GENERASI YANG TERSENDAT DI JALANAN

Pembicara: Fajar Marantika & Nur Handayani Tanggal: 6.11.2008 Jam: 16.30-17.45 WIB Tempat: Ruang Rapat Pusat Studi Kawasan Timur Indonesia Universitas Kristen Satya Wacana Susunan Acara: I. Pengantar Moderator: Wilson M.A. Therik, S.E.,M.Si Memperkenal kedua pembicara yang merupakan Mahasiswa Fakultas Ekonomi UKSW Jurusan Ilmu Ekonomi dan menjelaskan topik yang disampaikan dalam diskusi yang merupakan penelitian skripsi kedua pembicara. II. Doa: Pdt. Judith A. Folabessy, S.Si-Teol III. Presentasi Pembicara IV. Diskusi Lihat Paper, Materi Presentasi dan Prosiding Diskusi V. Penutup

(NOTULIS: Nancy Marau, S.E)

VI. Power Point Presentation

Oleh : F. Marantika (222003007) dan Nur Handayanani (222004012)

GENERASI YANG TERSENDAT DI JALANAN

LATAR BELAKANG Latar belakang penulis mengamati kehidupan anak jalanan
Menguak sisi lain dari kehidupan anak jalanan yang tinggal di perkampungan Gunung Brintik dan mangkal di bundaran Tugu Muda

METODE PENELITIAN

Pendekatan Kualitatif Sumber pencarian data :
Wawancara Diskusi kelompok. Studi dokumentasi dan observasi.

Definisi – definisi pendukung

Definisi Anak menurut UU No.23 th.2002 tentang Perlindungan Anak Definisi Anak Jalanan menurut Departemen Sosial Jakarta. Definisi Pendidikan yang diambil dari UU Sistim Pendidikan Nasional no.20 th. 2003 Definisi Keluarga menurut Colemen dan Solaeman. Definisi kemiskinan menurut Emil Salim

Definisi Anak Jalanan berdasarkan Penelitian –penelitian sebelumnya

Odi Shalahuddin dalam bukunya “Di bawah bayang-bayang ancaman” th.2004. Penelitian Universitas Muhammadiyah Jakarta bekerjasama dengan Balitbangsos Departemen Sosial RI “ Upaya Pencarian model yang efektif dalam Penanganan Anak” di Jabodetabek dan Surabaya th.2003.

“Di bawah bayang-bayang ancaman” th.2004.

Seseorang yang berumur dibawah 18 tahun yang menghabiskan sebagian atau seluruh waktunya di jalanan dengan melakukan kegiatan-kegiatan guna mendapatkan uang atau guna mempertahankan hidupnya. Kategori-kategori anak jalanan :
1. Children on the Street 2. Children of the Street 3. Children in the Street

berusia antara 5 hingga 18 tahun.Penelitian Universitas Muhammadiyah Jakarta bekerjasama dengan Balitbangsos Departemen Sosial RI “ Upaya Pencarian model yang efektif dalam Penanganan Anak” di Jabodetabek dan Surabaya th. . Anak jalanan adalah anak yang sebagian besar waktunya berada di jalanan atau tempattempat umum.1 juta anak di tahun 2000. Anak jalanan mempunyai ciri-ciri yaitu .8 juta anak jalanan secara nasional kemudian meningkat menjadi 3. penampilan kebnayakan kusam dan pakaian tidak terurus.3 juta anak. Pada tahun 2000 anak yang berpotensial menjadi anak jalanan sekitar 10. melakukan kegiatan atau berkeliaran di jalanan. Hasil SUSENAS BPS Republik Indonesia tahun 1998 memperlihatkan sekitar 2. Jumlah anak-anak Jalanan yang bertambah pesat Menurut Shalahuddin (2004) anak jalanan di Asia ada sekitar 1.2003. serta mobilitasnya tinggi.2 juta anak jalanan.

Data Anak jalanan berdasarkan jenis kelamin Sumber : diolah dari data program Yayasan Setara. “Ngoyen” atau “Mayeng” “Ciblek” “Garukan” “icik-icik” . Th 2004 ISTILAH-ISTILAH YANG MUNCUL DALAM DUNIA ANAK JALANAN Anak “505” yang diambil dari pasal KUHP “Tekyan” dan “Cah Kampung” istilah yang muncul dari Anjal di Jogja.

kecamatan Semarang Selatan Randusari terbagi menjadi 9 RW. dan RT X yang secara keseluruhan berjumlah 124 Kepala Keluarga . dan Gunung Brintik termasuk ke dalam RW 3 yang secara spesifik termasuk dalam RT VII.LOKASI PENELITIAN GUNUNG BRINTIK DAN TUGU MUDA GAMBARAN UMUM LOKASI Gunung Brintik tergabung dalan kelurahan Randusari. RT VIII. RT IX.

KONDISI ANAK JALANAN DI LOKASI PENELITIAN A. Anak Jalanan dan keluarga B. • Tugu Muda dikelilingi oleh gedung-gedung bersejarah yang beralih fungsi sebagai gedunggedung pemerintahan kota Semarang.GAMBARAN UMUM LOKASI • Tugu Muda merupakan monumen bersejarah bagi kota Semarang. • Tugu Muda disebut sebagai jantung kota Semarang yang kedua setelah Simpang Lima. Anak Jalanan dan masyarakat D. Sosok dan lika-liku mereka mengenal jalanan . Anak Jalanan dan pendidikan C.

Suasana sekolah yang kurang nyaman.MEREKA DAN KELUARGA Sebagian besar orang tua mereka bekerja di sektor jasa Berperan dalam mendorong anak-anak mereka untuk turun ke jalan Rutin berinteraksi dengan keluarga Kondisi keluarga yang kurang harmonis BANGKU SEKOLAH MEREKA Sebagian besar anak-anak sudah mengenyam bangku sekolah. .

30 hingga pukul 00.30. ciblek. Penghasilan yang diterima berkisar Rp. Dipandang sebagai “sampah masyarakat”. dll.s/d Rp. 15. Tempat mangkal mereka berada pada pusatpusat kota dan pusat-pusat keramaian.000. Anak-anak jalanan merasa termarjinalkan. 50.000. pengemis. . SOSOK DAN LIKA-LIKU MEREKA MENGENAL JALANAN Jenis kegiatan anak jalanan antara lain : pengamen..MEREKA DAN MASYARAKAT Sulit untuk berubah kearah yang lebih baik..per hari. Rutinitas mereka dimulai pada pukul 15. pedagang asongan.

MENGAPA TURUN KE JALAN? 1. 3.SOSOK DAN LIKA-LIKU MEREKA MENGENAL JALANAN Razia oleh aparat terhadap mereka sarat dengan kekerasan dan pelecehan seksual. Kehidupan jalanan rentan dengan lingkungan yang membahayakan bagi seorang anak. Membentuk mentalitas diluar jangkauan usia mereka sebagai anak. 2. ASPEK EKONOMI ASPEK SEJARAH DAN BUDAYA ASPEK LINGKUNGAN ASPEK KELUARGA ASPEK PENDIDIKAN . 4. 5.

PENUTUP Anak jalanan rentan dengan bahaya di jalanan. kekerasan. eksploitasi dan pelecehan seksual Anak jalanan di Gunung Brintik berharap dapat meneruskan sekolah dan bersekolah dengan perasaan nyaman Perlu program-program yang berkesinambungan dari pemerintah setempat untuk menangani persoalan anak jalanan. .

dan banyak tempat-tempat lain yang seringkali di jadikan tempat mangkal anak jalanan bahkan pada jam-jam dimana seharusnya yang seusia mereka bersekolah1. pukul 15. Pendahuluan Kami tertarik meneliti tentang pekerja anak khususnya anak jalanan karena saya tertarik dengan kehidupan anak-anak jalanan dan suka dukanya. perampasan.30. perkelahian. dan masih banyak kejahatan-kejahatan lain yang rentan dilakukan oleh anak-anak jalanan. di sekitar gedung perkantoran. pelecehan dan pelanggaran hak-hak anak yang dialami oleh anak-anak jalanan. Kriminalitas seringkali dikaitkan dengan anak-anak jalanan. . Saputra telah bergabung dengan sebuah LSM di Solo yang menangani Anak Jalanan. pertokoan. Saya ingin menggali lebih dalam kehidupan mereka dan sisi-sisi menarik dari kehidupan mereka yang tidak banyak dilihat oleh masyarakat selama ini. Anak jalanan seringkali dianggap sebagai “sampah masyarakat” karena baik pemerintah maupun sebagaian masyarakat seringkali “merasa” terganggu oleh kehadiran mereka yang lalu lalang di perempatan lalu lintas. Paper A. pelecehan seksual. penodongan. di pinggir jalan. melakukan tindak kekerasan. Namun yang terjadi di balik dalih pembinaan social tersebut justru adanya tindak kekerasan.VII. Kejadian tersebut jarang terungkap ke masyarakat karena anak-anak jalanan selaku korban tidak banyak yang melakukan perlawanan apalagi hingga melapor ke pihak yang berwajib karena mereka takut akan 1 Diungkapkan oleh salah seorang mantan anak jalanan bernama Saputra yang kini sudah beranjak dewasa saat penulis melakukan wawancara pada tanggal 12 Juni 2008. Sering kita melihat Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) merazia Anak-anak Jalanan dan Gelandangan untuk dibawa ke Dinas Sosial untuk dengan alasan dengan dalih untuk Di Bina dan Dididik secara baik sehingga mereka tidak kembali ke jalan lagi. Mungkin hal-hal tersebut yang akhirnya membuat pemerintah dan masyarakat menganggap mereka sebagai “sampah masyarakat”. karena mereka di beberapa kesempatan terlihat melakukan tindak-tindak kriminalitas seperti pencopetan.

yang masa kanak-kanak mereka harus dikorbankan dengan bekerja di jalanan. mereka bernama yunan. . 2 Diungkapkan oleh anak-anak jalanan yang ketika itu baru saja pulang dari kegiatan mereka di jalanan. adi.00 pagi. antok. Pemerintah kota menganggap bahwa anak-anak jalanan dan gelandangan mengurangi keindahan kota. Maka dari itu perlu bagi kita sebagai “sesama” masyarakat perlu memahami lebih dalam kehidupan anak-anak jalanan yang selama ini hanya dinilai dengan sebelah mata. meneliti. dan memahami lebih dalam sisi kehidupan mereka yang lain yang selama ini tersembunyi di balik opini masyarakat yang menganggap mereka sebagai “sampah masyarakat”. Penulis melakukan wawancara bulan April 2007 pukul 01.menjadi boomerang buat mereka sendiri2. Sisi lain yang perlu kita pahami lebih jauh adalah bagaimana cara mereka berjuang mendapatkan sekeping uang demi melanjutkan hidup mereka dan keluarganya. dan lainnya (ada 6 anak namun saat itu ada tiga anak yang tidak bersedia menyebutkan namanya). terpaksa menjadi ikon kriminalitas di mata sebagian masyarakat dan melawan norma-norma social yang telah terbentuk di masyarakat. penulis juga peduli dengan kehidupan mereka. Penulis merasa perlu untuk menggali. Ulasan diatas hanya merupakan salah satu sisi kehidupan dari anak jalanan. dan kebanyakan dari kita hanya melihat dari sisi tersebut dalam menilai mereka sebagi anak jalanan. bagaimana mereka mengatur ekonomi rumah tangga mereka dengan dana yang terbatas bahkan sangat minim jika dibandingkan kebutuhan yang harus mereka penuhi. yang pendidikannya terhambat bahkan terancam putus. Secara singkat jika dilihat dari sisi social mereka rentan dengan kriminalitas dan seringkali dipandang sebagai sekelompok orang yang “merusak” ketertiban dan keindahan kota. dan berbagai factor yang mendorong mereka terjun menjadi anak jalanan. Selain ingin menguak sisi lain dari kehidupan anak jalanan. sehingga pemerintah merasa perlu untuk menjaga keindahan kota. karena mereka terpaksa terjun ke jalanan untuk bekerja untuk menghidupi keluarga mereka. bagaimana cara mereka menghadapi situasi-situasi yang mendiskreditkan mereka sebagai kelompok marjinal.

namun tidur di gedung-gedung atau emperan toko maupun perkantoran.00 atau pukul 00. Selama 8 bulan. Yang menjadi kesulitan penulis pada tahap pertama ini adalah tahap perkenalan dan pendekatan terhadap penduduk disitu karena kesulitan komunikasi. Nur handayani baru memulai penelitian tentang anak jalanan di Tugu Muda bulan September Akhir tahun 2008 . Tahap pertama selain melakukan perkenalan dan pendekatan. Metode dan Proses Penelitian3 Penulis tertarik untuk meneliti tentang kehidupan anak jalanan karena pada awalnya semasa duduk di bangku SMU di Semarang sering mengunjungi seorang teman yang tinggal di daerah Gunung Brintik. Anak-anak jalanan di sana mulai turun ke jalan setelah mereka pulang sekolah yaitu pada siang hari sekitar jam 12. Selama mengunjungi daerah tersebut penulis tertarik dengan kehidupan anak-anak jalanan yang sering singgah maupun tinggal di daerah Gunung Brintik. Tahap pertama yang penulis lakukan adalah melakukan perkenalan terhadap penduduk Gunung Brintik. Langkah awal yang dilakukan oleh penulis adalah menghubungi yayasan Setara yang merupakan salah satu yayasan yang menangani anak jalanan di daerah tersebut. sehingga data yang didapat belum optimal dalam makalah ini. kemudian beberapa aktivis dari yayasan tersebut yang akan membantu penulis selama turun ke lapangan.00 dan kembali kerumah sekitar pukul 19. tahap selanjutnya penulis juga mencari sumber-sumber data yang dirasa perlu untuk melengkapi penelitian ini dengan literatur-literatur yang mendukung penulisan mengenai anak jalanan melalui studi kepustakaan di perpustakaan kampus. Target penulis untuk melakukan perkenalan penduduk sekitar 3 bulan. kunjungan tersebut berlanjut hingga penulis duduk di bangku kuliah.B. namun meleset cukup jauh menjadi 8 bulan karena penduduk disana cukup sulit untuk menerima secara terbuka kehadiran orang baru. berkat seorang teman dan beberapa teman dari yayasan Setara penulis berhasil mendekati penduduk meskipun hasilnya tidak maksimal.00 dini hari bahkan ada diantara mereka yang tidak pulang kerumah. 3 Proses penelitian yang dilakukan oleh Fajar Marantika Wahyuningtyas (222003007) selama kurun waktu bulan Maret-Oktober 2008.00 atau sore hari sekitar jam17. . karena kehidupan anak-anak jalanan maupun penduduk yang tinggal di Gunung Brintik cukup beragam dan unik untuk diamati lebih dalam.

penulis juga melengkapi dengan data primer dengan melakukan wawancara dengan berbagai narasumber yang dirasa penting dalam penelitian mengenai anak jalanan. Dalam tahap wawancara ini. penulis juga pernah . mencari keberadaan anak-anak jalanan untuk diwawancarai tersebut yang notabene mobillitas mereka tinggi di jalanan. informan kunci (seorang pemuda yang sudah lama mengenal dunia anak jalanan dan seluk beluknya dan seorang ibu yang sudah bertahun-tahun mengabdikan dirinya untuk merangkul anak-anak jalanan di kampungnya). Selain mencari data sekunder. Selain mobilitas mereka yang cukup tinggi. Kegiatan itu penulis laksanakan di rumah informan kunci yang telah disebutkan tadi.00 dini hari di Gunung Brintik yang melibatkan anak-anak jalanan yang saat itu mulai kembali dari aktivitasnya seharian di jalan. aktivis yayasan Setara dan masyarakat di sekitar Gunung Brintik. Pada tahap ini penulis mengalami kesulitan dalam mendapatkan literatur sejarah wilayah penelitian di gunung brintik.secara tidak sengaja – membentuk sebuah Focus Group Discussion pada April 2007 pukul 01. FGD tersebut berjalan cukup lancar. browsing lewat internet untuk mengetahui perkembangan wacana tentang anak jalanan baik di dalam negeri maupun di luar negeri. beberapa diantara mereka tidak sungkan-sungkan dalam menceritakan kehidupan mereka. sekretaris kelurahan. karena tidak banyak orang yang mengetahui sejarah wilayah ini selain orang-orang yang pernah tinggal di Gunung Brintik bertahun-tahun yang lalu. sebelum memulai penulisan skripsi.perpustakaan yayasan Setara. peulis harus bersabar . Akhirnya jalan lain yang ditempuh penulis untuk mengetahui sejarah wilayah Gunung Brintik adalah dengan melakukan wawancara dari beberapa penduduk di kelurahan randusari yang dianggap sudah cukup lama dan secara turun temurun tinggal di Gunung Brintik maupun berdekatan wilayahnya dengan Gunung Brintik. saat diwawancarai. Selain melakukan wawancara. maka dari itu tidak banyak literatur sejarah yang ditemukan. Narasumber yang diwawancarai oleh penulis diantaranya adalah anak-anak jalanan itu sendiri. sehingga sulit untuk dipastikan waktu-waktu mereka mangkal di jalan. yang menjadi kesulitan penulis adalah. hanya saja yang disesalkan saat itu penulis tidak membawa alat perekam untuk mendokumentasikan kegiatan tersebut.

Selain melakukan wawancara dengan anak-anak jalanan. penulis mengalami kesulitan dalam menarasikan hasil penelitian dalam bentuk tulisan.menyesuaikan dengan waktu luang mereka (penulis mewawancarai di sela-sela waktu mereka mengamen ataupun mengemis). anak adalah seseorang yang berusia di bawah 21 tahun dan belum menikah. karena penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun. penulis mengalami kesulitan dalam menarasikan hasil penelitian. maka batasan umur anak dipertimbangkan berdasarkan batasan umur untuk keperluan sebagai berikut : 1) 2) 3) 4) 5) Umur perkawinan Sexual consent Pendaftaran sukarela untuk masuk militer Tanggung jawab criminal Batasan umur untuk dikenai hukuman pidana mati atau seumur hidup . 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. masyarakat menganggap bahwa anak adalah individu yang berusia di bawah 13 tahun. Secara awam. Sedangkan menurut UU No. Memasuki tahap akhir ini. anak jalanan dan pekerja anak. 1998). pejabat kelurahan randusari dan orang-orang yang mengetahui sejarah wilayah Gunung Brintik dan mengetahui seluk beluk kehidupan anak jalanan yangtinggal di daerah Gunung Brintik. 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak. Tahap akhir yang dilakukan oleh penulis adalah pengumpulan data yang kemudian dinarasikan dalam bentuk tulisan. penulis juga perlu untuk mewawancarai beberapa penduduk yang tinggal di Gunung Brintik. Dalam petunjuk penerapan KHA (Hodgkin & Newell. Definisi – definisi dan literature-literatur yang mendukung penelitian tentang anak jalanan a. termasuk anak yang masih dalam kandungan. Definisi anak. Menurut UU No. sesuai dengan sudut pandang dan kepentingan yang beragam. Namun dalam KHA (Konvensi Hak Anak) memberikan batasan 18 tahun ke bawah (pasal 1 ayat 1). Konsep “anak” sendiri didefinisikan dan dipahami secara bervariasi dan berbeda. C.

2. 7 Odi Shalahuddin . termasuk pekerjaan yang berbahaya Kapasitas legal untuk menerima warisan dan menegoisasi warisan Akhir wajib belajar Memberikan suara dalam pemilihan umum Menurut Hasil SUSENAS 2004 Propinsi Jawa Tengah pekerja anak didefinisikan anak usia 10-14 tahun yang sudah terlibat dalam kegiatan ekonomi produktif4. mobilitasnya tinggi6. 2004 . Anak jalanan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut5 : berusia antara 5 sampai dengan 18 tahun. yayasan Setara . loper Koran.1 tahun 2000) mengenai Usia Minimum untuk Diperbolehkan Bekerja dinyatakan bahwa usia minimum bagi anak untuk diperbolehkan bekerja adalah 15 tahun jika pekerjaan itu tidak mengganggu kesehatan. dengan menjadi pengamen jalanan. Profil Ketenagakerjaan Jawa Tengah Mengutip dari hasil penelitian Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) bekerjasama dengan Balatbangsos Departemen Sosial RI. menilai penting dan strategis dilakukan penelitian mengenai: “Upaya Pencarian Model Yang Efektif Dalam Penanganan Anak” di JABODETABEK dan Surabaya yang Berbasis Pada Pemberdayaan Ekonomi Keluarga. pendidikan dan pertumbuhannnya.138 (Disahkan Pemerintah Indonesia melalui UU No. Children of the street: anak-anak yang menghabiskan seluruh waktunya atau sebagian besar waktunya di jalanan dan sudah memutuskan hungungan dengan keluarga. 4 5 SUSENAS 2004. melakukan kegiatan atau berkeliaran di jalanan. Inilah yang terjadi pada anak-anak yang tinggal di daerah Wonosari. penampilannya kebanyakan kusam dan pakaian tidak terurus. Konvensi ILO No.6) 7) 8) 9) Usia masuk kerja. Dijumpai juga pengelompokan terhadap Anak Jalanan yang terbagi menjadi tiga kategori anak jalanan7 : 1. di usia 10-14 tahun mereka sudah terlibat dalam dunia kerja. keselamatan. hal. menilai penting dan strategis dilakukan penelitian mengenai: “Upaya Pencarian Model Yang Efektif Dalam Penanganan Anak” di JABODETABEK dan Surabaya yang Berbasis Pada Pemberdayaan Ekonomi Keluarga. dan lain sebagainya.14 . Children on the street: anak-anak yang mempunyai kegiatan ekonomi di jalanan yang masih memiliki hubungan dengan keluarga. 6 Mengutip dari hasil penelitian Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) bekerjasama dengan Balatbangsos Departemen Sosial RI. Sementara usia minimum untuk diperbolehkan bekerja atau melakukan pekerjaan yang berbahaya tidak boleh kurang dari 18 tahun.

3. yaitu: 1. pengendalian diri. Tingkat makro (basic causes) yaitu faktor yang berhubungan dengan struktur makro. sebab yang dapat diidentifikasikan adalah dari keluarga. Tingkat meso (underlying causes) yaitu : factor terjadinya berkaitan dengan kondisi lingkungan masyarakat. Pendidikan dan keluarga. b. akhlak mulia. Pada kondisi ini. masyarakat bangsa dan negara8. Selain pendidikan aspek yang perlu untuk diamati dalam kehidupan anak jalanan adalah aspek keluarga karena menurut Colemen (djiwandono.3. disuruh bekerja. Pada kondisi ini sebab yang dapat diidentifikasi adalah pada masyarakat miskin. . kepribadian. anak-anak merupakan asset untuk membantu peningkatan pendapatan dan taraf kehidupan keluarga. Maka perlu bagi kami memaparkan definisi Pendidikan yaitu Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. Tingkat mikro (immediate causes) yaitu : factor yang berhubungan dengan anak jalanan dan keluarganya. kecerdasan. bermain-main atau diajak teman. Menurut Brim (Mahmud. 2. aspek pendidikan dalam penelitiaan ini menjadi salah satu factor umum yang secara tidak langsung mendorong anak-anak turun ke jalan. Pendidikan bagi anak-anak jalanan merupakan sesuatu yang mahal. berpetualang. serta keterampilan yang diperlllukan dirinya. 1989) 8 Skripsi oleh Bernadetta Hellen Siskalia (162001023) berjudul Daya Tampung Kelas 1 SLTP dan kesepadanannya dengan anak usia kelas 1 SLTP tahun 2002-2004 (diambil dari Undang-undang Sistim Pendidikan nasional. Pada kondisi ini sebab yang dapat diidentifikasikan adalah adanya peluang pekerjaan sector informal yang tidak terlalu membutuhkan modal dan keahlian besar. 1989 : 108) factor keberadaan anak jalanan secara umum dapat dikategorikan menjadi tiga tingkatan sebagai penyebab masalah anak jalanan. No. Children in the street: anak-anak yang menghabiskan seluruh waktunya di jalanan karena keluarga mereka juga berasal dari jalanan.20 tahun 2003).

4. menolong dan melindungi. hal.42-43): 1. tidak ada atau sedikit sekali kesempatan untuk memperolah pelayanan kesehatan yang elementer dan lain-lain10. Tidak mempunyai kemungkinan untuk memperoleh asset produksi dengan kekuatan sendiri. 1997 : hal. Definisi kemiskinan dan ciri-ciri rumah tangga miskin. 2. 5. Ciri-ciri kemiskinan lain yang penting adalah budaya kemiskinan (culture of poverty) Oscar Lewis (1984. tingkat pendidikan rendah. kemudian menyusul lingkungan pergaulannya (peer group). Ranggabeni.31).4) melukiskan kemiskinan sebagai kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang pokok. 10 Tesis berjudul : “profil rumah tangga miskin di desa uma manu. Banyak diantara mereka tidak mempunyai fasilitas. et al. Umumnya tidak memiliki factor produksi sendiri. Karakteristik masyarakat miskin seperti dikemukakan Emil Salim (1984. 2004. Diantara mereka berusaha diusia relative muda dan tidak mempunyai keterampilan atua pendidikan memadai. 1996. dan perumahan yang tidak memadai.31). hal. 2004. Hal ini sejalan dengan definisi kemiskinan yang diungkapkan oleh Tjondronegoro (Husken. hal. .191) mengatakan bahwa dalam arti luas konsep dasar kemiskinan adalah ketidakmampuan individu dalam menjawab kebutuhan dasar9. Budaya kemiskinan ini adalah merupakan 9 Tesis berjudul : “profil rumah tangga miskin di desa uma manu. pakaian. Emil salim (ala. Kemiskinann juga berarti kelaparan.4). c. Tingkat pendidikan pada umumnya rendah. Kehidupan anak jalanan dapat kita amati cukup dengan dengan kehidupan yang mempunyai keterbatasan ekonomi dan sebagian dari mereka berada di bawah garis kemiskinan. Selain itu menurut Solaeman (1991) mengetengahkan bahwa fungsi keluarga adalah mensosialisasikan atau mendidik anak. Ranggabeni. 3. kekurangan gizi. kecamatan lewa kabupaten sumba timur provinsi NTT” (r. status pekerjaannya di kemudian hari. kecamatan lewa kabupaten sumba timur provinsi NTT” (r.mengemukakan bahwa keluarga merupakan factor determinan paling berpengaruh terhadap prestasi pendidikan anak.

yayasan Setara . keberadaan anak jalanan muncul sekitar tahun 1970-an dimulai Jakarta. angka tersebut mengalami kenaikan sekitar 5. Beragam pandangan tentang definisi maupun istilah-istilah dari Anak Jalanan mulai muncul . Dua tahun kemudian. tidak berdaya. 13 Anak Jalanan di jogja ada pembedaan antara Tekyan dan Cah kampung.4%. eksploitasi terhadap anak-anak jalanan termasuk pendidikan yang ditempuh anak-anak jalanan. Namun seiring dengan berjalannya waktu.2 13 Odi Shalahuddin . Tekyan adalah seorang anak yang sudah putus hubungan dengan keluarga.suatu adaptasi. yaitu 58. Bahkan jumlah anak jalanan mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. yayasan Setara . 2004 . 12 Di Indonesia. hal. Bandung dan Jogja kemudian disususl dengan kota-kota lain yaitu Malang. sekaligus reaksi kaum miskin terhadap kedudukan marginal mereka didalam masyarakat yang berstrata sangat individualis dan berciri kapitalis.1 juta anak. 2003 12 Odi Shalahuddin . hal. 1. Dari tahun ke tahun sudah banyak pihak yang melakukan penelitianpenelitian yang menyangkut anak jalanan (baik di Indonesia maupun di Negaranegara lainnya) dan berbagai problematikanya seperti kekerasan yang dialami anak jalanan. Wacana-wacana yang berkembang seputar anak jalanan. anak yang tergolong rawan menjadi anak jalanan berjumlah 10. D. Kuatnya perasaan tidak berharga. Kurang efektifnya partisipasi dan integrasi kaum miskin ke dalam lembagalembaga utama masyarakat. 2. entah mengapa persoalan mengenai anak-anak jalanan tidak kunjung terselesaikan. sehingga jumlahnya menjadi 3.7 juta anak (Soewignyo. Surabaya dan Semarang. 6% dari populasi anak di Indonesia.8 juta anak. tahun 2000. 11 menurut hasil Survey Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) Badan Pusat Statistik Republik Indonesia tahun 1998 memperlihatkan bahwa anak jalanan secara nasional berjumlah sekitar 2. Pada tahun yang sama.12 . sedangkan Cah Kampung adalah anak-anak yang masih tinggal 11 Penelitian tentang pemetaan anak-anak jalanan dan alternative model pemecahannya berbasis pemberdayaan keluarga di Jabodetabek dan Surabaya th. 2004 . ketergantungan dan rendah diri.3 juta anak atau 17. 2002).

Anak jalanan pada umumnya mempunyai keluarga yang berada di lingkungannya yang biasanya keluarganya adalah keluarga dari golongan yang kurang mampu secara materi.dengan orang tua. selain itu menurut Ertanto (2002) anak jalanan di jogja baru diakui sebagai anak jalanan jika mereka sudah pernah Ngoyen (memakan makanan sisa)14. yayasan Setara . mencari uang. Berdasarkan data yang diperoleh dapat dikemukakan bahwa sesungguhnya faktor penyebab anak turun ke jalan di JABODETABEK adalah sebagai berikut. Pemda. Di JABODETABEK dan Surabaya yang berbasis pada Pemberdayaan Ekonomi dan Keluarga. d) Belum adanya payung kebijakan mengenai anak yang turun ke jalan baik kebijakan dari kepolisian. 2004 . c) Rendahnya pendidikan orang tua anak jalanan sehingga mereka tidak mengetahui fungsi dan peran sebagai orang tua dan juga ketidaktahuannya mengenai hak-hak anak. Hal ini terjadi karena ketidak berfungsian keluarga dalam memenuhi kebutuhan keluarga. main-main. hal. sehingga perumahan kumuh menjadi salah satu faktor pendorong untuk anak turun ke jalan.13 . hidup di jalan. 14 Odi Shalahuddin . maupun Departemen Sosial. Dalam Penelitian Universitas Muhammadiyah Jakarta bekerjasama dengan Balatbangsos Departemen Sosial RI mengenai : “upaya pencarian model yang efektif dalam penanganan anak”. sehingga anak-anak mereka berusaha untuk memenuhi kebutuhan keluarga akan tetapi sesungguhnya peran orang tua anak jalanan tidak berperan secara maksimal. b) Rumah tinggal yang kumuh membuat ketidak betahan anak berada di rumah. Berdasarkan dari peta permasalahan anak jalanan baik yang berada di JABODETABEK dapat dipetakan permasalahan sebagai berikut : a) Anak jalanan turun ke jalan karena adanya desakan ekonomi keluarga sehingga justru orang tua menyuruh anaknya untuk turun ke jalan guna mencari tambahan untuk keluarga. hal ini dapat dilihat manakala orang tua sangat mendukung untuk anaknya bekerja.

Di wilayah Bergota 15 Hanna Prabandari S. Maka dari itu nama Gunung Brintik diambil dari nama seorang penguasa Kerajaan yang dulu berdiri di daerah tersebut yang bernama Nyai Brintik dan karena tempat tersebut berada di dataran tinggi. Menurut penuturan masyarakat setempat pintu utama kerajaan Bogota terletak Gerbang kalisari. khususnya penduduk di sekitar Bergota. Penduduk Bergota sekarang ini yang merupakan keturunan dari penduduk asli masih mempercayai kesaktian dari Nyai Brintik hingga saat ini. Menurut sejarah yang dituturkan oleh warga. meskipun masih ada penduduk yang tinggal di daerah tersebut. Sejarah Singkat Tugu Muda dan kampung Gunung Brintik Semarang. E. Namun warga yang tinggal di daerah Gunung Brintik mempunyai cerita tersendiri yang menjadi cikal bakal sebutan Gunung Brintik sebagai basis anak jalanan terbesar di Semarang15. Berdasarkan cerita. vi . “Prostitusi anak jalanan di Simpang Lima” Semarang. Kehidupan anak jalanan yang beroperasi di daerah Tugu Muda dan bertempat tinggal di kampung Gunung Brintik Semarang. kecuali merantau ke daerah lain. serta belum adanya penanganan yang secara multi sistem base. Nyai Brintik telah mengucap janji bahwa semua warga Bergota mulai dari daerah Kalisari hingga Randusari merupakan keturunan dari Nyai Brintik. 2004 hal. sedangkan pintu belakang kerajaan Bogota terletak di Randusari. Seiring berjalannya waktu daerah tersebut dialihfungsikan menjadi Tempat Pemakaman Umum Kota Semarang. Bahkan makamnya pun sampai sekarang masih ada di Taman Pemakaman Umum Bergota dan dianggap keramat oleh warga Semarang. Sejarah Lokasi penelitian. sehingga keturunannya akan dilindungi dan tidak akan mengalami kebakaran sampai kapanpun meskipun beliau sudah wafat dan warga yang dianggap keturunannya tidak akan mendapatkan jodoh diluar daerah Bergota.e) f) Belum optimalnya social control di dalam masyarakat Belum berperannya lembaga-lembaga organisasi sosial. sehingga dianggap menyerupai Gunung. berdirilah sebuah Kerajaan yang juga dinamakan kerajaan Bogota yang dimana penguasa daerah tersebut bernama Nyai Brintik.Si. Nyai Brintik menjadi penguasa kerajaan Bogota selama puluhan tahun. a.

RT VIII (32 KK). Wilayah Randusari berdekatan dengan wilayah Pandanaran yang lebih dikenal sebagai pusat oleh-oleh khas kota Semarang. kemudian pada tahun 1970-an. . tukang becak. Tanah tersebut kemudian difungsikan oleh YSS sebagai tempat penampungan Fakir Miskin dan anak-anak terlantar. Luas wilayah Randusari sebesar 66 hektar. Bahkan secara mengejutkan dalam wawancara terungkap bahwa tanah yang dibangun rumah kemudian ditinggali oleh penduduk bukan merupakan tanah mereka dan sebagian besar dari mereka tidak memiliki sertifikat tanah maupun surat ijin bangun sekalipun itu dari dinas pemakaman setempat (penduduk tersebut tinggal ditengah-tengah area pemakaman umum). Kampung gunung brintik merupakan salah satu wilayah yang tergabung dalam kelurahan Randusari. Namun menurut penuturan sekretaris kelurahan yang biasa disebut “pak carik” jumlah penduduk yang telah beliau sebutkan belum termasuk penduduk yang tidak mempunyai Kartu Keluarga. Dari situlah kemudian tumbuh perkampungan yang sebagian besar warganya berasal dari fakir kiskin dan anak-anak terlantar. tanah kosong tersebut dibeli oleh Yayasan Sosial Sugyopranoto. RT VII (36 KK). Randusari terbagi menjadi 7 RW. RT IX ( 32 KK). yaitu wilayah sekitar pemakaman Nyai Gunung Brintik. b. namun kampung Gunung Brintik sendiri terdiri dari 4 RT yaitu . karena sisanya merupakan Tempat Pemakaman Umum Bergota dan Rumah Sakit Karyadi Semarang. selain itu ada juga yang beberapa berdagang di pasar Bulu dan menjadi guru. Sebagian besar penduduk yang tinggal di daerah Gunung Brintik bekerja di sektor jasa antara lain tukang parkir. Kampung Gunung Brintik tergabung dalam wilayah Wonosari yang termasuk wilayah RW III kelurahan Randusari. namun wilayah yang ditempati oleh penduduk Randusari sebagai pemukiman hanya sebesar 1/3 dari 66 hektar luas wilayahnya.271 penduduk. tukang batu dan merangkai bunga. dan RT X (24 KK). 51 RT dengan jumlah penduduk secara keseluruhan sebesar 10. kecamatan Semarang Selatan yang terletak di salah satu pusat kota Semarang.ada terdapat tanah kosong. Gambaran Umum Lokasi penelitian yang menjadi basis anak jalanan terbesar di Semarang.

PMI Daerah Jawa Tengah bekerja sama dengan Yayasan Sugyo Pranoto Semarang (YSS) untuk melakukan pendampingan terhadap anak jalanan. anak-anak tetap bekerja di jalanan sebagai pengemis. Pandangan Masyarakat tentang anak jalanan Tidak sedikit masyarakat yang memandang dengan sebelah mata dari keberadaan anak jalanan. tidur di trotoar. Di dalam rumah singgah anak-anak dilatih berbagai keterampilan sesuai dengan usia dan minat masing-masing seperti bengkel otomotif. RPSA Anak Bangsa yang dikelola atas kerjasama dari Yayasan Sugyo Pranoto Semarang (YSS) dengan PMI Daerah Jawa Tengah 18 Hasil wawancara dengan Bapak Nasrun dari PMI Daerah Jawa Tengah . sikap.c. pengamen. narkoba. menjahit. Gaya hidup yang tidak jelas juga sangat melekat pada diri mereka. dan C. Gambaran anak jalanan di kawasan Tugu Muda16 Anak-anak datang dari berbagai kota berkumpul membentuk suatu komunitas anak jalanan. seks bebas. Hidup di jalanan. anjal juga identik dengan minuman keras. dan tukang semir sepatu. Kemudian ada pendekatan dan bimbingan dari PMI Daerah Jawa Tengah untuk dpat diarahkan ke dalam hal-hal yang lebih baik. Selain kegiatan yang dilakukan di rumah singgah. Sekolah kejar paket terdiri dari Kejar Paket A. Selain itu juga diadakan sekolah kejar paket untuk anak-anak yang belum tamat sekolah. Bagi masyarakat. Semua itu mereka lakukan diluar kegiatan yang dilakukan di Rumah singgah dan mereka lakukan sepulang sekolah. dan memasak. dan pakaian yang lusuh. Anak jalanan sering dianggap sebagai sampah masyarakat. makanan dan kesehatan tidak diperhatikan. dan perilakunya oleh pihak pendamping. Pandangan PMI Daerah Jawa Tengah tentang Anak jalanan18 16 17 Hasil wawancara dengan salah seorang pendamping anak jalanan dari PMI Daerah Jawa Tengah. B. untuk anakanak yang masih sekolah (bukan kejar paket) diberikan beasiswa untuk pendidikan dan selalu dilakukan pemantauan nilai di sekolah. Potret kehidupan anak –anak jalanan yang beroperasi di seputar Tugu Muda dan yang bertempat tinggal di kampung Gunung Brintik Semarang. Kemudian didirikan sebuah rumah singgah17 untuk anak-anak jalanan di YSS.

Penampilan yang serba tidak teratur. Hal itulah yang menyebabkan mereka masih punya sopan santun. dan dengan dandanannya yang serba “sangar” itu akan membuat mereka semakin terkenal di kalangan anak jalanan yang lain. adat istiadat. Dengan melakukan pendekatan. Ada juga anak jalanan yang mempunyai pikiran untuk maju. sikap. justru mereka akan semakin bangga dengan keadaan yang seperti itu. sehingga kita bisa berikan sedikit perhatian dan kasih sayang untuk mereka dan hal itu akan menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi mereka. Tapi keinginan seperti itu biasanya hanya sebatas keinginan saja. Semua itu tidak dihiraukan oleh anak jalanan. Pada dasarnya kebanyakan dari anak jalanan adalah karena kurangnya rasa kasih sayang dan perhatian dari keluarga. alis. kehidupannya sebagai anak jalanan hanya mempunyai rasa senang.Anak jalanan bukanlah sesuatu yang menjijikkan / menakutkan. untuk mengubah jalan kehidupannya supaya menjadi lebih baik. Justru kita sebagai manusia yang memiliki kehidupan yang lebih baik dari anak jalanan seharusnya kita peduli kepada mereka. menjadi lebih terarah. kita bias membimbing dan membina mereka untuk menjadi manusia yang lebih baik. Tidak semua anjal menginginkan dirinya seperti itu. dan norma masyarakat yang berlaku. hidung. Namun tidak semua anak jalanan mempunyai pikiran seperti itu. Kehidupan Anak Jalanan pada umumnya19 Pada umumnya kehidupan anak jalanan sangatlah simple. Banyak sebab yang mengharuskan mereka untuk hidup di jalanan. dan mempunyai masa depan yang lebih cerah seperti anak-anak pada umumnya. bibir. banyak tindik di pasang di telinga. bahkan di lidah. dengan rambutnya yang di cat dan dengan model yang tidak teratur pula. Berdasarkan pengakuan salah seorang yang pernah terjun menjadi anak jalanan. Ada juga anak jalanan yang masih tergolong anak yang sopan karena dia merasa masih mempunyai orang tua dan sebenarnaya dia masih mempunyai rasa takut kepada orang tuanya. dan perilakunya. Semakin tidak teratur penampilan. tidak peduli dengan peraturan-peraturan. Kalau bisa justru mereka akan membuat sensasi sendiri supaya mereka mempunyai ciri khas yang khusus dari pada orang lain. cuma sebatas 19 Hasil wawancara dengan salah seorang yang pernah terjun menjadi anak jalanan .

mereka akan kembali ke Rumah Singgah. Selain mencari uang. Mereka sangat menikmati kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan karena bagi mereka dirinya yang sekarang jauh lebih baik dari dirinya yang dulu sebelum ada pendampingan. dan tidak bisa berbuat apa-apa untuk mewujudkan keinginannya sehingga mereka bilang “CUMI” yang berarti “ CUMA MIKIR”. Sejauh ini pekerjaan anak jalanan belum pernah berubah dan pola pikirnya masih seperti dulu yaitu “dari pada mencuri lebih baik ngamen (menjadi pengamen)”. tukang parkir dan tukang semir sepatu pun mereka lakukan. Penyakit Menular Seksual (PMS).21 Di bulan Ramadhan seperti saat ini. pada malam hari pun mereka tidur di Rumah Singgah. Selain jam istirahat. Jenis pekerjaan apapun mereka lakukan demi mendapatkan uang.di pikiran. Kehidupan anak jalanan sebagai pekerja anak di kawasan Tugu Muda20 Kegiatan sehari-hari yang paling utama yang dilakukan anak jalanan adalah bekerja. Dari menjadi pengemis. Pendidikan Remaja Sebaya (PRS). Perawatan Keluarga (PK). kegiatan yang mereka lakukan yaitu buka bersama yang sebelumnya diisi ceramah keagamaan bagi anak jalanan muslim dan bagi anak jalanan non-muslim juga diadakan ceramah keagamaan. Sewaktu jam istirahat. banyak juga kegiatan-kegiatan yang dilakukan di Rumah Singgah seperti kegiatan pelatihan-pelatihan yang sering kali diberikan oleh PMI Daerah Jawa Tengah yang juga harus diikuti oleh mereka. 20 21 Hasil wawancara dengan salah satu pendamping anak jalanan Materi pelatihan yang diberikan oleh PMI Daerah Jawa Tengah sebagai pendamping anak jalanan . dan pengetahuan tentang penyakit HIV/AIDS. Pelatihanpelatihan yang sering kali diberikan adalah pelatihan Pertolongan Pertama (PP). Mereka melakukan kegiatan itu di kawaan Tugu Muda dan dilakukannya pada siang hari. sehingga mereka tidak lagi tidur di jalanan. pengamen.

Orang tua mereka kebanyakan bekerja di sektor jasa diantaranya antara lain menjadi tukang becak. Namun.Pendidikan22 Bagi anak jalanan yang putus sekolah akan diadakan sekolah kejar paket A. Begitupun juga dengan anak-anak jalanan yang ada di gunung brintik. tukang parkir. Beasiswa tidak semata-mata diberikan begitu saja. dan perilakunya. sebagian lagi karena pengaruh dari teman-temannya yang 22 Hasil wawancara dengan salah satu pendamping anak jalanan . Kedua orang tua mereka mempunyai pekerjaan masing-masing. Ketika penulis mewawancarai anak-anak jalanan. sebagian dari mereka turun ke jalan karena ekonomi. Gambaran anak jalanan yang tinggal di kampung Gunung Brintik Anak Jalanan dan Keluarga Sebagian besar anak jalanan yang tinggal di wilayah gunung brintik masih memiliki orang tua dan tempat tinggal. Bagi anak jalanan yang masih sekolah di luar kejar paket diberikan dana beasiswa untuk pendidikannya. guru dan masih banyak yang lainnya. dan C untuk mereka.Orang tua mereka tinggal di daerah gunung brintik sudah lebih dari 10 tahun. ada sebagian dari mereka yang belum mempunyai Kartu Keluarga (KK) dan rumah-rumah yang mereka miliki masih merupakan status perumahan liar. Status ekonomi orang tua mereka juga beragam namun sebagian besar dari mereka berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Hal ini diungkapkan oleh sekretaris kelurahan Randusari. mereka membangun rumah tanpa ijin dari dinas pemakaman dan pertamanan kota Semarang. Sehingga mereka tetap dalam pengawasan hingga mereka lulus dari SMA. sikap. tetapi tetap ada pantauan nilai di sekolah. sebagian dari mereka belum mempunyai akte kelahiran. tukang batu (kuli bangunan). Anak-anak jalanan di daerah gunung brintik termasuk dalam kategori “children on the street” karena meskipun mereka turun ke jalanan namun mereka masih mempunyai rumah dan interaksi mereka dengan keluarga cukup intens. B. sehingga walaupun mereka bekerja tapi mereka tetap bersekolah.

hanya salah satu dari banyak anak-anak jalanan lainnya yang tinggal di gunung brintik yang turun ke jalan karena dorongan dari orang tua mereka masing-masing.. kemudian penulis menanyakan mengapa mereka mau menjadi pengemis..dia sedang membagi-bagi amplop berukuran paling kecil kepada penumpang bis jurusan Banyumanik. dan karena rambutnya panjang dia mendapatkan Rp.000.sebelumnya sudah turun ke jalan.tak potong neng salon mbak…entuk rung kilak…sak kilake satus sewu…” Dia menjual rambutnya yang semula cukup panjang dengan harga Rp.lha aku dioyakoyak ibukku terus ok mbak di kon mbayar uang sekolah….. soale obat watuk kan larang mbak” . 20.000. dia berkata : “ lha aku rak ono(uang)…tak dol wae ah rambutku…aku iki nganu gek butuh . alasan dia menjual rambutnya karena dia membutuhkan uang tersebut untuk membayar uang Sekolah selama dua bulan (Juli-Agustus).per bulan.. dan dia dikenai denda keterlambatan pembayaran uang sekolah sebesar Rp.200. Orang tua mereka beralasan bahwa penghasilan mereka terima saat bekerja tidak menentu. asuhan dan perlindungan orang tua termasuk membiayai segala bentuk kehidupan mereka. Kemudian beberapa minggu kemudian penulis bertemu dengan anak jalanan perempuan itu lagi. Ketika penulis melakukan wawancara dengan salah satu anak jalanan perempuan berambut panjang. 100. Anak-anak di bawah usia 15 tahun yang seharusnya masih dibawah pengawasan.000. berusia sekitar 11 tahun. tetapi rambutnya sudah dipotong pendek sebatas daun telinga.. sehingga mereka merasa perlu untuk mendorong anak-anak mereka untuk ikut membantu kesulitan ekonomi mereka. mulane aku meh golek duwit nggo tuku obat ibuk’e. Anak jalanan itu sebut saja Lili. di sisi depan amplop tersebut tertulis untuk bayar sekolah dan untuk membeli makan.per satu jengkal tangan pemilik salon (yang menentukan harganya adalah pemilik salon). justru menjadi pendorong anakanak tersebut untuk membiayai hidup mereka sendiri. Penulis juga mendapati beberapa anak jalanan yang turun ke jalan karena keinginan orangtua mereka masing-masing. dan salah satu dari dia berkata : “ ibuk’e jek loro mbak. . Saat penulis menanyakan perihal keberadaa rambutnya.

Terkadang mereka pulang untuk bertemu orang tuanya dan terkadang orang tuanya yang datang ke RPSA untuk menengoknya.00 kemudian pulangnya pukul 10. Yayasan pun mempunyai program untuk orang tua anjal. pendidikan di wilayah Gunung Brintik sudah cukup mendapatkan perhatian dari berbagai pihak. Penulis melakukan observasi dengan anak-anak jalanan yang bersekolah di SD Gunung Brintik.45. mereka beralasan bahwa guruguru di sekolah sering memarahai mereka karena sering membolos.00.00 sore. kebanyakan dari mereka masih mempunyai keluarga. Sehingga dengan program tersebut diharapkan kehidupan anak jalanan dan keluargany bisa lebih baik dari sebelumnya. Sebagian besar anak-anak dari wilayah Gunung Brintik menempuh pendidikan dasarnya di sekolah tersebut. menjadi .Sedangkan anak jalanan yang tinggal di RPSA. Seperti yang tertulis dalam dalam Undang-undang tersebut. Beberapa dari mereka membolos karena alasan-alasan tertentu diantaranya karena mereka malas. SD Gunung Brintik merupakan milik Yayasan Pangudi Luhur. pada pasal 9 (1) mencatat bahwa Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya.000. yaitu pemberdayaan bagi orang tua anak jalanan. Anak-anak di Gunung Brintik yang terjun menjadi anak-anak jalanan. Anak Jalanan dan Sekolah Undang-undang Republik Indonesia No.per bulan pada periode tahun 2007-2008.00 siang kemudian pulangnya pukul 15.. Siswa-siswa yang bersekolah di situ ada yang masuk jam sekolah di pagi hari pukul 07. karena mereka ingin mencari uang dulu dengan mengamen atau mengemis. Jam sekolah di SD Gunung Brintik terbagi menjadi dua yaitu Pagi dan Siang. hal itu terbukti dengan didirikannya SD Gunung Brintik di perkampungan tersebut. bahkan ada yang mengatakan bahwa mereka tidak betah di sekolah. Uang sekolah di SD Gunung Brintik rata-rata sebesar Rp.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. seringkali membolos sekolah. beberapa dari anak-anak jalanan yang laki-laki menceritakan bahwa mereka sering membolos karena tidak betah di sekolah. kemudian ada Siswa-siswa yang masuk sekolah pukul 12. karena orang tuanya sakit.

bahan celaan teman-teman di sekolah karena menjadi pengamen dan pengemis dan juga karena mereka sering terlambat membayar uang SPP (uang sekolah). Namun temuan yang membuat penulis merasa lega. Beberapa juga mengatakan saat mengemis dan mengamen di jalan mereka bertemu dengan guru mereka. Seperti yang telah saya ungkapkan di sub-bab Rumah Tangga. Pandangan penulis jika didasarkan pada hal-hal yang diungkapkan oleh anak-anak jalanan. mereka sering mendapatkan peringkat di kelasnya dari tahun ke tahun. justru orang tua yang mendorong anak-anak tersebut mencari uang untuk membiayai sekolah mereka sendiri. beberapa dari mereka membiayai sendiri uang sekolah mereka termasuk dendanya per bulan. Observasi yang dilakukan oleh penulis belum merujuk langsung kepada pengajar yang ada di SD Gunung Brintik. mereka mengungkapkan bahwa mereka ingin sekali bisa sekolah sampai ke jenjang yang lebih tinggi. sehingga hal-hal yang diungkapkan di atas masih berdasarkan dari satu pihak yaitu dari anak-anak jalanan yang mengalaminya. dan saat penulis berbincang-bincang dengan anak-anak itu. dia mengikuti program kejar paket yang diselenggarakan di RPSA. namun mereka justru merasa disudutkan oleh perkataan-perkataan beliau yang membuat mereka semakin rendah diri. Kebanyakan dari mereka bersekolah formal dan yang tidak bersekolah formal. maka pihak pengajar kurang mendekatkan diri dengan siswa-siswanya terutama bagi siswanya yang mempunyai kehidupan keluarga tidak biasa dan pengajar kurang peka dengan kondisi psikologis siswanya yang mempunyai kehidupan yang berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Lain lagi anak jalanan yang hidup/bertempat tinggal di RPSA (Rumah Perlindungan Sosial Anak). beberapa anak jalanan lain yang di observasi oleh penulis (kebanyakan anak jalanan perempuan) ternyata berprestasi di sekolahnya. Seperti penuturan salah seorang anak jalanan yang . Bahkan tidak jarang penulis menemukan ada anak-anak jalanan yang sedang asyik belajar dan mengerjakan tugasnya di pinggir-pinggir jalan maupun di sudut pintu gerbang Gereja Katedral Semarang. bahkan jika mereka terlambat membayar. peran orang tua dalam hal ini kurang sekali perannya.

(Dulu saya kalau ngamen di bus bisa sampai Jakarta. Bandung. tapi dia mengikuti program Kejar Paket A (setingkat SD). Seperti pengakuan Adit (13 tahun). Dan untuk anak jalanan yang bersekolah formal. Anak Jalanan di Mata Masyarakat Selain melakukan observasi dengan objek penelitian itu sendiri. semua kebutuhan sekolahnya mulai dari bayar SPP. perlengkapan sekolah. Biasane aku mulai ngamen sore sekitar jam 5 nan sampe bengi jam 7 nan. buku. Namun dari pihak Yayasan. dan kota lain yang jauh dari Semarang. Dia berkata kalau dia tidak bersekolah yang formal. khususnya RPSA selalu melakukan pemantauan terhadap mereka. Penulis mengawali pengumpulan opini terhadap anak-anak jalanan di daerah Gunung Brintik dengan warga randusari yang masih satu kelurahan dengan daerah tersebut dan wilayahnya bersebelahan dengan Gunung Brintik. Bandung. penulis juga melakukan observasi dengan pihak-pihak yang dirasa penting untuk dipertimbangkan opininya tentang anak jalanan. berusia 13 tahun : “aku ra sekolah kok mbak. tapi aku melu kejar paket A “. pokok’e tekan adoh. dan uang sakunya di berikan dari Yayasan. Beberapa warga Randusari menganggap bahwa warga di daerah Gunung brintik yang anak-anaknya turun ke jalan sulit untuk diarahkan ke kehidupan yang lebih baik karena sudah . Tapi kadang jam 7 yo gek metu”. Tetapi kadang jam 7 baru mulai keluar untuk ngamen) Anak jalanan tersebut masih menikmati kehidupannya sebagai anak jalanan. Paling yo mung neng daerah Tugu Muda tok. kebanyakan dari mereka masih turun ke jalanan dengan aktivitas yang sering mereka lakukan. Sehingga segala perilaku dan tingkah lakunya dapat terkontrol.tinggal di RPSA bernama Adit. Biasanya saya mulai ngamen kalau sudah sore sekitar jam 5 sampai malam sekitar jam 7. Paling cuma di daerah Tugu Muda. “ndisik aku yen ngamen neng bis tekan Jakarta. tapi saiki ra tau. Namun biarpun demikian. tapi sekarang sudah tidak pernah.

Besarnya pendapatan yang mereka terima dari mengemis dan kebutuhan ekonomi yang semakin tinggi itulah yang akhirnya mengalahkan rasa malu mereka. Lembaga swadaya masyarakat maupun yayasan yang berinterakasi dengan warga Gunung Brintik cukup banyak. PENDIDIKAN DAN PERLINDUNGAN AKTE KELAHIRAN. Dalam diskusi tersebut. KESAMAAN PERAN DALAM PERUBAHAN Interaksi yang terjalin antara pihak Setara dengan anak-anak disitu cukup erat dan akrab. salah satunya adalah Yayasan Setara. KESEHATAN. Mereka menganggap bahwa anak-anak tersebut sudah “kesenengen golek duwit”. Yayasan ini mulai merintis program anak jalanan di Semarang pada akhir tahun 1993. dan sebagian lagi ada beberapa anak jalanan. seperti sepenggal lagu sederhana dan singkat liriknya yang dinyanyikan bersama saat berlangsungnya diskusi tersebut . HAK ANAK MERDEKA YANG HARUS DIDAPAT: BERMAIN. Setara juga seringkali turut membantu anak-anak yang hak-hak nya terabaikan bahkan ditindas. bahkan ada beberapa tetangga yang mulanya menjadi buruh cuci pakaian sekarang beralih pekerjaan menjadi seorang pengemis karena mereka mendapatkan uang lebih banyak dengan mengemis daripada menjadi seorang buruh cuci. mengadu. ASUHAN KELUARGA. Yayasan Setara merupakan organisasi non pemerintah yang berdiri sekitar tahun 1990-an yang bergerak di bidang anak-anak jalanan. Sehingga beberapa warga yang wilayahnya bersebelahan dengan Gunung Brintik berpendapat akan sulit merubah paradigma berpikir warga yang tinggal di Gunung Brintik untuk hidup lebih baik dengan pekerjaan yang lebih layak tanpa mengeksploitasi anakanaknya. yang hadir sebagian besar adalah anak-anak yang tinggal di wilayah itu. sehingga anak-anak jalanan di Semarang banyak yang mengenal yayasan ini. Salah satu yang pernah di ikuti oleh penulis ketika observasi adalah Diskusi Hak Anak yang diadakan pada tanggal 23 Juni 2008. sehingga mereka tidak sungkan menanyakan. Setara menganggap . Diskusi tersebut membahas tentang hak-hak yang perlu didapat oleh anak – anak. yang mempunyai potensi menjadi anak jalanan. maupun meminta bantuan kepada Setara.menjadi tradisi yang turun temurun.

Pak Carik tersebut berpendapat bahwa mereka yang ada di jalanan bukan merupakan penduduk Gunung Brintik namun penduduk Luar singgah untuk sementara waktu di Gunung Brintik.30.30. Kadang ada diantara mereka yang tidak pulang kerumah dan tidur di teras Berdasarkan observasi awal yang telah dillakukan oleh penulis pada bulan maret 2008 hingga saat ini(September 2008) 23 . penulis melihat banyak hal-hal yang tidak ingin diungkapkan oleh pak carik tersebut. Lurah Randusari tidak berada di tempat untuk diwawancarai dan akhirnya penulis diterima oleh Sekretaris Kelurahan yang biasa disebut “pak carik”. bahkan bagi anak jalanan perempuan banyak yang bekerja sebagai Pekerja Seks Komersial (biasa disebut “ciblek”) dan pulang kira-kira hampir tengah malam23. pengemis.00. Rata-rata mereka berangkat dari rumah sepulang sekolah pukul 15. Dari proses wawancara tersebut pak carik mengungkapkan bahwa beliau tidak sependapat dengan berbagai media maupun Ornop-ornop yang mengobservasi daerah Gunung Brintik mengatakan bahwa anak-anak jalanan di daerah Tugu Muda adalah warga Gunung Brintik. Sehingga Setara merasa perlu untuk ikut menyelamatkan masa depan anak-anak tersebut. Mereka merasa bahwa masyarakat memandang sebelah mata terhadap mereka.00. mereka pulang ke rumah untuk berganti pakaian kemudian mereka memulai rutinitas mereka sebagai pekerja anak jalanan. dan mereka punya masa depan yang masih bisa diselamatkan.bahwa anak-anak tersebut adalah “masa kini” bukan hanya masa depan. Waktu mereka pulang tidak seragam. antara pukul 18. dan pukul 00. Proses wawancara tersebut berlangsung sekitar 45 menit. Bahkan selama proses wawancara tersebut. yaitu menjadi pengamen jalanan. Kriminalitas lekat dikaitkan dengan mereka. Sosok dan Lika-Liku Mereka Mengenal Jalanan Kehidupan sehari-hari mereka sepulang sekolah. sehingga ada jawaban-jawab dari pak carik tersebut yang terkesan disembunyikan. pukul 21. Anak–anak jalanan seringkali merasa terpinggirkan di tengah-tengah masyarakat. mereka dianggap mengganggu ketertiban umum karena sering mangkal di perempatan lampu merah. Bahkan ketika penulis mencoba untuk wawancara dengan pihak kelurahan Randusari.

Tempat mangkal mereka diantaranya di bundaran Tugu Muda. dan pelecehan seringkali mereka alami selama mereka di jalanan baik dengan sesama anak jalanan maupun dengan aparat hukum. yang notabene melakukan hal-hal diluar kesadaran. mengepel dengan lidah. kebanyakan dari mereka bekerja di Teh Poci yang buka di sekitar bundaran Simpanglima. bahkan ada yang mencari uang ke tempat-tempat yang lebih jauh dengan menumpang bis. kegiatan yang dilakukan anak-anak jalanan termasuk dalam kategori bentuk-bentuk pekerjaan terburuk bagi anak. mereka dijadikan satu sel dengan orang gila. dalam hal ini adalah Satuan Polisi pamong Praja (Satpol PP).000 – Rp. diperkosa.182 tentang Pelarangan dan tindakan segera Penghapusan bentuk-bentuk pekerjaan terburuk untuk Anak-anak. ditendang.kantor YSS (Yayasan Sosial Sugyopranoto). dipaksa melakukan seks oral kepada aparat. depan Gedung Lawang Sewu. Bahkan pelecehan seksual juga tidak luput mereka alami seperti disodomi. peralatan yang mereka pakai. Kekerasan. Sedangkan “Ciblek”.. Didepan kantor Pemerintah Kota Semarang. Melihat situasi ini. Faktor ekonomi merupakan faktor yang paling banyak . sehingga perlu menjadi bahan pertimbangan dari berbagai pihak.50.000. Pandanaran. biasanya mereka bergerak hingga ke terminal Bawen. Secara keseluruhan.. eksploitasi. Mengapa Mereka Harus Turun ke Jalan? Seringkali anak-anak terpaksa memasuki dunia kerja karena mereka dan keluarganya miskin.15. Untuk pengamen dan pengemis penghasilan yang mereka terima berkisar antara Rp. bundaran SimpangLima. diminta untuk mengelap sepatu aparat. anak jalanan yang diobservasi maupun diwawancarai oleh penulis mengungkapkan bahwa mereka sering mendapat perlakuan – perlakuan yang tidak pantas selama ditahan oleh Satpol PP diantaranya mereka dipukul. saat ditahanan. menyapu. maupun bentuk pekerjaan mereka. Mereka juga menceritakan bahwa ketika razia Gepeng dan Anjal. Selain itu beberapa jenis-jenis pekerjaan yang mereka geluti juga termasuk dalam kategori membahayakan baik dari kondisi tempat mereka bekerja. selain diperlakukan dengan tidak layak. digunduli kemudian dibuang ke kota lain. depan Gereja Katedral. seperti yang tertulis dalam konvensi ILO No. dan ditelanjangi.

Menyedihkan ketika mengetahui bahwa mereka seperti berada dalam kebingungan karena posisi mereka sebagai anak dalam sebuah keluarga yang seharusnya patut untuk dilindungi. dicukupi kebutuhannya. F. kakak-kakak . disayang dan diberi pendidikan secara dini. . termarginalkan oleh masyarakat. karena sudah ditanamkan ke dalam benak mereka bahwa anak harus ikut membantu ekonomi keluarga. maupun teman-teman mereka turun ke jalan untuk mengamen dan mengemis. Namun. berdasarkan observasi penulis. putus sekolah. seperti penelitian anak jalanan di Jabodetabek oleh Universitas Muhammadiyah Jakarta. kebanyakan dari mereka turun ke jalan karena pengaruh dari temanateman sebaya mereka yang sebelumnya juga sudah turun ke jalan ataupun juga karena dari usia mereka masih belia mereka sudah dikenalkan dunia jalanan oleh keluarga mereka. mereka ikut mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga. Penutup Kehidupan yang dijalani oleh anak-anak jalanan seperti yang telah diuraikan secara singkat diatas. mulai dari pengeksploitasian. mendapatkan pengetahuan maupun pendidikan melalui dunia jalanan yang terkadang melampaui usia mereka dan bahkan menyesatkan jalan pikiran mereka. mereka mengatakan bahwa mereka sudah terbiasa melihat orang tua. mendapatkan “keluarga” di jalanan. Mereka menganggap bahwa tanggung jawab seorang anak terhadap keluarga perlu untuk direalisasikan dalam bentuk apapun. sehingga banyak dari mereka turun ke jalan dengan alasan membantu ekonomi orang tua.diucapkan oleh anak-anak jalanan ketika terjun ke jalan yang telah diungkapkan oleh penelitian-penelitian sebelumnya. Ketika penulis menanyakan lebih lanjut. Sehingga faktor budaya dan lingkungan menjadi sesuatu yang sering dijadikan alasan bagi anak-anak jalanan di daerah gunung brintik ketika mereka turun ke jalanan. yang terjadi pada anak-anak jalanan di wilayah gunung brintik. Namun yang terjadi justru sebaliknya. kekerasan. Faktor keluarga juga turut andil menghempaskan mereka ke jalanan. bila kita amati bersama bukanlah sesuatu yang mudah. Banyak resiko yang harus mereka hadapi. ketidakadilan.

mung ono neng pikiran. mereka tetap tertawa.bahkan pelecehan seksual yang dialami oleh anak-anak jalanan perempuan. sekolah yang diharapkan menjadi pengaruh positif yang dapat mencegah anak-anak tersebut turun ke jalanan tidak mampu membendung kegundahan mereka akan tekanan ekonomi. seperti yang telah tertulis dalam ulasan sebelumnya. cuma sebatas di pikiran. lan ora iso berbuat opo-opo kanggo wujud’ke kekarep. lan duwe masa depan sing cerah koyo bocah-bocah liyane. Hal ini kami ungkapkan berdasarkan wawancara yang dilakukan terhadap salah satu anak jalanan yang memilih keluar dan putus sekolah karena ketidaknyamanan dia berada di sekolah. Singkat kata. Tapi kekarep koyo ngono biasane mung mentok neng angen-angen tok. Seperti yang pernah diungkapkan oleh salah satu anak jalanan bernama sekar : “ aku pengen neruske sekolah meneh og mbak. menjadi lebih terarah. Ada juga anak jalanan yang mempunyai pikiran untuk maju. sebagian besar dari mereka ingin kembali ke bangku sekolah lagi. untuk mengubah jalan kehidupannya supaya menjadi lebih baik. “Ono ugo anak jalanan sing duwe pikiran kanggo maju. Tapi keinginan seperti itu biasanya hanya sebatas keinginan saja. Dari beberapa anak jalanan yang telah kami observasi. tersenyum dan tetap mempunyai harapan. bahkan secara mengejutkan beberapa dari mereka mendapatkan peringkat di sekolah tempat mereka menimba ilmu. kanggo ngubah dalan urip dadi luwih apek. dan mempunyai masa depan yang lebih cerah seperti anak-anak pada umumnya. pihak sekolah kurang mampu memberikan dorongan yang positif terhadap murid-muridnya yang menjadi anak jalanan bahkan dalam beberapa kasus tertentu yang menyurutkan harapan maupun niat mereka untuk bersekolah. Melihat hal ini. luwih terarah. Namun. Meskipun begitu banyak kesulitan yang mereka alami. mulane aku ngemis mbak. lumayan duwite iso dicelengi”. Dadi yo mung CUMI “Cuma Mikir”. dan tidak bisa berbuat apa-apa untuk mewujudkan keinginannya sehingga mereka bilang CUMI yang berarti CUMA MIKIR. Berdasarkan pengakuan salah seorang yang pernah terjun menjadi anak jalanan. maka aspek pendidikan menjadi penting untuk dipertimbangkan .

.dalam menyelamatkan anak-anak dari dunia jalanan selain dari pihak keluarga maupun masyarakat dan pemerintah setempat.

Fajar Kondisi keluarga yang tidak mendukung. jadi mereka juga ikut hidup di jalanan untuk apa pulang kerumah. tidak pulang kerumah (istilah mereka tidur di “kuburan”. Pemicu awalnya adalah masalah ekonomi keluarga. otomatis interaksi jauh lebih luas dibanding anak jalanan yang berlokasi di daerah Gunung Brintik.2.6. karena orang tuanya sering tidur di emperan toko. Tugu Muda sebagai daerah bisnis.5.VIII. .3. ada juga yang Ayahnya yang sering mabuk-mabukkan atau Ibunya sering dipukuli sama Ayahnya.4. Jose da Costa Berkaitan dengan faktor-faktor pendorong yang membuat mereka menjadi anak jalanan. hal ini jauh lebih menarik ketika persoalan penelitian dibawa kepada level komunitas. Ndoen Penelitian ini harus menceritakan tahap-tahap proses wawancara dan penelusuran tentang masalah penelitian dan persoalan yang ingin dikaji lebih mendalam. Marthen L. Masalah mendasar yang lain adalah bagaimana mereka bisa survival strategy dalam mempertahankan komunitas dan tempat tinggal mereka! 8. Nur Mengikuti kebiasaan orang tua. saya sudah coba mengorek informasi ini tetapi anak jalanan tidak mau terbuka soal ini. Ayah dan Ibu sering bertengkar. Diskusi 8.7. Wilson Therik Apakah ada yang mengorganisasi mereka sebagai anak jalanan? 8. Saya agak kesulitan untuk mewawancarai apararat keamanan terutama Pol PP.1. 8. Bagaimana dengan komunitas yang ada mampu membuat pencitraan terhadap anak jalanan di Gunung Brintik. Roy Siahainenia Konteks anak jalanan harus dilihat dan dibedakan dengan pola interaksi. 8. apa yang menjadi prosentase terbesar? apakah dari keluarga yang mendorong mereka menjadi anak jalanan atau karena merasa tidak nyaman berada di rumah? 8. karena ukuran tempat yang dibutuhkan untuk tidur hanya 1x2 meter seperti ukuran kuburan). di Tugu Muda. Fajar Sesungguhnya anak jalanan tidak mau turun ke jalan! Apakah ada yang mengorganisir anak jalanan. 8.

Istilah “505” yang diberikan oleh aparat kepada anak jalanan justru tidak bisa menyelesaikan masalah anak jalanan karena Pasal 505 KUHP merupakan bagian dari hukum pidana. Salah satu prinsip kualitatif: orang berpikir berdasarkan data yang dimiliki. Saya melihat. Negara melihat anak jalanan sebagai pelanggar KUHP Pasal 505 namun tidak memberikan jaminan sosial yang layak bagi anak jalanan. yang mendorong begitu banyaknya pelanggaran Hak Asasi Manusia. lingkungan. bahwa negara menyelesaikan kemiskinan dengan menangkap anak jalanan. Theo Litaay Gagasan pak Marthen Ndoen harus di lihat dari aspek historisnya.8. yang mendorong begitu banyaknya pelanggaran Hak Asasi Manusia. apa yang mendasari hingga peneliti menetapkan kemiskinan sebagai dasar dari keseluruhan penelitian ini? . Negara tidak hadir untuk menjawab persoalan anak jalanan namun justru masuk dalam bentuk aparat. kesimpulan tidak terarah karena persoalan peneliatian tidak diungkapkan sejak awal. Coba kita lihat aspek-aspek apa saja yang berpengaruh terhadap kehidupan anak jalanan? Dari berbagai aspek yang dikemukakan di sini (ekonomi. Yodie Sebab-Akibat adanya anak jalanan. Justru Yayasan Sosial yang melakukan pendekatan dengan menyediakan wadah dan sekolah bagi para anak jalanan. keluarga. Hukum pidana berlaku untuk tindakan/perbuatan kriminal. bagaimana trend perkembangan ekonomi dari komunitas kampung itu? Walaupun agak susah untuk mendapatkan data tentang ekonomi kampung.Penarasian harus dijelaskan secara detil dan membuat sebuah jalan cerita yang menarik. Pendekatan keliru dari negara dalam memandang segala fenomena anak jalanan dan kemiskinan dari sudut pandang hukum pidana. Adanya kegagalan dari negara. di mana peran negara? Negara tidak hadir untuk menjawab persoalan anak jalanan namun justru masuk dalam bentuk aparat. 8. berakar dari kemiskinan. 8.9. Pertanyaan selanjutnya. pendidikan dan lain-lain). anak jalanan sudah masuk dalam suatu lingkaran setan kemiskinan.

8. kebanyakan bekerja di perempatan lampu merah di sekitar Tugu Muda dan hanya sebagian yang bekerja dari bis ke bis.Anak jalanan mobilitasnya tinggi. Peneliti perlu ingat bahwa batas antara ideal dan realitas itu tipis sekali. Roy Lalu apa relevansi teoretis dari penelitian ini? 8.000 sehari.16. ini yang kami butuh masukkan. 8. Fajar Penghasilan yang mereka peroleh digunakan untuk jajan. dan sebagiannya diserahkan untuk orang tua. 8.30 dini hari.14. Nur Kalau di Tugu Muda. Ini menjadi Ekonomi Semu.15. uang yang mereka peroleh habis untuk beli miras.000 8. Ada juga yang menjual rambut untuk biaya sekolah. mobilitasnya cukup tinggi.18 Roy Sebagai peneliti pemula. mobilitas tinggi yang seperti apa? Pendapatan 15. hasil penelitian ini sudah luar biasa. 8.000-50. dan kembali ke rumah itu sekitar jam 00. Roy Apa kontribusi anak pada keluarga? 8.12. hanya yang perlu dilakukan sekarang adalah mengembangkan tema-tema yang ada yang masih bisa di kaji lebih mendalam lagi. Fajar dan Nur Nah. Di sini menariknya penelitian kualitatif. mereka bekerja dari bis ke bis. 1 jengkal dijual dengan harga Rp100.10. . Theo Coba fokus pada masalah kemiskinan. Fajar Pemicunya adalah masalah EKONOMI terutama untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Theo Justru anak di jadikan faktor produksi oleh keluarga. dipakai untuk apa? Saya punya pengalaman di Yogyakarta. 8.17. 8.13. Anak Jalanan di Gunung Brintik.11. karena ada anak yang tidak boleh bekerja tapi dipaksa untuk bekerja/produktif.

Albertin Y.com 10. Nah. Penelitian anak jalanan ini. PPs MSAm 085239090222. dugaan saya ada yang mengorganisir. Inggrit T. FE UKSW. PSKTI/PPs MSP.com 12. 085225178367 8. pasti lolos karena yang ada di belakang mereka.19 Theo dan Roy Harus ada kritik bahwa anak-anak jalanan ini jangan dijadikan sumber ekonomi. ooOoo Daftar Peserta Diskusi (Kami mohon maaf apabila ada kesalahan penulisan nama. jika tidak.S. Yodie Handiyani.8. Mungkin ini salah satu yang perlu di gali lebih mendalam lagi dalam penelitian ini.com . Marlina. Ndoen. FE UKSW. Marthen L. love24buzz@yahoo. FE UKSW. angel_funny_144@yahoo. nomor HP dan E-mail).com 3. yaitu aparat-aparat itu juga. 081339388571 7. 085640939049. lembaga. FE UKSW. welldy_ganteng@yahoo. china_kayodq@yahoo. 081575207188.F. 081390458445 6. di balik ciblek itu ada organisasinya. Derlin Lapanda. jangan dijadikan faktor produksi bagi keluarga. 085240319881. Ternyata. PSKTI/FE UKSW. bahkan tukang parkir. Judith A.20 Wilson Therik Saya kira apa yang disampaikan oleh om Theo tentang lingkaran setan kemiskinan. Eindy Mangoendap. nancymarau@gmail. 085239077128 9. Begitu ada penggebrekkan. 1. Polisi Pamong Praja. mereka tentu tidak mau hidup di jalanan. Tumimomor. FE UKSW. 081332189839. Saya pernah membaca hasil penelitian tentang ciblek teh poci di kawasan Simpang Lima-Semarang.id 2. 085640033279. mndoen@yahoo. Serly B. Uang yang berputar pun di antara mereka saja.id 5. FE UKSW. Oru 11.co.com 4. FE UKSW. Deylo. Apriani Ana Milla. Jose da Costa. Veronika Dominggus. ada aparatnya seperti Polisi. tukang becak dan ojek juga terlibat dalam ciblek ini. 085640073224. cyndhot_crazy@yahoo. 8.co. peneliti perlu menggali lebih mendalam lagi. Nancy Marau. jose_ximenes@yahoo.com 13. FE UKSW. Folabessy. E-Time/FE UKSW.

085641501508.com 16. Litaay. 08157749346. 08562789038. Royke Siahainenia. PSKTI/PPs DSP. wilsontherik@gmail.com . Wilson Therik. FE UKSW. PSKTI/FH UKSW. Nur Handayani. PSKTI/FE UKSW 19. dhe_noeng@yahoo. eunike_2004@yahoo. FE UKSW. theolitaay@gmail.14.com 15. PSKTI/FISIPOL UKSW 18. Theofransus A.com 17. Helty L. 081343164488. Fajar Marantika. Mampouw.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful