P. 1
Incremental Capital Output Ratio (ICOR) by Jhanghiz Syahrivar

Incremental Capital Output Ratio (ICOR) by Jhanghiz Syahrivar

|Views: 2,207|Likes:
Published by Jhanghiz Syahrivar

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Jhanghiz Syahrivar on May 05, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/17/2015

pdf

text

original

MAKALAH

INCREMENTAL CAPITAL OUTPUT RATIO (ICOR) dan INCREMENTAL LABOR OUTPUT RATIO (ILOR) Penjelasan dan Implementasi

Oleh Jhanghiz Syahrivar, SE, MM

1.

Pengertian Incremental Capital Output Ratio (ICOR)

Incremental Capital Output Ratio (ICOR) memiliki peranan yang penting dalam teori ekonomi. Lebih jauh, ICOR telah mendapatkan status baru di tabel pertumbuhan ekonomi dan investasi di suatu negara. Incremental Capital Output Ratio (ICOR) adalah suatu besaran yang menunjukkan besarnya tambahan kapital (investasi) baru yang dibutuhkan untuk menaikkan/menambah satu unit output. Besaran ICOR diperoleh dengan membandingkan besarnya tambahan kapital dengan tambahan output. Karena unit kapital bentuknya berbeda-beda dan beraneka ragam sementara unit output relatif tidak berbeda, maka untuk memudahkan penghitungan keduanya dinilai dalam bentuk uang (nominal). Pengkajian mengenai ICOR menjadi sangat menarik karena ICOR dapat merefleksikan besarnya produktifitas kapital yang pada akhirnya menyangkut besarnya pertumbuhan ekonomi yang bisa dicapai. Secara teoritis hubungan ICOR dengan pertumbuhan ekonomi dikembangkan pertama kali oleh R. F. Harrod dan Evsey Domar (1939 dan 1947). Namun karena kedua teori tersebut banyak kesamaannya, maka kemudian teori tersebut lebih dikenal sebagai teori Harrod-Domar. Pada dasarnya teori tentang ICOR dilandasi oleh dua macam konsep Rasio Modal Output yaitu: (i) Rasio Modal-Output atau Capital Output Ratio (COR) atau yang sering disebut sebagai Average Capital Output Ratio (ACOR), yaitu perbandingan antara kapital yang digunakan dengan output yang dihasilkan pada suatu periode tertentu. COR atau ACOR ini bersifat statis karena hanya menunjukkan besaran yang menggambarkan perbandingan modal dan output. (ii) Ratio Modal-Output Marginal atau Incremental Capital Output Ratio (ICOR) yaitu suatu besaran yang menunjukkan besarnya tambahan kapital (investasi) baru yang dibutuhkan untuk menaikkan /menambah satu unit output baik secara fisik maupun secara nilai (uang). Konsep ICOR ini Iebih bersifat dinamis karena menunjukkan perubahan kenaikan/ penambahan output sebagai akibat langsung dari penambahan kapital. Dari pengertian pada butir (ii), maka ICOR bisa diformulasikan sebagai berikut:

ICOR = K / Y.................................. (1) dimana K = perubahan kapital Y = perubahan output Dari rumus (1) didapatkan pengertian bahwa ICOR merupakan statistik yang menunjukkan kebutuhan perubahan stok kapital untuk menaikkan satu unit output. Dalam perkembangannya, data yang digunakan untuk menghitung ICOR bukan lagi hanya penambahan barang modal baru atau perubahan stok kapital melainkan Investasi (I) yang ditanam baik oleh swasta maupun pemerintah sehingga rumusan ICOR dimodifikasi menjadi: ICOR = I / Y ............................ (2) dimana I = Investasi Y = perubahan output Rumus (2) dapat diartikan sebagai banyaknya kebutuhan investasi yang diperlukan untuk mendapatkan 1 unit output. Sebagai contoh, misalnya besarnya investasi pada suatu tahun di negara A adalah sebesar Rp 200 miliar, sedangkan tambahan output yang diperoleh dari hasil penanaman investasi itu adalah sebesar Rp 40 miliar, maka nilai ICOR negara A adalah sebesar 5 (200 miliar / 40 miliar). Angka ini menunjukkan bahwa untuk menaikkan 1 unit output diperlukan investasi sebesar 5 unit. Pada kenyataannya pertambahan output bukan hanya disebabkan oleh investasi, tetapi juga oleh faktor-faktor lain di luar investasi seperti pemakaian tenaga kerja, penerapan teknologi dan kemampuan kewiraswastaan. Dengan demikian untuk melihat peranan investasi terhadap output berdasarkan konsep ICOR, maka peranan faktor-faktor selain investasi diasumsikan konstan (ceteris paribus). 2. Pengertian Incremental Labor Output Ratio (ILOR)

Dalam hal ini, turut dikaji pula Incremental Labor Output Ratio (ILOR) yang merupakan merupakan koefisien yang menghubungkan peningkatan jumlah tenaga kerja dan output atau produk yang dihasilkan. Secara umum definisi Incremental Labor Output Ratio (ILOR) yang bersumber dari Depnakertrans RI, mengasumsikan terdapat hubungan teknis antara kenaikan PDRB dengan kenaikan tenaga kerja. Makin besar kenaikan PDRB makin besar pula tambahan tenaga kerja yang dibutuhkan.

Rumus ILOR: ILOR = Dimana ......................................... .........(3) adalah jumlah tenaga kerja sektor tahun n ± tahun 0 dan adalah jumlah output

tahun n ± tahun 0. 3. Teori Pertumbuhan Harrod-Domar

Warranted Rate of Growth Syarat-syarat apakah yang harus dipenuhi agar perekonomian suatu negara selalu menggunakan kapasitas pabrik-pabriknya secara penuh, di mana Z = QP? Jawabannya adalah sebagai berikut. Dari persamaan (2 ) diketahui bahwa DQP = h I. Apabila syarat Z = QP harus dipenuhi maka berarti DZ = h I. Jika persamaan DZ = h I dibagi dengan persamaan (3 ) maka diperoleh : DZ/Z = s h = DQP/QP = gw ««««««(4 ) Syarat ini menyatakan bahwa apabila ingin agar stok kapital selalu digunakan sepenuhnya, maka output potensial dan permintaan agregat harus tumbuh dengan laju yang sama, yaitu sebesar s dikalikan h atau marginal propendity to save (MPS) dikalikan outputcapital ratio. Laju pertumbuhan yang menjamin keseimbangan antara output potensial dan permintaan agregat ini (atau keseimbangan di pasar barang), yaitu gw, disebut warranted rate of growth. Natural Rate of Growth Output total potensial yang dibahas di atas hanya dikaitkan dengan stok capital saja. Sebenarnya, output tidak hanya dihasilkan oleh stok kapital saja, melainkan juga oleh faktorfaktor yang lain, misalnya tenaga kerja. Dalam bahasan ini, output total potensial (QP) akan dilihat dari sisi jumlah tenaga kerja yang tersedia. Dalam model Harrod-Domar tingkat output potensial ( diberi simbol, Qn) dianggap mempunyai hubungan proporsional sederhana dengan jumlah tenaga kerja yang tersedia ( N ). Atau dapat di tulis : Qn = nN «««««««««««««« (5)

Di mana n adalah output-labor ratio. N disini adalah tenaga kerja yang dikaitkan dengan produktivitas. Jadi, bukan jumlah orang semata tetapi termasuk keahliannya atau kualitasnya. Oleh karena itu, di sini peranan kemajuan teknologi masuk dalam analisis. Dengan demikian laju pertumbuhan tenaga kerja ( N ) dan juga laju pertumbuhan Qn dapat ditulis sebagai : gn = DN/N = DQn/Qn = p + t, di mana p = laju pertumbuhan penduduk dan t = laju pertumbuhan teknologi. Laju pertumbuhan Qn , yaitu gn, disebut natural rate of growth. Natural rate of growth dapat diartikan sebagai laju pertumbuhan ekonomi yang disyaratkan oleh pasar tenaga kerja agar tidak ada tenaga kerja yang menganggur ( full employment). Dengan kata lain dapat diartikan bahwa pada posisi natural rate of growth, pasar tenaga kerja dalam keadaan keseimbangan. Dalam jangka panjang, keadaan yang paling ideal adalah apabila perekonomian suatu negara tumbuh pada jalur warranted rate of growth dan sekaligus juga pada jalur natural rate of growth. Pada posisi ini seluruh stok kapital dan juga seluruh tenaga kerja dimanfaatkan secara penuh untuk proses produksi. Berarti, baik pasar barang maupun pasar tenaga kerja dalam keadaan

keseimbangannya. Posisi perekonomian demikian, oleh Prof. Joan Robinson dari Universitas Cambridge disebut posisi ³Zaman Keemasan´ atau ³Golden Age´. Posisi Zaman Keemasan ini merupakan posisi keseimbangan jangka panjang , atau posisi keseimbangan umum ( general equilibrium). Dalam teori pertumbuhan, posisi keseimbangan jangka panjang ini disebut dengan istilah steady state growth. Ciri dari steady state growth adalah semua variabel ( I,QP, Z,K,N,Qn) tumbuh dengan laju yang sama, yaitu dengan laju gn = gw. Sedangkan ciri dari stationary state ( Klasik), gn = gw = 0. Ini berarti, semua variabel ( stok kapital, jumlah penduduk, dan output potensial ) tidak mengalami pertumbuhan lagi. 4. Pengertian Kapital

Secara umum kapital atau yang sering disebut sebagai "Gross Capital Stock' merupakan akumulasi/penumpukan pembentukan modal bruto dari tahun ke tahun yang digunakan untuk menghasilkan produk baru. Kapital secara fisik adalah seluruh barang modal yang digunakan dalam proses produksi seperti mesin, bangunan, kendaraan dan lainnya. Dalam sistem pembukuan neraca perusahaan, yang dimaksud dengan kapital adalah harta tetap (fixed assests) suatu badan usaha.

Sementara itu menurut konsep ekonomi nasional yang mengacu pada A System of National Account (UN, 1968) investasi adalah selisih antara stok kapital pada tahun (t) dikurangi dengan stok kapital pada tahun (t-1). Sehingga setiap terjadi penambahan atau penimbunan kapital (modal) selalu dianggap sebagai investasi. Oleh karena itu besarnya investasi secara fisik yang direalisasikan pada suatu tahun tertentu dicerminkan oleh besarnya Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang mencakup pengadaan, pembuatan dan pembelian barang modal baru dari dalam negeri dan pembuatan dan pembelian barang modal baru maupun bekas dari luar negeri. Termasuk dalam PMTB ini adalah perbaikan besar barang modal yang mengakibatkan menambah umur pemakaian atau meningkatkan kemampuan barang modal tersebut, dikurangi dengan penjualan barang modal bekas. Konsep barang modal sendiri adalah seluruh peralatan dan prasarana fisik yang digunakan di dalam proses produksi. Ciri-ciri barang modal adalah:
y

Umur kegunaannya lebih dari 1 tahun atau mempunyai unsur ekonomis lebih dari satu tahun.

y y

Nilai belinya relatif besar. Manfaatnya akan dirasakan dalam jangka panjang atau dapat digunakan berulangkali di dalam proses produksi.

Dalam penghitungan ICOR, konsep investasi yang digunakan mengacu pada konsep ekonomi nasional. Pengertian investasi yang dimaksud di sini adalah fixed capital

formation/pembentukan barang modal tetap yang terdiri dari tanah, gedung/konstruksi, mesin dan perlengkapannya, kendaraan dan barang modal lainnya. Sementara itu nilai yang diperhitungkan mencakup:
y y y y

Pembelian barang baru/bekas Pembuatan/perbaikan besar yang dilakukan pihak lain Pembuatan/perbaikan besar yang dilakukan sendiri Penjualan barang modal bekas

Fixed Capital Formation/Pembentukan Barang Modal Tetap dalam hal ini adalah Pembentukan Barang Modal Tetap Bruto (PMTB).

Total nilai investasi diperoleh dari penjumlahan seluruh pembelian barang modal baru/bekas, pembuatan/perbaikan besar yang dilakukan oleh pihak lain dan sendiri dikurangi oleh penjualan barang modal bekas. 5. Pengertian Output

Output adalah hasil yang diperoleh dari pendayagunaan seluruh faktor produksi baik berbentuk barang atau jasa seperti tanah, tenaga kerja, modal dan kewiraswastaan. Dari segi ekonomi nasional, output merupakan nilai dari seluruh barang dan jasa yang dihasilkan oleh faktor-faktor domestik dalam negeri dalam suatu periode tertentu. Dari segi perusahaan, output mencakup nilai barang (komoditi) jadi yang dihasilkan selama suatu periode tertentu ditambah nilai perubahan stok barang (komoditi) yang masih dalam proses. Output yang dimaksud adalah:
y y y

Barang-barang yang dihasilkan. Tenaga listrik yang dijual. Selisih nilai stok setengah jadi.

Output ini dihitung atas dasar harga produsen, yaitu harga yang diterima oleh produsen pada tingkat transaksi pertama. Karena masih mengandung nilai penyusutan barang modal, output ini masih bersifat bruto. Untuk mendapatkan output neto atas harga pasar, output bruto atas harga pasar harus dikurangi dengan penyusutan barang modal. Dalam pengertian ICOR, output adalah tambahan (flow) produk dari hasil kegiatan ekonomi dalam suatu periode atau nilai-nilai yang merupakan hasil pendayagunaan faktor produksi. Output ini merupakan seluruh nilai tambah atas dasar biaya faktor produksi yang dihasilkan dari seluruh kegiatan usaha. Untuk itu dalam penghitungan ICOR sektor industri dipakai konsep Gross Value Added (nilai tambah) bukan konsep output secara umum. 6. Pengertian Nilai Tambah (Added Value)

Nilai tambah adalah suatu tambahan nilai input antara yang digunakan dalam proses menghasilkan barang/jasa. Penambahan nilai input antara ini terjadi karena input antara tersebut telah mengalami proses produksi yang mengubahnya menjadi barang yang nilainya lebih tinggi. Input antara sendiri mencakup nilai seluruh komoditi yang habis atau dianggap habis dalam suatu proses produksi, seperti: bahan baku, bahan bakar, pemakaian listrik dan

sebagainya. Barang yang digunakan sebagai alat dalam suatu proses produk dan umurnya si kurang dari setahun dan habis dipakai dimasukkan sebagai input antara bukan barang modal. Nilai tambah bisa berupa nilai tambah bruto maupun nilai tambah neto. Nilai tambah bruto dari suatu unit produksi dihitung dari output bruto atas harga produsen dikurangi input antara atas dasar harga pasar. Sedangkan nilai tambah neto atas harga pasar dihitung dari nilai tambah bruto atas harga pasar dikurangi pajak tak langsung dan penyusutan. 7. Implementasi

Selain digunakan untuk konsumsi akhir, PDRB juga digunakan untuk Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau disebut juga investasi fisik yang sifatnya lebih produktif. Produk Domestik Regional Bruto atau yang biasa dikenal PDRB merupakan nilai tambah dari seluruh kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh masyarakat di suatu wilayah (region) pada kurun waktu tertentu.

Sebagaimana diketahui koefisien ICOR Incremental Capital Output Ratio adalah suatu besaran yang menunjukkan besarnya tambahan kapital (investasi) baru yang dibutuhkan untuk menaikkan/menambah satu unit output. Dalam pembahasan ini tambahan kapital (investasi) baru adalah Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB). Besaran ICOR diperoleh dengan membandingkan besarnya PMTB dengan tambahan output. Karena unit PMTB bentuknya berbeda-beda dan beraneka ragam sementara unit output relative tidak berbeda, maka untuk memudahkan penghitungan keduanya dinilai dalam bentuk uang (nominal).

Berikut adalah pembahasan koefisien ICOR secara akumulasi periode 2000-2007 di Kabupaten Bandung. Besaran koefisien ICOR Akumulasi selama periode 2000-2007 secara total 3,07; hal ini menggambarkan untuk memperoleh penambahan satu unit output dalam rentang periode tersebut dibutuhkan investasi fisik (PMTB) sebanyak 3,07 unit. Besaran koefisien ICOR merefleksikan produktivitas PMTB yang pada akhirnya menyangkut pertumbuhan ekonomi yang bisa dicapai. Semakin kecil koefisien ICOR menunjukkan semakin efisien pembentukan modal yang terjadi. Tabel 2 Koefisien ICOR Akumulasi Periode 2000 ± 2007 Kabupaten Bandung Sektor Pengguna ICOR Akumulasi 2000 ± 2007

Tabel di atas ini menunjukkan besaran koefisien ICOR Akumulasi periode 2000-2007 di Kabupaten Bandung menurut sektor. Sektor-sektor yang mempunyai koefisien ICOR paling kecil adalah sektor bangunan, dengan koefisien ICOR hanya 0,28. Artinya setiap penambahan Rp.1 milyar output hanya memerlukan PMTB sebesar Rp.280 juta. Hal ini menunjukkan bahwa produktifitas PMTB pada sektor bangunan sangat tinggi, karena hampir

sebagian besar ouputnya menjadi investasi fisik (PMTB). Berikutnya sektor dengan koefisien ICOR kurang dari 2 adalah sektor pertambangan dan penggalian (1.91), serta sektor perdagangan, hotel dan restoran (1.92). PMTB pada kedua sektor tersebut sangat efisien. Sedangkan sektor dengan koefisien ICOR antara 2 dan 3 adalah sektor pertanian (2.75), sektor industri pengolahan (2.33), serta sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan (2.24). Sektor pengangkutan dan komunikasi serta sektor jasa-jasa masing-masing mempunyai koefisien ICOR 5.38 dan 4.09. Bisa dikatakan PMTB pada kedua sektor tersebut kurang efisien jika dibandingkan dengan sektor-sektor yang tersebut di atas. Sedangkan sektor listrik, gas dan air bersih serta sektor jasa pemerintahan umum mempunyai koefisien ICOR yang besar yaitu 20.30 dan 13.39. Artinya PMTB pada kedua sektor tersebut tidak efisien, karena ditangani langsung oleh pemerintah menyangkut kebijakan yang bersifat kepentingan publik. Khusus untuk sektor industri pengolahan akan dibahas secara rinci berdasarkan kelompok komoditi. Kelompok komoditi dengan koefisien ICOR kurang dari 2 adalah Industri makanan, minuman dan tembakau (1.39); industri kayu, bambu dsb (1.89); industri kimia (1.17); industri logam dasar (1.16) serta industri barang dari logam (1.49). Sedangkan kelompok komoditi dengan koefisien ICOR antara 2 dan 4 adalah industri tekstil & kulit (2.92); serta industri mineral non logam (2.44). Kelompok komoditi industri kertas & percetakan serta industri lainnya mempunyai koefisien ICOR di atas 4 yaitu masing-masing 4.82 dan 4.13.

Daftar Pustaka 1. http://bapeda.bandungkab.go.id/ 2. http://swamandiri.wordpress.com/2008/10/08/incremental-capital-output-ratio/ 3. http://bappeda.jatimprov.go.id/pusdalip/provinsi/ 4. www.bappedajakarta.go.id/download/propeda/Propeda_BAB12.pdf 5. http://id.images.search.yahoo.com/images/view?back=http%3A%2F%2Fid.images.se arch.yahoo.com 6. http://www.datastatistik-indonesia.com/content/view/801/801/ 7. http://www.scribd.com/doc/23553321/PERTUMBUHAN -EKONOMI 8. http://www.google.co.id/search?q=rasio+output+tenaga+kerja&hl=id&client=firefo x-a&hs=KSs&rls=org.mozilla:enUS:official&ei=AyI9TNPELo_ksQPJ44DaCg&start=10&sa=N 9. http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/07/produktivitas-kerja-definisi-dan.html 10. http://sirusa.bps.go.id/detail_sd.php?id=232 11. http://daps.bps.go.id/File%20Pub/SE06%20 -%20Analisis%20Ketenagakerjaan.pdf 12. http://banten.bps.go.id/pdf/leafletpdrb2006.pdf 13. http://www.bps.go.id/

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->