BAB I PENDAHULUAN Dewasa ini kehadiran agama semakin dituntut agar ikut terlibat secara aktif di dalam memecahkan

berbagai masalah yang dihadapi ummat manusia. Agama tidak boleh hanya sekedar menjadi lambing kesalehan atau berhenti sekedar disampaikan dalam khutbah, melainkan secara konsepsual menunjukkan cara-cara paling efektif dalam memecahkan masalah. Tuntutan terhadap agama yang demikian itu dapat dijawab manakala pemahaman agama yang selama ini banyak menggunakan pendekatan teologis normative dilengkapi dengan pemahaman agama yang menggunakan pendekatan lain yang secara operasional konseptual dapat memberikan jawaban terhadap masalah yang timbul. Berkenaan dengan pemikiran yang di atas, penulis ingin mengajak pemmbaca untuk mengkaji berbagai pendekatan yang dapat digunakan dalam memahami agama, karena melalui pendekatan tersebut kehadiran agama secara fungsional dapat dirasakan penganutnya. Sebaliknya, tanpa mengetahui berbagai pendekatan tersebut, maka tidak mustahil agama menjadi sulit dipahami oleh masyarakat, tidak fungsional dan akhirnya masyarakat mencari pemecahan masalah kepada selain agama dan hal ini tidak boleh terjadi. Beberapa pendekatan tersebut meliputi pendekatan antropologis, sosiologis, fenomenologis, filosofis, histories, politis, psikologis, dan interdisipliner. Adapun pendekatgan yang dimaksud disini adalah cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam satu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan dalam memahami agama. Dalam hubungan ini, Jalaluddin Rahmat mengatakan bahwa agama dapat diteliti dengan menggunakan berbagai paradigma. Realitas keagamaan yang diungkapkan mempunyai nilai kebenaran sesuai dengan kerangka paradigmanya. Karena tidak ada persoalan apakah penelitian agama itu penelitian ilmu social, penelitian legalistic atau penelitian filosofis.1

1

Taufik Abdullah dan M. Rusli Karim (Ed.), Metodelogi Penelitian Agama Sebuah Pengantar (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogyakarta, 1990), cet. 11, hal. 92.

1

2 . tetapi temuan ini cukup memberi peringatan terhadap 2 M. Rusli Karim. dia mengungkapkan hubungan antara Id. Darman Raharjo. dan Superego. Sigmun Freud (1856-1939) pernah mengaitkan agama dengan Oedipus komplek.hlm. PENDEKATAN ANTROPOLOGIS Pendekatan antropologis dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat wujud praktek keagamaa yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Cara-cara yang dilakukan dalam disiplin ilmu antropologi dalam melihat suatu masalah digunakan pula untuk memahami agama.2 Melalui pendekatan antropologis.BAB II BERBAGAI PENDEKATAN DI DALAM MEMAHAMI AGAMA Berbagai pendekatan di dalam memahami agama dapat dikemukakan sebagai berikut. peneliti Clifford Geertz dalam karyanya The Religion of Java melihat adanya klasifikasi social dalam masyarakat Muslim di Jawa. kita dapat melihat agama dalam hubungannya dalam mekanisme pengorganisasian (social organization) juga tidak kalah menarik untuk dikatahui oleh para peneliti social keagamaan. antara santri. 11. Dalam psikoanalisanya. Penelitian antropologis yang induktif dan grounded. Cet. Kasus di Indonesia. Metodelogi Penelitian Agama (Yogyakarta: Tiara Wacana. Taufik Abdullah dan M. banyak juga memberi sumbangan kepada penelitian historis.19. yakni pengalaman infantile seorang anak yang tidak berdaya dihadapan kekuatan dan kekuasaan bapaknya. “Pendekatan Ilmiah Terhadap Fenomena Keagamaan” dalam M. 1. Ego. Meskipun penelitian Freud berakhir dengan kurang simpati realita keberagaman manusia. 1990). priyayi dan abangan. yaitu turun ke lapangan tanpa berpijak pada atau setidak-tidaknya dengan upaya membebaskan diri dari kungkungan teori-teori formal yang pada dasarnya sangat abstrak yang sebagaimana yang dilakukan di bidang sosiologi dan lebih-lebih ekonomi yang mempergunakan model-model matematis. Agama dinilai sangat neurosis. Selanjutnbya melalui pendekatan antropologis ini juga dapat ditemukan keterkaitan agama dengan psikoterapi.

3 . dan dimana kira-kira gua itu dan bagimana pula bisa terjadi hal yang menakjubkan itu. Di dalam ilmu ini juga 3 4 Mukti Ali. Dengan demikian pendekatan antropologi sangat dibutuhkan dalam memahami ajaran agama.1. lain halnya dengan psikoanalisa yang dikemikakan C.Jung. ataukah hal yang demikian merupakan kisah fiktif. HLM. cet. Hassan Shadly.G. sebagai sumber utama ajaran islam misalnya kita memperoleh informasi tentang kapal Nabi Nuh di gunubg Arafat. Sosiologi tidak menetapkan kemana arah sesuatu yang seharusnya berkembang dalam arti petunjuk-petunjuk yang menyangkut kebijaksanaan kemasyarakatan dari proses kehidupan bersama tersebut. hlm. (Jakarta: BINA Aksara. cit.beberapa kasus keberagaman tertentu yang lebih terkait dengan patologi social maupun kejiwaan. dan tentu masih banyak lagi contoh lain yang hanya dapat dijelaskan dengan bantuan ahli geografi dan arkeologi. cara terbentuk dan tumbuh serta berubahnya perserikatan-perserikatan hidup itu serta pula kepercayaannya keyakinan yang memberi sifat tersendiri kepada cara hidup bersama itu dalam setiap persekutuan hidup manusia. 1983). Di mana kira-kira bangkai kapal Nabi Nuh itu. 43.Jung malah menemukan hasil psikoanalisanya yang terbalik arah dari apa yang dikemukakan oleh Freud.3 2.4 Soerjono Soekanto mengartikan sosiologi sebagai suatu ilmu pengetahuan yang membatasi diri terhadap persoalan penilaian. Jika Freud oleh beberapa kalangan dilihat terlalu minor melihat fenomena keberagamanan manusia. akrena dalam ajaran agama tersebut etrdapat uraian dan informasi yang dapat dijelaskan lewat bantuan ilmu geografi dan arkeologi. kisah Ashabul Kahfi yang dapat bertahan hidup dalam gua lebih dari tiga ratus tahun lamanya. 1X.Sosiologi untuk Masyarakat Indonesia. Sosiologi mencoba mengerti sifat dan maksud hidup bersama. op. Menurutnya. PENDEKATAN SOSIOLOGIS Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hidup bersama dalam masyarakat dan meyelidiki ikatan-ikatan anatara manusia yang menguasai hidupnya itu. ada korelasi yang sangat positif antara agama dengan kesehatan mental. Dalam Al-Quran Al-Karim.

dibahas tentang proses-proses social. 1982). cet. 4 . Sosiologi Suatu Pengantar. mengingat bahwa pengetahuan perihal struktur masyarakat saja belum cukup untuk memperoleh gambaran yang nyata mengenai kehidupan bersama dari manusia. Mengapa dalam meyelesaikan tugasnya Nabi Musa dibantu oleh Nabi Harun. 5 Soerjono Soekanto. 18 dan 53. hlm. Kedua. Menurut Ayatullah Khomaeni dalam bukunya Al-Hukumah Al Islamiyah yang dikutip Jalaluddin Rahmat dikemukakan bahwa perbandingan antara ayat-ayat ibadah dan ayat-ayat yang menyangkut kehidupan social adalah salah satu perbandingan seratus untuk satu ayat ibadah. Disinilah letaknya sosiologi sebagai salah satu alat dalam memahami ajaran agama. 1. maka ibadah boleh diperpendek. Dalam bukunya berjudul Islam Alternatif. dengan mengajukan 5 alasan sebagai berikut: Pertama dalam Al-Quran atau kitab-kitab Hadits. melainkan dengan tetap dikerjakan semana mestinya. ada seratus untuk ayat muamalah (masalah sosial). Ketiga. bahwa ditekankannya masalah muamalah (sosial) dalam islam ialah adanya kenyataan bahwa bila urusan ibadah bersamaan waktunya dengan urusan muamalah yang penting. Karena itu shalat yang dilakukan secara berjamaah dinilai lebih tinggi nilainya daripada shalat yang dikerjakan sendirian (munfarid) dengan ukuran atau berbanding dua puluh derajat. Jalaluddin Rahmat telah menunjukkan betapa besarnya perhatikan agama yang dalam hal ini islam terhadap masalah sosial.5 Selanjutnya sosiologi dapat digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam memahamio agama. Dalam agama islam dapat dijumpai peristiwa Nabi Yusuf yang dahulu budak lalu akhirnya bisa menjadi penguasa di Mesir. dan contoh lainnya. bahwa ibadah yang mengadung segi kemasyarakatan diberi ganjaran yang lebih besar daripada ibadah yang bersifat perseorangan. Beberapa peristiwa tersebut dapat ditemukan hikmahnya dengan bantuan ilmu social. proporsi terbesar kedua sumber hukum islam itu berkenaan dengan urusan muamalah. (Jakarta: Cv Rajawali.

Dalam hubungan ini ada hadits yang artinya sabagai berikut: “Orang yang bekerja keras untuk menyantuni janda dan orang miskin. yang menyayangi orang miskin. 5 .6 Kelima. maka kifaratnya (tebusannya) ialah melakukan sesuatu yang berhubungan dengan masalah sosial. janda yang mendapat musibah.Keempat. menyayangi oprang miskin.” (H. ibn sabil. puasa dan sedekah (sahabat menjawab): Tentu.hlm. dalam islam terdapat ketentuan bila urusan ibadah dilakukan tidak sempurna atau batal. Lihat Sayyid Sabiq. dalam islam terdapat ajaran bahwa amal baik dalam bidang kemasyarakatn mendapat ganjaran lebih besar daripada ibadah sunah. Yaitu mendamaikan dua pihak yan g bertengkar. Dalam bahasa inggris secara istilah fenomena itu terbatas pada fisik dan mental. Tarmidzi dan Ibn Hibban). karena melanggar pantangan tertentu. Islamuna. tanpa tahun).R. Bukhari dan Muslim). PENDEKATAN FENOMENOLOGIS Kata fenomena dalam bahasa inggris ”phenomenon” bentuk pluralnya “phenomene dari kata Yunani “phainaomen” dari kata phainasthai” yang berarti “to show”. janda dan mengasihani orang yang mendapat musibah. Dalam Hadits qudsi dinyatakan bahwa salah satu tanbda orang yang diterima shalatnya adalah orang yang menyantuni orang-orang yang lemah. adalah seperti pejuang di jalan Allah SWT (atau kira-kira beliau berkata) dan seperti orang yang terus-menerus shalat malam dan terus-menerus berpuasa. Melalui pendekatan sosiologis agama akan dapat dipahami dengan mudah. yang tidak sombong pada makhluk-Ku. Dalam Hadits yang lain. yang tidak menghalangi maksiat kepada-Ku. 6 Secara lengkap hadits tersebut artinya adalah: “Aku hanya akan menerima shalat dari orang yang merendahkan diri karena kebesaran-Ku. 119. yang mengisi siang dengan zikir kepada-Ku. Rasulullah SAW menyatakan sebagai berikut: “Maukah kamu beritahukan aku derajat apa yang lebih utama daripada shalat.” (H. anak yati. Abu Daud.R.(Beirut: Dar al-Kutub ai-Arabi. karena agama itu sendiri diturunkan untuk kepentingan sosial. 3. Fenomena fisik merupakan objek persepsi sedangkan fenomena mental menjadi bahan introspeksi.

Hamper sama halnya dengan Runes. budaya dan zaman. beliau memberika dua hal yang diperlukan untuk memahami pendekatan fenomenologi. dalam “ The Studyof The Middle East”(New York Awiley Publication. 50-51. bahkan masih perlu ditambah dengan pendekatan hermeneutic misalnya. agama.hal. dalam mengkaji teks agama. Kedua. Fenemenologi digunakan untuk menerapkan metode dalam meletakkan pandangan subyektif peneliti. histories dan normative secara bersamaaan. 8 Charles J. 6 . fenomena adalah setiap fakta atau kejadian yang dapat diobservasi.Dalam kamus “Dictionary of Philosophy” Dogobert D. 2007).7 Charles J. namun menolak bahwa realitas semacam itu dapat diketahui. fenomenologi hendaknya diartikan sebagai metode memahami agama orang lain dengan cara menempatkan diri pada posisi netral. 1976). seperti Al-Quran dan Sunnah Nabi tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan tekstual. Adams menyampaikan gagasan dalam mengaplikasikan pendekatan fenomenologis dalam penelitian agama. PENDEKATAN INTERDISIPLINER Pendekatan interdisipliner yang dimaksud disini adalah kajian dengan menggunakan sejumlah pendekatan atau sudut pandang (perspektif). 6. Misalnya. fenomena adalah suatu yang hadir ke dalam kesadaran. Pertama. Runnes menjelaskan bahwa fenomenalisme mengasumsikan dua makna. yakni objek pengalaman indera. fenomena adalah objek persepsi atau objek yang bisa dipahami: fenomena adalah objek dari sense experience. sebagai konstruksi.8 4. Pertama. 7 Khozim Afandi “Hermenetika dan Fenomenologi Dari Teori Ke Praktek” (Pasca Sarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya. Adams. Islamic Religious Transition.hlm. Angels . menolakn adanya realitas dibalik fenomena. tetapi harus dilengkapi dengan pendekatan sosiologis dan historis sekaligus. menegaskan bahwa realitas adalah things in them selves. Dalam studi misalnya menggunakan pendekatan sosiologis. juga ditemukan dalam kamus “Dictionary of philosophy” susunan peter A. Kedua. Pentingnya penggunaan pendekatan ini semakin disadari keterbatasan dari hasil-hasil penelitian yang hanya menggunakan satu pendekatan tertentu.

1979).9 5. Contoh dalam penggunaan pendekatan interdisipliner adalah dalam menjawab status hukum aborsi.Dari kupasan si atas melahirkan beberapa catatan. I. Ketiga.cet. hikmah atau hakikat mengenai segala sesuatu yang ada. sistematik. inti. kata filsafat berasal dari kata philo yang berarti cinta kepada kebenaran. Menurutnya filsafat adalah berfikir secara mendalam. mencari hakikat sesuatu. 1967). 12 Sidi Gazalba. Tentang larangan pembunuhan terhadap anak dan proses atau tahap penciptaan manusia dihubungkan dengan teori embriologi. Kamus Umum Bahasa Indonesia. berusaha menautkan sebab dan akibat serta menafsirkan pengalaman-pengalaman manusia.25) 11 J. ilmu dan hikmah. jilid 1. Falsafah Pendidikan Islam. kalau tidak menjadi pertanda agama semakin tidak mendapat Buka Situs web “Pendekatan islam secara interdisliner”. Untuk melihat status hukum aborsi perlu dilacak nash Al-Quran dan Sunnah Nabi. 7 . 1991). hukum dan sebagainya terhadap segala yang ada di alam semestamaupun mengenai kebenaran dan arti “adanya” sesuatu.(Jakarta: Bulan Bintang. Poerwadinata. cet. 15. hal.S. XII. perkembangan pembidangan studi islam dan pendekatannya sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Sistematika Filsafat. Kedua. Pertama. dan universal dalam rangka mencari kebenaran. 280.12 9 terjadi.) Hasan Langgulung dari judul asli Falsafah al-tarbiyah al-islamiyah. 10 Omar Mohammad al-Tomy al-Syaibani.(terj. hal. perkembangan tersebut adalah satu hal yang wajar dan seharusnya memang perhatian. Poerwadinata mengartikan filsafat sebagai pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai sebab-sebab.(Jakarta: Bulan Bintang. radikal. PENDEKATAN FILOSOFIS Secara harfiah.10 Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia. hal. (Jakarta: Balai Pustaka. II.11 Pengertian filsafat yang umumnya digunakan adalah yang dikemukakan Sidi Gazalba. cet. asas-asas. adanya penekanan terhadap bidang dan pendekatan tertentu dimaksudkan agar mampu memahami ajaran islam lebih lengkap (komprehensif) sesuai dengan kebutuhan tuntutan yang semakin lengkap dan komplek.

radikal. The Cultural Atlas of Islam. Melalui pendekatan filosofis ini. misalnya sudah haji. Tetapi merenung bukanlah melamun. Dalam sebuah buku yang berjudul Hikmah al-Tasyri’ wa falsafatubu yang ditulis oleh Muhammad al-Jurjawi. bahwa kegiatan kefilsafatan ialah merenung. Dengan menggunakan pendekatan filosofis ini. 14 Isma’il R. 1986). melainkan seluruh hidupnya. seseorang akan dapat memberi makna terhadap sesuatu yang dijumpainya dan dapat pula menangkap hikmah dan ajaran yang terkandung di dalamnya. juga bukan berfikir secara kebetulan yang bersifat untung-untungan. (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya. yakni mengamalkan agama dengan susah payah tapi tidak memiliki makna apa-apa kosong tanpa arti yang mereka dapatkan dari pengalaman agama tersebut hanyalah pengakuan formalistic. sudah menunaikan rukun islam yang kelima dan berhenti sampai disitu. Mereka tidak dapat merasakan nilai-nilai spiritual yang terkandung di dalamnya. kattsof mengatakan.65. cet. dan universal. Dengan cara demikian ketika seseorang mengerjakan suatu amal ibadah tidak akan merasa kekeringan spiritual yang dapat menimbulkan kebosanan. bukan hanya sebatas studi akademis terhadap persoalan agama. dengan maksud agar hikmah.6. penghayatn dan daya spiritualitas yang dimiliki seseorang. ia mengungkapkan hikmah yang terdapat di balik ajaran-ajaran agama islam. sistematik. IV.Louis O.14 Bagi aliran ini. Ia menuntut suatu pengahayatan total. New York: Macmillan Publisher Company. studi agama dan agama-agama adalah aktivitas 13 Louis O. Soejono Soemargono dari judul asli Elements of Philosophy. Semakin mampu menggali makna filosofis dari suatu ajaran agama. hlm. 8 . Pengantar Filsafat. Kattsof. hakikat atau inti dari ajaran agama dapat dimengerti dan dipahami secara seksama. 1989).13 Pendekatan agama secara filosofis adalah untuk memahami ajaran agama. hal.. melainkan dilakukan secara mendalam. jawabannya bias dicari dalam hakikat filsafat hanya mengabdikan pikirannya saja. seseorang tidak akan terjebak apada pengalaman agama yang bersifat formalistic. akan semakin meningkat pula sikap. and Lois Lamnya Al-Faruqi. Menurut Nasr mengapa hanya oleh segelintir orang. (terj.).

( Jakarta: Pustaka Firdaus. Bagian pertama. 16 Lihat Taufik Abdullah (Ed). Dalam hal ini Kuntowijoyo telah melakukan studi yang mendalam terhadap agama yang dalam hal ini islam. Pendekatan kesejarahan ini sangat dibutuhkan dalam memahami agama. 1987). dan bagian kedua berisi istilah-istilah sejarah dan perumpamaan. Agama Masa Depan Perspekti Filsafat Perennial. I. istilah Al-Quran merujuk kepada pengertian-pengertian normative yang khusus. ia sampai pada suatu kesimpulan yang pada dasarnya kandungan Al-Quran itu terbagi menjadi dua bagian.15 Islam sebagai agama yang banyak menyuruh penganutnya mempergunakan akal pikiran sudah dapat dipastikan sangat diperlukan pendektan filosofis dalam memahami ajaran agamanya. hal.keagamaan itu sendiri. Ketika ia mempelajari Al-Quran. apa sebabnya. 1995). 12. aturanaturan legal dan ajaran-ajaran keagamaan pada umumnya. siapa yang terlibat dalam peristiwa tersebut. sehingga menjadi 15 Komaruddin Hidayat and Mohammad Wahyuni Nafis. Dalam bagian pertama yang berisi konsep-konsep. Namun demikian pendekatan seperti ini masih belum diterima secara merata terutama oleh kaum tradisionalis formalistis yang cenderung memahami agama terbatas pada ketetapan melaksanakan aturan-aturan formalistic dari pengalaman agama. karena agama itu sendiri turun dalam situasi yang konkret bahkan berkaitan dengan kondisi social kemasyarakatan. (Jakarta: Paramadina. 105. Istilah-istilah itu kemudian diintegrasikan ke dalam pandangan dunia Al-Quran. PENDEKATAN HISTORIS Sejarah atau histories adalah suatu ilmu yang di dalamnya dibahas berbagai peristiwa dengan memperhatikan unsure tempat. hal. latar belakang dan pelaku dari peristiwa tersebut. 9 . Sejarah dan Masyarakat. menurut pendekatan sejarah. Semua studi agama hanya bermakna kalau ia memiliki makna keagamaan. berisi konsep-konsep. dan mempunyai makna keagamaan. dimana. waktu. yang contoh-contohnya telah dikemukakan di atas. cet. doktrin-doktrin etik. objek.16 Menurut ilmu ini segala peristiwa dapat dilacak dengan melihat kapan peristiwa itu terjadi. 6.

politik diartikan sebagai pengetahuan mengenai ketatanegaraan atau kenegaraan. misalnya konsep tentang fuqura (orang-orang kafir) dhu’afa (orang-orang lemah). Misalnya simbol tentang rapuhnya rumah laba-laba. siasat. tentang luruhnya sehelai daun yang tak lepas dari pengamatan Tuhan.18 7. 1997). mustadl’afin (kelas tertindas). baik abstrak maupun konkret. Dengan ilmu Asbabun nuzul ini seseorang akan dapat mengetahui hikmah yang terkandung dalam suatu ayat yang berkenaan dengan hukum tertentu. dan sebagainya mengenai pemerintahan sesuatu Negara atau terhadap Negara lainnya.S. 10 . malikat. manusia diajak merenungkan hakikat dan makna kehidupan. mufasidun (koruptor-koruptor). akhirat. Dalam bagian ini. 79. hal. dan dapat pula berarti segala urusan dan tindakan (kebijaksanaan.konsep-konsep yang otentik. Banyak sekali ayat yang berisi ajakan semacam ini. dasar-dasar pemerintahan dan sebagainya. tersurat maupun tersirat. karangan W. baik menyangkut hikmah historis maupun menyangkut simbol-simbol. kita mengenal konsep. 1. Manna’ al-Qaththan. AlQuran ingin mengajak dilakukannya perenungan untuk memperoleh hikmah. PENDEKATAN POLITIS Dalam Kamus Bahsa Indonesia. yang bersangkutan harus memppelajari sejarah turunnya Al-Quran yang selanjutnya disebut sebagai ilmu Asbab al-Nuzul (ilu tentang sebab-sebab turunnya ayat AlQuran) yang pada intinya berisi sejarah turunnya ayat Al-Quran. Sementara itu. konsep-konsep yang lebih baik menunjuk kepada fenomena konkret dan dapat diamati (observable). hal. mustakbirun (penguasa). ma’ruf dan munkar.J. cet. 328.17 Seseorang yang ingin memahami Al-Quran secara benar misalnya. zhalimun (para tiran). Melalui kontemplasi terhadap peristiwa histories dan juga melalui metaphor-metafor yang berisi hikmah tersembunyi. 1991). 17 18 Kuntowijoyo. Konsep tentang Allah. atau tentang keganasan samudera yang menyebabkan orang-orang kafir berdo’a. (Mesir: Daral_ma’rif. Mababits fi Ulum al_Quran. seperti tata cara pemerintahan. dan ditujukan untuk memelihara syari’at dari kekeliruan memahaminya. Selanjutnya bagian kedua yang berisi kisah-kisah atau perumpamaan. Poerwadinata. Paradigma Islam Interpretasi untuk Aksi. (Bandung: Mizan. agbniya (orang kaya).

kepentingan. Pernyataan atau tesis tersebut selanjutnya dibuktikan oleh kuntowijoyo secara meyakinkan dalam bukunya itu. tetapi juga mempunyai sifat kepala negara setelah beliau wafat mesti diganti oleh orang lain untuk memimpin Negara yang beliau tinggalkan. bahwa islam memiliki konsep tentang politik. Para peneliti sejarah politik ada yang mengkategorikan bahwa corak politik yang dterapkan oleh Nabi Muhammad SAW adalah bercorak teo-demokratis. Sebagai kolektivitas. dan tujuantujuan politik sendiri. dan mampu melakukan aksi bersama. Pendekatan islam secara politik yang ada di kalangan masyarakat pada umumnya kurang melihat hubungan masalah politik dengan agama. yaitu suatu pola pemerintahan yang dalam menyelesaikan setiap persoalan terlebih dahulu melakukan musyawarah baru kemudian menunggu ketetapan dari Tuhan. dan lupa kalau islam juga merupakan kolektivitas. tidak sadar bahwa islam bukan hanya agama. Dalam buku tersebut Harun Nasution malah menegaskan bahwa persoalan yang pertama-tama yang timbul dalam islam menurut sejarah bukanlah persoalan tentang keyakinan melainkan persoalan politik. politik adalah suatu konsepsi yang berisikan antara lain ketentuan-ketentuan tentang siapa sumber kekuasaan Negara. Hal ini dimungkinkan karena pada masa 11 . beliau tidak hanya mempunyai sifat Rasul Allah.Selanjutnya suatu system. islam mempunyai kesadaran. kepada siapa pelaksanaan kekuasaan itu bertanggungjawab dan bangaimana bentuk tanggung jawabnya. Kuntowijoyo mengatakan: “Banyak orang. Hal ini antara lain disebabkan karena pemahaman yang kurang utuh terhadap cakupan ajaran agama islam itu sendiri. Keterkaitan agama islam dengan aspek politik selanjutnya dapat diikuti dari uraian yang diberikan Harun Nasution dalam bukunya Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya Jilid II. struktur. Banyak orang beragama islam. tetapi hanya menganggap islam adalah agama individual. serta kepada siapa kewenangan melaksanakan kekuasaan itu diberikan. tetapi juga sebuah komunitas (umat) tersendiri yang mempunyai pemahaman. siapa pelaksana kekuasaan tersebut. apa dasar dan bagimana cara untuk menetukan. bahkan pemeluk islam sendiri. Ketika Nabi SAW berada di Madinah.

Seorang teolog. (Jakarta: Bulan Bintang. sebagai orang yang saleh. 1 hlm. orang yang baik. sosiolog. melainkan agama dapat dipahami semua orang sesuai dengan pendekatan dan kesanggupan yang dimilikinya. Dengan pendekatan itu semua orang akan sampai pada agama. Dalam ajaran agama banyak kita jumpai istilah-istilah yang menggambarkan sikap batin seseorang. cet. Dengan pengetahuan ini. maka dapat disusun langkah-langkah baru yang lebih efisien lagi dalam menanamkan ajjaran agama.19 8. 19 20 Buka situs web “Pendekatan Agama Secara Politis”.20 bahwa perilaku seseorang yang nampak lahiriyah terjadi karena dipengaruhi oleh keyakinan yang dianutnya. Disini kita melihat bahwa agama bukan hanya monopoli kalangan teolog dan normativ belaka. Misalnya sikap beriman dan bertaqwa kepada Allah. Zakiah Daradjat. Semua itu adalah gejala-gejala kejiwaan yang berkaitan dengan agama. melainkan yang dipentingkan adalah bagaimana keyakinan agama tersebut terlihat pengaruhnya dalam perilaku penganutnya. 76. Dari keadaan demikian seorang akan memiliki kepuasaan dari agama. 12 . PENDEKATAN PSIKOLOGIS Psikologi atau ilmu jiwa adalah ilmu yang mempelajari jiwa seseorang melalui gejala perilaku yang dapat diamatinya.Nabi Muhammad SAW wahyu masih dalam proses turunnya. orang yang sadik (jujur) dan sebagainya. Ilmu Jiwa Agama. antropolog. Menurut Zakiah Daradjat. Ilmu jiwa agama sebagaimana dikemukakan Zakiah Daradjat tidak akan mempersoalkan benar tidaknya suatu agama yang dianut seseorang. karena seluruh persoalan hidupnya mendapat bimbingan dari agama. Maka dari itu pendekatan agama secara politik sangat dibutuhkan. sejarawan dan ahli jiwa akan sampai pada pemahaman agama yang benar. Itulah sebabnya ilmu jiwa banyak digunakan sebagai alat untuk menjelaskan gejala atau sikap keagamaan seseorang Dari uraian tersebut di atas kita melihat ternyata agama dapat dipahami melalui berbagai pendekatan. 1987 ).

Pendekatan dibagi mejadi 8 macam: 1.KESIMPULAN Pendekatan adalah cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam suatu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan dalam memahami agama. Pendekatan Antropologis 13 .

dan ahli ilmu jiwa akan sampai pada pemahaman agama yang sebenar-benarnya. 92. Metodelogi Penelitian Agama Sebuah Pengantar (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogyakarta. Metodelogi Penelitian Agama (Yogyakarta: Tiara Wacana. 1990). sosiolog. seorang teolog. tidak fungsional dan akhirnya masyarakat mencari pemecahan masalah kepada selain agama. “Pendekatan Ilmiah Terhadap Fenomena Keagamaan” dalam M. Rusli Karim. Pendekatan Fenomenologis 4. hal. Dengan pendekatan-pendekatan itu.2.hlm. Pendekatan Psikologis Dari uraian tersebut dapat kita lihat. karena melalui pendekatan tersebutlah kehadiran agama secara fungsional dapat diraswakan oleh penganutnya. semua orang akan sampai pada agama yang sebenarnya. 1990). melainkan agama dapat dipahami oleh setiap orang sesuai dengan pendekatan dan kesanggupan yag dimilikinya. karena seluruh persoalan hidupnya akan mendapat bimbingan dan pencerahan dari agama. 11. 14 .pendekatan tersebut.). ternyata agama harus dipahami melalui berbagai pendekatan. Rusli Karim (Ed. antropolog. Pendekatan Politis 8. Darman Raharjo. Pendekatan Sosiologis 3. Pendekatan Historis 7. Sebaliknya tanpa mengetahui berbagai pendekatan. DAFTAR PUSTAKA Taufik Abdullah dan M. sejarawan . Taufik Abdullah dan M. Dari keadaan demikian seseorang akan memiliki pemahaman dan kepuasan dari pendekatan agama. Pendekatan Filosofis 6. Hal demikian perlu dilakukan.19. Cet. Pendekatan Interdisipliner 5. 2 M. maka tidak mustahil agama menjadi sulit oleh masyarakat. cet. 11. Disini kita dapat melihat bahwa agama bukan hanya monopoli kalangan teolog dan normative belaka.

25) 11 J. ( Jakarta: Pustaka Firdaus. Kattsof. hal. 4 Hassan Shadly. Khozim Afandi “Hermenetika dan Fenomenologi Dari Teori Ke Praktek” (Pasca Sarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya. Islamic Religious Transition. cet.Sosiologi untuk Masyarakat Indonesia. Sistematika Filsafat. cet. Adams. 10 Omar Mohammad al-Tomy al-Syaibani. 8 Charles J. 1991).65. hal. 2007).1. 15.(Jakarta: Bulan Bintang. Falsafah Pendidikan Islam. (Jakarta: Paramadina. tanpa tahun). 1X. HLM. 79. (Jakarta: BINA Aksara. II. (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya. 119. 1. I. hal. IV. 16 Lihat Taufik Abdullah (Ed). 9 Buka Situs web “Pendekatan islam secara interdisliner”. Louis O. Pengantar Filsafat. Paradigma Islam Interpretasi untuk Aksi. (terj. jilid 1. 6 7 Sayyid Sabiq. hal.). 12 Sidi Gazalba. Agama Masa Depan Perspekti Filsafat Perennial. 6.hlm. 50-51.) Hasan Langgulung dari judul asli Falsafah al-tarbiyah al-islamiyah. Sosiologi Suatu Pengantar. cet. cet. 328. 1997). I. 1979). op. 1987). hlm. XII. cet. Sejarah dan Masyarakat. 1. cet. 1991). 18 dan 53. 280. Mababits fi Ulum al_Quran.hlm. 1976). 5 Soerjono Soekanto. 13 Isma’il R. 105. hal.6. dalam “ The Studyof The Middle East”(New York Awiley Publication. New York: Macmillan Publisher Company. hal.. 17 Kuntowijoyo. cit. 1967). hal. 1986). 15 . hal. Kamus Umum Bahasa Indonesia. hlm. hlm.3 Mukti Ali. 43. (Bandung: Mizan.(Jakarta: Bulan Bintang.hal. (Mesir: Daral_ma’rif.(terj. 1982). 1989). Soejono Soemargono dari judul asli Elements of Philosophy.(Beirut: Dar al-Kutub ai-Arabi. 14 15 Komaruddin Hidayat and Mohammad Wahyuni Nafis. 18 Manna’ al-Qaththan. 1983). Poerwadinata. and Lois Lamnya Al-Faruqi.S. cet. Islamuna. 1995). (Jakarta: Balai Pustaka. 12. (Jakarta: Cv Rajawali.cet. The Cultural Atlas of Islam.

1987 ).19 Buka situs web “Pendekatan Agama Secara Politis”. 20 16 . Zakiah Daradjat. (Jakarta: Bulan Bintang. 76. 1 hlm. cet. Ilmu Jiwa Agama.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful