P. 1
Strategi Integrasi Imtaq Dalam Pembelajaran

Strategi Integrasi Imtaq Dalam Pembelajaran

|Views: 1,488|Likes:
Published by v2_vivi3965
drs. Nur kholiq
drs. Nur kholiq

More info:

Published by: v2_vivi3965 on May 07, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/03/2013

pdf

text

original

STRATEGI INTEGRASI IMTAQ DALAM PEMBELAJARAN

DISUSUN
DALAM RANGKA MEMENUHI SALAH SATU PERSYARATAN KENAIKAN PANGKAT JABATAN GURU

Oleh :
Nama NIP : Drs. Nur Kholiq : 19630108 198703 1004

PEMERINTAH KABUPATEN JEPARA DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA UNIT PELAKSANA TEKNIS DINAS

SMA NEGRI 1 KEMBANG
Jl. Bangsri – Keling, Km 6 Kembang  59453, Telp. (0291) 7730048

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Suatu kenyataan bahwa kemerosotan akhlak akhir-akhir ini tidak hanya menimpa kalangan orang dewasa tetapi telah merembet pada kalangan pelajar tunas-tunas muda. Orang tua, pendidik, dan mereka yang berkecimpung dalam bidang agama dan sosial banyak mengeluh terhadap perilaku mereka yang tidak baik. Perilaku mereka yang nakal, keras kapala, mabuk-mabukan, tawuran, pergaulan bebas, pesta obat-obatan terlarang, bergaya hidup mewah dan pendek kata perilaku mereka tidak mencerminkan pelajar yang berpendidikan. Melihat kenyataan tersebut, dunia pendidikan bertekad untuk berbenah diri dan mencari solusi yang tepat dalam upaya mengatasi krisis akhlak yang melanda para pelajar. Para pemikir pendidikan menyerukan agar kecerdasan akal diikuti kecerdasan moral dan pendidikan agama. Kiranya tepatlah kurikulum peningkatan keimanan dan ketaqwaan (imtaq) sebagai solusinya. Alasan pemilihan judul penelitian ini adalah pentingnya iman dan taqwa sebagai ruh dan jiwa ilmu pengetahuan bagi peserta didik. Pentingnya pengembangan kurikulum berwawasan imtaq dapat dijelaskan melalui tiga hal, yaitu : (1) ditinjau dari segi perundang-undangan ; (2) ditinjau dari segi kecerdasan emosional (EQ), dan (3) ditinjau dari kecerdasan emosional spiritual (ESQ). 1. Pentingnya imtaq ditinjau dari segi perundang-undangan Pengembangan imtaq di sekolah sangat penting sebagai upaya untuk mewujudkan tujuan pendidikan. Sesuai dengan UU NO. 20 Tahum 2003 pasal 3 yang berbunyi, “ Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar manjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta

32

bertanggung jawab.” Dalam pembukaan UUD 1945 dalam Diknas ( 2005 : 2 ) menyebutkan bahwa konsep mencerdaskan kehidupan bangsa harus dimaknai secara luas, yakni meliputi (a) kecerdasan intelektual, (b) kecerdasan emosional, dan (c) kecerdasan spiritual. Untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional, pendidik hendaknya tidak hanya membina kecerdasan intelektual, wawasan dan keterampilan semata, tetapi harus diimbangi dengan membina kecerdasan emosional dan keagamaan. Dengan kata lain memberikan nilainilai agama atau imtaq dalam ilmu penngetahuan atau memberikan moralitas agama kepada ilmu. Selaras dengan hal tersebut, dikatakan oleh Ahmad Djazuli dalam Diknas ( 2005 : 2 ) bahwa dalam tujuan pendidkan nasional, pembinaan imtaq merupakan inti tujuan pendidikan nasional. Hal ini berarti bahwa pembinaan imtaq bukan hanya tugas dari bidang studi pendidikan agama saja melainkan tugas pendidikan secara keseluruhan sebagai suatu sistem. Artinya, sistem pendidikan nasional dan seluruh upaya pendidikan sebagai satu sistem yang terpadu harus secara sistematis diarahkan untuk menghasilkan manusia yang utuh, sebagai ciri pokoknya adalah manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Berdasarkan UU Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003, pasal 3 dikatakan bahwa manusia yang dicita-citakan ialah manusia yang berkembang potensinya secara utuh yaitu manusia yang iman dan taqwa tehadap Tuhan Yang Maha Esa dengan diimbangi pekerti yang mulia, memiliki ilmu pengetahuan, cakap, sehat jasmani dan rohani, kreatif, mandiri, tanggung jawab, serta memiliki sikap demokratis. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka pendidikan harus dirancang dan dilaksanakan secara terpadu dan harus berpusat pada pendidikan keimanan dan ketaqwaan. Untuk mewujudkan manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa bukan semata-mata tanggung jawab guru pendidikan agama akan tetapi merupakan tanggung jawab semua guru bidang studi. Guru dalam menyusun program pengajarannya harus terpadu. Keterpaduan yang dimaksud ialah keterpaduan tujuan, keterpaduan materi, keterpaduan proses, dan keterpaduan lembaga pendidikan.

32

Keterpaduan tujuan menjelaskan bahwa pencapaian tujuan pendidikan itu merupakan tugas aparat pendidikan yang terkait, terutama kepala sekolah,semua guru (termasuk guru agama), semua pegawai sekolah dan segala sesuatu yang berhubungan dengan sekolah. Karena keimanan dan ketaqwaan menjadi inti tujuan, maka pendidikan keimanan dan ketaqwaan menjadi tanggung jawab semua aparat tersebut. Keterpaduan materi ialah keterpaduan materi pendidikan secara khas, hal ini berkenaan dengan bahan ajar. Semua bahan ajar yang disampaikan hendaklah dipadukan, tidak ada bahan ajar yang terpisah dengan bahan ajar yang lain. Pengikat keterpaduan itu ialah tujuan pendidikan keimanan dan ketaqwaan. Jadi selain tujuan mata pelajaran itu sendiri, hendaknya semua bahan ajar mengarah kepada terbentuknya manusia beriman dan bertaqwa. Kurang bijak kiranya jika ada bahan ajar yang bertentangan dengan ajaran agama, dan merupakan suatu keharusan bahwa bahan ajar tersebut saling membantu. Dalam keterpaduan proses para pendidik hendaklah menyadari bahwa semua kegiatan pendidikan sekurang-kurangnya tidak berlawanan dengan tujuan pendidikan keimanan dan ketaqwaan, bahkan dikehendaki semua kegiatan pendidikan membantu tercapainya siswa yang beriman dan bertaqwa. Keterpaduan lembaga pendidikan menghendaki agar semua lembaga pendidikan , yaitu sekolah, keluarga, dan masyarakat bekerja sama secara terpadu untuk mencapai lulusan yang beriman dan bertaqwa. Melihat hal tersebut begitu pentingnya keterkaitan imtaq dengan semua aspek yang melingkupi pendidikan. Jadi dalam konteks sebagai institusi, pendidikan hendaknya dilaksanakan di lembaga formal (sekolah), informal (keluarga), dan non formal (masyarakat), yang oleh Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara dalam Diknas ( 2005 : 7 ) disebut sebagai tripusat pendidikan. 2. Pentingnya wawasan imtaq ditinjau dari segi kecerdasan emosional (EQ). Kecerdasan emosional disebut dalam bahasa Inggris Emosional Quotient (EQ). Kecerdasan emosional oleh Peter Salovey dan Jack Mayer dalam Howard E Book ( 2002 : 30 ) dikatakan sebagai kemampuan untuk mengenali perasaan, meraih dan membangkitkan perasaan untuk membantu pikiran, memahami

32

perasaan dan maknanya, dan mengendalikan perasaan secara mendalam sehingga membantu perkembangan emosi dan intelektual. Berkaitan dengan kecerdasan emosional, Goleman dalam Abuddin Nata (2000 : 47 ) mengatakan kecerdasan emosional sebagai kepiawaian, kepandaian, dan ketepatan seseorang dalam mengelola diri sendiri yang berhubungan dengan orang lain disekiling mereka dengan menggunakan seluruh potensi psikologis yang dimilikinya seperti inisiatif dan empati, adaptasi, komunikasi, kerja sama, dan kemampuan persuasi yang secara keseluruhan telah mempribadi pada diri sendiri. Berdasarkan pengertian tersebut, titik pokok kecerdasan emosional terletak pada pengarahan perasaan atau pengendalian perasaan (diri, jiwa, pribadi) dalam rangka memadukan emosi dan intelektual menjadi pribadi yang baik atau cerdas. Sejalan dengan hal ini berkaitan dengan apa yang dikatan oleh Toshihiko Izutsu (1993 : 246) tentang hubungan kata salih dan iman. Salih dan iman itu seperti bayangan yang mengikuti bentuk bendanya, di mana pun ada iman, maka terdapat salihat atau perbuatan baik. Jadi seseorang yang memiliki iman dan taqwa yang tinggi, pasti dia memiliki kecerdasan emosional yang tinggi pula. Menyikapi hal tersebut, begitu pentingnya wawasan imtaq diberikan pada pendidikan di sekolah. Dengan memberikan wawasan imtaq pada pengetahuan umum itu berarti memberikan nilai-nilai agama pada pengetahuan atau kepandaian intelektual. Begitu pentingnya hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Achmad Djazuli dan kawan-kawan dalam Diknas ( 2005 : 92 ) dikatakan guru diharapkan memberi nilai-nilai imtaq ke dalam materi pelajaran sehingga siswa mengetahui dan menyadari bahwa imtaq dan IPTEK saling menjelaskan dan memiliki sumber serta tujuan yang sama. Dengan diintegrasikanya imtaq dan IPTEK diharapkan dapat menghilangkan pemikiran dikotomi antara agama dan IPTEK yang telah lama berjalan di Indonesia. Hal ini juga sejalan dengan yang dikatakan oleh Howard E Book ( 2002 : 100 ) bahwa IQ yang tinggi bisa menjadi bumerang jika EQ tidak mengimbanginya. Jadi wawasan imtaq sangat penting untuk memberikan dasar potensi psikologis seperti inisiatif dan empati, adaptasi, komunikasi, kerjasama, dan kemampuan persuasi yang mempribadi.

32

Dasar inilah yang diharapkan membentuk pribadi yang cerdas dengan kecerdasan intelektual dan emosional yang tinggi.

3. Pentingnya wawasan imtaq ditinjau dari kecerdasan emosional spiritual (ESQ) ESQ adalah kecerdasan emosional yang berdasar agama. Dasar agama yang dipadukan dengan kecerdasar emosi akan melahirkan akhlak yang baik.Kecerdasan emosi seperti yang dikatakan Goleman dalam Abudin Nata (2003 : 47) yang diartikan sebagai kepiawaian, kepandaian, dan ketepatan seseorang dalam mengelola diri sendiri merupakan akhlak suatu pribadi. Ary Ginanjar (2001: XlV) juga mengatakan bahwa agama Islam bisa dijadikan sebagai landasan pembangunan kecerdasan emosi dan spiritual, di mana suara hati adalah suara Tuhan yang terdapat dalam 99 Asmaul Husna. Suara hati ini terdapat dalam dasar agama Islam yaitu rukun iman dan rukun Islam. Jadi wawasan imtaq sangat penting bagi ruh Iptek untuk membentuk pribadi siswa. Penelitian ini juga berkaitan dengan penelitian Muhammad Samsul Arifin (2000) dengan judul Respon Peserta Didik dan Orang Tua Terhadap Kegiatan Pendidikan Agama ( Studi Kasus Pembinaan Ekstrakurikuler Agama di Sekolah Menengah Umum Islam Malang ). Penelitian itu berisi tentang usahausaha untuk menciptakan suasana yang Islami di lingkungan sekolah. Usaha ini diciptakan dengan menyelenggarakan kegiatan ekstra kurikuler PAI. Ekstrakurikuler tersebut adalah pendidikan akhlak, baca tulis dan pemahaman Qur’an, serta praktik sholat dan kuliah subuh. Penelitian itu merupakan bagian dari strategi pengembangan Kurikulum Pendidikan berwawasan imtaq. Penelitian Lina Hayati (2004) yang berjudul Manajemen Pendidikan Nilai Di Sekolah Umum ( Kajian Tentang Internalisasi Nilai-Nilai ke- Islaman ) Studi Pada Sekolah Menengah Umum Negeri 10 “Melati” Samarinda juga berkaitan dengan nilai-nilai iman dan taqwa. Penelitian Lina Hayati isinya lebih menekankan proses internalisasi nilai-nilai keislaman pada sekolah umum yang dapat diinternalisasikan pada diri anak didik yang bernuansa pesantren. Dengan kata lain penelitian Lina Hayati berusaha melihat keberhasilan upaya mendidik anak dengan nilai-nilai keislaman yang dikondisikan seperti pesantren. Dikatakan pula dalam penelitian itu bahwa keberhasilan internalisasi nilai-nilai

32

keislaman pada diri siswa ditentukan oleh upaya pelaku manajemen. Pelaku manajemen yang dimaksud adalah kepala sekolah, wakil kepala sekolah, para guru, dan pihak asrama. Upaya internalisasi nilai-nilai keislaman pada siswa dalam bentuk moral knowing, moral feeling, dan moral action yang pelaksanaannya melibatkan semua pihak dalam mengintegrasikan pada manajemen pendidikan nilai. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat dikatakan bahwa internalisasi nilai-nilai keislaman pada siswa masih dilakukan terpisah dengan IPTEK, walaupun telah melibatkan semua pelaku manajemen pendidikan. Berbeda dengan penelitian Pengembangan Kurikulum Pendidikan berwawasan Imtaq Di SMA Negeri Kota Malang, penelitian ini ingin melihat upaya integrasi imtaq IPTEK, optimalisasinya, dan hasilnya. Selain dua penelitian di atas, penelitian ini juga berkaitan dengan yang diteliti oleh Sunarto ( 2001 ) dengan judul Internalisasi Nilai-Nilai Agama Melalui Penciptaan Suasana Keagamaan di Lingkungan MTsN Malang I. Sunarto meneliti suasana keagamaan yang terjadi di MTsN I Malang. Penciptaan suasana keagamaan di MTsN I Malang dibagi menjadi tiga, yaitu melalui: (1) peningkatan kualitas pegawai , baik guru maupun karyawan melalui tartil Qur’an, kultum, pengajian insidental, dan penataran, (2) pemberian peran bagi para guru dan karyawan agar mereka berperan aktif dalam penciptaan suasana keagamaan di MTsN I Malang, dan (3) penyempurnaan sarana yang terkait dengan penciptaan suasana keagamaan di MTsN I Malang. Penelitian Sunarto merupakan bagian dari penelitian ini yang merupakan optimalisasi nilai-nilai iman dan taqwa dari lingkungan sekolah. Berbeda dengan penelitian ini,ia tidak hanya optimalisasi nilai-nilai imtaq pada lingkungan sekolah tetapi lebih mengarah pada integrasi imtaq dan IPTEK pada semua aspek pendidikan. Jadi berdasarkan penelitian terdahulu, penelitian ini lebih mendalam. Kedalaman penelitian ini tidak hanya pada lingkungaan pendidikan tetapi lebih pada integrasi imtaq dan IPTEK yang diajarkan pada proses pendidikan. B. Masalah 1. Jangkauan Masalah Masalah dalam penelitian ini dapat dikaji dari kebijakan sekolah, pelaksana kurikulum, dan sasaran pendidikan.

32

Kajian dalam kebijakan sekolah dalam hal ini tertuju pada pengelola kebijakan yaitu kepala sekolah. Bagaimana program kepala sekolah terhadap pengelolaan kurikulum pendidikan dalam pengembangan imtaq di SMAN di Kabupaten Jepara ?. Program kepala sekolah dapat dikaji administrasi kegiatan, fasilitas, supervisi, penilaian, dan pelaporan kegiatan. Pada kajian pelaksana kurikulum, tertuju pada guru. Bagaimana guru mengembangkan kurikulum pendidikan berwawasan imtaq ? Pada kajian sasaran pendidikan jelas tertuju pada siswa. Dari siswa antara lain dapat dikaji: (1) karya siswa hasil pengembangan kurikulum berwawasan imtaq, (2) bentuk perilaku dalam hasil pengembangan kurikulum berwawasan imtaq, dan (3) keterampilan siswa dalam menjawab tantangan hidup. 2. Batasan Masalah Berdasarkan jangkauan masalah yang luas, penelitian ini perlu dibatasi agar pembahasannya lebih khusus, lebih lengkap, dan lebih mendalam. Masalah penelitian ini dibatasi pada kajian pelaksana kurikulum yaitu pengelola kegiatan khususnya guru. 3. Rumusan Masalah Berdasarkan batasan masalah, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. Bagaimana strategi guru dalam mengembangkan kurikulum berwawasan imtaq di SMA Negeri Kabupaten Jepara ? C. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini meliputi tujuan umum dan tujuan khusus. 1. Tujuan Umum Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk melihat seperti apa pengembangan kurikulum pendidikan berwawasan imtaq di SMAN Kabupaten Jepara dan berapa persen guru yang telah berhasil mengembangkan kurikulum pendidikan berwawasan imtaq di SMAN Kabupaten Jepara .

32

2. Tujuan Khusus Adapun tujuan khusus penelitian ini adalah untuk medeskripsikan tentang: a. macam strategi pengembangan kurikulum pendidikan berwawasan imtaq; b. cara-cara guru mengoptimalkan peningkatan imtaq terhadap siswa. D. Manfaat Penelitian Manfaat penelitian ada dua, yaitu manfaat teoritis dan manfaat praktis. 1. Manfaat Teoritis Secara teoritis hasil penellitian ini berupa deskripsi tentang pengembangan kurikulum pendidikan berwawasan imtaq. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan terhadap kajian ilmu bidang pendidikan. 2. Manfaat Praktis Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi masyarakat yang berkepentingan dengan pendidikan. Mereka yang dapat memanfaatkan hasil penelitian ini adalah penentu kebijakan, pengajar, dan mereka yang terkait dengan pendidikan. Manfaat tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut ; Bagi penentu kebijakan baik kepala sekolah maupun lembaga diatasnya, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan dorongan untuk mengembangkan kurikulum pendidikan lebih baik dan memberikan gambaran pelaksanaan pengembangan kurikulum pendidikan berwawasan imtaq. Bagi pengajar, hasil penelitian ini diharapkan memberikan wawasan cara-cara mengembangkan kurikulum pendidikan yang berwawasan imtaq. Bagi mereka yang terkait dengan pendidikan, hasil penellitian ini diharapkan memberikan wawasan tentang hasil pengembangan kurikulum pendidikan berwawasan imtaq. E. Penegasan Istilah Istilah yang perlu ditegaskan maknanya dalam penelitian ini adalah sebagai bertikut:
1. Kurikulum pendidikan adalah perangkat mengajar yang dijadikan sebagai

dasar untuk melaksanakan kegiatan pendidikan yang berlaku di Indonesia.

32

2. Iman dan taqwa. Iman adalah keyakinan yang dimiliki oleh seseorang yang

bersifat abstrak. Taqwa adalah sebagai perwujudan iman yang berbentuk tingkah laku yang baik.
3. Pengembangan kurikulum yang dimaksud adalah strategi guru dalam

menyampaikan imtaq pada kegiatan belajar mengajar.

BAB II PEMBAHASAN
A. Iman dan Taqwa dalam Kurikulum Iman adalah keyakinan dalam hati mengenai ke-Esa-an dan ke-Maha Kuasa-an Allah yang diikrarkan dengan lisan dan dibuktikan melalui amal perbuatan yang baik. Taqwa adalah sikap batin dan perilaku seseorang untuk tetap konsisten melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. (Diknas. 2005: 2). Berdasakan definisi di atas dapat dikatakan bahwa taqwa adalah perwujudan iman kepada Allah dalam bentuk perilaku seseorang. Perihal iman, Rusjdi Hamka ( 1986 : 9 ) mengatakan dalam Hadits Nabi bahwa iman atau islam itu tersusun dari 69 tingkat. Tingkat tertinggi adalah mengakui ke-Esa-an Allah, mengakui ke-Rasulan Muhammad, dan tingkat terendah menyingkirkan duri dari jalan lalu lintas manusia. Berdasarkan tingkatan iman tersebut yang melahirkan kebudayaan Islam oleh Ibnu Khaldun ( dalam Rusjdi. 1986:10) dijabarkan dalam 17 perbuatan yang menunjukkan tanda-tanda seorang raja yang beriman. 17 perbuatan perwujudan iman tersebut adalah sebagai berikut: 1) Aktif menegakkan perbuatan baik dan menghidupkan sifat-sifat yang baik. 2) Suka menolong. 3) Memaafkan orang lain selagi bisa dimaafkan. 4) Melayani dan melindungi pihak yang lemah. 5) Murah hati terhadap tetamu. 6) Memelihara fakir miskin. 7) Sabar dalam kesusahan. 8) Jujur dalam kata dan tingkah laku. 9) Menghormati agama dan para alim ulama. 10) Menghormati guru dan orang yang lebih tua. 11) Tiada sombong dan takabbur.

32

12) Suka mendengarkan terhadap kritik yang lebih baik. 13) Memiliki semangat persatuan. 14) Menghargai dan menghormati lawan. 15) Menempatkan orang yang layak dalam pekerjaan yang layak. 16) Menjauhi hidup mewah yang cenderung kepada pemborosan. 17) Giat bekerja, tahan uji, tidak putus asa dan seterusnya. Muhammad Nawawi ( 1996: 1) Menjelaskan bahwa iman memiliki 77 cabang iman. Tujuh puluh tujuh cabang iman itu adalah sebagai berikut: 1) Iman kepada Allah ; 2) Iman kepada Malaikat ; 3) Iman kepada kitab-kitab Allah ; 4) Iman kepada para nabi ; 5) Iman kepada hancurnya alam ; 6) Iman kepada kebangkitan manusia dari kematian ; 7) Iman kepada takdir ; 8) Iman kepada hasyr ; 9) Iman kepada surga dan neraka jahannam ; 10) Cinta kepada Allah ; 11) Takut kepada siksa Allah ; 12) Mengharap rahmat Allah ; 13) Tawakal ( pasrah ) kepada Allah ; 14) Cinta kepada nabi Muhammad Saw. ; 15) Mengagungkan derajat nabi Muhammad Saw. ; 16) Kikir dengan memegang teguh agama islam ( teguh pendirian ) ; 17) Mencari ilmu ; 18) Menyebarluaskan ilmu syariat ; 19) Mengagungkan dan memuliakan Al qur’an ; 20) Bersuci ; 21) Menjalankan sholat 5 waktu pada waktunya dengan sempurna ; 22) Membayar zakat kepada orang-orang yang berhak menerimanya ; 23) Berpuasa di bulan Ramadhan ; 24) I’tikaf ; 25) Haji ;

32

26) Berjuang melawan orang kafir untuk menolong agama islam ; 27) Mebentengi kaum muslim dari serangan orang kafir ; 28) Bertahan di dalam kancah perang dan tidak melarikan diri darinya ; 29) Menyerahkan harta jarahan perang kepada pemimpin atau pembantunya ; 30) Memerdekakan budak yang muslim ; 31) Bersedia membayar kifarah ( denda ) ; 32) Menepati janji ; 33) Bersyukur ; 34) Menjaga lisan dari hal-hal yang tidak layak ; 35) Menjaga kemaluan dari hal-hal yang dilarang Allah ; 36) Menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya ; 37) Tidak membunuh kepada sesama manusia muslim ; 38) Menghindari makan dan minuman yang haram ; 39) Menghindari dari harta yang haram ; 40) Menghindari pakaian, perhiasan, dan perabot yang haram ; 41) Menghindari permainan sia-sia yang dilarang ; 42) Sederhana dalam memberikan nafakah, tidak berlebihan dan tidak irit ; 43) Tidak menyimpan dendam dan kedengkian ; 44) Tidak mencela kaum muslimin dihadapan ; 45) Ikhlas dalam setiap amal perbuatan karena Allah ; 46) Merasa bahagia dengan ketaatan kepada Allah ; 47) Bertaubat ; 48) Melakukan penyembelihan qurban, aqiqah, dan hadiah ; 49) Taat kepada pemerintah ; 50) Berpegang teguh pada nilai yang dianut jamaah ; 51) Menjalankan hukum diantara manusia secara adil ; 52) Memerintahkan kepada kebaaikan dan mencegah dari kejahatan ; 53) Tolong menolong dalam hal kebaikan dan ketaqwaan ; 54) Malu kepada Allah ; 55) Bersikap baik kepada orang tua ; 56) Menyambung tali persaudaraan ; 57) Budi pekerti yang baik ; 58) Memperlakukan hamba sahaya dengan baik ;

32

59) Ketaatan seorang hamba kepada tuannya ; 60) Menjaga hak-hak istri dan anak-anak ; 61) Mencintai ahli agama ; 62) Menjawab salam dari orang islam ; 63) Menjenguk orang sakit ; 64) Melakukan shalat jenazah untuk orang yang islam ; 65) Mendoakan orang islam yang bersin ; 67) Menghormati tetangga ; 68) Menghormati tamu ; 69) Menyembunyikan cela orang lain ; 70) Sabar ; 71) Zuhud ; 72) Cemburu dan tidak membiarkan pria bergaul bebas denngan wanita lain ; 73) Berpaling diri dari percakapan yang tidak bermanfaat ; 74) Kedermawanan ; 75) Menghormati orang tua dan mngasihi anak kecil ; 76) Merukunkan antara orang islam ; 77) Mencintai orang lain sebagaimana mencintai dirinya. Berdasarkan 77 cabang iman dan 17 perbuatan sebagai wujud iman tersebut dapat disimpulkan menjadi 85 perbuatan sebagai wujud taqwa. Ke 85 perbuatan tersebut akan diungkap kembali dalam kerangka teori. B. Strategi Integrasi Imtaq dalam Pembelajaran IPTEK Strategi secara harfiah bermakna rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran secara khusus. Strategi pada bahasan ini adalah cara yang digunakan untuk menyampaikan wawasan imtaq dalam pengajaran ilmu pengetahuan dan teknologi. Adapun model-model pembelajaran imtaq adalah sebagai berikut. 1. Model Rusli Yunus dan Warnadi dalam Mata Pelajaran Geografi Dalam pelajaran geografi, Rusli Yunus dan Warnadi (2003: 1) mengatakan bahwa pelajaran geografi berfungsi untuk mengembangkan sikap rasional dan bertanggung jawab dalam menghadapi gejala geosfir dan permasalahannya yang timbul sebagai

32

sunatullah maupun sebagai akibat intraksi manusia dengan lingkungannya. Al Qu’an yang diwahyukan kepada nabi Muhammad Saw. merupakan kitab yang sarat dengan kajian geografi, silih bergantinya siang dan malam, diciptakan awan dan langit, diturunkannya hujan, diciptakannya laut dengan berbagai potensinya, tentang gunung dengan berbagai gejala geosfir lainya banyak diungkapkan dalam firman Allah SWT Untuk memberikan dasar imtaq pada pengejaran geografi dapat dilihat tulisan Rusli Yunus dan Warnadi ( 2003 : 3 – 58 ). Tulisan tersebut berisi tujuh pokok bahasan. Berikut akan dijelaskan dua pokok bahasan, yaitu pengertian dasar pengetahuan geografi dan keanekaan bentuk muka bumi dan sesuatu yang dilukiskan dalam geografi yang meliputi atmosfir, hidrosfir, biosfir, dan lethosfir. Bumi yang terbentuk berlapis-lapis dijelaskan di dalam Al Qur’an surat Al-Ankabut ayat 44, yang artinya Allah menciptakan langit dan bumi dengan hak, sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang beriman. Selain itu juga dijelaskan dalam Qur’an surat Al-Baqarah ayat 22 yang artinya Dia menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rizqi untukmu, karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui. Dari penjelasan tentang lapisan penyusun bumi dan penjelasan dalam Al Qur’an tentang penyusunan bumi, diharapakan dapat menambah keimanan tentang kekuasaan dan Maha Agung Allah yang berhak disembah. Pada pokok bahasan keanekaan bentuk muka bumi, dijelaskan tentang litosfir, gejala vulakanisme, tektonik dan bentuk permukaan bumi, dan lahan potensial dan lahan kritis. Sebagai contoh pembahasan tentang tektonik dan bentuk permukaan bumi sebagai berikut. Peristiwa tektonik yang berupa gempa bumi, tanah longsor, tenggelamnya suatu wilayah maupun terangkatnya suatu wilayah merupakan peristiwa alam yang menunjukkan bahwa bumi bersifat dinamis atau selalu mengalami perubahan. Gejala lain yang menunjukkan perubahan bumi adalah berpindahnya aliran sungai, terbentuknya delta, tenggelamnya pulau, dan sebagainya. Peristiwa tersebut berkaitan dengan bekerjanya gaya-gaya geologi yang menyebabkan perubahan-perubahan pada bumi, baik bagian dalam maupun bagian luar. Berkaitan dengan bumi yamg bersifat dinamis berkembang teori kontraksi, teori laurasiagondutama, teori pergeseran benua dan teori lempeng tektonik. Teori tersebut

32

saling berbantah satu mengalahkan yang lain yang satu mengatakan bahwa bumi ini statis sedang yang lain mengatakan bahwa bumi ini dinamis. Perkembangan teori tersbut menunjukkan usaha manusia dalam mencari kebenaran. Pada dasarnya tentang dinamika bumi telah dijelaskan dalam Al Qur’an jauh lebih dahulu sebelum teori-teori tersebut ada. Firman Allah SWT. dalam QS. Ar Ra’du ayat 31 yang artinya “Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara (tentu Al Qur’an itu Dia) sebenarnya segala urusan itu kepunyaan Allah SWT.”. Ayat diatas mengisyaratkan bahwa bumi ini dapat terpecah-pecah dalam pecahan (lempeng). Dan dalam ayat lain dikemukakan tentang adanya gerakan benua yang secara terus menerus dan perlahan. Ayat tersebut terdapat dalam QS. An Naml ayat 88 yang artinya “Dan kamu lihat gunung-gunung itu kamu sangka mereka tetap ditempatnya, padahal mereka berjalan seperti jalannya awan”. Dengan dasar Al Qur’an yang telah ditunjukkan diharapkan pengetahuan tentang dinamika bumi dapat memperteguh keimanan siswa tentang Qodrat dan Iradat Allah SWT. 2. Model H M Husni dan Safril dalam Mata Pelajaran Ekonomi a. Model I H.M Husni dan Syafril (200 : 9-12 ) menjabarkan tentang harga keseimbangan dan harga pasar. Tentang pengertian harga, kecenderungan pembeli ialah menginginkan harga murah kualitas barang bagus, sedanmgkan penjual cenderung mendapatkan keuntungan yang banyak. Dalam QS. An Nisa’ ayat 29 disebutkan Yang artinya ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan batil, kecuali dengan jalan perdagangan yang berlaku suka sama suka diantara kamu”. Dengan prinsip ekonomi harga diatas yang didasari Al Qur’an diharapkan pengertian siswa tentang harga dalam berusaha tetap mencari untung dengan jalan yang diridai Allah SWT. Dengan pemaduan ini diharapkan keimanan dan ketaqawaan akan tumbuh dalam berusaha. Berkaitan dengan harga pasar, yaitu harga yang diperolah dari hasil tawar menawar antara pembeli dengan penjual, ternyata sangat dipengaruhi oleh faktor produksi, faktor produksi yang berupa alam, tenaga kerja, modal dan kewirausahaan yang dikehandaki dalam islam agar masiang-masing faktor terbentuk secara adil. Adil dalam hal membayar faktor produksi yang

32

dilakukan oleh pemakai jasa. Berkaitan dengan harga pasar atau membayar harga dengan adil, dijelaskan dalam QS. As- Syura ayat 183 yang artinya “Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan jannganlah kamu merajalela dimuka bumi denngan membuat kerusakan.” Dan QS Hud ayat 85 disebutkan yang artinya “Dan Syu’eb berkata : Hai kaumku cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan”. Dengan pembatasan dan penguatan harga pasar dan pembayaran harga yang adil yang dijelaskan oleh Al Qur’an diharapkan dapat memupuk iman dan taqwa siswa sehingga mereka dalam setiap berusaha selalu bertujuan untuk mencari rida Allah Swt. b. Model II Husni dan Syafril ( 2001: 44 ) menjelaskan materi kewirausahaan sebagai berikut. Kewirausahaan adalah semangat, sikap, perilaku, dan kemampuan seseorang dalam menangani kegiatan yang mengarah pada upaya mencari, menciptakan, menerapkan cara kerja, teknologi, dan produk baru dengan meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelajaran yang lebih baik atau memperoleh keuntungan yang lebih besar. Berkaitan dengan semangat, sikap, dan perilaku diatas sejalan dengan sabda Rasul Saw. yang artinya “ Bekerjalah untuk kepentingan duniamu seakan-akan kamu akan hidup selama-lamannya, dan bekerjalah untuk kepentingan akhiratmu seakanakan kamu akan mati besuk hari”. Kewirausahaan ini juga berdasarkan QS. Ar Ra’du ayat 11 yang artinya “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa yang ada pada suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri”. Dengan dasar ini diharapkan akan tumbuh semangat berwirausaha dari diri sendiri. c. Model III Husni dan Syafril (2001 : 31 ) menjelaskan materi koperasi sebagai berikut. Koperasi dapat membantu meningkatkan kesejahteraan anggota bila dijalankan dengan cakap, jujur, dan sesuai dengan ajaran agama. Allah berfirman dalam QS Al Maidah :2 yang artinya betolong- tolonglah kamu dalam berbuat kebajikan dan taqwa, dan janganlah kamu tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dengan Firman Allah tersebut, diharapkan terwujud perilaku tolong menolong pada sesama manusia. Dari penjelasan di atas, Hasan dan Syafril berusaha menjelaskan imtaq dengan mewujudkannya dalam perilaku manusia pada sesamanya.

32

3. Model Muhsin Lubis dan Wiwik Widayana dalam Mata Pelajaran Fisika Muhsin Lubis dan Wiwik Widayana ( 2001 : 3 ) menjelaskan pokok besaran dan satuan sebagai berikut. Untuk mengaitkan konsep besaran dan satuan dalam fisika dengan Al Qur’an guna meningkatkan keimanan dan ketaqwaan siswa, guru agar menghubungkan dengan surat Al Qomar ayat 49 yang artinya “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran”. Kemudian dihubungkan dengan surat Al Furqan ayat 2 yang artinya “Dia telah menciptakan segala sesuatu dan menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi rapinya”. Kedua ayat tersebut memberi isyarat bahwa kata ukuran yang terdapat di alam ini dapat dinyatakan dalam dua peran. Peran pertama sebagai bilangan dengan sifat dan ketelitian yang terkandung di dalamnya. Peran kedua sebagai hukum dan aturan. Ukuran keduanya tersusun dalam suatu sistematika yang sangat rapi denngan keterkaitannya satu sama lain. Telah teruji bahwa hukum-hukum fisika akan selalu berlaku kapan dan dimanapun saja. Bahkan ada kecenderunngan tidak saja pada benda mati atau disebut materi atau zat, namun juga pada perilaku makhluk hidup termasuk manusia. Hal tersebut sangat dimungkinkan karena dalam ilmu fisika sifat atau gejala fisis dari suatu benda selalu dinyatakan dalam simbol yang mempunyai nilai atau harga tertentu. Benda lain yang sejenis mempunyai simbol yang sama namun diberi nilai yang lain. Sebagai contoh suatu kawat baja mempunyai perilaku tertentu bila ditarik dinyatakan dengan sebutan elastisitas. Kawat lain dari bahan yang lain akan mempunyai simbol elastisitas yang sama namun harga yang berlainan pula. Jadi jelas bahwa segala sesuatu telah ditetapkan Allah SWT dengan ukuran tertentu . Demikianlah yang dicontohkan dalam pokok bahasan besaran dan satuan. Dengan contoh diatas diharapkan siswa dapat menggunakan pengetahuannya untuk meningkatkan kecerdasan spiritualnya sehingga mampu menjawab tantangan hidupnya. 4. Model Rosman Yunus dan Aceng dalam Mata Pelajaran Biologi a. Model I Rosman Yunus dan Aceng (2003 : 2 )menjelaskan pokok bahasan keanekaragaman hayati sebagai berikut. Makhluk hidup dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu dunia hewan ( flora ) dan dunia tumbuhan ( fauna ). Makhluk hidup tersebut masin-

32

masing memiliki ciri yang spesifik ditinjau dari keaneragaman jenis. Ciri-ciri tersebut meliputi variasi bentuk,jumlah, dan sifat lain yang terlihat pada tingkat yang berbeda-beda, denngan menggunakan daya kemampuan akal pikiran manusia dalam mengamati dan memahami keanekaragaman jenis. Tingkatan yang berbeda dapat kita amati langsung dari obyek makhluk hidup yang ada di sekeliling kita. Contoh yang kita kenal adalah jenis tumbuhan kelapa, siwalan/lontar, aren dan pinang. Semua jenis tumbuhan itu memiliki persamaan ciri dan perbedaan ciri. Persamaan dan perbedaan sifat atau ciri yang dimiliki makhluk hidup yang sejenis maupun tidak sejenis ditentukan oleh keanekaragaman gen (plasma/nuthfah) yang dimiliki oleh mkhluk hidup itu. Penjelasan keanekaragaman makhluk hidup ini terdapat dalam QS. Al Faathir ayat 27 yang artinya “Tidakkah kamu melihat bahwasannya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beranekaragam jenisnya. Dan diantara gunung-gunung itu ada garis-garis patah dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada pula yang hitam pekat”. Dan disebutkan pula pada surat yang sama pada ayat 28 yang artinya “Dan demikian pula diantara manusia, binatang-binatang melata, dan banatang-binatang ternak ada bermacammacam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama’(orang yang mengetahui kebesaran dan kekuasaan Allah) sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. Kedua ayat tersebut dapat memperkuat keimanan dan ketaqwaan bagi setiap insan yang memiliki budi dan akal untuk mempelajari dan memperhatikan ke-Esaan Allah Swt. dan berbagai makhluk ciptaan-Nya. Ada dua kemungkinan sikap manusia dalam mengkaji dan menghayati firman Allah dengan menggunakan ilmu yang dilikinya itu, yaitu apakah mereka akan tunduk, takut, dan bersyukur kepada Yang Maha Pencipta, atau manusia itu akan merasa bangga, takabbur, dan sombong dengan penemuan-penemuan ilmu dengan kajian akal pikirannya itu. Sikap yang pertamalah yang diharapkan dari pemaduan IPTEK dan imtaq sehingga pendidikan betul-betul membuahkan hasil. b. Model II Rosman dan Aceng (2003 : 23-25 ) mencontohkan pada bahasan alat indra sebagai berikut. Manusia sebagai makhluk yang paling sempurna, diberi kelebihan oleh Allah dari pada makhluk lain. Kelebihan itu adalah manusia diberi akal sebagai alat

32

berfikir dan mengingat, menciptakan dan dilengkapi oleh organ koordinasi dan komunikasi dengan lingkungannya. Organ tersebut adalah alat indra, yaitu mata alat indra penglihatan, telinga alat indra mendengar, kulit alat indra peraba, hidung alat indra pembau, dan lidah alat indra pengecap. Firman Allah yang berkenaan dengan indra adalah QS. An Nahl ayat 78 yang artinya “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui. Tetapi amat sedikit kamu bersyukur”. QS. Al A’raf ayat 179 yang artinya “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayatayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”. Dengan dasar firman Allah tersebut diharapkan siswa mewujudkan perilaku bersyukur atas nikmat Allah pada dirinya. c. Model III Sumber Daya Alam pada pelajaran biologi dijelaskan oleh Rosman dan Aceng (2003 : 18) sebagai berikut. Sumber daya alam digolongkan menjadi tiga, yaitu ; Pertama, berdasarkan kegunaannya terdiri atas sumber daya alam penghasil bahan baku dan sumber daya alam lingkungan hidup. Kedua, berdasrkan jenisnya meliputi sumber daya alam biotik (hayati) dan sumber daya alam fisik (nonhayati). Ketiga, berdasarkan sifatnya meliputi sumber daya alam yang tak dapat diperbaharui dan sumber daya alam kekal. Pemanfaatan dan penggalian sumber daya alam yang merupakan anugerah dari Tuhan Sang Pencipta yang diamanatkan pada makhluk-Nya untuk dikelola dengan baik dan dipikul selama hidupnya. Makhluk yang menerima amanat Allah adalah manusia. Allah berfirman dalam QS Al-Ahzab : 72 yang artinya sesungguhnya kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia amat zalim dan amat bodoh. Berdasarkan firman Allah tersebut diharapkan siswa dapat berperilaku menjaga amanat Allah terhadap sumber daya alam. d. Model IV

32

Rosman Yunus dan Aceng (2003 : 10) menguraikan pembahasan virus sebagai berikut. Dalam kehidupan manusia, pada umumnya sebagian besar virus bersifat merugikan atau menimbulkan penyakit pada tumbuh-tumbuhan, hewan, dan manusia. Telah banyak jenis penyakit pada manusia yang penyebabnya virus yang ditemukan oleh pakar biologi, antara lain influenza, polio, kanker, Aids. Segala macam jenis penyakit yang penyebabnya virus maupun bukan, dicari cara pengobatan untuk penyembuhan secara kimiawi dengan obat-obatan dan secara biologi dengan cara vaksinasi. Banyak yang telah dapat ditanggulangi secara medis, tetapi masih banyak yang belum dapat ditemukan terutama untuk penyakit yang disebabkan virus. Dari bahasan di atas perlu disampaikan wawasan imtaq tentang penyakit AIDS. Golongan berisiko tinggi untuk tertular AIDS adalah orang yang sering bergantiganti pasangan baik homo maupun hetero seksual, penerima darah, dan bayi yang menerima ASI penderita AIDS. Sikap disiplin, perilaku atau akhlak individu manusia itulah yang menjadi landasan pokok dalam usaha menanggulangi penularan segala jenis penyakit termasuk AIDS. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad Saw, yaing artinya sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan akhlak. Allah juga berfirman dalam QS Al-Hujurat : 13 yang artinya ... . sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa....QS Al-Isra ayat 32 juga menyebutkan yang artinya dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk. Dan, QS Al-A’raaf ayat 80 dan 81 menyebutkan yang artinya ... mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahiayah (homoseksualis) itu yang belum pernah dikerjakan.... “ Sesunguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka) bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas. 5. Model Syaeful Anwar dan Sri Setiono dalam Mata Pelajaran Kimia a. Model I Syaeful Anwar dan Sri Setiono (2001 : 11) dalam pokok bahasan persamaan reaksi menjelaskan sebagai berikut. Dalam Al Qur’an surat Al Maidah ayat 1 yang artinya “Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendakinya”. Sebagai contoh reaksi antara air dengan gas karbondioksida menghasilkan glukosa dan gas oksigen yang dituliskan dalam bentuk simbol : 6CO2 + 6H2O ----> C6H2O6

32

+ 6O2. Simbol-simbol tersebut mengungkapkan peryataan reaksi kimia diatas, disebut juga persamaan reaksi kimia. Penulisan persamaan reaksi yang lengkap mengikuti aturan sebagai berikut: 1) senyawa atau zat yang bereaksi dan zat hasil reaksi ditulis dalam bentuk simbul kimia; 2) wujud zat atau keadaan zat pada saat reaksi dinyatakan dalam singkatan berikut : s = padat, l = cair, g = gas, aq = larutandibelakang simbol kimia dalam tanda kurung; 3) zat-zat yang bereaksi (reaktan) ditulis lebih dahulu (ditulis sebelah kiri) dan dipisahkan dengan tanda -----> dan zat-zat hasil reaksi ( produk ), ditulis sebelah kanan tanda panah; dan 4) harus memenuhi hukum ketetapan massa, yang digambarkan dalam bentuk koefisien reaksi, dan hukum ketetapan muatan. Berbagai jenis reaksi kimia dapat dituliskan persamaan reaksinya dengan cara diatas, namun dengan persamaan reaksi tidak dapat ditentukan produk yang dihasilkan suatu reaksi. Hasil reaksi hanya dapat ditentukan dari eksperimen. Dengan persamaan reaksi pernyataan suatu reaksi kimia menjadi lebih sederhana. Perhitungan-perhitungan kuantitas zat yang terlibat dalam suatu reaksi mudah untuk dilakukan. Pentingnya persamaan reaksi dalam ilmu kimia terletak pada sifat keteraturan yang berlaku pada zat-zat dalam reaksi. Ini merupakan hukum Allah SWT. (sunatullah) yang tidak pernah akan berubah-ubah. Dengan sifat Rahman dan RahimNya, sekaligus keMahakuasaan-Nya. Dia menetapkan hukum-hukum yang terjadi pada suatu perubahan kimia. Hukum-hukum tersebut antara lain hukum ketetapan massa yang pertama kali dicetuskan oleh A Lavoisier dalam hukum perbandingan tetap dari proust. Pengamatan dan eksperimen yang sungguh-sungguh oleh A Lavoisier, telah membuka pintu hidayah ilmu untuknya, yakni menemukan suatu hukum Allah pada alam semesta ini. Hukum itu disebut dengan hukum ketetapan massa (conservation of mass) yang berbunyi massa zat-zat sebelum reaksi selalu sama dengnan massa zat-zat hasil reaksi tersebut. Dalam peristiwa reaksi kimia tidak ada massa yang hilang ataupun bertambah. Keteraturan (sunatullah) lain ditemukan oleh J Proust, yakni didalan suatu senyawa perbandingan massa unsur-unsur penyusun senyawa tersebut adalah tetap. Contoh

32

garam dapur atau NaCL yang memilih susunan unsur nstrium (Na) dan unsur clor (Cl) memilih perbandingan 23 : 35,5. Contoh lain karbondioksida (CO2) memilih perbandingan massa karbon dengan oksigen 3 : 8 . Dimanapun kita berada menemukan senyawa-senyawa itu, selalu berbanding unsur-unsurnya tetap. Demikianlah keteraturan hukum Allah yang menciptakan bumi seisinya. Dengan dasar Al-Qur’an seperti di atas diharapkan menumbuhkan kecerdasan spiritual dalam bersikap untuk menentukan jalan hidupnya. b. Model II Syaeful dan Sri Setiono (2001 : 39) menjelaskan pembahasan pencemaran lingkungan sebagai berikut. Pencemaran adalah masuknya zat-zat baru ke dalam lingkungan (udara, air, dan tanah) atau meningkatnya salah satu komponen zat dalam lingkungan yang berakibat terganggunya proses kehidupan secara normal. Contoh pencemaran oleh hujan asam. Hujan asam terjadi akibat reaksi SO3 atau karbon trioksida dengan air. SO3 berasal dari reaksi SO2 dengan udara. SO2 adalah zat yang dihasilkan oleh asap pabrik atau kendaraan bermotor. Pencemaran lingkungan tidak hanya terjadi pada lingkungan udara. Lingkungan air dan tanah juga telah terjadi pencemaran. Pemenuhan kebutuhan dan pola gaya hidup yang tidak terkendali menjadi pendorong kuat pencemaran. Hidup tidak disiplin dan tidak peduli terhadap lingkungan telah menjadi hal yang biasa. Buangan pabrik, sampah-sampah plastik, logam dialirkan ke sungai yang berakibat pencemaran air. Penggunaan pupuk yang berlebihan tanpa didasarkan ilmu yang benar telah menimbulkan kualitas tanah menurun untuk pertanian. Pencegahan terhadap pencemaran telah banyak dilakukan namun tidak berhasil. Kunci utama pencegahannya terletak pada ulah tangan , keinginan, dan nafsu manusia. Allah berfirman dalam QS Ar-Ruum : 41 yang artinya telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sbagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali. Berdasarkan firman tesebut, diharapkan siswa dapat mewujudkan perilaku memelihara lingkungan berdasarkan ilmu yang didapatnya bukan malah merusak. 6. Model Zaidan Hendy dan Sunarno dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia a. Model I

32

Zaidan Hendy dan Sunarno (2001 : 27) mencontohkan penjelasan kaitan tema dan amanat dalam novel Salah Asuhan dengan masalah sosial dan budaya sebagai berikut. Dikatakannya tema cerita Salah Asuhan adalah salah didikan. Orang tua Hanafi mengharap dia menjadi anak yang berpendidikan, ternyata Hanafi keliru menyerap pendidikan yang didapatkannya. Hanafi menjadi angkuh, sombong terhadap ibunya, pamannya, istrinya, masyarakat, dan budaya kampung halamannya. Hanafi tergila-gila pada gadis barat bernama Corrie. Dia tergila-gila pada pergaulan dan budaya barat dan hanya kulitnya saja yang didapatkannya. Amanat cerita Salah Asuhan adalah agar kita hati-hati memberikan pendidikan (menyekolahkan) anak-anak jangan sampai salah asuhan. Jangan sampai anak-anak kita menjauhi budaya timur dan bersikap kurang ajar terhadap orang tua. Sikap tersebut telah menyimpang dari ajaran Islam yang bersumber dari Allah. Dari bahan pelajaran itu, selain diajarkan kaitan tema dan amanat novel dapat diberikan pula wawasan imtaq bahwa seorang muslim hendaknya mengetahui dan mengamalkan ketentuan-ketentuan yang mengatur tentang sikap dan perbuatan yang menyangkut hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan manusia. Allah berfirman dalam QS Al-Israa’ : 23 yang artinya “Dan Tuhanmu memerintahkan supaya kamu jangan menyembah melainkan kepada-Nya, dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau dua-duanya telah berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan jangan engkau membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Demikianlah hendaknya harapan dari cerita bahwa seorang anak dapat bergaul dan menghormati orang tuanya. b. Model II Zaidan Hendy dan Sunarno memaparkan kompetensi dasar membaca dalam hati bagian dari buku, surat kabar, atau majalah dengan tema tertentu, menemukan gagasan atau pengalaman dalam bacaan sebagai berikut. Subtema bacaan dijabarkan dalam judul Manusia sebagai Modal Dasar Kerja. Berikut petikan paragraf pertama . Kahadiran manusia sebagai tenaga kerja sudah ada sejak ia mulai melibatkan dirinya sebagai buruh atau karyawan suatu perusahaan. Modal usaha yang terbesar dan terpenting di dalamnya adalah daya kerja dengan perkembangan lingkungan yang

32

sempat mempengaruhinya. Karena peranan yang menentukan itu, suatu penelitian tentang sumber daya manusia dan upaya pemanfaatannya secara terus menerus, selalu dilakukan oleh para ahli sesuai dengan arus kemajuan dan tuntutan manusia itu sendiri. .... (Drs A.R Artoyo, Tenaga Kerja Perusahaan Balai Pustaka, Jakarta).Dari bacaan di atas diketahui, sumber daya manusia yang berkualitas sangat berharga. Menurut islam manusia berkualitas adalah manusia yang beriman, berilmu, beramal, berdisiplin, ikhlas, dan ikhsan. Karena itu Islam mengajarkan agar kita beriman, berilmu dan beramal, berdisiplin, ikhlas, dan ikhsan. Salah satu cara untuk menjadikan manusia agar berilmu adalah banyak membaca dari berbagai sumber intisari yang didapatkan dari bacaan dan dikembalikan kepada ajaran Al-Qur’an untuk dijadikan sebagai pegangan, seperti dalam surat Al-Alaq ayat 1-5. Makna ayat tersebut adalah “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah.Yang mengajari (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajari manusia apa yang belum diketahuinya. c. Model III Zaidan Hendy dan Sunarno (2001 : 46 ) menjelaskan kompetensi dasar menyimak gaghasan, pendapat, dan pesan yang disampaikan melalai pidato atau ceramah sebagai berikut. Dalam pembelajaran menyimak gagasan melalui pidato, dapat dilihat petikan pidato sebagai berikut ; Hadirin yang berbahagia. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Pada kesempatan ini, saya akan menyampaikan pidato berjudul Proyek Kali Bersih. Saudara-saudara! Kapan kita bisa melihat Kali Ciliwung bersih? Mungkin 100 tahun lalu atau cuma dalam angan-angan. Atau mungkin 15 tahun lagi? Impian ini bukan mustahil terwujud. Inilah yang setidakya diharapkan oleh Gerakan Kali Bersih (GKB). Melengkapi gerakan itu, hari Minggu lalu sebuah kegiatan di jalan Penjernihan I, Pejompongan, Jakarta Pusat, diresmikan Gubernur Soerjadi Soedirjo sebagai pusat

32

semua aktivitas pembersihan sungai yang membelah ibukota Republik Indonesia ini.... Setelah menyimak pidato tersebut ternyata untuk membuat kali menjadi bersih, memerlukan perencanaan yang matang, biaya yang tidak sedikit, penyadaran masyarakat, dan waktu yang lama. Oleh karena itu, kebersihan dalam Islam mempunyai kedudukan yang tinggi. Hadits Nabi menyatakan bahwa kebersihan adalah setengah dari iman. Hadits riwayat Imam Dailami juga menyatakan kebersihan yang artinya agama islam itu adalah agama yang besih maka, tidak akan masuk surga kecuali orang yang selalu menjaga kebersihannya. Sesungguhnya Allah amat cinta kepada orang-orang yang suci bersih. Setelah menyimak pidato tersebut ternyata untuk membuat kali menjadi bersih, memerlukan perencanaan yang matang, biaya yang tidak sedikit, penyadaran masyarakat, dan waktu yang lama. Oleh karena itu, kebersihan dalam Islam mempunyai kedudukan yang tinggi. Hadits Nabi menyatakan bahwa kebersihan adalah setengah dari iman. Hadits riwayat Imam Dailami juga menyatakan kebersihan yang artinya agama islam itu adalah agama yang bersih, maka tidak akan masuk surga kecuali orang yang selalu menjaga kebersihannya. Sesungguhnya Allah amat cinta kepada orang-orang yang suci bersih. 7. Model Hamzah Busroh dan Moh Enong dalam Mata Pelajaran Kesenian Hamzah Busroh dan Muh Enong (2003:7) memberikan wawasan imtaq terhadap kesenian sebagai berikut. Wawasan imtaq ini berkaitan dengan materi musik, tari, dan teater daerah setempat. Hal penting dalam pembahasan ini adalah adanya upaya untuk mengaitkan antara unsur yang ada dalam penciptaan dan penyajian musik, tari, dan teater daerah setempat serta pengaruhnya terhadap pendengar dan penonton. Masalah tersebut akan bernilai islami atau tidak bergantung pada proses penciptaannya. Pada tahap penyajian musik, tari, dan teater, tidak menutup kemungkinan terjadi penyalahgunaan. Suatu musik, tari, dan teater disusun dengan niat dan pesan-pesan yang benar tetapi disajikan dengan ekspresi yang berlebihan, hasilnya akan sangat buruk. Ada hal yang dapat disampaikan dari Hadits yang diriwayatkan Bukhari, Tirmizi, Ibnu Majah, dan Rubayyi binti Muawwiz yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw datang ke rumah pada saat pesta pernikahannya, lalu Nabi duduk. Tak lama kemudian beberapa orang jariah (wanita) menabuh rebana

32

sambil menyanyikan lagu-lagu yang memuji orang tua mereka yang syahid dalam perang Badar. Tiba-tiba salah seorang wanita itu berkata, “Diantara kita ini ada Nabi Saw yang dapat mengetahui apa yang akan terjadi pada hari esok tetapi Rasulullah Saw segera bersabda yang artinya tinggalkan omongan itu. Teruskanlah apa yang kamu (nyanyikan) tadi. Dengan kata lain musik, tari, dan teater yang diperbolehkan adalah yang sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan Hadits. Strategi ini juga terlihat dalam pembahasan materi Pameran dan Pergelaran. Pameran merupakan kegiatan dalam memperkenalkan karya seni antara penciptanya dengan orang lain. Pameran dilakukan pada karya-karya seni rupa yang dihasilkan oleh siswa seperti seni lukis, karikatur, kolase, seni kriya, gambar-gambar dan kaligrafi. Karya yang akan dipamerkan hendaknya mendapat seleksi, terutama karya-karya yang bernuansa islam. Bentuk pergelaran dapat berupa karya seni tari, seni musik, dan seni drama. Pemberian wawasan imtaq dapat berupa batasan-batasan dalam pameran atau pergelaran yang mengacu pada tuntunan Qur’an dan Hadits, walaupun bukan dalil secara langsung. Karya-karya yang hendak digelar hendaknya dipilih sedemikian rupa dengan memperhatikan kaidah-kaidah antara lain : (1) lirik lagu tidak sedih atau putus asa, (2) gaya dan penampilan pelakunya sopan, (3) dalam tarian tidak dilakukan berpasang-pasangan pria-wanita, (4) memakai busana muslim. Adapun pelaksanaannya perlu memperhatikan persiapan : (1) pembentukan panitia, (2) tempat dan waktu, (3) golongan masyarakat yang akan mengunjungi, (4) seleksi karya, dan (5) antara pameran dan pergelaran diusahakan waktunya tidak bersamaan. 8. Model Abudin Nata dalam Kegiatan Belajar di luar Jam Pelajaran Abudin Nata (2003 : 23) menawarkan solusi alternatif sebagai berikut ; Pertama, dengan mengubah orientasi dan fokus pengajaran agama yang semula bersifat subject matter oriented menjadi pengajaran agama yang berorientasi pada pengalaman. Subject matter oriented adalah pengajaran yang berpusat pada pemberian pengetahuan agama yang berupa memahami dan menghafal ajaran agama sesuai kurikulum. Orientasi pengajaran pada pengalaman, yaitu pembentukan sikap keagamaan melalui pembiasaan hidup sesuai dengan agama. Pembiasaan hidup seperti pengalaman agama dalam kehidupan sehari-hari. Contoh setiap kegiatan selalu diawali dengan membaca basmallah.

32

Kedua, dengan memberikan kegiatan ekstrakurikuler pada penekanan pengalaman agama dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ekstra ini antara lain shalat berjamaah, pesantren kilat, qiyamul lail, berpuasa sunnah, memberikan santunan kepada fakir miskin, dan kegiatan sosial keagamaan lainnya. Ketiga, dengan cara meningkatkan perhatian, kasih sayang, bimbingan, dan pengawasan yang diberikan oleh kedua orang tua di rumah. Ketika anak berada di rumah kedua orang tuanya menanyakan tentang kemajuan dan berbagai masalah yang dihadapi anak-anaknya. Misalnya menanyakan kegiatannya di sekolah, program, dan agenda yang harus dicapai serta rencana-rencana lainnya. Keempat, dengan cara melaksanakan tradisi keislaman yang didasarkan pada AlQur’an dan Al-Sunnah yang disertai dengan penghayatan akan makna dan pesan moral yang terkandung di dalamnya.Tradisi keislaman yang bernuansa sikap keagamaan antara lain mengaqiqahi anak, mengajarkan sikap sopan santun pada orang tua atau kepada yang lebih tua, mencium tangan orang tua, mengunjungi orang sakit, dan mengajari shalat saat anak mulai berumur 7 tahun. Dengan melaksanakan tradisi ini diharapkan akan membentuk karakter keislaman seseorang. Kelima, pembinaan sikap keagamaan dengan memanfaatkan berbagai mas media yang tersedia, seperti radio, surat kabar, buku bacaan, televisi, dan sebagainya. Informasi dari mass media tersebut hendaknya diintegrasikan dengan pengajaran yang ada di sekolah dan di rumah tangga. Oleh sebab itu kesungguhan untuk memanfaatkan berbagai media tersebut harus masuk ke dalam kebijakan rumah tangga sekolah. Lima cara mensiasati kekurangan jam pelajaran agama di sekolah di atas dapat dikatakan sebagai optimalisasi peningkatan imtaq terhadap siswa yang dapat dilaksanakan di dalam maupun di luar jam pelajaran. C. Kerangka Teori Berdasarkan kajian pustaka dari berbagi sumber dapat dirumuskan dalam kerangka teori penelitian sebagai berikut ; 1. Iman dan Taqwa Ada 85 perbuatan sebagai wujud taqwa sebagai berikut. 1) Iman kepada Allah ; 2) Iman kepada Malaikat ;

32

3) Iman kepada kitab-kitab Allah ; 4) Iman kepada para nabi ; 5) Iman kepada hancurnya alam ; 6) Iman kepada kebangkitan manusia dari kematian ; 7) Iman kepada takdir ; 8) Iman kepada hasyr ; 9) Iman kepada surga dan neraka jahannam ; 10) Cinta kepada Allah ; 11) Takut kepada siksa Allah ; 12) Mengharap rahmat Allah ; 13) Tawakal ( pasrah ) kepada Allah ; 14) Cinta kepada nabi Muhammad Saw. ; 15) Mengagungkan derajat nabi Muhammad Saw. ; 16) Kikir dengan memegang teguh agama islam ( teguh pendirian ) ; 17) Mencari ilmu ; 18) Menyebarluaskan ilmu syariat ; 19) Mengagungkan dan memuliakan Al qur’an ; 20) Bersuci ; 21) Menjalankan sholat 5 waktu pada waktunya dengan sempurna ; 22) Membayar zakat kepada orang-orang yang berhak menerimanya ; 23) Berpuasa di bulan Ramadhan ; 24) I’tikaf ; 25) Haji ; 26) Berjuang melawan orang kafir untuk menolong agama islam ; 27) Mebentengi kaum muslim dari serangan orang kafir ; 28) Bertahan di dalam kancah perang dan tidak melarikan diri darinya ; 29) Menyerahkan harta jarahan perang kepada pemimpin atau pembantunya ; 30) Memerdekakan budak yang muslim ; 31) Bersedia membayar kifarah ( denda ) ; 32) Menepati janji ; 33) Bersyukur ; 34) Menjaga lisan dari hal-hal yang tidak layak ; 35) Menjaga kemaluan dari hal-hal yang dilarang Allah ;

32

36) Menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya ; 37) Tidak membunuh kepada sesama manusia muslim ; 38) Menghindari makan dan minuman yang haram ; 39) Menghindari dari harta yang haram ; 40) Menghindari pakaian, perhiasan, dan perabot yang haram ; 41) Menghindari permainan sia-sia yang dilarang ; 42) Sederhana dalam memberikan nafakah, tidak berlebihan dan tidak irit ; 43) Tidak menyimpan dendam dan kedengkian ; 44) Tidak mencela kaum muslimin dihadapan ; 45) Ikhlas dalam setiap amal perbuatan karena Allah ; 46) Merasa bahagia dengan ketaatan kepada Allah ; 47) Bertaubat ; 48) Melakukan penyembelihan qurban, aqiqah, dan hadiah ; 49) Taat kepada pemerintah ; 50) Berpegang teguh pada nilai yang dianut jamaah ; 51) Menjalankan hukum diantara manusia secara adil ; 52) Memerintahkan kepada kebaaikan dan mencegah dari kejahatan ; 53) Tolong menolong dalam hal kebaikan dan ketaqwaan ; 54) Malu kepada Allah ; 55) Bersikap baik kepada orang tua ; 56) Menyambung tali persaudaraan ; 57) Budi pekerti yang baik ; 58) Memperlakukan hamba sahaya dengan baik ; 59) Ketaatan seorang hamba kepada tuannya ; 60) Menjaga hak-hak istri dan anak-anak ; 61) Mencintai ahli agama ; 62) Menjawab salam dari orang islam ; 63) Menjenguk orang sakit ; 64) Melakukan shalat jenazah untuk orang yang islam ; 65) Mendoakan orang islam yang bersin ; 67) Menghormati tetangga ; 68) Menghormati tamu ; 69) Menyembunyikan cela orang lain ;

32

70) Sabar ; 71) Zuhud ; 72) Cemburu dan tidak membiarkan pria bergaul bebas denngan wanita lain ; 73) Berpaling diri dari percakapan yang tidak bermanfaat ; 74) Kedermawanan ; 75) Menghormati orang tua dan mngasihi anak kecil ; 76) Merukunkan antara orang islam ; 77) Mencintai orang lain sebagaimana mencintai dirinya; 78) Melayani dan melindungi pihak yang lemah; 79) Tiada sombong dan takabur; 80) Suka mendengarkan terhadap kritik yang lebih baik; 81) Memiliki semangat persatuan; 82) Menghargai dan menghormati lawan; 83) Menempatkan orang yang layak dalam pekerjaan yang layak; 84) Menjauhi hidup mewah yang cenderung kepada pemborosan; dan 85) Giat bekerja, tahan uji, tidak putu asa . 2. Strategi Integrasi Imtaq dalam Pembelajaran IPTEK Berdasarkan model-model pembelajaran Imtaq dalam beberapa mata pelajaran seperti yang telah dijelaskan terdahulu, dapat disimpulkan menjadi 6 strategi. Adapun strategi tersebut adalah sebagai berikut. a. Strategi Terjemah Strategi ini cenderung bersifat menjelaskan ilmu dengan memberikan dasar pengetahuan Al-Qur’an dan Hadits. Strategi ini terlihat dalam model Rusli Yunus dan Warnadi dalam mata pelajaran geografi, model I H.M Husni dan Syafril dalam mata pelajaran fisika, model I Rosman Yunus dan Aceng dalam mata pelajaran biologi, dan model I Syaeful Anwar dan Sri Setiono dalam mata pelajaran kimia. b. Strategi Aktualisasi Imtaq dalam Perilaku Kehidupan Manusia Strategi ini berusaha memberikan dasar Imtaq dalam pembelajaran yang berhubungan dengan perilaku kehidupan manusia. Strategi ini dibedakan menjadi 3, yaitu (1) aktualisasi Imtaq dalam perilaku manusia pada diri sendiri; (2)aktualisasi Imtaq dalam perilaku manusia pada sesamanya; dan (3) aktualisasi Imtaq dalam perilaku manusia pada lingkungan ala sekitar.

32

Strategi tersebut terlihat dalam model-model berikut. Strategi aktualisasi Imtaq dalam perilaku manusia pada diri sendiri terlihat dalam model II H.M Husni dan Syafril dalam mata pelajaran ekonomi dan model II Rosman Yunus dan Aceng dalam mata pelajaran biologi. Strategi aktualisasi Imtaq dalam perilaku manusia pada sesamanya terlihat dalam model III H.M Husni dan Syafril dalam mata pelajaran ekonomi. Strategi aktualisasi Imtaq dalam perilaku manusia pada lingkungan alam sekitar terlihat dalam model III Rosman Yunus dan Aceng dalam mata pelajaran biologi. c. Strategi Integrasi Imtaq Integrasi berarti penyatuan. Dalam strategi ini ada dua integrasi, yaaitu (1) integrasi dengan bahan pelajaran atau pelajaran dan (2) integrasi dengan keterampilan berbahasa. Bahan pelajaran dalam hal ini adalah alat yang digunakan untuk menyampaikan pelajaran atau kompetensi dasar yang diajarkan. Pelajaran dalam hal ini adalah kompetensi dasar yang diajarkan. Keterampilan berbahasa yang dimaksud adalah mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Strategi tersebut terlihat dalam model berikut. Strategi Integrasi Imtaq dengan bahan pelajaran atau pelajaran terlihat dalam model I Zaidan Hendy dan Sunarno. Dan, strategi integrasi Imtaq dengan keterampilan berbahasa terlihat dalam model II Zaidan Hendy dan Sunanrno dalam mata pelajaran bahasa Indonesia. d. Strategi Menyelipkan Materi Imtaq Menyelipkan adalah memasukkan sesuatu yang tidak sama di antara dua benda. Strategi menyelipkan materi Imtaq adalah memasukkan Imtaq dalam pembelajaran tetapi di luar pokok pembicaraan. Strategi ini terlihat dalam model III Zaidan Hendy dan Sunarno dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. e. Strategi Pengarahan Pengetahuan dengan Imtaq Pengarahan pengetahuan dalam hal ini adalah memberi tempat atau wadah terhadap pengetahuan. Jika pengetahuan diibaratkan air, maka ia akan berubah sesuai tempat. Pengetahuan dalam hal ini cenderung pada bidang kesenian. Stategi ini terlihat dalam model Hamzah Busroh dan Moh Enong dalam mata pelajaran kesenian. f. Strategi Optimalisasi Imtaq

32

Pemberian wawasan Imtaq terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi selain diberikan di luar jam pelajaran di kelas juga dapat diberikan di luar jam pelajaran. Strategi ini terlihat dalam model Abudin Nata dalam kegiatan di luar jam pelajaran.

BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan Ada 12 macam strategi guru dalam mengembangkan kurikulum pendidikan berwawasan imtaq , yaitu : 1) terjemah; 2) aktualisasi imtaq dalam perilaku manusia pada diri sendiri dengan metode ceramah; 3) aktualisasi imtaq dalam perilaku manusia dengan sesamanya menggunakan metode ceramah; 4) aktualisasi imtaq dalam perilaku manusia terhadap lingkungan alam sekitar menggunakan metode ceramah; 5) penggabungan strategi aktualisasi imtaq dalam perilaku manusia pada diri sendiri dengan perilaku manusia pada sesamanya menggunakan metode ceramah; 6) penggabungan strategi aktualisasi imtaq dalam perilaku manusia pada diri sendiri dengan perilaku manusia pada lingkungan alam sekitar menggunakan metode ceramah; 7) aktualisasi imtaq dalam perilaku manusia pada diri sendiri menggunakan metode penugasan terstruktur; 8) integrai imtaq dengan bahan pelajaran menggunakan metode ceramah; 9) integrasi imtaq dengan bahan pelajaran menggunakan metode diskusi dan penugasan; 10 ) integrasi imtaq dengan bahan pelajaran atau pengetahuan yang diajarkan menggunakan metode ceramah; 11) menyelipkan materi imtaq dalam bahan pelajaran; dan 12) menyelipkan materi imtaq dalam pelajaran atau pengetahuan yang diajarkan. Adapun urutan frekuensi terbanyak sampai dengan paling sedikit yang dilakukan oleh guru dalam mengembangkan kurikulum pendidikan berwawasan imtaq adalah sebagai berikut. Pertama, aktualisasi imtaq dalam perilaku kehidupan manusia sebanyak 56,8%. Kedua, integrasi imtaq sebanyak 14,9%. Ketiga,terjemah sebanyak 14,2%. Keempat menyelipkan materi imtaq sebanyak 8,5%. B. Saran Adapun saran –saran yang dapat diberikan adalah sebagai berikut.
1) Kepada kepala sekolah hendaknya memberikan himbauan sesering mungkin

dengan melakukan evaluasi yang optimal.

32

2) Kepada bapak ibu guru pengajar hendaknya menyampaikan imtaq dengan

seoptimal mungkin dengan jalan meminta saran pada guru pendidikan agama.
3) Kepada peneliti selanjutnya dapat meneliti tentang efektifitas kurikulum

pendidikan berwawasan imtaq terhadap anak didik dan perilaku yang muncul dari pengembangan kurikulum tersebut.

DAFTAR RUJUKAN
Agustian, Ary Ginanjar.2001. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ. Jakarta: Arga. Adisasmita, H.M. Yusuf dan Anwar Sugianto. 2001.Suplemen Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Untuk Peningkatan Imtaq Siswa SLTA. Jakarta: Depdiknas Anwar, Sjaeful dan Sri Setiono. 2001. Suplemen Kimia Untuk Peningkatan Imtaq Siswa SLTA. Jakarta: Depdiknas. Arifin, Muhammad Samsul. 2000. Tesis Respon Peserta Didik dan Orang Tua Terhadap Kegiatan Pendidikan Agama ( Studi Kasus Pembinaan Ekstrakurikuler Agama di Sekolah Menengah Umum Islam Malang). Asrori, A. Ma’ruf dan A. Labib Asrori. 1996. Qomi’uth Thughyan Mahligai 77 cabang iman. Surabaya : Al – Miftah . Busrah, Hamzah dan Muh. Enong. 2003. Suplemen Kesenian Untuk Peningkatan Imtaq Siswa SLTA. Jakarta: Depdikna. Djazuli, Achmad dkk. 2005. Peningkatan Wawasan Keagamaan (Islam) Guru Bukan Pendidikan Agama SLTP dan SLTA. Jakarta: Depdiknas. Hamka, H Rusjdi. 1986. Etos Iman, Ilmu dan Amal dalam Gerakan Islam. Jakarta : Pustaka Panjimas. Hayati, Lina. 2004. Tesis Manajemen Pendidikan Nilai di Sekolah Umum Kajian Tentang Internalisasi Nilai-Nilai Keislaman) Studi Pada Sekolah Menengah Umum Negeri 10 “Melati” Samarinda. Hasni, H.M dan Syafril. 2001. Suplemen Ekonomi Untuk Peningkatan Imtaq Siswa SLTA. Jakarta: Depdiknas. Hendy, Zaidan dan Sunarno. 2001. Suplemen Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Untuk Peningkatan Imtaq Siswa SLTA . Jakarta: Depdiknas. Muhaimin, dkk. 2004. Paradigma Pendidikan Islam (Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah). Bandung: Remaja Rosdakarya. Nata, Abuddin. 2003. Manajemen Pendidikan (Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam Di Indonesia). Bogor: Kencana. Stein, Steven J. dan Howard E. Book. 2002 Ledakan EQ 15 Prinsip Dasar Kecerdasan Emosional Meraih Sukses. Bandung: Kaifa. Sunarto. 2001. Tesis Internalisasi Nilai-Nilai Agama Melalui Penciptaan Suasana Keagamaan di Lingkungan MTsN Malang I.

32

Yunus, M. Rusli dan Warnadi.2001. Suplemen Geografi Untuk Peningkatan Imtaq Siswa SLTA. Jakarta: Depdiknas. Yunus, Rosman dan Aceng Mahmud Fasha.2003. Suplemen Biologi Untuk Peningkatan Imtaq Siswa SLTA. Jakarta: Depdiknas. ------------.2005. Pedoman Peningkatan Keimanan dan Ketaqwaan Siswa SMP/SMA/SMK. Jakarta: Depdiknas.

32

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->