P. 1
KEHIDUPAN SUKU ASMAT

KEHIDUPAN SUKU ASMAT

|Views: 633|Likes:
Published by Ali Saepul

More info:

Published by: Ali Saepul on May 05, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/15/2013

pdf

text

original

KEHIDUPAN SUKU ASMAT

sebuah suku di papua. suku asmat dikenal dengan hasil ukiran kayunya yang unik. populasi suku asmat terbagi Suku asmat adalah dua yaitu mereka yang tinggal di pesisir pantai dan mereka yang tinggal di bagian pedalaman. kedua populasi ini saling berbada satu sama lain dalam hal cara hidup,sturktur sosial dan ritual.populasi pesisir pantai selanjutnya terbagi kedalam dua bagian yaitu suku bisman yang berada di antara sungai sinesty dan sungai nin serta suku simai. Ada banyak pertentangan di antara desa asmat. yang paling mengerikan adalah cara yang dipakai suku asmat membunuh musuhnya. ketika musuh bunuh, mayatnya dibawa kekampung, kemudian dipotong dan dibagikan kepada seluruh penduduk untuk memakan bersama. mereka menyanyikan lagu kematian dan memenggal kepalanya. otaknya dibunngkus daun sago dan dipanggang kemudian dimakan. sekarang biasanya di satu kampung dihuni kira-kira 100 sampai 1000 orang. setiap kampung punya satu rumah bujang dan banyak rumah keluarga. rumah bujang dipakai untuk upacara adat dan upacara keagamaan. rumah keluarga dihuni oleh dua sampai tiga keluarga, yang mempunyai kamar mandi dan dapur sendiri. suku asmat meiliki cara yang sangat sederhana untukmerias diri mereka. mereka hanya membutuhkan tanah merah untuk menghasilkan warna merah. untuk menghasilkan warna putih mereka membuatnya dari kulit kerang yang sudah dihaluskan. sedangkan warnah hitam mereka hasilkan dari arang kayu yang dihaluskan. cara menggunakan pun cukup simpel, hanya dengan mencampur bahan tersebut dengan sedikit air, pewarna itu sudah bisa digunkan untuk mewarnai tubuh. selain budaya, penduduk kampung syuru juga amat piawai membuat ukiran seperti suku asmat umumnya. ukiran bagi suku asmat bisa menjadi penghubung antara kehidupan masa kini dengan kehidupan leluhur. di setiap ukiran bersemayam citra dan penghargaan atas nenek moyang mereka yang sarat dengan kebesaran suku asmat. patung dan ukiran umumnya mereka buat tanpa sketsa. bagi suku asmat kala menukir patung adlah saat di mana mereka berkomunikasi dengan leluhur yag ada di alam lain. itu dimungkinkan karena mereka mengenal tiga konsep dunia: Amat ow capinmi (alam kehidupan sekarang), Dampu ow campinmi (alam pesinggahan roh yang sudah meninggal), dan Safar (surga). percaya sebelum memasuki dusurga< arwah orang sudah meninggal akan mengganggu manusia. gangguan bisa berupa penyakit, bencana bahkan peperangan. Maka, demi menyelamatkan manusia serta menebus arwah, mereka yang masih hidup membuat patung dan mengelar pesta seperti pesta patung bis (Bioskokombi), pesta topeng, pesta perahu, dan pesta ulat ulat sagu. konon patung bis adalah bentuk patung yang paling sakral. namun kini membuat patung bagi suku asmat tidak sekadar memenuhi panggilan tradisi. sebab hasil ukiran itu juga mereka jual kepada orang asing di saat pesta ukiran. mereka tahu hasil ukiran tangan dihargai tinggi antara Rp. 100 ribu hingga jutaan rupiah diluar papua.

rumah bujang dipakai untuk upacara adat dan upacara keagamaan. mereka hanya membutuhkan tanah merah untuk menghasilkan warna merah. serta menyimpan banyak potensi wisata. suku asmat darat. terdiri dari 2 kelompok yaitu asmat pesisi dan asmat pedalaman. kedua populasi ini saling berbada satu sama lain dalam hal cara hidup.populasi pesisir pantai selanjutnya terbagi kedalam dua bagian yaitu suku bisman yang berada diantar sungai sinesty dan sungai serta suku simai. populasi suku asmat terbagi dua yaitu mereka yang tinggal di pesisir pantai dan mereka yang tinggal di bagian pedalaman.babi hitan. untuk menghasilkan warna putih mereka membuatnya dari kulit kerang yang sudah dihaluskan. Keduanya sangat berbeda dalam hal dialek. Setiap kampung asmat terdapat satu µrumah bujang¶ dan banyak rumah keluarga.com/social-sciences/sociology/1893522-suku-asmat/#ixzz0bIFWL1yo Suku asmat merupakan sebuah suku dengan berjuta juta keunikan. Suku ini sangat dikenal dengan hasil karya seni ukirnya. cara hidup ataupun budayanya.shvoong. kehidupan dari ketiga suku ini ternyata telah berubah. hanya dengan mencampur bahan tersebut dengan sedikit air. Suku asmat. yang paling mengerikan adalah cara yang dipakai suku asmat membunuh musuhnya. Suku asmat adalah sebuah suku di papua. yang mempunyaikamarmandidandapursendiri. kasuari.sturktur sosial dan ritual. mereka menyanyikan lagu kematian dan memenggal kepalanya. komodo dll. Rumah bujang merupakan rumah untuk acara keagamaan dan adat. sedangkan warnah hitam mereka hasilkan dari arang kayu yang dihaluskan. Sumber: http://id. suku asmat dikenal dengan hasil ukiran kayunya yang unik. kemudian dipotong dan dibagikan kepada seluruh penduduk untuk memakan bersama. Asmat pesisir terbagi lagi menjadi dua yaitu bisman dan simai Kurang lebih ada sekitar 100 ± 1000 tinggal disatu kampung. ketika musuh bunuh. cara menggunakan pun cukup simpel. . pewarna itu sudah bisa digunkan untuk mewarnaitubuh. Ada banyak pertentangan di antara desa asmat. mereka juga selalu meramuh / menokok sagu sebagai makan pokok dan nelayan yakni mencari ikan dan udang untuk dimakan. rumah keluarga dihuni oleh dua sampai tiga keluarga. setiap kampung punya satu rumah bujang dan banyak rumah keluarga. tetapi ada kesamaan yaitu sangat menarik untuk dijadikan tujuan wisata budaya. suku asmat meiliki cara yang sangat sederhana untukmerias diri mereka. sekarang biasanya di satu kampung dihuni kira-kira 100 sampai 1000 orang.burung. ular. selain budaya. penduduk kampung syuru juga amat piawai membuat ukiran seperti suku asmat umumnya. sedangkan rumah keluarga merupakan tempat tinggal untuk 2 atat 3 keluarga. otaknya dibunngkus daun sago dan dipanggangkemudiandimakan. mayatnya dibawa kekampung. suku citak dan suku mitak mempunyai kebiasaan sehari-hari dalam mencari nafkah adalah berburu binatang hutan separti. Anda sebagai pecinta wisata budaya pasti kenal dengan patung asmat? Sebuah karya yang sangat fenomenal.mata pencariannya Kebiasaan bertahan hidup dan mencari makan antara suku yang satu dengan suku yang lainnya di wilayah Distrik Citak-Mitak ternyata hampir sama.

di kawasan ujung timur Indonesia Penduduk Kamoro memiliki kesamaan bahasa dan berbagai ciri kebudayaan dengan etnik/suku bangsa Asmat dan suku Sempan misalnya Mbitoro suku Kamoro dan Bisj suku Asmat. kata Mgr Mereka relatif belum kenal budaya uang. Kini orang Asmat membuat Bisj untuk dijual pada wisatawan dan pada akhirnya bisa memberi kontribusi ekonomi bagi warga Asmat.Freeport Indonesia-nya bahkan keunikan etnik/suku bangsa pribumi sebagai penghuni dan pemiliknya. yang kemudian merupakan pencipta cikal bakal manusia suku Asmat. Dari pola-pola itu terlihat kerumitan cara Bentuk boleh sama. kehebatan. Berawal dari cerita legenda Fumeripits. Karakteristik ukiran suku asmat adalah polanya yang unik dan bersifat naturalis. misalnya perisai atau panel. serta ketertinggalan mereka dibanding saudara-saudara di wilayah lain. suku citak dan suku mitak mempunyai kebiasaan sehari-hari dalam mencari nafkah adalah berburu binatang hutan separti. Sumber: http://id. kasuari< burung< babi hitan< komodo dll. Suku Asmat memiliki keunikan dalam mendayung perahu Chi yang bentuknya menyerupai lesung yang terbuat dari pohon ketapang rawa. Itulah keunikan ukiran suku Asmat. Oleh latar belakang legenda tersebut. yaitu seorang yang pandai mengukir dan memahat. tetapi soal pola pasti akan berbeda. mereka juga selalu meramuh / menokok sagu sebagai makan pokok dan nelayan yakni mencari ikan dan udang untuk dimakan. belum sepenuhnya mengenal budaya menetap. panjang sebuah chi bisa mencapai dua belas meter. keduanya merupakan ukiran-ukiran besar yang melambangkan paraKarya ukir kayu khas suku Asmat adalah salah satu kekayaan budaya nasional yang sudah memiliki nama bagi para turis asing. ukiran suku Asmat adalah salah satu pilihan untuk hiasan rumah.shvoong. masyarakat yang sarat publikasi dunia karena keunikan. batu dan sebagainya). Suku Kamoro adalah salah satu etnik/suku bangsa Papua yang mendiami sepanjang 300 km pesisir selatan Papua. suku Asmat mempunyai kebudayaan mengukir yang konon diturunkan oleh Fumeripits. Bagi para pencinta ukiran bergaya etnik. pemerintah melarang pembuatan Bisj ubtuk mencegah upacara head hunting dan kanibalisme. Suku Asmat menganut animisme yaitu kepercayaan terhadap roh-roh yang mendiami benda-benda (pohon. dan mengandalkan . Lebih dari separuh hidup saya di Papua dan lebih dari 8 tahun di antara suku Asmat. ular. Untuk membuatnya diperlukan waktu satu sampai dua minggu. di setiap ukiran bersemayam citra dan penghargaan atas nenek moyangmereka suku yang satu dengan suku yang lainnya di wilayah Distrik Citak-Mitak ternyata hampir sama. Lambat laun tradisi isj memudar. kehidupan dari ketiga suku ini Suku Asmat adalah salah satu suku di Papua yang memiliki kebudayaan mengukir dan memahat sejak dari masa nenek moyangnya. suku asmat darat.com/society-and-news/culture/2054609-suku-asmat/#ixzz0bIOFFJXc Setelah wilayah Papua menjadi bagian Republik Indonesia tahun 1963.ukiran bagi suku asmat bisa menjadi penghubung antara kehidupan masa kini dengan kehidupan leluhur.

Ini sebagai wujud para arwah yang tinggal untuk menjaga hutan sagu dan pohon palem yang merupakan sumber makanan utama masyarakat Asmat di Papua. Menurut kepercayaan nenek moyang menampakkan dirinya dalam mimpi. patung Asmat yang tadinya dinilai sebagai benda primitif dan wujud kepercayaan terhadap arwah-arwah jahat. upacara adatnya mengharuskan adanya pemotongan kepala manusia dan kanibalisme untuk menenangkan arwah nenek moyang. dan buahnya sebagai kepala manusia. dahan-dahannya sebagai lengan. Kesenian mengukir di Asmat merupakan bentuk kepercayaan terhadap arwah nenek moyang. Batang pohon dilambangkan sebagai tubuh manusia. Menurut kepercayaannya. Dengan pendidikan yang menjadi sarana dan pelayanan utamanya. mereka membuat patung-patung yang menyerupai arwah nenek moyang tersebut. Supaya tidak harus melakukan hal itu tapi tetap menghormati arwah nenek moyang. Budaya ini telah hilang sejak munculnya para zending danSelain memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Suku Asmat di Papua telah dikenal dunia dengan keterampilan mengukirnya sejak tahun 1700an. nenek moyang suku Asmat disimbolkan dalam bentuk patung serta ukiran. Sejak era kolonial Belanda. Tarian ini dilakukan oleh 16 penari laki-laki dan 2 penari perempuan. Kini tarian perang menjadi tari resmi penyambutan tamu. Suku Asmat terkenal dengan keterampilan pahatan patungnya. suku tersebut identik dengan hutan atau pohon. Tapi pada akhirnya menjadi terkenal dan disimpan di sejumlah museum di dunia. Pada mulanya.alam untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Di sebagian daerah. Dahulu tari Tobe dilakukan ketika kepala suku memerintahkan rakyat untuk pergi berperang. patung-patung dibuat secara kasar dan setelah digunakan dalam upacara agama tertentu lalu ditinggalkan di dalam rawa. Sumber: Pujangga Tari Tobe dikenal juga dengan nama tarian perang. Mereka memiliki filsafat digemukan untuk dikayau. Budaya mengukir di Asmat lahir dari upacara keagamaan. Kaum Sawi : salah satu bagian dari suku Asmat di sekitar Firimapu. Menurut tradisi. yang memiliki budaya kanibalisme dengan mengayau musuh-musuhnya. terdapat pula beberapa kekhasan dan keunikan adanya gletser di Puncak Jaya dan sungai yang menghilang beberapa kilometer ke dalam tanah di Lembah Balliem. Mereka menari dengan iringan tifa . Memang sudah lama berselang sejak Mauro dari kaum Warsohwi mengalahkan kaum Haenam secara menyedihkan. Penampakan dalam mimpi inilah yang dituangkan menjadi tradisi mengukir dan memahat patung kayu. Mgr Alo berusaha mengajakKetiga orang itu begitu terpukau oleh keunikan usulan Marjun. meskipun keunikannya sangat tergantung pada hasil rencana ini.

terutama untuk mencari makan. kemudian dipotong dan dibagikan kepada seluruh penduduk untuk memakan bersama. Di setiap ukiran bersemayam citra dan penghargaan atas nenek moyang mereka yang sarat dengan kebesaran Suku Asmat. bencana. Selain punya tugas memasak. Anak-anak harus membantu orangtuanya. pesta perahu. pohon di sekitar tempat hidup mereka dianggap menjadi gambaran dirinya. Selain budaya. kerang. Maka.dan lantunan lagu-lagu perang pembangkit semangat. untuk menghasilkan warna putih mereka membuatnya dari kulit kerang yang sudah dihaluskan. Sementara itu para bapak menebang pohon sagu serta berburu binatang di hutan. Biasanya dalam satu kampung dihuni kira-kira 100 sampai 1000 orang. Suku ini percaya bahwa sebelum memasuki surga. bahkan peperangan. Mereka mencari umbi. Orang-orang Asmat merasa dirinya bagian dari alam. yang mempunyai kamar mandi dan dapur sendiri. para ibu juga . Suku Asmat memiliki cara yang sangat sederhana untuk merias diri mereka. Otaknya dibungkus daun sago dan dipanggang kemudian dimakan. penduduk Asmat juga amat piawai membuat ukiran. Suku Asmat dikenal dengan hasil ukiran kayunya yang unik. pesta topeng. struktur sosial.Penari biasanya mengenakan busana tradisional dengan manikmanik penghias dada. dan ritual. dan belalang untuk dimakan. Ketika musuh terbunuh. rok terbuat dari akar bahar. arwah orang yang sudah meninggal akan mengganggu manusia. sedangkan warna hitam mereka hasilkan dari arang kayu yang dihaluskan. Gangguan bisa berupa penyakit. Akar menggambarkan kaki. yang paling mengerikan adalah cara yang dipakai Suku Asmat membunuh musuhnya. udang. hanya dengan mencampur bahan tersebut dengan sedikit air. Batang pohon menggambarkan tangan. Populasi suku Asmat terbagi dua yaitu mereka yang tinggal di pesisir pantai dan mereka yang tinggal di bagian pedalaman. Ukiran bagi Suku Asmat bisa menjadi penghubung antara kehidupan masa kini dengan kehidupan leluhur. dan pesta ulatulatsagu. demi menyelamatkan manusia serta menebus arwah. Pakaian penari merupakan salah satu bukti kecintaan masyarakat Papua pada alam. mayatnya dibawa ke kampung. kepiting. Mereka menyanyikan lagu kematian dan memenggal kepalanya. dan daun-daun yang disisipkan pada tubuh. Mereka hanya membutuhkan tanah merah untuk menghasilkan warna merah. pewarna itu sudah bisa digunakan untuk mewarnai tubuh. Setiap kampung punya satu rumah bujang dan banyak rumah keluarga. Tari ini memang dimaksudkan untuk mengobarkansemangat para prajurit . Kedua populasi ini saling berbeda satu sama lain dalam hal cara hidup. Sehari-hari orang Asmat bekerja di lingkungan sekitarnya. Karena itulah mereka sangat menghormati dan menjaga alam sekitarnya bahkan. Suku Asmat adalah sebuah suku di Papua. Rumah keluarga dihuni oleh dua sampai tiga keluarga. Populasi pesisir pantai selanjutnya terbagi ke dalam dua bagian yaitu Suku Bisman yang berada di antara Sungai Sinesty dan Sungai Nin serta Suku Simai. mereka yang masih hidup membuat patung dan menggelar pesta seperti pesta patung bis (Bioskokombi). Rumah bujang dipakai untuk upacara adat dan upacara keagamaan. Cara menggunakan pun cukup simpel. Buah menggambarkan kepala. Ada banyak pertentangan di antara Desa Asmat. Bahan makanan yang sudah terkumpul dimasak oleh para ibu.

Sungguh suatu petualangan yang sulit untuk dilupakan. Dari segi model. Karakteristik ukiran Suku Asmat mempunyai pola yang unik dan bersifat naturalis. Ada banyak pertentangan di antara desa asmat. Ada sub etnis yang menonjol ukiran patungnya. ukiran Suku Asmat sangat beragam.populasi pesisir pantai selanjutnya terbagi kedalam dua bagian yaitu suku bisman yang berada di antara sungai sinesty dan sungai nin serta suku simai. Suku Asmat memiliki ragam budaya dan seni pertunjukan yang luar biasa. perisai. ada pula yang memiliki ukiran untuk hiasan dinding dan peralatan perang. tetapi soal pola pasti akan berbeda. kalau kita memiliki satu ukiran dari Asmat dengan pola tertentu. Yang paling istimewa dan unik adalah bahwa setiap karya ukir tidak memiliki kesamaan atau duplikatnya karena mereka tidak memproduksi ukiran berpola sama dalam skala besar. binatang. Masyarakat Asmat terdiri dari 12 sub etnis. Jadi. telur kaswari. Setiap wisatawan yang datang ke wilayah Suku Asmat pastilah akan disuguhkan suatu fenomena alami yang menyatu dengan lingkungan alamnya yang masih perawan. Suku Asmat biasanya mengadopsi pengalaman dan lingkungan hidup sehari-hari sebagai pola ukiran mereka. dan masing-masing memiliki ciri khas pada karya seninya. sampai ukiran tiang.mempunyaitugas menjaring ikan di rawa-rawa. Bentuk boleh sama. panel. itu adalah satu-satunya yang ada karena orang Asmat tidak membuat pola sama dalam ukirannya. perahu. populasi suku asmat terbagi dua yaitu mereka yang tinggal di pesisir pantai dan mereka yang tinggal di bagian pedalaman. misalnya perisai atau panel. Suku Asmat merupakan salah satu ikon budaya Indonesia yang menjadi nilai tersendiri untuk dikembangkan menjadi surga pariwisata di kawasan timur Indonesia. suku asmat dikenal denganhasilukiran kayunya yang unik. Ukiran Kayu Suku Asmat Karya ukir kayu khas Suku Asmat adalah salah satu kekayaan budaya nasional yang sudah memiliki nama bagi para turis asing. dan lain-lain. seperti pohon. Begitu juga dengan kayu yang digunakan. Itulah keunikan ukiran Suku Asmat. orang berperahu. ada yang menonjol ukiran salawaku atau perisai. kedua populasi ini saling berbada satu sama lain dalam hal cara hidup. mulai dari patung manusia. tifa.sturktur sosial dan ritual. yang paling mengerikan adalah cara yang dipakai . Mengenal Suku Asmat merupakan wahana tersendiri akan kekayaan budaya bangsa Indonesia. ada juga perbedaannya. Dari pola-pola itu terlihat kerumitan cara membuatnya sehingga membuat karya ukir mereka bernilai tinggi dan cukup banyak diminati para turis asing. ukiran kayu Suku asmat adalah sebuah suku di papua. perahu.

suku citak dan suku mitak mempunyai kebiasaan sehari-hari dalam mencari nafkah adalah berburu binatang hutan separti. namun kini membuat patung bagi suku asmat tidak sekadar memenuhi panggilan tradisi. ular. kehidupan dari ketiga suku ini ternyata telah berubah.suku asmat membunuh musuhnya. sedangkan warnah hitam mereka hasilkan dari arang kayu yang dihaluskan. ketika musuh bunuh. di setiap ukiran bersemayam citra dan penghargaan atas nenek moyang mereka yang sarat dengan kebesaran suku asmat. mereka yang masih hidup membuat patung dan mengelar pesta seperti pesta patung bis (Bioskokombi). penduduk kampung syuru juga amat piawai membuat ukiran seperti suku asmat umumnya. 100 ribu hingga jutaan rupiah diluar papua. mereka juga selalu meramuh / menokok sagu sebagai makan pokok dan nelayan yakni mencari ikan dan udang untuk dimakan. cara menggunakan pun cukup simpel. setiap kampung punya satu rumah bujang dan banyak rumah keluarga. Maka. demi menyelamatkan manusia serta menebus arwah. konon patung bis adalah bentuk patung yang paling sakral. pesta perahu. percaya sebelum memasuki dusurga< arwah orang sudah meninggal akan mengganggu manusia. sebab hasil ukiran itu juga mereka jual kepada orang asing di saat pesta ukiran. untuk menghasilkan warna putih mereka membuatnya dari kulit kerang yang sudah dihaluskan. Salah satu diantaranya Suku Asmat. itu dimungkinkan karena mereka mengenal tiga konsep dunia: Amat ow capinmi (alam kehidupan sekarang). Kebiasaan bertahan hidup dan mencari makan antara suku yang satu dengan suku yang lainnya di wilayah Distrik Citak-Mitak ternyata hampir sama. dan Safar (surga). pewarna itu sudah bisa digunkan untuk mewarnai tubuh. . sekarang biasanya di satu kampung dihuni kira-kira 100 sampai 1000 orang. bagi suku asmat kala menukir patung adlah saat di mana mereka berkomunikasi dengan leluhur yag ada di alam lain. rumah keluarga dihuni oleh dua sampai tiga keluarga. rumah bujang dipakai untuk upacara adat dan upacara keagamaan. pesta topeng. mayatnya dibawa kekampung. otaknya dibunngkus daun sago dan dipanggang kemudian dimakan. gangguan bisa berupa penyakit. kasuari< burung< babi hitan< komodo dll. selain budaya. mereka hanya membutuhkan tanah merah untuk menghasilkan warna merah. hanya dengan mencampur bahan tersebut dengan sedikit air. ukiran bagi suku asmat bisa menjadi penghubung antara kehidupan masa kini dengan kehidupan leluhur. dan pesta ulat ulat sagu. yang mempunyai kamar mandi dan dapur sendiri. mereka tahu hasil ukiran tangan dihargai tinggi antara Rp. bencana bahkan peperangan.Suku-suku tersebut ada yang tinggal di pesisir pantai. suku asmat meiliki cara yang sangat sederhana untukmerias diri mereka. mereka menyanyikan lagu kematian dan memenggal kepalanya. kemudian dipotong dan dibagikan kepada seluruh penduduk untuk memakan bersama. Dampu ow campinmi (alam pesinggahan roh yang sudah meninggal). Adat Istiadat Suku Asmat Seperti telah kita ketahui bahwa Indonesia terdiri dari berbagai jenis suku dengan aneka adat istiadat yang berbeda satu sama lain. perkotaan bahkan dipedalaman. suku asmat darat. patung dan ukiran umumnya mereka buat tanpa sketsa.

Dengan kondisi geografis demikian. bahkan Suku Asmat yang berada di daerah pedalaman. Sedangkan jarak antara perkampungan dengan kecamatan sekitar 70 km. Sebagaimana suku lainnya yang berada di wilayah ini. Secara umum. Yohukimo dan Jayawijaya di antara berbagai macam suku lainnya yang ada di Pulau Papua. dikelilingi oleh hutan heterogen yang berisi tanaman rotan. Suku Asmat termasuk ke dalam suku Polonesia.Suku Asmat berada di antara Suku Mappi. maka berjalan kaki merupakan satu-satunya cara untuk mencapai daerah perkampungan satu dengan lainnya. kayu (gaharu) dan umbi-umbian dengan waktu tempuh selama 1 hari 2 malam untuk mencapai daerah pemukiman satu dengan yang lainnya. kondisi fisik anggota masyarakat Suku Asmat. hidung mancung dengan warna kulit dan rambut hitam serta kelopak matanya bulat Disamping itu. . yang juga terdapat di New Zealand dan Papua Nugini. berperawakan tegap. Suku Asmat ada yang tinggal di daerah pesisir pantai dengan jarak tempuh dari 100 km hingga 300 km.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->