BIOGRAFI DAN PEMIKIRAN FAZLUR RAHMAN Fazlur Rahman dilahirkan pada tanggal 21 September 1919 di Hazara, suatu daerah

di Anak Benua Indo-Pakistan yang sekarang terletak di barat laut Pakistan. Wilayah Anak Benua Indo-Pakistan sudah tidak diragukan lagi telah melahirkan banyak pemikir Islam yang cukup berpengaruh dalam perkembangan pemikiran Islam, seperti Syah Wali Allah, Sir Sayyid Ahmad Khan, hingga Sir Muhammad Iqbal. Nama keluarga Fazlur Rahman adalah Malak, namun nama keluarga Malak ini tidak pernah digunakan dalam daftar referensi baik di Barat ataupun di Timur. Fazlur Rahman dilahirkan dalam suatu keluarga Muslim yang sangat religius. Kerelegiusan ini dinyatakan oleh Fazlur Rahman sendiri yang mengatakan bahwa ia mempraktekan ibadah-ibadah keisalaman seperti shalat, puasa, dan lainnya, tanpa meninggalkannya sekalipun (1992: 59). Dengan latar belakang kehidupan keagamaan yang demikian, maka menjadi wajar ketika berumur sepuluh tahun ia sudah dapat menghafal Alquran. Adapun mazhab yang dianut oleh keluarganya ialah mazhab Hanafi. Walaupun hidup ditengah-tengah keluarga mazhab Sunni, Fazlur Rahman mampu melepaskan diri dari sekat-sekat yang membatasi perkembangan intelektualitasnya dan keyakinan-keyakinannya. Dengan demikian, Fazlur Rahman dapat mengekspresikan gagasan-gagasannya secara terbuka dan bebas. Seperti pendapat mengenai wajibnya shalat tiga waktu yang dijalani oleh penganut mazhab Syi’ah, Fazlur Rahman beranggapan bahwa praktek tersebut dibenarkan secara historis karena Muhammad saw. pernah melakukannya tanpa sesuatu alasan (Rahman, 2003: 41). Orang tua Fazlur Rahman sangat mempengaruhi pembentukan watak dan keyakinan awal keagamaannya. Melalui ibunya, Fazlur Rahman memperoleh pelajaran berupa nilai-nilai kebenaran, kasih saying, kesetiaan, dan cinta. Ayah Fazlur Rahman merupakan penganut mazhab Hanafi yang sangat kuat, namun beliau tidak menutup diri dari pendidikan modern. Tidak seperti penganut mazhab Hanafi fanatik lainnya ketika itu, Ayahnya berkeyakinan bahwa Islam harus memandang modernitas sebagai tantangan-tantangan dan kesempatan-kesempatan. Pandangan ayahnya inilah yang kemudian mempengaruhi pemikiran dan keyakinan Fazlur Rahman (Rahman, 1992: 59). Selain itu, melalui tempaan ayahnya, Fazlur Rahman pada kemudian hari menjadi seorang yang bersosok cukup tekun dalam mendapatkan pengetahuan dari pelbagai sumber, dan melalui ibunyalah kemudian ia sangat tegar dan tabah dalam mengembangkan keyakinan dan pembaruan Islam (A’la, 2003: 34). Pada tahun 1933, Fazlur Rahman melanjutkan pendidikannya di sebuah sekolah modern di Lahore. Selain mengenyam pendidikan formal, Fazlur Rahman pun mendapatkan pendidikan atau pengajaran tradisinonal dalam kajian-kajian keislaman dari ayahnya, Maulana Syahab al Din. Materi pengajaran yang diberikan ayahnya ini merupakan materi yang ia dapat ketika menempuh pendidikan di Darul Ulum Deoband, di wilayah utara India. Ketika berumur empat belas tahun, Fazlur Rahman sudah mulai mempelajari filsafat, bahasa Arab, teologi atau kalam, hadis dan tafsir (A’la, 2003: 34). Setelah menyelesaikan pendidikan menengahnya, Fazlur Rahman kemudian melanjutkan pendidikannya dengan mengambil bahasa Arab sebagai kosentrasi studinya dan pada tahun 1940 ia berhasil mendapatkan gelar Bachelor of Art. Dua tahun kemudian, tokoh utama gerakan neomodernis Islam ini berhasil menyelesaikan studinya di universitas yang sama dan mendapatkan gelar Master dalam bahasa Arab. Menurut Amal (1996: 80), ketika telah menyelesaikan studi Masternya dan tengah belajar untuk menempuh program Doktoral di Lahore, Fazlur Rahman pernah diajak oleh Abul A’la Mauwdudi, yang kelak menjadi “musuh” intelektualitasnya, untuk bergabung di Jama’at al Islami dengan syarat meninggalkan pendidikannya. Pada tahun 1946, Fazlur Rahman berangkat ke Inggris untuk melanjutkan studinya di Oxford University. Keputusannya untuk melanjutkan studinya di Inggris dikarenakan oleh mutu pendidikan di India ketika itu sangat rendah. Dibawah bimbingan Profesor S. Van den Berg dan H A R Gibb, Fazlur Rahman berhasil menyelesaikan studinya tersebut dan memperoleh gelar Ph. D pada tahun 1949 dengan disertasi tentang Ibnu Sina. Disertasi Fazlur Rahman ini kemudian diterbitkan oleh Oxford University Press dengan judul Avicenna’s Psychology.

Selama menempuh pendidikan di Barat, Fazlur Rahman menyempatkan diri untuk belajar pelbagai bahasa asing. Bahasa-bahasa yang berhasil dikuasai olehnya diantaranya ialah Latin, Yunani, Inggris, Jerman, Turki, Arab dan Urdu (Sutrisno, 2006: 62). Penguasaan pelbagai bahasa ini membantu Fazlur Rahman dalam memperdalam dan memperluas cakrawala keilmuannya (khususnya studi keislaman) melalui penelusuran pelbagai literatur. Setelah menyelesaikan studinya di Oxford University, Fazlur Rahman tidak langsung ke negeri asalnya Pakistan (ketika itu sudah melepaskan diri dari India), ia memutuskan untuk tinggal beberapa saat disana. Ketika tinggal di tinggal di Inggris, Fazlur Rahman sempat mengajar di Durham University. Kemudian pindah mengajar ke Institute of Islamic Studies, McGill University, Kanada, dan menjabat sebagai Associate Professor of Philosophy sampai awal tahun 1960. Menurut pengakuan Fazlur Rahman, ketika menempuh studi pascasarjana di Oxford University dan mengajar di Durham University, konflik antara pendidikan modern yang diperolehnya di Barat dengan pendidikan Islam tradisional yang didapatkan ketika di negeri asalnya mulai menyeruak. Konflik ini kemudian membawanya pada skeptisisme yang cukup dalam, yang diakibatkan studinya dalam bidang filsafat (Rahman, 1992: 60). Setelah tiga tahun mengajar di McGill University, akhirnya pada awal tahun 1960 Fazlur Rahman kembali ke Pakistan setelah sebelumnya diminta bantunnya oleh Ayyub Khan untuk membangun negeri asalnya, Pakistan. Menurut Moosa (2000: 2), permintaan Ayyub Khan kepada Fazlur Rahman ialah bertujuan untuk membawa Pakistan pada khittah berupa negara yang bervisi Islam Selanjutnya pada tahun 1962, Fazlur Rahman diminta oleh Ayyub Khan untuk memimpin Lembaga Riset Islam (Islamic Research Institute) dan menjadi anggota Dewan Penasihat Ideologi Islam (The Advisory Council of Islamic Ideology). Motivasi Fazlur Rahman untuk menerima tawaran dari Ayyub Khan dapat dilacak pada keinginannya untuk membangkitkan kembali visi Alquran yang dinilainya telah terkubur dalam puing-puing sejarah (Rahman, 1992: 63). Kursi panas yang diduduki oleh Fazlur Rahman akhirnya menuai pelbagai reaksi. Para ulama tradisional menolak jika Fazlur Rahman mendudukinya, ini disebabkan oleh latar belakang pendidikannya yang ditempuh di Barat. Penentangan atas Fazlur Rahman akhirnya mencapai klimaksnya ketika jurnal Fikr-o-Nazar menerbitkan tulisannya yang kemudian menjadi dua bab pertama bukunya yang berjudul Islam. Pada tulisan tersebut, Fazlur Rahman mengemukakan pikiran kontroversialnya mengenai hakikat wahyu dan hubungannya dengan Muhammad saw. Menurut Fazlur Rahman, Alquran sepenuhnya adalah kalam atau perkataan Allah swt, namun dalam arti biasa, Alquran juga merupakan perkataan Muhammad saw. (Rahman, 2003: 33). Akibat pernyataan-pernyataannya tersebut, Fazlur Rahman dinyatakan sebagai munkir-i-Quran (orang yang tidak percaya Alquran). Menurut Amal (1994: 14-15), kontroversi dalam media masa Pakistan mengenai pemikiran Fazlur Rahman tersebut berlalu hingga kurang lebih satu tahun, yang pada akhirnya kontroversi ini membawa pada gelombang demonstrasi massa dan mogok total di beberapa daerah Pakistan pada September 1968. Menurut hampir seluruh pengkaji pemikiran Fazlur Rahman berpendapat bahwa penolakan atasnya bukanlah ditujukan kepada Fazlur Rahman tetapi untuk menentang Ayyub Khan. Hingga akhirya pada 5 September 1968 permintaan Fazlur Rahman untuk mengundurkan diri dari pimpinan Lembaga Riset Islam dikabulkan oleh Ayyub Khan. Pada akhir tahun 1969 Fazlur Rahaman meninggalkan Pakistan untuk memenuhi tawaran Universitas California, Los Angeles, dan langsung diangkat menjadi Guru Besar Pemikiran Islam di universitas yang sama. Mata kuliah yang ia ajarkan meliputi pemahaman Alquran, filsafat Islam, tasawuf, hukum Islam, pemikiran politik Islam, modernism Islam, kajian tentang al Ghazali, Shah Wali Allah, Muhammad Iqbal, dan lain-lain. Salah satu alasan yang menjadikan Rahman memutuskan untuk mengajar di Barat disebabkan oleh keyakinan bahwa gagasangagasan yang ditawarkannya tidak akan menemukan lahan subur di Pakistan. Selain itu, Rahman menginginkan adanya keterbukaan atas pelbagai gagasan dan suasana perdebatan yang sehat, yang tidak ia temukan di Pakistan (A’la, 2003: 40). Selama di Chicago, Fazlur Rahman mencurahkan seluruh kehidupannya pada dunia keilmuan dan Islam. Kehidupannya banyak dihabiskan di perpustakaan pribadinya di basement rumahnya, yang terletak di Naperville, kurang lebih 70 kilometer dari Universitas Chicago. Rahman sendiri menggambarkan aktitivitas dirinya tersebut laiknya ikan yang naik ke atas hanya untuk mendapatkan udara (Wan Daud, 1991: 108). Dari konsistensinya dan kesungguhannya terhadap dunia keilmuan akhirnya Rahman mendapatkan pengakuan lembaga keilmuan berskala

internasional. Pengakuan tersebut salah satunya ialah pada tahun 1983 ia menerima Giorgio Levi Della Vida dari Gustave E von Grunebaum Center for Near Eastern Studies, Universitas California, Los Angeles. Pada pertengahan dekade 80-an, kesehatan tokoh utama neomodernisme Islam tersebut mulai terganggu, dintaranya ia mengidap penyakit kencing manis dan jantung. Konsistensi Rahman untuk terus berkarya pun ditandai oleh lahirnya karya yang berjudul Revival and Reform in Islam: A Study of Islamic Fundamentalism. Walaupun baru diterbitkan setelah beliau wafat, namun pengerjaannya dilakukan ketika sakit beliau makin parah dengan dibantu oleh puteranya. Akhirnya, pada 26 Juli 1988 profesor pemikiran Islam di Univesitas Chicago itu pun tutup usia pada usia 69 tahun setelah beberapa lama sebelumnya dirawat di rumah sakit Chicago. Perkembangan Pemikiran dan Karya-Karya Pemikiran Fazlur Rahman dapat dibagi menjadi tiga fase atau periode, yakni periode awal, periode Pakistan, dan periode Chicago. Periode pertama belangsung sekitar dekade 50-an dan pada periode ini Rahman hanya menghasilkan karya-karya yang besifat historis, seperti Avicenna’s Psycology (1952), Avicenna’s De Anima, dan Propecy in Islam: Philosophy and Orthodoxy (1958). Melalui ketiga buku Rahman ini akan terlihat jelas concern pemikirannya, yakni kajian historis murni. Namun demikian, kajian yang dilakukan Rahman pada buku yang disebut terakhir mempengaruhi pandangannya tentang proses pewahyuan kepada nabi Muhammad saw (Amal, 1996: 116). Periode Pakistan merupakan tahapan kedua dari perkembangan pemikiran Rahman yang berlangsung sekitar dekade 60-an. Berbeda dengan periode pertama yang cenderung pada kajian historis dari pemikiran Islam, concern Rahman pada periode ini mengalami perubahan yang radikal, yakni pada kajian-kajian Islam normatif. Adapun faktor-faktor yang melatarbelakangi perubahan concern pemikiran Rahman ini ialah. 1. Adanya kontroversi yang akut di Pakistan antara kalngan modernis disatu pihak dan kalangan tradisionalis dan fundamentalis di lain pihak. Kontroversi ini bermuara pada definisi Islam untuk negeri Pakistan ketika itu, 2. Kontak yang intens dengan Barat ketika menetap di sana, sangat berarti dalam penyadaran dirinya pada hakikat tantangan Islam pada periode modern, 3. Posisi penting sebagai Direktur Lembaga Riset Islam dan anggota Dewan Penasehat Ideologi Islam Pemerintah Pakistan, yang kemudeian mendorong Rahman untuk turut aktif dalam meberikan definisi Islam bagi Pakistan dari kalangan modernis (Sutrisno, 2006: 71-72). Walaupun belum ditopang oleh metodologi yang sistematis, pada periode ini Rahman sudah mulai melakukan kajian Islam normatif dan terlibat dalam arus pemikiran Islam (Sibawaihi, 2007: 21). Selain itu, Rahman terlibat pula secara intens dalam upaya-upaya menjawab tantangan-tantangan serta kebutuhan-kebutuhan masyarakat Muslim kontemporer dengan cara merumuskan kembali Islam. Adapun pada periode ini, pemikiran Rahman dicurahkan dalam memenuhi tugasnya dalam merumuskan ajaran Islam yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat Pakistan. Keterlibatan Rahman dalam arus pemikiran Islam dapat ditandai oleh beberapa artikel yang ia tulis pada jurnal Islamic Studies pada bulan Maret 1962 hingga Juni 1963. Menurut Açikgenç (dalam Saleh 2007: 27), sebenarnya pada periode kedua ini Rahman sudah berkeinginan mengembangkan metodologi yang menyerukan umat Islam untuk kembali kepada Alquran dan Hadis. Mutiara-mutiara pemikiran yang berhasil dihasilkan oleh Rahman pada periode ini diantaranya Islamic Methodology in History (1965), dan Islam (1966). Buku yang disebut pertama merupakan kumpulan dari beberapa tulisannya yang dipublikasikan di jurnal Islamic Studies. Artikel-artikel dalam buku ini ditulis dengan bertujuan untuk memperlihatkan, pertama, evolusi historis dari aplikasi keempat prinisp pokok pemikiran Islam, yakni Alquran, Sunnah, ijtihad, ijma’. Kedua, perranan aktual dari prinsip-prinsip tersebut bagi perkembangan Islam (Rahman, 1995: ix).

Buku kedua Rahman yang lahir pada peridoe kedua ini ialah berjudul Islam. Buku ini memaparkan perkembangan umum agama Islam selama empat belas abad, oleh karena itu menjadi wajar ketika buku ini menjadi dasar pengantar umum tentang studia Islam. Dua buah artikel pertama yang tersusun dalam buku ini , yakni artikel yang berjudul Muhammad dan Alquran, ketika dipublikasikan di Pakistan sempat menuai pelbagai kontroversi. Kontroversi terjadi berkenaan padangan Rahman mengenai hakikat Alquran dan proses pewahyuannya kepada Muhammad saw. Rahman memandang bahwa Alquran secara keseluruhannya adalah kalam Allah swt. dan dalam artian biasa merupakan perkataan Muhammad saw (Rahman, 2003: 33). Adapaun tulisan-tulisan Rahman yang difokuskan untuk memberi definisi Islam di Pakistan diantaranya ialah Some Reflection on the Reconstruction of Muslim Society in Pakistan, Implementation of the Islamic Concept of State in the Pakistan Milieu, dan The Qur’anic Solution of Pakistan’s Educational Problems. Perkembangan dan periode pemikiran Fazlur Rahman berikutnya ialah periode Chicago yang terhitung dari kepindahannya ke Chicago. Seluruh karya Rahman yang dihasilkan pada periode ini mencakup kajian Islam historis dan normatif. Adapun karya-karya yang berhasil ia hasilkan pada periode ini diantaranya The Philosophy of Mulla Shadra, Major Themes of The Qur’an, Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition, dan Health and Medicine in Islamic Tradition. Buku yang pertama penulis sebut di atas murni merupakan karya yang bertemakan Islam historis dan tidak memiliki hubungan dalam kajian-kajian Islam normatif. Sedangkan buku kedua karya Rahman pada periode kedua ini membahas mengenai delapan tema pokok Alquran, yakni Tuhan, Manusia sebagai Individu, Manusia Anggota Masyarakat, Alam Semesta, Kenabian dan Wahyu, Eskatologi, Setan dan Kejahatan, serta Lahirnya Masyarakat Muslim. Buku yang kerap kali disebut sebagai magum opus Fazlur Rahman ini mengkaji pelbagai ayat-ayat Alquran yang berhubungan dengan tema-tema yang telah disebut sebelumnya dan kemudian ditafsirkan dengan cara menghubungkan ayat-ayat tersebut. Selain itu, buku karya Rahman ini merupakan sikap atau tanggapannya atas pelabagai buku atau tulisan yang dibuat oleh para orientalis (seperti Richard Bell, Montgomery Watt, John Wansbrough, dal lain sebagainya) yang kerap kali menghubungkan atau beranggapan bahwa Alquran merupakan kelanjutan atau terpengaruh oleh ajaran-ajaran yang pernah ada sebelumya (seperti Yahudi dan Nasrani). Melalui karya ini, Rahman berhasil membangun landasan filosofis yang terga untuk perenungan kembali makna dan pesan Alquran bagi kaum Muslim kontemporer. Buku berikutnya yang Rahman hasilkan pada periode Chicago ini ialah Islam and Modernity: Transformation of an Intelectual Tradition. Buku ini sangat jelas memperlihatkan intensitas Rahman dalam menata masa depan Islam dan umatnya. Dengan demikian, buku ini tidak melulu membahas Islam historis yang tidak memberikan solusi kongkrit bagi pembangunan umat Islam dan bekal untuk umat Islam dalam menghadapi periode modern. Berikutnya ialah buku yang berjudul Helath and Medicine in Islamic Tradition, buku ini berusaha menangkap kaitan organis antara Islam sebagai sebuah sistem kepercayaan dan Islam sebagai sebuah tradisi pengobatan manusia. Setelah mengkaji perkembangan pemikiran Rahman yang didasarkan pada buku-buku yang ia hasilkan sepanjang karir intelektualitasnya, maka dapat dikatakan bahwa Rahman mengalami perubahan concern pemikiran serta kajiannya. Perubahan yang cukup signifikan ini disebabkan oleh kesadaran Rahman bahwa Islam dewasa ini tengah menghadapi krisis yang sebagian akarnya terdapat dalam Islam sejarah, pengaruh-pengaruh Barat dengan tantangan-tantangan modernitasnya, kemudian membuatnya berupaya membuat atau merumuskan soluai terhadap krisis tersebut (Amal, 1996: 148-149). Secara keseluruhan buku-buku yang Rahman hasilkan berjumlah sepuluh buah. Namun demikian, bukan berarti bahwa Fazlur Rahman hanya menghasilkan buku-buku an sich. Sepanjang karir intelektualitasnya, doctor lulusan Oxford University tersebut menulis pelbagai artikel di beberapa jurnal ilmiah dan sebagian dari artikel-artikel tersebut dikumpulkan menjadi beberapa buku. Adapun buku-buku yang dihasilkan olehnya ialah sebagai berikut. 1. Avicenna’s Psycology 2. Propecy in Islam: Philosophy and Ortodoxy 3. Avicennas’s De Anima, being the Psycological Part of Kitab al Shifa

4. Revival and Reform in Islam: A Study of Islamic Fundamentalism 10. Major Times of the Qur’an 8. Islam 7. The Philosophy of Mulla Shadra 5. Islam and Modernity: Transformation of an Intelectual Tradition 9. Health and Medicine in Islamic Tradition . Islamic Methodology in History 6.

Pada bulan Agustus 1946 Fazlur Rahman di tunjuk sebagai Direktur Riset Islam. Darul Ulum Deoband . Fazlur Rahman dilahirkan dari keluarga miskin yang taat pada agama. milik filosof muslim kenamaan abad ke-7. Disertasi itu merupakan terjemah kritikan dan kritikan pada bagian dari kitab An-Najt. Setelah mempelajari ilmu-ilmu dasar ini. meskipun ia mendasarkan pemikirannya pada al-Qur’an dan sunnah.BIOGRAFI DAN PEMIKIRAN FAZLUR RAHMAN Fazlur Rahman lahir pada tanggal 21 September 1919 yang letaknya di Hazara sebelum terpecahnya India. ini melengkapi latar belakangnya dalam memahami islam tradisional dengan perhatian khusus pada fikih. [3] Dimana dia menjabat sebagai Associate Professor Of Philosophy. . kini merupakan bagian dari Pakistan. Tafsir. ia meninggalkan Inggris untuk menjadi Associate Professor pada kajian Islam di Institute Of Islamic Studies Mc. [2] Ayahnya Maulana Shihabudin adalah alumni dari sekolah menengah terkemuka di India. Puncak dari segala kontroversialnya memuncak ketika 2 bab karya momumentalnya. Ketika hendak mencapai usia 10 tahun ia sudah hafal al-Qur’an walaupun ia di besarkan dalam keluarga yang mempunyai pemikiran tradisional akan tetapi ia tidak seperti pemikir tradisional yang menolak pemikiran modern. dan Filsafat. setelah di Oxford ia mengajar bahasa Persia dan Filsafat Islam di Durham University Kanada dari tahun 1950-1958. Pada awal tahun 60 an Fazlur Rahman kembali ke Pakistan. akan tetapi cara berfikirnya lebih rasional. Hadits. Mantiq. Pada tahun 1946 ia pergi ke Oxford dengan mempersiapkan disertasi dengan Psikologi Ibnu Sina di bawah pengawasan professor Simon Van Den Berg.[1] Fazlur Rahman di besarkan dalam madzhab Hanafi. Namun usaha Fazlur Rahman sebagai seorang pemikir modern di tentang keras oleh para ulama tradisional-findamentalis. Madzhab Hanafi merupakan madzhab yang didasari al-Qur’an dan Sunnah. Dengan demikian tidak dapat di pungkiri Fazlur Rahman juga rasional di dalam berfikirnya. bahkan Ayahnya berkeyakinan bahwa islam harus memandang modernitas sebagai tantangan dan kesempurnaan. setelah sebelumnya menjabat sebagai staf lembaga tersebut. Selain menjabat sebagai Direktur Lembaga Riset Islam. Islam ( 1966 ) di tentang keras karena pernyataan Fazlur Rahman dalam buku tesebut “ Bahwa Al-Qur’an itu secara keseluruhan adalah kalam Allah dan dalam pengertian biasa juga seluruhnya merupakan perkataan Muhammad “ sehingga Fazlur Rahman di anggap orang yang memungkiri Al-Qur’an kemudian pada 5 September 1986 ia mengundurkan diri dari jabatan Direktur lembaga Riset Islam yang langsung di kabulkan oleh Ayyub Khan. Ilmu kalam. pada tahun 1964 ia di tunjuk sebagai anggota dewan penasehat Ideologi Pemerintah Pakistan. ia melanjutkan ke Punjab University di Lahore dimana ia lulus dengan penghargaan untuk bahasa Arabnya dan di sana juga ia mendapatkan gelar MA-nya. Meskipun Fazlur Rahman tidak belajar di Daril Ulum. ia menguasai kurikulum Dares Nijami yang di tawarkan di lembaga tersebut dalam kajian privat dengan Ayahnya. Gill University Kanada di Montreal.

Interpreting the Qur’an. seorang intelektual pencari kebenaran sudah . d.[4] B.[5] C. Karya-karya Fazlur Rahman a. Operasi ini berhasil se tidak-tidaknya untuk beberapa minggu hingga ajal menjemputnya. Major Themes of The Qur’an ( 1980 ). d. Islamic Modernism It’s Scope. Forwards Reformulating The Methodology of Islamic Law : Syaikh Yamani on Public Interest in Islamic Low. j. Some Key Ethical Concept of the Qur’an. Root of Islamic Neo Fundamentalism. the Universe and Man. i. Some Islamic Issues In the Ayyub Khan Era. Change and The Muslim World. m. c. Prophecy in Islam. g. Kepergian beliau merupakan suatu kehilangan bagi dunia Intelektual Islam. Method and Alternative. Maka adalah hak kita untuk menerima. k. Artikel Fazlur Rahman : a. Islamic Methodology in History 1965. The Qur’anic Concept of God. Islamic Challenges and Opportunist. menyetujui atau menolak seluruh atau sebagian hasil pemikirannya untuk semua pada posisi penerimaan atau penolakan. f. h. Pemikiran Fazlur Rahman Fazlur Rahman dengan segala kemampuan intelektualnya sudah tentu tidak bebas dari kekurangan dan kelemahan. Islam Legacy and Contemporary Challenges e. Islam in The Contemporary World f. b. Divines Revelation and The Prophet. The Impact of Modernity on Islam. b. The Philosophy of Mulasadra. c. l. Islam and Modernity Transformative of on Intelektual Tradition ( 1982 ). e. am Is l996.Tidak kurang dari 18 tahun lamanya Fazlur Rahman menetap di Chicago dan mengkomunikasikan gagasangagasannya baik lewat lisan maupun tulisan sampai akhir tahun memanggilnya pulang pada tahun 26 juli 1988 jauh sebelum ia sudah terkena penyakit diabetes yang kronis dan serangan jantung sehingga ia harus di operasi.

di samping Sunnah. Seseorang harus mengkajikan dalam konteks latar belakang social historisnya. Seseorang harus mempelajari al-Qur’an dalam Ordo Histories untuk mengapresiasikan tema-tema dan gagasan-gagasannya. Tanpa memahami latar belakang mikro dan makronya secara memadai. Dengan berbagai cara dan jalan yang di tempuh beliau untuk menyampaikan gagasannya yang bernilai sangat tinggi sebagai suatu gerakan Islam. Di antara pemikiran Fazlur Rahman antara lain : a. akan mutlak perlunya mensistematiskan materi ajaran al-Qur’an. Fazlur Rahman juga menjelaskan apa itu al-Qur’an dan segala bentuk ajaran agama Islam.tentu akan mengumpulkan berbagai informasi yang berkaitan dengan pendapat dan pemikiran yang di kemukakan untuk menilai pendapat Fazlur Rahman. d. hal ini tidak hanya berlaku untuk ayat-ayatnya secara individual tapi juga untuk al-Qur’an secara keseluruhan. di sini di jelaskan pula prosedur yang benar untuk memahami al-Qur’an. Menurut Fazlur Rahman. Sebagaimana cara Fazlur Rahman menjelaskan tentang wahyu dan perjalanan Nabi Muhammad dalam menyebarkan islam. Dalam karyanya Islam and Modernity 1982 Fazlur Rahman menekankan. Tanpa usaha ini bisa terjadi penerapan ayat-ayatnya secara individual dan terpisah berbagai situasi akan menyesatkan. c. b. orang harus memahami al-Qur’an sebagai sebuah ajaran yang utuh lebih dulu. Sejarah Islam dan lain-lain. Ia menegaskan bahwa al-Qur’an bukanlah suatu karya misterius atau karya sulit yang memerlukan manusia berlatih secara teknis untuk memahami dan menafsirkan perintah-perintahnya.[6] ANALISIS Fazlur Rahman adalah sosok pemikir intelektual yang tinggi di mana ia dapat menghasilkan karya-karyanya yang begitu banyak dan bermanfaat penting bagi ilmu pengetahuan kita. Serta asal-usul perkembangan tradisi sampai perkembangan modern juga tentang filsafatnya telah banyak di sampaikan. besar kemungkinan seseorang akan salah tangkap terhadap élan dan maksud al-Qur’an aktifitas Nabi baik di Mekkah atau di Madinah. Karya-karya yang begitu banyak mengajarkan kita segala ilmu pengetahuan tentang islam yang pertama kali di ajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam pengembangan agamanya adalah perjuangan beliau selama hidup. Hasil karyanya yang begitu banyak dapat memperluas pengetahuan tentang tasawuf dan juga filsafat. KESIMPULAN .

2001.43-44 Fatah Rosihan Affandi. 2002. 2002 [1] Fazlur Rahaman. hal. Gelombang Perubahan Ali Safyan. Semarang : Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang. Semarang. Raja Grafindo Persada. Raja Grafindo. op.33-34 [6] Fazlur Rahman. hal: vi-ix . ia banyak memberikan warisan yang bermanfaat bagi manusia dari zaman ke zaman. 2001 [3] Fazlur [4] Ali [5] Rahman. Skripsi Study Analisis Fazlur Rahman Tentang Manusia.2001 Fatah Rosihan Affandi. Jakarta. hal. 2001. Gelombang Perubahan Dalam Islam. Persada. filsafat. Tasawuf dari Sufisme Klasik ke Neo Sufisme. cit. op. Skripsi Study Analisis Fazlur Rahman Tentang Manusia. Muhammad al-Qur’an dan sebagainya yang bermanfaat bagi kita semua. Islam.1-2 Shofyan. PENUTUP Fazlur Rahman adalah seorang intelektual yang tinggi. DAFTAR PUSTAKA Rivay Siregar. Semarang : Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang. Jakarta : PT. 1994.Segala bentuk pemikiran filsafat Fazlur Rahman sangatlah penting dan menjadi suatu arahan pengetahuan yang mengajarkan tentang islam. PT. Semarang. Pustaka. Ia juga meninggalkan sejarah kehidupan pribadinya yang dapat menjadi suatu dokumen penting bagi kita. cit. PT.1- 2 [2] Ali Safyan. Fakulatas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang. hal. hal. Bandung. Raja Grafindo Persada. Skripsi Kritik Fazlur Rahman Terhadap Uzlah. Skripsi Kritik Fazlur Rahman Terhadap Uzlah. 1999 Fazlur Rahman Dalam Islam. Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang.

Banyak media yang menyudutkannya. ayahnya adalah seorang kyai tradisional yang memandang modernitas sebagai tantangan yang perlu disikapi. sehinga ia menguasai banyak bahasa. yakni India dan Pakistan. proses turunnya wahyu Al-Qur’an. Rahman pun mengajukan pengunduran dirinya . McGill University. Dalam bagian Pertama. saya telah menyetujui—dan tidak berbuat lebih lagi terhadap—pernyataan-pernyataan syah wali Allah dan Muhammad Iqbal yang menerangkan proses psikologis wahyu. Ide-idenya di seputar riba dan bunga bank. tahun 1964.[5] Karena tugas yang diemban oleh kedua lembaga inilah Rahman intens dalam usaha-usaha menafsirkan kembali Islam untuk menjawab tantangan-tantangan masa itu. ia juga diangkat sebagai anggota Advisory Council of Islamic Ideology Pemerintah Pakistan. kemudian menjabat sebagai Associate Professor of Philosophy di Islamic Studies. selain mengenyam pendidikan formal. yang menyatakan protes terhadap buku tersebut. Misalnya. telah menghebohkan media massa selama kurang lebih setahun. bukannya dihindari. Sedangkan Dewan Penasehat Ideologi Islam bertugas meninjau seluruh hukum baik yang sudah maupun belum ditetapkan. suatu madzhab fiqih yang dikenal paling rasional di antara madzhab sunni lainnya. dan berhasil meraih gelar doktor filsafat pada tahun 1951. telah meledakkan kontroversi-kontroversi berskala nasional yang berkepanjangan. dengan tujuan menyelaraskannya dengan “Al-Qur’an dan Sunnah”. Pada tahun 1942. menetapkan Rahman sebagai munkir al-Quran. Yunani. Pada masa ini seorang Rahman giat mempelajari bahasa-bahasa Barat. [2] Ia juga menerima ilmu hadis dan ilmu syariah lainnya. karena Dewan Penasehat bisa meminta lembaga riset untuk mengumpulkan bahan-bahan dan mengajukan saran mengenai rancangan undang-undang. Karena itu. Merasa tidak puas dengan pendidikan di tanah airnya. seperti disinggung di atas. Puncak kontroversi ini adalah demonstrasi massa dan aksi mogok total. ia secara eksplisit mengakui bahwa pemikirannya merupakan kelanjutan dari pemikiran pendahulunya. Ketika menginjak usia yang kesepuluh. fatwa mengenai kehalalan binatang yang disembelih secara mekanis. ia sudah bisa membaca Al-Qur’an di luar kepala. sunnah dan hadis. Jerman. ia berhasil menyelesaikan studinya di Universitas tersebut dan menggondol gelar M. zakat. bahwa “Al-Qur’an itu secara keseluruhannya adalah kalam Allah dan—dalam pengertian biasa—juga seluruhnya adalah perkataan Muhammad”. Anak benua ini terkenal dengan para pemikir islam liberalnya. dan lainnya. keluarga Rahman selain kondusif bagi perkenalannya dengan ilmu-ilmu dasar tradisional. A dalam sastra Arab.BIOGRAFI DAN PEMIKIRAN FAZLUR RAHMAN A. Ketika itu anak benua Indo-Pakistan belum terpecah ke dalam dua negara merdeka. Latar Belakang Pendidikan dan Pengalaman Setelah menamatkan sekolah menengah. Arab dan Urdu. Lembaga Islam tersebut bertujuan untuk menafsirkan islam dalam term-term rasional dan ilmiah dalam rangka menjawab kebutuhan-kebutuhan masyarakat modern yang progresif. argumen saya tentang kemapanan karakter wahyu Al-Qur’an terdiri dari dua bagian. selalu mendapatkan serangan dari kalangan ulama tradisionalis dan fundamentalis di Pakistan. Al-Bayyinat. latar sosial anak benua Indo-Pakistan yang telah melahirkan sejumlah pemikir Islam liberal. Ia apresiatif terhadap pendidikan modern. Inggris. Inggris. Sekembalinya ke tanah air. yang merepresentasikan kaum modernis. Bahkan pernyataan Rahman dalam karya magnum opusnya. Latar Belakang sosial dan Intelektual Fazlur Rahman dilahirkan pada tahun 1919 di daerah barat laut Pakistan. Persia. pada Agustus 1962. Turki. yakni Sah Wali Allah dan Muhammad Iqbal: Dengan demikian. Sir Sayyid Ali dan Iqbal. Akhirnya. Kanada. Rahman sangat apresiatif terhadap pemikiran pendahulunya. Perancis. Menurut Rahman.[4] Ia mengajar beberapa saat di Durham University. ia dilahirkan dalam keluarga muslim yang amat religius. Paling tidak ia menguasai bahasa Latin. [1] Menurut Rahman sendiri. pada 1946.[3] 2. Selain itu. Kedua lembaga ini memiliki hubungan kerja yang erat. Rahman mengambil studi bidang sastra arab di Departeman Ketimuran pada Universitas Punjab. misalnya. berbeda dengan kalangan tradisional pada umumnya. Sejak kecil sampai umur belasan tahun. Tentu saja gagasan-gagasan liberal Rahman. Potret Seorang Intelektual Neomodernis 1. ia diangkat sebagai direktur pada Institute of Islamic Research. Rahman melanjutkan studi doktoralnya ke Oxford University. Bahkan dalam pembahasannya mengenai wahyu ilahi dan nabi. Belakangan. seperti Syah Wali Allah. Islam. Pakistan. juga bagi kelanjutan karier pendidikannya. Rahman juga menimba banyak ilmu tradisional dari ayahnya--seorang kyai yang mengajar di madrasah tradisional paling bergengsi di anak benua IndoPakistan. juga merupakan benih-benih dari mana pikiran liberal Rahman dan skeptisisme Rahman tumbuh. Ia dibesarkan dalam keluarga yang bermadzhab Hanafi. media kaum fundamentalis.

dikemukakan pandangan kedua filosof tersebut tentang wahyu kenabian pada tingkat intelektual. pada gilirannya telah mengantarkannya pada agenda yang lebih penting lagi: perumusan kembali penafsiran Al-Qur’an yang merupakan jantung ijtihadnya. doktrin mukjizat dan konsep dakwah dan syariah. 3. Dalam kajian historisnya ini. Tapi mereka lebih menekankan nilai-nilai syariah ketimbang intelektual. dan (ii) peran aktual prinsip-prinsip ini dalam perkembangan sejarah Islam itu sendiri. Avicenna’s De Anima (1959). Ijtihad dan Ijma’. Jabatan selaku anggota Dewan Penasehat Ideologi Islam juga dilepaskannya pada 1969. perbedaan ada sejauh pada tingkat penekanan saja. Dua yang pertama merupakan terjemahan dan suntingan karya Ibn Sina (Avisena). Sebab. pandangan ini cukup mempunyai pengaruh terhadap pandangan Rahman tentang proses “psikologis” nabi menerima wahyu. periode Pakistan (dekade 60-an). Rahman berteori bahwa Nabi mengidentifikasikan dirinya dengan hukum moral. Penyusunan buku ini bertujuan untuk memperlihatkan: (I) evolusi historis perkembangan empat prinsip dasar (sumber pokok) pemikiran Islam—Al-Qur’an. Rahman mengambil sampel dua filosof ternama. Baru pada periode ketiga Rahman mengakui dirinya. dan Islam and Modernity:Transformatioan of an intellektual tradition (1982). Pada periode Chicago. Bagi Rahman. ia menulis buku yang berjudul: Islamic Methodology in History (1965). setelah mebagi babakan pembaruan dalam dunia Islam. Buku kedua yang ditulis Rahman pada periode kedua ini adalah Islam.[6] Ada tiga karya besar yang disusun Rahman pada periode awal: Avicenna’s Psychology (1952). Al-Syahrastani. Sunnah. melalui instrumen qiyas.[7] Pada periode kedua (Pakistan). Rahman memutuskan hijrah ke Chicago untuk menjabat sebagai guru besar dalam kajian Islam dalam segala aspeknya pada Departement of Near Eastern Languages and Civilization. Bagi Rahman. Taufik Adnan Amal membagi perkembangan pemikirannya ke dalam tiga babakan utama. Major Theme of the Qur’an (1980). Untuk melacak pandangan filosof. . Di sini. Kelak. Ijtihad dan Ijma’). Sementara yang terakhir mengupas perbedaan doktrin kenabian antara yang dianut oleh para filosof dengan yang dianut oleh ortodoksi. nabi menerima wahyu dengan mengidentifikasikan dirinya dengan Intelek Aktif. sementara menurut ortodoksi nabi menerima wahyu dengan mengidentifikasikan dirinya dengan malaikat. Kalau karya-karya Rahman pada periode pertama boleh dikata bersifat kajian historis. Hasilnya adalah kesepekatan aliran ortodoks dalam menolak pendekatan intelektualis-murni para filosof terhadap fenomena kenabian. Rahman belum secara terang-terangan mengaku terlibat langsung dalam arus pembaruan pemikiran Islam. Rahman menyimak pemikiran Ibn Hazm. Proyek Membuka Pintu Ijtihad Temuan historis Rahman mengenai evolusi perkembangan empat prinsip dasar (Al-Qur’an. proses psikologis wahyu tehnis atau imaninatif. Rahman menyusun: The Philosophy of Mulla Sadra (1975). Ibn Taymiyah dan Ibn Khaldun. secara tegas Rahman menarik garis yang membedakan antara sunnah ideal nabi SAW di satu sisi. yang di dasarkan pada perbedaan karakteristik karya-karyanya: (I) periode awal (dekade 50-an). Sementara para filosof lebih menekankan kapasitas alami nabi sehingga menjadi “nabi-manusia”. Memang. terhadap sunnah ideal nabi SAW yang kemudian menjelma menjadi ijma’ atau sunnah yang hidup. Perkembangan Pemikiran dan Karya-karyanya Dari selintas perjalanan hidup Fazlur Rahman di atas. yang menyuguhkan—meminjam istilah Amin Abdullah—rekontruksi sistemik terhadap perkembangan Islam selama empat belas abad. Menurut para filosof. Secara berturut-turut. Akhirnya.dari jabatan Direktur Lembaga Riset Islam pada 5 September 1968. Al-Farabi (870-950) dan Ibn Sina (980-1037). Rahman menemukan adanya hubungan organis antara sunnah ideal Nabi SAW dan aktivitas ijtihad-ijma’. sunnah kaum muslim awal merupakan hasil ijtihad personal. Pada periode awal dan kedua. tampaknya tanah airnya belum siap menyediakan lingkungan kebebasan intelektual yang bertanggungjawab. Kalangan mutakallimun tidak begitu keberatan menerima kesempurnaan intelektual nabi. B. dalam bukunya Islamic Methodology in History (1965). ortodoksi lebih suka meraup karakter ilahiah dari mukjziat wahyu ini. pada periode kedua bersifat hitoris sekaligus interpretatif (normatif). dan Prophecy in Islam: Philosophy and Orthodoxy (1958). Rahman sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada perbedaan mendasar antara posisi filosofis dan ortodoksi. yang dilatari oleh pergumulannya dalam upayaupaya pembaruan (hukum) Islam di Pakistan. Untuk mewakili pandangan ortodoksi. University of Chicago. Buku ini boleh dibilang sebagai advanced introduction tentang Islam. Seperti halnya teori para filosof dan kaum ortodoks. dan periode Chicago (dekade 70-an dan seterusnya). sebagai juru bicara neomodernis. Al-Ghazali. maka karya-karya pada periode ketiga ini lebih bersifat normatif murni. Sunnah.

Bahwa AlQur’an itu adalah kalam Allah yang diwahyukan kepada nabi Muhammad SAW. komprehensif dan berjangka panjang.[10] Tetapi. Puncak dari proses reifikasi ini adalah tertutupnya pintu ijtihad. tentu saja kembali keliang kubur. merupakan kepercayaan pokok.pasti kita temui pemahaman yang hidup terhadap Al-Qur’an dan sunnah. dan ijtihad fil madzhab. Metodologi tafsir Rahman merupakan jantung ijtihadnya sendiri.[14] Konsepsinya mengenai Al-Qur’an secara sederhana dapat dijabarkan ke dalam nuktah-nuktah sebagai berikut: 1. Al-Qur’an secara keseluruhannya adalah kalam Allah.[13] C. Kembali ke masa lampau secara sederhana. justru persoalannya terletak pada kemampuan kaum muslim untuk mengkonsepsi Al-Qur’an secara benar. demikian hebatnya. ataupun pemilahannya ke dalam ijtihad muthlaq. ijtihad fil masail. Rahman secara blak-blakan menolak doktrin tertutupnya pintu ijtihad.[9] Berpijak pada temuan historis ini. yang disusun belakangan pada periode Chicago. Hasilnya adalah satu kesimpulan Rahman: ijtihad baik secara teoritis maupun secara praktis senantiasa terbuka dan tidak pernah tertutup. Kedua (2). Rahman mendobrak doktrin ini dengan beberapa langkah: Pertama (1). Ijtihad yang diinginkan Rahman adalah upaya sistematis. Tanpa kepercayaan ini. Suatu penafsiran Al-Qur’an yang sistematis dan berani harus dilakukan. ijma’ yang tadinya berorientasi ke depan menjadi statis dan mundur ke belakang: mengunci rapat kesepakan-kesepakatan muslim masa lampau. melainkan berkembang secara demokratis. Al-Qur’an adalah kalam Allah. terhadap situasi moral-sosial arab pada masa nabi. yang sepenuhnya lain. proses ijtihad-ijma’ terjungkirbalikkan menjadi ijma’-ijtihad. Rahman memberikan argumen yang sangat kokoh untuk menegaskan kemapanan karakter wahyu dari Al-Qur’an ini. khususnya kepada masalah-masalah masyarakat dagang makkah pada waktu itu. memperluas cakupan ranah ijtihad klasik. Rahman pun tampaknya tidak ingin daerah teritorial kebebasan ijtihad yang telah dibukanya—sebagai hasil dari liberalisasinya terhadap konsep ijtihad—menjadi tempat persemaian dan pertumbuhan ijtihad yang liar. dan Ketiga (3). Al-Qur’an adalah respon ilahi. Hal ini selain didasarkan pada fakta bahwa Al-Qur’an sebagai sumber pokok ijtihad. tidak seorang pun yang bahkan dapat menjadi muslim nominal (hanya nama saja). menurut Rahman. juga seluruhnya adalah perkataan Muhammad.[15] 2. kreatif dan berorientasi ke depan. Rahman mengajukan metodologi tafsirnya.dengan sunnah hidup kaum muslim awal atau ijma’ sahabat di sisi lain. karena keberhasilan gerakan penulisan hadis secara besar-besaran yang dikampanyekan Al-syafi’I untuk menggantikan proses sunah-ijtihad-ijma’ tersebut. dan dalam pengertian biasa. Dan dalam konteks inilah metodologi tafsir Rahman yang dipandangnya sebagai “the correct prosedure for understanding the Qur’an” atau “ the correct methode of Interpreteting The Qur’an” [11] memainkan peran sentral dalam seluruh bangunan pemikirannya. hingga ia menolak—atas dasar kuatnya keyakinan ini—beberapa klaim mendasar dari tradisi Yudeo-Kristiani mengenai Ibrahim dan nabi-nabi lainnya. sekitar abad ke empat Hijrah atau sepuluh masehi. menolak kualifikasi ganjil mengenai ilmu gaib misterius sebagai syarat ijtihad. Untuk mencegah ijtihad yang sewenag-wenang dan merealisasikan ijtihad yang bertanggung jawab itulah.[8] Namun demikian. Dengan demikian. Muhammad juga dengan tegas meyakinai bahwa ia adalah penerima risalah dari Tuhan. [12] Akan tetapi. ijma’ pada asalnya tidaklah statis. serampangan dan tidak bertanggung jawab. Karena itu. Rahman menegaskan: bukan hanya kembali kepada Al-Qur’an dan sunnah sebagai mana yang dilakukan pada masa lalu. Rahman mengutip kembali apa yang telah ditulisnya dalam Islam: Bagi Al-Qur’an sendiri. menegaskan bahwa ijtihad bukanlah hak privilise eksklusif golongan tertentu dalam masyarakat muslim. Akibatnya. dan konsekwensinya juga bagi kaum muslimin. tetapi suatu pemahaman terhadap keduanyalah yang akan memberikan pimpinan kepada kita dewasa ini. sewenangwenang. Apa itu Al-Qur’an dan Apa Tujuan Metodologi Tafsir Pandangan Rahman mengenai Al-Qur’an merupakan landasan bagi perumusan metodologi tafsirnya. melalui ingatan dan pikiran nabi. Dan ketika kita kembali kepada generasi muslim awal . juga yang lebih penting lagi adalah didasarkan pada pandangannya bahwa seluruh bangunan syariah harus diperiksa dibawah sinaran bukti AlQur’an: Seluruh kandungan syari’ah mesti menjadi sasaran penilikan yang segar dalam sinaran bukti Al-Qur’an. [16] .

karenanya. keabadian kandungan legal spesifik Al-Qur’an terletak pada prinsip-prinsip moral yang menasarinya. pembaruan sosial terutama pada bidang pendidikan dan status wanita. D. Akibatnya. bukan merupakan reaksi terhadap barat. Gerakan ini muncul secara orisinal dari dunia Islam. bisa menembus endapan sejarah tersebut sampai lapisan terdalam.3. penafsiran mereka terhadap Qur’an dan sunnah ini tidak ditopang dengan metodologi yang memadai. (b) imbauan untuk kembali kepada Islam yang sebenarnya. ada baiknya dikemukakan terlebih dahulu pandangannya mengenai dialektika perkembangan pembaruan yang muncul dalam dunia Islam. Karena itu. Dengan demikian. dengan cara membiarkan Al-Qur’an berbicara sendiri. gerakan ini samasekali tidak bisa lepas dari kesan barat . Perhatian utama Al-Qur’an adalah perilaku manusia. 4. [17] Al-Qur’an terutama sekali adalah sebuah prinsip-prinsip dan seruan-seruan keagamaan serta moral. Hanya saja. semangat atau elan vital Al-Qur’an adalah semangat moral. modernisme klasik. Misalnya. Gerakan pertama adalah revivalisme pra modernis yang lahir pada abad ke 18 dan 19 di Arabia. 6. yang muncul pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 di bawah pengaruh ide-ide barat. dalam kenyataannya. dasar pembaruan revivalisme pramodernis ini kemudian dikembangkan oleh gerakan kedua. dengan memberantas takhayul-takhayul dan dengan membuka dan melaksanakan ijtihad. yakni suatu satu set prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang koheren di mana keseluruhan ajarannya bertumpu. Hal ini merupakan harga yang harus dibayar (cost) dari perluasan wilayah islam yang terlalu cepat. Hukum moral adalah abadi. bukan pada ketentuan-ketentuan harfiahnya. tanpa ada paksaan dari luar dirinya. Al-Qur’an adalah dokumen untuk manusia. Metodologi Tafsir Rahman Metodologi tafsir Rahman tidak bisa lepas dari agenda pembaruan sebelumnya. Kepastian pemahaman tidaklah terletak pada arti dari ayat-ayat individual Al-Qur’an. Rahman menandaskan bahwa tujuan ideal-moral Al-Qur’an yang merupakan elan vitalnya itu telah terkubur dalam endapan geologis sebagai akibat dari proses reifikasi yang begitu panjang. Al-Qur’an itu laksana puncak gunung es yang terapung: sembilan sepersepuluh darinya terendam di bawah permukaan air sejarah dan hanya sepersepuluh darinya yang tampak ke permukaan. Gerakan ini secara sederhana mempunyai ciri-ciri umum: (a) keprihatinan yang mendalam terhadap degenarasi sosio-moral umat Islam.an secara keseluruhan. bagi Rahman.[18] Karenanya ia lebih berorientasi pada aksi moral ketimbang spekulasi intelektual. tentu saja. bukan risalah mengenai Tuhan. tujuan tafsirnya adalah untuk menangkap resiones logis yang berada di balik pernyataan formal Qur’an. bukan sebuah dokumen legal. Menurut Rahman. Jasa modernisme klasik ini adalah usahanya untuk menciptakan hubungan harmonis antara pranata-pranata barat dengan tradisi Islam dalam kacamata Al-Qur’an dan sunnah. komentar-komentar dan respon. Tetapi. Karenanya. Karenanya. ia adalah hukum Allah. tetapi terdapat pada Al-Qur. darimana ia menekankan monoteisme dan keadilan sosial. Untuk inilah Rahman sering menyebut-nyebut kasus ijtihad Umar bin Khaththab yang dinilainya sebagai preseden baik (uswah) untuk mengeneralisasikan prinsip-prinsip dan nilai-niali umum yang berada di bawah permukaan Sunah dan bahkan teks Al-Qur’an. dalam masalah hukum. untuk kemudian diterapkan pada realitas kekinian. [19] Sampai pada titik ini. Rahman membagi gerakan pembaruan ke dalam empat gerakan. (c) imbauan untuk membuang sikap fatalisme. dan (d) imbauan untuk melaksanakan pembaruan ini lewat jihad jika diperlukan. India dan Afrika. tanpa diimbangi infrastruktur tingkat pemahaman keagamaan yang memadai. Mereka lebih banyak mengadopsi isu-isu dari barat dan membungkusnya dengan bahasa “Qur’an”. Pengembangannya terletak pada usaha gerakan ini untuk memperluas isi ijtihad—dan juga agenda gerakan— seperti isu tentang hubungan akal dan wahyu. di atas segalanya. 5. Tidak satupun dari orang-orang yang telah serius berupaya memahami al-Qur’an dapat menolak kenyataan bahwa sebagian besar Al-Qur’an mensyaratkan pengetahuan mengenai situasi-situasi kesejarahan yang baginya pernyataan-pernyataan Al-Qur’an memberikan solusi-solusi. metodologi yang diharapkan adalah metodologi yang. pembaruan politik untuk membetuk pemerintahan yang representatif dan konstitusional. Al-Quran merupakan sosok ajaran yang koheren dan kohesif. dapat pahami bahwa tujuan metodologi tafsir bagi Rahman adalah untuk menangkap kembali pesan moral universal Al-Qur’an yang obyektif itu.

maka perintah Al-Qur’an akan menjadi hidup dan efektif kembali. Kedua.[20] Metodologi tafsir Fazlur Rahman merupakan gerakan ganda (bolak-balik). gerakan ini cenderung menutup diri. penafsiran mereka terhadap Al-Qur’an lebih bersifat ad hoc dan parsial. apologetis dan tidak otentik. Dalam konteks inilah ia mengatakan bahwa tugas yang paling mendasar dari kalangan neomodernisme ini adalah mengembangkan suatu metodologi yang tepat dan logis untuk mempelajari alQur’an guna mendapatkan petunjuk bagi masa depannya. Berkaitan dengan butir pertama. atau bahkan dari tuduhan sebagai gerakan antek-antek barat yang ingin merusak Islam. maka tentunya telah terjadi kegagalan baik dalam memahami Al-Qur’an maupun dalam memahami situasi sekarang. dari dalam dunia Islam sendiri. Mengetahui makna spesifik dalam sinaran latar belakang spesifiknya. menurut Rahman juga harus ditopang dengan suatu kajian mengenai situasi makro dalam batasan-batasan agama. Menurut Rahman. maka gerakan kedua ditempuh dari prinsip umum ke pandangan spesifik yang harus dirumuskan dan direalisasikan ke dalam kehidupan sekarang. Dengan metodologi ini Rahman menjanjikan bahwa metodologi yang ditawarkannya dapat menghindari pertumbuhan ijtihad yang liar dan sewenang-wenang. Namun karena sifatnya yang reaksioner. (b) pembedaan antara ketetakpan legal dan tujuan Al-Quran. dengan mengkaji situasi atau problem historis dari mana jawaban dan respon Al-Qur’an muncul. Al-Qur’an harus dipelajari dalam tatanan historisnya. memahami arti atau makna suatu pernyataan Al-Qur’an. Gerakan ganda ini. karena sifatnya yang kontroversialis-apologetis terhadap barat. isu-isu yang mereka angkat berasal dari dan dalam dunia barat sehingga ada kesa kuat bahwa mereka terbaratkan atau agen westernisasi. maka dalam pelaksanan gerakan kedua. Bila yang pertama merupakan tugas para ahli sejarah. yang memandang bahwa Islam itu mencakup segala aspek kehidupan manusia. Mengawali dengan pemeriksaan terhadap bagian-bagian wahyu paling awal akan memberikan suatu persepsi yang cukup akurat mengenai dorongan dasar . yakni terhadap hasil-hasil dari penafsiran. Apabila kedua momen gerakan ini ditempuh secara mulus. yang dapat disarikan dari ayat-ayat spesifik dengan sinaran latar belakang historis dan rationes logis yang juga kerap dinyatakan oleh ayat sendiri. Gerakan kedua ini mengandaikan adanya kajian yang cermat atas situasi sekarang sehingga situasi sekarang bisa dinilai dan dirubah sesuai dengan priortitas-prioritas moral tersebut. Momen gerakan kedua ini juga berfungsi sebagai alat koreksi terhadap momen pertama. dalam konteks sekarang tidak bisa.[21] Sebab. instrumentalis sosial muthlak diperlukan. baik individual maupun kelompok. dan Rahman mengaku dirinya sebagai juru bicara gerakan ini. Langkah kedua dari gerakan pertama ini adalah menggeneralisasikan dari jawaban-jawaban spesifik. yakni neorevivalisme atau revivalisme pascamodernis. masyarakat. Di sela-sela pengaruh neorevivalisme inilah gerakan neomodernis muncul. sebagaimana yang terjadi sebelumnya. tidak mungkin bahwa sesuatu yang dulunya bisa dan sungguh-sungguh telah direalisasikan ke dalam tatanan spesifik di masa lampau. Akibatnya. Apabila hasil-hasil pemahaman gagal diaplikasikan sekarang. Pertama. Rahman mengungkapkan: Suatu pendekatan historis yang serius dan jujur harus digunakan untuk menemukan makna teks Al-Qur’an… Pertama-tama. adat-istiadat dan lembaga-lembaga. digambarkan oleh Taufik Andnan Amal dengan tiga langkah metodologis utama: (a) pendekatan historis untuk menemukan makna teks al-Quran dalam bentangan karir dan perjuangan nabi.sentris. Pertama. neomodernisme harus mengembangkan sikap kritis baik terhadap barat maupun terhadap khazanah klasik warisan Islam. Bagi Rahman. (c) pemahaman dan penetapan sasaran Al-Qur’an dengan memperhatikan sepenuhnya latar sosiologis. setiap hukum yang disimpulkan dan setiap tujuan yang dirumuskan koheren satu sama lain. pernyataan-pernyataan yang memiliki tujuan-tujuan moral-sosial umum. bak kanker. Menurut Rahman. Langkah ini juga bisa dan selayaknya dibantu oleh pelacakan terhadap pandangan-pandangan kaum muslim awal. ada dua kelemahan mendasar modrnisme klasik ini yang menyebabkan timbulnya reaksi dari neorevivalisme. serta mengenai kehidupan menyeluruh Arab pada saat Islam datang. Ini sesuai dengan klaim Al-Qur’an sendiri bahwa ajarannya tidak mengandung kontradiksidalam dan koheren secara keseluruhan. meskipun kerja rekayasa etis yang sebenarnya dalah kerja ahli etika. sehingga setiap arti yang ditarik. Yang pertama dari dua gerakan ini terdiri dari dua langkah. ingin membedakan dirinya dengan barat. Yang harus diperhatikan selama langkah ini adalah ajaran Al-Qur’an sebagai keseluruhan. Pandangan ini mirip dengan basis pemikiran modernisme klasik. Reaksi terhadap modernisme klasik ini adalah gerakan ketiga. gerakan ini tidak mampu melakukan interpretasi yang sistematis dan menyeluruh terhadap Islam. tentu saja. sampai sekarang sedikit sekali usaha yang dilakukan untuk memahami Al-Qur’an secara keseluruhan. Bila gerakan yang pertama mulai dari hal-hal yang spesifik lalu ditarik menjadi prinsip-prinsip umum dan nilainilai moral jangka panjang.

Berdasarkan pokok pikiran tersebut (kata pengantar oleh Ibrahim Moosa) melalui buku ini Fazlur mencoba menggali kembali wacana telaah historis gelombang perubahan yang dihasilkan para pemikir Islam masa lalu. Mengenai butir ketiga. Di satu sisi ilmu pengetahuan dan teknologi membawa manfaat. Dalam pandangan Fazlur Rahman. politik. dan kemungkinan pembaharuan politis struktur sosial. tetapi hal ini dapat direduksi seminimum mungkin dengan menggunakan Al-Qur’an itu sendiri. Islam Sunni tidak tahan terhadap sesuatu yang mungkin menganggu salah satu hati dan pikirannya. Dua penganut Irja' di atas tidak mampu mengetahui jiwa yang resah yang menuntut ruang untuk kreativitas. segala keputusan ada dalam kekuasaan Tuhan. mengarahkan perhatian pada fenomena modernisasi dan perubahan dunia yang dipahami dalam dunia Islam sebagai janus-faced (berwajah ganda. Mengenai pembedaan antara ketetapan legal dan tujuan moral Al-Qur’an. sebagaimana dibedakan dari pranata-pranata yang dibangun belakangan. Di sekali lagi seseorang berhadapan dengan bahaya subyektivitas. ingatan luar biasa. Yang terakhir ini merupakan alasan kaum tradisional-konservatif muslim untuk menolak perubahan yang dihasilkan modernisasi budaya dan intelektual. serta tidak mengakomodasi radikalisme. yang nyata artifisial. Maka mereka meyakini diam adalah pilihan terbaik dalam menyikapi dilematika kehidupan. khususnya moral dan spritual. Irja' lahir dari reaksi terhadap gerakan Khawarij yang men-"cap" Ali. ketundukan total) ke masa lalu. tetapi di sisi lain berpengaruh besar pada nilai-nilai etis kebudayaan transenden. Dan demikianlah. Metodologi tafsir Rahman ini bisa dilihat dalam bagan sebagai KEBERANIAN mengungkapkan prinsip kebenaran yang dilandasi ketajaman berpikir. dengan tetap memberi perhatian sepenuhnya terhadap latar sosiologis—yakni lingkungan dimana nabi bekerja dan bergerak. Sudah terlalu sering diabaikan baik oleh kalangan non-muslim maupun muslim sendiri bahwa Al-Quran biasanya memberikan alasan-alasan bagi pernyataan-pernyataan legal spesifiknya. Menurut pemahaman mereka. Persoalan apakah itu mundur dari Al Quran. yang bukan hanya mempengaruhi karakter teologi. sebagai kafir. Fazlur mengagumi tradisi intelektual sophiscated yang diwariskan ulama masa lalu. Rahman menulis: Sasaran Al-Qur’an harus dipahami dan ditetapkan. tak jadi masalah. tertuju kepada kesuksesan menjaga komunitas. telah mengantar Fazlur Rahman pada jajaran pemikir-pemikir Islam kontemporer ternama abad ke-20. seperti wajah Dewa Janus). seseorang harus mengikuti bentangan Al-Qur’an sepanjang karir dan perjuangan nabi…Metode ini akan menunjukkan secara jelas makna keseluruhan Al-Quran dalam suatu cara yang sistematis dan koheren. Walaupun nuansa sejarah terlihat sedikit kental. Secara khusus Fazlur mengupas paham Irja' (paham penundaan segala keputusan dan dikembalikan kepada otoritas Tuhan) sebagai cikal-bakal kelahiran dua aliran Islam terbesar saat ini (Sunni dan Syi'ah). tetapi juga ajaran-ajaran predeterminisme yang mempengaruhi sikap konkret (hal 138). Rahman menulis: Kemudian seseorang telah siap untuk membedakan antara ketetapan legal dan sasaran Al-Qur’an. Utsman. penolakan itu sebagai langkah "membabi-buta" yang hanya akan merugikan. dan kemampuan unik menyatukan berbagai persoalan kompleks dalam gaya cerita yang koheren. Bahkan benar-benar tanpa kesadaran terhadap hal tersebut dan berpegang (taqlid. namun kenyataannya Irja' semakin berkembang dan menjadi "ruh" kelahiran Sunni dan Syi'ah. . di mana masyarakat muslim akan semakin tertinggal di belakang masyarakat kontemporer lain yang telah menjadi penguasa di bidang ekonomi. dan mengeluh pada realitas ulama masa kini (pasca-Al Gazali) yang cenderung membuang nilai-nilai kritis dan pembaharuan dari peninggalan tersebut. Fazlur Rahman-lahir tahun 1919 di Pakistan dan meninggal tahun 1988 di Chicago-sebagaimana para pemikir muslim abad ke-20 lainnya. Walaupun selanjutnya muncul reaksi dari golongan Qadariyah dan Mu'tazilah yang berpaham free will (kebebasan berkehendak) yaitu bahwa Tuhan tidak punya otoritas apa-apa dalam menentukan nasib seorang manusia. tetapi tidak menghalanginya untuk mengangkat sebuah pemikiran kritis tentang gelombang perubahan tersebut. menurut ajaran ini. dimana hukum diharapkan mengabdi kepadanya. Irja' merupakan penyebab utama kelesuan moral dan spiritual masyarakat Islam.gerakan Islam. dan ilmu pengetahuan. Ini terangkum dalam julukan ahl as-sunnah wa-aljamaah (penganut tradisi asli (Sunnah) dan solidaritas ummat (jamaah). dan Muawiyah. Fazlur Rahman dan lain-lain yang sealiran menganggap. Semua pikiran.

ide. Karya terakhir Fazlur Rahman ini merupakan cerminan kepribadiannya yang merepresentasikan rasionalitas ArabIslam dan pencerahan pemikiran Barat. ada kemungkinan untuk mengubah konsensus tersebut. ia tetap bersifat islami dan demokratis karena merepresentasikan ijma’ masyarakat. Iqbal menyetujui masuknya ulama ke dalam majelis untuk membantu dan memimpin perbincangan-perbincangan bebas tentang masalah yang bertalian dengan Islam.bahkan tidak bisa memiliki . Syi'ah telah menempatkan Al Quran ke dalam pelupaan sistematis dan bergantung kepada imam. sebab harus diakui-terlepas dari pro-kontra terhadapnya Fazlur Rahman telah melengkapi khasanah intelektual Islam dengan satu sikap pasti terhadap pembaharuan ke arah yang lebih baik. Iqbal tentu saja tidak memberikan kualifikasi apapun untuk pelaksanaan ijtihad. Tugasnya adalah memberi advis yang selanjutnya . Dengan mentransfer ijtihad kepada lembaga legislatif. misalnya. keberadaannya tidak lebih baik dari masyarakat Sunni. opini itu membentuk ijma’ baru dan menggantikan ijma’ lama. Tetapi. berorientasi ke depan.Sedangkan masyarakat Syi'ah. dan tidak monolitik. Dengan demikian. Undang-undang atau hukun yang ditetapkan majelis bisa saja benar atau keliru. sepanjang hukum tersebut mencerminkan kehendak masyarakat. Imam Syi'ah tidak ada yang memiliki . Selain itu. Akhirnya. Tetapi. untuk menghindari kemungkinan terjadinya salah tafsir terhadap sumber-sumber Islam. 150). Ibnu Taimiyah memberikan penilaian pahit dengan menyatakan bahwa ketika seorang sufi melepas pikirannya untuk mencurahkan dirinya secara utuh kepada Tuhan. mereka mengangkat intuisi (rasa) sebagai pengetahuan yang dinyatakan bebas dari kesalahan karena tidak tertutup (kasyf). dirujuk al-Quran dengan terma syura. Melanjutkan alur pemikiran Iqbal. *** TIDAK ketinggalan buku ini juga membahas perjalanan tasawuf yang-sebagaimana Asy'ariyah . Selama berabad-abad Syi'ah memberikan penghargaan yang sedikit kepada Alquran. Walaupun para sufi tidak bisa disebut murji'ah dalam arti teknis. khususnya Syi'ah 12. Apabila masyarakat telah menerima gagasan minoritas secara mayoritas. yang bisa saja beranggotakan Muslim awam atau bahkan nonmuslim. maka setan datang mendiami kekosongan pikirannya dan bebas melalukan tugasnya di sana (hal. penghargaan tinggi patut ditujukan kepada pemikir satu ini. pemikir-pemikir Muslim mengembangkan konsep ijma’ dengan berbagai kemungkinan baru yang selaras dengan kondisi modern. Dalam pandangan Rahman. Baginya. Ia tidak begitu saja menerima istilah-istilah komoderenan. tetapi pengaruh keseluruhan mereka pada kehidupan moral masyarakat sangat terasa.pengaruh terhadap ahli-ahli hukum dan teologi Syi'ah. dan perenungan. meskipun menghasilkan banyak komentar dan penafsiran yang luar biasa penuh kiasan. bahkan lebih berbahaya daripada Irja' (hal. majelis ini dipilih oleh rakyat tanpa kualifikasi teknis apapun. (hal 147). Dalam masalah-masalah pelik. * Pada periode modern. menurut Rahman. mengungkapkan gagasannya tentang ijma’ sebagai transfer kekuasaan ijtihad dari individu yang mewakili mazhab-mazhab yang terorganisasi ke dalam bentuk “institusi legislatif permanen” atau majelis perwakilan rakyat. Pada level negara. Aktivitas untuk menggalang konsensus masyarakat ini. Buku itu dalam dua bab terakhir mengulas gejolak pembaharuan akhir abad petengahan yang dimotori Ibnu Taimiyah serta pemikiran pembaharuan India oleh Syekh Ahmad Sirhindi dan Syekh Wali Allah. Muhammad Iqbal. Rahman bahkan mengelaborasi konsepnya tentang lembaga syura-ijma’ ini ke dalam suatu majelis internasional yang beranggotakan majelis legislatif negeri-negeri Muslim. kecuali di dalamnya terdapat teologi rasional. tapi ketika imam dihilangkan. ijma’ masyarakat akan ditempa atau dirumuskan ke dalam bentuk hukum dan perundangundangan oleh lembaga legislatif. Ketika para sufi mengecilkan akal. terbuka sepenuhnya untuk meyakinkan masyarakat akan kebenaran gagasannya. 150). Fazlur Rahman mengungkapkan kemungkinan baru ijma’ dalam masyarakat kontemporer. pembaharuan. ijma’ – yang merupakan konsensus mayoritas masyarakat – lebih bersifat dinamis. karena secara potensial selalu terdapat kemungkinan bagi pandangan minoritas untuk menjadi mayoritas melalui proses perdebatan. Uraiannya memang menguatkan bahwa ia memang guru besar wacana Islam dengan tekanan pada pemikiran. Namun demikian. majelis dapat meminta advis kepada para ahli. yang disebut Rahman sebagai lembaga syura-ijma’. yang tertinggal hanya kekeringan hukum dan teologi kalam (hal 135). sarjana pemikir neo-modernis asal pakistan. ijtihad yang dihasilkan individu atau kelompok kerja akan mengkristal ke dalam ijma’ setelah melalui interaksi ide yang ketat. Golongan minoritas yang merasa ijtihad-nya lebih mendekati kebenaran.mengecilkan akal vis a vis wahyu. kecuali memiliki wawasan yang tajam dalam masalah hukum. dan kemajuan.

penting dilakukan majelis. Louay M. mensinyalir ada orang menganggap bahwa dengan menjadikan Islam sebagai landasan kehidupan. Dengan merativikasi konvensi semacam itu. kesatuan keagamaan umum (al-wahdah al-diniyyah al-’ammah). Safi juga mengemukakan bahwa legitimasi negara tergantung pada sampai sejauh mana organisasi dan kekuasaan negara merefleksikan kehendak masyarakat. sehingga berbagai sudut pandang yang berkembang dan dikembangkan secara individual ataupun kolektif mendapat kesempatan untuk didengar sebelum masyarakat akhirnya secara konsensus atau mayoritas memilih yang dianggap laik. dan kesatuan keagamaan khusus umat Islam (al-wahdah al-diniyyah alkhassah). Senada dengan itu. menurut al-Banna. Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk membentuk konsensus masyarakat atau untuk menakar kesepakatan masyarakat mengenai suatu hal adalah melalui referendum. Ketika putusan mayoritas tercapai. seluruh anggota masyarakat – baik Muslim ataupun non Muslim – harus berupaya mengejawantahkannya ke dalam praktik. Ijma’. dalam risalah Nahwa an-Nur (1936). jika suatu masalah dinilai laik untuk dirumuskan ke dalam kebijakan. tetapi didasarkan terutama pada prinsip ijma’. deliberasi. ijma’ bisa memberi kemungkinan legitimasi demokrasi bagi kaum Muslimin dan menawarkan format institusi dan prosedur untuk menjalankannya. pengajuan rancangan undang-undang. Fazlur Rahman menekankan sikap anti-eksklusivisme Islam sehubungan dengan komunitaskomunitas keagamaan lainnya. Mekanisme ijma’ semacam ini menggagaskan keterlibatan seluruh anggota masyarakat. Dalam negara modern. Sebagaimana disinggung di atas. baik Muslim atau bukan Muslim. berdasarkan sejumlah ayat al-Quran (2:62 dan 5:69). karena – seperti ditegaskan para yuris klasik – legitimasi institusi negara tidak terambil dari sumber-sumber tekstual. tanpa diskriminasi antara sesama warga. Dengan kata lain. Tetapi. Pandangan-pandangan kesarjanaan Muslim yang dikemukakan di atas dengan jelas menyepakati kesetaraan warga negara – baik Muslim atau nonmuslim – serta persamaan hak dan kewajibannya. dalam proses pengambilan keputusan. berdasarkan alur logika yang telah dikemukakan. Tidak ada yang aneh dalam hal ini. Majelis semacam ini –yang dibentuk misalnya lewat pemilihan umum– tentunya merupakan representasi masyarakat yang menerjemahkan kepentingan masyarakat ke dalam kebijakan-kebijakan yang koheren dan konsisten (preference representation). serta melakukan perbuatan baik akan selamat. malahan menjadikan persatuan berdimensi sakral dan religius. konvensi-konvensi yang telah dirativikasi suatu negara muslim juga merupakan bentuk lain dari perluasan konsep ijma’. berdasarkan prinsip mayoritas. Sejalan dengan ini. Partisipasi masyarakat yang luas dalam penentuan suatu kebijakan sangat bisa diharapkan dalam implementasi ijma’-referendum ini Pada level regional atau internasional. . majelis ini juga bisa mempengaruhi preferensi publik (preference formation). menurutnya. yang – menurut tafsiran Rahman – mengungkapkan siapa pun yang percaya kepada monoteisme dan hari akhirat. sebagai himpunan orang terpilih. Hasan al-Banna. Mekanisme ijma’ yang telah diuraikan juga memberikan kemungkinan deliberasi dan perdebatan publik.akan dirumuskan ke dalam undang undang oleh majelis nasional negeri-negeri Muslim berdasarkan sinaran perbedaan regional dan situasi social masing-masing negeri Survei singkat di atas memperlihatkan bahwa ijma’ bisa memberikan pijakan yang efektif untuk menerima kekuasaan mayoritas (majority rule). ketika suatu ijma’ mengkristal atau berhasil dicapai dalam komunitas tersebut. mengkuduskan kesatuan kemanusiaan umum (al-wahdah al-insaniyyah al-’ammah). Implementasi prinsip-prinsip ini. Karena itu. maka hal ini berarti minoritas nonmuslim tidak dapat hidup di lingkungan umat Islam dan persatuan di antara berbagai unsur masyarakat tidak mungkin tercapai. pengikut atau yang menyetujui pandangan minoritas juga harus menerima keputusan mayoritas dan berupaya mengimplementasikannya sebagai suatu konsensus. konsensus atau ijma’ masyarakat inilah yang kemudian diundangkan oleh lembaga perwakilan rakyat di tingkat lokal atau nasional. serta cara-cara lainnya yang melibatkan masyarakat. Agama Islam. Aktivitas semacam inilah yang dimaknai Rahman dengan istilah syura. termasuk bukan muslim. ia mengikat seluruh anggotanya tanpa kecuali. negara muslim tersebut terikat kesepakatan atau ber-ijma’ untuk melaksanakannya. tidak akan menimbulkan perpecahan. jelas bisa mengambil bentuk referendum. Penggagas. anggapan semacam itu berseberangan dengan prinsip persamaan dan pengakuan Islam terhadap minoritas nonmuslim. Menurut al-Banna. seluruh warga negara harus dipandang setara satu sama lain. termasuk dalam proses pencapaian konsensus. advokasi. Untuk pembentukan preferensi ini.

Nurcholish Madjid menulis dengan judul ”Fazlur Rahman dan Rekonstruksi Etika al-Qur’an”. yaitu karya-karya atau tulisan-tulisan yang ditulis sendiri oleh Fzlur Rahman yang relevan dengan tulisan ini. sejarah Islam.PENDIDIKAN PERSPEKTIF FAZLU RAHMAN BAB I PENDAHULUAN Bukan rahasia lagi bahwa pendidikan Islam masih menghadapi berbagai persoalan. terutama periode awal. Yang paling penting untuk selalu dipegangi adalah bahwa alQur’an mengajarkan doktrin kesatuan kehidupan dan kesatuan ilmu pengetahuan. Moosa memandang bahwa pemikir-pemikir modern seperti Fazlur Rahman sangat penting karena mengartikan wahyu dalam term sejarah. Oleh karena itu buku tersebut harus dipandang sebagai kelanjutan dari proyek pengembangan hermeneutika al-Qur’an oleh Rahman. Ia menilai bahwa Rahman sangat kritis terhadap pemikiran Islam yang tidak berakar dalam sejarah dan tidak relevan bagi perkrmbangan masyarakat. dan dunia modern. yaitu sumber data primer. Ebrahim Moosa menjadi editor dan pemberi kata pengantar pada karya Rahman yang berjudul ”Revival and Refrom in Islam: A Study of Islamic Fundamentalism” inti dari kata pengantar ini adalah bahwa Rahman sangat antusias untuk mendaptkan kembali al-Qur’an. Malaysia. Rahman dalam memahami Islam dan al-Qur’an selalu mengaitkan dengan bingkai peradaban masa depan. Tulisan Ma’arif yang ketiga berjudul ”Fazlur Rahman” yang dimuat dalam bukunya Islam Kekuatan Doktrindan Kegamangan Umat. Di antara masalah teoretis konseptual yang paling memerlukan pemikiran lebih mendalam adalah persoalan epistemologi. Seluruh karya Rahman menurut Nurcholish dialirkan untuk bermuara kepada penyingkapan kandungan kitab suci. Fazlur Rahman. Sampai di sini dapat diketahui bahwa menurut Ma’arif. Metode Penulisan Buku Pada buku ini terdapat dua sumber data. Tulisan Maarif yang kedua adalah ”Fazlur Rahman. baik yang bersifat teoritis konseptual maupun praktis. Dalam tulisan tersebut Ma’arif bermaksud menganalisis wawancara antara Fazlur Rahman dan profesor Hamid Algar dari Universitas California. Indonesia dan Negara-negara lain (di dunia Islam). Ia berhasil mengembangkan suatu metode yang dapat memberi solusi alternatif atas problem-problem umat Islam kontemporer. serta di Chicago Amerika (di dunia barat) memiliki berbagai pemikiran yang terkait dengan persoalan tersebut. Selain itu juga dapat dipandang sebagai sari pati penyimpulan yang dibuatnya berdasarkan pengetahuannya yang mendalam dan luas tentang pemikiran Islam. Menurut Ma’arif seseorang baru mampu membaca membaca posisi pemikiran Rahman secara tepat dan jujur dalam mata rantai revolusi intelektual dunia Islam setelah seseorang memahami al-Qur’an sebagai sebuah ajaran yang utuh disamping asSunnah. dan sumber data sekundernya adalah karya- . tentang berbagai persoalan Islam kontemporer. al-Qur’an dan Pemikiran Islam”. Ia berhasil bersikap kritis baik terhadap warisan Islam sendiri maupun terhadap tradisi barat. seorang pembaharu yang paling bertanggung jawab pada abad ke-20 yang berpengaruh besar dipakistan. Tinjauan Pustaka Ahmad Syafi’i Maarif menulis dengan judul ”Mengenal Fazlur Rahman dan Pemikirannya tentang Islam” di dalam tulisannya. Maarif mengategorikan Rahman sebagai salah seorang yang bertanggung jawab dalam masalah pembaharuan pemikiran Islam secara total dan tuntas.

deskripsi teori. Menurut Rahman. rahman telah hafal al-Qur’an seluruhnya. dan koherensi internal. Sistematika penulisan buku Keseluruhan buku ini terdiri atas lima bab dan setiap bab terbagi atas beberapa subbab. hermeneutika. . Pendidikan dalam keluarganya benar-benar efektif dalam membentuk watak dan kepribadiannya untuk dapat menghadapi kehidupan nyata. Pada tahun 1940. Bab pertama dalah pendahuluan.karya orang lain mengenai pemikiran Fazlur Rahman. (anak benua india) yang sekarang terletak disebelah barat laut Pakistan. dia menyelesaikan B. Kerangka Teori Kerangka teori atau kerangka konseptual di sini berisi pengertian. perkembangan pemikiran dan karya-karyanya. Tema ini dipilih karena tema tersebut telah lama melekat pada diri Fazlur Rahman. konsep dan metode yang terkait dengan judul buku ini. ada beberapa factor yang telah membentuk karakter dan kedalaman dalam beragama. terutama tentang kejujuran. Bab kedua membahas biografi Fazlur Rahman yang merupakan titik sentral dari pembahasan buku ini. yang memberikan gambaran secara singkat mengenai keseluruhan buku ini dan memberikan ramburambu untuk masuk pada bab-bab seanjutnya. Subbab kesimpulan berisi berbagai temuan dalam penulisan buku ini. Rahman melanjutka studinya ke Lahore dan memasuki sekolah modern. Kelima bab yang masingmasingnya terbagi menjadi beberapa subbab ini merupakan satu kasatuan yang bulat dan utuh. BAB II BIOGRAFI FAZLUR RAHMAN Penulisan biografi Rahman ini meliputi pendidikan. Bab ketiga membahas epistemologi dan metodologi Fazlur Rahman. metodologi. Kemudian dua tahun berikutnya. terutama dalam diskursus epistemologi. serta kecintaan sepenuh hati darinya. tetapi juga berupa konsep atau teori-teori pendidikan Islam yang dapat diaplikasikan di Indonesia. pada usia sepuluh tahun. Penulisan buku ini diakhiri pada bab lima yang berisi kesimpulan dan saran-saran. Sumber-sumber data yang sudah terkumpul baik sumber primer maupun sumber sekunder dijadikan sebagai dokumen. Dalam pengumpulan data digunakan metode dokumentasi. ia berhasil menyelesaikan masternya dalam bidang yang sama pada Universitas yang sama pula. kasih sayang. Dokumen-dokumen tersebut kemudian dibaca dan setelah itu diklasifikasikan. Rahman kecil beruntung memiliki seorang ayah yang betul-betul memperhatikan pendidikannya. disamping pengajaran dari ibunya. pada bab empat dengan judul neomodernisme dalam pendidikan Islam.-nya dalam bidang bahasa arab pada Universitas Punjab. Ayahnya memperhatikan Rahman dalam hal mengaji dan menghafak al-Qur’an. dan pendidikan Fazlur Rahman. dan sekaligus berfungsi sebagai alat analisis terhadap metodologi. Sehingga. Hal penting lainnya bahwa ia dididik dalam sebuah keluarga dengan tradisi madzhab Hanafi. epistemologi. Kemudian. yang tidak hanya berupa rumusan epistemologi dan metodologi pemikiran Fazlur Rahman. Ayahnya. Pertama-tama ia dididik dalam sebuah keluarga muslim yang taat beragama. dan pendidikan Islam. Diantara factor-faktor tersebut yang penting adalah ketekunan ayahnya dalam mengajarkan agama padanya dirumah dengan disiplin tinggi sehingga dia mampu menghadapi berbagai macam peradaban dan tantangan dialam modern. Pendidikan Fazlur Rahman Rahman lahir pada tanggal 21 september 1919 didaerah Hazara. Pembahasan ini didasarkan pada temuan struktur dasar dari tiga sistem epistemologi Islam yang terdapat pada bab 1. Selanjutnya data yang sudah tersistematisasi dianalisis dengan analisis bahasa. Maulana Sahab al-din adalah seorang alim terkenal lulusan Deoband. pada tahun 1933.A.

ia ditunjuk sebagai Direktur Lembaga Riset Islam setelah sebelumnya ia menjabat sebagai staf di lembaga tersebut selama beberapa saat. Periode ini dimulai sejak kepulangan Rahman dari Inggris ke Pakistan sampai dengan menjelang keberangkatannya ke Amerika. Los Angeles. yaitu: (1) Avecinna’s Psychology. Selama kepemimpinannya. dan periode kematangan. periode perkembangan. yaitu Islamic Studies dan Fikru-Nazhr (berbahasa Urdu). University of Chicago. setelah mengajar selama beberapa saat di Universitas Durham. Rahman hijrah kebarat. Secara epistemologis. Pada periode ini Rahman disibukkan oleh kedudukannya sebagai direktur lembaga riset Islam dan sebagai anggota dewan penasehat ideology Islam pemerintah Pakistan. Rahman pulang kenegerinya. Ketika kuliah di Universitas Oxford Rahman mempunyai kesempatan mempelajari bahasa-bahasa barat seperti bahasa Ltin. i. Setelah selesai kuliah di Oxford ia tidak langsung pulang kenegerinya. Rahman terdorong untuk mendefinisikan Islam kembali .Empat tahun kemudian Rahman berangkat ke Inggris untuk melanjutkan studinya di Universitas Oxford. Arab. Turki. dan Urdu. ia diterima sebagai tenaga pengajar di Universitas California. 1. dan selanjutnya di Institute of Islamic Studies. 1. 1. McGill University Canada. Rahman berhasil menulis tiga karya intelektualnya. Kemudian dua tahun berikutnya. Periode pertama (Periode Pembentukan) Periode pertama disebut periode pembentukan karena pada periode ini Rahman mulai meletakkan dasar-dasar pemikirannya dan mulai berkarya. Pada periode ini. pada tahun 1969. dengan disertasi tentang Ibn Sina. Pada awal tahun 1960-an.(3) Prophecy in Islam: Philoshophy and Orthodoxy. Kemudian. merupakan karya orisinil Rahman yang paling penting dalam periode ini. 1. Dengan dua kedudukan tersebut. Perkembangan pemikiran dan Karya-Karya Fazlur Rahman Perkembanga pemikiran dan karya-karya Rahman dapat diklasifikasikan kedalan tiga periode. pada tahun 1964 Rahman ditunjuk sebagai anggota Dewan Penasehat Ideology Islam pemerintah Pakistan. Penguasaan bahasa yang bagus sangat membantunya dalam memperdalam dan memperluas keilmuannya. ia mulai menjabat sebagai Guru Besar kajian Islam dalam berbagai aspeknya di Departement of Near Eastern Languages and Civilization. sampai akhirnya tuhan memanggilnya pulang pada tanggal 26 Juli 1988. Setelah melepas kedua jabatannya di Pakistan. 1. Inggris. yaitu periode pembentukan (formasi). 1. tetapi Rahman mengajar selama beberapa tahun di Durham University. pemikiran dan karya-karya Rahman pada periode ini didominasi oleh pendekatan historis. (2) Avecinna’s De Anima. i. Periode kedua (Periode Perkembangan) Periode kedua disebut periode perkembangan karena pada periode ini Rahman mengalami proses menjadi. Yunani. Inggris. Amerika. being the psychology part of kitab al-Shifa’ merupakan suntingan dari kitab al-Nafs yang merupakan bagian dari kitab al-Shifa’. Selain menjabat sebagai Direktur Lembaga Riset Islam. berisi kajian dari pemikiran Ibn Sina yang terdapat pada kitab al-Najat. Jerman.-nya pada tahun 1949. lembaga ini berhasil menerbitkan dua jurnal ilmiah.D. Karya ini dilandasi oleh rasa keprihatinannya atas kenyataan bahwa sarjana-sarjana muslim modern kurang menaruh minat dan perhatian terhadap doktrin-doktrin kenabian. Pakistan. Inggris. Ketika itu. yaitu proses berkembang dari pertumbuhan menuju ke kematangan. Rahman menyelesaikan program Ph. Pakistan. Periode ini dimulai sejak Fazlur Rahman belajar sampai dengan menjelang kepulangan kenegerinya. Ia menetap di Chicago kurang lebih selama 18 tahun.

bagi Pakistan. Sunnah. Rahman tidak memprlihatkan minatnya untuk memahami kajian-kajian islam normatif. Buku kedua adalah Major Themes of the Qur’an. Sementara itu. 1. Oleh pihak penerbit. Disamping itu. Dalam periode pertama. Ijtihad dan ijma’. Syafi’i Ma’arif mungkin didasarkan pada pertimbangan pemasaran. manusia sebagai anggota masyarakat. bagi Pakistan khususnya. Isi buku ini merupakan hasil dari sebuah proyek riset yang dilaksanakan di Universitas Chicago dan di biayai oleh ford Foundation dalam “Islamic Education”. rangkaian artikel ini. setelah itu masih banyak dilakukan perbaikan-perbaikan. Ia banyak menulis artikel dalam berbagai jurnal internasional dan ensiklopedia. Kalau dalam buku islam ia menyanggah bahwa tradisi filsafat islam telah mati setelah diserang bertubi-tubi oleh al-Ghazali pada abad ke 12. pertama. Penulisan buku inidmulai pada tahun 1977 dan selesai pada tahun 1978. Secara epistemologis. ia terlibat secara intens dalam upaya-upaya untuk merumuskan kembali islam dalam rangka menjawab tantangan-tantangan dan kebutuhan-kebutuhan masyarakat muslim kontemporer. pada periode kedua ini. dengan tambahan bab “Ijtihad pada abad-abad kemudian”. Buku ini berisi delapan tema pokok al-Qur’an. disampinh sedikit memberikan harapan dan saran-saran. . serta lahirnya masyarakat muslim. Rahman lebih dominan mengemukakan kritik historis. buku ini disusun dengan tujuan untuk memperlihatkan (a) evolusi historis perkembangan empat prinsip dasar pemikiran islam yang memberi kerangka bagi seluruh pemikiran islam yaitu al-Qur’an. 1965. yatu: Tuhan. tesis tersebut kembali diungkapkan untuk membantah pandangan para sarjana barat modern yang keliru tentangnya. Pada mulanya. judul buku tersebut diubah menjadi Islam and Modernity. Buku ini merupakan upaya Rahman dalam menyajikan sejarah perkembangan islam secara umum. Buku ketiga yang ditulis Rahman pada periode ini adalah Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition. yaitu kira-kira selama empat belas abad keberadaan islam. penafsiran hanya digunakan untuk “merangkaikan ideide”. karya-karya yang ditelurkannya lebih menampakkan dirinya sebagai orientalis muslim yang cukup berkualitas. eskatologi. manusia sebagai individu. Dalam periode ini ia berhasil menyelesaikan beberapa buku. Periode ini ditandai oleh sesuatu perubahan yang radikal. Dalam buku ini. Buku ini merupakan kajian histories Rahman terhadap pemikiran Shdr al-Din al-Syrazi (Mulla Shadra). dan (b) peran actual prinsip-prinsip tersebut terhadap perkembangan islam itu sendiri. i. Metode yang digunakan Rahman dalam buku ini mensintesiskan berbagai tema secara logis ketimbang kronologis dan membiarkan alQur’an berbicara mengenai dirinya sendiri. 1. Bila perkataan “pendidikan” tetap bertengger pada judulnya. buku ini diberi judul Islamic Education and Modernity oleh penulisnya. Pengubahan ini menerut A. setan dan kejahatan. Tujuan penulisan buku ini adalah untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak akan sebuah pengantar tentang tema-tema pokok al-Qur’an. karena ia memeng berbicara tentang pendidikan islam dalam perspektif sejarah dengan al-Qur’an sebagai kriterium penilai. Buku kedua yang dihasilkan oleh Rahman dalam periode ini adalah berjudul Islam. Philosophy of Mulla Sadra Shirazi. Penelitian itu melibatkan selusin sarjana-sarjana berusia muda yang diketahui Rahman dan Leonard Binder. yang pada mulanya merupakan bagian dari sebuah proyek lain yang lebih besar yang bernama “Islam and Social Change”. Keterlibatan Rahman dalam arus pemikiran islam ditandai dengan dipublikasikannya serangkaian artikel-artikelnya dalam jurnal Islamic Studies mulai bulan maret 1962 hingga Juni 1963. 1. alam semesta. Periode ketiga (Periode Kematangan) Karya-karya intelektual Rahman sejak kepindahannya ke Chicago (19670) mencakup hamper seluruh kajian islam normatif maupun historis. Maka. belakang diterbitkan dalam bentuk buku yang berjudul Islamic Methodology in History. the University of Chicago Press. pemikiran dan karya-karya Rahman pada periode ini mulai beranjak dari pendekata historis menuju kependekatan normatif. kenabian dan wahyu. dalam buku ini. Central Istitute of Islamic Research. Karachi.

. Pengertian Pengetahuan Kata ”pengetahuan ” (dalam bahasa inggris knowledge) adalah kata benda yang berasal dari kata kerja ”tahu” (to know) yang semakna dengan ”mengetahui”. Menurut Rahman al-Qur’an berkali-kali menggunakan istilah ”ilm”. Akan tetapi. Pada masa itu. pada awalnya.menurut bahasa kata pengetahuan bisa bermakna sama dengan ilmu. Dalam buku yang berjudul Islamic Methodologi in History. fazlur Rahman menjelaskan konsep pengetahuan kaum muslimin (the muslim’s concept of knowledge). setelah sistem hukum muncul. istilah tersebut tidak banyak lagi digunakan sebagai proses untuk memahami masalah-masalah hukum. istilah fiqh diterapkan padanya. arti kata ilm ini mengarah pada sabda nabi”talabul ’ilmi”. Karakteristik Pengetahuan . yaitu pengetahuan mengenai agama dan pengetahuan mengenai tubuh manusia (selanjutnya terkenal dengan ilmu kedokteran). Buku ini berusaha memotret kaitan organis antara islam sebagai sebuah system kepercayaan dan islam sebagai sebuah tradisi pengobatan manusia. Misalnya terdapat ungkapan yang terkenal. Sehubungan dengan itu. Rahman menjelaskan bahwa istilah ilmu itu. yaitu hasil-hasil dari proses berpikir tentang hukum.. dari suatu negeri ke negeri lain duduk takzim menghadap seorang guru tradisional dan menerima tradisi dari sang guru. Kemudian dizaman sesudah islam (terutama pada zaman modern ini). lebih diterima tradisionalis dari pada rasional. 1. 1. Selanjutnya. Selanjutnya. atau menuntut ilmu. Didalamnya Rahman menjelaskan konsep pengetahuan kaum muslimin dan perkembangannya. Dengan membaca artikelnya yang berjudul ”The Qur’anic Solution Of Pakistan’s Educational Problems” disana dijelaskan berbagai hal yang terkait dengan epistemologi seperti sumber. perkataan tersebut dipergunakan secara umum. Dengan menghilangkan perkataan pendidikan.” 1. Sementara itu. terutama dalam sejarah islam. karakter dan kebenaran pengetahuan menurut al-Qur’an Epistemologi Fazlur Rahman 1. Selanjutnya penggunaan istilah ”pengetahuan”semakin meluas. talabul ’ilmi berarti proses perjalanan yang lama dan sukar dari suatu tempat ketempat lain. Kemudian setelah masa sahabat.yang secara umum bermakna pengetahuan. Buku terakhir yang dihasilkan Rahman adalah Health and Medicine in Islamic Tradition. karya ini akan lebih mengesankan sebagai karya yang berlingkup luas sekalipun ia bertolak dari masalah pendidikan islam. kata ”ilmu” berasal dari bahasa arab”alima-ya’lamui’lam” yang juga berarti ”tahu” atau ”mengetahui”. kata ilmu mulai digunakan dengan pengertian pengetahuan yang diperoleh melalui proses belajar. secara historis tidak dapat diragukan bahwa perkatan tersebut lahir dari kalangan tradisionalis dengan makna sebagaimana telah disebutkan tadi. seperti”ada dua macam pengetahuan. Pada masa nabi muhammad saw. yaitu melulu soal pendidikan dalam artian yang sempit. BAB III EPISTEMOLOGI DAN METODOLOGI FAZLUR RAHMAN Dari penulisan terhadap karya-karya rahman dapat diketahui keterlibatannya dalam epistemologi dan metodologi.mungkin akan menimbulkan kesan bahwa karya ini terlalu terbatas lingkup bahasannya.ilmu(pengetahuan) dimaknai seperti itu. Proses memahami dan memikirkan materi-materi tradisional itu disebut fiqh. melainkan sebagai pengetahuan tersendiri . islam berkembang menjadi suatu tradisi.

menurut Rahman. Kedua. yaitu Allah SWT. Mengenai karakter pengetahuan . Umat islam harus selalu berdoa kepada Allah SWT. Pengembangan pengetahuan tidak pernah berangkat dari ruang hampa (kosong). tidak ada lagi orang yang lebih tahu. Kata bendanya adalah ”karakter” yang berarti watak. dan merupakan suatu proses kreatif yang tidak pernah mengenal akhir. pengembangan pengetahuan tidak pernah mengenal akhir. Setinggi-tinggi ilmu pengetahuan yang diketahui oleh seseorang. peran. selalu berkembang dan dinamis. Klasifikasi Pengetahuan Kata ”klasifikasi” berasal dari bahasa inggris classification yang berarti penggolongan (menurut jenis). dan pengetahuan tentang manusia. pengetahuan itu mempunyai sifat selalu berkembang. tetapi selalu didasarkan pada pengetahuan yang sudah ada. 1. ”kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami disegenap ufuk dan pada diri mereka sendiri. Kedua. 1. karakter sifat. Fazlur Rahman menjelaskan dalam artikelnya yang berjudul ” The Qur’anic Solution Of Pakistan’s Educational Problems” bahwa semua pengetahuan (pertama) diperoleh melalui observasi dan Eksperimen. Sombong mengakibatkan orang mati karena orang yang sombong merasa bahwa dirinya yang paling tahu. Al-Qur’an mendorong manusia untuk mengadakan perjalanan dimika bumi dan menelaah apa yang telah terjadi pada peradaban masa lalu dan mengapa mereka bangkit kemudian jatuh. Dan jika ilmu pengetahuan mati. jenis yang krusial yaitu pengetahuan tentang sejarah (dan geografi). Yang dimaksudkan disini adalah penggolongan jenis pengetahuan menurut Fazlur Rahman. Oleh karena itu. dikuasai. Yang menurut keyakinan orang islam. adalah orang yang paling tinggi ilmunya. Pertama adalah pengetahuan tentang alam yang telah diciptakan untuk manusia. Nabi Muhammad saw. Selanjutnya. Semua pengetahuan. seperti pengetahuan fisik. Secara jelasnya. Pengetahua tidak pernah berhenti dan stagnasi. Fazlur Rahman cenderung mengklasifikasikan pengetahuan manusia kepada tiga jenis. masih diperintahkan untuk memohon agar ditambah ilmu pengetahuan. al-Qur’an tampaknya cenderung pada tiga jenis pengetahuan bagi manusia. pengetahuan tentang sejarah. Fazlur Rahman menempatkan indera dan akal pada posisi sentral dalam memperoleh dan mengembangkan pengetahuan. Dengan mendasarkan pada al-Qur’an. Ketiga adalah pengetahuan tentang manusia sendiri. Yang dimaksud disini adalah sifat yang khas atau sifat dasar dari pengetahuan. masih ada orang yang lebih mengetaui. akan berakibat mati atau mundurnya peradaban.Kata ”Karakteristik” berasal dari bahasa inggris ”characteristic(kata sifat)”yang berarti sifat yang khas. yaitu pengetahuan tentang alam. apalagi umatnya. sehingga jelaslah bagi mereka . Sehingga ia tidak mau lagi belajar dan mengembangkan ilmu yang telah dimilikinya. Dari orang yang paling tinggi ilmunya masih ada yang Maha lebih mengetahui. klasifikasi. Ilmu pengetahuan tidak mungkin dapat berkembang tanpa ilmu pengetahuan yang telah ada. huruf. Stagnasi dan pengulangan merupakan tanda dari matinya pengetahuan. dinamis dan berkelanjutan. nabi muhammad saw. Akibatnya ilmu yang dimiliki akan mengalami stagnasi. Klasifikasi adalah penyusunan bersistem dalam kelompok atau golongan menurut kaidah atau standar yang ditetapkan. Al-Qur’an menyebutkan. dapat dipahami bahwa Rahman sangat menekankan pada betapa pentingnya mempelajari ilmu pengetahuan. Pengetahuan yang dimaksudkan oleh Rahman itu bersifat empiris dan rasional. Penguasaan terhadap ilmu pengetahuan yang telah ada akan menemukan ilmu-ilmu pengetahuan baru. Oleh karena itu setinggi apapun ilmu yang dimiliki. Salah satu buktinya adalah bahwa pengembangan pengetahuan selalu didasarkan pada pengetahuan yang telah ada dan selalu terkait dengan temuan berikutnya. seseorang tidak boleh sombong. Diperintahkan untuk selalu memohon ditambah ilmu pengetahuan. atau pembagian. baik induktif maupun deduktif. agar ditambahkan ilmu pengetahuan dan harus selalu disertai dengan upaya mempelajari dan mengembangkannya. Berakhirnya pengembangan pengetahuan sama dengan matinya ilmu pengetahuan. Dengan dasar pemahaman bahwa pengetahuan itu selalu berkembang. selalu didasarkan pada yang mendahuluinya.

Mengenai sumber yang ketiga Fazlur Rahman menjelaskan berikut ”al-Qur’an memberikan penekanan yang sama pada historical study of societies. dalam mencari kebenaran ia berangkat dari pembahasan mengenai hubungan antara wahyu. kejujuran. percaya diri. Tujuan utama dari pengetahuan ini adalah untuk menciptakan kepribadian manusia yang seimbang. pembuatan. kejahatan. seperti jiwa manusia (al-anfus). subjek sejarah betul-betul mengarahkan padastudi komparatif atas masyarakat tertentu dengan masyarakat lain dan berfungsi sebagai instrumen penting untuk kritik dan penilaian atas diri sendiri. dan kreatif”. sedangkan para filosof mencoba memahami realitas wahyu Illahi sebagai suatu kebenaran filosofis. yakni intelek yang diperoleh nabi hanya jika jiwanya bersatu dengan intelek aktif. Kata ini merupakan terjemahan dari kata inggris true (adjective). azin. Jika dikaji dengan jernih dan serius. dapat dikatakan bahwasejarah menghasilkan sosiologi” 1. rangkaian tindakan. truth (noun). lurus (hati).al-Qur’an itu adalah benar. yaitu merujuk pada intelek penerimaan aktual Nabi secara umum. yaitu pertama. persetujuan. tidak berat sebelah. adil. atau perkara dalam pengadilan. Sumber dan Proses Memperoleh Pengetahuan Sumber yang dimaksud disini adalah asal pengetahuan diperoleh atau dikembangkan. Ia (data penelitian) banyak membantu dalam membentuk standar moral individual dan masyarakat serta mengurangi kecenderungan tindak kriminal pada manusia. Semua pengetahuan didasarkan pada tiga sumber. Dalam persenyawaan ini intelek perolehan menerima pengetahuan transenden dari intelek aktif. dan untuk membentuk standar moral umat manusia. Orang awam cukup puas menerima kebenaran ajaran agamanya pada dataran iman. dapat dipecaya. Ada tiga macam intelek dalam hubungannya dengan wahyu. tetapi juga melihat kebaikan manusia sebagai kebaikan dan kejahatan manusia sebagai kejahatan. Apresiasi secara benar pada budaya. 1. yakni entitas kosmik yang bertindak sebagai perantara transenden antara Tuhan dan manusia. Sumber yang kedua dijelaskan sebagai berikut. Dan apakah tuhanmu tidak cukup bagimu bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” 1. atau pengolahan yang menghasilkan produk. Fenomene-fenomena alam harus dipelajaridan penginvestigasian ini secara alami tidak pernah berhenti. intelek aktif. Kaum muslim percaya bahwa para Nabi dan Rasul adalah makhluk Allah yang terbaikdan termulia. moral juga jiwa harus digunakan untuk mengatasi ketidakseimbangan. perkenan. sehat. Hal ini akan memperluas cakrawala umat manusia dan mengurangikefanatikan dan berpikiran sempit. tidak salah. Kebenaran Pengetahuan Kata ”kebenaran”adalah kata benda yang berasal dari kata sifat ”benar”. Jadi maksudnya adalah pengetahuan yang sesuai dengan pengetahuan yang sebenarnya. Ketiga adalah intelek pasif. Intelek perolehan adalah kekuatan memahami (intelektif) khusus yang merasuk kedalam alam pikiran Nabi sebagai hasil persenyawaannya dengan intelek aktif.hal ini juga memungkinkan agar manusia tidak hanya menghakimi orang lain dengan sebutan berhasil atau gagal. Al-Qur’an menekankan pada studi inner world. masyarakat. Kata ”kebenaran” bisa bermakna keadaan yang cocok dengan keadaan yang sesungguhnya. 1. Dan yang dimaksud sesuatu disini adalah pengetahuan. Kata ”benar” bisa bermakna sesuai sebagaimana adanya. sesuatu yang sungguh-sungguh. Dengan mendasarkan pada datadata ini. Data-data yang diperoleh melalui penelitian ini terkait dengan kerja manusia dan motivasinya. Manusia penerima wahyu dikenal sebagai nabi atau Rasul Allah. dll. tidak bohong. hukum-hukum yang mengatur kerja alam dapat ditemukan dan diintegrasikan untuk menciptakan gambaran alam semesta secara total. Oleh karena itu. intelek dan akal. Salah satu pilar dasar keimanan islam adalah percaya kepada wahyu Illahi. . Yang dimaksud disini adalah rangkaian tindakan yang dapat menghasilkan atau memperoleh pengetahuan. dan agama lain (tentunya) dapat menghasilkan berbagai arah yang positif.”manusia (constitution of the human mind) harus diteliti dengan intensitas yang memadai. betul. pembahasan kebenaran biasanya terkait dengan kebenaran wahyu dan kebenaran akal (rasio). yaitu pertama adalah physical universe. kelurusan hati.menurut alfarabi. Kedua adalah intelek perolehan. Dalam diskursus epistemologi pemikiran islam. Kata ”proses”dapat berarti runtutan perubahan dalam perkembangan sesuatu. Kebenaran yang dimaksud disini adalah sesuatu yang sesuai dengan sesuatu yang sebenarnya.

yaitu: pertama. dan Indonesia. jika orang-orang islam dengan keras dan gigih berbicara tentang kelangsungan hidup islam sebagai sistem doktrin dan praktek didunia dewasa ini sungguh-sungguh sejati (suatu pertanyaan yang jawabnya tidak mudah). Kedua adalah membedakan antara ketetapan legal dan sasaran serta tujuan al-Qur’an. 1. yaitu: 1. Ignaz Goldziher. gerakan pertama melibatkan pemahaman . Secara spesifik metode ini diterapkan dengan cara mendiskripsikan nilai-nilai sejarah pendidikan umat islam terutama yang terjadi di Turki. yang disebut dengan The Sistematic interpretation method. Metode Kritik Sejarah (The Critical Histori Method) William Montgomeri Watt menggunakan istilah The Critical Histori Method yang merupakan pendekatan kesejarahan yang pada prinsipnya bertujuan menemukan fakta-fakta objektifsecara utuh dan mencari nilai-nilai tertentu yang terkandung didalamnya. walaupun ini mungkin sangat membahayakan tidaklah dapat dihindarkan. Metode Penafsiran Sistematis (The Sistematic interpretation method) Metode kritik sejarah yang telah lama diaplikasikan dalam menuliskan pikiran-pikirannya yang tajam dan kritis. Henry Lamen. sebagaimana yang dimaksudkan Fazlur Rahman. koherensi. Lebih lanjut Fazlur Rahman menawarkan metode berfikir yang terdiri atas dua gerakan. Metode kritik sejarah yang diterapkan oleh Rahman tidak menekankan pada kronologi berjalannya pendidikan didunia islam. Hal inilah sebenarnya. pendekatan historis untuk menemukan makna teks al-Qur’an dalam bentangan karier dan perjuangan nabi. Mesir. dan kedua. Fazlur Rahman menjelaskan metode ini terdiri atas tiga langkah utama. Suatu penafsiran secara sistematis dan berani terhadap al-Qur’an harus dilakukan. yang menyebabkan metode kritik sejarah tidak dapat berkembang dengan baik dikalangan pemikir muslim sampai pertengahan abad ke-20 M. Joseph Schact dll. Rahman banyak menerapkan metode kritik sejarah dalam melakukan penelitian terhadap pendidikan didunia islam. metode berpikir dari yang umum kepada yang khusus (deduktif). Iran. tetapi menekankan pada nilai-nilai yang terkandung dalam data-data sejarah pendidikan didunia islam. pembahasan mengenai kebenaran pengetahuan biasanya dikaitkan dengan teori kebenaran korespondensi.problem umat (sosial) untuk dicarikan solusinya pada alQur’an atau (2) memaknai al-Qur’an dalam konteksnya dan memproyeksikannya kepada situasi sekarang.Dalam diskursus epistemologi yang berkembang sampai sekarang. Penelitian dari para orientalis tersebut menghasilkan berbagai tesis yang menghebohkan terutama bagi kalangan muslim tradisional. Mereka harus mendiskusikan dengan ikhlas dan tanpa menahan diri tentang apa yang mereka inginkan terhadap islam dewasa ini. Menurut Rahman. Pakistan. 1. Metode Suatu Gerakan Ganda (a Double Movement) Metode ini bisa dilakukan dengan (1) membawa problem. pragmatis dan dogmatis atau skeptis. Resiko terbesar dalam pemahaman ini tentu akan menjadi proyeksi dari ide subyektif kedalam al-Qur’an dan menjadikannya sebagai objek penanganan secara arbitrer. Metodologi yang tepat untuk memahami dan menafsirkan al-Qur’an harus diterapkan. telah banyak diterapkan dalam penelitian sejarah islam oleh para Orientalis seperti David S. kemudian sesekali Rahman melakukan komparasi diantara pendidikan di negara-negara tersebut. Ketiga adalah memahami dan menetapkan sasaran alQur’an dengan memperhatikan secara penuh latar belakang sosiologisnya. metode berpikir dari yang khusus kepada yang umum (induktif). Seluruh kandunga syari’ah harus diarahkan menjadi sasaran pengujian yang segar dalam sinaran bukti al-Qur’an. Margoliouth. yaitu: pertama. kelihatan dengan jelas bahwa mereka harus memulai sekali lagi dari tingkat intelektual. Sehubungan dengan metode berpikir pertama. menurut Rahman. Metode kritik sejarah. Akan tetapi. kemudian dikembangkan menjadi metode yang lebih sistematis. Metodologi Fazlur Rahman Berikut adalah tiga metodologi yang dikembangkan oleh Rahman.

riba dan bunga bank. yang disebut ”sebab-sebab pewahyuan”. Ketiga. kritis dan kreatif dalam pendidikan islam. Kemudian pada masa abbasiyah. menurut Rahman. yaitu: pertama. gramatika. kedua. Namun. Secara detail menurut Rahman. dan aplikasi pemikiran Fazlur Rahman pada pendidikan islam di Indonesia. Selama dipimpin oleh fazlur Rahman (1962-1968) strategi yang dicoba diterapkan untuk mengatasi permasalahan ini adalah: mengangkat beberapa lulusan madrasah yang mempunyai pengetahuan bahasa inggris. distribusi zakat. Selanjutnya yang dihadapi oleh institusi ini adalah masalah sumberdaya manusia. perbudakan dalam islam dan dalam bidang pendidikan. dan memberikan mereka pengetahuan bahasa arab dan disiplin ilmu islam klasik yang penting seperti Hadia dan Hukum islam. membangkitkan idiologi umat islam tentang pentingnya belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan . menyadari betapa pentingnya bahasa dalam pendidikan dan sebagai alat untuk . Pada satu sisi lain. Kedua sistem pendidikan ini sama-sama tidak beresnya. dapat dilakukan dengan menerima pendidikan sekuler modern. merumuskan world-view (pandangan dunia) al-Qur’an.Rayid dan al-Makmun menekankan adu pendapat diantara para pelajar diistana mengenai persoalan logika. Kemudian untuk mengoprasikan metode ini. berusaha mengikis dualisme sistem pendidikan umat islam. Karena itu. pembaharuan pendidikan umat islam mendesak untuk segera dilakukan dengan cara: Pertama. Gerakan pemikiran kedua adalah metode berpikir dari yang umum kepada yang khusus. dilakukan juga dengan cara mengirim beberapa orang keluar negeri untuk memperoleh pelatihan dan gelar dalam studi islam. Latar belakang situasional ini. kemudian berusaha memasukinya dengan konsep-konsep islam. ada pendidikan modern (sekuler). Rahman menerapkan tiga tahapan. tetapi yang paling lazim adalah menghafal al-Qur’an dan al-Hadis. kedua mensistematisasikan etika al-Qur’an. Pendidikan Islam dalam perspektif sejarah menurut Fazlur Rahman Menurut Rahman. dan sebagainya. pendidikan islam ketika masa Rasulullah menerapkan metode membaca dan menulis. harus diterapkan terhadap masyarakat muslim dalam konteks dewasa ini. baik dinegara barat maupun timur. hukum. Secara mendasar. perlu ada upaya untuk mengintegrasikan keduanya. Fazlur Rahman juga berusaha mengundang doktor-doktor dari barat untuk menjalin kerjasama dan mengawasi riset yang dilakukan oleh para mahasiswa. merekrut sarjana yunior lulusan unuversitas jurusan filsafat atau ilmu-ilmu sosial. dan ketiga menumbuhkan etika al-Qur’an pada konteks masa kini. Kumpulan prinsip yang diperoleh dari al-Qur’an lewat cara yang dicandera diatas (yakni dalam gerakan pemikiran pertama). memberikan mereka pelatihan teknik penelitian modern. Sektor sosial perintah-perintah alQur’an memiliki suatu latar belakang situasional.terhadap prinsip al-Qur’an dengan mana Sunnah merupakan bagian organisnya. sepaerti Harun al. perintah-perintah al-Qur’an muncul tidak dalam suatu kevakuman. Sebagaimana dengan latar belakang ajaran alQur’an yang harus dikaji untuk memperoleh prinsip-prinsip umum al-Qur’an. khalifah-khalifah tertentu. tetapi selalu turun sebagai solusi terhadap masalah-masalah aktual. sebagaimana pewahyuan al-Qur’an sendiri yang memiliki latar belakang religio-sosial yang amat konkret dalam politeisme dan disekuilibrium sosio-ekonomi masyarakat Makkah pada awal islam. Namun ada juga kelompok kecil yang berusaha mengembangkan kemampuan intelektual. BAB IV APLIKASI PEMIKIRAN FAZLUR RAHMAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM Pendidikan islam menurut Fazlur Rahman. usahanya gagal karena tidak adanya doktor yang seperti itu. Contoh penerapan metide Fazlur Rahman ini dapat dilihat dari berbagai pemikirannya seperti dalam masalah konsep Sunnah yang hidup. maka situasi kontemporer juga harus dikaji untuk diambil darinya prinsip-prinsip tentang penerapan hukum terhadap situasi tersebut. pembaharuan pendidikan islam. Disamping usaha-usaha itu.

Tahap (3) disebut tahap ilmunisasi dimana ide atau kesimpulan baru muncul tidak terduga. Menurut Rahman umat islam lemah dibidang bahasa. Keempat. Disamping kritis pada diri Fazlur Rahman juga selalu mengalir sifat kreatif. Saudi. Dengan domonasinya. dan sebagainya. Hasil-hasil ijtihad ulama . Bahakan. para pemikir muslim harus betul-betul kritis terhadap peradaban tersebut. Kemampuam memecahkan masalah terkait erat dengan kemampuan kritis dan kreatif. di madrasah (mulai dari ibtidaiyah sampai aliyah). Sudan. yaitu: (1) tahap persiapan dimana masalah diselidiki dari segala arah sehingga semua informasi tentang masalah ditemukan. melainkan sebagai intelektualisme islam karena baginya hal inilah yang dimaksud dengan esensi pendidikan tinggi islam. Kemudian masalah dianalisis dan didefinisikan. (2) tahap inkubasi dimana masalah seakan-akan terbawa tidur. Dengan mendasarkan pada al-Qur’an. adil. Kedua. Maroko. kemajuan. Bahkan ia katakan umat islam adalah masyarakat tanpa bahasa. yang padanya terkumpul sifay-sifat seperti kritis. Proses berpikir untuk memecahkan masalah berlangsung dalam empat tahap. jujur. peradaban barat sangat besar pengaruhnya pada peradaban umat islam sekarang. Pertama. dan yang harus memberikan kriteria untuk menilai keberhasilan atau kegagalan sebuah sistem pendidikan islam. tujuan pendidikan menurut Fazlur Rahman adalah untuk mengembangkan manusia sedemikian rupa sehingga semua pengetahuan yang diperolehnya akan menjadi organ pada keseluruhan pribadi yang kreatif. (4) akhirnya suatu usaha sadar dilakukan untuk mencoba menentukan keshahihan dari kesimpulan yang didapat tadi sesuai dengan kriteria atau aturan-aturan ilmiah. pendidikan islam dalam pengertian praktis.mengeluarkan pendapat-pendapat yang orisinil. baik dengan menggunakan langkah-langkah logika maupun eksperimen. Untuk konteks Indonesia. pendidikan tinggi islam yang disebut dengan intelektualisme islam. tetapi masalah itu merasuk kealam pikir yang nantinya akan mengalir keluar dalam wujud iluminasi kreatif. kreatif. Pendidikan Islan menurut Fazlur Rahman Pendidikan islam menurut Fazlur Rahman bukan sekedar perlengkapan dan peralatan fisik atau kuasi fisik pengajaran seperti buku-buku yang diajarkan ataupun struktur eksternal pendidikan. tetapi dalam semua aspek kehidupan. yaitu pendidikan yang dilaksanakan didunia islam seperti yang diselenggarakan dipakistan. Lebih dari itu. inovatif. Mereka tidak lagi menganggap bahwa hasil pemahaman ulama terhadap wahyu pada masa lalu merupakan hasil yang sudah fnal. dan diperguruan tinggi islam. pendidikan islam menurut Rahman dapat juga dipahami sebagai proses untuk menghasilkan manusia (ilmuwan) integratif. Hal ini merupakan pertumbuhan suatu pemikiran islam yang asli dan memedai. yaitu beralih dari metode mengulang-ulang dan menghafal pelajaran ke metode memahami dan menganalisis. progresif. dan sebagainya. Proses ini menyangkut klasifikasi dan penilaian masalah. tidak terpikirkan secara sadar dan dinamis. Pada awalnya sifat kritis dan kreatif yang diperlukan adalah yang memungkinkan peserta didik berani dan memiliki rasa percaya diri untuk memahami wahyu secara langsung. Sifat kritis ini ditujukan oleh Rahman baik pada warisan islam sendiri maupun pada peradaban barat. dinamis. Kritis terhadap peradaban barat menjadi penting karena peradaban ini telah mendominasi peradaban dunia selama beberapa abad terahir. bahkan bisa juga pendidikan agama islam disekolah (sejak dari dasar sampai lajutan atas) dan pendidikan agama islam diperguruan tinggi umum. Kritis dan Kreatif dalam Pendidikan Islam Sifat kritis merupakan karakter utama Rahman. Iran. Oleh karena itu. Pemecahan masalah bergerak dari masalah sederhana yang hanya menggunakan akal sehat sampai pada pemecahan masalah muskil yang menuntut prosedur berpikir yang lebih kompleks. Pendidikan islam dapat mencakup dua pengertian besar. mulai dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. Memecahkan masalah tidak hanya dalam konteks ilmu pengetahuan. meliputi pendidikan dipesantren. Mesir. Turki. dan keteraturan dunia. dapat dikatakan bahwa menumbuhkembangkan kemampuan memecahkan masalah juga menumbuhkembangkan sifat kritis dan kreatif. yang memungkinkan manusia untuk memanfaatkan sumber-sumber alam untuk kebaikan umat manusia dan untuk menciptakan keadilan. pembaharuan dibidang metode pendidikan islam.

pembaharuan islam dalam bentuk apapun yang berorientasi pada kemajuan. Diantara kegiatan pembelajara yang dapat mengembangkan daya kritis dan kreatif subyek didik adalah kegiatan yang meminta mereka. Menurut Mastuhu. yaitu: (1) mempunyai pemikiran asli atau orisinil (originality). menurut Zamrani. Dapat juga dikembangkan dengan cara mengarang. pendidikan islam harus dapat mengembangkan anak didik yang kritis dan kreatif. Aplikasi pemikiran Fazlur Rahman pada Pendidikan Islam di Indonesia Pendidikan islam di Indonesia dapat dibedakan kedalam dua tingkatan. dan sebagainya. baru merupakan: (a) pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga islam. Tujuan dikembangkannya daya kritis dan kreatif dalam pendidikan islam adalah untuk menghasilkan output yang kritis dan kreatif. menurut Rahman. harus bermula dari pendidikan. Madrasah didirikan untuk menampung keunggulan pesantren dan sekolah. disamping untuk menghilangkan kelemahan dari keduanya. IAIN merupakan lembaga pendidikan tinggi Islam yang strategis untuk mengembangkan tradisi ilmiah umat Islam yang peduli terhadap persoalanpersoalan besar bangsa. tetapi dalam peta perguruan tinggi di Indonesia. metode diskusi dilakukan dengan terbuka. Apakah mereka cenderung mencontoh karangan atau model yang sudah ada ataukah menciptakan sesuatu yang lain. dan madrasah. Untuk meningkatkan kedudukannya. kebanyakan menempati posisi dipinggiran. Sebaiknya. anak didik yang kritis dan kreatif paling tidak mempunyai tiga ciri yang menonjol. dalam dunia yang terbuka paradigma-paradigma yang mendasari lahirnya perguruan tinggi Islam perlu ditinjau kembali. mengubah warna. dan pendidikan tinggi islam. Oleh karena itu. disain. mereka harus senantiasa melakukan ijtihad. Masing-masing dari ketiganya memiliki keunggulan. Bahkan. dalam arti bahwa subyek didik bisa secara leluasa mengadakan diskusi. Pendidikan tinggi Islam harus memiliki tipe ideal manusia seutuhnya. adalah al. bentuk. Perguruan tinggi Islam jumlahnya sangat banyak. Paradigma-paradigma yang mendasari perguruan tinggi Islam dewasa ini sudah tidak relevan lagi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tuntutan pembangunan nasional. Pada umumnya pesantren unggul dibidang ilmu-ilmu agama. atau tidaknya mereka. misalnya. belum tentu cocok untuk mengatasi persoalan sekarang dan masa mendatang. Kemudian pendidikan dasar-menengah islam di Indonesia dapat dibedakan lagi kedalam tiga jenis. tanpa ada rasa takut dan batasan untuk mengemukakan gagasan-gagasan mereka. (2) mempunyai keluwesan (flixibility). atau model. Paradigma-paradigma perguruan tinggi . yaitu pesantren. guru dapat dengan mudah mengetahui tingkat kekritisan dan kreatifitas mereka.masa lalu yang cocok untuk mengatasi persoalan pada waktu itu. yang darinya dapat diharapkan berbagai alternatif solusi atas problem-problem yang dihadapi umat manusia. Hal itu hampir sama dengan yang dikemukakan oleh Mastuhu. yaitu pendidikan dasar-menengah islam. (b) pendidikan agama Islam yang disampaikan di perguruan tinggi. dalam jangka pendek. Metode lain yang tidak kalah penting adalah metode diskusi. mereka disuruh membuat karangan bebas. tetapi lemah dibidang ilmuilmu umum. guna untuk mengatasi persoalan-persoalan yang mereka hadapi. perguruan tinggi Islam harus mampu memperbarui kurikulumnya secara mendasar. masih merupakan impian belaka. Dalam era globalisasi. sebaliknya sekolah lemah dibidang ilmu-ilmu agama tetapi unggul dibidang ilmu-ilmu umum. menurut Fazlur Rahman. (3) menunjukkan kelancaran proses berfikir (fluency). Pendidikan islam dalam realitas. Melalui karangan bebas. dan (c) perguruan tinggi yang bertujuan menghasilkan sarjana dibidang ilmu-ilmu agama Islam. disamping kelemahan. Sosok manusia seutuhnya.insan alkamil. Pendidikan tinggi Islam. Misalnya. Pendidikan Tinggi Islam di Indonesia. Perguruan tinggi Islam didirikan sesuai dengan kondisi waktu lembaga itu didirikan. baik dengan guru maupun sesama temanteman mereka. Atau dengan kata lain. sekolah. Guru hendaknya bertugas membuat kondisi semacam itu. menunjukkan kritis dan kreatif. menurut islam. sangat strategis untuk mengurai benang kusut krisis pemikiran dalam Islam yang berdampak pada stagnasi dan kemunduran peradaban umat islam.

manusia. tampaknya efektif untuk mencetak sumber daya manusia muslim yang handal. dll. 1. 6. dalam kehidupan ini. 2. metodologi Fazlur Rahman dapat dikelompokkan kedalam tiga macam yaitu metode kritik sejarah. membangkitkan kembali idiologi keharusan belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Karena problem iti tidak selamanya berasal dari bidang agama. Peguruan tinggi Islam dimasa depan perlu diarahkan untuk memberikan solusi atas berbagai problem yang dihadapi umat manusia. jika dilihat dari struktur dasar epistemologinya. metode penafsiran secara sistematis. diperguruan tinggi Islam tidak perlu didikotomikan antara ilmu tradisional dan ilmu modern. Barangkali hanya dapat memenuhi satu sektor tertentu saja didalam kebutuhan manusia Indonesia modern. baik secara lisan maupun tulisan. Kedua. Karena itu. dan metode suatu gerakan ganda. yaitu tuhan. baik bidang agama maupun bidang-bidang lain. metodenya observasi dan eksperimen. pemikiran Fazlur Rahman. dikotomi ilmu dikalangan umat islam akan semakin terkikis. 4. visis dan misi perguruan tinggi Islam menjadi sangat sempit dan terbatas. Hal ini terkait erat dengan inti neomodernisme yang menekankan sifat kritis dan kreatif. Saran-saran . yaitu periode pertumbuhan. Cara yang ditempuh Rahman ini. metode suatu gerakan ganda Fazlur Rahman dapat diterapkan untuk memberi alternatif solusi atas problem-problem umat. cara pembaharuan pendidikan yang disarankan Rahman terhadap pendidikan di Pakistan dapat diaplikasikan pada pendidikan tinggi Islam di Indonesia. Dikotomi tersebut (pada akhirnya) menghasilkan alumni-alumni yang ketinggalan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Secara khusus. mengganti metode pendidikan secara mengulang-ulang dan menghafal dengan metode memahami dan menganalisis. perlu dikembangkan diperguruan tinggi Islam secara integratif. 5. Keempat. Fazlur Rahman lebih cenderung mengembangkan ilmuwan-ilmuwan muslim dari pada Islamisasi ilmu pengetahuan. 1.Islam itu sanagat sektoral dan mempunyai visi dan misi sangat terbatas. Karena itu. 3. dan alam semesta. kemudian mengembangkannya sebagai alat komunikasi. dapat dibedakan kedalam tiga periode. maka motivasi umat islam terhadap pengembangan ilmu akan semakin kuat. Ketiga. sifat kritis dan kreatif Fazlur Rahman didasarkan pada pandangan ontologinya tentang kebebasan berkehendak mnusia yang setelah dilacak lebih lanjut ternyata berangkat dari teori besarnya mengenai pandangan dunia al-Qur’an . BAB V PENUTUP Kesimpulan Melalui penulisan buku ini dapat dihasilkan temuan-temuan sebagai berikut. yang kedua-duanya dikembangkan secara bersama-sama dan terpadu. yang diikuti oleh semakin pudarnya dualisme dalam sistem pendidikan umat islam. dapat ditemukan bahwa pengetahuan itu bersumber pada teks dan realitas. Cara ini dilakukan oleh Rahman dengan memilih ahli-ahli islam muda yang potensial dengan mengajarkannya kepada mereka metodologi barat modern. Bahkan. epistemologi-metodologi pemikiran Fazlur Rahman jika diterapkan pada pendidikan islam. mendikotomikan keduanya.antara ilmu agama dan ilmu sekuler. Pemikiran Fazlur Rahman jika dilihat dari prosesnya. termasuk problem pendidikan.. Paradigma yang sektoral tersebut menganut paham dualisme yang membedakan ilmu agama dari lmu pengetahuan umum. pendekatannya historis-filosofis. dengan cara: pertama. menyadari akan pentingnya bahasa. perkembangan dan kematangan. mengintegrasikan ilmu (antara ilmu agama dan ilmu umum) kedalam pendidikan tinggi Islam di Indonesia untuk kemaslahatan umat manusia. alat yang digunakan adalah akal dan indra.

konseptor pendidikan islam disarankan dapat menyempurnakan pemikiran Fazlur Rahman tentang konsep pendidikan islam yang dapat menghasilkan alumni yang kritis dan kreatif. 5.Berdasarkan pada temuan-temuan sebagai mana tersebut diatas. jenis. sehingga mereka dapat menyelesaikan problem-problem mereka sendiri bahakan problem umat islam secara umum. 3. praktisi pendidikan islam agar dapat mengupayakan langkah-langkah yang memungkinkan terjadinya integrasi ilmu dalam islam serta integrasi dalam sistem pendidikan umat islam dalam rangka dapat menghasilkan alumni yang berkualitas tinggi. . pemerhati epistemologi agar dapat mengkritisi lebih lanjut mengenai konsep epistemologi Fazlur Rahman terutama tentang sumber. pemegang kebijakan pendidikan islam agar dapat menentukan kebijakan yang memungkinkan dapat dihasilkan alumni dari pendidikan islam yang lebih kritis dan kreatif. 4. dan praktisi pendidikan islam agar dapat mengarahkan pendidikan umat islam untuk memperbaiki peradaban mereka secara mendasar dan menyeluruh. 2. cara memperoleh. selanjutnya disarankan kepada: 1. konseptor pemegang kebijakan. dan validitas kebenaran pengetahuan.

kemudian pada tahun 1933 . yaitu Islamic studies dan fiqrun nazr berbahasa ordo.ayahnya memperhatikan rahman dalam hal mengaji dan menghafal alquran. Pada saat mengajar di durkhem university rahman menyelesaikan karya originalnya yang berjudul probheji in islam : philoshophy and ordoksi.pada tahun 1960 rahman pulang ke negrinya.pendidikan dalam keluarganya benar –benar efektif dalam membentuk watak dan kepribadiannya untuk dapat alam menghadapi kehidupan nyata . Selama jabatannya menjadi direktur rahman menjalankan dua strategi ganda yaitu mengangkat beberapa lulusan madrasah yang menguasai bahasa inggris bagi staf junior dan mencoba melatih mereka dalam teknik-teknik riset modern dan sebaliknya merekrut staf-staf senior dari kalangan lulusan universitas di . Dua tahun berikutnya disertasi tersebut diterbitkan oleh oxford unevesity press dengan judul avicinna’s psychology pada tahun 1959 karya suntingan rohman dari kitab annafs karya ibnu sina diterbitkan oleh penerbit yang sama dengan judul avecinna’s de anima. kemudian di institute of Islamic studies mc gill university kanada dan menjabat sebagai associate professor of philoshiphy.SEJARAH DAN PEMIKIRAN FAZLUR RAHMAN A.(anak benua india)yang sekarang terletak di sebelah barat Pakistan.Gibb. ia belajar bahasa latin yunani. jerman.pada tahun 1940.rahman melanjutkan studinya ke lahore dan memasuki dunia modern. arab dan ordo. inggris.pada tahun 1942 dia berhasil menyelesaikan materinya dalam bidang yang sama di universitas yang sama.ayahnya maulana sahib al. inggris. Pada tahun 1946 Rahman berangkat ke Inggris untuk melanjutkan studinya di Universitas Oxford dibawah bimbingan Es Fande Bergh dan H. Selama kuliah di barat.sebuah madzab sunni yang lebih banyak menggunakan rasio dibandingkan dengan madzab sunni lainnya. turki. Hal penting yang telah mempengaruhi keagamaan rahman adalah bahwa ia dididk dalam sebuah keluarga dengan tradisi madzab hanafi.Rahman menyelesaikan program phdnya pada tahun 1949 dengan disertasi tentang ibnu sina.dia menyelesaikan gelar BA nya dalam bidang bahasa arab pada Universitas Punjab. dia tidak langsung pulang ke negrinya tetapi mengajak durkhem university.pada usaia 10 tahun rahman telah hafal alquran seluruhnya .adalah seorang alim terkenal lulusan deoband e.sehingga .din .R. Biografi fazlur rahman Rahman lahir pada tgl 21 september 1919 didaerah hazarah . Setelah tamat dari oxford university.A. Pakistan kemudian dua tahun berikutnya dia di tunjuk sebagai direktur lembaga riset islam setelah sebelumnya dia menjabat sebagai staf di lembaga tersebut selama beberapa saat selam kepemimpinan rahman lembaga ini berhasil menerbitkan dua jurnal ilmiah.

Avecinna’s de Anima. Ia ngajar selama 18 tahun di Chicago akhirnya ia kembali ke pangkuan Illahi Robi pada tanggal 26 Juli 1988. 7. Univercity of Chicago. Prophecy in islam : philosophy and orthodoxy 3. Prestasi fazlur rahman 1. Islamic methodology in history 6. Philosophy of mulla sadra shirazi 5. karya yang berupa artikel : a. ‘some Islamic issue in the ayyub khan era’ b. Major themes of the qur’an 8. Islam. Avecinna’s psychology 2. Toward reformulating the methology of Islamic law : syaikh yamnai on “public interest” in Islamic law . B. pemerintah Pakistan setelah beberapa saat melepas jabatannya di lembaga research. Health and medicine in Islamic tradition 2. Islam and modernity : transformation of an intellectual tradition 9. Islamic : challenges and opportunities c. Karya-karya yang berupa buku : 1.bidang filsafat atau ilmu social dan member mereka pelajaran bahasa arab serta disiplin-disiplin islam klasik yang utama seperti hadits dan ushul fiqh dia juga mengirim beberapa orang ke luar negri untuk mendapatkan training dan jika memungkinkan gelar-gelar dalam kajian keislaman baik di uneversitas barat maupun timur Pada tahun 1964 rahman ditunjuk sebagai dewan ideology islam pemerintahan islam. being the psychological part of kitab al-shifa 4. disamping itu ia juga menjadi guru besar kajian Islam di Departemen of Near Eastern Languages and Civilization. Pada tahun 1969 ia pergi ke Amerika sebagai tenaga pengajar di universitas California Los Angeles.

Untuk Indonesia. bajhkan bisa juga pendidikan agama islam di sekolah dan pendidikan agama islam di perguruan tinggi umum. maroko dan sebagainya. sudan. The qur’anic consept of god. . Kedua. Interpreting the qur’an l. inovatif. the universe and man m. adil. Roots of islamics neo fundamentalism g. dan di perguruan tinggi islam. pendidukan islam yang di sebut dengan intelektual islam. mulai dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. di madrasah. melainkan sebagai intelektualisme islam karena baginya hal inilah yang dimaksud dengan esensi pendidikan tingi islam. meliputi pendidikan di pesantren. Hal ini merupakan pertumbuhan suatu pemikiran islam yang asli dan memadai.d. Corak Pemikiran Rahman Dalam Pendidikan Pendidikan islam menurut rahman bukan sekedar perlengkapan dan perlalatan fisik atau kuasi fisik pengajaran seperti buku-buku yang di ajarkan ataupun stuktur eksternal pendidikan. The impact of modernity on islam i. dinamis. Lebih dari itu. Some key etical concept of the qur’an PEMBAHASAN A. Islam : legacy and contemporary challenge. Islamic modernism : its scope. e. Change and the muslim world h. pendidikan islam menurut rahman dapat juga di pahami sebagai proses untuk menghasilkan manusia integrative. Pendidikan islam dapat mencakup dua pengertian. iran. yaitu pertama. kreatif. Islam in the contemporary world f. dan yang harus memberikan kriteria untuk menilai keberhasilan atau kegagalan sebuah system pendidikan islam. progresif. jujur dan sebagainya. Divine revelation and the prophet k. yang padanya terkumpul sifat-sifat seperti kritis. method and alternatives j. Saudi. pendidikan islam dalam pendidikan praktis yaitu pendidikan yang dilaksanakan di dunia islam seperti yang di selenggarakan di Pakistan.

adab. tujuan pendidikan menurut rahman adalah untuk mengembanngkan manusia sedemikian rupa sehigga semua pengetahuan yang di perolehnya akan menjadi organ pada keseluruhan pribadi yang kreatif. Fazlur Rahman memiliki berbagai pemikiran yang terkait dengan pengan pendidikan umat Islam. padasaat itu sekolah tidak melaksanakan ujian akhir tahun tetapi peserta didik bias naik ke tingkat yang lebih tinggi dengan rekomendasi guru-gurunya. Illahiyah. Al-qur’an menyuruh manusia mempelajari bumi seisinya dengan cermat dan mendalam serta mengambil pelajaran darinya agar dapat menggunakan pengetahuanya dengan tepat dan tidak berbuat kerusakan. tetapi yang paling lazim adalah menghafal Al-Qur. Materi pendidikan menurut Fazlur Rahman meliputi mebaca dan menulis. Dalam berbagai bentuk menurut Fazlurr Rahman pendidiken Islam ketika jaman pertengahan menerapkan metode membaca dan menulis. Metode demikian ini menurut Fazlur Rahman dikenal dengan metode belajar secara mekanis. oleh diri sendiri dan untuk diri sendiri. Pendidikan islam didasrkan pada ideology islam karena itu pada hakikatnya pendidikan islam tidak dapat meninggalkan keterlibatannya pada persepsi benar dan salah. dan astronomi. Metode pembelajaran abad pertengahan: membaca dan mengulang-ulang sampai hafal. al-hadits. Al-qur’an sering kali berbicara tentang dunia dan akhirat. solusi atas problem-problem pendidikan umat Islam kontemporer. Akhirat bernilai lebih tinggi. Tujuan pendidikan Islam menurut Fazlur Rahaman untuk memenuhi kewajiban terhadap Allah dan Rasul-Nya serta tercapainya kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Karena itu.Berdasarkan Al-qur’an. tujuan utama drai pendidikan adalah untuk menyelamatkan manusia dari dirin sendiri. kemudian dikembangkan lebih lanjut menjadi metode penafsiran sistematis (the systematic interpretation method). Semula ia mengembangkan metode kritik sejarah. materialis serta hasil yang tidak memuaskan. Ia berhasil mengembangkan suatu metode yang dapat member alternative.an dan Al-hadits. fiqih. thobi’iyah. berhitung. Dunia bernilai lebih rendah. namun ada juga kelompok kecil yang berusaha mengembangkan kemamp[uan intelektual. kemajuan dan keteraturan dunia. Evaluasi pendidikan digunakan untuk mengetahui seberapa jauh tujuan pendidikan telah tercapai. dan akhirnya disempurnakan menjadi metode gerakan ganda (a doble movement). Tujuan pendidikan menurut Fazlur Rahman adalah untuk mengembangkan manusia sedemikian rupa sehingga . Al-Qur’an. yang memungkinkan manusia untuk memanfaatkan sumber-sumber alam untuk kebaikan umat manusia dan untuk menciptakan keadilan. lebih baik dan menjadi tujuan dari kehidupan. Tanggung jawab pendidik yang pertama adalah menanamkan pada pikiran-pikiran peserta didik dengan nilai moral. komentar dan superkomentar.

Karena itu perlu ada upaya mengintegrasikan keduanya. maka perlu dilakukan evaluasi terhadap performance peserta didik terutama dalam memanfaatkan sumber-sumber alam untuk kebaikan manusia dan dari segi keberhaasilan menciptakan keadilan.pengetahuan ynag diperolenhya akan menjadi pribadi yang kritis dan kreatif yang memungkinkannya pemanfaatan sumber-sumber alam untuk kebaikan.harus bermula dari pendidikan.problem pendidikan Islam yang paling mendasar dewasa ini adalah problem ideology.bahkan.menurut fazlur rahman pembaharuan islam dalam bentuk apapun yang berorientasi pada kemajuan.akibatnya adalah mereka tidak terdorong untuk belajar. Secara mendasar pembaharuan pendidikan Islam menurut Fazlur Rahman dapat dilakukan dengan menerima pendidikan. Menurut Rahman umat Islam adalah masyarakat tanpa bahasa karena lemah di bidang bahasa.tapi tidak dapat menghadapi tantangan kehidupan modern. kemudian berusaha memasukinya dengan konsep-konsep Islam. Menurut Fazlur Rahman. Pembaharuan di bidang metode pendidikan Islam yaitu dari metode mengulang-ulang dan menghafal pelajaran ke metode memahami dan menganalisis. untuk manusia dan untuk menciptakan keadilan dan kemajuan dunia.menurut Mastuhu.IAIN merupakan lembaga pendidikan tinggi Islam yang strategis untuk mengembangkan tradisi ilmiah umat islam yang peduli terhadap persoalanpersoalan besar bangsa. 4. Menyadari betapa pentingnya bahasa dalam pendidikan dan sebgai alat untuk mengeluarkan pendapat-pendapat yang orisinil. Berusaha mengikis dualism system pendidikan tradisional (agama).hal itu hampir sama dengan yang dikemukakan oleh matuhu. B.bahkan mereka tidak sadar kalau berada di bawah perintah moral kewajiban islam untuk menuntut ilmu pengetahuan.Relevansi pemikiran pendidikan Fazlur rahman dengan pendidikan islam sekarang Pendidikan tinggi Islam menurut Fazlur Rahman sangat strategis untuk megurangi benang kusut krisis pemikiran dalam islam yang berdampak pada stagnasi dan kemunduran peradaban islam. Untuk mengetahui seberapa jauh tujuan pendidikan itu telah tercapai. pembaharuan dilakukan dengan cara: 1. 2. kemajuan serta keteraturan dunia. Menurut Fazlur rahman .Sesuatu yang . Membangkitkan ideologi umat Islam tentang pentingnya belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan.yang darinya dapat diharapkan berbagai alternative atas problem-problem yang dihadapi umat manusia.Problem yang sangat pelik adalah timbulnya dualism dalam system pendidikan ini dikarenakan karena adanya dikotomi ilmuhal ini dapat diperhatikan secara seksama pendidikan islam yang berbentuk lembaga mulai dari tingkat MI sampai Perguruan tinggi hanya bias ncetak para generasi yang tahu nilai nilai agama islam . Kedua system ini sama-sama tidak beresnya. dan pada sisi lain ada pendidikan modern (sekuler). 3.umat islam tidak dapat secara efektif pentingnya pengetahuan dengan orientasi ideologinya.

langkah yang harus ditempuh dalam pendidikan yakni selaku pihak yang ingin mendirikan lembaga pendidikan islam haruslah dapat melihat realitas.oleh sebab itu fazlur rahman memberikan beberapa alternative yang sangat bagus baik melalui karya –karyanya maupun teorinya yakni double movement. Hal ini . Pendidikan islam menurut rahman bukan sekedar perlengkapan dan perlalatan fisik atau kuasi fisik pengajaran seperti buku-buku yang di ajarkan ataupun stuktur eksternal pendidikan.Serta fungsi rahmatan lil alamin dapat meluas pendidikan islam haruslah melakukan teori gerak ganda sebelum menentukan target atau tujuan dari pendirian lembaga pendidikan tersebut.dan tindakan amoral lainnya merkipun sudah berpendidikan.Kemudian pelaku lembaga pendidikan harus menarik problem tersebut kedalam daerah sumber .Dalam wilayah ini pelaku pendidikan melakukan proses perenungan yang mendalam agar lembaga pendidikan dapat memadukan hal tersebut .dan hasilnya dari proses tersebut baru dibuat dasar dalam pendirian dan pengembangan pendidikan islam.tantangan kedepan.berkebalikan juga terjadi pendidikan umum dari tingkat SD sampai perguruan tinggi umum hanya bias mencetak orang yang sanggup bersaing didunia modern tapi gersang dengan nilai nilai agama islam. Walaupun gagasan rahman disini hanya bersifat teoritis dan belum selesai tapi para ilmuwan berikutnya berhasil mengembangkan konsep Rahman tersebut dengan adanya berbagai pendekatan keilmuan pendidikan islam mulai dari islamisasi ilmusampai intergarasi dan interkoneksi.kalau pendidikan islam diteruskan seperti ini dapat diprediksi beberapa tahun kemudian pendidikan islam akan menjadi pendidikan yang ketinggalan dan tidak diminti oleh masyarakat (stakeholder) Menurut rahman untuk memenuhi target yang telah didambakan oleh masyarakat.Gerak ganda atau Doble movement yang dimaksud rahman yakni ada dua tempat yang harus di perhatikan yakni sumber yang dalam kategori rahman adalah al-quran dan assunnah sementara tempat yang kedua yakni realitas social atau social cultural masyarakat setempat.dalam bidang menajemen pendidikan islam juga harus bersifat terbuka terhadap menajemen yang baru dan bersifat efektif . bahkan pembaharuan islam dalam bentuk apapun yang berorientasi pada kemajuan.kebutuhan masyarakat. melainkan sebagai intelektualisme islam karena baginya hal inilah yang dimaksud dengan esensi pendidikan tingi islam.yang darinya dapat diharapkan berbagai alternative atas problem-problem yang dihadapi umat manusia. PENUTUP KESIMPULAN Berdasarkan pembahasan Fazlur Rahman di atas maka dapat disimpulkan bahwa Pendidikan tinggi Islam sangat strategis untuk megurangi benang kusut krisis pemikiran dalam islam yang berdampak pada stagnasi dan kemunduran peradaban islam.padahal kita tahu sendiri bahwa di sumber agama islam di Kitab sucinya Alqur’an selalu tidak memisahkan antara ilmu agama dan umum.bunuh diri.Ini dalam bidang keilmuan .akibatnya tidak pelik orang yang mengalami stess .

. America. Fazlur . Epistemology dan System Pendidikan.hal 35-37.cit. Epistemology dan System Pendidikan. hal.(Yogyakarta: Kota Kembang. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar:2006). 2006). 167. Pendidikan Islam yang menghidupkan. America.merupakan pertumbuhan suatu pemikiran islam yang asli dan memadai. Yogyakarta: Pustaka Pelajar:2006 Rahman. Islam and Modernity: Transformation of an Intellctual Tradition. dan yang harus memberikan kriteria untuk menilai keberhasilan atau kegagalan sebuah system pendidikan islam. op. 1982 Sutrisno. 1982. DAFTAR PUSTAKA Sutrisno. Pendidikan Islam yang menghidupkan.(Yogyakarta: Kota Kembang. Fazlur Rahman Kajian Terhadap Metode. hal. the University of Chichago Press. 18. Islam and Modernity: Transformation of an Intellctual Tradition. hal. Fazlur Rahman Kajian Terhadap Metode. the University of Chichago Press. Sutrisno. Sutrisno. 106-107. +++++ Sutrisno.. 2006) Fazlur Rahman.

dan Muhammad Iqbal. Latar belakang keluarga Rahman yang terbuka membuat ia tidak kesulitan untuk memperoleh pengetahuan baru dan pendidikan modern. Setelah lulus dari pendidikan menengahnya. Meskipun demikian dialektika pemikiran Rahman tidak hanya dalam tradisi sunni tetapi juga syi’i. “islamic law is a repertoire of precedents. Karena itulah Aziz Al-Azmeh berkomentar. Kanada. Lebih-lebih pada periode ini Rahman menulis di sebuah jurnal bernama Fikr al-Nadzar yang menggugat . Bagaimana relevansi pemikiran Fazlur Rahman dalam konteks zaman ini? III.”[1] Bukti kompetensi dialektika wahyu dengan realitas adalah warisan ushul fiqh dan fiqh yang kaya dalam sejarah Islam.PEMBAGARUAN PEMIKIRAN HUKUM ISLAM ( BELAJAR DARI FAZLUR RAHMAN ) PEMBARUAN PEMIKIRAN HUKUM ISLAM: BELAJAR DARI FAZLUR RAHMAN I. Rahman melanjutkan pendidikan dengan konsentrasi bahasa Arab di Lahore dan memperoleh gelar Bachelor of Art pada 1940 dan menyelesaikan studi masternya dua tahun berikutnya. Kecenderungan ini telah dimiliki oleh para pemikir kontemporer setelah berhasil mematahkan mitos tentang ketertutupan pintu ijtihad (‘insidad bab al-ijtihad) dan mengeliminir taklid. Van Den Berg dan HAR. Syekh Waliyullah. Kembalinya Rahman ini karena permintaan Ayyub Khan yang kemudian pada 1962 menyerahinya tanggungjawab sebagai pemimpin Islamic Research Institute dan The Advisory Council of Islamic Ideology. sebuah daerah di Anak Benua Indo Pakistan. Bagaimana pembaruan pemikiran hukum Islam Fazlur Rahman? 2. Selain Rahman. cases and general principles. Dari sang ayah.[3] II. RUMUSAN MASALAH 1. Kedudukan Rahman ini mendapatkan banyak kritik dari para ulama tradisional Pakistan terlebih latar belakang pendidikannya dari Barat. Rahman dianggap berhasil melaksanakan rekonstruksi dan dekonstruksi dalam metodologi studi hukum Islam. along with a body of well developer hermeneutical and paralogical techniques. Pada tahun 1946 Fazlur Rahman berangkat ke Inggris untuk belajar di Universitas Oxford yang kemudian mendapatkan bimbingan dari Prof. orientasi hukum Islam perlu selalu diarahkan pada kemajuan (the idea of progress). S. Meskipun sebagian umat merasa cemas dengan kehadiran modernitas. Pakistan. Selama belajar di Oxford.[2] Salah satu dari pemikir itu adalah Fazlur Rahman yang disebut-sebut sebagai tokoh neomodernis yang penting. hukum Islam telah membuktikan diri sebagai bagian dari kehidupan muslim yang inovatif. Rahman mengajar di Universitas Durham yang semakin memperlihatkan kepadanya distingsi pendidikan modern di Barat dan Islam tradisional di negerinya. Biografi dan Karya-karya Fazlur Rahman Pada 21 September 1919 Fazlur Rahman dilahirkan dari keluarga muslim religius di Hazara. PEMBAHASAN 1. Pendidikan doktor Rahman ini selesai pada 1949 dengan disertasi berjudul Avicenna’s Psychology yang kemudian diterbitkan oleh universitas tertua di Eropa itu. Pada awal 1960-an Rahman kembali ke negerinya setelah 3 tahun mengajar di Universitas McGill. Rahman kecil hidup dalam tradisi Hanafi yang kuat dan praktis ritualitas keagamaan ia laksanakan dengan penuh ketaatan. hukum Islam selalu dapat didesain untuk mengikuti perubahan-perubahan yang terjadi. Namun sebagaimana zaman yang tidak tetap dan dinamis. Gibb. Rahman menerima pendidikan tradisional di samping pendidikan modern di Lahore yang mulai dijalani sejak 1933. dari wilayah yang sekarang terletak di barat laut Pakistan ini telah melahirkan tokoh-tokoh sekaliber Sayyid Ahmad Khan. Maulana Syahab al-Dien. PENDAHULUAN Secara natural dan historis.

dan tercakup di dalamnya hukum Islam sebagaimana karya-karya periode ini dalam uraian biografi di atas. bukan hanya karena kebudayaan dan pemikirannya. Rahman memulai keberangkatan pemikirannya pada apa yang disebut para sarjana sebagai “metode kritik sejarah” (critical historical method) dan kemudian lebih detail diurai dalam konsep double movement. Metode kritik sejarah. Avicenna’s de Anima.[4] Pakistan. Nashr Hamd Abu Zayd menyebut ilmu asbab an-nuzul sebagai sebuah ilmu yang digunakan untuk memahami hubungan teks (nash. Tulisan di jurnal ini kemudian menjadi dua bab pertama dalam buku Islam.[6] Tawaran Rahman mengenai kontekstualisasi ini secara terus menerus disuarakan melalui karyakaryanya. Ini berbeda dengan periode 1960-an ketika Rahman telah kembali ke Pakistan yang meskipun masih beraroma historis dalam kajiannya.[8] Namun meskipun demikian sejumlah ayat memang diturunkan tidak dalam kondisi merespon lingkungan yang . Sebuah buku yang terbit setelah ia wafat adalah Revival and Reform in Islam: A Study of Islamic Fundamentalism. Mengenai hal ini Rahman menguraikan dua problem utama umat Islam. tetapi untuk menentang Ayyub Khan. Pada periode ini beberapa karya yang lahir antara lain The Philoshophy of Mulla Sadra. karya-karya yang lain tetap penting untuk diketahui dan dianalisis. dan kedua. dan Health and Medicine in Islamic Tradition. Sebagaimana diketahui. Karena itulah diskusi mengenai pemikiran hukum Islam akan lebih banyak merujuk pada karya-karya Rahman periode kedua dan ketiga meskipun sebagai sebuah pemikiran seseorang secara keseluruhan.eksistensi wahyu dalam pandangan tradisional.[5] Pada pertengahan dekade 1980-an Rahman mulai menunjukkan penurunan kesehatan meskipun masih bersemangat dalam berkarya. Bahkan sentimen atas Barat cukup kuat. Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition. Dalam konteks inilah. al-Qur’an) dan realitas tersebut. Rahman kemudian pindah ke Chicago dan menghabiskan banyak waktu di sana untuk menuliskan karya-karyanya. setiap teks selalu berangkat dari sebab-sebab eksternal dan kemudian mengakumulasi keadaan itu dalam “uraian” teks. Von Grunebaum Center for Near Eastern Studies dari UCLA yang hingga saat ini dirinyalah sebagai satu-satunya muslim yang menerima award itu. Karya-karya masa awal Rahman dipenuhi dengan kajian-kajian historis murni. Rahman merasakan kekhawatiran atas kondisi umat Islam kontemporer yang terpuruk sebagai akibat kejumudan berpikir. Tetapi banyak pengamat menilai sesungguhnya kritik dan demonstrasi itu bukan ditujukan kepada Rahman. di masa Rahman hidup masih didominasi oleh kalangan tradisional yang kokoh dalam penafsiran tekstualis atas al-Qur’an. Sebagai guru besar di UCLA dan Chicago. pertama-tama menjadi landasan bagi konsepsi mengenai teks yang tidak terlepas dari konteksnya. Rahman menutup usianya pada 16 Juli 1988 saat berusia 69 tahun. Sebagaimana para intelektual progresif yang lain. pertama. Sementara itu pada periode terakhir Rahman di Chicago semakin memberikan ruang yang luas bagi pemikiran Islam. Setelah beberapa saat memperoleh perawatan medis di Chicago. Pemikiran Hukum Islam Fazlur Rahman Melalui sekilas biografi Rahman tertangkap pergeseran pemikiran dari satu masa ke masa lain yang dipengaruhi oleh gejolak kehidupannya. Los Angeles. Major Themes of The Qur’an. tetapi juga aspek politiknya. Rahman mendapat pengakuan secara internasional dengan salah satunya menerima penghargaan prestisius Giorgio Levi Della Vida dari Gustave E. namun secara khusus tertuju pada pemikiran Islam dan Islam normatif. pada akhir tahun 1969 Rahman berangkat ke Amerika menuju Universitas California. 1. Gelombang protes terhadap Rahman mencapai puncak ketika terjadi pemogokan massal pada September 1968 di beberapa daerah yang membuatnya berpikir ulang tentang masa depan pemikirannya di Pakistan. Pada 5 September 1968 akhirnya Rahman mengundurkan diri dari Islamic Research Institute dan setahun berikutnya. dan Prophecy in Islam merupakan karya-karya historis secara umum. dan diangkat sebagai guru besar pemikiran Islam di universitas tersebut. Dalam periode ini dapat dilihat pada karya Islamic Methodology in History dan Islam. Meskipun demikian Rahman sebetulnya tidak pernah lepas dari teks (beyond the text) sehingga pengembangan tafsirnya dianggap merupakan rekonstruksi atas pola tafsir bi al-ma’tsur[7] yang akan terlihat dalam penggunaan beberapa contohnya nanti. Avicenna Psycology. umat Islam sendiri memendam kekhawatiran jika al-Qur’an disajikan dengan cara di atas akan menyimpang dari pemahaman-pemahaman tradisional. umat Islam kurang menghayati relevansi al-Qur’an untuk masa kini sehingga tidak mampu memberikan jawaban bagi masalah-masalah baru.

saintis.[14] Pilihan Rahman atas hermeneutika adalah karena ia lebih dekat dengan ilmu-ilmu kemanusiaan (Geisteswissenschaften) yang objeknya adalah ekspresi kehidupan (Lebensaeusserung). Selain itu juga menolak epistemologi model Immanuel Kant yang justru usianya lebih tua dibandingkan positivisme. The first step of the first movement. religion. a general study of the macrosituation in term society. sangat tampak sebenarnya Rahman menjadikan al-Qur’an sebagai sentral penelitian untuk merekonstruksi pemikiran Islam.[15] Kontekstualisasi al-Qur’an dengan menggunakan prinsip-prinsip hermeneutika digunakan Rahman untuk tidak hanya membaca “teks horisontal” (ruang dan waktu manusia) tetapi juga “teks vertikal” (memahami kehendak Tuhan). Untuk menemukan ideal law inilah maka Rahman menawarkan double movement itu untuk mendeteksi maksud wahyu dan menjalankan fungsi tersebut di masa ini. dan kemudian ia memilih hermeneutika sebagai kerangka utama dalam membangun ilmu-ilmu keislaman. penafsiran “hermeneutika” (seperti digunakan oleh Mu’tazilah) tidak sedahsyat penggunaan penafsiran tekstual (burhani) ataupun irfani. consists of understanding the meaning of the qur’an as a while as well as in term of the specific tenets that constitute responses to specific situation. Dengan cara ini akan ditemukan ideal law (hukum ideal) yang berbeda dari aturan-aturan hukum (legal law) karena berisi prinsip-prinsip etika atau prinsip-prinsip umum (ratio legis).[11] Friedrich Ast. tugas dari hermeneutika adalah bagaimana memahami teks maupun realitas sosial di masa lampau yang asing sama sekali menjadi milik orang yang hidup di zaman ini yang secara kultur jelas berbeda. (1) “historis”. atau umum. Karena alasan inilah Rahman lebih memilih post-positivistik yang memfokuskan diri pada fenomena sosial tanpa mengabaikan peran sentral subjek manusia. Rahman sendiri tidak mencukupkan diri pada tradisi berpikir positivistik karena dianggap melahirkan dehumanisasi meskipun telah berjasa membuat peradaban Barat berkembang dan maju. tetapi pada perkembangan berikutnya. yang karya-karyanya dirujuk oleh tokoh hermeneutika Schleirmacher.[12] Khazanah keislaman yang mengakomodir gaya seperti ini dikategorikan al-Jabiri ke dalam “sistem burhani” yang memang langka ditemukan di dalam sejarah Islam.will have to the made. and institution. Sebagai salah satu metode dari “memahami” (verstehen). Mengenai proses double movement. Rekonstruksi epistemologi Rahman berangkat dari penggunaan tradisi berpikir yang post-positivistik. Dengan cara inilah Rahman melaksanakan fungsi ijtihad pada al-Qur’an agar kontekstual dan fungsional untuk masa ini. Sehingga penting di sini untuk menegaskan berartinya pengetahuan akan sebuah realitas yang memproduksi teks guna menemukan makna dari sebuah teks. dibandingkan ilmu-ilmu kealaman yang cenderung mencari penjelasan atas hubungan kausalitas (erklaren). pemahaman atas karya yang dikaitkan dengan pengetahuan utuh dari pengarang dan pandangan utuhnya (Geist) pada masa itu. customs. indeed. Of course. (2) “gramatis”. penulis akan mengutipnya di bawah ini[16]: “first. membagi tugas ini ke dalam tiga bagian atau pemahaman. of life as a whole in Arabia on the eve of Islam and particularly in and around Mecca – not excluding the Perso-Byzantine wars.” . yang dapat berupa artistik. one must understand the import or meaning of a given statement by studying the historical situation or problem to which it was the answer. dan (3) “geistige”. baik dari aliran –mengutip Syahrastani– “filosof generasi awal” maupun “filosof generasi belakangan”. sebuah pemahaman yang terkait dengan isi sebuah karya. before coming to the study of specific text in the light of specific situation. then.[9] Dari sepintas eksplorasi di atas.eksternal yang jumlahnya sangat sedikit.[13] Meskipun Islam sangat terinspirasi dari perkembangan filsafat terutama Yunani.[10] Hermenetika sendiri menjadi semacam klarifikasi karya “melalui pengembangan makna internalnya dan hubungan bagian-bagian dalamnya dengan masing-masing yang lain dan dengan spirit masa secara lebih luas”. sebuah pemahaman yang dikaitkan dengan aspek kebahasaan. The second step is to generalize those specific answers and enunciate them as statements of general moral-social objectives that can be “distilled” from specific text in light of sociohitorical back ground and the often-stated rationes legis.

pertama.[18] Sebagaimana telah sedikit disinggung. gerakan pertama membutuhkan keahlian para sejarawan untuk menggali keadaan spesifik turunnya ayat maupun keadaan secara keseluruhan Mekah dan Arabia di masa itu. Jika di dalam sebuah ayat terkandung yang legal spesific dan moral idea. metodologi Rahman sangat membutuhkan kekayaan khasanah Islam klasik seperti ilmu asbab an-nuzul meskipun dengan perluasan paradigma.[20] Untuk menjaga “jalan moral” inilah dianggap penting untuk merujuk pada nilai-nilai yang etis atas apa yang diwahyukan oleh Tuhan. Tetapi bagi Rahman ayat ini perlu dipahami dalam nuansa etisnya secara komprehensif dengan melihat kondisi sosio kultural Arab dan sebab-sebab ayat ini turun. Tetapi di era ini mencuri hanyalah kejahatan ekonomi sehingga bentuk hukumannya harus berubah. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil. potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah.[21] ä-Í‘$¡¡9$#ur èps%Í‘$¡¡9$#ur (#þqãèsÜø%$$sù $yJßgtƒÏ‰÷ƒr& Lä!#t“y_ $yJÎ/ $t7|¡x. sementara gerakan kedua dibutuhkan keahlian social scientist untuk memformulasikan “the social-moral objective” untuk kondisi saat ini. Pemahaman (kebolehan 4 istri) ini tidak lagi sesuai dengan kedudukan antara laki-laki dan perempuan yang sama. Selain itu.[22] . Karena itulah hukuman potong tangan merupakan budaya Arab. Dua contoh yang di antaranya diajukan oleh Rahman adalah ayat tentang poligami dan hukum potong tangan sebagaimana penjelasan sebagai berikut: ÷bÎ)ur ÷LäêøÿÅz žwr& (#qäÜÅ¡ø)è? ’Îû 4‘uK»tGu‹ø9$# (#qßsÅ3R$$sù $tB z>$sÛ Nä3s9 z`ÏiB Ïä!$|¡ÏiY9$# 4Óo_÷WtB y]»n=èOur yì»t/â‘ur ( ÷bÎ*sù óOçFøÿÅz žwr& (#qä9ω÷ès? ¸oy‰Ïnºuqsù ÷rr& $tB ôMs3n=tB öNä3ãY»yJ÷ƒr& 4 y7Ï9ºsŒ #’oT÷Šr& žwr& (#qä9qãès? ÇÌÈ Artinya: “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya). tetapi perlu memahami “konteks makro” sebuah ayat.Pergerakan pertama double movement dimaksudkan untuk menarik prinsip-prinsip umum dan nilai-nilai.[19] Pemahaman Rahman di atas menjadi bagian penting dalam keinginannya untuk. Wx»s3tR z`ÏiB «!$# 3 ª! $#ur ͕tã ÒOŠÅ3ym ÇÌÑÈ Artinya: “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri. Idea moral dari ayat ini adalah memotong kemampuan pencuri agar tidak mencuri lagi. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. tetap menjaga kreativitas itu pada jalan moral yang benar. maka seharusnya idea moral itulah yang dijadikan sandaran untuk “menghukumi” perbuatan hukum saat ini. An-Nisa’: 3) Ayat di atas memang menunjukkan kebolehan pernikahan hingga 4 orang wanita dan telah dipraktikkan oleh masyarakat Arab sebelum ayat ini turun. bukan hukum Islam. Moral idea inilah yang merupakan pemikiran kembali (rethinking) atas konsep asy-Syatibi yang dengan brilian mengeksplorasi tentang “the moral religious bases of the law –‘the objective of the law (maqashid asysyar’) or ‘the intentions of the Shari’a obligations’ (asrar al-taklif)”. maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua. memaksimalkan kreativitas manusia. dan kedua. atau budak-budak yang kamu miliki. Al-Maidah: 38).” (QS. Yang paling penting adalah bagaimana cara mengamputasi segala kemungkinan yang membuat seseorang mengulangi perbuatannya itu dan menghargai kepemilikan pribadi seseorang.[17] Dengan demikian. maka (kawinilah) seorang saja. Karena itulah menurut Rahman pesan terdalam yang hendak diutarakan oleh alQur’an bahwa pernikahan itu berasas monogami. adil tidak mungkin dipenuhi oleh laki-laki. Bahwa tidak cukup memahami “maksud Syari’” hanya dengan melihat “konteks mikro” ayat al-Qur’an. tiga atau empat. Bahkan sebetulnya ini bukanlah hal baru karena sebelumnya telah dipikirkan oleh Imam asy-Syatibi dalam al-Muwafaqat fi ushul al-shari’ah. Dalam sejarah Arab. sementara gerakan kedua untuk memformulasikan dan merealisasikan “general view to the spesific view”. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. Hal lain dari Rahman yang juga dipengaruhi oleh asy-Syatibi adalah pandangannya mengenai apa yang populer disebut “idea moral”. mencuri menurut kebudayaan adalah kejahatan ekonomi dan kejahatan melawan nilai-nilai dan harga diri manusia.

sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan. kamu buat minimuman yang memabukkan dan rezki yang baik.Lalu bagaimana cara mencapai “idea moral” itu? Dalam hal ini Rahman mencontohkannya dengan larangan meminum khamr yang diekspos oleh wahyu secara bertahap. al-Baqarah ayat 219: * y7tRqè=t«ó¡o„ ÇÆtã Ì ヘ ôJy‚ø9$# ÎŽÅ£÷マ yJø9$#ur ( ö@è% !$yJÎgŠÏù ÖNøOÎ) ׎ ヘ Î7Ÿ2 ßìÏÿ»oYtBur Ĩ$¨Z=Ï9 !$yJßgßJøOÎ)ur çŽt9ò2r& `ÏB $yJÎgÏèøÿ¯R 3 š チ tRqè=t«ó¡o„ur #sŒ$tB tbqà)ÏÿZムÈ@è% uqøÿyèø9$# 3 š チ Ï9ºx‹x. berjudi.” Setelah ayat di atas. maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci). Akhirnya untuk mengenang sebuah peristiwa para sahabat Nabi saw. mengadakan “pesta minum” yang kemudian terjadi percekcokan dan perselisihan hebat di antara mereka karena mabuk. Sesungguhnya Allah Maha Pema'af lagi Maha Pengampun” (QS. Lalu turunlah ayat terakhir mengenai khamr itu[24]: $pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä $yJ¯RÎ) ã ヘ ôJsƒø:$# çŽÅ£øŠyJø9$#ur Ü>$|ÁRF{$#ur ãN»s9ø—F{$#ur Ó§ô_Í‘ ô`ÏiB È@yJtã Ç`»sÜø‹¤±9$# çnqç7Ï^tGô_$$sù öNä3ª=yès9 tbqßsÎ=øÿè? ÇÒÉÈ $yJ¯RÎ) ߉ƒÌ ヘ ムß`»sÜø‹¤±9$# br& yìÏ%qムãNä3uZ÷マ t/ nourºy‰yèø9$# uä!$ŸÒøót7ø9$#ur ’Îû Ì ヘ÷Ksƒø:$# ÎŽÅ£÷マ yJø9$#ur öNä.ÏŒ «!$# Ç`tãur Ío4qn=¢Á9$# ( ö@ygsù LäêRr& tbqåktJZ•B ÇÒÊÈ Artinya: “Hai orang-orang yang beriman.£‰ÝÁtƒur `tã Ì ヘ ø.’ Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. al-Qur’an menganggap minuman yang memabukkan dari anggur itu sebagai “kebesaran Tuhan”. terdapat sebuah kejadian dimana salah satu sahabat Anshar meminum khamr dan mabuk sehingga ia salah dalam membaca al-Qur’an.’ Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir. Katakanlah: ‘Yang lebih dari keperluan. Pada awalnya. an-Nahl: 66). an-Nisa: 43). (berkorban untuk) berhala. mengundi nasib dengan panah. (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub. sapulah mukamu dan tanganmu. dan beberapa sahabat mendorong Nabi saw untuk melarang alkohol. hingga kamu mandi. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan . janganlah kamu shalat.[23] Dari QS. sesungguhnya (meminum) khamar. Sebagai konsekuensinya maka diturunkanlah QS. ßûÎiüt7ムª!$# ãNä3s9 ÏM»tƒFy$# öNà6¯=yès9 tbrã ヘ©3xÿtFs? ÇËÊÒÈ Artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Sesunggguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan” (QS. Keadaan kemudian berubah saat muslim mulai berpindah ke Medinah. adalah termasuk perbuatan syaitan. kemudian kamu tidak mendapat air. terkecuali sekedar berlalu saja. Lalu turun kemudian ayat di bawah ini: $pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãYtB#uä Ÿw (#qç/t ヘ ø)s? no4qn=¢Á9$# óOçFRr&ur 3“t ヘ»s3ß™ 4Ó®Lym (#qßJn=÷ès? $tB tbqä9qà)s? Ÿwur $·7ãYã_ žwÎ) “Ì ヘ Î/$tã @@‹Î6y™ 4Ó®Lym (#qè=Å¡tFøós? 4 bÎ)ur LäêYä. sedang kamu dalam keadaan mabuk. Katakanlah: ‘Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan. an-Nahl ayat 66 hingga 69 akan dikutip di sini salah satunya.`ÏB Èû÷üt/ 7^ö ヘ sù 5QyŠur $·Yt7©9 $TÁÏ9%s{ $Zóͬ!$y™ tûüÎ/Ì ヘ»¤±=Ïj9 ÇÏÏÈ Artinya: “Dan dari buah korma dan anggur. #‚qàÿtã #·‘qàÿxî ÇÍÌÈ Artinya: “Hai orang-orang yang beriman. yaitu ayat 66 dimana Tuhan awalnya tidak mempermasalahkan a’nab (anggur): ¨bÎ)ur ö/ä3s9 ’Îû ÉO»yè÷RF{$# ZouŽö9Ïès9 ( /ä3‹É)ó¡ン S $®ÿÊeE ’Îû ¾ÏmÏRqäÜç/ . tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya. #ÓyÌó ミ£D ÷rr& 4’n?tã @ヘ xÿy™ ÷rr& uä!$y_ Ó‰tnr& Nä3YÏiB z`ÏiB ÅÝͬ!$tóø9$# ÷rr& ãLäêó¡yJ»s9 uä!$| ¡ÏiY9$# öNn=sù (#r߉ÅgrB [ä!$tB (#qßJ£Ju‹tFsù #Y‰‹Ïè|¹ $Y7ÍhŠsÛ (#qßs|¡øB$$sù öNä3Ïdqã_âqÎ/ öNä3ƒÏ ‰÷ƒr&ur 3 ¨bÎ) ©!$# tb%x.

[26] Mengenai kelompok liberalis ini Hallaq menguraikan di awal-awal penjelasan. Misalnya saja. Rahman tetap menggunakan “ayat-ayat al-Qur’an” yang lain dan sumber-sumber periwayatan dalam penafsiran hukumnya sehingga dapat dikategorikan sebagai pengembangan atas tafsir bi al-ma’tsur. baik literatur Islam maupun Barat-modern sehingga kritikkritiknya meliputi kedua-duanya.”[27] .kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu. al-Maidah: 90-91). tetapi Rahman di sisi lain juga seorang muslim yang cukup keras mengritik tokoh-tokoh orientalis yang dianggapnya tidak tepat dalam menjelaskan pemikiran Islam. Bukan saja karena tawaran metodologinya yang reformatif. tasawuf. Di Pakistan sendiri. pendidikan dan kajian-kajian modern keislaman. Hal ini berbeda dengan pemikiran-pemikiran yang ditawarkan oleh Muhammad Syahrur ataupun Mahmud Muhammad Taha yang dalam batas-batas tertentu “melewati” arus paradigma Islam klasik. Apalagi pemikiran Rahman cukup luas dan meliputi berbagai bidang keilmuan. “the main thrust of the liberalist approach consists of understanding revelation as both text and context. Selain itu tawaran metodologis Rahman merupakan perpaduan antara akar tradisional keilmuan muslim dengan keilmuan Barat (hermeneutika). sebagaimana eksplorasi sebelumnya. Bahwa asas pernikahan memang monogami dan pidana pencurian adalah “membuat jera”. tetapi ketika Ayub Khan –yang secara emosional dekat dengan Rahman– menjadi presiden kedua Pakistan. serta memberikan perlindungan terhadap wanita dan anak-anak. dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang. pernah memperkenalkan hukum keluarga Islam (the Muslim Family Laws) melalui sebuah ordonansi pada tanggal 2 Maret 1961. The connection between the revealed text and modern society does not turn upon a literalist hermeneutic. Demikianlah bahwa memang al-Qur’an menurunkan hukum-hukumnya itu sebagai “pentahapan” untuk menuju sesuatu yang ideal. maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)” (QS. sebuah waktu yang relatif dekat dengan kepulangan Rahman pada tahun 1960-an ke Pakistan dari McGill. Di sinilah universalitas hukum Islam itu sebenarnya akan ditemukan untuk merespon kenyataan-kenyataan baru dalam modernitas. Hallaq mengkategorikan dirinya dalam kelompok “religious liberalism” bersama Said al-Asymawi dan Muhammad Syahrur. Pemikiran Rahman didasari atas pembacaan literatur. telah ditemukan akarnya dari pemikiran as-Syatibi. bersama Muhammad Mustafa A’dzami. bukan “reformer paradigmatik”. Berdasarkan ordonansi ini di Pakistan dibentuk Dewan-dewan arbitrase yang menangani masalah-masalah seperti memberikan sanksi kepada seseorang yang poligami. Rahman merupakan salah satu tokoh yang cukup keras mengritik uraian-uraian konsep hadits yang diekspolorasi oleh Joseph Schact dan Ignaz Goldziher yang terkesan “mendiskreditkan” dan “meragukan” otentisitas hadits sebagai salah satu formula dalam hukum Islam. apakah terdapat pengaruh dari pemikiran Rahman atau tidak. sebagaimana yang sedikit disinggung di permulaan uraian. but rather upon an interpretation of the spirit and broad intention behind the spesific language of the texts. merekonsiliasi percekcokan rumah tangga. Apalagi pemikiran Rahman. Sehingga dengan “kritik sejarah” itu paradigma Islam sedang mencoba digeser dari wilayah yang teologis-metafisik ke dalam wilayah etis antropologis. tafsir. Dengan metodologi baru yang ditawarkan oleh Rahman ini ia agaknya sedang berusaha menjauhkan umat Islam dari fanatisme-fanatisme tekstual yang menjatuhkan siapapun ke dalam “bibiolatri” sebagai sebuah sikap yang “memberhalakan” teks tanpa melihat faktor-faktor eksternal yang membentuknya. Inilah yang merupakan prinsip-prinsip umum (the general principles) yang seharusnya direkomendasi dalam setiap formulasi hukum Islam. Tawaran Rahman yang terkesan “moderat” membuat banyak kalangan merasa ditemukan dengan revitalisasi yang tidak “ekstrim” sehingga dapat diterima oleh cukup banyak kalangan. selain menemukan “idea moral” sebagai tujuan utama pewahyuan. “Perpaduan” ini membuat wajah pemikiran Rahman “eklektik” sehingga Wael B. 1. Di dalam konteks modern pemikiran Rahman bagi penulis cukup relevan meskipun kontekstualisasi pemikiran Islam telah banyak digelorakan. kalam. Selain itu. hadits.[25] Pengaruh Rahman sendiri dalam dunia modern muslim cukup luas. Relevansi Pemikiran Fazlur Rahman Kategorisasi Rahman sebagai seorang neo modernis sebenarnya lebih memperlihatkan ciri pemikirannya sebagai seorang “reformer metodologis”.

terutama dari Bapak Dr. dari setiap ayat al-Qur’an. Apalagi sejatinya hermeneutika yang lahir dari peradaban Barat (Gereja) awalnya tidak dimaksudkan untuk “mendesakralisasi” Tuhan dan ayat-ayatnya dalam Bibel tetapi melakukan “reinterpretasi” atas Bibel sebagai upaya mendialektikan “suara Tuhan” dengan “suara manusia modern” yang sangat berbeda karakteristik dari respon-respon radikal-ekstrim seperti yang digelorakan oleh Karl Marx dan Nietzsche. Karena itu Hallaq mengritik pandangan-pandangan kelompok ini karena pada akhirnya akan jatuh pada subjektivitas dan relativitas. M. 11-12. tentu saja di samping ketidaksempurnaan pada aspek-aspek yang lain. [28] Dalam kehidupan kontemporer ini. hukum yang tercipta diharapkan mampu dikembangkan sesuai semangat zaman ini. maka tidak akan terjebak pada formalisme sehingga dalam kehidupan masyarakat modern yang plural seperti di Indonesia. Namun begitu terasa cukup banyak kekurangan terutama terkait dengan ketersediaan referensi yang tidak mampu dihadirkan secara komplit. Meskipun demikian. [1] Aziz Al-Azmeh. Selain dibutuhkan kajian yang cukup berat. 1993. London & New York: Verso. demokrasi. Meskipun begitu. tetapi juga etika. pembaruan pemikiran hukum Islam Fazlur Rahman didasarkan pemahamannya terhadap ayat-ayat al-Qur’an secara hermeneutis melalui “metode kritik sejarah” dan konsep “double movement”. Karena itulah saran dan kritik selalu terbuka bagi siapapun. Rahman melalui “metode kritik sejarah” dan “double movement” ibarat memberikan wadah sementara isi dan hasilnya menjadi tugas para pemikir berikutnya. Muhyar Fanani. KESIMPULAN Dari uraian pada makalah ini maka dapat disimpulkan dua hal utama. pertama. terutama yang terkait dengan hukum-hukumnya. . Hasan Turabi. Di sisi lain. demi sebuah karya yang memang layak diperiksa ulang. karena didasarkan pada nilai-nilai yang universal. Kelompok ini cukup kuat dalam memegang teks-teks hukum dan terkesan “deduktif” sehingga dialektika dengan modernitas kurang begitu mendapatkan tempat meskipun batu pertama tesis utilitarianis adalah maslaha. semangat keadilan. Rahman memang belum tuntas dalam memperbincangkan konsepnya mengenai “idea moral” misalnya. IV. PENUTUP Demikian makalah ini telah penulis susun dengan sebaik-baiknya. yang telah diketahui menjadi perdebatan sejak lama oleh para ulama Islam klasik. Tetapi visi Rahman mengenai “kontekstualisasi” atau “pembumian” patut disambut baik –dan terbukti pemikirannya telah menginspirasi dan diperkenalkan oleh banyak pemikir sesudahnya– karena melihat aspek-aspek teologis ayat al-Qur’an tidak hanya dari sisi aspek hukumnya saja.Ag selaku dosen pemikiran hukum Islam dan teman-teman pascasarjana IAIN Walisongo. tawaran Rahman cukup baik untuk diimplementasikan terutama tentang berpikir secara etis. hak asasi manusia. Kedua. Pemikiran Rahman. penggunaan hermeneutika oleh Rahman ternyata tidak selalu memberikan dampak buruk sebagaimana yang selama ini dikhawatirkan oleh sebagian umat Islam. Abdul Wahab Khallaf dan tokoh revolusioner dari Sudan. Rasyid Ridha. Penanaman “idea moral” akan menjadikan umat Islam lebih terbuka dan tidak formalis tanpa harus menanggalkan semangat ketuhanan dan keislaman.Kelompok “religious liberalism” ini sendiri berbeda dengan kelompok “religious utilitarianism” yang diisi oleh tokoh-tokoh seperti Muhammad Abduh. dan sebagainya. sebagai manusia memiliki keterbatasan waktu. perlu sebuah upaya “pembumian” sehingga dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari muslim. Karena wawasan etis alQur’an. Upaya ini dilakukan untuk menemukan prinsip-prinsip umum atas wahyu Tuhan yang dieksplisitkan dalam teks al-Qur’an sehingga dialektika dengan problem baru tidak terputus. Islams and Modernities. V. hlm. kesetaraan gender. pemikiran Rahman dapat dipandang relevan dengan zaman ini yang telah “mengglobal” dimana pluralitas merupakan kenyataan dimana-mana.

The Massage of Fazlur Rahman. Heidegger. hlm. hlm. Atho Mudzhar. Yahya Birt. 247-248. . Cit. [9] Nashr Hamd Abu Zayd. Islam and Modernity…Op. selain istilah lain revivalisme dan neo-revivalisme serta modernisme Islam. 1982. 2003. hlm. Sedangkan modernisme diwakili oleh Ahmad Khan (India). Was the Gate of Ijtihad Closed?. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Tekstualitas al-Qur’an: Kritik Terhadap Ulumul Qur’an. terj. Epistemologi Hukum Islam dalam Pandangan Hermeneutika Fazlur Rahman. 42 No. terj. 125-126. Dilthey. [15] Ilyas Supena. Karena itulah ketiga tokoh ini justru menginginkan adanya pembaruan Islam dari “dalam” yang berakar pada tradisi keislaman itu sendiri. Palmer. Baca Wael B. Neo modernisme. hlm. dalam International Journal of Middle East Studies of Cambridge University. 67. hlm. Takwin al-‘Aql al-‘Arabi. termasuk Rahman sendiri. Ibid. 1984). Islam. 2-3. dan Abduh (Mesir). 248-249. Imam Khoiri. [13] Baca Muhammad Abed al-Jabiri.com/focus/fr/531762/posts (diakses tanggal 21/05/2010). 2003. at-Tibyan fi Ulum al-Qur’an. II. 87. dalam Jurnal Asy-Syir’ah. 1979. 6. Baca juga Fazlur Rahman. makalah seminar internasional Tajdid Pemikiran Islam oleh Yayasan Dakwah Malaysia Indonesia dan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Hermeneutics Interpretation Theory in Schleirmacher. dan Ziauddin Sardar yang meragukan seluruh epistemologi Barat dapat digunakan untuk memajukan umat muslim. Chicago and London: University of Chicago Press. [4] Fazlur Rahman. [16] Fazlur Rahman. dalam http://www. tetapi mengevaluasi kembali dan mendialogkan rumusan-rumusan itu dan atau mengembangkannya dengan semangat zaman ini. [7] Baca lebih lanjut mengenai tafsir bi al-ma’tsur. [6] Fazlur Rahman.[2] Ijtihad baru tidak berarti sebagai upaya menafikan rumusan lama dalam pemikiran hukum Islam. Revivalisme direpresentasikan oleh Wahabiyah (Arab). Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition. [12] Richard E. “Formasi Nalar Arab: Kritik Tradisi Menuju Pembebasan dan Pluralisme Wacana Interreligius”. [10] Ilyas Supena. 33-34. vol. hlm.. Ibid. Major Themes of The Qur’an. Sanusiyah (Afrika Utara).. bi al-ra’yi. 1-2. Palmer. [5] Baca M. Anas Mahyuddin. Neo-revivalisme diwakili oleh al-Maududi dengan Jama’at e Islami di Pakistan. Beirut: Alam al-Kutub. Gerakan Islam Liberal di Indonesia. 21 Oktober 2009. 2001. Penolakan Rahman terhadap positivisme ini hampir mirip dengan penolakan yang dilakukan oleh Abduh. Ibid. [8] Nashr Hamd Abu Zayd. [11] Richard E. [14] Muhammad Abed al-Jabiri. No. 16. Bandung: Penerbit Pustaka. Op. “Tema Pokok al-Qur’an”. Yogyakarta: LKIS. terj. 2009. Ali Syari’ati. Hallaq. Musnur Hery dan Damanhuri Muhammed. hlm. xi. Uraian ini dikutip dari Greg Barton oleh M.freerepublic. “Hermeneutika: Teori Baru Mengenai Interpretasi”. 1 (Mar. hlm. 1983. London and Chicago: Chicago University Press. dan bi al-isyari dalam Ali Asy-Shabuni. vol. memiliki karakteristik sintesis progresif dari rasionalitas modernis dengan ijtihad dan tradisi klasik.. hlm. Yogyakarta: Ircisod. al-Afghani (Timteng). hlm. [3] Istilah neo modernisme sendiri sebenarnya diutarakan oleh Rahman saat membedakan gerakan pembaruan Islam selama dua abad terakhir. and Gadamer. Cit. dan Fulaniyah (Afrika Barat). 1985.

Selain itu Rahman juga membahas Ibn Taimiyyah yang menguraikan persoalan sentral dalam filsafat hukum Islam adalah bagaimana kewajiban moral itu berkaitan dengan Divine Omnipotence dan Will serta bagaimana kebutuhan saat ini mampu dipenuhi oleh (warisan) masa lalu. 4: 126. 231-253. Ayat-ayat ini dapat diperbandingkan dengan 4:2. Ibid. Fazlur Rahman. Islam. A History of Islamic Legal Theories…. Islam and Modernity….wikipedia. 1997. Hallaq. dan 4: 127. Ibid. [18] Baca. hlm.. hlm. Hallaq. 242. hlm.wordpress. Hallaq. . Cit. hlm. A History of Islamic Legal Theories: An Introduction to Sunni Usul al-Fiqh. A History of Islamic Legal Theories…. [24] Wael B.com/2008/12/01/hermeneutika-al-qur%E2%80%99an-fazlur-rahman/ (diakses tanggal 21 Mei 2005). Cambridge: Cambridge University Press.. hlm. 97. Hallaq. Op. Islam and Modernity…. Karachi: Central Institute of Islamic Research. Islamic Methodology in History. 231. Ibid. 115. [22] Ibid. [26] Baca Wael B.. Op. [25] http://en. hlm. 1965.org/wiki/Ayub_Khan (diakses pada 21 Mei 2010).Cit. A History of Islamic Legal Theories…. [23] Wael B. [27] Wael B.[17] Fazlur Rahman. [21] http://jeryronggo. [20] Fazlur Rahman. Ibid. [19] Fazlur Rahman. 7.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful