan merupakan media ungkap para penyusun tari (penutur) yang memuat ide. Seni pertunjukan genre tari pasihan gaya Surakarta sebagai karya seni memiliki beberapa aspek di antaranya aspek sastra tembang (bahasa verbal) yang berupa cakepan (syair) yang terdapat dalam pathetan. emosi yang diekspresikan dalam bentuk bahasa verbal dan nonverbal yang hendak dikomunikasikan dengan penghayat (mitra tutur) dengan maksud-maksud tertentu. Genre tari pasihan merupakan cabang seni tradisional gaya Surakarta yang banyak mengandung makna simbolis dan memiliki fungsi yang erat hubungannya dengan upacara adat ritual perkawinan masyarakat Jawa.36 Kehidupan genre tari pasihan hingga sekarang mengalami perkembangan sangat pesat. yaitu hubungan antara pria dan wanita. Seperti diungkapkan Soedarsono sebagai berikut : Sadar atau tidak sadar kesuburan tanah – juga perkawinan – tidak cukup hanya dicapai lewat peningkatan sistem penanaman baru. tetapi juga perlu diupayakan lewat kekuatan – kekuatan yang tak kasat mata. Kekuatan itu antara lain berupa magi simpatetis. Sedangkan bagi masyarakat yang sudah agak maju dilakukan secara simbolik. gerongan. gagasan. yaitu pada setiap upacara perkawinan hampir dapat dipastikan akan disajikan jenis tari pasihan. sindhenan. dan . hal ini dimungkinkan adanya suatu pilihan masyarakat yang sangat tepat tentang tata nilai dan sikap untuk menjaga kelangsungan hidup budayanya sebagai warisan yang dianggap memiliki nilai tinggi. (Soedarsono dalam Soedarso. Hubungan ini pada masyarakat yang masih melestarikan budaya purba kadang-kadang dilakukan agak realistis.

dalam tindakannya supaya dapat berfungsi secara baik sebagai media komunikasi. tari Bondhan Sayuk. tari Kusuma Aji. Pengaruh perkembangannya dapat dibuktikan dengan munculnya berbagai bentuk tari duet percintaan. Sedangkan aspek bahasa nonverbal meliputi: tema. 1991: 27). rias. yakni tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk. mempunyai pengaruh cukup besar yaitu telah dapat memacu dan memotivasi terhadap seniman-seniman di kalangan tradisional (Maryono. Aspekaspek tersebut membutuhkan ruang. polatan (ekspresi wajah). Dengan pernyataan lain serupa tetapi tidak sama. dan memiliki pesan. pola lantai. busana. tari Enggar-enggar. tari Lambangsih. yakni seperti: tari Endah. Di samping itu diduga tari Karonsihan memiliki kekuatan magis simpatetis yang kuat terhadap . tari Langen Asmara dan tari Setyaningsih. yang sudah barang tentu juga terdapat perbedaan namun tidak begitu signifikan. Karonsih merupakan awal jenis tarian duet percintaan yang mampu membawa perkembangan sangat luar biasa. waktu. tari Kusuma Ratih. tidak lain didasarkan pada fakta historis. tari Jayaningrat. Pemilihan pertama tari Karonsih dalam kajian pragmatik ini. Secara garis besar dapat dikatakan bahwa bentuk-bentuk tari yang termasuk dalam genre tari pasihan. tari Gesang Rahayu.37 jineman. Kehadiran tari Karonsih di tengah-tengah kehidupan masyarakat telah menjadi bagian dari kebutuhan sosial. Dari sejumlah jenis tari duet tersebut peneliti memfokuskan sasaran pada dua bentuk tari duet percintaan. Kajian pragmatik di sini akan menganalisis makna genre tari pasihan lewat implikatur-implikatur bahasa verbal dan nonverbal yang dimilikinya. dan iringan. tari Driasmara. banyak persamaannya. gerak tubuh (kinetic body moves).

dan kualitas genre tari pasihan sebagai seni pertunjukan yang hidup dan berkembang pesat di Jawa. hal ini dapat diamati dari kehadirannya yang hampir dapat dipastikan pada setiap upacara perkawinan terutama pada budaya Jawa. Perbedaan antara Karonsih dengan Bondhan Sayuk meliputi bentuk tindak tutur verbal dan nonverbal. kredibilitas. Merujuk pada pola cerita yang tokoh-tokohnya memiliki authority scale dan social distance yang berbeda. Pada prinsipnya pemilihan sampling tari Karonsih dan Bondhan Sayuk tersebut bukan untuk generalisasi statistik (populasi) tetapi lebih fokus untuk mewakili dari keragaman informasinya yang diharapkan dapat digeneralisasi teorinya. didasarkan pada bentuk yang berbeda pada jenis tari duet percintaan. sekilas dapat dicermati dari properti yang berupa boneka bayi (anak kecil). baik dari segi tindak tutur verbal dan nonverbalnya dapat digunakan untuk mengungkap secara mendalam karakteristik genre tari pasihan dalam analisis pragmatiknya. Realitas menunjukkan bahwa keragaman jenis tari duet percintaan gaya Surakarta merupakan salah satu aset budaya nasional yang memiliki kuantitas dan kualitas tinggi.38 sepasang temanten. Pemilihan kedua adalah tari Bondhan Sayuk. maka hal itu dapat diamati dari jenis bahasa verbal yang digunakan pada masing-masing tari pasihan tersebut. Diharapkan perbedaan yang terdapat pada tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk. Selain itu terdapat perbedaan bahasa nonverbal. kuantitas. Kehadiran genre tari pasihan merupakan pemenuhan kebutuhan sosial dan hayatan cukup mantap dan sekaligus menjadi benteng budaya . namun masih dalam karakteristik yang sama. Kelayakan dan kualitas objek sasaran penelitian tidak dapat disangsikan berdasarkan eksistensi. serta memberikan citra budaya yang mantab.

penonton umum. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Bagaimanakah implikatur dan daya pragmatik bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta ? . dan penanggap) sebagai mitra tutur (komunikan). Rumusan Masalah Dari uraian latar belakang masalah yang telah peneliti paparkan tersebut di muka. dan masyarakat (pakar. Masalah utama tersebut dapat dikaji lewat beberapa pertanyaan yang bersumber pada seniman pelakunya (penyusun tari dan penari) yang bertindak sebagai penutur (komunikator). adalah: mengapa masyarakat memilih pertunjukan genre tari pasihan gaya Surakarta sebagai masterpiece dalam sebuah ritual perkawinan adat Jawa. Bagaimanakah penerapan prinsip kerja sama dan prinsip kesantunan dalam bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta ? 3.39 nasional yang mampu memberi warna citra diri masyarakat Surakarta sebagai pewaris high culture Mataram palace dan lebih meluas sebagai bangsa Indonesia. Bagaimana jenis-jenis tindak tutur dalam genre tari pasihan gaya Surakarta dan tindak tutur apa yang dominan. serta mengapa terjadi dominasi ? 2. terdapat masalah utama yang menjadi fokus penelitian disertasi ini. karya seni (pesan atau tindak tutur) sebagai sarana atau media tutur. B. Untuk itu perlu dirumuskan masalahnya dalam rangka menganalisis makna pragmatik pada genre tari pasihan.

Tujuan Penelitian Memahami bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan pada ritual perkawinan adat Jawa di Surakarta dengan menganalisis secara rinci. 2. Latar belakang konsepsi penciptaan bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta. Jenis-jenis tindak tutur dan tindak tutur yang dominan dalam genre tari pasihan gaya Surakarta. 3. . Bagaimana ciri karakteristik bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta ? 5. Implikatur dan daya pragmatik bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta. 4.40 4. Bagaimana latar belakang konsepsi penciptaan bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta ? 6. Bagaimana persepsi masyarakat terhadap kehidupan genre tari pasihan gaya Surakarta ? C. 5. dan mendalam untuk menemukan dan mendeskripsikan: 1. 6. Persepsi masyarakat terhadap kehidupan genre tari pasihan gaya Surakarta. akurat. Penerapan prinsip kerja sama dan prinsip kesantunan dalam bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta. Ciri karakteristik bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta.

baik dari aspek bahasa verbal dan nonverbal. terutama kajian seni pertunjukan khususnya tari dari perspektif linguistik pragmatik. Manfaat Penelitian Tari dikaji dari berbagai perspektif ilmu seperti sosial. Artinya seni pertunjukan memuat nilainilai kehidupan yang fundamental sebagai sumber makna. politik. antropologi. Spesifikasi yang dapat diunggulkan dalam kajian ini bahwa terdapat interaksi yang sangat tepat antara pragmatik dan seni pertunjukan yang masing-masing berorientasi masalah makna. Perspektif dari kajian pragmatik akan mengarahkan peneliti untuk menganalisis seni pertunjukan (tari) secara menyeluruh.41 D. Dengan demikian manfaat yang diharapkan dari penelitian ini: (1) Membuka perspektif kajian baru. Sedangkan pragmatik merupakan disiplin ilmu yang secara spesifik mengkaji makna atau maksud penutur. (2) Memberi sumbangan bagi para pembaca untuk menambah wawasan kajian seni pertunjukan tari pasihan dari sudut pandang linguistik pragmatik. (4) Dapat menjadi referensi atau acuan bagi para peneliti yang terkait dengan disiplin ilmu linguistik pragmatik dan kajian sastra seni khususnya. ekonomi. Salah satu jenis kajian linguistik yang paling tepat untuk analisis tari adalah linguistik pragmatik. . namun penelitian tari dari kaca mata linguistik rupanya masih sangat langka. budaya dan lainnya rupanya telah banyak dilakukan para peneliti. (3) Memberikan motivasi terhadap pembaca pada umumnya dan para peneliti dari kalangan Lembaga Perguruan Tinggi Seni untuk meneliti bentuk-bentuk seni pertunjukan dari perspektif linguistik pragmatik.

(3) teori seni pertunjukan. mengapa terjadi dominasi. Dalam rangka untuk mengetahui dan mencermati makna bahasa verbal dan nonverbal yang terdapat dalam seni pertunjukan genre tari pasihan gaya Surakarta. TINJAUAN PUSTAKA. peneliti menggunakan kajian: (1) teori pragmatik. Kajian Teori Seni pertunjukan umumnya dan lebih khusus genre tari pasihan gaya Surakarta merupakan lahan kajian yang sangat menarik lewat bahasa verbal yang berupa teks sastra tembang dan bahasa nonverbal.42 BAB II KAJIAN TEORI. DAN KERANGKA PIKIR A. dan (4) teori komunikasi. jenis tindak tutur yang dominan. 1) Teori pragmatik untuk menganalisis jenis-jenis tindak tutur yang terdapat pada sastra tembang sebagai bahasa verbal. (2) teori budaya. Bentuk analisis berikutnya adalah bagaimana penerapan .

Teori tersebut juga untuk mengungkap implikatur dan daya pragmatik. busana. Proses komunikasi antara seniman penyusun sebagai komunikator dengan masyarakat sebagai komunikan lewat media yaitu karya seni tari pasihan. rias. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas untuk mengkaji dari faktor afektifnya yaitu mengenai pandangan masyarakat umum dan persepsi pakar terhadap pertunjukan tari pasihan. Jika komunikasi antara seniman dengan masyarakat terjadi perbedaan . gerak tubuh (kinetic body moves). polatan (ekspresi wajah). 3) Teori seni pertunjukan untuk mengkaji elemen-elemen yang terdapat di dalam tari pasihan (bahasa nonverbal) mencakup tema. dan penggunaan muka dalam komunikasi. baik yang berupa sastra tembang dan bahasa nonverbal. Adapun wujud kebudayaan berupa benda-benda hasil karya manusia untuk analisis faktor objektif atau karya seninya. 4) Teori komunikasi digunakan untuk menganalisa bagaimana komunikasi berlangsung. wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide untuk mengungkapkan konsepsi seniman penyusun tentang bahasa verbal dan nonvberbal yang digunakan pada tari pasihan. hubungan peran yang berbeda. dan iringan gamelan untuk mengungkapkan faktor objektif dan faktor genetik.43 prinsip-prinsip kerja sama dalam sastra tembang. Selain itu juga untuk mengkaji strategi kesantunan yang digunakan oleh masing-masing peserta tutur yang terdapat dalam genre tari pasihan terkait dengan cara mengungkapkan tindak tutur terkait jarak sosial. 2) Teori budaya yang terdiri dari tiga bagian yakni. Dalam komunikasi tersebut lebih difokuskan pada kesesuaian antara pesan makna yang dimaksudkan seniman penyusun dengan makna yang dapat ditangkap oleh masyarakat. pola lantai.

dari hasil itu dapat dicari dan dianalisis penyebabnya untuk menentukan kekuatan dan kelemahan tari pasihan sebagai media. objektif. Sebagaimana dikatakan Leech bahwa seorang yang menganalisis makna pragmatik dapat disamakan dengan seorang penerima. Diharapkan keempat teori tersebut mampu untuk mengungkap makna pragmatik genre tari pasihan gaya Surakarta secara menyeluruh dan mendalam. Untuk mengetahui makna ujaran tidak dapat hanya dilihat dari satu sisi ujaran itu sendiri. dan afektif. ia berusaha mengartikan isi wacana hanya . akan tetapi harus memperhatikan situasi ujaran atau sejauh mana kontekstualnya. 1993: 8). 2004: 48) berhubungan dengan manifestasi bahasa dalam bentuk lisan. 1. Teori komunikasi untuk mengkaji keterkaitan antarfaktor genetik. Keempat teori tersebut digunakan untuk menganalisis makna pragmatik genre tari pasihan gaya Surakarta secara komplementer. Konsep ujaran menurut Parera (dalam Muhammad Rohmadi. sedangkan teori budaya dan teori seni pertunjukan untuk menganalisis faktor bahasa nonverbal. Secara prinsip teori pragmatik merupakan alat kajian yang utama terkait dengan sistem kebahasaannya. Teori Pragmatik Terkait untuk tujuan-tujuan linguistik pragmatik adalah studi tentang makna dalam hubungannya dengan situasi-situasi ujar (speech situations) (Leech.44 atau sebaliknya terjadi persamaan.

Bahasa yang diungkapkan berupa ujaran atau tuturan baik yang bersifat lisan maupun tulis. Leech (1993: 19-21) mengemukakan aspek-aspek situasi ujar yang meliputi lima aspek situasi ujaran sebagai berikut: (1) Yang menyapa (penyapa) atau yang disapa (pesapa). (5) Tuturan sebagai produk tindak verbal. (3) Tujuan sebuah tuturan. sulit dipahami karena untuk mencermati maksud sebuah tuturan yang disampaikan penutur kepada mitra tutur sering mengalami kendala. sehingga mudah dipahami mitra tutur. Tanpa konteks. Tidak langsung. Artinya penutur dalam menyampaikan maksudnya disiratkan pada tuturan atau maknanya di balik yang tersurat. Terkait dengan situasi-situasi ujaran. ujaranujaran dalam bentuk kalimat atau tindak tutur tersebut hanya akan dipahami sebagai makna semantik yang lebih terfokus pada analisis linguistik formal. bersifat langsung manakala maksud penutur tereksplesitkan dalam bentuk-bentuk tuturannya. Hambatan sering terjadi karena penutur di dalam mengungkapkan tuturannya menggunakan bahasa yang bersifat indirect. Dalam kehidupan sosial manusia berinteraksi menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi untuk maksud-maksud tertentu. Sebagai mitra tutur berupaya untuk menafsirkan maksud penutur lewat teks yang digunakan dengan mengaitkan konteksnya. Bentuk ungkapan dapat bersifat langsung dan tidak langsung. Untuk itu perlu dicermati secara mendalam bentuk . Ujaran-ujaran dalam kalimat dapat diungkapkan makna pragmatiknya secara jelas jika kita perhatikan konteks. penutur serta situasinya.45 berdasarkan bukti kontekstual yang ada saja tanpa menjadi sasaran pesan si penutur (1993: 19). (2) Konteks sebuah tuturan. (4) Tuturan sebagai bentuk tindakan atau kegiatan: tindak ujar.

Dengan demikian teks tidak tergantung pada ukuran panjang pendeknya. dan Hoed (2003: 5-6). Halliday dan Hasan (1976). Hoed (2003: 5-6). 1992: 378). yakni bahasa yang sedang melaksanakan tugas tertentu dalam konteks situasi. Hakekat teks dalam pembicaran ini mereferensi dari pendapat: Leech (1983). Halliday dan Hasan (1976: 1-2). Richards et al (1992). Adapun hakekat konteks lebih mereferensi dari pendapat: Yule (1998). Teks dan Konteks Pada dasarnya teks dan konteks sangat vital terkait dengan kompetensi komunikatif sehingga konsep teks dan konteks menjadi penting untuk dikaji dalam rangka memahami implikatur pragmatik. Teks Menurut Leech (1983: 100). Dalam analisis teks dan konteks ini. Sejalan dengan pendapat tersebut. a. teks adalah konstruksi dari hasil penggunaan sintaksis dan fonologi bahasa secara bermakna. teks adalah potongan dari bahasa tulis maupun lisan yang maknanya dapat dirunut dari perspektif strukturnya ataupun fungsinya (Richards et al. dan Cutting (2002). namun lebih mengarah pada berfungsinya suatu bahasa. kita dapat perikan liku-liku antarunit hingga komplementer antarfaktor. Secara lebih sederhana Cook menyatakan bahwa teks juga dapat berupa bagian-bagian dari bahasa yang dikaji secara formal (1989: 14).1. Pendapat lain. bukan kata-kata ataupun kalimat lepas. Cook (1989). a.46 bahasa sebagai teks dan bagaimana konteksnya sehingga dapat berfungsi untuk mengungkap makna pragmatik. . bahwa teks merupakan sebuah unit semantik yang memiliki bentuk dan bermakna bukan sekadar unit gramatikal seperti klausa atau kalimat yang lepas.

mencakup: a) motif tema yang digunakan sebagai ancangan alur adegan. busana. sindhenan. polatan (ekspresi wajah). dan 2. dengan mengutip pendapat Noth (1990). musik. dapat peneliti kemukakan bahwa teks genre tari pasihan meliputi: a. rias. yaitu: 1. dan iringan. Dapat ditarik simpulannya bahwa teks adalah sebuah unit bahasa verbal dan atau nonverbal yang bermakna.47 mengatakan terdapat dua cara untuk pendekatan dasar pada sebuah teks. maka dalam bahasa verbal ini. kajian peneliti lebih terfokus pada: a) jenis-jenis tindak tutur yang digunakan. b) jenis tindak tutur yang dominan dan mengapa terjadi dominasi. gerongan. 2006: 23-24). Dalam bahasa nonverbal ini.2 Bahasa nonverbal berupa elemen-elemen tari yang terdiri dari: tema. dan jineman. teks sebagai pesan verbal yang membatasi teks pada gejala kebahasaan (lihat disertasi Jumanto. c) realisasi kesantunan antarperan a. c) polatan. teks sebagai pesan budaya (nonverbal). pertunjukan balet atau tari.1. gerak tubuh (kinetic body moves). kajian peneliti lebih terfokus pada gejala budaya. Berdasarkan tujuan awal penelitian adalah kajian pragmatik. yang terkait dengan gejala budaya seperti film.1 Bahasa verbal. yang berupa teks sastra tembang yang terdapat dalam cakepan (syair) pathetan. . Merujuk pada hakekat teks dari pendapat kelima pakar tersebut terkait dengan teks seni pertunjukan. b) jenis-jenis vokabuler gerak. peristiwa upacara ataupun pertunjukan sirkus.1. pola lantai.

Selama bertahun-tahun kajian linguistik.2. baik konteks yang bersifat lingual (cotext) maupun konteks yang bersifat ekstralingual yang berupa konteks fisik maupun konteks sosial. Konteks dipahami sebagai lingkungan yang selalu berubah yang memungkinkan peserta tutur berinteraksi dan yang membantu mereka memahami . konteks adalah sebuah konsep yang dinamis. dan tekanan. tidak mempertimbangkan bahwa satuan– satuan itu sebenarnya hadir dalam konteks. Konteks Munculnya konsep konteks dalam ranah linguistik merupakan konsep yang relatif baru sebagai pendobrak kemapanan aliran linguistik formal atau struktural. bukan statis. h) intonasi yang mencakup: irama. f) jenis-jenis pola lantai ( floor design) . lagu. baik verbal dan nonverbal tersebut merupakan satu kesatuan yang membentuk menjadi sebuah bahasa genre tari pasihan yang tidak lepas dengan konteks. yang seharusnya mengaitkan dengan konteks. terutama terkait dengan masalah makna yang ditarik dari implikatur tindak tutur dalam sebuah percakapan. Menurut Yule (1998). Akibatnya aliran struktural gagal menjelaskan berbagai masalah kebahasaan. e) jenis warna dan bentuk busana yang dipakai. Kedua bentuk bahasa.48 d) bentuk rias. a. didominasi oleh pandangan bahwa aspek form dalam suatu bahasa merupakan satu-satunya data yang paling feasible untuk dikaji. Artinya bahwa para kaum strukturalis terfokus pada internal bahasa yang semata-mata berorientasi pada bentuk. g) jenis-jenis gendhing .

2.1) Keadaan fisik yang muncul bersamaan dengan terjadinya suatu interaksi ketika percakapan berlangsung dapat dirunut. Secara eksternal meliputi: lokasi pertunjukan dan kondisi lingkungan yang menjadi setting berlangsungnya pertunjukan. yakni konteks verbal yang ada pada teks yang mengakibatkan adanya kohesi dan koherensi. mendefinisikan konteks secara lebih operasional yakni dunia fisik dan sosial serta asumsi-asumsi pengetahuan yang sama-sama dimiliki oleh penutur dan mitra tutur. Sedangkan Cutting (2002: 3-8). secara internal mencakup: perubahan raut muka atau polatan.49 ungkapan-ungkapan kebahasaan yang mereka gunakan dalam suatu proses komunikasi. peneliti dapat lebih memfokuskan kajiannya pada: a. intonasi dan pemilihan gerak. Leech mengartikan konteks sebagai suatu pengetahuan latar belakang yang sama-sama dimiliki oleh penutur dan mitra tutur dan yang membantu mitra tutur dalam menafsirkan makna tuturan (1993: 20). yaitu keadaan fisik yang muncul bersamaan dengan terjadinya suatu interaksi ketika percakapan berlangsung (at the moment of speaking). a. pemilihan kata. Selanjutnya secara rinci konteks dikategorikan menjadi: 1) konteks situasi. 2) konteks pengetahuan latar (background knowledge context) yang dirinci menjadi (a) pengetahuan umum budaya (cultural general knowledge) dan (b) pengetahuan interpersonal (interpersonal knowledge). Realisasi konteks dari teks tari pasihan dengan mengakses persepsi Cutting. 3) konteks co-textual. Sejalan dengan pendapat tersebut.2.2) Konteks pengetahuan latar yang dapat diperikan menjadi: .

1992: 54-55). Harmonisasi dan keseimbangan antara jagad gedhe sebagai manifestasi makrokosmos dan jagad cilik sebagai manifestasi mikrokosmos merupakan faktor penentu kehidupan yang harus terjaga keberlangsungannya. Mencermati dari sekian masa kehidupan. mencakup: mentifact. dan masa tua hingga kematian (Koentjaraningrat. salah satu masa yang penting adalah masa perkawinan atau masa nikah. masa remaja.2. nilai-nilai.50 a. dapat dirunut bagaimana keterkaitan perkawinan dengan kehadiran tari pasihan.2. Keselarasan antara gaya hidup dan kenyataan fundamental yang dirumuskan simbol-simbol sakral bervariasi dari kebudayaan yang satu ke budaya yang lain (Geertz. sociofact. masa hamil. merupakan bagian budaya yang terkait dengan ide-ide. 1985: 89). mengalami pembagian adat-istiadat ke dalam tingkattingkat tertentu. masa kanak-kanak. gagasan. masa puber. Dari pernyataan tersebut. Dalam keselarasan tersebut yang penting adalah apakah hubungan alamiah satu sama lainnya dimiliki oleh unsur-unsur yang terpisah. artifact. Pandangan bagi masyarakat yang berbudaya Jawa. masa nikah atau masa perkawinan. masa pascanikah. peraturan dan sebagainya. rupanya keselarasan alam semesta merupakan salah satu prinsip hidup. Stages along the life-cycle itu meliputi: masa kelahiran. Realitas sepanjang hidup manusia di muka bumi.1)Keterkaitannya dengan budaya. Mentifact. norma-norma. sekaligus mencegah hal-hal yang sumbang maupun menimbulkan keganjilan. . masa penyapihan. dan bagaimana masing-masing unsur itu harus dirangkai menjadi terpadu.

Sociofact. Pada prinsipnya semua hasil karya manusia ditujukan untuk mencukupi semua kebutuhan hidupnya yang terdiri dari dua komponen pokok. Merujuk pada asumsi tersebut. akan dirunut tentang: hasil penghayatan yang melibatkan seniman dan penghayat terhadap karya . merupakan bagian budaya yang terkait dengan suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam social system. yaitu kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani. merupakan bagian budaya yang berupa seluruh total dari karya manusia berupa benda fisik dari aktivitas maupun perbuatan. Seperti kehadiran tari pasihan pada upacaraupacara ritual perkawinan budaya Jawa.51 Artifact. Beragam hasil karya seni yang diciptakan manusia. selalu menurut pola yang telah disepakati yang didasarkan pada adat tata kelakuan.2) Keterkaitannya dengan pengetahuan interpersonal. sistem sosial itu bersifat konkret. peneliti akan mengkaji fungsi tari pasihan pada upacara perkawinan dalam kehidupan sosial masyarakat pendukungnya. Beragam aktivitas manusia yang saling berinteraksi satu dengan lainnya. dari waktu ke waktu. Rupanya terdapat keterkaitan yang cukup erat antara seni pertunjukan khususnya tari duet pasihan dengan kebutuhan sosial. Sebagai rangkaian aktivitas manusia dalam suatu masyarakat. a. yang terjadi di sekitar kita. Terkait dengan kebutuhan analisis artifact.2. Kehadiran tari duet pasihan pada upacara-upacara resepsi perkawinan sampai sekarang masih berlangsung. satu diantaranya adalah jenis genre tari pasihan. tari pasihan akan dicermati secara total bentuk karya seninya dalam koridor seni pertunjukan. Salah satu jenis karya manusia yang berperan dalam pembangunan rohani adalah karya seni.2. rupanya terdapat kontribusi yang cukup signifikan.

akan dikupas secara tuntas dan mendalam dengan teori-teori yang peneliti gunakan sebagai ancangan analisis. Adapun cakupan kohesi terfokus pada: keterkaitan antarunit. Cakupan koherensi terfokus pada: isi atau kandungan makna pada masing-masing unit. (3) maksim hubungan. dan implikatur dari komplementer antarunit. Prinsip Kerja Sama (PKS) Pada dasarnya orang dalam berkomunikasi itu hendaknya saling bekerjasama antara penutur dengan mitra tutur agar komunikasi dapat berjalan secara efektif dan efisien. . 1996: 68). masing-masing komponen.52 tari pasihan. dan (4) maksim cara (Grice dalam Leech. pada kajian berikut. dan interpretasi-interpretasinya terhadap tindakan dan ucapan lawan tutur (Wijana. b. penggunaan bahasanya. Partisipan komunikasi sangat berkepentingan untuk memenuhi dan mematuhi prinsip kerjasama (Cooperative Principle) yang terbagi empat maksim yaitu: (1) maksim kuantitas.3) konteks co-textual. Hasil penilaian atau hasil hayatan dari peserta tutur (seniman dan penghayat). dan antarbagian tari pasihan. dan antarbagian baik yang terdapat pada teks satra tembang maupun pada elemen-elemen tari pasihan. a. masingmasing bagian. antarkomponen.2. Sebagai arahan untuk memahami proses dan bentuk aktualisasi mengenai aplikasi analisis pemerian teks beserta konteks tari pasihan dalam ritual perkawinan budaya Jawa. antarkomponen. mencakup kohesi dan koherensi secara menyeluruh dalam tari pasihan. Dari penghayatan muncul sebuah penilaian. Setiap peserta pertuturan sama-sama menyadari bahwa ada prinsip-prinsip yang mengatur tindakannya. (2) maksim kualitas. terdapat persamaan atau perbedaan yang masing-masing akan dicari argumentasinya.

Merujuk pada empat maksim dari prinsip kerjasama itu bila dapat dipenuhi dari masing-masing peserta tutur maka akan terjadi komunikasi yang efektif dan efisien. adalah aturan pertuturan yang memaksimalkan . Dengan demikian penutur harus membuat dan memperlakukan mitra tutur lebih santun dalam mengungkapkan tuturannya. adalah aturan pertuturan yang meminimalkan ketidakhormatan terhadap orang lain dan memaksimalkan pujian kepada orang lain. dan informasi disampaikan dengan cara yang mudah. yaitu: (1) maksim kearifan (tact maxim). adalah aturan pertuturan yang meminimalkan kerugian orang lain dan memaksimalkan keuntungan bagi orang lain. adalah aturan pertuturan yang meminimalkan keuntungan bagi diri sendiri dan memaksimalkan kerugian bagi diri sendiri. Perlu disadari bahwa sebagai anggota masyarakat bahasa penutur tidak hanya terikat pada hal-hal yang bersifat tekstual. menghargai. Prinsip kerjasama rupanya tidak cukup karena dalam kehidupan dibutuhkan saling menghormati. (4) maksim kerendahan hati (modesty maxim). jelas. tetapi penutur juga terikat pada aspek-aspek yang bersifat interpersonal. Leech berpendapat bahwa selain keempat maksim dalam prinsip kerjasama juga masih diperlukan prinsip kesantunan yang terjabar menjadi enam maksim. informasi usahakan relevan dengan pokok pembicaraan. dalam arti tidak hanya bagaimana membuat tuturan yang mudah dipahami oleh mitra tutur. dan menjaga kesopanan.53 1993: 11). (2) maksim kedermawanan (generosity maxim). (3) maksim pujian (approbation maxim). Terbentuknya komunikasi yang wajar tersebut karena penutur dalam memberikan informasi secukupnya tidak kurang dan tidak lebih sesuai yang diperlukan. dan teratur secara gramatikal. ringkas. informasi benar tidak keliru berdasarkan suatu realitas yang sebenarnya.

ternyata prinsip kerja sama itu sering tidak dipatuhi orang. lebih sering maksim-maksim dalam prinsip kerja sama itu dilanggar daripada dipatuhi. Hal ini didasarkan pada fungsi bahasa yang mencakup: (1) fungsi referensial atau informatif yang tujuannya untuk menyampaikan informasi (pesan). diharapkan tidak mengancam muka. adalah aturan pertuturan yang meminimalkan rasa anti pati terhadap orang lain dan memaksimalkan rasa simpati terhadap orang lain (Leech. 2006: 2). (6) maksim simpati (sympathy maxim). nyaman. adalah aturan pertuturan yang memaksimalkan kesepakatan terhadap orang lain. karena dapat diasumsikan bahwa apa yang . aman. (5) maksim kesepakatan (agreement maxim). dan (2) fungsi afektif yang bertujuan untuk menjaga dan memelihara hubungan sosial (Holmes dalam Asim Gunarwan. Dalam hal ini penutur berupaya memasukkan maksudnya secara implisit pada ujaran yang diungkapkan. kalau kita perhatikan praktik penggunaan bahasa di dalam komunikasi sehari-hari.54 ketidakhormatan terhadap diri sendiri dan meminimalkan rasa hormat terhadap diri sendiri. penutur merasa lebih santun. Penutur sering menyampaikan pesan tidak secara bald on record tetapi lebih banyak menyukai dengan cara off record. Tidak dipatuhi karena salah satu sebabnya adalah bahwa komunikasi itu tidak selalu berupa penyampaian pesan atau informasi belaka. Namun. 1993 : 206-207). Hal itu menunjukan bahwa dalam pertuturan. Paling tidak. Namun perlu disadari semua implikatur itu bersifat probabilistis. hubungan sosialnya tetap terjaga tanpa merasa terkendalai oleh faktor bahasa dan nonbahasa. Tampaklah bahwa ketidakpatuhan para partisipan dalam komunikasi karena pada dasarnya bahwa berkomunikasi itu lebih dipicu oleh motif-motif tertentu dari penutur.

untuk mengetahui dan memahami makna ujarannya. dan juga Sinyal (signal). Peranan ujaran atau tindak tutur sangat penting dalam rangka menyampaikan maksud penutur. tanda bahasa merupakan lambang (symbol). c. betapapun eksplisitnya proposisi. . Untuk dapat menentukan makna yang sebenarnya atau menyimpulkan interpretasi yang paling mungkin. Tindak Tutur Fungsi bahasa dalam kehidupan manusia sebagai makhluk sosial rupanya tidak dapat disangkal lagi. Untuk menarik makna sesuai dengan maksud penutur tidak cukup hanya dengan mengasumsikan makna proposisi ujaran. Dapat diinferensikan bahwa memahami maksud penutur. gejala (symptom). Bahasa sebagai fakta sosial telah diungkap pertama kali oleh Ferdinand de Saussure (1916). yaitu: ekspresif. tetapi kita juga harus mengetahui sikap penutur yang melatarbelakangi eksplikatur ujaran tersebut (Asim Gunarwan. Menurut Karl Buhler (1918). dan representatif. Relevansi teori Buhler dengan liku-liku pragmatik dijelaskan oleh Renkema (1993). apelatif. 2006: 9). Hal ini kemudian dikembangkan oleh para peneliti lain. Dalam hal ini tanda bahasa merupakan lambang yang memiliki daya sinyal untuk mengarahkan pendengar sebagai penanggap. bahasa dapat difungsikan menjadi tiga.55 dimaksud oleh penutur lewat tuturannya tidak pernah dapat kita ketahui dengan pasti. kita harus mengetahui sikap penutur. Karena pragmatik merupakan kajian tentang maksud penutur. dipilih bentuk-bentuk ungkapan yang memiliki makna paling relevan dari semua siratan yang secara potensial dapat timbul. tidak cukup mengetahui eksplikatur ujaran. sesuai dengan maksud percakapan. Berdasarkan teori tanda bahasa di dalam model Organon Buhler.

ramah. merupakan pakar linguistik yang telah mendeskripsikan fungsi bahasa berdasarkan realitas kehidupan bahasa dalam masyarakat. Karl Buhler (1918). dari hasil penelitian terhadap masyarakat primitif di Papua Melanesia. Terkait dengan fungsi bahasa. Perkembangan selanjutnya Malinowski (1923: 310). Dari pernyataan tersebut jelas bahwa bahasa difungsikan sebagai tujuan sosial untuk menjaga hubungan ikatan antarpersonal bagi yang terlibat dalam sebuah pertuturan. Malinowski (1923).56 bahwa ujaran yang disampaikan oleh sender dapat diterima dan dipahami pada tingkat yang sama atau berbeda oleh receiver artinya gejala tidak selalu sama dengan sinyal. maka akan terjadi masalah pragmatik. Teori fungsi bahasa dari ketiga pakar tersebut merupakan langkah awal berkembangnya fungsi bahasa yang mendorong lahirnya teori pragmatik oleh . 2006: 36). santun. Apabila objek acuan sender sebagai message dapat diterima dan dipahami pada tingkat yang sama atau tepat oleh receiver. menyatakan bahwa ujaran hanya akan dapat dipahami jika ditafsirkan dalam konteks situasi. Komunikasi fatis merupakan strategi masyarakat modern maupun masyarakat primitif dalam rangka menjaga interaksi sosial terpelihara dengan baik. dan harmonis. Sebaliknya jika yang terjadi pemahaman receiver atas objek referensi sender berbeda bahkan berlainan sama sekali. artinya bahwa komunikasi efektif dan berhasil. Sekarang tampak bahwa tokoh – tokoh seperti: Ferdinand de Saussure (1916). Malinowski mengungkapkan sebuah konsep Phatic Communion: ‘A type of speech in which ties of union are created by a mere exchange of words’ (lihat Jumanto. Mereka dengan sadar mengembangkan teori fungsi bahasa secara berkelanjutan.

Terkait dengan liku-liku Speech act. .” Tuturan tersebut dimaksudkan untuk melakukan tindakan yakni melarang atau menyuruh untuk tidak menghisap rokok. Cutting. Contohnya: “ Peneliti mohon maaf atas keterlambatan peneliti. 2002: 16. yang kemudian dikembangkan dan dipopulerkan secara universal oleh muridnya yang bernama Searle (1969). Searle dalam bukunya “Speech Acts: An Essay in The Philosophy of Language” (1969:23-24) mengemukakan bahwa secara pragmatik setidak-tidaknya ada tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan oleh seorang penutur. “ Sebaiknya anda tidak merokok. d. kita dapat mengkajinya dengan sebuah teori tindak tutur yang diperikan menjadi beberapa jenis tindak tutur. Tindak Tutur menurut Austin (1956) Teori tindak tutur pertama kali diungkapkan oleh Austin (1956). yakni tindak lokusi (locutionary act). 1996: 17-19. 2006: 83-84). Menurut Searle bahwa pada setiap komunikasi linguistik terdapat tindak tutur.” Ujaran atau tindak tutur tersebut dipergunakan untuk melakukan tindakan yaitu menyuruh untuk menyirami. Yule. Wijana. Speech act menurut Austin di dalam mengutarakan tuturan. dan tindak perlokusi (perlocutionary act) (lihat Leech. seorang ahli filsafat senior dari Inggris. Jenis-jenis Tindak Tutur d.” Contoh ujaran atau kalimat tersebut dipergunakan untuk melakukan tindakan yaitu tindakan meminta maaf.57 Austin (1956) yang kemudian dijabarkan dan dimanifestasikan dalam konsep-konsep tindak tutur Searle (1969) berikutnya. seseorang dapat melakukan sesuatu selain mengatakan sesuatu. “ Wah. tindak ilokusi (illocutionary act). tanamannya layu.1. 1993:316.

Maksud tuturan tidak selamanya dinyatakan secara eksplisit. 1987: 4. dan perlocutionary act atau perlocutionary effect merupakan teori yang akan peneliti gunakan sebagai ancangan untuk mengkaji implikatur. sehingga kita sering mengalami kesulitan untuk memahami maksud tuturan atau implikaturnya. . a. tanpa tendensi atau maksudmaksud tertentu di balik kalimat atau ujaran. untuk mencermati dan memahami maksud penutur dengan seluruh aspek yang melatarbelakangi (konteks). Hal ini terkait dengan pemahaman bahwa pragmatik adalah cabang linguistik yang mengkaji maksud penutur (the speakers meaning) yang terdapat di balik tuturannya. Tindak Lokusi (locutionary act). Tindak Ilokusi (illocutionary act). Adapun ketiga jenis tindak tutur itu. yaitu locutionary act. yakni subjek atau topik dan predikat atau commet (lihat Nababan. tetapi lebih menurut apa adanya. akan tetapi banyak juga bahkan dapat peneliti katakan cukup dominan maksud penutur yang diimplisitkan pada realitas kehidupan. Bila diamati secara seksama tindak lokusi itu adalah konsep yang berkaitan dengan proposisi kalimat.58 Ketiga teori tindak tutur. illocutionary act atau illocutionary force. 1996: 18). Tindak tutur ini sering disebut sebagai The Act of Saying Something. Untuk itu diperlukan seperangkat pengetahuan tentang berbagai jenis tindak tutur. lebih lanjut dijelaskan sebagai berikut. Kalimat atau tuturan dalam hal ini dipandang sebagai satu kesatuan yang terdiri dari minimal dua unsur. b. Wijana. Tuturan yang diutarakan oleh penuturnya lebih bersifat menginformasikan sesuatu. Tindak lokusi adalah tindak tutur untuk menyatakan sesuatu.

ilokusi atau perlokusi. Dalam tindak lokusi bentuk-bentuk kebahasaan sebagai alat untuk mengungkapkan informasi secara eksplisit. Tindak perlokusi adalah tindak tutur yang pengutaraannya dimaksudkan untuk mempengaruhi lawan tuturnya. Dapat ditegaskan bahwa setiap tuturan dari seorang penutur memungkinkan sekali mengandung salah satu dari ketiga: lokusi. Efek yang timbul ini bisa sengaja maupun tidak sengaja. Tidak semata-mata tindak perlokusi hanya ditarik dari makna ujaran. Kunci utama yang perlu diperhatikan . Selanjutnya tindak perlokusi sebagai final maksud suatu ujaran di dalam komunikasi bahasa. Dalam tindak ilokusi dan perlokusi bentuk-bentuk kebahasaan sebagai simbol untuk mengungkapkan maksud yang sebenarnya. Tindak ilokusi sangat dominan kita jumpai dalam komunikasi sehari-hari. tindak ini merupakan bagian sentral untuk memahami tindak tutur. kebiasaan antara pendengar dan pembicara sama.59 Tindak ilokusi adalah tindak tutur yang berfungsi untuk mengatakan atau menginformasikan sesuatu dan dipergunakan untuk melakukan sesuatu. Tindak Perlokusi (perlocutionary act). c. tindak ilokusi mendasari tindak perlokusi. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa satu tuturan mengandung dua atau ketiga-tiganya sekaligus. Simbol itu dapat ditangkap sebagai sesuatu isyarat maksud tertentu jika wawasan budaya. Sebuah tuturan yang diutarakan seseorang seringkali mempunyai daya pengaruh (perlocutionary effect) atau efek bagi yang mendengarnya. Tindak ilokusi disebut sebagai The Act of Doing Something. Berdasarkan uraian-uraian di atas menunjukkan bahwa tindak lokusi mendasari tindak ilokusi. Tindak perlokusi disebut sebagai The Act of Affecting Someone. karena harus melibatkan konteks tuturannya.

ialah bentuk tindak tutur yang berfungsi untuk menyatakan atau mengungkapkan sikap psikologis penutur dalam menanggapi suatu keadaan. mendesak. mengundang.2. Searle (1979) mengklasifikasikan tindak tutur ilokusi menjadi lima jenis tuturan. membuat hipotesa. yakni: asertif. 2002: 16-17).60 bahwa dalam analisis pragmatik adalah mencermati ilokusi-ilokusi yang terdapat pada tindak tutur dari penutur yang hendak dikomunikasikan pada mitra tutur. untuk mencari implikatur atau makna di balik ujaran yang tersirat bukan sekadar makna yang tersurat dalam ujaran dimaksud. misalnya: meminta maaf. d. yaitu: d. menuntut. mengusulkan. mengucapkan selamat. komisif. menyesal. Direktif. Dari masing-masing tindak tutur mempunyai fungsi komunikatif. ekspresif. Ekspresif. dan mengeluh. Tidaklah dipungkiri bahwa dalam kajian tindak tutur ilokusi tidak lepas dari tindak tutur lokusi dan tindak tutur perlokusi. membual.2. meramalkan. . menyarankan.1. melarang. misalnya: menggambarkan. memohon. d. menyatakan.2. misalnya: menyuruh. dan melaporkan. mengkritik. Cutting.3. Asertif ialah bentuk tindak tutur yang mengikat penuturnya kepada kebenaran atas hal yang dikatakannya. direktif. dan menantang.2. penyesalan. ialah bentuk tindak tutur yang dimaksudkan oleh penuturnya untuk mempengaruhi mitra tutur agar melakukan tindakan sesuai dengan maksud penutur. mengeluh. Tindak Tutur menurut Searle (1979) Sehubungan dengan pengertian tindak tutur atau tindak ujar. memuji. d. mengucapkan terima kasih.2. dan deklarasi (lihat Leech. 1996: 164-165. memesan.

berkaul dan sukarela. dan pendeskripsian. melarang. secara garis besar fungsi tindak tutur diklasifikasi menjadi lima jenis. menekankan. Deklaratif.3. d.4.3. mengizinkan.3. penegasan. memberi nama.3. memecat.1. mengancam.2. Deklaratif ialah jenis tindak tutur yang mengubah dunia melalui tuturan. menolak.4. Direktif ialah jenis tindak tutur yang dipakai oleh penutur untuk menyuruh orang lain melakukan sesuatu. d. Komisif. dalam konteks khusus. tawaran. mengundurkan diri. misalnya: berjanji. memutuskan. ialah tindak tutur yang dilakukan si penutur dengan maksud untuk menciptakan hal (status. kesulitan. kesukaan. mengucilkan. membaptis. d. Tindak tutur ekspresif merupakan cerminan dari pernyataanpernyataan psikologis dan dapat berupa pernyataan kegembiraan.3. misalnya: meyakinkan. d. untuk menyatakan atau mengemukakan deklarasi secara tepat. Pernyataan tersebut berdasarkan pada fakta. yaitu: d. simpulan. bersumpah. mendeklarasikan. keadaan dan sebagainya) yang baru. memberikan maaf.2.2. dan menjatuhkan hukuman. Ekspresif ialah jenis tindak tutur yang menyatakan sesuatu yang dirasakan oleh penutur. Tindak Tutur menurut Yule (1996) Menurut Yule (1996). kebencian. dan bisa kesengsaraan atau kesedian. d.61 d. membatalkan. ialah bentuk tindak tutur yang mengikat penuturnya melaksanakan segala hal yang disebutkan dalam ujarannya.5. kesenangan. Bentuk tindak tutur direktif digunakan . Dalam hal ini penutur harus mempunyai peran institusional khusus. mengangkat. Representatif ialah jenis tindak tutur yang menyatakan apa yang diyakini penutur.3.

seperti yang dikemukakan dalam bukunya “Introducing English Semantics” (1998:183-194). misalnya tindakan mohon maaf.3.5. yaitu: d. dan penolakan.4. Tindak tutur ini meliputi: perintah. tindak tutur asertif selalu berkaitan dengan fakta. berjanji.2. Tindak tutur Performatif Tindak tutur performatif adalah tuturan yang pengutaraannya difungsikan atau digunakan untuk melakukan suatu tindakan. dan secara umum mereka dapat dibenarkan atau disalahkan bukan hanya pada waktu tindak tutur tersebut keluar atau oleh mereka yang mendengarnya. permohonan. d. dan pemberian saran. namun secara lebih umum mereka adalah subjek bagi penyelidikan empiris. pemesanan. data. pengetahuan. benar atau salah. dan meresmikan. Tindak-tutur performatif ditemukan pada ucapan-ucapan pernikahan. bertaruh.4. Kreidler mengkategorisasikan tindak tutur menjadi tujuh jenis bentuk tindak tutur.62 untuk menyatakan apa yang menjadi keinginan penutur. yang bentuknya dapat berupa kalimat positif dan negatif. pemecatan kerja. ikrar.1. apa yang ada atau yang telah ada. penjatuhan hukuman . Tindak tutur komisif dapat berupa: janji.4. Tindak tutur asertif bersifat menginformasikan. Komisif ialah jenis tindak tutur yang dipahami oleh penutur untuk mengikatkan dirinya terhadap tindakan-tindakan di masa yang akan datang. ancaman. d. Tindak Tutur menurut Kreidler (1998) Dalam perkembangan selanjutnya. mengumumkan. apa yang sedang terjadi atau yang telah terjadi. Tindak tutur Asertif Di sini penutur menggunakan bahasa untuk menyampaikan apa yang mereka percayai dan apa yang mereka ketahui. d.

4.63 dan lain-lain di mana hanya orang-orang tertentu dan pada lingkungan yang sesuai yang diterima oleh mitra tutur. bentuk menghargai. “terima kasih… untuk”. mengucapkan terima kasih. Sikap itu bisa ditanggapi secara positif dengan mengucapkan “selamat… untuk”. Di samping dalam bentuk tuturan di atas. “bangga… untuk”. Tindak tutur performatif bukanlah masalah benar atau salah tetapi tujuannya adalah untuk membuat bagian dari dunia ini sepaham dengan apa yang ia katakan. Tindak tutur restrospeksi adalah jika penutur menilai sikap yang telah dilakukan mitra tutur di masa lalu.Tindak tutur Verdiktif Tindak tutur verdiktif adalah tindak tutur yang berorientasi pada perbuatan yang sudah terjadi atau bersifat retrospektif. atau mungkin hasil bertindak atau kegagalan sekarang. tindak tutur verdiktif dapat berupa tuturan yang bersifat menuduh. . 1999. mengucapkan selamat.4. dan berbelasungkawa. menyalahkan atau tanggapan yang mengarah pada penilaian yang negatif. dan menyanjung.3. mengeluh. Kebanyakan tindak tutur performatif diungkapkan pada setting formal dan berkaitan dengan kepegawaian. mengkritik. menyalahkan. mendakwa. Tuturan-tuturan ekspresif itu mencerminkan pernyataan-pernyataan psikologis yang dapat berupa: memuji. Tindak tutur ekspresif adalah jenis tindak tutur yang menyatakan sesuatu yang dirasakan oleh penutur. d. Tindak tutur Ekspresif Tindak tutur ekspresif menilai atau mengevaluasi tindakan sebelumnya atau kegagalan dalam tindakan tersebut dari penutur.4. 30). d. Menurut Fraser tindak tutur ekspresif disebut pula tindak tutur evaluatif (dalam Rustono.

mendesak.4.64 d. menagih. Tindak tutur Komisif. d. “maaf peneliti”. Tindak tutur fatik merupakan bentuk tindak tutur yang berfungsi untuk menjalin hubungan sosial. pengandaian. Tindak tutur direktif ini tuturan-tuturannya mempunyai maksud untuk memaksa. meminta. dapat berbentuk: (1) kalimat perintah (imperatif). ikrar. menyarankan. memohon. dan (3) kalimat tanya (interogatif).7. menyuruh. dan menantang. Tindak tutur Patik. Bahasa patik tidak begitu berfungsi dengan jelas jika dibandingkan dengan enam tipe lainnya tetapi. ucapan perpisahan.6. memerintah. Tindak tutur komisif bersifat prospektif dan berkaitan dengan komitmen penutur pada perbuatan atau tindakan yang harus dilakukan untuk waktu yang akan datang. Tindak tutur komisif merupakan bentuk tindak tutur yang berfungsi untuk menyatakan janji-janji. Tindak tutur fatik merupakan bentuk tindak tutur keseharian yang sangat umum yang mungkin tidak kita pelajari . Tujuannya adalah untuk membangun solidaritas antar anggota-anggota dari lingkungannya. (2) kalimat berita (deklaratif). bukan seperti makna yang tersurat dan tersirat dalam tindak tutur verdiktif atau ekspresif. Pada aplikasinya tindak tutur direktif. yang mempunyai tujuan tertentu. ucapan-ucapan kesantunan seperti “terima kasih kembali”.4. Tindak tutur patik termasuk salam.5. tidak kalah arti pentingnya dalam realitas kehidupan sehari-hari. d. memberikan aba-aba. mengajak. Tindak tutur Direktif Tindak tutur direktif kadang-kadang disebut juga tindak tutur impositif adalah tindak tutur di mana penutur menginginkan mitra tutur melakukan suatu tindakan atau mengulangi tindakan. ancaman dan sumpah.4.

dan perlokusi. Persamaan istilah dan sekaligus persamaan pengertian. ilokusi. Selain itu menurut Searle dan Kreidler juga terdapat persamaan pada tindak tutur asertif. Perbedaan istilah tetapi pengertiannya sama. Dari keempat pakar yaitu: Austin. dan komisif. Dari hasil pengklasifikasian tersebut terdapat beberapa persamaan dan perbedaan: 1. persamaan juga terletak pada tindak tutur deklaratif. Sedangkan bentuk atau ragamnya tindak tutur fatik sudah terpola. Konsep tindak tutur Austin merupakan dasar utama yang melandasi fungsi tindak tutur yang muncul di kemudian. karena Austin merupakan orang pertama kali yang mengemukakan teori tindak tutur yang membaginya menjadi tiga bentuk yaitu: lokusi. dan Yule tentang fungsi tindak tutur tersebut dapat peneliti verifikasi sebagai berikut. Di samping itu menurut Searle dan Yule.65 tapi sudah melekat dan menjadi kebiasaan sehari-hari yang bernilai baik dan beretika. Kreidler. Dalam perkembangannya teori tindak tutur di tangan para pakar diklasifikasikan menurut fungsinya yang secara garis besar memiliki kesamaan. Searle. fungsi tindak tutur deklaratif mempunyai persamaan pengertian dengan fungsi tindak tutur performatif menurut Kreidler. 2. meliputi tindak tutur: direktif. bentuk fungsi tindak tutur menurut Searle. Kreidler. . dan Yule. Menurut Searle dan Kreidler tentang fungsi tindak tutur asertif mempunyai persamaan pengertian dengan fungsi tindak tutur representatif menurut Yule. sedangkan menurut Searle dan Yule. ekspresif.

Begitu pula ketika seseorang mencintai orang lain. Dari ketiga fungsi tindak tutur yang dikemukakan oleh Searle. kedua fungsi tindak tutur tersebut sangat bermanfaat untuk menganalisis tindak tutur teks satra tembang dan bahasa nonverbal yang terdapat pada genre tari pasihan. optimal. dan Kreidler. dan berkualitas. rasional.66 3. Perbedaan jumlah fungsi tindak tutur. peneliti akan menggunakan fungsi tindak tutur menurut Kreidler karena tampak dari jumlah pengklasifikasian Kreidler lebih banyak yang masing-masing tindak tutur memiliki karakter yang spesifik sehingga dapat lebih mengakomodasi kebutuhan analisis bahasa verbal dan nonverbal yang terdapat dalam genre tari pasihan. Selain itu terkait juga dengan fungsi tindak tutur verdiktif dan tindak tutur fatik yang tidak dimiliki dalam fungsi tindak tuturnya Searle dan Yule. Peserta pertuturan sering menggunakan bahasa fatik untuk sekedar memulai pembicaraan atau sekadar basa-basi mungkin juga untuk memecahkan kesenyapan yang kesemunya itu berlangsung dalam pertuturan seharihari. sedangkan Searle dan Yule masing-masing mengklasifikasikan menjadi lima bentuk tindak tutur. Hal ini ditunjukan oleh Kreidler yang membagi fungsi tindak tutur menjadi tujuh bentuk. Pada dasarnya penutur dalam mengungkapkan maksudnya terhadap mitra tutur tidak selalu langsung pokok pembicaraan. ungkapan memuji merupakan pernyataan yang cukup dominan dalam sebuah pertuturan. Selain itu dari penjabarannya fungsi tindak tutur yang . Prediksi peneliti. Terkait dengan kelebihan yang dimiliki tersebut gagasan utama pemilihan dimaksud adalah dalam rangka mencari dan menentukan implikatur yang valid sehingga pragmatik genre pasihan dapat diungkapkan secara menyeluruh. Yule.

bahwa setiap maksim interpersonal itu dapat dimanfaatkan untuk menentukan peringkat kesantunan sebuah tuturan. gerak tubuh (kinetic body moves). menyeluruh. dan . pola lantai. 1. 2.67 dilakukan Kreidler tampak lebih transparan. busana. Skala Kesantunan Leech (1983) Teori kesantunan Leech (1983). sindhenan. Penutur meliputi: seniman penyusun (pengkarya). yang dipaparkan dengan menggunakan bagan antara lain tindak tutur: komisif . polatan (ekspresi wajah). Berikut kesantunan menurut Leech selengkapnya: verdiktif. dan penari. Prinsip Kesantunan (PS) e. direktif. ekspresif. dan jineman. dan iringan. e. cakepan (syair) pathetan. b. Terutama terkait dengan latar belakang konsepsi penciptaan bahasa verbal dan nonverbal serta ciri karakteristik genre tari pasihan gaya Surakarta. Mitra tutur meliputi: pakar. gerongan. rias. tindak tutur bahasa verbal yang berupa teks sastra tembang terdiri dari. tindak tutur bahasa nonverbal yang meliputi: tema. hal ini dapat dicermati dalam bukunya yang berjudul “Introducing English Semantics”. Adapun unsur-unsurnya dapat diurai sebagai berikut.1. dan penanggap sebagai masyarakat pendukung budayanya. dan rinci dalam rangka menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pada rumusan masalah. 3. Tindak tutur tersebut akan peneliti gunakan untuk mengkaji komponenkomponen yang terdapat pada genre tari pasihan gaya Surakarta baik yang terdapat pada bahasa verbal dan nonverbal secara tajam. penonton umum. Tuturan (karya seni) meliputi: a.

akan semakin tidak santun tindak tuturnya. Akan tetapi jika jarak status sosial semakin dekat antara penutur dengan mitra tutur. apabila pertuturan itu membatasi peserta tutur untuk memilih tuturan maka tindak tutur semakin tidak santun. akan semakin santun tindak tuturnya.5. Jarak hubungan sosial semakin jauh antara penutur dengan mitra tutur.4. Social distance scale adalah skala yang menunjuk pada peringkat hubungan sosial antara penutur dan mitra tutur.2. Jika pertuturan itu banyak memberikan kesempatan peserta tutur untuk memilih tuturan maka tindak tutur akan semakin santun.1. dan jika banyak menguntungkan penutur akan dianggap tindak tuturnya semakin tidak santun.1. e. e. Tindak tutur yang bersifat langsung semakin tidak santun. e. Indirectness scale adalah skala yang menunjuk pada langsung dan tidak langsungnya maksud tindak tutur dalam pertuturan. Sebaliknya.3. akan semakin tidak santun tindak tuturnya. sedangkan tindak tutur yang bersifat tidak langsung akan semakin santun.1. Sedangkan semakin dekat hubungan sosial antara penutur dengan mitra tutur.1. Tindak tutur yang banyak merugikan penutur akan dianggap semakin santun. Authority scale adalah skala yang menunjuk pada hubungan status sosial antara penutur dengan mitra tutur.1. .1. Optionality scale adalah skala yang menunjuk pada sedikit-banyaknya pilihan tindak tutur yang digunakan peserta tutur dalam pertuturan.68 e. Jarak status sosial (rank rating) semakin jauh antara penutur dengan mitra tutur. akan semakin santun tindak tuturnya.. e. Cost-benefit scale adalah skala yang menunjuk pada untung ruginya peserta tutur dalam pertuturan.

dan menyelamatkan muka dalam percakapan. yakni muka positif (positive face) dan muka negatif (negative face). dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur. sedangkan strategi kesantunan negatif (negative politeness strategies) yang digunakan untuk menunjukkan adanya jarak sosial antara penutur dengan mitra tutur. b) penggunaan muka dalam komunikasi.2. Menurut Goffman (1959. 1987: 62). pada dasarnya setiap orang dianggap memiliki dua muka. yang keduanya dimaksudkan untuk menunjukkan. Brown dan Levinson menggunakan dua cara yaitu strategi kesantunan positif yang mengacu pada muka positif dan strategi kesantunan negatif yang mengacu pada muka negatif. Dalam percakapan untuk mengungkapkan kesantunan. Kajian kesantunan Brown dan Levinson mencakup: a) cara mengungkapkan jarak sosial (social distance) dan hubungan peran yang berbeda dalam komunikasi. keintiman. 1967).69 e. . Skala Kesantunan Brown dan Levinson (1987) Teori kesantunan Brown dan Levinson (1987) seperti dikutip Jumanto dalam disertasinya (2006: 47-53). Strategi kesantunan positif (positive politeness strategies) yang digunakan untuk menunjukkan kedekatan. Muka positif dimaksudkan bahwa keinginan setiap orang supaya segala tindakannya dihargai oleh orang lain. bahwa dalam sebuah pertuturan terkait dengan pengaturan muka terbagi menjadi dua yaitu tindak tutur yang berpotensi mengancam muka (face-threatening acts/FTA) dan tindak tutur yang berpotensi menyelematkan muka (face-saving acts/FSA). memelihara. sedangkan muka negatif dimaksudkan bahwa keinginan setiap orang supaya segala tindakannya tidak dihalangi orang lain ( Brown dan Levinson.

untuk menunjukkan adanya jarak sosial antara penutur dengan mitra tutur. f. Prinsip kerja sama Grice (1975) seperti dikutip Leech (1993: 11). yaitu: maksim kuantitas. 3) melakukan tindak tutur dengan menggunakan kesantunan negatif mengacu muka negatif (negative politiness). dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur. Implikatur dan Daya Pragmatik f. setidaknya dapat meminimalisasi . untuk menunjukkan kedekatan. dan maksim cara.70 Teori kesantunan Brown dan Levinson dapat diringkas menjadi lima strategi. kita harus menghubung-hubungkan tindak ujar yang disampaikan penutur terhadap mitra tutur dengan konteks. Implikatur Istilah implikatur berasal dari bahasa Latin plicare yang berarti “melipat. keintiman. Cara yang ditempuh untuk memahami implikatur dalam komunikasi sehari-hari. Dari sini kemudian asal makna kata implikatur. yang diasalkan dari kata “implied” yang berarti “folded in“ (terlipat) dan harus dibuka lipatan tersebut (unfolded) jika kita ingin mengetahui artinya. maksim kualitas. Hal ini dilakukan untuk menghindari kesalahpahaman. 5) tidak melakukan tindak tutur atau diam (don’t do the FTA). yaitu: 1) melakukan tindak tutur secara apa adanya.1. 2) melakukan tindak tutur dengan menggunakan kesantunan positif mengacu muka positif (positive politiness).” Derivasinya dalam bahasa Inggris adalah kata kerja “to imply“ yang aslinya bermakna “to fold something into something else“ (melipat sesuatu ke dalam sesuatu yang lainnya). tanpa basa basi (bald on record) dengan mematuhi prinsip kerja sama Grice. maksim hubungan atau relevansi. terdiri dari empat maksim yang digunakan dalam percakapan. 4) melakukan tindak tutur secara tidak langsung (off record).

yang dijabarkan menjadi empat. Implikatur – implikatur yang disiratkan dalam ujaran merupakan sumber utama dari pragmatik yang difungsikan sebagai nilai komunikasi yang dimotifasi dari beragam keinginan penutur. komunikasi itu akan berjalan dengan efisien dan efektif jika para peserta tutur bekerjasama satu sama lain. Namun demikian penutur tidak selalu mematuhi maksim-maksim Grice tersebut. Artinya. maksim hubungan dan maksim cara. Mey . informasinya benar atau tidak keliru. Istilah implikatur percakapan dikaitkan dengan konsep Grice tentang prinsip kerjasama (PK) dan maksim-maksimnya. Secara ringkas seorang penutur dikatakan memenuhi maksim-maksim Grice apabila ia memberikan informasi tidak lebih atau tidak kurang dari yang dibutuhkan. sistematis. yakni makna atau pesan tambahan yang menjadi bagian dari komunikasi yang tidak dikatakan. Pelanggaran terhadap maksim Grice inilah oleh para pakar pragmatik disinyalir menyebabkan timbulnya suatu implikatur percakapan. Yule (1998). jelas. yaitu maksim kuantitas. Menurut Grice (1975: 45). Suatu respon percakapan yang tampaknya kurang tepat dapat menjadi berterima jika kita hubungkan dengan konteksnya. Jika keempat maksim itu dipenuhi maka penyampaian informasi akan menjadi efektif dan efisien. informasi itu relevan dengan pokok pembicaraan dan penyampaiannya baik dan mudah dipahami.71 kesalahan sewaktu kita menafsirkan maksud penutur. Sejalan pendapat Yule. langsung dan tidak bertele-tele. peserta komunikasi perlu mematuhi prinsip kerjasama (Cooperative Principle). menyatakan bahwa implikatur dalam pragmatik terkait dengan cara kita memahami suatu tuturan di dalam percakapan sesuai dengan yang kita harapkan. maksim kualitas.

implikatur adalah makna yang disiratkan dalam sebuah percakapan. Dari ketiga pakar secara ringkas dapat disarikan. implikatur percakapan adalah “ the notion of conversational implicature is one of the single most important ideas in pragmatics”. bentuk tuturan.72 (2001) memberi batasan bahwa implikatur adalah “an additional conveyed meaning”. dan konteks. . Tugas pragmatik adalah menjelaskan kaitan antara dua jenis arti tersebut yakni. Menurut Levinson (1983: 97. antara makna harfiah dengan daya atau ilokusi. Kaitan ini dapat bersifat langsung atau tidak langsung (1993: 45). maksudnya yakni makna tambahan yang lebih dari yang dikomunikasikan. Dalam hal ini. karena apa yang dimaksud oleh penutur dengan tuturannya tidak pernah dapat kita ketahui dengan pasti sekali. Ia berasumsi bahwa makna dapat diperikan lewat representasi semantik sedangkan daya diperikan melalui seperangkat implikatur. Hanya dengan beberapa faktor seperti kondisi yang dapat diamati.2. Daya Pragmatik Leech mempostulatkan bahwa pragmatik umum mengaitkan makna suatu tuturan dengan daya pragmatik tuturan tersebut. penutur yang memilih berkomunikasi dengan implikatur. Dasar hipotesisnya bahwa semua implikatur itu bersifat probabilistis. sedangkan mitra tutur (petutur) bertugas mengasumsikan bahwa penutur bekerjasama dalam percakapan yang mereka lakukan sehingga ia dapat mengenali makna tambahan yang dimaksudkan dalam percakapan dengan menarik simpulan (inference). Menurutnya implikatur dapat menjelaskan secara eksplisit tentang bagaimana memakai apa yang diucapkan secara lahiriah berbeda dengan apa yang dimaksud dan pemakai bahasa itu mengerti pesan yang dimaksud. f.

peraturan dan sebagainya. Jika kita cermati sebenarnya implikatur dan daya pragmatik merupakan dua buah batasan yang merujuk pada sebuah makna. dan c. gagasan. nilai-nilai. yakni: a. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide. b. bahwa daya mencakup makna. Artinya daya pragmatik kekuatan atau force yang muncul dari implikatur. tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar (Koentjacaraningrat. 1990:180). dapat diperikan melalui seperangkat implikatur. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat. menyatakan bahwa makna (sense) yaitu makna yang ditentukan secara semantis sedangkan daya (force) yaitu makna yang ditentukan secara semantis dan pragmatik. Teori Budaya. makna yang disiratkan dalam sebuah pertuturan. Adapun wujud kebudayaan mencakup tiga (3) substansi. dan secara pragmatik. 2. Dengan tegas Leech (1993: 24). Wujud kebudayaan berupa benda-benda hasil karya manusia.73 mitra tutur bertugas membuat simpulan interpretasi yang paling mungkin. baik implikatur maupun daya pragmatik secara garis besar mengacu pada satu objek yang sama yakni. norma-norma. Artinya bahwa masing-masing batasan. Sedangkan daya pragmatik menurut Leech. Dari beberapa pakar linguistik sependapat bahwa implikatur adalah makna yang disiratkan dalam sebuah percakapan. Adapun ikatan antara makna dan daya perlu disadari. merupakan . Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan. daya sekaligus juga dapat diturunkan dari makna.

Pewarisan budaya tidaklah bersifat statis. dan berinteraksi satu dengan lainnya. Seni tradisional termasuk tari sebagai budaya yang diwarisi secara turun-temurun sudah barang tentu memiliki kesinambungan dengan budaya sebelumnya. Sehingga keragaman budaya sebagai latar seseorang yang telah dibentuk sejak lahir akan mempengaruhi. Ogburn mengutarakan bahwa penemuan-penemuan baru memerlukan suatu latar belakang transmisi kebudayaan dari penemuan-penemuan terdahulu (dalam Soerjono Soekanto. kita dapat mengamati dan mencermati dari salah satu wujud kebudayaanya yang berupa seni pertunjukan tari. Wujud ide dan gagasan-gagasan manusia memberikan jiwa atau pun roh dalam kehidupan masyarakat. membentuk. yaitu bentuk dan iramanya kuat-kuat dilatarbelakangi oleh konsep keindahan dan tradisi kebudayaannya (Humardani. 2006).74 Wujud kebudayaan tersebut dalam realitas kehidupan masyarakat sosial tidak dapat dipisah-pisahkan. Sejalan dengan pendapat tersebut. berhubungan. dan menimbulkan sikap. dan hasil karya seseorang beragam pula (Sutopo. tetapi masing-masing . 1991:10). saling terdapat keterkaitan antar substansinya. yang dalam setiap kehidupan sosial selalu melibatkan intersubjektif dan pembentukan makna. norma-norma. Sistem sosial masyarakat yang mencakup aktivitas-aktivitas manusia dalam berkomunikasi. Untuk memahami budaya Jawa. Begitu pula kondisi kehidupan budaya seseorang sangat mempengaruhi persepsi dan penciptaan makna pada setiap peristiwa sosial. perilaku. peraturan yang telah disepakatinya. 1983:100). Dalam tari Jawa bentuk ekspresinya pada hakekatnya terwujud berdasarkan alam emosi. akan dikendalikan dan diatur oleh prinsip-prinsip nilai.

maka laju transpormasi menjadi penting artinya. Perubahan merupakan suatu kesinambungan yang lebih daripada sekedar patokan antara sebelum dan sesudah.75 generasi mencoba untuk mengadakan perubahan-perubahan disesuaikan dengan kondisi kehidupan masyarakat pendukungnya. saling terkait secara utuh. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupan manusia tidak terlepas dari adanya kecenderungan niat yang menghendaki suatu kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Dalam mencapai taraf hidup yang lebih baik. Dengan demikian tanpa jangka waktu tidak akan terjadi peristiwa perubahan. Bertolak . Semuanya berawal dan berakhir dalam suatu proses yang terus-menerus melalui dimensi waktu (Ibrahim Alfian. kompleksitas berbagai unsur–unsurnya yang membentuk suatu jalinan atau kesatuan. 1999:2). sehingga mampu memberikan daya apresiasi. Seni pertunjukan tari merupakan wujud keseluruhan dari sistem. ritual maupun untuk keperluan lain yang sifatnya terkait dengan pemenuhan kebutuhan sosial masyarakat. Seperti kehidupan seni tradisional kita yang dapat bertahan hidup dan lebih berkembang di tengah-tengah masyarakat. Tari sebagai wujud budaya yang merupakan hasil karya manusia diharapkan mampu memberikan manfaat. Karena pada dasarnya tari dapat terwujud dari komplemen berbagai elemen. manusia memiliki berbagai usaha lewat penemuan-penemuan baru untuk memenuhi sekaligus menjawab tuntutan kebutuhan yang muncul sesuai dengan konteks budaya yang berlaku. Wujud karya seni sebagai ekspresi seniman memiliki beragam pesan rupanya tidak mudah untuk dipahami untuk itu diperlukan sebuah kajian tersendiri. baik sebagai hiburan. Segala sesuatu yang dihadapi manusia di muka bumi ini dalam kehidupannya semua mempunyai temporalitas atau historisitas.

Kajiannya akan terkait dengan tiga komponen yaitu seniman sebagai faktor genetik. Pada analisisnya peneliti akan mengkaji keterkaitan nilai cinta kasih yang menjadi muatan genre tari pasihan dengan ritual perkawinan adat Jawa terutama bagi sepasang mempelai temanten. Adapun bentuk aplikasinya dirancang sebagai berikut. Nilai–nilai humanisme pada prinsipnya merupakan sumber nilai-nilai sekaligus lahan kajian yang utama dalam seni pertunjukan. Kompleks Aktivitas. Kompleks Ide.76 dari pandangan tersebut peneliti akan menggunakan teori budaya sebagai analisis karya seni yakni genre tari pasihan. norma-norma. Pada dasarnya bahwa masyarakat sebagai penghayat adalah masyarakat heterogen yang . karya seni sebagai faktor objektifnya. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat akan peneliti gunakan sebagai analisis faktor afektifnya atau persepsi masyarakat terhadap sajian genre tari pasihan. peraturan dan sebagainya akan digunakan sebagai kajian faktor genetik. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide gagasan. tidak terkecuali seni tari. b. Adapun isi sebagai kandungan makna pada genre tari pasihan adalah nilai cinta kasih yang merupakan salah satu nilai-nilai kehidupan yang fundamental. dan masyarakat yang bertindak penghayat sebagai faktor afektif. Terutama untuk mencermati latar belakang konsepsi penciptaan bagi penyusun tari sebagai muatan atau pesan pada genre tari pasihan gaya Surakarta yang hendak disampaikan kepada masyarakat sebagai penghayat atau penikmat. nilai-nilai. a.

Wujud kebudayaan berupa benda-benda hasil karya manusia terkait dengan analisis faktor objektif pada penelitian ini adalah karya seni yang berupa tari Karonsih dan tari Bondhan sayuk. Sedangkan aspek bahasa nonverbal meliputi: tema. peneliti akan mencermati lebih fokus pada hal-hal yang menyebabkan perbedaan dan persamaan persepsi masyarakat. . Terkait dengan analisis genre tari pasihan. Realitas yang demikian merupakan dinamika kehidupan yang wajar dalam dunia seni pertunjukan. 3. rias. dan iringan. serta mengapa hal itu terjadi. Benda Fisik. Analisis ini akan didasarkan pada aktivitas–aktivitas di lapangan terutama pada peristiwa pementasan tari duet percintaan tersebut pada ritual perkawinan adat Jawa. gerongan. polatan. Karya tari tersebut terdiri dari teks verbal (teks sastra tembang) yang berupa cakepan (syair) yang terdapat dalam pathetan. gerak tubuh (kinetic body moves).77 secara kultur beragam pula latar belakangnya. c. Teori Seni Pertunjukan. pola lantai. busana. Selain itu untuk mengetahui makna yang terkandung dalam teks verbal dan nonverbal genre tari pasihan dalam rangka merunut dan mengembangkan makna yang lebih central. Kedua aspek tersebut akan dikaji secara komplementer untuk mendapatkan gambaran yang utuh dan jawaban yang memadahi tentang ciri karakteristik genre tari pasihan gaya Surakarta. Berbekal keberagaman latar kultur tersebut akan mempengaruhi hasil hayatan yang berujung pada perbedaan-perbedaan dan sekaligus persamaan persepsi masyarakat. sindhenan. dan jineman.

apa lagi untuk melacak sejarahnya (2003:1). karena pada prinsipnya seni pertunjukan merupakan seni sesaat. Adapun elemen-eleman tari. artikulasi sebuah hasil kesatuan yang menyeluruh dari suatu hubungan dari berbagai faktor yang saling bergayutan. rias. . polatan. Hal itu sejalan dengan pendapat Soedarsono. saling melengkapi dan saling mendukung sehingga membentuk suatu jalinan yang saling berinteraksi untuk membentuk menjadi sebuah konstruksi penyajian tari. artinya bahwa seni pertunjukan dimaksud tidak dapat disajikan secara mandiri. ia sudah merupakan masalah yang cukup sulit apabila kita akan menelitinya. Masing-masing elemen tersebut saling komplementer yang pada penyajiannya akan terikat ruang dan waktu. pola lantai. busana. yakni meliputi: seni musik. Dari berbagai cabang seni tersebut satu dengan lainnya saling terkait. gerak tubuh. dan iringan. yang menyatakan bahwa seni pertunjukan sebagai seni yang hilang dalam waktu. Mengingat seni pertunjukan merupakan sarana untuk mengekspresikan maksud seniman maka unsur-unsur yang terdapat di dalamnya akan menjadi objek analisis. seni rupa. yang hanya bisa kita nikmati apabila seni tersebut sedang dipertunjukkan. 1998:15) bentuk dalam pengertian yang paling abstrak berarti struktur. yang utama terdiri dari: tema. seni sastra dan seni tari. Langer (dalam Widaryanto. Pada dasarnya bentuk seni pertunjukan tari merupakan wujud keseluruhan dari beberapa cabang seni yang sangat fundamental. akan tetapi lebih merupakan suatu perpaduan dari beberapa cabang seni yang merupakan satu kesatuan menjadi suatu bentuk yang utuh. Teori seni pertunjukan dapat mengungkap makna dari masing-masing unsur. Menurut Suzanne K.78 Seni pertunjukan pada umumnya merupakan seni kolektif.

menurut sifatnya dapat digolongkan ke dalam berbagai bentuk gerak. antara lain: Mahabharata. gerak kata baru. seperti Cinderela. Si Kaya dan Si Miskin. di antaranya: gerak aktif. Gerak Tubuh (kinetic body moves) Gerak tubuh manusia. dan gerak praktis (Humardani. gerak indah. Tema Tema adalah rujukan cerita yang dapat menghantarkan seseorang pada pemahaman esensi nilai-nilai kehidupan. gerak kata. Contohnya: angkat bahu. yang selanjutnya dijabarkan menjadi alur cerita sebagai kerangka sebuah garapan. 1991: 6-9). Gerak aktif adalah gerak tubuh yang mengandung maksud-maksud tertentu. tutup telinga dan sebagainya. Selain sumber-sumber cerita itu terdapat cerita-cerita fiktif yang sering diangkat dalam layar kaca.79 sejak dari antarunit hingga antarkomponen yang lebih besar dan keterkaitannya untuk pengembangan temuan makna secara total. layar lebar. Babad. cerita rakyat. yang dilakukan sedemikian rupa sehingga lawan tergerak atau terpacu. a. gerak bagian. Gerak kata adalah gerak-gerak aktif yang digunakan untuk menceriterakan suatu maksud. gerak tari. Dalam seni pertunjukan di Indonesia cerita-cerita yang dipilih lazimnya bertolak pada sumber cerita yang pokok. dan pada pertunjukan teater-teater modern. Adapun elemenelemen tari yang dimaksud antara lain dapat kita cermati berikut ini. Ramayana. b. Kiamat Sudah Dekat. Si Buta dari Gua Hantu. Dengan teori seni pertunjukan akan peneliti gunakan untuk mengkaji elemen-elemen yang terkandung di dalam tari untuk mengungkapkan dari faktor objektifnya dan faktor genetik. Tema dapat ditarik dari sebuah peristiwa atau cerita. Contohnya: kesatuan dari rangkaian gerak . pejam mata. mitos dan sejarah.

dimaksudkan untuk mengungkapkan rasa sedih. tangan kanan memegang kening. Gerak bagian adalah bagian dari gerak kata. Pembagian tersebut rupanya tidak sepenuhnya dapat memberikan gambaran yang jelas. Baginya tubuh merupakan objek yang tidak pernah ada habis- . Gerak tari merupakan penggarapan dari gerak bagian atau gerak kata sehingga mencapai pada tingkat abstraksi gerak yang sungguh-sungguh. dan dinamik tertentu. bisa kecewa. Gerak tubuh merupakan kekayaan makna komunikasi non verbal tanpa suara yang mampu memikat perhatian bagi seorang seniman. contohnya kepala menunduk dari rangkaian gerak kata rangkaian gerak kepala menunduk. karate. Bentuk lain: kepala mengangguk. tangan kiri memegang perut. tangan kanan memegang kening. Gerak indah adalah gerak kata baru yang sudah mengalami penggarapan lebih sempurna untuk mengungkapkan keindahan semata tanpa maksud verbal. sebagai contoh pembatasan mengenai gerak indah dengan gerak tari yang masing-masing rupanya menghindari arti verbal maupun arti dengan gerak seharihari.80 kepala menunduk. volume. berjalan. tangan melambai. sehingga hasilnya seolah-olah gerak yang lepas tanpa berkaitan arti dengan gerak sehari-hari. Gerak praktis merupakan gerak yang mengandung guna praktis. sehingga arti verbal maupun nonverbal tidak pernah akan dapat terlepas dengan gerak tubuh manusia sebagai kandungan maksud atau makna yang hendak diekspresikan. Hal ini tidaklah cukup beralasan. dan sambil duduk. tangan kiri memegang perut. kepala menggeleng. dan sebagainya. bisa merenung. Gerak kata baru adalah gerak kata yang sudah digarap dari segi bentuk dan diselaraskan dengan tempo.dan bisa juga menyesal. dan sambil duduk. Contohnya: berlari. karena realitas yang kita hadapi bahwa gerak manusia selalu konteks dengan lingkungan.

artinya gerak yang dihasilkan dari imitasi terhadap sesuatu. Pada prinsipnya seluruh gerak tubuh dapat menjadi medium dalam tari. yakni gerak presentatif dan representatif. begitu berlangsung berulang-ulang yang tidak pernah harus kehabisan materi atau bahannya. Keduanya hadir dalam jagad tari. Pertimbangan yang utama untuk menjadikannya gerak tubuh dan gerak nontubuh menjadi tari adalah dengan cara mendistilisasi gerak sesuai kebutuhan ekspresi dan melihat karakteristik gaya dengan menggarap tempo. Polatan (ekspresi wajah) Polatan merupakan perubahan yang lebih fokus pada perubahan raut muka atau wajah. dan dinamik. namun kemunculannya tidak mudah untuk dipisah-pisahkan secara tegas. Kita akan banyak memperoleh informasi tentang kondisi emosional seseorang melalui ekspresi-ekspresi wajah mereka. di antaranya: apakah menunjukkan rasa sedih atau . karena wujud yang tampak sering samar-samar. volume. gerak ini difungsikan semata-mata untuk kebutuhan ekspresi. kemudian disajikan. Secara garis besar gerak dalam tari dapat dibagi menjadi dua bagian secara kasar. dieksplorasi. Sedangkan gerak representatif adalah gerak penghadir. Ekspresi wajah merupakan sarana untuk mendapatkan pemahaman lebih baik terhadap sesuatu yang sedang dikomunikasikan terhadap komunikan. hal itu sengaja dibuat untuk mengungkapkan ekspresi seniman atau penyusun tari. Gerak presentatif merupakan bentuk gerak yang tidak mempunyai arti secara khusus.81 habisnya sebagai sesuatu yang digali. c. dikaji. Kedua bentuk gerak baik presentatif maupun representatif merupakan medium utama dalam rangka memenuhi keperluan ekspresi.

Ekspresi wajah yang terdapat pada seni pertunjukan untuk mengekspresikan peran dalam keadaan suasana tertentu yang dalam implementasinya tidak lepas dari bekal pengalaman-pengalaman psikologis bagi seniman penyaji. Jika kita mengetahui dan menyadari berapa banyak otot yang terdapat pada wajah manusia. maka tidaklah mengherankan apa bila terdapat banyak pula macam ekspresi wajah yang dapat dihasilkan (lihat Wainwright. Mengingat bahwa dalam tari tradisi istana terutama peranperan yang karakternya tenang perubahan polatan sangat halus bahkan kerap kali tidak tampak. merasa tertarik atau menolak. untuk itu kesadaran awal yang harus fokus bahwa ekspresi wajah yang dibangun dari gerak tanpa diiukuti bahasa verbal secara langsung itu harus ditopang kecerdasan. dan sebagainya. polatan sangat berperan untuk mengekspresikan pada tingkat emosi yang secara komplementer akan membantu ekspresi gerak tubuh dalam rangka mengekspresikan totalitas peran atau tokoh. . merasa takut atau sedang marah. ekspresi wajah memiliki kekuatan yang sangat besar terkait dengan penampilan karakter pribadi maupun penjiwaan seseorang terhadap peran tokoh dalam membangun kualitas komunikasi yang berlangsung antarpeserta tutur.82 senang. Penari lebih dominan berkomunikasi dengan media gerak. Sehingga wajah sebagai media ekspresi akan selalu siap difungsikan untuk peran yang dikehendaki. Dalam dunia tari. penari sebagai aktor yang menyajikan peran. tembang dalam Langendriyan. Bagaimanapun tebal tipisnya ekspresi wajah dalam komunikasi antarperan. ketajaman dan kepekaan rasa yang dimiliki sebagai modal utama yang selalu harus diolah. 2006: 42). dapat secara langsung berkomunikasi dengan media antawecana seperti dalam wayang wong.

Pada dasarnya garis yang terbentuk pada floor design secara garis besar terdiri dari dua pola garis dasar yaitu garis lurus dan garis lengkung (Soedarsono. Garis-garis yang dibentuk penari tersebut merupakan garis imajiner yang hanya dapat ditangkap dengan kepekaan rasa. Sedangkan garis lengkung lebih memberikan kesan lembut. yaitu: (1) .83 d. 1978:23). Masing-masing bentuk garis mempunyai kekuatan yang tercermin dalam kesan atau ilusi. Kadar perubahan wajah dimaksud sangat relatif artinya bahwa pada setiap rias. Menurut peneliti rias dapat diklasifikasi menjadi tiga jenis. Selain itu garis lurus juga banyak digunakan untuk garapan pola-pola perangan. Pola lantai (floor design) Pola lantai merupakan garis yang dibentuk dari gerak tubuh seorang penari yang terlintas pada lantai. yang dalam pertunjukan tari Jawa banyak digunakan dalam pola garapan tari gagah dan sebagian pola garapan tari alus maupun tari putri yang berkarakter lanyap. yang dominan untuk pola lantai garapan putri luruh dan peran alus lurus. masingmasing individu berusaha menampilkan wajah sesuai dengan ekspresi yang dikehendaki. serta banyak difungsikan dalam garapan yang bertemakan percintaan. Garis lurus mempunyai kesan kuat dan sederhana. e. Rias Rias adalah strategi untuk mengubah wajah pribadi dengan alat-alat kosmetik yang disesuaikan dengan karakter figur supaya tampil lebih percaya diri. Wujudnya bersifat ilusi atau bayangan yang tampak menyatu luluh komplemen dengan arah gerak tubuh penari.

Sedangkan rias peran adalah bentuk rias yang digunakan untuk penyajian peran sebagai tuntutan ekspresi pertunjukan. f. kesatria dan peran putri yang berjiwa dinamis. Warna putih mempunyai kesan suci. agresif. Bentuk rias peran lebih dikonsentrasikan untuk seni pertunjukan yang digunakan untuk penampilan di panggung seperti panggung konvensional. Hitam tampak memiliki kesan bijaksana. Merah lebih memberikan kesan berani. Rias informal adalah rias yang difungsikan untuk urusan domestik. panggung modern. Secara umum warna-warna dasar mempunyai sifat teatrikal dan sentuhan emosional sebagai lantaran simbolisasi tertentu dalam budaya seni pertunjukan tari. dan dinamis yang banyak diperuntukan tokoh-tokoh raja yang sombong. dan anggun terutama untuk tokoh-tokoh putri seperti . Artinya warna dapat digunakan sebagai simbol-simbol dalam kehidupan. layar kaca. Begitu pula asal seseorang dapat kita ketahui dari gaya dan mode pakaian yang dikenakan. raksasa. berwibawa. namun masing–masing daerah berbeda dalam memaknai bergantung latar belakang budayanya. Setidaknya dalam tari Jawa. layar lebar dan bentuk lainnya. Kedudukan seseorang dalam masyarakat akan tampak jika kita perhatikan dari busana yang dipakai. (2) rias informal. dan juga berhubungan dengan kehidupan nirwana.84 rias formal. setia. esensi makna yang diungkapkan dapat ditarik dari kesan yang ditimbulkan dari warna-warna dimaksud. Rias formal merupakan rias yang digunakan untuk kepentingan – kepentingan yang terkait dengan urusan publik. dan (3) rias peran. Selain itu busana juga memiliki beragam warna yang dapat digunakan untuk maksud-maksud tertentu. Busana Busana merupakan salah satu atribut yang dapat menunjukkan status sosial dan identitas seseorang.

Ratu Ayu Kencana Wungu. Jika kita cermati lebih sungguh-sungguh keberhasilan pertunjukan tari. Drupadi. Fungsi gendhing sebagai iringan dalam sebuah pertunjukan mencakup tiga peran yakni: 1) nglambari. Iringan (Gendhing beksa) Iringan atau Gendhing beksa atau karawitan tari merupakan iringan musik gamelan yang telah teraransir menjadi sebuah bentuk yang berupa gendhing yang mampu memberikan kontribusi kekuatan ekspresi pada tari. Kehadiran gendhing di sini membentuk suasana. Karawitan sebagai iringan tari mampu memberikan kontribusi kekuatan rasa yang secara komplementer menyatu dengan ekspresi tari membentuk suatu ungkapan nilai-nilai kehidupan manusia yang disajikan dalam bentuk yang indah. Kontribusi iringan dalam membentuk suasana dapat berujud ilustrasi yang berfungsi sebagai background hingga taraf memberikan aksentuasi kekuatan rasa-rasa tertentu sesuai dengan kebutuhan ekspresi yang dikehendaki. Kehadiran karawitan dalam pertunjukan tari gaya Surakarta. Warna hijau mempunyai kesan segar dan tumbuh lebih hidup.85 Dewi Shinta. dan lainnya. 2005: 17-19). Warna kuning memiliki kesan keagungan dan kejayaan. Tampak bahwa warna memiliki kandungan makna atas kualitas kesan yang ditangkap oleh indera penghayat. dan 3) nyawiji (lihat dalam Waridi. rupanya tidak sekadar sebagai pengiring belaka. salah satu faktornya juga sangat ditentukan unsur medium bantunya yakni karawitan yang berfungsi sebagai iringan. Misalnya iringan pathetan yang digunakan untuk ilustrasi tokoh Sekartaji pada saat . 2) mungkus. Sembadra. g. Nglambari memberi pengertian bahwa dukungan gendhing dalam pertunjukan tari lebih berfungsi sebagai ilustrasi.

Sejalan dengan paparan tersebut. dan volume) sebagai iringan. Bentuk kristalisasi dari unsur tari dan unsur karawitan tersebut adalah untuk pencapaian harmonisasi penyajian dalam rangka menghasilkan kekuatan dan keutuan pertunjukan. rupanya memiliki kontribusi cukup besar. karawitan (yang terpadu dari unsur-unsur melodi dalam tempo. Mungkus pada konsep karawitan tari lebih cenderung pada pengertian membingkai. Salah satu contohnya iringan Ketawang Ngrenas untuk suasana sedih pada saat Dewi Sekartaji sedang mencari suaminya yaitu Raden Panji Inukertapati yang tidak kunjung bertemu. ritme atau irama. Beragam fungsi karawitan tersebut mengindikasikan bahwa karawitan tari dalam konteks penyajian tari. Humardani menyatakan bahwa dalam tari Jawa. merupakan konsep karawitan tari yang mengarah pada pemersatuan dua unsur menjadi satu. Dalam hal ini. karena pada dasarnya nilai estetis kesenian adalah sebuah ungkapan yang utuh. Pola iringan yang difungsikan semacam ini dapat diamati pada gendhing Lambangsari yang memiliki rasa riang dan gembira. Elemen-elemen yang terdapat dalam bahasa verbal maupun nonverbal pada seni pertunjukan tari Karonsih dan Bondhan Sayuk tersebut merupakan modal . Dimaksudkan pada konteks ini. banyak membantu dan bahkan kerapkali menggantikan kedudukan kekuatan ekspresi tari (1991:10). Adapun kedua unsur dimaksud yaitu unsur karawitan sebagai penghasil rasa musikal dan unsur tari.86 pertama keluar (maju beksan) dalam suasana sedih. salah satu unsur tidak akan lebih menonjol dari yang lain. Sedangkan Nyawiji. sajian gendhing dengan garapnya secara menyeluruh sengaja digunakan sebagai pembingkai gerak terutama pola-pola gerak kebar.

Dengan demikian tampak. Pernyataan lebih singkat dikemukakan oleh Shannon dan Weaver (1949). seni. Selain itu juga tidak menutup kemungkinan perbedaan-perbedaan yang dihasilkan dari komplementer bahasa verbal dan nonverbal yang menurut sifatnya berupa sebuah konsep. yang pada gilirannya akan terjadi saling pengertian yang mendalam. Sejalan dengan definisi komunikasi tersebut. lukisan. sengaja atau tidak sengaja. Dengan demikian ciri karakteristik lebih mengarah pada perbedaan-perbedaan yang menonjol dari masing-masing elemen dalam tari tersebut secara elementer. tetapi juga dalam bentuk: ekspresi muka.87 pembentukan ciri karakteristik yang mampu membedakan tari pasihan dengan karyakarya tari lainnya. bahwa komunikasi adalah bentuk interaksi manusia yang saling pengaruh memengaruhi satu sama lainnya. dan teknologi. menyatakan bahwa komunikasi adalah suatu proses di mana dua orang atau lebih melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya. 4. serta (d) berusaha mengubah sikap dan tingkah laku itu (lihat Book dalam Cangara. (b) melalui pertukaran informasi. Teori Komunikasi Komunikasi adalah suatu transaksi. 2007: 19-20). seperti kesamaan bahasa atau kesamaan arti dari . Rogers bersama Lawrence (1981). Bentuk komunikasi di sini tidak terbatas pada komunikasi bahasa verbal. jika kita berkomunikasi berarti terdapat beberapa kesamaan dengan orang lain. sehingga kekhasan dari elemen-elemen dan keragaman informasi yang dapat digali akan menentukan dan mewarnai dalam menggeneralisasi teorinya. (c) untuk menguatkan sikap dan tingkah laku orang lain. proses simbolik yang menghendaki orang-orang mengatur lingkungannya dengan (a) membangun antarsesama manusia.

Komunikasi bahasa verbal yang berupa sastra tembang yang komplementer dengan Unsur–unsur nonverbal dapat mengarahkan kepada kita untuk memunculkan implikatur akan guna analisis secara pragmatik. Artinya. Prinsip dasar yang perlu dipahami bahwa komunikasi dalam seni pertunjukan pada hakekatnya mencakup tiga faktor pokok. Berdasarkan pernyataan Shannon dan Weaver. gerak tubuh (kinetic body moves). 2007: 24). Setiap unsur mempunyai peranan sangat penting dalam membangun proses komunikasi. tanpa keikutsertaan salah satu unsur akan berpengaruh pada proses komunikasi. pola lantai. (f) efek. (b) pesan. (e) lingkungan. dan jineman dan b) unsur nonverbal yang meliputi: tema. untuk itu. gerongan. Baginya seorang seniman berkarya . Komunikator Komunikator bersumber pada seniman pelakunya yang terdiri dari penyusun tari dan penari yang bertindak sebagai penutur. polatan. (c) media. dan (g) umpan balik (lihat Cangara. sindhenan. rias. teori komunikasi akan peneliti gunakan untuk menganalisis bagaimana komunikasi berlangsung.88 simbol-simbol yang digunakan dalam berkomunikasi. Pernyataan dari beberapa pakar komunikasi tersebut dapat ditarik unsur-unsur komunikasinya menjadi tujuh. yaitu: (a) sumber. Terfokus pada jenis tari pasihan yang bentuknya memiliki dua unsur. (d) penerima. yaitu: a) unsur verbal berupa sastra tembang yang meliputi cakepan (syair) yang terdapat dalam pathetan. yakni: a. dan iringan merupakan media komunikasi yang khas bagi kehidupan seniman. tari sebagai bagian atau cabang seni merupakan komunikasi manusia yang cukup vital. busana. Merujuk pada bentuk karya seni dalam hal ini tari pasihan merupakan media komunikasi secara utuh.

seniman penyusun sebagai penutur hendak menuturkan sebuah nilai kehidupan. b.89 merupakan dorongan dan tutuntan kebutuhan jiwa yang dilatarbelakangi apresiasi terhadap lingkungan manusia dan alam yang terseleksi dan senantiasa dimanifestasikan dalam bentuk yang estetik. tari Driasmara. Ungkapan seni dapat dilukiskan sebagai pernyataan suatu maksud. Dari medium sensa itu seniman akan dapat menganyam impian-impian bagi kita mengenai hal-hal yang membuai dan memikat kita senang mengamati. ia berusaha menafsirkan baik secara bentuk fisik karya seni maupun nonfisik yang berupa maksud dari penyusun tari yang kemudian disajikan dalam sebuah pementasan pada ritual perkawinan adat Jawa. 1980:21). Dengan demikian peranan penari sebagai komunikator sangatlah penting. Sarana atau Media Karya seni yang berupa genre tari pasihan merupakan sarana atau media tutur bagi seorang seniman. tari Kusuma Ratih. tari Bondhan Sayuk. tari Gesang Rahayu. tari Langen . tari Endah. Kesesuaian atau kemungguhan figur seorang penari dengan tokoh yang hendak diperankan merupakan syarat yang harus diperhatikan di samping gandar atau rupa. Jenis tari duet percintaan yang terdapat dalam genre tersebut. Seniman adalah manusia yang secara profesional menghasilkan karya-karya seni yang dapat dihayati oleh publik. perasaan atau pikiran dengan suatu medium indera atau sensa. di antaranya: tari Karonsih. yang dapat dialami lagi oleh yang mengungkapkan dan ditujukan atau dikomunikasikan kepada orang lain (Parker. Adapun sebagai penari. Terkait dengan hadirnya genre tari pasihan. karena dengan kondisi yang tidak layak akan berdampak negatif pada hasil hayatan secara menyeluruh. tari Enggar-enggar. tari Lambangsih.

Begitu pula ungkapan- ungkapan praktis seperti menyuruh makan. Ungkapan yang otomatik sifatnya insting atau berlaku secara naluriah yang dilakukan seperti orang menangis ketika didera musibah. dicipta. c. Komunikan Masyarakat sebagai komunikan meliputi: pakar. Keragaman seni akibat dari keaneragaman media atau sarana yang didukung ide-ide kreatif estetik seorang seniman dalam rangka memenuhi ekspresinya. Adapun fokus dari penelitian untuk disertasi ini adalah tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk. tari Jayaningrat. dengan pertimbangan kedua jenis tari tersebut diharapkan mampu mewakili informasi genre tari pasihan untuk dianalisis makna pragmatiknya. Seseorang dalam menghayati dengan cara mengamati sebuah karya seni (objek). tari Setyaningsih. Begitu pula genre tari pasihan yang terdiri dari bahasa verbal dan nonverbal merupakan jenis seni pertunjukan gaya Sala yang mengacu pada budaya istana Kasunanan Surakarta. penonton umum. mandi. dan merenungkan sehingga dapat memberikan sebuah pernilaian atau . Pada hakekatnya kesenian adalah ungkapan yang disengaja. dan selalu terkait atau berhubungan dengan tradisi kebudayaannya. itu bukan kesenian dan tidak juga estetik. dan tari Kusuma Aji. gembira saat mendapatkan keuntungan. Meskipun setiap karya seni itu adalah suatu ungkapan. dan penanggap merupakan mitra tutur yang menghayati karya genre tari pasihan. suatu ungkapan. merasakan. namun sebaliknya bukanlah setiap ungkapan itu sebuah karya seni. dan lainnya.90 Asmara. Lewat media bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan kandungan maksud seniman akan diaktualisasikan untuk mendapatkan tanggapan dari penghayat. Seni adalah suatu ekspresi.

91

tanggapannya. Betapapun sedihnya menghayati tokoh Sekartaji yang tidak kunjung bertemu, ketika berupaya mencari suaminya Panji Inukertapi, kita merasa haru mendengar sumpah kesetiaan Sekartaji yang berbunyi: Dhuh jagad dewa bathara Welasa mring dasih kang nandhang kingkin Tinilar garwa satuhu Dadya gantilaning tyas Ulun dhahat Teka aginggang sarambut Kalamun datan pinanggya Aluwung tumekeng lalis

Jabaran dari nilai kehidupan tersebut ditangan seniman diungkapkan dalam bungkus sensa yang mampu memicu dan memacu timbulnya khayalan benda dan peristiwa yang memberi kenikmatan penghayat. Khayalan tentang tindakan atau emosi yang ditimbulkan lewat karya seni, kita kemudian dalam imajinasi dapat melakukan atau mengalami. Bagi yang peka estetik seolah-olah kita dibawa memasuki badan penari sebagai tokoh-tokoh utama tersebut, kita tidak kuasa menolak terhipnotis dibuatnya berperan, senang tanpa paksaan sedikit pun untuk melakukan posisi bahkan hanyut dalam aliran kenikmatan dan kepuasan jiwa. Jika dicermati lebih dalam dari jiwa kita sendirilah sebenarnya muncul gagasan-gagasan dan beragam rasa yang merupakan isi sebuah karya seni. Seniman menyediakan sebuah susunan benda pacu atau lambang-lambang sensa yang diharapkan akan ditafsirkan seperti yang dimaksudkan olehnya. Kesadaran awal yang harus menjadi fokus perhatian, bahwa komunikasi seni atau komunikasi rasa sifatnya sangat subjektif. Artinya bahwa rasa yang disampaikan seorang seniman tidak selalu dapat diterima sama oleh penghayat. Betapapun

92

hebatnya seniman sebagai komunikator dan penghayat sebagai komunikan, karena kemantapan rasa tidak dapat diukur secara exact, namun bukan berarti tidak dapat dianalisis secara disiplin ilmiah. Persamaan yang terjadi dalam komunikasi seni sifatnya tidak mutlak, sehingga tafsir seni itu sifatnya multitafsir. Perbedaan maupun persamaan yang terjadi dalam komunikasi seni disebabkan masing-masing partisipan beragam kemampuannya. Untuk itu, baik perbedaan atau pun persamaan komunikasi seni yang terjadi dalam menanggapi karya tari pasihan, akan dianalisis bagaimana dan mengapa hal itu dapat terjadi. B. Tinjauan Pustaka Sumber tertulis baik yang berupa buku-buku cetakan, tesis, disertasi, dan hasil penelitian lain yang mengkaji seni pertunjukan tari khususnya genre tari pasihan dari perspektif pragmatik rupanya belum pernah dilakukan. Kajian nonpragmatik sekali pun relatif sangat minim yang relevan dengan penelitian peneliti dapat dipaparkan berikut ini: “Karonsih”, tulisan Maryono tahun 1991, merupakan hasil penelitian yang bersifat deskriptif, memuat secara umum tentang elemen-elemen tari, dan sedikit perubahan serta penyebarannya. Sedikit banyak tulisan ini memberikan informasi yang berarti terutama terkait dengan data bahasa verbal dan nonverbal sebagai salah satu genre tari pasihan yang akan menjadi sasaran kajian pragmatik. “Perkembangan Tari Enggar-Enggar”, tulisan Dwi Maryani tahun 1999, penelitian ini memuat deskripsi tentang gerak, iringan, rias, busana, dan penyebaran serta perkembangannya tari Enggar-Enggar. Diharapkan tulisan tersebut

93

menambah informasi mengenai vareasi ragam tari duet percintaan yang pada gilirannya dapat untuk mencermati karakteristik genre tari pasihan. “Perubahan Tari Lambangsih”, tulisan Dwi Yasmono tahun 1999, yang memaparkan tentang: struktur garap tari, rias, busana, iringan, dan perubahan terutama masalah sekaran atau vokabuler gerak dan pola lantai. Rupanya hasil kajian ini akan menambah data untuk lebih mencermati karakteristik genre tari pasihan gaya Surakarta yang sedang dikembangkan, terutama terkait dengan aspek nonverbal.

94

C. Kerangka Pikir Dalam rangka mencermati permasalahan, rumusan masalah, tujuan, manfaat, ruang lingkup, kajian teori dan metodologi, serta hasil yang hendak dicapai dalam rencana penelitian ini peneliti menggunakan kerangka pikir kritik seni holistik (Sutopo, 1995: 15-16). Sebagai berikut: 1 FAKTOR GENETIK Latar Belakang Genre Tari Pasihan 2 FAKTOR OBJEKTIF Bentuk Genre Tari Pasihan 3 FAKTOR AFEKTIF Persepsi Penghayat Terhadap Genre Tari Pasihan

Latar Belakang Penyusun

fungsi

Karakteristik Bahasa Verbal

Karakteristik Bahasa Nonverbal

Latar Belakang Penanggap

Latar Belakang Penonton Umum

Latar Belakang Pakar

Pathetan irama Konsepsi Seniman lagu Sindhenan Gerongan Jineman 4

Tema Gerak Polatan

Rias Busana Pola lantai Persepsi Masyarakat

Iringan

MAKNA PRAGMATIK Genre Tari Pasihan

95

Keterangan: 1: Seniman sebagai pencipta sebuah karya seni, dianalisis tentang latar belakang kehidupan kesenimanan dan latar belakang konsep penciptaan bahasa verbal dan nonverbal serta fungsi sebagai aplikatif muatan pesan yang hendak disampaikan lewat karya seni. 2: Karya seni sebagai faktor objektifnya, dikaji tentang bahasa verbal berupa cakepan (syair) sastra tembang yang terdapat dalam pathetan, sindhenan, gerongan, dan jineman. Sedangkan bahasa nonverbal meliputi: tema, gerak tubuh (kinetic body moves), polatan, pola lantai, rias, busana, dan iringan. Diharapkan kajian bagian ini akan dapat menemukan ciri karakteristik genre tari pasihan gaya Surakarta. 3: Persepsi masyarakat terhadap kehadiran genre tari pasihan dalam upacara ritual resepsi perkawinan. Dari hasil analisis akan dapat diketahui interpretasi makna dari masyarakat yang heterogen sebagai pendukung keberlasungan budayanya. 4: Makna pragmatik merupakan hasil analisis secara komplemen keterkaitan dari tiga faktor yakni : faktor genetik (1), faktor objektif (2), dan faktor afektif (3). Relasi ketiga faktor: 1, 2, dan 3 adalah penyusun tari (seniman) menciptakan karya seni yang kemudian karya seni itu ditanggapi masyarakat. Hubungan faktor 1 dan 3 yaitu untuk mengetahui seberapa jauh tanggapan masyarakat terhadap karya seni dan bagaimana kesesuaian antara pesan yang dimaksud seniman dengan makna yang ditangkap oleh masyarakat lewat karya genre tari pasihan.

96

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Sasaran dan Lokasi Penelitian Sasaran yang utama adalah jenis tari duet pasihan atau percintaan gaya Surakarta yang memfokuskan pada tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk, seperti telah disebutkan pada latar belakang masalah. Pertimbangan yang mendasar dari pemilihan sasaran ini adalah banyaknya jenis atau ragam tari duet percintaan khususnya gaya Surakarta. Dimaksudkan kedua bentuk tari pasihan tersebut dapat dikaji secara mendalam di dalam suatu konteks dengan karakteristik tertentu. Cuplikan ini kedudukannya bukan mewakili populasinya tetapi mewakili informasinya, sehingga jika dimungkinkan generalisasi, arahnya cenderung generalisasi teori. Keragaman jenis tari pasihan rupanya tidak dimiliki oleh daerah lain, sehingga lebih memacu peneliti untuk meneliti topik tersebut sebagai sasaran pokok. Pertimbangan lain bahwa tari pasihan disinyalir mempunyai kontribusi yang cukup penting dalam sebuah ritual tradisi perkawinan adat Jawa. Pengertian gaya Surakarta di sini lebih terfokus pada tarian yang mengakar dari tarian istana Kasunanan, tidak melibatkan Pura Mangkunegaran. Hal ini peneliti sadari, bahwa Pura Mangkunegaran tidak mempunyai tari semacam pasihan atau karonsihan. Pemilihan lokasi atau tempat adalah kotamadia Surakarta dengan pertimbangan tingginya frekuensi aktivitas pertunjukan tari pasihan, tempat tinggal para penyusun tari dan pakar seni yang terkait. B. Bentuk dan Strategi Penelitian Secara garis besar dapat dinyatakan bahwa metode penelitian kualitatif adalah metode pengkajian atau metode penelitian suatu masalah yang tidak didesain atau

bersama-sama dengan orang lain dalam konteks intersubjektif yang di dalamnya termasuk pula interpretasi peneliti. karena tujuan pengkajian ilmu-ilmu humaniora adalah membuat . Pernyataan tersebut sejalan dengan pendapat Moleong (2007: 15). 2007: 5). 2006: 28). Kajian ini membentuk simpulan multiperspektif yang akan menimbulkan makna intersubjektif. dan tujuan mereka sendiri (Smith & Heshusius dalam Sutopo. minat. Dalam penelitian kualitatif. dengan memperhatikan beragam alasan mengapa dan bagaimana terjadinya tafsir makna mengenai sebuah peristiwa. bahwa fenomenologi merupakan pandangan berpikir yang menekankan pada fokus kepada pengalaman-pengalaman subjektif manusia dan interpretasi-interpretasi dunia. peristiwa-peristiwa dan kaitannya dengan orang-orang atau masyarakat yang diteliti dalam konteks kehidupan dalam situasi yang sebenarnya (Edi Subroto. 2007: 6). Pada umumnya ilmu-ilmu kebudayaan atau ilmu-ilmu humaniora lebih banyak menggunakan metode kualitatif (Edi Subroto. Artinya penelitian kualitatif berusaha memahami makna dari fenomena-fenomena.97 dirancang menggunakan prosedur-prosedur statistik (Edi Subroto. 2006: 29). seorang peneliti berusaha menyajikan suatu interpretasi yang didasarkan pada nilai-nilai. Validitas keputusan atau hasil simpulan-simpulannya mengenai sesuatu makna dapat diwujudkan dari deskripsi yang tegas. Setiap peristiwa harus dicermati dan dipahami dari beragam perspektif dari orangorang yang terlibat secara aktif maupun pasif dalam peristiwa tersebut. Kesadaran awal yang harus mendapatkan perhatian bahwa penelitian kualitatif itu menggunakan paradigma atau perspektif fenomenologis. Hal ini harus disadari bagi seorang peneliti agar hasil simpulan-simpulannya sesuai dengan karakteristik teorinya (Sutopo. 2007: 5). Hal itu rupanya cukup beralasan. minat. dan tujuan atas interpretasi orang lain atau subjek yang diteliti yang berdasarkan juga pada nilai-nilai.

Tiga sumber nilai ini wajib dikaji secara lengkap dan seimbang supaya tidak terjadi kepincangan evaluasi (Sutopo. dan seimbang mengkaji tiga faktor yaitu genetik. 1995: 8-15). gerak tubuh (kinetic body moves). Persepsi masyarakat terhadap kehadiran genre tari pasihan dalam kehidupan sosial (faktor afektif). Latar belakang konsep penciptaan bahasa verbal dan nonverbal dan pesan makna yang hendak disampaikan lewat karya seni (faktor genetik). objektif. Ketiga komponen tersebut tidak dipisahkan dalam kesatuan nilai karya. Selain itu juga bagaimana komplementernya dari ketiga aspek tersebut untuk menemukan keterkaitan hal-hal pokok yang terdapat di dalamnya untuk mengungkap . objektif. Sedangkan bahasa nonverbal meliputi: tema. pola lantai. sindhenan. kejadian atau peristiwa. dan iringan (faktor objektif). Merujuk pada pola pikir pendekatan kritik holistik.98 deskripsi suatu situasi. dan afektif. melainkan sebagai sumber informasi dalam aktivitas evaluasi. rias. Dengan demikian bentuk penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan kritik holistik yang secara fokus. gerongan. secara operasional peneliti akan mendeskripsi secara rinci dan mendalam mencakup masalah bahasa verbal berupa cakepan (syair) yang terdapat dalam pathetan. tetapi tidak digunakan sebagai standar nilai. mencakup tiga aspek yakni genetik. dan jineman. busana. dan afektif sebagai sumber aliran nilai. polatan. lengkap. Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan dan tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini lebih mengarah pada bagaimana memahami makna bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta. serta berusaha menangkap makna dari suatu peristiwa. menginterpretasikan kejadian atau peristiwa. Untuk menjawab persoalan tersebut peneliti akan memahami lebih rinci dan mendalam baik kondisi maupun proses dan juga saling keterkaitannya mengenai hal-hal pokok yang ditemukan di lapangan.

Rupanya sangat tepat pilihan peneliti untuk menggunakan metode kualitatif karena objek kajiannya merupakan cabang dari ilmu-ilmu humaniora yang sarat dengan makna dalam kehidupan. tari Langen Asmara. Strategi yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus tunggal. tari Driasmara. 2006: 227). Di samping itu. dan tari Kusuma Aji. tari Kusuma Ratih. Hal ini sejalan dengan pendapat Edi Subroto bahwa ilmu-ilmu humaniora berusaha memahami realitas sosial dan realitas budaya dalam rangka memahami masalah-masalah sosial dan masalah-masalah manusia secara lebih baik (2007: 5). tari Endah. 2006: 40). Dengan demikian bentuk penelitiannya bersifat dasar (basic research). adapun jenis penelitian dengan strategi yang paling tepat adalah penelitian kualitatif deskriptif. tari Enggarenggar. namun memiliki karakteristik yang sama.99 makna pragmatik genre tari pasihan gaya Surakarta sebagai sebuah hasil akhir penelitian. tari Jayaningrat. tari Lambangsih. karena permasalahan dan fokus penelitian telah ditentukan dalam proposal sebelum peneliti terjun ke lapangan artinya peneliti telah terpancang. Pertimbangan yang mendasar dari kasus tunggal. tari Setyaningsih. tari Bondhan Sayuk. . tidak seperti penelitian eksploratif yang mana peneliti sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi di lapangan (grounded search) maka penelitian kasus ini lebih khusus disebut studi kasus terpancang (embedded case study research) (Sutopo. tari Gesang Rahayu. karena sekali pun genre tari pasihan atau karonsihan jenisnya terdiri dari beragam tari duet percintaan seperti: Tari Karonsih. Jenis penelitian ini akan mampu menangkap berbagai informasi kualitatif dengan deskripsi teliti dan penuh nuansa. yang lebih berharga daripada sekadar pernyataan jumlah atau pun sekadar frekuensi dalam bentuk angka (lihat Sutopo.

Data kualitatif merupakan data lunak yang kaya akan deskripsi tentang orang-orang. dan jinemal sebagai bahasa verbal. Sumber informasi genetik pada penelitian ini adalah para penyusun tari pasihan. objektif. serta pesan makna yang hendak disampaikan lewat karya seni. Adapun data informasi yang dikumpulkan akan terkait tiga faktor pokok yakni: genetik. gerongan. dan j) jenis-jenis repertoar gendhing. gerak tubuh (kinetic body moves). i) jenis-jenis floor design (pola lantai). f) jenis-jenis vokabuler gerak. Data yang dikumpulkan terutama berwujud bahasa verbal dan nonverbal. busana. rias. terutama terkait dengan latar belakang konsep penciptaan teks verbal dan nonverbal. Tindak tutur mencakup cakepan (syair): pathetan. 2007: 6). alasan apa dan bagaimana terjadinya. Dengan cara itu peneliti tidak akan berasumsi bahwa sesuatu itu sudah memang demikian keadaannya (Moleong. h) jenis warna dan bentuk busana yang dipakai. d) implikatur dan daya pragmatik. Sedangkan bahasa nonverbal berupa: tema. pola lantai. tempat-tempat dan konservasi-konservasi dari orang yang diteliti (Edi Subroto. Sumber informasi objektif pada penelitian ini adalah seni pertunjukan tari. polatan. sindhenan. dan afektif. 2007: 11). Data akan diperoleh peneliti dengan cara memanfaatkan pertanyaan-pertanyaan dengan kata tanya : mengapa. g) bentuk rias. yang hendak dikaji dari jenis informasi data teks sastra tembang dan unsur-unsur tari yang meliputi: a) jenis-jenis tindak tutur yang digunakan. dan iringan. Sumber Data Data atau informasi yang paling dibutuhkan akan dikumpulkan dan dianalisis dalam penelitian ini adalah berupa data kualitatif. . b) jenis tindak tutur yang dominan dan mengapa terjadi dominasi. fungsi. e) motif tema.100 C. c) realisasi prinsip kerja sama dan prinsip kesantunan antarperan.

memadahi . Narasumber harus dipilih orang yang handal di bidangnya. Informan atau Narasumber Menurut Spradley informan merupakan pembicara asli (speaker) dengan bahasa atau dialeknya sendiri dan menjadi sumber informasi (1997: 35). Faktor afektif ini akan difokuskan pada persepsi masyarakat penghayat. tetapi mereka dapat memilih arah dan selera dalam memberikan informasi yang dimiliki (Sutopo. dan penanggap tari pasihan dalam rangka memahami fungsi sosial di tengah-tengah masyarakat sebagai pendukung keberlangsungan budayanya. dan penanggap tari pasihan. manusia sebagai Informan atau narasumber posisinya sangat penting dalam rangka memberikan informasi yang dimiliki. penonton umum. Peneliti dan narasumber memiliki posisi yang sama. Dalam penelitian kualitatif. 1993: 20). dapat dipercaya baik dari segi pengetahuannya maupun kejujuran secara umum dan secara khusus dalam memberikan data yang akurat serta bersifat tidak menggurui (Fatimah Djajasudarma. Oleh karena itu seorang peneliti harus jeli dalam menentukan informan. Adapun jumlah informan tidak mempengaruhi secara mutlak.101 Sumber informasi afektif terdiri dari pakar. 2006: 57-58). penonton umum. narasumber tidak sekedar memberikan tanggapan menurut permintaan peneliti. yang terdiri dari: pakar. Berbeda dengan responden yang sekadar memberikan jawaban secara terbatas dan terikat oleh bentukbentuk pertanyaan yang telah disusun secara ketat seorang peneliti. karena posisi informan dengan beragam peran dan keterlibatannya dengan kemungkinan akses informasi yang dimilikinya sesuai dengan kebutuhan penelitiannya. namun yang lebih substansial adalah kualitas informasi yang dibutuhkan. Informasi tersebut akan digali dari beberapa sumber data yang akan dimanfaatkan dalam penelitian ini mencakup : 1.

3. atau perilaku sebagai sumber data yang terkait dengan sasaran penelitian. Dari pengamatan langsung sebuah peristiwa pertunjukan tari pasihan. Berlangsungnya pertunjukan tari tersebut merupakan sumber primer untuk analisis menyeluruh. Artifak.implikatur yang sengaja dimanfaatkan oleh seniman dalam rangka mengekspresikan isi hatinya yang sudah barang tentu telah . Tempat atau Lokasi Tempat yang menjadi sasaran penelitian ini terutama terdapat pada sebuah upacara ritual perkawinan yang diselenggarakan di wilayah penelitian. Tempat terjadinya peristiwa pertunjukan tari pasihan pada upacara ritual perkawinan. penghayat. objektif . baik faktor genetik. sehingga validitas datanya dapat dipertanggungjawabkan secara akademis. aktivitas. sangatlah berharga karena memiliki keterkaitan dengan munculnya implikatur . busana. 2. Berdasarkan akses informasi yang diperlukan tersebut narasumber yang peneliti pilih dalam penelitian ini terdapat empat kelompok meliputi: penyusun tari.102 tidaknya data yang diberikan. yakni di kotamadia Surakarta. yang harus dicermati meliputi aspek gerak. rias. iringan. penari. akan memberi gambaran secara kongkrit tentang setting peristiwa penghayatan atau berlangsungnya sebuah pertuturan. serta masyarakat umum. dan bahasa verbalnya yang akan dilakukan secara berulang untuk mendapatkan sumber data yang akurat tentang berlangsungnya sebuah penghayatan sekaligus mengidentifikasinya untuk menarik makna pragmatik dari peristiwa pertuturan. pakar. pola lantai. Peristiwa atau Aktivitas peristiwa. Artifak yang merupakan benda budaya. 4. dan afektif.

dan gamelan. Beragam benda artifak sebagai kelengkapan. Artifak yang bersifat primer. rupanya memiliki makna yang dalam terkait dengan sepasang mempelai temanten. terutama lebih fokus yang menurut fungsinya bersifat primer. terdiri dari: boneka anak (baby).103 memperhitungkan penghayat sebagai mitra tuturnya. Asumsi peneliti bahwa dari bentuk atau mode busana tari akan dapat memberi gambaran tentang peran atau tokoh sedangkan dari warna dapat dicermati makna simbolisnya. Selain itu. busana tari. Prediksi peneliti sementara bahwa artifak yang berupa boneka pada tari Bondhan Sayuk memiliki daya pragmatik. . Artifak yang berupa boneka yang terbuat dari bahan plastik yang dibalut dengan sehelai selendang sehingga bentuknya menyerupai bayi yang digedhong (ditimang). Seperangkat gamelan (gamelan ageng) yang memiliki laras Slendro dan Pelog sebagai musik iringan tari merupakan artifak yang memegang peranan cukup penting dalam mewujudkan terselenggaranya pertunjukan tari pasihan. Salah satu artifak yang sangat berharga sebagai sumber data yang memungkinkan dapat dilacak informasinya untuk diungkap lebih dalam adalah boneka. Dalam hal ini gamelan mempunyai peranan cukup primer dalam rangka mengaktualisasikan genre tari pasihan. artifak yang layak menjadi sumber data adalah busana tari. Keberadaan busana tari yang sering dipakai penari dapat dilacak dengan maksud untuk mencermati seberapa jauh keterkaitannya dengan makna yang hendak disampaikan seniman terhadap penghayat. yang terlibat dalam peristiwa atau aktivitas pertunjukan genre tari pasihan.

Data tertulis yang berupa dokumen ataupun arsip yang terkait dengan peristiwa pertunjukan tari pasihan yang dapat dilacak dalam perpustakaan. Dokumen yang sifatnya tidak tertulis yang terkait dengan pertunjukan tari pasihan. sindhenan. Teknik Pengumpulan Data Berangkat dari keragaman sumber data yang perlu digali tersebut menuntut strategi atau teknik pengumpulan data yang sesuai dengan sumber datanya untuk mendapatkan data yang mampu menjawab permasalahan yang telah diajukan. D. berupa data rekaman baik yang bersifat audio maupun yang berwujud visual.104 5. Sumber data yang berupa dokumen dan arsip tersebut akan peneliti gunakan sebagai analisis tambahan untuk mencermati tentang makna pragmatik. gerongan. berupa sumber cerita yang terdapat pada naskah-naskah pewayangan. Dalam penelitian kualitatif ini peneliti akan menggunakan berbagai teknik berdasarkan sumber data dalam pengumpulan datanya. maupun serat. babad. Adapun teknik pengumpulan data yang sesuai dengan penelitian kualitatif dan jenis sumber data yang dimanfaatkan adalah sebagai berikut: . merupakan rekaman beragam tari duet percintaan gaya Surakarta yang termasuk bagian genre tari pasihan. Data rekaman yang berupa audio. Dokumen dan Arsip Dokumen dan arsip biasanya merupakan bahan tertulis yang bergayutan dengan peristiwa atau aktivitas tertentu (Sutopo. dan jineman. 2006: 61). Sedangkan data rekaman yang berupa audio visual kaset VCD. antara lain beragam kaset ataupun CD iringan tari. Selain itu juga data yang berupa bahasa verbal seperti cakepan : pada pathetan.

Pertemuan awal dilakukan untuk mengadakan kesepakatan-kesepakatan tentang pertemuan selanjutnya (jadwal) dan materi jika dimungkinkan. kelompok penari atau penyaji. peneliti terlebih dulu berupaya mengenal karakteristik dari masing-masing informan yang telah ditetapkan untuk menjalin keakraban dan kedekatan emosional sehingga dapat menggali informasi sebanyak-banyaknya dalam situasi yang kooperatif dan kondusif. peneliti secara garis besar merancang jenis-jenis pertanyaan pokok yang selanjutnya dapat dikembangkan di lapangan hingga ke hal-hal yang lebih rinci. 2006: 228). 2007: 187). Jenis pertanyaan yang dipersiapkan tidak mengikat namun lebih digunakan sebagai petunjuk secara garis besar tentang proses dan isi wawancara untuk menjaga agar pokok-pokok yang direncanakan dapat seluruhnya tercakup (Moleong. Sehingga pengumpulan data yang diperlukan dalam menggali informasi dari informan dengan teknik wawancara mendalam. Adapun wawancara akan dilakukan dengan empat jenis kelompok.105 1. 2. Sebelum wawancara. tidak terstruktur ketat. kelompok penghayat (lihat hal: 56-57). kelompok pakar. Observasi Dalam penelitian kualitatif ini peneliti mengadakan observasi langsung berperan secara pasif dan aktif. Berperan pasif peneliti hanya hadir di lapangan bertindak sebagai . dan dapat dilakukan berulang pada informan yang sama (Patton dalam Sutopo. dan d. Selain itu persiapan awal untuk menggali informasi. b. Wawancara mendalam (in-depth interviewing) Manusia sebagai nara sumber atau informan merupakan sumber data yang sangat fundamental dalam penelitian kualitatif. yaitu: a. tidak dalam suasana formal. kelompok penyusun tari. c. Wawancara merupakan salah satu jenis pengumpulan data yang bersifat lentur dan terbuka.

serat atau naskah. Adapun sumber data yang diharapkan mampu memberikan gambaran liku-liku kehidupan Panji dan Sekartaji. 3. sehingga mendapat data secara akurat. Teknik simak dan catat dalam kegiatan ini akan dimanfaatkan terkait data bahasa verbal dan nonverbal. berujud sumber cerita yang terkait dengan ceritera Panji. seperti: kaset “Karonsih“ (ACD – 114) dan kaset “Beksan Enggar-enggar” (WD – 530).106 pengamat secara formal dan informal untuk mengamati kegiatan dan peristiwa pertunjukan tari pasihan agar mendapatkan data yang mantap dari fenomena yang terjadi di lapangan. baik sebagai langkah awal pencatatan secara global masalah-masalah yang dianggap penting yang selanjutnya akan selalu dikembangkan pada analisis untuk dijabarkan secara rinci mendalam. Adapun observasi tidak langsung lebih mengarah pada pengamatan dokumendokumen rekaman tari pasihan. Mencatat Dokumen dan Arsip (content analysis) Data yang berupa dokumen ataupun arsip yang terkait dengan peristiwa pertunjukan tari pasihan yang dapat dilacak dalam perpustakaan. Selain itu dimungkinkan juga terdapat pada babad. di antaranya: cerita Panji dalam Perbandingan (1968) dan Panji Sekar (1979). Teknik ini secara garis besar digunakan peneliti untuk setiap aktivitas yang terkait dengan pengumpulan data. Bentuk peran aktif dalam penelitian ini peneliti mengambil peran sebagai penonton untuk mengapresiasi pertunjukan dan datang di tempat-tempat latihan membaur turut berlatih untuk mengamati dan mengetahui ciri karakteristik tindak tutur dan lebih fokus terhadap elemen-elemen genre tari pasihan. akan dicatat dan dianalisa untuk memahami keterkaitannya dengan faktor objektif karya tari pasihan yang tengah diteliti. Dokumen lain berupa kaset tape recorder yang memuat iringan tari jenis pasihan. .

teknik cuplikannya cenderung bersifat purposive karena dipandang lebih mampu menangkap kelengkapan dan kedalaman data di dalam menghadapi realitas yang tidak tunggal. E.107 4. (Goetz & Le Compte dalam Sutopo. Dari kajian bentuk tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk ini dimaksudkan untuk menjawab rumusan masalah terkait dengan pertanyaan yang mengarah pada faktor objektif. Fatimah. Bentuk rekaman video yang diutamakan adalah peristiwa berlangsungnya pertunjukan khusus tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk. Selain itu rekaman tari pasihan tersebut juga untuk mengembangkan pertanyaan yang mengarah pada faktor genetik dan faktor afektif. objektif dan afektif sebagai dasar menentukan makna genre tari pasihan dalam upacara resepsi perkawinan. dan karakteristik empirisnya. keingintahuan pribadi peneliti. 1993: 11). Hal ini dilakukan untuk mencari dan menemukan korelasi dari ketiga faktor yaitu genetik. 2006: 37) (lihat Moleong. Perekaman Teknik pengumpulan data dengan rekaman terutama dengan alat video dan rekaman suara merupakan metode yang cukup penting karena akan membantu peneliti dalam rangka memperjelas deskripsi berbagai aktivitas dan situasi di lapangan. Teknik Cuplikan (sampling) Penelitian kualitatif cenderung menggunakan teknik cuplikan yang bersifat selektif dengan pertimbangan konsep teoretis yang digunakan. Adapun kegiatan ini adalah merekam bentuk tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk untuk dianalisis bahasa verbal dan nonverbal dari masing-masing bentuk tari tersebut. 2007: 8. Rekaman ini dimaksudkan untuk lebih mencermati peristiwa pertunjukan berdasarkan natural setting artinya sasaran penelitian harus tetap berada pada kondisi aslinya secara alami (Sutopo. 2006:229). Pemilihan sampel diarahkan lebih fokus pada sumber data yang . Untuk itu dalam penelitian kualitatif.

108 dipandang memiliki data penting yang terkait dengan permasalahan yang sedang diteliti. Trianggulasi data atau sumber mengarahkan peneliti dalam mengumpulkan data harus menggunakan beragam sumber data artinya data yang sejenis . kualitas. dan trianggulasi teori dari empat jenis trianggulasi yang ditawarkan Patton (dalam Sutopo. Validitas Data Untuk menjamin dan mengembangkan validitas data yang akan dikumpulkan dalam penelitian kualitatif ini digunakan teknik trianggulasi data atau sumber. trianggulasi metode. sehingga bilamana generelisasi harus dilakukan. karena setiap posisi akan memiliki akses informasi yang berbeda. dalam beragam posisinya. 2006). Sumber lain akan dipilih berdasarkan pertimbangan ketepatan dan kelengkapan datanya. Adapun sejumlah informan dan informasi yang dibutuhkan dari informan tersebut lihat hal: 56-57. Untuk itu peneliti dituntut memahami peta sumber yang tersedia. Informan yang dibutuhkan dipilih berdasarkan kredibilitas. 2006: 92). Oleh karena itu dalam penelitian kualitatif ini peneliti memilih informan yang diharapkan mampu memberikan informasi yang memiliki kedalaman dan keakuratan data guna menjawab permasalahan yang diajukan. secara tuntas dan valid. Cuplikan ini kedudukannya bukan mewakili populasinya tetapi mewakili informasinya. dan keluasan wawasan dalam suatu permasalahan yang dikaji sehingga informasi yang diperoleh betulbetul mantab kualitasnya. Purposive sampling memberikan kesempatan secara maksimal pada kemampuan peneliti untuk menyusun teori yang dibentuk dari lapangan (grounded theory) dengan sangat memperhatikan kondisi lokal dengan kekhususan nilai-nilainya (idiografis). maka arahnya cenderung sebagai generalisasi teori (Sutopo. F.

Trianggulasi metode dalam penelitian kualitatif mengarah pada perbedaan teknik atau metode pengumpulan data pada data yang sejenis. dan observasi di lokasi ketika penari tersebut sedang menyajikan tari pasihan.109 akan lebih mantab kebenarannya apabila digali dari beberapa sumber data yang berbeda. Selain itu. peneliti menggunakan tiga informan yang berbeda yaitu: penyusun tari. dan penanggap. peneliti menggunakan metode pengumpulan data dengan mencatat dokumentasi atau arsip yang berupa data bahasa verbal dan nonverbal kemudian melakukan wawancara secara mendalam. Di sini yang diutamakan adalah penggunaan metode pengumpulan data yang berbeda. Data yang terkumpul kemudian dikomparasikan untuk mengkaji alasan yang tepat guna menjawab secara akurat terkait dengan fungsi bahasa verbal dalam pertunjukan tari pasihan. Untuk mengetahui alasan mengapa terjadi dominasi salah satu jenis tindak tutur dalam bahasa verbal tari pasihan. Salah satu bentuk aplikasi dalam penelitian ini. dan masyarakat umum. untuk memahami makna tari pasihan. Informasi dari ketiga informan tersebut kemudian dianalisis dengan cara membandingkan untuk melihat persamaan. perbedaan kemudian mencari argumen dari masing-masing untuk mendapatkan simpulan yang memadai. bahkan lebih jelas untuk diusahakan mengarah sumber data yang sama untuk menguji kemantapan informasinya. pakar tari. akan dikomparasikan dan ditarik simpulan data yang lebih kuat dan mantap validitasnya. Data sementara yang diperoleh dari ketiga metode yang berbeda pada sumber data atau informan yang sama. untuk menemukan ciri karakteristik bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan dari informan seorang penari. . peneliti membutuhkan informasi dari informan yang berbeda di antaranya dari penyusun tari pakar.

dan (4) teori komunikasi. dibentuk dari temuan dan kumpulan data di lapangan digunakan untuk dasar pemahaman dan penyusunan suatu simpulan (Sutopo. Keempat teori tersebut akan berfungsi sebagai alat kajian dan bekerja secara komplementer untuk menemukan makna tunggal yang menempatkan posisi setiap temuan berada pada satu kesatuan konteks (lihat hal: 14). Karena setiap teori memiliki perspektif yang khusus. (3) teori seni pertunjukan. tidak hanya sepihak dan bersifat monoperspektif. . tetapi dengan beberapa teori yang digunakan sebagai alat kajian sehingga muncul multiperspektif. untuk mengetahui makna yang tersirat dalam tari pasihan harus menganalisis terhadap bahasa verbal dan nonverbal dengan menggunakan empat teori yaitu: (1) teori pragmatik. mempunyai kedalaman makna dan bersifat multidimensional (Sutopo. artinya berbeda suatu teori beragam pula cara pandangnya. Bentuk aplikasinya. untuk itu diperlukan beberapa perspektif teori guna memperoleh hasil simpulan yang mantap dapat dipertanggungjawabkan. Teknik Analisis Penelitian kualitatif bentuk analisisnya bersifat induktif. tetapi seluruh hasil simpulan yang dibuat dan teori yang mungkin dikembangkan.2006: 105).110 Trianggulasi teori dibutuhkan untuk mendapatkan pandangan yang lengkap dan mendalam. (2) teori budaya. G. 2006:98-99). Sifat analisis induktif sangat mementingkan apa yang sebenarnya terjadi dan ditemukan di lapangan yang pada dasarnya bersifat khusus berdasarkan karakteristik konteksnya dalam kondisi alamiahnya. Analisisnya tidak untuk membuktikan kebenaran hipotesis yang telah diajukan dalam proposal penelitian. artinya semua simpulan dibentuk dari semua informasi yang diperoleh dari lapangan.

kesepadanan. misalnya tanggapan ciri-ciri karakteristik bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan dari informan penari. atau mengkomparasikan antarfaktor-faktor utama yang menjadi pokok kajian berdasarkan kerangka pikir (Sutopo. Proses interaktif juga mengkomparasikan data yang didapat dari wawancara. Sejak diperoleh data dalam unit yang paling kecil sudah mulai dikomparasikan hingga pada unit-unit atau kelompok data yang besar untuk mengelompokkan beragam variabel sesuai dengan rumusan masalah. observasi. sehingga data yang hendak disajikan sebagai laporan. perbedaan. sudah merupakan hasil dari analisis yang berkelanjutan pada proses pengumpulan data. perbedaan. setelah peneliti mendapatkan data pada unit-unit hingga kelompok yang besar. arsip maupun dokumen dan lainnya untuk mendapatkan pemantapan simpulan yang kemudian akan dikembangkan dan validitas datanya dengan mencermati tingkat kesamaan. Analisis dilakukan dalam bentuk interaktif. dengan melakukan beragam teknik refleksi untuk pemantapan simpulan awal dan perluasan serta pendalaman data bagi pengumpulan data berikutnya.111 Proses analisis dilakukan bersamaan sejak awal dengan proses pengumpulan data. penarikan simpulan dan verikasinya. dan kemungkinan lain. Aktivitas refleksi dari setiap data yang telah terkumpul pada dasarnya merupakan kegiatan analisis yang semakin berkembang. sajian data. Pada penelitian kualitatif kasus tunggal tentang genre tari pasihan gaya Surakarta ini. bentuk keterkaitan antarunsurnya dan sebagainya). 2006). dan informan budayawan kemudian . Adapun proses interaksi selanjutnya antarkomponen analisisnya meliputi reduksi data. informan pakar. artinya setiap unit data yang terkumpul selalu dikomparasikan dengan unit data lainnya untuk menemukan beragam hal yang dibutuhkan sesuai dengan tujuan penelitian (keluasan.

112 dikomparasikan untuk mencari dan menemukan perbedaan. peneliti gunakan model analisis interaktif. dan lengkap dengan kata-kata kunci. untuk menarik makna pragmatik sebagai hasil analisis akhir penelitian. mengembangkan hasil wawancara yang berupa kata-kata kunci menjadi catatan lengkap. kritis. Model analisisnya. Sebagai gambaran model analisis interaktif (Sutopo. fungsi dan persepsi masyarakat. Selain itu. Reduksi data.2006:120). kesamaan dengan beragam rujukannya untuk simpulan yang mantap dengan melihat keterkaitannya tujuan penelitian yang telah dirumuskan yaitu untuk menemukan ciri karakteristik genre tari pasihan gaya Surakarta. Untuk menganalisis makna pragmatik dapat dengan mengkomparasikan antarfaktor-faktor utama dari: implikatur tindak tutur verbal dan nonverbal. peneliti melakukan pengelompokan data menurut jenisnya secara terpisah berdasarkan kelompok informasinya dan merumuskan temuan jalinan dalam . Pengumpulan data (1) Reduksi data (3) Penarikan Simpulan/verifikasi (2) Sajian data Keterangan: Pengumpulan data yang dilakukan adalah mencatat dengan rinci.

Selain itu membandingkan data antarkelompok untuk menemukan kemungkinan adanya keragaman bentuk yang terkait.113 kelompok dengan rumusan singkat. Sajian data. merupakan hasil pembahasan dari sajian data dan reduksi data untuk menyimpulkan makna tunggal yang menempatkan posisi setiap temuan berada pada satu kesatuan konteks. . disusun berdasarkan kelompok data yang sudah dirumuskan (reduksi data) kemudian melakukan pengelompokan unit sajian berdasarkan kelompok rumusan masalah. yang dikembangkan berdasarkan temuan-temuan dari setiap kelompok data dan disajikan dalam bentuk narasi lengkap dan bukan sajian bahan mentah. Penarikan simpulan/verifikasi.

dan iringan karawitan. tari Enggar-enggar. tari Endah. tari Jayaningrat. gerak tubuh (kinetic body moves). yaitu tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk. rias. tari Driasmara. yakni seperti: tari Karonsih. tari Gesang Rahayu. Sedangkan aspek bahasa nonverbal meliputi: tema. Secara garis besar bentuk tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk banyak persamaannya. tari Langen Asmara dan tari Setyaningsih. Bagi seniman komposit dari bahasa verbal dan nonverbal yang terdapat pada tari . dan jineman. gerongan. Pemilihan kedua jenis tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk. tari Lambangsih. polatan (ekspresi wajah). tari Bondhan Sayuk. Pada dasarnya bentuk tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk sebagai bagian seni pertunjukan genre tari pasihan gaya Surakarta memiliki beberapa aspek di antaranya aspek sastra tembang sebagai bahasa verbal yang berupa cakepan (syair): pathetan. busana.114 BAB IV BAHASA VERBAL DAN NONVERBAL GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA Genre tari pasihan gaya Surakarta merupakan habitat dari jenis-jenis karya tari duet percintaan atau tari pasihan. Adapun bentuk genre tari pasihan terdiri dari tari duet percintaan. yang sudah barang tentu juga terdapat perbedaan namun tidak begitu signifikan. Aspek bahasa verbal dan nonverbal tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk merupakan komposisi dua komponen yang menyatu dalam bentuk seni pertunjukan. tari Kusuma Ratih. tari Kusuma Aji. diharapkan mampu menjawab rumusan masalah dari kajian pragmatik bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta. sindhenan. Dalam penelitian ini peneliti terfokus pada dua jenis tari pasihan. pola lantai.

dan afektif.115 Karonsih dan tari Bondhan Sayuk merupakan kesatuan makna yang utuh dan berfungsi sebagai sarana komunikasi untuk hiburan dan suritauladan. yang merupakan klimaks dari seluruh adegan. yakni: (1) pathetan: sakpada (satu . 2) adegan pertemuan. terdiri dari beberapa bait syair yang terdapat pada garap lagu. Karya tari Karonsih merupakan hasil susunan Maridi pada awal tahun 1970. untuk menyajikan sebuah tari yang sesuai untuk kebutuan resepsi perkawinan Ibnu Harjanto adik Tien Suharto istri mantan presiden Indonesia yang ke dua (wawancara Maridi. yakni sastra tembang yang merupakan bahasa verbal dan elemen-elemen lain yang terkait dan menunjang dengan tari yang merupakan bahasa nonverbal. Untuk menjelaskan tentang seluk-beluk bahasa verbal dan nonverbal pada kedua jenis tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk. a. peneliti hendak menggali dan mengungkap data dari infoman berdasarkan faktor objektif. dan 3) adegan bahagia. ketika beliau mendapat permintaan dari keluarga Kalitan. Teks sastra tembang yang merupakan bahasa verbal tari Karonsih. Tari Karonsih Tari Karonsih merupakan tari tradisi gaya Surakarta jenis pasangan silang jenis karakter putri luruh dengan putra alus luruh yang bertemakan percintaan Dewi Sekartaji dengan Panji Inukertapati. genetik. Jika dicermati lebih lanjut pertunjukan tari Karonsih dapat dibagi menjadi beberapa adegan-adegan sebagai berikut: 1) adegan pencarian. 1991). Bentuk tari Karonsih terdiri dari dua komponen pokok. Bahasa Verbal. A. Pembagian adegan di sini berdasarkan suasana-suasana yang dibangun lewat garap gendhing dan makna sastra tembang. Faktor Objektif I.

(2) garap sindhenan Pangkur Ngrenas: sakpada. seperti jabaran berikut ini. Dahat denira muwun.116 bait). Dari masing-masing bait syair tembang tersebut memiliki garap lagu atau watak lagu yang berbeda-beda.1 Sang Retnayu Dewi Jengkar Sekartaji Jengkar sking kedhaton Nr Asertif .. Kinanthi Sandhung: rongpada (dua bait). O………. Inukertapati Menangis tersedu-sedan. dan (4) garap gerongan Lambangsari: rong pada. Bahasa verbal yang berupa tembang Jawa tersebut terurai menjadi beragam jenis tindak tutur dan beragam makna yang dikandungnya. Jenis – jenis Tindak Tutur (TT) yang melekat pada teks Pathetan Wantah No Narator (Nr) Teks Verbal Pathetan Wantah Jenis-jenis TT Pemarkah 1. (1) Teks Pathetan Wantah Sang Retnayu Dewi Sekartaji Jengkar sking kedhaton Sang Retnayu Dewi Sekartaji Jengkar sking kedhaton Angupadi mendranira ingkang garwa Inukertapati.O………… Terjemahan: Si cantik Dewi Sekartaji Pergi dari kerajaan Si cantik Dewi Sekartaji Pergi dari kerajaan Mencari suaminya. (3) garap sindhenan.

2 Sang Retnayu Dewi Jengkar Sekartaji Jengkar sking kedhaton Nr 1. e. Situasi tutur: tidak formal. Status sosial: Dewi Sekartaji sebagai seorang istri. O………. ia merespon dengan gerak tanpa tuturan. c.117 1. 1. Identifikasi / latar. . Tempat: perjalanan di luar kerajaan.O…… denira Ekspresif muwun Konteks. f. ia digambarkan sebagai figur seorang wanita. Tujuan: seorang istri (Dewi Sekartaji) yang mencari suami (Panji Inukertapati) yang telah meninggalkan kerajaan d.. b.3 Angupadi mendranira Direktif Angupadi Asertif ingkang garwa Nr Inukertapati. a. istri yang sangat setia terhadap suami.4 Nr Dahat muwun. Tema / topik: pencarian. Peserta tutur: Narator (Pn) Dewi Sekartaji (Pt).

118 g. lumaksono. h. Jengkar sking kedhaton: merupakan pernyataan perbuatan atau tindakan dari keluarga bangsawan karena terdapat suatu permasalahan yang sangat penting yang mengharuskan dan sebagai jalan terakhir untuk pergi dari kerajaan. Maksim kualitas dipatuhi. Mendranira: adalah sebuah tindakan yang didasari dari rasa tidak puas terhadap sesuatu. Iringan gendhing: pathetan untuk mendukung suasana sedih. pandangan mata mengarah ke bawah dan perubahan gerak kepala lebih pelan dan terkesan hati-hati. Maksim kuantitas dilanggar. Pola lantai: didominasi garis–garis lurus. kaki njujut. ridhong sampur kiri. Implikatur teks Pathetan adalah menggambarkan liku-liku perjalanan Dewi Sekartaji dalam mencari dan untuk menemukan Panji Inukertapati (suaminya). b. Gerak: Dewi Sekartaji keluar dari pojok belakang kanan stage menuju tengah dengan gerak: srisik. dan usap kiri – usap kanan. Polatan / ekspresi wajah: Dewi Sekartaji tampak sedih kepala menunduk. Implikatur. badan putar menghadap belakang srisik mundur kemudian putar menghadap depan. . Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Pathetan Wantah dapat diungkap: a. kengser. badan ngglebak ke kanan hadap ke depan. Angupadi: merupakan sebuah perbuatan untuk mencari dan berupaya menemukan dengan cara dan usaha yang sungguh-sunggguh. badan nglayang (memutar) ke kiri. j. i.

2) melakukan TT secara tidak langsung (off record). menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif. Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Isen-isen (isian) No Narator (Nr) Teks Verbal Isen-isen Jenis-jenis TT 1.119 c. Maksim cara dilanggar. gones. Maksim hubungan dipatuhi. (2). Teks Sindhenan Pangkur Ngrenas. Dhuh jagad dewa bathara Welasa mring dasih kang nandhang kingkin Tinilar garwa satuhu Dadya gantilaning tyas Ulun dhahat teka aginggang sarambut Kalamun datan pinanggya Aluwung tumekeng lalis Terjemahan: Wahai Sang Hyang Dewata Kasihanilah hambamu yang baru sedih Ditinggal suami Yang menjadi buah hati Hamba tidak dapat berpisah Jika tidak dapat bertemu Lebih baik mati . janma kang Patik koncatan nyawa. Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Pathetan Wantah. d.1 Nr Jarweng janma.

2 Dewi Sekartaji (Pn) Welasa mring dasih kang nandhang kingkin Direktif mring dasih 2.6 Dewi Sekartaji (Pn) Kalamun pinanggya datan Direktif datan 2.3 Dewi Sekartaji (Pn) Tinilar garwa satuhu Asertif satuhu 2.120 Jenis .5 Dewi Sekartaji (Pn) Ulun dhahat teka Direktif Ulun dhahat aginggang sarambut 2. No Penutur (Pn) Teks Verbal Sindhenan Pangkur Ngrenas Jenis – jenis TT Pemarkah 2.4 Dewi Sekartaji (Pn) Dadya gantilaning tyas Direktif dadya 2.jenis TT yang melekat pada teks Sindhenan Pangkur Ngrenas.7 Dewi Sekartaji (Pn) Aluwung tumekeng lalis Komisif Aluwung .1 Dewi Sekartaji (Pn) Dhuh jagad dewa bathara Patik Dhuh jagad 2.

Tema / topik: kesetiaan. supaya kasih asmaranya dapat menyatu kembali. Situasi tutur: tidak formal. istri yang sangat setia terhadap suami. j. c. pandangan mata mengarah ke bawah dan perubahan gerak kepala lebih pelan dan terkesan hati-hati. Tujuan: Dewi Sekartaji dalam situasi yang rindu. e. Pola lantai: didominasi garis-garis lurus. . Gerak: Sekartaji mengekspresikan lewat gerak laras sampir sampur kanan. i. f. Implikatur. ia digambarkan sebagai figur seorang wanita. Identifikasi / latar. b. h. Iringan gendhing: Ketawang Ngrenas untuk mendukung suasana sedih. Peserta tutur: Dewi Sekartaji. merupakan kekasih sebagai belahan jiwa yang diharapkan dapat sebagai tumpuan akhir yang mampu mengayomi. Polatan / ekspresi wajah: Dewi Sekartaji tampak sedih. kepala menunduk. g. melindungi dan bertanggungjawab. tawing kiri ingsetan. dan memohon pada Yang Kuasa agar segera dipertemukan dengan suaminya. Status sosial: Dewi Sekartaji sebagai seorang istri. pasrah. Tempat: dalam perjalanan di luar kerajaan. a. sedih.121 Konteks. sekar suwun. Nandhang kingkin: Gantilaning tyas: suasana sedih yang dialami seseorang. dan lembehan separo. d.

Implikatur teks Pangkur Ngrenas adalah menggambarkan Dewi Sekartaji dalam situasi rindu. . sedih. Maksim kualitas dipatuhi. pasrah. c. d. Maksim hubungan dipatuhi. Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Sindhenan Pangkur Ngrenas dapat diungkap: a. Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Sindhenan Pangkur Ngrenas. Dalam hubungan asmara dapat sebagai bukti kesetiaan. 2) melakukan TT secara tidak langsung (off record). tersurat dalam bentuk tuturan yang diungkapkan dengan TT: Kalamun datan pinanggya. Maksim cara dilanggar. Aluwung tumekeng lalis: sebuah pernyataan yang dilandasi emosional atau ketulusan hati untuk melakukan tindakan sebagai jalan pintas untuk mengakhiri kehidupan. menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif. sehingga berharap tidak dapat putus.122 Aginggang sarambut: merupakan pernyataan hubungan cinta kasih yang sangat erat dan lekat. Aluwung tumekeng lalis. b. Maksim kuantitas dilanggar. kemudian memohon pada Yang Kuasa agar segera dipertemukan dengan suaminya. Sebagai bukti kesetiaan seseorang. Bukti kesetiaan yang mendalam Dewi Sekartaji terhadap suaminya.

gones Arane basa nawala Patik (3).2 Nr Saji siswa. Adhuh yayi garwa ningsun Teka mlengos datan angkling Mara ngadhepna pun kakang Kang wus lami nandhang brangti Kadingaren yayi duka Apa kang dadi wigati Cakepan b. Wahai istriku Mengapa berpaling tidak menghiraukan Kemari tataplah wajah kakanda Sudah lama rindu Tidak biasa adinda marah Apa persoalannya .123 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Isen-isen No 2. Teks Sindhenan Kinanthi Sandhung.1 Narasi (Nr) Nr Teks Verbal Isen-isen Suta nendra prajane sri Bomantara Sun bathara.jenis TT Patik 2. Cakepan a. Wus dangu pun kakang wuyung Marang yayi wanodya di Tuhu wanita utama Mustikaning para putri Muga tansah pinaringan Kanugrahan kang salami Terjemahan: Syair a. rama Lamun sira darbe tresno Jenis .

4 Panji Inukertapati (Pn) Kang wus lami nandhang brangti Ekspresif nandhang 3.5 Panji Inukertapati (Pn) Kadingaren yayi duka Direktif kadingaren 3.124 Syair b. Sudah lama kakanda jatuh asmara Kepada adinda wanita yang cantik Engkau wanita utama Menjadi suritauladan para wanita Semoga selalu diberi Kebahagiaan selamanya Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Sindhenan Kinanthi Sandhung.jenis TT Patik Pemarkah 3.2 Panji Inukertapati (Pn) Teka mlengos datan Direktif datan angkling 3.1 Panji Inukertapati (Pn) Adhuh 3. No Penutur (Pn) Teks Verbal Sindhenan Kinanthi Sandhung Adhuh ningsun yayi garwa Jenis .6 Panji Inukertapati (Pn) Apa kang dadi wigati Direktif apa .3 Panji Inukertapati (Pn) Mara kakang ngadhepna pun Direktif mara 3.

11 Panji Inukertapati (Pn) Muga tansah pinaringan Direktif muga 3.8 Panji Inukertapati (Pn) Marang yayi wanodya di Direktif marang 3. Identifikasi / latar. b.9 Panji Inukertapati (Pn) Tuhu wanita utama Ekspresif utama 3. Peserta tutur: Panji Inukertapati (Pn). a. .7 Panji Inukertapati (Pn) Wus dangu pun kakang wuyung Ekspresif wus dangu 3.125 3.10 Panji Inukertapati (Pn) Mustikaning para putri Ekspresif mustikaning 3. Dewi Sekartaji (Pt).12 Panji Inukertapati (Pn) Kanugrahan kang salami Direktif kanugrahan Konteks. c. Tujuan: menyatukan kembali kasih asmara antara suami dengan istri yang pernah berpisah. ia merespon dengan gerak tanpa tuturan. Tema / topik: percintaan.

ketika Panji jengkeng njawil (memegang bahu). tanjak kanan. tangan kanan nyaut dengan kebyok kemudian mundur. besut. laras genjot. e. Sekartaji merasa malu kemudian melepas kedua tangan dan srisik yang segera dikejar Panji dengan srisik nyandhet tangkep asta ngaras (berciuman). Gerak: Sekartaji tampak putus harapan. panggel. Panji mencoba merayunya kembali dengan lumaksono kebyokan sampur. tangan kanan nyaut. istri yang sangat setia terhadap suami. ia digambarkan sebagai figur seorang suami yang bertanggungjawab dan sangat setia terhadap istri. ia digambarkan sebagai figur seorang wanita.126 d. Tempat: dalam perjalanan di luar kerajaan. Situasi tutur: tidak formal. maju. Perasaan malu juga ditampakkan oleh kedua tokoh tersebut setelah berciuman lepas . Untuk meredakan kemarahan Sekartaji. ulap-ulap tangan kiri – kanan. g. Dewi Sekartaji sebagai seorang istri. nyabet ukel karna kanan. srisik. yang digambarkan jengkeng (duduk) diikuti kedua tangan memegang sampur sambil menutup raut muka pada posisi centre stage. f. maju lumaksono. Status sosial: Panji Inukertapati sebagai seorang suami. dan kengser ke kanan. Datang Panji dari belakang. Panji segera memburu Sekartaji dengan gerak berdiri srisik. Suasana marah diekspresikan Sekartaji dengan berdiri enjer. ngancap. Suasana kemesraan Sekartaji dan Panji semakin terasa yang diungkapkan lewat gerak tangkep asta. tangan pondhongan kemudian nyaut jeblos (tukar tempat) lalu Sekartaji memberikan sampur dan segera diterima Panji. tanjak tawing kanan.

tangan kiri menthang. kanthen tangan kanan. tangan kanan tawing. maju. pandangan dan tatapan mata keduanya banyak saling berhadapan wajah. saling melempar senyum sebagai tanda cinta. sedangkan Panji selalu memandang Sekartaji. Suasana marah. Polatan / ekspresi wajah: ketika Sekartaji tampak putus harapan. b) Panji berusaha membujuk dan merayu istrinya. h. i. mesra. pandangan mata mengarah ke bawah. j. . Kadingaren: merupakan perbuatan atau tindakan seseorang yang tidak biasa dilakukan. untuk mendapatkan perhatian mitra tuturnya. kengser ke kanankiri. srisik melingkar. pandangan muka Sekartaji selalu menghindar dari tatapan mata Panji. adu tangan kiri nekuk. damai dan bahagia. seperti: kanthen tangan kanan. ekspresi wajah Sekartaji dan Panji tampak cerah dan gembira. Suasana mesra. akhirnya luluh hati Dewi Sekartaji.127 kedua tangan. Mustikaning: merupakan ungkapan yang bersifat menyanjung terhadap kelebihan seseorang. raut muka ditutup. Pola lantai: didominasi garis-garis lengkung. Iringan gendhing: Ketawang Kinanthi Sandhung untuk mendukung suasana kasmaran atau bercinta. Implikatur. Asmara yang dibangun Sekartaji dan Panji Inukertapati mulai menyatu. Implikatur teks Kinanthi Sandhung tersebut adalah: a) Dewi Sekartaji marah terhadap Panji Inukertapati. laku enjer saling menjauh. nandhang brangti: merupakan gambaran psikologis seseorang dalam keadaan asmara. hal ini diekspresikan dengan bentuk-bentuk gerak selalu bergandengan tangan.

Maksim kualitas dipatuhi. Maksim cara dilanggar. c. b. Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Sindhenan Kinanthi Sandhung. Pra wanita marsudiya marang tindak kang utama Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada Ingkang bisa nujuprana weh reseping pamicara Nora kengguh ing panggodha darbe budi kang santosa Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira Datan kemba asih tresna sung tetreming kulawarga Sampun sami setya tuhu anggenya liron asmara Karonsih pancen pranyata dadya kembang jagad raya Cakepan b. Maksim hubungan dipatuhi.128 Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Sindhenan Kinanthi Sandhung. d. menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif. Maksim kuantitas dilanggar. dapat diungkap: a. Cakepan a. Pra wanita marsudiya marang tindak kang utama Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada Ingkang bisa nujuprana weh reseping pamicara Nora kengguh ing panggodha darbe budi kang santosa Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira Datan kemba asih tresna sung tentreming kulawarga Sang pekik wah sang dyah ayu dangu samya bagyaharja Tan kendhat tansah meminta kanugrahan ing Hyang Sukma . Teks Gerongan Lambangsari. (4). 2) melakukan TT secara tidak langsung (off record).

3 Panji Inukertapati (Pn) Ingkang bisa nujuprana weh reseping pamicara Direktif ingkang bisa . menjadi pasangan yang bertanggungjawab Yang bisa menarik hati membuat harmonis dalam pembicaraan Tidak tergoda. Para wanita supaya selalu berbuat kebajikan Selalu setia terhadap suami. saling mencintai menuju ketetraman keluarga Sudah saling setia dalam bercinta cinta itu adalah nilai yang universal Syair b. memiliki sikap yang teguh Gantian pria berilah keseimbangan sebagai pengayom dalam perkawinan Tidak acuh. memiliki sikap yang teguh Gantian pria berilah keseimbangan sebagai pengayom dalam perkawinan Tidak acuh.2 Panji Inukertapati (Pn) Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada Direktif marang garwa 4. Para wanita supaya selalu berbuat kebajikan Selalu setia terhadap suami.129 Terjemahan: Syair a.1 Panji Inukertapati (Pn) Pra wanita marsudiya Direktif marsudiya marang tindak kang utama 4. No Penutur (Pn) / Petutur (Pt) Teks Verbal Gerongan Lambangsari Jenis – jenis TT Pemarkah 4. saling mencintai menuju ketetraman keluarga Sang kesatria (Panji) dan sang Dewi Sekartaji sudah lama hidup bahagia Tiada henti selalu meminta kebahagiaan kepada Yang Maha Kuasa Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Gerongan Lambangsari. menjadi pasangan yang bertanggungjawab Yang bisa menarik hati membuat harmonis dalam pembicaraan Tidak tergoda.

13 Dewi Sekartaji Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira Direktif nimbangana .12 Panji Inukertapati (Pn) Nora kengguh darbe ing budi Direktif nora kengguh panggodha kang santosa 4.130 4.8 Narator Karonsih pancen pranyata dadya kembang jagad raya Asertif pancen pranyata 4.4 Panji Inukertapati (Pn) Nora kengguh darbe ing budi Direktif nora kengguh panggodha kang santosa 4.10 Panji Inukertapati (Pn) Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada Direktif marang garwa 4.9 Panji Inukertapati (Pn) Pra wanita marsudiya Direktif marsudiya marang tindak kang utama 4.7 Narator Sampun sami setya tuhu anggenya liron asmara Asertif sampun sami 4.5 Dewi Sekartaji (Pt) Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira Direktif nimbangana 4.6 Dewi Sekartaji (Pt) Datan kemba asih tresna sung tetreming kulawarga Direktif datan kemba 4.11 Panji Inukertapati (Pn) Ingkang bisa nujuprana weh reseping pamicara Direktif ingkang bisa 4.

Dewi Sekartaji sebagai seorang istri. ngore rikma. istri yang sangat setia terhadap suami. d. Suasana kemesraan. Dewi Sekartaji (Pt).131 (Pt) 4. Tema / topik: kebahagiaan. Situasi tutur: tidak formal.16 Narator Tan kendhat tansah Direktif meminta meminta kanugrahan ing Hyang Sukma Konteks. a.14 Dewi Sekartaji (Pt) 4. c. seperti motif gerak: Trap jamang. dan alisan. Gerak: Sekartaji dan Panji gerak yang dipilih untuk mengungkapkan suasana bahagia yang tercermin dalam rasa gembira.15 Narator Sang pekik wah sang dyah ayu dangu samya Asertif samya bagyaharja Datan kemba asih tresna sung tetreming kulawarga Direktif datan kemba bagyaharja 4. Tempat: di kerajaan. . Peserta tutur: Panji Inukertapati (Pn). Identifikasi / latar. e. g. ia digambarkan sebagai figur seorang wanita. Status sosial: Panji Inukertapati sebagai seorang suami. luluran. ia digambarkan sebagai figur seorang suami yang bertanggungjawab dan sangat setia terhadap istri. b. Tujuan: membina keluarga yang bahagia antara suami dan istri. f.

keduanya banyak saling berhadapan wajah. saling bersentuhan tangan dan badan sehingga terasa sebagai puncak kemesraannya. Implikatur. dan mesra. saling mendekat. kebyokan sampur. Marsudiya: Setya tuhu: tuturan perintah yang bersifat santun. mereka saling memandang dengan ekspresi wajah ceria. cerah terutama ditampilkan pada adegan ini. lilingan. saling berhadapan. i. pernyataan kesetiaan yang mendalam. Adapun sebagai penutup ladrang Sigramangsah untuk mendukung suasana semangat. kanthen tangan kiri enjeran.132 kebersamaan. Bersetuhan badan tampak pada gerak Sekartaji dipangku Panji. senyum. Pola lantai: didominasi garis-garis lengkung. Puncak kemesraan pada adegan bahagia ini terekspresikan pada saat Sekartaji duduk dipangkuan Panji Inukertapati. damai dan bahagia. srisik kanthen tangan kanan. kanthen tangan kanan ingsetan. . Iringan gendhing: Lambangsari untuk mendukung suasana riang dan gembira. dan keharmonisan diungkapkan dengan motif-motif gerak. j. Motif-motif gerak tersebut dilakukan dengan irama dinamis. lumaksono encot kanthen tangan kanan. mesra. rimong sampur. seperti: lilingan. Polatan / ekspresi wajah: kedua tokoh Sekartaji maupun Panji Inukertapati tampak gembira. saling melempar senyum sebagai tanda cinta. h. pandangan mata searah. dan diakhiri pangkon ulap-ulap tangan kiri.

Implikatur teks Gerongan Lambangsari terdiri dari: 1) Tipe seorang istri yang ideal adalah selalu berupaya berbuat kebajikan. mengayomi. 2) Tipe seorang suami yang ideal adalah setia terhadap istri. Maksim cara dilanggar. 4) Kebagiaan dunia dan akhirat merupakan kebutuhan hidup hakiki manusia yang diupayakan secara seimbang. dapat diungkap: a. ketenangan dan kebahagiaan orang lain. Maksim hubungan dipatuhi. Nimbangana: sebuah permintaan yang menghendaki mitra tuturnya berlaku bijak. Ngayomi: merupakan sebuah tanggungjawab untuk menjamin kenyamanan. menarik. . Maksim kualitas dipatuhi. b. dan mampu menciptakan ketentraman keluarga. Liron asmara: mempunyai pengertian saling mencintai. 3) Nilai cinta adalah sebuah nilai universal yang dapat dijadikan landasan kehidupan berumahtangga. dan ketenaran. Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Gerongan Lambangsari. Kembang jagad raya: ungkapan pengadaian yang dimaksudkan untuk menunjukkan kehebatan. c. Maksim kuantitas dilanggar. d.133 Nujuprana: ungkapan yang menyatakan kecocokan atas sesuatu yang menjadikannya senang. setia terhadap suami. dan bertanggungjawab.

b. Diharapkan dengan mencermati peristiwa demi peristiwa yang terjadi secara kronologis sejak adegan awal sampai akhir. Dari penjabaran teks verbal yang terdapat dalam tari Karonsih terdapat beragam jenis tindak tutur yang dapat peneliti klasifikasikan secara kuantitatif jenis tindak tutur direktif paling dominan. Maksim kualitas dipatuhi dimaksudkan oleh penutur untuk menggambarkan peristiwa yang betul-betul terjadi pada masing-masing adegan. menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif. a. Maksim kuantitas dilanggar karena dalam menyampaikan tuturan seorang penutur. seperti paparan berikut: NO 1 2 3 4 5 5 6 JENIS TINDAK TUTUR Tindak Tutur Direktif Tindak Tutur Ekspresif Tindak Tutur Asertif Tindak Tutur Patik Tindak Tutur Komisif Tindak Tutur Performatif Tindak Tutur Verdiktif JUMLAH 25 7 4 5 1 - Berdasarkan prinsip kerja sama bahasa verbal yang terdapat tari Karonsih. banyak menggunakan kata-kata arkais dimaksudkan oleh seniman penyusun untuk mengekspresikan rasa estetik. 2) melakukan TT secara tidak langsung (off record).134 Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Gerongan Lambangsari. penonton akan dapat menangkap makna dari pertuturan secara utuh. .

kinetic body moves. keintiman. pola lantai. Hal ini dimaksudkan seniman penyusun untuk menunjukkan simbolisasi keharmonisan hubungan antara peran digambarkan dalam tari. dan iringan. Maksim hubungan dipatuhi dimaksudkan oleh penutur untuk menjaga kerja sama antara penutur dengan mitra tutur. Bahasa Nonverbal Bahasa nonverbal yang merupakan elemen-elemem dari tari Karonsih terdiri dari: tema. dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur. b. Maksim cara dilanggar karena dalam menyampaikan tuturan seorang penutur. dan pernyataannya samar. busana. terlalu panjang. hal ini dimaksudkan seniman penyusun untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa. d.135 c. masing-masing hendaknya memberikan kontribusi yang relevan demi terjadinya komunikasi rasa. hanya menggunakan strategi: 1) Melakukan tindak tutur dengan menggunakan kesantunan positif untuk menunjukkan kedekatan. Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada tari Karonsih tidak terpenuhi. rias. suami dan istri yang 2) Melakukan tindak tutur secara tidak langsung (off record) untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa. Untuk memahami masing-masing elemen berikut secara parsial akan dipaparkan secara komprehensif. . tidak langsung. polatan (ekspresi wajah).

dan Kethek Ogleng. kesimpulan satu-satunya bahwa redaksi yang pertama kali disusun pada zaman kejayaan Majapahit. di Palembang cerita Panji ini dikenal Panji (Angreni) Palembang. 1968: 290). Singasari. Tema percintaan yang diangkat dari babad Panji yang mengisahkan perjalanan cinta Dewi Sekartaji dengan Panji Inukertapati merupakan alur cerita yang disajikan dalam tari Karonsih. 1968: 409). dan Majapahit (abad X sampai ke XVI). Di Indonesia terdapat banyak versi tentang cerita Panji. Adapun cerita Panji ini di Kamboja dikenal Panji .136 1. Sekarang cerita Panji di wilayah Jawa Timur yang merupakan sumber awal cerita tersebut dikenal dengan cerita Ragil Kuning dan Kilisuci. Timbulnya cerita Panji dipandang sebagai suatu revolusi kesusastraan terhadap tradisi lama (Poerbatjaraka. Siam. cerita Panji ini sangat terkenal dalam sebuah garapan dramatari yang disebut Raket. Munculnya cerita Panji pada zaman kejayaan Majapahit merupakan pernyataan yang cukup kuat. terutama di Pulau Jawa. hal ini didukung pendapat Poerbatjaraka: bila kita kumpulkan seluruh bahan keterangan untuk menentukan waktu timbulnya cerita Panji. Jenggala. Keong Emas. Di daerah Pasundan cerita Panji tersebut lebih dikenal dengan sebutan Lutung Kasarung atau Panji Sunda. Dilingkungan wilayah kekuasaan kedua kerajaan Yogyakarta dan Surakarta. Di Jawa Tengah. cerita Panji dikenal dalam cerita Andheandhe Lumut. Di Jawa Timur pada masa kejayaan kerajaan-kerajaan. Jaka Bluwo. Cerita Panji adalah merupakan karya sastra yang sangat terkenal di Asia Tenggara terutama di Indonesia. Kamboja. cerita Panji ini berkembang sejak Mataram pecah menjadi dua yaitu kerajaan Yogyakarta dengan sebutan Kasultanan Ngayogyakarta dan kerajaan Surakarta lebih dikenal sebagai Kasunanan Surakarta. dan Thailand. Wilayah Bali cerita Panji banyak dikenal dengan sebutan Malat (Poerbatjaraka. di antaranya Medang. Kediri.

cerita Panji dapat meluas karena diangkat sebagai lakon-lakon dalam: Kethoprak. Dalam versi Jawa nama Panji Inukertapati juga disebut Panji Asmarabangun atau Panji Kasatriyan. untuk itu perlu peneliti kemukakan beberapa tulisan yang pada akhirnya dapat dianalisis dalam rangka menentukan versi yang dijadikan sebagai tema. . Dewi Sekartaji diperankan oleh Sembadra. Adapun beberapa cerita secara lengkap tentang cerita Panji dapat diamati secara berturut-turut berikut ini.137 Kamboja. sedangkan Angka Wijaya atau Abimanyu merupakan peran pengganti anak dari Sekartaji atau Candrakirana). untuk Panji Inukertapati diperankan Harjuna atau Janaka. yang dapat digunakan sebagai sumber data. sehingga kisah cerita maupun tokoh-tokoh yang terlibat terdapat perbedaan-perbedaan dan juga dalam bentuk naskah tulis. Rupanya cerita Panji cukup terkenal sehingga banyak versi. Versi Kamboja. sedangkan Dewi Sekartaji disebut Bossaba. sedangkan Dewi Sekartaji juga sering disebut Galuh Condrokirana atau Kleting Kuning atau Dewi Limaran. Tokoh–tokoh utama yang berperan dalam cerita Panji adalah Panji Inukertapati sebagai suami dan Dewi Sekartraji sebagai isteri. Tersebarnya cerita Panji di Asia Tenggara. wayang Kulit maupun wayang orang (dalam lakon Bambang Semboto. dan sebagai tema tari pasihan. sedangkan Dewi Sekartaji merupakan titisan dewi asmara yaitu Bathari Kamaratih. wayang Gedhok. Dramatari. Selain dalam bentuk dongeng. Di samping itu juga terdapat sebuah mitos bahwa Panji Inukertapati merupakan titisan dari dewa Asmara yaitu Bathara Kamajaya. Siam dan Thailand. sedangkan di Thailand disebut dengan Jataka. terutama di Indonesia penyebarannya dari mulut ke mulut dalam bentuk dongeng. frahmen. nama Panji Inukertapati disebutnya Eynao atau Inao.

Harapan raja Bramakumara. Dari keempat raja itu terdapat dua raja yang berbesanan. dan Singasari yang sangat masyur. yaitu raja Lembu Amiluhur dari Jenggala yang memiliki anak laki bernama Panji Kertapati dengan raja Lembu Amijaya dari Kediri yang mempunyai anak puteri bernama Candra Kirana atau Retna Galuh atau lebih sering disebut pula Sekartaji. Dalam pertemuan itu pula Panji Kertapati sebagai kesatria tumpuan dari seluruh bala . Armada perangnya sangat kuat. dipaparkan sebagai berikut.138 1. yaitu Jenggala. Sebagai pangeran muda Panji Kertapati sungguh sangat perkasa dalam peperangan. selain itu beliau sangat bijaksana dan romantis dalam berkeluarga. perkasa dan bala tentaranya besar. saling menjaga hubungan sehingga menjadi sangat agung dan terkenal. Ngurawan. tidak lama kemudian Panji Kertapati mendirikan sebuah kota Pandhak yang letaknya diwilayah kerajaan Kediri. Daha (Kediri). tidak pernah saling bertentangan. Isi surat pada intinya bahwa Raja Bramakumara menantang perang dengan Panji Kertapati sebagai balas dendam atas kematian saudaranya raja dari Nusa Kencana. Keempat raja yang menduduki tahta tersebut masih bersaudara. Di Tanah Jawa. datang seorang patih Guna Saronta membawa sepucuk surat sebagai utusan raja Bramakumara dari Makassar. pada waktu itu terdapat empat kerajaan. dalam tulisannya yang berjudul: Panji Sekar. pengaruh kekuasaannya luas oleh karena itu mereka disegani raja-raja lainnya. jika Panji dapat dikalahkan berarti Tanah Jawa dapat dikuasainya. terjemahan Yanto Darmono tahun 1979.a Menurut Sunan Pakubuwono IV. Setelah Panji Kertapati dan Candra Kirana menikah. Pada saat rapat besar kerajaan Kediri. mereka hidup rukun.

Perjalanan untuk mencari buah ketan dilanjutkan. Manfaat lainnya dari buah ketan adalah menghilangkan segala penyakit dan dapat membuat tenteram. yang tidak diketahui manusia terletak di tengah hutan yang sangat keramat. Panji diperintahkan untuk segera pulang karena di dalam tamansari karaton Kediri akan muncul pencuri yang sangat sakti. untuk itu ia bergegas untuk mencari ke hutan yang diikuti oleh Bancak dan Dhoyok. Jika dapat makan buah ketan tersebut dewa akan meluluskan semua permintaaannya terutama bayi yang di dalam kandungan Sekartaji akan keluar anak lakilaki yang rupawan. Panji Kertapati mendapat dukungan dari Sekartaji istrinya. sehingga mereka sangat kerasan bahkan lupa untuk kembali pulang. Atas kehendak dewa.139 tentara kerajaan menyanggupi tantangan dan menunggu kedatangan raja Bramakumara sebagai penantang. kelak menjadi kesatria yang sakti. bagi Panji itu merupakan tanggungjawab sebagai suami yang setia terhadap istri. Patih Guna Saronta dengan akal yang licik membujuk raja Bramakumara untuk masuk ke tamansari bersamanya guna mencuri Galuh Candrakirana dengan harapan . gagah berani dalam medan perang dan menjadi raja yang Agung di Tanah Jawa. namun sang istri juga mengungkapkan impiannya bahwa ia disuruh dewa untuk makan buah ketan yang terdapat di taman sari di tengah hutan Tikbrasara. Taman sari tersebut merupakan buatan dewa Batara Darma. Ungkapan Candra Kirana merupakan permintaan segera (nyidam). sampai di tengah hutan Panji dan pengikutnya mendapatkan sebuah tamansari di dalamnya terdapat buah ketan yang digambarkan bagaikan surga. Di tengah hutan Tikbrasara Panji Kertapati perang dengan prajurit sandi dari Makassar yang akhirnya dimenangkan oleh Panji.

Pada malam yang sangat gelap Guna Saronta dan Bramakumara masuk tamansari dengan ajian yang membuat semua orang di dalamnya tertidur. Rupanya dewa meluluskan permohonan sang dewi. Panji yang dengan ilmu siluman sejak awal tengah dekat dengan Galuh Istrinya segera bertindak dan menghajar Bramakumara dan Guna Saronta yang akhirnya Panji menang. Brahmana dari negeri seberang yang merasa memiliki tanggungjawab sebagai orang tua yang hendak meluluskan permintaan anaknya yaitu Kalana untuk kawin dengan sang Dewi Sekartaji. Galuh Candrakirana lebih baik memilih bunuh diri. Kehadiran dan permintaan Bramakumara tetap ditolak. kemudian dalam benaknya berharap segera Panji suaminya segera dapat menolongnya.140 mengurangi kekuatan Panji secara perlahan-lahan. ketika Bramakumara hendak memaksa Galuh. bahkan jika raja Makassar hendak memaksa. Galuh Candrakirana tidak bisa tidur datanglah Guna Saronta dan Bramakumara yang berusaha merayu agar Galuh bersedia menjadi prameswari. Ketika Panji putra raja Jenggala hendak dikawinkan dengan putri raja Daha (Kediri) yaitu Sekartaji terjadi penculikan di tamansari Kediri. Sekartaji dicuri seorang Brahmana untuk dikawinkan dengan anaknya bernama Klana. namun dapat dikalahkan oleh bala tentara Panji. iapun bergegas menuju Kediri. Keberangkatan Brahmana secara sendirian untuk menculik sang puteri disadari bahwa ia mengetahui pula bahwa Panji sebagai calon suami Sekartaji adalah seorang pahlawan yang tidak dapat ditaklukkan karena penjelmaan dewa yang lebih sakti dari pada anaknya. 1.1968: 100-104) cerita Panji dalam Serat Kanda dikisahkan sebagai berikut. Bala tentara dari Makassar yang dipimpin raja-raja bawahan segera menyerang Kediri. .b Cerita Panji dalam perbandingan (Poerbatjaraka. Rasa takut yang semakin mencekam menghinggapi Galuh Candrakirana.

atas kehendak ke dua orang tua mereka. Sesudah mendapatkan kemenangan raja Jenggala mengundurkan diri untuk menjadi seorang begawan dan mengangkat Panji sebagai pengganti raja di Jenggala dengan nama Dewakusuma yang didampingi Sekartaji sebagai prameswari serta para isteri selirnya. ia memaksa dan hendak memperkosanya namun sang puteri tetap menolak dan akhirnya melarikan diri ke hutan. raja Kalana beserta prajuritnya menyerang Jenggala. Kepala Brahmana dapat dipenggal oleh Panji yang selanjutnya dikirimkan kepada raja Kelana di Pulo Kencana yang disertai sepucuk surat tantangan perang. Di sebuah desa terdapat seorang janda mempunyai tujuh anak yang . Adapun ringkasan ceritanya sebagai berikut. Panji dan Sekartaji dikawinkan dengan pesta secara besarbesaran. Peperangan berakhir kekalahan dipihak kerajaan Pulo Kencana dan raja Kelana mati terbunuh oleh Panji. kemudian terjadi peperangan sangat dahsyat yang masing-masing saling mengeluarkan kekuatan-kekuatan gaibnya. Setelah beberapa hari berlangsungnya pesta perkawinan. Andheandhe Lumut merupakan salah satu dongeng yang sangat dikenal yang tidak lain adalah menceriterakan tentang perjalanan hidup sepasang suami-istri yakni Panji Inukertapati dengan Sekartaji atau sering desebut Galuh Candrakirana. bukan untuk anaknya raja Kelana di Pulo Kencana. 1.c Cerita Panji dalam dongeng. sedangkan Panji bersama Sekartaji kembali ke kerajaan. Pengejaran Brahmana terhenti karena dihadang Panji. Sekembalinya sepasang kekasih putra-putri kerajaan tersebut. Brahmana masuk tamansari Kediri dan menculiknya Sekartaji yang segera dibawa pulang ke Talkanda yakni tempat kediamannya sendiri karena ia terpesona kecantikan sang puteri. Brahmana rupanya sangat bernafsu melihat Sekartaji.141 Pada malam tiba. Di tengah-tengah masyarakat Jawa.

Kleting Ijo. ketika ke enam saudaranya berangkat ke desa Dadapan. yang tidak lain adalah Candrakirana yang menyamar untuk mencari Panji suaminya. Yuyukangkang bersedia menyeberangkan dan meminta upah bukan uang atau benda lainnya. seperti Kleting Abang. jika saudaranya banyak dimanja namun Kleting Kuning lebih banyak disuruh bekerja keras dan sangat dibenci.142 masing-masing anak dengan nama panggilan depan Kleting dan nama berikutnya mengambil sebutan jenis warna. Perlakuan ibunya terhadap Kleting Kuning sangat dibedakan dengan keenam Kleting saudaranya. Harapan . namun tak seorangpun dapat dijumpai kemudian muncul Yuyukakang yaitu makhuk berbadan manusia berkepala kepiting raksasa yang merupakan penjilmaan dari Prabu Kelana dari negeri Sabrang yang telah lama jatuh cinta dan hendak memperistri Galuh Candrakirana. Anak yang paling bungsu rupanya sangat buruk bernama Kleting Kuning. Ketika keenam saudaranya hendak mengadu cinta terhadap seorang pemuda tampan Andhe-andhe Lumut putra seorang janda Dadapan. Kebencian ibunya terhadap Kleting Kuning tiba pada puncaknya. ia disuruh untuk membersihkan periuk yang sangat kotor agar menjadi seperti baru lagi ke sungai yang jauh dari rumahnya. selanjutnya satu-persatu Kleting diseberangkan. mereka ditolak semua dengan alasan telah menjadi sisa dari Yuyukangkang. tetapi yang diminta adalah ciuman. mereka diberi pakaian yang bagus dan wangi-wangian agar salah satu darinya dapat memikat hati pemuda dimaksud dan menjadi isterinya. dan sebagainya. Enam Kleting tidak satupun yang diterima menjadi kekasih Andheandhe Lumut. Di tengah perjalanan menuju desa Dadapan para Kleting hendak menyeberang sungai. Permintaan Yuyukangkang disanggupi.

bertemu Kleting Kuning sambil mengungkapkan kekesalannya dengan mengejek dan menghinanya dengan sindiran bahwa yang cantik-cantik saja tidak . Kleting Kuning dapat membersihkan periuk menjadi mengkilap bahkan dapat bersinar dan diberi senjata Sada Lanang (seutas lidi) yang sakti. maka sebelum berangkat ia hanya boleh memakai pakaian seadanya dan mukanya dibedaki seperti badut serta diberi bau-bauan yang busuk supaya tidak diterima Andhe-andhe Lumut. Kleting Kuning marah. Yuyukangkang menjelma menjadi Prabu Kelana. ia merasa gagal tidak dapat bertemu Galuh Candrakirana kemudian memutuskan kembali pulang ke negeri sabrang. senjata Sada Lanang dipukulkan ke sungai yang seketika itu airnya menjadi kering dan Yuyukangkang jatuh tidak berdaya. Yuyukangkang mohon Kleting Kuning supaya mengembalikan airnya segera dan berjanji akan menyeberangkan. Permintaan Kleting Kuning ditolak Yuyukangkang bahkan diusirnya untuk segera kembali pulang.143 ibunya supaya Kleting Kuning tidak mengikuti kakak-kakaknya melamar Andhe-andhe Lumut. Atas kuasa dewa. Setelah pulang Kleting Kuning tinggal menjumpai ibunya yang memberitau bahwa kakaknya semua berangkat melamar Andhe-andhe Lumut ke desa Dadapan. Keberangkatan Kleting Kuning menyusul Kleting lainnya rupanya tidak dikehendaki ibunya. Sekembalinya dari Dadapan enam Kleting yang jengkel hatinya karena ditolak cintanya. Rupanya keteguhan dan kesabaran Kleting Kuning membawa hikmah. ia bersemadi memohon pada dewa agar diberi kemudahan untuk membersihkan periuk yang dibawanya. kemudian permintaan Yuyukangkang disanggupi dan ia diseberangkan. Di tepi penyeberangan Kleting Kuning hanya bertemu Yuyukangkang dan minta tolong untuk diseberangkan seperti kakaknya yang lebih dulu berangkat.

namun permasalahan-permasalahan yang dihadapi dapat diselesaikan dengan baik yang akhirnya mereka dapat berhasil menikmati hidup bahagia dalam sebuah keluarga. Saat bertemu janda Dadapan. dan bahagia. Rupanya kisah tersebut menjadi sebuah inspirasi yang berarti bagi pasangan manusia yang menginginkan percintaan yang ideal. Tema percintaan Panji Inukertapati dengan Dewi Sekartaji merupakan tema inti yang diangkat dari ketiga versi cerita Panji tersebut. namun ditolak si janda. Ibunya terkejut melihat anaknya yang tampan sudi menerima kehadiran Kleting Kuning sebagai isterinya. Kleting Kuning mengungkapkan maksudnya yakni untuk mengadu cinta kepada Andhe-andhe Lumut. Mendengar pembicaraaan itu Andhe-andhe Lumut segera menemui Kleting Kuning dan menyatakan menerimanya. Mereka sangat bahagia dan segera kembali ke istana dan disambut meriah oleh bangsawan dan seluruh rakyatnya.144 diterima apalagi yang jelek seperti badut (badut ini rias muka Kleting Kuning akibat perlakuan ibunya yang menghendaki supaya wajahnya menjadi jelek dan tidak diterima Andhe-andhe Lumut). Suka duka yang dialami masing-masing tokoh cukup berat. . romantis. Berdasarkan tiga versi cerita Panji dapat dirangkum secara padat dan singkat bahwa liku-liku perjalanan cinta Dewi Sekartaji dengan Panji Inukertapati merupakan gambaran percintaan yang sangat menarik dan bermakna dalam hubungannya dengan membangun kehidupan berkeluarga. Andhe-andhe Lumut segera membawa Kleting Kuning masuk kamar dan menjelma menjadi Panji Inukertapati dan Sekartaji. Adapun bentuk garapnya hanya menyajikan dua peran utama yakni tokoh Panji Inukertapati dengan Dewi Sekartaji. Kleting Kuning dengan hati sabar terus melangkah menuju Dadapan.

setia. mengisahkan tentang suasana kebahagiaan yang tengah dinikmati oleh Dewi Sekartaji dengan Panji Inukertapati sebagai sebuah keluarga. Keinginan-keinginan dari masing-masing tokoh tersebut dapat dicermati pada bahasa verbal yang tersurat dan tersirat pada cakepan gerongan Lambangsari yang merupakan cita-cita yang ideal untuk mewujudkan sebuah keluarga yang bahagia. adegan pertemuan. mengisahkan pertemuan antara tokoh Dewi Sekartaji dengan tokoh Panji Inukertapati sebagai sepasang suami istri yang telah lama tidak bertemu. dan kacau. karena tanpa kehadirannya tidak akan tersaji sebuah karya tari. kebersamaan.merayu. dan adegan bahagia. a). pasrah. mesra. mesra merupakan esensi yang hendak diekspresikan dalam adegan dimaksud. b) Adegan pertemuan. Merujuk pada . c) Adegan Bahagia. berdoa. tegang.145 Adapun tema percintaan dari cerita Panji tersebut secara garis besar dibagi menjadi tiga adegan yaitu: adegan pencarian. malu. dan harapan yang menjadi komitmen bersama dengan keinginan untuk berbuat kebajikan. Kinetic body moves atau Gerak tubuh merupakan medium utama dalam pertunjukan tari. Adapun untuk menyajikan adegan pencarian tersebut diungkapkan lewat suasana sedih yang implementasinya menjadi beberapa rasa: sedih. sehingga suasana rindu yang teraktualisasi dalam beberapa rasa: marah (jengkel). yang telah meninggalkan kerajaan. menjaga keutuhan dan ketentraman keluarga. Dalam tari Karonsih yang merupakan seni tradisi (seni yang bersumber dari istana) terdapat beragam jenis vokabuler gerak dengan karakternya masing-masing. Suasana kebahagiaan ini diungkapkan dalam bentuk komplementer dari rasa gembira. Adegan pencarian mengisahkan liku-liku perjalanan Dewi Sekartaji sebagai seorang putri raja yang pergi meninggalkan kerajaan untuk berupaya mencari Panji Inukertapati suaminya. serta selalu mohon barokah kepada Yang Kuasa. 2.

badan putar menghadap belakang srisik mundur kemudian putar menghadap depan. lumaksono. sedih. Adapun bentuk-bentuk vokabuler yang terdapat pada masing-masing adegan secara garis besar. Peristiwa yang terjadi untuk adegan pencarian digambarkan Dewi Sekartaji keluar dari pojok belakang kanan stage menuju tengah dengan gerak: srisik. badan nglayang (memutar) ke kiri. ridhong sampur kiri.146 beragam rasa yang dikehendaki meningkat pada suasana-suasana yang terdapat dalam adegan pada tari Karonsih tersebut. kengser. kekacauan. badan berputar turun menjadi jengkeng dengan iringan Gangsaran nada 2 slendro yang berubah menjadi gangsaran nada 1 pelog. Bentuk gerak pada adegan I pencarian secara garis besar dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis gerak. serta pertimbangan peristiwa dan tema yang diangkat kemudian dipilih pola-pola sekaran atau vokabuler gerak yang sesuai. kembali ke pojok kiri belakang. yang berubah menjadi tenang setelah Sekartaji dapat bertemu Panji. pola-pola sekarannya bersifat presentatif dan representatif. Adegan pencarian merupakan adegan pertama yang mengawali dari seluruh rangkaian seluruh adegan secara utuh. yaitu presentatif dan representatif.dan Lembehan separo dengan iringan ketawang Ngrenas. badan ngglebak ke kanan hadap ke depan. diungkapkan lewat gerak: kengseran. Di tengah-tengah pencarian Panji. srisik yang dilakukan secara berulang ke pojok kanan depan. Sedangkan suasana ketegangan. kemudian srisik ke pojok belakang kanan dan dilanjutkan srisik menuju ke center stage. dan pasrah yang menyelimuti Sekartaji diekspresikan lewat gerak Laras Sampir sampur kanan. kaki njujut. Adapun pembagiannya dapat dicermati pada paparan berikut ini. tawing kiri ingsetan. usap kiri – usap kanan dengan iringan pathetan. . suasana berdoa. Sekar suwun.

147 Adegan Nama Tokoh Jenis Gerak Keterangan Representatif No I. Distilisasi gerak orang lari. sedangkan tangan kanan ditekuk di depan mulut dan keduanya membawa sampur. Dewi Sekartaji 1 Srisik (tangan nekuk). Tangan kiri ditekuk di depan pinggang. Kedua tangan trap cetik nyempurit membuka. kecuali jari jempol ditekuk. Posisi kedua tangan menthang sampur kedua tangan lurus membuka ke samping dengan membawa . Posisi kedua tangan ditekuk di depan pinggang dengan membawa sampur (selendang) Distilisasi gerak orang lari. Pindah tempat dengan cara lari kecil yang posisi kedua tangan ditekuk pingggang di depan setinggi 2 Srisik (tangan nekuk). tangan kiri trap cetik. 5 Srisik kipat sampur. tangan kanan trap wadana miwir sampur Distilisasi gerak orang lari dengan cara mundur. Kedua tangan trap cetik miwir sampur Distilisasi gerak orang lari. Pencarian. tangan trap cetik yang kiri nyempurit dan kanannya nyekithing Distilisasi gerak orang lari. 4 Srisik (tangan nekuk) dengan mundur. Posisi kedua tangan ditekuk di depan pinggang dengan jari-jari 3 Srisik (tangan nekuk).

tangan kanan ditekuk di depan telinga kiri dan keduanya membawa sampur. 6 Srisik kipat sampur. 8 Lumaksono. 10 tawing kiri Distilisasi gerak orang melihat ke samping kiri. tangan kanan ditekuk bagian di kanan depan dan pinggang keduanya Distilisasi gerak orang lari.148 sampur. 9 Enjer Distilisasi gerak orang jalan ke samping. Posisi Tangan kiri menthang dan tangan kanan trap cetik miwir sampur tangan kiri lurus ke samping sejajar pinggang. tangan kiri menthang dan tangan kanan trap karna miwir sampur 7 Srisik kipat sampur. membawa sampur. Posisi tangan kiri lurus ke samping sejajar pinggang. . menthang sampur Distilisasi gerak orang sedang jalan. tangan kiri ditekuk di depan pinggang bagian kiri dan keduanya membawa sampur. Distilisasi gerak orang lari. Posisi tangan kanan lurus ke samping sejajar pinggang.

kanan sampur kiri yang tangan membawa sambil mengusap leher ke kanan 5 Sampir kesan sedih Sampur dililitkan . Pindah tempat cara kedua merupakan gerak dengan penghubung menggeser kakinya.Hadap badan yang bergantian diikuti dan kedua kaki serta naik-turun naik-turun tangan secara bergantian 4 Ridhong ulap sampur kesan sedih Sampur melilit pada tangan ditekuk. namun tetap menempel lantai. Dewi Sekartaji 1 Kengser kesan menjauh. 2 Nglayang kesan berat Kaki badan merendah.149 Adegan Nama Tokoh Jenis Gerak Ekspresi Presentatif Keterangan No I Pencarian. miring lalu maju pada digerakkan melengkung. 3 Njujut glebakan kesan liku berliku.

kengser leyekan. 8 Kembang pepe. 7 sindhet gerak penghubung Kaki kiri di tekuk dibelakang kanan kaki lurus. putar badan bersama kedua tangan diputar kesan liku berliku- . tangan kanan mengayun ke atas dan ke bawah. tangan kanan seblak sampur. tangan kanan lurus lalu di tekuk dilakukan dan bergesernya kaki (ingsetan). tangan kiri trap cetik. 6 Sekar suwun kesan sedih Tangan kiri trap dahi.150 sampur laras pada pundak. berulang dibarengi kedua dibarengi tangan kiri ditekuk.

panggel. Panji segera memburu Sekartaji dengan gerak berdiri srisik. Pertemuan sepasang suami istri yang telah lama tidak berjumpa bahkan harus dilalui dengan liku-liku. Pertemuan tersebut disambut Sekartaji dengan rasa marah. tanjak kanan. Datang Panji dari belakang. nyabet ukel karna kanan. maju. Untuk meredakan kemarahan Sekartaji. Dukungan untuk mengungkapkan suasana tersebut dengan iringan ketawang Kinanthi Sandhung dengan menggunakan garap gerongan dua cakepan (bait). dan kengser ke kanan.151 Adegan pertemuan merupakan adegan kedua yang menggambarkan pertemuan Dewi Sekartaji dengan Panji Inukertapati. laras genjot. Setelah merasa tidak dapat menemukan Panji. Sekartaji merasa malu kemudian melepas kedua tangan dan srisik yang segera dikejar Panji dengan srisik nyandhet tangkep asta ngaras (berciuman). tangan pondhongan kemudian nyaut jeblos (tukar tempat) lalu Sekartaji memberikan sampur dan segera diterima Panji. Suasana kemesraan Sekartaji dan Panji semakin terasa yang diungkapkan lewat gerak tangkep asta. besut. ulap-ulap tangan kiri – kanan. Panji mencoba merayunya kembali dengan lumaksono kebyokan sampur. tanjak tawing kanan. tangan kanan nyaut. Adapun adegan pertemuan Sekartaji dengan Panji Inukertapati digambarkan seperti berikut. tidak ditanggapi Sekartaji dengan hati gembira. ketika Panji jengkeng nyathok (njawil) bahu. . Suasana marah diekspresikan Sekartaji dengan berdiri enjer. yang digambarkan jengkeng (duduk) diikuti kedua tangan memegang sampur sambil menutup raut muka pada posisi centre stage. maju lumaksono. ngancap. tangan kanan nyaut dengan kebyok kemudian mundur. Sekartaji tampak putus harapan. srisik. segera Panji mencoba untuk merayunya lalu suasana mereda muncul rasa malu yang segera berubah menjadi mesra.

Adapun jenis-jenis gerak presentatif maupun representatif yang terdapat pada adegan dua: pertemuan. kanthen tangan kanan. dapat diklasifikasikan secara garis besar. sebagai berikut. maju. kengser ke kanan-kiri.152 Perasaan malu juga ditampakkan oleh kedua tokoh tersebut setelah berciuman lepas kedua tangan. hal ini diekspresikan dengan bentuk-bentuk gerak selalu bergandengan tangan. laku enjer saling menjauh. tangan kanan tawing. adu tangan kiri nekuk. tangan kiri menthang. Asmara yang dibangun Sekartaji dan Panji Inukertapati mulai menyatu. srisik melingkar. . seperti: kanthen tangan kanan.

153 Adegan Nama Tokoh Jenis Gerak Nama Tokoh Jenis Gerak No II. kedua tangan membawa sampur. tangan kanan ditekuk di depan telinga kiri 2 enjer Distilisasi orang samping. tangan kiri ditekuk depan pinggang kiri. raut muka ditutup sampur Distilisasi menangis orang Srisik kebyok sampur Representatif Keterangan 1 Distilisasi gerak lari. jalan gerak ke Ulap-ulap tawing kiri Distilisasi melihat ke kiri dari orang 3 tawing kiri Distilisasi dari orang melihat Ulap-ulap tawing kanan Distilisasi dari orang melihat ke kanan Distilisasi mencubit Distilisasi berjalan dari gerak dari gerak 4 Endhan Distilisasi menghindar gerak Jengkeng. tangan nyathok bahu 5 Kapyukankengser Distilisasi gerak lumaksono memberi sampur lalu . Pertemuan Keterangan Dewi Sekartaji Representatif Panji Inukertapati Jengkeng.

154 untuk tarik menarik 6 Srisik menthang. Tangan kiri menthang dan tangan kanan trap karna 7 Ngaras Distilisasi berciuman 8 Kanthen tangan kanan kengser Distilisasi gerak Lumaksono kebyokan sampur gerak sautan Distilisasi gerak Orang menubruk Distilisasi berjalan dari gerak Distilisasi gerak lari Srisik Distilisasi gerak lari orang bergandengan tangan kanan. lalu tarik menarik 9 Kanthen tangan kiri. srisik 10 Kanthen tangan kanan. kedua tangan ditekuk Distilisasi gerak lari orang bergandengan tangan kanan sambil lari . srisik Distilisasi gerak pondhongan Distilisasi memondong dari gerak orang bergandengan tangan kiri sambil lari Distilisasi gerak srisik.

155 11 Sautan jeblos Distilisasi gerak Orang menubruk Adegan Nama Tokoh Jenis Gerak Nama Tokoh Jenis Gerak II. No Pertemuan Dewi Sekartaji 1 Jengkeng. kebyokan laras 2 Nyabet ukel karno 3 4 Sindhet Sekaran golek iwak Presentatif Keterangan Panji Inukertapati kesan tenang pasrah dan besut Presentatif Keterangan Gerak penghubung kesan hati-hati genjotan kesan tenang gerak penghubung kesan tenang nyabet ngancap kesan hati-hati kesan mencari .

Trap jamang. ulap-ulap kiri melihat dari ke Representatif Panji Inukertapati Representatif Keterangan a. Trap jamang. dan gembira. setelah Panji Inukertapati dan Sekartaji srisik kanthen tangan kanan menuju stage depan kemudian tangan lepas mundur ke stage centre. Vokabuler gerak yang dipilih untuk mengungkapkan suasana bahagia yang tercermin dalam rasa gembira. yang secara bersama-sama melakukan gerak: Nama Tokoh Jenis Gerak Nama Tokoh Jenis Gerak Keterangan No III.156 Adegan III merupakan gambaran suasana bahagia yang tengah menyelimuti hati sepasang suami-istri yaitu Panji Inukertapati dan Dewi Sekartaji. tangan kanan Distilisasi orang depan 2 b. segar.Trap jamang. Distilisasi kedua tangan dari orang melihat ke depan Distilisasi melihat ke kiri dari orang Distilisasi dari orang . sampur melihat dari ke b. lilingan. kedua tangan Distilisasi orang depan 3 c. luluran Distilisasi dari c. kebersamaan. dan keharmonisan antara Panji Inukertapati dan Sekartaji. Adapun jalannya sajian gerak secara berurutan. Bahagia 1 Dewi Sekartaji a. kemesraan. adalah sekaran-sekaran kebar yang mempunyai rasa riang.

lilingan. pacak Distilisasi gulu ingsetan melihat dari orang 7 g. ngore rikma Distilisasi orang rambut dari menata d. kebyokan sampur Distilisasi orang melihat dari e. lilingan.lilingan. Distilisasi kedua tangan orang depan melihat dari ke h. Distilisasi dari orang kedua tangan melihat ke depan . lilingan. trap jamang. srisik kanthen Distilisasi gerak orang lari tangan kanan bergandengan kanan tangan 8 h.157 orang membersihkan kulit dengan lulur melihat 4 d. rimong Distilisasi sampur orang melihat dari f. laku telu Distilisasi berjalan dari orang 5 e. ukel Distilisasi karno sinangga dari orang bokor melihat dengan membawa bokor di atas bahu 6 f. srisik kanthen Distilisasi tangan kanan orang bergandengan tangan kanan gerak lari g. trap jamang.

laku telu Distilisasi orang dari gerak dengan pondhongan berjalan memondong 10 j. encot lumaksono Distilisasi dari gerak orang jalan kanthen orang jalan bergandengan .158 9 i. kanthen tangan Distilisasi kanan bergandengan gerak orang tangan orang bergandengan tangan kanan sambil tarik menarik kanan sambil tarik menarik 11 k. ingsetan gerak j. alisan Distilisasi gerak lilingan Distilisasi melihat dari orang orang sedang alisan 14 n. laku telu Distilisasi orang berjalan dari i. enjeran orang samping bergandengan tangan kiri jalan gerak ke k. jengkeng ngilo Distilisasi asta gerak l. kanthen tangan Distilisasi kiri. kanthen tangan Distilisasi kanan. enjeran gerak orang jalan ke samping sambil bergandengan tangan kiri sambil 12 l. kanthen tangan Distilisasi kiri. encot lumaksono Distilisasi kanthen gerak dari n. ngalisi Distilisasi gerak orang orang duduk sambil berkaca merias cara membuat alis 13 m.

srisik kanthen tangan kanan Distilisasi gerak orang lari bergandengan kanan tangan . sambil melihat 18 r. srisik kanthen tangan kanan Distilisasi orang bergandengan tangan kanan gerak lari r.159 tangan kanan bergandengan tangan berbicara sambil tangan kanan tangan sambil berbicara 15 o. lumaksono Distilisasi dari gerak lembehan sampur kanan 17 gerak orang berjalan lembehan sampur orang berjalan kanan q. srisik kanthen Distilisasi gerak orang lari tangan kanan bergandengan kanan tangan 16 p. pangkon ulap. sambil melihat diduduki lututnya.Distilisasi ulap tangan kanan orang yang dari gerak gerak orang duduk di atas lutut. pangkon ulap. srisik kanthen Distilisasi tangan kanan orang bergandengan tangan kanan gerak lari o. lumaksono Distilisasi dari p.Distilisasi ulap tangan kiri dari q.

srisik kanthen tangan Distilisasi gerak lari u. orang bergandengan tangan kanan kanan. srisik kanthen tangan Distilisasi gerak orang lari tangan kanan. Bahagia 1 Tokoh Dewi Sekartaji Jenis Gerak Presentatif Keterangan Tokoh Panji Inukertapati Jenis Gerak Presentatif Keterangan kebyokan sampur Kesan berputar – ngenceng kanan putar dengan putar bercanda sambil kebyokan sampur Kesan dengan putar berputar – putar sambil bercanda . Adegan No III. bersalaman dengan temanten 20 t. bersalaman s. dengan bersalaman kedua dengan orang temanten dan bersama temanten 21 orang tua temanten dan photo bersama photo temanten u.160 19 s. masuk (selesai). bersalaman kedua tua dengan temanten t. bergandengan kanan masuk (selesai).

Pertemuan Dewi Sekartaji Presentatif Panji Inukertapati 3 III. Pencarian Dewi Sekartaji Representatif 2 II. No Adegan Nama tokoh Jenis Gerak Jumlah vokabuler 1 I. dapat dicermati secara kuantitatif. Bahagia Dewi Sekartaji Presentatif Panji Inukertapati 4 Jumlah total Presentatif 1 18 Presentatif 4 4 1 8 . Jenis gerak Representatif. No Adegan Nama tokoh Jenis Gerak Jumlah vokabuler 1 I. Bahagia Dewi Sekartaji Representatif Panji Inukertapati 4 Jumlah total Representatif 21 73 Representatif 10 11 21 10 b. a.161 Dari paparan jenis-jenis gerak representatif dan presentatif yang terdapat pada tari Karonsih. Pertemuan Dewi Sekartaji Representatif Panji Inukertapati 3 III. Jenis gerak Presentatif. Pencarian Dewi Sekartaji Presentatif 2 II.

Orang sedih dapat ditunjukkan tanpa ekspresi senyum. dan gertakan gigi secara bersama-sama.80 % Jumlah total gerak representatif dan presentatif = 73 + 18 Jumlah persentase gerak representatif = 73 : 91 X 100. Wajah sebagai alat untuk memprediksikan sifat-sifat manusia kurang memadai. Berbeda dengan orang marah yang pada umumnya dapat dicirikan lewat tatapan mata yang kuat. Selain itu ekspresi wajah dapat difungsikan . seperti kecerdasan. II. biasanya berusaha untuk menutup wajah. Sekarang dapat disarikan bahwa ekspresi wajah mampu memberikan kontribusi yang sangat berperan terutama untuk mengekspresikan perasaan.20 %. Beberapa orang telah banyak mencoba membuktikan bahwa penampilan wajah dapat menjadi indikator yang cukup meyakinkan mengenai berbagai sifat manusia. dan III Jenis gerak representatif presentatif jumlah 73 18 91 80. bibir bergetar. wajah mengerut. Ekspresi wajah atau gerak wajah bukannya wajah dalam pengertian objek yang statis. namun itu semua rupanya tidak valid. 3. 19. bahkan taraf kegilaan. II. stabilitas emosional. dan III I. dan menunduk. beberapa kulit wajah berwarna kemerahan. No 1 2 3 4 5 Adegan I. mengerutkan dahi. Polatan (ekspresi wajah). kriminalitas. Jumlah persentase gerak presentatif = 18 : 91 X 100.162 Jumlah persentase jenis-jenis gerak representatif dan presentatif tari Karonsih. merupakan sarana untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik terhadap sesuatu yang sedang dikomunikasikan. bibir tertutup rapat. Tari Karonsih. Kesedihan yang mendalam dapat dicirikan meneteskan air mata.

Polatan Panji lebih terfokus pada Sekartaji. cerah terutama ditampilkan pada adegan bahagia. Dalam seni pertunjukan khususnya pada bidang tari ekspresi wajah merupakan sarana yang cukup berperan. Perubahan ekspresi mulai tampak ketika wajah Sekartaji tampak tegang. keduanya banyak saling berhadapan wajah. Semakin jelas bahwa ekspresi wajah merupakan sarana yang cukup vital dalam berkomunikasi nonverbal. polatan lebih banyak menunduk. Sikap marah yang ditampilkan Sekartaji ketika bertemu awal dengan Panji. kepala tegak dan pandangan mata lebih tajam disertai gerak kepala lebih tegas. Puncak kemesraan pada adegan bahagia ini terekspresikan pada saat Sekartaji duduk dipangkuan . damai dan bahagia. ekspresi wajahnya lebih banyak menunduk dan memalingkan kepala setiap dicoba untuk didekati Panji. ketenangan ekspresi wajah lebih ditampilkan dalam rangka memperlihatkan sikap sabar untuk mendapatkan perhatian Sekartaji. Perubahan-perubahan ekspresi wajah dalam tari pasihan. demi tercapainya sebuah ekspresi dari masing-masing peran. saling melempar senyum sebagai tanda cinta. ketika kesedian menyelimuti Sekartaji. banyak membantu memperkuat pesan bahasa verbal. Ekspresi wajah Sekartaji maupun Panji Inukertapati tampak gembira. mesra. baik sebagai ekspresi perasaan secara mandiri maupun membantu memperkuat pesan bahasa verbal. Pada adegan pencarian. Berikut merupakan gambaran ekspresi wajah yang dapat dicermati pada tari pasihan lewat Polatan Sekartaji maupun Panji Inukertapati yang akan tercermin pada suasana-suasana adegan yang menggambarkan peristiwa yang tengah terjadi. hal ini mengekspresikan ketegangan Sekartaji yang dapat dicermati pada peralihan adegan pencarian ke adegan pertemuan.163 untuk membantu memperkuat pengaruh terhadap pesan verbal.

konsep yang mendasari bahwa budaya wayang orang telah lebih dikenal masyarakat di wilayah Surakarta. senyum. . corak sabuk serta jenis–jenis tatahan pada jamang irah-irahan (mahkota kepala). dan tegas sangat mempengaruhi gerak-gerik wajah untuk harmonisasi gerak seluruh tubuh untuk mencapai kualitas sebuah karakter yang tepat dan mantap. mereka saling memandang dengan ekspresi wajah ceria. dan tegas. Berbeda dengan ekspresi wajah peran-peran tokoh antagonis atau lanyap atau gagah agal seperti Rahwana. Warna busana lebih dominasi warna hijau. Mustakaweni. sehingga akses untuk diterimanya dan sebaran apresiasinya tidak mengalami kendala. Begitu pula gerak-gerik wajah terpengaruh menjadi pelan. pernik-pernik asesoris. juga terdapat persamaan pada bahan. emosional. sehingga seluruh gerak tubuh secara psikologis menjadi pelan. Beberapa tokoh tersebut memiliki perubahan ekspresi wajah yang mencolok dan tampak jelas. dan mesra. Baladewa. Srikandi. Terutama untuk busana. lincah. Hal itu sangat mendorong perkembangan tari Karonsih akan lebih cepat meluas dan memasyarakat.164 Panji Inukertapati. selain bentuk dandanan yang serupa dengan wayang orang. Bentuk-bentuk ekspresi wajah dalam tari pasihan yang karakternya tenang (luruh) seperti diekspresikan Sekartaji maupun Panji Inukertapati tampak tidak menyolok. Bentuk rias dan dandanan busana dalam tari Karonsih mengacu pada rias peran pada wayang orang. yang berkarakter jalang. lincah. Kebebasan untuk bergerak lebih cepat. corak jarit (kain). Aspek yang mempengaruhi hal tersebut adalah karakter tenang (luruh) lebih banyak dibingkai oleh dominasi gerak-gerak yang berirama pelan. 4. baik dari suasana marah menjadi sedih atau sebaliknya. perubahan ekspresi wajah menjadi tampak lebih halus hampir tidak kelihatan.

Selain itu warna kuning emas juga menyuguhkan kesan glamor sehingga pertunjukan menjadi menarik dan mampu memikat masyarakat penonton. seperti aktualisasi adegan Sekartaji mencari Panji Inukertapati (lihat gambar: 1). Warna hijau dengan maksud warna tersebut memiliki simbolik tumbuh lebih hidup dan menjadi subur. Garis-garis lurus lebih banyak digunakan untuk mengungkapkan keinginan. Fase-fase ketegangan. yaitu garis lurus dan garis lengkung. mencakup dua bentuk utama. . 5. Adapun warna kuning emas memiliki kesan keagungan dan kejayaan. Gambar: 2. kekacauan Sekartaji ketika belum dapat bertemu Panji. Pola lantai yang dibentuk dari perpindahan penari maupun jarak antarpenari merupakan salah satu unsur pendukung keberhasilan sebuah pertunjukan. dominasi garis-garis lurus sangat kuat untuk menghantarkan pencapaian suasana tegang (lihat gambar: 2). sesuai dengan tokoh-tokoh sebagai pelakunya yang merupakan darah bangsawan Sekartaji dari kerajaan Jenggala dan Panji Inukertapati putra raja Kediri. kemauan yang kuat dan tegas. Gambar: 1.165 coklat dan warna kuning emas. Mahkota kepala yang berupa tekes panjen merupakan identitas dari bangsawan panji yang bersumber pada ceritera Babad. Secara prinsip pola lantai yang terdapat dalam tari Karonsih. Sedangkan jarit lereng tanggung merupakan upaya mendudukan status sosial dari Panji Inukertapati dan Sekartaji sebagai putra raja.

Gambar 2: pola lantai untuk sekaran trap jamang dan ulap-ulap kiri pada adegan 3. manis dalam mendukung ekspresi gerak yang disajikan pada adegan bahagia terungkap kesan kegembiraan.166 Garis-garis lengkung lebih difungsikan untuk mengungkapkan kesan manis. kebersamaan. dan berdekatan yang kesemuanya itu dapat dicermati pada hampir seluruh sajian sekaran kebaran. lembut. Untuk adegan kebahagiaan rupanya lebih didominasi garis-garis lengkung yang berbentuk melingkar yang masing-masing tokoh pada posisi saling berhadap-hadapan. Beberapa bentuk garis lengkung tersebut seperti difungsikan pada adegan pertemuan berikut ini: ketika Panji berupaya merayu terhadap Sekartaji. awal kemesraan kedua figur peran setelah Sekartaji luluh hatinya. gambar: 1 gambar: 2 <<<< Gambar 1: pola lantai untuk sekaran srisik kanthen tangan pada awal kebar adegan 3. Maksud yang mendasari dari kesan garis lengkung tersebut adalah kesan lembut. yang dalam tari ini dimaknai sebagai sarana ekspresi tentang sesuatu yang menurut bentuk dan sifatnya menunjukkan hal-hal yang manis dan lembut. keharmonisan sepasang peran yang ditampilkan menjadi ekspresif dan mantap. . berjajar. kemesraan.

167 Gambar: 3 gambar: 4 Gambar 3: pola lantai sekaran lilingan kebyokan dan lilingan rimong pada adegan 3. Karawitan tari yang berfungsi sebagai pendukung sajian tari Karonsih secara menyeluruh telah mengalami penggarapan yang cukup selektif. Pemilihan gendhing-gendhing dari sekian repertoar gendhing yang terdapat pada khasanah karawitan. Iringan tari yang lazim juga disebut karawitan tari adalah gendhing-gendhing karawitan yang diaransir sedemikian rupa sehingga rasa musikal yang terbentuk dapat memenuhi kebutuhan ekspresi tari. 6. Kejelian seorang penyusun tari tampak bahwa selain rasa musikal yang harus komplementer secara padu dengan rasa yang diungkapkan dalam tari. didasarkan atas pertimbangan rasa musikal terkait dengan kecocokan suasana yang telah ditetapkan dalam tari Karonsih. Artinya bahwa rasa dalam tari akan didukung rasa yang ditimbulkan dari alunan gendhing yang secara komplemen menyatu membentuk suasana-suasana untuk mengekspresikan sebuah nilai tertentu dalam kehidupan. juga secara parsial pada masing-masing garap . Gambar 4: pola lantai untuk sekaran srisik kanthen tangan pada akhir kebar adegan 3. Karawitan tari yang berupa repertoar gendhing-gendhing merupakan salah satu unsur yang mampu memberikan kontribusi sangat penting demi terselenggaranya sebuah pertunjukan tari.

pt.168 gendhing terdapat teks verbal yang berupa cakepan yang berfungsi untuk menjelaskan secara singkat dan padat tentang peristiwa yang tengah terjadi pada masing-masing adegan sehingga akan dapat tergambar secara menyeluruh tentang rasa. Fungsi garap Pathetan pada tari Karonsih ini sifatnya memberikan ilustrasi rasa musikal tertentu terkait dengan suasana adegannya. 2008). pl. yakni: (1) garap pathetan (2) garap sindhenan dan (3) garap gerongan. manyura. pl. dan gagah. peristiwa.pt. Rasa semangat. berwibawa. Sindhenan adalah vokal putri yang menyertai karawitan (Matopangrawit. Pada awalnya garap Pathetan dalam tari dinyanyikan secara bersama oleh vokalis pria. Garap sindhenan teks verbal dalam tari Karonsih terdiri dari satu bait terdapat dalam gendhing Ketawang Pangkur Ngrenas Lr. contohnya bentuk-bentuk Pathetan dalam tari Bedhaya dan Srimpi yang menampilkan rasa agung. 5 dan dua bait terdapat dalam gendhing Ketawang Kinanthi Sandhung Lr. Teks verbal Garap pathetan terdiri dari satu bait yang terdapat pada iringan pembukaan untuk adegan pertama yaitu Pathetan Wantah Lr. sl. suasana. pt. terdiri dari beberapa garap lagu. 1967: 1). garap Pathetan dinyanyikan secara solo oleh seorang dalang (wawancara Rusdiantara. 5.pt. Garap sindhenan teks verbal . sedih yang diekspresikan garap Pathetan Wantah Lr. Garap pathetan terkait dengan teks verbal ini adalah garap lagu tembang jawa yang dinyanyikan secara solo ataupun bersama dan dikomplemen dengan ricikan instrumen gamelan: rebab. tema. Teks sastra tembang yang merupakan bahasa verbal tari Karonsih. suling. 5. gender. pl. Berbeda yang terjadi di dunia pewayangan. dan makna tarinya. mengiringi adegan pencarian yang dilakukan Sekartaji terhadap Panji Inukertapati suaminya. dan gambang.

Gendhing-gendhing yang berlaras pelog yang relatif memiliki nada-nada tinggi (tenor) rupanya kuat dan mantap untuk garap musikal yang mengungkapkan rasa sedih. Hal ini dapat dicermati pada adegan pertama yang mempresentasikan kesedian perjalanan Sekartaji dalam upaya mencari suaminya yang menggunakan garap pathetan laras pelog pathet lima dan Ketawang Pangkur Ngrenas Lr. pt manyura yang mencakup dua bait. Jika terdapat lagu gerongan pada gendhing tersebut garap sindhenan mengikuti setelah lagu gerongan (nggandul) namun berakhir bersama. lembut. Perubahan ke laras slendro yang secara musikal memiliki nada. Iringan gendhing yang menggunakan garap gerongan pada tari ini terdapat dalam gendhing Lambangsari lr. dan manis.169 adalah garap lagu tembang jawa dinyanyikan secara solo. gagah. dan sigrak.nada lebih . yang pengambilan suara pertama dimulai tepat dengan sabetan balungan dan berakhir tepat dengan sabetan balungan.sl. pl. Garap gerongan merupakan garap lagu tembang jawa dinyanyikan secara bersama – sama ( koor).pt. Dalam perkembangannya jenis garap gerongan dapat dinyanyikan oleh vokalis kelompok putra atau vokalis kelompok putri atau campuran vokalis kelompok putra dengan vokalis kelompok putri. 5. Fungsi garap gerongan lebih difokuskan untuk mengekspresikan kesan maskulin yang mempunyai sifat kuat. Menurut Martopangrawit gerong adalah vokal bersama (koor) suara pria yang iramanya sama dengan karawitannya (1967: 3). yang pengambilan suaranya menyela diantara sabetan balungan (irama ketukan nada) dan berakhir setelah sabetan balungan. biasanya oleh seorang pesindhen atau vokalis wanita. Fungsi garap sindhenan lebih diarahkan untuk mengekspresikan kesan feminin yang memiliki sifat halus. Secara garis besar gendhing-gendhing dalam tari Karonsih menggunakan dua laras yaitu pelog dan slendro.

kedudukannya dalam adegan pencarian ini bersifat nyawiji. Kedudukan iringan pathetan laras pelog pathet lima pada adegan ini bersifat nglambari artinya rasa musikal yang dihasilkan dari garap pathetan laras pelog pathet lima berfungsi untuk memberikan ilustrasi terhadap suasana sedih yang dialami Dewi Sekartaji. dapat dicermati secara komprehensip dari beberapa elemen. dan gangsaran 2 slendro. Ketawang Pangkur Ngrenas Lr.pt. Pencarian. dan pasrah. antara lain: pathetan laras pelog pathet lima. pt. didukung beberapa iringan gendhing. Gendhing Ketawang Pangkur Ngrenas Lr.170 rendah (bass) diharapkan perubahan suasana menjadi lebih terasa mencair dan terbuka. Adapun perubahan ke laras slendro itu diawali dari Ketawang Kinanthi Sandhung Lr.sl. sl. manyura pada adegan kedua hingga iringan adegan tiga yang meliputi: gendhing Lambangsari lr. 5. 5 yang merupakan iringan kedua setelah pathetan laras pelog pathet lima. Adegan pencarian sebagai adegan pertama dalam tari Karonsih. pl. Keterpaduan yang dimaksudkan adalah menyatunya rasa musikal gendhing Ketawang Pangkur Ngrenas dengan ekspresi vokabuler gerak yang secara komplemen mengungkapkan suasana sedih yang dialami Sekartaji yang terjabar dalam beberapa rasa: sedih. pt manyura. Pengertian nyawiji di sini garap gendhing Ketawang Pangkur Ngrenas implementasinya dengan garap gerak adalah menyatu. Bentuk susunan iringan tari Karonsih seluruhnya dan secara urut dari adegan satu sampai adegan tiga (adegan akhir) dapat dicermati berikut ini. diantaranya: a. rasa musikal mengekspresikan suasana sedih menyatu dengan ekspresi gerak yang menggambarkan kesedihan Dewi Sekartaji. b.pt. doa. Adegan : I. pt manyura dan ladrang Sigramangsah lr. gangsaran 1 pelog. pl. Bentuk menyatunya iringan dengan gerak.sl. rasa seleh yang .

171 terdapat pada gendhing merupakan iringan yang mendukung rasa seleh pada tari. dapat dicermati paparan berikut ini. dan gangsaran 2 Slendro.ji zyc1 1 z1x2c1 dha .ct ta . merupakan iringan yang secara musikal dapat mengekspresikan suasana tegang yang kedudukannya pada adegan ini lebih bersifat nglambari.kar t y sking ke 1 2 yu 1 z2c3 z2c1 z1Xx2c3 Se kar . Gangsaran 1 pelog. Kiranya tidaklah berlebihan jika gangsaran 1 pelog.kar sking ke - .c5 Jeng . baik rasa seleh ringan maupun rasa seleh berat. pola gatra yang terdapat pada bentuk gendhing Ketawang dapat dijadikan tanda mulai bergerak ataupun berakhirnya suatu gerak pada tari. c. Pathetan Wantah Lr. pt. Implementasinya rasa musikal yang berirama 1/1 dari gangsaran mampu memberikan ilustrasi rasa tegang yang mendukung kekacauan atau ketegangan yang diekspresikan Sekartaji lewat gerak-gerak srisik yang dilakukan secara berulang-ulang dengan gerak kepala yang sedikit lebih tegas.ton 2 2 Jeng .ta ji z3x. Secara urut bentuk iringan untuk adegan 1: pencarian.x2c1 Sang ret t na yu 1 De wi Se .Xx2c1 Sang ret . 5 ty 1 2 2 2 Xz2Xc3 Xz2c1 z1x2c3 z3x. Terkait dengan alur adegan kedua bentuk gangsaran tersebut merupakan fase peralihan laras dari pelog ke laras slendro. dan gangsaran 2 Slendro mempunyai peranan cukup penting dalam menjembatani peralihan laras yang berdampak pada perubahan suasana menjadi semakin mantap.wi z1Xx2c1 dha . pl.na t zyc1 1 De .kar zyx.ton zyx.

wa ba . . . 2 . 1 3 2 2 2 2 3 1 n2 2 .ni 1 1 ing .dra . . Ketawang Pangkur Ngrenaswara Lr.x5x4Xx.ti z6x.x5x4Xx2x1x.hu .tu . y y y de r y ni t y ra zyx1c2 mu .wa sa .wun. pl.gad de . 5 Buka : 1 1 5 6 .. mring da-sih kang nan-dhang king-kin 2 . z3x2x1x2c1 We-la .di 1 nu men .wun mu .ta .cy O………….tha .x2x1x.XXXx2c3 1 2 ra 3 3 3 3 ngu . I - z2c4 z4c5 5 ker .x2x1xyct Da . z3x5x.ra . 2 z3x. 5 p3 5 p3 . 3 5 5 5 6 3 5 3 5 6 1 2 1 2 6 5 6 2 1 2 g1 2 1 2 1 5 z!c@ 2 n1 2 n3 5 g1 n1 g1 z@x!c^ ^ z!x#x@x#x!c@ Ti .sa .x2x1xyxtxrxwcq O……….x2x1x.ni-lar gar . pt.x6c5 Dhuh ja . 3 5 5 5 p3 z5c6 1 1 2 1 2 1 3 2 z3c1 g1 .hat r t O………. 1 2 1 2 1 5 1 5 ..pa .wun. 1 .kang z3c5 z3x. Mu . 3 5 .wa. zyx. 3 . 2 5 .x2c1 Gar .pa .172 3 A - 3 3 z1x. . . .

x2c1 Te . 5 lis 1 n1 g1 p1 n1 p1 n1 p1 1 1 1 n1 n1 n1 p1 p1 p1 n1 n1 n1 p1 p1 p1 n1 n1 n1 p1 p1 p1 g1 g1 g1 Gangsaran Lr. z3x2x1x2c1 3 . p6 5 5 5 z5c6 5 3 3 lun dha .nang . 5 .x6x5c3 Da. manyura . p5 .mun da. 1 a 6 2 2 6 . 5 gan – ti 1 lan ning .ra .la.ka 1 . . z3x. 7 . 6 . . .me – keng la Gangsaran Lr. pt. 5 5 2 5 3 6 5 z!c@ 5 g3 z3x5x. pl. . . z3x2x1x2c1 1 .mbut 1 2 2 1 z6x1x2c3 n1 z3c1 Ka.173 . z5c6 1 z1XXXXXXXXXXXxX2c3 U 5 .tyas 2 n3 . . 1 .gya 2 2 z3c1 g1 A – lu – wung tu . p3 . 5 5 6 2 5 3 1 .tan pi 2 . sl.dya . 3 . . 5 .hat 2 2 z3c1 g3 gi . pt.gang sa . 3 .

sun Wus da. Pertemuan.duh ya-yi gar . Dalam adegan dua yang mengisahkan pertemuan Dewi Sekartaji dengan Panji Inukertapati suaminya dalam suasana rindu yang teraktualisasi dalam beberapa rasa: marah (jengkel). .ngu pun ka-kang wu . manyura . malu. manyura mendukung rasa kasmaran atau bercinta.174 2 2 2 2 n2 n2 n2 n2 p2 p2 p2 p2 n2 n2 n2 n2 p2 p2 n2 p2 p2 n2 p2 p2 g2 g2 g2 g2 n2 n2 p2 p2 Adegan : II. merayu. 1 6 y 3 ! z. 2 2 2 . 1 . manyura merupakan satu-satunya dukungan rasa musikal yang diharapkan mampu mengekspresikan suasana rindu yang diaktualisasikan tokoh Sekartaji pertemuannya dengan Panji dalam asumsi mereka telah lama terpisah dan melalui perjalanan panjang baru dapat bertemu.yung 1 2 6 n5 2 3 5 g3 . . pt. 6 . pt. Rasa musikal gendhing Ketawang Kinanthi Sandhung Lr. pt. Iringan gendhing Ketawang Kinanthi Sandhung Lr.c! @ 2 5 t 2 @ 3 3 e 1 ! n2 g2 nt g6 n^ @ @ @ z6x. sl. mesra merupakan esensi yang hendak diekspresikan dalam adegan dimaksud. Ketawang Kinanthi Sandhung Lr. 1 . 6 .wa ning . 1 .x!x@c# z!x@x!c6 A . 6 . sl. y p3 1 p. sl. . .

j j j 5 .ngos da.175 .@# @ z!c@ 6 6z6x!c6 z5c3 Te-ka mle .nu g2 da .pa Ka .ren ya-yi du . .ling Ma-rang ya. Kedudukan iringan gendhing Lambangsari pada adegan ini sifatnya mungkus dan nyawiji.jj x Xj 2 j j 1 6 y 6 gt zj6jjjkjXXXXxx!c5 x x c5jj j 2 z3XXXXXXXXXXXXXXXxX zj1xc2 zyXx1cy XXXXXXXXXXXXXXXx ztx1c2 nan . 3 . . . 5 . .ning 2 .ka Mu-ga tan .ta . .dhang pa 3 5 ra brang pu 3 ti Kang wus la . 3 5 p3 -j. .ma 2 . .x3c2 Ma-ra nga-dhep. Bahagia. . .kang Tu-hu wa. 6 z.tan ang .ka . .ta u .no-dya di .tri n2 . 3 5 5 z5x3c563 z5x3c2 2 Ka-di-nga . 2 .na pun ka .ni . Bentuk .mi Mus . .yi wa .sah pi-na ri ngan y 1 2 p3 6 5 3 g2 3 j.c6 ! 5 ! 3 z6x!c@ n5 6 5 6 z5x3x5x5x. .ga la - ti mi kang sa - Adegan : III. mesra.j 6k 2jzX1jXXXx xj XXjx jx c2 6 zj3kx5c3 A . Pada adegan bahagia yang disajikan sepasang suami-istri yakni Panji Inukertapati dan Sekartaji dalam suasana gembira.ti.han di zj2kx1c3 kang gra wi . dan harmonis menggunakan garap iringan yaitu gendhing Lambangsari laras slendro pathet manyura.

pada adegan bahagia ini adalah untuk pencapaian harmonisasi penyajian. kebersamaan. Keterpaduan garap tari dan garap gendhing Lambangsari dalam rangka mengekspresikan rasa gembira. Gendhing ladrang Sigramangsah disajikan dengan tabuhan keras dengan irama sedang sebagai gambaran semangat dari Sekartaji dan Panji Inukertapati untuk menyongsong kehidupan ke depan lebih semangat. Selain itu iringan gendhing Lambangsari pada dasarnya nyawiji dengan garap geraknya. Pengertian nyawiji ini mengarah pada pemersatuan dua unsur menjadi satu yaitu unsur karawitan sebagai penghasil rasa musikal dan unsur tari. Iringan ladrang Sigramangsah sebagai mundur beksan. kemesraan. lagu gerongan riang dan tekanan sedang. Bentuk kristalisasi dari unsur tari yang berupa vokabuler-vokabuler gerak kebar yang dinamis dan unsur karawitan yang berupa gendhing Lambangsari dengan irama sigrak. Pada bagian akhir adegan tiga sebagai penutup iringan gendhing ladrang Sigramangsah laras slendro pathet manyura. Sehingga suasana bahagia yang diaktualisasikan oleh Panji Inukertapati dan Sekartaji dapat dihayati. srisik menuju ke tempat duduk temanten bersalaman dengan temanten dan kedua orang tua mempelai untuk mengucapkan selamat berbahagia.ketat diikuti pola kendangan. dan keharmonisan antara Panji Inukertapati dan Sekartaji dapat nyawiji. pangkon. Dalam hal ini pola-pola gerak tari selalu ketat. Bentuk iringan adegan III yang berupa gendhing Lambangsari laras slendro . yaitu sejak Panji Inukertapati dan Sekartaji gerak Lumaksono.176 mungkus ini ditinjau dari pelaksanaan vokabuler gerak yang terdapat pada adegan tiga hampir seluruhnya menggunakan pola kendangan kebar atau ciblon yang selalu membungkus pola gerak.

wa 5 j.sa 3 3 2 2 pra .1 3 3 1 j.ing 5 j.ma 1 1 Pra .5 ing 5 j.1 di 2 3 ta 5 j.ya n1 z3c2 1 . sl.ta 3 3 2 2 mar .ra 5 5 3 keng .3 2 5 3 ro .1 nu 6 3 3 .dha 3 5 5 3 2 2 z3c5 z5c6 6 .5 2 2 tin .rang 5 j. secara berurutan dapat dicermati paparan berikut ini.da 1 j.5 u 2 2 ma .tya 5 5 2 da 1 j.1 3 3 1 j.hu 6 jz5c6 se .ra 1 1 jz!xk@c6 pa .na 2 3 ca 5 j.1 2 2 1 j. manyura Irama Tanggung : 1 j.5 1 1 no .3 2 2 - .wa 6 6 1 1 ni .r ang 5 6 3 gar .5 2 2 .5 n1 z3c2 1 .go .mi 5 j. pt.su 6 3 jz!xk@c6 kang 5 j.5 1 1 re 2 2 bi .wang 1 j.sep .5 tu 5 1 1 .1 di 3 3 3 zj3c5 ma .kang 6 6 weh 5 j.mba .dak 5 j.1 2 2 ing .1 2 2 kang se .ju 3 1 j.guh 5 6 pang . Lambangsari Lr.177 pathet manyura dan ladrang Sigramangsah laras slendro pathet manyura.

5 2 2 5 j.1 3 3 1 j.ga Irama Dadi : 6 5 j.3 ku 2 2 5 j.bang 6 3 jz!xk@c6 ra .c3 sa .ing (dilakukan 2 x) war .c@z!x x x x x@c 6 jkz6jx!cjj6j j k53 li ron ba 5 as .di kang san - to .5 n1 1 da .ya 3 3 2 2 mring nim .ba 5 6 .mi wah se – tya sang dyah 6 5 tu a 2 hu yu 3 pe .1 a 2 3 ni 2 2 .6 6 1 6 5 2 3 jz#xj x x x x cj2j j6 kz!xj@c# x jjjjjjjjjjjjjjjjjjjxkjjj.na 5 3 2 2 z3c5 z5c6 6 sung ten .mya 5 2 5 1 .trem .ra gya 2 har 5 .pun sang 6 5 j.la - tres .ge .nya da .ja 1 ang .ra pri .cj3jz6xl1xj6jc53 sam .6 zj5jkx.na 1 z3c2 1 .5 a 5 j.1 2 2 1 j.kik 6 1 z!XXx XXx xj@kc##z x.c@z!x jjjzjx5jx jx jxxx jx jx xk.178 dar .ngu sa .1 ba 6 6 3 3 lik 1 1 1 j.tan 5 5 3 kem .sih 3 5 .be bu .bi nga .5 1 1 5 j.yo .ma .mi 5 j.sa 1 j.

dya kem ka .nu-gra hyang suks .ma Ladrang Sigramangsah Lr. pt.min 3 5 zk3cj5kz5c6z x jx6xjx xj jx xjx xjx xjx xj 3 jz2xjk5c3 bang ja .ta 2 me .xj6xj xj c22 ck22 j jk. 1 1 5 6 6 6 2 5 1 1 3 2 3 p3 p5 p1 1 1 1 3 6 6 6 2 1 1 5 1 n2 n2 n3 g6 3 3 3 3 5 5 5 2 6 6 2 6 p1 p1 p3 p3 3 3 1 6 2 2 2 5 1 1 1 3 n6 n6 n6 g2 (sebanyak 5X) .sih pan tan 5 .z2c3 ka .zj2c31 jz.xjyjx xj xj - cen sah 5 pra - nya . ken .179 jzk. manyura Irama Tanggung. sl.ya xj x!cj@zkj!xc6 da .3 5 6 1 jk.gad han ing 2 ra .dhat tan 3 j.ta .ron .

pt. manyura dan Lambangsari Lr. Ketawang Kinanthi Sandhung Lr. dapat mengungkapkan suasana sedih dan maknanya menjelaskan tentang liku-liku perjalanan seorang tokoh Dewi Sekartaji yang mencari Panji Inukertapati suaminya. sl. Kedua. manyura.pt. dapat mengungkapkan suasana gembira.pt. manyura. Pertama. Komposit bahasa verbal dan nonverbal yang terdapat dalam Lambangsari Lr. sang Dewi marah Panji berupaya untuk merayunya dan memberi perhatian. sl. gendhing yang menggunakan bahasa verbal terdiri dari: Pathetan Lr. pl. jika tidak dapat bertemu. pl. Bentuk-bentuk gendhing yang menggunakan bahasa verbal. dan Ladrang Sigramangsah Lr. 5. 5. dapat mengungkapkan suasana sedih. sl. rindu. pt. selain rasa musikal yang mampu mengekspresikan suasana-suasana tertentu. pt. pt. sl. merayu. Ketawang Pangkur Ngrenaswara Lr. Komposit bahasa verbal dan bahasa nonverbal yang terdapat dalam Ketawang Kinanthi Sandhung Lr. pt.pt. manyura. lagu dan tekanan gendhing. gangsaran 2 slendro. gendhing yang tidak menggunakan bahasa verbal terdiri dari: gangsaran 1 pelog.180 Gendhing-gendhing iringan yang terdapat dalam tari Karonsih secara garis besar dapat dibagi menjadi dua bentuk terkait dengan bahasa verbal. rupanya menjadi lebih mantap dan bermakna karena didukung kehadiran bahasa verbal yang berupa cakepan-cakepan (syair) yang menyatu dengan irama. pl. bahagia dan maknanya: 1) Dalam kehidupan rumah tangga keberadaan . mesra. dapat mengungkapkan suasana marah. pl. dan maknanya Dewi Sekartaji memohon kepada Dewata supaya segera dipertemukan dengan Panji Inukertapati. Komplementer bahasa verbal dan nonverbal yang terdapat dalam Ketawang Pangkur Ngrenaswara Lr. mesra.pt. dan maknanya setelah Sekartaji bertemu Panji Inukertapati. sl. ia lebih baik mati. 5. Komposit bahasa verbal dan nonverbal yang terdapat dalam Pathetan Lr. manyura. 5. malu.

dan mampu menciptakan ketentraman keluarga. sl. dapat mengungkapkan suasana tegang. Bentuk gendhing yang tidak menggunakan bahasa verbal seperti gangsaran 1 pelog dan gangsaran 2 slendro. setia terhadap suami. dapat mengungkapkan suasana semangat. Adapun bentuk komposit bahasa verbal dengan nonverbal pada tari Karonsih. Sedangkan gendhing Ladrang Sigramangsah Lr. gagah. Ketidak hadiran bahasa verbal pada bahasa nonverbal rupanya membatasi ekspresi bahasa nonverbal yang lebih mengarah pada hayatan rasa.181 dan kebersamaan suami dan istri. sehingga mampu mengekspresikan suasana pada masing-masing adegan dan mampu mengungkapkan makna tari Karonsih secara implisit seperti yang dimaksud seniman penyusun sebagai penutur. 5) Kebagiaan lahir dan batin merupakan kebutuhan hidup hakiki manusia yang diupayakan secara seimbang. mengayomi. 4) Nilai cinta adalah sebuah nilai yang universal. . dapat dicermati berikut ini. Bentuk komposit bahasa verbal sastra tembang dan bahasa nonverbal gendhing-gendhing iringan tersebut dapat mengungkapkan suasana dan mengungkapkan makna pada masing-masing adegan. menarik. sebaiknya saling mengingatkan akan tugas dan tanggungjawab masing-masing yang telah disepakati. dan bertanggungjawab. pt. 3) Tipe seorang suami yang ideal adalah setia terhadap istri. 2) Tipe seorang istri yang ideal adalah selalu berupaya berbuat kebajikan. dan sigrak. manyura. Dengan demikian tampak bahwa gendhing-gendhing yang tersusun untuk iringan tari Karonsih merupakan komposit bahasa verbal sastra tembang dan nonverbal gendhinggendhing karawitan untuk membangun alur adegan.

Pencarian. menthang kiri tangan nekuk tangan Garis lurus V - mencari Panji Inukertapati (suaminya).182 Komposit Bahasa Verbal dengan Nonverbal Tari Karonsih No Bahasa Verbal Sastra Tembang Tema. 5 Keterangan 1 Pathetan Wantah Pasihan (percintaan) I. kanan Sang Retnayu Dewi Sekartaji Badan putar Garis V - . Sang Retnayu Dewi Sekartaji Rasa Semangat Srisik. pt. dan Rasa Vokabuler Gerak Dewi Sekartaji Bahasa Nonverbal Vokabuler Gerak Panji Inukertapati Pola lantai Iringan Hubungan Langsung Hubungan Tidak langsung Pathetan lr. pl. nyempurit. kedua - Garis lurus V - Liku-liku perjalanan Dewi Sekartaji dalam tangan nekuk yang kiri nyempurit dan kanan nyekithing Jengkar kedhaton sking Kengser. Adegan.

menghadap diikuti menthang sampur kanan dan tangan kiri nekuk. badan . srisik lurus mundur kemudian putar depan. ngglebak Garis lengkung Angupadi mendranira ingkang garwa Badan nglayang Posisi di tempat V - (memutar) ke kiri. Garis Lurus V - badan kanan. kiri nekuk.183 menghadap belakang. Jengkar kedhaton sking Lumaksono. kaki njujut. menthang sampur kanan.

memutar Sindhenan Pangkur Ngrenas: Dhuh jagad dewa bathara Welasa mring dasih Rasa Laras Sampir Posisi di V - . O……….pt 5 Mundur tawing Garis lurus Gong: ke-1 kiri.pl. kengser. Srisik menthang Garis lengkung Gong: ke-2 kiri.. Dahat denira muwun. Ridhong sampur kiri.184 ngglebak ke kanan hadap ke depan. Inukertapati. usap kiri – usap kanan Garis lengkung V - 2 Ktw. Pangkur Ngrenas lr.O……….

Garis lengkung V V an dengan suaminya. tangan nekuk trap cethik. sindhet. kiri Garis lengkung V situasi yang sedih. dan memohon Ulun dhahat Teka aginggang sarambut Srisik kedua Garis lurus V pada Yang Kuasa agar segera dipertemuk Kalamun pinanggya datan Lembehan separo Posisi di tempat Rasa Aluwung lalis tumekeng Pasrah Kengser ke kanan capengan tangan kanan – kengser ke kiri capengan tangan kiri. .185 kang kingkin nandhang Berdoa sampur kanan. pasrah. tawing ingsetan. tempat Dewi Sekartaji dalam Tinilar satuhu Dadya tyas garwa gantilaning Rasa Sedih Sekar suwun.

tangan ngupu Seblak. tangan kiri menthang tangan nekuk dan kanan Gong: ke-2 Srisik ke pojok Gong: ke-3 kanan depan. Badan kanan. Gong: ke-4 Gong: ke-5 srisik ke pojok kiri belakang.186 Gangsaran 1 Pelog Rasa Tegang Badan memutar Gong: ke-1 satu lingkaran dan diikuti berputarnya kedua nekuk tarung. seblak membalik tangan sampur. .

Ktw. seblak Gong: ke-1 Srisik .pt Manyura .sl. sampur. Gong: ke-2 Gong: ke-3 Badan satu memutar lingkaran ke Gong: ke-4 menghadap depan.187 Gangsaran 2 Slendro Badan ngglebak ke kanan. II. Kinanthi Sandhung lr. Pertemuan. 3 Sindhenan Kinanthi Sandhung: Cakepan a.

kengser ke kanan. Teka mlengos datan angkling Ukel karno kanan jengkeng nyathok Garis (njawil) bahu lengkung V - Mara ngadhepna . Adhuh yayi garwa ningsun Seblak sampur laras genjot. Panji berusaha membujuk jengkeng. sambil raut lepas sampur. kebyokan Ulap-ulap tangan Posisi laras. kebyok Posisi tempat garis lurus di Gong: ke-1 Sekartaji marah terhadap Panji Inukertapati. Gong: ke-2 V - tangan memegang sampur menutup muka.188 a. kiri – kanan dan tempat besut. Dewi Rasa Marah jengkeng (duduk) Srisik diikuti kedua sampur. b. di dan merayu istrinya. akhirnya luluh hati Dewi Sekartaji.

Garis lurus Gong: ke-3 V - nyabet ukel karna kanan Kang wus lami nandhang brangti Rasa Merayu mbalik. Garis lurus tangan nyaut. mlengos ke kanan. kanan sampur ngglebak nyaut kanan dengan V - seblak kebyok kemudian mundur .189 pun kakang berdiri enjer berdiri srisik. mundur. tawing V miring ke kanan srisik. kanan mbalik seblak tanjak kanan sampur kanan Kadingaren duka yayi tawing kiri lumaksono kebyokan sampur. maju Garis lurus Gong: ke-4 V - Apa kang wigati dadi ngembat sampur tangan kanan. maju lumaksono.

nyandhet Garis V - asta tangkep ngaras asta lengkung .190 golek iwak. jengkeng asta. endhan jeblos lalu tangan panggel. – lengkung kanan tangan pondhongan kemudian jeblos tempat) tangan nyaut (tukar lalu kanan memberi sampur menerima sampur Cakepan b. tangkep mundur satu memutar. tangkep ngaras mbalik. tangkep asta. srisik. tanjak Garis lurus Gong: ke-5 ngancap. Wus dangu pun kakang wuyung Rasa Kemesraan putar lingkaran. kanan. maju sambil sambil lepas kedua Garis lengkung Gong: ke-6 V - lepas kedua tangan tangan Marang wanodya di yayi srisik.

srisik melingkar srisik melingkar Muga tansah pinaringan berhenti. tangan. tangan kiri tangan kiri menthang. lepas (berciuman).kengser ke kanan. maju berhenti.191 ( berciuman). kedua kedua lepas tangan. laku enjer. tangan menthang. tangan kiri nekuk. maju. kanthen kanan. maju. adu lengkung V - tangan kiri nekuk. laku enjer.Garis kiri. adu kiri. maju Posisi kanthen tempat di Gong: ke-8 V - tangan kanan tangan kanan . kanan. tangan kanan tawing Tuhu utama wanita kanan tawing maju kanthen maju kanthen Garis lengkung Gong: ke-7 V - tangan kanan tangan kanan Mustikaning para putri kengser ke kanan.

Lambang sari pt manyura lr.192 Kanugrahan kang salami srisik kanthen tangan kanan. srisik kanthen tangan kanan. setia terhadap . kenong ke1 - V Tipe seorang istri yang adalah ideal Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada ukel karno ulap-ulap kiri Garis lengkung kenong ke2 - V selalu berupaya berbuat kebajikan. lepas tangan. mundur seblak sampur. mundur seblak sampur Garis lenkung V - 4 Gerongan Lambangsari: Cakepan a. Posisi tempat di Gong: 1. Pra wanita marsudiya marang tindak kang utama Rasa Gembira ulap-ulap kiri trap jamang.sl. lepas tangan.

dan bertanggung jawab trap Nora kengguh ing panggodha darbe budi kang santosa kanan sumping laku telu Garis lengkung kenong ke4 - V Rasa Mesra Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira kebyokan sampur ukel karno bokor Garis sinangga lengkung Gong: ke2. menarik.193 Ingkang bisa nujuprana weh reseping pamicara luluran lembehan sampur Garis lengkung kenong ke3 V suami. kenong ke1 - V Tipe seorang suami yang ideal adalah setia terhadap Datan kemba asih tresna sung tetreming kulawarga rimong sampur pacak ingsetan gulu Garis lengkung kenong ke2 V - istri. mengayomi. dan mampu .

mundur tangan.194 menciptakan Sampun sami setya tuhu anggenya liron asmara kebyokan sampur – ngenceng kanan kebyokan sampur Garis lengkung kenong ke3 V ketentraman keluarga. kanthen srisik kanthen Garis mundur lengkung kenong ke4 V - Cinta adalah sebuah nilai yang universal. lepas tangan lepas tangan Gong: keCakepan b. srisik Karonsih pranyata kembang raya pancen dadya jagad tangan. Pra wanita marsudiya marang tindak kang utama trap jamang ulap-ulap kiri tawing Posisi tempat di 3: kenong ke1 V laku telu Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada pondhongan sampur Garis lengkung kenong ke2 V - Ingkang bisa nujuprana weh reseping pamicara kanthen kanan tangan kanthen kanan tangan Garis lurus kenong ke3 V - .

195 Nora kengguh ing panggodha darbe budi kang santosa kanthen kiri tangan kanthen kiri tangan Garis lengkung kenong ke4 V - Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira jengkeng tangan ngilo tangan (merias). ukelan Garis lengkung Gong: ke4: kenong ke1 - V Datan kemba asih tresna sung tetreming kulawarga alisan inguk-ingukan (melihat) Garis lengkung kenong ke2 V - Sang pekik wah sang dyah ayu dangu samya bagyaharja lumaksono encot kanthen tangan lumaksono encot Garis lurus kanthen tangan kenong ke3 V - .

tangan kiri lengkung kiri menthang sampur menthang sampur lumaksono lembehan sampur kanan lumaksono lembehan sampur kanan Garis lurus Gong: ke-1 pangkon ulap-ulap pangkon ulap-ulap Posisi tangan kiri tangan kanan tempat di Gong: ke-2 .pt. Kebagiaan dunia akhirat Tan kendhat tansah meminta kanugrahan ing Hyang Suksma srisik tangan tangan kanthen srisik kanthen Garis kenong ke4 V merupakan kebutuhan hidup hakiki manusia yang Ldr. Sigra mangsah lr.196 Rasa bahagia.sl. tangan. manyura diupayakan secara seimbang. dan kanan.

tangan masuk (selesai). bersalaman dengan temanten Garis lurus Gong: ke-3 bersalaman dengan bersalaman kedua dengan kedua Gong: ke-4 orang tua temanten orang tua temanten dan photo bersama dan photo bersama temanten temanten srisik kanthen tangan srisik kanthen kanan.a . masuk (selesai).197 srisik kanthen tangan. Garis lengkung Gong: ke-5 kanan. bersalaman dengan temanten srisik kanthen tangan.

198

Dari komposit bahasa verbal dan nonverbal pada tari Karonsih terdapat hubungan yang bersifat langsung dan tidak langsung. Hubungan bahasa verbal dan nonverbal bersifat langsung artinya bahwa maksud bahasa verbal sesuai dengan bentuk bahasa nonverbal. Sedangkan hubungan bahasa verbal dan nonverbal bersifat tidak langsung artinya bahwa maksud bahasa verbal tidak sesuai dengan bentuk bahasa

nonverbal. Secara kuantitatif hubungan bahasa verbal dan nonverbal yang bersifat langsung tampak lebih mendominasi dibandingkan dengan yang tidak langsung. Adapun persentasenya dapat dicermati pada uraian berikut.

Tari Karonsih No Adegan Hubungan bahasa verbal dengan nonverbal 1 2 3 4 5 I, II, dan III I, II, dan III Langsung Tidak langsung 31 8 39 79,48 %, 20,52 % jumlah

Jumlah hubungan langsung dan tidak langsung = 31+ 8 Jumlah persentase hubungan langsung = 31: 39 X 100. Jumlah persentase hubungan tidak langsung = 8: 39 X 100.

2. Tari Bondhan Sayuk. Tari Bondhan Sayuk merupakan tari tradisi gaya Surakarta jenis pasangan silang jenis karakter putri dengan putra madya yang bertemakan percintaan sepasang insan manusia yang berjenis kelamin pria dan berjenis kelamin wanita. Pada dasarnya tarian ini tidak mengisahkan tokoh tertentu tetapi mengekspresikan cinta kasih sepasang suami istri secara universal terhadap anak laki-laki dan harapan-harapan serta keinginannya

199

supaya kelak menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan negara. Karya tari Bondhan Sayuk disusun oleh Sunarno pada tahun 1979. Tari ini pertama kali dipentaskan pada sebuah resepsi ritual perkawinan di gedung Bathari. Tema yang diangkat menggambarkan percintaan manusia secara universal, yang lebih mengarah pada perjalanan hidup sepasang manusia dari kalangan rakyat. Menurut Sunarno, tari Bondhan Sayuk lebih tepat untuk gambaran sepasang temanten maupun sebuah keluarga baru yang belum memiliki anak (wawancara, 2008). Gagasan awal terciptanya tari Bondhan Sayuk adalah sebuah ekspresi pribadi Sunarno yang menginginkan anak laki-laki untuk putera pertamanya. Keinginan

tersebut rupanya diridhohi oleh Sang Pencipta, anak pertama laki-laki bahkan anak kedua juga laki-laki dan anak ketiganya baru putri. Dalam perjalanan waktu tari Bondhan Sayuk sangat diminati oleh masyarakat hingga sekarang, yang pertama merupakan hiburan yang tepat dalam sebuah resepsi perkawinan dan kedua dimaknai sebagai simbolik sepasang suami dan istri yang hidup bahagia yang layak untuk diteladani sepasang temanten. Pesona yang memikat dari tari Bondhan Sayuk adalah digunakannya boneka sebagai simbolik anak yang selalu ditimang-timang dan diharapkan memberikan kekuatan magis simpatetis terhadap sepasang temanten, yaitu supaya lekas diberi anak. Jika dirunut dari bahasa verbalnya akan tampak bahwa harapan-harapan yang tersurat dan tersirat menunjukkan adanya sebuah keinginan, harapan sepasang suamiistri terhadap anak laki-laki kelak menjadi orang yang berperilaku baik dan berguna bagi masyarakat untuk membangun bangsa dan negara. Bentuk tari Bondhan Sayuk terdiri dari dua komponen pokok, yakni sastra tembang yang merupakan bahasa verbal dan

200

bahasa nonverbal yang berupa: tema, kinetic body moves, polatan (ekspresi wajah), rias, busana, pola lantai, dan iringan. Sastra tembang yang merupakan bahasa verbal tari Bondhan Sayuk, terdiri dari beberapa garap lagu, yakni: (1) garap sindhenan Mijil Sulastri: sakpupuh (satu bait), (2) garap jineman Sayuk: rong pupuh (dua bait), dan (3) garap gerongan Ladrang Sayuk: rong pupuh (dua bait). Dari masing-masing garap lagu tersebut dapat dicermati berikut ini.

a. Bahasa verbal.

(1). Teks Sindhenan Mijil Sulastri Dhuh mas rara, garwaku wong manis, Aja gawe kagal, Amung sira yekti sulistyane, Jumbuh klawan rasaningtyas mami, Binerkahan ugi, Prasetya wak-ingang.

Terjemahan:

Wahai si cantik, istriku yang manis, Jangan membuat kesal, Hanya kamulah yang benar-benar cantik, Sesuai dengan rasa yang terdapat dalam hatiku, Semoga mendapat berkah, Janji kesetiaanku.

201

Jenis –jenis TT yang melekat pada teks Sindhenan Mijil Sulastri

No

Penutur (Pn)

Bahasa Verbal : teks Sindhenan Mijil Sulastri

Jenis – jenis TT

Pemarkah

Pria (Pn) 1 Pria (Pn) 2 Pria (Pn) 3

Dhuh mas rara, garwaku wong manis, Aja gawe kagal, Direktif Amung sira yekti Ekspresif Ekspresif

wong manis

aja

sulistyane

sulistyane,

Pria (Pn)

Jumbuh

klawan

Asertif

Jumbuh

rasaningtyas mami, Pria (Pn) 4 Pria (Pn) 5 Prasetya wak-ingang. Komisif Binerkahan ugi, Direktif prasetya ugi

Konteks. Identifikasi / latar. a. Peserta tutur: Pria (Pn). Wanita (Pt), ia merespon dengan gerak tanpa tuturan.

b. Tema / topik: percintaan atau kasmaran.

202

c. Tujuan: suami menghendaki istri supaya tidak lekas marah, mengingat kasih asmara suami terhadap istri merupakan cinta yang tulus. d. Status sosial: penari pria sebagai seorang suami, ia digambarkan sebagai figur seorang suami yang bertanggungjawab dan sangat setia terhadap istri. Penari wanita sebagai seorang istri, ia digambarkan sebagai figur seorang istri yang sangat setia terhadap suami. e. Tempat: di rumah. f. Situasi tutur: tidak formal. g. Gerak: kedua penari, pria dan wanita srisik bersama, tangan kanan saling berpegangan (nyathok) dan tangan kiri lurus ke samping (menthang) menuju stage. Secara perlahan-lahan keduanya lumaksono ridhong, srisik menuju tengah stage, berhenti laku enjer menthang tangan kiri, kemudian putra besut dan putri sindhet merupakan gambaran rasa kebersamaan. Rasa kecewa diekspresikan istri lewat jengkeng, sekaran laras kebyokan, sembahan, berdiri meninggalkan suami sambil kebyokan tangan kanan-kiri kemudian suami gerak nyabet tangan kanan, besut, mendekati istri untuk merayu dengan gerak hoyogan, gajah-gajahan, songgonompo – mbalang. Rasa mesra mulai tampak ketika masing-masing peran suami dan istri saling mendekat dan berciuman dengan gerak kengser dan ngaras. Selanjutnya gerak lincak gagak bersama, suami hendak memegang istri menghindar. Suami dan istri saling mendekat, saling berpegangan tangan kemudian srisik kanthen tangan kanan sebagai gambaran awal kemesraan. h. Polatan / ekspresi wajah: ketika rasa kebersamaan masih terbina, wajah suami dan wajah istri tampak cerah dan gembira. Pada saat istri merasa kecewa

203

pandangan muka selalu menghindar dari tatapan mata suami dan pandangan mata istri banyak mengarah ke bawah. Suasana berubah menjadi semakin mesra wajah suami dan wajah istri tampak semakin cerah dan pandangan mata tampak sering saling melihat. i. Pola lantai: didominasi garis-garis lengkung. j. Iringan gendhing: Srepek Rangu-rangu dan Ketawang Mijil Sulastri untuk mendukung suasana kasmaran atau bercinta. Implikatur Kagal : Sulistyane: perasaan marah. kecantikan rupa dari seorang wanita.

Jumbuh klawan rasaningtyas: kecocokan hati yang membuat senang seseorang. Prasetya wak-ingang: ungkapan yang mengisyaratkan sebuah perjanjian tentang kesetiaan. Implikatur bahasa verbal Sindhenan Mijil Sulastri adalah ungkapan cinta yang mendalam seorang suami terhadap istrinya, dengan harapan mendapatkan perhatian demi terjalinnya kasih cinta untuk harmonisnya sebuah rumah tangga. Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Sindhenan Mijil Sulastri dapat diungkap: a. Maksim kuantitas dilanggar. b. Maksim kualitas dipatuhi. c. Maksim hubungan dipatuhi. d. Maksim cara dilanggar.

Mbokne thole. Terjemahan: Wahai belahan jiwaku. mangkat makarya. Sebelumnya anakmu bawalah kemari. Asertif bapakne . Tak kudange anakku sing bagus dhewe. Bapakne sithole. berangkatlah bekerja. Sawahnya tengah menanti. Mbesuk pinter nyambut gawe. Teks Jineman Sayuk Dhuh mas jiwaku. Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Jineman Sayuk No Penutur (Pn) / Petutur (Pt) Bahasa Verbal Teks Jineman Sayuk Jenis – jenis TT Pemarkah Wanita (Pn) 1 2 Wanita (Pn) Dhuh mas jiwaku. (2). Sawahmu tansah anganti. Besuk menjadi anak yang pandai bekerja. Peneliti timang-timang anakku yang paling bagus. Patik dhuh mas baya iki wus wanci. 2) melakukan TT secara tidak langsung (off record).204 Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Sindhenan Mijil Sulastri. sekarang sudah saatnya. baya iki wus wanci. Direktif baya iki 3 Wanita (Pn) Bapakne sithole. Sakdurunge anakmu gawanen mrene. Ayahnya anak laki-laki (suamiku). menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif. Ibunya anak laki-laki (istriku).

. Hal ini adalah untuk menunjukkan rasa kasih sayang dan kemesraan suami terhadap anak dan istri. tansah Asertif sawahmu 6 Pria (Pt) Mbokne thole. Identifikasi / latar. Asertif mbokne 7 Pria (Pt) Sakdurunge anakmu Direktif gawanen gawanen mrene. Pria (Pt). 8 Pria (Pt) Tak kudange anakku sing bagus dhewe. b. Peserta tutur: Wanita (Pn). Tujuan: istri mengingatkan akan pekerjaan suami. pinter Direktif mbesuk pinter Konteks. Direktif mangkat 5 Wanita (Pn) Sawahmu anganti. Tema / topik: kekudangan (menimang bayi sambil bersenandung) c. Kesadaran suami sebagai kepala rumah tangga menyambut kehendak istrinya dengan rasa senang untuk itu sebelum berangkat bekerja mereka saling menimang bayi sambil bersenandung secara bergantian. Ekspresif bagus 9 Pria (Pt) Mbesuk nyambut gawe.205 Wanita (Pn) mangkat makarya. a.

lembehan tangan kanan. ia digambarkan sebagai figur seorang suami yang bertanggungjawab dan sangat setia terhadap istri. Penari wanita sebagai seorang istri. Status sosial: penari pria sebagai seorang suami. Gerak: istri srisik sambil menimang anak. Suami menimang anak sedangkan istrinya meledek dengan tawing kiri-tawing kanan. h. e. ia digambarkan sebagai figur seorang istri yang sangat setia terhadap suami. Polatan / ekspresi wajah: suami dan wajah istri tampak cerah dan gembira. Istri meminta perhatian suami terhadap anak yang ditimang dengan gerak putar ke kanan. tangan kiri memegang bahu istri dan tangan kanan memegang anak sambil memperhatikan dengan tawing kanan. Selanjutnya istri tawing kanan. g. Pandangan mata suami dan istri banyak terfokus pada anak dan mereka juga sering saling berhadapan. suami merasa gembira dan bahagia secara perlahan-lahan mendekat.206 d. Istri mulai bersenandung mengingatkan pekerjaan terhadap suami dengan gerak tawing kanan sambil memandang suami sedangkan suami menyambut baik dengan gerak ukel karno kanan yang kemudian mendekati dengan gerak srisik. . maju srisik mendekati suami untuk memberikan anaknya dan suami juga mendekat dengan lumaksono untuk menerimanya. Situasi tutur: tidak formal. f. putar ke kiri–tangan kanan ukel karno sedangkan suami mendekat menanggapi dengan gerak panggel dan pandangan mengarah ke istri dan anaknya. Tempat: di rumah.

j. seorang istri mempunyai peranan cukup penting dalam mendukung tugas dan kewajiban peran suami sebagai kepala . Tak kudange: menimang bayi sambil bersenandung yang berisi tentang nasehat dan harapan-harapan orang tua terhadap anaknya. Masing-masing individu mempunyai tanggungjawab terhadap tugas dan kewajiban untuk memenuhi tuntutan kebutuhan keluarga.207 i. Sawahmu tansah anganti: pernyataan yang dimaksudkan tentang sebuah pekerjaan. Implikatur Mas jiwaku: panggilan seorang kekasih. Dalam rangka memenuhi kebetuhan tersebut masing–masing individu yang terlibat dalam keluarga memiliki peran secara proporsional. Mbokne thole: panggilan seorang ibu yang biasa untuk masyarakat pedesaan untuk menunjukkan keakraban. Iringan gendhing: jineman Sayuk untuk mendukung suasana kekudangan yang merepresentasikan rasa senang. Makarya: bekerja. Berdasarkan kasih cinta untuk menciptakan keharmonisan keluarga. Pola lantai: didominasi garis-garis lengkung. Implikatur bahasa verbal Jineman Sayuk mengisyaratkan bahwa dalam sebuah keluarga kebutuhan jasmani dan rohani harus seimbang. Mbesuk pinter: sebuah harapan orang tua yang menghendaki anaknya kelak menjadi orang yang pandai. Bapakne sithole: panggilan seorang ayah yang biasa untuk masyarakat pedesaan untuk menunjukkan keakraban.

Adhuh lae. wis mbokne enyoh anake sun arsa mangkat megawe. . 2) melakukan TT secara tidak langsung (off record). cukat trampil tumandange. Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Jineman Sayuk. Tindakannya tidak boleh menyeleweng. menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif. Implikatur bahasa verbal Jineman Sayuk yaitu kegembiraan pasangan suami istri sebuah keluarga semakin mantap ketika telah diberi anak. Adhuh lae. anteng tajem polatane. Adhuh lae. Adhuh lae. Adhuh lae. dasar bregas ten atene. Maksim hubungan dipatuhi. Maksim kualitas dipatuhi. atak adhuh lae. Adhuh lae. peneliti akan berangkat bekerja. (3). Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Jineman Sayuk dapat diungkap: a. c. Teks Gerongan Ladrang Sayuk Adhuh lae.208 keluarga. Istriku. labuh labet mring bangsane. trampil dalam bekerja. atak adhuh lae. atak adhuh lae. Lincah. Terjemahan: Memang baik karakternya. b. d. atak adhuh lae. sesongaran disingkirke. Bekerja keras untuk bangsa. Maksim cara dilanggar. namun juga harus disadari bahwa untuk mencukupi kebutuhan rumahtanggga diperlukan kerja keras. atak adhuh lae. Tenang fokus pandangannya. Kesombongannya dihilangkan. bawalah anakmu sekarang. atak adhuh lae. ora nyleweng tumindake. atak adhuh lae. Maksim kuantitas dilanggar.

anteng tajem Ekspresif anteng tajem polatane. labuh labet mring bangsane.209 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Gerongan Ladrang Sayuk No Penutur (Pn) 1 Bahasa Verbal : Teks Gerongan Ladrang Sayuk Jenis –jenis TT bregas Ekspresif Pemarkah Pria (Pn) Adhuh lae. atak adhuh lae. disingkirke. atak adhuh lae. atak adhuh lae. 6 Pria (Pn) Adhuh lae. Direktif enyoh anake . 5 Pria (Pn) Adhuh lae. wis mbokne enyoh anake sun arsa mangkat megawe. dasar bregas ten atene. cukat trampil Ekspresif Cukat trampil tumandange. 7 Pria (Pn) Adhuh lae. atak adhuh lae. ora nyleweng Direktif ora nyleweng Direktif Labet mring sesongaran Direktif disingkirke tumindake. 3 Pria (Pn) Adhuh lae. 4 Pria (Pn) Adhuh lae. atak adhuh lae. 2 Pria (Pn) Adhuh lae. atak adhuh lae. atak adhuh lae.

Gerak: diawali suami menimang-nimang anak dengan lumaksono yang diikuti istri lumaksono lembehan sampur dan kawilan. f. Tempat: di rumah. Setelah istri menimang anak beberapa saat. Situasi tutur: tidak formal. Peserta tutur: Pria (Pn).210 Konteks. b. ia merespon dengan gerak tanpa tuturan. e. ia digambarkan sebagai figur seorang istri yang sangat setia terhadap suami. Hal ini untuk menunjukkan rasa kasih sayang orang tua terhadap anak dan istrinya. suami gerak lumaksono sambil menanti kedatangan istri. a. Status sosial: penari pria sebagai seorang suami. kemudian anak diberikan kepada temanten putri dengan srisik. Identifikasi / latar. Anak diberikan istri sedangkan suami meledeknya dengan ogekan. Wanita (Pt). Tema / topik: kekudangan (menimang bayi sambil bersenandung) c. ia digambarkan sebagai figur seorang suami yang bertanggungjawab dan sangat setia terhadap istri. Tujuan: suami mengharapkan supaya anak yang masih dalam timangan tersebut kelak menjadi orang yang berperilaku baik dan berguna bagi masyarakat lingkungannya. . d. tangan kanan menthang sampur dan lilingan. Penari wanita sebagai seorang istri. g.

dan mengutamakan kepentingan umum untuk membangun bangsa. Sesongaran: sikap sombong. yaitu tanggungjawab sebagai orang tua dalam mempersiapkan . ungkapan tentang keramahan dan kehalusan perangai seseorang yang diamati dari ekspresi wajah. yang biasanya untuk dihindari. Labuh labet mring bangsane: sebuah ungkapan yang berusaha mengedepankan kepentingan umum. Pola lantai: didominasi garis-garis lengkung. Implikatur bahasa verbal Gerongan Ladrang Sayuk. Implikatur bahasa verbal Gerongan Ladrang Sayuk pada tari Tari Bondhan Sayuk. Polatan / ekspresi wajah: suami dan wajah istri tampak cerah dan gembira. Ora nyleweng : berperilaku baik dengan menghindari hal-hal yang mengarah pada perbuatan atau tindakan yang melanggar norma atau aturan yang berlaku. mengisyaratkan tentang beberapa harapan orang tua terhadap seorang yang berperilaku baik mengutamakan kebajikan. i. kerja keras. j. Implikatur Bregas ten atene: Cukat trampil: Anteng tajem: ungkapan tentang sikap dan perilaku yang baik. Pandangan mata suami dan istri banyak terfokus pada anak dan mereka juga sering saling berhadapan. gembira.211 h. dan bahagia. Iringan gendhing: Ladrang Sayuk untuk mendukung suasana kekudangan yang merepresentasikan rasa senang. pernyataan tentang kelincahan dan ketrampilan dalam bekerja.

212 pendidikan anak sebagai generasi penerus yang memiliki kepribadian baik. sayuk. sayuk. . Sayuk. sayuk. Sayuk mbangun negarane. c. Maksim hubungan dilanggar. Sayuk. sakabehe. Terjemahan: Kebersamaan dengan teman. nyambut gawe. 2) melakukan TT secara tidak langsung (off record). Teks Gerongan Lancaran Sayuk Sayuk. Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Gerongan Ladrang Sayuk dapat diungkap: a. berwawasan luas sehingga berguna bagi kehidupan sosial masyarakat. Kebersamaan dalam bekerja. sayuk. b. Maksim kuantitas dilanggar. sayuk. Maksim cara dilanggar. Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Gerongan Ladrang Sayuk. Kebersamaan semuanya. Maksim kualitas dilanggar. menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif. sakancane. (4). Kebersamaan dalam membangun negara. d. sayuk.

Direktif sayuk nyambut gawe 3 Nr Sayuk. sayuk. sayuk. b. sakancane. Direktif sayuk sakabehe 4 Nr Sayuk negarane. ia merespon dengan gerak tanpa tuturan. . Identifikasi / latar. Pria . sayuk. sayuk. sayuk. Peserta tutur: Narator. Wanita . nyambut gawe. Direktif sayuk sakancane 2 Nr Sayuk. ia merespon dengan gerak tanpa tuturan. Tema / topik: makarya (bekerja). sakabehe. sayuk.213 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Gerongan Lancaran Sayuk No Narator (Nr) Bahasa Verbal : Teks Gerongan Lancaran Sayuk Jenis – jenis TT Pemarkah 1 Nr Sayuk. a. mbangun Direktif sayuk mbangun Konteks.

gerak yang dipilih antara pasangan suami dan istri berupa sekaran-sekaran yang dapat diekspresikan secara dinamis untuk menimbulkan kesan semangat dalam keadaan riang dan gembira. Polatan / ekspresi wajah: suami dan wajah istri tampak cerah dan gembira. Penari wanita sebagai seorang istri. g. i. enjer ridhong muter. berhadapan dan didukung dengan saling melempar senyuman sehingga tampak gembira dan bahagia. dan enjer muter. ia digambarkan sebagai figur seorang suami yang bertanggungjawab dan sangat setia terhadap istri. lilingan kebyok sampur.214 c. Tujuan: suami maupun istri saling mengajak dan memberi dorongan semangat untuk bekerja secara bersama-sama dalam menyelesaikan pekerjaan dengan suasana gembira. d. f. h. . e. Status sosial: penari pria sebagai seorang suami. ia digambarkan sebagai figur seorang istri yang sangat setia terhadap suami. lilingan kebyok sampur dan enjer muter. Tempat: di luar rumah. Gerak: pada implementasinya. Sebagai penutup sepasang suami istri saling mendekat bergandengan tangan kemudian srisik kanthen tangan kanan menuju tempat duduk temanten mengambil boneka anak. tawing kiri. Wujud Kinetic body moves yang dipilih untuk istri sekaran luluran. Sekaran untuk ekspresi peran suami terdiri dari: laku telu pondhongan. Situasi tutur: tidak formal. Arah Pandangan mata suami dan istri saling menatap. Pola lantai: didominasi garis-garis lengkung.

. Sakancane: Nyambut gawe: Sakabehe: bersama-sama dengan teman. dan berupaya menjalani kehidupan secara bersamasama. bekerja. c. dan bahagia. harmonis. Maksim kualitas dilanggar. b. seluruhnya dalam berbagai kegiatan. Iringan gendhing: Lancaran Sayuk dengan irama dinamis untuk mendukung suasana kekudangan yang merepresentasikan rasa riang. Maksim hubungan dilanggar. gembira.215 j. Kebahagiaan sebuah keluarga yang dilandasi rasa cinta akan memberikan spirit yang kuat dalam berbagai aktifitas dalam aktualisasi publik. Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Gerongan Lancaran Sayuk dapat diungkap: a. Implikatur bahasa verbal Gerongan Lancaran Sayuk pada tari Tari Bondhan Sayuk adalah gambaran kehidupan sebuah keluarga yang rukun. damai. Implikatur Sayuk : sebuah ajakan dalam bekerja untuk bersama-sama dengan dorongan semangat. Maksim kuantitas dilanggar.

b. Sedangkan . 2) mlakukan TT secara tidak langsung (off record). Maksim kualitas ada yang dilanggar juga ada yang dipatuhi. Maksim kualitas yang dilanggar dimaksudkan oleh penutur bahwa tuturan yang berupa tembang dimanfaatkan untuk mengekspresikan rasa lagu.216 d. Dari penjabaran bahasa verbal yang terdapat dalam tari Bondhan Sayuk terdapat beragam jenis tindak tutur yang dapat peneliti klasifikasikan secara kuantitatif sebagai berikut: NO 1 2 3 4 5 6 7 JENIS TINDAK TUTUR Tindak Tutur Direktif Tindak Tutur Ekspresif Tindak Tutur Asertif Tindak Tutur Komisif Tindak Tutur Patik Tindak Tutur Performatif Tindak Tutur Verdiktif JUMLAH 14 6 4 1 1 - Berdasarkan prinsip kerja sama bahasa verbal yang terdapat tari Bondhan Sayuk: a. Maksim cara dilanggar. banyak menggunakan kata-kata arkais dimaksudkan oleh penutur untuk mengekspresikan rasa estetik. menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif. Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Gerongan Lancaran Sayuk. Maksim kuantitas dilanggar karena dalam menyampaikan tuturan seorang penutur.

Sedangkan maksim hubungan yang dipatuhi dimaksudkan oleh penutur untuk menjaga kerja sama antara penutur dengan mitra tutur. terlalu panjang. Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada tari Bondhan Sayuk. keintiman. suami dan istri yang . hal ini dimaksudkan seniman penyusun untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa. Maksim cara dilanggar karena dalam menyampaikan tuturan seorang penutur. masing-masing hendaknya memberikan kontribusi yang relevan demi terjadinya komunikasi rasa. menggunakan strategi: 1) Melakukan tindak tutur dengan menggunakan kesantunan positif untuk menunjukkan kedekatan. c. dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur.217 maksim kualitas yang dipatuhi dimaksudkan oleh penutur untuk menggambarkan peristiwa yang betul-betul terjadi pada masing-masing adegan. Maksim hubungan yang dilanggar dimaksudkan oleh penutur bahwa tuturan yang berupa tembang tersebut diharapkan dapat sebagai sarana komunikasi rasa. tidak langsung. 2) Melakukan tindak tutur secara tidak langsung (off record) untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa. dan pernyataannya samar. Hal ini dimaksudkan seniman penyusun untuk menunjukkan simbolisasi keharmonisan hubungan antara peran digambarkan dalam tari. d. Maksim hubungan ada yang dilanggar juga ada yang dipatuhi.

Liku-liku perjalanan cinta sepasang suami istri beserta anak laki-lakinya dalam menjalani kehidupan yang penuh harapan-harapan terkait dengan prospek masa depan anak untuk partisipasinya pada pembangunan bangsa dan negara. sejarah. 1. rias. Untuk mewujudkan cita-cita yang mulia tersebut. pola lantai. busana. tetapi merupakan reaktualisasi dari imajinasi sepasang suami istri yang telah dianugerai seorang anak laki-laki yang masih dalam timangan. Bapakne sithole. Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa berlandaskan rasa cinta yang mendalam seorang istri mengingatkan. polatan (ekspresi wajah). Selain dapat memenuhi kebutuhan yang bersifat rohani juga tidak dapat mengabaikan kebutuhan yang bersifat jasmani sebagai sarana penopang kebutuhan hidup sehari-hari. mangkat makarya. Pasangan kekasih tersebut bukan merupakan gambaran dari tokoh tertentu dari sebuah cerita. Bentuk tema yang diangkat pada tari Bondhan Sayuk adalah tema percintaan sepasang manusia laki-laki dan perempuan secara universal. babad. baya iki wus wanci. Sawahmu tansah anganti. . dan iringan. Bahasa Nonverbal Bahasa nonverbal tari Bondhan Sayuk terdiri dari: tema.Tema. untuk itu seorang suami dituntut harus bekerja secara sungguh-sungguh. atau dongeng. kinetic body moves. sepasang suami istri memiliki tugas dan tanggungjawab untuk membina dan mendidik anak sedini mungkin supaya dapat tercapai harapannya. seperti tersurat pada cakepan Jineman Sayuk pada bagian awal yang berbunyi: Dhuh mas jiwaku. menghendaki dan mendukung suami untuk bekerja demi kelangsungan hidup keluarga.218 b.

c) adegan makarya (bekerja). berpartisipasi aktif dalam pembangunan bangsa dan negara. dan tegang. Adegan kekudangan mengungkapkan rasa gembira dan rasa bahagia. atas rayuan suami dengan sanjungan atau pujian. Adapun bentuk aktualisasinya diwujudkan sepasang suami dan istri yang sedang menimang bayi secara bergantian sambil bersenandung tentang harapan-harapan mulia sebagai orang tua terhadap anak laki-laki kelak setelah menjadi orang dewasa. . yang menggunakan properti berupa boneka yang dibalut sehelai kain sebagai simbolik anak (bayi). b) adegan kekudangan (menimang bayi sambil bersenandung) . Pada awalnya istri kurang perhatian terhadap suami. Harapan-harapan mulia kedua orang tua terhadap anak laki-lakinya kelak menjadi orang yang memiliki kepribadian yang baik. mesra. b). mengambil anaknya. Dari tema percintaan sepasang suami-istri yang sifatnya universal tersebut. pekerja profesional. Gambaran adegan kasmaran mengungkapkan rasa kecewa. istri menjadi luluh hatinya yang kemudian mereka berdua saling beradu cinta.219 Bentuk sajian dari tema percintaan yang diangkat pada tari Bondhan Sayuk tersebut aktualisasinya diperankan oleh: suami dan istri. untuk aktualisasinya akan membentuk sebuah alur yang terbagi menjadi beberapa adegan: a) adegan kasmaran (percintaan). Setelah kemesraan berakhir istri meninggalkan suami untuk suasana menjadi tegang. tidak menyeleweng. a) adegan kasmaran menggambarkan sepasang suami dan istri yang sedang memadu cinta. Adegan kekudangan menggambarkan kegembiraan dan kebahagiaan sepasang suami dan istri yang telah dikaruniai seorang anak laki-laki yang diharapkan menjadi pewaris keturunan dan berguna bagi pembangunan bangsa dan negara. tidak sombong.

di sini bentuk-bentuk vokabuler geraknya tidak tampak gerak orang makarya / bekerja. Jika dicermati dari alur adegan dari kasmaran. Adegan kasmaran merupakan adegan pertama yang secara garis besar menggambarkan sepasang suami dan istri sedang memadu cinta. kekudangan. Berawal dari alunan kendhang sebagai pembukaan yang . 2. tetapi bagaimana vokabuler gerak tersebut mampu mengungkapkan rasa sesuai dengan kehendak penyusun. Gerak tubuh pada tari Bondhan Sayuk adalah kristalisasi dari beberapa unsur gerak tradisional yang bersumber pada tarian tradisional karaton Kasunanan yang lebih dikenal gaya Surakarta. kedamaian dan kebahagiaan berupaya menyeimbangkan akan kebutuhan rohani yang teraktualisasi dalam adegan kasmaran berlanjut adegan kekudangan dan kebutuhan jasmani yang tergambar dalam adegan makarya. Seperti gambaran adegan makarya. Beberapa vokabuler gerak yang berupa sekaran memiliki karakteristik beragam pula. Kinetic body moves atau Gerak tubuh. Pola-pola gerak yang digunakan untuk gambaran-gambaran pada masing-masing adegan tidak selalu dapat dengan mudah menunjukkan aktifitas yang tengah terjadi.220 c). Selengkapnya peristiwa adegan kasmaran tersebut terkait dengan Kinetic body moves akan digambarkan secara kronologis sebagai berikut. keharmonisan. Artinya pola-pola gerak yang digunakan dalam tari tidak selalu merepresentasikan secara vulgar dan jelas maksud penyusun yang tersurat pada bahasa verbalnya.. Rasa yang hendak diekspresikan pada adegan ini yaitu puncak kegembiraan dan kebahagiaan. yang kemudian makarya dapat ditarik benang merahnya bahwa kehidupan sebuah keluarga yang didasari rasa cinta mendambakan kemesraan. Adegan makarya merupakan gambaran semangat bekerja secara bersamasama antara suami dan istri dengan suasana gembira.

pl. pt. berhenti tanjak. saling mendekat srisik kanthen tangan kanan. Kebingungan semakin tampak. Kedua penari. khawatir dengan kengser mundur pelan-pelan. srisik menuju tengah stage. mendekat hoyogan. Rasa kecewa diekspresikan istri lewat jengkeng. istri meninggalkan putra dengan gerak srisik kipat sampur dan suami mencoba lari untuk mencegah istri namun tidak dapat dengan gerak srisik. kembali maju srisik.. barang untuk mendukung rasa kecewa dan rasa mesra. Selanjutnya gerak lincak gagak bersama. berhenti laku enjer menthang tangan kiri. . pl. gajah-gajahan. Rasa mesra mulai tampak ketika masing-masing peran suami dan istri saling mendekat dan berciuman dengan gerak kengser dan ngaras. Perasaan suami tegang. tangan kanan saling berpegangan (nyathok) dan tangan kiri lurus ke samping (menthang) menuju stage. suami hendak pegang istri menghindar.221 diikuti secara bersama alunan seluruh ricikan balungan atau instrumen gamelan yang terkemas dalam Srepek Rangu-rangu lr. sembahan. barang. Iringan Ketawang Mijil Sulastri lr. sekaran laras kebyokan. kemudian putra besut dan putri sindhet merupakan gambaran rasa kebersamaan. mundur srisik. Suasana tegang diungkapkan istri mulai menjauh dengan gerak tawing kiri dan laku enjer sedangkan suami berhenti tanjak sambil tawing kiri memandangi yang putri. pt. barang. berdiri meninggalkan suami sambil kebyokan tangan kanan-kiri sedangkan penari putra nyabet tangan kanan. pl. besut. pt. songgonompo – mbalang. adapun bentuk iringan yang mendukung suasana ketegangan tersebut adalah lancaran lr. Istri srisik sambil menimang bayi menuju ke stage mendekati putra. Secara perlahan-lahan keduanya lumaksono ridhong. putra sebagai suami dan putri sebagai istri srisik bersama.

222 Adegan kekudangan merupakan adegan kedua. Seluruh sajian Kinetic body moves tersebut diiringi jineman Sayuk lr. Selanjutnya istri tawing kanan. berpartisipasi aktif dalam pembangunan bangsa dan negara. tidak sombong. Bentuk Kinetic body moves yang mengekspresikan adegan kekudangan dapat dicermati berikut ini. Adegan kekudangan mengungkapkan rasa gembira dan rasa bahagia. Istri meminta perhatian suami terhadap anak yang ditimang dengan gerak putar ke kanan. Setelah istri srisik sambil menimang anak. barang. bekerja secara profesional. yang menggambarkan kegembiraan dan kehagiaan sepasang suami dan istri yang telah dikaruniai seorang anak laki-laki yang diharapkan menjadi pewaris keturunan dan berguna bagi masyarakat. tidak menyeleweng. maju srisik mendekati suami untuk memberikan anaknya dan suami juga mendekat dengan lumaksono untuk menerimanya. Suami menimang anak sedangkan istrinya meledek dengan tawing kiri-tawing kanan. suami merasa gembira dan bahagia secara perlahan-lahan mendekat. lembehan tangan kanan. pt. . Harapanharapan mulia kedua orang tua terhadap anak laki-lakinya kelak menjadi orang yang memiliki kepribadian yang baik. pl. Adapun bentuk aktualisasinya diwujudkan sepasang suami dan istri yang sedang menimang bayi secara bergantian sambil bersenandung tentang harapan-harapan mulia sebagai orang tua terhadap anak laki-laki kelak setelah menjadi orang dewasa. tangan kiri memegang bahu istri dan tangan kanan memegang anak sambil memperhatikan dengan tawing kanan. Istri mengingatkan pekerjaan terhadap suami dengan gerak tawing kanan sambil memandang suami sedangkan suami menyambut baik dengan gerak ukel karno kanan yang kemudian srisik mendekati. putar ke kiri – tangan kanan ukel karno sedangkan suami mendekat menanggapi dengan gerak panggel dan pandangan mengarah ke putri dan anak.

pt. pl. Sebagai penutup sepasang suami istri saling mendekat srisik kanthen tangan kanan menuju tempat duduk temanten mengambil boneka anak kemudian sebagai cucuk lampah temanten (berjalan di depan temanten untuk menggiring sepasang mempelai ke depan pintu rumah resepsi guna menghantarkan para tamu undangan yang hendak berpamitan). dan enjer muter.223 Ekspresi kekudangan yang berisi harapan orang tua terhadap anak. gerak yang dipilih antara pasangan suami dan istri berupa sekaran-sekaran yang dapat diekspresikan secara dinamis untuk menimbulkan kesan semangat dalam keadaan riang dan gembira. dan lainnya. Ungkapan adegan makarya adalah gambaran semangat dalam bekerja antara suami dan istri dengan suasana gembira. Bentuk gambaran Kinetic body moves pada adegan makarya tidak mengekspresikan orang yang tengah bekerja menggarap sawah. Adegan makarya merupakan adegan ke tiga yang menjadi penutup dari seluruh alur adegan yang terdapat pada tari Bondhan Sayuk.tangan kanan menthang sampur dan lilingan. diawali suami menimang-nimang anak dengan lumaksono yang diikuti istri lumaksono lembehan sampur dan kawilan. suami gerak lumaksono sambil menanti kedatangan istri. Adapun gambaran Kinetic body moves bagian ini diiringi ladrang Sayuk lr. seperti mencangkul. lilingan kebyok sampur dan enjer muter. tawing kiri. tanam padi. enjer ridhong muter. Gantian anak diberikan istri sedangkan suami meledeknya dengan ogekan. Sekaran untuk ekspresi peran suami terdiri dari: laku telu pondhongan. dan bahagia. Wujud Kinetic body moves yang dipilih untuk istri sekaran luluran. membajak. Pada implementasinya. Setelah istri menimang lalu boneka anak diberikan kepada temanten putri dengan srisik. Rasa yang hendak diekspresikan pada adegan ini yaitu rasa riang. barang. Gendhing sebagai . lilingan kebyok sampur. gembira.

seperti paparan berikut ini. Secara garis besar Kinetic body moves yang terdapat pada seluruh adegan tari Bondhan Sayuk. pl. . kekudangan. barang. pt. pt. dan makarya merupakan kombinasi dari gerak representatif dan presentatif. barang dan Ayak-ayakan lr. pl. baik adegan: kasmaran.224 iringan adegan ini adalah Lancaran Sayuk lr.

Kasmaran 1 Srisik kanthen tangan kanan Distilisasi orang bergandengan tangan kanan 2 Lumaksono ridhong Distilisasi orang berjalan 3 Srisik kanthen tangan kanan Distilisasi orang bergandengan tangan kanan 4 Enjer menthang tangan kiri Distilisasi orang berjalan samping meluruskan kiri dari ke songgonompo gerak lari Srisik tangan kanan dari Lumaksono ridhong gerak lari Srisik tangan kanan SW Representatif SL Representatif Keterangan kanthen Distilisasi orang bergandengan tangan kanan Distilisasi orang berjalan kanthen Distilisasi orang bergandengan tangan kanan Distilisasi orang sesuatu gerak lari dari gerak lari dari menerima sambil tangan .225 2) jenis-jenis vokabuler gerak atau sekaran yang terdapat dalam tari Bondhan Sayuk. Adegan Peran Jenis Gerak Peran Jenis Gerak Keterangan No I.

226 5 Jengkeng Distilisasi orang duduk dari mbalang Distilisasi dari orang memberi atau membuang sesuatu 6 Ngaras Distilisasi orang berciuman dari Ngaras Distilisasi orang berciuman dari 7 Lincak gagak. tawing Distilisasi kiri dari Lincak gagak. sambil melihat ke kiri 8 Sautan / nubruk Distilisasi orang memegang seseorang dihindari 9 Srisik kanthen tangan kanan Distilisasi orang bergandengan tangan kanan 10 Enjer tawing kiri Distilisasi orang berjalan samping dari ke Tanjak tawing kiri gerak lari Srisik tangan kanan yang dari hendak Endhan melihat ke kiri Distilisasi dari orang menghindar kanthen Distilisasi orang bergandengan tangan kanan Distilisasi gerak lari dari orang berdiri sambil melihat ke kiri sambil melihat ke kiri . sambil gerak kaki burung gagak. tawing kiri Distilisasi dari gerak kaki burung gagak.

Kedua tangan trap cetik nyempurit Distilisasi orang kedua ditekuk pinggang jari-jari di lari. ( pola tersebut merupakan sikap berdiri pada .227 11 Srisik kipat sampur. nyabet tangan kanan Distilisasi orang berjalan gerak orang lari dengan menggendhong bayi 13 Srisik mundur Distilisasi orang lari. gerak Posisi Srisik (tangan nekuk). 12 Srisik dan menimang bayi Distilisasi gerak Lumaksono. kedua tangan lurus membuka samping ke dengan membawa sampur. kecuali jari jempol ditekuk. gerak badan menghadap ke depan sedangkan langkah kaki mengarah ke belakang 14 Tanjak Distilisasi gerak orang berdiri. kedua tangan menthang sampur Distilisasi orang lari. gerak Posisi tangan depan dengan membuka.

kesannya mendekat 5 Kengser Kengser Gajah-gajahan Gerak penghubung Kesannya tenang Besut Besut SW Presentatif SL Presentatif Keterangan Gerak penghubung Gerak penghubung Kesannya tenang dan memperhatikan Gerak penghubung. kesannya mendekat Gerak penghubung. Adegan Peran Jenis Gerak Peran Jenis Gerak Keterangan No I.228 tari Jawa untuk putra yang posisi kedua kaki membuka dan ditekuk badan disertai sedikit condong ke depan ). kesannya mendekat . Kasmaran 1 2 Sindhet Sekaran laras kebyokan 3 Kebyokan tangan kanan-kiri 4 Kengser Kesannya mengabaikan Gerak penghubung.

229

Adegan

Peran

Jenis Gerak

Peran

Jenis Gerak

Keterangan No II. Kekudangan 1 Srisik dengan membawa anak Distilisasi gerak Tangan SW Representatif SL Representatif

Keterangan

kiri Menunjukkan

kasih

orang lari dengan menggendong boneka anak

memegang bahu dan peneliting tangan kanan

memegang anak gerak ke Tawing kanan Distilisasi gerak orang melihat ke kanan

2

Tawing kanan

Distilisasi orang kanan

melihat

3

Tawing kanan

Distilisasi orang kanan

gerak ke

Srisik

Distilisasi gerak orang lari

melihat

4

Srisik

Distilisasi orang lari

gerak

lumaksono

Distilisasi gerak orang berjalan

5

Memberikan anak kepada suami

Untuk timang

ditimang-

Menerima anak

Untuk timang

ditimang-

230 6 Tawing kiri-kanan Distilisasi gerak Menggendong anak Menimang-nimang boneka anak

orang melihat ke kiri lalu ke kanan 7 Lumaksono lembehan sampur Distilisasi gerak Lumaksono

Distilisasi gerak orang berjalan

orang berjalan yang kedua tangannya

membawa sampur 8 Menerima anak Untuk timang 9 Menggendong anak Menimang-nimang boneka anak 10 Srisik dengan membawa anak Distilisasi gerak Lumaksono ditimangMemberikan anak kepada istri Lilingan Untuk timang Distilisasi gerak orang meledek Distilisasi gerak orang berjalan ditimang-

orang lari dengan menggendong boneka anak

231

Adegan

Peran

Jenis Gerak

Peran

Jenis Gerak

Keterangan No II. Kekudangan 1 Lembehan ke kananke kiri sambil putar lalu ukel karno kanan 2 Kawilan Kesan meledek Ukel karno kanan Kesan perhatian meminta Panggel SW Presentatif SL Presentatif

Keterangan

memperhatikan

Kesan merespon

3

Ogekan, kanan sampur

tangan Kesan meledek menthang

232

Adegan

Peran

Jenis Gerak

Peran

Jenis Gerak

Keterangan No III. Makarya 1 Sekaran luluran Distilisasi gerak Laku pondhongan Enjer ridhong muter SW Representatif SL Representatif

Keterangan

telu Distilisasi gerak orang memondong Distilisasi gerak orang berjalan ke samping dengan melingkar

orang sedang luluran 2 Tawing kiri Distilisasi orang gerak ke

melihat

samping kiri 3 Lilingan kebyok sampur Distilisasi orang sambil sampur 4 Enjer muter Distilisasi gerak orang berjalan ke samping dengan melingkar Enjer muter gerak meledek membawa Lilingan kebyok sampur

Distilisasi gerak orang meledek sambil

membawa sampur

Distilisasi gerak orang berjalan ke samping dengan melingkar

233

Dari paparan jenis-jenis gerak presentatif dan representatif yang terdapat pada tari Bondhan Sayuk, dapat dicermati secara kuantitatif. a. Jenis gerak Representatif. Jumlah No Adegan Peran Jenis Gerak vokabuler

1

I. Kasmaran

SW

Representatif

12

SL

Representatif

14

2

II. Kekudangan

SW

Representatif

10

SL III. Makarya 3 SW

Representatif

10

Representatif

4

SL 4

Representatif

4 54

Jumlah gerak representatif, adegan I, II, dan III

b. Jenis gerak Presentatif. No Adegan Peran Jenis Gerak Jumlah vokabuler 1 I. Kasmaran SW SL 2 II. Kekudangan SW SL 4 Presentatif Presentatif Presentatif Presentatif 4 5 4 4 17

Jumlah gerak presentatif, adegan I dan II

234

Jumlah presentase jenis-jenis gerak representatif dan presentatif tari Bondhan Sayuk.

Tari Bondhan Sayuk No 1 2 3 4 5 Adegan I, II, dan III I, II, dan III Jenis gerak representatif presentatif jumlah 54 17 71 76,05 %, 23,95 %

Jumlah total gerak representatif dan presentatif = 54 + 17 Jumlah presentase gerak representatif = 54 : 71 X 100. Jumlah presentase gerak presentatif = 17 : 71 X 100.

3. Polatan (ekspresi wajah). Ekspresi wajah atau gerak wajah bukannya wajah dalam pengertian objek yang statis, merupakan sarana untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik terhadap sesuatu yang sedang dikomunikasikan. Dari pengamatan peneliti terhadap ekspresi wajah pada tari Bondhan Sayuk dapat dijabarkan seperti berikut. Pada adegan 1. kasmaran, bagian awal menggambarkan rasa kebersamaan, polatan kedua penari tampak cerah, kepala cenderung tegak, pandangan mata lebih banyak searah dan juga diseling saling menatap untuk mengekspresikan rasa romantis. Perubahan terjadi ketika rasa kecewa muncul, polatan suami sedikit tegang terfokus pada istri sedangkan kepala istri banyak menunduk, tatapan mata tidak merespon suami dan berupaya menghindar. Rasa kasmaran mulai terbangun kembali ketika sepasang suami dan istri berciuman, polatan suami dan istri tampak cerah, mulai saling menebar senyuman. Akhir adegan kasmaran suasana tegang, wajah suami dan istri tampak tegang pandangan mata tajam dan kepala tegak. Pandangan mata suami istri saling menatap secara tajam dengan

gembira. secara perlahan-lahan suasana mulai berubah menjadi gembira. Bentuk rias dan dandanan busana tari Bondhan Sayuk seperti . polatan terfokus pada istri. Rias dan busana. Bentuk rias dan busana tari Bondhan Sayuk mengacu pada busana Jawa yang sering dipakai pada acara-acara formal sebuah resepsi. Adegan kekudangan diawali Istri srisik sambil menimang bayi menuju ke stage mendekati suami. sedangkan pria memakai kejawen. senyuman semakin meningkat dan pandangan mata banyak saling menatap menunjukkan keharmonisan dan kemesraan. 4. Konsep tersebut rupanya merupakan pijakan awal yang selanjutnya dikembangkan oleh penyusun tari menjadi lebih berfungsi untuk kebutuhan ekspresi tari. ekspresi wajah sepasang suami istri tampak cerah. Bagi orang jawa rias dan dandanan busana yang digunakan pada acara resepsi secara garis besar untuk wanita memakai kebaya dan bagian atas menggunakan sanggul atau gelung.235 didukung gerak istri perlahan-lahan menjauh meninggalkan sedangkan gerak suami mendekat. Ide yang melatarbelakangi bentuk rias dan busana yang dipakai bahwa kisah cerita yang diangkat dalam tari Bondhan Sayuk adalah gambaran kehidupan sepasang suami istri yang berbudaya Jawa. sehingga kegembiraan lebih maksimal dan kebahagiaan semakin mantap. ekspresi wajah keduanya semakin tampak cerah. Menginjak adegan makarya. Kegembiraan meningkat dan kebahagiaan semakin terasa ketika sepasang suami istri secara bergantian menimang anak. suasana semangat yang diekspresikan secara bersama-sama antara suami dan istri lewat sekaran-sekaran kebar semakin dinamis didukung iringan Lancaran Sayuk yang berirama 1/1.

Wujud rias istri menggunakan rias cantik dan rias suami menggunakan rias bagusan yang keduanya tidak menampakkan perubahan karakter secara menyolok. kalung. Perhiasan untuk putra diantaranya: gelang. yaitu garis lurus dan garis lengkung. Pola lantai yang dibentuk dari Kinetic body moves merupakan komplementer keduanya yang diharapkan dapat membantu mengekspresikan suasana yang terdapat pada masing-masing adegan. Pola lantai. kemauan yang kuat dan tegas. Perhiasan yang dipakai putri diantaranya: gelang. Kiranya dapat disimpulkan bahwa rias dan busana yang digunakan dalam tari Bondhan Sayuk untuk memberi dukungan karakter peran dan mengaktualisasikan jati diri peran. keris dan blangkonan. dan kalung. Suami memakai dodot tanggung motif lereng. . Secara prinsip pola lantai yang terdapat dalam tari Bondhan Sayuk. Selain itu untuk fase-fase ketegangan ketika istri hendak meninggalkan suami (lihat gambar: 2). kelat bahu. Garis-garis lurus digunakan untuk mengungkapkan keinginan.236 rias dan busana yang dipakai pada peran-peran kethoprak. kelat bahu. 5. cundhukjungkat. terutama peran alusan atau bambangan untuk pria. Dandanan busana untuk istri memakai dodot tanggung (dodot kecil) motif lereng dan bagian kepala menggunakan gelung besar yang diberi bunga tibandhadha. Warna busana dominasi coklat yang memiliki kesan kalem dan kuning emas terutama perhiasan untuk menambah daya tarik penonton. seperti aktualisasi adegan awal kasmaran yang menggambarkan kebersamaan suami dan istri (lihat gambar: 1). dan suweng. dan cundhukmentul layaknya penganten putri berbusana basahan. mencakup dua bentuk utama.

Gambar 2: pola lantai lilingan kebyok sampur pada adegan tiga. Gambar 1: pola lantai laku telu pondhongan pada adegan tiga. Gambar 2. Adapun bentuk-bentuk sekaran laku telu pondhongan. lembut.237 Gambar 1. yang banyak terdapat dalam tari Bondhan Sayuk. Garis-garis lengkung lebih difungsikan untuk mengungkapkan kesan manis. Gambar 2. terutama pada adegan tiga makarya. lilingan kebyok sampur. Gambar 1. . dan enjer ridhong muter yang terkait dengan pola-pola lantai tersebut seperti tergambar pada paparan berikut.

6. Gambar 3: pola lantai enjer ridhong muter pada adegan tiga. yang dinyanyikan koor oleh vokalis putra . Bentuk garap jineman merupakan garap lagu tembang jawa. Bahasa verbal yang berupa teks sastra tembang yang terdapat dalam tari Bondhan Sayuk. dan (3) garap gerongan. terdiri dari beberapa garap lagu. Maksud menggunakan garap jineman adalah untuk menonjolkan lagu dan makna yang terkandung dalam bahasa verbalnya. Bentuk iringan tari Bondhan Sayuk merupakan komplementer garap lagu Teks sastra tembang dan rasa musikal dari garap instrumen gamelan yang berupa gendhing. Garap sindhenan terdiri dari satu bait yang terdapat pada iringan Ketawang Mijil Sulastri. yakni: (1) garap sindhenan (2) garap jineman. Sedangkan garap gerongan terdiri dari satu bait yang terdapat pada iringan Lancaran Sayuk. Iringan.238 Gambar 3. yang penyajiannya dimulai nyanyian solo atau tunggal tanpa iringan instrumen gamelan kemudian diikuti nyanyian secara koor dengan iringan instrumen gamelan. Garap jineman mencakup satu bait yang terdapat pada iringan Ladrang Sayuk.

barang pada adegan ini bersifat nglambari artinya rasa musikal yang dihasilkan dari garap Srepek Rangu-rangu lr. didukung beberapa iringan gendhing. pt. diantaranya: a) rasa musikal dan makna bahasa verbal yang mengekspresikan rasa kecewa menyatu dengan ekspresi gerak yang menggambarkan kekecewaan istri. pt. pl. pl. Pengertian nyawiji di sini garap gendhing Ketawang Mijil Sulastri lr. pl. kekudangan dan makarya dapat dicermati berikut ini. Keterpaduan yang dimaksudkan adalah menyatunya rasa musikal gendhing Ketawang Mijil Sulastri lr. Adegan : I. barang. dapat dicermati secara komprehensip dari beberapa elemen. pl. pt. pl. pt. barang. barang. Ketawang Mijil Sulastri lr. pt. pt. pt. Adegan kasmaran sebagai adegan pertama dalam tari Bondhan Sayuk. barang dengan ekspresi vokabuler gerak yang secara komplementer mengungkapkan suasana kasmaran yang dialami sepasang suami istri yang terjabar dalam rasa: kecewa dan mesra. Susunan iringan tari Bondhan Sayuk seluruhnya dan secara urut dari adegan kasmaran.239 bersama vokalis putri. kedudukannya dalam adegan kasmaran ini bersifat nyawiji. pl. pl. antara lain: Srepek Rangu-rangu lr. pt. pt. barang berfungsi untuk memberikan ilustrasi terhadap rasa kebersamaan sepasang suami istri. pl. yang merupakan iringan kedua setelah Srepek Rangu-rangu lr. barang implementasinya dengan garap gerak adalah menyatu. b) rasa seleh yang . Kedudukan iringan Srepek Rangu-rangu lr. Kasmaran. barang. Ketawang Mijil Sulastri lr. barang. begitu pula rasa musikal dan makna bahasa verbal yang mengekspresikan rasa cinta menyatu dengan ekspresi gerak yang menggambarkan kemesraan sepasang suami istri yang ditandai dengan gerak ciuman. dan Lancaran lr. pl. Bentuk menyatunya iringan dengan gerak.

barang tersebut merupakan fase peralihan dari adegan kasmaran menjadi adegan kekudangan. Lancaran lr. Terkait dengan alur adegan iringan Lancaran lr. barang. merupakan iringan yang secara musikal dapat mengekspresikan suasana tegang yang kedudukannya pada adegan ini lebih bersifat nglambari. pt. pt. Implementasinya rasa musikal yang berirama 1/1 tersebut mampu memberikan ilustrasi rasa tegang yang mendukung kekacauan atau ketegangan yang diekspresikan suami maupun istri. pl. bentuk iringan untuk adegan 1: kasmaran. barang Buka : kendhang : [ 2 5 ] suwuk : 7 6 2 5 7 3 o 2 5 o 7 6 o 2 5 b 7 3 3 6 xpl o 5 7 2 6 g7 3 5 3 2 3 g7 XXXXXxx2xxx x7x x Xx2x x x7 3 2 7 g6 Ketawang Mijil Sulastri lr. pt. dapat dicermati Srepek Rangu-rangu lr. pl. Adapun paparan berikut ini. pl.240 terdapat pada gendhing merupakan iringan yang mendukung rasa seleh pada tari. pt. barang . pl. c) pola gatra yang terdapat pada bentuk gendhing Ketawang Mijil Sulastri dapat dijadikan tanda mulai bergerak ataupun berakhirnya suatu gerak pada tari. baik rasa seleh ringan maupun rasa seleh berat.

7 . . 7 7 . Kekudangan Dalam adegan kekudangan yang mengisahkan menggambarkan kegembiraan dan kebahagiaan sepasang suami dan istri yang telah dikaruniai seorang anak laki-laki yang diharapkan menjadi pewaris keturunan dan berguna bagi pembangunan bangsa dan negara. barang [ . tidak sombong. p3 .x x xp. . g6 x3x x x3x x x.x Xx x. . 3 p2 . g2 g6 ] Adegan : II. 6 2 . tidak menyeleweng. . 7 7 . . 7 3 .241 [ . . 2 . 2 g7 x5x x5x x x. . n7 . 2 2 .xxx x. p3 . 3 5 . 7 5 7 Xxn6x7 x5x6 7 XXXx5XXXXXXx7 g6 Lancaran lr. 7 7 . 2 . 6 2 p7 3 2 7 7 6 5 n3 X . 3 7 5 .x x x6XXXx x x. 2 . 7 . pl. n7 n7 . . g6 2 . 3 . Dukungan iringan untuk adegan kekudangan yang mengungkapkan rasa gembira dan rasa bahagia . 3 3 . . . berpartisipasi aktif dalam pembangunan bangsa dan negara. pekerja profesional. 2 . pt. Harapanharapan mulia kedua orang tua terhadap anak laki-lakinya kelak menjadi orang yang memiliki kepribadian yang baik. . x3xx Xx XXXx3x x XXx5x x Xxg6 Xx. 2 . Adapun bentuk aktualisasinya diwujudkan sepasang suami dan istri yang sedang menimang bayi secara bergantian sambil bersenandung tentang harapan-harapan mulia sebagai orang tua terhadap anak laki-laki kelak setelah menjadi orang dewasa.

pelan. pt. pt. pl. barang mengisyaratkan bahwa ungkapan rasa gembira dan rasa bahagia yang terdapat pada adegan kekudangan ini suasana tampak lebih tenang dan semeleh (irama tidak tergesa-gesa. Jineman Sayuk laras. Keterpaduan garap tari dan garap Ladrang Sayuk dalam rangka mengekspresikan rasa gembira. Garap wiled yang berirama 1 / 8 pada Ladrang Sayuk lr. lagu jineman yang riang dan tekanan sedang pada adegan kekudangan ini adalah untuk pencapaian harmonisasi penyajian. dan mantap). pl. Bentuk mungkus ini ditinjau dari pelaksanaan vokabuler gerak yang terdapat pada adegan kekudangan hampir seluruhnya menggunakan pola kendangan kebar atau ciblon yang selalu membungkus pola gerak. barang . barang pada adegan ini sifatnya mungkus. pt. Kedudukan iringan Ladrang Sayuk lr. Pengertian nyawiji ini mengarah pada pemersatuan dari unsur tari yang berupa vokabuler-vokabuler gerak kebar yang dinamis dan unsur karawitan yang berupa Ladrang Sayuk lr. barang dengan irama sigrak. Dalam hal ini polapola gerak tari selalu ketat.242 adalah Ladrang Sayuk lr. Selain itu iringan Ladrang Sayuk lr. barang pada dasarnya nyawiji dengan garap geraknya. pl. dan nyawiji.ketat diikuti pola kendangan. dan bahagia sepasang suami dan istri dapat nyawiji dan tercapai. pt. Bentuk iringan untuk adegan 2: kekudangan dapat dicermati paparan berikut ini. pl. pt. barang. pl. pl. pt.

.nak mu ga . y . zj2c3 y tho-le 2 7 y zj7c2 Mbok-ne .ngan . . pt. .nak ku sing ba . . . .pak ne si .tho .ya 5 I .ter nyam-but ga . . 6 z7x x xzj@c# zzzzzzzzzjz6x7x jx5c3 2 zj2c3 3 7 2 zj3c2 7 rung .ti . a .suk 7 .ci Dhuh mas ji . pl. .x3x2c7 Ba.x6x5c3 2 X z2x3c2 z7x.le mang-kat ma 5 6 7 z5c6 2 2 z2x3c2 kar ya z7x. . 6 Tak ku . . 2 5 3 .wah mu tan .ki wus wan . . . 2 Be .sah a .c6 Sa .dang-e . .gus 3 z@x x x x c# z6x c5 pin .wa .243 Buka : celuk : 6 z7cx2 2 7 2 XXXXz@cc# 2 XXXXXXxxz6c7 Xxzx5x. . y u 3 z6x5x3x5x6c7 z3x2x7c6 z7x2x. barang 5 2 5 2 5 6 5 3 .we Ladrang Sayuk lr.wa . . .nen mre-ne # z#c@ 7 z6c7 dhe . 3 . z6c7 5 we 5 .c6 ku 2 uX y 3 ba . 3 .e z6c7 7 @ Sa-du 5 5 5 a . u zj2c3 u . .

7 2 6 j27 3 ne 2 j.sar bregas ten a .3 4 jz3c4 A-dhuh lae atak a.buh la-bet mringbangsa .6 j22 j23 5 j.e 7 @ 6 3 6 5 3 2 .# j@# 7 A-dhuh lae a-tak adhuh lae 2 7 2 7 jz6c7 3 jz7c2 an-teng ta-jem po .3 5 zj5c6 j22 j23 5 zj5c6 2 j.3 2 7 j.3 2 y j.xk3c4 j22 j23 j4jk.6 3 j.ma -nda .e atak adhuh la .244 j.3 j77 j77 2 j.6 6 7 jz@c# zj6c7 zj3c2 zj6c5 3 A-dhuh la .ran di .6 j33 j33 jz7c2 2 5 j.3 zj5cy j.e 5 .6 2 6 7 j.7 2j.6 z7c2 z2c3 3 j.la .xjkj5c6 2 j.e dha .y jz7c2 zj2c3 3 j.e 2 7 2 7 .2 A-dhuh la-e atak adhuh la .3 4 kz.3 j77 j77 2 j.te .ne 2 6 3 y 2 j.nge j7j j # j@j j 6 j3j j j.e cu-kat trampil 5 2 7 2 5 j2jj j 6 tu.e wis mbok ne e-nyoh a .7 2 jz2c3 Adhuh lae a-tak a-dhuh lae o -ra nyle-weng tu .6 6 j.ne 5 3 5 3 6 7 3 2 3 j.so nga .ke 4 2 4 2 4 3 2 7 j.dhuh la – e se.nak .kz3c4 2 j.7 3 zj7c2 A-dhuh lae atak a-dhuh la .2 jz5c6 6 Adhuh la .e a-tak a .3 5 j.ta 2 7 j.3 5 .7 jz2c7 jz3c2 7 la .dhuh la.mi – ndak .3 5 3 2 5 2 5 3 5 6 zj5c6 j22 j23 5 zj.sing–kir .7 2j.

barang yang berfungsi nglambari yang memberikan ilustrasi rasa musikal untuk mundur beksan. Bentuk mungkus ini ditinjau dari pelaksanaan vokabuler gerak yang terdapat pada adegan tiga hampir seluruhnya menggunakan pola kendangan kebar atau ciblon yang selalu membungkus pola gerak. pl. dan nyawiji. pt. pt. pl. Rasa yang hendak diekspresikan pada adegan ini yaitu puncak kegembiraan dan kebahagiaan untuk menyongsong masa depan yang lebih cerah. pt. pl. . mang - kat me - ga - we Adegan : III. Dalam hal ini pola-pola gerak tari selalu ketat. lagu gerongan riang dan tekanan dinamis.c# zj5x6jx5c3 sun 2 ar . Iringan Lancaran Sayuk lr. zj6c7 5 . pt.245 . Adegan makarya merupakan gambaran semangat bekerja secara bersama-sama. barang secara berurutan dapat dicermati paparan berikut ini. Kedudukan iringan Lancaran Sayuk lr. pl. . pt. Bentuk nyawiji ini mengarah pada pemersatuan dua unsur menjadi satu yaitu dari unsur tari yang berupa vokabulervokabuler gerak kebar yang dinamis dan unsur karawitan yang berupa Lancaran Sayuk dengan irama sigrak. barang. kompak antara suami dan istri dalam suasana gembira. sehingga rasanya menyatu dan harmonis. Sebagai penutup adegan makarya diiringi Ayak-ayakan lr. Makarya. pl. barang dan sebagai mundur beksan (penutup) iringan Ayak-ayakan lr.ketat diikuti pola kendangan. barang pada adegan ini sifatnya mungkus. .sa jz6x7xxj6c5 3 . Iringan yang mendukung adegan makarya yaitu Lancaran Sayuk lr. pl. 7 z@x xj. pt. barang dan Ayak-ayakan lr.

yuk nyam-but ga. 5 g2 . .we . 6 5 5 . sa. 5 3 2 .yuk . 6 . 6 5 5 .ca .yuk . 6 2 2 . . 3 g5 5 Sa . 6 5 5 3 3 5 3 3 5 . .ka . 6 .yuk . barang . 2 7 3 . 6 . 7 . pt. . sa-yuk . .he . . 6 sa . . 3 . 3 z6c7 . 6 . 7 6 6 . . . z@x x x. pl. 7 . 3 . o g3 b . 7 . sa. . 6 3 5 3 g2 7 g2 g6 g2 . . pt. o 5 5 o b . pl.yuk . 7 6 6 . 6 2 2 . 2 7 3 .yuk sa .yuk sa – kan . @ . . 6 5 5 3 7 g2 o . g7 3 g6 g6 g2 5 5 3 g2 3 3 2 2 g3 g3 6 6 5 5 3 6 g2 g7 ] Suwuk : x7x x7 6 7 3 2 7 g6 .be . 5 g6 6 Sa . . 6 sa. 2 SS Sa yuk 7 7 . [ 6 3 5 3 3 5 5 3 5 .246 Lancaran Sayuk lr. sa.ne .x x c3 z6c5 3 mba-ngun ne – ga - ra - ne Ayak-ayakan lr. . . . 6 5 5 . 6 . 6 2 2 . 6 . 5 . 7 6 6 . 5 g6 6 Sa-yuk . barang Buka : . . b 2 g2 .

pt. I. dan Rasa Vokabuler gerak Istri (SW) Bahasa Nonverbal Vokabuler gerak Suami (SL) Pola lantai Iringan Hubungan Langsung Hubungan Tidak Langsung Srepek Rangurangu lr. Kasmaran: tangan kanan tangan kanan . dengan harapan mendapat Lumaksono ridhong Lumaksono ridhong Garis lurus Gong: 2 perhatian demi terjalinnya kasih cinta untuk harmonis Keterangan 1 Pasihan/ Percintaan.247 Komposit Bahasa Verbal dengan Nonverbal Tari Bondhan Sayuk. ungkapan cinta yang mendalam seorang suami Rasa Kebersamaan Srisik kanthen Srisik kanthen Garis lurus Gong: 1 terhadap istrinya. pl. No Bahasa Verbal Sastra Tembang Tema. Adegan. barang.

pt. pl. aja gawe kagol . wong sembahan. tangan kanan. sekaran nyabet laras kebyokan kanan. besut tangan Posisi di tempat Gong: 1 Dhuh mas rara. barang. Garis lengkung Gong: 2 Gong: 3 V - garwaku berdiri kebyokan gajah-gajahan. besut enjer menthang tangan kiri. kanan.248 Srisik tangan laku kanthen Srisik kanthen Garis lengkung Gong: 3 sebuah rumah tangga. Rasa kecewa jengkeng. sindhet Ketawang Mijil Sulastri lr. tangan kanan-kiri songgonompo. mbalang. manis. Hoyogan.

3. pl. barang srisik kanthen srisik kanthen Garis lengkung Gong: 1 tangan kanan tangan kanan tawing kiri dan tanjak tawing kiri laku enjer Garis lurus Gong: 2. maju endhan sautan/nubruk jeblosan dan Gong:5 V - rasaningtyas mami. Binerkahan ugi. lincak gagak.249 Amung sira yekti Rasa mesra sulistyane gerak kengser dan ngaras kengser dan ngaras Gong: 4 V - Jumbuh klawan lincak mbalik gagak. Prasetya ingong wak dan jeblosan Lancaran lr. pt. dan 4 Rasa tegang srisik sampur kipat srisik kedua tangan ditekuk pinggang trap Garis lurus Gong: 5 .

10. dan 7 nyabet kanan maju srisik Gong: 8 Srisik sambil menimang anak mundur srisik.250 Gong: 6 mundur kengser. dan 11 . maju tanjak kanan Gong: 9.

seorang istri mempunyai peranan cukup penting dalam baya iki wis wanci. tangan kiri memegang bahu istri dan tangan kanan memegang anak sambil memperhatikan dengan tawing kanan Garis lengkung V n keharmonis an keluarga. putar ke kanan.251 2 Jineman Ladrang Sayuk Dalam menciptaka Dhuh mas jiwaku. putar ke kiri – tangan kanan ukel karno maju panggel dan pandangan mengarah ke putri dan anak Garis lengkung V mendukung tugas dan kewajiban peran suami sebagai kepala keluarga. mbalik tawing kanan Ukel karno kanan Garis lengkung V - . bapakne si thole. Rasa mesra Menimang anak maju. lembehan tangan kanan.

pl. maju mendekati suami lumaksono V - Sakdurunge anakmu mrene. tawing kiri-kanan menimang-nimang anak Garis lengkung Ladrang Sayuk lr. bahagia. mbesuk mesra. nyambut gawe . panggel V - Mbokne thole. gawanen maju srisik mendekati suami untuk memberikan anaknya mendekat untuk menerima anaknya Garis lurus V - Tak kudange anaku Rasa sing bagus dhewe. pt. membelai anak (berupa boneka anak) Srisik mendekat istri V - sawahmu hanganti tansah tawing kanan.252 mangkat makarya. barang V - kebersamaan. dan pinter gembira.

253 adhuh lae. sesongaran disingkirke adhuh lae. adhuh lae. dasar bregas ten atene adhuh lae. cukat tumandange adhuh lae. atak Menerima anak memberikan anak kepada istri trampil Garis lengkung Kenong: 2 V laki-laki yang masih dalam timangan supaya adhuh lae. atak Menimang anak lilingan Garis lengkung Kenong: 4 (Gong : 1) V baik mengutama kan kebajikan. atak Menimang anak lilingan Garis lengkung Kenong: 1 V dan mengutama kan tua adhuh lae. kerja keras. atak Menimang anak menthang tangan kiri – ogekan tajem Garis lengkung Kenong: 3 V kelak menjadi seorang yang berperilaku adhuh lae. labuh labet mring . kawilan lumaksono putar Garis lengkung Kenong: 1 V Harapan orang terhadap anaknya adhuh lae. atak Lumaksono lembehan sampur. anteng polatane adhuh lae.

ora srisik Lumaksono Garis lurus V kepentingan umum untuk membangun bangsa. nleweng tumindake adhuh adhuh mbokne anake lae.wis enyoh memberikan anak kepada temanten. pt. srisik lumaksono Kenong: 3 V - sun arsa mangkat megawe 3 lancaran Sayuk lr. atak lae.254 bangsane Kenong: 2 adhuh adhuh lae. Gerongan Sayuk pl. atak lae. barang .

sayuk. nyambut gawe Laku telu sampir sampur Laku telu pondhongan Garis lengkung Gong: 5 Gong: 6 - V secara bersamasama untuk membina dan Sayuk. Sayuk. bahagia Trap tawing jamang - Luluran Garis lengkung Gong: 1 Gong: 2 - V Gambaran kehidupan sebuah keluarga yang rukun. sak kancane Sayuk. sayuk. mbangun Enjer ridhong Enjer ridhong Garis lengkung Gong: 7 Gong: 8 - V mendidik anak kelak menjadi orang yang Lilingan kebyok Lilingan kebyok Garis Gong: 9 V berguna . sayuk. nyambut gawe Rasa gembira. dan berupaya menjalani kehidupan Sayuk. sayuk.tawing Tawing kiri Garis lengkung Gong: 3 Gong: 4 - V harmonis. sayuk.255 sayuk. sayuk. sayuk. sakabehe Sayuk negarane mbangun Kawilan . sayuk. sayuk. sayuk. damai. sak kancane Sayuk. sayuk. sayuk. sayuk. sakabehe Sayuk negarane Sayuk. sayuk.

. Sayuk. sayuk. barang Srisik kanthen Srisik kanthen tangan kanan dan mengambil anak Garis lurus tangan kanan dan mengambil anak Lumaksono sambil menimang anak sebagai Lumaksono sebagai cucuklampah temanten (selesai). Garis lurus cucuklampah temanten (selesai).256 sak kancane Sayuk. sayuk. nyambut gawe sampur sampur lengkung Gong: 10 bagi bangsa dan negara. pl. sayuk. sayuk. pt. sakabehe Sayuk negarane mbangun Enjer penthangan kedua melingkar tangan Enjer penthangan kedua tangan melingkar Garis lengkung Gong: 11 Gong: 12 - V Ayakayakan lr.

Adapun persentasenya dapat dicermati pada uraian berikut. Sedangkan hubungan bahasa verbal dan nonverbal bersifat tidak langsung artinya bahwa makna bahasa verbal sastra tembang tidak sesuai dengan makna bentuk kinetic body moves. Boneka anak yang dibalut dengan sehelai kain dimaksudkan sebagai simbolisasi anak (bayi) yang masih dalam timangan seorang ibu. 75 %. Boneka anak yang sering 257 . dan III Langsung Tidak langsung 18 6 24 jumlah Jumlah hubungan langsung dan tidak langsung = 18+ 6 4 5 Jumlah persentase hubungan langsung = 18: 24 X 100. II. Tari Bondhan Sayuk No Adegan Hubungan bahasa verbal dengan nonverbal 1 2 3 I. II. dan III I. Properti boneka. 25 % 7.Dari komposit bahasa verbal dan nonverbal pada tari Bondhan Sayuk terdapat hubungan yang bersifat langsung dan tidak langsung. Hubungan bahasa verbal dan nonverbal bersifat langsung artinya bahwa makna bahasa verbal sastra tembang sesuai dengan makna bentuk kinetic body moves dari bagian bahasa nonverbal. Secara kuantitatif hubungan bahasa verbal dan nonverbal pada tari Bondhan Sayuk yang bersifat langsung tampak lebih mendominasi dibandingkan dengan yang tidak langsung. Jumlah persentase hubungan tidak langsung = 6: 24 X 100. Rupanya terdapat sebuah harapan dari simbolisasi boneka anak tersebut yaitu bagi pasangan temanten untuk segera diberi keturunan anak sebagai pewaris keluarga.

Digunakannya boneka pada tari Bondhan Sayuk sangat terkait dengan keinginan atau harapan seniman penyusunnya yang ketika itu menghendaki diberi anak pertama lahir seorang anak laki-laki. Untuk mengungkap latar belakang munculnya genre tari pasihan dalam kurun waktu sejarah. prasasti Balitung juga memberi keterangan bahwa pertunjukan 258 . Munculnya genre tari pasihan sebagai proses sejarah merupakan permasalahan yang hendak dipaparkan sebagai awal bagian faktor genetik untuk mengantar pada analisis-analisis berikutnya. akan diamati sejak adanya bentuk garapan tari dengan tema percintaan sejak abad ke VIII zaman Mataram Kuno hingga sekarang. hal ini untuk kebutuhan kemasan seni pertunjukan supaya lebih menarik dan memikat penonton. Faktor Genetik. Semua berawal dan berakhir dalam suatu proses yang terus menerus melalui dimensi waktu (Ibrahim Alfian. Bila kita runut lebih cermat. 1999: 2). Selain wayang. garapan tari yang bertemakan percintaan di Jawa diperkirakan telah ada sejak abad IX.digunakan dalam tari Bondhan Sayuk dilengkapi dengan baterai sehingga dapat bersuara layaknya anak yang sedang menangis. seperti yang tertulis pada prasasti Balitung. Kehadiran genre tari pasihan di Surakarta merupakan suatu proses yang memakan waktu cukup lama dalam sejarah yang penting bagi kehidupan dan perkembangan seni tradisional dalam seni pertunjukan Jawa. Kehadiran Genre Tari Pasihan Dalam Seni Pertunjukan Jawa Segala sesuatu yang dihadapi manusia dimuka bumi ini dalam kehidupannya semua mempunyai temporalitas atau historisitas. B. Masa embrio tari pasihan sejak Abad ke VIII sampai abad ke XIX.

Setelah Kerajaan Mataran Kuna di Jawa Tengah runtuh.D. di Jawa Timur muncul kerajaan-kerajaan. Singasari. Mengingat di dalam wiracarita Ramayana dan Mahabarata juga diwarnai oleh tema percintaan. dramatari Jawa Tengah yang bernama wayang wwang tetap dilestarikan di kerajaan-kerajaan baru tersebut dengan membawakan wiracarita yang sama yaitu Ramayana dan Mahabarata. kemungkinan besar bentuk garapan tari yang bertemakan percintaan juga sudah ada sejak zaman itu. Kediri.dramatari yang membawakan wiracarita Mahabarata dan Ramayana juga sudah ada sejak zaman Mataram Kuna. 1990: 4-5). dan sebagainya. percintaan Puntadewa dengan Drupadi. Jenggala. yang tergores dalam prasasti Wimalasrama dari Jawa Timur. percintaan Rama Wijaya dengan Sinta. di antaranya Medang. Adapun cerita Panji ini mengisahkan perjalanan cinta Panji 259 . Bertolak dari sumber yang menyebutkan bahwa wayang wwang merupakan bentuk dramatari dan wiracarita yang dibawakan sejak zaman Mataram Kuna. Meskipun istilah dramatari tidak disebutkan. tetapi kemungkinan besar yang dipergunakan pada waktu itu adalah bentuk wayang wwang. percintaan Arjuna dengan Sembadra. seperti adegan percintaan Sugriwa dan Dewi Tara. Gaya dan tehnik tarinya yang digunakan kemungkinan besar telah terekam pada relief Candi Borobudur dan Prambanan (Soedarsono. Istilah wayang wwang baru dijumpai pada tahun 930 A. maka lahir pula dramatari baru yang bernama Raket (Soedarsono. dan Majapahit (abad X sampai ke XVI). Rupanya sudah dapat diduga bahwa dalam kedua wiracarita tersebut terdapat adegan percintaan antara tokoh-tokoh utamanya. kemudian muncul cerita baru yaitu cerita Panji. Mengingat zaman Jawa Timur perkembangan kesusasteraan sangat maju. 1990: 7).

Inukertapati dengan Sekartaji. Pajang. 1999: 133). dan kemudian Mataram Baru. Dengan demikian Raket merupakan bentuk dramatari yang bertemakan percintaan yang didalamnya sudah barang tentu terdapat garap adegan percintaan antara Panji Inukertapati dengan Sekartaji yang hidup dan berkembang pada zaman Majapahit. Runtuhnya Kerajaan Majapahit diawali abad ke XVI. maka tidak dapat disangkal lagi bahwa cerita Panji berasal dari Jawa. Bila wiracarita Ramayana jelas berasal dari India. dan wayang topeng kemungkinan besar merupakan perkembangan dari Raket. 1999: 18-19). kekuasaan politik dan budaya Jawa mulai muncul dan berkembang di Jawa Tengah di bawah rajaraja penganut Islam seperti Demak. para wali terutama Sunan Kalijaga yang selalu dikatakan sebagai pencipta topengtopeng yang dipergunakan untuk pertunjukan wayang topeng. wayang. Gunungsari. Cerita Panji ini menjadi mendarah-daging di kalangan masyarakat Asia Tenggara karena kemudian dianggap sebagai salah satu cerita Jataka atau kelahiran Budha (Soedarsono. Maka tidaklah mengherankan apabila cerita Panji ini juga merupakan tema yang digunakan dalam genre tari pasihan yang hidup dan berkembang hingga sekarang. Adapun topeng yang diciptakan untuk pertunjukan wayang topeng terdiri dari sembilan. Gamelan. Benco (sekarang Tembem atau Doyok). Klana. Andaga. Cerita Panji merupakan cerita yang sangat terkenal di wilayah Asia Tenggara. tetap populer pada masa itu. Raton. Danawa (raksasa). dan Turas ( sekarang Penthul atau Bancak) (Soedarsono. Menurut tradisi Jawa. yaitu tokoh-tokoh: Panji Kasatriyan. Kiranya dapat diduga bahwa wayang topeng tersebut merupakan bentuk dramatari yang menggunakan topeng dan membawakan cerita Panji yang di dalamnya tetap masih terdapat garap 260 . Candrakirana.

tetapi menggubah satu bentuk dramatari baru yaitu wayang wong dengan membawakan wiracarita Mahabarata dan kemudian di Kasunanan di bawah pemerintahan Paku Buwana X. maupun peran-peran lain. Kasultanan Yogyakarta di bawah Hamengku Buwana I. bahwa tari Gatutkaca-Pergiwa itu telah muncul sebelum Indonesia merdeka tahun 1945 (Maryono. Pertunjukan Wayang Wong dengan lakon-lakon Nayarana Rabi.adegan percintaan antara Panji Kasatriyan dengan Candrakirana yang dilestarikan pada zaman Mataram Jawa Tengahan (abad ke XVI sampai abad ke XVIII). Bedaya Ketawang. dan Wayang Wong. masih terikat dan terkait dengan kelompok. Bedaya kadukmanis. Puntadewa Rabi. 2006: 19). tidak melestarikan wayang topeng. Tari Gatutkaca-Pergiwa adalah bentuk tari pasihan yang merajut percintaan antara Raden Gatutkaca dengan Dewi Pergiwa. bentuk garapan tari yang membawakan tema percintaan tetap lestari dan terdapat pada bentuk Tayub. menunjukkan bahwa garapan tari dengan tema percintaan masih dilestarikan dan cukup berkembang baik (Rusini. Baladewa Rabi. Munculnya Tari pasihan sejak 1920-1945. adegan. Menurut Tohiran dan Sarwo Rini. Mencermati bentuk-bentuk garapan tersebut rupanya bentuk garapan tari pasihan sejak zaman Mataram Kuna di Jawa Tengah (abad ke VIII ) hingga zaman Mataram Baru di bawah pemerintahan Paku Buwana X ( abad ke XIX). Ketika Mataram pecah menjadi dua yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta pada tahun 1755. 1994: 2-3). dan Gatutkaca Rabi pada acara memeriahkan perkawinan Puteri Juliana dengan Pangeran Bernhard van Lippe Biesterfeld tahun 1937 di Sriwedari. Baru pada sekitar tahun 1940-an muncul tari GatutkacaPergiwa. 261 . pertunjukan wayang topeng masih dilestarikan oleh Kasunanan Surakarta.

antara lain Gatutkaca Gandrung. Munculnya tari GatutkacaPergiwa diperkirakan pada sekitar tahun 1920 hingga 1945-an yang berarti pula merupakan awal munculnya tari pasihan di Surakarta. berita mengenai pertunjukan wayang wong dengan lakon-lakon rabi atau kromo (kawin) banyak bermunculan pada tahun 1920-an ketika wayang wong mengalami perkembangan pesat di masa pemerintahan Hamengku Buwana VIII. nomor: 262 . Klono. ketiga. Bambangan-Cakil. dan sebagainya. Hal ini berdasarkan rekaman video tari yang menggambarkan percintaan Raden Irawan dengan Dewi Wanuhara tersebut merupakan rekaman sebagian dari adegan percintaan yang terdapat dalam wayang wong lakon Sri Suwela. Di samping itu wayang wong di Surakarta juga telah membawakan lakon-lakon rabi seperti Gatutkaca Rabi terjadi pada tahun 1937. Anoman-Anggada. Gatutkaca-Sekipu. pernyataan Maridi yang mengungkapkan bahwa tari-tari yang sering pentas pada acara-acara orang punya kerja pada tahun 1940-an. Kiranya hal ini dapat diterima karena pertama. Bondan.Tari pasihan ini dapat diduga merupakan sempalan dari sebuah garapan wayang wong yang membawakan lakon Gatutkaca Rabi. jadi bukan garapan tari pasihan yang sudah mandiri (lihat video wayang wong: koleksi ASKI sekarang ISI Surakarta. pernyataan Tohiran sebagai pengelola wayang wong dan Sarwo Rini sebagai seniman pada waktu itu menyatakan bahwa tari Gatutkaca-Pergiwa itu sudah ada sebelum Indonesia merdeka tahun 1945. kedua. Janger (dari Bali). Rupanya tidak benar apabila ada berita yang menganggap bahwa tari pasihan Raden Irawan dengan Dewi Wanuhara merupakan tari pasihan yang pertama kali muncul di Jawa pada tahun 1920-an. yaitu untuk merayakan perkawinan Puteri Juliana dengan Pangeran Bernhard van Lippe-Biesterfeld di Sriwedari.

muncul genre baru yaitu genre tari pasihan. Surakarta menyajikan tari pasihan ‘Rara Mendut-Pranacitra’. Kehidupan kesenian dalam kurun waktu tahun 1942-1949. Sekar putri. Munculnya Genre Tari pasihan sejak 1956-1962. Dewi Serang. Menurut Soedarsono kehadiran genre tari pasihan ini terpacu oleh munculnya tari Oleg Tambulilingan yang merupakan satu-satunya tari duet percintaan di Bali yang telah muncul pada tahun 1952. Pada pertemuan di Pura Mangkunegaran masing-masing peserta menyajikan tari-tarian menurut gaya yang dimiliki. dan tari Samba. dan selama perang kemerdekaan hampir semua kegiatan diorientasikan untuk memenangkan perang. Di samping itu perubahan-perubahan sosial yang terjadi dalam 263 . sedangkan Bandung menyajikan tari-tarian seperti: tari Puja. Golek Reneka. Yogyakarta. Panji. Yogyakarta menampilkan tari pasihan ‘Bahula-Retna Manggali’.108). Graeni. kesinambungan dari pertemuan pertama di Yogyakarta. Akan tetapi garap tari dengan tema percintaan tersebut lebih sebatas memberi gambaran tentang bentuk embrio tari pasihan yang terdapat di dalam wayang wong. dan Bandung. Pertemuan budaya tiga kota ini merupakan pertemuan ke-2. Pada peristiwa budaya tahun 1956 di Pura Mangkunegaran yang lebih dikenal dengan sebutan pertemuan tiga kota yaitu Surakarta. dapat dikatakan bahwa dalam periode itu hampir tidak ada kegiatan-kegiatan yang berarti. Pamindo. Hal itu disebabkan pemerintahan Jepang melarang setiap kegiatan berkumpul. Sulintang. Selain itu. Kupu-kupu. tampaknya munculnya genre tari pasihan di Jawa akibat peralihan kekuasaan dari pemerintahan kerajaan ke pemerintaahan republik yang lebih mengutamakan caracara demokrasi. Srigati.

Rupanya tari Satya Bakti merupakan hasil interpretasi terhadap kesadaran bela negara yang saat itu sudah mulai memudar di kalangan masyarakat.masyarakat mempunyai peran yang cukup besar dalam membentuk dan mempengaruhi lahirnya genre tari pasihan saat itu. muncul tari duet Satya Bakti yang membawakan tema percintaan dan perjuangan. Bondhan Tani merupakan tari pasihan yang menggambarkan pasangan suami dan istri di dalam kebersamaannya mengolah sawah sebagai lahan pertanian. Pada masa itu muncul tari yang menggambarkan kehidupan rakyat kecil seperti tari Tani. dan sebagainya. Rupanya bentuk-bentuk tari yang sifatnya masal dan bertemakan kerakyatan. yaitu masing-masing organisasi politik saling mencurigai dan mulai berebut massa untuk menguasai pemerintahan. menanam padi hingga mengambil hasilnya (memanen) dilakukan secara gotong royong oleh sepasang suami-istri. Sekitar tahun 1962. Hal ini terjadi akibat situasi politik negara yang mulai rawan. bentuk-bentuk kesenian yang mampu untuk mempengaruhi massa seperti Ketoprak dan Ludruk menjadi rebutan dua partai besar yaitu Partai Nasional Indonesia (PNI) dan Partai Komunis Indonesia (PKI). anti feodalisme yang dikembangkan PKI hidup subur. situasi negara betul-betul semakin genting. muncul tari Bondhan Tani yang disajikan secara berpasangan dengan mengacu tema percintaan. akibatnya seni yang berasal dari istana terdesak bahkan dimusuhi karena dianggap tidak merakyat dan tidak dapat untuk menarik massa. Masa menjelang tahun 1965. tari Gotong-royong. Pada tahun 1959. Berawal dari menggarap sawah. tari Nelayan. Maka wajar apabila bentukbentuk tari duet percintaan yang sudah ada tidak dapat berkembang karena pada 264 .

politik. ekonomi. itu semua tidak dapat disangkal telah mempengaruhi pola pikir hubungan antar remaja. sehingga pembangunan dari berbagai bidang mulai digerakkan untuk mencapai tujuan masyarakat adil dan makmur. Masing-masing di antara mereka secara aktif dan berani memutuskan pilihannya sendiri bahkan menolak jika memang dirasa tidak cocok ataupun tidak sesuai dengan kehendaknya. Pembangunan nasional mulai terprogram secara periodik dan memiliki arah. baik yang berujud buku-buku porno. para politisi wanita semakin diperhitungkan dalam elite politik. dan para ekonom wanita serta wanita-wanita karier hadir hampir pada semua sektor publik. Masing-masing mempengaruhi pola pikir hubungan antar remaja. Hal itu tidak terlepas dari kondisi stabilitas keamanan yang berangsur-angsur mulai pulih dan terkendali serta kembali normal. baik hukum. Tentu saja faktor-faktor itu semua mempengaruhi bangkitnya genre tari duet percintaan untuk lebih bergerak hidup dan berkembang dalam menyongsong kebutuhan hidup masyarakat. Kemitrasejajaran yang menyangkut kedudukan wanita dengan laki-laki tampak semakin meningkat dalam berbagai aspek. 265 . yaitu kebebasan individu mulai dijamin. terjadi perubahan tatanan politik sangat kuat yang kita sebut Orde Baru. dan jangkauan yang jelas dan transparan.dasarnya tari-tarian duet percintaan yang menjadi genre ini merupakan tari-tarian tradisional yang mengacu pada tarian istana. Pengaruh budaya Barat. film-film cinta hingga film yang berbau porno dan juga mode-mode pakaian yang cenderung pamer tubuh. dan lainnya. tujuan. Banyak praktisi hukum wanita mulai bermunculan. maka mulai bermunculan karya-karya individual. Setelah tahun 1965. sehingga kemitrasejajaran antara kaum wanita dan kaum pria mulai tampak.

Awalnya bagi penanggap dan kebanyakan masyarakat tidak memahami tari Karonsih. Penampilan perdana oleh Maridi sebagai Panji Inu Kertapati dan Endang Susilawati membawakan peran Sekartaji.Pada Tahun 1970 S. baik mengenai koreografi. Rasanya menjadi kurang utuh apabila dalam acara resepsi perkawinan tidak hadir tari Karonsih sebagai penutup pesta tersebut. sehingga asal melihat tari-tarian yang berbentuk duet percintaan semotif Karonsih. Lambangsih. rias. dan garap iringannya. tahun 1969 dalam rangka peresmian Yayasan Kesenian Indonesia ( YKI ). 266 . menurut Wahyu Santoso Prabowo sebagai penari tari Karonsih yang telah dimulai sejak tahun 1973 yaitu munculnya istilah ‘Karonsihan’. Keberadaan tari Karonsih dalam budaya Jawa sejak tahun 1970 telah menjadi bagian yang seolah-olah tidak dapat dipisahkan terutama pada acara-acara upacara perkawinan. Pada awalnya tari Karonsih disusun berdasarkan fragmen Topeng Klono Bodo yang telah diciptakan Maridi. Indikasi yang dapat diamati hingga sekarang. tari Karonsih ini disusun atas permintaan dari panitia resepsi Ibnu Harjanto dari Kalitan (Maryono. busana. Maridi sebagai seorang seniman yang kreatif menawarkan hasil karyanya yang berbentuk tari duet percintaan yaitu Karonsih. 1991: 2). Tari Karonsih adalah salah satu tari duet percintaan antara tipe karakter putri luruh dengan putra alus yang bersumber pada cerita Panji. tari Karonsih mengalami perkembangan yang sangat pesat. Bentuknya sangat lekat dengan bentukbentuk tari tradisional gaya Surakarta. Pada awalnya. Dengan semakin seringnya tampil di acaraacara resepsi perkawinan. Kehadiran tari Karonsih menjadi sangat penting karena pada perkembangannya bahwa tari Karonsih ditempatkan sebagai sarana upacara perkawinan yang memiliki nilai simbolik terhadap sepasang temanten. seperti : Driasmara.

tari Bondhan Sayuk lebih tepat untuk gambaran sepasang temanten 267 . 2006: 28). Jakarta. yang lebih mengarah pada perjalanan hidup sepasang manusia dari kalangan rakyat. Menurut Sunarno. Karya tari Bondhan Sayuk disusun oleh Sunarno pada tahun 1979. Pengaruhnya dapat dilihat dengan munculnya berbagai bentuk tari duet percintaan. dan tari Kusuma Aji. tari Jayaningrat. tari Karonsih lebih awal hadir di dalam upacara-upacara perkawinan adat Jawa dan berkembang pesat hingga dijadikan sebagai bagian upacara ritual perkawinan karena dianggap mempunyai nilai simbolik yang tinggi terutama bagi kelangsungan kehidupan sepasang mempelai. Langen Asmara.Enggar-enggar. tari Setyaningsih. tari Enggar-enggar. tidak terkecuali juga Karonsih dan lainnya. tari Lambangsih. tari Driasmara. Kehidupan Karonsih menyebar meluas di wilayah Pulau Jawa. mempunyai pengaruh cukup besar yaitu telah dapat memacu dan memotivasi terhadap seniman-seniman di kalangan tradisional. dan Jawa Timur. mereka akan menyebutnya tari Karonsihan (Maryono. Tema yang diangkat menggambarkan percintaan manusia secara universal. tari Kusuma Ratih. dandanan busana. terutama di daerah Jawa Tengah. Kehadiran tari Karonsih di tengah-tengah kehidupan masyarakat dan telah menjadi bagian dari kebutuhan sosialnya. Secara objektif perkembangannya dapat dicermati pada struktur sajian. gerak. Yogyakarta. tari Bondhan Sayuk. seperti : tari Endah. Selain itu. tari Langen Asmara. sehingga tari Karonsih ini telah mengakar pada masyarakat Jawa yang dalam kehidupannya banyak dipenuhi halhal yang berbau simbolik. iringan. dan properti. tari Gesang Rahayu. Selain itu penyebaran tari Karonsih mengalami kemajuan sangat pesat sejak tahun 1970 hingga sekarang.

Keinginan tersebut rupanya diridhohi oleh Sang Pencipta. namun tidak semua saat peralihan itu dianggap sama pentingnya pada tiap-tiap budaya. yaitu peralihan dari tingkat hidup remaja ke tingkat hidup berkeluarga. 2008). Gagasan awal terciptanya tari Bondhan Sayuk adalah sebuah ekspresi pribadi Sunarno yang menginginkan anak laki-laki untuk putera pertamanya. Pesta dan upacara pada saat peralihan sepanjang life-cycle itu merupakan suatu hal yang universal yang hampir ada pada setiap budaya manusia. Meluasnya sebaran genre tari pasihan tidak terlepas dukungan iringan kaset yang banyak dijual di toko-toko serta eksisnya para penari di berbagai kesempatan dalam rangka memenuhi kebutuhan sosial masyarakat. 268 . Dalam perjalanan waktu tari Bondhan Sayuk sangat diminati oleh masyarakat hingga sekarang. yang pertama merupakan hiburan yang tepat dalam sebuah resepsi perkawinan dan kedua dimaknai sebagai simbolik sepasang suami dan istri yang hidup bahagia yang layak untuk diteladani sepasang temanten. Sifat universal pesta dan upacara sepanjang lifecycle terjadi karena adanya suatu kesadaran secara umum di dalam budaya manusia. bahwa setiap tingkat baru dalam life-cycle itu berarti menghantarkan si individu ke suatu tingkat dan lingkungan sosial yang baru dan lebih luas. Perkawinan merupakan salah satu dan suatu saat peralihan yang terpenting pada life-cycle dari semua manusia di seluruh dunia. Perkembangan genre tari pasihan bagaikan cendawan dimusim penghujan ini tidak terlepas dari tangan-tangan kreatif para koreografer tari seperti Maridi dan Sunarno.maupun sebuah keluarga baru yang belum memiliki anak (wawancara. anak pertama laki-laki bahkan anak kedua juga laki-laki dan anak ketiganya baru putri.

kedamaian. Demikian halnya yang terjadi pada budaya masyakat Jawa di dalam melangsungkan sebuah upacara adat perkawinan. Kesakralan itu sesuai dengan pendapat Soedarsono mengenai hal-hal yang dianggap penting dalam suatu upacara ritual yaitu waktu. 1990: 4). tidak menentu. Berkaitan dengan tindakan simbolik dan magis simpatetis bagi masyarakat Jawa dalam 269 . mengingat upacaraupacara pada masa-masa melampaui saat-saat krisis sering dimaksudkan untuk menolak bahaya gaib yang mengancam individu dan lingkungan.Di dalam aktivitas budaya manusia ada yang menganggap bahwa saat peralihan dari tingkat sosial tertentu ke tingkat sosial lainnya itu merupakan crisisrites yang penuh bahaya. pelaku. dan ragu-ragu (Darsiti Soeratman. perlengkapan. gawat. Periode transisi tersebut juga disebut periode liminal yang merupakan fase tengah dalam skema ritus transisi dari praliminal untuk menuju pascaliminal. mereka takut tertimpa malapetaka (Soedarsono. Bagi masyarakat Jawa yang masih lekat dengan budayanya. dan kebahagiaan hidup. suritauladan yang bermakna untuk keselamatan. Untuk itu crisis-rites bagi seorang liminal sangat penting. 1989: 157). Dalam periode liminal ini seorang liminar berada dalam keadaan setengah-setengah. segala ritual yang menyangkut dengan perjalanan hidupnya banyak diselimuti dengan simbolsimbol yang diharapkan dapat memberikan petuah. dan pimpinan upcara tertentu. Bagi masyarakat Jawa upacara tersebut merupakan sebuah upacara yang sangat sakral sepanjang daur hidupnya. baik secara nyata maupun gaib (Koentjaraningrat. tempat. sebaliknya jika pelaksanaan tidak mentaati konvensi-konvensi yang telah berlaku. 1972:89-90). pendidikan. Ketentuan-ketentuan yang telah berlaku dalam upacara tersebut mereka yakini jika dilaksanakan dengan taat dan benar membawa berkah dan keselamatan.

. tindakan yang dapat melambangkan terjadinya pembuahan. 1969: 21). Stamping with the right foot and singing. berkembang menuju masyarakat modern. (dalam Richard Kraus... the jump among the women – the knock the phalli one against another.. penuh simbolis dan mengandung makna nilai-nilai percintaan yang sangat berarti bagi kehidupan. yakni adanya hubungan antara pria dan wanita. dilakukan secara simbolis.perkawinan. diperlukan kekuatan-kekuatan tertentu. Salah satu sarana upacara perkawinan adat Jawa yang cukup penting adalah tari pasihan.. Pernyataan tersebut sejalan dengan pendapat Koch Grundberg yang menggambarkan sebuah tari kesuburan dari suku Indian Coneba di Brasil. 1991: 35). Kekuatan tersebut antara lain berupa magis simpatetis yang diwujudkan dengan tindakan atau perbuatan yang dapat melambangkan terjadinya pembuahan. untuk mendapatkan kesuburan dengan cara menanggap jenis tari duet percintaan atau tari pasihan yang merupakan tarian kesuburan yang diekspresikan lewat sebuah garapan gerak-gerak presentatif dan representatif. they dance with the upper part of their bodies bent forwards. 270 sudah mengakar pada budaya .. They carry the vertility into every corner of the houses. Hubungan dimaksud pada masyarakat yang masih melestarikan budaya purba kadang-kadang dilakukan lebih realistis (Soedarsono dalam Soedarso.. Suddenly they jump wildly along with violent coitus motions and loud groans.. Hal ini terbukti pada masyarakat Jawa sekarang yang sudah mengalami kemajuan. yang diekspresikan para penari dengan membawa gambar tiruan organorgan wanita dengan cara sebagai berikut. Rupanya. Hampir dapat dipastikan bahwa pada setiap upacara perkawinan akan hadir tari pasihan.. yakni adanya hubungan antara pria dan wanita. Pada masyarakat yang sudah lebih maju. Mereka dalam melakukan upacara perkawinan.

lewat komplementer bahasa verbal dan nonverbal. Kehadiran genre tari pasihan pada ritual upacara resepsi perkawinan merupakan bahasa komunikasi seorang seniman terhadap penghayat. ia menciptakan sebuah karya dengan harapan dapat dihayati. baik secara simbolik maupun sebagai santapan estetis terasa menyatu dengan situasi upacara. Konsepsi Bahasa Verbal dan Nonverbal Tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk. Bagaimanapun acuhnya seorang seniman nampaknya terhadap publik. 271 . untuk itu dibutuhkan kecermatan dan kreatifitas seorang seniman dalam menciptakan karya tari yang mencakup bahasa verbal dan nonverbal. mengingat merupakan satu-satunya bentuk sajian tari yang bermakna. yaitu pada setiap ada acara upacara perkawinan akan hadir tari pasihan yang hendak diteladani oleh kedua mempelai. Wujud penghargaan adalah dapat diterimanya karya tari tersebut oleh masyarakat. Karya tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk merupakan media aktualisasi bagi seniman dalam realitas masyarakat sebagai sarana ekspresi jiwa untuk diinteraksikan kepada publik untuk menggapai sebuah cita-cita dan pemenuhan akan kebutuhan hidup. Peristiwa budaya ini membuat kehadiran tari pasihan dalam upacara perkawinan sangat ditunggutunggu masyarakat. Pemilihan bahasa verbal dan nonverbal rupanya mengalami proses penyeleksian yang ketat dengan harapan dapat dihayati oleh penonton. Ekspresi diri semata tidak akan memuaskan.masyarakat Jawa. Sebagai media komunikasi genre tari pasihan diharapkan mampu menyampaikan pesan. maka dibutuhkan olehnya juga sebuah penghargaan.

dan memerintah dapat menyampaikan makna bahasa verbal sastra tembang yang berupa nasehat-nasehat cinta tersebut dapat ditangkap penghayat. Secara intern jenis-jenis tindak tutur yang terdapat dalam tari pasihan menggambarkan tentang nasehat-nasehat cinta kasih dan secara ekstern diharapkan oleh seniman penyusun jenis-jenis tindak tutur direktif yang mendominasi dalam bahasa verbal yang sifatnya mengajak. No Penutur Teks Verbal Sindhenan Pangkur Ngrenas Jenis tindak tutur Pemarkah Situasi 1 Dewi Sekartaji Dhuh jagad dewa bathara Welasa mring dasih kang nandhang kingkin Tinilar garwa satuhu 272 Patik Dhuh jagad formal 2 Dewi Sekartaji Direktif mring dasih formal 3 Dewi Asertif satuhu formal . konsep yang mendasari tentang dominasi jenis-jenis tindak tutur direktif yang terdapat pada tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk adalah terkait dengan fungsi bahasa verbal yang terdapat dalam tari pasihan utamanya untuk suritauladan. dominasi tindak tutur direktif yang terdapat dalam tari pasihan tersebut sangat diperlukan supaya makna keteladanan dapat lebih menyentuh dan cepat ditangkap penghayat khususnya sepasang temanten. meminta.Berdasarkan informasi dari seniman penyusun. Bentuk-bentuk dominasi jenis tindak tutur direktif dalam bahasa sastra tembang tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk. Untuk itu bagi seniman penyusun. dapat dicermati contoh berikut ini: Jenis Tindak Tutur (TT) yang melekat pada Sindhenan Pangkur Ngrenas.

Sawahmu anganti. tansah Patik dhuh mas formal Direktif Asertif Direktif Asertif baya iki bapakne mangkat Sawahmu formal formal formal formal Asertif Mbokne formal 273 . mangkat makarya. Bapakne sithole.Sekartaji 4 Dewi Sekartaji 5 Dewi Sekartaji 6 Dewi Sekartaji Ulun dhahat teka Direktif Ulun dhahat datan Direktif formal formal Dadya gantilaning tyas Direktif dadya formal aginggang sarambut Kalamun pinanggya datan 7 Dewi Sekartaji Aluwung tumekeng lalis Komisif Aluwung formal Jenis Tindak Tutur (TT) yang melekat pada Jineman Sayuk No Penutur Bahasa Verbal Jineman Sayuk Jenis tindak tutur Pemarkah Situasi Wanita (W) Dhuh mas jiwaku. 6 L Mbokne thole. 1 dan Lakilaki (L). 2 3 4 5 W W W W baya iki wus wanci.

Jineman Sayuk. setya. guru lagu. prasetya. dan mas jiwaku. kata dalam irama dan tekanan dengan dengan watak lagu tentang nasehat-nasehat cinta. asih tresna. Kinanthi Sandhung memiliki rasa lagu romantis yang lebih tepat untuk memberikan nasehat-nasehat tentang cinta kasih. Kinanthi Sandhung. wanodya di.Mijil Sulastri. sulistyane. Bahasa verbal yang berupa tembang-tembang cinta tersebut dapat dicermati dari penggunaan kata-kata cinta. garwa. Jenis-jenis tembang tersebut memiliki watak atau rasa lagu yang bernuansa percintaan. mustikaning. aginggang sarambut. Ekspresif bagus formal 9 L Mbesuk nyambut gawe. pinter Direktif mbesuk pinter formal Bentuk bahasa verbal yang terdapat pada tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk merupakan bahasa tembang Jawa yang berasal dari ranah tembang macapat. Dengan demikian bahasa verbal yang terdapat pada tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk. Mijil Sulastri memiliki rasa lagu prihatin dan untuk mengungkapkan rasa cinta kasih atau nasehat-nasehat tentang asmara.7 L Sakdurunge anakmu gawanen mrene. Adapun jenisnya antara lain: Pangkur Ngrenas.sebagai bahasa tembang. seperti Pangkur Ngrenas memiliki rasa lagu jatuh cinta. wong manis. Direktif gawanen formal 8 L Tak kudange anakku sing bagus dhewe. begitu pula gerongan Lambangsari dan Jineman Sayuk. seperti: gantilaning tyas. dan gerongan Lambangsari. asmara. dilihat dari asfek kebahasaan secara koherensi telah memperlihatkan keterpaduan antara unsur-unsur lingual dalam bentuk guru wilangan. rabinira. brangti. 274 . wuyung.

ia memiliki pengalaman dalam berkecimpung dalam budaya Jawa. tingkah laku. setelah dewasa menjadi penari profesional. Perhatian terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi dilingkungan sosial budaya sekitarnya. Bergaulnya dengan para seniman wayang orang seperti: Rusman. rasa estetik.Pemilihan jenis-jenis tembang tersebut selain watak atau rasa lagu sesuai dengan tema percintaan juga didasari dari latar belakang budaya penyusun tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk yang berasal dari budaya Jawa. Bentuk tembang Pangkur merupakan salah satu inspirasi dari sajian tokoh Gathutkaca ketika memadu asmara dengan Pergiwa yang diperankan oleh Rusman dan Darsi. Darsi dan Surono rupanya memberikan kontribusi yang sangat berarti dalam karya tari Karonsih terkait dengan digunakannya tembang-tembang tersebut. Begitu pula Sunarno. Dari pengalaman selama berkecimpung dalam dunia Kethoprak. Puncak kreatifitasnya dalam menciptakan karya yang berbasis bahasa verbal dalam bentuk tembang Jawa yaitu karya Langendriyan Menakjinggo Lena yang mampu memberikan perkembangan pada karya-karya Langendriyan yang berbasis tembang Jawa.Wayang Orang yang nota bene bentuk–bentuk seni tersebut banyak menggarap jenis-jenis tembang Jawa. Bahasa verbal yang digunakan pada tari Karonsih yang secara intern sebagai alat komunikasi antar peran yang terlibat yaitu sebagai media percakapan 275 .Wayang Orang rupanya memberikan inspirasi dan kontribusi dalam menciptakan karya tari Bondhan Sayuk. dan pola kehidupan Maridi sebagai seniman. masuk menyatu mempengaruhi dan mengkristal membentuk pola pikir. Faktor lingkungan memberikan kontribusi cukup berarti dalam menunjang perkembangan kesenimanan Maridi. seperti: Kethoprak.

Dewi Sekartaji dengan Panji Inukertapati menggunakan bahasa Jawa Krama. mempertimbangkan kedudukan peserta tutur yang terlibat keduanya adalah masyarakat tani. mempertimbangkan kedudukan peserta tutur yang terlibat keduanya adalah anak raja. Dewi Sekartaji puteri raja Lembu Amijaya dari Kediri sedangkan Panji Inukertapati Kertapati putera raja Lembu Amiluhur dari Jenggala. Kedudukan peserta tutur antara suami dan istri adalah gambaran masyarakat secara umum yang lebih lazim disebut masyarakat biasa. Konsep yang melatarbelakangi digunakannya bahasa Jawa Krama pada tari Karonsih. Sehingga bahasa verbal yang digunakan untuk komunikasi peserta tutur adalah bahasa Jawa krama yang dirasa tepat dan sesuai untuk mencerminkan kehalusan terkait dengan kedudukan sosial sebagai putra bangsawan. Sebagai keluarga bangsawan sikap perilaku kedua peserta tutur memiliki adat dan etika budaya yang mencerminkan kehalusan dan keteladanan. Konsep yang mendasari digunakannya bahasa Jawa Krama Ngoko pada tari Bondhan Sayuk. Salah satu contoh tingkat kehalusan bahasa Jawa krama yang digunakan pertuturan Dewi Sekartaji dan Panji Inukertapati Kertapati pada tari Karonsih dapat dicermati pada bahasa tembang berikut ini: Pra wanita marsudiya marang tindak kang utama Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada Ingkang bisa nujuprana weh reseping pamicara Nora kengguh ing panggodha darbe budi kang santosa Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira Datan kemba asih tresna sung tetreming kulawarga Sampun sami setya tuhu anggenya liron asmara Karonsih pancen pranyata dadya kembang jagad raya Sedangkan bahasa verbal dalam tari Bondhan Sayuk yang digunakan untuk percakapan peran yang terlibat dalam pertuturan antara suami dengan istri berbentuk bahasa Jawa Krama Ngoko. Peserta tutur antara suami dan 276 .

polos cenderung apa adanya dan tampak kurang halus (kasar). Mbokne thole. Fungsi bahasa verbal yang terdapat pada tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk adalah untuk mengungkapkan maksud dari seniman penyusun. seperti bahasa tembang yang digunakan pertuturan ketika suami dan istri sambil menimang anak. Bapakne sithole. Kedudukan bahasa verbal dalam tari Pasihan menjadi sangat penting.istri merupakan simbol keluarga kecil dari kalangan masyarakat petani yang tercermin dari bahasa verbalnya yang cenderung ngoko yang lazim digunakan masyarakat pedesaan. hal ini dapat dicermati dari kata-kata yang digaris bawah: Dhuh mas jiwaku. Tak kudange anakku sing bagus dhewe. mangkat makarya. polos cenderung apa adanya terkait dengan kedudukan sosial sebagai masyarakat tani. Sakdurunge anakmu gawanen mrene. mengingat bahasa nonverbal yang menjadi sarana komunikasi bersama bahasa verbal memiliki keterbatasan-keterbatasan dalam mengungkapkan maksud dari seniman penyusunnya. Pemilihan peran suami dan istri dilatarbelakangi dari kehidupan seniman penyusunnya yang berasal dari keluarga seorang buruh tani dari desa Semono wilayah kabupaten Boyolali. baya iki wus wanci. Sehingga bahasa verbal yang digunakan untuk komunikasi peserta tutur yang terlibat antara suami dan istri adalah bahasa Jawa krama ngoko yang dirasa tepat dan sesuai untuk mencerminkan sifat lugas. Sawahmu tansah anganti. Sebagai keluarga petani sikap perilaku kedua peserta tutur yang digambarkan dalam tari Bondhan Sayuk memiliki adat dan etika budaya yang lebih lugas. Untuk itu bahasa verbal dirasa sarana yang tepat untuk menjelaskan 277 . Mbesuk pinter nyambut gawe.

Lewat bahasa verbal seorang seniman akan menuangkan pikirannya secara lebih transparan dan komprehensif dalam bentuk tembang Jawa. dan iringan sebagai bahasa nonverbal tari pasihan merupakan pola-pola tradisional yang bersumber dari budaya istana Kasunanan Surakarta.maksud dan harapan yang dikehendaki oleh seniman tanpa melalui proses distorsi bahkan lebih dapat langsung mengungkapkannya. pola lantai. polatan (ekspresi wajah). sehingga hayatan dari penonton tidak terkontaminasi tokoh atau peran lainnya. Wujud pasangan tersebut mengarahkan penonton supaya lebih fokus pada tema percintaan. dan bahagia. Konsep yang mendasari pemilihan tema percintaan ini terkait dengan harapan penyusun yang menghendaki kehadiran tari pasihan dalam resepsi perkawinan dapat bermakna bagi sepasang temanten. busana. Rupanya kisah tersebut menjadi sebuah inspirasi yang berarti bagi pasangan temanten yang menginginkan percintaan yang ideal. Tema yang dipilih untuk tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk adalah pasihan atau percintaan. Kinetic body moves. rias. rias. Adapun bentuk garapnya hanya menyajikan dua peran utama yakni pria dan wanita sebagai pasangan suami dan istri. Bentuk bahasa nonverbal yang terdapat pada tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk meliputi: tema. Tema percintaan yang diangkat dalam tari pasihan tersebut secara garis besar menggambarkan perjalanan cinta sepasang suami dan istri berawal dari duka yang dialami masing-masing tokoh kemudian permasalahan-permasalahan yang dihadapi dapat diselesaikan dengan baik yang akhirnya mereka dapat berhasil menikmati hidup bahagia dalam sebuah keluarga. polatan (ekspresi wajah). dan iringan. Kinetic body moves 278 . romantis. pola lantai. kinetic body moves. busana.

Dari seluruh adegan I.05 % dalam tari Bondhan Sayuk. Semakin banyak gerak representatif dalam sebuah tarian penonton semakin mudah menafsirkan tema dari ilusi-ilusi yang diekspresikan lewat gerak sehingga pesan makna dari tari pasihan tersebut mudah ditangkap masyarakat sebagai apresiatornya. II. Secara garis besar gerak dalam tari dapat dibagi menjadi dua bagian secara kasar.sebagai media utama dalam sajian tari pasihan berupa pola-pola sekaran tari tradisional gaya Surakarta. pola-pola sekarannya bersifat presentatif dan representatif. gerak ini difungsikan semata-mata untuk kebutuhan ekspresi. Sedangkan gerak representatif adalah gerak penghadir. namun kemunculannya tidak mudah untuk dipisah-pisahkan secara tegas. hal itu sengaja dibuat untuk mengungkapkan ekspresi seniman atau penyusun tari. karena wujud yang tampak sering samar-samar. Adapun gerak-gerak representatif pada genre tari pasihan tersebut 279 .20 % dalam tari Karonsih dan 76. Adapun bentuk-bentuk vokabuler sekaran yang terdapat pada tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk secara garis besar. Keduanya hadir dalam jagad tari. yakni gerak presentatif dan representatif. Dominasi gerak representatif yang terdapat pada genre tari pasihan dimaksudkan oleh seniman penyusun supaya masyarakat dan lebih khusus sepasang temanten akan merasa lebih mudah mengapresiasi tema tarian. yang mencapai 80. artinya gerak yang dihasilkan dari imitasi terhadap sesuatu. Gerak presentatif merupakan bentuk gerak yang tidak mempunyai arti secara khusus. dan III pada tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk menunjukkan gerak representatif mendominasi pada bahasa nonverbal. Kedua bentuk gerak baik presentatif maupun representatif merupakan medium utama tari pasihan dalam rangka memenuhi keperluan ekspresi.

Pemilihan pola-pola sekaran tari tradisional yang bersumber dari istana tersebut terkait dengan latar belakang kedua penyusun yaitu: Maridi dengan 280 . Selain itu dari komposit bahasa verbal dan Kinetic body moves sebagai unsur nonverbal pada tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk terdapat hubungan yang bersifat langsung dan tidak langsung. meledek. Berdasarkan tema percintaan yang telah terungkap. Sehingga tema yang muncul dapat ditafsirkan yakni tema percintaan. Hubungan bahasa verbal dan Kinetic body moves bersifat langsung artinya bahwa makna bahasa verbal sesuai dengan makna bentuk gerak. Kehadiran genre tari pasihan pada sebuah resepsi perkawinan bukan pada resepsi lainnya itu merupakan pertanda bahwa jenis-jenis tari tersebut mempunyai fungsi yang berarti dalam resepsi perkawinan yaitu sebagai suritauladan yang hendak ditindaklanjuti bagi sepasang temanten. bergandengan tangan. Sedangkan hubungan bahasa verbal dan Kinetic body moves bersifat tidak langsung artinya bahwa makna bahasa verbal tidak sesuai dengan makna bentuk gerak. Alasannya kehadiran genre tari pasihan pada resepsi perkawinan adalah untuk hiburan dan suritauladan temanten dan masyarakat yang kepekaan rasanya heterogen. Secara kuantitatif hubungan bahasa verbal dan nonverbal yang bersifat langsung tampak lebih mendominasi dibandingkan dengan yang tidak langsung. mencubit. menggoda dan gerak-gerak lainnya yang mengungkapkan kegembiraan.merefleksikan gerak orang bermesraan. untuk itu supaya seni tersebut dapat ditangkap maknanya oleh semua lapisan masyarakat maka bentuk komposit bahasa verbal dengan Kinetic body moves yang bersifat langsung dirasa sangat tepat agar mudah dihayati. seperti: berpelukan. penonton akan mencoba mengaitkan fungsi kehadiran tari pada sebuah resepsi perkawinan.

Seperti Maridi sejak berumur sekitar usia 8 tahun. Masa kecilnya banyak di Pati diajak paman Sandiman yang berprofesi Polisi yang juga seorang penari. Sunarno banyak belajar tari dengan beberapa guru diantaranya: a) Sandiman (paman). belajar tari Kethekan (kera). belajar tari dasar (tayungan) dan Tari Gathutkaca Gandrung.M Lurah Widakdo. 5) R. Maridi. antara lain: 1) R.M Bekel Wignya Hambekso. 4) R. Berkat kecerdikan dan keuletan dalam upaya memperdalam tari. 6) R. yang menjadi panutan gaya / wiled tarian gagah S. dan tari Bondhan. Lurah Harto Sukolewa sebagai guru tari gagah.T Kusuma Kesawa. Adapun guru dan sanggar yang telah banyak berperan membentuk dan mengembangkan kesenimanan Maridi di dunia tari. belajar tari kethekan.M Lurah Atmo Bratono dengan sanggarnya Yatno Sidoyo. 3) R. Bagi Sunarno sejak berumur 11 tahun. ia belajar tari di desa Semono dengan Wiryo Dimedjo (paman). 2) R. 281 . Selama di Pati.M Ng Atmo Hutoyo sebagai guru tari alus. b) Eko Prasetya. terutama tari tradisional gaya Surakarta.M Suseno (dari gaya Mangkunegaran) 8) Nyai Pamarditaya. tari cakil di asrama polisi Pati. tari rakyat. 7) R. Maridi secara diam-diam banyak berguru dengan beberapa empu tari yang akhirnya membentuk pribadinya menjadi seorang empu tari.karyanya tari Karonsih dan Sunarno dengan karyanya tari Bondhan Sayuk yang sejak masih muda mereka banyak belajar tari-tarian tradisi gaya Surakarta. Maridi sudah bergabung di sanggar tari: paguyuban Muda Matoyo di bawah asuhan Jogo Laksito.

Ngaliman di kursus tari PKJT sejak tahun 1972. Selain pendidikan formal. d) Secara khusus belajar tari cakilan di kursus: Kembang Djaya di Pati. b) S. Sunarno masuk kuliah di Akademi Seni Karawitan Indonesia. jurusan Karawitan (ASKI) dan lulus sarjana muda tahun !979. d) Wiryo dengan Sanggar tari Pomoi di Laweyan. Ngaliman dengan sanggarnya Baradha di Kemplayan dan kursus tari di PKJT Sasonomulyo. selama di Surakarta ia banyak menimba ilmu dengan beberapa Guru tari antara lain: a) KRT. Setelah lulus SMP. ia dijadikan asisten S. Kusuma Kesawa di Pawiyatan Karaton Kasunanan dan Ramayana Rara Jonggrang. Melanjutkan S1 di ASKI lulus tahun 1981 dan mengambil S2 di Sekolah Tinggi Seni Indonesia di Surakarta.c) Raden Irawan. ia diangkat sebagai pegawai negeri Dikbud Kodya dan sejak tahun 1982 melimpah ke ASKI sebagai dosen tetap sampai sekarang. tari Cantrikan.Sn). c) Wiryo Tampu. Pada tahun 1976. Di samping belajar. untuk meniti karirnya lebih lanjut. Pada tahun 1973. belajar tarian dasar tayungan. Di samping kuliah ia juga seorang pengajar tari spesialis tari gagah di ASKI sejak tahun 1973 yang pada waktu itu baru menjadi pegawai honorer Dikbud Kodya yang diperbantukan untuk ASKI. tahun 2005 lulus tahun 2007 dengan gelar Magister Seni ( M. 282 . dan Tari Gathutkaca Gandrung di Pakempalan Kagunan Jawi (PKD) Pati. Sunarno melanjutkan sekolah di Konservatori Karawitan Indonesia Surakarta (KOKAR) di Surakarta pada jurusan tari tahun 1970 lulus tahun 1972.

polatan (ekspresi wajah). luruh dan feminin. pola lantai. busana. polatan (ekspresi wajah). kehadiran genre tari pasihan pada upacara ritual perkawinan difungsikan oleh 283 . Pola-pola semacam itu merupakan budaya Jawa yang merupakan dasar dari penyusun tari pasihan sehingga komplementer dari kinetic body moves. iringan gamelan yang terpadu dengan bahasa verbal sastra tembang diperlukan kepekaan rasa dan ketajaman pikir sehingga mampu menghayati nilai-nilai cinta kasih pada tari pasihan yang diharapkan seperti yang dimaksudkan seniman penyusun. Untuk menangkap makna yang terkandung dalam bahasa nonverbal yang berupa simbol-simbol kinetic body moves. Komposit bahasa verbal dan nonverbal dalam genre tari pasihan merupakan perpaduan yang utuh sebagai seni pertunjukan. Hal ini terkait dengan karakter masing-masing peran yang cennderung alus. busana. Bentuk iringan gamelan sebagai ilustrasi musik yang berupa gendhing-gendhing karawitan rupanya sangat tepat dan memberi kemantapan dalam mendukung sajian tari pasihan. Bentuk rias dan busana yang dipakai pada tari pasihan berdasarkan pola-pola tradisi yang disesuaikan dengan sumber cerita. Sebagai seni pertunjukan. dan iringan sebagai bahasa nonverbal tari pasihan saling mengkait untuk mendukung bahasa verbal sastra tembang menjadi bentuk sajian tari yang utuh dan berfungsi sebagai media komunikasi untuk mengungkapkan maksud seniman penyusun.Polatan atau ekspresi wajah pada tari pasihan pada dasarnya tidak tampak mencolok perubahannya. rias. sedangkan tari Bondhan Sayuk yang bersumber dari cerita rakyat menggunakan dandanan Blangkonan untuk peran suami dan peran istri menggunakan Gelungan atau konde. Pada tari Karonsih yang bersumber dari cerita Panji menggunakan dandanan Panjen dengan ciri Tekes. pola lantai. rias.

memikat dan mengandung nilai estetik yang dapat menghibur penonton. dan sikap-sikap ideal bagi figur suami maupun figur istri. latar belakang budaya. Sebagai hiburan. Beragam pendapat dari kalangan masyarakat telah muncul menanggapi hadirnya genre tari pasihan pada ritual resepsi perkawinan. Sedangkan suritauladan yang diharapkan oleh seniman penyusunnya didasarkan pada pesan atau muatan isi yang terkandung dalam komposit bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan yang berupa nasehat-nasehat cinta kasih tentang: pasangan keluarga yang romantis. sajian genre tari pasihan menjadi layak karena wujudnya merupakan bentuk seni pertunjukan yang secara visual menarik. dan keterlatian dalam mengapresiasi tari pasihan. kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga. Beragamnya persepsi dari masyarakat penonton tidak lepas dari bekal kepekaan rasa. harmonis.seniman penyusun sebagai hiburan dan suritauladan bagi sepasang temanten dan masyarakat pada umumnya. kemauan. Masyarakat penonton adalah kelompok orang dari beragam kalangan status sosial yang mengapresiasi tari pasihan terutama jenis tari Karonsih dan tari bondhan Sayuk. dan bahagia. Persepsi masyarakat terhadap kehidupan genre tari pasihan gaya Surakarta. Faktor Afektif. C. Nilai-nilai keteladanan tersebut terutama diperuntukan bagi sepasang temanten untuk bekal dalam membina rumah tangga. Informan dari kalangan masyarakat secara garis besar terdiri dari: kelompok penanggap atau 284 . Pada dasarnya masing-masing penonton memiliki persepsi yang berbeda-beda tergantung dari kepekaan rasa dan ketajaman pikir yang dimiliki individu.

285 . Tanpa penampilan rupawan penarinya. diharapkan dengan ketinggian yang ideal (sekitar 160 cm) dan dukungan warna kulit yang halus. kelompok penonton umum. dan kelompok pakar. Taraf selanjutnya adalah kemampuan penari dalam menyajikan tari yang lebih berorientasi pada keluwesan penari dalam membawakan tarian.Genre tari pasihan sebagai hiburan. melestarikan budaya yang dirasakan lebih tepat adalah budaya Jawa. maupun manis. 1. cantik.sebagai pengguna. Sebagai masyarakat yang berlatarbelakang budaya Jawa. niscaya penonton tidak akan menanggapi apalagi memperhatikan. Dari pengamatan tersebut dibenak para penonton terjadi sinergi antara kepekaan rasa dan ketajaman pikir sehingga muncul penafsiranpenafsiran terhadap karya seni. rasa memiliki. Bagi penanggap kehadiran tari pasihan dalam ritual resepsi perkawinan adat budaya Jawa ini merupakan salah bentuk hiburan yang diperuntukkan bagi tamu undangan supaya tidak membosankan dan sekaligus untuk mengatur jalannya upacara terkait dengan jeda acara demi acara berikutnya. bersih akan menambah daya tarik penonton. Selain bentuk fisik penari yang ideal juga dukungan rias wajah yang mampu menampilkan karakterisasi peran dan busana glamor yang dapat memikat dan memberi kenikmatan indera mata. Penilaian paling awal yang tampak bagi penonton akan tertarik pada gandar atau rupa wajah penarinya yang tampan. Setelah itu baru melihat dedek atau tinggi – rendahnya penari. sehingga proses hayatan yang dikehendaki penari maupun penyusun tari tidak akan muncul. Adapun informasi dari ketiga kelompok informan tersebut dapat dicermati berikut ini. bagus. Hal ini dapat dicermati sejak awal dari pelaksanaan upacara resepsi perkawinan yang menggunakan adat budaya Jawa.

Kehadiran tari pasihan dalam upacara ritual resepsi perkawinan yang biasanya disajikan pada bagian akhir dari seluruh rangkaian resepsi sebagai penutup. tarub sebagai hiasan rumah resepsi. bentuk dekorasi (brostul) untuk penganten. Dari beberapa pakar menyatakan bahwa kehadiran genre pasihan pada upacara ritual perkawinan memiliki fungsi yang dalam terutama bagi sepasang mempelai temanten. Sinkronisasi antara gambaran nilai percintaan yang diangkat dalam tari dengan realitas nilai percintaan yang hidup dan berkembang dalam jiwa sepasang mempelai temanten yang sedang diwisuda. Hiburan yang lebih tepat dipilihnya bentuk kesenian yang berbasis budaya Jawa. Bagi penonton secara umum. tersebut adalah bukti dari ketepatan atau kesesuaian yang diasumsikan dari penonton secara umum. hiburan yang berbentuk tarian maupun karawitan secara lengkap. busana basahan ataupun kejawen lengkap untuk penganten. seperti genre tari pasihan gaya Surakarta. pertunjukkan tari pasihan dalam upacara ritual perkawinan adat budaya Jawa terletak pada kesesuaian antara tema percintaaan yang digambarkan tari pasihan sebagai muatannya dengan peristiwa perkawinan yang mengatur sejak awal jalannya percintaan sepasang mempelai temanten secara resmi di depan publik untuk mendapatkan pengakuan status sosial dan adat budaya yang mereka miliki.baik yang menyangkut pemilihan hari resepsi. serta saranasarana lainnya. Sebagai hiburan yang dirasa tepat atau sesuai. Hiburan yang didapat dari sajian tari pasihan. 286 . busana kejawen lengkap dengan keris untuk among tamu kakung (penjemput tamu pria) dan kebaya untuk among tamu wanita. merupakan pertunjukan yang bersifat hiburan. Fungsi awal yang paling sederhana secara faktual dapat dicermati adalah sebagai hiburan.

Wujud fisik berupa gandar atau rupa wajah. dan kinetic body moves yang secara komplementer akan menyatu dengan wujud nonfisik yang berupa rasa. dan kelompok pakar secara garis besar salah satu fungsi genre tari pasihan dalam ritual resepsi perkawinan adat Jawa merupakan bentuk hiburan. 2. dedek atau tinggi rendahnya postur tubuh. dandanan busana. Genre tari pasihan sebagai keteladanan. Secara emosional mereka memiliki ikatan kultur yang kuat sehingga kepekaan rasa yang tertanam dalam jiwa. Bagi penonton umum yang sering mengapresiasi pementasan tari pasihan. Berdasarkan pementasan taritarian pasihan yang menggambarkan orang bercinta dengan mesra. kelompok penonton umum. Pada dasarnya masing-masing individu sedikit banyak memiliki rasa kesenian yang merupakan bekal alami. Hasil komplementer dari bentuk fisik dan nonfisik dalam tari adalah rasa keindahan yang mampu memberikan hiburan yang bersifat rohani. mereka melihat 287 .bagi penonton adalah bersifat estetik. artinya kenikmatan indera penonton dari melihat pertunjukan tari pasihan merasa tertarik dan terpikat berawal dari bentuk fisik. mereka katakan bahwa jenis-jenis tari percintaan yang sering dilihat dalam resepsi perkawinan mempunyai maksud-maksud tertentu. Persepsi masyarakat yang terdiri dari kelompok penanggap atau sebagai pengguna. rias. Kesamaan persepsi dari ketiga kelompok masyarakat tersebut karena mereka memiliki latar belakang budaya yang sama. sekalipun kadar kualitas berbeda namun masih mampu menggugah dan menghidupkan kembali stimulus-stimulus estetik yang sewaktuwaktu dihadapkan pada benda pacu yang berupa karya seni genre tari pasihan. memiliki wawasan kesenian dan mempunyai minat serta kepedulian terhadap seni.

Diharapkan keluarga yang 288 . kegembiraan. Tema percintaan yang diangkat untuk menentukan alur garapan tari pasihan sungguh mampu mengungkapkan nilai cinta lewat liku-liku kehidupan cinta sepasang kekasih yang merupakan tokoh idola baik yang bersifat fiktif maupun nyata bagi masyarakat Jawa. yaitu kemesraan sebagai sepasang suami istri. Bagi penanggap. Selain itu yang dapat ditiru oleh pasangan temanten dari pementasan tari-tarian pasihan adalah kebersamaan dan kegembiraan. Bagi penanggap nilai-nilai cinta yang demikian itu. ketulusan. memahami dan menghayati nilai-nilai yang terkandung dalam karya tari pasihan. untuk itu perlu diteladani. Dewa Komajaya & Dewi Komaratih dalam tari Lambangsih. romantisme. di tengah-tengah kehidupan sosial masyarakat. Secara khusus tari pasihan merupakan simbolisasi percintaan yang mengandung nilai percintaan yang begitu tulus sebagai muatan ekspresinya. tari pasihan merupakan masterpiece dari seluruh sajian tari yang dipentaskan dalam sebuah upacara ritual perkawinan adat Jawa.terdapat sesuatu dari pertunjukkan itu yang dapat ditiru oleh sepasang temanten. kehalusan. dan berarti bagi sepasang mempelai temanten yang sedang diwisuda. dan Damarwulan & Dewi Anjasmara dalam tari Enggar-enggar tersebut mempunyai makna yang dalam yang mampu menyentuh jiwa manusia. Diharapkan dengan meneladani nilai percintaan yang disajikan lewat tari pasihan tersebut bagi sepasang temanten dapat membina hidupnya dengan nilai cinta yang sebenarnya. Pemilihan ini rupanya sangat terkait dengan maksud penanggap yang mampu mencermati. merupakan sesuatu bekal hidup yang sangat berharga. Kemesraan. dan kebahagiaan yang digambarkan dari sepasang tokoh-tokoh idola seperti: Panji Inukertapati & Dewi Sekartaji pada tari Karonsih.

Bagi pakar bekal apresiasinya terhadap seni dan wawasan intelektual yang dimiliki mampu menghayati secara dalam dan mengungkapkannya secara komprehenship. Mengingat bahwa seorang seniman menciptakan karya seni sedikit banyak mempunyai maksud-maksud tertentu dibalik karyanya. damai. gembira. dan wawasan berkesenian secara luas. sehingga penafsiran-penafsiran terhadap makna dibalik karya yang dicipta menjadi semakin valid Bagi pakar. kacau. senang. seorang seniman berkarya merupakan dorongan dan tutuntan kebutuhan jiwa yang dilatarbelakangi apresiasi terhadap lingkungan manusia dan alam yang terseleksi dan senantiasa dimanifestasikan dalam bentuk yang estetik. dan bahagia. Dari medium sensa itu seniman akan dapat menganyam impian-impian bagi kita mengenai hal-hal yang 289 . takut. tetapi sering kali mengalami kesulitan untuk menginterpretasi makna sesungguhnya yang dikehendaki seniman. bahagia. marah.dibangun dan dibina sepasang temanten dengan nilai-nilai cinta mampu menciptakan keluarga yang harmonis. keterlatihan. Nilai cinta yang terdapat pada tari pasihan yang merupakan akumulasi dari beragam rasa. seperti: sedih. tenang. kemampuan. Kepekaan rasa dan ketajaman intelek bagi pakar seni merupakan modal utama untuk mencermati dan menganalisis kehadiran sebuah karya seni di tengah-tengah kehidupan dan perkembangan sosial masyarakat dari beragam perspektif. dan lainnya itu semua ditangan seniman diungkapkan dalam bungkus sensa yang mampu memicu dan memacu timbulnya khayalan benda dan peristiwa yang memberi kenikmatan dan kepuasan. khawatir. Maksud seniman tersebut tersirat pada karya seni yang kadang kala mudah ditangkap maknanya oleh penonton. Untuk mengetahui maksud seniman diperlukan bekal pengalaman.

kita kemudian dalam imajinasi dapat melakukan atau mengalami. sehingga perlu perantara yang berwujud simbol-simbol dalam puisi bukan dalam bentuk pengetahuan. Pada dasarnya genre tari pasihan gaya Surakarta merupakan simbolisasi percintaan sepasang manusia yang berjenis kelamin pria dan wanita. Kehadiran genre tari pasihan (percintaan pria dan wanita) dalam kehidupan sosial masyarakat pada ritual perkawinan adat Jawa rupanya mempunyai makna simbolik yang sangat penting terutama bagi kedua mempelai dalam rangka mempersiapkan diri untuk mengarungi kehidupan di masyarakat yaitu menuju terbentuknya keluarga yang bahagia. Menurut Clifford Geertz (1992: 6). Bagi pakar. Dalam menghadapi permasalahan kemudian mendapat perjalanan kisahnya berawal solusi yang menjadi berangsur-angsur membaik dan berakhir bahagia. Jika dicermati lebih dalam dari jiwa kita sendirilah sebenarnya muncul gagasan-gagasan dan beragam rasa yang merupakan isi sebuah karya seni. Seolah–olah keberadaan genre tari pasihan dalam budaya Jawa menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan terutama pada upacara-upacara perkawinan. Simbolisme semacam ini tampak pada genre tari pasihan yang hadir dalam rangkaian upacara-upacara perkawinan adat Jawa. Kehadiran 290 . bahwa ‘simbol’ tampak terbatas pada sesuatu yang mengungkapkan secara tidak langsung.membuai dan memikat kita senang mengamati. genre tari pasihan memiliki fungsi yang dalam terutama bagi sepasang mempelai temanten yang tercermin pada komplementer bahasa verbal dan nonverbalnya. Khayalan tentang tindakan atau emosi yang ditimbulkan lewat karya seni. Seniman pada dasarnya tidak lain sebagai manusia yang menyediakan sebuah susunan benda pacu atau lambang-lambang sensa yang diharapkan akan ditafsirkan seperti yang dimaksudkan olehnya.

dan bahagia. harmonis. Nilai-nilai keteladanan yang dapat diserap dari aktualisasi tari pasihan yang berupa nasehat-nasehat cinta kasih diantaranya: pasangan keluarga yang romantis. Hal ini juga digambarkan secara lebih aktual pada tari Bondhan Sayuk ketika tindakan atau perbuatan penari putri (peran istri) memberikan boneka anak kepada temanten putri pada bagian akhir tarian merupakan perbuatan simbolik yang menunjukkan adanya kekuatan – kekuatan tertentu yang tidak kelihatan mata yang bersifat magis simpatetis diharapkan dapat diterima penganten putri. Kekuatan imajinasi percintaan yang digambarkan sepasang kekasih dalam tari pasihan diharapkan dapat memberikan kekuatan magis simpatetis terhadap kehidupan jiwa sepasang mempelai temanten. Rupanya terdapat korelasi yang sangat signifikan bahwa kehadiran tari pasihan dalam resepsi perkawinan diharapkan dapat diteladani dan memberikan sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temanten. Dengan kekuatan magis simpatetis akan dapat menyuburkan benih-benih cinta 291 . Bentuk dan sikap ideal bagi sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temanten terpancar dari kekuatan cinta sepasang tokoh yang digambarkan dalam tari pasihan dimaksudkan dapat dihayati sepasang temanten sehingga bayanganbayangan cinta yang diekspresikan oleh seniman mampu memicu dan memacu kehidupan imajinasi cinta sepasang temanten. Perbuatan simbolik dalam pertunjukan tari Bondhan Sayuk lebih tampak jelas dan lebih mendekat kearah realitas tujuan bercinta dalam sebuah kehidupan keluarga. kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga.tari pasihan hampir dapat dipastikan dalam resepsi perkawinan. yaitu mampu mempengaruhi kesuburan dalam proses perkawinan pasangan temanten. suami mapun istri.

Dengan demikian hanya pakarlah yang mampu untuk memahami dan menganalisis secara komprehensif dan bertanggungjawab 292 . bahwa dalam dunia kesenian. para pelaku dan penghayat tidak selalu memahami akan yang mereka kerjakan. Kesadaran awal yang harus dicermati. Bahkan seniman sering mampu menghasilkan karya seni yang sangat bagus tetapi kerap tidak memiliki pendapat yang jelas dan tetap terhadap pernilaian karyanya. Di samping itu juga terdapat perbedaan pada kadar pemahaman. orang tidak akan dapat berharap banyak karena rasa seni yang kita hayati tidak bisa mengendap dan lekas menghilang tidak menjadi gagasan yang tenang dan mantap. sebagai pewaris dan penerus keluarga.yang tengah berkembang pada sepasang temanten yang akhirnya mampu melahirkan buah cinta yang berupa momongan (anak). Kepekaan rasa dan ketajaman intelek pakar seni merupakan modal utama untuk mencermati dan menganalisis kehadiran sebuah karya seni di tengah-tengah kehidupan dan perkembangan sosial masyarakat dari beragam perspektif. Kesamaan persepsi dari penanggap. Kesulitan yang tampak bahwa seni pertunjukan merupakan seni sesaat. penonton umum dan pakar terhadap kehidupan genre tari pasihan mengidikasikan bahwa bentuk tari pasihan tersebut mengandung nilai-nilai keteladanan layak menjadi sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi sepasang temanten untuk diserap dan diimplemetasikan dalam kehidupan rumah tangga. Pada dasarnya kedua orang mengawinkan putra-putrinya dengan cita-cita untuk segera diberi keturunan yang berupa anak. karena bagi pakar bekal apresiasinya terhadap seni dan wawasan intelektual yang dimiliki mampu menghayati secara dalam dan mengungkapkannya secara komprehenshif.

karena seniman adalah berjiwa mistik. 1.pokok penelitian. Jenis–jenis TT yang terdapat dalam genre tari pasihan gaya Surakarta terdiri dari beragam jenis yaitu: TT asertif. TT komisif. Dari beragam jenis TT yang terdapat pada genre tari pasihan. dan TT patik. BAB IV PEMBAHASAN A.validitasnya. yang memiliki rasa seni yang dalam tetapi tidak berbicara banyak dan sering sulit untuk mengurai karyanya. Faktor objektif. TT direktif. 293 . Temuan pokok. TT ekspresif. jenis TT yang dominan adalah TT direktif.

Kehadiran tari pasihan hampir dapat dipastikan dalam resepsi perkawinan yang nota bene sebagai wahana untuk mewisuda sepasang temanten. Gambaran secara lebih 294 . Daya pragmatik yang terdapat dalam bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan menunjukkan adanya bentuk sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temanten. Implikatur yang terdapat dalam bahasa verbal tari pasihan menunjukkan adanya simbolisasi percintaan sepasang suami istri yang dalam perjalanan kisahnya berawal menghadapi permasalahan kemudian mendapat solusi yang menjadi berangsur-angsur membaik dan berakhir bahagia. 3.2. Prinsip kesantunan yang diterapkan dalam bahasa verbal genre tari pasihan dengan menggunakan strategi melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif dan strategi melakukan TT secara tidak langsung (off record). sedangkan maksim kualitas dan maksim hubungan dipatuhi. yaitu mampu mempengaruhi kesuburan dalam proses perkawinan pasangan temanten. Kekuatan imajinasi percintaan yang digambarkan sepasang kekasih dalam tari pasihan diharapkan dapat memberikan kekuatan magis simpatetis terhadap kehidupan jiwa sepasang mempelai temanten. Rupanya terdapat korelasi yang sangat signifikan bahwa kehadiran tari pasihan dalam resepsi perkawinan diharapkan dapat diteladani sepasang temanten. Dalam bahasa verbal genre tari pasihan bentuk penerapkan prinsip kerja sama terjadi pelanggaran maksim kuantitas dan maksim cara. Hal ini terpancar dari kekuatan cinta kasih sepasang suami istri yang digambarkan dalam tari pasihan dimaksudkan dapat dihayati sepasang temanten sehingga bayangan-bayangan cinta yang diekspresikan oleh seniman mampu memicu dan memacu kehidupan imajinasi cinta sepasang temanten.

dan bahagia. polatan. Berdasarkan jabaran bahasa verbal dan nonverbal tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk dapat diketemukan ciri karakteristik genre tari pasihan sebagai berikut: a) Bahasa verbal berbentuk tembang Jawa bernuansa cinta. busana. Tindakan atau perbuatan tersebut merupakan perbuatan simbolik yang menunjukkan adanya kekuatan – kekuatan tertentu yang tidak kelihatan mata yang bersifat magis simpatetis diharapkan dapat diterima temanten putri. sindhenan. pola lantai. c) Hubungan bahasa verbal dan nonverbal bersifat langsung dan tidak langsung. kinetic body moves (gerak tubuh). e) 295 . Pada intinya bentuk daya pragmatik genre tari pasihan adalah berupa nasehat-nasehat tentang cinta kasih yaitu pasangan keluarga yang romantis. dan jineman dan aspek nonverbalnya berupa: tema. d) Tema percintaan. gerongan.aktual pada tari Bondhan Sayuk yang merepresentasikan pasangan pria dan wanita setelah bercinta kemudian membawa boneka sebagai simbol anak dan ketika adegan akhir penari putri memberikan boneka anak kepada temanten putri. kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga. dan sikapsikap ideal bagi figur suami maupun figur istri. rias. harmonis. Nasehat-nasehat tentang cinta kasih tersebut bermanfaat bagi sepasang temanten sebagai bekal untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dalam membangun sebuah keluarga. Bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan merupakan dua komponen besar yaitu aspek verbal berupa cakepan (syair) sastra tembang yang terdapat dalam teks pathetan. dan iringan yang secara komplementer menyatu dalam bentuk seni pertunjukan. Perbuatan simbolik dalam pertunjukan tari Bondhan Sayuk lebih tampak jelas dan lebih mendekat kearah realitas tujuan bercinta dalam sebuah kehidupan keluarga. b) Bahasa verbal yang digunakan berdasarkan status sosial. 4.

seniman penyusun lewat karya tari pasihan melanggar maksim kuantitas dan maksim cara dimaksudkan seniman untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa. Hal ini dimaksudkan oleh seniman penyusun supaya bahasa verbal yang sifatnya mengajak. Dalam menerapkan prinsip kerja sama.Cerita berakhir dengan bahagia (happy end). dan memerintah yang tercermin dalam TT direktif dapat menyampaikan makna bahasa verbal sastra tembang yang berupa nasehat-nasehat cinta tersebut untuk diteladani sepasang temanten. meminta. h) Gerak representatif dan presentatif sebagai ekspresi kinetic body moves dalam sajian. g) Pesannya berupa nasehat tentang cinta kasih. Prinsip kesantunan yang diterapkan dalam bahasa verbal genre tari pasihan dengan menggunakan strategi melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif untuk menunjukkan kedekatan. dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur. Jenis TT yang mendominasi pada bahasa verbal dalam genre tari pasihan adalah TT direktif. f) Disajikan berpasangan pria dan wanita. keintiman. Faktor genetik. Maksim kualitas dan maksim hubungan dipatuhi dimaksudkan oleh seniman supaya komunikasi rasa dapat berlangsung sehingga makna karya tari pasihan dapat ditangkap penghayat secara utuh. Di samping itu juga konsep yang mendasari strategi untuk melakukan TT secara tidak langsung (off record) untuk mengekspresikan 296 . Hal ini dimaksudkan seniman penyusun untuk menunjukkan simbolisasi keharmonisan hubungan antara peran suami dan istri yang digambarkan dalam tari sebagai bentuk suritauladan yang layak untuk diteladani sepasang temanten.

selaras dan seimbang sehingga komplementer dari kedua komponen tersebut menjadi padu membentuk genre tari pasihan dalam aktualisasi yang berkualitas. Berbeda dengan persepsi pakar seni. bahwa fungsi tari pasihan dalam resepsi perkawinan. yaitu pada setiap ekspresi sastra tembang selalu didukung dan diikuti langsung kinetic body moves. karena kepekaan rasa dan ketajaman pikir pakar seni lebih mantap dan lebih berkualitas dibandingkan masyarakat pada umumnya. estetik. Genre tari pasihan merupakan jenis tari pasihan yang difungsikan sebagai hiburan dan suritauladan bagi sepasang temanten dan sosial masyarakat. Pembahasan. Konsepsi tentang pemilihan bahasa verbal dan nonverbal bersifat harmoni. Pemahaman tentang fungsi tari pasihan tersebut menunjukkan adanya perbedaan antara masyarakat umum dengan pakar seni. Berdasarkan persepsi masyarakat.rasa estetik dan menambah kemantapan rasa supaya dapat lebih menyentuh penghayat dan maknanya dapat diterima. Faktor afektif. Bagi masyarakat secara umum kehadiran tari pasihan dalam resepsi perkawinan ditangkap sekadar sebagai hiburan. B. 297 . kehidupan genre tari pasihan dalam sosial masyarakat berfungsi sebagai hiburan dan suritauladan yang tepat bagi sepasang temanten dan masyarakat pada umumnya. Kehadiran genre tari pasihan sebagai seni pertunjukan merupakan perpaduan dari bahasa verbal dan nonverbal yang secara komposit mengungkapkan makna. selain sebagai hiburan juga merupakan suritauladan yang sangat penting bagi sepasang temanten. Keseimbangan komposisi bahasa verbal dan nonverbal tampak pada setiap peristiwa dalam adegan. dan bermakna bagi masyarakat.

Diharapkan dengan kata-kata cinta yang merupakan dasar dari tema percintaan yang diangkat dalam genre tari pasihan yang disajikan dalam bentuk tembang dengan irama. gerongan. dan bahagia. kinetic body moves (gerak tubuh). setya. brangti. aginggang sarambut. asmara. prasetya. rabinira. wuyung. untuk menyampaikan pesan maknanya tari pasihan. asih tresna. garwa. mencakup: pasangan keluarga yang romantis. kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga. mustikaning. busana. rias. seperti: gantilaning tyas. sindhenan. seniman penyusun memandang perlu memanfaatkan aspek kebahasaan atau bahasa verbal dengan menggunakan kata-kata cinta yang terakumulasi dalam bentuk sastra tembang Jawa. polatan. Sedangkan bentuk bahasa nonverbal merupakan komplementer dari elemen-elemen: tema. dan karakter yang berbeda-beda tersebut mengarahkan pada sepasang temanten untuk lebih meresapi dan menangkap makna secara utuh untuk diteladani dan dijadikan sebagai bekal perjalanan dan pelajaran hidup. Adapun kata-kata cinta. wong manis. harmonis. dan jineman mengandung nasehat-nasehat tentang cinta kasih bagi sepasang suami istri. Komplementer bahasa verbal sebagai kandungan makna dan bahasa nonverbal sebagai bentuk visual sudah menyatu dan berkaitan satu sama lainnya dan mampu mencerminkan kesatuan makna secara utuh. dan sikap-sikap ideal bagi figur suami maupun figur istri sebagai pesan makna atau isi. Genre tari pasihan merupakan beragam jenis tari yang mengangkat tema percintaan. wanodya di. pola lantai. sulistyane. dan iringan yang saling mendukung dan menyatu menjadi sebuah bentuk sajian visual yang mengungkapkan pesan makna yang terkandung dalam bahasa verbal. lagu. 298 .Bahasa verbal genre tari pasihan berupa sastra tembang dalam bentuk pathetan. dan mas jiwaku.

komisif. Menurut Kreidler (1998: 189-190). jenis TT yang paling dominan adalah jenis TT direktif. sindhenan. TT performatif. yaitu: TT asertif. direktif. TT verdiktif. dan jineman. mengkategorisasikan TT dalam sebuah pertuturan menjadi tujuh jenis bentuk TT. permintaan. Jenis-jenis TT direktif tersebut dapat dicermati berikut ini. perintah. Sejalan dengan pernyataan Kreidler. dan TT patik. TT komisif. ekspresif. dan usulan atau anjuran. TT direktif. TT direktif adalah tuturan di mana pembicara berusaha menyuruh orang yang disapa untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu perbuatan tertentu. jenis-jenis TT yang terdapat dalam genre tari pasihan gaya Surakarta terdiri dari jenis-jenis TT: asertif. melarang. Tuturan Dewi Sekartaji: Dhuh jagad dewa bathara Welasa mring dasih kang nandhang kingkin Tuturan Panji Inukertapati: Muga tansah pinaringan Kanugrahan kang salami 299 . gerongan. Dari beragam jenis TT yang terdapat pada genre tari pasihan. Bahasa verbal dalam genre tari pasihan terakumulasi dari beragam jenis TT yang menyatu saling mengkait dan saling melengkapi sebagai penunjuk isi. dan mengajak. Berdasarkan teori jenis TT yang dikemukakan Kreidler. Jenis TT direktif yang berfungsi untuk permintaan. TT ekspresif. Kreidler (1998: 183-194). Secara garis besar beliau membagi tuturan direktif menjadi tiga macam: perintah. dan patik. jenis-jenis TT direktif yang terdapat dalam genre tari pasihan berfungsi untuk permintaan.Dilihat dari aspek kebahasaan genre tari pasihan memanfaatkan jenis-jenis TT yang terdapat pada bahasa verbal teks sastra tembang dalam bentuk pathetan.

Jenis TT direktif yang berfungsi untuk mengajak. meminta dan menyuruh terhadap sepasang temanten untuk memahami dan meresapi makna isi yang terkandung dalam bahasa sastra tembang dan supaya melakukan tindakan atau perbuatan seperti yang dicontohkan dalam pertunjukan tari pasihan tersebut. sayuk. sayuk. sakabehe. Sawahmu tansah anganti. Tuturan Panji Inukertapati: Pra wanita marsudiya marang tindak kang utama Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada Tuturan Dewi Sekartaji: Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira Datan kemba asih tresna sung tetreming kulawarga Tuturan istri: Dhuh mas jiwaku. 3. sayuk. 4. Sayuk. mangkat makarya. Sayuk. Sayuk. Maksud dan harapan seniman penyusun tersebut ditangkap oleh penghayat sebagai 300 . Tuturan bentuk Narasi: 1. baya iki wus wanci. Sayuk mbangun negarane. atak adhuh lae. sayuk. sakancane. Sakdurunge anakmu gawanen mrene. sayuk. sayuk. ora nyleweng tumindake. Tuturan Suami: Mbokne thole. Tuturan Suami : labuh labet mring bangsane. Jenis TT direktif yang berfungsi untuk melarang. 2.Jenis TT direktif yang berfungsi untuk perintah. Dominasi dari jenis-jenis TT direktif yang terdapat dalam bahasa vebal genre tari pasihan yang sifatnya mengajak. permintaan. Tuturan Suami: Adhuh lae. dan perintah tersebut secara akumulatif dimaksudkan oleh seniman untuk mengajak. nyambut gawe. Bapakne sithole.

perilaku ideal bagi suami mapun istri) yang sangat penting yaitu terutama bagi kedua mempelai temanten dalam rangka mempersiapkan diri untuk membentuk keluarga yang bahagia. dan bahagia. dan sikap. Kehadiran genre tari pasihan dalam kehidupan sosial masyarakat pada ritual perkawinan merupakan wahana untuk mendidik anak yang telah dewasa yaitu sepasang temanten dengan cara tidak langsung yakni dengan cara simbolik. Untuk menerima isi atau pesan pendidikan yang berupa pementasan genre tari pasihan diperlukan ketajaman pikir dan kepekaan rasa. tertutup lebih bersifat simbolik. tetapi juga dalam bentuk yang tidak langsung. Pada dasarnya bentuk karya seni genre tari pasihan merupakan materi pendidikan yang penuh imajinatif. Indikasinya ditunjukkan bahwa genre tari pasihan hanya disajikan pada upacara-upacara resepsi perkawinan. dan bahagia yang terdapat dalam tari tersebut dirasa sangat tepat dan ditangkap secara mantap sebagai suatu edukatif atau pengajaran yang bersifat tidak langsung dan sangat bermanfaat bagi sepasang temanten untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dalam menggapai keluarga bahagia lahir dan batin. mengingat gambaran percintaan pasangan suami istri yang romantis. multitafsir tersebut hanya mampu ditangkap indera lewat implikatur-implikatur bahasa verbal dengan bahasa nonverbal. Seperti kehadiran genre tari pasihan (percintaan pria dan wanita) dalam kehidupan sosial masyarakat pada ritual perkawinan adat Jawa mempunyai makna simbolik (berupa: pasangan keluarga yang romantis. sistem mendidik terhadap anak tidak selalu dilakukan secara formal dan terbuka. bukan 301 .sesuatu yang harus diteladani. Bagi masyarakat Jawa. bukan pada acara-acara lainnya. harmonis. kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga. harmonis.

seperti: sang retnayu.makna leksikal dari susunan gramatikal bahasa verbalnya. jengkar sking. dahat. Maksim hubungan. Maksim kualitas. Maksim kuantitas adalah berikan informasi yang tepat sesuai yang dibutuhkan dan jangan melebihi yang dibutuhkan. usahakan agar sumbangan informasi anda benar. Dalam penerapan prinsip kerja sama pada bahasa verbal genre tari pasihan. prinsip kerja sama dalam pertuturan dibagi menjadi empat maksim yaitu maksim kuantitas. Maksim cara usahakan agar informasi mudah dimengerti. maksim cara. 1993: 11). hindari pernyataan yang samar. Lewat cara-cara estetis bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan tersebut disajikan supaya pesan makna yang dikehendaki seniman dapat diterima. Menurut Grice. usahakan agar pernyataan anda ada relevansinya (dalam Leech. hindari ketaksaan dan usahakan agar ringkas. Untuk mengupayakan agar kandungan makna yang dikehendaki seniman dapat ditangkap dan sampai pada pasangan temanten. maksim kualitas. tepat sasaran dan lebih menyentuh sepasang temanten dengan tidak merasa dipaksa. Sistem pendidikan cara simbolik ini merupakan pilihan masyarakat yang masih merasa memiliki keterikatan emosional dan kesadaran atas budaya Jawa yang dirasakan dan dianggap mengandung nilai-nilai kehidupan yang layak dan tepat untuk diimplementasikan pada masyarakat hingga sekarang. seniman memandang perlu menerapkan prinsip kerja sama dan prinsip kesantunan secara selektif dalam bahasa verbal teks-teks sastra tembang yang terdapat pada genre tari pasihan. mendranira. dan maksim hubungan. mring 302 . seniman melanggar maksim kuantitas dan maksim cara. Pelanggaran maksim kuantitas yang terjadi dalam bahasa verbal genre tari pasihan adalah digunakannya kata-kata arkais.

tanpa basa basi (bald on record). Jenis-jenis tembang yang merupakan bahasa komunikasi dalam genre tari pasihan secara prinsip kerja sama dalam sebuah pertuturan terjadi pelanggaran maksim cara. sifatnya tersamar dan tidak ringkas karena telah terpola dengan guru lagu dan guruwilangan. mas rara. dimaksudkan oleh seniman untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa. lalis. sulistyane. yaitu: 1) melakukan TT secara apa adanya. wak-ingan. aginggang sarambut. terdapat lima strategi. nujuprana. dadya gantilaning tyas. dimaksudkan oleh seniman untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa. untuk menunjukkan adanya jarak sosial antara penutur dengan mitra tutur. rasaningtyas. wanodya di.dasih. Maksim kualitas dan maksim hubungan dipatuhi dimaksudkan oleh seniman supaya komunikasi rasa dapat berlangsung sehingga makna karya tari pasihan dapat ditangkap penghayat secara utuh. anggenya. dan dhuh mas jiwaku. dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur. ningsun. pinanggya. untuk menunjukkan kedekatan. sang pekik wah sang dyah ayu. Berdasarkan Teori kesantunan Brown dan Levinson (1987). 4) 303 . 3) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan negatif mengacu muka negatif (negative politiness). 2) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif mengacu muka positif (positive politiness). nandhang kingkin. angkling. keintiman. brangti. Adapun pelanggaran maksim cara yang terjadi dalam bahasa verbal genre tari pasihan. Pelanggaran maksim cara dalam bahasa verbal genre tari pasihan adalah digunakannya bahasa tembang yang pada dasarnya merupakan bahasa yang sulit dimengerti artinya. Adapun pelanggaran maksim kuantitas yang terjadi dalam bahasa verbal genre tari pasihan. wuyung. mustikaning. mring.

Hal ini dimaksudkan seniman penyusun untuk menunjukkan simbolisasi keharmonisan hubungan antara peran suami dan istri yang digambarkan dalam tari sebagai bentuk suritauladan yang layak untuk diteladani sepasang temanten. pola lantai. Bentuk bahasa nonverbal yang terdiri dari tema.melakukan TT secara tidak langsung (off record). kinetic body moves (gerak tubuh). keintiman. Mengacu Teori kesantunan Brown dan Levinson (1987) tersebut. prinsip kesantunan yang diterapkan dalam bahasa verbal genre tari pasihan dengan menggunakan strategi melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif dan strategi melakukan TT secara tidak langsung (off record). Dalam menyampaikan pesan makna yang terdapat dalam bahasa vebal seniman penyusun memandang perlu menggunakan bahasa nonverbal. Dukungan bahasa nonverbal pada tari pasihan merupakan media visual yang difungsikan sebagai sarana untuk mengekspresikan pesan makna yang dapat ditangkap oleh penghayat. busana. Prinsip kesantunan yang diterapkan dalam bahasa verbal genre tari pasihan dengan menggunakan strategi melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif untuk menunjukkan kedekatan. polatan. 5) tidak melakukan TT atau diam (don’t do the FTA). Di samping itu juga konsep yang mendasari strategi untuk melakukan TT secara tidak langsung (off record) untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa supaya dapat lebih menarik dan memikat serta menyentuh penghayat dan maknanya dapat ditangkap dan diterima sepasang temanten untuk dijadikan sebagai pelajaran yang bermanfaat dalam menata kehidupan keluarga baru. rias. dan iringan secara akumulatif 304 . dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur.

Seniman sering dalam menciptakan karyanya dilandasi rasa intuitif yang dalam. dan iringan gamelan. penuh estetik sehingga karya tari pasihan menjadi sarana ekspresi yang memikat. Adapun jenis-jenis gerak presentatif dan representatif yang berhubungan tidak langsung dengan bahasa verbal. tidak selalu didasari rasional belaka. sehingga 305 . mengingat aspek kebahasaan dan aspek nonbahasa memiliki makna yang sama. Perlu disadari bahwa karya seni merupakan bentuk simbol yang memerlukan penafsiran-penafsiran. pola lantai. Terpadunya bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan menjadi satu kesatuan seni pertunjukan yang utuh. Jenis-jenis gerak presentatif dan representatif yang berhubungan langsung dengan bahasa verbal akan memberi kemudahan terhadap penghayat dalam menafsirkan maksud dari seniman. busana. sehingga pesan makna yang hendak disampaikan menjadi lebih kuat dan mantap. rias.akan membentuk satu bentuk simbol yang mampu mengekspresikan makna tari pasihan menjadi lebih menyentuh dan semakin mantap. Strategi yang digunakan seniman penyusun dengan memanfaatkan jenis-jenis gerak presentatif dan representatif yang berhubungan langsung dan tidak langsung dengan bahasa verbal. Akumulasi dan kombinasi dari dua strategi penyampaian pesan yang digunakan seniman yang berupa jenis-jenis gerak presentatif dan representatif yang berhubungan langsung dan tidak langsung dengan bahasa verbal menjadi sangat kuat dan mantap dengan dukungan ekspresi wajah (polatan). mantap dan berkualitas. digunakan seniman penyusun untuk mengekspresikan makna dengan cara lebih tersamar dan ungkapan suasana yang muncul merupakan ekspresi yang dirasa memiliki kekuatan untuk menyampaikan makna.

direktif. Maksim kualitas dan maksim hubungan dipatuhi dimaksudkan oleh seniman supaya komunikasi rasa dapat berlangsung sehingga makna karya tari pasihan dapat ditangkap penghayat secara utuh. dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur digunakan kesantunan positif. dan memerintah dapat menyampaikan makna bahasa verbal sastra tembang yang berupa nasehat-nasehat cinta tersebut sesuai dengan fungsi keteladanan. ekspresif. hal ini dimaksudkan oleh seniman penyusun supaya bahasa verbal yang sifatnya mengajak. Pada aspek kebahasaan yang digunakan seniman penyusun dalam menerapkan prinsip kerja sama melanggar prinsip kuantitas dan prinsip cara yaitu dengan menggunakan kata-kata yang sifatnya arkais untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa. Selain itu tari pasihan juga memanfaatkan jenis-jenis TT: asertif. dan patik. untuk menyampaikan pesan maknanya tari pasihan. Hal ini dimaksudkan seniman penyusun untuk menunjukkan 306 . komisif. Dari beragam jenis TT yang mendominasi pada genre tari pasihan adalah TT direktif. Secara garis besar dapat dieksplisitkan bahwa genre tari pasihan merupakan beragam jenis tari yang mengangkat tema percintaan. meminta. Selain itu untuk menunjukkan kedekatan. keintiman. seniman penyusun memandang perlu memanfaatkan aspek kebahasaan atau bahasa verbal dengan menggunakan kata-kata cinta yang terakumulasi dalam bentuk sastra tembang Jawa. Dalam mengekspresikan maksudnya seniman juga memanfaatkan prinsip kerja sama dengan cara lebih selektif.kesan yang terungkap dari sajian sebuah karya seni perlu adanya perenungan kembali untuk mendapatkan sebuah makna yang utuh.

Peranan penari sangat penting artinya jika penari atau seniman penyaji berkualitas. Kesemuanya tadi menunjukkan adanya keselarasan antara bentuk bahasa verbal 307 . Dalam bahasa verbal secara keseluruhan tampak adanya koherensi antaraspek–aspek kebahasaan yang terakumulasi menjadi satu kesatuan saling berkaitan sehingga mencerminkan kesatuan makna yang dapat mengarahkan penghayat terhadap kandungan isi. Selain itu ditunjang bentuk rias dan warna busana sama yang mencerminkan menyatunya rasa cinta antara peran pria dan wanita.simbolisasi keharmonisan hubungan antara peran suami dan istri sebagai bentuk suritauladan. serta dukungan rasa musikal yang bernuansa percintaan. Dengan demikian tampak bahwa sebenarnya bahasa verbal itu sebagai petunjuk isi telah mencerminkan kesatuan pesan yang utuh sedangkan bahasa nonverbal bertindak sebagai pendukung dalam menyampaikan isi supaya menjadi lebih mantap. Komposisi antara bahasa verbal dengan nonverbal sebagai media ekspresi secara proporsional tampak selaras dan seimbang. Pada realitanya bahasa nonverbal pada tari pasihan memiliki kekuatan ekspresi sangat mantap ini juga sangat tergantung pada kualitas penari. Keselarasan ini tampak dalam bahasa verbal yang berupa tembang-tembang cinta didukung bahasa nonverbal yang berupa gambaran percintaan antara pria dan wanita yang menggunakan gerak-gerak yang merepresentasikan orang bercinta. Strategi melakukan TT secara tidak langsung (off record) yang dilakukan seniman terkait aspek kebahasaannya dimaksudkan untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa supaya dapat lebih menyentuh penghayat dan maknanya dapat diterima. ekspresinya semakin kuat dan mantap sebaliknya penarinya lemah kekuatan ekspresinya juga semakin lemah.

juga merupakan bentuk simbol percintaan yang bermakna bagi sepasang temanten untuk diteladani. Keseimbangan komposisi bahasa verbal dan nonverbal tercermin pada hampir seluruh sastra tembang yang terdapat dalam tari pasihan selalu diikuti dan didukung kinetic body moves. Tari pasihan dipandang sebagai bentuk hiburan terutama oleh masyarakat penonton secara umum. Dari sisi pandangan pakar. selaras dan seimbang sehingga bentuknya tari pasihan sebagai media ekspresi seniman penyusun merupakan komposit isi dan bentuk visual yang menunjukkan keutuhan sebuah karya seni.dengan nonverbal pada genre tari pasihan. kehadiran tari pasihan pada resepsi perkawinan selain sebagai hiburan. Bagi penonton umum bentuk yang menarik dari sisi ketampanan dan kecantikan penari dengan dukungan rias dan busana yang bagus serta dukungan suasana iringan gamelan yang dirasa sesuai rupanya telah cukup sebagai hiburan. Hubungan bahasa verbal dan nonverbal saling komplementer menjadi bentuk yang menyatu. Selain itu pandangan pakar tersebut juga mendapat rujukan dari pengamatannya bahwa pementasan jenis-jenis tari pasihan hanya pada resepsi perkawinan. Kehadiran tari pasihan dalam ritual resepsi perkawinan adat budaya Jawa merupakan salah bentuk hiburan dan suritauladan. Pernyataan tersebut muncul karena masyarakat penonton secara umum menghayati tari pasihan sebagai seni pertunjukan didasarkan pada pengamatan mereka hanya terbatas pada bentuk visual semata. 308 . sehingga pandangan pakar tentang fungsi tari pasihan sebagai hiburan dan suritauladan merupakan pernyataan yang lebih tepat. Pandangan pakar ini didasarkan pada pemahaman terhadap bahasa verbal dan penghayatan terhadap bentuk visual pada aspek nonbahasa yang terakumulasi dalam bentuk sajian tari pasihan.

Kedudukan penari pria dan penari wanita dalam tari pasihan yang tampil secara berpasangan itu merupakan simbol dari percintaan. 1972: 89-90). Begitu pula tari Bondhan Sayuk yang bersumber pada tema percintaan sepasang suami istri gambaran dari kalangan rakyat biasa. Pesta dan upacara pada saat peralihan sepanjang life-cycle itu merupakan suatu hal yang universal yang hampir ada pada setiap budaya manusia. Sifat universal pesta dan upacara sepanjang lifecycle terjadi karena adanya suatu kesadaran secara umum di dalam budaya manusia. gawat. Di dalam aktivitas budaya manusia ada yang menganggap bahwa saat peralihan dari tingkat sosial tertentu ke tingkat sosial lainnya itu merupakan crisis-rites yang penuh bahaya. menunjukkan bahwa penari pria berperan sebagai suami dan penari wanita berperan sebagai istri. Kiranya menjadi sangat tidak relevan dan tidak berarti bila penari diganti semua putri atau pria semua karena tidak lagi bermakna bagi sepasang temanten bahkan akan berkonotasi negatif. Hal itu dapat dicermati pada tari Karonsih mengangkat tema percintaan tokoh Panji Inukertapati sebagai suami dan tokoh Dewi Sekartaji sebagai istri. sehingga perannya menjadi mutlak. baik secara nyata maupun gaib (Koentjaraningrat. 309 .Pada hakekatnya tema percintaan yang digambarkan dalam genre tari pasihan adalah percintaan sepasang pria dan wanita. namun tidak semua saat peralihan itu dianggap sama pentingnya pada tiap-tiap budaya. Perkawinan merupakan salah satu dan suatu saat peralihan yang terpenting pada life-cycle dari semua manusia di seluruh dunia. yaitu peralihan dari tingkat hidup remaja ke tingkat hidup berkeluarga. bahwa setiap tingkat baru dalam life-cycle itu berarti menghantarkan si individu ke suatu tingkat dan lingkungan sosial yang baru dan lebih luas.

Berkaitan dengan tindakan simbolik untuk mendapatkan kekuatan magis simpatetis bagi masyarakat Jawa dalam perkawinan. dan pimpinan upacara tertentu. Dalam periode liminal ini seorang liminar berada dalam keadaan setengah-setengah. diperlukan kekuatan-kekuatan tertentu. mengingat upacara-upacara pada masa-masa melampaui saat-saat krisis sering dimaksudkan untuk menolak bahaya gaib yang mengancam individu dan lingkungan. pelaku. sebaliknya jika pelaksanaan tidak mentaati konvensi-konvensi yang telah berlaku. tidak menentu. segala ritual yang menyangkut dengan perjalanan hidupnya banyak diselimuti dengan simbolsimbol yang diharapkan dapat memberikan petuah. mereka takut tertimpa malapetaka (Soedarsono. Demikian halnya yang terjadi pada budaya masyakat Jawa di dalam melangsungkan sebuah upacara adat perkawinan. dan kebahagiaan hidup. pendidikan. tempat. yakni 310 . Ketentuan-ketentuan yang telah berlaku dalam upacara tersebut mereka yakini jika dilaksanakan dengan taat dan benar membawa berkah dan keselamatan. 1989: 157). suritauladan yang bermakna untuk keselamatan. Bagi masyarakat Jawa upacara tersebut merupakan sebuah upacara yang sangat sakral sepanjang daur hidupnya. dan ragu-ragu (Darsiti Soeratman.Periode transisi juga disebut periode liminal yang merupakan fase tengah dalam skema ritus transisi dari praliminal untuk menuju pascaliminal. Kesakralan itu sesuai dengan pendapat Soedarsono mengenai hal-hal yang dianggap penting dalam suatu upacara ritual yaitu waktu. perlengkapan. 1990: 4). Untuk itu crisis-rites bagi seorang liminal sangat penting. kedamaian. Bagi masyarakat Jawa yang masih lekat dengan budayanya. Kekuatan tersebut antara lain berupa magis simpatetis yang diwujudkan dengan tindakan atau perbuatan yang dapat melambangkan terjadinya pembuahan.

Hal ini terbukti pada masyarakat Jawa sekarang yang sudah mengalami kemajuan. penuh simbolis dan mengandung makna nilai-nilai percintaan yang sangat berarti bagi kehidupan sepasang temanten. yakni adanya hubungan antara pria dan wanita... they dance with the upper part of their bodies bent forwards. yaitu pada setiap ada acara upacara perkawinan akan hadir tari pasihan yang hendak 311 . yang diekspresikan para penari dengan membawa gambar tiruan organ-organ wanita dengan cara sebagai berikut... berkembang menuju masyarakat modern...adanya hubungan antara pria dan wanita seperti yang digambarkan pada tari pasihan. Rupanya. Pernyataan tersebut sejalan dengan pendapat Koch Grundberg yang menggambarkan sebuah tari kesuburan dari suku Indian Coneba di Brasil. Hampir dapat dipastikan bahwa pada setiap upacara perkawinan akan hadir tari pasihan. untuk mendapatkan kesuburan dengan cara menanggap jenis tari duet percintaan atau tari pasihan yang merupakan tarian kesuburan yang diekspresikan lewat sebuah garapan gerak-gerak presentatif dan representatif. Mereka dalam melakukan upacara perkawinan. sudah mengakar pada budaya masyarakat Jawa. 1969: 21). (dalam Richard Kraus. tindakan yang dapat melambangkan terjadinya pembuahan.. They carry the vertility into every corner of the houses. dilakukan secara simbolis. Suddenly they jump wildly along with violent coitus motions and loud groans. Pada masyarakat yang sudah lebih maju.. Hubungan dimaksud pada masyarakat yang masih melestarikan budaya purba kadang-kadang dilakukan lebih realistis (Soedarsono dalam Soedarso. 1991: 35). the jump among the women – the knock the phalli one against another. Stamping with the right foot and singing.. Salah satu sarana upacara perkawinan adat Jawa yang cukup penting adalah tari pasihan.

Kehadiran genre tari pasihan yang menggambarkan percintaan pria dan wanita dalam kehidupan sosial masyarakat terutama konteksnya pada ritual perkawinan adat Jawa rupanya mempunyai makna simbolik yang sangat penting terutama bagi kedua mempelai dalam rangka mempersiapkan diri untuk mengarungi kehidupan di masyarakat yaitu menuju terbentuknya keluarga yang bahagia. Genre tari pasihan memiliki fungsi yang dalam terutama bagi sepasang mempelai temanten yang tercermin pada komplementer bahasa verbal dan nonverbalnya.diteladani oleh kedua mempelai. Simbolisme semacam ini tampak pada genre tari pasihan yang hadir dalam rangkaian upacara-upacara perkawinan adat Jawa. Menurut Clifford Geertz (1992: 6). bahwa ‘simbol’ tampak terbatas pada sesuatu yang mengungkapkan secara tidak langsung. baik secara simbolik maupun sebagai santapan estetis terasa menyatu dengan situasi upacara. Seolah–olah keberadaan genre tari pasihan dalam budaya Jawa menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan terutama pada upacara-upacara perkawinan. sehingga perlu perantara yang berwujud simbol-simbol dalam puisi bukan dalam bentuk pengetahuan. Hampir dapat dipastikan sarana yang digunakan sebagai kelengkapan berlangsungnya upacara perkawinan memiliki makna simbolik yang difungsikan untuk menasehati sepasang temanten agar dapat membangun keluarga yang bahagia lahir dan batin. mengingat merupakan satu-satunya bentuk sajian tari yang bermakna. Bagi masyarakat Jawa upacara perkawinan merupakan saat yang dianggap penting sehingga sarana–sarana yang mendukung peristiwa perkawinan sangat diperhitungkan sangat teliti. Peristiwa budaya ini membuat kehadiran tari pasihan dalam upacara perkawinan sangat ditunggu-tunggu masyarakat. 312 .

Bentuk sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temanten terpancar dari kekuatan cinta sepasang penari pria dan wanita yang digambarkan dalam tari pasihan dimaksudkan dapat dihayati sepasang temanten sehingga bayangan-bayangan cinta yang diekspresikan oleh seniman mampu memicu dan memacu kehidupan imajinasi cinta sepasang temanten. pasangan penari pria dan wanita setelah bercinta kemudian membawa boneka sebagai simbol telah diberi keturunan anak. Hal ini juga semakin tampak jelas digambarkan secara lebih aktual pada tari Bondhan Sayuk. Selain itu bentuk dukungan sugesti juga digambarkan ketika adegan penari putri memberikan boneka anak kepada 313 .Pada dasarnya genre tari pasihan gaya Surakarta merupakan simbolisasi percintaan sepasang manusia yang berjenis kelamin pria dan wanita. yaitu mampu mempengaruhi kesuburan dalam proses perkawinan pasangan temanten. Kekuatan imajinasi percintaan yang digambarkan sepasang kekasih dalam tari pasihan diharapkan dapat memberikan kekuatan magis simpatetis terhadap kehidupan jiwa sepasang mempelai temanten. Selain itu kehadiran tari pasihan hampir dapat dipastikan dalam resepsi perkawinan. Simbolisasi tersebut merupakan harapan besar yang dapat memberikan sugesti sepasang temanten untuk segera diberi keturunan anak. Dalam perjalanan kisahnya percintaan sepasang suami istri yang digambarkan pada tari pasihan. Rupanya terdapat korelasi yang sangat signifikan bahwa kehadiran tari pasihan dalam resepsi perkawinan diharapkan dapat diteladani dan memberikan sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temanten. dalam menjalani kehidupan berawal menghadapi permasalahan kemudian mendapat solusi yang menjadi berangsur-angsur membaik dan berakhir bahagia.

Pada hakekatnya dalam komunikasi seni bahwa pernyataan atau maksud X tidak pasti ditangkap atau diterima persis X. Dari hasil komunikasi antara maksud seniman penyusun dengan tanggapan masyarakat menunjukkan adanya persamaan makna atau maksud. Lewat kekuatan magis simpatetis yang diekspresikan genre tari pasihan akan dapat menyuburkan benih-benih cinta yang tengah berkembang pada sepasang temanten yang akhirnya mampu melahirkan buah cinta yang berupa momongan anak. Perbedaan yang tampak adalah terletak pada kadar tebal dan tipisnya sebuah makna. Bagi penghayat pakar seni menangkap makna berdasarkan pementasan tari pasihan. harmonis. terdapat pasangan suami istri yang romantis. Perbuatan simbolik dalam pertunjukan tari Bondhan Sayuk lebih tampak jelas dan lebih dekat kearah realitas tujuan bercinta dalam sebuah kehidupan keluarga. Pada dasarnya kedua orang tua temanten mengawinkan putra-putrinya dengan cita-cita untuk segera diberi keturunan yang berupa anak. Artinya pesan yang dimaksudkan seniman dengan makna yang ditangkap pakar seni sama-sama dalam koridor atau wilayah nilai-nilai percintaan. dan bahagia. kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga. harmonis. dan sikap-sikap ideal bagi figur suami maupun figur istri merupakan pesan makna yang hendak disampaikan oleh seniman penyusun. dan bahagia.temanten putri. sebagai pewaris dan penerus keluarga. Tindakan atau perbuatan tersebut merupakan perbuatan simbolik yang menunjukkan adanya kekuatan – kekuatan tertentu yang tidak kelihatan mata yang bersifat magis simpatetis diharapkan dapat diterima temanten putri. bagaimanapun handalnya seniman 314 . Nasehat-nasehat cinta kasih yang merupakan makna dari bahasa verbal berupa: pasangan keluarga yang romantis.

dan relaks serta memiliki sistem ekspresi dan evaluasi yang baik 315 . Kelemahan yang terdapat pada genre tari pasihan sedikit banyak dipengaruhi kualitas penari yang lemah sebagai penyampai isi dan iringan tari yang berupa kaset rekaman atau CD. Prinsip utama yang sangat penting dalam komunikasi seni adalah terjadinya komunikasi rasa. prinsip kadarnya tetap berbeda tidak persis sama.dalam menciptakan karya seni dan hebatnya pakar seni dalam menilai karya. sedangkan penghayat berusaha menangkap maksud yang dikehendaki seniman tersebut dengan cara memberikan makna terhadap karya seni. Pada prinsipnya penafsiran terhadap keragaman media komunikasi yang terdapat dalam tari tidak mampu hanya ditangkap secara rasional semata tetapi ketajaman rasa merupakan ujung tombak dalam menangkap makna yang sebenarnya. segar secara total baik jasmani maupun rohani. Kadar pemahaman juga sangat tergantung dari bekal yang dimiliki oleh seniman dan penghayat. yakni seniman dengan menciptakan kreativitas artistik sedangkan penghayat mencipta nilai dengan kreativitas estetik. enerjik. Sebagai penari atau penyaji. Kondisi pisik penari harus benar-benar dalam keadaan sehat. seorang seniman harus mempunyai kemampuan baik pisik maupun nonpisik. Seniman pada dasarnya tidak lain sebagai manusia yang menyediakan sebuah susunan benda pacu atau lambang-lambang sensa yang diharapkan akan ditafsirkan penghayat seperti yang dimaksudkan olehnya. dalam penghayatan karya seni terjadi aktivitas kreatif. Bagi seniman dalam menciptakan karya seni. Kadar pemahaman makna dalam karya seni yang berupa komunikasi rasa. berupaya menciptakan benda-benda pacu yang memiliki nilai estetik dalam rangka menyampaikan maksud. Menurut Sutopo (1995: 12-13).

Selain itu penari harus juga mampu menguasai ruang dan waktu. dan penguasaan irama (Wisnoe Wadhana.seperti: keseimbangan. Sebagai seniman. Persiapan nonpisik bagi penari berupa kepekaan rasa. Generasi sekarang banyak yang awam terhadap mistik tersebut. Maka ia pun akan selalu patut dalam perannya. berbobot magis. akan terjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat dan dapat diprediksikan eksistensinya sebagai seniman mendapat dukungan dan pengakuan penuh dari masyarakat pendukungnya. dan bekal pengalamannya sehari-hari diharapkan mampu menafsirkan karya-karya tari dari seorang koreografer sehingga dapat menyajikan secara ekspresi sesuai dengan peran karakternya. ia akan dapat mengarahkan sekaligus mendidik peningkatan daya apresiasi masyarakat terhadap karya-karya tari ciptaannya yang 316 . Menurut Wisnoe Wadhana : kesempurnaan menari Jawa klasik tradisional hanya dapat diraih apabila si penari juga mendalami mistik Jawa. berada dalam puncak prestasi keteladanan (1994: 45-46). Selama seniman mampu mengungkapkan nilai-nilai budaya dan norma-norma sosial yang terangkum dalam sebuah pesan-pesan lewat karya tari secara indah. terasakan hambar kosong belaka. Keberhasilan mereka menyampaikan pesan-pesan tergantung dengan kemampuan menyeleksi materi-materi sebagai sarana ungkap dan tidak lepas dari kemampuan masyarakat penikmat untuk menangkap yang sudah barang tentu mengacu pada nilai-nilai budaya dan norma-norma sosial yang hidup dan berkembang. ketepatan gerak ekspresi. Peranan tubuh penari sangat vital untuk sarana ekspresi. kelenturan. ratio. sehingga sekalipun dapat menari Jawa dengan penguasaan teknik yang sangat baik. ketrampilan. Padahal ukuran kehebatan seorang penari klasik tradisional Jawa haruslah isi. 1984: 31). dan kepekaan rasa menjadi sangat pokok sebagai rohnya dalam sajian tari. luwes dan terampil dalam penampilan.

1980:46). Rupanya hanya penari yang berkualitas yang terlatih yang mampu menyajikan dan menyampaikan isi atau makna yang terkandung dalam genre tari pasihan. Seni tradisional termasuk tari sebagai budaya yang diwarisi secara turun-temurun sudah barang tentu memiliki kesinambungan dengan budaya sebelumnya. Sebaliknya jika penarinya tidak berkualitas. ia akan lemah dan tidak mampu mengekspresikan muatan isi seperti yang diharapkan oleh seniman pencipta. 1991:10).pada gilirannya menumbuhkembangkan kehidupan tari secara wajar. Kualitas seorang penari hanya akan tercapai bila penari mampu menghayati dan mengekspresikan sesuai dengan perannya secara totalitas jiwa. sehingga kekuatan ekspresinya akan mampu mengungkapkan isi secara mantap. Pewarisan budaya tidaklah bersifat statis. yaitu bentuk dan iramanya sangat kuat dilatarbelakangi oleh konsep keindahan dan tradisi kebudayaannya (Humardani. tidak terlatih. tetapi masing-masing generasi mencoba untuk mengadakan perubahanperubahan disesuaikan dengan kondisi kehidupan masyarakat pendukungnya. Pada dasarnya seniman hanya menyediakan suatu susunan pacu atau lambang-lambang sensa yang diharapkannya akan kita tafsirkan seperti yang dimaksudkan olehnya (Parker. Kelemahan dari kualitas penari sebagai penyampai isi tari yang dimaksudkan seniman merupakan kendala yang sangat vital karena hanya dari 317 . Gabungan garap pisik dan olah rasa yang matang akan menghasilkan kualitas penari yang mumpuni atau berbobot. Keluluhan jiwa seorang penari dalam menyajikan karakter tari merupakan puncak prestasinya sebagai seorang seniman. Dalam tari Jawa bentuk ekspresinya pada hakekatnya terwujud berdasarkan alam emosi. Ketajaman dan kepekaan rasa yang dimiliki penari dapat teraktualisasi dalam sebuah sajian tari dan mampu menggugah intuisi para penghayat.

Hal ini merupakan kelemahan yang terdapat pada sajian genre tari pasihan jika tidak menggunakan iringan langsung dengan gamelan. kekuatan ekspresinya menjadi semakin mantap karena selain kekuatan rasa musikal yang muncul dari garap gendhing-gendhing karawitan juga didukung kekuatan penari dalam membawakan tembang akan tampak lebih ekspresip. Secara ringkas dapat dikatakan kelemahan kualitas penari dalam menyajikan jenis tari pasihan akan mempengaruhi kekuatan ekspresi dan mengurangi pada kemantapan rasa penghayat.ekspresi penari makna tari dapat ditangkap atau dihayati oleh penonton. karena selain rasa musikal yang muncul sudah terasa lemah. 318 . Kekuatan ekspresi menjadi kurang mantap jika dengan iringan yang sifatnya tidak langsung dengan iringan gamelan. Jika dengan iringan gamelan langsung. Hasilnya akan berbeda jika sajiannya genre tari pasihan dengan iringan kaset atau rekaman CD. Dalam sajiannya genre tari pasihan dapat diiringi gamelan secara langsung dan iringan tidak langsung yaitu dengan iringan kaset atau rekaman CD. juga tidak mendapat dukungan ekspresi tembang dari penari secara langsung.

Berdasarkan temuan penelitian dan hasil pembahasan dari keterkaitan tiga faktor objektif. dan afektif dapat disimpulkan bahwa kehadiran genre tari pasihan dalam upacara ritual resepsi perkawinan berfungsi sebagai hiburan dan suritauladan. Maksud dan harapan seniman penyusun tersebut ditangkap oleh masyarakat sebagai sesuatu yang harus diteladani. Simpulan. Kehadiran genre tari pasihan dalam resepsi perkawinan dimaksudkan oleh seniman untuk mengajak. dan bahagia yang terdapat dalam tari tersebut dirasa sangat tepat dan ditangkap secara mantap sebagai suatu bentuk edukatif atau pengajaran yang bersifat tidak langsung dan sangat bermanfaat bagi sepasang temanten untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dalam menggapai keluarga bahagia lahir dan batin. harmonis. meminta dan menyuruh terhadap sepasang temanten untuk memahami dan meresapi makna isi yang terkandung dalam bahasa verbal sastra tembang yang disampaikan dengan bahasa nonverbal dalam bentuk visual yang estetik supaya melakukan tindakan atau perbuatan seperti yang dicontohkan dalam pertunjukan tari pasihan tersebut.BAB V PENUTUP A. genetik. mengingat gambaran percintaan pasangan suami istri yang romantis. 319 . yaitu pada setiap ada acara upacara perkawinan akan hadir tari pasihan yang hendak diteladani oleh kedua mempelai. Rupanya sudah mengakar pada budaya masyarakat Jawa. Peranan genre tari pasihan dalam upacara ritual resepsi perkawinan memiliki makna yang cukup signifikan bagi sepasang temanten.

pola lantai. layak. busana. Dalam bahasa verbal telah tampak adanya koherensi antaraspek–aspek kebahasaan yang terakumulasi menjadi satu kesatuan saling berkaitan sehingga mencerminkan kesatuan makna yang dapat mengarahkan penghayat terhadap kandungan isi. Bahasa nonverbal merupakan bentuk visual yang bersifat estetik sudah memperlihatkan adanya koherensi antarelemen-elemen dan saling berkaitan untuk mendukung dalam menyampaikan isi supaya menjadi lebih mantap. mengingat merupakan satu-satunya bentuk sajian tari yang bermakna. yang sekaligus bertindak sebagai penyampai pesan makna yang secara komposit telah terkait dan saling melengkapi sebagai seni pertunjukan yang utuh dan mantap. rias. dan mantap sebagai sebagai hiburan dan suritauladan. gerongan. Bentuk seni pertunjukan genre tari pasihan merupakan komposit bahasa verbal dalam wujud sastra tembang yang terdapat dalam bentuk pathetan. Harmonisasi dan keseimbangan antara bahasa verbal dan nonverbal dalam genre tari pasihan telah mencerminkan kesatuan makna yang saling mendukung maka karya seni genre tari pasihan layak dan mantap sebagai seni pertunjukan yang berkualitas tinggi.Peristiwa budaya ini membuat kehadiran tari pasihan dalam upacara perkawinan sangat ditunggu-tunggu masyarakat. polatan. Kedua komponen yaitu bahasa verbal sebagai isi atau pesan makna dan bahasa nonverbal dalam bentuk visual sebagai pendukung pemantapan makna. kinetic body moves (gerak tubuh). ditunjukkan bahwa jenis-jenis tari pasihan tersebut sampai sekarang hidup dan 320 . dan jineman dengan bahasa nonverbal berupa: tema. dan iringan. sindhenan. Kekuatan genre tari pasihan sebagai seni pertunjukan yang berkualitas. baik secara simbolik maupun sebagai santapan estetis terasa menyatu dengan situasi upacara.

Pada prinsipnya masing-masing komponen baik bahasa verbal maupun bahasa nonverbal memiliki kedudukan yang sama yaitu berfungsi untuk mengekspresikan maksud seniman penyusun. TT ekspresif. adapun bentuk perintah tersebut bersifat simbolik dalam bentuk yang estetik. Pada dasarnya bahasa verbal lebih berfungsi sebagai penunjuk isi sedangkan bahasa nonverbal sebagai penyampai isi supaya lebih menyentuh jiwa penghayat dan menjadi semakin mantap. Kehadiran tari pasihan dalam resepsi perkawinan diharapkan dapat diteladani dan memberikan sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temanten. Diharapkan dengan dominasi jenis TT direktif sangat tepat untuk menyuruh supaya meneladani. Komplementer dua komponen bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan saling mengait. TT komisif.berkembang di masyarakat terutama pada upacara-upacara ritual resepsi perkawinan. Dalam mendukung kesatuan makna. Bentuk sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temanten terpancar dari kekuatan cinta sepasang penari pria dan wanita yang digambarkan dalam tari pasihan 321 . saling melengkapi sehingga bahasa verbal yang berupa sastra tembang mampu memperjelas dan menyatukan teks dengan bentuk visual dalam kesatuan makna yang utuh. Nilai-nilai keteladanan yang digambarkan pada genre tari pasihan pada hakekatnya merupakan bentuk simbolisasi cinta kasih sepasang suami istri. bahasa verbal berfungsi untuk melengkapi dan mendukung bahasa nonverbal sebagai bentuk visual. Dari beragam jenis TT yang paling dominan adalah TT direktif. TT direktif. dan TT patik. Sebagai kandungan makna atau isi. aspek bahasa verbal yang dimanfaatkan oleh seniman penyusun dalam karya tari pasihan adalah: TT asertif.

dimaksudkan dapat dihayati sepasang temanten sehingga bayangan-bayangan cinta yang diekspresikan oleh seniman mampu memicu dan memacu kehidupan imajinasi cinta sepasang temanten. sebagai pewaris dan penerus keluarga. Saran. B. Diharapkan nasehat-nasehat tentang cinta kasih tersebut bermanfaat bagi sepasang temanten sebagai bekal untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dalam membangun sebuah keluarga. yaitu mampu mempengaruhi kesuburan dalam proses perkawinan pasangan temanten. dan bahagia. Pada intinya bentuk daya pragmatik genre tari pasihan adalah berupa nasehat-nasehat tentang cinta kasih yaitu pasangan keluarga yang romantis. dan sikap-sikap ideal bagi figur suami maupun figur istri. Diharapkan kekuatan magis simpatetis dapat mendorong menyuburkan benih-benih cinta yang tengah berkembang dan mampu memberikan sugesti terhadap sepasang temanten untuk segera diberi keturunan yang berupa momongan anak. harmonis. Pada dasarnya kedua orang tua temanten mengawinkan putraputrinya dengan cita-cita untuk segera diberi keturunan yang berupa anak. Tindakan atau perbuatan tersebut merupakan perbuatan simbolik yang menunjukkan adanya kekuatan–kekuatan tertentu yang tidak kelihatan mata yang bersifat magis simpatetis. Kekuatan imajinasi percintaan yang digambarkan sepasang kekasih dalam tari pasihan diharapkan dapat memberikan kekuatan magis simpatetis terhadap kehidupan jiwa sepasang mempelai temanten. kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga. Bentuk seni pertunjukan genre tari pasihan atau tari pasihan adalah karya seni dari seniman yang berkualitas tinggi dan telah teruji terbukti sampai sekarang 322 .

mengetahui. b) Pengrawit dalam mengubah jenis-jenis gendhing maupun cakepan atau bahasa verbalnya yang terdapat pada genre tari pasihan hendaknya harus sadar dan mempertimbangkan segi fungsinya. hingga memahami tentang pesan makna yang disampaikan dari sebuah tari. 323 . Sehingga kemantapan dan validitas sebagai sebuah karya seni yang berkualitas tidak diragukan lagi untuk itu perlu peneliti sarankan kepada: a) Penari dalam mengubah pola-pola pakaian dan pola-pola sekaran yang terdapat pada genre tari pasihan hendaknya harus sadar dan mempertimbangkan segi fungsinya.hidup dan berkembang sebagai hiburan dan suritauladan bagi bagi sepasang temanten dan masyarakat pada umumnya. Diharapkan kualitas dan kuantitas penilaian dari masyarakat terhadap tari semakin meningkat sehingga kehidupan seni pertunjukan semakin hidup dan berkembang dalam lingkungan budaya yang layak dan proporsinal. c) Kritikus hendaknya lebih banyak memberikan penilaian terhadap karyakarya yang dipublikasikan supaya masyarakat mulai mengenal.

C. Terjemahan: Rahayu S. Perubahan Tari Lambangsih. 1916. Pengantar Linguistik Umum. Geertz. Cook.K. Dwi Yasmono. 1994. Halliday. Brown. dalam Esther N. 1999. Bandung: PT Erisco. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Edi Subroto. Surakarta: UNS Press. Jurnal Wiled. 1989. 1992. Discourse. Perkembangan Tari Enggar-Enggar. Pragmatics ang Discourse. Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia. de Saussure. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. dan Ruqaiya Hasan. Dwi Maryani. Levinson. Surakarta: STSI Press. . Jakarta: Depok. Oxford: Oxford University Press. STSI: Surakarta. 1987. 1976. Hidayat. 324 .D. Cutting. Kebudayaan dan Agama. T. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Cambridge: Cambridge University Press. Cohesion in English. Joan. London and New York: Routledge. H. EM Zul Fajri dan Ratu Aprillia Senja. PPS-UNS. Modul Pembelajaran: Pengantar Linguistik. Clifford. Makalah berjudul “Implikatur Percakapan: Perspektif Grice dan Perspektif Sperber & Wilson”. 2006. 1999. 1993. Pengantar Ilmu Komunikasi. STSI: Surakarta. 2002. Ferdinand. 2007. PN: Difa Publisher.A. Metode Linguistik.DAFTAR PUSTAKA ACUAN Asim Gunarwan. Cangara. 2007. Goody (ed) Questions and Politeness. Tanpa Taun. Hafied. Fatimah Djajasudarma. M.Yogyakarta: Kanisius. Penelope and S. Guy. Budhisantoso. London: Longman Group Ltd. Pengantar Metode Penelitian Linguistik Struktural. Tanpa Tahun. ‘Universals in language usage: Politeness phenomena’.

dan I. . Pragmatics: An Introduction. Jumanto. Maryono. Oka. STSI: Surakarta. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 1987. Problematika Seni. Lamuddin Finoza. UI: Jakarta. Jacob L. Jakarta: PT Rineka Cipta. 1993. 2007. Pemikiran & Kritiknya.K. Komunikasi Fatis Di Kalangan Penutur Jati Bahasa Inggris. 1990. Pengantar Ilmu Antropologi. 1983. Kebudayaan Jawa.Paul. . London: Routledge. London: K. W. P. Introducing English Semantics. Bloomington: Indiana University Press. Langer. Principles of Pragmatics.J. Malinowski. Benny H. 2003. 1991. Leech. Oxford: Blackwell. Geoffrey.Hoed. Moleong. Trend. Muhammad Rohmadi. Humardani.W. 1988. 1999. London: Longman. Terjemahan: Fx. dan Trubner.J. Handbook of Semiotics. Surakarta: STSI Press. 2001. Bahasa dan Sastra dalam Tinjauan Semiotik dan Hermeneutik.A. Kreidler. Lexy. Ibrahim Alfian. Komposisi Bahasa Indonesia. The Problem of Meaning in Primitive Languages dalam Ogden. Charles. Metodologi Penelitian Kualitatif. 325 . Richards (ed). 2004. Karonsih. Widaryanto. Yogyakarta: UGM. Suzanne K. Nababan. Jakarta: Balai Pustaka. C. Ilmu Pragmatik. Prinsip-prinsip Pragmatik. Yogyakarta: Lingkar Media. 1991. T. 1984. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Noth. 1990. Mey. Pragmatik: Teori dan Analisis. Bronislaw. Winfried. 1923. Jakarta: Diksi Insan Mulia. Koentjaraningrat.D. Disertasi. 2006.D. Universitas Indonesia: UI Press. 1998. Editor: Rustopo. Bandung:STSI. Makalah berjudul: “Disiplin Sejarah dalam Merekonstruksi masa Lampau untuk Menyongsong Masa Depan”. 2005. Terjemahan: M. The Meaning of Meaning.

Read. M. Essex: Longman Rogers.B. Kritik Seni Holistik Sebagai Model Pendekatan Penelitian Kualitatif. 1990. Beberapa Catatan Tentang Perkembangan Kesenian Kita. Jakarta: Ghalia Indonesia. 1993. Terjemahan:Soedarso. Yogyakarta: Gadjah Mada university Press. Searle. Metodologi Penelitian Kualitatif. Sp. Herbert. Dasar-dasar Estetika. Surakarta: Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI). John R. Yogyakarta: CV Karyono. 2006. 1995. 1990. Yogyakarta: Saku Dayar Sana. Soerjono Soekanto. Sunan.C et al. Makalah berjudul: “Peranan Seni Budaya dalam Sejarah Kehidupan Manusia: Kontinuitas dan Perubahannya.Pakubuwono IV. 1980. 1991. Amsterdam: John Benjamins Publishing Company.M. Yogyakarta:UGM. Soedarsono. Soedarso Sp. Longman Dictionary of Language Teaching and Applied Linguistics. Perkembangan Gamelan Kontemporer. 1969. 1996. Discourse Studies: an Introductory Textbook. Surakarta: Universitas Sebelas Maret. Sintaksisi. Rustopo. Speech Acts: An Essay in The Philosophy of language. Ramlan. Sebelas Maret University Press. R. De Witt. Ilmu Bahasa Indonesia. 1987. 1981. . Renkema Jan. 1979. Surakarta: Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI). New York: Free Press. 1983. Jakarta: PN Buku Sastra Indonesia dan Daerah. Yogyakarta: ISI. Pengertian Seni. . Terjemahan: Yanti Darmono. . J. Pengantar Pengetahuan Dan Komposisi Tari. Terjemahan: SD. Richards. Cambridge: Cambridge University Press. . 1985. 1978. Seni Pertunjukan. Lawrence Kincaid. Teori Sosiologi tentang Perubahan Sosial. Jakarta: Yayasan Harapan Kita/BP 3 TMII. 1992. Communication Network: Towards a Newq Paradigm for Research. H. Departemen P dan K. Humardani. Sutopo. Yogyakarta: Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI). 326 . Indonesia Indah: Tari Tradisional Indonesia. 2003. Parker.H. Everett M and D.

Spradley. 8. Yogyakarta: PN BACA. . Singapore: National Institute of Education. Karangannyar: pakar tembang dan karawitan. 1996. Yogyakarta: Andi Offset. Boyolali: penari dan penyusun tari. Dasar-dasar Pragmatik. Linguistics. Daryono. Surakarta: pakar tembang dan karawitan serta penanggap. Yule. Editor: Archibald A. Darsono. Wijana. Dewa Putu I. The Mathematical Theory of Communication. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Jr. Perkembangan Tari Gambyong Gaya Surakarta 19501993. Metode Etnografi. 1994. 11. Terjemahan:Misbah Zulfa Elizabeth. Agus Tasman. Membaca Bahasa Tubuh. Rusini. 9. Surakarta: penyusun tari. 2. DAFTAR NARA SUMBER 1. W. Gordon R. Terjemahan: Narulita Yusron. Yogyakarta: PT Tiara Wacana. J. Henry Lee. Sukoharjo: penari. Pragmatik. Sri Rochana. George. 1994. Jurnal Wiled. Surakarta: penari. Smith. Karawitan Wayang Kulit Purwa Gaya Surakarta. Hartoyo. Wainwright. Waridi.P. 1998. 3. 1997. Karanganyar: penari. Terjemahan: Indah Fajar Wahyuni. Sukoharjo: vokal putri (pesindhen). 327 . 7. Rusdiantara. Surakarta: penyusun tari dan penari. Karanganyar: penari.Shannon. Ninik Sutrangi. 1949. Pragmatics. Voice of America Forum Lectures. 2005. Nora Kustantina Dewi.Surakarta: STSI Press. Surakarta: pakar tari. 5. Nuryanto. 4. 10. 1969. Wisnoe Wardhana. Hari Subagya. 2006. 2006. 6. pakar tari dan budayawan. Urbana: University of Illinois Press. Nartutik. Hill. Jakarta: Sena Wangi.S. Claude M and Warren Weaver.

dan pakar tari. 16. 328 . Sri Lestari. Boyolali: penari. Slamet Riyadi. Karanganyar: pakar tembang dan karawitan. Surakarta: pakar karawitan.12. 14. penyusun tari. 15. Slamet Suparno. Sudarmin. Sunarno. Sukoharjo: penangggap. Surakarta: penari. 13.