BIOGRAFI DAN PEMIKIRAN FAZLUR RAHMAN Fazlur Rahman dilahirkan pada tanggal 21 September 1919 di Hazara, suatu daerah

di Anak Benua Indo-Pakistan yang sekarang terletak di barat laut Pakistan. Wilayah Anak Benua Indo-Pakistan sudah tidak diragukan lagi telah melahirkan banyak pemikir Islam yang cukup berpengaruh dalam perkembangan pemikiran Islam, seperti Syah Wali Allah, Sir Sayyid Ahmad Khan, hingga Sir Muhammad Iqbal. Nama keluarga Fazlur Rahman adalah Malak, namun nama keluarga Malak ini tidak pernah digunakan dalam daftar referensi baik di Barat ataupun di Timur. Fazlur Rahman dilahirkan dalam suatu keluarga Muslim yang sangat religius. Kerelegiusan ini dinyatakan oleh Fazlur Rahman sendiri yang mengatakan bahwa ia mempraktekan ibadah-ibadah keisalaman seperti shalat, puasa, dan lainnya, tanpa meninggalkannya sekalipun (1992: 59). Dengan latar belakang kehidupan keagamaan yang demikian, maka menjadi wajar ketika berumur sepuluh tahun ia sudah dapat menghafal Alquran. Adapun mazhab yang dianut oleh keluarganya ialah mazhab Hanafi. Walaupun hidup ditengah-tengah keluarga mazhab Sunni, Fazlur Rahman mampu melepaskan diri dari sekat-sekat yang membatasi perkembangan intelektualitasnya dan keyakinan-keyakinannya. Dengan demikian, Fazlur Rahman dapat mengekspresikan gagasan-gagasannya secara terbuka dan bebas. Seperti pendapat mengenai wajibnya shalat tiga waktu yang dijalani oleh penganut mazhab Syi’ah, Fazlur Rahman beranggapan bahwa praktek tersebut dibenarkan secara historis karena Muhammad saw. pernah melakukannya tanpa sesuatu alasan (Rahman, 2003: 41). Orang tua Fazlur Rahman sangat mempengaruhi pembentukan watak dan keyakinan awal keagamaannya. Melalui ibunya, Fazlur Rahman memperoleh pelajaran berupa nilai-nilai kebenaran, kasih saying, kesetiaan, dan cinta. Ayah Fazlur Rahman merupakan penganut mazhab Hanafi yang sangat kuat, namun beliau tidak menutup diri dari pendidikan modern. Tidak seperti penganut mazhab Hanafi fanatik lainnya ketika itu, Ayahnya berkeyakinan bahwa Islam harus memandang modernitas sebagai tantangan-tantangan dan kesempatan-kesempatan. Pandangan ayahnya inilah yang kemudian mempengaruhi pemikiran dan keyakinan Fazlur Rahman (Rahman, 1992: 59). Selain itu, melalui tempaan ayahnya, Fazlur Rahman pada kemudian hari menjadi seorang yang bersosok cukup tekun dalam mendapatkan pengetahuan dari pelbagai sumber, dan melalui ibunyalah kemudian ia sangat tegar dan tabah dalam mengembangkan keyakinan dan pembaruan Islam (A’la, 2003: 34). Pada tahun 1933, Fazlur Rahman melanjutkan pendidikannya di sebuah sekolah modern di Lahore. Selain mengenyam pendidikan formal, Fazlur Rahman pun mendapatkan pendidikan atau pengajaran tradisinonal dalam kajian-kajian keislaman dari ayahnya, Maulana Syahab al Din. Materi pengajaran yang diberikan ayahnya ini merupakan materi yang ia dapat ketika menempuh pendidikan di Darul Ulum Deoband, di wilayah utara India. Ketika berumur empat belas tahun, Fazlur Rahman sudah mulai mempelajari filsafat, bahasa Arab, teologi atau kalam, hadis dan tafsir (A’la, 2003: 34). Setelah menyelesaikan pendidikan menengahnya, Fazlur Rahman kemudian melanjutkan pendidikannya dengan mengambil bahasa Arab sebagai kosentrasi studinya dan pada tahun 1940 ia berhasil mendapatkan gelar Bachelor of Art. Dua tahun kemudian, tokoh utama gerakan neomodernis Islam ini berhasil menyelesaikan studinya di universitas yang sama dan mendapatkan gelar Master dalam bahasa Arab. Menurut Amal (1996: 80), ketika telah menyelesaikan studi Masternya dan tengah belajar untuk menempuh program Doktoral di Lahore, Fazlur Rahman pernah diajak oleh Abul A’la Mauwdudi, yang kelak menjadi “musuh” intelektualitasnya, untuk bergabung di Jama’at al Islami dengan syarat meninggalkan pendidikannya. Pada tahun 1946, Fazlur Rahman berangkat ke Inggris untuk melanjutkan studinya di Oxford University. Keputusannya untuk melanjutkan studinya di Inggris dikarenakan oleh mutu pendidikan di India ketika itu sangat rendah. Dibawah bimbingan Profesor S. Van den Berg dan H A R Gibb, Fazlur Rahman berhasil menyelesaikan studinya tersebut dan memperoleh gelar Ph. D pada tahun 1949 dengan disertasi tentang Ibnu Sina. Disertasi Fazlur Rahman ini kemudian diterbitkan oleh Oxford University Press dengan judul Avicenna’s Psychology.

Selama menempuh pendidikan di Barat, Fazlur Rahman menyempatkan diri untuk belajar pelbagai bahasa asing. Bahasa-bahasa yang berhasil dikuasai olehnya diantaranya ialah Latin, Yunani, Inggris, Jerman, Turki, Arab dan Urdu (Sutrisno, 2006: 62). Penguasaan pelbagai bahasa ini membantu Fazlur Rahman dalam memperdalam dan memperluas cakrawala keilmuannya (khususnya studi keislaman) melalui penelusuran pelbagai literatur. Setelah menyelesaikan studinya di Oxford University, Fazlur Rahman tidak langsung ke negeri asalnya Pakistan (ketika itu sudah melepaskan diri dari India), ia memutuskan untuk tinggal beberapa saat disana. Ketika tinggal di tinggal di Inggris, Fazlur Rahman sempat mengajar di Durham University. Kemudian pindah mengajar ke Institute of Islamic Studies, McGill University, Kanada, dan menjabat sebagai Associate Professor of Philosophy sampai awal tahun 1960. Menurut pengakuan Fazlur Rahman, ketika menempuh studi pascasarjana di Oxford University dan mengajar di Durham University, konflik antara pendidikan modern yang diperolehnya di Barat dengan pendidikan Islam tradisional yang didapatkan ketika di negeri asalnya mulai menyeruak. Konflik ini kemudian membawanya pada skeptisisme yang cukup dalam, yang diakibatkan studinya dalam bidang filsafat (Rahman, 1992: 60). Setelah tiga tahun mengajar di McGill University, akhirnya pada awal tahun 1960 Fazlur Rahman kembali ke Pakistan setelah sebelumnya diminta bantunnya oleh Ayyub Khan untuk membangun negeri asalnya, Pakistan. Menurut Moosa (2000: 2), permintaan Ayyub Khan kepada Fazlur Rahman ialah bertujuan untuk membawa Pakistan pada khittah berupa negara yang bervisi Islam Selanjutnya pada tahun 1962, Fazlur Rahman diminta oleh Ayyub Khan untuk memimpin Lembaga Riset Islam (Islamic Research Institute) dan menjadi anggota Dewan Penasihat Ideologi Islam (The Advisory Council of Islamic Ideology). Motivasi Fazlur Rahman untuk menerima tawaran dari Ayyub Khan dapat dilacak pada keinginannya untuk membangkitkan kembali visi Alquran yang dinilainya telah terkubur dalam puing-puing sejarah (Rahman, 1992: 63). Kursi panas yang diduduki oleh Fazlur Rahman akhirnya menuai pelbagai reaksi. Para ulama tradisional menolak jika Fazlur Rahman mendudukinya, ini disebabkan oleh latar belakang pendidikannya yang ditempuh di Barat. Penentangan atas Fazlur Rahman akhirnya mencapai klimaksnya ketika jurnal Fikr-o-Nazar menerbitkan tulisannya yang kemudian menjadi dua bab pertama bukunya yang berjudul Islam. Pada tulisan tersebut, Fazlur Rahman mengemukakan pikiran kontroversialnya mengenai hakikat wahyu dan hubungannya dengan Muhammad saw. Menurut Fazlur Rahman, Alquran sepenuhnya adalah kalam atau perkataan Allah swt, namun dalam arti biasa, Alquran juga merupakan perkataan Muhammad saw. (Rahman, 2003: 33). Akibat pernyataan-pernyataannya tersebut, Fazlur Rahman dinyatakan sebagai munkir-i-Quran (orang yang tidak percaya Alquran). Menurut Amal (1994: 14-15), kontroversi dalam media masa Pakistan mengenai pemikiran Fazlur Rahman tersebut berlalu hingga kurang lebih satu tahun, yang pada akhirnya kontroversi ini membawa pada gelombang demonstrasi massa dan mogok total di beberapa daerah Pakistan pada September 1968. Menurut hampir seluruh pengkaji pemikiran Fazlur Rahman berpendapat bahwa penolakan atasnya bukanlah ditujukan kepada Fazlur Rahman tetapi untuk menentang Ayyub Khan. Hingga akhirya pada 5 September 1968 permintaan Fazlur Rahman untuk mengundurkan diri dari pimpinan Lembaga Riset Islam dikabulkan oleh Ayyub Khan. Pada akhir tahun 1969 Fazlur Rahaman meninggalkan Pakistan untuk memenuhi tawaran Universitas California, Los Angeles, dan langsung diangkat menjadi Guru Besar Pemikiran Islam di universitas yang sama. Mata kuliah yang ia ajarkan meliputi pemahaman Alquran, filsafat Islam, tasawuf, hukum Islam, pemikiran politik Islam, modernism Islam, kajian tentang al Ghazali, Shah Wali Allah, Muhammad Iqbal, dan lain-lain. Salah satu alasan yang menjadikan Rahman memutuskan untuk mengajar di Barat disebabkan oleh keyakinan bahwa gagasangagasan yang ditawarkannya tidak akan menemukan lahan subur di Pakistan. Selain itu, Rahman menginginkan adanya keterbukaan atas pelbagai gagasan dan suasana perdebatan yang sehat, yang tidak ia temukan di Pakistan (A’la, 2003: 40). Selama di Chicago, Fazlur Rahman mencurahkan seluruh kehidupannya pada dunia keilmuan dan Islam. Kehidupannya banyak dihabiskan di perpustakaan pribadinya di basement rumahnya, yang terletak di Naperville, kurang lebih 70 kilometer dari Universitas Chicago. Rahman sendiri menggambarkan aktitivitas dirinya tersebut laiknya ikan yang naik ke atas hanya untuk mendapatkan udara (Wan Daud, 1991: 108). Dari konsistensinya dan kesungguhannya terhadap dunia keilmuan akhirnya Rahman mendapatkan pengakuan lembaga keilmuan berskala

internasional. Pengakuan tersebut salah satunya ialah pada tahun 1983 ia menerima Giorgio Levi Della Vida dari Gustave E von Grunebaum Center for Near Eastern Studies, Universitas California, Los Angeles. Pada pertengahan dekade 80-an, kesehatan tokoh utama neomodernisme Islam tersebut mulai terganggu, dintaranya ia mengidap penyakit kencing manis dan jantung. Konsistensi Rahman untuk terus berkarya pun ditandai oleh lahirnya karya yang berjudul Revival and Reform in Islam: A Study of Islamic Fundamentalism. Walaupun baru diterbitkan setelah beliau wafat, namun pengerjaannya dilakukan ketika sakit beliau makin parah dengan dibantu oleh puteranya. Akhirnya, pada 26 Juli 1988 profesor pemikiran Islam di Univesitas Chicago itu pun tutup usia pada usia 69 tahun setelah beberapa lama sebelumnya dirawat di rumah sakit Chicago. Perkembangan Pemikiran dan Karya-Karya Pemikiran Fazlur Rahman dapat dibagi menjadi tiga fase atau periode, yakni periode awal, periode Pakistan, dan periode Chicago. Periode pertama belangsung sekitar dekade 50-an dan pada periode ini Rahman hanya menghasilkan karya-karya yang besifat historis, seperti Avicenna’s Psycology (1952), Avicenna’s De Anima, dan Propecy in Islam: Philosophy and Orthodoxy (1958). Melalui ketiga buku Rahman ini akan terlihat jelas concern pemikirannya, yakni kajian historis murni. Namun demikian, kajian yang dilakukan Rahman pada buku yang disebut terakhir mempengaruhi pandangannya tentang proses pewahyuan kepada nabi Muhammad saw (Amal, 1996: 116). Periode Pakistan merupakan tahapan kedua dari perkembangan pemikiran Rahman yang berlangsung sekitar dekade 60-an. Berbeda dengan periode pertama yang cenderung pada kajian historis dari pemikiran Islam, concern Rahman pada periode ini mengalami perubahan yang radikal, yakni pada kajian-kajian Islam normatif. Adapun faktor-faktor yang melatarbelakangi perubahan concern pemikiran Rahman ini ialah. 1. Adanya kontroversi yang akut di Pakistan antara kalngan modernis disatu pihak dan kalangan tradisionalis dan fundamentalis di lain pihak. Kontroversi ini bermuara pada definisi Islam untuk negeri Pakistan ketika itu, 2. Kontak yang intens dengan Barat ketika menetap di sana, sangat berarti dalam penyadaran dirinya pada hakikat tantangan Islam pada periode modern, 3. Posisi penting sebagai Direktur Lembaga Riset Islam dan anggota Dewan Penasehat Ideologi Islam Pemerintah Pakistan, yang kemudeian mendorong Rahman untuk turut aktif dalam meberikan definisi Islam bagi Pakistan dari kalangan modernis (Sutrisno, 2006: 71-72). Walaupun belum ditopang oleh metodologi yang sistematis, pada periode ini Rahman sudah mulai melakukan kajian Islam normatif dan terlibat dalam arus pemikiran Islam (Sibawaihi, 2007: 21). Selain itu, Rahman terlibat pula secara intens dalam upaya-upaya menjawab tantangan-tantangan serta kebutuhan-kebutuhan masyarakat Muslim kontemporer dengan cara merumuskan kembali Islam. Adapun pada periode ini, pemikiran Rahman dicurahkan dalam memenuhi tugasnya dalam merumuskan ajaran Islam yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat Pakistan. Keterlibatan Rahman dalam arus pemikiran Islam dapat ditandai oleh beberapa artikel yang ia tulis pada jurnal Islamic Studies pada bulan Maret 1962 hingga Juni 1963. Menurut Açikgenç (dalam Saleh 2007: 27), sebenarnya pada periode kedua ini Rahman sudah berkeinginan mengembangkan metodologi yang menyerukan umat Islam untuk kembali kepada Alquran dan Hadis. Mutiara-mutiara pemikiran yang berhasil dihasilkan oleh Rahman pada periode ini diantaranya Islamic Methodology in History (1965), dan Islam (1966). Buku yang disebut pertama merupakan kumpulan dari beberapa tulisannya yang dipublikasikan di jurnal Islamic Studies. Artikel-artikel dalam buku ini ditulis dengan bertujuan untuk memperlihatkan, pertama, evolusi historis dari aplikasi keempat prinisp pokok pemikiran Islam, yakni Alquran, Sunnah, ijtihad, ijma’. Kedua, perranan aktual dari prinsip-prinsip tersebut bagi perkembangan Islam (Rahman, 1995: ix).

Buku kedua Rahman yang lahir pada peridoe kedua ini ialah berjudul Islam. Buku ini memaparkan perkembangan umum agama Islam selama empat belas abad, oleh karena itu menjadi wajar ketika buku ini menjadi dasar pengantar umum tentang studia Islam. Dua buah artikel pertama yang tersusun dalam buku ini , yakni artikel yang berjudul Muhammad dan Alquran, ketika dipublikasikan di Pakistan sempat menuai pelbagai kontroversi. Kontroversi terjadi berkenaan padangan Rahman mengenai hakikat Alquran dan proses pewahyuannya kepada Muhammad saw. Rahman memandang bahwa Alquran secara keseluruhannya adalah kalam Allah swt. dan dalam artian biasa merupakan perkataan Muhammad saw (Rahman, 2003: 33). Adapaun tulisan-tulisan Rahman yang difokuskan untuk memberi definisi Islam di Pakistan diantaranya ialah Some Reflection on the Reconstruction of Muslim Society in Pakistan, Implementation of the Islamic Concept of State in the Pakistan Milieu, dan The Qur’anic Solution of Pakistan’s Educational Problems. Perkembangan dan periode pemikiran Fazlur Rahman berikutnya ialah periode Chicago yang terhitung dari kepindahannya ke Chicago. Seluruh karya Rahman yang dihasilkan pada periode ini mencakup kajian Islam historis dan normatif. Adapun karya-karya yang berhasil ia hasilkan pada periode ini diantaranya The Philosophy of Mulla Shadra, Major Themes of The Qur’an, Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition, dan Health and Medicine in Islamic Tradition. Buku yang pertama penulis sebut di atas murni merupakan karya yang bertemakan Islam historis dan tidak memiliki hubungan dalam kajian-kajian Islam normatif. Sedangkan buku kedua karya Rahman pada periode kedua ini membahas mengenai delapan tema pokok Alquran, yakni Tuhan, Manusia sebagai Individu, Manusia Anggota Masyarakat, Alam Semesta, Kenabian dan Wahyu, Eskatologi, Setan dan Kejahatan, serta Lahirnya Masyarakat Muslim. Buku yang kerap kali disebut sebagai magum opus Fazlur Rahman ini mengkaji pelbagai ayat-ayat Alquran yang berhubungan dengan tema-tema yang telah disebut sebelumnya dan kemudian ditafsirkan dengan cara menghubungkan ayat-ayat tersebut. Selain itu, buku karya Rahman ini merupakan sikap atau tanggapannya atas pelabagai buku atau tulisan yang dibuat oleh para orientalis (seperti Richard Bell, Montgomery Watt, John Wansbrough, dal lain sebagainya) yang kerap kali menghubungkan atau beranggapan bahwa Alquran merupakan kelanjutan atau terpengaruh oleh ajaran-ajaran yang pernah ada sebelumya (seperti Yahudi dan Nasrani). Melalui karya ini, Rahman berhasil membangun landasan filosofis yang terga untuk perenungan kembali makna dan pesan Alquran bagi kaum Muslim kontemporer. Buku berikutnya yang Rahman hasilkan pada periode Chicago ini ialah Islam and Modernity: Transformation of an Intelectual Tradition. Buku ini sangat jelas memperlihatkan intensitas Rahman dalam menata masa depan Islam dan umatnya. Dengan demikian, buku ini tidak melulu membahas Islam historis yang tidak memberikan solusi kongkrit bagi pembangunan umat Islam dan bekal untuk umat Islam dalam menghadapi periode modern. Berikutnya ialah buku yang berjudul Helath and Medicine in Islamic Tradition, buku ini berusaha menangkap kaitan organis antara Islam sebagai sebuah sistem kepercayaan dan Islam sebagai sebuah tradisi pengobatan manusia. Setelah mengkaji perkembangan pemikiran Rahman yang didasarkan pada buku-buku yang ia hasilkan sepanjang karir intelektualitasnya, maka dapat dikatakan bahwa Rahman mengalami perubahan concern pemikiran serta kajiannya. Perubahan yang cukup signifikan ini disebabkan oleh kesadaran Rahman bahwa Islam dewasa ini tengah menghadapi krisis yang sebagian akarnya terdapat dalam Islam sejarah, pengaruh-pengaruh Barat dengan tantangan-tantangan modernitasnya, kemudian membuatnya berupaya membuat atau merumuskan soluai terhadap krisis tersebut (Amal, 1996: 148-149). Secara keseluruhan buku-buku yang Rahman hasilkan berjumlah sepuluh buah. Namun demikian, bukan berarti bahwa Fazlur Rahman hanya menghasilkan buku-buku an sich. Sepanjang karir intelektualitasnya, doctor lulusan Oxford University tersebut menulis pelbagai artikel di beberapa jurnal ilmiah dan sebagian dari artikel-artikel tersebut dikumpulkan menjadi beberapa buku. Adapun buku-buku yang dihasilkan olehnya ialah sebagai berikut. 1. Avicenna’s Psycology 2. Propecy in Islam: Philosophy and Ortodoxy 3. Avicennas’s De Anima, being the Psycological Part of Kitab al Shifa

4. Health and Medicine in Islamic Tradition . The Philosophy of Mulla Shadra 5. Islamic Methodology in History 6. Major Times of the Qur’an 8. Revival and Reform in Islam: A Study of Islamic Fundamentalism 10. Islam 7. Islam and Modernity: Transformation of an Intelectual Tradition 9.

[1] Fazlur Rahman di besarkan dalam madzhab Hanafi. dan Filsafat. Fazlur Rahman dilahirkan dari keluarga miskin yang taat pada agama. pada tahun 1964 ia di tunjuk sebagai anggota dewan penasehat Ideologi Pemerintah Pakistan. bahkan Ayahnya berkeyakinan bahwa islam harus memandang modernitas sebagai tantangan dan kesempurnaan. Selain menjabat sebagai Direktur Lembaga Riset Islam. Meskipun Fazlur Rahman tidak belajar di Daril Ulum. Darul Ulum Deoband . Pada awal tahun 60 an Fazlur Rahman kembali ke Pakistan. Namun usaha Fazlur Rahman sebagai seorang pemikir modern di tentang keras oleh para ulama tradisional-findamentalis. milik filosof muslim kenamaan abad ke-7. . Pada bulan Agustus 1946 Fazlur Rahman di tunjuk sebagai Direktur Riset Islam.BIOGRAFI DAN PEMIKIRAN FAZLUR RAHMAN Fazlur Rahman lahir pada tanggal 21 September 1919 yang letaknya di Hazara sebelum terpecahnya India. setelah sebelumnya menjabat sebagai staf lembaga tersebut. Ilmu kalam. [2] Ayahnya Maulana Shihabudin adalah alumni dari sekolah menengah terkemuka di India. Mantiq. kini merupakan bagian dari Pakistan. ia melanjutkan ke Punjab University di Lahore dimana ia lulus dengan penghargaan untuk bahasa Arabnya dan di sana juga ia mendapatkan gelar MA-nya. [3] Dimana dia menjabat sebagai Associate Professor Of Philosophy. Setelah mempelajari ilmu-ilmu dasar ini. Pada tahun 1946 ia pergi ke Oxford dengan mempersiapkan disertasi dengan Psikologi Ibnu Sina di bawah pengawasan professor Simon Van Den Berg. Madzhab Hanafi merupakan madzhab yang didasari al-Qur’an dan Sunnah. Gill University Kanada di Montreal. ini melengkapi latar belakangnya dalam memahami islam tradisional dengan perhatian khusus pada fikih. Puncak dari segala kontroversialnya memuncak ketika 2 bab karya momumentalnya. meskipun ia mendasarkan pemikirannya pada al-Qur’an dan sunnah. Hadits. ia meninggalkan Inggris untuk menjadi Associate Professor pada kajian Islam di Institute Of Islamic Studies Mc. Disertasi itu merupakan terjemah kritikan dan kritikan pada bagian dari kitab An-Najt. setelah di Oxford ia mengajar bahasa Persia dan Filsafat Islam di Durham University Kanada dari tahun 1950-1958. Islam ( 1966 ) di tentang keras karena pernyataan Fazlur Rahman dalam buku tesebut “ Bahwa Al-Qur’an itu secara keseluruhan adalah kalam Allah dan dalam pengertian biasa juga seluruhnya merupakan perkataan Muhammad “ sehingga Fazlur Rahman di anggap orang yang memungkiri Al-Qur’an kemudian pada 5 September 1986 ia mengundurkan diri dari jabatan Direktur lembaga Riset Islam yang langsung di kabulkan oleh Ayyub Khan. Tafsir. ia menguasai kurikulum Dares Nijami yang di tawarkan di lembaga tersebut dalam kajian privat dengan Ayahnya. Dengan demikian tidak dapat di pungkiri Fazlur Rahman juga rasional di dalam berfikirnya. Ketika hendak mencapai usia 10 tahun ia sudah hafal al-Qur’an walaupun ia di besarkan dalam keluarga yang mempunyai pemikiran tradisional akan tetapi ia tidak seperti pemikir tradisional yang menolak pemikiran modern. akan tetapi cara berfikirnya lebih rasional.

b. The Qur’anic Concept of God. Islamic Modernism It’s Scope. Some Key Ethical Concept of the Qur’an. f. Major Themes of The Qur’an ( 1980 ). b. d.[4] B. the Universe and Man. e. Islam in The Contemporary World f. Interpreting the Qur’an. Some Islamic Issues In the Ayyub Khan Era. Kepergian beliau merupakan suatu kehilangan bagi dunia Intelektual Islam. h. m. The Impact of Modernity on Islam.[5] C. g. am Is l996. Islam Legacy and Contemporary Challenges e. l. c. Pemikiran Fazlur Rahman Fazlur Rahman dengan segala kemampuan intelektualnya sudah tentu tidak bebas dari kekurangan dan kelemahan. Root of Islamic Neo Fundamentalism. k. seorang intelektual pencari kebenaran sudah . menyetujui atau menolak seluruh atau sebagian hasil pemikirannya untuk semua pada posisi penerimaan atau penolakan. Operasi ini berhasil se tidak-tidaknya untuk beberapa minggu hingga ajal menjemputnya. Islamic Challenges and Opportunist. Method and Alternative. The Philosophy of Mulasadra. Prophecy in Islam. Karya-karya Fazlur Rahman a. Islamic Methodology in History 1965. i. Change and The Muslim World. d. Islam and Modernity Transformative of on Intelektual Tradition ( 1982 ). Forwards Reformulating The Methodology of Islamic Law : Syaikh Yamani on Public Interest in Islamic Low. Artikel Fazlur Rahman : a. c. Divines Revelation and The Prophet.Tidak kurang dari 18 tahun lamanya Fazlur Rahman menetap di Chicago dan mengkomunikasikan gagasangagasannya baik lewat lisan maupun tulisan sampai akhir tahun memanggilnya pulang pada tahun 26 juli 1988 jauh sebelum ia sudah terkena penyakit diabetes yang kronis dan serangan jantung sehingga ia harus di operasi. Maka adalah hak kita untuk menerima. j.

tentu akan mengumpulkan berbagai informasi yang berkaitan dengan pendapat dan pemikiran yang di kemukakan untuk menilai pendapat Fazlur Rahman. Tanpa usaha ini bisa terjadi penerapan ayat-ayatnya secara individual dan terpisah berbagai situasi akan menyesatkan. besar kemungkinan seseorang akan salah tangkap terhadap élan dan maksud al-Qur’an aktifitas Nabi baik di Mekkah atau di Madinah. Sebagaimana cara Fazlur Rahman menjelaskan tentang wahyu dan perjalanan Nabi Muhammad dalam menyebarkan islam. Dengan berbagai cara dan jalan yang di tempuh beliau untuk menyampaikan gagasannya yang bernilai sangat tinggi sebagai suatu gerakan Islam. Dalam karyanya Islam and Modernity 1982 Fazlur Rahman menekankan. c. d. Karya-karya yang begitu banyak mengajarkan kita segala ilmu pengetahuan tentang islam yang pertama kali di ajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Fazlur Rahman juga menjelaskan apa itu al-Qur’an dan segala bentuk ajaran agama Islam. Sejarah Islam dan lain-lain. akan mutlak perlunya mensistematiskan materi ajaran al-Qur’an. orang harus memahami al-Qur’an sebagai sebuah ajaran yang utuh lebih dulu. Seseorang harus mengkajikan dalam konteks latar belakang social historisnya. Ia menegaskan bahwa al-Qur’an bukanlah suatu karya misterius atau karya sulit yang memerlukan manusia berlatih secara teknis untuk memahami dan menafsirkan perintah-perintahnya. KESIMPULAN . hal ini tidak hanya berlaku untuk ayat-ayatnya secara individual tapi juga untuk al-Qur’an secara keseluruhan. di sini di jelaskan pula prosedur yang benar untuk memahami al-Qur’an. Serta asal-usul perkembangan tradisi sampai perkembangan modern juga tentang filsafatnya telah banyak di sampaikan. Di antara pemikiran Fazlur Rahman antara lain : a. Tanpa memahami latar belakang mikro dan makronya secara memadai. di samping Sunnah.[6] ANALISIS Fazlur Rahman adalah sosok pemikir intelektual yang tinggi di mana ia dapat menghasilkan karya-karyanya yang begitu banyak dan bermanfaat penting bagi ilmu pengetahuan kita. Hasil karyanya yang begitu banyak dapat memperluas pengetahuan tentang tasawuf dan juga filsafat. Dalam pengembangan agamanya adalah perjuangan beliau selama hidup. Seseorang harus mempelajari al-Qur’an dalam Ordo Histories untuk mengapresiasikan tema-tema dan gagasan-gagasannya. b. Menurut Fazlur Rahman.

Raja Grafindo Persada.1-2 Shofyan.33-34 [6] Fazlur Rahman. Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang. DAFTAR PUSTAKA Rivay Siregar. filsafat.2001 Fatah Rosihan Affandi. Semarang. Muhammad al-Qur’an dan sebagainya yang bermanfaat bagi kita semua. Pustaka. ia banyak memberikan warisan yang bermanfaat bagi manusia dari zaman ke zaman. hal. Gelombang Perubahan Dalam Islam. hal. 2001. cit. Skripsi Kritik Fazlur Rahman Terhadap Uzlah. 2002 [1] Fazlur Rahaman.Segala bentuk pemikiran filsafat Fazlur Rahman sangatlah penting dan menjadi suatu arahan pengetahuan yang mengajarkan tentang islam. Bandung. Skripsi Study Analisis Fazlur Rahman Tentang Manusia. 2002. hal. op. op. 1999 Fazlur Rahman Dalam Islam. cit. Skripsi Study Analisis Fazlur Rahman Tentang Manusia.1- 2 [2] Ali Safyan. Gelombang Perubahan Ali Safyan. Tasawuf dari Sufisme Klasik ke Neo Sufisme. Semarang : Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang. Persada. Islam. hal. Jakarta. Semarang : Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang. hal: vi-ix . Skripsi Kritik Fazlur Rahman Terhadap Uzlah. Jakarta : PT. Ia juga meninggalkan sejarah kehidupan pribadinya yang dapat menjadi suatu dokumen penting bagi kita. 2001 [3] Fazlur [4] Ali [5] Rahman. Raja Grafindo Persada. Raja Grafindo. PENUTUP Fazlur Rahman adalah seorang intelektual yang tinggi. PT.43-44 Fatah Rosihan Affandi. 2001. 1994. Fakulatas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang. PT. Semarang.

saya telah menyetujui—dan tidak berbuat lebih lagi terhadap—pernyataan-pernyataan syah wali Allah dan Muhammad Iqbal yang menerangkan proses psikologis wahyu. Ide-idenya di seputar riba dan bunga bank. Selain itu. A dalam sastra Arab. selain mengenyam pendidikan formal. Kanada. juga bagi kelanjutan karier pendidikannya. berbeda dengan kalangan tradisional pada umumnya. tahun 1964. Sekembalinya ke tanah air. Ia dibesarkan dalam keluarga yang bermadzhab Hanafi. pada 1946. Perancis. ia berhasil menyelesaikan studinya di Universitas tersebut dan menggondol gelar M. Lembaga Islam tersebut bertujuan untuk menafsirkan islam dalam term-term rasional dan ilmiah dalam rangka menjawab kebutuhan-kebutuhan masyarakat modern yang progresif. Banyak media yang menyudutkannya. Pada tahun 1942. Akhirnya. dan berhasil meraih gelar doktor filsafat pada tahun 1951. Al-Bayyinat. Ketika itu anak benua Indo-Pakistan belum terpecah ke dalam dua negara merdeka.[3] 2. yang merepresentasikan kaum modernis. Tentu saja gagasan-gagasan liberal Rahman. misalnya. Menurut Rahman. Jerman. seperti disinggung di atas. Pada masa ini seorang Rahman giat mempelajari bahasa-bahasa Barat. seperti Syah Wali Allah. yakni Sah Wali Allah dan Muhammad Iqbal: Dengan demikian. Rahman juga menimba banyak ilmu tradisional dari ayahnya--seorang kyai yang mengajar di madrasah tradisional paling bergengsi di anak benua IndoPakistan. kemudian menjabat sebagai Associate Professor of Philosophy di Islamic Studies. latar sosial anak benua Indo-Pakistan yang telah melahirkan sejumlah pemikir Islam liberal. sehinga ia menguasai banyak bahasa. zakat. Anak benua ini terkenal dengan para pemikir islam liberalnya. juga merupakan benih-benih dari mana pikiran liberal Rahman dan skeptisisme Rahman tumbuh. media kaum fundamentalis. proses turunnya wahyu Al-Qur’an. menetapkan Rahman sebagai munkir al-Quran. Rahman pun mengajukan pengunduran dirinya . Latar Belakang sosial dan Intelektual Fazlur Rahman dilahirkan pada tahun 1919 di daerah barat laut Pakistan. Islam. Turki. ia diangkat sebagai direktur pada Institute of Islamic Research. yakni India dan Pakistan. argumen saya tentang kemapanan karakter wahyu Al-Qur’an terdiri dari dua bagian. Belakangan. Yunani. Puncak kontroversi ini adalah demonstrasi massa dan aksi mogok total.BIOGRAFI DAN PEMIKIRAN FAZLUR RAHMAN A. ayahnya adalah seorang kyai tradisional yang memandang modernitas sebagai tantangan yang perlu disikapi. Persia. keluarga Rahman selain kondusif bagi perkenalannya dengan ilmu-ilmu dasar tradisional. Ketika menginjak usia yang kesepuluh. Merasa tidak puas dengan pendidikan di tanah airnya. Arab dan Urdu. Sejak kecil sampai umur belasan tahun. Inggris. Inggris. telah menghebohkan media massa selama kurang lebih setahun. ia sudah bisa membaca Al-Qur’an di luar kepala. sunnah dan hadis. Paling tidak ia menguasai bahasa Latin. yang menyatakan protes terhadap buku tersebut. Sedangkan Dewan Penasehat Ideologi Islam bertugas meninjau seluruh hukum baik yang sudah maupun belum ditetapkan. Rahman sangat apresiatif terhadap pemikiran pendahulunya. ia juga diangkat sebagai anggota Advisory Council of Islamic Ideology Pemerintah Pakistan. suatu madzhab fiqih yang dikenal paling rasional di antara madzhab sunni lainnya. ia secara eksplisit mengakui bahwa pemikirannya merupakan kelanjutan dari pemikiran pendahulunya. Kedua lembaga ini memiliki hubungan kerja yang erat. Bahkan pernyataan Rahman dalam karya magnum opusnya. [2] Ia juga menerima ilmu hadis dan ilmu syariah lainnya. selalu mendapatkan serangan dari kalangan ulama tradisionalis dan fundamentalis di Pakistan. karena Dewan Penasehat bisa meminta lembaga riset untuk mengumpulkan bahan-bahan dan mengajukan saran mengenai rancangan undang-undang.[4] Ia mengajar beberapa saat di Durham University. dengan tujuan menyelaraskannya dengan “Al-Qur’an dan Sunnah”. pada Agustus 1962. telah meledakkan kontroversi-kontroversi berskala nasional yang berkepanjangan. Latar Belakang Pendidikan dan Pengalaman Setelah menamatkan sekolah menengah. Misalnya. dan lainnya. Ia apresiatif terhadap pendidikan modern. Potret Seorang Intelektual Neomodernis 1. Pakistan. Rahman mengambil studi bidang sastra arab di Departeman Ketimuran pada Universitas Punjab. bukannya dihindari. Karena itu. fatwa mengenai kehalalan binatang yang disembelih secara mekanis. Dalam bagian Pertama. ia dilahirkan dalam keluarga muslim yang amat religius. Rahman melanjutkan studi doktoralnya ke Oxford University. McGill University. [1] Menurut Rahman sendiri. Sir Sayyid Ali dan Iqbal. bahwa “Al-Qur’an itu secara keseluruhannya adalah kalam Allah dan—dalam pengertian biasa—juga seluruhnya adalah perkataan Muhammad”.[5] Karena tugas yang diemban oleh kedua lembaga inilah Rahman intens dalam usaha-usaha menafsirkan kembali Islam untuk menjawab tantangan-tantangan masa itu. Bahkan dalam pembahasannya mengenai wahyu ilahi dan nabi.

Rahman menemukan adanya hubungan organis antara sunnah ideal Nabi SAW dan aktivitas ijtihad-ijma’. Ijtihad dan Ijma’). Di sini. yang dilatari oleh pergumulannya dalam upayaupaya pembaruan (hukum) Islam di Pakistan. Al-Ghazali. 3. Sementara yang terakhir mengupas perbedaan doktrin kenabian antara yang dianut oleh para filosof dengan yang dianut oleh ortodoksi. ia menulis buku yang berjudul: Islamic Methodology in History (1965). Secara berturut-turut. Buku kedua yang ditulis Rahman pada periode kedua ini adalah Islam. Pada periode awal dan kedua. Pada periode Chicago. Ibn Taymiyah dan Ibn Khaldun. Al-Syahrastani. Taufik Adnan Amal membagi perkembangan pemikirannya ke dalam tiga babakan utama.dari jabatan Direktur Lembaga Riset Islam pada 5 September 1968. Sebab. doktrin mukjizat dan konsep dakwah dan syariah. Rahman belum secara terang-terangan mengaku terlibat langsung dalam arus pembaruan pemikiran Islam. nabi menerima wahyu dengan mengidentifikasikan dirinya dengan Intelek Aktif. Seperti halnya teori para filosof dan kaum ortodoks. sementara menurut ortodoksi nabi menerima wahyu dengan mengidentifikasikan dirinya dengan malaikat. sebagai juru bicara neomodernis. dan Prophecy in Islam: Philosophy and Orthodoxy (1958). Kelak. Rahman mengambil sampel dua filosof ternama. dan Islam and Modernity:Transformatioan of an intellektual tradition (1982). Rahman memutuskan hijrah ke Chicago untuk menjabat sebagai guru besar dalam kajian Islam dalam segala aspeknya pada Departement of Near Eastern Languages and Civilization. Menurut para filosof. Rahman sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada perbedaan mendasar antara posisi filosofis dan ortodoksi. Avicenna’s De Anima (1959). secara tegas Rahman menarik garis yang membedakan antara sunnah ideal nabi SAW di satu sisi. Sunnah. Baru pada periode ketiga Rahman mengakui dirinya. yang di dasarkan pada perbedaan karakteristik karya-karyanya: (I) periode awal (dekade 50-an). Perkembangan Pemikiran dan Karya-karyanya Dari selintas perjalanan hidup Fazlur Rahman di atas. Jabatan selaku anggota Dewan Penasehat Ideologi Islam juga dilepaskannya pada 1969. pada periode kedua bersifat hitoris sekaligus interpretatif (normatif). terhadap sunnah ideal nabi SAW yang kemudian menjelma menjadi ijma’ atau sunnah yang hidup. Ijtihad dan Ijma’. Rahman berteori bahwa Nabi mengidentifikasikan dirinya dengan hukum moral. Hasilnya adalah kesepekatan aliran ortodoks dalam menolak pendekatan intelektualis-murni para filosof terhadap fenomena kenabian. sunnah kaum muslim awal merupakan hasil ijtihad personal. perbedaan ada sejauh pada tingkat penekanan saja. yang menyuguhkan—meminjam istilah Amin Abdullah—rekontruksi sistemik terhadap perkembangan Islam selama empat belas abad. Tapi mereka lebih menekankan nilai-nilai syariah ketimbang intelektual. Penyusunan buku ini bertujuan untuk memperlihatkan: (I) evolusi historis perkembangan empat prinsip dasar (sumber pokok) pemikiran Islam—Al-Qur’an. melalui instrumen qiyas. proses psikologis wahyu tehnis atau imaninatif. setelah mebagi babakan pembaruan dalam dunia Islam. dan (ii) peran aktual prinsip-prinsip ini dalam perkembangan sejarah Islam itu sendiri. pandangan ini cukup mempunyai pengaruh terhadap pandangan Rahman tentang proses “psikologis” nabi menerima wahyu. Proyek Membuka Pintu Ijtihad Temuan historis Rahman mengenai evolusi perkembangan empat prinsip dasar (Al-Qur’an. pada gilirannya telah mengantarkannya pada agenda yang lebih penting lagi: perumusan kembali penafsiran Al-Qur’an yang merupakan jantung ijtihadnya. Dalam kajian historisnya ini. Dua yang pertama merupakan terjemahan dan suntingan karya Ibn Sina (Avisena). dan periode Chicago (dekade 70-an dan seterusnya). Memang. Sementara para filosof lebih menekankan kapasitas alami nabi sehingga menjadi “nabi-manusia”. . Sunnah. periode Pakistan (dekade 60-an). Buku ini boleh dibilang sebagai advanced introduction tentang Islam. Rahman menyusun: The Philosophy of Mulla Sadra (1975). Untuk mewakili pandangan ortodoksi. tampaknya tanah airnya belum siap menyediakan lingkungan kebebasan intelektual yang bertanggungjawab. maka karya-karya pada periode ketiga ini lebih bersifat normatif murni. dalam bukunya Islamic Methodology in History (1965).[6] Ada tiga karya besar yang disusun Rahman pada periode awal: Avicenna’s Psychology (1952). University of Chicago. Untuk melacak pandangan filosof. Akhirnya. Kalau karya-karya Rahman pada periode pertama boleh dikata bersifat kajian historis. Major Theme of the Qur’an (1980). B. Kalangan mutakallimun tidak begitu keberatan menerima kesempurnaan intelektual nabi.[7] Pada periode kedua (Pakistan). Rahman menyimak pemikiran Ibn Hazm. dikemukakan pandangan kedua filosof tersebut tentang wahyu kenabian pada tingkat intelektual. ortodoksi lebih suka meraup karakter ilahiah dari mukjziat wahyu ini. Bagi Rahman. Al-Farabi (870-950) dan Ibn Sina (980-1037). Bagi Rahman.

[15] 2. karena keberhasilan gerakan penulisan hadis secara besar-besaran yang dikampanyekan Al-syafi’I untuk menggantikan proses sunah-ijtihad-ijma’ tersebut. memperluas cakupan ranah ijtihad klasik. melainkan berkembang secara demokratis. Untuk mencegah ijtihad yang sewenag-wenang dan merealisasikan ijtihad yang bertanggung jawab itulah. kreatif dan berorientasi ke depan. tetapi suatu pemahaman terhadap keduanyalah yang akan memberikan pimpinan kepada kita dewasa ini. juga seluruhnya adalah perkataan Muhammad. menurut Rahman. yang disusun belakangan pada periode Chicago. Rahman mengutip kembali apa yang telah ditulisnya dalam Islam: Bagi Al-Qur’an sendiri. [12] Akan tetapi. khususnya kepada masalah-masalah masyarakat dagang makkah pada waktu itu. merupakan kepercayaan pokok. ijma’ pada asalnya tidaklah statis. Rahman menegaskan: bukan hanya kembali kepada Al-Qur’an dan sunnah sebagai mana yang dilakukan pada masa lalu. Rahman secara blak-blakan menolak doktrin tertutupnya pintu ijtihad. Bahwa AlQur’an itu adalah kalam Allah yang diwahyukan kepada nabi Muhammad SAW. ataupun pemilahannya ke dalam ijtihad muthlaq. Kembali ke masa lampau secara sederhana. Apa itu Al-Qur’an dan Apa Tujuan Metodologi Tafsir Pandangan Rahman mengenai Al-Qur’an merupakan landasan bagi perumusan metodologi tafsirnya. Al-Qur’an secara keseluruhannya adalah kalam Allah.[9] Berpijak pada temuan historis ini.dengan sunnah hidup kaum muslim awal atau ijma’ sahabat di sisi lain. Hal ini selain didasarkan pada fakta bahwa Al-Qur’an sebagai sumber pokok ijtihad. juga yang lebih penting lagi adalah didasarkan pada pandangannya bahwa seluruh bangunan syariah harus diperiksa dibawah sinaran bukti AlQur’an: Seluruh kandungan syari’ah mesti menjadi sasaran penilikan yang segar dalam sinaran bukti Al-Qur’an. Suatu penafsiran Al-Qur’an yang sistematis dan berani harus dilakukan. terhadap situasi moral-sosial arab pada masa nabi. tentu saja kembali keliang kubur. Al-Qur’an adalah respon ilahi. Rahman pun tampaknya tidak ingin daerah teritorial kebebasan ijtihad yang telah dibukanya—sebagai hasil dari liberalisasinya terhadap konsep ijtihad—menjadi tempat persemaian dan pertumbuhan ijtihad yang liar. Dengan demikian. proses ijtihad-ijma’ terjungkirbalikkan menjadi ijma’-ijtihad.pasti kita temui pemahaman yang hidup terhadap Al-Qur’an dan sunnah.[13] C. dan Ketiga (3). ijtihad fil masail. serampangan dan tidak bertanggung jawab. dan ijtihad fil madzhab. Puncak dari proses reifikasi ini adalah tertutupnya pintu ijtihad. dan konsekwensinya juga bagi kaum muslimin. Dan ketika kita kembali kepada generasi muslim awal . sekitar abad ke empat Hijrah atau sepuluh masehi. menolak kualifikasi ganjil mengenai ilmu gaib misterius sebagai syarat ijtihad. Tanpa kepercayaan ini. sewenangwenang. Rahman memberikan argumen yang sangat kokoh untuk menegaskan kemapanan karakter wahyu dari Al-Qur’an ini. Akibatnya. demikian hebatnya. Al-Qur’an adalah kalam Allah. Metodologi tafsir Rahman merupakan jantung ijtihadnya sendiri. dan dalam pengertian biasa.[8] Namun demikian. yang sepenuhnya lain. ijma’ yang tadinya berorientasi ke depan menjadi statis dan mundur ke belakang: mengunci rapat kesepakan-kesepakatan muslim masa lampau. justru persoalannya terletak pada kemampuan kaum muslim untuk mengkonsepsi Al-Qur’an secara benar. hingga ia menolak—atas dasar kuatnya keyakinan ini—beberapa klaim mendasar dari tradisi Yudeo-Kristiani mengenai Ibrahim dan nabi-nabi lainnya. [16] . Hasilnya adalah satu kesimpulan Rahman: ijtihad baik secara teoritis maupun secara praktis senantiasa terbuka dan tidak pernah tertutup. komprehensif dan berjangka panjang. Muhammad juga dengan tegas meyakinai bahwa ia adalah penerima risalah dari Tuhan. Dan dalam konteks inilah metodologi tafsir Rahman yang dipandangnya sebagai “the correct prosedure for understanding the Qur’an” atau “ the correct methode of Interpreteting The Qur’an” [11] memainkan peran sentral dalam seluruh bangunan pemikirannya. Rahman mengajukan metodologi tafsirnya. Karena itu. Ijtihad yang diinginkan Rahman adalah upaya sistematis. Rahman mendobrak doktrin ini dengan beberapa langkah: Pertama (1). melalui ingatan dan pikiran nabi. menegaskan bahwa ijtihad bukanlah hak privilise eksklusif golongan tertentu dalam masyarakat muslim.[14] Konsepsinya mengenai Al-Qur’an secara sederhana dapat dijabarkan ke dalam nuktah-nuktah sebagai berikut: 1. Kedua (2). tidak seorang pun yang bahkan dapat menjadi muslim nominal (hanya nama saja).[10] Tetapi.

D. dalam masalah hukum. Karenanya. Hukum moral adalah abadi. bukan merupakan reaksi terhadap barat. Al-Qur’an itu laksana puncak gunung es yang terapung: sembilan sepersepuluh darinya terendam di bawah permukaan air sejarah dan hanya sepersepuluh darinya yang tampak ke permukaan. Rahman membagi gerakan pembaruan ke dalam empat gerakan. bukan pada ketentuan-ketentuan harfiahnya. Perhatian utama Al-Qur’an adalah perilaku manusia. 6. Karenanya. di atas segalanya. dengan memberantas takhayul-takhayul dan dengan membuka dan melaksanakan ijtihad. dalam kenyataannya. Untuk inilah Rahman sering menyebut-nyebut kasus ijtihad Umar bin Khaththab yang dinilainya sebagai preseden baik (uswah) untuk mengeneralisasikan prinsip-prinsip dan nilai-niali umum yang berada di bawah permukaan Sunah dan bahkan teks Al-Qur’an. (c) imbauan untuk membuang sikap fatalisme. penafsiran mereka terhadap Qur’an dan sunnah ini tidak ditopang dengan metodologi yang memadai. tentu saja. Dengan demikian. Rahman menandaskan bahwa tujuan ideal-moral Al-Qur’an yang merupakan elan vitalnya itu telah terkubur dalam endapan geologis sebagai akibat dari proses reifikasi yang begitu panjang. Hanya saja. ada baiknya dikemukakan terlebih dahulu pandangannya mengenai dialektika perkembangan pembaruan yang muncul dalam dunia Islam. Karena itu. (b) imbauan untuk kembali kepada Islam yang sebenarnya. darimana ia menekankan monoteisme dan keadilan sosial. bukan sebuah dokumen legal. Akibatnya. Tetapi. gerakan ini samasekali tidak bisa lepas dari kesan barat . Gerakan pertama adalah revivalisme pra modernis yang lahir pada abad ke 18 dan 19 di Arabia.[18] Karenanya ia lebih berorientasi pada aksi moral ketimbang spekulasi intelektual. Hal ini merupakan harga yang harus dibayar (cost) dari perluasan wilayah islam yang terlalu cepat. dasar pembaruan revivalisme pramodernis ini kemudian dikembangkan oleh gerakan kedua. 5. pembaruan sosial terutama pada bidang pendidikan dan status wanita. tetapi terdapat pada Al-Qur. semangat atau elan vital Al-Qur’an adalah semangat moral. Al-Qur’an adalah dokumen untuk manusia. pembaruan politik untuk membetuk pemerintahan yang representatif dan konstitusional. tujuan tafsirnya adalah untuk menangkap resiones logis yang berada di balik pernyataan formal Qur’an. keabadian kandungan legal spesifik Al-Qur’an terletak pada prinsip-prinsip moral yang menasarinya. bukan risalah mengenai Tuhan. [17] Al-Qur’an terutama sekali adalah sebuah prinsip-prinsip dan seruan-seruan keagamaan serta moral. Gerakan ini secara sederhana mempunyai ciri-ciri umum: (a) keprihatinan yang mendalam terhadap degenarasi sosio-moral umat Islam. Misalnya. Al-Quran merupakan sosok ajaran yang koheren dan kohesif. metodologi yang diharapkan adalah metodologi yang. Gerakan ini muncul secara orisinal dari dunia Islam. modernisme klasik. tanpa diimbangi infrastruktur tingkat pemahaman keagamaan yang memadai. Pengembangannya terletak pada usaha gerakan ini untuk memperluas isi ijtihad—dan juga agenda gerakan— seperti isu tentang hubungan akal dan wahyu. bisa menembus endapan sejarah tersebut sampai lapisan terdalam. Menurut Rahman. komentar-komentar dan respon. India dan Afrika. ia adalah hukum Allah.an secara keseluruhan. dan (d) imbauan untuk melaksanakan pembaruan ini lewat jihad jika diperlukan. tanpa ada paksaan dari luar dirinya. untuk kemudian diterapkan pada realitas kekinian. Mereka lebih banyak mengadopsi isu-isu dari barat dan membungkusnya dengan bahasa “Qur’an”. bagi Rahman. Kepastian pemahaman tidaklah terletak pada arti dari ayat-ayat individual Al-Qur’an. 4. dapat pahami bahwa tujuan metodologi tafsir bagi Rahman adalah untuk menangkap kembali pesan moral universal Al-Qur’an yang obyektif itu. Tidak satupun dari orang-orang yang telah serius berupaya memahami al-Qur’an dapat menolak kenyataan bahwa sebagian besar Al-Qur’an mensyaratkan pengetahuan mengenai situasi-situasi kesejarahan yang baginya pernyataan-pernyataan Al-Qur’an memberikan solusi-solusi. Metodologi Tafsir Rahman Metodologi tafsir Rahman tidak bisa lepas dari agenda pembaruan sebelumnya. [19] Sampai pada titik ini. yang muncul pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 di bawah pengaruh ide-ide barat. dengan cara membiarkan Al-Qur’an berbicara sendiri.3. yakni suatu satu set prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang koheren di mana keseluruhan ajarannya bertumpu. Jasa modernisme klasik ini adalah usahanya untuk menciptakan hubungan harmonis antara pranata-pranata barat dengan tradisi Islam dalam kacamata Al-Qur’an dan sunnah. karenanya.

maka perintah Al-Qur’an akan menjadi hidup dan efektif kembali. instrumentalis sosial muthlak diperlukan. Bagi Rahman. dan Rahman mengaku dirinya sebagai juru bicara gerakan ini. dengan mengkaji situasi atau problem historis dari mana jawaban dan respon Al-Qur’an muncul. Bila gerakan yang pertama mulai dari hal-hal yang spesifik lalu ditarik menjadi prinsip-prinsip umum dan nilainilai moral jangka panjang. Menurut Rahman. yang dapat disarikan dari ayat-ayat spesifik dengan sinaran latar belakang historis dan rationes logis yang juga kerap dinyatakan oleh ayat sendiri. Mengetahui makna spesifik dalam sinaran latar belakang spesifiknya. Langkah kedua dari gerakan pertama ini adalah menggeneralisasikan dari jawaban-jawaban spesifik. Mengawali dengan pemeriksaan terhadap bagian-bagian wahyu paling awal akan memberikan suatu persepsi yang cukup akurat mengenai dorongan dasar . Menurut Rahman. memahami arti atau makna suatu pernyataan Al-Qur’an.sentris. yakni terhadap hasil-hasil dari penafsiran. Dengan metodologi ini Rahman menjanjikan bahwa metodologi yang ditawarkannya dapat menghindari pertumbuhan ijtihad yang liar dan sewenang-wenang. Ini sesuai dengan klaim Al-Qur’an sendiri bahwa ajarannya tidak mengandung kontradiksidalam dan koheren secara keseluruhan. ada dua kelemahan mendasar modrnisme klasik ini yang menyebabkan timbulnya reaksi dari neorevivalisme. Namun karena sifatnya yang reaksioner. Pertama. neomodernisme harus mengembangkan sikap kritis baik terhadap barat maupun terhadap khazanah klasik warisan Islam. Apabila kedua momen gerakan ini ditempuh secara mulus. (b) pembedaan antara ketetakpan legal dan tujuan Al-Quran. (c) pemahaman dan penetapan sasaran Al-Qur’an dengan memperhatikan sepenuhnya latar sosiologis. apologetis dan tidak otentik. Di sela-sela pengaruh neorevivalisme inilah gerakan neomodernis muncul. karena sifatnya yang kontroversialis-apologetis terhadap barat. dari dalam dunia Islam sendiri. pernyataan-pernyataan yang memiliki tujuan-tujuan moral-sosial umum. Yang harus diperhatikan selama langkah ini adalah ajaran Al-Qur’an sebagai keseluruhan. tidak mungkin bahwa sesuatu yang dulunya bisa dan sungguh-sungguh telah direalisasikan ke dalam tatanan spesifik di masa lampau. gerakan ini tidak mampu melakukan interpretasi yang sistematis dan menyeluruh terhadap Islam. setiap hukum yang disimpulkan dan setiap tujuan yang dirumuskan koheren satu sama lain. meskipun kerja rekayasa etis yang sebenarnya dalah kerja ahli etika. serta mengenai kehidupan menyeluruh Arab pada saat Islam datang. Pandangan ini mirip dengan basis pemikiran modernisme klasik. maka gerakan kedua ditempuh dari prinsip umum ke pandangan spesifik yang harus dirumuskan dan direalisasikan ke dalam kehidupan sekarang. adat-istiadat dan lembaga-lembaga. gerakan ini cenderung menutup diri. Dalam konteks inilah ia mengatakan bahwa tugas yang paling mendasar dari kalangan neomodernisme ini adalah mengembangkan suatu metodologi yang tepat dan logis untuk mempelajari alQur’an guna mendapatkan petunjuk bagi masa depannya. Bila yang pertama merupakan tugas para ahli sejarah. baik individual maupun kelompok. ingin membedakan dirinya dengan barat. Langkah ini juga bisa dan selayaknya dibantu oleh pelacakan terhadap pandangan-pandangan kaum muslim awal. masyarakat. penafsiran mereka terhadap Al-Qur’an lebih bersifat ad hoc dan parsial. maka dalam pelaksanan gerakan kedua. dalam konteks sekarang tidak bisa. tentu saja. sampai sekarang sedikit sekali usaha yang dilakukan untuk memahami Al-Qur’an secara keseluruhan. bak kanker.[21] Sebab. menurut Rahman juga harus ditopang dengan suatu kajian mengenai situasi makro dalam batasan-batasan agama. maka tentunya telah terjadi kegagalan baik dalam memahami Al-Qur’an maupun dalam memahami situasi sekarang. Al-Qur’an harus dipelajari dalam tatanan historisnya. Apabila hasil-hasil pemahaman gagal diaplikasikan sekarang. sebagaimana yang terjadi sebelumnya. Berkaitan dengan butir pertama. Yang pertama dari dua gerakan ini terdiri dari dua langkah. Gerakan kedua ini mengandaikan adanya kajian yang cermat atas situasi sekarang sehingga situasi sekarang bisa dinilai dan dirubah sesuai dengan priortitas-prioritas moral tersebut. Rahman mengungkapkan: Suatu pendekatan historis yang serius dan jujur harus digunakan untuk menemukan makna teks Al-Qur’an… Pertama-tama. Reaksi terhadap modernisme klasik ini adalah gerakan ketiga. Akibatnya. Momen gerakan kedua ini juga berfungsi sebagai alat koreksi terhadap momen pertama. isu-isu yang mereka angkat berasal dari dan dalam dunia barat sehingga ada kesa kuat bahwa mereka terbaratkan atau agen westernisasi. Kedua. digambarkan oleh Taufik Andnan Amal dengan tiga langkah metodologis utama: (a) pendekatan historis untuk menemukan makna teks al-Quran dalam bentangan karir dan perjuangan nabi. sehingga setiap arti yang ditarik.[20] Metodologi tafsir Fazlur Rahman merupakan gerakan ganda (bolak-balik). Pertama. yakni neorevivalisme atau revivalisme pascamodernis. atau bahkan dari tuduhan sebagai gerakan antek-antek barat yang ingin merusak Islam. Gerakan ganda ini. yang memandang bahwa Islam itu mencakup segala aspek kehidupan manusia.

Metodologi tafsir Rahman ini bisa dilihat dalam bagan sebagai KEBERANIAN mengungkapkan prinsip kebenaran yang dilandasi ketajaman berpikir. menurut ajaran ini. Rahman menulis: Sasaran Al-Qur’an harus dipahami dan ditetapkan. Walaupun selanjutnya muncul reaksi dari golongan Qadariyah dan Mu'tazilah yang berpaham free will (kebebasan berkehendak) yaitu bahwa Tuhan tidak punya otoritas apa-apa dalam menentukan nasib seorang manusia. serta tidak mengakomodasi radikalisme. Ini terangkum dalam julukan ahl as-sunnah wa-aljamaah (penganut tradisi asli (Sunnah) dan solidaritas ummat (jamaah). Dalam pandangan Fazlur Rahman. . dan ilmu pengetahuan. tetapi hal ini dapat direduksi seminimum mungkin dengan menggunakan Al-Qur’an itu sendiri. Fazlur Rahman dan lain-lain yang sealiran menganggap. namun kenyataannya Irja' semakin berkembang dan menjadi "ruh" kelahiran Sunni dan Syi'ah. tetapi di sisi lain berpengaruh besar pada nilai-nilai etis kebudayaan transenden. Fazlur mengagumi tradisi intelektual sophiscated yang diwariskan ulama masa lalu. sebagai kafir. Menurut pemahaman mereka. tak jadi masalah. Yang terakhir ini merupakan alasan kaum tradisional-konservatif muslim untuk menolak perubahan yang dihasilkan modernisasi budaya dan intelektual. tetapi juga ajaran-ajaran predeterminisme yang mempengaruhi sikap konkret (hal 138). seseorang harus mengikuti bentangan Al-Qur’an sepanjang karir dan perjuangan nabi…Metode ini akan menunjukkan secara jelas makna keseluruhan Al-Quran dalam suatu cara yang sistematis dan koheren. Bahkan benar-benar tanpa kesadaran terhadap hal tersebut dan berpegang (taqlid. Di satu sisi ilmu pengetahuan dan teknologi membawa manfaat. mengarahkan perhatian pada fenomena modernisasi dan perubahan dunia yang dipahami dalam dunia Islam sebagai janus-faced (berwajah ganda. Di sekali lagi seseorang berhadapan dengan bahaya subyektivitas. Berdasarkan pokok pikiran tersebut (kata pengantar oleh Ibrahim Moosa) melalui buku ini Fazlur mencoba menggali kembali wacana telaah historis gelombang perubahan yang dihasilkan para pemikir Islam masa lalu. dimana hukum diharapkan mengabdi kepadanya. Rahman menulis: Kemudian seseorang telah siap untuk membedakan antara ketetapan legal dan sasaran Al-Qur’an. Mengenai pembedaan antara ketetapan legal dan tujuan moral Al-Qur’an. politik. segala keputusan ada dalam kekuasaan Tuhan. Sudah terlalu sering diabaikan baik oleh kalangan non-muslim maupun muslim sendiri bahwa Al-Quran biasanya memberikan alasan-alasan bagi pernyataan-pernyataan legal spesifiknya. Persoalan apakah itu mundur dari Al Quran. Secara khusus Fazlur mengupas paham Irja' (paham penundaan segala keputusan dan dikembalikan kepada otoritas Tuhan) sebagai cikal-bakal kelahiran dua aliran Islam terbesar saat ini (Sunni dan Syi'ah). seperti wajah Dewa Janus). Semua pikiran. yang bukan hanya mempengaruhi karakter teologi. Mengenai butir ketiga. khususnya moral dan spritual. Irja' lahir dari reaksi terhadap gerakan Khawarij yang men-"cap" Ali. penolakan itu sebagai langkah "membabi-buta" yang hanya akan merugikan. tetapi tidak menghalanginya untuk mengangkat sebuah pemikiran kritis tentang gelombang perubahan tersebut. Islam Sunni tidak tahan terhadap sesuatu yang mungkin menganggu salah satu hati dan pikirannya. dan kemungkinan pembaharuan politis struktur sosial. dengan tetap memberi perhatian sepenuhnya terhadap latar sosiologis—yakni lingkungan dimana nabi bekerja dan bergerak. Maka mereka meyakini diam adalah pilihan terbaik dalam menyikapi dilematika kehidupan. dan kemampuan unik menyatukan berbagai persoalan kompleks dalam gaya cerita yang koheren. yang nyata artifisial.gerakan Islam. Dan demikianlah. dan Muawiyah. Irja' merupakan penyebab utama kelesuan moral dan spiritual masyarakat Islam. Utsman. Fazlur Rahman-lahir tahun 1919 di Pakistan dan meninggal tahun 1988 di Chicago-sebagaimana para pemikir muslim abad ke-20 lainnya. ingatan luar biasa. dan mengeluh pada realitas ulama masa kini (pasca-Al Gazali) yang cenderung membuang nilai-nilai kritis dan pembaharuan dari peninggalan tersebut. Walaupun nuansa sejarah terlihat sedikit kental. sebagaimana dibedakan dari pranata-pranata yang dibangun belakangan. tertuju kepada kesuksesan menjaga komunitas. Dua penganut Irja' di atas tidak mampu mengetahui jiwa yang resah yang menuntut ruang untuk kreativitas. di mana masyarakat muslim akan semakin tertinggal di belakang masyarakat kontemporer lain yang telah menjadi penguasa di bidang ekonomi. telah mengantar Fazlur Rahman pada jajaran pemikir-pemikir Islam kontemporer ternama abad ke-20. ketundukan total) ke masa lalu.

Selain itu. Fazlur Rahman mengungkapkan kemungkinan baru ijma’ dalam masyarakat kontemporer. Syi'ah telah menempatkan Al Quran ke dalam pelupaan sistematis dan bergantung kepada imam. opini itu membentuk ijma’ baru dan menggantikan ijma’ lama. Ia tidak begitu saja menerima istilah-istilah komoderenan. Akhirnya. Imam Syi'ah tidak ada yang memiliki . Uraiannya memang menguatkan bahwa ia memang guru besar wacana Islam dengan tekanan pada pemikiran. yang bisa saja beranggotakan Muslim awam atau bahkan nonmuslim. bahkan lebih berbahaya daripada Irja' (hal. Tetapi. Baginya. * Pada periode modern. tetapi pengaruh keseluruhan mereka pada kehidupan moral masyarakat sangat terasa. terbuka sepenuhnya untuk meyakinkan masyarakat akan kebenaran gagasannya. *** TIDAK ketinggalan buku ini juga membahas perjalanan tasawuf yang-sebagaimana Asy'ariyah . Iqbal menyetujui masuknya ulama ke dalam majelis untuk membantu dan memimpin perbincangan-perbincangan bebas tentang masalah yang bertalian dengan Islam. majelis ini dipilih oleh rakyat tanpa kualifikasi teknis apapun. Golongan minoritas yang merasa ijtihad-nya lebih mendekati kebenaran. kecuali di dalamnya terdapat teologi rasional.pengaruh terhadap ahli-ahli hukum dan teologi Syi'ah. karena secara potensial selalu terdapat kemungkinan bagi pandangan minoritas untuk menjadi mayoritas melalui proses perdebatan. misalnya. 150). kecuali memiliki wawasan yang tajam dalam masalah hukum.bahkan tidak bisa memiliki . penghargaan tinggi patut ditujukan kepada pemikir satu ini. Tugasnya adalah memberi advis yang selanjutnya . Undang-undang atau hukun yang ditetapkan majelis bisa saja benar atau keliru. majelis dapat meminta advis kepada para ahli. Aktivitas untuk menggalang konsensus masyarakat ini. ide. Dengan mentransfer ijtihad kepada lembaga legislatif. Muhammad Iqbal. Karya terakhir Fazlur Rahman ini merupakan cerminan kepribadiannya yang merepresentasikan rasionalitas ArabIslam dan pencerahan pemikiran Barat. untuk menghindari kemungkinan terjadinya salah tafsir terhadap sumber-sumber Islam. meskipun menghasilkan banyak komentar dan penafsiran yang luar biasa penuh kiasan. Buku itu dalam dua bab terakhir mengulas gejolak pembaharuan akhir abad petengahan yang dimotori Ibnu Taimiyah serta pemikiran pembaharuan India oleh Syekh Ahmad Sirhindi dan Syekh Wali Allah. Ketika para sufi mengecilkan akal. yang disebut Rahman sebagai lembaga syura-ijma’. Dalam masalah-masalah pelik. sebab harus diakui-terlepas dari pro-kontra terhadapnya Fazlur Rahman telah melengkapi khasanah intelektual Islam dengan satu sikap pasti terhadap pembaharuan ke arah yang lebih baik. mereka mengangkat intuisi (rasa) sebagai pengetahuan yang dinyatakan bebas dari kesalahan karena tidak tertutup (kasyf). ijtihad yang dihasilkan individu atau kelompok kerja akan mengkristal ke dalam ijma’ setelah melalui interaksi ide yang ketat. sarjana pemikir neo-modernis asal pakistan. (hal 147). Iqbal tentu saja tidak memberikan kualifikasi apapun untuk pelaksanaan ijtihad. keberadaannya tidak lebih baik dari masyarakat Sunni. Dalam pandangan Rahman. Ibnu Taimiyah memberikan penilaian pahit dengan menyatakan bahwa ketika seorang sufi melepas pikirannya untuk mencurahkan dirinya secara utuh kepada Tuhan. dirujuk al-Quran dengan terma syura. Tetapi. pembaharuan. dan perenungan. Dengan demikian. Namun demikian.mengecilkan akal vis a vis wahyu. maka setan datang mendiami kekosongan pikirannya dan bebas melalukan tugasnya di sana (hal. dan kemajuan. yang tertinggal hanya kekeringan hukum dan teologi kalam (hal 135).Sedangkan masyarakat Syi'ah. menurut Rahman. ijma’ masyarakat akan ditempa atau dirumuskan ke dalam bentuk hukum dan perundangundangan oleh lembaga legislatif. ia tetap bersifat islami dan demokratis karena merepresentasikan ijma’ masyarakat. pemikir-pemikir Muslim mengembangkan konsep ijma’ dengan berbagai kemungkinan baru yang selaras dengan kondisi modern. 150). mengungkapkan gagasannya tentang ijma’ sebagai transfer kekuasaan ijtihad dari individu yang mewakili mazhab-mazhab yang terorganisasi ke dalam bentuk “institusi legislatif permanen” atau majelis perwakilan rakyat. ijma’ – yang merupakan konsensus mayoritas masyarakat – lebih bersifat dinamis. ada kemungkinan untuk mengubah konsensus tersebut. Rahman bahkan mengelaborasi konsepnya tentang lembaga syura-ijma’ ini ke dalam suatu majelis internasional yang beranggotakan majelis legislatif negeri-negeri Muslim. berorientasi ke depan. dan tidak monolitik. Selama berabad-abad Syi'ah memberikan penghargaan yang sedikit kepada Alquran. Walaupun para sufi tidak bisa disebut murji'ah dalam arti teknis. tapi ketika imam dihilangkan. khususnya Syi'ah 12. Melanjutkan alur pemikiran Iqbal. Apabila masyarakat telah menerima gagasan minoritas secara mayoritas. sepanjang hukum tersebut mencerminkan kehendak masyarakat. Pada level negara.

Untuk pembentukan preferensi ini. Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk membentuk konsensus masyarakat atau untuk menakar kesepakatan masyarakat mengenai suatu hal adalah melalui referendum. Sejalan dengan ini. yang – menurut tafsiran Rahman – mengungkapkan siapa pun yang percaya kepada monoteisme dan hari akhirat. Dalam negara modern. Pandangan-pandangan kesarjanaan Muslim yang dikemukakan di atas dengan jelas menyepakati kesetaraan warga negara – baik Muslim atau nonmuslim – serta persamaan hak dan kewajibannya. majelis ini juga bisa mempengaruhi preferensi publik (preference formation). Mekanisme ijma’ semacam ini menggagaskan keterlibatan seluruh anggota masyarakat. Tetapi. dan kesatuan keagamaan khusus umat Islam (al-wahdah al-diniyyah alkhassah). Sebagaimana disinggung di atas. Tidak ada yang aneh dalam hal ini. . sehingga berbagai sudut pandang yang berkembang dan dikembangkan secara individual ataupun kolektif mendapat kesempatan untuk didengar sebelum masyarakat akhirnya secara konsensus atau mayoritas memilih yang dianggap laik. Aktivitas semacam inilah yang dimaknai Rahman dengan istilah syura. seluruh warga negara harus dipandang setara satu sama lain. Hasan al-Banna. Menurut al-Banna. Senada dengan itu. berdasarkan alur logika yang telah dikemukakan. anggapan semacam itu berseberangan dengan prinsip persamaan dan pengakuan Islam terhadap minoritas nonmuslim. mengkuduskan kesatuan kemanusiaan umum (al-wahdah al-insaniyyah al-’ammah). berdasarkan prinsip mayoritas. jika suatu masalah dinilai laik untuk dirumuskan ke dalam kebijakan. ijma’ bisa memberi kemungkinan legitimasi demokrasi bagi kaum Muslimin dan menawarkan format institusi dan prosedur untuk menjalankannya. tidak akan menimbulkan perpecahan. advokasi. mensinyalir ada orang menganggap bahwa dengan menjadikan Islam sebagai landasan kehidupan. Partisipasi masyarakat yang luas dalam penentuan suatu kebijakan sangat bisa diharapkan dalam implementasi ijma’-referendum ini Pada level regional atau internasional. maka hal ini berarti minoritas nonmuslim tidak dapat hidup di lingkungan umat Islam dan persatuan di antara berbagai unsur masyarakat tidak mungkin tercapai. negara muslim tersebut terikat kesepakatan atau ber-ijma’ untuk melaksanakannya. konvensi-konvensi yang telah dirativikasi suatu negara muslim juga merupakan bentuk lain dari perluasan konsep ijma’. Penggagas. dalam proses pengambilan keputusan. Ketika putusan mayoritas tercapai. menurut al-Banna. Majelis semacam ini –yang dibentuk misalnya lewat pemilihan umum– tentunya merupakan representasi masyarakat yang menerjemahkan kepentingan masyarakat ke dalam kebijakan-kebijakan yang koheren dan konsisten (preference representation). pengikut atau yang menyetujui pandangan minoritas juga harus menerima keputusan mayoritas dan berupaya mengimplementasikannya sebagai suatu konsensus. termasuk dalam proses pencapaian konsensus. seluruh anggota masyarakat – baik Muslim ataupun non Muslim – harus berupaya mengejawantahkannya ke dalam praktik. menurutnya. baik Muslim atau bukan Muslim. malahan menjadikan persatuan berdimensi sakral dan religius. sebagai himpunan orang terpilih. penting dilakukan majelis. tanpa diskriminasi antara sesama warga. konsensus atau ijma’ masyarakat inilah yang kemudian diundangkan oleh lembaga perwakilan rakyat di tingkat lokal atau nasional. Dengan merativikasi konvensi semacam itu. serta cara-cara lainnya yang melibatkan masyarakat. karena – seperti ditegaskan para yuris klasik – legitimasi institusi negara tidak terambil dari sumber-sumber tekstual. dalam risalah Nahwa an-Nur (1936). berdasarkan sejumlah ayat al-Quran (2:62 dan 5:69). ketika suatu ijma’ mengkristal atau berhasil dicapai dalam komunitas tersebut.akan dirumuskan ke dalam undang undang oleh majelis nasional negeri-negeri Muslim berdasarkan sinaran perbedaan regional dan situasi social masing-masing negeri Survei singkat di atas memperlihatkan bahwa ijma’ bisa memberikan pijakan yang efektif untuk menerima kekuasaan mayoritas (majority rule). jelas bisa mengambil bentuk referendum. pengajuan rancangan undang-undang. Louay M. serta melakukan perbuatan baik akan selamat. Safi juga mengemukakan bahwa legitimasi negara tergantung pada sampai sejauh mana organisasi dan kekuasaan negara merefleksikan kehendak masyarakat. termasuk bukan muslim. Implementasi prinsip-prinsip ini. deliberasi. ia mengikat seluruh anggotanya tanpa kecuali. Mekanisme ijma’ yang telah diuraikan juga memberikan kemungkinan deliberasi dan perdebatan publik. tetapi didasarkan terutama pada prinsip ijma’. Karena itu. Agama Islam. Dengan kata lain. Ijma’. kesatuan keagamaan umum (al-wahdah al-diniyyah al-’ammah). Fazlur Rahman menekankan sikap anti-eksklusivisme Islam sehubungan dengan komunitaskomunitas keagamaan lainnya.

Sampai di sini dapat diketahui bahwa menurut Ma’arif. seorang pembaharu yang paling bertanggung jawab pada abad ke-20 yang berpengaruh besar dipakistan. Di antara masalah teoretis konseptual yang paling memerlukan pemikiran lebih mendalam adalah persoalan epistemologi. Moosa memandang bahwa pemikir-pemikir modern seperti Fazlur Rahman sangat penting karena mengartikan wahyu dalam term sejarah. Rahman dalam memahami Islam dan al-Qur’an selalu mengaitkan dengan bingkai peradaban masa depan. dan dunia modern. Ebrahim Moosa menjadi editor dan pemberi kata pengantar pada karya Rahman yang berjudul ”Revival and Refrom in Islam: A Study of Islamic Fundamentalism” inti dari kata pengantar ini adalah bahwa Rahman sangat antusias untuk mendaptkan kembali al-Qur’an. sejarah Islam. Menurut Ma’arif seseorang baru mampu membaca membaca posisi pemikiran Rahman secara tepat dan jujur dalam mata rantai revolusi intelektual dunia Islam setelah seseorang memahami al-Qur’an sebagai sebuah ajaran yang utuh disamping asSunnah. Dalam tulisan tersebut Ma’arif bermaksud menganalisis wawancara antara Fazlur Rahman dan profesor Hamid Algar dari Universitas California. Ia berhasil bersikap kritis baik terhadap warisan Islam sendiri maupun terhadap tradisi barat. serta di Chicago Amerika (di dunia barat) memiliki berbagai pemikiran yang terkait dengan persoalan tersebut. Tulisan Maarif yang kedua adalah ”Fazlur Rahman. yaitu sumber data primer. Fazlur Rahman. Malaysia. Ia menilai bahwa Rahman sangat kritis terhadap pemikiran Islam yang tidak berakar dalam sejarah dan tidak relevan bagi perkrmbangan masyarakat. Seluruh karya Rahman menurut Nurcholish dialirkan untuk bermuara kepada penyingkapan kandungan kitab suci. Tinjauan Pustaka Ahmad Syafi’i Maarif menulis dengan judul ”Mengenal Fazlur Rahman dan Pemikirannya tentang Islam” di dalam tulisannya. Maarif mengategorikan Rahman sebagai salah seorang yang bertanggung jawab dalam masalah pembaharuan pemikiran Islam secara total dan tuntas. Selain itu juga dapat dipandang sebagai sari pati penyimpulan yang dibuatnya berdasarkan pengetahuannya yang mendalam dan luas tentang pemikiran Islam. Oleh karena itu buku tersebut harus dipandang sebagai kelanjutan dari proyek pengembangan hermeneutika al-Qur’an oleh Rahman. Nurcholish Madjid menulis dengan judul ”Fazlur Rahman dan Rekonstruksi Etika al-Qur’an”. Metode Penulisan Buku Pada buku ini terdapat dua sumber data. Ia berhasil mengembangkan suatu metode yang dapat memberi solusi alternatif atas problem-problem umat Islam kontemporer. Tulisan Ma’arif yang ketiga berjudul ”Fazlur Rahman” yang dimuat dalam bukunya Islam Kekuatan Doktrindan Kegamangan Umat. baik yang bersifat teoritis konseptual maupun praktis. al-Qur’an dan Pemikiran Islam”. yaitu karya-karya atau tulisan-tulisan yang ditulis sendiri oleh Fzlur Rahman yang relevan dengan tulisan ini. Yang paling penting untuk selalu dipegangi adalah bahwa alQur’an mengajarkan doktrin kesatuan kehidupan dan kesatuan ilmu pengetahuan. tentang berbagai persoalan Islam kontemporer. Indonesia dan Negara-negara lain (di dunia Islam).PENDIDIKAN PERSPEKTIF FAZLU RAHMAN BAB I PENDAHULUAN Bukan rahasia lagi bahwa pendidikan Islam masih menghadapi berbagai persoalan. terutama periode awal. dan sumber data sekundernya adalah karya- .

ada beberapa factor yang telah membentuk karakter dan kedalaman dalam beragama. Pada tahun 1940. Ayahnya memperhatikan Rahman dalam hal mengaji dan menghafak al-Qur’an. konsep dan metode yang terkait dengan judul buku ini. Rahman kecil beruntung memiliki seorang ayah yang betul-betul memperhatikan pendidikannya. Kelima bab yang masingmasingnya terbagi menjadi beberapa subbab ini merupakan satu kasatuan yang bulat dan utuh. BAB II BIOGRAFI FAZLUR RAHMAN Penulisan biografi Rahman ini meliputi pendidikan. Sehingga. Rahman melanjutka studinya ke Lahore dan memasuki sekolah modern. dan pendidikan Fazlur Rahman. dan pendidikan Islam. yang memberikan gambaran secara singkat mengenai keseluruhan buku ini dan memberikan ramburambu untuk masuk pada bab-bab seanjutnya. Pertama-tama ia dididik dalam sebuah keluarga muslim yang taat beragama.karya orang lain mengenai pemikiran Fazlur Rahman. Tema ini dipilih karena tema tersebut telah lama melekat pada diri Fazlur Rahman. hermeneutika. tetapi juga berupa konsep atau teori-teori pendidikan Islam yang dapat diaplikasikan di Indonesia. . Pembahasan ini didasarkan pada temuan struktur dasar dari tiga sistem epistemologi Islam yang terdapat pada bab 1. Bab pertama dalah pendahuluan. pada usia sepuluh tahun. terutama tentang kejujuran.A. pada bab empat dengan judul neomodernisme dalam pendidikan Islam. deskripsi teori. Pendidikan dalam keluarganya benar-benar efektif dalam membentuk watak dan kepribadiannya untuk dapat menghadapi kehidupan nyata. epistemologi. kasih sayang. dan koherensi internal. Selanjutnya data yang sudah tersistematisasi dianalisis dengan analisis bahasa. Ayahnya. rahman telah hafal al-Qur’an seluruhnya. Dokumen-dokumen tersebut kemudian dibaca dan setelah itu diklasifikasikan. Bab kedua membahas biografi Fazlur Rahman yang merupakan titik sentral dari pembahasan buku ini. ia berhasil menyelesaikan masternya dalam bidang yang sama pada Universitas yang sama pula. (anak benua india) yang sekarang terletak disebelah barat laut Pakistan. Maulana Sahab al-din adalah seorang alim terkenal lulusan Deoband. Hal penting lainnya bahwa ia dididik dalam sebuah keluarga dengan tradisi madzhab Hanafi. metodologi. Penulisan buku ini diakhiri pada bab lima yang berisi kesimpulan dan saran-saran. terutama dalam diskursus epistemologi. pada tahun 1933. yang tidak hanya berupa rumusan epistemologi dan metodologi pemikiran Fazlur Rahman. Menurut Rahman. Dalam pengumpulan data digunakan metode dokumentasi. Pendidikan Fazlur Rahman Rahman lahir pada tanggal 21 september 1919 didaerah Hazara. Diantara factor-faktor tersebut yang penting adalah ketekunan ayahnya dalam mengajarkan agama padanya dirumah dengan disiplin tinggi sehingga dia mampu menghadapi berbagai macam peradaban dan tantangan dialam modern. Kerangka Teori Kerangka teori atau kerangka konseptual di sini berisi pengertian. Kemudian. Sumber-sumber data yang sudah terkumpul baik sumber primer maupun sumber sekunder dijadikan sebagai dokumen. Sistematika penulisan buku Keseluruhan buku ini terdiri atas lima bab dan setiap bab terbagi atas beberapa subbab. Kemudian dua tahun berikutnya. Subbab kesimpulan berisi berbagai temuan dalam penulisan buku ini. perkembangan pemikiran dan karya-karyanya. disamping pengajaran dari ibunya. serta kecintaan sepenuh hati darinya. dia menyelesaikan B. dan sekaligus berfungsi sebagai alat analisis terhadap metodologi. Bab ketiga membahas epistemologi dan metodologi Fazlur Rahman.-nya dalam bidang bahasa arab pada Universitas Punjab.

Setelah melepas kedua jabatannya di Pakistan. 1. merupakan karya orisinil Rahman yang paling penting dalam periode ini. Jerman. 1. dan Urdu. pada tahun 1969. 1. berisi kajian dari pemikiran Ibn Sina yang terdapat pada kitab al-Najat. Penguasaan bahasa yang bagus sangat membantunya dalam memperdalam dan memperluas keilmuannya. dan selanjutnya di Institute of Islamic Studies. Rahman hijrah kebarat.Empat tahun kemudian Rahman berangkat ke Inggris untuk melanjutkan studinya di Universitas Oxford. Periode kedua (Periode Perkembangan) Periode kedua disebut periode perkembangan karena pada periode ini Rahman mengalami proses menjadi. pemikiran dan karya-karya Rahman pada periode ini didominasi oleh pendekatan historis. Periode ini dimulai sejak kepulangan Rahman dari Inggris ke Pakistan sampai dengan menjelang keberangkatannya ke Amerika. Ketika kuliah di Universitas Oxford Rahman mempunyai kesempatan mempelajari bahasa-bahasa barat seperti bahasa Ltin. (2) Avecinna’s De Anima.(3) Prophecy in Islam: Philoshophy and Orthodoxy. Dengan dua kedudukan tersebut. Periode pertama (Periode Pembentukan) Periode pertama disebut periode pembentukan karena pada periode ini Rahman mulai meletakkan dasar-dasar pemikirannya dan mulai berkarya. 1. Los Angeles. Selain menjabat sebagai Direktur Lembaga Riset Islam. Rahman berhasil menulis tiga karya intelektualnya. University of Chicago. Secara epistemologis. ia ditunjuk sebagai Direktur Lembaga Riset Islam setelah sebelumnya ia menjabat sebagai staf di lembaga tersebut selama beberapa saat. Rahman menyelesaikan program Ph.-nya pada tahun 1949. dan periode kematangan. periode perkembangan. Pada periode ini.D. Periode ini dimulai sejak Fazlur Rahman belajar sampai dengan menjelang kepulangan kenegerinya. yaitu periode pembentukan (formasi). pada tahun 1964 Rahman ditunjuk sebagai anggota Dewan Penasehat Ideology Islam pemerintah Pakistan. yaitu Islamic Studies dan Fikru-Nazhr (berbahasa Urdu). Pada awal tahun 1960-an. sampai akhirnya tuhan memanggilnya pulang pada tanggal 26 Juli 1988. 1. i. yaitu: (1) Avecinna’s Psychology. dengan disertasi tentang Ibn Sina. Arab. lembaga ini berhasil menerbitkan dua jurnal ilmiah. Selama kepemimpinannya. Ketika itu. Pada periode ini Rahman disibukkan oleh kedudukannya sebagai direktur lembaga riset Islam dan sebagai anggota dewan penasehat ideology Islam pemerintah Pakistan. Rahman terdorong untuk mendefinisikan Islam kembali . Kemudian. Amerika. Inggris. ia diterima sebagai tenaga pengajar di Universitas California. ia mulai menjabat sebagai Guru Besar kajian Islam dalam berbagai aspeknya di Departement of Near Eastern Languages and Civilization. McGill University Canada. Kemudian dua tahun berikutnya. Pakistan. Inggris. Turki. setelah mengajar selama beberapa saat di Universitas Durham. Perkembangan pemikiran dan Karya-Karya Fazlur Rahman Perkembanga pemikiran dan karya-karya Rahman dapat diklasifikasikan kedalan tiga periode. tetapi Rahman mengajar selama beberapa tahun di Durham University. being the psychology part of kitab al-Shifa’ merupakan suntingan dari kitab al-Nafs yang merupakan bagian dari kitab al-Shifa’. Yunani. 1. Inggris. Rahman pulang kenegerinya. Pakistan. Karya ini dilandasi oleh rasa keprihatinannya atas kenyataan bahwa sarjana-sarjana muslim modern kurang menaruh minat dan perhatian terhadap doktrin-doktrin kenabian. Ia menetap di Chicago kurang lebih selama 18 tahun. i. Setelah selesai kuliah di Oxford ia tidak langsung pulang kenegerinya. yaitu proses berkembang dari pertumbuhan menuju ke kematangan.

yatu: Tuhan. pemikiran dan karya-karya Rahman pada periode ini mulai beranjak dari pendekata historis menuju kependekatan normatif. tesis tersebut kembali diungkapkan untuk membantah pandangan para sarjana barat modern yang keliru tentangnya. dan (b) peran actual prinsip-prinsip tersebut terhadap perkembangan islam itu sendiri. setan dan kejahatan. Philosophy of Mulla Sadra Shirazi. Syafi’i Ma’arif mungkin didasarkan pada pertimbangan pemasaran. Secara epistemologis. Tujuan penulisan buku ini adalah untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak akan sebuah pengantar tentang tema-tema pokok al-Qur’an. Dalam periode ini ia berhasil menyelesaikan beberapa buku. buku ini diberi judul Islamic Education and Modernity oleh penulisnya. pada periode kedua ini. ia terlibat secara intens dalam upaya-upaya untuk merumuskan kembali islam dalam rangka menjawab tantangan-tantangan dan kebutuhan-kebutuhan masyarakat muslim kontemporer. karya-karya yang ditelurkannya lebih menampakkan dirinya sebagai orientalis muslim yang cukup berkualitas. rangkaian artikel ini. Keterlibatan Rahman dalam arus pemikiran islam ditandai dengan dipublikasikannya serangkaian artikel-artikelnya dalam jurnal Islamic Studies mulai bulan maret 1962 hingga Juni 1963. Bila perkataan “pendidikan” tetap bertengger pada judulnya. Ijtihad dan ijma’. Pengubahan ini menerut A. yaitu kira-kira selama empat belas abad keberadaan islam. belakang diterbitkan dalam bentuk buku yang berjudul Islamic Methodology in History. Penelitian itu melibatkan selusin sarjana-sarjana berusia muda yang diketahui Rahman dan Leonard Binder. Rahman tidak memprlihatkan minatnya untuk memahami kajian-kajian islam normatif. dengan tambahan bab “Ijtihad pada abad-abad kemudian”. serta lahirnya masyarakat muslim. dalam buku ini. karena ia memeng berbicara tentang pendidikan islam dalam perspektif sejarah dengan al-Qur’an sebagai kriterium penilai. Buku kedua adalah Major Themes of the Qur’an. Pada mulanya. kenabian dan wahyu. Sunnah. Isi buku ini merupakan hasil dari sebuah proyek riset yang dilaksanakan di Universitas Chicago dan di biayai oleh ford Foundation dalam “Islamic Education”. buku ini disusun dengan tujuan untuk memperlihatkan (a) evolusi historis perkembangan empat prinsip dasar pemikiran islam yang memberi kerangka bagi seluruh pemikiran islam yaitu al-Qur’an. yang pada mulanya merupakan bagian dari sebuah proyek lain yang lebih besar yang bernama “Islam and Social Change”. Ia banyak menulis artikel dalam berbagai jurnal internasional dan ensiklopedia. 1965. Metode yang digunakan Rahman dalam buku ini mensintesiskan berbagai tema secara logis ketimbang kronologis dan membiarkan alQur’an berbicara mengenai dirinya sendiri. the University of Chicago Press. manusia sebagai anggota masyarakat. Kalau dalam buku islam ia menyanggah bahwa tradisi filsafat islam telah mati setelah diserang bertubi-tubi oleh al-Ghazali pada abad ke 12. Rahman lebih dominan mengemukakan kritik historis. Buku ketiga yang ditulis Rahman pada periode ini adalah Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition. Buku ini merupakan upaya Rahman dalam menyajikan sejarah perkembangan islam secara umum. judul buku tersebut diubah menjadi Islam and Modernity. penafsiran hanya digunakan untuk “merangkaikan ideide”. Disamping itu. disampinh sedikit memberikan harapan dan saran-saran.bagi Pakistan. Periode ketiga (Periode Kematangan) Karya-karya intelektual Rahman sejak kepindahannya ke Chicago (19670) mencakup hamper seluruh kajian islam normatif maupun historis. Buku kedua yang dihasilkan oleh Rahman dalam periode ini adalah berjudul Islam. manusia sebagai individu. Dalam buku ini. i. Penulisan buku inidmulai pada tahun 1977 dan selesai pada tahun 1978. Buku ini berisi delapan tema pokok al-Qur’an. Karachi. alam semesta. Oleh pihak penerbit. setelah itu masih banyak dilakukan perbaikan-perbaikan. bagi Pakistan khususnya. Sementara itu. . Dalam periode pertama. 1. pertama. 1. 1. Buku ini merupakan kajian histories Rahman terhadap pemikiran Shdr al-Din al-Syrazi (Mulla Shadra). eskatologi. Maka. Periode ini ditandai oleh sesuatu perubahan yang radikal. Central Istitute of Islamic Research.

. Selanjutnya penggunaan istilah ”pengetahuan”semakin meluas..yang secara umum bermakna pengetahuan. Misalnya terdapat ungkapan yang terkenal. Akan tetapi. secara historis tidak dapat diragukan bahwa perkatan tersebut lahir dari kalangan tradisionalis dengan makna sebagaimana telah disebutkan tadi. arti kata ilm ini mengarah pada sabda nabi”talabul ’ilmi”. istilah fiqh diterapkan padanya. atau menuntut ilmu. Selanjutnya. perkataan tersebut dipergunakan secara umum. pada awalnya. yaitu hasil-hasil dari proses berpikir tentang hukum. yaitu melulu soal pendidikan dalam artian yang sempit. Sehubungan dengan itu. Rahman menjelaskan bahwa istilah ilmu itu. lebih diterima tradisionalis dari pada rasional. melainkan sebagai pengetahuan tersendiri . Menurut Rahman al-Qur’an berkali-kali menggunakan istilah ”ilm”. islam berkembang menjadi suatu tradisi. Buku ini berusaha memotret kaitan organis antara islam sebagai sebuah system kepercayaan dan islam sebagai sebuah tradisi pengobatan manusia. Sementara itu. karakter dan kebenaran pengetahuan menurut al-Qur’an Epistemologi Fazlur Rahman 1. Proses memahami dan memikirkan materi-materi tradisional itu disebut fiqh. Buku terakhir yang dihasilkan Rahman adalah Health and Medicine in Islamic Tradition. Dengan menghilangkan perkataan pendidikan. kata ilmu mulai digunakan dengan pengertian pengetahuan yang diperoleh melalui proses belajar. fazlur Rahman menjelaskan konsep pengetahuan kaum muslimin (the muslim’s concept of knowledge). talabul ’ilmi berarti proses perjalanan yang lama dan sukar dari suatu tempat ketempat lain. dari suatu negeri ke negeri lain duduk takzim menghadap seorang guru tradisional dan menerima tradisi dari sang guru. Karakteristik Pengetahuan . yaitu pengetahuan mengenai agama dan pengetahuan mengenai tubuh manusia (selanjutnya terkenal dengan ilmu kedokteran). Dalam buku yang berjudul Islamic Methodologi in History. istilah tersebut tidak banyak lagi digunakan sebagai proses untuk memahami masalah-masalah hukum. Pengertian Pengetahuan Kata ”pengetahuan ” (dalam bahasa inggris knowledge) adalah kata benda yang berasal dari kata kerja ”tahu” (to know) yang semakna dengan ”mengetahui”. terutama dalam sejarah islam. Didalamnya Rahman menjelaskan konsep pengetahuan kaum muslimin dan perkembangannya.menurut bahasa kata pengetahuan bisa bermakna sama dengan ilmu. Kemudian dizaman sesudah islam (terutama pada zaman modern ini). Dengan membaca artikelnya yang berjudul ”The Qur’anic Solution Of Pakistan’s Educational Problems” disana dijelaskan berbagai hal yang terkait dengan epistemologi seperti sumber.mungkin akan menimbulkan kesan bahwa karya ini terlalu terbatas lingkup bahasannya. kata ”ilmu” berasal dari bahasa arab”alima-ya’lamui’lam” yang juga berarti ”tahu” atau ”mengetahui”. Kemudian setelah masa sahabat. setelah sistem hukum muncul. Pada masa nabi muhammad saw. Selanjutnya. karya ini akan lebih mengesankan sebagai karya yang berlingkup luas sekalipun ia bertolak dari masalah pendidikan islam. BAB III EPISTEMOLOGI DAN METODOLOGI FAZLUR RAHMAN Dari penulisan terhadap karya-karya rahman dapat diketahui keterlibatannya dalam epistemologi dan metodologi.” 1. 1. seperti”ada dua macam pengetahuan.ilmu(pengetahuan) dimaknai seperti itu. Pada masa itu. 1.

sehingga jelaslah bagi mereka . Dengan dasar pemahaman bahwa pengetahuan itu selalu berkembang. dan merupakan suatu proses kreatif yang tidak pernah mengenal akhir. Oleh karena itu setinggi apapun ilmu yang dimiliki. Salah satu buktinya adalah bahwa pengembangan pengetahuan selalu didasarkan pada pengetahuan yang telah ada dan selalu terkait dengan temuan berikutnya. atau pembagian. Semua pengetahuan. Yang dimaksudkan disini adalah penggolongan jenis pengetahuan menurut Fazlur Rahman. Umat islam harus selalu berdoa kepada Allah SWT. Kedua. tidak ada lagi orang yang lebih tahu. dikuasai. 1. Fazlur Rahman menjelaskan dalam artikelnya yang berjudul ” The Qur’anic Solution Of Pakistan’s Educational Problems” bahwa semua pengetahuan (pertama) diperoleh melalui observasi dan Eksperimen. Fazlur Rahman menempatkan indera dan akal pada posisi sentral dalam memperoleh dan mengembangkan pengetahuan. jenis yang krusial yaitu pengetahuan tentang sejarah (dan geografi). masih ada orang yang lebih mengetaui. dapat dipahami bahwa Rahman sangat menekankan pada betapa pentingnya mempelajari ilmu pengetahuan. Pertama adalah pengetahuan tentang alam yang telah diciptakan untuk manusia. Ilmu pengetahuan tidak mungkin dapat berkembang tanpa ilmu pengetahuan yang telah ada. pengetahuan tentang sejarah. Yang menurut keyakinan orang islam. apalagi umatnya. baik induktif maupun deduktif. menurut Rahman. dinamis dan berkelanjutan.Kata ”Karakteristik” berasal dari bahasa inggris ”characteristic(kata sifat)”yang berarti sifat yang khas. karakter sifat. klasifikasi. Berakhirnya pengembangan pengetahuan sama dengan matinya ilmu pengetahuan. Ketiga adalah pengetahuan tentang manusia sendiri. Al-Qur’an menyebutkan. selalu didasarkan pada yang mendahuluinya. Pengetahua tidak pernah berhenti dan stagnasi. Akibatnya ilmu yang dimiliki akan mengalami stagnasi. Secara jelasnya. pengembangan pengetahuan tidak pernah mengenal akhir. agar ditambahkan ilmu pengetahuan dan harus selalu disertai dengan upaya mempelajari dan mengembangkannya. Yang dimaksud disini adalah sifat yang khas atau sifat dasar dari pengetahuan. Sombong mengakibatkan orang mati karena orang yang sombong merasa bahwa dirinya yang paling tahu. Kata bendanya adalah ”karakter” yang berarti watak. dan pengetahuan tentang manusia. Pengembangan pengetahuan tidak pernah berangkat dari ruang hampa (kosong). Fazlur Rahman cenderung mengklasifikasikan pengetahuan manusia kepada tiga jenis. Mengenai karakter pengetahuan . masih diperintahkan untuk memohon agar ditambah ilmu pengetahuan. peran. Klasifikasi Pengetahuan Kata ”klasifikasi” berasal dari bahasa inggris classification yang berarti penggolongan (menurut jenis). Diperintahkan untuk selalu memohon ditambah ilmu pengetahuan. al-Qur’an tampaknya cenderung pada tiga jenis pengetahuan bagi manusia. Dari orang yang paling tinggi ilmunya masih ada yang Maha lebih mengetahui. seperti pengetahuan fisik. Setinggi-tinggi ilmu pengetahuan yang diketahui oleh seseorang. ”kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami disegenap ufuk dan pada diri mereka sendiri. selalu berkembang dan dinamis. yaitu pengetahuan tentang alam. Kedua. Sehingga ia tidak mau lagi belajar dan mengembangkan ilmu yang telah dimilikinya. Klasifikasi adalah penyusunan bersistem dalam kelompok atau golongan menurut kaidah atau standar yang ditetapkan. tetapi selalu didasarkan pada pengetahuan yang sudah ada. Nabi Muhammad saw. Penguasaan terhadap ilmu pengetahuan yang telah ada akan menemukan ilmu-ilmu pengetahuan baru. Al-Qur’an mendorong manusia untuk mengadakan perjalanan dimika bumi dan menelaah apa yang telah terjadi pada peradaban masa lalu dan mengapa mereka bangkit kemudian jatuh. seseorang tidak boleh sombong. 1. Pengetahuan yang dimaksudkan oleh Rahman itu bersifat empiris dan rasional. adalah orang yang paling tinggi ilmunya. akan berakibat mati atau mundurnya peradaban. yaitu Allah SWT. Oleh karena itu. Dan jika ilmu pengetahuan mati. nabi muhammad saw. Dengan mendasarkan pada al-Qur’an. huruf. pengetahuan itu mempunyai sifat selalu berkembang. Selanjutnya. Stagnasi dan pengulangan merupakan tanda dari matinya pengetahuan.

kejahatan. Al-Qur’an menekankan pada studi inner world. yaitu merujuk pada intelek penerimaan aktual Nabi secara umum.al-Qur’an itu adalah benar. Tujuan utama dari pengetahuan ini adalah untuk menciptakan kepribadian manusia yang seimbang. dan kreatif”. yaitu pertama. Dan apakah tuhanmu tidak cukup bagimu bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” 1. kejujuran. 1. tidak salah. Fenomene-fenomena alam harus dipelajaridan penginvestigasian ini secara alami tidak pernah berhenti. yakni entitas kosmik yang bertindak sebagai perantara transenden antara Tuhan dan manusia. Dalam persenyawaan ini intelek perolehan menerima pengetahuan transenden dari intelek aktif. pembahasan kebenaran biasanya terkait dengan kebenaran wahyu dan kebenaran akal (rasio). percaya diri. dalam mencari kebenaran ia berangkat dari pembahasan mengenai hubungan antara wahyu.menurut alfarabi. tidak bohong. Kaum muslim percaya bahwa para Nabi dan Rasul adalah makhluk Allah yang terbaikdan termulia. dapat dipecaya. moral juga jiwa harus digunakan untuk mengatasi ketidakseimbangan. Ketiga adalah intelek pasif. betul. hukum-hukum yang mengatur kerja alam dapat ditemukan dan diintegrasikan untuk menciptakan gambaran alam semesta secara total. Yang dimaksud disini adalah rangkaian tindakan yang dapat menghasilkan atau memperoleh pengetahuan. Orang awam cukup puas menerima kebenaran ajaran agamanya pada dataran iman. Dengan mendasarkan pada datadata ini. intelek aktif. Jika dikaji dengan jernih dan serius. Kata ini merupakan terjemahan dari kata inggris true (adjective). Jadi maksudnya adalah pengetahuan yang sesuai dengan pengetahuan yang sebenarnya. tidak berat sebelah. subjek sejarah betul-betul mengarahkan padastudi komparatif atas masyarakat tertentu dengan masyarakat lain dan berfungsi sebagai instrumen penting untuk kritik dan penilaian atas diri sendiri. sehat. Dan yang dimaksud sesuatu disini adalah pengetahuan. atau perkara dalam pengadilan. 1. Kata ”proses”dapat berarti runtutan perubahan dalam perkembangan sesuatu. Mengenai sumber yang ketiga Fazlur Rahman menjelaskan berikut ”al-Qur’an memberikan penekanan yang sama pada historical study of societies. Sumber yang kedua dijelaskan sebagai berikut. Kata ”kebenaran” bisa bermakna keadaan yang cocok dengan keadaan yang sesungguhnya. dan untuk membentuk standar moral umat manusia. dapat dikatakan bahwasejarah menghasilkan sosiologi” 1. Hal ini akan memperluas cakrawala umat manusia dan mengurangikefanatikan dan berpikiran sempit. Ia (data penelitian) banyak membantu dalam membentuk standar moral individual dan masyarakat serta mengurangi kecenderungan tindak kriminal pada manusia. Kedua adalah intelek perolehan. Kata ”benar” bisa bermakna sesuai sebagaimana adanya. Dalam diskursus epistemologi pemikiran islam. perkenan. yaitu pertama adalah physical universe. azin. Ada tiga macam intelek dalam hubungannya dengan wahyu. Apresiasi secara benar pada budaya. yakni intelek yang diperoleh nabi hanya jika jiwanya bersatu dengan intelek aktif. Kebenaran Pengetahuan Kata ”kebenaran”adalah kata benda yang berasal dari kata sifat ”benar”.”manusia (constitution of the human mind) harus diteliti dengan intensitas yang memadai. sedangkan para filosof mencoba memahami realitas wahyu Illahi sebagai suatu kebenaran filosofis. Kebenaran yang dimaksud disini adalah sesuatu yang sesuai dengan sesuatu yang sebenarnya. dll. dan agama lain (tentunya) dapat menghasilkan berbagai arah yang positif. Oleh karena itu. Intelek perolehan adalah kekuatan memahami (intelektif) khusus yang merasuk kedalam alam pikiran Nabi sebagai hasil persenyawaannya dengan intelek aktif. kelurusan hati.hal ini juga memungkinkan agar manusia tidak hanya menghakimi orang lain dengan sebutan berhasil atau gagal. Sumber dan Proses Memperoleh Pengetahuan Sumber yang dimaksud disini adalah asal pengetahuan diperoleh atau dikembangkan. sesuatu yang sungguh-sungguh. Manusia penerima wahyu dikenal sebagai nabi atau Rasul Allah. atau pengolahan yang menghasilkan produk. truth (noun). seperti jiwa manusia (al-anfus). lurus (hati). rangkaian tindakan. tetapi juga melihat kebaikan manusia sebagai kebaikan dan kejahatan manusia sebagai kejahatan. pembuatan. persetujuan. Semua pengetahuan didasarkan pada tiga sumber. Data-data yang diperoleh melalui penelitian ini terkait dengan kerja manusia dan motivasinya. Salah satu pilar dasar keimanan islam adalah percaya kepada wahyu Illahi. intelek dan akal. . adil. masyarakat.

Iran. Pakistan. Mesir. dan Indonesia. yang disebut dengan The Sistematic interpretation method. Mereka harus mendiskusikan dengan ikhlas dan tanpa menahan diri tentang apa yang mereka inginkan terhadap islam dewasa ini. Ketiga adalah memahami dan menetapkan sasaran alQur’an dengan memperhatikan secara penuh latar belakang sosiologisnya. yang menyebabkan metode kritik sejarah tidak dapat berkembang dengan baik dikalangan pemikir muslim sampai pertengahan abad ke-20 M. Fazlur Rahman menjelaskan metode ini terdiri atas tiga langkah utama. gerakan pertama melibatkan pemahaman . telah banyak diterapkan dalam penelitian sejarah islam oleh para Orientalis seperti David S. Metode Penafsiran Sistematis (The Sistematic interpretation method) Metode kritik sejarah yang telah lama diaplikasikan dalam menuliskan pikiran-pikirannya yang tajam dan kritis.problem umat (sosial) untuk dicarikan solusinya pada alQur’an atau (2) memaknai al-Qur’an dalam konteksnya dan memproyeksikannya kepada situasi sekarang. Menurut Rahman. Akan tetapi. Secara spesifik metode ini diterapkan dengan cara mendiskripsikan nilai-nilai sejarah pendidikan umat islam terutama yang terjadi di Turki. Seluruh kandunga syari’ah harus diarahkan menjadi sasaran pengujian yang segar dalam sinaran bukti al-Qur’an. Penelitian dari para orientalis tersebut menghasilkan berbagai tesis yang menghebohkan terutama bagi kalangan muslim tradisional. metode berpikir dari yang umum kepada yang khusus (deduktif). Sehubungan dengan metode berpikir pertama. Joseph Schact dll. Metode kritik sejarah yang diterapkan oleh Rahman tidak menekankan pada kronologi berjalannya pendidikan didunia islam. Hal inilah sebenarnya. Lebih lanjut Fazlur Rahman menawarkan metode berfikir yang terdiri atas dua gerakan. menurut Rahman. pendekatan historis untuk menemukan makna teks al-Qur’an dalam bentangan karier dan perjuangan nabi. pragmatis dan dogmatis atau skeptis. Metode Kritik Sejarah (The Critical Histori Method) William Montgomeri Watt menggunakan istilah The Critical Histori Method yang merupakan pendekatan kesejarahan yang pada prinsipnya bertujuan menemukan fakta-fakta objektifsecara utuh dan mencari nilai-nilai tertentu yang terkandung didalamnya. Resiko terbesar dalam pemahaman ini tentu akan menjadi proyeksi dari ide subyektif kedalam al-Qur’an dan menjadikannya sebagai objek penanganan secara arbitrer. walaupun ini mungkin sangat membahayakan tidaklah dapat dihindarkan. jika orang-orang islam dengan keras dan gigih berbicara tentang kelangsungan hidup islam sebagai sistem doktrin dan praktek didunia dewasa ini sungguh-sungguh sejati (suatu pertanyaan yang jawabnya tidak mudah). dan kedua. Metodologi yang tepat untuk memahami dan menafsirkan al-Qur’an harus diterapkan. kemudian sesekali Rahman melakukan komparasi diantara pendidikan di negara-negara tersebut. yaitu: 1. yaitu: pertama. Kedua adalah membedakan antara ketetapan legal dan sasaran serta tujuan al-Qur’an. metode berpikir dari yang khusus kepada yang umum (induktif). sebagaimana yang dimaksudkan Fazlur Rahman. Rahman banyak menerapkan metode kritik sejarah dalam melakukan penelitian terhadap pendidikan didunia islam. Henry Lamen. Metode kritik sejarah. 1. 1. Metode Suatu Gerakan Ganda (a Double Movement) Metode ini bisa dilakukan dengan (1) membawa problem. Ignaz Goldziher. yaitu: pertama.Dalam diskursus epistemologi yang berkembang sampai sekarang. kemudian dikembangkan menjadi metode yang lebih sistematis. Margoliouth. kelihatan dengan jelas bahwa mereka harus memulai sekali lagi dari tingkat intelektual. Metodologi Fazlur Rahman Berikut adalah tiga metodologi yang dikembangkan oleh Rahman. tetapi menekankan pada nilai-nilai yang terkandung dalam data-data sejarah pendidikan didunia islam. koherensi. Suatu penafsiran secara sistematis dan berani terhadap al-Qur’an harus dilakukan. pembahasan mengenai kebenaran pengetahuan biasanya dikaitkan dengan teori kebenaran korespondensi.

Fazlur Rahman juga berusaha mengundang doktor-doktor dari barat untuk menjalin kerjasama dan mengawasi riset yang dilakukan oleh para mahasiswa. Secara mendasar. maka situasi kontemporer juga harus dikaji untuk diambil darinya prinsip-prinsip tentang penerapan hukum terhadap situasi tersebut. Kemudian pada masa abbasiyah. riba dan bunga bank. Pendidikan Islam dalam perspektif sejarah menurut Fazlur Rahman Menurut Rahman. Rahman menerapkan tiga tahapan. Ketiga. pembaharuan pendidikan umat islam mendesak untuk segera dilakukan dengan cara: Pertama. Disamping usaha-usaha itu. Sektor sosial perintah-perintah alQur’an memiliki suatu latar belakang situasional. kedua. membangkitkan idiologi umat islam tentang pentingnya belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan . Karena itu. merumuskan world-view (pandangan dunia) al-Qur’an. ada pendidikan modern (sekuler). distribusi zakat. menyadari betapa pentingnya bahasa dalam pendidikan dan sebagai alat untuk . dapat dilakukan dengan menerima pendidikan sekuler modern. Namun.terhadap prinsip al-Qur’an dengan mana Sunnah merupakan bagian organisnya. Sebagaimana dengan latar belakang ajaran alQur’an yang harus dikaji untuk memperoleh prinsip-prinsip umum al-Qur’an. kritis dan kreatif dalam pendidikan islam. khalifah-khalifah tertentu. sepaerti Harun al. dan aplikasi pemikiran Fazlur Rahman pada pendidikan islam di Indonesia. perlu ada upaya untuk mengintegrasikan keduanya. dan sebagainya.Rayid dan al-Makmun menekankan adu pendapat diantara para pelajar diistana mengenai persoalan logika. Contoh penerapan metide Fazlur Rahman ini dapat dilihat dari berbagai pemikirannya seperti dalam masalah konsep Sunnah yang hidup. Gerakan pemikiran kedua adalah metode berpikir dari yang umum kepada yang khusus. harus diterapkan terhadap masyarakat muslim dalam konteks dewasa ini. Kedua sistem pendidikan ini sama-sama tidak beresnya. Latar belakang situasional ini. dan ketiga menumbuhkan etika al-Qur’an pada konteks masa kini. Selama dipimpin oleh fazlur Rahman (1962-1968) strategi yang dicoba diterapkan untuk mengatasi permasalahan ini adalah: mengangkat beberapa lulusan madrasah yang mempunyai pengetahuan bahasa inggris. hukum. menurut Rahman. Secara detail menurut Rahman. pembaharuan pendidikan islam. merekrut sarjana yunior lulusan unuversitas jurusan filsafat atau ilmu-ilmu sosial. gramatika. pendidikan islam ketika masa Rasulullah menerapkan metode membaca dan menulis. tetapi selalu turun sebagai solusi terhadap masalah-masalah aktual. perbudakan dalam islam dan dalam bidang pendidikan. Pada satu sisi lain. memberikan mereka pelatihan teknik penelitian modern. kedua mensistematisasikan etika al-Qur’an. sebagaimana pewahyuan al-Qur’an sendiri yang memiliki latar belakang religio-sosial yang amat konkret dalam politeisme dan disekuilibrium sosio-ekonomi masyarakat Makkah pada awal islam. berusaha mengikis dualisme sistem pendidikan umat islam. yang disebut ”sebab-sebab pewahyuan”. tetapi yang paling lazim adalah menghafal al-Qur’an dan al-Hadis. perintah-perintah al-Qur’an muncul tidak dalam suatu kevakuman. BAB IV APLIKASI PEMIKIRAN FAZLUR RAHMAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM Pendidikan islam menurut Fazlur Rahman. Kemudian untuk mengoprasikan metode ini. dan memberikan mereka pengetahuan bahasa arab dan disiplin ilmu islam klasik yang penting seperti Hadia dan Hukum islam. Namun ada juga kelompok kecil yang berusaha mengembangkan kemampuan intelektual. dilakukan juga dengan cara mengirim beberapa orang keluar negeri untuk memperoleh pelatihan dan gelar dalam studi islam. usahanya gagal karena tidak adanya doktor yang seperti itu. kemudian berusaha memasukinya dengan konsep-konsep islam. yaitu: pertama. baik dinegara barat maupun timur. Kumpulan prinsip yang diperoleh dari al-Qur’an lewat cara yang dicandera diatas (yakni dalam gerakan pemikiran pertama). Selanjutnya yang dihadapi oleh institusi ini adalah masalah sumberdaya manusia.

pendidikan tinggi islam yang disebut dengan intelektualisme islam. Menurut Rahman umat islam lemah dibidang bahasa. dan keteraturan dunia. kreatif. Maroko. Iran. dan yang harus memberikan kriteria untuk menilai keberhasilan atau kegagalan sebuah sistem pendidikan islam. Pendidikan Islan menurut Fazlur Rahman Pendidikan islam menurut Fazlur Rahman bukan sekedar perlengkapan dan peralatan fisik atau kuasi fisik pengajaran seperti buku-buku yang diajarkan ataupun struktur eksternal pendidikan. yang padanya terkumpul sifay-sifat seperti kritis. Bahakan. tidak terpikirkan secara sadar dan dinamis. pendidikan islam menurut Rahman dapat juga dipahami sebagai proses untuk menghasilkan manusia (ilmuwan) integratif. para pemikir muslim harus betul-betul kritis terhadap peradaban tersebut. Untuk konteks Indonesia. Keempat. Oleh karena itu. Turki. Kedua. Sifat kritis ini ditujukan oleh Rahman baik pada warisan islam sendiri maupun pada peradaban barat. tujuan pendidikan menurut Fazlur Rahman adalah untuk mengembangkan manusia sedemikian rupa sehingga semua pengetahuan yang diperolehnya akan menjadi organ pada keseluruhan pribadi yang kreatif. jujur. adil. Dengan mendasarkan pada al-Qur’an. Proses berpikir untuk memecahkan masalah berlangsung dalam empat tahap. dapat dikatakan bahwa menumbuhkembangkan kemampuan memecahkan masalah juga menumbuhkembangkan sifat kritis dan kreatif. meliputi pendidikan dipesantren. Pertama. Hasil-hasil ijtihad ulama . yang memungkinkan manusia untuk memanfaatkan sumber-sumber alam untuk kebaikan umat manusia dan untuk menciptakan keadilan. Proses ini menyangkut klasifikasi dan penilaian masalah. bahkan bisa juga pendidikan agama islam disekolah (sejak dari dasar sampai lajutan atas) dan pendidikan agama islam diperguruan tinggi umum.mengeluarkan pendapat-pendapat yang orisinil. Mereka tidak lagi menganggap bahwa hasil pemahaman ulama terhadap wahyu pada masa lalu merupakan hasil yang sudah fnal. kemajuan. melainkan sebagai intelektualisme islam karena baginya hal inilah yang dimaksud dengan esensi pendidikan tinggi islam. Kritis terhadap peradaban barat menjadi penting karena peradaban ini telah mendominasi peradaban dunia selama beberapa abad terahir. Memecahkan masalah tidak hanya dalam konteks ilmu pengetahuan. yaitu beralih dari metode mengulang-ulang dan menghafal pelajaran ke metode memahami dan menganalisis. Kemampuam memecahkan masalah terkait erat dengan kemampuan kritis dan kreatif. (2) tahap inkubasi dimana masalah seakan-akan terbawa tidur. Mesir. Pendidikan islam dapat mencakup dua pengertian besar. peradaban barat sangat besar pengaruhnya pada peradaban umat islam sekarang. yaitu pendidikan yang dilaksanakan didunia islam seperti yang diselenggarakan dipakistan. baik dengan menggunakan langkah-langkah logika maupun eksperimen. dinamis. Pada awalnya sifat kritis dan kreatif yang diperlukan adalah yang memungkinkan peserta didik berani dan memiliki rasa percaya diri untuk memahami wahyu secara langsung. mulai dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. di madrasah (mulai dari ibtidaiyah sampai aliyah). dan diperguruan tinggi islam. Saudi. pembaharuan dibidang metode pendidikan islam. tetapi dalam semua aspek kehidupan. dan sebagainya. Dengan domonasinya. Lebih dari itu. Tahap (3) disebut tahap ilmunisasi dimana ide atau kesimpulan baru muncul tidak terduga. Bahkan ia katakan umat islam adalah masyarakat tanpa bahasa. Hal ini merupakan pertumbuhan suatu pemikiran islam yang asli dan memedai. pendidikan islam dalam pengertian praktis. (4) akhirnya suatu usaha sadar dilakukan untuk mencoba menentukan keshahihan dari kesimpulan yang didapat tadi sesuai dengan kriteria atau aturan-aturan ilmiah. Sudan. dan sebagainya. progresif. Kemudian masalah dianalisis dan didefinisikan. inovatif. Pemecahan masalah bergerak dari masalah sederhana yang hanya menggunakan akal sehat sampai pada pemecahan masalah muskil yang menuntut prosedur berpikir yang lebih kompleks. Disamping kritis pada diri Fazlur Rahman juga selalu mengalir sifat kreatif. Kritis dan Kreatif dalam Pendidikan Islam Sifat kritis merupakan karakter utama Rahman. tetapi masalah itu merasuk kealam pikir yang nantinya akan mengalir keluar dalam wujud iluminasi kreatif. yaitu: (1) tahap persiapan dimana masalah diselidiki dari segala arah sehingga semua informasi tentang masalah ditemukan.

Metode lain yang tidak kalah penting adalah metode diskusi. (2) mempunyai keluwesan (flixibility). pendidikan islam harus dapat mengembangkan anak didik yang kritis dan kreatif. Dalam era globalisasi. disamping untuk menghilangkan kelemahan dari keduanya. Paradigma-paradigma yang mendasari perguruan tinggi Islam dewasa ini sudah tidak relevan lagi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tuntutan pembangunan nasional. menurut Fazlur Rahman. sebaliknya sekolah lemah dibidang ilmu-ilmu agama tetapi unggul dibidang ilmu-ilmu umum. (3) menunjukkan kelancaran proses berfikir (fluency). Apakah mereka cenderung mencontoh karangan atau model yang sudah ada ataukah menciptakan sesuatu yang lain. atau tidaknya mereka. Perguruan tinggi Islam didirikan sesuai dengan kondisi waktu lembaga itu didirikan. Masing-masing dari ketiganya memiliki keunggulan. sangat strategis untuk mengurai benang kusut krisis pemikiran dalam Islam yang berdampak pada stagnasi dan kemunduran peradaban umat islam. Pendidikan Tinggi Islam di Indonesia. disain. baru merupakan: (a) pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga islam. (b) pendidikan agama Islam yang disampaikan di perguruan tinggi. Hal itu hampir sama dengan yang dikemukakan oleh Mastuhu.masa lalu yang cocok untuk mengatasi persoalan pada waktu itu. tetapi dalam peta perguruan tinggi di Indonesia. Pendidikan tinggi Islam. misalnya. dalam jangka pendek. adalah al. mengubah warna. bentuk. Misalnya. belum tentu cocok untuk mengatasi persoalan sekarang dan masa mendatang. tetapi lemah dibidang ilmuilmu umum. Guru hendaknya bertugas membuat kondisi semacam itu. menunjukkan kritis dan kreatif. Melalui karangan bebas. metode diskusi dilakukan dengan terbuka. Kemudian pendidikan dasar-menengah islam di Indonesia dapat dibedakan lagi kedalam tiga jenis. guru dapat dengan mudah mengetahui tingkat kekritisan dan kreatifitas mereka. Pada umumnya pesantren unggul dibidang ilmu-ilmu agama. menurut Rahman. menurut islam. IAIN merupakan lembaga pendidikan tinggi Islam yang strategis untuk mengembangkan tradisi ilmiah umat Islam yang peduli terhadap persoalanpersoalan besar bangsa. Pendidikan tinggi Islam harus memiliki tipe ideal manusia seutuhnya.insan alkamil. Perguruan tinggi Islam jumlahnya sangat banyak. harus bermula dari pendidikan. Dapat juga dikembangkan dengan cara mengarang. masih merupakan impian belaka. Madrasah didirikan untuk menampung keunggulan pesantren dan sekolah. Untuk meningkatkan kedudukannya. yaitu pendidikan dasar-menengah islam. baik dengan guru maupun sesama temanteman mereka. yaitu: (1) mempunyai pemikiran asli atau orisinil (originality). Diantara kegiatan pembelajara yang dapat mengembangkan daya kritis dan kreatif subyek didik adalah kegiatan yang meminta mereka. Bahkan. mereka harus senantiasa melakukan ijtihad. Pendidikan islam dalam realitas. kebanyakan menempati posisi dipinggiran. pembaharuan islam dalam bentuk apapun yang berorientasi pada kemajuan. Oleh karena itu. guna untuk mengatasi persoalan-persoalan yang mereka hadapi. anak didik yang kritis dan kreatif paling tidak mempunyai tiga ciri yang menonjol. yang darinya dapat diharapkan berbagai alternatif solusi atas problem-problem yang dihadapi umat manusia. dan madrasah. perguruan tinggi Islam harus mampu memperbarui kurikulumnya secara mendasar. tanpa ada rasa takut dan batasan untuk mengemukakan gagasan-gagasan mereka. atau model. dan pendidikan tinggi islam. dan (c) perguruan tinggi yang bertujuan menghasilkan sarjana dibidang ilmu-ilmu agama Islam. Sosok manusia seutuhnya. Menurut Mastuhu. dalam dunia yang terbuka paradigma-paradigma yang mendasari lahirnya perguruan tinggi Islam perlu ditinjau kembali. disamping kelemahan. dalam arti bahwa subyek didik bisa secara leluasa mengadakan diskusi. sekolah. Sebaiknya. menurut Zamrani. dan sebagainya. Atau dengan kata lain. Paradigma-paradigma perguruan tinggi . mereka disuruh membuat karangan bebas. yaitu pesantren. Aplikasi pemikiran Fazlur Rahman pada Pendidikan Islam di Indonesia Pendidikan islam di Indonesia dapat dibedakan kedalam dua tingkatan. Tujuan dikembangkannya daya kritis dan kreatif dalam pendidikan islam adalah untuk menghasilkan output yang kritis dan kreatif.

3. dapat ditemukan bahwa pengetahuan itu bersumber pada teks dan realitas. sifat kritis dan kreatif Fazlur Rahman didasarkan pada pandangan ontologinya tentang kebebasan berkehendak mnusia yang setelah dilacak lebih lanjut ternyata berangkat dari teori besarnya mengenai pandangan dunia al-Qur’an . perlu dikembangkan diperguruan tinggi Islam secara integratif. yaitu periode pertumbuhan. menyadari akan pentingnya bahasa. Paradigma yang sektoral tersebut menganut paham dualisme yang membedakan ilmu agama dari lmu pengetahuan umum. visis dan misi perguruan tinggi Islam menjadi sangat sempit dan terbatas. metode penafsiran secara sistematis. Hal ini terkait erat dengan inti neomodernisme yang menekankan sifat kritis dan kreatif. epistemologi-metodologi pemikiran Fazlur Rahman jika diterapkan pada pendidikan islam. termasuk problem pendidikan. Kedua. dapat dibedakan kedalam tiga periode. baik secara lisan maupun tulisan. 6. Cara ini dilakukan oleh Rahman dengan memilih ahli-ahli islam muda yang potensial dengan mengajarkannya kepada mereka metodologi barat modern. alat yang digunakan adalah akal dan indra. Keempat. perkembangan dan kematangan. dan metode suatu gerakan ganda. manusia. dalam kehidupan ini.. cara pembaharuan pendidikan yang disarankan Rahman terhadap pendidikan di Pakistan dapat diaplikasikan pada pendidikan tinggi Islam di Indonesia.Islam itu sanagat sektoral dan mempunyai visi dan misi sangat terbatas. dan alam semesta. dikotomi ilmu dikalangan umat islam akan semakin terkikis. metodologi Fazlur Rahman dapat dikelompokkan kedalam tiga macam yaitu metode kritik sejarah. metodenya observasi dan eksperimen. Karena itu. Peguruan tinggi Islam dimasa depan perlu diarahkan untuk memberikan solusi atas berbagai problem yang dihadapi umat manusia. 1. Pemikiran Fazlur Rahman jika dilihat dari prosesnya. Fazlur Rahman lebih cenderung mengembangkan ilmuwan-ilmuwan muslim dari pada Islamisasi ilmu pengetahuan.antara ilmu agama dan ilmu sekuler. dll. mengganti metode pendidikan secara mengulang-ulang dan menghafal dengan metode memahami dan menganalisis. maka motivasi umat islam terhadap pengembangan ilmu akan semakin kuat. yaitu tuhan. baik bidang agama maupun bidang-bidang lain. Karena itu. 5. Karena problem iti tidak selamanya berasal dari bidang agama. jika dilihat dari struktur dasar epistemologinya. Dikotomi tersebut (pada akhirnya) menghasilkan alumni-alumni yang ketinggalan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. pendekatannya historis-filosofis. kemudian mengembangkannya sebagai alat komunikasi. yang kedua-duanya dikembangkan secara bersama-sama dan terpadu. membangkitkan kembali idiologi keharusan belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan. 2. Bahkan. mendikotomikan keduanya. Ketiga. 4. mengintegrasikan ilmu (antara ilmu agama dan ilmu umum) kedalam pendidikan tinggi Islam di Indonesia untuk kemaslahatan umat manusia. Barangkali hanya dapat memenuhi satu sektor tertentu saja didalam kebutuhan manusia Indonesia modern. Saran-saran . 1. diperguruan tinggi Islam tidak perlu didikotomikan antara ilmu tradisional dan ilmu modern. Secara khusus. Cara yang ditempuh Rahman ini. metode suatu gerakan ganda Fazlur Rahman dapat diterapkan untuk memberi alternatif solusi atas problem-problem umat. pemikiran Fazlur Rahman. BAB V PENUTUP Kesimpulan Melalui penulisan buku ini dapat dihasilkan temuan-temuan sebagai berikut. dengan cara: pertama. tampaknya efektif untuk mencetak sumber daya manusia muslim yang handal. yang diikuti oleh semakin pudarnya dualisme dalam sistem pendidikan umat islam.

konseptor pemegang kebijakan. jenis. 3. 5. praktisi pendidikan islam agar dapat mengupayakan langkah-langkah yang memungkinkan terjadinya integrasi ilmu dalam islam serta integrasi dalam sistem pendidikan umat islam dalam rangka dapat menghasilkan alumni yang berkualitas tinggi. cara memperoleh. dan validitas kebenaran pengetahuan. dan praktisi pendidikan islam agar dapat mengarahkan pendidikan umat islam untuk memperbaiki peradaban mereka secara mendasar dan menyeluruh. 4. . sehingga mereka dapat menyelesaikan problem-problem mereka sendiri bahakan problem umat islam secara umum. 2. pemerhati epistemologi agar dapat mengkritisi lebih lanjut mengenai konsep epistemologi Fazlur Rahman terutama tentang sumber. pemegang kebijakan pendidikan islam agar dapat menentukan kebijakan yang memungkinkan dapat dihasilkan alumni dari pendidikan islam yang lebih kritis dan kreatif.Berdasarkan pada temuan-temuan sebagai mana tersebut diatas. konseptor pendidikan islam disarankan dapat menyempurnakan pemikiran Fazlur Rahman tentang konsep pendidikan islam yang dapat menghasilkan alumni yang kritis dan kreatif. selanjutnya disarankan kepada: 1.

Selama kuliah di barat. Pada tahun 1946 Rahman berangkat ke Inggris untuk melanjutkan studinya di Universitas Oxford dibawah bimbingan Es Fande Bergh dan H.pada tahun 1940. Hal penting yang telah mempengaruhi keagamaan rahman adalah bahwa ia dididk dalam sebuah keluarga dengan tradisi madzab hanafi. ia belajar bahasa latin yunani. dia tidak langsung pulang ke negrinya tetapi mengajak durkhem university. turki.rahman melanjutkan studinya ke lahore dan memasuki dunia modern.sebuah madzab sunni yang lebih banyak menggunakan rasio dibandingkan dengan madzab sunni lainnya.ayahnya maulana sahib al.Gibb.R.pada usaia 10 tahun rahman telah hafal alquran seluruhnya .SEJARAH DAN PEMIKIRAN FAZLUR RAHMAN A.dia menyelesaikan gelar BA nya dalam bidang bahasa arab pada Universitas Punjab.pada tahun 1960 rahman pulang ke negrinya.A. Pada saat mengajar di durkhem university rahman menyelesaikan karya originalnya yang berjudul probheji in islam : philoshophy and ordoksi.din .sehingga . kemudian di institute of Islamic studies mc gill university kanada dan menjabat sebagai associate professor of philoshiphy. Biografi fazlur rahman Rahman lahir pada tgl 21 september 1919 didaerah hazarah .pada tahun 1942 dia berhasil menyelesaikan materinya dalam bidang yang sama di universitas yang sama.ayahnya memperhatikan rahman dalam hal mengaji dan menghafal alquran. Pakistan kemudian dua tahun berikutnya dia di tunjuk sebagai direktur lembaga riset islam setelah sebelumnya dia menjabat sebagai staf di lembaga tersebut selama beberapa saat selam kepemimpinan rahman lembaga ini berhasil menerbitkan dua jurnal ilmiah.pendidikan dalam keluarganya benar –benar efektif dalam membentuk watak dan kepribadiannya untuk dapat alam menghadapi kehidupan nyata . Setelah tamat dari oxford university. inggris. arab dan ordo. jerman.adalah seorang alim terkenal lulusan deoband e.(anak benua india)yang sekarang terletak di sebelah barat Pakistan. Selama jabatannya menjadi direktur rahman menjalankan dua strategi ganda yaitu mengangkat beberapa lulusan madrasah yang menguasai bahasa inggris bagi staf junior dan mencoba melatih mereka dalam teknik-teknik riset modern dan sebaliknya merekrut staf-staf senior dari kalangan lulusan universitas di . inggris.kemudian pada tahun 1933 .Rahman menyelesaikan program phdnya pada tahun 1949 dengan disertasi tentang ibnu sina. Dua tahun berikutnya disertasi tersebut diterbitkan oleh oxford unevesity press dengan judul avicinna’s psychology pada tahun 1959 karya suntingan rohman dari kitab annafs karya ibnu sina diterbitkan oleh penerbit yang sama dengan judul avecinna’s de anima. yaitu Islamic studies dan fiqrun nazr berbahasa ordo.

Prophecy in islam : philosophy and orthodoxy 3. Islamic methodology in history 6. Health and medicine in Islamic tradition 2. Toward reformulating the methology of Islamic law : syaikh yamnai on “public interest” in Islamic law .bidang filsafat atau ilmu social dan member mereka pelajaran bahasa arab serta disiplin-disiplin islam klasik yang utama seperti hadits dan ushul fiqh dia juga mengirim beberapa orang ke luar negri untuk mendapatkan training dan jika memungkinkan gelar-gelar dalam kajian keislaman baik di uneversitas barat maupun timur Pada tahun 1964 rahman ditunjuk sebagai dewan ideology islam pemerintahan islam. Pada tahun 1969 ia pergi ke Amerika sebagai tenaga pengajar di universitas California Los Angeles. Univercity of Chicago. Major themes of the qur’an 8. Philosophy of mulla sadra shirazi 5. Avecinna’s de Anima. karya yang berupa artikel : a. Prestasi fazlur rahman 1. Islamic : challenges and opportunities c. disamping itu ia juga menjadi guru besar kajian Islam di Departemen of Near Eastern Languages and Civilization. ‘some Islamic issue in the ayyub khan era’ b. pemerintah Pakistan setelah beberapa saat melepas jabatannya di lembaga research. Islam and modernity : transformation of an intellectual tradition 9. being the psychological part of kitab al-shifa 4. Avecinna’s psychology 2. B. Islam. Karya-karya yang berupa buku : 1. 7. Ia ngajar selama 18 tahun di Chicago akhirnya ia kembali ke pangkuan Illahi Robi pada tanggal 26 Juli 1988.

pendidikan islam dalam pendidikan praktis yaitu pendidikan yang dilaksanakan di dunia islam seperti yang di selenggarakan di Pakistan. Interpreting the qur’an l. Roots of islamics neo fundamentalism g. Islamic modernism : its scope. meliputi pendidikan di pesantren. yang padanya terkumpul sifat-sifat seperti kritis. dinamis. pendidukan islam yang di sebut dengan intelektual islam. progresif. Change and the muslim world h. Lebih dari itu. yaitu pertama. adil. Hal ini merupakan pertumbuhan suatu pemikiran islam yang asli dan memadai. inovatif. Kedua. Saudi. di madrasah. iran. dan yang harus memberikan kriteria untuk menilai keberhasilan atau kegagalan sebuah system pendidikan islam. method and alternatives j. Pendidikan islam dapat mencakup dua pengertian. sudan. Islam : legacy and contemporary challenge. kreatif. Divine revelation and the prophet k. bajhkan bisa juga pendidikan agama islam di sekolah dan pendidikan agama islam di perguruan tinggi umum. melainkan sebagai intelektualisme islam karena baginya hal inilah yang dimaksud dengan esensi pendidikan tingi islam. Corak Pemikiran Rahman Dalam Pendidikan Pendidikan islam menurut rahman bukan sekedar perlengkapan dan perlalatan fisik atau kuasi fisik pengajaran seperti buku-buku yang di ajarkan ataupun stuktur eksternal pendidikan. mulai dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. e. Some key etical concept of the qur’an PEMBAHASAN A. maroko dan sebagainya. The impact of modernity on islam i. Islam in the contemporary world f. dan di perguruan tinggi islam. . Untuk Indonesia. jujur dan sebagainya. the universe and man m. pendidikan islam menurut rahman dapat juga di pahami sebagai proses untuk menghasilkan manusia integrative.d. The qur’anic consept of god.

Al-qur’an sering kali berbicara tentang dunia dan akhirat.Berdasarkan Al-qur’an. Metode pembelajaran abad pertengahan: membaca dan mengulang-ulang sampai hafal. al-hadits. Tujuan pendidikan Islam menurut Fazlur Rahaman untuk memenuhi kewajiban terhadap Allah dan Rasul-Nya serta tercapainya kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. komentar dan superkomentar. tujuan pendidikan menurut rahman adalah untuk mengembanngkan manusia sedemikian rupa sehigga semua pengetahuan yang di perolehnya akan menjadi organ pada keseluruhan pribadi yang kreatif. thobi’iyah. namun ada juga kelompok kecil yang berusaha mengembangkan kemamp[uan intelektual.an dan Al-hadits. solusi atas problem-problem pendidikan umat Islam kontemporer. Dunia bernilai lebih rendah. Akhirat bernilai lebih tinggi. Al-qur’an menyuruh manusia mempelajari bumi seisinya dengan cermat dan mendalam serta mengambil pelajaran darinya agar dapat menggunakan pengetahuanya dengan tepat dan tidak berbuat kerusakan. dan akhirnya disempurnakan menjadi metode gerakan ganda (a doble movement). padasaat itu sekolah tidak melaksanakan ujian akhir tahun tetapi peserta didik bias naik ke tingkat yang lebih tinggi dengan rekomendasi guru-gurunya. Tanggung jawab pendidik yang pertama adalah menanamkan pada pikiran-pikiran peserta didik dengan nilai moral. Semula ia mengembangkan metode kritik sejarah. Materi pendidikan menurut Fazlur Rahman meliputi mebaca dan menulis. tetapi yang paling lazim adalah menghafal Al-Qur. Ia berhasil mengembangkan suatu metode yang dapat member alternative. kemajuan dan keteraturan dunia. berhitung. lebih baik dan menjadi tujuan dari kehidupan. oleh diri sendiri dan untuk diri sendiri. dan astronomi. adab. Metode demikian ini menurut Fazlur Rahman dikenal dengan metode belajar secara mekanis. Tujuan pendidikan menurut Fazlur Rahman adalah untuk mengembangkan manusia sedemikian rupa sehingga . kemudian dikembangkan lebih lanjut menjadi metode penafsiran sistematis (the systematic interpretation method). Evaluasi pendidikan digunakan untuk mengetahui seberapa jauh tujuan pendidikan telah tercapai. Pendidikan islam didasrkan pada ideology islam karena itu pada hakikatnya pendidikan islam tidak dapat meninggalkan keterlibatannya pada persepsi benar dan salah. Karena itu. Dalam berbagai bentuk menurut Fazlurr Rahman pendidiken Islam ketika jaman pertengahan menerapkan metode membaca dan menulis. tujuan utama drai pendidikan adalah untuk menyelamatkan manusia dari dirin sendiri. Illahiyah. materialis serta hasil yang tidak memuaskan. yang memungkinkan manusia untuk memanfaatkan sumber-sumber alam untuk kebaikan umat manusia dan untuk menciptakan keadilan. Al-Qur’an. fiqih. Fazlur Rahman memiliki berbagai pemikiran yang terkait dengan pengan pendidikan umat Islam.

Menurut Fazlur Rahman.tapi tidak dapat menghadapi tantangan kehidupan modern. 2.Relevansi pemikiran pendidikan Fazlur rahman dengan pendidikan islam sekarang Pendidikan tinggi Islam menurut Fazlur Rahman sangat strategis untuk megurangi benang kusut krisis pemikiran dalam islam yang berdampak pada stagnasi dan kemunduran peradaban islam.bahkan mereka tidak sadar kalau berada di bawah perintah moral kewajiban islam untuk menuntut ilmu pengetahuan. maka perlu dilakukan evaluasi terhadap performance peserta didik terutama dalam memanfaatkan sumber-sumber alam untuk kebaikan manusia dan dari segi keberhaasilan menciptakan keadilan.harus bermula dari pendidikan.bahkan.IAIN merupakan lembaga pendidikan tinggi Islam yang strategis untuk mengembangkan tradisi ilmiah umat islam yang peduli terhadap persoalanpersoalan besar bangsa.umat islam tidak dapat secara efektif pentingnya pengetahuan dengan orientasi ideologinya. pembaharuan dilakukan dengan cara: 1. Kedua system ini sama-sama tidak beresnya.pengetahuan ynag diperolenhya akan menjadi pribadi yang kritis dan kreatif yang memungkinkannya pemanfaatan sumber-sumber alam untuk kebaikan.yang darinya dapat diharapkan berbagai alternative atas problem-problem yang dihadapi umat manusia. dan pada sisi lain ada pendidikan modern (sekuler). untuk manusia dan untuk menciptakan keadilan dan kemajuan dunia.akibatnya adalah mereka tidak terdorong untuk belajar.menurut fazlur rahman pembaharuan islam dalam bentuk apapun yang berorientasi pada kemajuan.Problem yang sangat pelik adalah timbulnya dualism dalam system pendidikan ini dikarenakan karena adanya dikotomi ilmuhal ini dapat diperhatikan secara seksama pendidikan islam yang berbentuk lembaga mulai dari tingkat MI sampai Perguruan tinggi hanya bias ncetak para generasi yang tahu nilai nilai agama islam . kemudian berusaha memasukinya dengan konsep-konsep Islam. Pembaharuan di bidang metode pendidikan Islam yaitu dari metode mengulang-ulang dan menghafal pelajaran ke metode memahami dan menganalisis. Menyadari betapa pentingnya bahasa dalam pendidikan dan sebgai alat untuk mengeluarkan pendapat-pendapat yang orisinil. 3. Membangkitkan ideologi umat Islam tentang pentingnya belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Secara mendasar pembaharuan pendidikan Islam menurut Fazlur Rahman dapat dilakukan dengan menerima pendidikan. Menurut Fazlur rahman . B. Menurut Rahman umat Islam adalah masyarakat tanpa bahasa karena lemah di bidang bahasa. kemajuan serta keteraturan dunia.menurut Mastuhu. 4.Sesuatu yang . Untuk mengetahui seberapa jauh tujuan pendidikan itu telah tercapai. Berusaha mengikis dualism system pendidikan tradisional (agama).problem pendidikan Islam yang paling mendasar dewasa ini adalah problem ideology. Karena itu perlu ada upaya mengintegrasikan keduanya.hal itu hampir sama dengan yang dikemukakan oleh matuhu.

Walaupun gagasan rahman disini hanya bersifat teoritis dan belum selesai tapi para ilmuwan berikutnya berhasil mengembangkan konsep Rahman tersebut dengan adanya berbagai pendekatan keilmuan pendidikan islam mulai dari islamisasi ilmusampai intergarasi dan interkoneksi.akibatnya tidak pelik orang yang mengalami stess .Ini dalam bidang keilmuan . Pendidikan islam menurut rahman bukan sekedar perlengkapan dan perlalatan fisik atau kuasi fisik pengajaran seperti buku-buku yang di ajarkan ataupun stuktur eksternal pendidikan. melainkan sebagai intelektualisme islam karena baginya hal inilah yang dimaksud dengan esensi pendidikan tingi islam.kebutuhan masyarakat.dan tindakan amoral lainnya merkipun sudah berpendidikan.padahal kita tahu sendiri bahwa di sumber agama islam di Kitab sucinya Alqur’an selalu tidak memisahkan antara ilmu agama dan umum.berkebalikan juga terjadi pendidikan umum dari tingkat SD sampai perguruan tinggi umum hanya bias mencetak orang yang sanggup bersaing didunia modern tapi gersang dengan nilai nilai agama islam.kalau pendidikan islam diteruskan seperti ini dapat diprediksi beberapa tahun kemudian pendidikan islam akan menjadi pendidikan yang ketinggalan dan tidak diminti oleh masyarakat (stakeholder) Menurut rahman untuk memenuhi target yang telah didambakan oleh masyarakat. bahkan pembaharuan islam dalam bentuk apapun yang berorientasi pada kemajuan. Hal ini .dalam bidang menajemen pendidikan islam juga harus bersifat terbuka terhadap menajemen yang baru dan bersifat efektif .yang darinya dapat diharapkan berbagai alternative atas problem-problem yang dihadapi umat manusia.Kemudian pelaku lembaga pendidikan harus menarik problem tersebut kedalam daerah sumber .Dalam wilayah ini pelaku pendidikan melakukan proses perenungan yang mendalam agar lembaga pendidikan dapat memadukan hal tersebut .Gerak ganda atau Doble movement yang dimaksud rahman yakni ada dua tempat yang harus di perhatikan yakni sumber yang dalam kategori rahman adalah al-quran dan assunnah sementara tempat yang kedua yakni realitas social atau social cultural masyarakat setempat.langkah yang harus ditempuh dalam pendidikan yakni selaku pihak yang ingin mendirikan lembaga pendidikan islam haruslah dapat melihat realitas.dan hasilnya dari proses tersebut baru dibuat dasar dalam pendirian dan pengembangan pendidikan islam.oleh sebab itu fazlur rahman memberikan beberapa alternative yang sangat bagus baik melalui karya –karyanya maupun teorinya yakni double movement.bunuh diri.Serta fungsi rahmatan lil alamin dapat meluas pendidikan islam haruslah melakukan teori gerak ganda sebelum menentukan target atau tujuan dari pendirian lembaga pendidikan tersebut. PENUTUP KESIMPULAN Berdasarkan pembahasan Fazlur Rahman di atas maka dapat disimpulkan bahwa Pendidikan tinggi Islam sangat strategis untuk megurangi benang kusut krisis pemikiran dalam islam yang berdampak pada stagnasi dan kemunduran peradaban islam.tantangan kedepan.

Islam and Modernity: Transformation of an Intellctual Tradition. 2006).. 18. Epistemology dan System Pendidikan. Fazlur Rahman Kajian Terhadap Metode. dan yang harus memberikan kriteria untuk menilai keberhasilan atau kegagalan sebuah system pendidikan islam. 1982 Sutrisno. the University of Chichago Press. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar:2006). . +++++ Sutrisno. hal.cit.hal 35-37. Fazlur Rahman Kajian Terhadap Metode.merupakan pertumbuhan suatu pemikiran islam yang asli dan memadai. Islam and Modernity: Transformation of an Intellctual Tradition.(Yogyakarta: Kota Kembang. 167. Pendidikan Islam yang menghidupkan. hal. hal.(Yogyakarta: Kota Kembang. Epistemology dan System Pendidikan. DAFTAR PUSTAKA Sutrisno. Pendidikan Islam yang menghidupkan. Sutrisno. 1982. Yogyakarta: Pustaka Pelajar:2006 Rahman. America. Fazlur . Sutrisno. 2006) Fazlur Rahman. op. 106-107. America. the University of Chichago Press.

Pakistan. Bagaimana pembaruan pemikiran hukum Islam Fazlur Rahman? 2. hukum Islam telah membuktikan diri sebagai bagian dari kehidupan muslim yang inovatif. Meskipun sebagian umat merasa cemas dengan kehadiran modernitas. Namun sebagaimana zaman yang tidak tetap dan dinamis. Pada awal 1960-an Rahman kembali ke negerinya setelah 3 tahun mengajar di Universitas McGill. sebuah daerah di Anak Benua Indo Pakistan. PEMBAHASAN 1. along with a body of well developer hermeneutical and paralogical techniques.[2] Salah satu dari pemikir itu adalah Fazlur Rahman yang disebut-sebut sebagai tokoh neomodernis yang penting. Selain Rahman. Selama belajar di Oxford. Karena itulah Aziz Al-Azmeh berkomentar. Biografi dan Karya-karya Fazlur Rahman Pada 21 September 1919 Fazlur Rahman dilahirkan dari keluarga muslim religius di Hazara. hukum Islam selalu dapat didesain untuk mengikuti perubahan-perubahan yang terjadi. Maulana Syahab al-Dien. Rahman dianggap berhasil melaksanakan rekonstruksi dan dekonstruksi dalam metodologi studi hukum Islam. Setelah lulus dari pendidikan menengahnya.”[1] Bukti kompetensi dialektika wahyu dengan realitas adalah warisan ushul fiqh dan fiqh yang kaya dalam sejarah Islam. Kecenderungan ini telah dimiliki oleh para pemikir kontemporer setelah berhasil mematahkan mitos tentang ketertutupan pintu ijtihad (‘insidad bab al-ijtihad) dan mengeliminir taklid. Rahman menerima pendidikan tradisional di samping pendidikan modern di Lahore yang mulai dijalani sejak 1933. Kedudukan Rahman ini mendapatkan banyak kritik dari para ulama tradisional Pakistan terlebih latar belakang pendidikannya dari Barat. Rahman kecil hidup dalam tradisi Hanafi yang kuat dan praktis ritualitas keagamaan ia laksanakan dengan penuh ketaatan. Latar belakang keluarga Rahman yang terbuka membuat ia tidak kesulitan untuk memperoleh pengetahuan baru dan pendidikan modern. Syekh Waliyullah. Pada tahun 1946 Fazlur Rahman berangkat ke Inggris untuk belajar di Universitas Oxford yang kemudian mendapatkan bimbingan dari Prof. Dari sang ayah. RUMUSAN MASALAH 1. orientasi hukum Islam perlu selalu diarahkan pada kemajuan (the idea of progress). Rahman mengajar di Universitas Durham yang semakin memperlihatkan kepadanya distingsi pendidikan modern di Barat dan Islam tradisional di negerinya. Pendidikan doktor Rahman ini selesai pada 1949 dengan disertasi berjudul Avicenna’s Psychology yang kemudian diterbitkan oleh universitas tertua di Eropa itu. Kembalinya Rahman ini karena permintaan Ayyub Khan yang kemudian pada 1962 menyerahinya tanggungjawab sebagai pemimpin Islamic Research Institute dan The Advisory Council of Islamic Ideology. “islamic law is a repertoire of precedents. Bagaimana relevansi pemikiran Fazlur Rahman dalam konteks zaman ini? III. Van Den Berg dan HAR. dari wilayah yang sekarang terletak di barat laut Pakistan ini telah melahirkan tokoh-tokoh sekaliber Sayyid Ahmad Khan.[3] II. Kanada. Gibb. cases and general principles. Lebih-lebih pada periode ini Rahman menulis di sebuah jurnal bernama Fikr al-Nadzar yang menggugat . Rahman melanjutkan pendidikan dengan konsentrasi bahasa Arab di Lahore dan memperoleh gelar Bachelor of Art pada 1940 dan menyelesaikan studi masternya dua tahun berikutnya. PENDAHULUAN Secara natural dan historis.PEMBAGARUAN PEMIKIRAN HUKUM ISLAM ( BELAJAR DARI FAZLUR RAHMAN ) PEMBARUAN PEMIKIRAN HUKUM ISLAM: BELAJAR DARI FAZLUR RAHMAN I. S. dan Muhammad Iqbal. Meskipun demikian dialektika pemikiran Rahman tidak hanya dalam tradisi sunni tetapi juga syi’i.

Setelah beberapa saat memperoleh perawatan medis di Chicago. al-Qur’an) dan realitas tersebut. Ini berbeda dengan periode 1960-an ketika Rahman telah kembali ke Pakistan yang meskipun masih beraroma historis dalam kajiannya. karya-karya yang lain tetap penting untuk diketahui dan dianalisis. Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition. Sebagaimana para intelektual progresif yang lain. Los Angeles. dan tercakup di dalamnya hukum Islam sebagaimana karya-karya periode ini dalam uraian biografi di atas. di masa Rahman hidup masih didominasi oleh kalangan tradisional yang kokoh dalam penafsiran tekstualis atas al-Qur’an. Karena itulah diskusi mengenai pemikiran hukum Islam akan lebih banyak merujuk pada karya-karya Rahman periode kedua dan ketiga meskipun sebagai sebuah pemikiran seseorang secara keseluruhan. Tetapi banyak pengamat menilai sesungguhnya kritik dan demonstrasi itu bukan ditujukan kepada Rahman. 1. namun secara khusus tertuju pada pemikiran Islam dan Islam normatif. Mengenai hal ini Rahman menguraikan dua problem utama umat Islam.[5] Pada pertengahan dekade 1980-an Rahman mulai menunjukkan penurunan kesehatan meskipun masih bersemangat dalam berkarya. Meskipun demikian Rahman sebetulnya tidak pernah lepas dari teks (beyond the text) sehingga pengembangan tafsirnya dianggap merupakan rekonstruksi atas pola tafsir bi al-ma’tsur[7] yang akan terlihat dalam penggunaan beberapa contohnya nanti. tetapi untuk menentang Ayyub Khan. Tulisan di jurnal ini kemudian menjadi dua bab pertama dalam buku Islam. Rahman menutup usianya pada 16 Juli 1988 saat berusia 69 tahun.[4] Pakistan. bukan hanya karena kebudayaan dan pemikirannya. pertama-tama menjadi landasan bagi konsepsi mengenai teks yang tidak terlepas dari konteksnya. Avicenna Psycology. Sementara itu pada periode terakhir Rahman di Chicago semakin memberikan ruang yang luas bagi pemikiran Islam. Pada periode ini beberapa karya yang lahir antara lain The Philoshophy of Mulla Sadra. setiap teks selalu berangkat dari sebab-sebab eksternal dan kemudian mengakumulasi keadaan itu dalam “uraian” teks. Rahman mendapat pengakuan secara internasional dengan salah satunya menerima penghargaan prestisius Giorgio Levi Della Vida dari Gustave E. dan Health and Medicine in Islamic Tradition. Nashr Hamd Abu Zayd menyebut ilmu asbab an-nuzul sebagai sebuah ilmu yang digunakan untuk memahami hubungan teks (nash. Karya-karya masa awal Rahman dipenuhi dengan kajian-kajian historis murni. Pemikiran Hukum Islam Fazlur Rahman Melalui sekilas biografi Rahman tertangkap pergeseran pemikiran dari satu masa ke masa lain yang dipengaruhi oleh gejolak kehidupannya. Sebuah buku yang terbit setelah ia wafat adalah Revival and Reform in Islam: A Study of Islamic Fundamentalism. Major Themes of The Qur’an. pertama. Dalam periode ini dapat dilihat pada karya Islamic Methodology in History dan Islam. Dalam konteks inilah. Rahman merasakan kekhawatiran atas kondisi umat Islam kontemporer yang terpuruk sebagai akibat kejumudan berpikir. Sebagai guru besar di UCLA dan Chicago. pada akhir tahun 1969 Rahman berangkat ke Amerika menuju Universitas California. Rahman memulai keberangkatan pemikirannya pada apa yang disebut para sarjana sebagai “metode kritik sejarah” (critical historical method) dan kemudian lebih detail diurai dalam konsep double movement. Metode kritik sejarah. Avicenna’s de Anima. dan Prophecy in Islam merupakan karya-karya historis secara umum. Pada 5 September 1968 akhirnya Rahman mengundurkan diri dari Islamic Research Institute dan setahun berikutnya. Bahkan sentimen atas Barat cukup kuat.eksistensi wahyu dalam pandangan tradisional. Von Grunebaum Center for Near Eastern Studies dari UCLA yang hingga saat ini dirinyalah sebagai satu-satunya muslim yang menerima award itu.[8] Namun meskipun demikian sejumlah ayat memang diturunkan tidak dalam kondisi merespon lingkungan yang .[6] Tawaran Rahman mengenai kontekstualisasi ini secara terus menerus disuarakan melalui karyakaryanya. umat Islam sendiri memendam kekhawatiran jika al-Qur’an disajikan dengan cara di atas akan menyimpang dari pemahaman-pemahaman tradisional. dan kedua. Sebagaimana diketahui. Gelombang protes terhadap Rahman mencapai puncak ketika terjadi pemogokan massal pada September 1968 di beberapa daerah yang membuatnya berpikir ulang tentang masa depan pemikirannya di Pakistan. tetapi juga aspek politiknya. Rahman kemudian pindah ke Chicago dan menghabiskan banyak waktu di sana untuk menuliskan karya-karyanya. dan diangkat sebagai guru besar pemikiran Islam di universitas tersebut. umat Islam kurang menghayati relevansi al-Qur’an untuk masa kini sehingga tidak mampu memberikan jawaban bagi masalah-masalah baru.

then. indeed.” . pemahaman atas karya yang dikaitkan dengan pengetahuan utuh dari pengarang dan pandangan utuhnya (Geist) pada masa itu. baik dari aliran –mengutip Syahrastani– “filosof generasi awal” maupun “filosof generasi belakangan”. membagi tugas ini ke dalam tiga bagian atau pemahaman. a general study of the macrosituation in term society. sangat tampak sebenarnya Rahman menjadikan al-Qur’an sebagai sentral penelitian untuk merekonstruksi pemikiran Islam. Dengan cara inilah Rahman melaksanakan fungsi ijtihad pada al-Qur’an agar kontekstual dan fungsional untuk masa ini.[14] Pilihan Rahman atas hermeneutika adalah karena ia lebih dekat dengan ilmu-ilmu kemanusiaan (Geisteswissenschaften) yang objeknya adalah ekspresi kehidupan (Lebensaeusserung). dan (3) “geistige”. before coming to the study of specific text in the light of specific situation. Mengenai proses double movement.[12] Khazanah keislaman yang mengakomodir gaya seperti ini dikategorikan al-Jabiri ke dalam “sistem burhani” yang memang langka ditemukan di dalam sejarah Islam. one must understand the import or meaning of a given statement by studying the historical situation or problem to which it was the answer. Of course. (2) “gramatis”.will have to the made. saintis.[13] Meskipun Islam sangat terinspirasi dari perkembangan filsafat terutama Yunani. customs. religion. The first step of the first movement. penulis akan mengutipnya di bawah ini[16]: “first. Sehingga penting di sini untuk menegaskan berartinya pengetahuan akan sebuah realitas yang memproduksi teks guna menemukan makna dari sebuah teks. tetapi pada perkembangan berikutnya. The second step is to generalize those specific answers and enunciate them as statements of general moral-social objectives that can be “distilled” from specific text in light of sociohitorical back ground and the often-stated rationes legis. consists of understanding the meaning of the qur’an as a while as well as in term of the specific tenets that constitute responses to specific situation.[11] Friedrich Ast. Sebagai salah satu metode dari “memahami” (verstehen). yang dapat berupa artistik. sebuah pemahaman yang dikaitkan dengan aspek kebahasaan. Karena alasan inilah Rahman lebih memilih post-positivistik yang memfokuskan diri pada fenomena sosial tanpa mengabaikan peran sentral subjek manusia.[15] Kontekstualisasi al-Qur’an dengan menggunakan prinsip-prinsip hermeneutika digunakan Rahman untuk tidak hanya membaca “teks horisontal” (ruang dan waktu manusia) tetapi juga “teks vertikal” (memahami kehendak Tuhan). sebuah pemahaman yang terkait dengan isi sebuah karya. atau umum. Selain itu juga menolak epistemologi model Immanuel Kant yang justru usianya lebih tua dibandingkan positivisme. Dengan cara ini akan ditemukan ideal law (hukum ideal) yang berbeda dari aturan-aturan hukum (legal law) karena berisi prinsip-prinsip etika atau prinsip-prinsip umum (ratio legis).[9] Dari sepintas eksplorasi di atas.[10] Hermenetika sendiri menjadi semacam klarifikasi karya “melalui pengembangan makna internalnya dan hubungan bagian-bagian dalamnya dengan masing-masing yang lain dan dengan spirit masa secara lebih luas”. Untuk menemukan ideal law inilah maka Rahman menawarkan double movement itu untuk mendeteksi maksud wahyu dan menjalankan fungsi tersebut di masa ini. dan kemudian ia memilih hermeneutika sebagai kerangka utama dalam membangun ilmu-ilmu keislaman. tugas dari hermeneutika adalah bagaimana memahami teks maupun realitas sosial di masa lampau yang asing sama sekali menjadi milik orang yang hidup di zaman ini yang secara kultur jelas berbeda. Rahman sendiri tidak mencukupkan diri pada tradisi berpikir positivistik karena dianggap melahirkan dehumanisasi meskipun telah berjasa membuat peradaban Barat berkembang dan maju. of life as a whole in Arabia on the eve of Islam and particularly in and around Mecca – not excluding the Perso-Byzantine wars. penafsiran “hermeneutika” (seperti digunakan oleh Mu’tazilah) tidak sedahsyat penggunaan penafsiran tekstual (burhani) ataupun irfani.eksternal yang jumlahnya sangat sedikit. Rekonstruksi epistemologi Rahman berangkat dari penggunaan tradisi berpikir yang post-positivistik. (1) “historis”. yang karya-karyanya dirujuk oleh tokoh hermeneutika Schleirmacher. dibandingkan ilmu-ilmu kealaman yang cenderung mencari penjelasan atas hubungan kausalitas (erklaren). and institution.

Bahkan sebetulnya ini bukanlah hal baru karena sebelumnya telah dipikirkan oleh Imam asy-Syatibi dalam al-Muwafaqat fi ushul al-shari’ah. Moral idea inilah yang merupakan pemikiran kembali (rethinking) atas konsep asy-Syatibi yang dengan brilian mengeksplorasi tentang “the moral religious bases of the law –‘the objective of the law (maqashid asysyar’) or ‘the intentions of the Shari’a obligations’ (asrar al-taklif)”. Karena itulah hukuman potong tangan merupakan budaya Arab. bukan hukum Islam. metodologi Rahman sangat membutuhkan kekayaan khasanah Islam klasik seperti ilmu asbab an-nuzul meskipun dengan perluasan paradigma.[18] Sebagaimana telah sedikit disinggung. maka seharusnya idea moral itulah yang dijadikan sandaran untuk “menghukumi” perbuatan hukum saat ini. Hal lain dari Rahman yang juga dipengaruhi oleh asy-Syatibi adalah pandangannya mengenai apa yang populer disebut “idea moral”.[21] ä-Í‘$¡¡9$#ur èps%Í‘$¡¡9$#ur (#þqãèsÜø%$$sù $yJßgtƒÏ‰÷ƒr& Lä!#t“y_ $yJÎ/ $t7|¡x. adil tidak mungkin dipenuhi oleh laki-laki. Dua contoh yang di antaranya diajukan oleh Rahman adalah ayat tentang poligami dan hukum potong tangan sebagaimana penjelasan sebagai berikut: ÷bÎ)ur ÷LäêøÿÅz žwr& (#qäÜÅ¡ø)è? ’Îû 4‘uK»tGu‹ø9$# (#qßsÅ3R$$sù $tB z>$sÛ Nä3s9 z`ÏiB Ïä!$|¡ÏiY9$# 4Óo_÷WtB y]»n=èOur yì»t/â‘ur ( ÷bÎ*sù óOçFøÿÅz žwr& (#qä9ω÷ès? ¸oy‰Ïnºuqsù ÷rr& $tB ôMs3n=tB öNä3ãY»yJ÷ƒr& 4 y7Ï9ºsŒ #’oT÷Šr& žwr& (#qä9qãès? ÇÌÈ Artinya: “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. memaksimalkan kreativitas manusia.” (QS. dan kedua. tiga atau empat.[22] . Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. sementara gerakan kedua untuk memformulasikan dan merealisasikan “general view to the spesific view”. sementara gerakan kedua dibutuhkan keahlian social scientist untuk memformulasikan “the social-moral objective” untuk kondisi saat ini. maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua. tetap menjaga kreativitas itu pada jalan moral yang benar. Pemahaman (kebolehan 4 istri) ini tidak lagi sesuai dengan kedudukan antara laki-laki dan perempuan yang sama. Bahwa tidak cukup memahami “maksud Syari’” hanya dengan melihat “konteks mikro” ayat al-Qur’an.Pergerakan pertama double movement dimaksudkan untuk menarik prinsip-prinsip umum dan nilai-nilai. potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. tetapi perlu memahami “konteks makro” sebuah ayat. Al-Maidah: 38). Karena itulah menurut Rahman pesan terdalam yang hendak diutarakan oleh alQur’an bahwa pernikahan itu berasas monogami. Wx»s3tR z`ÏiB «!$# 3 ª! $#ur ͕tã ÒOŠÅ3ym ÇÌÑÈ Artinya: “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri. pertama. Idea moral dari ayat ini adalah memotong kemampuan pencuri agar tidak mencuri lagi. Tetapi bagi Rahman ayat ini perlu dipahami dalam nuansa etisnya secara komprehensif dengan melihat kondisi sosio kultural Arab dan sebab-sebab ayat ini turun. Selain itu. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil.[19] Pemahaman Rahman di atas menjadi bagian penting dalam keinginannya untuk. Dalam sejarah Arab.[20] Untuk menjaga “jalan moral” inilah dianggap penting untuk merujuk pada nilai-nilai yang etis atas apa yang diwahyukan oleh Tuhan. maka (kawinilah) seorang saja. Tetapi di era ini mencuri hanyalah kejahatan ekonomi sehingga bentuk hukumannya harus berubah. gerakan pertama membutuhkan keahlian para sejarawan untuk menggali keadaan spesifik turunnya ayat maupun keadaan secara keseluruhan Mekah dan Arabia di masa itu. Yang paling penting adalah bagaimana cara mengamputasi segala kemungkinan yang membuat seseorang mengulangi perbuatannya itu dan menghargai kepemilikan pribadi seseorang.[17] Dengan demikian. mencuri menurut kebudayaan adalah kejahatan ekonomi dan kejahatan melawan nilai-nilai dan harga diri manusia. An-Nisa’: 3) Ayat di atas memang menunjukkan kebolehan pernikahan hingga 4 orang wanita dan telah dipraktikkan oleh masyarakat Arab sebelum ayat ini turun. Jika di dalam sebuah ayat terkandung yang legal spesific dan moral idea. atau budak-budak yang kamu miliki.

kemudian kamu tidak mendapat air. Pada awalnya. (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. berjudi. Lalu turun kemudian ayat di bawah ini: $pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãYtB#uä Ÿw (#qç/t ヘ ø)s? no4qn=¢Á9$# óOçFRr&ur 3“t ヘ»s3ß™ 4Ó®Lym (#qßJn=÷ès? $tB tbqä9qà)s? Ÿwur $·7ãYã_ žwÎ) “Ì ヘ Î/$tã @@‹Î6y™ 4Ó®Lym (#qè=Å¡tFøós? 4 bÎ)ur LäêYä. an-Nisa: 43). mengundi nasib dengan panah. Akhirnya untuk mengenang sebuah peristiwa para sahabat Nabi saw. tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya. (berkorban untuk) berhala.£‰ÝÁtƒur `tã Ì ヘ ø. an-Nahl: 66). Sesungguhnya Allah Maha Pema'af lagi Maha Pengampun” (QS. sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan. #ÓyÌó ミ£D ÷rr& 4’n?tã @ヘ xÿy™ ÷rr& uä!$y_ Ó‰tnr& Nä3YÏiB z`ÏiB ÅÝͬ!$tóø9$# ÷rr& ãLäêó¡yJ»s9 uä!$| ¡ÏiY9$# öNn=sù (#r߉ÅgrB [ä!$tB (#qßJ£Ju‹tFsù #Y‰‹Ïè|¹ $Y7ÍhŠsÛ (#qßs|¡øB$$sù öNä3Ïdqã_âqÎ/ öNä3ƒÏ ‰÷ƒr&ur 3 ¨bÎ) ©!$# tb%x. al-Qur’an menganggap minuman yang memabukkan dari anggur itu sebagai “kebesaran Tuhan”. hingga kamu mandi. al-Baqarah ayat 219: * y7tRqè=t«ó¡o„ ÇÆtã Ì ヘ ôJy‚ø9$# ÎŽÅ£÷マ yJø9$#ur ( ö@è% !$yJÎgŠÏù ÖNøOÎ) ׎ ヘ Î7Ÿ2 ßìÏÿ»oYtBur Ĩ$¨Z=Ï9 !$yJßgßJøOÎ)ur çŽt9ò2r& `ÏB $yJÎgÏèøÿ¯R 3 š チ tRqè=t«ó¡o„ur #sŒ$tB tbqà)ÏÿZムÈ@è% uqøÿyèø9$# 3 š チ Ï9ºx‹x. terdapat sebuah kejadian dimana salah satu sahabat Anshar meminum khamr dan mabuk sehingga ia salah dalam membaca al-Qur’an. Sebagai konsekuensinya maka diturunkanlah QS. yaitu ayat 66 dimana Tuhan awalnya tidak mempermasalahkan a’nab (anggur): ¨bÎ)ur ö/ä3s9 ’Îû ÉO»yè÷RF{$# ZouŽö9Ïès9 ( /ä3‹É)ó¡ン S $®ÿÊeE ’Îû ¾ÏmÏRqäÜç/ . Keadaan kemudian berubah saat muslim mulai berpindah ke Medinah. maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci). Sesunggguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan” (QS. adalah termasuk perbuatan syaitan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan .Lalu bagaimana cara mencapai “idea moral” itu? Dalam hal ini Rahman mencontohkannya dengan larangan meminum khamr yang diekspos oleh wahyu secara bertahap. #‚qàÿtã #·‘qàÿxî ÇÍÌÈ Artinya: “Hai orang-orang yang beriman. terkecuali sekedar berlalu saja.[23] Dari QS.’ Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. an-Nahl ayat 66 hingga 69 akan dikutip di sini salah satunya. dan beberapa sahabat mendorong Nabi saw untuk melarang alkohol. Katakanlah: ‘Yang lebih dari keperluan. ßûÎiüt7ムª!$# ãNä3s9 ÏM»tƒFy$# öNà6¯=yès9 tbrã ヘ©3xÿtFs? ÇËÊÒÈ Artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. sesungguhnya (meminum) khamar. mengadakan “pesta minum” yang kemudian terjadi percekcokan dan perselisihan hebat di antara mereka karena mabuk.`ÏB Èû÷üt/ 7^ö ヘ sù 5QyŠur $·Yt7©9 $TÁÏ9%s{ $Zóͬ!$y™ tûüÎ/Ì ヘ»¤±=Ïj9 ÇÏÏÈ Artinya: “Dan dari buah korma dan anggur. Lalu turunlah ayat terakhir mengenai khamr itu[24]: $pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä $yJ¯RÎ) ã ヘ ôJsƒø:$# çŽÅ£øŠyJø9$#ur Ü>$|ÁRF{$#ur ãN»s9ø—F{$#ur Ó§ô_Í‘ ô`ÏiB È@yJtã Ç`»sÜø‹¤±9$# çnqç7Ï^tGô_$$sù öNä3ª=yès9 tbqßsÎ=øÿè? ÇÒÉÈ $yJ¯RÎ) ߉ƒÌ ヘ ムß`»sÜø‹¤±9$# br& yìÏ%qムãNä3uZ÷マ t/ nourºy‰yèø9$# uä!$ŸÒøót7ø9$#ur ’Îû Ì ヘ÷Ksƒø:$# ÎŽÅ£÷マ yJø9$#ur öNä.” Setelah ayat di atas. sedang kamu dalam keadaan mabuk.ÏŒ «!$# Ç`tãur Ío4qn=¢Á9$# ( ö@ygsù LäêRr& tbqåktJZ•B ÇÒÊÈ Artinya: “Hai orang-orang yang beriman. janganlah kamu shalat. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan. sapulah mukamu dan tanganmu. Katakanlah: ‘Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia. kamu buat minimuman yang memabukkan dan rezki yang baik.’ Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir.

[26] Mengenai kelompok liberalis ini Hallaq menguraikan di awal-awal penjelasan. apakah terdapat pengaruh dari pemikiran Rahman atau tidak. pendidikan dan kajian-kajian modern keislaman. Pemikiran Rahman didasari atas pembacaan literatur. Selain itu. Tawaran Rahman yang terkesan “moderat” membuat banyak kalangan merasa ditemukan dengan revitalisasi yang tidak “ekstrim” sehingga dapat diterima oleh cukup banyak kalangan. Di Pakistan sendiri. Hal ini berbeda dengan pemikiran-pemikiran yang ditawarkan oleh Muhammad Syahrur ataupun Mahmud Muhammad Taha yang dalam batas-batas tertentu “melewati” arus paradigma Islam klasik. dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang. Apalagi pemikiran Rahman. Selain itu tawaran metodologis Rahman merupakan perpaduan antara akar tradisional keilmuan muslim dengan keilmuan Barat (hermeneutika). sebagaimana eksplorasi sebelumnya. kalam. Misalnya saja.”[27] . Dengan metodologi baru yang ditawarkan oleh Rahman ini ia agaknya sedang berusaha menjauhkan umat Islam dari fanatisme-fanatisme tekstual yang menjatuhkan siapapun ke dalam “bibiolatri” sebagai sebuah sikap yang “memberhalakan” teks tanpa melihat faktor-faktor eksternal yang membentuknya. Di dalam konteks modern pemikiran Rahman bagi penulis cukup relevan meskipun kontekstualisasi pemikiran Islam telah banyak digelorakan. The connection between the revealed text and modern society does not turn upon a literalist hermeneutic. al-Maidah: 90-91). Rahman tetap menggunakan “ayat-ayat al-Qur’an” yang lain dan sumber-sumber periwayatan dalam penafsiran hukumnya sehingga dapat dikategorikan sebagai pengembangan atas tafsir bi al-ma’tsur. hadits. Sehingga dengan “kritik sejarah” itu paradigma Islam sedang mencoba digeser dari wilayah yang teologis-metafisik ke dalam wilayah etis antropologis. but rather upon an interpretation of the spirit and broad intention behind the spesific language of the texts. serta memberikan perlindungan terhadap wanita dan anak-anak. Apalagi pemikiran Rahman cukup luas dan meliputi berbagai bidang keilmuan. bersama Muhammad Mustafa A’dzami. “the main thrust of the liberalist approach consists of understanding revelation as both text and context. tafsir. Berdasarkan ordonansi ini di Pakistan dibentuk Dewan-dewan arbitrase yang menangani masalah-masalah seperti memberikan sanksi kepada seseorang yang poligami. “Perpaduan” ini membuat wajah pemikiran Rahman “eklektik” sehingga Wael B. Hallaq mengkategorikan dirinya dalam kelompok “religious liberalism” bersama Said al-Asymawi dan Muhammad Syahrur. Demikianlah bahwa memang al-Qur’an menurunkan hukum-hukumnya itu sebagai “pentahapan” untuk menuju sesuatu yang ideal. Di sinilah universalitas hukum Islam itu sebenarnya akan ditemukan untuk merespon kenyataan-kenyataan baru dalam modernitas. 1. merekonsiliasi percekcokan rumah tangga.[25] Pengaruh Rahman sendiri dalam dunia modern muslim cukup luas. Rahman merupakan salah satu tokoh yang cukup keras mengritik uraian-uraian konsep hadits yang diekspolorasi oleh Joseph Schact dan Ignaz Goldziher yang terkesan “mendiskreditkan” dan “meragukan” otentisitas hadits sebagai salah satu formula dalam hukum Islam. sebagaimana yang sedikit disinggung di permulaan uraian. Inilah yang merupakan prinsip-prinsip umum (the general principles) yang seharusnya direkomendasi dalam setiap formulasi hukum Islam.kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu. maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)” (QS. Bahwa asas pernikahan memang monogami dan pidana pencurian adalah “membuat jera”. tetapi ketika Ayub Khan –yang secara emosional dekat dengan Rahman– menjadi presiden kedua Pakistan. sebuah waktu yang relatif dekat dengan kepulangan Rahman pada tahun 1960-an ke Pakistan dari McGill. Relevansi Pemikiran Fazlur Rahman Kategorisasi Rahman sebagai seorang neo modernis sebenarnya lebih memperlihatkan ciri pemikirannya sebagai seorang “reformer metodologis”. baik literatur Islam maupun Barat-modern sehingga kritikkritiknya meliputi kedua-duanya. telah ditemukan akarnya dari pemikiran as-Syatibi. pernah memperkenalkan hukum keluarga Islam (the Muslim Family Laws) melalui sebuah ordonansi pada tanggal 2 Maret 1961. tetapi Rahman di sisi lain juga seorang muslim yang cukup keras mengritik tokoh-tokoh orientalis yang dianggapnya tidak tepat dalam menjelaskan pemikiran Islam. bukan “reformer paradigmatik”. tasawuf. Bukan saja karena tawaran metodologinya yang reformatif. selain menemukan “idea moral” sebagai tujuan utama pewahyuan.

pertama. Penanaman “idea moral” akan menjadikan umat Islam lebih terbuka dan tidak formalis tanpa harus menanggalkan semangat ketuhanan dan keislaman. karena didasarkan pada nilai-nilai yang universal. kesetaraan gender. Karena itulah saran dan kritik selalu terbuka bagi siapapun. IV.Ag selaku dosen pemikiran hukum Islam dan teman-teman pascasarjana IAIN Walisongo. [1] Aziz Al-Azmeh. . perlu sebuah upaya “pembumian” sehingga dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari muslim. Rasyid Ridha. semangat keadilan. penggunaan hermeneutika oleh Rahman ternyata tidak selalu memberikan dampak buruk sebagaimana yang selama ini dikhawatirkan oleh sebagian umat Islam. Rahman memang belum tuntas dalam memperbincangkan konsepnya mengenai “idea moral” misalnya. Muhyar Fanani. 1993. hukum yang tercipta diharapkan mampu dikembangkan sesuai semangat zaman ini. Rahman melalui “metode kritik sejarah” dan “double movement” ibarat memberikan wadah sementara isi dan hasilnya menjadi tugas para pemikir berikutnya. Abdul Wahab Khallaf dan tokoh revolusioner dari Sudan. yang telah diketahui menjadi perdebatan sejak lama oleh para ulama Islam klasik. terutama dari Bapak Dr. tawaran Rahman cukup baik untuk diimplementasikan terutama tentang berpikir secara etis. sebagai manusia memiliki keterbatasan waktu. Tetapi visi Rahman mengenai “kontekstualisasi” atau “pembumian” patut disambut baik –dan terbukti pemikirannya telah menginspirasi dan diperkenalkan oleh banyak pemikir sesudahnya– karena melihat aspek-aspek teologis ayat al-Qur’an tidak hanya dari sisi aspek hukumnya saja. hak asasi manusia. London & New York: Verso. hlm. dan sebagainya. Kedua. Kelompok ini cukup kuat dalam memegang teks-teks hukum dan terkesan “deduktif” sehingga dialektika dengan modernitas kurang begitu mendapatkan tempat meskipun batu pertama tesis utilitarianis adalah maslaha. demi sebuah karya yang memang layak diperiksa ulang. Meskipun demikian. pemikiran Rahman dapat dipandang relevan dengan zaman ini yang telah “mengglobal” dimana pluralitas merupakan kenyataan dimana-mana. Islams and Modernities. Meskipun begitu. Apalagi sejatinya hermeneutika yang lahir dari peradaban Barat (Gereja) awalnya tidak dimaksudkan untuk “mendesakralisasi” Tuhan dan ayat-ayatnya dalam Bibel tetapi melakukan “reinterpretasi” atas Bibel sebagai upaya mendialektikan “suara Tuhan” dengan “suara manusia modern” yang sangat berbeda karakteristik dari respon-respon radikal-ekstrim seperti yang digelorakan oleh Karl Marx dan Nietzsche. dari setiap ayat al-Qur’an. Pemikiran Rahman. Upaya ini dilakukan untuk menemukan prinsip-prinsip umum atas wahyu Tuhan yang dieksplisitkan dalam teks al-Qur’an sehingga dialektika dengan problem baru tidak terputus. demokrasi. pembaruan pemikiran hukum Islam Fazlur Rahman didasarkan pemahamannya terhadap ayat-ayat al-Qur’an secara hermeneutis melalui “metode kritik sejarah” dan konsep “double movement”. 11-12. [28] Dalam kehidupan kontemporer ini. M. Hasan Turabi. Di sisi lain. Karena itu Hallaq mengritik pandangan-pandangan kelompok ini karena pada akhirnya akan jatuh pada subjektivitas dan relativitas. KESIMPULAN Dari uraian pada makalah ini maka dapat disimpulkan dua hal utama. tentu saja di samping ketidaksempurnaan pada aspek-aspek yang lain. maka tidak akan terjebak pada formalisme sehingga dalam kehidupan masyarakat modern yang plural seperti di Indonesia. V. Selain dibutuhkan kajian yang cukup berat. Karena wawasan etis alQur’an. terutama yang terkait dengan hukum-hukumnya.Kelompok “religious liberalism” ini sendiri berbeda dengan kelompok “religious utilitarianism” yang diisi oleh tokoh-tokoh seperti Muhammad Abduh. tetapi juga etika. Namun begitu terasa cukup banyak kekurangan terutama terkait dengan ketersediaan referensi yang tidak mampu dihadirkan secara komplit. PENUTUP Demikian makalah ini telah penulis susun dengan sebaik-baiknya.

. 2001. The Massage of Fazlur Rahman. [7] Baca lebih lanjut mengenai tafsir bi al-ma’tsur. 2009. makalah seminar internasional Tajdid Pemikiran Islam oleh Yayasan Dakwah Malaysia Indonesia dan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Dilthey. hlm. hlm. 6. [12] Richard E. Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition. 21 Oktober 2009. 87. Ibid. hlm. 1982. London and Chicago: Chicago University Press. al-Afghani (Timteng). [6] Fazlur Rahman. Uraian ini dikutip dari Greg Barton oleh M. memiliki karakteristik sintesis progresif dari rasionalitas modernis dengan ijtihad dan tradisi klasik. 16. “Hermeneutika: Teori Baru Mengenai Interpretasi”. vol. Hermeneutics Interpretation Theory in Schleirmacher. selain istilah lain revivalisme dan neo-revivalisme serta modernisme Islam. [8] Nashr Hamd Abu Zayd. [15] Ilyas Supena. Baca Wael B. Was the Gate of Ijtihad Closed?. Ibid. Revivalisme direpresentasikan oleh Wahabiyah (Arab). dalam International Journal of Middle East Studies of Cambridge University.[2] Ijtihad baru tidak berarti sebagai upaya menafikan rumusan lama dalam pemikiran hukum Islam. 1 (Mar. [14] Muhammad Abed al-Jabiri. 1984). dan Ziauddin Sardar yang meragukan seluruh epistemologi Barat dapat digunakan untuk memajukan umat muslim. hlm. [3] Istilah neo modernisme sendiri sebenarnya diutarakan oleh Rahman saat membedakan gerakan pembaruan Islam selama dua abad terakhir. Anas Mahyuddin. Epistemologi Hukum Islam dalam Pandangan Hermeneutika Fazlur Rahman. Op. 1983. [16] Fazlur Rahman.com/focus/fr/531762/posts (diakses tanggal 21/05/2010). terj. at-Tibyan fi Ulum al-Qur’an. Gerakan Islam Liberal di Indonesia. Musnur Hery dan Damanhuri Muhammed. 2003. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Heidegger. dan Fulaniyah (Afrika Barat). [9] Nashr Hamd Abu Zayd. 2003. Imam Khoiri. hlm. Hallaq. 33-34. Neo modernisme. dan Abduh (Mesir). Beirut: Alam al-Kutub. Islam and Modernity…Op. 248-249.. “Tema Pokok al-Qur’an”. Cit. hlm. Karena itulah ketiga tokoh ini justru menginginkan adanya pembaruan Islam dari “dalam” yang berakar pada tradisi keislaman itu sendiri. Yogyakarta: LKIS. Bandung: Penerbit Pustaka. Neo-revivalisme diwakili oleh al-Maududi dengan Jama’at e Islami di Pakistan. [4] Fazlur Rahman. Atho Mudzhar. hlm. and Gadamer. Sanusiyah (Afrika Utara). Cit. Islam. terj. termasuk Rahman sendiri. Penolakan Rahman terhadap positivisme ini hampir mirip dengan penolakan yang dilakukan oleh Abduh. hlm. Major Themes of The Qur’an. 1979. 67. hlm. [11] Richard E. 125-126.. Ibid.freerepublic. “Formasi Nalar Arab: Kritik Tradisi Menuju Pembebasan dan Pluralisme Wacana Interreligius”. [5] Baca M. Takwin al-‘Aql al-‘Arabi. [10] Ilyas Supena. tetapi mengevaluasi kembali dan mendialogkan rumusan-rumusan itu dan atau mengembangkannya dengan semangat zaman ini. [13] Baca Muhammad Abed al-Jabiri. Baca juga Fazlur Rahman. hlm. . Palmer. dalam Jurnal Asy-Syir’ah. 1985. dalam http://www. Yogyakarta: Ircisod. Tekstualitas al-Qur’an: Kritik Terhadap Ulumul Qur’an. No. dan bi al-isyari dalam Ali Asy-Shabuni. Ali Syari’ati. II. xi. terj. Chicago and London: University of Chicago Press. 2-3. 1-2. bi al-ra’yi. Sedangkan modernisme diwakili oleh Ahmad Khan (India). Palmer. 247-248. Yahya Birt. 42 No. vol.

[22] Ibid. [21] http://jeryronggo. Hallaq. 97. Islamic Methodology in History. hlm.. [26] Baca Wael B.Cit. hlm. 242.. Hallaq. A History of Islamic Legal Theories…. hlm.[17] Fazlur Rahman. 1965. . 231-253. Islam and Modernity…. [20] Fazlur Rahman. [19] Fazlur Rahman. hlm. Op. Ibid. A History of Islamic Legal Theories…. Ibid. [18] Baca. [25] http://en. dan 4: 127. [23] Wael B. Islam.wordpress. 115. Karachi: Central Institute of Islamic Research. Cit. Islam and Modernity….wikipedia. Ayat-ayat ini dapat diperbandingkan dengan 4:2. Fazlur Rahman.. 1997. 7. [24] Wael B.org/wiki/Ayub_Khan (diakses pada 21 Mei 2010). [27] Wael B. Hallaq. Hallaq. Op. Ibid. 231.com/2008/12/01/hermeneutika-al-qur%E2%80%99an-fazlur-rahman/ (diakses tanggal 21 Mei 2005). Cambridge: Cambridge University Press. A History of Islamic Legal Theories…. Ibid. Selain itu Rahman juga membahas Ibn Taimiyyah yang menguraikan persoalan sentral dalam filsafat hukum Islam adalah bagaimana kewajiban moral itu berkaitan dengan Divine Omnipotence dan Will serta bagaimana kebutuhan saat ini mampu dipenuhi oleh (warisan) masa lalu. hlm. A History of Islamic Legal Theories: An Introduction to Sunni Usul al-Fiqh. hlm. 4: 126.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful