BIOGRAFI DAN PEMIKIRAN FAZLUR RAHMAN Fazlur Rahman dilahirkan pada tanggal 21 September 1919 di Hazara, suatu daerah

di Anak Benua Indo-Pakistan yang sekarang terletak di barat laut Pakistan. Wilayah Anak Benua Indo-Pakistan sudah tidak diragukan lagi telah melahirkan banyak pemikir Islam yang cukup berpengaruh dalam perkembangan pemikiran Islam, seperti Syah Wali Allah, Sir Sayyid Ahmad Khan, hingga Sir Muhammad Iqbal. Nama keluarga Fazlur Rahman adalah Malak, namun nama keluarga Malak ini tidak pernah digunakan dalam daftar referensi baik di Barat ataupun di Timur. Fazlur Rahman dilahirkan dalam suatu keluarga Muslim yang sangat religius. Kerelegiusan ini dinyatakan oleh Fazlur Rahman sendiri yang mengatakan bahwa ia mempraktekan ibadah-ibadah keisalaman seperti shalat, puasa, dan lainnya, tanpa meninggalkannya sekalipun (1992: 59). Dengan latar belakang kehidupan keagamaan yang demikian, maka menjadi wajar ketika berumur sepuluh tahun ia sudah dapat menghafal Alquran. Adapun mazhab yang dianut oleh keluarganya ialah mazhab Hanafi. Walaupun hidup ditengah-tengah keluarga mazhab Sunni, Fazlur Rahman mampu melepaskan diri dari sekat-sekat yang membatasi perkembangan intelektualitasnya dan keyakinan-keyakinannya. Dengan demikian, Fazlur Rahman dapat mengekspresikan gagasan-gagasannya secara terbuka dan bebas. Seperti pendapat mengenai wajibnya shalat tiga waktu yang dijalani oleh penganut mazhab Syi’ah, Fazlur Rahman beranggapan bahwa praktek tersebut dibenarkan secara historis karena Muhammad saw. pernah melakukannya tanpa sesuatu alasan (Rahman, 2003: 41). Orang tua Fazlur Rahman sangat mempengaruhi pembentukan watak dan keyakinan awal keagamaannya. Melalui ibunya, Fazlur Rahman memperoleh pelajaran berupa nilai-nilai kebenaran, kasih saying, kesetiaan, dan cinta. Ayah Fazlur Rahman merupakan penganut mazhab Hanafi yang sangat kuat, namun beliau tidak menutup diri dari pendidikan modern. Tidak seperti penganut mazhab Hanafi fanatik lainnya ketika itu, Ayahnya berkeyakinan bahwa Islam harus memandang modernitas sebagai tantangan-tantangan dan kesempatan-kesempatan. Pandangan ayahnya inilah yang kemudian mempengaruhi pemikiran dan keyakinan Fazlur Rahman (Rahman, 1992: 59). Selain itu, melalui tempaan ayahnya, Fazlur Rahman pada kemudian hari menjadi seorang yang bersosok cukup tekun dalam mendapatkan pengetahuan dari pelbagai sumber, dan melalui ibunyalah kemudian ia sangat tegar dan tabah dalam mengembangkan keyakinan dan pembaruan Islam (A’la, 2003: 34). Pada tahun 1933, Fazlur Rahman melanjutkan pendidikannya di sebuah sekolah modern di Lahore. Selain mengenyam pendidikan formal, Fazlur Rahman pun mendapatkan pendidikan atau pengajaran tradisinonal dalam kajian-kajian keislaman dari ayahnya, Maulana Syahab al Din. Materi pengajaran yang diberikan ayahnya ini merupakan materi yang ia dapat ketika menempuh pendidikan di Darul Ulum Deoband, di wilayah utara India. Ketika berumur empat belas tahun, Fazlur Rahman sudah mulai mempelajari filsafat, bahasa Arab, teologi atau kalam, hadis dan tafsir (A’la, 2003: 34). Setelah menyelesaikan pendidikan menengahnya, Fazlur Rahman kemudian melanjutkan pendidikannya dengan mengambil bahasa Arab sebagai kosentrasi studinya dan pada tahun 1940 ia berhasil mendapatkan gelar Bachelor of Art. Dua tahun kemudian, tokoh utama gerakan neomodernis Islam ini berhasil menyelesaikan studinya di universitas yang sama dan mendapatkan gelar Master dalam bahasa Arab. Menurut Amal (1996: 80), ketika telah menyelesaikan studi Masternya dan tengah belajar untuk menempuh program Doktoral di Lahore, Fazlur Rahman pernah diajak oleh Abul A’la Mauwdudi, yang kelak menjadi “musuh” intelektualitasnya, untuk bergabung di Jama’at al Islami dengan syarat meninggalkan pendidikannya. Pada tahun 1946, Fazlur Rahman berangkat ke Inggris untuk melanjutkan studinya di Oxford University. Keputusannya untuk melanjutkan studinya di Inggris dikarenakan oleh mutu pendidikan di India ketika itu sangat rendah. Dibawah bimbingan Profesor S. Van den Berg dan H A R Gibb, Fazlur Rahman berhasil menyelesaikan studinya tersebut dan memperoleh gelar Ph. D pada tahun 1949 dengan disertasi tentang Ibnu Sina. Disertasi Fazlur Rahman ini kemudian diterbitkan oleh Oxford University Press dengan judul Avicenna’s Psychology.

Selama menempuh pendidikan di Barat, Fazlur Rahman menyempatkan diri untuk belajar pelbagai bahasa asing. Bahasa-bahasa yang berhasil dikuasai olehnya diantaranya ialah Latin, Yunani, Inggris, Jerman, Turki, Arab dan Urdu (Sutrisno, 2006: 62). Penguasaan pelbagai bahasa ini membantu Fazlur Rahman dalam memperdalam dan memperluas cakrawala keilmuannya (khususnya studi keislaman) melalui penelusuran pelbagai literatur. Setelah menyelesaikan studinya di Oxford University, Fazlur Rahman tidak langsung ke negeri asalnya Pakistan (ketika itu sudah melepaskan diri dari India), ia memutuskan untuk tinggal beberapa saat disana. Ketika tinggal di tinggal di Inggris, Fazlur Rahman sempat mengajar di Durham University. Kemudian pindah mengajar ke Institute of Islamic Studies, McGill University, Kanada, dan menjabat sebagai Associate Professor of Philosophy sampai awal tahun 1960. Menurut pengakuan Fazlur Rahman, ketika menempuh studi pascasarjana di Oxford University dan mengajar di Durham University, konflik antara pendidikan modern yang diperolehnya di Barat dengan pendidikan Islam tradisional yang didapatkan ketika di negeri asalnya mulai menyeruak. Konflik ini kemudian membawanya pada skeptisisme yang cukup dalam, yang diakibatkan studinya dalam bidang filsafat (Rahman, 1992: 60). Setelah tiga tahun mengajar di McGill University, akhirnya pada awal tahun 1960 Fazlur Rahman kembali ke Pakistan setelah sebelumnya diminta bantunnya oleh Ayyub Khan untuk membangun negeri asalnya, Pakistan. Menurut Moosa (2000: 2), permintaan Ayyub Khan kepada Fazlur Rahman ialah bertujuan untuk membawa Pakistan pada khittah berupa negara yang bervisi Islam Selanjutnya pada tahun 1962, Fazlur Rahman diminta oleh Ayyub Khan untuk memimpin Lembaga Riset Islam (Islamic Research Institute) dan menjadi anggota Dewan Penasihat Ideologi Islam (The Advisory Council of Islamic Ideology). Motivasi Fazlur Rahman untuk menerima tawaran dari Ayyub Khan dapat dilacak pada keinginannya untuk membangkitkan kembali visi Alquran yang dinilainya telah terkubur dalam puing-puing sejarah (Rahman, 1992: 63). Kursi panas yang diduduki oleh Fazlur Rahman akhirnya menuai pelbagai reaksi. Para ulama tradisional menolak jika Fazlur Rahman mendudukinya, ini disebabkan oleh latar belakang pendidikannya yang ditempuh di Barat. Penentangan atas Fazlur Rahman akhirnya mencapai klimaksnya ketika jurnal Fikr-o-Nazar menerbitkan tulisannya yang kemudian menjadi dua bab pertama bukunya yang berjudul Islam. Pada tulisan tersebut, Fazlur Rahman mengemukakan pikiran kontroversialnya mengenai hakikat wahyu dan hubungannya dengan Muhammad saw. Menurut Fazlur Rahman, Alquran sepenuhnya adalah kalam atau perkataan Allah swt, namun dalam arti biasa, Alquran juga merupakan perkataan Muhammad saw. (Rahman, 2003: 33). Akibat pernyataan-pernyataannya tersebut, Fazlur Rahman dinyatakan sebagai munkir-i-Quran (orang yang tidak percaya Alquran). Menurut Amal (1994: 14-15), kontroversi dalam media masa Pakistan mengenai pemikiran Fazlur Rahman tersebut berlalu hingga kurang lebih satu tahun, yang pada akhirnya kontroversi ini membawa pada gelombang demonstrasi massa dan mogok total di beberapa daerah Pakistan pada September 1968. Menurut hampir seluruh pengkaji pemikiran Fazlur Rahman berpendapat bahwa penolakan atasnya bukanlah ditujukan kepada Fazlur Rahman tetapi untuk menentang Ayyub Khan. Hingga akhirya pada 5 September 1968 permintaan Fazlur Rahman untuk mengundurkan diri dari pimpinan Lembaga Riset Islam dikabulkan oleh Ayyub Khan. Pada akhir tahun 1969 Fazlur Rahaman meninggalkan Pakistan untuk memenuhi tawaran Universitas California, Los Angeles, dan langsung diangkat menjadi Guru Besar Pemikiran Islam di universitas yang sama. Mata kuliah yang ia ajarkan meliputi pemahaman Alquran, filsafat Islam, tasawuf, hukum Islam, pemikiran politik Islam, modernism Islam, kajian tentang al Ghazali, Shah Wali Allah, Muhammad Iqbal, dan lain-lain. Salah satu alasan yang menjadikan Rahman memutuskan untuk mengajar di Barat disebabkan oleh keyakinan bahwa gagasangagasan yang ditawarkannya tidak akan menemukan lahan subur di Pakistan. Selain itu, Rahman menginginkan adanya keterbukaan atas pelbagai gagasan dan suasana perdebatan yang sehat, yang tidak ia temukan di Pakistan (A’la, 2003: 40). Selama di Chicago, Fazlur Rahman mencurahkan seluruh kehidupannya pada dunia keilmuan dan Islam. Kehidupannya banyak dihabiskan di perpustakaan pribadinya di basement rumahnya, yang terletak di Naperville, kurang lebih 70 kilometer dari Universitas Chicago. Rahman sendiri menggambarkan aktitivitas dirinya tersebut laiknya ikan yang naik ke atas hanya untuk mendapatkan udara (Wan Daud, 1991: 108). Dari konsistensinya dan kesungguhannya terhadap dunia keilmuan akhirnya Rahman mendapatkan pengakuan lembaga keilmuan berskala

internasional. Pengakuan tersebut salah satunya ialah pada tahun 1983 ia menerima Giorgio Levi Della Vida dari Gustave E von Grunebaum Center for Near Eastern Studies, Universitas California, Los Angeles. Pada pertengahan dekade 80-an, kesehatan tokoh utama neomodernisme Islam tersebut mulai terganggu, dintaranya ia mengidap penyakit kencing manis dan jantung. Konsistensi Rahman untuk terus berkarya pun ditandai oleh lahirnya karya yang berjudul Revival and Reform in Islam: A Study of Islamic Fundamentalism. Walaupun baru diterbitkan setelah beliau wafat, namun pengerjaannya dilakukan ketika sakit beliau makin parah dengan dibantu oleh puteranya. Akhirnya, pada 26 Juli 1988 profesor pemikiran Islam di Univesitas Chicago itu pun tutup usia pada usia 69 tahun setelah beberapa lama sebelumnya dirawat di rumah sakit Chicago. Perkembangan Pemikiran dan Karya-Karya Pemikiran Fazlur Rahman dapat dibagi menjadi tiga fase atau periode, yakni periode awal, periode Pakistan, dan periode Chicago. Periode pertama belangsung sekitar dekade 50-an dan pada periode ini Rahman hanya menghasilkan karya-karya yang besifat historis, seperti Avicenna’s Psycology (1952), Avicenna’s De Anima, dan Propecy in Islam: Philosophy and Orthodoxy (1958). Melalui ketiga buku Rahman ini akan terlihat jelas concern pemikirannya, yakni kajian historis murni. Namun demikian, kajian yang dilakukan Rahman pada buku yang disebut terakhir mempengaruhi pandangannya tentang proses pewahyuan kepada nabi Muhammad saw (Amal, 1996: 116). Periode Pakistan merupakan tahapan kedua dari perkembangan pemikiran Rahman yang berlangsung sekitar dekade 60-an. Berbeda dengan periode pertama yang cenderung pada kajian historis dari pemikiran Islam, concern Rahman pada periode ini mengalami perubahan yang radikal, yakni pada kajian-kajian Islam normatif. Adapun faktor-faktor yang melatarbelakangi perubahan concern pemikiran Rahman ini ialah. 1. Adanya kontroversi yang akut di Pakistan antara kalngan modernis disatu pihak dan kalangan tradisionalis dan fundamentalis di lain pihak. Kontroversi ini bermuara pada definisi Islam untuk negeri Pakistan ketika itu, 2. Kontak yang intens dengan Barat ketika menetap di sana, sangat berarti dalam penyadaran dirinya pada hakikat tantangan Islam pada periode modern, 3. Posisi penting sebagai Direktur Lembaga Riset Islam dan anggota Dewan Penasehat Ideologi Islam Pemerintah Pakistan, yang kemudeian mendorong Rahman untuk turut aktif dalam meberikan definisi Islam bagi Pakistan dari kalangan modernis (Sutrisno, 2006: 71-72). Walaupun belum ditopang oleh metodologi yang sistematis, pada periode ini Rahman sudah mulai melakukan kajian Islam normatif dan terlibat dalam arus pemikiran Islam (Sibawaihi, 2007: 21). Selain itu, Rahman terlibat pula secara intens dalam upaya-upaya menjawab tantangan-tantangan serta kebutuhan-kebutuhan masyarakat Muslim kontemporer dengan cara merumuskan kembali Islam. Adapun pada periode ini, pemikiran Rahman dicurahkan dalam memenuhi tugasnya dalam merumuskan ajaran Islam yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat Pakistan. Keterlibatan Rahman dalam arus pemikiran Islam dapat ditandai oleh beberapa artikel yang ia tulis pada jurnal Islamic Studies pada bulan Maret 1962 hingga Juni 1963. Menurut Açikgenç (dalam Saleh 2007: 27), sebenarnya pada periode kedua ini Rahman sudah berkeinginan mengembangkan metodologi yang menyerukan umat Islam untuk kembali kepada Alquran dan Hadis. Mutiara-mutiara pemikiran yang berhasil dihasilkan oleh Rahman pada periode ini diantaranya Islamic Methodology in History (1965), dan Islam (1966). Buku yang disebut pertama merupakan kumpulan dari beberapa tulisannya yang dipublikasikan di jurnal Islamic Studies. Artikel-artikel dalam buku ini ditulis dengan bertujuan untuk memperlihatkan, pertama, evolusi historis dari aplikasi keempat prinisp pokok pemikiran Islam, yakni Alquran, Sunnah, ijtihad, ijma’. Kedua, perranan aktual dari prinsip-prinsip tersebut bagi perkembangan Islam (Rahman, 1995: ix).

Buku kedua Rahman yang lahir pada peridoe kedua ini ialah berjudul Islam. Buku ini memaparkan perkembangan umum agama Islam selama empat belas abad, oleh karena itu menjadi wajar ketika buku ini menjadi dasar pengantar umum tentang studia Islam. Dua buah artikel pertama yang tersusun dalam buku ini , yakni artikel yang berjudul Muhammad dan Alquran, ketika dipublikasikan di Pakistan sempat menuai pelbagai kontroversi. Kontroversi terjadi berkenaan padangan Rahman mengenai hakikat Alquran dan proses pewahyuannya kepada Muhammad saw. Rahman memandang bahwa Alquran secara keseluruhannya adalah kalam Allah swt. dan dalam artian biasa merupakan perkataan Muhammad saw (Rahman, 2003: 33). Adapaun tulisan-tulisan Rahman yang difokuskan untuk memberi definisi Islam di Pakistan diantaranya ialah Some Reflection on the Reconstruction of Muslim Society in Pakistan, Implementation of the Islamic Concept of State in the Pakistan Milieu, dan The Qur’anic Solution of Pakistan’s Educational Problems. Perkembangan dan periode pemikiran Fazlur Rahman berikutnya ialah periode Chicago yang terhitung dari kepindahannya ke Chicago. Seluruh karya Rahman yang dihasilkan pada periode ini mencakup kajian Islam historis dan normatif. Adapun karya-karya yang berhasil ia hasilkan pada periode ini diantaranya The Philosophy of Mulla Shadra, Major Themes of The Qur’an, Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition, dan Health and Medicine in Islamic Tradition. Buku yang pertama penulis sebut di atas murni merupakan karya yang bertemakan Islam historis dan tidak memiliki hubungan dalam kajian-kajian Islam normatif. Sedangkan buku kedua karya Rahman pada periode kedua ini membahas mengenai delapan tema pokok Alquran, yakni Tuhan, Manusia sebagai Individu, Manusia Anggota Masyarakat, Alam Semesta, Kenabian dan Wahyu, Eskatologi, Setan dan Kejahatan, serta Lahirnya Masyarakat Muslim. Buku yang kerap kali disebut sebagai magum opus Fazlur Rahman ini mengkaji pelbagai ayat-ayat Alquran yang berhubungan dengan tema-tema yang telah disebut sebelumnya dan kemudian ditafsirkan dengan cara menghubungkan ayat-ayat tersebut. Selain itu, buku karya Rahman ini merupakan sikap atau tanggapannya atas pelabagai buku atau tulisan yang dibuat oleh para orientalis (seperti Richard Bell, Montgomery Watt, John Wansbrough, dal lain sebagainya) yang kerap kali menghubungkan atau beranggapan bahwa Alquran merupakan kelanjutan atau terpengaruh oleh ajaran-ajaran yang pernah ada sebelumya (seperti Yahudi dan Nasrani). Melalui karya ini, Rahman berhasil membangun landasan filosofis yang terga untuk perenungan kembali makna dan pesan Alquran bagi kaum Muslim kontemporer. Buku berikutnya yang Rahman hasilkan pada periode Chicago ini ialah Islam and Modernity: Transformation of an Intelectual Tradition. Buku ini sangat jelas memperlihatkan intensitas Rahman dalam menata masa depan Islam dan umatnya. Dengan demikian, buku ini tidak melulu membahas Islam historis yang tidak memberikan solusi kongkrit bagi pembangunan umat Islam dan bekal untuk umat Islam dalam menghadapi periode modern. Berikutnya ialah buku yang berjudul Helath and Medicine in Islamic Tradition, buku ini berusaha menangkap kaitan organis antara Islam sebagai sebuah sistem kepercayaan dan Islam sebagai sebuah tradisi pengobatan manusia. Setelah mengkaji perkembangan pemikiran Rahman yang didasarkan pada buku-buku yang ia hasilkan sepanjang karir intelektualitasnya, maka dapat dikatakan bahwa Rahman mengalami perubahan concern pemikiran serta kajiannya. Perubahan yang cukup signifikan ini disebabkan oleh kesadaran Rahman bahwa Islam dewasa ini tengah menghadapi krisis yang sebagian akarnya terdapat dalam Islam sejarah, pengaruh-pengaruh Barat dengan tantangan-tantangan modernitasnya, kemudian membuatnya berupaya membuat atau merumuskan soluai terhadap krisis tersebut (Amal, 1996: 148-149). Secara keseluruhan buku-buku yang Rahman hasilkan berjumlah sepuluh buah. Namun demikian, bukan berarti bahwa Fazlur Rahman hanya menghasilkan buku-buku an sich. Sepanjang karir intelektualitasnya, doctor lulusan Oxford University tersebut menulis pelbagai artikel di beberapa jurnal ilmiah dan sebagian dari artikel-artikel tersebut dikumpulkan menjadi beberapa buku. Adapun buku-buku yang dihasilkan olehnya ialah sebagai berikut. 1. Avicenna’s Psycology 2. Propecy in Islam: Philosophy and Ortodoxy 3. Avicennas’s De Anima, being the Psycological Part of Kitab al Shifa

4. The Philosophy of Mulla Shadra 5. Revival and Reform in Islam: A Study of Islamic Fundamentalism 10. Islam 7. Islam and Modernity: Transformation of an Intelectual Tradition 9. Islamic Methodology in History 6. Health and Medicine in Islamic Tradition . Major Times of the Qur’an 8.

Pada tahun 1946 ia pergi ke Oxford dengan mempersiapkan disertasi dengan Psikologi Ibnu Sina di bawah pengawasan professor Simon Van Den Berg. Fazlur Rahman dilahirkan dari keluarga miskin yang taat pada agama.BIOGRAFI DAN PEMIKIRAN FAZLUR RAHMAN Fazlur Rahman lahir pada tanggal 21 September 1919 yang letaknya di Hazara sebelum terpecahnya India. Namun usaha Fazlur Rahman sebagai seorang pemikir modern di tentang keras oleh para ulama tradisional-findamentalis. Darul Ulum Deoband . milik filosof muslim kenamaan abad ke-7. setelah sebelumnya menjabat sebagai staf lembaga tersebut. Pada awal tahun 60 an Fazlur Rahman kembali ke Pakistan. ia melanjutkan ke Punjab University di Lahore dimana ia lulus dengan penghargaan untuk bahasa Arabnya dan di sana juga ia mendapatkan gelar MA-nya. kini merupakan bagian dari Pakistan. meskipun ia mendasarkan pemikirannya pada al-Qur’an dan sunnah. Tafsir. Selain menjabat sebagai Direktur Lembaga Riset Islam. ini melengkapi latar belakangnya dalam memahami islam tradisional dengan perhatian khusus pada fikih. Hadits. [2] Ayahnya Maulana Shihabudin adalah alumni dari sekolah menengah terkemuka di India. Ilmu kalam. Islam ( 1966 ) di tentang keras karena pernyataan Fazlur Rahman dalam buku tesebut “ Bahwa Al-Qur’an itu secara keseluruhan adalah kalam Allah dan dalam pengertian biasa juga seluruhnya merupakan perkataan Muhammad “ sehingga Fazlur Rahman di anggap orang yang memungkiri Al-Qur’an kemudian pada 5 September 1986 ia mengundurkan diri dari jabatan Direktur lembaga Riset Islam yang langsung di kabulkan oleh Ayyub Khan. ia meninggalkan Inggris untuk menjadi Associate Professor pada kajian Islam di Institute Of Islamic Studies Mc. . pada tahun 1964 ia di tunjuk sebagai anggota dewan penasehat Ideologi Pemerintah Pakistan. setelah di Oxford ia mengajar bahasa Persia dan Filsafat Islam di Durham University Kanada dari tahun 1950-1958. Ketika hendak mencapai usia 10 tahun ia sudah hafal al-Qur’an walaupun ia di besarkan dalam keluarga yang mempunyai pemikiran tradisional akan tetapi ia tidak seperti pemikir tradisional yang menolak pemikiran modern. Puncak dari segala kontroversialnya memuncak ketika 2 bab karya momumentalnya. Dengan demikian tidak dapat di pungkiri Fazlur Rahman juga rasional di dalam berfikirnya. Meskipun Fazlur Rahman tidak belajar di Daril Ulum.[1] Fazlur Rahman di besarkan dalam madzhab Hanafi. Disertasi itu merupakan terjemah kritikan dan kritikan pada bagian dari kitab An-Najt. Pada bulan Agustus 1946 Fazlur Rahman di tunjuk sebagai Direktur Riset Islam. dan Filsafat. Mantiq. Gill University Kanada di Montreal. [3] Dimana dia menjabat sebagai Associate Professor Of Philosophy. Setelah mempelajari ilmu-ilmu dasar ini. Madzhab Hanafi merupakan madzhab yang didasari al-Qur’an dan Sunnah. bahkan Ayahnya berkeyakinan bahwa islam harus memandang modernitas sebagai tantangan dan kesempurnaan. akan tetapi cara berfikirnya lebih rasional. ia menguasai kurikulum Dares Nijami yang di tawarkan di lembaga tersebut dalam kajian privat dengan Ayahnya.

m. Islamic Modernism It’s Scope. Maka adalah hak kita untuk menerima. d. f. Root of Islamic Neo Fundamentalism. Islam and Modernity Transformative of on Intelektual Tradition ( 1982 ). k. Some Islamic Issues In the Ayyub Khan Era.[5] C. i. Interpreting the Qur’an. j. Artikel Fazlur Rahman : a. Prophecy in Islam. c.Tidak kurang dari 18 tahun lamanya Fazlur Rahman menetap di Chicago dan mengkomunikasikan gagasangagasannya baik lewat lisan maupun tulisan sampai akhir tahun memanggilnya pulang pada tahun 26 juli 1988 jauh sebelum ia sudah terkena penyakit diabetes yang kronis dan serangan jantung sehingga ia harus di operasi. Some Key Ethical Concept of the Qur’an. The Philosophy of Mulasadra. Islam in The Contemporary World f. Karya-karya Fazlur Rahman a. menyetujui atau menolak seluruh atau sebagian hasil pemikirannya untuk semua pada posisi penerimaan atau penolakan. Islamic Methodology in History 1965. Method and Alternative. seorang intelektual pencari kebenaran sudah . c. g. Forwards Reformulating The Methodology of Islamic Law : Syaikh Yamani on Public Interest in Islamic Low. h. The Impact of Modernity on Islam. Change and The Muslim World. b. the Universe and Man. b. Pemikiran Fazlur Rahman Fazlur Rahman dengan segala kemampuan intelektualnya sudah tentu tidak bebas dari kekurangan dan kelemahan. Major Themes of The Qur’an ( 1980 ). Kepergian beliau merupakan suatu kehilangan bagi dunia Intelektual Islam. e. l. The Qur’anic Concept of God. Divines Revelation and The Prophet. Islamic Challenges and Opportunist.[4] B. Operasi ini berhasil se tidak-tidaknya untuk beberapa minggu hingga ajal menjemputnya. d. am Is l996. Islam Legacy and Contemporary Challenges e.

Serta asal-usul perkembangan tradisi sampai perkembangan modern juga tentang filsafatnya telah banyak di sampaikan. Sebagaimana cara Fazlur Rahman menjelaskan tentang wahyu dan perjalanan Nabi Muhammad dalam menyebarkan islam. Seseorang harus mengkajikan dalam konteks latar belakang social historisnya. d. Fazlur Rahman juga menjelaskan apa itu al-Qur’an dan segala bentuk ajaran agama Islam. Karya-karya yang begitu banyak mengajarkan kita segala ilmu pengetahuan tentang islam yang pertama kali di ajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. KESIMPULAN . Tanpa memahami latar belakang mikro dan makronya secara memadai. besar kemungkinan seseorang akan salah tangkap terhadap élan dan maksud al-Qur’an aktifitas Nabi baik di Mekkah atau di Madinah. Menurut Fazlur Rahman. akan mutlak perlunya mensistematiskan materi ajaran al-Qur’an. orang harus memahami al-Qur’an sebagai sebuah ajaran yang utuh lebih dulu. Di antara pemikiran Fazlur Rahman antara lain : a. Hasil karyanya yang begitu banyak dapat memperluas pengetahuan tentang tasawuf dan juga filsafat. Sejarah Islam dan lain-lain. Dalam pengembangan agamanya adalah perjuangan beliau selama hidup. di sini di jelaskan pula prosedur yang benar untuk memahami al-Qur’an. hal ini tidak hanya berlaku untuk ayat-ayatnya secara individual tapi juga untuk al-Qur’an secara keseluruhan. Tanpa usaha ini bisa terjadi penerapan ayat-ayatnya secara individual dan terpisah berbagai situasi akan menyesatkan. b. Dengan berbagai cara dan jalan yang di tempuh beliau untuk menyampaikan gagasannya yang bernilai sangat tinggi sebagai suatu gerakan Islam.[6] ANALISIS Fazlur Rahman adalah sosok pemikir intelektual yang tinggi di mana ia dapat menghasilkan karya-karyanya yang begitu banyak dan bermanfaat penting bagi ilmu pengetahuan kita. Seseorang harus mempelajari al-Qur’an dalam Ordo Histories untuk mengapresiasikan tema-tema dan gagasan-gagasannya. Ia menegaskan bahwa al-Qur’an bukanlah suatu karya misterius atau karya sulit yang memerlukan manusia berlatih secara teknis untuk memahami dan menafsirkan perintah-perintahnya. Dalam karyanya Islam and Modernity 1982 Fazlur Rahman menekankan. c.tentu akan mengumpulkan berbagai informasi yang berkaitan dengan pendapat dan pemikiran yang di kemukakan untuk menilai pendapat Fazlur Rahman. di samping Sunnah.

Segala bentuk pemikiran filsafat Fazlur Rahman sangatlah penting dan menjadi suatu arahan pengetahuan yang mengajarkan tentang islam. cit. Tasawuf dari Sufisme Klasik ke Neo Sufisme. Persada.2001 Fatah Rosihan Affandi. Raja Grafindo.1-2 Shofyan. filsafat. Semarang : Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang.43-44 Fatah Rosihan Affandi. Raja Grafindo Persada. Skripsi Kritik Fazlur Rahman Terhadap Uzlah. hal. Islam. DAFTAR PUSTAKA Rivay Siregar. Gelombang Perubahan Dalam Islam. PT. 2001. op. 2001. hal. hal. 2002 [1] Fazlur Rahaman. cit. PENUTUP Fazlur Rahman adalah seorang intelektual yang tinggi. Skripsi Kritik Fazlur Rahman Terhadap Uzlah. Semarang. hal. 2001 [3] Fazlur [4] Ali [5] Rahman. 2002. 1994. Skripsi Study Analisis Fazlur Rahman Tentang Manusia. Bandung. PT. Jakarta : PT. Pustaka. Ia juga meninggalkan sejarah kehidupan pribadinya yang dapat menjadi suatu dokumen penting bagi kita. Skripsi Study Analisis Fazlur Rahman Tentang Manusia. op. Semarang. Fakulatas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang. Raja Grafindo Persada.1- 2 [2] Ali Safyan. 1999 Fazlur Rahman Dalam Islam. ia banyak memberikan warisan yang bermanfaat bagi manusia dari zaman ke zaman.33-34 [6] Fazlur Rahman. Jakarta. hal: vi-ix . Gelombang Perubahan Ali Safyan. Muhammad al-Qur’an dan sebagainya yang bermanfaat bagi kita semua. Semarang : Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang. Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang.

[4] Ia mengajar beberapa saat di Durham University. Tentu saja gagasan-gagasan liberal Rahman. Inggris. Rahman mengambil studi bidang sastra arab di Departeman Ketimuran pada Universitas Punjab. sunnah dan hadis. [1] Menurut Rahman sendiri. Ketika itu anak benua Indo-Pakistan belum terpecah ke dalam dua negara merdeka. latar sosial anak benua Indo-Pakistan yang telah melahirkan sejumlah pemikir Islam liberal. juga merupakan benih-benih dari mana pikiran liberal Rahman dan skeptisisme Rahman tumbuh. Pada masa ini seorang Rahman giat mempelajari bahasa-bahasa Barat. bukannya dihindari. Islam. ia berhasil menyelesaikan studinya di Universitas tersebut dan menggondol gelar M. Sejak kecil sampai umur belasan tahun. pada Agustus 1962.[3] 2. Bahkan dalam pembahasannya mengenai wahyu ilahi dan nabi. Selain itu. Ia dibesarkan dalam keluarga yang bermadzhab Hanafi. Potret Seorang Intelektual Neomodernis 1. Anak benua ini terkenal dengan para pemikir islam liberalnya. ayahnya adalah seorang kyai tradisional yang memandang modernitas sebagai tantangan yang perlu disikapi. yang merepresentasikan kaum modernis. fatwa mengenai kehalalan binatang yang disembelih secara mekanis. ia juga diangkat sebagai anggota Advisory Council of Islamic Ideology Pemerintah Pakistan. Paling tidak ia menguasai bahasa Latin. yakni Sah Wali Allah dan Muhammad Iqbal: Dengan demikian. misalnya. Akhirnya.BIOGRAFI DAN PEMIKIRAN FAZLUR RAHMAN A. Arab dan Urdu. dan lainnya. Menurut Rahman. Merasa tidak puas dengan pendidikan di tanah airnya. Persia. A dalam sastra Arab.[5] Karena tugas yang diemban oleh kedua lembaga inilah Rahman intens dalam usaha-usaha menafsirkan kembali Islam untuk menjawab tantangan-tantangan masa itu. Dalam bagian Pertama. Karena itu. seperti disinggung di atas. Bahkan pernyataan Rahman dalam karya magnum opusnya. selalu mendapatkan serangan dari kalangan ulama tradisionalis dan fundamentalis di Pakistan. saya telah menyetujui—dan tidak berbuat lebih lagi terhadap—pernyataan-pernyataan syah wali Allah dan Muhammad Iqbal yang menerangkan proses psikologis wahyu. menetapkan Rahman sebagai munkir al-Quran. telah meledakkan kontroversi-kontroversi berskala nasional yang berkepanjangan. Sir Sayyid Ali dan Iqbal. Sedangkan Dewan Penasehat Ideologi Islam bertugas meninjau seluruh hukum baik yang sudah maupun belum ditetapkan. Misalnya. argumen saya tentang kemapanan karakter wahyu Al-Qur’an terdiri dari dua bagian. sehinga ia menguasai banyak bahasa. berbeda dengan kalangan tradisional pada umumnya. [2] Ia juga menerima ilmu hadis dan ilmu syariah lainnya. telah menghebohkan media massa selama kurang lebih setahun. kemudian menjabat sebagai Associate Professor of Philosophy di Islamic Studies. bahwa “Al-Qur’an itu secara keseluruhannya adalah kalam Allah dan—dalam pengertian biasa—juga seluruhnya adalah perkataan Muhammad”. tahun 1964. Ketika menginjak usia yang kesepuluh. Inggris. Rahman sangat apresiatif terhadap pemikiran pendahulunya. Pada tahun 1942. Lembaga Islam tersebut bertujuan untuk menafsirkan islam dalam term-term rasional dan ilmiah dalam rangka menjawab kebutuhan-kebutuhan masyarakat modern yang progresif. Perancis. zakat. juga bagi kelanjutan karier pendidikannya. ia sudah bisa membaca Al-Qur’an di luar kepala. Ide-idenya di seputar riba dan bunga bank. Kedua lembaga ini memiliki hubungan kerja yang erat. yang menyatakan protes terhadap buku tersebut. suatu madzhab fiqih yang dikenal paling rasional di antara madzhab sunni lainnya. Ia apresiatif terhadap pendidikan modern. Banyak media yang menyudutkannya. Rahman pun mengajukan pengunduran dirinya . seperti Syah Wali Allah. Kanada. Belakangan. pada 1946. Puncak kontroversi ini adalah demonstrasi massa dan aksi mogok total. selain mengenyam pendidikan formal. proses turunnya wahyu Al-Qur’an. Latar Belakang sosial dan Intelektual Fazlur Rahman dilahirkan pada tahun 1919 di daerah barat laut Pakistan. ia diangkat sebagai direktur pada Institute of Islamic Research. Latar Belakang Pendidikan dan Pengalaman Setelah menamatkan sekolah menengah. Sekembalinya ke tanah air. Al-Bayyinat. dengan tujuan menyelaraskannya dengan “Al-Qur’an dan Sunnah”. ia secara eksplisit mengakui bahwa pemikirannya merupakan kelanjutan dari pemikiran pendahulunya. Rahman juga menimba banyak ilmu tradisional dari ayahnya--seorang kyai yang mengajar di madrasah tradisional paling bergengsi di anak benua IndoPakistan. media kaum fundamentalis. dan berhasil meraih gelar doktor filsafat pada tahun 1951. Rahman melanjutkan studi doktoralnya ke Oxford University. Jerman. Turki. McGill University. keluarga Rahman selain kondusif bagi perkenalannya dengan ilmu-ilmu dasar tradisional. yakni India dan Pakistan. Yunani. karena Dewan Penasehat bisa meminta lembaga riset untuk mengumpulkan bahan-bahan dan mengajukan saran mengenai rancangan undang-undang. Pakistan. ia dilahirkan dalam keluarga muslim yang amat religius.

dalam bukunya Islamic Methodology in History (1965). Akhirnya. melalui instrumen qiyas. terhadap sunnah ideal nabi SAW yang kemudian menjelma menjadi ijma’ atau sunnah yang hidup. Rahman sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada perbedaan mendasar antara posisi filosofis dan ortodoksi. Al-Syahrastani. Pada periode awal dan kedua. Dalam kajian historisnya ini. Untuk melacak pandangan filosof. Sementara yang terakhir mengupas perbedaan doktrin kenabian antara yang dianut oleh para filosof dengan yang dianut oleh ortodoksi. Al-Ghazali. Taufik Adnan Amal membagi perkembangan pemikirannya ke dalam tiga babakan utama. Perkembangan Pemikiran dan Karya-karyanya Dari selintas perjalanan hidup Fazlur Rahman di atas. Rahman mengambil sampel dua filosof ternama.[6] Ada tiga karya besar yang disusun Rahman pada periode awal: Avicenna’s Psychology (1952). Bagi Rahman.[7] Pada periode kedua (Pakistan). . Buku kedua yang ditulis Rahman pada periode kedua ini adalah Islam. Rahman belum secara terang-terangan mengaku terlibat langsung dalam arus pembaruan pemikiran Islam. sebagai juru bicara neomodernis. pada gilirannya telah mengantarkannya pada agenda yang lebih penting lagi: perumusan kembali penafsiran Al-Qur’an yang merupakan jantung ijtihadnya. Hasilnya adalah kesepekatan aliran ortodoks dalam menolak pendekatan intelektualis-murni para filosof terhadap fenomena kenabian. yang menyuguhkan—meminjam istilah Amin Abdullah—rekontruksi sistemik terhadap perkembangan Islam selama empat belas abad. dan Prophecy in Islam: Philosophy and Orthodoxy (1958). Al-Farabi (870-950) dan Ibn Sina (980-1037). B. dan Islam and Modernity:Transformatioan of an intellektual tradition (1982). Sementara para filosof lebih menekankan kapasitas alami nabi sehingga menjadi “nabi-manusia”. Jabatan selaku anggota Dewan Penasehat Ideologi Islam juga dilepaskannya pada 1969. setelah mebagi babakan pembaruan dalam dunia Islam. Major Theme of the Qur’an (1980). pandangan ini cukup mempunyai pengaruh terhadap pandangan Rahman tentang proses “psikologis” nabi menerima wahyu. Dua yang pertama merupakan terjemahan dan suntingan karya Ibn Sina (Avisena). Di sini. Rahman memutuskan hijrah ke Chicago untuk menjabat sebagai guru besar dalam kajian Islam dalam segala aspeknya pada Departement of Near Eastern Languages and Civilization. yang dilatari oleh pergumulannya dalam upayaupaya pembaruan (hukum) Islam di Pakistan. Kelak. Ibn Taymiyah dan Ibn Khaldun. yang di dasarkan pada perbedaan karakteristik karya-karyanya: (I) periode awal (dekade 50-an). sementara menurut ortodoksi nabi menerima wahyu dengan mengidentifikasikan dirinya dengan malaikat. nabi menerima wahyu dengan mengidentifikasikan dirinya dengan Intelek Aktif. sunnah kaum muslim awal merupakan hasil ijtihad personal. Sunnah. Rahman menyusun: The Philosophy of Mulla Sadra (1975). Avicenna’s De Anima (1959). perbedaan ada sejauh pada tingkat penekanan saja. Memang. Menurut para filosof. Pada periode Chicago. tampaknya tanah airnya belum siap menyediakan lingkungan kebebasan intelektual yang bertanggungjawab. Tapi mereka lebih menekankan nilai-nilai syariah ketimbang intelektual. Seperti halnya teori para filosof dan kaum ortodoks. dan (ii) peran aktual prinsip-prinsip ini dalam perkembangan sejarah Islam itu sendiri. proses psikologis wahyu tehnis atau imaninatif. Sunnah. Ijtihad dan Ijma’). Sebab. Rahman menemukan adanya hubungan organis antara sunnah ideal Nabi SAW dan aktivitas ijtihad-ijma’. Baru pada periode ketiga Rahman mengakui dirinya.dari jabatan Direktur Lembaga Riset Islam pada 5 September 1968. Penyusunan buku ini bertujuan untuk memperlihatkan: (I) evolusi historis perkembangan empat prinsip dasar (sumber pokok) pemikiran Islam—Al-Qur’an. ortodoksi lebih suka meraup karakter ilahiah dari mukjziat wahyu ini. Ijtihad dan Ijma’. doktrin mukjizat dan konsep dakwah dan syariah. Kalangan mutakallimun tidak begitu keberatan menerima kesempurnaan intelektual nabi. ia menulis buku yang berjudul: Islamic Methodology in History (1965). Buku ini boleh dibilang sebagai advanced introduction tentang Islam. dan periode Chicago (dekade 70-an dan seterusnya). dikemukakan pandangan kedua filosof tersebut tentang wahyu kenabian pada tingkat intelektual. Secara berturut-turut. Bagi Rahman. University of Chicago. Rahman menyimak pemikiran Ibn Hazm. maka karya-karya pada periode ketiga ini lebih bersifat normatif murni. pada periode kedua bersifat hitoris sekaligus interpretatif (normatif). periode Pakistan (dekade 60-an). Kalau karya-karya Rahman pada periode pertama boleh dikata bersifat kajian historis. Rahman berteori bahwa Nabi mengidentifikasikan dirinya dengan hukum moral. Untuk mewakili pandangan ortodoksi. Proyek Membuka Pintu Ijtihad Temuan historis Rahman mengenai evolusi perkembangan empat prinsip dasar (Al-Qur’an. secara tegas Rahman menarik garis yang membedakan antara sunnah ideal nabi SAW di satu sisi. 3.

melalui ingatan dan pikiran nabi. sewenangwenang. yang disusun belakangan pada periode Chicago. Rahman mengajukan metodologi tafsirnya. menurut Rahman. Rahman pun tampaknya tidak ingin daerah teritorial kebebasan ijtihad yang telah dibukanya—sebagai hasil dari liberalisasinya terhadap konsep ijtihad—menjadi tempat persemaian dan pertumbuhan ijtihad yang liar. melainkan berkembang secara demokratis.dengan sunnah hidup kaum muslim awal atau ijma’ sahabat di sisi lain. hingga ia menolak—atas dasar kuatnya keyakinan ini—beberapa klaim mendasar dari tradisi Yudeo-Kristiani mengenai Ibrahim dan nabi-nabi lainnya. karena keberhasilan gerakan penulisan hadis secara besar-besaran yang dikampanyekan Al-syafi’I untuk menggantikan proses sunah-ijtihad-ijma’ tersebut. Karena itu. ijtihad fil masail. Bahwa AlQur’an itu adalah kalam Allah yang diwahyukan kepada nabi Muhammad SAW. Untuk mencegah ijtihad yang sewenag-wenang dan merealisasikan ijtihad yang bertanggung jawab itulah. Rahman mengutip kembali apa yang telah ditulisnya dalam Islam: Bagi Al-Qur’an sendiri. demikian hebatnya. serampangan dan tidak bertanggung jawab. Apa itu Al-Qur’an dan Apa Tujuan Metodologi Tafsir Pandangan Rahman mengenai Al-Qur’an merupakan landasan bagi perumusan metodologi tafsirnya. Kedua (2). khususnya kepada masalah-masalah masyarakat dagang makkah pada waktu itu. Dengan demikian. Muhammad juga dengan tegas meyakinai bahwa ia adalah penerima risalah dari Tuhan. dan konsekwensinya juga bagi kaum muslimin. Akibatnya. Dan ketika kita kembali kepada generasi muslim awal .[8] Namun demikian.[15] 2.[14] Konsepsinya mengenai Al-Qur’an secara sederhana dapat dijabarkan ke dalam nuktah-nuktah sebagai berikut: 1. Rahman secara blak-blakan menolak doktrin tertutupnya pintu ijtihad. Suatu penafsiran Al-Qur’an yang sistematis dan berani harus dilakukan. [12] Akan tetapi. yang sepenuhnya lain. dan ijtihad fil madzhab. ijma’ pada asalnya tidaklah statis. Ijtihad yang diinginkan Rahman adalah upaya sistematis. komprehensif dan berjangka panjang. Puncak dari proses reifikasi ini adalah tertutupnya pintu ijtihad. Kembali ke masa lampau secara sederhana. Rahman mendobrak doktrin ini dengan beberapa langkah: Pertama (1). ataupun pemilahannya ke dalam ijtihad muthlaq. dan dalam pengertian biasa. juga seluruhnya adalah perkataan Muhammad. menegaskan bahwa ijtihad bukanlah hak privilise eksklusif golongan tertentu dalam masyarakat muslim. tetapi suatu pemahaman terhadap keduanyalah yang akan memberikan pimpinan kepada kita dewasa ini. juga yang lebih penting lagi adalah didasarkan pada pandangannya bahwa seluruh bangunan syariah harus diperiksa dibawah sinaran bukti AlQur’an: Seluruh kandungan syari’ah mesti menjadi sasaran penilikan yang segar dalam sinaran bukti Al-Qur’an. kreatif dan berorientasi ke depan. Metodologi tafsir Rahman merupakan jantung ijtihadnya sendiri. merupakan kepercayaan pokok. tidak seorang pun yang bahkan dapat menjadi muslim nominal (hanya nama saja). Al-Qur’an adalah respon ilahi. Tanpa kepercayaan ini. memperluas cakupan ranah ijtihad klasik. [16] . terhadap situasi moral-sosial arab pada masa nabi. sekitar abad ke empat Hijrah atau sepuluh masehi. justru persoalannya terletak pada kemampuan kaum muslim untuk mengkonsepsi Al-Qur’an secara benar.[9] Berpijak pada temuan historis ini. proses ijtihad-ijma’ terjungkirbalikkan menjadi ijma’-ijtihad. Rahman menegaskan: bukan hanya kembali kepada Al-Qur’an dan sunnah sebagai mana yang dilakukan pada masa lalu.[10] Tetapi. Dan dalam konteks inilah metodologi tafsir Rahman yang dipandangnya sebagai “the correct prosedure for understanding the Qur’an” atau “ the correct methode of Interpreteting The Qur’an” [11] memainkan peran sentral dalam seluruh bangunan pemikirannya. menolak kualifikasi ganjil mengenai ilmu gaib misterius sebagai syarat ijtihad.pasti kita temui pemahaman yang hidup terhadap Al-Qur’an dan sunnah. tentu saja kembali keliang kubur. Hasilnya adalah satu kesimpulan Rahman: ijtihad baik secara teoritis maupun secara praktis senantiasa terbuka dan tidak pernah tertutup. Al-Qur’an adalah kalam Allah. ijma’ yang tadinya berorientasi ke depan menjadi statis dan mundur ke belakang: mengunci rapat kesepakan-kesepakatan muslim masa lampau. Rahman memberikan argumen yang sangat kokoh untuk menegaskan kemapanan karakter wahyu dari Al-Qur’an ini.[13] C. dan Ketiga (3). Hal ini selain didasarkan pada fakta bahwa Al-Qur’an sebagai sumber pokok ijtihad. Al-Qur’an secara keseluruhannya adalah kalam Allah.

Gerakan ini muncul secara orisinal dari dunia Islam. komentar-komentar dan respon. pembaruan sosial terutama pada bidang pendidikan dan status wanita. Dengan demikian. Rahman membagi gerakan pembaruan ke dalam empat gerakan. bisa menembus endapan sejarah tersebut sampai lapisan terdalam. Akibatnya. Gerakan ini secara sederhana mempunyai ciri-ciri umum: (a) keprihatinan yang mendalam terhadap degenarasi sosio-moral umat Islam. penafsiran mereka terhadap Qur’an dan sunnah ini tidak ditopang dengan metodologi yang memadai. [19] Sampai pada titik ini. pembaruan politik untuk membetuk pemerintahan yang representatif dan konstitusional. darimana ia menekankan monoteisme dan keadilan sosial. Mereka lebih banyak mengadopsi isu-isu dari barat dan membungkusnya dengan bahasa “Qur’an”. 5. D. Tetapi. Karenanya. Hal ini merupakan harga yang harus dibayar (cost) dari perluasan wilayah islam yang terlalu cepat. di atas segalanya.3. ada baiknya dikemukakan terlebih dahulu pandangannya mengenai dialektika perkembangan pembaruan yang muncul dalam dunia Islam. (c) imbauan untuk membuang sikap fatalisme. dalam masalah hukum. Jasa modernisme klasik ini adalah usahanya untuk menciptakan hubungan harmonis antara pranata-pranata barat dengan tradisi Islam dalam kacamata Al-Qur’an dan sunnah. Al-Qur’an itu laksana puncak gunung es yang terapung: sembilan sepersepuluh darinya terendam di bawah permukaan air sejarah dan hanya sepersepuluh darinya yang tampak ke permukaan. metodologi yang diharapkan adalah metodologi yang.an secara keseluruhan. dengan cara membiarkan Al-Qur’an berbicara sendiri. dasar pembaruan revivalisme pramodernis ini kemudian dikembangkan oleh gerakan kedua. Gerakan pertama adalah revivalisme pra modernis yang lahir pada abad ke 18 dan 19 di Arabia. India dan Afrika. Untuk inilah Rahman sering menyebut-nyebut kasus ijtihad Umar bin Khaththab yang dinilainya sebagai preseden baik (uswah) untuk mengeneralisasikan prinsip-prinsip dan nilai-niali umum yang berada di bawah permukaan Sunah dan bahkan teks Al-Qur’an. Hukum moral adalah abadi. dan (d) imbauan untuk melaksanakan pembaruan ini lewat jihad jika diperlukan. dengan memberantas takhayul-takhayul dan dengan membuka dan melaksanakan ijtihad. Perhatian utama Al-Qur’an adalah perilaku manusia. tanpa diimbangi infrastruktur tingkat pemahaman keagamaan yang memadai. Tidak satupun dari orang-orang yang telah serius berupaya memahami al-Qur’an dapat menolak kenyataan bahwa sebagian besar Al-Qur’an mensyaratkan pengetahuan mengenai situasi-situasi kesejarahan yang baginya pernyataan-pernyataan Al-Qur’an memberikan solusi-solusi. 4.[18] Karenanya ia lebih berorientasi pada aksi moral ketimbang spekulasi intelektual. karenanya. semangat atau elan vital Al-Qur’an adalah semangat moral. [17] Al-Qur’an terutama sekali adalah sebuah prinsip-prinsip dan seruan-seruan keagamaan serta moral. keabadian kandungan legal spesifik Al-Qur’an terletak pada prinsip-prinsip moral yang menasarinya. tanpa ada paksaan dari luar dirinya. dalam kenyataannya. bukan sebuah dokumen legal. tetapi terdapat pada Al-Qur. (b) imbauan untuk kembali kepada Islam yang sebenarnya. Al-Qur’an adalah dokumen untuk manusia. bukan merupakan reaksi terhadap barat. 6. untuk kemudian diterapkan pada realitas kekinian. ia adalah hukum Allah. Al-Quran merupakan sosok ajaran yang koheren dan kohesif. modernisme klasik. bukan pada ketentuan-ketentuan harfiahnya. Karena itu. dapat pahami bahwa tujuan metodologi tafsir bagi Rahman adalah untuk menangkap kembali pesan moral universal Al-Qur’an yang obyektif itu. tentu saja. gerakan ini samasekali tidak bisa lepas dari kesan barat . Pengembangannya terletak pada usaha gerakan ini untuk memperluas isi ijtihad—dan juga agenda gerakan— seperti isu tentang hubungan akal dan wahyu. tujuan tafsirnya adalah untuk menangkap resiones logis yang berada di balik pernyataan formal Qur’an. Karenanya. bagi Rahman. yakni suatu satu set prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang koheren di mana keseluruhan ajarannya bertumpu. yang muncul pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 di bawah pengaruh ide-ide barat. Menurut Rahman. Metodologi Tafsir Rahman Metodologi tafsir Rahman tidak bisa lepas dari agenda pembaruan sebelumnya. bukan risalah mengenai Tuhan. Kepastian pemahaman tidaklah terletak pada arti dari ayat-ayat individual Al-Qur’an. Rahman menandaskan bahwa tujuan ideal-moral Al-Qur’an yang merupakan elan vitalnya itu telah terkubur dalam endapan geologis sebagai akibat dari proses reifikasi yang begitu panjang. Misalnya. Hanya saja.

sebagaimana yang terjadi sebelumnya. (c) pemahaman dan penetapan sasaran Al-Qur’an dengan memperhatikan sepenuhnya latar sosiologis. ada dua kelemahan mendasar modrnisme klasik ini yang menyebabkan timbulnya reaksi dari neorevivalisme. dalam konteks sekarang tidak bisa. Ini sesuai dengan klaim Al-Qur’an sendiri bahwa ajarannya tidak mengandung kontradiksidalam dan koheren secara keseluruhan. Menurut Rahman. dengan mengkaji situasi atau problem historis dari mana jawaban dan respon Al-Qur’an muncul. baik individual maupun kelompok. karena sifatnya yang kontroversialis-apologetis terhadap barat. Gerakan ganda ini. Kedua. Dengan metodologi ini Rahman menjanjikan bahwa metodologi yang ditawarkannya dapat menghindari pertumbuhan ijtihad yang liar dan sewenang-wenang. maka perintah Al-Qur’an akan menjadi hidup dan efektif kembali. Apabila hasil-hasil pemahaman gagal diaplikasikan sekarang. Langkah ini juga bisa dan selayaknya dibantu oleh pelacakan terhadap pandangan-pandangan kaum muslim awal. yang memandang bahwa Islam itu mencakup segala aspek kehidupan manusia. dari dalam dunia Islam sendiri. meskipun kerja rekayasa etis yang sebenarnya dalah kerja ahli etika. apologetis dan tidak otentik. yakni terhadap hasil-hasil dari penafsiran. dan Rahman mengaku dirinya sebagai juru bicara gerakan ini. bak kanker. setiap hukum yang disimpulkan dan setiap tujuan yang dirumuskan koheren satu sama lain. menurut Rahman juga harus ditopang dengan suatu kajian mengenai situasi makro dalam batasan-batasan agama. penafsiran mereka terhadap Al-Qur’an lebih bersifat ad hoc dan parsial. Pandangan ini mirip dengan basis pemikiran modernisme klasik. Al-Qur’an harus dipelajari dalam tatanan historisnya. Mengawali dengan pemeriksaan terhadap bagian-bagian wahyu paling awal akan memberikan suatu persepsi yang cukup akurat mengenai dorongan dasar .[20] Metodologi tafsir Fazlur Rahman merupakan gerakan ganda (bolak-balik). sehingga setiap arti yang ditarik. yakni neorevivalisme atau revivalisme pascamodernis. Mengetahui makna spesifik dalam sinaran latar belakang spesifiknya. Bila yang pertama merupakan tugas para ahli sejarah. sampai sekarang sedikit sekali usaha yang dilakukan untuk memahami Al-Qur’an secara keseluruhan. Gerakan kedua ini mengandaikan adanya kajian yang cermat atas situasi sekarang sehingga situasi sekarang bisa dinilai dan dirubah sesuai dengan priortitas-prioritas moral tersebut. Reaksi terhadap modernisme klasik ini adalah gerakan ketiga. Rahman mengungkapkan: Suatu pendekatan historis yang serius dan jujur harus digunakan untuk menemukan makna teks Al-Qur’an… Pertama-tama. Pertama. Akibatnya. Di sela-sela pengaruh neorevivalisme inilah gerakan neomodernis muncul. pernyataan-pernyataan yang memiliki tujuan-tujuan moral-sosial umum. (b) pembedaan antara ketetakpan legal dan tujuan Al-Quran. gerakan ini cenderung menutup diri. adat-istiadat dan lembaga-lembaga. isu-isu yang mereka angkat berasal dari dan dalam dunia barat sehingga ada kesa kuat bahwa mereka terbaratkan atau agen westernisasi. serta mengenai kehidupan menyeluruh Arab pada saat Islam datang. Menurut Rahman. Apabila kedua momen gerakan ini ditempuh secara mulus. masyarakat. Momen gerakan kedua ini juga berfungsi sebagai alat koreksi terhadap momen pertama. memahami arti atau makna suatu pernyataan Al-Qur’an. Bagi Rahman. Bila gerakan yang pertama mulai dari hal-hal yang spesifik lalu ditarik menjadi prinsip-prinsip umum dan nilainilai moral jangka panjang. Namun karena sifatnya yang reaksioner. Pertama. Yang harus diperhatikan selama langkah ini adalah ajaran Al-Qur’an sebagai keseluruhan. Berkaitan dengan butir pertama. Yang pertama dari dua gerakan ini terdiri dari dua langkah. neomodernisme harus mengembangkan sikap kritis baik terhadap barat maupun terhadap khazanah klasik warisan Islam. digambarkan oleh Taufik Andnan Amal dengan tiga langkah metodologis utama: (a) pendekatan historis untuk menemukan makna teks al-Quran dalam bentangan karir dan perjuangan nabi. maka gerakan kedua ditempuh dari prinsip umum ke pandangan spesifik yang harus dirumuskan dan direalisasikan ke dalam kehidupan sekarang. maka tentunya telah terjadi kegagalan baik dalam memahami Al-Qur’an maupun dalam memahami situasi sekarang.sentris. gerakan ini tidak mampu melakukan interpretasi yang sistematis dan menyeluruh terhadap Islam. yang dapat disarikan dari ayat-ayat spesifik dengan sinaran latar belakang historis dan rationes logis yang juga kerap dinyatakan oleh ayat sendiri. Dalam konteks inilah ia mengatakan bahwa tugas yang paling mendasar dari kalangan neomodernisme ini adalah mengembangkan suatu metodologi yang tepat dan logis untuk mempelajari alQur’an guna mendapatkan petunjuk bagi masa depannya.[21] Sebab. tidak mungkin bahwa sesuatu yang dulunya bisa dan sungguh-sungguh telah direalisasikan ke dalam tatanan spesifik di masa lampau. tentu saja. instrumentalis sosial muthlak diperlukan. maka dalam pelaksanan gerakan kedua. Langkah kedua dari gerakan pertama ini adalah menggeneralisasikan dari jawaban-jawaban spesifik. atau bahkan dari tuduhan sebagai gerakan antek-antek barat yang ingin merusak Islam. ingin membedakan dirinya dengan barat.

yang bukan hanya mempengaruhi karakter teologi. Dan demikianlah. namun kenyataannya Irja' semakin berkembang dan menjadi "ruh" kelahiran Sunni dan Syi'ah. dan Muawiyah. Yang terakhir ini merupakan alasan kaum tradisional-konservatif muslim untuk menolak perubahan yang dihasilkan modernisasi budaya dan intelektual. Irja' lahir dari reaksi terhadap gerakan Khawarij yang men-"cap" Ali. ingatan luar biasa. Irja' merupakan penyebab utama kelesuan moral dan spiritual masyarakat Islam. dan mengeluh pada realitas ulama masa kini (pasca-Al Gazali) yang cenderung membuang nilai-nilai kritis dan pembaharuan dari peninggalan tersebut. serta tidak mengakomodasi radikalisme. penolakan itu sebagai langkah "membabi-buta" yang hanya akan merugikan. Fazlur Rahman dan lain-lain yang sealiran menganggap. telah mengantar Fazlur Rahman pada jajaran pemikir-pemikir Islam kontemporer ternama abad ke-20. Di sekali lagi seseorang berhadapan dengan bahaya subyektivitas. Menurut pemahaman mereka. seseorang harus mengikuti bentangan Al-Qur’an sepanjang karir dan perjuangan nabi…Metode ini akan menunjukkan secara jelas makna keseluruhan Al-Quran dalam suatu cara yang sistematis dan koheren. tetapi hal ini dapat direduksi seminimum mungkin dengan menggunakan Al-Qur’an itu sendiri. politik. Fazlur Rahman-lahir tahun 1919 di Pakistan dan meninggal tahun 1988 di Chicago-sebagaimana para pemikir muslim abad ke-20 lainnya. Bahkan benar-benar tanpa kesadaran terhadap hal tersebut dan berpegang (taqlid. sebagaimana dibedakan dari pranata-pranata yang dibangun belakangan. yang nyata artifisial. di mana masyarakat muslim akan semakin tertinggal di belakang masyarakat kontemporer lain yang telah menjadi penguasa di bidang ekonomi. Ini terangkum dalam julukan ahl as-sunnah wa-aljamaah (penganut tradisi asli (Sunnah) dan solidaritas ummat (jamaah). Di satu sisi ilmu pengetahuan dan teknologi membawa manfaat. Dalam pandangan Fazlur Rahman. menurut ajaran ini. Walaupun selanjutnya muncul reaksi dari golongan Qadariyah dan Mu'tazilah yang berpaham free will (kebebasan berkehendak) yaitu bahwa Tuhan tidak punya otoritas apa-apa dalam menentukan nasib seorang manusia. Mengenai pembedaan antara ketetapan legal dan tujuan moral Al-Qur’an.gerakan Islam. dan kemungkinan pembaharuan politis struktur sosial. Sudah terlalu sering diabaikan baik oleh kalangan non-muslim maupun muslim sendiri bahwa Al-Quran biasanya memberikan alasan-alasan bagi pernyataan-pernyataan legal spesifiknya. khususnya moral dan spritual. ketundukan total) ke masa lalu. tetapi tidak menghalanginya untuk mengangkat sebuah pemikiran kritis tentang gelombang perubahan tersebut. dimana hukum diharapkan mengabdi kepadanya. Rahman menulis: Sasaran Al-Qur’an harus dipahami dan ditetapkan. Persoalan apakah itu mundur dari Al Quran. Metodologi tafsir Rahman ini bisa dilihat dalam bagan sebagai KEBERANIAN mengungkapkan prinsip kebenaran yang dilandasi ketajaman berpikir. tertuju kepada kesuksesan menjaga komunitas. Maka mereka meyakini diam adalah pilihan terbaik dalam menyikapi dilematika kehidupan. Dua penganut Irja' di atas tidak mampu mengetahui jiwa yang resah yang menuntut ruang untuk kreativitas. Utsman. sebagai kafir. mengarahkan perhatian pada fenomena modernisasi dan perubahan dunia yang dipahami dalam dunia Islam sebagai janus-faced (berwajah ganda. . Secara khusus Fazlur mengupas paham Irja' (paham penundaan segala keputusan dan dikembalikan kepada otoritas Tuhan) sebagai cikal-bakal kelahiran dua aliran Islam terbesar saat ini (Sunni dan Syi'ah). dan ilmu pengetahuan. Semua pikiran. seperti wajah Dewa Janus). Fazlur mengagumi tradisi intelektual sophiscated yang diwariskan ulama masa lalu. segala keputusan ada dalam kekuasaan Tuhan. Islam Sunni tidak tahan terhadap sesuatu yang mungkin menganggu salah satu hati dan pikirannya. tetapi juga ajaran-ajaran predeterminisme yang mempengaruhi sikap konkret (hal 138). dengan tetap memberi perhatian sepenuhnya terhadap latar sosiologis—yakni lingkungan dimana nabi bekerja dan bergerak. Berdasarkan pokok pikiran tersebut (kata pengantar oleh Ibrahim Moosa) melalui buku ini Fazlur mencoba menggali kembali wacana telaah historis gelombang perubahan yang dihasilkan para pemikir Islam masa lalu. dan kemampuan unik menyatukan berbagai persoalan kompleks dalam gaya cerita yang koheren. tak jadi masalah. Rahman menulis: Kemudian seseorang telah siap untuk membedakan antara ketetapan legal dan sasaran Al-Qur’an. Walaupun nuansa sejarah terlihat sedikit kental. Mengenai butir ketiga. tetapi di sisi lain berpengaruh besar pada nilai-nilai etis kebudayaan transenden.

Walaupun para sufi tidak bisa disebut murji'ah dalam arti teknis. Dalam masalah-masalah pelik. bahkan lebih berbahaya daripada Irja' (hal. meskipun menghasilkan banyak komentar dan penafsiran yang luar biasa penuh kiasan. Syi'ah telah menempatkan Al Quran ke dalam pelupaan sistematis dan bergantung kepada imam. keberadaannya tidak lebih baik dari masyarakat Sunni. tapi ketika imam dihilangkan. sarjana pemikir neo-modernis asal pakistan. misalnya. mereka mengangkat intuisi (rasa) sebagai pengetahuan yang dinyatakan bebas dari kesalahan karena tidak tertutup (kasyf). Ketika para sufi mengecilkan akal. berorientasi ke depan. Apabila masyarakat telah menerima gagasan minoritas secara mayoritas. tetapi pengaruh keseluruhan mereka pada kehidupan moral masyarakat sangat terasa. mengungkapkan gagasannya tentang ijma’ sebagai transfer kekuasaan ijtihad dari individu yang mewakili mazhab-mazhab yang terorganisasi ke dalam bentuk “institusi legislatif permanen” atau majelis perwakilan rakyat. Rahman bahkan mengelaborasi konsepnya tentang lembaga syura-ijma’ ini ke dalam suatu majelis internasional yang beranggotakan majelis legislatif negeri-negeri Muslim. Undang-undang atau hukun yang ditetapkan majelis bisa saja benar atau keliru. Melanjutkan alur pemikiran Iqbal. Buku itu dalam dua bab terakhir mengulas gejolak pembaharuan akhir abad petengahan yang dimotori Ibnu Taimiyah serta pemikiran pembaharuan India oleh Syekh Ahmad Sirhindi dan Syekh Wali Allah. Selama berabad-abad Syi'ah memberikan penghargaan yang sedikit kepada Alquran. Tugasnya adalah memberi advis yang selanjutnya .mengecilkan akal vis a vis wahyu. sepanjang hukum tersebut mencerminkan kehendak masyarakat. kecuali di dalamnya terdapat teologi rasional.bahkan tidak bisa memiliki . maka setan datang mendiami kekosongan pikirannya dan bebas melalukan tugasnya di sana (hal. menurut Rahman. Iqbal menyetujui masuknya ulama ke dalam majelis untuk membantu dan memimpin perbincangan-perbincangan bebas tentang masalah yang bertalian dengan Islam. Golongan minoritas yang merasa ijtihad-nya lebih mendekati kebenaran. Uraiannya memang menguatkan bahwa ia memang guru besar wacana Islam dengan tekanan pada pemikiran. yang disebut Rahman sebagai lembaga syura-ijma’. Iqbal tentu saja tidak memberikan kualifikasi apapun untuk pelaksanaan ijtihad. pembaharuan. 150). Akhirnya. dan kemajuan. kecuali memiliki wawasan yang tajam dalam masalah hukum. ijma’ masyarakat akan ditempa atau dirumuskan ke dalam bentuk hukum dan perundangundangan oleh lembaga legislatif. (hal 147). majelis dapat meminta advis kepada para ahli. ijtihad yang dihasilkan individu atau kelompok kerja akan mengkristal ke dalam ijma’ setelah melalui interaksi ide yang ketat. yang tertinggal hanya kekeringan hukum dan teologi kalam (hal 135). Pada level negara. Dalam pandangan Rahman. Dengan mentransfer ijtihad kepada lembaga legislatif. yang bisa saja beranggotakan Muslim awam atau bahkan nonmuslim. Ia tidak begitu saja menerima istilah-istilah komoderenan. untuk menghindari kemungkinan terjadinya salah tafsir terhadap sumber-sumber Islam. ia tetap bersifat islami dan demokratis karena merepresentasikan ijma’ masyarakat.Sedangkan masyarakat Syi'ah. pemikir-pemikir Muslim mengembangkan konsep ijma’ dengan berbagai kemungkinan baru yang selaras dengan kondisi modern. dirujuk al-Quran dengan terma syura. penghargaan tinggi patut ditujukan kepada pemikir satu ini. terbuka sepenuhnya untuk meyakinkan masyarakat akan kebenaran gagasannya. Tetapi. Karya terakhir Fazlur Rahman ini merupakan cerminan kepribadiannya yang merepresentasikan rasionalitas ArabIslam dan pencerahan pemikiran Barat. ada kemungkinan untuk mengubah konsensus tersebut. dan perenungan. Aktivitas untuk menggalang konsensus masyarakat ini. Baginya. Fazlur Rahman mengungkapkan kemungkinan baru ijma’ dalam masyarakat kontemporer. Muhammad Iqbal.pengaruh terhadap ahli-ahli hukum dan teologi Syi'ah. * Pada periode modern. Imam Syi'ah tidak ada yang memiliki . Tetapi. karena secara potensial selalu terdapat kemungkinan bagi pandangan minoritas untuk menjadi mayoritas melalui proses perdebatan. opini itu membentuk ijma’ baru dan menggantikan ijma’ lama. dan tidak monolitik. Ibnu Taimiyah memberikan penilaian pahit dengan menyatakan bahwa ketika seorang sufi melepas pikirannya untuk mencurahkan dirinya secara utuh kepada Tuhan. Dengan demikian. 150). Namun demikian. *** TIDAK ketinggalan buku ini juga membahas perjalanan tasawuf yang-sebagaimana Asy'ariyah . majelis ini dipilih oleh rakyat tanpa kualifikasi teknis apapun. sebab harus diakui-terlepas dari pro-kontra terhadapnya Fazlur Rahman telah melengkapi khasanah intelektual Islam dengan satu sikap pasti terhadap pembaharuan ke arah yang lebih baik. Selain itu. khususnya Syi'ah 12. ide. ijma’ – yang merupakan konsensus mayoritas masyarakat – lebih bersifat dinamis.

baik Muslim atau bukan Muslim. Penggagas.akan dirumuskan ke dalam undang undang oleh majelis nasional negeri-negeri Muslim berdasarkan sinaran perbedaan regional dan situasi social masing-masing negeri Survei singkat di atas memperlihatkan bahwa ijma’ bisa memberikan pijakan yang efektif untuk menerima kekuasaan mayoritas (majority rule). tetapi didasarkan terutama pada prinsip ijma’. Sebagaimana disinggung di atas. Untuk pembentukan preferensi ini. menurutnya. Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk membentuk konsensus masyarakat atau untuk menakar kesepakatan masyarakat mengenai suatu hal adalah melalui referendum. serta melakukan perbuatan baik akan selamat. Dalam negara modern. majelis ini juga bisa mempengaruhi preferensi publik (preference formation). yang – menurut tafsiran Rahman – mengungkapkan siapa pun yang percaya kepada monoteisme dan hari akhirat. menurut al-Banna. Hasan al-Banna. jelas bisa mengambil bentuk referendum. sebagai himpunan orang terpilih. dalam proses pengambilan keputusan. berdasarkan prinsip mayoritas. maka hal ini berarti minoritas nonmuslim tidak dapat hidup di lingkungan umat Islam dan persatuan di antara berbagai unsur masyarakat tidak mungkin tercapai. Senada dengan itu. . Tidak ada yang aneh dalam hal ini. Menurut al-Banna. penting dilakukan majelis. Majelis semacam ini –yang dibentuk misalnya lewat pemilihan umum– tentunya merupakan representasi masyarakat yang menerjemahkan kepentingan masyarakat ke dalam kebijakan-kebijakan yang koheren dan konsisten (preference representation). termasuk bukan muslim. negara muslim tersebut terikat kesepakatan atau ber-ijma’ untuk melaksanakannya. sehingga berbagai sudut pandang yang berkembang dan dikembangkan secara individual ataupun kolektif mendapat kesempatan untuk didengar sebelum masyarakat akhirnya secara konsensus atau mayoritas memilih yang dianggap laik. serta cara-cara lainnya yang melibatkan masyarakat. mengkuduskan kesatuan kemanusiaan umum (al-wahdah al-insaniyyah al-’ammah). berdasarkan alur logika yang telah dikemukakan. karena – seperti ditegaskan para yuris klasik – legitimasi institusi negara tidak terambil dari sumber-sumber tekstual. Dengan merativikasi konvensi semacam itu. ketika suatu ijma’ mengkristal atau berhasil dicapai dalam komunitas tersebut. malahan menjadikan persatuan berdimensi sakral dan religius. deliberasi. pengikut atau yang menyetujui pandangan minoritas juga harus menerima keputusan mayoritas dan berupaya mengimplementasikannya sebagai suatu konsensus. kesatuan keagamaan umum (al-wahdah al-diniyyah al-’ammah). Agama Islam. anggapan semacam itu berseberangan dengan prinsip persamaan dan pengakuan Islam terhadap minoritas nonmuslim. tidak akan menimbulkan perpecahan. mensinyalir ada orang menganggap bahwa dengan menjadikan Islam sebagai landasan kehidupan. Aktivitas semacam inilah yang dimaknai Rahman dengan istilah syura. konsensus atau ijma’ masyarakat inilah yang kemudian diundangkan oleh lembaga perwakilan rakyat di tingkat lokal atau nasional. Implementasi prinsip-prinsip ini. dalam risalah Nahwa an-Nur (1936). Dengan kata lain. seluruh warga negara harus dipandang setara satu sama lain. Karena itu. jika suatu masalah dinilai laik untuk dirumuskan ke dalam kebijakan. dan kesatuan keagamaan khusus umat Islam (al-wahdah al-diniyyah alkhassah). Fazlur Rahman menekankan sikap anti-eksklusivisme Islam sehubungan dengan komunitaskomunitas keagamaan lainnya. Sejalan dengan ini. Louay M. berdasarkan sejumlah ayat al-Quran (2:62 dan 5:69). tanpa diskriminasi antara sesama warga. Partisipasi masyarakat yang luas dalam penentuan suatu kebijakan sangat bisa diharapkan dalam implementasi ijma’-referendum ini Pada level regional atau internasional. Mekanisme ijma’ yang telah diuraikan juga memberikan kemungkinan deliberasi dan perdebatan publik. pengajuan rancangan undang-undang. Pandangan-pandangan kesarjanaan Muslim yang dikemukakan di atas dengan jelas menyepakati kesetaraan warga negara – baik Muslim atau nonmuslim – serta persamaan hak dan kewajibannya. Tetapi. ia mengikat seluruh anggotanya tanpa kecuali. konvensi-konvensi yang telah dirativikasi suatu negara muslim juga merupakan bentuk lain dari perluasan konsep ijma’. Ijma’. Safi juga mengemukakan bahwa legitimasi negara tergantung pada sampai sejauh mana organisasi dan kekuasaan negara merefleksikan kehendak masyarakat. Mekanisme ijma’ semacam ini menggagaskan keterlibatan seluruh anggota masyarakat. advokasi. Ketika putusan mayoritas tercapai. seluruh anggota masyarakat – baik Muslim ataupun non Muslim – harus berupaya mengejawantahkannya ke dalam praktik. termasuk dalam proses pencapaian konsensus. ijma’ bisa memberi kemungkinan legitimasi demokrasi bagi kaum Muslimin dan menawarkan format institusi dan prosedur untuk menjalankannya.

Fazlur Rahman. Ia berhasil mengembangkan suatu metode yang dapat memberi solusi alternatif atas problem-problem umat Islam kontemporer.PENDIDIKAN PERSPEKTIF FAZLU RAHMAN BAB I PENDAHULUAN Bukan rahasia lagi bahwa pendidikan Islam masih menghadapi berbagai persoalan. Moosa memandang bahwa pemikir-pemikir modern seperti Fazlur Rahman sangat penting karena mengartikan wahyu dalam term sejarah. Ia menilai bahwa Rahman sangat kritis terhadap pemikiran Islam yang tidak berakar dalam sejarah dan tidak relevan bagi perkrmbangan masyarakat. dan sumber data sekundernya adalah karya- . Malaysia. Di antara masalah teoretis konseptual yang paling memerlukan pemikiran lebih mendalam adalah persoalan epistemologi. Tulisan Ma’arif yang ketiga berjudul ”Fazlur Rahman” yang dimuat dalam bukunya Islam Kekuatan Doktrindan Kegamangan Umat. Seluruh karya Rahman menurut Nurcholish dialirkan untuk bermuara kepada penyingkapan kandungan kitab suci. Selain itu juga dapat dipandang sebagai sari pati penyimpulan yang dibuatnya berdasarkan pengetahuannya yang mendalam dan luas tentang pemikiran Islam. serta di Chicago Amerika (di dunia barat) memiliki berbagai pemikiran yang terkait dengan persoalan tersebut. Menurut Ma’arif seseorang baru mampu membaca membaca posisi pemikiran Rahman secara tepat dan jujur dalam mata rantai revolusi intelektual dunia Islam setelah seseorang memahami al-Qur’an sebagai sebuah ajaran yang utuh disamping asSunnah. Maarif mengategorikan Rahman sebagai salah seorang yang bertanggung jawab dalam masalah pembaharuan pemikiran Islam secara total dan tuntas. al-Qur’an dan Pemikiran Islam”. Yang paling penting untuk selalu dipegangi adalah bahwa alQur’an mengajarkan doktrin kesatuan kehidupan dan kesatuan ilmu pengetahuan. Ia berhasil bersikap kritis baik terhadap warisan Islam sendiri maupun terhadap tradisi barat. Nurcholish Madjid menulis dengan judul ”Fazlur Rahman dan Rekonstruksi Etika al-Qur’an”. Ebrahim Moosa menjadi editor dan pemberi kata pengantar pada karya Rahman yang berjudul ”Revival and Refrom in Islam: A Study of Islamic Fundamentalism” inti dari kata pengantar ini adalah bahwa Rahman sangat antusias untuk mendaptkan kembali al-Qur’an. tentang berbagai persoalan Islam kontemporer. Dalam tulisan tersebut Ma’arif bermaksud menganalisis wawancara antara Fazlur Rahman dan profesor Hamid Algar dari Universitas California. Metode Penulisan Buku Pada buku ini terdapat dua sumber data. seorang pembaharu yang paling bertanggung jawab pada abad ke-20 yang berpengaruh besar dipakistan. Indonesia dan Negara-negara lain (di dunia Islam). sejarah Islam. terutama periode awal. dan dunia modern. Tinjauan Pustaka Ahmad Syafi’i Maarif menulis dengan judul ”Mengenal Fazlur Rahman dan Pemikirannya tentang Islam” di dalam tulisannya. yaitu karya-karya atau tulisan-tulisan yang ditulis sendiri oleh Fzlur Rahman yang relevan dengan tulisan ini. Sampai di sini dapat diketahui bahwa menurut Ma’arif. Tulisan Maarif yang kedua adalah ”Fazlur Rahman. Oleh karena itu buku tersebut harus dipandang sebagai kelanjutan dari proyek pengembangan hermeneutika al-Qur’an oleh Rahman. Rahman dalam memahami Islam dan al-Qur’an selalu mengaitkan dengan bingkai peradaban masa depan. yaitu sumber data primer. baik yang bersifat teoritis konseptual maupun praktis.

Kerangka Teori Kerangka teori atau kerangka konseptual di sini berisi pengertian. Sehingga. Bab kedua membahas biografi Fazlur Rahman yang merupakan titik sentral dari pembahasan buku ini. (anak benua india) yang sekarang terletak disebelah barat laut Pakistan. pada bab empat dengan judul neomodernisme dalam pendidikan Islam. Pembahasan ini didasarkan pada temuan struktur dasar dari tiga sistem epistemologi Islam yang terdapat pada bab 1. Kelima bab yang masingmasingnya terbagi menjadi beberapa subbab ini merupakan satu kasatuan yang bulat dan utuh. dia menyelesaikan B. deskripsi teori.-nya dalam bidang bahasa arab pada Universitas Punjab. rahman telah hafal al-Qur’an seluruhnya. Kemudian. Sumber-sumber data yang sudah terkumpul baik sumber primer maupun sumber sekunder dijadikan sebagai dokumen. konsep dan metode yang terkait dengan judul buku ini. perkembangan pemikiran dan karya-karyanya. dan pendidikan Fazlur Rahman. Penulisan buku ini diakhiri pada bab lima yang berisi kesimpulan dan saran-saran. Bab pertama dalah pendahuluan. Sistematika penulisan buku Keseluruhan buku ini terdiri atas lima bab dan setiap bab terbagi atas beberapa subbab. Dokumen-dokumen tersebut kemudian dibaca dan setelah itu diklasifikasikan. Pada tahun 1940. Ayahnya memperhatikan Rahman dalam hal mengaji dan menghafak al-Qur’an. pada usia sepuluh tahun. Rahman kecil beruntung memiliki seorang ayah yang betul-betul memperhatikan pendidikannya.A. Pertama-tama ia dididik dalam sebuah keluarga muslim yang taat beragama. tetapi juga berupa konsep atau teori-teori pendidikan Islam yang dapat diaplikasikan di Indonesia.karya orang lain mengenai pemikiran Fazlur Rahman. disamping pengajaran dari ibunya. yang memberikan gambaran secara singkat mengenai keseluruhan buku ini dan memberikan ramburambu untuk masuk pada bab-bab seanjutnya. Pendidikan Fazlur Rahman Rahman lahir pada tanggal 21 september 1919 didaerah Hazara. Subbab kesimpulan berisi berbagai temuan dalam penulisan buku ini. Selanjutnya data yang sudah tersistematisasi dianalisis dengan analisis bahasa. dan pendidikan Islam. Ayahnya. epistemologi. kasih sayang. terutama dalam diskursus epistemologi. Rahman melanjutka studinya ke Lahore dan memasuki sekolah modern. Menurut Rahman. Pendidikan dalam keluarganya benar-benar efektif dalam membentuk watak dan kepribadiannya untuk dapat menghadapi kehidupan nyata. pada tahun 1933. serta kecintaan sepenuh hati darinya. ia berhasil menyelesaikan masternya dalam bidang yang sama pada Universitas yang sama pula. yang tidak hanya berupa rumusan epistemologi dan metodologi pemikiran Fazlur Rahman. Bab ketiga membahas epistemologi dan metodologi Fazlur Rahman. metodologi. hermeneutika. Dalam pengumpulan data digunakan metode dokumentasi. Hal penting lainnya bahwa ia dididik dalam sebuah keluarga dengan tradisi madzhab Hanafi. ada beberapa factor yang telah membentuk karakter dan kedalaman dalam beragama. dan koherensi internal. Tema ini dipilih karena tema tersebut telah lama melekat pada diri Fazlur Rahman. Diantara factor-faktor tersebut yang penting adalah ketekunan ayahnya dalam mengajarkan agama padanya dirumah dengan disiplin tinggi sehingga dia mampu menghadapi berbagai macam peradaban dan tantangan dialam modern. BAB II BIOGRAFI FAZLUR RAHMAN Penulisan biografi Rahman ini meliputi pendidikan. dan sekaligus berfungsi sebagai alat analisis terhadap metodologi. . Kemudian dua tahun berikutnya. Maulana Sahab al-din adalah seorang alim terkenal lulusan Deoband. terutama tentang kejujuran.

1. 1. pemikiran dan karya-karya Rahman pada periode ini didominasi oleh pendekatan historis. Selain menjabat sebagai Direktur Lembaga Riset Islam. Periode ini dimulai sejak kepulangan Rahman dari Inggris ke Pakistan sampai dengan menjelang keberangkatannya ke Amerika. dan selanjutnya di Institute of Islamic Studies. berisi kajian dari pemikiran Ibn Sina yang terdapat pada kitab al-Najat.D. Inggris. Inggris. Periode kedua (Periode Perkembangan) Periode kedua disebut periode perkembangan karena pada periode ini Rahman mengalami proses menjadi. Los Angeles. (2) Avecinna’s De Anima. Kemudian. ia ditunjuk sebagai Direktur Lembaga Riset Islam setelah sebelumnya ia menjabat sebagai staf di lembaga tersebut selama beberapa saat. ia diterima sebagai tenaga pengajar di Universitas California. i. Turki. Ketika kuliah di Universitas Oxford Rahman mempunyai kesempatan mempelajari bahasa-bahasa barat seperti bahasa Ltin. Amerika. Yunani. Kemudian dua tahun berikutnya. Dengan dua kedudukan tersebut. Perkembangan pemikiran dan Karya-Karya Fazlur Rahman Perkembanga pemikiran dan karya-karya Rahman dapat diklasifikasikan kedalan tiga periode. Rahman menyelesaikan program Ph. Pada periode ini Rahman disibukkan oleh kedudukannya sebagai direktur lembaga riset Islam dan sebagai anggota dewan penasehat ideology Islam pemerintah Pakistan.-nya pada tahun 1949. Penguasaan bahasa yang bagus sangat membantunya dalam memperdalam dan memperluas keilmuannya. being the psychology part of kitab al-Shifa’ merupakan suntingan dari kitab al-Nafs yang merupakan bagian dari kitab al-Shifa’. Rahman berhasil menulis tiga karya intelektualnya. Inggris. setelah mengajar selama beberapa saat di Universitas Durham. Pakistan. merupakan karya orisinil Rahman yang paling penting dalam periode ini. yaitu Islamic Studies dan Fikru-Nazhr (berbahasa Urdu). University of Chicago. Setelah selesai kuliah di Oxford ia tidak langsung pulang kenegerinya. Pada awal tahun 1960-an. Periode pertama (Periode Pembentukan) Periode pertama disebut periode pembentukan karena pada periode ini Rahman mulai meletakkan dasar-dasar pemikirannya dan mulai berkarya. Ketika itu. Setelah melepas kedua jabatannya di Pakistan. tetapi Rahman mengajar selama beberapa tahun di Durham University. yaitu proses berkembang dari pertumbuhan menuju ke kematangan. Jerman.(3) Prophecy in Islam: Philoshophy and Orthodoxy. pada tahun 1969. yaitu periode pembentukan (formasi). Rahman terdorong untuk mendefinisikan Islam kembali . Pada periode ini. sampai akhirnya tuhan memanggilnya pulang pada tanggal 26 Juli 1988. periode perkembangan. Karya ini dilandasi oleh rasa keprihatinannya atas kenyataan bahwa sarjana-sarjana muslim modern kurang menaruh minat dan perhatian terhadap doktrin-doktrin kenabian. dengan disertasi tentang Ibn Sina. 1. ia mulai menjabat sebagai Guru Besar kajian Islam dalam berbagai aspeknya di Departement of Near Eastern Languages and Civilization. 1. Pakistan. pada tahun 1964 Rahman ditunjuk sebagai anggota Dewan Penasehat Ideology Islam pemerintah Pakistan. dan periode kematangan. Arab. 1. lembaga ini berhasil menerbitkan dua jurnal ilmiah. Periode ini dimulai sejak Fazlur Rahman belajar sampai dengan menjelang kepulangan kenegerinya. Rahman pulang kenegerinya. Secara epistemologis. 1. McGill University Canada. Ia menetap di Chicago kurang lebih selama 18 tahun. dan Urdu. Rahman hijrah kebarat.Empat tahun kemudian Rahman berangkat ke Inggris untuk melanjutkan studinya di Universitas Oxford. yaitu: (1) Avecinna’s Psychology. Selama kepemimpinannya. i.

Sunnah. 1965. Buku ini merupakan kajian histories Rahman terhadap pemikiran Shdr al-Din al-Syrazi (Mulla Shadra). karya-karya yang ditelurkannya lebih menampakkan dirinya sebagai orientalis muslim yang cukup berkualitas. belakang diterbitkan dalam bentuk buku yang berjudul Islamic Methodology in History. Bila perkataan “pendidikan” tetap bertengger pada judulnya. dengan tambahan bab “Ijtihad pada abad-abad kemudian”. Penulisan buku inidmulai pada tahun 1977 dan selesai pada tahun 1978. Philosophy of Mulla Sadra Shirazi. Oleh pihak penerbit. 1. the University of Chicago Press. Tujuan penulisan buku ini adalah untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak akan sebuah pengantar tentang tema-tema pokok al-Qur’an. ia terlibat secara intens dalam upaya-upaya untuk merumuskan kembali islam dalam rangka menjawab tantangan-tantangan dan kebutuhan-kebutuhan masyarakat muslim kontemporer. 1. Kalau dalam buku islam ia menyanggah bahwa tradisi filsafat islam telah mati setelah diserang bertubi-tubi oleh al-Ghazali pada abad ke 12. setelah itu masih banyak dilakukan perbaikan-perbaikan. Dalam periode pertama. Buku ini berisi delapan tema pokok al-Qur’an. Penelitian itu melibatkan selusin sarjana-sarjana berusia muda yang diketahui Rahman dan Leonard Binder. Buku ketiga yang ditulis Rahman pada periode ini adalah Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition. penafsiran hanya digunakan untuk “merangkaikan ideide”. eskatologi. pertama. Periode ketiga (Periode Kematangan) Karya-karya intelektual Rahman sejak kepindahannya ke Chicago (19670) mencakup hamper seluruh kajian islam normatif maupun historis. Pengubahan ini menerut A. yatu: Tuhan. Syafi’i Ma’arif mungkin didasarkan pada pertimbangan pemasaran. Karachi. Buku kedua yang dihasilkan oleh Rahman dalam periode ini adalah berjudul Islam. Metode yang digunakan Rahman dalam buku ini mensintesiskan berbagai tema secara logis ketimbang kronologis dan membiarkan alQur’an berbicara mengenai dirinya sendiri. Disamping itu. Ia banyak menulis artikel dalam berbagai jurnal internasional dan ensiklopedia. disampinh sedikit memberikan harapan dan saran-saran. pada periode kedua ini. Dalam periode ini ia berhasil menyelesaikan beberapa buku. manusia sebagai individu. yang pada mulanya merupakan bagian dari sebuah proyek lain yang lebih besar yang bernama “Islam and Social Change”. Rahman lebih dominan mengemukakan kritik historis. Keterlibatan Rahman dalam arus pemikiran islam ditandai dengan dipublikasikannya serangkaian artikel-artikelnya dalam jurnal Islamic Studies mulai bulan maret 1962 hingga Juni 1963. judul buku tersebut diubah menjadi Islam and Modernity. Sementara itu. Maka. Buku ini merupakan upaya Rahman dalam menyajikan sejarah perkembangan islam secara umum. kenabian dan wahyu. buku ini disusun dengan tujuan untuk memperlihatkan (a) evolusi historis perkembangan empat prinsip dasar pemikiran islam yang memberi kerangka bagi seluruh pemikiran islam yaitu al-Qur’an. dalam buku ini. Pada mulanya. Isi buku ini merupakan hasil dari sebuah proyek riset yang dilaksanakan di Universitas Chicago dan di biayai oleh ford Foundation dalam “Islamic Education”. Periode ini ditandai oleh sesuatu perubahan yang radikal. Secara epistemologis. i. serta lahirnya masyarakat muslim. bagi Pakistan khususnya. Dalam buku ini. dan (b) peran actual prinsip-prinsip tersebut terhadap perkembangan islam itu sendiri. buku ini diberi judul Islamic Education and Modernity oleh penulisnya. Buku kedua adalah Major Themes of the Qur’an. Ijtihad dan ijma’. setan dan kejahatan. tesis tersebut kembali diungkapkan untuk membantah pandangan para sarjana barat modern yang keliru tentangnya. alam semesta. Rahman tidak memprlihatkan minatnya untuk memahami kajian-kajian islam normatif. yaitu kira-kira selama empat belas abad keberadaan islam. 1. pemikiran dan karya-karya Rahman pada periode ini mulai beranjak dari pendekata historis menuju kependekatan normatif.bagi Pakistan. Central Istitute of Islamic Research. . rangkaian artikel ini. karena ia memeng berbicara tentang pendidikan islam dalam perspektif sejarah dengan al-Qur’an sebagai kriterium penilai. manusia sebagai anggota masyarakat.

melainkan sebagai pengetahuan tersendiri . secara historis tidak dapat diragukan bahwa perkatan tersebut lahir dari kalangan tradisionalis dengan makna sebagaimana telah disebutkan tadi. fazlur Rahman menjelaskan konsep pengetahuan kaum muslimin (the muslim’s concept of knowledge). islam berkembang menjadi suatu tradisi. Menurut Rahman al-Qur’an berkali-kali menggunakan istilah ”ilm”.. Kemudian setelah masa sahabat. atau menuntut ilmu. lebih diterima tradisionalis dari pada rasional. Sementara itu.ilmu(pengetahuan) dimaknai seperti itu. Dengan menghilangkan perkataan pendidikan. Selanjutnya. Dalam buku yang berjudul Islamic Methodologi in History. Buku ini berusaha memotret kaitan organis antara islam sebagai sebuah system kepercayaan dan islam sebagai sebuah tradisi pengobatan manusia. Karakteristik Pengetahuan . Sehubungan dengan itu.. perkataan tersebut dipergunakan secara umum. pada awalnya. istilah tersebut tidak banyak lagi digunakan sebagai proses untuk memahami masalah-masalah hukum. yaitu pengetahuan mengenai agama dan pengetahuan mengenai tubuh manusia (selanjutnya terkenal dengan ilmu kedokteran). arti kata ilm ini mengarah pada sabda nabi”talabul ’ilmi”. Buku terakhir yang dihasilkan Rahman adalah Health and Medicine in Islamic Tradition. Proses memahami dan memikirkan materi-materi tradisional itu disebut fiqh. yaitu hasil-hasil dari proses berpikir tentang hukum. Akan tetapi. istilah fiqh diterapkan padanya. Misalnya terdapat ungkapan yang terkenal. Selanjutnya penggunaan istilah ”pengetahuan”semakin meluas. karakter dan kebenaran pengetahuan menurut al-Qur’an Epistemologi Fazlur Rahman 1. BAB III EPISTEMOLOGI DAN METODOLOGI FAZLUR RAHMAN Dari penulisan terhadap karya-karya rahman dapat diketahui keterlibatannya dalam epistemologi dan metodologi. kata ”ilmu” berasal dari bahasa arab”alima-ya’lamui’lam” yang juga berarti ”tahu” atau ”mengetahui”. Didalamnya Rahman menjelaskan konsep pengetahuan kaum muslimin dan perkembangannya. karya ini akan lebih mengesankan sebagai karya yang berlingkup luas sekalipun ia bertolak dari masalah pendidikan islam. Selanjutnya. Rahman menjelaskan bahwa istilah ilmu itu. Pengertian Pengetahuan Kata ”pengetahuan ” (dalam bahasa inggris knowledge) adalah kata benda yang berasal dari kata kerja ”tahu” (to know) yang semakna dengan ”mengetahui”.mungkin akan menimbulkan kesan bahwa karya ini terlalu terbatas lingkup bahasannya.menurut bahasa kata pengetahuan bisa bermakna sama dengan ilmu. Pada masa itu.yang secara umum bermakna pengetahuan. terutama dalam sejarah islam. kata ilmu mulai digunakan dengan pengertian pengetahuan yang diperoleh melalui proses belajar. seperti”ada dua macam pengetahuan. Pada masa nabi muhammad saw. talabul ’ilmi berarti proses perjalanan yang lama dan sukar dari suatu tempat ketempat lain. yaitu melulu soal pendidikan dalam artian yang sempit. Dengan membaca artikelnya yang berjudul ”The Qur’anic Solution Of Pakistan’s Educational Problems” disana dijelaskan berbagai hal yang terkait dengan epistemologi seperti sumber. setelah sistem hukum muncul. dari suatu negeri ke negeri lain duduk takzim menghadap seorang guru tradisional dan menerima tradisi dari sang guru.” 1. 1. Kemudian dizaman sesudah islam (terutama pada zaman modern ini). 1.

pengetahuan itu mempunyai sifat selalu berkembang. Fazlur Rahman menjelaskan dalam artikelnya yang berjudul ” The Qur’anic Solution Of Pakistan’s Educational Problems” bahwa semua pengetahuan (pertama) diperoleh melalui observasi dan Eksperimen. Pengembangan pengetahuan tidak pernah berangkat dari ruang hampa (kosong). Ketiga adalah pengetahuan tentang manusia sendiri. Selanjutnya. akan berakibat mati atau mundurnya peradaban. dikuasai. Penguasaan terhadap ilmu pengetahuan yang telah ada akan menemukan ilmu-ilmu pengetahuan baru. Umat islam harus selalu berdoa kepada Allah SWT. Yang dimaksudkan disini adalah penggolongan jenis pengetahuan menurut Fazlur Rahman. masih ada orang yang lebih mengetaui. 1. Sehingga ia tidak mau lagi belajar dan mengembangkan ilmu yang telah dimilikinya. Diperintahkan untuk selalu memohon ditambah ilmu pengetahuan. selalu didasarkan pada yang mendahuluinya. Klasifikasi Pengetahuan Kata ”klasifikasi” berasal dari bahasa inggris classification yang berarti penggolongan (menurut jenis). sehingga jelaslah bagi mereka . Kata bendanya adalah ”karakter” yang berarti watak. Salah satu buktinya adalah bahwa pengembangan pengetahuan selalu didasarkan pada pengetahuan yang telah ada dan selalu terkait dengan temuan berikutnya. selalu berkembang dan dinamis. pengembangan pengetahuan tidak pernah mengenal akhir. klasifikasi. seseorang tidak boleh sombong. peran. tidak ada lagi orang yang lebih tahu. Kedua. huruf. Oleh karena itu. Mengenai karakter pengetahuan . jenis yang krusial yaitu pengetahuan tentang sejarah (dan geografi). Fazlur Rahman menempatkan indera dan akal pada posisi sentral dalam memperoleh dan mengembangkan pengetahuan. Fazlur Rahman cenderung mengklasifikasikan pengetahuan manusia kepada tiga jenis. Klasifikasi adalah penyusunan bersistem dalam kelompok atau golongan menurut kaidah atau standar yang ditetapkan. masih diperintahkan untuk memohon agar ditambah ilmu pengetahuan. Pengetahua tidak pernah berhenti dan stagnasi. Semua pengetahuan. yaitu pengetahuan tentang alam. seperti pengetahuan fisik. Pengetahuan yang dimaksudkan oleh Rahman itu bersifat empiris dan rasional. Stagnasi dan pengulangan merupakan tanda dari matinya pengetahuan. Oleh karena itu setinggi apapun ilmu yang dimiliki. baik induktif maupun deduktif. Kedua. Dengan dasar pemahaman bahwa pengetahuan itu selalu berkembang. Pertama adalah pengetahuan tentang alam yang telah diciptakan untuk manusia. dan pengetahuan tentang manusia. agar ditambahkan ilmu pengetahuan dan harus selalu disertai dengan upaya mempelajari dan mengembangkannya. Al-Qur’an mendorong manusia untuk mengadakan perjalanan dimika bumi dan menelaah apa yang telah terjadi pada peradaban masa lalu dan mengapa mereka bangkit kemudian jatuh. atau pembagian.Kata ”Karakteristik” berasal dari bahasa inggris ”characteristic(kata sifat)”yang berarti sifat yang khas. Setinggi-tinggi ilmu pengetahuan yang diketahui oleh seseorang. menurut Rahman. dinamis dan berkelanjutan. karakter sifat. Dengan mendasarkan pada al-Qur’an. Akibatnya ilmu yang dimiliki akan mengalami stagnasi. Yang dimaksud disini adalah sifat yang khas atau sifat dasar dari pengetahuan. tetapi selalu didasarkan pada pengetahuan yang sudah ada. ”kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami disegenap ufuk dan pada diri mereka sendiri. Secara jelasnya. al-Qur’an tampaknya cenderung pada tiga jenis pengetahuan bagi manusia. Al-Qur’an menyebutkan. apalagi umatnya. nabi muhammad saw. Ilmu pengetahuan tidak mungkin dapat berkembang tanpa ilmu pengetahuan yang telah ada. adalah orang yang paling tinggi ilmunya. yaitu Allah SWT. dan merupakan suatu proses kreatif yang tidak pernah mengenal akhir. Dan jika ilmu pengetahuan mati. 1. pengetahuan tentang sejarah. Berakhirnya pengembangan pengetahuan sama dengan matinya ilmu pengetahuan. Yang menurut keyakinan orang islam. dapat dipahami bahwa Rahman sangat menekankan pada betapa pentingnya mempelajari ilmu pengetahuan. Sombong mengakibatkan orang mati karena orang yang sombong merasa bahwa dirinya yang paling tahu. Dari orang yang paling tinggi ilmunya masih ada yang Maha lebih mengetahui. Nabi Muhammad saw.

Tujuan utama dari pengetahuan ini adalah untuk menciptakan kepribadian manusia yang seimbang. tetapi juga melihat kebaikan manusia sebagai kebaikan dan kejahatan manusia sebagai kejahatan. dan agama lain (tentunya) dapat menghasilkan berbagai arah yang positif. Jika dikaji dengan jernih dan serius. hukum-hukum yang mengatur kerja alam dapat ditemukan dan diintegrasikan untuk menciptakan gambaran alam semesta secara total. yaitu pertama. Mengenai sumber yang ketiga Fazlur Rahman menjelaskan berikut ”al-Qur’an memberikan penekanan yang sama pada historical study of societies.”manusia (constitution of the human mind) harus diteliti dengan intensitas yang memadai. yakni entitas kosmik yang bertindak sebagai perantara transenden antara Tuhan dan manusia. Dalam persenyawaan ini intelek perolehan menerima pengetahuan transenden dari intelek aktif. dalam mencari kebenaran ia berangkat dari pembahasan mengenai hubungan antara wahyu. intelek dan akal. moral juga jiwa harus digunakan untuk mengatasi ketidakseimbangan. subjek sejarah betul-betul mengarahkan padastudi komparatif atas masyarakat tertentu dengan masyarakat lain dan berfungsi sebagai instrumen penting untuk kritik dan penilaian atas diri sendiri. Intelek perolehan adalah kekuatan memahami (intelektif) khusus yang merasuk kedalam alam pikiran Nabi sebagai hasil persenyawaannya dengan intelek aktif. tidak bohong. Kata ”benar” bisa bermakna sesuai sebagaimana adanya. sesuatu yang sungguh-sungguh. 1. Salah satu pilar dasar keimanan islam adalah percaya kepada wahyu Illahi. adil. persetujuan. Ada tiga macam intelek dalam hubungannya dengan wahyu.menurut alfarabi. atau pengolahan yang menghasilkan produk. yaitu pertama adalah physical universe. Jadi maksudnya adalah pengetahuan yang sesuai dengan pengetahuan yang sebenarnya. Dan yang dimaksud sesuatu disini adalah pengetahuan. dapat dipecaya. tidak salah. masyarakat. Kebenaran yang dimaksud disini adalah sesuatu yang sesuai dengan sesuatu yang sebenarnya. atau perkara dalam pengadilan. Dan apakah tuhanmu tidak cukup bagimu bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” 1. Apresiasi secara benar pada budaya. betul. Manusia penerima wahyu dikenal sebagai nabi atau Rasul Allah. Kebenaran Pengetahuan Kata ”kebenaran”adalah kata benda yang berasal dari kata sifat ”benar”. Kaum muslim percaya bahwa para Nabi dan Rasul adalah makhluk Allah yang terbaikdan termulia. Dalam diskursus epistemologi pemikiran islam. kelurusan hati. kejahatan. seperti jiwa manusia (al-anfus). intelek aktif. Fenomene-fenomena alam harus dipelajaridan penginvestigasian ini secara alami tidak pernah berhenti. yaitu merujuk pada intelek penerimaan aktual Nabi secara umum. Orang awam cukup puas menerima kebenaran ajaran agamanya pada dataran iman. Kedua adalah intelek perolehan. Ketiga adalah intelek pasif. Al-Qur’an menekankan pada studi inner world. pembahasan kebenaran biasanya terkait dengan kebenaran wahyu dan kebenaran akal (rasio). Oleh karena itu. tidak berat sebelah. Kata ”kebenaran” bisa bermakna keadaan yang cocok dengan keadaan yang sesungguhnya. Data-data yang diperoleh melalui penelitian ini terkait dengan kerja manusia dan motivasinya. dan untuk membentuk standar moral umat manusia. sedangkan para filosof mencoba memahami realitas wahyu Illahi sebagai suatu kebenaran filosofis.al-Qur’an itu adalah benar. Semua pengetahuan didasarkan pada tiga sumber. dapat dikatakan bahwasejarah menghasilkan sosiologi” 1. Dengan mendasarkan pada datadata ini. dan kreatif”. Sumber dan Proses Memperoleh Pengetahuan Sumber yang dimaksud disini adalah asal pengetahuan diperoleh atau dikembangkan.hal ini juga memungkinkan agar manusia tidak hanya menghakimi orang lain dengan sebutan berhasil atau gagal. kejujuran. Ia (data penelitian) banyak membantu dalam membentuk standar moral individual dan masyarakat serta mengurangi kecenderungan tindak kriminal pada manusia. pembuatan. sehat. dll. . perkenan. Kata ini merupakan terjemahan dari kata inggris true (adjective). Hal ini akan memperluas cakrawala umat manusia dan mengurangikefanatikan dan berpikiran sempit. Kata ”proses”dapat berarti runtutan perubahan dalam perkembangan sesuatu. yakni intelek yang diperoleh nabi hanya jika jiwanya bersatu dengan intelek aktif. Sumber yang kedua dijelaskan sebagai berikut. 1. percaya diri. lurus (hati). azin. Yang dimaksud disini adalah rangkaian tindakan yang dapat menghasilkan atau memperoleh pengetahuan. rangkaian tindakan. truth (noun).

Metode kritik sejarah yang diterapkan oleh Rahman tidak menekankan pada kronologi berjalannya pendidikan didunia islam. jika orang-orang islam dengan keras dan gigih berbicara tentang kelangsungan hidup islam sebagai sistem doktrin dan praktek didunia dewasa ini sungguh-sungguh sejati (suatu pertanyaan yang jawabnya tidak mudah). Iran. Sehubungan dengan metode berpikir pertama.Dalam diskursus epistemologi yang berkembang sampai sekarang. gerakan pertama melibatkan pemahaman . Metodologi yang tepat untuk memahami dan menafsirkan al-Qur’an harus diterapkan. kemudian dikembangkan menjadi metode yang lebih sistematis. Margoliouth. walaupun ini mungkin sangat membahayakan tidaklah dapat dihindarkan. Mesir. Ketiga adalah memahami dan menetapkan sasaran alQur’an dengan memperhatikan secara penuh latar belakang sosiologisnya. yaitu: pertama. Metode Suatu Gerakan Ganda (a Double Movement) Metode ini bisa dilakukan dengan (1) membawa problem. Metodologi Fazlur Rahman Berikut adalah tiga metodologi yang dikembangkan oleh Rahman. Kedua adalah membedakan antara ketetapan legal dan sasaran serta tujuan al-Qur’an. metode berpikir dari yang umum kepada yang khusus (deduktif). 1. menurut Rahman. Rahman banyak menerapkan metode kritik sejarah dalam melakukan penelitian terhadap pendidikan didunia islam. telah banyak diterapkan dalam penelitian sejarah islam oleh para Orientalis seperti David S. Joseph Schact dll. Menurut Rahman. sebagaimana yang dimaksudkan Fazlur Rahman. pembahasan mengenai kebenaran pengetahuan biasanya dikaitkan dengan teori kebenaran korespondensi. koherensi. yaitu: pertama. Secara spesifik metode ini diterapkan dengan cara mendiskripsikan nilai-nilai sejarah pendidikan umat islam terutama yang terjadi di Turki. 1. Metode kritik sejarah. kemudian sesekali Rahman melakukan komparasi diantara pendidikan di negara-negara tersebut. Suatu penafsiran secara sistematis dan berani terhadap al-Qur’an harus dilakukan. Penelitian dari para orientalis tersebut menghasilkan berbagai tesis yang menghebohkan terutama bagi kalangan muslim tradisional. pendekatan historis untuk menemukan makna teks al-Qur’an dalam bentangan karier dan perjuangan nabi. yaitu: 1. Mereka harus mendiskusikan dengan ikhlas dan tanpa menahan diri tentang apa yang mereka inginkan terhadap islam dewasa ini. Metode Kritik Sejarah (The Critical Histori Method) William Montgomeri Watt menggunakan istilah The Critical Histori Method yang merupakan pendekatan kesejarahan yang pada prinsipnya bertujuan menemukan fakta-fakta objektifsecara utuh dan mencari nilai-nilai tertentu yang terkandung didalamnya. Resiko terbesar dalam pemahaman ini tentu akan menjadi proyeksi dari ide subyektif kedalam al-Qur’an dan menjadikannya sebagai objek penanganan secara arbitrer. Hal inilah sebenarnya. tetapi menekankan pada nilai-nilai yang terkandung dalam data-data sejarah pendidikan didunia islam. pragmatis dan dogmatis atau skeptis. Ignaz Goldziher. Pakistan. Metode Penafsiran Sistematis (The Sistematic interpretation method) Metode kritik sejarah yang telah lama diaplikasikan dalam menuliskan pikiran-pikirannya yang tajam dan kritis. Seluruh kandunga syari’ah harus diarahkan menjadi sasaran pengujian yang segar dalam sinaran bukti al-Qur’an. Fazlur Rahman menjelaskan metode ini terdiri atas tiga langkah utama. yang disebut dengan The Sistematic interpretation method. yang menyebabkan metode kritik sejarah tidak dapat berkembang dengan baik dikalangan pemikir muslim sampai pertengahan abad ke-20 M. kelihatan dengan jelas bahwa mereka harus memulai sekali lagi dari tingkat intelektual. metode berpikir dari yang khusus kepada yang umum (induktif). Akan tetapi. dan kedua.problem umat (sosial) untuk dicarikan solusinya pada alQur’an atau (2) memaknai al-Qur’an dalam konteksnya dan memproyeksikannya kepada situasi sekarang. dan Indonesia. Henry Lamen. Lebih lanjut Fazlur Rahman menawarkan metode berfikir yang terdiri atas dua gerakan.

menyadari betapa pentingnya bahasa dalam pendidikan dan sebagai alat untuk . Secara mendasar. Fazlur Rahman juga berusaha mengundang doktor-doktor dari barat untuk menjalin kerjasama dan mengawasi riset yang dilakukan oleh para mahasiswa. memberikan mereka pelatihan teknik penelitian modern. Pendidikan Islam dalam perspektif sejarah menurut Fazlur Rahman Menurut Rahman. Sektor sosial perintah-perintah alQur’an memiliki suatu latar belakang situasional. perbudakan dalam islam dan dalam bidang pendidikan.Rayid dan al-Makmun menekankan adu pendapat diantara para pelajar diistana mengenai persoalan logika. merekrut sarjana yunior lulusan unuversitas jurusan filsafat atau ilmu-ilmu sosial. yang disebut ”sebab-sebab pewahyuan”. sebagaimana pewahyuan al-Qur’an sendiri yang memiliki latar belakang religio-sosial yang amat konkret dalam politeisme dan disekuilibrium sosio-ekonomi masyarakat Makkah pada awal islam. Ketiga. yaitu: pertama. dan memberikan mereka pengetahuan bahasa arab dan disiplin ilmu islam klasik yang penting seperti Hadia dan Hukum islam. membangkitkan idiologi umat islam tentang pentingnya belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan . harus diterapkan terhadap masyarakat muslim dalam konteks dewasa ini. Selama dipimpin oleh fazlur Rahman (1962-1968) strategi yang dicoba diterapkan untuk mengatasi permasalahan ini adalah: mengangkat beberapa lulusan madrasah yang mempunyai pengetahuan bahasa inggris. Gerakan pemikiran kedua adalah metode berpikir dari yang umum kepada yang khusus. khalifah-khalifah tertentu. dan ketiga menumbuhkan etika al-Qur’an pada konteks masa kini. pembaharuan pendidikan umat islam mendesak untuk segera dilakukan dengan cara: Pertama. dilakukan juga dengan cara mengirim beberapa orang keluar negeri untuk memperoleh pelatihan dan gelar dalam studi islam. tetapi yang paling lazim adalah menghafal al-Qur’an dan al-Hadis. dan aplikasi pemikiran Fazlur Rahman pada pendidikan islam di Indonesia. Sebagaimana dengan latar belakang ajaran alQur’an yang harus dikaji untuk memperoleh prinsip-prinsip umum al-Qur’an. ada pendidikan modern (sekuler). Kemudian pada masa abbasiyah. Namun ada juga kelompok kecil yang berusaha mengembangkan kemampuan intelektual. pendidikan islam ketika masa Rasulullah menerapkan metode membaca dan menulis. tetapi selalu turun sebagai solusi terhadap masalah-masalah aktual. Secara detail menurut Rahman. kritis dan kreatif dalam pendidikan islam. riba dan bunga bank. Kumpulan prinsip yang diperoleh dari al-Qur’an lewat cara yang dicandera diatas (yakni dalam gerakan pemikiran pertama). Selanjutnya yang dihadapi oleh institusi ini adalah masalah sumberdaya manusia. baik dinegara barat maupun timur. usahanya gagal karena tidak adanya doktor yang seperti itu. dapat dilakukan dengan menerima pendidikan sekuler modern. Kedua sistem pendidikan ini sama-sama tidak beresnya. Karena itu. merumuskan world-view (pandangan dunia) al-Qur’an. BAB IV APLIKASI PEMIKIRAN FAZLUR RAHMAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM Pendidikan islam menurut Fazlur Rahman. maka situasi kontemporer juga harus dikaji untuk diambil darinya prinsip-prinsip tentang penerapan hukum terhadap situasi tersebut. Pada satu sisi lain. Namun. Rahman menerapkan tiga tahapan. kemudian berusaha memasukinya dengan konsep-konsep islam. perintah-perintah al-Qur’an muncul tidak dalam suatu kevakuman. kedua. pembaharuan pendidikan islam. distribusi zakat. dan sebagainya.terhadap prinsip al-Qur’an dengan mana Sunnah merupakan bagian organisnya. Latar belakang situasional ini. sepaerti Harun al. Contoh penerapan metide Fazlur Rahman ini dapat dilihat dari berbagai pemikirannya seperti dalam masalah konsep Sunnah yang hidup. kedua mensistematisasikan etika al-Qur’an. menurut Rahman. gramatika. hukum. berusaha mengikis dualisme sistem pendidikan umat islam. perlu ada upaya untuk mengintegrasikan keduanya. Kemudian untuk mengoprasikan metode ini. Disamping usaha-usaha itu.

pembaharuan dibidang metode pendidikan islam. dan sebagainya. Proses berpikir untuk memecahkan masalah berlangsung dalam empat tahap. pendidikan islam dalam pengertian praktis. Dengan domonasinya. Oleh karena itu. kreatif. Tahap (3) disebut tahap ilmunisasi dimana ide atau kesimpulan baru muncul tidak terduga. (4) akhirnya suatu usaha sadar dilakukan untuk mencoba menentukan keshahihan dari kesimpulan yang didapat tadi sesuai dengan kriteria atau aturan-aturan ilmiah. dan keteraturan dunia.mengeluarkan pendapat-pendapat yang orisinil. tidak terpikirkan secara sadar dan dinamis. dapat dikatakan bahwa menumbuhkembangkan kemampuan memecahkan masalah juga menumbuhkembangkan sifat kritis dan kreatif. para pemikir muslim harus betul-betul kritis terhadap peradaban tersebut. dan yang harus memberikan kriteria untuk menilai keberhasilan atau kegagalan sebuah sistem pendidikan islam. Disamping kritis pada diri Fazlur Rahman juga selalu mengalir sifat kreatif. Kemampuam memecahkan masalah terkait erat dengan kemampuan kritis dan kreatif. jujur. peradaban barat sangat besar pengaruhnya pada peradaban umat islam sekarang. pendidikan tinggi islam yang disebut dengan intelektualisme islam. dinamis. dan diperguruan tinggi islam. baik dengan menggunakan langkah-langkah logika maupun eksperimen. Iran. yang padanya terkumpul sifay-sifat seperti kritis. yaitu pendidikan yang dilaksanakan didunia islam seperti yang diselenggarakan dipakistan. progresif. Dengan mendasarkan pada al-Qur’an. yang memungkinkan manusia untuk memanfaatkan sumber-sumber alam untuk kebaikan umat manusia dan untuk menciptakan keadilan. Pendidikan islam dapat mencakup dua pengertian besar. Pada awalnya sifat kritis dan kreatif yang diperlukan adalah yang memungkinkan peserta didik berani dan memiliki rasa percaya diri untuk memahami wahyu secara langsung. Memecahkan masalah tidak hanya dalam konteks ilmu pengetahuan. mulai dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. Untuk konteks Indonesia. Bahakan. Proses ini menyangkut klasifikasi dan penilaian masalah. (2) tahap inkubasi dimana masalah seakan-akan terbawa tidur. Pemecahan masalah bergerak dari masalah sederhana yang hanya menggunakan akal sehat sampai pada pemecahan masalah muskil yang menuntut prosedur berpikir yang lebih kompleks. Pertama. di madrasah (mulai dari ibtidaiyah sampai aliyah). Menurut Rahman umat islam lemah dibidang bahasa. Kritis dan Kreatif dalam Pendidikan Islam Sifat kritis merupakan karakter utama Rahman. melainkan sebagai intelektualisme islam karena baginya hal inilah yang dimaksud dengan esensi pendidikan tinggi islam. dan sebagainya. meliputi pendidikan dipesantren. pendidikan islam menurut Rahman dapat juga dipahami sebagai proses untuk menghasilkan manusia (ilmuwan) integratif. Hal ini merupakan pertumbuhan suatu pemikiran islam yang asli dan memedai. yaitu: (1) tahap persiapan dimana masalah diselidiki dari segala arah sehingga semua informasi tentang masalah ditemukan. tetapi masalah itu merasuk kealam pikir yang nantinya akan mengalir keluar dalam wujud iluminasi kreatif. Keempat. Sifat kritis ini ditujukan oleh Rahman baik pada warisan islam sendiri maupun pada peradaban barat. inovatif. Maroko. tetapi dalam semua aspek kehidupan. Kemudian masalah dianalisis dan didefinisikan. yaitu beralih dari metode mengulang-ulang dan menghafal pelajaran ke metode memahami dan menganalisis. Pendidikan Islan menurut Fazlur Rahman Pendidikan islam menurut Fazlur Rahman bukan sekedar perlengkapan dan peralatan fisik atau kuasi fisik pengajaran seperti buku-buku yang diajarkan ataupun struktur eksternal pendidikan. bahkan bisa juga pendidikan agama islam disekolah (sejak dari dasar sampai lajutan atas) dan pendidikan agama islam diperguruan tinggi umum. Mesir. Kedua. Saudi. Turki. tujuan pendidikan menurut Fazlur Rahman adalah untuk mengembangkan manusia sedemikian rupa sehingga semua pengetahuan yang diperolehnya akan menjadi organ pada keseluruhan pribadi yang kreatif. Kritis terhadap peradaban barat menjadi penting karena peradaban ini telah mendominasi peradaban dunia selama beberapa abad terahir. Sudan. Mereka tidak lagi menganggap bahwa hasil pemahaman ulama terhadap wahyu pada masa lalu merupakan hasil yang sudah fnal. Hasil-hasil ijtihad ulama . Bahkan ia katakan umat islam adalah masyarakat tanpa bahasa. kemajuan. Lebih dari itu. adil.

Sebaiknya. IAIN merupakan lembaga pendidikan tinggi Islam yang strategis untuk mengembangkan tradisi ilmiah umat Islam yang peduli terhadap persoalanpersoalan besar bangsa. atau tidaknya mereka. guru dapat dengan mudah mengetahui tingkat kekritisan dan kreatifitas mereka. disain. yang darinya dapat diharapkan berbagai alternatif solusi atas problem-problem yang dihadapi umat manusia. pembaharuan islam dalam bentuk apapun yang berorientasi pada kemajuan. kebanyakan menempati posisi dipinggiran. dalam arti bahwa subyek didik bisa secara leluasa mengadakan diskusi. yaitu pesantren. tetapi dalam peta perguruan tinggi di Indonesia. belum tentu cocok untuk mengatasi persoalan sekarang dan masa mendatang. harus bermula dari pendidikan. (3) menunjukkan kelancaran proses berfikir (fluency). Perguruan tinggi Islam jumlahnya sangat banyak. (b) pendidikan agama Islam yang disampaikan di perguruan tinggi. Menurut Mastuhu. menurut Zamrani. atau model. Pendidikan tinggi Islam. Madrasah didirikan untuk menampung keunggulan pesantren dan sekolah. Aplikasi pemikiran Fazlur Rahman pada Pendidikan Islam di Indonesia Pendidikan islam di Indonesia dapat dibedakan kedalam dua tingkatan. menurut islam. Oleh karena itu. dalam dunia yang terbuka paradigma-paradigma yang mendasari lahirnya perguruan tinggi Islam perlu ditinjau kembali. anak didik yang kritis dan kreatif paling tidak mempunyai tiga ciri yang menonjol. (2) mempunyai keluwesan (flixibility). baik dengan guru maupun sesama temanteman mereka. Guru hendaknya bertugas membuat kondisi semacam itu. baru merupakan: (a) pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga islam. metode diskusi dilakukan dengan terbuka. Diantara kegiatan pembelajara yang dapat mengembangkan daya kritis dan kreatif subyek didik adalah kegiatan yang meminta mereka. Bahkan. Apakah mereka cenderung mencontoh karangan atau model yang sudah ada ataukah menciptakan sesuatu yang lain. Atau dengan kata lain. dan pendidikan tinggi islam. menunjukkan kritis dan kreatif. Untuk meningkatkan kedudukannya. dan sebagainya. mengubah warna. Paradigma-paradigma perguruan tinggi . menurut Rahman. dalam jangka pendek. disamping untuk menghilangkan kelemahan dari keduanya. Kemudian pendidikan dasar-menengah islam di Indonesia dapat dibedakan lagi kedalam tiga jenis.insan alkamil. menurut Fazlur Rahman. Pada umumnya pesantren unggul dibidang ilmu-ilmu agama. Perguruan tinggi Islam didirikan sesuai dengan kondisi waktu lembaga itu didirikan. dan madrasah. perguruan tinggi Islam harus mampu memperbarui kurikulumnya secara mendasar. mereka harus senantiasa melakukan ijtihad. yaitu: (1) mempunyai pemikiran asli atau orisinil (originality). tetapi lemah dibidang ilmuilmu umum. Masing-masing dari ketiganya memiliki keunggulan. Hal itu hampir sama dengan yang dikemukakan oleh Mastuhu.masa lalu yang cocok untuk mengatasi persoalan pada waktu itu. sebaliknya sekolah lemah dibidang ilmu-ilmu agama tetapi unggul dibidang ilmu-ilmu umum. Sosok manusia seutuhnya. Dalam era globalisasi. disamping kelemahan. Pendidikan tinggi Islam harus memiliki tipe ideal manusia seutuhnya. guna untuk mengatasi persoalan-persoalan yang mereka hadapi. tanpa ada rasa takut dan batasan untuk mengemukakan gagasan-gagasan mereka. Dapat juga dikembangkan dengan cara mengarang. sangat strategis untuk mengurai benang kusut krisis pemikiran dalam Islam yang berdampak pada stagnasi dan kemunduran peradaban umat islam. Tujuan dikembangkannya daya kritis dan kreatif dalam pendidikan islam adalah untuk menghasilkan output yang kritis dan kreatif. dan (c) perguruan tinggi yang bertujuan menghasilkan sarjana dibidang ilmu-ilmu agama Islam. sekolah. Pendidikan islam dalam realitas. Metode lain yang tidak kalah penting adalah metode diskusi. yaitu pendidikan dasar-menengah islam. masih merupakan impian belaka. bentuk. Paradigma-paradigma yang mendasari perguruan tinggi Islam dewasa ini sudah tidak relevan lagi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tuntutan pembangunan nasional. Melalui karangan bebas. adalah al. misalnya. mereka disuruh membuat karangan bebas. pendidikan islam harus dapat mengembangkan anak didik yang kritis dan kreatif. Misalnya. Pendidikan Tinggi Islam di Indonesia.

metodenya observasi dan eksperimen. Peguruan tinggi Islam dimasa depan perlu diarahkan untuk memberikan solusi atas berbagai problem yang dihadapi umat manusia. tampaknya efektif untuk mencetak sumber daya manusia muslim yang handal. perkembangan dan kematangan. Secara khusus. mengintegrasikan ilmu (antara ilmu agama dan ilmu umum) kedalam pendidikan tinggi Islam di Indonesia untuk kemaslahatan umat manusia. 4. pendekatannya historis-filosofis. Karena problem iti tidak selamanya berasal dari bidang agama. Karena itu. 1. epistemologi-metodologi pemikiran Fazlur Rahman jika diterapkan pada pendidikan islam. Cara yang ditempuh Rahman ini. manusia. mendikotomikan keduanya. sifat kritis dan kreatif Fazlur Rahman didasarkan pada pandangan ontologinya tentang kebebasan berkehendak mnusia yang setelah dilacak lebih lanjut ternyata berangkat dari teori besarnya mengenai pandangan dunia al-Qur’an . dalam kehidupan ini.. yang diikuti oleh semakin pudarnya dualisme dalam sistem pendidikan umat islam.antara ilmu agama dan ilmu sekuler. Fazlur Rahman lebih cenderung mengembangkan ilmuwan-ilmuwan muslim dari pada Islamisasi ilmu pengetahuan. Pemikiran Fazlur Rahman jika dilihat dari prosesnya. Ketiga. dll. maka motivasi umat islam terhadap pengembangan ilmu akan semakin kuat. pemikiran Fazlur Rahman. termasuk problem pendidikan. dapat ditemukan bahwa pengetahuan itu bersumber pada teks dan realitas. dan metode suatu gerakan ganda. Barangkali hanya dapat memenuhi satu sektor tertentu saja didalam kebutuhan manusia Indonesia modern. perlu dikembangkan diperguruan tinggi Islam secara integratif. 2. Karena itu. 1. menyadari akan pentingnya bahasa. Keempat. baik bidang agama maupun bidang-bidang lain.Islam itu sanagat sektoral dan mempunyai visi dan misi sangat terbatas. jika dilihat dari struktur dasar epistemologinya. Bahkan. 5. 3. dengan cara: pertama. metode penafsiran secara sistematis. metodologi Fazlur Rahman dapat dikelompokkan kedalam tiga macam yaitu metode kritik sejarah. Dikotomi tersebut (pada akhirnya) menghasilkan alumni-alumni yang ketinggalan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. dikotomi ilmu dikalangan umat islam akan semakin terkikis. yang kedua-duanya dikembangkan secara bersama-sama dan terpadu. yaitu periode pertumbuhan. dan alam semesta. Paradigma yang sektoral tersebut menganut paham dualisme yang membedakan ilmu agama dari lmu pengetahuan umum. cara pembaharuan pendidikan yang disarankan Rahman terhadap pendidikan di Pakistan dapat diaplikasikan pada pendidikan tinggi Islam di Indonesia. dapat dibedakan kedalam tiga periode. Kedua. Hal ini terkait erat dengan inti neomodernisme yang menekankan sifat kritis dan kreatif. mengganti metode pendidikan secara mengulang-ulang dan menghafal dengan metode memahami dan menganalisis. membangkitkan kembali idiologi keharusan belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Saran-saran . visis dan misi perguruan tinggi Islam menjadi sangat sempit dan terbatas. 6. alat yang digunakan adalah akal dan indra. metode suatu gerakan ganda Fazlur Rahman dapat diterapkan untuk memberi alternatif solusi atas problem-problem umat. kemudian mengembangkannya sebagai alat komunikasi. baik secara lisan maupun tulisan. diperguruan tinggi Islam tidak perlu didikotomikan antara ilmu tradisional dan ilmu modern. BAB V PENUTUP Kesimpulan Melalui penulisan buku ini dapat dihasilkan temuan-temuan sebagai berikut. Cara ini dilakukan oleh Rahman dengan memilih ahli-ahli islam muda yang potensial dengan mengajarkannya kepada mereka metodologi barat modern. yaitu tuhan.

cara memperoleh. sehingga mereka dapat menyelesaikan problem-problem mereka sendiri bahakan problem umat islam secara umum. jenis. praktisi pendidikan islam agar dapat mengupayakan langkah-langkah yang memungkinkan terjadinya integrasi ilmu dalam islam serta integrasi dalam sistem pendidikan umat islam dalam rangka dapat menghasilkan alumni yang berkualitas tinggi. 4. pemegang kebijakan pendidikan islam agar dapat menentukan kebijakan yang memungkinkan dapat dihasilkan alumni dari pendidikan islam yang lebih kritis dan kreatif. selanjutnya disarankan kepada: 1. 2. 5. pemerhati epistemologi agar dapat mengkritisi lebih lanjut mengenai konsep epistemologi Fazlur Rahman terutama tentang sumber. dan validitas kebenaran pengetahuan. konseptor pemegang kebijakan. konseptor pendidikan islam disarankan dapat menyempurnakan pemikiran Fazlur Rahman tentang konsep pendidikan islam yang dapat menghasilkan alumni yang kritis dan kreatif. dan praktisi pendidikan islam agar dapat mengarahkan pendidikan umat islam untuk memperbaiki peradaban mereka secara mendasar dan menyeluruh.Berdasarkan pada temuan-temuan sebagai mana tersebut diatas. 3. .

jerman. yaitu Islamic studies dan fiqrun nazr berbahasa ordo. ia belajar bahasa latin yunani.Gibb.ayahnya maulana sahib al.sehingga .dia menyelesaikan gelar BA nya dalam bidang bahasa arab pada Universitas Punjab.R. Dua tahun berikutnya disertasi tersebut diterbitkan oleh oxford unevesity press dengan judul avicinna’s psychology pada tahun 1959 karya suntingan rohman dari kitab annafs karya ibnu sina diterbitkan oleh penerbit yang sama dengan judul avecinna’s de anima.kemudian pada tahun 1933 . kemudian di institute of Islamic studies mc gill university kanada dan menjabat sebagai associate professor of philoshiphy.pada tahun 1942 dia berhasil menyelesaikan materinya dalam bidang yang sama di universitas yang sama. Pada saat mengajar di durkhem university rahman menyelesaikan karya originalnya yang berjudul probheji in islam : philoshophy and ordoksi. Biografi fazlur rahman Rahman lahir pada tgl 21 september 1919 didaerah hazarah . dia tidak langsung pulang ke negrinya tetapi mengajak durkhem university. Selama jabatannya menjadi direktur rahman menjalankan dua strategi ganda yaitu mengangkat beberapa lulusan madrasah yang menguasai bahasa inggris bagi staf junior dan mencoba melatih mereka dalam teknik-teknik riset modern dan sebaliknya merekrut staf-staf senior dari kalangan lulusan universitas di . Selama kuliah di barat.pada usaia 10 tahun rahman telah hafal alquran seluruhnya .SEJARAH DAN PEMIKIRAN FAZLUR RAHMAN A. Setelah tamat dari oxford university. turki. arab dan ordo.sebuah madzab sunni yang lebih banyak menggunakan rasio dibandingkan dengan madzab sunni lainnya.pendidikan dalam keluarganya benar –benar efektif dalam membentuk watak dan kepribadiannya untuk dapat alam menghadapi kehidupan nyata .din .pada tahun 1940. inggris.A. Pakistan kemudian dua tahun berikutnya dia di tunjuk sebagai direktur lembaga riset islam setelah sebelumnya dia menjabat sebagai staf di lembaga tersebut selama beberapa saat selam kepemimpinan rahman lembaga ini berhasil menerbitkan dua jurnal ilmiah.(anak benua india)yang sekarang terletak di sebelah barat Pakistan.Rahman menyelesaikan program phdnya pada tahun 1949 dengan disertasi tentang ibnu sina. inggris.adalah seorang alim terkenal lulusan deoband e.rahman melanjutkan studinya ke lahore dan memasuki dunia modern. Hal penting yang telah mempengaruhi keagamaan rahman adalah bahwa ia dididk dalam sebuah keluarga dengan tradisi madzab hanafi.pada tahun 1960 rahman pulang ke negrinya.ayahnya memperhatikan rahman dalam hal mengaji dan menghafal alquran. Pada tahun 1946 Rahman berangkat ke Inggris untuk melanjutkan studinya di Universitas Oxford dibawah bimbingan Es Fande Bergh dan H.

Pada tahun 1969 ia pergi ke Amerika sebagai tenaga pengajar di universitas California Los Angeles. B. Islamic : challenges and opportunities c. disamping itu ia juga menjadi guru besar kajian Islam di Departemen of Near Eastern Languages and Civilization. pemerintah Pakistan setelah beberapa saat melepas jabatannya di lembaga research. Major themes of the qur’an 8. Toward reformulating the methology of Islamic law : syaikh yamnai on “public interest” in Islamic law . Health and medicine in Islamic tradition 2. karya yang berupa artikel : a. Univercity of Chicago. Ia ngajar selama 18 tahun di Chicago akhirnya ia kembali ke pangkuan Illahi Robi pada tanggal 26 Juli 1988. Prestasi fazlur rahman 1. 7. Islamic methodology in history 6. Islam and modernity : transformation of an intellectual tradition 9.bidang filsafat atau ilmu social dan member mereka pelajaran bahasa arab serta disiplin-disiplin islam klasik yang utama seperti hadits dan ushul fiqh dia juga mengirim beberapa orang ke luar negri untuk mendapatkan training dan jika memungkinkan gelar-gelar dalam kajian keislaman baik di uneversitas barat maupun timur Pada tahun 1964 rahman ditunjuk sebagai dewan ideology islam pemerintahan islam. Avecinna’s psychology 2. Karya-karya yang berupa buku : 1. being the psychological part of kitab al-shifa 4. Prophecy in islam : philosophy and orthodoxy 3. Islam. ‘some Islamic issue in the ayyub khan era’ b. Philosophy of mulla sadra shirazi 5. Avecinna’s de Anima.

iran. bajhkan bisa juga pendidikan agama islam di sekolah dan pendidikan agama islam di perguruan tinggi umum. The impact of modernity on islam i. maroko dan sebagainya. sudan. Lebih dari itu. Islamic modernism : its scope. jujur dan sebagainya. Kedua. kreatif. Pendidikan islam dapat mencakup dua pengertian. Islam : legacy and contemporary challenge. Untuk Indonesia. dan yang harus memberikan kriteria untuk menilai keberhasilan atau kegagalan sebuah system pendidikan islam. yaitu pertama. pendidikan islam menurut rahman dapat juga di pahami sebagai proses untuk menghasilkan manusia integrative. method and alternatives j. Change and the muslim world h. Some key etical concept of the qur’an PEMBAHASAN A. meliputi pendidikan di pesantren. Hal ini merupakan pertumbuhan suatu pemikiran islam yang asli dan memadai. Roots of islamics neo fundamentalism g. pendidikan islam dalam pendidikan praktis yaitu pendidikan yang dilaksanakan di dunia islam seperti yang di selenggarakan di Pakistan. . melainkan sebagai intelektualisme islam karena baginya hal inilah yang dimaksud dengan esensi pendidikan tingi islam. Divine revelation and the prophet k. adil. e. Corak Pemikiran Rahman Dalam Pendidikan Pendidikan islam menurut rahman bukan sekedar perlengkapan dan perlalatan fisik atau kuasi fisik pengajaran seperti buku-buku yang di ajarkan ataupun stuktur eksternal pendidikan. mulai dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. dan di perguruan tinggi islam. pendidukan islam yang di sebut dengan intelektual islam. The qur’anic consept of god. Interpreting the qur’an l. Saudi. yang padanya terkumpul sifat-sifat seperti kritis. inovatif. di madrasah. the universe and man m.d. dinamis. progresif. Islam in the contemporary world f.

komentar dan superkomentar. Al-Qur’an. dan astronomi. Al-qur’an menyuruh manusia mempelajari bumi seisinya dengan cermat dan mendalam serta mengambil pelajaran darinya agar dapat menggunakan pengetahuanya dengan tepat dan tidak berbuat kerusakan. solusi atas problem-problem pendidikan umat Islam kontemporer. Pendidikan islam didasrkan pada ideology islam karena itu pada hakikatnya pendidikan islam tidak dapat meninggalkan keterlibatannya pada persepsi benar dan salah.an dan Al-hadits.Berdasarkan Al-qur’an. adab. lebih baik dan menjadi tujuan dari kehidupan. oleh diri sendiri dan untuk diri sendiri. Illahiyah. Al-qur’an sering kali berbicara tentang dunia dan akhirat. namun ada juga kelompok kecil yang berusaha mengembangkan kemamp[uan intelektual. Metode pembelajaran abad pertengahan: membaca dan mengulang-ulang sampai hafal. yang memungkinkan manusia untuk memanfaatkan sumber-sumber alam untuk kebaikan umat manusia dan untuk menciptakan keadilan. tujuan utama drai pendidikan adalah untuk menyelamatkan manusia dari dirin sendiri. tujuan pendidikan menurut rahman adalah untuk mengembanngkan manusia sedemikian rupa sehigga semua pengetahuan yang di perolehnya akan menjadi organ pada keseluruhan pribadi yang kreatif. Fazlur Rahman memiliki berbagai pemikiran yang terkait dengan pengan pendidikan umat Islam. berhitung. Tujuan pendidikan Islam menurut Fazlur Rahaman untuk memenuhi kewajiban terhadap Allah dan Rasul-Nya serta tercapainya kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Metode demikian ini menurut Fazlur Rahman dikenal dengan metode belajar secara mekanis. tetapi yang paling lazim adalah menghafal Al-Qur. Dunia bernilai lebih rendah. al-hadits. Dalam berbagai bentuk menurut Fazlurr Rahman pendidiken Islam ketika jaman pertengahan menerapkan metode membaca dan menulis. kemudian dikembangkan lebih lanjut menjadi metode penafsiran sistematis (the systematic interpretation method). padasaat itu sekolah tidak melaksanakan ujian akhir tahun tetapi peserta didik bias naik ke tingkat yang lebih tinggi dengan rekomendasi guru-gurunya. Materi pendidikan menurut Fazlur Rahman meliputi mebaca dan menulis. fiqih. Karena itu. Tanggung jawab pendidik yang pertama adalah menanamkan pada pikiran-pikiran peserta didik dengan nilai moral. Semula ia mengembangkan metode kritik sejarah. Akhirat bernilai lebih tinggi. dan akhirnya disempurnakan menjadi metode gerakan ganda (a doble movement). Ia berhasil mengembangkan suatu metode yang dapat member alternative. thobi’iyah. materialis serta hasil yang tidak memuaskan. kemajuan dan keteraturan dunia. Tujuan pendidikan menurut Fazlur Rahman adalah untuk mengembangkan manusia sedemikian rupa sehingga . Evaluasi pendidikan digunakan untuk mengetahui seberapa jauh tujuan pendidikan telah tercapai.

Secara mendasar pembaharuan pendidikan Islam menurut Fazlur Rahman dapat dilakukan dengan menerima pendidikan. Berusaha mengikis dualism system pendidikan tradisional (agama). pembaharuan dilakukan dengan cara: 1.menurut Mastuhu. Untuk mengetahui seberapa jauh tujuan pendidikan itu telah tercapai.akibatnya adalah mereka tidak terdorong untuk belajar.Problem yang sangat pelik adalah timbulnya dualism dalam system pendidikan ini dikarenakan karena adanya dikotomi ilmuhal ini dapat diperhatikan secara seksama pendidikan islam yang berbentuk lembaga mulai dari tingkat MI sampai Perguruan tinggi hanya bias ncetak para generasi yang tahu nilai nilai agama islam .IAIN merupakan lembaga pendidikan tinggi Islam yang strategis untuk mengembangkan tradisi ilmiah umat islam yang peduli terhadap persoalanpersoalan besar bangsa. Menyadari betapa pentingnya bahasa dalam pendidikan dan sebgai alat untuk mengeluarkan pendapat-pendapat yang orisinil.tapi tidak dapat menghadapi tantangan kehidupan modern. Karena itu perlu ada upaya mengintegrasikan keduanya. Membangkitkan ideologi umat Islam tentang pentingnya belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan. 4.harus bermula dari pendidikan.bahkan mereka tidak sadar kalau berada di bawah perintah moral kewajiban islam untuk menuntut ilmu pengetahuan.Sesuatu yang . dan pada sisi lain ada pendidikan modern (sekuler). Menurut Fazlur rahman .umat islam tidak dapat secara efektif pentingnya pengetahuan dengan orientasi ideologinya. untuk manusia dan untuk menciptakan keadilan dan kemajuan dunia. B. Menurut Rahman umat Islam adalah masyarakat tanpa bahasa karena lemah di bidang bahasa. Pembaharuan di bidang metode pendidikan Islam yaitu dari metode mengulang-ulang dan menghafal pelajaran ke metode memahami dan menganalisis.Relevansi pemikiran pendidikan Fazlur rahman dengan pendidikan islam sekarang Pendidikan tinggi Islam menurut Fazlur Rahman sangat strategis untuk megurangi benang kusut krisis pemikiran dalam islam yang berdampak pada stagnasi dan kemunduran peradaban islam.pengetahuan ynag diperolenhya akan menjadi pribadi yang kritis dan kreatif yang memungkinkannya pemanfaatan sumber-sumber alam untuk kebaikan.bahkan. maka perlu dilakukan evaluasi terhadap performance peserta didik terutama dalam memanfaatkan sumber-sumber alam untuk kebaikan manusia dan dari segi keberhaasilan menciptakan keadilan.yang darinya dapat diharapkan berbagai alternative atas problem-problem yang dihadapi umat manusia.menurut fazlur rahman pembaharuan islam dalam bentuk apapun yang berorientasi pada kemajuan. Menurut Fazlur Rahman.problem pendidikan Islam yang paling mendasar dewasa ini adalah problem ideology.hal itu hampir sama dengan yang dikemukakan oleh matuhu. 2. kemudian berusaha memasukinya dengan konsep-konsep Islam. Kedua system ini sama-sama tidak beresnya. kemajuan serta keteraturan dunia. 3.

padahal kita tahu sendiri bahwa di sumber agama islam di Kitab sucinya Alqur’an selalu tidak memisahkan antara ilmu agama dan umum.tantangan kedepan. Walaupun gagasan rahman disini hanya bersifat teoritis dan belum selesai tapi para ilmuwan berikutnya berhasil mengembangkan konsep Rahman tersebut dengan adanya berbagai pendekatan keilmuan pendidikan islam mulai dari islamisasi ilmusampai intergarasi dan interkoneksi.kalau pendidikan islam diteruskan seperti ini dapat diprediksi beberapa tahun kemudian pendidikan islam akan menjadi pendidikan yang ketinggalan dan tidak diminti oleh masyarakat (stakeholder) Menurut rahman untuk memenuhi target yang telah didambakan oleh masyarakat. PENUTUP KESIMPULAN Berdasarkan pembahasan Fazlur Rahman di atas maka dapat disimpulkan bahwa Pendidikan tinggi Islam sangat strategis untuk megurangi benang kusut krisis pemikiran dalam islam yang berdampak pada stagnasi dan kemunduran peradaban islam.bunuh diri.langkah yang harus ditempuh dalam pendidikan yakni selaku pihak yang ingin mendirikan lembaga pendidikan islam haruslah dapat melihat realitas.oleh sebab itu fazlur rahman memberikan beberapa alternative yang sangat bagus baik melalui karya –karyanya maupun teorinya yakni double movement.berkebalikan juga terjadi pendidikan umum dari tingkat SD sampai perguruan tinggi umum hanya bias mencetak orang yang sanggup bersaing didunia modern tapi gersang dengan nilai nilai agama islam. melainkan sebagai intelektualisme islam karena baginya hal inilah yang dimaksud dengan esensi pendidikan tingi islam.dalam bidang menajemen pendidikan islam juga harus bersifat terbuka terhadap menajemen yang baru dan bersifat efektif .Dalam wilayah ini pelaku pendidikan melakukan proses perenungan yang mendalam agar lembaga pendidikan dapat memadukan hal tersebut .Kemudian pelaku lembaga pendidikan harus menarik problem tersebut kedalam daerah sumber . Hal ini . bahkan pembaharuan islam dalam bentuk apapun yang berorientasi pada kemajuan.yang darinya dapat diharapkan berbagai alternative atas problem-problem yang dihadapi umat manusia.akibatnya tidak pelik orang yang mengalami stess .Gerak ganda atau Doble movement yang dimaksud rahman yakni ada dua tempat yang harus di perhatikan yakni sumber yang dalam kategori rahman adalah al-quran dan assunnah sementara tempat yang kedua yakni realitas social atau social cultural masyarakat setempat. Pendidikan islam menurut rahman bukan sekedar perlengkapan dan perlalatan fisik atau kuasi fisik pengajaran seperti buku-buku yang di ajarkan ataupun stuktur eksternal pendidikan.Serta fungsi rahmatan lil alamin dapat meluas pendidikan islam haruslah melakukan teori gerak ganda sebelum menentukan target atau tujuan dari pendirian lembaga pendidikan tersebut.dan hasilnya dari proses tersebut baru dibuat dasar dalam pendirian dan pengembangan pendidikan islam.dan tindakan amoral lainnya merkipun sudah berpendidikan.Ini dalam bidang keilmuan .kebutuhan masyarakat.

2006). Sutrisno. Epistemology dan System Pendidikan. 1982. 1982 Sutrisno. 18. Sutrisno. the University of Chichago Press. hal.(Yogyakarta: Kota Kembang. 167. Fazlur Rahman Kajian Terhadap Metode. DAFTAR PUSTAKA Sutrisno. +++++ Sutrisno. 106-107. dan yang harus memberikan kriteria untuk menilai keberhasilan atau kegagalan sebuah system pendidikan islam. Fazlur Rahman Kajian Terhadap Metode. . (Yogyakarta: Pustaka Pelajar:2006).(Yogyakarta: Kota Kembang. hal. America. op. hal. Pendidikan Islam yang menghidupkan.hal 35-37.cit. Islam and Modernity: Transformation of an Intellctual Tradition. 2006) Fazlur Rahman. Epistemology dan System Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar:2006 Rahman. Fazlur .merupakan pertumbuhan suatu pemikiran islam yang asli dan memadai. America. Pendidikan Islam yang menghidupkan.. the University of Chichago Press. Islam and Modernity: Transformation of an Intellctual Tradition.

Rahman melanjutkan pendidikan dengan konsentrasi bahasa Arab di Lahore dan memperoleh gelar Bachelor of Art pada 1940 dan menyelesaikan studi masternya dua tahun berikutnya. Meskipun sebagian umat merasa cemas dengan kehadiran modernitas. Rahman menerima pendidikan tradisional di samping pendidikan modern di Lahore yang mulai dijalani sejak 1933. Dari sang ayah. Namun sebagaimana zaman yang tidak tetap dan dinamis. dan Muhammad Iqbal. Lebih-lebih pada periode ini Rahman menulis di sebuah jurnal bernama Fikr al-Nadzar yang menggugat . Latar belakang keluarga Rahman yang terbuka membuat ia tidak kesulitan untuk memperoleh pengetahuan baru dan pendidikan modern. Karena itulah Aziz Al-Azmeh berkomentar. Pada awal 1960-an Rahman kembali ke negerinya setelah 3 tahun mengajar di Universitas McGill. Pakistan. Selain Rahman. hukum Islam selalu dapat didesain untuk mengikuti perubahan-perubahan yang terjadi. Bagaimana relevansi pemikiran Fazlur Rahman dalam konteks zaman ini? III. S. hukum Islam telah membuktikan diri sebagai bagian dari kehidupan muslim yang inovatif. Biografi dan Karya-karya Fazlur Rahman Pada 21 September 1919 Fazlur Rahman dilahirkan dari keluarga muslim religius di Hazara.PEMBAGARUAN PEMIKIRAN HUKUM ISLAM ( BELAJAR DARI FAZLUR RAHMAN ) PEMBARUAN PEMIKIRAN HUKUM ISLAM: BELAJAR DARI FAZLUR RAHMAN I. Pendidikan doktor Rahman ini selesai pada 1949 dengan disertasi berjudul Avicenna’s Psychology yang kemudian diterbitkan oleh universitas tertua di Eropa itu. dari wilayah yang sekarang terletak di barat laut Pakistan ini telah melahirkan tokoh-tokoh sekaliber Sayyid Ahmad Khan. Setelah lulus dari pendidikan menengahnya. Kecenderungan ini telah dimiliki oleh para pemikir kontemporer setelah berhasil mematahkan mitos tentang ketertutupan pintu ijtihad (‘insidad bab al-ijtihad) dan mengeliminir taklid. Rahman dianggap berhasil melaksanakan rekonstruksi dan dekonstruksi dalam metodologi studi hukum Islam. cases and general principles. Kedudukan Rahman ini mendapatkan banyak kritik dari para ulama tradisional Pakistan terlebih latar belakang pendidikannya dari Barat. Kembalinya Rahman ini karena permintaan Ayyub Khan yang kemudian pada 1962 menyerahinya tanggungjawab sebagai pemimpin Islamic Research Institute dan The Advisory Council of Islamic Ideology. Van Den Berg dan HAR. along with a body of well developer hermeneutical and paralogical techniques. PENDAHULUAN Secara natural dan historis. Bagaimana pembaruan pemikiran hukum Islam Fazlur Rahman? 2. Maulana Syahab al-Dien.”[1] Bukti kompetensi dialektika wahyu dengan realitas adalah warisan ushul fiqh dan fiqh yang kaya dalam sejarah Islam. RUMUSAN MASALAH 1. Kanada. orientasi hukum Islam perlu selalu diarahkan pada kemajuan (the idea of progress).[2] Salah satu dari pemikir itu adalah Fazlur Rahman yang disebut-sebut sebagai tokoh neomodernis yang penting. PEMBAHASAN 1. Rahman mengajar di Universitas Durham yang semakin memperlihatkan kepadanya distingsi pendidikan modern di Barat dan Islam tradisional di negerinya. Meskipun demikian dialektika pemikiran Rahman tidak hanya dalam tradisi sunni tetapi juga syi’i. Selama belajar di Oxford. “islamic law is a repertoire of precedents.[3] II. Pada tahun 1946 Fazlur Rahman berangkat ke Inggris untuk belajar di Universitas Oxford yang kemudian mendapatkan bimbingan dari Prof. Rahman kecil hidup dalam tradisi Hanafi yang kuat dan praktis ritualitas keagamaan ia laksanakan dengan penuh ketaatan. Syekh Waliyullah. sebuah daerah di Anak Benua Indo Pakistan. Gibb.

dan tercakup di dalamnya hukum Islam sebagaimana karya-karya periode ini dalam uraian biografi di atas. Sebagaimana diketahui. dan diangkat sebagai guru besar pemikiran Islam di universitas tersebut. tetapi untuk menentang Ayyub Khan. setiap teks selalu berangkat dari sebab-sebab eksternal dan kemudian mengakumulasi keadaan itu dalam “uraian” teks. karya-karya yang lain tetap penting untuk diketahui dan dianalisis. dan kedua. dan Prophecy in Islam merupakan karya-karya historis secara umum. Rahman merasakan kekhawatiran atas kondisi umat Islam kontemporer yang terpuruk sebagai akibat kejumudan berpikir. dan Health and Medicine in Islamic Tradition. Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition. Dalam periode ini dapat dilihat pada karya Islamic Methodology in History dan Islam. Ini berbeda dengan periode 1960-an ketika Rahman telah kembali ke Pakistan yang meskipun masih beraroma historis dalam kajiannya. Sebagai guru besar di UCLA dan Chicago. Setelah beberapa saat memperoleh perawatan medis di Chicago. Mengenai hal ini Rahman menguraikan dua problem utama umat Islam. Rahman kemudian pindah ke Chicago dan menghabiskan banyak waktu di sana untuk menuliskan karya-karyanya. Dalam konteks inilah. Metode kritik sejarah. Tulisan di jurnal ini kemudian menjadi dua bab pertama dalam buku Islam.[5] Pada pertengahan dekade 1980-an Rahman mulai menunjukkan penurunan kesehatan meskipun masih bersemangat dalam berkarya. Karya-karya masa awal Rahman dipenuhi dengan kajian-kajian historis murni. Sebagaimana para intelektual progresif yang lain. Avicenna Psycology. Pemikiran Hukum Islam Fazlur Rahman Melalui sekilas biografi Rahman tertangkap pergeseran pemikiran dari satu masa ke masa lain yang dipengaruhi oleh gejolak kehidupannya. bukan hanya karena kebudayaan dan pemikirannya. Tetapi banyak pengamat menilai sesungguhnya kritik dan demonstrasi itu bukan ditujukan kepada Rahman. 1.eksistensi wahyu dalam pandangan tradisional.[4] Pakistan.[8] Namun meskipun demikian sejumlah ayat memang diturunkan tidak dalam kondisi merespon lingkungan yang . Gelombang protes terhadap Rahman mencapai puncak ketika terjadi pemogokan massal pada September 1968 di beberapa daerah yang membuatnya berpikir ulang tentang masa depan pemikirannya di Pakistan. Nashr Hamd Abu Zayd menyebut ilmu asbab an-nuzul sebagai sebuah ilmu yang digunakan untuk memahami hubungan teks (nash. Avicenna’s de Anima. Pada periode ini beberapa karya yang lahir antara lain The Philoshophy of Mulla Sadra. pertama. Karena itulah diskusi mengenai pemikiran hukum Islam akan lebih banyak merujuk pada karya-karya Rahman periode kedua dan ketiga meskipun sebagai sebuah pemikiran seseorang secara keseluruhan. umat Islam kurang menghayati relevansi al-Qur’an untuk masa kini sehingga tidak mampu memberikan jawaban bagi masalah-masalah baru. Los Angeles. di masa Rahman hidup masih didominasi oleh kalangan tradisional yang kokoh dalam penafsiran tekstualis atas al-Qur’an. Bahkan sentimen atas Barat cukup kuat. Major Themes of The Qur’an. Meskipun demikian Rahman sebetulnya tidak pernah lepas dari teks (beyond the text) sehingga pengembangan tafsirnya dianggap merupakan rekonstruksi atas pola tafsir bi al-ma’tsur[7] yang akan terlihat dalam penggunaan beberapa contohnya nanti. Rahman menutup usianya pada 16 Juli 1988 saat berusia 69 tahun. al-Qur’an) dan realitas tersebut. Rahman mendapat pengakuan secara internasional dengan salah satunya menerima penghargaan prestisius Giorgio Levi Della Vida dari Gustave E.[6] Tawaran Rahman mengenai kontekstualisasi ini secara terus menerus disuarakan melalui karyakaryanya. pertama-tama menjadi landasan bagi konsepsi mengenai teks yang tidak terlepas dari konteksnya. tetapi juga aspek politiknya. umat Islam sendiri memendam kekhawatiran jika al-Qur’an disajikan dengan cara di atas akan menyimpang dari pemahaman-pemahaman tradisional. Pada 5 September 1968 akhirnya Rahman mengundurkan diri dari Islamic Research Institute dan setahun berikutnya. Sementara itu pada periode terakhir Rahman di Chicago semakin memberikan ruang yang luas bagi pemikiran Islam. pada akhir tahun 1969 Rahman berangkat ke Amerika menuju Universitas California. Von Grunebaum Center for Near Eastern Studies dari UCLA yang hingga saat ini dirinyalah sebagai satu-satunya muslim yang menerima award itu. namun secara khusus tertuju pada pemikiran Islam dan Islam normatif. Rahman memulai keberangkatan pemikirannya pada apa yang disebut para sarjana sebagai “metode kritik sejarah” (critical historical method) dan kemudian lebih detail diurai dalam konsep double movement. Sebuah buku yang terbit setelah ia wafat adalah Revival and Reform in Islam: A Study of Islamic Fundamentalism.

Sehingga penting di sini untuk menegaskan berartinya pengetahuan akan sebuah realitas yang memproduksi teks guna menemukan makna dari sebuah teks. Of course. Dengan cara ini akan ditemukan ideal law (hukum ideal) yang berbeda dari aturan-aturan hukum (legal law) karena berisi prinsip-prinsip etika atau prinsip-prinsip umum (ratio legis). consists of understanding the meaning of the qur’an as a while as well as in term of the specific tenets that constitute responses to specific situation. dibandingkan ilmu-ilmu kealaman yang cenderung mencari penjelasan atas hubungan kausalitas (erklaren).[10] Hermenetika sendiri menjadi semacam klarifikasi karya “melalui pengembangan makna internalnya dan hubungan bagian-bagian dalamnya dengan masing-masing yang lain dan dengan spirit masa secara lebih luas”. Dengan cara inilah Rahman melaksanakan fungsi ijtihad pada al-Qur’an agar kontekstual dan fungsional untuk masa ini.will have to the made. dan kemudian ia memilih hermeneutika sebagai kerangka utama dalam membangun ilmu-ilmu keislaman. membagi tugas ini ke dalam tiga bagian atau pemahaman. sebuah pemahaman yang dikaitkan dengan aspek kebahasaan. then.” . saintis. sebuah pemahaman yang terkait dengan isi sebuah karya. atau umum. tugas dari hermeneutika adalah bagaimana memahami teks maupun realitas sosial di masa lampau yang asing sama sekali menjadi milik orang yang hidup di zaman ini yang secara kultur jelas berbeda. penulis akan mengutipnya di bawah ini[16]: “first. The second step is to generalize those specific answers and enunciate them as statements of general moral-social objectives that can be “distilled” from specific text in light of sociohitorical back ground and the often-stated rationes legis. Selain itu juga menolak epistemologi model Immanuel Kant yang justru usianya lebih tua dibandingkan positivisme. religion. yang dapat berupa artistik. customs. tetapi pada perkembangan berikutnya.[15] Kontekstualisasi al-Qur’an dengan menggunakan prinsip-prinsip hermeneutika digunakan Rahman untuk tidak hanya membaca “teks horisontal” (ruang dan waktu manusia) tetapi juga “teks vertikal” (memahami kehendak Tuhan). Karena alasan inilah Rahman lebih memilih post-positivistik yang memfokuskan diri pada fenomena sosial tanpa mengabaikan peran sentral subjek manusia. Mengenai proses double movement. of life as a whole in Arabia on the eve of Islam and particularly in and around Mecca – not excluding the Perso-Byzantine wars. pemahaman atas karya yang dikaitkan dengan pengetahuan utuh dari pengarang dan pandangan utuhnya (Geist) pada masa itu. dan (3) “geistige”.eksternal yang jumlahnya sangat sedikit.[9] Dari sepintas eksplorasi di atas. baik dari aliran –mengutip Syahrastani– “filosof generasi awal” maupun “filosof generasi belakangan”. (2) “gramatis”. yang karya-karyanya dirujuk oleh tokoh hermeneutika Schleirmacher.[12] Khazanah keislaman yang mengakomodir gaya seperti ini dikategorikan al-Jabiri ke dalam “sistem burhani” yang memang langka ditemukan di dalam sejarah Islam.[13] Meskipun Islam sangat terinspirasi dari perkembangan filsafat terutama Yunani. indeed. (1) “historis”. penafsiran “hermeneutika” (seperti digunakan oleh Mu’tazilah) tidak sedahsyat penggunaan penafsiran tekstual (burhani) ataupun irfani. The first step of the first movement. before coming to the study of specific text in the light of specific situation. a general study of the macrosituation in term society. Rahman sendiri tidak mencukupkan diri pada tradisi berpikir positivistik karena dianggap melahirkan dehumanisasi meskipun telah berjasa membuat peradaban Barat berkembang dan maju.[11] Friedrich Ast. one must understand the import or meaning of a given statement by studying the historical situation or problem to which it was the answer. sangat tampak sebenarnya Rahman menjadikan al-Qur’an sebagai sentral penelitian untuk merekonstruksi pemikiran Islam.[14] Pilihan Rahman atas hermeneutika adalah karena ia lebih dekat dengan ilmu-ilmu kemanusiaan (Geisteswissenschaften) yang objeknya adalah ekspresi kehidupan (Lebensaeusserung). Untuk menemukan ideal law inilah maka Rahman menawarkan double movement itu untuk mendeteksi maksud wahyu dan menjalankan fungsi tersebut di masa ini. and institution. Rekonstruksi epistemologi Rahman berangkat dari penggunaan tradisi berpikir yang post-positivistik. Sebagai salah satu metode dari “memahami” (verstehen).

Jika di dalam sebuah ayat terkandung yang legal spesific dan moral idea. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil. Karena itulah hukuman potong tangan merupakan budaya Arab.Pergerakan pertama double movement dimaksudkan untuk menarik prinsip-prinsip umum dan nilai-nilai. An-Nisa’: 3) Ayat di atas memang menunjukkan kebolehan pernikahan hingga 4 orang wanita dan telah dipraktikkan oleh masyarakat Arab sebelum ayat ini turun. Bahwa tidak cukup memahami “maksud Syari’” hanya dengan melihat “konteks mikro” ayat al-Qur’an. Al-Maidah: 38).” (QS.[20] Untuk menjaga “jalan moral” inilah dianggap penting untuk merujuk pada nilai-nilai yang etis atas apa yang diwahyukan oleh Tuhan. Moral idea inilah yang merupakan pemikiran kembali (rethinking) atas konsep asy-Syatibi yang dengan brilian mengeksplorasi tentang “the moral religious bases of the law –‘the objective of the law (maqashid asysyar’) or ‘the intentions of the Shari’a obligations’ (asrar al-taklif)”. maka seharusnya idea moral itulah yang dijadikan sandaran untuk “menghukumi” perbuatan hukum saat ini. tetap menjaga kreativitas itu pada jalan moral yang benar.[22] . Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. tetapi perlu memahami “konteks makro” sebuah ayat. Tetapi di era ini mencuri hanyalah kejahatan ekonomi sehingga bentuk hukumannya harus berubah. Dalam sejarah Arab. potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah.[18] Sebagaimana telah sedikit disinggung. Selain itu. sementara gerakan kedua dibutuhkan keahlian social scientist untuk memformulasikan “the social-moral objective” untuk kondisi saat ini. Karena itulah menurut Rahman pesan terdalam yang hendak diutarakan oleh alQur’an bahwa pernikahan itu berasas monogami. metodologi Rahman sangat membutuhkan kekayaan khasanah Islam klasik seperti ilmu asbab an-nuzul meskipun dengan perluasan paradigma. memaksimalkan kreativitas manusia. Idea moral dari ayat ini adalah memotong kemampuan pencuri agar tidak mencuri lagi. sementara gerakan kedua untuk memformulasikan dan merealisasikan “general view to the spesific view”. Yang paling penting adalah bagaimana cara mengamputasi segala kemungkinan yang membuat seseorang mengulangi perbuatannya itu dan menghargai kepemilikan pribadi seseorang. pertama. atau budak-budak yang kamu miliki. Dua contoh yang di antaranya diajukan oleh Rahman adalah ayat tentang poligami dan hukum potong tangan sebagaimana penjelasan sebagai berikut: ÷bÎ)ur ÷LäêøÿÅz žwr& (#qäÜÅ¡ø)è? ’Îû 4‘uK»tGu‹ø9$# (#qßsÅ3R$$sù $tB z>$sÛ Nä3s9 z`ÏiB Ïä!$|¡ÏiY9$# 4Óo_÷WtB y]»n=èOur yì»t/â‘ur ( ÷bÎ*sù óOçFøÿÅz žwr& (#qä9ω÷ès? ¸oy‰Ïnºuqsù ÷rr& $tB ôMs3n=tB öNä3ãY»yJ÷ƒr& 4 y7Ï9ºsŒ #’oT÷Šr& žwr& (#qä9qãès? ÇÌÈ Artinya: “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya). Wx»s3tR z`ÏiB «!$# 3 ª! $#ur ͕tã ÒOŠÅ3ym ÇÌÑÈ Artinya: “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri. maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua. gerakan pertama membutuhkan keahlian para sejarawan untuk menggali keadaan spesifik turunnya ayat maupun keadaan secara keseluruhan Mekah dan Arabia di masa itu. Tetapi bagi Rahman ayat ini perlu dipahami dalam nuansa etisnya secara komprehensif dengan melihat kondisi sosio kultural Arab dan sebab-sebab ayat ini turun. tiga atau empat.[17] Dengan demikian. Pemahaman (kebolehan 4 istri) ini tidak lagi sesuai dengan kedudukan antara laki-laki dan perempuan yang sama. Hal lain dari Rahman yang juga dipengaruhi oleh asy-Syatibi adalah pandangannya mengenai apa yang populer disebut “idea moral”. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS.[19] Pemahaman Rahman di atas menjadi bagian penting dalam keinginannya untuk. maka (kawinilah) seorang saja. Bahkan sebetulnya ini bukanlah hal baru karena sebelumnya telah dipikirkan oleh Imam asy-Syatibi dalam al-Muwafaqat fi ushul al-shari’ah.[21] ä-Í‘$¡¡9$#ur èps%Í‘$¡¡9$#ur (#þqãèsÜø%$$sù $yJßgtƒÏ‰÷ƒr& Lä!#t“y_ $yJÎ/ $t7|¡x. adil tidak mungkin dipenuhi oleh laki-laki. bukan hukum Islam. mencuri menurut kebudayaan adalah kejahatan ekonomi dan kejahatan melawan nilai-nilai dan harga diri manusia. dan kedua.

yaitu ayat 66 dimana Tuhan awalnya tidak mempermasalahkan a’nab (anggur): ¨bÎ)ur ö/ä3s9 ’Îû ÉO»yè÷RF{$# ZouŽö9Ïès9 ( /ä3‹É)ó¡ン S $®ÿÊeE ’Îû ¾ÏmÏRqäÜç/ .`ÏB Èû÷üt/ 7^ö ヘ sù 5QyŠur $·Yt7©9 $TÁÏ9%s{ $Zóͬ!$y™ tûüÎ/Ì ヘ»¤±=Ïj9 ÇÏÏÈ Artinya: “Dan dari buah korma dan anggur. Katakanlah: ‘Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia.Lalu bagaimana cara mencapai “idea moral” itu? Dalam hal ini Rahman mencontohkannya dengan larangan meminum khamr yang diekspos oleh wahyu secara bertahap. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. al-Qur’an menganggap minuman yang memabukkan dari anggur itu sebagai “kebesaran Tuhan”. terdapat sebuah kejadian dimana salah satu sahabat Anshar meminum khamr dan mabuk sehingga ia salah dalam membaca al-Qur’an. sedang kamu dalam keadaan mabuk. berjudi. dan beberapa sahabat mendorong Nabi saw untuk melarang alkohol.” Setelah ayat di atas. #ÓyÌó ミ£D ÷rr& 4’n?tã @ヘ xÿy™ ÷rr& uä!$y_ Ó‰tnr& Nä3YÏiB z`ÏiB ÅÝͬ!$tóø9$# ÷rr& ãLäêó¡yJ»s9 uä!$| ¡ÏiY9$# öNn=sù (#r߉ÅgrB [ä!$tB (#qßJ£Ju‹tFsù #Y‰‹Ïè|¹ $Y7ÍhŠsÛ (#qßs|¡øB$$sù öNä3Ïdqã_âqÎ/ öNä3ƒÏ ‰÷ƒr&ur 3 ¨bÎ) ©!$# tb%x. sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan. kemudian kamu tidak mendapat air. an-Nahl: 66).ÏŒ «!$# Ç`tãur Ío4qn=¢Á9$# ( ö@ygsù LäêRr& tbqåktJZ•B ÇÒÊÈ Artinya: “Hai orang-orang yang beriman. (berkorban untuk) berhala. Pada awalnya. Katakanlah: ‘Yang lebih dari keperluan. janganlah kamu shalat. (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan . kamu buat minimuman yang memabukkan dan rezki yang baik. ßûÎiüt7ムª!$# ãNä3s9 ÏM»tƒFy$# öNà6¯=yès9 tbrã ヘ©3xÿtFs? ÇËÊÒÈ Artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. an-Nahl ayat 66 hingga 69 akan dikutip di sini salah satunya. mengadakan “pesta minum” yang kemudian terjadi percekcokan dan perselisihan hebat di antara mereka karena mabuk. adalah termasuk perbuatan syaitan.’ Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. #‚qàÿtã #·‘qàÿxî ÇÍÌÈ Artinya: “Hai orang-orang yang beriman.’ Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir.£‰ÝÁtƒur `tã Ì ヘ ø. Akhirnya untuk mengenang sebuah peristiwa para sahabat Nabi saw. sapulah mukamu dan tanganmu. tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan. terkecuali sekedar berlalu saja. an-Nisa: 43). al-Baqarah ayat 219: * y7tRqè=t«ó¡o„ ÇÆtã Ì ヘ ôJy‚ø9$# ÎŽÅ£÷マ yJø9$#ur ( ö@è% !$yJÎgŠÏù ÖNøOÎ) ׎ ヘ Î7Ÿ2 ßìÏÿ»oYtBur Ĩ$¨Z=Ï9 !$yJßgßJøOÎ)ur çŽt9ò2r& `ÏB $yJÎgÏèøÿ¯R 3 š チ tRqè=t«ó¡o„ur #sŒ$tB tbqà)ÏÿZムÈ@è% uqøÿyèø9$# 3 š チ Ï9ºx‹x. maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci). Lalu turun kemudian ayat di bawah ini: $pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãYtB#uä Ÿw (#qç/t ヘ ø)s? no4qn=¢Á9$# óOçFRr&ur 3“t ヘ»s3ß™ 4Ó®Lym (#qßJn=÷ès? $tB tbqä9qà)s? Ÿwur $·7ãYã_ žwÎ) “Ì ヘ Î/$tã @@‹Î6y™ 4Ó®Lym (#qè=Å¡tFøós? 4 bÎ)ur LäêYä. hingga kamu mandi.[23] Dari QS. Sesunggguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan” (QS. mengundi nasib dengan panah. Sesungguhnya Allah Maha Pema'af lagi Maha Pengampun” (QS. Sebagai konsekuensinya maka diturunkanlah QS. Lalu turunlah ayat terakhir mengenai khamr itu[24]: $pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä $yJ¯RÎ) ã ヘ ôJsƒø:$# çŽÅ£øŠyJø9$#ur Ü>$|ÁRF{$#ur ãN»s9ø—F{$#ur Ó§ô_Í‘ ô`ÏiB È@yJtã Ç`»sÜø‹¤±9$# çnqç7Ï^tGô_$$sù öNä3ª=yès9 tbqßsÎ=øÿè? ÇÒÉÈ $yJ¯RÎ) ߉ƒÌ ヘ ムß`»sÜø‹¤±9$# br& yìÏ%qムãNä3uZ÷マ t/ nourºy‰yèø9$# uä!$ŸÒøót7ø9$#ur ’Îû Ì ヘ÷Ksƒø:$# ÎŽÅ£÷マ yJø9$#ur öNä. sesungguhnya (meminum) khamar. Keadaan kemudian berubah saat muslim mulai berpindah ke Medinah.

bukan “reformer paradigmatik”. tetapi ketika Ayub Khan –yang secara emosional dekat dengan Rahman– menjadi presiden kedua Pakistan. but rather upon an interpretation of the spirit and broad intention behind the spesific language of the texts. Sehingga dengan “kritik sejarah” itu paradigma Islam sedang mencoba digeser dari wilayah yang teologis-metafisik ke dalam wilayah etis antropologis. Misalnya saja. Apalagi pemikiran Rahman cukup luas dan meliputi berbagai bidang keilmuan. Rahman merupakan salah satu tokoh yang cukup keras mengritik uraian-uraian konsep hadits yang diekspolorasi oleh Joseph Schact dan Ignaz Goldziher yang terkesan “mendiskreditkan” dan “meragukan” otentisitas hadits sebagai salah satu formula dalam hukum Islam. Selain itu tawaran metodologis Rahman merupakan perpaduan antara akar tradisional keilmuan muslim dengan keilmuan Barat (hermeneutika). Hal ini berbeda dengan pemikiran-pemikiran yang ditawarkan oleh Muhammad Syahrur ataupun Mahmud Muhammad Taha yang dalam batas-batas tertentu “melewati” arus paradigma Islam klasik. Berdasarkan ordonansi ini di Pakistan dibentuk Dewan-dewan arbitrase yang menangani masalah-masalah seperti memberikan sanksi kepada seseorang yang poligami. maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)” (QS. 1. hadits. Apalagi pemikiran Rahman. sebagaimana yang sedikit disinggung di permulaan uraian. sebuah waktu yang relatif dekat dengan kepulangan Rahman pada tahun 1960-an ke Pakistan dari McGill. dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang. tetapi Rahman di sisi lain juga seorang muslim yang cukup keras mengritik tokoh-tokoh orientalis yang dianggapnya tidak tepat dalam menjelaskan pemikiran Islam. Pemikiran Rahman didasari atas pembacaan literatur. “the main thrust of the liberalist approach consists of understanding revelation as both text and context. merekonsiliasi percekcokan rumah tangga. Bahwa asas pernikahan memang monogami dan pidana pencurian adalah “membuat jera”.”[27] . Di dalam konteks modern pemikiran Rahman bagi penulis cukup relevan meskipun kontekstualisasi pemikiran Islam telah banyak digelorakan. kalam. Tawaran Rahman yang terkesan “moderat” membuat banyak kalangan merasa ditemukan dengan revitalisasi yang tidak “ekstrim” sehingga dapat diterima oleh cukup banyak kalangan. Dengan metodologi baru yang ditawarkan oleh Rahman ini ia agaknya sedang berusaha menjauhkan umat Islam dari fanatisme-fanatisme tekstual yang menjatuhkan siapapun ke dalam “bibiolatri” sebagai sebuah sikap yang “memberhalakan” teks tanpa melihat faktor-faktor eksternal yang membentuknya. Demikianlah bahwa memang al-Qur’an menurunkan hukum-hukumnya itu sebagai “pentahapan” untuk menuju sesuatu yang ideal. baik literatur Islam maupun Barat-modern sehingga kritikkritiknya meliputi kedua-duanya. sebagaimana eksplorasi sebelumnya. Bukan saja karena tawaran metodologinya yang reformatif. apakah terdapat pengaruh dari pemikiran Rahman atau tidak. Relevansi Pemikiran Fazlur Rahman Kategorisasi Rahman sebagai seorang neo modernis sebenarnya lebih memperlihatkan ciri pemikirannya sebagai seorang “reformer metodologis”. Selain itu. tafsir. pendidikan dan kajian-kajian modern keislaman. tasawuf. Hallaq mengkategorikan dirinya dalam kelompok “religious liberalism” bersama Said al-Asymawi dan Muhammad Syahrur. The connection between the revealed text and modern society does not turn upon a literalist hermeneutic. Di Pakistan sendiri. Inilah yang merupakan prinsip-prinsip umum (the general principles) yang seharusnya direkomendasi dalam setiap formulasi hukum Islam.kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu. selain menemukan “idea moral” sebagai tujuan utama pewahyuan.[25] Pengaruh Rahman sendiri dalam dunia modern muslim cukup luas.[26] Mengenai kelompok liberalis ini Hallaq menguraikan di awal-awal penjelasan. “Perpaduan” ini membuat wajah pemikiran Rahman “eklektik” sehingga Wael B. Rahman tetap menggunakan “ayat-ayat al-Qur’an” yang lain dan sumber-sumber periwayatan dalam penafsiran hukumnya sehingga dapat dikategorikan sebagai pengembangan atas tafsir bi al-ma’tsur. al-Maidah: 90-91). telah ditemukan akarnya dari pemikiran as-Syatibi. Di sinilah universalitas hukum Islam itu sebenarnya akan ditemukan untuk merespon kenyataan-kenyataan baru dalam modernitas. serta memberikan perlindungan terhadap wanita dan anak-anak. bersama Muhammad Mustafa A’dzami. pernah memperkenalkan hukum keluarga Islam (the Muslim Family Laws) melalui sebuah ordonansi pada tanggal 2 Maret 1961.

dari setiap ayat al-Qur’an. Meskipun begitu. Karena itulah saran dan kritik selalu terbuka bagi siapapun. yang telah diketahui menjadi perdebatan sejak lama oleh para ulama Islam klasik. Di sisi lain. tentu saja di samping ketidaksempurnaan pada aspek-aspek yang lain. Apalagi sejatinya hermeneutika yang lahir dari peradaban Barat (Gereja) awalnya tidak dimaksudkan untuk “mendesakralisasi” Tuhan dan ayat-ayatnya dalam Bibel tetapi melakukan “reinterpretasi” atas Bibel sebagai upaya mendialektikan “suara Tuhan” dengan “suara manusia modern” yang sangat berbeda karakteristik dari respon-respon radikal-ekstrim seperti yang digelorakan oleh Karl Marx dan Nietzsche. terutama yang terkait dengan hukum-hukumnya. Abdul Wahab Khallaf dan tokoh revolusioner dari Sudan. IV. kesetaraan gender. Rasyid Ridha. tawaran Rahman cukup baik untuk diimplementasikan terutama tentang berpikir secara etis. Karena wawasan etis alQur’an. Karena itu Hallaq mengritik pandangan-pandangan kelompok ini karena pada akhirnya akan jatuh pada subjektivitas dan relativitas. Pemikiran Rahman. M. [28] Dalam kehidupan kontemporer ini. Selain dibutuhkan kajian yang cukup berat. Kelompok ini cukup kuat dalam memegang teks-teks hukum dan terkesan “deduktif” sehingga dialektika dengan modernitas kurang begitu mendapatkan tempat meskipun batu pertama tesis utilitarianis adalah maslaha. maka tidak akan terjebak pada formalisme sehingga dalam kehidupan masyarakat modern yang plural seperti di Indonesia. demokrasi. demi sebuah karya yang memang layak diperiksa ulang.Kelompok “religious liberalism” ini sendiri berbeda dengan kelompok “religious utilitarianism” yang diisi oleh tokoh-tokoh seperti Muhammad Abduh. London & New York: Verso. perlu sebuah upaya “pembumian” sehingga dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari muslim. penggunaan hermeneutika oleh Rahman ternyata tidak selalu memberikan dampak buruk sebagaimana yang selama ini dikhawatirkan oleh sebagian umat Islam. tetapi juga etika. Rahman melalui “metode kritik sejarah” dan “double movement” ibarat memberikan wadah sementara isi dan hasilnya menjadi tugas para pemikir berikutnya. karena didasarkan pada nilai-nilai yang universal. hukum yang tercipta diharapkan mampu dikembangkan sesuai semangat zaman ini. [1] Aziz Al-Azmeh. semangat keadilan. pertama. Muhyar Fanani. 1993. V. KESIMPULAN Dari uraian pada makalah ini maka dapat disimpulkan dua hal utama. hlm. pembaruan pemikiran hukum Islam Fazlur Rahman didasarkan pemahamannya terhadap ayat-ayat al-Qur’an secara hermeneutis melalui “metode kritik sejarah” dan konsep “double movement”. hak asasi manusia. Hasan Turabi. Penanaman “idea moral” akan menjadikan umat Islam lebih terbuka dan tidak formalis tanpa harus menanggalkan semangat ketuhanan dan keislaman. Kedua. pemikiran Rahman dapat dipandang relevan dengan zaman ini yang telah “mengglobal” dimana pluralitas merupakan kenyataan dimana-mana. . Meskipun demikian. Tetapi visi Rahman mengenai “kontekstualisasi” atau “pembumian” patut disambut baik –dan terbukti pemikirannya telah menginspirasi dan diperkenalkan oleh banyak pemikir sesudahnya– karena melihat aspek-aspek teologis ayat al-Qur’an tidak hanya dari sisi aspek hukumnya saja. Upaya ini dilakukan untuk menemukan prinsip-prinsip umum atas wahyu Tuhan yang dieksplisitkan dalam teks al-Qur’an sehingga dialektika dengan problem baru tidak terputus. Namun begitu terasa cukup banyak kekurangan terutama terkait dengan ketersediaan referensi yang tidak mampu dihadirkan secara komplit.Ag selaku dosen pemikiran hukum Islam dan teman-teman pascasarjana IAIN Walisongo. PENUTUP Demikian makalah ini telah penulis susun dengan sebaik-baiknya. dan sebagainya. Rahman memang belum tuntas dalam memperbincangkan konsepnya mengenai “idea moral” misalnya. sebagai manusia memiliki keterbatasan waktu. 11-12. terutama dari Bapak Dr. Islams and Modernities.

com/focus/fr/531762/posts (diakses tanggal 21/05/2010). [4] Fazlur Rahman. hlm. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. terj. Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition. dan Abduh (Mesir). Islam. Neo modernisme. terj. Revivalisme direpresentasikan oleh Wahabiyah (Arab).. 16. Epistemologi Hukum Islam dalam Pandangan Hermeneutika Fazlur Rahman. [15] Ilyas Supena. dan Ziauddin Sardar yang meragukan seluruh epistemologi Barat dapat digunakan untuk memajukan umat muslim. xi. Ibid. II. Major Themes of The Qur’an. dan Fulaniyah (Afrika Barat). hlm. 42 No. 2001. Penolakan Rahman terhadap positivisme ini hampir mirip dengan penolakan yang dilakukan oleh Abduh. 67.. Palmer. 1979. 1982. 125-126. dalam http://www. Cit. Op. Ibid. hlm. Atho Mudzhar. hlm. terj. and Gadamer. 2003. hlm. Cit. [8] Nashr Hamd Abu Zayd. 2003. Takwin al-‘Aql al-‘Arabi. selain istilah lain revivalisme dan neo-revivalisme serta modernisme Islam. Palmer. “Tema Pokok al-Qur’an”. [13] Baca Muhammad Abed al-Jabiri. Karena itulah ketiga tokoh ini justru menginginkan adanya pembaruan Islam dari “dalam” yang berakar pada tradisi keislaman itu sendiri. London and Chicago: Chicago University Press. hlm. [3] Istilah neo modernisme sendiri sebenarnya diutarakan oleh Rahman saat membedakan gerakan pembaruan Islam selama dua abad terakhir. hlm. Islam and Modernity…Op. dan bi al-isyari dalam Ali Asy-Shabuni. hlm. dalam Jurnal Asy-Syir’ah. dalam International Journal of Middle East Studies of Cambridge University. 2009. Uraian ini dikutip dari Greg Barton oleh M. [7] Baca lebih lanjut mengenai tafsir bi al-ma’tsur. Sanusiyah (Afrika Utara). al-Afghani (Timteng). [5] Baca M. 247-248. Baca Wael B. [9] Nashr Hamd Abu Zayd. The Massage of Fazlur Rahman. vol. Tekstualitas al-Qur’an: Kritik Terhadap Ulumul Qur’an. Sedangkan modernisme diwakili oleh Ahmad Khan (India).[2] Ijtihad baru tidak berarti sebagai upaya menafikan rumusan lama dalam pemikiran hukum Islam. bi al-ra’yi. 2-3. memiliki karakteristik sintesis progresif dari rasionalitas modernis dengan ijtihad dan tradisi klasik. 33-34. [14] Muhammad Abed al-Jabiri. “Formasi Nalar Arab: Kritik Tradisi Menuju Pembebasan dan Pluralisme Wacana Interreligius”. termasuk Rahman sendiri. [6] Fazlur Rahman. Anas Mahyuddin. Was the Gate of Ijtihad Closed?. Ibid. Dilthey. Ali Syari’ati. 1983. Gerakan Islam Liberal di Indonesia. [12] Richard E. [10] Ilyas Supena. tetapi mengevaluasi kembali dan mendialogkan rumusan-rumusan itu dan atau mengembangkannya dengan semangat zaman ini. Chicago and London: University of Chicago Press. 248-249. . Yogyakarta: LKIS. Baca juga Fazlur Rahman. No. Hallaq. “Hermeneutika: Teori Baru Mengenai Interpretasi”. 1985.. Bandung: Penerbit Pustaka. 21 Oktober 2009.freerepublic. [11] Richard E. vol. Hermeneutics Interpretation Theory in Schleirmacher. Yogyakarta: Ircisod. hlm. Musnur Hery dan Damanhuri Muhammed. 1-2. 87. 6. Heidegger. 1 (Mar. [16] Fazlur Rahman. 1984). Neo-revivalisme diwakili oleh al-Maududi dengan Jama’at e Islami di Pakistan. Beirut: Alam al-Kutub. Yahya Birt. makalah seminar internasional Tajdid Pemikiran Islam oleh Yayasan Dakwah Malaysia Indonesia dan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Imam Khoiri. at-Tibyan fi Ulum al-Qur’an. hlm.

Hallaq. 4: 126. Op. Ibid. 231-253.. [27] Wael B. A History of Islamic Legal Theories…. Fazlur Rahman.wordpress. 7. 242. 1965. A History of Islamic Legal Theories…. . hlm.wikipedia. Ayat-ayat ini dapat diperbandingkan dengan 4:2. Hallaq.. hlm.Cit.[17] Fazlur Rahman.. Selain itu Rahman juga membahas Ibn Taimiyyah yang menguraikan persoalan sentral dalam filsafat hukum Islam adalah bagaimana kewajiban moral itu berkaitan dengan Divine Omnipotence dan Will serta bagaimana kebutuhan saat ini mampu dipenuhi oleh (warisan) masa lalu. 97. 115. A History of Islamic Legal Theories: An Introduction to Sunni Usul al-Fiqh.com/2008/12/01/hermeneutika-al-qur%E2%80%99an-fazlur-rahman/ (diakses tanggal 21 Mei 2005). hlm. [18] Baca. Ibid. dan 4: 127. Islamic Methodology in History. 1997. Islam. [24] Wael B. [25] http://en. hlm. [21] http://jeryronggo. Hallaq. [23] Wael B. 231. [19] Fazlur Rahman. [26] Baca Wael B. Ibid. Islam and Modernity…. [20] Fazlur Rahman. hlm. Op. Cit. hlm. Ibid. [22] Ibid. Karachi: Central Institute of Islamic Research. Cambridge: Cambridge University Press.org/wiki/Ayub_Khan (diakses pada 21 Mei 2010). Islam and Modernity…. Hallaq. A History of Islamic Legal Theories….

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful