1

KOMPONEN VERBAL DAN NONVERBAL DALAM GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA (Kajian Pragmatik) DISERTASI
Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan dalam Mencapai Derajat Doktor Program Studi Linguistik Minat Utama Linguistik Pragmatik dan Dipertahankan di Hadapan Sidang Senat TerbukaTerbatas di Bawah Pimpinan Rektor Universitas Sebelas Maret Prof. Dr. H. Much Syamsulhadi, dr., Sp.KJ. (K) Pada Hari Rabu Kliwon, 7 April 2010

Oleh : Maryono NIM. T 130906005

PROGRAM PASCASARJANA PROGRAM STUDI LINGUISTIK (S3) UNIVERSITAS SEBELAS MARET

2

SURAKARTA 2010 DISERTASI KOMPONEN VERBAL DAN NONVERBAL DALAM GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA ( Kajian Pragmatik)

Oleh : Maryono NIM. T 130906005

DISETUJUI OLEH PEMBIMBING
1. Prof. Dr. M. Sri Samiati Tarjana. NIP. 194 406 021 965 112 001 (Promotor) …………………………

2. Prof. Dr. T. Slamet Suparno, S.Kar.,M.S. NIP. 194 812 191 975 011 001 (Ko-Promotor )

…………………………

Mengetahui Ketua Program Studi S3 Linguistik

3

Prof. Dr. H. D. Edi Subroto. NIP. 194 409 271 967 081 001

KOMPONEN VERBAL DAN NONVERBAL DALAM GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA ( Kajian Pragmatik)
DISERTASI UNTUK MEMPEROLEH GELAR DOKTOR DALAM BIDANG LINGUISTIK MINAT UTAMA: LINGUISTIK PRAGMATIK DIPERTAHANKAN DI HADAPAN DEWAN PENGUJI PADA SIDANG SENAT TERBUKA TERBATAS PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA PADA TANGGAL: 7 APRIL 2010 OLEH: MARYONO LAHIR DI BOYOLALI, 15 JUNI 1960 DEWAN PENGUJI: 1. Prof. Dr. H. Much Syamsulhadi, dr., Sp.KJ. (K) (Penguji Utama) 2. Prof. Drs. Suranto, M.Sc., Ph.D. (Sekretaris merangkap Anggota) 3. Prof. Dr. M. Sri Samiati Tarjana. (Promotor merangkap anggota) 4. Prof. Dr. T. Slamet Suparno, S.Kar., M.S. (Ko-Promotor merangkap anggota) 5. Prof. Dr. H. D. Edi Subroto. (Anggota) 6. Prof. Dr. Soepomo Poedjosoedarmo. (Anggota) 7. Prof. Dr. H. Soetarno, DEA. (Anggota) 8. Dr. Sumarlam ., M.S. (Anggota) .................................... .................................... .................................... .................................... .................................... .................................... .................................... ....................................

4

Mengetahui Rektor Universitas Sebelas Maret

Prof. Dr. H. Much Syamsulhadi, dr., Sp.KJ. (K) NIP. 194611021976091001

SURAT PERNYATAAN
Yang bertanda tangan di bawah ini Nama NIM Program Program Studi Tempat/Tanggal Lahir Alamat : Maryono : T 130906005 : Pascasarjana (S3) UNS : Linguistik : Boyolali, 15 Juni 1960 : Melikan Rt 01, Rw 08, Palur, Mojolaban, Sukoharjo

Menyatakan

dengan

sesungguhnya

bahwa

disertasi

saya

yang

berjudul:

KOMPONEN VERBAL DAN NONVERBAL DALAM GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA (Kajian Pragmatik) adalah asli (bukan jiplakan) dan belum pernah diajukan oleh penulis lain untuk memperoleh gelar akademik tertentu. Semua temuan, pendapat atau gagasan orang lain yang dikutip dalam disertasi ini ditempuh melalui tradisi akademik yang berlaku dan dicantumkan dalam sumber rujukan dan atau dalam Daftar Pustaka. Apabila kemudian terbukti pernyataan ini tidak benar, saya sanggup menerima sangsi yang berlaku.

5

Surakarta, 7 April 2010 Yang membuat pernyataan

Maryono

KATA PENGANTAR
Syukur alhamndulillah penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, atas ridha dan kehendak-Nya, sehingga disertasi ini dapat selesai tepat pada waktu yang diharapkan. Sepenuhnya penulis sadari bahwa tanpa bantuan dari berbagai pihak, mustahil disertasi ini dapat selesai. Untuk itu, kanthi linambaran trapsilaning manah, perkenankan penulis sampaikan ucapan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. H. Much Syamsulhadi, dr., Sp.KJ (K), Rektor UNS yang telah
memberi kesempatan penulis untuk menyelesaikan studi program doktor di Universitas Sebelas Maret Surakarta.

2. Prof. Dr. H. Soetarno, DEA, atas dukungan dan nasihat sejak masih menjabat
Ketua Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta sampai sekarang sehingga penulis dapat menyelesaikan program doktor di UNS.

3. Prof. Drs. Suranto, M.Sc., Ph.D, selaku Direktur Program Pascasarjana
Universitas Sebelas Maret Surakarta, yang telah memberi kesempatan penulis untuk menyelesaikan studi program doktor di UNS.

4. Prof. Dr. H. D. Edi Subroto, selaku Ketua Program Linguistik S3 UNS dan
atas bimbingan melalui berbagai disiplin yang telah diberikan kepada penulis sebagai bekal dalam menyelesaikan disertasi.

5. Prof. Dr. M. Sri Samiati Tarjana, sebagai promotor yang dengan sabar telah
membimbing, mengarahkan, dan mengoreksi sehingga penulis meraih gelar doktor.

6

6. Prof. Dr. T. Slamet Suparno, S.Kar., M.S, sebagai Ko-Promotor, yang telah
membimbing, dan mengoreksi sehingga penulis meraih gelar doktor.

7. Prof. H.B. Sutopo, M.Sc., M.Sc, Ph.D (almarhum) yang dengan sabar telah
membimbing, mengarahkan, mengoreksi, dan yang menghantarkan sampai ujian tertutup sehingga penulis dapat berlanjut meraih gelar doktor.

8. Prof. Dr. Soepomo Poedjosudarmo; Prof. Dr. Kunardi Hardjoprawiro, M.Pd;
Prof. Dr. Joko Nurkamnto; Prof. Dr. Maryono Dwiraharjo, S.U; Dr. Sumarlam., M.S, yang telah memberikan disiplin Linguistik untuk bekal penulis menyelesaikan disertasi.

9. Sunarno S.Kar., M. Sen, sebagai nara sumber primer tari Bondhan Sayuk dan
jenis tari pasihan lainnya, yang telah memberikan informasinya sehingga penulisan disertasi ini dapat selesai.

10. Sutarno Haryono S.Kar., M. Hum, sebagai teman seperjuangan dan
motivator yang mendorong penulis untuk studi S3 dan berhasil meraih gelar doktor.

11. Sri Wahyuningsih sebagai istri dan anak-anakku: Risang Janur Wendo, Laras
Ambika Resi, Linggo Sasikirana, dan Hoyi Anggraeni yang telah memberikan semangat dan doanya kepada penulis sehingga disertasi ini cepat selesai. 12. Selamat jalan istriku yang tercinta dan tersayang Sri Djarwanti S.Kar, ke hadapan-Mu ya Allah, semoga atas pengorbanan dan kasihmu selama ini, saya selalu berdoa semoga Allah SWT menerima dan memasukkan belahan hatiku dalam golongan orang ahli surga di hari Akhir. Amin. 13. Pemerintah Republik Indonesia yang memberikan kewenangan kepada Dirjen Dikti yang telah memberi Bea Siswa (BPPS). Akhirnya dengan segala kerendahan hati, penulis mohon maaf kepada semua pihak apabila terdapat kekurangan dan kesalahan yang penulis perbuat selama menyelesaikan disertasi ini. Semoga Allah tetap membimbing kami. Amin.

KOMPONEN VERBAL DAN NONVERBAL DALAM GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA (Kajian Pragmatik). realisasi prinsip kerja sama. Bentuk penelitian yang digunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan kritik holistik yang secara fokus. Teknik pengumpulan data yang sesuai dengan penelitian kualitatif dan jenis sumber data yang dimanfaatkan adalah: wawancara mendalam (in-depth interviewing). dan seimbang mengkaji tiga faktor yaitu genetik. dan (5) Menjelaskan persepsi masyarakat terhadap kehidupan genre tari pasihan gaya Surakarta. pola lantai. (3) teori seni pertunjukan. untuk mengungkap bentuk hubungan yang bersifat langsung dan tidak langsung dan implikatur genre tari pasihan. 2010. fungsi TT. observasi. dan iringan gamelan (musik). dan (4) teori komunikasi. gérongan. (2) teori budaya. ABSTRAK Topik penelitian ini adalah Komponen Verbal dan Nonverbal dalam Genre Tari Pasihan Gaya Surakarta (kajian Pragmatik). (3) Menjelaskan hubungan komponen verbal yang bersifat kebahasaan dan nonverbal yang bersifat nonkebahasaan genre tari pasihan. polatan (ekspresi wajah). busana. 7 April 2010 Peneliti Maryono Maryono: T 130906005. peneliti menggunakan kajian: (1) teori pragmatik. (2) Komponen nonverbal genre tari pasihan berupa: tema. mencatat dokumen dan arsip (content analysis). Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta. (4) Menjelaskan latar belakang konsepsi penciptaan komponen verbal dan nonverbal genre tari pasihan. lengkap. gerak tubuh (kinetic body moves). Strategi yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus tunggal terpancang (embedded case study research). Untuk mengungkap permasalahan yang menjadi tujuan penelitian disertasi ini.7 Surakarta. dan jineman. dan implikatur. Tujuan penelitian untuk memahami makna bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan pada ritual perkawinan adat Jawa di Surakarta dengan menganalisis secara rinci. dan afektif sebagai sumber aliran nilai. objektif. sindhènan. akurat. dan mendalam untuk menemukan dan mendeskripsikan: (1) Komponen verbal genre tari pasihan berupa sastra tembang dalam syair: pathetan. Disertasi. Kajian komponen verbal ini untuk mengungkap: jenis-jenis tindak tutur (TT) yang dominan. Keempat teori tersebut digunakan untuk . rias. realisasi strategi kesantunan.

8

menganalisis makna pragmatik genre tari pasihan gaya Surakarta secara komplementer. Secara prinsip teori pragmatik merupakan alat kajian yang utama terkait dengan sistem kebahasaannya yang terfokus untuk menganalisis jenis-jenis TT, jenis TT yang dominan, fungsi TT, realisasi prinsip kerja sama, realisasi strategi kesantunan, implikatur, dan daya pragmatik. Teori budaya dan teori seni pertunjukan untuk menganalisis faktor nonkebahasaan yang berupa unsur-unsur karya seni. Teori komunikasi untuk mengkaji keterkaitan antarfaktor genetik, objektif, dan afektif. Trianggulasi keempat teori tersebut merupakan sarana untuk menjamin dan mengembangkan validitas data dalam mengungkap makna pragmatik genre tari pasihan gaya Surakarta. Pokok-Pokok Temuan Penelitian. Jenis–jenis TT yang terdapat dalam genre tari pasihan gaya Surakarta terdiri dari beragam jenis yaitu: TT asertif, TT komisif, TT ekspresif, TT direktif, TT verdiktif, dan TT patik. Dari beragam jenis TT yang terdapat pada genre tari pasihan, jenis TT yang dominan adalah TT direktif. Pada penerapan prinsip kerja sama dalam bahasa verbal genre tari pasihan terjadi pelanggaran maksim kuantitas dan maksim cara, sedangkan maksim kualitas dan maksim hubungan dipatuhi. Prinsip kesantunan yang diterapkan dalam bahasa verbal genre tari pasihan didapatkan penggunaan strategi TT dengan kesantunan positif dan strategi TT secara tidak langsung (off record). Implikatur yang terdapat dalam jenis-jenis tari pasihan menunjukkan adanya simbolisasi percintaan sepasang suami istri yang dalam perjalanan kisahnya berawal dalam menghadapi permasalahan, kemudian mendapat solusi yang berangsur-angsur membaik dan berakhir bahagia. Kehadiran tari pasihan hampir dapat dipastikan disajikan dalam resepsi perkawinan merupakan wahana untuk mewisuda sepasang temantèn. Rupanya terdapat keterkaitan yang sangat erat antara kehadiran tari pasihan dalam resepsi perkawinan dengan sepasang temantèn. Implikatur yang utama pada kehadiran genre tari pasihan dalam resepsi perkawinan adalah untuk dapat diteladani dan memberikan sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temantèn. Merujuk implikatur-implikatur yang diperikan dari komplementer komponen verbal dan nonverbal jenis-jenis tari pasihan dapat diungkapkan bahwa bentuk daya pragmatik genre tari pasihan adalah berupa nasihat-nasihat tentang cinta kasih yaitu pasangan keluarga yang romantis, harmonis, dan bahagia; kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga; dan sikap-sikap ideal bagi figur suami dan figur istri. Nasihat-nasihat tentang cinta kasih tersebut bermanfaat bagi sepasang temantèn sebagai bekal untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dalam membangun sebuah keluarga. Bentuk genre tari pasihan merupakan perpaduan dua komponen besar yaitu verbal dan nonverbal. Berdasarkan jabaran komponen tersebut dapat diketemukan ciri karakteristik genre tari pasihan sebagai berikut: (a) bahasa verbal berbentuk tembang Jawa bernuansa cinta; (b) bahasa verbal yang digunakan berdasarkan status sosial; (c) hubungan komponen verbal dan nonverbal bersifat langsung dan tidak langsung; (d) tema percintaan; (e) cerita berakhir dengan bahagia (happy end); (f) disajikan berpasangan pria dan wanita; (g) pesannya berupa nasihat tentang cinta kasih; (h) gerak representatif dan presentatif diekspresikan penari dalam kualitas lembut, halus, dan romantis.

9

Berdasarkan temuan penelitian dan hasil pembahasan dari keterkaitan tiga faktor objektif, genetik, dan afektif dapat disimpulkan bahwa kehadiran genre tari pasihan dalam upacara ritual resepsi perkawinan berfungsi sebagai hiburan dan suritauladan. Kehadiran genre tari pasihan dalam resepsi perkawinan dimaksudkan oleh seniman untuk mengajak, meminta dan menyuruh sepasang temantèn untuk memahami dan meresapi pesan yang terkandung dalam bahasa verbal sastra tembang, yang disampaikan dengan bahasa nonverbal dalam bentuk visual yang estetik, supaya pasangan temantèn tersebut melakukan tindakan atau perbuatan seperti yang dicontohkan dalam pertunjukan tari pasihan tersebut. Maksud dan harapan seniman penyusun tersebut ditangkap oleh masyarakat sebagai sesuatu yang harus diteladani, mengingat gambaran percintaan pasangan suami istri yang romantis, harmonis, dan bahagia yang terdapat dalam tari tersebut dirasa sangat tepat dan diterima dengan jelas, mantap sebagai suatu bentuk pendidikan yang bersifat tidak langsung dan sangat bermanfaat bagi sepasang temantèn untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dalam menggapai keluarga bahagia lahir dan batin. Maryono: T 130906005. 2010. VERBAL AND NONVERBAL COMPONENTS IN THE SURAKARTA STYLE PASIHAN DANCE GENRE (A Pragmatic Study). Dissertation. Postgraduate Program Sebelas Maret University Surakarta.

ABSTRACT
The topic of this research is Verbal and Nonverbal Components in the Genre of the Pasihan Dance Surakarta Style. Using a pragmatic approach the aim of the research is to understand the meaning of the verbal and nonverbal language in the pasihan dance genre (a dance genre with a romantic or love theme) in the traditional Javanese wedding rituals in Surakarta by carrying out a detailed, accurate, and in-depth analysis, in order to discover and describe: (1) the verbal components in the pasihan dance genre, in the Javanese poems in: pathetan, sindhènan, gérongan, and jineman. This study of the verbal components is intended to reveal: the dominant types of speech acts, the functions of the speech acts, the realization of the cooperative principles, the realization of the politeness principles, and the implicatures; (2) the nonverbal components in the pasihan dance genre, in the form of: themes, kinetic body moves, facial expressions (polatan), floor designs, make-up, costume, and musical accompaniment played on the gamelan; (3) the relationship between the verbal and the nonverbal components in the pasihan dance genre, in order to reveal the direct and indirect relationships and implicatures of the pasihan dance genre; (4) the background of the conception of the creation of verbal and nonverbal components in the pasihan dance genre, and (5) people’s perception of the existence of the Surakarta style pasihan dance genre. The research takes the form of a qualitative study using a critical holistic approach which provides a focused, comprehensive, and balanced study of three factors, namely genetic, objective, and affective factors as the source of the values. The strategy used for this research is that of an embedded case study. The techniques used for collecting data, in accordance with the qualitative research and types of data sources available, include in-depth interviews, observation, and content analysis.

10

In order to discover the issues which are the object of the research for this dissertation, the researcher uses theoretical studies of (1) pragmatic theories, (2) cultural theories, (3) performing arts theories, and (4) communication theories. These four theories are used to provide a complementary analysis of the pragmatic meaning of the Surakarta style pasihan dance genre. In principle, the main tool is the pragmatic theory, in connection with the linguistic system which focuses on analyzing the different types of speech acts, the dominant types of speech acts, the function of the speech acts, the realization of the cooperative principles, the realization of the politeness principles, the implicatures, and the pragmatic power. The cultural and performing arts theories are used to analyse nonverbal language factors which are in the form of elements of the work of art. The communication theories are used to examine the connection between the genetic, objective, and affective factors. A triangulation of these theories is used as a means of securing and developing the validity of the data to discover the pragmatic meaning of the Surakarta style pasihan dance genre. The main findings of the research showed that there are various kinds of speech acts found in the Surakarta style pasihan dance genre, numely: assertive, commissive, expressive, directive, verdictive, and phatic. Of all these different types, the most dominant kind of speech act found in the pasihan dance genre is the directive speech act. The application of cooperative principles in the verbal language of the pasihan dance genre of shows a deviation in maxims of quantity and maxims of manner, while maxims of quality and maxims of relation are adhered to. The principle of politeness applied in the verbal language of the pasihan dance genre uses the strategy of positive politeness and performs off record speech acts. The implicature found in the different types of pasihan dance indicates that there is a symbolization of love between husband and wife, who throughout the course of the story encounter problems but subsequently find a solution. It gradually resolves their difficulties and ultimately brings about a happy ending. The pasihan dance is almost always performed at wedding receptions which are a medium for officially announcing the marriage of a newly wed couple. There is a very close connection between the presence of the pasihan dance and the bride and groom at a wedding reception. The main implicature of the presence of the pasihan dance genre at a wedding reception is that it sets an example and offers indirect suggestions for the newly wed couple to follow. With reference to the implicatures obtained from the combination of verbal and nonverbal components in different types of the pasihan dances, show that the form of pragmatic power in the pasihan dance genre is advise about love and affection, for married couple to enjoy a romantic, harmonious, and happy relationship; to display equality and togetherness; and to show an ideal attitude between husband and wife. This advice about love and affection is beneficial for a newly married couple. It provides them with knowledge to lead a better life as they set out to build a new family. The form of the pasihan dance genre is a combination of two main components, namely verbal and nonverbal. Based on the description of these two components, the characteristics of the pasihan dance genre are as follows: (a) Verbal language in the form of Javanese sung poems with a romantic nuance; (b) Verbal language which is used according to social status; (c) A direct and indirect connection between the verbal and nonverbal components; (d) A romantic theme; (e)

11

A story with a happy ending; (f) A performance by a pair of dancers, one male and one female; (g) Advice about love affection; (h) Representative and presentative movements expressed by the dancers with soft, refined, and romantic qualities. Based on the findings of the research and the results between the objective, genetic, and affective factors, it can be concluded that the performance of the pasihan dance genre at a wedding reception for the newly married couple to follow. The presence of the pasihan dance genre at a wedding reception is intended by the performing artists as a means of inviting, asking, and telling the bride and groom to understand and absorb the message in the verbal language of the text, and conveyed using nonverbal language in a visual and aesthetical form. It as hoped that they will act and behave like the example displayed in the performance of the pasihan dance. The hope and intention of the artists is captured by the audience who view the dance as a good example to follow, recognizing it as a portrayal of a romantic, harmonious, and happily married couple which is felt to be highly appropriate and also educative in an indirect way. This is highly beneficial for the newly married couple as they enter into their new lives, and strive to create a happy family, in both worldly and spiritual aspects.

DAFTAR ISI
Halaman JUDUL ……………….………………..………………………………….….…...i PENGESAHAN……………………………………………….…….………….….ii PEMERTAHANAN…………………………………………………………….…iii PERNYATAAN………………………………………………………..………….iv KATA PENGANTAR……………………………………………………………..v ABSTRAK…………………………………………………………….…….……vii ABSTRACT……………………………………………………………..………… ix DAFTAR ISI ………………………………………………………….…..……....xi DAFTAR TABEL ………….……………………………………………….......xvii DAFTAR BAGAN………………………………….………..……...……..........xix DAFTAR GAMBAR / FOTO……………………………………..………..……xx DAFTAR SINGKATAN ……………………………………..……….……...…xxi DAFTAR LAMPIRAN ……………………………………….……....…..…....xxii BAB I PENDAHULUAN ………………………………………….……….……. 1 A. Latar Belakang Masalah………..……..………………….……….……....1 B. Rumusan Masalah …………………………………...……….......……..16 C. Tujuan Penelitian………………………………………..………….........16

12

D. Manfaat Penelitian……………………………………….........................17 BAB II KAJIAN TEORI, PENELITIAN YANG RELEVAN, DAN KERANGKA PIKIR……………………………………………………………………………..18 A. Kajian Teori……………………………………………………………............18 1. Teori Pragmatik…………………....................……………..............................20 a. Konteks dalam pragmatik………………………………..………….………23 b. Teks………………………………………….……………...........................29 c. Tindak Tutur (TT)…………………………………….…………….….…...39 c.1. Tindak Tutur menurut Austin (1956)……………..............................41 c.2. Tindak Tutur menurut Searle (1979)………….. .………..………….45 c.3. Tindak Tutur menurut Yule (1996)…………………........………….46 c.4. Tindak Tutur menurut Kreidler (1998)…………...............................48 d. Prinsip Kerja Sama (PKS)…… …………………………………………....53 e. Prinsip Kesantunan (PS)…………………….…….……….………….…......58 e.1. Skala Kesantunan Leech (1983)……………………..…….................58 e.2. Skala Kesantunan Brown dan Levinson (1987)………..………….....60 f. Implikatur …………………………………….…….…………….....…….....62 g. Daya Pragmatik…………………………………….…………………….….64 2. Teori Budaya………………………………………………...………….……...66 a. Bentuk Ide atau Gagasan……...……………………….…………....….70 b. Bentuk Aktivitas………….……………………….…..………….....…70 c. Benda Fisik………………………………………………….….…....…71 3. Teori Seni Pertunjukan…………………………..…………………............…..71 a. Tema ………………………………………………………....….….…74 b. Gerak Tubuh (kinetic body moves)………………………. …….….…74 c. Polatan (ekspresi wajah) ……………………………..…….…..…......77 d. Pola Lantai (floor design)……………………………… ……...……...78 e. Rias ……………………………………………….……….….……….79 f. Busana ………………………………………………….……….……..80 g. Iringan (gendhing beksa) ………………………………………….......81 h. Estetik…………………………………………....................………….82

13

4. Teori Komunikasi ………..…………………….…...........................................83 a. Komunikator…………………………………………………....…..…85

b. Sarana atau Media…………………………………………….….…....86 c. Komunikan……………………………………….………….………...88 B. Penelitian yang Relevan…………………..…………………………..…...…..90 C. Kerangka Pikir…………………………………………………....…….……...91 BAB III METODOLOGI PENELITIAN……………………………….….….…93 A. Sasaran dan Lokasi Penelitian…………………..…………..……. …….…….93 B. Bentuk dan Strategi Penelitian…………………………...................................94 C. Jenis Data dan Sumber Data…………………….………………………….…96 D. Teknik Cuplikan (sampling)…………………………… …………….............97 E. Teknik Pengumpulan Data ……………………………….…..……………….98 1. Wawancara Mendalam (in-depth interviewing)………..............................98 2. Observasi …………………………………………………………....…..102 3. Mencatat Dokumen dan Arsip (content analysis)………..........................103 F. Pengembangan Validitas ………………………………..........………..….…103 G. Teknik Analisis………………………………………………..………… ….106 BAB IV KOMPONEN VERBAL GENRE TARI PASIHAN GAYA

SURAKARTA......................................................................................................110 A. Komponen Verbal…………………………………………………….….…..110 B. Komponen Verbal Tari Karonsih………………………………………….…112 1. Teks Pathetan Wantah Laras Pélog Pathet Lima…………..………. ….112 a. Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah………..........................…. …113 b. Konteks ………………………………………............................. …..114 c. Fungsi Tindak Tutur ................…………………………………..…..115 d. Realisasi Prinsip Kerja Sama…………………..…..............................116 e. Realisasi Prinsip Kesantunan ……………………...............................117 f. Implikatur …………………………..………...................................…117 2. Teks Sindhènan Pangkur Ngrénas Laras Pélog Pathet Lima ……….....118 a. Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah.…………….………….....….118 b. Konteks …………………………………..........................……..…...119

..153 d................…123 3........…....…125 b.........149 f...............……………….. Implikatur …………………………......137 d.....154 ...................147 d. Realisasi Prinsip Kerja Sama ……………………...131 f.. Realisasi Prinsip Kesantunan ……………......121 e.... Fungsi Tindak Tutur ………………………………………...............………150 a..........…………….......... Realisasi Prinsip Kerja Sama ….........………..... Fungsi Tindak Tutur ……………………………………….......................... Fungsi Tindak Tutur …………………………. Realisasi Prinsip Kerja Sama …………………….....…..….......….…144 1...…...…..............……………......................…132 4.141 f.…......... Konteks ……………………………………...…133 b....…...126 c.….. Realisasi Prinsip Kerja Sama …………………........120 d.............…..... Implikatur …………………………..........……….... .....….............…..................... Komponen Verbal Tari Bondhan Sayuk………………………………..…...135 c.... Fungsi Tindak Tutur …………………………………………..145 c.......144 a..............…..………......…....….............. Implikatur …………………………...….........148 e.139 e............. Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah …………….. Konteks ……………………………………….....129 e..................…....142 C..………. Teks Sindhènan Mijil Sulastri Laras Pélog Pathet Barang.....124 a. Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah.....……............. Realisasi Prinsip Kesantunan ……….......... Konteks ………………………………………. Fungsi Tindak Tutur ……………………………………….....14 c....……………..................……150 2.......…......….............128 d.....………..................132 a. Teks Jineman Sayuk Laras Pélog Pathet Barang ……....... Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah ……………............…….. Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah. Teks Gérongan Lambangsari Laras Sléndro Pathet Manyura ……….................…. Teks Sindhènan Kinanthi Sandhung Laras Sléndro Pathet Manyura …........... Realisasi Prinsip Kesantunan ……………….....………….....152 c...................….…144 b......... Konteks ……………………………………….................………....…151 b....... Realisasi Prinsip Kesantunan …………….. Realisasi Prinsip Kerja Sama ………………..............122 f........................……................ Implikatur ………………………….

....... Realisasi Prinsip Kerja Sama ………………..... Realisasi Prinsip Kesantunan ……………... Realisasi Prinsip Kesantunan ……………... Estetik…………………………………………….......………………………...…. Implikatur …………………………..........….166 d..... Polatan (ekspresi wajah)…………………......….......…….......167 e....... Konteks ……………………………………….........…………….…...……. Komponen Nonverbal…………………………………………………....... Pola Lantai……………..172 1...……..182 3...... Iringan Tari……………………………………....…. Implikatur ………………………….......….………………....159 c...…224 3... Kinetic Body Moves atau Gerak Tubuh …..216 C......................………………….......234 .....15 e..…..………...…...........………... Teks Gérongan Ladrang Sayuk Laras Pélog Pathet Barang …...…............ Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah........……………....…....……171 A...……………………..……....…………......….….......……....….......…….......... Konteks ……………………………………...... Fungsi Tindak Tutur ……………………………….….......165 c... Realisasi Prinsip Kerja Sama ………………….. Rias dan Busana…………………………………..........………...….173 2.......164 a....….....……….......194 4.220 2............... Tema………………………………........... Jenis-jenis Tindak Tutur dan Pemarkah ………....…….…………………………...... Teks Gérongan Lancaran Sayuk Laras Pélog Pathet Barang …...…………..…....……....... Komponen Nonverbal Tari Karonsih………………………........……163 4....157 a...... Realisasi Prinsip Kesantunan ……...…158 b...............................171 B..168 f. Implikatur …………………………..............200 7.198 6. Kinetic Body Moves atau Gerak Tubuh …...........…………….....…. Fungsi Tindak Tutur …………………………………..........161 e.....….......………….......197 5..........…………169 BAB V KOMPONEN NONVERBAL GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA…………………………………………………………..220 1.…164 b..162 f.. Komponen Nonverbal Tari Bondhan Sayuk………………………..... Tema………………………………………....….…………………………….……........160 d.. Polatan (ekspresi wajah)…………………………………………….157 3.................…............155 f.......…….....………...

… …320 2...322 3.278 2. Pola Lantai………………………………....……………..…314 BAB VIII PEMBAHASAN……………………………………………….252 A.….….… ….248 BAB VI HUBUNGAN KOMPONEN VERBAL DAN NONVERBAL GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA………………………………….…….. Faktor Objektif……………………………………………….323 B..…......… ..320 1...337 3.…. Faktor Afektif…………………………………………….. Hubungan Komponen Verbal dengan Nonverbal Tari Karonsih………..….…253 1..……..…277 1. …. Genre Tari Pasihan sebagai Hiburan………………. Genre Tari Pasihan sebagai Keteladanan…………….324 1..….... . Adegan Bahagia………………………………...264 B.... Estetik. Properti Boneka………………………………………. Persepsi Masyarakat terhadap Genre Tari Pasihan…………………….……………………..236 5...………….. Perspektif Budaya…………………………………………..281 3. Hubungan Komponen Verbal dengan Nonverbal Tari Bondhan Sayuk….…………………………..… ….. Perspektif Substansi Tari: Komponen Verbal dan Nonverbal….295 B.……………. Adegan Pertemuan……………………………………………………. Perspektif Pragmatik………………………….………….. Iringan Tari.....…....….237 6..... …...324 2...…....16 4.… .. Faktor Genetik………………………………………………...…………………...…...…………………. Konsepsi Penciptaan Komponen Verbal dan Nonverbal Tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk………………………………………..………………….238 7.311 2..320 A. Rias dan busana…………………………………. Adegan Makarya (bekerja)……………………..310 1.….…………..289 BAB VII KONSEPSI PENCIPTAAN DAN PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA………………295 A..…………………………………….……………………....259 3.... Adegan Kekudangan (menimang anak)………………………………. …. Adegan Kasmaran (percintaan)……………………………………….247 8..344 . Adegan Pencarian……………………….…253 2. Pokok-Pokok Temuan Penelitian…………………………………… ... Analisis………………………………………………………….……………..……………………………………………...….

379 LAMPIRAN………………………………………………………..17 4.370 C.6 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Gérongan Lambangsari………………………………….…………………… …366 A.2 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks isian……...jenis TT yang melekat pada teks Sindhènan Pangkur Ngrénas…………………………………………………………….. Tabel 4..……………………………….... Tabel 4..….4 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Isen-isen………………. Saran…………………………………………………………….123 5.. Perspektif Historis………………………………………... Implikasi………………………………………………………… ….1 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Pathetan Wantah…….....118 4.….. Tabel 4.…375 DAFTAR NARA SUMBER…………………………………………...………..….….. Simpulan…………………………………………………………… .133 ..….....…357 BAB IX PENUTUP…………………………………….5 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Sindhènan Kinanthi Sandhung…………………………………………………………………….380 DAFTAR TABEL 1.…….… . Tabel 4...….…117 3..….113 2.. Tabel 4.125 6.………372 DAFTAR PUSTAKA ACUAN………………………………………….... Tabel 4.….…366 B.3 Jenis ..….

151 11....12 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Gérongan Lancaran Sayuk……………………………………………………………………. Tabel 5.. Tabel 5......7 Rekapitulasi gerak representatif tari Karonsih………...6 Jenis-jenis gerak presentatif tari Karonsih adegan III: bahagia ………………………………………………. Tabel 4.….190 20....…..5 Jenis-jenis gerak representatif tari Karonsih adegan III: bahagia …………………………………….……….158 12.. ………………………………………. Tabel 5..…………….….2 Jenis-jenis gerak presentatif tari Karonsih adegan I: pencarian... Tabel 4.....184 16.…….18 7.….10 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Jineman Sayuk…………………………………………………………………….. Tabel 4.…. Tabel 5. Tabel 5.. Tabel 4.......9 Jenis –jenis TT yang melekat pada teks Sindhènan Mijil Sulastri…………………………………………….194 23.8 Persentase jenis –jenis TT pada komponen verbal tari Karonsih….………………………. Tabel 4....1 Jenis-jenis gerak representatif tari Karonsih adegan I: pencarian. Tabel 4...……144 10.…170 15..7 Rekapitulasi jenis-jenis TT pada komponen verbal tari Karonsih…143 8. Tabel 5.....143 9....…..….... Tabel 5.11 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Gérongan Ladrang Sayuk………………………………………………………………………... ………………………….. Tabel 5.185 17. Tabel 5..9 Persentase gerak representatif dan presentatif tari Karonsih. 14 Persentase jenis –jenis TT pada komponen verbal tari Bondhan Sayuk…………………………………………………………………..….193 22.164 13. Tabel 4.…..188 18..……….. Tabel 4.….…..…….…194 ..3 Jenis-jenis gerak representatif tari Karonsih adegan II: pertemuan...8 Rekapitulasi gerak presentatif tari Karonsih………..………....…....4 Jenis-jenis gerak presentatif tari Karonsih adegan II: pertemuan ………………………………………………..13 Rekapitulasi jenis-jenis TT pada komponen verbal tari Bondhan Sayuk……………………………………………………………………..……...193 21.. …………………………………………………..……170 14.189 19..

......14 Jenis-jenis gerak representatif tari Bondhan Sayuk adegan III: makarya ………………………………...231 27.…233 29...234 31.... Tabel 5..…..…………......91 Bagan 3..12 Jenis-jenis gerak representatif tari Bondhan Sayuk adegan II: kekudangan ………………………………….…231 26... 17 Persentase gerak representatif dan presentatif tari Bondhan Sayuk…………………………………………………………………….. 16 Rekapitulasi gerak presentatif tari Bondhan Sayuk…...…..…..….....13 Jenis-jenis gerak presentatif tari Bondhan Sayuk adegan II: kekudangan ……………………………………... Tabel 5....…233 30..1 Model Analisis Interaktif…………………………………….. Tabel 5....………….108 .... Tabel 5...11 Jenis-jenis gerak presentatif tari Bondhan Sayuk adegan I: kasmaran ………………………………....10 Jenis-jenis gerak representatif tari Bondhan Sayuk adegan I: kasmaran …………………………………...19 24.……....………..…………. Tabel 5...…234 DAFTAR BAGAN Bagan 2.. Tabel 5.. 15 Rekapitulasi gerak representatif tari Bondhan Sayuk…. . Tabel 5...…....…229 25.....................1 Kerangka Kritik Holistik Komponen Verbal dan Nonverbal Genre Tari Pasihan gaya Surakarta……………………………….. Tabel 5..…232 28..….

............199 Gambar 3: pola lantai garis lengkung untuk mendukung suasana bahagia................................... ketika Panji ulap-ulap kiri dan Sekartaji trap jamang..........................20 DAFTAR GAMBAR / FOTO Gambar 1: pola lantai garis lurus untuk mendukung suasana tegang. ketika Panji dan Sekartaji srisik bergandengan tangan...................199 Gambar 2: pola lantai garis lengkung untuk mendukung suasana romantis.......199 ....... ketika Sekartaji berupaya mencari Panji....

.282 Foto: 10 Tari Bondhan Sayuk: Suami meminta anak kepada istri………….. ketika istri dan suami lilingan kebyok sampur..............…......262 Foto: 5 Tari Karonsih: Panji dan Sekartaji memadu asmara……………….238 Foto: 1 Tari Karonsih: Panji dan Sekartaji dalam kemesraan dan kebersamaan………………………………………………….285 Foto: 12 Tari Bondhan Sayuk: Suami dan istri dalam kebahagiaan………….…...21 Gambar 4: pola lantai garis lurus untuk mendukung suasana tegang...…....237 Gambar 5: pola lantai garis lengkung untuk mendukung suasana romantis..................…........220 Foto: 3 Tari Karonsih: Panji mengamati Sekartaji dalam suasana sedih………..a : Dasar ..en .........…272 Foto: 7 Tari Karonsih: Panji dan Sekartaji dalam suasana bahagia…….... ketika istri hendak meninggalkan suami.........…........283 Foto: 11 Tari Bondhan Sayuk: Suami bersenandung sambil menimang anak......................279 Foto: 9 Tari Bondhan Sayuk: Istri meminta suami untuk bekerja…………...….....…. Tari Bondhan Sayuk: Suami dan istri dalam kebersamaan..............268 Foto: 6 Tari Karonsih: Panji dan Sekartaji memadu asmara…………........286 DAFTAR SINGKATAN ASKI CD D–a D – en : Akademi Seni Karawitan Indonesia : Compact Disk : Dasar ........................... ketika istri dan suami ènjèr ridhong berputar.........260 Foto: 4 Tari Karonsih: Panji dan Sekartaji dalam suasana romantis………….........................….274 Foto: 8..172 Foto: 2 Tari Bondhan Sayuk: Suami dan istri dalam kebahagiaan …………..........238 Gambar 6: pola lantai garis lengkung untuk mendukung suasana bahagia.

.Dasar .22 D – an D – ana di – D – ake KOKAR KRT M.Sn PS PKS Pa Pi Pn Pt PKD R R.…………380 . Glosarium……………………………………………….M R.. VCD Tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk…………………….T TT V–a VCD : Dasar ..an : Dasar .a : Visual Compact Disk DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1.ake : Konservatori Karawitan : Kanjeng Raden Tumenggung : Magister Seni : Prinsip Kesantunan : Prinsip Kerja Sama : Putra : Putri : Penutur : Petutur (mitra tutur) : Pakempalan Kagunan Jawi : Raden : Raden Mas : Raden Tumenggung : Tindak Tutur : Verba .380 Lampiran 2.ana : di .

23 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah .

Menurut Edi Subroto (tanpa tahun. Ketergantungan antarindividu merupakan faktor utama manusia untuk saling berkomunikasi dalam rangka meraih kehidupan yang berbudaya. bahasa adalah sistem bunyi ujar yang bersifat arbitrer yang dipergunakan oleh manusia dalam suatu masyarakat (language society) untuk berkomunikasi secara umum dan wajar. Berbagai strategi belajar untuk menjadi manusia yang diperlukan agar dapat terinkulturasi dan tersosialisasi sepenuhnya. betapapun hebat dan kuatnya. sebagian besar individu tersebut melakukan melalui modalitas utama komunikasi manusia yakni bahasa. hal: 1). maka dia harus belajar menjadi manusia dengan menghayati atau mendalami budaya kelompoknya. Bahasa sendiri merupakan sistem dari budaya manusia. and man remained hominoid. dapat dikatakan belum mempunyai bekal. he could and did become hominine” (Smith. sebagai sarana mewujudkan cita-citanya. 1969: 104-105). karena tanpanya manusia tidak mampu berkomunikasi dan berinteraksi dengan dunia luar dirinya. “Without language there could be no culture. Betapa pentingnya bahasa bagi kehidupan manusia kiranya tidak perlu diragukan lagi. Setiap individu lahir dalam masyarakat yang telah berjalan.24 Manusia hidup tidak mampu lepas dari lingkungan dan bertahan sendiri. with language and culture. Sejalan dengan pernyataan tersebut bahasa merupakan suatu sistem simbol-simbol vokal yang dipelajari dan dimiliki secara bersama. sistem yang terpenting di mana sistem-sistem lain terutama dicerminkan dan ditransmisikan. Di situ manusia dalam masyarakat atau subkultur dengan bahasa yang sama saling berinteraksi sehingga mampu berkomunikasi berdasarkan pengalaman dan harapan kultural yang sama. .

Hal ini dapat kita cermati dari bentuknya yang berupa seni kolektif sebagai sarana untuk mengungkapkan maksud dari seniman sebagai penutur dengan harapan dapat dihayati oleh penghayat sebagai mitra tutur. Wayang Golek. rupa. dan bahasa) banyak terdapat pada seni pertunjukan. Seni pertunjukan merupakan bentuk seni komplementer yang pada dasarnya merupakan salah satu bentuk bahasa pragmatik. Seni pertunjukan sebagai bahasa seniman untuk berkomunikasi dengan penghayat merupakan bahasa pragmatik yang sangat khas penuh dengan nuansa keindahan.25 Dalam kehidupan kesehariannya manusia berkomunikasi lewat beragam media atau medium. adapun bentuk yang utama yakni: gerak. Bentuk yang merupakan komplemen dari beragam media (gerak. bunyi. Pragmatisme pada seni pertunjukan dapat ditunjukkan dari wujudnya yang memiliki bahasa verbal dan nonverbal saling komplemen yang selalu hadir dalam konteks. . Kemunculan secara mandiri seperti: bunyi dalam musik. Pada hakekatnya media itu berbentuk fisik. Adapun bentuk seni pertunjukan di antaranya: Wayang Purwa (Wayang Kulit). bunyi. Secara prinsip dapat peneliti katakan bahwa seni pertunjukan merupakan wahana yang sangat potensial sebagai sasaran kajian pragmatik. Wayang Wong. Tari. dan bahasa sebagai tindak tutur. Lenong. rupa. dan bahasa. Ludruk. Langendriyan. Masing-masing media dapat muncul secara mandiri dan bisa juga saling komplementer. dan lainnya. bergantung kebutuhan. Karawitan. warna pada seni rupa. Randai. yang kesemuanya itu merupakan bahasa komunikasi yang kaya akan nuansa imajinatif dan penuh dengan multitafsir. Kethoprak.

Pertimbangan yang mendasar bahwa dalam tari. bahwa masyarakat di mana saja menata hidup mereka dalam kaitannya dengan makna dari berbagai hal. yang secara spesifik telah memiliki kaidah-kaidah baku yang penafsirannya lebih bersifat rasional. Muatan pesan tersebut merupakan salah satu kebutuhan dasar bagi hidup manusia. yaitu: kinetic body moves (gerak tubuh) sebagai garap tari. disipliner. bunyi dan bahasa sebagai garap iringan. merupakan perpaduan dari berbagai media komunikasi. dan bersifat hiburan. Ini berbeda dengan bahasa. ini merupakan realitas kemunculan bentuk komplementer. Hal ini terkait dengan konsep bahasa yang bersifat formal. sehingga terasa menjadi lebih mantap. selain makna kata-katanya juga diungkapkan dengan lagu dan tekanan irama yang didukung iringan gamelan. penonton umum dan penanggap) sebagai mitra tutur.26 Tari sebagai salah satu bentuk seni pertunjukan. spiritual. Kehadiran tari sebagai ungkapan ekspresi jiwa manusia merupakan media komunikasi seorang seniman (penyusun tari ataupun penari) sebagai penutur terhadap masyarakat (pakar. Seperti dinyatakan Spradley (1997: 120). . tari mempunyai muatan-muatan pesan dari penyusun tari yang hendak dikomunikasikan dengan masyarakat. serta rupa sebagai garap rias dan busana. Adapun pesan-pesan tersebut dapat berupa pesan moral. kata-kata yang terdapat dalam tembang sebagai bahasa verbal. Lewat pesan akan ditangkap makna sebagai esensi dari aktivitas berkomunikasi antara penyusun tari dengan masyarakat. dan relasi antara bentuk dan makna sangat ketat. Penafsiran terhadap keragaman media komunikasi yang terdapat dalam tari tidak mampu hanya ditangkap secara rasional semata tetapi ketajaman rasa merupakan ujung tombak dalam menangkap makna yang sebenarnya. Sebagai media komunikasi.

terbuka. Dengan cara menghubung-hubungkan bentuk ujaran dengan konteks situasinya. Makna yang dikaji dalam pragmatik dikaitkan dengan maksud atau tujuan penutur di dalam mengutarakan suatu kata. Jadi pragmatik mengkaji maksud suatu ujaran penutur baik secara tersirat maupun tersurat di balik tuturan yang dianalisis. Rupanya dalam berkomunikasi manusia tidak selalu menggunakan bahasa yang sifatnya langsung. Kajian makna dalam . tetapi juga sering memilih menggunakan bahasa yang tersamar. mitra tutur harus mengetahui makna semantik ujaran itu terlebih dahulu.27 Dalam kehidupannya. Bahasa yang bersifat pragmatik merupakan salah satu sasaran kajian tentang makna-makna satuan lingual secara eksternal. untuk apa dan bagaimana. apa adanya. maksud dari ujaran tersebut dapat dipahami. di mana. sosial. Dalam rangka beraktivitas sehari-hari manusia memerlukan bahasa sebagai alat komunikasi yang paling efektif dan efisien. Bahasa merupakan sarana yang utama untuk menyampaikan pesan penutur kepada mitra tutur. manusia menggunakan bahasa sebagai sarana komunikasi dan berinteraksi secara vertikal dan horisontal dalam kedudukannya sebagai makhluk individu maupun sosial. 1995: 50). tidak langsung seperti bahasa pragmatik. Dengan demikian tampak jelas bahwa pragmatik terikat konteks (context dependent). Lewat makna semantik yang dikontekstualkan akan muncul makna pragmatik yang diharapkan dalam sebuah peristiwa pertuturan. kapan. Namun untuk dapat mengetahui maksud ujaran penutur (makna pragmatiknya). frase atau kalimat. bukan semata-mata hanya makna literal ujaran tersebut. sebagaimana dikatakan Leech pragmatik adalah “The study of meaning in relation to speech situation” (lihat Wijana. dan kultural yaitu siapa berbicara kepada siapa.

harmonis. Bahasa yang bersifat pragmatik banyak digunakan dalam berbagai bidang antara lain: sosial. (3) maksim relevansi/hubungan. dan berkesinambungan. Pada realitasnya manusia sering tidak mengindahkan prinsip-prinsip kerjasama dalam . Selain itu juga didukung prinsip kesopanan yang meliputi: (1) maksim kearifan. (5) tuturan sebagai produk tindak verbal (Leech. syair. Aspek-aspek situasi ujar meliputi: (1) yang menyapa (penyapa) atau yang disapa (pesapa). puisi. (4) maksim kerendahan hati. politik. 1993: 11). artinya suatu bentuk kebahasaan selain memiliki makna semantik juga makna pragmatik. manusia menggunakan bahasa yang memenuhi prinsip-prinsip kerjasama. (4) tuturan sebagai bentuk tindakan atau kegiatan: tindak ujar. (3) tujuan sebuah tuturan. (2) maksim kualitas. Kajian bahasa pragmatik lebih terfokus pada makna implikatur dari eksternal tuturan si penutur bukan makna eksplikatur yang terdapat dalam internal tuturan semata. budaya seperti: sastra. Pragmatik merupakan cabang linguistik yang mengkaji makna dalam hubungannya dengan situasi ujar (konteks). selaras. tembang. Dalam rangka menjaga hubungan dan interaksi komunikasi pada kehidupan sehari-hari tetap terjaga baik. maksudnya bahwa makna pragmatik selain dibangun melalui semantik yang mencakup: (1) bentuk kebahasaan dan (2) makna juga dikaitkan dengan (3) konteks. dan tari. sehingga makna itu dapat dirumuskan dengan kalimat “Apa yang kau maksud dengan berkata x itu ?” (What do you mean by x ?). dan (6) maksim simpati. dan (4) maksim cara (Grice dalam Leech. (3) maksim pujian. (2) maksim kedermawanan. (2) konteks sebuah tuturan. (5) maksim kesepakatan. Hubungan atau relasi dalam pragmatik bersifat triadis. 1993: 19-20). yaitu: (1) maksim kuantitas.28 pragmatik bersifat triadis.

Sedangkan H’Doubler mengutarakan bahwa tari adalah ekspresi gerak ritmis dari kajian . Tari adalah ungkapan perasaan manusia tentang sesuatu dengan gerak-gerak ritmis yag indah (Soedarsono. lambaian tangan. Terdapat dua cara untuk berkomunikasi lewat bahasa. tari adalah ungkapan nilai-nilai keindahan dan keluhuran lewat gerak dan sikap.29 berkomunikasi sehingga terjadi pelanggaran. polatan. Sedangkan aspek nonverbalnya berupa: tema. Dampak dari peristiwa tuturan tersebut muncul implikatur-implikatur yang akhirnya merupakan lahan pragmatik. isyarat. Wujudnya dapat berupa aneka simbol. Dalam hal ini penutur berupaya memasukkan maksudnya secara implisit pada ujaran yang diungkapkan. morse. sirene. 1996: 6). bunyi misalnya tanda lalu lintas. yakni dapat berupa teks verbal dan nonverbal. busana. dan jineman. Berkomunikasi secara verbal dilakukan dengan cara menggunakan media bahasa baik yang tertulis dan lisan. Adapun komunikasi yang bersifat nonverbal dilakukan dengan menggunakan alat selain bahasa. sebagai akumulasi beragam tuntutan akan kebutuhan hidup manusia yang begitu kompleks. dan iringan. Karena hal itu terjadi. Ketidakpatuhan para peserta tutur dalam pertuturan karena dipicu oleh motif-motif tertentu dari penutur. sindhenan. kenthongan barulah dapat bermakna setelah diterjemahkan ke dalam bahasa manusia (Lamuddin Finoza. kode. pola lantai. 2005: 2). kinetic body moves (gerak tubuh). Dengan demikian tari yang merupakan bagian dari seni pertunjukan yang memiliki aspek komunikasi verbal dan nonverbal merupakan objek kajian pragmatik yang sangat menarik. rias. gerongan. Menurut Wisnoe Wardhana (1994: 36). Aspek verbal tari berupa cakepan (syair) teks sastra tembang yang terdapat dalam pathetan.

dengan menggunakan medium utama gerak. ia berkarya dengan harapan dapat dihayati. Menurut peneliti. dikomunikasikan dalam bentuk yang indah untuk mendapatkan penghayatan yang layak. Rupanya gerak tubuh sangat dominan dan merupakan medium utama yang sekaligus sebagai sumber kehidupan tari. Rupanya ekspresi diri semata tidak akan memberikan kenikmatan dan kepuasan bahkan cenderung mati (Parker. gerak akrobatik binatang yang menawan tetapi tanpa kehadiran gerak tubuh manusia. tari adalah ekspresi jiwa manusia lewat medium utama gerak tubuh untuk mencapai kenikmatan keindahan. maka dibutuhkan juga suatu penghargaan. tidak dapat dikatakan gerak tari. Secara garis besar bahwa semua gerak dapat menjadi gerak tari dengan cara melalui campurtangan gerak tubuh dan seleksi yang memadahi. And when the body speaks . melaksanakan serta dari penciptaan bentuk-bentuk (dalam Soedarsono. karena pada dasarnya betapapun indahnya gerak tumbuh-tumbuhan yang tersapu angin. Jika kita cermati lebih lanjut pernyataan ketiga pakar mengenai pengertian gerak tersebut masih kabur. Bagaimanapun acuhnya seorang seniman terhadap publik. 1980: 37). the body speaks. dorongan artistik akan layu tidak dapat berkembang. Sumber gerak utama yang dimaksudkan di sini adalah kinetic body moves. Dari ketiga pendapat pakar tari tersebut dapat disarikan bahwa tari merupakan ekspresi jiwa manusia sebagai tanggapan tentang nilai-nilai kemanusiaan.30 keadaan-keadaan perasaan yang secara estetis dinilai. ungkapan. Seperti variasi pada kutipan kata-kata terkenal Donne: “one could almost say. 1996: 4). Tanpa simpati publik. yang lambang-lambang geraknya dengan sadar dirancang untuk kenikmatan serta kepuasan dari pengalaman ulang. berkomunikasi.

31 in this fashion. Selayaknya. Tampaklah sekarang bahwa bentuk dalam seni memiliki peranan yang sangat penting dalam rangka menyampaikan isi atau maksud yang hendak dikomunikasikan pada penghayat (mitra tutur) dari si seniman (penutur). pandangan. wujud. jika gerak tubuh penutur tidak mengikuti pembicaraan penutur. Bentuk seni adalah hasil ciptaan seniman yang merupakan wujud dari ungkapan isi. Dengan kata lain. . dan gayanya (Budhisantoso. form an integral part of the interactions (e. Sekarang semakin jelas bahwa ide komunikasi nonlisan sebagai tambahan atau alat bantu sederhana pada pembicaraan adalah pandangan irasional yang terlalu sempit. a pragmatic act” (dalam Mey. tindakan pragmatik sangat penting untuk menentukan dan mempertahankan kerangka meta-komunikatif untuk komunikasi. its movements. kita harus mengakui bahwa komunikasi ‘gerak tubuh’ mampu ‘menentukan suasana’ dan ‘memberi makna’ untuk komunikasi secara utuh. lingkungan sekitarnya secara selektif. 1994: 68). as such. 2001: 223-224).. bukan hanya bagian kontribusi yang diucapkan saja. dan tanggapannya ke dalam bentuk fisik yang dapat ditangkap dengan indera (Sri Rochana.g. mitra tutur juga tidak akan mengikuti dan memperhatikan. the body moves. they represent. Tidak mungkin orang bicara soal kesenian tanpa memperhatikan bentuk. dalam dimensi meta-pragmatik. Adapun isi yang dimaksud merupakan pengalaman jiwa seniman dalam menanggapi alam. in a conversation). or are part of. 1994: 3). Pada dasarnya tindakan pragmatik melibatkan seorang individu secara keseluruhan dalam komunikasi. Secara sederhana Herbert Read berpendapat bahwa seni merupakan usaha untuk menciptakan bentuk-bentuk yang menyenangkan (1990: 2). Di samping itu.

Pada hakikatnya medium ekspresi seniman bersifat fisik. Hubungan antara bentuk fisik yang dapat diamati indera dengan isi yang hendak diungkap harus terjalin secara harmonis agar dapat mencapai sasarannya yaitu penghayat. dan bukan merupakan sesuatu yang sudah siap tersedia. Untuk itu menuntut seniman bukan hanya menyajikan realitas kehidupan yang sifatnya mengimitasi atau memindahkan begitu saja. Sehingga benda pacu dimaksud mampu mengubah dari pandangan verbal menjadi pandangan yang penuh makna yang berarti bagi kehidupan jiwa. tidak pula bersifat stereotip. Wujud tersebut tak lain agar dapat dan mampu ditangkap dengan indera manusia. baik dari seniman sebagai pengkarya maupun masyarakat sebagai penikmatnya. melainkan nilai-nilai kehidupan yang telah terseleksi dapat ditranspormasikan dalam bentuk yang indah. garis. Sarana tersebut setiap saat dan untuk setiap personal harus dicari. dan wujudnya dapat berupa gerak. supaya menjadikannya jelas bagi jiwa yang menghayati. bahasa. Pengalaman jiwa seniman sewaktu-waktu dapat dikomunikasikan lewat garap medium sesuai dengan bidangnya masing-masing.32 Sebagai media ekspresi. 1990: 45). seni memiliki tujuan yaitu memberikan kepuasan dalam visi penuh simpati. Maka tidaklah mengherankan apabila sarana untuk berekspresi dalam seni tidak bersifat instingtif. Keberhasilan mereka menyampaikan pesan-pesan tergantung dengan kemampuan menyeleksi materi-materi sebagai sarana ungkap dan tidak lepas dari kemampuan masyarakat penikmat untuk menangkap yang sudah barang tentu mengacu pada nilai-nilai budaya dan norma-norma sosial yang hidup dan . bunyi. dan seringkali pencarian itu terlampau berliku-liku jalannya (Read. warna (rupa).

tari dan lainnya. Pewarisan budaya tidaklah bersifat statis. wayang wong (wayang orang). 1991: 10). Dalam tari Jawa bentuk ekspresinya pada hakikatnya terwujud berdasarkan alam emosi. Untuk itu dibutuhkan peningkatan kualitas apresiator dengan memperbanyak peluang aktivitas pertunjukan dan peningkatan kualitasnya. Betapapun hebatnya seorang seniman dalam berkarya tanpa diimbangi apresiasi masyarakat yang layak dan memadahi rupanya akan menjadi semakin tidak berarti sehingga bentuk-bentuk pesan yang hendak disampaikan oleh seniman tidak dapat terealisasi secara baik dan wajar dalam kehidupan masyarakat. tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat pedesaan. Perkembangan sekarang kedua bentuk kesenian tersebut saling mempengaruhi secara lebih kompleks. Seni pertunjukan Jawa pada umumnya dapat dikategorikan menjadi dua kelompok besar yaitu kesenian karaton dan kesenian rakyat (Humardani. Kesenian karaton merupakan bentuk kesenian yang pada awalnya hidup dan berkembang di lingkungan karaton. Seni tradisional genre tari pasihan yang mengacu kesenian karaton merupakan salah satu budaya yang diwarisi secara turun-temurun sudah barang tentu memiliki kesinambungan dengan budaya sebelumnya. yaitu bentuk dan iramanya sangat kuat dilatarbelakangi oleh konsep keindahan dan tradisi kebudayaannya (Humardani. di antaranya: wayang kulit.33 berkembang. cermat dan mempunyai semacam pola-pola baku yang sering digunakan sebagai semacam pedoman. Kesenian karaton cenderung memiliki garap lebih rumit. 1991: 14). karawitan. Beragam bentuk seni pertunjukan karaton. tetapi masing-masing . Berbeda dengan kesenian rakyat yang sifatnya spontan sangat sederhana baik bentuk maupun sistem pertunjukannya. Sedangkan kesenian rakyat hidup.

Pethilan. 1991: 73).34 generasi mencoba untuk mengadakan perubahan-perubahan disesuaikan dengan kondisi kehidupan masyarakat pendukungnya. Menurut Clifford Geertz (1992: 6). sehingga perlu perantara yang berwujud simbol-simbol dalam puisi bukan dalam bentuk pengetahuan. Rasanya menjadi kurang utuh apabila dalam acara resepsi perkawinan tidak disajikan tari pasihan sebagai penutup pesta tersebut. Di dalam seni pertunjukan. di antaranya genre tari pasihan. bahwa ‘simbol’ tampak terbatas pada sesuatu yang mengungkapkan secara tidak langsung. sehingga kemunculan pertunjukan genre tari pasihan pada upacara perkawinan relatif sangat tinggi frekuensinya. Di dalam kehidupan masyarakat Jawa. “Genre Tari Pasihan“ tampaknya cenderung menekankan rasa dan emosi dalam bentuk bahasa verbal dan nonverbal. sebab simbolisme sangat menonjol peranannya dalam tradisi adat Jawa. Seolah–olah keberadaan genre tari pasihan dalam budaya Jawa sejak 1970 telah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan terutama pada upacara-upacara perkawinan (Maryono. Hal tersebut diduga menumbuhkan daya pikat perhatian masyarakat . Simbolisme semacam ini tampak pada genre tari pasihan yang hadir dalam rangkaian upacara-upacara perkawinan adat Jawa. Bedhaya. Srimpi. simbolisme memiliki peranan sangat penting. dan tarian untuk anak. Terbukti seni tradisional kita tetap berkembang di masyarakat. Wireng. Kehadiran genre tari pasihan (percintaan pria dan wanita) dalam kehidupan sosial masyarakat pada ritual perkawinan adat Jawa rupanya mempunyai makna simbolik yang sangat penting terutama bagi kedua mempelai dalam rangka mempersiapkan diri untuk mengarungi kehidupan di masyarakat yaitu menuju terbentuknya keluarga yang bahagia.

putri luruh duet dengan gagah luruh dan sebagainya. Secara perlahan-lahan kehidupan tari yang semula menjadi hak monopoli keluarga kerajaan. 1984: 235). Suciati Joko Suharja menciptakan tari Kusuma Aji. karaton-karaton di Jawa kehilangan kekuasaannya atas daerah-daerah masingmasing. putri lanyap duet dengan alus luruh. Genre tari pasihan gaya Surakarta merupakan suatu kelompok tari yang secara susunan berbentuk duet atau pasangan silang jenis tipe karakter dengan tema percintaan. dan sebagai pusat kesenian Jawa (Koentjaraningrat. kehilangan kekuasaannya sebagai orientasi nilai-nilai budaya Jawa.35 dan mampu menggugah semangat kreativitas para seniman seni pertunjukan di Surakarta untuk merespon secara positif. Berkembangnya bentuk dan jenis genre tari pasihan atau genre tari duet percintaan tidak lepas dari kreativitas para penyusun tari dalam rangka memenuhi kebutuhan sosial masyarakat. tari Kusuma Ratih. Keragaman bentuk dan jenis tari duet percintaan yang terdapat di wilayah Surakarta menunjukkan sebuah kekayaan ranah budaya yang mampu memberikan warna kota Sala sebagai pusat budaya. tari Lambangsih. Seniman-seniman yang menanggapi secara proaktif antara lain seperti Maridi dengan karyanya: tari Endah. . tari Jayaningrat dan tari Setyaningsih. tari Langen Asmara. dan tari Gesang Rahayu. Jenis tipe karakter yang berpasangan tersebut dalam genre ini antara lain : putri luruh duet dengan alus luruh. Rupanya hal ini terkait dengan warisan budaya khususnya tari dari kerajaan Mataram baru yaitu istana Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Ketika Perang Dunia ke II berakhir. tari Driasmara. pusat adat-istiadat Jawa. tari Enggarenggar. keluar tembok karaton hidup dan berkembang meluas ke tengah-tengah kehidupan masyarakat. Sunarno menghasilkan karya: tari Bondhan Sayuk.

Kekuatan itu antara lain berupa magi simpatetis. 1991: 35) Rupanya semakin tampak bahwa genre tari pasihan merupakan media ungkap para penyusun tari (penutur) yang memuat ide. Sedangkan bagi masyarakat yang sudah agak maju dilakukan secara simbolik. Rupanya telah mengakar pada budaya Jawa. yaitu pada setiap upacara perkawinan hampir dapat dipastikan akan disajikan jenis tari pasihan.36 Kehidupan genre tari pasihan hingga sekarang mengalami perkembangan sangat pesat. gerongan. Hubungan ini pada masyarakat yang masih melestarikan budaya purba kadang-kadang dilakukan agak realistis. sindhenan. (Soedarsono dalam Soedarso. tetapi juga perlu diupayakan lewat kekuatan – kekuatan yang tak kasat mata. Genre tari pasihan merupakan cabang seni tradisional gaya Surakarta yang banyak mengandung makna simbolis dan memiliki fungsi yang erat hubungannya dengan upacara adat ritual perkawinan masyarakat Jawa. hal ini dimungkinkan adanya suatu pilihan masyarakat yang sangat tepat tentang tata nilai dan sikap untuk menjaga kelangsungan hidup budayanya sebagai warisan yang dianggap memiliki nilai tinggi. yaitu hubungan antara pria dan wanita. gagasan. Seperti diungkapkan Soedarsono sebagai berikut : Sadar atau tidak sadar kesuburan tanah – juga perkawinan – tidak cukup hanya dicapai lewat peningkatan sistem penanaman baru. Seni pertunjukan genre tari pasihan gaya Surakarta sebagai karya seni memiliki beberapa aspek di antaranya aspek sastra tembang (bahasa verbal) yang berupa cakepan (syair) yang terdapat dalam pathetan. Kehadiran genre tari pasihan di tengah-tengah kehidupan sosial masyarakat diduga mempunyai kekuatan magis simpatetis terhadap sepasang penganten. emosi yang diekspresikan dalam bentuk bahasa verbal dan nonverbal yang hendak dikomunikasikan dengan penghayat (mitra tutur) dengan maksud-maksud tertentu. rasa. dan . yang hanya bisa didapatkan dengan perbuatan yang melambangkan terjadinya pembuahan.

yakni tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk. waktu. 1991: 27). Pengaruh perkembangannya dapat dibuktikan dengan munculnya berbagai bentuk tari duet percintaan. tari Lambangsih. busana. gerak tubuh (kinetic body moves). Dari sejumlah jenis tari duet tersebut peneliti memfokuskan sasaran pada dua bentuk tari duet percintaan. Di samping itu diduga tari Karonsihan memiliki kekuatan magis simpatetis yang kuat terhadap . tari Langen Asmara dan tari Setyaningsih. Secara garis besar dapat dikatakan bahwa bentuk-bentuk tari yang termasuk dalam genre tari pasihan. Dengan pernyataan lain serupa tetapi tidak sama. dalam tindakannya supaya dapat berfungsi secara baik sebagai media komunikasi. tari Bondhan Sayuk. mempunyai pengaruh cukup besar yaitu telah dapat memacu dan memotivasi terhadap seniman-seniman di kalangan tradisional (Maryono. tari Kusuma Aji. Karonsih merupakan awal jenis tarian duet percintaan yang mampu membawa perkembangan sangat luar biasa. tari Gesang Rahayu. dan iringan. Sedangkan aspek bahasa nonverbal meliputi: tema. banyak persamaannya. Kajian pragmatik di sini akan menganalisis makna genre tari pasihan lewat implikatur-implikatur bahasa verbal dan nonverbal yang dimilikinya. Pemilihan pertama tari Karonsih dalam kajian pragmatik ini. tidak lain didasarkan pada fakta historis. tari Jayaningrat. Kehadiran tari Karonsih di tengah-tengah kehidupan masyarakat telah menjadi bagian dari kebutuhan sosial.37 jineman. dan memiliki pesan. tari Enggar-enggar. tari Kusuma Ratih. polatan (ekspresi wajah). pola lantai. yakni seperti: tari Endah. tari Driasmara. Aspekaspek tersebut membutuhkan ruang. rias. yang sudah barang tentu juga terdapat perbedaan namun tidak begitu signifikan.

Diharapkan perbedaan yang terdapat pada tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk. didasarkan pada bentuk yang berbeda pada jenis tari duet percintaan. kredibilitas. Kelayakan dan kualitas objek sasaran penelitian tidak dapat disangsikan berdasarkan eksistensi. Kehadiran genre tari pasihan merupakan pemenuhan kebutuhan sosial dan hayatan cukup mantap dan sekaligus menjadi benteng budaya . Perbedaan antara Karonsih dengan Bondhan Sayuk meliputi bentuk tindak tutur verbal dan nonverbal. Merujuk pada pola cerita yang tokoh-tokohnya memiliki authority scale dan social distance yang berbeda. baik dari segi tindak tutur verbal dan nonverbalnya dapat digunakan untuk mengungkap secara mendalam karakteristik genre tari pasihan dalam analisis pragmatiknya. Realitas menunjukkan bahwa keragaman jenis tari duet percintaan gaya Surakarta merupakan salah satu aset budaya nasional yang memiliki kuantitas dan kualitas tinggi. dan kualitas genre tari pasihan sebagai seni pertunjukan yang hidup dan berkembang pesat di Jawa. hal ini dapat diamati dari kehadirannya yang hampir dapat dipastikan pada setiap upacara perkawinan terutama pada budaya Jawa. Pemilihan kedua adalah tari Bondhan Sayuk. sekilas dapat dicermati dari properti yang berupa boneka bayi (anak kecil). kuantitas. namun masih dalam karakteristik yang sama. Pada prinsipnya pemilihan sampling tari Karonsih dan Bondhan Sayuk tersebut bukan untuk generalisasi statistik (populasi) tetapi lebih fokus untuk mewakili dari keragaman informasinya yang diharapkan dapat digeneralisasi teorinya. Selain itu terdapat perbedaan bahasa nonverbal.38 sepasang temanten. maka hal itu dapat diamati dari jenis bahasa verbal yang digunakan pada masing-masing tari pasihan tersebut. serta memberikan citra budaya yang mantab.

adalah: mengapa masyarakat memilih pertunjukan genre tari pasihan gaya Surakarta sebagai masterpiece dalam sebuah ritual perkawinan adat Jawa. terdapat masalah utama yang menjadi fokus penelitian disertasi ini. Untuk itu perlu dirumuskan masalahnya dalam rangka menganalisis makna pragmatik pada genre tari pasihan.39 nasional yang mampu memberi warna citra diri masyarakat Surakarta sebagai pewaris high culture Mataram palace dan lebih meluas sebagai bangsa Indonesia. Masalah utama tersebut dapat dikaji lewat beberapa pertanyaan yang bersumber pada seniman pelakunya (penyusun tari dan penari) yang bertindak sebagai penutur (komunikator). penonton umum. B. dan penanggap) sebagai mitra tutur (komunikan). Bagaimanakah penerapan prinsip kerja sama dan prinsip kesantunan dalam bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta ? 3. Bagaimana jenis-jenis tindak tutur dalam genre tari pasihan gaya Surakarta dan tindak tutur apa yang dominan. karya seni (pesan atau tindak tutur) sebagai sarana atau media tutur. Rumusan Masalah Dari uraian latar belakang masalah yang telah peneliti paparkan tersebut di muka. Bagaimanakah implikatur dan daya pragmatik bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta ? . Rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. dan masyarakat (pakar. serta mengapa terjadi dominasi ? 2.

3. Bagaimana ciri karakteristik bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta ? 5. Ciri karakteristik bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta. Persepsi masyarakat terhadap kehidupan genre tari pasihan gaya Surakarta. Bagaimana latar belakang konsepsi penciptaan bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta ? 6. . 4. akurat. dan mendalam untuk menemukan dan mendeskripsikan: 1. Latar belakang konsepsi penciptaan bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta. Jenis-jenis tindak tutur dan tindak tutur yang dominan dalam genre tari pasihan gaya Surakarta. 2. Penerapan prinsip kerja sama dan prinsip kesantunan dalam bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta. Implikatur dan daya pragmatik bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta. 5. Bagaimana persepsi masyarakat terhadap kehidupan genre tari pasihan gaya Surakarta ? C. Tujuan Penelitian Memahami bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan pada ritual perkawinan adat Jawa di Surakarta dengan menganalisis secara rinci.40 4. 6.

politik. Salah satu jenis kajian linguistik yang paling tepat untuk analisis tari adalah linguistik pragmatik. antropologi. Perspektif dari kajian pragmatik akan mengarahkan peneliti untuk menganalisis seni pertunjukan (tari) secara menyeluruh. (3) Memberikan motivasi terhadap pembaca pada umumnya dan para peneliti dari kalangan Lembaga Perguruan Tinggi Seni untuk meneliti bentuk-bentuk seni pertunjukan dari perspektif linguistik pragmatik. Dengan demikian manfaat yang diharapkan dari penelitian ini: (1) Membuka perspektif kajian baru.41 D. namun penelitian tari dari kaca mata linguistik rupanya masih sangat langka. ekonomi. Artinya seni pertunjukan memuat nilainilai kehidupan yang fundamental sebagai sumber makna. baik dari aspek bahasa verbal dan nonverbal. Spesifikasi yang dapat diunggulkan dalam kajian ini bahwa terdapat interaksi yang sangat tepat antara pragmatik dan seni pertunjukan yang masing-masing berorientasi masalah makna. (4) Dapat menjadi referensi atau acuan bagi para peneliti yang terkait dengan disiplin ilmu linguistik pragmatik dan kajian sastra seni khususnya. Sedangkan pragmatik merupakan disiplin ilmu yang secara spesifik mengkaji makna atau maksud penutur. (2) Memberi sumbangan bagi para pembaca untuk menambah wawasan kajian seni pertunjukan tari pasihan dari sudut pandang linguistik pragmatik. terutama kajian seni pertunjukan khususnya tari dari perspektif linguistik pragmatik. Manfaat Penelitian Tari dikaji dari berbagai perspektif ilmu seperti sosial. . budaya dan lainnya rupanya telah banyak dilakukan para peneliti.

peneliti menggunakan kajian: (1) teori pragmatik.42 BAB II KAJIAN TEORI. (2) teori budaya. Kajian Teori Seni pertunjukan umumnya dan lebih khusus genre tari pasihan gaya Surakarta merupakan lahan kajian yang sangat menarik lewat bahasa verbal yang berupa teks sastra tembang dan bahasa nonverbal. Dalam rangka untuk mengetahui dan mencermati makna bahasa verbal dan nonverbal yang terdapat dalam seni pertunjukan genre tari pasihan gaya Surakarta. Bentuk analisis berikutnya adalah bagaimana penerapan . TINJAUAN PUSTAKA. mengapa terjadi dominasi. 1) Teori pragmatik untuk menganalisis jenis-jenis tindak tutur yang terdapat pada sastra tembang sebagai bahasa verbal. dan (4) teori komunikasi. jenis tindak tutur yang dominan. (3) teori seni pertunjukan. DAN KERANGKA PIKIR A.

gerak tubuh (kinetic body moves). Teori tersebut juga untuk mengungkap implikatur dan daya pragmatik. rias.43 prinsip-prinsip kerja sama dalam sastra tembang. polatan (ekspresi wajah). hubungan peran yang berbeda. Proses komunikasi antara seniman penyusun sebagai komunikator dengan masyarakat sebagai komunikan lewat media yaitu karya seni tari pasihan. Adapun wujud kebudayaan berupa benda-benda hasil karya manusia untuk analisis faktor objektif atau karya seninya. baik yang berupa sastra tembang dan bahasa nonverbal. busana. 3) Teori seni pertunjukan untuk mengkaji elemen-elemen yang terdapat di dalam tari pasihan (bahasa nonverbal) mencakup tema. Jika komunikasi antara seniman dengan masyarakat terjadi perbedaan . 4) Teori komunikasi digunakan untuk menganalisa bagaimana komunikasi berlangsung. dan penggunaan muka dalam komunikasi. Dalam komunikasi tersebut lebih difokuskan pada kesesuaian antara pesan makna yang dimaksudkan seniman penyusun dengan makna yang dapat ditangkap oleh masyarakat. wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide untuk mengungkapkan konsepsi seniman penyusun tentang bahasa verbal dan nonvberbal yang digunakan pada tari pasihan. dan iringan gamelan untuk mengungkapkan faktor objektif dan faktor genetik. pola lantai. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas untuk mengkaji dari faktor afektifnya yaitu mengenai pandangan masyarakat umum dan persepsi pakar terhadap pertunjukan tari pasihan. Selain itu juga untuk mengkaji strategi kesantunan yang digunakan oleh masing-masing peserta tutur yang terdapat dalam genre tari pasihan terkait dengan cara mengungkapkan tindak tutur terkait jarak sosial. 2) Teori budaya yang terdiri dari tiga bagian yakni.

1993: 8).44 atau sebaliknya terjadi persamaan. sedangkan teori budaya dan teori seni pertunjukan untuk menganalisis faktor bahasa nonverbal. Untuk mengetahui makna ujaran tidak dapat hanya dilihat dari satu sisi ujaran itu sendiri. Teori komunikasi untuk mengkaji keterkaitan antarfaktor genetik. dan afektif. Sebagaimana dikatakan Leech bahwa seorang yang menganalisis makna pragmatik dapat disamakan dengan seorang penerima. dari hasil itu dapat dicari dan dianalisis penyebabnya untuk menentukan kekuatan dan kelemahan tari pasihan sebagai media. Konsep ujaran menurut Parera (dalam Muhammad Rohmadi. ia berusaha mengartikan isi wacana hanya . Diharapkan keempat teori tersebut mampu untuk mengungkap makna pragmatik genre tari pasihan gaya Surakarta secara menyeluruh dan mendalam. Keempat teori tersebut digunakan untuk menganalisis makna pragmatik genre tari pasihan gaya Surakarta secara komplementer. 2004: 48) berhubungan dengan manifestasi bahasa dalam bentuk lisan. objektif. Secara prinsip teori pragmatik merupakan alat kajian yang utama terkait dengan sistem kebahasaannya. Teori Pragmatik Terkait untuk tujuan-tujuan linguistik pragmatik adalah studi tentang makna dalam hubungannya dengan situasi-situasi ujar (speech situations) (Leech. 1. akan tetapi harus memperhatikan situasi ujaran atau sejauh mana kontekstualnya.

Untuk itu perlu dicermati secara mendalam bentuk . Bentuk ungkapan dapat bersifat langsung dan tidak langsung. (4) Tuturan sebagai bentuk tindakan atau kegiatan: tindak ujar. sulit dipahami karena untuk mencermati maksud sebuah tuturan yang disampaikan penutur kepada mitra tutur sering mengalami kendala. Terkait dengan situasi-situasi ujaran. sehingga mudah dipahami mitra tutur.45 berdasarkan bukti kontekstual yang ada saja tanpa menjadi sasaran pesan si penutur (1993: 19). Dalam kehidupan sosial manusia berinteraksi menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi untuk maksud-maksud tertentu. (2) Konteks sebuah tuturan. Bahasa yang diungkapkan berupa ujaran atau tuturan baik yang bersifat lisan maupun tulis. Tidak langsung. Artinya penutur dalam menyampaikan maksudnya disiratkan pada tuturan atau maknanya di balik yang tersurat. (3) Tujuan sebuah tuturan. (5) Tuturan sebagai produk tindak verbal. Leech (1993: 19-21) mengemukakan aspek-aspek situasi ujar yang meliputi lima aspek situasi ujaran sebagai berikut: (1) Yang menyapa (penyapa) atau yang disapa (pesapa). ujaranujaran dalam bentuk kalimat atau tindak tutur tersebut hanya akan dipahami sebagai makna semantik yang lebih terfokus pada analisis linguistik formal. Ujaran-ujaran dalam kalimat dapat diungkapkan makna pragmatiknya secara jelas jika kita perhatikan konteks. Hambatan sering terjadi karena penutur di dalam mengungkapkan tuturannya menggunakan bahasa yang bersifat indirect. bersifat langsung manakala maksud penutur tereksplesitkan dalam bentuk-bentuk tuturannya. penutur serta situasinya. Sebagai mitra tutur berupaya untuk menafsirkan maksud penutur lewat teks yang digunakan dengan mengaitkan konteksnya. Tanpa konteks.

Pendapat lain. bahwa teks merupakan sebuah unit semantik yang memiliki bentuk dan bermakna bukan sekadar unit gramatikal seperti klausa atau kalimat yang lepas. Adapun hakekat konteks lebih mereferensi dari pendapat: Yule (1998). Secara lebih sederhana Cook menyatakan bahwa teks juga dapat berupa bagian-bagian dari bahasa yang dikaji secara formal (1989: 14). a. Cook (1989). dan Hoed (2003: 5-6). Hakekat teks dalam pembicaran ini mereferensi dari pendapat: Leech (1983). Teks dan Konteks Pada dasarnya teks dan konteks sangat vital terkait dengan kompetensi komunikatif sehingga konsep teks dan konteks menjadi penting untuk dikaji dalam rangka memahami implikatur pragmatik. teks adalah potongan dari bahasa tulis maupun lisan yang maknanya dapat dirunut dari perspektif strukturnya ataupun fungsinya (Richards et al. kita dapat perikan liku-liku antarunit hingga komplementer antarfaktor.46 bahasa sebagai teks dan bagaimana konteksnya sehingga dapat berfungsi untuk mengungkap makna pragmatik. Teks Menurut Leech (1983: 100). . Dalam analisis teks dan konteks ini. dan Cutting (2002). Sejalan dengan pendapat tersebut.1. yakni bahasa yang sedang melaksanakan tugas tertentu dalam konteks situasi. bukan kata-kata ataupun kalimat lepas. teks adalah konstruksi dari hasil penggunaan sintaksis dan fonologi bahasa secara bermakna. Halliday dan Hasan (1976). a. Halliday dan Hasan (1976: 1-2). Richards et al (1992). Dengan demikian teks tidak tergantung pada ukuran panjang pendeknya. 1992: 378). Hoed (2003: 5-6). namun lebih mengarah pada berfungsinya suatu bahasa.

c) polatan. busana. peristiwa upacara ataupun pertunjukan sirkus. Merujuk pada hakekat teks dari pendapat kelima pakar tersebut terkait dengan teks seni pertunjukan. dan iringan.2 Bahasa nonverbal berupa elemen-elemen tari yang terdiri dari: tema. c) realisasi kesantunan antarperan a. yang berupa teks sastra tembang yang terdapat dalam cakepan (syair) pathetan. Dapat ditarik simpulannya bahwa teks adalah sebuah unit bahasa verbal dan atau nonverbal yang bermakna. maka dalam bahasa verbal ini. rias. dan jineman.47 mengatakan terdapat dua cara untuk pendekatan dasar pada sebuah teks. . polatan (ekspresi wajah). Dalam bahasa nonverbal ini. gerongan. dapat peneliti kemukakan bahwa teks genre tari pasihan meliputi: a. teks sebagai pesan verbal yang membatasi teks pada gejala kebahasaan (lihat disertasi Jumanto. gerak tubuh (kinetic body moves). musik. dengan mengutip pendapat Noth (1990). sindhenan. mencakup: a) motif tema yang digunakan sebagai ancangan alur adegan. b) jenis-jenis vokabuler gerak. teks sebagai pesan budaya (nonverbal). dan 2. pola lantai. kajian peneliti lebih terfokus pada gejala budaya.1. yaitu: 1.1 Bahasa verbal. yang terkait dengan gejala budaya seperti film. kajian peneliti lebih terfokus pada: a) jenis-jenis tindak tutur yang digunakan. Berdasarkan tujuan awal penelitian adalah kajian pragmatik.1. pertunjukan balet atau tari. b) jenis tindak tutur yang dominan dan mengapa terjadi dominasi. 2006: 23-24).

a. konteks adalah sebuah konsep yang dinamis. Menurut Yule (1998). lagu. bukan statis. baik konteks yang bersifat lingual (cotext) maupun konteks yang bersifat ekstralingual yang berupa konteks fisik maupun konteks sosial. didominasi oleh pandangan bahwa aspek form dalam suatu bahasa merupakan satu-satunya data yang paling feasible untuk dikaji.48 d) bentuk rias. Selama bertahun-tahun kajian linguistik. baik verbal dan nonverbal tersebut merupakan satu kesatuan yang membentuk menjadi sebuah bahasa genre tari pasihan yang tidak lepas dengan konteks. Konteks Munculnya konsep konteks dalam ranah linguistik merupakan konsep yang relatif baru sebagai pendobrak kemapanan aliran linguistik formal atau struktural. g) jenis-jenis gendhing . f) jenis-jenis pola lantai ( floor design) . Artinya bahwa para kaum strukturalis terfokus pada internal bahasa yang semata-mata berorientasi pada bentuk. Akibatnya aliran struktural gagal menjelaskan berbagai masalah kebahasaan. tidak mempertimbangkan bahwa satuan– satuan itu sebenarnya hadir dalam konteks.2. h) intonasi yang mencakup: irama. Kedua bentuk bahasa. dan tekanan. yang seharusnya mengaitkan dengan konteks. terutama terkait dengan masalah makna yang ditarik dari implikatur tindak tutur dalam sebuah percakapan. e) jenis warna dan bentuk busana yang dipakai. Konteks dipahami sebagai lingkungan yang selalu berubah yang memungkinkan peserta tutur berinteraksi dan yang membantu mereka memahami .

Sejalan dengan pendapat tersebut. yaitu keadaan fisik yang muncul bersamaan dengan terjadinya suatu interaksi ketika percakapan berlangsung (at the moment of speaking). Realisasi konteks dari teks tari pasihan dengan mengakses persepsi Cutting. 2) konteks pengetahuan latar (background knowledge context) yang dirinci menjadi (a) pengetahuan umum budaya (cultural general knowledge) dan (b) pengetahuan interpersonal (interpersonal knowledge). pemilihan kata. Sedangkan Cutting (2002: 3-8).1) Keadaan fisik yang muncul bersamaan dengan terjadinya suatu interaksi ketika percakapan berlangsung dapat dirunut. yakni konteks verbal yang ada pada teks yang mengakibatkan adanya kohesi dan koherensi.2. Selanjutnya secara rinci konteks dikategorikan menjadi: 1) konteks situasi. mendefinisikan konteks secara lebih operasional yakni dunia fisik dan sosial serta asumsi-asumsi pengetahuan yang sama-sama dimiliki oleh penutur dan mitra tutur.2. Secara eksternal meliputi: lokasi pertunjukan dan kondisi lingkungan yang menjadi setting berlangsungnya pertunjukan. intonasi dan pemilihan gerak. 3) konteks co-textual. secara internal mencakup: perubahan raut muka atau polatan.49 ungkapan-ungkapan kebahasaan yang mereka gunakan dalam suatu proses komunikasi. Leech mengartikan konteks sebagai suatu pengetahuan latar belakang yang sama-sama dimiliki oleh penutur dan mitra tutur dan yang membantu mitra tutur dalam menafsirkan makna tuturan (1993: 20). peneliti dapat lebih memfokuskan kajiannya pada: a. a.2) Konteks pengetahuan latar yang dapat diperikan menjadi: .

Mencermati dari sekian masa kehidupan. dan bagaimana masing-masing unsur itu harus dirangkai menjadi terpadu. sekaligus mencegah hal-hal yang sumbang maupun menimbulkan keganjilan. peraturan dan sebagainya. artifact. dapat dirunut bagaimana keterkaitan perkawinan dengan kehadiran tari pasihan. merupakan bagian budaya yang terkait dengan ide-ide. 1992: 54-55). Stages along the life-cycle itu meliputi: masa kelahiran. sociofact.2. 1985: 89). mengalami pembagian adat-istiadat ke dalam tingkattingkat tertentu. Mentifact. Keselarasan antara gaya hidup dan kenyataan fundamental yang dirumuskan simbol-simbol sakral bervariasi dari kebudayaan yang satu ke budaya yang lain (Geertz. rupanya keselarasan alam semesta merupakan salah satu prinsip hidup. Harmonisasi dan keseimbangan antara jagad gedhe sebagai manifestasi makrokosmos dan jagad cilik sebagai manifestasi mikrokosmos merupakan faktor penentu kehidupan yang harus terjaga keberlangsungannya. masa puber. salah satu masa yang penting adalah masa perkawinan atau masa nikah. masa penyapihan.2. mencakup: mentifact. masa hamil. masa remaja. .1)Keterkaitannya dengan budaya. nilai-nilai. Dalam keselarasan tersebut yang penting adalah apakah hubungan alamiah satu sama lainnya dimiliki oleh unsur-unsur yang terpisah. masa pascanikah. masa nikah atau masa perkawinan. masa kanak-kanak. dan masa tua hingga kematian (Koentjaraningrat. gagasan. Pandangan bagi masyarakat yang berbudaya Jawa. norma-norma. Dari pernyataan tersebut.50 a. Realitas sepanjang hidup manusia di muka bumi.

a. Beragam aktivitas manusia yang saling berinteraksi satu dengan lainnya.2. Pada prinsipnya semua hasil karya manusia ditujukan untuk mencukupi semua kebutuhan hidupnya yang terdiri dari dua komponen pokok. selalu menurut pola yang telah disepakati yang didasarkan pada adat tata kelakuan. Beragam hasil karya seni yang diciptakan manusia. Salah satu jenis karya manusia yang berperan dalam pembangunan rohani adalah karya seni. peneliti akan mengkaji fungsi tari pasihan pada upacara perkawinan dalam kehidupan sosial masyarakat pendukungnya. dari waktu ke waktu. merupakan bagian budaya yang terkait dengan suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam social system. rupanya terdapat kontribusi yang cukup signifikan.2) Keterkaitannya dengan pengetahuan interpersonal. Merujuk pada asumsi tersebut. merupakan bagian budaya yang berupa seluruh total dari karya manusia berupa benda fisik dari aktivitas maupun perbuatan. tari pasihan akan dicermati secara total bentuk karya seninya dalam koridor seni pertunjukan. yaitu kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani. satu diantaranya adalah jenis genre tari pasihan.2. Rupanya terdapat keterkaitan yang cukup erat antara seni pertunjukan khususnya tari duet pasihan dengan kebutuhan sosial. Kehadiran tari duet pasihan pada upacara-upacara resepsi perkawinan sampai sekarang masih berlangsung. yang terjadi di sekitar kita. sistem sosial itu bersifat konkret. akan dirunut tentang: hasil penghayatan yang melibatkan seniman dan penghayat terhadap karya .51 Artifact. Seperti kehadiran tari pasihan pada upacaraupacara ritual perkawinan budaya Jawa. Sociofact. Terkait dengan kebutuhan analisis artifact. Sebagai rangkaian aktivitas manusia dalam suatu masyarakat.

mencakup kohesi dan koherensi secara menyeluruh dalam tari pasihan. dan antarbagian tari pasihan. pada kajian berikut. . dan (4) maksim cara (Grice dalam Leech. 1996: 68). dan interpretasi-interpretasinya terhadap tindakan dan ucapan lawan tutur (Wijana. b. Setiap peserta pertuturan sama-sama menyadari bahwa ada prinsip-prinsip yang mengatur tindakannya. antarkomponen. terdapat persamaan atau perbedaan yang masing-masing akan dicari argumentasinya. penggunaan bahasanya. akan dikupas secara tuntas dan mendalam dengan teori-teori yang peneliti gunakan sebagai ancangan analisis.52 tari pasihan. masingmasing bagian. (2) maksim kualitas. Prinsip Kerja Sama (PKS) Pada dasarnya orang dalam berkomunikasi itu hendaknya saling bekerjasama antara penutur dengan mitra tutur agar komunikasi dapat berjalan secara efektif dan efisien. Adapun cakupan kohesi terfokus pada: keterkaitan antarunit. Sebagai arahan untuk memahami proses dan bentuk aktualisasi mengenai aplikasi analisis pemerian teks beserta konteks tari pasihan dalam ritual perkawinan budaya Jawa. dan antarbagian baik yang terdapat pada teks satra tembang maupun pada elemen-elemen tari pasihan. masing-masing komponen. Hasil penilaian atau hasil hayatan dari peserta tutur (seniman dan penghayat). Dari penghayatan muncul sebuah penilaian. antarkomponen. Partisipan komunikasi sangat berkepentingan untuk memenuhi dan mematuhi prinsip kerjasama (Cooperative Principle) yang terbagi empat maksim yaitu: (1) maksim kuantitas.3) konteks co-textual.2. a. (3) maksim hubungan. dan implikatur dari komplementer antarunit. Cakupan koherensi terfokus pada: isi atau kandungan makna pada masing-masing unit.

(4) maksim kerendahan hati (modesty maxim). yaitu: (1) maksim kearifan (tact maxim). dan teratur secara gramatikal. menghargai. Terbentuknya komunikasi yang wajar tersebut karena penutur dalam memberikan informasi secukupnya tidak kurang dan tidak lebih sesuai yang diperlukan. Perlu disadari bahwa sebagai anggota masyarakat bahasa penutur tidak hanya terikat pada hal-hal yang bersifat tekstual. Merujuk pada empat maksim dari prinsip kerjasama itu bila dapat dipenuhi dari masing-masing peserta tutur maka akan terjadi komunikasi yang efektif dan efisien. informasi benar tidak keliru berdasarkan suatu realitas yang sebenarnya. tetapi penutur juga terikat pada aspek-aspek yang bersifat interpersonal. adalah aturan pertuturan yang meminimalkan kerugian orang lain dan memaksimalkan keuntungan bagi orang lain. informasi usahakan relevan dengan pokok pembicaraan. Leech berpendapat bahwa selain keempat maksim dalam prinsip kerjasama juga masih diperlukan prinsip kesantunan yang terjabar menjadi enam maksim. Prinsip kerjasama rupanya tidak cukup karena dalam kehidupan dibutuhkan saling menghormati. (3) maksim pujian (approbation maxim). adalah aturan pertuturan yang meminimalkan keuntungan bagi diri sendiri dan memaksimalkan kerugian bagi diri sendiri. dan menjaga kesopanan. ringkas. (2) maksim kedermawanan (generosity maxim). Dengan demikian penutur harus membuat dan memperlakukan mitra tutur lebih santun dalam mengungkapkan tuturannya.53 1993: 11). adalah aturan pertuturan yang meminimalkan ketidakhormatan terhadap orang lain dan memaksimalkan pujian kepada orang lain. dan informasi disampaikan dengan cara yang mudah. adalah aturan pertuturan yang memaksimalkan . jelas. dalam arti tidak hanya bagaimana membuat tuturan yang mudah dipahami oleh mitra tutur.

Hal itu menunjukan bahwa dalam pertuturan. Penutur sering menyampaikan pesan tidak secara bald on record tetapi lebih banyak menyukai dengan cara off record. hubungan sosialnya tetap terjaga tanpa merasa terkendalai oleh faktor bahasa dan nonbahasa. adalah aturan pertuturan yang meminimalkan rasa anti pati terhadap orang lain dan memaksimalkan rasa simpati terhadap orang lain (Leech. Namun. kalau kita perhatikan praktik penggunaan bahasa di dalam komunikasi sehari-hari. nyaman.54 ketidakhormatan terhadap diri sendiri dan meminimalkan rasa hormat terhadap diri sendiri. Tampaklah bahwa ketidakpatuhan para partisipan dalam komunikasi karena pada dasarnya bahwa berkomunikasi itu lebih dipicu oleh motif-motif tertentu dari penutur. ternyata prinsip kerja sama itu sering tidak dipatuhi orang. Tidak dipatuhi karena salah satu sebabnya adalah bahwa komunikasi itu tidak selalu berupa penyampaian pesan atau informasi belaka. karena dapat diasumsikan bahwa apa yang . aman. dan (2) fungsi afektif yang bertujuan untuk menjaga dan memelihara hubungan sosial (Holmes dalam Asim Gunarwan. Hal ini didasarkan pada fungsi bahasa yang mencakup: (1) fungsi referensial atau informatif yang tujuannya untuk menyampaikan informasi (pesan). 1993 : 206-207). Paling tidak. Dalam hal ini penutur berupaya memasukkan maksudnya secara implisit pada ujaran yang diungkapkan. 2006: 2). (6) maksim simpati (sympathy maxim). lebih sering maksim-maksim dalam prinsip kerja sama itu dilanggar daripada dipatuhi. diharapkan tidak mengancam muka. adalah aturan pertuturan yang memaksimalkan kesepakatan terhadap orang lain. penutur merasa lebih santun. (5) maksim kesepakatan (agreement maxim). Namun perlu disadari semua implikatur itu bersifat probabilistis.

Tindak Tutur Fungsi bahasa dalam kehidupan manusia sebagai makhluk sosial rupanya tidak dapat disangkal lagi. dan representatif. c. tidak cukup mengetahui eksplikatur ujaran. Karena pragmatik merupakan kajian tentang maksud penutur. . dan juga Sinyal (signal). bahasa dapat difungsikan menjadi tiga. sesuai dengan maksud percakapan. Dapat diinferensikan bahwa memahami maksud penutur. untuk mengetahui dan memahami makna ujarannya. Bahasa sebagai fakta sosial telah diungkap pertama kali oleh Ferdinand de Saussure (1916). Untuk menarik makna sesuai dengan maksud penutur tidak cukup hanya dengan mengasumsikan makna proposisi ujaran.55 dimaksud oleh penutur lewat tuturannya tidak pernah dapat kita ketahui dengan pasti. tetapi kita juga harus mengetahui sikap penutur yang melatarbelakangi eksplikatur ujaran tersebut (Asim Gunarwan. gejala (symptom). betapapun eksplisitnya proposisi. Menurut Karl Buhler (1918). Untuk dapat menentukan makna yang sebenarnya atau menyimpulkan interpretasi yang paling mungkin. Berdasarkan teori tanda bahasa di dalam model Organon Buhler. apelatif. yaitu: ekspresif. Relevansi teori Buhler dengan liku-liku pragmatik dijelaskan oleh Renkema (1993). dipilih bentuk-bentuk ungkapan yang memiliki makna paling relevan dari semua siratan yang secara potensial dapat timbul. tanda bahasa merupakan lambang (symbol). Hal ini kemudian dikembangkan oleh para peneliti lain. 2006: 9). Peranan ujaran atau tindak tutur sangat penting dalam rangka menyampaikan maksud penutur. Dalam hal ini tanda bahasa merupakan lambang yang memiliki daya sinyal untuk mengarahkan pendengar sebagai penanggap. kita harus mengetahui sikap penutur.

Mereka dengan sadar mengembangkan teori fungsi bahasa secara berkelanjutan. 2006: 36). Malinowski mengungkapkan sebuah konsep Phatic Communion: ‘A type of speech in which ties of union are created by a mere exchange of words’ (lihat Jumanto. Teori fungsi bahasa dari ketiga pakar tersebut merupakan langkah awal berkembangnya fungsi bahasa yang mendorong lahirnya teori pragmatik oleh . santun. Apabila objek acuan sender sebagai message dapat diterima dan dipahami pada tingkat yang sama atau tepat oleh receiver. Dari pernyataan tersebut jelas bahwa bahasa difungsikan sebagai tujuan sosial untuk menjaga hubungan ikatan antarpersonal bagi yang terlibat dalam sebuah pertuturan. Sekarang tampak bahwa tokoh – tokoh seperti: Ferdinand de Saussure (1916). merupakan pakar linguistik yang telah mendeskripsikan fungsi bahasa berdasarkan realitas kehidupan bahasa dalam masyarakat. maka akan terjadi masalah pragmatik. artinya bahwa komunikasi efektif dan berhasil. Perkembangan selanjutnya Malinowski (1923: 310). dari hasil penelitian terhadap masyarakat primitif di Papua Melanesia. Malinowski (1923).56 bahwa ujaran yang disampaikan oleh sender dapat diterima dan dipahami pada tingkat yang sama atau berbeda oleh receiver artinya gejala tidak selalu sama dengan sinyal. menyatakan bahwa ujaran hanya akan dapat dipahami jika ditafsirkan dalam konteks situasi. Terkait dengan fungsi bahasa. Komunikasi fatis merupakan strategi masyarakat modern maupun masyarakat primitif dalam rangka menjaga interaksi sosial terpelihara dengan baik. Sebaliknya jika yang terjadi pemahaman receiver atas objek referensi sender berbeda bahkan berlainan sama sekali. Karl Buhler (1918). dan harmonis. ramah.

.57 Austin (1956) yang kemudian dijabarkan dan dimanifestasikan dalam konsep-konsep tindak tutur Searle (1969) berikutnya. kita dapat mengkajinya dengan sebuah teori tindak tutur yang diperikan menjadi beberapa jenis tindak tutur.” Tuturan tersebut dimaksudkan untuk melakukan tindakan yakni melarang atau menyuruh untuk tidak menghisap rokok. seseorang dapat melakukan sesuatu selain mengatakan sesuatu. tindak ilokusi (illocutionary act). d. seorang ahli filsafat senior dari Inggris. Jenis-jenis Tindak Tutur d. Wijana. 2002: 16. Searle dalam bukunya “Speech Acts: An Essay in The Philosophy of Language” (1969:23-24) mengemukakan bahwa secara pragmatik setidak-tidaknya ada tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan oleh seorang penutur. “ Wah. Contohnya: “ Peneliti mohon maaf atas keterlambatan peneliti. 2006: 83-84). Menurut Searle bahwa pada setiap komunikasi linguistik terdapat tindak tutur.” Ujaran atau tindak tutur tersebut dipergunakan untuk melakukan tindakan yaitu menyuruh untuk menyirami. Yule. Cutting. Speech act menurut Austin di dalam mengutarakan tuturan. 1993:316. dan tindak perlokusi (perlocutionary act) (lihat Leech. Tindak Tutur menurut Austin (1956) Teori tindak tutur pertama kali diungkapkan oleh Austin (1956). yang kemudian dikembangkan dan dipopulerkan secara universal oleh muridnya yang bernama Searle (1969).1. “ Sebaiknya anda tidak merokok. yakni tindak lokusi (locutionary act). tanamannya layu.” Contoh ujaran atau kalimat tersebut dipergunakan untuk melakukan tindakan yaitu tindakan meminta maaf. Terkait dengan liku-liku Speech act. 1996: 17-19.

Tindak tutur ini sering disebut sebagai The Act of Saying Something. Hal ini terkait dengan pemahaman bahwa pragmatik adalah cabang linguistik yang mengkaji maksud penutur (the speakers meaning) yang terdapat di balik tuturannya. Wijana. untuk mencermati dan memahami maksud penutur dengan seluruh aspek yang melatarbelakangi (konteks). Tindak lokusi adalah tindak tutur untuk menyatakan sesuatu. b. tanpa tendensi atau maksudmaksud tertentu di balik kalimat atau ujaran. a. Adapun ketiga jenis tindak tutur itu. illocutionary act atau illocutionary force. yakni subjek atau topik dan predikat atau commet (lihat Nababan. Tindak Ilokusi (illocutionary act). Bila diamati secara seksama tindak lokusi itu adalah konsep yang berkaitan dengan proposisi kalimat. tetapi lebih menurut apa adanya. lebih lanjut dijelaskan sebagai berikut. Kalimat atau tuturan dalam hal ini dipandang sebagai satu kesatuan yang terdiri dari minimal dua unsur. Untuk itu diperlukan seperangkat pengetahuan tentang berbagai jenis tindak tutur. dan perlocutionary act atau perlocutionary effect merupakan teori yang akan peneliti gunakan sebagai ancangan untuk mengkaji implikatur. 1987: 4. . yaitu locutionary act.58 Ketiga teori tindak tutur. Tuturan yang diutarakan oleh penuturnya lebih bersifat menginformasikan sesuatu. Tindak Lokusi (locutionary act). Maksud tuturan tidak selamanya dinyatakan secara eksplisit. 1996: 18). akan tetapi banyak juga bahkan dapat peneliti katakan cukup dominan maksud penutur yang diimplisitkan pada realitas kehidupan. sehingga kita sering mengalami kesulitan untuk memahami maksud tuturan atau implikaturnya.

Tindak Perlokusi (perlocutionary act). Selanjutnya tindak perlokusi sebagai final maksud suatu ujaran di dalam komunikasi bahasa. tindak ilokusi mendasari tindak perlokusi. Kunci utama yang perlu diperhatikan .59 Tindak ilokusi adalah tindak tutur yang berfungsi untuk mengatakan atau menginformasikan sesuatu dan dipergunakan untuk melakukan sesuatu. Tindak perlokusi adalah tindak tutur yang pengutaraannya dimaksudkan untuk mempengaruhi lawan tuturnya. kebiasaan antara pendengar dan pembicara sama. Tindak ilokusi sangat dominan kita jumpai dalam komunikasi sehari-hari. Dapat ditegaskan bahwa setiap tuturan dari seorang penutur memungkinkan sekali mengandung salah satu dari ketiga: lokusi. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa satu tuturan mengandung dua atau ketiga-tiganya sekaligus. Sebuah tuturan yang diutarakan seseorang seringkali mempunyai daya pengaruh (perlocutionary effect) atau efek bagi yang mendengarnya. Dalam tindak ilokusi dan perlokusi bentuk-bentuk kebahasaan sebagai simbol untuk mengungkapkan maksud yang sebenarnya. Tidak semata-mata tindak perlokusi hanya ditarik dari makna ujaran. Efek yang timbul ini bisa sengaja maupun tidak sengaja. Simbol itu dapat ditangkap sebagai sesuatu isyarat maksud tertentu jika wawasan budaya. Dalam tindak lokusi bentuk-bentuk kebahasaan sebagai alat untuk mengungkapkan informasi secara eksplisit. ilokusi atau perlokusi. Tindak perlokusi disebut sebagai The Act of Affecting Someone. tindak ini merupakan bagian sentral untuk memahami tindak tutur. karena harus melibatkan konteks tuturannya. Tindak ilokusi disebut sebagai The Act of Doing Something. c. Berdasarkan uraian-uraian di atas menunjukkan bahwa tindak lokusi mendasari tindak ilokusi.

komisif. ialah bentuk tindak tutur yang dimaksudkan oleh penuturnya untuk mempengaruhi mitra tutur agar melakukan tindakan sesuai dengan maksud penutur. misalnya: menggambarkan. Direktif.1.60 bahwa dalam analisis pragmatik adalah mencermati ilokusi-ilokusi yang terdapat pada tindak tutur dari penutur yang hendak dikomunikasikan pada mitra tutur. dan deklarasi (lihat Leech. menyarankan. dan melaporkan. Cutting. yakni: asertif. Asertif ialah bentuk tindak tutur yang mengikat penuturnya kepada kebenaran atas hal yang dikatakannya. menyesal. d. Tidaklah dipungkiri bahwa dalam kajian tindak tutur ilokusi tidak lepas dari tindak tutur lokusi dan tindak tutur perlokusi. Tindak Tutur menurut Searle (1979) Sehubungan dengan pengertian tindak tutur atau tindak ujar.2. dan menantang. untuk mencari implikatur atau makna di balik ujaran yang tersirat bukan sekadar makna yang tersurat dalam ujaran dimaksud. ialah bentuk tindak tutur yang berfungsi untuk menyatakan atau mengungkapkan sikap psikologis penutur dalam menanggapi suatu keadaan. memuji. menyatakan. memesan. melarang. mengkritik. mengucapkan selamat. mengundang. yaitu: d. membuat hipotesa.2. . misalnya: menyuruh. 1996: 164-165. Ekspresif. mengusulkan. penyesalan. mengucapkan terima kasih.2. d. direktif. Searle (1979) mengklasifikasikan tindak tutur ilokusi menjadi lima jenis tuturan. membual. ekspresif. dan mengeluh. meramalkan.3. 2002: 16-17). mendesak.2. d. menuntut. Dari masing-masing tindak tutur mempunyai fungsi komunikatif. memohon.2. mengeluh. misalnya: meminta maaf.

tawaran. menolak. d.4. ialah bentuk tindak tutur yang mengikat penuturnya melaksanakan segala hal yang disebutkan dalam ujarannya. Komisif.3. penegasan. simpulan. berkaul dan sukarela. untuk menyatakan atau mengemukakan deklarasi secara tepat.2. Tindak Tutur menurut Yule (1996) Menurut Yule (1996).5.2. Representatif ialah jenis tindak tutur yang menyatakan apa yang diyakini penutur.3. kebencian. memutuskan. dan menjatuhkan hukuman. Dalam hal ini penutur harus mempunyai peran institusional khusus. kesulitan. misalnya: berjanji.3. melarang. kesenangan. mengucilkan.61 d. Deklaratif ialah jenis tindak tutur yang mengubah dunia melalui tuturan. Ekspresif ialah jenis tindak tutur yang menyatakan sesuatu yang dirasakan oleh penutur.4. keadaan dan sebagainya) yang baru. mengangkat. Deklaratif. memecat. d. misalnya: meyakinkan. mendeklarasikan.2. mengizinkan. d. mengundurkan diri. Tindak tutur ekspresif merupakan cerminan dari pernyataanpernyataan psikologis dan dapat berupa pernyataan kegembiraan. menekankan. Direktif ialah jenis tindak tutur yang dipakai oleh penutur untuk menyuruh orang lain melakukan sesuatu. Bentuk tindak tutur direktif digunakan . dalam konteks khusus. ialah tindak tutur yang dilakukan si penutur dengan maksud untuk menciptakan hal (status.1.3. Pernyataan tersebut berdasarkan pada fakta. d.3. mengancam. memberi nama. memberikan maaf. kesukaan. dan pendeskripsian.3. d. yaitu: d. membatalkan. bersumpah. secara garis besar fungsi tindak tutur diklasifikasi menjadi lima jenis. dan bisa kesengsaraan atau kesedian. membaptis.

namun secara lebih umum mereka adalah subjek bagi penyelidikan empiris. data.5. dan secara umum mereka dapat dibenarkan atau disalahkan bukan hanya pada waktu tindak tutur tersebut keluar atau oleh mereka yang mendengarnya. benar atau salah. Komisif ialah jenis tindak tutur yang dipahami oleh penutur untuk mengikatkan dirinya terhadap tindakan-tindakan di masa yang akan datang.4. ancaman. pemecatan kerja. apa yang ada atau yang telah ada. apa yang sedang terjadi atau yang telah terjadi. Tindak tutur ini meliputi: perintah. Tindak tutur Asertif Di sini penutur menggunakan bahasa untuk menyampaikan apa yang mereka percayai dan apa yang mereka ketahui. penjatuhan hukuman . d. dan penolakan. d. Tindak-tutur performatif ditemukan pada ucapan-ucapan pernikahan. pengetahuan.62 untuk menyatakan apa yang menjadi keinginan penutur. tindak tutur asertif selalu berkaitan dengan fakta. dan meresmikan.3.4. misalnya tindakan mohon maaf.4. yang bentuknya dapat berupa kalimat positif dan negatif. seperti yang dikemukakan dalam bukunya “Introducing English Semantics” (1998:183-194). mengumumkan.1. Tindak tutur komisif dapat berupa: janji. ikrar. bertaruh. Tindak tutur Performatif Tindak tutur performatif adalah tuturan yang pengutaraannya difungsikan atau digunakan untuk melakukan suatu tindakan. dan pemberian saran. Kreidler mengkategorisasikan tindak tutur menjadi tujuh jenis bentuk tindak tutur. berjanji. yaitu: d. Tindak Tutur menurut Kreidler (1998) Dalam perkembangan selanjutnya. Tindak tutur asertif bersifat menginformasikan.2. pemesanan. d. permohonan.

30). menyalahkan atau tanggapan yang mengarah pada penilaian yang negatif. “bangga… untuk”. tindak tutur verdiktif dapat berupa tuturan yang bersifat menuduh. Di samping dalam bentuk tuturan di atas.4.4. mendakwa. mengucapkan selamat.3. Tindak tutur Ekspresif Tindak tutur ekspresif menilai atau mengevaluasi tindakan sebelumnya atau kegagalan dalam tindakan tersebut dari penutur.Tindak tutur Verdiktif Tindak tutur verdiktif adalah tindak tutur yang berorientasi pada perbuatan yang sudah terjadi atau bersifat retrospektif. 1999. d. “terima kasih… untuk”. bentuk menghargai. . d. Tindak tutur ekspresif adalah jenis tindak tutur yang menyatakan sesuatu yang dirasakan oleh penutur. Tindak tutur performatif bukanlah masalah benar atau salah tetapi tujuannya adalah untuk membuat bagian dari dunia ini sepaham dengan apa yang ia katakan. atau mungkin hasil bertindak atau kegagalan sekarang.4. Sikap itu bisa ditanggapi secara positif dengan mengucapkan “selamat… untuk”. Kebanyakan tindak tutur performatif diungkapkan pada setting formal dan berkaitan dengan kepegawaian. mengucapkan terima kasih. menyalahkan. Menurut Fraser tindak tutur ekspresif disebut pula tindak tutur evaluatif (dalam Rustono. mengkritik. mengeluh. Tuturan-tuturan ekspresif itu mencerminkan pernyataan-pernyataan psikologis yang dapat berupa: memuji.63 dan lain-lain di mana hanya orang-orang tertentu dan pada lingkungan yang sesuai yang diterima oleh mitra tutur. Tindak tutur restrospeksi adalah jika penutur menilai sikap yang telah dilakukan mitra tutur di masa lalu. dan berbelasungkawa. dan menyanjung.

Tindak tutur fatik merupakan bentuk tindak tutur yang berfungsi untuk menjalin hubungan sosial. ikrar. mengajak.64 d. Pada aplikasinya tindak tutur direktif.4. memohon. memberikan aba-aba. mendesak. Tindak tutur komisif merupakan bentuk tindak tutur yang berfungsi untuk menyatakan janji-janji. (2) kalimat berita (deklaratif). dan (3) kalimat tanya (interogatif). tidak kalah arti pentingnya dalam realitas kehidupan sehari-hari. pengandaian. ancaman dan sumpah. bukan seperti makna yang tersurat dan tersirat dalam tindak tutur verdiktif atau ekspresif. menagih. yang mempunyai tujuan tertentu. Tindak tutur Patik. d. dan menantang. ucapan perpisahan. Tindak tutur direktif ini tuturan-tuturannya mempunyai maksud untuk memaksa. Tindak tutur Direktif Tindak tutur direktif kadang-kadang disebut juga tindak tutur impositif adalah tindak tutur di mana penutur menginginkan mitra tutur melakukan suatu tindakan atau mengulangi tindakan.6.4. dapat berbentuk: (1) kalimat perintah (imperatif). Tindak tutur fatik merupakan bentuk tindak tutur keseharian yang sangat umum yang mungkin tidak kita pelajari . d.7. “maaf peneliti”. menyuruh. Tindak tutur patik termasuk salam. memerintah.4. Tindak tutur Komisif. Bahasa patik tidak begitu berfungsi dengan jelas jika dibandingkan dengan enam tipe lainnya tetapi. ucapan-ucapan kesantunan seperti “terima kasih kembali”. Tindak tutur komisif bersifat prospektif dan berkaitan dengan komitmen penutur pada perbuatan atau tindakan yang harus dilakukan untuk waktu yang akan datang. meminta. Tujuannya adalah untuk membangun solidaritas antar anggota-anggota dari lingkungannya.5. menyarankan.

Selain itu menurut Searle dan Kreidler juga terdapat persamaan pada tindak tutur asertif. dan Yule tentang fungsi tindak tutur tersebut dapat peneliti verifikasi sebagai berikut. persamaan juga terletak pada tindak tutur deklaratif. dan perlokusi. bentuk fungsi tindak tutur menurut Searle. karena Austin merupakan orang pertama kali yang mengemukakan teori tindak tutur yang membaginya menjadi tiga bentuk yaitu: lokusi. 2. ilokusi. Searle. Menurut Searle dan Kreidler tentang fungsi tindak tutur asertif mempunyai persamaan pengertian dengan fungsi tindak tutur representatif menurut Yule. fungsi tindak tutur deklaratif mempunyai persamaan pengertian dengan fungsi tindak tutur performatif menurut Kreidler. Dalam perkembangannya teori tindak tutur di tangan para pakar diklasifikasikan menurut fungsinya yang secara garis besar memiliki kesamaan. Persamaan istilah dan sekaligus persamaan pengertian. . Perbedaan istilah tetapi pengertiannya sama. Kreidler. Dari hasil pengklasifikasian tersebut terdapat beberapa persamaan dan perbedaan: 1. Dari keempat pakar yaitu: Austin. ekspresif. dan Yule. sedangkan menurut Searle dan Yule. meliputi tindak tutur: direktif. Konsep tindak tutur Austin merupakan dasar utama yang melandasi fungsi tindak tutur yang muncul di kemudian. Sedangkan bentuk atau ragamnya tindak tutur fatik sudah terpola. dan komisif. Kreidler. Di samping itu menurut Searle dan Yule.65 tapi sudah melekat dan menjadi kebiasaan sehari-hari yang bernilai baik dan beretika.

66 3. dan Kreidler. Yule. ungkapan memuji merupakan pernyataan yang cukup dominan dalam sebuah pertuturan. Pada dasarnya penutur dalam mengungkapkan maksudnya terhadap mitra tutur tidak selalu langsung pokok pembicaraan. Terkait dengan kelebihan yang dimiliki tersebut gagasan utama pemilihan dimaksud adalah dalam rangka mencari dan menentukan implikatur yang valid sehingga pragmatik genre pasihan dapat diungkapkan secara menyeluruh. Selain itu dari penjabarannya fungsi tindak tutur yang . kedua fungsi tindak tutur tersebut sangat bermanfaat untuk menganalisis tindak tutur teks satra tembang dan bahasa nonverbal yang terdapat pada genre tari pasihan. Prediksi peneliti. rasional. Begitu pula ketika seseorang mencintai orang lain. optimal. Perbedaan jumlah fungsi tindak tutur. Dari ketiga fungsi tindak tutur yang dikemukakan oleh Searle. dan berkualitas. Peserta pertuturan sering menggunakan bahasa fatik untuk sekedar memulai pembicaraan atau sekadar basa-basi mungkin juga untuk memecahkan kesenyapan yang kesemunya itu berlangsung dalam pertuturan seharihari. peneliti akan menggunakan fungsi tindak tutur menurut Kreidler karena tampak dari jumlah pengklasifikasian Kreidler lebih banyak yang masing-masing tindak tutur memiliki karakter yang spesifik sehingga dapat lebih mengakomodasi kebutuhan analisis bahasa verbal dan nonverbal yang terdapat dalam genre tari pasihan. sedangkan Searle dan Yule masing-masing mengklasifikasikan menjadi lima bentuk tindak tutur. Selain itu terkait juga dengan fungsi tindak tutur verdiktif dan tindak tutur fatik yang tidak dimiliki dalam fungsi tindak tuturnya Searle dan Yule. Hal ini ditunjukan oleh Kreidler yang membagi fungsi tindak tutur menjadi tujuh bentuk.

gerak tubuh (kinetic body moves). pola lantai. tindak tutur bahasa verbal yang berupa teks sastra tembang terdiri dari. b. penonton umum.1. Prinsip Kesantunan (PS) e. dan penanggap sebagai masyarakat pendukung budayanya. ekspresif. hal ini dapat dicermati dalam bukunya yang berjudul “Introducing English Semantics”. bahwa setiap maksim interpersonal itu dapat dimanfaatkan untuk menentukan peringkat kesantunan sebuah tuturan. dan jineman. tindak tutur bahasa nonverbal yang meliputi: tema. rias. Tuturan (karya seni) meliputi: a. gerongan. Berikut kesantunan menurut Leech selengkapnya: verdiktif. dan penari. Tindak tutur tersebut akan peneliti gunakan untuk mengkaji komponenkomponen yang terdapat pada genre tari pasihan gaya Surakarta baik yang terdapat pada bahasa verbal dan nonverbal secara tajam. dan . 3. yang dipaparkan dengan menggunakan bagan antara lain tindak tutur: komisif . dan iringan.67 dilakukan Kreidler tampak lebih transparan. Terutama terkait dengan latar belakang konsepsi penciptaan bahasa verbal dan nonverbal serta ciri karakteristik genre tari pasihan gaya Surakarta. sindhenan. Adapun unsur-unsurnya dapat diurai sebagai berikut. direktif. polatan (ekspresi wajah). menyeluruh. 1. dan rinci dalam rangka menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pada rumusan masalah. e. Penutur meliputi: seniman penyusun (pengkarya). Skala Kesantunan Leech (1983) Teori kesantunan Leech (1983). cakepan (syair) pathetan. 2. busana. Mitra tutur meliputi: pakar.

1. apabila pertuturan itu membatasi peserta tutur untuk memilih tuturan maka tindak tutur semakin tidak santun. Akan tetapi jika jarak status sosial semakin dekat antara penutur dengan mitra tutur.1..2. Sebaliknya. akan semakin santun tindak tuturnya. e. Optionality scale adalah skala yang menunjuk pada sedikit-banyaknya pilihan tindak tutur yang digunakan peserta tutur dalam pertuturan. Jarak hubungan sosial semakin jauh antara penutur dengan mitra tutur. Tindak tutur yang banyak merugikan penutur akan dianggap semakin santun. sedangkan tindak tutur yang bersifat tidak langsung akan semakin santun. Indirectness scale adalah skala yang menunjuk pada langsung dan tidak langsungnya maksud tindak tutur dalam pertuturan. Tindak tutur yang bersifat langsung semakin tidak santun.1. Authority scale adalah skala yang menunjuk pada hubungan status sosial antara penutur dengan mitra tutur.4. dan jika banyak menguntungkan penutur akan dianggap tindak tuturnya semakin tidak santun.5. Social distance scale adalah skala yang menunjuk pada peringkat hubungan sosial antara penutur dan mitra tutur. akan semakin tidak santun tindak tuturnya.1. e. Sedangkan semakin dekat hubungan sosial antara penutur dengan mitra tutur. Cost-benefit scale adalah skala yang menunjuk pada untung ruginya peserta tutur dalam pertuturan. . akan semakin santun tindak tuturnya. Jika pertuturan itu banyak memberikan kesempatan peserta tutur untuk memilih tuturan maka tindak tutur akan semakin santun.1.1. Jarak status sosial (rank rating) semakin jauh antara penutur dengan mitra tutur. e.3. e.68 e. akan semakin tidak santun tindak tuturnya.

Kajian kesantunan Brown dan Levinson mencakup: a) cara mengungkapkan jarak sosial (social distance) dan hubungan peran yang berbeda dalam komunikasi. Strategi kesantunan positif (positive politeness strategies) yang digunakan untuk menunjukkan kedekatan. Brown dan Levinson menggunakan dua cara yaitu strategi kesantunan positif yang mengacu pada muka positif dan strategi kesantunan negatif yang mengacu pada muka negatif. dan menyelamatkan muka dalam percakapan. sedangkan strategi kesantunan negatif (negative politeness strategies) yang digunakan untuk menunjukkan adanya jarak sosial antara penutur dengan mitra tutur. Dalam percakapan untuk mengungkapkan kesantunan. b) penggunaan muka dalam komunikasi. pada dasarnya setiap orang dianggap memiliki dua muka. . yakni muka positif (positive face) dan muka negatif (negative face).2. yang keduanya dimaksudkan untuk menunjukkan. Menurut Goffman (1959. bahwa dalam sebuah pertuturan terkait dengan pengaturan muka terbagi menjadi dua yaitu tindak tutur yang berpotensi mengancam muka (face-threatening acts/FTA) dan tindak tutur yang berpotensi menyelematkan muka (face-saving acts/FSA). Skala Kesantunan Brown dan Levinson (1987) Teori kesantunan Brown dan Levinson (1987) seperti dikutip Jumanto dalam disertasinya (2006: 47-53). sedangkan muka negatif dimaksudkan bahwa keinginan setiap orang supaya segala tindakannya tidak dihalangi orang lain ( Brown dan Levinson. keintiman. Muka positif dimaksudkan bahwa keinginan setiap orang supaya segala tindakannya dihargai oleh orang lain. 1967). dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur. 1987: 62). memelihara.69 e.

untuk menunjukkan adanya jarak sosial antara penutur dengan mitra tutur. 2) melakukan tindak tutur dengan menggunakan kesantunan positif mengacu muka positif (positive politiness). Prinsip kerja sama Grice (1975) seperti dikutip Leech (1993: 11). Dari sini kemudian asal makna kata implikatur. maksim hubungan atau relevansi. keintiman. 5) tidak melakukan tindak tutur atau diam (don’t do the FTA). 3) melakukan tindak tutur dengan menggunakan kesantunan negatif mengacu muka negatif (negative politiness).1. Hal ini dilakukan untuk menghindari kesalahpahaman. f. yaitu: maksim kuantitas. setidaknya dapat meminimalisasi . Cara yang ditempuh untuk memahami implikatur dalam komunikasi sehari-hari. Implikatur Istilah implikatur berasal dari bahasa Latin plicare yang berarti “melipat. tanpa basa basi (bald on record) dengan mematuhi prinsip kerja sama Grice. 4) melakukan tindak tutur secara tidak langsung (off record). Implikatur dan Daya Pragmatik f. maksim kualitas. kita harus menghubung-hubungkan tindak ujar yang disampaikan penutur terhadap mitra tutur dengan konteks. dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur. yang diasalkan dari kata “implied” yang berarti “folded in“ (terlipat) dan harus dibuka lipatan tersebut (unfolded) jika kita ingin mengetahui artinya. dan maksim cara.70 Teori kesantunan Brown dan Levinson dapat diringkas menjadi lima strategi. untuk menunjukkan kedekatan. yaitu: 1) melakukan tindak tutur secara apa adanya. terdiri dari empat maksim yang digunakan dalam percakapan.” Derivasinya dalam bahasa Inggris adalah kata kerja “to imply“ yang aslinya bermakna “to fold something into something else“ (melipat sesuatu ke dalam sesuatu yang lainnya).

informasi itu relevan dengan pokok pembicaraan dan penyampaiannya baik dan mudah dipahami. yakni makna atau pesan tambahan yang menjadi bagian dari komunikasi yang tidak dikatakan. Namun demikian penutur tidak selalu mematuhi maksim-maksim Grice tersebut. langsung dan tidak bertele-tele. maksim kualitas. Sejalan pendapat Yule. Jika keempat maksim itu dipenuhi maka penyampaian informasi akan menjadi efektif dan efisien. maksim hubungan dan maksim cara. yang dijabarkan menjadi empat. informasinya benar atau tidak keliru. menyatakan bahwa implikatur dalam pragmatik terkait dengan cara kita memahami suatu tuturan di dalam percakapan sesuai dengan yang kita harapkan.71 kesalahan sewaktu kita menafsirkan maksud penutur. sistematis. Yule (1998). yaitu maksim kuantitas. Artinya. Istilah implikatur percakapan dikaitkan dengan konsep Grice tentang prinsip kerjasama (PK) dan maksim-maksimnya. Secara ringkas seorang penutur dikatakan memenuhi maksim-maksim Grice apabila ia memberikan informasi tidak lebih atau tidak kurang dari yang dibutuhkan. Mey . jelas. peserta komunikasi perlu mematuhi prinsip kerjasama (Cooperative Principle). Suatu respon percakapan yang tampaknya kurang tepat dapat menjadi berterima jika kita hubungkan dengan konteksnya. Pelanggaran terhadap maksim Grice inilah oleh para pakar pragmatik disinyalir menyebabkan timbulnya suatu implikatur percakapan. Implikatur – implikatur yang disiratkan dalam ujaran merupakan sumber utama dari pragmatik yang difungsikan sebagai nilai komunikasi yang dimotifasi dari beragam keinginan penutur. komunikasi itu akan berjalan dengan efisien dan efektif jika para peserta tutur bekerjasama satu sama lain. Menurut Grice (1975: 45).

Ia berasumsi bahwa makna dapat diperikan lewat representasi semantik sedangkan daya diperikan melalui seperangkat implikatur. Tugas pragmatik adalah menjelaskan kaitan antara dua jenis arti tersebut yakni. Dalam hal ini. maksudnya yakni makna tambahan yang lebih dari yang dikomunikasikan. . sedangkan mitra tutur (petutur) bertugas mengasumsikan bahwa penutur bekerjasama dalam percakapan yang mereka lakukan sehingga ia dapat mengenali makna tambahan yang dimaksudkan dalam percakapan dengan menarik simpulan (inference). Dasar hipotesisnya bahwa semua implikatur itu bersifat probabilistis. Dari ketiga pakar secara ringkas dapat disarikan. antara makna harfiah dengan daya atau ilokusi. karena apa yang dimaksud oleh penutur dengan tuturannya tidak pernah dapat kita ketahui dengan pasti sekali. penutur yang memilih berkomunikasi dengan implikatur. Hanya dengan beberapa faktor seperti kondisi yang dapat diamati. Menurutnya implikatur dapat menjelaskan secara eksplisit tentang bagaimana memakai apa yang diucapkan secara lahiriah berbeda dengan apa yang dimaksud dan pemakai bahasa itu mengerti pesan yang dimaksud. Kaitan ini dapat bersifat langsung atau tidak langsung (1993: 45). f. implikatur percakapan adalah “ the notion of conversational implicature is one of the single most important ideas in pragmatics”.2. implikatur adalah makna yang disiratkan dalam sebuah percakapan. Daya Pragmatik Leech mempostulatkan bahwa pragmatik umum mengaitkan makna suatu tuturan dengan daya pragmatik tuturan tersebut. Menurut Levinson (1983: 97.72 (2001) memberi batasan bahwa implikatur adalah “an additional conveyed meaning”. dan konteks. bentuk tuturan.

Sedangkan daya pragmatik menurut Leech. tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar (Koentjacaraningrat. Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan. b. Teori Budaya. menyatakan bahwa makna (sense) yaitu makna yang ditentukan secara semantis sedangkan daya (force) yaitu makna yang ditentukan secara semantis dan pragmatik. 1990:180). gagasan. 2. dapat diperikan melalui seperangkat implikatur. norma-norma. daya sekaligus juga dapat diturunkan dari makna. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide.73 mitra tutur bertugas membuat simpulan interpretasi yang paling mungkin. Jika kita cermati sebenarnya implikatur dan daya pragmatik merupakan dua buah batasan yang merujuk pada sebuah makna. Artinya bahwa masing-masing batasan. baik implikatur maupun daya pragmatik secara garis besar mengacu pada satu objek yang sama yakni. Dengan tegas Leech (1993: 24). Adapun wujud kebudayaan mencakup tiga (3) substansi. nilai-nilai. dan secara pragmatik. merupakan . Dari beberapa pakar linguistik sependapat bahwa implikatur adalah makna yang disiratkan dalam sebuah percakapan. Wujud kebudayaan berupa benda-benda hasil karya manusia. dan c. yakni: a. Adapun ikatan antara makna dan daya perlu disadari. Artinya daya pragmatik kekuatan atau force yang muncul dari implikatur. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat. makna yang disiratkan dalam sebuah pertuturan. bahwa daya mencakup makna. peraturan dan sebagainya.

yang dalam setiap kehidupan sosial selalu melibatkan intersubjektif dan pembentukan makna. Sejalan dengan pendapat tersebut. Seni tradisional termasuk tari sebagai budaya yang diwarisi secara turun-temurun sudah barang tentu memiliki kesinambungan dengan budaya sebelumnya. Dalam tari Jawa bentuk ekspresinya pada hakekatnya terwujud berdasarkan alam emosi. dan menimbulkan sikap. 1983:100). Pewarisan budaya tidaklah bersifat statis. yaitu bentuk dan iramanya kuat-kuat dilatarbelakangi oleh konsep keindahan dan tradisi kebudayaannya (Humardani. Untuk memahami budaya Jawa. 1991:10). berhubungan. tetapi masing-masing . Sehingga keragaman budaya sebagai latar seseorang yang telah dibentuk sejak lahir akan mempengaruhi. Ogburn mengutarakan bahwa penemuan-penemuan baru memerlukan suatu latar belakang transmisi kebudayaan dari penemuan-penemuan terdahulu (dalam Soerjono Soekanto. dan berinteraksi satu dengan lainnya. kita dapat mengamati dan mencermati dari salah satu wujud kebudayaanya yang berupa seni pertunjukan tari. akan dikendalikan dan diatur oleh prinsip-prinsip nilai. Wujud ide dan gagasan-gagasan manusia memberikan jiwa atau pun roh dalam kehidupan masyarakat. norma-norma. Sistem sosial masyarakat yang mencakup aktivitas-aktivitas manusia dalam berkomunikasi. 2006). saling terdapat keterkaitan antar substansinya. perilaku. Begitu pula kondisi kehidupan budaya seseorang sangat mempengaruhi persepsi dan penciptaan makna pada setiap peristiwa sosial. dan hasil karya seseorang beragam pula (Sutopo. peraturan yang telah disepakatinya.74 Wujud kebudayaan tersebut dalam realitas kehidupan masyarakat sosial tidak dapat dipisah-pisahkan. membentuk.

saling terkait secara utuh. Seperti kehidupan seni tradisional kita yang dapat bertahan hidup dan lebih berkembang di tengah-tengah masyarakat. Seni pertunjukan tari merupakan wujud keseluruhan dari sistem. sehingga mampu memberikan daya apresiasi. Segala sesuatu yang dihadapi manusia di muka bumi ini dalam kehidupannya semua mempunyai temporalitas atau historisitas. Wujud karya seni sebagai ekspresi seniman memiliki beragam pesan rupanya tidak mudah untuk dipahami untuk itu diperlukan sebuah kajian tersendiri. Semuanya berawal dan berakhir dalam suatu proses yang terus-menerus melalui dimensi waktu (Ibrahim Alfian. maka laju transpormasi menjadi penting artinya. Perubahan merupakan suatu kesinambungan yang lebih daripada sekedar patokan antara sebelum dan sesudah. Dengan demikian tanpa jangka waktu tidak akan terjadi peristiwa perubahan. 1999:2). ritual maupun untuk keperluan lain yang sifatnya terkait dengan pemenuhan kebutuhan sosial masyarakat. Dalam mencapai taraf hidup yang lebih baik.75 generasi mencoba untuk mengadakan perubahan-perubahan disesuaikan dengan kondisi kehidupan masyarakat pendukungnya. Tari sebagai wujud budaya yang merupakan hasil karya manusia diharapkan mampu memberikan manfaat. baik sebagai hiburan. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupan manusia tidak terlepas dari adanya kecenderungan niat yang menghendaki suatu kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. kompleksitas berbagai unsur–unsurnya yang membentuk suatu jalinan atau kesatuan. Bertolak . manusia memiliki berbagai usaha lewat penemuan-penemuan baru untuk memenuhi sekaligus menjawab tuntutan kebutuhan yang muncul sesuai dengan konteks budaya yang berlaku. Karena pada dasarnya tari dapat terwujud dari komplemen berbagai elemen.

peraturan dan sebagainya akan digunakan sebagai kajian faktor genetik.76 dari pandangan tersebut peneliti akan menggunakan teori budaya sebagai analisis karya seni yakni genre tari pasihan. norma-norma. karya seni sebagai faktor objektifnya. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide gagasan. Nilai–nilai humanisme pada prinsipnya merupakan sumber nilai-nilai sekaligus lahan kajian yang utama dalam seni pertunjukan. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat akan peneliti gunakan sebagai analisis faktor afektifnya atau persepsi masyarakat terhadap sajian genre tari pasihan. nilai-nilai. a. Kompleks Aktivitas. Terutama untuk mencermati latar belakang konsepsi penciptaan bagi penyusun tari sebagai muatan atau pesan pada genre tari pasihan gaya Surakarta yang hendak disampaikan kepada masyarakat sebagai penghayat atau penikmat. dan masyarakat yang bertindak penghayat sebagai faktor afektif. b. Adapun isi sebagai kandungan makna pada genre tari pasihan adalah nilai cinta kasih yang merupakan salah satu nilai-nilai kehidupan yang fundamental. Kompleks Ide. Pada analisisnya peneliti akan mengkaji keterkaitan nilai cinta kasih yang menjadi muatan genre tari pasihan dengan ritual perkawinan adat Jawa terutama bagi sepasang mempelai temanten. Kajiannya akan terkait dengan tiga komponen yaitu seniman sebagai faktor genetik. tidak terkecuali seni tari. Pada dasarnya bahwa masyarakat sebagai penghayat adalah masyarakat heterogen yang . Adapun bentuk aplikasinya dirancang sebagai berikut.

Sedangkan aspek bahasa nonverbal meliputi: tema. Analisis ini akan didasarkan pada aktivitas–aktivitas di lapangan terutama pada peristiwa pementasan tari duet percintaan tersebut pada ritual perkawinan adat Jawa. gerongan. rias. Terkait dengan analisis genre tari pasihan. polatan. sindhenan. Karya tari tersebut terdiri dari teks verbal (teks sastra tembang) yang berupa cakepan (syair) yang terdapat dalam pathetan. Realitas yang demikian merupakan dinamika kehidupan yang wajar dalam dunia seni pertunjukan. dan iringan. c. Teori Seni Pertunjukan. 3.77 secara kultur beragam pula latar belakangnya. dan jineman. serta mengapa hal itu terjadi. Benda Fisik. Selain itu untuk mengetahui makna yang terkandung dalam teks verbal dan nonverbal genre tari pasihan dalam rangka merunut dan mengembangkan makna yang lebih central. busana. pola lantai. Kedua aspek tersebut akan dikaji secara komplementer untuk mendapatkan gambaran yang utuh dan jawaban yang memadahi tentang ciri karakteristik genre tari pasihan gaya Surakarta. Berbekal keberagaman latar kultur tersebut akan mempengaruhi hasil hayatan yang berujung pada perbedaan-perbedaan dan sekaligus persamaan persepsi masyarakat. peneliti akan mencermati lebih fokus pada hal-hal yang menyebabkan perbedaan dan persamaan persepsi masyarakat. . gerak tubuh (kinetic body moves). Wujud kebudayaan berupa benda-benda hasil karya manusia terkait dengan analisis faktor objektif pada penelitian ini adalah karya seni yang berupa tari Karonsih dan tari Bondhan sayuk.

Langer (dalam Widaryanto. ia sudah merupakan masalah yang cukup sulit apabila kita akan menelitinya. Pada dasarnya bentuk seni pertunjukan tari merupakan wujud keseluruhan dari beberapa cabang seni yang sangat fundamental. seni sastra dan seni tari. karena pada prinsipnya seni pertunjukan merupakan seni sesaat. yang menyatakan bahwa seni pertunjukan sebagai seni yang hilang dalam waktu. polatan. Mengingat seni pertunjukan merupakan sarana untuk mengekspresikan maksud seniman maka unsur-unsur yang terdapat di dalamnya akan menjadi objek analisis. . Menurut Suzanne K. apa lagi untuk melacak sejarahnya (2003:1). pola lantai. dan iringan. saling melengkapi dan saling mendukung sehingga membentuk suatu jalinan yang saling berinteraksi untuk membentuk menjadi sebuah konstruksi penyajian tari. Teori seni pertunjukan dapat mengungkap makna dari masing-masing unsur. Masing-masing elemen tersebut saling komplementer yang pada penyajiannya akan terikat ruang dan waktu. 1998:15) bentuk dalam pengertian yang paling abstrak berarti struktur. busana. artinya bahwa seni pertunjukan dimaksud tidak dapat disajikan secara mandiri. yang hanya bisa kita nikmati apabila seni tersebut sedang dipertunjukkan. yakni meliputi: seni musik. Adapun elemen-eleman tari. Dari berbagai cabang seni tersebut satu dengan lainnya saling terkait. artikulasi sebuah hasil kesatuan yang menyeluruh dari suatu hubungan dari berbagai faktor yang saling bergayutan. gerak tubuh.78 Seni pertunjukan pada umumnya merupakan seni kolektif. seni rupa. akan tetapi lebih merupakan suatu perpaduan dari beberapa cabang seni yang merupakan satu kesatuan menjadi suatu bentuk yang utuh. rias. Hal itu sejalan dengan pendapat Soedarsono. yang utama terdiri dari: tema.

Selain sumber-sumber cerita itu terdapat cerita-cerita fiktif yang sering diangkat dalam layar kaca. seperti Cinderela. mitos dan sejarah. layar lebar. Gerak aktif adalah gerak tubuh yang mengandung maksud-maksud tertentu. pejam mata. Adapun elemenelemen tari yang dimaksud antara lain dapat kita cermati berikut ini. b. gerak kata.79 sejak dari antarunit hingga antarkomponen yang lebih besar dan keterkaitannya untuk pengembangan temuan makna secara total. yang selanjutnya dijabarkan menjadi alur cerita sebagai kerangka sebuah garapan. Dengan teori seni pertunjukan akan peneliti gunakan untuk mengkaji elemen-elemen yang terkandung di dalam tari untuk mengungkapkan dari faktor objektifnya dan faktor genetik. Gerak kata adalah gerak-gerak aktif yang digunakan untuk menceriterakan suatu maksud. antara lain: Mahabharata. tutup telinga dan sebagainya. Tema dapat ditarik dari sebuah peristiwa atau cerita. Ramayana. Contohnya: kesatuan dari rangkaian gerak . Babad. gerak tari. 1991: 6-9). Gerak Tubuh (kinetic body moves) Gerak tubuh manusia. Si Buta dari Gua Hantu. dan gerak praktis (Humardani. a. di antaranya: gerak aktif. Contohnya: angkat bahu. gerak kata baru. cerita rakyat. yang dilakukan sedemikian rupa sehingga lawan tergerak atau terpacu. Tema Tema adalah rujukan cerita yang dapat menghantarkan seseorang pada pemahaman esensi nilai-nilai kehidupan. Dalam seni pertunjukan di Indonesia cerita-cerita yang dipilih lazimnya bertolak pada sumber cerita yang pokok. gerak bagian. Kiamat Sudah Dekat. Si Kaya dan Si Miskin. gerak indah. menurut sifatnya dapat digolongkan ke dalam berbagai bentuk gerak. dan pada pertunjukan teater-teater modern.

Gerak bagian adalah bagian dari gerak kata. kepala menggeleng. berjalan. Bentuk lain: kepala mengangguk. dimaksudkan untuk mengungkapkan rasa sedih. sebagai contoh pembatasan mengenai gerak indah dengan gerak tari yang masing-masing rupanya menghindari arti verbal maupun arti dengan gerak seharihari. karena realitas yang kita hadapi bahwa gerak manusia selalu konteks dengan lingkungan. tangan kanan memegang kening. Gerak indah adalah gerak kata baru yang sudah mengalami penggarapan lebih sempurna untuk mengungkapkan keindahan semata tanpa maksud verbal. dan sambil duduk. Gerak praktis merupakan gerak yang mengandung guna praktis. contohnya kepala menunduk dari rangkaian gerak kata rangkaian gerak kepala menunduk. dan sebagainya. Pembagian tersebut rupanya tidak sepenuhnya dapat memberikan gambaran yang jelas. Contohnya: berlari. tangan kiri memegang perut. dan sambil duduk. dan dinamik tertentu. bisa kecewa.dan bisa juga menyesal. tangan kanan memegang kening. bisa merenung. tangan kiri memegang perut. Gerak tubuh merupakan kekayaan makna komunikasi non verbal tanpa suara yang mampu memikat perhatian bagi seorang seniman. Gerak tari merupakan penggarapan dari gerak bagian atau gerak kata sehingga mencapai pada tingkat abstraksi gerak yang sungguh-sungguh.80 kepala menunduk. volume. Baginya tubuh merupakan objek yang tidak pernah ada habis- . Gerak kata baru adalah gerak kata yang sudah digarap dari segi bentuk dan diselaraskan dengan tempo. karate. Hal ini tidaklah cukup beralasan. sehingga hasilnya seolah-olah gerak yang lepas tanpa berkaitan arti dengan gerak sehari-hari. sehingga arti verbal maupun nonverbal tidak pernah akan dapat terlepas dengan gerak tubuh manusia sebagai kandungan maksud atau makna yang hendak diekspresikan. tangan melambai.

Polatan (ekspresi wajah) Polatan merupakan perubahan yang lebih fokus pada perubahan raut muka atau wajah. Sedangkan gerak representatif adalah gerak penghadir. dan dinamik. Gerak presentatif merupakan bentuk gerak yang tidak mempunyai arti secara khusus. Secara garis besar gerak dalam tari dapat dibagi menjadi dua bagian secara kasar. kemudian disajikan. hal itu sengaja dibuat untuk mengungkapkan ekspresi seniman atau penyusun tari. Pada prinsipnya seluruh gerak tubuh dapat menjadi medium dalam tari. begitu berlangsung berulang-ulang yang tidak pernah harus kehabisan materi atau bahannya. dieksplorasi. Kita akan banyak memperoleh informasi tentang kondisi emosional seseorang melalui ekspresi-ekspresi wajah mereka. Ekspresi wajah merupakan sarana untuk mendapatkan pemahaman lebih baik terhadap sesuatu yang sedang dikomunikasikan terhadap komunikan. artinya gerak yang dihasilkan dari imitasi terhadap sesuatu. namun kemunculannya tidak mudah untuk dipisah-pisahkan secara tegas. gerak ini difungsikan semata-mata untuk kebutuhan ekspresi. volume. Keduanya hadir dalam jagad tari. c. di antaranya: apakah menunjukkan rasa sedih atau . Pertimbangan yang utama untuk menjadikannya gerak tubuh dan gerak nontubuh menjadi tari adalah dengan cara mendistilisasi gerak sesuai kebutuhan ekspresi dan melihat karakteristik gaya dengan menggarap tempo. yakni gerak presentatif dan representatif.81 habisnya sebagai sesuatu yang digali. dikaji. Kedua bentuk gerak baik presentatif maupun representatif merupakan medium utama dalam rangka memenuhi keperluan ekspresi. karena wujud yang tampak sering samar-samar.

dapat secara langsung berkomunikasi dengan media antawecana seperti dalam wayang wong. untuk itu kesadaran awal yang harus fokus bahwa ekspresi wajah yang dibangun dari gerak tanpa diiukuti bahasa verbal secara langsung itu harus ditopang kecerdasan. Sehingga wajah sebagai media ekspresi akan selalu siap difungsikan untuk peran yang dikehendaki. tembang dalam Langendriyan. merasa takut atau sedang marah.82 senang. Jika kita mengetahui dan menyadari berapa banyak otot yang terdapat pada wajah manusia. Mengingat bahwa dalam tari tradisi istana terutama peranperan yang karakternya tenang perubahan polatan sangat halus bahkan kerap kali tidak tampak. ketajaman dan kepekaan rasa yang dimiliki sebagai modal utama yang selalu harus diolah. Dalam dunia tari. maka tidaklah mengherankan apa bila terdapat banyak pula macam ekspresi wajah yang dapat dihasilkan (lihat Wainwright. Penari lebih dominan berkomunikasi dengan media gerak. Bagaimanapun tebal tipisnya ekspresi wajah dalam komunikasi antarperan. . penari sebagai aktor yang menyajikan peran. dan sebagainya. merasa tertarik atau menolak. ekspresi wajah memiliki kekuatan yang sangat besar terkait dengan penampilan karakter pribadi maupun penjiwaan seseorang terhadap peran tokoh dalam membangun kualitas komunikasi yang berlangsung antarpeserta tutur. Ekspresi wajah yang terdapat pada seni pertunjukan untuk mengekspresikan peran dalam keadaan suasana tertentu yang dalam implementasinya tidak lepas dari bekal pengalaman-pengalaman psikologis bagi seniman penyaji. polatan sangat berperan untuk mengekspresikan pada tingkat emosi yang secara komplementer akan membantu ekspresi gerak tubuh dalam rangka mengekspresikan totalitas peran atau tokoh. 2006: 42).

yang dalam pertunjukan tari Jawa banyak digunakan dalam pola garapan tari gagah dan sebagian pola garapan tari alus maupun tari putri yang berkarakter lanyap. e. masingmasing individu berusaha menampilkan wajah sesuai dengan ekspresi yang dikehendaki. Rias Rias adalah strategi untuk mengubah wajah pribadi dengan alat-alat kosmetik yang disesuaikan dengan karakter figur supaya tampil lebih percaya diri. serta banyak difungsikan dalam garapan yang bertemakan percintaan. Pola lantai (floor design) Pola lantai merupakan garis yang dibentuk dari gerak tubuh seorang penari yang terlintas pada lantai. Garis lurus mempunyai kesan kuat dan sederhana. yaitu: (1) .83 d. Kadar perubahan wajah dimaksud sangat relatif artinya bahwa pada setiap rias. Selain itu garis lurus juga banyak digunakan untuk garapan pola-pola perangan. Wujudnya bersifat ilusi atau bayangan yang tampak menyatu luluh komplemen dengan arah gerak tubuh penari. Masing-masing bentuk garis mempunyai kekuatan yang tercermin dalam kesan atau ilusi. Sedangkan garis lengkung lebih memberikan kesan lembut. Pada dasarnya garis yang terbentuk pada floor design secara garis besar terdiri dari dua pola garis dasar yaitu garis lurus dan garis lengkung (Soedarsono. yang dominan untuk pola lantai garapan putri luruh dan peran alus lurus. Garis-garis yang dibentuk penari tersebut merupakan garis imajiner yang hanya dapat ditangkap dengan kepekaan rasa. Menurut peneliti rias dapat diklasifikasi menjadi tiga jenis. 1978:23).

layar kaca. Rias formal merupakan rias yang digunakan untuk kepentingan – kepentingan yang terkait dengan urusan publik. Bentuk rias peran lebih dikonsentrasikan untuk seni pertunjukan yang digunakan untuk penampilan di panggung seperti panggung konvensional. f. Secara umum warna-warna dasar mempunyai sifat teatrikal dan sentuhan emosional sebagai lantaran simbolisasi tertentu dalam budaya seni pertunjukan tari. Hitam tampak memiliki kesan bijaksana. kesatria dan peran putri yang berjiwa dinamis. dan (3) rias peran. namun masing–masing daerah berbeda dalam memaknai bergantung latar belakang budayanya. Warna putih mempunyai kesan suci. berwibawa. Merah lebih memberikan kesan berani. Setidaknya dalam tari Jawa. raksasa. dan juga berhubungan dengan kehidupan nirwana.84 rias formal. Begitu pula asal seseorang dapat kita ketahui dari gaya dan mode pakaian yang dikenakan. dan dinamis yang banyak diperuntukan tokoh-tokoh raja yang sombong. panggung modern. Selain itu busana juga memiliki beragam warna yang dapat digunakan untuk maksud-maksud tertentu. layar lebar dan bentuk lainnya. (2) rias informal. Rias informal adalah rias yang difungsikan untuk urusan domestik. Sedangkan rias peran adalah bentuk rias yang digunakan untuk penyajian peran sebagai tuntutan ekspresi pertunjukan. esensi makna yang diungkapkan dapat ditarik dari kesan yang ditimbulkan dari warna-warna dimaksud. Kedudukan seseorang dalam masyarakat akan tampak jika kita perhatikan dari busana yang dipakai. setia. dan anggun terutama untuk tokoh-tokoh putri seperti . Busana Busana merupakan salah satu atribut yang dapat menunjukkan status sosial dan identitas seseorang. Artinya warna dapat digunakan sebagai simbol-simbol dalam kehidupan. agresif.

Iringan (Gendhing beksa) Iringan atau Gendhing beksa atau karawitan tari merupakan iringan musik gamelan yang telah teraransir menjadi sebuah bentuk yang berupa gendhing yang mampu memberikan kontribusi kekuatan ekspresi pada tari. Karawitan sebagai iringan tari mampu memberikan kontribusi kekuatan rasa yang secara komplementer menyatu dengan ekspresi tari membentuk suatu ungkapan nilai-nilai kehidupan manusia yang disajikan dalam bentuk yang indah. g. salah satu faktornya juga sangat ditentukan unsur medium bantunya yakni karawitan yang berfungsi sebagai iringan. dan lainnya. Kehadiran karawitan dalam pertunjukan tari gaya Surakarta. Ratu Ayu Kencana Wungu. Kehadiran gendhing di sini membentuk suasana. Tampak bahwa warna memiliki kandungan makna atas kualitas kesan yang ditangkap oleh indera penghayat. Drupadi. Nglambari memberi pengertian bahwa dukungan gendhing dalam pertunjukan tari lebih berfungsi sebagai ilustrasi. Fungsi gendhing sebagai iringan dalam sebuah pertunjukan mencakup tiga peran yakni: 1) nglambari. Misalnya iringan pathetan yang digunakan untuk ilustrasi tokoh Sekartaji pada saat . rupanya tidak sekadar sebagai pengiring belaka. 2) mungkus.85 Dewi Shinta. Jika kita cermati lebih sungguh-sungguh keberhasilan pertunjukan tari. Kontribusi iringan dalam membentuk suasana dapat berujud ilustrasi yang berfungsi sebagai background hingga taraf memberikan aksentuasi kekuatan rasa-rasa tertentu sesuai dengan kebutuhan ekspresi yang dikehendaki. 2005: 17-19). Warna kuning memiliki kesan keagungan dan kejayaan. Warna hijau mempunyai kesan segar dan tumbuh lebih hidup. dan 3) nyawiji (lihat dalam Waridi. Sembadra.

rupanya memiliki kontribusi cukup besar. Elemen-elemen yang terdapat dalam bahasa verbal maupun nonverbal pada seni pertunjukan tari Karonsih dan Bondhan Sayuk tersebut merupakan modal . salah satu unsur tidak akan lebih menonjol dari yang lain. sajian gendhing dengan garapnya secara menyeluruh sengaja digunakan sebagai pembingkai gerak terutama pola-pola gerak kebar. banyak membantu dan bahkan kerapkali menggantikan kedudukan kekuatan ekspresi tari (1991:10). Pola iringan yang difungsikan semacam ini dapat diamati pada gendhing Lambangsari yang memiliki rasa riang dan gembira. karawitan (yang terpadu dari unsur-unsur melodi dalam tempo. Humardani menyatakan bahwa dalam tari Jawa. Dimaksudkan pada konteks ini. Adapun kedua unsur dimaksud yaitu unsur karawitan sebagai penghasil rasa musikal dan unsur tari. Sedangkan Nyawiji. Salah satu contohnya iringan Ketawang Ngrenas untuk suasana sedih pada saat Dewi Sekartaji sedang mencari suaminya yaitu Raden Panji Inukertapati yang tidak kunjung bertemu. Bentuk kristalisasi dari unsur tari dan unsur karawitan tersebut adalah untuk pencapaian harmonisasi penyajian dalam rangka menghasilkan kekuatan dan keutuan pertunjukan. ritme atau irama. Sejalan dengan paparan tersebut. dan volume) sebagai iringan. Mungkus pada konsep karawitan tari lebih cenderung pada pengertian membingkai. Dalam hal ini.86 pertama keluar (maju beksan) dalam suasana sedih. Beragam fungsi karawitan tersebut mengindikasikan bahwa karawitan tari dalam konteks penyajian tari. merupakan konsep karawitan tari yang mengarah pada pemersatuan dua unsur menjadi satu. karena pada dasarnya nilai estetis kesenian adalah sebuah ungkapan yang utuh.

yang pada gilirannya akan terjadi saling pengertian yang mendalam. sengaja atau tidak sengaja. Pernyataan lebih singkat dikemukakan oleh Shannon dan Weaver (1949). menyatakan bahwa komunikasi adalah suatu proses di mana dua orang atau lebih melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya. seperti kesamaan bahasa atau kesamaan arti dari . jika kita berkomunikasi berarti terdapat beberapa kesamaan dengan orang lain. sehingga kekhasan dari elemen-elemen dan keragaman informasi yang dapat digali akan menentukan dan mewarnai dalam menggeneralisasi teorinya. dan teknologi. tetapi juga dalam bentuk: ekspresi muka. proses simbolik yang menghendaki orang-orang mengatur lingkungannya dengan (a) membangun antarsesama manusia.87 pembentukan ciri karakteristik yang mampu membedakan tari pasihan dengan karyakarya tari lainnya. 2007: 19-20). lukisan. Dengan demikian tampak. seni. (b) melalui pertukaran informasi. Rogers bersama Lawrence (1981). 4. (c) untuk menguatkan sikap dan tingkah laku orang lain. Sejalan dengan definisi komunikasi tersebut. Selain itu juga tidak menutup kemungkinan perbedaan-perbedaan yang dihasilkan dari komplementer bahasa verbal dan nonverbal yang menurut sifatnya berupa sebuah konsep. Dengan demikian ciri karakteristik lebih mengarah pada perbedaan-perbedaan yang menonjol dari masing-masing elemen dalam tari tersebut secara elementer. Teori Komunikasi Komunikasi adalah suatu transaksi. bahwa komunikasi adalah bentuk interaksi manusia yang saling pengaruh memengaruhi satu sama lainnya. Bentuk komunikasi di sini tidak terbatas pada komunikasi bahasa verbal. serta (d) berusaha mengubah sikap dan tingkah laku itu (lihat Book dalam Cangara.

Pernyataan dari beberapa pakar komunikasi tersebut dapat ditarik unsur-unsur komunikasinya menjadi tujuh. Prinsip dasar yang perlu dipahami bahwa komunikasi dalam seni pertunjukan pada hakekatnya mencakup tiga faktor pokok.88 simbol-simbol yang digunakan dalam berkomunikasi. (d) penerima. Setiap unsur mempunyai peranan sangat penting dalam membangun proses komunikasi. (e) lingkungan. (c) media. yaitu: (a) sumber. Berdasarkan pernyataan Shannon dan Weaver. polatan. busana. Komunikasi bahasa verbal yang berupa sastra tembang yang komplementer dengan Unsur–unsur nonverbal dapat mengarahkan kepada kita untuk memunculkan implikatur akan guna analisis secara pragmatik. 2007: 24). dan (g) umpan balik (lihat Cangara. dan iringan merupakan media komunikasi yang khas bagi kehidupan seniman. untuk itu. Terfokus pada jenis tari pasihan yang bentuknya memiliki dua unsur. sindhenan. tanpa keikutsertaan salah satu unsur akan berpengaruh pada proses komunikasi. gerongan. Artinya. dan jineman dan b) unsur nonverbal yang meliputi: tema. rias. pola lantai. tari sebagai bagian atau cabang seni merupakan komunikasi manusia yang cukup vital. Komunikator Komunikator bersumber pada seniman pelakunya yang terdiri dari penyusun tari dan penari yang bertindak sebagai penutur. yakni: a. yaitu: a) unsur verbal berupa sastra tembang yang meliputi cakepan (syair) yang terdapat dalam pathetan. (f) efek. (b) pesan. gerak tubuh (kinetic body moves). teori komunikasi akan peneliti gunakan untuk menganalisis bagaimana komunikasi berlangsung. Merujuk pada bentuk karya seni dalam hal ini tari pasihan merupakan media komunikasi secara utuh. Baginya seorang seniman berkarya .

b. tari Enggar-enggar. tari Kusuma Ratih. Sarana atau Media Karya seni yang berupa genre tari pasihan merupakan sarana atau media tutur bagi seorang seniman. tari Driasmara. Ungkapan seni dapat dilukiskan sebagai pernyataan suatu maksud. tari Langen . tari Gesang Rahayu. Kesesuaian atau kemungguhan figur seorang penari dengan tokoh yang hendak diperankan merupakan syarat yang harus diperhatikan di samping gandar atau rupa. ia berusaha menafsirkan baik secara bentuk fisik karya seni maupun nonfisik yang berupa maksud dari penyusun tari yang kemudian disajikan dalam sebuah pementasan pada ritual perkawinan adat Jawa. Seniman adalah manusia yang secara profesional menghasilkan karya-karya seni yang dapat dihayati oleh publik. perasaan atau pikiran dengan suatu medium indera atau sensa. Terkait dengan hadirnya genre tari pasihan. tari Bondhan Sayuk. Dengan demikian peranan penari sebagai komunikator sangatlah penting.89 merupakan dorongan dan tutuntan kebutuhan jiwa yang dilatarbelakangi apresiasi terhadap lingkungan manusia dan alam yang terseleksi dan senantiasa dimanifestasikan dalam bentuk yang estetik. karena dengan kondisi yang tidak layak akan berdampak negatif pada hasil hayatan secara menyeluruh. yang dapat dialami lagi oleh yang mengungkapkan dan ditujukan atau dikomunikasikan kepada orang lain (Parker. Jenis tari duet percintaan yang terdapat dalam genre tersebut. seniman penyusun sebagai penutur hendak menuturkan sebuah nilai kehidupan. Dari medium sensa itu seniman akan dapat menganyam impian-impian bagi kita mengenai hal-hal yang membuai dan memikat kita senang mengamati. tari Lambangsih. tari Endah. 1980:21). Adapun sebagai penari. di antaranya: tari Karonsih.

suatu ungkapan. Keragaman seni akibat dari keaneragaman media atau sarana yang didukung ide-ide kreatif estetik seorang seniman dalam rangka memenuhi ekspresinya. dan tari Kusuma Aji. c. Adapun fokus dari penelitian untuk disertasi ini adalah tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk. Seseorang dalam menghayati dengan cara mengamati sebuah karya seni (objek). Meskipun setiap karya seni itu adalah suatu ungkapan. dan lainnya. mandi. dan penanggap merupakan mitra tutur yang menghayati karya genre tari pasihan. dan selalu terkait atau berhubungan dengan tradisi kebudayaannya.90 Asmara. dicipta. dan merenungkan sehingga dapat memberikan sebuah pernilaian atau . dengan pertimbangan kedua jenis tari tersebut diharapkan mampu mewakili informasi genre tari pasihan untuk dianalisis makna pragmatiknya. Lewat media bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan kandungan maksud seniman akan diaktualisasikan untuk mendapatkan tanggapan dari penghayat. merasakan. penonton umum. Komunikan Masyarakat sebagai komunikan meliputi: pakar. tari Setyaningsih. Ungkapan yang otomatik sifatnya insting atau berlaku secara naluriah yang dilakukan seperti orang menangis ketika didera musibah. gembira saat mendapatkan keuntungan. tari Jayaningrat. namun sebaliknya bukanlah setiap ungkapan itu sebuah karya seni. Begitu pula genre tari pasihan yang terdiri dari bahasa verbal dan nonverbal merupakan jenis seni pertunjukan gaya Sala yang mengacu pada budaya istana Kasunanan Surakarta. itu bukan kesenian dan tidak juga estetik. Begitu pula ungkapan- ungkapan praktis seperti menyuruh makan. Seni adalah suatu ekspresi. Pada hakekatnya kesenian adalah ungkapan yang disengaja.

91

tanggapannya. Betapapun sedihnya menghayati tokoh Sekartaji yang tidak kunjung bertemu, ketika berupaya mencari suaminya Panji Inukertapi, kita merasa haru mendengar sumpah kesetiaan Sekartaji yang berbunyi: Dhuh jagad dewa bathara Welasa mring dasih kang nandhang kingkin Tinilar garwa satuhu Dadya gantilaning tyas Ulun dhahat Teka aginggang sarambut Kalamun datan pinanggya Aluwung tumekeng lalis

Jabaran dari nilai kehidupan tersebut ditangan seniman diungkapkan dalam bungkus sensa yang mampu memicu dan memacu timbulnya khayalan benda dan peristiwa yang memberi kenikmatan penghayat. Khayalan tentang tindakan atau emosi yang ditimbulkan lewat karya seni, kita kemudian dalam imajinasi dapat melakukan atau mengalami. Bagi yang peka estetik seolah-olah kita dibawa memasuki badan penari sebagai tokoh-tokoh utama tersebut, kita tidak kuasa menolak terhipnotis dibuatnya berperan, senang tanpa paksaan sedikit pun untuk melakukan posisi bahkan hanyut dalam aliran kenikmatan dan kepuasan jiwa. Jika dicermati lebih dalam dari jiwa kita sendirilah sebenarnya muncul gagasan-gagasan dan beragam rasa yang merupakan isi sebuah karya seni. Seniman menyediakan sebuah susunan benda pacu atau lambang-lambang sensa yang diharapkan akan ditafsirkan seperti yang dimaksudkan olehnya. Kesadaran awal yang harus menjadi fokus perhatian, bahwa komunikasi seni atau komunikasi rasa sifatnya sangat subjektif. Artinya bahwa rasa yang disampaikan seorang seniman tidak selalu dapat diterima sama oleh penghayat. Betapapun

92

hebatnya seniman sebagai komunikator dan penghayat sebagai komunikan, karena kemantapan rasa tidak dapat diukur secara exact, namun bukan berarti tidak dapat dianalisis secara disiplin ilmiah. Persamaan yang terjadi dalam komunikasi seni sifatnya tidak mutlak, sehingga tafsir seni itu sifatnya multitafsir. Perbedaan maupun persamaan yang terjadi dalam komunikasi seni disebabkan masing-masing partisipan beragam kemampuannya. Untuk itu, baik perbedaan atau pun persamaan komunikasi seni yang terjadi dalam menanggapi karya tari pasihan, akan dianalisis bagaimana dan mengapa hal itu dapat terjadi. B. Tinjauan Pustaka Sumber tertulis baik yang berupa buku-buku cetakan, tesis, disertasi, dan hasil penelitian lain yang mengkaji seni pertunjukan tari khususnya genre tari pasihan dari perspektif pragmatik rupanya belum pernah dilakukan. Kajian nonpragmatik sekali pun relatif sangat minim yang relevan dengan penelitian peneliti dapat dipaparkan berikut ini: “Karonsih”, tulisan Maryono tahun 1991, merupakan hasil penelitian yang bersifat deskriptif, memuat secara umum tentang elemen-elemen tari, dan sedikit perubahan serta penyebarannya. Sedikit banyak tulisan ini memberikan informasi yang berarti terutama terkait dengan data bahasa verbal dan nonverbal sebagai salah satu genre tari pasihan yang akan menjadi sasaran kajian pragmatik. “Perkembangan Tari Enggar-Enggar”, tulisan Dwi Maryani tahun 1999, penelitian ini memuat deskripsi tentang gerak, iringan, rias, busana, dan penyebaran serta perkembangannya tari Enggar-Enggar. Diharapkan tulisan tersebut

93

menambah informasi mengenai vareasi ragam tari duet percintaan yang pada gilirannya dapat untuk mencermati karakteristik genre tari pasihan. “Perubahan Tari Lambangsih”, tulisan Dwi Yasmono tahun 1999, yang memaparkan tentang: struktur garap tari, rias, busana, iringan, dan perubahan terutama masalah sekaran atau vokabuler gerak dan pola lantai. Rupanya hasil kajian ini akan menambah data untuk lebih mencermati karakteristik genre tari pasihan gaya Surakarta yang sedang dikembangkan, terutama terkait dengan aspek nonverbal.

94

C. Kerangka Pikir Dalam rangka mencermati permasalahan, rumusan masalah, tujuan, manfaat, ruang lingkup, kajian teori dan metodologi, serta hasil yang hendak dicapai dalam rencana penelitian ini peneliti menggunakan kerangka pikir kritik seni holistik (Sutopo, 1995: 15-16). Sebagai berikut: 1 FAKTOR GENETIK Latar Belakang Genre Tari Pasihan 2 FAKTOR OBJEKTIF Bentuk Genre Tari Pasihan 3 FAKTOR AFEKTIF Persepsi Penghayat Terhadap Genre Tari Pasihan

Latar Belakang Penyusun

fungsi

Karakteristik Bahasa Verbal

Karakteristik Bahasa Nonverbal

Latar Belakang Penanggap

Latar Belakang Penonton Umum

Latar Belakang Pakar

Pathetan irama Konsepsi Seniman lagu Sindhenan Gerongan Jineman 4

Tema Gerak Polatan

Rias Busana Pola lantai Persepsi Masyarakat

Iringan

MAKNA PRAGMATIK Genre Tari Pasihan

95

Keterangan: 1: Seniman sebagai pencipta sebuah karya seni, dianalisis tentang latar belakang kehidupan kesenimanan dan latar belakang konsep penciptaan bahasa verbal dan nonverbal serta fungsi sebagai aplikatif muatan pesan yang hendak disampaikan lewat karya seni. 2: Karya seni sebagai faktor objektifnya, dikaji tentang bahasa verbal berupa cakepan (syair) sastra tembang yang terdapat dalam pathetan, sindhenan, gerongan, dan jineman. Sedangkan bahasa nonverbal meliputi: tema, gerak tubuh (kinetic body moves), polatan, pola lantai, rias, busana, dan iringan. Diharapkan kajian bagian ini akan dapat menemukan ciri karakteristik genre tari pasihan gaya Surakarta. 3: Persepsi masyarakat terhadap kehadiran genre tari pasihan dalam upacara ritual resepsi perkawinan. Dari hasil analisis akan dapat diketahui interpretasi makna dari masyarakat yang heterogen sebagai pendukung keberlasungan budayanya. 4: Makna pragmatik merupakan hasil analisis secara komplemen keterkaitan dari tiga faktor yakni : faktor genetik (1), faktor objektif (2), dan faktor afektif (3). Relasi ketiga faktor: 1, 2, dan 3 adalah penyusun tari (seniman) menciptakan karya seni yang kemudian karya seni itu ditanggapi masyarakat. Hubungan faktor 1 dan 3 yaitu untuk mengetahui seberapa jauh tanggapan masyarakat terhadap karya seni dan bagaimana kesesuaian antara pesan yang dimaksud seniman dengan makna yang ditangkap oleh masyarakat lewat karya genre tari pasihan.

96

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Sasaran dan Lokasi Penelitian Sasaran yang utama adalah jenis tari duet pasihan atau percintaan gaya Surakarta yang memfokuskan pada tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk, seperti telah disebutkan pada latar belakang masalah. Pertimbangan yang mendasar dari pemilihan sasaran ini adalah banyaknya jenis atau ragam tari duet percintaan khususnya gaya Surakarta. Dimaksudkan kedua bentuk tari pasihan tersebut dapat dikaji secara mendalam di dalam suatu konteks dengan karakteristik tertentu. Cuplikan ini kedudukannya bukan mewakili populasinya tetapi mewakili informasinya, sehingga jika dimungkinkan generalisasi, arahnya cenderung generalisasi teori. Keragaman jenis tari pasihan rupanya tidak dimiliki oleh daerah lain, sehingga lebih memacu peneliti untuk meneliti topik tersebut sebagai sasaran pokok. Pertimbangan lain bahwa tari pasihan disinyalir mempunyai kontribusi yang cukup penting dalam sebuah ritual tradisi perkawinan adat Jawa. Pengertian gaya Surakarta di sini lebih terfokus pada tarian yang mengakar dari tarian istana Kasunanan, tidak melibatkan Pura Mangkunegaran. Hal ini peneliti sadari, bahwa Pura Mangkunegaran tidak mempunyai tari semacam pasihan atau karonsihan. Pemilihan lokasi atau tempat adalah kotamadia Surakarta dengan pertimbangan tingginya frekuensi aktivitas pertunjukan tari pasihan, tempat tinggal para penyusun tari dan pakar seni yang terkait. B. Bentuk dan Strategi Penelitian Secara garis besar dapat dinyatakan bahwa metode penelitian kualitatif adalah metode pengkajian atau metode penelitian suatu masalah yang tidak didesain atau

Kesadaran awal yang harus mendapatkan perhatian bahwa penelitian kualitatif itu menggunakan paradigma atau perspektif fenomenologis. minat. Validitas keputusan atau hasil simpulan-simpulannya mengenai sesuatu makna dapat diwujudkan dari deskripsi yang tegas. Artinya penelitian kualitatif berusaha memahami makna dari fenomena-fenomena. bahwa fenomenologi merupakan pandangan berpikir yang menekankan pada fokus kepada pengalaman-pengalaman subjektif manusia dan interpretasi-interpretasi dunia. peristiwa-peristiwa dan kaitannya dengan orang-orang atau masyarakat yang diteliti dalam konteks kehidupan dalam situasi yang sebenarnya (Edi Subroto. 2007: 5). Hal itu rupanya cukup beralasan. Kajian ini membentuk simpulan multiperspektif yang akan menimbulkan makna intersubjektif. karena tujuan pengkajian ilmu-ilmu humaniora adalah membuat . dengan memperhatikan beragam alasan mengapa dan bagaimana terjadinya tafsir makna mengenai sebuah peristiwa. dan tujuan mereka sendiri (Smith & Heshusius dalam Sutopo. bersama-sama dengan orang lain dalam konteks intersubjektif yang di dalamnya termasuk pula interpretasi peneliti. 2007: 5). Hal ini harus disadari bagi seorang peneliti agar hasil simpulan-simpulannya sesuai dengan karakteristik teorinya (Sutopo. 2007: 6). dan tujuan atas interpretasi orang lain atau subjek yang diteliti yang berdasarkan juga pada nilai-nilai. Dalam penelitian kualitatif. seorang peneliti berusaha menyajikan suatu interpretasi yang didasarkan pada nilai-nilai. Pernyataan tersebut sejalan dengan pendapat Moleong (2007: 15). 2006: 28). Setiap peristiwa harus dicermati dan dipahami dari beragam perspektif dari orangorang yang terlibat secara aktif maupun pasif dalam peristiwa tersebut. 2006: 29).97 dirancang menggunakan prosedur-prosedur statistik (Edi Subroto. Pada umumnya ilmu-ilmu kebudayaan atau ilmu-ilmu humaniora lebih banyak menggunakan metode kualitatif (Edi Subroto. minat.

Tiga sumber nilai ini wajib dikaji secara lengkap dan seimbang supaya tidak terjadi kepincangan evaluasi (Sutopo. Sedangkan bahasa nonverbal meliputi: tema. melainkan sebagai sumber informasi dalam aktivitas evaluasi. kejadian atau peristiwa. rias. busana. lengkap. gerak tubuh (kinetic body moves). Ketiga komponen tersebut tidak dipisahkan dalam kesatuan nilai karya. menginterpretasikan kejadian atau peristiwa. polatan. dan iringan (faktor objektif).98 deskripsi suatu situasi. Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan dan tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini lebih mengarah pada bagaimana memahami makna bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta. Latar belakang konsep penciptaan bahasa verbal dan nonverbal dan pesan makna yang hendak disampaikan lewat karya seni (faktor genetik). serta berusaha menangkap makna dari suatu peristiwa. sindhenan. dan afektif sebagai sumber aliran nilai. 1995: 8-15). dan jineman. objektif. Selain itu juga bagaimana komplementernya dari ketiga aspek tersebut untuk menemukan keterkaitan hal-hal pokok yang terdapat di dalamnya untuk mengungkap . tetapi tidak digunakan sebagai standar nilai. dan afektif. pola lantai. objektif. Merujuk pada pola pikir pendekatan kritik holistik. mencakup tiga aspek yakni genetik. Persepsi masyarakat terhadap kehadiran genre tari pasihan dalam kehidupan sosial (faktor afektif). gerongan. Dengan demikian bentuk penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan kritik holistik yang secara fokus. dan seimbang mengkaji tiga faktor yaitu genetik. secara operasional peneliti akan mendeskripsi secara rinci dan mendalam mencakup masalah bahasa verbal berupa cakepan (syair) yang terdapat dalam pathetan. Untuk menjawab persoalan tersebut peneliti akan memahami lebih rinci dan mendalam baik kondisi maupun proses dan juga saling keterkaitannya mengenai hal-hal pokok yang ditemukan di lapangan.

tari Driasmara. Jenis penelitian ini akan mampu menangkap berbagai informasi kualitatif dengan deskripsi teliti dan penuh nuansa. tari Kusuma Ratih. tari Lambangsih. karena sekali pun genre tari pasihan atau karonsihan jenisnya terdiri dari beragam tari duet percintaan seperti: Tari Karonsih. 2006: 227). dan tari Kusuma Aji. tari Bondhan Sayuk. adapun jenis penelitian dengan strategi yang paling tepat adalah penelitian kualitatif deskriptif.99 makna pragmatik genre tari pasihan gaya Surakarta sebagai sebuah hasil akhir penelitian. karena permasalahan dan fokus penelitian telah ditentukan dalam proposal sebelum peneliti terjun ke lapangan artinya peneliti telah terpancang. Hal ini sejalan dengan pendapat Edi Subroto bahwa ilmu-ilmu humaniora berusaha memahami realitas sosial dan realitas budaya dalam rangka memahami masalah-masalah sosial dan masalah-masalah manusia secara lebih baik (2007: 5). Rupanya sangat tepat pilihan peneliti untuk menggunakan metode kualitatif karena objek kajiannya merupakan cabang dari ilmu-ilmu humaniora yang sarat dengan makna dalam kehidupan. namun memiliki karakteristik yang sama. . tari Jayaningrat. Strategi yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus tunggal. tari Endah. yang lebih berharga daripada sekadar pernyataan jumlah atau pun sekadar frekuensi dalam bentuk angka (lihat Sutopo. tidak seperti penelitian eksploratif yang mana peneliti sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi di lapangan (grounded search) maka penelitian kasus ini lebih khusus disebut studi kasus terpancang (embedded case study research) (Sutopo. 2006: 40). Dengan demikian bentuk penelitiannya bersifat dasar (basic research). tari Enggarenggar. Di samping itu. Pertimbangan yang mendasar dari kasus tunggal. tari Setyaningsih. tari Langen Asmara. tari Gesang Rahayu.

Dengan cara itu peneliti tidak akan berasumsi bahwa sesuatu itu sudah memang demikian keadaannya (Moleong.100 C. dan afektif. i) jenis-jenis floor design (pola lantai). Data yang dikumpulkan terutama berwujud bahasa verbal dan nonverbal. g) bentuk rias. e) motif tema. objektif. pola lantai. gerongan. alasan apa dan bagaimana terjadinya. h) jenis warna dan bentuk busana yang dipakai. c) realisasi prinsip kerja sama dan prinsip kesantunan antarperan. Data kualitatif merupakan data lunak yang kaya akan deskripsi tentang orang-orang. d) implikatur dan daya pragmatik. 2007: 6). sindhenan. fungsi. Adapun data informasi yang dikumpulkan akan terkait tiga faktor pokok yakni: genetik. Sumber informasi objektif pada penelitian ini adalah seni pertunjukan tari. Tindak tutur mencakup cakepan (syair): pathetan. 2007: 11). . busana. dan j) jenis-jenis repertoar gendhing. Sumber informasi genetik pada penelitian ini adalah para penyusun tari pasihan. Sedangkan bahasa nonverbal berupa: tema. dan iringan. yang hendak dikaji dari jenis informasi data teks sastra tembang dan unsur-unsur tari yang meliputi: a) jenis-jenis tindak tutur yang digunakan. b) jenis tindak tutur yang dominan dan mengapa terjadi dominasi. tempat-tempat dan konservasi-konservasi dari orang yang diteliti (Edi Subroto. polatan. rias. serta pesan makna yang hendak disampaikan lewat karya seni. f) jenis-jenis vokabuler gerak. Data akan diperoleh peneliti dengan cara memanfaatkan pertanyaan-pertanyaan dengan kata tanya : mengapa. terutama terkait dengan latar belakang konsep penciptaan teks verbal dan nonverbal. dan jinemal sebagai bahasa verbal. Sumber Data Data atau informasi yang paling dibutuhkan akan dikumpulkan dan dianalisis dalam penelitian ini adalah berupa data kualitatif. gerak tubuh (kinetic body moves).

Narasumber harus dipilih orang yang handal di bidangnya. Adapun jumlah informan tidak mempengaruhi secara mutlak. narasumber tidak sekedar memberikan tanggapan menurut permintaan peneliti. yang terdiri dari: pakar. Peneliti dan narasumber memiliki posisi yang sama. dan penanggap tari pasihan. Berbeda dengan responden yang sekadar memberikan jawaban secara terbatas dan terikat oleh bentukbentuk pertanyaan yang telah disusun secara ketat seorang peneliti. namun yang lebih substansial adalah kualitas informasi yang dibutuhkan. penonton umum. tetapi mereka dapat memilih arah dan selera dalam memberikan informasi yang dimiliki (Sutopo. Informan atau Narasumber Menurut Spradley informan merupakan pembicara asli (speaker) dengan bahasa atau dialeknya sendiri dan menjadi sumber informasi (1997: 35).101 Sumber informasi afektif terdiri dari pakar. memadahi . Informasi tersebut akan digali dari beberapa sumber data yang akan dimanfaatkan dalam penelitian ini mencakup : 1. dapat dipercaya baik dari segi pengetahuannya maupun kejujuran secara umum dan secara khusus dalam memberikan data yang akurat serta bersifat tidak menggurui (Fatimah Djajasudarma. 2006: 57-58). manusia sebagai Informan atau narasumber posisinya sangat penting dalam rangka memberikan informasi yang dimiliki. Faktor afektif ini akan difokuskan pada persepsi masyarakat penghayat. 1993: 20). dan penanggap tari pasihan dalam rangka memahami fungsi sosial di tengah-tengah masyarakat sebagai pendukung keberlangsungan budayanya. karena posisi informan dengan beragam peran dan keterlibatannya dengan kemungkinan akses informasi yang dimilikinya sesuai dengan kebutuhan penelitiannya. Dalam penelitian kualitatif. penonton umum. Oleh karena itu seorang peneliti harus jeli dalam menentukan informan.

yang harus dicermati meliputi aspek gerak. 3. yakni di kotamadia Surakarta. aktivitas. Artifak yang merupakan benda budaya. sangatlah berharga karena memiliki keterkaitan dengan munculnya implikatur . busana. Artifak. dan bahasa verbalnya yang akan dilakukan secara berulang untuk mendapatkan sumber data yang akurat tentang berlangsungnya sebuah penghayatan sekaligus mengidentifikasinya untuk menarik makna pragmatik dari peristiwa pertuturan. pakar. 2. Dari pengamatan langsung sebuah peristiwa pertunjukan tari pasihan. baik faktor genetik. Berlangsungnya pertunjukan tari tersebut merupakan sumber primer untuk analisis menyeluruh. Berdasarkan akses informasi yang diperlukan tersebut narasumber yang peneliti pilih dalam penelitian ini terdapat empat kelompok meliputi: penyusun tari. objektif . Tempat atau Lokasi Tempat yang menjadi sasaran penelitian ini terutama terdapat pada sebuah upacara ritual perkawinan yang diselenggarakan di wilayah penelitian. penghayat. iringan. sehingga validitas datanya dapat dipertanggungjawabkan secara akademis. pola lantai. Tempat terjadinya peristiwa pertunjukan tari pasihan pada upacara ritual perkawinan. dan afektif. serta masyarakat umum. penari. 4. Peristiwa atau Aktivitas peristiwa.implikatur yang sengaja dimanfaatkan oleh seniman dalam rangka mengekspresikan isi hatinya yang sudah barang tentu telah . rias.102 tidaknya data yang diberikan. akan memberi gambaran secara kongkrit tentang setting peristiwa penghayatan atau berlangsungnya sebuah pertuturan. atau perilaku sebagai sumber data yang terkait dengan sasaran penelitian.

Keberadaan busana tari yang sering dipakai penari dapat dilacak dengan maksud untuk mencermati seberapa jauh keterkaitannya dengan makna yang hendak disampaikan seniman terhadap penghayat. Beragam benda artifak sebagai kelengkapan. Selain itu.103 memperhitungkan penghayat sebagai mitra tuturnya. Seperangkat gamelan (gamelan ageng) yang memiliki laras Slendro dan Pelog sebagai musik iringan tari merupakan artifak yang memegang peranan cukup penting dalam mewujudkan terselenggaranya pertunjukan tari pasihan. rupanya memiliki makna yang dalam terkait dengan sepasang mempelai temanten. busana tari. Dalam hal ini gamelan mempunyai peranan cukup primer dalam rangka mengaktualisasikan genre tari pasihan. Asumsi peneliti bahwa dari bentuk atau mode busana tari akan dapat memberi gambaran tentang peran atau tokoh sedangkan dari warna dapat dicermati makna simbolisnya. Artifak yang bersifat primer. terdiri dari: boneka anak (baby). yang terlibat dalam peristiwa atau aktivitas pertunjukan genre tari pasihan. . Salah satu artifak yang sangat berharga sebagai sumber data yang memungkinkan dapat dilacak informasinya untuk diungkap lebih dalam adalah boneka. artifak yang layak menjadi sumber data adalah busana tari. Prediksi peneliti sementara bahwa artifak yang berupa boneka pada tari Bondhan Sayuk memiliki daya pragmatik. dan gamelan. Artifak yang berupa boneka yang terbuat dari bahan plastik yang dibalut dengan sehelai selendang sehingga bentuknya menyerupai bayi yang digedhong (ditimang). terutama lebih fokus yang menurut fungsinya bersifat primer.

merupakan rekaman beragam tari duet percintaan gaya Surakarta yang termasuk bagian genre tari pasihan. dan jineman. Sumber data yang berupa dokumen dan arsip tersebut akan peneliti gunakan sebagai analisis tambahan untuk mencermati tentang makna pragmatik.104 5. Dalam penelitian kualitatif ini peneliti akan menggunakan berbagai teknik berdasarkan sumber data dalam pengumpulan datanya. Data rekaman yang berupa audio. sindhenan. Sedangkan data rekaman yang berupa audio visual kaset VCD. maupun serat. Teknik Pengumpulan Data Berangkat dari keragaman sumber data yang perlu digali tersebut menuntut strategi atau teknik pengumpulan data yang sesuai dengan sumber datanya untuk mendapatkan data yang mampu menjawab permasalahan yang telah diajukan. berupa sumber cerita yang terdapat pada naskah-naskah pewayangan. gerongan. babad. D. Dokumen dan Arsip Dokumen dan arsip biasanya merupakan bahan tertulis yang bergayutan dengan peristiwa atau aktivitas tertentu (Sutopo. antara lain beragam kaset ataupun CD iringan tari. 2006: 61). Selain itu juga data yang berupa bahasa verbal seperti cakepan : pada pathetan. Dokumen yang sifatnya tidak tertulis yang terkait dengan pertunjukan tari pasihan. Adapun teknik pengumpulan data yang sesuai dengan penelitian kualitatif dan jenis sumber data yang dimanfaatkan adalah sebagai berikut: . berupa data rekaman baik yang bersifat audio maupun yang berwujud visual. Data tertulis yang berupa dokumen ataupun arsip yang terkait dengan peristiwa pertunjukan tari pasihan yang dapat dilacak dalam perpustakaan.

kelompok penghayat (lihat hal: 56-57). Sebelum wawancara. Wawancara mendalam (in-depth interviewing) Manusia sebagai nara sumber atau informan merupakan sumber data yang sangat fundamental dalam penelitian kualitatif. Jenis pertanyaan yang dipersiapkan tidak mengikat namun lebih digunakan sebagai petunjuk secara garis besar tentang proses dan isi wawancara untuk menjaga agar pokok-pokok yang direncanakan dapat seluruhnya tercakup (Moleong. c. 2006: 228). 2. kelompok penyusun tari. kelompok penari atau penyaji. Observasi Dalam penelitian kualitatif ini peneliti mengadakan observasi langsung berperan secara pasif dan aktif. peneliti terlebih dulu berupaya mengenal karakteristik dari masing-masing informan yang telah ditetapkan untuk menjalin keakraban dan kedekatan emosional sehingga dapat menggali informasi sebanyak-banyaknya dalam situasi yang kooperatif dan kondusif. Wawancara merupakan salah satu jenis pengumpulan data yang bersifat lentur dan terbuka. kelompok pakar. yaitu: a. Adapun wawancara akan dilakukan dengan empat jenis kelompok. Berperan pasif peneliti hanya hadir di lapangan bertindak sebagai . tidak terstruktur ketat. Sehingga pengumpulan data yang diperlukan dalam menggali informasi dari informan dengan teknik wawancara mendalam. Selain itu persiapan awal untuk menggali informasi. 2007: 187). Pertemuan awal dilakukan untuk mengadakan kesepakatan-kesepakatan tentang pertemuan selanjutnya (jadwal) dan materi jika dimungkinkan. b. dan d. tidak dalam suasana formal. peneliti secara garis besar merancang jenis-jenis pertanyaan pokok yang selanjutnya dapat dikembangkan di lapangan hingga ke hal-hal yang lebih rinci. dan dapat dilakukan berulang pada informan yang sama (Patton dalam Sutopo.105 1.

baik sebagai langkah awal pencatatan secara global masalah-masalah yang dianggap penting yang selanjutnya akan selalu dikembangkan pada analisis untuk dijabarkan secara rinci mendalam. Bentuk peran aktif dalam penelitian ini peneliti mengambil peran sebagai penonton untuk mengapresiasi pertunjukan dan datang di tempat-tempat latihan membaur turut berlatih untuk mengamati dan mengetahui ciri karakteristik tindak tutur dan lebih fokus terhadap elemen-elemen genre tari pasihan. Teknik simak dan catat dalam kegiatan ini akan dimanfaatkan terkait data bahasa verbal dan nonverbal. serat atau naskah. Adapun observasi tidak langsung lebih mengarah pada pengamatan dokumendokumen rekaman tari pasihan. Dokumen lain berupa kaset tape recorder yang memuat iringan tari jenis pasihan. akan dicatat dan dianalisa untuk memahami keterkaitannya dengan faktor objektif karya tari pasihan yang tengah diteliti. Selain itu dimungkinkan juga terdapat pada babad. . Adapun sumber data yang diharapkan mampu memberikan gambaran liku-liku kehidupan Panji dan Sekartaji. sehingga mendapat data secara akurat. di antaranya: cerita Panji dalam Perbandingan (1968) dan Panji Sekar (1979). 3. Mencatat Dokumen dan Arsip (content analysis) Data yang berupa dokumen ataupun arsip yang terkait dengan peristiwa pertunjukan tari pasihan yang dapat dilacak dalam perpustakaan. berujud sumber cerita yang terkait dengan ceritera Panji.106 pengamat secara formal dan informal untuk mengamati kegiatan dan peristiwa pertunjukan tari pasihan agar mendapatkan data yang mantap dari fenomena yang terjadi di lapangan. Teknik ini secara garis besar digunakan peneliti untuk setiap aktivitas yang terkait dengan pengumpulan data. seperti: kaset “Karonsih“ (ACD – 114) dan kaset “Beksan Enggar-enggar” (WD – 530).

Pemilihan sampel diarahkan lebih fokus pada sumber data yang . keingintahuan pribadi peneliti. Dari kajian bentuk tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk ini dimaksudkan untuk menjawab rumusan masalah terkait dengan pertanyaan yang mengarah pada faktor objektif. dan karakteristik empirisnya. Rekaman ini dimaksudkan untuk lebih mencermati peristiwa pertunjukan berdasarkan natural setting artinya sasaran penelitian harus tetap berada pada kondisi aslinya secara alami (Sutopo. E.107 4. 2007: 8. Untuk itu dalam penelitian kualitatif. Bentuk rekaman video yang diutamakan adalah peristiwa berlangsungnya pertunjukan khusus tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk. Selain itu rekaman tari pasihan tersebut juga untuk mengembangkan pertanyaan yang mengarah pada faktor genetik dan faktor afektif. Teknik Cuplikan (sampling) Penelitian kualitatif cenderung menggunakan teknik cuplikan yang bersifat selektif dengan pertimbangan konsep teoretis yang digunakan. Perekaman Teknik pengumpulan data dengan rekaman terutama dengan alat video dan rekaman suara merupakan metode yang cukup penting karena akan membantu peneliti dalam rangka memperjelas deskripsi berbagai aktivitas dan situasi di lapangan. Fatimah. 1993: 11). Hal ini dilakukan untuk mencari dan menemukan korelasi dari ketiga faktor yaitu genetik. 2006:229). 2006: 37) (lihat Moleong. Adapun kegiatan ini adalah merekam bentuk tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk untuk dianalisis bahasa verbal dan nonverbal dari masing-masing bentuk tari tersebut. (Goetz & Le Compte dalam Sutopo. objektif dan afektif sebagai dasar menentukan makna genre tari pasihan dalam upacara resepsi perkawinan. teknik cuplikannya cenderung bersifat purposive karena dipandang lebih mampu menangkap kelengkapan dan kedalaman data di dalam menghadapi realitas yang tidak tunggal.

Validitas Data Untuk menjamin dan mengembangkan validitas data yang akan dikumpulkan dalam penelitian kualitatif ini digunakan teknik trianggulasi data atau sumber.108 dipandang memiliki data penting yang terkait dengan permasalahan yang sedang diteliti. dalam beragam posisinya. Oleh karena itu dalam penelitian kualitatif ini peneliti memilih informan yang diharapkan mampu memberikan informasi yang memiliki kedalaman dan keakuratan data guna menjawab permasalahan yang diajukan. 2006). Trianggulasi data atau sumber mengarahkan peneliti dalam mengumpulkan data harus menggunakan beragam sumber data artinya data yang sejenis . F. Adapun sejumlah informan dan informasi yang dibutuhkan dari informan tersebut lihat hal: 56-57. sehingga bilamana generelisasi harus dilakukan. trianggulasi metode. dan keluasan wawasan dalam suatu permasalahan yang dikaji sehingga informasi yang diperoleh betulbetul mantab kualitasnya. Sumber lain akan dipilih berdasarkan pertimbangan ketepatan dan kelengkapan datanya. Informan yang dibutuhkan dipilih berdasarkan kredibilitas. secara tuntas dan valid. Purposive sampling memberikan kesempatan secara maksimal pada kemampuan peneliti untuk menyusun teori yang dibentuk dari lapangan (grounded theory) dengan sangat memperhatikan kondisi lokal dengan kekhususan nilai-nilainya (idiografis). Cuplikan ini kedudukannya bukan mewakili populasinya tetapi mewakili informasinya. 2006: 92). karena setiap posisi akan memiliki akses informasi yang berbeda. dan trianggulasi teori dari empat jenis trianggulasi yang ditawarkan Patton (dalam Sutopo. Untuk itu peneliti dituntut memahami peta sumber yang tersedia. kualitas. maka arahnya cenderung sebagai generalisasi teori (Sutopo.

dan penanggap. Untuk mengetahui alasan mengapa terjadi dominasi salah satu jenis tindak tutur dalam bahasa verbal tari pasihan. . Data yang terkumpul kemudian dikomparasikan untuk mengkaji alasan yang tepat guna menjawab secara akurat terkait dengan fungsi bahasa verbal dalam pertunjukan tari pasihan.109 akan lebih mantab kebenarannya apabila digali dari beberapa sumber data yang berbeda. Di sini yang diutamakan adalah penggunaan metode pengumpulan data yang berbeda. Trianggulasi metode dalam penelitian kualitatif mengarah pada perbedaan teknik atau metode pengumpulan data pada data yang sejenis. untuk memahami makna tari pasihan. untuk menemukan ciri karakteristik bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan dari informan seorang penari. Salah satu bentuk aplikasi dalam penelitian ini. bahkan lebih jelas untuk diusahakan mengarah sumber data yang sama untuk menguji kemantapan informasinya. Selain itu. peneliti membutuhkan informasi dari informan yang berbeda di antaranya dari penyusun tari pakar. peneliti menggunakan tiga informan yang berbeda yaitu: penyusun tari. Informasi dari ketiga informan tersebut kemudian dianalisis dengan cara membandingkan untuk melihat persamaan. perbedaan kemudian mencari argumen dari masing-masing untuk mendapatkan simpulan yang memadai. akan dikomparasikan dan ditarik simpulan data yang lebih kuat dan mantap validitasnya. Data sementara yang diperoleh dari ketiga metode yang berbeda pada sumber data atau informan yang sama. peneliti menggunakan metode pengumpulan data dengan mencatat dokumentasi atau arsip yang berupa data bahasa verbal dan nonverbal kemudian melakukan wawancara secara mendalam. pakar tari. dan masyarakat umum. dan observasi di lokasi ketika penari tersebut sedang menyajikan tari pasihan.

. tetapi dengan beberapa teori yang digunakan sebagai alat kajian sehingga muncul multiperspektif. artinya berbeda suatu teori beragam pula cara pandangnya. 2006:98-99). Analisisnya tidak untuk membuktikan kebenaran hipotesis yang telah diajukan dalam proposal penelitian. Bentuk aplikasinya. tidak hanya sepihak dan bersifat monoperspektif. artinya semua simpulan dibentuk dari semua informasi yang diperoleh dari lapangan. untuk mengetahui makna yang tersirat dalam tari pasihan harus menganalisis terhadap bahasa verbal dan nonverbal dengan menggunakan empat teori yaitu: (1) teori pragmatik. G. Karena setiap teori memiliki perspektif yang khusus. Sifat analisis induktif sangat mementingkan apa yang sebenarnya terjadi dan ditemukan di lapangan yang pada dasarnya bersifat khusus berdasarkan karakteristik konteksnya dalam kondisi alamiahnya. untuk itu diperlukan beberapa perspektif teori guna memperoleh hasil simpulan yang mantap dapat dipertanggungjawabkan.110 Trianggulasi teori dibutuhkan untuk mendapatkan pandangan yang lengkap dan mendalam. Keempat teori tersebut akan berfungsi sebagai alat kajian dan bekerja secara komplementer untuk menemukan makna tunggal yang menempatkan posisi setiap temuan berada pada satu kesatuan konteks (lihat hal: 14). dibentuk dari temuan dan kumpulan data di lapangan digunakan untuk dasar pemahaman dan penyusunan suatu simpulan (Sutopo. tetapi seluruh hasil simpulan yang dibuat dan teori yang mungkin dikembangkan. (2) teori budaya. dan (4) teori komunikasi.2006: 105). Teknik Analisis Penelitian kualitatif bentuk analisisnya bersifat induktif. mempunyai kedalaman makna dan bersifat multidimensional (Sutopo. (3) teori seni pertunjukan.

sehingga data yang hendak disajikan sebagai laporan. dengan melakukan beragam teknik refleksi untuk pemantapan simpulan awal dan perluasan serta pendalaman data bagi pengumpulan data berikutnya. dan kemungkinan lain. observasi. 2006). misalnya tanggapan ciri-ciri karakteristik bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan dari informan penari. Sejak diperoleh data dalam unit yang paling kecil sudah mulai dikomparasikan hingga pada unit-unit atau kelompok data yang besar untuk mengelompokkan beragam variabel sesuai dengan rumusan masalah. sajian data. artinya setiap unit data yang terkumpul selalu dikomparasikan dengan unit data lainnya untuk menemukan beragam hal yang dibutuhkan sesuai dengan tujuan penelitian (keluasan. perbedaan. Adapun proses interaksi selanjutnya antarkomponen analisisnya meliputi reduksi data.111 Proses analisis dilakukan bersamaan sejak awal dengan proses pengumpulan data. Aktivitas refleksi dari setiap data yang telah terkumpul pada dasarnya merupakan kegiatan analisis yang semakin berkembang. bentuk keterkaitan antarunsurnya dan sebagainya). Analisis dilakukan dalam bentuk interaktif. arsip maupun dokumen dan lainnya untuk mendapatkan pemantapan simpulan yang kemudian akan dikembangkan dan validitas datanya dengan mencermati tingkat kesamaan. setelah peneliti mendapatkan data pada unit-unit hingga kelompok yang besar. atau mengkomparasikan antarfaktor-faktor utama yang menjadi pokok kajian berdasarkan kerangka pikir (Sutopo. kesepadanan. informan pakar. dan informan budayawan kemudian . Pada penelitian kualitatif kasus tunggal tentang genre tari pasihan gaya Surakarta ini. sudah merupakan hasil dari analisis yang berkelanjutan pada proses pengumpulan data. penarikan simpulan dan verikasinya. Proses interaktif juga mengkomparasikan data yang didapat dari wawancara. perbedaan.

Pengumpulan data (1) Reduksi data (3) Penarikan Simpulan/verifikasi (2) Sajian data Keterangan: Pengumpulan data yang dilakukan adalah mencatat dengan rinci. fungsi dan persepsi masyarakat. mengembangkan hasil wawancara yang berupa kata-kata kunci menjadi catatan lengkap. peneliti gunakan model analisis interaktif. kesamaan dengan beragam rujukannya untuk simpulan yang mantap dengan melihat keterkaitannya tujuan penelitian yang telah dirumuskan yaitu untuk menemukan ciri karakteristik genre tari pasihan gaya Surakarta.112 dikomparasikan untuk mencari dan menemukan perbedaan. peneliti melakukan pengelompokan data menurut jenisnya secara terpisah berdasarkan kelompok informasinya dan merumuskan temuan jalinan dalam . Selain itu.2006:120). kritis. Sebagai gambaran model analisis interaktif (Sutopo. Model analisisnya. dan lengkap dengan kata-kata kunci. Reduksi data. Untuk menganalisis makna pragmatik dapat dengan mengkomparasikan antarfaktor-faktor utama dari: implikatur tindak tutur verbal dan nonverbal. untuk menarik makna pragmatik sebagai hasil analisis akhir penelitian.

.113 kelompok dengan rumusan singkat. disusun berdasarkan kelompok data yang sudah dirumuskan (reduksi data) kemudian melakukan pengelompokan unit sajian berdasarkan kelompok rumusan masalah. Penarikan simpulan/verifikasi. yang dikembangkan berdasarkan temuan-temuan dari setiap kelompok data dan disajikan dalam bentuk narasi lengkap dan bukan sajian bahan mentah. Sajian data. merupakan hasil pembahasan dari sajian data dan reduksi data untuk menyimpulkan makna tunggal yang menempatkan posisi setiap temuan berada pada satu kesatuan konteks. Selain itu membandingkan data antarkelompok untuk menemukan kemungkinan adanya keragaman bentuk yang terkait.

tari Enggar-enggar. yang sudah barang tentu juga terdapat perbedaan namun tidak begitu signifikan. diharapkan mampu menjawab rumusan masalah dari kajian pragmatik bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan gaya Surakarta. tari Driasmara. tari Kusuma Ratih. tari Endah. dan jineman. tari Gesang Rahayu. polatan (ekspresi wajah). Secara garis besar bentuk tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk banyak persamaannya. rias.114 BAB IV BAHASA VERBAL DAN NONVERBAL GENRE TARI PASIHAN GAYA SURAKARTA Genre tari pasihan gaya Surakarta merupakan habitat dari jenis-jenis karya tari duet percintaan atau tari pasihan. busana. tari Kusuma Aji. gerak tubuh (kinetic body moves). Sedangkan aspek bahasa nonverbal meliputi: tema. Dalam penelitian ini peneliti terfokus pada dua jenis tari pasihan. Pemilihan kedua jenis tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk. Aspek bahasa verbal dan nonverbal tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk merupakan komposisi dua komponen yang menyatu dalam bentuk seni pertunjukan. Pada dasarnya bentuk tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk sebagai bagian seni pertunjukan genre tari pasihan gaya Surakarta memiliki beberapa aspek di antaranya aspek sastra tembang sebagai bahasa verbal yang berupa cakepan (syair): pathetan. dan iringan karawitan. tari Lambangsih. pola lantai. yaitu tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk. tari Jayaningrat. gerongan. sindhenan. Bagi seniman komposit dari bahasa verbal dan nonverbal yang terdapat pada tari . Adapun bentuk genre tari pasihan terdiri dari tari duet percintaan. tari Bondhan Sayuk. yakni seperti: tari Karonsih. tari Langen Asmara dan tari Setyaningsih.

dan 3) adegan bahagia. 1991). terdiri dari beberapa bait syair yang terdapat pada garap lagu. ketika beliau mendapat permintaan dari keluarga Kalitan. a. Teks sastra tembang yang merupakan bahasa verbal tari Karonsih. Bahasa Verbal. dan afektif. untuk menyajikan sebuah tari yang sesuai untuk kebutuan resepsi perkawinan Ibnu Harjanto adik Tien Suharto istri mantan presiden Indonesia yang ke dua (wawancara Maridi. yakni sastra tembang yang merupakan bahasa verbal dan elemen-elemen lain yang terkait dan menunjang dengan tari yang merupakan bahasa nonverbal. Faktor Objektif I. yang merupakan klimaks dari seluruh adegan. yakni: (1) pathetan: sakpada (satu . Tari Karonsih Tari Karonsih merupakan tari tradisi gaya Surakarta jenis pasangan silang jenis karakter putri luruh dengan putra alus luruh yang bertemakan percintaan Dewi Sekartaji dengan Panji Inukertapati. Bentuk tari Karonsih terdiri dari dua komponen pokok. peneliti hendak menggali dan mengungkap data dari infoman berdasarkan faktor objektif. genetik. Karya tari Karonsih merupakan hasil susunan Maridi pada awal tahun 1970. 2) adegan pertemuan.115 Karonsih dan tari Bondhan Sayuk merupakan kesatuan makna yang utuh dan berfungsi sebagai sarana komunikasi untuk hiburan dan suritauladan. Untuk menjelaskan tentang seluk-beluk bahasa verbal dan nonverbal pada kedua jenis tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk. A. Pembagian adegan di sini berdasarkan suasana-suasana yang dibangun lewat garap gendhing dan makna sastra tembang. Jika dicermati lebih lanjut pertunjukan tari Karonsih dapat dibagi menjadi beberapa adegan-adegan sebagai berikut: 1) adegan pencarian.

(3) garap sindhenan. Bahasa verbal yang berupa tembang Jawa tersebut terurai menjadi beragam jenis tindak tutur dan beragam makna yang dikandungnya. O………. Dahat denira muwun.1 Sang Retnayu Dewi Jengkar Sekartaji Jengkar sking kedhaton Nr Asertif .. dan (4) garap gerongan Lambangsari: rong pada. (1) Teks Pathetan Wantah Sang Retnayu Dewi Sekartaji Jengkar sking kedhaton Sang Retnayu Dewi Sekartaji Jengkar sking kedhaton Angupadi mendranira ingkang garwa Inukertapati. (2) garap sindhenan Pangkur Ngrenas: sakpada. Kinanthi Sandhung: rongpada (dua bait).O………… Terjemahan: Si cantik Dewi Sekartaji Pergi dari kerajaan Si cantik Dewi Sekartaji Pergi dari kerajaan Mencari suaminya. seperti jabaran berikut ini. Dari masing-masing bait syair tembang tersebut memiliki garap lagu atau watak lagu yang berbeda-beda. Jenis – jenis Tindak Tutur (TT) yang melekat pada teks Pathetan Wantah No Narator (Nr) Teks Verbal Pathetan Wantah Jenis-jenis TT Pemarkah 1. Inukertapati Menangis tersedu-sedan.116 bait).

1. Peserta tutur: Narator (Pn) Dewi Sekartaji (Pt).2 Sang Retnayu Dewi Jengkar Sekartaji Jengkar sking kedhaton Nr 1. b. Status sosial: Dewi Sekartaji sebagai seorang istri. e. . istri yang sangat setia terhadap suami. ia merespon dengan gerak tanpa tuturan. Tema / topik: pencarian.117 1.. c. Identifikasi / latar. a. O……….3 Angupadi mendranira Direktif Angupadi Asertif ingkang garwa Nr Inukertapati. Tujuan: seorang istri (Dewi Sekartaji) yang mencari suami (Panji Inukertapati) yang telah meninggalkan kerajaan d.4 Nr Dahat muwun. Tempat: perjalanan di luar kerajaan. Situasi tutur: tidak formal. f.O…… denira Ekspresif muwun Konteks. ia digambarkan sebagai figur seorang wanita.

badan putar menghadap belakang srisik mundur kemudian putar menghadap depan. kengser. Angupadi: merupakan sebuah perbuatan untuk mencari dan berupaya menemukan dengan cara dan usaha yang sungguh-sunggguh. Jengkar sking kedhaton: merupakan pernyataan perbuatan atau tindakan dari keluarga bangsawan karena terdapat suatu permasalahan yang sangat penting yang mengharuskan dan sebagai jalan terakhir untuk pergi dari kerajaan. Gerak: Dewi Sekartaji keluar dari pojok belakang kanan stage menuju tengah dengan gerak: srisik. Implikatur. dan usap kiri – usap kanan. Implikatur teks Pathetan adalah menggambarkan liku-liku perjalanan Dewi Sekartaji dalam mencari dan untuk menemukan Panji Inukertapati (suaminya). Mendranira: adalah sebuah tindakan yang didasari dari rasa tidak puas terhadap sesuatu. badan nglayang (memutar) ke kiri. Pola lantai: didominasi garis–garis lurus. Polatan / ekspresi wajah: Dewi Sekartaji tampak sedih kepala menunduk. Iringan gendhing: pathetan untuk mendukung suasana sedih. Maksim kualitas dipatuhi. h. ridhong sampur kiri. Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Pathetan Wantah dapat diungkap: a. kaki njujut.118 g. b. . j. i. badan ngglebak ke kanan hadap ke depan. pandangan mata mengarah ke bawah dan perubahan gerak kepala lebih pelan dan terkesan hati-hati. lumaksono. Maksim kuantitas dilanggar.

(2). 2) melakukan TT secara tidak langsung (off record). Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Pathetan Wantah. Maksim hubungan dipatuhi. menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif. gones. Teks Sindhenan Pangkur Ngrenas. d. Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Isen-isen (isian) No Narator (Nr) Teks Verbal Isen-isen Jenis-jenis TT 1.1 Nr Jarweng janma. Dhuh jagad dewa bathara Welasa mring dasih kang nandhang kingkin Tinilar garwa satuhu Dadya gantilaning tyas Ulun dhahat teka aginggang sarambut Kalamun datan pinanggya Aluwung tumekeng lalis Terjemahan: Wahai Sang Hyang Dewata Kasihanilah hambamu yang baru sedih Ditinggal suami Yang menjadi buah hati Hamba tidak dapat berpisah Jika tidak dapat bertemu Lebih baik mati .119 c. Maksim cara dilanggar. janma kang Patik koncatan nyawa.

3 Dewi Sekartaji (Pn) Tinilar garwa satuhu Asertif satuhu 2.5 Dewi Sekartaji (Pn) Ulun dhahat teka Direktif Ulun dhahat aginggang sarambut 2.6 Dewi Sekartaji (Pn) Kalamun pinanggya datan Direktif datan 2. No Penutur (Pn) Teks Verbal Sindhenan Pangkur Ngrenas Jenis – jenis TT Pemarkah 2.4 Dewi Sekartaji (Pn) Dadya gantilaning tyas Direktif dadya 2.jenis TT yang melekat pada teks Sindhenan Pangkur Ngrenas.2 Dewi Sekartaji (Pn) Welasa mring dasih kang nandhang kingkin Direktif mring dasih 2.1 Dewi Sekartaji (Pn) Dhuh jagad dewa bathara Patik Dhuh jagad 2.120 Jenis .7 Dewi Sekartaji (Pn) Aluwung tumekeng lalis Komisif Aluwung .

kepala menunduk. f. ia digambarkan sebagai figur seorang wanita. Implikatur. Situasi tutur: tidak formal. sedih. a. g. pasrah. Iringan gendhing: Ketawang Ngrenas untuk mendukung suasana sedih. Polatan / ekspresi wajah: Dewi Sekartaji tampak sedih. Nandhang kingkin: Gantilaning tyas: suasana sedih yang dialami seseorang. j. Tujuan: Dewi Sekartaji dalam situasi yang rindu. pandangan mata mengarah ke bawah dan perubahan gerak kepala lebih pelan dan terkesan hati-hati. Pola lantai: didominasi garis-garis lurus. Tema / topik: kesetiaan. sekar suwun. . d. supaya kasih asmaranya dapat menyatu kembali. tawing kiri ingsetan. Tempat: dalam perjalanan di luar kerajaan. h. b. Gerak: Sekartaji mengekspresikan lewat gerak laras sampir sampur kanan. melindungi dan bertanggungjawab. c. istri yang sangat setia terhadap suami. merupakan kekasih sebagai belahan jiwa yang diharapkan dapat sebagai tumpuan akhir yang mampu mengayomi. Peserta tutur: Dewi Sekartaji. Status sosial: Dewi Sekartaji sebagai seorang istri. dan lembehan separo.121 Konteks. Identifikasi / latar. i. e. dan memohon pada Yang Kuasa agar segera dipertemukan dengan suaminya.

Sebagai bukti kesetiaan seseorang. pasrah. d. Maksim kuantitas dilanggar. sehingga berharap tidak dapat putus. Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Sindhenan Pangkur Ngrenas. b. Aluwung tumekeng lalis. 2) melakukan TT secara tidak langsung (off record). tersurat dalam bentuk tuturan yang diungkapkan dengan TT: Kalamun datan pinanggya. Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Sindhenan Pangkur Ngrenas dapat diungkap: a. . sedih. Maksim hubungan dipatuhi. Maksim kualitas dipatuhi.122 Aginggang sarambut: merupakan pernyataan hubungan cinta kasih yang sangat erat dan lekat. Implikatur teks Pangkur Ngrenas adalah menggambarkan Dewi Sekartaji dalam situasi rindu. Aluwung tumekeng lalis: sebuah pernyataan yang dilandasi emosional atau ketulusan hati untuk melakukan tindakan sebagai jalan pintas untuk mengakhiri kehidupan. c. Bukti kesetiaan yang mendalam Dewi Sekartaji terhadap suaminya. menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif. Maksim cara dilanggar. kemudian memohon pada Yang Kuasa agar segera dipertemukan dengan suaminya. Dalam hubungan asmara dapat sebagai bukti kesetiaan.

jenis TT Patik 2. Adhuh yayi garwa ningsun Teka mlengos datan angkling Mara ngadhepna pun kakang Kang wus lami nandhang brangti Kadingaren yayi duka Apa kang dadi wigati Cakepan b. gones Arane basa nawala Patik (3).2 Nr Saji siswa.1 Narasi (Nr) Nr Teks Verbal Isen-isen Suta nendra prajane sri Bomantara Sun bathara. Teks Sindhenan Kinanthi Sandhung. rama Lamun sira darbe tresno Jenis . Wahai istriku Mengapa berpaling tidak menghiraukan Kemari tataplah wajah kakanda Sudah lama rindu Tidak biasa adinda marah Apa persoalannya .123 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Isen-isen No 2. Wus dangu pun kakang wuyung Marang yayi wanodya di Tuhu wanita utama Mustikaning para putri Muga tansah pinaringan Kanugrahan kang salami Terjemahan: Syair a. Cakepan a.

5 Panji Inukertapati (Pn) Kadingaren yayi duka Direktif kadingaren 3. Sudah lama kakanda jatuh asmara Kepada adinda wanita yang cantik Engkau wanita utama Menjadi suritauladan para wanita Semoga selalu diberi Kebahagiaan selamanya Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Sindhenan Kinanthi Sandhung.2 Panji Inukertapati (Pn) Teka mlengos datan Direktif datan angkling 3.124 Syair b.jenis TT Patik Pemarkah 3. No Penutur (Pn) Teks Verbal Sindhenan Kinanthi Sandhung Adhuh ningsun yayi garwa Jenis .1 Panji Inukertapati (Pn) Adhuh 3.4 Panji Inukertapati (Pn) Kang wus lami nandhang brangti Ekspresif nandhang 3.3 Panji Inukertapati (Pn) Mara kakang ngadhepna pun Direktif mara 3.6 Panji Inukertapati (Pn) Apa kang dadi wigati Direktif apa .

Peserta tutur: Panji Inukertapati (Pn).12 Panji Inukertapati (Pn) Kanugrahan kang salami Direktif kanugrahan Konteks. . Tema / topik: percintaan.10 Panji Inukertapati (Pn) Mustikaning para putri Ekspresif mustikaning 3. b.7 Panji Inukertapati (Pn) Wus dangu pun kakang wuyung Ekspresif wus dangu 3.11 Panji Inukertapati (Pn) Muga tansah pinaringan Direktif muga 3. ia merespon dengan gerak tanpa tuturan.125 3.9 Panji Inukertapati (Pn) Tuhu wanita utama Ekspresif utama 3. Identifikasi / latar.8 Panji Inukertapati (Pn) Marang yayi wanodya di Direktif marang 3. Dewi Sekartaji (Pt). c. Tujuan: menyatukan kembali kasih asmara antara suami dengan istri yang pernah berpisah. a.

panggel. g. tangan kanan nyaut. laras genjot. ngancap. Suasana kemesraan Sekartaji dan Panji semakin terasa yang diungkapkan lewat gerak tangkep asta. Gerak: Sekartaji tampak putus harapan. srisik. ketika Panji jengkeng njawil (memegang bahu). f. ia digambarkan sebagai figur seorang suami yang bertanggungjawab dan sangat setia terhadap istri. tanjak tawing kanan. tangan pondhongan kemudian nyaut jeblos (tukar tempat) lalu Sekartaji memberikan sampur dan segera diterima Panji. yang digambarkan jengkeng (duduk) diikuti kedua tangan memegang sampur sambil menutup raut muka pada posisi centre stage. maju lumaksono. Status sosial: Panji Inukertapati sebagai seorang suami. Tempat: dalam perjalanan di luar kerajaan. Datang Panji dari belakang. maju. Panji mencoba merayunya kembali dengan lumaksono kebyokan sampur. Situasi tutur: tidak formal.126 d. Suasana marah diekspresikan Sekartaji dengan berdiri enjer. istri yang sangat setia terhadap suami. tangan kanan nyaut dengan kebyok kemudian mundur. dan kengser ke kanan. tanjak kanan. Untuk meredakan kemarahan Sekartaji. Dewi Sekartaji sebagai seorang istri. e. nyabet ukel karna kanan. ia digambarkan sebagai figur seorang wanita. Panji segera memburu Sekartaji dengan gerak berdiri srisik. Sekartaji merasa malu kemudian melepas kedua tangan dan srisik yang segera dikejar Panji dengan srisik nyandhet tangkep asta ngaras (berciuman). ulap-ulap tangan kiri – kanan. Perasaan malu juga ditampakkan oleh kedua tokoh tersebut setelah berciuman lepas . besut.

untuk mendapatkan perhatian mitra tuturnya. ekspresi wajah Sekartaji dan Panji tampak cerah dan gembira. hal ini diekspresikan dengan bentuk-bentuk gerak selalu bergandengan tangan. seperti: kanthen tangan kanan. Asmara yang dibangun Sekartaji dan Panji Inukertapati mulai menyatu. j. maju. saling melempar senyum sebagai tanda cinta. Implikatur. laku enjer saling menjauh. adu tangan kiri nekuk. h. mesra. . pandangan dan tatapan mata keduanya banyak saling berhadapan wajah. nandhang brangti: merupakan gambaran psikologis seseorang dalam keadaan asmara. kanthen tangan kanan. damai dan bahagia. pandangan mata mengarah ke bawah. Suasana marah. i. Polatan / ekspresi wajah: ketika Sekartaji tampak putus harapan. Kadingaren: merupakan perbuatan atau tindakan seseorang yang tidak biasa dilakukan. Iringan gendhing: Ketawang Kinanthi Sandhung untuk mendukung suasana kasmaran atau bercinta. srisik melingkar. Suasana mesra. Implikatur teks Kinanthi Sandhung tersebut adalah: a) Dewi Sekartaji marah terhadap Panji Inukertapati. Mustikaning: merupakan ungkapan yang bersifat menyanjung terhadap kelebihan seseorang. pandangan muka Sekartaji selalu menghindar dari tatapan mata Panji. Pola lantai: didominasi garis-garis lengkung.127 kedua tangan. akhirnya luluh hati Dewi Sekartaji. tangan kiri menthang. tangan kanan tawing. raut muka ditutup. b) Panji berusaha membujuk dan merayu istrinya. sedangkan Panji selalu memandang Sekartaji. kengser ke kanankiri.

Pra wanita marsudiya marang tindak kang utama Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada Ingkang bisa nujuprana weh reseping pamicara Nora kengguh ing panggodha darbe budi kang santosa Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira Datan kemba asih tresna sung tetreming kulawarga Sampun sami setya tuhu anggenya liron asmara Karonsih pancen pranyata dadya kembang jagad raya Cakepan b. Maksim hubungan dipatuhi. dapat diungkap: a. Cakepan a. d. (4). Maksim kuantitas dilanggar. Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Sindhenan Kinanthi Sandhung. Maksim kualitas dipatuhi. c. Maksim cara dilanggar. menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif. Pra wanita marsudiya marang tindak kang utama Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada Ingkang bisa nujuprana weh reseping pamicara Nora kengguh ing panggodha darbe budi kang santosa Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira Datan kemba asih tresna sung tentreming kulawarga Sang pekik wah sang dyah ayu dangu samya bagyaharja Tan kendhat tansah meminta kanugrahan ing Hyang Sukma . Teks Gerongan Lambangsari.128 Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Sindhenan Kinanthi Sandhung. b. 2) melakukan TT secara tidak langsung (off record).

No Penutur (Pn) / Petutur (Pt) Teks Verbal Gerongan Lambangsari Jenis – jenis TT Pemarkah 4.2 Panji Inukertapati (Pn) Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada Direktif marang garwa 4. saling mencintai menuju ketetraman keluarga Sang kesatria (Panji) dan sang Dewi Sekartaji sudah lama hidup bahagia Tiada henti selalu meminta kebahagiaan kepada Yang Maha Kuasa Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Gerongan Lambangsari.3 Panji Inukertapati (Pn) Ingkang bisa nujuprana weh reseping pamicara Direktif ingkang bisa . saling mencintai menuju ketetraman keluarga Sudah saling setia dalam bercinta cinta itu adalah nilai yang universal Syair b.1 Panji Inukertapati (Pn) Pra wanita marsudiya Direktif marsudiya marang tindak kang utama 4. memiliki sikap yang teguh Gantian pria berilah keseimbangan sebagai pengayom dalam perkawinan Tidak acuh.129 Terjemahan: Syair a. Para wanita supaya selalu berbuat kebajikan Selalu setia terhadap suami. menjadi pasangan yang bertanggungjawab Yang bisa menarik hati membuat harmonis dalam pembicaraan Tidak tergoda. memiliki sikap yang teguh Gantian pria berilah keseimbangan sebagai pengayom dalam perkawinan Tidak acuh. Para wanita supaya selalu berbuat kebajikan Selalu setia terhadap suami. menjadi pasangan yang bertanggungjawab Yang bisa menarik hati membuat harmonis dalam pembicaraan Tidak tergoda.

4 Panji Inukertapati (Pn) Nora kengguh darbe ing budi Direktif nora kengguh panggodha kang santosa 4.6 Dewi Sekartaji (Pt) Datan kemba asih tresna sung tetreming kulawarga Direktif datan kemba 4.8 Narator Karonsih pancen pranyata dadya kembang jagad raya Asertif pancen pranyata 4.10 Panji Inukertapati (Pn) Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada Direktif marang garwa 4.7 Narator Sampun sami setya tuhu anggenya liron asmara Asertif sampun sami 4.13 Dewi Sekartaji Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira Direktif nimbangana .9 Panji Inukertapati (Pn) Pra wanita marsudiya Direktif marsudiya marang tindak kang utama 4.130 4.11 Panji Inukertapati (Pn) Ingkang bisa nujuprana weh reseping pamicara Direktif ingkang bisa 4.12 Panji Inukertapati (Pn) Nora kengguh darbe ing budi Direktif nora kengguh panggodha kang santosa 4.5 Dewi Sekartaji (Pt) Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira Direktif nimbangana 4.

g. Tempat: di kerajaan. e. Status sosial: Panji Inukertapati sebagai seorang suami. Suasana kemesraan. . dan alisan. Gerak: Sekartaji dan Panji gerak yang dipilih untuk mengungkapkan suasana bahagia yang tercermin dalam rasa gembira. ia digambarkan sebagai figur seorang wanita. luluran. d.16 Narator Tan kendhat tansah Direktif meminta meminta kanugrahan ing Hyang Sukma Konteks. a. ngore rikma. Tujuan: membina keluarga yang bahagia antara suami dan istri. seperti motif gerak: Trap jamang. Dewi Sekartaji sebagai seorang istri. f. Identifikasi / latar.14 Dewi Sekartaji (Pt) 4.15 Narator Sang pekik wah sang dyah ayu dangu samya Asertif samya bagyaharja Datan kemba asih tresna sung tetreming kulawarga Direktif datan kemba bagyaharja 4. Situasi tutur: tidak formal. Peserta tutur: Panji Inukertapati (Pn). Tema / topik: kebahagiaan. b. ia digambarkan sebagai figur seorang suami yang bertanggungjawab dan sangat setia terhadap istri. Dewi Sekartaji (Pt). c. istri yang sangat setia terhadap suami.131 (Pt) 4.

kanthen tangan kanan ingsetan. lumaksono encot kanthen tangan kanan. keduanya banyak saling berhadapan wajah. . cerah terutama ditampilkan pada adegan ini. mereka saling memandang dengan ekspresi wajah ceria. Adapun sebagai penutup ladrang Sigramangsah untuk mendukung suasana semangat. mesra. j. lilingan. h. rimong sampur. saling bersentuhan tangan dan badan sehingga terasa sebagai puncak kemesraannya. i. Marsudiya: Setya tuhu: tuturan perintah yang bersifat santun. Polatan / ekspresi wajah: kedua tokoh Sekartaji maupun Panji Inukertapati tampak gembira. dan mesra. seperti: lilingan. saling berhadapan. pernyataan kesetiaan yang mendalam. saling melempar senyum sebagai tanda cinta. Iringan gendhing: Lambangsari untuk mendukung suasana riang dan gembira. Pola lantai: didominasi garis-garis lengkung. Motif-motif gerak tersebut dilakukan dengan irama dinamis. dan diakhiri pangkon ulap-ulap tangan kiri. Implikatur. Bersetuhan badan tampak pada gerak Sekartaji dipangku Panji. kanthen tangan kiri enjeran. damai dan bahagia.132 kebersamaan. senyum. Puncak kemesraan pada adegan bahagia ini terekspresikan pada saat Sekartaji duduk dipangkuan Panji Inukertapati. pandangan mata searah. saling mendekat. srisik kanthen tangan kanan. dan keharmonisan diungkapkan dengan motif-motif gerak. kebyokan sampur.

Maksim kuantitas dilanggar. Kembang jagad raya: ungkapan pengadaian yang dimaksudkan untuk menunjukkan kehebatan. Implikatur teks Gerongan Lambangsari terdiri dari: 1) Tipe seorang istri yang ideal adalah selalu berupaya berbuat kebajikan.133 Nujuprana: ungkapan yang menyatakan kecocokan atas sesuatu yang menjadikannya senang. Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Gerongan Lambangsari. c. Maksim cara dilanggar. d. dan ketenaran. 4) Kebagiaan dunia dan akhirat merupakan kebutuhan hidup hakiki manusia yang diupayakan secara seimbang. 3) Nilai cinta adalah sebuah nilai universal yang dapat dijadikan landasan kehidupan berumahtangga. Ngayomi: merupakan sebuah tanggungjawab untuk menjamin kenyamanan. dapat diungkap: a. b. ketenangan dan kebahagiaan orang lain. Nimbangana: sebuah permintaan yang menghendaki mitra tuturnya berlaku bijak. dan bertanggungjawab. menarik. mengayomi. . dan mampu menciptakan ketentraman keluarga. Liron asmara: mempunyai pengertian saling mencintai. setia terhadap suami. 2) Tipe seorang suami yang ideal adalah setia terhadap istri. Maksim hubungan dipatuhi. Maksim kualitas dipatuhi.

134 Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Gerongan Lambangsari. . Maksim kuantitas dilanggar karena dalam menyampaikan tuturan seorang penutur. Maksim kualitas dipatuhi dimaksudkan oleh penutur untuk menggambarkan peristiwa yang betul-betul terjadi pada masing-masing adegan. seperti paparan berikut: NO 1 2 3 4 5 5 6 JENIS TINDAK TUTUR Tindak Tutur Direktif Tindak Tutur Ekspresif Tindak Tutur Asertif Tindak Tutur Patik Tindak Tutur Komisif Tindak Tutur Performatif Tindak Tutur Verdiktif JUMLAH 25 7 4 5 1 - Berdasarkan prinsip kerja sama bahasa verbal yang terdapat tari Karonsih. Dari penjabaran teks verbal yang terdapat dalam tari Karonsih terdapat beragam jenis tindak tutur yang dapat peneliti klasifikasikan secara kuantitatif jenis tindak tutur direktif paling dominan. penonton akan dapat menangkap makna dari pertuturan secara utuh. b. menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif. Diharapkan dengan mencermati peristiwa demi peristiwa yang terjadi secara kronologis sejak adegan awal sampai akhir. 2) melakukan TT secara tidak langsung (off record). banyak menggunakan kata-kata arkais dimaksudkan oleh seniman penyusun untuk mengekspresikan rasa estetik. a.

dan pernyataannya samar. masing-masing hendaknya memberikan kontribusi yang relevan demi terjadinya komunikasi rasa. dan iringan. Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada tari Karonsih tidak terpenuhi. hal ini dimaksudkan seniman penyusun untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa. keintiman. pola lantai. .135 c. tidak langsung. busana. Untuk memahami masing-masing elemen berikut secara parsial akan dipaparkan secara komprehensif. b. kinetic body moves. Hal ini dimaksudkan seniman penyusun untuk menunjukkan simbolisasi keharmonisan hubungan antara peran digambarkan dalam tari. suami dan istri yang 2) Melakukan tindak tutur secara tidak langsung (off record) untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa. d. terlalu panjang. Bahasa Nonverbal Bahasa nonverbal yang merupakan elemen-elemem dari tari Karonsih terdiri dari: tema. dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur. rias. hanya menggunakan strategi: 1) Melakukan tindak tutur dengan menggunakan kesantunan positif untuk menunjukkan kedekatan. Maksim hubungan dipatuhi dimaksudkan oleh penutur untuk menjaga kerja sama antara penutur dengan mitra tutur. polatan (ekspresi wajah). Maksim cara dilanggar karena dalam menyampaikan tuturan seorang penutur.

136 1. Di daerah Pasundan cerita Panji tersebut lebih dikenal dengan sebutan Lutung Kasarung atau Panji Sunda. Siam. Di Jawa Timur pada masa kejayaan kerajaan-kerajaan. Di Indonesia terdapat banyak versi tentang cerita Panji. Cerita Panji adalah merupakan karya sastra yang sangat terkenal di Asia Tenggara terutama di Indonesia. Wilayah Bali cerita Panji banyak dikenal dengan sebutan Malat (Poerbatjaraka. Di Jawa Tengah. cerita Panji ini berkembang sejak Mataram pecah menjadi dua yaitu kerajaan Yogyakarta dengan sebutan Kasultanan Ngayogyakarta dan kerajaan Surakarta lebih dikenal sebagai Kasunanan Surakarta. Jaka Bluwo. terutama di Pulau Jawa. hal ini didukung pendapat Poerbatjaraka: bila kita kumpulkan seluruh bahan keterangan untuk menentukan waktu timbulnya cerita Panji. 1968: 290). Timbulnya cerita Panji dipandang sebagai suatu revolusi kesusastraan terhadap tradisi lama (Poerbatjaraka. dan Majapahit (abad X sampai ke XVI). 1968: 409). Tema percintaan yang diangkat dari babad Panji yang mengisahkan perjalanan cinta Dewi Sekartaji dengan Panji Inukertapati merupakan alur cerita yang disajikan dalam tari Karonsih. kesimpulan satu-satunya bahwa redaksi yang pertama kali disusun pada zaman kejayaan Majapahit. Sekarang cerita Panji di wilayah Jawa Timur yang merupakan sumber awal cerita tersebut dikenal dengan cerita Ragil Kuning dan Kilisuci. Munculnya cerita Panji pada zaman kejayaan Majapahit merupakan pernyataan yang cukup kuat. Kediri. di Palembang cerita Panji ini dikenal Panji (Angreni) Palembang. dan Thailand. Dilingkungan wilayah kekuasaan kedua kerajaan Yogyakarta dan Surakarta. dan Kethek Ogleng. Adapun cerita Panji ini di Kamboja dikenal Panji . Kamboja. di antaranya Medang. Singasari. cerita Panji ini sangat terkenal dalam sebuah garapan dramatari yang disebut Raket. Jenggala. cerita Panji dikenal dalam cerita Andheandhe Lumut. Keong Emas.

sedangkan Angka Wijaya atau Abimanyu merupakan peran pengganti anak dari Sekartaji atau Candrakirana). Tokoh–tokoh utama yang berperan dalam cerita Panji adalah Panji Inukertapati sebagai suami dan Dewi Sekartraji sebagai isteri. Di samping itu juga terdapat sebuah mitos bahwa Panji Inukertapati merupakan titisan dari dewa Asmara yaitu Bathara Kamajaya. Tersebarnya cerita Panji di Asia Tenggara. Siam dan Thailand. wayang Kulit maupun wayang orang (dalam lakon Bambang Semboto. Versi Kamboja. untuk itu perlu peneliti kemukakan beberapa tulisan yang pada akhirnya dapat dianalisis dalam rangka menentukan versi yang dijadikan sebagai tema.137 Kamboja. Adapun beberapa cerita secara lengkap tentang cerita Panji dapat diamati secara berturut-turut berikut ini. Dewi Sekartaji diperankan oleh Sembadra. cerita Panji dapat meluas karena diangkat sebagai lakon-lakon dalam: Kethoprak. Dalam versi Jawa nama Panji Inukertapati juga disebut Panji Asmarabangun atau Panji Kasatriyan. Rupanya cerita Panji cukup terkenal sehingga banyak versi. nama Panji Inukertapati disebutnya Eynao atau Inao. frahmen. sedangkan Dewi Sekartaji juga sering disebut Galuh Condrokirana atau Kleting Kuning atau Dewi Limaran. Dramatari. dan sebagai tema tari pasihan. . wayang Gedhok. Selain dalam bentuk dongeng. yang dapat digunakan sebagai sumber data. sedangkan Dewi Sekartaji disebut Bossaba. sehingga kisah cerita maupun tokoh-tokoh yang terlibat terdapat perbedaan-perbedaan dan juga dalam bentuk naskah tulis. sedangkan di Thailand disebut dengan Jataka. terutama di Indonesia penyebarannya dari mulut ke mulut dalam bentuk dongeng. untuk Panji Inukertapati diperankan Harjuna atau Janaka. sedangkan Dewi Sekartaji merupakan titisan dewi asmara yaitu Bathari Kamaratih.

Dari keempat raja itu terdapat dua raja yang berbesanan. yaitu raja Lembu Amiluhur dari Jenggala yang memiliki anak laki bernama Panji Kertapati dengan raja Lembu Amijaya dari Kediri yang mempunyai anak puteri bernama Candra Kirana atau Retna Galuh atau lebih sering disebut pula Sekartaji. perkasa dan bala tentaranya besar. mereka hidup rukun. Harapan raja Bramakumara. pada waktu itu terdapat empat kerajaan. Di Tanah Jawa.a Menurut Sunan Pakubuwono IV. dalam tulisannya yang berjudul: Panji Sekar. terjemahan Yanto Darmono tahun 1979. Keempat raja yang menduduki tahta tersebut masih bersaudara. Sebagai pangeran muda Panji Kertapati sungguh sangat perkasa dalam peperangan. saling menjaga hubungan sehingga menjadi sangat agung dan terkenal. Daha (Kediri). Dalam pertemuan itu pula Panji Kertapati sebagai kesatria tumpuan dari seluruh bala . yaitu Jenggala. selain itu beliau sangat bijaksana dan romantis dalam berkeluarga.138 1. jika Panji dapat dikalahkan berarti Tanah Jawa dapat dikuasainya. datang seorang patih Guna Saronta membawa sepucuk surat sebagai utusan raja Bramakumara dari Makassar. Setelah Panji Kertapati dan Candra Kirana menikah. Isi surat pada intinya bahwa Raja Bramakumara menantang perang dengan Panji Kertapati sebagai balas dendam atas kematian saudaranya raja dari Nusa Kencana. dipaparkan sebagai berikut. pengaruh kekuasaannya luas oleh karena itu mereka disegani raja-raja lainnya. Pada saat rapat besar kerajaan Kediri. Ngurawan. tidak pernah saling bertentangan. Armada perangnya sangat kuat. dan Singasari yang sangat masyur. tidak lama kemudian Panji Kertapati mendirikan sebuah kota Pandhak yang letaknya diwilayah kerajaan Kediri.

kelak menjadi kesatria yang sakti. Panji Kertapati mendapat dukungan dari Sekartaji istrinya. Manfaat lainnya dari buah ketan adalah menghilangkan segala penyakit dan dapat membuat tenteram. sampai di tengah hutan Panji dan pengikutnya mendapatkan sebuah tamansari di dalamnya terdapat buah ketan yang digambarkan bagaikan surga. Taman sari tersebut merupakan buatan dewa Batara Darma. Di tengah hutan Tikbrasara Panji Kertapati perang dengan prajurit sandi dari Makassar yang akhirnya dimenangkan oleh Panji. Panji diperintahkan untuk segera pulang karena di dalam tamansari karaton Kediri akan muncul pencuri yang sangat sakti. gagah berani dalam medan perang dan menjadi raja yang Agung di Tanah Jawa. Jika dapat makan buah ketan tersebut dewa akan meluluskan semua permintaaannya terutama bayi yang di dalam kandungan Sekartaji akan keluar anak lakilaki yang rupawan. untuk itu ia bergegas untuk mencari ke hutan yang diikuti oleh Bancak dan Dhoyok. yang tidak diketahui manusia terletak di tengah hutan yang sangat keramat. bagi Panji itu merupakan tanggungjawab sebagai suami yang setia terhadap istri.139 tentara kerajaan menyanggupi tantangan dan menunggu kedatangan raja Bramakumara sebagai penantang. Perjalanan untuk mencari buah ketan dilanjutkan. Ungkapan Candra Kirana merupakan permintaan segera (nyidam). Atas kehendak dewa. namun sang istri juga mengungkapkan impiannya bahwa ia disuruh dewa untuk makan buah ketan yang terdapat di taman sari di tengah hutan Tikbrasara. Patih Guna Saronta dengan akal yang licik membujuk raja Bramakumara untuk masuk ke tamansari bersamanya guna mencuri Galuh Candrakirana dengan harapan . sehingga mereka sangat kerasan bahkan lupa untuk kembali pulang.

Bala tentara dari Makassar yang dipimpin raja-raja bawahan segera menyerang Kediri. namun dapat dikalahkan oleh bala tentara Panji. . Sekartaji dicuri seorang Brahmana untuk dikawinkan dengan anaknya bernama Klana. Pada malam yang sangat gelap Guna Saronta dan Bramakumara masuk tamansari dengan ajian yang membuat semua orang di dalamnya tertidur. iapun bergegas menuju Kediri. Brahmana dari negeri seberang yang merasa memiliki tanggungjawab sebagai orang tua yang hendak meluluskan permintaan anaknya yaitu Kalana untuk kawin dengan sang Dewi Sekartaji.b Cerita Panji dalam perbandingan (Poerbatjaraka. Galuh Candrakirana tidak bisa tidur datanglah Guna Saronta dan Bramakumara yang berusaha merayu agar Galuh bersedia menjadi prameswari. 1. ketika Bramakumara hendak memaksa Galuh. kemudian dalam benaknya berharap segera Panji suaminya segera dapat menolongnya.140 mengurangi kekuatan Panji secara perlahan-lahan. Keberangkatan Brahmana secara sendirian untuk menculik sang puteri disadari bahwa ia mengetahui pula bahwa Panji sebagai calon suami Sekartaji adalah seorang pahlawan yang tidak dapat ditaklukkan karena penjelmaan dewa yang lebih sakti dari pada anaknya. bahkan jika raja Makassar hendak memaksa.1968: 100-104) cerita Panji dalam Serat Kanda dikisahkan sebagai berikut. Rupanya dewa meluluskan permohonan sang dewi. Kehadiran dan permintaan Bramakumara tetap ditolak. Panji yang dengan ilmu siluman sejak awal tengah dekat dengan Galuh Istrinya segera bertindak dan menghajar Bramakumara dan Guna Saronta yang akhirnya Panji menang. Ketika Panji putra raja Jenggala hendak dikawinkan dengan putri raja Daha (Kediri) yaitu Sekartaji terjadi penculikan di tamansari Kediri. Galuh Candrakirana lebih baik memilih bunuh diri. Rasa takut yang semakin mencekam menghinggapi Galuh Candrakirana.

1. Sesudah mendapatkan kemenangan raja Jenggala mengundurkan diri untuk menjadi seorang begawan dan mengangkat Panji sebagai pengganti raja di Jenggala dengan nama Dewakusuma yang didampingi Sekartaji sebagai prameswari serta para isteri selirnya. atas kehendak ke dua orang tua mereka.141 Pada malam tiba. Kepala Brahmana dapat dipenggal oleh Panji yang selanjutnya dikirimkan kepada raja Kelana di Pulo Kencana yang disertai sepucuk surat tantangan perang. kemudian terjadi peperangan sangat dahsyat yang masing-masing saling mengeluarkan kekuatan-kekuatan gaibnya.c Cerita Panji dalam dongeng. Adapun ringkasan ceritanya sebagai berikut. Andheandhe Lumut merupakan salah satu dongeng yang sangat dikenal yang tidak lain adalah menceriterakan tentang perjalanan hidup sepasang suami-istri yakni Panji Inukertapati dengan Sekartaji atau sering desebut Galuh Candrakirana. Brahmana rupanya sangat bernafsu melihat Sekartaji. raja Kalana beserta prajuritnya menyerang Jenggala. Pengejaran Brahmana terhenti karena dihadang Panji. bukan untuk anaknya raja Kelana di Pulo Kencana. sedangkan Panji bersama Sekartaji kembali ke kerajaan. Setelah beberapa hari berlangsungnya pesta perkawinan. Di sebuah desa terdapat seorang janda mempunyai tujuh anak yang . Di tengah-tengah masyarakat Jawa. ia memaksa dan hendak memperkosanya namun sang puteri tetap menolak dan akhirnya melarikan diri ke hutan. Peperangan berakhir kekalahan dipihak kerajaan Pulo Kencana dan raja Kelana mati terbunuh oleh Panji. Sekembalinya sepasang kekasih putra-putri kerajaan tersebut. Brahmana masuk tamansari Kediri dan menculiknya Sekartaji yang segera dibawa pulang ke Talkanda yakni tempat kediamannya sendiri karena ia terpesona kecantikan sang puteri. Panji dan Sekartaji dikawinkan dengan pesta secara besarbesaran.

Ketika keenam saudaranya hendak mengadu cinta terhadap seorang pemuda tampan Andhe-andhe Lumut putra seorang janda Dadapan. Kebencian ibunya terhadap Kleting Kuning tiba pada puncaknya. mereka ditolak semua dengan alasan telah menjadi sisa dari Yuyukangkang. yang tidak lain adalah Candrakirana yang menyamar untuk mencari Panji suaminya. Yuyukangkang bersedia menyeberangkan dan meminta upah bukan uang atau benda lainnya. ia disuruh untuk membersihkan periuk yang sangat kotor agar menjadi seperti baru lagi ke sungai yang jauh dari rumahnya. Harapan . Kleting Ijo. seperti Kleting Abang. ketika ke enam saudaranya berangkat ke desa Dadapan. tetapi yang diminta adalah ciuman. Enam Kleting tidak satupun yang diterima menjadi kekasih Andheandhe Lumut. Permintaan Yuyukangkang disanggupi.142 masing-masing anak dengan nama panggilan depan Kleting dan nama berikutnya mengambil sebutan jenis warna. Perlakuan ibunya terhadap Kleting Kuning sangat dibedakan dengan keenam Kleting saudaranya. Di tengah perjalanan menuju desa Dadapan para Kleting hendak menyeberang sungai. mereka diberi pakaian yang bagus dan wangi-wangian agar salah satu darinya dapat memikat hati pemuda dimaksud dan menjadi isterinya. jika saudaranya banyak dimanja namun Kleting Kuning lebih banyak disuruh bekerja keras dan sangat dibenci. Anak yang paling bungsu rupanya sangat buruk bernama Kleting Kuning. selanjutnya satu-persatu Kleting diseberangkan. namun tak seorangpun dapat dijumpai kemudian muncul Yuyukakang yaitu makhuk berbadan manusia berkepala kepiting raksasa yang merupakan penjilmaan dari Prabu Kelana dari negeri Sabrang yang telah lama jatuh cinta dan hendak memperistri Galuh Candrakirana. dan sebagainya.

Setelah pulang Kleting Kuning tinggal menjumpai ibunya yang memberitau bahwa kakaknya semua berangkat melamar Andhe-andhe Lumut ke desa Dadapan. Sekembalinya dari Dadapan enam Kleting yang jengkel hatinya karena ditolak cintanya. senjata Sada Lanang dipukulkan ke sungai yang seketika itu airnya menjadi kering dan Yuyukangkang jatuh tidak berdaya. Yuyukangkang menjelma menjadi Prabu Kelana.143 ibunya supaya Kleting Kuning tidak mengikuti kakak-kakaknya melamar Andhe-andhe Lumut. Di tepi penyeberangan Kleting Kuning hanya bertemu Yuyukangkang dan minta tolong untuk diseberangkan seperti kakaknya yang lebih dulu berangkat. ia bersemadi memohon pada dewa agar diberi kemudahan untuk membersihkan periuk yang dibawanya. Kleting Kuning dapat membersihkan periuk menjadi mengkilap bahkan dapat bersinar dan diberi senjata Sada Lanang (seutas lidi) yang sakti. Atas kuasa dewa. bertemu Kleting Kuning sambil mengungkapkan kekesalannya dengan mengejek dan menghinanya dengan sindiran bahwa yang cantik-cantik saja tidak . ia merasa gagal tidak dapat bertemu Galuh Candrakirana kemudian memutuskan kembali pulang ke negeri sabrang. Yuyukangkang mohon Kleting Kuning supaya mengembalikan airnya segera dan berjanji akan menyeberangkan. Permintaan Kleting Kuning ditolak Yuyukangkang bahkan diusirnya untuk segera kembali pulang. kemudian permintaan Yuyukangkang disanggupi dan ia diseberangkan. Keberangkatan Kleting Kuning menyusul Kleting lainnya rupanya tidak dikehendaki ibunya. maka sebelum berangkat ia hanya boleh memakai pakaian seadanya dan mukanya dibedaki seperti badut serta diberi bau-bauan yang busuk supaya tidak diterima Andhe-andhe Lumut. Rupanya keteguhan dan kesabaran Kleting Kuning membawa hikmah. Kleting Kuning marah.

romantis. Kleting Kuning mengungkapkan maksudnya yakni untuk mengadu cinta kepada Andhe-andhe Lumut. Tema percintaan Panji Inukertapati dengan Dewi Sekartaji merupakan tema inti yang diangkat dari ketiga versi cerita Panji tersebut. dan bahagia. Saat bertemu janda Dadapan. Berdasarkan tiga versi cerita Panji dapat dirangkum secara padat dan singkat bahwa liku-liku perjalanan cinta Dewi Sekartaji dengan Panji Inukertapati merupakan gambaran percintaan yang sangat menarik dan bermakna dalam hubungannya dengan membangun kehidupan berkeluarga. . Mendengar pembicaraaan itu Andhe-andhe Lumut segera menemui Kleting Kuning dan menyatakan menerimanya. Mereka sangat bahagia dan segera kembali ke istana dan disambut meriah oleh bangsawan dan seluruh rakyatnya. namun permasalahan-permasalahan yang dihadapi dapat diselesaikan dengan baik yang akhirnya mereka dapat berhasil menikmati hidup bahagia dalam sebuah keluarga. namun ditolak si janda. Rupanya kisah tersebut menjadi sebuah inspirasi yang berarti bagi pasangan manusia yang menginginkan percintaan yang ideal. Suka duka yang dialami masing-masing tokoh cukup berat. Andhe-andhe Lumut segera membawa Kleting Kuning masuk kamar dan menjelma menjadi Panji Inukertapati dan Sekartaji.144 diterima apalagi yang jelek seperti badut (badut ini rias muka Kleting Kuning akibat perlakuan ibunya yang menghendaki supaya wajahnya menjadi jelek dan tidak diterima Andhe-andhe Lumut). Ibunya terkejut melihat anaknya yang tampan sudi menerima kehadiran Kleting Kuning sebagai isterinya. Adapun bentuk garapnya hanya menyajikan dua peran utama yakni tokoh Panji Inukertapati dengan Dewi Sekartaji. Kleting Kuning dengan hati sabar terus melangkah menuju Dadapan.

mengisahkan pertemuan antara tokoh Dewi Sekartaji dengan tokoh Panji Inukertapati sebagai sepasang suami istri yang telah lama tidak bertemu.145 Adapun tema percintaan dari cerita Panji tersebut secara garis besar dibagi menjadi tiga adegan yaitu: adegan pencarian. Dalam tari Karonsih yang merupakan seni tradisi (seni yang bersumber dari istana) terdapat beragam jenis vokabuler gerak dengan karakternya masing-masing. 2. berdoa. dan harapan yang menjadi komitmen bersama dengan keinginan untuk berbuat kebajikan. mesra. pasrah. dan adegan bahagia. menjaga keutuhan dan ketentraman keluarga. Suasana kebahagiaan ini diungkapkan dalam bentuk komplementer dari rasa gembira. a). yang telah meninggalkan kerajaan. Adegan pencarian mengisahkan liku-liku perjalanan Dewi Sekartaji sebagai seorang putri raja yang pergi meninggalkan kerajaan untuk berupaya mencari Panji Inukertapati suaminya. sehingga suasana rindu yang teraktualisasi dalam beberapa rasa: marah (jengkel). Adapun untuk menyajikan adegan pencarian tersebut diungkapkan lewat suasana sedih yang implementasinya menjadi beberapa rasa: sedih.merayu. b) Adegan pertemuan. mesra merupakan esensi yang hendak diekspresikan dalam adegan dimaksud. Kinetic body moves atau Gerak tubuh merupakan medium utama dalam pertunjukan tari. dan kacau. mengisahkan tentang suasana kebahagiaan yang tengah dinikmati oleh Dewi Sekartaji dengan Panji Inukertapati sebagai sebuah keluarga. Merujuk pada . kebersamaan. adegan pertemuan. tegang. malu. Keinginan-keinginan dari masing-masing tokoh tersebut dapat dicermati pada bahasa verbal yang tersurat dan tersirat pada cakepan gerongan Lambangsari yang merupakan cita-cita yang ideal untuk mewujudkan sebuah keluarga yang bahagia. setia. karena tanpa kehadirannya tidak akan tersaji sebuah karya tari. serta selalu mohon barokah kepada Yang Kuasa. c) Adegan Bahagia.

badan putar menghadap belakang srisik mundur kemudian putar menghadap depan. badan ngglebak ke kanan hadap ke depan. lumaksono. tawing kiri ingsetan. badan nglayang (memutar) ke kiri. kengser. badan berputar turun menjadi jengkeng dengan iringan Gangsaran nada 2 slendro yang berubah menjadi gangsaran nada 1 pelog.146 beragam rasa yang dikehendaki meningkat pada suasana-suasana yang terdapat dalam adegan pada tari Karonsih tersebut. Adapun bentuk-bentuk vokabuler yang terdapat pada masing-masing adegan secara garis besar. srisik yang dilakukan secara berulang ke pojok kanan depan. Bentuk gerak pada adegan I pencarian secara garis besar dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis gerak. kaki njujut. serta pertimbangan peristiwa dan tema yang diangkat kemudian dipilih pola-pola sekaran atau vokabuler gerak yang sesuai. Adegan pencarian merupakan adegan pertama yang mengawali dari seluruh rangkaian seluruh adegan secara utuh. yaitu presentatif dan representatif. suasana berdoa.dan Lembehan separo dengan iringan ketawang Ngrenas. kekacauan. usap kiri – usap kanan dengan iringan pathetan. ridhong sampur kiri. diungkapkan lewat gerak: kengseran. pola-pola sekarannya bersifat presentatif dan representatif. dan pasrah yang menyelimuti Sekartaji diekspresikan lewat gerak Laras Sampir sampur kanan. Adapun pembagiannya dapat dicermati pada paparan berikut ini. Di tengah-tengah pencarian Panji. Sedangkan suasana ketegangan. Sekar suwun. yang berubah menjadi tenang setelah Sekartaji dapat bertemu Panji. . sedih. kemudian srisik ke pojok belakang kanan dan dilanjutkan srisik menuju ke center stage. Peristiwa yang terjadi untuk adegan pencarian digambarkan Dewi Sekartaji keluar dari pojok belakang kanan stage menuju tengah dengan gerak: srisik. kembali ke pojok kiri belakang.

4 Srisik (tangan nekuk) dengan mundur. kecuali jari jempol ditekuk. Pencarian.147 Adegan Nama Tokoh Jenis Gerak Keterangan Representatif No I. tangan trap cetik yang kiri nyempurit dan kanannya nyekithing Distilisasi gerak orang lari. Tangan kiri ditekuk di depan pinggang. Distilisasi gerak orang lari. Kedua tangan trap cetik nyempurit membuka. tangan kiri trap cetik. Kedua tangan trap cetik miwir sampur Distilisasi gerak orang lari. Dewi Sekartaji 1 Srisik (tangan nekuk). Posisi kedua tangan menthang sampur kedua tangan lurus membuka ke samping dengan membawa . sedangkan tangan kanan ditekuk di depan mulut dan keduanya membawa sampur. Pindah tempat dengan cara lari kecil yang posisi kedua tangan ditekuk pingggang di depan setinggi 2 Srisik (tangan nekuk). Posisi kedua tangan ditekuk di depan pinggang dengan membawa sampur (selendang) Distilisasi gerak orang lari. tangan kanan trap wadana miwir sampur Distilisasi gerak orang lari dengan cara mundur. Posisi kedua tangan ditekuk di depan pinggang dengan jari-jari 3 Srisik (tangan nekuk). 5 Srisik kipat sampur.

tangan kanan ditekuk di depan telinga kiri dan keduanya membawa sampur. tangan kiri ditekuk di depan pinggang bagian kiri dan keduanya membawa sampur. 6 Srisik kipat sampur. tangan kanan ditekuk bagian di kanan depan dan pinggang keduanya Distilisasi gerak orang lari. 8 Lumaksono. tangan kiri menthang dan tangan kanan trap karna miwir sampur 7 Srisik kipat sampur. menthang sampur Distilisasi gerak orang sedang jalan. 10 tawing kiri Distilisasi gerak orang melihat ke samping kiri. Posisi tangan kanan lurus ke samping sejajar pinggang. Distilisasi gerak orang lari.148 sampur. Posisi tangan kiri lurus ke samping sejajar pinggang. . 9 Enjer Distilisasi gerak orang jalan ke samping. membawa sampur. Posisi Tangan kiri menthang dan tangan kanan trap cetik miwir sampur tangan kiri lurus ke samping sejajar pinggang.

2 Nglayang kesan berat Kaki badan merendah. miring lalu maju pada digerakkan melengkung.149 Adegan Nama Tokoh Jenis Gerak Ekspresi Presentatif Keterangan No I Pencarian.Hadap badan yang bergantian diikuti dan kedua kaki serta naik-turun naik-turun tangan secara bergantian 4 Ridhong ulap sampur kesan sedih Sampur melilit pada tangan ditekuk. 3 Njujut glebakan kesan liku berliku. Dewi Sekartaji 1 Kengser kesan menjauh. namun tetap menempel lantai. kanan sampur kiri yang tangan membawa sambil mengusap leher ke kanan 5 Sampir kesan sedih Sampur dililitkan . Pindah tempat cara kedua merupakan gerak dengan penghubung menggeser kakinya.

berulang dibarengi kedua dibarengi tangan kiri ditekuk.150 sampur laras pada pundak. 7 sindhet gerak penghubung Kaki kiri di tekuk dibelakang kanan kaki lurus. tangan kanan mengayun ke atas dan ke bawah. tangan kiri trap cetik. 6 Sekar suwun kesan sedih Tangan kiri trap dahi. tangan kanan lurus lalu di tekuk dilakukan dan bergesernya kaki (ingsetan). 8 Kembang pepe. putar badan bersama kedua tangan diputar kesan liku berliku- . kengser leyekan. tangan kanan seblak sampur.

151 Adegan pertemuan merupakan adegan kedua yang menggambarkan pertemuan Dewi Sekartaji dengan Panji Inukertapati. tanjak kanan. Suasana kemesraan Sekartaji dan Panji semakin terasa yang diungkapkan lewat gerak tangkep asta. Dukungan untuk mengungkapkan suasana tersebut dengan iringan ketawang Kinanthi Sandhung dengan menggunakan garap gerongan dua cakepan (bait). Untuk meredakan kemarahan Sekartaji. . nyabet ukel karna kanan. ngancap. Datang Panji dari belakang. ketika Panji jengkeng nyathok (njawil) bahu. maju lumaksono. Pertemuan tersebut disambut Sekartaji dengan rasa marah. Adapun adegan pertemuan Sekartaji dengan Panji Inukertapati digambarkan seperti berikut. Suasana marah diekspresikan Sekartaji dengan berdiri enjer. Setelah merasa tidak dapat menemukan Panji. maju. tanjak tawing kanan. Sekartaji tampak putus harapan. Sekartaji merasa malu kemudian melepas kedua tangan dan srisik yang segera dikejar Panji dengan srisik nyandhet tangkep asta ngaras (berciuman). Pertemuan sepasang suami istri yang telah lama tidak berjumpa bahkan harus dilalui dengan liku-liku. tangan kanan nyaut. Panji segera memburu Sekartaji dengan gerak berdiri srisik. ulap-ulap tangan kiri – kanan. tangan kanan nyaut dengan kebyok kemudian mundur. yang digambarkan jengkeng (duduk) diikuti kedua tangan memegang sampur sambil menutup raut muka pada posisi centre stage. Panji mencoba merayunya kembali dengan lumaksono kebyokan sampur. tangan pondhongan kemudian nyaut jeblos (tukar tempat) lalu Sekartaji memberikan sampur dan segera diterima Panji. besut. segera Panji mencoba untuk merayunya lalu suasana mereda muncul rasa malu yang segera berubah menjadi mesra. tidak ditanggapi Sekartaji dengan hati gembira. laras genjot. dan kengser ke kanan. srisik. panggel.

laku enjer saling menjauh. adu tangan kiri nekuk. tangan kanan tawing. tangan kiri menthang. sebagai berikut. seperti: kanthen tangan kanan. maju. Adapun jenis-jenis gerak presentatif maupun representatif yang terdapat pada adegan dua: pertemuan.152 Perasaan malu juga ditampakkan oleh kedua tokoh tersebut setelah berciuman lepas kedua tangan. dapat diklasifikasikan secara garis besar. . srisik melingkar. hal ini diekspresikan dengan bentuk-bentuk gerak selalu bergandengan tangan. kengser ke kanan-kiri. Asmara yang dibangun Sekartaji dan Panji Inukertapati mulai menyatu. kanthen tangan kanan.

Pertemuan Keterangan Dewi Sekartaji Representatif Panji Inukertapati Jengkeng. raut muka ditutup sampur Distilisasi menangis orang Srisik kebyok sampur Representatif Keterangan 1 Distilisasi gerak lari. tangan nyathok bahu 5 Kapyukankengser Distilisasi gerak lumaksono memberi sampur lalu . tangan kiri ditekuk depan pinggang kiri. tangan kanan ditekuk di depan telinga kiri 2 enjer Distilisasi orang samping. jalan gerak ke Ulap-ulap tawing kiri Distilisasi melihat ke kiri dari orang 3 tawing kiri Distilisasi dari orang melihat Ulap-ulap tawing kanan Distilisasi dari orang melihat ke kanan Distilisasi mencubit Distilisasi berjalan dari gerak dari gerak 4 Endhan Distilisasi menghindar gerak Jengkeng.153 Adegan Nama Tokoh Jenis Gerak Nama Tokoh Jenis Gerak No II. kedua tangan membawa sampur.

srisik 10 Kanthen tangan kanan. srisik Distilisasi gerak pondhongan Distilisasi memondong dari gerak orang bergandengan tangan kiri sambil lari Distilisasi gerak srisik. Tangan kiri menthang dan tangan kanan trap karna 7 Ngaras Distilisasi berciuman 8 Kanthen tangan kanan kengser Distilisasi gerak Lumaksono kebyokan sampur gerak sautan Distilisasi gerak Orang menubruk Distilisasi berjalan dari gerak Distilisasi gerak lari Srisik Distilisasi gerak lari orang bergandengan tangan kanan. kedua tangan ditekuk Distilisasi gerak lari orang bergandengan tangan kanan sambil lari . lalu tarik menarik 9 Kanthen tangan kiri.154 untuk tarik menarik 6 Srisik menthang.

155 11 Sautan jeblos Distilisasi gerak Orang menubruk Adegan Nama Tokoh Jenis Gerak Nama Tokoh Jenis Gerak II. kebyokan laras 2 Nyabet ukel karno 3 4 Sindhet Sekaran golek iwak Presentatif Keterangan Panji Inukertapati kesan tenang pasrah dan besut Presentatif Keterangan Gerak penghubung kesan hati-hati genjotan kesan tenang gerak penghubung kesan tenang nyabet ngancap kesan hati-hati kesan mencari . No Pertemuan Dewi Sekartaji 1 Jengkeng.

dan gembira. Trap jamang. kebersamaan. Adapun jalannya sajian gerak secara berurutan. Bahagia 1 Dewi Sekartaji a. tangan kanan Distilisasi orang depan 2 b. luluran Distilisasi dari c. Trap jamang.156 Adegan III merupakan gambaran suasana bahagia yang tengah menyelimuti hati sepasang suami-istri yaitu Panji Inukertapati dan Dewi Sekartaji. kemesraan. kedua tangan Distilisasi orang depan 3 c. setelah Panji Inukertapati dan Sekartaji srisik kanthen tangan kanan menuju stage depan kemudian tangan lepas mundur ke stage centre. dan keharmonisan antara Panji Inukertapati dan Sekartaji. segar. ulap-ulap kiri melihat dari ke Representatif Panji Inukertapati Representatif Keterangan a. yang secara bersama-sama melakukan gerak: Nama Tokoh Jenis Gerak Nama Tokoh Jenis Gerak Keterangan No III. adalah sekaran-sekaran kebar yang mempunyai rasa riang. sampur melihat dari ke b.Trap jamang. Distilisasi kedua tangan dari orang melihat ke depan Distilisasi melihat ke kiri dari orang Distilisasi dari orang . Vokabuler gerak yang dipilih untuk mengungkapkan suasana bahagia yang tercermin dalam rasa gembira. lilingan.

Distilisasi kedua tangan orang depan melihat dari ke h. laku telu Distilisasi berjalan dari orang 5 e. kebyokan sampur Distilisasi orang melihat dari e.157 orang membersihkan kulit dengan lulur melihat 4 d. trap jamang. rimong Distilisasi sampur orang melihat dari f. srisik kanthen Distilisasi tangan kanan orang bergandengan tangan kanan gerak lari g. pacak Distilisasi gulu ingsetan melihat dari orang 7 g. lilingan. ukel Distilisasi karno sinangga dari orang bokor melihat dengan membawa bokor di atas bahu 6 f. srisik kanthen Distilisasi gerak orang lari tangan kanan bergandengan kanan tangan 8 h. ngore rikma Distilisasi orang rambut dari menata d. lilingan. trap jamang.lilingan. lilingan. Distilisasi dari orang kedua tangan melihat ke depan .

laku telu Distilisasi orang dari gerak dengan pondhongan berjalan memondong 10 j. enjeran gerak orang jalan ke samping sambil bergandengan tangan kiri sambil 12 l. encot lumaksono Distilisasi dari gerak orang jalan kanthen orang jalan bergandengan . encot lumaksono Distilisasi kanthen gerak dari n. kanthen tangan Distilisasi kiri. enjeran orang samping bergandengan tangan kiri jalan gerak ke k. kanthen tangan Distilisasi kiri. alisan Distilisasi gerak lilingan Distilisasi melihat dari orang orang sedang alisan 14 n. kanthen tangan Distilisasi kanan. ingsetan gerak j.158 9 i. kanthen tangan Distilisasi kanan bergandengan gerak orang tangan orang bergandengan tangan kanan sambil tarik menarik kanan sambil tarik menarik 11 k. ngalisi Distilisasi gerak orang orang duduk sambil berkaca merias cara membuat alis 13 m. jengkeng ngilo Distilisasi asta gerak l. laku telu Distilisasi orang berjalan dari i.

159 tangan kanan bergandengan tangan berbicara sambil tangan kanan tangan sambil berbicara 15 o. pangkon ulap. sambil melihat 18 r. sambil melihat diduduki lututnya. srisik kanthen Distilisasi tangan kanan orang bergandengan tangan kanan gerak lari o.Distilisasi ulap tangan kanan orang yang dari gerak gerak orang duduk di atas lutut. srisik kanthen tangan kanan Distilisasi gerak orang lari bergandengan kanan tangan . srisik kanthen tangan kanan Distilisasi orang bergandengan tangan kanan gerak lari r. srisik kanthen Distilisasi gerak orang lari tangan kanan bergandengan kanan tangan 16 p. pangkon ulap. lumaksono Distilisasi dari p. lumaksono Distilisasi dari gerak lembehan sampur kanan 17 gerak orang berjalan lembehan sampur orang berjalan kanan q.Distilisasi ulap tangan kiri dari q.

bersalaman kedua tua dengan temanten t. srisik kanthen tangan Distilisasi gerak orang lari tangan kanan. Adegan No III. orang bergandengan tangan kanan kanan. bersalaman dengan temanten 20 t. Bahagia 1 Tokoh Dewi Sekartaji Jenis Gerak Presentatif Keterangan Tokoh Panji Inukertapati Jenis Gerak Presentatif Keterangan kebyokan sampur Kesan berputar – ngenceng kanan putar dengan putar bercanda sambil kebyokan sampur Kesan dengan putar berputar – putar sambil bercanda . srisik kanthen tangan Distilisasi gerak lari u.160 19 s. bersalaman s. dengan bersalaman kedua dengan orang temanten dan bersama temanten 21 orang tua temanten dan photo bersama photo temanten u. masuk (selesai). bergandengan kanan masuk (selesai).

a.161 Dari paparan jenis-jenis gerak representatif dan presentatif yang terdapat pada tari Karonsih. Bahagia Dewi Sekartaji Presentatif Panji Inukertapati 4 Jumlah total Presentatif 1 18 Presentatif 4 4 1 8 . Jenis gerak Presentatif. Bahagia Dewi Sekartaji Representatif Panji Inukertapati 4 Jumlah total Representatif 21 73 Representatif 10 11 21 10 b. Pencarian Dewi Sekartaji Presentatif 2 II. Pencarian Dewi Sekartaji Representatif 2 II. No Adegan Nama tokoh Jenis Gerak Jumlah vokabuler 1 I. Pertemuan Dewi Sekartaji Representatif Panji Inukertapati 3 III. No Adegan Nama tokoh Jenis Gerak Jumlah vokabuler 1 I. dapat dicermati secara kuantitatif. Pertemuan Dewi Sekartaji Presentatif Panji Inukertapati 3 III. Jenis gerak Representatif.

bahkan taraf kegilaan. Orang sedih dapat ditunjukkan tanpa ekspresi senyum. wajah mengerut. Jumlah persentase gerak presentatif = 18 : 91 X 100. stabilitas emosional. II. bibir bergetar. Sekarang dapat disarikan bahwa ekspresi wajah mampu memberikan kontribusi yang sangat berperan terutama untuk mengekspresikan perasaan.80 % Jumlah total gerak representatif dan presentatif = 73 + 18 Jumlah persentase gerak representatif = 73 : 91 X 100. No 1 2 3 4 5 Adegan I. II. dan III I. Selain itu ekspresi wajah dapat difungsikan . Berbeda dengan orang marah yang pada umumnya dapat dicirikan lewat tatapan mata yang kuat. beberapa kulit wajah berwarna kemerahan. Polatan (ekspresi wajah). dan gertakan gigi secara bersama-sama. 19. bibir tertutup rapat. Wajah sebagai alat untuk memprediksikan sifat-sifat manusia kurang memadai. seperti kecerdasan. biasanya berusaha untuk menutup wajah. 3. mengerutkan dahi. merupakan sarana untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik terhadap sesuatu yang sedang dikomunikasikan. dan III Jenis gerak representatif presentatif jumlah 73 18 91 80. kriminalitas.20 %.162 Jumlah persentase jenis-jenis gerak representatif dan presentatif tari Karonsih. namun itu semua rupanya tidak valid. dan menunduk. Kesedihan yang mendalam dapat dicirikan meneteskan air mata. Ekspresi wajah atau gerak wajah bukannya wajah dalam pengertian objek yang statis. Tari Karonsih. Beberapa orang telah banyak mencoba membuktikan bahwa penampilan wajah dapat menjadi indikator yang cukup meyakinkan mengenai berbagai sifat manusia.

polatan lebih banyak menunduk. Puncak kemesraan pada adegan bahagia ini terekspresikan pada saat Sekartaji duduk dipangkuan . ketika kesedian menyelimuti Sekartaji. Polatan Panji lebih terfokus pada Sekartaji. banyak membantu memperkuat pesan bahasa verbal.163 untuk membantu memperkuat pengaruh terhadap pesan verbal. Perubahan-perubahan ekspresi wajah dalam tari pasihan. Berikut merupakan gambaran ekspresi wajah yang dapat dicermati pada tari pasihan lewat Polatan Sekartaji maupun Panji Inukertapati yang akan tercermin pada suasana-suasana adegan yang menggambarkan peristiwa yang tengah terjadi. hal ini mengekspresikan ketegangan Sekartaji yang dapat dicermati pada peralihan adegan pencarian ke adegan pertemuan. mesra. Sikap marah yang ditampilkan Sekartaji ketika bertemu awal dengan Panji. saling melempar senyum sebagai tanda cinta. Pada adegan pencarian. kepala tegak dan pandangan mata lebih tajam disertai gerak kepala lebih tegas. damai dan bahagia. keduanya banyak saling berhadapan wajah. ekspresi wajahnya lebih banyak menunduk dan memalingkan kepala setiap dicoba untuk didekati Panji. demi tercapainya sebuah ekspresi dari masing-masing peran. Perubahan ekspresi mulai tampak ketika wajah Sekartaji tampak tegang. Ekspresi wajah Sekartaji maupun Panji Inukertapati tampak gembira. ketenangan ekspresi wajah lebih ditampilkan dalam rangka memperlihatkan sikap sabar untuk mendapatkan perhatian Sekartaji. baik sebagai ekspresi perasaan secara mandiri maupun membantu memperkuat pesan bahasa verbal. Semakin jelas bahwa ekspresi wajah merupakan sarana yang cukup vital dalam berkomunikasi nonverbal. cerah terutama ditampilkan pada adegan bahagia. Dalam seni pertunjukan khususnya pada bidang tari ekspresi wajah merupakan sarana yang cukup berperan.

Bentuk-bentuk ekspresi wajah dalam tari pasihan yang karakternya tenang (luruh) seperti diekspresikan Sekartaji maupun Panji Inukertapati tampak tidak menyolok. Terutama untuk busana. mereka saling memandang dengan ekspresi wajah ceria. corak jarit (kain). sehingga akses untuk diterimanya dan sebaran apresiasinya tidak mengalami kendala. Baladewa. dan tegas. lincah. perubahan ekspresi wajah menjadi tampak lebih halus hampir tidak kelihatan. lincah. Aspek yang mempengaruhi hal tersebut adalah karakter tenang (luruh) lebih banyak dibingkai oleh dominasi gerak-gerak yang berirama pelan. Beberapa tokoh tersebut memiliki perubahan ekspresi wajah yang mencolok dan tampak jelas. Srikandi. konsep yang mendasari bahwa budaya wayang orang telah lebih dikenal masyarakat di wilayah Surakarta. Bentuk rias dan dandanan busana dalam tari Karonsih mengacu pada rias peran pada wayang orang. Begitu pula gerak-gerik wajah terpengaruh menjadi pelan. 4. pernik-pernik asesoris. dan tegas sangat mempengaruhi gerak-gerik wajah untuk harmonisasi gerak seluruh tubuh untuk mencapai kualitas sebuah karakter yang tepat dan mantap. juga terdapat persamaan pada bahan. baik dari suasana marah menjadi sedih atau sebaliknya. yang berkarakter jalang. emosional. Hal itu sangat mendorong perkembangan tari Karonsih akan lebih cepat meluas dan memasyarakat. Mustakaweni. sehingga seluruh gerak tubuh secara psikologis menjadi pelan. Berbeda dengan ekspresi wajah peran-peran tokoh antagonis atau lanyap atau gagah agal seperti Rahwana.164 Panji Inukertapati. senyum. corak sabuk serta jenis–jenis tatahan pada jamang irah-irahan (mahkota kepala). Kebebasan untuk bergerak lebih cepat. selain bentuk dandanan yang serupa dengan wayang orang. . Warna busana lebih dominasi warna hijau. dan mesra.

Secara prinsip pola lantai yang terdapat dalam tari Karonsih. Gambar: 1. Garis-garis lurus lebih banyak digunakan untuk mengungkapkan keinginan. Mahkota kepala yang berupa tekes panjen merupakan identitas dari bangsawan panji yang bersumber pada ceritera Babad. Pola lantai yang dibentuk dari perpindahan penari maupun jarak antarpenari merupakan salah satu unsur pendukung keberhasilan sebuah pertunjukan. Gambar: 2. dominasi garis-garis lurus sangat kuat untuk menghantarkan pencapaian suasana tegang (lihat gambar: 2). Adapun warna kuning emas memiliki kesan keagungan dan kejayaan. mencakup dua bentuk utama. 5. Warna hijau dengan maksud warna tersebut memiliki simbolik tumbuh lebih hidup dan menjadi subur.165 coklat dan warna kuning emas. sesuai dengan tokoh-tokoh sebagai pelakunya yang merupakan darah bangsawan Sekartaji dari kerajaan Jenggala dan Panji Inukertapati putra raja Kediri. seperti aktualisasi adegan Sekartaji mencari Panji Inukertapati (lihat gambar: 1). Selain itu warna kuning emas juga menyuguhkan kesan glamor sehingga pertunjukan menjadi menarik dan mampu memikat masyarakat penonton. kemauan yang kuat dan tegas. yaitu garis lurus dan garis lengkung. Sedangkan jarit lereng tanggung merupakan upaya mendudukan status sosial dari Panji Inukertapati dan Sekartaji sebagai putra raja. . Fase-fase ketegangan. kekacauan Sekartaji ketika belum dapat bertemu Panji.

gambar: 1 gambar: 2 <<<< Gambar 1: pola lantai untuk sekaran srisik kanthen tangan pada awal kebar adegan 3. lembut. awal kemesraan kedua figur peran setelah Sekartaji luluh hatinya.166 Garis-garis lengkung lebih difungsikan untuk mengungkapkan kesan manis. berjajar. Untuk adegan kebahagiaan rupanya lebih didominasi garis-garis lengkung yang berbentuk melingkar yang masing-masing tokoh pada posisi saling berhadap-hadapan. Beberapa bentuk garis lengkung tersebut seperti difungsikan pada adegan pertemuan berikut ini: ketika Panji berupaya merayu terhadap Sekartaji. Maksud yang mendasari dari kesan garis lengkung tersebut adalah kesan lembut. yang dalam tari ini dimaknai sebagai sarana ekspresi tentang sesuatu yang menurut bentuk dan sifatnya menunjukkan hal-hal yang manis dan lembut. keharmonisan sepasang peran yang ditampilkan menjadi ekspresif dan mantap. kemesraan. manis dalam mendukung ekspresi gerak yang disajikan pada adegan bahagia terungkap kesan kegembiraan. . dan berdekatan yang kesemuanya itu dapat dicermati pada hampir seluruh sajian sekaran kebaran. Gambar 2: pola lantai untuk sekaran trap jamang dan ulap-ulap kiri pada adegan 3. kebersamaan.

Kejelian seorang penyusun tari tampak bahwa selain rasa musikal yang harus komplementer secara padu dengan rasa yang diungkapkan dalam tari. juga secara parsial pada masing-masing garap . didasarkan atas pertimbangan rasa musikal terkait dengan kecocokan suasana yang telah ditetapkan dalam tari Karonsih. Karawitan tari yang berupa repertoar gendhing-gendhing merupakan salah satu unsur yang mampu memberikan kontribusi sangat penting demi terselenggaranya sebuah pertunjukan tari. 6. Artinya bahwa rasa dalam tari akan didukung rasa yang ditimbulkan dari alunan gendhing yang secara komplemen menyatu membentuk suasana-suasana untuk mengekspresikan sebuah nilai tertentu dalam kehidupan.167 Gambar: 3 gambar: 4 Gambar 3: pola lantai sekaran lilingan kebyokan dan lilingan rimong pada adegan 3. Karawitan tari yang berfungsi sebagai pendukung sajian tari Karonsih secara menyeluruh telah mengalami penggarapan yang cukup selektif. Iringan tari yang lazim juga disebut karawitan tari adalah gendhing-gendhing karawitan yang diaransir sedemikian rupa sehingga rasa musikal yang terbentuk dapat memenuhi kebutuhan ekspresi tari. Gambar 4: pola lantai untuk sekaran srisik kanthen tangan pada akhir kebar adegan 3. Pemilihan gendhing-gendhing dari sekian repertoar gendhing yang terdapat pada khasanah karawitan.

Pada awalnya garap Pathetan dalam tari dinyanyikan secara bersama oleh vokalis pria. yakni: (1) garap pathetan (2) garap sindhenan dan (3) garap gerongan. mengiringi adegan pencarian yang dilakukan Sekartaji terhadap Panji Inukertapati suaminya. Teks sastra tembang yang merupakan bahasa verbal tari Karonsih. Garap sindhenan teks verbal dalam tari Karonsih terdiri dari satu bait terdapat dalam gendhing Ketawang Pangkur Ngrenas Lr. sl.pt. Sindhenan adalah vokal putri yang menyertai karawitan (Matopangrawit. pl. terdiri dari beberapa garap lagu. manyura. sedih yang diekspresikan garap Pathetan Wantah Lr. tema. pl.pt. 2008). 5. suasana. 5.168 gendhing terdapat teks verbal yang berupa cakepan yang berfungsi untuk menjelaskan secara singkat dan padat tentang peristiwa yang tengah terjadi pada masing-masing adegan sehingga akan dapat tergambar secara menyeluruh tentang rasa. pt. Rasa semangat. 5 dan dua bait terdapat dalam gendhing Ketawang Kinanthi Sandhung Lr. garap Pathetan dinyanyikan secara solo oleh seorang dalang (wawancara Rusdiantara. Berbeda yang terjadi di dunia pewayangan. peristiwa.pt. pl. suling. Fungsi garap Pathetan pada tari Karonsih ini sifatnya memberikan ilustrasi rasa musikal tertentu terkait dengan suasana adegannya. contohnya bentuk-bentuk Pathetan dalam tari Bedhaya dan Srimpi yang menampilkan rasa agung. Garap pathetan terkait dengan teks verbal ini adalah garap lagu tembang jawa yang dinyanyikan secara solo ataupun bersama dan dikomplemen dengan ricikan instrumen gamelan: rebab. Garap sindhenan teks verbal . gender. dan gambang. dan makna tarinya. Teks verbal Garap pathetan terdiri dari satu bait yang terdapat pada iringan pembukaan untuk adegan pertama yaitu Pathetan Wantah Lr. dan gagah. berwibawa. 1967: 1).

lembut. biasanya oleh seorang pesindhen atau vokalis wanita. Perubahan ke laras slendro yang secara musikal memiliki nada. Hal ini dapat dicermati pada adegan pertama yang mempresentasikan kesedian perjalanan Sekartaji dalam upaya mencari suaminya yang menggunakan garap pathetan laras pelog pathet lima dan Ketawang Pangkur Ngrenas Lr. pt manyura yang mencakup dua bait.sl.169 adalah garap lagu tembang jawa dinyanyikan secara solo. Fungsi garap sindhenan lebih diarahkan untuk mengekspresikan kesan feminin yang memiliki sifat halus. Garap gerongan merupakan garap lagu tembang jawa dinyanyikan secara bersama – sama ( koor). gagah. yang pengambilan suaranya menyela diantara sabetan balungan (irama ketukan nada) dan berakhir setelah sabetan balungan. Iringan gendhing yang menggunakan garap gerongan pada tari ini terdapat dalam gendhing Lambangsari lr. dan sigrak. dan manis. Jika terdapat lagu gerongan pada gendhing tersebut garap sindhenan mengikuti setelah lagu gerongan (nggandul) namun berakhir bersama. Menurut Martopangrawit gerong adalah vokal bersama (koor) suara pria yang iramanya sama dengan karawitannya (1967: 3). pl. Gendhing-gendhing yang berlaras pelog yang relatif memiliki nada-nada tinggi (tenor) rupanya kuat dan mantap untuk garap musikal yang mengungkapkan rasa sedih. Dalam perkembangannya jenis garap gerongan dapat dinyanyikan oleh vokalis kelompok putra atau vokalis kelompok putri atau campuran vokalis kelompok putra dengan vokalis kelompok putri. 5. yang pengambilan suara pertama dimulai tepat dengan sabetan balungan dan berakhir tepat dengan sabetan balungan.pt.nada lebih . Fungsi garap gerongan lebih difokuskan untuk mengekspresikan kesan maskulin yang mempunyai sifat kuat. Secara garis besar gendhing-gendhing dalam tari Karonsih menggunakan dua laras yaitu pelog dan slendro.

didukung beberapa iringan gendhing.170 rendah (bass) diharapkan perubahan suasana menjadi lebih terasa mencair dan terbuka. Kedudukan iringan pathetan laras pelog pathet lima pada adegan ini bersifat nglambari artinya rasa musikal yang dihasilkan dari garap pathetan laras pelog pathet lima berfungsi untuk memberikan ilustrasi terhadap suasana sedih yang dialami Dewi Sekartaji.pt. rasa musikal mengekspresikan suasana sedih menyatu dengan ekspresi gerak yang menggambarkan kesedihan Dewi Sekartaji. rasa seleh yang . Adegan : I. dapat dicermati secara komprehensip dari beberapa elemen. Adapun perubahan ke laras slendro itu diawali dari Ketawang Kinanthi Sandhung Lr. b.sl. Keterpaduan yang dimaksudkan adalah menyatunya rasa musikal gendhing Ketawang Pangkur Ngrenas dengan ekspresi vokabuler gerak yang secara komplemen mengungkapkan suasana sedih yang dialami Sekartaji yang terjabar dalam beberapa rasa: sedih. pt manyura. sl. Adegan pencarian sebagai adegan pertama dalam tari Karonsih. 5. Pengertian nyawiji di sini garap gendhing Ketawang Pangkur Ngrenas implementasinya dengan garap gerak adalah menyatu. pl. gangsaran 1 pelog. diantaranya: a. pt manyura dan ladrang Sigramangsah lr. Pencarian. Bentuk menyatunya iringan dengan gerak. 5 yang merupakan iringan kedua setelah pathetan laras pelog pathet lima. doa. antara lain: pathetan laras pelog pathet lima. pl. dan pasrah. kedudukannya dalam adegan pencarian ini bersifat nyawiji. Ketawang Pangkur Ngrenas Lr. pt.pt. manyura pada adegan kedua hingga iringan adegan tiga yang meliputi: gendhing Lambangsari lr. dan gangsaran 2 slendro. Gendhing Ketawang Pangkur Ngrenas Lr. Bentuk susunan iringan tari Karonsih seluruhnya dan secara urut dari adegan satu sampai adegan tiga (adegan akhir) dapat dicermati berikut ini.sl.

5 ty 1 2 2 2 Xz2Xc3 Xz2c1 z1x2c3 z3x.ct ta . Implementasinya rasa musikal yang berirama 1/1 dari gangsaran mampu memberikan ilustrasi rasa tegang yang mendukung kekacauan atau ketegangan yang diekspresikan Sekartaji lewat gerak-gerak srisik yang dilakukan secara berulang-ulang dengan gerak kepala yang sedikit lebih tegas. pl.Xx2c1 Sang ret .kar sking ke - . pt. dan gangsaran 2 Slendro. merupakan iringan yang secara musikal dapat mengekspresikan suasana tegang yang kedudukannya pada adegan ini lebih bersifat nglambari.kar t y sking ke 1 2 yu 1 z2c3 z2c1 z1Xx2c3 Se kar . dan gangsaran 2 Slendro mempunyai peranan cukup penting dalam menjembatani peralihan laras yang berdampak pada perubahan suasana menjadi semakin mantap.ton zyx. pola gatra yang terdapat pada bentuk gendhing Ketawang dapat dijadikan tanda mulai bergerak ataupun berakhirnya suatu gerak pada tari.c5 Jeng .na t zyc1 1 De . Terkait dengan alur adegan kedua bentuk gangsaran tersebut merupakan fase peralihan laras dari pelog ke laras slendro.x2c1 Sang ret t na yu 1 De wi Se .ton 2 2 Jeng .ji zyc1 1 z1x2c1 dha .ta ji z3x. Secara urut bentuk iringan untuk adegan 1: pencarian.kar zyx. Gangsaran 1 pelog. c. Pathetan Wantah Lr.wi z1Xx2c1 dha . Kiranya tidaklah berlebihan jika gangsaran 1 pelog.171 terdapat pada gendhing merupakan iringan yang mendukung rasa seleh pada tari. dapat dicermati paparan berikut ini. baik rasa seleh ringan maupun rasa seleh berat.

.gad de .ra . 1 2 1 2 1 5 1 5 .x6c5 Dhuh ja .pa .wun mu .cy O…………. 2 5 . 2 z3x. . zyx.wa ba . Ketawang Pangkur Ngrenaswara Lr. . y y y de r y ni t y ra zyx1c2 mu . z3x5x. mring da-sih kang nan-dhang king-kin 2 . 5 p3 5 p3 .. z3x2x1x2c1 We-la .ni-lar gar . 5 Buka : 1 1 5 6 .wa sa .XXXx2c3 1 2 ra 3 3 3 3 ngu .tu .x5x4Xx2x1x.hat r t O……….pa .di 1 nu men .wun.172 3 A - 3 3 z1x.wun.dra .ni 1 1 ing . .x5x4Xx.hu . 1 3 2 2 2 2 3 1 n2 2 . . .ti z6x. pt.x2x1x.x2x1xyct Da . 3 5 .. 2 . 3 5 5 5 p3 z5c6 1 1 2 1 2 1 3 2 z3c1 g1 .x2x1xyxtxrxwcq O……….ta .tha .kang z3c5 z3x. 3 .wa. Mu . 3 5 5 5 6 3 5 3 5 6 1 2 1 2 6 5 6 2 1 2 g1 2 1 2 1 5 z!c@ 2 n1 2 n3 5 g1 n1 g1 z@x!c^ ^ z!x#x@x#x!c@ Ti .x2x1x. 1 . I - z2c4 z4c5 5 ker .x2c1 Gar .sa . pl.

ra . 5 gan – ti 1 lan ning .hat 2 2 z3c1 g3 gi . . . p3 .mbut 1 2 2 1 z6x1x2c3 n1 z3c1 Ka. 5 lis 1 n1 g1 p1 n1 p1 n1 p1 1 1 1 n1 n1 n1 p1 p1 p1 n1 n1 n1 p1 p1 p1 n1 n1 n1 p1 p1 p1 g1 g1 g1 Gangsaran Lr. 5 5 2 5 3 6 5 z!c@ 5 g3 z3x5x. p6 5 5 5 z5c6 5 3 3 lun dha . pt. 3 . pt.dya . . 7 .nang .tyas 2 n3 . z3x. 3 . . manyura .x6x5c3 Da. 5 5 6 2 5 3 1 .tan pi 2 .la. z3x2x1x2c1 1 . 6 .gang sa . 1 a 6 2 2 6 .173 .x2c1 Te .mun da. z3x2x1x2c1 3 . p5 . . . pl. 5 . z5c6 1 z1XXXXXXXXXXXxX2c3 U 5 .me – keng la Gangsaran Lr.ka 1 .gya 2 2 z3c1 g1 A – lu – wung tu . 5 . . 1 . sl.

.ngu pun ka-kang wu .wa ning . Ketawang Kinanthi Sandhung Lr. . 1 . y p3 1 p. Rasa musikal gendhing Ketawang Kinanthi Sandhung Lr. Dalam adegan dua yang mengisahkan pertemuan Dewi Sekartaji dengan Panji Inukertapati suaminya dalam suasana rindu yang teraktualisasi dalam beberapa rasa: marah (jengkel). . Pertemuan. 1 .yung 1 2 6 n5 2 3 5 g3 . pt. sl.sun Wus da. malu. 6 . sl.duh ya-yi gar .x!x@c# z!x@x!c6 A . pt. 1 . manyura . manyura merupakan satu-satunya dukungan rasa musikal yang diharapkan mampu mengekspresikan suasana rindu yang diaktualisasikan tokoh Sekartaji pertemuannya dengan Panji dalam asumsi mereka telah lama terpisah dan melalui perjalanan panjang baru dapat bertemu.c! @ 2 5 t 2 @ 3 3 e 1 ! n2 g2 nt g6 n^ @ @ @ z6x. sl. pt. . merayu.174 2 2 2 2 n2 n2 n2 n2 p2 p2 p2 p2 n2 n2 n2 n2 p2 p2 n2 p2 p2 n2 p2 p2 g2 g2 g2 g2 n2 n2 p2 p2 Adegan : II. Iringan gendhing Ketawang Kinanthi Sandhung Lr. 6 . 6 . mesra merupakan esensi yang hendak diekspresikan dalam adegan dimaksud. 1 6 y 3 ! z. 2 2 2 . manyura mendukung rasa kasmaran atau bercinta.

ma 2 .c6 ! 5 ! 3 z6x!c@ n5 6 5 6 z5x3x5x5x. .nu g2 da . . . Bentuk .dhang pa 3 5 ra brang pu 3 ti Kang wus la .no-dya di .tan ang . .jj x Xj 2 j j 1 6 y 6 gt zj6jjjkjXXXXxx!c5 x x c5jj j 2 z3XXXXXXXXXXXXXXXxX zj1xc2 zyXx1cy XXXXXXXXXXXXXXXx ztx1c2 nan .ka Mu-ga tan . 3 . .mi Mus . 3 5 5 z5x3c563 z5x3c2 2 Ka-di-nga .ga la - ti mi kang sa - Adegan : III. mesra. Pada adegan bahagia yang disajikan sepasang suami-istri yakni Panji Inukertapati dan Sekartaji dalam suasana gembira. . . . dan harmonis menggunakan garap iringan yaitu gendhing Lambangsari laras slendro pathet manyura.han di zj2kx1c3 kang gra wi . .na pun ka .ta u .@# @ z!c@ 6 6z6x!c6 z5c3 Te-ka mle .yi wa .ti.ka .x3c2 Ma-ra nga-dhep.sah pi-na ri ngan y 1 2 p3 6 5 3 g2 3 j.j 6k 2jzX1jXXXx xj XXjx jx c2 6 zj3kx5c3 A .ni .pa Ka . 3 5 p3 -j.ning 2 . . .ren ya-yi du . Bahagia. 2 .ngos da.tri n2 .ta .j j j 5 . 6 z. 5 . .175 .ling Ma-rang ya.kang Tu-hu wa. Kedudukan iringan gendhing Lambangsari pada adegan ini sifatnya mungkus dan nyawiji.

Bentuk kristalisasi dari unsur tari yang berupa vokabuler-vokabuler gerak kebar yang dinamis dan unsur karawitan yang berupa gendhing Lambangsari dengan irama sigrak.176 mungkus ini ditinjau dari pelaksanaan vokabuler gerak yang terdapat pada adegan tiga hampir seluruhnya menggunakan pola kendangan kebar atau ciblon yang selalu membungkus pola gerak. Dalam hal ini pola-pola gerak tari selalu ketat. Gendhing ladrang Sigramangsah disajikan dengan tabuhan keras dengan irama sedang sebagai gambaran semangat dari Sekartaji dan Panji Inukertapati untuk menyongsong kehidupan ke depan lebih semangat. pada adegan bahagia ini adalah untuk pencapaian harmonisasi penyajian. Iringan ladrang Sigramangsah sebagai mundur beksan. Pengertian nyawiji ini mengarah pada pemersatuan dua unsur menjadi satu yaitu unsur karawitan sebagai penghasil rasa musikal dan unsur tari. Keterpaduan garap tari dan garap gendhing Lambangsari dalam rangka mengekspresikan rasa gembira. srisik menuju ke tempat duduk temanten bersalaman dengan temanten dan kedua orang tua mempelai untuk mengucapkan selamat berbahagia.ketat diikuti pola kendangan. lagu gerongan riang dan tekanan sedang. kebersamaan. Bentuk iringan adegan III yang berupa gendhing Lambangsari laras slendro . yaitu sejak Panji Inukertapati dan Sekartaji gerak Lumaksono. pangkon. Selain itu iringan gendhing Lambangsari pada dasarnya nyawiji dengan garap geraknya. kemesraan. dan keharmonisan antara Panji Inukertapati dan Sekartaji dapat nyawiji. Sehingga suasana bahagia yang diaktualisasikan oleh Panji Inukertapati dan Sekartaji dapat dihayati. Pada bagian akhir adegan tiga sebagai penutup iringan gendhing ladrang Sigramangsah laras slendro pathet manyura.

177 pathet manyura dan ladrang Sigramangsah laras slendro pathet manyura.wa 6 6 1 1 ni . manyura Irama Tanggung : 1 j.ya n1 z3c2 1 .sep .mba .r ang 5 6 3 gar . secara berurutan dapat dicermati paparan berikut ini.ra 5 5 3 keng .3 2 2 - .ta 3 3 2 2 mar .hu 6 jz5c6 se .rang 5 j.go .mi 5 j.wang 1 j.sa 3 3 2 2 pra .5 tu 5 1 1 .5 1 1 re 2 2 bi .1 2 2 kang se .5 1 1 no .5 u 2 2 ma .ing 5 j.kang 6 6 weh 5 j. pt.1 3 3 1 j.ma 1 1 Pra .dak 5 j. Lambangsari Lr.3 2 5 3 ro .1 nu 6 3 3 .1 di 3 3 3 zj3c5 ma .ra 1 1 jz!xk@c6 pa .guh 5 6 pang .su 6 3 jz!xk@c6 kang 5 j.da 1 j.1 di 2 3 ta 5 j.dha 3 5 5 3 2 2 z3c5 z5c6 6 .5 2 2 . sl.wa 5 j.na 2 3 ca 5 j.ju 3 1 j.1 3 3 1 j.1 2 2 ing .5 2 2 tin .1 2 2 1 j.tya 5 5 2 da 1 j.5 n1 z3c2 1 .5 ing 5 j.

mi 5 j.6 6 1 6 5 2 3 jz#xj x x x x cj2j j6 kz!xj@c# x jjjjjjjjjjjjjjjjjjjxkjjj.1 a 2 3 ni 2 2 .ge .1 3 3 1 j.sih 3 5 .c@z!x jjjzjx5jx jx jxxx jx jx xk.3 ku 2 2 5 j.ya 3 3 2 2 mring nim .sa 1 j.mya 5 2 5 1 .5 1 1 5 j.la - tres .na 1 z3c2 1 .trem .pun sang 6 5 j.bi nga .nya da .yo .ba 5 6 .mi wah se – tya sang dyah 6 5 tu a 2 hu yu 3 pe .be bu .ma .ngu sa .5 a 5 j.1 2 2 1 j.178 dar .6 zj5jkx.ja 1 ang .tan 5 5 3 kem .cj3jz6xl1xj6jc53 sam .ga Irama Dadi : 6 5 j.ra pri .c@z!x x x x x@c 6 jkz6jx!cjj6j j k53 li ron ba 5 as .ing (dilakukan 2 x) war .1 ba 6 6 3 3 lik 1 1 1 j.bang 6 3 jz!xk@c6 ra .5 2 2 5 j.5 n1 1 da .ra gya 2 har 5 .c3 sa .kik 6 1 z!XXx XXx xj@kc##z x.na 5 3 2 2 z3c5 z5c6 6 sung ten .di kang san - to .

z2c3 ka .179 jzk.ma Ladrang Sigramangsah Lr.zj2c31 jz.ta .dya kem ka .ya xj x!cj@zkj!xc6 da .ron . ken . manyura Irama Tanggung. pt.nu-gra hyang suks .gad han ing 2 ra .ta 2 me .3 5 6 1 jk.dhat tan 3 j.xj6xj xj c22 ck22 j jk. 1 1 5 6 6 6 2 5 1 1 3 2 3 p3 p5 p1 1 1 1 3 6 6 6 2 1 1 5 1 n2 n2 n3 g6 3 3 3 3 5 5 5 2 6 6 2 6 p1 p1 p3 p3 3 3 1 6 2 2 2 5 1 1 1 3 n6 n6 n6 g2 (sebanyak 5X) .sih pan tan 5 . sl.xjyjx xj xj - cen sah 5 pra - nya .min 3 5 zk3cj5kz5c6z x jx6xjx xj jx xjx xjx xjx xj 3 jz2xjk5c3 bang ja .

dapat mengungkapkan suasana sedih dan maknanya menjelaskan tentang liku-liku perjalanan seorang tokoh Dewi Sekartaji yang mencari Panji Inukertapati suaminya. 5. pt. sang Dewi marah Panji berupaya untuk merayunya dan memberi perhatian. sl. rindu. Komplementer bahasa verbal dan nonverbal yang terdapat dalam Ketawang Pangkur Ngrenaswara Lr. selain rasa musikal yang mampu mengekspresikan suasana-suasana tertentu. jika tidak dapat bertemu. malu. dan Ladrang Sigramangsah Lr. manyura dan Lambangsari Lr. manyura. pl. Pertama. manyura. dapat mengungkapkan suasana sedih. pt.pt. mesra.pt. manyura. ia lebih baik mati.pt. pl. Bentuk-bentuk gendhing yang menggunakan bahasa verbal. sl. lagu dan tekanan gendhing. mesra. pl. Komposit bahasa verbal dan nonverbal yang terdapat dalam Pathetan Lr. Ketawang Pangkur Ngrenaswara Lr. pl. sl. pt. pt. dan maknanya Dewi Sekartaji memohon kepada Dewata supaya segera dipertemukan dengan Panji Inukertapati. 5. merayu. Komposit bahasa verbal dan bahasa nonverbal yang terdapat dalam Ketawang Kinanthi Sandhung Lr. sl. bahagia dan maknanya: 1) Dalam kehidupan rumah tangga keberadaan .pt. dapat mengungkapkan suasana gembira. sl. Kedua.180 Gendhing-gendhing iringan yang terdapat dalam tari Karonsih secara garis besar dapat dibagi menjadi dua bentuk terkait dengan bahasa verbal. rupanya menjadi lebih mantap dan bermakna karena didukung kehadiran bahasa verbal yang berupa cakepan-cakepan (syair) yang menyatu dengan irama. 5. Komposit bahasa verbal dan nonverbal yang terdapat dalam Lambangsari Lr. manyura. gendhing yang tidak menggunakan bahasa verbal terdiri dari: gangsaran 1 pelog. gendhing yang menggunakan bahasa verbal terdiri dari: Pathetan Lr. Ketawang Kinanthi Sandhung Lr. dapat mengungkapkan suasana marah. 5. gangsaran 2 slendro. dan maknanya setelah Sekartaji bertemu Panji Inukertapati. pt.

Bentuk gendhing yang tidak menggunakan bahasa verbal seperti gangsaran 1 pelog dan gangsaran 2 slendro. . menarik. mengayomi. Bentuk komposit bahasa verbal sastra tembang dan bahasa nonverbal gendhing-gendhing iringan tersebut dapat mengungkapkan suasana dan mengungkapkan makna pada masing-masing adegan. dapat mengungkapkan suasana tegang. 2) Tipe seorang istri yang ideal adalah selalu berupaya berbuat kebajikan. 4) Nilai cinta adalah sebuah nilai yang universal. gagah. pt. dan sigrak. sebaiknya saling mengingatkan akan tugas dan tanggungjawab masing-masing yang telah disepakati. manyura. dan mampu menciptakan ketentraman keluarga. Sedangkan gendhing Ladrang Sigramangsah Lr. Dengan demikian tampak bahwa gendhing-gendhing yang tersusun untuk iringan tari Karonsih merupakan komposit bahasa verbal sastra tembang dan nonverbal gendhinggendhing karawitan untuk membangun alur adegan. 5) Kebagiaan lahir dan batin merupakan kebutuhan hidup hakiki manusia yang diupayakan secara seimbang. dapat mengungkapkan suasana semangat.181 dan kebersamaan suami dan istri. 3) Tipe seorang suami yang ideal adalah setia terhadap istri. dapat dicermati berikut ini. dan bertanggungjawab. Adapun bentuk komposit bahasa verbal dengan nonverbal pada tari Karonsih. sehingga mampu mengekspresikan suasana pada masing-masing adegan dan mampu mengungkapkan makna tari Karonsih secara implisit seperti yang dimaksud seniman penyusun sebagai penutur. setia terhadap suami. sl. Ketidak hadiran bahasa verbal pada bahasa nonverbal rupanya membatasi ekspresi bahasa nonverbal yang lebih mengarah pada hayatan rasa.

pt.182 Komposit Bahasa Verbal dengan Nonverbal Tari Karonsih No Bahasa Verbal Sastra Tembang Tema. nyempurit. Sang Retnayu Dewi Sekartaji Rasa Semangat Srisik. pl. dan Rasa Vokabuler Gerak Dewi Sekartaji Bahasa Nonverbal Vokabuler Gerak Panji Inukertapati Pola lantai Iringan Hubungan Langsung Hubungan Tidak langsung Pathetan lr. kanan Sang Retnayu Dewi Sekartaji Badan putar Garis V - . 5 Keterangan 1 Pathetan Wantah Pasihan (percintaan) I. Adegan. menthang kiri tangan nekuk tangan Garis lurus V - mencari Panji Inukertapati (suaminya). kedua - Garis lurus V - Liku-liku perjalanan Dewi Sekartaji dalam tangan nekuk yang kiri nyempurit dan kanan nyekithing Jengkar kedhaton sking Kengser. Pencarian.

Garis Lurus V - badan kanan. kiri nekuk. Jengkar kedhaton sking Lumaksono.183 menghadap belakang. kaki njujut. badan . srisik lurus mundur kemudian putar depan. ngglebak Garis lengkung Angupadi mendranira ingkang garwa Badan nglayang Posisi di tempat V - (memutar) ke kiri. menghadap diikuti menthang sampur kanan dan tangan kiri nekuk. menthang sampur kanan.

. usap kiri – usap kanan Garis lengkung V - 2 Ktw. memutar Sindhenan Pangkur Ngrenas: Dhuh jagad dewa bathara Welasa mring dasih Rasa Laras Sampir Posisi di V - .pt 5 Mundur tawing Garis lurus Gong: ke-1 kiri. Dahat denira muwun. Pangkur Ngrenas lr.pl. Inukertapati.184 ngglebak ke kanan hadap ke depan. O………. kengser. Ridhong sampur kiri. Srisik menthang Garis lengkung Gong: ke-2 kiri.O……….

185 kang kingkin nandhang Berdoa sampur kanan. pasrah. sindhet. kiri Garis lengkung V situasi yang sedih. tempat Dewi Sekartaji dalam Tinilar satuhu Dadya tyas garwa gantilaning Rasa Sedih Sekar suwun. tawing ingsetan. . dan memohon Ulun dhahat Teka aginggang sarambut Srisik kedua Garis lurus V pada Yang Kuasa agar segera dipertemuk Kalamun pinanggya datan Lembehan separo Posisi di tempat Rasa Aluwung lalis tumekeng Pasrah Kengser ke kanan capengan tangan kanan – kengser ke kiri capengan tangan kiri. tangan nekuk trap cethik. Garis lengkung V V an dengan suaminya.

186 Gangsaran 1 Pelog Rasa Tegang Badan memutar Gong: ke-1 satu lingkaran dan diikuti berputarnya kedua nekuk tarung. seblak membalik tangan sampur. tangan kiri menthang tangan nekuk dan kanan Gong: ke-2 Srisik ke pojok Gong: ke-3 kanan depan. Badan kanan. . tangan ngupu Seblak. Gong: ke-4 Gong: ke-5 srisik ke pojok kiri belakang.

sl. 3 Sindhenan Kinanthi Sandhung: Cakepan a. Gong: ke-2 Gong: ke-3 Badan satu memutar lingkaran ke Gong: ke-4 menghadap depan. seblak Gong: ke-1 Srisik . Pertemuan. Ktw.pt Manyura . II. sampur.187 Gangsaran 2 Slendro Badan ngglebak ke kanan. Kinanthi Sandhung lr.

Teka mlengos datan angkling Ukel karno kanan jengkeng nyathok Garis (njawil) bahu lengkung V - Mara ngadhepna . kiri – kanan dan tempat besut. Adhuh yayi garwa ningsun Seblak sampur laras genjot. kebyok Posisi tempat garis lurus di Gong: ke-1 Sekartaji marah terhadap Panji Inukertapati. akhirnya luluh hati Dewi Sekartaji. Gong: ke-2 V - tangan memegang sampur menutup muka. Panji berusaha membujuk jengkeng. b. kengser ke kanan. di dan merayu istrinya.188 a. kebyokan Ulap-ulap tangan Posisi laras. Dewi Rasa Marah jengkeng (duduk) Srisik diikuti kedua sampur. sambil raut lepas sampur.

kanan sampur ngglebak nyaut kanan dengan V - seblak kebyok kemudian mundur . mundur.189 pun kakang berdiri enjer berdiri srisik. mlengos ke kanan. maju Garis lurus Gong: ke-4 V - Apa kang wigati dadi ngembat sampur tangan kanan. kanan mbalik seblak tanjak kanan sampur kanan Kadingaren duka yayi tawing kiri lumaksono kebyokan sampur. Garis lurus Gong: ke-3 V - nyabet ukel karna kanan Kang wus lami nandhang brangti Rasa Merayu mbalik. maju lumaksono. tawing V miring ke kanan srisik. Garis lurus tangan nyaut.

kanan. jengkeng asta. srisik. endhan jeblos lalu tangan panggel.190 golek iwak. maju sambil sambil lepas kedua Garis lengkung Gong: ke-6 V - lepas kedua tangan tangan Marang wanodya di yayi srisik. nyandhet Garis V - asta tangkep ngaras asta lengkung . Wus dangu pun kakang wuyung Rasa Kemesraan putar lingkaran. – lengkung kanan tangan pondhongan kemudian jeblos tempat) tangan nyaut (tukar lalu kanan memberi sampur menerima sampur Cakepan b. tangkep asta. tanjak Garis lurus Gong: ke-5 ngancap. tangkep mundur satu memutar. tangkep ngaras mbalik.

srisik melingkar srisik melingkar Muga tansah pinaringan berhenti. maju berhenti. tangan menthang. tangan. tangan kiri tangan kiri menthang.kengser ke kanan.191 ( berciuman). lepas (berciuman). maju Posisi kanthen tempat di Gong: ke-8 V - tangan kanan tangan kanan . adu lengkung V - tangan kiri nekuk.Garis kiri. tangan kiri nekuk. kedua kedua lepas tangan. maju. kanthen kanan. tangan kanan tawing Tuhu utama wanita kanan tawing maju kanthen maju kanthen Garis lengkung Gong: ke-7 V - tangan kanan tangan kanan Mustikaning para putri kengser ke kanan. laku enjer. maju. kanan. adu kiri. laku enjer.

setia terhadap . Pra wanita marsudiya marang tindak kang utama Rasa Gembira ulap-ulap kiri trap jamang. Lambang sari pt manyura lr. kenong ke1 - V Tipe seorang istri yang adalah ideal Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada ukel karno ulap-ulap kiri Garis lengkung kenong ke2 - V selalu berupaya berbuat kebajikan. lepas tangan. srisik kanthen tangan kanan. mundur seblak sampur. Posisi tempat di Gong: 1.192 Kanugrahan kang salami srisik kanthen tangan kanan.sl. mundur seblak sampur Garis lenkung V - 4 Gerongan Lambangsari: Cakepan a. lepas tangan.

dan mampu . menarik. kenong ke1 - V Tipe seorang suami yang ideal adalah setia terhadap Datan kemba asih tresna sung tetreming kulawarga rimong sampur pacak ingsetan gulu Garis lengkung kenong ke2 V - istri.193 Ingkang bisa nujuprana weh reseping pamicara luluran lembehan sampur Garis lengkung kenong ke3 V suami. mengayomi. dan bertanggung jawab trap Nora kengguh ing panggodha darbe budi kang santosa kanan sumping laku telu Garis lengkung kenong ke4 - V Rasa Mesra Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira kebyokan sampur ukel karno bokor Garis sinangga lengkung Gong: ke2.

194 menciptakan Sampun sami setya tuhu anggenya liron asmara kebyokan sampur – ngenceng kanan kebyokan sampur Garis lengkung kenong ke3 V ketentraman keluarga. srisik Karonsih pranyata kembang raya pancen dadya jagad tangan. kanthen srisik kanthen Garis mundur lengkung kenong ke4 V - Cinta adalah sebuah nilai yang universal. Pra wanita marsudiya marang tindak kang utama trap jamang ulap-ulap kiri tawing Posisi tempat di 3: kenong ke1 V laku telu Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada pondhongan sampur Garis lengkung kenong ke2 V - Ingkang bisa nujuprana weh reseping pamicara kanthen kanan tangan kanthen kanan tangan Garis lurus kenong ke3 V - . lepas tangan lepas tangan Gong: keCakepan b. mundur tangan.

ukelan Garis lengkung Gong: ke4: kenong ke1 - V Datan kemba asih tresna sung tetreming kulawarga alisan inguk-ingukan (melihat) Garis lengkung kenong ke2 V - Sang pekik wah sang dyah ayu dangu samya bagyaharja lumaksono encot kanthen tangan lumaksono encot Garis lurus kanthen tangan kenong ke3 V - .195 Nora kengguh ing panggodha darbe budi kang santosa kanthen kiri tangan kanthen kiri tangan Garis lengkung kenong ke4 V - Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira jengkeng tangan ngilo tangan (merias).

sl. Kebagiaan dunia akhirat Tan kendhat tansah meminta kanugrahan ing Hyang Suksma srisik tangan tangan kanthen srisik kanthen Garis kenong ke4 V merupakan kebutuhan hidup hakiki manusia yang Ldr. dan kanan.196 Rasa bahagia. tangan. manyura diupayakan secara seimbang.pt. Sigra mangsah lr. tangan kiri lengkung kiri menthang sampur menthang sampur lumaksono lembehan sampur kanan lumaksono lembehan sampur kanan Garis lurus Gong: ke-1 pangkon ulap-ulap pangkon ulap-ulap Posisi tangan kiri tangan kanan tempat di Gong: ke-2 .

masuk (selesai).a . tangan masuk (selesai). bersalaman dengan temanten srisik kanthen tangan. bersalaman dengan temanten Garis lurus Gong: ke-3 bersalaman dengan bersalaman kedua dengan kedua Gong: ke-4 orang tua temanten orang tua temanten dan photo bersama dan photo bersama temanten temanten srisik kanthen tangan srisik kanthen kanan.197 srisik kanthen tangan. Garis lengkung Gong: ke-5 kanan.

198

Dari komposit bahasa verbal dan nonverbal pada tari Karonsih terdapat hubungan yang bersifat langsung dan tidak langsung. Hubungan bahasa verbal dan nonverbal bersifat langsung artinya bahwa maksud bahasa verbal sesuai dengan bentuk bahasa nonverbal. Sedangkan hubungan bahasa verbal dan nonverbal bersifat tidak langsung artinya bahwa maksud bahasa verbal tidak sesuai dengan bentuk bahasa

nonverbal. Secara kuantitatif hubungan bahasa verbal dan nonverbal yang bersifat langsung tampak lebih mendominasi dibandingkan dengan yang tidak langsung. Adapun persentasenya dapat dicermati pada uraian berikut.

Tari Karonsih No Adegan Hubungan bahasa verbal dengan nonverbal 1 2 3 4 5 I, II, dan III I, II, dan III Langsung Tidak langsung 31 8 39 79,48 %, 20,52 % jumlah

Jumlah hubungan langsung dan tidak langsung = 31+ 8 Jumlah persentase hubungan langsung = 31: 39 X 100. Jumlah persentase hubungan tidak langsung = 8: 39 X 100.

2. Tari Bondhan Sayuk. Tari Bondhan Sayuk merupakan tari tradisi gaya Surakarta jenis pasangan silang jenis karakter putri dengan putra madya yang bertemakan percintaan sepasang insan manusia yang berjenis kelamin pria dan berjenis kelamin wanita. Pada dasarnya tarian ini tidak mengisahkan tokoh tertentu tetapi mengekspresikan cinta kasih sepasang suami istri secara universal terhadap anak laki-laki dan harapan-harapan serta keinginannya

199

supaya kelak menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan negara. Karya tari Bondhan Sayuk disusun oleh Sunarno pada tahun 1979. Tari ini pertama kali dipentaskan pada sebuah resepsi ritual perkawinan di gedung Bathari. Tema yang diangkat menggambarkan percintaan manusia secara universal, yang lebih mengarah pada perjalanan hidup sepasang manusia dari kalangan rakyat. Menurut Sunarno, tari Bondhan Sayuk lebih tepat untuk gambaran sepasang temanten maupun sebuah keluarga baru yang belum memiliki anak (wawancara, 2008). Gagasan awal terciptanya tari Bondhan Sayuk adalah sebuah ekspresi pribadi Sunarno yang menginginkan anak laki-laki untuk putera pertamanya. Keinginan

tersebut rupanya diridhohi oleh Sang Pencipta, anak pertama laki-laki bahkan anak kedua juga laki-laki dan anak ketiganya baru putri. Dalam perjalanan waktu tari Bondhan Sayuk sangat diminati oleh masyarakat hingga sekarang, yang pertama merupakan hiburan yang tepat dalam sebuah resepsi perkawinan dan kedua dimaknai sebagai simbolik sepasang suami dan istri yang hidup bahagia yang layak untuk diteladani sepasang temanten. Pesona yang memikat dari tari Bondhan Sayuk adalah digunakannya boneka sebagai simbolik anak yang selalu ditimang-timang dan diharapkan memberikan kekuatan magis simpatetis terhadap sepasang temanten, yaitu supaya lekas diberi anak. Jika dirunut dari bahasa verbalnya akan tampak bahwa harapan-harapan yang tersurat dan tersirat menunjukkan adanya sebuah keinginan, harapan sepasang suamiistri terhadap anak laki-laki kelak menjadi orang yang berperilaku baik dan berguna bagi masyarakat untuk membangun bangsa dan negara. Bentuk tari Bondhan Sayuk terdiri dari dua komponen pokok, yakni sastra tembang yang merupakan bahasa verbal dan

200

bahasa nonverbal yang berupa: tema, kinetic body moves, polatan (ekspresi wajah), rias, busana, pola lantai, dan iringan. Sastra tembang yang merupakan bahasa verbal tari Bondhan Sayuk, terdiri dari beberapa garap lagu, yakni: (1) garap sindhenan Mijil Sulastri: sakpupuh (satu bait), (2) garap jineman Sayuk: rong pupuh (dua bait), dan (3) garap gerongan Ladrang Sayuk: rong pupuh (dua bait). Dari masing-masing garap lagu tersebut dapat dicermati berikut ini.

a. Bahasa verbal.

(1). Teks Sindhenan Mijil Sulastri Dhuh mas rara, garwaku wong manis, Aja gawe kagal, Amung sira yekti sulistyane, Jumbuh klawan rasaningtyas mami, Binerkahan ugi, Prasetya wak-ingang.

Terjemahan:

Wahai si cantik, istriku yang manis, Jangan membuat kesal, Hanya kamulah yang benar-benar cantik, Sesuai dengan rasa yang terdapat dalam hatiku, Semoga mendapat berkah, Janji kesetiaanku.

201

Jenis –jenis TT yang melekat pada teks Sindhenan Mijil Sulastri

No

Penutur (Pn)

Bahasa Verbal : teks Sindhenan Mijil Sulastri

Jenis – jenis TT

Pemarkah

Pria (Pn) 1 Pria (Pn) 2 Pria (Pn) 3

Dhuh mas rara, garwaku wong manis, Aja gawe kagal, Direktif Amung sira yekti Ekspresif Ekspresif

wong manis

aja

sulistyane

sulistyane,

Pria (Pn)

Jumbuh

klawan

Asertif

Jumbuh

rasaningtyas mami, Pria (Pn) 4 Pria (Pn) 5 Prasetya wak-ingang. Komisif Binerkahan ugi, Direktif prasetya ugi

Konteks. Identifikasi / latar. a. Peserta tutur: Pria (Pn). Wanita (Pt), ia merespon dengan gerak tanpa tuturan.

b. Tema / topik: percintaan atau kasmaran.

202

c. Tujuan: suami menghendaki istri supaya tidak lekas marah, mengingat kasih asmara suami terhadap istri merupakan cinta yang tulus. d. Status sosial: penari pria sebagai seorang suami, ia digambarkan sebagai figur seorang suami yang bertanggungjawab dan sangat setia terhadap istri. Penari wanita sebagai seorang istri, ia digambarkan sebagai figur seorang istri yang sangat setia terhadap suami. e. Tempat: di rumah. f. Situasi tutur: tidak formal. g. Gerak: kedua penari, pria dan wanita srisik bersama, tangan kanan saling berpegangan (nyathok) dan tangan kiri lurus ke samping (menthang) menuju stage. Secara perlahan-lahan keduanya lumaksono ridhong, srisik menuju tengah stage, berhenti laku enjer menthang tangan kiri, kemudian putra besut dan putri sindhet merupakan gambaran rasa kebersamaan. Rasa kecewa diekspresikan istri lewat jengkeng, sekaran laras kebyokan, sembahan, berdiri meninggalkan suami sambil kebyokan tangan kanan-kiri kemudian suami gerak nyabet tangan kanan, besut, mendekati istri untuk merayu dengan gerak hoyogan, gajah-gajahan, songgonompo – mbalang. Rasa mesra mulai tampak ketika masing-masing peran suami dan istri saling mendekat dan berciuman dengan gerak kengser dan ngaras. Selanjutnya gerak lincak gagak bersama, suami hendak memegang istri menghindar. Suami dan istri saling mendekat, saling berpegangan tangan kemudian srisik kanthen tangan kanan sebagai gambaran awal kemesraan. h. Polatan / ekspresi wajah: ketika rasa kebersamaan masih terbina, wajah suami dan wajah istri tampak cerah dan gembira. Pada saat istri merasa kecewa

203

pandangan muka selalu menghindar dari tatapan mata suami dan pandangan mata istri banyak mengarah ke bawah. Suasana berubah menjadi semakin mesra wajah suami dan wajah istri tampak semakin cerah dan pandangan mata tampak sering saling melihat. i. Pola lantai: didominasi garis-garis lengkung. j. Iringan gendhing: Srepek Rangu-rangu dan Ketawang Mijil Sulastri untuk mendukung suasana kasmaran atau bercinta. Implikatur Kagal : Sulistyane: perasaan marah. kecantikan rupa dari seorang wanita.

Jumbuh klawan rasaningtyas: kecocokan hati yang membuat senang seseorang. Prasetya wak-ingang: ungkapan yang mengisyaratkan sebuah perjanjian tentang kesetiaan. Implikatur bahasa verbal Sindhenan Mijil Sulastri adalah ungkapan cinta yang mendalam seorang suami terhadap istrinya, dengan harapan mendapatkan perhatian demi terjalinnya kasih cinta untuk harmonisnya sebuah rumah tangga. Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Sindhenan Mijil Sulastri dapat diungkap: a. Maksim kuantitas dilanggar. b. Maksim kualitas dipatuhi. c. Maksim hubungan dipatuhi. d. Maksim cara dilanggar.

Sawahmu tansah anganti. Besuk menjadi anak yang pandai bekerja. Ayahnya anak laki-laki (suamiku). Direktif baya iki 3 Wanita (Pn) Bapakne sithole. sekarang sudah saatnya. baya iki wus wanci. Bapakne sithole. Patik dhuh mas baya iki wus wanci. Tak kudange anakku sing bagus dhewe. Sawahnya tengah menanti. berangkatlah bekerja. Sakdurunge anakmu gawanen mrene. Teks Jineman Sayuk Dhuh mas jiwaku. Asertif bapakne . Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Jineman Sayuk No Penutur (Pn) / Petutur (Pt) Bahasa Verbal Teks Jineman Sayuk Jenis – jenis TT Pemarkah Wanita (Pn) 1 2 Wanita (Pn) Dhuh mas jiwaku. menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif. mangkat makarya. Terjemahan: Wahai belahan jiwaku. Ibunya anak laki-laki (istriku). 2) melakukan TT secara tidak langsung (off record). Mbokne thole.204 Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Sindhenan Mijil Sulastri. Mbesuk pinter nyambut gawe. (2). Sebelumnya anakmu bawalah kemari. Peneliti timang-timang anakku yang paling bagus.

Tema / topik: kekudangan (menimang bayi sambil bersenandung) c. . b. Pria (Pt). tansah Asertif sawahmu 6 Pria (Pt) Mbokne thole. pinter Direktif mbesuk pinter Konteks. Peserta tutur: Wanita (Pn). Kesadaran suami sebagai kepala rumah tangga menyambut kehendak istrinya dengan rasa senang untuk itu sebelum berangkat bekerja mereka saling menimang bayi sambil bersenandung secara bergantian. Identifikasi / latar. Hal ini adalah untuk menunjukkan rasa kasih sayang dan kemesraan suami terhadap anak dan istri. 8 Pria (Pt) Tak kudange anakku sing bagus dhewe. Asertif mbokne 7 Pria (Pt) Sakdurunge anakmu Direktif gawanen gawanen mrene. Direktif mangkat 5 Wanita (Pn) Sawahmu anganti. Ekspresif bagus 9 Pria (Pt) Mbesuk nyambut gawe.205 Wanita (Pn) mangkat makarya. a. Tujuan: istri mengingatkan akan pekerjaan suami.

lembehan tangan kanan. Situasi tutur: tidak formal.206 d. Tempat: di rumah. tangan kiri memegang bahu istri dan tangan kanan memegang anak sambil memperhatikan dengan tawing kanan. Status sosial: penari pria sebagai seorang suami. suami merasa gembira dan bahagia secara perlahan-lahan mendekat. Gerak: istri srisik sambil menimang anak. f. Suami menimang anak sedangkan istrinya meledek dengan tawing kiri-tawing kanan. putar ke kiri–tangan kanan ukel karno sedangkan suami mendekat menanggapi dengan gerak panggel dan pandangan mengarah ke istri dan anaknya. g. Istri mulai bersenandung mengingatkan pekerjaan terhadap suami dengan gerak tawing kanan sambil memandang suami sedangkan suami menyambut baik dengan gerak ukel karno kanan yang kemudian mendekati dengan gerak srisik. ia digambarkan sebagai figur seorang suami yang bertanggungjawab dan sangat setia terhadap istri. Penari wanita sebagai seorang istri. h. . e. maju srisik mendekati suami untuk memberikan anaknya dan suami juga mendekat dengan lumaksono untuk menerimanya. Selanjutnya istri tawing kanan. Polatan / ekspresi wajah: suami dan wajah istri tampak cerah dan gembira. Pandangan mata suami dan istri banyak terfokus pada anak dan mereka juga sering saling berhadapan. ia digambarkan sebagai figur seorang istri yang sangat setia terhadap suami. Istri meminta perhatian suami terhadap anak yang ditimang dengan gerak putar ke kanan.

Sawahmu tansah anganti: pernyataan yang dimaksudkan tentang sebuah pekerjaan. seorang istri mempunyai peranan cukup penting dalam mendukung tugas dan kewajiban peran suami sebagai kepala . Pola lantai: didominasi garis-garis lengkung. Mbesuk pinter: sebuah harapan orang tua yang menghendaki anaknya kelak menjadi orang yang pandai. Iringan gendhing: jineman Sayuk untuk mendukung suasana kekudangan yang merepresentasikan rasa senang.207 i. Implikatur bahasa verbal Jineman Sayuk mengisyaratkan bahwa dalam sebuah keluarga kebutuhan jasmani dan rohani harus seimbang. Mbokne thole: panggilan seorang ibu yang biasa untuk masyarakat pedesaan untuk menunjukkan keakraban. Implikatur Mas jiwaku: panggilan seorang kekasih. Makarya: bekerja. Tak kudange: menimang bayi sambil bersenandung yang berisi tentang nasehat dan harapan-harapan orang tua terhadap anaknya. Bapakne sithole: panggilan seorang ayah yang biasa untuk masyarakat pedesaan untuk menunjukkan keakraban. Dalam rangka memenuhi kebetuhan tersebut masing–masing individu yang terlibat dalam keluarga memiliki peran secara proporsional. Masing-masing individu mempunyai tanggungjawab terhadap tugas dan kewajiban untuk memenuhi tuntutan kebutuhan keluarga. j. Berdasarkan kasih cinta untuk menciptakan keharmonisan keluarga.

namun juga harus disadari bahwa untuk mencukupi kebutuhan rumahtanggga diperlukan kerja keras. sesongaran disingkirke.208 keluarga. atak adhuh lae. wis mbokne enyoh anake sun arsa mangkat megawe. b. d. dasar bregas ten atene. cukat trampil tumandange. atak adhuh lae. atak adhuh lae. Maksim kualitas dipatuhi. menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif. Adhuh lae. atak adhuh lae. Maksim cara dilanggar. Adhuh lae. Terjemahan: Memang baik karakternya. Adhuh lae. peneliti akan berangkat bekerja. atak adhuh lae. Teks Gerongan Ladrang Sayuk Adhuh lae. trampil dalam bekerja. Tindakannya tidak boleh menyeleweng. Lincah. ora nyleweng tumindake. (3). Adhuh lae. Bekerja keras untuk bangsa. atak adhuh lae. . Maksim kuantitas dilanggar. Kesombongannya dihilangkan. Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Jineman Sayuk. Maksim hubungan dipatuhi. Adhuh lae. Implikatur bahasa verbal Jineman Sayuk yaitu kegembiraan pasangan suami istri sebuah keluarga semakin mantap ketika telah diberi anak. Tenang fokus pandangannya. atak adhuh lae. 2) melakukan TT secara tidak langsung (off record). labuh labet mring bangsane. Adhuh lae. Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Jineman Sayuk dapat diungkap: a. c. Istriku. anteng tajem polatane. bawalah anakmu sekarang.

ora nyleweng Direktif ora nyleweng Direktif Labet mring sesongaran Direktif disingkirke tumindake. 4 Pria (Pn) Adhuh lae. cukat trampil Ekspresif Cukat trampil tumandange. Direktif enyoh anake . labuh labet mring bangsane. dasar bregas ten atene. atak adhuh lae.209 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Gerongan Ladrang Sayuk No Penutur (Pn) 1 Bahasa Verbal : Teks Gerongan Ladrang Sayuk Jenis –jenis TT bregas Ekspresif Pemarkah Pria (Pn) Adhuh lae. wis mbokne enyoh anake sun arsa mangkat megawe. atak adhuh lae. atak adhuh lae. 6 Pria (Pn) Adhuh lae. 2 Pria (Pn) Adhuh lae. 7 Pria (Pn) Adhuh lae. anteng tajem Ekspresif anteng tajem polatane. atak adhuh lae. 5 Pria (Pn) Adhuh lae. atak adhuh lae. atak adhuh lae. atak adhuh lae. disingkirke. 3 Pria (Pn) Adhuh lae.

suami gerak lumaksono sambil menanti kedatangan istri. d. Status sosial: penari pria sebagai seorang suami. e. Tema / topik: kekudangan (menimang bayi sambil bersenandung) c. Hal ini untuk menunjukkan rasa kasih sayang orang tua terhadap anak dan istrinya. Anak diberikan istri sedangkan suami meledeknya dengan ogekan. f. Wanita (Pt). ia digambarkan sebagai figur seorang suami yang bertanggungjawab dan sangat setia terhadap istri. Identifikasi / latar. ia merespon dengan gerak tanpa tuturan. kemudian anak diberikan kepada temanten putri dengan srisik. Situasi tutur: tidak formal. Gerak: diawali suami menimang-nimang anak dengan lumaksono yang diikuti istri lumaksono lembehan sampur dan kawilan. Setelah istri menimang anak beberapa saat. Peserta tutur: Pria (Pn). tangan kanan menthang sampur dan lilingan. b. ia digambarkan sebagai figur seorang istri yang sangat setia terhadap suami. a. .210 Konteks. Penari wanita sebagai seorang istri. g. Tujuan: suami mengharapkan supaya anak yang masih dalam timangan tersebut kelak menjadi orang yang berperilaku baik dan berguna bagi masyarakat lingkungannya. Tempat: di rumah.

Pola lantai: didominasi garis-garis lengkung. mengisyaratkan tentang beberapa harapan orang tua terhadap seorang yang berperilaku baik mengutamakan kebajikan. Implikatur Bregas ten atene: Cukat trampil: Anteng tajem: ungkapan tentang sikap dan perilaku yang baik. yang biasanya untuk dihindari. Ora nyleweng : berperilaku baik dengan menghindari hal-hal yang mengarah pada perbuatan atau tindakan yang melanggar norma atau aturan yang berlaku. gembira. kerja keras. Implikatur bahasa verbal Gerongan Ladrang Sayuk pada tari Tari Bondhan Sayuk. Sesongaran: sikap sombong.211 h. pernyataan tentang kelincahan dan ketrampilan dalam bekerja. dan bahagia. Pandangan mata suami dan istri banyak terfokus pada anak dan mereka juga sering saling berhadapan. ungkapan tentang keramahan dan kehalusan perangai seseorang yang diamati dari ekspresi wajah. j. Labuh labet mring bangsane: sebuah ungkapan yang berusaha mengedepankan kepentingan umum. yaitu tanggungjawab sebagai orang tua dalam mempersiapkan . i. Polatan / ekspresi wajah: suami dan wajah istri tampak cerah dan gembira. dan mengutamakan kepentingan umum untuk membangun bangsa. Implikatur bahasa verbal Gerongan Ladrang Sayuk. Iringan gendhing: Ladrang Sayuk untuk mendukung suasana kekudangan yang merepresentasikan rasa senang.

Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Gerongan Ladrang Sayuk. Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Gerongan Ladrang Sayuk dapat diungkap: a. Terjemahan: Kebersamaan dengan teman. Sayuk mbangun negarane. Maksim kuantitas dilanggar. menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif. Maksim cara dilanggar. Kebersamaan semuanya. sayuk. sayuk. Sayuk. sakancane. (4). berwawasan luas sehingga berguna bagi kehidupan sosial masyarakat. . Kebersamaan dalam bekerja. Teks Gerongan Lancaran Sayuk Sayuk. sayuk. c. d. Maksim kualitas dilanggar. Sayuk. Kebersamaan dalam membangun negara. sayuk. nyambut gawe. 2) melakukan TT secara tidak langsung (off record). b. sayuk. sayuk. Maksim hubungan dilanggar.212 pendidikan anak sebagai generasi penerus yang memiliki kepribadian baik. sakabehe.

Pria . sakancane. Direktif sayuk sakancane 2 Nr Sayuk. sayuk. Peserta tutur: Narator. Direktif sayuk sakabehe 4 Nr Sayuk negarane. Identifikasi / latar. Direktif sayuk nyambut gawe 3 Nr Sayuk. sayuk. a. Wanita . sayuk. . sayuk. nyambut gawe. b. sayuk. ia merespon dengan gerak tanpa tuturan. mbangun Direktif sayuk mbangun Konteks. sakabehe. ia merespon dengan gerak tanpa tuturan. Tema / topik: makarya (bekerja). sayuk.213 Jenis – jenis TT yang melekat pada teks Gerongan Lancaran Sayuk No Narator (Nr) Bahasa Verbal : Teks Gerongan Lancaran Sayuk Jenis – jenis TT Pemarkah 1 Nr Sayuk.

lilingan kebyok sampur dan enjer muter. tawing kiri. Sebagai penutup sepasang suami istri saling mendekat bergandengan tangan kemudian srisik kanthen tangan kanan menuju tempat duduk temanten mengambil boneka anak. enjer ridhong muter. Status sosial: penari pria sebagai seorang suami. Tujuan: suami maupun istri saling mengajak dan memberi dorongan semangat untuk bekerja secara bersama-sama dalam menyelesaikan pekerjaan dengan suasana gembira. . dan enjer muter. gerak yang dipilih antara pasangan suami dan istri berupa sekaran-sekaran yang dapat diekspresikan secara dinamis untuk menimbulkan kesan semangat dalam keadaan riang dan gembira. ia digambarkan sebagai figur seorang suami yang bertanggungjawab dan sangat setia terhadap istri. e. i. g. h. Penari wanita sebagai seorang istri. ia digambarkan sebagai figur seorang istri yang sangat setia terhadap suami. Polatan / ekspresi wajah: suami dan wajah istri tampak cerah dan gembira. berhadapan dan didukung dengan saling melempar senyuman sehingga tampak gembira dan bahagia. Gerak: pada implementasinya. Arah Pandangan mata suami dan istri saling menatap. Situasi tutur: tidak formal. d. Tempat: di luar rumah.214 c. Pola lantai: didominasi garis-garis lengkung. lilingan kebyok sampur. Wujud Kinetic body moves yang dipilih untuk istri sekaran luluran. f. Sekaran untuk ekspresi peran suami terdiri dari: laku telu pondhongan.

b. Implikatur bahasa verbal Gerongan Lancaran Sayuk pada tari Tari Bondhan Sayuk adalah gambaran kehidupan sebuah keluarga yang rukun. Sakancane: Nyambut gawe: Sakabehe: bersama-sama dengan teman. dan berupaya menjalani kehidupan secara bersamasama. c. Prinsip kerja sama berdasarkan bahasa verbal pada Gerongan Lancaran Sayuk dapat diungkap: a. seluruhnya dalam berbagai kegiatan. Iringan gendhing: Lancaran Sayuk dengan irama dinamis untuk mendukung suasana kekudangan yang merepresentasikan rasa riang. gembira.215 j. damai. Maksim kuantitas dilanggar. Maksim hubungan dilanggar. Maksim kualitas dilanggar. harmonis. dan bahagia. Implikatur Sayuk : sebuah ajakan dalam bekerja untuk bersama-sama dengan dorongan semangat. bekerja. Kebahagiaan sebuah keluarga yang dilandasi rasa cinta akan memberikan spirit yang kuat dalam berbagai aktifitas dalam aktualisasi publik. .

b.216 d. Sedangkan . Dari penjabaran bahasa verbal yang terdapat dalam tari Bondhan Sayuk terdapat beragam jenis tindak tutur yang dapat peneliti klasifikasikan secara kuantitatif sebagai berikut: NO 1 2 3 4 5 6 7 JENIS TINDAK TUTUR Tindak Tutur Direktif Tindak Tutur Ekspresif Tindak Tutur Asertif Tindak Tutur Komisif Tindak Tutur Patik Tindak Tutur Performatif Tindak Tutur Verdiktif JUMLAH 14 6 4 1 1 - Berdasarkan prinsip kerja sama bahasa verbal yang terdapat tari Bondhan Sayuk: a. Maksim cara dilanggar. Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada Gerongan Lancaran Sayuk. banyak menggunakan kata-kata arkais dimaksudkan oleh penutur untuk mengekspresikan rasa estetik. Maksim kualitas ada yang dilanggar juga ada yang dipatuhi. Maksim kualitas yang dilanggar dimaksudkan oleh penutur bahwa tuturan yang berupa tembang dimanfaatkan untuk mengekspresikan rasa lagu. 2) mlakukan TT secara tidak langsung (off record). Maksim kuantitas dilanggar karena dalam menyampaikan tuturan seorang penutur. menggunakan strategi: 1) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif.

terlalu panjang. 2) Melakukan tindak tutur secara tidak langsung (off record) untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa. Maksim hubungan ada yang dilanggar juga ada yang dipatuhi. masing-masing hendaknya memberikan kontribusi yang relevan demi terjadinya komunikasi rasa. Maksim cara dilanggar karena dalam menyampaikan tuturan seorang penutur.217 maksim kualitas yang dipatuhi dimaksudkan oleh penutur untuk menggambarkan peristiwa yang betul-betul terjadi pada masing-masing adegan. Maksim hubungan yang dilanggar dimaksudkan oleh penutur bahwa tuturan yang berupa tembang tersebut diharapkan dapat sebagai sarana komunikasi rasa. Sedangkan maksim hubungan yang dipatuhi dimaksudkan oleh penutur untuk menjaga kerja sama antara penutur dengan mitra tutur. Prinsip kesantunan berdasarkan bahasa verbal pada tari Bondhan Sayuk. Hal ini dimaksudkan seniman penyusun untuk menunjukkan simbolisasi keharmonisan hubungan antara peran digambarkan dalam tari. tidak langsung. suami dan istri yang . c. dan pernyataannya samar. menggunakan strategi: 1) Melakukan tindak tutur dengan menggunakan kesantunan positif untuk menunjukkan kedekatan. d. keintiman. hal ini dimaksudkan seniman penyusun untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa. dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur.

rias. Pasangan kekasih tersebut bukan merupakan gambaran dari tokoh tertentu dari sebuah cerita. busana. Selain dapat memenuhi kebutuhan yang bersifat rohani juga tidak dapat mengabaikan kebutuhan yang bersifat jasmani sebagai sarana penopang kebutuhan hidup sehari-hari. Bahasa Nonverbal Bahasa nonverbal tari Bondhan Sayuk terdiri dari: tema. polatan (ekspresi wajah).Tema. Bentuk tema yang diangkat pada tari Bondhan Sayuk adalah tema percintaan sepasang manusia laki-laki dan perempuan secara universal. 1. Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa berlandaskan rasa cinta yang mendalam seorang istri mengingatkan. sepasang suami istri memiliki tugas dan tanggungjawab untuk membina dan mendidik anak sedini mungkin supaya dapat tercapai harapannya. menghendaki dan mendukung suami untuk bekerja demi kelangsungan hidup keluarga. kinetic body moves. baya iki wus wanci. atau dongeng. pola lantai. Untuk mewujudkan cita-cita yang mulia tersebut. Bapakne sithole. Liku-liku perjalanan cinta sepasang suami istri beserta anak laki-lakinya dalam menjalani kehidupan yang penuh harapan-harapan terkait dengan prospek masa depan anak untuk partisipasinya pada pembangunan bangsa dan negara. mangkat makarya. untuk itu seorang suami dituntut harus bekerja secara sungguh-sungguh. tetapi merupakan reaktualisasi dari imajinasi sepasang suami istri yang telah dianugerai seorang anak laki-laki yang masih dalam timangan.218 b. . babad. dan iringan. seperti tersurat pada cakepan Jineman Sayuk pada bagian awal yang berbunyi: Dhuh mas jiwaku. Sawahmu tansah anganti. sejarah.

c) adegan makarya (bekerja). Setelah kemesraan berakhir istri meninggalkan suami untuk suasana menjadi tegang. tidak menyeleweng. Pada awalnya istri kurang perhatian terhadap suami. b). Harapan-harapan mulia kedua orang tua terhadap anak laki-lakinya kelak menjadi orang yang memiliki kepribadian yang baik. untuk aktualisasinya akan membentuk sebuah alur yang terbagi menjadi beberapa adegan: a) adegan kasmaran (percintaan). a) adegan kasmaran menggambarkan sepasang suami dan istri yang sedang memadu cinta. Adegan kekudangan mengungkapkan rasa gembira dan rasa bahagia. pekerja profesional. Adapun bentuk aktualisasinya diwujudkan sepasang suami dan istri yang sedang menimang bayi secara bergantian sambil bersenandung tentang harapan-harapan mulia sebagai orang tua terhadap anak laki-laki kelak setelah menjadi orang dewasa. b) adegan kekudangan (menimang bayi sambil bersenandung) . tidak sombong. yang menggunakan properti berupa boneka yang dibalut sehelai kain sebagai simbolik anak (bayi). dan tegang. berpartisipasi aktif dalam pembangunan bangsa dan negara. Dari tema percintaan sepasang suami-istri yang sifatnya universal tersebut. Adegan kekudangan menggambarkan kegembiraan dan kebahagiaan sepasang suami dan istri yang telah dikaruniai seorang anak laki-laki yang diharapkan menjadi pewaris keturunan dan berguna bagi pembangunan bangsa dan negara. .219 Bentuk sajian dari tema percintaan yang diangkat pada tari Bondhan Sayuk tersebut aktualisasinya diperankan oleh: suami dan istri. istri menjadi luluh hatinya yang kemudian mereka berdua saling beradu cinta. mesra. Gambaran adegan kasmaran mengungkapkan rasa kecewa. mengambil anaknya. atas rayuan suami dengan sanjungan atau pujian.

Adegan makarya merupakan gambaran semangat bekerja secara bersamasama antara suami dan istri dengan suasana gembira. 2. kedamaian dan kebahagiaan berupaya menyeimbangkan akan kebutuhan rohani yang teraktualisasi dalam adegan kasmaran berlanjut adegan kekudangan dan kebutuhan jasmani yang tergambar dalam adegan makarya. Artinya pola-pola gerak yang digunakan dalam tari tidak selalu merepresentasikan secara vulgar dan jelas maksud penyusun yang tersurat pada bahasa verbalnya. kekudangan. Berawal dari alunan kendhang sebagai pembukaan yang . Adegan kasmaran merupakan adegan pertama yang secara garis besar menggambarkan sepasang suami dan istri sedang memadu cinta. Seperti gambaran adegan makarya. keharmonisan. Rasa yang hendak diekspresikan pada adegan ini yaitu puncak kegembiraan dan kebahagiaan.220 c). Pola-pola gerak yang digunakan untuk gambaran-gambaran pada masing-masing adegan tidak selalu dapat dengan mudah menunjukkan aktifitas yang tengah terjadi.. yang kemudian makarya dapat ditarik benang merahnya bahwa kehidupan sebuah keluarga yang didasari rasa cinta mendambakan kemesraan. Kinetic body moves atau Gerak tubuh. tetapi bagaimana vokabuler gerak tersebut mampu mengungkapkan rasa sesuai dengan kehendak penyusun. di sini bentuk-bentuk vokabuler geraknya tidak tampak gerak orang makarya / bekerja. Jika dicermati dari alur adegan dari kasmaran. Selengkapnya peristiwa adegan kasmaran tersebut terkait dengan Kinetic body moves akan digambarkan secara kronologis sebagai berikut. Gerak tubuh pada tari Bondhan Sayuk adalah kristalisasi dari beberapa unsur gerak tradisional yang bersumber pada tarian tradisional karaton Kasunanan yang lebih dikenal gaya Surakarta. Beberapa vokabuler gerak yang berupa sekaran memiliki karakteristik beragam pula.

Rasa kecewa diekspresikan istri lewat jengkeng. pl. . Perasaan suami tegang. Kebingungan semakin tampak. berhenti laku enjer menthang tangan kiri. suami hendak pegang istri menghindar. kemudian putra besut dan putri sindhet merupakan gambaran rasa kebersamaan. saling mendekat srisik kanthen tangan kanan. Secara perlahan-lahan keduanya lumaksono ridhong. mundur srisik. berhenti tanjak. sembahan. srisik menuju tengah stage. songgonompo – mbalang. gajah-gajahan.221 diikuti secara bersama alunan seluruh ricikan balungan atau instrumen gamelan yang terkemas dalam Srepek Rangu-rangu lr. mendekat hoyogan. tangan kanan saling berpegangan (nyathok) dan tangan kiri lurus ke samping (menthang) menuju stage. barang. berdiri meninggalkan suami sambil kebyokan tangan kanan-kiri sedangkan penari putra nyabet tangan kanan.. pt. barang. khawatir dengan kengser mundur pelan-pelan. pt. putra sebagai suami dan putri sebagai istri srisik bersama. Kedua penari. istri meninggalkan putra dengan gerak srisik kipat sampur dan suami mencoba lari untuk mencegah istri namun tidak dapat dengan gerak srisik. pl. Iringan Ketawang Mijil Sulastri lr. Suasana tegang diungkapkan istri mulai menjauh dengan gerak tawing kiri dan laku enjer sedangkan suami berhenti tanjak sambil tawing kiri memandangi yang putri. Rasa mesra mulai tampak ketika masing-masing peran suami dan istri saling mendekat dan berciuman dengan gerak kengser dan ngaras. kembali maju srisik. besut. pt. pl. barang untuk mendukung rasa kecewa dan rasa mesra. Selanjutnya gerak lincak gagak bersama. adapun bentuk iringan yang mendukung suasana ketegangan tersebut adalah lancaran lr. sekaran laras kebyokan. Istri srisik sambil menimang bayi menuju ke stage mendekati putra.

bekerja secara profesional. Selanjutnya istri tawing kanan. lembehan tangan kanan. Suami menimang anak sedangkan istrinya meledek dengan tawing kiri-tawing kanan. Bentuk Kinetic body moves yang mengekspresikan adegan kekudangan dapat dicermati berikut ini. maju srisik mendekati suami untuk memberikan anaknya dan suami juga mendekat dengan lumaksono untuk menerimanya. Setelah istri srisik sambil menimang anak. barang. berpartisipasi aktif dalam pembangunan bangsa dan negara.222 Adegan kekudangan merupakan adegan kedua. putar ke kiri – tangan kanan ukel karno sedangkan suami mendekat menanggapi dengan gerak panggel dan pandangan mengarah ke putri dan anak. suami merasa gembira dan bahagia secara perlahan-lahan mendekat. pt. Harapanharapan mulia kedua orang tua terhadap anak laki-lakinya kelak menjadi orang yang memiliki kepribadian yang baik. . Adegan kekudangan mengungkapkan rasa gembira dan rasa bahagia. tidak sombong. Istri mengingatkan pekerjaan terhadap suami dengan gerak tawing kanan sambil memandang suami sedangkan suami menyambut baik dengan gerak ukel karno kanan yang kemudian srisik mendekati. tangan kiri memegang bahu istri dan tangan kanan memegang anak sambil memperhatikan dengan tawing kanan. tidak menyeleweng. Adapun bentuk aktualisasinya diwujudkan sepasang suami dan istri yang sedang menimang bayi secara bergantian sambil bersenandung tentang harapan-harapan mulia sebagai orang tua terhadap anak laki-laki kelak setelah menjadi orang dewasa. pl. Seluruh sajian Kinetic body moves tersebut diiringi jineman Sayuk lr. yang menggambarkan kegembiraan dan kehagiaan sepasang suami dan istri yang telah dikaruniai seorang anak laki-laki yang diharapkan menjadi pewaris keturunan dan berguna bagi masyarakat. Istri meminta perhatian suami terhadap anak yang ditimang dengan gerak putar ke kanan.

Gendhing sebagai . Setelah istri menimang lalu boneka anak diberikan kepada temanten putri dengan srisik. enjer ridhong muter. dan bahagia. gerak yang dipilih antara pasangan suami dan istri berupa sekaran-sekaran yang dapat diekspresikan secara dinamis untuk menimbulkan kesan semangat dalam keadaan riang dan gembira. Sebagai penutup sepasang suami istri saling mendekat srisik kanthen tangan kanan menuju tempat duduk temanten mengambil boneka anak kemudian sebagai cucuk lampah temanten (berjalan di depan temanten untuk menggiring sepasang mempelai ke depan pintu rumah resepsi guna menghantarkan para tamu undangan yang hendak berpamitan). tawing kiri. tanam padi. Adapun gambaran Kinetic body moves bagian ini diiringi ladrang Sayuk lr. Gantian anak diberikan istri sedangkan suami meledeknya dengan ogekan. pl. suami gerak lumaksono sambil menanti kedatangan istri. Wujud Kinetic body moves yang dipilih untuk istri sekaran luluran. seperti mencangkul. membajak. Pada implementasinya. lilingan kebyok sampur.tangan kanan menthang sampur dan lilingan. Ungkapan adegan makarya adalah gambaran semangat dalam bekerja antara suami dan istri dengan suasana gembira. Rasa yang hendak diekspresikan pada adegan ini yaitu rasa riang. dan enjer muter. Adegan makarya merupakan adegan ke tiga yang menjadi penutup dari seluruh alur adegan yang terdapat pada tari Bondhan Sayuk. lilingan kebyok sampur dan enjer muter.223 Ekspresi kekudangan yang berisi harapan orang tua terhadap anak. gembira. barang. dan lainnya. pt. diawali suami menimang-nimang anak dengan lumaksono yang diikuti istri lumaksono lembehan sampur dan kawilan. Sekaran untuk ekspresi peran suami terdiri dari: laku telu pondhongan. Bentuk gambaran Kinetic body moves pada adegan makarya tidak mengekspresikan orang yang tengah bekerja menggarap sawah.

pl. pt. pl. dan makarya merupakan kombinasi dari gerak representatif dan presentatif. kekudangan. barang dan Ayak-ayakan lr. barang. seperti paparan berikut ini. .224 iringan adegan ini adalah Lancaran Sayuk lr. baik adegan: kasmaran. pt. Secara garis besar Kinetic body moves yang terdapat pada seluruh adegan tari Bondhan Sayuk.

Adegan Peran Jenis Gerak Peran Jenis Gerak Keterangan No I. Kasmaran 1 Srisik kanthen tangan kanan Distilisasi orang bergandengan tangan kanan 2 Lumaksono ridhong Distilisasi orang berjalan 3 Srisik kanthen tangan kanan Distilisasi orang bergandengan tangan kanan 4 Enjer menthang tangan kiri Distilisasi orang berjalan samping meluruskan kiri dari ke songgonompo gerak lari Srisik tangan kanan dari Lumaksono ridhong gerak lari Srisik tangan kanan SW Representatif SL Representatif Keterangan kanthen Distilisasi orang bergandengan tangan kanan Distilisasi orang berjalan kanthen Distilisasi orang bergandengan tangan kanan Distilisasi orang sesuatu gerak lari dari gerak lari dari menerima sambil tangan .225 2) jenis-jenis vokabuler gerak atau sekaran yang terdapat dalam tari Bondhan Sayuk.

tawing Distilisasi kiri dari Lincak gagak.226 5 Jengkeng Distilisasi orang duduk dari mbalang Distilisasi dari orang memberi atau membuang sesuatu 6 Ngaras Distilisasi orang berciuman dari Ngaras Distilisasi orang berciuman dari 7 Lincak gagak. sambil melihat ke kiri 8 Sautan / nubruk Distilisasi orang memegang seseorang dihindari 9 Srisik kanthen tangan kanan Distilisasi orang bergandengan tangan kanan 10 Enjer tawing kiri Distilisasi orang berjalan samping dari ke Tanjak tawing kiri gerak lari Srisik tangan kanan yang dari hendak Endhan melihat ke kiri Distilisasi dari orang menghindar kanthen Distilisasi orang bergandengan tangan kanan Distilisasi gerak lari dari orang berdiri sambil melihat ke kiri sambil melihat ke kiri . sambil gerak kaki burung gagak. tawing kiri Distilisasi dari gerak kaki burung gagak.

12 Srisik dan menimang bayi Distilisasi gerak Lumaksono. gerak badan menghadap ke depan sedangkan langkah kaki mengarah ke belakang 14 Tanjak Distilisasi gerak orang berdiri. ( pola tersebut merupakan sikap berdiri pada . Kedua tangan trap cetik nyempurit Distilisasi orang kedua ditekuk pinggang jari-jari di lari. kedua tangan lurus membuka samping ke dengan membawa sampur. gerak Posisi Srisik (tangan nekuk). kecuali jari jempol ditekuk. nyabet tangan kanan Distilisasi orang berjalan gerak orang lari dengan menggendhong bayi 13 Srisik mundur Distilisasi orang lari.227 11 Srisik kipat sampur. kedua tangan menthang sampur Distilisasi orang lari. gerak Posisi tangan depan dengan membuka.

228 tari Jawa untuk putra yang posisi kedua kaki membuka dan ditekuk badan disertai sedikit condong ke depan ). kesannya mendekat 5 Kengser Kengser Gajah-gajahan Gerak penghubung Kesannya tenang Besut Besut SW Presentatif SL Presentatif Keterangan Gerak penghubung Gerak penghubung Kesannya tenang dan memperhatikan Gerak penghubung. Kasmaran 1 2 Sindhet Sekaran laras kebyokan 3 Kebyokan tangan kanan-kiri 4 Kengser Kesannya mengabaikan Gerak penghubung. kesannya mendekat . kesannya mendekat Gerak penghubung. Adegan Peran Jenis Gerak Peran Jenis Gerak Keterangan No I.

229

Adegan

Peran

Jenis Gerak

Peran

Jenis Gerak

Keterangan No II. Kekudangan 1 Srisik dengan membawa anak Distilisasi gerak Tangan SW Representatif SL Representatif

Keterangan

kiri Menunjukkan

kasih

orang lari dengan menggendong boneka anak

memegang bahu dan peneliting tangan kanan

memegang anak gerak ke Tawing kanan Distilisasi gerak orang melihat ke kanan

2

Tawing kanan

Distilisasi orang kanan

melihat

3

Tawing kanan

Distilisasi orang kanan

gerak ke

Srisik

Distilisasi gerak orang lari

melihat

4

Srisik

Distilisasi orang lari

gerak

lumaksono

Distilisasi gerak orang berjalan

5

Memberikan anak kepada suami

Untuk timang

ditimang-

Menerima anak

Untuk timang

ditimang-

230 6 Tawing kiri-kanan Distilisasi gerak Menggendong anak Menimang-nimang boneka anak

orang melihat ke kiri lalu ke kanan 7 Lumaksono lembehan sampur Distilisasi gerak Lumaksono

Distilisasi gerak orang berjalan

orang berjalan yang kedua tangannya

membawa sampur 8 Menerima anak Untuk timang 9 Menggendong anak Menimang-nimang boneka anak 10 Srisik dengan membawa anak Distilisasi gerak Lumaksono ditimangMemberikan anak kepada istri Lilingan Untuk timang Distilisasi gerak orang meledek Distilisasi gerak orang berjalan ditimang-

orang lari dengan menggendong boneka anak

231

Adegan

Peran

Jenis Gerak

Peran

Jenis Gerak

Keterangan No II. Kekudangan 1 Lembehan ke kananke kiri sambil putar lalu ukel karno kanan 2 Kawilan Kesan meledek Ukel karno kanan Kesan perhatian meminta Panggel SW Presentatif SL Presentatif

Keterangan

memperhatikan

Kesan merespon

3

Ogekan, kanan sampur

tangan Kesan meledek menthang

232

Adegan

Peran

Jenis Gerak

Peran

Jenis Gerak

Keterangan No III. Makarya 1 Sekaran luluran Distilisasi gerak Laku pondhongan Enjer ridhong muter SW Representatif SL Representatif

Keterangan

telu Distilisasi gerak orang memondong Distilisasi gerak orang berjalan ke samping dengan melingkar

orang sedang luluran 2 Tawing kiri Distilisasi orang gerak ke

melihat

samping kiri 3 Lilingan kebyok sampur Distilisasi orang sambil sampur 4 Enjer muter Distilisasi gerak orang berjalan ke samping dengan melingkar Enjer muter gerak meledek membawa Lilingan kebyok sampur

Distilisasi gerak orang meledek sambil

membawa sampur

Distilisasi gerak orang berjalan ke samping dengan melingkar

233

Dari paparan jenis-jenis gerak presentatif dan representatif yang terdapat pada tari Bondhan Sayuk, dapat dicermati secara kuantitatif. a. Jenis gerak Representatif. Jumlah No Adegan Peran Jenis Gerak vokabuler

1

I. Kasmaran

SW

Representatif

12

SL

Representatif

14

2

II. Kekudangan

SW

Representatif

10

SL III. Makarya 3 SW

Representatif

10

Representatif

4

SL 4

Representatif

4 54

Jumlah gerak representatif, adegan I, II, dan III

b. Jenis gerak Presentatif. No Adegan Peran Jenis Gerak Jumlah vokabuler 1 I. Kasmaran SW SL 2 II. Kekudangan SW SL 4 Presentatif Presentatif Presentatif Presentatif 4 5 4 4 17

Jumlah gerak presentatif, adegan I dan II

234

Jumlah presentase jenis-jenis gerak representatif dan presentatif tari Bondhan Sayuk.

Tari Bondhan Sayuk No 1 2 3 4 5 Adegan I, II, dan III I, II, dan III Jenis gerak representatif presentatif jumlah 54 17 71 76,05 %, 23,95 %

Jumlah total gerak representatif dan presentatif = 54 + 17 Jumlah presentase gerak representatif = 54 : 71 X 100. Jumlah presentase gerak presentatif = 17 : 71 X 100.

3. Polatan (ekspresi wajah). Ekspresi wajah atau gerak wajah bukannya wajah dalam pengertian objek yang statis, merupakan sarana untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik terhadap sesuatu yang sedang dikomunikasikan. Dari pengamatan peneliti terhadap ekspresi wajah pada tari Bondhan Sayuk dapat dijabarkan seperti berikut. Pada adegan 1. kasmaran, bagian awal menggambarkan rasa kebersamaan, polatan kedua penari tampak cerah, kepala cenderung tegak, pandangan mata lebih banyak searah dan juga diseling saling menatap untuk mengekspresikan rasa romantis. Perubahan terjadi ketika rasa kecewa muncul, polatan suami sedikit tegang terfokus pada istri sedangkan kepala istri banyak menunduk, tatapan mata tidak merespon suami dan berupaya menghindar. Rasa kasmaran mulai terbangun kembali ketika sepasang suami dan istri berciuman, polatan suami dan istri tampak cerah, mulai saling menebar senyuman. Akhir adegan kasmaran suasana tegang, wajah suami dan istri tampak tegang pandangan mata tajam dan kepala tegak. Pandangan mata suami istri saling menatap secara tajam dengan

suasana semangat yang diekspresikan secara bersama-sama antara suami dan istri lewat sekaran-sekaran kebar semakin dinamis didukung iringan Lancaran Sayuk yang berirama 1/1. Rias dan busana. Bagi orang jawa rias dan dandanan busana yang digunakan pada acara resepsi secara garis besar untuk wanita memakai kebaya dan bagian atas menggunakan sanggul atau gelung. sedangkan pria memakai kejawen. Konsep tersebut rupanya merupakan pijakan awal yang selanjutnya dikembangkan oleh penyusun tari menjadi lebih berfungsi untuk kebutuhan ekspresi tari. Bentuk rias dan dandanan busana tari Bondhan Sayuk seperti . senyuman semakin meningkat dan pandangan mata banyak saling menatap menunjukkan keharmonisan dan kemesraan. Menginjak adegan makarya. Adegan kekudangan diawali Istri srisik sambil menimang bayi menuju ke stage mendekati suami. secara perlahan-lahan suasana mulai berubah menjadi gembira. Ide yang melatarbelakangi bentuk rias dan busana yang dipakai bahwa kisah cerita yang diangkat dalam tari Bondhan Sayuk adalah gambaran kehidupan sepasang suami istri yang berbudaya Jawa. gembira. ekspresi wajah keduanya semakin tampak cerah. Bentuk rias dan busana tari Bondhan Sayuk mengacu pada busana Jawa yang sering dipakai pada acara-acara formal sebuah resepsi. 4. ekspresi wajah sepasang suami istri tampak cerah. Kegembiraan meningkat dan kebahagiaan semakin terasa ketika sepasang suami istri secara bergantian menimang anak. polatan terfokus pada istri. sehingga kegembiraan lebih maksimal dan kebahagiaan semakin mantap.235 didukung gerak istri perlahan-lahan menjauh meninggalkan sedangkan gerak suami mendekat.

Suami memakai dodot tanggung motif lereng. dan cundhukmentul layaknya penganten putri berbusana basahan. kalung. Dandanan busana untuk istri memakai dodot tanggung (dodot kecil) motif lereng dan bagian kepala menggunakan gelung besar yang diberi bunga tibandhadha. Kiranya dapat disimpulkan bahwa rias dan busana yang digunakan dalam tari Bondhan Sayuk untuk memberi dukungan karakter peran dan mengaktualisasikan jati diri peran. seperti aktualisasi adegan awal kasmaran yang menggambarkan kebersamaan suami dan istri (lihat gambar: 1). Perhiasan yang dipakai putri diantaranya: gelang. Selain itu untuk fase-fase ketegangan ketika istri hendak meninggalkan suami (lihat gambar: 2). dan kalung. dan suweng. mencakup dua bentuk utama.236 rias dan busana yang dipakai pada peran-peran kethoprak. Pola lantai. 5. Wujud rias istri menggunakan rias cantik dan rias suami menggunakan rias bagusan yang keduanya tidak menampakkan perubahan karakter secara menyolok. cundhukjungkat. . Garis-garis lurus digunakan untuk mengungkapkan keinginan. keris dan blangkonan. yaitu garis lurus dan garis lengkung. kelat bahu. kemauan yang kuat dan tegas. Secara prinsip pola lantai yang terdapat dalam tari Bondhan Sayuk. Warna busana dominasi coklat yang memiliki kesan kalem dan kuning emas terutama perhiasan untuk menambah daya tarik penonton. Perhiasan untuk putra diantaranya: gelang. kelat bahu. terutama peran alusan atau bambangan untuk pria. Pola lantai yang dibentuk dari Kinetic body moves merupakan komplementer keduanya yang diharapkan dapat membantu mengekspresikan suasana yang terdapat pada masing-masing adegan.

lilingan kebyok sampur.237 Gambar 1. terutama pada adegan tiga makarya. dan enjer ridhong muter yang terkait dengan pola-pola lantai tersebut seperti tergambar pada paparan berikut. Adapun bentuk-bentuk sekaran laku telu pondhongan. Gambar 1. . lembut. Gambar 2: pola lantai lilingan kebyok sampur pada adegan tiga. Gambar 2. Gambar 1: pola lantai laku telu pondhongan pada adegan tiga. Garis-garis lengkung lebih difungsikan untuk mengungkapkan kesan manis. Gambar 2. yang banyak terdapat dalam tari Bondhan Sayuk.

yakni: (1) garap sindhenan (2) garap jineman. Bentuk garap jineman merupakan garap lagu tembang jawa. Iringan. yang dinyanyikan koor oleh vokalis putra . Sedangkan garap gerongan terdiri dari satu bait yang terdapat pada iringan Lancaran Sayuk. Bentuk iringan tari Bondhan Sayuk merupakan komplementer garap lagu Teks sastra tembang dan rasa musikal dari garap instrumen gamelan yang berupa gendhing. terdiri dari beberapa garap lagu.238 Gambar 3. Maksud menggunakan garap jineman adalah untuk menonjolkan lagu dan makna yang terkandung dalam bahasa verbalnya. dan (3) garap gerongan. Garap sindhenan terdiri dari satu bait yang terdapat pada iringan Ketawang Mijil Sulastri. yang penyajiannya dimulai nyanyian solo atau tunggal tanpa iringan instrumen gamelan kemudian diikuti nyanyian secara koor dengan iringan instrumen gamelan. Gambar 3: pola lantai enjer ridhong muter pada adegan tiga. Garap jineman mencakup satu bait yang terdapat pada iringan Ladrang Sayuk. 6. Bahasa verbal yang berupa teks sastra tembang yang terdapat dalam tari Bondhan Sayuk.

Kedudukan iringan Srepek Rangu-rangu lr. kedudukannya dalam adegan kasmaran ini bersifat nyawiji. barang berfungsi untuk memberikan ilustrasi terhadap rasa kebersamaan sepasang suami istri. barang. didukung beberapa iringan gendhing. Susunan iringan tari Bondhan Sayuk seluruhnya dan secara urut dari adegan kasmaran. pl. pt. barang. Adegan : I. barang. pt. yang merupakan iringan kedua setelah Srepek Rangu-rangu lr. pl. barang dengan ekspresi vokabuler gerak yang secara komplementer mengungkapkan suasana kasmaran yang dialami sepasang suami istri yang terjabar dalam rasa: kecewa dan mesra. pt. kekudangan dan makarya dapat dicermati berikut ini. Ketawang Mijil Sulastri lr. diantaranya: a) rasa musikal dan makna bahasa verbal yang mengekspresikan rasa kecewa menyatu dengan ekspresi gerak yang menggambarkan kekecewaan istri. Keterpaduan yang dimaksudkan adalah menyatunya rasa musikal gendhing Ketawang Mijil Sulastri lr. barang. pt. begitu pula rasa musikal dan makna bahasa verbal yang mengekspresikan rasa cinta menyatu dengan ekspresi gerak yang menggambarkan kemesraan sepasang suami istri yang ditandai dengan gerak ciuman. pt. dan Lancaran lr. b) rasa seleh yang . Adegan kasmaran sebagai adegan pertama dalam tari Bondhan Sayuk. pl. pl. dapat dicermati secara komprehensip dari beberapa elemen. pt. Ketawang Mijil Sulastri lr. Pengertian nyawiji di sini garap gendhing Ketawang Mijil Sulastri lr. pl. pl.239 bersama vokalis putri. pt. barang. pl. barang pada adegan ini bersifat nglambari artinya rasa musikal yang dihasilkan dari garap Srepek Rangu-rangu lr. pt. barang implementasinya dengan garap gerak adalah menyatu. Bentuk menyatunya iringan dengan gerak. antara lain: Srepek Rangu-rangu lr. Kasmaran. pl. pl. pt.

Terkait dengan alur adegan iringan Lancaran lr. merupakan iringan yang secara musikal dapat mengekspresikan suasana tegang yang kedudukannya pada adegan ini lebih bersifat nglambari. pt. pt. barang Buka : kendhang : [ 2 5 ] suwuk : 7 6 2 5 7 3 o 2 5 o 7 6 o 2 5 b 7 3 3 6 xpl o 5 7 2 6 g7 3 5 3 2 3 g7 XXXXXxx2xxx x7x x Xx2x x x7 3 2 7 g6 Ketawang Mijil Sulastri lr. pt. barang tersebut merupakan fase peralihan dari adegan kasmaran menjadi adegan kekudangan. pl.240 terdapat pada gendhing merupakan iringan yang mendukung rasa seleh pada tari. pl. bentuk iringan untuk adegan 1: kasmaran. dapat dicermati Srepek Rangu-rangu lr. pt. pl. c) pola gatra yang terdapat pada bentuk gendhing Ketawang Mijil Sulastri dapat dijadikan tanda mulai bergerak ataupun berakhirnya suatu gerak pada tari. Adapun paparan berikut ini. Lancaran lr. barang. barang . Implementasinya rasa musikal yang berirama 1/1 tersebut mampu memberikan ilustrasi rasa tegang yang mendukung kekacauan atau ketegangan yang diekspresikan suami maupun istri. baik rasa seleh ringan maupun rasa seleh berat. pl.

Kekudangan Dalam adegan kekudangan yang mengisahkan menggambarkan kegembiraan dan kebahagiaan sepasang suami dan istri yang telah dikaruniai seorang anak laki-laki yang diharapkan menjadi pewaris keturunan dan berguna bagi pembangunan bangsa dan negara. . 7 7 . 7 7 . n7 n7 .x x x6XXXx x x. 6 2 p7 3 2 7 7 6 5 n3 X . 2 . 3 . 7 3 . 2 . . 2 . 3 3 . tidak sombong. . . p3 . g6 x3x x x3x x x. 2 g7 x5x x5x x x. tidak menyeleweng. . pt. n7 . g6 2 . .xxx x. Adapun bentuk aktualisasinya diwujudkan sepasang suami dan istri yang sedang menimang bayi secara bergantian sambil bersenandung tentang harapan-harapan mulia sebagai orang tua terhadap anak laki-laki kelak setelah menjadi orang dewasa. . g2 g6 ] Adegan : II. 7 7 . 3 7 5 . p3 . pl.x Xx x. 2 . 3 5 . barang [ . . 2 2 . Dukungan iringan untuk adegan kekudangan yang mengungkapkan rasa gembira dan rasa bahagia . berpartisipasi aktif dalam pembangunan bangsa dan negara. pekerja profesional. 7 . 7 . 6 2 . Harapanharapan mulia kedua orang tua terhadap anak laki-lakinya kelak menjadi orang yang memiliki kepribadian yang baik. 7 5 7 Xxn6x7 x5x6 7 XXXx5XXXXXXx7 g6 Lancaran lr.x x xp.241 [ . 2 . . . 3 p2 . x3xx Xx XXXx3x x XXx5x x Xxg6 Xx. .

pl.242 adalah Ladrang Sayuk lr. pt. barang mengisyaratkan bahwa ungkapan rasa gembira dan rasa bahagia yang terdapat pada adegan kekudangan ini suasana tampak lebih tenang dan semeleh (irama tidak tergesa-gesa. barang pada adegan ini sifatnya mungkus.ketat diikuti pola kendangan. pl. lagu jineman yang riang dan tekanan sedang pada adegan kekudangan ini adalah untuk pencapaian harmonisasi penyajian. dan bahagia sepasang suami dan istri dapat nyawiji dan tercapai. Pengertian nyawiji ini mengarah pada pemersatuan dari unsur tari yang berupa vokabuler-vokabuler gerak kebar yang dinamis dan unsur karawitan yang berupa Ladrang Sayuk lr. pt. pt. pt. Bentuk iringan untuk adegan 2: kekudangan dapat dicermati paparan berikut ini. pt. Kedudukan iringan Ladrang Sayuk lr. dan mantap). pt. pl. barang pada dasarnya nyawiji dengan garap geraknya. Bentuk mungkus ini ditinjau dari pelaksanaan vokabuler gerak yang terdapat pada adegan kekudangan hampir seluruhnya menggunakan pola kendangan kebar atau ciblon yang selalu membungkus pola gerak. pl. pl. pl. Dalam hal ini polapola gerak tari selalu ketat. Garap wiled yang berirama 1 / 8 pada Ladrang Sayuk lr. dan nyawiji. Keterpaduan garap tari dan garap Ladrang Sayuk dalam rangka mengekspresikan rasa gembira. Selain itu iringan Ladrang Sayuk lr. Jineman Sayuk laras. barang . barang. barang dengan irama sigrak. pelan.

.e z6c7 7 @ Sa-du 5 5 5 a . 6 Tak ku . .ngan .wa . 3 .nak mu ga . pl. . u zj2c3 u . . barang 5 2 5 2 5 6 5 3 . 3 .ki wus wan . .ci Dhuh mas ji . y u 3 z6x5x3x5x6c7 z3x2x7c6 z7x2x. pt.c6 Sa .sah a . zj2c3 y tho-le 2 7 y zj7c2 Mbok-ne .nak ku sing ba . 2 Be . . z6c7 5 we 5 .x3x2c7 Ba.x6x5c3 2 X z2x3c2 z7x. .suk 7 .le mang-kat ma 5 6 7 z5c6 2 2 z2x3c2 kar ya z7x. . . .we Ladrang Sayuk lr. . a .wah mu tan .243 Buka : celuk : 6 z7cx2 2 7 2 XXXXz@cc# 2 XXXXXXxxz6c7 Xxzx5x. 6 z7x x xzj@c# zzzzzzzzzjz6x7x jx5c3 2 zj2c3 3 7 2 zj3c2 7 rung .ter nyam-but ga . . 2 5 3 .dang-e . y . . . .ya 5 I .ti .gus 3 z@x x x x c# z6x c5 pin .pak ne si .wa .tho .c6 ku 2 uX y 3 ba . . .nen mre-ne # z#c@ 7 z6c7 dhe .

3 5 3 2 5 2 5 3 5 6 zj5c6 j22 j23 5 zj.3 2 7 j.e a-tak a .7 3 zj7c2 A-dhuh lae atak a-dhuh la .buh la-bet mringbangsa .7 2j.7 2 jz2c3 Adhuh lae a-tak a-dhuh lae o -ra nyle-weng tu .sing–kir .nge j7j j # j@j j 6 j3j j j.ke 4 2 4 2 4 3 2 7 j.3 4 jz3c4 A-dhuh lae atak a.e 7 @ 6 3 6 5 3 2 .3 5 .te .e 2 7 2 7 .ta 2 7 j.6 2 6 7 j.6 j33 j33 jz7c2 2 5 j.xjkj5c6 2 j.3 j77 j77 2 j.6 j22 j23 5 j.2 A-dhuh la-e atak adhuh la .6 6 7 jz@c# zj6c7 zj3c2 zj6c5 3 A-dhuh la .e 5 .so nga .# j@# 7 A-dhuh lae a-tak adhuh lae 2 7 2 7 jz6c7 3 jz7c2 an-teng ta-jem po .e atak adhuh la .ma -nda .244 j.xk3c4 j22 j23 j4jk.3 zj5cy j.7 2 6 j27 3 ne 2 j.3 5 zj5c6 j22 j23 5 zj5c6 2 j.dhuh la – e se.3 4 kz.kz3c4 2 j.ne 5 3 5 3 6 7 3 2 3 j.3 5 j.e dha .e wis mbok ne e-nyoh a .y jz7c2 zj2c3 3 j.2 jz5c6 6 Adhuh la .dhuh la.ne 2 6 3 y 2 j.3 2 y j.7 jz2c7 jz3c2 7 la .6 3 j.e cu-kat trampil 5 2 7 2 5 j2jj j 6 tu.nak .sar bregas ten a .la .3 j77 j77 2 j.6 6 j.mi – ndak .7 2j.ran di .6 z7c2 z2c3 3 j.

pl. pt. zj6c7 5 . Kedudukan iringan Lancaran Sayuk lr. pt. pt. pl. Iringan Lancaran Sayuk lr. Sebagai penutup adegan makarya diiringi Ayak-ayakan lr. barang dan Ayak-ayakan lr. pl. Adegan makarya merupakan gambaran semangat bekerja secara bersama-sama. dan nyawiji. 7 z@x xj. Dalam hal ini pola-pola gerak tari selalu ketat. . pt. pl. pl. pt.c# zj5x6jx5c3 sun 2 ar . Bentuk nyawiji ini mengarah pada pemersatuan dua unsur menjadi satu yaitu dari unsur tari yang berupa vokabulervokabuler gerak kebar yang dinamis dan unsur karawitan yang berupa Lancaran Sayuk dengan irama sigrak. barang. lagu gerongan riang dan tekanan dinamis. . Rasa yang hendak diekspresikan pada adegan ini yaitu puncak kegembiraan dan kebahagiaan untuk menyongsong masa depan yang lebih cerah. sehingga rasanya menyatu dan harmonis. Iringan yang mendukung adegan makarya yaitu Lancaran Sayuk lr.sa jz6x7xxj6c5 3 . barang dan sebagai mundur beksan (penutup) iringan Ayak-ayakan lr. pl.ketat diikuti pola kendangan. barang pada adegan ini sifatnya mungkus. Makarya. barang secara berurutan dapat dicermati paparan berikut ini. .245 . pt. barang yang berfungsi nglambari yang memberikan ilustrasi rasa musikal untuk mundur beksan. mang - kat me - ga - we Adegan : III. kompak antara suami dan istri dalam suasana gembira. Bentuk mungkus ini ditinjau dari pelaksanaan vokabuler gerak yang terdapat pada adegan tiga hampir seluruhnya menggunakan pola kendangan kebar atau ciblon yang selalu membungkus pola gerak.

7 .yuk . . g7 3 g6 g6 g2 5 5 3 g2 3 3 2 2 g3 g3 6 6 5 5 3 6 g2 g7 ] Suwuk : x7x x7 6 7 3 2 7 g6 . 6 5 5 3 3 5 3 3 5 . . . o 5 5 o b . . 6 . 3 z6c7 . 6 5 5 .ne .yuk .yuk . 7 6 6 . pt. 6 . o g3 b . z@x x x. 6 sa . .246 Lancaran Sayuk lr. barang . 6 . 6 . 6 . 6 5 5 . b 2 g2 . 6 3 5 3 g2 7 g2 g6 g2 . 5 g6 6 Sa-yuk . sa-yuk . .he .yuk nyam-but ga. 6 sa. 7 . pt. .yuk . 6 5 5 .be . . 7 6 6 .yuk sa – kan . 5 g2 . pl. 5 3 2 . 3 . 2 7 3 . 6 2 2 . 6 5 5 3 7 g2 o . sa.ca . 2 7 3 . 5 . . . @ . . 6 2 2 . 2 SS Sa yuk 7 7 . 7 6 6 .ka .we . . 3 .yuk sa . [ 6 3 5 3 3 5 5 3 5 .x x c3 z6c5 3 mba-ngun ne – ga - ra - ne Ayak-ayakan lr. 6 . . . sa. . barang Buka : . pl. . . sa. 5 g6 6 Sa . 6 2 2 . 7 . 3 g5 5 Sa .

barang. pt. dan Rasa Vokabuler gerak Istri (SW) Bahasa Nonverbal Vokabuler gerak Suami (SL) Pola lantai Iringan Hubungan Langsung Hubungan Tidak Langsung Srepek Rangurangu lr. Kasmaran: tangan kanan tangan kanan . ungkapan cinta yang mendalam seorang suami Rasa Kebersamaan Srisik kanthen Srisik kanthen Garis lurus Gong: 1 terhadap istrinya.247 Komposit Bahasa Verbal dengan Nonverbal Tari Bondhan Sayuk. pl. Adegan. I. No Bahasa Verbal Sastra Tembang Tema. dengan harapan mendapat Lumaksono ridhong Lumaksono ridhong Garis lurus Gong: 2 perhatian demi terjalinnya kasih cinta untuk harmonis Keterangan 1 Pasihan/ Percintaan.

pl. sekaran nyabet laras kebyokan kanan. pt. kanan. tangan kanan-kiri songgonompo. aja gawe kagol . sindhet Ketawang Mijil Sulastri lr. Garis lengkung Gong: 2 Gong: 3 V - garwaku berdiri kebyokan gajah-gajahan.248 Srisik tangan laku kanthen Srisik kanthen Garis lengkung Gong: 3 sebuah rumah tangga. barang. manis. Rasa kecewa jengkeng. tangan kanan. besut enjer menthang tangan kiri. wong sembahan. besut tangan Posisi di tempat Gong: 1 Dhuh mas rara. mbalang. Hoyogan.

pt. barang srisik kanthen srisik kanthen Garis lengkung Gong: 1 tangan kanan tangan kanan tawing kiri dan tanjak tawing kiri laku enjer Garis lurus Gong: 2. lincak gagak.249 Amung sira yekti Rasa mesra sulistyane gerak kengser dan ngaras kengser dan ngaras Gong: 4 V - Jumbuh klawan lincak mbalik gagak. maju endhan sautan/nubruk jeblosan dan Gong:5 V - rasaningtyas mami. Prasetya ingong wak dan jeblosan Lancaran lr. Binerkahan ugi. dan 4 Rasa tegang srisik sampur kipat srisik kedua tangan ditekuk pinggang trap Garis lurus Gong: 5 . 3. pl.

10. dan 11 . maju tanjak kanan Gong: 9.250 Gong: 6 mundur kengser. dan 7 nyabet kanan maju srisik Gong: 8 Srisik sambil menimang anak mundur srisik.

bapakne si thole. putar ke kanan.251 2 Jineman Ladrang Sayuk Dalam menciptaka Dhuh mas jiwaku. Rasa mesra Menimang anak maju. tangan kiri memegang bahu istri dan tangan kanan memegang anak sambil memperhatikan dengan tawing kanan Garis lengkung V n keharmonis an keluarga. lembehan tangan kanan. seorang istri mempunyai peranan cukup penting dalam baya iki wis wanci. mbalik tawing kanan Ukel karno kanan Garis lengkung V - . putar ke kiri – tangan kanan ukel karno maju panggel dan pandangan mengarah ke putri dan anak Garis lengkung V mendukung tugas dan kewajiban peran suami sebagai kepala keluarga.

tawing kiri-kanan menimang-nimang anak Garis lengkung Ladrang Sayuk lr. barang V - kebersamaan. bahagia. dan pinter gembira. panggel V - Mbokne thole. membelai anak (berupa boneka anak) Srisik mendekat istri V - sawahmu hanganti tansah tawing kanan. pt. maju mendekati suami lumaksono V - Sakdurunge anakmu mrene.252 mangkat makarya. pl. gawanen maju srisik mendekati suami untuk memberikan anaknya mendekat untuk menerima anaknya Garis lurus V - Tak kudange anaku Rasa sing bagus dhewe. mbesuk mesra. nyambut gawe .

dasar bregas ten atene adhuh lae. atak Menimang anak lilingan Garis lengkung Kenong: 1 V dan mengutama kan tua adhuh lae. atak Menimang anak menthang tangan kiri – ogekan tajem Garis lengkung Kenong: 3 V kelak menjadi seorang yang berperilaku adhuh lae. atak Menerima anak memberikan anak kepada istri trampil Garis lengkung Kenong: 2 V laki-laki yang masih dalam timangan supaya adhuh lae. kawilan lumaksono putar Garis lengkung Kenong: 1 V Harapan orang terhadap anaknya adhuh lae. sesongaran disingkirke adhuh lae. anteng polatane adhuh lae. labuh labet mring . adhuh lae. atak Menimang anak lilingan Garis lengkung Kenong: 4 (Gong : 1) V baik mengutama kan kebajikan.253 adhuh lae. kerja keras. atak Lumaksono lembehan sampur. cukat tumandange adhuh lae.

254 bangsane Kenong: 2 adhuh adhuh lae. Gerongan Sayuk pl.wis enyoh memberikan anak kepada temanten. atak lae. barang . nleweng tumindake adhuh adhuh mbokne anake lae. atak lae. srisik lumaksono Kenong: 3 V - sun arsa mangkat megawe 3 lancaran Sayuk lr.ora srisik Lumaksono Garis lurus V kepentingan umum untuk membangun bangsa. pt.

sayuk. nyambut gawe Laku telu sampir sampur Laku telu pondhongan Garis lengkung Gong: 5 Gong: 6 - V secara bersamasama untuk membina dan Sayuk. Sayuk. sayuk. nyambut gawe Rasa gembira. sak kancane Sayuk. sayuk. sakabehe Sayuk negarane mbangun Kawilan . sayuk. sayuk.tawing Tawing kiri Garis lengkung Gong: 3 Gong: 4 - V harmonis. sayuk.255 sayuk. dan berupaya menjalani kehidupan Sayuk. sayuk. mbangun Enjer ridhong Enjer ridhong Garis lengkung Gong: 7 Gong: 8 - V mendidik anak kelak menjadi orang yang Lilingan kebyok Lilingan kebyok Garis Gong: 9 V berguna . sayuk. sayuk. sakabehe Sayuk negarane Sayuk. sayuk. sayuk. damai. bahagia Trap tawing jamang - Luluran Garis lengkung Gong: 1 Gong: 2 - V Gambaran kehidupan sebuah keluarga yang rukun. sayuk. sayuk. sayuk. sak kancane Sayuk.

. pt. sayuk. sakabehe Sayuk negarane mbangun Enjer penthangan kedua melingkar tangan Enjer penthangan kedua tangan melingkar Garis lengkung Gong: 11 Gong: 12 - V Ayakayakan lr. Garis lurus cucuklampah temanten (selesai). Sayuk. sayuk. pl.256 sak kancane Sayuk. sayuk. sayuk. nyambut gawe sampur sampur lengkung Gong: 10 bagi bangsa dan negara. barang Srisik kanthen Srisik kanthen tangan kanan dan mengambil anak Garis lurus tangan kanan dan mengambil anak Lumaksono sambil menimang anak sebagai Lumaksono sebagai cucuklampah temanten (selesai).

dan III Langsung Tidak langsung 18 6 24 jumlah Jumlah hubungan langsung dan tidak langsung = 18+ 6 4 5 Jumlah persentase hubungan langsung = 18: 24 X 100. Adapun persentasenya dapat dicermati pada uraian berikut. Boneka anak yang dibalut dengan sehelai kain dimaksudkan sebagai simbolisasi anak (bayi) yang masih dalam timangan seorang ibu. Jumlah persentase hubungan tidak langsung = 6: 24 X 100. Hubungan bahasa verbal dan nonverbal bersifat langsung artinya bahwa makna bahasa verbal sastra tembang sesuai dengan makna bentuk kinetic body moves dari bagian bahasa nonverbal. Secara kuantitatif hubungan bahasa verbal dan nonverbal pada tari Bondhan Sayuk yang bersifat langsung tampak lebih mendominasi dibandingkan dengan yang tidak langsung. 75 %.Dari komposit bahasa verbal dan nonverbal pada tari Bondhan Sayuk terdapat hubungan yang bersifat langsung dan tidak langsung. Properti boneka. Sedangkan hubungan bahasa verbal dan nonverbal bersifat tidak langsung artinya bahwa makna bahasa verbal sastra tembang tidak sesuai dengan makna bentuk kinetic body moves. dan III I. II. Rupanya terdapat sebuah harapan dari simbolisasi boneka anak tersebut yaitu bagi pasangan temanten untuk segera diberi keturunan anak sebagai pewaris keluarga. Tari Bondhan Sayuk No Adegan Hubungan bahasa verbal dengan nonverbal 1 2 3 I. II. Boneka anak yang sering 257 . 25 % 7.

akan diamati sejak adanya bentuk garapan tari dengan tema percintaan sejak abad ke VIII zaman Mataram Kuno hingga sekarang. Munculnya genre tari pasihan sebagai proses sejarah merupakan permasalahan yang hendak dipaparkan sebagai awal bagian faktor genetik untuk mengantar pada analisis-analisis berikutnya. hal ini untuk kebutuhan kemasan seni pertunjukan supaya lebih menarik dan memikat penonton. Faktor Genetik.digunakan dalam tari Bondhan Sayuk dilengkapi dengan baterai sehingga dapat bersuara layaknya anak yang sedang menangis. garapan tari yang bertemakan percintaan di Jawa diperkirakan telah ada sejak abad IX. seperti yang tertulis pada prasasti Balitung. Selain wayang. Digunakannya boneka pada tari Bondhan Sayuk sangat terkait dengan keinginan atau harapan seniman penyusunnya yang ketika itu menghendaki diberi anak pertama lahir seorang anak laki-laki. B. Masa embrio tari pasihan sejak Abad ke VIII sampai abad ke XIX. Semua berawal dan berakhir dalam suatu proses yang terus menerus melalui dimensi waktu (Ibrahim Alfian. prasasti Balitung juga memberi keterangan bahwa pertunjukan 258 . Kehadiran Genre Tari Pasihan Dalam Seni Pertunjukan Jawa Segala sesuatu yang dihadapi manusia dimuka bumi ini dalam kehidupannya semua mempunyai temporalitas atau historisitas. Bila kita runut lebih cermat. 1999: 2). Untuk mengungkap latar belakang munculnya genre tari pasihan dalam kurun waktu sejarah. Kehadiran genre tari pasihan di Surakarta merupakan suatu proses yang memakan waktu cukup lama dalam sejarah yang penting bagi kehidupan dan perkembangan seni tradisional dalam seni pertunjukan Jawa.

1990: 4-5). Gaya dan tehnik tarinya yang digunakan kemungkinan besar telah terekam pada relief Candi Borobudur dan Prambanan (Soedarsono. Mengingat zaman Jawa Timur perkembangan kesusasteraan sangat maju. seperti adegan percintaan Sugriwa dan Dewi Tara. Adapun cerita Panji ini mengisahkan perjalanan cinta Panji 259 . Setelah Kerajaan Mataran Kuna di Jawa Tengah runtuh. dramatari Jawa Tengah yang bernama wayang wwang tetap dilestarikan di kerajaan-kerajaan baru tersebut dengan membawakan wiracarita yang sama yaitu Ramayana dan Mahabarata. kemungkinan besar bentuk garapan tari yang bertemakan percintaan juga sudah ada sejak zaman itu.D.dramatari yang membawakan wiracarita Mahabarata dan Ramayana juga sudah ada sejak zaman Mataram Kuna. tetapi kemungkinan besar yang dipergunakan pada waktu itu adalah bentuk wayang wwang. Rupanya sudah dapat diduga bahwa dalam kedua wiracarita tersebut terdapat adegan percintaan antara tokoh-tokoh utamanya. yang tergores dalam prasasti Wimalasrama dari Jawa Timur. maka lahir pula dramatari baru yang bernama Raket (Soedarsono. dan Majapahit (abad X sampai ke XVI). di Jawa Timur muncul kerajaan-kerajaan. dan sebagainya. Bertolak dari sumber yang menyebutkan bahwa wayang wwang merupakan bentuk dramatari dan wiracarita yang dibawakan sejak zaman Mataram Kuna. Mengingat di dalam wiracarita Ramayana dan Mahabarata juga diwarnai oleh tema percintaan. percintaan Arjuna dengan Sembadra. percintaan Rama Wijaya dengan Sinta. 1990: 7). di antaranya Medang. Kediri. Meskipun istilah dramatari tidak disebutkan. Jenggala. Istilah wayang wwang baru dijumpai pada tahun 930 A. percintaan Puntadewa dengan Drupadi. kemudian muncul cerita baru yaitu cerita Panji. Singasari.

Gamelan. Dengan demikian Raket merupakan bentuk dramatari yang bertemakan percintaan yang didalamnya sudah barang tentu terdapat garap adegan percintaan antara Panji Inukertapati dengan Sekartaji yang hidup dan berkembang pada zaman Majapahit. yaitu tokoh-tokoh: Panji Kasatriyan. Cerita Panji merupakan cerita yang sangat terkenal di wilayah Asia Tenggara. dan Turas ( sekarang Penthul atau Bancak) (Soedarsono. Andaga. Menurut tradisi Jawa. Cerita Panji ini menjadi mendarah-daging di kalangan masyarakat Asia Tenggara karena kemudian dianggap sebagai salah satu cerita Jataka atau kelahiran Budha (Soedarsono. Adapun topeng yang diciptakan untuk pertunjukan wayang topeng terdiri dari sembilan. dan kemudian Mataram Baru. kekuasaan politik dan budaya Jawa mulai muncul dan berkembang di Jawa Tengah di bawah rajaraja penganut Islam seperti Demak. Runtuhnya Kerajaan Majapahit diawali abad ke XVI. Klana. 1999: 18-19). Pajang. Kiranya dapat diduga bahwa wayang topeng tersebut merupakan bentuk dramatari yang menggunakan topeng dan membawakan cerita Panji yang di dalamnya tetap masih terdapat garap 260 . Gunungsari. Candrakirana. wayang. para wali terutama Sunan Kalijaga yang selalu dikatakan sebagai pencipta topengtopeng yang dipergunakan untuk pertunjukan wayang topeng. dan wayang topeng kemungkinan besar merupakan perkembangan dari Raket. Maka tidaklah mengherankan apabila cerita Panji ini juga merupakan tema yang digunakan dalam genre tari pasihan yang hidup dan berkembang hingga sekarang. Benco (sekarang Tembem atau Doyok). tetap populer pada masa itu. Danawa (raksasa). 1999: 133). maka tidak dapat disangkal lagi bahwa cerita Panji berasal dari Jawa. Raton. Bila wiracarita Ramayana jelas berasal dari India.Inukertapati dengan Sekartaji.

Bedaya kadukmanis. bahwa tari Gatutkaca-Pergiwa itu telah muncul sebelum Indonesia merdeka tahun 1945 (Maryono. 261 . Ketika Mataram pecah menjadi dua yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta pada tahun 1755. Kasultanan Yogyakarta di bawah Hamengku Buwana I. maupun peran-peran lain. Tari Gatutkaca-Pergiwa adalah bentuk tari pasihan yang merajut percintaan antara Raden Gatutkaca dengan Dewi Pergiwa. dan Gatutkaca Rabi pada acara memeriahkan perkawinan Puteri Juliana dengan Pangeran Bernhard van Lippe Biesterfeld tahun 1937 di Sriwedari. tidak melestarikan wayang topeng. pertunjukan wayang topeng masih dilestarikan oleh Kasunanan Surakarta. Baladewa Rabi. Pertunjukan Wayang Wong dengan lakon-lakon Nayarana Rabi.adegan percintaan antara Panji Kasatriyan dengan Candrakirana yang dilestarikan pada zaman Mataram Jawa Tengahan (abad ke XVI sampai abad ke XVIII). masih terikat dan terkait dengan kelompok. Puntadewa Rabi. 2006: 19). bentuk garapan tari yang membawakan tema percintaan tetap lestari dan terdapat pada bentuk Tayub. menunjukkan bahwa garapan tari dengan tema percintaan masih dilestarikan dan cukup berkembang baik (Rusini. Menurut Tohiran dan Sarwo Rini. Bedaya Ketawang. Munculnya Tari pasihan sejak 1920-1945. 1994: 2-3). adegan. tetapi menggubah satu bentuk dramatari baru yaitu wayang wong dengan membawakan wiracarita Mahabarata dan kemudian di Kasunanan di bawah pemerintahan Paku Buwana X. dan Wayang Wong. Baru pada sekitar tahun 1940-an muncul tari GatutkacaPergiwa. Mencermati bentuk-bentuk garapan tersebut rupanya bentuk garapan tari pasihan sejak zaman Mataram Kuna di Jawa Tengah (abad ke VIII ) hingga zaman Mataram Baru di bawah pemerintahan Paku Buwana X ( abad ke XIX).

kedua. pernyataan Maridi yang mengungkapkan bahwa tari-tari yang sering pentas pada acara-acara orang punya kerja pada tahun 1940-an. jadi bukan garapan tari pasihan yang sudah mandiri (lihat video wayang wong: koleksi ASKI sekarang ISI Surakarta. Gatutkaca-Sekipu. yaitu untuk merayakan perkawinan Puteri Juliana dengan Pangeran Bernhard van Lippe-Biesterfeld di Sriwedari. berita mengenai pertunjukan wayang wong dengan lakon-lakon rabi atau kromo (kawin) banyak bermunculan pada tahun 1920-an ketika wayang wong mengalami perkembangan pesat di masa pemerintahan Hamengku Buwana VIII. Munculnya tari GatutkacaPergiwa diperkirakan pada sekitar tahun 1920 hingga 1945-an yang berarti pula merupakan awal munculnya tari pasihan di Surakarta. Anoman-Anggada. Kiranya hal ini dapat diterima karena pertama. Bondan. dan sebagainya.Tari pasihan ini dapat diduga merupakan sempalan dari sebuah garapan wayang wong yang membawakan lakon Gatutkaca Rabi. Di samping itu wayang wong di Surakarta juga telah membawakan lakon-lakon rabi seperti Gatutkaca Rabi terjadi pada tahun 1937. Bambangan-Cakil. Klono. ketiga. Janger (dari Bali). antara lain Gatutkaca Gandrung. Hal ini berdasarkan rekaman video tari yang menggambarkan percintaan Raden Irawan dengan Dewi Wanuhara tersebut merupakan rekaman sebagian dari adegan percintaan yang terdapat dalam wayang wong lakon Sri Suwela. nomor: 262 . pernyataan Tohiran sebagai pengelola wayang wong dan Sarwo Rini sebagai seniman pada waktu itu menyatakan bahwa tari Gatutkaca-Pergiwa itu sudah ada sebelum Indonesia merdeka tahun 1945. Rupanya tidak benar apabila ada berita yang menganggap bahwa tari pasihan Raden Irawan dengan Dewi Wanuhara merupakan tari pasihan yang pertama kali muncul di Jawa pada tahun 1920-an.

Pada pertemuan di Pura Mangkunegaran masing-masing peserta menyajikan tari-tarian menurut gaya yang dimiliki. Sulintang. Selain itu. Di samping itu perubahan-perubahan sosial yang terjadi dalam 263 . Pamindo. Pada peristiwa budaya tahun 1956 di Pura Mangkunegaran yang lebih dikenal dengan sebutan pertemuan tiga kota yaitu Surakarta. muncul genre baru yaitu genre tari pasihan. Surakarta menyajikan tari pasihan ‘Rara Mendut-Pranacitra’. Dewi Serang. Akan tetapi garap tari dengan tema percintaan tersebut lebih sebatas memberi gambaran tentang bentuk embrio tari pasihan yang terdapat di dalam wayang wong. Sekar putri. sedangkan Bandung menyajikan tari-tarian seperti: tari Puja. Munculnya Genre Tari pasihan sejak 1956-1962. Srigati. Menurut Soedarsono kehadiran genre tari pasihan ini terpacu oleh munculnya tari Oleg Tambulilingan yang merupakan satu-satunya tari duet percintaan di Bali yang telah muncul pada tahun 1952. Kehidupan kesenian dalam kurun waktu tahun 1942-1949. Golek Reneka. dan Bandung. Yogyakarta menampilkan tari pasihan ‘Bahula-Retna Manggali’. dan tari Samba. Kupu-kupu. Hal itu disebabkan pemerintahan Jepang melarang setiap kegiatan berkumpul. kesinambungan dari pertemuan pertama di Yogyakarta. Graeni. Pertemuan budaya tiga kota ini merupakan pertemuan ke-2.108). dapat dikatakan bahwa dalam periode itu hampir tidak ada kegiatan-kegiatan yang berarti. Yogyakarta. dan selama perang kemerdekaan hampir semua kegiatan diorientasikan untuk memenangkan perang. tampaknya munculnya genre tari pasihan di Jawa akibat peralihan kekuasaan dari pemerintahan kerajaan ke pemerintaahan republik yang lebih mengutamakan caracara demokrasi. Panji.

Sekitar tahun 1962. anti feodalisme yang dikembangkan PKI hidup subur. yaitu masing-masing organisasi politik saling mencurigai dan mulai berebut massa untuk menguasai pemerintahan. menanam padi hingga mengambil hasilnya (memanen) dilakukan secara gotong royong oleh sepasang suami-istri. dan sebagainya. Bondhan Tani merupakan tari pasihan yang menggambarkan pasangan suami dan istri di dalam kebersamaannya mengolah sawah sebagai lahan pertanian. situasi negara betul-betul semakin genting. akibatnya seni yang berasal dari istana terdesak bahkan dimusuhi karena dianggap tidak merakyat dan tidak dapat untuk menarik massa. Rupanya bentuk-bentuk tari yang sifatnya masal dan bertemakan kerakyatan.masyarakat mempunyai peran yang cukup besar dalam membentuk dan mempengaruhi lahirnya genre tari pasihan saat itu. Pada masa itu muncul tari yang menggambarkan kehidupan rakyat kecil seperti tari Tani. bentuk-bentuk kesenian yang mampu untuk mempengaruhi massa seperti Ketoprak dan Ludruk menjadi rebutan dua partai besar yaitu Partai Nasional Indonesia (PNI) dan Partai Komunis Indonesia (PKI). Hal ini terjadi akibat situasi politik negara yang mulai rawan. Rupanya tari Satya Bakti merupakan hasil interpretasi terhadap kesadaran bela negara yang saat itu sudah mulai memudar di kalangan masyarakat. Masa menjelang tahun 1965. Pada tahun 1959. tari Nelayan. muncul tari duet Satya Bakti yang membawakan tema percintaan dan perjuangan. Berawal dari menggarap sawah. muncul tari Bondhan Tani yang disajikan secara berpasangan dengan mengacu tema percintaan. tari Gotong-royong. Maka wajar apabila bentukbentuk tari duet percintaan yang sudah ada tidak dapat berkembang karena pada 264 .

sehingga kemitrasejajaran antara kaum wanita dan kaum pria mulai tampak. Masing-masing mempengaruhi pola pikir hubungan antar remaja.dasarnya tari-tarian duet percintaan yang menjadi genre ini merupakan tari-tarian tradisional yang mengacu pada tarian istana. Setelah tahun 1965. maka mulai bermunculan karya-karya individual. yaitu kebebasan individu mulai dijamin. sehingga pembangunan dari berbagai bidang mulai digerakkan untuk mencapai tujuan masyarakat adil dan makmur. baik hukum. Masing-masing di antara mereka secara aktif dan berani memutuskan pilihannya sendiri bahkan menolak jika memang dirasa tidak cocok ataupun tidak sesuai dengan kehendaknya. 265 . politik. dan jangkauan yang jelas dan transparan. baik yang berujud buku-buku porno. para politisi wanita semakin diperhitungkan dalam elite politik. Pengaruh budaya Barat. dan para ekonom wanita serta wanita-wanita karier hadir hampir pada semua sektor publik. ekonomi. dan lainnya. Pembangunan nasional mulai terprogram secara periodik dan memiliki arah. itu semua tidak dapat disangkal telah mempengaruhi pola pikir hubungan antar remaja. terjadi perubahan tatanan politik sangat kuat yang kita sebut Orde Baru. Tentu saja faktor-faktor itu semua mempengaruhi bangkitnya genre tari duet percintaan untuk lebih bergerak hidup dan berkembang dalam menyongsong kebutuhan hidup masyarakat. Banyak praktisi hukum wanita mulai bermunculan. Hal itu tidak terlepas dari kondisi stabilitas keamanan yang berangsur-angsur mulai pulih dan terkendali serta kembali normal. Kemitrasejajaran yang menyangkut kedudukan wanita dengan laki-laki tampak semakin meningkat dalam berbagai aspek. film-film cinta hingga film yang berbau porno dan juga mode-mode pakaian yang cenderung pamer tubuh. tujuan.

Rasanya menjadi kurang utuh apabila dalam acara resepsi perkawinan tidak hadir tari Karonsih sebagai penutup pesta tersebut. Lambangsih. busana. sehingga asal melihat tari-tarian yang berbentuk duet percintaan semotif Karonsih. menurut Wahyu Santoso Prabowo sebagai penari tari Karonsih yang telah dimulai sejak tahun 1973 yaitu munculnya istilah ‘Karonsihan’. Awalnya bagi penanggap dan kebanyakan masyarakat tidak memahami tari Karonsih. seperti : Driasmara. dan garap iringannya. Penampilan perdana oleh Maridi sebagai Panji Inu Kertapati dan Endang Susilawati membawakan peran Sekartaji. Maridi sebagai seorang seniman yang kreatif menawarkan hasil karyanya yang berbentuk tari duet percintaan yaitu Karonsih. Pada awalnya. Indikasi yang dapat diamati hingga sekarang. Tari Karonsih adalah salah satu tari duet percintaan antara tipe karakter putri luruh dengan putra alus yang bersumber pada cerita Panji. Bentuknya sangat lekat dengan bentukbentuk tari tradisional gaya Surakarta. tahun 1969 dalam rangka peresmian Yayasan Kesenian Indonesia ( YKI ). tari Karonsih mengalami perkembangan yang sangat pesat. Kehadiran tari Karonsih menjadi sangat penting karena pada perkembangannya bahwa tari Karonsih ditempatkan sebagai sarana upacara perkawinan yang memiliki nilai simbolik terhadap sepasang temanten.Pada Tahun 1970 S. tari Karonsih ini disusun atas permintaan dari panitia resepsi Ibnu Harjanto dari Kalitan (Maryono. Dengan semakin seringnya tampil di acaraacara resepsi perkawinan. 266 . rias. 1991: 2). baik mengenai koreografi. Pada awalnya tari Karonsih disusun berdasarkan fragmen Topeng Klono Bodo yang telah diciptakan Maridi. Keberadaan tari Karonsih dalam budaya Jawa sejak tahun 1970 telah menjadi bagian yang seolah-olah tidak dapat dipisahkan terutama pada acara-acara upacara perkawinan.

tari Bondhan Sayuk lebih tepat untuk gambaran sepasang temanten 267 . tari Driasmara. Karya tari Bondhan Sayuk disusun oleh Sunarno pada tahun 1979. sehingga tari Karonsih ini telah mengakar pada masyarakat Jawa yang dalam kehidupannya banyak dipenuhi halhal yang berbau simbolik.Enggar-enggar. Menurut Sunarno. Jakarta. Selain itu. Langen Asmara. dandanan busana. tari Gesang Rahayu. Selain itu penyebaran tari Karonsih mengalami kemajuan sangat pesat sejak tahun 1970 hingga sekarang. Pengaruhnya dapat dilihat dengan munculnya berbagai bentuk tari duet percintaan. Yogyakarta. Kehadiran tari Karonsih di tengah-tengah kehidupan masyarakat dan telah menjadi bagian dari kebutuhan sosialnya. dan Jawa Timur. Kehidupan Karonsih menyebar meluas di wilayah Pulau Jawa. tari Enggar-enggar. seperti : tari Endah. Secara objektif perkembangannya dapat dicermati pada struktur sajian. tari Langen Asmara. tidak terkecuali juga Karonsih dan lainnya. tari Setyaningsih. dan properti. tari Karonsih lebih awal hadir di dalam upacara-upacara perkawinan adat Jawa dan berkembang pesat hingga dijadikan sebagai bagian upacara ritual perkawinan karena dianggap mempunyai nilai simbolik yang tinggi terutama bagi kelangsungan kehidupan sepasang mempelai. Tema yang diangkat menggambarkan percintaan manusia secara universal. dan tari Kusuma Aji. gerak. 2006: 28). tari Lambangsih. mereka akan menyebutnya tari Karonsihan (Maryono. tari Bondhan Sayuk. iringan. tari Kusuma Ratih. tari Jayaningrat. terutama di daerah Jawa Tengah. yang lebih mengarah pada perjalanan hidup sepasang manusia dari kalangan rakyat. mempunyai pengaruh cukup besar yaitu telah dapat memacu dan memotivasi terhadap seniman-seniman di kalangan tradisional.

namun tidak semua saat peralihan itu dianggap sama pentingnya pada tiap-tiap budaya. Perkawinan merupakan salah satu dan suatu saat peralihan yang terpenting pada life-cycle dari semua manusia di seluruh dunia. Keinginan tersebut rupanya diridhohi oleh Sang Pencipta. Perkembangan genre tari pasihan bagaikan cendawan dimusim penghujan ini tidak terlepas dari tangan-tangan kreatif para koreografer tari seperti Maridi dan Sunarno. bahwa setiap tingkat baru dalam life-cycle itu berarti menghantarkan si individu ke suatu tingkat dan lingkungan sosial yang baru dan lebih luas. yang pertama merupakan hiburan yang tepat dalam sebuah resepsi perkawinan dan kedua dimaknai sebagai simbolik sepasang suami dan istri yang hidup bahagia yang layak untuk diteladani sepasang temanten. Pesta dan upacara pada saat peralihan sepanjang life-cycle itu merupakan suatu hal yang universal yang hampir ada pada setiap budaya manusia. 268 . anak pertama laki-laki bahkan anak kedua juga laki-laki dan anak ketiganya baru putri. Meluasnya sebaran genre tari pasihan tidak terlepas dukungan iringan kaset yang banyak dijual di toko-toko serta eksisnya para penari di berbagai kesempatan dalam rangka memenuhi kebutuhan sosial masyarakat. Sifat universal pesta dan upacara sepanjang lifecycle terjadi karena adanya suatu kesadaran secara umum di dalam budaya manusia. 2008). yaitu peralihan dari tingkat hidup remaja ke tingkat hidup berkeluarga. Gagasan awal terciptanya tari Bondhan Sayuk adalah sebuah ekspresi pribadi Sunarno yang menginginkan anak laki-laki untuk putera pertamanya.maupun sebuah keluarga baru yang belum memiliki anak (wawancara. Dalam perjalanan waktu tari Bondhan Sayuk sangat diminati oleh masyarakat hingga sekarang.

Bagi masyarakat Jawa upacara tersebut merupakan sebuah upacara yang sangat sakral sepanjang daur hidupnya. Dalam periode liminal ini seorang liminar berada dalam keadaan setengah-setengah. suritauladan yang bermakna untuk keselamatan. Periode transisi tersebut juga disebut periode liminal yang merupakan fase tengah dalam skema ritus transisi dari praliminal untuk menuju pascaliminal. dan pimpinan upcara tertentu. dan ragu-ragu (Darsiti Soeratman. baik secara nyata maupun gaib (Koentjaraningrat. Demikian halnya yang terjadi pada budaya masyakat Jawa di dalam melangsungkan sebuah upacara adat perkawinan. Berkaitan dengan tindakan simbolik dan magis simpatetis bagi masyarakat Jawa dalam 269 . 1972:89-90). mengingat upacaraupacara pada masa-masa melampaui saat-saat krisis sering dimaksudkan untuk menolak bahaya gaib yang mengancam individu dan lingkungan. sebaliknya jika pelaksanaan tidak mentaati konvensi-konvensi yang telah berlaku. dan kebahagiaan hidup. mereka takut tertimpa malapetaka (Soedarsono. 1990: 4). tempat. gawat. perlengkapan. Untuk itu crisis-rites bagi seorang liminal sangat penting. Ketentuan-ketentuan yang telah berlaku dalam upacara tersebut mereka yakini jika dilaksanakan dengan taat dan benar membawa berkah dan keselamatan.Di dalam aktivitas budaya manusia ada yang menganggap bahwa saat peralihan dari tingkat sosial tertentu ke tingkat sosial lainnya itu merupakan crisisrites yang penuh bahaya. pelaku. 1989: 157). pendidikan. segala ritual yang menyangkut dengan perjalanan hidupnya banyak diselimuti dengan simbolsimbol yang diharapkan dapat memberikan petuah. kedamaian. Kesakralan itu sesuai dengan pendapat Soedarsono mengenai hal-hal yang dianggap penting dalam suatu upacara ritual yaitu waktu. Bagi masyarakat Jawa yang masih lekat dengan budayanya. tidak menentu.

yakni adanya hubungan antara pria dan wanita. untuk mendapatkan kesuburan dengan cara menanggap jenis tari duet percintaan atau tari pasihan yang merupakan tarian kesuburan yang diekspresikan lewat sebuah garapan gerak-gerak presentatif dan representatif. Hal ini terbukti pada masyarakat Jawa sekarang yang sudah mengalami kemajuan. penuh simbolis dan mengandung makna nilai-nilai percintaan yang sangat berarti bagi kehidupan.. yakni adanya hubungan antara pria dan wanita. (dalam Richard Kraus.. Pada masyarakat yang sudah lebih maju. 1991: 35). Suddenly they jump wildly along with violent coitus motions and loud groans... they dance with the upper part of their bodies bent forwards. They carry the vertility into every corner of the houses.. 1969: 21). diperlukan kekuatan-kekuatan tertentu. the jump among the women – the knock the phalli one against another. Kekuatan tersebut antara lain berupa magis simpatetis yang diwujudkan dengan tindakan atau perbuatan yang dapat melambangkan terjadinya pembuahan. berkembang menuju masyarakat modern. yang diekspresikan para penari dengan membawa gambar tiruan organorgan wanita dengan cara sebagai berikut... 270 sudah mengakar pada budaya . Mereka dalam melakukan upacara perkawinan... Hubungan dimaksud pada masyarakat yang masih melestarikan budaya purba kadang-kadang dilakukan lebih realistis (Soedarsono dalam Soedarso. Stamping with the right foot and singing. Hampir dapat dipastikan bahwa pada setiap upacara perkawinan akan hadir tari pasihan. Pernyataan tersebut sejalan dengan pendapat Koch Grundberg yang menggambarkan sebuah tari kesuburan dari suku Indian Coneba di Brasil. Salah satu sarana upacara perkawinan adat Jawa yang cukup penting adalah tari pasihan.perkawinan. tindakan yang dapat melambangkan terjadinya pembuahan. Rupanya. dilakukan secara simbolis.

Sebagai media komunikasi genre tari pasihan diharapkan mampu menyampaikan pesan. Karya tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk merupakan media aktualisasi bagi seniman dalam realitas masyarakat sebagai sarana ekspresi jiwa untuk diinteraksikan kepada publik untuk menggapai sebuah cita-cita dan pemenuhan akan kebutuhan hidup. Ekspresi diri semata tidak akan memuaskan. ia menciptakan sebuah karya dengan harapan dapat dihayati. Kehadiran genre tari pasihan pada ritual upacara resepsi perkawinan merupakan bahasa komunikasi seorang seniman terhadap penghayat. mengingat merupakan satu-satunya bentuk sajian tari yang bermakna. yaitu pada setiap ada acara upacara perkawinan akan hadir tari pasihan yang hendak diteladani oleh kedua mempelai. Wujud penghargaan adalah dapat diterimanya karya tari tersebut oleh masyarakat. Bagaimanapun acuhnya seorang seniman nampaknya terhadap publik. Peristiwa budaya ini membuat kehadiran tari pasihan dalam upacara perkawinan sangat ditunggutunggu masyarakat. untuk itu dibutuhkan kecermatan dan kreatifitas seorang seniman dalam menciptakan karya tari yang mencakup bahasa verbal dan nonverbal.masyarakat Jawa. baik secara simbolik maupun sebagai santapan estetis terasa menyatu dengan situasi upacara. 271 . Konsepsi Bahasa Verbal dan Nonverbal Tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk. maka dibutuhkan olehnya juga sebuah penghargaan. Pemilihan bahasa verbal dan nonverbal rupanya mengalami proses penyeleksian yang ketat dengan harapan dapat dihayati oleh penonton. lewat komplementer bahasa verbal dan nonverbal.

dapat dicermati contoh berikut ini: Jenis Tindak Tutur (TT) yang melekat pada Sindhenan Pangkur Ngrenas. konsep yang mendasari tentang dominasi jenis-jenis tindak tutur direktif yang terdapat pada tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk adalah terkait dengan fungsi bahasa verbal yang terdapat dalam tari pasihan utamanya untuk suritauladan. dan memerintah dapat menyampaikan makna bahasa verbal sastra tembang yang berupa nasehat-nasehat cinta tersebut dapat ditangkap penghayat.Berdasarkan informasi dari seniman penyusun. No Penutur Teks Verbal Sindhenan Pangkur Ngrenas Jenis tindak tutur Pemarkah Situasi 1 Dewi Sekartaji Dhuh jagad dewa bathara Welasa mring dasih kang nandhang kingkin Tinilar garwa satuhu 272 Patik Dhuh jagad formal 2 Dewi Sekartaji Direktif mring dasih formal 3 Dewi Asertif satuhu formal . Secara intern jenis-jenis tindak tutur yang terdapat dalam tari pasihan menggambarkan tentang nasehat-nasehat cinta kasih dan secara ekstern diharapkan oleh seniman penyusun jenis-jenis tindak tutur direktif yang mendominasi dalam bahasa verbal yang sifatnya mengajak. dominasi tindak tutur direktif yang terdapat dalam tari pasihan tersebut sangat diperlukan supaya makna keteladanan dapat lebih menyentuh dan cepat ditangkap penghayat khususnya sepasang temanten. meminta. Bentuk-bentuk dominasi jenis tindak tutur direktif dalam bahasa sastra tembang tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk. Untuk itu bagi seniman penyusun.

tansah Patik dhuh mas formal Direktif Asertif Direktif Asertif baya iki bapakne mangkat Sawahmu formal formal formal formal Asertif Mbokne formal 273 .Sekartaji 4 Dewi Sekartaji 5 Dewi Sekartaji 6 Dewi Sekartaji Ulun dhahat teka Direktif Ulun dhahat datan Direktif formal formal Dadya gantilaning tyas Direktif dadya formal aginggang sarambut Kalamun pinanggya datan 7 Dewi Sekartaji Aluwung tumekeng lalis Komisif Aluwung formal Jenis Tindak Tutur (TT) yang melekat pada Jineman Sayuk No Penutur Bahasa Verbal Jineman Sayuk Jenis tindak tutur Pemarkah Situasi Wanita (W) Dhuh mas jiwaku. mangkat makarya. 2 3 4 5 W W W W baya iki wus wanci. 6 L Mbokne thole. Bapakne sithole. 1 dan Lakilaki (L). Sawahmu anganti.

wanodya di. Jenis-jenis tembang tersebut memiliki watak atau rasa lagu yang bernuansa percintaan. asih tresna. wuyung. dan mas jiwaku. mustikaning. setya. prasetya. sulistyane. brangti. asmara. wong manis. Ekspresif bagus formal 9 L Mbesuk nyambut gawe. dan gerongan Lambangsari.sebagai bahasa tembang. Bahasa verbal yang berupa tembang-tembang cinta tersebut dapat dicermati dari penggunaan kata-kata cinta. seperti Pangkur Ngrenas memiliki rasa lagu jatuh cinta. pinter Direktif mbesuk pinter formal Bentuk bahasa verbal yang terdapat pada tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk merupakan bahasa tembang Jawa yang berasal dari ranah tembang macapat. Mijil Sulastri memiliki rasa lagu prihatin dan untuk mengungkapkan rasa cinta kasih atau nasehat-nasehat tentang asmara.Mijil Sulastri. aginggang sarambut. kata dalam irama dan tekanan dengan dengan watak lagu tentang nasehat-nasehat cinta. Dengan demikian bahasa verbal yang terdapat pada tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk. Kinanthi Sandhung.7 L Sakdurunge anakmu gawanen mrene. guru lagu. 274 . seperti: gantilaning tyas. rabinira. garwa. dilihat dari asfek kebahasaan secara koherensi telah memperlihatkan keterpaduan antara unsur-unsur lingual dalam bentuk guru wilangan. Direktif gawanen formal 8 L Tak kudange anakku sing bagus dhewe. Jineman Sayuk. begitu pula gerongan Lambangsari dan Jineman Sayuk. Kinanthi Sandhung memiliki rasa lagu romantis yang lebih tepat untuk memberikan nasehat-nasehat tentang cinta kasih. Adapun jenisnya antara lain: Pangkur Ngrenas.

seperti: Kethoprak. Bentuk tembang Pangkur merupakan salah satu inspirasi dari sajian tokoh Gathutkaca ketika memadu asmara dengan Pergiwa yang diperankan oleh Rusman dan Darsi. Faktor lingkungan memberikan kontribusi cukup berarti dalam menunjang perkembangan kesenimanan Maridi. Dari pengalaman selama berkecimpung dalam dunia Kethoprak.Wayang Orang rupanya memberikan inspirasi dan kontribusi dalam menciptakan karya tari Bondhan Sayuk. rasa estetik. masuk menyatu mempengaruhi dan mengkristal membentuk pola pikir.Wayang Orang yang nota bene bentuk–bentuk seni tersebut banyak menggarap jenis-jenis tembang Jawa. Darsi dan Surono rupanya memberikan kontribusi yang sangat berarti dalam karya tari Karonsih terkait dengan digunakannya tembang-tembang tersebut. Perhatian terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi dilingkungan sosial budaya sekitarnya. dan pola kehidupan Maridi sebagai seniman. Puncak kreatifitasnya dalam menciptakan karya yang berbasis bahasa verbal dalam bentuk tembang Jawa yaitu karya Langendriyan Menakjinggo Lena yang mampu memberikan perkembangan pada karya-karya Langendriyan yang berbasis tembang Jawa. Bahasa verbal yang digunakan pada tari Karonsih yang secara intern sebagai alat komunikasi antar peran yang terlibat yaitu sebagai media percakapan 275 . setelah dewasa menjadi penari profesional. Bergaulnya dengan para seniman wayang orang seperti: Rusman.Pemilihan jenis-jenis tembang tersebut selain watak atau rasa lagu sesuai dengan tema percintaan juga didasari dari latar belakang budaya penyusun tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk yang berasal dari budaya Jawa. ia memiliki pengalaman dalam berkecimpung dalam budaya Jawa. tingkah laku. Begitu pula Sunarno.

Sehingga bahasa verbal yang digunakan untuk komunikasi peserta tutur adalah bahasa Jawa krama yang dirasa tepat dan sesuai untuk mencerminkan kehalusan terkait dengan kedudukan sosial sebagai putra bangsawan. Sebagai keluarga bangsawan sikap perilaku kedua peserta tutur memiliki adat dan etika budaya yang mencerminkan kehalusan dan keteladanan. Salah satu contoh tingkat kehalusan bahasa Jawa krama yang digunakan pertuturan Dewi Sekartaji dan Panji Inukertapati Kertapati pada tari Karonsih dapat dicermati pada bahasa tembang berikut ini: Pra wanita marsudiya marang tindak kang utama Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada Ingkang bisa nujuprana weh reseping pamicara Nora kengguh ing panggodha darbe budi kang santosa Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira Datan kemba asih tresna sung tetreming kulawarga Sampun sami setya tuhu anggenya liron asmara Karonsih pancen pranyata dadya kembang jagad raya Sedangkan bahasa verbal dalam tari Bondhan Sayuk yang digunakan untuk percakapan peran yang terlibat dalam pertuturan antara suami dengan istri berbentuk bahasa Jawa Krama Ngoko. mempertimbangkan kedudukan peserta tutur yang terlibat keduanya adalah anak raja. mempertimbangkan kedudukan peserta tutur yang terlibat keduanya adalah masyarakat tani. Konsep yang melatarbelakangi digunakannya bahasa Jawa Krama pada tari Karonsih. Dewi Sekartaji puteri raja Lembu Amijaya dari Kediri sedangkan Panji Inukertapati Kertapati putera raja Lembu Amiluhur dari Jenggala. Konsep yang mendasari digunakannya bahasa Jawa Krama Ngoko pada tari Bondhan Sayuk. Kedudukan peserta tutur antara suami dan istri adalah gambaran masyarakat secara umum yang lebih lazim disebut masyarakat biasa.Dewi Sekartaji dengan Panji Inukertapati menggunakan bahasa Jawa Krama. Peserta tutur antara suami dan 276 .

polos cenderung apa adanya terkait dengan kedudukan sosial sebagai masyarakat tani. Untuk itu bahasa verbal dirasa sarana yang tepat untuk menjelaskan 277 . Kedudukan bahasa verbal dalam tari Pasihan menjadi sangat penting. Sebagai keluarga petani sikap perilaku kedua peserta tutur yang digambarkan dalam tari Bondhan Sayuk memiliki adat dan etika budaya yang lebih lugas. hal ini dapat dicermati dari kata-kata yang digaris bawah: Dhuh mas jiwaku. Pemilihan peran suami dan istri dilatarbelakangi dari kehidupan seniman penyusunnya yang berasal dari keluarga seorang buruh tani dari desa Semono wilayah kabupaten Boyolali. mangkat makarya. Sawahmu tansah anganti. mengingat bahasa nonverbal yang menjadi sarana komunikasi bersama bahasa verbal memiliki keterbatasan-keterbatasan dalam mengungkapkan maksud dari seniman penyusunnya. Fungsi bahasa verbal yang terdapat pada tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk adalah untuk mengungkapkan maksud dari seniman penyusun.istri merupakan simbol keluarga kecil dari kalangan masyarakat petani yang tercermin dari bahasa verbalnya yang cenderung ngoko yang lazim digunakan masyarakat pedesaan. Sakdurunge anakmu gawanen mrene. Sehingga bahasa verbal yang digunakan untuk komunikasi peserta tutur yang terlibat antara suami dan istri adalah bahasa Jawa krama ngoko yang dirasa tepat dan sesuai untuk mencerminkan sifat lugas. polos cenderung apa adanya dan tampak kurang halus (kasar). Bapakne sithole. seperti bahasa tembang yang digunakan pertuturan ketika suami dan istri sambil menimang anak. Mbokne thole. Tak kudange anakku sing bagus dhewe. baya iki wus wanci. Mbesuk pinter nyambut gawe.

pola lantai. Adapun bentuk garapnya hanya menyajikan dua peran utama yakni pria dan wanita sebagai pasangan suami dan istri. Bentuk bahasa nonverbal yang terdapat pada tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk meliputi: tema. polatan (ekspresi wajah). Wujud pasangan tersebut mengarahkan penonton supaya lebih fokus pada tema percintaan. Konsep yang mendasari pemilihan tema percintaan ini terkait dengan harapan penyusun yang menghendaki kehadiran tari pasihan dalam resepsi perkawinan dapat bermakna bagi sepasang temanten. rias. Lewat bahasa verbal seorang seniman akan menuangkan pikirannya secara lebih transparan dan komprehensif dalam bentuk tembang Jawa. dan iringan sebagai bahasa nonverbal tari pasihan merupakan pola-pola tradisional yang bersumber dari budaya istana Kasunanan Surakarta. polatan (ekspresi wajah). Rupanya kisah tersebut menjadi sebuah inspirasi yang berarti bagi pasangan temanten yang menginginkan percintaan yang ideal. busana. Tema yang dipilih untuk tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk adalah pasihan atau percintaan. rias. kinetic body moves. pola lantai. sehingga hayatan dari penonton tidak terkontaminasi tokoh atau peran lainnya. Tema percintaan yang diangkat dalam tari pasihan tersebut secara garis besar menggambarkan perjalanan cinta sepasang suami dan istri berawal dari duka yang dialami masing-masing tokoh kemudian permasalahan-permasalahan yang dihadapi dapat diselesaikan dengan baik yang akhirnya mereka dapat berhasil menikmati hidup bahagia dalam sebuah keluarga. romantis. Kinetic body moves 278 . dan iringan.maksud dan harapan yang dikehendaki oleh seniman tanpa melalui proses distorsi bahkan lebih dapat langsung mengungkapkannya. Kinetic body moves. busana. dan bahagia.

sebagai media utama dalam sajian tari pasihan berupa pola-pola sekaran tari tradisional gaya Surakarta. II. Adapun gerak-gerak representatif pada genre tari pasihan tersebut 279 . hal itu sengaja dibuat untuk mengungkapkan ekspresi seniman atau penyusun tari. Keduanya hadir dalam jagad tari. Semakin banyak gerak representatif dalam sebuah tarian penonton semakin mudah menafsirkan tema dari ilusi-ilusi yang diekspresikan lewat gerak sehingga pesan makna dari tari pasihan tersebut mudah ditangkap masyarakat sebagai apresiatornya. karena wujud yang tampak sering samar-samar.05 % dalam tari Bondhan Sayuk.20 % dalam tari Karonsih dan 76. artinya gerak yang dihasilkan dari imitasi terhadap sesuatu. Adapun bentuk-bentuk vokabuler sekaran yang terdapat pada tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk secara garis besar. pola-pola sekarannya bersifat presentatif dan representatif. namun kemunculannya tidak mudah untuk dipisah-pisahkan secara tegas. Kedua bentuk gerak baik presentatif maupun representatif merupakan medium utama tari pasihan dalam rangka memenuhi keperluan ekspresi. yakni gerak presentatif dan representatif. dan III pada tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk menunjukkan gerak representatif mendominasi pada bahasa nonverbal. Gerak presentatif merupakan bentuk gerak yang tidak mempunyai arti secara khusus. Dominasi gerak representatif yang terdapat pada genre tari pasihan dimaksudkan oleh seniman penyusun supaya masyarakat dan lebih khusus sepasang temanten akan merasa lebih mudah mengapresiasi tema tarian. Dari seluruh adegan I. Sedangkan gerak representatif adalah gerak penghadir. gerak ini difungsikan semata-mata untuk kebutuhan ekspresi. yang mencapai 80. Secara garis besar gerak dalam tari dapat dibagi menjadi dua bagian secara kasar.

untuk itu supaya seni tersebut dapat ditangkap maknanya oleh semua lapisan masyarakat maka bentuk komposit bahasa verbal dengan Kinetic body moves yang bersifat langsung dirasa sangat tepat agar mudah dihayati. Alasannya kehadiran genre tari pasihan pada resepsi perkawinan adalah untuk hiburan dan suritauladan temanten dan masyarakat yang kepekaan rasanya heterogen. menggoda dan gerak-gerak lainnya yang mengungkapkan kegembiraan. Hubungan bahasa verbal dan Kinetic body moves bersifat langsung artinya bahwa makna bahasa verbal sesuai dengan makna bentuk gerak. penonton akan mencoba mengaitkan fungsi kehadiran tari pada sebuah resepsi perkawinan. Sedangkan hubungan bahasa verbal dan Kinetic body moves bersifat tidak langsung artinya bahwa makna bahasa verbal tidak sesuai dengan makna bentuk gerak. Kehadiran genre tari pasihan pada sebuah resepsi perkawinan bukan pada resepsi lainnya itu merupakan pertanda bahwa jenis-jenis tari tersebut mempunyai fungsi yang berarti dalam resepsi perkawinan yaitu sebagai suritauladan yang hendak ditindaklanjuti bagi sepasang temanten. Pemilihan pola-pola sekaran tari tradisional yang bersumber dari istana tersebut terkait dengan latar belakang kedua penyusun yaitu: Maridi dengan 280 . mencubit. bergandengan tangan.merefleksikan gerak orang bermesraan. Sehingga tema yang muncul dapat ditafsirkan yakni tema percintaan. Selain itu dari komposit bahasa verbal dan Kinetic body moves sebagai unsur nonverbal pada tari Karonsih dan Tari Bondhan Sayuk terdapat hubungan yang bersifat langsung dan tidak langsung. meledek. Secara kuantitatif hubungan bahasa verbal dan nonverbal yang bersifat langsung tampak lebih mendominasi dibandingkan dengan yang tidak langsung. seperti: berpelukan. Berdasarkan tema percintaan yang telah terungkap.

Maridi secara diam-diam banyak berguru dengan beberapa empu tari yang akhirnya membentuk pribadinya menjadi seorang empu tari. 5) R. 6) R. 281 . Masa kecilnya banyak di Pati diajak paman Sandiman yang berprofesi Polisi yang juga seorang penari. b) Eko Prasetya. 2) R.M Lurah Widakdo. Berkat kecerdikan dan keuletan dalam upaya memperdalam tari.M Ng Atmo Hutoyo sebagai guru tari alus. ia belajar tari di desa Semono dengan Wiryo Dimedjo (paman). Bagi Sunarno sejak berumur 11 tahun. Adapun guru dan sanggar yang telah banyak berperan membentuk dan mengembangkan kesenimanan Maridi di dunia tari. terutama tari tradisional gaya Surakarta. 7) R. 3) R. Seperti Maridi sejak berumur sekitar usia 8 tahun.M Lurah Atmo Bratono dengan sanggarnya Yatno Sidoyo.T Kusuma Kesawa. antara lain: 1) R. belajar tari dasar (tayungan) dan Tari Gathutkaca Gandrung. Sunarno banyak belajar tari dengan beberapa guru diantaranya: a) Sandiman (paman).karyanya tari Karonsih dan Sunarno dengan karyanya tari Bondhan Sayuk yang sejak masih muda mereka banyak belajar tari-tarian tradisi gaya Surakarta. tari rakyat. Maridi. belajar tari kethekan.M Bekel Wignya Hambekso. 4) R. Lurah Harto Sukolewa sebagai guru tari gagah. Selama di Pati. dan tari Bondhan. yang menjadi panutan gaya / wiled tarian gagah S. belajar tari Kethekan (kera). tari cakil di asrama polisi Pati.M Suseno (dari gaya Mangkunegaran) 8) Nyai Pamarditaya. Maridi sudah bergabung di sanggar tari: paguyuban Muda Matoyo di bawah asuhan Jogo Laksito.

Setelah lulus SMP. belajar tarian dasar tayungan. Sunarno melanjutkan sekolah di Konservatori Karawitan Indonesia Surakarta (KOKAR) di Surakarta pada jurusan tari tahun 1970 lulus tahun 1972. Pada tahun 1973. 282 . tahun 2005 lulus tahun 2007 dengan gelar Magister Seni ( M. Pada tahun 1976.c) Raden Irawan. dan Tari Gathutkaca Gandrung di Pakempalan Kagunan Jawi (PKD) Pati. jurusan Karawitan (ASKI) dan lulus sarjana muda tahun !979. c) Wiryo Tampu. d) Wiryo dengan Sanggar tari Pomoi di Laweyan. untuk meniti karirnya lebih lanjut. Sunarno masuk kuliah di Akademi Seni Karawitan Indonesia.Sn). Melanjutkan S1 di ASKI lulus tahun 1981 dan mengambil S2 di Sekolah Tinggi Seni Indonesia di Surakarta. Ngaliman dengan sanggarnya Baradha di Kemplayan dan kursus tari di PKJT Sasonomulyo. Kusuma Kesawa di Pawiyatan Karaton Kasunanan dan Ramayana Rara Jonggrang. d) Secara khusus belajar tari cakilan di kursus: Kembang Djaya di Pati.Ngaliman di kursus tari PKJT sejak tahun 1972. selama di Surakarta ia banyak menimba ilmu dengan beberapa Guru tari antara lain: a) KRT. Di samping belajar. ia diangkat sebagai pegawai negeri Dikbud Kodya dan sejak tahun 1982 melimpah ke ASKI sebagai dosen tetap sampai sekarang. tari Cantrikan. Di samping kuliah ia juga seorang pengajar tari spesialis tari gagah di ASKI sejak tahun 1973 yang pada waktu itu baru menjadi pegawai honorer Dikbud Kodya yang diperbantukan untuk ASKI. Selain pendidikan formal. ia dijadikan asisten S. b) S.

pola lantai. kehadiran genre tari pasihan pada upacara ritual perkawinan difungsikan oleh 283 . busana. polatan (ekspresi wajah). rias. Pada tari Karonsih yang bersumber dari cerita Panji menggunakan dandanan Panjen dengan ciri Tekes. polatan (ekspresi wajah). Untuk menangkap makna yang terkandung dalam bahasa nonverbal yang berupa simbol-simbol kinetic body moves. Komposit bahasa verbal dan nonverbal dalam genre tari pasihan merupakan perpaduan yang utuh sebagai seni pertunjukan. Hal ini terkait dengan karakter masing-masing peran yang cennderung alus.Polatan atau ekspresi wajah pada tari pasihan pada dasarnya tidak tampak mencolok perubahannya. busana. Sebagai seni pertunjukan. sedangkan tari Bondhan Sayuk yang bersumber dari cerita rakyat menggunakan dandanan Blangkonan untuk peran suami dan peran istri menggunakan Gelungan atau konde. Pola-pola semacam itu merupakan budaya Jawa yang merupakan dasar dari penyusun tari pasihan sehingga komplementer dari kinetic body moves. rias. dan iringan sebagai bahasa nonverbal tari pasihan saling mengkait untuk mendukung bahasa verbal sastra tembang menjadi bentuk sajian tari yang utuh dan berfungsi sebagai media komunikasi untuk mengungkapkan maksud seniman penyusun. iringan gamelan yang terpadu dengan bahasa verbal sastra tembang diperlukan kepekaan rasa dan ketajaman pikir sehingga mampu menghayati nilai-nilai cinta kasih pada tari pasihan yang diharapkan seperti yang dimaksudkan seniman penyusun. Bentuk iringan gamelan sebagai ilustrasi musik yang berupa gendhing-gendhing karawitan rupanya sangat tepat dan memberi kemantapan dalam mendukung sajian tari pasihan. Bentuk rias dan busana yang dipakai pada tari pasihan berdasarkan pola-pola tradisi yang disesuaikan dengan sumber cerita. pola lantai. luruh dan feminin.

Faktor Afektif. Nilai-nilai keteladanan tersebut terutama diperuntukan bagi sepasang temanten untuk bekal dalam membina rumah tangga. Beragam pendapat dari kalangan masyarakat telah muncul menanggapi hadirnya genre tari pasihan pada ritual resepsi perkawinan. kemauan. Persepsi masyarakat terhadap kehidupan genre tari pasihan gaya Surakarta.seniman penyusun sebagai hiburan dan suritauladan bagi sepasang temanten dan masyarakat pada umumnya. C. dan keterlatian dalam mengapresiasi tari pasihan. Masyarakat penonton adalah kelompok orang dari beragam kalangan status sosial yang mengapresiasi tari pasihan terutama jenis tari Karonsih dan tari bondhan Sayuk. memikat dan mengandung nilai estetik yang dapat menghibur penonton. kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga. harmonis. Sebagai hiburan. dan bahagia. Beragamnya persepsi dari masyarakat penonton tidak lepas dari bekal kepekaan rasa. latar belakang budaya. Pada dasarnya masing-masing penonton memiliki persepsi yang berbeda-beda tergantung dari kepekaan rasa dan ketajaman pikir yang dimiliki individu. Sedangkan suritauladan yang diharapkan oleh seniman penyusunnya didasarkan pada pesan atau muatan isi yang terkandung dalam komposit bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan yang berupa nasehat-nasehat cinta kasih tentang: pasangan keluarga yang romantis. dan sikap-sikap ideal bagi figur suami maupun figur istri. sajian genre tari pasihan menjadi layak karena wujudnya merupakan bentuk seni pertunjukan yang secara visual menarik. Informan dari kalangan masyarakat secara garis besar terdiri dari: kelompok penanggap atau 284 .

kelompok penonton umum. melestarikan budaya yang dirasakan lebih tepat adalah budaya Jawa. Dari pengamatan tersebut dibenak para penonton terjadi sinergi antara kepekaan rasa dan ketajaman pikir sehingga muncul penafsiranpenafsiran terhadap karya seni. Tanpa penampilan rupawan penarinya. Bagi penanggap kehadiran tari pasihan dalam ritual resepsi perkawinan adat budaya Jawa ini merupakan salah bentuk hiburan yang diperuntukkan bagi tamu undangan supaya tidak membosankan dan sekaligus untuk mengatur jalannya upacara terkait dengan jeda acara demi acara berikutnya. bersih akan menambah daya tarik penonton. maupun manis. 285 . rasa memiliki. diharapkan dengan ketinggian yang ideal (sekitar 160 cm) dan dukungan warna kulit yang halus. Hal ini dapat dicermati sejak awal dari pelaksanaan upacara resepsi perkawinan yang menggunakan adat budaya Jawa. dan kelompok pakar. Adapun informasi dari ketiga kelompok informan tersebut dapat dicermati berikut ini. cantik. Setelah itu baru melihat dedek atau tinggi – rendahnya penari. Selain bentuk fisik penari yang ideal juga dukungan rias wajah yang mampu menampilkan karakterisasi peran dan busana glamor yang dapat memikat dan memberi kenikmatan indera mata. Sebagai masyarakat yang berlatarbelakang budaya Jawa. 1. Taraf selanjutnya adalah kemampuan penari dalam menyajikan tari yang lebih berorientasi pada keluwesan penari dalam membawakan tarian. bagus. sehingga proses hayatan yang dikehendaki penari maupun penyusun tari tidak akan muncul.Genre tari pasihan sebagai hiburan. Penilaian paling awal yang tampak bagi penonton akan tertarik pada gandar atau rupa wajah penarinya yang tampan.sebagai pengguna. niscaya penonton tidak akan menanggapi apalagi memperhatikan.

seperti genre tari pasihan gaya Surakarta. Hiburan yang lebih tepat dipilihnya bentuk kesenian yang berbasis budaya Jawa. Fungsi awal yang paling sederhana secara faktual dapat dicermati adalah sebagai hiburan. tarub sebagai hiasan rumah resepsi. Sebagai hiburan yang dirasa tepat atau sesuai. hiburan yang berbentuk tarian maupun karawitan secara lengkap. serta saranasarana lainnya. merupakan pertunjukan yang bersifat hiburan. busana basahan ataupun kejawen lengkap untuk penganten. Bagi penonton secara umum. Sinkronisasi antara gambaran nilai percintaan yang diangkat dalam tari dengan realitas nilai percintaan yang hidup dan berkembang dalam jiwa sepasang mempelai temanten yang sedang diwisuda. Dari beberapa pakar menyatakan bahwa kehadiran genre pasihan pada upacara ritual perkawinan memiliki fungsi yang dalam terutama bagi sepasang mempelai temanten. 286 . Hiburan yang didapat dari sajian tari pasihan. bentuk dekorasi (brostul) untuk penganten. busana kejawen lengkap dengan keris untuk among tamu kakung (penjemput tamu pria) dan kebaya untuk among tamu wanita.baik yang menyangkut pemilihan hari resepsi. Kehadiran tari pasihan dalam upacara ritual resepsi perkawinan yang biasanya disajikan pada bagian akhir dari seluruh rangkaian resepsi sebagai penutup. pertunjukkan tari pasihan dalam upacara ritual perkawinan adat budaya Jawa terletak pada kesesuaian antara tema percintaaan yang digambarkan tari pasihan sebagai muatannya dengan peristiwa perkawinan yang mengatur sejak awal jalannya percintaan sepasang mempelai temanten secara resmi di depan publik untuk mendapatkan pengakuan status sosial dan adat budaya yang mereka miliki. tersebut adalah bukti dari ketepatan atau kesesuaian yang diasumsikan dari penonton secara umum.

dandanan busana. rias.bagi penonton adalah bersifat estetik. Wujud fisik berupa gandar atau rupa wajah. Persepsi masyarakat yang terdiri dari kelompok penanggap atau sebagai pengguna. artinya kenikmatan indera penonton dari melihat pertunjukan tari pasihan merasa tertarik dan terpikat berawal dari bentuk fisik. Genre tari pasihan sebagai keteladanan. mereka melihat 287 . memiliki wawasan kesenian dan mempunyai minat serta kepedulian terhadap seni. Bagi penonton umum yang sering mengapresiasi pementasan tari pasihan. Pada dasarnya masing-masing individu sedikit banyak memiliki rasa kesenian yang merupakan bekal alami. Berdasarkan pementasan taritarian pasihan yang menggambarkan orang bercinta dengan mesra. Hasil komplementer dari bentuk fisik dan nonfisik dalam tari adalah rasa keindahan yang mampu memberikan hiburan yang bersifat rohani. sekalipun kadar kualitas berbeda namun masih mampu menggugah dan menghidupkan kembali stimulus-stimulus estetik yang sewaktuwaktu dihadapkan pada benda pacu yang berupa karya seni genre tari pasihan. mereka katakan bahwa jenis-jenis tari percintaan yang sering dilihat dalam resepsi perkawinan mempunyai maksud-maksud tertentu. Secara emosional mereka memiliki ikatan kultur yang kuat sehingga kepekaan rasa yang tertanam dalam jiwa. kelompok penonton umum. dan kelompok pakar secara garis besar salah satu fungsi genre tari pasihan dalam ritual resepsi perkawinan adat Jawa merupakan bentuk hiburan. dan kinetic body moves yang secara komplementer akan menyatu dengan wujud nonfisik yang berupa rasa. dedek atau tinggi rendahnya postur tubuh. Kesamaan persepsi dari ketiga kelompok masyarakat tersebut karena mereka memiliki latar belakang budaya yang sama. 2.

untuk itu perlu diteladani. Secara khusus tari pasihan merupakan simbolisasi percintaan yang mengandung nilai percintaan yang begitu tulus sebagai muatan ekspresinya. ketulusan. memahami dan menghayati nilai-nilai yang terkandung dalam karya tari pasihan. dan kebahagiaan yang digambarkan dari sepasang tokoh-tokoh idola seperti: Panji Inukertapati & Dewi Sekartaji pada tari Karonsih. Pemilihan ini rupanya sangat terkait dengan maksud penanggap yang mampu mencermati.terdapat sesuatu dari pertunjukkan itu yang dapat ditiru oleh sepasang temanten. Diharapkan keluarga yang 288 . yaitu kemesraan sebagai sepasang suami istri. di tengah-tengah kehidupan sosial masyarakat. Bagi penanggap. Bagi penanggap nilai-nilai cinta yang demikian itu. Diharapkan dengan meneladani nilai percintaan yang disajikan lewat tari pasihan tersebut bagi sepasang temanten dapat membina hidupnya dengan nilai cinta yang sebenarnya. tari pasihan merupakan masterpiece dari seluruh sajian tari yang dipentaskan dalam sebuah upacara ritual perkawinan adat Jawa. kehalusan. Selain itu yang dapat ditiru oleh pasangan temanten dari pementasan tari-tarian pasihan adalah kebersamaan dan kegembiraan. romantisme. dan berarti bagi sepasang mempelai temanten yang sedang diwisuda. merupakan sesuatu bekal hidup yang sangat berharga. dan Damarwulan & Dewi Anjasmara dalam tari Enggar-enggar tersebut mempunyai makna yang dalam yang mampu menyentuh jiwa manusia. Dewa Komajaya & Dewi Komaratih dalam tari Lambangsih. Kemesraan. kegembiraan. Tema percintaan yang diangkat untuk menentukan alur garapan tari pasihan sungguh mampu mengungkapkan nilai cinta lewat liku-liku kehidupan cinta sepasang kekasih yang merupakan tokoh idola baik yang bersifat fiktif maupun nyata bagi masyarakat Jawa.

dan lainnya itu semua ditangan seniman diungkapkan dalam bungkus sensa yang mampu memicu dan memacu timbulnya khayalan benda dan peristiwa yang memberi kenikmatan dan kepuasan. damai.dibangun dan dibina sepasang temanten dengan nilai-nilai cinta mampu menciptakan keluarga yang harmonis. marah. tenang. gembira. sehingga penafsiran-penafsiran terhadap makna dibalik karya yang dicipta menjadi semakin valid Bagi pakar. Untuk mengetahui maksud seniman diperlukan bekal pengalaman. takut. senang. kacau. khawatir. dan wawasan berkesenian secara luas. keterlatihan. Mengingat bahwa seorang seniman menciptakan karya seni sedikit banyak mempunyai maksud-maksud tertentu dibalik karyanya. tetapi sering kali mengalami kesulitan untuk menginterpretasi makna sesungguhnya yang dikehendaki seniman. dan bahagia. Maksud seniman tersebut tersirat pada karya seni yang kadang kala mudah ditangkap maknanya oleh penonton. Kepekaan rasa dan ketajaman intelek bagi pakar seni merupakan modal utama untuk mencermati dan menganalisis kehadiran sebuah karya seni di tengah-tengah kehidupan dan perkembangan sosial masyarakat dari beragam perspektif. Dari medium sensa itu seniman akan dapat menganyam impian-impian bagi kita mengenai hal-hal yang 289 . bahagia. seorang seniman berkarya merupakan dorongan dan tutuntan kebutuhan jiwa yang dilatarbelakangi apresiasi terhadap lingkungan manusia dan alam yang terseleksi dan senantiasa dimanifestasikan dalam bentuk yang estetik. Nilai cinta yang terdapat pada tari pasihan yang merupakan akumulasi dari beragam rasa. kemampuan. seperti: sedih. Bagi pakar bekal apresiasinya terhadap seni dan wawasan intelektual yang dimiliki mampu menghayati secara dalam dan mengungkapkannya secara komprehenship.

Seniman pada dasarnya tidak lain sebagai manusia yang menyediakan sebuah susunan benda pacu atau lambang-lambang sensa yang diharapkan akan ditafsirkan seperti yang dimaksudkan olehnya. bahwa ‘simbol’ tampak terbatas pada sesuatu yang mengungkapkan secara tidak langsung. Dalam menghadapi permasalahan kemudian mendapat perjalanan kisahnya berawal solusi yang menjadi berangsur-angsur membaik dan berakhir bahagia.membuai dan memikat kita senang mengamati. Seolah–olah keberadaan genre tari pasihan dalam budaya Jawa menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan terutama pada upacara-upacara perkawinan. Jika dicermati lebih dalam dari jiwa kita sendirilah sebenarnya muncul gagasan-gagasan dan beragam rasa yang merupakan isi sebuah karya seni. genre tari pasihan memiliki fungsi yang dalam terutama bagi sepasang mempelai temanten yang tercermin pada komplementer bahasa verbal dan nonverbalnya. Pada dasarnya genre tari pasihan gaya Surakarta merupakan simbolisasi percintaan sepasang manusia yang berjenis kelamin pria dan wanita. Kehadiran genre tari pasihan (percintaan pria dan wanita) dalam kehidupan sosial masyarakat pada ritual perkawinan adat Jawa rupanya mempunyai makna simbolik yang sangat penting terutama bagi kedua mempelai dalam rangka mempersiapkan diri untuk mengarungi kehidupan di masyarakat yaitu menuju terbentuknya keluarga yang bahagia. Bagi pakar. Khayalan tentang tindakan atau emosi yang ditimbulkan lewat karya seni. Menurut Clifford Geertz (1992: 6). Kehadiran 290 . Simbolisme semacam ini tampak pada genre tari pasihan yang hadir dalam rangkaian upacara-upacara perkawinan adat Jawa. kita kemudian dalam imajinasi dapat melakukan atau mengalami. sehingga perlu perantara yang berwujud simbol-simbol dalam puisi bukan dalam bentuk pengetahuan.

tari pasihan hampir dapat dipastikan dalam resepsi perkawinan. Perbuatan simbolik dalam pertunjukan tari Bondhan Sayuk lebih tampak jelas dan lebih mendekat kearah realitas tujuan bercinta dalam sebuah kehidupan keluarga. suami mapun istri. yaitu mampu mempengaruhi kesuburan dalam proses perkawinan pasangan temanten. Hal ini juga digambarkan secara lebih aktual pada tari Bondhan Sayuk ketika tindakan atau perbuatan penari putri (peran istri) memberikan boneka anak kepada temanten putri pada bagian akhir tarian merupakan perbuatan simbolik yang menunjukkan adanya kekuatan – kekuatan tertentu yang tidak kelihatan mata yang bersifat magis simpatetis diharapkan dapat diterima penganten putri. Rupanya terdapat korelasi yang sangat signifikan bahwa kehadiran tari pasihan dalam resepsi perkawinan diharapkan dapat diteladani dan memberikan sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temanten. dan bahagia. Dengan kekuatan magis simpatetis akan dapat menyuburkan benih-benih cinta 291 . kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga. Nilai-nilai keteladanan yang dapat diserap dari aktualisasi tari pasihan yang berupa nasehat-nasehat cinta kasih diantaranya: pasangan keluarga yang romantis. harmonis. Bentuk dan sikap ideal bagi sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temanten terpancar dari kekuatan cinta sepasang tokoh yang digambarkan dalam tari pasihan dimaksudkan dapat dihayati sepasang temanten sehingga bayanganbayangan cinta yang diekspresikan oleh seniman mampu memicu dan memacu kehidupan imajinasi cinta sepasang temanten. Kekuatan imajinasi percintaan yang digambarkan sepasang kekasih dalam tari pasihan diharapkan dapat memberikan kekuatan magis simpatetis terhadap kehidupan jiwa sepasang mempelai temanten.

Kesamaan persepsi dari penanggap. Dengan demikian hanya pakarlah yang mampu untuk memahami dan menganalisis secara komprehensif dan bertanggungjawab 292 . Kesadaran awal yang harus dicermati. Pada dasarnya kedua orang mengawinkan putra-putrinya dengan cita-cita untuk segera diberi keturunan yang berupa anak.yang tengah berkembang pada sepasang temanten yang akhirnya mampu melahirkan buah cinta yang berupa momongan (anak). Kepekaan rasa dan ketajaman intelek pakar seni merupakan modal utama untuk mencermati dan menganalisis kehadiran sebuah karya seni di tengah-tengah kehidupan dan perkembangan sosial masyarakat dari beragam perspektif. penonton umum dan pakar terhadap kehidupan genre tari pasihan mengidikasikan bahwa bentuk tari pasihan tersebut mengandung nilai-nilai keteladanan layak menjadi sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi sepasang temanten untuk diserap dan diimplemetasikan dalam kehidupan rumah tangga. Bahkan seniman sering mampu menghasilkan karya seni yang sangat bagus tetapi kerap tidak memiliki pendapat yang jelas dan tetap terhadap pernilaian karyanya. orang tidak akan dapat berharap banyak karena rasa seni yang kita hayati tidak bisa mengendap dan lekas menghilang tidak menjadi gagasan yang tenang dan mantap. Di samping itu juga terdapat perbedaan pada kadar pemahaman. Kesulitan yang tampak bahwa seni pertunjukan merupakan seni sesaat. para pelaku dan penghayat tidak selalu memahami akan yang mereka kerjakan. sebagai pewaris dan penerus keluarga. bahwa dalam dunia kesenian. karena bagi pakar bekal apresiasinya terhadap seni dan wawasan intelektual yang dimiliki mampu menghayati secara dalam dan mengungkapkannya secara komprehenshif.

validitasnya. yang memiliki rasa seni yang dalam tetapi tidak berbicara banyak dan sering sulit untuk mengurai karyanya. TT ekspresif. Temuan pokok. TT direktif.pokok penelitian. dan TT patik. jenis TT yang dominan adalah TT direktif. Jenis–jenis TT yang terdapat dalam genre tari pasihan gaya Surakarta terdiri dari beragam jenis yaitu: TT asertif. 1. BAB IV PEMBAHASAN A. 293 . TT komisif. karena seniman adalah berjiwa mistik. Dari beragam jenis TT yang terdapat pada genre tari pasihan. Faktor objektif.

Implikatur yang terdapat dalam bahasa verbal tari pasihan menunjukkan adanya simbolisasi percintaan sepasang suami istri yang dalam perjalanan kisahnya berawal menghadapi permasalahan kemudian mendapat solusi yang menjadi berangsur-angsur membaik dan berakhir bahagia. Rupanya terdapat korelasi yang sangat signifikan bahwa kehadiran tari pasihan dalam resepsi perkawinan diharapkan dapat diteladani sepasang temanten. Gambaran secara lebih 294 .2. Prinsip kesantunan yang diterapkan dalam bahasa verbal genre tari pasihan dengan menggunakan strategi melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif dan strategi melakukan TT secara tidak langsung (off record). Hal ini terpancar dari kekuatan cinta kasih sepasang suami istri yang digambarkan dalam tari pasihan dimaksudkan dapat dihayati sepasang temanten sehingga bayangan-bayangan cinta yang diekspresikan oleh seniman mampu memicu dan memacu kehidupan imajinasi cinta sepasang temanten. Kekuatan imajinasi percintaan yang digambarkan sepasang kekasih dalam tari pasihan diharapkan dapat memberikan kekuatan magis simpatetis terhadap kehidupan jiwa sepasang mempelai temanten. Kehadiran tari pasihan hampir dapat dipastikan dalam resepsi perkawinan yang nota bene sebagai wahana untuk mewisuda sepasang temanten. sedangkan maksim kualitas dan maksim hubungan dipatuhi. 3. Daya pragmatik yang terdapat dalam bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan menunjukkan adanya bentuk sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temanten. yaitu mampu mempengaruhi kesuburan dalam proses perkawinan pasangan temanten. Dalam bahasa verbal genre tari pasihan bentuk penerapkan prinsip kerja sama terjadi pelanggaran maksim kuantitas dan maksim cara.

harmonis. Berdasarkan jabaran bahasa verbal dan nonverbal tari Karonsih dan tari Bondhan Sayuk dapat diketemukan ciri karakteristik genre tari pasihan sebagai berikut: a) Bahasa verbal berbentuk tembang Jawa bernuansa cinta. b) Bahasa verbal yang digunakan berdasarkan status sosial. dan sikapsikap ideal bagi figur suami maupun figur istri. Tindakan atau perbuatan tersebut merupakan perbuatan simbolik yang menunjukkan adanya kekuatan – kekuatan tertentu yang tidak kelihatan mata yang bersifat magis simpatetis diharapkan dapat diterima temanten putri. c) Hubungan bahasa verbal dan nonverbal bersifat langsung dan tidak langsung. Nasehat-nasehat tentang cinta kasih tersebut bermanfaat bagi sepasang temanten sebagai bekal untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dalam membangun sebuah keluarga. Bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan merupakan dua komponen besar yaitu aspek verbal berupa cakepan (syair) sastra tembang yang terdapat dalam teks pathetan. kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga. rias. Perbuatan simbolik dalam pertunjukan tari Bondhan Sayuk lebih tampak jelas dan lebih mendekat kearah realitas tujuan bercinta dalam sebuah kehidupan keluarga. dan iringan yang secara komplementer menyatu dalam bentuk seni pertunjukan. dan jineman dan aspek nonverbalnya berupa: tema. Pada intinya bentuk daya pragmatik genre tari pasihan adalah berupa nasehat-nasehat tentang cinta kasih yaitu pasangan keluarga yang romantis. busana. d) Tema percintaan. sindhenan. dan bahagia. pola lantai.aktual pada tari Bondhan Sayuk yang merepresentasikan pasangan pria dan wanita setelah bercinta kemudian membawa boneka sebagai simbol anak dan ketika adegan akhir penari putri memberikan boneka anak kepada temanten putri. kinetic body moves (gerak tubuh). polatan. gerongan. e) 295 . 4.

keintiman. dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur. Dalam menerapkan prinsip kerja sama. Prinsip kesantunan yang diterapkan dalam bahasa verbal genre tari pasihan dengan menggunakan strategi melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif untuk menunjukkan kedekatan. Faktor genetik.Cerita berakhir dengan bahagia (happy end). Maksim kualitas dan maksim hubungan dipatuhi dimaksudkan oleh seniman supaya komunikasi rasa dapat berlangsung sehingga makna karya tari pasihan dapat ditangkap penghayat secara utuh. Hal ini dimaksudkan seniman penyusun untuk menunjukkan simbolisasi keharmonisan hubungan antara peran suami dan istri yang digambarkan dalam tari sebagai bentuk suritauladan yang layak untuk diteladani sepasang temanten. Hal ini dimaksudkan oleh seniman penyusun supaya bahasa verbal yang sifatnya mengajak. g) Pesannya berupa nasehat tentang cinta kasih. h) Gerak representatif dan presentatif sebagai ekspresi kinetic body moves dalam sajian. seniman penyusun lewat karya tari pasihan melanggar maksim kuantitas dan maksim cara dimaksudkan seniman untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa. dan memerintah yang tercermin dalam TT direktif dapat menyampaikan makna bahasa verbal sastra tembang yang berupa nasehat-nasehat cinta tersebut untuk diteladani sepasang temanten. Jenis TT yang mendominasi pada bahasa verbal dalam genre tari pasihan adalah TT direktif. f) Disajikan berpasangan pria dan wanita. meminta. Di samping itu juga konsep yang mendasari strategi untuk melakukan TT secara tidak langsung (off record) untuk mengekspresikan 296 .

Berdasarkan persepsi masyarakat. dan bermakna bagi masyarakat. Kehadiran genre tari pasihan sebagai seni pertunjukan merupakan perpaduan dari bahasa verbal dan nonverbal yang secara komposit mengungkapkan makna. Pemahaman tentang fungsi tari pasihan tersebut menunjukkan adanya perbedaan antara masyarakat umum dengan pakar seni. kehidupan genre tari pasihan dalam sosial masyarakat berfungsi sebagai hiburan dan suritauladan yang tepat bagi sepasang temanten dan masyarakat pada umumnya. Pembahasan. Bagi masyarakat secara umum kehadiran tari pasihan dalam resepsi perkawinan ditangkap sekadar sebagai hiburan. karena kepekaan rasa dan ketajaman pikir pakar seni lebih mantap dan lebih berkualitas dibandingkan masyarakat pada umumnya. Faktor afektif.rasa estetik dan menambah kemantapan rasa supaya dapat lebih menyentuh penghayat dan maknanya dapat diterima. Keseimbangan komposisi bahasa verbal dan nonverbal tampak pada setiap peristiwa dalam adegan. 297 . Konsepsi tentang pemilihan bahasa verbal dan nonverbal bersifat harmoni. Berbeda dengan persepsi pakar seni. bahwa fungsi tari pasihan dalam resepsi perkawinan. yaitu pada setiap ekspresi sastra tembang selalu didukung dan diikuti langsung kinetic body moves. selaras dan seimbang sehingga komplementer dari kedua komponen tersebut menjadi padu membentuk genre tari pasihan dalam aktualisasi yang berkualitas. Genre tari pasihan merupakan jenis tari pasihan yang difungsikan sebagai hiburan dan suritauladan bagi sepasang temanten dan sosial masyarakat. estetik. B. selain sebagai hiburan juga merupakan suritauladan yang sangat penting bagi sepasang temanten.

pola lantai. asih tresna. Sedangkan bentuk bahasa nonverbal merupakan komplementer dari elemen-elemen: tema. 298 . wuyung. prasetya. wong manis. polatan. harmonis. dan karakter yang berbeda-beda tersebut mengarahkan pada sepasang temanten untuk lebih meresapi dan menangkap makna secara utuh untuk diteladani dan dijadikan sebagai bekal perjalanan dan pelajaran hidup. lagu.Bahasa verbal genre tari pasihan berupa sastra tembang dalam bentuk pathetan. mustikaning. dan bahagia. setya. rabinira. Diharapkan dengan kata-kata cinta yang merupakan dasar dari tema percintaan yang diangkat dalam genre tari pasihan yang disajikan dalam bentuk tembang dengan irama. aginggang sarambut. seniman penyusun memandang perlu memanfaatkan aspek kebahasaan atau bahasa verbal dengan menggunakan kata-kata cinta yang terakumulasi dalam bentuk sastra tembang Jawa. dan mas jiwaku. untuk menyampaikan pesan maknanya tari pasihan. wanodya di. gerongan. Komplementer bahasa verbal sebagai kandungan makna dan bahasa nonverbal sebagai bentuk visual sudah menyatu dan berkaitan satu sama lainnya dan mampu mencerminkan kesatuan makna secara utuh. rias. brangti. Genre tari pasihan merupakan beragam jenis tari yang mengangkat tema percintaan. dan iringan yang saling mendukung dan menyatu menjadi sebuah bentuk sajian visual yang mengungkapkan pesan makna yang terkandung dalam bahasa verbal. dan sikap-sikap ideal bagi figur suami maupun figur istri sebagai pesan makna atau isi. mencakup: pasangan keluarga yang romantis. sindhenan. kinetic body moves (gerak tubuh). Adapun kata-kata cinta. asmara. garwa. dan jineman mengandung nasehat-nasehat tentang cinta kasih bagi sepasang suami istri. seperti: gantilaning tyas. kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga. sulistyane. busana.

Berdasarkan teori jenis TT yang dikemukakan Kreidler. Jenis TT direktif yang berfungsi untuk permintaan. ekspresif. Menurut Kreidler (1998: 189-190). jenis TT yang paling dominan adalah jenis TT direktif. dan TT patik. TT komisif. Sejalan dengan pernyataan Kreidler. TT verdiktif.Dilihat dari aspek kebahasaan genre tari pasihan memanfaatkan jenis-jenis TT yang terdapat pada bahasa verbal teks sastra tembang dalam bentuk pathetan. dan usulan atau anjuran. komisif. Bahasa verbal dalam genre tari pasihan terakumulasi dari beragam jenis TT yang menyatu saling mengkait dan saling melengkapi sebagai penunjuk isi. jenis-jenis TT direktif yang terdapat dalam genre tari pasihan berfungsi untuk permintaan. melarang. mengkategorisasikan TT dalam sebuah pertuturan menjadi tujuh jenis bentuk TT. yaitu: TT asertif. TT direktif adalah tuturan di mana pembicara berusaha menyuruh orang yang disapa untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu perbuatan tertentu. gerongan. Jenis-jenis TT direktif tersebut dapat dicermati berikut ini. jenis-jenis TT yang terdapat dalam genre tari pasihan gaya Surakarta terdiri dari jenis-jenis TT: asertif. dan jineman. dan patik. perintah. TT ekspresif. dan mengajak. permintaan. sindhenan. Kreidler (1998: 183-194). Dari beragam jenis TT yang terdapat pada genre tari pasihan. direktif. Tuturan Dewi Sekartaji: Dhuh jagad dewa bathara Welasa mring dasih kang nandhang kingkin Tuturan Panji Inukertapati: Muga tansah pinaringan Kanugrahan kang salami 299 . Secara garis besar beliau membagi tuturan direktif menjadi tiga macam: perintah. TT direktif. TT performatif.

dan perintah tersebut secara akumulatif dimaksudkan oleh seniman untuk mengajak. Sawahmu tansah anganti. 3. sayuk. ora nyleweng tumindake. Tuturan Panji Inukertapati: Pra wanita marsudiya marang tindak kang utama Setya tuhu marang garwa dadi rowang kang sembada Tuturan Dewi Sekartaji: Balik priya nimbangana ngayomi mring rabinira Datan kemba asih tresna sung tetreming kulawarga Tuturan istri: Dhuh mas jiwaku. sayuk. Sayuk. Bapakne sithole. meminta dan menyuruh terhadap sepasang temanten untuk memahami dan meresapi makna isi yang terkandung dalam bahasa sastra tembang dan supaya melakukan tindakan atau perbuatan seperti yang dicontohkan dalam pertunjukan tari pasihan tersebut. Sayuk mbangun negarane. Sayuk. sakancane. Tuturan Suami: Adhuh lae. sayuk. permintaan. sayuk. Tuturan Suami: Mbokne thole. 2.Jenis TT direktif yang berfungsi untuk perintah. sayuk. mangkat makarya. Jenis TT direktif yang berfungsi untuk melarang. Dominasi dari jenis-jenis TT direktif yang terdapat dalam bahasa vebal genre tari pasihan yang sifatnya mengajak. Sakdurunge anakmu gawanen mrene. baya iki wus wanci. Sayuk. sayuk. Jenis TT direktif yang berfungsi untuk mengajak. Tuturan bentuk Narasi: 1. sakabehe. atak adhuh lae. Tuturan Suami : labuh labet mring bangsane. nyambut gawe. Maksud dan harapan seniman penyusun tersebut ditangkap oleh penghayat sebagai 300 . 4.

perilaku ideal bagi suami mapun istri) yang sangat penting yaitu terutama bagi kedua mempelai temanten dalam rangka mempersiapkan diri untuk membentuk keluarga yang bahagia. Seperti kehadiran genre tari pasihan (percintaan pria dan wanita) dalam kehidupan sosial masyarakat pada ritual perkawinan adat Jawa mempunyai makna simbolik (berupa: pasangan keluarga yang romantis. multitafsir tersebut hanya mampu ditangkap indera lewat implikatur-implikatur bahasa verbal dengan bahasa nonverbal. Kehadiran genre tari pasihan dalam kehidupan sosial masyarakat pada ritual perkawinan merupakan wahana untuk mendidik anak yang telah dewasa yaitu sepasang temanten dengan cara tidak langsung yakni dengan cara simbolik. harmonis.sesuatu yang harus diteladani. dan bahagia yang terdapat dalam tari tersebut dirasa sangat tepat dan ditangkap secara mantap sebagai suatu edukatif atau pengajaran yang bersifat tidak langsung dan sangat bermanfaat bagi sepasang temanten untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dalam menggapai keluarga bahagia lahir dan batin. mengingat gambaran percintaan pasangan suami istri yang romantis. dan bahagia. kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga. Bagi masyarakat Jawa. Pada dasarnya bentuk karya seni genre tari pasihan merupakan materi pendidikan yang penuh imajinatif. sistem mendidik terhadap anak tidak selalu dilakukan secara formal dan terbuka. tetapi juga dalam bentuk yang tidak langsung. tertutup lebih bersifat simbolik. Indikasinya ditunjukkan bahwa genre tari pasihan hanya disajikan pada upacara-upacara resepsi perkawinan. dan sikap. harmonis. bukan 301 . bukan pada acara-acara lainnya. Untuk menerima isi atau pesan pendidikan yang berupa pementasan genre tari pasihan diperlukan ketajaman pikir dan kepekaan rasa.

Menurut Grice. Pelanggaran maksim kuantitas yang terjadi dalam bahasa verbal genre tari pasihan adalah digunakannya kata-kata arkais. Untuk mengupayakan agar kandungan makna yang dikehendaki seniman dapat ditangkap dan sampai pada pasangan temanten. Maksim kualitas. Dalam penerapan prinsip kerja sama pada bahasa verbal genre tari pasihan. seniman memandang perlu menerapkan prinsip kerja sama dan prinsip kesantunan secara selektif dalam bahasa verbal teks-teks sastra tembang yang terdapat pada genre tari pasihan. Maksim cara usahakan agar informasi mudah dimengerti. mendranira. Maksim hubungan. jengkar sking. usahakan agar pernyataan anda ada relevansinya (dalam Leech. Sistem pendidikan cara simbolik ini merupakan pilihan masyarakat yang masih merasa memiliki keterikatan emosional dan kesadaran atas budaya Jawa yang dirasakan dan dianggap mengandung nilai-nilai kehidupan yang layak dan tepat untuk diimplementasikan pada masyarakat hingga sekarang. mring 302 . hindari pernyataan yang samar. Maksim kuantitas adalah berikan informasi yang tepat sesuai yang dibutuhkan dan jangan melebihi yang dibutuhkan. prinsip kerja sama dalam pertuturan dibagi menjadi empat maksim yaitu maksim kuantitas. maksim kualitas. hindari ketaksaan dan usahakan agar ringkas. dahat. dan maksim hubungan. Lewat cara-cara estetis bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan tersebut disajikan supaya pesan makna yang dikehendaki seniman dapat diterima. seperti: sang retnayu. seniman melanggar maksim kuantitas dan maksim cara. 1993: 11). tepat sasaran dan lebih menyentuh sepasang temanten dengan tidak merasa dipaksa.makna leksikal dari susunan gramatikal bahasa verbalnya. maksim cara. usahakan agar sumbangan informasi anda benar.

anggenya. tanpa basa basi (bald on record). nujuprana. untuk menunjukkan kedekatan. Berdasarkan Teori kesantunan Brown dan Levinson (1987). dan dhuh mas jiwaku. Adapun pelanggaran maksim kuantitas yang terjadi dalam bahasa verbal genre tari pasihan. keintiman. brangti. angkling. Maksim kualitas dan maksim hubungan dipatuhi dimaksudkan oleh seniman supaya komunikasi rasa dapat berlangsung sehingga makna karya tari pasihan dapat ditangkap penghayat secara utuh. dimaksudkan oleh seniman untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa. mas rara.dasih. Jenis-jenis tembang yang merupakan bahasa komunikasi dalam genre tari pasihan secara prinsip kerja sama dalam sebuah pertuturan terjadi pelanggaran maksim cara. 4) 303 . terdapat lima strategi. dadya gantilaning tyas. dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur. dimaksudkan oleh seniman untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa. ningsun. sang pekik wah sang dyah ayu. 3) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan negatif mengacu muka negatif (negative politiness). wuyung. mring. Adapun pelanggaran maksim cara yang terjadi dalam bahasa verbal genre tari pasihan. wak-ingan. mustikaning. Pelanggaran maksim cara dalam bahasa verbal genre tari pasihan adalah digunakannya bahasa tembang yang pada dasarnya merupakan bahasa yang sulit dimengerti artinya. nandhang kingkin. rasaningtyas. pinanggya. yaitu: 1) melakukan TT secara apa adanya. lalis. wanodya di. sulistyane. 2) melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif mengacu muka positif (positive politiness). untuk menunjukkan adanya jarak sosial antara penutur dengan mitra tutur. aginggang sarambut. sifatnya tersamar dan tidak ringkas karena telah terpola dengan guru lagu dan guruwilangan.

polatan. Mengacu Teori kesantunan Brown dan Levinson (1987) tersebut.melakukan TT secara tidak langsung (off record). Dalam menyampaikan pesan makna yang terdapat dalam bahasa vebal seniman penyusun memandang perlu menggunakan bahasa nonverbal. Hal ini dimaksudkan seniman penyusun untuk menunjukkan simbolisasi keharmonisan hubungan antara peran suami dan istri yang digambarkan dalam tari sebagai bentuk suritauladan yang layak untuk diteladani sepasang temanten. Dukungan bahasa nonverbal pada tari pasihan merupakan media visual yang difungsikan sebagai sarana untuk mengekspresikan pesan makna yang dapat ditangkap oleh penghayat. Prinsip kesantunan yang diterapkan dalam bahasa verbal genre tari pasihan dengan menggunakan strategi melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif untuk menunjukkan kedekatan. busana. Di samping itu juga konsep yang mendasari strategi untuk melakukan TT secara tidak langsung (off record) untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa supaya dapat lebih menarik dan memikat serta menyentuh penghayat dan maknanya dapat ditangkap dan diterima sepasang temanten untuk dijadikan sebagai pelajaran yang bermanfaat dalam menata kehidupan keluarga baru. pola lantai. dan iringan secara akumulatif 304 . keintiman. rias. kinetic body moves (gerak tubuh). Bentuk bahasa nonverbal yang terdiri dari tema. dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur. 5) tidak melakukan TT atau diam (don’t do the FTA). prinsip kesantunan yang diterapkan dalam bahasa verbal genre tari pasihan dengan menggunakan strategi melakukan TT dengan menggunakan kesantunan positif dan strategi melakukan TT secara tidak langsung (off record).

digunakan seniman penyusun untuk mengekspresikan makna dengan cara lebih tersamar dan ungkapan suasana yang muncul merupakan ekspresi yang dirasa memiliki kekuatan untuk menyampaikan makna. pola lantai. dan iringan gamelan. busana. Strategi yang digunakan seniman penyusun dengan memanfaatkan jenis-jenis gerak presentatif dan representatif yang berhubungan langsung dan tidak langsung dengan bahasa verbal. penuh estetik sehingga karya tari pasihan menjadi sarana ekspresi yang memikat. rias. sehingga 305 .akan membentuk satu bentuk simbol yang mampu mengekspresikan makna tari pasihan menjadi lebih menyentuh dan semakin mantap. Adapun jenis-jenis gerak presentatif dan representatif yang berhubungan tidak langsung dengan bahasa verbal. tidak selalu didasari rasional belaka. Jenis-jenis gerak presentatif dan representatif yang berhubungan langsung dengan bahasa verbal akan memberi kemudahan terhadap penghayat dalam menafsirkan maksud dari seniman. Terpadunya bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan menjadi satu kesatuan seni pertunjukan yang utuh. Perlu disadari bahwa karya seni merupakan bentuk simbol yang memerlukan penafsiran-penafsiran. Akumulasi dan kombinasi dari dua strategi penyampaian pesan yang digunakan seniman yang berupa jenis-jenis gerak presentatif dan representatif yang berhubungan langsung dan tidak langsung dengan bahasa verbal menjadi sangat kuat dan mantap dengan dukungan ekspresi wajah (polatan). Seniman sering dalam menciptakan karyanya dilandasi rasa intuitif yang dalam. mengingat aspek kebahasaan dan aspek nonbahasa memiliki makna yang sama. sehingga pesan makna yang hendak disampaikan menjadi lebih kuat dan mantap. mantap dan berkualitas.

komisif. Maksim kualitas dan maksim hubungan dipatuhi dimaksudkan oleh seniman supaya komunikasi rasa dapat berlangsung sehingga makna karya tari pasihan dapat ditangkap penghayat secara utuh. Secara garis besar dapat dieksplisitkan bahwa genre tari pasihan merupakan beragam jenis tari yang mengangkat tema percintaan. keintiman. Dalam mengekspresikan maksudnya seniman juga memanfaatkan prinsip kerja sama dengan cara lebih selektif. ekspresif. dan patik. dan memerintah dapat menyampaikan makna bahasa verbal sastra tembang yang berupa nasehat-nasehat cinta tersebut sesuai dengan fungsi keteladanan. dan hubungan baik antara penutur dengan mitra tutur digunakan kesantunan positif.kesan yang terungkap dari sajian sebuah karya seni perlu adanya perenungan kembali untuk mendapatkan sebuah makna yang utuh. untuk menyampaikan pesan maknanya tari pasihan. Selain itu untuk menunjukkan kedekatan. Selain itu tari pasihan juga memanfaatkan jenis-jenis TT: asertif. meminta. hal ini dimaksudkan oleh seniman penyusun supaya bahasa verbal yang sifatnya mengajak. Pada aspek kebahasaan yang digunakan seniman penyusun dalam menerapkan prinsip kerja sama melanggar prinsip kuantitas dan prinsip cara yaitu dengan menggunakan kata-kata yang sifatnya arkais untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa. seniman penyusun memandang perlu memanfaatkan aspek kebahasaan atau bahasa verbal dengan menggunakan kata-kata cinta yang terakumulasi dalam bentuk sastra tembang Jawa. Dari beragam jenis TT yang mendominasi pada genre tari pasihan adalah TT direktif. direktif. Hal ini dimaksudkan seniman penyusun untuk menunjukkan 306 .

simbolisasi keharmonisan hubungan antara peran suami dan istri sebagai bentuk suritauladan. Selain itu ditunjang bentuk rias dan warna busana sama yang mencerminkan menyatunya rasa cinta antara peran pria dan wanita. Peranan penari sangat penting artinya jika penari atau seniman penyaji berkualitas. Dalam bahasa verbal secara keseluruhan tampak adanya koherensi antaraspek–aspek kebahasaan yang terakumulasi menjadi satu kesatuan saling berkaitan sehingga mencerminkan kesatuan makna yang dapat mengarahkan penghayat terhadap kandungan isi. Dengan demikian tampak bahwa sebenarnya bahasa verbal itu sebagai petunjuk isi telah mencerminkan kesatuan pesan yang utuh sedangkan bahasa nonverbal bertindak sebagai pendukung dalam menyampaikan isi supaya menjadi lebih mantap. Kesemuanya tadi menunjukkan adanya keselarasan antara bentuk bahasa verbal 307 . Pada realitanya bahasa nonverbal pada tari pasihan memiliki kekuatan ekspresi sangat mantap ini juga sangat tergantung pada kualitas penari. Strategi melakukan TT secara tidak langsung (off record) yang dilakukan seniman terkait aspek kebahasaannya dimaksudkan untuk mengekspresikan rasa estetik dan menambah kemantapan rasa supaya dapat lebih menyentuh penghayat dan maknanya dapat diterima. serta dukungan rasa musikal yang bernuansa percintaan. ekspresinya semakin kuat dan mantap sebaliknya penarinya lemah kekuatan ekspresinya juga semakin lemah. Komposisi antara bahasa verbal dengan nonverbal sebagai media ekspresi secara proporsional tampak selaras dan seimbang. Keselarasan ini tampak dalam bahasa verbal yang berupa tembang-tembang cinta didukung bahasa nonverbal yang berupa gambaran percintaan antara pria dan wanita yang menggunakan gerak-gerak yang merepresentasikan orang bercinta.

Pernyataan tersebut muncul karena masyarakat penonton secara umum menghayati tari pasihan sebagai seni pertunjukan didasarkan pada pengamatan mereka hanya terbatas pada bentuk visual semata. Bagi penonton umum bentuk yang menarik dari sisi ketampanan dan kecantikan penari dengan dukungan rias dan busana yang bagus serta dukungan suasana iringan gamelan yang dirasa sesuai rupanya telah cukup sebagai hiburan. sehingga pandangan pakar tentang fungsi tari pasihan sebagai hiburan dan suritauladan merupakan pernyataan yang lebih tepat. juga merupakan bentuk simbol percintaan yang bermakna bagi sepasang temanten untuk diteladani. Kehadiran tari pasihan dalam ritual resepsi perkawinan adat budaya Jawa merupakan salah bentuk hiburan dan suritauladan. kehadiran tari pasihan pada resepsi perkawinan selain sebagai hiburan. Hubungan bahasa verbal dan nonverbal saling komplementer menjadi bentuk yang menyatu. selaras dan seimbang sehingga bentuknya tari pasihan sebagai media ekspresi seniman penyusun merupakan komposit isi dan bentuk visual yang menunjukkan keutuhan sebuah karya seni.dengan nonverbal pada genre tari pasihan. Selain itu pandangan pakar tersebut juga mendapat rujukan dari pengamatannya bahwa pementasan jenis-jenis tari pasihan hanya pada resepsi perkawinan. Keseimbangan komposisi bahasa verbal dan nonverbal tercermin pada hampir seluruh sastra tembang yang terdapat dalam tari pasihan selalu diikuti dan didukung kinetic body moves. Pandangan pakar ini didasarkan pada pemahaman terhadap bahasa verbal dan penghayatan terhadap bentuk visual pada aspek nonbahasa yang terakumulasi dalam bentuk sajian tari pasihan. 308 . Tari pasihan dipandang sebagai bentuk hiburan terutama oleh masyarakat penonton secara umum. Dari sisi pandangan pakar.

309 . Hal itu dapat dicermati pada tari Karonsih mengangkat tema percintaan tokoh Panji Inukertapati sebagai suami dan tokoh Dewi Sekartaji sebagai istri.Pada hakekatnya tema percintaan yang digambarkan dalam genre tari pasihan adalah percintaan sepasang pria dan wanita. namun tidak semua saat peralihan itu dianggap sama pentingnya pada tiap-tiap budaya. Kedudukan penari pria dan penari wanita dalam tari pasihan yang tampil secara berpasangan itu merupakan simbol dari percintaan. Kiranya menjadi sangat tidak relevan dan tidak berarti bila penari diganti semua putri atau pria semua karena tidak lagi bermakna bagi sepasang temanten bahkan akan berkonotasi negatif. Begitu pula tari Bondhan Sayuk yang bersumber pada tema percintaan sepasang suami istri gambaran dari kalangan rakyat biasa. bahwa setiap tingkat baru dalam life-cycle itu berarti menghantarkan si individu ke suatu tingkat dan lingkungan sosial yang baru dan lebih luas. menunjukkan bahwa penari pria berperan sebagai suami dan penari wanita berperan sebagai istri. Perkawinan merupakan salah satu dan suatu saat peralihan yang terpenting pada life-cycle dari semua manusia di seluruh dunia. yaitu peralihan dari tingkat hidup remaja ke tingkat hidup berkeluarga. Pesta dan upacara pada saat peralihan sepanjang life-cycle itu merupakan suatu hal yang universal yang hampir ada pada setiap budaya manusia. Sifat universal pesta dan upacara sepanjang lifecycle terjadi karena adanya suatu kesadaran secara umum di dalam budaya manusia. gawat. baik secara nyata maupun gaib (Koentjaraningrat. 1972: 89-90). sehingga perannya menjadi mutlak. Di dalam aktivitas budaya manusia ada yang menganggap bahwa saat peralihan dari tingkat sosial tertentu ke tingkat sosial lainnya itu merupakan crisis-rites yang penuh bahaya.

Bagi masyarakat Jawa upacara tersebut merupakan sebuah upacara yang sangat sakral sepanjang daur hidupnya. Berkaitan dengan tindakan simbolik untuk mendapatkan kekuatan magis simpatetis bagi masyarakat Jawa dalam perkawinan. tempat. dan pimpinan upacara tertentu. Kesakralan itu sesuai dengan pendapat Soedarsono mengenai hal-hal yang dianggap penting dalam suatu upacara ritual yaitu waktu. 1990: 4).Periode transisi juga disebut periode liminal yang merupakan fase tengah dalam skema ritus transisi dari praliminal untuk menuju pascaliminal. suritauladan yang bermakna untuk keselamatan. Kekuatan tersebut antara lain berupa magis simpatetis yang diwujudkan dengan tindakan atau perbuatan yang dapat melambangkan terjadinya pembuahan. yakni 310 . dan kebahagiaan hidup. pelaku. segala ritual yang menyangkut dengan perjalanan hidupnya banyak diselimuti dengan simbolsimbol yang diharapkan dapat memberikan petuah. dan ragu-ragu (Darsiti Soeratman. tidak menentu. Demikian halnya yang terjadi pada budaya masyakat Jawa di dalam melangsungkan sebuah upacara adat perkawinan. mengingat upacara-upacara pada masa-masa melampaui saat-saat krisis sering dimaksudkan untuk menolak bahaya gaib yang mengancam individu dan lingkungan. 1989: 157). Bagi masyarakat Jawa yang masih lekat dengan budayanya. sebaliknya jika pelaksanaan tidak mentaati konvensi-konvensi yang telah berlaku. pendidikan. Dalam periode liminal ini seorang liminar berada dalam keadaan setengah-setengah. Ketentuan-ketentuan yang telah berlaku dalam upacara tersebut mereka yakini jika dilaksanakan dengan taat dan benar membawa berkah dan keselamatan. perlengkapan. mereka takut tertimpa malapetaka (Soedarsono. diperlukan kekuatan-kekuatan tertentu. kedamaian. Untuk itu crisis-rites bagi seorang liminal sangat penting.

sudah mengakar pada budaya masyarakat Jawa. Pada masyarakat yang sudah lebih maju. they dance with the upper part of their bodies bent forwards. Suddenly they jump wildly along with violent coitus motions and loud groans. tindakan yang dapat melambangkan terjadinya pembuahan.. yang diekspresikan para penari dengan membawa gambar tiruan organ-organ wanita dengan cara sebagai berikut. the jump among the women – the knock the phalli one against another..adanya hubungan antara pria dan wanita seperti yang digambarkan pada tari pasihan. untuk mendapatkan kesuburan dengan cara menanggap jenis tari duet percintaan atau tari pasihan yang merupakan tarian kesuburan yang diekspresikan lewat sebuah garapan gerak-gerak presentatif dan representatif.. 1991: 35). berkembang menuju masyarakat modern. Pernyataan tersebut sejalan dengan pendapat Koch Grundberg yang menggambarkan sebuah tari kesuburan dari suku Indian Coneba di Brasil... Hubungan dimaksud pada masyarakat yang masih melestarikan budaya purba kadang-kadang dilakukan lebih realistis (Soedarsono dalam Soedarso... (dalam Richard Kraus. dilakukan secara simbolis. Mereka dalam melakukan upacara perkawinan. Stamping with the right foot and singing. Hal ini terbukti pada masyarakat Jawa sekarang yang sudah mengalami kemajuan. yakni adanya hubungan antara pria dan wanita. yaitu pada setiap ada acara upacara perkawinan akan hadir tari pasihan yang hendak 311 .. Hampir dapat dipastikan bahwa pada setiap upacara perkawinan akan hadir tari pasihan. Salah satu sarana upacara perkawinan adat Jawa yang cukup penting adalah tari pasihan. They carry the vertility into every corner of the houses. 1969: 21).. penuh simbolis dan mengandung makna nilai-nilai percintaan yang sangat berarti bagi kehidupan sepasang temanten. Rupanya.

Seolah–olah keberadaan genre tari pasihan dalam budaya Jawa menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan terutama pada upacara-upacara perkawinan. mengingat merupakan satu-satunya bentuk sajian tari yang bermakna. sehingga perlu perantara yang berwujud simbol-simbol dalam puisi bukan dalam bentuk pengetahuan. Peristiwa budaya ini membuat kehadiran tari pasihan dalam upacara perkawinan sangat ditunggu-tunggu masyarakat. Hampir dapat dipastikan sarana yang digunakan sebagai kelengkapan berlangsungnya upacara perkawinan memiliki makna simbolik yang difungsikan untuk menasehati sepasang temanten agar dapat membangun keluarga yang bahagia lahir dan batin. Genre tari pasihan memiliki fungsi yang dalam terutama bagi sepasang mempelai temanten yang tercermin pada komplementer bahasa verbal dan nonverbalnya. Menurut Clifford Geertz (1992: 6). baik secara simbolik maupun sebagai santapan estetis terasa menyatu dengan situasi upacara. Bagi masyarakat Jawa upacara perkawinan merupakan saat yang dianggap penting sehingga sarana–sarana yang mendukung peristiwa perkawinan sangat diperhitungkan sangat teliti.diteladani oleh kedua mempelai. 312 . Kehadiran genre tari pasihan yang menggambarkan percintaan pria dan wanita dalam kehidupan sosial masyarakat terutama konteksnya pada ritual perkawinan adat Jawa rupanya mempunyai makna simbolik yang sangat penting terutama bagi kedua mempelai dalam rangka mempersiapkan diri untuk mengarungi kehidupan di masyarakat yaitu menuju terbentuknya keluarga yang bahagia. Simbolisme semacam ini tampak pada genre tari pasihan yang hadir dalam rangkaian upacara-upacara perkawinan adat Jawa. bahwa ‘simbol’ tampak terbatas pada sesuatu yang mengungkapkan secara tidak langsung.

Pada dasarnya genre tari pasihan gaya Surakarta merupakan simbolisasi percintaan sepasang manusia yang berjenis kelamin pria dan wanita. Simbolisasi tersebut merupakan harapan besar yang dapat memberikan sugesti sepasang temanten untuk segera diberi keturunan anak. Rupanya terdapat korelasi yang sangat signifikan bahwa kehadiran tari pasihan dalam resepsi perkawinan diharapkan dapat diteladani dan memberikan sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temanten. pasangan penari pria dan wanita setelah bercinta kemudian membawa boneka sebagai simbol telah diberi keturunan anak. Bentuk sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temanten terpancar dari kekuatan cinta sepasang penari pria dan wanita yang digambarkan dalam tari pasihan dimaksudkan dapat dihayati sepasang temanten sehingga bayangan-bayangan cinta yang diekspresikan oleh seniman mampu memicu dan memacu kehidupan imajinasi cinta sepasang temanten. Kekuatan imajinasi percintaan yang digambarkan sepasang kekasih dalam tari pasihan diharapkan dapat memberikan kekuatan magis simpatetis terhadap kehidupan jiwa sepasang mempelai temanten. Selain itu kehadiran tari pasihan hampir dapat dipastikan dalam resepsi perkawinan. Selain itu bentuk dukungan sugesti juga digambarkan ketika adegan penari putri memberikan boneka anak kepada 313 . dalam menjalani kehidupan berawal menghadapi permasalahan kemudian mendapat solusi yang menjadi berangsur-angsur membaik dan berakhir bahagia. yaitu mampu mempengaruhi kesuburan dalam proses perkawinan pasangan temanten. Hal ini juga semakin tampak jelas digambarkan secara lebih aktual pada tari Bondhan Sayuk. Dalam perjalanan kisahnya percintaan sepasang suami istri yang digambarkan pada tari pasihan.

harmonis. Lewat kekuatan magis simpatetis yang diekspresikan genre tari pasihan akan dapat menyuburkan benih-benih cinta yang tengah berkembang pada sepasang temanten yang akhirnya mampu melahirkan buah cinta yang berupa momongan anak. dan bahagia. Dari hasil komunikasi antara maksud seniman penyusun dengan tanggapan masyarakat menunjukkan adanya persamaan makna atau maksud. Perbedaan yang tampak adalah terletak pada kadar tebal dan tipisnya sebuah makna. dan bahagia. Bagi penghayat pakar seni menangkap makna berdasarkan pementasan tari pasihan. dan sikap-sikap ideal bagi figur suami maupun figur istri merupakan pesan makna yang hendak disampaikan oleh seniman penyusun. Pada dasarnya kedua orang tua temanten mengawinkan putra-putrinya dengan cita-cita untuk segera diberi keturunan yang berupa anak. Artinya pesan yang dimaksudkan seniman dengan makna yang ditangkap pakar seni sama-sama dalam koridor atau wilayah nilai-nilai percintaan. Nasehat-nasehat cinta kasih yang merupakan makna dari bahasa verbal berupa: pasangan keluarga yang romantis. Perbuatan simbolik dalam pertunjukan tari Bondhan Sayuk lebih tampak jelas dan lebih dekat kearah realitas tujuan bercinta dalam sebuah kehidupan keluarga. Pada hakekatnya dalam komunikasi seni bahwa pernyataan atau maksud X tidak pasti ditangkap atau diterima persis X. harmonis. kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga.temanten putri. sebagai pewaris dan penerus keluarga. bagaimanapun handalnya seniman 314 . Tindakan atau perbuatan tersebut merupakan perbuatan simbolik yang menunjukkan adanya kekuatan – kekuatan tertentu yang tidak kelihatan mata yang bersifat magis simpatetis diharapkan dapat diterima temanten putri. terdapat pasangan suami istri yang romantis.

enerjik. segar secara total baik jasmani maupun rohani. Kadar pemahaman juga sangat tergantung dari bekal yang dimiliki oleh seniman dan penghayat. Prinsip utama yang sangat penting dalam komunikasi seni adalah terjadinya komunikasi rasa. Seniman pada dasarnya tidak lain sebagai manusia yang menyediakan sebuah susunan benda pacu atau lambang-lambang sensa yang diharapkan akan ditafsirkan penghayat seperti yang dimaksudkan olehnya. berupaya menciptakan benda-benda pacu yang memiliki nilai estetik dalam rangka menyampaikan maksud. Sebagai penari atau penyaji. dalam penghayatan karya seni terjadi aktivitas kreatif. sedangkan penghayat berusaha menangkap maksud yang dikehendaki seniman tersebut dengan cara memberikan makna terhadap karya seni. prinsip kadarnya tetap berbeda tidak persis sama. seorang seniman harus mempunyai kemampuan baik pisik maupun nonpisik. Kondisi pisik penari harus benar-benar dalam keadaan sehat.dalam menciptakan karya seni dan hebatnya pakar seni dalam menilai karya. yakni seniman dengan menciptakan kreativitas artistik sedangkan penghayat mencipta nilai dengan kreativitas estetik. Kelemahan yang terdapat pada genre tari pasihan sedikit banyak dipengaruhi kualitas penari yang lemah sebagai penyampai isi dan iringan tari yang berupa kaset rekaman atau CD. Pada prinsipnya penafsiran terhadap keragaman media komunikasi yang terdapat dalam tari tidak mampu hanya ditangkap secara rasional semata tetapi ketajaman rasa merupakan ujung tombak dalam menangkap makna yang sebenarnya. Kadar pemahaman makna dalam karya seni yang berupa komunikasi rasa. dan relaks serta memiliki sistem ekspresi dan evaluasi yang baik 315 . Bagi seniman dalam menciptakan karya seni. Menurut Sutopo (1995: 12-13).

1984: 31). terasakan hambar kosong belaka. Selain itu penari harus juga mampu menguasai ruang dan waktu. dan penguasaan irama (Wisnoe Wadhana. ketrampilan. Maka ia pun akan selalu patut dalam perannya. sehingga sekalipun dapat menari Jawa dengan penguasaan teknik yang sangat baik. ia akan dapat mengarahkan sekaligus mendidik peningkatan daya apresiasi masyarakat terhadap karya-karya tari ciptaannya yang 316 . ratio. ketepatan gerak ekspresi. Menurut Wisnoe Wadhana : kesempurnaan menari Jawa klasik tradisional hanya dapat diraih apabila si penari juga mendalami mistik Jawa. Sebagai seniman. Persiapan nonpisik bagi penari berupa kepekaan rasa. Selama seniman mampu mengungkapkan nilai-nilai budaya dan norma-norma sosial yang terangkum dalam sebuah pesan-pesan lewat karya tari secara indah. akan terjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat dan dapat diprediksikan eksistensinya sebagai seniman mendapat dukungan dan pengakuan penuh dari masyarakat pendukungnya. dan bekal pengalamannya sehari-hari diharapkan mampu menafsirkan karya-karya tari dari seorang koreografer sehingga dapat menyajikan secara ekspresi sesuai dengan peran karakternya. dan kepekaan rasa menjadi sangat pokok sebagai rohnya dalam sajian tari. berada dalam puncak prestasi keteladanan (1994: 45-46). berbobot magis. kelenturan. Keberhasilan mereka menyampaikan pesan-pesan tergantung dengan kemampuan menyeleksi materi-materi sebagai sarana ungkap dan tidak lepas dari kemampuan masyarakat penikmat untuk menangkap yang sudah barang tentu mengacu pada nilai-nilai budaya dan norma-norma sosial yang hidup dan berkembang. luwes dan terampil dalam penampilan.seperti: keseimbangan. Generasi sekarang banyak yang awam terhadap mistik tersebut. Padahal ukuran kehebatan seorang penari klasik tradisional Jawa haruslah isi. Peranan tubuh penari sangat vital untuk sarana ekspresi.

Seni tradisional termasuk tari sebagai budaya yang diwarisi secara turun-temurun sudah barang tentu memiliki kesinambungan dengan budaya sebelumnya. Sebaliknya jika penarinya tidak berkualitas. Dalam tari Jawa bentuk ekspresinya pada hakekatnya terwujud berdasarkan alam emosi. 1991:10).pada gilirannya menumbuhkembangkan kehidupan tari secara wajar. Pewarisan budaya tidaklah bersifat statis. Keluluhan jiwa seorang penari dalam menyajikan karakter tari merupakan puncak prestasinya sebagai seorang seniman. Kualitas seorang penari hanya akan tercapai bila penari mampu menghayati dan mengekspresikan sesuai dengan perannya secara totalitas jiwa. Pada dasarnya seniman hanya menyediakan suatu susunan pacu atau lambang-lambang sensa yang diharapkannya akan kita tafsirkan seperti yang dimaksudkan olehnya (Parker. sehingga kekuatan ekspresinya akan mampu mengungkapkan isi secara mantap. Kelemahan dari kualitas penari sebagai penyampai isi tari yang dimaksudkan seniman merupakan kendala yang sangat vital karena hanya dari 317 . 1980:46). Ketajaman dan kepekaan rasa yang dimiliki penari dapat teraktualisasi dalam sebuah sajian tari dan mampu menggugah intuisi para penghayat. Gabungan garap pisik dan olah rasa yang matang akan menghasilkan kualitas penari yang mumpuni atau berbobot. Rupanya hanya penari yang berkualitas yang terlatih yang mampu menyajikan dan menyampaikan isi atau makna yang terkandung dalam genre tari pasihan. yaitu bentuk dan iramanya sangat kuat dilatarbelakangi oleh konsep keindahan dan tradisi kebudayaannya (Humardani. tetapi masing-masing generasi mencoba untuk mengadakan perubahanperubahan disesuaikan dengan kondisi kehidupan masyarakat pendukungnya. tidak terlatih. ia akan lemah dan tidak mampu mengekspresikan muatan isi seperti yang diharapkan oleh seniman pencipta.

Hasilnya akan berbeda jika sajiannya genre tari pasihan dengan iringan kaset atau rekaman CD. Dalam sajiannya genre tari pasihan dapat diiringi gamelan secara langsung dan iringan tidak langsung yaitu dengan iringan kaset atau rekaman CD. 318 . Jika dengan iringan gamelan langsung. kekuatan ekspresinya menjadi semakin mantap karena selain kekuatan rasa musikal yang muncul dari garap gendhing-gendhing karawitan juga didukung kekuatan penari dalam membawakan tembang akan tampak lebih ekspresip.ekspresi penari makna tari dapat ditangkap atau dihayati oleh penonton. Hal ini merupakan kelemahan yang terdapat pada sajian genre tari pasihan jika tidak menggunakan iringan langsung dengan gamelan. Secara ringkas dapat dikatakan kelemahan kualitas penari dalam menyajikan jenis tari pasihan akan mempengaruhi kekuatan ekspresi dan mengurangi pada kemantapan rasa penghayat. Kekuatan ekspresi menjadi kurang mantap jika dengan iringan yang sifatnya tidak langsung dengan iringan gamelan. karena selain rasa musikal yang muncul sudah terasa lemah. juga tidak mendapat dukungan ekspresi tembang dari penari secara langsung.

Maksud dan harapan seniman penyusun tersebut ditangkap oleh masyarakat sebagai sesuatu yang harus diteladani. Peranan genre tari pasihan dalam upacara ritual resepsi perkawinan memiliki makna yang cukup signifikan bagi sepasang temanten. dan afektif dapat disimpulkan bahwa kehadiran genre tari pasihan dalam upacara ritual resepsi perkawinan berfungsi sebagai hiburan dan suritauladan. harmonis. meminta dan menyuruh terhadap sepasang temanten untuk memahami dan meresapi makna isi yang terkandung dalam bahasa verbal sastra tembang yang disampaikan dengan bahasa nonverbal dalam bentuk visual yang estetik supaya melakukan tindakan atau perbuatan seperti yang dicontohkan dalam pertunjukan tari pasihan tersebut. Berdasarkan temuan penelitian dan hasil pembahasan dari keterkaitan tiga faktor objektif. Simpulan. genetik. mengingat gambaran percintaan pasangan suami istri yang romantis. Rupanya sudah mengakar pada budaya masyarakat Jawa.BAB V PENUTUP A. 319 . Kehadiran genre tari pasihan dalam resepsi perkawinan dimaksudkan oleh seniman untuk mengajak. dan bahagia yang terdapat dalam tari tersebut dirasa sangat tepat dan ditangkap secara mantap sebagai suatu bentuk edukatif atau pengajaran yang bersifat tidak langsung dan sangat bermanfaat bagi sepasang temanten untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dalam menggapai keluarga bahagia lahir dan batin. yaitu pada setiap ada acara upacara perkawinan akan hadir tari pasihan yang hendak diteladani oleh kedua mempelai.

rias. dan iringan. sindhenan. busana. baik secara simbolik maupun sebagai santapan estetis terasa menyatu dengan situasi upacara. layak. dan jineman dengan bahasa nonverbal berupa: tema. yang sekaligus bertindak sebagai penyampai pesan makna yang secara komposit telah terkait dan saling melengkapi sebagai seni pertunjukan yang utuh dan mantap. Bentuk seni pertunjukan genre tari pasihan merupakan komposit bahasa verbal dalam wujud sastra tembang yang terdapat dalam bentuk pathetan. Dalam bahasa verbal telah tampak adanya koherensi antaraspek–aspek kebahasaan yang terakumulasi menjadi satu kesatuan saling berkaitan sehingga mencerminkan kesatuan makna yang dapat mengarahkan penghayat terhadap kandungan isi. Harmonisasi dan keseimbangan antara bahasa verbal dan nonverbal dalam genre tari pasihan telah mencerminkan kesatuan makna yang saling mendukung maka karya seni genre tari pasihan layak dan mantap sebagai seni pertunjukan yang berkualitas tinggi. polatan. ditunjukkan bahwa jenis-jenis tari pasihan tersebut sampai sekarang hidup dan 320 . pola lantai. gerongan. Kedua komponen yaitu bahasa verbal sebagai isi atau pesan makna dan bahasa nonverbal dalam bentuk visual sebagai pendukung pemantapan makna. mengingat merupakan satu-satunya bentuk sajian tari yang bermakna. Kekuatan genre tari pasihan sebagai seni pertunjukan yang berkualitas. dan mantap sebagai sebagai hiburan dan suritauladan.Peristiwa budaya ini membuat kehadiran tari pasihan dalam upacara perkawinan sangat ditunggu-tunggu masyarakat. kinetic body moves (gerak tubuh). Bahasa nonverbal merupakan bentuk visual yang bersifat estetik sudah memperlihatkan adanya koherensi antarelemen-elemen dan saling berkaitan untuk mendukung dalam menyampaikan isi supaya menjadi lebih mantap.

Nilai-nilai keteladanan yang digambarkan pada genre tari pasihan pada hakekatnya merupakan bentuk simbolisasi cinta kasih sepasang suami istri. aspek bahasa verbal yang dimanfaatkan oleh seniman penyusun dalam karya tari pasihan adalah: TT asertif. bahasa verbal berfungsi untuk melengkapi dan mendukung bahasa nonverbal sebagai bentuk visual. Dalam mendukung kesatuan makna. Pada prinsipnya masing-masing komponen baik bahasa verbal maupun bahasa nonverbal memiliki kedudukan yang sama yaitu berfungsi untuk mengekspresikan maksud seniman penyusun. adapun bentuk perintah tersebut bersifat simbolik dalam bentuk yang estetik. Kehadiran tari pasihan dalam resepsi perkawinan diharapkan dapat diteladani dan memberikan sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temanten. dan TT patik. Komplementer dua komponen bahasa verbal dan nonverbal genre tari pasihan saling mengait. Pada dasarnya bahasa verbal lebih berfungsi sebagai penunjuk isi sedangkan bahasa nonverbal sebagai penyampai isi supaya lebih menyentuh jiwa penghayat dan menjadi semakin mantap. Bentuk sugesti secara tidak langsung terhadap sepasang temanten terpancar dari kekuatan cinta sepasang penari pria dan wanita yang digambarkan dalam tari pasihan 321 . saling melengkapi sehingga bahasa verbal yang berupa sastra tembang mampu memperjelas dan menyatukan teks dengan bentuk visual dalam kesatuan makna yang utuh. Dari beragam jenis TT yang paling dominan adalah TT direktif.berkembang di masyarakat terutama pada upacara-upacara ritual resepsi perkawinan. TT komisif. TT direktif. TT ekspresif. Sebagai kandungan makna atau isi. Diharapkan dengan dominasi jenis TT direktif sangat tepat untuk menyuruh supaya meneladani.

sebagai pewaris dan penerus keluarga. Diharapkan nasehat-nasehat tentang cinta kasih tersebut bermanfaat bagi sepasang temanten sebagai bekal untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dalam membangun sebuah keluarga. Diharapkan kekuatan magis simpatetis dapat mendorong menyuburkan benih-benih cinta yang tengah berkembang dan mampu memberikan sugesti terhadap sepasang temanten untuk segera diberi keturunan yang berupa momongan anak. kesetaraan dan kebersamaan dalam menjalankan bahtera rumahtangga. yaitu mampu mempengaruhi kesuburan dalam proses perkawinan pasangan temanten. Pada intinya bentuk daya pragmatik genre tari pasihan adalah berupa nasehat-nasehat tentang cinta kasih yaitu pasangan keluarga yang romantis. Tindakan atau perbuatan tersebut merupakan perbuatan simbolik yang menunjukkan adanya kekuatan–kekuatan tertentu yang tidak kelihatan mata yang bersifat magis simpatetis. Kekuatan imajinasi percintaan yang digambarkan sepasang kekasih dalam tari pasihan diharapkan dapat memberikan kekuatan magis simpatetis terhadap kehidupan jiwa sepasang mempelai temanten. B. dan bahagia. dan sikap-sikap ideal bagi figur suami maupun figur istri. Bentuk seni pertunjukan genre tari pasihan atau tari pasihan adalah karya seni dari seniman yang berkualitas tinggi dan telah teruji terbukti sampai sekarang 322 . Pada dasarnya kedua orang tua temanten mengawinkan putraputrinya dengan cita-cita untuk segera diberi keturunan yang berupa anak. harmonis. Saran.dimaksudkan dapat dihayati sepasang temanten sehingga bayangan-bayangan cinta yang diekspresikan oleh seniman mampu memicu dan memacu kehidupan imajinasi cinta sepasang temanten.

b) Pengrawit dalam mengubah jenis-jenis gendhing maupun cakepan atau bahasa verbalnya yang terdapat pada genre tari pasihan hendaknya harus sadar dan mempertimbangkan segi fungsinya. hingga memahami tentang pesan makna yang disampaikan dari sebuah tari. c) Kritikus hendaknya lebih banyak memberikan penilaian terhadap karyakarya yang dipublikasikan supaya masyarakat mulai mengenal.hidup dan berkembang sebagai hiburan dan suritauladan bagi bagi sepasang temanten dan masyarakat pada umumnya. Sehingga kemantapan dan validitas sebagai sebuah karya seni yang berkualitas tidak diragukan lagi untuk itu perlu peneliti sarankan kepada: a) Penari dalam mengubah pola-pola pakaian dan pola-pola sekaran yang terdapat pada genre tari pasihan hendaknya harus sadar dan mempertimbangkan segi fungsinya. Diharapkan kualitas dan kuantitas penilaian dari masyarakat terhadap tari semakin meningkat sehingga kehidupan seni pertunjukan semakin hidup dan berkembang dalam lingkungan budaya yang layak dan proporsinal. mengetahui. 323 .

London and New York: Routledge. Terjemahan: Rahayu S. Perkembangan Tari Enggar-Enggar. Oxford: Oxford University Press. Discourse. 2007. Surakarta: STSI Press. 1989. STSI: Surakarta. Dwi Maryani. Pengantar Metode Penelitian Linguistik Struktural. Cambridge: Cambridge University Press. 2006. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. PPS-UNS. Fatimah Djajasudarma.K. . Perubahan Tari Lambangsih. PN: Difa Publisher. Hafied.D. Penelope and S. Cook. Hidayat. Modul Pembelajaran: Pengantar Linguistik. 1993. Clifford. de Saussure. Pragmatics ang Discourse. 324 . Pengantar Ilmu Komunikasi. dan Ruqaiya Hasan. M. Tanpa Tahun. 1976.DAFTAR PUSTAKA ACUAN Asim Gunarwan.Yogyakarta: Kanisius. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. 2007. 1994. 1999.C. dalam Esther N. Joan. Metode Linguistik. Levinson. Guy. Cutting. Goody (ed) Questions and Politeness. Budhisantoso. London: Longman Group Ltd. Ferdinand. Surakarta: UNS Press. H. 1987. T. Cohesion in English. 1916. Makalah berjudul “Implikatur Percakapan: Perspektif Grice dan Perspektif Sperber & Wilson”. Jurnal Wiled. Jakarta: Depok. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 1992. EM Zul Fajri dan Ratu Aprillia Senja. 2002. 1999. Tanpa Taun. Edi Subroto. ‘Universals in language usage: Politeness phenomena’. Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia. Dwi Yasmono. Cangara.A. STSI: Surakarta. Geertz. Halliday. Pengantar Linguistik Umum. Bandung: PT Erisco. Kebudayaan dan Agama. Brown.

Bloomington: Indiana University Press. London: K.Paul. Geoffrey. Langer. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Benny H. Noth. C.W. Yogyakarta: Lingkar Media. 1988. Bandung:STSI. Mey. Oxford: Blackwell. Komposisi Bahasa Indonesia. 1990. The Problem of Meaning in Primitive Languages dalam Ogden. Terjemahan: M. The Meaning of Meaning. Prinsip-prinsip Pragmatik. 1993. Nababan.J.Hoed. Disertasi. 1991. Jakarta: Balai Pustaka. Oka. Richards (ed).A. Yogyakarta: UGM. Metodologi Penelitian Kualitatif. . 1987. Kreidler. dan I. Ibrahim Alfian. Bronislaw. 1998. Suzanne K. Pemikiran & Kritiknya. Jacob L. 2003. . Jakarta: PT Rineka Cipta. Bahasa dan Sastra dalam Tinjauan Semiotik dan Hermeneutik. Ilmu Pragmatik. 1991. 1923. Editor: Rustopo.J. Lexy. dan Trubner. Universitas Indonesia: UI Press. STSI: Surakarta. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. London: Longman. Moleong. 2006. Pengantar Ilmu Antropologi. Pragmatik: Teori dan Analisis. 1983. Trend. London: Routledge. 1990. Lamuddin Finoza. Malinowski. Jakarta: Diksi Insan Mulia. Winfried. Introducing English Semantics. W. Problematika Seni. Humardani.D. 2001. 325 . Maryono. Muhammad Rohmadi. Kebudayaan Jawa. Jumanto. 2007. Pragmatics: An Introduction. Surakarta: STSI Press. Karonsih. 1999. Handbook of Semiotics. 2005. Komunikasi Fatis Di Kalangan Penutur Jati Bahasa Inggris. UI: Jakarta. Charles. Principles of Pragmatics.D. Makalah berjudul: “Disiplin Sejarah dalam Merekonstruksi masa Lampau untuk Menyongsong Masa Depan”. Leech. 1984. P. 2004.K. Terjemahan: Fx. T. Koentjaraningrat. Widaryanto.

1979. Longman Dictionary of Language Teaching and Applied Linguistics. Searle. 1985. Everett M and D. Kritik Seni Holistik Sebagai Model Pendekatan Penelitian Kualitatif. 2006. Pengertian Seni. Lawrence Kincaid. Discourse Studies: an Introductory Textbook. . De Witt. Dasar-dasar Estetika. Metodologi Penelitian Kualitatif. Humardani. H. Sintaksisi. Sp. 326 . Yogyakarta: Saku Dayar Sana. Makalah berjudul: “Peranan Seni Budaya dalam Sejarah Kehidupan Manusia: Kontinuitas dan Perubahannya. 1990. R. 1996. Renkema Jan. 1995. Communication Network: Towards a Newq Paradigm for Research. Yogyakarta: ISI. Soedarsono. . 1993. 2003. Surakarta: Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI). Soerjono Soekanto.C et al. Surakarta: Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI). Parker. Yogyakarta:UGM. Seni Pertunjukan. 1992. Beberapa Catatan Tentang Perkembangan Kesenian Kita. Yogyakarta: Gadjah Mada university Press. Ilmu Bahasa Indonesia.M. Surakarta: Universitas Sebelas Maret. Amsterdam: John Benjamins Publishing Company. Indonesia Indah: Tari Tradisional Indonesia. Pengantar Pengetahuan Dan Komposisi Tari. Read. New York: Free Press. Departemen P dan K. Sunan. Richards. J. Sebelas Maret University Press. Jakarta: Yayasan Harapan Kita/BP 3 TMII. 1983. Cambridge: Cambridge University Press.B. Jakarta: Ghalia Indonesia. . Rustopo.Pakubuwono IV. 1991. Essex: Longman Rogers. 1980. Soedarso Sp. M. Yogyakarta: Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI). Terjemahan:Soedarso. Terjemahan: Yanti Darmono. Herbert. 1981. 1990. 1987. 1978. Perkembangan Gamelan Kontemporer. Terjemahan: SD. Sutopo. Yogyakarta: CV Karyono. John R.H. Ramlan. Speech Acts: An Essay in The Philosophy of language. Jakarta: PN Buku Sastra Indonesia dan Daerah. 1969. . Teori Sosiologi tentang Perubahan Sosial.

Claude M and Warren Weaver. 327 . Karangannyar: pakar tembang dan karawitan. 2006. Karanganyar: penari. Terjemahan: Narulita Yusron. Karawitan Wayang Kulit Purwa Gaya Surakarta. Jr.P. Karanganyar: penari. Yogyakarta: PN BACA. Jakarta: Sena Wangi. 1994. Surakarta: pakar tembang dan karawitan serta penanggap. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Sri Rochana. 7. Hari Subagya. 1994. W. Nora Kustantina Dewi. 2006. 1997. Terjemahan:Misbah Zulfa Elizabeth. Sukoharjo: vokal putri (pesindhen). 10. 2005. Wainwright. Daryono. pakar tari dan budayawan. Nuryanto.Surakarta: STSI Press. Membaca Bahasa Tubuh. Editor: Archibald A. Yogyakarta: PT Tiara Wacana. Hill. Surakarta: penyusun tari dan penari. Spradley. 2. Perkembangan Tari Gambyong Gaya Surakarta 19501993. 1998. Terjemahan: Indah Fajar Wahyuni. The Mathematical Theory of Communication. Agus Tasman. 1949. Yule. Jurnal Wiled. Sukoharjo: penari. 11. 6. Pragmatik. Wijana. Rusdiantara. George. Metode Etnografi. Hartoyo. Henry Lee. Surakarta: penyusun tari.Shannon. Singapore: National Institute of Education. Yogyakarta: Andi Offset. J. 3. 5. Linguistics. Boyolali: penari dan penyusun tari. 8. Pragmatics. Voice of America Forum Lectures. 1969. 9. Surakarta: penari. Gordon R. Wisnoe Wardhana. . Nartutik. Urbana: University of Illinois Press. Darsono.S. Smith. DAFTAR NARA SUMBER 1. Waridi. Ninik Sutrangi. Dewa Putu I. Rusini. Surakarta: pakar tari. 1996. 4. Dasar-dasar Pragmatik.

328 .12. Surakarta: penari. penyusun tari. 15. Karanganyar: pakar tembang dan karawitan. 13. Sukoharjo: penangggap. dan pakar tari. Sunarno. 16. Slamet Suparno. Slamet Riyadi. 14. Sudarmin. Sri Lestari. Surakarta: pakar karawitan. Boyolali: penari.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful