BIOGRAFI DAN PEMIKIRAN FAZLUR RAHMAN Fazlur Rahman dilahirkan pada tanggal 21 September 1919 di Hazara, suatu daerah

di Anak Benua Indo-Pakistan yang sekarang terletak di barat laut Pakistan. Wilayah Anak Benua Indo-Pakistan sudah tidak diragukan lagi telah melahirkan banyak pemikir Islam yang cukup berpengaruh dalam perkembangan pemikiran Islam, seperti Syah Wali Allah, Sir Sayyid Ahmad Khan, hingga Sir Muhammad Iqbal. Nama keluarga Fazlur Rahman adalah Malak, namun nama keluarga Malak ini tidak pernah digunakan dalam daftar referensi baik di Barat ataupun di Timur. Fazlur Rahman dilahirkan dalam suatu keluarga Muslim yang sangat religius. Kerelegiusan ini dinyatakan oleh Fazlur Rahman sendiri yang mengatakan bahwa ia mempraktekan ibadah-ibadah keisalaman seperti shalat, puasa, dan lainnya, tanpa meninggalkannya sekalipun (1992: 59). Dengan latar belakang kehidupan keagamaan yang demikian, maka menjadi wajar ketika berumur sepuluh tahun ia sudah dapat menghafal Alquran. Adapun mazhab yang dianut oleh keluarganya ialah mazhab Hanafi. Walaupun hidup ditengah-tengah keluarga mazhab Sunni, Fazlur Rahman mampu melepaskan diri dari sekat-sekat yang membatasi perkembangan intelektualitasnya dan keyakinan-keyakinannya. Dengan demikian, Fazlur Rahman dapat mengekspresikan gagasan-gagasannya secara terbuka dan bebas. Seperti pendapat mengenai wajibnya shalat tiga waktu yang dijalani oleh penganut mazhab Syi’ah, Fazlur Rahman beranggapan bahwa praktek tersebut dibenarkan secara historis karena Muhammad saw. pernah melakukannya tanpa sesuatu alasan (Rahman, 2003: 41). Orang tua Fazlur Rahman sangat mempengaruhi pembentukan watak dan keyakinan awal keagamaannya. Melalui ibunya, Fazlur Rahman memperoleh pelajaran berupa nilai-nilai kebenaran, kasih saying, kesetiaan, dan cinta. Ayah Fazlur Rahman merupakan penganut mazhab Hanafi yang sangat kuat, namun beliau tidak menutup diri dari pendidikan modern. Tidak seperti penganut mazhab Hanafi fanatik lainnya ketika itu, Ayahnya berkeyakinan bahwa Islam harus memandang modernitas sebagai tantangan-tantangan dan kesempatan-kesempatan. Pandangan ayahnya inilah yang kemudian mempengaruhi pemikiran dan keyakinan Fazlur Rahman (Rahman, 1992: 59). Selain itu, melalui tempaan ayahnya, Fazlur Rahman pada kemudian hari menjadi seorang yang bersosok cukup tekun dalam mendapatkan pengetahuan dari pelbagai sumber, dan melalui ibunyalah kemudian ia sangat tegar dan tabah dalam mengembangkan keyakinan dan pembaruan Islam (A’la, 2003: 34). Pada tahun 1933, Fazlur Rahman melanjutkan pendidikannya di sebuah sekolah modern di Lahore. Selain mengenyam pendidikan formal, Fazlur Rahman pun mendapatkan pendidikan atau pengajaran tradisinonal dalam kajian-kajian keislaman dari ayahnya, Maulana Syahab al Din. Materi pengajaran yang diberikan ayahnya ini merupakan materi yang ia dapat ketika menempuh pendidikan di Darul Ulum Deoband, di wilayah utara India. Ketika berumur empat belas tahun, Fazlur Rahman sudah mulai mempelajari filsafat, bahasa Arab, teologi atau kalam, hadis dan tafsir (A’la, 2003: 34). Setelah menyelesaikan pendidikan menengahnya, Fazlur Rahman kemudian melanjutkan pendidikannya dengan mengambil bahasa Arab sebagai kosentrasi studinya dan pada tahun 1940 ia berhasil mendapatkan gelar Bachelor of Art. Dua tahun kemudian, tokoh utama gerakan neomodernis Islam ini berhasil menyelesaikan studinya di universitas yang sama dan mendapatkan gelar Master dalam bahasa Arab. Menurut Amal (1996: 80), ketika telah menyelesaikan studi Masternya dan tengah belajar untuk menempuh program Doktoral di Lahore, Fazlur Rahman pernah diajak oleh Abul A’la Mauwdudi, yang kelak menjadi “musuh” intelektualitasnya, untuk bergabung di Jama’at al Islami dengan syarat meninggalkan pendidikannya. Pada tahun 1946, Fazlur Rahman berangkat ke Inggris untuk melanjutkan studinya di Oxford University. Keputusannya untuk melanjutkan studinya di Inggris dikarenakan oleh mutu pendidikan di India ketika itu sangat rendah. Dibawah bimbingan Profesor S. Van den Berg dan H A R Gibb, Fazlur Rahman berhasil menyelesaikan studinya tersebut dan memperoleh gelar Ph. D pada tahun 1949 dengan disertasi tentang Ibnu Sina. Disertasi Fazlur Rahman ini kemudian diterbitkan oleh Oxford University Press dengan judul Avicenna’s Psychology.

Selama menempuh pendidikan di Barat, Fazlur Rahman menyempatkan diri untuk belajar pelbagai bahasa asing. Bahasa-bahasa yang berhasil dikuasai olehnya diantaranya ialah Latin, Yunani, Inggris, Jerman, Turki, Arab dan Urdu (Sutrisno, 2006: 62). Penguasaan pelbagai bahasa ini membantu Fazlur Rahman dalam memperdalam dan memperluas cakrawala keilmuannya (khususnya studi keislaman) melalui penelusuran pelbagai literatur. Setelah menyelesaikan studinya di Oxford University, Fazlur Rahman tidak langsung ke negeri asalnya Pakistan (ketika itu sudah melepaskan diri dari India), ia memutuskan untuk tinggal beberapa saat disana. Ketika tinggal di tinggal di Inggris, Fazlur Rahman sempat mengajar di Durham University. Kemudian pindah mengajar ke Institute of Islamic Studies, McGill University, Kanada, dan menjabat sebagai Associate Professor of Philosophy sampai awal tahun 1960. Menurut pengakuan Fazlur Rahman, ketika menempuh studi pascasarjana di Oxford University dan mengajar di Durham University, konflik antara pendidikan modern yang diperolehnya di Barat dengan pendidikan Islam tradisional yang didapatkan ketika di negeri asalnya mulai menyeruak. Konflik ini kemudian membawanya pada skeptisisme yang cukup dalam, yang diakibatkan studinya dalam bidang filsafat (Rahman, 1992: 60). Setelah tiga tahun mengajar di McGill University, akhirnya pada awal tahun 1960 Fazlur Rahman kembali ke Pakistan setelah sebelumnya diminta bantunnya oleh Ayyub Khan untuk membangun negeri asalnya, Pakistan. Menurut Moosa (2000: 2), permintaan Ayyub Khan kepada Fazlur Rahman ialah bertujuan untuk membawa Pakistan pada khittah berupa negara yang bervisi Islam Selanjutnya pada tahun 1962, Fazlur Rahman diminta oleh Ayyub Khan untuk memimpin Lembaga Riset Islam (Islamic Research Institute) dan menjadi anggota Dewan Penasihat Ideologi Islam (The Advisory Council of Islamic Ideology). Motivasi Fazlur Rahman untuk menerima tawaran dari Ayyub Khan dapat dilacak pada keinginannya untuk membangkitkan kembali visi Alquran yang dinilainya telah terkubur dalam puing-puing sejarah (Rahman, 1992: 63). Kursi panas yang diduduki oleh Fazlur Rahman akhirnya menuai pelbagai reaksi. Para ulama tradisional menolak jika Fazlur Rahman mendudukinya, ini disebabkan oleh latar belakang pendidikannya yang ditempuh di Barat. Penentangan atas Fazlur Rahman akhirnya mencapai klimaksnya ketika jurnal Fikr-o-Nazar menerbitkan tulisannya yang kemudian menjadi dua bab pertama bukunya yang berjudul Islam. Pada tulisan tersebut, Fazlur Rahman mengemukakan pikiran kontroversialnya mengenai hakikat wahyu dan hubungannya dengan Muhammad saw. Menurut Fazlur Rahman, Alquran sepenuhnya adalah kalam atau perkataan Allah swt, namun dalam arti biasa, Alquran juga merupakan perkataan Muhammad saw. (Rahman, 2003: 33). Akibat pernyataan-pernyataannya tersebut, Fazlur Rahman dinyatakan sebagai munkir-i-Quran (orang yang tidak percaya Alquran). Menurut Amal (1994: 14-15), kontroversi dalam media masa Pakistan mengenai pemikiran Fazlur Rahman tersebut berlalu hingga kurang lebih satu tahun, yang pada akhirnya kontroversi ini membawa pada gelombang demonstrasi massa dan mogok total di beberapa daerah Pakistan pada September 1968. Menurut hampir seluruh pengkaji pemikiran Fazlur Rahman berpendapat bahwa penolakan atasnya bukanlah ditujukan kepada Fazlur Rahman tetapi untuk menentang Ayyub Khan. Hingga akhirya pada 5 September 1968 permintaan Fazlur Rahman untuk mengundurkan diri dari pimpinan Lembaga Riset Islam dikabulkan oleh Ayyub Khan. Pada akhir tahun 1969 Fazlur Rahaman meninggalkan Pakistan untuk memenuhi tawaran Universitas California, Los Angeles, dan langsung diangkat menjadi Guru Besar Pemikiran Islam di universitas yang sama. Mata kuliah yang ia ajarkan meliputi pemahaman Alquran, filsafat Islam, tasawuf, hukum Islam, pemikiran politik Islam, modernism Islam, kajian tentang al Ghazali, Shah Wali Allah, Muhammad Iqbal, dan lain-lain. Salah satu alasan yang menjadikan Rahman memutuskan untuk mengajar di Barat disebabkan oleh keyakinan bahwa gagasangagasan yang ditawarkannya tidak akan menemukan lahan subur di Pakistan. Selain itu, Rahman menginginkan adanya keterbukaan atas pelbagai gagasan dan suasana perdebatan yang sehat, yang tidak ia temukan di Pakistan (A’la, 2003: 40). Selama di Chicago, Fazlur Rahman mencurahkan seluruh kehidupannya pada dunia keilmuan dan Islam. Kehidupannya banyak dihabiskan di perpustakaan pribadinya di basement rumahnya, yang terletak di Naperville, kurang lebih 70 kilometer dari Universitas Chicago. Rahman sendiri menggambarkan aktitivitas dirinya tersebut laiknya ikan yang naik ke atas hanya untuk mendapatkan udara (Wan Daud, 1991: 108). Dari konsistensinya dan kesungguhannya terhadap dunia keilmuan akhirnya Rahman mendapatkan pengakuan lembaga keilmuan berskala

internasional. Pengakuan tersebut salah satunya ialah pada tahun 1983 ia menerima Giorgio Levi Della Vida dari Gustave E von Grunebaum Center for Near Eastern Studies, Universitas California, Los Angeles. Pada pertengahan dekade 80-an, kesehatan tokoh utama neomodernisme Islam tersebut mulai terganggu, dintaranya ia mengidap penyakit kencing manis dan jantung. Konsistensi Rahman untuk terus berkarya pun ditandai oleh lahirnya karya yang berjudul Revival and Reform in Islam: A Study of Islamic Fundamentalism. Walaupun baru diterbitkan setelah beliau wafat, namun pengerjaannya dilakukan ketika sakit beliau makin parah dengan dibantu oleh puteranya. Akhirnya, pada 26 Juli 1988 profesor pemikiran Islam di Univesitas Chicago itu pun tutup usia pada usia 69 tahun setelah beberapa lama sebelumnya dirawat di rumah sakit Chicago. Perkembangan Pemikiran dan Karya-Karya Pemikiran Fazlur Rahman dapat dibagi menjadi tiga fase atau periode, yakni periode awal, periode Pakistan, dan periode Chicago. Periode pertama belangsung sekitar dekade 50-an dan pada periode ini Rahman hanya menghasilkan karya-karya yang besifat historis, seperti Avicenna’s Psycology (1952), Avicenna’s De Anima, dan Propecy in Islam: Philosophy and Orthodoxy (1958). Melalui ketiga buku Rahman ini akan terlihat jelas concern pemikirannya, yakni kajian historis murni. Namun demikian, kajian yang dilakukan Rahman pada buku yang disebut terakhir mempengaruhi pandangannya tentang proses pewahyuan kepada nabi Muhammad saw (Amal, 1996: 116). Periode Pakistan merupakan tahapan kedua dari perkembangan pemikiran Rahman yang berlangsung sekitar dekade 60-an. Berbeda dengan periode pertama yang cenderung pada kajian historis dari pemikiran Islam, concern Rahman pada periode ini mengalami perubahan yang radikal, yakni pada kajian-kajian Islam normatif. Adapun faktor-faktor yang melatarbelakangi perubahan concern pemikiran Rahman ini ialah. 1. Adanya kontroversi yang akut di Pakistan antara kalngan modernis disatu pihak dan kalangan tradisionalis dan fundamentalis di lain pihak. Kontroversi ini bermuara pada definisi Islam untuk negeri Pakistan ketika itu, 2. Kontak yang intens dengan Barat ketika menetap di sana, sangat berarti dalam penyadaran dirinya pada hakikat tantangan Islam pada periode modern, 3. Posisi penting sebagai Direktur Lembaga Riset Islam dan anggota Dewan Penasehat Ideologi Islam Pemerintah Pakistan, yang kemudeian mendorong Rahman untuk turut aktif dalam meberikan definisi Islam bagi Pakistan dari kalangan modernis (Sutrisno, 2006: 71-72). Walaupun belum ditopang oleh metodologi yang sistematis, pada periode ini Rahman sudah mulai melakukan kajian Islam normatif dan terlibat dalam arus pemikiran Islam (Sibawaihi, 2007: 21). Selain itu, Rahman terlibat pula secara intens dalam upaya-upaya menjawab tantangan-tantangan serta kebutuhan-kebutuhan masyarakat Muslim kontemporer dengan cara merumuskan kembali Islam. Adapun pada periode ini, pemikiran Rahman dicurahkan dalam memenuhi tugasnya dalam merumuskan ajaran Islam yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat Pakistan. Keterlibatan Rahman dalam arus pemikiran Islam dapat ditandai oleh beberapa artikel yang ia tulis pada jurnal Islamic Studies pada bulan Maret 1962 hingga Juni 1963. Menurut Açikgenç (dalam Saleh 2007: 27), sebenarnya pada periode kedua ini Rahman sudah berkeinginan mengembangkan metodologi yang menyerukan umat Islam untuk kembali kepada Alquran dan Hadis. Mutiara-mutiara pemikiran yang berhasil dihasilkan oleh Rahman pada periode ini diantaranya Islamic Methodology in History (1965), dan Islam (1966). Buku yang disebut pertama merupakan kumpulan dari beberapa tulisannya yang dipublikasikan di jurnal Islamic Studies. Artikel-artikel dalam buku ini ditulis dengan bertujuan untuk memperlihatkan, pertama, evolusi historis dari aplikasi keempat prinisp pokok pemikiran Islam, yakni Alquran, Sunnah, ijtihad, ijma’. Kedua, perranan aktual dari prinsip-prinsip tersebut bagi perkembangan Islam (Rahman, 1995: ix).

Buku kedua Rahman yang lahir pada peridoe kedua ini ialah berjudul Islam. Buku ini memaparkan perkembangan umum agama Islam selama empat belas abad, oleh karena itu menjadi wajar ketika buku ini menjadi dasar pengantar umum tentang studia Islam. Dua buah artikel pertama yang tersusun dalam buku ini , yakni artikel yang berjudul Muhammad dan Alquran, ketika dipublikasikan di Pakistan sempat menuai pelbagai kontroversi. Kontroversi terjadi berkenaan padangan Rahman mengenai hakikat Alquran dan proses pewahyuannya kepada Muhammad saw. Rahman memandang bahwa Alquran secara keseluruhannya adalah kalam Allah swt. dan dalam artian biasa merupakan perkataan Muhammad saw (Rahman, 2003: 33). Adapaun tulisan-tulisan Rahman yang difokuskan untuk memberi definisi Islam di Pakistan diantaranya ialah Some Reflection on the Reconstruction of Muslim Society in Pakistan, Implementation of the Islamic Concept of State in the Pakistan Milieu, dan The Qur’anic Solution of Pakistan’s Educational Problems. Perkembangan dan periode pemikiran Fazlur Rahman berikutnya ialah periode Chicago yang terhitung dari kepindahannya ke Chicago. Seluruh karya Rahman yang dihasilkan pada periode ini mencakup kajian Islam historis dan normatif. Adapun karya-karya yang berhasil ia hasilkan pada periode ini diantaranya The Philosophy of Mulla Shadra, Major Themes of The Qur’an, Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition, dan Health and Medicine in Islamic Tradition. Buku yang pertama penulis sebut di atas murni merupakan karya yang bertemakan Islam historis dan tidak memiliki hubungan dalam kajian-kajian Islam normatif. Sedangkan buku kedua karya Rahman pada periode kedua ini membahas mengenai delapan tema pokok Alquran, yakni Tuhan, Manusia sebagai Individu, Manusia Anggota Masyarakat, Alam Semesta, Kenabian dan Wahyu, Eskatologi, Setan dan Kejahatan, serta Lahirnya Masyarakat Muslim. Buku yang kerap kali disebut sebagai magum opus Fazlur Rahman ini mengkaji pelbagai ayat-ayat Alquran yang berhubungan dengan tema-tema yang telah disebut sebelumnya dan kemudian ditafsirkan dengan cara menghubungkan ayat-ayat tersebut. Selain itu, buku karya Rahman ini merupakan sikap atau tanggapannya atas pelabagai buku atau tulisan yang dibuat oleh para orientalis (seperti Richard Bell, Montgomery Watt, John Wansbrough, dal lain sebagainya) yang kerap kali menghubungkan atau beranggapan bahwa Alquran merupakan kelanjutan atau terpengaruh oleh ajaran-ajaran yang pernah ada sebelumya (seperti Yahudi dan Nasrani). Melalui karya ini, Rahman berhasil membangun landasan filosofis yang terga untuk perenungan kembali makna dan pesan Alquran bagi kaum Muslim kontemporer. Buku berikutnya yang Rahman hasilkan pada periode Chicago ini ialah Islam and Modernity: Transformation of an Intelectual Tradition. Buku ini sangat jelas memperlihatkan intensitas Rahman dalam menata masa depan Islam dan umatnya. Dengan demikian, buku ini tidak melulu membahas Islam historis yang tidak memberikan solusi kongkrit bagi pembangunan umat Islam dan bekal untuk umat Islam dalam menghadapi periode modern. Berikutnya ialah buku yang berjudul Helath and Medicine in Islamic Tradition, buku ini berusaha menangkap kaitan organis antara Islam sebagai sebuah sistem kepercayaan dan Islam sebagai sebuah tradisi pengobatan manusia. Setelah mengkaji perkembangan pemikiran Rahman yang didasarkan pada buku-buku yang ia hasilkan sepanjang karir intelektualitasnya, maka dapat dikatakan bahwa Rahman mengalami perubahan concern pemikiran serta kajiannya. Perubahan yang cukup signifikan ini disebabkan oleh kesadaran Rahman bahwa Islam dewasa ini tengah menghadapi krisis yang sebagian akarnya terdapat dalam Islam sejarah, pengaruh-pengaruh Barat dengan tantangan-tantangan modernitasnya, kemudian membuatnya berupaya membuat atau merumuskan soluai terhadap krisis tersebut (Amal, 1996: 148-149). Secara keseluruhan buku-buku yang Rahman hasilkan berjumlah sepuluh buah. Namun demikian, bukan berarti bahwa Fazlur Rahman hanya menghasilkan buku-buku an sich. Sepanjang karir intelektualitasnya, doctor lulusan Oxford University tersebut menulis pelbagai artikel di beberapa jurnal ilmiah dan sebagian dari artikel-artikel tersebut dikumpulkan menjadi beberapa buku. Adapun buku-buku yang dihasilkan olehnya ialah sebagai berikut. 1. Avicenna’s Psycology 2. Propecy in Islam: Philosophy and Ortodoxy 3. Avicennas’s De Anima, being the Psycological Part of Kitab al Shifa

Islam and Modernity: Transformation of an Intelectual Tradition 9.4. Islam 7. Revival and Reform in Islam: A Study of Islamic Fundamentalism 10. Health and Medicine in Islamic Tradition . Major Times of the Qur’an 8. Islamic Methodology in History 6. The Philosophy of Mulla Shadra 5.

Mantiq. Darul Ulum Deoband . Puncak dari segala kontroversialnya memuncak ketika 2 bab karya momumentalnya. Meskipun Fazlur Rahman tidak belajar di Daril Ulum. dan Filsafat. ia meninggalkan Inggris untuk menjadi Associate Professor pada kajian Islam di Institute Of Islamic Studies Mc. Islam ( 1966 ) di tentang keras karena pernyataan Fazlur Rahman dalam buku tesebut “ Bahwa Al-Qur’an itu secara keseluruhan adalah kalam Allah dan dalam pengertian biasa juga seluruhnya merupakan perkataan Muhammad “ sehingga Fazlur Rahman di anggap orang yang memungkiri Al-Qur’an kemudian pada 5 September 1986 ia mengundurkan diri dari jabatan Direktur lembaga Riset Islam yang langsung di kabulkan oleh Ayyub Khan. Gill University Kanada di Montreal. Pada awal tahun 60 an Fazlur Rahman kembali ke Pakistan. [3] Dimana dia menjabat sebagai Associate Professor Of Philosophy. ia melanjutkan ke Punjab University di Lahore dimana ia lulus dengan penghargaan untuk bahasa Arabnya dan di sana juga ia mendapatkan gelar MA-nya. ini melengkapi latar belakangnya dalam memahami islam tradisional dengan perhatian khusus pada fikih. Setelah mempelajari ilmu-ilmu dasar ini. Hadits. Namun usaha Fazlur Rahman sebagai seorang pemikir modern di tentang keras oleh para ulama tradisional-findamentalis.[1] Fazlur Rahman di besarkan dalam madzhab Hanafi. meskipun ia mendasarkan pemikirannya pada al-Qur’an dan sunnah. Madzhab Hanafi merupakan madzhab yang didasari al-Qur’an dan Sunnah. Fazlur Rahman dilahirkan dari keluarga miskin yang taat pada agama. Pada tahun 1946 ia pergi ke Oxford dengan mempersiapkan disertasi dengan Psikologi Ibnu Sina di bawah pengawasan professor Simon Van Den Berg. setelah sebelumnya menjabat sebagai staf lembaga tersebut. Tafsir. akan tetapi cara berfikirnya lebih rasional. Ketika hendak mencapai usia 10 tahun ia sudah hafal al-Qur’an walaupun ia di besarkan dalam keluarga yang mempunyai pemikiran tradisional akan tetapi ia tidak seperti pemikir tradisional yang menolak pemikiran modern. bahkan Ayahnya berkeyakinan bahwa islam harus memandang modernitas sebagai tantangan dan kesempurnaan. pada tahun 1964 ia di tunjuk sebagai anggota dewan penasehat Ideologi Pemerintah Pakistan. Selain menjabat sebagai Direktur Lembaga Riset Islam. [2] Ayahnya Maulana Shihabudin adalah alumni dari sekolah menengah terkemuka di India. Dengan demikian tidak dapat di pungkiri Fazlur Rahman juga rasional di dalam berfikirnya. Disertasi itu merupakan terjemah kritikan dan kritikan pada bagian dari kitab An-Najt. Pada bulan Agustus 1946 Fazlur Rahman di tunjuk sebagai Direktur Riset Islam. Ilmu kalam. . milik filosof muslim kenamaan abad ke-7. setelah di Oxford ia mengajar bahasa Persia dan Filsafat Islam di Durham University Kanada dari tahun 1950-1958.BIOGRAFI DAN PEMIKIRAN FAZLUR RAHMAN Fazlur Rahman lahir pada tanggal 21 September 1919 yang letaknya di Hazara sebelum terpecahnya India. kini merupakan bagian dari Pakistan. ia menguasai kurikulum Dares Nijami yang di tawarkan di lembaga tersebut dalam kajian privat dengan Ayahnya.

Interpreting the Qur’an. Forwards Reformulating The Methodology of Islamic Law : Syaikh Yamani on Public Interest in Islamic Low. menyetujui atau menolak seluruh atau sebagian hasil pemikirannya untuk semua pada posisi penerimaan atau penolakan. Islamic Modernism It’s Scope. k. The Qur’anic Concept of God. Operasi ini berhasil se tidak-tidaknya untuk beberapa minggu hingga ajal menjemputnya. l. The Philosophy of Mulasadra. am Is l996. Pemikiran Fazlur Rahman Fazlur Rahman dengan segala kemampuan intelektualnya sudah tentu tidak bebas dari kekurangan dan kelemahan. Some Key Ethical Concept of the Qur’an. Maka adalah hak kita untuk menerima. seorang intelektual pencari kebenaran sudah . c. Artikel Fazlur Rahman : a. d. b. Islamic Methodology in History 1965.[4] B.[5] C. g. Divines Revelation and The Prophet. Some Islamic Issues In the Ayyub Khan Era. Karya-karya Fazlur Rahman a. The Impact of Modernity on Islam. f. d. the Universe and Man. Change and The Muslim World. Method and Alternative. i. m. b. Islam and Modernity Transformative of on Intelektual Tradition ( 1982 ). Kepergian beliau merupakan suatu kehilangan bagi dunia Intelektual Islam. j. Prophecy in Islam. c. Islamic Challenges and Opportunist. Islam Legacy and Contemporary Challenges e. Root of Islamic Neo Fundamentalism. Islam in The Contemporary World f. Major Themes of The Qur’an ( 1980 ). e.Tidak kurang dari 18 tahun lamanya Fazlur Rahman menetap di Chicago dan mengkomunikasikan gagasangagasannya baik lewat lisan maupun tulisan sampai akhir tahun memanggilnya pulang pada tahun 26 juli 1988 jauh sebelum ia sudah terkena penyakit diabetes yang kronis dan serangan jantung sehingga ia harus di operasi. h.

Di antara pemikiran Fazlur Rahman antara lain : a. Menurut Fazlur Rahman. orang harus memahami al-Qur’an sebagai sebuah ajaran yang utuh lebih dulu. d. Serta asal-usul perkembangan tradisi sampai perkembangan modern juga tentang filsafatnya telah banyak di sampaikan.[6] ANALISIS Fazlur Rahman adalah sosok pemikir intelektual yang tinggi di mana ia dapat menghasilkan karya-karyanya yang begitu banyak dan bermanfaat penting bagi ilmu pengetahuan kita. c. Tanpa memahami latar belakang mikro dan makronya secara memadai. Tanpa usaha ini bisa terjadi penerapan ayat-ayatnya secara individual dan terpisah berbagai situasi akan menyesatkan. di sini di jelaskan pula prosedur yang benar untuk memahami al-Qur’an.tentu akan mengumpulkan berbagai informasi yang berkaitan dengan pendapat dan pemikiran yang di kemukakan untuk menilai pendapat Fazlur Rahman. Fazlur Rahman juga menjelaskan apa itu al-Qur’an dan segala bentuk ajaran agama Islam. b. Seseorang harus mengkajikan dalam konteks latar belakang social historisnya. Seseorang harus mempelajari al-Qur’an dalam Ordo Histories untuk mengapresiasikan tema-tema dan gagasan-gagasannya. Hasil karyanya yang begitu banyak dapat memperluas pengetahuan tentang tasawuf dan juga filsafat. besar kemungkinan seseorang akan salah tangkap terhadap élan dan maksud al-Qur’an aktifitas Nabi baik di Mekkah atau di Madinah. Dalam pengembangan agamanya adalah perjuangan beliau selama hidup. KESIMPULAN . Karya-karya yang begitu banyak mengajarkan kita segala ilmu pengetahuan tentang islam yang pertama kali di ajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Ia menegaskan bahwa al-Qur’an bukanlah suatu karya misterius atau karya sulit yang memerlukan manusia berlatih secara teknis untuk memahami dan menafsirkan perintah-perintahnya. hal ini tidak hanya berlaku untuk ayat-ayatnya secara individual tapi juga untuk al-Qur’an secara keseluruhan. di samping Sunnah. Dengan berbagai cara dan jalan yang di tempuh beliau untuk menyampaikan gagasannya yang bernilai sangat tinggi sebagai suatu gerakan Islam. Sejarah Islam dan lain-lain. Dalam karyanya Islam and Modernity 1982 Fazlur Rahman menekankan. akan mutlak perlunya mensistematiskan materi ajaran al-Qur’an. Sebagaimana cara Fazlur Rahman menjelaskan tentang wahyu dan perjalanan Nabi Muhammad dalam menyebarkan islam.

1-2 Shofyan. 2001. Skripsi Kritik Fazlur Rahman Terhadap Uzlah. cit. Skripsi Study Analisis Fazlur Rahman Tentang Manusia.43-44 Fatah Rosihan Affandi. filsafat. hal. Semarang. Semarang : Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang. Islam. 2001.2001 Fatah Rosihan Affandi. Ia juga meninggalkan sejarah kehidupan pribadinya yang dapat menjadi suatu dokumen penting bagi kita. Skripsi Kritik Fazlur Rahman Terhadap Uzlah. Persada. Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang. hal: vi-ix . Semarang : Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang. Jakarta : PT. hal. PT. Fakulatas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang. Bandung. Muhammad al-Qur’an dan sebagainya yang bermanfaat bagi kita semua. PT.Segala bentuk pemikiran filsafat Fazlur Rahman sangatlah penting dan menjadi suatu arahan pengetahuan yang mengajarkan tentang islam. PENUTUP Fazlur Rahman adalah seorang intelektual yang tinggi. Tasawuf dari Sufisme Klasik ke Neo Sufisme. 1999 Fazlur Rahman Dalam Islam. 2002. op. Skripsi Study Analisis Fazlur Rahman Tentang Manusia. Raja Grafindo. Semarang. Pustaka. Jakarta. Gelombang Perubahan Ali Safyan. Raja Grafindo Persada. 2001 [3] Fazlur [4] Ali [5] Rahman. Gelombang Perubahan Dalam Islam.1- 2 [2] Ali Safyan. hal. 1994. 2002 [1] Fazlur Rahaman. DAFTAR PUSTAKA Rivay Siregar. cit. ia banyak memberikan warisan yang bermanfaat bagi manusia dari zaman ke zaman. Raja Grafindo Persada. hal.33-34 [6] Fazlur Rahman. op.

dan lainnya. karena Dewan Penasehat bisa meminta lembaga riset untuk mengumpulkan bahan-bahan dan mengajukan saran mengenai rancangan undang-undang.[5] Karena tugas yang diemban oleh kedua lembaga inilah Rahman intens dalam usaha-usaha menafsirkan kembali Islam untuk menjawab tantangan-tantangan masa itu. pada 1946. ia juga diangkat sebagai anggota Advisory Council of Islamic Ideology Pemerintah Pakistan. Paling tidak ia menguasai bahasa Latin. yang merepresentasikan kaum modernis. pada Agustus 1962. latar sosial anak benua Indo-Pakistan yang telah melahirkan sejumlah pemikir Islam liberal. selalu mendapatkan serangan dari kalangan ulama tradisionalis dan fundamentalis di Pakistan. Ia apresiatif terhadap pendidikan modern. bukannya dihindari. Bahkan pernyataan Rahman dalam karya magnum opusnya. Karena itu. Kedua lembaga ini memiliki hubungan kerja yang erat. Potret Seorang Intelektual Neomodernis 1. berbeda dengan kalangan tradisional pada umumnya. Pada tahun 1942. Dalam bagian Pertama.BIOGRAFI DAN PEMIKIRAN FAZLUR RAHMAN A. sunnah dan hadis. Inggris. Sekembalinya ke tanah air. Jerman. McGill University. telah menghebohkan media massa selama kurang lebih setahun. Sejak kecil sampai umur belasan tahun. Rahman mengambil studi bidang sastra arab di Departeman Ketimuran pada Universitas Punjab. juga merupakan benih-benih dari mana pikiran liberal Rahman dan skeptisisme Rahman tumbuh. Lembaga Islam tersebut bertujuan untuk menafsirkan islam dalam term-term rasional dan ilmiah dalam rangka menjawab kebutuhan-kebutuhan masyarakat modern yang progresif. keluarga Rahman selain kondusif bagi perkenalannya dengan ilmu-ilmu dasar tradisional. Sir Sayyid Ali dan Iqbal. tahun 1964. Akhirnya. Merasa tidak puas dengan pendidikan di tanah airnya. suatu madzhab fiqih yang dikenal paling rasional di antara madzhab sunni lainnya. yakni India dan Pakistan. Turki. Al-Bayyinat. Rahman juga menimba banyak ilmu tradisional dari ayahnya--seorang kyai yang mengajar di madrasah tradisional paling bergengsi di anak benua IndoPakistan. kemudian menjabat sebagai Associate Professor of Philosophy di Islamic Studies. ayahnya adalah seorang kyai tradisional yang memandang modernitas sebagai tantangan yang perlu disikapi.[4] Ia mengajar beberapa saat di Durham University. yang menyatakan protes terhadap buku tersebut. Rahman melanjutkan studi doktoralnya ke Oxford University. menetapkan Rahman sebagai munkir al-Quran. Menurut Rahman. Ketika menginjak usia yang kesepuluh. juga bagi kelanjutan karier pendidikannya. Banyak media yang menyudutkannya. Islam. Pada masa ini seorang Rahman giat mempelajari bahasa-bahasa Barat. sehinga ia menguasai banyak bahasa. Kanada. Yunani. proses turunnya wahyu Al-Qur’an. Ketika itu anak benua Indo-Pakistan belum terpecah ke dalam dua negara merdeka. Tentu saja gagasan-gagasan liberal Rahman. yakni Sah Wali Allah dan Muhammad Iqbal: Dengan demikian. zakat. Perancis. Latar Belakang sosial dan Intelektual Fazlur Rahman dilahirkan pada tahun 1919 di daerah barat laut Pakistan. ia berhasil menyelesaikan studinya di Universitas tersebut dan menggondol gelar M. seperti disinggung di atas. argumen saya tentang kemapanan karakter wahyu Al-Qur’an terdiri dari dua bagian. Rahman sangat apresiatif terhadap pemikiran pendahulunya. Ia dibesarkan dalam keluarga yang bermadzhab Hanafi. Rahman pun mengajukan pengunduran dirinya . fatwa mengenai kehalalan binatang yang disembelih secara mekanis. Persia. Bahkan dalam pembahasannya mengenai wahyu ilahi dan nabi. selain mengenyam pendidikan formal. Sedangkan Dewan Penasehat Ideologi Islam bertugas meninjau seluruh hukum baik yang sudah maupun belum ditetapkan. Ide-idenya di seputar riba dan bunga bank. telah meledakkan kontroversi-kontroversi berskala nasional yang berkepanjangan. Arab dan Urdu. dan berhasil meraih gelar doktor filsafat pada tahun 1951. ia secara eksplisit mengakui bahwa pemikirannya merupakan kelanjutan dari pemikiran pendahulunya. Latar Belakang Pendidikan dan Pengalaman Setelah menamatkan sekolah menengah.[3] 2. ia sudah bisa membaca Al-Qur’an di luar kepala. bahwa “Al-Qur’an itu secara keseluruhannya adalah kalam Allah dan—dalam pengertian biasa—juga seluruhnya adalah perkataan Muhammad”. seperti Syah Wali Allah. Puncak kontroversi ini adalah demonstrasi massa dan aksi mogok total. Anak benua ini terkenal dengan para pemikir islam liberalnya. misalnya. saya telah menyetujui—dan tidak berbuat lebih lagi terhadap—pernyataan-pernyataan syah wali Allah dan Muhammad Iqbal yang menerangkan proses psikologis wahyu. Inggris. A dalam sastra Arab. media kaum fundamentalis. [1] Menurut Rahman sendiri. ia diangkat sebagai direktur pada Institute of Islamic Research. dengan tujuan menyelaraskannya dengan “Al-Qur’an dan Sunnah”. ia dilahirkan dalam keluarga muslim yang amat religius. Belakangan. Selain itu. Pakistan. [2] Ia juga menerima ilmu hadis dan ilmu syariah lainnya. Misalnya.

Rahman memutuskan hijrah ke Chicago untuk menjabat sebagai guru besar dalam kajian Islam dalam segala aspeknya pada Departement of Near Eastern Languages and Civilization. Rahman sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada perbedaan mendasar antara posisi filosofis dan ortodoksi. pandangan ini cukup mempunyai pengaruh terhadap pandangan Rahman tentang proses “psikologis” nabi menerima wahyu. Sunnah. Tapi mereka lebih menekankan nilai-nilai syariah ketimbang intelektual. Di sini. secara tegas Rahman menarik garis yang membedakan antara sunnah ideal nabi SAW di satu sisi. sebagai juru bicara neomodernis. dan (ii) peran aktual prinsip-prinsip ini dalam perkembangan sejarah Islam itu sendiri. yang di dasarkan pada perbedaan karakteristik karya-karyanya: (I) periode awal (dekade 50-an). proses psikologis wahyu tehnis atau imaninatif. Jabatan selaku anggota Dewan Penasehat Ideologi Islam juga dilepaskannya pada 1969. Sebab. Untuk melacak pandangan filosof.[6] Ada tiga karya besar yang disusun Rahman pada periode awal: Avicenna’s Psychology (1952). Ijtihad dan Ijma’. Rahman menemukan adanya hubungan organis antara sunnah ideal Nabi SAW dan aktivitas ijtihad-ijma’. Buku ini boleh dibilang sebagai advanced introduction tentang Islam. Kalau karya-karya Rahman pada periode pertama boleh dikata bersifat kajian historis. Akhirnya. periode Pakistan (dekade 60-an). Pada periode awal dan kedua. sunnah kaum muslim awal merupakan hasil ijtihad personal. Dua yang pertama merupakan terjemahan dan suntingan karya Ibn Sina (Avisena). tampaknya tanah airnya belum siap menyediakan lingkungan kebebasan intelektual yang bertanggungjawab. setelah mebagi babakan pembaruan dalam dunia Islam. Bagi Rahman. Sementara para filosof lebih menekankan kapasitas alami nabi sehingga menjadi “nabi-manusia”. Secara berturut-turut. Rahman menyusun: The Philosophy of Mulla Sadra (1975). maka karya-karya pada periode ketiga ini lebih bersifat normatif murni. doktrin mukjizat dan konsep dakwah dan syariah. Memang. melalui instrumen qiyas. Bagi Rahman. yang menyuguhkan—meminjam istilah Amin Abdullah—rekontruksi sistemik terhadap perkembangan Islam selama empat belas abad. B. Rahman berteori bahwa Nabi mengidentifikasikan dirinya dengan hukum moral. dan Islam and Modernity:Transformatioan of an intellektual tradition (1982). Major Theme of the Qur’an (1980). 3. dalam bukunya Islamic Methodology in History (1965). Seperti halnya teori para filosof dan kaum ortodoks. Sementara yang terakhir mengupas perbedaan doktrin kenabian antara yang dianut oleh para filosof dengan yang dianut oleh ortodoksi.[7] Pada periode kedua (Pakistan). Untuk mewakili pandangan ortodoksi. pada gilirannya telah mengantarkannya pada agenda yang lebih penting lagi: perumusan kembali penafsiran Al-Qur’an yang merupakan jantung ijtihadnya. pada periode kedua bersifat hitoris sekaligus interpretatif (normatif). Pada periode Chicago. Proyek Membuka Pintu Ijtihad Temuan historis Rahman mengenai evolusi perkembangan empat prinsip dasar (Al-Qur’an. dikemukakan pandangan kedua filosof tersebut tentang wahyu kenabian pada tingkat intelektual. Buku kedua yang ditulis Rahman pada periode kedua ini adalah Islam. dan Prophecy in Islam: Philosophy and Orthodoxy (1958). Rahman menyimak pemikiran Ibn Hazm. Kalangan mutakallimun tidak begitu keberatan menerima kesempurnaan intelektual nabi. Ibn Taymiyah dan Ibn Khaldun. . yang dilatari oleh pergumulannya dalam upayaupaya pembaruan (hukum) Islam di Pakistan. Hasilnya adalah kesepekatan aliran ortodoks dalam menolak pendekatan intelektualis-murni para filosof terhadap fenomena kenabian. Perkembangan Pemikiran dan Karya-karyanya Dari selintas perjalanan hidup Fazlur Rahman di atas. Penyusunan buku ini bertujuan untuk memperlihatkan: (I) evolusi historis perkembangan empat prinsip dasar (sumber pokok) pemikiran Islam—Al-Qur’an. Rahman belum secara terang-terangan mengaku terlibat langsung dalam arus pembaruan pemikiran Islam. Baru pada periode ketiga Rahman mengakui dirinya. Avicenna’s De Anima (1959). Kelak. ia menulis buku yang berjudul: Islamic Methodology in History (1965). dan periode Chicago (dekade 70-an dan seterusnya). Dalam kajian historisnya ini. Al-Ghazali. Ijtihad dan Ijma’).dari jabatan Direktur Lembaga Riset Islam pada 5 September 1968. perbedaan ada sejauh pada tingkat penekanan saja. Rahman mengambil sampel dua filosof ternama. Taufik Adnan Amal membagi perkembangan pemikirannya ke dalam tiga babakan utama. Menurut para filosof. Al-Syahrastani. Al-Farabi (870-950) dan Ibn Sina (980-1037). terhadap sunnah ideal nabi SAW yang kemudian menjelma menjadi ijma’ atau sunnah yang hidup. ortodoksi lebih suka meraup karakter ilahiah dari mukjziat wahyu ini. Sunnah. University of Chicago. nabi menerima wahyu dengan mengidentifikasikan dirinya dengan Intelek Aktif. sementara menurut ortodoksi nabi menerima wahyu dengan mengidentifikasikan dirinya dengan malaikat.

tentu saja kembali keliang kubur. sekitar abad ke empat Hijrah atau sepuluh masehi. Hal ini selain didasarkan pada fakta bahwa Al-Qur’an sebagai sumber pokok ijtihad. [16] . dan Ketiga (3).[8] Namun demikian. hingga ia menolak—atas dasar kuatnya keyakinan ini—beberapa klaim mendasar dari tradisi Yudeo-Kristiani mengenai Ibrahim dan nabi-nabi lainnya.[15] 2. kreatif dan berorientasi ke depan. ijma’ pada asalnya tidaklah statis. Rahman pun tampaknya tidak ingin daerah teritorial kebebasan ijtihad yang telah dibukanya—sebagai hasil dari liberalisasinya terhadap konsep ijtihad—menjadi tempat persemaian dan pertumbuhan ijtihad yang liar. menolak kualifikasi ganjil mengenai ilmu gaib misterius sebagai syarat ijtihad. melalui ingatan dan pikiran nabi.dengan sunnah hidup kaum muslim awal atau ijma’ sahabat di sisi lain. demikian hebatnya. Muhammad juga dengan tegas meyakinai bahwa ia adalah penerima risalah dari Tuhan. dan ijtihad fil madzhab. Kembali ke masa lampau secara sederhana. merupakan kepercayaan pokok. Rahman menegaskan: bukan hanya kembali kepada Al-Qur’an dan sunnah sebagai mana yang dilakukan pada masa lalu. yang sepenuhnya lain. Akibatnya. Kedua (2). [12] Akan tetapi. Dan ketika kita kembali kepada generasi muslim awal . menurut Rahman. memperluas cakupan ranah ijtihad klasik. Hasilnya adalah satu kesimpulan Rahman: ijtihad baik secara teoritis maupun secara praktis senantiasa terbuka dan tidak pernah tertutup. melainkan berkembang secara demokratis. ijtihad fil masail. Dan dalam konteks inilah metodologi tafsir Rahman yang dipandangnya sebagai “the correct prosedure for understanding the Qur’an” atau “ the correct methode of Interpreteting The Qur’an” [11] memainkan peran sentral dalam seluruh bangunan pemikirannya. juga yang lebih penting lagi adalah didasarkan pada pandangannya bahwa seluruh bangunan syariah harus diperiksa dibawah sinaran bukti AlQur’an: Seluruh kandungan syari’ah mesti menjadi sasaran penilikan yang segar dalam sinaran bukti Al-Qur’an. khususnya kepada masalah-masalah masyarakat dagang makkah pada waktu itu. Rahman memberikan argumen yang sangat kokoh untuk menegaskan kemapanan karakter wahyu dari Al-Qur’an ini. Bahwa AlQur’an itu adalah kalam Allah yang diwahyukan kepada nabi Muhammad SAW. Tanpa kepercayaan ini. proses ijtihad-ijma’ terjungkirbalikkan menjadi ijma’-ijtihad. Apa itu Al-Qur’an dan Apa Tujuan Metodologi Tafsir Pandangan Rahman mengenai Al-Qur’an merupakan landasan bagi perumusan metodologi tafsirnya. Dengan demikian. Rahman mengajukan metodologi tafsirnya. dan dalam pengertian biasa.[10] Tetapi. dan konsekwensinya juga bagi kaum muslimin. Puncak dari proses reifikasi ini adalah tertutupnya pintu ijtihad. tetapi suatu pemahaman terhadap keduanyalah yang akan memberikan pimpinan kepada kita dewasa ini. terhadap situasi moral-sosial arab pada masa nabi.pasti kita temui pemahaman yang hidup terhadap Al-Qur’an dan sunnah. Untuk mencegah ijtihad yang sewenag-wenang dan merealisasikan ijtihad yang bertanggung jawab itulah. serampangan dan tidak bertanggung jawab. Rahman mendobrak doktrin ini dengan beberapa langkah: Pertama (1). Ijtihad yang diinginkan Rahman adalah upaya sistematis. Suatu penafsiran Al-Qur’an yang sistematis dan berani harus dilakukan. sewenangwenang. Metodologi tafsir Rahman merupakan jantung ijtihadnya sendiri.[14] Konsepsinya mengenai Al-Qur’an secara sederhana dapat dijabarkan ke dalam nuktah-nuktah sebagai berikut: 1. karena keberhasilan gerakan penulisan hadis secara besar-besaran yang dikampanyekan Al-syafi’I untuk menggantikan proses sunah-ijtihad-ijma’ tersebut. Al-Qur’an adalah kalam Allah. justru persoalannya terletak pada kemampuan kaum muslim untuk mengkonsepsi Al-Qur’an secara benar. Al-Qur’an secara keseluruhannya adalah kalam Allah.[13] C.[9] Berpijak pada temuan historis ini. komprehensif dan berjangka panjang. Rahman secara blak-blakan menolak doktrin tertutupnya pintu ijtihad. ataupun pemilahannya ke dalam ijtihad muthlaq. menegaskan bahwa ijtihad bukanlah hak privilise eksklusif golongan tertentu dalam masyarakat muslim. Al-Qur’an adalah respon ilahi. tidak seorang pun yang bahkan dapat menjadi muslim nominal (hanya nama saja). Karena itu. ijma’ yang tadinya berorientasi ke depan menjadi statis dan mundur ke belakang: mengunci rapat kesepakan-kesepakatan muslim masa lampau. yang disusun belakangan pada periode Chicago. Rahman mengutip kembali apa yang telah ditulisnya dalam Islam: Bagi Al-Qur’an sendiri. juga seluruhnya adalah perkataan Muhammad.

metodologi yang diharapkan adalah metodologi yang.[18] Karenanya ia lebih berorientasi pada aksi moral ketimbang spekulasi intelektual. Gerakan pertama adalah revivalisme pra modernis yang lahir pada abad ke 18 dan 19 di Arabia. 4. [17] Al-Qur’an terutama sekali adalah sebuah prinsip-prinsip dan seruan-seruan keagamaan serta moral. Tidak satupun dari orang-orang yang telah serius berupaya memahami al-Qur’an dapat menolak kenyataan bahwa sebagian besar Al-Qur’an mensyaratkan pengetahuan mengenai situasi-situasi kesejarahan yang baginya pernyataan-pernyataan Al-Qur’an memberikan solusi-solusi. Untuk inilah Rahman sering menyebut-nyebut kasus ijtihad Umar bin Khaththab yang dinilainya sebagai preseden baik (uswah) untuk mengeneralisasikan prinsip-prinsip dan nilai-niali umum yang berada di bawah permukaan Sunah dan bahkan teks Al-Qur’an. Gerakan ini secara sederhana mempunyai ciri-ciri umum: (a) keprihatinan yang mendalam terhadap degenarasi sosio-moral umat Islam. keabadian kandungan legal spesifik Al-Qur’an terletak pada prinsip-prinsip moral yang menasarinya. tentu saja. bagi Rahman. dan (d) imbauan untuk melaksanakan pembaruan ini lewat jihad jika diperlukan. tujuan tafsirnya adalah untuk menangkap resiones logis yang berada di balik pernyataan formal Qur’an. [19] Sampai pada titik ini. Mereka lebih banyak mengadopsi isu-isu dari barat dan membungkusnya dengan bahasa “Qur’an”. Al-Qur’an itu laksana puncak gunung es yang terapung: sembilan sepersepuluh darinya terendam di bawah permukaan air sejarah dan hanya sepersepuluh darinya yang tampak ke permukaan. Akibatnya. Pengembangannya terletak pada usaha gerakan ini untuk memperluas isi ijtihad—dan juga agenda gerakan— seperti isu tentang hubungan akal dan wahyu. Jasa modernisme klasik ini adalah usahanya untuk menciptakan hubungan harmonis antara pranata-pranata barat dengan tradisi Islam dalam kacamata Al-Qur’an dan sunnah. semangat atau elan vital Al-Qur’an adalah semangat moral. dapat pahami bahwa tujuan metodologi tafsir bagi Rahman adalah untuk menangkap kembali pesan moral universal Al-Qur’an yang obyektif itu. komentar-komentar dan respon. Gerakan ini muncul secara orisinal dari dunia Islam. Al-Qur’an adalah dokumen untuk manusia. tanpa diimbangi infrastruktur tingkat pemahaman keagamaan yang memadai. bukan pada ketentuan-ketentuan harfiahnya. Hukum moral adalah abadi. pembaruan sosial terutama pada bidang pendidikan dan status wanita. ada baiknya dikemukakan terlebih dahulu pandangannya mengenai dialektika perkembangan pembaruan yang muncul dalam dunia Islam. tetapi terdapat pada Al-Qur. dengan memberantas takhayul-takhayul dan dengan membuka dan melaksanakan ijtihad. Karenanya. darimana ia menekankan monoteisme dan keadilan sosial. di atas segalanya. (c) imbauan untuk membuang sikap fatalisme. Dengan demikian. karenanya. tanpa ada paksaan dari luar dirinya. Menurut Rahman. Rahman membagi gerakan pembaruan ke dalam empat gerakan. Tetapi. penafsiran mereka terhadap Qur’an dan sunnah ini tidak ditopang dengan metodologi yang memadai. Metodologi Tafsir Rahman Metodologi tafsir Rahman tidak bisa lepas dari agenda pembaruan sebelumnya. Hal ini merupakan harga yang harus dibayar (cost) dari perluasan wilayah islam yang terlalu cepat. ia adalah hukum Allah. India dan Afrika. bukan risalah mengenai Tuhan. 6. dalam masalah hukum. Karena itu. dengan cara membiarkan Al-Qur’an berbicara sendiri. Misalnya. gerakan ini samasekali tidak bisa lepas dari kesan barat . yakni suatu satu set prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang koheren di mana keseluruhan ajarannya bertumpu. Kepastian pemahaman tidaklah terletak pada arti dari ayat-ayat individual Al-Qur’an. bukan sebuah dokumen legal. Hanya saja. Karenanya. modernisme klasik. 5. untuk kemudian diterapkan pada realitas kekinian. pembaruan politik untuk membetuk pemerintahan yang representatif dan konstitusional. (b) imbauan untuk kembali kepada Islam yang sebenarnya. Perhatian utama Al-Qur’an adalah perilaku manusia. dasar pembaruan revivalisme pramodernis ini kemudian dikembangkan oleh gerakan kedua. bukan merupakan reaksi terhadap barat. dalam kenyataannya.3. Al-Quran merupakan sosok ajaran yang koheren dan kohesif.an secara keseluruhan. Rahman menandaskan bahwa tujuan ideal-moral Al-Qur’an yang merupakan elan vitalnya itu telah terkubur dalam endapan geologis sebagai akibat dari proses reifikasi yang begitu panjang. bisa menembus endapan sejarah tersebut sampai lapisan terdalam. D. yang muncul pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 di bawah pengaruh ide-ide barat.

menurut Rahman juga harus ditopang dengan suatu kajian mengenai situasi makro dalam batasan-batasan agama. (b) pembedaan antara ketetakpan legal dan tujuan Al-Quran. Pertama. Bila yang pertama merupakan tugas para ahli sejarah. Apabila kedua momen gerakan ini ditempuh secara mulus. Reaksi terhadap modernisme klasik ini adalah gerakan ketiga. Bagi Rahman. masyarakat. Mengawali dengan pemeriksaan terhadap bagian-bagian wahyu paling awal akan memberikan suatu persepsi yang cukup akurat mengenai dorongan dasar . adat-istiadat dan lembaga-lembaga. karena sifatnya yang kontroversialis-apologetis terhadap barat. penafsiran mereka terhadap Al-Qur’an lebih bersifat ad hoc dan parsial. maka dalam pelaksanan gerakan kedua. yang dapat disarikan dari ayat-ayat spesifik dengan sinaran latar belakang historis dan rationes logis yang juga kerap dinyatakan oleh ayat sendiri. Bila gerakan yang pertama mulai dari hal-hal yang spesifik lalu ditarik menjadi prinsip-prinsip umum dan nilainilai moral jangka panjang. atau bahkan dari tuduhan sebagai gerakan antek-antek barat yang ingin merusak Islam. Di sela-sela pengaruh neorevivalisme inilah gerakan neomodernis muncul. maka tentunya telah terjadi kegagalan baik dalam memahami Al-Qur’an maupun dalam memahami situasi sekarang. yakni neorevivalisme atau revivalisme pascamodernis. dengan mengkaji situasi atau problem historis dari mana jawaban dan respon Al-Qur’an muncul. Gerakan kedua ini mengandaikan adanya kajian yang cermat atas situasi sekarang sehingga situasi sekarang bisa dinilai dan dirubah sesuai dengan priortitas-prioritas moral tersebut. Langkah ini juga bisa dan selayaknya dibantu oleh pelacakan terhadap pandangan-pandangan kaum muslim awal. sebagaimana yang terjadi sebelumnya. (c) pemahaman dan penetapan sasaran Al-Qur’an dengan memperhatikan sepenuhnya latar sosiologis. digambarkan oleh Taufik Andnan Amal dengan tiga langkah metodologis utama: (a) pendekatan historis untuk menemukan makna teks al-Quran dalam bentangan karir dan perjuangan nabi. Pandangan ini mirip dengan basis pemikiran modernisme klasik. Akibatnya.[21] Sebab. Dengan metodologi ini Rahman menjanjikan bahwa metodologi yang ditawarkannya dapat menghindari pertumbuhan ijtihad yang liar dan sewenang-wenang. isu-isu yang mereka angkat berasal dari dan dalam dunia barat sehingga ada kesa kuat bahwa mereka terbaratkan atau agen westernisasi. maka perintah Al-Qur’an akan menjadi hidup dan efektif kembali. Gerakan ganda ini. dan Rahman mengaku dirinya sebagai juru bicara gerakan ini. Ini sesuai dengan klaim Al-Qur’an sendiri bahwa ajarannya tidak mengandung kontradiksidalam dan koheren secara keseluruhan. yang memandang bahwa Islam itu mencakup segala aspek kehidupan manusia.[20] Metodologi tafsir Fazlur Rahman merupakan gerakan ganda (bolak-balik). sampai sekarang sedikit sekali usaha yang dilakukan untuk memahami Al-Qur’an secara keseluruhan. Kedua. Apabila hasil-hasil pemahaman gagal diaplikasikan sekarang.sentris. instrumentalis sosial muthlak diperlukan. setiap hukum yang disimpulkan dan setiap tujuan yang dirumuskan koheren satu sama lain. neomodernisme harus mengembangkan sikap kritis baik terhadap barat maupun terhadap khazanah klasik warisan Islam. Yang pertama dari dua gerakan ini terdiri dari dua langkah. Menurut Rahman. dalam konteks sekarang tidak bisa. sehingga setiap arti yang ditarik. Al-Qur’an harus dipelajari dalam tatanan historisnya. Dalam konteks inilah ia mengatakan bahwa tugas yang paling mendasar dari kalangan neomodernisme ini adalah mengembangkan suatu metodologi yang tepat dan logis untuk mempelajari alQur’an guna mendapatkan petunjuk bagi masa depannya. apologetis dan tidak otentik. tentu saja. gerakan ini cenderung menutup diri. Pertama. Menurut Rahman. pernyataan-pernyataan yang memiliki tujuan-tujuan moral-sosial umum. baik individual maupun kelompok. yakni terhadap hasil-hasil dari penafsiran. memahami arti atau makna suatu pernyataan Al-Qur’an. maka gerakan kedua ditempuh dari prinsip umum ke pandangan spesifik yang harus dirumuskan dan direalisasikan ke dalam kehidupan sekarang. Namun karena sifatnya yang reaksioner. serta mengenai kehidupan menyeluruh Arab pada saat Islam datang. ada dua kelemahan mendasar modrnisme klasik ini yang menyebabkan timbulnya reaksi dari neorevivalisme. Langkah kedua dari gerakan pertama ini adalah menggeneralisasikan dari jawaban-jawaban spesifik. Berkaitan dengan butir pertama. dari dalam dunia Islam sendiri. Rahman mengungkapkan: Suatu pendekatan historis yang serius dan jujur harus digunakan untuk menemukan makna teks Al-Qur’an… Pertama-tama. Momen gerakan kedua ini juga berfungsi sebagai alat koreksi terhadap momen pertama. Mengetahui makna spesifik dalam sinaran latar belakang spesifiknya. tidak mungkin bahwa sesuatu yang dulunya bisa dan sungguh-sungguh telah direalisasikan ke dalam tatanan spesifik di masa lampau. gerakan ini tidak mampu melakukan interpretasi yang sistematis dan menyeluruh terhadap Islam. ingin membedakan dirinya dengan barat. Yang harus diperhatikan selama langkah ini adalah ajaran Al-Qur’an sebagai keseluruhan. bak kanker. meskipun kerja rekayasa etis yang sebenarnya dalah kerja ahli etika.

sebagai kafir. tetapi juga ajaran-ajaran predeterminisme yang mempengaruhi sikap konkret (hal 138). dan mengeluh pada realitas ulama masa kini (pasca-Al Gazali) yang cenderung membuang nilai-nilai kritis dan pembaharuan dari peninggalan tersebut.gerakan Islam. namun kenyataannya Irja' semakin berkembang dan menjadi "ruh" kelahiran Sunni dan Syi'ah. Berdasarkan pokok pikiran tersebut (kata pengantar oleh Ibrahim Moosa) melalui buku ini Fazlur mencoba menggali kembali wacana telaah historis gelombang perubahan yang dihasilkan para pemikir Islam masa lalu. Rahman menulis: Kemudian seseorang telah siap untuk membedakan antara ketetapan legal dan sasaran Al-Qur’an. Menurut pemahaman mereka. dan kemampuan unik menyatukan berbagai persoalan kompleks dalam gaya cerita yang koheren. Walaupun nuansa sejarah terlihat sedikit kental. telah mengantar Fazlur Rahman pada jajaran pemikir-pemikir Islam kontemporer ternama abad ke-20. khususnya moral dan spritual. serta tidak mengakomodasi radikalisme. Dan demikianlah. Islam Sunni tidak tahan terhadap sesuatu yang mungkin menganggu salah satu hati dan pikirannya. dan kemungkinan pembaharuan politis struktur sosial. Di satu sisi ilmu pengetahuan dan teknologi membawa manfaat. Fazlur Rahman-lahir tahun 1919 di Pakistan dan meninggal tahun 1988 di Chicago-sebagaimana para pemikir muslim abad ke-20 lainnya. tetapi di sisi lain berpengaruh besar pada nilai-nilai etis kebudayaan transenden. Secara khusus Fazlur mengupas paham Irja' (paham penundaan segala keputusan dan dikembalikan kepada otoritas Tuhan) sebagai cikal-bakal kelahiran dua aliran Islam terbesar saat ini (Sunni dan Syi'ah). Mengenai butir ketiga. Di sekali lagi seseorang berhadapan dengan bahaya subyektivitas. dengan tetap memberi perhatian sepenuhnya terhadap latar sosiologis—yakni lingkungan dimana nabi bekerja dan bergerak. Maka mereka meyakini diam adalah pilihan terbaik dalam menyikapi dilematika kehidupan. yang nyata artifisial. Fazlur Rahman dan lain-lain yang sealiran menganggap. Metodologi tafsir Rahman ini bisa dilihat dalam bagan sebagai KEBERANIAN mengungkapkan prinsip kebenaran yang dilandasi ketajaman berpikir. Dalam pandangan Fazlur Rahman. dan Muawiyah. seperti wajah Dewa Janus). menurut ajaran ini. Rahman menulis: Sasaran Al-Qur’an harus dipahami dan ditetapkan. Sudah terlalu sering diabaikan baik oleh kalangan non-muslim maupun muslim sendiri bahwa Al-Quran biasanya memberikan alasan-alasan bagi pernyataan-pernyataan legal spesifiknya. seseorang harus mengikuti bentangan Al-Qur’an sepanjang karir dan perjuangan nabi…Metode ini akan menunjukkan secara jelas makna keseluruhan Al-Quran dalam suatu cara yang sistematis dan koheren. ingatan luar biasa. tetapi hal ini dapat direduksi seminimum mungkin dengan menggunakan Al-Qur’an itu sendiri. politik. dimana hukum diharapkan mengabdi kepadanya. Yang terakhir ini merupakan alasan kaum tradisional-konservatif muslim untuk menolak perubahan yang dihasilkan modernisasi budaya dan intelektual. tertuju kepada kesuksesan menjaga komunitas. yang bukan hanya mempengaruhi karakter teologi. dan ilmu pengetahuan. tetapi tidak menghalanginya untuk mengangkat sebuah pemikiran kritis tentang gelombang perubahan tersebut. Irja' lahir dari reaksi terhadap gerakan Khawarij yang men-"cap" Ali. Irja' merupakan penyebab utama kelesuan moral dan spiritual masyarakat Islam. sebagaimana dibedakan dari pranata-pranata yang dibangun belakangan. . Bahkan benar-benar tanpa kesadaran terhadap hal tersebut dan berpegang (taqlid. mengarahkan perhatian pada fenomena modernisasi dan perubahan dunia yang dipahami dalam dunia Islam sebagai janus-faced (berwajah ganda. Fazlur mengagumi tradisi intelektual sophiscated yang diwariskan ulama masa lalu. Ini terangkum dalam julukan ahl as-sunnah wa-aljamaah (penganut tradisi asli (Sunnah) dan solidaritas ummat (jamaah). tak jadi masalah. segala keputusan ada dalam kekuasaan Tuhan. Walaupun selanjutnya muncul reaksi dari golongan Qadariyah dan Mu'tazilah yang berpaham free will (kebebasan berkehendak) yaitu bahwa Tuhan tidak punya otoritas apa-apa dalam menentukan nasib seorang manusia. Utsman. ketundukan total) ke masa lalu. di mana masyarakat muslim akan semakin tertinggal di belakang masyarakat kontemporer lain yang telah menjadi penguasa di bidang ekonomi. Semua pikiran. Dua penganut Irja' di atas tidak mampu mengetahui jiwa yang resah yang menuntut ruang untuk kreativitas. Mengenai pembedaan antara ketetapan legal dan tujuan moral Al-Qur’an. penolakan itu sebagai langkah "membabi-buta" yang hanya akan merugikan. Persoalan apakah itu mundur dari Al Quran.

untuk menghindari kemungkinan terjadinya salah tafsir terhadap sumber-sumber Islam. berorientasi ke depan. yang tertinggal hanya kekeringan hukum dan teologi kalam (hal 135). kecuali di dalamnya terdapat teologi rasional. (hal 147).pengaruh terhadap ahli-ahli hukum dan teologi Syi'ah. Dalam masalah-masalah pelik. terbuka sepenuhnya untuk meyakinkan masyarakat akan kebenaran gagasannya. ide. keberadaannya tidak lebih baik dari masyarakat Sunni. Melanjutkan alur pemikiran Iqbal. Buku itu dalam dua bab terakhir mengulas gejolak pembaharuan akhir abad petengahan yang dimotori Ibnu Taimiyah serta pemikiran pembaharuan India oleh Syekh Ahmad Sirhindi dan Syekh Wali Allah. majelis ini dipilih oleh rakyat tanpa kualifikasi teknis apapun. ada kemungkinan untuk mengubah konsensus tersebut. 150). Iqbal menyetujui masuknya ulama ke dalam majelis untuk membantu dan memimpin perbincangan-perbincangan bebas tentang masalah yang bertalian dengan Islam. kecuali memiliki wawasan yang tajam dalam masalah hukum. Pada level negara.Sedangkan masyarakat Syi'ah. Golongan minoritas yang merasa ijtihad-nya lebih mendekati kebenaran. Imam Syi'ah tidak ada yang memiliki . yang disebut Rahman sebagai lembaga syura-ijma’. Fazlur Rahman mengungkapkan kemungkinan baru ijma’ dalam masyarakat kontemporer. ijma’ – yang merupakan konsensus mayoritas masyarakat – lebih bersifat dinamis. tetapi pengaruh keseluruhan mereka pada kehidupan moral masyarakat sangat terasa. pemikir-pemikir Muslim mengembangkan konsep ijma’ dengan berbagai kemungkinan baru yang selaras dengan kondisi modern. Dengan mentransfer ijtihad kepada lembaga legislatif. Tetapi. Iqbal tentu saja tidak memberikan kualifikasi apapun untuk pelaksanaan ijtihad. Aktivitas untuk menggalang konsensus masyarakat ini. Dengan demikian. sebab harus diakui-terlepas dari pro-kontra terhadapnya Fazlur Rahman telah melengkapi khasanah intelektual Islam dengan satu sikap pasti terhadap pembaharuan ke arah yang lebih baik. Undang-undang atau hukun yang ditetapkan majelis bisa saja benar atau keliru. *** TIDAK ketinggalan buku ini juga membahas perjalanan tasawuf yang-sebagaimana Asy'ariyah . Muhammad Iqbal. Selain itu. Apabila masyarakat telah menerima gagasan minoritas secara mayoritas. Ia tidak begitu saja menerima istilah-istilah komoderenan. Tetapi. sepanjang hukum tersebut mencerminkan kehendak masyarakat. khususnya Syi'ah 12. Karya terakhir Fazlur Rahman ini merupakan cerminan kepribadiannya yang merepresentasikan rasionalitas ArabIslam dan pencerahan pemikiran Barat. Syi'ah telah menempatkan Al Quran ke dalam pelupaan sistematis dan bergantung kepada imam. Namun demikian. 150). ia tetap bersifat islami dan demokratis karena merepresentasikan ijma’ masyarakat. Walaupun para sufi tidak bisa disebut murji'ah dalam arti teknis. meskipun menghasilkan banyak komentar dan penafsiran yang luar biasa penuh kiasan. mengungkapkan gagasannya tentang ijma’ sebagai transfer kekuasaan ijtihad dari individu yang mewakili mazhab-mazhab yang terorganisasi ke dalam bentuk “institusi legislatif permanen” atau majelis perwakilan rakyat. opini itu membentuk ijma’ baru dan menggantikan ijma’ lama. * Pada periode modern. Ketika para sufi mengecilkan akal. dan kemajuan. majelis dapat meminta advis kepada para ahli. Ibnu Taimiyah memberikan penilaian pahit dengan menyatakan bahwa ketika seorang sufi melepas pikirannya untuk mencurahkan dirinya secara utuh kepada Tuhan. Selama berabad-abad Syi'ah memberikan penghargaan yang sedikit kepada Alquran. tapi ketika imam dihilangkan. ijtihad yang dihasilkan individu atau kelompok kerja akan mengkristal ke dalam ijma’ setelah melalui interaksi ide yang ketat. karena secara potensial selalu terdapat kemungkinan bagi pandangan minoritas untuk menjadi mayoritas melalui proses perdebatan. Rahman bahkan mengelaborasi konsepnya tentang lembaga syura-ijma’ ini ke dalam suatu majelis internasional yang beranggotakan majelis legislatif negeri-negeri Muslim. Akhirnya. Tugasnya adalah memberi advis yang selanjutnya . ijma’ masyarakat akan ditempa atau dirumuskan ke dalam bentuk hukum dan perundangundangan oleh lembaga legislatif. bahkan lebih berbahaya daripada Irja' (hal. dirujuk al-Quran dengan terma syura. mereka mengangkat intuisi (rasa) sebagai pengetahuan yang dinyatakan bebas dari kesalahan karena tidak tertutup (kasyf). misalnya. Uraiannya memang menguatkan bahwa ia memang guru besar wacana Islam dengan tekanan pada pemikiran. dan perenungan.mengecilkan akal vis a vis wahyu. sarjana pemikir neo-modernis asal pakistan. penghargaan tinggi patut ditujukan kepada pemikir satu ini. dan tidak monolitik. yang bisa saja beranggotakan Muslim awam atau bahkan nonmuslim. pembaharuan. menurut Rahman. maka setan datang mendiami kekosongan pikirannya dan bebas melalukan tugasnya di sana (hal. Baginya. Dalam pandangan Rahman.bahkan tidak bisa memiliki .

dalam proses pengambilan keputusan. yang – menurut tafsiran Rahman – mengungkapkan siapa pun yang percaya kepada monoteisme dan hari akhirat. . berdasarkan prinsip mayoritas. ijma’ bisa memberi kemungkinan legitimasi demokrasi bagi kaum Muslimin dan menawarkan format institusi dan prosedur untuk menjalankannya. Pandangan-pandangan kesarjanaan Muslim yang dikemukakan di atas dengan jelas menyepakati kesetaraan warga negara – baik Muslim atau nonmuslim – serta persamaan hak dan kewajibannya. ia mengikat seluruh anggotanya tanpa kecuali. pengajuan rancangan undang-undang. termasuk dalam proses pencapaian konsensus. maka hal ini berarti minoritas nonmuslim tidak dapat hidup di lingkungan umat Islam dan persatuan di antara berbagai unsur masyarakat tidak mungkin tercapai. berdasarkan alur logika yang telah dikemukakan. Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk membentuk konsensus masyarakat atau untuk menakar kesepakatan masyarakat mengenai suatu hal adalah melalui referendum. menurutnya. anggapan semacam itu berseberangan dengan prinsip persamaan dan pengakuan Islam terhadap minoritas nonmuslim. seluruh warga negara harus dipandang setara satu sama lain. Sebagaimana disinggung di atas. Tidak ada yang aneh dalam hal ini. sehingga berbagai sudut pandang yang berkembang dan dikembangkan secara individual ataupun kolektif mendapat kesempatan untuk didengar sebelum masyarakat akhirnya secara konsensus atau mayoritas memilih yang dianggap laik. dalam risalah Nahwa an-Nur (1936). majelis ini juga bisa mempengaruhi preferensi publik (preference formation). kesatuan keagamaan umum (al-wahdah al-diniyyah al-’ammah). Aktivitas semacam inilah yang dimaknai Rahman dengan istilah syura. konvensi-konvensi yang telah dirativikasi suatu negara muslim juga merupakan bentuk lain dari perluasan konsep ijma’. penting dilakukan majelis. Ketika putusan mayoritas tercapai. Partisipasi masyarakat yang luas dalam penentuan suatu kebijakan sangat bisa diharapkan dalam implementasi ijma’-referendum ini Pada level regional atau internasional. jika suatu masalah dinilai laik untuk dirumuskan ke dalam kebijakan. termasuk bukan muslim. Safi juga mengemukakan bahwa legitimasi negara tergantung pada sampai sejauh mana organisasi dan kekuasaan negara merefleksikan kehendak masyarakat. Majelis semacam ini –yang dibentuk misalnya lewat pemilihan umum– tentunya merupakan representasi masyarakat yang menerjemahkan kepentingan masyarakat ke dalam kebijakan-kebijakan yang koheren dan konsisten (preference representation). Mekanisme ijma’ semacam ini menggagaskan keterlibatan seluruh anggota masyarakat. berdasarkan sejumlah ayat al-Quran (2:62 dan 5:69). Mekanisme ijma’ yang telah diuraikan juga memberikan kemungkinan deliberasi dan perdebatan publik. Agama Islam. Karena itu. Dengan kata lain. Louay M. Menurut al-Banna. Senada dengan itu. ketika suatu ijma’ mengkristal atau berhasil dicapai dalam komunitas tersebut. sebagai himpunan orang terpilih. serta melakukan perbuatan baik akan selamat.akan dirumuskan ke dalam undang undang oleh majelis nasional negeri-negeri Muslim berdasarkan sinaran perbedaan regional dan situasi social masing-masing negeri Survei singkat di atas memperlihatkan bahwa ijma’ bisa memberikan pijakan yang efektif untuk menerima kekuasaan mayoritas (majority rule). Untuk pembentukan preferensi ini. Tetapi. Hasan al-Banna. Penggagas. tidak akan menimbulkan perpecahan. baik Muslim atau bukan Muslim. menurut al-Banna. mengkuduskan kesatuan kemanusiaan umum (al-wahdah al-insaniyyah al-’ammah). advokasi. mensinyalir ada orang menganggap bahwa dengan menjadikan Islam sebagai landasan kehidupan. deliberasi. Fazlur Rahman menekankan sikap anti-eksklusivisme Islam sehubungan dengan komunitaskomunitas keagamaan lainnya. Dalam negara modern. tetapi didasarkan terutama pada prinsip ijma’. dan kesatuan keagamaan khusus umat Islam (al-wahdah al-diniyyah alkhassah). tanpa diskriminasi antara sesama warga. negara muslim tersebut terikat kesepakatan atau ber-ijma’ untuk melaksanakannya. malahan menjadikan persatuan berdimensi sakral dan religius. karena – seperti ditegaskan para yuris klasik – legitimasi institusi negara tidak terambil dari sumber-sumber tekstual. pengikut atau yang menyetujui pandangan minoritas juga harus menerima keputusan mayoritas dan berupaya mengimplementasikannya sebagai suatu konsensus. serta cara-cara lainnya yang melibatkan masyarakat. jelas bisa mengambil bentuk referendum. seluruh anggota masyarakat – baik Muslim ataupun non Muslim – harus berupaya mengejawantahkannya ke dalam praktik. Implementasi prinsip-prinsip ini. Ijma’. Sejalan dengan ini. konsensus atau ijma’ masyarakat inilah yang kemudian diundangkan oleh lembaga perwakilan rakyat di tingkat lokal atau nasional. Dengan merativikasi konvensi semacam itu.

Ebrahim Moosa menjadi editor dan pemberi kata pengantar pada karya Rahman yang berjudul ”Revival and Refrom in Islam: A Study of Islamic Fundamentalism” inti dari kata pengantar ini adalah bahwa Rahman sangat antusias untuk mendaptkan kembali al-Qur’an. Selain itu juga dapat dipandang sebagai sari pati penyimpulan yang dibuatnya berdasarkan pengetahuannya yang mendalam dan luas tentang pemikiran Islam. Menurut Ma’arif seseorang baru mampu membaca membaca posisi pemikiran Rahman secara tepat dan jujur dalam mata rantai revolusi intelektual dunia Islam setelah seseorang memahami al-Qur’an sebagai sebuah ajaran yang utuh disamping asSunnah. baik yang bersifat teoritis konseptual maupun praktis. yaitu karya-karya atau tulisan-tulisan yang ditulis sendiri oleh Fzlur Rahman yang relevan dengan tulisan ini. Oleh karena itu buku tersebut harus dipandang sebagai kelanjutan dari proyek pengembangan hermeneutika al-Qur’an oleh Rahman. dan sumber data sekundernya adalah karya- . Rahman dalam memahami Islam dan al-Qur’an selalu mengaitkan dengan bingkai peradaban masa depan. Tulisan Maarif yang kedua adalah ”Fazlur Rahman. Seluruh karya Rahman menurut Nurcholish dialirkan untuk bermuara kepada penyingkapan kandungan kitab suci. serta di Chicago Amerika (di dunia barat) memiliki berbagai pemikiran yang terkait dengan persoalan tersebut. Nurcholish Madjid menulis dengan judul ”Fazlur Rahman dan Rekonstruksi Etika al-Qur’an”. dan dunia modern. Ia berhasil bersikap kritis baik terhadap warisan Islam sendiri maupun terhadap tradisi barat. Maarif mengategorikan Rahman sebagai salah seorang yang bertanggung jawab dalam masalah pembaharuan pemikiran Islam secara total dan tuntas. Malaysia. Metode Penulisan Buku Pada buku ini terdapat dua sumber data. terutama periode awal. Ia menilai bahwa Rahman sangat kritis terhadap pemikiran Islam yang tidak berakar dalam sejarah dan tidak relevan bagi perkrmbangan masyarakat. Tulisan Ma’arif yang ketiga berjudul ”Fazlur Rahman” yang dimuat dalam bukunya Islam Kekuatan Doktrindan Kegamangan Umat. Indonesia dan Negara-negara lain (di dunia Islam).PENDIDIKAN PERSPEKTIF FAZLU RAHMAN BAB I PENDAHULUAN Bukan rahasia lagi bahwa pendidikan Islam masih menghadapi berbagai persoalan. Fazlur Rahman. Dalam tulisan tersebut Ma’arif bermaksud menganalisis wawancara antara Fazlur Rahman dan profesor Hamid Algar dari Universitas California. Di antara masalah teoretis konseptual yang paling memerlukan pemikiran lebih mendalam adalah persoalan epistemologi. Ia berhasil mengembangkan suatu metode yang dapat memberi solusi alternatif atas problem-problem umat Islam kontemporer. al-Qur’an dan Pemikiran Islam”. seorang pembaharu yang paling bertanggung jawab pada abad ke-20 yang berpengaruh besar dipakistan. sejarah Islam. Tinjauan Pustaka Ahmad Syafi’i Maarif menulis dengan judul ”Mengenal Fazlur Rahman dan Pemikirannya tentang Islam” di dalam tulisannya. yaitu sumber data primer. Yang paling penting untuk selalu dipegangi adalah bahwa alQur’an mengajarkan doktrin kesatuan kehidupan dan kesatuan ilmu pengetahuan. Moosa memandang bahwa pemikir-pemikir modern seperti Fazlur Rahman sangat penting karena mengartikan wahyu dalam term sejarah. tentang berbagai persoalan Islam kontemporer. Sampai di sini dapat diketahui bahwa menurut Ma’arif.

Selanjutnya data yang sudah tersistematisasi dianalisis dengan analisis bahasa. deskripsi teori. Diantara factor-faktor tersebut yang penting adalah ketekunan ayahnya dalam mengajarkan agama padanya dirumah dengan disiplin tinggi sehingga dia mampu menghadapi berbagai macam peradaban dan tantangan dialam modern. dan sekaligus berfungsi sebagai alat analisis terhadap metodologi. epistemologi. Hal penting lainnya bahwa ia dididik dalam sebuah keluarga dengan tradisi madzhab Hanafi. Dokumen-dokumen tersebut kemudian dibaca dan setelah itu diklasifikasikan. terutama dalam diskursus epistemologi. pada bab empat dengan judul neomodernisme dalam pendidikan Islam. disamping pengajaran dari ibunya. Pendidikan Fazlur Rahman Rahman lahir pada tanggal 21 september 1919 didaerah Hazara. Maulana Sahab al-din adalah seorang alim terkenal lulusan Deoband. metodologi. Sumber-sumber data yang sudah terkumpul baik sumber primer maupun sumber sekunder dijadikan sebagai dokumen. dia menyelesaikan B. Penulisan buku ini diakhiri pada bab lima yang berisi kesimpulan dan saran-saran. BAB II BIOGRAFI FAZLUR RAHMAN Penulisan biografi Rahman ini meliputi pendidikan. serta kecintaan sepenuh hati darinya. Tema ini dipilih karena tema tersebut telah lama melekat pada diri Fazlur Rahman.A. Dalam pengumpulan data digunakan metode dokumentasi. hermeneutika. Sehingga. perkembangan pemikiran dan karya-karyanya. Ayahnya. Bab kedua membahas biografi Fazlur Rahman yang merupakan titik sentral dari pembahasan buku ini. konsep dan metode yang terkait dengan judul buku ini. . Pendidikan dalam keluarganya benar-benar efektif dalam membentuk watak dan kepribadiannya untuk dapat menghadapi kehidupan nyata. Ayahnya memperhatikan Rahman dalam hal mengaji dan menghafak al-Qur’an. Bab pertama dalah pendahuluan. terutama tentang kejujuran. Menurut Rahman. ada beberapa factor yang telah membentuk karakter dan kedalaman dalam beragama. Kelima bab yang masingmasingnya terbagi menjadi beberapa subbab ini merupakan satu kasatuan yang bulat dan utuh. kasih sayang. Pembahasan ini didasarkan pada temuan struktur dasar dari tiga sistem epistemologi Islam yang terdapat pada bab 1. Subbab kesimpulan berisi berbagai temuan dalam penulisan buku ini. dan koherensi internal. Bab ketiga membahas epistemologi dan metodologi Fazlur Rahman. Kerangka Teori Kerangka teori atau kerangka konseptual di sini berisi pengertian. pada usia sepuluh tahun.karya orang lain mengenai pemikiran Fazlur Rahman. rahman telah hafal al-Qur’an seluruhnya. (anak benua india) yang sekarang terletak disebelah barat laut Pakistan. dan pendidikan Islam. Pada tahun 1940. ia berhasil menyelesaikan masternya dalam bidang yang sama pada Universitas yang sama pula. Kemudian dua tahun berikutnya. Pertama-tama ia dididik dalam sebuah keluarga muslim yang taat beragama. pada tahun 1933. Rahman melanjutka studinya ke Lahore dan memasuki sekolah modern. dan pendidikan Fazlur Rahman. yang memberikan gambaran secara singkat mengenai keseluruhan buku ini dan memberikan ramburambu untuk masuk pada bab-bab seanjutnya. tetapi juga berupa konsep atau teori-teori pendidikan Islam yang dapat diaplikasikan di Indonesia. yang tidak hanya berupa rumusan epistemologi dan metodologi pemikiran Fazlur Rahman. Sistematika penulisan buku Keseluruhan buku ini terdiri atas lima bab dan setiap bab terbagi atas beberapa subbab. Rahman kecil beruntung memiliki seorang ayah yang betul-betul memperhatikan pendidikannya. Kemudian.-nya dalam bidang bahasa arab pada Universitas Punjab.

dan selanjutnya di Institute of Islamic Studies. Kemudian dua tahun berikutnya. Rahman hijrah kebarat. dengan disertasi tentang Ibn Sina. periode perkembangan. Yunani. Ia menetap di Chicago kurang lebih selama 18 tahun. Rahman terdorong untuk mendefinisikan Islam kembali . Arab. 1. Periode pertama (Periode Pembentukan) Periode pertama disebut periode pembentukan karena pada periode ini Rahman mulai meletakkan dasar-dasar pemikirannya dan mulai berkarya. Kemudian. yaitu periode pembentukan (formasi).-nya pada tahun 1949. Pada periode ini. Inggris. Perkembangan pemikiran dan Karya-Karya Fazlur Rahman Perkembanga pemikiran dan karya-karya Rahman dapat diklasifikasikan kedalan tiga periode. Karya ini dilandasi oleh rasa keprihatinannya atas kenyataan bahwa sarjana-sarjana muslim modern kurang menaruh minat dan perhatian terhadap doktrin-doktrin kenabian. pada tahun 1964 Rahman ditunjuk sebagai anggota Dewan Penasehat Ideology Islam pemerintah Pakistan. Selama kepemimpinannya. Ketika itu. Amerika. dan periode kematangan. 1. Secara epistemologis. Setelah selesai kuliah di Oxford ia tidak langsung pulang kenegerinya. Rahman berhasil menulis tiga karya intelektualnya. 1. (2) Avecinna’s De Anima. berisi kajian dari pemikiran Ibn Sina yang terdapat pada kitab al-Najat. being the psychology part of kitab al-Shifa’ merupakan suntingan dari kitab al-Nafs yang merupakan bagian dari kitab al-Shifa’. sampai akhirnya tuhan memanggilnya pulang pada tanggal 26 Juli 1988. Rahman pulang kenegerinya. Periode kedua (Periode Perkembangan) Periode kedua disebut periode perkembangan karena pada periode ini Rahman mengalami proses menjadi. ia mulai menjabat sebagai Guru Besar kajian Islam dalam berbagai aspeknya di Departement of Near Eastern Languages and Civilization. Turki. dan Urdu. Setelah melepas kedua jabatannya di Pakistan. yaitu Islamic Studies dan Fikru-Nazhr (berbahasa Urdu). Periode ini dimulai sejak kepulangan Rahman dari Inggris ke Pakistan sampai dengan menjelang keberangkatannya ke Amerika. 1. lembaga ini berhasil menerbitkan dua jurnal ilmiah. Periode ini dimulai sejak Fazlur Rahman belajar sampai dengan menjelang kepulangan kenegerinya. Penguasaan bahasa yang bagus sangat membantunya dalam memperdalam dan memperluas keilmuannya. Dengan dua kedudukan tersebut. ia diterima sebagai tenaga pengajar di Universitas California.D. tetapi Rahman mengajar selama beberapa tahun di Durham University. 1. Ketika kuliah di Universitas Oxford Rahman mempunyai kesempatan mempelajari bahasa-bahasa barat seperti bahasa Ltin. Los Angeles. yaitu: (1) Avecinna’s Psychology. 1. Jerman. Inggris. Inggris. pemikiran dan karya-karya Rahman pada periode ini didominasi oleh pendekatan historis. i. Pada periode ini Rahman disibukkan oleh kedudukannya sebagai direktur lembaga riset Islam dan sebagai anggota dewan penasehat ideology Islam pemerintah Pakistan. setelah mengajar selama beberapa saat di Universitas Durham. Pakistan. Selain menjabat sebagai Direktur Lembaga Riset Islam. Pada awal tahun 1960-an. merupakan karya orisinil Rahman yang paling penting dalam periode ini.Empat tahun kemudian Rahman berangkat ke Inggris untuk melanjutkan studinya di Universitas Oxford. McGill University Canada.(3) Prophecy in Islam: Philoshophy and Orthodoxy. pada tahun 1969. University of Chicago. ia ditunjuk sebagai Direktur Lembaga Riset Islam setelah sebelumnya ia menjabat sebagai staf di lembaga tersebut selama beberapa saat. Rahman menyelesaikan program Ph. Pakistan. i. yaitu proses berkembang dari pertumbuhan menuju ke kematangan.

dan (b) peran actual prinsip-prinsip tersebut terhadap perkembangan islam itu sendiri. Ijtihad dan ijma’. Penelitian itu melibatkan selusin sarjana-sarjana berusia muda yang diketahui Rahman dan Leonard Binder. buku ini diberi judul Islamic Education and Modernity oleh penulisnya. manusia sebagai anggota masyarakat. buku ini disusun dengan tujuan untuk memperlihatkan (a) evolusi historis perkembangan empat prinsip dasar pemikiran islam yang memberi kerangka bagi seluruh pemikiran islam yaitu al-Qur’an. Sementara itu. Disamping itu. Secara epistemologis. 1. Kalau dalam buku islam ia menyanggah bahwa tradisi filsafat islam telah mati setelah diserang bertubi-tubi oleh al-Ghazali pada abad ke 12. alam semesta. Karachi. Rahman lebih dominan mengemukakan kritik historis. dengan tambahan bab “Ijtihad pada abad-abad kemudian”. Dalam buku ini. Bila perkataan “pendidikan” tetap bertengger pada judulnya. eskatologi. rangkaian artikel ini. pemikiran dan karya-karya Rahman pada periode ini mulai beranjak dari pendekata historis menuju kependekatan normatif. Central Istitute of Islamic Research. 1965. Buku kedua adalah Major Themes of the Qur’an. pada periode kedua ini. Penulisan buku inidmulai pada tahun 1977 dan selesai pada tahun 1978. belakang diterbitkan dalam bentuk buku yang berjudul Islamic Methodology in History. ia terlibat secara intens dalam upaya-upaya untuk merumuskan kembali islam dalam rangka menjawab tantangan-tantangan dan kebutuhan-kebutuhan masyarakat muslim kontemporer. Buku ketiga yang ditulis Rahman pada periode ini adalah Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition. the University of Chicago Press. Pada mulanya. kenabian dan wahyu. i. manusia sebagai individu. Dalam periode pertama. Buku ini merupakan upaya Rahman dalam menyajikan sejarah perkembangan islam secara umum. 1. Isi buku ini merupakan hasil dari sebuah proyek riset yang dilaksanakan di Universitas Chicago dan di biayai oleh ford Foundation dalam “Islamic Education”. Periode ketiga (Periode Kematangan) Karya-karya intelektual Rahman sejak kepindahannya ke Chicago (19670) mencakup hamper seluruh kajian islam normatif maupun historis. Rahman tidak memprlihatkan minatnya untuk memahami kajian-kajian islam normatif. dalam buku ini. Keterlibatan Rahman dalam arus pemikiran islam ditandai dengan dipublikasikannya serangkaian artikel-artikelnya dalam jurnal Islamic Studies mulai bulan maret 1962 hingga Juni 1963. Buku ini berisi delapan tema pokok al-Qur’an. Buku kedua yang dihasilkan oleh Rahman dalam periode ini adalah berjudul Islam. Pengubahan ini menerut A. setelah itu masih banyak dilakukan perbaikan-perbaikan. tesis tersebut kembali diungkapkan untuk membantah pandangan para sarjana barat modern yang keliru tentangnya. judul buku tersebut diubah menjadi Islam and Modernity. Periode ini ditandai oleh sesuatu perubahan yang radikal.bagi Pakistan. karena ia memeng berbicara tentang pendidikan islam dalam perspektif sejarah dengan al-Qur’an sebagai kriterium penilai. Metode yang digunakan Rahman dalam buku ini mensintesiskan berbagai tema secara logis ketimbang kronologis dan membiarkan alQur’an berbicara mengenai dirinya sendiri. Maka. Tujuan penulisan buku ini adalah untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak akan sebuah pengantar tentang tema-tema pokok al-Qur’an. bagi Pakistan khususnya. pertama. yaitu kira-kira selama empat belas abad keberadaan islam. karya-karya yang ditelurkannya lebih menampakkan dirinya sebagai orientalis muslim yang cukup berkualitas. Sunnah. Buku ini merupakan kajian histories Rahman terhadap pemikiran Shdr al-Din al-Syrazi (Mulla Shadra). penafsiran hanya digunakan untuk “merangkaikan ideide”. Philosophy of Mulla Sadra Shirazi. setan dan kejahatan. disampinh sedikit memberikan harapan dan saran-saran. Oleh pihak penerbit. . Dalam periode ini ia berhasil menyelesaikan beberapa buku. Ia banyak menulis artikel dalam berbagai jurnal internasional dan ensiklopedia. 1. Syafi’i Ma’arif mungkin didasarkan pada pertimbangan pemasaran. yatu: Tuhan. serta lahirnya masyarakat muslim. yang pada mulanya merupakan bagian dari sebuah proyek lain yang lebih besar yang bernama “Islam and Social Change”.

yaitu hasil-hasil dari proses berpikir tentang hukum..” 1. kata ”ilmu” berasal dari bahasa arab”alima-ya’lamui’lam” yang juga berarti ”tahu” atau ”mengetahui”. Kemudian setelah masa sahabat. yaitu melulu soal pendidikan dalam artian yang sempit. 1. istilah tersebut tidak banyak lagi digunakan sebagai proses untuk memahami masalah-masalah hukum. atau menuntut ilmu. karya ini akan lebih mengesankan sebagai karya yang berlingkup luas sekalipun ia bertolak dari masalah pendidikan islam. talabul ’ilmi berarti proses perjalanan yang lama dan sukar dari suatu tempat ketempat lain. Buku terakhir yang dihasilkan Rahman adalah Health and Medicine in Islamic Tradition. pada awalnya.ilmu(pengetahuan) dimaknai seperti itu. lebih diterima tradisionalis dari pada rasional.yang secara umum bermakna pengetahuan. Proses memahami dan memikirkan materi-materi tradisional itu disebut fiqh. Sehubungan dengan itu. Misalnya terdapat ungkapan yang terkenal. Selanjutnya. seperti”ada dua macam pengetahuan. Dalam buku yang berjudul Islamic Methodologi in History. Selanjutnya. Akan tetapi. istilah fiqh diterapkan padanya.. Pada masa itu. yaitu pengetahuan mengenai agama dan pengetahuan mengenai tubuh manusia (selanjutnya terkenal dengan ilmu kedokteran). Dengan menghilangkan perkataan pendidikan. perkataan tersebut dipergunakan secara umum. islam berkembang menjadi suatu tradisi. secara historis tidak dapat diragukan bahwa perkatan tersebut lahir dari kalangan tradisionalis dengan makna sebagaimana telah disebutkan tadi. Buku ini berusaha memotret kaitan organis antara islam sebagai sebuah system kepercayaan dan islam sebagai sebuah tradisi pengobatan manusia. Sementara itu. Selanjutnya penggunaan istilah ”pengetahuan”semakin meluas.menurut bahasa kata pengetahuan bisa bermakna sama dengan ilmu. Rahman menjelaskan bahwa istilah ilmu itu. setelah sistem hukum muncul. kata ilmu mulai digunakan dengan pengertian pengetahuan yang diperoleh melalui proses belajar. arti kata ilm ini mengarah pada sabda nabi”talabul ’ilmi”. 1. Pengertian Pengetahuan Kata ”pengetahuan ” (dalam bahasa inggris knowledge) adalah kata benda yang berasal dari kata kerja ”tahu” (to know) yang semakna dengan ”mengetahui”. Didalamnya Rahman menjelaskan konsep pengetahuan kaum muslimin dan perkembangannya. BAB III EPISTEMOLOGI DAN METODOLOGI FAZLUR RAHMAN Dari penulisan terhadap karya-karya rahman dapat diketahui keterlibatannya dalam epistemologi dan metodologi. Menurut Rahman al-Qur’an berkali-kali menggunakan istilah ”ilm”. Karakteristik Pengetahuan . melainkan sebagai pengetahuan tersendiri .mungkin akan menimbulkan kesan bahwa karya ini terlalu terbatas lingkup bahasannya. Pada masa nabi muhammad saw. fazlur Rahman menjelaskan konsep pengetahuan kaum muslimin (the muslim’s concept of knowledge). Kemudian dizaman sesudah islam (terutama pada zaman modern ini). dari suatu negeri ke negeri lain duduk takzim menghadap seorang guru tradisional dan menerima tradisi dari sang guru. terutama dalam sejarah islam. Dengan membaca artikelnya yang berjudul ”The Qur’anic Solution Of Pakistan’s Educational Problems” disana dijelaskan berbagai hal yang terkait dengan epistemologi seperti sumber. karakter dan kebenaran pengetahuan menurut al-Qur’an Epistemologi Fazlur Rahman 1.

agar ditambahkan ilmu pengetahuan dan harus selalu disertai dengan upaya mempelajari dan mengembangkannya. nabi muhammad saw. Semua pengetahuan. Akibatnya ilmu yang dimiliki akan mengalami stagnasi. Umat islam harus selalu berdoa kepada Allah SWT. baik induktif maupun deduktif. Salah satu buktinya adalah bahwa pengembangan pengetahuan selalu didasarkan pada pengetahuan yang telah ada dan selalu terkait dengan temuan berikutnya. Stagnasi dan pengulangan merupakan tanda dari matinya pengetahuan. Kedua. Yang dimaksudkan disini adalah penggolongan jenis pengetahuan menurut Fazlur Rahman. Selanjutnya. Dengan mendasarkan pada al-Qur’an. Diperintahkan untuk selalu memohon ditambah ilmu pengetahuan. menurut Rahman. Penguasaan terhadap ilmu pengetahuan yang telah ada akan menemukan ilmu-ilmu pengetahuan baru. apalagi umatnya. tidak ada lagi orang yang lebih tahu. Dengan dasar pemahaman bahwa pengetahuan itu selalu berkembang.Kata ”Karakteristik” berasal dari bahasa inggris ”characteristic(kata sifat)”yang berarti sifat yang khas. dan pengetahuan tentang manusia. al-Qur’an tampaknya cenderung pada tiga jenis pengetahuan bagi manusia. dapat dipahami bahwa Rahman sangat menekankan pada betapa pentingnya mempelajari ilmu pengetahuan. Oleh karena itu setinggi apapun ilmu yang dimiliki. dinamis dan berkelanjutan. dan merupakan suatu proses kreatif yang tidak pernah mengenal akhir. pengetahuan tentang sejarah. Ilmu pengetahuan tidak mungkin dapat berkembang tanpa ilmu pengetahuan yang telah ada. Pengetahua tidak pernah berhenti dan stagnasi. Al-Qur’an mendorong manusia untuk mengadakan perjalanan dimika bumi dan menelaah apa yang telah terjadi pada peradaban masa lalu dan mengapa mereka bangkit kemudian jatuh. pengembangan pengetahuan tidak pernah mengenal akhir. Setinggi-tinggi ilmu pengetahuan yang diketahui oleh seseorang. Nabi Muhammad saw. seperti pengetahuan fisik. huruf. selalu berkembang dan dinamis. ”kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami disegenap ufuk dan pada diri mereka sendiri. seseorang tidak boleh sombong. tetapi selalu didasarkan pada pengetahuan yang sudah ada. Berakhirnya pengembangan pengetahuan sama dengan matinya ilmu pengetahuan. Sombong mengakibatkan orang mati karena orang yang sombong merasa bahwa dirinya yang paling tahu. Fazlur Rahman menempatkan indera dan akal pada posisi sentral dalam memperoleh dan mengembangkan pengetahuan. Klasifikasi Pengetahuan Kata ”klasifikasi” berasal dari bahasa inggris classification yang berarti penggolongan (menurut jenis). akan berakibat mati atau mundurnya peradaban. sehingga jelaslah bagi mereka . yaitu pengetahuan tentang alam. Al-Qur’an menyebutkan. Kedua. masih diperintahkan untuk memohon agar ditambah ilmu pengetahuan. klasifikasi. yaitu Allah SWT. Pertama adalah pengetahuan tentang alam yang telah diciptakan untuk manusia. Fazlur Rahman cenderung mengklasifikasikan pengetahuan manusia kepada tiga jenis. Kata bendanya adalah ”karakter” yang berarti watak. Dari orang yang paling tinggi ilmunya masih ada yang Maha lebih mengetahui. 1. adalah orang yang paling tinggi ilmunya. Ketiga adalah pengetahuan tentang manusia sendiri. atau pembagian. Mengenai karakter pengetahuan . Klasifikasi adalah penyusunan bersistem dalam kelompok atau golongan menurut kaidah atau standar yang ditetapkan. Dan jika ilmu pengetahuan mati. jenis yang krusial yaitu pengetahuan tentang sejarah (dan geografi). pengetahuan itu mempunyai sifat selalu berkembang. karakter sifat. Oleh karena itu. Yang dimaksud disini adalah sifat yang khas atau sifat dasar dari pengetahuan. Sehingga ia tidak mau lagi belajar dan mengembangkan ilmu yang telah dimilikinya. peran. masih ada orang yang lebih mengetaui. Fazlur Rahman menjelaskan dalam artikelnya yang berjudul ” The Qur’anic Solution Of Pakistan’s Educational Problems” bahwa semua pengetahuan (pertama) diperoleh melalui observasi dan Eksperimen. Pengetahuan yang dimaksudkan oleh Rahman itu bersifat empiris dan rasional. Pengembangan pengetahuan tidak pernah berangkat dari ruang hampa (kosong). Yang menurut keyakinan orang islam. 1. selalu didasarkan pada yang mendahuluinya. Secara jelasnya. dikuasai.

kejujuran. perkenan. Kata ”proses”dapat berarti runtutan perubahan dalam perkembangan sesuatu. persetujuan. Oleh karena itu. seperti jiwa manusia (al-anfus). intelek aktif. Kebenaran Pengetahuan Kata ”kebenaran”adalah kata benda yang berasal dari kata sifat ”benar”. subjek sejarah betul-betul mengarahkan padastudi komparatif atas masyarakat tertentu dengan masyarakat lain dan berfungsi sebagai instrumen penting untuk kritik dan penilaian atas diri sendiri. Kebenaran yang dimaksud disini adalah sesuatu yang sesuai dengan sesuatu yang sebenarnya. Kata ”benar” bisa bermakna sesuai sebagaimana adanya. adil. Dalam persenyawaan ini intelek perolehan menerima pengetahuan transenden dari intelek aktif. Apresiasi secara benar pada budaya. rangkaian tindakan. Fenomene-fenomena alam harus dipelajaridan penginvestigasian ini secara alami tidak pernah berhenti. Intelek perolehan adalah kekuatan memahami (intelektif) khusus yang merasuk kedalam alam pikiran Nabi sebagai hasil persenyawaannya dengan intelek aktif. azin. kejahatan. percaya diri. Ia (data penelitian) banyak membantu dalam membentuk standar moral individual dan masyarakat serta mengurangi kecenderungan tindak kriminal pada manusia. Dalam diskursus epistemologi pemikiran islam. dapat dikatakan bahwasejarah menghasilkan sosiologi” 1. atau pengolahan yang menghasilkan produk. dan kreatif”. lurus (hati). sesuatu yang sungguh-sungguh. Dan apakah tuhanmu tidak cukup bagimu bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” 1.al-Qur’an itu adalah benar. moral juga jiwa harus digunakan untuk mengatasi ketidakseimbangan. Yang dimaksud disini adalah rangkaian tindakan yang dapat menghasilkan atau memperoleh pengetahuan. hukum-hukum yang mengatur kerja alam dapat ditemukan dan diintegrasikan untuk menciptakan gambaran alam semesta secara total. yakni intelek yang diperoleh nabi hanya jika jiwanya bersatu dengan intelek aktif. sehat. Manusia penerima wahyu dikenal sebagai nabi atau Rasul Allah. . intelek dan akal. dll. pembuatan. atau perkara dalam pengadilan. Kedua adalah intelek perolehan. Al-Qur’an menekankan pada studi inner world. yakni entitas kosmik yang bertindak sebagai perantara transenden antara Tuhan dan manusia. Jadi maksudnya adalah pengetahuan yang sesuai dengan pengetahuan yang sebenarnya. tidak berat sebelah. masyarakat. tidak salah. Orang awam cukup puas menerima kebenaran ajaran agamanya pada dataran iman. yaitu pertama adalah physical universe. yaitu merujuk pada intelek penerimaan aktual Nabi secara umum. dalam mencari kebenaran ia berangkat dari pembahasan mengenai hubungan antara wahyu. Kaum muslim percaya bahwa para Nabi dan Rasul adalah makhluk Allah yang terbaikdan termulia. kelurusan hati. dan untuk membentuk standar moral umat manusia. Jika dikaji dengan jernih dan serius. Sumber yang kedua dijelaskan sebagai berikut. sedangkan para filosof mencoba memahami realitas wahyu Illahi sebagai suatu kebenaran filosofis. Salah satu pilar dasar keimanan islam adalah percaya kepada wahyu Illahi. tetapi juga melihat kebaikan manusia sebagai kebaikan dan kejahatan manusia sebagai kejahatan. Kata ”kebenaran” bisa bermakna keadaan yang cocok dengan keadaan yang sesungguhnya. Mengenai sumber yang ketiga Fazlur Rahman menjelaskan berikut ”al-Qur’an memberikan penekanan yang sama pada historical study of societies.menurut alfarabi. 1. Ketiga adalah intelek pasif. Kata ini merupakan terjemahan dari kata inggris true (adjective). 1. Dengan mendasarkan pada datadata ini. Tujuan utama dari pengetahuan ini adalah untuk menciptakan kepribadian manusia yang seimbang. pembahasan kebenaran biasanya terkait dengan kebenaran wahyu dan kebenaran akal (rasio). Sumber dan Proses Memperoleh Pengetahuan Sumber yang dimaksud disini adalah asal pengetahuan diperoleh atau dikembangkan. yaitu pertama. tidak bohong.”manusia (constitution of the human mind) harus diteliti dengan intensitas yang memadai. dapat dipecaya. truth (noun). Ada tiga macam intelek dalam hubungannya dengan wahyu. dan agama lain (tentunya) dapat menghasilkan berbagai arah yang positif. Data-data yang diperoleh melalui penelitian ini terkait dengan kerja manusia dan motivasinya. Semua pengetahuan didasarkan pada tiga sumber.hal ini juga memungkinkan agar manusia tidak hanya menghakimi orang lain dengan sebutan berhasil atau gagal. Hal ini akan memperluas cakrawala umat manusia dan mengurangikefanatikan dan berpikiran sempit. Dan yang dimaksud sesuatu disini adalah pengetahuan. betul.

Iran. Mesir.Dalam diskursus epistemologi yang berkembang sampai sekarang. Pakistan. Ignaz Goldziher. yaitu: pertama. Metodologi Fazlur Rahman Berikut adalah tiga metodologi yang dikembangkan oleh Rahman. Joseph Schact dll. Mereka harus mendiskusikan dengan ikhlas dan tanpa menahan diri tentang apa yang mereka inginkan terhadap islam dewasa ini. menurut Rahman. yang menyebabkan metode kritik sejarah tidak dapat berkembang dengan baik dikalangan pemikir muslim sampai pertengahan abad ke-20 M. Sehubungan dengan metode berpikir pertama. Rahman banyak menerapkan metode kritik sejarah dalam melakukan penelitian terhadap pendidikan didunia islam. yang disebut dengan The Sistematic interpretation method. Akan tetapi. kelihatan dengan jelas bahwa mereka harus memulai sekali lagi dari tingkat intelektual. Kedua adalah membedakan antara ketetapan legal dan sasaran serta tujuan al-Qur’an. Henry Lamen. pragmatis dan dogmatis atau skeptis. metode berpikir dari yang khusus kepada yang umum (induktif). pembahasan mengenai kebenaran pengetahuan biasanya dikaitkan dengan teori kebenaran korespondensi. Metode Penafsiran Sistematis (The Sistematic interpretation method) Metode kritik sejarah yang telah lama diaplikasikan dalam menuliskan pikiran-pikirannya yang tajam dan kritis. gerakan pertama melibatkan pemahaman . Margoliouth. Resiko terbesar dalam pemahaman ini tentu akan menjadi proyeksi dari ide subyektif kedalam al-Qur’an dan menjadikannya sebagai objek penanganan secara arbitrer. Lebih lanjut Fazlur Rahman menawarkan metode berfikir yang terdiri atas dua gerakan. Menurut Rahman. Metode kritik sejarah. Suatu penafsiran secara sistematis dan berani terhadap al-Qur’an harus dilakukan. walaupun ini mungkin sangat membahayakan tidaklah dapat dihindarkan.problem umat (sosial) untuk dicarikan solusinya pada alQur’an atau (2) memaknai al-Qur’an dalam konteksnya dan memproyeksikannya kepada situasi sekarang. metode berpikir dari yang umum kepada yang khusus (deduktif). dan kedua. Metodologi yang tepat untuk memahami dan menafsirkan al-Qur’an harus diterapkan. koherensi. Secara spesifik metode ini diterapkan dengan cara mendiskripsikan nilai-nilai sejarah pendidikan umat islam terutama yang terjadi di Turki. Penelitian dari para orientalis tersebut menghasilkan berbagai tesis yang menghebohkan terutama bagi kalangan muslim tradisional. kemudian dikembangkan menjadi metode yang lebih sistematis. sebagaimana yang dimaksudkan Fazlur Rahman. tetapi menekankan pada nilai-nilai yang terkandung dalam data-data sejarah pendidikan didunia islam. yaitu: pertama. Metode kritik sejarah yang diterapkan oleh Rahman tidak menekankan pada kronologi berjalannya pendidikan didunia islam. dan Indonesia. Metode Kritik Sejarah (The Critical Histori Method) William Montgomeri Watt menggunakan istilah The Critical Histori Method yang merupakan pendekatan kesejarahan yang pada prinsipnya bertujuan menemukan fakta-fakta objektifsecara utuh dan mencari nilai-nilai tertentu yang terkandung didalamnya. Seluruh kandunga syari’ah harus diarahkan menjadi sasaran pengujian yang segar dalam sinaran bukti al-Qur’an. jika orang-orang islam dengan keras dan gigih berbicara tentang kelangsungan hidup islam sebagai sistem doktrin dan praktek didunia dewasa ini sungguh-sungguh sejati (suatu pertanyaan yang jawabnya tidak mudah). yaitu: 1. Ketiga adalah memahami dan menetapkan sasaran alQur’an dengan memperhatikan secara penuh latar belakang sosiologisnya. 1. Metode Suatu Gerakan Ganda (a Double Movement) Metode ini bisa dilakukan dengan (1) membawa problem. pendekatan historis untuk menemukan makna teks al-Qur’an dalam bentangan karier dan perjuangan nabi. Hal inilah sebenarnya. kemudian sesekali Rahman melakukan komparasi diantara pendidikan di negara-negara tersebut. Fazlur Rahman menjelaskan metode ini terdiri atas tiga langkah utama. 1. telah banyak diterapkan dalam penelitian sejarah islam oleh para Orientalis seperti David S.

dilakukan juga dengan cara mengirim beberapa orang keluar negeri untuk memperoleh pelatihan dan gelar dalam studi islam. sepaerti Harun al. Kemudian pada masa abbasiyah. merumuskan world-view (pandangan dunia) al-Qur’an. Ketiga. Pendidikan Islam dalam perspektif sejarah menurut Fazlur Rahman Menurut Rahman. Sektor sosial perintah-perintah alQur’an memiliki suatu latar belakang situasional. kritis dan kreatif dalam pendidikan islam. maka situasi kontemporer juga harus dikaji untuk diambil darinya prinsip-prinsip tentang penerapan hukum terhadap situasi tersebut. dan ketiga menumbuhkan etika al-Qur’an pada konteks masa kini. gramatika. memberikan mereka pelatihan teknik penelitian modern. hukum. Selanjutnya yang dihadapi oleh institusi ini adalah masalah sumberdaya manusia. harus diterapkan terhadap masyarakat muslim dalam konteks dewasa ini. Pada satu sisi lain. dan memberikan mereka pengetahuan bahasa arab dan disiplin ilmu islam klasik yang penting seperti Hadia dan Hukum islam. Kedua sistem pendidikan ini sama-sama tidak beresnya. Rahman menerapkan tiga tahapan. perbudakan dalam islam dan dalam bidang pendidikan. Secara mendasar. perlu ada upaya untuk mengintegrasikan keduanya. menyadari betapa pentingnya bahasa dalam pendidikan dan sebagai alat untuk . kemudian berusaha memasukinya dengan konsep-konsep islam. ada pendidikan modern (sekuler).Rayid dan al-Makmun menekankan adu pendapat diantara para pelajar diistana mengenai persoalan logika. merekrut sarjana yunior lulusan unuversitas jurusan filsafat atau ilmu-ilmu sosial. Contoh penerapan metide Fazlur Rahman ini dapat dilihat dari berbagai pemikirannya seperti dalam masalah konsep Sunnah yang hidup. Karena itu. yaitu: pertama. Namun ada juga kelompok kecil yang berusaha mengembangkan kemampuan intelektual. Latar belakang situasional ini. Fazlur Rahman juga berusaha mengundang doktor-doktor dari barat untuk menjalin kerjasama dan mengawasi riset yang dilakukan oleh para mahasiswa. Gerakan pemikiran kedua adalah metode berpikir dari yang umum kepada yang khusus. sebagaimana pewahyuan al-Qur’an sendiri yang memiliki latar belakang religio-sosial yang amat konkret dalam politeisme dan disekuilibrium sosio-ekonomi masyarakat Makkah pada awal islam. dan aplikasi pemikiran Fazlur Rahman pada pendidikan islam di Indonesia. BAB IV APLIKASI PEMIKIRAN FAZLUR RAHMAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM Pendidikan islam menurut Fazlur Rahman. pembaharuan pendidikan umat islam mendesak untuk segera dilakukan dengan cara: Pertama. menurut Rahman. membangkitkan idiologi umat islam tentang pentingnya belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan . dapat dilakukan dengan menerima pendidikan sekuler modern. Namun. kedua. perintah-perintah al-Qur’an muncul tidak dalam suatu kevakuman. usahanya gagal karena tidak adanya doktor yang seperti itu. khalifah-khalifah tertentu. yang disebut ”sebab-sebab pewahyuan”.terhadap prinsip al-Qur’an dengan mana Sunnah merupakan bagian organisnya. Sebagaimana dengan latar belakang ajaran alQur’an yang harus dikaji untuk memperoleh prinsip-prinsip umum al-Qur’an. riba dan bunga bank. dan sebagainya. pembaharuan pendidikan islam. tetapi yang paling lazim adalah menghafal al-Qur’an dan al-Hadis. tetapi selalu turun sebagai solusi terhadap masalah-masalah aktual. Kemudian untuk mengoprasikan metode ini. pendidikan islam ketika masa Rasulullah menerapkan metode membaca dan menulis. kedua mensistematisasikan etika al-Qur’an. baik dinegara barat maupun timur. Secara detail menurut Rahman. Selama dipimpin oleh fazlur Rahman (1962-1968) strategi yang dicoba diterapkan untuk mengatasi permasalahan ini adalah: mengangkat beberapa lulusan madrasah yang mempunyai pengetahuan bahasa inggris. distribusi zakat. berusaha mengikis dualisme sistem pendidikan umat islam. Disamping usaha-usaha itu. Kumpulan prinsip yang diperoleh dari al-Qur’an lewat cara yang dicandera diatas (yakni dalam gerakan pemikiran pertama).

yaitu pendidikan yang dilaksanakan didunia islam seperti yang diselenggarakan dipakistan. Lebih dari itu. Pendidikan Islan menurut Fazlur Rahman Pendidikan islam menurut Fazlur Rahman bukan sekedar perlengkapan dan peralatan fisik atau kuasi fisik pengajaran seperti buku-buku yang diajarkan ataupun struktur eksternal pendidikan. Dengan mendasarkan pada al-Qur’an. Pendidikan islam dapat mencakup dua pengertian besar. tidak terpikirkan secara sadar dan dinamis. dinamis. Mesir. Sudan. yang memungkinkan manusia untuk memanfaatkan sumber-sumber alam untuk kebaikan umat manusia dan untuk menciptakan keadilan. progresif. Bahakan. dan sebagainya. dapat dikatakan bahwa menumbuhkembangkan kemampuan memecahkan masalah juga menumbuhkembangkan sifat kritis dan kreatif. Kedua. dan keteraturan dunia. Oleh karena itu. dan sebagainya. Pada awalnya sifat kritis dan kreatif yang diperlukan adalah yang memungkinkan peserta didik berani dan memiliki rasa percaya diri untuk memahami wahyu secara langsung. Turki. (2) tahap inkubasi dimana masalah seakan-akan terbawa tidur. Tahap (3) disebut tahap ilmunisasi dimana ide atau kesimpulan baru muncul tidak terduga. Pemecahan masalah bergerak dari masalah sederhana yang hanya menggunakan akal sehat sampai pada pemecahan masalah muskil yang menuntut prosedur berpikir yang lebih kompleks. pendidikan islam menurut Rahman dapat juga dipahami sebagai proses untuk menghasilkan manusia (ilmuwan) integratif. para pemikir muslim harus betul-betul kritis terhadap peradaban tersebut. Kritis dan Kreatif dalam Pendidikan Islam Sifat kritis merupakan karakter utama Rahman. kreatif. tetapi masalah itu merasuk kealam pikir yang nantinya akan mengalir keluar dalam wujud iluminasi kreatif. Maroko. pendidikan tinggi islam yang disebut dengan intelektualisme islam. tujuan pendidikan menurut Fazlur Rahman adalah untuk mengembangkan manusia sedemikian rupa sehingga semua pengetahuan yang diperolehnya akan menjadi organ pada keseluruhan pribadi yang kreatif. Saudi. Proses ini menyangkut klasifikasi dan penilaian masalah. (4) akhirnya suatu usaha sadar dilakukan untuk mencoba menentukan keshahihan dari kesimpulan yang didapat tadi sesuai dengan kriteria atau aturan-aturan ilmiah. pembaharuan dibidang metode pendidikan islam. Hal ini merupakan pertumbuhan suatu pemikiran islam yang asli dan memedai. Keempat. kemajuan. Mereka tidak lagi menganggap bahwa hasil pemahaman ulama terhadap wahyu pada masa lalu merupakan hasil yang sudah fnal. yaitu beralih dari metode mengulang-ulang dan menghafal pelajaran ke metode memahami dan menganalisis. Menurut Rahman umat islam lemah dibidang bahasa. baik dengan menggunakan langkah-langkah logika maupun eksperimen.mengeluarkan pendapat-pendapat yang orisinil. Dengan domonasinya. meliputi pendidikan dipesantren. yaitu: (1) tahap persiapan dimana masalah diselidiki dari segala arah sehingga semua informasi tentang masalah ditemukan. Sifat kritis ini ditujukan oleh Rahman baik pada warisan islam sendiri maupun pada peradaban barat. bahkan bisa juga pendidikan agama islam disekolah (sejak dari dasar sampai lajutan atas) dan pendidikan agama islam diperguruan tinggi umum. mulai dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. pendidikan islam dalam pengertian praktis. Kritis terhadap peradaban barat menjadi penting karena peradaban ini telah mendominasi peradaban dunia selama beberapa abad terahir. Disamping kritis pada diri Fazlur Rahman juga selalu mengalir sifat kreatif. Pertama. Hasil-hasil ijtihad ulama . yang padanya terkumpul sifay-sifat seperti kritis. melainkan sebagai intelektualisme islam karena baginya hal inilah yang dimaksud dengan esensi pendidikan tinggi islam. inovatif. Proses berpikir untuk memecahkan masalah berlangsung dalam empat tahap. Memecahkan masalah tidak hanya dalam konteks ilmu pengetahuan. jujur. adil. dan diperguruan tinggi islam. Bahkan ia katakan umat islam adalah masyarakat tanpa bahasa. Kemudian masalah dianalisis dan didefinisikan. dan yang harus memberikan kriteria untuk menilai keberhasilan atau kegagalan sebuah sistem pendidikan islam. peradaban barat sangat besar pengaruhnya pada peradaban umat islam sekarang. Iran. tetapi dalam semua aspek kehidupan. di madrasah (mulai dari ibtidaiyah sampai aliyah). Kemampuam memecahkan masalah terkait erat dengan kemampuan kritis dan kreatif. Untuk konteks Indonesia.

belum tentu cocok untuk mengatasi persoalan sekarang dan masa mendatang. disamping kelemahan. yaitu: (1) mempunyai pemikiran asli atau orisinil (originality). mengubah warna. pendidikan islam harus dapat mengembangkan anak didik yang kritis dan kreatif. Sosok manusia seutuhnya. Perguruan tinggi Islam jumlahnya sangat banyak.insan alkamil. dan sebagainya. Pendidikan Tinggi Islam di Indonesia. adalah al. menurut Zamrani. guru dapat dengan mudah mengetahui tingkat kekritisan dan kreatifitas mereka. (3) menunjukkan kelancaran proses berfikir (fluency). sekolah. Masing-masing dari ketiganya memiliki keunggulan. Aplikasi pemikiran Fazlur Rahman pada Pendidikan Islam di Indonesia Pendidikan islam di Indonesia dapat dibedakan kedalam dua tingkatan. disain. kebanyakan menempati posisi dipinggiran. atau tidaknya mereka. anak didik yang kritis dan kreatif paling tidak mempunyai tiga ciri yang menonjol. Diantara kegiatan pembelajara yang dapat mengembangkan daya kritis dan kreatif subyek didik adalah kegiatan yang meminta mereka. bentuk. Sebaiknya. Madrasah didirikan untuk menampung keunggulan pesantren dan sekolah. guna untuk mengatasi persoalan-persoalan yang mereka hadapi. Dalam era globalisasi. (2) mempunyai keluwesan (flixibility). atau model. Perguruan tinggi Islam didirikan sesuai dengan kondisi waktu lembaga itu didirikan. Pendidikan tinggi Islam. pembaharuan islam dalam bentuk apapun yang berorientasi pada kemajuan. Paradigma-paradigma yang mendasari perguruan tinggi Islam dewasa ini sudah tidak relevan lagi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tuntutan pembangunan nasional.masa lalu yang cocok untuk mengatasi persoalan pada waktu itu. disamping untuk menghilangkan kelemahan dari keduanya. metode diskusi dilakukan dengan terbuka. Metode lain yang tidak kalah penting adalah metode diskusi. perguruan tinggi Islam harus mampu memperbarui kurikulumnya secara mendasar. Melalui karangan bebas. Paradigma-paradigma perguruan tinggi . dan (c) perguruan tinggi yang bertujuan menghasilkan sarjana dibidang ilmu-ilmu agama Islam. menurut Rahman. misalnya. (b) pendidikan agama Islam yang disampaikan di perguruan tinggi. tetapi dalam peta perguruan tinggi di Indonesia. Dapat juga dikembangkan dengan cara mengarang. tanpa ada rasa takut dan batasan untuk mengemukakan gagasan-gagasan mereka. dalam arti bahwa subyek didik bisa secara leluasa mengadakan diskusi. Bahkan. Pendidikan tinggi Islam harus memiliki tipe ideal manusia seutuhnya. dalam dunia yang terbuka paradigma-paradigma yang mendasari lahirnya perguruan tinggi Islam perlu ditinjau kembali. sangat strategis untuk mengurai benang kusut krisis pemikiran dalam Islam yang berdampak pada stagnasi dan kemunduran peradaban umat islam. yaitu pendidikan dasar-menengah islam. Guru hendaknya bertugas membuat kondisi semacam itu. IAIN merupakan lembaga pendidikan tinggi Islam yang strategis untuk mengembangkan tradisi ilmiah umat Islam yang peduli terhadap persoalanpersoalan besar bangsa. Oleh karena itu. Kemudian pendidikan dasar-menengah islam di Indonesia dapat dibedakan lagi kedalam tiga jenis. dalam jangka pendek. mereka disuruh membuat karangan bebas. menurut islam. dan madrasah. menunjukkan kritis dan kreatif. Hal itu hampir sama dengan yang dikemukakan oleh Mastuhu. sebaliknya sekolah lemah dibidang ilmu-ilmu agama tetapi unggul dibidang ilmu-ilmu umum. menurut Fazlur Rahman. tetapi lemah dibidang ilmuilmu umum. Misalnya. Apakah mereka cenderung mencontoh karangan atau model yang sudah ada ataukah menciptakan sesuatu yang lain. dan pendidikan tinggi islam. baik dengan guru maupun sesama temanteman mereka. Tujuan dikembangkannya daya kritis dan kreatif dalam pendidikan islam adalah untuk menghasilkan output yang kritis dan kreatif. mereka harus senantiasa melakukan ijtihad. Pada umumnya pesantren unggul dibidang ilmu-ilmu agama. Atau dengan kata lain. yang darinya dapat diharapkan berbagai alternatif solusi atas problem-problem yang dihadapi umat manusia. baru merupakan: (a) pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga islam. Menurut Mastuhu. masih merupakan impian belaka. Untuk meningkatkan kedudukannya. harus bermula dari pendidikan. yaitu pesantren. Pendidikan islam dalam realitas.

visis dan misi perguruan tinggi Islam menjadi sangat sempit dan terbatas. jika dilihat dari struktur dasar epistemologinya. diperguruan tinggi Islam tidak perlu didikotomikan antara ilmu tradisional dan ilmu modern. 1. Pemikiran Fazlur Rahman jika dilihat dari prosesnya. Saran-saran . dikotomi ilmu dikalangan umat islam akan semakin terkikis. metode penafsiran secara sistematis. Secara khusus. 5. dapat dibedakan kedalam tiga periode. 6. metode suatu gerakan ganda Fazlur Rahman dapat diterapkan untuk memberi alternatif solusi atas problem-problem umat. 2. Cara ini dilakukan oleh Rahman dengan memilih ahli-ahli islam muda yang potensial dengan mengajarkannya kepada mereka metodologi barat modern. Fazlur Rahman lebih cenderung mengembangkan ilmuwan-ilmuwan muslim dari pada Islamisasi ilmu pengetahuan. tampaknya efektif untuk mencetak sumber daya manusia muslim yang handal. metodenya observasi dan eksperimen. sifat kritis dan kreatif Fazlur Rahman didasarkan pada pandangan ontologinya tentang kebebasan berkehendak mnusia yang setelah dilacak lebih lanjut ternyata berangkat dari teori besarnya mengenai pandangan dunia al-Qur’an . Dikotomi tersebut (pada akhirnya) menghasilkan alumni-alumni yang ketinggalan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. dan metode suatu gerakan ganda. Kedua. termasuk problem pendidikan. cara pembaharuan pendidikan yang disarankan Rahman terhadap pendidikan di Pakistan dapat diaplikasikan pada pendidikan tinggi Islam di Indonesia.antara ilmu agama dan ilmu sekuler. BAB V PENUTUP Kesimpulan Melalui penulisan buku ini dapat dihasilkan temuan-temuan sebagai berikut. Bahkan. dan alam semesta. Karena problem iti tidak selamanya berasal dari bidang agama. dapat ditemukan bahwa pengetahuan itu bersumber pada teks dan realitas. metodologi Fazlur Rahman dapat dikelompokkan kedalam tiga macam yaitu metode kritik sejarah.. 1. yaitu periode pertumbuhan. dll. Hal ini terkait erat dengan inti neomodernisme yang menekankan sifat kritis dan kreatif. baik bidang agama maupun bidang-bidang lain. dengan cara: pertama. Ketiga. yaitu tuhan. epistemologi-metodologi pemikiran Fazlur Rahman jika diterapkan pada pendidikan islam. mendikotomikan keduanya. alat yang digunakan adalah akal dan indra. 4. yang diikuti oleh semakin pudarnya dualisme dalam sistem pendidikan umat islam. Keempat. perlu dikembangkan diperguruan tinggi Islam secara integratif. dalam kehidupan ini. Barangkali hanya dapat memenuhi satu sektor tertentu saja didalam kebutuhan manusia Indonesia modern. menyadari akan pentingnya bahasa. Karena itu. yang kedua-duanya dikembangkan secara bersama-sama dan terpadu. Karena itu. pendekatannya historis-filosofis. maka motivasi umat islam terhadap pengembangan ilmu akan semakin kuat. kemudian mengembangkannya sebagai alat komunikasi. 3. perkembangan dan kematangan. manusia. baik secara lisan maupun tulisan. membangkitkan kembali idiologi keharusan belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Peguruan tinggi Islam dimasa depan perlu diarahkan untuk memberikan solusi atas berbagai problem yang dihadapi umat manusia. mengintegrasikan ilmu (antara ilmu agama dan ilmu umum) kedalam pendidikan tinggi Islam di Indonesia untuk kemaslahatan umat manusia. mengganti metode pendidikan secara mengulang-ulang dan menghafal dengan metode memahami dan menganalisis. Paradigma yang sektoral tersebut menganut paham dualisme yang membedakan ilmu agama dari lmu pengetahuan umum. pemikiran Fazlur Rahman.Islam itu sanagat sektoral dan mempunyai visi dan misi sangat terbatas. Cara yang ditempuh Rahman ini.

pemegang kebijakan pendidikan islam agar dapat menentukan kebijakan yang memungkinkan dapat dihasilkan alumni dari pendidikan islam yang lebih kritis dan kreatif. 5. dan praktisi pendidikan islam agar dapat mengarahkan pendidikan umat islam untuk memperbaiki peradaban mereka secara mendasar dan menyeluruh. . praktisi pendidikan islam agar dapat mengupayakan langkah-langkah yang memungkinkan terjadinya integrasi ilmu dalam islam serta integrasi dalam sistem pendidikan umat islam dalam rangka dapat menghasilkan alumni yang berkualitas tinggi. konseptor pendidikan islam disarankan dapat menyempurnakan pemikiran Fazlur Rahman tentang konsep pendidikan islam yang dapat menghasilkan alumni yang kritis dan kreatif. 4. dan validitas kebenaran pengetahuan. 2. konseptor pemegang kebijakan. cara memperoleh. pemerhati epistemologi agar dapat mengkritisi lebih lanjut mengenai konsep epistemologi Fazlur Rahman terutama tentang sumber. selanjutnya disarankan kepada: 1. jenis.Berdasarkan pada temuan-temuan sebagai mana tersebut diatas. sehingga mereka dapat menyelesaikan problem-problem mereka sendiri bahakan problem umat islam secara umum. 3.

Hal penting yang telah mempengaruhi keagamaan rahman adalah bahwa ia dididk dalam sebuah keluarga dengan tradisi madzab hanafi.kemudian pada tahun 1933 .Rahman menyelesaikan program phdnya pada tahun 1949 dengan disertasi tentang ibnu sina. inggris. dia tidak langsung pulang ke negrinya tetapi mengajak durkhem university. ia belajar bahasa latin yunani.dia menyelesaikan gelar BA nya dalam bidang bahasa arab pada Universitas Punjab.pendidikan dalam keluarganya benar –benar efektif dalam membentuk watak dan kepribadiannya untuk dapat alam menghadapi kehidupan nyata . Selama kuliah di barat.pada tahun 1942 dia berhasil menyelesaikan materinya dalam bidang yang sama di universitas yang sama.pada tahun 1960 rahman pulang ke negrinya.din . Selama jabatannya menjadi direktur rahman menjalankan dua strategi ganda yaitu mengangkat beberapa lulusan madrasah yang menguasai bahasa inggris bagi staf junior dan mencoba melatih mereka dalam teknik-teknik riset modern dan sebaliknya merekrut staf-staf senior dari kalangan lulusan universitas di .adalah seorang alim terkenal lulusan deoband e.sehingga .rahman melanjutkan studinya ke lahore dan memasuki dunia modern. Setelah tamat dari oxford university.ayahnya memperhatikan rahman dalam hal mengaji dan menghafal alquran. jerman.sebuah madzab sunni yang lebih banyak menggunakan rasio dibandingkan dengan madzab sunni lainnya. Pada tahun 1946 Rahman berangkat ke Inggris untuk melanjutkan studinya di Universitas Oxford dibawah bimbingan Es Fande Bergh dan H.ayahnya maulana sahib al.Gibb. Pada saat mengajar di durkhem university rahman menyelesaikan karya originalnya yang berjudul probheji in islam : philoshophy and ordoksi.A.(anak benua india)yang sekarang terletak di sebelah barat Pakistan. inggris. turki. kemudian di institute of Islamic studies mc gill university kanada dan menjabat sebagai associate professor of philoshiphy. yaitu Islamic studies dan fiqrun nazr berbahasa ordo.pada tahun 1940.R.pada usaia 10 tahun rahman telah hafal alquran seluruhnya . Biografi fazlur rahman Rahman lahir pada tgl 21 september 1919 didaerah hazarah . arab dan ordo. Dua tahun berikutnya disertasi tersebut diterbitkan oleh oxford unevesity press dengan judul avicinna’s psychology pada tahun 1959 karya suntingan rohman dari kitab annafs karya ibnu sina diterbitkan oleh penerbit yang sama dengan judul avecinna’s de anima.SEJARAH DAN PEMIKIRAN FAZLUR RAHMAN A. Pakistan kemudian dua tahun berikutnya dia di tunjuk sebagai direktur lembaga riset islam setelah sebelumnya dia menjabat sebagai staf di lembaga tersebut selama beberapa saat selam kepemimpinan rahman lembaga ini berhasil menerbitkan dua jurnal ilmiah.

disamping itu ia juga menjadi guru besar kajian Islam di Departemen of Near Eastern Languages and Civilization. 7. karya yang berupa artikel : a. Pada tahun 1969 ia pergi ke Amerika sebagai tenaga pengajar di universitas California Los Angeles. Ia ngajar selama 18 tahun di Chicago akhirnya ia kembali ke pangkuan Illahi Robi pada tanggal 26 Juli 1988. Major themes of the qur’an 8.bidang filsafat atau ilmu social dan member mereka pelajaran bahasa arab serta disiplin-disiplin islam klasik yang utama seperti hadits dan ushul fiqh dia juga mengirim beberapa orang ke luar negri untuk mendapatkan training dan jika memungkinkan gelar-gelar dalam kajian keislaman baik di uneversitas barat maupun timur Pada tahun 1964 rahman ditunjuk sebagai dewan ideology islam pemerintahan islam. being the psychological part of kitab al-shifa 4. Avecinna’s psychology 2. Islamic methodology in history 6. Islamic : challenges and opportunities c. Islam and modernity : transformation of an intellectual tradition 9. pemerintah Pakistan setelah beberapa saat melepas jabatannya di lembaga research. Prophecy in islam : philosophy and orthodoxy 3. Health and medicine in Islamic tradition 2. Toward reformulating the methology of Islamic law : syaikh yamnai on “public interest” in Islamic law . B. Prestasi fazlur rahman 1. Avecinna’s de Anima. Philosophy of mulla sadra shirazi 5. ‘some Islamic issue in the ayyub khan era’ b. Islam. Karya-karya yang berupa buku : 1. Univercity of Chicago.

sudan. pendidikan islam menurut rahman dapat juga di pahami sebagai proses untuk menghasilkan manusia integrative. Islam : legacy and contemporary challenge. Roots of islamics neo fundamentalism g. inovatif. yaitu pertama. pendidukan islam yang di sebut dengan intelektual islam. iran. The impact of modernity on islam i. dan yang harus memberikan kriteria untuk menilai keberhasilan atau kegagalan sebuah system pendidikan islam. Pendidikan islam dapat mencakup dua pengertian. Islamic modernism : its scope. . bajhkan bisa juga pendidikan agama islam di sekolah dan pendidikan agama islam di perguruan tinggi umum. melainkan sebagai intelektualisme islam karena baginya hal inilah yang dimaksud dengan esensi pendidikan tingi islam. meliputi pendidikan di pesantren. the universe and man m. dan di perguruan tinggi islam. Kedua. Hal ini merupakan pertumbuhan suatu pemikiran islam yang asli dan memadai. Interpreting the qur’an l. Corak Pemikiran Rahman Dalam Pendidikan Pendidikan islam menurut rahman bukan sekedar perlengkapan dan perlalatan fisik atau kuasi fisik pengajaran seperti buku-buku yang di ajarkan ataupun stuktur eksternal pendidikan. progresif. dinamis. Some key etical concept of the qur’an PEMBAHASAN A. Divine revelation and the prophet k. mulai dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. Lebih dari itu. di madrasah.d. The qur’anic consept of god. adil. method and alternatives j. kreatif. pendidikan islam dalam pendidikan praktis yaitu pendidikan yang dilaksanakan di dunia islam seperti yang di selenggarakan di Pakistan. yang padanya terkumpul sifat-sifat seperti kritis. maroko dan sebagainya. Saudi. jujur dan sebagainya. Untuk Indonesia. Islam in the contemporary world f. e. Change and the muslim world h.

Dunia bernilai lebih rendah. Semula ia mengembangkan metode kritik sejarah. thobi’iyah. Evaluasi pendidikan digunakan untuk mengetahui seberapa jauh tujuan pendidikan telah tercapai. solusi atas problem-problem pendidikan umat Islam kontemporer. al-hadits. Tujuan pendidikan menurut Fazlur Rahman adalah untuk mengembangkan manusia sedemikian rupa sehingga . padasaat itu sekolah tidak melaksanakan ujian akhir tahun tetapi peserta didik bias naik ke tingkat yang lebih tinggi dengan rekomendasi guru-gurunya. tujuan utama drai pendidikan adalah untuk menyelamatkan manusia dari dirin sendiri. namun ada juga kelompok kecil yang berusaha mengembangkan kemamp[uan intelektual. Illahiyah. fiqih. Al-qur’an sering kali berbicara tentang dunia dan akhirat. dan akhirnya disempurnakan menjadi metode gerakan ganda (a doble movement). materialis serta hasil yang tidak memuaskan. Metode demikian ini menurut Fazlur Rahman dikenal dengan metode belajar secara mekanis. yang memungkinkan manusia untuk memanfaatkan sumber-sumber alam untuk kebaikan umat manusia dan untuk menciptakan keadilan. Metode pembelajaran abad pertengahan: membaca dan mengulang-ulang sampai hafal. tetapi yang paling lazim adalah menghafal Al-Qur. adab. komentar dan superkomentar. berhitung. Ia berhasil mengembangkan suatu metode yang dapat member alternative. Tanggung jawab pendidik yang pertama adalah menanamkan pada pikiran-pikiran peserta didik dengan nilai moral. Fazlur Rahman memiliki berbagai pemikiran yang terkait dengan pengan pendidikan umat Islam. Pendidikan islam didasrkan pada ideology islam karena itu pada hakikatnya pendidikan islam tidak dapat meninggalkan keterlibatannya pada persepsi benar dan salah. lebih baik dan menjadi tujuan dari kehidupan. Al-qur’an menyuruh manusia mempelajari bumi seisinya dengan cermat dan mendalam serta mengambil pelajaran darinya agar dapat menggunakan pengetahuanya dengan tepat dan tidak berbuat kerusakan. dan astronomi.Berdasarkan Al-qur’an. Dalam berbagai bentuk menurut Fazlurr Rahman pendidiken Islam ketika jaman pertengahan menerapkan metode membaca dan menulis. kemudian dikembangkan lebih lanjut menjadi metode penafsiran sistematis (the systematic interpretation method). kemajuan dan keteraturan dunia. Al-Qur’an. Akhirat bernilai lebih tinggi.an dan Al-hadits. Tujuan pendidikan Islam menurut Fazlur Rahaman untuk memenuhi kewajiban terhadap Allah dan Rasul-Nya serta tercapainya kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Karena itu. tujuan pendidikan menurut rahman adalah untuk mengembanngkan manusia sedemikian rupa sehigga semua pengetahuan yang di perolehnya akan menjadi organ pada keseluruhan pribadi yang kreatif. Materi pendidikan menurut Fazlur Rahman meliputi mebaca dan menulis. oleh diri sendiri dan untuk diri sendiri.

Secara mendasar pembaharuan pendidikan Islam menurut Fazlur Rahman dapat dilakukan dengan menerima pendidikan. B. Karena itu perlu ada upaya mengintegrasikan keduanya.yang darinya dapat diharapkan berbagai alternative atas problem-problem yang dihadapi umat manusia.Sesuatu yang . Menurut Rahman umat Islam adalah masyarakat tanpa bahasa karena lemah di bidang bahasa. Menyadari betapa pentingnya bahasa dalam pendidikan dan sebgai alat untuk mengeluarkan pendapat-pendapat yang orisinil. Menurut Fazlur Rahman.umat islam tidak dapat secara efektif pentingnya pengetahuan dengan orientasi ideologinya.tapi tidak dapat menghadapi tantangan kehidupan modern. Menurut Fazlur rahman .menurut Mastuhu. 2. Untuk mengetahui seberapa jauh tujuan pendidikan itu telah tercapai. 4.problem pendidikan Islam yang paling mendasar dewasa ini adalah problem ideology.IAIN merupakan lembaga pendidikan tinggi Islam yang strategis untuk mengembangkan tradisi ilmiah umat islam yang peduli terhadap persoalanpersoalan besar bangsa. kemajuan serta keteraturan dunia. Berusaha mengikis dualism system pendidikan tradisional (agama). Pembaharuan di bidang metode pendidikan Islam yaitu dari metode mengulang-ulang dan menghafal pelajaran ke metode memahami dan menganalisis.Problem yang sangat pelik adalah timbulnya dualism dalam system pendidikan ini dikarenakan karena adanya dikotomi ilmuhal ini dapat diperhatikan secara seksama pendidikan islam yang berbentuk lembaga mulai dari tingkat MI sampai Perguruan tinggi hanya bias ncetak para generasi yang tahu nilai nilai agama islam .Relevansi pemikiran pendidikan Fazlur rahman dengan pendidikan islam sekarang Pendidikan tinggi Islam menurut Fazlur Rahman sangat strategis untuk megurangi benang kusut krisis pemikiran dalam islam yang berdampak pada stagnasi dan kemunduran peradaban islam. 3.akibatnya adalah mereka tidak terdorong untuk belajar. maka perlu dilakukan evaluasi terhadap performance peserta didik terutama dalam memanfaatkan sumber-sumber alam untuk kebaikan manusia dan dari segi keberhaasilan menciptakan keadilan.harus bermula dari pendidikan. pembaharuan dilakukan dengan cara: 1. Membangkitkan ideologi umat Islam tentang pentingnya belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan. dan pada sisi lain ada pendidikan modern (sekuler).bahkan.menurut fazlur rahman pembaharuan islam dalam bentuk apapun yang berorientasi pada kemajuan.pengetahuan ynag diperolenhya akan menjadi pribadi yang kritis dan kreatif yang memungkinkannya pemanfaatan sumber-sumber alam untuk kebaikan. untuk manusia dan untuk menciptakan keadilan dan kemajuan dunia. Kedua system ini sama-sama tidak beresnya. kemudian berusaha memasukinya dengan konsep-konsep Islam.hal itu hampir sama dengan yang dikemukakan oleh matuhu.bahkan mereka tidak sadar kalau berada di bawah perintah moral kewajiban islam untuk menuntut ilmu pengetahuan.

Gerak ganda atau Doble movement yang dimaksud rahman yakni ada dua tempat yang harus di perhatikan yakni sumber yang dalam kategori rahman adalah al-quran dan assunnah sementara tempat yang kedua yakni realitas social atau social cultural masyarakat setempat.oleh sebab itu fazlur rahman memberikan beberapa alternative yang sangat bagus baik melalui karya –karyanya maupun teorinya yakni double movement.Dalam wilayah ini pelaku pendidikan melakukan proses perenungan yang mendalam agar lembaga pendidikan dapat memadukan hal tersebut . melainkan sebagai intelektualisme islam karena baginya hal inilah yang dimaksud dengan esensi pendidikan tingi islam.dan hasilnya dari proses tersebut baru dibuat dasar dalam pendirian dan pengembangan pendidikan islam.Ini dalam bidang keilmuan .kebutuhan masyarakat.tantangan kedepan.Kemudian pelaku lembaga pendidikan harus menarik problem tersebut kedalam daerah sumber .bunuh diri.langkah yang harus ditempuh dalam pendidikan yakni selaku pihak yang ingin mendirikan lembaga pendidikan islam haruslah dapat melihat realitas.padahal kita tahu sendiri bahwa di sumber agama islam di Kitab sucinya Alqur’an selalu tidak memisahkan antara ilmu agama dan umum. PENUTUP KESIMPULAN Berdasarkan pembahasan Fazlur Rahman di atas maka dapat disimpulkan bahwa Pendidikan tinggi Islam sangat strategis untuk megurangi benang kusut krisis pemikiran dalam islam yang berdampak pada stagnasi dan kemunduran peradaban islam.dalam bidang menajemen pendidikan islam juga harus bersifat terbuka terhadap menajemen yang baru dan bersifat efektif .kalau pendidikan islam diteruskan seperti ini dapat diprediksi beberapa tahun kemudian pendidikan islam akan menjadi pendidikan yang ketinggalan dan tidak diminti oleh masyarakat (stakeholder) Menurut rahman untuk memenuhi target yang telah didambakan oleh masyarakat.dan tindakan amoral lainnya merkipun sudah berpendidikan.akibatnya tidak pelik orang yang mengalami stess .yang darinya dapat diharapkan berbagai alternative atas problem-problem yang dihadapi umat manusia. Pendidikan islam menurut rahman bukan sekedar perlengkapan dan perlalatan fisik atau kuasi fisik pengajaran seperti buku-buku yang di ajarkan ataupun stuktur eksternal pendidikan.berkebalikan juga terjadi pendidikan umum dari tingkat SD sampai perguruan tinggi umum hanya bias mencetak orang yang sanggup bersaing didunia modern tapi gersang dengan nilai nilai agama islam. bahkan pembaharuan islam dalam bentuk apapun yang berorientasi pada kemajuan. Hal ini .Serta fungsi rahmatan lil alamin dapat meluas pendidikan islam haruslah melakukan teori gerak ganda sebelum menentukan target atau tujuan dari pendirian lembaga pendidikan tersebut. Walaupun gagasan rahman disini hanya bersifat teoritis dan belum selesai tapi para ilmuwan berikutnya berhasil mengembangkan konsep Rahman tersebut dengan adanya berbagai pendekatan keilmuan pendidikan islam mulai dari islamisasi ilmusampai intergarasi dan interkoneksi.

Sutrisno. 1982. America. Pendidikan Islam yang menghidupkan. 167. +++++ Sutrisno. 18. America. DAFTAR PUSTAKA Sutrisno.(Yogyakarta: Kota Kembang.hal 35-37. Pendidikan Islam yang menghidupkan. 2006). Islam and Modernity: Transformation of an Intellctual Tradition. Islam and Modernity: Transformation of an Intellctual Tradition. hal. Epistemology dan System Pendidikan. op.. Fazlur Rahman Kajian Terhadap Metode. dan yang harus memberikan kriteria untuk menilai keberhasilan atau kegagalan sebuah system pendidikan islam. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar:2006).(Yogyakarta: Kota Kembang. Sutrisno. 2006) Fazlur Rahman. Epistemology dan System Pendidikan. the University of Chichago Press. hal. 1982 Sutrisno. Yogyakarta: Pustaka Pelajar:2006 Rahman. . Fazlur . Fazlur Rahman Kajian Terhadap Metode.merupakan pertumbuhan suatu pemikiran islam yang asli dan memadai. hal. 106-107. the University of Chichago Press.cit.

PEMBAHASAN 1. Gibb. Rahman dianggap berhasil melaksanakan rekonstruksi dan dekonstruksi dalam metodologi studi hukum Islam. Bagaimana relevansi pemikiran Fazlur Rahman dalam konteks zaman ini? III.PEMBAGARUAN PEMIKIRAN HUKUM ISLAM ( BELAJAR DARI FAZLUR RAHMAN ) PEMBARUAN PEMIKIRAN HUKUM ISLAM: BELAJAR DARI FAZLUR RAHMAN I. along with a body of well developer hermeneutical and paralogical techniques.[2] Salah satu dari pemikir itu adalah Fazlur Rahman yang disebut-sebut sebagai tokoh neomodernis yang penting. orientasi hukum Islam perlu selalu diarahkan pada kemajuan (the idea of progress). Kedudukan Rahman ini mendapatkan banyak kritik dari para ulama tradisional Pakistan terlebih latar belakang pendidikannya dari Barat. Kembalinya Rahman ini karena permintaan Ayyub Khan yang kemudian pada 1962 menyerahinya tanggungjawab sebagai pemimpin Islamic Research Institute dan The Advisory Council of Islamic Ideology. Rahman kecil hidup dalam tradisi Hanafi yang kuat dan praktis ritualitas keagamaan ia laksanakan dengan penuh ketaatan.”[1] Bukti kompetensi dialektika wahyu dengan realitas adalah warisan ushul fiqh dan fiqh yang kaya dalam sejarah Islam. Kanada. “islamic law is a repertoire of precedents. Rahman mengajar di Universitas Durham yang semakin memperlihatkan kepadanya distingsi pendidikan modern di Barat dan Islam tradisional di negerinya. dari wilayah yang sekarang terletak di barat laut Pakistan ini telah melahirkan tokoh-tokoh sekaliber Sayyid Ahmad Khan. Kecenderungan ini telah dimiliki oleh para pemikir kontemporer setelah berhasil mematahkan mitos tentang ketertutupan pintu ijtihad (‘insidad bab al-ijtihad) dan mengeliminir taklid. Pakistan. Pada tahun 1946 Fazlur Rahman berangkat ke Inggris untuk belajar di Universitas Oxford yang kemudian mendapatkan bimbingan dari Prof. Bagaimana pembaruan pemikiran hukum Islam Fazlur Rahman? 2. PENDAHULUAN Secara natural dan historis. Syekh Waliyullah. Meskipun sebagian umat merasa cemas dengan kehadiran modernitas. Pendidikan doktor Rahman ini selesai pada 1949 dengan disertasi berjudul Avicenna’s Psychology yang kemudian diterbitkan oleh universitas tertua di Eropa itu. Dari sang ayah. Biografi dan Karya-karya Fazlur Rahman Pada 21 September 1919 Fazlur Rahman dilahirkan dari keluarga muslim religius di Hazara. Lebih-lebih pada periode ini Rahman menulis di sebuah jurnal bernama Fikr al-Nadzar yang menggugat . sebuah daerah di Anak Benua Indo Pakistan. Setelah lulus dari pendidikan menengahnya.[3] II. Rahman menerima pendidikan tradisional di samping pendidikan modern di Lahore yang mulai dijalani sejak 1933. Van Den Berg dan HAR. hukum Islam selalu dapat didesain untuk mengikuti perubahan-perubahan yang terjadi. Selama belajar di Oxford. RUMUSAN MASALAH 1. dan Muhammad Iqbal. cases and general principles. Meskipun demikian dialektika pemikiran Rahman tidak hanya dalam tradisi sunni tetapi juga syi’i. Karena itulah Aziz Al-Azmeh berkomentar. Namun sebagaimana zaman yang tidak tetap dan dinamis. S. Rahman melanjutkan pendidikan dengan konsentrasi bahasa Arab di Lahore dan memperoleh gelar Bachelor of Art pada 1940 dan menyelesaikan studi masternya dua tahun berikutnya. Selain Rahman. Latar belakang keluarga Rahman yang terbuka membuat ia tidak kesulitan untuk memperoleh pengetahuan baru dan pendidikan modern. hukum Islam telah membuktikan diri sebagai bagian dari kehidupan muslim yang inovatif. Maulana Syahab al-Dien. Pada awal 1960-an Rahman kembali ke negerinya setelah 3 tahun mengajar di Universitas McGill.

Meskipun demikian Rahman sebetulnya tidak pernah lepas dari teks (beyond the text) sehingga pengembangan tafsirnya dianggap merupakan rekonstruksi atas pola tafsir bi al-ma’tsur[7] yang akan terlihat dalam penggunaan beberapa contohnya nanti. Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition. Sementara itu pada periode terakhir Rahman di Chicago semakin memberikan ruang yang luas bagi pemikiran Islam. Tulisan di jurnal ini kemudian menjadi dua bab pertama dalam buku Islam. namun secara khusus tertuju pada pemikiran Islam dan Islam normatif. dan kedua. Dalam periode ini dapat dilihat pada karya Islamic Methodology in History dan Islam. Nashr Hamd Abu Zayd menyebut ilmu asbab an-nuzul sebagai sebuah ilmu yang digunakan untuk memahami hubungan teks (nash. pada akhir tahun 1969 Rahman berangkat ke Amerika menuju Universitas California. pertama-tama menjadi landasan bagi konsepsi mengenai teks yang tidak terlepas dari konteksnya. Rahman menutup usianya pada 16 Juli 1988 saat berusia 69 tahun. tetapi juga aspek politiknya. karya-karya yang lain tetap penting untuk diketahui dan dianalisis. Sebagaimana diketahui. Rahman kemudian pindah ke Chicago dan menghabiskan banyak waktu di sana untuk menuliskan karya-karyanya.[8] Namun meskipun demikian sejumlah ayat memang diturunkan tidak dalam kondisi merespon lingkungan yang . Pada 5 September 1968 akhirnya Rahman mengundurkan diri dari Islamic Research Institute dan setahun berikutnya. Dalam konteks inilah. dan diangkat sebagai guru besar pemikiran Islam di universitas tersebut.[5] Pada pertengahan dekade 1980-an Rahman mulai menunjukkan penurunan kesehatan meskipun masih bersemangat dalam berkarya. Sebagaimana para intelektual progresif yang lain. Karya-karya masa awal Rahman dipenuhi dengan kajian-kajian historis murni. Sebagai guru besar di UCLA dan Chicago. Pemikiran Hukum Islam Fazlur Rahman Melalui sekilas biografi Rahman tertangkap pergeseran pemikiran dari satu masa ke masa lain yang dipengaruhi oleh gejolak kehidupannya. Tetapi banyak pengamat menilai sesungguhnya kritik dan demonstrasi itu bukan ditujukan kepada Rahman. Rahman memulai keberangkatan pemikirannya pada apa yang disebut para sarjana sebagai “metode kritik sejarah” (critical historical method) dan kemudian lebih detail diurai dalam konsep double movement. Rahman mendapat pengakuan secara internasional dengan salah satunya menerima penghargaan prestisius Giorgio Levi Della Vida dari Gustave E. setiap teks selalu berangkat dari sebab-sebab eksternal dan kemudian mengakumulasi keadaan itu dalam “uraian” teks. Los Angeles. Ini berbeda dengan periode 1960-an ketika Rahman telah kembali ke Pakistan yang meskipun masih beraroma historis dalam kajiannya. tetapi untuk menentang Ayyub Khan. dan tercakup di dalamnya hukum Islam sebagaimana karya-karya periode ini dalam uraian biografi di atas. dan Prophecy in Islam merupakan karya-karya historis secara umum. Bahkan sentimen atas Barat cukup kuat.eksistensi wahyu dalam pandangan tradisional. Setelah beberapa saat memperoleh perawatan medis di Chicago. bukan hanya karena kebudayaan dan pemikirannya. pertama. Sebuah buku yang terbit setelah ia wafat adalah Revival and Reform in Islam: A Study of Islamic Fundamentalism. 1. umat Islam kurang menghayati relevansi al-Qur’an untuk masa kini sehingga tidak mampu memberikan jawaban bagi masalah-masalah baru. di masa Rahman hidup masih didominasi oleh kalangan tradisional yang kokoh dalam penafsiran tekstualis atas al-Qur’an. Avicenna’s de Anima. Avicenna Psycology. Mengenai hal ini Rahman menguraikan dua problem utama umat Islam. Metode kritik sejarah.[4] Pakistan. Von Grunebaum Center for Near Eastern Studies dari UCLA yang hingga saat ini dirinyalah sebagai satu-satunya muslim yang menerima award itu. Major Themes of The Qur’an. Pada periode ini beberapa karya yang lahir antara lain The Philoshophy of Mulla Sadra.[6] Tawaran Rahman mengenai kontekstualisasi ini secara terus menerus disuarakan melalui karyakaryanya. umat Islam sendiri memendam kekhawatiran jika al-Qur’an disajikan dengan cara di atas akan menyimpang dari pemahaman-pemahaman tradisional. Gelombang protes terhadap Rahman mencapai puncak ketika terjadi pemogokan massal pada September 1968 di beberapa daerah yang membuatnya berpikir ulang tentang masa depan pemikirannya di Pakistan. al-Qur’an) dan realitas tersebut. Karena itulah diskusi mengenai pemikiran hukum Islam akan lebih banyak merujuk pada karya-karya Rahman periode kedua dan ketiga meskipun sebagai sebuah pemikiran seseorang secara keseluruhan. Rahman merasakan kekhawatiran atas kondisi umat Islam kontemporer yang terpuruk sebagai akibat kejumudan berpikir. dan Health and Medicine in Islamic Tradition.

Dengan cara inilah Rahman melaksanakan fungsi ijtihad pada al-Qur’an agar kontekstual dan fungsional untuk masa ini. Of course. a general study of the macrosituation in term society. Sehingga penting di sini untuk menegaskan berartinya pengetahuan akan sebuah realitas yang memproduksi teks guna menemukan makna dari sebuah teks. tetapi pada perkembangan berikutnya. of life as a whole in Arabia on the eve of Islam and particularly in and around Mecca – not excluding the Perso-Byzantine wars. Selain itu juga menolak epistemologi model Immanuel Kant yang justru usianya lebih tua dibandingkan positivisme.[13] Meskipun Islam sangat terinspirasi dari perkembangan filsafat terutama Yunani.[14] Pilihan Rahman atas hermeneutika adalah karena ia lebih dekat dengan ilmu-ilmu kemanusiaan (Geisteswissenschaften) yang objeknya adalah ekspresi kehidupan (Lebensaeusserung). and institution. dibandingkan ilmu-ilmu kealaman yang cenderung mencari penjelasan atas hubungan kausalitas (erklaren). (2) “gramatis”. baik dari aliran –mengutip Syahrastani– “filosof generasi awal” maupun “filosof generasi belakangan”. religion. dan kemudian ia memilih hermeneutika sebagai kerangka utama dalam membangun ilmu-ilmu keislaman. Karena alasan inilah Rahman lebih memilih post-positivistik yang memfokuskan diri pada fenomena sosial tanpa mengabaikan peran sentral subjek manusia. atau umum. indeed. sangat tampak sebenarnya Rahman menjadikan al-Qur’an sebagai sentral penelitian untuk merekonstruksi pemikiran Islam. pemahaman atas karya yang dikaitkan dengan pengetahuan utuh dari pengarang dan pandangan utuhnya (Geist) pada masa itu. saintis. The first step of the first movement. sebuah pemahaman yang dikaitkan dengan aspek kebahasaan. penafsiran “hermeneutika” (seperti digunakan oleh Mu’tazilah) tidak sedahsyat penggunaan penafsiran tekstual (burhani) ataupun irfani. sebuah pemahaman yang terkait dengan isi sebuah karya.[10] Hermenetika sendiri menjadi semacam klarifikasi karya “melalui pengembangan makna internalnya dan hubungan bagian-bagian dalamnya dengan masing-masing yang lain dan dengan spirit masa secara lebih luas”. Mengenai proses double movement. customs.[9] Dari sepintas eksplorasi di atas. before coming to the study of specific text in the light of specific situation.[12] Khazanah keislaman yang mengakomodir gaya seperti ini dikategorikan al-Jabiri ke dalam “sistem burhani” yang memang langka ditemukan di dalam sejarah Islam. (1) “historis”.[15] Kontekstualisasi al-Qur’an dengan menggunakan prinsip-prinsip hermeneutika digunakan Rahman untuk tidak hanya membaca “teks horisontal” (ruang dan waktu manusia) tetapi juga “teks vertikal” (memahami kehendak Tuhan). Dengan cara ini akan ditemukan ideal law (hukum ideal) yang berbeda dari aturan-aturan hukum (legal law) karena berisi prinsip-prinsip etika atau prinsip-prinsip umum (ratio legis). yang karya-karyanya dirujuk oleh tokoh hermeneutika Schleirmacher. consists of understanding the meaning of the qur’an as a while as well as in term of the specific tenets that constitute responses to specific situation. one must understand the import or meaning of a given statement by studying the historical situation or problem to which it was the answer.” . dan (3) “geistige”. Sebagai salah satu metode dari “memahami” (verstehen).will have to the made.eksternal yang jumlahnya sangat sedikit. Rekonstruksi epistemologi Rahman berangkat dari penggunaan tradisi berpikir yang post-positivistik. yang dapat berupa artistik. then. The second step is to generalize those specific answers and enunciate them as statements of general moral-social objectives that can be “distilled” from specific text in light of sociohitorical back ground and the often-stated rationes legis.[11] Friedrich Ast. penulis akan mengutipnya di bawah ini[16]: “first. membagi tugas ini ke dalam tiga bagian atau pemahaman. Rahman sendiri tidak mencukupkan diri pada tradisi berpikir positivistik karena dianggap melahirkan dehumanisasi meskipun telah berjasa membuat peradaban Barat berkembang dan maju. Untuk menemukan ideal law inilah maka Rahman menawarkan double movement itu untuk mendeteksi maksud wahyu dan menjalankan fungsi tersebut di masa ini. tugas dari hermeneutika adalah bagaimana memahami teks maupun realitas sosial di masa lampau yang asing sama sekali menjadi milik orang yang hidup di zaman ini yang secara kultur jelas berbeda.

tetap menjaga kreativitas itu pada jalan moral yang benar. maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua.[18] Sebagaimana telah sedikit disinggung. pertama.[19] Pemahaman Rahman di atas menjadi bagian penting dalam keinginannya untuk. Pemahaman (kebolehan 4 istri) ini tidak lagi sesuai dengan kedudukan antara laki-laki dan perempuan yang sama. potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Selain itu. maka (kawinilah) seorang saja. sementara gerakan kedua dibutuhkan keahlian social scientist untuk memformulasikan “the social-moral objective” untuk kondisi saat ini. An-Nisa’: 3) Ayat di atas memang menunjukkan kebolehan pernikahan hingga 4 orang wanita dan telah dipraktikkan oleh masyarakat Arab sebelum ayat ini turun. metodologi Rahman sangat membutuhkan kekayaan khasanah Islam klasik seperti ilmu asbab an-nuzul meskipun dengan perluasan paradigma. Wx»s3tR z`ÏiB «!$# 3 ª! $#ur ͕tã ÒOŠÅ3ym ÇÌÑÈ Artinya: “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri. Al-Maidah: 38). memaksimalkan kreativitas manusia. Jika di dalam sebuah ayat terkandung yang legal spesific dan moral idea.” (QS. Idea moral dari ayat ini adalah memotong kemampuan pencuri agar tidak mencuri lagi. gerakan pertama membutuhkan keahlian para sejarawan untuk menggali keadaan spesifik turunnya ayat maupun keadaan secara keseluruhan Mekah dan Arabia di masa itu. Yang paling penting adalah bagaimana cara mengamputasi segala kemungkinan yang membuat seseorang mengulangi perbuatannya itu dan menghargai kepemilikan pribadi seseorang.[20] Untuk menjaga “jalan moral” inilah dianggap penting untuk merujuk pada nilai-nilai yang etis atas apa yang diwahyukan oleh Tuhan.[21] ä-Í‘$¡¡9$#ur èps%Í‘$¡¡9$#ur (#þqãèsÜø%$$sù $yJßgtƒÏ‰÷ƒr& Lä!#t“y_ $yJÎ/ $t7|¡x. adil tidak mungkin dipenuhi oleh laki-laki. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil. Hal lain dari Rahman yang juga dipengaruhi oleh asy-Syatibi adalah pandangannya mengenai apa yang populer disebut “idea moral”. Karena itulah hukuman potong tangan merupakan budaya Arab. tetapi perlu memahami “konteks makro” sebuah ayat. tiga atau empat. mencuri menurut kebudayaan adalah kejahatan ekonomi dan kejahatan melawan nilai-nilai dan harga diri manusia. bukan hukum Islam. dan kedua. atau budak-budak yang kamu miliki. Karena itulah menurut Rahman pesan terdalam yang hendak diutarakan oleh alQur’an bahwa pernikahan itu berasas monogami. sementara gerakan kedua untuk memformulasikan dan merealisasikan “general view to the spesific view”.[17] Dengan demikian. Tetapi bagi Rahman ayat ini perlu dipahami dalam nuansa etisnya secara komprehensif dengan melihat kondisi sosio kultural Arab dan sebab-sebab ayat ini turun. maka seharusnya idea moral itulah yang dijadikan sandaran untuk “menghukumi” perbuatan hukum saat ini.[22] . Bahkan sebetulnya ini bukanlah hal baru karena sebelumnya telah dipikirkan oleh Imam asy-Syatibi dalam al-Muwafaqat fi ushul al-shari’ah. Tetapi di era ini mencuri hanyalah kejahatan ekonomi sehingga bentuk hukumannya harus berubah. Bahwa tidak cukup memahami “maksud Syari’” hanya dengan melihat “konteks mikro” ayat al-Qur’an. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. Dua contoh yang di antaranya diajukan oleh Rahman adalah ayat tentang poligami dan hukum potong tangan sebagaimana penjelasan sebagai berikut: ÷bÎ)ur ÷LäêøÿÅz žwr& (#qäÜÅ¡ø)è? ’Îû 4‘uK»tGu‹ø9$# (#qßsÅ3R$$sù $tB z>$sÛ Nä3s9 z`ÏiB Ïä!$|¡ÏiY9$# 4Óo_÷WtB y]»n=èOur yì»t/â‘ur ( ÷bÎ*sù óOçFøÿÅz žwr& (#qä9ω÷ès? ¸oy‰Ïnºuqsù ÷rr& $tB ôMs3n=tB öNä3ãY»yJ÷ƒr& 4 y7Ï9ºsŒ #’oT÷Šr& žwr& (#qä9qãès? ÇÌÈ Artinya: “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya).Pergerakan pertama double movement dimaksudkan untuk menarik prinsip-prinsip umum dan nilai-nilai. Moral idea inilah yang merupakan pemikiran kembali (rethinking) atas konsep asy-Syatibi yang dengan brilian mengeksplorasi tentang “the moral religious bases of the law –‘the objective of the law (maqashid asysyar’) or ‘the intentions of the Shari’a obligations’ (asrar al-taklif)”. Dalam sejarah Arab. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS.

janganlah kamu shalat. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan. an-Nahl: 66). (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub. mengadakan “pesta minum” yang kemudian terjadi percekcokan dan perselisihan hebat di antara mereka karena mabuk. sesungguhnya (meminum) khamar. an-Nahl ayat 66 hingga 69 akan dikutip di sini salah satunya. Pada awalnya. Keadaan kemudian berubah saat muslim mulai berpindah ke Medinah. sapulah mukamu dan tanganmu. Sesunggguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan” (QS.`ÏB Èû÷üt/ 7^ö ヘ sù 5QyŠur $·Yt7©9 $TÁÏ9%s{ $Zóͬ!$y™ tûüÎ/Ì ヘ»¤±=Ïj9 ÇÏÏÈ Artinya: “Dan dari buah korma dan anggur. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan . yaitu ayat 66 dimana Tuhan awalnya tidak mempermasalahkan a’nab (anggur): ¨bÎ)ur ö/ä3s9 ’Îû ÉO»yè÷RF{$# ZouŽö9Ïès9 ( /ä3‹É)ó¡ン S $®ÿÊeE ’Îû ¾ÏmÏRqäÜç/ .’ Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir. hingga kamu mandi. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. terkecuali sekedar berlalu saja. berjudi. ßûÎiüt7ムª!$# ãNä3s9 ÏM»tƒFy$# öNà6¯=yès9 tbrã ヘ©3xÿtFs? ÇËÊÒÈ Artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah: ‘Yang lebih dari keperluan.’ Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. kamu buat minimuman yang memabukkan dan rezki yang baik.[23] Dari QS. sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan. #‚qàÿtã #·‘qàÿxî ÇÍÌÈ Artinya: “Hai orang-orang yang beriman. Lalu turun kemudian ayat di bawah ini: $pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãYtB#uä Ÿw (#qç/t ヘ ø)s? no4qn=¢Á9$# óOçFRr&ur 3“t ヘ»s3ß™ 4Ó®Lym (#qßJn=÷ès? $tB tbqä9qà)s? Ÿwur $·7ãYã_ žwÎ) “Ì ヘ Î/$tã @@‹Î6y™ 4Ó®Lym (#qè=Å¡tFøós? 4 bÎ)ur LäêYä. maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci). mengundi nasib dengan panah.” Setelah ayat di atas. #ÓyÌó ミ£D ÷rr& 4’n?tã @ヘ xÿy™ ÷rr& uä!$y_ Ó‰tnr& Nä3YÏiB z`ÏiB ÅÝͬ!$tóø9$# ÷rr& ãLäêó¡yJ»s9 uä!$| ¡ÏiY9$# öNn=sù (#r߉ÅgrB [ä!$tB (#qßJ£Ju‹tFsù #Y‰‹Ïè|¹ $Y7ÍhŠsÛ (#qßs|¡øB$$sù öNä3Ïdqã_âqÎ/ öNä3ƒÏ ‰÷ƒr&ur 3 ¨bÎ) ©!$# tb%x.£‰ÝÁtƒur `tã Ì ヘ ø.Lalu bagaimana cara mencapai “idea moral” itu? Dalam hal ini Rahman mencontohkannya dengan larangan meminum khamr yang diekspos oleh wahyu secara bertahap. sedang kamu dalam keadaan mabuk. Sesungguhnya Allah Maha Pema'af lagi Maha Pengampun” (QS.ÏŒ «!$# Ç`tãur Ío4qn=¢Á9$# ( ö@ygsù LäêRr& tbqåktJZ•B ÇÒÊÈ Artinya: “Hai orang-orang yang beriman. Lalu turunlah ayat terakhir mengenai khamr itu[24]: $pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä $yJ¯RÎ) ã ヘ ôJsƒø:$# çŽÅ£øŠyJø9$#ur Ü>$|ÁRF{$#ur ãN»s9ø—F{$#ur Ó§ô_Í‘ ô`ÏiB È@yJtã Ç`»sÜø‹¤±9$# çnqç7Ï^tGô_$$sù öNä3ª=yès9 tbqßsÎ=øÿè? ÇÒÉÈ $yJ¯RÎ) ߉ƒÌ ヘ ムß`»sÜø‹¤±9$# br& yìÏ%qムãNä3uZ÷マ t/ nourºy‰yèø9$# uä!$ŸÒøót7ø9$#ur ’Îû Ì ヘ÷Ksƒø:$# ÎŽÅ£÷マ yJø9$#ur öNä. (berkorban untuk) berhala. an-Nisa: 43). kemudian kamu tidak mendapat air. adalah termasuk perbuatan syaitan. terdapat sebuah kejadian dimana salah satu sahabat Anshar meminum khamr dan mabuk sehingga ia salah dalam membaca al-Qur’an. dan beberapa sahabat mendorong Nabi saw untuk melarang alkohol. al-Qur’an menganggap minuman yang memabukkan dari anggur itu sebagai “kebesaran Tuhan”. Sebagai konsekuensinya maka diturunkanlah QS. Akhirnya untuk mengenang sebuah peristiwa para sahabat Nabi saw. al-Baqarah ayat 219: * y7tRqè=t«ó¡o„ ÇÆtã Ì ヘ ôJy‚ø9$# ÎŽÅ£÷マ yJø9$#ur ( ö@è% !$yJÎgŠÏù ÖNøOÎ) ׎ ヘ Î7Ÿ2 ßìÏÿ»oYtBur Ĩ$¨Z=Ï9 !$yJßgßJøOÎ)ur çŽt9ò2r& `ÏB $yJÎgÏèøÿ¯R 3 š チ tRqè=t«ó¡o„ur #sŒ$tB tbqà)ÏÿZムÈ@è% uqøÿyèø9$# 3 š チ Ï9ºx‹x. tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya. Katakanlah: ‘Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia.

merekonsiliasi percekcokan rumah tangga. Hal ini berbeda dengan pemikiran-pemikiran yang ditawarkan oleh Muhammad Syahrur ataupun Mahmud Muhammad Taha yang dalam batas-batas tertentu “melewati” arus paradigma Islam klasik. Hallaq mengkategorikan dirinya dalam kelompok “religious liberalism” bersama Said al-Asymawi dan Muhammad Syahrur. Di sinilah universalitas hukum Islam itu sebenarnya akan ditemukan untuk merespon kenyataan-kenyataan baru dalam modernitas. Misalnya saja. Relevansi Pemikiran Fazlur Rahman Kategorisasi Rahman sebagai seorang neo modernis sebenarnya lebih memperlihatkan ciri pemikirannya sebagai seorang “reformer metodologis”. sebuah waktu yang relatif dekat dengan kepulangan Rahman pada tahun 1960-an ke Pakistan dari McGill. pendidikan dan kajian-kajian modern keislaman. The connection between the revealed text and modern society does not turn upon a literalist hermeneutic.[25] Pengaruh Rahman sendiri dalam dunia modern muslim cukup luas. Selain itu tawaran metodologis Rahman merupakan perpaduan antara akar tradisional keilmuan muslim dengan keilmuan Barat (hermeneutika). but rather upon an interpretation of the spirit and broad intention behind the spesific language of the texts.kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu. bersama Muhammad Mustafa A’dzami. telah ditemukan akarnya dari pemikiran as-Syatibi. Bukan saja karena tawaran metodologinya yang reformatif.”[27] . tetapi ketika Ayub Khan –yang secara emosional dekat dengan Rahman– menjadi presiden kedua Pakistan. apakah terdapat pengaruh dari pemikiran Rahman atau tidak. Demikianlah bahwa memang al-Qur’an menurunkan hukum-hukumnya itu sebagai “pentahapan” untuk menuju sesuatu yang ideal. sebagaimana eksplorasi sebelumnya. Di dalam konteks modern pemikiran Rahman bagi penulis cukup relevan meskipun kontekstualisasi pemikiran Islam telah banyak digelorakan. “the main thrust of the liberalist approach consists of understanding revelation as both text and context. selain menemukan “idea moral” sebagai tujuan utama pewahyuan. al-Maidah: 90-91). tasawuf. sebagaimana yang sedikit disinggung di permulaan uraian. Rahman merupakan salah satu tokoh yang cukup keras mengritik uraian-uraian konsep hadits yang diekspolorasi oleh Joseph Schact dan Ignaz Goldziher yang terkesan “mendiskreditkan” dan “meragukan” otentisitas hadits sebagai salah satu formula dalam hukum Islam. 1. Selain itu. Pemikiran Rahman didasari atas pembacaan literatur. bukan “reformer paradigmatik”. kalam. tafsir. dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang. Tawaran Rahman yang terkesan “moderat” membuat banyak kalangan merasa ditemukan dengan revitalisasi yang tidak “ekstrim” sehingga dapat diterima oleh cukup banyak kalangan. tetapi Rahman di sisi lain juga seorang muslim yang cukup keras mengritik tokoh-tokoh orientalis yang dianggapnya tidak tepat dalam menjelaskan pemikiran Islam. Dengan metodologi baru yang ditawarkan oleh Rahman ini ia agaknya sedang berusaha menjauhkan umat Islam dari fanatisme-fanatisme tekstual yang menjatuhkan siapapun ke dalam “bibiolatri” sebagai sebuah sikap yang “memberhalakan” teks tanpa melihat faktor-faktor eksternal yang membentuknya. Bahwa asas pernikahan memang monogami dan pidana pencurian adalah “membuat jera”. maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)” (QS. baik literatur Islam maupun Barat-modern sehingga kritikkritiknya meliputi kedua-duanya. Apalagi pemikiran Rahman. Apalagi pemikiran Rahman cukup luas dan meliputi berbagai bidang keilmuan. Di Pakistan sendiri. Rahman tetap menggunakan “ayat-ayat al-Qur’an” yang lain dan sumber-sumber periwayatan dalam penafsiran hukumnya sehingga dapat dikategorikan sebagai pengembangan atas tafsir bi al-ma’tsur. hadits.[26] Mengenai kelompok liberalis ini Hallaq menguraikan di awal-awal penjelasan. pernah memperkenalkan hukum keluarga Islam (the Muslim Family Laws) melalui sebuah ordonansi pada tanggal 2 Maret 1961. Inilah yang merupakan prinsip-prinsip umum (the general principles) yang seharusnya direkomendasi dalam setiap formulasi hukum Islam. Berdasarkan ordonansi ini di Pakistan dibentuk Dewan-dewan arbitrase yang menangani masalah-masalah seperti memberikan sanksi kepada seseorang yang poligami. serta memberikan perlindungan terhadap wanita dan anak-anak. Sehingga dengan “kritik sejarah” itu paradigma Islam sedang mencoba digeser dari wilayah yang teologis-metafisik ke dalam wilayah etis antropologis. “Perpaduan” ini membuat wajah pemikiran Rahman “eklektik” sehingga Wael B.

Karena wawasan etis alQur’an. Selain dibutuhkan kajian yang cukup berat. Karena itu Hallaq mengritik pandangan-pandangan kelompok ini karena pada akhirnya akan jatuh pada subjektivitas dan relativitas. dan sebagainya. sebagai manusia memiliki keterbatasan waktu. demokrasi. Namun begitu terasa cukup banyak kekurangan terutama terkait dengan ketersediaan referensi yang tidak mampu dihadirkan secara komplit. perlu sebuah upaya “pembumian” sehingga dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari muslim. pertama. Penanaman “idea moral” akan menjadikan umat Islam lebih terbuka dan tidak formalis tanpa harus menanggalkan semangat ketuhanan dan keislaman. penggunaan hermeneutika oleh Rahman ternyata tidak selalu memberikan dampak buruk sebagaimana yang selama ini dikhawatirkan oleh sebagian umat Islam. Abdul Wahab Khallaf dan tokoh revolusioner dari Sudan. hlm. Hasan Turabi. KESIMPULAN Dari uraian pada makalah ini maka dapat disimpulkan dua hal utama. IV. Meskipun demikian.Kelompok “religious liberalism” ini sendiri berbeda dengan kelompok “religious utilitarianism” yang diisi oleh tokoh-tokoh seperti Muhammad Abduh.Ag selaku dosen pemikiran hukum Islam dan teman-teman pascasarjana IAIN Walisongo. terutama yang terkait dengan hukum-hukumnya. [1] Aziz Al-Azmeh. maka tidak akan terjebak pada formalisme sehingga dalam kehidupan masyarakat modern yang plural seperti di Indonesia. pemikiran Rahman dapat dipandang relevan dengan zaman ini yang telah “mengglobal” dimana pluralitas merupakan kenyataan dimana-mana. Pemikiran Rahman. yang telah diketahui menjadi perdebatan sejak lama oleh para ulama Islam klasik. Islams and Modernities. . Muhyar Fanani. Kelompok ini cukup kuat dalam memegang teks-teks hukum dan terkesan “deduktif” sehingga dialektika dengan modernitas kurang begitu mendapatkan tempat meskipun batu pertama tesis utilitarianis adalah maslaha. Rasyid Ridha. V. Kedua. 1993. pembaruan pemikiran hukum Islam Fazlur Rahman didasarkan pemahamannya terhadap ayat-ayat al-Qur’an secara hermeneutis melalui “metode kritik sejarah” dan konsep “double movement”. Upaya ini dilakukan untuk menemukan prinsip-prinsip umum atas wahyu Tuhan yang dieksplisitkan dalam teks al-Qur’an sehingga dialektika dengan problem baru tidak terputus. 11-12. Tetapi visi Rahman mengenai “kontekstualisasi” atau “pembumian” patut disambut baik –dan terbukti pemikirannya telah menginspirasi dan diperkenalkan oleh banyak pemikir sesudahnya– karena melihat aspek-aspek teologis ayat al-Qur’an tidak hanya dari sisi aspek hukumnya saja. Apalagi sejatinya hermeneutika yang lahir dari peradaban Barat (Gereja) awalnya tidak dimaksudkan untuk “mendesakralisasi” Tuhan dan ayat-ayatnya dalam Bibel tetapi melakukan “reinterpretasi” atas Bibel sebagai upaya mendialektikan “suara Tuhan” dengan “suara manusia modern” yang sangat berbeda karakteristik dari respon-respon radikal-ekstrim seperti yang digelorakan oleh Karl Marx dan Nietzsche. Di sisi lain. London & New York: Verso. [28] Dalam kehidupan kontemporer ini. Rahman melalui “metode kritik sejarah” dan “double movement” ibarat memberikan wadah sementara isi dan hasilnya menjadi tugas para pemikir berikutnya. Karena itulah saran dan kritik selalu terbuka bagi siapapun. semangat keadilan. PENUTUP Demikian makalah ini telah penulis susun dengan sebaik-baiknya. hukum yang tercipta diharapkan mampu dikembangkan sesuai semangat zaman ini. M. karena didasarkan pada nilai-nilai yang universal. Meskipun begitu. terutama dari Bapak Dr. tentu saja di samping ketidaksempurnaan pada aspek-aspek yang lain. tetapi juga etika. demi sebuah karya yang memang layak diperiksa ulang. Rahman memang belum tuntas dalam memperbincangkan konsepnya mengenai “idea moral” misalnya. tawaran Rahman cukup baik untuk diimplementasikan terutama tentang berpikir secara etis. hak asasi manusia. dari setiap ayat al-Qur’an. kesetaraan gender.

33-34. 125-126. Yahya Birt. “Tema Pokok al-Qur’an”. dan Ziauddin Sardar yang meragukan seluruh epistemologi Barat dapat digunakan untuk memajukan umat muslim. 6. hlm. Karena itulah ketiga tokoh ini justru menginginkan adanya pembaruan Islam dari “dalam” yang berakar pada tradisi keislaman itu sendiri. [13] Baca Muhammad Abed al-Jabiri. hlm. Islam and Modernity…Op. hlm. [8] Nashr Hamd Abu Zayd. Op. Sedangkan modernisme diwakili oleh Ahmad Khan (India). selain istilah lain revivalisme dan neo-revivalisme serta modernisme Islam. The Massage of Fazlur Rahman. 247-248. [3] Istilah neo modernisme sendiri sebenarnya diutarakan oleh Rahman saat membedakan gerakan pembaruan Islam selama dua abad terakhir. London and Chicago: Chicago University Press. vol. Ali Syari’ati. Neo modernisme. hlm. Musnur Hery dan Damanhuri Muhammed. Hermeneutics Interpretation Theory in Schleirmacher. 2003. [14] Muhammad Abed al-Jabiri. Sanusiyah (Afrika Utara).[2] Ijtihad baru tidak berarti sebagai upaya menafikan rumusan lama dalam pemikiran hukum Islam. Yogyakarta: LKIS. No. termasuk Rahman sendiri. [5] Baca M. [4] Fazlur Rahman. and Gadamer. hlm. terj. Bandung: Penerbit Pustaka. Takwin al-‘Aql al-‘Arabi. Palmer.. hlm. hlm. Gerakan Islam Liberal di Indonesia. 1979. [9] Nashr Hamd Abu Zayd. makalah seminar internasional Tajdid Pemikiran Islam oleh Yayasan Dakwah Malaysia Indonesia dan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Islam. Yogyakarta: Ircisod. hlm. Ibid. [10] Ilyas Supena. Atho Mudzhar. Ibid. Heidegger. 1982. 1 (Mar. Dilthey. dan bi al-isyari dalam Ali Asy-Shabuni. terj. Cit. Penolakan Rahman terhadap positivisme ini hampir mirip dengan penolakan yang dilakukan oleh Abduh. Baca juga Fazlur Rahman.freerepublic. Hallaq.. [12] Richard E. II. xi. terj. Beirut: Alam al-Kutub. [16] Fazlur Rahman. Ibid. 1985. Chicago and London: University of Chicago Press. dalam International Journal of Middle East Studies of Cambridge University. Imam Khoiri. Anas Mahyuddin. 21 Oktober 2009. Uraian ini dikutip dari Greg Barton oleh M. 67. [7] Baca lebih lanjut mengenai tafsir bi al-ma’tsur. hlm. Epistemologi Hukum Islam dalam Pandangan Hermeneutika Fazlur Rahman. 1983. “Hermeneutika: Teori Baru Mengenai Interpretasi”. 2-3. vol. at-Tibyan fi Ulum al-Qur’an. bi al-ra’yi. Cit. memiliki karakteristik sintesis progresif dari rasionalitas modernis dengan ijtihad dan tradisi klasik. [6] Fazlur Rahman. 1-2. 248-249.com/focus/fr/531762/posts (diakses tanggal 21/05/2010). Baca Wael B. Major Themes of The Qur’an. Neo-revivalisme diwakili oleh al-Maududi dengan Jama’at e Islami di Pakistan. Tekstualitas al-Qur’an: Kritik Terhadap Ulumul Qur’an. Was the Gate of Ijtihad Closed?. dalam http://www. dalam Jurnal Asy-Syir’ah. 2009. Revivalisme direpresentasikan oleh Wahabiyah (Arab). 2003. [11] Richard E. tetapi mengevaluasi kembali dan mendialogkan rumusan-rumusan itu dan atau mengembangkannya dengan semangat zaman ini. [15] Ilyas Supena. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. dan Abduh (Mesir). 1984). 16. . 87. dan Fulaniyah (Afrika Barat).. hlm. Palmer. al-Afghani (Timteng). 42 No. “Formasi Nalar Arab: Kritik Tradisi Menuju Pembebasan dan Pluralisme Wacana Interreligius”. Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition. 2001.

[17] Fazlur Rahman.. [21] http://jeryronggo. [19] Fazlur Rahman. 115.com/2008/12/01/hermeneutika-al-qur%E2%80%99an-fazlur-rahman/ (diakses tanggal 21 Mei 2005). hlm. 1997. Hallaq. A History of Islamic Legal Theories: An Introduction to Sunni Usul al-Fiqh. Hallaq. [22] Ibid. Islamic Methodology in History. Islam and Modernity…. [23] Wael B.wikipedia. A History of Islamic Legal Theories…. Cit. A History of Islamic Legal Theories…. dan 4: 127. A History of Islamic Legal Theories….. 1965.wordpress. [27] Wael B. [24] Wael B. Ibid. hlm.Cit. Ibid. hlm. . Op. Selain itu Rahman juga membahas Ibn Taimiyyah yang menguraikan persoalan sentral dalam filsafat hukum Islam adalah bagaimana kewajiban moral itu berkaitan dengan Divine Omnipotence dan Will serta bagaimana kebutuhan saat ini mampu dipenuhi oleh (warisan) masa lalu. Ibid. 242. Karachi: Central Institute of Islamic Research. hlm. Op.org/wiki/Ayub_Khan (diakses pada 21 Mei 2010). hlm. [25] http://en. Ibid. 231.. 231-253. Fazlur Rahman. Ayat-ayat ini dapat diperbandingkan dengan 4:2. [18] Baca. 4: 126. 7. [20] Fazlur Rahman. Cambridge: Cambridge University Press. Hallaq. hlm. 97. [26] Baca Wael B. Islam. Hallaq. Islam and Modernity….