Pendidikan karakter

5 months ago
• •

Email Favorite Favorited × Download Embed More…


• • •

• • Copy and paste this code into your blog or website Without related content Start from slide number Copy Customize Size (px) 382 x 408 Copy

477 x 510 572 x 612 668 x 714 Shortcode for WordPress.com blogs
embed cod

Old embed code ? Close •

Copy

We have emailed the verification/download link to "". Login to your email and click the link to download the file directly.
Top of Form

Update

To request the link at a different email address, update it here. Close Validation messages. Success message. Fail message.
Bottom of Form

Check your bulk/spam folders if you can't find our mail. • Close •
Top of Form

separate ta

Favorited! You could add some tags too

Post

Have an opinion? Make a quick comment as well.
Bottom of Form

Cancel

Top of Form Edit your favorites Save Cancel Bottom of Form • Top of Form Select Group / Event Send to your Group / Event Send Add your message Cancel Bottom of Form × Like this presentation? 0 comments Top of Form Embed Video Post Comment Subscribe to comments Bottom of Form Top of Form Update Edit your comment Bottom of Form Cancel Speaker Notes on slide 1 1 Favorite • awankz 4 months ago more .

in dalam setiap mata pelajaran. Namun. dan (2) Karakter yang built. Sampai saat ini. teori (syare’at). Yoyon Bahtiar Irianto. Proceedings of The 4th International Conference on Teacher Education.Pd. Kata kunci: moral. belum sampai ke ranah metodologi dan aplikasinya dalam kehidupan. Indonesia. teori. (Adpend-FIP-UPI. maka kebermaknaan yang diajarkannya akan lebih efektifi dalam menunjang pendidikan karakter. Salah satu alasannya ialah karena para guru mengajarkan masih seputar teori dan konsep. geura sakola sing jucung. metodologi dan aplikasi yang relevan dengan pembentukan karakter (character building) dan pendidikan karakter (character education). value. Proceedings of The 4th International Conference on Teacher Education. baik secara pribadi maupun sosial. Pembelajaran moral loving akan terjadi pola saling membelajarkan secara seimbang di antara siswa. maka diperlukan kerja keras semua pihak. character education. dan hampir seluruh kebijakan pembaharuan pendidikan telah diupayakan. pendekatan pertama ternyata lebih efektif dibandingkan pendekatan kedua. H. metodologi dan aplikasi setiap bidang studi. namun sepertinya seluruh tatanan hidup dan kehidupan masyarakat malah berubah ke arah yang tidak menentu. Penyebab utamanya tidak lain pendidikan karakter bangsa yang ‘amburadul’. yaitu: (1) Karakter yang diposisikan sebagai mata pelajaran tersendiri. Karena itu. geura gede geura jangkung. character building. dalam setiap proses pembelajaran mencakup aspek konsep (hakekat). Indonesia. Permasalahan “Nelengnengkung-nelengnengkung. Join Conference UPI & UPSI Bandung. Strategi pembelajaran yang berkenaan dengan moral knowing akan lebih banyak belajar melalui sumber belajar dan nara sumber. keimanan. Permasalahan yang perlu diungkap antara lain: Bagaimana kiprah pendidikan dalam peradaban bangsa? Apa makna pendidikan moral-nilai-ahlaq dan karakter? Bagaimana peranan yang perlu dilakukan sekolah? Bagaimana strategi implementasinya dalam konteks pembelajaran di persekolahan? Dari pengalaman ada dua pendekatan dalam pendidikan karakter. email: abah_jbi@hotmail. M. Idealnya. hasil pembelajarannya ialah terbentuknya tabi’at reflektif dalam arti para siswa memiliki pengetahuan. Sedangkan pembelajaran moral doing akan lebih banyak menggunakan pendekatan individual melalui pendampingan pemanfaatan potensi dan peluang yang sesuai dengan kondisi lingkungan siswa. Jika para guru sudah mengajarkan kurikulum secara komprehensif melalui konsep. 8-10 November 2010 STRATEGI MANAJEMEN PENDIDIKAN KARAKTER (Membangun Peradaban Berbasis Ahlaqul Kharimah) Oleh: DR. . ahlaq.com) Abstrak Sudah sepuluh tahun reformasi pendidikan dilakukan. kemauan dan keterampilan dalam berbuat kebaikan. Ketiga strategi pembelajaran tersebut sebaiknya dirancang dengan sistematis agar para siswa dan guru dapat memanfaatkan segenap nilai-nilai dan moral yang sesuai dengan potensi dan peluang yang tersedia di lingkungannya.Pendidikan karakter . penerapan pendidikan karakter di sekolah memerlukan pemahaman tentang konsep. sejalan dengan Renstra Kemendiknas 20102014 yang telah mencanangkan penerapan pendidikan karakter. kehidupan masyarakat malah melunturkan sendi-sendi keimanan yang nya turut mempengaruhi kualitas kelangsungan peradaban bangsa. teori. tabi’at reflektif. Secara tidak disadari. Join Conference UPI & UPSI Bandung. dan perilaku shaleh. Dengan demikian. sangkan bisa makayakeun Indung (Nelengnengkung-nelengnengkung.Document Transcript 1. Yoyon Bahtiar Irianto/Strategi Manajemen Pendidikan Karakter/2010 Page 1 2.pola manajemen pembelajaran yang dapat menghasilkan anak didik yang memiliki karakter yang kuat dalam arti memiliki ketangguhan dalam keilmuan. metode (tharekat) dan aplikasi (ma’rifat). Melalui pemahaman yang komprehensif ini diharapkan dapat menyiapkan pola. 8-10 November 2010 A. terutama terhadap program-program yang memiliki kontribusi besar terhadap peradaban bangsa harus benar-benar dioptimalkan.

turut mempengaruhi kualitas kelangsungan peradaban masyarakat di masa depan. 8-10 November 2010 yang memiliki ketangguhan keilmuan. cepatlah selesaikan sekolah. B. Sekarang. strategi. Walaupun visi. Join Conference UPI & UPSI Bandung. harapan. dan do’a. kemiskinan dan derajat kesehatan masyarakat yang buruk. meningkatnya pengangguran. visi penerapan pendidikan karakter di lingkungan satuan-satuan pendidikan memerlukan pemahaman yang jelas tentang konsep. membesarkan dan mendidiknya. kini Ibu sedang lara…. Oleh karena itu. Dengan segenap kasih sayang. Gambaran di atas bukan hanya sekedar cerita. Bahkan pada akhirnya para orang tua menunjukkan ketidaksanggupan lagi untuk mengajarkan semua pengetahuan dan keterampilan . sepertinya seluruh tatanan hidup dan kehidupan masyarakat malah berubah ke arah yang tidak menentu. metode yang jelas dan komprehensif tentang pendidikan karakter. dan keshalehan pribadi maupun sosial. metodologi dan aplikasi yang relevan dengan pembentukan karakter (character building) dan pendidikan karakter (character education). tujuan.” Itulah penggalan-penggalan “dangding” (syair) pada saat Sang Ibu mengayun saya (anak). Apabila pembangunan pendidikan dilaksanakan seperti itu terus-menerus. Insan-insan yang shaleh ini sangat diperlukan untuk menjadi ‘kader’ yang siap ‘berjihad’ membangun kembali bangsanya agar bangkit dari keterpurukan.benar dioptimalkan. namun tidak ada maknanya manakala hasil-hasil pendidikan tidak dapat meningkatkan kualitas hidup bermasyarakat dan berbangsa. Ketidakmenentuan yang paling berbahaya ialah lunturnya keimanan sebagai masyarakat yang agamis. bahwa permasalahan mendasar bagi pendidikan ialah bagaimana menyiapkan generasi yang cerdas dan memiliki karakter yang kuat untuk membangun bangsanya ke arah yang lebih baik.hutan gunung sawah lautan. air matanya berlinang…. Penurunan budi pekerti.. serta sang Ibu Pertiwi yang telah memberi saya lahan kehidupan. Penyebab utamanya tidak lain adalah pendidikan karakter bangsa yang ‘amburadul’. Tanpa pijakan dan pemahaman tentang konsep. kriminalitas.1 maka diperlukan kerja keras semua pihak. agar dapat memuliakan Sang Ibu)” “Ku lihat Ibu Pertiwi. Namun demikian.. Apa yang dilakukan sekolah terhadap anak-anaknya sehingga tidak semua cita. sejalan dengan Rencana Strategis Kemendiknas 20102014 yang telah mencanangkan visi penerapan pendidikan karakter. teori. telah begitu banyak upaya untuk mewariskan pengetahuan dan keterampilan kepada generasinya. Proceedings of The 4th International Conference on Teacher Education. dan berharap kembali memuliakan Sang Ibu yang mengadung. Sang Ibu berusaha membesarkan saya agar menjadi gede dan tinggi.cepatlah besar cepatlah tinggi. teori. terutama terhadap program-program yang memiliki kontribusi besar terhadap peradaban bangsa harus benar. maka misi pendidikan karakter pada sekolah-sekolah akan menjadi sia-sia. sang Ibu sedang bersedih karena anak-anaknya walaupun telah besar dan tinggi namun hasil dari sekolah tidak sesuai dengan harapan dan cita-cita Sang Ibu. prinsip. Indonesia. maraknya penyalahgunaan narkoba. Namun.cita dan harapan Sang Ibu dapat dipenuhi oleh sekolah? Padahal. maka bangsa ini selamanya tidak akan mendapat hidayah untuk bangkit menuju kehidupan yang lebih baik. simpanan kekayaan. Pendidikan dan Peradaban Bangsa Menengok sejarah peradaban manusia. sedang bersusah hati. misi. sex bebas dan tuna-susila. keimanan. program pembangunan pendidikan dirumuskan dengan sangat hebat. Bagaimana kiprah pendidikan dalam peradaban bangsa? Apa makna pendidikan moral-nilai-ahlaq dan karakter? Bagaimana peranan yang perlu dilakukan sekolah? Bagaimana strategi implementasinya dalam konteks pembelajaran di persekolahan? Melalui pemahaman yang komprehensif ini diharapkan dapat menyiapkan pola-pola pembelajaran untuk menghasilkan anak didik Yoyon Bahtiar Irianto/Strategi Manajemen Pendidikan Karakter/2010 Page 2 3. hampir seluruh kebijakan yang terkait dengan pembaharuan pendidikan diarahkan sesuai dengan standar pendidikan yang telah ditetapkan.

4 Padangan tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai pendidikan bukan saja hanya sekedar etika dalam arti 'baik' atau 'tidak baik'. Tetapi kritikan Illich dan Reimer setidaknya mengingatkan kita bahwa pendidikan persekolahan bukanlah satu-satunya lembaga pendidikan. ekonomi dan politik. Sejak saat itu. kemudian dipraktekkan kembali sampai menunjukan hasil yang lebih bermanfaat. Indonesia. Dalam perspektif sosial. tetapi tidak melihat. maka akan dapat kuceritakan keadaan masyarakat dan negaramu”. Join Conference UPI & UPSI Bandung. belakangan lembaga pendidikan yang namanya 'sekolah' ini cenderung menganggap sebagai satu-satunya lembaga pendidikan.6 Dengan kemajuan iptek manusia menjadi terserang kebingungan serta tidak tahu lagi identitasnya. dengan tetap menghargai keragaman budaya. melancong ke seberang lautan waktu yang tidak terbatas. bahkan mereka lebih sesat lagi. Berdasarkan amanat undang-undang. dan hipiisme menyerang pikiran dan ruh manusia beradab hingga menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan yang beradab. upaya pembelajaran tersebut mulai diformalkan dalam bentuk persekolahan. mereka punya mata. “Mereka bersenang dengan riang gembira dan makan layaknya binatang…”5 “Mereka punya hati.8 Dalam perspektif ekonomi. Ahirnya. Selanjutnya. Saya yakin bahwa nilai dan tujuan pendidikan hanya akan ada apabila pendidikan itu dapat menciptakan sesuatu yang memberikan manfaat bagi kehidupan masa kini dan Yoyon Bahtiar Irianto/Strategi Manajemen Pendidikan Karakter/2010 Page 3 4. Kemajuan iptek seharusnya dapat membimbing manusia untuk mempunyai tujuan. Seperti yang manusia yang diibaratkan ‘penumpang’ kapal yang bernama Bumi. tetapi tidak mendengar. Bahkan dalam kelakarnya dia berkata: “ceritakan sekolahmu. namun lebih ditekankan pada tujuan mengapa perlu ada pendidikan. berputar di jagat kosmos.7 pendidikan harus dilihat sebagai human investment dalam bidang sosial-budaya. mulailah ada upaya pembelajaran yang tidak formal sesuai pengetahuan yang diinginkan anaknya. pendidikan mutlak diperlukan guna menopang pengembangan education for . ras. yang menjadi elemen penting dalam memperkuat daya rekat sosial (social cohesion). 8-10 November 2010 masa mendatang. dan agama. suku-bangsa. Idealnya. Everet Reimer3 pun menganggap bahwa pendidikan persekolahan telah ‘mati’ (school is dead). Proceedings of The 4th International Conference on Teacher Education. sehingga dapat memantapkan keutuhan nasional. manakala membicarakan pendidikan cenderung yang dibahas adalah sekolah. Jika kebijakan dalam pendidikan harus dibuat. Benar-benar mereka mirip binatang peliharaan. Dengan kata lain. Pendidikan dapat menjadi wahana strategis untuk membangun kesadaran kolektif (collective conscience) sebagai warga mengukuhkan ikatan-ikatan sosial. mereka punya telinga.budaya. menunjukkan bahwa dalam praktekpraktek pendidikan ada sesuatu yang salah atau kurang bermanfaat. sehingga muncullah absurdisme. seiring pengetahuan dan keterampilan yang harus dipelajari semakin kompleks. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan mempunyai nilai-nilai yang hakiki tentang harkat dan martabat kemanusiaan. Namun. kesalahan atau dalam pelaksanaan pendidikan harus dapat ditemukan.kepada anak-anaknya. Tentu saja. tetapi tidak bisa memahami. Akibatnya. pendidikan menjadi faktor determinan dalam mendorong percepatan mobilitas vertikal dan horisontal masyarakat yang mengarah pada pembentukan konstruksi sosial baru yang terdiri atas lapisan masyarakat kelas menengah terdidik. Mereka itulah orang-orang lalai”. saya tidak akan terperangkap dalam konsep yang ekstrim seperti Reimer. paradigma pendidikan yang begitu universal hanya dipandang secara adaptif daripada inisiatif. Ivan Illich2 telah mengkritik persekolahan ini dengan pertanyaan: “Apakah sekolah itu sesuatu yang perlu dalam pendidikan?” Bahkan. pendidikan seharusnya merupakan gambaran kondisi masyarakat seperti yang pernah diungkapkan Nicolas Hans bahwa “pendidikan adalah watak nasional suatu bangsa”. nihilisme. disintesa. dianalisis.

Secara teoritis. tetapi mencakup proses pembiasaan (habituation) tentang perilaku yang baik sehingga siswa dapat memahami. dan melakukan kebaikan (doing the good). dan bernegara. Oleh karena itu. mencintai kebaikan (loving the good). pendidikan ahlaq bertujuan menanamkan karakter-karakter yang melekat pada zat. yaitu: mengetahui kebaikan (knowing the good). Walaupun beberapa lembaga pendidikan sudah menyatakan berbasis moral dan ahlaq. Pendidikan Moral.the knowledge economy (EKE). Dalam prakteknya. pendidikan ahlaq berkenaan dengan kriteria ideal dan sumber karakter yang baik dan buruk. kewajiban.9 Satuan pendidikan harus pula berfungsi sebagai pusat penelitian dan pengembangan yang menghasilkan produk-produk unggulan yang mendukung knowledge based ekonomy (KBE). dan keterampilan teknis yang memadai. Sedangkan dalam perspektif politik. sedangkan pendidikan karakter berkaitan dengan metode. asma dan af’al Tuhan YME pada perilaku siswa.11 Namun dalam implementasinya masih sama halnya dengan pendidikan moral. Pendidikan ahlaq lebih ditekankan pada pembentukan sikap batiniyah agar memiliki spontanitas dalam berbuat kebaikan. pendidikan dalam dimensi yang integratif merupakan usaha seluruh komponen masyarakat dan bangsa untuk menumbuhkembangkan kekuatann kolektif (collective power) dengan meletakkan landasan sosial-budaya. Menurut ajaran Islam. Join Conference UPI & UPSI Bandung. Ahlaq. yang memiliki tingkat kesadaran tinggi terhadap hak. dan teknik pengajaran secara operasional. namun sesungguhnya anatara karakter dengan spiritualitas memiliki keterkaitan yang erat. teknologi. strategi. Sehingga tebentuklah tabi’at yang baik. Sedangkan pendidikan karakter merupakan upaya pembimbingan perilaku siswa agar mengetauhi. Unsur-unsur ideal dalam pendidikan karakter berkenaan dengan moral knowing. ekonomi dan politik yang kokoh bagi terciptanya masyarakat sipil (civil society) yang memiliki kekokohan budaya dan karakter tanpa menutup diri dari perkembangan jaman. pendidikan harus mampu mengembangkan kapasitas dan kapabilitas individu untuk menjadi warganegara yang baik (good citizens). dan mau berperilaku baik. Fokusnya pada tujuan-tujuan etika melalui proses pendalaman apresiasi dan pembiasaan. Dalam Islam. tetapi masih berbanding lurus dengan naiknya angka kriminalitas dan denkadensi moral di kalangan anak sekolah. karakter seseorang dapat diamati dari tiga aspek. Walaupun pendidikan ahlaq sering disebut tidak ilmiah karena terkesan bukan sekuler. Dengan demikian. berbangsa. Pembelajarannya lebih banyak disampaikan dalam bentuk konsep dan teori tentang nilai benar (right) dan salah (wrong). tugas dan tanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat. Sedangkan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari tidak menyentuh ranah afektif (apresiatif) dan psikomotorik (tidak menjadi kebiasaan) dalam perilaku siswa. yang dianut oleh seluruh komponen bangsa.Qur’an dan Sunnah. sifat. dan Karakter Pendidikan moral (moral education) dalam keseharian sering dipakai untuk menjelaskan aspek-aspek yang berkaitan dengan etika. . nilai-nilai itu harus merujuk pada Al-Qur’an dan Sunnah. Alfred & Carter10 menegaskan bahwa visi dan idealisme itu haruslah merujuk dan bersumber pada paham ideologi nasional. pendidikan karakter identik dengan pendidikan ahlaq. Nilai benar dan salah diukur oleh nilai-nilai agamawi. mencintai dan melakukan kebaikan. merasakan. Itulah moralitas yang dijungjung Yoyon Bahtiar Irianto/Strategi Manajemen Pendidikan Karakter/2010 Page 4 5. Dalam terminologi tasawuf. Indonesia. Proceedings of The 4th International Conference on Teacher Education. Nilai. C. 8-10 November 2010 tinggi oleh kaum Muslim. dapat dikatagorikan kaum yang tidak berahlaq sekaligus dapat disebut kaum yang tidak bermoral.12 Pendidikan karakter sesungguhnya bukan sekedar mendidik benar dan salah. pendidikan harus mampu melahirkan lulusan-lulusan yang memiliki pengetahuan. serta memiliki kapasitas dan kapabilitas kemampuan berwirausaha untuk meningkatkan daya saing nasional dan membangun kemandirian bangsa. Jika perilaku kaum Muslim sudah tidak merujuk lagi pada Al.

namun sekolah pun ikut bertanggung terhadap kegagalan pembentukan karakter di kalangan para siswanya. dan olah raga (keterampilan) dalam konteks kehidupan psikologis. Gambar-1 Posisi Karakter dalam Ranah Pendidikan Berdasarkan gambar di atas. Pendidikan karakter bagi sekolah bukan lagi sebagai sebuah opsi. Namun. dan spiritual akan menjadi bahan untuk membentuk karakter anak didik. sudut pandang (perspective taking). karena pendidikan di mana pun akan berkenaan dengan tugas olah pikir (pengetahuan). tidak ada bedanya dengan konsep dan teori yang dikembangkan di dunia barat. E. Character Education Quality Standards merekomendasikan sebelas prinsip untuk dijadikan panduan masyarakat dunia untuk dijadikan landasan pendidikan karakter yang efektif.13 Moral knowing berkenaan dengan kesadaran (awareness). dan kerendahan hati (humility).18 Saya setuju dengan pandangan itu. karena nilai-nilai. sehingga mengabaikan pembentukan karakter siswa. Indonesia. Kehidupan berbangsa dan bernegara yang diperjuangkan di Indonesia sebetulnya tidak harus meniru kehidupan negara lain. Moral doing berkenaan dengan perwujudan dari moral knowing dan moral loving yang berbentuk tabi’at reflektif dalam perilaku keseharian.moral loving dan moral doing (acting). sistem persekolahan di Indonesia dituntut untuk dapat berkontribusi secara signifikan dalam pembentukan karakter warga negaranya agar memiliki jati diri dan harga diri bangsanya. dan pengenalan diri (self knowledge).17 Dengan bahasa sederhana adalah merubah manusia menjadi lebih baik dalam pengetahun.15 Jadi. Dari konteks inilah nilai-nilai (value). Berdasarkan pengamatan saya pada sekolahYoyon Bahtiar Irianto/Strategi Manajemen Pendidikan Karakter/2010 Page 6 . Atau dalam Islam mengupayakan agar manusia memiliki karakter yang baik (good Yoyon Bahtiar Irianto/Strategi Manajemen Pendidikan Karakter/2010 Page 5 6. mencintai kebenaran (loving the good). olah rasa (apresiasi). lingkungan dan spiritualitasnya pun berbeda. Mengapa kita tidak kembali ke nilai-nilai dan moral yang diajarkan agama? Bukankah ajaran agama sudah tidak diragukan lagi kebenarannya? D. maka pembangunan pendidikan mempunyai tanggung jawab dalam memprioritaskan pendidikan nilai. sosial dan kultural. Join Conference UPI & UPSI Bandung. serta dapat tetap bisa hidup sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia. nilai-nilai (values). Dalam konteks ini. ta’alluq. dan muqarabah. menentukan sikap (decision making).14 Unsur-unsur dan prinsip-prinsip tersebut sebetulnya dalam ajaran Islam berkenaan dengan nilai-nilai dan moral mengenai mukasyafah. sikap dan keterampilan. dalam bentuk tahaqquq. karena proses pembudayaan menjadi tanggungjawab sekolah. logika (reasoning). musyahadah. tetapi suatu keharusan yang tak terhindarkan. Lingkungan sekolah harus menjadi tempat untuk pertumbuhan nilai dan moralnya sehingga terjadi proses pembiasaan yang membudaya. Proceedings of The 4th International Conference on Teacher Education. pengendalian diri (self control). 8-10 November 2010 character). kepekaan terhadap orang lain (emphaty). Prinsip-prinisip dalam penerapan pendidikan karakter. jenjang dan jenis kelembagaan satuan pendidikan. aprsiasi diri dan pembiasaan diri tentang nilai dan moral harus berlanjut di lingkungan sekolah setelah lingkungan keluarga. proses pengenalan diri. Moral loving berkenaan dengan kepercayaan diri (self esteem). lingkungan dan spiritual yang sesuai dengan jalur. dan takhalluq. Peranan Pendidikan Sekolah Tujuan utama pendidikan adalah untuk membentuk manusia yang good and 16 smart. Walaupun dalam teori sosiologi menyebutkan bahwa pembentukan karakter menjadi tugas utama keluarga. Perhatikan Gambar-1 berikut. lingkungan. Kerangka dan Strategi Manajemen Pembelajaran Untuk sampai kepada bentuk tabi’at reflektif diperlukan strategi manajemen pembelajaran yang logis dan sistematis. pada prakteknya lebih ditekankan pada aspek prestasi akademik (academic achievement). Artinya.

belum sampai ke ranah metodologi dan aplikasinya dalam kehidupan. Yoyon Bahtiar Irianto/Strategi Manajemen Pendidikan Karakter/2010 Page 7 8. Perhatikan Gambar-2 berikut. Langkah ke-1 Langkah ke-2 Langkah ke-3 (Membekali alat dan media untuk (Membekali pemahaman tentang (Membiasakan untuk melakukan tahu dan mau) kompetensi nilai dan moral) keterampilan berperilaku baik) Mengenal. dan hasil pembelajaran dapat diilustrasikan pada Gambar-3 berikut. Sama halnya dalam pengajaran dalam ajaran Islam yang mensyaratkan unttuk memahami hakekat. yaitu: (1) Ahlaq yang diposisikan sebagai mata pelajaran tersendiri. sifat. Join Conference UPI & UPSI Bandung. (2) membekali siswa pemahaman tentang berbagai kompetensi tentang nilai dan moral. 8-10 November 2010 sekolah berbasis ahlaq. pola pembelajaran. Sampai saat ini.19 terdapat dua pendekatan dalam proses pendidikan karakter. metode dan aplikasi. Proceedings of The 4th International Conference on Teacher Education. Salah satu alasan pendekatan kedua kurang efektif. dalam setiap proses pembelajaran mencakup aspek konsep. Merujuk karakteristik ini maka kegiatan memotivasi siswa menggunakan pendekatan kelompok.Mampu mecari peluang untuk . dan (2) Ahlaq yang built-in dalam setiap mata pelajaran. Secara sederhana. Mau dan Terampil Berbuat Kebaikan) Gambar-3 Pola Pembelajaran Pendidikan Karakter Merujuk kepada pendekatan dan kerangka pembelajaran di atas maka strategi pembelajaran dalam pendidikan karakter cukup dilakukan dengan tiga langkah. pendekatan pertama ternyata lebih efektivitas dibandingkan pendekatan kedua. syare’at. Dengan demikian.. Jika para guru sudah mengajarkan kurikulum secara komprehensif melalui konsep. namun memiliki potensi (gitek) yang beraneka-ragam (rupi-rupi). mengetahui dan Apresiatif terhadap nilai. Atau dalam pandangan nilai dan moral tentang kepribadian harus memahami zat. serta peluang yang ada di lingkungan) Moral Knowing Moral Loving Moral Doing (Belajar dari Orang Lain) (Belajar Bersama Orang Lain) (Belajar dari Diri Sendiri) TABI’AT REFLEKTIF (Tahu. maka siswa pada dasarnya “teu harta. Join Conference UPI & UPSI Bandung. 8-10 November 2010 MURID/SISWA/MAHASISWA (dengan segala potensinya) POLA POSES PEMBELAJARAN (Memanfaatkan potensi diri dan alam.. Indonesia. dan ma’rifat dari setiap aspek yang dipelajarinya. maka kebermaknaan yang diajarkannya akan lebih efektifi dalam menunjang pendidikan karakter. Indonesia. metodologi dan aplikasi setiap mata pelajaran atau bidang studi. Gambar-2 Pendekatan dan Muatan Kurikulum Pendidikan Karakter Berdasarkan ilustrasi di muka. Idealnya. (3) membiasakan siswa untuk selalu melakukan keterampilan-keterampilan berperilaku baik. keterkaitan setiap langkah pembelajaran tersebut dapat diilustrasikan pada Gambar-4 berikut. teori. asma dan af’al-nya. yaitu: (1) membekali siswa dengan alat dan media untuk memiliki pengetahuan. Proceedings of The 4th International Conference on Teacher Education. teori. Keterkaitan antara kondisi peserta didik.7. tharekat. Ketiga pola pembelajaran tersebut sebaiknya dirancang dengan sistematis agar para siswa dan guru/tutor/pendamping dapat memanfaatkan segenap nilai-nilai dan moral yang sesuai dengan potensi dan peluang yang tersedia di lingkungannya. hasil pembelajarannya ialah terbentuknya tabi’at reflektif dalam arti para siswa memiliki pengetahuan. Sedangkan pembelajaran yang berkenaan dengan moral doing akan lebih banyak menggunakan pendekatan individual melalui pendampingan pemanfaatan potensi dan peluang yang sesuai dengan kondisi lingkungan siswa. kemauan dan keterampilan. mung gitek nu rupi-rupi” dalam arti miskin dari sisi pendapatan (harta) dan pengetahuan (harti). kemauan dan keterampilan dalam berbuat kebaikan. Pembelajaran yang berkenaan dengan moral loving akan terjadi pola saling membelajarkan secara seimbang di antara siswa. karena para guru mengajarkan masih seputar teori dan konsep.teu harti. Pembelajaran yang berkenaan dengan moral knowing akan lebih banyak belajar melalui sumber belajar dan nara sumber.

dimaksudkan agar siswa memahami secara benar dan menyeluruh tentang potensi diri dan peluang yang ada di lingkungan sekitarnya. semakin tahu kekurangan-kekurangannya. memahami secara logis tentang Yoyon Bahtiar Irianto/Strategi Manajemen Pendidikan Karakter/2010 Page 8 9. F. Kegiatan utama guru pada tahap ini adalah: (1) merancang proses pembelajaran yang diarahkan pada pemahaman tentang klarifikasi nilai (value clarification). sehingga tumbuh kesadaran. Proses pembelajaran yang perlu dikembangkan oleh guru ialah belajar menemukan (learning discovery) sehingga nilai-nilai dan moral yang dipelajari itu dapat dihayati. Dalam tahapan ini tujuan pembelajaran di arahkan pada kompetensi dalam membedakan nilai-nilai ahlaq mulia dan ahlaq tercela. Arah pembelajaran pada tahap ini adalah pendampingan kemandirian siswa agar memiliki kesempatan untuk menerapkan nilai-nilai dan moral dalam perilaku keseharian sampai berbentuk tabi’at reflektif pribadi. 8-10 November 2010 pentingnya ahlaq mulia dan bahayanya ahlaq tercela dalam kehidupan. Ruang lingkup nilai dan moral yang perlu dikuasai murid pada tahap ini erat kaitannya dengan instrumen pendukung dalam berperilaku bagi para siswa. Proses penemuan dan penghayatan itu akan membentuk kedalaman apresiasi. Pendampingan terutama diarahkan untuk menguatkan kemampuan mereka tentang nilai dan moral dalam berperilaku sehingga berdampak positif terhadap sikap dan kemandiriannya di lingkungan hidup dan kehidupannya. peserta didik difasilitasi untuk memiliki dan mengembangkan kerangka atau pola pikir yang komprehensif tentang pendayagunaan dan pengembangan potensi diri dan peluang yang ada di lingkungan sekitarnya bagi perilakunya kesehariannya. Sedangkan peluang yang ada di lingkungan dijadikan sumber motivasi agar siswa mau melibatkan diri secara aktif dalam proses pembelajaran atau merekayasa sendiri proses pembelajaran yang dibutuhkannya. Langkah ke-2. Indonesia. Berdasarkan pemahaman ini. keinginan. Kompetensi dalam arti nilai-nilai dan moral yang dituntut untuk dimiliki oleh para siswa yang sesuai dengan kondisi dan peluang yang dihadapinya. Sasarannya ialah dimensi-dimensi emosional siswa yaitu qolbu dan jiwa. Berbagai kompetensi itu perlu dikaji dan diapresiasi oleh para siswa sampai mereka memiliki cukup pilihan dalam menetapkan keputusan kompetensi mana yang paling dibutuhkan sesuai kondisi potensi dan peluang yang sedang dihadapinya. Kesimpulan Pada bagian ahir tulisan ini. Langkah ke-3. saya ingin menegaskan kembali sekolah memiliki tanggungjawab dalam membentuk . mengenal sosok manusia yang berahlaq mulia untuk diteladai dalam kehidupan. diarahkan pada kepemilikan kepekaan kemampuan dalam mendayagunakan dan mengembangkan potensi diri dan peluang yang ada di lingkungan sekitarnya. sehingga nilai-nilai dan moral yang dimilikinya itu benar-benar dibutuhkan dalam kehidupannya. Melalui tahap ini pun siswa diharapkan mampu menilai dirinya sendiri (muhasabah). dan (2) membekalinya berbagai alat (instrument) dan media yang dapat digunakan secara mandiri baik secara individual ataupun kelompok.memahami nilai‐nilai dan nilai dan moral yang baik melakukan dan mengamalkan moral yang baik dan buruk perilaku yang baik Gambar-4 Strategi Manajemen Pembelajaran Pendidikan Karakter Langkah ke-1. Proceedings of The 4th International Conference on Teacher Education. berhubungan dan berusaha. Join Conference UPI & UPSI Bandung. Potensi diri difokuskan kepada nilai dan moral yang dapat didayagunakan untuk belajar. kebutuhan dan kemauan untuk memiliki dan mempraktekan nilai-nilai ahlaq tersebut. Tahapan ini dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa cinta dan rasa butuh terhadap nilai-nilai ahlaq mulia. Potensi diri dan peluang yang ada di lingkungan sekitar meliputi segenap nilai dan moral yang ada dan diperkirakan dapat dicapai dan didayagunakan untuk pembelajaran dan penerapan hasil pembelajaran yang diikutinya. merupakan muara penerapan kompetensi-kompetensi yang telah dimiliki para siswa melalui proses pembelajaran pada tahapan sebelumnya.

amazon.pdf 11.edu/policies/pdf/EduPlan. tidak ada pilihan lain untuk secepatnya mempersiapkan Yoyon Bahtiar Irianto/Strategi Manajemen Pendidikan Karakter/2010 Page 9 10.smc. Pembangunan pendidikan yang tidak berbasis pendidikan karakter telah terbukti hanya menghasilkan SDM yang bersifat mekanis dan kurang kreatif. (3) Besarnya kemandirian atau keswadayaan warga negara baik sebagai penggagas. (Jakarta: Biro Perencanaan Setjen Kemendiknas.org/publications/educationalleadership/nov93/vol51/num03/The-Return-of-Character-Education. 2009). Al-Qur’an Surat (QS) Muhammad:12 6. (2) Kepercayaan diri warga negara terhadap potensi diri. yaitu generasi yang serba siap dalam menghadapi segala tantangan kehidupan di masa depan.3/No. dan perilaku shaleh. memiliki tugas dalam menyiapkan potensi diri dan peluang lingkungan agar siswa memiliki pengetahuan yang luas.htm 3. moral dan ahlaknya dalam kehidupan bermasyarakat. bangsa dan negaranya. 2006). hal. pelaksana maupun pemanfaat dari hasil-hasil dalam menerapkan nilai-nilai. Al-Qur’an Surat (QS) Al-A’raf:179) 7.6-11). Join Conference UPI & UPSI Bandung.OrganizationCommunication-Competencies/dp/0791443671 10. dan terampil dalam membiasakan perilaku-perilaku yang sesuai nengan nilai-nilai. Pembangunan pendidikan yang sedang kita lakukan seharusnya menyentuh paradigma sistem pendidikan yang universal. Alfred & Carter dalam: www. ibid. Tom Lickona. Yoyon Bahtiar Irianto.co.amazon.60 dan dapat pula dilihat pada: www.com/profile/show/8590144815? pk=e3a7ac34e0206b1388c4a0970d7e14821dface93 5. Thomas Lickona. Proceedings of The 4th International Conference on Teacher Education. hal.karakter bangsa. Everet Reimer dalam Amazon.3/November 1993.uk/Books/s?ie=UTF8&rh=n %3A266239%2Cp_27%3AEverett+Reimer&field. dalam: http://www. Vol.No. Oleh karena itu. Melalui pola-pola manajemen pembelajaran yang dirancang secara komprehensif dan sistematis di lingkungan sekolah diharapkan dapat menghasilkan generasi-generasi yang memiliki ketangguhan dalam keilmuan. ibid.com/Leading-Learning. “Perencanaan Pendidikan Tingkat Kabupaten/Kota: Studi Evaluatif Tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Pendidikan di Kabupaten Bandung Menuju Tahun 2025”. 8-10 November 2010 generasi yang sesuai dengan peradaban yang diinginkan. The Character Education Partnership. moral dan ahlaq dalam membangun pribadi. G. baik secara pribadi maupun sosial. Yoyon Bahtiar Irianto. Lihat UU. keimanan. moral dan ahlaq yang dianut masyarakat dan bangsanya yang beradab.co. 2010).20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal (l) 8. Disertasi. Thomas Lickona.58.7_04.uk: http://www. The Return of Character Education. hal. berbangsa dan bernegara. masyarakat. moral dan ahlaq yang dianut masyarakat dan bangsa yang beradab.ascd. hal.plaxo. Kementrian Pendidikan Nasional.143 12. dalam Plaxo: http://www. Yoyon Bahtiar Irianto. 9. sumber daya dan kemampuan untuk menerapkan nilai-nilai. Pembangunan Manusia dan Pembaharuan Pendidikan.2014: Rancangan RPJMN tahun 2010-2014. memiliki kedalaman apresiasi. dalam: .author=Everett+Reimer&page=1 4. dalam INFED (Ideas-Thinking-Practice): http://www. Eric Schaps & Catherine Lewis. 14.org/thinkers/et-illic. (Journal of Educational Leadership. Referensi 1. Insan-insan yang shaleh ini sangat diperlukan untuk menjadi ‘kaderkader tenaga pembangunan’ yang siap ‘berjihad’ membangun kembali masyarakat dan bangsanya agar bangkit dari keterpurukan. Generasi yang serba siap tersebut. (Bandung: Laboratorium Administrasi Pendidikan UPI.infed. harus diupayakan secara sistematis. Indonesia. Nicolas Hans.aspx 13. terutama dalam membentuk tabi’at reflektif yang bercirikan: (1) Besarnya rasa memiliki warga negara (termasuk kelembagaannya) terhadap nilai-nilai. Ivan Illich. (Bandung: SPS UPI. “Eleven Principles of Effective Character Education”. 2. Rencana Strategis Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2010.

(New Jersey: Prentice-Hall. Aristotle’s dalam Edward J. 18. Indonesia. Schooling.htm 15. atau dapat dilihat pada: http://en. Muhammad Taqi Mishbah Yazdi. (Bandung: Bappeda Kabupaten Bandung. 1982). hal. and Educational Policies. Philosophy of Education: Studies in Philosophies. Yoyon Bahtiar Irianto/Strategi Manajemen Pendidikan Karakter/2010 Page 11 http://www. Join Conference UPI & UPSI Bandung. Laporan Penelitian. Power. Yoyon Bahtiar Irianto. 16.http://www. 8-10 November 2010 17. Inc.cortland. “Perencanaan Pendidikan Tingkat Kabupaten/Kota: Studi Evaluatif Tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Pendidikan di Kabupaten Bandung Menuju Tahun 2025”. 2003). 2009). Disertasi.416-417 dan “Pengembangan Model SMK Berbasis Potensi Wilayah”. Proceedings of The 4th International Conference on Teacher Education.net/penggawa/pendidikan-karakter-5758744 .wikipedia.slideshare.org/ 19. Buku Daras Filsafat Islam. (Bandung: Mizan.edu/character/articles/prin_iii.org/wiki/Aristotle Yoyon Bahtiar Irianto/Strategi Manajemen Pendidikan Karakter/2010 Page 10 11. Muhammad Taqi Mishbah Yazdi. Lihat: http://pendidikankarakter. (Bandung: SPS UPI. 2009). opcit.