MODEL-MODEL ANALISIS KEBIJAKAN PUBLIK Suatu kebijakan merupakan arah tindakan yang mempunyai tujuan yang diambil

seseorang aktor atau sejumlah aktor dalam mengatasi suatu masalah atau persoalan. Yang paling penting adalah manfaat yang dapat diperoleh dalam mencari ”alat” untuk memudahkan kita dalam mengkaji kebijakan publik. Model-model analisis digunakan untuk mengenali proses pembentukan kebijakan publik. Masingmasing model digunakan secara konsisten guna mencapai pemahaman atas penjelasan yang diharapkan. Model-model analisis ini dapat digunakan untuk mengenali pola suatu kajian kebijakan publik. Penggunaan model untuk mengkaji kebijakan publik akan sangat besar sekali manfaatnya. Ada beberapa alasan yang dapat dikemukakan, antara lain: 1. Kebijakan merupakan proses yang kompleks. Oleh karena itu, sifat model yang menyederhanakan realitas akan sangat membantu dalam memahami realitas yang kompleks tersebut. Sebagai contoh, model implementasi kebijakan akan mempermudah untuk melihat variabel-variabel apa saja yang berpengaruh dalam proses implementasi kebijakan. 2. Sifat alamiah manusia yang tidak mampu memahami realitas yang kompleks tanpa menyederhanakannya terlebih dahulu, sehingga peran model dalam menjelaskan kebijakan publik akan semakin berguna. Dibawah ini merupakan penjabaran-penjabaran dari model-model yang digunakan dalam analisis kebijakan publik berdasarkan penjelasan klassik dan kontemporer.

Model-model menurut Penjelasan Klassik
Model Kelembagaan Struktur-struktur dan lembaga-lembaga pemerintah telah lama merupakan fokus yang penting dari ilmu politik. Lembaga-lembaga pemerintahan ataupun lembaga-lembaga yang berurusan dengan pemerintahan mencakup parlemen, pemerintah pusat, pemerintah daerah, kehakiman, kejaksaan kepolisian, birokrasi sipil dan militer termasuk partai-partai politik. Model studi kelembagaan menelaah peran

Kebijakan publik bersifat wajib untuk dipatuhi oleh rakyat. keunggulan dari kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah adalah bahwa kebijakan tersebut dapat menuntut loyalitas dari semua warga negaranya dan mempunyai kemampuan membuat kebijakan yang mengatur seluruh masyarakat dan memonopoli penggunaan kekuatan secara sah yang mendorong individu-individu dan kelompok membentik pilihan-pilihan mereka dalam kebijakan. serta kemudian evaluasi atas pelaksanaan kebijakan publik. dengan model ini kita akan memperoleh . Dengan demikian. dan pemerintah bertugas untuk menjamin pelaksanaannya. baik di pusat maupun di daerah-daerah. Aturan-aturan konstitusi dan undang-undang dijelaskan secara terperinci sebagaimana kantor-kantor dan badan-badan pemerintah yang banyak sekali jumlahnya. Sebaliknya. namun tidak mengandung kewajiban secara paksa padanya. kewajiban. seperti struktur. Model ini mengutamakan perhatian pada bagaimana proses pembentukan kebijakan publik itu berlangsung. dan fungsi-fungsi tanpa secara otomatis menyelidiki dampak dari karakteristik-karakteristik lembaga-lembaga tersebut pada hasil-hasil kebijakan.lembaga-lembaga di atas. Namun demikian. studi-studi lembaga biasanya lebih berusaha menjelaskan lembaga-lembaga pemerintah secara khusus. Kebijakan publik dibuat oleh parlemen serta kemudian diterapkan oleh lembaga-lembaga yang berfungsi menerapkannya. dan bukan pada apa yang menjadi isi dari suatu kebijakan publik tersebut. Model Proses Model ini menunjukkan bahwa terciptanya kebijakan-kebijakan publik adalah merupakan hasil dari suatu aktifitas politik. organisasi. organisasi profesi atau apapun mungkin sangat penting untuk diperhatikan. legitimasi atas kebijakan. implementasi kebijakan dalam arti setelah disahkannya suatu kebijakan. Rangkaian yang diamati di dalam proses pembentukan kebijakan publik adalah proses formulasi masalah. tetapi jarang dianalisis dan hubungan antara struktur dan kebijkan publik secara luas tidak diselidiki. Kebijakan-kebijakan publik seringkali dijelaskan. Kelemahan dari model ini yakni model lembaga dalam ilmu politik tidak mencurahkan perhatian yang banyak pada hubungan antar struktur lembaga-lembaga pemerintah dan substansi kebijakan publik. Thomas R Dye menggambarkan bahwa lembaga-lembaga pemerintah berfungsi menjalankan kebijakan-kebijakan publik. Kebijakan yang dibuat oleh lembaga keagamaan.

atau situasi yang sudah mapan akan . Korea Utara. Cara pandang yang melihat proses pembuatan kebijakan demikian ini bertolak dari asumsi bahwa kebijakan-kebijakan publik mengalir begitu saja dari elite yang selalu berusaha mempertahankan status quo.pemahaman bahwa proses-proses sangat berpotensi memengaruhi isi dari suatu kebijakan publik tertentu. Model elite-massa menggambarkan bahwa masyarakat terdiri dari kategori elite dan massa. model analisis ini menjelaskan bahwa rakyat atau massa tidak memiliki akses terhadap informasi. David Truman. seperti misalnya Kuba. Model elite-massa Di sebagian besar negara berkembang atau negara-negara Dunia Ketiga yang mendasarkan pada sistem otoriter. Suatu kelompok merupakan kumpulan individu-individu yang diikat oleh kelompok elit akan terganggu. Lapisan atas disebut sebagai elit dan lapisan bawah disebut lapisan massa. Earl Latham memandang bahwa konsep kelompok disebut the ultimate ”real” of politics. kebijakan publik merupakan produk elite. Dari sisi massa sendiri. yang memanipulasi instrumen-instrumen kekuasaan bagi kepentingan mereka. dan Indonesia pada era Orde Baru. Intinya. Jadi model ini menyimpulkan bahwa kebijakan-kebijakan yang kemudian mengatur dan mengikat perilaku rakyat merupakan keinginan elit untuk mempertahankan status quo. Secara garis besar model ini menjelaskan pembentukan kebijakan pada dasarnya merupakan hasil dari perjuangan antara kelompok-kelompok dalam masyarakat. Teori elite mengatakan bahwa semua lembaga politik dan lembaga-lembaga masyarakat lainnya tidak bisa dielakkan. Model Kelompok Menurut kontributor utama teoritik kelompok seperti Arthur Bentley. Model elite-massa bertolak dari asumsi bahwa masyarakat dilihat dalam wujud struktur vertikal dan hanya berlapis dua. model elite merupakan model yang cukup baik untuk menjelaskan pembentukan kebijakan publik yang berlangsung di negara-negara itu. yang merefleksikan nilainilai mereka untuk penguatan kepentingan-kepentingan mereka. didominasi oleh sekelompok individu yang sangat kuat. Mengapa kelompok elite ini berusaha memengaruhi setiap kebijakan publik ialah karena kepentingan-kepentingan (interests) terguncang.

Dengan demikian. para pembuat keputusan mempunyai kebutuhan-kebutuhan. Suatu kebijakan yang didasarkan pada rasionalitas berpotensi mengabaikan aspek-aspek yang dipandang merugikan. Rasionalitas ialah adanya tujuan (goals) yang menjadi rujukan dari setiap perilaku. Mengetahui semua alternatif yang tersedia . seperti misalnnya uang. Asumsi yang digunakan model rasional adalah bahwa pembuat keputusan akan mampu membuat perbandingan alternatifalternatif berdasarkan biaya dan keuntungan secara tepat serta preferensi masyarakat pun harus dapat diketauhi dan dinilai. pembuat kebijakan harus: 1. Model Rasionalis: Kebijakan sebagai Pencapaian Tujuan Rasional Suatu kebijakan dinilai merupakan refleksi dari rasionalitas. Namun. hambatan-hambatan. dan kekurangan sehingga menyebabkan mereka tidak dapat mengambil keputusan-keputusan atas dasar rasionalitas yang tinggi. kebijakan-kebijakan publik akan mengrah kepada kepentingan kelompok besar yang berpengaruh baik secara ekonomis maupun nonekonomis dan semakin jauh dari kepentingan kelompok-kelompok kecil. Mengetahui semua keinginan masyarakat 2. bilamana manfaat dinilai sudah lebih besar dari pengorbanan (biaya). maka kelompok itu biasanya menggunakan rangka politik dan pembentukan kebijakan kebijakan publik untuk mempertahankan kepentingan kelompok. kepemimpinan dan keahlian-keahlian pengelolaan politik.tingkah laku atau keperntingan yang sama. Rasionalitas berkonotasi ’melakukan pilihan’ (to choose) antara sejumlah alternatif penyelesaian atau tindakan yang pantas dilakukan. Bila suatu kelompok gagal dalam mencapai tujuan-tujuannya melalui tindakan-tindakannya sendiri. Dalam perspektif rasionalitas. Dalam konteks proses terwujudnya suatu keputusan tertentu dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara dapat dianalis dari hal bagaimana kelompok-kelompok yang memiliki kepentingan bermain dengan lobby-lobby politik mereka. informasi. Untuk memilih kebijakan rasional. perhatian media massa. Dalam mempengaruhi publik kelompok-kelompok kepentingan barangkali akan menggunakan berbagai macam sumber untuk mempengaruhi pembuatan kebijakan tersebut. prestise. maka keputusan tertentu dapat dipilih.

Belum tentu alternatif tindakan yang paling sesuai dengan nilai-nilai sudah dieksplor dengan baik. Menghitung rasio pencapaian nilai sosial pada setiap alternatif 5. Kesejahteraan rakyat sebagai tujuan akan lebih cepat tercapai. (b). Secara rasional jika kita mengalokasikan dana ke program BLT lebih baik ketimbang untuk mensubsidi BBM. Alokasi dana untuk subsidi BBM dianggap tidak tepat sasaran karena dinikmati kebanyakan oleh kalangan menegah-keatas dengan kendaraan mewahnya. Belum tentu dilakukan telaah mendalam atas alternatif kebijakan yang dinilai paling baik. Model ini . informasi. Memilih alternatif kebijakan yang paling efisien Sebagai contoh kebijakan yaitu program Bantuan langsung tunai(BLT). Program ini merupakan salah satu perwujudan dari model rasionalis karena alokasi dana untuk BLT berasal dari dikuranginya subsidi BBM. Model Inkrementalis: Kebijakan sebagai variasi Model inkrementalis pada dasarnya merupakan kritik dari model rasionalis. maupun keterbatasan-keterbatasan kemampuan manusia. Model ini dapat dikatakan model pragmatis/praktis yang mencoba untuk menyesuaikan dengan realitas kehidupan praktis dengan mendasarkan pada pluralism dan demokrasi. Pendekatan ini biasa dipakai ketika pengambil kebijakan mengalami keterbatasan waktu.3. (d). (c). Kebijakan model demikian ini ditandai dengan aksi-aksi dramatis di dalam penerapannya. Mengetahui semua konsekuensi alternatif 4. Kegagalan dari kebijakan model ini antara lain karena (a) belum tentu semua nilai yang didambakan masyarakat telah dijajagi dengan lengkap. serta (e). pengambil kebijakan dihadapkan pada ketidakpastian yang muncul disekelilingnya. Penjelasan dengan model inkrementalis melihat proses pembentukan kebijakan sebagai proses yang merupakan kesinambungan dari kebijakan-kebijakan sebelumnya. Sementara itu. Belum tentu dampak atau akibat dari penerapan kebijakan telah diantisipasi dengan baik. Dengan adanya BLT sebagai alternatif kebijakan diharapkan membuat alokasi dana untuk membantu ekonomi rakyat akan tepat sasaran sehingga ekonomi masyarakat menengah-kebawah akan lebih maju. Belum tentu pengorbanan yang dilakukan oleh masyarakat bilamana kebijakan diterapkan telah diperhitungkan dengan baik. dan dana untuk melakukan evaluasi kebijakan.

Konsep kunci dari teori permainan adalah strategi dimana konsep kuncinya bukanlah yang paling optimum namun yang paling aman dari serangan lawan. Kedua. pertama. bahwa setiap negara. Ketika mengambil sebuah keputusan. melainkan membuat keputusan yang bisa menurunkan keefektifan keputusan yang dibuat.pun menggambarkan secara actual cara-cara yang dipakai para pejabat dalam membuat keputusan. Selain itu. Bukan hanya alasan kebijakan tetapi keberhasilan kebijakan masa lalu menciptakan rasa puas diri yang berkepanjangan. Sedangkan kelemahan dari kebijakan model ini ialah seringkali ketika sekadar meneruskan atau meningkatkan program-program yang sebelumnya. sementara dihadapi masalah keterbatasan biaya. Menurut model ini. Kebijakankebijakan inkremental seringkali diterapkan pada program-program pendidikan. bahkan sekadar menghasilkan kapasitas yang sudah tidak diperlukan lagi. Model Teori Permainan Gagasan pokok dari kebijakan dalam model teori permainan adalah. fragmentary. para aktor berada dalam situasi pilihan yang tidak independen ke independen. masyarakat tidak hidup dalam kevakuman. setiap pemerintahan. Inti dari teori permainan adalah mengakomodasikan kenyataan yang paling riil. maka lingkungan tidak pasif. Kebijakan yang dipandang sebagai wujud dari model ini merupakan pilihan kebijakan yang harus ditempuh. dan sebagian besar remedial sehingga dalam model ini tidak hanya ada satu keputusan atau keputusan yang benar untuk suatu masalah. tidak lagi mengatasi masalah publik yang sudah mengalami perubahan. model inkrementalis menilai alternatif secara tidak komprehensif tapi memusatkan perhatian hanya pada kebijakan yang berbeda secara incremental sehingga hanya sejumlah kecil alternatif kebijakan yang dipertimbangkan. keterbatasan pemahaman atas masalah. kebijakan atau keputusan selalu bersifat serial. Model teori permainan adalah model yang sangat abstrak dan deduktif di dalam formulasi kebijakan. Sejumlah metoda pendidikan yang diterapkan ternyata tidak lagi dapat menghasilkan kapasitas yang diperlukan. formulasi kebijakan berada di dalam situasi kompetisi yang intensif. serta keterbatasan waktu untuk mengatasi masalah. .

yang seharusnya dipenuhi oleh negara tetapi justru terabaikan atau dengan kata lain. . Interaksi yang terjadi dalam bentuk inputs dan outputs. Penggunaan istilah public choice bermakna bagaimana hakikat pembuatan keputusan di sektor publik. sebagai ’pilihan’ oleh publik. Selanjutnya perubahan lingkungan akan mempengaruhi demands dan support dari masyarakat karena masukan-masukan diterima oleh sistem politik dalam bentuk tuntutan-tuntutan (demands) dan dukungan (supports). Sistem politik adalah sekumpulan struktur dan proses yang saling berhubungan yang berfungsi secara otoritatif untuk mengalokasikan nilai-nilai bagi suatu masyarakat.Model Sistem Menurut Paine dan Naumes. sedangkan di sektor swasta (private) setiap pilihan adalah pilihan individu. Dengan merujuk pada pendekatan sistem yang ditawarkan oleh Easton. Paine dan Naumes menggambarkan model pembentukan kebijakan sebagai interaksi yang terjadi antara lingkungan dengan para pembentuk kebijakan dalam suatu proses yang dinamis. Model ini mengasumsikan bahwa dalam pembentukan kebijakan terjadi interaksi yang terbuka dan dinamis antara para pembentuk kebijakan dengan lingkungannya. Pada dasarnya terdapat 3 komponen utama dalam pendekatan sistem. model ini merupakan model deskriptif karena lebih berusaha menggambarkan senyatanya yang terjadi dalam pembentukan kebijakan dan disusun hanya berasal dari sudut pandang para pembuat kebijakan. pemerintah bukannya memberikan pelayanan yang baik tetapi sibuk dengan urusan mereka sendiri. proses. Model-model menurut Penjelasan Kontemporer Teori Pilihan rasional: Public Choice Studi-studi Public choice bertolak dari ketidak-puasan mengapa pelayanan publik. yaitu: input. Outputs dari sistem politik merupakan alokasi-alokasi nilai secara otoritatif dari sistem dan alokasi-alokasi ini merupakan kebijakan publik. kebijakan publik dipandang sebagai tanggapan dari suatu sistem politik terhadap tuntutan-tuntutan yang timbul dari lingkungan yang merupakan kondisi atau keadaan yang berada di luar batas-batas sistem politik. Oleh sebab itu perilaku pembuatan kebijakan publik juga dapat dilihat sebagai perilaku (pilihan) para aktor pada konteks transaksi di pasar. output. Menurut model sistem.

yang bekerja atas dasar kemanfaatan pribadi (self interest). Peran sentral negara ialah mendorong terjaminnya semua bentuk hak-hak kepemilikan (property rights) rakyat.Howlett dan Ramesh (2004) mengatakan bahwa teori-teori public choice bertolak dari asumsi bahwa aktor kebijakan bertindak ’rational’ sebagaimana layaknya perilaku para pihak dalam konteks ekonomi. Mazhab public choice mengungkapkan bahwa di dalam praktik. Dari sudut pandang pertukaran. Kedua. Kajian-kajian public choice bertolak dari kerangka pemikiran bahwa peran negara dalam perekonomian harus dibatasi. Dalam kajian yang beranjak dari aplikasi premis-premis pada teori ekonomi mikro dijelaskan pula bagaimana pejabat terus-menerus memperbesar kapasitas biro atau departemen yang dipimpinnya namun pada dasarnya bukanlah karena perlu meningkatkan pelayanan kepada publik. Asumsi studi ini ialah bahwa perilaku para birokrat sama dengan perilaku para pelaku di dalam perekonomian. Dalam konteks metodologi. guna memenangkan dukungan para konstituen masingmasing. Pendekatan Ekonomi Politik Perkembangan ekonomi politik ditandai dengan dua asumsi yang berbeda. serta menjalankan perekonomian yang dijalankan oleh masyarakat luas. Hawlett and Ramesh menunjukkan bahwa teori-teori public choice menggunakan pendekatan deduktif dengan obyek analisis para aktor pelaku dalam pembuatan kebijakan publik. Oleh sebab itu perilaku para birokrat dan politisi merupakan fokus perhatian studi-studi public choice. termasuk eksistensi dunia usaha. setiap orang akan cenderung mencari manfaat tertinggi (rational utility maximizers) di dalam setiap kesempatan. Tema sentral dari kerangka pemikiran public choice adalah bahwa institusi-institusi dipengaruhi oleh perilaku oknum yang memperdaya lembaga demi kemanfaatan pribadinya atas pengorbanan warga masyarakat. . tetapi untuk memperoleh manfaat sebesar-besarnya dari diperolehnya peningkatan anggaran. yang berguna untuk keseluruhan anggota masyarakat. Pertama. Dengan cara itu maka kekuatan pasar (property rights market force) akan bekerja untuk menjamin berlangsungnya produksi barang dan jasa yang efisien. studi public choice menjelaskan bahwa para pelaku di parlemen mempertukarkan sesuatu yang dimilikinya dengan pihak lain. Jadi yang sentral di dalam kajian public choice ialah bahwa perilaku birokrasi dibangkitkan oleh adanya kepentingan rasional dari para aktor-aktor. bahwa ekonomi dan politik merupakan dua kajian yang terpisah.

Ia memerlihatkan bahwa kemerdekaan (liberty) merupakan sesuatu yang mendasar bagi pertumbuhan perekonomian. Proses penentuan harga yang merupakan penjajagan antara dua pihak mengarah pada adanya regulasi mandiri (the self-regulating market) yang kemudian secara bersamaan akan memenuhi kepentingan individual (self-interest). Adam Smith mengatakan perkembangan berikutnya adalah mustahil tanpa dua hal. Pemahaman tradisional atas ekonomi-politik ialah bahwa disiplin ini merupakan cabang dari seni pemerintahan. Adapun penjelasan-penjelasan ekonomi politik yang berpengaruh pada studi-studi kebijakan publik antara lain adalah bahwa kelas-kelas sosial diasumsikan tersusun berdasarkan pembagian kerja (division of labour). Sebagai upaya untuk menghadang tudingan itu berkembanglah bidang yang disebut sebagai political economics. Namun demikian.bahwa disiplin ekonomi dan ilmu politik merupakan disiplin terintegrasi. Pendekatan-pendekatan ekonomi politik modern ini selalu diperlihatkan oleh standar adanya konstruksi penjelasan yang terkait erat dengan penelitian sosial. . Pembagian kerja mengarah pada adanya pengutamaan-pengutamaan atas dasar kepentingan masing-masing pihak. Adam Smith mendefinisikan bahwa ekonomi politik merupakan upaya untuk menyejahterakan ekonomi negara (The Wealth of Nations. yakni perluasan arena pasar dan peran negara (role of the state) yang tepat. Karakteristik spesifik dari ekonomi politik modern ialah upaya untuk menyajikan argumentasi-argumentasi dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Studi ini memusatkan perhatian pada peran para politisi di dalam membentuk dan mewujudkan kebijakan-kebijakan perekonomian. Pada gilirannya dianalisis pula dampak kebijakan-kebijakan perekonomian terhadap suksesi pemerintahan secara demokratis dalam proses pemilihan umum. Dengan pemahaman demikian ini maka ekonomi politik dipahami sebagai upaya sistematis untuk mengenali hakikat kesejahteraan negara. Konotasi ideologis selalu membayangi penjelasan-penjelasan ekonomi politik (political economy). yakni didasarkan pada adanya hipotesis dan model Teori ekonomi politik modern dapat ekonometrika (econometrics). 1776). Ke semua perangkat analisis ini harus bersifat logis dan dapat diuji atau difalsifikasi (falsifiability). Ekonomi politik modern ditandai dengan pendekatan metodologis. serta menganalisis dampak dari kebijakan-kebijakan ekonomi terhadap popularitas partai dan tokoh politik. Adam Smith menekankan bahwa negara (state) tidak melakukan intervensi atas bekerjanya mekanisme pasar.

Permasalahan atau pertanyaan sentral yang ditelusuri jawabannya dalam teori pluralisme klassik ialah memerlihatkan bahwa kelompok-kelompok bagaimanakah sesungguhnya selalu berusaha distribusi kekuasaan dalam konteks demokrasi modern. maka tidak akan terdapat satu faksi politikpun yang cukup kuat untuk mendominasi kalangan lainnya. namun perlu dicatat bahwa konsep-konsep ekonomi politik lebih merupakan disiplin reflektif (reflexive discipline) yakni mengamati dan kemudian menganalis peran negara di dalam perekonomian. Pluralis sebagai Model Distribusi Kekuasaan Teori pluralis merupakan salah satu teori yang bertujuan untuk mengenal lebih jauh perilaku kekuasaan (power) dan ditribusinya.terlihat dari penjelasan mengenai adanya kecenderungan pemerintah yang berkuasa menjelang pemilihan umum untuk menerapkan kebijakan-kebijakan pro pertumbuhan ekonomi atau perluasan kesempatan kerja. . yakni teori pluralis klassik (classic pluralism) dan teori pluralis modern (modern Pluralism). Pluralisme klasik adalah argumentasi bahwa politik dan pembentukan keputusan mengambil tempat pada kerangka pemerintahan. Menurut perspektif teori pluralis. Jadi. Kerangka teori pluralis dibagi menjadi dua. namun demikian kelompokkelompok non pemerintah dapat secara aktif bergerak serta kemudian memengaruhi kebijakan-kebijakan publik dengan mengandalkan potensi yang mereka miliki. Kebijakan publik merupakan kompromi (compromises) antara sejumlah kelompok kepentingan (interests group). Penjelasan pluralisme klassik kepentingan menempatkan kepentingan mereka di dalam muatan-muatan kebijakan publik. bilamana nilainilai demokratis yang menjadi panduan. Dalam situasi demikian. Kendatipun ekonomi politik berhasil memberi sumbangan yang tidak kecil pada penjelasan studi-studi kebijakan publik. proses formulasi kebijakan berlangsung pada suatu arena yang menyertakan banyak aktor. masing-masing kelompok kepentingan akan selalu berusaha melakukan kompromi. Esensi pluralisme klassik ialah bagaimana perilaku kelompok-kelompok kepentingan yang berusaha memengaruhi pemerintah dan lembaga-lembaga yang secara formal menjadi pembuat kebijakan publik.

Menurut neo-pluralis. yang melihat pluralisme klassik terlalu simplistis. .Neo-pluralism merupakan koreksi atas konsep-konsep pluralis. Neo-pluralis menampilkan gagasan-gagasan yang lebih imperatif dengan tujuan untuk memberi apresiasi yang lebih tegas dalam usaha mengatasi ketimpangan-ketimpangan. Keragaman budaya menurut neo-pluralis adalah karena adanya ketimpangan distribusi kekuasaan sosio-ekonomi. Di dalam pandangan neopluralis aktor-aktor (dengan departemen pemerintahan yang berbeda) juga berusaha menjaga kepentingan mereka sendiri. kendatipun betul bahwa selalu berlangsung persaingan di antara kelompok-kelompok kepentingan untuk memengaruhi kebijakan. Lebih jauh neo-pluralis menunjukkan bahwa aturan-aturan main yang dibangun atas dasar budaya politik tidak selalu efektif menopang tercapainya keseimbangan. namun pemerintah jangan dilihat berposisi sebagai penjaga garis yang melakukan mediasi dan membantu penyesuaian atas persaingan di antara kelompok-kelompok kepentingan-kepentingan yang tengah berusaha merebut peluang untuk mendikte agenda politik dalam kebijakan publik.

2007. “Kebijakan Publik Teori dan Proses”. Budi. Yogyakarta: Media Pressindo .Winarno.