P. 1
Biografi Dan Pemikiran Fazlur Rahman

Biografi Dan Pemikiran Fazlur Rahman

|Views: 1,985|Likes:
Published by Subki Ali

More info:

Published by: Subki Ali on May 06, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/15/2013

pdf

text

original

BIOGRAFI DAN PEMIKIRAN FAZLUR RAHMAN Fazlur Rahman dilahirkan pada tanggal 21 September 1919 di Hazara, suatu daerah

di Anak Benua Indo-Pakistan yang sekarang terletak di barat laut Pakistan. Wilayah Anak Benua Indo-Pakistan sudah tidak diragukan lagi telah melahirkan banyak pemikir Islam yang cukup berpengaruh dalam perkembangan pemikiran Islam, seperti Syah Wali Allah, Sir Sayyid Ahmad Khan, hingga Sir Muhammad Iqbal. Nama keluarga Fazlur Rahman adalah Malak, namun nama keluarga Malak ini tidak pernah digunakan dalam daftar referensi baik di Barat ataupun di Timur. Fazlur Rahman dilahirkan dalam suatu keluarga Muslim yang sangat religius. Kerelegiusan ini dinyatakan oleh Fazlur Rahman sendiri yang mengatakan bahwa ia mempraktekan ibadah-ibadah keisalaman seperti shalat, puasa, dan lainnya, tanpa meninggalkannya sekalipun (1992: 59). Dengan latar belakang kehidupan keagamaan yang demikian, maka menjadi wajar ketika berumur sepuluh tahun ia sudah dapat menghafal Alquran. Adapun mazhab yang dianut oleh keluarganya ialah mazhab Hanafi. Walaupun hidup ditengah-tengah keluarga mazhab Sunni, Fazlur Rahman mampu melepaskan diri dari sekat-sekat yang membatasi perkembangan intelektualitasnya dan keyakinan-keyakinannya. Dengan demikian, Fazlur Rahman dapat mengekspresikan gagasan-gagasannya secara terbuka dan bebas. Seperti pendapat mengenai wajibnya shalat tiga waktu yang dijalani oleh penganut mazhab Syi’ah, Fazlur Rahman beranggapan bahwa praktek tersebut dibenarkan secara historis karena Muhammad saw. pernah melakukannya tanpa sesuatu alasan (Rahman, 2003: 41). Orang tua Fazlur Rahman sangat mempengaruhi pembentukan watak dan keyakinan awal keagamaannya. Melalui ibunya, Fazlur Rahman memperoleh pelajaran berupa nilai-nilai kebenaran, kasih saying, kesetiaan, dan cinta. Ayah Fazlur Rahman merupakan penganut mazhab Hanafi yang sangat kuat, namun beliau tidak menutup diri dari pendidikan modern. Tidak seperti penganut mazhab Hanafi fanatik lainnya ketika itu, Ayahnya berkeyakinan bahwa Islam harus memandang modernitas sebagai tantangan-tantangan dan kesempatan-kesempatan. Pandangan ayahnya inilah yang kemudian mempengaruhi pemikiran dan keyakinan Fazlur Rahman (Rahman, 1992: 59). Selain itu, melalui tempaan ayahnya, Fazlur Rahman pada kemudian hari menjadi seorang yang bersosok cukup tekun dalam mendapatkan pengetahuan dari pelbagai sumber, dan melalui ibunyalah kemudian ia sangat tegar dan tabah dalam mengembangkan keyakinan dan pembaruan Islam (A’la, 2003: 34). Pada tahun 1933, Fazlur Rahman melanjutkan pendidikannya di sebuah sekolah modern di Lahore. Selain mengenyam pendidikan formal, Fazlur Rahman pun mendapatkan pendidikan atau pengajaran tradisinonal dalam kajian-kajian keislaman dari ayahnya, Maulana Syahab al Din. Materi pengajaran yang diberikan ayahnya ini merupakan materi yang ia dapat ketika menempuh pendidikan di Darul Ulum Deoband, di wilayah utara India. Ketika berumur empat belas tahun, Fazlur Rahman sudah mulai mempelajari filsafat, bahasa Arab, teologi atau kalam, hadis dan tafsir (A’la, 2003: 34). Setelah menyelesaikan pendidikan menengahnya, Fazlur Rahman kemudian melanjutkan pendidikannya dengan mengambil bahasa Arab sebagai kosentrasi studinya dan pada tahun 1940 ia berhasil mendapatkan gelar Bachelor of Art. Dua tahun kemudian, tokoh utama gerakan neomodernis Islam ini berhasil menyelesaikan studinya di universitas yang sama dan mendapatkan gelar Master dalam bahasa Arab. Menurut Amal (1996: 80), ketika telah menyelesaikan studi Masternya dan tengah belajar untuk menempuh program Doktoral di Lahore, Fazlur Rahman pernah diajak oleh Abul A’la Mauwdudi, yang kelak menjadi “musuh” intelektualitasnya, untuk bergabung di Jama’at al Islami dengan syarat meninggalkan pendidikannya. Pada tahun 1946, Fazlur Rahman berangkat ke Inggris untuk melanjutkan studinya di Oxford University. Keputusannya untuk melanjutkan studinya di Inggris dikarenakan oleh mutu pendidikan di India ketika itu sangat rendah. Dibawah bimbingan Profesor S. Van den Berg dan H A R Gibb, Fazlur Rahman berhasil menyelesaikan studinya tersebut dan memperoleh gelar Ph. D pada tahun 1949 dengan disertasi tentang Ibnu Sina. Disertasi Fazlur Rahman ini kemudian diterbitkan oleh Oxford University Press dengan judul Avicenna’s Psychology.

Selama menempuh pendidikan di Barat, Fazlur Rahman menyempatkan diri untuk belajar pelbagai bahasa asing. Bahasa-bahasa yang berhasil dikuasai olehnya diantaranya ialah Latin, Yunani, Inggris, Jerman, Turki, Arab dan Urdu (Sutrisno, 2006: 62). Penguasaan pelbagai bahasa ini membantu Fazlur Rahman dalam memperdalam dan memperluas cakrawala keilmuannya (khususnya studi keislaman) melalui penelusuran pelbagai literatur. Setelah menyelesaikan studinya di Oxford University, Fazlur Rahman tidak langsung ke negeri asalnya Pakistan (ketika itu sudah melepaskan diri dari India), ia memutuskan untuk tinggal beberapa saat disana. Ketika tinggal di tinggal di Inggris, Fazlur Rahman sempat mengajar di Durham University. Kemudian pindah mengajar ke Institute of Islamic Studies, McGill University, Kanada, dan menjabat sebagai Associate Professor of Philosophy sampai awal tahun 1960. Menurut pengakuan Fazlur Rahman, ketika menempuh studi pascasarjana di Oxford University dan mengajar di Durham University, konflik antara pendidikan modern yang diperolehnya di Barat dengan pendidikan Islam tradisional yang didapatkan ketika di negeri asalnya mulai menyeruak. Konflik ini kemudian membawanya pada skeptisisme yang cukup dalam, yang diakibatkan studinya dalam bidang filsafat (Rahman, 1992: 60). Setelah tiga tahun mengajar di McGill University, akhirnya pada awal tahun 1960 Fazlur Rahman kembali ke Pakistan setelah sebelumnya diminta bantunnya oleh Ayyub Khan untuk membangun negeri asalnya, Pakistan. Menurut Moosa (2000: 2), permintaan Ayyub Khan kepada Fazlur Rahman ialah bertujuan untuk membawa Pakistan pada khittah berupa negara yang bervisi Islam Selanjutnya pada tahun 1962, Fazlur Rahman diminta oleh Ayyub Khan untuk memimpin Lembaga Riset Islam (Islamic Research Institute) dan menjadi anggota Dewan Penasihat Ideologi Islam (The Advisory Council of Islamic Ideology). Motivasi Fazlur Rahman untuk menerima tawaran dari Ayyub Khan dapat dilacak pada keinginannya untuk membangkitkan kembali visi Alquran yang dinilainya telah terkubur dalam puing-puing sejarah (Rahman, 1992: 63). Kursi panas yang diduduki oleh Fazlur Rahman akhirnya menuai pelbagai reaksi. Para ulama tradisional menolak jika Fazlur Rahman mendudukinya, ini disebabkan oleh latar belakang pendidikannya yang ditempuh di Barat. Penentangan atas Fazlur Rahman akhirnya mencapai klimaksnya ketika jurnal Fikr-o-Nazar menerbitkan tulisannya yang kemudian menjadi dua bab pertama bukunya yang berjudul Islam. Pada tulisan tersebut, Fazlur Rahman mengemukakan pikiran kontroversialnya mengenai hakikat wahyu dan hubungannya dengan Muhammad saw. Menurut Fazlur Rahman, Alquran sepenuhnya adalah kalam atau perkataan Allah swt, namun dalam arti biasa, Alquran juga merupakan perkataan Muhammad saw. (Rahman, 2003: 33). Akibat pernyataan-pernyataannya tersebut, Fazlur Rahman dinyatakan sebagai munkir-i-Quran (orang yang tidak percaya Alquran). Menurut Amal (1994: 14-15), kontroversi dalam media masa Pakistan mengenai pemikiran Fazlur Rahman tersebut berlalu hingga kurang lebih satu tahun, yang pada akhirnya kontroversi ini membawa pada gelombang demonstrasi massa dan mogok total di beberapa daerah Pakistan pada September 1968. Menurut hampir seluruh pengkaji pemikiran Fazlur Rahman berpendapat bahwa penolakan atasnya bukanlah ditujukan kepada Fazlur Rahman tetapi untuk menentang Ayyub Khan. Hingga akhirya pada 5 September 1968 permintaan Fazlur Rahman untuk mengundurkan diri dari pimpinan Lembaga Riset Islam dikabulkan oleh Ayyub Khan. Pada akhir tahun 1969 Fazlur Rahaman meninggalkan Pakistan untuk memenuhi tawaran Universitas California, Los Angeles, dan langsung diangkat menjadi Guru Besar Pemikiran Islam di universitas yang sama. Mata kuliah yang ia ajarkan meliputi pemahaman Alquran, filsafat Islam, tasawuf, hukum Islam, pemikiran politik Islam, modernism Islam, kajian tentang al Ghazali, Shah Wali Allah, Muhammad Iqbal, dan lain-lain. Salah satu alasan yang menjadikan Rahman memutuskan untuk mengajar di Barat disebabkan oleh keyakinan bahwa gagasangagasan yang ditawarkannya tidak akan menemukan lahan subur di Pakistan. Selain itu, Rahman menginginkan adanya keterbukaan atas pelbagai gagasan dan suasana perdebatan yang sehat, yang tidak ia temukan di Pakistan (A’la, 2003: 40). Selama di Chicago, Fazlur Rahman mencurahkan seluruh kehidupannya pada dunia keilmuan dan Islam. Kehidupannya banyak dihabiskan di perpustakaan pribadinya di basement rumahnya, yang terletak di Naperville, kurang lebih 70 kilometer dari Universitas Chicago. Rahman sendiri menggambarkan aktitivitas dirinya tersebut laiknya ikan yang naik ke atas hanya untuk mendapatkan udara (Wan Daud, 1991: 108). Dari konsistensinya dan kesungguhannya terhadap dunia keilmuan akhirnya Rahman mendapatkan pengakuan lembaga keilmuan berskala

internasional. Pengakuan tersebut salah satunya ialah pada tahun 1983 ia menerima Giorgio Levi Della Vida dari Gustave E von Grunebaum Center for Near Eastern Studies, Universitas California, Los Angeles. Pada pertengahan dekade 80-an, kesehatan tokoh utama neomodernisme Islam tersebut mulai terganggu, dintaranya ia mengidap penyakit kencing manis dan jantung. Konsistensi Rahman untuk terus berkarya pun ditandai oleh lahirnya karya yang berjudul Revival and Reform in Islam: A Study of Islamic Fundamentalism. Walaupun baru diterbitkan setelah beliau wafat, namun pengerjaannya dilakukan ketika sakit beliau makin parah dengan dibantu oleh puteranya. Akhirnya, pada 26 Juli 1988 profesor pemikiran Islam di Univesitas Chicago itu pun tutup usia pada usia 69 tahun setelah beberapa lama sebelumnya dirawat di rumah sakit Chicago. Perkembangan Pemikiran dan Karya-Karya Pemikiran Fazlur Rahman dapat dibagi menjadi tiga fase atau periode, yakni periode awal, periode Pakistan, dan periode Chicago. Periode pertama belangsung sekitar dekade 50-an dan pada periode ini Rahman hanya menghasilkan karya-karya yang besifat historis, seperti Avicenna’s Psycology (1952), Avicenna’s De Anima, dan Propecy in Islam: Philosophy and Orthodoxy (1958). Melalui ketiga buku Rahman ini akan terlihat jelas concern pemikirannya, yakni kajian historis murni. Namun demikian, kajian yang dilakukan Rahman pada buku yang disebut terakhir mempengaruhi pandangannya tentang proses pewahyuan kepada nabi Muhammad saw (Amal, 1996: 116). Periode Pakistan merupakan tahapan kedua dari perkembangan pemikiran Rahman yang berlangsung sekitar dekade 60-an. Berbeda dengan periode pertama yang cenderung pada kajian historis dari pemikiran Islam, concern Rahman pada periode ini mengalami perubahan yang radikal, yakni pada kajian-kajian Islam normatif. Adapun faktor-faktor yang melatarbelakangi perubahan concern pemikiran Rahman ini ialah. 1. Adanya kontroversi yang akut di Pakistan antara kalngan modernis disatu pihak dan kalangan tradisionalis dan fundamentalis di lain pihak. Kontroversi ini bermuara pada definisi Islam untuk negeri Pakistan ketika itu, 2. Kontak yang intens dengan Barat ketika menetap di sana, sangat berarti dalam penyadaran dirinya pada hakikat tantangan Islam pada periode modern, 3. Posisi penting sebagai Direktur Lembaga Riset Islam dan anggota Dewan Penasehat Ideologi Islam Pemerintah Pakistan, yang kemudeian mendorong Rahman untuk turut aktif dalam meberikan definisi Islam bagi Pakistan dari kalangan modernis (Sutrisno, 2006: 71-72). Walaupun belum ditopang oleh metodologi yang sistematis, pada periode ini Rahman sudah mulai melakukan kajian Islam normatif dan terlibat dalam arus pemikiran Islam (Sibawaihi, 2007: 21). Selain itu, Rahman terlibat pula secara intens dalam upaya-upaya menjawab tantangan-tantangan serta kebutuhan-kebutuhan masyarakat Muslim kontemporer dengan cara merumuskan kembali Islam. Adapun pada periode ini, pemikiran Rahman dicurahkan dalam memenuhi tugasnya dalam merumuskan ajaran Islam yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat Pakistan. Keterlibatan Rahman dalam arus pemikiran Islam dapat ditandai oleh beberapa artikel yang ia tulis pada jurnal Islamic Studies pada bulan Maret 1962 hingga Juni 1963. Menurut Açikgenç (dalam Saleh 2007: 27), sebenarnya pada periode kedua ini Rahman sudah berkeinginan mengembangkan metodologi yang menyerukan umat Islam untuk kembali kepada Alquran dan Hadis. Mutiara-mutiara pemikiran yang berhasil dihasilkan oleh Rahman pada periode ini diantaranya Islamic Methodology in History (1965), dan Islam (1966). Buku yang disebut pertama merupakan kumpulan dari beberapa tulisannya yang dipublikasikan di jurnal Islamic Studies. Artikel-artikel dalam buku ini ditulis dengan bertujuan untuk memperlihatkan, pertama, evolusi historis dari aplikasi keempat prinisp pokok pemikiran Islam, yakni Alquran, Sunnah, ijtihad, ijma’. Kedua, perranan aktual dari prinsip-prinsip tersebut bagi perkembangan Islam (Rahman, 1995: ix).

Buku kedua Rahman yang lahir pada peridoe kedua ini ialah berjudul Islam. Buku ini memaparkan perkembangan umum agama Islam selama empat belas abad, oleh karena itu menjadi wajar ketika buku ini menjadi dasar pengantar umum tentang studia Islam. Dua buah artikel pertama yang tersusun dalam buku ini , yakni artikel yang berjudul Muhammad dan Alquran, ketika dipublikasikan di Pakistan sempat menuai pelbagai kontroversi. Kontroversi terjadi berkenaan padangan Rahman mengenai hakikat Alquran dan proses pewahyuannya kepada Muhammad saw. Rahman memandang bahwa Alquran secara keseluruhannya adalah kalam Allah swt. dan dalam artian biasa merupakan perkataan Muhammad saw (Rahman, 2003: 33). Adapaun tulisan-tulisan Rahman yang difokuskan untuk memberi definisi Islam di Pakistan diantaranya ialah Some Reflection on the Reconstruction of Muslim Society in Pakistan, Implementation of the Islamic Concept of State in the Pakistan Milieu, dan The Qur’anic Solution of Pakistan’s Educational Problems. Perkembangan dan periode pemikiran Fazlur Rahman berikutnya ialah periode Chicago yang terhitung dari kepindahannya ke Chicago. Seluruh karya Rahman yang dihasilkan pada periode ini mencakup kajian Islam historis dan normatif. Adapun karya-karya yang berhasil ia hasilkan pada periode ini diantaranya The Philosophy of Mulla Shadra, Major Themes of The Qur’an, Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition, dan Health and Medicine in Islamic Tradition. Buku yang pertama penulis sebut di atas murni merupakan karya yang bertemakan Islam historis dan tidak memiliki hubungan dalam kajian-kajian Islam normatif. Sedangkan buku kedua karya Rahman pada periode kedua ini membahas mengenai delapan tema pokok Alquran, yakni Tuhan, Manusia sebagai Individu, Manusia Anggota Masyarakat, Alam Semesta, Kenabian dan Wahyu, Eskatologi, Setan dan Kejahatan, serta Lahirnya Masyarakat Muslim. Buku yang kerap kali disebut sebagai magum opus Fazlur Rahman ini mengkaji pelbagai ayat-ayat Alquran yang berhubungan dengan tema-tema yang telah disebut sebelumnya dan kemudian ditafsirkan dengan cara menghubungkan ayat-ayat tersebut. Selain itu, buku karya Rahman ini merupakan sikap atau tanggapannya atas pelabagai buku atau tulisan yang dibuat oleh para orientalis (seperti Richard Bell, Montgomery Watt, John Wansbrough, dal lain sebagainya) yang kerap kali menghubungkan atau beranggapan bahwa Alquran merupakan kelanjutan atau terpengaruh oleh ajaran-ajaran yang pernah ada sebelumya (seperti Yahudi dan Nasrani). Melalui karya ini, Rahman berhasil membangun landasan filosofis yang terga untuk perenungan kembali makna dan pesan Alquran bagi kaum Muslim kontemporer. Buku berikutnya yang Rahman hasilkan pada periode Chicago ini ialah Islam and Modernity: Transformation of an Intelectual Tradition. Buku ini sangat jelas memperlihatkan intensitas Rahman dalam menata masa depan Islam dan umatnya. Dengan demikian, buku ini tidak melulu membahas Islam historis yang tidak memberikan solusi kongkrit bagi pembangunan umat Islam dan bekal untuk umat Islam dalam menghadapi periode modern. Berikutnya ialah buku yang berjudul Helath and Medicine in Islamic Tradition, buku ini berusaha menangkap kaitan organis antara Islam sebagai sebuah sistem kepercayaan dan Islam sebagai sebuah tradisi pengobatan manusia. Setelah mengkaji perkembangan pemikiran Rahman yang didasarkan pada buku-buku yang ia hasilkan sepanjang karir intelektualitasnya, maka dapat dikatakan bahwa Rahman mengalami perubahan concern pemikiran serta kajiannya. Perubahan yang cukup signifikan ini disebabkan oleh kesadaran Rahman bahwa Islam dewasa ini tengah menghadapi krisis yang sebagian akarnya terdapat dalam Islam sejarah, pengaruh-pengaruh Barat dengan tantangan-tantangan modernitasnya, kemudian membuatnya berupaya membuat atau merumuskan soluai terhadap krisis tersebut (Amal, 1996: 148-149). Secara keseluruhan buku-buku yang Rahman hasilkan berjumlah sepuluh buah. Namun demikian, bukan berarti bahwa Fazlur Rahman hanya menghasilkan buku-buku an sich. Sepanjang karir intelektualitasnya, doctor lulusan Oxford University tersebut menulis pelbagai artikel di beberapa jurnal ilmiah dan sebagian dari artikel-artikel tersebut dikumpulkan menjadi beberapa buku. Adapun buku-buku yang dihasilkan olehnya ialah sebagai berikut. 1. Avicenna’s Psycology 2. Propecy in Islam: Philosophy and Ortodoxy 3. Avicennas’s De Anima, being the Psycological Part of Kitab al Shifa

4. Islam and Modernity: Transformation of an Intelectual Tradition 9. The Philosophy of Mulla Shadra 5. Health and Medicine in Islamic Tradition . Major Times of the Qur’an 8. Islam 7. Islamic Methodology in History 6. Revival and Reform in Islam: A Study of Islamic Fundamentalism 10.

Mantiq. setelah di Oxford ia mengajar bahasa Persia dan Filsafat Islam di Durham University Kanada dari tahun 1950-1958. ia menguasai kurikulum Dares Nijami yang di tawarkan di lembaga tersebut dalam kajian privat dengan Ayahnya. . Fazlur Rahman dilahirkan dari keluarga miskin yang taat pada agama. bahkan Ayahnya berkeyakinan bahwa islam harus memandang modernitas sebagai tantangan dan kesempurnaan. Namun usaha Fazlur Rahman sebagai seorang pemikir modern di tentang keras oleh para ulama tradisional-findamentalis. [2] Ayahnya Maulana Shihabudin adalah alumni dari sekolah menengah terkemuka di India. meskipun ia mendasarkan pemikirannya pada al-Qur’an dan sunnah. Ketika hendak mencapai usia 10 tahun ia sudah hafal al-Qur’an walaupun ia di besarkan dalam keluarga yang mempunyai pemikiran tradisional akan tetapi ia tidak seperti pemikir tradisional yang menolak pemikiran modern. Disertasi itu merupakan terjemah kritikan dan kritikan pada bagian dari kitab An-Najt. Tafsir. Setelah mempelajari ilmu-ilmu dasar ini.BIOGRAFI DAN PEMIKIRAN FAZLUR RAHMAN Fazlur Rahman lahir pada tanggal 21 September 1919 yang letaknya di Hazara sebelum terpecahnya India. Meskipun Fazlur Rahman tidak belajar di Daril Ulum. dan Filsafat.[1] Fazlur Rahman di besarkan dalam madzhab Hanafi. ini melengkapi latar belakangnya dalam memahami islam tradisional dengan perhatian khusus pada fikih. Islam ( 1966 ) di tentang keras karena pernyataan Fazlur Rahman dalam buku tesebut “ Bahwa Al-Qur’an itu secara keseluruhan adalah kalam Allah dan dalam pengertian biasa juga seluruhnya merupakan perkataan Muhammad “ sehingga Fazlur Rahman di anggap orang yang memungkiri Al-Qur’an kemudian pada 5 September 1986 ia mengundurkan diri dari jabatan Direktur lembaga Riset Islam yang langsung di kabulkan oleh Ayyub Khan. Dengan demikian tidak dapat di pungkiri Fazlur Rahman juga rasional di dalam berfikirnya. pada tahun 1964 ia di tunjuk sebagai anggota dewan penasehat Ideologi Pemerintah Pakistan. Puncak dari segala kontroversialnya memuncak ketika 2 bab karya momumentalnya. Pada tahun 1946 ia pergi ke Oxford dengan mempersiapkan disertasi dengan Psikologi Ibnu Sina di bawah pengawasan professor Simon Van Den Berg. ia melanjutkan ke Punjab University di Lahore dimana ia lulus dengan penghargaan untuk bahasa Arabnya dan di sana juga ia mendapatkan gelar MA-nya. ia meninggalkan Inggris untuk menjadi Associate Professor pada kajian Islam di Institute Of Islamic Studies Mc. kini merupakan bagian dari Pakistan. setelah sebelumnya menjabat sebagai staf lembaga tersebut. Darul Ulum Deoband . Gill University Kanada di Montreal. Selain menjabat sebagai Direktur Lembaga Riset Islam. [3] Dimana dia menjabat sebagai Associate Professor Of Philosophy. akan tetapi cara berfikirnya lebih rasional. Hadits. Pada bulan Agustus 1946 Fazlur Rahman di tunjuk sebagai Direktur Riset Islam. Pada awal tahun 60 an Fazlur Rahman kembali ke Pakistan. Madzhab Hanafi merupakan madzhab yang didasari al-Qur’an dan Sunnah. Ilmu kalam. milik filosof muslim kenamaan abad ke-7.

h. Method and Alternative. Karya-karya Fazlur Rahman a. Change and The Muslim World. seorang intelektual pencari kebenaran sudah .[4] B. c. Kepergian beliau merupakan suatu kehilangan bagi dunia Intelektual Islam. i. c. Forwards Reformulating The Methodology of Islamic Law : Syaikh Yamani on Public Interest in Islamic Low. l. Islam and Modernity Transformative of on Intelektual Tradition ( 1982 ). Some Key Ethical Concept of the Qur’an. d. Islamic Modernism It’s Scope. The Qur’anic Concept of God.Tidak kurang dari 18 tahun lamanya Fazlur Rahman menetap di Chicago dan mengkomunikasikan gagasangagasannya baik lewat lisan maupun tulisan sampai akhir tahun memanggilnya pulang pada tahun 26 juli 1988 jauh sebelum ia sudah terkena penyakit diabetes yang kronis dan serangan jantung sehingga ia harus di operasi. b. Maka adalah hak kita untuk menerima. Islam Legacy and Contemporary Challenges e. Artikel Fazlur Rahman : a. m. Interpreting the Qur’an. menyetujui atau menolak seluruh atau sebagian hasil pemikirannya untuk semua pada posisi penerimaan atau penolakan. k. e. Islam in The Contemporary World f. Prophecy in Islam. the Universe and Man. d. Divines Revelation and The Prophet. g. Islamic Challenges and Opportunist. Root of Islamic Neo Fundamentalism. The Philosophy of Mulasadra. Major Themes of The Qur’an ( 1980 ). j.[5] C. f. Operasi ini berhasil se tidak-tidaknya untuk beberapa minggu hingga ajal menjemputnya. b. Islamic Methodology in History 1965. am Is l996. Pemikiran Fazlur Rahman Fazlur Rahman dengan segala kemampuan intelektualnya sudah tentu tidak bebas dari kekurangan dan kelemahan. The Impact of Modernity on Islam. Some Islamic Issues In the Ayyub Khan Era.

Dalam pengembangan agamanya adalah perjuangan beliau selama hidup.[6] ANALISIS Fazlur Rahman adalah sosok pemikir intelektual yang tinggi di mana ia dapat menghasilkan karya-karyanya yang begitu banyak dan bermanfaat penting bagi ilmu pengetahuan kita. hal ini tidak hanya berlaku untuk ayat-ayatnya secara individual tapi juga untuk al-Qur’an secara keseluruhan. Serta asal-usul perkembangan tradisi sampai perkembangan modern juga tentang filsafatnya telah banyak di sampaikan. Seseorang harus mengkajikan dalam konteks latar belakang social historisnya. di sini di jelaskan pula prosedur yang benar untuk memahami al-Qur’an. Seseorang harus mempelajari al-Qur’an dalam Ordo Histories untuk mengapresiasikan tema-tema dan gagasan-gagasannya. Dalam karyanya Islam and Modernity 1982 Fazlur Rahman menekankan. d. Karya-karya yang begitu banyak mengajarkan kita segala ilmu pengetahuan tentang islam yang pertama kali di ajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana cara Fazlur Rahman menjelaskan tentang wahyu dan perjalanan Nabi Muhammad dalam menyebarkan islam. Sejarah Islam dan lain-lain. Tanpa usaha ini bisa terjadi penerapan ayat-ayatnya secara individual dan terpisah berbagai situasi akan menyesatkan. di samping Sunnah. Dengan berbagai cara dan jalan yang di tempuh beliau untuk menyampaikan gagasannya yang bernilai sangat tinggi sebagai suatu gerakan Islam. KESIMPULAN . akan mutlak perlunya mensistematiskan materi ajaran al-Qur’an. Ia menegaskan bahwa al-Qur’an bukanlah suatu karya misterius atau karya sulit yang memerlukan manusia berlatih secara teknis untuk memahami dan menafsirkan perintah-perintahnya. Hasil karyanya yang begitu banyak dapat memperluas pengetahuan tentang tasawuf dan juga filsafat. Fazlur Rahman juga menjelaskan apa itu al-Qur’an dan segala bentuk ajaran agama Islam.tentu akan mengumpulkan berbagai informasi yang berkaitan dengan pendapat dan pemikiran yang di kemukakan untuk menilai pendapat Fazlur Rahman. Di antara pemikiran Fazlur Rahman antara lain : a. Tanpa memahami latar belakang mikro dan makronya secara memadai. b. Menurut Fazlur Rahman. besar kemungkinan seseorang akan salah tangkap terhadap élan dan maksud al-Qur’an aktifitas Nabi baik di Mekkah atau di Madinah. c. orang harus memahami al-Qur’an sebagai sebuah ajaran yang utuh lebih dulu.

Semarang.1-2 Shofyan. Skripsi Study Analisis Fazlur Rahman Tentang Manusia. Skripsi Kritik Fazlur Rahman Terhadap Uzlah. PT. PENUTUP Fazlur Rahman adalah seorang intelektual yang tinggi. Gelombang Perubahan Ali Safyan. 2001 [3] Fazlur [4] Ali [5] Rahman. 2001. Bandung. op.Segala bentuk pemikiran filsafat Fazlur Rahman sangatlah penting dan menjadi suatu arahan pengetahuan yang mengajarkan tentang islam. Jakarta : PT. Semarang : Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang. Skripsi Study Analisis Fazlur Rahman Tentang Manusia. hal. Gelombang Perubahan Dalam Islam. cit. PT.2001 Fatah Rosihan Affandi. hal. Ia juga meninggalkan sejarah kehidupan pribadinya yang dapat menjadi suatu dokumen penting bagi kita. Semarang. Raja Grafindo Persada. Fakulatas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang. op.33-34 [6] Fazlur Rahman. 1994. Pustaka. Tasawuf dari Sufisme Klasik ke Neo Sufisme. 2002 [1] Fazlur Rahaman. 2002. Raja Grafindo. ia banyak memberikan warisan yang bermanfaat bagi manusia dari zaman ke zaman. filsafat. hal: vi-ix . 2001. Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang. Persada. cit. Skripsi Kritik Fazlur Rahman Terhadap Uzlah. 1999 Fazlur Rahman Dalam Islam. Jakarta. hal.43-44 Fatah Rosihan Affandi. Islam.1- 2 [2] Ali Safyan. hal. DAFTAR PUSTAKA Rivay Siregar. Semarang : Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang. Muhammad al-Qur’an dan sebagainya yang bermanfaat bagi kita semua. Raja Grafindo Persada.

McGill University. Ide-idenya di seputar riba dan bunga bank. zakat. Persia. media kaum fundamentalis. ayahnya adalah seorang kyai tradisional yang memandang modernitas sebagai tantangan yang perlu disikapi. Bahkan pernyataan Rahman dalam karya magnum opusnya. dengan tujuan menyelaraskannya dengan “Al-Qur’an dan Sunnah”.BIOGRAFI DAN PEMIKIRAN FAZLUR RAHMAN A. selain mengenyam pendidikan formal. A dalam sastra Arab. keluarga Rahman selain kondusif bagi perkenalannya dengan ilmu-ilmu dasar tradisional. Lembaga Islam tersebut bertujuan untuk menafsirkan islam dalam term-term rasional dan ilmiah dalam rangka menjawab kebutuhan-kebutuhan masyarakat modern yang progresif. sunnah dan hadis. selalu mendapatkan serangan dari kalangan ulama tradisionalis dan fundamentalis di Pakistan. Inggris. ia diangkat sebagai direktur pada Institute of Islamic Research. Belakangan. sehinga ia menguasai banyak bahasa. Bahkan dalam pembahasannya mengenai wahyu ilahi dan nabi. yang menyatakan protes terhadap buku tersebut. Jerman. yakni Sah Wali Allah dan Muhammad Iqbal: Dengan demikian. karena Dewan Penasehat bisa meminta lembaga riset untuk mengumpulkan bahan-bahan dan mengajukan saran mengenai rancangan undang-undang. berbeda dengan kalangan tradisional pada umumnya. tahun 1964. Rahman melanjutkan studi doktoralnya ke Oxford University. seperti disinggung di atas. Selain itu. [2] Ia juga menerima ilmu hadis dan ilmu syariah lainnya. Sejak kecil sampai umur belasan tahun. telah menghebohkan media massa selama kurang lebih setahun. kemudian menjabat sebagai Associate Professor of Philosophy di Islamic Studies. bahwa “Al-Qur’an itu secara keseluruhannya adalah kalam Allah dan—dalam pengertian biasa—juga seluruhnya adalah perkataan Muhammad”. Karena itu. Ia apresiatif terhadap pendidikan modern.[4] Ia mengajar beberapa saat di Durham University. dan berhasil meraih gelar doktor filsafat pada tahun 1951. Yunani. pada Agustus 1962. Puncak kontroversi ini adalah demonstrasi massa dan aksi mogok total. Perancis. Rahman juga menimba banyak ilmu tradisional dari ayahnya--seorang kyai yang mengajar di madrasah tradisional paling bergengsi di anak benua IndoPakistan. Akhirnya. pada 1946. Pakistan. Paling tidak ia menguasai bahasa Latin. telah meledakkan kontroversi-kontroversi berskala nasional yang berkepanjangan. Ketika itu anak benua Indo-Pakistan belum terpecah ke dalam dua negara merdeka. Latar Belakang sosial dan Intelektual Fazlur Rahman dilahirkan pada tahun 1919 di daerah barat laut Pakistan. proses turunnya wahyu Al-Qur’an. Sedangkan Dewan Penasehat Ideologi Islam bertugas meninjau seluruh hukum baik yang sudah maupun belum ditetapkan. Arab dan Urdu. misalnya. latar sosial anak benua Indo-Pakistan yang telah melahirkan sejumlah pemikir Islam liberal. fatwa mengenai kehalalan binatang yang disembelih secara mekanis. ia dilahirkan dalam keluarga muslim yang amat religius. juga bagi kelanjutan karier pendidikannya. bukannya dihindari. suatu madzhab fiqih yang dikenal paling rasional di antara madzhab sunni lainnya. Sir Sayyid Ali dan Iqbal. Merasa tidak puas dengan pendidikan di tanah airnya. Islam.[5] Karena tugas yang diemban oleh kedua lembaga inilah Rahman intens dalam usaha-usaha menafsirkan kembali Islam untuk menjawab tantangan-tantangan masa itu. Sekembalinya ke tanah air. dan lainnya. saya telah menyetujui—dan tidak berbuat lebih lagi terhadap—pernyataan-pernyataan syah wali Allah dan Muhammad Iqbal yang menerangkan proses psikologis wahyu. Tentu saja gagasan-gagasan liberal Rahman. Rahman pun mengajukan pengunduran dirinya . Potret Seorang Intelektual Neomodernis 1. Ketika menginjak usia yang kesepuluh. ia berhasil menyelesaikan studinya di Universitas tersebut dan menggondol gelar M. yang merepresentasikan kaum modernis. Pada masa ini seorang Rahman giat mempelajari bahasa-bahasa Barat. Kanada. yakni India dan Pakistan. Banyak media yang menyudutkannya. Dalam bagian Pertama. ia secara eksplisit mengakui bahwa pemikirannya merupakan kelanjutan dari pemikiran pendahulunya. Kedua lembaga ini memiliki hubungan kerja yang erat. Rahman sangat apresiatif terhadap pemikiran pendahulunya. ia juga diangkat sebagai anggota Advisory Council of Islamic Ideology Pemerintah Pakistan. Inggris.[3] 2. Anak benua ini terkenal dengan para pemikir islam liberalnya. Al-Bayyinat. Latar Belakang Pendidikan dan Pengalaman Setelah menamatkan sekolah menengah. Ia dibesarkan dalam keluarga yang bermadzhab Hanafi. [1] Menurut Rahman sendiri. Pada tahun 1942. ia sudah bisa membaca Al-Qur’an di luar kepala. menetapkan Rahman sebagai munkir al-Quran. Rahman mengambil studi bidang sastra arab di Departeman Ketimuran pada Universitas Punjab. Turki. seperti Syah Wali Allah. juga merupakan benih-benih dari mana pikiran liberal Rahman dan skeptisisme Rahman tumbuh. Misalnya. argumen saya tentang kemapanan karakter wahyu Al-Qur’an terdiri dari dua bagian. Menurut Rahman.

Seperti halnya teori para filosof dan kaum ortodoks. Al-Syahrastani. ortodoksi lebih suka meraup karakter ilahiah dari mukjziat wahyu ini. Al-Farabi (870-950) dan Ibn Sina (980-1037). Proyek Membuka Pintu Ijtihad Temuan historis Rahman mengenai evolusi perkembangan empat prinsip dasar (Al-Qur’an. sementara menurut ortodoksi nabi menerima wahyu dengan mengidentifikasikan dirinya dengan malaikat. Untuk mewakili pandangan ortodoksi. Sementara para filosof lebih menekankan kapasitas alami nabi sehingga menjadi “nabi-manusia”. yang di dasarkan pada perbedaan karakteristik karya-karyanya: (I) periode awal (dekade 50-an). Bagi Rahman. Baru pada periode ketiga Rahman mengakui dirinya. pada gilirannya telah mengantarkannya pada agenda yang lebih penting lagi: perumusan kembali penafsiran Al-Qur’an yang merupakan jantung ijtihadnya.[6] Ada tiga karya besar yang disusun Rahman pada periode awal: Avicenna’s Psychology (1952). Ijtihad dan Ijma’. Dalam kajian historisnya ini. dan Islam and Modernity:Transformatioan of an intellektual tradition (1982). Rahman menyusun: The Philosophy of Mulla Sadra (1975). setelah mebagi babakan pembaruan dalam dunia Islam. maka karya-karya pada periode ketiga ini lebih bersifat normatif murni. nabi menerima wahyu dengan mengidentifikasikan dirinya dengan Intelek Aktif. Buku ini boleh dibilang sebagai advanced introduction tentang Islam. melalui instrumen qiyas. Rahman mengambil sampel dua filosof ternama. Ibn Taymiyah dan Ibn Khaldun. University of Chicago.dari jabatan Direktur Lembaga Riset Islam pada 5 September 1968. doktrin mukjizat dan konsep dakwah dan syariah. secara tegas Rahman menarik garis yang membedakan antara sunnah ideal nabi SAW di satu sisi. Dua yang pertama merupakan terjemahan dan suntingan karya Ibn Sina (Avisena). Rahman belum secara terang-terangan mengaku terlibat langsung dalam arus pembaruan pemikiran Islam. ia menulis buku yang berjudul: Islamic Methodology in History (1965). Untuk melacak pandangan filosof. dan periode Chicago (dekade 70-an dan seterusnya). Akhirnya. pada periode kedua bersifat hitoris sekaligus interpretatif (normatif). Sementara yang terakhir mengupas perbedaan doktrin kenabian antara yang dianut oleh para filosof dengan yang dianut oleh ortodoksi. Perkembangan Pemikiran dan Karya-karyanya Dari selintas perjalanan hidup Fazlur Rahman di atas. Menurut para filosof. Taufik Adnan Amal membagi perkembangan pemikirannya ke dalam tiga babakan utama. dalam bukunya Islamic Methodology in History (1965). Rahman menemukan adanya hubungan organis antara sunnah ideal Nabi SAW dan aktivitas ijtihad-ijma’. Penyusunan buku ini bertujuan untuk memperlihatkan: (I) evolusi historis perkembangan empat prinsip dasar (sumber pokok) pemikiran Islam—Al-Qur’an. Tapi mereka lebih menekankan nilai-nilai syariah ketimbang intelektual. . Rahman sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada perbedaan mendasar antara posisi filosofis dan ortodoksi. dikemukakan pandangan kedua filosof tersebut tentang wahyu kenabian pada tingkat intelektual. sebagai juru bicara neomodernis. Pada periode Chicago. B. yang menyuguhkan—meminjam istilah Amin Abdullah—rekontruksi sistemik terhadap perkembangan Islam selama empat belas abad. proses psikologis wahyu tehnis atau imaninatif. Kalau karya-karya Rahman pada periode pertama boleh dikata bersifat kajian historis. Secara berturut-turut. dan (ii) peran aktual prinsip-prinsip ini dalam perkembangan sejarah Islam itu sendiri. periode Pakistan (dekade 60-an). tampaknya tanah airnya belum siap menyediakan lingkungan kebebasan intelektual yang bertanggungjawab. Pada periode awal dan kedua. Rahman memutuskan hijrah ke Chicago untuk menjabat sebagai guru besar dalam kajian Islam dalam segala aspeknya pada Departement of Near Eastern Languages and Civilization. Hasilnya adalah kesepekatan aliran ortodoks dalam menolak pendekatan intelektualis-murni para filosof terhadap fenomena kenabian. sunnah kaum muslim awal merupakan hasil ijtihad personal. Avicenna’s De Anima (1959).[7] Pada periode kedua (Pakistan). Ijtihad dan Ijma’). Rahman menyimak pemikiran Ibn Hazm. terhadap sunnah ideal nabi SAW yang kemudian menjelma menjadi ijma’ atau sunnah yang hidup. Kalangan mutakallimun tidak begitu keberatan menerima kesempurnaan intelektual nabi. yang dilatari oleh pergumulannya dalam upayaupaya pembaruan (hukum) Islam di Pakistan. Buku kedua yang ditulis Rahman pada periode kedua ini adalah Islam. 3. Sunnah. Sebab. Al-Ghazali. pandangan ini cukup mempunyai pengaruh terhadap pandangan Rahman tentang proses “psikologis” nabi menerima wahyu. Major Theme of the Qur’an (1980). Sunnah. Rahman berteori bahwa Nabi mengidentifikasikan dirinya dengan hukum moral. Jabatan selaku anggota Dewan Penasehat Ideologi Islam juga dilepaskannya pada 1969. Di sini. Memang. dan Prophecy in Islam: Philosophy and Orthodoxy (1958). Bagi Rahman. perbedaan ada sejauh pada tingkat penekanan saja. Kelak.

[14] Konsepsinya mengenai Al-Qur’an secara sederhana dapat dijabarkan ke dalam nuktah-nuktah sebagai berikut: 1.[9] Berpijak pada temuan historis ini. Rahman secara blak-blakan menolak doktrin tertutupnya pintu ijtihad. ijma’ yang tadinya berorientasi ke depan menjadi statis dan mundur ke belakang: mengunci rapat kesepakan-kesepakatan muslim masa lampau. [16] . Suatu penafsiran Al-Qur’an yang sistematis dan berani harus dilakukan. terhadap situasi moral-sosial arab pada masa nabi. ijtihad fil masail. Al-Qur’an secara keseluruhannya adalah kalam Allah. Bahwa AlQur’an itu adalah kalam Allah yang diwahyukan kepada nabi Muhammad SAW. Rahman mengutip kembali apa yang telah ditulisnya dalam Islam: Bagi Al-Qur’an sendiri. dan dalam pengertian biasa. Ijtihad yang diinginkan Rahman adalah upaya sistematis. Hal ini selain didasarkan pada fakta bahwa Al-Qur’an sebagai sumber pokok ijtihad. Kedua (2). tentu saja kembali keliang kubur.dengan sunnah hidup kaum muslim awal atau ijma’ sahabat di sisi lain. Akibatnya. komprehensif dan berjangka panjang. Rahman memberikan argumen yang sangat kokoh untuk menegaskan kemapanan karakter wahyu dari Al-Qur’an ini. yang sepenuhnya lain. Apa itu Al-Qur’an dan Apa Tujuan Metodologi Tafsir Pandangan Rahman mengenai Al-Qur’an merupakan landasan bagi perumusan metodologi tafsirnya. Rahman mendobrak doktrin ini dengan beberapa langkah: Pertama (1). serampangan dan tidak bertanggung jawab.[10] Tetapi. menolak kualifikasi ganjil mengenai ilmu gaib misterius sebagai syarat ijtihad. Untuk mencegah ijtihad yang sewenag-wenang dan merealisasikan ijtihad yang bertanggung jawab itulah. Dan ketika kita kembali kepada generasi muslim awal . [12] Akan tetapi. merupakan kepercayaan pokok. Karena itu. menegaskan bahwa ijtihad bukanlah hak privilise eksklusif golongan tertentu dalam masyarakat muslim. Tanpa kepercayaan ini. dan ijtihad fil madzhab. memperluas cakupan ranah ijtihad klasik. Puncak dari proses reifikasi ini adalah tertutupnya pintu ijtihad. demikian hebatnya. ataupun pemilahannya ke dalam ijtihad muthlaq. melalui ingatan dan pikiran nabi. Rahman menegaskan: bukan hanya kembali kepada Al-Qur’an dan sunnah sebagai mana yang dilakukan pada masa lalu. Kembali ke masa lampau secara sederhana. kreatif dan berorientasi ke depan. karena keberhasilan gerakan penulisan hadis secara besar-besaran yang dikampanyekan Al-syafi’I untuk menggantikan proses sunah-ijtihad-ijma’ tersebut. tetapi suatu pemahaman terhadap keduanyalah yang akan memberikan pimpinan kepada kita dewasa ini. sewenangwenang. Rahman mengajukan metodologi tafsirnya. Dengan demikian. ijma’ pada asalnya tidaklah statis. justru persoalannya terletak pada kemampuan kaum muslim untuk mengkonsepsi Al-Qur’an secara benar. dan Ketiga (3). khususnya kepada masalah-masalah masyarakat dagang makkah pada waktu itu. juga yang lebih penting lagi adalah didasarkan pada pandangannya bahwa seluruh bangunan syariah harus diperiksa dibawah sinaran bukti AlQur’an: Seluruh kandungan syari’ah mesti menjadi sasaran penilikan yang segar dalam sinaran bukti Al-Qur’an. Metodologi tafsir Rahman merupakan jantung ijtihadnya sendiri. tidak seorang pun yang bahkan dapat menjadi muslim nominal (hanya nama saja).[13] C. sekitar abad ke empat Hijrah atau sepuluh masehi. Al-Qur’an adalah respon ilahi. juga seluruhnya adalah perkataan Muhammad. proses ijtihad-ijma’ terjungkirbalikkan menjadi ijma’-ijtihad. Al-Qur’an adalah kalam Allah. Dan dalam konteks inilah metodologi tafsir Rahman yang dipandangnya sebagai “the correct prosedure for understanding the Qur’an” atau “ the correct methode of Interpreteting The Qur’an” [11] memainkan peran sentral dalam seluruh bangunan pemikirannya. yang disusun belakangan pada periode Chicago.[8] Namun demikian. menurut Rahman. hingga ia menolak—atas dasar kuatnya keyakinan ini—beberapa klaim mendasar dari tradisi Yudeo-Kristiani mengenai Ibrahim dan nabi-nabi lainnya. Rahman pun tampaknya tidak ingin daerah teritorial kebebasan ijtihad yang telah dibukanya—sebagai hasil dari liberalisasinya terhadap konsep ijtihad—menjadi tempat persemaian dan pertumbuhan ijtihad yang liar.[15] 2. Muhammad juga dengan tegas meyakinai bahwa ia adalah penerima risalah dari Tuhan. Hasilnya adalah satu kesimpulan Rahman: ijtihad baik secara teoritis maupun secara praktis senantiasa terbuka dan tidak pernah tertutup.pasti kita temui pemahaman yang hidup terhadap Al-Qur’an dan sunnah. dan konsekwensinya juga bagi kaum muslimin. melainkan berkembang secara demokratis.

Mereka lebih banyak mengadopsi isu-isu dari barat dan membungkusnya dengan bahasa “Qur’an”. Hanya saja. dengan memberantas takhayul-takhayul dan dengan membuka dan melaksanakan ijtihad. Al-Quran merupakan sosok ajaran yang koheren dan kohesif. 5. darimana ia menekankan monoteisme dan keadilan sosial. Al-Qur’an itu laksana puncak gunung es yang terapung: sembilan sepersepuluh darinya terendam di bawah permukaan air sejarah dan hanya sepersepuluh darinya yang tampak ke permukaan. Misalnya. Menurut Rahman. yang muncul pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 di bawah pengaruh ide-ide barat. dalam masalah hukum. Tetapi. ia adalah hukum Allah. tanpa ada paksaan dari luar dirinya. pembaruan sosial terutama pada bidang pendidikan dan status wanita. metodologi yang diharapkan adalah metodologi yang. komentar-komentar dan respon. Akibatnya. [19] Sampai pada titik ini. Karenanya. Hal ini merupakan harga yang harus dibayar (cost) dari perluasan wilayah islam yang terlalu cepat. bukan sebuah dokumen legal. Rahman membagi gerakan pembaruan ke dalam empat gerakan. [17] Al-Qur’an terutama sekali adalah sebuah prinsip-prinsip dan seruan-seruan keagamaan serta moral. Untuk inilah Rahman sering menyebut-nyebut kasus ijtihad Umar bin Khaththab yang dinilainya sebagai preseden baik (uswah) untuk mengeneralisasikan prinsip-prinsip dan nilai-niali umum yang berada di bawah permukaan Sunah dan bahkan teks Al-Qur’an.[18] Karenanya ia lebih berorientasi pada aksi moral ketimbang spekulasi intelektual. karenanya. Kepastian pemahaman tidaklah terletak pada arti dari ayat-ayat individual Al-Qur’an. Gerakan pertama adalah revivalisme pra modernis yang lahir pada abad ke 18 dan 19 di Arabia. dapat pahami bahwa tujuan metodologi tafsir bagi Rahman adalah untuk menangkap kembali pesan moral universal Al-Qur’an yang obyektif itu. Pengembangannya terletak pada usaha gerakan ini untuk memperluas isi ijtihad—dan juga agenda gerakan— seperti isu tentang hubungan akal dan wahyu. Karenanya. bukan merupakan reaksi terhadap barat. tentu saja. Gerakan ini secara sederhana mempunyai ciri-ciri umum: (a) keprihatinan yang mendalam terhadap degenarasi sosio-moral umat Islam. ada baiknya dikemukakan terlebih dahulu pandangannya mengenai dialektika perkembangan pembaruan yang muncul dalam dunia Islam. yakni suatu satu set prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang koheren di mana keseluruhan ajarannya bertumpu. 6. tetapi terdapat pada Al-Qur. dan (d) imbauan untuk melaksanakan pembaruan ini lewat jihad jika diperlukan. pembaruan politik untuk membetuk pemerintahan yang representatif dan konstitusional. tanpa diimbangi infrastruktur tingkat pemahaman keagamaan yang memadai. penafsiran mereka terhadap Qur’an dan sunnah ini tidak ditopang dengan metodologi yang memadai. modernisme klasik. India dan Afrika. bagi Rahman. Perhatian utama Al-Qur’an adalah perilaku manusia. Metodologi Tafsir Rahman Metodologi tafsir Rahman tidak bisa lepas dari agenda pembaruan sebelumnya. Hukum moral adalah abadi. dalam kenyataannya. bukan pada ketentuan-ketentuan harfiahnya. keabadian kandungan legal spesifik Al-Qur’an terletak pada prinsip-prinsip moral yang menasarinya. Al-Qur’an adalah dokumen untuk manusia. 4. (b) imbauan untuk kembali kepada Islam yang sebenarnya. di atas segalanya. Dengan demikian. D. dasar pembaruan revivalisme pramodernis ini kemudian dikembangkan oleh gerakan kedua. semangat atau elan vital Al-Qur’an adalah semangat moral. dengan cara membiarkan Al-Qur’an berbicara sendiri.an secara keseluruhan. Gerakan ini muncul secara orisinal dari dunia Islam. gerakan ini samasekali tidak bisa lepas dari kesan barat . (c) imbauan untuk membuang sikap fatalisme. tujuan tafsirnya adalah untuk menangkap resiones logis yang berada di balik pernyataan formal Qur’an. Karena itu. bukan risalah mengenai Tuhan. untuk kemudian diterapkan pada realitas kekinian. Tidak satupun dari orang-orang yang telah serius berupaya memahami al-Qur’an dapat menolak kenyataan bahwa sebagian besar Al-Qur’an mensyaratkan pengetahuan mengenai situasi-situasi kesejarahan yang baginya pernyataan-pernyataan Al-Qur’an memberikan solusi-solusi.3. bisa menembus endapan sejarah tersebut sampai lapisan terdalam. Jasa modernisme klasik ini adalah usahanya untuk menciptakan hubungan harmonis antara pranata-pranata barat dengan tradisi Islam dalam kacamata Al-Qur’an dan sunnah. Rahman menandaskan bahwa tujuan ideal-moral Al-Qur’an yang merupakan elan vitalnya itu telah terkubur dalam endapan geologis sebagai akibat dari proses reifikasi yang begitu panjang.

gerakan ini tidak mampu melakukan interpretasi yang sistematis dan menyeluruh terhadap Islam. Gerakan kedua ini mengandaikan adanya kajian yang cermat atas situasi sekarang sehingga situasi sekarang bisa dinilai dan dirubah sesuai dengan priortitas-prioritas moral tersebut. dan Rahman mengaku dirinya sebagai juru bicara gerakan ini. yakni neorevivalisme atau revivalisme pascamodernis. Dengan metodologi ini Rahman menjanjikan bahwa metodologi yang ditawarkannya dapat menghindari pertumbuhan ijtihad yang liar dan sewenang-wenang. Pertama. Bila gerakan yang pertama mulai dari hal-hal yang spesifik lalu ditarik menjadi prinsip-prinsip umum dan nilainilai moral jangka panjang. sampai sekarang sedikit sekali usaha yang dilakukan untuk memahami Al-Qur’an secara keseluruhan. Langkah kedua dari gerakan pertama ini adalah menggeneralisasikan dari jawaban-jawaban spesifik. Pertama. Apabila kedua momen gerakan ini ditempuh secara mulus. Langkah ini juga bisa dan selayaknya dibantu oleh pelacakan terhadap pandangan-pandangan kaum muslim awal. menurut Rahman juga harus ditopang dengan suatu kajian mengenai situasi makro dalam batasan-batasan agama. ada dua kelemahan mendasar modrnisme klasik ini yang menyebabkan timbulnya reaksi dari neorevivalisme. Menurut Rahman. yang dapat disarikan dari ayat-ayat spesifik dengan sinaran latar belakang historis dan rationes logis yang juga kerap dinyatakan oleh ayat sendiri. maka gerakan kedua ditempuh dari prinsip umum ke pandangan spesifik yang harus dirumuskan dan direalisasikan ke dalam kehidupan sekarang. apologetis dan tidak otentik. sebagaimana yang terjadi sebelumnya. atau bahkan dari tuduhan sebagai gerakan antek-antek barat yang ingin merusak Islam. maka tentunya telah terjadi kegagalan baik dalam memahami Al-Qur’an maupun dalam memahami situasi sekarang. baik individual maupun kelompok. Yang pertama dari dua gerakan ini terdiri dari dua langkah. Gerakan ganda ini. Bagi Rahman. setiap hukum yang disimpulkan dan setiap tujuan yang dirumuskan koheren satu sama lain.sentris. dalam konteks sekarang tidak bisa. (c) pemahaman dan penetapan sasaran Al-Qur’an dengan memperhatikan sepenuhnya latar sosiologis. bak kanker. Rahman mengungkapkan: Suatu pendekatan historis yang serius dan jujur harus digunakan untuk menemukan makna teks Al-Qur’an… Pertama-tama. Mengawali dengan pemeriksaan terhadap bagian-bagian wahyu paling awal akan memberikan suatu persepsi yang cukup akurat mengenai dorongan dasar . sehingga setiap arti yang ditarik. Bila yang pertama merupakan tugas para ahli sejarah. neomodernisme harus mengembangkan sikap kritis baik terhadap barat maupun terhadap khazanah klasik warisan Islam. dari dalam dunia Islam sendiri. Kedua. memahami arti atau makna suatu pernyataan Al-Qur’an. dengan mengkaji situasi atau problem historis dari mana jawaban dan respon Al-Qur’an muncul. Mengetahui makna spesifik dalam sinaran latar belakang spesifiknya. Yang harus diperhatikan selama langkah ini adalah ajaran Al-Qur’an sebagai keseluruhan. maka perintah Al-Qur’an akan menjadi hidup dan efektif kembali. maka dalam pelaksanan gerakan kedua. tidak mungkin bahwa sesuatu yang dulunya bisa dan sungguh-sungguh telah direalisasikan ke dalam tatanan spesifik di masa lampau. Apabila hasil-hasil pemahaman gagal diaplikasikan sekarang. adat-istiadat dan lembaga-lembaga. (b) pembedaan antara ketetakpan legal dan tujuan Al-Quran. tentu saja. Ini sesuai dengan klaim Al-Qur’an sendiri bahwa ajarannya tidak mengandung kontradiksidalam dan koheren secara keseluruhan.[20] Metodologi tafsir Fazlur Rahman merupakan gerakan ganda (bolak-balik).[21] Sebab. yakni terhadap hasil-hasil dari penafsiran. digambarkan oleh Taufik Andnan Amal dengan tiga langkah metodologis utama: (a) pendekatan historis untuk menemukan makna teks al-Quran dalam bentangan karir dan perjuangan nabi. Reaksi terhadap modernisme klasik ini adalah gerakan ketiga. Berkaitan dengan butir pertama. penafsiran mereka terhadap Al-Qur’an lebih bersifat ad hoc dan parsial. Di sela-sela pengaruh neorevivalisme inilah gerakan neomodernis muncul. serta mengenai kehidupan menyeluruh Arab pada saat Islam datang. Namun karena sifatnya yang reaksioner. pernyataan-pernyataan yang memiliki tujuan-tujuan moral-sosial umum. gerakan ini cenderung menutup diri. Menurut Rahman. Dalam konteks inilah ia mengatakan bahwa tugas yang paling mendasar dari kalangan neomodernisme ini adalah mengembangkan suatu metodologi yang tepat dan logis untuk mempelajari alQur’an guna mendapatkan petunjuk bagi masa depannya. masyarakat. Akibatnya. isu-isu yang mereka angkat berasal dari dan dalam dunia barat sehingga ada kesa kuat bahwa mereka terbaratkan atau agen westernisasi. yang memandang bahwa Islam itu mencakup segala aspek kehidupan manusia. meskipun kerja rekayasa etis yang sebenarnya dalah kerja ahli etika. instrumentalis sosial muthlak diperlukan. Momen gerakan kedua ini juga berfungsi sebagai alat koreksi terhadap momen pertama. ingin membedakan dirinya dengan barat. karena sifatnya yang kontroversialis-apologetis terhadap barat. Pandangan ini mirip dengan basis pemikiran modernisme klasik. Al-Qur’an harus dipelajari dalam tatanan historisnya.

Islam Sunni tidak tahan terhadap sesuatu yang mungkin menganggu salah satu hati dan pikirannya. penolakan itu sebagai langkah "membabi-buta" yang hanya akan merugikan. Rahman menulis: Kemudian seseorang telah siap untuk membedakan antara ketetapan legal dan sasaran Al-Qur’an. ketundukan total) ke masa lalu. Yang terakhir ini merupakan alasan kaum tradisional-konservatif muslim untuk menolak perubahan yang dihasilkan modernisasi budaya dan intelektual. Dan demikianlah. segala keputusan ada dalam kekuasaan Tuhan. tetapi juga ajaran-ajaran predeterminisme yang mempengaruhi sikap konkret (hal 138). Persoalan apakah itu mundur dari Al Quran. seperti wajah Dewa Janus). di mana masyarakat muslim akan semakin tertinggal di belakang masyarakat kontemporer lain yang telah menjadi penguasa di bidang ekonomi. dengan tetap memberi perhatian sepenuhnya terhadap latar sosiologis—yakni lingkungan dimana nabi bekerja dan bergerak. tetapi di sisi lain berpengaruh besar pada nilai-nilai etis kebudayaan transenden. khususnya moral dan spritual. Irja' lahir dari reaksi terhadap gerakan Khawarij yang men-"cap" Ali. telah mengantar Fazlur Rahman pada jajaran pemikir-pemikir Islam kontemporer ternama abad ke-20. Sudah terlalu sering diabaikan baik oleh kalangan non-muslim maupun muslim sendiri bahwa Al-Quran biasanya memberikan alasan-alasan bagi pernyataan-pernyataan legal spesifiknya. sebagai kafir. dan kemungkinan pembaharuan politis struktur sosial. tetapi tidak menghalanginya untuk mengangkat sebuah pemikiran kritis tentang gelombang perubahan tersebut. Irja' merupakan penyebab utama kelesuan moral dan spiritual masyarakat Islam. yang nyata artifisial. dan mengeluh pada realitas ulama masa kini (pasca-Al Gazali) yang cenderung membuang nilai-nilai kritis dan pembaharuan dari peninggalan tersebut. Rahman menulis: Sasaran Al-Qur’an harus dipahami dan ditetapkan. menurut ajaran ini. Metodologi tafsir Rahman ini bisa dilihat dalam bagan sebagai KEBERANIAN mengungkapkan prinsip kebenaran yang dilandasi ketajaman berpikir. Mengenai butir ketiga. Dua penganut Irja' di atas tidak mampu mengetahui jiwa yang resah yang menuntut ruang untuk kreativitas. dan ilmu pengetahuan. Menurut pemahaman mereka. sebagaimana dibedakan dari pranata-pranata yang dibangun belakangan. Bahkan benar-benar tanpa kesadaran terhadap hal tersebut dan berpegang (taqlid. namun kenyataannya Irja' semakin berkembang dan menjadi "ruh" kelahiran Sunni dan Syi'ah. Di satu sisi ilmu pengetahuan dan teknologi membawa manfaat. Mengenai pembedaan antara ketetapan legal dan tujuan moral Al-Qur’an. dan kemampuan unik menyatukan berbagai persoalan kompleks dalam gaya cerita yang koheren.gerakan Islam. Walaupun nuansa sejarah terlihat sedikit kental. yang bukan hanya mempengaruhi karakter teologi. Dalam pandangan Fazlur Rahman. Di sekali lagi seseorang berhadapan dengan bahaya subyektivitas. Ini terangkum dalam julukan ahl as-sunnah wa-aljamaah (penganut tradisi asli (Sunnah) dan solidaritas ummat (jamaah). Maka mereka meyakini diam adalah pilihan terbaik dalam menyikapi dilematika kehidupan. seseorang harus mengikuti bentangan Al-Qur’an sepanjang karir dan perjuangan nabi…Metode ini akan menunjukkan secara jelas makna keseluruhan Al-Quran dalam suatu cara yang sistematis dan koheren. ingatan luar biasa. tertuju kepada kesuksesan menjaga komunitas. Walaupun selanjutnya muncul reaksi dari golongan Qadariyah dan Mu'tazilah yang berpaham free will (kebebasan berkehendak) yaitu bahwa Tuhan tidak punya otoritas apa-apa dalam menentukan nasib seorang manusia. dimana hukum diharapkan mengabdi kepadanya. Fazlur Rahman-lahir tahun 1919 di Pakistan dan meninggal tahun 1988 di Chicago-sebagaimana para pemikir muslim abad ke-20 lainnya. tak jadi masalah. Secara khusus Fazlur mengupas paham Irja' (paham penundaan segala keputusan dan dikembalikan kepada otoritas Tuhan) sebagai cikal-bakal kelahiran dua aliran Islam terbesar saat ini (Sunni dan Syi'ah). Semua pikiran. Berdasarkan pokok pikiran tersebut (kata pengantar oleh Ibrahim Moosa) melalui buku ini Fazlur mencoba menggali kembali wacana telaah historis gelombang perubahan yang dihasilkan para pemikir Islam masa lalu. Fazlur Rahman dan lain-lain yang sealiran menganggap. Fazlur mengagumi tradisi intelektual sophiscated yang diwariskan ulama masa lalu. serta tidak mengakomodasi radikalisme. politik. Utsman. mengarahkan perhatian pada fenomena modernisasi dan perubahan dunia yang dipahami dalam dunia Islam sebagai janus-faced (berwajah ganda. . dan Muawiyah. tetapi hal ini dapat direduksi seminimum mungkin dengan menggunakan Al-Qur’an itu sendiri.

berorientasi ke depan. Iqbal menyetujui masuknya ulama ke dalam majelis untuk membantu dan memimpin perbincangan-perbincangan bebas tentang masalah yang bertalian dengan Islam. mereka mengangkat intuisi (rasa) sebagai pengetahuan yang dinyatakan bebas dari kesalahan karena tidak tertutup (kasyf).pengaruh terhadap ahli-ahli hukum dan teologi Syi'ah. dan kemajuan. Karya terakhir Fazlur Rahman ini merupakan cerminan kepribadiannya yang merepresentasikan rasionalitas ArabIslam dan pencerahan pemikiran Barat. terbuka sepenuhnya untuk meyakinkan masyarakat akan kebenaran gagasannya. ijma’ masyarakat akan ditempa atau dirumuskan ke dalam bentuk hukum dan perundangundangan oleh lembaga legislatif. untuk menghindari kemungkinan terjadinya salah tafsir terhadap sumber-sumber Islam. maka setan datang mendiami kekosongan pikirannya dan bebas melalukan tugasnya di sana (hal. pembaharuan. misalnya. sepanjang hukum tersebut mencerminkan kehendak masyarakat. Ia tidak begitu saja menerima istilah-istilah komoderenan. majelis ini dipilih oleh rakyat tanpa kualifikasi teknis apapun. 150). ada kemungkinan untuk mengubah konsensus tersebut. Dalam masalah-masalah pelik. yang tertinggal hanya kekeringan hukum dan teologi kalam (hal 135). Golongan minoritas yang merasa ijtihad-nya lebih mendekati kebenaran. * Pada periode modern. mengungkapkan gagasannya tentang ijma’ sebagai transfer kekuasaan ijtihad dari individu yang mewakili mazhab-mazhab yang terorganisasi ke dalam bentuk “institusi legislatif permanen” atau majelis perwakilan rakyat. Fazlur Rahman mengungkapkan kemungkinan baru ijma’ dalam masyarakat kontemporer. Ibnu Taimiyah memberikan penilaian pahit dengan menyatakan bahwa ketika seorang sufi melepas pikirannya untuk mencurahkan dirinya secara utuh kepada Tuhan. *** TIDAK ketinggalan buku ini juga membahas perjalanan tasawuf yang-sebagaimana Asy'ariyah . Walaupun para sufi tidak bisa disebut murji'ah dalam arti teknis. Selama berabad-abad Syi'ah memberikan penghargaan yang sedikit kepada Alquran. karena secara potensial selalu terdapat kemungkinan bagi pandangan minoritas untuk menjadi mayoritas melalui proses perdebatan. Undang-undang atau hukun yang ditetapkan majelis bisa saja benar atau keliru.Sedangkan masyarakat Syi'ah. Tetapi. Dengan mentransfer ijtihad kepada lembaga legislatif. Buku itu dalam dua bab terakhir mengulas gejolak pembaharuan akhir abad petengahan yang dimotori Ibnu Taimiyah serta pemikiran pembaharuan India oleh Syekh Ahmad Sirhindi dan Syekh Wali Allah. menurut Rahman. Akhirnya. penghargaan tinggi patut ditujukan kepada pemikir satu ini. Aktivitas untuk menggalang konsensus masyarakat ini. sarjana pemikir neo-modernis asal pakistan. Syi'ah telah menempatkan Al Quran ke dalam pelupaan sistematis dan bergantung kepada imam. keberadaannya tidak lebih baik dari masyarakat Sunni. ijma’ – yang merupakan konsensus mayoritas masyarakat – lebih bersifat dinamis. meskipun menghasilkan banyak komentar dan penafsiran yang luar biasa penuh kiasan. sebab harus diakui-terlepas dari pro-kontra terhadapnya Fazlur Rahman telah melengkapi khasanah intelektual Islam dengan satu sikap pasti terhadap pembaharuan ke arah yang lebih baik. Tugasnya adalah memberi advis yang selanjutnya . dirujuk al-Quran dengan terma syura. pemikir-pemikir Muslim mengembangkan konsep ijma’ dengan berbagai kemungkinan baru yang selaras dengan kondisi modern. Pada level negara. ide. Baginya. Namun demikian. Apabila masyarakat telah menerima gagasan minoritas secara mayoritas. yang disebut Rahman sebagai lembaga syura-ijma’. ia tetap bersifat islami dan demokratis karena merepresentasikan ijma’ masyarakat. Imam Syi'ah tidak ada yang memiliki . tapi ketika imam dihilangkan. yang bisa saja beranggotakan Muslim awam atau bahkan nonmuslim. Rahman bahkan mengelaborasi konsepnya tentang lembaga syura-ijma’ ini ke dalam suatu majelis internasional yang beranggotakan majelis legislatif negeri-negeri Muslim. 150). Dalam pandangan Rahman. Iqbal tentu saja tidak memberikan kualifikasi apapun untuk pelaksanaan ijtihad. Melanjutkan alur pemikiran Iqbal.mengecilkan akal vis a vis wahyu. majelis dapat meminta advis kepada para ahli. Selain itu. bahkan lebih berbahaya daripada Irja' (hal. Tetapi. khususnya Syi'ah 12. tetapi pengaruh keseluruhan mereka pada kehidupan moral masyarakat sangat terasa. Muhammad Iqbal. dan tidak monolitik. (hal 147). Dengan demikian. kecuali di dalamnya terdapat teologi rasional.bahkan tidak bisa memiliki . ijtihad yang dihasilkan individu atau kelompok kerja akan mengkristal ke dalam ijma’ setelah melalui interaksi ide yang ketat. opini itu membentuk ijma’ baru dan menggantikan ijma’ lama. kecuali memiliki wawasan yang tajam dalam masalah hukum. Ketika para sufi mengecilkan akal. Uraiannya memang menguatkan bahwa ia memang guru besar wacana Islam dengan tekanan pada pemikiran. dan perenungan.

Ketika putusan mayoritas tercapai. mensinyalir ada orang menganggap bahwa dengan menjadikan Islam sebagai landasan kehidupan. tanpa diskriminasi antara sesama warga. Tetapi. Menurut al-Banna. tidak akan menimbulkan perpecahan. tetapi didasarkan terutama pada prinsip ijma’. Dalam negara modern. Partisipasi masyarakat yang luas dalam penentuan suatu kebijakan sangat bisa diharapkan dalam implementasi ijma’-referendum ini Pada level regional atau internasional. Safi juga mengemukakan bahwa legitimasi negara tergantung pada sampai sejauh mana organisasi dan kekuasaan negara merefleksikan kehendak masyarakat. Sebagaimana disinggung di atas. Louay M. berdasarkan prinsip mayoritas. Senada dengan itu. ia mengikat seluruh anggotanya tanpa kecuali. Sejalan dengan ini. konsensus atau ijma’ masyarakat inilah yang kemudian diundangkan oleh lembaga perwakilan rakyat di tingkat lokal atau nasional. sebagai himpunan orang terpilih. dalam proses pengambilan keputusan. Mekanisme ijma’ yang telah diuraikan juga memberikan kemungkinan deliberasi dan perdebatan publik. Aktivitas semacam inilah yang dimaknai Rahman dengan istilah syura. seluruh warga negara harus dipandang setara satu sama lain. Ijma’. Untuk pembentukan preferensi ini. mengkuduskan kesatuan kemanusiaan umum (al-wahdah al-insaniyyah al-’ammah). Dengan merativikasi konvensi semacam itu. dalam risalah Nahwa an-Nur (1936). ijma’ bisa memberi kemungkinan legitimasi demokrasi bagi kaum Muslimin dan menawarkan format institusi dan prosedur untuk menjalankannya. Tidak ada yang aneh dalam hal ini. pengikut atau yang menyetujui pandangan minoritas juga harus menerima keputusan mayoritas dan berupaya mengimplementasikannya sebagai suatu konsensus. Karena itu. pengajuan rancangan undang-undang. seluruh anggota masyarakat – baik Muslim ataupun non Muslim – harus berupaya mengejawantahkannya ke dalam praktik. anggapan semacam itu berseberangan dengan prinsip persamaan dan pengakuan Islam terhadap minoritas nonmuslim. Majelis semacam ini –yang dibentuk misalnya lewat pemilihan umum– tentunya merupakan representasi masyarakat yang menerjemahkan kepentingan masyarakat ke dalam kebijakan-kebijakan yang koheren dan konsisten (preference representation). Hasan al-Banna. konvensi-konvensi yang telah dirativikasi suatu negara muslim juga merupakan bentuk lain dari perluasan konsep ijma’. karena – seperti ditegaskan para yuris klasik – legitimasi institusi negara tidak terambil dari sumber-sumber tekstual. kesatuan keagamaan umum (al-wahdah al-diniyyah al-’ammah). penting dilakukan majelis. serta cara-cara lainnya yang melibatkan masyarakat. sehingga berbagai sudut pandang yang berkembang dan dikembangkan secara individual ataupun kolektif mendapat kesempatan untuk didengar sebelum masyarakat akhirnya secara konsensus atau mayoritas memilih yang dianggap laik. menurut al-Banna. maka hal ini berarti minoritas nonmuslim tidak dapat hidup di lingkungan umat Islam dan persatuan di antara berbagai unsur masyarakat tidak mungkin tercapai. berdasarkan alur logika yang telah dikemukakan. dan kesatuan keagamaan khusus umat Islam (al-wahdah al-diniyyah alkhassah). deliberasi. Penggagas. Implementasi prinsip-prinsip ini. . malahan menjadikan persatuan berdimensi sakral dan religius. negara muslim tersebut terikat kesepakatan atau ber-ijma’ untuk melaksanakannya. termasuk bukan muslim. jika suatu masalah dinilai laik untuk dirumuskan ke dalam kebijakan. termasuk dalam proses pencapaian konsensus. ketika suatu ijma’ mengkristal atau berhasil dicapai dalam komunitas tersebut. advokasi. baik Muslim atau bukan Muslim. serta melakukan perbuatan baik akan selamat. Fazlur Rahman menekankan sikap anti-eksklusivisme Islam sehubungan dengan komunitaskomunitas keagamaan lainnya.akan dirumuskan ke dalam undang undang oleh majelis nasional negeri-negeri Muslim berdasarkan sinaran perbedaan regional dan situasi social masing-masing negeri Survei singkat di atas memperlihatkan bahwa ijma’ bisa memberikan pijakan yang efektif untuk menerima kekuasaan mayoritas (majority rule). majelis ini juga bisa mempengaruhi preferensi publik (preference formation). Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk membentuk konsensus masyarakat atau untuk menakar kesepakatan masyarakat mengenai suatu hal adalah melalui referendum. yang – menurut tafsiran Rahman – mengungkapkan siapa pun yang percaya kepada monoteisme dan hari akhirat. Agama Islam. berdasarkan sejumlah ayat al-Quran (2:62 dan 5:69). Mekanisme ijma’ semacam ini menggagaskan keterlibatan seluruh anggota masyarakat. jelas bisa mengambil bentuk referendum. menurutnya. Dengan kata lain. Pandangan-pandangan kesarjanaan Muslim yang dikemukakan di atas dengan jelas menyepakati kesetaraan warga negara – baik Muslim atau nonmuslim – serta persamaan hak dan kewajibannya.

Sampai di sini dapat diketahui bahwa menurut Ma’arif. Tulisan Ma’arif yang ketiga berjudul ”Fazlur Rahman” yang dimuat dalam bukunya Islam Kekuatan Doktrindan Kegamangan Umat. Oleh karena itu buku tersebut harus dipandang sebagai kelanjutan dari proyek pengembangan hermeneutika al-Qur’an oleh Rahman. Rahman dalam memahami Islam dan al-Qur’an selalu mengaitkan dengan bingkai peradaban masa depan. Maarif mengategorikan Rahman sebagai salah seorang yang bertanggung jawab dalam masalah pembaharuan pemikiran Islam secara total dan tuntas. Ebrahim Moosa menjadi editor dan pemberi kata pengantar pada karya Rahman yang berjudul ”Revival and Refrom in Islam: A Study of Islamic Fundamentalism” inti dari kata pengantar ini adalah bahwa Rahman sangat antusias untuk mendaptkan kembali al-Qur’an. tentang berbagai persoalan Islam kontemporer. Nurcholish Madjid menulis dengan judul ”Fazlur Rahman dan Rekonstruksi Etika al-Qur’an”. Malaysia. Tinjauan Pustaka Ahmad Syafi’i Maarif menulis dengan judul ”Mengenal Fazlur Rahman dan Pemikirannya tentang Islam” di dalam tulisannya. al-Qur’an dan Pemikiran Islam”. dan sumber data sekundernya adalah karya- . seorang pembaharu yang paling bertanggung jawab pada abad ke-20 yang berpengaruh besar dipakistan. baik yang bersifat teoritis konseptual maupun praktis. Seluruh karya Rahman menurut Nurcholish dialirkan untuk bermuara kepada penyingkapan kandungan kitab suci. Tulisan Maarif yang kedua adalah ”Fazlur Rahman. Menurut Ma’arif seseorang baru mampu membaca membaca posisi pemikiran Rahman secara tepat dan jujur dalam mata rantai revolusi intelektual dunia Islam setelah seseorang memahami al-Qur’an sebagai sebuah ajaran yang utuh disamping asSunnah. Yang paling penting untuk selalu dipegangi adalah bahwa alQur’an mengajarkan doktrin kesatuan kehidupan dan kesatuan ilmu pengetahuan. Indonesia dan Negara-negara lain (di dunia Islam). Ia berhasil mengembangkan suatu metode yang dapat memberi solusi alternatif atas problem-problem umat Islam kontemporer. yaitu karya-karya atau tulisan-tulisan yang ditulis sendiri oleh Fzlur Rahman yang relevan dengan tulisan ini. terutama periode awal. Fazlur Rahman. Ia berhasil bersikap kritis baik terhadap warisan Islam sendiri maupun terhadap tradisi barat. dan dunia modern. Moosa memandang bahwa pemikir-pemikir modern seperti Fazlur Rahman sangat penting karena mengartikan wahyu dalam term sejarah. Dalam tulisan tersebut Ma’arif bermaksud menganalisis wawancara antara Fazlur Rahman dan profesor Hamid Algar dari Universitas California. Di antara masalah teoretis konseptual yang paling memerlukan pemikiran lebih mendalam adalah persoalan epistemologi. Selain itu juga dapat dipandang sebagai sari pati penyimpulan yang dibuatnya berdasarkan pengetahuannya yang mendalam dan luas tentang pemikiran Islam.PENDIDIKAN PERSPEKTIF FAZLU RAHMAN BAB I PENDAHULUAN Bukan rahasia lagi bahwa pendidikan Islam masih menghadapi berbagai persoalan. sejarah Islam. yaitu sumber data primer. Ia menilai bahwa Rahman sangat kritis terhadap pemikiran Islam yang tidak berakar dalam sejarah dan tidak relevan bagi perkrmbangan masyarakat. Metode Penulisan Buku Pada buku ini terdapat dua sumber data. serta di Chicago Amerika (di dunia barat) memiliki berbagai pemikiran yang terkait dengan persoalan tersebut.

Sistematika penulisan buku Keseluruhan buku ini terdiri atas lima bab dan setiap bab terbagi atas beberapa subbab.A. tetapi juga berupa konsep atau teori-teori pendidikan Islam yang dapat diaplikasikan di Indonesia. Pertama-tama ia dididik dalam sebuah keluarga muslim yang taat beragama. Sumber-sumber data yang sudah terkumpul baik sumber primer maupun sumber sekunder dijadikan sebagai dokumen. dan pendidikan Fazlur Rahman. Kerangka Teori Kerangka teori atau kerangka konseptual di sini berisi pengertian. terutama dalam diskursus epistemologi. Subbab kesimpulan berisi berbagai temuan dalam penulisan buku ini. serta kecintaan sepenuh hati darinya. ia berhasil menyelesaikan masternya dalam bidang yang sama pada Universitas yang sama pula.karya orang lain mengenai pemikiran Fazlur Rahman. yang tidak hanya berupa rumusan epistemologi dan metodologi pemikiran Fazlur Rahman. konsep dan metode yang terkait dengan judul buku ini. pada tahun 1933. Rahman kecil beruntung memiliki seorang ayah yang betul-betul memperhatikan pendidikannya. Menurut Rahman. Sehingga. Hal penting lainnya bahwa ia dididik dalam sebuah keluarga dengan tradisi madzhab Hanafi. dan sekaligus berfungsi sebagai alat analisis terhadap metodologi. epistemologi. Maulana Sahab al-din adalah seorang alim terkenal lulusan Deoband. (anak benua india) yang sekarang terletak disebelah barat laut Pakistan. pada bab empat dengan judul neomodernisme dalam pendidikan Islam. rahman telah hafal al-Qur’an seluruhnya. Kelima bab yang masingmasingnya terbagi menjadi beberapa subbab ini merupakan satu kasatuan yang bulat dan utuh. Diantara factor-faktor tersebut yang penting adalah ketekunan ayahnya dalam mengajarkan agama padanya dirumah dengan disiplin tinggi sehingga dia mampu menghadapi berbagai macam peradaban dan tantangan dialam modern. Tema ini dipilih karena tema tersebut telah lama melekat pada diri Fazlur Rahman. Bab kedua membahas biografi Fazlur Rahman yang merupakan titik sentral dari pembahasan buku ini. perkembangan pemikiran dan karya-karyanya. metodologi. Pendidikan dalam keluarganya benar-benar efektif dalam membentuk watak dan kepribadiannya untuk dapat menghadapi kehidupan nyata. Pada tahun 1940. dia menyelesaikan B. Kemudian dua tahun berikutnya. Pendidikan Fazlur Rahman Rahman lahir pada tanggal 21 september 1919 didaerah Hazara. BAB II BIOGRAFI FAZLUR RAHMAN Penulisan biografi Rahman ini meliputi pendidikan. deskripsi teori. Penulisan buku ini diakhiri pada bab lima yang berisi kesimpulan dan saran-saran. Selanjutnya data yang sudah tersistematisasi dianalisis dengan analisis bahasa. Pembahasan ini didasarkan pada temuan struktur dasar dari tiga sistem epistemologi Islam yang terdapat pada bab 1. dan pendidikan Islam. yang memberikan gambaran secara singkat mengenai keseluruhan buku ini dan memberikan ramburambu untuk masuk pada bab-bab seanjutnya. Bab pertama dalah pendahuluan. Bab ketiga membahas epistemologi dan metodologi Fazlur Rahman. Ayahnya. Rahman melanjutka studinya ke Lahore dan memasuki sekolah modern. disamping pengajaran dari ibunya. hermeneutika. Kemudian. kasih sayang. terutama tentang kejujuran. ada beberapa factor yang telah membentuk karakter dan kedalaman dalam beragama. dan koherensi internal.-nya dalam bidang bahasa arab pada Universitas Punjab. Dokumen-dokumen tersebut kemudian dibaca dan setelah itu diklasifikasikan. pada usia sepuluh tahun. Ayahnya memperhatikan Rahman dalam hal mengaji dan menghafak al-Qur’an. Dalam pengumpulan data digunakan metode dokumentasi. .

berisi kajian dari pemikiran Ibn Sina yang terdapat pada kitab al-Najat. Pada periode ini. Pakistan. Pakistan. dan selanjutnya di Institute of Islamic Studies. 1. Arab. Pada awal tahun 1960-an. Jerman. setelah mengajar selama beberapa saat di Universitas Durham. Periode ini dimulai sejak kepulangan Rahman dari Inggris ke Pakistan sampai dengan menjelang keberangkatannya ke Amerika. lembaga ini berhasil menerbitkan dua jurnal ilmiah. dan periode kematangan. pada tahun 1964 Rahman ditunjuk sebagai anggota Dewan Penasehat Ideology Islam pemerintah Pakistan. Yunani. Ketika itu. i. 1. Kemudian dua tahun berikutnya. Rahman pulang kenegerinya. pemikiran dan karya-karya Rahman pada periode ini didominasi oleh pendekatan historis. 1. Secara epistemologis. Rahman menyelesaikan program Ph. being the psychology part of kitab al-Shifa’ merupakan suntingan dari kitab al-Nafs yang merupakan bagian dari kitab al-Shifa’.-nya pada tahun 1949. Periode ini dimulai sejak Fazlur Rahman belajar sampai dengan menjelang kepulangan kenegerinya. ia diterima sebagai tenaga pengajar di Universitas California. Periode kedua (Periode Perkembangan) Periode kedua disebut periode perkembangan karena pada periode ini Rahman mengalami proses menjadi. dengan disertasi tentang Ibn Sina. 1. yaitu proses berkembang dari pertumbuhan menuju ke kematangan. Rahman terdorong untuk mendefinisikan Islam kembali . Ketika kuliah di Universitas Oxford Rahman mempunyai kesempatan mempelajari bahasa-bahasa barat seperti bahasa Ltin. Inggris. dan Urdu. Perkembangan pemikiran dan Karya-Karya Fazlur Rahman Perkembanga pemikiran dan karya-karya Rahman dapat diklasifikasikan kedalan tiga periode. Selain menjabat sebagai Direktur Lembaga Riset Islam. (2) Avecinna’s De Anima. Setelah selesai kuliah di Oxford ia tidak langsung pulang kenegerinya. Pada periode ini Rahman disibukkan oleh kedudukannya sebagai direktur lembaga riset Islam dan sebagai anggota dewan penasehat ideology Islam pemerintah Pakistan. pada tahun 1969. Los Angeles. McGill University Canada. 1. tetapi Rahman mengajar selama beberapa tahun di Durham University. Penguasaan bahasa yang bagus sangat membantunya dalam memperdalam dan memperluas keilmuannya. Periode pertama (Periode Pembentukan) Periode pertama disebut periode pembentukan karena pada periode ini Rahman mulai meletakkan dasar-dasar pemikirannya dan mulai berkarya. University of Chicago. i. merupakan karya orisinil Rahman yang paling penting dalam periode ini. 1. ia mulai menjabat sebagai Guru Besar kajian Islam dalam berbagai aspeknya di Departement of Near Eastern Languages and Civilization. Karya ini dilandasi oleh rasa keprihatinannya atas kenyataan bahwa sarjana-sarjana muslim modern kurang menaruh minat dan perhatian terhadap doktrin-doktrin kenabian. sampai akhirnya tuhan memanggilnya pulang pada tanggal 26 Juli 1988. Rahman berhasil menulis tiga karya intelektualnya. Selama kepemimpinannya. Amerika. ia ditunjuk sebagai Direktur Lembaga Riset Islam setelah sebelumnya ia menjabat sebagai staf di lembaga tersebut selama beberapa saat. Setelah melepas kedua jabatannya di Pakistan. Inggris. Inggris. Rahman hijrah kebarat. yaitu Islamic Studies dan Fikru-Nazhr (berbahasa Urdu). yaitu periode pembentukan (formasi). Kemudian. yaitu: (1) Avecinna’s Psychology.D.(3) Prophecy in Islam: Philoshophy and Orthodoxy. Ia menetap di Chicago kurang lebih selama 18 tahun. Dengan dua kedudukan tersebut. Turki. periode perkembangan.Empat tahun kemudian Rahman berangkat ke Inggris untuk melanjutkan studinya di Universitas Oxford.

dengan tambahan bab “Ijtihad pada abad-abad kemudian”. setan dan kejahatan. Dalam periode ini ia berhasil menyelesaikan beberapa buku. Buku ini berisi delapan tema pokok al-Qur’an. 1. alam semesta. Rahman lebih dominan mengemukakan kritik historis. Kalau dalam buku islam ia menyanggah bahwa tradisi filsafat islam telah mati setelah diserang bertubi-tubi oleh al-Ghazali pada abad ke 12. Buku ini merupakan upaya Rahman dalam menyajikan sejarah perkembangan islam secara umum. belakang diterbitkan dalam bentuk buku yang berjudul Islamic Methodology in History. Sementara itu. Penulisan buku inidmulai pada tahun 1977 dan selesai pada tahun 1978. Metode yang digunakan Rahman dalam buku ini mensintesiskan berbagai tema secara logis ketimbang kronologis dan membiarkan alQur’an berbicara mengenai dirinya sendiri. rangkaian artikel ini. serta lahirnya masyarakat muslim. buku ini disusun dengan tujuan untuk memperlihatkan (a) evolusi historis perkembangan empat prinsip dasar pemikiran islam yang memberi kerangka bagi seluruh pemikiran islam yaitu al-Qur’an. Tujuan penulisan buku ini adalah untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak akan sebuah pengantar tentang tema-tema pokok al-Qur’an. Buku kedua yang dihasilkan oleh Rahman dalam periode ini adalah berjudul Islam. Central Istitute of Islamic Research. yaitu kira-kira selama empat belas abad keberadaan islam. pada periode kedua ini.bagi Pakistan. Buku ini merupakan kajian histories Rahman terhadap pemikiran Shdr al-Din al-Syrazi (Mulla Shadra). pertama. . 1. Bila perkataan “pendidikan” tetap bertengger pada judulnya. Keterlibatan Rahman dalam arus pemikiran islam ditandai dengan dipublikasikannya serangkaian artikel-artikelnya dalam jurnal Islamic Studies mulai bulan maret 1962 hingga Juni 1963. the University of Chicago Press. dalam buku ini. Pengubahan ini menerut A. Disamping itu. Secara epistemologis. yang pada mulanya merupakan bagian dari sebuah proyek lain yang lebih besar yang bernama “Islam and Social Change”. Karachi. tesis tersebut kembali diungkapkan untuk membantah pandangan para sarjana barat modern yang keliru tentangnya. yatu: Tuhan. Maka. Oleh pihak penerbit. kenabian dan wahyu. Philosophy of Mulla Sadra Shirazi. penafsiran hanya digunakan untuk “merangkaikan ideide”. Buku ketiga yang ditulis Rahman pada periode ini adalah Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition. ia terlibat secara intens dalam upaya-upaya untuk merumuskan kembali islam dalam rangka menjawab tantangan-tantangan dan kebutuhan-kebutuhan masyarakat muslim kontemporer. Ijtihad dan ijma’. Periode ini ditandai oleh sesuatu perubahan yang radikal. bagi Pakistan khususnya. pemikiran dan karya-karya Rahman pada periode ini mulai beranjak dari pendekata historis menuju kependekatan normatif. 1. Periode ketiga (Periode Kematangan) Karya-karya intelektual Rahman sejak kepindahannya ke Chicago (19670) mencakup hamper seluruh kajian islam normatif maupun historis. Sunnah. setelah itu masih banyak dilakukan perbaikan-perbaikan. Penelitian itu melibatkan selusin sarjana-sarjana berusia muda yang diketahui Rahman dan Leonard Binder. karya-karya yang ditelurkannya lebih menampakkan dirinya sebagai orientalis muslim yang cukup berkualitas. Buku kedua adalah Major Themes of the Qur’an. buku ini diberi judul Islamic Education and Modernity oleh penulisnya. Dalam buku ini. Isi buku ini merupakan hasil dari sebuah proyek riset yang dilaksanakan di Universitas Chicago dan di biayai oleh ford Foundation dalam “Islamic Education”. Syafi’i Ma’arif mungkin didasarkan pada pertimbangan pemasaran. manusia sebagai anggota masyarakat. karena ia memeng berbicara tentang pendidikan islam dalam perspektif sejarah dengan al-Qur’an sebagai kriterium penilai. Pada mulanya. judul buku tersebut diubah menjadi Islam and Modernity. manusia sebagai individu. i. 1965. Dalam periode pertama. dan (b) peran actual prinsip-prinsip tersebut terhadap perkembangan islam itu sendiri. disampinh sedikit memberikan harapan dan saran-saran. Ia banyak menulis artikel dalam berbagai jurnal internasional dan ensiklopedia. eskatologi. Rahman tidak memprlihatkan minatnya untuk memahami kajian-kajian islam normatif.

yaitu pengetahuan mengenai agama dan pengetahuan mengenai tubuh manusia (selanjutnya terkenal dengan ilmu kedokteran). atau menuntut ilmu. Buku ini berusaha memotret kaitan organis antara islam sebagai sebuah system kepercayaan dan islam sebagai sebuah tradisi pengobatan manusia. terutama dalam sejarah islam. karya ini akan lebih mengesankan sebagai karya yang berlingkup luas sekalipun ia bertolak dari masalah pendidikan islam.” 1. fazlur Rahman menjelaskan konsep pengetahuan kaum muslimin (the muslim’s concept of knowledge). Pada masa itu. secara historis tidak dapat diragukan bahwa perkatan tersebut lahir dari kalangan tradisionalis dengan makna sebagaimana telah disebutkan tadi. Selanjutnya penggunaan istilah ”pengetahuan”semakin meluas.menurut bahasa kata pengetahuan bisa bermakna sama dengan ilmu. lebih diterima tradisionalis dari pada rasional. setelah sistem hukum muncul.. Selanjutnya. Proses memahami dan memikirkan materi-materi tradisional itu disebut fiqh. karakter dan kebenaran pengetahuan menurut al-Qur’an Epistemologi Fazlur Rahman 1. Dengan menghilangkan perkataan pendidikan. arti kata ilm ini mengarah pada sabda nabi”talabul ’ilmi”. talabul ’ilmi berarti proses perjalanan yang lama dan sukar dari suatu tempat ketempat lain. dari suatu negeri ke negeri lain duduk takzim menghadap seorang guru tradisional dan menerima tradisi dari sang guru. yaitu hasil-hasil dari proses berpikir tentang hukum. Kemudian dizaman sesudah islam (terutama pada zaman modern ini). Misalnya terdapat ungkapan yang terkenal. Karakteristik Pengetahuan . istilah tersebut tidak banyak lagi digunakan sebagai proses untuk memahami masalah-masalah hukum. Sementara itu. Didalamnya Rahman menjelaskan konsep pengetahuan kaum muslimin dan perkembangannya. Buku terakhir yang dihasilkan Rahman adalah Health and Medicine in Islamic Tradition. Pengertian Pengetahuan Kata ”pengetahuan ” (dalam bahasa inggris knowledge) adalah kata benda yang berasal dari kata kerja ”tahu” (to know) yang semakna dengan ”mengetahui”.yang secara umum bermakna pengetahuan.. Akan tetapi. Dengan membaca artikelnya yang berjudul ”The Qur’anic Solution Of Pakistan’s Educational Problems” disana dijelaskan berbagai hal yang terkait dengan epistemologi seperti sumber. Sehubungan dengan itu. 1. Dalam buku yang berjudul Islamic Methodologi in History. kata ilmu mulai digunakan dengan pengertian pengetahuan yang diperoleh melalui proses belajar. Pada masa nabi muhammad saw.ilmu(pengetahuan) dimaknai seperti itu. yaitu melulu soal pendidikan dalam artian yang sempit. istilah fiqh diterapkan padanya. perkataan tersebut dipergunakan secara umum. Selanjutnya. Rahman menjelaskan bahwa istilah ilmu itu. Menurut Rahman al-Qur’an berkali-kali menggunakan istilah ”ilm”. melainkan sebagai pengetahuan tersendiri . kata ”ilmu” berasal dari bahasa arab”alima-ya’lamui’lam” yang juga berarti ”tahu” atau ”mengetahui”. Kemudian setelah masa sahabat.mungkin akan menimbulkan kesan bahwa karya ini terlalu terbatas lingkup bahasannya. islam berkembang menjadi suatu tradisi. pada awalnya. 1. seperti”ada dua macam pengetahuan. BAB III EPISTEMOLOGI DAN METODOLOGI FAZLUR RAHMAN Dari penulisan terhadap karya-karya rahman dapat diketahui keterlibatannya dalam epistemologi dan metodologi.

Kedua. Setinggi-tinggi ilmu pengetahuan yang diketahui oleh seseorang. Fazlur Rahman menempatkan indera dan akal pada posisi sentral dalam memperoleh dan mengembangkan pengetahuan. huruf. karakter sifat. dan merupakan suatu proses kreatif yang tidak pernah mengenal akhir. Sehingga ia tidak mau lagi belajar dan mengembangkan ilmu yang telah dimilikinya. seperti pengetahuan fisik. dan pengetahuan tentang manusia. Stagnasi dan pengulangan merupakan tanda dari matinya pengetahuan. Fazlur Rahman menjelaskan dalam artikelnya yang berjudul ” The Qur’anic Solution Of Pakistan’s Educational Problems” bahwa semua pengetahuan (pertama) diperoleh melalui observasi dan Eksperimen. Secara jelasnya. peran. Pengembangan pengetahuan tidak pernah berangkat dari ruang hampa (kosong). Akibatnya ilmu yang dimiliki akan mengalami stagnasi. Dengan mendasarkan pada al-Qur’an. nabi muhammad saw. Selanjutnya. selalu berkembang dan dinamis. Ketiga adalah pengetahuan tentang manusia sendiri. Oleh karena itu. Ilmu pengetahuan tidak mungkin dapat berkembang tanpa ilmu pengetahuan yang telah ada. pengetahuan itu mempunyai sifat selalu berkembang. baik induktif maupun deduktif. dinamis dan berkelanjutan. 1. pengetahuan tentang sejarah. 1. Mengenai karakter pengetahuan . akan berakibat mati atau mundurnya peradaban. Yang dimaksudkan disini adalah penggolongan jenis pengetahuan menurut Fazlur Rahman. dapat dipahami bahwa Rahman sangat menekankan pada betapa pentingnya mempelajari ilmu pengetahuan. Klasifikasi Pengetahuan Kata ”klasifikasi” berasal dari bahasa inggris classification yang berarti penggolongan (menurut jenis). atau pembagian. masih ada orang yang lebih mengetaui. yaitu Allah SWT. tetapi selalu didasarkan pada pengetahuan yang sudah ada. pengembangan pengetahuan tidak pernah mengenal akhir. jenis yang krusial yaitu pengetahuan tentang sejarah (dan geografi). Sombong mengakibatkan orang mati karena orang yang sombong merasa bahwa dirinya yang paling tahu. Fazlur Rahman cenderung mengklasifikasikan pengetahuan manusia kepada tiga jenis. Kata bendanya adalah ”karakter” yang berarti watak. selalu didasarkan pada yang mendahuluinya. Dari orang yang paling tinggi ilmunya masih ada yang Maha lebih mengetahui. Umat islam harus selalu berdoa kepada Allah SWT. Kedua. tidak ada lagi orang yang lebih tahu. klasifikasi. Al-Qur’an menyebutkan. ”kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami disegenap ufuk dan pada diri mereka sendiri. Yang menurut keyakinan orang islam. Berakhirnya pengembangan pengetahuan sama dengan matinya ilmu pengetahuan. Penguasaan terhadap ilmu pengetahuan yang telah ada akan menemukan ilmu-ilmu pengetahuan baru. masih diperintahkan untuk memohon agar ditambah ilmu pengetahuan. Pertama adalah pengetahuan tentang alam yang telah diciptakan untuk manusia. sehingga jelaslah bagi mereka . Al-Qur’an mendorong manusia untuk mengadakan perjalanan dimika bumi dan menelaah apa yang telah terjadi pada peradaban masa lalu dan mengapa mereka bangkit kemudian jatuh. Semua pengetahuan. Klasifikasi adalah penyusunan bersistem dalam kelompok atau golongan menurut kaidah atau standar yang ditetapkan. Oleh karena itu setinggi apapun ilmu yang dimiliki. Yang dimaksud disini adalah sifat yang khas atau sifat dasar dari pengetahuan.Kata ”Karakteristik” berasal dari bahasa inggris ”characteristic(kata sifat)”yang berarti sifat yang khas. Dengan dasar pemahaman bahwa pengetahuan itu selalu berkembang. Dan jika ilmu pengetahuan mati. Pengetahua tidak pernah berhenti dan stagnasi. agar ditambahkan ilmu pengetahuan dan harus selalu disertai dengan upaya mempelajari dan mengembangkannya. apalagi umatnya. Diperintahkan untuk selalu memohon ditambah ilmu pengetahuan. seseorang tidak boleh sombong. Salah satu buktinya adalah bahwa pengembangan pengetahuan selalu didasarkan pada pengetahuan yang telah ada dan selalu terkait dengan temuan berikutnya. Nabi Muhammad saw. yaitu pengetahuan tentang alam. al-Qur’an tampaknya cenderung pada tiga jenis pengetahuan bagi manusia. adalah orang yang paling tinggi ilmunya. dikuasai. menurut Rahman. Pengetahuan yang dimaksudkan oleh Rahman itu bersifat empiris dan rasional.

atau pengolahan yang menghasilkan produk. Kata ”benar” bisa bermakna sesuai sebagaimana adanya. tidak salah. Dan yang dimaksud sesuatu disini adalah pengetahuan. Ada tiga macam intelek dalam hubungannya dengan wahyu. Hal ini akan memperluas cakrawala umat manusia dan mengurangikefanatikan dan berpikiran sempit. yaitu pertama. Fenomene-fenomena alam harus dipelajaridan penginvestigasian ini secara alami tidak pernah berhenti. Orang awam cukup puas menerima kebenaran ajaran agamanya pada dataran iman. kejahatan. Jika dikaji dengan jernih dan serius.”manusia (constitution of the human mind) harus diteliti dengan intensitas yang memadai. Kaum muslim percaya bahwa para Nabi dan Rasul adalah makhluk Allah yang terbaikdan termulia. moral juga jiwa harus digunakan untuk mengatasi ketidakseimbangan. yaitu merujuk pada intelek penerimaan aktual Nabi secara umum. Sumber dan Proses Memperoleh Pengetahuan Sumber yang dimaksud disini adalah asal pengetahuan diperoleh atau dikembangkan. betul. Kata ”kebenaran” bisa bermakna keadaan yang cocok dengan keadaan yang sesungguhnya. Dengan mendasarkan pada datadata ini. kejujuran. Semua pengetahuan didasarkan pada tiga sumber. lurus (hati). Kata ”proses”dapat berarti runtutan perubahan dalam perkembangan sesuatu. Dalam diskursus epistemologi pemikiran islam. . intelek dan akal. tidak bohong. Ia (data penelitian) banyak membantu dalam membentuk standar moral individual dan masyarakat serta mengurangi kecenderungan tindak kriminal pada manusia. 1. Yang dimaksud disini adalah rangkaian tindakan yang dapat menghasilkan atau memperoleh pengetahuan. Kebenaran yang dimaksud disini adalah sesuatu yang sesuai dengan sesuatu yang sebenarnya. Kebenaran Pengetahuan Kata ”kebenaran”adalah kata benda yang berasal dari kata sifat ”benar”. Kata ini merupakan terjemahan dari kata inggris true (adjective).menurut alfarabi. Data-data yang diperoleh melalui penelitian ini terkait dengan kerja manusia dan motivasinya. pembuatan. yakni intelek yang diperoleh nabi hanya jika jiwanya bersatu dengan intelek aktif. sedangkan para filosof mencoba memahami realitas wahyu Illahi sebagai suatu kebenaran filosofis. Apresiasi secara benar pada budaya. dan kreatif”. tidak berat sebelah. adil. atau perkara dalam pengadilan. Intelek perolehan adalah kekuatan memahami (intelektif) khusus yang merasuk kedalam alam pikiran Nabi sebagai hasil persenyawaannya dengan intelek aktif. azin. Ketiga adalah intelek pasif. dan agama lain (tentunya) dapat menghasilkan berbagai arah yang positif.al-Qur’an itu adalah benar. sehat. rangkaian tindakan. Jadi maksudnya adalah pengetahuan yang sesuai dengan pengetahuan yang sebenarnya. Tujuan utama dari pengetahuan ini adalah untuk menciptakan kepribadian manusia yang seimbang. Kedua adalah intelek perolehan. subjek sejarah betul-betul mengarahkan padastudi komparatif atas masyarakat tertentu dengan masyarakat lain dan berfungsi sebagai instrumen penting untuk kritik dan penilaian atas diri sendiri. Dalam persenyawaan ini intelek perolehan menerima pengetahuan transenden dari intelek aktif. hukum-hukum yang mengatur kerja alam dapat ditemukan dan diintegrasikan untuk menciptakan gambaran alam semesta secara total. sesuatu yang sungguh-sungguh. Oleh karena itu. Sumber yang kedua dijelaskan sebagai berikut. Manusia penerima wahyu dikenal sebagai nabi atau Rasul Allah. dalam mencari kebenaran ia berangkat dari pembahasan mengenai hubungan antara wahyu. pembahasan kebenaran biasanya terkait dengan kebenaran wahyu dan kebenaran akal (rasio). dll. perkenan. seperti jiwa manusia (al-anfus). tetapi juga melihat kebaikan manusia sebagai kebaikan dan kejahatan manusia sebagai kejahatan. Dan apakah tuhanmu tidak cukup bagimu bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” 1. percaya diri. intelek aktif. dan untuk membentuk standar moral umat manusia. 1. kelurusan hati.hal ini juga memungkinkan agar manusia tidak hanya menghakimi orang lain dengan sebutan berhasil atau gagal. Salah satu pilar dasar keimanan islam adalah percaya kepada wahyu Illahi. persetujuan. Al-Qur’an menekankan pada studi inner world. yakni entitas kosmik yang bertindak sebagai perantara transenden antara Tuhan dan manusia. yaitu pertama adalah physical universe. Mengenai sumber yang ketiga Fazlur Rahman menjelaskan berikut ”al-Qur’an memberikan penekanan yang sama pada historical study of societies. dapat dipecaya. truth (noun). dapat dikatakan bahwasejarah menghasilkan sosiologi” 1. masyarakat.

Metode Suatu Gerakan Ganda (a Double Movement) Metode ini bisa dilakukan dengan (1) membawa problem. pendekatan historis untuk menemukan makna teks al-Qur’an dalam bentangan karier dan perjuangan nabi. Ketiga adalah memahami dan menetapkan sasaran alQur’an dengan memperhatikan secara penuh latar belakang sosiologisnya. Metode kritik sejarah yang diterapkan oleh Rahman tidak menekankan pada kronologi berjalannya pendidikan didunia islam. metode berpikir dari yang umum kepada yang khusus (deduktif). Metodologi yang tepat untuk memahami dan menafsirkan al-Qur’an harus diterapkan. Rahman banyak menerapkan metode kritik sejarah dalam melakukan penelitian terhadap pendidikan didunia islam. sebagaimana yang dimaksudkan Fazlur Rahman. Margoliouth. Secara spesifik metode ini diterapkan dengan cara mendiskripsikan nilai-nilai sejarah pendidikan umat islam terutama yang terjadi di Turki. Pakistan.problem umat (sosial) untuk dicarikan solusinya pada alQur’an atau (2) memaknai al-Qur’an dalam konteksnya dan memproyeksikannya kepada situasi sekarang. Menurut Rahman. pembahasan mengenai kebenaran pengetahuan biasanya dikaitkan dengan teori kebenaran korespondensi. walaupun ini mungkin sangat membahayakan tidaklah dapat dihindarkan. dan Indonesia. kelihatan dengan jelas bahwa mereka harus memulai sekali lagi dari tingkat intelektual. yang disebut dengan The Sistematic interpretation method. Mereka harus mendiskusikan dengan ikhlas dan tanpa menahan diri tentang apa yang mereka inginkan terhadap islam dewasa ini. 1. Suatu penafsiran secara sistematis dan berani terhadap al-Qur’an harus dilakukan. Hal inilah sebenarnya. pragmatis dan dogmatis atau skeptis. Metode Penafsiran Sistematis (The Sistematic interpretation method) Metode kritik sejarah yang telah lama diaplikasikan dalam menuliskan pikiran-pikirannya yang tajam dan kritis. Iran. Fazlur Rahman menjelaskan metode ini terdiri atas tiga langkah utama. gerakan pertama melibatkan pemahaman . Joseph Schact dll. kemudian sesekali Rahman melakukan komparasi diantara pendidikan di negara-negara tersebut. Akan tetapi. metode berpikir dari yang khusus kepada yang umum (induktif). koherensi. menurut Rahman. jika orang-orang islam dengan keras dan gigih berbicara tentang kelangsungan hidup islam sebagai sistem doktrin dan praktek didunia dewasa ini sungguh-sungguh sejati (suatu pertanyaan yang jawabnya tidak mudah). Kedua adalah membedakan antara ketetapan legal dan sasaran serta tujuan al-Qur’an. yang menyebabkan metode kritik sejarah tidak dapat berkembang dengan baik dikalangan pemikir muslim sampai pertengahan abad ke-20 M. 1. Mesir. Ignaz Goldziher. Metodologi Fazlur Rahman Berikut adalah tiga metodologi yang dikembangkan oleh Rahman. Penelitian dari para orientalis tersebut menghasilkan berbagai tesis yang menghebohkan terutama bagi kalangan muslim tradisional. Seluruh kandunga syari’ah harus diarahkan menjadi sasaran pengujian yang segar dalam sinaran bukti al-Qur’an. Sehubungan dengan metode berpikir pertama. tetapi menekankan pada nilai-nilai yang terkandung dalam data-data sejarah pendidikan didunia islam.Dalam diskursus epistemologi yang berkembang sampai sekarang. yaitu: pertama. yaitu: pertama. Resiko terbesar dalam pemahaman ini tentu akan menjadi proyeksi dari ide subyektif kedalam al-Qur’an dan menjadikannya sebagai objek penanganan secara arbitrer. dan kedua. telah banyak diterapkan dalam penelitian sejarah islam oleh para Orientalis seperti David S. Metode Kritik Sejarah (The Critical Histori Method) William Montgomeri Watt menggunakan istilah The Critical Histori Method yang merupakan pendekatan kesejarahan yang pada prinsipnya bertujuan menemukan fakta-fakta objektifsecara utuh dan mencari nilai-nilai tertentu yang terkandung didalamnya. kemudian dikembangkan menjadi metode yang lebih sistematis. yaitu: 1. Henry Lamen. Metode kritik sejarah. Lebih lanjut Fazlur Rahman menawarkan metode berfikir yang terdiri atas dua gerakan.

dan ketiga menumbuhkan etika al-Qur’an pada konteks masa kini. sebagaimana pewahyuan al-Qur’an sendiri yang memiliki latar belakang religio-sosial yang amat konkret dalam politeisme dan disekuilibrium sosio-ekonomi masyarakat Makkah pada awal islam. Kemudian untuk mengoprasikan metode ini. Sebagaimana dengan latar belakang ajaran alQur’an yang harus dikaji untuk memperoleh prinsip-prinsip umum al-Qur’an. BAB IV APLIKASI PEMIKIRAN FAZLUR RAHMAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM Pendidikan islam menurut Fazlur Rahman. perintah-perintah al-Qur’an muncul tidak dalam suatu kevakuman. Pada satu sisi lain. memberikan mereka pelatihan teknik penelitian modern. Contoh penerapan metide Fazlur Rahman ini dapat dilihat dari berbagai pemikirannya seperti dalam masalah konsep Sunnah yang hidup. pendidikan islam ketika masa Rasulullah menerapkan metode membaca dan menulis. menyadari betapa pentingnya bahasa dalam pendidikan dan sebagai alat untuk . Karena itu. Gerakan pemikiran kedua adalah metode berpikir dari yang umum kepada yang khusus. tetapi selalu turun sebagai solusi terhadap masalah-masalah aktual. gramatika. dilakukan juga dengan cara mengirim beberapa orang keluar negeri untuk memperoleh pelatihan dan gelar dalam studi islam. Kemudian pada masa abbasiyah. riba dan bunga bank. kemudian berusaha memasukinya dengan konsep-konsep islam. Kumpulan prinsip yang diperoleh dari al-Qur’an lewat cara yang dicandera diatas (yakni dalam gerakan pemikiran pertama). baik dinegara barat maupun timur. maka situasi kontemporer juga harus dikaji untuk diambil darinya prinsip-prinsip tentang penerapan hukum terhadap situasi tersebut. Ketiga.terhadap prinsip al-Qur’an dengan mana Sunnah merupakan bagian organisnya. menurut Rahman. kedua mensistematisasikan etika al-Qur’an. pembaharuan pendidikan islam. Secara detail menurut Rahman.Rayid dan al-Makmun menekankan adu pendapat diantara para pelajar diistana mengenai persoalan logika. kritis dan kreatif dalam pendidikan islam. berusaha mengikis dualisme sistem pendidikan umat islam. Kedua sistem pendidikan ini sama-sama tidak beresnya. dan memberikan mereka pengetahuan bahasa arab dan disiplin ilmu islam klasik yang penting seperti Hadia dan Hukum islam. ada pendidikan modern (sekuler). Sektor sosial perintah-perintah alQur’an memiliki suatu latar belakang situasional. Latar belakang situasional ini. yaitu: pertama. hukum. membangkitkan idiologi umat islam tentang pentingnya belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan . Pendidikan Islam dalam perspektif sejarah menurut Fazlur Rahman Menurut Rahman. perlu ada upaya untuk mengintegrasikan keduanya. Secara mendasar. sepaerti Harun al. kedua. Namun ada juga kelompok kecil yang berusaha mengembangkan kemampuan intelektual. Disamping usaha-usaha itu. dapat dilakukan dengan menerima pendidikan sekuler modern. merumuskan world-view (pandangan dunia) al-Qur’an. perbudakan dalam islam dan dalam bidang pendidikan. merekrut sarjana yunior lulusan unuversitas jurusan filsafat atau ilmu-ilmu sosial. Rahman menerapkan tiga tahapan. pembaharuan pendidikan umat islam mendesak untuk segera dilakukan dengan cara: Pertama. Selama dipimpin oleh fazlur Rahman (1962-1968) strategi yang dicoba diterapkan untuk mengatasi permasalahan ini adalah: mengangkat beberapa lulusan madrasah yang mempunyai pengetahuan bahasa inggris. usahanya gagal karena tidak adanya doktor yang seperti itu. dan aplikasi pemikiran Fazlur Rahman pada pendidikan islam di Indonesia. khalifah-khalifah tertentu. harus diterapkan terhadap masyarakat muslim dalam konteks dewasa ini. Fazlur Rahman juga berusaha mengundang doktor-doktor dari barat untuk menjalin kerjasama dan mengawasi riset yang dilakukan oleh para mahasiswa. distribusi zakat. yang disebut ”sebab-sebab pewahyuan”. dan sebagainya. tetapi yang paling lazim adalah menghafal al-Qur’an dan al-Hadis. Namun. Selanjutnya yang dihadapi oleh institusi ini adalah masalah sumberdaya manusia.

Bahakan. pembaharuan dibidang metode pendidikan islam. pendidikan tinggi islam yang disebut dengan intelektualisme islam. Pertama. dan sebagainya. Mereka tidak lagi menganggap bahwa hasil pemahaman ulama terhadap wahyu pada masa lalu merupakan hasil yang sudah fnal. Menurut Rahman umat islam lemah dibidang bahasa. kemajuan. Pada awalnya sifat kritis dan kreatif yang diperlukan adalah yang memungkinkan peserta didik berani dan memiliki rasa percaya diri untuk memahami wahyu secara langsung. dinamis. bahkan bisa juga pendidikan agama islam disekolah (sejak dari dasar sampai lajutan atas) dan pendidikan agama islam diperguruan tinggi umum. Proses ini menyangkut klasifikasi dan penilaian masalah. yaitu: (1) tahap persiapan dimana masalah diselidiki dari segala arah sehingga semua informasi tentang masalah ditemukan. peradaban barat sangat besar pengaruhnya pada peradaban umat islam sekarang. Pendidikan islam dapat mencakup dua pengertian besar. para pemikir muslim harus betul-betul kritis terhadap peradaban tersebut. (4) akhirnya suatu usaha sadar dilakukan untuk mencoba menentukan keshahihan dari kesimpulan yang didapat tadi sesuai dengan kriteria atau aturan-aturan ilmiah. Dengan domonasinya. dan sebagainya. dan diperguruan tinggi islam. Saudi. Kemampuam memecahkan masalah terkait erat dengan kemampuan kritis dan kreatif. meliputi pendidikan dipesantren. yaitu pendidikan yang dilaksanakan didunia islam seperti yang diselenggarakan dipakistan. tetapi dalam semua aspek kehidupan. Kedua. tujuan pendidikan menurut Fazlur Rahman adalah untuk mengembangkan manusia sedemikian rupa sehingga semua pengetahuan yang diperolehnya akan menjadi organ pada keseluruhan pribadi yang kreatif. Hasil-hasil ijtihad ulama . Kritis dan Kreatif dalam Pendidikan Islam Sifat kritis merupakan karakter utama Rahman. Bahkan ia katakan umat islam adalah masyarakat tanpa bahasa. (2) tahap inkubasi dimana masalah seakan-akan terbawa tidur.mengeluarkan pendapat-pendapat yang orisinil. Lebih dari itu. Sifat kritis ini ditujukan oleh Rahman baik pada warisan islam sendiri maupun pada peradaban barat. Maroko. pendidikan islam dalam pengertian praktis. Pendidikan Islan menurut Fazlur Rahman Pendidikan islam menurut Fazlur Rahman bukan sekedar perlengkapan dan peralatan fisik atau kuasi fisik pengajaran seperti buku-buku yang diajarkan ataupun struktur eksternal pendidikan. Oleh karena itu. progresif. dan keteraturan dunia. dapat dikatakan bahwa menumbuhkembangkan kemampuan memecahkan masalah juga menumbuhkembangkan sifat kritis dan kreatif. pendidikan islam menurut Rahman dapat juga dipahami sebagai proses untuk menghasilkan manusia (ilmuwan) integratif. Kritis terhadap peradaban barat menjadi penting karena peradaban ini telah mendominasi peradaban dunia selama beberapa abad terahir. Tahap (3) disebut tahap ilmunisasi dimana ide atau kesimpulan baru muncul tidak terduga. Hal ini merupakan pertumbuhan suatu pemikiran islam yang asli dan memedai. melainkan sebagai intelektualisme islam karena baginya hal inilah yang dimaksud dengan esensi pendidikan tinggi islam. baik dengan menggunakan langkah-langkah logika maupun eksperimen. jujur. yang padanya terkumpul sifay-sifat seperti kritis. adil. Disamping kritis pada diri Fazlur Rahman juga selalu mengalir sifat kreatif. tetapi masalah itu merasuk kealam pikir yang nantinya akan mengalir keluar dalam wujud iluminasi kreatif. tidak terpikirkan secara sadar dan dinamis. Pemecahan masalah bergerak dari masalah sederhana yang hanya menggunakan akal sehat sampai pada pemecahan masalah muskil yang menuntut prosedur berpikir yang lebih kompleks. Kemudian masalah dianalisis dan didefinisikan. dan yang harus memberikan kriteria untuk menilai keberhasilan atau kegagalan sebuah sistem pendidikan islam. Untuk konteks Indonesia. Dengan mendasarkan pada al-Qur’an. Proses berpikir untuk memecahkan masalah berlangsung dalam empat tahap. mulai dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. Iran. kreatif. yaitu beralih dari metode mengulang-ulang dan menghafal pelajaran ke metode memahami dan menganalisis. Turki. Memecahkan masalah tidak hanya dalam konteks ilmu pengetahuan. Keempat. Sudan. inovatif. yang memungkinkan manusia untuk memanfaatkan sumber-sumber alam untuk kebaikan umat manusia dan untuk menciptakan keadilan. di madrasah (mulai dari ibtidaiyah sampai aliyah). Mesir.

disain. menunjukkan kritis dan kreatif. kebanyakan menempati posisi dipinggiran. Perguruan tinggi Islam jumlahnya sangat banyak. Hal itu hampir sama dengan yang dikemukakan oleh Mastuhu. Metode lain yang tidak kalah penting adalah metode diskusi. dan (c) perguruan tinggi yang bertujuan menghasilkan sarjana dibidang ilmu-ilmu agama Islam.masa lalu yang cocok untuk mengatasi persoalan pada waktu itu. Sosok manusia seutuhnya. Madrasah didirikan untuk menampung keunggulan pesantren dan sekolah. pendidikan islam harus dapat mengembangkan anak didik yang kritis dan kreatif. atau tidaknya mereka. menurut islam. menurut Zamrani. dalam dunia yang terbuka paradigma-paradigma yang mendasari lahirnya perguruan tinggi Islam perlu ditinjau kembali. Tujuan dikembangkannya daya kritis dan kreatif dalam pendidikan islam adalah untuk menghasilkan output yang kritis dan kreatif. Aplikasi pemikiran Fazlur Rahman pada Pendidikan Islam di Indonesia Pendidikan islam di Indonesia dapat dibedakan kedalam dua tingkatan. Atau dengan kata lain. Untuk meningkatkan kedudukannya. Perguruan tinggi Islam didirikan sesuai dengan kondisi waktu lembaga itu didirikan. Apakah mereka cenderung mencontoh karangan atau model yang sudah ada ataukah menciptakan sesuatu yang lain. dan madrasah. (b) pendidikan agama Islam yang disampaikan di perguruan tinggi. guna untuk mengatasi persoalan-persoalan yang mereka hadapi. mereka harus senantiasa melakukan ijtihad. metode diskusi dilakukan dengan terbuka. Bahkan. sebaliknya sekolah lemah dibidang ilmu-ilmu agama tetapi unggul dibidang ilmu-ilmu umum. Melalui karangan bebas. Pendidikan islam dalam realitas. tetapi dalam peta perguruan tinggi di Indonesia. dan sebagainya. yaitu: (1) mempunyai pemikiran asli atau orisinil (originality). bentuk. Diantara kegiatan pembelajara yang dapat mengembangkan daya kritis dan kreatif subyek didik adalah kegiatan yang meminta mereka. tetapi lemah dibidang ilmuilmu umum. menurut Fazlur Rahman. Dapat juga dikembangkan dengan cara mengarang. adalah al. Masing-masing dari ketiganya memiliki keunggulan. harus bermula dari pendidikan. Guru hendaknya bertugas membuat kondisi semacam itu. masih merupakan impian belaka. pembaharuan islam dalam bentuk apapun yang berorientasi pada kemajuan. (3) menunjukkan kelancaran proses berfikir (fluency). Pendidikan Tinggi Islam di Indonesia. sekolah. (2) mempunyai keluwesan (flixibility).insan alkamil. mengubah warna. tanpa ada rasa takut dan batasan untuk mengemukakan gagasan-gagasan mereka. dalam jangka pendek. atau model. yaitu pendidikan dasar-menengah islam. Oleh karena itu. Paradigma-paradigma yang mendasari perguruan tinggi Islam dewasa ini sudah tidak relevan lagi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tuntutan pembangunan nasional. Pendidikan tinggi Islam harus memiliki tipe ideal manusia seutuhnya. IAIN merupakan lembaga pendidikan tinggi Islam yang strategis untuk mengembangkan tradisi ilmiah umat Islam yang peduli terhadap persoalanpersoalan besar bangsa. mereka disuruh membuat karangan bebas. sangat strategis untuk mengurai benang kusut krisis pemikiran dalam Islam yang berdampak pada stagnasi dan kemunduran peradaban umat islam. Pendidikan tinggi Islam. disamping kelemahan. guru dapat dengan mudah mengetahui tingkat kekritisan dan kreatifitas mereka. Dalam era globalisasi. anak didik yang kritis dan kreatif paling tidak mempunyai tiga ciri yang menonjol. Misalnya. Menurut Mastuhu. yaitu pesantren. menurut Rahman. Kemudian pendidikan dasar-menengah islam di Indonesia dapat dibedakan lagi kedalam tiga jenis. baik dengan guru maupun sesama temanteman mereka. baru merupakan: (a) pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga islam. yang darinya dapat diharapkan berbagai alternatif solusi atas problem-problem yang dihadapi umat manusia. dalam arti bahwa subyek didik bisa secara leluasa mengadakan diskusi. dan pendidikan tinggi islam. disamping untuk menghilangkan kelemahan dari keduanya. misalnya. Pada umumnya pesantren unggul dibidang ilmu-ilmu agama. belum tentu cocok untuk mengatasi persoalan sekarang dan masa mendatang. Paradigma-paradigma perguruan tinggi . perguruan tinggi Islam harus mampu memperbarui kurikulumnya secara mendasar. Sebaiknya.

yaitu periode pertumbuhan. manusia. dan metode suatu gerakan ganda. Pemikiran Fazlur Rahman jika dilihat dari prosesnya. mengganti metode pendidikan secara mengulang-ulang dan menghafal dengan metode memahami dan menganalisis. Barangkali hanya dapat memenuhi satu sektor tertentu saja didalam kebutuhan manusia Indonesia modern. 6. yang kedua-duanya dikembangkan secara bersama-sama dan terpadu.Islam itu sanagat sektoral dan mempunyai visi dan misi sangat terbatas. Karena itu. menyadari akan pentingnya bahasa. dapat dibedakan kedalam tiga periode. visis dan misi perguruan tinggi Islam menjadi sangat sempit dan terbatas. dikotomi ilmu dikalangan umat islam akan semakin terkikis. Paradigma yang sektoral tersebut menganut paham dualisme yang membedakan ilmu agama dari lmu pengetahuan umum. dalam kehidupan ini. metode suatu gerakan ganda Fazlur Rahman dapat diterapkan untuk memberi alternatif solusi atas problem-problem umat. metodologi Fazlur Rahman dapat dikelompokkan kedalam tiga macam yaitu metode kritik sejarah.. Secara khusus. 2. perkembangan dan kematangan. Dikotomi tersebut (pada akhirnya) menghasilkan alumni-alumni yang ketinggalan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. jika dilihat dari struktur dasar epistemologinya. Cara ini dilakukan oleh Rahman dengan memilih ahli-ahli islam muda yang potensial dengan mengajarkannya kepada mereka metodologi barat modern. perlu dikembangkan diperguruan tinggi Islam secara integratif. kemudian mengembangkannya sebagai alat komunikasi. dengan cara: pertama. tampaknya efektif untuk mencetak sumber daya manusia muslim yang handal. membangkitkan kembali idiologi keharusan belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Ketiga. Cara yang ditempuh Rahman ini. dapat ditemukan bahwa pengetahuan itu bersumber pada teks dan realitas. mengintegrasikan ilmu (antara ilmu agama dan ilmu umum) kedalam pendidikan tinggi Islam di Indonesia untuk kemaslahatan umat manusia. 5. alat yang digunakan adalah akal dan indra. mendikotomikan keduanya. Saran-saran . diperguruan tinggi Islam tidak perlu didikotomikan antara ilmu tradisional dan ilmu modern. yaitu tuhan. 4. pendekatannya historis-filosofis. Kedua. Fazlur Rahman lebih cenderung mengembangkan ilmuwan-ilmuwan muslim dari pada Islamisasi ilmu pengetahuan. Karena problem iti tidak selamanya berasal dari bidang agama. Keempat. dll. cara pembaharuan pendidikan yang disarankan Rahman terhadap pendidikan di Pakistan dapat diaplikasikan pada pendidikan tinggi Islam di Indonesia.antara ilmu agama dan ilmu sekuler. 3. metode penafsiran secara sistematis. yang diikuti oleh semakin pudarnya dualisme dalam sistem pendidikan umat islam. BAB V PENUTUP Kesimpulan Melalui penulisan buku ini dapat dihasilkan temuan-temuan sebagai berikut. Peguruan tinggi Islam dimasa depan perlu diarahkan untuk memberikan solusi atas berbagai problem yang dihadapi umat manusia. dan alam semesta. Bahkan. 1. epistemologi-metodologi pemikiran Fazlur Rahman jika diterapkan pada pendidikan islam. maka motivasi umat islam terhadap pengembangan ilmu akan semakin kuat. termasuk problem pendidikan. Karena itu. metodenya observasi dan eksperimen. pemikiran Fazlur Rahman. Hal ini terkait erat dengan inti neomodernisme yang menekankan sifat kritis dan kreatif. baik secara lisan maupun tulisan. baik bidang agama maupun bidang-bidang lain. sifat kritis dan kreatif Fazlur Rahman didasarkan pada pandangan ontologinya tentang kebebasan berkehendak mnusia yang setelah dilacak lebih lanjut ternyata berangkat dari teori besarnya mengenai pandangan dunia al-Qur’an . 1.

pemegang kebijakan pendidikan islam agar dapat menentukan kebijakan yang memungkinkan dapat dihasilkan alumni dari pendidikan islam yang lebih kritis dan kreatif. konseptor pemegang kebijakan. selanjutnya disarankan kepada: 1. 5. 2. pemerhati epistemologi agar dapat mengkritisi lebih lanjut mengenai konsep epistemologi Fazlur Rahman terutama tentang sumber. cara memperoleh. sehingga mereka dapat menyelesaikan problem-problem mereka sendiri bahakan problem umat islam secara umum. 4. 3. konseptor pendidikan islam disarankan dapat menyempurnakan pemikiran Fazlur Rahman tentang konsep pendidikan islam yang dapat menghasilkan alumni yang kritis dan kreatif. . jenis.Berdasarkan pada temuan-temuan sebagai mana tersebut diatas. dan praktisi pendidikan islam agar dapat mengarahkan pendidikan umat islam untuk memperbaiki peradaban mereka secara mendasar dan menyeluruh. praktisi pendidikan islam agar dapat mengupayakan langkah-langkah yang memungkinkan terjadinya integrasi ilmu dalam islam serta integrasi dalam sistem pendidikan umat islam dalam rangka dapat menghasilkan alumni yang berkualitas tinggi. dan validitas kebenaran pengetahuan.

Pada tahun 1946 Rahman berangkat ke Inggris untuk melanjutkan studinya di Universitas Oxford dibawah bimbingan Es Fande Bergh dan H.rahman melanjutkan studinya ke lahore dan memasuki dunia modern. dia tidak langsung pulang ke negrinya tetapi mengajak durkhem university.A.pada tahun 1942 dia berhasil menyelesaikan materinya dalam bidang yang sama di universitas yang sama.sehingga . kemudian di institute of Islamic studies mc gill university kanada dan menjabat sebagai associate professor of philoshiphy. Pada saat mengajar di durkhem university rahman menyelesaikan karya originalnya yang berjudul probheji in islam : philoshophy and ordoksi.SEJARAH DAN PEMIKIRAN FAZLUR RAHMAN A.dia menyelesaikan gelar BA nya dalam bidang bahasa arab pada Universitas Punjab.pada tahun 1940. inggris. Hal penting yang telah mempengaruhi keagamaan rahman adalah bahwa ia dididk dalam sebuah keluarga dengan tradisi madzab hanafi.ayahnya memperhatikan rahman dalam hal mengaji dan menghafal alquran. ia belajar bahasa latin yunani. yaitu Islamic studies dan fiqrun nazr berbahasa ordo. Selama kuliah di barat.(anak benua india)yang sekarang terletak di sebelah barat Pakistan.pendidikan dalam keluarganya benar –benar efektif dalam membentuk watak dan kepribadiannya untuk dapat alam menghadapi kehidupan nyata .sebuah madzab sunni yang lebih banyak menggunakan rasio dibandingkan dengan madzab sunni lainnya.ayahnya maulana sahib al. Biografi fazlur rahman Rahman lahir pada tgl 21 september 1919 didaerah hazarah .Rahman menyelesaikan program phdnya pada tahun 1949 dengan disertasi tentang ibnu sina. turki.pada usaia 10 tahun rahman telah hafal alquran seluruhnya . Dua tahun berikutnya disertasi tersebut diterbitkan oleh oxford unevesity press dengan judul avicinna’s psychology pada tahun 1959 karya suntingan rohman dari kitab annafs karya ibnu sina diterbitkan oleh penerbit yang sama dengan judul avecinna’s de anima. inggris. Setelah tamat dari oxford university.din . Selama jabatannya menjadi direktur rahman menjalankan dua strategi ganda yaitu mengangkat beberapa lulusan madrasah yang menguasai bahasa inggris bagi staf junior dan mencoba melatih mereka dalam teknik-teknik riset modern dan sebaliknya merekrut staf-staf senior dari kalangan lulusan universitas di .Gibb.R. arab dan ordo.kemudian pada tahun 1933 .adalah seorang alim terkenal lulusan deoband e. jerman. Pakistan kemudian dua tahun berikutnya dia di tunjuk sebagai direktur lembaga riset islam setelah sebelumnya dia menjabat sebagai staf di lembaga tersebut selama beberapa saat selam kepemimpinan rahman lembaga ini berhasil menerbitkan dua jurnal ilmiah.pada tahun 1960 rahman pulang ke negrinya.

Karya-karya yang berupa buku : 1. Philosophy of mulla sadra shirazi 5. 7. B. Islam and modernity : transformation of an intellectual tradition 9. ‘some Islamic issue in the ayyub khan era’ b. karya yang berupa artikel : a. Univercity of Chicago. disamping itu ia juga menjadi guru besar kajian Islam di Departemen of Near Eastern Languages and Civilization. Islamic : challenges and opportunities c. Prophecy in islam : philosophy and orthodoxy 3. Islam. Avecinna’s de Anima. Major themes of the qur’an 8. Prestasi fazlur rahman 1.bidang filsafat atau ilmu social dan member mereka pelajaran bahasa arab serta disiplin-disiplin islam klasik yang utama seperti hadits dan ushul fiqh dia juga mengirim beberapa orang ke luar negri untuk mendapatkan training dan jika memungkinkan gelar-gelar dalam kajian keislaman baik di uneversitas barat maupun timur Pada tahun 1964 rahman ditunjuk sebagai dewan ideology islam pemerintahan islam. Ia ngajar selama 18 tahun di Chicago akhirnya ia kembali ke pangkuan Illahi Robi pada tanggal 26 Juli 1988. pemerintah Pakistan setelah beberapa saat melepas jabatannya di lembaga research. being the psychological part of kitab al-shifa 4. Pada tahun 1969 ia pergi ke Amerika sebagai tenaga pengajar di universitas California Los Angeles. Toward reformulating the methology of Islamic law : syaikh yamnai on “public interest” in Islamic law . Health and medicine in Islamic tradition 2. Avecinna’s psychology 2. Islamic methodology in history 6.

pendidukan islam yang di sebut dengan intelektual islam. Pendidikan islam dapat mencakup dua pengertian. meliputi pendidikan di pesantren. The qur’anic consept of god. jujur dan sebagainya. method and alternatives j. pendidikan islam menurut rahman dapat juga di pahami sebagai proses untuk menghasilkan manusia integrative. inovatif. melainkan sebagai intelektualisme islam karena baginya hal inilah yang dimaksud dengan esensi pendidikan tingi islam. kreatif. di madrasah. adil. Change and the muslim world h. progresif. Some key etical concept of the qur’an PEMBAHASAN A. Corak Pemikiran Rahman Dalam Pendidikan Pendidikan islam menurut rahman bukan sekedar perlengkapan dan perlalatan fisik atau kuasi fisik pengajaran seperti buku-buku yang di ajarkan ataupun stuktur eksternal pendidikan. Interpreting the qur’an l. iran. e. bajhkan bisa juga pendidikan agama islam di sekolah dan pendidikan agama islam di perguruan tinggi umum. Hal ini merupakan pertumbuhan suatu pemikiran islam yang asli dan memadai. . Islam in the contemporary world f. The impact of modernity on islam i. Islamic modernism : its scope. yaitu pertama. pendidikan islam dalam pendidikan praktis yaitu pendidikan yang dilaksanakan di dunia islam seperti yang di selenggarakan di Pakistan. maroko dan sebagainya. mulai dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. Saudi. dan yang harus memberikan kriteria untuk menilai keberhasilan atau kegagalan sebuah system pendidikan islam. Islam : legacy and contemporary challenge. the universe and man m. yang padanya terkumpul sifat-sifat seperti kritis. Untuk Indonesia.d. Kedua. dinamis. Roots of islamics neo fundamentalism g. dan di perguruan tinggi islam. sudan. Divine revelation and the prophet k. Lebih dari itu.

Tujuan pendidikan Islam menurut Fazlur Rahaman untuk memenuhi kewajiban terhadap Allah dan Rasul-Nya serta tercapainya kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Evaluasi pendidikan digunakan untuk mengetahui seberapa jauh tujuan pendidikan telah tercapai.Berdasarkan Al-qur’an. kemudian dikembangkan lebih lanjut menjadi metode penafsiran sistematis (the systematic interpretation method). dan akhirnya disempurnakan menjadi metode gerakan ganda (a doble movement). tujuan utama drai pendidikan adalah untuk menyelamatkan manusia dari dirin sendiri. namun ada juga kelompok kecil yang berusaha mengembangkan kemamp[uan intelektual. Al-Qur’an. Akhirat bernilai lebih tinggi. Dunia bernilai lebih rendah. Materi pendidikan menurut Fazlur Rahman meliputi mebaca dan menulis. solusi atas problem-problem pendidikan umat Islam kontemporer. Metode demikian ini menurut Fazlur Rahman dikenal dengan metode belajar secara mekanis. kemajuan dan keteraturan dunia. lebih baik dan menjadi tujuan dari kehidupan. fiqih. Tanggung jawab pendidik yang pertama adalah menanamkan pada pikiran-pikiran peserta didik dengan nilai moral. Al-qur’an menyuruh manusia mempelajari bumi seisinya dengan cermat dan mendalam serta mengambil pelajaran darinya agar dapat menggunakan pengetahuanya dengan tepat dan tidak berbuat kerusakan. al-hadits. Ia berhasil mengembangkan suatu metode yang dapat member alternative. Al-qur’an sering kali berbicara tentang dunia dan akhirat. Tujuan pendidikan menurut Fazlur Rahman adalah untuk mengembangkan manusia sedemikian rupa sehingga . oleh diri sendiri dan untuk diri sendiri. tujuan pendidikan menurut rahman adalah untuk mengembanngkan manusia sedemikian rupa sehigga semua pengetahuan yang di perolehnya akan menjadi organ pada keseluruhan pribadi yang kreatif. dan astronomi.an dan Al-hadits. berhitung. Semula ia mengembangkan metode kritik sejarah. Pendidikan islam didasrkan pada ideology islam karena itu pada hakikatnya pendidikan islam tidak dapat meninggalkan keterlibatannya pada persepsi benar dan salah. komentar dan superkomentar. Metode pembelajaran abad pertengahan: membaca dan mengulang-ulang sampai hafal. adab. Karena itu. padasaat itu sekolah tidak melaksanakan ujian akhir tahun tetapi peserta didik bias naik ke tingkat yang lebih tinggi dengan rekomendasi guru-gurunya. Illahiyah. Fazlur Rahman memiliki berbagai pemikiran yang terkait dengan pengan pendidikan umat Islam. thobi’iyah. materialis serta hasil yang tidak memuaskan. tetapi yang paling lazim adalah menghafal Al-Qur. Dalam berbagai bentuk menurut Fazlurr Rahman pendidiken Islam ketika jaman pertengahan menerapkan metode membaca dan menulis. yang memungkinkan manusia untuk memanfaatkan sumber-sumber alam untuk kebaikan umat manusia dan untuk menciptakan keadilan.

pengetahuan ynag diperolenhya akan menjadi pribadi yang kritis dan kreatif yang memungkinkannya pemanfaatan sumber-sumber alam untuk kebaikan.akibatnya adalah mereka tidak terdorong untuk belajar. Kedua system ini sama-sama tidak beresnya. 4.Relevansi pemikiran pendidikan Fazlur rahman dengan pendidikan islam sekarang Pendidikan tinggi Islam menurut Fazlur Rahman sangat strategis untuk megurangi benang kusut krisis pemikiran dalam islam yang berdampak pada stagnasi dan kemunduran peradaban islam. Menurut Rahman umat Islam adalah masyarakat tanpa bahasa karena lemah di bidang bahasa. Menurut Fazlur rahman . Pembaharuan di bidang metode pendidikan Islam yaitu dari metode mengulang-ulang dan menghafal pelajaran ke metode memahami dan menganalisis. kemudian berusaha memasukinya dengan konsep-konsep Islam.yang darinya dapat diharapkan berbagai alternative atas problem-problem yang dihadapi umat manusia. kemajuan serta keteraturan dunia. Menurut Fazlur Rahman.bahkan. untuk manusia dan untuk menciptakan keadilan dan kemajuan dunia. 3. Menyadari betapa pentingnya bahasa dalam pendidikan dan sebgai alat untuk mengeluarkan pendapat-pendapat yang orisinil.harus bermula dari pendidikan. Untuk mengetahui seberapa jauh tujuan pendidikan itu telah tercapai.menurut Mastuhu.Problem yang sangat pelik adalah timbulnya dualism dalam system pendidikan ini dikarenakan karena adanya dikotomi ilmuhal ini dapat diperhatikan secara seksama pendidikan islam yang berbentuk lembaga mulai dari tingkat MI sampai Perguruan tinggi hanya bias ncetak para generasi yang tahu nilai nilai agama islam .hal itu hampir sama dengan yang dikemukakan oleh matuhu.IAIN merupakan lembaga pendidikan tinggi Islam yang strategis untuk mengembangkan tradisi ilmiah umat islam yang peduli terhadap persoalanpersoalan besar bangsa.Sesuatu yang . Karena itu perlu ada upaya mengintegrasikan keduanya.tapi tidak dapat menghadapi tantangan kehidupan modern.bahkan mereka tidak sadar kalau berada di bawah perintah moral kewajiban islam untuk menuntut ilmu pengetahuan. Berusaha mengikis dualism system pendidikan tradisional (agama). Secara mendasar pembaharuan pendidikan Islam menurut Fazlur Rahman dapat dilakukan dengan menerima pendidikan. B. dan pada sisi lain ada pendidikan modern (sekuler). 2. Membangkitkan ideologi umat Islam tentang pentingnya belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan.umat islam tidak dapat secara efektif pentingnya pengetahuan dengan orientasi ideologinya.menurut fazlur rahman pembaharuan islam dalam bentuk apapun yang berorientasi pada kemajuan. maka perlu dilakukan evaluasi terhadap performance peserta didik terutama dalam memanfaatkan sumber-sumber alam untuk kebaikan manusia dan dari segi keberhaasilan menciptakan keadilan.problem pendidikan Islam yang paling mendasar dewasa ini adalah problem ideology. pembaharuan dilakukan dengan cara: 1.

bunuh diri.oleh sebab itu fazlur rahman memberikan beberapa alternative yang sangat bagus baik melalui karya –karyanya maupun teorinya yakni double movement. PENUTUP KESIMPULAN Berdasarkan pembahasan Fazlur Rahman di atas maka dapat disimpulkan bahwa Pendidikan tinggi Islam sangat strategis untuk megurangi benang kusut krisis pemikiran dalam islam yang berdampak pada stagnasi dan kemunduran peradaban islam.Serta fungsi rahmatan lil alamin dapat meluas pendidikan islam haruslah melakukan teori gerak ganda sebelum menentukan target atau tujuan dari pendirian lembaga pendidikan tersebut.Dalam wilayah ini pelaku pendidikan melakukan proses perenungan yang mendalam agar lembaga pendidikan dapat memadukan hal tersebut .Gerak ganda atau Doble movement yang dimaksud rahman yakni ada dua tempat yang harus di perhatikan yakni sumber yang dalam kategori rahman adalah al-quran dan assunnah sementara tempat yang kedua yakni realitas social atau social cultural masyarakat setempat.akibatnya tidak pelik orang yang mengalami stess .Ini dalam bidang keilmuan .Kemudian pelaku lembaga pendidikan harus menarik problem tersebut kedalam daerah sumber . Walaupun gagasan rahman disini hanya bersifat teoritis dan belum selesai tapi para ilmuwan berikutnya berhasil mengembangkan konsep Rahman tersebut dengan adanya berbagai pendekatan keilmuan pendidikan islam mulai dari islamisasi ilmusampai intergarasi dan interkoneksi.dalam bidang menajemen pendidikan islam juga harus bersifat terbuka terhadap menajemen yang baru dan bersifat efektif . Hal ini .yang darinya dapat diharapkan berbagai alternative atas problem-problem yang dihadapi umat manusia.tantangan kedepan.berkebalikan juga terjadi pendidikan umum dari tingkat SD sampai perguruan tinggi umum hanya bias mencetak orang yang sanggup bersaing didunia modern tapi gersang dengan nilai nilai agama islam. Pendidikan islam menurut rahman bukan sekedar perlengkapan dan perlalatan fisik atau kuasi fisik pengajaran seperti buku-buku yang di ajarkan ataupun stuktur eksternal pendidikan.kebutuhan masyarakat.dan hasilnya dari proses tersebut baru dibuat dasar dalam pendirian dan pengembangan pendidikan islam. bahkan pembaharuan islam dalam bentuk apapun yang berorientasi pada kemajuan. melainkan sebagai intelektualisme islam karena baginya hal inilah yang dimaksud dengan esensi pendidikan tingi islam.langkah yang harus ditempuh dalam pendidikan yakni selaku pihak yang ingin mendirikan lembaga pendidikan islam haruslah dapat melihat realitas.dan tindakan amoral lainnya merkipun sudah berpendidikan.padahal kita tahu sendiri bahwa di sumber agama islam di Kitab sucinya Alqur’an selalu tidak memisahkan antara ilmu agama dan umum.kalau pendidikan islam diteruskan seperti ini dapat diprediksi beberapa tahun kemudian pendidikan islam akan menjadi pendidikan yang ketinggalan dan tidak diminti oleh masyarakat (stakeholder) Menurut rahman untuk memenuhi target yang telah didambakan oleh masyarakat.

Sutrisno. Fazlur Rahman Kajian Terhadap Metode. Fazlur Rahman Kajian Terhadap Metode. Sutrisno. hal. hal.merupakan pertumbuhan suatu pemikiran islam yang asli dan memadai.hal 35-37.(Yogyakarta: Kota Kembang.cit.. +++++ Sutrisno. the University of Chichago Press. Pendidikan Islam yang menghidupkan. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar:2006). the University of Chichago Press. America.(Yogyakarta: Kota Kembang. dan yang harus memberikan kriteria untuk menilai keberhasilan atau kegagalan sebuah system pendidikan islam. America. 1982 Sutrisno. Epistemology dan System Pendidikan. 2006). Fazlur . Yogyakarta: Pustaka Pelajar:2006 Rahman. DAFTAR PUSTAKA Sutrisno. Pendidikan Islam yang menghidupkan. 1982. hal. op. 2006) Fazlur Rahman. Islam and Modernity: Transformation of an Intellctual Tradition. Epistemology dan System Pendidikan. Islam and Modernity: Transformation of an Intellctual Tradition. 18. 106-107. . 167.

Gibb. Namun sebagaimana zaman yang tidak tetap dan dinamis. Van Den Berg dan HAR. cases and general principles. PEMBAHASAN 1. hukum Islam telah membuktikan diri sebagai bagian dari kehidupan muslim yang inovatif.”[1] Bukti kompetensi dialektika wahyu dengan realitas adalah warisan ushul fiqh dan fiqh yang kaya dalam sejarah Islam. hukum Islam selalu dapat didesain untuk mengikuti perubahan-perubahan yang terjadi. Selain Rahman. Bagaimana pembaruan pemikiran hukum Islam Fazlur Rahman? 2. Pendidikan doktor Rahman ini selesai pada 1949 dengan disertasi berjudul Avicenna’s Psychology yang kemudian diterbitkan oleh universitas tertua di Eropa itu. Dari sang ayah. along with a body of well developer hermeneutical and paralogical techniques. dari wilayah yang sekarang terletak di barat laut Pakistan ini telah melahirkan tokoh-tokoh sekaliber Sayyid Ahmad Khan. S. PENDAHULUAN Secara natural dan historis. orientasi hukum Islam perlu selalu diarahkan pada kemajuan (the idea of progress). Syekh Waliyullah.[3] II. “islamic law is a repertoire of precedents. dan Muhammad Iqbal. Meskipun demikian dialektika pemikiran Rahman tidak hanya dalam tradisi sunni tetapi juga syi’i. Kanada.PEMBAGARUAN PEMIKIRAN HUKUM ISLAM ( BELAJAR DARI FAZLUR RAHMAN ) PEMBARUAN PEMIKIRAN HUKUM ISLAM: BELAJAR DARI FAZLUR RAHMAN I. Setelah lulus dari pendidikan menengahnya. Rahman menerima pendidikan tradisional di samping pendidikan modern di Lahore yang mulai dijalani sejak 1933. Pada tahun 1946 Fazlur Rahman berangkat ke Inggris untuk belajar di Universitas Oxford yang kemudian mendapatkan bimbingan dari Prof. Pakistan. Karena itulah Aziz Al-Azmeh berkomentar. Rahman dianggap berhasil melaksanakan rekonstruksi dan dekonstruksi dalam metodologi studi hukum Islam. Kedudukan Rahman ini mendapatkan banyak kritik dari para ulama tradisional Pakistan terlebih latar belakang pendidikannya dari Barat. Kecenderungan ini telah dimiliki oleh para pemikir kontemporer setelah berhasil mematahkan mitos tentang ketertutupan pintu ijtihad (‘insidad bab al-ijtihad) dan mengeliminir taklid. Rahman mengajar di Universitas Durham yang semakin memperlihatkan kepadanya distingsi pendidikan modern di Barat dan Islam tradisional di negerinya. Rahman melanjutkan pendidikan dengan konsentrasi bahasa Arab di Lahore dan memperoleh gelar Bachelor of Art pada 1940 dan menyelesaikan studi masternya dua tahun berikutnya. Maulana Syahab al-Dien. Rahman kecil hidup dalam tradisi Hanafi yang kuat dan praktis ritualitas keagamaan ia laksanakan dengan penuh ketaatan. Latar belakang keluarga Rahman yang terbuka membuat ia tidak kesulitan untuk memperoleh pengetahuan baru dan pendidikan modern. RUMUSAN MASALAH 1. Kembalinya Rahman ini karena permintaan Ayyub Khan yang kemudian pada 1962 menyerahinya tanggungjawab sebagai pemimpin Islamic Research Institute dan The Advisory Council of Islamic Ideology. Lebih-lebih pada periode ini Rahman menulis di sebuah jurnal bernama Fikr al-Nadzar yang menggugat .[2] Salah satu dari pemikir itu adalah Fazlur Rahman yang disebut-sebut sebagai tokoh neomodernis yang penting. Selama belajar di Oxford. Biografi dan Karya-karya Fazlur Rahman Pada 21 September 1919 Fazlur Rahman dilahirkan dari keluarga muslim religius di Hazara. Meskipun sebagian umat merasa cemas dengan kehadiran modernitas. sebuah daerah di Anak Benua Indo Pakistan. Bagaimana relevansi pemikiran Fazlur Rahman dalam konteks zaman ini? III. Pada awal 1960-an Rahman kembali ke negerinya setelah 3 tahun mengajar di Universitas McGill.

umat Islam kurang menghayati relevansi al-Qur’an untuk masa kini sehingga tidak mampu memberikan jawaban bagi masalah-masalah baru. 1.[4] Pakistan. Sebagaimana diketahui. Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition. pada akhir tahun 1969 Rahman berangkat ke Amerika menuju Universitas California. dan tercakup di dalamnya hukum Islam sebagaimana karya-karya periode ini dalam uraian biografi di atas. Bahkan sentimen atas Barat cukup kuat. Avicenna Psycology. karya-karya yang lain tetap penting untuk diketahui dan dianalisis. namun secara khusus tertuju pada pemikiran Islam dan Islam normatif.eksistensi wahyu dalam pandangan tradisional. Sementara itu pada periode terakhir Rahman di Chicago semakin memberikan ruang yang luas bagi pemikiran Islam. dan Health and Medicine in Islamic Tradition. dan kedua. Tulisan di jurnal ini kemudian menjadi dua bab pertama dalam buku Islam.[5] Pada pertengahan dekade 1980-an Rahman mulai menunjukkan penurunan kesehatan meskipun masih bersemangat dalam berkarya. tetapi untuk menentang Ayyub Khan. Von Grunebaum Center for Near Eastern Studies dari UCLA yang hingga saat ini dirinyalah sebagai satu-satunya muslim yang menerima award itu. Rahman mendapat pengakuan secara internasional dengan salah satunya menerima penghargaan prestisius Giorgio Levi Della Vida dari Gustave E. Karya-karya masa awal Rahman dipenuhi dengan kajian-kajian historis murni. Tetapi banyak pengamat menilai sesungguhnya kritik dan demonstrasi itu bukan ditujukan kepada Rahman.[6] Tawaran Rahman mengenai kontekstualisasi ini secara terus menerus disuarakan melalui karyakaryanya. Gelombang protes terhadap Rahman mencapai puncak ketika terjadi pemogokan massal pada September 1968 di beberapa daerah yang membuatnya berpikir ulang tentang masa depan pemikirannya di Pakistan. Sebuah buku yang terbit setelah ia wafat adalah Revival and Reform in Islam: A Study of Islamic Fundamentalism. setiap teks selalu berangkat dari sebab-sebab eksternal dan kemudian mengakumulasi keadaan itu dalam “uraian” teks. Rahman kemudian pindah ke Chicago dan menghabiskan banyak waktu di sana untuk menuliskan karya-karyanya. umat Islam sendiri memendam kekhawatiran jika al-Qur’an disajikan dengan cara di atas akan menyimpang dari pemahaman-pemahaman tradisional. dan diangkat sebagai guru besar pemikiran Islam di universitas tersebut. Los Angeles. Rahman menutup usianya pada 16 Juli 1988 saat berusia 69 tahun. pertama-tama menjadi landasan bagi konsepsi mengenai teks yang tidak terlepas dari konteksnya. Dalam konteks inilah. dan Prophecy in Islam merupakan karya-karya historis secara umum. Rahman memulai keberangkatan pemikirannya pada apa yang disebut para sarjana sebagai “metode kritik sejarah” (critical historical method) dan kemudian lebih detail diurai dalam konsep double movement. tetapi juga aspek politiknya. Dalam periode ini dapat dilihat pada karya Islamic Methodology in History dan Islam. bukan hanya karena kebudayaan dan pemikirannya. Pemikiran Hukum Islam Fazlur Rahman Melalui sekilas biografi Rahman tertangkap pergeseran pemikiran dari satu masa ke masa lain yang dipengaruhi oleh gejolak kehidupannya. Major Themes of The Qur’an. Avicenna’s de Anima. di masa Rahman hidup masih didominasi oleh kalangan tradisional yang kokoh dalam penafsiran tekstualis atas al-Qur’an. Pada periode ini beberapa karya yang lahir antara lain The Philoshophy of Mulla Sadra.[8] Namun meskipun demikian sejumlah ayat memang diturunkan tidak dalam kondisi merespon lingkungan yang . Sebagai guru besar di UCLA dan Chicago. al-Qur’an) dan realitas tersebut. Ini berbeda dengan periode 1960-an ketika Rahman telah kembali ke Pakistan yang meskipun masih beraroma historis dalam kajiannya. pertama. Mengenai hal ini Rahman menguraikan dua problem utama umat Islam. Rahman merasakan kekhawatiran atas kondisi umat Islam kontemporer yang terpuruk sebagai akibat kejumudan berpikir. Pada 5 September 1968 akhirnya Rahman mengundurkan diri dari Islamic Research Institute dan setahun berikutnya. Setelah beberapa saat memperoleh perawatan medis di Chicago. Karena itulah diskusi mengenai pemikiran hukum Islam akan lebih banyak merujuk pada karya-karya Rahman periode kedua dan ketiga meskipun sebagai sebuah pemikiran seseorang secara keseluruhan. Metode kritik sejarah. Meskipun demikian Rahman sebetulnya tidak pernah lepas dari teks (beyond the text) sehingga pengembangan tafsirnya dianggap merupakan rekonstruksi atas pola tafsir bi al-ma’tsur[7] yang akan terlihat dalam penggunaan beberapa contohnya nanti. Nashr Hamd Abu Zayd menyebut ilmu asbab an-nuzul sebagai sebuah ilmu yang digunakan untuk memahami hubungan teks (nash. Sebagaimana para intelektual progresif yang lain.

atau umum. tugas dari hermeneutika adalah bagaimana memahami teks maupun realitas sosial di masa lampau yang asing sama sekali menjadi milik orang yang hidup di zaman ini yang secara kultur jelas berbeda. Mengenai proses double movement. membagi tugas ini ke dalam tiga bagian atau pemahaman. one must understand the import or meaning of a given statement by studying the historical situation or problem to which it was the answer. Sehingga penting di sini untuk menegaskan berartinya pengetahuan akan sebuah realitas yang memproduksi teks guna menemukan makna dari sebuah teks.eksternal yang jumlahnya sangat sedikit. customs. Karena alasan inilah Rahman lebih memilih post-positivistik yang memfokuskan diri pada fenomena sosial tanpa mengabaikan peran sentral subjek manusia. The first step of the first movement.[14] Pilihan Rahman atas hermeneutika adalah karena ia lebih dekat dengan ilmu-ilmu kemanusiaan (Geisteswissenschaften) yang objeknya adalah ekspresi kehidupan (Lebensaeusserung). pemahaman atas karya yang dikaitkan dengan pengetahuan utuh dari pengarang dan pandangan utuhnya (Geist) pada masa itu. (2) “gramatis”. penafsiran “hermeneutika” (seperti digunakan oleh Mu’tazilah) tidak sedahsyat penggunaan penafsiran tekstual (burhani) ataupun irfani. Rekonstruksi epistemologi Rahman berangkat dari penggunaan tradisi berpikir yang post-positivistik. yang karya-karyanya dirujuk oleh tokoh hermeneutika Schleirmacher. sangat tampak sebenarnya Rahman menjadikan al-Qur’an sebagai sentral penelitian untuk merekonstruksi pemikiran Islam. tetapi pada perkembangan berikutnya. a general study of the macrosituation in term society.[11] Friedrich Ast. Selain itu juga menolak epistemologi model Immanuel Kant yang justru usianya lebih tua dibandingkan positivisme. then.[13] Meskipun Islam sangat terinspirasi dari perkembangan filsafat terutama Yunani. religion. Untuk menemukan ideal law inilah maka Rahman menawarkan double movement itu untuk mendeteksi maksud wahyu dan menjalankan fungsi tersebut di masa ini. baik dari aliran –mengutip Syahrastani– “filosof generasi awal” maupun “filosof generasi belakangan”. sebuah pemahaman yang terkait dengan isi sebuah karya. penulis akan mengutipnya di bawah ini[16]: “first. dibandingkan ilmu-ilmu kealaman yang cenderung mencari penjelasan atas hubungan kausalitas (erklaren).[12] Khazanah keislaman yang mengakomodir gaya seperti ini dikategorikan al-Jabiri ke dalam “sistem burhani” yang memang langka ditemukan di dalam sejarah Islam. Dengan cara ini akan ditemukan ideal law (hukum ideal) yang berbeda dari aturan-aturan hukum (legal law) karena berisi prinsip-prinsip etika atau prinsip-prinsip umum (ratio legis). Sebagai salah satu metode dari “memahami” (verstehen). consists of understanding the meaning of the qur’an as a while as well as in term of the specific tenets that constitute responses to specific situation. Rahman sendiri tidak mencukupkan diri pada tradisi berpikir positivistik karena dianggap melahirkan dehumanisasi meskipun telah berjasa membuat peradaban Barat berkembang dan maju. of life as a whole in Arabia on the eve of Islam and particularly in and around Mecca – not excluding the Perso-Byzantine wars. The second step is to generalize those specific answers and enunciate them as statements of general moral-social objectives that can be “distilled” from specific text in light of sociohitorical back ground and the often-stated rationes legis.” . indeed.will have to the made.[9] Dari sepintas eksplorasi di atas. dan (3) “geistige”. and institution.[15] Kontekstualisasi al-Qur’an dengan menggunakan prinsip-prinsip hermeneutika digunakan Rahman untuk tidak hanya membaca “teks horisontal” (ruang dan waktu manusia) tetapi juga “teks vertikal” (memahami kehendak Tuhan). dan kemudian ia memilih hermeneutika sebagai kerangka utama dalam membangun ilmu-ilmu keislaman.[10] Hermenetika sendiri menjadi semacam klarifikasi karya “melalui pengembangan makna internalnya dan hubungan bagian-bagian dalamnya dengan masing-masing yang lain dan dengan spirit masa secara lebih luas”. (1) “historis”. sebuah pemahaman yang dikaitkan dengan aspek kebahasaan. saintis. before coming to the study of specific text in the light of specific situation. Dengan cara inilah Rahman melaksanakan fungsi ijtihad pada al-Qur’an agar kontekstual dan fungsional untuk masa ini. yang dapat berupa artistik. Of course.

Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. gerakan pertama membutuhkan keahlian para sejarawan untuk menggali keadaan spesifik turunnya ayat maupun keadaan secara keseluruhan Mekah dan Arabia di masa itu. Dua contoh yang di antaranya diajukan oleh Rahman adalah ayat tentang poligami dan hukum potong tangan sebagaimana penjelasan sebagai berikut: ÷bÎ)ur ÷LäêøÿÅz žwr& (#qäÜÅ¡ø)è? ’Îû 4‘uK»tGu‹ø9$# (#qßsÅ3R$$sù $tB z>$sÛ Nä3s9 z`ÏiB Ïä!$|¡ÏiY9$# 4Óo_÷WtB y]»n=èOur yì»t/â‘ur ( ÷bÎ*sù óOçFøÿÅz žwr& (#qä9ω÷ès? ¸oy‰Ïnºuqsù ÷rr& $tB ôMs3n=tB öNä3ãY»yJ÷ƒr& 4 y7Ï9ºsŒ #’oT÷Šr& žwr& (#qä9qãès? ÇÌÈ Artinya: “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya). Idea moral dari ayat ini adalah memotong kemampuan pencuri agar tidak mencuri lagi. atau budak-budak yang kamu miliki. bukan hukum Islam. Hal lain dari Rahman yang juga dipengaruhi oleh asy-Syatibi adalah pandangannya mengenai apa yang populer disebut “idea moral”. Yang paling penting adalah bagaimana cara mengamputasi segala kemungkinan yang membuat seseorang mengulangi perbuatannya itu dan menghargai kepemilikan pribadi seseorang. sementara gerakan kedua dibutuhkan keahlian social scientist untuk memformulasikan “the social-moral objective” untuk kondisi saat ini. maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua. An-Nisa’: 3) Ayat di atas memang menunjukkan kebolehan pernikahan hingga 4 orang wanita dan telah dipraktikkan oleh masyarakat Arab sebelum ayat ini turun. adil tidak mungkin dipenuhi oleh laki-laki. Moral idea inilah yang merupakan pemikiran kembali (rethinking) atas konsep asy-Syatibi yang dengan brilian mengeksplorasi tentang “the moral religious bases of the law –‘the objective of the law (maqashid asysyar’) or ‘the intentions of the Shari’a obligations’ (asrar al-taklif)”. potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Pemahaman (kebolehan 4 istri) ini tidak lagi sesuai dengan kedudukan antara laki-laki dan perempuan yang sama. Jika di dalam sebuah ayat terkandung yang legal spesific dan moral idea. tetapi perlu memahami “konteks makro” sebuah ayat. Tetapi di era ini mencuri hanyalah kejahatan ekonomi sehingga bentuk hukumannya harus berubah. mencuri menurut kebudayaan adalah kejahatan ekonomi dan kejahatan melawan nilai-nilai dan harga diri manusia.[17] Dengan demikian. Selain itu.” (QS. sementara gerakan kedua untuk memformulasikan dan merealisasikan “general view to the spesific view”. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil.[21] ä-Í‘$¡¡9$#ur èps%Í‘$¡¡9$#ur (#þqãèsÜø%$$sù $yJßgtƒÏ‰÷ƒr& Lä!#t“y_ $yJÎ/ $t7|¡x. Tetapi bagi Rahman ayat ini perlu dipahami dalam nuansa etisnya secara komprehensif dengan melihat kondisi sosio kultural Arab dan sebab-sebab ayat ini turun. Dalam sejarah Arab. tetap menjaga kreativitas itu pada jalan moral yang benar. tiga atau empat. metodologi Rahman sangat membutuhkan kekayaan khasanah Islam klasik seperti ilmu asbab an-nuzul meskipun dengan perluasan paradigma. Karena itulah menurut Rahman pesan terdalam yang hendak diutarakan oleh alQur’an bahwa pernikahan itu berasas monogami. Karena itulah hukuman potong tangan merupakan budaya Arab.Pergerakan pertama double movement dimaksudkan untuk menarik prinsip-prinsip umum dan nilai-nilai.[19] Pemahaman Rahman di atas menjadi bagian penting dalam keinginannya untuk. Bahkan sebetulnya ini bukanlah hal baru karena sebelumnya telah dipikirkan oleh Imam asy-Syatibi dalam al-Muwafaqat fi ushul al-shari’ah.[18] Sebagaimana telah sedikit disinggung. Wx»s3tR z`ÏiB «!$# 3 ª! $#ur ͕tã ÒOŠÅ3ym ÇÌÑÈ Artinya: “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri. Al-Maidah: 38).[20] Untuk menjaga “jalan moral” inilah dianggap penting untuk merujuk pada nilai-nilai yang etis atas apa yang diwahyukan oleh Tuhan. memaksimalkan kreativitas manusia. maka (kawinilah) seorang saja. maka seharusnya idea moral itulah yang dijadikan sandaran untuk “menghukumi” perbuatan hukum saat ini. Bahwa tidak cukup memahami “maksud Syari’” hanya dengan melihat “konteks mikro” ayat al-Qur’an. dan kedua.[22] . Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. pertama.

maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci). mengundi nasib dengan panah. an-Nahl: 66). Lalu turun kemudian ayat di bawah ini: $pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãYtB#uä Ÿw (#qç/t ヘ ø)s? no4qn=¢Á9$# óOçFRr&ur 3“t ヘ»s3ß™ 4Ó®Lym (#qßJn=÷ès? $tB tbqä9qà)s? Ÿwur $·7ãYã_ žwÎ) “Ì ヘ Î/$tã @@‹Î6y™ 4Ó®Lym (#qè=Å¡tFøós? 4 bÎ)ur LäêYä. al-Baqarah ayat 219: * y7tRqè=t«ó¡o„ ÇÆtã Ì ヘ ôJy‚ø9$# ÎŽÅ£÷マ yJø9$#ur ( ö@è% !$yJÎgŠÏù ÖNøOÎ) ׎ ヘ Î7Ÿ2 ßìÏÿ»oYtBur Ĩ$¨Z=Ï9 !$yJßgßJøOÎ)ur çŽt9ò2r& `ÏB $yJÎgÏèøÿ¯R 3 š チ tRqè=t«ó¡o„ur #sŒ$tB tbqà)ÏÿZムÈ@è% uqøÿyèø9$# 3 š チ Ï9ºx‹x. Sebagai konsekuensinya maka diturunkanlah QS. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan. an-Nisa: 43).Lalu bagaimana cara mencapai “idea moral” itu? Dalam hal ini Rahman mencontohkannya dengan larangan meminum khamr yang diekspos oleh wahyu secara bertahap. dan beberapa sahabat mendorong Nabi saw untuk melarang alkohol. sesungguhnya (meminum) khamar. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. hingga kamu mandi. sapulah mukamu dan tanganmu.’ Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir. terdapat sebuah kejadian dimana salah satu sahabat Anshar meminum khamr dan mabuk sehingga ia salah dalam membaca al-Qur’an. yaitu ayat 66 dimana Tuhan awalnya tidak mempermasalahkan a’nab (anggur): ¨bÎ)ur ö/ä3s9 ’Îû ÉO»yè÷RF{$# ZouŽö9Ïès9 ( /ä3‹É)ó¡ン S $®ÿÊeE ’Îû ¾ÏmÏRqäÜç/ . Akhirnya untuk mengenang sebuah peristiwa para sahabat Nabi saw.£‰ÝÁtƒur `tã Ì ヘ ø. berjudi. tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya. Sesunggguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan” (QS. Katakanlah: ‘Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia. sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan. (berkorban untuk) berhala. ßûÎiüt7ムª!$# ãNä3s9 ÏM»tƒFy$# öNà6¯=yès9 tbrã ヘ©3xÿtFs? ÇËÊÒÈ Artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan .[23] Dari QS. Lalu turunlah ayat terakhir mengenai khamr itu[24]: $pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä $yJ¯RÎ) ã ヘ ôJsƒø:$# çŽÅ£øŠyJø9$#ur Ü>$|ÁRF{$#ur ãN»s9ø—F{$#ur Ó§ô_Í‘ ô`ÏiB È@yJtã Ç`»sÜø‹¤±9$# çnqç7Ï^tGô_$$sù öNä3ª=yès9 tbqßsÎ=øÿè? ÇÒÉÈ $yJ¯RÎ) ߉ƒÌ ヘ ムß`»sÜø‹¤±9$# br& yìÏ%qムãNä3uZ÷マ t/ nourºy‰yèø9$# uä!$ŸÒøót7ø9$#ur ’Îû Ì ヘ÷Ksƒø:$# ÎŽÅ£÷マ yJø9$#ur öNä. kemudian kamu tidak mendapat air. an-Nahl ayat 66 hingga 69 akan dikutip di sini salah satunya.” Setelah ayat di atas. mengadakan “pesta minum” yang kemudian terjadi percekcokan dan perselisihan hebat di antara mereka karena mabuk. Sesungguhnya Allah Maha Pema'af lagi Maha Pengampun” (QS. kamu buat minimuman yang memabukkan dan rezki yang baik. sedang kamu dalam keadaan mabuk.ÏŒ «!$# Ç`tãur Ío4qn=¢Á9$# ( ö@ygsù LäêRr& tbqåktJZ•B ÇÒÊÈ Artinya: “Hai orang-orang yang beriman. #ÓyÌó ミ£D ÷rr& 4’n?tã @ヘ xÿy™ ÷rr& uä!$y_ Ó‰tnr& Nä3YÏiB z`ÏiB ÅÝͬ!$tóø9$# ÷rr& ãLäêó¡yJ»s9 uä!$| ¡ÏiY9$# öNn=sù (#r߉ÅgrB [ä!$tB (#qßJ£Ju‹tFsù #Y‰‹Ïè|¹ $Y7ÍhŠsÛ (#qßs|¡øB$$sù öNä3Ïdqã_âqÎ/ öNä3ƒÏ ‰÷ƒr&ur 3 ¨bÎ) ©!$# tb%x. Katakanlah: ‘Yang lebih dari keperluan. #‚qàÿtã #·‘qàÿxî ÇÍÌÈ Artinya: “Hai orang-orang yang beriman. Keadaan kemudian berubah saat muslim mulai berpindah ke Medinah. janganlah kamu shalat. Pada awalnya. terkecuali sekedar berlalu saja. (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub.`ÏB Èû÷üt/ 7^ö ヘ sù 5QyŠur $·Yt7©9 $TÁÏ9%s{ $Zóͬ!$y™ tûüÎ/Ì ヘ»¤±=Ïj9 ÇÏÏÈ Artinya: “Dan dari buah korma dan anggur. al-Qur’an menganggap minuman yang memabukkan dari anggur itu sebagai “kebesaran Tuhan”. adalah termasuk perbuatan syaitan.’ Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan.

Di sinilah universalitas hukum Islam itu sebenarnya akan ditemukan untuk merespon kenyataan-kenyataan baru dalam modernitas. Hallaq mengkategorikan dirinya dalam kelompok “religious liberalism” bersama Said al-Asymawi dan Muhammad Syahrur. Dengan metodologi baru yang ditawarkan oleh Rahman ini ia agaknya sedang berusaha menjauhkan umat Islam dari fanatisme-fanatisme tekstual yang menjatuhkan siapapun ke dalam “bibiolatri” sebagai sebuah sikap yang “memberhalakan” teks tanpa melihat faktor-faktor eksternal yang membentuknya. apakah terdapat pengaruh dari pemikiran Rahman atau tidak. Demikianlah bahwa memang al-Qur’an menurunkan hukum-hukumnya itu sebagai “pentahapan” untuk menuju sesuatu yang ideal. Apalagi pemikiran Rahman. tasawuf. Berdasarkan ordonansi ini di Pakistan dibentuk Dewan-dewan arbitrase yang menangani masalah-masalah seperti memberikan sanksi kepada seseorang yang poligami. tetapi Rahman di sisi lain juga seorang muslim yang cukup keras mengritik tokoh-tokoh orientalis yang dianggapnya tidak tepat dalam menjelaskan pemikiran Islam.[25] Pengaruh Rahman sendiri dalam dunia modern muslim cukup luas. hadits. Rahman merupakan salah satu tokoh yang cukup keras mengritik uraian-uraian konsep hadits yang diekspolorasi oleh Joseph Schact dan Ignaz Goldziher yang terkesan “mendiskreditkan” dan “meragukan” otentisitas hadits sebagai salah satu formula dalam hukum Islam. Bukan saja karena tawaran metodologinya yang reformatif. Relevansi Pemikiran Fazlur Rahman Kategorisasi Rahman sebagai seorang neo modernis sebenarnya lebih memperlihatkan ciri pemikirannya sebagai seorang “reformer metodologis”. kalam. sebagaimana yang sedikit disinggung di permulaan uraian. bersama Muhammad Mustafa A’dzami. dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang. al-Maidah: 90-91). Selain itu. Tawaran Rahman yang terkesan “moderat” membuat banyak kalangan merasa ditemukan dengan revitalisasi yang tidak “ekstrim” sehingga dapat diterima oleh cukup banyak kalangan. Selain itu tawaran metodologis Rahman merupakan perpaduan antara akar tradisional keilmuan muslim dengan keilmuan Barat (hermeneutika). Di dalam konteks modern pemikiran Rahman bagi penulis cukup relevan meskipun kontekstualisasi pemikiran Islam telah banyak digelorakan. sebagaimana eksplorasi sebelumnya. tafsir. serta memberikan perlindungan terhadap wanita dan anak-anak.kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu. sebuah waktu yang relatif dekat dengan kepulangan Rahman pada tahun 1960-an ke Pakistan dari McGill. “the main thrust of the liberalist approach consists of understanding revelation as both text and context. bukan “reformer paradigmatik”. Apalagi pemikiran Rahman cukup luas dan meliputi berbagai bidang keilmuan. but rather upon an interpretation of the spirit and broad intention behind the spesific language of the texts. “Perpaduan” ini membuat wajah pemikiran Rahman “eklektik” sehingga Wael B. merekonsiliasi percekcokan rumah tangga. Hal ini berbeda dengan pemikiran-pemikiran yang ditawarkan oleh Muhammad Syahrur ataupun Mahmud Muhammad Taha yang dalam batas-batas tertentu “melewati” arus paradigma Islam klasik. Di Pakistan sendiri. The connection between the revealed text and modern society does not turn upon a literalist hermeneutic. Misalnya saja.[26] Mengenai kelompok liberalis ini Hallaq menguraikan di awal-awal penjelasan. telah ditemukan akarnya dari pemikiran as-Syatibi. maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)” (QS. pernah memperkenalkan hukum keluarga Islam (the Muslim Family Laws) melalui sebuah ordonansi pada tanggal 2 Maret 1961. Pemikiran Rahman didasari atas pembacaan literatur. Sehingga dengan “kritik sejarah” itu paradigma Islam sedang mencoba digeser dari wilayah yang teologis-metafisik ke dalam wilayah etis antropologis. Bahwa asas pernikahan memang monogami dan pidana pencurian adalah “membuat jera”.”[27] . Inilah yang merupakan prinsip-prinsip umum (the general principles) yang seharusnya direkomendasi dalam setiap formulasi hukum Islam. baik literatur Islam maupun Barat-modern sehingga kritikkritiknya meliputi kedua-duanya. tetapi ketika Ayub Khan –yang secara emosional dekat dengan Rahman– menjadi presiden kedua Pakistan. pendidikan dan kajian-kajian modern keislaman. Rahman tetap menggunakan “ayat-ayat al-Qur’an” yang lain dan sumber-sumber periwayatan dalam penafsiran hukumnya sehingga dapat dikategorikan sebagai pengembangan atas tafsir bi al-ma’tsur. 1. selain menemukan “idea moral” sebagai tujuan utama pewahyuan.

Islams and Modernities. Karena itulah saran dan kritik selalu terbuka bagi siapapun. Di sisi lain. hlm. Tetapi visi Rahman mengenai “kontekstualisasi” atau “pembumian” patut disambut baik –dan terbukti pemikirannya telah menginspirasi dan diperkenalkan oleh banyak pemikir sesudahnya– karena melihat aspek-aspek teologis ayat al-Qur’an tidak hanya dari sisi aspek hukumnya saja. V. M. hak asasi manusia. demokrasi. 1993. Kedua. Namun begitu terasa cukup banyak kekurangan terutama terkait dengan ketersediaan referensi yang tidak mampu dihadirkan secara komplit. IV. Meskipun demikian. yang telah diketahui menjadi perdebatan sejak lama oleh para ulama Islam klasik. Rahman melalui “metode kritik sejarah” dan “double movement” ibarat memberikan wadah sementara isi dan hasilnya menjadi tugas para pemikir berikutnya. terutama dari Bapak Dr. pertama. perlu sebuah upaya “pembumian” sehingga dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari muslim. semangat keadilan. demi sebuah karya yang memang layak diperiksa ulang. terutama yang terkait dengan hukum-hukumnya. PENUTUP Demikian makalah ini telah penulis susun dengan sebaik-baiknya. . Rahman memang belum tuntas dalam memperbincangkan konsepnya mengenai “idea moral” misalnya. Kelompok ini cukup kuat dalam memegang teks-teks hukum dan terkesan “deduktif” sehingga dialektika dengan modernitas kurang begitu mendapatkan tempat meskipun batu pertama tesis utilitarianis adalah maslaha. Meskipun begitu. Apalagi sejatinya hermeneutika yang lahir dari peradaban Barat (Gereja) awalnya tidak dimaksudkan untuk “mendesakralisasi” Tuhan dan ayat-ayatnya dalam Bibel tetapi melakukan “reinterpretasi” atas Bibel sebagai upaya mendialektikan “suara Tuhan” dengan “suara manusia modern” yang sangat berbeda karakteristik dari respon-respon radikal-ekstrim seperti yang digelorakan oleh Karl Marx dan Nietzsche.Kelompok “religious liberalism” ini sendiri berbeda dengan kelompok “religious utilitarianism” yang diisi oleh tokoh-tokoh seperti Muhammad Abduh. Hasan Turabi. [28] Dalam kehidupan kontemporer ini. Karena wawasan etis alQur’an. KESIMPULAN Dari uraian pada makalah ini maka dapat disimpulkan dua hal utama. hukum yang tercipta diharapkan mampu dikembangkan sesuai semangat zaman ini. kesetaraan gender.Ag selaku dosen pemikiran hukum Islam dan teman-teman pascasarjana IAIN Walisongo. Karena itu Hallaq mengritik pandangan-pandangan kelompok ini karena pada akhirnya akan jatuh pada subjektivitas dan relativitas. penggunaan hermeneutika oleh Rahman ternyata tidak selalu memberikan dampak buruk sebagaimana yang selama ini dikhawatirkan oleh sebagian umat Islam. dan sebagainya. tawaran Rahman cukup baik untuk diimplementasikan terutama tentang berpikir secara etis. Pemikiran Rahman. sebagai manusia memiliki keterbatasan waktu. Muhyar Fanani. pembaruan pemikiran hukum Islam Fazlur Rahman didasarkan pemahamannya terhadap ayat-ayat al-Qur’an secara hermeneutis melalui “metode kritik sejarah” dan konsep “double movement”. Abdul Wahab Khallaf dan tokoh revolusioner dari Sudan. Upaya ini dilakukan untuk menemukan prinsip-prinsip umum atas wahyu Tuhan yang dieksplisitkan dalam teks al-Qur’an sehingga dialektika dengan problem baru tidak terputus. 11-12. tentu saja di samping ketidaksempurnaan pada aspek-aspek yang lain. Rasyid Ridha. Selain dibutuhkan kajian yang cukup berat. London & New York: Verso. Penanaman “idea moral” akan menjadikan umat Islam lebih terbuka dan tidak formalis tanpa harus menanggalkan semangat ketuhanan dan keislaman. karena didasarkan pada nilai-nilai yang universal. dari setiap ayat al-Qur’an. pemikiran Rahman dapat dipandang relevan dengan zaman ini yang telah “mengglobal” dimana pluralitas merupakan kenyataan dimana-mana. [1] Aziz Al-Azmeh. maka tidak akan terjebak pada formalisme sehingga dalam kehidupan masyarakat modern yang plural seperti di Indonesia. tetapi juga etika.

“Formasi Nalar Arab: Kritik Tradisi Menuju Pembebasan dan Pluralisme Wacana Interreligius”.. Tekstualitas al-Qur’an: Kritik Terhadap Ulumul Qur’an. No. Hermeneutics Interpretation Theory in Schleirmacher. hlm. Musnur Hery dan Damanhuri Muhammed. 87. “Tema Pokok al-Qur’an”. dalam Jurnal Asy-Syir’ah. Sedangkan modernisme diwakili oleh Ahmad Khan (India). hlm. [13] Baca Muhammad Abed al-Jabiri. xi. 2003. 2-3. hlm. “Hermeneutika: Teori Baru Mengenai Interpretasi”. Hallaq. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Bandung: Penerbit Pustaka. Yogyakarta: Ircisod. [3] Istilah neo modernisme sendiri sebenarnya diutarakan oleh Rahman saat membedakan gerakan pembaruan Islam selama dua abad terakhir. Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition. Baca juga Fazlur Rahman. Sanusiyah (Afrika Utara). tetapi mengevaluasi kembali dan mendialogkan rumusan-rumusan itu dan atau mengembangkannya dengan semangat zaman ini. 1983. bi al-ra’yi. hlm. [4] Fazlur Rahman. dan Ziauddin Sardar yang meragukan seluruh epistemologi Barat dapat digunakan untuk memajukan umat muslim. terj. Was the Gate of Ijtihad Closed?. Yogyakarta: LKIS. hlm. hlm. dan Fulaniyah (Afrika Barat). [11] Richard E. Cit. Cit. Dilthey. Ibid. 42 No. Neo modernisme. selain istilah lain revivalisme dan neo-revivalisme serta modernisme Islam. 67. termasuk Rahman sendiri. vol. Heidegger. Atho Mudzhar. makalah seminar internasional Tajdid Pemikiran Islam oleh Yayasan Dakwah Malaysia Indonesia dan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. [15] Ilyas Supena. London and Chicago: Chicago University Press. Revivalisme direpresentasikan oleh Wahabiyah (Arab). al-Afghani (Timteng). Uraian ini dikutip dari Greg Barton oleh M. Chicago and London: University of Chicago Press. dalam International Journal of Middle East Studies of Cambridge University. 16. dan bi al-isyari dalam Ali Asy-Shabuni. Epistemologi Hukum Islam dalam Pandangan Hermeneutika Fazlur Rahman.. 1979. hlm. Palmer. . [7] Baca lebih lanjut mengenai tafsir bi al-ma’tsur. 1985. vol. Gerakan Islam Liberal di Indonesia.com/focus/fr/531762/posts (diakses tanggal 21/05/2010). 2001. 125-126. Imam Khoiri. 1982. terj. Yahya Birt. [10] Ilyas Supena. [14] Muhammad Abed al-Jabiri. at-Tibyan fi Ulum al-Qur’an. 1984). [16] Fazlur Rahman.[2] Ijtihad baru tidak berarti sebagai upaya menafikan rumusan lama dalam pemikiran hukum Islam. 2003. 33-34. terj. and Gadamer. Islam and Modernity…Op. Islam. [9] Nashr Hamd Abu Zayd. II. dan Abduh (Mesir). The Massage of Fazlur Rahman. Anas Mahyuddin. hlm. Takwin al-‘Aql al-‘Arabi. [8] Nashr Hamd Abu Zayd. dalam http://www. Penolakan Rahman terhadap positivisme ini hampir mirip dengan penolakan yang dilakukan oleh Abduh. Major Themes of The Qur’an. 21 Oktober 2009. 248-249. memiliki karakteristik sintesis progresif dari rasionalitas modernis dengan ijtihad dan tradisi klasik. Op. 2009.freerepublic. Karena itulah ketiga tokoh ini justru menginginkan adanya pembaruan Islam dari “dalam” yang berakar pada tradisi keislaman itu sendiri. Palmer. 1 (Mar. hlm. 247-248. [6] Fazlur Rahman. Baca Wael B. [12] Richard E. Neo-revivalisme diwakili oleh al-Maududi dengan Jama’at e Islami di Pakistan. [5] Baca M. 1-2.. Ibid. Ali Syari’ati. 6. Ibid. hlm. Beirut: Alam al-Kutub.

Cambridge: Cambridge University Press. Islam and Modernity…. hlm. A History of Islamic Legal Theories…. [20] Fazlur Rahman.Cit.com/2008/12/01/hermeneutika-al-qur%E2%80%99an-fazlur-rahman/ (diakses tanggal 21 Mei 2005). Hallaq.wikipedia. Islam and Modernity…. [22] Ibid.. 1965. hlm. . Karachi: Central Institute of Islamic Research. 242. 97. A History of Islamic Legal Theories…. Op.wordpress. hlm. A History of Islamic Legal Theories…. Fazlur Rahman. [23] Wael B. 231-253.. Ibid. hlm. 7.[17] Fazlur Rahman. [21] http://jeryronggo. Ibid. Hallaq. 115. Cit. 4: 126. 231. hlm. [25] http://en. Hallaq. dan 4: 127. Op. [24] Wael B. Ayat-ayat ini dapat diperbandingkan dengan 4:2.org/wiki/Ayub_Khan (diakses pada 21 Mei 2010). Hallaq. A History of Islamic Legal Theories: An Introduction to Sunni Usul al-Fiqh. Islam. [18] Baca. Selain itu Rahman juga membahas Ibn Taimiyyah yang menguraikan persoalan sentral dalam filsafat hukum Islam adalah bagaimana kewajiban moral itu berkaitan dengan Divine Omnipotence dan Will serta bagaimana kebutuhan saat ini mampu dipenuhi oleh (warisan) masa lalu. hlm. Ibid. Islamic Methodology in History. 1997. [26] Baca Wael B. [19] Fazlur Rahman. Ibid. [27] Wael B..

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->