Ilmu Pemuliaan Teinak Page 1

 
KULIAH I
SEJARAH PEMULIAAN TERNAK

Pemuliaan ternak atau dalam bahasa Inggris disebut Animal Breeding merupakan
aplikasi dari genetika dalam upaya meningkatkan produktivitas ternak.
Performa atau produktivitas ternak dipengaruhi oleh Breeding, Feeding, dan Manajemen.
Pengetahuan ini tentunya berdasarkan atas penelitian-penelitian yang intensif dan
komprehensif dan melibatkan berbagai ilmu yang menunjang seperti Biologi, Reproduksi,
Nutrisi dan Statistika. Keadaan ini tentunya bergeser sesuai dengan waktu dan
perkembangan ilmu pengetahuan. Pada saat ini, untuk mencapai produktivitas dan
efesiensi produksi, para akhli menambahkan kriteria lain seperti pengendalian penyakit,
pemasaran produk dan pengolahan pasca panen.
Sebelum tahun 1800, perbaikan mutu genetik ternak masih mengutamakan seleksi alam
dengan kekuatan daya adaptasi. Para akhli pemuliaan telah mengetahui sebagian
karakteristik bangsa-bangsa ternak yang berada di dunia. Sebagai contoh: untuk daerah
yang panas, para peternak memilih sapi Brahman, untuk daerah dingin dan basah dipilih
sapi Herdford, Angus, atau Highlander, untuk daerah pegunungan dipilih sapi Charolais
dan Simental, dan untuk daerah gurun dipakai kambing Anggora.
Sekitar tahun 1800, Robert Bakewell merintis metoda seleksi
yang sistematik pada ternak. Beliau mulai mengembangkan
populasi ternak superior pada sapi dengan cara menyeleksi
sifat-sifat spesifik yang diinginkan, seperti kecepatan
pertumbuhan dan efisiensi penggunaan pakan. Robert
Bakewell juga mengembangkan populasi tertutup melalui
inbreeding dan linebreeding untuk memperoleh populasi yang
seragam. Robert Bakewell sampai sekarang dikenal sebagai
bapak Pemuliaan Ternak.
Pada tahun 1800, negara-negara Eropa mengadakan ekspansi dan kolonialisasi di benua
Amerika, Asia, Afrika dan Australia. Keadaan ini menyebabkan bangsa-bangsa ternak
dari Eropa menyebar ke negara-negara koloni mereka. Disana terjadi perkawinan antara
ternak-ternak lokal dengan ternak dari Eropa, yang hasilnya terjadi diservikasi gene pool.
Pada tahun 1850an, seorang ilmuwan, Gregor Mendel, merintis
teori dasar penurunan sifat yang sangat memegang peranan
penting dalam pengembangan ilmu pemuliaan. Kalau Robert
Bakewell lebih mengarah ke pengembangan praktis performa
ternak dengan tidak mempelajari alasan penurunan sifatnya, Gregor
Mendel berusaha menggali alasan penurunan sifat walau sifat yang
digunakan sangat sederhana, yaitu warna pada bunga ercis. Tetapi
teori yang dirintis Mendel memberi dampak yang sangat luas pada
ilmu pemuliaan sampai sekarang. Gregor Mendel dikenal sebagai
bapak Genetika.
Pada tahun 1900, di Amerika terjadi pergeseran populasi dari desa ke kota dan diikuti
oleh banyaknya imigran yang memasuki negara tersebut. Kebanyakan populasi di kota
tidak memproduksi makanan sendiri. Keadaan tersebut memicu peningkatan dan
efisiensi produksi baik untuk bidang peternakan ataupun pertanian. Pengaruh nyata pada
dunia peternakan adalah banyaknya bangsa-bangsa ternak yang memasuki Amerika dan
dipelajari karakteristiknya.
Ilmu Pemuliaan Teinak Page 2
 
Pada tahun 1925, dibangun pusat penelitian di Amerika yang khusus mempelajari
performa-performa ternak. Station ini mulai membandingkan secara ilmiah bangsa-
bangsa ternak dari berbagai pelosok dunia. Penelitian-penelitian yang dilakukan lebih
mengarah ke uji performa dan seleksi keunggulan genetik dibandingkan dengan
manajemen. Hasil-hasil penelitian juga mendemontrasikan keunggulan ‘Hybrid Vigor’
dan hasil ‘Cross Breeding’ dari bangsa ternak murninya. Rekomendasi-rekomendasi
hasil penelitian persilangan di station ini memaksa para peternak bangsa murni diseluruh
dunia meminta perlindungan hukum terancam kepunahan karena para peternak lebih
memilih memelihara ternak persilangan dibandingkan dengan ternak murni.
Pada sekitar tahun 1925, berkembang ilmu genetika quantitatif yang merupakan akar dari
teori seleksi, persilangan dan evaluasi genetik pada ternak. Pada tahun 1960, Falconer
seorang ilmuwan dari Edinburgh, Skotlandia, mendeklarasikan bahwa ilmu genetika
kuantitatif sebagai ilmu dasar tersendiri. Ilmu genetika kuantitatif sampai sekarang
banyak dipakai sebagai alat dalam perbaikan mutu genetik ternak di berbagai industri
perbibitan.
Setelah tahun 1960, ilmu pemuliaan ternak mengalami perkembangan yang pesat
dengan ditemukannya Struktur DNA oleh Watson dan Crick. DNA merupakan dasar
material pembawa keturunan penting dan bisa digunakan sebagai penciri karakteristik
spesifik pada mahluk hidup. Penemuan DNA telah banyak membawa perkembangan
mutu genetik yang spesifik, terutama untuk sifat-sifat yang sulit diukur. Dalam
perkembangan selanjutnya, teknologi DNA menjanjikan bisa membawa perbaikan mutu
genetik ternak melalu teknologi manipulasi DNA dan Penciri pembantu dalam program
seleksi.
Di akhir tahun 1970, Handerson mengembangkan teori pendugaan nilai
pemuliaan dengan nama Best Linear Unbiased Prediction (BLUP).
Metoda ini merupakan penyempurnaan dari metoda-metoda terdahulu.
Metoda ini sampai sekarang merupakan metoda standar untuk evaluasi
genetik dunia dan banyak dipakai baik di program evaluasi genetik
nasional di banyak negara dan indutri-industri perbibitan.

Pada tahun 1990, para peneliti pemuliaan berusaha menggabungkan teknik perbaikan
mutu genetik dengan cata genetika kuantitatif dan teknologi DNA. Teori-teori telah
terbentuk tapi sampai saat ini penggabungan kedua teknik ini masih sangat mahal dan
belum efektif dan efisien dipakai di industri perbibitan ternak. Sampai saat ini di banyak
industri masih memakai ilmu genetika kuantitatif sebagai alat utama, sedangkan teknologi
DNA lebih banyak dipakai sebagai Marka untuk mengetahui karakteristik dan diversity
populasi.
Sejak tahun 1925, perusahaan-perusahaan perbibitan mulai terbentuk dan membawa
kearah kemajuan performa ternak yang nyata. Sebagai contoh performa-peforma ternak
saat ini dibandingkan dengan 70 tahun yang lalu: Produksi susu naik 300% dengan
jumlah ternak sapi perah turun hampir 50%, waktu pelihara pada babi lebih pendek 50%
dan FCR turun 300%, berat sapih sapi potong naik 35% dan FCR turun 35%, dan bobot
satu tahun sapi potong naik 25% sedang FCR turun 50%.
Perubahan nyata juga terjadi pada ayam pedaging dan petelur. Pada ayam pedaging
misalnya, pada tahun 1950 untuk mendapatkan bobot badan 1,8 kg diperlukan waktu
pelihara sekitar 84 hari dengan FCR 3,25. Pada saat ini untuk mendapatkan bobot badan
yang sama diperlukan waktu pemeliharaan hanya 28 hari dengan FCR 1,5. Pada ayam
petelur juga mengalami peningkatan mutu bibit yang luar biasa. Dari tahun 1925 sampai
1950 produksi telur naik 8%, dari tahun 1950 sampai 1975 naik 36%, dan dari tahun
1975 sampai 1998 naik 20%.
Ilmu P
Perba
mutu
pengg
gena
mutu
Insem
Seme
Perba
teruta
kealam
produ
eksten
selam

Pemuliaan Te
aikan produk
genetik tern
gunaan mate
penciri digu
genetik ter
minasi Buata
en Sexing.
aikan mutu g
ma yang b
miahan prod
k yang ala
nsif kembali
ma ini banyak
einak
ktivitas terna
nak. Perbaik
erial genetik
unakan untu
rnak akan
an, Super O
genetik mela
berhubunga
duk. Konsum
mi, bahkan
. Keadaan
k diterapkan
ak masa yan
kan akan ma
k melalui klo
k membantu
dipercepat
vulasi, Emb
alui rekayasa
n dengan
men produk
manajeme
ini akan mer
untuk terna

ng akan data
asih melalui
oning, transf
u keakurata
dengan ba
brio Transfer
a genetika a
kode etik
peternakan
en ternak p
rubah teknik
ak-ternak yan
ang akan te
ilmu geneti
fer inti, man
n dalam pro
ntuan tekno
r, Invitro Ma
akan mengh
dan persep
saat ini cen
pun sudah b
k-teknik perb
ng dipelihara
rgantung pa
ka kuantitat
nipulasi gen
ogram selek
ologi reprod
aturation/Fer
hadapi banya
psi konsum
nderung me
banyak yan
baikan mutu
a secara inte
Page
ada perbaika
if, sedangka
a, dan tekn
ksi. Perbaika
duksi seper
rtilitation, da
ak tantanga
men terhada
emilih produ
ng beralih k
genetik yan
ensif.
S
an
an
ik
an
rti,
an
n,
ap
k-
ke
ng

Ilmu P

Pada
Germa
didala
Weinb
ke gen
(1
(2
(3
(4
(5

Ilustra

Dalam
Freku
didala
seluru

Ca

Untuk
beriku
Conto
Dalam
merah
terhad
(1) Be
(2) Be

Pemuliaan Te
tahun 1908
an, W. Wein
am suatu po
berg. Hukum
nerasi jika :
) Perkawina
) Tidak ada
) Tidak ada
) Tidak terja
) Drift
asi Hukum ke
m suatu po
ensi genotip
am populasi,
uh alel yang
atatan : (1)
k memperjel
ut.
oh 1 (Legate
m suatu pop
h, 44 ekor w
dap putih (m
erapa frekue
erapa frekue
einak
DASAR GE
, seorang a
nberg seca
opulasi. Teo
m ini menya

an terjadi sec
mutasi
migrasi,
adi seleksi
ekekalan Ha
opulasi, gen
p adalah pro
sedangkan
diamati dala
Frekuensi g
as tentang
es dan Warw
ulasi terdap
warna roan d
mm).
nsi gena M
nsi genotip
K
ENETIKA DA
khli matema
ra terpisah t
ri mereka te
atakan bahw
cara acak (r
ardy-Weinbe
na atau gen
oporsi dari g
frekuensi g
am populasi
gena, (2) Fr
frekuensi g
wick, 1990)
pat 100 ekor
dan 9 ekor w
dan m?
MM, Mm, da
KULIAH II
ALAM PEM
atik dari Ingg
telah menem
erkenal deng
wa frekuensi
andom)
erg


Asas H
sumbu
alel p
menunj
kurva m
yang m


notip biasa
genotip terte
gena adalah
.
rekuensi ge
gena dan fr
r sapi Shorth
warna putih.
an mm?
ULIAAN TE
gris, G.H. H
mukan prins
gan Hukum
genotip aka
Hardy-Weinb
horizontal
dan q, sed
jukkan freku
menampilka
memungkinka
nya diungk
entu terhada
proporsi su
notip, dan (
rekuensi ge
horn, yang t
Merah (M)
ERNAK
ardy dan ak
sip-prinsip fre
m Keseimba
an konstan
berg untuk d
menunjukk
dangkan su
uensi genot
n satu dari
an.
kapkan dala
p jumlah se
atu alel terte
(3) Frekuen
notip, perha
terdiri dari 4
dominan tid
Page
khli fisika da
ekuensi gen
angan Hardy
dari genera
ua alel yaitu
kan frekuen
umbu vertik
ipe. Tiap-tia
tiga genotip
am frekuens
eluruh genot
entu terhada
nsi fenotip
atikan conto
7 ekor warn
dak sempurn
4
ari
na
y-
asi
u :
si
kal
ap
pe
si.
tip
ap
oh
na
na
Ilmu Pemuliaan Teinak Page S
 
Jawab:
Seekor individu mempunyai 1 pasang alel, jadi 100 ekor = 2 x 100 = 200 alel. Genotip
merah (MM), roan (Mm), dan putih (mm).
(1) Frekuensi gena M atau p =
( )
.
2 47 44
200
0 69
x +
=
Frekuensi gena m atau q =
( )
.
2 9 44
200
0 31
x +
=

(2) Frekuensi genotip Merah : Roan : Putih = (M+m)
2
= (p+q)
2
= M
2
+ 2Mm + m
2

a. Merah = (0.69)
2
= 0.4761
b. Roan = 2(0.69)(0.31) = 0.4278
c. Putih = (0.31)
2
= 0.0961

p+q =1
(p +q)
2
=1
p
2
+2pq + q
2
=1

Contoh 2 (Willis, 1991)
Pada suatu bangsa sapi, hitam (H) dominan sempurna terhadap merah (h). Pada suatu
pupulasi, terdiri dari 1% warna merah. Hitung frekuensi gena dan frekuensi genotip?

a. Frekuensi gena merah (hh) = h
2
= 0.01
h = 0.1

Frekuensi gena H = 1 - 0.1 = 0.9

b. Frekuensi genotip: HH = (0.9)
2
= 0.81
Hh = 2(0.9)(0.1) = 0.18
hh = (0.1)
2
= 0.01

Rumus di atas bisa juga diterapkan pada alel ganda seperti golongan darah ataupun
warna bulu pada kelinci. Dibawah ini adalah suatu contoh penggunaan rumus frekuensi
gena pada alel ganda (golongan darah pada manusia) (Falconer, 1993).
Misal : A=p, B=q, O=r.

Frekuensi gena/genotip ditentukan dengan (p+q+r)
2
=

p pr q qr r pq
2 2 2
2 2 2 + + + + +
dimana: p+q+r = 1

Ilmu Pemuliaan Teinak Page 6
 
Klasifikasi berdasarkan genotip/fenotip
Grup darah Genotip Frekuensi genotip
A AA + AO p
2
+ 2pr
B BB + BO q
2
+ 2qr
O OO r
2

AB AB 2pq

r O B q
r r
r O A p
O A r p
q p r pq p O A
− − =
=
+ =
+ = + ⇒
+ = + + = + ⇒
: juga Demikian
: dimana
- : Jadi
) ( 2
2
2 2 2


Faktor-faktor yang Mempengaruhi Frekuensi Gena
Ada 4 faktor penting yang akan dibahas yang mempengaruhi perubahan frekuensi gena:
(1) seleksi, (2) mutasi, (3) migrasi, dan (4) genetik drift.

Seleksi
Frekuensi gena atau genotip bisa berubah baik dengan seleksi alam maupun seleksi
buatan. Disini hanya akan dibahas seleksi buatan, yang merupakan salah satu cara
yang banyak dipakai untuk memperbaiki mutu genetik ternak. Pada dasarnya seleksi
tidak menciptakan gena-gena baru tapi hanya memberi peluang munculnya gena-
gena yang disukai.
Kembali ke contoh terdahulu. Apabila kita menginginkan ternak merah dan roan saja
dengan menyingkirkan ternak-ternak putih, frekuensi gena dan frekuensi genotip
akan berubah menjadi:
Jumlah ternak menjadi 91 ekor atau banyaknya alel = 2 x 91 = 182.
Frekuensi gena M =
2 47
182
0 76
x
= .
Frekuensi gena m =
44
182
0 24 = .
Frekuensi genotip: MM = Merah = (0.76)
2
= 0.5776
Mm = Roan = 2(0.76)(0.24) = 0.3648
mm = putih = (0.24)
2
= 0.0576

Pada dasarnya seleksi tidak menciptakan gena baru tapi memberi peluang
munculnya gena-gena yang disukai
Ilmu Pemuliaan Teinak Page 7
 
Mutasi
Mutasi merupakan perubahan material genetik, misalnya berubahan alel A menjadi
a atau sebaliknya dari a menjadi A. Mutasi pada umumnya sedikit mendapat
perhatikan dalam program pemuliaan ternak karena sangat jarang terjadi dan bila
terjadi biasanya dalam waktu yang lama. Tingkat mutasi dalam suatu populasi
sangat kecil berkisar antara 10
-4
sampai 10
-8
. Misal A bermutasi menjadi a dengan
tingkat u dan sebaliknya a bermutasi menjadi A dengan tingkat v, maka
keseimbangan Hardy-Weinberg menjadi :
up = qv
p = frekuensi gen dominan
q = frekuensi gen resesif

Migrasi
Migrasi adalah suatu perpindahan suatu individu/kelompok individu dari suatu
populasi ke populasi lain. Perubahan frekuensi gena yang disebabkan oleh migrasi
lebih cepat dibandingkan dengan mutasi, dan tingkatnya tergantung pada banyaknya
migran dan perbedaan frekuensi gena migran dengan frekuensi gena pada populasi
awal. Migrasi banyak dilakukan dalam pemuliaan ternak, misalnya memasukan
ternak-ternak unggul dari luar negri dan mengawinkan dengan ternak-ternak lokal
setempat.

Genetik Drift
Telah dibahas bahwa dalam populasi besar yang tanpa mutasi, migrasi, seleksi dan
perkawinan terjadi secara acak, sehingga frekuensi gena akan tetap dari generasi ke
generasi mengikuti keseimbangan hukum Hardy-Weinberg. Tetapi dalam populasi
yang kecil mungkin terjadi fluktuasi frekuensi yang disebabkan oleh pemilihan alel.
Proses ini disebut Genetik Drift.

Genetik drift adalah suatu fluktuasi perubahan frekuensi gena dalam populasi
kecil, yang disebabkan oleh pemilihan alel. Genetik drift tidak bisa ditentukan
arahnya tapi bisa dihitung perubahannya.

Misal dalam suatu populasi yang terdiri hanya 10 individu, frekuensi gena awal
p=q=0.5. Gamet yang terbentuk adalah 2 x 10 = 20 yang terdiri 10 A dan 10 a. Pada
generasi berikutnya mungkin berubah menjadi 12 A dan 8 a, atau sebaliknya.
Fluktuasi semacam ini disebut Drift.

Ilmu Pemuliaan Teinak Page 8
 
KULIAH III
DASAR STATISTIKA DALAM PEMULIAAN TERNAK

Ada beberapa konsep statistika dasar yang penting dalam pemuliaan ternak, diantaranya
adalah: (1) teori probabilitas dan distribusi binomial, (2) Uji chi kuadrat, (3) Kurva normal
dan nilai rata-rata, (4) ragam dan peragam, (5) standar deviasi, (6) koefisien variasi, (7)
korelasi (8) regresi dan (9) analisis varian (ragam).

Probabilitas dan Distribusi Binomial

Apabila kita mempunyai sejumlah percobaan, katakan n percobaan, dan tiap
percobaan mempunyai k kemungkingan hasil, contohnya jika k=2, untuk
kemungkinan sukses dan gagal, kemudian kita ingin mengetahui berapa
kemungkinan munculnya sukses dan berapa kemungkinan munculnya gagal?,
percobaan ini disebut percobaan Bernaolli. Mari kita membahas satu contoh untuk
mempermudah pengertian.

Jenis kelamin pada ternak adalah suatu keterjadian yang independent (tidak saling
terikat), kita mengharapkan kelahiran jantan pada 2 kelahiran, berapa peluangnya?
Ada 4 kemungkinan hasil, yaitu kelahiran: jatan-jantan, jantan dan betina, betina dan
jantan, betina dan betina. Apabila peluang kemungkinan lahirnya jantan=betina=0.5,
maka kemungkinan lahirnya 2 jantan=0,5x0.5=0.25, kemungkinan lahirnya satu
jantan=2x0.5x0.5=0.5 dan lahirnya 2 betina=0.5x0.5=0.25.

Banyak cara untuk mencari koefisien binomial, salah satu cara untuk
mendapatkannya adalah dengan menggunakan rumus aljabar:

( ) p q
n
+

Apabila
n p pq q
n p p q pq q
= → + +
= → + + +
2 2
3 3 3
2 2
3 2 2 3
dimana p+q=1

Cara termudah untuk mencari koefisien di atas adalah dengan menggunakan
segitiga pascal:
Ilmu Pemuliaan Teinak Page 9
 

n=0 0
n=1 1 1
n=2 1 2 1
n=3 1 3 3 1
n=4 1 4 6 4 1

Rumus lain yang bisa digunakan adalah:
P
n
r s
p q
r s
=
!
! !


Contoh : berapa kemungkinan munculnya anak 2 jantan dan satu betina dari 3
kelahiran pada domba?

Kita misalkan jantan = p, peluang muncul = 0.5
betina = q, peluang muncul = 0.5

Menggunakan rumus pascal = 3p
2
q = 3(0.5)
2
x(0.5) = 0.375

Menggunakan rumus umum :
3
2 1
0 5 0 5 0 375
2
!
( !)( !)
( . ) ( . ) . =

Chi Kuadrat(χ
2
)

Uji χ
2
bertujuan untuk mengetahui apakah hasil yang kita peroleh sesuai dengan
yang kita harapkan. Uji ini disebut juga uji kecocokan dengan rumus:

χ
2
2
=
− ( ) O E
E


Ilmu Pemuliaan Teinak Page 1u
 
Dimana : O=data hasil observasi (pengamatan)
E=nilai harapan

Uji χ
2
adalah uji kecocokan, untuk mengetahui apakah hasil yang kita amati sesuai
dengan yang diharapkan

Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh perhitungan dibawah ini, yang diambil dari
Legates dan Warwick (1990), hal. 107-109.

Dalam suatu populasi terdapat 120 ekor sapi, yang terdiri dari 83 ekor warna hitam
dan 37 ekor warna merah. Semua sapi tersebut berasal dari induk yang heterozigot
(Bb), dimana hitam (B) dominan terhadap putih (b). Apakah sapi-sapi tersebut diatas
sesuai dengan teori Mendel?

Harapan perbandingan sapi hitam dan merah berdasarkan teori mendel adalah 3(B.)
: 1(bb). Nilai harapan dari populasi tersebut adalah:
Hitam x ekor
Merah x ekor
= =
= =
3
4
120 90
1
4
120 30

Sekarang buatlah tabel perhitungan χ
2


Lihat tabel χ
2
. χ
2
hasil perhitungan (2.17) lebih kecil dari χ
2
probabilitas 0.05 dan
0.01 di tabel, jadi proporsi hitam dan merah di dalam populasi tersebut masih sesuai
dengan teori Mendel.

Pengamata
n
(O)
Harapan
(E)
Deviasi
(O-E)
χ
2

Hitam 83 90 -7 0.54
Merah 37 30 +7 1.63
Total 120 120 2.17
Ilmu Pemuliaan Teinak Page 11
 
Kurva Normal dan Rata-rata

Pada contoh di atas kita hanya mengumpamakan satu pasang gena yang terlibat.
Padahal sifat-sifat yang mempunyai nilai ekonomis (sifat kuantitatif) dipengaruhi oleh
banyak pasang gena dan sangat peka terhadap pengaruh lingkungan. Contoh sifat-
sifat ini adalah: produksi susu, produksi telur, bobot lahir dan banyak lagi sifat yang
lain. Sebaran sifat ini biasanya menyebar dari nilai yang terendah sampai yang
tertinggi menbentuk kurva normal. Tetapi kita disini hanyalah mempelajari efek dari
gena-gena tersebut secara komulatif, bukan mempelajari posisi dari gena-gena
didalam kromosom.

Dari sekelompok gena yang mempengaruhi satu sifat, tidak semua gena-gena
tersebut mempunyai pengaruh yang sama, misalnya sekelompok gena mungkin
mempunyai pengaruh kecil, sedangkan yang lainnya berpengaruh besar. Gena yang
mempunyai pengaruh yang besar disebut Major gene, misalnya pada liter size
(jumlah anak yang dilahirkan dalam satu kelahiran). Major gene jelas mempengaruhi
kenormalan kurva. Para ilmuwan sering mengungkapkan liter size ini dengan
sepasang gena, padahal sifat ini dipengaruhi oleh banyak gena, tapi mereka hanya
menuliskan notasi untuk major gene nya saja karena gena-gena lain pengaruhnya
kecil.

Rata-rata merupakan ukuran pusat yang penting dalam pemuliaan ternak, karena
sampel yang kita ambil dalam suatu populasi yang berdistribusi normal mungkin
akan menyimpang. Rata-rata suatu sifat yang kita amati adalah rata-rata aritmetik
dari seluruh nilai didalam populasi atau sampel. Rata-rata populasi biasanya ditulis
dengan notasi μ sedangkan rata-rata sampel ditulis dengan notasi x . Rumus dari
rata-rata sampel adalah:
x
n
x x x x
n
= + + + +
1
1 2 3
( ... )


Dimana: x= pengukuran dari individu yang diamati
n= jumlah sampel
Sifat kuantitatif pada umumnya menyebar secara normal, dipengaruhi oleh banyak
gena dan peka terhadap lingkungan. Gena-gena yang terlibat mungkin tidak
mempunyai efek yang sama. Ada gena-gena yang berpengaruh kecil dan ada juga
yang berpengaruh besar. Gena-gena yang berpengaruh besar pada suatu sifat
disebut Major gene.

Ilmu Pemuliaan Teinak Page 12
 
Ragam(Varian)

Ragam merupakan ukuran yang terpenting dalam pemuliaan ternak karena
merupakan suatu ukuran untuk menentukan nilai genotip dan penotip dari suatu
populasi/individu. Ragam menggambarkan suatu dispersi/variasi dari suatu populasi.
Apabila kita akan memilih beberapa ekor ternak yang akan digunakan sebagai tetua
untuk generasi selanjutnya, misalnya berdasarkan bobot badan, seleksi tersebut
akan efektif bila dalam populasi tersebut mempunyai keragaman yang tinggi. Tetapi
kalau dalam populasi tidak mempunyai keragaman, misalnya semua ternak yang
akan kita pilih mempunyai bobot yang sama (secara genetik), maka kita tidak perlu
melakukan seleksi.

Ragam merupakan simpangan kuadrat dari rata-rata populasi atau sampel, dan
biasanya ditulis dengan notasi σ
2
untuk populasi dan s
2
untuk sampel. Ragam suatu
sampel ditulis dengan persamaan:
s
x x x x x x
n
n 2 1
2
2
2 2
1
=
− + − + + −

( ) ( ) ... ( )

Untuk populasi dibagi dengan n.

Standar Deviasi

Standar deviasi adalah merupakan akar dari ragam, dan diberi simbol σ untuk
populasi dan s untuk sampel. Rumusnya adalah:
σ σ = ⇒
= ⇒
2
2
populasi
s s sampel

Koefisien Variasi
Kadang-kadang kita perlu untuk membandingkan keragaman antara 2 sifat atau
lebih; apakah sifat yang satu lebih beragam dari sifat yang lainnya atau kurang
beragam. Alat yang digunakan adalah koefisien variasi (C). Koefisien variasi ditulis
dengan persamaan:

C x populasi
C
s
x
x sampel
= ⇒
= ⇒
σ
μ
100
100

Ilmu Pemuliaan Teinak Page 1S
 
Korelasi

Jika kita tertarik untuk mengetahui derajat hubungan antara dua variabel atau sifat,
misal hubungan antara lingkar dada dengan bobot badan atau bobot badan dengan
produksi susu, kita bisa menggunakan korelasi. Koefisien korelasi (r) berkisar antara
-1.0 sampai +1.0. r =+1.0 menunjukan bahwa penambahan 1 unit suatu variabel,
akan menambah 1 unit variable lain yang berkorelasi, sedangkan apabila r =-1.0
sebaliknya, penambahan 1 unit variabel yang satu akan menurunkan 1 unit variabel
lain. Koefisien korelasi dihitung dengan rumus:

r
Cov x y
s s
Cov x y
x x y y x x y y x x y y
n
s
s
x y
n n
x
y
=
⇒ =
− − + − − + + − −

⇒ =
⇒ =
( , )
( )( )
( , )
( )( ) ( )( ) ... ( )( )
2 2
1 1 2 2
2
2
1
peragam x dan y
=
ragam variabel x
ragam variabel y


Regresi

Jika koefisien variasi mengukur derajat hubungan antara dua variabel, koefisien
regresi atau sering ditulis dengan notasi b, mengukur jumlah perubahan suatu
variabel atau sifat dengan variabel lain yang berhubungan. Misalnya perubahan
penambahan bobot badan untuk setiap penambahan lingkar dada. Koefisien regresi
dihitung dengan rumus:

b
Cov x y
s
xy
x
=
( , )
2


Regresi merupakan suatu metoda yang penting, karena bisa menduga suatu
variabel yang belum diketahui nilainya berdasarkan variabel lain yang telah diketahui
nilainya. Regresi juga merupakan salah satu metoda untuk menduga nilai
heritabilitas. Persamaan regresi di tulis dengan rumus:
y b x x y
xy
= − + ( )
Ilmu Pemuliaan Teinak Page 14
 
Analisis Ragam (Analisis Varian)

Analisis ragam dipakai dalam pemuliaan ternak untuk menduga ragam genetik dan
fenotipik. Sejak tahun 1985 analisis ini tidak dipakai lagi dengan mulai
dikembangkanya analisis Restricted Maximum Likelihood (REML). Sampai sekarang
REML bisa dikatakan sebagai analisis standar dunia untuk menduga ragam peragam
dalam pemuliaan ternak.

Sebelum kita meninggalkan statistika dasar, dibawah ini adalah sebuah contoh
perhitungan yang diambil dari Pirchner (1981) hal. 17-25.

No.

Tinggi
Pundak (cm)
(x)
Lingkar
Dada (cm)
(y)
(x- x )(y- y) (x- x )
2
(y- y)
2

1 135 212 44 16 121
2 129 195 12 4 36
3 132 203 0 1 4
4 131 200 0 0 1
5 130 205 -4 1 16
6 129 194 14 4 49
7 125 195 36 36 36
8 130 194 7 1 49
9 135 207 24 16 36
10 134 205 12 9 16
Rata-
rata
131 201 13.67 9.78 40.44

Peragam=13.67
Ragam x = 9.78
Ragam y = 40.44
Standar deviasi x =3.13 cm----ingat akar dari ragam
Ilmu Pemuliaan Teinak Page 1S
 
Standar deviasi y =6.36 cm

Koefisien korelasi =
13 67
9 78 40 44
0 69
.
. .
.
x
=

Ilmu Pemuliaan Teinak Page 16
 
KULIAH IV
FENOTIP, GENOTIP DAN LINGKUNGAN

Sifat pada ternak dapat dibedakan menjadi sifat kuantitatif dan sifat kualitatif.

Sifat kuantitatif adalah sifat yang dapat diukur, misalnya produksi susu, bobot badan dan
produksi telur. Sifat ini dikontrol banyak gena dan sangat dipengaruhi oleh faktor
lingkungan, seperti pakan dan tatalaksana. Gena-gena tersebut ada yang berpengaruh
besar dan ada juga yang kecil. Pengaruh gena-gena yang menyumbangkan suatu
expresi pada fenotip disebut genotip.

Sifat kualitatif adalah sifat yang tidak dapat diukur, tapi bisa dikelompokan. Misalnya
warna bulu, bentuk tanduk. Sifat ini sedikit/tidak dipengaruhi lingkungan dan biasanya
dikontrol oleh satu atau dua pasang gena saja.

Disini tidak dipelajari letak gena-gena, tetapi hanya mempelajari pengaruh gena-gena
tersebut secara kumulatif yang diekspresikan pada fenotip. Secara matematis hubungan
antara fenotip, genotip dan lingkungan dapat diungkapkan dengan persamaan sebagai
berikut:
P = G + E + GE

Dimana : P = Fenotip
G = Genotip
E = Environment (Lingkungan)
GE = Interaksi antara genotip dan lingkungan

Efek dari gena dalam genotip dapat dibedakan menjadi :
(1) Pengaruh yang bersifat aditif
(2) Pengaruh yang bersifat dominan, dan
(3) Pengaruh epistatis.

Dengan demikian Genotip (G) ternak tersusun oleh gena-gena yang bersifat aditif,
dominan dan efistatis, yang secara matematis dapat diungkapkan sebagai berikut:

G = A + D + E

Dimana : G = Genotip
A = Efek gena aditif
D = Efek gena dominan
E = Efek gena epistatis

Ilmu Pemuliaan Teinak Page 17
 
Pengaruh dominasi pada suatu sifat dapat dibedakan menjadi 4 macam yaitu :
(1) Tidak ada dominasi (aditif)
(2) Dominasi tidak lengkap
(3) Dominasi lengkap, dan
(4) Over dominasi.

Perbedaan diantara keempat dominasi tersebut dilukiskan pada Gambar berikut.
AA
Aa
aa
Aditif
AA
Aa
aa
Dominasi
tidak lengkap
AA=Aa
aa
Dominasi
lengkap
Aa
AA
aa
Over dominasi

Gambar 3.1. Efek Gena

Ragam (Variasi)

Keragaman (Variasi) individu (terutama variasi genotip) memegang peranan penting
dalam pemuliaan ternak. Jika dalam suatu populasi ternak tidak ada variasi genotip,
maka menyeleksi ternak bibit tidak perlu dilakukan. Untuk ternak pengganti tinggal
diambil ternak yang ada tanpa harus melakukan pertimbangan seleksi. Semakin tinggi
variasi genotip didalam populasi, semakin besar perbaikan mutu bibit yang diharapkan.
Dalam ilmu pemuliaan ternak, fenotip, genotip dan lingkungan diungkapkan dalam bentuk
variasi.

Dalam ilmu statistika variasi (ragam) adalah simpangan rata-rata kuadrat dari nilai rata-
rata populasi. Secara matematis variasi (ragam) dapat diungkapkan dengan rumus:
n
x x
V
i
x x
2
2
) ( −
= =σ


Ilmu Pemuliaan Teinak Page 18
 
dimana : = =
2
x x
V σ ragam atau variasi sifat x

i
x = sifat x
x = rata-rata sifat x
n = jumlah ternak

contoh: Pengukuran bobot badan lima ekor anak domba diperoleh berat: 5 kg, 6 kg, 7 kg,
5 kg, dan 4 kg.
Rata-rata bobot badan =
+ + + +
=
5
4 5 7 6 5
) (x 5,4 kg.
Ragam /variasi
5
) 4 , 5 4 ( ... ) 4 , 5 6 ( ) 4 , 5 5 (
) (
2 2 2
− + + − + −
=
x
V = 1,04 kg
2


Persamaan: P = G + E + GE dapat diungkapkan dapal bentuk ragam sebagai berikut:

GE E G p
V V V V + + =

Dimana :
P
V = ragam/variasi fenotip
G
V = ragam/variasi genotip

E
V

= ragam/variasi lingkungan

GE
V = ragam/interaksi antara genotip dan lingkungan

Ragam fenotip diantara ternak dalam suatu populasi biasanya disebabkan oleh
perbedaan pasangan gena yang dimiliki individu atau kelompok ternak dan atau juga
pengaruh lingkungan yang berbeda.
Sering diasumsikan bahwa interaksi antar genetik dan lingkungan (V
GE
) sama dengan
nol, tapi pada beberapa kasus ragam ini sering muncul, misalnya pada sapi perah sering
dijumpai sapi-sapi yang berproduksi tinggi diberi pakan yang lebih baik. Keadaan ini akan
memberi peluang munculnya peragam V
GE
. Interaksi antar genetik dan lingkungan adalah
kecil apabila ternak-ternak dipelihara secara intensif dan atau dipindahkan ke tempat
baru yang keadaan lingkungannya mirip dengan lingkungan dimana mereka dibesarkan
sebelumnya.

Contoh: 5 ekor tenak telah terangking atau terseleksi di lingkungan pakan yang baik
berdasarkan mutu genetik. Ranking ternak tersebut adalah : 1, 2, 3, 4, 5. Apabila ternak-
ternak tersebut diberi pakan yang jelek mungkin rangkingnya berubah menjadi : 4, 5, 3, 1,
2. Keadaan ini disebabkan adanya interaksi antana genetik dan lingkungan.
Apabila V
GE
sama dengan nol, kita dapat mengungkapkan:

V V V
P G E
= +


Ilmu Pemuliaan Teinak Page 19
 
Komponen ragam diatas dapat diturunkan lagi, misalnya untuk ragam genetik dapat
dibagi lagi menjadi ragam aditif, ragam dominan dan ragam epistasis, atau dengan
persamaan sebagai berikut :
V V V V
G A D I
= + +


Dimana : V
A
= ragam yang disebabkan oleh gena-gena yang bersifat aditif
V
D
= ragam yang disebabkan oleh gena-gena yang bersifat dominan
V
I
= ragam yang disebabkan oleh interaksi antar gena (epistasis)

Ragam aditif genetik (V
A
/additive genes) merupakan ragam yang terpenting dalam
pemulian ternak karena sering digunakan untuk menentukan kebijakan dalam seleksi dan
juga dalam persilangan.
Misalnya 2 kelompok ayam mempunyai rata-rata bobot badan yang berbeda; bangsa A
dengan rataan bobot badan 4 kg dan bangsa B dengan rataan bobot badan 2 kg. Hasil
perkawinan kedua kelompok ayam tersebut diharapkan rata-rata bobot badan anaknya
adalah 3 kg. Keadaan ini bisa terjadi apabila hanya gena-gena aditif yang terlibat.
Rataan bobot badan anak hasil persilangan bisa menyimpang bila gena-gena yang
bukan aditif (non-additive genes) ikut berpengaruh. Gena bukan aditif terdiri dari
pengaruh gena-gena yang bersifat dominan, terjadi pada gena yang selokus, dan
epistasis atau interaksi antar gena yang bukan selokus.
Ragam yang disebabkan oleh epistasis dapat lebih jauh di bedakan menjadi interaksi
antara gena-gena yang bersifat aditif, interaksi antara gena-gena yang bersifat aditif dan
dominan, dan antara gena-gena dominan, atau dapat ditulis dengan persamaan:

V V V V
I AA AD DD
= + +


Dimana : V
I
= ragam epistatis
V
AA
= ragam yang disebabkan oleh interaksi antar gena-gena aditif
V
AD
= ragam yang disebabkan oleh interaksi antar gena-gena aditif dan
gena-gena dominan
V
DD
= ragam yang disebabkan oleh interaksi antar gena-gena dominan
Dimana : V
ED
= ragam lingkungan didalam grup (famili)
V
EA
= ragam lingkungan diantara grup (famili)/lingkungan bersama

Ragam lingkungan(V
E
) merupakan variasi yang disebabkan oleh faktor lingkungan yang
jumlahnya sangat banyak dan sulit dibedakan. Dalam konsep pemuliaan ternak, secara
garis besar, ragam lingkungan dapat dibedakan lingkungan temporer dan lingkungan
permanen. Kedua ragam tersebut dapat diungkapkan dengan persamaan:
EP ET E
V V V + =



Dimana : V
ET
= ragam lingkungan (dalam grup)
V
EP
= ragam lingkungan permanen (antar grup)
Ilmu Pemuliaan Teinak Page 2u
 
Lingkungan temporer adalah faktor yang berpengaruh terhadap satu pengukuran tetapi
tidak berpengaruh terhadap pengukuran yang lain atau dengan kata lain pengaruh ini
hanya mempengaruhi produksi sesaat saja atau sementara, misalnya karena adanya
perubahan susunan ransum yang mengakibatkan perubahan pada produksi.
Lingkungan permanen adalah faktor tetap yang bukan bersifat genetik yang
mempengaruhi individu sepanjang hidupnya, seperti misalnya pincang yang
menyebabkan seekor ternak kesulitan dalam bersaing untuk mendapatkan pakan.

Ilmu Pemuliaan Teinak Page 21
 
KULIAH V
PARAMETER GENETIK DAN FENOTIPIK

Parameter genetik dan fenotipik seperti heritabilitas, korelasi genetik, korelasi fenotipik,
repitabilitas, dan nilai pemuliaan (breeding value) sangat penting dalam pemuliaan
ternak, parameter ini berguna dalam beberapa hal :
1. Menunjukan suatu kesimpulan mengenai penurunan suatu sifat
2. Mengukur variasi genetik yang berguna untuk melakukan seleksi
3. Merupakan tolok ukur yang perlu dipertimbangkan dalam program seleksi
4. Menentukan arahan terhadap hasil seleksi.

Karena begitu pentingnya parameter-parameter ini, maka mereka harus diduga secermat
mungkin. Ketidak cermatan dalam pendugaan dapat menyebabkan biasnya mengukur
kemajuan genetik suatu program pemuliaan.

Heritabilitas

Heritabilitas berasal dari kata bahasa Inggris “Heritability”. Heritability tersusun oleh
kata heredity yang berarti keturunan dan ability yang berarti kemampuan.
Berdasarkan kata asalnya heritabilitas berarti kekuatan suatu sifat dari tetua yang
dapat diturunkan kepada anaknya. Dalam konteks statistika heritabilitas merupakan
suatu perbandingan antara ragam yang disebabkan oleh faktor genetik dengan
ragam fenotip.

Kembali ke komponen-komponen ragam pada kuliah terdahulu. Diasumsikan bahwa
tidak ada korelasi dan interaksi antara faktor genetik dengan faktor lingkungan.
Persamaannya dapat ditulis sebagai berikut:

V V V
P G E
= +


Apabila semua dibagi dengan V
P
, maka :

1= +
V
V
V
V
G
P
E
P


Heritabilitas adalah
V
V
G
P
atau proporsi ragam yang disebabkan oleh faktor genetik
dibagi dengan ragam fenotip.

Ilmu Pemuliaan Teinak Page 22
 
Heritabilitas (
V
V
G
P
) disebut heritabilitas dalam arti luas yang biasanya diberi simbol
H
2
, karena heritabilitas ini mengandung semua unsur genetik seperti V
A
, V
D
, dan V
I
.
Apabila kita uraikan lebih lanjut:

H
V
V
V V V
V
V
V
V V
V
G
P
A D I
P
A
P
D I
P
2
= =
+ +
= +
+


V
V
A
P
disebut heritabilitas dalam arti sempit dan diberi simbol h
2
.
Heritabilitas arti sempit ini lebih banyak digunakan dalam pemuliaan ternak, karena
lebih mudah diduga dan dapat langsung menduga nilai pemuliaan.

Heritabilitas merupakan kekuatan suatu sifat diturunkan dari tetua kepada kepada
anak-anaknya. Dalam kontek statistika heritabilitas merupakan suatu perbandingan
antara ragam yang disebabkan oleh faktor genetik dengan ragam fenotipik.
Heritabilitas dapat dikatagorikan menjadi dua macam; arti luas (H
2
) dan arti sempit
(h
2
).
⇒ = =
+ +
Arti luas (H
V
V
V V V
V
G
P
A D I
P
2
)
⇒ = Arti Sempit (h
V
V
A
P
2
)
Heritabilitas arti sempit lebih banyak digunakan dalam pemuliaan arti sempit karena
lebih mudah diduga dan dapat langsung menduga nilai pemuliaan.

Nilai heritabilitas berkisar antara 0 dan 1. Secara ekstrim dapat dinyatakan apabila
h
2
= 1 berarti seluruh variasi fenotip disebabkan oleh variasi genetik, sedangkan
apabila h
2
= 0 berarti seluruh variasi fenotipik disebabkan oleh variasi lingkungan
(ingat V V V
P G E
= + ).
Nilai heritabilitas bisa diklasifikasikan menjadi 3 kelompok, yaitu rendah, sedang dan
tinggi. Kisarannya adalah :
Rendah h
Sedang 0.1 h
Tinggi h
2
2
2

< ≤
>
0 1
0 3
0 3
.
.
.

Dugaan nilai heritabilitas di sajikan dalam Tabel 4.1.
Ilmu Pemuliaan Teinak Page 2S
 
Tabel 4.1. Dugaan Nilai Heritabilitas untuk Beberapa Sifat pada Beberapa
macam Ternak


Dari Tabel 4.1. dapat ditarik kesimpulan bahwa:
1. Sifat reproduksi pada umumnya mempunyai nilai h
2
yang rendah.
2. Produksi susu dan pertumbuhan awal mempunyai nilai h
2
yang menengah.
3. Berat badan dewasa dan kualitas mempunyai nilai h
2
yang tinggi.

Nilai heritabilitas sangat tergantung pada ragam genetik suatu populasi, dengan
demikian nilai heritabilitas yang diduga pada suatu populasi mungkin akan berbeda
dengan populasi lain. Perbedaan ini disebabkan karena :

1. Perbedaan faktor genetik
2. Perbedaan faktor lingkungan; h
2
yang diduga pada lingkungan yang homogen
mungkin akan lebih besar dibandingkan dengan nilai h
2
pada lingkungan
yang heterogen.
3. Perbedaan metoda yang digunakan

Nilai heritabilitas merupakan suatu parameter penting dalam menduga keberhasilan
suatu program pemuliaan. Dalam suatu program seleksi, misalnya apabila dalam
populasi tersebut mempunyai nilai h
2
yang tinggi, maka diharapkan akan
memberikan respon perbaikan mutu genetik yang cepat, sebaliknya apabila dalam
populasi tersebut mempunyai nilai h
2
yang rendah maka respon pun akan lambat.
Sifat h
2

Sapi
Produksi susu 0.11-0.48
Persentasi lemak 0.09-0.41
Lama laktasi 0.06-0.51
Umur pertama melahirkan 0.01-0.69
Calving Interval 0-0.40
Service per conception 0.03-0.08
Mortalitas anak 0-0.09
Berat Lahir 0-0.48
Berat sapih 0.02-0.51
Berat dewasa 0.02-0.79
Sumber : Wiener (1994)
Sifat h
2

Ayam
Dewasa kelamin 0.20-0.50
Berat Badan 0.30-0.70
Berat telur 0.40-0.70
Feed efficiency 0.40-0.70
Sumber Lagates &
Warwick (1990)


Domba
Litter size 0-0.49
Berat anak per litter 0-0.12
Sumber : Wiener (1994)
Ilmu Pemuliaan Teinak Page 24
 
Heritabilitas juga menentukan metoda apa yang akan dipakai dalam perbaikan mutu
genetik ternak. Misalkan apabila nilai heritabilitas tinggi, seleksi berdasarkan catatan
individu akan efektif, sebaliknya apabila nilai heritabilitas rendah, perlu tambahan
informasi dari saudara-saudaranya. Pada banyak aplikasi dilapangan, apabila suatu
sifat mempunyai nilai heritabilitas rendah biasanya para pemulia lebih banyak
berharap pada pengaruh heterosis atau hybrid vigor. Efek ini akan dibahas lebih jauh
pada materi persilangan.

Repitabilitas

Repitabilitas berasal dari kata bahasa Inggris Repeat yang berarti pengulangan dan
ability yang berarti kemampuan. Beranjak dari kata asalnya repitabilitas berarti
suatu kemampuan seekor individu/kelompok ternak untuk mengulang produksi
selama hidupnya. Secara statistik repitabilitas merupakan korelasi/kemiripan antara
catatan, misalnya antar catatan laktasi pada sapi perah.

Kegunaan Repitabilitas adalah:
1. Untuk mengetahui penambahan respon dengan catatan berulang
2. Untuk mengetahui batas atas nilai heritabilitas
3. Untuk menduga performans yang akan datang berdasarkan catatan masa
lalu.

Repitabilitas biasanya diberi simbol r, dan dapat ditulis dengan persamaan:

r
V V
V
G EP
P
=
+

Dimana V
EP
= lingkungan permanen

Perbedaan heritabilitas dengan repitabilitas adalah: heritabilitas menduga suatu
kemiripan antara tetua dengan anaknya, sedangkan repitabilitas menduga kemiripan
antara catatan produksi selama hidupnya (pada individu yang sama).

Nilai repitabilitas berkisar antara 0 dan 1. Karena pada repitabilitas memasukan
ragam lingkungan permanen, maka nilai repitabilitas selalu lebih besar atau sama
dengan nilai heritabilitas, atau:
r h ≥
2




Ilmu Pemuliaan Teinak Page 2S
 
Perbedaan heritabilitas dan repitabilitas adalah :
1. Heritabilitas merupakan kemiripan antara performa anak dan tetua, sedang
repitabilitas kemiripan antara performa ulangan pada individu yang sama
2. Berdasarkan rumus, repitabilitas terdapat komponen lingkungan permanen
P
A
V
V
h =
2

r
V V
V
G EP
P
=
+

3. Nilai repitabilitas selalu lebih besar atau sama dengan heritabilitas (r h ≥
2
)

Pendugaan nilai repitabilitas untuk beberapa sifat produksi, ditunjukan pada Tabel
4.2.

Tabel 4.2. Nilai Repitabilitas Beberapa Sifat pada Beberapa Ternak
Sumber : Willis (1991)

Korelasi Genetik dan Fenotipik

Sifat dari seekor/sekelompok ternak mungkin bebas atau berkorelasi dengan sifat
lain. Suatu perubahan sifat yang tidak diseleksi akibat sifat lain yang diseleksi
disebut Respon Berkorelasi. Besarnya respon berkorelasi tergantung pada korelasi
genetik antara dua sifat tersebut. Korelasi genetik kebanyakan disebabkan karena
gena-gena Pleiotropi yang bekerja saling berlawanan, sedangkan korelasi fenotipik
adalah total korelasi genetik dan korelasi lingkungan.



Jenis Ternak Sifat Nilai Ripitabilitas
Sapi Perah Produksi Susu 0.40-0.60
Persentase lemak susu 0.40-0.70
Sapi Daging Berat lahir 0.20-0.30
Berat sapih 0.30-0.55
Berat panen 0.25
Domba Berat lahir 0.30-0.40
Berat wol 0.30-0.40
Ovulation Rate 0.60-0.80
Ilmu Pemuliaan Teinak Page 26
 
Korelasi genetik dan fenotipik berguna dalam beberapa hal:

1. Merupakan pengertian dasar suatu kekuatan respon berkorelasi, misalnya bila
korelasi genetik negatif, berarti penambahan suatu unit sifat yang diseleksi akan
menurunkan sifat lain yang berkorelasi
2. Mereka berguna untuk meningkatkan suatu sifat yang sulit diseleksi, misal
pengingkatan feed intake dapat dilakukan dengan menyeleksi berdasarkan
pertumbuhan
3. Parameter-parameter ini sangat penting dalam menduga nilai pemuliaan, jika
sifat yang diseleksi lebih dari satu maka digunakan Indeks Seleksi.

Korelasi fenotipik dapat ditulis dengan rumus:
r
Cov P P
V V
p
P P
=
( , )
( )( )
1 2
1 2


dan korelasi genetik:
r
Cov G G
V V
g
G G
=
( , )
( )( )
1 2
1 2


Dimana : P
1
= fenotipik sifat ke 1
P
2
= fenotipik sifat ke 2
G
2
= genetik sifat ke 1
G
2
= genetik sifat ke 2

Dugaan korelasi genetik dapat dilihat pada Tabel berikut:

Tabel 4.3. Korelasi Genetik pada beberapa Sifat
Sumber : Legates dan Warwick (1990) 
Jenis Ternak Sifat yang berkorelasi Korelasi Genetik
Sapi Perah Produksi susu/persentasi lemak -0.1 s/d -0.06
Produksi susu/persentasi protein -0.1 s/d -0.5
Produksi susu/produksi lemak 0.6 s/d 0.9
Berat lahir/berat sapih 0.2 s/d 0.4
Unggas Berat telur/berat badan 0.25 s/d 0.50
Jumlah telur/berat badan -0.20 s/d -0.60
Jumlah telur/berat telur -0.25 s/d -0.50
Ilmu Pemuliaan Teinak Page 27
 
KULIAH VI
HERITABILITAS

Heritabilitas pada umumnya diduga berdasarkan kemiripan, baik kemiripan diantara
kerabat sebapak dan atau seibu, ataupun kemiripan antara tetua dan anak. Kita mungkin
secara tidak sadar sering menilai kemiripan anak atau antara anak dan orang tuanya
didalam suatu keluarga; apakah anak-anak tersebut mirip diantara sesamanya atau
membandingkan kemiripan antara anak-anak tersebut dengan orang tuanya. Itu adalah
kemiripan pada sifat kualitatif. Pada sifat kuantitatif besarnya derajat kemiripan ini bisa
diduga besarnya dengan menggunakan analisis statistika.

Derajat kemiripan bisa dibedakan menjadi :
1. Kemiripan antara orang tua (bisa keduanya atau salah satu) dengan anak, dan
2. Kemiripan antara kerabat (anak) dengan salah satu orang tua, ini disebut Paternal
Half-Sib, dan kemiripan antar kerabat dengan kedua orang tuanya, ini disebut Full-
Sib.

Kemiripan antara tetua dan anak bisa diduga dengan analisis Regresi, sedangkan
kemiripan antara kerabat/sib bisa diduga dengan Analisis Varian (Anova). Pada tahun
1976 Patterson dan Thomson menulis metoda baru untuk menduga parameter genetik
dan fenotipik, yang disebut Analisis Restricted Maximum Likelihood (REML). Metoda ini
sampai sekarang banyak digunakan untuk menduga parameter karena mempunyai
kelebihan dibandingkan dengan analisis Anova. Kelebihannya adalah :

(1) Bisa menduga data dan blok yang hilang
(2) Cocok untuk data yang tidak seimbang (unbalance) yang banyak dijumpai di
lapangan, dan
(3) Bisa memasukan informasi dari tetua.

Derajat kemiripan dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu :
(1) Gena bersama
(2) Genotip bersama, dan
(3) Lingkungan bersama.

Hubungan antara kemiripan ke tiga faktor di atas dapat diungkapkan dalam suatu
persamaan:

2 2 2
=
= Kemiripan
c dD ah
V
V
V
V
d
V
V
a
P
EA
P
D
P
A
+ +
+ +


Dimana : a = hubungan gena-gena aditif
d = hubungan gena-gena dominan

Ilmu P
Kemir
hanya
gena-
diabai
biasan
Misaln
yang d

Sebel
mengg






Gamb

Pada
aditif
lebih
anak
umum
anak
oleh
memp
genot


Pemuliaan Te
ripan yang
a oleh gena
gena yang
ikan karena
nya muncul
nya anak-an
dikandangka
um kita me
gambarkan

A
2
1


bar 4.1. Das
Gambar 4.1
terhadap an
rumit karen
dengan fak
mnya induk
tergantung
genotip at
punyai poten
ip dan fenot
einak
disebabkan
a-gena aditif
bukan aditif
a pengaruhn
apabila ter
nak domba y
an yang men
mbahas sat
bagaimana



sar Penuruna
1. terlihat ba
naknya. Pad
a disamping
ktor lingkung
yang memb
pada produk
aupun feno
nsi genetik y
ip induk.
oleh gena
f. Kemiripan
f baik domi
nya kecil. Ke
rnak-ternak
yang dipeliha
nyebabkan p
tu persatu d
suatu sifat d


an Sifat dari
ahwa baik ja
da hewan m
g menurun
gan bersam
besarkan an
ksi susu ind
otip induk.
yang tinggi,
Anak
a bersama a
n yang dise
nan maupu
emiripan ya
tersebut me
ara bersama
perbedaan d
dasar pendu
dari tetua dit


1
2
Tetua Kepa
antan atau b
mamalia ya
nkan 1/2 ge
ma (LB). Ke
nak-anaknya
duk dan prod
Dengan k
tapi perform
adalah hub
ebabkan gen
n epistatis,
ng disebabk
endapat sua
a oleh satu
diantara kelo
ugaan nilai h
turunkan kep
A
ada Anaknya
betina hany
ng anaknya
na aditif, in
adaan ini d
a, misalnya
duksi susu t
kata lain w
mans merek
ungan yang
notip bersa
tetapi epist
kan lingkung
atu lingkung
induk, atau
ompok/famili
heritabilitas,
pada anak-a

a
ya menurun
a dibesarkan
duk juga m
disebabkan
pada mam
tersebut dipe
walaupun a
ka terpengar

Page 2
g disebabka
ma termasu
atis biasany
gan bersam
gan bersama
ternak-terna
.
Ilustrasi 2.
anaknya.
kan 1/2 gen
n oleh indu
mempengaru
karena pad
malia keadaa
engaruhi ba
anak-anakny
ruhi juga ole
28
an
uk
ya
ma
a.
ak
1.
na
k,
hi
da
an
aik
ya
eh
Ilmu Pemuliaan Teinak Page 29
 
Regresi antar Tetua dan Anak

Analisis regresi antar tetua dan anak dibedakan menjadi 2 analisis :
1. Regresi antara salah satu tetua (dengan bapak atau induk) dengan anak, dan
2. Regresi antara rata-rata tetua dengan anak

Hal-hal yang perlu diperhatikan pada analisis ini adalah;
1. Lingkungan antara anak dan tetua harus diasumsikan sama, dan pada kondisi
yang sama (misal umur yang sama),
2. Hubungan antara tetua dan anak di asumsikan dengan regresi linear. Kesulitan
sering timbul apabila anak-anaknya berbeda dalam tingkat produksinya dan
harus dirata-ratakan. Misal dalam menduga pertumbuhan, anak jantan dan
betina mempunyai tingkat pertumbuhan yang berbeda.


Persamaan umum regresi linear adalah :
Y = bx
Dimana Y = dugaan performans anak pada tetua tertentu
x = performans anak
B = koefisien regresi

dimana b
Cov x y
V
x
=
( , )

Pada analisis regresi salah satu tetua dengan anak h
2
=2b karena salah satu tetua
hanya menurunkan 1/2 dari keunggulan genetik kepada anaknya, atau:

b
Cov x y
V
Cov x y
V
Cov x y
V
b
x x
x
= =
=
( , ) ( , )
( , )
1
2
1
2
2 Jadi :

Atau h
2
= 2b

Pada regresi antara nilai tengah tetua dengan anak, h
2
= b karena ke dua tetua
tersebut menurunkan masing-masing 1/2 faktor genetiknya.

b
Cov x x y
V
Cov x y
V
Cov x y
V
b
p i
x x
x
=
+
=
=
[( ), ]
( , )
( , )
1
2
1
2
Jadi :


Ilmu Pemuliaan Teinak Page Su
 
Atau h
2
=b
Dimana : x
p
= performan pejantan
x
i
=performan induk

Half-Sib

Dalam half-sib individu-individu yang diamati berasal dari salah satu tetuanya, baik
yang jantan maupun yang betina, yang dikawinkan secara random/acak dalam suatu
populasi.

Polanya dapat digambarkan sebagai berikut:

Pejantan/Induk ............................................... Penjantan/induk ke n


Anak1 anak2 anak3....anak ke n Anak1 anak2 anak3....anak ke n

Gambar 4.2. Pola Haf-Sib

Pola half-sib dengan jantan sebagai tetua bersama lebih populer dibandingkan
dengan betina sebagai tetua bersama karena jantan biasanya mempunyai anak
lebih banyak dibandingkan dengan betina. Derajat kemiripan bisa diduga dengan
Intraclass Korelasi. Intraclass Korelasi mengukur derajat kemiripan anak didalam
suatu kelompok dibandingkan dengan kelompok yang lain berdasarkan tetua
bersama.

Misal untuk menduga derajat kemiripan berdasarkan pejantan bersama, kemiripan
diantara kerabat diungkapkan dengan kemiripan gena-gena aditif dan dapat ditulis
dengan
V
V
A
P
. Karena pejantan/betina menurunkan 1/2 gena aditif ke anak-anaknya,
intraclass korelasi (t) atau kemiripan antara anak adalah:

p
A
P
A
P
A
p
A
V
V
t h
V
V
t
V
V
V
V
t
4 4 : demikian Dengan
4 : Atau
4
1
2
2
1
= =
=
= =

Ilmu Pemuliaan Teinak Page S1
 
Full-Sib

Pendugaan nilai heritabilitas dengan analisis full-sib sedikit lebih rumit dibandingkan
dengan dengan analisis half-sib karena ragam dominan dan lingkungan bersama ikut
terlibat. Full-Sib mempunyai dua tetua bersama baik bapaknya atau induknya.
Polanya dapat digambarkan sebagai berikut:

Pejantan............................................... Pejantan ke n

Induk1 induk2 ............................................. induk ke n

Anak1 Anak 2 Anak ke n Anak1 Anak 2 Anak ke n

Gambar 4.3. Pola Full-Sib

Kedua tetua tersebut menurunkan masing-masing 1/2 gena-gena aditifnya. Apabila
kemiripan diungkapkan dengan Intraclass Korelasi (t), maka:


t h
V
V
V
V V
V
V V
t
P
A
p
A A
p
A A
p i p i
2 Jadi
2
1
=
2
4
1
4
1
2
1
2
1
= ⇒⇒
+
=
+
=


Pendugaan bukan Berdasar Analisis Statistika
Nilai heritabilitas bisa diduga dengan tidak berdasarkan analisis statistik, yaitu
dengan berdasarkan hasil seleksi. Hasilnya disebut Realised Heritability.
Pendugaan ini akan dibahas pada materi seleksi.

Animal Model

Sekarang pendugaan nilai heritabilitas dilakukan dengan Animal Model. Semua
ternak baik penjantan, induk, tetua turut diperhitungkan dalam analisis. Dengan
demikian nilai heritabilitas adalah langsung perbandingan ragam genetik dengan
ragam fenotipik, atau dapat ditulis sebagai berikut :

p
A
V
V
h =
2


Ilmu Pemuliaan Teinak Page S2
 
KULIAH VII
NILAI PEMULIAAN

Dalam pemuliaan ternak, pemilihan ternak ternak terbaik berdasarkan keunggulan
genetik, karena faktor ini akan diturunkan pada anak anaknya. Nilai Pemuliaan (NP)
merupakan suatu ungkapan dari gena-gena yang dimiliki tetua dan akan diturunkan
kepada anak-anaknya. Sampai sekarang belum ada metoda yang bisa pasti menduga
nilai pemuliaan, tapi hanya menduga saja. Nilai Pemuliaan dari seekor ternak adalah 1/2
dari NP induknya dan 1/2 lagi dari NP bapaknya (Gambar 6.1.).
Induk Bapak
0.5 NP 0.5 NP


Anak

Gambar 6.1. Penurunan Nilai Pemuliaan dari Tetua

NP dapat diduga berdasarkan informasi (catatan performa) dari:

1. Performa ternak itu sendiri
2. Performa saudara-saudaranya
3. Performa tetuanya, atau
4. Gabungan ke tiganya

Pada materi ini akan membahas pendugaan NP yang hanya berdasarkan catatan ternak
itu sendiri. Prinsip pendugaannya dapat digambarkan sebagai berikut :





NP

Fenotip

Gambar 6.2. Prinsip Dasar Nilai Pemuliaan

Ilmu Pemuliaan Teinak Page SS
 
Diasumsikan hubungan antara Fenotip dan NP adalah linier. Persamaannya dapat
diungkapkan sebagai berikut:

NP = bP
Dimana : NP = nilai pemuliaan
b = koefisien regresi
P = fenotip

Apabila pendugaan hanya berdasarkan catatan dari ternak-ternak bersangkutan,
maka b = h
2
, sehingga persamaannya dapat diungkapkan :

NP = h
2
P

Mengapa menjadi h
2
?
b adalah koefisien regresi linear untuk menduga nilai genetik berdasarkan catatan
fenotipik. Nilai genetik di sini bisa nilai genotip atau hanya nilai genetik aditif saja.
Kita misalkan nilai genetik hanya diwakili oleh efek gena aditif :
b
Cov A P
V
P
=
( , )


A
V A A Cov P A Cov
E A Cov Jika E A Cov A A Cov
E A A Cov P A Cov
= =
= + ⇒ + +
+ =
) , ( ) , (
Jadi , 0 ) ( ) ( ) , ( =
) , ( ) , (

Jadi
b
V
V
h
A
P
= =
2


Banyak para akhli pemuliaan ingin membandingkan ternak-ternak yang berada
dalam satu populasi dengan rekan-rekannya, misalnya apakah NP ternak yang satu
berada dibawah rata-rata atau di atas rata rata NP populasi. Rumus di atas
dimodifikasi kembali menjadi:

populasi rata - Rata
an bersangkut individu Catatan dimana
) (
2
=
=
− =
P
P
P P h NP
i
i


Ilmu Pemuliaan Teinak Page S4
 
Contoh 1:
Rata-rata bobot badan domba Priangan = 65 kg, dengan h
2
= 0.30. Diasumsikan
bahwa tidak ada pengaruh jenis kelamin, umur induk, liter size, dan faktor lain yang
mempengaruhi bobot badan dewasa. Domba jantan X mempunyai bobot 80 kg.

(1) Berapa nilai pemuliaan domba X?
(2) Bila pejantan X tadi dikawinkan dengan betina Y yang mempunyai bobot badan
sama dengan bobot badan rata-rata dalam populasi, berapa perkiraan bobot
badan anaknya?
(3) Apabila dikawinkan dengan betina Z yang bobot badannya 70 kg, berapa
perkiraan bobot anaknya?

Jawab:
(1) Nilai Pemuliaan domba X:

kg 4.5 =
) 65 80 ( 3 . 0 ) (
2
− = − = P P h NP
X


(2) Nilai Pemuliaan domba Y, karena bobot badannya termasuk rata-rata dalam
populasi, maka nilainya adalah 0.
Nilai Pemuliaan anaknya:

NP kg
ANAK
=
+
=
4 5 0
2
2 25
.
.

Kemungkinan bobot badan anaknya: 65 kg + 2.25 kg = 67.25 kg

(3) Nilai Pemuliaan domba Z :


kg 1.5 =
) 65 70 ( 3 . 0 ) (
2
− = − = P P h NP
Z


NP anaknya:
4 5 1 4
2
3
. . +
= kg

Kemungkinan bobot badan anaknya: 65 kg +3 kg = 68 kg

Ilmu Pemuliaan Teinak Page SS
 
Contoh 2:
Berikut ini adalah produksi susu laktasi pertama dari lima ekor ternak :

No. Ternak Produksi (liter)
1 3100
2 3500
3 2800
4 3600
5 3550

Nilai heritabilitas untuk produksi susu adalah 0,3.

Rata-rata produksi susu ( P ) =
5
3550 3600 2800 3500 3100 + + + +
= 3300 liter

Nilai pemuliaan untuk masing-masing ternak adalah :

No. Ternak Nilai Pemuliaan
1 0,3 (3100-3300) = - 60
2 0,3 (3500-3300) = +60
3 0,3 (2800-3300) = -150
4 0,3 (3600-3300) = +90
5 0,3( 3550-3300) = +75

Kalau ternak-ternak tersebut diranking dari yang terbaik sampai yang terjelek, maka
urutannya adalah ternak no. 4, 5, 2, 1, dan 3. Nilai duga +90 untuk ternak no. 4
menunjukan bahwa ternak tersebut secara genetik unggul 90 liter dari rata-rata
populasinya. Dengan demikian kalau kita menyeleksi ternak, maka ranking di atas
harus diperhatikan.


Catatan Berulang

Dalam banyak kasus, suatu sifat mungkin diukur beberapa kali, misalnya berat badan
pada sapi potong, produksi susu pada sapi perah, dan banyak lagi sifat yang lain.
Kemiripan diantara catatan ini diungkapkan dengan repitabilitas. Penentuan
beberapa parameter genetikpun bisa menggunakan catatan berulang, misalnya
heritabilitas catatan berulang dan nilai pemuliaan catatan berulang. Pendugaan
parameter dengan catatan berulang biasanya lebih cermat dibandingkan dengan
catatat tunggal, tetapi memerlukan waktu yang lebih lama dan ini tidak menguntungan
bila diterapkan dalam program seleksi.

Heritabilitas Catatan Berulang

Untuk catatan berulang fenotipnya diukur lebih dari satu kali, misalnya n kali
sehingga nilai heritabilitas catatan berulangnya adalah :


Ilmu Pemuliaan Teinak Page S6
 
r n
nh
h
x
) 1 ( 1
2
2
− +
=


dimana n = jumlah catatan, dan r = nilai repitabilitas

Nilai Pemuliaan Catatan Berulang

Pendugaan nilai pemuliaan catatan berulang pada dasarnya sama dengan
pendugaan heritabilitas melalui catatan tunggal, yang berbeda hanya koefisien
regresinya saja. Kalau dengan catatan tunggal b = h
2
, maka untuk catatan berulang
h
nh
n r
2
2
1 1
=
+ − ( )

Dengan demikian, rumus Nilai Pemuliaan catatan berulang adalah:

NP
nh
n r
P P
X
i
=
+ −

2
1 1 ( )
( )


Most Probable Producing Ability (MPPA)

MPPA adalah suatu nilai pendugaan kemampuan produksi dari seekor ternak yang
diungkapkan dalam suatu deviasi didalam suatu populasi. Metoda ini sering
digunakan pada sapi perah. Rumusnya adalah:

MPPA
nr
n r
P P
i
=
+ −

1 1 ( )
( )

Dimana: n = jumlah catatan
r = nilai repitabilitas


nr
n r 1 1 + − ( )
merupakan koefisien regresi untuk menduga keunggulan
seekor/sekelompok ternak dalam suatu populasi berdasarkan n catatan.

Rumus ini mirip dengan rumus pendugaan Nilai Pemuliaan Catatan Berulang,
perbedaanya adalah pada pembilang. Pada MPPA menggunakan repitabilitas(r),
sedangkan pada NP catatan berulang menggunakan heritabilitas (h
2
). Dengan
demikian NP catatan berulang berguna untuk menduga keunggulan genetik yang
mungkin diturunkan pada anaknya, tetapi MPPA berguna untuk menduga
keunggulan seekor/kelompok individu untuk mengulang produksinya.

Ilmu Pemuliaan Teinak Page S7
 
KULIAH VIII
SELEKSI

Pengertian Seleksi

Dalam konteks pemuliabiakan ternak seleksi adalah suatu proses memilih ternak yang
disukai yang akan dijadikan sebagai tetua untuk generasi berikutnya. Tujuan umum dari
seleksi adalah untuk meningkatkan produktivitas ternak melalui perbaikan mutu bibit.
Dengan seleksi, ternak yang mempunyai sifat yang diinginkan akan dipelihara,
sedangkan ternak-ternak yang mempunyai sifat yang tidak diinginkan akan disingkirkan.

Dalam melakukan seleksi, tujuan seleksi harus ditetapkan terlebih dahulu, misal pada
ayam, tujuan seleksi ingin meningkatkan produksi telur, berat telur, atau kecepatan
pertumbuhan.

Kemajuan Seleksi atau Respon Seleksi dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:
1. Seleksi diferensial (S)
2. Heritabilitas (h
2
)
3. Interval generasi (l)

Seleksi Diferensial (S)

Seleksi diferensial adalah perbedaan rata-rata performan individu-individu yang
terseleksi dengan rata-rata performan individu-individu pada populasi awal. Atau
dengan kata lain, seleksi diferensial adalah keunggulan ternak-ternak yang terseleksi
terhadap rata-rata populasi (keseluruhan ternak sebelum diseleksi).

Contoh 1:
Rata-rata produksi susu laktasi satu sapi Fries Holland yang terseleksi adalah 3500
liter, sedangkan rata-rata produksi populasi adalah 3300 liter.

Seleksi diferensial (S) = 3500-3300 liter = 200 liter.

Kalau sifat tersebut dapat diukur pada ternak jantan dan betina, maka seleksi
biasanya dilakukan secara terpisah. Seleksi diferensial-nya adalah rata-rata dari
keduanya.

Contoh 2:
Rata-rata bobot sapih dari suatu populasi (seluruh ternak) domba Priangan yang
betina adalah 9 kg dan yang jantan 13 kg. Rata-rata bobot sapih ternak-ternak yang
terseleksi yang betina adalah 12 kg dan yang jantan 15 kg.
S

= 15 – 13 kg = 2 kg
S

= 12 – 9 kg = 3 kg
Rata-rata Seleksi Diferensial (S) =
2
2 3+
= 2,5 kg
Ilmu Pemuliaan Teinak Page S8
 
Heritabilitas

Pengertian heritabilitas telah dijelaskan pada bab sebelumnya. Nilai heritabilitas
menunjukan keragaman genetik ternak didalam populasi. Secara kontras jika h
2
= 0,
maka tidak ada gunanya kita melakukan seleksi. Semakin tinggi nilai heritabilitas,
semakin cepat kemajuan seleksi yang diharapkan.

Interval Generasi

Interval generasi dapat diartikan sebagai rata-rata umur tetua/induk ketika anaknya
dilahirkan. Setiap jenis ternak mungkin mempunyai interval generasi yang berbeda.
Interval generasi dipengaruhi oleh umur pertama kali ternak tersebut dikawinkan dan
lama bunting, dengan demikian interval generasi sangat dipengaruhi oleh faktor
lingkungan seperti pakan dan tatalaksana. Pemberian pakan yang jelek dapat
memperpanjang interval generasi. Semakin cepat/pendek interval generasi, semakin
cepat perbaikan mutu bibit yang diharapkan. Interval generasi untuk beberapa jenis
ternak tersaji pada Tabel 7.1.

Tabel 7.1. Interval Generasi untuk beberapa Jenis Ternak

Jenis Ternak Interval Generasi (Tahun)
Sapi perah
5-6
Sapi pedaging 4-5
Domba 3-5
Kambing 3-5
Ayam ¾ - 1 ½
Kuda 9-13
Babi 2-4

Dugaan Kemajuan Seleksi/Respon Seleksi

Respon Seleksi atau Kemajuan Seleksi adalah perbandingan antara rata-rata performan
anak dengan rata-rata performan tetua. Kemajuan Seleksi atau Respon Seleksi
menunjukan keberhasilan suatu program seleksi.
Sebagai contoh: rata-rata produksi telur ayam generasi ke 1 adalah 270 butir/tahun. Rata
produksi telur anak-anaknya (generasi ke 2) setelah seleksi adalah 280 butir/tahun.
Kemajuan Seleksinya adalah 280 – 270 butir = 10 butir per generasi.
Para pemulia sering ingin mengetahui respon seleksi sebelum anak-anaknya lahir, ini
disebut Dugaan Respon Seleksi atau Dugaan Kemajuan Seleksi yang ditulis dengan
notasi R. Dugaan respon seleksi sebanding dengan seleksi diferensial (S) dan nilai
heritabilitas (h
2
). Jadi semakin tinggi nilai heritabilitas dan atau seleksi diferensial,
semakin tinggi kemajuan seleksi yang diharapkan.
Ilmu Pemuliaan Teinak Page S9
 
Dugaan Kemajuan seleksi dapat diduga dengan rumus sebagai berikut :

R = Sh
2
Dimana : R = Dugaan kemajuan seleksi per generasi
S = Seleksi diferensial
h
2
= Heritabilitas

Apabila kita ingin mengetahui dugaan kemajuan seleksi per tahun maka rumusnya
menjadi:

l
Sh
R
2
=
Dimana : l = interval generasi

Contoh 3:

Rata-rata bobot sapih domba Priangan dalam populasi adalah 15 kg. Rata-rata ternak
domba terseleksi adalah 18 kg. Nilai heritabilitas bobot sapih adalah 0,3 dan interval
generasi rata-rata 3 tahun. Berapa dugaan kemajuan seleksi per generasi dan per tahun?
• Seleksi diferensial (S) = 18-15 kg = 3 kg
• Dugaan kemajuan seleksi per generasi (R) = 3 x 0,3 = 0,9 kg
• Dugaan rata-rata populasi bobot sapih domba Priangan generasi berikutnya
adalah 15 + 0,9 kg = 15,9 kg
• Dugaan kemajuan seleksi per tahun (R) =
3
3 , 0 3x
= 0,3 kg
• Dugaan rata-rata populasi bobot sapih domba Priangan tahun berikutnya adalah
15+0,3 kg = 15,3 kg


Intensitas Seleksi dan Seleksi Diferensial

Intensitas seleksi (i) adalah persentase individu yang akan dijadikaan tetua untuk
generasi berikutnya, atau persentasi individu yang akan diberi peluang untuk
memberikan keturunan. Dalam suatu populasi misalnya dipilih 10% terbaik berdasarkan
potensi genetik, yang dipilih sebagai tetua, sedangkan yang 90% lagi tidak diberi
kesempatan untuk memberikan keturunan (sebagai ternak produksi atau diafkir).
Semakin tinggi intensitas seleksi, semakin ketat seleksi, dengan demikian semakin tinggi
harapan kemajuan genetik.

Seleksi diferensial adalah perbedaan rata-rata performan individu-individu yang terseleksi
dengan rata-rata performan individu-individu pada populasi awal. Untuk mempermudah
pengertian intensitas seleksi dan seleksi diferensial, disajikan pada Ilustrasi 7.1., dengan
asumsi bahwa sifat yang diteliti menyebar secara normal.
Ilmu Pemuliaan Teinak Page 4u
 





Z(δ
P
)
x
o
x
1

Illustrasi 7.1. Seleksi Diferensial

Dimana: x
o
= rata-rata populasi awal
x
1
= rata-rata individu terseleksi

x x i
o
P 1
= + σ

Seleksi Diferensial (S) o x x − = 1

Atau:


Jadi
S i
P
= σ


Dimana : S = seleksi diferensial
i = intensitas seleksi
σ
P

= simpangan baku fenotip

Nilai i dapat dilihat pada Tabel 7.2.

Tabel 7.2. Nilai Intensitas Seleksi

Terpilih ((%) Nilai i Terpilih ((%) Nilai i
5 2,06 50 0,80
10 1,76 60 0,64
15 1,55 70 0,50
20 1,40 80 0,35
25 1,27 90 0,20
30 1,66
40 0,97
Individu 
Terseleksi 
Poiixσ=+=(
Ilmu Pemuliaan Teinak Page 41
 
Intesitas seleksi dan interval generasi merupakan suatu pembatas biologis dalam
program seleksi, keadaannya berhubungan dengan sifat reproduksi suatu bangsa ternak.
Semakin banyak anak yang dihasikan, semakin ketat suatu program seleksi.

Berkembangnya bioteknologi reproduksi sangat membantu meningkatkan respon seleksi,
misalnya dengan super ovulasi dan alih janin dapat memperbanyak jumlah anak yang
dihasilkan baik pada jantan ataupun betina. Teknologi tersebut dapat memperpendek
interval generasi dan meningkatkan intensitas seleksi karena meningkatnya kontribusi
ternak ternak muda pada generasi berikutnya dan lebih banyak anak yang dihasilkan.

Dalam dunia peternakan, persentase ternak yang akan diseleksi perlu mendapat
perhatian karena akan berhubungan dengan besarnya populasi. Persentasi ternak-ternak
yang akan dipilih sebagai bibit tersaji pada Tabel 7.3.

Tabel 7.3. Persentase Ternak Terpilih
Jenis Ternak
Persentase Ternak Terpilih
Betina Jantan
Sapi 50 - 65 0,5 - 1
Domba 30 - 45 0,5 - 1
Babi 5 - 10 0,1 - 0,3
Kuda 25 - 40 0,5 - 1
Ayam 10 - 20 0,5 - 2

Kecermatan Seleksi

Pada program seleksi kita memilih ternak berdasarkan nilai pemuliaannya. Ternak-ternak
tersebut disusun mulai dari yang mempunyai nilai pemuliaan tertinggi sampai yang
terendah. Tetapi nilai pemuliaan yang kita tentukan adalah nilai pemuliaan dugaan,
bukan nilai pemuliaan sesungguhnya. Sayangnya nilai pemuliaan sesungguhnya tersebut
tidak bisa diungkapkan tapi kita hanya menduga dengan nilai pemuliaan dugaan
berdasarkan catatan fenotip. Untuk mengetahui apakan nilai pemuliaan yang kita duga
(nilai pemuliaan dugaan) mendekati nilai pemuliaan yang sebenarnya, dapat ungkapkan
dengan korelasi. Korelasi antara nilai petunjuk yang kita gunakan (dalam hal ini fenotip)
dengan nilai pemuliaan yang sesungguhnya disebut Kecermatan Seleksi. Untuk catatan
tunggal kecermatan seleksi dapat diungkapkan dengan:


r
Cov A P
V xV
AP
A P
=
( , )


Dimana Cov(A,P)= peragam antara nilai pemuliaan sesungguhnya dengan fenotip yang
kita gunakan sebagai petunjuk (clue).
Ilmu Pemuliaan Teinak Page 42
 
Rumus tersebut dapat di modifikasi : Cov(A,P)=V
A


Dengan demikian:


r
V
V xV
V xV
V xV
V
V
AP
A
A P
A A
A P
A
P
= = =


V
V
h
A
P
=
2
, dengan demikian kecermatan seleksi catatan tunggal (r
AP
) adalah:
r h atau h
AP
=
2



Jadi kecermatan seleksi catatan tunggal sebanding dengan akar heritabilitas, dengan
demikian semakin tinggi nilai heritabilitas, semakin cermat suatu progam seleksi.


LEBIH JAUH TENTANG RESPON SELEKSI

Dugaan Kemajuan seleksi atau respon seleksi seperti terdahulu dapat diungkapkan
dengan rumus:
R = Sh
2

karena S i
P
= σ
Rumus di atas dapat diungkapkan pula dengan :
R = h
2
i
P
σ
Apabila seleksi diferensial antara jatan dan betina tidak sama, maka diambil rata-ratanya:
S
S S
x
j b
=
+
2

dimana S
x
= seleksi diferensial rata-rata
S
j
= seleksi diferensial jantan
S
b
= seleksi diferensial betina

Ilmu Pemuliaan Teinak Page 4S
 
Rumus respon seleksi di atas dapat dimodifikasi kembali:
R= h
2
i
P
σ atau
V
V
i
A
P
P
σ
karena σ σ
P P P P
V atau V = =
2
dan σ σ
A A A A
V atau V = =
2
, juga :
h
V
V
A
P
2
= , jadi:
i R
A
P
A
σ
σ
σ
= , atau i h R
A
σ =
h =nilai kecermatan=r
AP
, dengan demikian:

R r i
AP A
= σ


dimana : R = respon seleksi
i = intensitas seleksi
σ
A
= simpangan baku genetik

Sering para pemulia mengungkapkan respon seleksi per tahun bukan per generasi,
respon seleksi per tahun adalah respon seleksi per generasi dibagi dengan interval
generasi, atau:
R
r i
l
AP A
=
σ

dimana l =interval generasi
Apabila intensitas seleksi, kecermatan seleksi, dan interval generasi dilakukan secara
terpisah untuk jantan dan betina, maka rumus di atas dapat dimodifikasi kembali:
R
r i r i
l l
x
AP j AP b
j b
A
=
+
+
[( ) ( ) ]
[ ]
2
2
σ
, atau

R
r i r i
l l
x
AP j AP b
j b
A
=
+
+
[( ) ( ) ]
[ ]
σ

dimana subcript b = betina
j = jantan
Ilmu Pemuliaan Teinak Page 44
 
Contoh
Rata-rata bobot sapi jantan umur satu tahun adalah 300 kg dan sapi betina 270 kg. Nilai
h
2
= 0,25 dan σ
p
= 30 kg.

a. Berapa Bobot badan rata-rata 10% jantan terbaik:
S ix i
j p
= ⇒ = = σ 10% 1 755 ,
kg x S
j
65 , 52 30 755 , 1 = = , superior di atas rata-rata.
Jadi bobot rata-rata 10% terbaik adalah 352,62 kg.

b. Apabila jantan tersebut dikawinkan dengan betina secara acak :
( )
kg x x
h i i R
p b j
58 , 6 30 25 , 0 ) 0 755 , 1 (
2
1

2
1
2
= + =
+ = σ

Jadi anak-anaknya unggul 6,58 kg dari tetuanya.
• Dugaan bobot badan anak sapi jantan satu tahun = 300 + 6,58 kg = 306,58 kg
• Dugaan bobot badan anak sapi betina satu tahun = 275 + 6,58 kg = 281,58 kg

c. apabila sapi jantan tersebut dikawinkan dengan 50% sapi betina terbaik :
i
j
=1,755
i
b
=0,798

Respon seleksi :
( )
R i i h
x x kg
j b p
= +
= + =
1
2
1
2
1 755 0 798 0 25 30 9 57
2
σ
( , , ) , ,

• Dugaan bobot badan anak sapi jantan satu tahun = 300 + 9,57 kg = 309.57 kg
• Dugaan bobot badan anak sapi betina satu tahun = 275 + 9,57 kg = 284,57 kg

Respon Seleksi Catatan Berulang

Pada catatan berulang :
b h
nh
n r
AP x
= =
+ −
2
2
1 1 ( )

Ilmu Pemuliaan Teinak Page 4S
 
Diferensial seleksi menjadi :

S ix V ix
n r
n
V ix
n r
n
P
P P
= =
+ −
=
+ − 1 1 1 1 ( ) ( )
σ

Respon seleksi menjadi :

r n
n
x
n
r n
x x ixh R
P n
) 1 ( 1
) 1 ( 1
2
− +
− +
= σ
n
r n
x x ixh R atau
P n
) 1 ( 1
=
2
− +
σ

Ilmu P

Pada

Dalam
evalua
seleks
sendir

Selek

Se
dig
(1
(2

Se
pe
pe
se
Ilustra
Pemuliaan Te
dasarnya, s
(1) Seleks
(2) Seleks
(3) Uji Zur
m melakuka
asi. Pada da
si berupa ca
ri, (2) catata
ksi Individu
eleksi indivi
gunakan unt
) Fenotip te
) Nilai herita
eleksi bisa
emuliaan. Da
emuliaan ter
esuai keperlu
asi 1 : Seleks
einak
seleksi dapat
si individu
si Famili
riat (Uji Ketu
an seleksi,
asarnya cat
atatan fenot
n fenotip da
(Individual
idu adalah
tuk memper
rnak yang b
abilitas atau
dilakukan
alam aplikas
rnak jantan
uan untuk pe
si Individu
K
METO
t dibedakan
urunan/Proge
diperlukan
tatan atau r
tip yang bis
ri saudara-s
Selection)
metoda se
baiki potens
ersangkutan
keragaman
dengan me
si di lapanga
dan betina
engganti.
ULIAH IX
ODA SELEK
menjadi :
eny Test)
suatu catat
ekording ya
sa berasal d
saudaranya,
eleksi yang
si genetik ter
n bisa diukur
genetik ting
emilih terna
an, jika mem
dipisah, ke
KSI
tan atau re
ang biasa di
dari : (1) Ca
dan atau (3
g paling se
rnak. Seleks
r baik pada j
ggi.
ak-ternak te
mungkinkan,
emudian dip
ekording se
gunakan da
atatan peno
) gabungan
ederhana pa
si ini sering d
jantan atau
erbaik berda
nilai heritab
pilih ternak-t
Page 4
ebagai baha
alam progra
otip ternak it
keduanya.
aling banya
dilakukan jika
betina
asarkan nil
ilitas dan nil
ernak terba
46
an
m
tu

ak
a:
ai
ai
aik

Ilmu Pemuliaan Teinak Page 47
 
Pada ayam pedaging, seleksi individu sering dan lebih mudah dilakukan karena sifat
tumbuh bisa diukur langsung baik pada jantan ataupun betina. Demikian juga
lingkungan yang diberikan biasanya sama, seperti dalam satu kandang ayam-ayam
berasal dari tetasan yang sama, pakan sama, dan perlakuan yang sama. Sering
seleksi hanya berdasarkan pertimbangan fenotip saja tidak perlu menduga nilai
pemuliaan.

Seleksi individu akan semakin rumit apabila banyak faktor yang mempengaruhi
fenotip, seperti pada domba, babi, dan sapi perah. Pada domba misalnya, faktor yang
mempengaruhi bobot badan sangat banyak, seperti jenis kelamin, tipe kelahiran,
paritas induk, dan musim waktu ternak-ternak tersebut dibesarkan. Apabila faktor-
faktor ini tidak diperhatikan, ketepatan memilih ternak akan berkurang. Sebagai
contoh, apabila kita ingin memilih domba berdasarkan beratnya saja, maka yang akan
terpilih adalah domba-domba jantan yang berasal dari kelahiran tunggal, padahal
domba yang berasal dari kelahiran kembar mungkin mempunyai potensi genetik
tinggi. Karena pengaruh dari induk mulai dari uterus sampai mereka disapih, domba-
domba yang berasal dari kelahiran kembar akan lebih kecil dibandingkan dengan
yang berasal dari kelahiran tunggal walaupun bapak dan ibunya sama. Dalam
pendugaan nilai pemuliaan, faktor-faktor yang mempengaruhi fenotip harus
diperhatikan dan dipertimbangkan dalam evaluasi.

Seleksi Keluarga (Family Selection)

Dalam suatu program seleksi, sangat sering sifat yang diamati variasinya kecil atau
ternak-ternak diberi perlakuan khusus sehingga tidak bisa dipakai sebagai ternak
pengganti. Untuk kasus semacam ini, seleksi keluarga bisa dilakukan dengan
mempertimbangkan informasi atau catatan dari saudara-saudaranya. Seleksi
keluarga biasa dilakukan apabila:
(1) Nilai heritabilitas rendah
(2) Ternak betina banyak menghasilkan keturunan, dan
(3) Ternak diberi perlakuan khusus sehingga tidak bisa dipakai sebagai ternak
pengganti.

Sebagai contoh pada ayam, suatu seleksi ditujukan untuk mencari ayam-ayam yang
tahan terhadap penyakit spesifik. Anak-anak ayam dari satu keluarga (satu keluarga
berasal dari satu jantan dan satu betina) dibagi menjadi dua kelompok ; satu
kelompok untuk ayam pengganti, dan kelompok lain yaitu ayam-ayam yang dipakai
untuk percobaan yang diberi perlakuan penyakit. Ayam yang diberi perlakuan
penyakit tidak bisa dipakai sebagai pengganti, karena ternak-ternak pengganti harus
bersih dari penyakit (Ilustrasi 2). Hasil test kemudian dievaluasi dan ayam-ayam
pengganti yang dipakai adalah anak-anak ayam yang berasal dari famili terbaik
berdasarkan daya tahan dari performa saudara-saudaranya.



Ilmu P
Ilustra

Uji Zu

Se
pr
jug
be

Uj
pe
pe
zu



Pemuliaan Te
asi 2 : Seleks
uriat (Uji Ke
ering suatu
oduksi susu
ga sangat p
etina. Apabila
i Zuriat ada
erforman ata
ejantan kare
uriat tergantu
1. Pejant
anak y
2. Penga
mengh
jelek.
3. Jumlah
per pej
4. Jangan
5. Anak-a
mempe

einak
si Famili
turunan/Pro
sifat hanya
u. Tetapi keu
penting, kar
a keadaan in
alah suatu
au tampilan
na pejantan
ung pada sy
an diuji seb
yang dihasilk
awinan peja
hindari janta
h anak per
jantan ).
n dilakukan
anaknya s
erbandingka
ogeny Test
a muncul p
unggulan po
ena pada u
ni terjadi, ma
uji terhadap
dari anak-a
biasanya b
arat-syarat s
banyak-bany
kan).
antan deng
n-jantan me
pejantan di
seleksi terha
seharusnya
an.
)
pada salah
otensi genet
umunya tern
aka bisa dila
p seekor at
anaknya. Uji
anyak meng
sbb:
yaknya (min
gan betina
engawini be
usahakan s
adap anak-a
diperlakuk
satu jenis
ik ternak jan
nak jantan d
akukan uji Zu
au sekelom
i ini lazim d
ghasilkan ke
imal 5 – 10
a dilakukan
etina yang sa
ebanyak mu
anaknya seb
kan sama
kelamin sa
ntan untuk p
dapat meng
uriat.
mpok ternak
digunakan u
eturunan. Ke
0 ekor terga
n secara
angat bagus
ungkin (min
belum uji sel
untuk m
Page 4
aja, misalny
produksi sus
awini banya
berdasarka
ntuk evalua
eberhasilan u
antung jumla
acak untu
s atau sanga
imal 10 ana
esai.
mempermuda
48

ya
su
ak
an
asi
uji
ah
uk
at
ak
ah
Ilmu P
Ilustra

SELE

Da
dil
da
Se
sif
pe
da
me

Ad


Selek

Da
Se
dip
tid
se
aw
ke

Pemuliaan Te
asi 3: Uji Zur
EKSI LEBIH
alam suatu
lakukan, ke
ahulu. Biasa
ebagai conto
fat yang d
ertambahan
alam memb
enunjang un
da 3 cara un
1. Seleksi
2. Seleksi
3. Seleksi
ksi Tandem
alam hal ini
etelah sifat y
perbaiki. Se
dak saling te
eleksi tandem
wal, misalny
eseragaman
einak
riat
DARI SATU
program p
ecuali untuk
anya para p
oh pada dom
dipertimbang
bobot bada
esarkan an
ntuk mendap
ntuk melakuk
tandem (Ta
batasan sis
indeks (Inde
seleksi ata
yang pertam
eleksi ini ba
erikat. Jika s
m biasanya
ya keseraga
tercapai, ca
U SIFAT
pemuliaan,
mendapatk
emulia mem
mba, untuk m
gkan adala
an, (3) jumla
nak. Ke em
patkan produ
kan seleksi j
andem selec
sihan/penyin
ex selection
u perbaikan
a mencapai
aik dilakukan
saling terika
dilakukan
aman warna
ara seleksi la
seleksi ber
kan keserag
mpertimbang
mendapatka
ah: (1) bo
ah anak perk
mpat sifat te
uksi daging t
ika sifat yan
ction)
gkiran seca
)
n dilakukan
tingkat yang
n jika sifat-s
at keadaan i
untuk mem
a bulu dan k
ain baru dite
rdasarkan s
gaman sua
gkan paling
an tujuan pro
obot badan
kelahiran, da
ersebut san
tinggi.
ng dipertimba
ra bebas (In
terhadap sa
g diinginkan
sifat yang m
deal akan s
bentuk kese
keseragama
rapkan.
satu sifat s
tu sifat tert
sedikit 3 sif
oduksi dagin
saat dip
an (4) kema
gat penting
angkan lebih
ndependent c
atu sifat ter
, sifat kedua
menjadi tuju
sulit dicapai.
eragaman p
an bobot ba
Page 4
angat jaran
tentu terleb
fat sekaligu
ng yang ting
asarkan, (2
ampuan indu
g dan sanga
h dari satu :
culling level)
rlebih dahul
a baru dimul
an perbaika
. Pada ayam
pada popula
adan. Setela
49

ng
ih
s.
gi
2)
uk
at
)
u.
ai
an
m,
asi
ah
Ilmu P
Selek

De
dib
ter
su
ap
se
Selek

Se
se
ko
me
me
lai

Se
Pe
wa

Ta
ind

Pemuliaan Te
ksi Batasan
engan cara
beri tingkat/b
rnak yang a
usu 3 000 li
pabila tidak
ehingga stan
ksi Indeks
eleksi indek
eragam. Unt
orelasi gene
elakukan s
empertimba
in. Pemilihan
ebagai conto
erformanya
aktu 3 bulan
abel 1 men
deks dapat d
einak
Sisihan
ini seluruh
batas/standa
kan dipilih m
iter pada la
ada terna
ndard harus
ks banyak
tuk keakurat
etik, dan ko
seleksi, pem
ngkan samp
n ternak akh
oh, 10 ekor
tercantum p
(dalam buti
unjukan ba
dibentuk den
sifat pentin
ar ideal yang
menjadi bibit
ktasi pertam
k-ternak ya
diturunkan.
digunakan
tan seleksi
orelasi fenot
mbobotan n
pai berapa j
hirnya diduga
r ayam beti
pada Tabel
ir) dan rataa
agaimana m
ngan rumus:
ng dipertimb
g diinginkan
t adalah tern
ma dan kad
ang mempu
pada pete
ini, pareme
tip antara s
nilai untuk
auh sifat ya
a berdasarka
ina akan di
1. Sifat pe
an berat telur
membuat ind
:
bangkan sec
n. Misalnya p
nak-ternak ya
ar lemak 4%
nyai tingkat
ernakan ya
eter genetik
sifat harus
setiap sifa
ang satu leb
an nilai inde
seleksi berd
ertama adal
r selama 3 b
deks berdas
cara bersam
pada sapi pe
ang mempu
%. Keputus
t/batas yan
ang lingkun
seperti nila
diketahui. S
at diperhitu
ih penting d
eks.
dasarkan se
ah produks
bulan (dalam
sarkan feno
Page S
maan denga
erah, terna
nyai produk
an akan su
g diinginka
ganya rela
i heritabilita
Sering dala
ngkan untu
dari sifat yan
eleksi indek
si telur dala
m gram).
tif saja. Nil
Su
an
k-
ksi
lit
n,

tif
s,
m
uk
ng
s.
m
ai
Ilmu Pemuliaan Teinak Page S1
 
P
P P
I
i
) ( −
=

Dimana : I = nilai indeks; P
i
= performa ternak, dan P = nilai rata-rata

Tabel 1.8. Menyusun indeks Fenotip

ID 
Ternak 
Produksi 
Telur (Butir) 
Berat Telur 
(g) 
Index 
Produksi 
Telur 
Index  
Berat Telur 
Index Total  Ranking 
A  89  66  0.02  0.06  0.08  1 
B  78  64 ‐0.11 0.03 ‐0.07  9
C  84  59  ‐0.04  ‐0.05  ‐0.09  10 
D  92  63 0.05 0.02 0.07  2
E  91  61  0.04  ‐0.02  0.03  4 
F  88  62  0.01  0.00  0.01  6 
G  83  68  ‐0.05  0.10  0.05  3 
H  87  58  0.00  ‐0.06  ‐0.07  8 
I  90  59 0.03 ‐0.05 ‐0.02  7
J  91  60  0.04  ‐0.03  0.01  5 
Rata‐
rata  87  62  0  0  0   

Contoh Indeks ternak A:
- Indek Produksi Telur = 02 . 0
87
) 87 89 (
=


- Indek Berat Telur = 06 . 0
62
) 62 66 (
=



- Total Indeks = 0.02 + 0.06 = 0.08

Apabila seleksi berdasarkan fenotip produksi telur dan berat telur saja, ternak A
menempati urutan pertama, kemudian ternak D, G, dan seterusnya. Rata-rata nilai
indeks adalah nul (0), dengan demikian ternak yang mempunyai nilai indeks negatif,
berarti performa nya dibawah rata-rata populasi. Penyusunan indeks diatas
diasumsikan nilai ekonomi produksi telur dan berat telur sama atau 1 : 1.
Ilmu Pemuliaan Teinak Page S2
 
Sekarang bagaimana kalau membuat indeks berdasarkan Nilai Pemuliaan?. Misal
nilai heritabilitas untuk produksi telur = 0.20 dan nilai heritabilitas berat telur = 0.50.
Diasumsikan nilai korelasi genetik dan korelasi fenotip antara produksi telur dan berat
telur = 0. Demikian juga nilai ekonomi antara produksi telur dan berat telur sebanding.

Nilai Pemuliaan (NP)= ) (
2
P P h
i


Indeks I =
r oduksiTelu i
P P h
Pr
2
) ( −

+
BeratTelur i
P P h ) (
2


Tabel 2.8. Menyusun indeks NP
ID Ternak 
Produksi 
Telur (Butir) 
Berat 
Telur (g) 
NP Produksi 
Telur 
NP Berat 
Telur 
Index NP 
Total 
Ranking 
A  89  66  0.34  2.00  2.34  1 
B  78  64  ‐1.86  1.00  ‐0.86  7 
C  84  59 ‐0.66 ‐1.50 ‐2.16  10
D  92  63  0.94  0.50  1.44  3 
E  91  61  0.74  ‐0.50  0.24  4 
F  88  62  0.14  0.00  0.14  5 
G  83  68  ‐0.86  3.00  2.14  2 
H  87  58 ‐0.06 ‐2.00 ‐2.06  9
I  90  59  0.54  ‐1.50  ‐0.96  8 
J  91  60 0.74 ‐1.00 ‐0.26  6
Rata‐rata  87  62  0  0  0 

Contoh NP ternak A:
- NP produksi Telur = 0.20 (89-87) = 0.34
- NP Berat Telur = 0.50 (66-62) = 2.0
- Indeks NP total = 0.34 + 2.00 = 2.34

Kalau diperhatikan, ada perbedaan ranking ternak yang diduga dengan indeks fenotip
dan indeks nilai pemuliaan. Sebagai contoh ternak G menempati urutan no 2 jika
berdasarkan atas indeks nilai pemuliaan dan ranking no 3 jika diduga dengan indeks
nilai fenotip. Pendugaan indeks berdasarkan nilai pemuliaan lebih baik dibandingkan
dengan pendugaan indeks berdasarkan nilai fenotip saja.
Ilmu P

Se
Pr
ge
ter
ba
Da
ya
hu
ba
pe

Pemuliaan Te
ekarang tela
rediction (B
enetik tinggi
rnak itu sen
anyak sifat s
alam suatu
ang mempun
ubungan de
anyak dipak
endugaan nil
 
einak
ah dikemban
BLUP). BLU
dengan me
diri atau dar
sekaligus da
analisis, sem
nyai catatan
ngan ternak
kai dan tah
ilai pemuliaa
ngkan suatu
UP mampu
enggabungka
ri saudara-s
an memperti
mua informa
atau ternak
k yang mem
hun 1994 d
an standar du

u metoda ya
mendeteksi
an berbagai
saudaranya.
imbangkan h
asi tersebut
k yang tidak
mpunyai ca
dan telah d
unia.
ang disebut
i individu y
i macam inf
Metoda ini j
hubungan k
diolah. Has
mempunyai
tatan dapat
ditetapkan s
t Best Line
yang mempu
formasi, baik
juga dapat m
kekerabatan
silnya semu
i catatan asa
t dievaluasi.
sebagai me
Page S
ear Unbiase
unyai poten
k catatan da
mengevalua
antar terna
ua ternak ba
al mempuny
. BLUP tela
etoda analis
SS
ed
nsi
ari
asi
k.
aik
yai
ah
sis
Ilmu Pemuliaan Teinak Page S4
 
BAB X
TEKNIK PERSILANGAN DALAM PEMULIAAN TERNAK

Dalam pemuliaan ternak, dikenal ada 2 macam teknik utama persilangan, yaitu: (1)
Persilangan antar individu yang berkerabat (Inbreeding), dan (2) Persilangan antar
individu yang tidak berkerabat (Out Crossing).

Out Crossing dapat dibedakan menjadi:
1. Biak Silang (Cross Breeding)
2. Biak Silang luar (Out Breeding)
3. Biak Tingkat (Grading Up)


Inbreeding (Silang Dalam).

Biak dalam (Inbreeding) adalah perkawinan antara individu yang mempunyai
hubungan kekerabatan. Menurut Vogt, dkk. (1993) suatu individu dikatakan tidak
berkerabat lagi apabila tidak mempunyai tetua bersama setelah generasi ke lima atau
ke enam. Dengan demikian, perkawinan dikatakan berkerabat atau Inbreeding
apabila individu-individu tersebut mempunyai tetua bersama sekitar 4 generasi
diatasnya.

Inbreeding dapat terjadi secara kebetulan apabila sekelompok ternak dipelihara
bersama seperti pada domba dan terutama pada populasi kecil. Dalam industri
pembibitan sering inbreeding sulit dihindari atau bahkan sering juga dilakukan untuk
tujuan-tujuan tertentu. Kelemahan dan keuntungan inbreeding adalah sebagai
berikut:

Keuntungan Inbreeding :

1. Membuat populasi seragam. Inbreeding sering dilakukan untuk membentuk
pupolasi awal yang seragam, karena inbreeding dapat menurunkan
heterozygotsitas didalam populasi. Cara ini sering dilakukan pada ayam untuk
membentuk populasi awal galur murni dengan cara mengawinkan ayam-ayam
yang disukai, seperti keseragaman warna bulu atau performanya. Setelah
diperoleh populasi yang seragam pola pemuliaan ditata ulang sesuai tujuan
sesungguhnya atau dipersiapkan untuk dikawinkan dengan galur lain yang juga
sudah seragam.

Pada ternak besar seperti sapi, cara ini kurang populer karena terlalu beresiko
anak-anak yang dihasilkan banyak yang abnormal.
Ilmu Pemuliaan Teinak Page SS
 
2. Melestarikan sifat-sifat yang diinginkan. Apabila diketahui pada suatu individu
atau sekelompok ternak terdapat keunggulan-keunggulan spesifik, seperti daya
tahan penyakit, inbreeding dapat mempertahankan sifat tersebut supaya tidak
terurai atau hilang dalam populasi.

3. Mendeteksi gena-gena yang tidak diinginkan.
Inbreeding membuat individu-individu homozygot. Apabila terdapat lethal gena
dalam keadaan homozygot, maka akan tampak/muncul pada populasi. Dengan
demikian kita bisa melakukan seleksi terhadap ternak-ternak pembawa sifat tidak
baik.

4. Mempertahankan keunggulan individu ternak dengan line breeding.
Pada saat tertentu, para peternak perlu mempertahankan suatu tetua yang
unggul. Cara yang biasa digunakan adalah dengan biak sisi (line breeding).


Contoh : Apabila kita ingin mempunyai seekor pejantan unggul, kita ingin
anaknya mirip pejantan tersebut, maka dilakukan biak sisi/penggaluran sebagai
berikut :













Pejantan A dikawinkan dengan seekor betina, kemudiaan anaknya yang betina
dikawinkan lagi dengan pejantan A. Cucunya (F2) dikawinkan lagi dengan pejantan
A, dan seterusnya. Pada generasi ke 3 (F3) kita memperoleh anaknya 87,5% mirip
pejantan A.

Kerugian Inbreeding

Inbreeding bisa menyebabkan suatu dampak yang tidak diinginkan terhadap sifat-sifat
seperti dapat dilihat pada table berikut.
Dan seterusnya
Pejantan A
Betina B
Betina F1
Betina F2
Betina F3
Ilmu Pemuliaan Teinak Page S6
 
Tabel 1.9. Dampak Inbreeding sebagai akibat adanya kenaikan koefisien Inbreeding
sebesar 10%

Ternak Sifat % Penurunan
Sapi Pertumbuhan 5
Produksi Susu 3

Domba Berat Sapih 4
Berat Umur Dewasa 7
Produksi Wol 8

Babi Jumlah Anak Sepelahiran 5
Berat umur 150 hari 3

Unggas Produksi Telur 6
Daya Tetas 6

Jika terjadi perkawinan antara saudara tiri maka keturunannya akan mempunyai
koefisien inbreeding sebesar 12,5%. Hal ini akan mempengaruhi produksi susunya
karena akan mengalami penurunan produksi sebesar
12,5
10
x S % = S,7S %

Secara umum, Inbreeding akan menurunkan performans seperti : daya tahan tubuh,
resistensi penyakit, efisiensi reproduksi, dan daya hidup. Selain itu, Inbreeding juga
akan meningkatkan abnormalitas dan kematian untuk sifat yang dalam keadaan
homozygote bersifat lethal.

Menghindari Inbreeding

Ada dua cara utama untuk menghindari inbreeding:
1. Menghindari perkawinan antara individu yang mempunyai hubungan kerabat
2. Mempertahankan populasi sebanyak mungkin

Pada kenyataan, terutama dalam suatu program pemuliaan, sangat sulit untuk
menghindari Inbreeding, terutama jika populasi ternak elite atau populasi di nukleus
yang jumlahnya sedikit. Pada ayam misalnya, tiap galur murni biasanya dipelihara
antara 40-60 famili, dari famili-famili tersebut diseleksi sekitar 10 famili terbaik. Dari 10
famili terbaik kemudian dikembangkan lagi menjadi 40-60 famili. Menghindari
Inbreeding di galur murni sangat sulit, tapi pada ayam tidak begitu bermasalah karena
produk akhir atau final stock adalah merupakan hasil persilangan dari paling sedikit 4
galur murni yang tidak berhubungan. Dengan demikian pengaruh Inbreeding pada
produk akhir pada pemuliaan ayam dapat dihindari.

Ilmu Pemuliaan Teinak Page S7
 
Ada beberapa cara untuk menghindari Inbreeding pada ternak besar seperti sapi:
1. Ketika mengimport pejantan (atau betina) untuk tujuan crossbreeding, sangat
penting diketahui bahwa ternak-ternak tersebut tidak berhubungan dengan ternak-
ternak yang telah didatangkan sebelumnya.
2. Jangan gunakan pejantan yang sama didalam suatu populasi jika anak-anaknya
yang betina mencapai umur kawin.
3. Jangan ganti pejantan didalam suatu populasi dengan anak-anaknya
4. Jika Inbreeding telah terjadi, usahakan untuk mengawinkan ternak-ternak tersebut
dengan ternak lain yang tidak berhubungan

Teori Hubungan Kekerabatan dan Inbreeding

Dalam konsep genetika, hubungan tersebut dinyatakan dalam Hubungan Aditif
(Additive relationship) atau kemungkinan dua individu atau lebih mempunyai gena
yang sama dari tetuanya. Derajat kekuatanya diukur dengan Koefisien Inbreeding
yang mempunyai arti kemungkinan suatu individu menerima gena-gena yang identik
dari tetuanya. Individu hasil inbreeding disebut inbred.
Hubungan kekerabatan bisa: (1) langsung, seperti ayah/ibu dengan anak, anak
dengan kakek, dst. dan (2) tidak langsung (hubungan koleteral), seperti antara anak
yang seibu/sebapak (half-sib), antara paman dan keponakan.

Secara teori, bapak mewariskan
1
2 gena kepada anaknya dan
1
2 lagi berasal dari
induk. Dengan demikian ada kesamaan gena antara anak dengan orang tuanya.
Hubungan antara anak dan ayah atau ibu, anak dengan kakek/neneknya, dan
seterusnya disebut Hubungan Kekerabatan Langsung. Contoh hubungan
kekerabaan langsung diungkapkan pada Ilustrasi berikut:








Gambar 1. Hubungan Kekerabatan Langsung


½
A
B
C
D
½
½
Ilmu Pemuliaan Teinak Page S8
 
Apabila individu A bukan inbred (Individu hasil inbreeding), maka hubungan A dengan
B =
1
2 , B dan C =
1
2 , c dan D =
1
2 . Hubungan antara A dan C =
1
2 x
1
2

=
1
4 , dan
hubungan antara A dan D =
1
2 x
1
2 x
1
2

=
1
8 . Dengan demikian hubungan aditif akan
mengecil sejalan dengan menjauhnya generasi. Secara matematik hubungan aditif
(a) dapat diungkapkan dengan persamaan:

a
n
=






1
2

Dimana : a = hubungan aditif
n = banyaknya generasi

Contoh: hubungan kekerabatan antara A dan D terhalang 3 generasi, dengan
demikian
a
AD
=





⎟ =
1
2
1
8
3


Hubungan kekerabatan dapat juga tidak langsung, misalnya antara anak yang
seibu/sebapak (half-sib), antara paman dan keponakan, dan lain-lain, hubungan
semacam ini disebut Hubungan Kolateral. Contoh hubungan koleteral diungkapkan
pada ilustrasi berikut:





Gambar 2. Hubungan Kolateral
Contoh hubungan kolateral adalah antara B dengan E, C dengan E, D dengan F, dst.

Pendugaan hubungan kolateral sama dengan hubungan langsung, tetapi ditambah
lagi satu garis generasi.
a
n n
=






+
1
2
1 2


dimana n
1
= banyaknya generasi pada garis 1
n
2
= banyaknya generasi pada garis 2
A
B
C

E
F
½
½
½
½
½
Ilmu Pemuliaan Teinak Page S9
 
Contoh :
a
a
a
BE
CE
DF
=





⎟ =
=





⎟ =
=





⎟ =
+
+
+
1
2
1
4
1
2
1
8
1
2
1
32
1 1
2 1
3 2


Koefisien Inbreeding

Koefisien Inbreeding dapat diartikan kemungkinan suatu individu menerima gena-
gena yang identik dari tetuanya.











Gambar 3: Perkawinan Saudara


Pada contoh sederhana, individu A akan mengkopi gena-gena A
1
dan A
2
. Gena-gena
tersebut akan diturunkan kepada B dan C. Dengan demikian ada kemungkinan
individu X menerima gena sama A
1
dari B dan C sehinga bergenotip A
1
A
1
. Demikian
juga untuk A
2
. Besarnya peluang individu X bergenotip A
1
A
1
atau A
2
A
2
disebut
Koefisien Inbreeding X (F
x
).


A
B  C 

1
2
1
2
1
2
1
2
(A
1
,A
2
)
Ilmu Pemuliaan Teinak Page 6u
 
Apabila A bukan inbred, kemungkinan A menurunkan gena A
1
kepada X melalui B
adalah
1
4
, dan A menurunkan gena A
2
kepada X melalui C juga
1
4
. Jadi kemungkinan
individu A menurunkan gena A
1
kepada A melalui B dan C adalah
1
4
x
1
4
=
1
16
.
Demikian juga kemungkinan individu X menurunkan gena A
2
kepada X adalah
1
16
.
Jadi kemungkinan individu X bergenotip A
1
A
1
atau A
2
A
2
adalah

1
16
1
16
1
8
+ =

1
8
disebut juga koefisien Inbreeding x atau F(x).

Koefisien Inbreeding dapat juga diturunkan berdasarkan hubungan kekerabatan (a),
karena pada prinsipnya hubungan kekerabatan menunjukan gena-gena yang identik
yang dipunyai dua individu atau lebih. Apabila C dan B dikawinkan, gena-gena
tersebut akan diturunkan lagi dan kemungkinan individu X menerima gena dari B dan
C akan ½ a
BC
. Atau dapat diungkapkan dalam rumus:
a x F
2
1
) ( =


Contoh: Berapa koefisien Inbreeding individu x pada Gambar 3?
4
1
2
1
2
1
2 1 1
=






=






=
+
x
a


Koefisien Inbreeding x:
8
1
4
1
2
1
2
1
) ( = = = x a x F



Koefisien Inbreeding Untuk Pedigree Kompleks
Pada contoh berikut ini adalah cara menghitung koefisien Inbreeding dari individu X
dengan silsilah keluarga yang lebih kompleks.

Ilmu Pemuliaan Teinak Page 61
 
♂ ♀ ♂


♀ ♂ ♀


♀ ♂ ♀


♂ ♀



Tabel 2.9. Perhitungan Koefisien Inbreeding
Jalur n
|
1
2
1
n

Inbreeding dari
tetua bersama
Kontribusi ke Koefisien
Inbreeding F
(x)
A D B 3 0,1250 0,125 0,1406*
AD G EB 5 0,0313 0 0,0313
ADF J GEB 7 0,0078 0 0,0078
F
(x)
0.1797

* 0,125 x (1 + 0,125) = 0,1406

Tetua bersama D adalah individu ‘inbred’ karena mereka (F dan G) adalah saudara tiri,
Demikian juga individu D dan E adalah saudara tiri sehingga menghasilkan individu
‘inbred’ B (salah satu tetua dari individu X).

Secara biologis, individu-individu yang disebut berhubungan atau berkerabat adalah
individu-individu yang mempunyai satu atau lebih tetua bersama. Sedangkan iIndividu-
individu dikatakan tidak berhubungan atau tidak berkerabat, jika tidak mempunyai tetua
bersama setidaknya lima atau enam generasi sebelumnya.



J



E
B
D




Ilmu Pemuliaan Teinak Page 62
 
Out Breeding

Out breeding adalah perkawinan antara ternak yang tidak mempunyai hubungan
kekerabatan. Perkawinan ini bisa satu bangsa ternak atau antar bangsa yang
berbeda. Out Breeding dapat dibedakan menjadi: (1) Biak Silang (Cross Breeding),
(2) Biak Silang luar (Out Breeding), dan (3) Biak Tingkat (Grading Up).

Biak silang (Cross-breeding)

Cross breeding adalah persilangan antar ternak yang tidak sebangsa. Misal antara
sapi Brahman dengan sapi Angus, ayam Island Red dengan White Rock, dan lain-
lain.

Jenis persilangan ini memegang peranan penting dalam pemuliaan ternak, dengan
kegunaan-kegunaan :
1. Saling substitusi sifat yang diinginkan.
2. Memanfaatkan keunggulan ternak dalam keadaan hetrozygot (Hybrid Vigor).

Contoh bangsa sapi baru yang terbentuk dari crossbreding :

Sapi Santa Gertrudis
Hasil perkawinan antara sapi Brahman dengan sapi Shorthorn.












Ilmu Pemuliaan Teinak Page 6S
 
Sapi Brangus
Hasil perkawinan antara sapi Brahman dengan sapi Aberdeen Angus. Komposisi
darahnya adalah 3/8 Brahman, 5/8 Angus.



Sapi Beef Master
Hasil persilangan antara sapi Brahman, Shorthorn dan sapi Hereford, dengan
komposisi darah : 25% Hereford, 25% Shorthorn, 50% Brahman.


Sapi Charbray
Hasil kawin silang sapi Brahman dengan sapi Charolais. Komposisi darahnya adalah
3/16 Brahman, dan 13/16 Charolais.


Ilmu Pemuliaan Teinak Page 64
 
Out Crossing
Out crossing adalah persilangan antara ternak dalam yang satu bangsa tetapi tidak
mempunyai hubungan kekerabatan. Tujuan utama out crossing adalah untuk
menjaga kemurnian bangsa ternak tertentu tanpa silang dalam.

Grading Up
Grading up adalah persilangan balik yang terus menerus yang diarahkan terhadap
suatu bangsa ternak tertentu. Contoh Grading up di Indonesia dilakukan oleh
pemerintah Hindia Belanda yang disebut Ongolisasi. Sapi-sapi betina lokal Indonesia
dikawinkan dengan pejantan Ongol terus menerus, sehingga terbentuk sapi yang
disebut peranakan Ongol. Tujuan Grading Up adalah untuk memperbaiki ternak yang
produktivitasnya dianggap rendah, sedangkan kerugiannya adalah dapat
menyebabkan kepunahan. Skema Grading up dapat dilihat pada gambar 4.














Sapi Peranakan Ongole


Kelompok Pejantan
Bangsa A
Kelompok
Betina Bangsa B
Betina F1
Betina F2
Betina F3
Dan seterusnya
Ilmu Pemuliaan Teinak Page 6S
 
Efek Heterosis (Hybrid Vigor)

Efek Heterosis atau Hybrid Vigor dapat diartikan sebagai keunggulan performan hasil
persilangan dibandingkan dengan rataan performan tetuanya. Contohnya : Pedet
hasil persilangan dua bangsa yaitu Angus x Hereford mempunyai pertumbuhan yang
lebih cepat dibandingkan dengan rata-rata tetuanya. Pada anak betinanya, selain
sifat pertumbuhan yang lebih baik, juga mempunyai % berat sapih dan produksi susu
yang lebih tinggi dibandingkan dengan induk dari kedua purebred tersebut.

Efek heterosis cenderung tinggi untuk sifat-sifat yang mempunyai nilai heritabilitas
rendah, seperti sifat reproduksi, dan cenderung rendah untuk sifat-sifat yang
mempunyai nilai heritabilitas tinggi seperti pertumbuhan, produksi karkas dan wool.
Efek heterosis adalah kumulatif, dapat dimaksimalkan dengan cara mengawinkan
betina hasil crossbred dengan pejantan dari bangsa yang lain untuk menghasilkan
keturunan yang crossbred. Ternak composite seperti Katahdin dan Polypay
menunjukan sebagai crosbreed yang menguntungkan. Contoh heterosis pada domba
dapat dilihat pada table berikut.

Tabel 3.9. Heterosis pada Domba

Sifat Persentase Heterosis
Bobot lahir 3,2
Bobot sapih 5,0
ADG pra sapih 5,3
ADG post sapih 6,6
Bobot 1 tahun 5,2
Conception rate 2,6
Daya hidup anak 9,8
Sifat karkas 0

Efek Heterosis ini biasanya dinyatakan dalam perhitungan sebagai berikut :

% bctcrosis =
(roto -roto crossbrcJ) -(roto -roto purcbrcJ)
(roto -roto purcbrcJ)
X1uu

Contoh perhitungan :
Berat Sapih Breed A = 228 kg
Berat Sapih Breed B = 222 kg
Rata-rata purebred = (228 + 222)/2 = 225 kg
Rata-rata crossbred = 235 kg

Ilmu P

Ni
jik


Da

Da
ka
ho
me



Istilah

Ba
Pe
tet
P2
Cr
Pr

Cr
Pemuliaan Te
lai 4.4% art
ka dibanding
asar Geneti
asar genetik
asus Inbreed
omozygote
empunyai pa
h-istilah Tek
ackcross:
erkawinan a
tuanya. Con
2 disebut Ba
risscrossing:
rogram Cros
rossbreeding
einak
% b
inya bahwa
kan dengan
k pada Hete
k pada heter
ding, dihara
(sama), se
asangan gen
knik Perkaw
ntara anak (
ntoh: P1 x P2
ackross.
:
ssbreeding b
g:
ctcrosis =
rata-rata pe
rata-rata pe
erosis
rosis efek m
apkan anak
dangkan pa
n yang hete
winan pada
(Filial) hasil d
2 menghasil
berkelanjutan
P1
F

2SS - 22S
22S
erformans cr
erformans pa
merupakan k
yang terlah
ada heteros
rozygous (b
Ternak
dari suatu pe
kan F1. Per
 
 
 
 

n.

P2 X
F1 X
S
X 1uu = 4.
rossbred ata
arental atau
kebalikan da
hir mempun
sis diharap
erbeda).
ersilangan d
kawinan ant
2
P2
P1 X
.4%
au anak 4.4%
tetuanya.
ari efek Inbr
nyai pasang
kan anak
dengan salah
tara F1 deng

Page 6
% lebih ting
eeding. Pad
an gen yan
yang terlah
h satu
gan P1 atau
66
gi
da
ng
hir
Ilmu Pemuliaan Teinak Page 67
 
Persilangan antar ternak yang tidak sebangsa.

Genus Cross:
Perkawinan antara genus yang berbeda. Misal perkawinan antara Bos Taurus
dengan Bison.

Grading Up:
Persilangan balik yang terus menerus yang diarahkan terhadap suatu bangsa ternak
tertentu.

Inbreeding :
Perkawinan antara individu yang mempunyai hubungan kekerabatan.

Inbred Line :
Individu hasil Inbreeding

Incrossing :
Perkawinan antara inbred line yang berbeda

Line Breeding :
Inbreeding yang diarahkan pada salah satu tetua unggul

Outbreeding :
Perkawinan antara ternak yang tidak mempunyai hubungan kekerabatan

Outcrossing :

Persilangan antara ternak dalam yang satu bangsa tetapi tidak mempunyai hubungan
kekerabatan.



Species Cross :
Ilmu Pemuliaan Teinak Page 68
 

Perkawinan antara individu yang berbeda species. Contoh : Bos Taurus dan Bos
Indicus.

3-breed Rotational Cross:
Crossbreeding berkelanjutan antara tiga bangsa ternak. Contoh perkawinan pertama
antara P1 x P2, kemudian anak betinanya dikawinkan dengan jantan P3.

 
 
 
 


Topcrossing:
Perkawinan antara individu dari bangsa yang sama tapi famili berbeda.

P1  P2 X
Betina F1
Jantan P3 X
Dan seterusnya
Ilmu P

Tujua
Dalam
pemu
dipeng
Marke
pemu
progra
untuk
untuk
rasa.
Tujua
sapi p
domba
susu,
petelu
Pemuliaan Te
an Pemuliaa
m menyusun
liaan atau
garuhi oleh
et Driven ata
liaan sapi p
am pemuliaa
produksi su
memenuhi
Kadar lemak
Ilus
n pemuliaan
perah tujuan
a produksi
ayam untu
ur/layer).
einak
MEN
an dan Mem
n pola pemu
untuk apa
permintaan
au pengend
erah adalah
an dilakuka
usu. Mungkin
selera kons
k kemudian
strasi 1: Lan
n sangat spe
n pemuliaan
daging, kam
k produksi
NYUSUN PR
milih Jenis T
uliaan, hal p
program pe
dan selera
dali untuk tu
h untuk prod
n. Seleksi a
n setelah pr
sumen, misa
dipertimban
ngkah-langka
esifik untuk s
nnya adalah
mbing untuk
daging (aya
BAB XI
ROGRAM P
Ternak
pertama yan
emuliaan di
a konsumen
ujuan pemul
duksi susu. T
awal ternak
roduksi susu
al kandunga
ngkan dalam
ah menyusu


setiap jenis t
h untuk pro
k produksi d
am pedagin
EMULIAAN
ng perlu dip
ilakukan. Tu
. Konsumen
iaan. Sebag
Tujuan ini h
lebih diutam
u ada sifat la
an lemak ya
seleksi seb
un Program P
ternak dan p
oduksi susu
daging dan
ng/Broiler) d

perhatikan a
ujuan pemu
n bisa dikata
gai contoh,
harus ditetap
makan pada
ain yang dipe
ng berhubu
bagai sifat ta
Pemuliaan
program pem
, pada sap
ada juga un
an produks
Page 6
adalah tujua
uliaan sanga
akan sebag
tujuan utam
pkan sebelu
a keunggula
ertimbangka
ngan denga
mbahan.

muliaan. Pad
i potong da
ntuk produk
i telur (aya
69
an
at
ai
ma
m
an
an
an
da
an
ksi
m
Ilmu P
Setela
memp
Holste
adapta
sapi p

Pola P
Pola p
sanga
apa p
terseb
tiga st


Berda
tertutu
Jadi te
ternak
babi.
penya
yang b
aset y
dimula
ternak
suatu
galur c
Pemuliaan Te
ah tujuan pe
punyai perfo
eins banyak
asi yang ba
perah.
Pemuliaan
pemuliaan s
at ditentukan
roduk akhir
but ternak m
trata yaitu te
asarkan syst
up, ternak ya
ernak-ternak
k dari luar. C
Hal ini dilak
akit. Ternak-
bagus dan b
yang sangat
ai dari awal
k cadangan
waktu terna
cadangan a
einak
emuliaan dite
orman yang
dipilih karen
ik, tidak hera
pesifik untuk
n oleh berap
yang dihasi
murni atau ha
ernak-ternak
emnya, pola
ang berada
k pengganti
Contoh pola
kukan karen
-ternak elite
biosekuriti ya
tinggi, jika k
lagi. Untuk p
atau back
ak yang di b
kan dipakai
entukan, kem
baik untuk
na kemampu
an kalau ba
k setiap jeni
a banyak ba
lkan. Misaln
asil persilan
k elite (nukleu
Ilustrasi 2
a pemuliaan
di strata dib
berasal dar
system tert
na pada um
dipelihara p
ang sangat
kehilangan t
program pem
up line di te
breeding uta
kembali di in
mudian kita
dikembangk
uan produks
ngsa sapi in
is ternak dan
angsa atau j
nya apakah p
gan. Pada d
us), multiflie
2: Pola Pemu
n ada yang
bawahnya ti
ri ternak-tern
utup adalah
mumnya aya
pada kanda
ketat. Terna
ternak-terna
muliaan aya
empat yang
ama tersera
nti.
memilih ban
kan. Pada s
si susunya y
ni menyebar
n program p
enis ternak y
produk akhir
dasarnya, p
er dan ternak
uliaan
tertutup da
dak bisa ma
nak itu send
pada progr
m dan babi
ang tertutup,
ak-ternak elit
k ini maka p
m, bisanya
jauh dan s
ng penyakit
ngsa-bangsa
api perah m
yang tinggi d
di seluruh d
pemuliaan, d
yang akan d
r dari progra
ola pemulia
k komersial.

an terbuka.
asuk ke stra
diri, atau tida
ram pemulia
sangat ren
manageme
te bisa dikat
program pem
para breede
streril, denga
, ternak-tern
Page 7
a ternak yan
misalnya, sa
dan juga day
dunia sebag
dan modelny
dipelihara da
am pemuliaa
an terdiri da
Pada syste
ata lebih ata
ak mengamb
aan ayam da
ntan terhada
en dan nutri
akan sebag
muliaan haru
er menyimpa
an tujuan jik
nak yang da
7u
ng
pi
ya
ai
ya
an
an
ari
m
s.
bil
an
ap
si
ai
us
an
ka
ari
Ilmu Pemuliaan Teinak Page 71
 
System pola terbuka adalah suatu system dimana ternak-ternak yang berada di strata
dibawahnya dan diduga mempunyai potensi genetik tinggi, bisa masuk ke strata
diatasnya bahkan ke nukleus. Contoh system ini diterapkan pada sapi perah, sapi
potong, dan domba.



Ilustrasi 3: Pola Pemuliaan Tertutup dan Terbuka

Di dalam nukleus, terjadi program-program perbaikan mutu genetik yang ketat sesuai
dengan tujuan pemuliaan. Hasil dari program ini adalah ternak-ternak elite yang
mempunyai potensi genetik tertinggi. Ternak-ternak yang diluar batas yang ditetapkan
untuk bibit di nukleus, kemudian masuk ke multiflier dan diperbanyak. Ternak-ternak akhir
atau Final Stock atau ternak komersial adalah anak-anak dari ternak yang berada di
multiflier.

Berikut adalah beberapa contoh pola pemuliaan pada ayam, domba, dan sapi.








Arus Ternak Arus Ternak
Ilmu P
Pola P

Ilustra
Pada
dan G
Pure L
ketat s
hati-ha
berak
Anak-
anak y
lagi, t
berda
atau p
diprod
sampi
walau
Jadi p
murni
tingka
kemba
yang
dan m

Pemuliaan Te
Pemuliaan A
asi 4. Pola P
ayam petel
Galur Jantan
Line (PL). G
sesuai tujua
ati karena k
ibat pada se
-anak ayam
yang disebu
tapi hanya
sarkan unifo
produk akhir
duksi telurn
ingan atau b
pun pertumb
pada pemulia
sampai pr
at hetrozigots
ali ayam ini
mempunyai
mempunyai k
Galu
einak
Ayam Petelu
emuliaan Ay
ur biasanya
n. Baik galur
Galur murni te
an pemuliaan
kesalahan m
ekitar 10 juta
galur murni
ut Parent Sto
seleksi fen
ormity. Anak
r. Ayam-aya
nya untuk
byproduct ya
buhannya la
aan ayam p
roduk akhir
sitas yang ti
. Produksi a
produksi tel
ketahanan p
ur Jantan 
r
yam Petelur
a terbagi me
r jantan atau
erletak pada
n. Pemilihan
mengevaluas
a ekor produ
disebut Gra
ock (PS). Ba
notip berda
k-anak ayam
am betina ini
konsumsi,
ang di Indon
ambat.
etelur perlu
berupa aya
nggi sehingg
akhir dari pe
lur yang ting
roduksi yang
r di Industri
enjadi 2 galu
upun galur b
a nukleus da
n bibit di gal
si satu ekor
k akhir.
and Parent S
aik pada GP
asarkan kes
m PS disebu
ilah yang dij
sedangkan
nesia biasan
waktu 4 gen
am petelur
ga sulit untu
emuliaan ay
ggi, masa te
g lama.
ur utama ya
betina terdir
an terjadi sua
ur murni ata
pejantan sa
Stock (GP)
P atau PS tid
seragaman
t Final Stock
jual di pasar
n ayam jan
nya dipeliha
nerasi atau
komersial.
uk konsumen
yam petelur
lur yang ban
Galur Beti
ang disebut
ri dari 2 galu
atu program
au pure line
aja di galur
yang akan m
dak terjadi se
bobot bada
k atau Comm
ran untuk di
ntannya ad
ra untuk pro
sekitar 4 tah
Final stock
n untuk men
adalah aya
nyak, pakan
ina 
Page 7
Galur Betin
ur murni ata
m seleksi yan
harus sanga
jantan dapa
menghasilka
eleksi genet
an saja ata
mercial Stoc
iternakan da
dalah produ
oduksi dagin
hun dari galu
k mempuny
ngembangka
am final stoc
yang efisie
72

na
au
ng
at
at
an
tik
au
ck
an
uk
ng
ur
ai
an
ck
n,
Ilmu P
Pola P

Ilustra

Pola
cuma
yang
sampa
Produ
demik
satu t
Korela
yang
karena
tinggi,
efesie
Sebag
hati. S
pedag
adalah
pakan


Pemuliaan Te
Pemuliaan A
asi 5. Pola P
pemuliaan a
waktu yang
diproduksi
ai ke produk
uk akhir ata
kian walaupu
tetuanya ha
asi genetik a
tumbuh cep
a itu pada
, sedangkan
ensi produks
gaimana pad
Satu ekor p
ging komers
h anak aya
n, dan tingka
einak
Ayam Pedag
emuliaan Ay
ayam peda
g diperlukan
galur murn
k akhir Final
au anak ay
un ayam ini
arus tinggi, k
antara bobot
pat dan besa
pemuliaan
n galur janta
i yang tingg
da ayam pe
ejantan di g
sial. Produk
am yang me
at kematian r
ging
yam Pedagin
ging hampir
lebih lama k
i sebelum G
Stock sekita
yam yang d
disebut seb
karena ada
t badan dan
ar cenderun
ayam broile
n pada pertu
i di anaknya
etelur, selek
galur murni
k akhir yan
empunyai p
rendah.
ng di Industr
r sama den
karena adan
GP. Jadi to
ar 5 tahun.
dihasilkan b
bagai ayam p
hubungann
produksi te
ng mempuny
er, galur be
umbuhan ya
a.
si pada aya
dapat meng
g diharapka
pertumbuhan
ri
ngan pola p
nya Great-Gr
otal waktu y
berasal dari
pedaging, ta
nya dengan
lur adalah n
yai produksi
etina diarah
ang cepat, se
am di galur
ghasilkan se
an dari pem
n cepat, efis
pemuliaan a
rand Parent
yang diperlu
telur tetua
api produksi
anak ayam
negatif, yang
telur yang
kan pada p
ehingga dipe
murni harus
ekitar 28 jut
muliaan aya
sien dalam
Page 7
ayam petelu
t Stock (GGP
ukan dari P
anya, denga
telur di sala
m yang dijua
g berarti aya
rendah. Ole
produksi telu
eroleh tingka
s sangat hat
ta ekor aya
am pedagin
penggunaa
7S

ur,
P)
PL
an
ah
al.
m
eh
ur
at
ti-
m
ng
an
Ilmu Pemuliaan Teinak Page 74
 
Pola Pemuliaan Domba Pedaging
Banyak pola pemuliaan domba pedaging yang telah dipublikasi. Yang akan di tampilkan
sebagai contoh disini adalah pola Sire Reference Scheme. Pola in sekarang paling
banyak dipakai untuk perbaikan mutu genetik nasional dibanyak negara karena sangat
sederhana dan telah ditunjang oleh kemajuan dan perkembangan metoda analisis yang
memungkinan untuk mengevaluasi genetik secara menyeluruh.


Ilustrasi 6. Pola Pemuliaan Sire Reference Scheme pada Domba

Sebagai kunci untuk perbaikan mutu genetik adalah pejantan, karena pada umumnya
pejantan bisa menghasilkan anak lebih banyak dari betina. Pejantan unggul dikawinkan
di beberapa wilayah dan mempunyai banyak keturunan. Wilayah-wilayah disini bisa
sebagai peternakan atau daerah yang lingkungannya mungkin berbeda. Pejantan disini
dikatakan sebagai Genetic Link, atau penghubung genetik antar wilayah. Anak-anak
pejantan kemudian dievaluasi. Dengan demikian, keunggulan pejantan teruji dari
berbagai wilayah yang berbeda. Anak-anak yang mempunyai potensi genetik tinggi
kemudian masuk ke nukleus untuk dikembangkan kembali sebagai bibit.

Nukleus 
Ilmu P
Pola P
Seper
hamp
bisa b
mirip
perah
Perbe
ternak
bangs

Ilustra

Nukle
Pejan
berad
dilaku
Catata
lengka
berda
unggu
meng
keluar
Pada
merup
sebag
Pemuliaan Te
Pemuliaan p
rti pada dom
ir semua po
berasal dari
hanya tujua
adalah unt
edaan yang
k murni, sed
sa lain untuk
asi 7. Pola P
us terdiri da
tan-pejantan
a di nukleu
kan melalui
an performa
ap. Dari c
sarkan infor
ul kemudian
hasilkan pej
r sebagai bib
pola ini, sek
pakan hasil
gai penggant
einak
pada Sapi
mba, pada s
ola adalah s
luar. Pola
an pemuliaa
tuk produks
lain adalah
dangkan pa
k mengharap
emuliaan pa
ari sapi janta
n yang berad
us ataupun
i inseminasi
an anak janta
catatan ter
rmasi dari b
n dikawink
jantan peng
bit.
kitar 10% be
seleksi da
ti sebanding
sapipun ban
system terb
pemuliaan
annya saja y
si susu, sed
h pada sap
ada sapi pe
pkan pengar
ada Sapi (Cu
an dan betina
da di nukleu
di wilayah
buatan seh
an baik yang
rsebut bisa
berbagai wil
an dengan
gganti, betin
etina pengga
ari berbagai
g dengan jum
yak pola pe
uka dimana
sapi perah
yang berbed
dangkan sap
pi perah pad
edaging mun
ruh heterosis
unningham,
a pilihan yan
us dikawinka
lain yang
hingga pejan
g di nukleus
a dievaluas
layah. Pejan
n betina-bet
na penggant
anti di nukle
wilayah. J
mlah betina y
emuliaan ya
a ternak-tern
dan sapi p
da. Tujuan
pi pedaging
da umumny
ngkin ada y
s.
1979)
ng mempuny
an dengan s
berada dilu
ntan bisa m
ataupun ya
si pejantan-
ntan-pejanta
tina yang
ti, dan terna
us berasal d
umlah betin
yang diafkir
ng telah dip
nak penggan
pedaging pa
program pe
g untuk prod
ya mengara
yang dikawi
yai potensi g
api-sapi bet
uar nukleus.
mengawini ba
ng di luar nu
-pejantan y
an yang sud
ada di nu
ak komersia
dari luar. Be
na yang ma
keluar nukle
Page 7
publikasi, da
nti di nukleu
da umumny
emuliaan sa
duksi daging
h ke bangs
nkan denga

genetik tingg
tina baik yan
. Perkawina
anyak betina
ucleus dicata
yang ungg
dah diketah
ukleus untu
al yang diju
tina-betina i
asuk nukleu
eus.
7S
an
us
ya
pi
g.
sa
an
gi.
ng
an
a.
at
ul
ui
uk
al
ni
us
Ilmu Pemuliaan Teinak Page 76
 
Kriteria Seleksi
Kriteria seleksi adalah sifat-sifat yang diukur dan dipertimbangkan dalam program
seleksi. Kriteria seleksi harus sejalan dengan tujuan pemuliaan dan suatu saat bisa
berubah sejalan dengan yang diminta oleh konsumen. Kriteria seleksi bisa sifat kuantitatif
dan atau kualitatif, yang mungkin berbeda untuk setiap program pemuliaan dan jenis
ternak.

Kriteria Seleksi pada Ayam Petelur
Tujuan utama pemuliaan ayam petelur adalah produksi telur, kriteria seleksi yang
dipertimbangkan dalam suatu program pemuliaan untuk ayam petelur adalah :
1. Jumlah Telur - Survivor (hen-day) production
- Hen-housed production
2. Umur pertama bertelur
3. Berat telur
4. Efisiensi pakan
5. Kualitas Telur - Kekuatan/ketebalan kerabang
- Kualitas albumen
- Blood spots
- Warna kulit
6. Persistensi produksi
7. Daya tahan terhadap penyakit
8. Adaptasi terhadap lingkungan yang spesifik
9. Daya tetas dan mortalitas (bibit)

Kriteria Seleksi pada Ayam Pedaging
Tujuan pemuliaan ayam pedaging adalah untuk produksi daging sebanyak dan secepat
mungkin. Kriteria seleksi yang dipertimbangkan dalam suatu program pemuliaan adalah :
1. Pertumbuhan
2. Produksi daging/karkas/daging dada
3. Efisiensi pakan
4. Komformasi tubuh
5. Mortalitas
6. Perlemakan
7. Produksi telur, fertilitas, daya tetas (Bibit)

Kriteria seleksi pada Domba Pedaging
Tujuan utama pemuliaan untuk domba pedaging adalah produksi daging sebanyak dan
secepat mungkin. Kriteria seleksi yang biasa dipertimbangkan adalah :
1. Pertumbuhan
2. Bobot lahir, bobot saat sapih, dan bobot saat dipasarkan
3. Jumlah anak per kelahiran
4. Pengaruh induk saat membesarkan anak (Maternal ability)

Ilmu Pemuliaan Teinak Page 77
 
Sejalan dengan waktu dan pengetahuan konsumen tentang pengaruh konsumsi lemak
dan kolesterol, pada tahun 1990an, kriteria seleksi di negara barat ditambah dengan
Leannes atau daging yang rendah kandungan lemaknya. Saat sekarang, daya tahan
terhadap penyakit cacing sudah ditambahkan kembali sebagai kriteria seleksi.

Kriteria Seleksi pada Sapi Potong
Tujuan utama pemuliaan sapi potong adalah untuk memproduksi daging sebanyak dan
secepat mungkin. Kriteria seleksi yang dipertimbangkan adalah :
1. Pertumbuhan
2. Bobot lahir, bobot sapih, dan bobot saat dipasarkan
3. Pengaruh induk saat membesarkan anak (Maternal ability)
4. Leaness (perlemakan di daging)
5. Efesiensi penggunaan pakan
6. Calving ease (kemudahan waktu melahirkan)

Kriteria Seleksi pada Sapi Perah
Tujuan utama pemuliaan sapi perah adalah untuk produksi susu. Kriteria seleksi yang
dipertimbangkan adalah :
1. Produksi susu harian atau 305 hari atau total produksi susu selama hidup
2. Persistensi atau daya tahan produksi
3. Bahan kering dan berat jenis susu
4. Produksi atau kadar lemak susu
5. Produksi atau kadar protein susu
6. Calving ease (kemudahan melahirkan)

Evaluasi Genetik dan Fenotip
Evaluasi genetik ternak biasanya dilakukan di nukleus dengan menggunakan informasi
yang berasal dari nukleus itu sendiri dan atau informasi lain tentang performan anak dan
saudara-saudaranya di luar nukleus. Evaluasi genetik lebih diutamakan pada pendugaan
nilai pemuliaan, baik nilai pemuliaan individu atau famili. Keakuratan dalam menduga nilai
pemuliaan menjadi kunci untuk menentukan ternak-ternak sebagai pengganti di nukleus
dan ternak-tenak yang akan dikirim ke multiflier untuk produk komersial. Pendugaan nilai
pemuliaan dilakukan secara serentak untuk semua kriteria seleksi yang dipertimbangkan
dalam program seleksi, setelah itu baru menentukan metoda seleksi yang sesuai. Untuk
mendapatkan respon seleksi yang cepat, para pemulia biasanya mempertimbangkan
paling banyak 3 sifat terlebih dahulu. Semakin banyak sifat yang dipertimbangkan dalam
program seleksi, semakin lambat respon yang diharapkan untuk sifat utama.
Setelah nilai pemuliaan untuk setiap sifat diketahui, baru kita menentukan metode seleksi
apa yang perlu diterapkan; apakah akan melakukan seleksi individu atau seleksi famili,
apakah menentukan ternak pilihannya dengan seleksi indeks atau dengan batasan
sisihan. Sangat sering dalam praktek dilapangan ke dua metoda ini dipakai bersamaan,
seperti seleksi pada ayam. Tahap pertama dilakukan seleksi famili dengan batasan
sisihan, misalnya famili yang akan diikutkan pada seleksi tahap ke dua adalah famili yang
mempunyai tingkat mortalitas tidak lebih dari 10%. Tahap ke dua baru melakukan seleksi
Ilmu P
individ
nukleu
akhir
produ
secara
sendir
dipelih
menja
Setela
beriku
nukleu
lapang
popula
mung
Keber
perfor
atau
ternak
kemud
lingku
manaj
hasil p
memb
langka
Kema











Pemuliaan Te
du dengan
us dan juga
(final stock
k akhir yan
a cermat. K
ri dan tekn
hara akan m
adi mahal.
ah ternak-te
utnya adalah
us harus diu
gan sangat
asi kecil. Jik
kin pada ting
rhasilan sua
rman dilapan
Performanc
k dievaluas
dian diuji di
ngan diman
jemen yang
pemuliaan le
bandingkan
ah berikutny
ajuan genetik
einak
menerapka
a multiflier (
) yang aka
ng akan diju
Keadaan ini
nologi pemu
mengurangi
ernak yang
h menentuk
usahakan un
sulit dihinda
ka inbreeding
gkat yang tid
atu program
ngan ternak
ce Test sa
i apakah s
lapangan p
na ternak-te
g layak. Unt
ebih bagus,
produk kita
ya adalah me
k pada bebe
n seleksi in
intensitas s
n dipasarka
ual dengan
tentunya s
uliabiakan y
keuntungan
g mempuny
kan pola per
ntuk tidak ter
ari, terutama
g sulit dihind
dak membah
m pemuliaa
k-ternak yan
ngat pentin
sifat kualitat
pada lingkun
ernak biasa
tuk mengeta
biasanya di
dengan pro
engetahui ap
erapa jenis T

ndeks. Jum
eleksi) terga
an. Perhitun
ternak yan
angat dipen
yang diguna
n karena bia
yai potensi
rkawinan ya
rjadinya inbr
a untuk tern
dari, upayaka
hayakan per
an akan s
g dihasilkan
g. Dalam m
tifnya sudah
ngan standa
di suatu te
ahui apakah
lakukan Com
oduk dari pe
pakah produ
Ternak
lah ternak
antung pada
ngan mundu
ng akan dip
ngaruhi oleh
akan. Terla
aya produksi
genetik tin
ang tepat. P
reeding, wala
nak yang be
an kemungk
rforman.
angat diten
n. Oleh kare
melakukan e
h sesuai d
rd. Lingkung
empat dipeli
h ternak-tern
mpetitor Tes
rbibitan lain
uk kita bisa d
yang akan
a berapa ba
ur proyeksi
pelihara har
h sifat biolog
alu banyak
i dan pemel
nggi tersele
Pola perkaw
aupun pada
eranak bany
kinan terjadin
ntukan oleh
ena itu Eval
evaluasi fen
engan yang
gan standar
hara denga
nak yang d
st atau peng
yang sejen
diterima oleh
Page 7
dipelihara
anyak produ
populasi da
rus dilakuka
gis ternak it
ternak yan
liharaan aka
eksi, langka
winan didala
kenyataan
yak dan pad
nya serenda
h bagaiman
luasi Fenoti
notip, terna
g diinginka
disini adala
n pakan da
ihasilkan da
gujian denga
nis. Kemudia
h konsumen
78
di
uk
ari
an
tu
ng
an
ah
m
di
da
ah
na
ip
k-
n,
ah
an
ari
an
an
.
Ilmu Pemuliaan Teinak Page 79
 
SUMBER BACAAN 
1. Falconer,  D.S.  1993.  Introduction to Quantitative Genetics.  Longman Scientific and 
Technical, John Wiley and Son, Inc. New York. 
2. Gardner, E. J. and D. P. Snustad.  1984.  Principles of Genetics.  John Wiley and Sons.  
New York. 
3. Hammond,  K.,  H.U.  Grasser,  C.A.  McDonald.    1992.    Animal  Breeding  in  Modern 
Approach. University of Sydney, Australia. 
4. Legates,  J.  E.  and  E.  J.  Warwick.    1990.  Breeding  and  Improvement  of  Farm  Animal.  
McGraw‐Hill International Editions. London. 
5. Minkema,  D.    1979.    De  erfelijke  basis  van  de  veerfokkerij.    Culemborg,  The 
Netherlands. 
6. Nicholas, F. W.  1987.  Veterinary Genetics.  Oxford Scientific Publications. Oxford. 
7. Pirchner, F.    1981.    Population Genetics  in Animal Breeding.   S. Chand and  Company 
Ltd.  New Delhi. 
8. Weiner, G.  1994.  Animal Breeding.  McMillan,  London. 
9. Weller, J. I. 1994.  Ecomomic Aspects of Animal Breeding.  Chapman & Hall, London. 
10. Willis,  M.  B.    1991.    Dalton’s  Introduction  to  Practical  Animal  Breeding.    Blackwell 
Scientific Publications, Edinburgh. 

Pada tahun 1925, dibangun pusat penelitian di Amerika yang khusus mempelajari performa-performa ternak. Station ini mulai membandingkan secara ilmiah bangsabangsa ternak dari berbagai pelosok dunia. Penelitian-penelitian yang dilakukan lebih mengarah ke uji performa dan seleksi keunggulan genetik dibandingkan dengan manajemen. Hasil-hasil penelitian juga mendemontrasikan keunggulan ‘Hybrid Vigor’ dan hasil ‘Cross Breeding’ dari bangsa ternak murninya. Rekomendasi-rekomendasi hasil penelitian persilangan di station ini memaksa para peternak bangsa murni diseluruh dunia meminta perlindungan hukum terancam kepunahan karena para peternak lebih memilih memelihara ternak persilangan dibandingkan dengan ternak murni. Pada sekitar tahun 1925, berkembang ilmu genetika quantitatif yang merupakan akar dari teori seleksi, persilangan dan evaluasi genetik pada ternak. Pada tahun 1960, Falconer seorang ilmuwan dari Edinburgh, Skotlandia, mendeklarasikan bahwa ilmu genetika kuantitatif sebagai ilmu dasar tersendiri. Ilmu genetika kuantitatif sampai sekarang banyak dipakai sebagai alat dalam perbaikan mutu genetik ternak di berbagai industri perbibitan. Setelah tahun 1960, ilmu pemuliaan ternak mengalami perkembangan yang pesat dengan ditemukannya Struktur DNA oleh Watson dan Crick. DNA merupakan dasar material pembawa keturunan penting dan bisa digunakan sebagai penciri karakteristik spesifik pada mahluk hidup. Penemuan DNA telah banyak membawa perkembangan mutu genetik yang spesifik, terutama untuk sifat-sifat yang sulit diukur. Dalam perkembangan selanjutnya, teknologi DNA menjanjikan bisa membawa perbaikan mutu genetik ternak melalu teknologi manipulasi DNA dan Penciri pembantu dalam program seleksi. Di akhir tahun 1970, Handerson mengembangkan teori pendugaan nilai pemuliaan dengan nama Best Linear Unbiased Prediction (BLUP). Metoda ini merupakan penyempurnaan dari metoda-metoda terdahulu. Metoda ini sampai sekarang merupakan metoda standar untuk evaluasi genetik dunia dan banyak dipakai baik di program evaluasi genetik nasional di banyak negara dan indutri-industri perbibitan. Pada tahun 1990, para peneliti pemuliaan berusaha menggabungkan teknik perbaikan mutu genetik dengan cata genetika kuantitatif dan teknologi DNA. Teori-teori telah terbentuk tapi sampai saat ini penggabungan kedua teknik ini masih sangat mahal dan belum efektif dan efisien dipakai di industri perbibitan ternak. Sampai saat ini di banyak industri masih memakai ilmu genetika kuantitatif sebagai alat utama, sedangkan teknologi DNA lebih banyak dipakai sebagai Marka untuk mengetahui karakteristik dan diversity populasi. Sejak tahun 1925, perusahaan-perusahaan perbibitan mulai terbentuk dan membawa kearah kemajuan performa ternak yang nyata. Sebagai contoh performa-peforma ternak saat ini dibandingkan dengan 70 tahun yang lalu: Produksi susu naik 300% dengan jumlah ternak sapi perah turun hampir 50%, waktu pelihara pada babi lebih pendek 50% dan FCR turun 300%, berat sapih sapi potong naik 35% dan FCR turun 35%, dan bobot satu tahun sapi potong naik 25% sedang FCR turun 50%. Perubahan nyata juga terjadi pada ayam pedaging dan petelur. Pada ayam pedaging misalnya, pada tahun 1950 untuk mendapatkan bobot badan 1,8 kg diperlukan waktu pelihara sekitar 84 hari dengan FCR 3,25. Pada saat ini untuk mendapatkan bobot badan yang sama diperlukan waktu pemeliharaan hanya 28 hari dengan FCR 1,5. Pada ayam petelur juga mengalami peningkatan mutu bibit yang luar biasa. Dari tahun 1925 sampai 1950 produksi telur naik 8%, dari tahun 1950 sampai 1975 naik 36%, dan dari tahun 1975 sampai 1998 naik 20%. Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 2 

Perba aikan produk ktivitas terna masa yan akan data akan tergantung pa perbaika ak ng ang ada an mutu genetik tern nak. Perbaik akan ma kan asih melalui ilmu genetika kuantitatif, sedangka an pengg gunaan mate erial genetik melalui klo k oning, transf inti, man fer nipulasi gena, dan teknik gena penciri digu unakan untuk membantu keakuratan dalam pro u ogram selek Perbaika ksi. an mutu genetik ter rnak akan dipercepat dengan bantuan tekno ologi reprod duksi seper rti, Insem minasi Buata Super Ovulasi, Emb an, brio Transfer Invitro Ma r, aturation/Fer rtilitation, da an Seme Sexing. en Perba aikan mutu genetik mela rekayasa genetika a g alui a akan mengh hadapi banya tantangan, ak terutama yang berhubungan dengan kode etik dan persep konsum b psi men terhada ap kealam miahan prod duk. Konsum produk peternakan saat ini cen men nderung me emilih produkproduk yang alami, bahkan manajeme ternak pun sudah b en p banyak yan beralih k ng ke eksten kembali. Keadaan ini akan mer nsif rubah teknik k-teknik perb baikan mutu genetik yan ng selam ini banyak diterapkan untuk terna ma k ak-ternak yan dipelihara secara inte ng a ensif.

Ilmu P Pemuliaan Te ernak 

Page 3

Dalam suatu po m opulasi. gen atau gen na notip biasanya diungk kapkan dala am frekuens si. uh am atatan : (1) Frekuensi gena. sedangkan frekuensi g am gena adalah proporsi suatu alel terte entu terhada ap seluru alel yang diamati dala populasi. Hardy dan ak fisika da khli ari an.KULIAH II K DASAR GE ENETIKA DA ALAM PEMULIAAN TE ERNAK Pada tahun 1908. Tiap-tia ap kurva m menampilkan satu dari tiga genotip pe yang m memungkinka an. nberg secara terpisah t telah menem mukan prins sip-prinsip fre ekuensi gen na Germa W. Conto 1 (Legate dan Warw oh es wick. Hukum ini menya m atakan bahw frekuensi genotip aka konstan dari genera wa an asi ke gen nerasi jika : (1) (2) (3) (4) (5) Perkawina terjadi sec an cara acak (random) Tidak ada mutasi Tidak ada migrasi. Tidak terja seleksi adi Drift Ilustra Hukum ke asi ekekalan Ha ardy-Weinbe erg Asas H Hardy-Weinb berg untuk dua alel yaitu : u sumbu horizontal menunjukk kan frekuensi alel p dan q. dan ( Frekuen fenotip (3) nsi Ca Untuk memperjelas tentang frekuensi g k gena dan fr rekuensi genotip. perha atikan conto oh beriku ut.H. (2) Fr g rekuensi genotip. Merah (M) dominan tid sempurn dak na terhad putih (m dap mm). da mm? an Ilmu P Pemuliaan Te ernak  Page 4 . Teori mereka te erkenal deng gan Hukum Keseimba m angan Hardy yWeinb berg. Frekuensi genotip adalah pro p oporsi dari g genotip terte entu terhadap jumlah se eluruh genot tip didala populasi. sed dangkan su umbu vertik kal menunj jukkan freku uensi genotipe. seorang akhli matema dari Ingg atik gris. Wein didala suatu po am opulasi. Mm. warna roan dan 9 ekor w d warna putih. yang t terdiri dari 47 ekor warn na merah 44 ekor w h. G. 1990) Dalam suatu populasi terdap 100 ekor sapi Shorth m pat r horn. (1) Be erapa frekuensi gena M dan m? (2) Be erapa frekuensi genotip MM.

69)(0. hitam (H) dominan sempurna terhadap merah (h). Misal : A=p. (1) Frekuensi gena M atau p = Frekuensi gena m atau q = (2 x 47)+ 44 = 0. Frekuensi genotip: HH = (0.69) 2 = 0. Merah = (0.Jawab: Seekor individu mempunyai 1 pasang alel.1) 2 = 0. Roan = 2(0.1 Frekuensi gena H = 1 .81 Hh = 2(0. 1993). 1991) Pada suatu bangsa sapi. Hitung frekuensi gena dan frekuensi genotip? a.69 200 (2 x 9)+ 44 = 0.18 hh = (0.0.1) = 0. Frekuensi gena/genotip ditentukan dengan (p+q+r)2 = p 2 + 2 pr + q 2 + 2 qr + r 2 + 2 pq dimana: p+q+r = 1 Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 5  .9 b.9)(0.9) 2 = 0.1 = 0.4761 b. terdiri dari 1% warna merah.31) = 0.31 200 (2) Frekuensi genotip Merah : Roan : Putih = (M+m)2 = (p+q)2 = M2 + 2Mm + m2 a. jadi 100 ekor = 2 x 100 = 200 alel. Frekuensi gena merah (hh) = h2 = 0. O=r. Dibawah ini adalah suatu contoh penggunaan rumus frekuensi gena pada alel ganda (golongan darah pada manusia) (Falconer. B=q. Putih = (0. dan putih (mm).31) 2 = 0. roan (Mm).4278 c.0961 p+q =1 (p +q) 2 =1 p2 +2pq + q2 =1 Contoh 2 (Willis. Genotip merah (MM). Pada suatu pupulasi.01 h = 0.01 Rumus di atas bisa juga diterapkan pada alel ganda seperti golongan darah ataupun warna bulu pada kelinci.

(3) migrasi.r dimana : r = r 2 Demikian juga : q = B − O − r Faktor-faktor yang Mempengaruhi Frekuensi Gena Ada 4 faktor penting yang akan dibahas yang mempengaruhi perubahan frekuensi gena: (1) seleksi.24) 2 = 0.76 182 44 = 0.Klasifikasi berdasarkan genotip/fenotip Grup darah A B O AB Genotip AA + AO BB + BO OO AB Frekuensi genotip p2 + 2pr q2 + 2qr r2 2pq ⇒ A + O = p 2 + 2 pq + r 2 = ( p + q ) 2 ⇒ p+ r = A+O Jadi : p = A + O . Seleksi Frekuensi gena atau genotip bisa berubah baik dengan seleksi alam maupun seleksi buatan. Disini hanya akan dibahas seleksi buatan. (2) mutasi.5776 Frekuensi genotip: MM = Merah = (0. yang merupakan salah satu cara yang banyak dipakai untuk memperbaiki mutu genetik ternak. dan (4) genetik drift. Apabila kita menginginkan ternak merah dan roan saja dengan menyingkirkan ternak-ternak putih. Pada dasarnya seleksi tidak menciptakan gena-gena baru tapi hanya memberi peluang munculnya genagena yang disukai.24 182 = 0.3648 mm = putih = (0.76)(0.24) = 0.76)2 Mm = Roan = 2(0. Kembali ke contoh terdahulu. Frekuensi gena M = Frekuensi gena m = 2 x 47 = 0.0576 Pada dasarnya seleksi tidak menciptakan gena baru tapi memberi peluang munculnya gena-gena yang disukai Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 6  . frekuensi gena dan frekuensi genotip akan berubah menjadi: Jumlah ternak menjadi 91 ekor atau banyaknya alel = 2 x 91 = 182.

Genetik Drift Telah dibahas bahwa dalam populasi besar yang tanpa mutasi. seleksi dan perkawinan terjadi secara acak. Tetapi dalam populasi yang kecil mungkin terjadi fluktuasi frekuensi yang disebabkan oleh pemilihan alel. sehingga frekuensi gena akan tetap dari generasi ke generasi mengikuti keseimbangan hukum Hardy-Weinberg. yang disebabkan oleh pemilihan alel. migrasi. Migrasi banyak dilakukan dalam pemuliaan ternak. misalnya berubahan alel A menjadi a atau sebaliknya dari a menjadi A. Fluktuasi semacam ini disebut Drift. Misal A bermutasi menjadi a dengan tingkat u dan sebaliknya a bermutasi menjadi A dengan tingkat v. misalnya memasukan ternak-ternak unggul dari luar negri dan mengawinkan dengan ternak-ternak lokal setempat. Genetik drift adalah suatu fluktuasi perubahan frekuensi gena dalam populasi kecil. Proses ini disebut Genetik Drift.Mutasi Mutasi merupakan perubahan material genetik. atau sebaliknya. Genetik drift tidak bisa ditentukan arahnya tapi bisa dihitung perubahannya. dan tingkatnya tergantung pada banyaknya migran dan perbedaan frekuensi gena migran dengan frekuensi gena pada populasi awal. Mutasi pada umumnya sedikit mendapat perhatikan dalam program pemuliaan ternak karena sangat jarang terjadi dan bila terjadi biasanya dalam waktu yang lama. Perubahan frekuensi gena yang disebabkan oleh migrasi lebih cepat dibandingkan dengan mutasi. maka keseimbangan Hardy-Weinberg menjadi : up = qv p = frekuensi gen dominan q = frekuensi gen resesif Migrasi Migrasi adalah suatu perpindahan suatu individu/kelompok individu dari suatu populasi ke populasi lain. frekuensi gena awal p=q=0. Pada generasi berikutnya mungkin berubah menjadi 12 A dan 8 a. Tingkat mutasi dalam suatu populasi sangat kecil berkisar antara 10-4 sampai 10-8. Gamet yang terbentuk adalah 2 x 10 = 20 yang terdiri 10 A dan 10 a.5. Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 7  . Misal dalam suatu populasi yang terdiri hanya 10 individu.

5x0.5=0. Jenis kelamin pada ternak adalah suatu keterjadian yang independent (tidak saling terikat). salah mendapatkannya adalah dengan menggunakan rumus aljabar: satu cara untuk (p + q) n Apabila n = 2 → p 2 + 2 pq + q 2 n = 3 → p 3 + 3 p 2 q + 3 pq 2 + q 3 dimana p+q=1 Cara termudah untuk mencari koefisien di atas adalah dengan menggunakan segitiga pascal: Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 8  . untuk kemungkinan sukses dan gagal.5 dan lahirnya 2 betina=0. dan tiap percobaan mempunyai k kemungkingan hasil. betina dan jantan.5=0. diantaranya adalah: (1) teori probabilitas dan distribusi binomial. (3) Kurva normal dan nilai rata-rata.25. kita mengharapkan kelahiran jantan pada 2 kelahiran.5x0. (5) standar deviasi. (4) ragam dan peragam. kemungkinan lahirnya satu jantan=2x0. Probabilitas dan Distribusi Binomial Apabila kita mempunyai sejumlah percobaan. Banyak cara untuk mencari koefisien binomial.KULIAH III DASAR STATISTIKA DALAM PEMULIAAN TERNAK Ada beberapa konsep statistika dasar yang penting dalam pemuliaan ternak. kemudian kita ingin mengetahui berapa kemungkinan munculnya sukses dan berapa kemungkinan munculnya gagal?. jantan dan betina. Mari kita membahas satu contoh untuk mempermudah pengertian.5x0. berapa peluangnya? Ada 4 kemungkinan hasil. (6) koefisien variasi. katakan n percobaan.25. yaitu kelahiran: jatan-jantan. Apabila peluang kemungkinan lahirnya jantan=betina=0.5=0. betina dan betina.5. maka kemungkinan lahirnya 2 jantan=0. (2) Uji chi kuadrat. (7) korelasi (8) regresi dan (9) analisis varian (ragam). percobaan ini disebut percobaan Bernaolli. contohnya jika k=2.

375 (2!)(1!) Chi Kuadrat(χ2) Uji χ2 bertujuan untuk mengetahui apakah hasil yang kita peroleh sesuai dengan yang kita harapkan. Uji ini disebut juga uji kecocokan dengan rumus: χ2 = (O − E) 2 E Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 9  .5 betina = q. peluang muncul = 0.5) 2x(0.5)= 0.5 Menggunakan rumus pascal = 3p2q = 3(0.5) = 0.375 Menggunakan rumus umum : 3! (0. peluang muncul = 0.n=0 n=1 n=2 n=3 n=4 1 1 4 1 3 1 0 1 2 3 6 4 1 1 1 Rumus lain yang bisa digunakan adalah: P= n! r s pq r!s! Contoh : berapa kemungkinan munculnya anak 2 jantan dan satu betina dari 3 kelahiran pada domba? Kita misalkan jantan = p.5) 2 (0.

Semua sapi tersebut berasal dari induk yang heterozigot (Bb). yang terdiri dari 83 ekor warna hitam dan 37 ekor warna merah. jadi proporsi hitam dan merah di dalam populasi tersebut masih sesuai dengan teori Mendel. Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 10  .17) lebih kecil dari χ2 probabilitas 0.17 Sekarang buatlah tabel perhitungan χ2 Lihat tabel χ2. 107-109.05 dan 0. untuk mengetahui apakah hasil yang kita amati sesuai dengan yang diharapkan Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh perhitungan dibawah ini. dimana hitam (B) dominan terhadap putih (b). yang diambil dari Legates dan Warwick (1990). Dalam suatu populasi terdapat 120 ekor sapi. χ2 hasil perhitungan (2.) : 1(bb).01 di tabel.Dimana : O=data hasil observasi (pengamatan) E=nilai harapan Uji χ2 adalah uji kecocokan.54 1. Apakah sapi-sapi tersebut diatas sesuai dengan teori Mendel? Harapan perbandingan sapi hitam dan merah berdasarkan teori mendel adalah 3(B. hal. Nilai harapan dari populasi tersebut adalah: Hitam = 3 x120 = 90ekor 4 1 Merah = x120 = 30ekor 4 Pengamata n (O) Hitam Merah Total 83 37 120 Harapan (E) Deviasi (O-E) χ2 90 30 120 -7 +7 0.63 2.

Rata-rata suatu sifat yang kita amati adalah rata-rata aritmetik dari seluruh nilai didalam populasi atau sampel. Tetapi kita disini hanyalah mempelajari efek dari gena-gena tersebut secara komulatif. Ada gena-gena yang berpengaruh kecil dan ada juga yang berpengaruh besar. Gena-gena yang berpengaruh besar pada suatu sifat disebut Major gene. bukan mempelajari posisi dari gena-gena didalam kromosom. bobot lahir dan banyak lagi sifat yang lain. dipengaruhi oleh banyak gena dan peka terhadap lingkungan. tidak semua gena-gena tersebut mempunyai pengaruh yang sama. Gena yang mempunyai pengaruh yang besar disebut Major gene. Gena-gena yang terlibat mungkin tidak mempunyai efek yang sama. Rata-rata merupakan ukuran pusat yang penting dalam pemuliaan ternak. Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 11  . tapi mereka hanya menuliskan notasi untuk major gene nya saja karena gena-gena lain pengaruhnya kecil.. produksi telur. misalnya sekelompok gena mungkin mempunyai pengaruh kecil.. Rumus dari rata-rata sampel adalah: 1 x = (x1 + x2 + x3 +. Contoh sifatsifat ini adalah: produksi susu. sedangkan yang lainnya berpengaruh besar. Rata-rata populasi biasanya ditulis dengan notasi μ sedangkan rata-rata sampel ditulis dengan notasi x . misalnya pada liter size (jumlah anak yang dilahirkan dalam satu kelahiran). padahal sifat ini dipengaruhi oleh banyak gena. Sebaran sifat ini biasanya menyebar dari nilai yang terendah sampai yang tertinggi menbentuk kurva normal. Para ilmuwan sering mengungkapkan liter size ini dengan sepasang gena. Dari sekelompok gena yang mempengaruhi satu sifat. Major gene jelas mempengaruhi kenormalan kurva.+ xn ) n Dimana: x= pengukuran dari individu yang diamati n= jumlah sampel Sifat kuantitatif pada umumnya menyebar secara normal. karena sampel yang kita ambil dalam suatu populasi yang berdistribusi normal mungkin akan menyimpang.Kurva Normal dan Rata-rata Pada contoh di atas kita hanya mengumpamakan satu pasang gena yang terlibat. Padahal sifat-sifat yang mempunyai nilai ekonomis (sifat kuantitatif) dipengaruhi oleh banyak pasang gena dan sangat peka terhadap pengaruh lingkungan.

Tetapi kalau dalam populasi tidak mempunyai keragaman. misalnya semua ternak yang akan kita pilih mempunyai bobot yang sama (secara genetik).Ragam(Varian) Ragam merupakan ukuran yang terpenting dalam pemuliaan ternak karena merupakan suatu ukuran untuk menentukan nilai genotip dan penotip dari suatu populasi/individu. Standar Deviasi Standar deviasi adalah merupakan akar dari ragam. Koefisien variasi ditulis dengan persamaan: C= C= σ x100 ⇒ populasi μ s x100 ⇒ sampel x Page 12  Ilmu Pemuliaan Ternak    . Rumusnya adalah: σ = σ 2 ⇒ populasi s = s2 ⇒ sampel Koefisien Variasi Kadang-kadang kita perlu untuk membandingkan keragaman antara 2 sifat atau lebih.. seleksi tersebut akan efektif bila dalam populasi tersebut mempunyai keragaman yang tinggi. dan diberi simbol σ untuk populasi dan s untuk sampel. Ragam suatu sampel ditulis dengan persamaan: s2 = (x1 − x) 2 +(x2 − x) 2 +. misalnya berdasarkan bobot badan. apakah sifat yang satu lebih beragam dari sifat yang lainnya atau kurang beragam. Alat yang digunakan adalah koefisien variasi (C). Apabila kita akan memilih beberapa ekor ternak yang akan digunakan sebagai tetua untuk generasi selanjutnya. Ragam menggambarkan suatu dispersi/variasi dari suatu populasi..+(xn − x) 2 n −1 Untuk populasi dibagi dengan n. maka kita tidak perlu melakukan seleksi. Ragam merupakan simpangan kuadrat dari rata-rata populasi atau sampel. dan biasanya ditulis dengan notasi σ2 untuk populasi dan s2 untuk sampel.

akan menambah 1 unit variable lain yang berkorelasi. Koefisien korelasi dihitung dengan rumus: r= Cov (x .Korelasi Jika kita tertarik untuk mengetahui derajat hubungan antara dua variabel atau sifat. sedangkan apabila r =-1. penambahan 1 unit variabel yang satu akan menurunkan 1 unit variabel lain.0.0 menunjukan bahwa penambahan 1 unit suatu variabel. koefisien regresi atau sering ditulis dengan notasi b.+(xn − x)(yn − y) n −1 2 ⇒ sx = ragam variabel x = 2 ⇒ sy = ragam variabel y Regresi Jika koefisien variasi mengukur derajat hubungan antara dua variabel. misal hubungan antara lingkar dada dengan bobot badan atau bobot badan dengan produksi susu.y) 2 sx Regresi merupakan suatu metoda yang penting..y) 2 2 (sx )(sy ) ⇒ Cov (x .y)= peragam x dan y (x1 − x)(y1 − y)+(x2 − x)(y2 − y)+.. Koefisien regresi dihitung dengan rumus: bxy = Cov (x . Regresi juga merupakan salah satu metoda untuk menduga nilai heritabilitas. Koefisien korelasi (r) berkisar antara -1. Misalnya perubahan penambahan bobot badan untuk setiap penambahan lingkar dada. kita bisa menggunakan korelasi.0 sampai +1.0 sebaliknya. karena bisa menduga suatu variabel yang belum diketahui nilainya berdasarkan variabel lain yang telah diketahui nilainya. r =+1. Persamaan regresi di tulis dengan rumus: y = bxy (x − x)+ y Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 13  . mengukur jumlah perubahan suatu variabel atau sifat dengan variabel lain yang berhubungan.

Tinggi Pundak (cm) (x) Lingkar Dada (cm) (y) 212 195 203 200 205 194 195 194 207 205 201 (x. Sebelum kita meninggalkan statistika dasar.x )2 (y.y ) (x.44 Standar deviasi x =3.Analisis Ragam (Analisis Varian) Analisis ragam dipakai dalam pemuliaan ternak untuk menduga ragam genetik dan fenotipik. 17-25.67 16 4 1 0 1 4 36 1 16 9 9.13 cm----ingat akar dari ragam Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 14  . Sampai sekarang REML bisa dikatakan sebagai analisis standar dunia untuk menduga ragam peragam dalam pemuliaan ternak. No.78 121 36 4 1 16 49 36 49 36 16 40.78 Ragam y = 40.x )(y.y )2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Ratarata 135 129 132 131 130 129 125 130 135 134 131 44 12 0 0 -4 14 36 7 24 12 13.67 Ragam x = 9. dibawah ini adalah sebuah contoh perhitungan yang diambil dari Pirchner (1981) hal. Sejak tahun 1985 analisis ini tidak dipakai lagi dengan mulai dikembangkanya analisis Restricted Maximum Likelihood (REML).44 Peragam=13.

78 x 40.67 = 0.69 9.44 Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 15  .Standar deviasi y =6.36 cm Koefisien korelasi = 13.

bentuk tanduk. misalnya produksi susu. Dengan demikian Genotip (G) ternak tersusun oleh gena-gena yang bersifat aditif. Sifat ini sedikit/tidak dipengaruhi lingkungan dan biasanya dikontrol oleh satu atau dua pasang gena saja.KULIAH IV FENOTIP. bobot badan dan produksi telur. yang secara matematis dapat diungkapkan sebagai berikut: G=A+D+E Dimana : G A D E = Genotip = Efek gena aditif = Efek gena dominan = Efek gena epistatis Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 16  . Sifat ini dikontrol banyak gena dan sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan. tetapi hanya mempelajari pengaruh gena-gena tersebut secara kumulatif yang diekspresikan pada fenotip. tapi bisa dikelompokan. Disini tidak dipelajari letak gena-gena. Gena-gena tersebut ada yang berpengaruh besar dan ada juga yang kecil. Sifat kualitatif adalah sifat yang tidak dapat diukur. GENOTIP DAN LINGKUNGAN Sifat pada ternak dapat dibedakan menjadi sifat kuantitatif dan sifat kualitatif. Secara matematis hubungan antara fenotip. dan (3) Pengaruh epistatis. genotip dan lingkungan dapat diungkapkan dengan persamaan sebagai berikut: P = G + E + GE Dimana : P G E GE = Fenotip = Genotip = Environment (Lingkungan) = Interaksi antara genotip dan lingkungan Efek dari gena dalam genotip dapat dibedakan menjadi : (1) Pengaruh yang bersifat aditif (2) Pengaruh yang bersifat dominan. Misalnya warna bulu. seperti pakan dan tatalaksana. dominan dan efistatis. Sifat kuantitatif adalah sifat yang dapat diukur. Pengaruh gena-gena yang menyumbangkan suatu expresi pada fenotip disebut genotip.

Untuk ternak pengganti tinggal diambil ternak yang ada tanpa harus melakukan pertimbangan seleksi. maka menyeleksi ternak bibit tidak perlu dilakukan. dan (4) Over dominasi. Jika dalam suatu populasi ternak tidak ada variasi genotip. Aa AA AA Aa Aa AA=Aa AA aa Aditif aa Dominasi tidak lengkap aa Dominasi lengkap aa Over dominasi Gambar 3. Dalam ilmu statistika variasi (ragam) adalah simpangan rata-rata kuadrat dari nilai ratarata populasi. Dalam ilmu pemuliaan ternak. Semakin tinggi variasi genotip didalam populasi. fenotip. Efek Gena Ragam (Variasi) Keragaman (Variasi) individu (terutama variasi genotip) memegang peranan penting dalam pemuliaan ternak.Pengaruh dominasi pada suatu sifat dapat dibedakan menjadi 4 macam yaitu : (1) Tidak ada dominasi (aditif) (2) Dominasi tidak lengkap (3) Dominasi lengkap. semakin besar perbaikan mutu bibit yang diharapkan. Perbedaan diantara keempat dominasi tersebut dilukiskan pada Gambar berikut. Secara matematis variasi (ragam) dapat diungkapkan dengan rumus: ( xi − x ) 2 Vx = σ = n 2 x Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 17  . genotip dan lingkungan diungkapkan dalam bentuk variasi.1.

Contoh: 5 ekor tenak telah terangking atau terseleksi di lingkungan pakan yang baik berdasarkan mutu genetik. + ( 4 − 5. Sering diasumsikan bahwa interaksi antar genetik dan lingkungan (VGE) sama dengan nol. 5 Ragam /variasi (V x ) = (5 − 5. 6 kg. Keadaan ini disebabkan adanya interaksi antana genetik dan lingkungan.4) 2 + . 1. Apabila VGE sama dengan nol. 2. Apabila ternakternak tersebut diberi pakan yang jelek mungkin rangkingnya berubah menjadi : 4. Rata-rata bobot badan (x ) = 5+6+7+5+4 = 5. tapi pada beberapa kasus ragam ini sering muncul. 3.dimana : 2 V x = σ x = ragam atau variasi sifat x x i = sifat x x = rata-rata sifat x n = jumlah ternak contoh: Pengukuran bobot badan lima ekor anak domba diperoleh berat: 5 kg. kita dapat mengungkapkan: VP =VG +VE Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 18  . Interaksi antar genetik dan lingkungan adalah kecil apabila ternak-ternak dipelihara secara intensif dan atau dipindahkan ke tempat baru yang keadaan lingkungannya mirip dengan lingkungan dimana mereka dibesarkan sebelumnya.. 4. 5..4) 2 = 1. Keadaan ini akan memberi peluang munculnya peragam VGE.04 kg2 5 Persamaan: P = G + E + GE dapat diungkapkan dapal bentuk ragam sebagai berikut: V p = VG +V E+VGE Dimana : VP = ragam/variasi fenotip VG = ragam/variasi genotip V E = ragam/variasi lingkungan VGE = ragam/interaksi antara genotip dan lingkungan Ragam fenotip diantara ternak dalam suatu populasi biasanya disebabkan oleh perbedaan pasangan gena yang dimiliki individu atau kelompok ternak dan atau juga pengaruh lingkungan yang berbeda. dan 4 kg.4 kg. misalnya pada sapi perah sering dijumpai sapi-sapi yang berproduksi tinggi diberi pakan yang lebih baik. 2. 5.4) 2 + (6 − 5. Ranking ternak tersebut adalah : 1. 7 kg. 3. 5 kg.

ragam dominan dan ragam epistasis. atau dengan persamaan sebagai berikut : VG = V A + VD + VI Dimana : VA VD VI = ragam yang disebabkan oleh gena-gena yang bersifat aditif = ragam yang disebabkan oleh gena-gena yang bersifat dominan = ragam yang disebabkan oleh interaksi antar gena (epistasis) Ragam aditif genetik (VA/additive genes) merupakan ragam yang terpenting dalam pemulian ternak karena sering digunakan untuk menentukan kebijakan dalam seleksi dan juga dalam persilangan. interaksi antara gena-gena yang bersifat aditif dan dominan. ragam lingkungan dapat dibedakan lingkungan temporer dan lingkungan permanen. atau dapat ditulis dengan persamaan: VI = V AA + V AD + VDD Dimana : VI VAA VAD VDD VED VEA = ragam epistatis = ragam yang disebabkan oleh interaksi antar gena-gena aditif = ragam yang disebabkan oleh interaksi antar gena-gena aditif dan gena-gena dominan = ragam yang disebabkan oleh interaksi antar gena-gena dominan = ragam lingkungan didalam grup (famili) = ragam lingkungan diantara grup (famili)/lingkungan bersama Dimana : Ragam lingkungan(VE) merupakan variasi yang disebabkan oleh faktor lingkungan yang jumlahnya sangat banyak dan sulit dibedakan.Komponen ragam diatas dapat diturunkan lagi. dan epistasis atau interaksi antar gena yang bukan selokus. terjadi pada gena yang selokus. misalnya untuk ragam genetik dapat dibagi lagi menjadi ragam aditif. Kedua ragam tersebut dapat diungkapkan dengan persamaan: V E = V ET + V EP Dimana : VET VEP = ragam lingkungan (dalam grup) = ragam lingkungan permanen (antar grup) Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 19  . Dalam konsep pemuliaan ternak. bangsa A dengan rataan bobot badan 4 kg dan bangsa B dengan rataan bobot badan 2 kg. Misalnya 2 kelompok ayam mempunyai rata-rata bobot badan yang berbeda. Rataan bobot badan anak hasil persilangan bisa menyimpang bila gena-gena yang bukan aditif (non-additive genes) ikut berpengaruh. dan antara gena-gena dominan. Hasil perkawinan kedua kelompok ayam tersebut diharapkan rata-rata bobot badan anaknya adalah 3 kg. Gena bukan aditif terdiri dari pengaruh gena-gena yang bersifat dominan. Ragam yang disebabkan oleh epistasis dapat lebih jauh di bedakan menjadi interaksi antara gena-gena yang bersifat aditif. Keadaan ini bisa terjadi apabila hanya gena-gena aditif yang terlibat. secara garis besar.

seperti misalnya pincang yang menyebabkan seekor ternak kesulitan dalam bersaing untuk mendapatkan pakan. Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 20  . Lingkungan permanen adalah faktor tetap yang bukan bersifat genetik yang mempengaruhi individu sepanjang hidupnya.Lingkungan temporer adalah faktor yang berpengaruh terhadap satu pengukuran tetapi tidak berpengaruh terhadap pengukuran yang lain atau dengan kata lain pengaruh ini hanya mempengaruhi produksi sesaat saja atau sementara. misalnya karena adanya perubahan susunan ransum yang mengakibatkan perubahan pada produksi.

4. korelasi genetik. dan nilai pemuliaan (breeding value) sangat penting dalam pemuliaan ternak. Kembali ke komponen-komponen ragam pada kuliah terdahulu. maka mereka harus diduga secermat mungkin. 3. Berdasarkan kata asalnya heritabilitas berarti kekuatan suatu sifat dari tetua yang dapat diturunkan kepada anaknya. repitabilitas. Heritabilitas Heritabilitas berasal dari kata bahasa Inggris “Heritability”. Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 21  . parameter ini berguna dalam beberapa hal : 1. Menunjukan suatu kesimpulan mengenai penurunan suatu sifat Mengukur variasi genetik yang berguna untuk melakukan seleksi Merupakan tolok ukur yang perlu dipertimbangkan dalam program seleksi Menentukan arahan terhadap hasil seleksi. Karena begitu pentingnya parameter-parameter ini.KULIAH V PARAMETER GENETIK DAN FENOTIPIK Parameter genetik dan fenotipik seperti heritabilitas. 2. maka : 1= VG VE + VP VP Heritabilitas adalah VG atau proporsi ragam yang disebabkan oleh faktor genetik VP dibagi dengan ragam fenotip. Dalam konteks statistika heritabilitas merupakan suatu perbandingan antara ragam yang disebabkan oleh faktor genetik dengan ragam fenotip. Persamaannya dapat ditulis sebagai berikut: VP = VG + VE Apabila semua dibagi dengan VP. Ketidak cermatan dalam pendugaan dapat menyebabkan biasnya mengukur kemajuan genetik suatu program pemuliaan. Diasumsikan bahwa tidak ada korelasi dan interaksi antara faktor genetik dengan faktor lingkungan. korelasi fenotipik. Heritability tersusun oleh kata heredity yang berarti keturunan dan ability yang berarti kemampuan.

VP Heritabilitas arti sempit ini lebih banyak digunakan dalam pemuliaan ternak. VD. ⇒ Arti luas (H 2 ) = VG V A + V D + VI = VP VP VA VP ⇒ Arti Sempit (h 2 ) = Heritabilitas arti sempit lebih banyak digunakan dalam pemuliaan arti sempit karena lebih mudah diduga dan dapat langsung menduga nilai pemuliaan.Heritabilitas ( H2. Apabila kita uraikan lebih lanjut: VG ) disebut heritabilitas dalam arti luas yang biasanya diberi simbol VP H2 = = VG V A + VD + VI = VP VP V A VD + VI + VP VP VA disebut heritabilitas dalam arti sempit dan diberi simbol h2.1 Seda ng 0. Nilai heritabilitas berkisar antara 0 dan 1. sedang dan tinggi. Heritabilitas merupakan kekuatan suatu sifat diturunkan dari tetua kepada kepada anak-anaknya. dan VI.1 < h 2 ≤ 0.1. Dalam kontek statistika heritabilitas merupakan suatu perbandingan antara ragam yang disebabkan oleh faktor genetik dengan ragam fenotipik.3 Dugaan nilai heritabilitas di sajikan dalam Tabel 4. karena heritabilitas ini mengandung semua unsur genetik seperti VA. arti luas (H2) dan arti sempit (h2). Kisarannya adalah : Renda h h 2 ≤ 0. Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 22  . Secara ekstrim dapat dinyatakan apabila h2 = 1 berarti seluruh variasi fenotip disebabkan oleh variasi genetik. yaitu rendah.3 Tinggi h 2 > 0 . karena lebih mudah diduga dan dapat langsung menduga nilai pemuliaan. Nilai heritabilitas bisa diklasifikasikan menjadi 3 kelompok. Heritabilitas dapat dikatagorikan menjadi dua macam. sedangkan apabila h2 = 0 berarti seluruh variasi fenotipik disebabkan oleh variasi lingkungan (ingat VP = VG + VE ).

79 Domba Litter size Berat anak per litter Sumber : Wiener (1994) 0-0. sebaliknya apabila dalam populasi tersebut mempunyai nilai h2 yang rendah maka respon pun akan lambat.30-0.51 0. Dalam suatu program seleksi. Produksi susu dan pertumbuhan awal mempunyai nilai h2 yang menengah.08 0-0.01-0.40-0.70 0.70 0. Perbedaan faktor genetik 2.03-0.40 0. 3. misalnya apabila dalam populasi tersebut mempunyai nilai h2 yang tinggi. Perbedaan faktor lingkungan.20-0.69 0-0. h2 yang diduga pada lingkungan yang homogen mungkin akan lebih besar dibandingkan dengan nilai h2 pada lingkungan yang heterogen.02-0.06-0.48 0.09 0-0. 2.1.09-0.12 h2 Sifat Ayam Dewasa kelamin Berat Badan Berat telur Feed efficiency Sumber Lagates & Warwick (1990) 0. Dugaan Nilai Heritabilitas untuk Beberapa Sifat pada Beberapa macam Ternak Sifat Sapi Produksi susu Persentasi lemak Lama laktasi Umur pertama melahirkan Calving Interval Service per conception Mortalitas anak Berat Lahir Berat sapih Berat dewasa Sumber : Wiener (1994) 0. Berat badan dewasa dan kualitas mempunyai nilai h2 yang tinggi.40-0. Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 23  .49 0-0.48 0. Nilai heritabilitas sangat tergantung pada ragam genetik suatu populasi. dengan demikian nilai heritabilitas yang diduga pada suatu populasi mungkin akan berbeda dengan populasi lain.11-0.02-0. dapat ditarik kesimpulan bahwa: 1.51 0.1. Perbedaan metoda yang digunakan Nilai heritabilitas merupakan suatu parameter penting dalam menduga keberhasilan suatu program pemuliaan.50 0. maka diharapkan akan memberikan respon perbaikan mutu genetik yang cepat.70 h2 Dari Tabel 4.Tabel 4. Perbedaan ini disebabkan karena : 1. 3.41 0. Sifat reproduksi pada umumnya mempunyai nilai h2 yang rendah.

sedangkan repitabilitas menduga kemiripan antara catatan produksi selama hidupnya (pada individu yang sama). Untuk mengetahui batas atas nilai heritabilitas 3. Kegunaan Repitabilitas adalah: 1. Nilai repitabilitas berkisar antara 0 dan 1. Untuk menduga performans yang akan datang berdasarkan catatan masa lalu. dan dapat ditulis dengan persamaan: r= Dimana VEP = lingkungan permanen VG + VEP VP Perbedaan heritabilitas dengan repitabilitas adalah: heritabilitas menduga suatu kemiripan antara tetua dengan anaknya. misalnya antar catatan laktasi pada sapi perah. Efek ini akan dibahas lebih jauh pada materi persilangan. Untuk mengetahui penambahan respon dengan catatan berulang 2. seleksi berdasarkan catatan individu akan efektif. atau: r ≥ h2 Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 24  . Karena pada repitabilitas memasukan ragam lingkungan permanen. Repitabilitas biasanya diberi simbol r. Pada banyak aplikasi dilapangan. sebaliknya apabila nilai heritabilitas rendah.Heritabilitas juga menentukan metoda apa yang akan dipakai dalam perbaikan mutu genetik ternak. apabila suatu sifat mempunyai nilai heritabilitas rendah biasanya para pemulia lebih banyak berharap pada pengaruh heterosis atau hybrid vigor. maka nilai repitabilitas selalu lebih besar atau sama dengan nilai heritabilitas. Secara statistik repitabilitas merupakan korelasi/kemiripan antara catatan. perlu tambahan informasi dari saudara-saudaranya. Misalkan apabila nilai heritabilitas tinggi. Repitabilitas Repitabilitas berasal dari kata bahasa Inggris Repeat yang berarti pengulangan dan ability yang berarti kemampuan. Beranjak dari kata asalnya repitabilitas berarti suatu kemampuan seekor individu/kelompok ternak untuk mengulang produksi selama hidupnya.

sedang repitabilitas kemiripan antara performa ulangan pada individu yang sama 2. Nilai Repitabilitas Beberapa Sifat pada Beberapa Ternak Jenis Ternak Sapi Perah Sifat Produksi Susu Persentase lemak susu Sapi Daging Berat lahir Berat sapih Berat panen Domba Berat lahir Berat wol Ovulation Rate Sumber : Willis (1991) Nilai Ripitabilitas 0.40 0.60-0. Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 25  .Perbedaan heritabilitas dan repitabilitas adalah : 1. Suatu perubahan sifat yang tidak diseleksi akibat sifat lain yang diseleksi disebut Respon Berkorelasi. Nilai repitabilitas selalu lebih besar atau sama dengan heritabilitas ( r ≥ h 2 ) Pendugaan nilai repitabilitas untuk beberapa sifat produksi.70 0.80 Korelasi Genetik dan Fenotipik Sifat dari seekor/sekelompok ternak mungkin bebas atau berkorelasi dengan sifat lain. sedangkan korelasi fenotipik adalah total korelasi genetik dan korelasi lingkungan. ditunjukan pada Tabel 4.40 0. Korelasi genetik kebanyakan disebabkan karena gena-gena Pleiotropi yang bekerja saling berlawanan.40-0.40-0.55 0.25 0.30 0.20-0. Berdasarkan rumus.60 0. repitabilitas terdapat komponen lingkungan permanen h2 = VA VP r= VG + VEP VP 3.30-0.30-0.2.2. Heritabilitas merupakan kemiripan antara performa anak dan tetua. Besarnya respon berkorelasi tergantung pada korelasi genetik antara dua sifat tersebut.30-0. Tabel 4.

Mereka berguna untuk meningkatkan suatu sifat yang sulit diseleksi.3.4 0. misal pengingkatan feed intake dapat dilakukan dengan menyeleksi berdasarkan pertumbuhan 3.20 s/d -0.60 -0. Parameter-parameter ini sangat penting dalam menduga nilai pemuliaan.9 0.50 -0.25 s/d 0. jika sifat yang diseleksi lebih dari satu maka digunakan Indeks Seleksi.6 s/d 0.25 s/d -0. Merupakan pengertian dasar suatu kekuatan respon berkorelasi.5 0.Korelasi genetik dan fenotipik berguna dalam beberapa hal: 1. berarti penambahan suatu unit sifat yang diseleksi akan menurunkan sifat lain yang berkorelasi 2.2 s/d 0. Korelasi Genetik pada beberapa Sifat Jenis Ternak Sapi Perah Sifat yang berkorelasi Produksi susu/persentasi lemak Produksi susu/persentasi protein Produksi susu/produksi lemak Berat lahir/berat sapih Unggas Berat telur/berat badan Jumlah telur/berat badan Jumlah telur/berat telur Sumber : Legates dan Warwick (1990)  Korelasi Genetik -0.1 s/d -0. misalnya bila korelasi genetik negatif.06 -0.G2 ) (VG1 )(VG2 ) Dimana : P1 P2 G2 G2 = fenotipik sifat ke 1 = fenotipik sifat ke 2 = genetik sifat ke 1 = genetik sifat ke 2 Dugaan korelasi genetik dapat dilihat pada Tabel berikut: Tabel 4.50 Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 26  .1 s/d -0. Korelasi fenotipik dapat ditulis dengan rumus: rp = Cov (P1.P2 ) (VP1 )(V P2 ) dan korelasi genetik: rg = Cov(G1.

yaitu : (1) Gena bersama (2) Genotip bersama. apakah anak-anak tersebut mirip diantara sesamanya atau membandingkan kemiripan antara anak-anak tersebut dengan orang tuanya. dan kemiripan antar kerabat dengan kedua orang tuanya. Kemiripan antara kerabat (anak) dengan salah satu orang tua. Hubungan antara kemiripan ke tiga faktor di atas dapat diungkapkan dalam suatu persamaan: Kemiripan = a VA V V + d D + EA VP VP VP = ah 2 + dD 2 + c 2 Dimana : a = hubungan gena-gena aditif d = hubungan gena-gena dominan Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 27  . dan 2. sedangkan kemiripan antara kerabat/sib bisa diduga dengan Analisis Varian (Anova). ini disebut FullSib. Itu adalah kemiripan pada sifat kualitatif. Kita mungkin secara tidak sadar sering menilai kemiripan anak atau antara anak dan orang tuanya didalam suatu keluarga.KULIAH VI HERITABILITAS Heritabilitas pada umumnya diduga berdasarkan kemiripan. ataupun kemiripan antara tetua dan anak. ini disebut Paternal Half-Sib. Kemiripan antara orang tua (bisa keduanya atau salah satu) dengan anak. Derajat kemiripan dipengaruhi oleh 3 faktor. Metoda ini sampai sekarang banyak digunakan untuk menduga parameter karena mempunyai kelebihan dibandingkan dengan analisis Anova. Pada sifat kuantitatif besarnya derajat kemiripan ini bisa diduga besarnya dengan menggunakan analisis statistika. yang disebut Analisis Restricted Maximum Likelihood (REML). dan (3) Lingkungan bersama. baik kemiripan diantara kerabat sebapak dan atau seibu. Kelebihannya adalah : (1) Bisa menduga data dan blok yang hilang (2) Cocok untuk data yang tidak seimbang (unbalance) yang banyak dijumpai di lapangan. Pada tahun 1976 Patterson dan Thomson menulis metoda baru untuk menduga parameter genetik dan fenotipik. Derajat kemiripan bisa dibedakan menjadi : 1. dan (3) Bisa memasukan informasi dari tetua. Kemiripan antara tetua dan anak bisa diduga dengan analisis Regresi.

n ebabkan gen notip bersama termasu uk gena-gena yang bukan aditif baik dominan maupun epistatis. Dengan kata lain w k walaupun anak-anakny a ya memp punyai poten genetik y nsi yang tinggi. a n lebih rumit karena disamping menurun g nkan 1/2 gena aditif. Pad hewan m da mamalia yang anaknya dibesarkan oleh induk. malia keadaa an anak tergantung pada produk susu ind dan prod ksi duk duksi susu t tersebut dipe engaruhi ba aik oleh genotip ataupun feno otip induk. atau ternak-terna ara a ak yang d dikandangka yang men an nyebabkan p perbedaan diantara kelo d ompok/famili. Keadaan ini d ma disebabkan karena pad da umum mnya induk yang memb besarkan an nak-anaknya misalnya pada mam a. Das Penuruna Sifat dari Tetua Kepa Anaknya bar sar an ada a Pada Gambar 4. tapi perform mans merek terpengar ka ruhi juga ole eh genotip dan fenotip induk.1. Misaln anak-an domba y nya nak yang dipeliha bersama oleh satu induk. ahwa baik ja antan atau b betina hany menurunkan 1/2 gen ya na aditif terhadap an naknya. Sebelum kita membahas sat persatu d tu dasar pendu ugaan nilai h heritabilitas. mengg gambarkan bagaimana suatu sifat d tetua dit dari turunkan kep pada anak-a anaknya.1 terlihat ba 1. 1 A 2 1 A 2 Anak Gamb 4. Ke emiripan yang disebabk kan lingkung gan bersam ma biasan nya muncul apabila ter rnak-ternak tersebut me endapat sua lingkung atu gan bersama a. Ilustrasi 2. induk juga mempengaruhi m anak dengan fak ktor lingkung gan bersam (LB).Kemir ripan yang disebabkan oleh gena bersama a a adalah hubungan yang disebabka g an hanya oleh gena a a-gena aditif Kemiripan yang dise f. tetapi epistatis biasany f ya diabai ikan karena pengaruhn a nya kecil.1. Ilmu P Pemuliaan Te ernak  Page 2 28 .

y ) = 2b Jadi : Vx b= Atau h2 = 2b Pada regresi antara nilai tengah tetua dengan anak. 1. y ) 1 Cov ( x . h2 = b karena ke dua tetua tersebut menurunkan masing-masing 1/2 faktor genetiknya. dan pada kondisi yang sama (misal umur yang sama).y) Vx Pada analisis regresi salah satu tetua dengan anak h2=2b karena salah satu tetua hanya menurunkan 1/2 dari keunggulan genetik kepada anaknya. y ) = Vx Vx 2 Cov ( x . y ) =b Jadi : Vx = Cov ( x . dan 2. 1 1 Cov[( 2 x p + 2 xi ). Lingkungan antara anak dan tetua harus diasumsikan sama. 2. Kesulitan sering timbul apabila anak-anaknya berbeda dalam tingkat produksinya dan harus dirata-ratakan. Regresi antara salah satu tetua (dengan bapak atau induk) dengan anak. Misal dalam menduga pertumbuhan. Hubungan antara tetua dan anak di asumsikan dengan regresi linear.Regresi antar Tetua dan Anak Analisis regresi antar tetua dan anak dibedakan menjadi 2 analisis : 1. atau: 1 Cov ( 2 x . y ] b= Vx Cov ( x . y ) Vx Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 29  . anak jantan dan betina mempunyai tingkat pertumbuhan yang berbeda. Persamaan umum regresi linear adalah : Y = bx Dimana Y = dugaan performans anak pada tetua tertentu x = performans anak B = koefisien regresi dimana b = Cov (x . Regresi antara rata-rata tetua dengan anak Hal-hal yang perlu diperhatikan pada analisis ini adalah.

Penjantan/induk ke n Anak1 anak2 anak3. kemiripan diantara kerabat diungkapkan dengan kemiripan gena-gena aditif dan dapat ditulis dengan VA ... Pola Haf-Sib Anak1 anak2 anak3... VP intraclass korelasi (t) atau kemiripan antara anak adalah: t= V1 A 2 Vp = 1 VA 4 VP VA VP VA Vp Page 30  Atau : 4t = Dengan demikian : h 2 = 4t = 4 Ilmu Pemuliaan Ternak    ...anak ke n Gambar 4.. yang dikawinkan secara random/acak dalam suatu populasi.... Intraclass Korelasi mengukur derajat kemiripan anak didalam suatu kelompok dibandingkan dengan kelompok yang lain berdasarkan tetua bersama..... Polanya dapat digambarkan sebagai berikut: Pejantan/Induk ............2..... Misal untuk menduga derajat kemiripan berdasarkan pejantan bersama.....anak ke n Pola half-sib dengan jantan sebagai tetua bersama lebih populer dibandingkan dengan betina sebagai tetua bersama karena jantan biasanya mempunyai anak lebih banyak dibandingkan dengan betina..... baik yang jantan maupun yang betina..... Karena pejantan/betina menurunkan 1/2 gena aditif ke anak-anaknya... Derajat kemiripan bisa diduga dengan Intraclass Korelasi....Atau h2=b Dimana : xp = performan pejantan xi =performan induk Half-Sib Dalam half-sib individu-individu yang diamati berasal dari salah satu tetuanya.......

.... Hasilnya disebut Realised Heritability.. Animal Model Sekarang pendugaan nilai heritabilitas dilakukan dengan Animal Model..... Pendugaan ini akan dibahas pada materi seleksi.. Pola Full-Sib Kedua tetua tersebut menurunkan masing-masing 1/2 gena-gena aditifnya................. Semua ternak baik penjantan.... Full-Sib mempunyai dua tetua bersama baik bapaknya atau induknya. Apabila kemiripan diungkapkan dengan Intraclass Korelasi (t)....... atau dapat ditulis sebagai berikut : h2 = Ilmu Pemuliaan Ternak    VA Vp Page 31  .....3............ tetua turut diperhitungkan dalam analisis.... induk.................Full-Sib Pendugaan nilai heritabilitas dengan analisis full-sib sedikit lebih rumit dibandingkan dengan dengan analisis half-sib karena ragam dominan dan lingkungan bersama ikut terlibat.. maka: t = = V 1 Ai + V 1 A p 2 2 Vp = 1 4 V Ai + Vp 1 4 V Ap 1 VA ⇒⇒ Jadi h 2 = 2 t 2 VP Pendugaan bukan Berdasar Analisis Statistika Nilai heritabilitas bisa diduga dengan tidak berdasarkan analisis statistik........ yaitu dengan berdasarkan hasil seleksi........ Polanya dapat digambarkan sebagai berikut: Pejantan. Dengan demikian nilai heritabilitas adalah langsung perbandingan ragam genetik dengan ragam fenotipik...... induk ke n Anak1 Anak 2 Anak ke n Anak1 Anak 2 Anak ke n Gambar 4. Pejantan ke n Induk1 induk2 ..

Performa ternak itu sendiri Performa saudara-saudaranya Performa tetuanya. Sampai sekarang belum ada metoda yang bisa pasti menduga nilai pemuliaan. karena faktor ini akan diturunkan pada anak anaknya. Prinsip pendugaannya dapat digambarkan sebagai berikut : NP Fenotip Gambar 6.2. Nilai Pemuliaan dari seekor ternak adalah 1/2 dari NP induknya dan 1/2 lagi dari NP bapaknya (Gambar 6. atau Gabungan ke tiganya Pada materi ini akan membahas pendugaan NP yang hanya berdasarkan catatan ternak itu sendiri. tapi hanya menduga saja. Penurunan Nilai Pemuliaan dari Tetua NP dapat diduga berdasarkan informasi (catatan performa) dari: 1.). Nilai Pemuliaan (NP) merupakan suatu ungkapan dari gena-gena yang dimiliki tetua dan akan diturunkan kepada anak-anaknya.1. Prinsip Dasar Nilai Pemuliaan Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 32  .5 NP Anak Gambar 6. 4.KULIAH VII NILAI PEMULIAAN Dalam pemuliaan ternak. 2.1. 3.5 NP Bapak 0. pemilihan ternak ternak terbaik berdasarkan keunggulan genetik. Induk 0.

P ) = Cov ( A. P ) = Cov ( A. A) + Cov ( A + E ) ⇒ Jika Cov ( A + E ) = 0. P ) VP Cov ( A. Rumus di atas dimodifikasi kembali menjadi: NP = h 2 ( Pi − P ) dimana Pi = Catatan individu bersangkut an P = Rata . A) = V A Jadi b= VA = h2 VP Banyak para akhli pemuliaan ingin membandingkan ternak-ternak yang berada dalam satu populasi dengan rekan-rekannya. Persamaannya dapat diungkapkan sebagai berikut: NP = bP Dimana : NP = nilai pemuliaan b = koefisien regresi P = fenotip Apabila pendugaan hanya berdasarkan catatan dari ternak-ternak bersangkutan. Nilai genetik di sini bisa nilai genotip atau hanya nilai genetik aditif saja.rata populasi Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 33  . Jadi Cov ( A. sehingga persamaannya dapat diungkapkan : NP = h2P Mengapa menjadi h2? b adalah koefisien regresi linear untuk menduga nilai genetik berdasarkan catatan fenotipik. A + E ) = Cov ( A.Diasumsikan hubungan antara Fenotip dan NP adalah linier. misalnya apakah NP ternak yang satu berada dibawah rata-rata atau di atas rata rata NP populasi. maka b = h2. Kita misalkan nilai genetik hanya diwakili oleh efek gena aditif : b= Cov ( A.

4 = 3kg 2 NP anaknya: Kemungkinan bobot badan anaknya: 65 kg +3 kg = 68 kg Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 34  . berapa perkiraan bobot badan anaknya? (3) Apabila dikawinkan dengan betina Z yang bobot badannya 70 kg.5 kg (2) Nilai Pemuliaan domba Y. karena bobot badannya termasuk rata-rata dalam populasi.25 kg (3) Nilai Pemuliaan domba Z : NPZ = h 2 ( P − P) = 0.25kg 2 Kemungkinan bobot badan anaknya: 65 kg + 2.25 kg = 67. Domba jantan X mempunyai bobot 80 kg.30. Diasumsikan bahwa tidak ada pengaruh jenis kelamin.5 + 1. dengan h2 = 0.5 kg 4. (1) Berapa nilai pemuliaan domba X? (2) Bila pejantan X tadi dikawinkan dengan betina Y yang mempunyai bobot badan sama dengan bobot badan rata-rata dalam populasi. umur induk. maka nilainya adalah 0.5 + 0 = 2.Contoh 1: Rata-rata bobot badan domba Priangan = 65 kg.3(80 − 65) = 4.3(70 − 65) = 1. berapa perkiraan bobot anaknya? Jawab: (1) Nilai Pemuliaan domba X: NPX = h 2 ( P − P) = 0. Nilai Pemuliaan anaknya: NPANAK = 4. liter size. dan faktor lain yang mempengaruhi bobot badan dewasa.

3 (3600-3300) = +90 0. 5. misalnya n kali sehingga nilai heritabilitas catatan berulangnya adalah : Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 35  . 2. dan banyak lagi sifat yang lain. Penentuan beberapa parameter genetikpun bisa menggunakan catatan berulang. maka ranking di atas harus diperhatikan. misalnya heritabilitas catatan berulang dan nilai pemuliaan catatan berulang. dan 3.3 (3100-3300) = . 1. 4. Ternak 1 2 3 4 5 Produksi (liter) 3100 3500 2800 3600 3550 Nilai heritabilitas untuk produksi susu adalah 0.3. suatu sifat mungkin diukur beberapa kali. Catatan Berulang Dalam banyak kasus.3 (3500-3300) = +60 0. Dengan demikian kalau kita menyeleksi ternak.3( 3550-3300) = +75 Kalau ternak-ternak tersebut diranking dari yang terbaik sampai yang terjelek. Pendugaan parameter dengan catatan berulang biasanya lebih cermat dibandingkan dengan catatat tunggal.60 0.3 (2800-3300) = -150 0. tetapi memerlukan waktu yang lebih lama dan ini tidak menguntungan bila diterapkan dalam program seleksi. misalnya berat badan pada sapi potong. Kemiripan diantara catatan ini diungkapkan dengan repitabilitas.Contoh 2: Berikut ini adalah produksi susu laktasi pertama dari lima ekor ternak : No. Rata-rata produksi susu ( P ) = 3100 + 3500 + 2800 + 3600 + 3550 = 3300 liter 5 Nilai pemuliaan untuk masing-masing ternak adalah : No. 4 menunjukan bahwa ternak tersebut secara genetik unggul 90 liter dari rata-rata populasinya. Nilai duga +90 untuk ternak no. Heritabilitas Catatan Berulang Untuk catatan berulang fenotipnya diukur lebih dari satu kali. produksi susu pada sapi perah. maka urutannya adalah ternak no. Ternak 1 2 3 4 5 Nilai Pemuliaan 0.

rumus Nilai Pemuliaan catatan berulang adalah: NPX = nh 2 (Pi − P) 1 + (n − 1 )r Most Probable Producing Ability (MPPA) MPPA adalah suatu nilai pendugaan kemampuan produksi dari seekor ternak yang diungkapkan dalam suatu deviasi didalam suatu populasi. Rumusnya adalah: MPPA = Dimana: n = jumlah catatan r = nilai repitabilitas nr (Pi − P) 1 +(n − 1)r nr 1 +(n − 1)r merupakan koefisien regresi untuk menduga keunggulan seekor/sekelompok ternak dalam suatu populasi berdasarkan n catatan. yang berbeda hanya koefisien regresinya saja. Kalau dengan catatan tunggal b = h2. maka untuk catatan berulang h2 = nh 2 1 + (n − 1 ) r Dengan demikian. tetapi MPPA berguna untuk menduga keunggulan seekor/kelompok individu untuk mengulang produksinya.hx2 = nh 2 1 + (n − 1)r dimana n = jumlah catatan. Pada MPPA menggunakan repitabilitas(r). Rumus ini mirip dengan rumus pendugaan Nilai Pemuliaan Catatan Berulang. Dengan demikian NP catatan berulang berguna untuk menduga keunggulan genetik yang mungkin diturunkan pada anaknya. Metoda ini sering digunakan pada sapi perah. dan r = nilai repitabilitas Nilai Pemuliaan Catatan Berulang Pendugaan nilai pemuliaan catatan berulang pada dasarnya sama dengan pendugaan heritabilitas melalui catatan tunggal. perbedaanya adalah pada pembilang. Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 36  . sedangkan pada NP catatan berulang menggunakan heritabilitas (h2).

Kemajuan Seleksi atau Respon Seleksi dipengaruhi oleh beberapa faktor.5 kg 2 Page 37  . misal pada ayam. Atau dengan kata lain. Heritabilitas (h2) 3. Seleksi diferensial (S) = 3500-3300 liter = 200 liter.KULIAH VIII SELEKSI Pengertian Seleksi Dalam konteks pemuliabiakan ternak seleksi adalah suatu proses memilih ternak yang disukai yang akan dijadikan sebagai tetua untuk generasi berikutnya. yaitu: 1. Kalau sifat tersebut dapat diukur pada ternak jantan dan betina. Dalam melakukan seleksi. S♂= 15 – 13 kg = 2 kg S♀= 12 – 9 kg = 3 kg Rata-rata Seleksi Diferensial (S) = Ilmu Pemuliaan Ternak    3+ 2 = 2. ternak yang mempunyai sifat yang diinginkan akan dipelihara. Seleksi diferensial (S) 2. Tujuan umum dari seleksi adalah untuk meningkatkan produktivitas ternak melalui perbaikan mutu bibit. Contoh 2: Rata-rata bobot sapih dari suatu populasi (seluruh ternak) domba Priangan yang betina adalah 9 kg dan yang jantan 13 kg. tujuan seleksi ingin meningkatkan produksi telur. seleksi diferensial adalah keunggulan ternak-ternak yang terseleksi terhadap rata-rata populasi (keseluruhan ternak sebelum diseleksi). sedangkan ternak-ternak yang mempunyai sifat yang tidak diinginkan akan disingkirkan. berat telur. Seleksi diferensial-nya adalah rata-rata dari keduanya. Contoh 1: Rata-rata produksi susu laktasi satu sapi Fries Holland yang terseleksi adalah 3500 liter. atau kecepatan pertumbuhan. sedangkan rata-rata produksi populasi adalah 3300 liter. Interval generasi (l) Seleksi Diferensial (S) Seleksi diferensial adalah perbedaan rata-rata performan individu-individu yang terseleksi dengan rata-rata performan individu-individu pada populasi awal. Dengan seleksi. maka seleksi biasanya dilakukan secara terpisah. tujuan seleksi harus ditetapkan terlebih dahulu. Rata-rata bobot sapih ternak-ternak yang terseleksi yang betina adalah 12 kg dan yang jantan 15 kg.

Para pemulia sering ingin mengetahui respon seleksi sebelum anak-anaknya lahir. Interval Generasi Interval generasi dapat diartikan sebagai rata-rata umur tetua/induk ketika anaknya dilahirkan. dengan demikian interval generasi sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti pakan dan tatalaksana.1. Jadi semakin tinggi nilai heritabilitas dan atau seleksi diferensial. Interval generasi dipengaruhi oleh umur pertama kali ternak tersebut dikawinkan dan lama bunting. Semakin tinggi nilai heritabilitas. Kemajuan Seleksi atau Respon Seleksi menunjukan keberhasilan suatu program seleksi. Dugaan respon seleksi sebanding dengan seleksi diferensial (S) dan nilai heritabilitas (h2). Interval generasi untuk beberapa jenis ternak tersaji pada Tabel 7. Secara kontras jika h2 = 0. Kemajuan Seleksinya adalah 280 – 270 butir = 10 butir per generasi. maka tidak ada gunanya kita melakukan seleksi. semakin cepat perbaikan mutu bibit yang diharapkan. semakin tinggi kemajuan seleksi yang diharapkan. Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 38  . Tabel 7. semakin cepat kemajuan seleksi yang diharapkan. Pemberian pakan yang jelek dapat memperpanjang interval generasi. Nilai heritabilitas menunjukan keragaman genetik ternak didalam populasi. Rata produksi telur anak-anaknya (generasi ke 2) setelah seleksi adalah 280 butir/tahun. Interval Generasi untuk beberapa Jenis Ternak Jenis Ternak Sapi perah Sapi pedaging Domba Kambing Ayam Kuda Babi Interval Generasi (Tahun) 5-6 4-5 3-5 3-5 ¾-1½ 9-13 2-4 Dugaan Kemajuan Seleksi/Respon Seleksi Respon Seleksi atau Kemajuan Seleksi adalah perbandingan antara rata-rata performan anak dengan rata-rata performan tetua. ini disebut Dugaan Respon Seleksi atau Dugaan Kemajuan Seleksi yang ditulis dengan notasi R.Heritabilitas Pengertian heritabilitas telah dijelaskan pada bab sebelumnya. Semakin cepat/pendek interval generasi. Setiap jenis ternak mungkin mempunyai interval generasi yang berbeda. Sebagai contoh: rata-rata produksi telur ayam generasi ke 1 adalah 270 butir/tahun.1.

.3 = 0.9 kg = 15.3 dan interval generasi rata-rata 3 tahun. Rata-rata ternak domba terseleksi adalah 18 kg. Nilai heritabilitas bobot sapih adalah 0. semakin ketat seleksi.Dugaan Kemajuan seleksi dapat diduga dengan rumus sebagai berikut : R = Sh2 Dimana : R S h2 = Dugaan kemajuan seleksi per generasi = Seleksi diferensial = Heritabilitas Apabila kita ingin mengetahui dugaan kemajuan seleksi per tahun maka rumusnya menjadi: R= Dimana : l = interval generasi Sh 2 l Contoh 3: Rata-rata bobot sapih domba Priangan dalam populasi adalah 15 kg. Semakin tinggi intensitas seleksi. Seleksi diferensial adalah perbedaan rata-rata performan individu-individu yang terseleksi dengan rata-rata performan individu-individu pada populasi awal. disajikan pada Ilustrasi 7. Dalam suatu populasi misalnya dipilih 10% terbaik berdasarkan potensi genetik.3 kg = 15. Berapa dugaan kemajuan seleksi per generasi dan per tahun? • • • • • Seleksi diferensial (S) = 18-15 kg = 3 kg Dugaan kemajuan seleksi per generasi (R) = 3 x 0.9 kg Dugaan rata-rata populasi bobot sapih domba Priangan generasi berikutnya adalah 15 + 0. sedangkan yang 90% lagi tidak diberi kesempatan untuk memberikan keturunan (sebagai ternak produksi atau diafkir).9 kg Dugaan kemajuan seleksi per tahun (R) = 3 x0.3 kg 3 Dugaan rata-rata populasi bobot sapih domba Priangan tahun berikutnya adalah 15+0.3 = 0.3 kg Intensitas Seleksi dan Seleksi Diferensial Intensitas seleksi (i) adalah persentase individu yang akan dijadikaan tetua untuk generasi berikutnya. yang dipilih sebagai tetua. Untuk mempermudah pengertian intensitas seleksi dan seleksi diferensial. dengan demikian semakin tinggi harapan kemajuan genetik. dengan asumsi bahwa sifat yang diteliti menyebar secara normal. atau persentasi individu yang akan diberi peluang untuk memberikan keturunan. Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 39  .1.

2.1. Seleksi Diferensial Dimana: x o = rata-rata populasi awal x1 x 1 = rata-rata individu terseleksi x 1 = x o + iσ P Seleksi Diferensial (S) = x1 − x o Atau: Jadi S = iσ P S i = seleksi diferensial = intensitas seleksi = simpangan baku fenotip Dimana : σP Nilai i dapat dilihat pada Tabel 7.40 1. Nilai Intensitas Seleksi Terpilih ((%) 5 10 15 20 25 30 40 Nilai i 2.80 0.50 0.66 0.64 0.55 1.20 Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 40  .06 1.35 0.76 1.2. Tabel 7.97 Terpilih ((%) 50 60 70 80 90 Nilai i 0.27 1.( + = σ x i o P Individu  Terseleksi  Z(δP) xo Illustrasi 7.

Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 41  . misalnya dengan super ovulasi dan alih janin dapat memperbanyak jumlah anak yang dihasilkan baik pada jantan ataupun betina.3 0. Tabel 7. Dalam dunia peternakan. Berkembangnya bioteknologi reproduksi sangat membantu meningkatkan respon seleksi. Persentase Ternak Terpilih Jenis Ternak Sapi Domba Babi Kuda Ayam Persentase Ternak Terpilih Betina Jantan 50 .5 .5 .1 0. Sayangnya nilai pemuliaan sesungguhnya tersebut tidak bisa diungkapkan tapi kita hanya menduga dengan nilai pemuliaan dugaan berdasarkan catatan fenotip.65 0.40 10 . Untuk mengetahui apakan nilai pemuliaan yang kita duga (nilai pemuliaan dugaan) mendekati nilai pemuliaan yang sebenarnya.3.10 25 . persentase ternak yang akan diseleksi perlu mendapat perhatian karena akan berhubungan dengan besarnya populasi.5 .0.Intesitas seleksi dan interval generasi merupakan suatu pembatas biologis dalam program seleksi.3. Korelasi antara nilai petunjuk yang kita gunakan (dalam hal ini fenotip) dengan nilai pemuliaan yang sesungguhnya disebut Kecermatan Seleksi.P)= peragam antara nilai pemuliaan sesungguhnya dengan fenotip yang kita gunakan sebagai petunjuk (clue). Persentasi ternak-ternak yang akan dipilih sebagai bibit tersaji pada Tabel 7.1 .45 5 . Teknologi tersebut dapat memperpendek interval generasi dan meningkatkan intensitas seleksi karena meningkatnya kontribusi ternak ternak muda pada generasi berikutnya dan lebih banyak anak yang dihasilkan.20 0.5 . Ternak-ternak tersebut disusun mulai dari yang mempunyai nilai pemuliaan tertinggi sampai yang terendah. keadaannya berhubungan dengan sifat reproduksi suatu bangsa ternak. Tetapi nilai pemuliaan yang kita tentukan adalah nilai pemuliaan dugaan.2 Kecermatan Seleksi Pada program seleksi kita memilih ternak berdasarkan nilai pemuliaannya. semakin ketat suatu program seleksi. Semakin banyak anak yang dihasikan. bukan nilai pemuliaan sesungguhnya.1 30 .1 0. P ) V A xV P Dimana Cov(A. dapat ungkapkan dengan korelasi. Untuk catatan tunggal kecermatan seleksi dapat diungkapkan dengan: rAP = Cov ( A.

dengan demikian kecermatan seleksi catatan tunggal (rAP) adalah: VP r AP = h 2 atau h Jadi kecermatan seleksi catatan tunggal sebanding dengan akar heritabilitas.Rumus tersebut dapat di modifikasi : Dengan demikian: Cov(A. LEBIH JAUH TENTANG RESPON SELEKSI Dugaan Kemajuan seleksi atau respon seleksi seperti terdahulu dapat diungkapkan dengan rumus: R = Sh2 karena S = iσ P Rumus di atas dapat diungkapkan pula dengan : R = h2 iσ P Apabila seleksi diferensial antara jatan dan betina tidak sama.P)=VA rAP = VA V A xV P = V A xV A VA = V A xV P VP VA = h 2 . maka diambil rata-ratanya: Sx = dimana S x = seleksi diferensial rata-rata Sj = seleksi diferensial jantan Sb= seleksi diferensial betina S j + Sb 2 Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 42  . dengan demikian semakin tinggi nilai heritabilitas. semakin cermat suatu progam seleksi.

atau R= [(rAP i ) j + (rAP i ) b ] [l j + lb ] j = jantan xσ A dimana subcript b = betina Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 43  . jadi: VP R= σA σ A i . atau R = hσ A i σP h =nilai kecermatan=rAP. dan interval generasi dilakukan secara terpisah untuk jantan dan betina. atau: R= dimana l =interval generasi rAP iσ A l Apabila intensitas seleksi. maka rumus di atas dapat dimodifikasi kembali: [(rAP i ) j + (rAP i ) b ] R= 2 [l j + lb ] 2 xσ A .Rumus respon seleksi di atas dapat dimodifikasi kembali: R= h2 iσ P atau VA iσ VP P 2 2 karena σ P = V P atau V P = σ P dan σ A = V A atau V A = σ A . kecermatan seleksi. dengan demikian: R = rAP iσ A dimana : R = respon seleksi i = intensitas seleksi σ A = simpangan baku genetik Sering para pemulia mengungkapkan respon seleksi per tahun bukan per generasi. juga : h2 = VA . respon seleksi per tahun adalah respon seleksi per generasi dibagi dengan interval generasi.

b.58 kg dari tetuanya.58 kg Dugaan bobot badan anak sapi betina satu tahun = 275 + 6.57 kg 2 Dugaan bobot badan anak sapi jantan satu tahun = 300 + 9.755 + 0. superior di atas rata-rata.25 x30 = 6.57 kg = 284.798) x 0.25x 30 = 9.58 kg = 281.57 kg ( ) • • Respon Seleksi Catatan Berulang Pada catatan berulang : b A P = h x2 = nh 2 1 + ( n − 1) r Page 44  Ilmu Pemuliaan Ternak    . apabila sapi jantan tersebut dikawinkan dengan 50% sapi betina terbaik : ij=1.798 Respon seleksi : R= 1 i j + ib h 2 σ p 2 1 = (1. a. • • Dugaan bobot badan anak sapi jantan satu tahun = 300 + 6. Nilai h2 = 0.57 kg Dugaan bobot badan anak sapi betina satu tahun = 275 + 9.58 kg = 306.62 kg.755 S j = 1.57 kg = 309.755 x30 = 52.755 ib=0.58 kg 2 Jadi anak-anaknya unggul 6.65 kg .58 kg c.755 + 0) x0.25 dan σp = 30 kg. Berapa Bobot badan rata-rata 10% jantan terbaik: S j = ixσ p ⇒ i = 10% = 1. Apabila jantan tersebut dikawinkan dengan betina secara acak : 1 R = (i j + ib )h 2σ p 2 1 = (1.Contoh Rata-rata bobot sapi jantan umur satu tahun adalah 300 kg dan sapi betina 270 kg. Jadi bobot rata-rata 10% terbaik adalah 352.

Diferensial seleksi menjadi : S = ix V P = ix 1 + (n − 1)r 1 + (n − 1)r σP V P = ix n n Respon seleksi menjadi : Rn = ixh 2 xσ P x 1 + (n − 1)r n x n 1 + (n − 1)r atau Rn = ixh 2 xσ P x 1 + (n − 1)r n Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 45  .

nilai heritabilitas dan nilai pe emuliaan ter rnak jantan dan betina dipisah. Da alam aplikas di lapanga jika mem si an. Seleks ini sering d si dilakukan jika a: (1) Fenotip ternak yang bersangkutan bisa diukur baik pada j n r jantan atau betina (2) Nilai herita abilitas atau keragaman genetik ting ggi. dan atau (3) gabungan keduanya. mungkinkan. ke emudian dip pilih ternak-ternak terba aik se esuai keperlu untuk pe uan engganti. s seleksi dapat dibedakan menjadi : t (1) Seleks individu si (2) Seleks Famili si (3) Uji Zur (Uji Ketu riat urunan/Proge Test) eny Dalam melakuka seleksi. diperlukan suatu catat m an tan atau re ekording se ebagai baha an evalua Pada da asi. Selek Individu (Individual Selection) ksi Se eleksi indivi idu adalah metoda se eleksi yang paling se g ederhana pa aling banya ak dig gunakan unt memperbaiki potens genetik ter tuk si rnak. asarnya cat tatan atau rekording ya ang biasa digunakan da alam program seleks berupa ca si atatan fenot yang bis berasal d tip sa dari : (1) Ca atatan peno otip ternak it tu sendir (2) catatan fenotip dari saudara-s ri.KULIAH IX METO ODA SELEK KSI Pada dasarnya. saudaranya. Se eleksi bisa dilakukan dengan me emilih terna ak-ternak te erbaik berda asarkan nilai pe emuliaan. Ilustra 1 : Seleks Individu asi si Ilmu P Pemuliaan Te ernak  Page 4 46 .

Ayam yang diberi perlakuan penyakit tidak bisa dipakai sebagai pengganti. seperti jenis kelamin. seperti dalam satu kandang ayam-ayam berasal dari tetasan yang sama. Karena pengaruh dari induk mulai dari uterus sampai mereka disapih. satu kelompok untuk ayam pengganti. sangat sering sifat yang diamati variasinya kecil atau ternak-ternak diberi perlakuan khusus sehingga tidak bisa dipakai sebagai ternak pengganti. ketepatan memilih ternak akan berkurang. karena ternak-ternak pengganti harus bersih dari penyakit (Ilustrasi 2). seleksi individu sering dan lebih mudah dilakukan karena sifat tumbuh bisa diukur langsung baik pada jantan ataupun betina. apabila kita ingin memilih domba berdasarkan beratnya saja. Dalam pendugaan nilai pemuliaan. seperti pada domba. paritas induk. dan perlakuan yang sama. babi. Hasil test kemudian dievaluasi dan ayam-ayam pengganti yang dipakai adalah anak-anak ayam yang berasal dari famili terbaik berdasarkan daya tahan dari performa saudara-saudaranya. Sering seleksi hanya berdasarkan pertimbangan fenotip saja tidak perlu menduga nilai pemuliaan. tipe kelahiran. Sebagai contoh. dan (3) Ternak diberi perlakuan khusus sehingga tidak bisa dipakai sebagai ternak pengganti. faktor yang mempengaruhi bobot badan sangat banyak. Demikian juga lingkungan yang diberikan biasanya sama. Apabila faktorfaktor ini tidak diperhatikan. dan sapi perah. Anak-anak ayam dari satu keluarga (satu keluarga berasal dari satu jantan dan satu betina) dibagi menjadi dua kelompok . Pada domba misalnya. pakan sama. dan kelompok lain yaitu ayam-ayam yang dipakai untuk percobaan yang diberi perlakuan penyakit. Sebagai contoh pada ayam. faktor-faktor yang mempengaruhi fenotip harus diperhatikan dan dipertimbangkan dalam evaluasi. Seleksi Keluarga (Family Selection) Dalam suatu program seleksi. suatu seleksi ditujukan untuk mencari ayam-ayam yang tahan terhadap penyakit spesifik. Seleksi individu akan semakin rumit apabila banyak faktor yang mempengaruhi fenotip. Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 47  . Untuk kasus semacam ini. seleksi keluarga bisa dilakukan dengan mempertimbangkan informasi atau catatan dari saudara-saudaranya. dan musim waktu ternak-ternak tersebut dibesarkan. maka yang akan terpilih adalah domba-domba jantan yang berasal dari kelahiran tunggal. padahal domba yang berasal dari kelahiran kembar mungkin mempunyai potensi genetik tinggi. Seleksi keluarga biasa dilakukan apabila: (1) Nilai heritabilitas rendah (2) Ternak betina banyak menghasilkan keturunan. dombadomba yang berasal dari kelahiran kembar akan lebih kecil dibandingkan dengan yang berasal dari kelahiran tunggal walaupun bapak dan ibunya sama.Pada ayam pedaging.

Apabila keadaan in terjadi. Uji ini lazim d i digunakan untuk evalua asi pe ejantan karena pejantan biasanya banyak meng ghasilkan ke eturunan. 5. Uji Zuriat ada alah suatu uji terhadap seekor atau sekelom p mpok ternak berdasarka an pe erforman ata tampilan dari anak-a au anaknya. unggulan po otensi genetik ternak jan ntan untuk p produksi sus su jug sangat penting. diperlakuk kan sama untuk mempermuda m ah 3. ma bisa dila a ni aka akukan uji Zu uriat. Anak-a anaknya s seharusnya mempe erbandingka an. misalny ya produksi susu Tetapi keu u. 2. Jangan dilakukan seleksi terha n adap anak-a anaknya seb belum uji selesai.Ilustra 2 : Seleks Famili asi si Uji Zu uriat (Uji Keturunan/Pro ogeny Test) Se ering suatu sifat hanya muncul p a pada salah satu jenis kelamin sa aja. 4. h ungkin (minimal 10 ana ak Jumlah anak per pejantan diusahakan sebanyak mu per pej jantan ). Ke eberhasilan u uji zu uriat tergantu pada syarat-syarat s ung sbb: 1. Pejantan diuji seb banyak-bany yaknya (minimal 5 – 10 ekor terga 0 antung jumla ah anak y yang dihasilk kan). karena pada u ga p umunya tern nak jantan d dapat mengawini banya ak be etina. Ilmu P Pemuliaan Te ernak  Page 4 48 . Penga awinan peja antan deng gan betina dilakukan secara acak untu a n uk mengh hindari jantan-jantan me engawini be etina yang sa angat bagus atau sanga s at jelek.

ke ecuali untuk mendapatk kan keserag gaman suatu sifat tert tentu terlebih da ahulu. Ke em mpat sifat te ersebut sangat penting dan sanga g at me enunjang un ntuk mendap patkan produ uksi daging t tinggi. Seleksi tandem (Ta andem selec ction) 2. Se etelah sifat yang pertama mencapai tingkat yang diinginkan. Ad 3 cara un da ntuk melakuk seleksi jika sifat yan dipertimba kan ng angkan lebih dari satu : h 1. Se eleksi ini ba dilakukan jika sifat-s aik n sifat yang m menjadi tujuan perbaika an tid saling te dak erikat. ca seleksi la baru diterapkan. Setela ah ke eseragaman tercapai. (2 2) pe ertambahan bobot bada (3) jumla anak perk an. seleksi ber p rdasarkan s satu sifat sangat jaran ng dil lakukan. fat Se ebagai conto pada dom oh mba. Seleksi indeks (Inde selection) ex ksi Selek Tandem Da alam hal ini seleksi atau perbaikan dilakukan terhadap sa sifat ter n atu rlebih dahulu. Jika s saling terika keadaan ideal akan s at sulit dicapai. m. untuk m mendapatka tujuan pro an oduksi dagin yang tinggi ng sif fat yang d dipertimbang gkan adala ah: (1) bo obot badan saat dipasarkan. ara ain Ilmu P Pemuliaan Te ernak  Page 4 49 . misalny keseraga ya aman warna bulu dan k a keseragama bobot ba an adan. Biasa anya para pemulia mem mpertimbang gkan paling sedikit 3 sif sekaligus. Pada ayam .Ilustra 3: Uji Zur asi riat SELE EKSI LEBIH DARI SATU SIFAT U Da alam suatu program pemuliaan. se eleksi tandem biasanya dilakukan untuk membentuk kese m eragaman p pada popula asi aw wal. da (4) kema an ampuan indu uk da alam membesarkan an nak. sifat kedua baru dimulai y g a dip perbaiki. Seleksi batasan sis sihan/penyingkiran secara bebas (In ndependent c culling level) ) 3. ah kelahiran.

Nilai ind deks dapat dibentuk den d ngan rumus: : Ilmu P Pemuliaan Te ernak  Page 5 50 . Pe erformanya tercantum p pada Tabel 1. m Ta abel 1 menunjukan ba agaimana m membuat ind deks berdas sarkan fenotif saja.Selek Batasan Sisihan ksi De engan cara ini seluruh sifat pentin dipertimb ng bangkan sec cara bersam maan denga an dib tingkat/b beri batas/standa ideal yang diinginkan Misalnya p ar g n. Se ebagai conto 10 ekor ayam beti oh. Selek Indeks ksi Se eleksi indek banyak digunakan pada pete ks ernakan ya ang lingkunganya relatif se eragam. ternakter rnak yang akan dipilih m menjadi bibit adalah tern t nak-ternak ya mempunyai produk ang ksi su usu 3 000 li iter pada laktasi pertam dan kadar lemak 4% Keputusan akan sulit ma %. Sifat pe ertama adalah produks telur dalam si wa aktu 3 bulan (dalam buti dan rataa berat telur selama 3 b ir) an r bulan (dalam gram). pada sapi pe erah. n hirnya diduga berdasarka nilai inde a an eks. se ehingga stan ndard harus diturunkan. Sering dalam tip s S me elakukan seleksi. pem s mbobotan n nilai untuk setiap sifa diperhitungkan untu at uk me empertimbangkan samp berapa jauh sifat ya satu lebih penting d sifat yan pai ang dari ng lai Pemilihan ternak akh in. r ina akan diseleksi berd dasarkan se eleksi indeks. ko orelasi gene etik. Unt tuk keakurat tan seleksi ini. ap pabila tidak ada ternak-ternak ya ang mempunyai tingkat t/batas yang diinginkan. pareme eter genetik seperti nilai heritabilitas. dan ko orelasi fenot antara sifat harus diketahui.

dengan demikian ternak yang mempunyai nilai indeks negatif.03  0  Index Total  0.00  0. ternak A menempati urutan pertama.I= ( Pi − P) P Dimana : I = nilai indeks.05  0.02  ‐0.01  0. G.05  ‐0.8.03 0.04  0  Index   Berat Telur  0.02 + 0. berarti performa nya dibawah rata-rata populasi.06 = 0.00  0.08 Apabila seleksi berdasarkan fenotip produksi telur dan berat telur saja.02 87 (66 − 62) = 0.06  0.02  0.06 = 62 Total Indeks = 0. Menyusun indeks Fenotip ID  Ternak  A  B  C  D  E  F  G  H  I  J  Rata‐ rata  Produksi  Telur (Butir)  89  78  84  92  91  88  83  87  90  91  87  Berat Telur  (g)  66  64 59  63 61  62  68  58  59 60  62  Index  Produksi  Telur  0.02 ‐0.01  ‐0.05 ‐0.01  0  Ranking  1  9 10  2 4  6  3  8  7 5    Contoh Indeks ternak A: Indek Produksi Telur = Indek Berat Telur (89 − 87) = 0. dan P = nilai rata-rata Tabel 1.02  0.09  0. kemudian ternak D. Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 51  .04  0. Pi = performa ternak.10  ‐0. dan seterusnya. Penyusunan indeks diatas diasumsikan nilai ekonomi produksi telur dan berat telur sama atau 1 : 1.05  0.03 ‐0.03  0.08  ‐0. Rata-rata nilai indeks adalah nul (0).05 0.07  ‐0.06  ‐0.04  0.11 ‐0.07  0.07  ‐0.

34  ‐1.0 Indeks NP total = 0.86  ‐0. Menyusun indeks NP ID Ternak  A  B  C  D  E  F  G  H  I  J  Rata‐rata  Produksi  Telur (Butir)  89  78  84  92  91  88  83  87  90  91  87  Berat  Telur (g)  66  64  59 63  61  62  68  58 59  60 62  NP Produksi  Telur  0.14  2.24  0.06  ‐0.34 NP Berat Telur = 0.Sekarang bagaimana kalau membuat indeks berdasarkan Nilai Pemuliaan?.50  ‐1.00 ‐1. Pendugaan indeks berdasarkan nilai pemuliaan lebih baik dibandingkan dengan pendugaan indeks berdasarkan nilai fenotip saja.94  0. Diasumsikan nilai korelasi genetik dan korelasi fenotip antara produksi telur dan berat telur = 0.16  1.00  3.20 dan nilai heritabilitas berat telur = 0.66 0.00  1.50  0.34  ‐0.34 + 2.20 (89-87) = 0.44  0.26  0  Ranking  1  7  10 3  4  5  2  9 8  6 Contoh NP ternak A: NP produksi Telur = 0. Demikian juga nilai ekonomi antara produksi telur dan berat telur sebanding. 2 Nilai Pemuliaan (NP)= h ( Pi − P) Indeks I = h 2 ( Pi − P) Pr oduksiTelur + h 2 ( Pi − P) BeratTelur Tabel 2. ada perbedaan ranking ternak yang diduga dengan indeks fenotip dan indeks nilai pemuliaan.50 0.74 0  NP Berat  Telur  2.50 (66-62) = 2.74  0.86  ‐2.00 = 2. Misal nilai heritabilitas untuk produksi telur = 0.00 0  Index NP  Total  2.54  0.14  ‐2. Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 52  .34 Kalau diperhatikan.50  ‐0.00  ‐2.8.96  ‐0. Sebagai contoh ternak G menempati urutan no 2 jika berdasarkan atas indeks nilai pemuliaan dan ranking no 3 jika diduga dengan indeks nilai fenotip.06 0.14  ‐0.00  ‐1.50.86  ‐0.

Da alam suatu analisis. BLU mampu mendeteksi individu y UP i yang mempu unyai poten nsi ge enetik tinggi dengan me enggabungka berbagai macam inf an i formasi. Metoda ini j juga dapat m mengevalua asi ba anyak sifat s sekaligus da memperti an imbangkan h hubungan k kekerabatan antar ternak. baik catatan da k ari ter rnak itu sendiri atau dar saudara-s ri saudaranya. sem mua informa tersebut diolah.   Ilmu P Pemuliaan Te ernak  Page 5 53 . ah ba anyak dipak dan tah kai hun 1994 d dan telah ditetapkan s d sebagai me etoda analis sis pe endugaan nil pemuliaa standar du ilai an unia. Has asi silnya semu ternak ba ua aik ya mempun ang nyai catatan atau ternak yang tidak mempunyai catatan asa mempuny k i al yai hu ubungan dengan ternak yang mem k mpunyai catatan dapat dievaluasi.Se ekarang tela dikemban ah ngkan suatu metoda ya u ang disebut Best Line Unbiase t ear ed Pr rediction (B BLUP). BLUP tela t .

cara ini kurang populer karena terlalu beresiko anak-anak yang dihasilkan banyak yang abnormal. dkk. yaitu: (1) Persilangan antar individu yang berkerabat (Inbreeding). Inbreeding dapat terjadi secara kebetulan apabila sekelompok ternak dipelihara bersama seperti pada domba dan terutama pada populasi kecil. Dengan demikian. karena inbreeding dapat menurunkan heterozygotsitas didalam populasi. dan (2) Persilangan antar individu yang tidak berkerabat (Out Crossing). perkawinan dikatakan berkerabat atau Inbreeding apabila individu-individu tersebut mempunyai tetua bersama sekitar 4 generasi diatasnya. Out Crossing dapat dibedakan menjadi: 1. Biak Silang luar (Out Breeding) 3.BAB X TEKNIK PERSILANGAN DALAM PEMULIAAN TERNAK Dalam pemuliaan ternak. Kelemahan dan keuntungan inbreeding adalah sebagai berikut: Keuntungan Inbreeding : 1. (1993) suatu individu dikatakan tidak berkerabat lagi apabila tidak mempunyai tetua bersama setelah generasi ke lima atau ke enam. Biak Tingkat (Grading Up) Inbreeding (Silang Dalam). Pada ternak besar seperti sapi. Cara ini sering dilakukan pada ayam untuk membentuk populasi awal galur murni dengan cara mengawinkan ayam-ayam yang disukai. Menurut Vogt. Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 54  . dikenal ada 2 macam teknik utama persilangan. Setelah diperoleh populasi yang seragam pola pemuliaan ditata ulang sesuai tujuan sesungguhnya atau dipersiapkan untuk dikawinkan dengan galur lain yang juga sudah seragam. Dalam industri pembibitan sering inbreeding sulit dihindari atau bahkan sering juga dilakukan untuk tujuan-tujuan tertentu. Membuat populasi seragam. Biak Silang (Cross Breeding) 2. Biak dalam (Inbreeding) adalah perkawinan antara individu yang mempunyai hubungan kekerabatan. Inbreeding sering dilakukan untuk membentuk pupolasi awal yang seragam. seperti keseragaman warna bulu atau performanya.

kemudiaan anaknya yang betina dikawinkan lagi dengan pejantan A. Cucunya (F2) dikawinkan lagi dengan pejantan A. Dengan demikian kita bisa melakukan seleksi terhadap ternak-ternak pembawa sifat tidak baik. Pada saat tertentu. Kerugian Inbreeding Inbreeding bisa menyebabkan suatu dampak yang tidak diinginkan terhadap sifat-sifat seperti dapat dilihat pada table berikut. maka akan tampak/muncul pada populasi. seperti daya tahan penyakit.5% mirip pejantan A. Mempertahankan keunggulan individu ternak dengan line breeding. Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 55  .2. Apabila diketahui pada suatu individu atau sekelompok ternak terdapat keunggulan-keunggulan spesifik. Contoh : Apabila kita ingin mempunyai seekor pejantan unggul. kita ingin anaknya mirip pejantan tersebut. Mendeteksi gena-gena yang tidak diinginkan. Inbreeding membuat individu-individu homozygot. para peternak perlu mempertahankan suatu tetua yang unggul. Cara yang biasa digunakan adalah dengan biak sisi (line breeding). 4. maka dilakukan biak sisi/penggaluran sebagai berikut : Pejantan A Betina B Betina F1 Betina F2 Betina F3 Dan seterusnya Pejantan A dikawinkan dengan seekor betina. 3. dan seterusnya. Apabila terdapat lethal gena dalam keadaan homozygot. Melestarikan sifat-sifat yang diinginkan. inbreeding dapat mempertahankan sifat tersebut supaya tidak terurai atau hilang dalam populasi. Pada generasi ke 3 (F3) kita memperoleh anaknya 87.

Dari 10 famili terbaik kemudian dikembangkan lagi menjadi 40-60 famili.Tabel 1. Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 56  . resistensi penyakit. sangat sulit untuk menghindari Inbreeding. Inbreeding juga akan meningkatkan abnormalitas dan kematian untuk sifat yang dalam keadaan homozygote bersifat lethal. dari famili-famili tersebut diseleksi sekitar 10 famili terbaik. Mempertahankan populasi sebanyak mungkin Pada kenyataan.75 % Secara umum. karena akan mengalami penurunan produksi sebesar    3 % 3. Inbreeding akan menurunkan performans seperti : daya tahan tubuh. Menghindari Inbreeding di galur murni sangat sulit. Hal ini akan mempengaruhi produksi susunya . dan daya hidup. Dampak Inbreeding sebagai akibat adanya kenaikan koefisien Inbreeding sebesar 10% Ternak Sapi Domba Sifat Pertumbuhan Produksi Susu Berat Sapih Berat Umur Dewasa Produksi Wol Jumlah Anak Sepelahiran Berat umur 150 hari Produksi Telur Daya Tetas % Penurunan 5 3 4 7 8 5 3 6 6 Babi Unggas Jika terjadi perkawinan antara saudara tiri maka keturunannya akan mempunyai koefisien inbreeding sebesar 12. tiap galur murni biasanya dipelihara antara 40-60 famili. Pada ayam misalnya. Dengan demikian pengaruh Inbreeding pada produk akhir pada pemuliaan ayam dapat dihindari.5%. tapi pada ayam tidak begitu bermasalah karena produk akhir atau final stock adalah merupakan hasil persilangan dari paling sedikit 4 galur murni yang tidak berhubungan. terutama jika populasi ternak elite atau populasi di nukleus yang jumlahnya sedikit. terutama dalam suatu program pemuliaan.9. Menghindari perkawinan antara individu yang mempunyai hubungan kerabat 2. Menghindari Inbreeding Ada dua cara utama untuk menghindari inbreeding: 1. Selain itu. efisiensi reproduksi.

Jangan ganti pejantan didalam suatu populasi dengan anak-anaknya 4. 2. Ketika mengimport pejantan (atau betina) untuk tujuan crossbreeding. Hubungan Kekerabatan Langsung Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 57  . Individu hasil inbreeding disebut inbred. anak dengan kakek/neneknya. Secara teori. dan seterusnya disebut Hubungan Kekerabatan Langsung. seperti antara anak yang seibu/sebapak (half-sib). hubungan tersebut dinyatakan dalam Hubungan Aditif (Additive relationship) atau kemungkinan dua individu atau lebih mempunyai gena yang sama dari tetuanya. sangat penting diketahui bahwa ternak-ternak tersebut tidak berhubungan dengan ternakternak yang telah didatangkan sebelumnya. Jika Inbreeding telah terjadi. antara paman dan keponakan. Hubungan kekerabatan bisa: (1) langsung. anak dengan kakek. 3. Dengan demikian ada kesamaan gena antara anak dengan orang tuanya. Contoh hubungan kekerabaan langsung diungkapkan pada Ilustrasi berikut: ½ ½ ½ D C B A Gambar 1. Hubungan antara anak dan ayah atau ibu.Ada beberapa cara untuk menghindari Inbreeding pada ternak besar seperti sapi: 1. dan (2) tidak langsung (hubungan koleteral). Jangan gunakan pejantan yang sama didalam suatu populasi jika anak-anaknya yang betina mencapai umur kawin. usahakan untuk mengawinkan ternak-ternak tersebut dengan ternak lain yang tidak berhubungan Teori Hubungan Kekerabatan dan Inbreeding Dalam konsep genetika. bapak mewariskan 12 gena kepada anaknya dan 12 lagi berasal dari induk. dst. seperti ayah/ibu dengan anak. Derajat kekuatanya diukur dengan Koefisien Inbreeding yang mempunyai arti kemungkinan suatu individu menerima gena-gena yang identik dari tetuanya.

D dengan F. hubungan semacam ini disebut Hubungan Kolateral. tetapi ditambah lagi satu garis generasi. dan lain-lain. Dengan demikian hubungan aditif akan mengecil sejalan dengan menjauhnya generasi. antara paman dan keponakan. maka hubungan A dengan B = 12 . dan hubungan antara A dan D = 12 x 12 x 12 = 18 . Hubungan Kolateral Contoh hubungan kolateral adalah antara B dengan E. C dengan E. Secara matematik hubungan aditif (a) dapat diungkapkan dengan persamaan: ⎛ 1⎞ a=⎜ ⎟ ⎝ 2⎠ Dimana : a = hubungan aditif n = banyaknya generasi n Contoh: hubungan kekerabatan antara A dan D terhalang 3 generasi. Hubungan antara A dan C = 12 x 12 = 14 . Contoh hubungan koleteral diungkapkan pada ilustrasi berikut: ½ ½ ½ D  Gambar 2.Apabila individu A bukan inbred (Individu hasil inbreeding). c dan D = 12 . dst. C F B A ½ E ½ Pendugaan hubungan kolateral sama dengan hubungan langsung. dengan demikian a AD 1 ⎛ 1⎞ =⎜ ⎟ = ⎝ 2⎠ 8 3 Hubungan kekerabatan dapat juga tidak langsung. ⎛ 1⎞ a=⎜ ⎟ ⎝ 2⎠ n1 + n2 dimana n1= banyaknya generasi pada garis 1 n2= banyaknya generasi pada garis 2 Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 58  . B dan C = 12 . misalnya antara anak yang seibu/sebapak (half-sib).

Demikian juga untuk A2. Dengan demikian ada kemungkinan individu X menerima gena sama A1 dari B dan C sehinga bergenotip A1 A1.A2) 1 A 2 1 2 B  C  1 2 1 2 X  Gambar 3: Perkawinan Saudara Pada contoh sederhana. Besarnya peluang individu X bergenotip A1 A1 atau A2 A2 disebut Koefisien Inbreeding X (Fx).Contoh : a BE a CE a DF ⎛ 1⎞ =⎜ ⎟ ⎝ 2⎠ ⎛ 1⎞ =⎜ ⎟ ⎝ 2⎠ ⎛ 1⎞ =⎜ ⎟ ⎝ 2⎠ 1+1 = 2 +1 1 4 1 8 1 32 = 3+ 2 = Koefisien Inbreeding Koefisien Inbreeding dapat diartikan kemungkinan suatu individu menerima genagena yang identik dari tetuanya. Gena-gena tersebut akan diturunkan kepada B dan C. Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 59  . (A1. individu A akan mengkopi gena-gena A1 dan A2.

Demikian juga kemungkinan individu X menurunkan gena A2 kepada X adalah Jadi kemungkinan individu X bergenotip A1 A1 atau A2 A2 adalah 1 16 . karena pada prinsipnya hubungan kekerabatan menunjukan gena-gena yang identik yang dipunyai dua individu atau lebih. Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 60  .Apabila A bukan inbred. Jadi kemungkinan individu A menurunkan gena A1 kepada A melalui B dan C adalah 1 4 1 1 x 4 = 16 . Koefisien Inbreeding dapat juga diturunkan berdasarkan hubungan kekerabatan (a). kemungkinan A menurunkan gena A1 kepada X melalui B 1 1 adalah 4 . Apabila C dan B dikawinkan. gena-gena tersebut akan diturunkan lagi dan kemungkinan individu X menerima gena dari B dan C akan ½ aBC. dan A menurunkan gena A2 kepada X melalui C juga 4 . 1 1 1 + = 16 16 8 1 8 disebut juga koefisien Inbreeding x atau F(x). Atau dapat diungkapkan dalam rumus: 1 F ( x) = a 2 Contoh: Berapa koefisien Inbreeding individu x pada Gambar 3? ⎛1⎞ ax = ⎜ ⎟ ⎝2⎠ Koefisien Inbreeding x: 1+1 ⎛1⎞ 1 =⎜ ⎟ = 4 ⎝2⎠ 2 1 1 1 1 F ( x) = a = x = 2 2 4 8 Koefisien Inbreeding Untuk Pedigree Kompleks Pada contoh berikut ini adalah cara menghitung koefisien Inbreeding dari individu X dengan silsilah keluarga yang lebih kompleks.

Perhitungan Koefisien Inbreeding Jalur ADB AD G EB ADF J GEB n 3 5 7 1 2 0.9.0078 Inbreeding dari tetua bersama 0. Sedangkan iIndividuindividu dikatakan tidak berhubungan atau tidak berkerabat. jika tidak mempunyai tetua bersama setidaknya lima atau enam generasi sebelumnya.1250 0.1797 Tetua bersama D adalah individu ‘inbred’ karena mereka (F dan G) adalah saudara tiri. Demikian juga individu D dan E adalah saudara tiri sehingga menghasilkan individu ‘inbred’ B (salah satu tetua dari individu X).1406* 0. Secara biologis.I  ♂ J ♀ K  ♂ F  ♀ G  ♂ H  ♀ C  ♀ D  D ♂ E ♀ A  ♂ B ♀ X  Tabel 2.0313 0. Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 61  .1406 Kontribusi ke Koefisien Inbreeding F(x) 0. individu-individu yang disebut berhubungan atau berkerabat adalah individu-individu yang mempunyai satu atau lebih tetua bersama.0078 0.125 0 0 F(x) * 0.125 x (1 + 0.0313 0.125) = 0.

Perkawinan ini bisa satu bangsa ternak atau antar bangsa yang berbeda. 2. ayam Island Red dengan White Rock. dengan kegunaan-kegunaan : 1. Jenis persilangan ini memegang peranan penting dalam pemuliaan ternak. Misal antara sapi Brahman dengan sapi Angus. Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 62  . dan lainlain. dan (3) Biak Tingkat (Grading Up). (2) Biak Silang luar (Out Breeding). Out Breeding dapat dibedakan menjadi: (1) Biak Silang (Cross Breeding). Saling substitusi sifat yang diinginkan. Memanfaatkan keunggulan ternak dalam keadaan hetrozygot (Hybrid Vigor). Contoh bangsa sapi baru yang terbentuk dari crossbreding : Sapi Santa Gertrudis Hasil perkawinan antara sapi Brahman dengan sapi Shorthorn.Out Breeding Out breeding adalah perkawinan antara ternak yang tidak mempunyai hubungan kekerabatan. Biak silang (Cross-breeding) Cross breeding adalah persilangan antar ternak yang tidak sebangsa.

25% Shorthorn. dengan komposisi darah : 25% Hereford. Sapi Charbray Hasil kawin silang sapi Brahman dengan sapi Charolais. 50% Brahman. Shorthorn dan sapi Hereford. dan 13/16 Charolais. Sapi Beef Master Hasil persilangan antara sapi Brahman.Sapi Brangus Hasil perkawinan antara sapi Brahman dengan sapi Aberdeen Angus. 5/8 Angus. Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 63  . Komposisi darahnya adalah 3/16 Brahman. Komposisi darahnya adalah 3/8 Brahman.

Grading Up Grading up adalah persilangan balik yang terus menerus yang diarahkan terhadap suatu bangsa ternak tertentu. Skema Grading up dapat dilihat pada gambar 4.Out Crossing Out crossing adalah persilangan antara ternak dalam yang satu bangsa tetapi tidak mempunyai hubungan kekerabatan. sehingga terbentuk sapi yang disebut peranakan Ongol. Tujuan utama out crossing adalah untuk menjaga kemurnian bangsa ternak tertentu tanpa silang dalam. Tujuan Grading Up adalah untuk memperbaiki ternak yang produktivitasnya dianggap rendah. Kelompok Pejantan Bangsa A Kelompok Betina Bangsa B Betina F1 Betina F2 Betina F3 Dan seterusnya Sapi Peranakan Ongole Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 64  . sedangkan kerugiannya adalah dapat menyebabkan kepunahan. Sapi-sapi betina lokal Indonesia dikawinkan dengan pejantan Ongol terus menerus. Contoh Grading up di Indonesia dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda yang disebut Ongolisasi.

Efek Heterosis (Hybrid Vigor)

Efek Heterosis atau Hybrid Vigor dapat diartikan sebagai keunggulan performan hasil persilangan dibandingkan dengan rataan performan tetuanya. Contohnya : Pedet hasil persilangan dua bangsa yaitu Angus x Hereford mempunyai pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan dengan rata-rata tetuanya. Pada anak betinanya, selain sifat pertumbuhan yang lebih baik, juga mempunyai % berat sapih dan produksi susu yang lebih tinggi dibandingkan dengan induk dari kedua purebred tersebut.

Efek heterosis cenderung tinggi untuk sifat-sifat yang mempunyai nilai heritabilitas rendah, seperti sifat reproduksi, dan cenderung rendah untuk sifat-sifat yang mempunyai nilai heritabilitas tinggi seperti pertumbuhan, produksi karkas dan wool. Efek heterosis adalah kumulatif, dapat dimaksimalkan dengan cara mengawinkan betina hasil crossbred dengan pejantan dari bangsa yang lain untuk menghasilkan keturunan yang crossbred. Ternak composite seperti Katahdin dan Polypay menunjukan sebagai crosbreed yang menguntungkan. Contoh heterosis pada domba dapat dilihat pada table berikut. Tabel 3.9. Heterosis pada Domba Sifat Bobot lahir Bobot sapih ADG pra sapih ADG post sapih Bobot 1 tahun Conception rate Daya hidup anak Sifat karkas Persentase Heterosis 3,2 5,0 5,3 6,6 5,2 2,6 9,8 0

Efek Heterosis ini biasanya dinyatakan dalam perhitungan sebagai berikut :

 

   

 

  100

Contoh perhitungan : Berat Sapih Breed A Berat Sapih Breed B Rata-rata purebred Rata-rata crossbred = 228 kg = 222 kg = (228 + 222)/2 = 225 kg = 235 kg

Ilmu Pemuliaan Ternak   

Page 65 

 

235 225 5  100 225

4..4%

Nilai 4.4% artinya bahwa rata-rata pe erformans cr rossbred ata anak 4.4% lebih tinggi au % jik dibandingkan dengan rata-rata pe ka erformans pa arental atau tetuanya.

Da asar Genetik pada Hete erosis Da asar genetik pada heter k rosis efek m merupakan k kebalikan da efek Inbreeding. Pad ari da ka asus Inbreed ding, dihara apkan anak yang terlah mempun hir nyai pasangan gen yan ng ho omozygote (sama), sedangkan pa ada heteros diharapkan anak yang terlah sis hir me empunyai pa asangan gen yang heterozygous (berbeda). n

Istilah h-istilah Tek knik Perkaw winan pada Ternak

Ba ackcross: Pe erkawinan antara anak (Filial) hasil d suatu pe ( dari ersilangan d dengan salah satu h tet tuanya. Con ntoh: P1 x P2 menghasilkan F1. Perkawinan ant 2 tara F1 deng P1 atau gan P2 disebut Ba 2 ackross.

P1

X

     

P2 2

F F1
Cr risscrossing: : Pr rogram Cros ssbreeding b berkelanjutan n.

 

X

P1 P2

rossbreeding g: Cr Ilmu P Pemuliaan Te ernak  Page 6 66

Persilangan antar ternak yang tidak sebangsa.

Genus Cross: Perkawinan antara genus yang berbeda. Misal perkawinan antara Bos Taurus dengan Bison.

Grading Up: Persilangan balik yang terus menerus yang diarahkan terhadap suatu bangsa ternak tertentu.

Inbreeding : Perkawinan antara individu yang mempunyai hubungan kekerabatan.

Inbred Line : Individu hasil Inbreeding

Incrossing : Perkawinan antara inbred line yang berbeda

Line Breeding : Inbreeding yang diarahkan pada salah satu tetua unggul

Outbreeding : Perkawinan antara ternak yang tidak mempunyai hubungan kekerabatan

Outcrossing : Persilangan antara ternak dalam yang satu bangsa tetapi tidak mempunyai hubungan kekerabatan.

Species Cross : Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 67 

Contoh : Bos Taurus dan Bos Indicus. kemudian anak betinanya dikawinkan dengan jantan P3.Perkawinan antara individu yang berbeda species. P1  X   P2     Betina F1   X Jantan P3 Topcrossing: Dan seterusnya Perkawinan antara individu dari bangsa yang sama tapi famili berbeda. Contoh perkawinan pertama antara P1 x P2. 3-breed Rotational Cross: Crossbreeding berkelanjutan antara tiga bangsa ternak. Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 68  .

misa kandunga lemak yang berhubungan denga al an an untuk memenuhi selera kons k ngkan dalam seleksi seb bagai sifat tambahan. T Tujuan ini h harus ditetap pkan sebelum am an awal ternak lebih diutam makan pada keunggula a an progra pemuliaa dilakukan. pada sapi potong da an sapi p domba produksi daging.BAB XI MEN NYUSUN PR ROGRAM PEMULIAAN Tujua Pemuliaa dan Mem an an milih Jenis T Ternak Dalam menyusun pola pemu m n uliaan. Sebag contoh. Tu ujuan pemu uliaan sanga at garuhi oleh permintaan dan selera konsumen. kam a mbing untuk produksi daging dan ada juga un k d ntuk produk ksi susu. Seleksi a untuk produksi su usu. Kadar lemak kemudian dipertimban Ilus strasi 1: Lan ngkah-langka menyusu Program P ah un Pemuliaan n esifik untuk s setiap jenis t ternak dan p program pem muliaan. Pad da Tujuan pemuliaan sangat spe perah tujuan pemuliaan n nnya adalah untuk pro h oduksi susu. rasa. Konsumen bisa dikata a n akan sebagai dipeng Marke Driven ata pengend untuk tu et au dali ujuan pemuliaan. Mungkin setelah pr n roduksi susu ada sifat la yang dipe u ain ertimbangka an sumen. ayam untuk produksi daging (aya pedagin am ng/Broiler) dan produksi telur (ayam ur/layer). petelu Ilmu P Pemuliaan Te ernak  Page 6 69 . hal p pertama yan perlu dip ng perhatikan a adalah tujua an pemuliaan atau untuk apa program pe emuliaan di ilakukan. tujuan utam gai ma pemuliaan sapi perah adalah untuk prod h duksi susu.

manageme dan nutrisi en penya yang bagus dan b b biosekuriti ya sangat ketat. d modelny dan ya sanga ditentukan oleh berapa banyak ba at n angsa atau jenis ternak y yang akan dipelihara da d an apa produk akhir yang dihasilkan. Pada dasarnya. denga tujuan jik an ka suatu waktu terna yang di b ak breeding uta ama terserang penyakit. tidak hera kalau bangsa sapi in menyebar di seluruh d asi an ni dunia sebagai sapi perah. Terna ang ak-ternak elit bisa dikatakan sebagai te aset yang sangat tinggi. ternak-tern yang da nak ari cadangan akan dipakai kembali di in nti. galur c Ilmu P Pemuliaan Te ernak  Page 7 70 . Hal ini dilak kukan karen pada um na mumnya ayam dan babi sangat ren ntan terhada ap akit. ak bil ternak dari luar. Pada sapi perah m misalnya. Pada system a n an Berda tertutu ternak ya berada di strata dib up. Untuk p ai program pem muliaan ayam. k us). er k Ilustrasi 2 Pola Pemu 2: uliaan asarkan systemnya. bisanya para breede menyimpa er an ternak cadangan atau back up line di te k empat yang jauh dan s streril. p P Pola Pemuliaan Pola p pemuliaan spesifik untuk setiap jeni ternak dan program p k is n pemuliaan. ang bawahnya tidak bisa ma asuk ke stra lebih atas. Misaln apakah p nya produk akhir dari progra pemuliaa r am an but m asil d ari terseb ternak murni atau ha persilangan.Setela tujuan pe ah emuliaan dite entukan. jika k y kehilangan t ternak-ternak ini maka p program pem muliaan haru us dimula dari awal lagi. sapi Holste eins banyak dipilih karen kemampu produks susunya y na uan si yang tinggi d juga day dan ya adapta yang baik. pola pemuliaan terdiri da tiga st trata yaitu te ernak-ternak elite (nukleu multiflie dan ternak komersial. C k Contoh pola system tertutup adalah pada progr ram pemulia ayam da aan an babi. ata Jadi te ernak-ternak pengganti berasal dar ternak-tern itu send atau tida mengamb k ri nak diri. pola pemuliaan ada yang tertutup da terbuka. kem mudian kita memilih ban ngsa-bangsa ternak yan a ng memp punyai perfo orman yang baik untuk dikembangk kan. Ternak-ternak elite dipelihara p pada kanda ang tertutup.

Contoh system ini diterapkan pada sapi perah. Hasil dari program ini adalah ternak-ternak elite yang mempunyai potensi genetik tertinggi. Berikut adalah beberapa contoh pola pemuliaan pada ayam. dan domba. kemudian masuk ke multiflier dan diperbanyak. dan sapi. Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 71  . sapi potong.System pola terbuka adalah suatu system dimana ternak-ternak yang berada di strata dibawahnya dan diduga mempunyai potensi genetik tinggi. terjadi program-program perbaikan mutu genetik yang ketat sesuai dengan tujuan pemuliaan. Ternak-ternak akhir atau Final Stock atau ternak komersial adalah anak-anak dari ternak yang berada di multiflier. Ternak-ternak yang diluar batas yang ditetapkan untuk bibit di nukleus. domba. bisa masuk ke strata diatasnya bahkan ke nukleus. Arus Ternak Arus Ternak Ilustrasi 3: Pola Pemuliaan Tertutup dan Terbuka Di dalam nukleus.

nyak. Pola Pemuliaan Ay Pada ayam petelur biasanya terbagi me a enjadi 2 galu utama ya ur ang disebut Galur Betin na Galur Jantan Baik galur jantan atau n. pakan yang efisien. r upun galur b betina terdir dari 2 galu murni ata ri ur au dan G Pure L Line (PL). Final stock mempunyai am k at sitas yang tinggi sehingg sulit untu konsumen untuk men ga uk n ngembangka an tingka hetrozigots kemba ayam ini. am ilah yang dij jual di pasar untuk di ran iternakan da an atau produk akhir Ayam-aya betina ini diprod duksi telurn nya untuk konsumsi. n au at hati-ha karena k ati kesalahan m mengevaluas satu ekor pejantan sa di galur jantan dapa si aja at berakibat pada se ekitar 10 juta ekor produk akhir. pada pemulia ayam petelur perlu waktu 4 gen aan nerasi atau sekitar 4 tah dari galu hun ur Jadi p murni sampai pr roduk akhir berupa aya petelur komersial. mempunyai ketahanan produksi yang lama. sedangkan ayam jan n ntannya ad dalah produ uk sampi ingan atau b byproduct ya di Indon ang nesia biasan dipelihara untuk pro nya oduksi dagin ng walaupun pertumb buhannya la ambat. t tapi hanya seleksi fen notip berda asarkan kes seragaman bobot bada saja ata an au berdasarkan unifo ormity. Produksi a ali akhir dari pe emuliaan ay yam petelur adalah aya final stoc am ck yang mempunyai produksi tel yang ting masa telur yang ban lur ggi. Ba pada GP atau PS tid terjadi se y ut ock aik P dak eleksi genet tik lagi.Pola P Pemuliaan A Ayam Petelur Galu ur Jantan  Galur Beti ina  asi yam Petelur di Industri r Ilustra 4. Anak k-anak ayam PS disebut Final Stock atau Comm m k mercial Stoc ck p r. k g dan m Ilmu P Pemuliaan Te ernak  Page 7 72 . a -anak ayam galur murni disebut Gra Parent S and Stock (GP) yang akan m menghasilka an Anakanak yang disebu Parent Sto (PS). G Galur murni te erletak pada nukleus da terjadi sua program seleksi yan a an atu m ng ketat s sesuai tujua pemuliaan Pemilihan bibit di galur murni ata pure line harus sanga an n.

S Satu ekor pejantan di galur murni dapat meng g ghasilkan se ekitar 28 jut ekor ayam ta pedag ging komers sial. Jadi to otal waktu y yang diperlu ukan dari P PL yang diproduksi galur murni sebelum G ai k ar sampa ke produk akhir Final Stock sekita 5 tahun. n umbuhan ya cepat. denga an demik kian walaupu ayam ini disebut seb un bagai ayam p pedaging. ta produksi telur di sala api ah satu t tetuanya ha arus tinggi. n. Pola Pemuliaan Ay a r ngan pola p pemuliaan a ayam petelu ur. k karena ada hubungann nya dengan anak ayam yang dijua m al. Pola pemuliaan ayam pedaging hampir sama den g karena adan Great-Gr nya rand Parent Stock (GGP t P) cuma waktu yang diperlukan lebih lama k GP. Produk akhir yang diharapka dari pem k an muliaan aya pedagin am ng adalah anak aya yang me h am empunyai p pertumbuhan cepat.Pola P Pemuliaan A Ayam Pedag ging asi yam Pedagin di Industr ng ri Ilustra 5. Korela genetik a asi antara bobot badan dan produksi telur adalah n t negatif. Ole pat ar ng yai eh a er. sedangkan galur jantan pada pertu . se ang ehingga dipe eroleh tingka at efesie ensi produksi yang tinggi di anaknya a. seleksi pada aya di galur murni harus sangat hat am s tihati. etina diarahkan pada p produksi telu ur karena itu pada pemuliaan ayam broile galur be tinggi. yang berarti ayam g yang tumbuh cep dan besa cenderun mempuny produksi telur yang rendah. at r Ilmu P Pemuliaan Te ernak  Page 7 73 . efis n sien dalam penggunaa an pakan dan tingka kematian rendah. Sebag gaimana pad ayam pe da etelur. Produ akhir ata anak ay uk au yam yang d dihasilkan b berasal dari telur tetua anya.

Pola Pemuliaan Domba Pedaging Banyak pola pemuliaan domba pedaging yang telah dipublikasi. Anak-anak pejantan kemudian dievaluasi. keunggulan pejantan teruji dari berbagai wilayah yang berbeda. Pola in sekarang paling banyak dipakai untuk perbaikan mutu genetik nasional dibanyak negara karena sangat sederhana dan telah ditunjang oleh kemajuan dan perkembangan metoda analisis yang memungkinan untuk mengevaluasi genetik secara menyeluruh. Pola Pemuliaan Sire Reference Scheme pada Domba Sebagai kunci untuk perbaikan mutu genetik adalah pejantan. Wilayah-wilayah disini bisa sebagai peternakan atau daerah yang lingkungannya mungkin berbeda. Pejantan disini dikatakan sebagai Genetic Link. atau penghubung genetik antar wilayah. Yang akan di tampilkan sebagai contoh disini adalah pola Sire Reference Scheme. Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 74  . Anak-anak yang mempunyai potensi genetik tinggi kemudian masuk ke nukleus untuk dikembangkan kembali sebagai bibit. karena pada umumnya pejantan bisa menghasilkan anak lebih banyak dari betina. Pejantan unggul dikawinkan di beberapa wilayah dan mempunyai banyak keturunan. Nukleus  Ilustrasi 6. Dengan demikian.

Dari c catatan ter rsebut bisa dievaluas pejantana si -pejantan y yang unggul berdasarkan infor rmasi dari b berbagai wil layah. Pola Pemuliaan pa Sapi (Cu ari an a ng yai g gi. dilakukan melalui inseminasi buatan seh an an an g ucleus dicata at Catata performa anak janta baik yang di nukleus ataupun yang di luar nu lengka ap. keluar sebagai bib Pada pola ini. perah adalah unt edaan yang lain adalah pada sap perah pad umumny mengarah ke bangs h pi da ya sa Perbe ternak murni. betin penggant dan terna komersia yang dijual na ti. emuliaan sapi tuk produks susu. sed si dangkan sap pedaging untuk prod pi g duksi daging g. da an hampir semua po adalah s ola system terbuka dimana ternak-tern a nak penggan di nukleu nti us b pedaging pada umumny ya bisa berasal dari luar.Pola P Pemuliaan p pada Sapi Seper pada dom rti mba. sed k dangkan pa ada sapi pe edaging mun ngkin ada y yang dikawinkan denga an bangs lain untuk mengharap sa k pkan pengar heterosis ruh s. Betina-betina ini anti dari pakan hasil seleksi da berbagai wilayah. Pola pemuliaan sapi perah dan sapi p mirip hanya tujua pemuliaa an annya saja y yang berbed Tujuan program pe da. Nukleus terdiri da sapi janta dan betina pilihan yan mempuny potensi genetik tingg n da us an tina baik yan ng Pejantan-pejantan yang berad di nukleu dikawinka dengan sapi-sapi bet us uar . 1979) Ilustra 7. Jumlah betin yang ma ari na asuk nukleu us merup sebag penggant sebanding dengan jum gai ti g mlah betina y yang diafkir keluar nukle eus. Ilmu P Pemuliaan Te ernak  Page 7 75 . asi ada unningham. Perkawina i hingga pejan ntan bisa m mengawini ba anyak betina a. pada sapipun banyak pola pe s emuliaan yang telah dip publikasi. sek kitar 10% be etina pengga di nukleus berasal d luar. an berada di nukleu ataupun di wilayah lain yang berada dilu nukleus. ak al r bit. Pejan ntan-pejanta yang sud an dah diketahui ul n n tina yang ada di nu ukleus untu uk unggu kemudian dikawinkan dengan betina-bet menghasilkan pej jantan peng gganti.

2. dan bobot saat dipasarkan Jumlah anak per kelahiran Pengaruh induk saat membesarkan anak (Maternal ability) Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 76  . Kriteria seleksi yang biasa dipertimbangkan adalah : 1. 3. Jumlah Telur 2. 5.Kualitas albumen . 4. Kriteria seleksi harus sejalan dengan tujuan pemuliaan dan suatu saat bisa berubah sejalan dengan yang diminta oleh konsumen. yang mungkin berbeda untuk setiap program pemuliaan dan jenis ternak. 3.Survivor (hen-day) production . 5. 7. Kriteria seleksi bisa sifat kuantitatif dan atau kualitatif. 3.Blood spots . fertilitas. 8.Kriteria Seleksi Kriteria seleksi adalah sifat-sifat yang diukur dan dipertimbangkan dalam program seleksi.Hen-housed production Umur pertama bertelur Berat telur Efisiensi pakan Kualitas Telur . Kriteria seleksi yang dipertimbangkan dalam suatu program pemuliaan adalah : 1. 7. 6. 4. 2. Pertumbuhan Produksi daging/karkas/daging dada Efisiensi pakan Komformasi tubuh Mortalitas Perlemakan Produksi telur.Warna kulit Persistensi produksi Daya tahan terhadap penyakit Adaptasi terhadap lingkungan yang spesifik Daya tetas dan mortalitas (bibit) 6. Kriteria Seleksi pada Ayam Pedaging Tujuan pemuliaan ayam pedaging adalah untuk produksi daging sebanyak dan secepat mungkin. Kriteria Seleksi pada Ayam Petelur Tujuan utama pemuliaan ayam petelur adalah produksi telur. daya tetas (Bibit) Kriteria seleksi pada Domba Pedaging Tujuan utama pemuliaan untuk domba pedaging adalah produksi daging sebanyak dan secepat mungkin. kriteria seleksi yang dipertimbangkan dalam suatu program pemuliaan untuk ayam petelur adalah : 1. . Pertumbuhan Bobot lahir. bobot saat sapih. 9. 4.Kekuatan/ketebalan kerabang .

Sangat sering dalam praktek dilapangan ke dua metoda ini dipakai bersamaan. misalnya famili yang akan diikutkan pada seleksi tahap ke dua adalah famili yang mempunyai tingkat mortalitas tidak lebih dari 10%. seperti seleksi pada ayam. 6. Kriteria seleksi yang dipertimbangkan adalah : 1. Kriteria Seleksi pada Sapi Potong Tujuan utama pemuliaan sapi potong adalah untuk memproduksi daging sebanyak dan secepat mungkin. 2. 3. Produksi susu harian atau 305 hari atau total produksi susu selama hidup Persistensi atau daya tahan produksi Bahan kering dan berat jenis susu Produksi atau kadar lemak susu Produksi atau kadar protein susu Calving ease (kemudahan melahirkan) Evaluasi Genetik dan Fenotip Evaluasi genetik ternak biasanya dilakukan di nukleus dengan menggunakan informasi yang berasal dari nukleus itu sendiri dan atau informasi lain tentang performan anak dan saudara-saudaranya di luar nukleus. baru kita menentukan metode seleksi apa yang perlu diterapkan. 6. Keakuratan dalam menduga nilai pemuliaan menjadi kunci untuk menentukan ternak-ternak sebagai pengganti di nukleus dan ternak-tenak yang akan dikirim ke multiflier untuk produk komersial. pada tahun 1990an. Tahap pertama dilakukan seleksi famili dengan batasan sisihan. Semakin banyak sifat yang dipertimbangkan dalam program seleksi. 2. Untuk mendapatkan respon seleksi yang cepat. bobot sapih. 3. dan bobot saat dipasarkan Pengaruh induk saat membesarkan anak (Maternal ability) Leaness (perlemakan di daging) Efesiensi penggunaan pakan Calving ease (kemudahan waktu melahirkan) Kriteria Seleksi pada Sapi Perah Tujuan utama pemuliaan sapi perah adalah untuk produksi susu. Pendugaan nilai pemuliaan dilakukan secara serentak untuk semua kriteria seleksi yang dipertimbangkan dalam program seleksi. 5. 5. daya tahan terhadap penyakit cacing sudah ditambahkan kembali sebagai kriteria seleksi. para pemulia biasanya mempertimbangkan paling banyak 3 sifat terlebih dahulu.Sejalan dengan waktu dan pengetahuan konsumen tentang pengaruh konsumsi lemak dan kolesterol. Pertumbuhan Bobot lahir. 4. kriteria seleksi di negara barat ditambah dengan Leannes atau daging yang rendah kandungan lemaknya. Evaluasi genetik lebih diutamakan pada pendugaan nilai pemuliaan. apakah menentukan ternak pilihannya dengan seleksi indeks atau dengan batasan sisihan. Setelah nilai pemuliaan untuk setiap sifat diketahui. baik nilai pemuliaan individu atau famili. Tahap ke dua baru melakukan seleksi Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 77  . setelah itu baru menentukan metoda seleksi yang sesuai. 4. apakah akan melakukan seleksi individu atau seleksi famili. Kriteria seleksi yang dipertimbangkan adalah : 1. Saat sekarang. semakin lambat respon yang diharapkan untuk sifat utama.

ngan mundu proyeksi populasi da ur ari ng ual ng pelihara har rus dilakuka an produk akhir yan akan diju dengan ternak yan akan dip a K ngaruhi oleh sifat biolog ternak it h gis tu secara cermat. upayaka kemungk an kinan terjadin serenda nya ah mungkin pada ting gkat yang tid membah dak hayakan per rforman. P Pola perkaw winan didalam nukleu harus diu us usahakan un ntuk tidak ter rjadinya inbr reeding. Unt g tuk mengeta ahui apakah ternak-tern h nak yang dihasilkan da ari manaj hasil pemuliaan le p ebih bagus. Dalam m ce melakukan e evaluasi fen notip. Terla banyak ternak yan alu ng dipelih hara akan mengurangi keuntungan karena bia produksi dan pemel m n aya i liharaan aka an menja mahal. biasanya dilakukan Com mpetitor Tes atau peng st gujian denga an memb bandingkan produk kita dengan pro oduk dari perbibitan lain yang sejen Kemudia nis. Jumlah ternak yang akan dipelihara di nukleu dan juga multiflier (intensitas seleksi) terga us a antung pada berapa ba a anyak produ uk akhir (final stock) yang akan dipasarka Perhitun an. a nak eranak bany dan pad yak da popula kecil. ena itu Eval luasi Fenoti ip atau Performanc Test sangat penting. wala aupun pada kenyataan di lapang gan sangat sulit dihinda terutama untuk tern yang be ari.individ dengan menerapkan seleksi in du ndeks. h Kema ajuan genetik pada bebe k erapa jenis T Ternak Ilmu P Pemuliaan Te ernak  Page 7 78 . rhasilan sua atu program pemuliaa akan sangat diten m an ntukan oleh bagaiman h na Keber perfor rman dilapan ngan ternak k-ternak yang dihasilkan Oleh kare n. an langka berikutny adalah me ah ya engetahui ap pakah produ kita bisa d uk diterima oleh konsumen. langka ah beriku utnya adalah menentuk h kan pola per rkawinan ya ang tepat. Lingkung standar disini adala gan ah lingkungan diman ternak-te na ernak biasa di suatu te empat dipelihara dengan pakan da an jemen yang layak. Jik inbreeding sulit dihind asi ka g dari. adi Setela ternak-te ah ernak yang mempuny g yai potensi genetik tin nggi tersele eksi. ternakk sifat kualitat tifnya sudah sesuai dengan yang diinginkan. Keadaan ini tentunya sangat dipen sendir dan tekn ri nologi pemu uliabiakan y yang diguna akan. h g ternak dievaluasi apakah s kemud dian diuji di lapangan p pada lingkun ngan standard.

S.  3. J.  Ilmu Pemuliaan Ternak    Page 79  .    De  erfelijke  basis  van  de  veerfokkerij. University of Sydney.  9. P. New York. Australia.    1991.A. Oxford.SUMBER BACAAN  1.  D.  John Wiley and Sons.  McMillan.  6. Legates.  The  Netherlands.  Grasser. W.  C. 1994.   McGraw‐Hill International Editions.  Ecomomic Aspects of Animal Breeding..  7. Nicholas.  1987. Weiner.   New York.  2.  and  E. F.  Population Genetics in Animal Breeding. Edinburgh.  New Delhi.    Blackwell  Scientific Publications.  M.  S. F. I. Inc.  Warwick. Willis. Falconer.    1979.  E.  B.  H.  McDonald.  J.  Longman Scientific and  Technical.    Animal  Breeding  in  Modern  Approach. Snustad.  Principles of Genetics.U.    1990.  Oxford Scientific Publications. G. Pirchner.  4. Hammond. John Wiley and Son. E.  1994.  1993.  J.  K.  8. Gardner.  Introduction to Quantitative Genetics. Weller.  1981. J.  Animal Breeding.  Veterinary Genetics. Minkema.  5.    Dalton’s  Introduction  to  Practical  Animal  Breeding.  Breeding  and  Improvement  of  Farm  Animal.  10. Chand and Company  Ltd. and D.  1984. London.  London.    Culemborg.    1992.  D. London.  Chapman & Hall.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful