P. 1
20050312 BRR ah UsulanProgramBluePrintAceh

20050312 BRR ah UsulanProgramBluePrintAceh

|Views: 472|Likes:
Published by MAliAkbar

More info:

Published by: MAliAkbar on May 07, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/08/2012

pdf

text

original

Sections

TATA RUANG DAN PERTANAHAN I.

LATAR BELAKANG
Kehadiran gempa bumi yang diikuti dengan badai tsunami dahsyat yang terjadi akhir tahun lalu telah menimbulkan berbagai macam kerusakan di kawasan pesisir barat Nanggroe Aceh Darussalam, seperti di Kabupaten Aceh Besar, Kabupaten Aceh Jaya, Kabupaten Pidie, Kabupaten Bireuen, Kota Banda Aceh, dan Kabupaten Aceh Utara. Musibah itu telah menimbulkan kerugian jiwa, harta benda, serta sarana dan prasarana, yang sangat penting bagi kehidupan manusia, seperti jalan, jembatan, pelabuhan, dsb. Rumah-rumah banyak yang hancur dan rusak, yang mengakibatkan banyak warga yang kehilangan tempat tinggal. Mereka umumnya mengungsi ke tempat-tempat yang tidak mempunyai dampak langsung terhadap bencana. Kerusakan yang terjadi umumnya diakibatkan oleh besarnya energi yang menghantam kawasan pesisir, sehingga bangunan-bangunan yang umumnya tahan gempa ikut ambruk akibat hempasan itu. Puing-puing bangunan yang ikut serta dalam gelombang itu pun menjadi sangat berbahaya bagi objek-objek yang dilaluinya. Keleluasaan gelombang itulah yang membuat banyak kerusakan dan kerugian yang ditimbulkan. Berpijak dari model dan banyaknya kerusakan yang terjadi, nampak sekali bahwa sistem pengamanan kawasan pantai masih belum optimal. Kawasan pesisir, yang umumnya disabuki oleh tanaman-tanaman pantai seperti bakau, kelapa, dsb, keberadaannya sudah berkurang. Padahal tanaman-tanaman tersebut memiliki manfaat yang cukup spesifik dalam mengurangi energi hantaman tsunami.

BAB I POKJA – I

1

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Belum adanya akses untuk menyelamatkan diri juga menjadi pemicu jatuhnya korban yang banyak. Kepanikan warga semakin luar biasa oleh karena jalan untuk menyelamatkan diri mencari tempat yang lebih tinggi atau jauh dari pantai, menjadi sempit dan macet, oleh karena keramaian yang ada. Warga pun tidak menemukan tempat aman daerah perbukitan. Untuk itu, kajian yang dilakukan ini adalah mengkaji dan mengusulkan program-program strategis, untuk menata ulang kehidupan warga, merehabilitasi kawasan, dan mengendalikan kawasan dalam meminimalisasi dampak bencana yang sama di masa mendatang. 1.1 Tujuan Berkaitan dengan latar belakang yang telah diuraikan di atas, ada beberapa tujuan yang diharapkan sebagai produk dari Pokja I UAR+ ini, yaitu : 1. Memberikan gambaran terhadap kerusakan kawasan dan kondisi sebenarnya pasca tsunami. 2. Memberikan penilaian dan pertimbangan kelayakan terhadap program tata ruang yang akan dijalankan. 3. Menyusun strategi dan usulan program tata ruang untuk menata ulang kehidupan masyarakat Aceh. 1.2 Sasaran atau tempat yang lebih tinggi terdekat untuk menyelamatkan diri, terutama kawasan pesisir yang jauh dari

1. Menghasilkan program tata ruang yang dapat memperbaiki tatanan kehidupan warga. 2. Menghasilkan langkah-langkah strategis untuk merehabilitasi kawasan terkena bencana.

2

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

3. Menghasilkan langkah-langkah strategis untuk mengendalikan kerusakan kawasan. 1.3 Cara Penyusunan

Mekanisme penyusunan laporan ini adalah sebagai berikut : 1. Melakukan eksplorasi data dan informasi dari berbagai pihak terkait, untuk mengetahui kondisi sebenarnya pasca bencana tsunami. 2. Mengadakan pertemuan dengan Pokja Tata Ruang Bappenas dan Pokja Tata Ruang NAD, untuk mengetahui rencana-rencana yang akan disusun. 3. Melakukan survey ke beberapa daerah yang terkena bencana, untuk mendapatkan aspirasi yang sebenarnya dari masyarakat. 4. Memberikan penilaian dan kelayakan terhadap program yang akan dijalankan, untuk mendapatkan program rehabilitasi yang cocok. 5. Menyusun strategi dan usulan program, untuk seterusnya dijalankan dalam upaya menata kembali kehidupan masyarakat, mengendalikan tata ruang kawasan, dan meminimalisasai dampak bencana mendatang. 6. Hasil kajian di atas dirangkum dalam suatu produk Laporan. 1.4 Tantangan

1. Terbatasnya data-data yang representif yang digunakan dalam menilai kebutuhan dan pertimbangan kelayakan. 2. Terbatasnya waktu dalam melakukan survey-survey. II. RONA Untuk memahami kondisi real suatu wilayah diperlukan adanya gambaran diskripsi wilayah tersebut untuk menjelaskan penampakan yang ada. Penjelasan tersebut akan terkait dengan kondisi sebelum tsunami, pasca tsunami dan kemungkinan akan terjaid pada masa akan datang. Disamping itu

3

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Kondisi yang ada akan memberikan gambaran kehidupan yang bagaimana yang akan tumbuh, berkembang dan bertahan dengan kondisi yang ada. 2.1 Zona pesisir/Garis Pantai Zona pesisir merupakan wilayah terdepan yang terkena langsung dari gelombang tsunami. Dampak yang terjadi adalah hilangnya beberapa daerah pesisir lama dan menjadikan garis pantai berubah. Umumnya garis pantai bergeser semakin ke arah daratan. Dibeberapa tempat, daerah pesisir merupakan daerah permukiman penduduk dari skala besar (kota hingga skala kecil (dusun). Jika dilihat secara kewilayahan, maka wilayah Barat merupakan wilayah yang banyak kehilangan daerah pesisirnya dengan banyak hilang perkampungannya dibandingkan dengan Wilayah lainnya dari propinsi NAD. Adapun gambaran zona pantai sebagai berikut: A. 1. Pantai Barat: Terdapat 3 karakteristik: Pantai dengan daratan tipis dan Tebing perbukitan. Pada saat tsunami, umumnya gelombang menyapu bersih daratan tersebut dan menghantam kaki-kaki perbukitan yang menyebabkan tergerus lapisan tanah dari perbukitan tersebut. Jarak perbukitan dari pantai berkisar 0-1,5 Km, sehingga perkampungan yang ada umumnya hilang, dan banyak penduduk (korban sekitar 90%) tidak dapat menyelamatkan diri karena umumnya tebing bukit/gunung hamper 90 derajat, dan berbatu cadas (tidak bisa dipanjat). Hanya sedikit kawasan yang mempunyai akses ke daratan tinggi melandai. Kawasan tersebut meliputi: Lho’nga, Leupung, Jeumpa, Lhong, 2. Pantai dengan daratan dan terdapat beberapa bukit kecil di tengahnya. Pada saat tsunami, gelombang selain menggerus bukit, juga menggerus

4

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

daratan di sekitar bukit, sehingga bukit membentuk pulau kecil. Masyarakat banyak yang tidak dapat menyelamatkan diri (sekitar 85%) karena bukit-bukit tersebut sedikit terjal. Kawasan tersebut meliputi: Lamno, Lhok Krut, Calang, Panga. 3. Pantai dengan daratan berawa-rawa. Pada saat tsunami, gelombang masuk ke darat dan menyatu dengan daerah rawa-rawa (gambut). Wilayah ini hampir tidak terdapat daratan yang tinggi, sehingga luas daerah yang terkena relative luas. Kawasan tersebut meliputi: Suak Timah, Meulaboh, Pesisir pantai Kab. Abdya. B. Pantai Timur, dengan karakter geografisnya relative landai, umumnya air gelombang masuk ke darat 500m hingga 1500m. Kecuali kota banda Aceh yang merupakan kombinasi dari semua karakter, sehingga wilayah yang terkena meliputi 4000m. Zona pantai yang rusak juga sangat beragam dari sedikit kerusakan (5%) hingga kerusakan total (100%: Kota Krueng Raya). 2.2 Zona Pasang Surut Air Zona pasang surut tidak sama karakternya untuk semua pantai Propinsi NAD. Umumnya pantai Timur lebih jauh (sekitar 200m) dibanding kawasan barat hanya 100 m. Sehingga pantai timur relative banyak terdapat daerah rawa-rawa berupa tambak air asin. Sedang pantai Barat, rawa-rawa yang ada dan sangat berdekatan dengan garis pantai merupakan genangan air hujan (rawa-rawa gambut) yang tidak dapat mengalir ke laut (akibat muara sungai/alur tertutup oleh pasir pantai karena gelombang laut yang relative besar setiap saat). Di Pantai Timur, zona ini umumnya berupa daerah tambak dengan pohon bakau di antaranya yang dikelola oleh masyarakat dan bernilai ekonomi.

5

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Zona ini yang memisahkan antara perkampungan dengan garis pantai. Saat tsunami, zona ini sebagian besar rusak, dan pohon bakau umumnya terbongkar akarnya sehingga bertumbangan, bahkan terbawa air dan menghantam perkampungan penduduk. Namun setelah tsunami, zona ini tidak mengalami penurunan muka tanah, bahkan semakin meninggi oleh pasir laut. Di Pantai Barat, zona ini umumnya berupa rawa-rawa (Daerah Gambut dengan tanaman sejenis pohon nipah, bakau, sejenis pandan besar. Luas wilayah ke darat terkadang hanya 500m dan secara lingkungan sering membentuk Laguna. Saat tsunami, laguna hamper menyatu dengan laut, akibat terkikis pantai. Sedang di pesisir yang kering dan air pasang laut sangat jarang naik kecuali musim Barat, sering ditanami penduduk berupa perkebunan pohon kelapa, yang luas wilayah ke arah darat sekitar 20-30 baris pohon kelapa. Saat Tsunami, air laut melewati kawasan perkebunan kelapa dan hampir tidak ada pohon kelapa yang rusak, namun tanaman lainnya hancur bersamaan terbongkarnya permukaan tanah. Di kawasan perkotaan sebelum tsunami, zona pasang surut hampir tertutupi oleh pembangunan bangunan kota (lihat kota Banda Aceh: kawasan Uleleue, Kp. Pande, Lampaseh, Lambaro Skep, Tibang, Lingke;), sehingga saat tsunami kawasan ini hancur dan meninggalkan genangan air. Namun setelah 2 bulan tsunami, kawasan tersebut sebagian menjadi tempat pembuangan bengkalai yang menutup pertapakan rumah maupun tambak. Disamping itu beberapa kawasan menampakkan kesuburan permukaan tanah yang ditandai tumbuhnya rerumputan. 2.3 Zona Pusat Kota/ Kecamatan/Kampung Kawasan Kota yang kena tsunami meliputi: Kota Banda Aceh dengan kerusakan kota sekitar 40%, Kota Meulaboh (30%), Kota Calang (90%), Kota Suak Timah (90%), Kota Sigli (10%), Kota Lhok Seumawe (20 %). Sehingga

6

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

secara zonase dapat dibagi dalam tiga kelompok, yaitu: kawasan kota Rusak Berat, Rusak Sedang dan Rusak Ringan. Kota Banda Aceh merupakan ibukota Propinsi NAD, mengalami ketiga tingkatan kerusakan yang meliputi luasan cukup signifikan. Secara meruang tsunami hanya melanda kawasan Utara kota yang dibatasi oleh poros jalan Timur –Barat Kota Banda Aceh. Terdapat 3 tipe kerusakan yang dapat diidentifikasi, yaitu: • Kerusakan Berat ditandai dengan terbongkarnya pondasi bangunan dan dan terjadi perubahan topografi kawasan. Hal tersebut terjadi pada kawasan yang dekat dengan pantai, terdapat permukiman penduduk yang padat sebagian bagian dari wilayah bersejarah kota Banda Aceh (masa Kesultanan Aceh). Banyak terdapat peninggalan bersejarah berupa makam tua (masa Kesultanan). Sebelum tsunami, perkampungan terbentuk umumnya secara organic dan merupakan tanah turun menurun yang ditandai oleh adanya perkuburan keluarga. Setelah tsunami kawasan ini hancur. Saat ini kawasan tersebut telah dibersihkan (dilakukan Land Clearing). Kondisi tersebut telah mengaburkan batas pemilikan lahan, pola-pola perkampungan, pusat kampong, perkuburan, bahkan objek penting lainnya. Wilayah ini meliputi kawasan Uleuleue, Pande. Namun beberapa bangunan mesjid selamat. Sedang kawasan lainnya merupakan kawasan pertambakan/rawa-rawa yang sekitar tahun 1980-an terjadi pertumbuhan permukiman dengan sistem reklamasi mengikuti perkembangan kota Banda Aceh. Kawasan Lampaseh (akibat pertumbuhan permukiman kota dan pertumbuhan Uleuleue), Kawasan Kajhu (akibat perkembangan yang terkait dengan Unsyiah). Saat ini kawasan tersebut menjadi daerah berair dan tempat pebuangan bengkalai. • Kerusakan Sedang, ditandai dengan rusaknya sebagian konstruksi bangunan, kondisi tanah secara umum tidak rusak. Kawasan ini umumnya

7

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

perumahan kota, padat. Secara fisik, lingkungan yang ada tidak berubah. Contoh kawasan tersebut: Punge, Pelanggahan, Kp. Mulya, Lingke. • Kerusakan Ringan, ditandai dengan rusaknya kualitas bangunan tanpa kerusakan struktur bangunan (kerusakan arsitektural). Bangunan yang ada di kawasan ini cepat mengalami normalisasi oleh pemilik bangunannya, sehingga tidak ada kendala bagi dimulainya kehidupan perkotaan. Kawasan tersebut berada di pusat Kota dan sepanjang koridor jalan utama kota Kerusakan Kota Banda Aceh menyebabkan lumpuhnya kegiatan ekonomi, social, budaya, masyarakat kota, sehingga terjadi perpindahan sementara aktivitas kota ketempat yang lain. Untuk kegiatan Ekonomi berpindah ke arah Lambaro, Kegiatan perkantoran berpindah ke arah Kawasan Geuce, Jl. Sudirman. Sedang kegiatan budaya ke agamaan berkembang di setiap mesjid yang ada. Bahkan beberapa mesjid yang selamat dari tsunami, menjadi pusat kegiatan masyarakat. Pusat Kota berfungsi kembali setelah sekitar 3 minggu setelah tsunami yang ditandai dengan berfungsinya mesjid Raya Baiturrahman. Kota Meulaboh sebagai ibukota Aceh Barat, mengalami kerusakan total dikawasan kota lama(Ujung Karang, Kp. Belakang, Ujung Kalak, Padang Sirahet, Pesisir Meireubo) dan sepanjang pesisir sejauh 500m-1500m. Namun secara fungsional, fasilitas kota tidak mengalami kerusakan yang berarti, sehingga kota Meulaboh tidak mengalami kelumpuhan karena fasilitas, namun lebih karena factor manusianya. Pusat Kota Meulaboh yang baru (RUTRK 1991) berada sekitar 3-4 Km dari pantai yang ditandai oleh mesjid Agung (bangunan baru) yang berada pada daerah Sineubok. Fasilitas pemerintahan baru, kesehatan, perumahan baru berada di sekitar kawasan tersebut. Kawasan ini tidak mengalami kerusakan sama sekali.

8

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Kerusakan Bangunan terlihat total, karena kota lama Meulaboh umumnya terdiri dari bangunan berkonstruksi kayu. Fasilitas yang mengalami kerusakan berarti adalah: Oil Bunker, dan pelabuhan penyeberangan, dan Tempat Pendaratan Ikan (TPI). Kawasan ini mengalami kehancuran dengan ditandai hilangnya sedikit daratan dan bergesernya muara sungai Meureubo. Kota Calang sebagai ibukota Kabupaten Abdya, mengalami kerusakan total untuk keseluruhan kota, sehingga dapat dipikir ulang terhadap lokasi kota baru yang benar-benar bebas dari tsunami. Kondisi pengembangan kota. 2.4 Zona Permukiman Kota/Desa Umumnya permukiman kota yang kena bencana adalah permukiman lama/tua yang memiliki sejarah keberadaan kota tersebut, baik dimulai masa kesultananAceh maupun masa Kolonial Belanda. Sehingga lingkungan relative padat, bangunan berkonstruksi kayu dan campuran batu. Usia bangunan banyak yang sudah tua, dan memiliki sistem fasilitas kota yang buruk. Sedang permukiman baru, merupakan daerah pemekaran kota III. PENILAIAN KEBUTUHAN Masyarakat diharapkan dapat optimal dalam memberikan aspirasinya. Aspirasi dari masyarakat itu perlu mendapat perhatian dalam menyusun program-program untuk rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh. Dari hasil survey yang dilakukan di beberapa kawasan, ada beberapa kebutuhan diharapkan oleh masyarakat, terkait dengan tanah, tata ruang kawasan, permukiman, dan kawasan strategis lain. 3.1 Penataan Tanah a. Penandaan Kembali Tanah geografi kota Calang yang terdiri perbukitan dan sedikit daratan rendah, menjadi kendala utama

9

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Akibat bencana tsunami, banyak bangunan yang rusak berat dan hilang, sehingga kesulitan dalam mengidentifikasi batas-batas dan kepemilikan tanah yang merupakan kepunyaan warga. Untuk itu, sebagian besar warga menginginkan untuk segera dilakukan penandaan kembali tanah mereka, sehingga mereka dapat membangun kembali rumahnya. b. Pendataan Kembali Tanah Pendataan ini diperlukan untuk mengidentifikasi kepemilikan tanahtanah yang ada, sehingga jelas siapa pemilik tanah tersebut, apakah orangnya masih ada atau tidak, dan siapa-siapa saja ahli waris yang berhak bila pemiliknya menjadi korban bencana. c. Prediksi Tanah Yang Terpakai Untuk Zona Penyangga Masyarakat membutuhkan informasi tentang luas zona penyangga yang akan digunakan sebagai fasilitas perlindungan terhadap bencana mendatang. Dengan adanya prediksi ini, maka masyarakat bisa mendapatkan gambaran apakah tanahnya masuk dalam zona tersebut atau tidak, dan bagaimana kompensasinya. d. Penyediaan Tanah Cadangan Untuk Relokasi Sekali pun keterikatan budaya, sejarah, pekerjaan, dan aspek-aspek lain membuat sebagian besar masyarakat ingin kembali ke tempat asal mereka, namun kemungkinan masyarakat yang ingin direlokasi tetap ada. Untuk itu, penyediaan tanah cadangan menjadi hal yang penting, sehingga penempatan tempat tinggal untuk mereka menjadi jelas. e. Menyuburkan Kembali Tanah Ada tanah masyarakat yang merupakan perkebunan yang menghasilkan. Akibat tsunami, tanaman-tanaman yang ada mati. Untuk itu perlu dilakukan suatu penelitian untuk mengetahui kondisi

10

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

tanah yang terkena tsunami, untuk dikaji zat-zat yang terkandung di dalamnya. Bila mengandung zat-zat berbahaya, maka perlu dilakukan usaha-usaha peningkatan kesuburan tanah, dalam upaya meningkatkan kembali produktivitas tanah dan tanaman-tanaman yang sesuai. 3.2 Penataan Kawasan a. Masyarakat menginginkan adanya kawasan perlindungan Bencana tsunami memang tidak diketahui secara pasti kapan terjadi lagi. Menurut para ahli, peristiwa itu akan terulang kembali puluhan tahun mendatang karena sudah merupakan siklus dan sifat alam yang selalu menyeimbangkan diri. Masyarakat sudah paham akan hal ini, sehingga untuk melindungi diri mereka dan generasi mendatang, mereka menginginkan agar lingkungan permukimannya difasilitasi dengan zona perlindungan dan sistem peringatan dini. Sehingga dampak bencana dapat diminimalisasi. b. Perlindungan terhadap kawasan bernilai sejarah Perkembangan suatu kota tidak terlepas dari sejarahnya di masa lampau. Ada bagian-bagian kota yang merupakan awal dari berdirinya kota tersebut, sehingga situs-situs sejarah kemungkinan ada di tempat tersebut. Untuk itu, bagian-bagian ini harus tetap dilestarikan, sehingga dapat menjadi daerah pendidikan dan wisata sejarah yang sangat bermanfaat bagi generasi mendatang. c. Sirkulasi yang aman ketika keadaan darurat Banyak warga yang meninggal karena jalur menuju tempat tertentu yang dianggap aman menjadi tempat yang penuh sesak hingga sukar untuk bergerak. Semua orang menggunakan jalur tersebut pada waktu yang sama dengan beragam moda. Untuk itu, perlu

11

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

ditata kembali sistem sirkulasi lalu lintas dan jalan, sehingga aman dilalui ketika keadaan tiba-tiba menjadi darurat. Ini bisa dilakukan dengan membuat sistem jalan grid pada bagian-bagian tertentu dan meninjau kembali hirarki jalan yang ada. d. Penempatan fasilitas penunjang Fasilitas penunjang, seperti TPA, perlu mendapat perhatian. Karena keadaannya akan mempengaruhi kawasan sekitar. Hal ini perlu dilakukan untuk menghindari terjadinya pencemaran lingkungan yang pada akhirnya membahayakan penduduk yang bermukim di sekitar tempat tersebut. 3.3 Penataan Permukiman a. Penyediaan rumah yang sesuai dengan karakter dan kebiasaan masyarakat. Penyediaan rumah bagi masyarakat yang kehilangan tempat tinggal akibat tsunami perlu diperhatikan. Sekali pun masyarakat setuju saja bila dibangun tipe standar 36, namun akan lebih baik bila rumah yang ada disesuaikan dengan pola kehidupan mereka. Misalnya, perumahan bagi kaum nelayan. b. Penataan Tata Letak Rumah Kondisi tata letak rumah sebelum bencana terjadi umumnya semraut, tanpa kejelasan akses. Sehingga banyak masyarakat yang meminta untuk diatur kembali lahan mereka, sehingga jalan menjadi teratur dan rapi, dan ikut mempermudah ketika terjadi bencana atau dalam keadaan darurat. c. Penyediaan Tempat Untuk Menyelamatkan Diri Pada permukiman yang tetap berada di daerah yang terkena bencana, kehadiran tempat ini menjadi sangat penting. Mereka akan

12

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

langsung menuju tempat ini ketika tanda-tanda bencana sudah mulai ada. Tempat ini bisa bangunan mau pun bukit buatan, yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan-kegiatan sosial dan kemasyarakatan. 3.4 Penataan Kawasan Khusus a. Menempatkan zona perlindungan dengan baik Zona perlindungan yang diharapkan adalah berupa bakau, dan tanaman-tanaman lain yang menghasilkan dan produktif, seperti batang kelapa, mangga, dsb. Selain itu, perlu pula dibangun ruangruang terbuka yang dapat berupa taman, lapangan bermain, jalur hijau, dsb, yang tujuannya adalah untuk mengurangi energi yang dihasilkan oleh gelombang. b. Perbaikan Kembali Kawasan Pelabuhan (Laut & Udara), TPI, dan Wisata Untuk mempermudah transportasi, pengembangan kembali fasilitas ini merupakan hal yang penting. Keberadaan pelabuhan harus dintinjau kembali apakah masih dapat ditempatkan pada tempatnya semula atau tidak. Bila berbahaya, dapat dicari lokasi lain yang tidak berbahaya. IV. PERTIMBANGAN KELAYAKAN Masing-masing kebutuhan masyarakat seperti diillustrasikan dalam Bab IV, selanjutnya dinilai kelayakannya. Ada beberapa pertimbangan dasar untuk menentukan kelayakan kebutuhan itu, yaitu : Menjangkau perspektif jangka panjang Menghasilkan manfaat lingkungan, sosial, dan ekonomi Prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan

13

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

4.1

Penataan Tanah Masyarakat membutuhkan adanya penandaan kembali tanah,

pendataan kembali tanah, perkiraan tanah untuk zona penyangga, dan adanya tanah cadangan untuk pengembangan kota. Penataan kembali tanah dapat menjangkau perspektif jangka panjang, dimana tanah yang ada merupakan aset yang dapat dimanfaatkan baik untuk generasi saat ini mau pun generasi mendatang atau antar generasi. Selain itu, manfaat dari segi ekonomi pun ada, dimana nilai tanah akan terus bertambah seiring dengan pertambahan waktu. Dari sudut pandang lingkungan, penataan kembali tanah akan membuat tanah kembali produktif. Sehingga tidak ada tanah yang terbengkalai tanpa pemanfaatan yang kurang baik dampaknya terhadap lingkungan. Kondisi sosial masyarakat yang membuat masyarakat, walau bagaimanapun, tetap akan kembali ke tempat semula. Sehingga prinsip lebih mengutamakan revitalisasi daripada relokasi tetap bisa dijalankan, sekali pun harus difasilitasi dengan daerah pengaman pantai dan escape facilities. Dengan demikian, maka kebutuhan masyarakat yang berkaitan dengan

penataan tanah ini layak dilakukan.
4.2 Penataan Kawasan Dalam penataan kawasan, kebutuhan masyarakat adalah adanya adanya kawasan perlindungan, kawasan bernilai sejarah, sirkulasi yang aman ketika keadaan darurat, dan penempatan fasilitas penunjang. Penataan kawasan dibuat untuk dapat menjangkau perspektif jangka panjang. Apalagi dengan adanya buffer zone, sebagai zona penyangga untuk perlindungan, maka kejadian serupa dapat diminimalisasi dampaknya bila dikemudian hari terjadi lagi.

14

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Selain itu, zona penyangga juga dapat berfungsi untuk kelestarian lingkungan, dan memiliki nilai ekonomi bila tanaman yang ada didalamnya merupakan tanaman yang produktif, kelapa misalnya. Demikian juga dengan konservasi kawasan sejarah, dimana manfaatnya dapat dirasakan hingga generasi mendatang atau antar generasi. Sirkulasi lalu lintas yang aman ketika terjadi bencana juga untuk kepentingan jangka panjang. Di satu sisi dapat menjadi tempat untuk sirkulasi berbagai moda hingga bermanfaat sosial dan ekonomi. Escape facilities pun memiliki manfaat lingkungan bila bukit (escape hill) dijadikan sebagai hutan kota dengan tanaman-tanamannya dan/atau bangunan tinggi (escape

building), yang dapat dijadikan sebagai fungsi kegiatan sosial dan ekonomi.
Dengan demikian, kebutuhan masyarakat yang menyangkut penataan kawasan ini layak dilakukan. 4.3 Penataan Permukiman Dalam hal penataan permukiman, kebutuhan masyarakat adalah disediakannya rumah yang sesuai dengan karakter dan kebiasaan masyarakat, penataan tata letak rumah, penyediaan tempat untuk menyelamatkan diri. Kawasan permukiman yang ditata dengan baik umumnya dapat bermanfaat bagi generasi mendatang. Rumah itu pun sebaiknya sesuai dengan karakter dan kebiasaan masyarakat, misalnya nelayan. Penataan tata letak rumah yang baik juga akan memperjelas letak jalan, sehingga akses untuk melakukan evakuasi atau menyelamatkan diri tetap lancar. Dalam hal ini, penataan menjangkau prespektif jangka panjang, dan memiliki manfaat yang luas untuk sosial dan pendukung ekonomi masyarakat. Perlindungan terhadap kawasan permukiman merupakan prioritas yang sangat penting. Seperti yang sudah diuraikan di atas, kawasan pesisir akan selalu dilindungi oleh buffer zone dengan tanaman-tanaman yang kokoh dalam

15

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

mengurangi energi tsunami, seperti beberapa jenis bakau, kelapa, dsb, yang juga bermanfaat untuk tujuan konservasi lingkungan hidup. Dengan demikian maka kebutuhan untuk menata permukiman ini layak dilakukan. V. STRATEGI DAN USULAN PROGRAM Berikut ini akan diuraikan strategi dan usulan program yang perlu dilakukan untuk menata kembali Aceh adalah sebagai berikut. 5.1 yaitu : 1. Menyiapkan rencana atau program-porgram untuk memfungsikan kembali permukiman kota beserta lingkungannya yang terkena bencana. 2. Menyiapkan lahan cadangan untuk pengembangan kawasan-kawasan perkotaan baru. 3. Menyiapkan areal yang akan dimanfaatkan untuk daerah konservasi dan zona penyangga. 5.2 Usulan Program Strategi

Ada beberapa strategi yang dilakukan dalam kaitannya dengan tata ruang ini,

1. Penataan Tanah Kajian tentang kepemilikan tanah (land ouwnership) Kajian tentang pelaksanaan konsolidasi tanah (land consolidation) /land readjustment. Kajian kesesuaian lahan dan struktur tanah untuk permukiman dan pertanian. Kajian kesesuaian lahan untuk zona penyangga Pembuatan site plan (lahan untuk pertanian, permukiman, lahan usaha, fsilitas pendukung, dsb).

16

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

2. Penataan Kawasan Pembuatan rencana detail zona Pembuatan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) pada kawasankawasan khusus (bangunan, taman, dsb). Pembuatan Detail Engineering Design (konstruksi bangunan, buffer zone, dan

escape fasilities).
Pembuatan building code untuk bangunan tahan gempa dan tsunami. 3. Penataan Permukiman Kajian konstruksi tahan gempa dan tsunami Kajian bentuk rumah yang sesuai karakter pemilik, misalnya rumah nelayan, petani, dsb. Pembuatan site plan untuk buffer dan escape facilities Penataan kembali hirarki jalan dan akses untu escape. Kajian struktur tanah untuk permukiman Perbaikan permukiman yang mengalami kerusakan 4. Penataan Kawasan Khusus Pembuatan RDTRK dan RTBL Kajian kesesuaian lahan untuk kawasan khusus Desain TPA dan fasilitas pendukung Desain buffer untuk kawasan khusus VII. REVIEW TATA RUANG DAN PERTANAHAN • Daerah pesisir Barat dan Utara Provinsi NAD/Kota Banda Aceh bagian utara, beberapa waktu lalu (26 Desember 2004) hancur akibat terjangan tsunami, dan mengurangi luas daratan yang ada (laut masuk ke daratan). Akibat di atas, banyak lingkungan terbangun dan lahan-lahan permukiman yang hilang.

17

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Kota tidak berfungsi sebagaimana harusnya, bahkan ditinggali penghuninya. Di sisi yang lain, Kota Banda Aceh harus kembali menjalankan perannya sebagai mana sebelum tsunami: sebagai kota permukiman (masyarakat kota/jasa, Nelayan), kota Bandar (kaitan dg IMT-GT), kota administrasi (ibukota Propinsi).

Pemerintah melalui Bappenas telah melakukan tindakan aktif memulai perencanaan bagi pembangunan kembali Aceh, bersama-sama masyarakat Aceh Diharapkan Perencanaan pembangunan Aceh khususnya Rencana Tata Ruang Kota Banda Aceh dan propinsi merupakan perencanaan yang berasal dari masyarakat.

Dalam kapasitas sebagai bagian dari masyarakat Aceh yang berasal dari unsur perguruan tinggi (akademisi), maka Unsyiah dengan Task Force: Unsyiah For Aceh Reconstruction (UAR+) merasa berkewajiban membantu Bappenas melalui pemberian beberapa masukan yang khususnya menyangkut hal-hal yang spesifik tentang Aceh.

HASIL REVIEW Secara umum Draft Rencana Tata Ruang Kota Banda Aceh Pasca Tsunami telah memenuhi beberapa pertimbangan, khususnya dari aspek geografis (lingkungan Fisik). Berdasarkan hal di atas terdapat beberapa hal yang perlu dicermati: 1. Perencanaan Kota Banda Aceh yang dikerjakan oleh pusat, memiliki visi dan misi yang kurang jelas. Produk yang dihasilkan adalah sebuah perencanaan yang menghindari bahaya laut dan tidak bersahabat dengan kondisi alam yang telah ada. Selain itu, kurang memfokuskan pada aspek Masyarakat Aceh yang islami) 2. Konsep Ruang Kota sangat teknis dan hanya pertimbangan efek dari Tsunami 3. Kota Banda Aceh terbagi dalam 3 zona yang peruntukannya sangat bernuansa geografis (perhatikan dasar pertimbangannya) 4. Kawasan Buffer yang tidak jelas karakter pengembangannya,

18

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

5. BWK I, peruntukan bagi daerah perikanan, yang kurang memperhatikan aspek sejarah lokasi. 6. Letak CBD Baru, hanya mengikuti gerak pasar (kegiatan ekonomi utama) yang ada saat ini, (cermati kegiatan pasar ini sebelum Tsunami) 7. Penentuan Sub Orde Kota, (spt:Ule Kareng ), pertimbangan lokalitas yang kurang terpahami 8. Kawasan Pendidikan yang dikelilingi daerah persawahan, dengan eksisting yang ada. PEMBAHASAN yang tidak sesuai

1.

Pengembangan Kota Banda Aceh yang direncanakan terkesan tidak memiliki

visi yang jelas, seperti membangun kota baru yang takut dengan laut (laut hanya dilihat sebagai ancaman). (Lihat latar belakang pada point 1.2. yang tidak menyinggung aspek masyarakat Aceh yang Islami)
Kota Banda Aceh saat ini merupakan kota yang telah diletakkan dasardasarnya sejak masa awal kerajaan kesultanan Aceh (abad XIII). Konsep kota yang Islami (mungkin juga hasil percampuran dengan konsep kota Hindu), telah menempatkan posisi strategis bagi: Mesjid Raya, Pendopo (dahulu Istana Sultan), dan kawasan Bandar di sekitar sungai Kreung Aceh. Peran sentral Mesjid dan pendopo bagi masyarakat kota Banda Aceh, terus berkembang hingga kini. Nilai Islami terlihat bahwa tidak ada pemisahan antara kehidupan agama dan dunia yang terlihat dalam zona kegiatan keduanya. Hasil Studi tentang peran mesjid Raya (Elysa, 2000), masyarakat Aceh masih sangat menghormati dan mengorientasikan diri bagi mesjid Raya ini, kemudian kegiatan lainnya mengikuti. Jika ingin membangun Kota Banda Aceh (Aceh secara umum), nilai yang diemban mesjid harus menjadi focus utama. Pilihan tempat harus dimulai dari:

19

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

dimana dan bagaimana meletakkan Mesjid Raya (note bene: harus mampu menyaingi Mesjid Raya Yang Ada). Hal ini tidak perlu menjadikan kita pesimis, karena Sultan awal Aceh, mampu memindahkan keseluruhan aktivitas dari kota Lamuri ke Kota banda Aceh setelah 2 abad. Di sisi lain, masyarakat Aceh sejak dahulu terkenal sebagai masyarakat bahari yang sangat demokrasi, mandiri dan religi. Perdagangan antar pulau sudah membentuk masyarakat Aceh sebagai pedagang antar pulau, dan budaya yang berkembang adalah budaya kelautan. Sehingga laut bukan menjadi daerah belakang. Laut merupakan harapan hidup. Artinya banyak kegiatan ekonomi dimulai dari kawasan laut.

2.

Konsep Ruang Kota sangat teknis dan hanya pertimbangan efek dari Tsunami.
Secara konsepsi ruang, tidak terlihat aspek Islami, karakter masyarakat dan

sejarah kota, demikian karena terkait dengan visi (lihat point 1.3). Beberapa pemikiran yang memuat 3 aspek di atas, yaitu konsep: • • • Mengembalikan kawasan jejak-jejak perjalanan sejarah kota Banda Aceh Pantai merupakan bagian “depan/ terpenting” dari kota. Ditambahkan membangun kota yang Islami dan Bersejarah (catt: Sejarah Kota Banda Aceh terkait dengan sejarah pertama sekali Islam masuk ke Indonesia, sehingga eksistensi Indonsesia juga nampak dari adanya peninggalan yang terbuktikan).

3.

Kota Banda Aceh terbagi dalam 3 zona yang peruntukannya sangat bernuansa
Tampak sangat kasat mata, zona dibuat hampir mempertimbangkan jarak

geografis (perhatikan dasar pertimbangannya).
jangkau tsunami. Pendekatan mengamankan asset pembangunan memang ada

20

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

benarnya,

namun

kehidupan

yang

telah

berkembang

di

atasnya

perlu

dipertimbangkan, seperti sejarah lokasi, karakter kehidupan masyarakat. Zona kota tidak semata-mata mengarahkan karakter pembangunan fisik saja, namun juga karakter masyarakat Kota. Sehingga akan terjadi beragam kegiatan yang melintasi zona-zona tersebut. Yang paling penting diperhatikan adalah harus tampak jelas zona jejak lintasan perjalanan sejarah kota Banda Aceh sejak dari Kota Pancu –Lamuri- Kesultanan AcehKolonial Belanda-NKRI Orde Baru-NKRI Pasca Tsunami. Saat ini peninggalan kotakota ini masih ada walaupun hanya tinggal kawasan kosong, tapi perlu ditandai dengan karakter aktivitas spesifik (daerah Wisata). Disamping itu peran sungai yang besar dapat menarik aktivitas kelautan lebih ke arah daratan. Sehingga aktivitas tersebut aman saat musim angin Barat.

4.

Kawasan Buffer yang tidak jelas karakter pengembangannya,
Kawasan Buffer tidak lalu diartikan kawasan tanpa kehidupan, masyarakat

pantai sebenarnya ikut juga menjaga aktivitas di laut, artinya Pantai-pantai kita menjadi bertuan. Sebagai Bandingan, di sepanjang Pantai Barat, kalau dari Udara kita hanya melihat pohon kelapa yang ketebalan kawasannya sekitar 20 pohon kelapa, namun dibawahnya terdapat hunian masyarakat. Masyarakat dapat berperan sebagai penjaga pantai, mereka diberi pemahaman tentang peran terdepan mereka dalam pengamanan bencana dari laut. Pohon Mangrove, hanya kombinasi ditempat-tempat tertentu. Pengembangan pohon kelapa sudah dilakukan sejak masa kesultanan Aceh dan banyak tanaman lainnya. Yang terpenting, dalam pengembangan kawasan Buffer dengan kehidupan di dalamnya, adalah Kepadatan rendah dan menerapkan pola permukiman tertentu dan sistem perlindungan yang sesuai.

21

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

5.

BWK I, peruntukan bagi daerah perikanan, yang kurang memperhatikan aspek
Terkait dengan pembahasan no I. Di dalam BWK I, merupakan lokasi dari

sejarah lokasi.
sejarah kota banda Aceh dan permukiman tradisional Aceh (petani, nelayan, pedagang), justru beberapa tempat harus dipertahankan oleh kehendak pemerintah, bukan karena kehendak rakyat saja. Rakyat harus kembali dan diberi modal untuk mengembalikan sejarah yang hilang. Seperti kawasan Kampung Pande, dahulu sebelum tahun 1970-an, daerah ini membuat kerajinan khas Aceh dari logam (tembaga, Perunggu, emas, perak). Kerajinan ini hilang karena masyarakat lebih “mencintai” produk Luar (India, Malaysia). Jika ini dibangkitkan kembali, perjalanan sejarah kota Banda Aceh akan lebih mudah diujudkan.

6.

Letak CBD Baru, hanya mengikuti gerak pasar (kegiatan ekonomi utama) yang
Lambaro menggeliat karena pasar Aceh dan Peunayong tidak berfungsi secara

ada saat ini, (cermati kegiatan pasar ini sebelum Tsunami)
fisik, namun sebagai “pasar” yang terkait dengan peran kota Banda Aceh dengan Mesjid Raya Sebagai central kehidupan, maka kawasan Lambaro, akan sulit berkembang. Kecuali akan ada mesjid Raya sekaliber yang sekarang di sekitarnya. Kalaupun lokasi kawasan pemerintahan akan dikembangkan di sekitar lambaro, namun kegiatan pemerintahan tidak menjadi orientasi masyarakat Aceh secara umum, kecuali pegawai negeri. Aktivitas harian masyarakat termasuk rekreasi adalah di sekitar mesjid raya, sehingga secara logika di mana banyak terdapat penumpukan massa maka akan muncul kegiatan ekonomi dalam arti yang sebenarnya.

7.

Kawasan Pendidikan yang direncanakan dikelilingi daerah persawahan, yang
Saat ini justru kawasan di sekitar luar kampus telah berkembang sebagai

tidak sesuai dengan eksisting yang ada.
daerah permukiman (mahasiswa). Jika benar CBD Baru akan ke Lambaro, yang jarak

22

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

dengan kawasan pendidikan relative jauh, maka akan mendorong pertumbuhan kawasan sekitar luar kampus. Secara eksisting, kampung-kampung lama juga terdapat di sekitar kampus dan persawahan relative hampir hilang. Perkembangan kawasan Selatan kampus terkait juga dengan adanya jalan inspeksi sungai Banjir Kanal.

23

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

BAB II POKJA – 2

LINGKUNGAN DAN SUBER DAYA MANUSIA
I. LATAR BELAKANG Gempa bumi dan tsunami yang terjadi pada hari minggu, 26 Desember 2004 di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Sumatera Utara (Sumut), telah meluluh lantakkan kehidupan masyarakat, struktur perekonomian, dan infrastruktur. Gempa yang berkekuata 9.0 pada skala richter dan berpusat di dasar laut dengan kedalaman antara 20 sampai dengan 530 km ini, diikuti oleh gelombang tsunami yang sangat tinggi, sehingga menghancurkan lingkungan dan sumber daya alam di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) sampai jarak 5 km dari garis pantai. Gempa bumi dan tsunami tersebut yang telah melanda sebagian besar wilayah pesisir Provinsi NAD dan sebagian Provinsi Sumatera Utara (Sumut), perlu ditanggapi secara cepat, positif, konkret, konstruktif, dan terkoordinasi, sehingga perencanaan dan pelaksanaan pembangunan kembali wilayah terlanda bencana dapat berjalan dengan baik. Bencana ini telah membawa dampak semakin meningkatnya kesadaran masyarakat untuk mengevaluasi dan memformulasikan konsep penataan ruang yang terintegrasi, baik di tingkat nasional maupun di tingkat di bawahnya, dengan memperhatikan unsur lingkungan dan sumber daya alam. Penyusunan rencana induk tata ruang selayaknya mengikuti pendekatan ekologi lingkungan dengan memperhatikan potensi bencana dan potensi dayadukung pada suatu wilayah. Aspek lingkungan dan sumber daya alam perlu mendapatkan prioritas dalam penyusunan kerangka rehabilitasi dan rekonstruksi kawasan yang terlanda bencana di NAD dan sebagian Sumut. Perubahan garis pantai akibat tsunami telah menyebabkan pergeseran tataruang pemukiman dan meningkatkan kebutuhan ruang baru untuk

24

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

masyarakat yang terkena bencana. Berbagai permukiman baru, fasilitas publik harus dibangun dan tak terkecuali membuang/mengolah reruntuhan, lumpur dan berbagai jenis sampah. Apabila tidak hati-hati, pemilihan lokasi atau penentuan ruang baru ini dapat menimbulkan konflik dan persoalan lingkungan baru, dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Disamping itu upaya rehabilitasi dan rekonstruksi yang tidak terarah dikhawatirkan akan melampaui daya dukung lingkungan. Pendekatan perencanaan yang berwawasan lingkungan harus diketengahkan dan dipertegas, karena aspek lingkungan sangat menentukan keberlanjutan dan kenyamanan masyarakat yang tinggal disekitarnya dalam jangka panjang. Prencanaan berbasis lingkungan tidak hanya menekankan Namun, kendala yang dihadapi waktu yang tersedia untuk aspek ekosistim flora dan fauna, akan tetapi juga harus mencakup manusia dan ekosistem alam secara keseluruhan. terutama dari berkaitan dengan terbatasnya rapid

penyusunan dokumen ini,sementara data-data lapangan yang tersedia hasil berbagai environment assesment lembaga pemerintah/non Untuk bisa pemerintah masih bersifat umum dan kurang lengkap. adanya data tentang lingkungan yang detail dan menyeluruh. 1.1 Tujuan dan Sasaran Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menyusun pedoman penyusunan Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) pasca bencana gempa dan tsunami yang meliputi: a. Penyusun Draft awal Blueprint (cetak biru) Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD dan sebagian Sumut (Nias).

mengintegrasikan perencanaan lingkungan secara baik, perlu diusahakan

25

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

b.

Penyusunan rencana induk (masterplan) maupun rencana rinci (detail plan) pemanfaatan ruang kawasan perkotaan maupun kawasan pesisir lainnya di NAD

c. d.

Penyusunan rencana kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi kawasan perkotaan dan pesisir di NAD dan Sumut Pedoman bagi Pokja lainnya yang terkait dalam penyusunan rencana buku rinci masing-masing

Sasaran yang ingin dicapai dari kegiatan ini meliputi: a. Tersusunnya kebijakan dan strategi Rehabilitasi dan Rekonstruksi dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam di Provinsi NAD pasca bencana gempa dan tsunami. Informasi ini akan memberi masukan untuk Pokja Tata Ruang dan Pertanahan, melalui kriteria kelayakan lingkungan (termasuk untuk pokja lainnya); b. Tersusunnya pedoman penyusunan Rehabilitasi dan Rekonstruksi dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Wilayah Provinsi NAD pasca bencana gempa dan tsunami. c. Tersusunnya pedoman pelaksanaan pemberdayaan di bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam masyarakat Provinsi NAD pasca bencana gempa dan tsunami. Dengan demikian, konsep ini akan menjadi pedoman bagi sektor/instansi terkait untuk merumuskan program rehabilitasi dan rekonstruksi. 1.2 Ruang Lingkup Pedoman penyusunan rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Provinsi NAD pasca bencana gempa dan tsunami diperuntukkan bagi seluruh wilayah Provinsi NAD

26

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

dan mencakup 16 kabupaten/kota di Provinsi NAD yang terkena dampak bencana gempa dan tsunami, yaitu: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) 12) 13) 14) 15) 16) 17) 18) 19) 20) 21) Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Tenggara, Aceh Singkil Aceh Timur, Aceh Tamiang Aceh Tengah, Bener Meriah Gayo Lues Pidie, Aceh Utara, Bireuen, Sabang, Simeulue, Lhokseumawe, Langsa

1.3 Metode Pendekatan Penyusunan pedoman rehabilitasi dan konstruksi lingkungan hidup dan sumber daya alam Provinsi NAD pasca bencana gempa dan tsunami dilakukan dengan menggunakan prinsip-prinsip perencanaan yang bersifat responsif,

27

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

partisipatif, dan terdapat integrasi horizontal dan vertikal. Perencanaan yang bersifat responsif harus dapat menjawab secara cepat dan tepat persoalan yang terjadi di daerah bencana gempa dan tsunami Provinsi NAD dengan menentukan program yang tepat. Pendekatan partisipatif dibutuhkan untuk dapat mengakomodasi aspirasi dan kebutuhan masyarakat NAD yang terkena bencana gempa dan tsunami. Integrasi horizontal dilakukan untuk menggabungkan berbagai program Rehabilitasi dan Rekonstruksi dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam di wilayah NAD yang dibutuhkan secara cepat untuk menjawab kebutuhan pada masa sekarang sedangkan integrasi vertikal dilakukan untuk menggabungkan berbagai program rehabilitasi dan rekonstruksi di Wilayah NAD dalam skala makro dan mikro. II. INVENTARISASI KERUSAKAN DAN KERUGIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN SUMBER DAYA ALAM1 2.1 Total perkiraan nilai kerusakan dan kerugian Berdasarkan makalah POKJA II Bappenas dalam Lokakarya

penjaringan aspirasi masyarakat bidang lingkungan dan sumber daya alam pada tanggal 4 Maret 2005 di Banda Aceh, perkiraan nilai kerugian dan kehancuran di NAD, adalah sebagaimana tertera dalam tabel rangkuman. Potensi penurunan kualitas lingkungan juga terjadi selama kegiatan ‘relief’ (pertolongan) dan tanggap darurat. Dampak lingkungan tersebut mencakup persoalan sanitasi di lokasi pengungsian, pencemaran lingkungan akibat kegiatan pembersihan puing-puing, dan penimbunan sisa tsunami. Tanpa pengelolaan dampak lingkungan paska tsunami dengan tepat, maka

1

Data pada bagian ini dikutip dari Makalah POKJA II Bappenas, yang disampaikan dalam Lokakarya Penjaringan Aspirasi Masyarakat, pada tanggal 4 Maret 2005, di Banda Aceh.

28

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

dikhawatirkan akan timbul dampak lebih lanjut terhadap kesehatan manusia khususnya pekerja, relawan, pengungsi, dan masyarakat lainnya. Table 1: Rangkuman Penilaian kerusakan dan kerugian Sektor Sektor sosial, termasuk: perumahan, pendidikan, kesehatan, agama dan budaya Sektor infrastruktur, termasuk : transport, komunikasi, energy, air dan sanitasi, bendungan Sektor Produksi, termasuk : agribisnis, perikanan, industri dan perdagangan Lintas Sektor , termasuk : lingkungan, Pemerintahan, bank dan Keuangan Total (Rp. trilliun )
Sumber : Bappenas dan WB 18 Januari 2004

Kerusakan 15,657 5,915 3,273 2,346 27.191

Kerugian 532 2,239 7,721 3,718 14,210

Total 16,186 8,154 8,154 6,064 41,401

Potensi penurunan kualitas lingkungan juga terjadi selama kegiatan ‘relief’ (pertolongan) dan tanggap darurat. Dampak lingkungan tersebut mencakup persoalan sanitasi di lokasi pengungsian, pencemaran lingkungan akibat kegiatan pembersihan puing-puing, dan penimbunan sisa tsunami. Tanpa pengelolaan dampak lingkungan paska tsunami dengan tepat, maka dikhawatirkan akan timbul dampak lebih lanjut terhadap kesehatan manusia khususnya pekerja, relawan, pengungsi, dan masyarakat lainnya. Perkiraan awal nilai kerusakan dan pencemaran lingkungan akibat gempa bumi dan tsunami di Provinsi NAD dan Provinsi Sumatera Utara hasil Analisis Badan Donor melalui UNEP dapat dilihat pada tabel berikut ini.

29

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Table 2: Ringkasan Lingkungan No 1

Perkiraan

Biaya

Kerusakan

dan

Pencemaran

Jenis Dampak Lingkungan Pencemaran Air Perbaikan sungai Pencemaran air tanah Pencemaran Limbah Padat Pencemaran Udara Pencemaran dan kerusakan Terumbu Karang dan Mangrove Pertanian, kehutan dan ekosistem daratan lainnya Kehilangan Potensi Kegunaan Lahan Potensi Kontaminasi dari Industri Total

Perkiraan Biaya (US$) 2,5 – 4 juta 1,5 - 3 juta 1 juta 3,44 juta Belum diketahui US$ 9,4 - 245 juta pertahun 86,24 – 172,68 juta pertahun 23,5 – 47,1 juta Belum diketahui 127.58- 476.22 juta

2 3 4 5 6 7

30

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

2.2. Kerusakan/Kehilangan 2.2.1 Kematian/ Kehilangan Sumber Daya Manusia Berdasarkan data Departemen Kehutanan per tanggal 17 Januari 2005 pukul 15.00 WIB, tercatat jumlah karyawan Departemen Kehutanan di Kabupaten & Kota dan karyawan Dinas Kehutanan Provinsi NAD sebanyak 464 orang, terdiri dari 173 orang karyawan Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) NAD, 43 orang karyawan Badan Pengelola Daerah Aliran Sungai (BP DAS) Krueng Aceh, 26 orang karyawan Balai Sertifikasi Penguji Hasil Hutan (BSPHH) Wilayah I, 20 orang di Balai Taman Nasional Gunung Leuser (BTNGL), dan 38 orang di Dinas Kehutanan. Pasca bencana gempa bumi dan tsunami tercatat 115 orang selamat, 26 orang meninggal dan160 orang belum diketahui. 2.2.2 Kerusakan Infrastruktur dan Sarana Pendukung Data sementara kerusakan infrastruktur Departemen Kehutanan yang masuk baru mencakup lingkup BKSDA NAD dan BP-DAS Krueng Aceh. BKSDA adalah Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang berada di bawah Ditjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA), sedangkan BP DAS Krueng Aceh merupakan UPT dari Ditjen Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial (RLPS), Departemen Kehutanan. Rincian jenis dan jumlah bangunan dan sarana pendukung yang rusak terlihat pada tabel 2 berikut ini. Table 3: Kerusakan infrastruktur di lingkungan BKSDA dan BP-DAS No. JENIS BANGUNAN 1 Kantor Resort KSDA Banda Aceh (Ex Kantor Sub Balai KSDA DI Aceh) Luas tanah 1000M2, Bangunan 350 M2 VOL 1 unit KETERANGAN Hancur total, perlu bangunan baru

31

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

2 3

Pondok kerja Banda Aceh, Tipe 70 Kantor BKSDA Meulaboh, Aceh Barat Luas tanah 600 M2, Bangunan 120 M2 Pos jaga di Alue Bili dan Lami, Aceh Barat Pusat Informasi di Sabang Kantor Resort KSDA Iboih Pintu gerbang TWA P. Weh Sabang MCK di TWA P. Weh Sabang Shelter di TWA P. Weh Sabang Pembangunan rumah pegawai Balai KSDA Prov, NAD yang terkena bencana alam gempa bumi dan tsunami Kantor BP-DAS, 480 M2 Gedung Kantor Pemerintah, 3000 M2 Rumah Dinas Lapangan tempat parker, 1.206 M2

1 unit 1 unit 2 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 42 unit 1 unit 1 unit 2 unit 1 unit

Hancur total, perlu bangunan baru Perlu direhap Hancur total, perlu bangunan baru Perlu direhab Perlu direhab Hancur total, perlu bangunan baru Hancur total, perlu bangunan baru Hancur total, perlu bangunan baru

4 5 6 7 8 9 10

11 12 13 14

Rusak 50 persen Rusak 50 persen Rusak 50 persen Rusak 50 persen

Sumber : Departemen Kehutanan

2.2.3 Kerusakan Ekosistem Hutan Mangrove Menurut Wetlands International-Indonesia Programme hingga tahun 2000 hutan mangrove yang kondisinya baik di Nanggroe Aceh Darussalam hanya seluas 30 ribu ha termasuk mangrove yang terdapat di pesisir P.Simeuleu. Hutan mangrove yang rusak mencapai 25 ribu ha dan hutan mangrove yang rusak sedang seluas 286 ribu ha.

32

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Table 4: Letak dan luas mangrove Letak pantai Pantai utara-timur Pantai Barat - Selatan Pulau-pulau Simeuleu Panjang grs pantai (km) 761 706 1000 Luas total mangrove (ha) 296,078 49,760 1,000

Sumber : Siaran Pers Dephut No.S.32/II/PIK-1/2004 dan Data Dephut 2001 dan WI-IP Luas hutan mangrove di NAD pada tahun 1996 menurut Departemen Kehutanan adalah seluas 54.300 Ha dengan areal dominan berada di Kabupaten Aceh Timur. Kondisi ekosistem mangrove yang berada di berbagai daerah kabupaten dalam wilayah Propinsi Aceh Nanggroe Darussalam dapat digolongkan menjadi a) rusak, b) rusak sedang dan c) rusak berat. Kerusakan hutan manggrove lebih disebabkan oleh perluasan areal tambak, pengambilan kayu mangrove untuk dijadikan arang dll, dan pengalihan untuk lahan pemukiman dll. Hingga saat ini belum terlihat adanya upaya dari pemerintah untuk melakukan perbaikan terhadap kerusakan dari ekosistem mangrove. Demikian pula hingga saat ini belum terdapat informasi kuantitatif pasti mengenai tingkat kerusakan ekosistem mangrove akibat Tsunami. Informasi hanya dapat diperoleh dari laporan penduduk dan relawan kemanusiaan yang sempat melihat kondisi lapangan serta intrepretasi terhadap foto-foto pesisir yang sempat terekam. Berdasarkan informasi tersebut dapat diperkiraan bahwa tingkat kerusakan mangrove adalah sbb:

33

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Table 5: Daerah dan tingkat kerusakan magrove Daerah Aceh Besar, Banda Aceh, Pidie Aceh Utara dan Bireun Aceh Barat, Tingkat kerusakan 100% 100% 75% 30% 50% Luas lahan manggrove yang rusak 26,823 ha < 500 ha 17,000 ha 26,000 ha 14,000 ha

Sumber : Wetlands International-Indonesia

Data kerusakan tersebut diatas mungkin lebih besar dari yang sebenarnya, karena dipastikan adanya kerusakan yang terjadi sebelum bencana tsunami. Mangrove termasuk jenis tanaman yang sulit mengatasi tantangan alam serta rentan terhadap pencemaran. Selain itu, mangrove termasuk tanaman yang tumbuhnya sangat lambat. Untuk mencapai ukuran yang relatif besar, Saat ini tanaman mangrove membutuhkan waktu kurang lebih 10 tahun. terdapat 6 juta hektar hutan mangrove di Indonesia dan 600.000 hektar diantaranya rusak parah. Kawasan terparah kerusakannya Daerahadalah di Pantai Utara Jawa serta Pantai Barat dan Timur NAD. yang lebih ringan.

daerah yang hutan mangrovenya terpelihara merasakan dampak tsunami Dengan demikian dipastikan bahwa kerusakan hutan mangrove di NAD telah terjadi sebelum terjadi bencana tsunami.

34

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Table 6: Luas Kawasan Mangrove Berdasarkan Kerusakannya sebelum Tsunami (2001)

Berdasarkan interpretasi citra satelit yang dikeluarkan WCMC, perkiraan wilayah mangrove lebih banyak tersebar di pantai timur NAD, dan hanya terdapat beberapa spot di wilayah barat dan pantai utara. Data satelit hanya mengindikasikan mangrove di wilayah pantai timur dan keberadaan spot mangrove di pantai Barat dan Utara NAD ditemukan melalui observasi langsung di lapangan. Hal ini sesuai dengan laporan UNEP dan World Bank untuk Bappenas. Diperkirakan total luasan mangrove di wilayah pantai timur dan beberapa spot di wilayah pantai barat dan utara lebih

35

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

kurang 150.000 Ha (laporan World Bank tidak menyebutkan jumlah luasan). Hampir bisa dipastikan hampir seluruh mangrove di wilayah pantai barat dan utara NAD dikategorikan rusak berat karena tsunami.

2.3 Inventaris Kerusakan dan Kerugian Sektor Pertanian 2.3.1 Kematian / Kehilangan SDM Dampak bencana alam gempa dan gelombang Tsunami juga telah mengakibatkan lumpuhnya fungsi pelayanan pemerintah dalam bidang pangan dan pertanian. Fungsi pelayanan pemerintah dalam bidang pangan dan pertanian di wilayah bencana mengalami kelumpuhan karena beberapa prasarana dan sarana kerja mengalami kerusakan serta beberapa aparatur Dinas di tingkat propinsi dan kabupaten meninggal dunia dan belum diketahui keberadaaanya, dan sebagian lagi mengalami trauma. Dari 1.083 orang pegawai lingkup pertanian, sebanyak 98 orang meninggal, 63 orang cidera, 97 orang belum diketahui, dan 213 orang kehilangan rumah/tempat tinggal. Dinas yang paling banyak kehilangan pegawainya karena meninggal dan belum diketahui adalah Dinas Pertanian dan Dinas Peternakan, yaitu masingmasing 35 orang dan 34 orang. Jumlah pegawai yang kehilangan rumah paling banyak terjadi pada Dinas Perkebunan dan Pertanian, yaitu masingmasing 106 orang dan 51 orang. Selain itu, beberapa pegawai di Dinas-dinas tersebut mengalami kehilangan anggota keluarganya. Seperti Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Besar kehilangan sebanyak 30 orang, dan keluarga dari para pegawai BPTPH sebanyak 45 orang.

2.3.2 Kerusakan Infrastruktur dan Sarana Pendukung Hasil assessment sementara menunjukkan bahwa gedung/kantor dan

36

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

saran kerja lingkup instansi pertanian di Banda Aceh yang mengalami rusak berat dan perlu rehabilitasi total atau pembangunan kembali sebanyak 5 buah, yang terdiri dari : (i) kantor Kimbun Dinas Perkebunan, (ii) Kantor Dinas Peternakan, (iii) Balai Karantina Tumbuhan dan Hewan di pelabuhan laut, (iv) kantor Badan Ketahanan Pangan, dan (v) Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura. Selain bangunan gedung yang rusak, juga sarana penting untuk menunjang fungsi pelayanan kantor tersebut mengalami kerusakan seperti sarana furniture, pengolahan data, peralatan laboratorium dan telekomunikasi. Selanjutnya gedung/kantor yang mengalami kerusakan ringan meliputi kantor Dinas Pertanian Propinsi, dan kantor Balai

Pengawasan Mutu dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPSBTPH) beserta perumahannya. Sedangkan untuk kantor Dinas

Pertanian di kabupaten Meulaboh Aceh Barat diduga kuat mengalami kerusakan total. Berdasarkan hasil assessment sementara oleh Departemen Pertanian, lahan sawah milik masyarakat yang mengalami kerusakan berat (puso) diperkirakan mencapai 23.330 Ha dan ladang 24.345 Ha. Lahan ladang yang mengalami puso sebagian besar biasanya digunakan untuk membudidayakan tanaman palawija dan hortikultura dan sedikit perkebunan kelapa. Tercatat 9 kabupaten/ kota yang terkena tsunami dan mengalami kerusakan lahan pertanian cukup besar yaitu di: di kabupaten Aceh Besar, Aceh Barat Daya, Aceh Jaya, Aceh Barat, Bireun, Piddie, Bireun. Sedangkan jumlah ternak yang mati atau hilang diperkirakan mencapai 1,9 juta ekor yang sebagian besar adalah ternak unggas, dan sisanya ternak ruminansia seperti sapi, kerbau, kambing/domba. Kerusakan pada lahan usaha tani tersebut terjadi juga kerusakan pada antara lain jaringan irigasi, bangunan irigasi, jaringan saluran di tingkat usaha tani, jalan usaha tani, pematang (sawah), terasering (lahan kering), serta bangunan petakan lahan usaha tani. Kerusakan pada lahan akibat gempa dan gelombang tsunami , menyebabkan masuknya air laut (salinitas) dan tebalnya sendimen, berdasarkan survey FAO

37

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

yang dilakukan pada tanggal 11-14 januari 2005 menyebabkan kerusakan berat di wilayah Aceh bagian barat dengan tingkat salinitas lahan mencapai lebih dari 1000 ppm atau sekitar 40 kali tingkat yang dapat ditoleransi oleh tanaman . Pengaruh air laut masuk kedaratan sampai ketinggian 20 meter diatas permukaan laut. Oleh karena itu upaya rehabilitasi di wilayah pantai barat membutuhkan waktu sekitar 5 tahun. Kerusakan di wilayah pantai timur relatif lebih ringan, dan membutuhkan waktu 1-2 th untuk merehabilitasi lahan. Prakiraan kehilangan produksi bidang pertanian : US $78.8 juta dan prakiraan kerusakan infrastruktur sebesar US$ 33.4 juta.
1

NO 1 2 3 4 5 6 7 8 14 15 16 17 18 19

Kabupaten dan Kota Sabang Banda Aceh Aceh Besar Pidis Bireun Aceh Utara Kota Lhokseumawe Aceh Timur Aceh Barat Nagan Raya Aceh Jaya Simelue Aceh Selatan Aceh Barat Daya

Kerusakan Lahan Pertanian Sawah (ha) 75 5,611 1,859 2,118 1,224 2,119 1,432 757 1,645 3,410 3,080 14,950 14,895 12,240 14,937 9,636 3,729 4,758 1,114 1,560 3,068 79 7,048 11,304 9,575 Kebun (pohon) 4,147 50 9,465 3,072 567 612 Ladang (ha)

Ternak Hilang (ekor) 32,061 332,505 500,000 238,301 153,961 74,460 27,292 251,962 137,765 156,280

38

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

20

Aceh Singkil Jumlah 23,330 102,461 24,345 1,904,587

Sumber : Tim Penanggulangan Bencana Nasional Departemen Pertanian

2.3.4 Inventarisasi Kerusakan dan Kerugian Sektor Perkebunan Lahan perkebunan yang mengalami kerusakan diperkirakan mencapai 56 - 102 ribu Ha (FAO, Departemen Pertanian) yang meliputi lahan perkebunan karet, kelapa, kelapa sawit, kopi, cengkeh, pala, pinang, coklat, nilam, dan jahe. Lahan perkebunan yang paling luas mengalami kerusakan adalah tanaman kelapa yang tumbuh di sepanjang pesisir. Sedangkan berdasarkan wilayah, lahan perkebunan yang paling banyak mengalami kerusakan berada di wilayah kabupaten Aceh Barat, Simeulue, Nagan Raya, dan Aceh Jaya. Belum ada data menganai prosentase dari kerusakan lahan perkebunan terhadap total lahan perkebunan yang ada di NAD 2.5 Inventarisasi Kerusakan dan Kerugian Sektor Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam 2.5.1 Kerugian dan Kerusakan Institusi Pengelola Lingkungan Hidup Tsunami juga mempengaruhi pengelolaan lingkungan hidup yang ada di daerah bencana. Data yang ada baru terkait dengan kerusakan di Banda Aceh. Data-data kerusakan terkait dengan institusi pengelolaan lingkungan hidup dapat dilihat di tabel berikut ini : Table 7: Kerusakan institusi pengelolaan lingkungan hidup di NAD Dampak No Lembaga 1. Bapelda Propinsi di Banda Aceh meninggal Kerusakan 7 org keterangan

39

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

2.

Bapeldada Kota Banda Aceh

5 org

3.

Laboratorium lingkungan

Gedung kantor dan seluruh peralatan mengalami kerusakan total Gedung dan seluruh peralatan leb hancur 1 bobil lab hancur 2 mbl operasional hancur Kerusakan pd kantor Peralatan kantor hancur 1 mobil operasional hancur/ hilang

4.

LSM Lingkungan

2 org

Status masih milik KLH karena belum diserahkan ke bapeldada Provinsi Direktur WALHI Aceh meninggal.

Sumber : KLH 2.5.2 Pencemaran Air Permukaan dan Air Tanah Secara umum gambaran awa pencemaran ir terjadi diidentifikasi karena : a. terlepasnya material limbah tangki penimbunan bahan-bahan yang dari bersifat limbah berbahaya dan beracun (B3) kontaminasi dari jenazah manusia dan bangkai hewan di badan air, serta b. larian air hujan yang terkontaminasi jenazah manusia dan bangkai hewan. c. kontaminasi air laut ke dalam air tanah d. genangan sisa air tsunami kontaminasi mikroorganisme pathogen dan infeksius dalam air tanah dan e. air sumur Pemantauan kualitas lingkungan telah dilaksanakan di Banda Aceh, dengan mengambil sampel air sumur, air tanah, air sungai, air laut (pesisir pantai), udara dan sedimen/lumpur, disertai dengan data pemetaan lokasi pengambilan sampel tersebut. Sampel diambil dari wilayah yang rusak karena dampak tsunami maupun wilayah yang tidak terkena banjir tsunami (sebagai kontrol).

40

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Parameter yang dipantau meliputi: a. Sampel air: pH, suhu, salinitas, oksigen terlarut (DO), DHL, warna, BOD, COD, TSS, NH3, PO4, NO3, NO2, As, Hg, Sulfida, Fenol, Cu, Cd, Total coliform, E.coli. b. Sampel udara: partikel (TSP), kebauan (NH3, H2S) c. Sampel sedimen/lumpur: pH, uji karakteristik dan logam berat (Pb, Cu, Cd, Mn, Zn, As, Hg) Hasil pengamatan terhadap kondisi air menunjukkan kondisi berwarna coklat sampai kehitaman, keruh, berbau. Kondisi kualitas udara pada kondisi terang hari cenderung berdebu. Lumpur menutup jalan, halaman kantor, rumah, dengan ketebalan bervariasi antara 18 cm – 80 cm. Hasil analisis laboratorium terhadap sampel air menunjukkan kecenderungan (pada mayoritas sampel) konsentrasi amoniak (NH3, 8 – 19 mg/l) melebihi baku mutu (1,5 mg/l). Konsentrasi Total coliform (74.105 – 107.106/100ml) dan E.coli (1.104 – 9.104/100 ml) jauh melebihi baku mutu (1000/100ml dan 100/100ml) (Lihat Gambar 3). Tingginya konsentrasi Total coliform terdapat pada sampel dari wilayah yang rusak maupun yang dari wilayah tidak rusak akibat tsunami. dengan (pembusukan). Tingginya tingkat kedua parameter tersebut diduga terkait limbah organik yang mengalami dekomposisi pencemaran

41

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Gambar 1: Peta sebaran Amoniak di Banda Aceh

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup, 2004 Gambar 2: Peta sebaran Ecoli di Banda Aceh

Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup

42

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

2.5.3 Pencemaran Limbah Padat Pemantauan kualitas lingkungan untuk pencemaran limbah padat telah dilaksanakan di Banda Aceh, dengan mengambil sampel sedimen/lumpur, disertai dengan data pemetaan lokasi pengambilan sampel tersebut. Sampel diambil dari wilayah yang rusak karena dampak tsunami maupun wilayah yang tidak terkena banjir tsunami (sebagai kontrol). Parameter yang dipantau meliputi: Sampel sedimen/lumpur: pH, uji karakteristik dan logam berat (Pb, Cu, Cd, Mn, Zn, As, Hg). Pencemaran limbah padat terjadi sebagai akibat dari : a. limbah puing-puing bangunan b. limbah benda-benda dan bahan milik masyarakat c. material laut d. bangkai hewan e. lumpur tsunami Pembersihan sampah secara besar-besaran telah dilakukan di Banda Aceh dan sekitarnya. Sampah yang tertumpuk tersebar dimana-mana terdiri dari berbagai jenis sampah seperti , puing-puing bangunan, plastik, besi-besi, balok dan akar kayu, pohon dan semak, kendaraan, barang-barang rumah tangga, sampai jenazah. Pembersihan dilakukan secara cepat , karena itu material sampah diletakkan di tepi jalan, di pinggir kota, di ruang-ruang terbuka sampai masuk 5 – 10 km masuk ke kota Banda Aceh. Pada umumya kerugian dari penumpukan sampah adalah : a. Tidak berfungsinya aliran air , drainase dan septic tank, sehingga terjadi pencemaran pada sumber-sumber air oleh air laut ,lumpur,E-coli dan limbah berbahaya. b. Banyak genangan air yang menjadi sarang nyamuk dan bibit penyakit.

43

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

c. Puing-puing bangunan masih banyak terlihat diletakkan di pantai, sehingga akan menghambat tahap rehabilitasi daerah tersebut. d. Limbah berbahaya seperti dari rumah sakit dibuang di tempat-tempat umum sehingga dapat menularkan berbagai penyakit. e. Pembakaran sampah di tempat-tempat tertentu dapat mengancam kesehatan masyarakat.Sampai sekarang belum ada tempat pembuangan sampah yang pasti,sehingga akan timbul ancaman penyakit-penyakit infeksi (epidemic) dan pencemaran yang meluas , apalagi dimusim hujan.

Pencemaran Udara Pemantauan kualitas lingkungan khususnya aspek pencemaran udara telah dilaksanakan di Banda Aceh, dengan mengambil sampel udara disertai dengan data pemetaan lokasi pengambilan sampel tersebut. Sampel diambil dari wilayah yang rusak karena dampak tsunami maupun wilayah yang tidak terkena banjir tsunami (sebagai kontrol). Parameter yang dipantau meliputi Sampel udara: partikel (TSP), kebauan (NH3, H2S) Hasil analisis sampel udara menunjukkan tingkat debu partikulat (615 ug/m3) di beberapa lokasi yang melebihi baku mutu (230 ug/m3). Pencemaran udara terjadi melalui : a. Bau, debu dan penyebaran mikroorganisme pathogen ke udara dari berbagai sumber antara lain kegiatan pembersihan dan pengangkutan material sisa tsunami b. c. d. e. Kerusakan ekosistem terumbu karang dan mangrove Kerusakan lahan pertanian, hutan, dan ekosistem daratan Kehilangan potensi lahan, khususnya pada lahan sekitar garis pantai Potensi kontaminasi limbah, berupa : limbah rumah sakit, laboratorium, dan industri dari dua depot Pertamina (di Banda Aceh dan Meulaboh) dan

44

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

pabrik PT. Semen Andalas Indonesia, serta sekitar 1.300 industri kecil dan menengah di Banda Aceh.

45

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

III. RONA LINGKUNGAN Keadaan lingkungan dan Sumber Daya Alam di Provinsi NAD pasca tsunami dapat di paparkan sebagai berikut: 3.1. 3.2. 3.3. Kawasan Pesisir dan Tambak Kawasan Pertanian Kawasan Pemukiman

IV. PENILAIAN KEBUTUHAN 4.1 Dasar Pemikiran Dalam rangka menyusun rencana rehabilitasi dan rekonstruksi lingkungan dan sumber daya alam, maka penilaian kebutuhannya sebaiknya haruslah disusun atas dasar 5 (lima) pertimbangan, yaitu: a. Mengembalikan kondisi lingkungan dan sumber daya alam kepada keadaan dimana fungsi lingkungan menjadi normal atau lebih baik lagi untuk pembangunan berkelanjutan. b. Mengelola dan melindungi lingkungan hidup dan sumber daya alam sedini mungkin (early pre-caution) guna mengantisipasi ancaman bencana alam di masa depan. c. Memenuhi kebutuhan masyarakat lokal dengan meningkatkan nilai tambah yang dapat diperoleh dari lingkungan dan sumber daya alamnya secara sinergis antara konsep, kebijakan, dan kebutuhan. d. e. Mengurangi dampak buruk yang ditimbulkan oleh semua kegiatan rehabilitasi dan rekontruksi masyarakat Aceh dan Nias (Sumut). Mengintegrasikan konsep lingkungan hidup dan sumber daya alam dengan pembangunan wilayah pantai, pertanian, kehutanan, perairan, dan udara secara utuh sebagai suatu sistem yang saling bergantungan

46

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

4.2. Masukan dan Rekomendasi Masyarakat Aceh Berdasarkan aspirasi masyarakat yang diperoleh dari hasil lokakarya yang makalahnya masing-masing dari Pokja II Bappenas, Kementerian Lingkungan Hidup, Working Group Aceh Recovery (IPB), IAGI, WALHI, lembaga donor (UNDP), Bappeda NAD dan Universitas Syiah Kuala, Tokoh Masyarakat (Kepala Desa Korban Tsunami), nara sumber serta masukan dari hasil diskusi yang berkembang selama Lokakarya berlangsung terutama dari tokoh masarakat, ulama, praktisi, cendekiawan, ilmuan, mahasiswa, lembaga sosial masyarakat dan pengusaha, pemerintah daerah tingkat I, pemerintah daerah tingkat II, berbagai organisasi nasional, dan internasional, serta undangan lainnya, maka hasil Lokakarya Pokja II Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam dapat disimpulkan, sebagai berikut : 1. Pembangunan kembali Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, bukan hanya difokuskan pada pembangunan sarana dan prasarana, tetapi juga membangun kembali lingkungan yang telah hancur menjadi lingkungan yang lestari guna mewujudkan “green province”, untuk melindungi kehidupan dan jaminan kesinambungan produktivitas masyarakat serta dunia usaha agar perekonomian dapat ditingkatkan. Pembangunan ini harus berorientasi kepada pembangunan nilai-nilai kemanusian dan sosial budaya 2. Akselerasi pembangunan lingkungan bagi masyarakat Aceh, diharapkan dapat terlaksana secara sinergis dan terpadu antara kebijakan, konsep, kondisi dan kebutuhan masyarakat, sehingga kerusakan lingkungan hidup dan sumberdaya alam pasca Tsunami dapat dikendalikan. 3. Penataan lingkungan pasca Tsunami bukan hanya melakukan penataan pembangunan lingkungan pada wilayah yang tersapu Tsunami, tetapi yang lebih penting adalah melakukan penataan lingkungan secara keseluruhan dalam wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Untuk itu selain

47

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

diperlukan mediasi antara masyarakat dengan pengambil kebijakan, juga dibutuhkan kegiatan sosialisasi penataan lingkungan yang terpadu. 4. Konsep pembangunan berwawasan lingkungan bukan hanya dilakukan untuk kawasan pesisir pantai yang terkena tsunami tetapi harus merupakan satu kesatuan dengan kawasan yang terdapat di wilayah pertanian, perkebunan dan kehutanan serta tidak mengganggu fungsi lahan dan kawasan yang telah ada melalui konsep “agro-ecopolitan”. 5. Untuk memperbaiki ekosistem pantai, perlu adanya “buffer zone” berupa tanaman pantai, seperti mangrove, cemara pantai, ketapang, kelapa, waru, pandan dan lain-lain, yang dapat berfungsi sebagai pemicu perkembangan ekosistem baru, perikanan pantai dan dapat mendukung perekonomian masyarakat pesisir, disamping juga sebagai peredam energi gelombang tsunami. 6. Usaha rehabilitasi mangrove dan tanaman pantai lainnya haruslah mempunyai manfaat ganda dengan melibatkan masyarakat baik pada pembibitan maupun penanamannya. 7. Rehabilitasi ekosistem pesisir termasuk terumbu karang dan habitat yang terancam lainnya harus dilakukan sedini mungkin agar kelangsungan kehidupan biota laut dapat terlindungi. 8. Perbaikan kembali permukiman nelayan perlu mempertimbangkan keamanan lingkungan dan bila penempatan ke lokasi semula tidak

memungkinkan, maka relokasi harus dilakukan atas dasar kesepakatan dengan para nelayan dan panglima laot, sehingga tidak meminimalisir peluang nelayan untuk meneruskan profesinya. Untuk itu perlu adanya percontohan desa nelayan yang ramah lingkungan. 9. Rehabilitasi wilayah pantai yang rusak akibat tsunami harus segera dilakukan terutama untuk memperbaiki akses dari dan ke laut bagi para nelayan dengan melakukan pengerukan kuala/muara yang menyempit dan

48

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

dangkal, serta pembersihan pantai dan tambak dari sampah serta material buangan. 10. Masalah utama dibidang lingkungan dan sumberdaya alam yang memerlukan penanganan segera pasca Tsunami adalah sampah Tsunami dan Domestik, persediaan sumber air bersih dan sanitasi, kerusakan ekosistem, dampak pembangunan konstruksi terhadap lingkungan dan sumberdaya alam serta keterbatasan sarana dan sumberdaya manusia. 11. Sampah tsunami yang relatif cukup banyak perlu ditangani dengan baik melalui pengurangan volume dengan cara daur ulang, pemanfaatan dan penggunaan kembali material yang masih baik, serta pemilahan menjadi material pengolahan lainnya. 12. Sampah tsunami yang terlanjur dibuang pada lahan masyarakat seperti sawah, tambak, pantai dan tanah rumah harus segera diselesaikan secara arif sehingga tidak menimbulkan sengketa dikemudian hari, dan perlu segera dilakukan suvey lebih lanjut untuk mencari tempat pembuangan akhir (TPA) sampah tsunami dan sampah domestik yang ramah lingkungan. 13. Selain penempatan TPA perlu dipertimbangkan pula kelengkapan Instalasi Pengolah Limbah Tinja (IPLT) , Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL) dan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) serta Insinerator bagi limbah rumah sakit. 14. Penanganan dan pembersihan sampah tsunami mengakibatkan sejumlah saluran pembuangan tersumbat, sehingga sistim drainase kota dan pemukiman penduduk tidak berjalan dengan baik. Oleh karena itu perlu penanggulangan segera, baik pembersihan, maupun pemeliharaan atau perbaikan sistem, agar tidak memicu bahaya banjir dan menimbulkan berbagai penyakit pada masyarakat di sekitarnya. 15. Pencemaran air, udara dan tanah pasca Tsunami di beberapa wilayah telah menimbulkan pencemaran diatas baku mutu, sehingga perlu dilakukan

49

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

penelitian lebih lanjut agar hasilnya dapat segera diinformasikan secara akurat kepada masyarakat untuk menghindari dampak yang dapat ditimbulkannya. 16. Perlu dilakukan penelitian dan inventarisasi data tentang tingkat dan jenis bahan yang mencemari air dan tanah serta tingkat kedalaman air tanah yang layak dikonsumsi untuk dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam penanganan selanjutnya. 17. Penyediaan peta dasar lingkungan untuk penyusunan status lingkungan dan Neraca Kualitas Lingkungan Daerah perlu dilakukan sekaligus sebagai bahan data dan informasi bagi semua pihak yang memerlukannya. 18. Pencemaran yang terjadi pada sumber air bersih yang dikonsumsi dari sumur-sumur masyarakat perlu segera diatasi melalui “water treatment “ atau upaya lainnya. 19. Pencemaran yang terjadi terhadap lahan pertanian/tambak yang digunakan untuk kepentingan ekonomis oleh masyarakat perlu dilakukan “clean up” agar fungsinya dapat digunakan kembali. 20. Pemulihan lingkungan dan sumberdaya alam kedepan harus memperhatikan pula peningkatan kapasitas kelembagaan (Capacity Building). Kegiatan yang perlu dilakukan adalah perbaikan tempat kerja dan sarananya, rehabilitasi laboratorium dan kelengkapan penelitian, pelatihan, pendataan dan penyediaan informasi termasuk melakukan meningkatkan kepedulian masyarakat. 21. Perlu adanya pelestarian sumber-sumber keanekaragaman hayati, khususnya keanekaragaman hayati kawasan pantai dan terumbu karang baik secara in vivo di ekosistemnya yang alami, maupun in vitro di laboratorium yang lebih efisien dan mudah. 22. Untuk memperoleh hasil yang optimal dalam mengimplementasikan kegiatan perlu dilakukan pengawasan dan pengendalian secara berkala dan sosialisasi program serta

50

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

berkesinambungan agar upaya penanggulangan pencemaran lingkungan hidup dan sumber daya alam dapat terwujud dengan baik. 23. Pembangunan sumberdaya alam dan lingkungan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan merupakan kebijakan pemerintah yang harus dilaksanakan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dalam upaya mewujudkan pelestarian lingkungan bagi generasi mendatang. 24. Masyarakat segera ingin kembali ke desa asal dengan membangun perumahan yang baru serta mendapatkan modal usaha pada matapencaharian yang sama dengan sebelumnya 25. Masyarakat sangat mendambakan adanya sitem sanitasi lingkungan yang bersih dan tertata rapi 26. Masyarakat sangat mengharapkan adanya sistem penyediaan air bersih yang terjamin. 27. Masyarakat memahami fungsi mangrove dan mengharapkan wilayah sekitar mareka segera dibangun buffer zone, tetapi dengan menghormati hak-hak adat masyarakat setempat. 28. Partisipasi masyarakat sangat antusias untuk ikut serta dalam proses rehabilitasi dan rekontruksi. 29. Keberlanjutan pengelolaan kawasan pantai sangat tergantung kepada peran masyarakat yang berdasarkan kepada sosial budayanya. Hasil suvey yang dilakukan dibeberapa lokasi bencana beberapa waktu lalu menunjukkan bahwa masyarakat Aceh mengharapkan kepada pemerintah dalam hal-hal sebagai berikut:

51

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30

Harapan msyarakat Modal usaha Perumahan Peralatan nelayan Pengadaan ternak Pengadaan bibit tanaman Pengadaan perahu Mesin jahit Pembuatan tambak Bantuan pakaian dan alat masak Pemberian Sembako Penanaman hutan bakau Pemberian kredit Penataan ulang lingkungan desa Perbaikan ekonomi rakyat Air bersih Peralatan tani Pembangunan sekolah/pasantren Biaya sekolah Tempat usaha/toko Pembuatan tanggul di tepi sungai Perbaikan jalan Peralatan berdagang (timbangan dll) Listrik yang stabil Fasilitas MCK Membuka lapangan kerja Pembuatan dapur bata dan garam Sumur bor Alat pertukangan Pembangunan Tempat Pendaratan Ikan Pemecah ombak

Persentase (%) 23.46 23.17 7.33 4.40 4.11 4.40 3.81 3.52 3.52 3.23 2.64 1.47 1.18 1.18 0.88 0.88 0.88 0.88 0.88 0.88 0.59 0.59 0.29 0.29 0.29 0.29 0.29 0.29 0.29 0.29

Catatan: survei dilakukan di Aceh Besar, Pidie, Bireun, Aceh Utara, dan Banda Aceh dari tanggal 27 Februari s/d 7 Maret 2005 oleh Tim Pokja II Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Unsyiah dengan jumlah sampel 180 orang dengan karakteristik 78% tinggal di wilayah pantai, 17% persen kawasan pertanian, 5% di kawasan lain (rawa-rawa, semak/hutan).

52

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

4.3. Sektor Lingkungan dan Sumber Daya Alam Rapid environment assesment yang disusun oleh KLH mengidentifikasi akar masalah dan kegiatan yang sedang berlangsung dilapangan. Dengan table dibawah ini disusun sebab dan implikasi serta rekomendasi terhadap isu lingkungan tertentu. a. Air tanah b. Persampahan Ada 2 akar penyebab pencemaran (biologis, kimiawi), sebagai akibat dari sampah tsunami, yaitu: a) Barang hancur dalam jumlah yang besar dan tersebar pada area yang luas b) terlalu cepatnya operasi pembersihan limbah dari satu lokasi ke lokasi yang lain (termasuk ada yang dibuang kesungai atau laut). Salah satu rekomendasi adalah pembuatan pengolahan sampah akhir (TPA) yang fixed (tidak berpindah-pindah) untuk jangka waktu yang lama (minimal 30 tahun) dan hal tsb ditetapkan dalam rencana tata ruang, dimana penentuan lokasinya harus berdasarkan studi kelayakan yang dilakukan dengan mengacu pada standar SNI, dan mempertimbangkan aspek kerentanan kawasan terhadap bencana. Diusulkan untuk menggunakan teknologi sanitary landfill (bukan open dumping), tempat pengolahannya selain fixed juga bersifat dapat diguna ulang (reusable) dan proses pengolahannya menggunakan pendekatan 3R (reduce, reuse, recycle). Selanjutnya analisa sebab dan implikasi serta rekomendasi dalam aspek persampahan secara singkat dapat dilihat di tabel berikut ini

c. Pengolahan Limbah Cair Perlu direncanakan lokasi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Terpadu untuk limbah cair domestik dan rumah sakit skala kota yang fixed dan sesuai dengan standar, yang didukung oleh jaringan saluran air limbah yang melayani seoptimal

53

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

mungkin pemukiman yang ada. Pembangunan IPAL Terpadu tersebut juga harus didukung oleh disain sistem proses dan teknologi pengolahan air limbah yang sesuai standard. ( sumber BPPT)

d. Pengadaan Kayu Rehabilitasi dan rekonstruksi seluruh NAD diperkirakan membutuhkan bahan baku kayu dalam jumlah besar. Penilaian kebutuhan awal yang dilakukan Greenomics dan WWF Indonesia menyebutkan jumlah kebutuhan kayu untuk barak penampungan, perumahan sederhana (panggung dan tidak panggung), perkantoran, rumah sakit, sekolah, rumah ibadah, dan kapal penangkap ikan mencapai 1,6 juta – 3,2 juta meter kayu gergajian atau setara dengan 4-8 juta meter kayu bulat.
3 3

Bila disasumsikan rehabilitasi dan rekonstruksi tersebut

dilakukan dalam waktu 5 tahun, maka kebutuhan rata-rata per tahun kayu bulat adalah antara 814,5 – 1,58 juta meter. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, perlu adanya sumber kayu dalam negeri, sehingga tidak menganggu keberadaan hutan lindung dan daerah konservasi. Beberapa sumber yang tersedia adalah : a) kayu sitaan/temuan, b) sumbangan propinsi sekitar, c) hasil landclearing, dan d) pelepasan hutan.

54

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

V. PERTIMBANGAN KELAYAKAN LINGKUNGAN2 5.1 Pertimbangan-pertimbangan lingkungan yang mendasar

a. Pertimbangan lingkungan yang terintegrasi untuk rekonstruksi berkelanjutan Permasalahan lingkungan sebaiknya harus dipertimbangkan dalam semua rencana dan pelaksanaan rekonstruksi sektoral. Mengikuti peraturan EIA Indonesia, diterapkan dengan cara-cara yang tepat dengan demikian rencana rekonstruksi proyek tidak akan mengalami penundaan dalam implementasinya. b. Tata Ruang yang ramah lingkungan dan tahan bencana alam Prinsip-prinsip dan strategi dari Tata Ruang dikembangkan menjadi proyek rekonstruksi sektoral. Setelah proyek rekonstruksi disusun tidak mudah untuk merubah land use yang telah ditentukan. Selama merencanakan Tata Ruang perlu menjadikan isu-isu seperti implikasi lingkungan dan ketahanan terhadap bencana alam/gempa pertimbangan dalam perencanaannya. c. Perencanaan perumahan dan permukiman yang berwawasan lingkungan. Lamanya penggunaan perumahan dan permukiman sementara, tergantung pada proses rekonstruksi itu sendiri. Pemilihan lokasi untuk perumahan dan permukiman sementara perlu mempertimbangkan potensi implikasi lingkungan dalam waktu yang lama. d. Peran- serta membangun kembali lingkungan hidup. Kebutuhan komunitas dan organisasi masyarakat sipil menjadi dasar untuk memastikan supaya isuisu lingkungan menjadi pertimbangan dalam proses rekonstruksi, sehingga dapat memastikan keberlanjutannya dalam jangka panjang. e. Restorasi berdasarkan pada ekosistem. Kerusakan lingkungan dapat mengembangkan potensi diperbaiki. Sedapat mungkin restorasi dapat
2

Dikutip sesuai dengan makalah yang disampaikan oleh POKJA II Bapenas, dalam Lokakarya Penjaringan Aspirasi Masyarakat, tanggal 4 Maret di Banda Aceh.

55

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

pemulihan ekosistem dan cara bagaimana ekosistem dapat menciptakan mata pencaharian bagi penduduk setempat. f. Penilaian disebabkan lingkungan oleh yang komprehensif alam. Suatu terhadap penilaian kerusakan lingkungan yang yang bencana

komprehensif ttg kerusakan yg disebabkan oleh bencana alam ,perlu menjadi tindak-lanjut dari penilaian awal saat ini. Upaya penilaian ini dapat dilakukan dengan cara mengembangkan kapasitas nasional dan lokal melalui penilaian. Selanjutnya kapasitas monitoring lingkungan dapat dikembangkan untuk memonitor faktor-faktor lingkungan untuk mengurangi dampak bencana alam dan persiapannya. g. Membentuk kelembagaan yg effektif pada tingkat nasional, propinsi dan kabupaten. Dalam pembetukkan kembali struktur kelembagaan dalam pengelolaan lingkungan suatu struktur ,dengan akuntabilitas yang effektif dan tanggung jawab yang jelas, hendaknya dirumuskan pada tingkat nasional, propinsi dan kabupaten

5.2 Pengertian dan Kriteria Kawasan Table 6: Pengertian Dan Kriteria Kawasan Pengertian Kawasan Hutan Lindung adalah hutan yang memiliki sifat khas dan mampu memberikan perlindungan bagi kawasan sekitarnya maupun kawasan bawahnya sebagai pengaturan tata air, pencegahan banjir dan Kriteria Kawasan Harus memenuhi salah satu dan atau lebih kriteria berikut. -Kelerengan rata-rata > 45 -Ketinggian di atas 2000 m dpl -Jenis tanah yang rentan terhadap erosi dengan nilai 5 (tanah regosol, litosol, organosol, dan rezina) dan lereng 15 % -

56

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

erosi, serta pemeliharaan tanah

Kawasan memiliki skor > 175 menurut SK Menteri Pertanian No. 837/Um/11/1980 Guna keperluan khusus ditentukan oleh Menteri Kehutanan.

Kawasan Pertanian Tanaman Pangan Lahan Basah : kawasan yang diperuntukkan bagi pertanian tanaman pangan lahan basah di mana pengairannya dapat diperoleh secara alami atau teknis.

Kawasan yang sesuai untuk pertanian tanaman pangan lahan basah : Mempunyai sistem dan atau Pengembangan Perairan yang meliputi : -Ketinggian < 1000 m. - Kelerengan < 40 -Kedalaman efektif lapisan tanah > 30 cm Curah hutan antara 1500-4000 mm per tahunan

Kawasan Tertanian Tanaman Pangan Lahan Kering : kawasan yang diperuntukkan bagi pertanian tanaman pangan lahan kering, seperti palawija, holtikultura atau tanaman pangan lainnya.

Kriteria Kawasan Yang Sesuai Untuk Pertanian Tanaman Pangan Lahan Kering : tidak mempunyai sistem dan atau Pengembangan Perairan yang meliputi: Ketinggian < 1000 m - Kelerengan < 40 -Kedalaman efektif lapisan tanah > 30 cm Curah hutan antara 1500-4000 mm per tahunan

Kawasan Perikanan : kawasan yang diperuntukkan bagi budidaya perikanan, baik berupa pertambakan (kolam) atau perikanan darat lainnya dan perikanan laut.

Kawasan yang sesuai untuk perikanan secara fisik ditentukan oleh faktor utama adalah - Kelerengan < 8 - Persediaan air cukup

57

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Kawasan Permukiman : kawasan diperuntukkan bagi permukiman baik kota maupun desa.

Kawasan yang sesuai untuk kawasan permukiman -Kesesuaian lahan dengan masukan teknologi yang ada -Ketersediaan air terjamin -Lokasi yang terkait dengan kawasan hunian yang telah ada -Tidak terletak di kawasan lindung, kawasan pertanian lahan basah, kawasan hutan produksi tetap dan kawasan hutan produksi terbatas.

Kawasan industri : kawasan yang diperuntukkan bagi industri berupa tempat pemusatan industri dan atau unit kegiatan industri.

Kawasan industri yang sesuai adalah Kawasan memenuhi persyaratan industri Tersedia sumber air baku cukup -Adanya sistem pembuangan limbah yang baik -Tidak menimbulkan dampak sosial negatif yang berat -Tidak terletak di kawasan pertanian pangan lahan basah yang teririgasi dan yang berpotensi bagi pengembangan irigasi - Tidak terletak di kawasan berfungsi lindung dan hutan produksi tetap maupun hutan produksi terbatas

58

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Kawasan Pertambangan : Kawasan yang diperuntukkan bagi pertambangan, baik wilayah yang sedang maupun yang akan segera dilakukan kegiatan pertambangan.

Kawasan pertambangan yang sesuai adalah -Tersedianya bahan baku yang cukup dan bernilai tinggi -Adanya sistem pembuangan limbah yang baik -Tidak menimbulkan dampak sosial negatif yang berat -Tidak terletak di kawasan pertanian pangan lahan basah yang teririgasi dan yang berpotensi bagi pengembangan ingasi -Kriteria rinci ditentukan oleh Dept. Pertambangan

Kawasan pariwisata : Kawasan yang dikembangkan untuk kegiatan pariwisata.

Kawasan yang sesuai bagi kegiatan pariwisata adalah -Keindahan alam dan panorama alam yang indah dan diminati wisatawan(wisata alam) -Masyarakat dengan kebudayaan yang bernilai tinggi -Bangunan peninggalan sejarah / budaya yang memiliki nilai sejarah/budaya tinggi

Kawasan Pantai Berhutan Bakau : Kawasan pesisir laut yang merupakan habitat alami bakau (mangrove) yang memberi perlindungan kehidupan pantai dan lautan

Kawasan minimal 130 kali rata-rata tunggang air pasang tertinggi tahunan diukur dari garis air surut terendah ke arah darat.

59

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Untuk buffer zone yang akan Tipe vegetasi hutan pantai yang dapat digunakan dikembangkan, khususnya untuk antara lain adalah: bakau-bakauan, tancang wilayah coastal forest buffer zone, (Broguiera spp.), dan ketapang. Pada daerah berpasir sepanjang garis pantai dapat digunakan tumbuhan antara lain: cemara laut (Casuarina equasitifolia), waru laut (Hibiscus tiliaceus) dan pandan (Pandanus spp.). Untuk zoning code, perlu dilakukan pembatasan alih fungsi lahan pada daerah buffer zone, misalnya setidaknya 60% dari kawasan buffer zone sama sekali tidak boleh dialihfungsikan.

5.3 Prinsip Dasar Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD dan Sumut 5.3.1 Membangun kembali NAD dan Sumut secara berkelanjutan. a. Penataan ruang yang mempertimbangkan factor-faktor geological hazard dan sosiocultural; (i) Indonesia berada di wilayah rawan bencana, baik tektonik maupun vulkanik; (ii) Nilai kearifan lokal dan nilai agama harus mewarnai penataan ruang

60

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

(iii) Keterikatan masyarakat setempat terhadap sejarah dan tanah NAD dan SUMUT menjadi pertimbangan dalam penataan ruang. b. Pembangunan kembali prasarana dan sarana perdesaan, perkotaan dan regional tidak mengganggu wilayah/ kawasan dengan fungsi lindung; c. Konversi lahan khususnya wilayah pertanian dan perikanan sedapat mungkin tidak di lakukan, kecuali dengan selalu mempertimbang-kan unsur kapasitas teknologi dan aspirasi masyarakat setempat; d. Dalam penyusunan perencanaan tata ruang kota harus mengalokasikan ruang terbuka hijau dengan selalu mempertimbangan aspirasi masyarakat setempat e. Pemantauan kualitas udara dan variabilitas iklim di daerah yang terkena bencana harus dilakukan secara kontinu sebagai bagian integral dari upaya penataan ruang 5.3.2 Mengembalikan dan memulihkan kapasitas lingkungan Mengembalikan dan memulihkan kapasitas lingkungan pada keadaan yang layak dengan memperhatikan daya dukung lingkungan yang optimal dalam meminimalisasikan dampak bencana alam (natural disaster) maupun bencana yang disebabkan perilaku manusia (man-made disaster); a. Pengembangan daerah penyangga hijau (green belt area) di wilayah pesisir dengan memperhatikan aspirasi masyarakat setempat: (i)Pengembangan vegetasi perintis (formasi baringtonia dan rescaprae) sebagai formasi awal ekosistem baru (ii) Rehabilitasi terumbu karang (coral reef) di pantai barat (mayoritas) dan hutan bakau atau mangrove di pantai timur b. Air permukaan, Air Tanah dan Air Laut (i) Pengembangan permukiman dan wilayah berbasis kegiatan ekonomi harus membuat system pengolahan limbah baik individual atau pun komunal

61

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

(ii) Dalam fase rehabilitasi, Pengeboran air tanah dilakukan lebih dari 25 meter c. Upaya pembersihan Lumpur, sampah dan puing dilaksankan melalui pengelolaan (pengumpulan, pembuangan, dan pengolahan) yang memperhatikan dampak terhadap kesehatan serta fungsi ekologis termasuk upaya daur ulang. d. Penanganan limbah B3 menjadi prioritas utama, dengan didahului oleh identifikasi dan perkiraan tumpahan, baik jenis maupun kuantitas, yang terpaparkan ke dalam ekosistem. Hal tersebut dilakukan dengan mengacu kepada peraturan pemerintah yang mengatur pengelolaan B3. e. Penetapan garis sepadan pantai yang aman terhadap bencana alam untuk pemanfaatan kegiatan ekonomi; 5.3.3 Membangun kesadaran masyarakat Membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan lingkungan dan kesiapan dalam mengantisipasi kejadian bencana alam: a. Early warning system di NAD dan SUMUT yang akan dibangun harus terintegrasi dengan early warning system pada tingkat nasional dan regional; b. Pemanfaatan nilai kearifan local sebagai bagian yang melengkapi sistem peringatan dini; c. Standar, operasi dan prosedur (SOP) untuk respon darurat bencana alam harus dikembangkan di NAD dan Sumut serta menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan rencana tata ruang; d. Pengetahuan umum tentang bencana alam dan SOP bagi respon darurat bencana alam menjadi bagian dari kurikulum pendidikan dasar dan menengah; 5.3.4 Memulihkan kembali kelembagaan SDM dan LH Memulihkan kembali kelembagaan SDM dan LH pengelolaan sumber daya alam

62

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

dan lingkungan hidup di daerah; a. Melengkapi dan mengisi kembali formasi pegawai (tenaga ahli dan tenaga pendukung) agar lembaga pengelola sumber daya alam dan lingkungan hidup berfungsi kembali; b. Memulihkan sarana dan prasarana kantor pengelola sumber daya alam dan lingkungan daerah agar segera dapat beroperasi kembali; 5.3.5 Prinsip Dasar dalam Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh Prinsip utama merefleksikan kepedulian yang disampaikan Pemerintah Indonesia kepada masyarakat internasional selama rapat awal laporan ini. Kesemuanya juga sesuai dengan pelajaran yang didapat dari pengalaman intenasional terhadap bencana alam dan emergensi lingkungan. a. Rehabilitasi dan rekonstruksi lingkungan haruslah dipusatkan pada kemanusiaan dengann keterlibatan alam: Titik tolak manajemen lingkungan yang benar haruslah berangkat dari kepentingan untuk melibatkan dan mengikutsertakan penduduk setempat. b. Fokus pada yang papa: Penting sekali untuk memfokuskan upaya ini pada segmen masyarakat termiskin, sering timbul kesulitan besar ketika mereka harus menghadapi penyesuaian terhadap perubahan keadaan lingkungan dan kebiasaannya. Karena itu pekerjaan dan pengaturan pendapatan mereka menjadi hal penting dalam program merehabilitasi dan merekonstruksi lingkungan. c. Membangun kembali kelembagaan yang bertanggung jawab terhadap manajemen lingkungan: upaya untuk rehabilitasi dan rekonstruksi harus fokus tidak saja pada proyek tertentu, tetapi juga pada pembangunan kembali pelayanan dan kelembagaan (publik, swasta maupun sipil) yang dapat mewujudkan layanan dan manajemen lingkungan yang baik.

63

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

d. Ekologi Umum meliputi sekitar program rekonstruksi: isu lingkungan pada umumnya cross-cutting terhadap alam, sehingga sangatlah penting untuk memastikan konsistensi serta efektifitas sekitar program sektoral. e. Transparansi Fiskal: keterlibatan monitoring yang efektif harus menjadi bagian yang tidak terlepas dari desain proyek apapun. 5.4 Pertimbangan Kelayakan Lingkungan dalam Pengembangan Kawasan Pesisir sebagai Kawasan Penyangga (Buffer Zone)
1 2

Dalam pengembangan penataan ruang NAD maka kawasan pesisir akan diposisikan sebagai kawasan penyangga yang memiliki peran yang sangat penting dalam mengurangi dampak kerusakan dan jumlah korban manusia akibat bencana, khususnya bencana gempa dan tsunami. Pengembangan kawasan penyangga di kawasan pesisir dilakukan melalui penetapan penggunaan lahan yang didominasi oleh : a. Ekosistem mangrove b. Tanaman pantai c. Perikanan/ Tambak Mengingat bahwa kawasan peisir di Prop. NAD memiliki tipologi yang beragam, mulai dari bertipologi berawa, berlumpur, bermeander, pedataran aluvial, berpasir, berbatu dan bergunung, dan setiap tipologi pantai tersebut mengalami tingkat kerusakan akibat gelombang tsunami yang berbeda-beda pula, maka penataan zona pantai dan zona perikanan / tambak harus berdasarkan pada analisa kesesuaian lahan yang memasukkan faktor tipologi pantai, gelombang, dan kondisi bathymetri. Dalam rangka rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana tsunami maka perlu dinamika

64

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

dilakukan terlebih dahulu penyusunan Rencana Tata Ruang Kawasan Pesisir Laut dan Pulau-Pulau Kecil, dengan mengacu pada pertimbangan eko sistem lingkungan dan ancaman tsunami. Pertimbangan tingkat kerawanan tsunami, yakni kawasan rawan bahaya limpasan tsunami pada pesisir, baik yang berbentuk terbuka maupun teluk. a. Pada kawasan pesisir berbentuk terbuka dng topografi landai diindikasi sbb : (i) Pada kawasan yang mempunyai hutan mangrove (dengan ketebalan lebih kurang 400m), maka kawasan bahaya hanya kurang lebih 400m. (ii) Pada kawasan tanaman keras tanpa hutan mangrove, maka kawasan bahaya dapat mencapai minimal 200m. (iii) Pada kawasan semak belukar, tanpa mangrove dan tanaman keras, maka kawasan bahaya dapat mencapai minimal 3,5 km. b. Pada kawasan pesisir berbentuk teluk dengan topografi landai diindikasi sbb : (i) (ii) Pada kawasan yang memiliki hutan mangrove (dng ketebalan 400m), maka kawasan bahaya hanya 1000m Pada kawasan tanaman keras, bangunan gedung tanpa hutan mangrove, maka kawasan bahaya dapat mencapai minimal 3500m. (iii) Pada kawasan semak belukar, tanpa mangrove dan tanaman keras, maka kawasan bahaya dapat mencapai 550meter. Belajar dari kasus tsunami di Banda Aceh dan Simeuleu, diperoleh fakta-fakta berikut : a. Gelombang tsunami akan semakin jauh ke daratan jika tipe pantai teluk. Pada pantai terbuka dampaknya lebih kecil. (Aceh merupakan pantai teluk, sedangkan Simeuleu merupakan pantai terbuka). b. Gelombang tsunami akan semakin jauh ke daratan jika tipe pantai datar. Hal sebaliknya pada pantai curam. (Aceh merupakan pantai datar, sedangkan

65

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Simeuleu merupakan pantai berbukit). c. Gelombang tsunami akan semakin jauh ke daratan jika kondisi pesisirnya miskin mangrove. Hal sebaliknya pada wilayah pesisir dengan mangrove intensif. (Ketebalan mangrove sekitar 1200 m dapat mengurangi gelombang tsunami sekitar 2 km). d. Gelombang tsunami semakin pendek ke daratan pesisir pada lahan pesisir dengan kebun ekstensif dan massa bangunan bertingkat yang memnuhi persyaratan teknis bencana. Hal sebaliknya akan terjadi. (Massa bangunan di kawasan perdagangan, perhotelan dan kantor-kantor pemerintahan dapat bertahan dari kehancuran dibanding massa bangunan di kawasan perumahan.
2

5.4.2 Pertimbangan penetapan zonasi kawasan pesisir

Penentuan zona pemanfaatan di wilayah pesisir rawan tsunami dilakukan dengan mempertimbangkan zona konservasi, zona penyangga dan zona pemanfaatannya. Adapun pertimbangan yang perlu dilakukan dalam upaya menata ruang kawasan pesisir di daerah rawan tsunami adalah;

a. Seberapa jauh batas minimal zona konservasi pada kawasan pesisir rawan tsunami. b. Seberapa jauh batas minimal zona penyangga pada kawasan pesisir rawan tsunami. c. Bagaimana menentukan pola dan struktur tata ruang pada kawasan pesisir rawan tsunami dengan meminimasi kemungkinan bahayanya. Berdasarkan pertimbangan di atas, pola pemanfaatan ruang kawasan pesisir rawan tsunami diklasifikasi menjadi 3 zona, yang meliputi; a. Zona I, yaitu zona konservasi kawasan pesisir rawan tsunami.

66

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

(i) Fungsi kegiatan langsung berhubungan dengan laut atau ekosistem pesisir dan laut, contoh : hutan mangrove, pertambakan, prasarana kelautan dan perikanan. (ii) Kegiatan tidak menciptakan munculnya perkembangan penduduk secara besar-besaran, contoh : tempat latihan militer, pos keamanan, jalan dan perkebunan. (iii) Kegiatan tidak berperanan berperanan vital bagi wilayah yang lebih luas, artinya jika terjadi kehancuran akan menyebabkan kelumpuhan total. Misalnya tidak menempatkan fasilitas ; kelistrikan, telekomunikasi, pemerintahan, keuangan, logistik, dan lain-lain. b. Zona II, yaitu zona penyangga kawasan pesisir rawan tsunami. (i) Fungsi kegiatan tidak langsung berhubungan dengan laut tetapi berkaitan dengan produksi hasil laut dan perikanan, contoh : permukiman nelayan, industri hasil perikanan, wisata bahari. (ii) Kegiatan tidak menciptakan munculnya perkembangan penduduk secara besar-besaran dalam 24 jam, contoh : perkebunan, perhotelan, pasar iakan, fasilitas lingkungan. (iii) Kegiatan tidak berperanan vital bagi wilayah yang lebih luas, artinya jika terjadi kehancuran akan menyebabkan kelumpuhan total. Misalnya tidak menempatkan fasilitas ; kelistrikan, telekomunikasi, pemerintahan, keuangan, logistik, dan lain-lain. c. Zona III, yaitu zona bebas bahaya tsunami. (i) Fungsi kegiatan tidak langsung berhubungan dengan laut. Contoh : perkotaan, perindustrian, pemerintahan, perdagangan dan jasa. (ii) Kegiatan menciptakan munculnya perkembangan penduduk perkotaan, contoh : fasilitas pendidikan, perdagangan dan jasa. (iii) Kegiatan berperanan vital bagi wilayah yang lebih luas, contoh ; kelistrikan, telekomunikasi, pemerintahan, keuangan, logistik, dan lain-

67

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

lain.

5.4.4 Kriteria Penataan Kawasan Pesisir sebagai Buffer Zone (usulan BPPT) a. Berdasarkan hasil ekspedisi Tim KMNRT BPPT ke Propinsi NAD pada tanggal 16 Januari – 4 Februari 2005, diperoleh masukkan bahwa kerusakan pada zona dengan pengaruh energi gelombang yang besar terjadi lebih parah pada kawasan dengan jalur mangrove (lebar + 250 m), sedangkan kawasan dengan jalur kelapa yang rapat (lebar 100-200 m) mengalami kerusakan yang lebih ringan. Contoh: Jalur kelapa dan kelapa sawit yang rapat mampu melindungi kawasan di belakangnya sejauh 0,5-1 km dari garis pantai. Hal ini menunjukkan bahwa dengan potensi gempa hingga 9 Skala Richter, fungsi buffer zone tidak akan optimal bila tanaman maupun bangunan pelindung pantai yang dibangun tidak mampu mereduksi intensitas dampak bencana. b. Sebelumnya perlu dilakukan Detail Engineering Design (DED) untuk kawasan buffer-zone yang diharapkan mampu mereduksi gelombang tsunami hingga 40% seperti yang disyaratkan dalam Konsep Tata Ruang yang diajukan oleh Tim Rehab. Aspekaspek yang diatur dalam detail engineering design tersebut antara lain meliputi : model / teknologi buffer zone yang sesuai (apakah natural protection, hard protection, atau kombinasi keduanya), bila natural protection : apa jenis tanaman yang sesuai, berapa kerapatannya, bagaimana pola penanamannya, dsb. c. Untuk meminimalkan dampak terhadap ekosistem pantai, kegiatan tambak pada zona perikanan / tambak sebaiknya adalah yang sifatnya ramah lingkungan (environmentally sound aquaculture) antara lain melalui penerapan

68

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

silvofishery, yaitu tambak tumpang sari dengan mangrove
3

5.4.5 Konsep pengembangan Agro Ecopolitan bagi Rehabilitasi Kawasan Pesisir

a. Wilayah pesisir direncanakan akan dibangun agro ecopolitan sebagai penyangga vegetasi seperti penanaman hutan mangrove selebar 200 meter dari garis pantai, dan penyangga fisik pemecah gelombang, dan perikanan tambak. Kendalanya : kondisi areal yang rusak berat, struktur permukaan tanah yang berubah, disepanjang pantai dipenuhi tumpukan puing banguan / sampah (tempat pembuangan), sehingga perlu “konsep yang jelas” dalam mengembalikan fungsi-fungsi lahan pertanian, konservasi wilayah pesisir berbasis mitigasi bencana b. Prinsip dasar konsep agro ecopolitan adalah memadukan antara unsur pertanian dalam arti luas (perikanan, peternakan, tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan) dikaitkan dengan pengetahuan tentang bencana gempa tsunami dan lingkungan hidup, dalam upaya membangun sistem pembangunan berkelanjutan. c. Kegiatan budidaya pertanian yang dapat dikembangkan : tambak dengan sistem silvo-fishery pada jarak 500 meter dari garis pantai, kelapa diselingi kemlanding, dan sayuran. d. Zonasi dan tata letak : zona lindung, zona permukiman, zona perkantoran dan pelayanan umum, zona khusus.
3

Disampaikan oleh Prof Hadi S Aliqodra dalam diskusi “pembangunan sector

pertanian pd wilayah terkena bencana gempa dan tsunami di Aceh dan Sumut, tgl 3 Februari 2005

5.4.6 Pengembangan mangrove dan habitat pantai

69

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Beberapa jenis mangrove yang dapat mendukung fungsi pesisir sebagai zona penyangga adalah:

(i) Avicennia (tahan terhadap salinitasi tinggi) (ii) Rhizopora Sp (sistem perakaran napas) (iii) Bruguira (sistem perakaran lutut) (iv) (vi) Soneratia Nipah. (v) Xylocarpus

Beberapa jenis tanaman lain yang dapat digunakan antara lain: (i) Ketapang (Terminalia Catappa) (ii) Waru (Hibicus Seleacius) (iii) Camara pantai (Casuarina Sp) (iv) Kelapa (v) Pohon kuda-kuda (vi) Jamblang (vii) Mangga Pola penanaman yang disarankan antara lain : (i) Greenbelt buatan mangrove selebar 100-500 meter dengan jarak tanam 1x1 meter (ii) Wana mina (silvo fishery) : empang, parit, kakao, kemplayan. 5.5 Konsep dan Kriteria Pengelolaan Persampahan Sesuai dengan paradigma baru pengelolaan sampah saat ini, maka tempat pembuangan sampah tidak hanya berfungsi sebagai tempat untuk membuang, tetapi harus dapat menjadi tempat pengolahan sampah, dimana dapat dihasilkan kembali produk-produk yang berguna seperti energi dan kompos. Dengan

70

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

demikian, tempat pengolahan sampah merupakan pusat kegiatan produksi yang dapat menyerap tenaga kerja. Mengingat bahwa sampah merupakan produk dari proses metabolisme kota yang sifatnya kontinyu, tidak pernah berhenti berproduksi dan volumenya terus bertambah sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk serta meningkatnya kegiatan perkotaan, maka perlu ditetapkan lokasi pengolahan sampah yang tetap, tidak berpindah-pindah serta secara kontinyu dapat digunakan tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan sekitarnya. Rehabilitasi dan rekonstruksi kota-kota di Propinsi NAD pasca bencana gempa dan tsunami merupakan kesempatan kepada untuk merencanakan lokasi dan detail design tempat pengolahan sampah terpadu, serta merencanakan detail design teknologi yang sesuai dengan standar teknis serta sesuai untuk kota-kota yang rawan bencana.

5.5.1

Konsep Tempat Pengolahan Sampah Akhir – Reusable Sanitary Landfill (TPSA-RSL)

a. Menyediakan tempat pengolahan sampah akhir untuk

dapat diguna-ulang

(reusable) dengan teknologi sanitary landfill. Tempat Pengolahan Sampah Akhir – reusable sanitary landfill tersebut merupakan kombinasi dan penyempurnaan antara teknologi Sanitary Landfill, Anaerobic Bioreactor Landfill
*)

/Anaerobic Composting, Landfill-Mining dan Reuse/Pakai Ulang,

sehingga dapat memenuhi kebutuhan tempat pembuangan sampah yang dapat mengolah sampah secara kontinyu, sejalan dengan perilaku proses produksi sampah padat yang juga kontinyu, sehingga sustainability layanan kebersihan dan kesehatan lingkungan kota terjaga. b. Model pengolahan sampah ini dilakukan pada sebidang lahan yang dibagi

71

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

minimal menjadi 2 bagian dengan luasan tertentu, dimana secara berurutan Sampah Padat dari seluruh sumbernya pada akhirnya dikumpulkan pada bagian 1, diolah sehingga komponen anorganik yang masih dapat dimanfaatkan/diserap, sedangkan sisanya ditimbun, diratakan, dipadatkan dan diamankan agar truk sampah, binatang pengganggu, gas sampah, air lindi/leachate tidak mencemari lingkungan sekitarnya, dan akhirnya ditinggalkan bila kapasitas tampung bagian 1 tersebut terpenuhi. Kemudian, kegiatan yang sama dipindahkan pada bagian 2. Demikian seterusnya, bila kapasitas tampung pada bagian 2 telah terpenuhi, kegiatan pengolahan sampah dipindahkan kembali ke bagian 1. Gas Sampah (CH4) dihasilkan dikendalikan, dimanfaatkan untuk pembangkit energi terbarukan.Bila produksi Gas Sampah (CH4) pada bagian 1 telah mencapai produksi minimum, dilakukan proses pengosongan ruang melalui proses Penambangan (LandfillMining) dan Pengolahan Kompos Matang, proses rehabilitasi ruang penampung sampah dan proses Pengisian Ulang Sampah Padat bagian 1, demikian seterusnya secara bergantian. Fasilitas ini adalah akhir dari rangkaian proses penanganan sampah padat yang berasal dari kawasan pemukiman. c. Lokasi tempat pengolahan akhir sampah ini harus tetap dan dialokasikan dalam rencana tata ruang kota, serta berada pada kawasan yang layak secara teknis untuk sanitary landfill (sesuai dengan standar SNI) dan sesuai untuk kota yang rawan bencana. Untuk itu, penentuan lokasi tempat pengolahan akhir sampah tersebut harus berdasarkan pada studi kelayakan (feasibility study) yang pelaksanaannya dapat sejalan dengan proses penyusunan Rencana Rinci Zoning (Site Plan) kota, dan hasilnya menjadi masukan bagi penyusunan Site Plan kota tersebut. 5.5.2 Kriteria Spasial Untuk Penerapan Tempat Pengelolaan Sampah Akhir Terpadu-Reuseable Sanitary (TPSA-RSL) dalam Sistem Tata Ruang.

72

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

a. Lokasi berada dalam radius 30 km dari pusat pemukiman. Semakin dekat jarak dari pusat kota, semakin baik karena semakin ekonomis untuk biaya transportasi. b. Persyaratan lokasi sesuai dengan SK-SNI Pemilihan Lokasi TPA (slope, jenis tanah / batuan, porositas tanah, jarak dari sumber air, jarak dari ground water table, dan sebagainya) c. Batas Lahan berjarak minimum 250 - 300 meter dari pemukiman. d. Berada dihilir arus angin dominan yang melintasi pemukiman. e. Tidak berada pada kawasan rawan banjir. f. Kapasitas volume harus mampu menampung sampah padat terus-menerus selama minimum 15 tahun dari kawasan pemukiman yang dilayaninya. g. Kebutuhan lahan dihitung berdasarkan kedalaman landfilling 10-25 meter, dengan kepadatan sampah 800-1000 kg / m3, ditambah 2-4 ha untuk leachet treatment pond, 2-4 ha untuk area penerimaan sampah, dan 10% dari luas lahan untuk buffer zone berupa Ruang Terbuka Hijau (RTH). h. Ruang Terbuka Hijau (RTH) dibuat di sekeliling TPSA selebar minimum 100 meter. i. Jalan Masuk-Keluar Utama sedapat mungkin tidak melewati kawasan pemukiman padat dan mempunyai ROW sesuai untuk jalan 2 jalur Truk Container 40 feet. j. Lokasi TPSA-RSL harus dilengkapi dengan Sistem Pengendalian Air Lindi agar tidak mencemari air tanah dan air permukaan disekitarnya, Sistem Pengendalian Gas Sampah (CH4, CO2, H2S, bau dll), Sistem penampungan air hujan untuk keperluan pencucian truk sampah dan pemeliharaan BufferZone (Ruang Terbuka Hijau/RTH), Sistem penutupan permukaan sampah harian agar populasi lalat dan fauna pengganggu dapat dikurangi, fasilitas recycling material anorganik yang laku di pasar (misalnya PVC, PET) dan Fasilitas penunjang operasi TPSA-RSL.

73

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

k. Lokasi TPSA-RSL dapat diterima oleh masyarakat di sekitarnya. Sesuai dengan kriteria di atas, maka sebaiknya TPSA-RSL tidak dilokasikan di Zona Pantai dan Zona Perikanan / Tambak yang rawan bencana seperti pada konsep yang diusulkan, karena selain tidak didukung oleh kondisi geomorfologi yang sesuai untuk TPSA (rawan banjir, batuan bersifat porous, intrusi air laut tinggi, kondisi tanah tidak rigid/aluvial), juga dapat mengganggu kegiatan tambak/perikanan serta rentan terhadap dampak tsunami sehingga potensial mencemari lingkungan bila terjadi bencana tsunami. Oleh sebab itu, penentuan lokasi TPSA-RSL harus didahului dengan studi kelayakan. VI. STRATEGI DAN USUL PROGRAM JANGKA PENDEK, MENENGAH, & PANJANG 6.1 Strategi Utama Rencana rehabilitasi dan rekontruksi lingkungan hidup dan sumber daya alam di Provinsi NAD, harus dilandaskan pada tata ruang, tata kawasan, tata kota, tata guna dan sosial budaya masyarakat Aceh dengan memperhatikan kepada prinsip-prinsip berikut:

a. Rekonstruksi Lingkungan dan SDA yang berbasis Keadilan Antargenerasi.
Prinsip ini bertolak dari suatu gagasan bahwa generasi masyarakat Aceh sekarang menguasai sumberdaya alamnya sendiri yang ada di bumi Aceh sebagai titipan atau warisan untuk dipergunakan generasi masyarakat Aceh yang akan datang. Setiap generasi merupakan penjaga atau pengelola untuk kemanfaatan generasi berikutnya, dan sekaligus sebagai penerima manfaat dari generasi sebelumnya.

74

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

b. Rekonstruksi Lingkungan dan SDA yang berbasis Keadilan dalam Satu Generasi
Prinsip keadilan dalam satu generasi masyarakat Aceh merupakan prinsip tentang keadilan di antara satu atau sesama generasi, termasuk di dalamnya upaya pengurangan kesenjangan antara individu dan kelompok-kelompok dalam masyarakat untuk pemenuhan kualitas hidup.

c. Prinsip Pencegahan Dini
Prinsip ini mengandung suatu pengertian apabila terdapat ancaman yang berarti atau ancaman adanya kerusakan lingkungan yang tidak dapat dipulihkan, upaya-upaya pencegahan kerusakan lingkungan secara dini tersebut harus diprioritaskan. Prinsip ini merupakan respon terhadap kebijakan lingkungan dan tata ruang yang konvensional dan sering tidak mempertimbangkan aspek resiko bencana termasuk tsunami.

d. Perlindungan keanekaragaman hayati
Upaya perlindungan keanekaragaman hayati tidak saja menyangkut soal moral dan etika akan tetapi juga soal hidup dan matinya manusia (survival imperatives). Prinsip ini sangat terkait dengan prinsip-prinsip lainnya. Urgensi perlindungan keanekaragaman hayati merupakan prasyarat bagi berhasil atau tidaknya melaksanakan prinsip keadilan antargenerasi dan prinsip keadilan dalam satu generasi.

e. Keseimbangan tiga pilar pembangunan yang meliputi unsur ekonomi, sosial dan lingkungan.
Tujuan pembangunan berkelanjutan dalam Rencana rehabilitasi dan

rekonstruksi Aceh akan terfokus pada ketiga dimensi, keberlanjutan laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi (economic growth), keberlanjutan kesejahteraan sosial yang adil dan merata (social

progress), serta

75

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

keberlanjutan ekologi dalam tata kehidupan yang serasi dan seimbang (ecological balance). Rencana rehabilitasi dan rekonstruksi Lingkungan dan SDA yang berkelanjutan mencakup antara lain: menjaga aktifitas penduduk agar tetap seimbang dengan daya dukung lingkungan untuk berproduksi; melakukan konservasi dan menambah sumberdaya yang tersedia; mengintegrasikan kebijakan ekonomi dengan kebijakan lingkungan dalam pengambilan keputusan. Kelima strategi tersebut diintegrasikan secara spasial ke dalam strategi pengembangan wilayah dan kota mencakup strategi tata ruang, pertanahan, dan lingkungan hidup. Strategi penataan ruang diharapkan dapat menghasilkan zonasi kawasan sebagai arahan untuk penetapan kawasan budidaya berbasis bencana dan pelaksanaan pembangunan kembali infrastruktur wilayah pasca bencana gempa dan tsunami. 6.2 Program Jangka Pendek (0 – 6 bulan) : Tujuan: Memenuhi kebutuhan masyarakat akibat kerugian

lingkungan yang disebabkan Tsunami dan gempa bumi. 6.2.1. Pengelolaan Sampah dan Puing-Puing Bangunan : Membantu Pengumpulan dan pembuangan sampah dan puing-puing bangunan dengan cara yang berwawasan lingkungan. b. Program: • • • • • Membangun fasilitas pembuangan sementara Pemanduan dan pelatihan penanganan sampah Penyediaan perlengkapan/alat-alat penanganan sampah Membangun program daur ulang penanganan sampah Studi alternatif-alternatif perlindungan pantai dengan penimbunan a. Tujuan

76

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

• c. • • • • d. • • • • e. f. • • • • • •

sampah gempa bumi dan tsunami Mitra PEMDA Personil TNI Lembaga NGO Masyarakat Lokal Dampak yang Diinginkan Mengurangi dampak lingkungan akibat pembuangan sampah Meningkatkan keamanan personel yang menangani sampah Berkurangnya aliran sampah dan biaya pembuangan akibat kegiatan daur ulang sampah Peningkatan keamanan dan perlindungan partai. Waktu Pelaksanaan : 6 bulan (April - September 2005) Perkiraan Biaya Fasilitas Pembuangan : US $ 150.000 Pelatihan : US $ 20.000 Perlengkapan : US $ 25.000 Daur Ulang : US $ 10.000 Studi : US $ 15.000 f. Biaya Operasi : US $ 120.000 Total : US $ 340.000 adanya

6.2.2 Kajian Yang Komprehensif Tentang Kerusakan Lingkungan a. Tujuan : Untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif tentang kerusakan lingkuangan beserta faktor-faktor lingkungan yang berkaitan dengan tsunami dan gempa bumi. b. Program • Melakukan suatu kajian yang menyeluruh terhadap kerusakan lingkungan yang diakibatkan gempa bumi dan tsunami.

77

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Mengidentifikasi kondisi ekosistim pesisir, termasuk tingkat kerusakan tanaman pantai dan kesesuaian lahan untuk tanaman pengganti pada tahap rehabilitasi • Mengkaji hubungan kondisi lingkungan dengan gempa bumi dan tsunami melalui GIS dan perubahan ekosistem. c. Mitra • • • • Lembaga dan organisasi nasional dan Internasional Perguruan Tinggi Pemda Lembaga masyarakat.

d. Waktu Dampak yang Diharapkan • Ketersediaan Informasi/data yang lengkap untuk perencanaan tahap rehabilitasi dan rekonstruksi f. Perkiraan Biaya : US $ 700.000 6.2.3. Kajian Keterpaduan Lingkungan Rehabilitasi dan Rekonstruksi a. Tujuan: Dalam Seluruh Program

Untuk menjamin seluruh rencana rehabilitasi dan rekonstruksi adalah dikaji berdasarkan dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan dan untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan fasilitas fasilitas kehidupan manusia.

b. Program - Kajian dampak lingkungan akibat rehabilitasi dan rekonstruksi c. Mitra • Lembaga perencanaan, • Lembaga pemerintahan, • NGO • Perguruan tinggi d. Dampak yang Diharapkan - Rencana menyeluruh untuk rehabilitasi dan rekonstruksi akan meningkatkan kegiatan pembangunan berkesinambungan. e. Waktu Pelaksanaan : 1-2 bulan (Juni-Juli 2005) g. Perkiraan Biaya : US $ 300.000

78

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

6.2.4. Perencanaan Tata Ruang Perencanaan Rekonstruksi.

Sebagai Bangunan

Terpadu

dari

a. Tujuan : Untuk menjamin bahwa implementasi rencana rekonstruksi adalah berdasarkan kepada rencana tata ruang yang terpadu dan berwawasan lingkungan b. Program • Perencanaan penggunaan lahan sesuai dengan fungsinya • Perencanaan system zonasi untuk pencegahan bencana kemanusiaan dan kerusakan yang sangat besar • Review rencana tata ruang oleh ahli lingkungan c. Mitra • Masyarakat local • Pihak penguasa terkait • Lembaga nasional dan internasional • Perguruan tinggi d. Dampak • Perbaikan rencana tata ruang • Diketahuinya faktor-faktor pencegahan bencana lingkungan yang terukur. • Adanya framework untuk menyediakan input ruang e. Waktu pelaksanaan : 0 - 2 tahun (2005-2007) f. Perkiraan Biaya : US $ 2.000.000 6.3. Program Jangka Menengah (6 bulan-2 tahun) : Tujuan : Untuk mengendalikan dan tsunami kerusakan lingkungan akibat gempa bumi

dan kerusakan bagi proses tata

6.3.1 Rehabilitasi mangrove dan program pengelolaannya a. Tujuan : Merehabilitasi, mencengah dan mengembangkan mangrove baik untuk perlindungan pantai maupun pemanfaatannya sebagai

79

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

pemicu perkembangan perikanan pantai dan ekosistem baru yang berkelanjutan. b. Program •Kajian prioritas lokasi penanaman mangrove yang dibutuhkan untuk

rehabilitasi •Pengelolaan mangrove yang telah ditanami • Membangun kelembagaan untuk pengelolaan mangrove • Memasukkan program rehabilitasi dan pengelolaan mangrove kedalam perencanaan tata ruang •Pembangunan akuakultur dan kebijakan-kebijakan local c. Mitra • Perguruan Tinggi, • Lembaga ilmiah, • Lembaga pemerintah, • NGO national dan international d. Dampak • Adanya progress yang terukur dari kegiatan rehabilitasi fungsi ekosistem. • Meningkatnya keahlian • Terbangun/teradapsinya pengelolaan mangrove. • Meningkatnya perlindungan dan keamanan pantai dan perumahan sekitar pantai. e. Waktu Pelaksanan : 6-12 buan (Juli 2005- Juni 2006) lokal dalam pengelolaan mangrove kebijakan lokal dalam rehabilitasi dan

f. Program Mitra Yang Sudah Ada • LIPI, IMF, Wetland • IPB, ISME, KEHATI,

80

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

• Mentri kelautan dan perikanan. g. Perkiraan biaya : US $ 7.000.000

6.3.2. Pengelolaan dan Monitoring Terumbu Karang a. Tujuan : Mendukung pemanfaatan ekosistem terumbu karang. b. Program • Penilaian prioritas wilayah terumbu karang • Membangun kelembagaab pengelolaan terumbu karang • Pengelolaan dan monitoring ekosistim terumbu karang dijadikan bagian yang tak terpisahkan dari manajemen pantai • Memasukkan pengelolaan terumbu karang kedalam perencanaan tata ruang. • Pembangunan akuakultur dan kebijakan local. c. Mitra • Lembaga pemerintah • Perguruan Tinggi • Lembaga Ilmiah • LSM • Organisasi Nasional dan Internasional d. Dampak Yang Diharapkan • Tersedianya informasi pemulihan ekosistem terumbu karang • Meningkatnya keahlian lokaldalam pengelolaan terumbu karang dan • sumber daya kelautan. b. Program • Penyediaan infestasi produktif dan penyedian infrastruktur yang berbasis pendekatan masyarakat. • Membangun dan memberdayakan kelompok masyarakat yang representatif • Mengidentifikasi prioritas dan rencana pembangunan dengan bantuan teknis dan proyek pengelolaan. • Pemberian kredit kecil beserta bantuan teknis untuk individu bagi pembangunan kehidupan berkelanjutan. c. Mitra yang berkelanjutan dan konservasi

81

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

• • •

Organisasi nasional dan internasional Penyedia kredit kecil LSM

d. Dampak yang diharapkan • Peningkatan pendapatan masyarakat • Tertampungnya tenaga kerja di desa e. Waktu pelaksanaan : 6-12 bulan f. Program mitra yang ada: • Pengelolaan rehabilitasi terumbu karang • Proyek pengelolaan sumber daya pantai dan laut • COFISH ( Proyek pengelolaan sumber daya perikanan dan masyarakat pantai • Pemberdayaan masyarakat untuk pembangunan pedesaan • Proyek pembangunan kecamatan (World Bank) • Proyek Pembangunan Kawasan Miskin (World Bank) g. Perkiraan Biaya: US $ 40.7 juta I. Meliputi 27 ribu rumah tangga di 13 kawasan pedesaan (27 juta dolar) a. 200 US dolar untuk pelatihan dan bantuan teknis b. 300 US dolar untuk hibah biaya awal c. 500 US dolar untuk kredit kecil II. Skala masyarakat 10 juta dolar ( 200 x 50.000 US dolar) III. Administrasi dan monitoring 10 % + 3.7 juta dolar 6.3.3. Program Pengelolaan Kawasan Pantai a. Tujuan: Untuk menyediakan suatu pandangan landscape pantai dan bentuk pembangunan alam untuk sekarang dan masa depan. Semua kelanjutan pekerjaan rehabilitasi akan tergantung kepada hal ini. Pandangan tersebut harus dibangun sebelum strategi perencanaan zona pantai dimulai di dalam bentuk Rencana pengelolaan Kawasan Pantai Tradisinal. b. Program • Penyediaan basis bagi rencana pembangunan jalan, rel kereta api, jembatan, dan daerah perumahan • Perencanaan dan relokasi dialamatkan di dalam framework Pengelolaan Kawasan Pantai Terpadu (PKPT) c. Mitra

82

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

• Penguasa Lokal dan Nasional • Organisasi dan Pusat Pengetahuan nasional dan internasional d. Dampak yang diharapkan • perbaikan basis rencana tata ruang • Rekonstruksi dan perlindungan masyarakat dan infrastruktur serta ekosistem di kawasan pantai. e. Waktu pelaksanaan - Paling kurang satu tahun (8-12 bulan) untuk mempersiapkan PKPT f. Program Mitra yang telah ada • COFISH (Proyek Pengelolaan Sumber Daya Perikanan dan Masyarakat • Pantai) • Pengelolaan Rehabilitasi Terumbu Karang • Proyek Pengelolaan Sumber Daya Pantai dan Kelautan g. Perkiraan Biaya Pembangunan PKPT: 12-15 juta dolar (20 orang staf ahli internasional, 30 orang staf ahli lokal, peralatan dsb. 6.4. Program Panjang (Di atas 5 tahun) Tujuan: Meningkatkan Pembangunan Berkesinambungan yang berwawasan lingkungan. 6.4.1. Lingkungan a. Pembangunan Kemampuan Penguasaan Pengelolaan pengelola

Tujuan:

penguatan dan pembangunan kembali lembaga lingkungan, terutama daerah terkena bencana.

b. Program: • Pelatihan tentang bagaimana mengorganisasi dan mengelola dampak lingkungan, terutama di dalam screening dan analisis dampak lingkungan (Eia-Andal) • Pengumpulan data yang mendukung analisis dampak lingkungan • Pengelolaan dampak dan monitoring dampak lingkungan akibat rehabilitasi dan rekonstruksi. c. Mitra: • Lembaga pemerintahan, • Lembaga akademik dan ilmiah, • LSM, • NGO nasional dan internasional d. Waktu pelaksanaan : setelah 6 bulan- 5 tahun

83

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

e. Partner yang telah punya program • Lembaga Pengelolaan Lingkungan Lokal • Bangun Praja • AMDAL • USDRP (Urban Sector Development and Reform Project)-World Bank • COFISH • Proyek Pengelolaan sumber daya pantai dan kelautan fase 2, • Pengelolaan terumbu karang f. Perkiraan biaya: 1.5 juta dolar 6.4.2. Perbaikan koleksi data lingkungan dan monitoring rehabilitasi dan rekonstruksi a. Tujuan: • Untuk menyediakan informasi lingkungan secara berkala untuk kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi kepada setiap perencana • dan pelaksana • untuk memonitor pengaruh lingkungan terhadap aktifitas • rehabilitasi dan rekonstruksi b. Program • menciptakan suatu clearing house (database) untuk membangun data lingkungan yang ada, termasuk informasi yang dihasilkan selama fase bantuan. • Membangun sistem informasi lingkungan yang berbasis Web • Membangun network untuk memonitor kualitas lingkungan (udara, air, tanah, daratan, dan keanekaragaman hayati, yang hasilnya dipublikasikan melalui Web c. Mitra • Organisasi nasional dan internasional • Universitas dan lembaga penelitian • Pemda • LSM d. Waktu pelaksanaan: • Database 0-6 bulan • Sistem informasi lingkungan setelah 6 bulan • Monitoring setahun pertama e. Perkiraan biaya: 800 ribu dolar • 50 ribu clearing house; personel dan office • 250 ribu sistem informasi lingkungan • monitoring 100 ribu x 5 6.4.3 Pengelolaan sampah padat Jangka panjang

84

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

a. Tujuan: untuk menyediakan pelayanan kepada masyarakat dan pihak swasta untuk pengumpulan sampah. b. Program • Rehabilitasi sistem pengelolaan sampah padat kota • Rehabilitasi dan modernisasi tempat pembuangan sampah. • Meningkatkan program pengurangan, rekoveri, dan daur-ulang sampah. c. Mitra • Pemerintah lokal • Sektor swasta • LSM d. Dampak yang diharapkan • Perbaikan kualitas hidup untuk penghuni kota melalui kegiatan pemindahan sampah yang tepat. • Meningkatnya pelayanan coverage • Mengurangi dampak lingkungan di TPA e. Waktu pelaksanaan : 0-5 tahun f. Mitra yang telah punya program • Pengelolaan sampah padat jangka panjang • Proyek Urban Poverty (World Bank) • Proyek Urban Sector Development and Reform (Word Bank) g. Perkiraan Biaya • Pelayanan rehabilitasi 4 kota ( 1 x 5 tahun = 5 juta dollar) • Rehabilitasi Tempat Pembuangan ( 4 tempat x 150 ribu = 600 ribu) • 3R program (4x25.00 = 100 ribu dollar) Total 5.7 juta dollar 6.4.4. Rehabilitasi Landscape Pantai a. Tujuan: untuk merehabilitasi landscape pantai b. Program • Mengembalikan kondisi ekosistem pantai • Reklamasi pantai • Perlindungan pantai • Rehabilitasi infrastruktur (tidak termasuk jalan, rel, jembatan, pelabuhan dll) c. Mitra • Pemerintah Lokal • Kontraktor swasta • Masyarakat Lokal • Organisasi nasional dan internasional d. Waktu pelaksanaan (0-5 tahun) e. Mitra yang sudah ada program

85

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

• COFISH • Pengelolaan rehabilitasi terumbu karang f. Perkiraan Biaya : 147.8 juta dollar 6.4.5. Rehabilitasi ekosistem pantai dan habitat kritis a. Tujuan : untuk mengembalikan fungsi ekologi pada ekosistem pantai, habitat kritis, dan rawa guna memperbaiki basis kehidupan dari kemiskinan dan nilai ekosistem. b. Program • Menyempurnakan proyek pengelolaan kawasan pantai • merehabilitasi dan membangun kembali berbagai ekosistem, rawa, hutan bakau dan terumbu karang. c. Mitra • Pemerintah lokal • Kontraktor swasta • Masyarakat lokal • Organisasi lokal, nasional dan internasional d. Dampak yang diharapkan • Perbaikan dasar kehidupan bagi penduduk pantai yang miskin • Terpeliharanya nilai keanekaragaman hayati di dalam ekosistem yang kritis e. Waktu pelaksanaan: 0.5 – 5 tahun f. Mitra yang telah punya program • COFISH • Pengelolaan rehabilitasi terumbu karang • Proyek pengelolaan sumber daya pantai dan kelautan fase 2 g. Perkiraan Biaya: 147.8 juta dolar

6.4.6. Pelestarian Keanekaragaman Hayati Mangrove a. Tujuan : menyediakan alternatif bahan pembangunan untuk generasi mendatang seandainya musnahnya keanekargaman hayati akibat bencana alam maupun akibat tingkah manusia b. Program • Pelestarian ekosistem amngrove alamiah di suatu kawasan cagar alam • Konservasi plasma di laboratorium yang lebih efesian c. Mitra • Perguruan Tinggi • Lembaga Ilmiah

86

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

• Pemerintah Lokal • Masyarakat lokal • Organisasi nasional dan internasional d. Dampak yang diharapkan • Terpeliharanya nilai keanekaragaman hayati di dalam ekosistem yang kritis • Tersdianya bahan pemuliaan untuk menghasilkan tanaman baru produktif e. Waktu Pelaksanaan 0.5 – 5 tahun f. Perkiraan Biaya yang dibutuhkan: 500 ribu dolar

Catatan: Perkiraan Biaya didasarkan kepada perkiraan yang dikeluarkan oleh World Bank, Januari 2005.

87

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

BAB III POKJA – 3

PRASARANA DAN SARANA UMUM
A. SUB BIDANG GEDUNG DAN PERUMAHAN

I. LATAR BELAKANG
Bencana alam gempa bumi dan tsunami 26 Desember 2004 telah

mendatangkan kerugian besar berupa kehilangan jiwa manusia lebih dari 200.000 orang dan berbagai jenis hewan, serta menghancurkan sarana dan prasarana berupa gedung sekolah, perkantoran, rumah sakit, perumahan rakyat, jembatan, jalan raya dan lain-lain di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Kerugian aset dan fasilitas diperkirakan mencapai puluhan triliun rupiah. Pasca peristiwa ayat-ayat kauniyah ini, kita benar-benar harus mengambil pelajaran untuk memperbaiki kualitas kehidupan kita dalam arti yang seluasluasnya. Sebagai wujud tanggung jawab bersama, kita harus mengevaluasi keruntuhan bangunan, baik akibat gempa dan atau akibat tsunami dan apa upaya kita guna mengurangi resiko bagi pengguna dan meningkatkan keandalan struktur gedung dalam menghadapi bencana alam dalam lingkup yang luas (gempa, tsunami, angin, dan lain-lain) yang bakal terjadi di masa mendatang. Tujuan laporan ini adalah untuk melahirkan rekomendasi dan kebijakan yang berkenaan dengan pembangunan gedung dan perumahan dalam rangka rehabilitasi dan rekonstruksi prasarana dan sarana umum yang rusak di Nanggroe Aceh Darussalam. Output lain secara langsung adalah pengusulan program-program dan kebutuhan dana untuk kedua tahapan kegiatan yaitu rehabilitasi dan rekonstruksi.

88

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Lingkup dan sasaran laporan disini adalah terbatas pada fisik gedung saja seperti, perkantoran, rumah sekolah, rumah sakit, pertokoan, rumah penduduk dalam Nanggroe Aceh Darussalam, walaupun belum semua data dapat dikumpulkan baik kondisi gedung dan perumahan sebelum maupun setelah tsunami.

II. INVENTARISASI KERUSAKAN DAN RONA PASCA TSUNAMI
Sebagai pedoman dan keseragaman terminologi yang dipakai serta untuk memudahkan pemahaman, maka evaluasi kerusakan gedung akibat gempa dan atau tsunami, secara umum dibagi kedalam tiga katagori kerusakan yaitu: a. Kerusakan berat, yaitu, kerusakan struktural dengan deformasi atau perpindahan permanen, seperti keruntuhan total, runtuhnya salah satu lantai bangunan, kolom yang patah atau miring, balok yang melendut yang tidak mungkin diperbaiki (Severe damages or collapse); __________________________________________________________________

*) Laporan ini sebagai bahan tambahan materi Lokakarya terpadu bidang prasarana dan sarana umum yang diselenggarakan oleh BAPPENAS, 11-13 Maret 2005 **) Anggota Pokja Infrastruktur, Unsyiah for Aceh Reconstruction
b. Kerusakan sedang, yaitu kerusakan struktural ringan seperti retak kecil/ sedang pada balok, kolom, dan elemen lainnya tanpa deformasi permanen yang masih mungkin diperbaiki dan tidak mempengaruhi keseimbangan struktural bangunan secara keseluruhan (medium damages); dan c. Kerusakan ringan, yaitu kerusakan elemen non struktural, kelengkapan ornament interior dan eksterior, seperti pintu, jendela, dinding, flavon yang masih dapat diperbaiki atau diganti dengan elemen yang baru, tanpa berpengaruh sama sekali pada elemen struktural bangunan (slight damages).

89

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Dalam bagian ini dipaparkan fakta keruntuhan dan kerusakan bangunan gedung dalam lingkup NAD sesuai dengan data yang tersedia. Sesuai dengan data yang telah terkumpul, maka kondisi gedung dan perumahan yang rusak akibat gempa dan tsunami, jumlah unit masing-masing katagori rusak berat adalah sebagai berikut: 1. Gedung Kantor Pemerintah: 10 Perguruan Tinggi:5
***) ***) ***) ***)

2. 3. 4.
5. 6. 7.

Gedung Hotel/Super Market/Kantor swasta: 20 Rumah Sakit/Puskesmas: 10

Sekolah SD/MIN; SMP/MTs; SMA/MA:639; 145; 358 Perumahan Permanen: 132.625 Perumahan Nonpermanen: 328.484.

***) Data belum lengkap
Wilayah kehancuran gedung dan perumahan diatas 90% akibat tsunami ratarata mencapai 2 km dari garis pantai untuk wilayah datar dan 0.5 -1 km untuk daerah berbukit atau gunung, tergantung jaraknya bukit/kaki gunung dari tepi pantai. Wilayah genangan tsunami daerah datar umum berkisar 3 – 5 km. Kerusakan yang disebabkan oleh tsunami umumnya adalah gedung/rumah hancur rata tanah atau tidak berbekas hanya terlihat pasangan keramik lantai dasar dan sebagian kecil gedung/rumah yang masih berdiri dimana dindingnya dibawa oleh tsunami. Studi khasus dalam Kota Banda Aceh, kerusakan gedung yang disebabkan oleh

gempa, fakta menunjukkan tiga ragam (mode) keruntuhan yang sejalan
dengan tiga katagori kerusakan diatas yaitu: a. Keruntuhan salah satu lantai atau lebih, termasuk keruntuhan total (collapse) yang diawali dengan keruntuhan geser pada kolom-kolom lantai lemah (weak story) akibat “open frame” yang dimulai dari lantai I dan

90

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

kemudian disusul lantai II dan seterusnya. Pada ragam keruntuhan ini, balok dan system lantai beton bertulang tidak mengalami retak serius; b. Keruntuhan pada struktur balok yaitu retak gaser dan atau retak lentur pada balok dengan kombinasi retak atau tanpa retak pada kolom, umumnya katagori kerusakan sedang; c. Keruntuhan non structural yaitu retak dinding yang mengikuti bentuk frame/portal dan retak geser/diagonal pada satu pias dinding dimana frame (kolom dan balok) masih dalam kondisi baik atau retak halus. Dalam katagori ini, terdapat ragam keruntuhan yang tidak lazim yaitu lepasnya top gevel (pasangan batu bata dibelakang tolak angin) dari tempatnya dengan kombinasi rusak bersama kuda- kuda atau tanpa kerusakan pada kuda-kuda. Paling tidak ada lima gedung yang mengalami keruntuhan top gavel yaitu: gedung PLN Wil. NAD, PLN Cab.Banda Aceh, Walikota Banda Aceh (runtuh bersama kuda-kuda), Bappeda NAD dan Umar Diyan Indrapuri. Sebagai salah satu contoh, dilakukan diskusi tentang keruntuhan gedung dengan frame beton bertulang akibat gempa yang difokuskan pada keruntuhan salah satu lantai atau lebih dimana termasuk katagori ”collapse”. Dari fakta lapangan dapat dikemukakan beberapa kemungkinan penyebab terjadinya keruntuhan gedung, yaitu: a. Lemahnya kekakuan (stiffness) kolom-kolom frame tanpa panel/dinding. Hal ini tidak memenuhi filosofi desain frame kolom kuat balok lemah (strong column weak beam). Hal ini perlu studi lanjutan untuk melihat perilaku keruntuhan gedung per gedung; b. Kemungkinan mutu material (beton dan baja) di bawah spesifikasi yang ditetapkan, akibat kontrol mutu yang kurang baik pada saat pelaksanaan. Hal ini diperlukan kontrol mutu material di lapangan dan atau di

91

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

laboratorium. Juga memerlukan investigasi lanjutan untuk memeriksa material di lapangan dan menganalisa gambar pelaksanaan ( as built drawing); c. Spesifikasi baja beton yang tidak memenuhi standar (diameter begel kurang dari D10 dan atau minimnya persentase tulangan pokok). Hal ini harus mengacu pada SNI-03-2847-2002; d. e. f. Lemah dalam hal details (sambungan, pertemuan kolom dan balok, panjang penyaluran/penjangkaran, kait-kait dan lain-lain); Kemungkinan terjadinya resonansi pada gedung tersebut; dan Sistem monitoring dan control pembangunan gedung swasta belum memadai, termasuk dalam hal keterlibatan yang menerbitkan IMB. Kehancuran bangunan gedung akibat tsunami lebih disebabkan oleh kelebihan beban atau overload. Peraturan beban belum mengkafer beban dinamik jenis tsunami, sedangkan beban gempa dan angin telah didefinisikan dalam peraturan pembebanan yang ada selama ini. Jadi perlu kajian lebih lanjut bagaimana membuat simulasi beban tsunami yang bekerja pada gedung atau bangunan lainnya. Disamping masalah structural yang didiskusikan diatas, untuk mengisi cetak biru (Blue Print) Aceh Baru, kiranya masalah standarisasi gedung perlu diatur lebih lanjut. Misalnya masalah ketinggian lantai bangunan, ukuran pintu/jendela, system evakuasi saat emergency, lahan hijau, jarak bangunan ke tepi jalan dan lain-lain.

92

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

III. PENILAIAN KEBUTUHAN Berikut ini beberapa kebijakan dan rekomendasi diusulkan untuk meningkatkan keandalan struktur gedung dan perumahan di masa depan guna mengurangi resiko bagi para pengguna, seperti uraian berikut ini: a. Diperlukan upaya yang sungguh-sungguh dari semua unsur pelaksana (perencana, pelaksana, suvervisi, pemerintah) untuk mengimplimentasikan standar gedung (Codes) yang telah ada termasuk spesifikasi minimum, ketentuan perencanaan, fasilitas evakuasi saat emergensi, dan lain-lain; b. Dalam penerbitan IMB, pertimbangan structural harus masuk dan prioritas, terutama untuk gedung yang dibangun oleh pihak swasta, seperti pertokoan, rumah penduduk dan lain-lain. Juga dilakukan monitoring saat pelaksanaan bangunan oleh pihak pemberi izin, disamping mengikuti prosedur pelaksanaan diatas (butir a); c. Diperlukan standar praktek profesi, terutama detail elemen struktur untuk menjamin pelaksanaan yang benar dan tidak keliru, misalnya dalam hal penempatan tulangan struktur beton bertulang pada elemen kritis, seperti sambungan, hubungan/joint dan lain-lain, begitu pula untuk konstruksi baja dan konstruksi kayu; d. Adanya penegasan pemerintah tentang penerbitan sertifikat mutu material dari industri atau pabrik pembuat material bangunan, seperti baja, pipa pralon, aluminium dan material lainnya serta larangan produksi untuk material yang tidak memenuhi spesifikasi minimum material bangunan; e. Perlu investigasi lebih lanjut mengenai penyebab keruntuhan gedung akibat gempa, kasus perkasus dengan melakukan uji mutu material dilapangan serta analisa gambar pelaksanaan gedung yang bersangkutan;

93

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

f.

Perlu formulasi baru mengenai standar pembebanan akibat tsunami untuk perencanaan struktur gedung di wilayah yang dekat dengan pantai (paling tidak sampai jarak satu sampai tiga kilometer dari garis pantai berdasarkan persitiwa tsunami 26 Desember 2004 yang lalu) atau mengikuti formulasi tata ruang yang ada;

g.

Perlu dibuat standarisasi gedung pada lingkup non structural, termasuk masalah ketinggian bangunan, keseragaman bentuk bangunan, jarak bangunan dengan tepi/as jalan, lahan hijau, dan lain-lain.

IV. PERTIMBANGAN KELAYAKAN Untuk menentukan criteria gedung dan perumahan yang masih tersisa diperlukan evaluasi cepat (tim terpadu yang ditunjuk oleh PEMDA NAD). Umumnya gedung dan perumahan yang mengalami rusak berat harus dibangunan baru. Sedangkan gedung dan perumahan dengan katagori rusak sedang dan rusak ringan dilakukan rehab agar dapat berfungsi kembali dengan baik. a. STRATEGI DAN USULAN PROGRAM Berpedoman kepada data yang ada program rehabilitasi dan rekonstruksi, maka program yang diusulkan terbatas pada gedung sekolah dan perumahan seperti uraian berikut ini: • • • • Sekolah SD/MIN; SMP/MTs; SMA/MA:639 rusak berat; 145 rusak sedang; 358 rusak ringan; Perumahan Permanen: 132.625 rusak berat Perumahan Nonpermanen: 328.484 rusak berat.

Dari kondisi gedung dan perumahan diatas maka usulan program dibagi dua:

94

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

a. Rehabilitasi gedung sekolah sebanyak 503 gedung sekolah, yaitu 145 rusak sedang dan 358 rusak ringan. b. Rekonstruksi gedung sekolah 639 unit, rumah permanen 132.625 unit dan rumah non permanen 328.484 unit. b. ESTIMASI PENDANAAN Berpedoman kepada data yang ada program rehabilitasi dan rekonstruksi diatas (Bagian 5), maka estimasi pendanaan gedung dan perumahan dalam rupiah adalah sebagai berikut: a. Rehabilitasi gedung sekolah 145 rusak sedang @ 100.000.000 sejumlah 14,5 milyar; b. Rehabilitasi gedung sekolah 358 rusak ringan @ 50.000.000 sejumlah 17,9 milyar; c. Rekonstruksi gedung sekolah 639 unit @ 200.000.000 sejumlah 127.8 milyar; d. Rekonstruksi rumah permanen 132.625 unit @ 100.000.000 sejumlah 13 triliyun; e. Rekonstruksi rumah non permanen 328.484 unit @ 50.000.000 sejumlah 16.4 triliyun.

B. SUB BIDANG TRANSPORTASI 1. LATAR BELAKANG Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang terdiri dari 21 Kabupaten/kota dengan total luas daerah 57.365 km2, dilayani fasilitas transportasi darat, laut dan udara. Panjang jalan yang melayani berjumlah 3.484,6 km, yang terdiri dari jalan Nasional 1.782,78 km dan jalan Provinsi 1.701,82 km. terdapat 9

95

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

pelabuhan laut dan 8 pelabuhan penyeberangan. Dalam bidang transportasi udara terdapat 9 Bandar Udara termasuk lapangan terbang Perintis. Berdasar kawasan pelayanan, fasilitas transportasi tersebut dikelompokkan menjadi 4 kawasan. 1. Kawasan pelayanan Pantai Utara – Timur; 2. Kawasan pelayanan Pantai Barat – Selatan; 3. Kawasan pelayanan Bagian Tengah Nanggroe Aceh Darussalam; 4. Kawasan pelayanan kepulauan. Pelayanan transportasi pantai Utara – Timur relatif lancar, baik transportasi darat, laut dan udara. Pada kawasan ini terdapat 5 pelabuhan laut dan 3 lapangan terbang, juga sedang dibangun jalan kereta api, jarang terjadi gangguan dan lalu lintas dapat dikatakan tak pernah terputus. Pemilihan terhadap moda darat, laut dan udara masih mungkin dilakukan walaupun tidak Kesemua tujuan perjalanan. Pelayanan pantai Barat – Selatan, bagian Tengah Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan, belum lancar. Jalan darat pantai Barat – Selatan dan bagian Tengah Nanggroe Aceh Darussalam sangat peka terhadap bencana alam. Bila musim hujan tiba sering terjadi longsoran pada badan jalan hingga lalu lintas terputus, karena memang lintasan tunggal tanpa ada lintasan alternatif. Kondisi jalan juga dengan kualitas rendah, kecepatan rencana antara 40 – 60 km/jam. Ada tiga lapangan terbang perintis di bagian pantai Barat – Selatan, yang dilayani sekitar 4 kali penerbangan perminggu. Operasionalnya atas subsidi pemerintah daerah, tapi sering terjadi gangguan pelayanan akibat ketidaksiapan pesawat. Pelabuhan laut pelayanan tidak efektif, utamanya karena ketiadaan armada regular yang melayani. Pelayanan hanya untuk kebutuhan tertentu non

96

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

regular, kecuali ada pelayanan penyeberangan antara pantai barat dengan kepulauan (Simeulue). Pelayanan kawasan kepulauan sangat minim sekali, jalan darat belum tersambung kesemua kota dan lokasi, masih merupakan lintasan terputus-putus. Perjalanan antar kelompok masyarakat dilakukan transportasi laut secara tradisional, yaitu perahu dan tongkang. Kelompok kepulauan ini adalah pulau Beras dan pulau Nasi di Aceh Besar, pulau Simeulue di pantai Barat dan pulaupulau Banyak di pantai Selatan. Akibat bencana gempa dan gelombang Tsunami 26 Desember 2004, kerusakan terjadi terhadap Sarana dan Prasarana jalan nasional dan jalan provinsi 32 % = 915 km dari 3484,6 km jalan yang ada. Kerusakan jembatan mencapai 25 % dari 16.0687,70 m jembatan di jalan nasional dan 18.181,30 m jembatan di jalan provinsi. Untuk ruas jalan kabupaten/kota kerusakannya sedang diinventarisir. Kondisi dan kerusakan sarana dan prasarana transportasi lainnya adalah seperti dicantumkan pada tabel 5.1.

97

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Tabel 5.1 Kondisi Sarana Dan Prasarana Sub-Bidang Transportasi No 1. PRASARANA Transportasi Darat a. Terminal Bus b. Pengujian Kendaraan Bermotor (PKB) c. Jembatan Timbang d. Stasiun Bus DAMRI e. Halte Bus f. Pelabuhan Penyeberangan Transportasi Laut a. Pelabuhan Laut b. Pelabuhan Rakyat 3. Pelabuhan Udara a. Bandar Udara JUMLAH YANG ADA DI PROV. NAD 10 1 3 1 30 8 TINGKAT KERUSAKAN DI PROV NAD BERAT RINGAN 1 1 1 2 9 3 30 6 KET

- Terminal Meulaboh - PKB Banda Aceh DAMRI Banda Aceh Tersebar Pel. Ulee Lheu Pel. Meulaboh Pel. Malahayati Pel. Meulaboh Pel. Calang Pelra. Kuala Tari

2.

9 4 9

3 1 1

6 9 7

- Bandara Cut Nyak Dhien Meulaboh - Bandara Lasikin Sinabang

b. Kantor SAR dan Peralatannya

1

-

-

98

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Sedangkan kerusakan jalan kereta api yang telah dipasang tubuh jalan sepanjang 33,806 km dari perbatasan Sumatera Utara ke Seuneubuk Punti di Aceh Timur, belum dilaporkan kondisinya. Akibat kerusakan-kerusakan tersebut lalu lintas terputus, banyak masyarakat yang terkurung dan tak dapat dijangkau oleh tim penyelamat apalagi untuk memberikan bantuan berupa bahan makanan, obat-obatan dan sebagainya. Untuk itu perlu dilakukan penanganan dalam tiga tahap sebagai berikut : Tahap Pertama adalah : 1. 2. 3. Penanganan darurat dengan membuka “Entry Point” dan jalur jalan utama; Rehabilitasi prasarana dan sarana perhubungan yang rusak; Perencanaan dan pembangunan kembali prasarana dan sarana

perhubungan hingga dapat berfungsi optimal dan meminimalisir gangguan bencana alam tiap penggantian musim. Tujuan penanganan darurat adalah untuk dapat membuka entry point dan menjangkau masyarakat yang terisolir untuk penyelamatan dan penyaluran bantuan. Tujuan rehabilitasi adalah membangun kembali saranan dan prasarana yang rusak pada lokasi yang sama hingga dapat berfungsi kembali seperti sedia kala. Tujuan perencanaan dan pembangunan prasarana dan sarana perhubungan yang baru ialah : a. untuk daerah yang terkena pengaturan tata ruang baru, memindahkan fasilitas kelokasi baru sesuai dengan penataan ruang yang dilakukan; b. khusus untuk jalan raya lintas Tengah Nanggroe Aceh Darussalam dan pantai Barat – Selatan ialah : • Agar alinemennya ditingkatkan hingga mencapai kecepatan rencana paling kurang 80 km/jam;

99

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

• Untuk memfasilitasi jalur alternatif dengan asal dan tujuan perjalanan yang sama, dengan demikian kerusakan yang terjadi pada salah satu lintasan tidak sampai terjadi hubungan macet; • Lebar tubuh jalan di pegunungan yang sebahagian besar masih 6 m (lebar perkerasan 4,5 m dan bahu kiri kanan 1,5 m), perlu dilebarkan menjadi 10 m (lebar perkerasan 6 m dan bahu kiri kanan 4 m). c. Untuk lalu lintas kepulauan, selain yang dari syarat untuk bagian Tengah dan pantai Barat – Selatan tersebut, diperlukan membangun jalan baru hingga tersambung dari asal dan tujuan. Tidak ada lagi jalan yang terputus. Sasaran kegiatan tersebut adalah terselenggaranya, terpeliharanya kapasitas dan kualitas pelayanan transportasi baik inter moda maupun antar moda tanpa dampak yang berati dari gangguan musim dan transportasi selalu lancar tidak pernah terputus, baik karena efektifnya pelayanan antar moda maupun karena tersedianya lajur alternatif. 2. INVENTARISASI KERUSAKAN DAN KERUGIAN Fasilitas jalan raya sepanjang 3.484,60 km tersebut tersebar pada berbagai kawasan dalam Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Penyebarannya oleh Dinas Praswil Nanggroe Aceh Darussalam dibagi menjadi 5 kelompok, yaitu kelompok Lintas Timur, Lintas Barat, Lintas Tengah, Lintas Kepulauan, Lintas Strategis dan Lintas Perkotaan, seperti diperlihatkan pada Tabel 5.2 dan Peta 5.1. Kualitas pelayanan dan kondisi jalan pada masing-masing kawasan tersebut sangat bervariasi, yang pada dasarnya dipengaruhi oleh keadaan lingkungan lintasan dan mutu teknis jalan yang ada. Lintas Timur yang melayani pantai Utara – Timur Nanggroe Aceh Darussalam merupakan lintasan dengan kualitas pelayanan yang terbaik.

100

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Akibat bencana gempa dan gelombang Tsunami 29 Desember 2004, lintasan ini sepanjang 207,48 km mengalami rusak ringan dan 57,17 km mengalami rusak berat. Secara rinci kondisi jalan tersebut pasca bencana 26 Desember 2004 dimuat pada Tabel 5.3. Lintas Barat, Lintas Tengah dan Lintas Kepulauan merupakan lintasan yang paling kritis. Lintas Barat yang melayani pantai Barat – Selatan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, membentang melintasi daerah pegunungan dan dataran rendah. Ketika terjadi bencana, gempa dan Tsunami 26 Desember 2004 jalan lintas Barat sepanjang 684,29 km ini mengalami rusak berat sepanjang 309,09 km, rusak ringan : 132,05 km. kerusakan yang terberat terjadi pada lintasan Banda Aceh – Meulaboh dengan panjang jalan yang ada 245 km mengalami kerusakan sepanjang 214 km. Sisa kerusakan secara sporadis terjadi pada lintasan dari Meulaboh ke batas Sumatera Utara. Secara rinci daftar kerusakan pada Lintas Barat ini dimuat pada Tabel 5.4. Pada Lintas Tengah terdapat lintasan jalan sepanjang 509,92 km, sepanjang 375,2 km sudah beraspal, 120,65 km jalan kerikil, sedang sisanya 14,07 km masih berupa jalan tanah. Ketika terjadi bencana gempa dan Tsunami 26 Desember 2004, sepanjang 184,9 km jalan ini mengalami rusak ringan sementara 155,96 km rusak berat. Oleh karenanya pemanfaatan jalan ini sebagai jalan alternatif pasca bencana tidak terlalu mulus; hanya dapat dilalui dengan susah payah oleh kendaraan roda dua. Secara rinci kondisi jalan Lintas Tengah ini diperlihatkan pada Tabel 5.5 Lintas Kepulauan, merupakan jaringan jalan yang ada di pulau Weh, pulau Simeulue, pulau – pulau Aceh dan pulau Banyak. Pada daerah kepulauan ini jalan yang telah ada masih sangat minim. Akibat bencana alam gempa dan Tsunami tanggal 26 Desember 2004; sepanjang 167,05 km jalan ini mengalami rusak ringan dan sepanjang 87,56 km rusak berat. Secara rinci kondisi jalan lintas kepulauan ini diperlihatkan pada Tabel 5.6. Lintas Strategis, merupakan jalan-jalan strategis dalam kota, jalan kepelabuhan, jalan tembus dari pantai Utara – Timur ke pantai Barat Selatan,

101

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

maupun jalan – jalan baru yang menghubungkan bagian Tengah Aceh ke pesisir Utara – Timur atau pantai Barat Selatan. Ketika terjadi bencana 26 Desember 2004, sepanjang 508,53 km jalan ini rusak ringan serta 637,62 km rusak berat. Secara rinci kondisi jalan lintas strategis ini dimuat pada Tabel 5.7. Lintas perkotaan merupakan jalan-jalan dalam kota – kota Meulaboh, Sabang, Banda Aceh, Takengon dan Sigli yang banyak mengalami kerusakan akibat gempa dan Tsunami tanggal 26 Desember 2004 yang lalu. Panjang jalan keseluruhan adalah 25,73 km dengan lebar perkerasan sebahagian besar 4,5 m. sebahagian besar sudah di aspal, hanya 3,5 km jalan kerikil dan 1,19 km jalan tanah. Ketika bencana alam 26 Desember 2004, semua jalan mengalami kerusakan, dengan kategori 21,51 km rusak ringan dan 4,22 km rusak berat. Secara rinci kondisi jalan tersebut dimuat pada tabel 5.8. Untuk kota Banda Aceh, kerusakan akibat bencana alam tanggal 26 Desember 2004 diperlihatkan pada Tabel 5.9 dan dimuat pada Peta 5.2 Kondisi sarana dan prasarana sub bidang transportasi, seperti terminal bus, pengujian kendaraan bermotor (PKB), jembatan timbang, stasiun bus DAMRI dan halte bus kota juga mengalami kerusakan akibat bencana alam 26 Desember 2004. jumlah fasilitas tersebut yang ada di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan jumlah kerusakannya diperlihatkan pada Tabel 5.1 .Terdapat 8 pelabuhan penyeberangan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Akibat bencana 26 Desember 2004 2 buah yaitu Ule-Lheu dan Meulaboh mengalami rusak berat, sedang 6 sisanya rusak ringan. 3. RONA Akibat bencana gempa dan gelombang Tsunami 26 Desember 2004, prasarana dan sarana perhubungan yang berlokasi di lintasan pantai Barat – Selatan, khususnya dari Banda Aceh – Lamno – Calang – Meulaboh – Nagan Raya mengalami kerusakan yang sangat parah. Jalan nasional sepanjang 245 km, mengalami kerusakan sepanjang 214 km, atau 88% rusak. Fasilitas

102

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

transportasi lainnya seperti bandar udara, pelabuhan laut mengalami kerusakan 30%. Akibatnya sangat fatal, hubungan terputus. Perbaikan dalam bentuk rehabilitasi tanpa pemindahan tidak mungkin lagi. Perlu relokasi ke lintasan yang lebih aman untuk memfungsikannya kembali. Sementara kondisi sarana dan prasarana lalu lintas yang berada diluar pantai, terutama yang melalui daerah pegunungan kondisinya belum siap untuk menjadi lintasan alternatif, terutama prasarana jalan raya. Kondisi ini disebabkan oleh : 1. Belum siapnya dibangun lintasan-lintasan alternatif tersebut; belum beraspal dan sebagainya; 2. Rendahnya mutu perencanaan jalan yang diterapkan, seperti tanjakan yang besar, lebar tubuh jalan 6 m dan sebagainya. Dengan demikian dapat disimpulkan, jalur alternatif belum dapat berfungsi menanggulangi kemacetan pada lintasan utama. Pembangunan fasilitas baru perlu penyesuaian dengan perubahan tata ruang yang diusulkan 4. PENILAIAN KEBUTUHAN

Akibat bencana gempa dan gelombang Tsunami 26 Desember 2004, kotakota Banda Aceh, Lamno, Meulaboh dan kota lain sepanjang pantai Barat mengalami kerusakan sekitar 70%. Prasarana dan sarana transportasi rusak dan tidak berfungsi. Diperlukan strategi penanganan sebagai berikut : a. Optimalisasi sarana dan prasarana transportasi yang telah ada melalui rehabilitasi dan peningkatan. Pembangunan fasilitas baru dilakukan jika dirasa lebih efektif dan efisien serta menyesuaikan dengan penataan ruang; b. Secepatnya meningkatkan fasilitas, lintasan alternatif untuk mengantisipasi kelambatan dalam rehabilitasi;

103

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

c. Mendorong partisipasi masyarakat, Community – Based Development untuk pekerjaan Low – Tech, skala kecil dan batas beneficiaries yang jelas. 5. PERTIMBANGAN KELAYAKAN Prinsip dasar usulan program rehabilitasi dan rekonstruksi sebagai berikut : a. Memantapkan pelayanan fasilitas pengganti (Lintasan alternatif) sambil menunggu pekerjaan rekonstruksi yang memerlukan tahap – tahap survey, perencanaan dan konstruksi sendiri; b. Dalam hal penanganan hubungan jalan darat Banda Aceh – Meulaboh, diupayakan memantapkan pelayanan jalan alternatif : Beureunun – Tangse – Geumpang – Tutut – Meulaboh. Lintasan tidak terkendala dengan penyesuaian tata ruang baru, hanya meningkatkan konstruksi jalan yang sudah ada; c. Rehabilitasi dan rekonstruksi jalan Banda Aceh – Meulaboh, pelabuhan laut dan bandara yang rusak berat, dilakukan setelah ada penetapan tentang tata ruang baru; d. Melakukan peningkatan jalan – jalan lintas Tengah Nanggroe Aceh Darussalam seperti jalan Ladia Galaska dan jalan – jalan di kawasan kepulauan Nanggroe Aceh Darussalam. 6. STRATEGI DAN USULAN PROGRAM Arah kebijakan pembangunan transportasi darat laut dan udara pasca bencana 26 Desember 2004 adalah : 1. Merehabilitasi prasarana perhubungan darat yang mengalami kerusakan akibat bencana 26 Desember 2004, sejauh lokasi, lintasan dan pemanfaatannya mash sesuai dengan tata ruang baru yang diterapkan. 2. Melakukan pemindahan, pengalihan lokasi dan lintasan prasarana perhubungan darat, apabila lintasan dan pemanfaatannya sudah tidak sesuai dengan tata ruang baru yang ditetapkan. Pembangunan

104

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

prasarana yang dipindahkan atau dialihkan tersebut diusahakan dengan standar yang lebih baik; menyangkut kecepatan rencana, lebar tubuh jalan, lebar daerah penguasaan jalan, jarak pandangan, dan sebagainya. 3. Membangun jalan-jalan alternatif untuk setiap lintasan, sehingga bila ada gangguan pada suatu lokasi, baik karena banjir, longsor tanah dan sebagainya, yang biasa terjadi tiap tahun, lalu lintas tidak terputus. Jalan alternatif ini dapat dilakukan dengan peningkatan jalan-jalan Lintas Tengah yang saat ini kondisinya masih dibawah standar, baik dari segi geometrik, lebar tubuh jalan dan tanjakannya. 4. Membuka bagian pedalaman dan kepulauan Nanggroe Aceh Darussalam hingga mempunyai hubungan yang lancar, baik ke pantai Utara – Timur, maupun ke pantai Barat – Selatan, atau antara Kabupaten/Kota yang berbatasan langsung; hingga tidak perlu dengan jalan melingkar, atau bahkan harus melalui provinsi tetangga (Sumatera Utara) Program – Program Pembangunan

A. Program Transportasi Darat
1. Lintas Timur a. Perbaikan jalan rusak ringan sepanjang : 207,48 km; b. Perbaikan jalan rusak berat sepanjang : 57,17 km. 2. Lintas Barat a. Survey dan design lintasan baru, sepanjang : 214 km; b. c. d. a. Membangun baru jalan Banda Aceh – Meulaboh sepanjang : 214 km; Perbaikan jalan rusak berat : 95,09 km; Perbaikan jalan rusak ringan : 132,05 km Relokasi lintasan untuk memperkecil tanjakan jalan sepanjang : 153 km (30%);

3. Lintas Tengah

105

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

b.

Perbaikan tubuh jalan dari 6 m menjadi 10 m sepanjang : 353,99 km; termasuk pembangunan parit kiri kanan dan pelebaran perkerasan dari 4,5 m menjadi 6 m dan pengaspalan;

c. d.

Perbaikan rusak ringan : 184,99 km; Perbaikan rusak berat : 155,96 km.

4. Lintas Kepulauan a. Pelebaran tubuh jalan dari 6 m menjadi 10 m sepanjang : 292,28 km; termasuk pembuatan parit kiri kanan jalan dan pelebaran perkerasan dari 4,5 m menjadi 6 m dan pengaspalan; b. Pemasangan perkerasan dan pengaspalan sepanjang : 163,21 km. c. Melakukan perbaikan terhadap jalan yang rusak ringan, sepanjang : 167,95 km; d. Melakukan perbaikan terhadap jalan yang rusak berat sepanjang : 87,56 km. 5. Lintas Strategis a. jalan dalam kota Banda Aceh : - Perbaikan rusak berat : 12,77 km; - Perbaikan rusak ringan : 19,50 km. b. Perbaikan rusak berat (tersebar) : 625 km; Perbaikan rusak ringan (tersebar) : 490,52 km. c. Pembangunan jalan belum tembus : 77 km. 6. Lintas Perkotaan a. Perbaikan rusak berat : 4,22 km; b. Perbaikan rusak ringan : 21,51 km; c. Pengaspalan dan perkerasan : 4,69 km. Kota Banda Aceh - Jaringan jangan terpusat; - Perbanyak penyeberangan sungai jalan P. Nyak Makam teruskan dengan jembatan ke Lhueng Bata, sehingga Lhoknga – Darussalam tak perlu lewat Simpang Lima dan sampai dengan Jambo Tape; - Pusat pembangunan kota terpencar :

106

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

- Ulee Kareng – Keutapang Dua – Lambaro tentu akan bergeser ke selatan dan ke timur; 7. Perbaikan Terminal Bus : a. Rusak ringan : 9 buah; Rusak berat : 1 buah; b. PKB rusak berat : 1 buah; c. Jembatan timbang rusak ringan : 1 buah; d. Stasiun bus DAMRI rusak berat : 1 buah; e. Perbaikan Halte bus rusak ringan : 30 buah; f. Perbaikan pelabuhan penyeberangan : - rusak berat : 2 buah; - rusak ringan : 6 buah.

B.

Program Transportasi Laut
a. Perbaikan pelabuhan laut - rusak berat : 3 buah; - rusak ringan : 6 buah; b. Perbaikan pelabuhan rakyat - rusak berat : 1 buah; - rusak ringan : 3 buah;

C.

Program Transportasi Udara
a. Perbaikan Bandar Udara - rusak berat : 2 buah; - rusak ringan : 3 buah; b. Perbaikan kantor SAR dan peralatannya : 1 buah.

7.

ESTIMASI PENDANAAN Perkiraan dana yang diperlukan untuk program sektoral, rehabilitasi dan

rekonstruksi infra struktur perhubungan adalah sebagai berikut : a. Perhubungan Darat
1. Program pengembangan transportasi sungai, danau dan penyeberangan.

107

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

A. Peningkatan/Pengembangan Pelabuhan Penyeberangan Rp. 23.165.000.000,Rp. Rp. 123.789.700.000,873.175.000,B. Pembangunan Pelabuhan Penyeberangan 2. Pembangunan Infra Struktur A. Rehabilitasi B. Rekonstruksi 3. Search And Rescue (SAR) A. Rekonstruksi Rp. 26.610.000.000,Rp. 2.196.000.000.000,-

b. Perhubungan Laut 1. Program Pengembangan Pelayanan Transportasi Laut A. B. c. Pembangunan/Peningkatan Prasarana dan Sarana Transportasi Laut Rp. Rehabilitasi Pelabuhan Rakyat (PELRA) Rp . 335.483.221.000,2.272.170.000,-

Perhubungan Udara A. Rehabilitasi Banda Udara B. Pengembangan/Pembangunan Banda Udara Rp. Rp. 17.012.648.000,710.660.179.270,-

1. Program Pengembangan Pelayanan Transportasi Udara

d. Pos dan Telekomunikasi 1. Program Pengembangan Jasa Telekomunikasi A. Pengembangan Fasilitas telekomunikasi pedesaan Total Rp. 3.843.750.000,Rp. 3.439.709.813.000,-

(Tiga Trilyun Empat Ratus Tiga Puluh Sembilan Milyar Tujuh Ratus Sembilan Juta Delapan Ratus Tiga Belas Ribu Rupiah). Secara Rinci Perkiraan (Tentative) dana yang diperlukan tersebut dicantumkan pada Tabel 5.10.

108

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

C. SUB BIDANG SUMBER DAYA AIR 1.1 LATAR BELAKANG PSA atau

Pengembangan

Sumberdaya

Air

(water

resources

development) di Aceh mulai giat dilakukan sejak adanya program pembangunan lima tahunan (Pelita). Kegiatannya meliputi meningkatkan fungsi prasarana yang sudah ada, inventarisasi sumber-sumber air, dan pembangunan prasarana dasar pengairan dan air baku. Lebih dari tiga dekade, PSA di Aceh telah banyak berbuat dan telah menjangkau hampir seluruh wilayah provinsi hingga ke wilayah kepulauan, termasuk pulau Weh dan Simeulue. Dalam programnya, PSA diarahkan pada pemanfaatan sumber air untuk menunjang semua kegiatan masyarakat dan mengontrol atau mengendalikan perilaku air, yaitu banjir. Dengan meningkatnya jumlah penduduk dan jenis aktivitas masyarakat yang berkait langsung dengan alam atau sumber air, mengakibatkan beberapa usaha pemanfaatan PSA tidak menunjukkan tingkat keberhasilan (peformance) yang masih dibawah nilai rencana. Permasalahan pemeliharaan konstruksi dan manajemen pengelolaannya juga merupakan dua hal yang masih menjadi masalah dalam program PSA di Aceh. Dengan adanya kejadian bencana alam gempa bumi dan tsunami yang melanda Aceh tanggal 26 Desember 2004 dengan kerusakan akibat bencana yang sifatnya total, maka hal ini memperpanjang permasalahan PSA di Aceh. Banyaknya anggota masyarakat dari berbagai tingkatan yang menjadi korban dan rusaknya prasarana dasar (PSD) baik pengairan dan air baku, maka diperlukan penanganan secara sempurna dalam mencapai dan memulihkan program PSA di Aceh. Luasnya permasalahan pada PSA sehingga penanganannya harus dilakukan secara integral dalam sistem manajemen dan holistik dalam hal penanganan fisik. 1.2 Tujuan dan Sasaran Program

109

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Tujuan penanganan PSA pasca bencana adalah untuk memposisikan kembali program ini dalam koridor yang sudah ada dengan melakukan usaha refunctioning and upgrading prasarana dasar yang sudah ada. Jadi secara umum tujuan ini adalah menyiapkan tersedianya infrastruktur yang handal untuk penunjang kegiatan pada pencapaian sasaran pembangunan. Sasaran program adalah pembangunan PSA dalam mencapai masyarakat yang adil makmur sejahtera melalui pemanfaatan sumbardaya air dengan tetap memperhatikan kaidah kelestarian lingkungan yang berkesinambungan. 1.3 Cara Penyusunan Program Semua program merupakan bagian dari penjabaran masterplan PSA untuk Aceh yang secara spesifik dikelompokkan dalam 8 (delapan) satuan

wilayah sungai (SWS). Jadi untuk pengembangan setiap SWS terus berjalan
baik inventarisasi, pemeliharaan, perencanaan, dan konstruksi. Dengan adanya bencana ini maka perlu adanya recovery fungsi konstruksi yang perlu dimasukkan dan dalam program konstruksi pembangunan perlu SWS. Hal yang belum program dilaksanakan dalam pengembangan SWS seperti manajemen pengelolaan pemeliharaan dimasukkan dalam pengembangan SWS. Penyusunan program PSA merupakan kegiatan siklus yaitu dengan memberikan umpan balik hasil monitoring pada penyusunan program baru untuk tahun mendatang. Karena terkait dengan kondisi sumberdaya dan alam serta lingkungan maka dalam pengembangan PSA perlu diperhatikan adanya daya dukung yang tidak boleh dilampaui oleh kemampuan program pembangunan. 1.4 Tantangan Program Tantangan program dapat dipastikan akan terkait dengan

Sumberdaya; seperti manusia, lahan, waktu, dana, teknologi, dan material, serta peralatan. Masyarakat yang masih trauma dan kondisi tidak stabil akan

110

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

menjadi tantangan pokok dalam penanganan program karena masyarakatlah yang merupakan subjek pembangunan ini. Lahan pembangunan akan menjadi masalah karena faktor sistem kepemilikan tanah akan berbenturan dengan pekerjaan fisik konstruksi. Karena sifatnya adalah memfungsikan kembali dan meningkatkan kualitas hasil pembangunan PSA, maka akan berpacu dengan waktu sehingga waktu yang relatif singkat akan menjadi tantangan tersendiri. Sumber dana, teknologi, material dan peralatan juga akan menjadi kendala dalam menunjang program pembangunan sektor PSA ini. Banyaknya tantangan maka diperlukan manajemen proyek yang ‘in order’ agar tantangan ini dapat dilalui dan membuahkan hasil yang sesuai dengan tujuan dan sasaran pembangunan.

II. INVENTARISASI KERUSAKAN DAN KERUGIAN 2.1 Tingkat Kerusakan dan Kerugian Bencana alam gempa dan tsunami mengakibatkan kerusakan mulai dari tingkat terganggunya fungsi suatu sistem operasional konstruksi hingga rusak total. Untuk memudahkan perlu dibuat kategori kerusakan mulai dari: (1) rusak ringan (light damage); (2) rusak sedang (medium damage); (3) rusak berat (heavy damage); dan (4) hancur (destroyed). Suatu PSD dikatakan mengalami rusak ringan apabila secara struktural tidak mengalami kerusakan hanya pada bagian-bagian tertentu memerlukan usaha atau kegiatan pembersihan sampah-sampah dan kotoran. Setelah usaha ini dilakukan maka sistem tersebut dapat difungsikan kembali. Dikatakan rusak sedang apabila PSD memerlukan kegiatan perbaikan dan rehabilitasi konstruksi untuk dapat memfungsikan kembali PSD tersebut.

111

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Suatu PSD dikatakan rusak berat apabila secara menyeluruh bangunan pada sistem tersebut telah mengalami kerusakan dan perlu perbaikan berat untuk strukturnya agar konstruksi dapat berfungsi kembali. Apabila pembangunan menghendaki konstruksi baru dan bangunan yang lama tidak dapat difungsikan sama sekali maka kerusakannya dikategorikan sebagai hancur total. Untuk memudahkan penanganan kerusakan maka pengelompokan kerusakan menurut lokasinya dapat dilakukan. Untuk PSA lokasi kerusakan dapat dikelompokkan dalam SWS atau Derah Tingkat II. Sektor kerusakan dapat dikelompokkan menurut jenisnya, seperti: (1) (2) (3) (4) (5) PSD Pengairan; PSD Air Baku; Drainase Kota; Perbaikan Sungai; Perbaikan Pantai.

Hasil kajian kerusakan PSD dan sektor pada PSA adalah sebagai berikut. Ada sejumlah profil kegiatan sub-bidang Sumberdaya air dalam tiga bidang yang direncanakan di luar bidang pengadaan airbaku dan drainase kota, yaitu: a. b. 20 kegiatan rehabilitasi dan 7 kegiatan rekonstruksi daerah rehabilitasi perbaikan sungai dan pengendalian banjir sungaiirigasi yang tersebar di seluruh wilayah prov. NAD; sungai kecil (25 km), menengah (10 km), dan besar (5 km) serta rekonstruksi normalisasi aliran sungai dan pengendalian banjir sungai-sungai menengah (25 km), dan besar (64 km) serta kolam/waduk/polder 5 unit; c. rehabilitasi pengamanan pantai: perlindungan abrasi 19795 km, tanggul pantai 1.9 km, tembok laut 8012 km, dan jetty 1400m serta rekonstruksi pengamanan pantai: perlindungan abrasi 11.4 km, tanggul pantai 5.5 km, tembok laut 8.75 km, jetty 2.3km dan floodway 2.3km.

112

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Secara umum tujuan, sasaran dan kegiatan pokok disajikan pada masing-masing profil kegiatan seperti yang disajikan pada Tabel 3.1 sampai dengan Tabel 3.5 untuk masing-masing sektor kerusakan yaitu PSD Pengairan, PSD Air Baku, Drainase Kota, Perbaikan Sungai, dan Perbaikan Pantai. Lembaga kajian yang telah menganalisis hasil kerusakan tersebut di atas adalah Dinas Sumber Daya Air Provinsi NAD dengan kondisi data sampai akhir bulan Februari 2005. Restrukturalisasi kembali PSD dan sektor pada PSA memerlukan usaha dan dana yang tidak sedikit sehingga memerlukan ‘source of funds’ atau donor. Sebagai donor pembangunan kembali konstruksi dari kerusakan akibat bencana alam gempa dan tsunami adalah negara-negara sahabat.

113

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

II. RONA FISIK PASCA BENCANA GEMPA BUMI DAN TSUNAMI 3.1 PSD Pengairan
No 1 2 Lokasi SWS 01.01 SWS 01.01 Nama PSD DI Krueng Jreue DI Krueng Aceh Kerusakan Jaringan Utama Bangunan Bendung Jaringan Utama Waduk Talang, jaringan tersier Jaringan Utama Saluran Drainase Jaringan Utama Bangunan Bendung Waduk Jaringan Utama Bangunan utama Bangunan suplesi Saluran Pembuang Jaringan utama Jaringan utama Bendung Jaringan Kerusakan Jaringan utama Bangunan Bendung Jaringan Jaringan utama Bangunan Bendung Jaringan Kerusakan Tindak Lanjut Rehabilitasi Rehabilitasi

3 4 5 6 7 8 No 9

SWS 01.01 SWS 01.01 SWS 01.02 SWS 01.02 SWS 01.02 SWS 01.03 Lokasi SWS 01.03

DI Geunteut Lamsujen & Geupeu DI Paya Seunara DI Lhok Keumudee DI Krueng Baro DI Cubo/Trienggadeng DI Datar Diana Nama PSD DI Pantee Lhoong

Rehabilitasi Rehabilitasi Rehabilitasi Rehabilitasi Rehabilitasi Rehabilitasi Rekonstruksi Tindak Lanjut Rehabilitasi Rekonstruksi Rehabilitasi Rekonstruksi Tindak Lanjut

10

SWS 01.03

DI Peudada

No

Lokasi

Nama PSD

114

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala
11 SWS 01.03 DI Samalanga Jaringan utama Bangunan Jaringan Jaringan Utama Jaringan Utama Bangunan Jaringan Jaringan Utama Bangunan sandtrap Jaringan Bendung Jaringan Utama Jaringan Utama Waduk Bendung Jaringan Utama Jaringan Utama Jaringan Induk Jaringan Utama Jaringan Utama Embung Saluran Pembuang Rehabilitasi Rekonstruksi Rehabilitasi Rehabilitasi Rekonstruksi Rehabilitasi Rekonstruksi Rehabilitasi Rehabilitasi Rekonstruksi Rekonstruksi Rehabilitasi Rehabilitasi Rehabilitasi Rehabilitasi Rehabilitasi

12 13

SWS 01.03 SWS 01.03

DI Krueng Tuan DI Krueng Pase

14

SWS 01.03

DI Jembosei

15 16 17 18 19 20 21 22

SWS 01.03 SWS 01.04 SWS 01.05 SWS 01.06 SWS 01.06 SWS 01.06 SWS 01.07 SWS 01.07

DI Beurawang Gadeng DI Peunaron DI Lhok Guci DI Tangan Tangan DI Manggeng DI Suak Lamatan DI Sianjo-anjo DI Rawa Singkil

115

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

3.2 PSD Air Baku
No 1 2 3 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Lokasi SWS 01.01 SWS 01.01 SWS 01.01 SWS 01.02 SWS 01.03 SWS 01.03 SWS 01.04 SWS 01.04 SWS 01.05 SWS 01.05 SWS 01.05 SWS 01.06 SWS 01.06 Nama PSD PDAM Tirta Daroy/ Banda Aceh Sabang Aceh Besar PDAM Sigli PDAM Bireuen Aceh Utara PDAM Langsa PDAM Tamiang PDAM Abdya Aceh Barat Nagan Raya Aceh Selatan Simeulue Kerusakan Jaringan Distribusi Instalasi air Bersih Rumah Pompa Rumah Pompa Instalasi Air bersih Jaringan Utama Jaringan distribusi Instalasi air Bersih Instalasi air Bersih Instalasi air Bersih Jaringan distribusi Jaringan tersier Instalasi air Bersih Instalasi air Bersih Instalasi air Bersih Sistem Jaringan Instalasi air Bersih Sistem Jaringan Instalasi air Bersih Sistem Jaringan Instalasi air Bersih Sistem Jaringan Instalasi air Bersih Tindak Lanjut Rehabilitasi Rehabilitasi Rehabilitasi Rekonstruksi Rekonstruksi Rehabilitasi Rehabilitasi Rehabilitasi Rehabilitasi Rehabilitasi Rekonstruksi Rekonstruksi Rekonstruksi

116

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

3.3

Drainase Perkotaan
No 1 Lokasi SWS 01.01 Drainase Kota Kota Banda Aceh Kerusakan Sistem Jaringan Bangunan Kolam pengumpul Jaringan Pembuang utama Sistem Jaringan Jaringan Pembuang utama Sistem Jaringan Jaringan Pembuang utama Sistem Jaringan Jaringan Pembuang utama ? ? ? ? Tindak Lanjut Rehabilitasi Rekonstruksi Rehabilitasi Rekonstruksi Rehabilitasi Rekonstruksi Rehabilitasi Rekonstruksi

2 3 4 5 6 7 8 9

SWS 01.02 SWS 01.03 SWS 01.03 SWS 01.04 SWS 01.05 SWS 01.05 SWS 01.06 SWS 01.07

Kota Sigli Kota Bireuen Kota Lhok Seumawe Kota Langsa Kota Lamno Kota Meulaboh Kota Tapaktuan Kota Subulussalam

117

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

3.4 Penanggulangan Banjir
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Lokasi SWS 01.01 SWS 01.01 SWS 01.01 SWS 01.02 SWS 01.02 SWS 01.02 SWS 01.03 SWS 01.03 SWS 01.03 SWS 01.04 SWS 01.04 SWS 01.04 SWS 01.05 SWS 01.05 SWS 01.05 Konst. Banjir Krueng Aceh Krueng Neng Krueng Titi Panyang Krueng Baro Krueng Tiro Krueng Meuruedu Krueng Samalanga Krueng Peusangan Krueng Nalan Krueng Arakundo Krueng Jambo Aye Krueng Tamiang Krueng Teunom Krueng Sabee Krueng LamBeusoi Kerusakan Pelindung talud Tanggul Pelindung talud Tanggul Pelindung talud Tanggul Pelindung talud Tanggul Pelindung talud Tanggul Pelindung talud Pelindung talud Pelindung talud Tanggul Pelindung talud Pelindung talud tanggul Pelindung talud tanggul Pelindung talud Tanggul Pelindung talud Tanggul Pelindung talud Tanggul Pelindung talud Tanggul Tindak Lanjut Rehabilitasi Rekonstruksi Rehabilitasi Rehabilitasi Rehabilitasi Rekonstruksi Rehabilitasi Rekonstruksi Rehabilitasi Rehabilitasi Rehabilitasi Rehabilitasi Rehabilitasi Rekonstruksi Rehabilitasi Rekonstruksi Rehabilitasi Rehabilitasi Rekonstruksi Rehabilitasi Rekonstruksi Rehabilitasi Rekonstruksi

118

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

3.5

Perlindungan Pantai
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Lokasi SWS 01.01 SWS 01.01 SWS 01.01 SWS 01.01 SWS 01.01 SWS 01.01 SWS 01.01 SWS 01.02 SWS 01.03 SWS 01.03 SWS 01.04 SWS 01.05 SWS 01.05 SWS 01.05 Nama Pantai Syiah Kuala /Muara Kr Aceh Ulee Lheue Alue Naga Krueng Raba Ujong Asam Keuneukai Balohan Mantak Tari Krueng Mane Samalanga Kuala Idi Padang Sirahet Ujong Kalak Peunaga Kerusakan Jetty Revetment Breakwater Revetment Breakwater Erosi (set off) Jetty Jetty Revetment Breakwater Revetment Breakwater Revetment Breakwater Revetment Breakwater Perlindungan Muara/jetty Revetment Breakwater Revetment Jetty Revetment / Breakwater Revetment / Breakwater Revetment / / / / / / / / Tindak Lanjut Rehabilitasi Rekonstruksi Rehabilitasi Rekonstruksi Rehabilitasi Rekonstruksi Rehabilitasi Rekonstruksi Rehabilitasi Rekonstruksi Rehabilitasi Rekonstruksi Rehabilitasi Rekonstruksi Rehabilitasi Rekonstruksi Rehabilitasi Rekonstruksi Rehabilitasi Rekonstruksi Rehabilitasi Rekonstruksi Rehabilitasi Rekonstruksi Rehabilitasi Rekonstruksi Rehabilitasi

119

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala
Breakwater Revetment Breakwater Revetment Breakwater Revetment Breakwater Revetment Breakwater Revetment Breakwater Revetment Breakwater Revetment Breakwater Revetment Breakwater Revetment Breakwater Rekonstruksi Rehabilitasi Rekonstruksi Rehabilitasi Rekonstruksi Rehabilitasi Rekonstruksi Rehabilitasi Rekonstruksi Rehabilitasi Rekonstruksi Rehabilitasi Rekonstruksi Rehabilitasi Rekonstruksi Rehabilitasi Rekonstruksi Rehabilitasi Rekonstruksi

15 16 17 18 19 20 21 22 23

SWS 01.05 SWS 01.05 SWS 01.05 SWS 01.06 SWS 01.06 SWS 01.06 SWS 01.06 SWS 01.06 SWS 01.06 Tapaktuan

Calang Babah Nipah Teunom Ujong Kareung Lhok Timun Batu Putih Sama Tiga Kuala Tuha Pantai Kota

/ / / / / / / / /

120

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

VI. PENILAIAN KEBUTUHAN REKONSTRUKSI 4.1 Usulan Masyarakat Usul ini diperoleh melalui penjaringan aspirasi masyarakat baik yang diperoleh melalui lokakarya pokja III pada tanggal 5 Maret 2005 ataupun di luar forum tersebut. 4.2 Usulan Pusat Studi Usulan dari Laboratorium Hidro Fakultas Teknik Unsyiah dan Lembaga UP-PSDA FT Unsyiah adalah: arah kebijakan dalam rencana kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi bidang sumberdaya air ini adalah perlunya suatu perencanaan dan manajemen sumberdaya air yang komprehensif dalam suatu ‘framework dari regional environmental plan’. Konsep yang disarankan dalam IWRM (integrated

water

resource

management) yang mengkoordinasikan manajemen dan pengembangan
sumberdaya air, lahan, dan sumber terkait lainnya yang bertujuan memaksimalkan hasil secara ekonomis dan kesejahteraan sosial dalam suatu kondisi yang tetap masih mempertimbangkan ekosistem penting berkelanjutan (GWP, 2000) perlu difahami untuk aktivitas ini. Lebih terfokus lagi dalam mengatasi permasalahan dalam kegiatan perencanaan rehabilitasi dan rekonstruksi bidang sumberdaya air,

studi eko-hidrolik (pendekatan yang memadukan antara rekayasa hidrolik
dan pertimbangan ekologis pada penyelesaian masalah keairan) menjadi bagian penting dalam kegiatan ini. 4.3 Usulan Dinas Terkait (mengambil data dari paparan Ka. Dinas SDA Prov. NAD pada Lokakarya Pokja III) 4.4 Masterplan (Program Pemerintah) (mengambil data dari paparan pada Lokakarya Pokja III

Bappenas/Bappeda/ Dinas SDA Prov. NAD)

121

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

V. KELAYAKAN REKONSTRUKSI DAN REHABILITASI 4.1 4.2 4.3 4.4 4.5 Kelayakan Teknis Kelayakan Ekonomis Kelayakan Lingkungan Kelayakan Sumberdana Kelayakan Kebijakan Pemerintah

VI. STRATEGI DAN USULAN PROGRAM 6.1 Program Penanggulangan Darurat (Rehabilitasi) (mengambil data dari paparan Ka. Dinas SDA Prov. NAD pada Lokakarya Pokja III) 6.2 Program Penanggulangan Jangka Menengah (Rekonstruksi) (mengambil data dari paparan Ka. Dinas SDA Prov. NAD pada Lokakarya Pokja III) 6.3 Program Pembangunan Jangka Panjang (Future Plan) (mengambil data dari paparan Ka. Dinas SDA Prov. NAD pada Lokakarya Pokja III) VII. ESTIMASI PENDANAAN 7.1 Jenis Kegiatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi pada 8 SWS di Prov. NAD dikelompokkan menurut jenisnya, yaitu: (a) PSD Pengairan; (b) PSD Air Baku; (c) Drainase Kota; (d) Perbaikan Sungai;

122

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

(e) Perbaikan Pantai. 7.2 Sumber Dana Pembangunan Sumber dana pembangunan ini sebagian berasal dari RAPBN dan RAPBD. Sebagian besar lagi berasal dari berbagai fihak ‘source of funds’ yang telah berjanji untuk membantu membangun Aceh Kembali. Sebagai donor pembangunan kembali konstruksi dari kerusakan akan ditentukan kemudian berdasarkan persepakatan). 7.3 Kebutuhan Jumlah Dana Pembangunan (mengambil data dari paparan Ka. Dinas SDA Prov. NAD pada Lokakarya Pokja III) akibat bencana alam gempa dan tsunami antara lain adalah negara-negara sahabat (yang

123

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

BAB I POKJA – IV

EKONOMI DAN KETENAGAKERJAAN I. PENDAHULUAN
Gempa bumi dan tsunami yang dahsyat terjadi di NAD pada ahad, 26 Desember 2004 mengakibatkan sebagian besar masyarakat hilang/meninggal dunia dan sekaligus mengalami kegoncangan berbagai aspek sosial, ekonomi, budaya, dan infrastruktur publik dan non publik. Penduduk kehilangan mata pencaharian yang berdampak pada pendapatan mereka nol. Rusaknya infrastruktur publik seperti pasar, sarana produksi, dan transportasi telah mengakibatkan tingkat harga melambung tinggi dan sejumlah barang menjadi langka. Terhentinya kegiatan industri karena kerusakan berat pada fasilitas kerja yang kemudian menyebabkan bertambahnya pengangguran. Terjadinya salinasi lahan sehingga lahan yang tadinya produktif menjadi tidak produktif. Hancurnya ekonomi masyarakat pesisir di mana terhentinya kegiatan rutin nelayan dan sektor perikanan. Matinya kegiatan UMKM khususnya sektor perdagangan dan jasa di daerahdaerah pusat perbelanjaan. Lumpuhnya sistem perbankan dan lembaga keuangan non bank, dan sejumlah permasalahan lainnya (pendidikan, pemerintahan, budaya, kegoncangan jiwa, dan lainnya). Taksiran kerugian semua material akibat bencana ini mencapai Rp. 41,4 triliun, dan sebagian besar (78 persen) merupakan milik masyarakat (Bappenas). Penderitaan masyarakat Aceh yang demikian lama akibat konflik bersenjata yang panjang, ditambah lagi dengan bencana gempa dan tsunami, telah menempatkan mereka pada posisi yang semakin terpuruk. Sisi lain, administrasi pemerintahan belum optimal, KKN masih berlangsung, kemampuan (skill) SDM rendah, dukungan perbankan dan lembaga keuangan non-bank masih rendah, mengakibatkan semakin beratnya pemulihan dan pembangunan kembali Aceh yang baru.

124

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Namun di sisi lain, ada hikmah besar yang muncul secara spontan, yaitu solidaritas yang luar biasa dari masyarakat Indonesia dan masyarakat internasional terhadap masyarakat Aceh yang menjadi korban. Solidaritas ini menjadi modal yang kuat untuk masyarakat Aceh untuk bangkit dan menyongsong masa depan mereka yang lebih cerah. Ini merupakan suatu energi besar yang dapat mengantarkan masyarakat Aceh ke era baru kemajuan di berbagai bidang. Aceh harus bangkit, semangat Iskandar Muda harus tegak dan Roh Islam harus jalan di bumi serambi Mekkah. Untuk itu perlu dibuat satu Cetak Biru (Blue Print) Provinsi NAD, sehingga Aceh dapat tumbuh dan berkembang sebagai pemenuhan tuntutan globalisasi dengan bantuan dari berbagai pihak.

1.1 Tujuan Upaya rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh yang tergambarkan dalam cetak biru ini bertujuan untuk memberikan arah kebijakan secara lebih akurat dan dinamis dalam pembangunan masa depan baru yang bermuara pada peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat Aceh secara keseluruhan.

1.2 Sasaran Sasaran rehabilitasi dan rekontruksi Aceh diutamakan kepada korban tsunami baik langsung maupun tidak langsung serta kepada masyarakat Aceh yang tidak terkena tsunami untuk merubah corak perekonomian Aceh yang maju dan baru di masa depan secara bersama-sama dan komprehensif. II. INVENTARISASI KERUSAKAN DAN KERUGIAN Dampak yang paling parah (43 persen dari nilai kerusakan sektor produktif) dirasakan oleh para nelayan dan sektor perikanan. Diperkirakan, sekitar 85 persen perumahan permanen dan non-permanen mengalami kerusakan. Sebanyak 220.907 orang diperkirakan kehilangan pekerjaan. Jumlah penduduk yang terkena Tsunami sebanyak 584.559 jiwa (14,42

125

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

persen), desa yang terkena Tsunami sebanyak 654 desa (11,4 persen). Persentase keluarga miskin terkena Tsunami sebesar 15,16 persen (63.977 KK). UMKM yang terkena Tsunami sebanyak 20,88 persen (5.176 unit), hotel 30,41persen (59 unit), restoran 17,20 persen (1.119 unit), pasar 1,29 persen (195 unit), dan warung sebanyak 16,71 persen (7.529 unit). Khusus disektor perikanan, terdapat 19 unit (0,37 persen) TPI (tempat pelelangan ikan) yang rusak dan PPI (pangkalan pendaratan ikan) 63 unit (1,24 persen). Jumlah Bank Umum terkena Tsunami 17,61 persen (25 unit) dan BPR sebanyak 8,89 persen (4 unit). Dari keseluruhan kredit yang diberikan sektor perbankan sebesar Rp 3.9 triliun, sekitar Rp 2 triliun diperkirakan menjadi kredit bermasalah (IDB, Januari 2005).

III. RONA Banyak terjadi perubahan-perubahan pascatsunami, antara lain yang dapat diamati adalah terciptanya pasar-pasar baru dengan intensitas kegiatan yang padat dan tinggi, namun belum teratur dengan baik. Munculnya lembaga-lembaga bantuan asing yang bekerjasama dengan masyarakat (lokal dan nasional), yang mempunyai akses dana dan peralatan yang tinggi. Tingginya arus mobilitas penduduk ke kota Banda Aceh dan kota-kota lainnya untuk mendapatkan pekerjaan dan mendapatkan peluangpeluang yang ada.

IV. PENILAIAN KEBUTUHAN Masukan dan rekomendasi dari berbagai pihak/lembaga, pembangunan kembali Aceh haruslah mengandung prinsip-prinsip pokok sebagai berikut: 1. Meminimalisasi dampak dislokasi korban gempa bumi dan tsunami. Ini berarti bahwa upaya relokasi harus dilakukan dengan arif dengan memperhatikan aspirasi masyakarat dan unsur keadilan

126

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

2. 3. 4. 5. 6.

Memfasilitasi masyarakat dalam mendapatkan kembali pekerjaan, lokasi usaha, dan tempat tinggalnya. Mengupayakan agar berbagai kebijakan rehabilitasi sekaligus dapat mengurangi ketimpangan yang ada. Memberikan tekanan pada kegiatan padat karya Memberikan perhatian utama pada masyarakat yang berada di berbagai penampungan sementara (Internally Displaced Persons). Memberikan ruang gerak yang lebih besar bagi partisipasi masyarakat Aceh dan masyarakat sipil pada umumnya.

V. PERTIMBANGAN KELAYAKAN Berdasarkan rehabilitasi dan pemahaman rekonstruksi prinsip-prinsip Aceh dasar usulan di atas, program dapat

pascatsunami

dipertimbangkan kelayakan program jangka pendek antara lain: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Menyesuaikan langkah relokasi dengan kebutuhan pengungsi. Menyediakan berbagai opsi bantuan perumahan terkena bencana. Merehabilitasi dan menciptakan lapangan kerja Melaksanakan crash program untuk vocational training secara massal dalam berbagai bidang. Melakukan operasi pasar yang efektif untuk mengendalikan harga barang-barang kebutuhan pokok. Pemulihan fungsi pasar dan TPI untuk menunjang pemulihan ekonomi rakyat, terutama di kawasan pesisir. Memberikan rangsangan untuk memulihkan berbagai kegiatan industri dan investasi, khususnya industri yang menunjang kegiatan ekonomi pesisir. Misalnya bantuan modal kerja (uang dan barang), kredit lunak, pemutihan kredit, pengurangan rate pajak kepada investor dan subsidi terhadap masyarakat korban tsunami. bagi masyarakat

127

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

8. 9.

Segera menyelesaikan masalah deposit dan kredit masyarakat. Memperluas jaringan bank dan lembaga keuangan syari’ah untuk menggerakkan kegiatan usaha khususnya UMKM.

Sementara mempertimbangkan

itu,

kelayakan

program

jangka ekonomi

panjang, yang

perlu

aspek

pembangunan

berbasis

kerakyatan seperti yang telah dirumuskan dalam Deklarasi Duek Pakat di Takengon pada tanggal 6 September 2003. Pola pembangunan ekonomi ini bertumpu pada core kompetensi masing-masing kabupaten/kota dengan mengoptimalkan pusat pertumbuhan (Banda Aceh, Lhokseumawe, dan Tapaktuan) dan menjadikan pelabuhan Sabang sebagai kawasan utama peningkatan ekspor.

128

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

VI. STRATEGI DAN USULAN PROGRAM Strategi dan usulan program dalam rencana rehabilitasi dan rekonstruksi ekonomi dan ketenagakerjaan Provinsi NAD, dapat dilihat dalam lampiran (matriks).

129

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

130

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

TAHAPAN PROGRAM DALAM RENCANA REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI EKONOMI PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM No. I Tahapan PROGRAMPROGRAM PRIORITAS (Priority Program Target 1. Rekonstruksi Memulihkan asset-aset fisik transporasi, (kantor komunikasi, pemerintah, keuangan, pelayanan rumah penduduk, publik pusat-pusat Jump-start the pelayanan umum) economy (bringing dan back livelihood) menghilangkan Reviving the hambatanEconomy and hambatan Creating jobs infrastruktur dan memulihkan pelayanan masyarakat. 2. Menumbuhkan Memunculkan kembali kegiatan ekonomi kembali kegiatanrakyat di sektor kegiatan ekonomi perikanan, lokal (jump-start) di sektor-sektor pertanian, perikanan, perkebunan, pertanian, peternakan, dan pariwisata perkebunan, 131 Indikator Kembalinya kegiatan ekonomi rakyat seperti sebelum tsunami, walaupun di lokasi yang berbeda Adanya pendapatan sehingga penduduk korban tidak lagi tergantung pada bantuan Mereka yang sebelumnya hilang pekerjaan karena tsunami kembali mendapatakan pekerjaan

Reconstruction Program=PRP)

Adanya kegiatan ekonomi masyarakat yang memberikan penghasilan tunai segera

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

peternakan, dan pariwisata. Juga menumbuhkan kegiatan-kegiatan produktif yang quick-yielding dan menciptakan pekerjaan agar terjamin penghidupan (livelihood) normal penduduk. 3. Membangun kelembagaan (institution building) dan melakukan reformasi kebijakan (misal kemudahan prosedur perizinan, menghapus pungutan liar, KKN, dan kebiasaankebiasan yang Memberdayakan kelembagaan ekonomi masyarakat, berupa kebiasaankebiasaan yang produktif, dan menghilangkan kegiatan yang membebani biaya ekonomi rakyat Semakin lancarnya arus barang masuk dan keluar ke dan dari perekonomian lokal di setiap kabupaten Bertambahnya kesempatan kerja lokal

132

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

memberi beban pada biaya ekonomi, untuk menjamin berlangsungnya momentum pemulihan ekonomi. 4. Melahirkan Memberikan rekonsiliasi agar kompensasi secara perdamaian abadi tidak langsung dapat dimulai dan kepada mereka berlangsung yang terlibat permanen. Harus insurgensi dalam ada insentifbentuk pekerjaan insentif khusus produktif untuk mendorong hal ini terjadi baik bagi pihak pembuat keputusan di pemerintahan RI, maupun bagi pihak GAM Berkurangnya insentif bagi penduduk muda usia produktif untuk mendukung insurgensi karena kesibukan bekerja

5. Dukungan bagi Menyediakan fasilitas penyediaan umum dan sosial yang 133

Kembalinya penduduk korban ke rumah-rumah (baik lama

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

pelayanan cukup masyarakat bagi penduduk yang akan kembali ke rumah-rumah mereka (antara lain perumahan, air bersih dan sanitasi, pendidikan, kesehatan, dan transportasi) II PROGRAMPROGRAM JANGKA MENENGAH (5 TAHUN)=Medi . Memulihkan kegiatan ekonomi rakyat dengan penyediaan kredit ringan untuk UKM, kredit ringan dan bahan baku untuk pertanian, perkebunan, perikanan, dan proyek-proyek public yang menciptakan lapangan kerja. Menyediakan kondisi yang memungkinkan perekonomian lokal, daerah dan nasional dapat tumbuh lebih cepat

maupun baru) Tersedianya air bersih dan sanitasi bagi pemukiman lama dan baru.

Masyarakat kembali bekerja dan berusaha Pasar-pasar hidup kembali

um Term Reconstruction Program)

134

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

2. Memulihkan infrastruktur fisik dan kelembagaan

Mengembalikan ke keadaan normal infrastruktur dasar dan fasilitas pelayanan publik, kelembagaan masyarakat, perlindungan sosial yang memadai

Transportasi dan komunikasi lancar kembali Pelayanan sosial berfungsi kembali

3. Mendukung Memfungsikan kembali pemerintah roda pemerintahan di daerah dengan daerah dukungan fiscal yang memadai untuk membiayai belanja operasioanl (recurrent expenditures), juga bantuan social langsung kepada masyarakat tidak mampu 4. Memperkuat kelembagaan masyarakat dan reformasi Menggairahkan ekonomi rakyat. Ekonomi pasar dapat 135

Tidak ada penduduk yang terabaikan pelayanannya oleh pemerintah daerah Masyarakat mendapat pelayanan publik yang memadai

Kehidupan sosial ekonomi masyarakat bergairah

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

kebijakan untuk mendukung tumbuh bergairahnya sektor swasta III PROGRAM JANGKA PANJANG (20 TAHUN) (Long-Term 1. Infrastruktur fisik

berlangsung kompetitif Masyarakat menikmati pelayanan yang optimal.

Investasi baru bertambah

Development Plan)

Meningkatkan produktivitas Jaringan jalan masyarakat, struktur (perlu studi road ekonomi yang network yang seimbang, dan tidak pertumbuhan jangka mengganggu panjang yang Leuser sustainable Ecosystem) dan paling optimal dari sudut pengembangan pusat-pusat pertumbuhan yang ingin dikembangkan Highway Banda AcehLhokseumawe dan LhokseumaweMedan (perlu studi) 136

Tidak ada bottleneck untuk investasi baru Investasi meningkat tajam Perekonomian lokal tumbuh Tercipta interregional linkages sehingga ekonomi Aceh semakin integrated Tidak terjadi backwash effect karena pertumbuhan ekonomi Sumut

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Menjadikan Pelabuhan Krueng Geukuh sebagai pelabuhan container untuk ekspor, dan ada kawasan industri sebagai pengganti industri gas dan pupuk di masa depan Membangun pelabuhanpelabuhan lain (Kuala Langsa, Sabang, dll.) Listrik (meneruskan proyek Peusangan) Air Bersih di tiap kota Telekomunikasi Prasarana Pendidikan dan Kesehatan Prasarana yang mendukung 137

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

industri, termasuk industri pariwisata Dll. 2. Pendidikan Meningkatkan years of schooling sampai 9 tahun Meningkatkan produktivitas Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Produktivitas tenaga kerja meningkat Pendapatan per kapita meningkat HDI meningkat Kualitas hidup meningkat

3. Kesehatan

Life Expectancy Rate meningkat
HDI meningkat Tidak ada penduduk yang tidak mendapat pelayanan pendidikan, kesehatan, dan jaminan hari tua

4. Jaring Pengaman Sosial

Meningkatkan pelayanan yang murah dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat dan di semua tempat

138

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

BAB V POKJA – V SISTEM KELEMBAGAAN

I.

PENDAHULUAN Pada tanggal 26 Desember 2004 telah terjadi gempa bumi tektonik

dan disusul dengan gelombang pasang (Tsunami) yang menerjang wilayah di lautan Hindia. Bencana alam ini telah merenggut ratusan ribu korban jiwa meninggal dunia dan menyebabkan puluhan ribu orang kehilangan tempat tinggal. Becana ini merupakan salah satu musibah paling besar yang pernah tercatat dalam sejarah. Berdasarkan data terakhir dan penilaian dari Posko Penanggulangan Bencana di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara, dari 21 (dua puluh satu) Kabupaten/Kota yang ada di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam sebanyak 16 (enam belas) Kabupaten/Kota mengalami kerusakan. Dari seluruh Kabupaten/Kota yang terkena bencana Tsunami, Kabupaten/Kota yang mengalami kerusakan terparah adalah Kota Banda Aceh, Kabupaten Aceh Jaya dan Kabupaten Aceh Besar. Data juga menunjukkan bahwa korban jiwa meninggal dunia di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam mencapai 166.320 orang dan lebih dari 6.245 orang dinyatakan hilang serta sekitar 100.000 orang luka-luka. Bencana tersebut juga mengakibatkan sekitar 617.000 orang kehilangan rumah dan terpaksa hidup di pengungsian (penampungan) sementara. Dari sejumlah korban meninggal dunia tersebut termasuk ribuan aparatur Pemerintah berbagai Daerah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang tersebar di dinas/instansi juga menjadi korban. Bencana Tsunami yang menimpa Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam telah menimbulkan korban yang sangat besar dalam berbagai bidang kehidupan. Besarnya bencana yang terjadi telah membuat lumpuh seluruh

139

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

sektor kehidupan

yang ada, baik sektor perekonomian, sosial,

agama,

pendidikan, kesehatan maupun sektor pemerintahan. Kerusakan yang timbul pada berbagai sarana dan fasilitas kehidupan tersebut telah mengakibatkan terjadinya penurunan kemampuan aparatur pemerintahan dalam memberikan palayanan kepada masyarakat dan untuk menangani dampak bencana alam yang begitu parah kesulitan hidup pada satu pihak, sementara itu dilain pihak, bencama tersebut juga minimbulkan dampak berupa penderitaan dan Pemerintah Pusat telah meningkatkan kebutuhan pelayanan yang sangat besar. Untuk menangulangi permasalahan tersebut telah melakukan langkah-langkah tertentu untuk mengefektifkan penyelenggaraan pemerintahan umum. II. INVENTARISASI KERUSAKAN DAN KERUGIAN Penyelenggaraan pemerintahan dapat berjalan secara efisien kebutuhan organisasi dan secara kualitas memenuhi dan

efektif oleh aparatur pemerintahan yang secara kuantitas mendukung persyaratan kompetensi, disamping dukungan sarana dan prasarana yang memadai.

Bencana Alam Gempa Bumi dan Tsunami yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara telah mengakibatkan perubahan terhadap; (a) Kuantitas dan kualitas sumber daya aparatur; (b) Sarana prasarana dalam penyelenggaraan pemerintahan mulai dari tingkat Provinsi, Kabupaten/Kota, Kecamatan dan Kelurahan/Desa; (c) Kepala daerah digambarkan sebagai berikut: 2.1 Kuantitas Dan Kualitas Sumber Daya Aparatur. Dari sejumlah 7.110 pegawai pada Pemerintah Daerah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang tersebar di Sekretariat Daerah/Kantor dan Dinas Provinsi, tercatat sebanyak 608 orang aparat meninggal dunia dan 519 dan pimpinan daerah; (d) Anggota

DPRD; (e) Administrasi kependudukan; dan (f) Batas Administrasi yang

140

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

orang dilaporkan hilang.

Berdasarkan data di lapangan, jumlah aparat

pemerintah keseluruhan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (Provinsi, Kabupaten/kota) berjumlah 78.303 orang aparat. Dari jumlah tersebut aparat yang meninggal dunia sebanyak 2.010 orang, sementara yang dilaporkan hilang sebanyak 2.222 orang. (Tabel 1). Sedangkan kondisi aparatur di Daerah Kabupaten/Kota yang

menjadi korban terbesar terdapat pada empat kebupaten/kota, yaitu: (1) Kota Banda Aceh, (2) Kabupaten Aceh Besar, (3) Kabuapten Aceh Barat, dan (4) Kabupaten Aceh Jaya, dilaporkan sebagai berikut: a. Kota Banda Aceh. Berdasarkan data yang masuk hingga saat ini, dari 6.292 pegawai Kota Banda Aceh terdapat 140 orang meninggal dunia dan 1408 orang hilang; b. c. d. Kabupaten Aceh Besar, dari 7.150 pegawai, 703 orang diantaranya dilaporkan meninggal dan 230 orang hilang; Kabupaten Aceh Barat, dari 3.986 pegawai, 165 orang meninggal dunia; Kabupaten Aceh Jaya, dari 1.190 pegawai, 186 orang meninggal dunia.

Untuk instansi vertikal, kondisi kepegawaian yang berhasil dikumpulkan adalah dari Badan Pertanahan Nasional (BPN), Kejaksaan Agung, TNI dan Polri. a. Badan Pertanahan Nasional (BPN) - PNS meninggal 40 orang; - Suami/isteri dan anak PNS meninggal 226 orang; - PNS kehilangan anak 31 orang; - PNS sakit 94 orang; - PNS mengungsi 75 orang; - PNS kehilangan rumah 35 orang Dari data pegawai yang selamat pada umumnya mengalami trauma berat kerena kehilangan suami/isteri/anak/sanak keluarga lain dan herta benda. b. Kejaksaan Agung, PNS meninggal sebanyak 105 orang; c. TNI, personil yang meninggal sebanyak 63 orang dan

141

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

hilang sebanyak 302 orang; d. Polri, personil meninggal sebanyak 170 orang dan hilang sebanyak 952 orang. 2.2 Bangunan Sarana Dan Prasarana Gedung Perkantoran Di wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam pasca bencana yang mengalami tingkat kerusakan relatif tinggi terdapat di wilayah: (1) Pemerintah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, (2) Kota Banda Aceh, (3) Kabupaten Aceh Barat, (4) Kabupaten Pidie dan (5) Kabupaten Aceh Jaya (Tabel 2). Sementara untuk Kantor Gubernur yang juga mengalami kerusakan dengan indikasi tingkat kerusakan 70%, telah diupayakan untuk segera difungsikan secara optimal dan saat ini telah dimanfaatkan sebagai pusat pengendali Darussalam. Kerusakan penampakan fisik wilayah dilapangan melalui pendekatan bencana/Posko Bakornas PBP di Provinsi Nanggroe Aceh

guessestimate tertinggi terjadi di (1) Kabupaten Aceh Jaya, dengan
perkiraan tingkat kerusakan mencapai 85%. Kabupaten/Kota lainya yang tingkat kerusakan cukup signifikan antara lain : (2) Kabupaten Aceh Besar (80%), Kota Banda Aceh (75%) dan Kabupaten Aceh Barat (60%). Kondisi faktual sampai dengan tanggal 28 Januari 2005 dapat pemerintahan di kecamatan baru digambarkan bahwa penyelenggaraan

berfungsi pada 219 Kecamatan dari 241 kecamatan di wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Kabupaten/Kota yang jumlah kecamatannya lebih dari 50% masih belum berfungsi adalah Kabupaten Aceh Jaya. Pada tingkat desa/kelurahan, dari 5.947 desa/kelurahan yang ada sebanyak 430 belum dapat menjalankan fungsi pemerintahan, sedangkan sebanyak 5.517 desa/kelurahan dilaporkan dengan status berfungsi. (Lengkapnya lihat table 1).

142

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Kerusakan pada instansi vertikal yang berhasil dikompilasi adalah BPN, Kejaksaan, departemen Hukum dan HAM, Lembaga Komunikasi dan Informasi serta kantor Polri seperti berikut ini: a. Kerusakan gedung kantor BPN yang terjadi disebabkan oleh gempa dan gelombang tsunami serta terendam air meliputi: (1) Gedung Kanwil BPN Provinsi yang berlantai 3, terjadi kerusakan pada lantai dasar, (2) Gedung kantor BPN Kota Banda Aceh berlantai 1(satu), rusak berat dan tidak dapat digunakan; (3) Gedung Kantor BPN Kabupaten Aceh Barat berlantai 1, mengalami kerusakan ringan. b. Kator yang mengalami kerusakan sarana dan prasarana kerja adalah : Kanwil BPN Provinsi (seluruh sarana dan prasarana, termasuk komputer yang hilang karena penjarahan), kantor BPN Kota Banda Aceh (mobiler, perlatan kantor, komputer dan alat ukur tanah), serta kantor BPN Kabupaten Aceh Barat (AC 1 unit, komputer 7 unit, theodolit 2 unit, mobiller dan kompas). c. Kanwil BPN Provinsi : Dokumen menyurat yang terdapat hilang/rusak. d. Kantor BPN Kota Banda Aceh, keadaan sampai dengan tanggal 12 Januari 2005 warkah 40% rusak. Buku tanah, surat ukur, dan gambar situasi sebanyak 10% sedang diupayakan penyelamatannya, selebihnya dalam keadaan baik. Blanko sertifikat rusak karena terendam air. e. Kantor BPN Kabupaten Aceh barat, Buku tanah dan warkah 10% basah dan sementara ini dalam proses pengeringan dan seluruh blanko sertifikat tidak dapat dimanfaatkan karena rusak terendam air. f. Kantor Kejaksaan yang tidak berfungsi sebanyak 6 gedung. g. Kantor Departemen Hukum dan HAM yang tidak berfungsi sebanyak 6 gedung. h. Kantor Lembagai Komunikasi yang tidak berfungsi sebanyak 8 gedung. keuangan, kepegawaian dan surat dilantai dasar hilang dan rusak karena

terendam air. Dokumen Hak Atas Tanah dan Pendaftaran Tanah 20%

143

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

i. Kantor Polri yang tidak berfungsi sebanyak 34 gedung dari jumlah total 174 gedung. 2.3 Kepala Daerah Kepala Daerah/Pemerintah Daerah yang didata adalah yang meninggal dunia, hilang dan akan berakhir masa jabatannya. Pejabat pemerintah daerah yang meninggal adalah Walikota Banda Aceh, sedangkan yang masih hilang adalah Bupati Aceh Barat Daya dan seorang Camat. Kepala Daerah dan Pejabat Kepala Daerah di wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang akan berakhir masa jabatannya pada tahun 2005 adalah sebagai berikut: a. Gebernur Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam berakhir November 2005; b. Penjabat Bupati Benar Meriah berakhir tanggal 22 Januari 2005; c. Walikota Sabang berakhir tanggal 8 Februari 2005; d. Bupati Aceh Timur berakhir tanggal 13 Februari 2005; e. Penjabat Walikota Banda Aceh, Bupati Aceh Tengah, Bupati Aceh Utara, Bupati Aceh Besar, Bupati Aceh Barat, Walikota Lhokseumawe, Walikota Langsa, Bupati Aceh Jaya, Bupati Nagan Raya, Bupati Gayo Lues, Bupati Aceh Barat Daya, Bupati Aceh Tamiang, berakhir tanggal 18 Februari 2005; f. Bupati Aceh Singkil berakhir tanggal 30 Mei 2005. 2.4 Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Dari data yang berhasil dikumpulkan tercatat sebanyak 3 (tiga) orang anggota DPRD Provinsi meninggal dunia, sedangkan anggota DPRD Kabupaten/Kota yang meninggal adalah sebanyak 1 (satu) orang. 2.5 Administrasi Kependudukan Jumlah keseluruhan penduduk di Kota Banda Aceh adalah sebesar 4.204.904 orang. Dari jumlah tersebut, penduduk yang meninggal terdapat tanggal 25

144

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

sebanyak 211.873 orang, hilang sebanyak 5.602 orang, luka-luka sebanyak 3.980 orang. Sedangkan pengungsi sampai tanggal 21 Februari 2005 sebesar 495.801 orang. 2.6 Administrasi Wilayah Bencana yang terjadi telah menyebabkan adanya perubahan batas administrasi wilayah. Dalam tabel 2 disajikan data yang menggambarkan telah terjadinya perubahan batas administrasi wilayah, dengan hilang atau tinggalnya beberapa desa di beberapa Kabupaten/Kota.

Tabel 2: Daftar Desa Yang Tenggelam Akibat Bencana Gelombang Tsunami Di Kota Banda Aceh
Perkiraan No Kecamatan Desa 1. Ule Lhee 1 Meuraxa 67.5 2. Asoi Nanggroe 1. Tibang 2 3 4 Syiah Kuala Kuta Raja Jaya Baru Jumlah 2. Aleu Naga 3. Deah Raya 1. Gampong Jawa 1. Ulee Pata 10 16.8 230.8 242.6 178.2 150.6 19 905.5 15 20 10 10 10 1.668 34.62 48.52 17.82 15.06 1.9 133.088 196.18 194.08 160.38 135.54 17.1 772.4 15.12 Luas % 20 Tengelam Luas (Ha) 13.5 Sisa Luas 54

III. PENILAIAN KEBUTUHAN DAN PERTIMBANGAN KELAYAKAN Untuk mengatasi permasalahan tersebut diatas dan dalam rangka pemenuhan harapan masyarakat terhadap berfungsinya kembali penyelenggaraan pelayanan pemerintah daerah di wilayah Nanggroe Aceh Darussalam setelah bencana alam tsunami, pemerintah harus mengambil langkah-langkah penanganan secara darurat dan tepat sasaran.

145

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

3.1 Komponen Strategi Ada 3 (tiga) komponen utama yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kapasitas instansi pemerintahan. Pertama, adalah perlu diidentifikasi assessment kebutuhan terlebih dahulu dilanjutkan dengan keadaan yang ada sekarang melalui mengembangkan peningkatan kapasitas. permanen tata pemerintahan. Kedua, setelah dilakukan perkiraan mencakup peningkatan yang lebih

Peningkatan kapasitas ini

(long term) dan yang segera/temporer. Assessment tata pemerintahan (Governance Assessment) Assesmen ini perlu dilakukan terlebih dahulu disemua Kabupaten dan di Provinsi untuk mengetahui kapasitas pemerintahan yang ada inilah kita baru dapat sekarang ini (setelah bencana Tsunami) dan tugas-tugas apa yang sekarang perlu mereka laksanakan. Dari hasil assessment dalam melaksanakan tugas pemerintahan. Melalui assessment tersebut juga akan dapat ditentukan instansi mana saja yang perlu diprioritaskan terlebih dahulu peningkatan kapasitasnya. Karena tidak mungkin peningkatan kapasitas untuk mendapatkan pasca bencana pada kondisi darurat menentukan apa yang perlu dilakukan untuk mendukung instansi tersebut

semua instansi pemerintahan korban bencana yang perlu assessment hal ini

dilakukan dalam waktu yang bersamaan. Oleh karena itu, hanya instansiinstansi yang melayani kebutuhan darurat segera ditingkatkan kapasitasnya dan dapat dilakukan. Adapun tujuan assessment adalah untuk melihat personel (Staffing) yang ada diinstansi pelayanan seperti apa kedudukan, tugas serta keahlian mereka mereka, paling tidak jika dibandingkan saat ini dan sebelum bencana. Melihat kemampuan mereka menjalankan yang menjadi tugas dengan keadaan sebelum bencana. Mengindentifikasi instansi yang penting untuk segera mendapatkan dukungan sehingga tidak menghambat (bottleneck) pelayanan kepada masyarakat. hanya dengan

146

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Peningkatan kapasitas permanen tujuan peningkatan kapasitas instansi pemerintah tidak hanya yang dapat memberikan kembali permanen (reconstruction) bersifat sementara tetapi yang lebih penting adalah bersifat permanen (untuk jangka waktu yang lebih panjang) pelayanan optimal setelah masa pembangunan selesai. Baik jangka pendek (sementara yang panjang perlu dilakukan

belum terbangun) maupun jangka

sejak sekarang, tetapi pendekatan yang digunakan tentu berbeda. Untuk kebutuhan yang mendesak sekarang, penyesuaian yang dilakukan Tetapi untuk menciptakan sejumlah tahapan memperlihatkan prioritas sangat boleh jadi ada segera. tentu ada sehingga hasilnya bisa dirasakan kapasitas yang lebih permanen, dilalui

yang perlu

dan mungkin tidak segera untuk jangka

hasil, tetapi akan sangat bermanfaat

panjang, termasuk melihat peraturan yang ada. Meskipun demikian, skala tetap dibutuhkan instansi mana dan jenis kapasitas apa yang sebaiknya disiapkan terlebih dahulu sehingga dapat sejalan dengan kebutuhan yang ada sekarang maupun yang akan datang. 3.2 Upaya Yang Perlu Dilakukan Untuk Meningkatkan Kemampuan Aparatur Pemerintah Daerah 1. Peningkatan kemampuan sumberdaya manusia aparatur pemerintahan. Aspek kemampuan sumber daya ini (kuantitas) jumlah aparatur pemerintahan bagian berkaitan dengan jumlah

dan kompetensi (kualitas). Menyangkut dengan berkurangnya karena menjadi korban bencana Tsunami mutasi antar Kabupaten/Kota dalam

(meninggal dunia) dapat diatasi dengan tindakan pemutasian pegawai antar dalam satu instansi atau Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Hasil assessment akan sangat bermanfaat penambahan bagi pemecahan masalah ini. Apabila pegawai baru, ternyata dibutuhkan dengan maka hal ini dapat dilakukan

pengangkatan pegawai honorer

atau guru-guru bakti menjadi PNS/guru.

Pertimbangannya adalah mereka adalah sudah memiliki kemampuan untuk

147

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

menjalankan tugas sebagai aparaur pemerintahan dan sudah mengenal lingkungan dimana di ditempatkan. Aspek melaksanakan kemampuan (kualitas) dapat dilakukan dengan pendidikan dan pelatihan khusus. Untuk memenuhi khusus yang

kemampuan optimal atau kompetensi yang dibutuhkan segera, baik dari instansi/lembaga permanen maupun instansi/lembaga berfungsi melaksanakan fungsi rehabiliatsi dan rekonstruksi maka lembaga administrasi negara dapat membantu mendesain pelatihan. Disamping itu juga dapat dilakukan pemanfaatan tenaga-tenaga ahli terlatih yang selama ini di daerah belum dimanfaatkan. Banyak alumni dari sesuai berbagai pelatihan selama ini belum dipromosikan

dengan tujuan dan jenjang pelatihan, yang paling penting lagi adalah pemerintah daerah harus mampu memproyeksikan kebutuhan terhadap tenaga terlatih untuk kebutuhan pembangunan lebih lanjut dan rencana pelatihannya.

2. Peningkatan Kemampuan Instansi Atau lembaga Aparatur Pemerintah
Upaya peningkatkan kemampuan dari lembaga permanen yang berfungsi melaksanakan tugas-tugas penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan dilakukan dengan penyusunan organisasi yang proporsional sesuai dengan fungsi dan tugasnya secara tepat (right-sizing). Upaya peningkatan kemampuan lembaga pelaksana ditujukan untuk

meningkatkan kemampuan mengenai program-program rehabilitasi terhadap kerusakan/kerugian yang timbul akibat gempa bumi dan Tsunami. Program peningkatan kemampuan aparatur untuk menangani kegiatan rehabilitasi

harus singkron dengan program rehabilitasi itu sendiri.

148

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

3. Perbaikan Prosedur
Upaya perbaikan prosedur ini menyangkut tiga pihak, yaitu pembuat kebijakan, pelaksana dan masyarakat. Sebuah kebijakan akan menjadi baik apabila pembuatan kebijakan itu berdasarkan akurat. Kebijakan ini baik yang merupakan rekonstruksi. Pelaksana akan melakukan kegiatan untuk melakukan dengan baik apabila ada motivasi dan rasa kegiatan pelayanan atau kegiatan rehabilitasi dan data dan informasi yang kebijakan pelayanan umum dan

maupun kebijakan yang berkaitan dengan kegiatan rehabilitasi

pengawasan yang baik. Motivasi timbul apabila ada intentif

kebersamaan kepentingan atau keprihatinan terhadap masyarakat. Pengawasan dapat dilakukan melalui kesempatan dan prosedur yang

terbuka untuk menyampaikan keluhan dari masyarakat. Dengan demikian kebijakan pelayanan umum dan rehabilitasi selalu terbuka untuk perbaikan. Masyarakat harus mendapatkan tempat dan kesempatan untuk menyampaikan keluhan dan informasi dari masyarakat.

3.3. Koordinasi Tentang Pelaksanaan Tugas Dalam pelaksanaan permanen atau badan rehabilitasi dan rekonstruksi pelaksana harus melakukan Aceh, lembaga koordinasi dan itu

melibatkan pihak-pihak dalam proses itu. Pihak yang harus terlibat

adalah instansi/lembaga permanen, privat sektor (stakeholder) dan civil

society. Hal ini sangat diperukan
Lagi pula keterlibatan

karena pemerintah tidak akan

dapat

melakukan proses rehabilitasi dan rekonstruksi tanpa melibatkan mereka.

stekholder dan sivil society

tersebut merupakan

jaminan bagi adanya transparancy dan accuntability. 3.4. Pemberdayaan Lembaga Kemasyarakatan

Dalam masyarakat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam terdapat banyak lembaga-lembaga informal seperti:

149

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

- Imeum Mukim; - Tuha Peut; - Panglima Laot. Lembaga-lembaga tersebut, meskipun informal tetapi masyarakat memberikan pengakuan yang sangat tinggi. Orang yang menjadi pimpinan lembaga ini adalah orang memiliki kharisma dan oleh karena itu masyarakat menjadikannya sebagai panutan. Mereka dengan efektif dapat menjalankan roda kepemimpinannya. Sesungguhnya pemerintah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam telah memformalkan keberadaan lembaga ini. Usaha itu dibuktikan lembaga ini sudah menjadi ini dangan mengatur eksistensi dari lembaga ini dalam berbagai peraturan di daerah (Qanun). Dengan demikian memiliki lembaga yang dasar hukum yang jelas (legitimate). Akan tetapi dalam tidak berperan sebagaimana yang

kenyataanya keberadaan lembaga

diharapkan. Oleh karena itu, harus didorong oleh pemerintah dengan cara memberikan tempat dan melibatkan lembaga ini dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh pasca Tsunami. 3.5. Revisi Terhadap Undang-Undang No. 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Perubahan terhadap undang-undang itu adalah tersebut mendesak perlu dilakukan terhadap beberapa pasal yang mengatur materi masing-masing. Pasal -pasal yang perlu direvisi bagi hasil pasal-pasal yang mengatur tentang perimbangan keuangan antara pusat dan daerah, pasal tentang dana minyak dan gas, pasal-pasal yang mengatur tentang Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam serta pasal yang keistimewaan

mengatur tentang pemilihan kepala daerah langsung (Pilkadasung) di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Khusus untuk pasal tenang pemilihan kepala daerah langsung perlu segera di revisi dan disesuaikan dengan undang-undang yang baru yaitu Undang-undang No. 32 Tahun 2004 tantang Pemerintahan Daerah, yang

150

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

dalam undang-undang baru ini

juga terdapat pengaturan

tentang

pemilihan secara langsung kepala daerah. Meskipun undang-undang ini mengakaui keberadan Undang-undang No 18 Tahun 2001 bagi pelaksanaan Nanggroe Aceh Darussalam, tetap saja perlu dilakukan segera, revisi juga perlu dilakukan Kepala Daerah yang sudah disahkan sebagai acuan di Provinsi penyesuaian pemilihan kepala daerah secara langsung

terhadap Qanun tentang Pemilihan yang dibetuk berdasarkan

kewenangan yang diberikan oleh Undang-undang No. 18 Tahun 2001. Masyarakat sangat merindukan kehadiran seorang pemimpin yang jujur, memiliki integritas pribadi yang tinggi. Media yang diperlukan melahirkan daerah terhadap kepemimpinan itu adalah melalui pelaksanaan kepala daerah untuk pemilihan itu

secara langsung. Supaya pelaksanaan pemilihan kepala

secara langsung di Provisni Nanggroe Aceh Darussalam

memiliki dasar hukum yang pasti, maka diperlukan tindakan-tindakan revisi Undang-undang No. 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus untuk Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam .

151

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Tabel 1 : Data Kondisi Aparat Di Wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Pasca Bencana Alam Gempa Bumi Dan Tsunami
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 PROVINSI KAB./KOTA KOTA BANDA ACEH KAB. ACEH SELATAN KAB. BESAR KAB. ACEH UTARA KAB. ACEH BARAT KAB. ACEH PIDIE KAB. BIREUN KOTA LHOKSEUMAWE KAB. ACEH JAYA KAB. NAGAN RAYA KAB. ACEH BARAT DAYA KAB. ACEH TIMUR KOTA LANGSA KAB. ACEH TENGGARA KAB. ACEH TENGAH KAB. SIMEULUE KAB. GAYO LUES KAB. ACEH SINGKIL KAB. ACEH TAMIANG KOTA SABANG KAB. BENER MERIAH PROVINSI NAD JUMLAH KORBAN APARAT PEMDA H S JLH 1408 4.744 6.292 1.303 1.321 230 6.217 7.150 6 6.315 6.339 3.801 3.986 24 7.831 7.931 20 6.421 6.441 1.705 1.716 1.004 1.190 1.909 1.916 1.005 1.013 5.276 5.277 2.131 2.131 1 3.576 3.577 7 4.803 4.810 6 1.464 1.470 926 930 0 1.944 1.944 2.686 2.687 1.399 1.447 1 1.624 1.625 519 5.983 7.110 2.222 74.071 78.303 KORBAN PEGAWAI BPN M H S JLH KORBAN PERSONIL TNI M H S JLH KORBAN PERSONIL POLRI M H S JLH KORBAN JAKSA H S JLH KORBAN ANGGOTA DPRD M H S JLH

M 140 14 703 18 185 76 0 11 186 7 8 1 4 0 1 48 608 2.010

M

1

40

507

63

303

170

952

105

3 4

Ket: M : Meninggal; H : Hilang, S : Selamat. Data Depdagri versi Ferbruari 2005

152

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

BAB VI POKJA – VI PENDIDIKAN, SOSIAL BUDAYA & SDM SERTA KESEHATAN A. SUB BIDANG PENDIDIKAN I. LATAR BELAKANG Pendidikan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam adalah pendidikan Islami, pendidikan yang berlandaskan Al-Quran dan Al-Hadits, falsafah Pancasila, UUD45, kebudayaan Aceh dan nilai-nilai universal. Upaya pembangunan pendidikan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Aceh telah gangguan hebat oleh bencana alam gempa dan tsunami. Bencana tersebut telah memporak porandakan kehidupan masayarakat Aceh, khususnya dalam bidang pendidikan. Karena itu, diperlukan upaya yang serius untuk membangun kembali pendidikan di Aceh secara mendasar, menyeluruh, terpadu, arif dan berencana. Penyiapan blue print (master plan) pendidikan, dalam konteks ini karenanya harus dipahami sebagai langkah konkret bagi pembangunan pendidikan Aceh ke depan kea rah yang lebih baik. Tujuan dan sasaran rehabilitasi dan rekonstruksi pendidikan di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam pasca tsunami hendaknya mempertimbangkan: 1. Pembangunan pendidikan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam harus sejalan dengan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional dan Qanun Pendidikan Aceh. 2. Ditujukan untuk mengembalikan fungsi-fungsi lembaga pendidikan ke tingkat normal sehingga memungkinkan anak-anak belajar kembali dan secara terus menerus berupaya mengembangkannya ke tingkat yang ideal.

153

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

3. Tujuan pembangunan pendidikan Aceh adalah melahirkan manusia yang beriman dan bertaqwa, berilmu pengetahuan dan berketerampilan, memiliki kesehatan jasmani dan rohani, mau dan mampu mengamalkannya untuk kepentingan masyarakat, berakhlak mulia serta bertanggung jawab kepada masyarakat, bangsa, negara dan agama. 4. Pembangunan pendidikan di Aceh mencakup pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu dan relevansi pendidikan, perbaikan/peningkatan manajemen pendidikan dan pemantapan sistem pendidikan Islami. 5. Pembangunan pendidikan di Aceh secara fisik dan non fisik harus memenuhi kebutuhan standar minimal penyelenggaraan pendidikan yang diakui secara internasional. Cara Penyusunan Penyusunan blue print pembangunan Pendidikan ini seharusnya

menggunakan metode Synthesis Inquiry and Fit Design. Ia diawali oleh kajian asumtif dalam kerangka berfikir teoritis tentang kebutuhan minimal lembaga pendidikan. Pendekatan berikutnya berlandaskan pada kajian empirik terhadap kondisi obyektif pendidikan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam baik sebelum maupun setelah musibah gempabumi dan tsunami terjadi. Akan tetapi, karena situasi yang dihadapi tidak normal dan sangat imerjensi maka rangkaian langkah dan kegiatan yang semestinya dilalui terpaksa ditinggalkan. Pembahasan dalam draft ini difokuskan pada sistem pendidikan, masalah–masalah yang dihadapi, program yang diusulkan, strategi yang ditempuh dan sistem pendanaannya. Secara operasional program kerja yang dilaksanakan dalam tiga tahap, yaitu:

154

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

1. Persiapan, pencarian dan penganalisisan kelengkapan data pendukung untuk kegiatan penyusunan draft blue print pendidikan Kegiatan-kegiatan di atas berlandaskan pada prinsip partisipatoris. 2. Penyusunan draft blue print rehabilitasi dan rekonstruksi pendidikan Aceh . 3. Sosialisasi draft blue print pendidikan untuk penajaman draft sekaligus untuk memperoleh legitimasi publik. 4. Mengadakan uji publik bagi legitimasi untuk dijadikannya sebagai master plan pendidikan. 5. Penetapan Qanun tentang master plan pendidikan. Tantangan: Penyusunan blue print pembangunan Pendidikan ini seharusnya

menggunakan metode Synthesis Inquiry and Fit Design. Ia diawali oleh kajian asumtif dalam kerangka berfikir teoritis tentang kebutuhan minimal lembaga pendidikan. Pendekatan berikutnya berlandaskan pada kajian empirik terhadap kondisi obyektif pendidikan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam baik sebelum maupun setelah musibah gempabumi dan tsunami terjadi. Akan tetapi, karena situasi yang dihadapi tidak normal dan sangat imajiner maka rangkaian langkah/tahapan penusunan draft yang semestinya dilalui terpaksa ditinggalkan. Tantangan lain yang dihadapi dalam penyusunan draft blue print ini adalah dalam hal koordinasi. Blue print pembangunan Aceh kembali khususnya dalam bidang pendidikan melibatkan banyak pihak, waktu yang tersedia sangat singkat, problematika tim yang dihadapi sangat beserta besar harapan sehingga yang untuk digantungkan kepada penyusun

menampung semua aspirasi menghadapi kendala koordinatif dan kendala dalam uji publik.

155

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

II. INVENTARISASI KERUSAKAN DAN KERUGIAN Realiata menunjukkan bahwa pendidikan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam sebelum gempa dan gelombang tsunami pun memang lemah. Indikasi lemahnya pendidikan di Aceh antara lain ditandai oleh rendahnya mutu pendidikan dan kurangnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat, pemerataan dan keadilan dalam pelayanan pendidikan belum mampu diwujudkan. Adapun variable-variabel penting yang ikut mempengaruhi lemahnya pendidikan di Aceh ini adalah faktor guru yang secara kualitas dan kuantitas masih kurang, sarana dan parasarana pendidikan yang tidak memadai, manajemen pendidikan lemah, motivasi dan semangat belajar siswa rendah, koordinasi antar pihak terkait lemah, kondisi social-ekonomi keluarga rendah dan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan amat kurang. Kondisi yang tidak kondusif demikian semakin memburuk sebagai efek dari konflik di Aceh yang berkepanjangan. Gempa bumi dan tsunami yang terjadi pada tanggal 26 desember 2004 telah menghancur-luluhkan sarana dan prasarana pendidikan di sejumlah daerah di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Banyak guru dan siswa yang meninggal, hilang dan mengalami trauma hebat. Sendi-sendi ekonomi masyarakat hancur, tempat tinggal siswa, guru dan masyarakat hancur, hilang dan rusak. Semua itu berdampak amat luas dalam bidang pendidikan, sehingga proses pembelajaran tidak berlangsung sebagai mana mestinya bahkan dengan terpaksa harus terhenti. Dalam table berikut disajikan sebagian data tentang situasi pendidikan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam sebelum dan sesudah tsunami.

156

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

III. KEBUTUHAN PROGRAM Program rehabilitasi dan rekonstruksi pendidikan Aceh mencakup: 1. Pembangunan gedung, sarana dan prasarana pendidikan untuk semua jenis, jenjang dan jalur pendidikan,termasuk Dayah, berlandaskan kepada standard yang telah ditetapkan, dengan tidak mengulangi kembali kekekeliruan yang telah dilakukan pada masa-masa lalu. 2. Pengadaan sarana dan prasarana pendidikan dalam rangka pelayanan pendidikan di tempat-tempat pengungsian dan di masa tanggap darurat. 3. Pemberian beasiswa, terutama kepada anak-anak korban dan siswa anak orang miskin dan tidak mampu. 4. Penyempurnaan system pendidikan, dan kurikulum pendidikan sehingga mendukung pelaksanaan aktivitas pendidikan dalam rangka perwujudan dan pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. 5. Pengadaan guru-guru bantu, baik untuk masa tanggap darurat maupun untuk memelihara kelangsungan pendidikan di Aceh pada umumnya. 6. Peningkatan kualifikasi dan kompetensi guru. 7. Pembenahan lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) untuk melahirkan calon-calon guru berkualitas dan professional. 8. Pemberdayaan dan peningkatan program-program Pendidikan Luar Sekolah dan Pendidikan Dalam Keluarga, dan Masyarakat, yang difokuskan kepada program pemberdayaan ekonomi masyarakat dan pendidikan nilai. 9. Mengupayakan santunan kepada keluarga guru/karyawan di lembagalembaga pendidikan yang meninggal/hilang akibat tsunami.

157

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

IV. PRINSIP-PRINSIP DASAR Pembangunan Pendidikan di Propinsi Nanggro Aceh Darussalam pasca Tsunami haruslah berdasarkan prinsip-prinsip pokok sbb: • • • • • • • • • • Islami Komprehensif Sistemik dan Terpadu Berkesinambungan Fleksibel Skala perioritas Akuntabel dan transparan Berwawasan ke depan Kesetaraan (gender) Berpusat pada masyarakat

V. STRATEGI DAN USULAN PROGRAM Rehabilitasi dan rekonstruksi pendidikan di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam haruslah mempertimbangkan strategi dan kebijakan-kebijakan berikut: a. Dilaksanakan secara simultan dalam tiga tahapan, yaitu emergensi, tahap rehabilitasi dan tahap rekonstruksi. b. Dilaksanakan dengan kerjasama yang terkordinir, transparan, akuntabel dan partisipatip. c. Memberdayakan tenaga lokal semaksimal mungkin, mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan monitoring, sekaligus memberi peluang yang luas kepada institusi/pihak lain untuk berpartisipasi. tahap

158

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

d. Memberi perhatian yang besar kepada pembenahan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK ) dan peningkatan mutu dan profesionalisme guru. e. Mengembangkan dan memberdayakan pendidikan luar sekolah sebagai pendidikan alternatif. f. Pengadaan sarana, prasarana dan dana oendukung yang cukup sehingga seluruh aktivitas pendidikan berjalan dengan baik dan lancar. g. Untuk memaksimalkan penghimpunan dana yang sudah dijanjikan (pledge) oleh donator di perlukan kebijakan yang mengatur standard, norma-norma dan proses penggunaan dana pendidikan yang akuntabel dan transparan. h. Memberdayakan masyarakat khususnya korban gempa tsunami untuk berperan aktif dalam pembangunan pendidikan. i. Perlu mempertimbangkan pemenuhan hak dan akses pendidikan bagi anak-anak cacat (difabel) pada sekolah-sekolah umum. j. Mencakup semua jenis dan jenjang pendidikan, termasuk pendidikan dayah. k. Rehabilitasi dan rekonstruksi pendidikan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dilaksanakan oleh sebuah badan khusus yang sangat kredibel di mata masyarakat, pemerintah daearah, pemerintah pusat, donatur dan dunia internasional. l. Badan tersebut melakukan kordinasi dengan semua unsur terkait dengan menggunakan prinsip-prinsip pembangunan partisipatoris. m. Badan tersebut melaksanakan program rehabilitasi dan rekonstruksi dengan mengikuti standard yang telah ditetapkan VI. ESTIMASI PENDANAAN Rehabilitasi dan rekonstruksi pendidikan Aceh secara mendasar dan menyeluruh membutuhkan dana yang sangat besar. Dana tersebut bersumber dari APBD Kabupaten/Kota, APBD Provinsi, APBN, Donatur.

159

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

B. SUB BIDANG SOSIAL BUDAYA I. LATAR BELAKANG Bahwa nilai sebuah bangsa atau suku bangsa sangat ditentukan oleh budaya yang dianutnya. Budaya yang baik akan melahirkan ethos yang baik. Ethos yang baik akan melahirkan karakter bangsa yang baik, dan produktif menurut kapasitasnya masing-masing. Pembangunan budaya harus ditunjang oleh tiga pilar: rumah tangga, lembaga pendidikan dan masyarakat. Dengan demikian maka, pembangunan budaya harus dimulai di rumah tangga, disempurnakan di lembaga pendidikan, dan difungsikan di masyarakat. Sayangnya, sejauh ini, pembangunan budaya secara bersahaja dan terpadu belum mendapat perhatian khusus dalam sistim negara kita. Merebaknya kejahatan dan pelanggaran, meluasnya praktik korupsi, buruknya pelayanan birokrasi adalah bukti bahwa pembinaan budaya bangsa belum berhasil. Musibah gempa bumi dan tsunami yang terjadi tanggal 26 Desember 2004 telah menelan korban jiwa dan menghancurkan lingkungan hidup manusia yang terbesar dalam sejarah manusia. Maksud dan Tujuan Pembangunan budaya adalah pembangunan manusia seutuhnya sehingga ia bisa menjadi aset dan investasi bagi masyarakat dan bangsa. Dengan demikian maka manusia sebagai sentral budaya akan melahirkan karya budaya dalam berbagai bentuknya, baik fisik maupun non fisik. Pembangunan manusia dimaksudkan agar penduduk Aceh, terutama yang tertimpa musibah, baik sebagai pribadi atau masyarakat dapat berfungsi kembali dan berkembang dengan baik untuk memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya serta juga dapat berkontrusi kepada masyarakat dan bangsa, yang selanjutnya dapat berkontribusi kepada kedamaian dunia.

160

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Rehabilitasi pembangunan sosial budaya bertujuan mengembalikan lagi kehidupan penduduk Aceh, terutama yang tertimba musibah, seraya mengembangkannya lagi ke taraf yang lebih baik, baik sebagai pribadi atau kelompok masyarakat Sasaran rehabilitasi sosial budaya - perorangan - keluarga - kelompok masyarakat - lembaga-lembaga sosial - sarana penunjang budaya Strategi merevitalisasi potensi perorangan, keluarga dan masyarakat - merevitalisasi nilai-nilai budaya, tradisi, ksenian ke arah yang lebih positif Mengembangkan sistim pewarisan budaya melalui pendidikan yang islami Mengutamakan pendidikan nilai dan moral di samping kecerdasan dan ketrampilan Menempatkan orang-orang, petugas, dan pejabat yang jujur dan penuh dedikasi untuk menjalankan tugas-tugas di atas II. PENILAIAN KERUSAKAN DAN KERUGIAN 1. non materil 124.505 jiwa yang meninggal 114921 jiwa yang hilang 3431 orang yang perlu perawatan jiwa 15.731 orang yang perlu pengobatan fisik 443.200 orang yang menjadi pengungsi Runtuhnya rasa percaya diri perorangan dan masyarakat

161

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Terganggunya fungsi sosial, budaya dan agama yang telah berjalan selama ini 2. Materil Hilang dan rusaknya sumber mata pencaharian masyarakat 30.242 unit rumah yang runtuh total atau rusak 34 buah panti asuhan yang rusak 4 buah makam palawan rusak 2700 unit masjid/mushalla/meunasah rusak 169 unit dayah/pesantren rusak/runtuh 8 unit gereja rusak 2 unit vihara/pura rusak Kondisi sosial budaya pasca tsunami sangatlah memprihatinkan. Ketika sejumlah orang tercabut dari lingkungannya dan tinggal di tempattempat penampungan atau menumpang di rumah keluarga terjadi halhal sebagai berikut: - kesedihan yang sangat dalam dialami oleh yang langsung tertimpa musibah, baik karena kehilangan keluarga dan/atau harta benda - terganggunya proses belajar mengajar - terganggunya kegiatan keagamaan secara normal - terganggunya kegiatan sosial - Goncangnya jiwa sejumlah orang bahkan sampai mengalami gangguan yang serius - Tidak produktifnya sejumlah orang sebagaimana mestinya - Tidak atau kurang berfungnya sejumlah kantor/lembaga pelayanan umum atau swasta karena sejumlah karyawannya wafat/hilang atau trauma. - Berkurangnya rasa sosial dan setia kawan anggota masyarakat, karena setiap orang mengalami musibah yang relatif hampir sama

162

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

- Bergesernya nilai-nilai standar dan moral masyarakat, terutama di kalangan yang hidup dalam tenda-tenda dan barak-barak. - Berkurangnya gizi terutama bagi anak-anak, karena terbatasnya dukungan - Menurunnya produktivitas perorangan atau masyarakat - Menurunnya kegiatan intelektual akademisi - Bertambahnya jumlah perorangan yang makin kurang kreatif dan hanya menunggu belas kasihan III. PENILAIAN KEBUTUHAN Apa yang sangat dibutuhkan masyarakat saat ini, terutama yang tercabut dari lingkungannya adalah: - masing-masing orang atau kelompok masyarakat untuk kembali ke habitatnya - penyediaan/perbaikan sarana tempat tinggal sehingga layak ditempati - penyediaan/rehabilitasi sarana jalan, listrik dan air bersih - pembangunan dan perbaikan sarana pendidikan - pembangunan dan perbaikan sarana sosial budaya, seperti bale gampong, meunasah, kantor keuchik/lurah, masjid, puskesmas, pasar, rumah sekolah dsb. - Pembinaan moralitas perorangan dan masyarakat - Pendidikan agama yang memadai - Pelatihan ketrampilan - Penyadaran masyarakat pada pentingnya gizi dan kesehatan ibu hamil dan balita - Modal dan sarana kerja IV. PERTIMBANGAN KELAYAKAN Dari pengamatan lapangan dimaklumi bahwa apa yang sangat dibutuhkan masyarakat (tercantum pada IV di atas) adalah sesuatu

163

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

yang sangat layak dan mendasar. Kalau itu semua dapat dipenuhi, maka hasil yang akan diharapkan adalah: stabilitas perorangan dan kelompok masyarakat akan cepat pulih fungsi-fungsi sosial akan berjalan normal kembali lembaga-lembaga pemerintah dan swasta akan dapat dimaksimalkan perannya peroraangan dan kelompok masyarakat yang selama ini konsumptif akan produktif kembali stabilitas sosial, ekonomi dan politik masyarakat akan berangsur pulih V. STRATEGI DAN USULAN PROGRAM Program rehabilitasi ini hanya akan berhasil kalau dilakukan secara lintas sektoral dan terpadu. Pelaksananya dapat berupa pemerintah, swasta, masyarakat ataupun donor asing. Namun pelaksanaannya haruslah berada dalam satu kordinasi yang sinergis yang berada pada satu badan setingkat kementrian negara dan dipimpin oleh orang yang memahami, mampu, terpercaya dan mempunya akses yang luas, termasuk ke donor luar. Program yang diusulkan sebagai berikut: a. Pengembalian orang-orang atau kelompok ke habitatnya b. penyediaan/perbaikan sarana tempat tinggal sehingga layak ditempati c. penyediaan/rehabilitasi sarana jalan, listrik dan air bersih d. pembangunan dan perbaikan sarana pendidikan e. pembangunan dan perbaikan sarana sosial budaya, seperti bale gampong, meunasah, kantor keuchik/lurah, masjid, puskesmas, pasar, rumah sekolah dsb. f. Pembinaan moralitas perorangan dan masyarakat

164

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

g. Pendidikan agama yang memadai h. Pelatihan ketrampilan sehingga mampu bersaing dalam lapangan kerja i. Penyadaran masyarakat pada pentingnya gizi dan kesehatan ibu hamil dan balita j. Pemberian modal dan sarana kerja bagi yang butuh dan mampu mengelolanya Lembaga donor yang akan terlibat ada yang dalam negeri dan ada yang asing, antara lain: a. Bazis pusat dan daerah b. Indonesia Peduli c. Organisasi Muhammadiyah d. PMI e. WALUBI f. Global Peace, Malaysia g. Turkish Foundation h. WHO i. UNICEF j. IOM k. UNHCR l. FAO m. German Aid n. USAID o. Australia Aid p. European Union

V. ESTIMASI PENDANAAN Sebagaimana halnya usulan program, maka pendanaan untuk bidang sosial budaya juga terkait dengan bidang lain, seperti pendidikan,

165

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

kesehatan, dan agama. Khusus bidang sosial budaya dapat dirincikan sebagai berikut: a. Pengembalian 450 ribu pengungsi ke tempat tinggalnya b. penyediaan/perbaikan sarana tempat tinggal sehingga layak ditempati c. Rehabilitasi sarana jalan, d. Penyambungan fasilitas listrik e. Penyediaan dan rehabilitasi fasilitas air bersih f. pembangunan dan perbaikan sarana pendidikan g. pembangunan dan perbaikan sarana sosial budaya, seperti bale gampong, meunasah, kantor keuchik/lurah, masjid, puskesmas, pasar, rumah sekolah dsb. h. Program Pembinaan agama dan moralitas masyarakat i. Pelatihan ketrampilan. j. Program Penyadaran masyarakat pada pentingnya gizi dan kesehatan ibu hamil dan balita k. Pemberian modal dan sarana kerja

166

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

C. SUB BUDAYA I. LATAR BELAKANG Pada dasarnya yang dinamakan etnis Aceh itu berasal dari bermacam ras dan suku bangsa. Artinya yang menjadikan apa yang dikatakan sekarang orang Aceh adalah campuran sejumlah pendatang baik dari luar Nusantara maupun dari dalam Nusantara itu sendiri. Percampuran itu tentu saja terjadi dengan masyarakat asli yang telah berada di bumi Aceh lebih dahulu. 3 Persentase campuran tentu tidah mudah melacaknya. 4 Paling kurang ia dapat dilihat dari sub-budaya yang masih tersisa dan postur penampilan kelompok tertentu. Dari segi bahasa (Aceh) dapat dilihat bahwa unsur Melayu, Arab, Parsi, India, Campa, Cina, bahkan vocabulary Eropa ada di dalamnya. Dari segi makanan dapat dirasa, adanya unsur, Melayu, Cina, Keling, Batak, Minang, dll. Dari segi warna kulit ada yang hitam pekat, yang sawo matang, sampai yang putih. Dari segi rambut, ada yang lurus, setengah keriting dan yang sangat keriting. Dari postur tubuh ada yang kecil mungil sampai yang tinggi besar. Dari segi pakaian, senjata, alat dan jenis kesenian dan lain-lainnya, tutur kata dapat dibedakan dari mana asal usulnya, tentu dengan pengkajian yang bersahaja.Ini semua menjelaskan kepada kita bahwa yang disebut dengan orang Aceh berasal dari berbagai keturunan anak manusia. Berbilangnya asal muasal masyarakat Aceh cendrung telah menjadikan ia lebih dinamis dibanding dari masyarakat yang lebih homogen. Dengan letak geografis yang sangat strategis di penghujung utara pulau Sumatera dan di persimpangan jalur yang menghubungkan antar benua menjadikan percampuran ini seolah tidak pernah berhenti. Dengan demikian maka apa yang menjadi budaya orang Aceh-pun berkembang sepanjang zaman.

3

Sangat mungkin orang Aceh yang telah lebih dahulupun berasal dari pendatang juga. Untuk memproleh data yang lebih sahih tentu perlu kajian antropologis yang memadai.

4

167

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Budaya ini terbentuk dari unsur-unsur yang paling “primitive” sampai dengan yang kontemporer. Di dalamnya terakomodir unsur-unsur yang berasal dari peninggalan leluhur, tradisi, agama, peradatan dan sentuhan dengan orang luar. Dari sekian elemen yang menjadikan budaya Aceh: apakah itu yang berasal dari unsur agama, adat istiadat, hubungan dengan unsure asing, maka unsur agama Islam telah menjadikan budaya Aceh mencapai kulminasinya. Artinya unsur primitive, Hindu, Budha, dan persentuhan dengan bangsabangsa dan suku lain menjadi “final” dan mencapai bentuknya yang sekarang setelah agama Islam mengakar di Aceh. Oleh karena itu apapun pengaruh yang datang kemudian, baik itu Kristen, Katolik, atau ajaran apapun tidak menjadikan budaya Aceh berubah bentuk, walau dia mengalami pasang surut. Pola dan warna budaya itulah yang akan dijelaskan di bawah ini untuk menjadi bahan pertimbangan perencanaan pembangunan masyarakat dan negeri Aceh ke depan. Budaya Aceh pada dasarnya adalah hasil rekayasa para petinggi kerajaan, elit masyarakat, orang kaya, dan ‘ulama. Prilaku merekalah yang sebenarnya sebahagian diterima dan kemudian diikuti oleh masyarakat. Namun dalam perjalanan sejarah telah terjadi pergeseran dari nilai-nilai yang telah berlaku itu, baik ia bersumber dari agama, kebiasaan, atau interaksi dengan orang lain. Untuk tetap konsistennya pola kehidupan bersama itu perlu penjagaan yang kuat. Artinya bahwa langgengnya perjalanan budaya harus ada orang/orang-orang yang terus bersikap dan memberikan tauladan yang baik kepada masyarakat. Pembudayaan ini dapat disebut dengan ethos atau “ethosisasi.” Adanya usaha meng ethoskan ini akan menjadikan anggota masyarakat sadar akan pola hidup yang “wajar,” atau “baik” yang harus dijalani. Untuk ethosisasi ini perlu media utama, antara lain: 1. 2. Ketauladanan para pemimpin: eksekutif, legislatif, yudikatif, tokoh, penegakan aturan hukum, atau sistim dan kebijakan yang pasti, ulama, guru dan cendekia,

168

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

3. 4.

penyelenggaraan pendidikan yang baik, ketersediaan sarana dan dana yang memadai dan layak.

Tanpa ini semua maka apa yang dimaksudkan dengan pembinaan sosial budaya masyarakat untuk menghasilkan sumber daya manusia (sdm) yang memadai tidak akan pernah tercapai. A. Pola realisasi budaya Aceh dalam kehidupan sehari-hari Budaya Aceh baru dapat diindrai ketika ia teraktualisasi dalam beberapa aspek kehidupan, antara lain: pendidikan, kehidupan rumah tangga, lapangan kerja, keberagamaan, makan dan makanan, kesehatan, peradatan, hubungan antar kerabat, hubungan antar gender, khanduri, dan hubungan dengan orang luar. I. Pendidikan Pada dasarnya masyarakat Aceh sangat mementingkan pendidikan. Lembaga pendidikan yang mulanya bernama dayah kemudian madrasah dan selanjutnya sekolah itu menjadi bahagian dari kehidupan masyarakat. Lembaga guru adalah sakral.5 Ini berarti bahwa kehidupan anak Aceh harus melalui lembaga pendidikan dan peran guru dapat menggantikan orang tua, bahkan dalam beberapa hal lebih dari itu.6 Ketika lembaga pendidikan tidak ada di kampungnya maka sang anak akan dikirim untuk “meudagang,” yang berarti merantau ke tempat yang jauh khusus untuk mencari ilmu, khususnya ilmu agama. Belajar harus tuntas, artinya selesai sampai “jenjang” tertentu. Bagi yang tidak
5

Banyak sekali pepatah dan pantun yang meng-elu-elukan kemuliaan dan faedah berguru dan guru, antara lain; Ta’ek u gle tajak koh kayee panyang ta koh lhee paneuk koh dua. Meuhan tapateh nasihat guree akhee meuteumee apui nuraka.” “Ta‘zhim keu guree meuteumee ijazah, ta ‘zhim keu nangmBah meuteumee areuta.” Ketika orang tua menyerahkan anaknya untuk dididik pada sang guru maka kalimat yang diucapkan ketika penyerahan kira-kira: “meunyo mantong udep teungku peurunoe, menyo kam mate teungku peuleumah jrat.” Artinya ialah bahwa kalau seandainya sang muirid meninggal dunia dalam tangan guru tidak akan dipersoalkan oleh orang tuanya.
6

169

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

menyelesaikannya, apapun alasannya, akan merasa terhina, atau sekurangnya berani tampil dalam masyarakat.7 II. Pola mendidik anak dalam keluarga Pendidikan anak dalam keluarga lebih banyak dilakukan oleh ibu. Ibulah yang selalu berada di rumah bersama anak-anak. Sedangkan ayah biasanya berada di luar untuk mencari nafkah. Sehaingga ada nuansa hubungan anak dengan ayah agak renggang, terutama anak laki-laki. Adakalanya anak-anak kalau mau berkomunikasi dengan orang tuanya harus lewat ibunya. Ada gaya “serem” ayah di mata sang anak. Anakanak jarang makan bersama orang tuanya. Bahkan adakalanya suami dan isteri tidak makan bersama, kecuali ketika baru jadi pengantin. Tidak intimnya hubungan anak dengan orang tua (terutama ayah) telah menimbulkan dampak tersendiri. Dalam hal begini maka, biasanya profesi ayah tidak diikuti oleh anak. Kalau ayahnya guru, atau teungku maka sang anak cendrung melanjutkan hidup dalam profesi lain, atau kecuali lingkungannya yang tidak memungkinkan berbuat lain seperti petamnak ikan atau petani. Kalau ayahnya toke (pedagang) maka sang anak akan berjiwa royal, konsumtif. Makanya sangat jarang dayah di Aceh yang berusia panjang, atau perusahaan orang Aceh yang tahan lama, karena keturunan langsung biasanya sudah beralih profesi. Rasanya tidak banyak waktu khusus di mana ayah dapat menurunkan legasinya kepada anak-anak nya. Kalaupun ada sepertinya sambilan saja. Kalau ada pertengkaran antara ayah dengan ibu maka sang anak biasanya akan memihak ibunya, lebih-lebih anak laki-laki.

Ada kata petuah: ulok-ulok raya badan akai tan ubee pureh, dak na jibeut meu aleuham, hana jipham meusilapeh.”

7

170

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

III.

Pekerjaan/mencari nafkah/lapangan kerja Secara tradisional maka lapangan kerja utama orang Aceh adalah bertani, mencari ikan (di laut dan di darat), berternak, bertukang, mencari rotan dan berdagang. Pekerjaan pokok orang Aceh adalah bertani dan mencari ikan. Pertanian dapat terjadi di sawah, di ladang, dan di bukit-bukit.8 Pertanian harus didukung oleh ternak sapi dan kerbau, sebagai tenaga pembajak yang kemudian juga berkembang sebagai komoditi dagang. Mencari ikan ada dua cara menjadi nelayan (pelaut) di sungai, dan kemudian berkembang dengan peternakan ikan di tebat-tebat. Hasilnyapun beragam, dari padi, lada, cengkeh, pala, ikan bandeng, udang, sampai sapi dan kerbau. Kecuali padi maka hasil pertanian/peternakan orang Aceh itu diutamakan yang laku di pasar bahkan di pasar dunia.9 Dengan orientasi ke pasar, maka orang Acehpun terlatih untuk jadi pedagang (mugee). Medan, Pulo Pinang, Pulau Keuleumbu (Colombo) bahkan Istanbul sudah dikenal orang Aceh sejak dulu.

IV.

Pola Keberagamaan ‘Aqidah orang Aceh adalah Islam dengan pemahaman teologis yang lebih dekat kepada jabariyah. Artinya adalah bahwa Tuhanlah yang maha Kuasa dan manusia hanya melakoni apa yang sudah ditetapkanNya. Peran manusia sangat terbatas dan peran Tuhan adalah mutlaq. Apa yang terjadi pada manusia itu semua ada dalam ketetapan Tuhan yang azali tanpa amandemen. Pemahaman ‘aqidah ini sangat kuatnya, bahkan ada yang menyebutnya fanataik, sehingga ia telah menjadi identitas orang Aceh. Bahwa yang disebut Aceh adalah Islam, dan Islam adalah ruh orang Aceh. Tidak

8

“panghulee buet meugoe, pruet troe aneuk na.” “Bek ‘oh trok kapai tapula lada.”

9

171

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

terbayangkan kalau ada orang Aceh yang bukan Islam.10 Oleh karena itu orang Aceh akan bersedia mati membela diri kalau ia dikatakan “kafir,” dan kata sejenisnya, walaupun ia tidak menjalankan ibadat, seperti salat, puasa, dlsb. sesuai dengan tuntunan fiqh. Amalan fiqih orang Aceh berdasarkan mazhab al-Syafi‘iyyah. Artinya ‘amalan itu mengikuti pemahaman pengikut imam Syafi‘i dan tidak harus sama dengan Imam al-Syafi‘i itu sendiri. Pola ini tentu saja ada kaitan dengan sejarah penyebaran Islam waktu dulu. Memang ada keyakinan sejarah bahwa Islam itu datang ke Aceh dibawa oleh ‘ulama‘ulama yang datang dari Gujarat, India yang bermazhab Syafi‘i. Dalam hal ‘amalan ‘ibadat orang Aceh tidak ketat. Mengambil kasus puasa dan shalat maka dapat diamati bahwa yang meninggalkan ibadah puasa lebih banyak laki-laki dan yang meninggalkan shalat lebih banyak perempuan.11 Kalau masa kini di waktu shalat banyak warung masih buka nampaknya ketekunan amal ‘ubudiyah orang Aceh tambah longgar. Amalan agama orang Aceh itulah yang tercermin dalam dalam peradatan. Makanya orang Aceh mengatakan: “adat ngon hukom lagee zat ngon sifeut.” Artinya Adat Aceh adalah penjabaran agama dalam prilaku se hari-hari masyarakat Aceh. Sayangnya zakat, puasa, haji, shalat, adalah inti agama bukan menjadi amalan sehari-hari orang Aceh, sehingga sering terabaikan. Cinta kepada Nabi Muhammad direalisasikan dalam adapt khanduri mawlud, bukan dalam mengikuti amaran Nabi.

10

Walau mungkin saja sekarang ini ada satu, dua orang Aceh yang berpindah agama. Statemen ini mengikuti sebuah survey di sebuah kabupaten di Aceh lebih sepuiluh tahun yang lalu.

11

172

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

V.

Pola Makan dan Makanan Makanan orang Aceh cenderaung mengutamakan dan mengandalkan karbo hidrat. Untuk ini maka nasi adalah makanan pokok. Di samping itu baru didukung oleh ubi, ketela, sagu, boh gadong, sampai boh janeng (masa paceklik). Ikan dan sayur dianggap penting tapi sekundair. Ikan dan sayur dimakan sebagai pendamping untuk menselerakan makan nasi.12 Ia tidak dimakan secara berlebihna. Kenyang nasilah yang dianggap puncak makanan. Makanan lain dianggap pelengkap saja. Daging dimakan (secara formal) setahun 3 kali, ma’meugang puasa,

ma’meugang uroe raya puasa dan ma’meugang uroe raya haji.13 Di luar
itu daging hanya ada kalau kebetulan ada khanduri orang kaya, baik

khanduri udeep atau khanduri matee.
Penganan umumnya dibuat yang tahan lama. Dodoi, wajeb, meuseukat, haluwa dibuat dengan sangat manis untuk tahan berbulan. Bahkan kueh loyang, keukarah, bungong pala, dapat bertahan berhari-hari dan dibawa ke tempat yang jauh. Ikan dan dagingpun sering dibuat tahan lama. Keumamah (dari tuna, atau tongkol), dan sejumlah ikan sering dikeringkan untuk tahan lama. Untuk tahan lama daging itu dikeringkan dan/atau dimasak khusus (sie balu) dan masak pakai gapah supaya tahan lama berbulan. Tumbuhnyan warung-warung (beng, keude klep, kok, panteu) pada awalnya untuk mendukung para pekerja laki-laki yang jauh dari rumah. Misalnya mereka membuka seuneubok baru, ladang baru, tebat, melaut.

12 Bahkan kepada anak-anak tidak sangat digalakkan makan ikan secara berlebihan. Bahkan sering dikatakan, “jangan banyak makan ikan nanti cacingan.”

Makan daging tiga kali ini sudah dianggap seperti tradisi “sakral.” Siapapun kepala keluarga akan berusaha membawa pulang daging ke rumah di pagi hari-hari tersebut. Akan merasa sangat ‘aib bagi yang tidak mampu melakukannya.

13

173

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Yang paling utama dari fungsi warung ini adalah untuk minum/makan pagi para pekerja tersebut.14 Pola makan orang Aceh sangat terikat dengan nasi oriented menu. Bahwa tiga kali makan satu hari sangat dipentingkan, dan makanan pokok nasi. Di ketiga waktu ini kalau belum makan nasi maka dianggap seperti belum makan. Pada makan pagi ada sedikit variasi. Orang lakilaki ada yang sarapan di warung kopi, dengan segala variasi pelengkapnya. Perihal minum, pada umumnya orang Aceh kurang minum. Artinya di luar momen tertentu seperti waktu makan pagi, siang, malam, orang Aceh tidak sering minum. Kebutuhan air minum minimum 2 liter perhari sangat sedikit terpenuhi. Minuman plus adalah kopi. Orang Aceh sedikit yang minum teh. Laki-laki diindentikkan dengan minum kopi. Minum teh umumnya untuk anak-anak dan perempuan. Adanya warung kopi di pinggir jalan seolah khusus untuk menunjang selera laki-laki untuk mengopi setiap hari terutama pagi. Banyknya warong kopi telah menimbulkan dampak baru, waktu senggang laki-laki Aceh terhabiskan di warung kopi. Selain itu rokok adalah santapan orang laki-laki Aceh bahkan tidak ada pantangan masyarakat, asalkan ia sudah dewasa dan sanggup mencari nafkah sendiri.15 Seolah image kejantanan itu ditandai dengan merokok. Bagi anak-anak ada larangan merokok (dulunya) dari masyarakat. Sayangnya selama ini pantangan ini sudah sangat mengendur, bahkan hampir tidak ada lagi. Larangan orang tua sang anak sangat tidak berarti, karena kehidupan anak lebih banyak di luar rumah.
Misalnya pelaut harus turun ke laut jam 5 pagi. Maka warung kopi dan penganan (biasanya bu leukat, pulot) yang terbuat dari beras ketan, akan sangat membantu mereka dalam sarapan sebelum berangkat kerja dan bisa tahan sampai siang. Ketika sang ibu melarang anak laki-lakinya merokok mengatakan: “Hai aneuk bek ka meurukok, luka cabok tutong ija,” sang anak akan menjawaaab: “pakon hai ma bek lon meurukok, tanoh lon catok bakong lon pula.”
15 14

174

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

VI.

Kesehatan, gizi, dan sanitasi Penyakit yang sangat ditakuti orang Aceh adalah busung lapar dan malaria. Para orang tua mengatakan: “yang penting anak saya kenyang perutnnya dan tidak digigit nyamuk.16” Penyakit puru, teurijoe (eksim kronis), kurap tidak jadi masalah. Bahkan pada suatu saat dulu, (ber)puru dianggap sebagai bahagian dari keharusan hidup (rite of

passage), yang harus dialami oleh seseorang sebagai pertanda
menjelang dewasa. Obat utama orang Aceh adalah herbal, khususnya peundang. Air rebusan peundang (sejenis akar kayu gunung) diberikan kepada orang yang sudah sakit kronis, dengan diet khusus yang ketat. Rajah adalah obat ”generik” yang diberlakukan kepada pasien mana saja. Herbal lain dikenal dengan ma’jun, ramuan daun 44, jadam, dan madu lebah. Pola makanan yang kurag variatif membuat kesehatan masyarakat Aceh juga kurang prima. Ketika kurang minum akan menimbulkan dampak juga. Mau banyak minum tidak mudah mendapatkan tempat buang air yang layak. Sanitasi masyarakat Aceh sangat tidak memadai. Pembuangan air ke luar rumah sangat sembangarangan, sehingga menimbulkan “aden.” Tempat pembuangan itu sendiri disebut leubeung. Leubeung dan aden berkonotasi kotor yang sangat luar biasa. Tapi seolah itu telah menjadi bahagian dari rumah.

Takut jangan busung lapar maka sangat ditekankan agar makan nasi banyak-banyak; untuk tidak kena malaria usahakan jangan digigit nyamuk pasang kelambu atau menghidupkan perapian (sale) di bawah rumah, rangkang, atau di bawah tempat tidur.

16

175

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Masalah kakus lebih parah lagi. Fungsi kakus pada mulanya dilakukan di belukar dekat rumah, sungai/selokan yang air mengalir, dan tepi pantai (bagi yang tinggalnya dekat pantai. Kalau ada kakus yang dibuat maka itu berkonotasi darurat dan tidak bersih, karena tidak ada air di situ. Hanya kakus meunasah atau masjid yang ada sumurnya, tapi hampir tidak pernah terawat kebersihannya. Ketika program pemerintah memperkenalkan kakus porselin, kebersihan masih juga terabaikan. Oleh karena itulah masalah kebersihan dan sanitasi masyarakat Aceh dapat dikatakan seperti belum tersentuh “pembudayaan.” VII. Hubungan dengan orang luar/asing Pada awalnya Aceh adalah campuran ras dan bangsa. Dengan demikian hubungan dengan “asing” adalah bahagian dari jati dirinya. Sebegitu dominannya unsur atau pengaruh “asing” dalam masyarakat Aceh dapat dilihat dalam penempatan petinggi kerajaan. Yang namanya sultan Iskandar Muda (1606 – 1637) sangat mungkin keturunan Turki.17 Yang namanya Sultan Iskandar Thani (1637-1642) adalah pangeran asal Pahang. Yang namanya syech Syamsuddin Al-Sumatrani adalah orang Pasei, asal Timur Tengah. Yang namanya Hamzah Fansuri adalah orang Barus. Yang namanya Nuruddin Ar-Raniry adalah orang yang datang dari Surat (India) yang lahir dan wafat di sana. Mereka semua telah berperan sangat sentral dalam kerajaan, masyarakat, agama dan budaya orang Aceh. Tidak pernah mereka dianggap orang asing di Aceh. Suasana ini berjalan terus beratus tahun tanpa ada perubahan. Itulah sifat keluasan budaya masyarakat yang receptive kepada, yang namanya “luar.” Kapan rasa atau peka “asing” muncul di Aceh adalah sejak sesudah tahun 50-an, ketika Aceh mulai melihat ke dalam, ketika

17

Menurut pendapat A. Hasjmy.

176

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

hubungan ke luar telah terbatas, ketika politik nasional telah dirasa membelenggu, ketika pendidikan tidak dapat menyaingi daerah lain, terutama pulau jawa, ketika kemakmuran rakyat tidak meningkat, ketika muara produksi lokal berupa pelabuhan laut, satu-satu mati, ketika rel kereta api yang menghubungkan secara langsung antara Aceh dan Medan dibungkam, dan selanjutnya. Dapat dikatakan factor (anti asing/anti luar) itu adalah sesuatu yang baru dan ada faktor-faktor pendukungnya. VIII. Pola Peradatan Adat Aceh Mengacu kepada Islam. Yang dimaksud dengan adat Aceh adalah kebiasaan yang telah menjadi tradisi masyarakat (yang sebahagiannya berasal dari nenek moyang yang Hindu atau Budha, atau primitif) yang telah disesuaikan atau dianggap sesuai dengan syari‘at Islam. Dulunya adata sangat dipegang kuat. Sehingga martabat suatu kaum diperhitungkan dengan seberapa kuat ia mengikuti adat yang berlaku. Ada beberapa tingkatan “adat.” Yang tertinggi adalah hukum, kemudian adat, kemudian qanun, baru reusam. Masing-masing-punya sumber referensi dan pola eksekusinya. Awal mulanya Adat bersumber dari raja, Qanun dari permaisuri, Hukum dari ‘ulama dan Reusam dari petinggi kerajaan. IX. Pola hubungan antar kerabat Hubungan antar kerabat ada dua sisi: sisi laki-laki dan sisi perempuan. Sisi laki-laki disebut wali, dan sisi perempuan disebut karong. Yang disebut wali adalah kerabat pihak ayah dan karong adalah kerabat pihak ibu. Dalam kehidupan sehari-hari biasanya hubungan karong lebih intim dari hubungan wali. Ada hubungan saling memberi dan saling menerima. Sedangkan hubungan wali agak sedikit kaku. Namun kelebihannya.

177

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Kalau terjadi apa-apa pada seseorang maka wali-lah yang akan membela mati-matian. Harga diri wali sangat tinggi. Sebaliknya kalau berkaitan dengan warisan, maka wali pula yang lebih dahulu meminta haknya. Seringkali terjadi ketegangan dengan pihak wali dalam masalah warisan. X. Pola khanduri/slametan/hajatan Khanduri utama masyarakat Aceh adalah khanduri maulud. Ini sangat erat kaitannya dengan pemahaman agama masyarakat. Sezhalim atau sebodoh seseorang tapi tetap harus mencintai Nabinya. Realisasi kecintaan itu adalah dengan berqurban dengan cara khanduri. Seringkali khanduri mawlud ini dinamakan dengan “khanduri keu panghulee.”18 Semiskin-miskin orang akan ikut serta dalam khanduri maulud ini, bahkan kalau ia harus mempersiapkannya selama satu tahun, sedikit demi sedikit. Akan sangat ‘aib rasanya kalau tidak ikut dalam khanduri ini. Selain khanduri maulud adalah khanduri kematian, yang dilakukan pada hari ke tujuh kematian seseorang. Walaupun ada juga pada hari-hari lain seperti hari ke 3, ke 5, ke 15, ke 20, ke 30, ke 40, ke 100, dsb. Yang telah sangat baku adalah hari ketujuh dan disebut dengan seunujoh. Khanduri ini juga ada martabatnya sendiri. Bagi yang tidak berkhanduri akan muncul satu ejekan bagi ahli warisnya: “seperti mati kerabu saja, tidak dikhanduri,” atau: “takut hartanya atau hak warisannya akan berkurang, maka dia tidak mau khanduri.” Tentu ejekan ini akan sangat menyakitkan. Untuk itu tidak jarang orang akan gadaikan kebun, atau sawah untuk memenuhi upacara ini. Sayangnya kalau yang ditinggalkan si mati ada anak yatim dan miskin lagi.

Artinya berkhanduri untuk memuliakan dan mencintai Penghulu Segala Nabi, yatu Nabi Muhammad SAW.

18

178

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Sesudah ini ada khanduri-khanduri lain, seperti khanduri peresmian perkawinan, khanduri khitan, khanduri blang, khanduri la’ot. Sedangkan khanduri ‘aqiqah, peutron aneuk, khanduri ‘asyura, ada juga dilakukan tapi tidak banyak. XI. Pola hubungan antar gender Pada umumnya lelaki lebih dominant dalam masyarakat Aceh, namun sinergis. Artinya walau laki-laki yang menentukan putusan akhir tapi existensi dan keikut sertaan perempuanlah yang putusan itu jalan. Dalam setiap pertemuan laki-laki musti di depan dan perempuan di belakang. Laki-laki (saja) yang biasanya berbicara sedangkan perempuan sangat sedikit yang angkat bicara. Dalam beberapa hal perempuan seolah ta‘luk saja pada kemauan laki-laki. Namun tidak selalu. Ada kalanya perempuan sangat dominant dalam keluarga. Urusan dalam dalam keluarga biasanya mutlak urusan isteri atau ibu dari anakanak. Ketika dalam keluarga terjadi kematian suami, maka anak-anak yang tinggal akan diasuh oleh ibu dan biasanya akan jadi orang. Alasannya sang ibu cukup kasih sayangnya dan (seandainya) dia kawian lain akan mengutamakan anak-anak-nya di samping suaminya (yang baru). Namun kalau dalam keluarga sang ibu yang meninggal dunia maka anak biasanya akan kucar kacir, dan cendrung tidak jadi. Soalnya si bapa akan kawin lain dan anak-anak nya biasanya akan ikut saudara ibu atau saudara ayah. Sedikit anak-anak yang hidup bersama ibu tirinya. Dalam proses perkawinan laki-laki lah yang mencari perempuan bukan sebaliknya. Makanya kalau terjadi sebaliknya disenut dengan “mon mita tima” (sumur yang mencari timba).

179

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

XII.

Pola kehidupan keluarga Hubungan suami isteri atau ayah ibu dalam keluarga Aceh biasanya sinergis. Artinya masing-masing sangat berperan untuk membina keluarga. Dalam hal bertani maka pekerjaan membajak menjadi tanggung jawablaki-laki. Pada kerja meuyuet-yuet (membuang rumput sebelum ditabur benih) hampir mutlak perempuan. Pekerjaan lainnya dalam bertani hampir sama porsi. Tapi cendrung yang lebih banyak menggunakan tenaga seperti mu‘ue, meucreuh, angkot pade, cemeulho, itu bahagian laki-laki yang lainnya perempuan atau sama-sama. Dalam banyak hal kehidupan keluarga banyak dinamikanya. Persaingan antar adik abang, kakak sering terjadi. Adakalanya peran orang tua berfungsi, adakalanya harus turun tangan petuha dari kerabat. Persaingan terjadi ketika sikap orang tua dirasa beda antara sang anak. Hubungan abang adik (laki-laki) agak kaku, tidak saling bergurau seperti dengan kerabat lain. Hal ini terjadi ketika anak-anak sudah beranjak dewasa, sedangkan ketika masih kecil hubungan mereka biasa saja.

XIII. Pola berpakaian Pada dasarnya pola berpakaian orang Aceh itu longgar, untuk mudah bergerak dan bekerja. Oleh karena itu pakaian jenis celana itu telah biasa dipakai oleh lelaki dan juga perempuan, sejak lama, walau dengan cara ikat yang berbeda. Celana perempuan diikat dengan sedikit dililit di pinggang. Seolah ada nuansa rok pada cara pakainya. Di atasnya baru dipakai kain sarung. Bedanya kain sarung bagi laki-laki digantung sebatas lutut dan kain sarung untuk perempuan diturunkan sampai ke mata kaki. Pada laki-laki celana diikat langsung dengan tali/tali pinggang yang dimasukkan dalam bahagian atas celana atau ditindih dengan ikat pinggang yang lumayan besar. Baju laki-laki biasanya terbuka bahagian

180

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

depannya, terutama bahagian atas. Tutup kepala orang laki-laki terdiri dari tangkulok, atau seureuban, atau kupiah hitam atau kupiah riman. Bagi yang sudah pulang haji biasanya memakai kupiah haji warna putih (skull cap). Perempuan Aceh tidak mengenal jilbab sebagai yang dipahami sekarang. Penutup kepala perempuan Aceh adalah kain batik atau (bahkan) kain sarung yang ditarik ke depan menutup dada mereka. Dengan demikian tutup kepada agak sedikit longgar di bahagian depan. Kain sarung terkenal dahulu adalah kain sarong Lamgugop atau kain silong atau kain sarung Samarinda. Selain itu kain sarung palikat dari India sangat digemari. Anak-anak jarang dipakaikan baju di waktu kecil. Apa yang sangat dipentingkan bagi bayi adalah tali pinggang “khusus.” Khusus di sini berarti bukan tali pinggang biasa yang dipahami sekarang ini. Tali pinggang ini terbuat dari emas, perak, tembaga, atau benang biasa, tergantung status sosial sang orang tua. Tali pinggang ini kecil saja berbentuk rantai atau benang yang dililitkan di pinggang sang bayi. Biasanya pada bahagiang depan atau samping diikatkan sejenis ‘azimat penangkal roh jahat. Khusus bagi bayi perempuan di bahagian depannya diikatkan ceuping kira-kira sebesar telapak tangan bayi tersebut sebagai penutup ‘aurat vitalnya. Ceuping juga ada klasnya, dari emas sampai tempurung kelapa sesuai kemampuan sang orang tua. XIV. Ethos kerja Ethos kerja orang Aceh ada dualisme antara fatalisme dan percaya diri. Kedua jenis ethos ini dalam banyak hal bersinergi, yang kadang logis kadang tidak. Ada kalanya orang Aceh menyerahkan diri pada nasib, di samping juga ada yang hanya mengandalkan usaha yang benar dan sungguh-sungguh. Petuah-petuah orang tua telah berceritera banyak.19
Yang fatalis akan mengatakan: “Meunyo ka si kai han jeut si cupak beurangho tajak ka dup nan kada.” Yang dinamis berpegang pada: “Tapak jak urat nari, na tajak na raseuki.” Meumeot-meot jaroe,
19

181

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Kedua ethos ini telah menjiwai semangat kerja orang Aceh. Pada saat tertentu di lingkungan tertentu ethos fatalis lebih dominant, pada saat yang lain di lingkungan yang lain ethos dinamis yang lebih dominan. Antara kedua itu etos ini dinamis percaya diri nampaknya lebih dominan, paling kurang ia diamalkan oleh labih banyak orang dibandingkan dengan fatalisme.Oleh karena itu pepatah tentang etos kerja ini lebih banyak dengan pepatah fatalisme. Bukti konkritnya adalah banyak orang Aceh yang keluar Aceh jadi pedagang dan ketika masa perang bersedia melawan musuh dengan gigih dan tidak mudah menyerah.Dalam hal ini peran ulama, pemimpin adat, keuchik, teungku imum, atau guru pengajian di lingkungan tertentu sangatmenentukan. B. Kesimpulan 1. Karena budaya masyarakat pada dasarnya berasal dari pemimpin, orang kaya, ulama, tokoh adat, guru, maka untuk melestarikan dan merawatnya diperlukan ketauladanan mereka. 2. Untuk menjadikan mereka tetap berperan sebagai tauladan, maka siapapun yang akan menjadi pemimpin, tokoh, ulama, dsb haruslah diberikan kompetensi yang memadai. 3. Kompetensi ini dapat dicapai melalui pendidikan, pembinaan, pelatihan, dan percontohan. Dengan demikian maka lembaga pendidikan (formal, informal, non formal), pembinaan, pelatihan dan percontohan harus diadakan dan dimaksimalkan perannya dan didukung oleh sistim yang baik. 4. Siapapun yang tidak memenuhi syarat dimaksud, maka ia tidak berhak menempati atau menduduki posisi pemimpin, tokoh, ulama, guru, dan sebagainya. Sebaliknya bagi siapa saja yang

meu’ek gigoe.” “Ta tangah u langet, langet, ta teukui u bumoe, bumoe.” “Meunyoe tan ta oseuha, pane teuka rhet di manyang, meunyo na ta oseuha adak han kaya udeep seunang.” “Geutakot keu angkatan, geumalee keu pakaian.”

182

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

melanggarnya harus diberi sanksi yang tegas sesuai dengan sifat posisi dan tugas yang diembannya.

183

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

D. SUB BIDANG KESEHATAN

I. LATAR BELAKANG
Gempa bumi dan gelombang tsunami yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 di Nanggroe Aceh Darussalam, telah menyebabkan kehancuran insfrastruktur, dan lumpuhnya sebagian sistem & tatanan kegiatan masyarakat dan pemerintah, serta kehilangan sekitar ¼ juta sumber daya manusia. Dibidang kesehatan, banyak infrastruktur/fasilitas kesehatan hancur,

terutama di Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh, Aceh Jaya, Aceh Barat, Pidie, Biruen, Aceh Utara dan pulau Semelue. Kerusakan tersebut mulai infrastruktur terendah seperti Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) dan Pos Bersalin Desa (Polindes) yang terdapat di hampir setiap desa, Puskesmas Pembantu (Pustu), Puskesmas sampai Rumah Sakit. Sebanyak 41 dari 260 Puskesmas rusak dengan skala rusak total sampai rusak sedang. Di Kabupaten Aceh Jaya, 7 dari 8 Puskesmas rusak total (totally destroyed). Table 1 Health Infrastructure Pre and Post Tsunami in Province of Nanggroe Aceh Darussalam Health Infrastructures General Hospitals (RSU) - Government Hospitals 1 - Army/Policy Hospitals 2 - Private Hospitals 3 Mental Hospital 4 Health Offices - Provincial Health Offices 5 - District Health Offices 6 Port Health Offices 7 Drug Storage 8 Public Health Training Pre-Tsunami 16 4 12 Damaged by Tsunami 3 1 2

1 1 21

1 1 2

5 22 1

3 3 1

184

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Centre 9 Community Health Centers 10 Auxiliary Com. H Centers
10

259 821 3758 n.a 4478 60 92 399 831 152 299 256 n.a

41 75 n.a 6 n.a n.a n.a n.a n.a n.a n.a n.a 14

Village Maternity Posts 11 Health Institution Academy 11 Village Health Posts 11 Maternity Hospitals 11 Polyclinics 11 Doctor, private practices
11

Nurse, private practices 11 Pharmacy 11 Village drug outlets 11 Other drug sellers 11 Ambulance 11

Sources: Provincial/Districts Health Offices, Susenas, 2002/3, Assessment conducted by WB, Gadjah Mada University & WHO, MOH and AusAIDS. 1. RSU Meuraxa totally destroyed, RSU Zainoel Abidin moderately damaged; and RSU Calang totally destroyed (but the hospital still in construction phase, not finish and not operational yet when tsunami destroyed it) 2. Police Hospital, severely damaged 3. RSU Permati Hati severely damaged and RSU Moderately damaged 4. Mental Hospital moderately damaged 5. Provincial health offices severely damaged 6. Banda Aceh health offices moderately damaged and Aceh Jaya district health offices, totally destroyed. 7. Sabang Port Offices, Ujong Bate, Aceh Besar Port Office, and Melaboh Posrt Office 8. Provincial Drug Office and Banda Aceh Drug Offices severely damaged, Aceh Jaya Drug Offices totally destroyed 9. Community health center at provincial level with function not only providing basic health services but also as training center for other community health centers. 10. The highest percentages damage was in four districts: Aceh Jaya, Aceh Besar, Banda Aceh, Aceh Barat respectively. 11. A numbers these facilities damaged by tsunami but not such assessment was conducted

Beberapa Puskesmas tidak dapat diidentifikasi lagi lokasi semula, karena sampai sekarang masih teremdam air laut (sebagian daratan telah menjadi laut). Begitu juga Kantor Dinas Kesehatan, hancur total. Di Kota Banda Aceh, Puskesmas dan RS Meuraxa juga totally destroyed. Sedangkan di Kab. Aceh Besar sebanyak lima Puskesmas masuk dalam kategori totally destroyed. Perincian kerusakan infraskruktur kesehatan, baik milik pemerintah maupun swasta di tiap kabupaten/kota.

185

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Tujuan Umum Tujuan umum kegiatan rehabilitasi dan rekontruksi pembangunan kesehatan di Nanggroe Aceh Darusslam adalah untuk menata kembali sistem pembangunan & pelayanan kesehatan di Nanggroe Aceh Darusslam mulai dari sistem perencanaan, pembiayaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi kegiatan-kegiatan pembangunan yang dapat menjamin masyarakat Aceh untuk hidup lebih sehat dan lebih produktif. Tujuan Khusus Sedangkan tujuan khusus kegiatan rehabilitasi dan rekontruksi pembangunan kesehatan adalah sebagai berikut: a. untuk membangun infrastruktur kesehatan yang modern mulai dari fasilitas kesehatan di desa sampai ke fasilitas kesehatan rujukan tingkat puskesmas, kabupaten/kota dan propinsi dalam wilayah Nanggroe Aceh Darussalam; b. untuk membangunan sistem informasi kesehatan dan koordinasi yang lebih efektif intra dan antar unit/fasilitas kesehatan yang ada dalam wilayah Nanggroe Aceh Darussalam; c. untuk membangunan sistem perencanaan dan penganggaran kesehatan yang terpadu dan efektif; d. untuk mengembangkan sistem dan mekanisme pembiayaan kesehatan yang lebih efisien dan efektif; e. untuk meningkatkan health human capacity building dalam berbagai aspek keahlian sehingga sistem kesehatan di Nanggroe Aceh Darussalam dapat berjalan dengan baik; f. untuk membangunan sistem pemberdayaan, keterlibatan dan keikutsertaan aktif masyarakat dan stakeholders dalam kegiatan pembangunan kesehatan di Nanggroe Aceh Darussalam;

186

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

g. mengembangkan sistem deteksi dini dan rapid response terhadap kejadian berbagai kejadian penyakit, terutama yang berpotensi untuk terjadinya wabah; h. Membangunan sistem dan tatanan yang mampu menjamin mutu dan kualitas pelayanan kesehatan. Sasaran kegiatan yang akan dicapai mencakup: a. Seluruh anggota masyarakat Aceh terutama yang menjadi korban gempa bumi dan tsunami memperoleh pelayanan kesehatan baik pelayanan fisik maupun pelayanan kejiwaan sesuai dengan kebutuhan; b. Seluruh sumber daya manusia kesehatan yang bekerja di berbagai fasilitas kesehatan; c. Seluruh sarana dan prasarana kesehatan dapat berfungsi dan ditingkat kembali; d. Lingkungan fisik yang mempunyai efek langsung maupun tidak langsung terhadap kesehatan; e. Pranata sosial-budaya masyarakat yang mempunyai dampak terhadap kesehatan masyarakat.

b. RONA
Selama ini (sebelum tsunami), pemerintah daerah sedang membenahi sistem dan tatanan kesehatan di Nanggroe Aceh Darussalam dalam rangka mencari jawaban mengapa kinerja sistem kesehatan selama ini masih belum mengembirakan, padahal fasilitas kesehatan seperti Rumah Sakit, Puskesmas, Pustu telah dibangun bahkan Polindes telah dibangun sampai ke polosok desa. Berbagai stakeholder berbagai berpartisipatif reform yang aktif dalam mencari untuk model dan mendukung dilakukan meningkatkan

performance system kesehatan di Nanggroe Aceh Darussalam yang masih tertinggal jauh dibandingkan dengan propinsi lain, apalagi dengan Negara tetangga seperti Singapore dan Malaysia. Namun demikian, system dan

187

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

pranata yang telah dibangun belum begitu kuat dan membudaya (strong

culture). Sehingga dengan mudah system dan tatanan yang baru saja
dibangun tersebut terganggu dan tidak berfungsi lagi sejak tsunami meluluhlantahkan sebagian besar daerah Aceh. Sehingga rehabilitasi dan rekonstruksi yang akan dilakukan, tidak hanya membangun fasilitas kesehatan kembali yang lebih modern, namun juga membangun sistem kesehatan yang kuat, mampu mendongkrak kinerja sistem kesehatan serta dapat meningkatkan derajat kesehatan ummat. Cara pandang dalam membangun Aceh kembali juga perlu dirubah. Rakyat Aceh yang jumlahnya sekitar 4 juta lebih harus dipandang sebagai asset utama dalam pembangunan Aceh kembali. Pengalaman (lesson learned) negara seperti Malaysia, Singapore, dan Korea Selatan yang memandang manusia sebagai asset dalam membangun telah menunjukan pertumbuhan ekonomi yang sangat mengesankan dan rakyatnya hidup dengan tingkat kesejahteraan yang tinggi. Walaupun paradigma ini kurang popular bagi pihak-pihak yang menginginkan return of investment dalam waktu singkat (satu-dua tahun), namun pilihan ini merupakan alternatif terbaik bila kita ingin melihat kemajuan Aceh 15-20 tahun ke depan. Bila ingin membangunan sumber daya manusia, proses dan fokus pembangunan harus dimulai sejak dalam kandungan, bahkan sejak akad nikah. Pembangunan kesehatan harus mengikuti alur siklus hidup manusia. Tiap phase kehidupan manusia mempunyai special needs terhadap program dan pelayanan kesehatan. Program tersebut juga harus komprehensif yang meliputi upaya promosi kesehatan (promotive), pencegahan (preventive), pengobatan (curative) dan upaya rehabilitasi. Pembangunan kembali Aceh juga harus mampu melahirkan sistem kesehatan yang kuat, dan mencetak sumber daya yang mampu melaksanakan program kesehatan secara komprehensif dan berkesinambungan. Dengan demikian, arah dan kebijakan rehabilitasi dan rekontruksi kesehatan juga tidak hanya menfokuskan pada aspek fisik semata, namun juga yang

188

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

lebih penting pada aspek non fisik, dan dilakukan secara komprehensif. Lebih lanjut, pengembangan program-program kesehatan di Nanggroe Aceh Darussalam harus mempertimbangkan aspek social cultural dan adat istiadat masyarakat Aceh sehingga timbul sense of belonging dan sustainability dari setiap kegiatan pembangunan kesehatan.

Langkah-langkah kegiatan
Langkah-langkah kegiatan mencakup tiga phase: 1. phase tanggap darurat; 2. phase rehabilitasi, dan 3. phase rekontruksi. Namun fokus uraian berikut ini pada phase rehabilitasi and rekontruksi. Phase tanggap darurat dianggap sudah selesai. Phase Rehabilitasi Beberapa kegiatan yang perlu mendapatkan prioritas pada phase rehabilitasi: 1. Membangun jaringan sistem informasi kesehatan 2. Pengembangan sistem deteksi dini dan rapid response terhadap kejadian berbagai kejadian penyakit 3. Peningkatan mutu sumber daya manusia 4. Pengembangan sistem perencanaan dan penganggaran kesehatan Phase Rekonstruksi Untuk kegiatan rekonstruksi yang perlu mendapatkan prioritas: 1. Pembangunan infrastruktur kesehatan 2. Pengembangan sistem dan mekanisme pembiayaan kesehatan 3. Pengembangan sistem peningkatan mutu dan kualitas pelayanan kesehatan Indikator Keberhasilan dan matrik kegiatan terlampir.

189

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

1. Pembangunan Infrastruktur kesehatan No URAIAN 1 Latar Belakang PENJELASAN Beberapa daerah belum memiliki fasilitas kesehatan yang memadai • Banyak fasilitas kesehatan yang rusak akibat gempa dan gelombang tsunami Untuk membangun infrastruktur kesehatan yang modern mulai dari fasilitas kesehatan di desa sampai ke fasilitas kesehatan rujukan tingkat puskesmas, kabupaten/kota dan propinsi dalam wilayah Nanggroe Aceh Darussalam; Pembangunan Infrastruktur kesehatan • Terlaksananya : 1) Pembangunan Rumah Sakit Pendidikan 2) Pembangunan dan rehabilitasi : 1. Rumah Sakit Zainoel Abidin 2. Rumah Sakit Meuraxa 3. Rumah Sakit Calang 3) Pembangunan dan rehabilitasi dan relokasi: 1. Kantor Dinas Kesehatan Provinsi 2. Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Jaya. 4) Pembangunan dan Relokasi Puskesmas: 1. Puskesmas Lhong, Aceh Besar 2. Puskesmas Lhok Nga, Aceh Besar 3. Puskesmas Kajhu, Aceh Besar 4. Puskesmas Meuraxa, Kota Banda Aceh 5. Puskesmas Kuala Unga/Kolam Itek, Cinamprong, Aceh Jaya 6. Puskesmas Lhok Kruet, Aceh Jaya 7. Puskesmas Pateek, Aceh Jaya 8. Puskesmas Lageum*, Aceh Jaya 9. Puskesmas Panga*, Aceh Jaya 10. Puskesmas Teunom, Aceh Jaya 11. Puskesmas Krueng Raya *, Aceh Besar 12. Leupung, Aceh Besar 13. Baitussalam*, Aceh Besar 14. Samatiga, Aceh Barat 15. Arongan Lambalek, Aceh Barat 16. Meurebo, Aceh Barat 5) Pembangunan Kembali Puskesmas:

2

Tujuan

3 4

Nama Program/kegiatan Sasaran

190

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

1. Puskesmas Latihan 2. Puskesmas Peukan Bada. 3. Puskesmas Pulau Aceh, Aceh Besar 4. Tanah Pasir, Aceh Utara 5. Seuneudon, Aceh Utara 6. Syiah Kuala, Banda Aceh 7. Kuta Alam, Banda Aceh 8. Trienggadeng, Pidie 9. Pante Raja, Pidie 10. Kuala, Nagan Raya 11. Muara Dua, Lhokseumawe 12. Simpang Jernih, Aceh Timar 13. Puskesmas Calang, Aceh Jaya 6) Rehabulitasi Sedang Puskesmas: 1. Simeulue Timur, Simeulue 2. Alapan, Simeulue 3. Peureulak, Aceh Timur 4. Darussalam, Aceh Besar 5. Kota Sigli, Pidie 6. Gandapura, Bireuen 7. Bendahara, Aceh Tamiang 8. Darul Makmur, Nagan Raya 7) Rehabilitasi berat Puskesmas: 1. Simeulu Barat, Simeulue 2. Pulau Banyak, Singkil 3. Kuala Batee, Aceh Selatan 4. Samalanga, Bireun 5. Iboih, Sukakarya, Sabang 8) Pembangunan dan Relokasi Puskesmas Pembantu 9) Pembangunan Puskesmas Pembantu 10)Rehabilitasi Puskesmas 11)Pembangunan dan Relokasi Polindes 12)Pembangunan Polindes 13)Pembangunan dan Relokasi Kantor Kesehatan Pelabuhan 14)Pembangunan Puskesmas Terapung 15)Pembangunan Gedung Obat: • Gudang Obat Dinkes Provinsi NAD • Gudang Obat Dinkes Aceh Jaya • Gudang Obat Dinkes Kota Banda Aceh 16)Bantuan Pembangunan RS Swasta • RS Permata Hati

191

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

• • Kelompok Sasaran Lokasi

RS Fakinah RS Malahayati

Cakupan Kegiatan

Indikator Keberhasilan Jadwal Waktu Keterkaitan dengan Program Lain Instansi Pelaksanaan dan Penanggung Jawab Perkiraan Biaya Sumber Pembiayaan

Rumah Sakit, Kantor Dinas Kesehatan, Puskesmas, Pustu, Polindes, Gudang Obat, KKP Banda Aceh, Sabang, Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Singkil, Semelue, Pidie, Bireun, Aceh Utara, Lhokseumawe, Aceh Timar, Aceh Tamiang. Pembangaunan dan rehabilitasi fasilitas kesehatan mulai dari fasilitas kesehatan primer hingga tersier, pembangunan kantor Dinas, fasilitas pendukung lainnya serta bantuan terhadap pembangunan fasilitas swasta. Pembangunan fasilitas fisik terlaksana (progress report), sarana kesehatan berfungsi minimal seperti semula hingga 2008. Fase Rehabilitasi : Juni – Desember 2005 Fase Rekontruksi : Januari 2006- Desember 2008 1. Pokja IV 2. Pokja VI 3. Pokja IX Dinas Kimpraswil Dinas Kesehatan Fase Rehabilitasi : 50.000.000.000 Fase Rekontruksi : 270.000.000.000 APBN/APBD, BLN/Hibah, Donor

2. Pengembangan Sistem Informasi Kesehatan. No URAIAN Latar Belakang PENJELASAN • Belum memiliki fasilitas yang menunjang Pengembangan Sistem Informasi Manajemen kesehatan yang memadai baik diseluruh fasilitas kesehatan. • Belum dikembangkan system informasi Kesehatan berbasis GIS diseluruh Daerah kabupaten Kota dalam Privinsi NAD dalam menangani akibat gempa dan gelombang tsunami Untuk membangunan sistem informasi kesehatan dan koordinasi yang lebih efektif intra dan antar unit/fasilitas kesehatan yang ada dalam wilayah Nanggroe Aceh Darussalam; Pengembangan Sistem Informasi Kesehatan .

Tujuan

Nama Program/kegiatan

192

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Sasaran

Kelompok Sasaran Lokasi Cakupan Kegiatan Indikator Keberhasilan

Jadwal Waktu Keterkaitan dengan Program Lain Instansi Pelaksanaan dan Penanggung Jawab Perkiraan Biaya Sumber Pembiayaan

1) Pengangkatan dan penempatan diploma computer di Puskesmas 2) Pelatihan Sistem Informasi Kesehatan SIM dan SIK serta GIS 3) Pengadaaan Fasilitas Komputer dan jaringannya untuk puskesmas, dinas Kes Kabupaten/Kota, Rumah Sakit dan fasilitas kesehatan lainnya 4) Pengadaan GPS untuk semua Kabupaten/Kota dalam wilayah NAD. 5) Pertemuan 3 bulanan untuk Updating data di tingkat Kabupaten dan Provinsi. Petugas, fasilitas kesehatan di seluruh Puskesmas, Dinas Kesehatan dan Rumah Sakit dan Unit Kesehatan lainnya Seluruh Kabupaten/Kota dalam Prov.NAD Pelatihan petugas dan pengadaan peralatan jaringan pendukung SIK dan GIS di Prop NAD. 1) Tersedianya SDM pada seluruh Puskesmas, Dinas, RS yang menangani kegiatan SIM, SIK GIS. 2) Tersedianya peralatan dan jaringan pendukung SIK dan GIS 3) Terselenggaranya pertemuan tribulan 4) Tersedia profil dan data yang uptodate secara berkala Fase Rekontruksi : Januari 2006- Desember 2008 Menunjang Pengembangan Kegiatan disemua sektor Kesehatan Masyarakat dan Perorangan Dinas Kesehatan Dinas Infokom 3.000.000.000 APBN/APBD, BLN/Hibah, Donor

193

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

3. Pengembangan Sistem Perencanaan dan Penganggaran Terpadu No URAIAN Latar Belakang PENJELASAN Belum adanya Sistem Perencanaan dan Penganggaran kesehatan yang terpadu baik ditingkat Kabupaten/Kota maupaun di Tingkat Dinas Kesehatan Provinsi NAD dalam menangani akibat gempa dan gelombang tsunami Untuk membangunan sistem perencanaan dan penganggaran kesehatan yang terpadu dan efektif Pengembangan Sistem Perencanaan dan Penganggaran Terpadu bidang Kesehatan 1) In house training P2KT untuk tenaga Perencanaan Kesehatan ditingkat Puskesmas , Dinas Kesehatan kabupaten / Kota dan Prov dan RS. 2) Pengadaan Modul Pelatihan untuk P2KT 3) Pelatihan Manajemen Keuangan dibidang Kesehatan 4) Pengembangan model kabupaten/kota P2KT 5) Asistensi Kegiatan Perencanaan dan Penganggaran Petugas Puskesmas, Dinas Kesehatan dan Rumah Sakit Kabupaten dalam Prov.NAD Seluruh Kabupaten/kota dalam Prov.NAD Pelatihan P2KT untuk tenaga Perencanaan Kesehatan ditingkat Pukesmas , Dinas Kesehatan kabupaten / Kota dan Provinsi, Pengadaan Modul Pelatihan untuk P2KT dan pengembangan model kabupaten P2KT. 1) Seluruh tenaga perencanaan puskesmas, dinas pada akhir 2006 2) Perencanaan program Puskesmas, Dinas sudah menerapkan prinsip P2K 3) MONEV dijalankan secara konsisten Fase Rehabilitasi : Juni 2005 – Desember 2005 Fase Rekontruksi : Januari 2006- Desember 2008 Pokja IX (Pendanaan) Poja Kelembangaan Dinas Kesehatas Dirjen Anggaran 500.000.000 APBN/APBD, BLN/Hibah, Donor

Tujuan Nama Program/kegiatan Sasaran

Kelompok Sasaran Lokasi Cakupan Kegiatan

Indikator Keberhasilan

Jadwal Waktu Keterkaitan dengan Program Lain Instansi Pelaksanaan dan Penanggung Jawab Perkiraan Biaya Sumber Pembiayaan

194

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

4. Pengembangan Sistem dan Mekanisme Pembiayaan Kesehatan No URAIAN Latar Belakang Tujuan Nama Program/kegiatan Sasaran PENJELASAN Sistem dan mekanisme pembiayaan kesehatan di Kabupaten, Aceh besar, Pidie dan Aceh Utara masih belum efektif dan efesien Untuk mengembangkan sistem dan mekanisme pembiayaan kesehatan yang lebih efisien dan efektif Pengembangan Sistem dan mekanisme pembiayaan Kesehatan 1) Penelitian Model Pembiayaan kesehatan 2) Pengembangan model pembiayaan kesehatan dengan model DRG (Diagnostic Related Group) di salah satu Rumah Sakit 3) Pembahasan, pengesahan dan sosialisasi Qanun (peraturan daerah) yang mengatur system dan mekanisme pembiayaan kesehatan. Tenaga dan fasilitas kesehatan Seluruh kabupaten/kota Pengembangan Sistem dan model pembiayaan Kesehatan 1. Tersedianya rekomendasi model pembiayaan kesehatan yang efektif 2. Adanya model pembiayaan kesehatan yang efektif 3. Disahkan dan tersosialisasi Qanun sistem dan mekanisme pembiayaan kesehatan Fase Rehabilitasi : Juni – Desember 2005 Fase Rekontruksi : Januari 2006- Desember 2008 Pokja IX (Pendanaan) Poja Kelembangaan Dinas kesehatan 50.000.000.000 APBN/APBD, BLN/Hibah, Donor

Kelompok Sasaran Lokasi Cakupan Kegiatan Indikator Keberhasilan

Jadwal Waktu Keterkaitan dengan Program Lain Instansi Pelaksanaan dan Penanggung Jawab Perkiraan Biaya Sumber Pembiayaan

195

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

5. Peningkatan SDM Kesehatan No URAIAN Latar Belakang PENJELASAN Jumlah dan kualitas SDM tenaga kesehatan Puskesmas, Dinas Kesehatan, Rumah Sakit dan fasilitas kesehatan lainya masih kurang dan belum memadai Untuk meningkatkan health human capacity building dalam berbagai aspek keahlian sehingga sistem kesehatan di Nanggroe Aceh Darussalam dapat berjalan dengan baik Peningkatan SDM Kesehatan 1) Pelatihan dan pendidikan petugas kesehatan baik dalam maupun luar negeri 2) Pendidikan Magister Kesehatan Masyarakat Tenaga Kesehatan Seluruh kabupaten/kota 1) Pelatihan dalam bidang kesehatan lingkungan, kesehatan ibu dan anak, gizi, P2M, akreditasi, dan lainya 2) Pendidikan bergelar: epidemiologi, biostatistik, health financing, health planning, untuk Dinas Kesehatan dan Rumah sakit Umum Kabupaten/Kota 1) Adanya pelatihan, lokakarya, kursus singkat dan Pendidikan S2 Kesmas 2) Minimal terdapat seorang tenaga ahli dalam masing bidang dari seluruh kab/kota pada akhir fase rekontruksi Fase Rehabilitasi : Juni – Desember 2005 Fase Rekontruksi : Januari 2006- Desember 2008 Pokja IV Pokja VI Pokja X Dinas Kesehatan 300.000.000.000 APBN/APBD, BLN/Hibah, Donor

Tujuan

Nama Program/kegiatan Sasaran

Kelompok Sasaran Lokasi Cakupan Kegiatan

Indikator Keberhasilan

Jadwal Waktu Keterkaitan dengan Program Lain Instansi Pelaksanaan dan Penanggung Jawab Perkiraan Biaya Sumber Pembiayaan

196

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

6. Peningkatan Peran Serta Masyarakat (stakeholder) No URAIAN Latar Belakang PENJELASAN Keterlibatan dan keikutsertaan Stakeholder secara aktif dalam pembangunan Kesehatan diseluruh Daerah kabupaten Kota dalam Provinsi NAD masih rendah dalam pembangunan kesehatan untuk membangunan sistem pemberdayaan, keterlibatan dan keikutsertaan aktif masyarakat dan stakeholders dalam kegiatan pembangunan kesehatan di Nanggroe Aceh Darussalam Peningkatan Peran Serta Masyarakat (stakeholder) 1) Pembentukan District Health Forum di setiap Kabupaten / Kota. 2) Pembentukan Hospital Governing Board/Badan 3) Pertemuan Berkala 3 bulanan.. Tokoh Masyarakat, LSM, Legislatif dan stakeholder lainnya dalam Kabupaten /Kota dalam Prov.NAD Di seluruh kabupaten/kota Peningkatan peran serta masyarakat pada seluruh lini jajaran kesehatan. Terlibatnya anggota masyarakat dalam perencanaan, dan monev baik pada tingkat Puskesmas hingga RS dan Dinas Kesehatan Fase Rehabilitasi : Juni – Desember 2005 Fase Rekontruksi : Januari 2006- Desember 2008 Pokja IX (Pendanaan) Poja Kelembangaan Dinas kesehatan 300.000.000. APBN/APBD, BLN/Hibah, Donor

Tujuan

Nama Program/kegiatan Sasaran

Kelompok Sasaran Lokasi Cakupan Kegiatan Indikator Keberhasilan Jadwal Waktu Keterkaitan dengan Program Lain Instansi Pelaksanaan dan Penanggung Jawab Perkiraan Biaya Sumber Pembiayaan

197

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

7. Peningkatan dan Pengembangan Surveilens Epidemiologi No URAIAN Latar Belakang PENJELASAN Belum berjalannya sistem deteksi dini dan respons cepat terhadap kejadian kegawatan berbagai jenis penyakit yang berpotensi untuk wabah mengembangkan sistem deteksi dini dan rapid response terhadap kejadian berbagai kejadian penyakit, terutama yang berpotensi untuk terjadinya wabah Peningkatan dan Pengembangan Surveilens Epidemiologi 1) Pelatihan Tenaga surveilens Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dalam Provnsi NAD. 2) Pengadaan peralatan penunjang surveilans 3) Pengembangan sistem surveilans 4) Pembentukan SAR kesehatan Tenaga surveilens puskesmas dan dinas Kesehatan kabupaten / kota dalam provinsi NAD Suluruh Puskesmas dan Dinas Kesehatan Kab/kota di Prop NAD Pelatihan dan monev dan pengadaan peralatan penunjang surveilans pada seluruh Kab/kota di Prop NAD 1) Terlaksana pelatihan bagi seluruh petugas surveilans pada akhir 2007. 2) Adanya mata anggaran dalam APBD 3) Tersedianya informasi mengenai penyakit dan status gizi yang uptodate 4) Terbentuknya tim SAR Fase Rehabilitasi : Juni – Desember 2005 Fase Rekontruksi : Januari 2006- Desember 2008 Pokja IX (Pendanaan) Poja Kelembangaan Dinas Kesehatan dan Rumah Sakit 50.000.000.000 APBN/APBD, BLN/Hibah, Donor

Tujuan

Nama Program/kegiatan Sasaran

Kelompok Sasaran Lokasi Cakupan Kegiatan Indikator Keberhasilan

Jadwal Waktu Keterkaitan dengan Program Lain Instansi Pelaksanaan dan Penanggung Jawab Perkiraan Biaya Sumber Pembiayaan

198

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

8. Pengembangan sistem peningkatan mutu dan kualitas pelayanan kesehatan No URAIAN Latar Belakang PENJELASAN 1) Belum ada standar mutu pelayanan kesehatan masyarakat 2) Masih rendahnya kualitas pelayanan kesehatan 3) Masih rendahnya tingkat kepuasan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan Membangun sistem dan tatanan yang mampu menjamin mutu dan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat Pengembangan sistem peningkatan mutu dan kualitas pelayanan kesehatan 1) Sosialisasi peningkatan mutu dan kualitan pelayanan kesehatan masyarakat 2) Terbentuknya unit kendali mutu diseluruh unit pelayanan kesehatan masyarakat 3) Pengembangan SOP di semua unit pelayanan kesehatan masyarakat dan perorangan Seluruh unit pelayanan kesehatan di Prop NAD. Seluruh Prop NAD Tersosialiasi dan terlakasana pelayanan bermutu pada semua petugas. 1) Peningkatan tingkat kepuasan masyarakat terhadap pelayanan 2) Terbentuknya gugus kendali mutu di setiap unit pelayanan kesehatan 3) Adanya SOP di setiap unit pelayanan kesehatan Fase Rekontruksi : Januari 2006- Desember 2008 Pokja IX (Pendanaan) Poja Kelembangaan Dinas kesehatan dan rumah sakit 1.000.000.000. APBN/APBD, BLN/Hibah, Donor

Tujuan Nama Program/kegiatan Sasaran

Kelompok Sasaran Lokasi Cakupan Kegiatan Indikator Keberhasilan

Jadwal Waktu Keterkaitan dengan Program Lain Instansi Pelaksanaan dan Penanggung Jawab Perkiraan Biaya Sumber Pembiayaan

199

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

PROGRAM SFESIFIK BIDANG KESEHATAN Upaya Kesehatan Masyarakat 1. Estimasi kebutuhan biaya Puskesmas untuk melaksanakan PKD, khususnya biaya operasional pelayanan kuratif dan program kesehatan masyarakat sehingga alokasi biaya yang sesuai dengan hasil estimasi. 2. Penempatan SKM di Puskesmas 3. Revitalisasi Posyandu dengan mengembangkan model-model baru yang sesuai dengan kebutuhan dan budaya masyarakat 4. Reassessment keberadaan Pustu dalam konteks Pelayanan Kesehatan Dasar (PKD) 5. Legitimasi klinik-klinik non-pemerintah dalam Sistem Kesehatan Pembangunan Fisik Bidang Kesehatan 1. Untuk pembangunan RS baru, perlu studi kelayakan guna menentukan model RS yang akan dibangun. 2. Pengembangan model pelayanan yang diwarnai oleh Syariah Islam 3. Peningkatan kemampuan manajemen RS (training) 4. Penerapan program QA/QI/Audit Medik di RS 5. Pengembangan Badan Perwakilan Masyarakat (Hospital Governing Board) dalam sistem manajemen RS. Pencegahan/pemberantasan Penyakit 1. Peningkatan kemampuan surveilans 2. Penggunaan LAN, IT dan GIS untuk data epidemiologi 3. Kerjasama lintas daerah dalam program PPMPL untuk pembentukan Badan Kerjasama Kesehatan (BKK) atau di daerah lain disebut JHC 4. Pelatihan Manajemen PPMPL Terpadu Berbasis Wilayah utk staf Kabupaten dan Puskesmas 5. Perkuat kemampuan Dinkes untuk melakukan analisis faktor resiko lingkungan dan resiko perilaku Program Tambahan 1. Pembentukan Forum Kesehatan (District Health Forum) pada tingkat Desa, Kecamatan, Kabupaten. 2. Keterlibatan Ulama dalam Promosi Kesehatan 3. Pengembangan Program Promosi Kesehatan berbasis sosial budaya masyarakat Aceh (PM Toh, Hikayat, Seudati, Didong, Rebana, Saman, Laweut, dll) 4. Insentif utk dokter relawan: pengakuan sbg menjalankan program PTT

200

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

201

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

BAB VII POKJA – VII

HUKUM

I. LATAR BELAKANG Gempa bumi dan gelombang tsunami yang terjadi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalalam (NAD) pada tanggal 26 Desember 2004, telah menimbulkan derita kemanusiaan yang tak terperikan. Bencana alam yang luar biasa tersebut telah menyebabkan ratusan ribu orang meninggal dunia, kehilangan tempat tinggal dan harta benda, serta lumpuhnya sektor ekonomi, infra dan suprastruktur bidang pertanahan. Semua ini mengakibatkan timbulnya keresahan dan kekhawatiran masyarakat menyangkut status dan hak mereka atas tanah. Selain dari pada itu telah menimbulkan persoalan pelik serta kompleks di bidang hukum keluarga, misalnya, hilangnya sebagian atau seluruh ahliwaris, banyaknya anak yang memerlukan pengasuhan/perwalian, serta hilangnya dokumen identitas kependudukan, perkawinan, dan harta benda. Secara kelembagaan, bencana gempa dan tsunami tersebut juga mengakibatkan rusak/hancurnya pranata yang berfungsi sebagai penentu tegaknya status hukum keluarga di Aceh, misalnya, rusaknya prasarana dan sarana di lingkungan mahkamah syar’iyah. Selain kerusakan terhadap prasarana dan sarana hukum di Provinsi NAD, juga telah mengakibatkan meninggal/hilangnya sejumlah aparatur penegak hukum dan tenaga administrasi dan tenaga teknis. Hal ini tentunya berpengaruh pada proses pelayanan dan penegakan hukum di Provinsi NAD.

II. INVENTARISASI KERUSAKAN DAN KERUGIAN

A. Bidang Hukum Pertanahan
Kerusakan infrastruktur di bidang pertanahan meliputi: kerusakan tanah + 68.966,60 hektare yang tersebar di sepuluh kabupaten/kota se-Provinsi NAD, serta hilang/rusaknya dokumen dan sertifikat hak atas tanah. Permasalahan

202

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

hukum bidang pertanahan yang paling mendesak dan harus segera ditangani adalah bagaimana hak-hak keperdataan di bidang pertanahan dapat dipulihkan kembali, dijamin, dan dilindungi, sementara banyak prasarana/sarana, serta infrastruktur pertanahan yang hancur dan musnah. Rehabilitasi dan rekonstruksi pertanahan harus segera diwujudkan dengan memperhatikan aspek-aspek kultural, agama, adat, dan kondisi daerah. Adapun inventarisasi kerusakan dan kerugian di bidang hukum pertanahan adalah sebagai berikut a. Musnah/rusaknya objek hak (tanah); b. Hilang/rusaknya sertifikat hak atas tanah; c. Hilangnya batas-batas tanah, baik yang disebabkan oleh bencana alam gempa dan tsunami maupun perbuatan manusia; d. Hilang/rusaknya dokumen-dokumen pertanahan; e. Meninggal/hilang tanah/ahliwaris; f. Adanya tanah-tanah yang belum terdaftar; g. Rusaknya sarana teknis dan nonteknis yang dipakai untuk mengetahui batas-batas tanah, dan h. Banyaknya masyarakat, saksi kepemilikan tanah dari masyarakat, tokoh yang aparatur pemerintahan desa/gampong atau tidak diketahuinya keberadaan pemilik

meninggal/hilang atau tidak diketahui keberadaannya.

B. Bidang Hukum Keluarga
Akibat bencana alam gempa/tsunami telah menimbulkan kerugian yang cukup besar terhadap prasarana dan sarana peradilan yang akan menyelesaikan masalah hukum keluarga, meliputi: a. Rusaknya Gedung Mahkamah Syar’iyah Provinsi NAD, b. Rusaknya Gedung Mahkamah Syar’iyah Kota Banda Aceh, c. Rusaknya Gedung Mahkamah Syar’iyah Meulaboh,

203

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

d. Hancurnya Gedung Mahkamah Syar’iyah Calang, e. Hilangnya kendaraan opersaional baik roda dua maupun roda empat, dan f. Mobiler dan sarana lainnya hancur total.

C. Bidang Sarana dan Prasarana
Kerusakan dan kerugian akibat gempa/tsunami di Aceh, mencakup:
a. Kanwil Hukum dan HAM serta unit pelaksana teknis (UPT) berupa LP, Rutan,

Cabang Rutan, Bapas, Kantor Imigrasi, dan Rumah Penyimpanan Barang Sitaan Negara (Rupbasan). Dan Sarana lainnya.
b. 1 (satu) Mahkamah Syar’iyah Provinsi dan 7 (tujuh) Mahkamah Syar’iyah

kabupaten/kota Dan Sarana lainnya.
c.

1 (satu) Pengadilan Tinggi NAD dan 9 (sembilan) pengadilan negeri Dan Sarana lainnya. 4 (empat) kejaksaan negeri Dan Sarana

d. 1 (satu) Kejaksaan Tinggi dan

lainnya.
e. Rumah dinas Kanwil Hukum dan HAM/jajarannya Dan Sarana lainnya. f.

Rumah dinas PT dan jajarannya serta Mobilernya.

g. Rumah dinas Mahkamah Syar’iyah Provinisi dan jajarannya serta Mobilernya. h. Rumah dinas Kejaksaan Tinggi dan jajarannya serta Mobilernya.

D. Bidang SDM Hukum
Data mutakhir yang berhasil dihimpun, jumlah korban yang meninggal/hilang adalah sbb: - hakim - jaksa - tenaga fungsional - tenaga teknis/administratif : 4 orang, : : 6 orang, 15 orang,

:123 orang,

2. UPAYA YANG TELAH DILAKUKAN PADA TAHAPAN TANGGAP DARURAT

A. Bidang Hukum Pertanahan

204

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

a. Penyuluhan tentang jaminan/perlindungan hukum terhadap hak atas tanah masyarakat, baik melalui media cetak maupun elektronik; b. Menerima laporan masyarakat tentang sertifikat hak atas tanah yang hilang/rusak; c. Menginventarisasi kerusakan-kerusakan tanah pascagempa dan tsunami; d. Mengevakuasi dokumen-dokumen pertanahan yang masih tersisa, dan e. Menginventarisasi subjek dan objek hak atas tanah. B. Bidang Hukum Keluarga Upaya yang telah dilakukan: a. Pembentukan posko pelayanan hukum di bidang hukum keluarga, b. Mengevakuasi dokumen yang masih tersisa, dan c. Koordinasi dengan instansi terkait dalam penataan dokumen hukum keluarga.

C. Bidang Sarana dan Prasarana
Upaya yang telah dilakukan pada tahap tanggap darurat meliputi: a. Pendataan korban dan kerusakan lainnya. b. Pembentukan posko-posko pelayanan hukum. c. Pembersihan kantor-kantor/rumah dinas. d. Rehabilitasi yang bersifat darurat.

D. Bidang SDM
Hingga saat ini, upaya yang telah dilakukan baru bersifat pendataan serta pelaporan ke induk instansi masing-masing. 3. TAHAPAN PENYUSUNAN RENCANA KEGIATAN

A. Bidang Hukum Pertanahan
a. Mengaktifkan kembali Kelompok Masyarakat Sadar Tertib Pertanahan (Pokmasdartibnah),

205

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

b. Melakukan identifikasi subjek dan objek hak atas tanah baik terhadap tanah yang telah terdaftar maupun yang belum terdaftar, dan c. Membuat/mengeluarkan sertifikat pengganti bukti hak baru.

B. Bidang Hukum Keluarga
a. Inventarisasi masalah hukum keluarga, b. Menyusun perencanaan rehabilitasi dan rekonstruksi, c. Menjaring aspirasi yang berkembang dalam masyarakat tentang pembangunan kembali tatanan hukum yang berlandaskan syariat Islam sesuai dengan UU Nomor 44/1999 dan UU 18/2001, dan d. Memberikan pelayanan hukum kepada masyarakat, terutama dalam hal penetapan ahliwaris untuk keperluan pengurusan rekening pada bank dan Taspen, pemeliharaan anak , serta penetapan status harta yang tak ada pemiliknya.

C. Bidang Sarana dan Prasarana
Hingga saat ini, upaya yang telah dilakukan baru bersifat pendataan serta pelaporan ke induk instansi masing-masing.

D. Bidang SDM
a. Pendataan, b. Pelaporan, c. Permintaan kebutuhan/penyusunan formasi, d. Rekruitmen berbagai tenaga yang dibutuhkan. 4. DETAIL RENCANA KEGIATAN

A. Bidang Hukum Pertanahan
a. Bidang Pokja : - Pokja Hukum - Jenis Prioritas: Bidang Hukum Pertanahan

206

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

b. Nama program : c. Nama Kegiatan : d. Sasaran (Kualitatif) 1. Tata Ruang

Pembangunan Hukum Rehabilitasi dan Rekonstruksi Bidang Hukum Pertanahan

a. Penggunaan ruang/tanah sesuai dengan fungsi dan kualitasnya, b. Terciptanya akses semua elemen/kepentingan masyarakat terhadap ruang/tanah yang memadai, termasuk untuk kepentingan umum dan tempat ibadah, sesuai prinsip-prinsip ekologis. c. Terjaminnya sehubungan perlindungan dengan hak-hak masyarakat pemilik tanah dan adanya perubahan perencanaan

penggunaan ruang/tanah. 2. Jaminan kepastian hukum hak atas tanah (tanah yang telah terdaftar). a. Melakukan inventarisasi subjek dan objek tanah, b. Pembuatan kembali tugu titik dasar teknis yang rusak/hilang, c. Pengembalian batas-batas tanah, d. Pemberian sertikat pengganti, dan e. Rehabilitasi dokumen pertanahan. 3. Perlindungan hukum hak atas tanah (tanah yang belum terdaftar). a. Melakukan inventarisasi subjek dan objek tanah, b. Pembuatan kembali tugu titik dasar teknis yang rusak/hilang, c. Penetapan batas-batas tanah, d. Pembuatan/pemberian alat bukti hak, dan e. Rehabilitasi dokumen pertanahan. e. Kelompok Sasaran: 1. Badan Pertanahan Nasional (Kanwil BPN dan Kantor Pertanahan). 2. Masyarakat pemilik/pemegang hak atas tanah. f. Lokasi Kegiatan:

207

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Mencakup seluruh wilayah yang terkena bencana gempa bumi dan gelombang tsunami, meliputi: 1. Kota Banda Aceh, 2. Kota Sabang, 3. Kota Lhokseumawe, 4. Kabupaten Aceh Besar, 5. Kabupaten Pidie, 6. Kabupaten Bireuen, 7. Kabupaten Aceh Utara, 8. Kabupaten Aceh Barat, 9. Kabupaten Aceh Jaya, dan 10. Kabupaten Nagan Raya. g. Cakupan Kegiatan: - Meliputi pendaatan objek dan subjek tanah hingga pembuatan sertifikat. h. Indikator Keberhasilan 1. Tersedianya ruang/tanah sesuai dengan fungsi dan kualitas ruang/tanah, 2. Tersedianya akses semua elemen/kepentingan masyarakat terhadap ruang/tanah yang memadai, 3. Terlindunginya hak-hak masyarakat pemilik tanah akibat terjadinya perubahan perencanaan dan penggunaan ruang/tanah, 4. Tersedianya data tentang subjek dan objek tanah yang terkena gempa dan tsunami, 5. Tersedianya kembali tugu titik dasar teknis yang rusak/hilang, 6. Tersedianya kembali batas-batas bidang tanah, 7. Dimilikinya sertifikat pengganti oleh pemegang hak atas tanah (tanah yang terdaftar), 8. Tersedianya kembali dokumen pertanahan, dan 9. Tersedianya alat bukti hak atas tanah yang belum terdaftar.

208

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

i. Jadwal Waktu Pelaksanaan: Tahun 2005 j. Keterkaitan dengan program/kegiatan lain Sasaran kegiatan Pokja Hukum bidang prioritas pertanahan ini sangat terkait dengan sasaran bidang prioritas hukum keluarga, prasarana dan sarana, SDM, kebutuhan masyarakat terhadap keadilan serta sasaran semua Pokja lainnya, terutama Pokja Tata Ruang dan Pertanahan, Lingkungan hidup dan SDA, Pokja Prasarana dan Sarana Umum, Pokja Agama, Sosbud, SDM dll.

k. Instansi pelaksana, penanggung jawab: 1. Badan Pertanahan Nasional (Kakanwil BPN dan Kantor Pertanahan). 2. Instansi terkait. l. Perkiraan biaya (Rp) m. Sumber pembiayaan: APBN, APBD, atau sumber lain. B. Bidang Hukum Keluarga a. Bidang Pokja : Hukum b. Nama Program: Pembangunan Hukum c. Nama Kegiatan: Rehabilitasi dan Rekonstrusi Bidang Hukum Keluarga d. Sasaran 1. Penetapan tentang kepastian hilang/meninggalnya seseorang, 2. Penetapan mengenai status hukum ahliwaris dan objek warisan, 3. Penetapan hak pengasuhan/perwalian anak, 4. Penetapan status perkawinan, 5. Penetapan status kelahiran, dan 6. Penetapan status harta-benda yang tidak ada lagi pemiliknya. e. Kelompok Sasaran - Masyarakat yang menjadi korban gempa dan gelombang tsunami.

209

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

f. Lokasi Kegiatan Kegiatan mencakup seluruh kabupaten/kota/kecamatan/desa dalam Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang mengalami musibah bencana. g. Cakupan Kegiatan Meliputi pendataan, penyediaan dan penggantian dokumen yang berkaitan dengan hukum keluarga, dan penetapan status perkawinan, perwalian, dan kewarisan. h. Indikator Keberhasilan 1. Terlayaninya masyarakat yang memerlukan informasi dan pelayanan di bidang hukum keluarga,Adanya penetapan tentang status orang hilang/meninggal, 2. Adanya penetapan mengenai status hukum ahliwaris dan objek warisan; 3. Adanya penetapan hak pengasuhan/perwalian anak, Adanya penetapan mengenai status perkawinan, 4. Adanya penetapan status kelahiran, dan 5. Adanya penetapan status harta-benda yang tidak ada lagi pemiliknya. i. Jadwal waktu pelaksanaan 27 Maret 2005 – sebelum tahun 2008. j. Keterkaitan dengan program/kegiatan lain - Program ini terkait dengan instansi seperti Kepolisian, Kanwil BPN, Kanwil Departemen Hukum dan HAM, dan pemerintah daerah. k. Instansi pelaksana dan penanggung jawab - Mahkamah Syar’iah Provinsi NAD beserta jajarannya. l. Perkiraan biaya (Belum dikalkulasi) m. Sumber Pembiayaan: APBD, ABPN, dan sumber lain.

C. Bidang Sarana dan Prasarana

210

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

b. Bidang Pokja Hukum c. Nama Program Rehabilitasi Prasarana dan sarana hukum d. Nama Kegiatan Pembangunan Sarana dan Prasarana Hukum e. Sasaran: -. Membangun baru kantor yang hancur. - Merehab kantor yang rusak berat. - Merelokasi kantor yang rawan banjir/tsunami. - Membangun Lapas khusus wanita. - Membangun Lapas khusus untuk anak. - Membangun/merehab rumah dinas. - Pengadaan sarana kantor dan rumah dinas.

D. Bidang SDM
a. Bidang Pokja : Hukum Penambahan dan Peningkatan Sumber Daya Manusia Peningkatan SDM b. Nama Program : c. Nama Kegiatan : d. Sasaran :

1. Penambahan tenaga hakim dan jaksa, 2. Penambahan tenaga fungsional dan administratif, dan 3. Peningkatan kualitas dan kapasitas hakim, jaksa, dan aparatur hukum lainnya. 5. MEKANISME PELAKSANAAN:

A. Bidang Hukum Pertanahan
Secara teknis diatur oleh BPN Pusat dan Kanwil BPN Provinsi NAD.

B. Bidang Hukum Keluarga
Secara teknis diatur oleh Mahkamah Syar’iyah Provinsi NAD, antara lain, melalui cara-cara berikut:

211

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

1. Penyelesaian harta warisan pada hakikatnya dapat dilakukan secara kekeluargaan oleh para ahliwaris secara damai di hadapan kepala desa/lurah, tokoh masyarakat setempat. Namun, apabila penyelesaian damai tidak membawa hasil, para ahliwaris atau salah satu seorang dari ahliwaris dapat mengajukan gugatannya ke Mahkamah Syar’iyah di kabupaten/kota, tempat objek tersebut berada. 2. Penetapan ahliwaris untuk keperluan pengurusan rekening pada bank dan Taspen, pengesahan pemeliharaan anak yang dalam istilah hukum Barat disebut adopsi, dapat diajukan langsung ke Mahkamah Syar’iyah. Demikian pula perkara lain seperti pengesahan nikah, wakaf, dan lain-lain yang menjadi kewenangan Mahkamah Syar’iyah. 3. Status harta yang pemiliknya tidak ada lagi dan tidak pula meninggalkan ahli waris, maka sesuai dengan ketentuan syariat Islam, harta tersebut menjadi milik Baital Mal. Untuk kepastian hukumnya diperlukan penetapan pengadilan (Mahkamah Syar’iyah).

C. Bidang Sarana dan Prasarana
Secara teknis operasional dilakukan oleh masing-masing instansi.

D. Bidang SDM
Secara teknis operasional dilakukan oleh masing-masing instansi. Khusus untuk rekruitmen tenaga hakim dan jaksa, dilakukan melalui crash program. Sedangkan untuk tenaga teknis dan administratif dilakukan dengan cara reguler. 6. MEKANISME MONITORING DAN EVALUASI: Dilaksanakan oleh suatu tim yang dibentuk dan memiliki mandat khusus untuk itu. Monitoring dan evaluasi dilakukan mulai dari tahap perencanaan sampai semua program selesai dilaksanankan. secara bertahap dan kontinyu selama dan setelah program dilaksanakan.

212

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

BAB VIII POKJA – VIII

PEMULIHAN KETERTIBAN, KEAMANAN DAN REKONSILIASI
I. PENDAHULUAN

1.1. Ketertiban Pratsunami
Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) merupakan salah satu provinsi yang banyak menuai masalah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Selama puluhan tahun rakyat di NAD hidup dari suatu kondisi yang penuh dengan konflik, baik konflik vertikal maupun konflik horizontal. Konflik yang berkepanjangan itu membawa akibat yang cukup dalam bagi ketertiban dan keamanan, dan juga bagi terciptanya suatu rekonsiliasi antara pihak-pihak yang bertikai, dan antara pemerintah dengan masyarakat di NAD. Kondisi ketertiban sebelum terjadinya tsunami adapat dijelaskan dalam 2 (dua) kategori, yaitu tertib sipil dan tertib birokrasi. Kedua bentuk ketertiban ini juga mempunyai karakteristik yang dapat dibedakan lagi dalam bentuk tertib sipil yang berasal dari kesadaran masyarakat sendiri dan tertib sipil yang merupakan perintah atau kehendak dari penguasa. Selanjutnya tertib birokrasi juga mempunyai karakteristik yang yang hampir sama dengan tertib sipil di atas; ketertiban birokrasi kadang kala baru muncul jika ada suatu paksaan atau tekanan dari pihak penguasa. Tertib sipil yang muncul akibat dari kesadaran masyarakat adalah suatu proses ketertiban dimana masyarakat menjadi pilot dari pelaksanaan ketertiban. Maksudnya masyarakat menciptakan ketertiban demi menjaga keutuhan dan ketentraraman hidup dalam lingkungan di tempat masyarakat itu berada. Ini dapat terjadi misalnya karena adanya kesadaran masyarakat itu sendiri untuk menjaga lingkungan meraka dari rasa ketidak-nyamanan atau gangguan-gangguan keamanan. Ketertiban dalam konteks ini mencerminkan bahwa masyarakat ingin selalu menjaga agar lingkungan

213

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

mereka jauh dari ganguan-gangguan pihak lain yang tidak bertanggungjawab. Kondisi tertib sipil ini biasanya didapati pada daerah-daerah yang mempunyai sistem keamanan yang cukup baik misalnya di komplek-komplek perumahan sebuah perusahaan. Di lain sisi, kondisi tertib sipil yang bersifat perintah atau kehendak penguasa biasanya terjadi di daerah-daerah yang menjalankan ketertiban itu atas dasar suruhan atau perintah dari pihak penguasa di daerah. Ketertiban yang demikian ini lebih dikarenakan adanya perintah dari penguasa, khususnya aparat TNI/Polri dan aparat pemerintah yang berwenang lainnya. Jadi peran penguasa darurat baik darurat militer/sipil cukup besar pada fase dan kategori ini, sehingga ketertiban itu baru ada jika telah ada perintah dari penguasa. Karena itu sebelum terjadi tsunami, kondisi ketertiban sipil di provinsi NAD lebih disebabkan kepada ke dua hal tersebut. Ketertiban birokrasi pada dasarnya hampir sama dengan kondisi ketertiban sipil, dimana ketertiban birokrasi yang terjadi selama ini di NAD selain atas dasar aparat pemerintah itu juga ada yang lebih banyak dipengaruhi oleh adanya perintah dari penguasa darurat. Kehadiran penguasa darurat telah mempengaruhi tatanan sistem pelayanan kepada masyarakat maupun dalam lingkungan tata pemerintahan itu sendiri. Adanya perintah untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan dan aturan yang bermacam-macam dalam pengurusan suatu dokumen dapat menyebabkan ketentraman kehidupan masyarakat terganggu. Masyarakat merasa terpaksa dalam melakukan suatu kegiatan yang berhubungan dengan proses birokrasi, masyarakat dihadapkan pada masalah untuk memilih dalam proses birokrasi ini, sehingga kadang kala masyarakat melakukan tindakan diluar dari harapan yang selalu diinginkan yaitu proses birokrasi yang berjalan lancar. Proses penyuapan dan sogokan untuk mempermudah urusan merupakan salah satu indikasi dari kurang tertibnya birokrasi dalam pemerintahan dan pelayanan. Kondisi ini sudah berlangsung cukup lama, dan sukar untuk diberantaskan.

214

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

1.2. Keamanan Pra-Tsunami
Hampir sama dengan aspek ketertiban, aspek keamanan pra-tsunami sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari status NAD sebagai wilayah konflik bersenjata dan dari peran kondisi berlakunya daeran NAD sebagai salah satu daerah dibawah penguasa darurat militer/sipil. Kondisi keamanan sebelum terjadinya tsunami sangat dipengaruhi oleh berlakunya dua masa keadaan darurat yaitu masa darurat militer dan darurat sipil. Pada masa darurat militer kondisi keamanan tentunya lebih buruk dibandingkan pada saat berlakunya darurat sipil. Pada masa darurat militer bahkan kondisi keamanan sempat menjurus kepada pemberlakuan jam malam, sehingga masyarakat dalam melaksanakan aktivitasnya sedikit terganggu bahkan untuk aktivitas di malam hari hampir lumpuh total. Kondisi keamanan masa berlakunya darurat militer sangat buruk, dan untuk menjaga agar keamanan di setiap desa/gampong masyarakat diwajibkan untuk jaga malam yang tujuan dan sasarannya adalah untuk mengantisipasi adanya gangguan dari pihak Geraka Aceh Merdeka (GAM) atau ada GAM yang masuk desa/gampong. Kondisi ini telah membuat masyarakat serba ketakutan baik dalam menghadapi GAM yang masuk desa/gampong maupun patroli aparat yang jika mengetahui ada masyarakat yang tidak jaga malam maka masyarakat itu mendapat perlakuan yang tidak wajar. Kondisi ini terus berlanjut bahkan sampai akhir masa darurat militer. Kondisi keamanan pada masa darurat sipil sedikit lebih membaik, ini dapat dilihat dari tidak ada lagi pemberlakuan jam malam, dan masyarakat sudah bisa melakukan beberapa aktivitas di malam hari. Hanya saja menyangkut dengan keamanan desa/gampong tetap diberlakukan jaga malam seperti di masa berlakunya darurat militer. Pemberlakuan jaga malam di masa DS tetap mengacu kepada ketentuan yang berlaku di masa darurat militer, namun ada beberapa desa/gampong ritme jaga malamnya tidak lagi seperti di masa darurat militer.

215

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Kehadiran masyarakat dalam melaksanakan kegiatan jaga malam tentunya telah memberikan suasa tersendiri dalam kehidupan masayarakat di desa/gampong. Karena konsep jaga malam sebenarnya jarang diberlakukan di desa/gampong-gampong tempo dulu. Menyangkut keamanan, dulu masyarakat desa/gampong sangat tergantung pada masyarakat itu sendiri; masyarakat yang berada di desa/gampong, khususnya para pemuda, lebih banyak menghabiskan malamnya di surau/meunasah di gampong-gampong. Jagi keamanan di desa/gampong secara tidak langsung telah terjaga dengan banyaknya pemuda tidur di Surau/Meunasah dan mereka selalu bersamasama menjaga keamanan gampong mereka dari pihak-pihak lain yang ingin mengacaukan atau melakukan kejahatan. Di lain sisi, kondisi yang cukup ideal yang terjadi di desa/gampong pada masa lalu itu telah berubah dengan adanya konsep jaga malam yang merupakan bentuk pelaksanaan keamanan yang diperintahkan bukan atas dasar kesadaran sendiri warga masyarakatnya. Bahkan kondisi ini telah meluas kembali dengan membentuk suatu institusi yang seperti dibentuk atas keinginan dan dorongan pemerintah seperti adanya kekuatan rakyat (ada yang menyebutnya dengan milisi) yang belum jelas maksud dan tujuan pembentukannya. Di satu sisi kehadilan milisi dimaksudkan untuk menjaga keamanan dari gangguan gerakan anti NKRI seperti GAM. Milisi sepertinya menjadi suatu organisasi yang tidak resmi yang tujuannya untuk menjaga kedaulatan negara NKRI dari gerakan saparatis GAM, namun kehadiran mereka kadang kala juga menimbulkan persoalan lain di dalam masyarakat. Masyarakat mulai tidak nyaman dan keamanannya terganggu, karena milisi tidak hanya bertugas melawan, mencari dan menemukan GAM, tetapi juga dapat menjadi informan bagi aparat untuk mendiskriminasikan seseorang di desa/gampong. penyanderaan Bahkan terhadap dalam anggota sejumlah keluarga kasus, GAM. milisi melakukan konflik Benih-benih

horizontal mulai tumbuh dan berkembang di beberapa wilayah di NAD.

216

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

1.3. Rekonsiliasi pratsunami
Pada tataran akademik, rekonsiliasi (tidak sekedar proses resolusi atau penyelesaian) diperlukan untuk memulihkan hubungan-hubungan sosial, politik dan moral yang retak di dalam masyarakat. Konsekuensi dari tidak terlaksananya rekonsiliasi adalah berlakunya suatu kondisi kerapuhan kemasyarakatan yang kronis, berupa ketiadaan saling percaya antar anggota masyarakat, masyarakat dengan pemerintah dan sebaliknya, yang terjadi secara berkelanjutan sehingga melemahkan persatuan antara pemerintah dan rakyat. Rekonsiliasi dalam konsepnya yang ideal, belum pernah dilaksanakan di NAD. Konflik bersenjata antara GAM dan Pemerintah RI, telah diupayakan diselesaikan dengan cara dialog, dibawah fasilitasi Hendry Dunant Center (HDC), sebuah lembaga yang berkedudukan di Switzerland. Sejak tahun 2000 sampai dengan 2002, telah dilangsungkan beberapa kali perundingan antara Pemerintah RI dan GAM, yang diantaranya menghasilkan dua bentuk perjanjian penting, yaitu (a) Joint Understanding for Humanitarian Pause

dan; (b) Cessation of Hostilities. Namun, sebagaimana kemudian dapat
dilihat, perjanjian-perjanjian tersebut tidak menghasilkan dampak positif yang signifikan bagi penyelesaian konflik antara GAM dan Pemerintah RI. Di pihak lain, ada masalah besar lainnya dalam hubungan antara pemerintah (pusat) dengan rakyat di NAD. Masalah ini menyangkut dua hal; pelanggaran HAM pada masa Aceh sebagai daerah operasi militer (DOM), dan imbas terkait dengan itu, yaitu ketidakadilan dalam bidang sosial dan ekonomi. Kasus-kasus DOM ternyata tidak diselesaikan, namun dalam bidang sosial ekonomi telah terlihat sejumlah perbaikan, khususnya setelah adanya UU No. 18/2001 tentang Provinsi Dista Aceh sebagai NAD.

1.4. Kondisi Ketertiban, Keamanan dan Rekonsiliasi Pasca Tsunami
Pada dasarnya, kondisi ketertiban, keamanan dan rekonsiliasi pasca tsunami, masih sulit untuk diukur dalam rentang waktu yang hanya dua bulan, sampai dengan saat diajukan konsep-konsep untuk mendukung cetak

217

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

biru NAD setelah gempa dan tsunami. Namun, memang terlihat suasana yang sangat tidak tertib karena faktor bencana, baik dalam hubungannya dengan kehidupan masyarakat sehari-hari maupun dalam hubungannya dengan pelayanan birokrasi. Kehancuran prasarana dan sarana yang sedemikian besar, dan kehilangan staf atau pegawai dan personil yang demikian banyak, telah secara signifikan mempengaruhi segala aspek kehidupan bernegara dan bermasyarakat, khususnya masyarakat yang menjadi korban karena tsunami. Di wilayah yang terkena dampak tsunami, berbagai bentuk hukum tidak diindahkan, dan pelayanan hukum pun tidak berjalan. Fungsi hukum sebagai alat kontrol masyarakat (social control), alat rekayasa sosial (social

engineering), dan sebagai alat penyelesaian sengketa (dispute settlement),
tidak terlihat implementasinya dalam praktek kehidupan sehari-hari. Masyarakat korban hidup tanpa identitas, yang sangat rawan bagi ketertiban, sekaligus membahayakan keamanan pribadi korban itu sendiri. Pelayanan birokrasi juga sangat tidak tertib, karena berbagai dokumen hilang dan rusak karena tsunami. Dari segi aspek keamanan, gangguan keamanan (khususnya dalam kaitannya dengan kontak senjata antara GAM dan TNI/Polri) ternyata juga tetap terjadi di berbagai tempat. Tsunami terlihat tidak memberi pengaruh kepada aktivitas GAM, bahkan GAM seperti memanfaatkan kehadiran berbagai lembaga asing untuk memperlihatkan bahwa GAM masih eksis di NAD. Sejumlah anggota GAM dan beberapa anggota TNI/Polri tewas dalam kontak senjata karena tsunami. Ini merupakan pertanda bahwa kondisi bencana ternyata tidak memberi pengaruh kepada intensitas kontak senjata. Satu halyang menarik adalah bahwa kedua pihak yang bertikai, GAM dan Pemerintah RI secara tiba-tiba meneruskan kembali perundingan yang telah pernah dilaksanakan oleh kedua pihak sebelumnya pada tahun 2000-2002.

218

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Kedua pihak melakukan pertemuan sebanyak dua kali di Helsinki, dan kali ini difasilitasi oleh Crisis Management Initiative. Namun, sampai dengan akhir pertengahan Maret 2005, belum ada hal yang signifikan yang dihasilkan dari perundingan tersebut. II. INVENTARISASI KERUSAKAN DAN KERUGIAN, RONA Belum diperoleh data yang komprehensif terhadap kerusakan dan kerugian dalam sector ketertiban, keamanan dan rekonsiliasi pasca tsunami. Namun, secara umum terdapat dua kategori kerusakan atau kehancuran: infrastruktur dan korban jiwa. Ketertiban memerlukan dukungan administrasi dan juga dukungan dari personil dan masyarakat, namun system administrasi dan kehandalan personil hancur karena tsunami. Demikian juga halnya dalam bidang keamanan, kehancuran yang demikian besar dalam sector fisik dan jiwa manusia telah mengakibatkan terganggunya upaya penegakan rasa aman di tengah-tengah masyarakat. Terjadi disorientasi terhadap tugas dan fungsi aparat yang berkaitan dengan ketertiban dan keamanan merupakan dampak lain dari tsunami. Untuk satu bulan lebih, suasana tidak tertib sangat terasa di dalam berbagai kegiatan pemerintahan dan public. Di tengah-tengah masyarakat sendiri, terjadinya perubahan-perubahan dalam kaitannya dengan kondisi kehidupan social ekonomi masyarakat dan birokrasi. Setelah tsunami, terjadi banyak kasus penjarahan harta benda korban tsunami dan yang bukan korban tsunami, pengkaplingan tanah secara tidak bertanggung jawab, pelecehan seksual di beberapa tempat pengungsian, dan berbagai tindak criminal lainnya, yang diantaranya disebabkan oleh kesulitan ekonomi. Sebagaimana disebutkan di atas, kondisi keamanan juga tidak berubah, antara lain ditunjukkan dengan adanya kontak senjata yang telah menimbulkan kerugian bagi kedua belah pihak dan juga kepada masyarakat. Gangguan keamanan juga terjadi terhadap sejumlah pekerja kemanusiaan di beberapa tempat di NAD.

219

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

III. PENILAIAN KEBUTUHAN, PROGRAM DAN STRATEGI • Dari proses penjaringan pendapat dengan berbagai kelompok masyarakat secara formal dan informal, maka setelah tsunami mutlak dibutuhkan upaya-upaya untuk mengembalikan atau memulihkan ketertiban, keamanan, dan juga upaya-upaya untuk menyelesaikan konflik bersenjata antara GAM dan TNI/Polri. • Kebutuhan dalam berbagai aspek ini menyangkut dua hal; kebutuhan atas strategi yang memungkinkan kondisi menjadi kembali aman dan tertib, dan kebutuhan terhadap prasarana dan sarana yang akan memberi dukungan kepada terimplementasinya strategi tersebut, khususnya menyangkut kebutuhan dana. • Dalam masa pascatsunami, penanganan potensi perselisihan dan

pertikaian di kalangan masyarakat perlu mendapatkan perhatian dari pemerintah dan masyarakat. Perhatian khusus perlu diberikan kepada masalah kepemilikan tanah, ketimpangan akses ke sumberdaya, dan kecemburuan antar kelompok-kelompok masyarakat. • Institusi POLRI, sebagai aparat penegak hukum dan pemelihara ketertiban umum perlu ditingkatkan kapasitasnya, terutama dalam menangani dan menyelesaikan masalah-masalah masyarakat. Paralel dengan peningkatan kapasitas POLRI, adalah peningkatan kapasitas kejaksaan dan pengadilan, yang merupakan institusi terpenting dalam criminal justice system. • Pemerintahan yang baik dan bersih adalah sumber kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan aparat-aparatnya. Karena itu, penegakan hukum hendaknya perlu dilakukan terhadap pelanggaran termasuk pelanggaran HAM yang dilakukan oleh aparat TNI dan POLRI. Kepercayaan masyarakat akan menguat apabila profesionalisme TNI dan POLRI benar-benar menjadi sebuah kenyataan.

220

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

3.1. Prinsip-prinsip dasar Program
• Menurut aspirasi yang berkembang, prinsip terpenting yang harus diperhatikan adalah prinsip partisipatif, akuntabel, koordinatif dan transparan, dengan memperhatikan nilai-nilai sosial budaya lokal dan Islam. • Konsep aman dan tertib merupakan dua konsep tak terpisahkan, karena itu dalam kaitannya dengan upaya menciptakan ketertiban dan keamanan, maka upaya itu harus dilakukan secara paralel, tidak terpisah satu sama lain. Suasana tertib hanya akan muncul apabila ada rasa aman.

3.2. Program
Didasarkan pada masukan-masukan yang diperoleh dari masyarakat dan diskusi-diskusi yang dengan sejumlah pihak, akademisi, aktivis LSM, mahasiswa dan sebagainya, maka perlu dilakukan program-program dan strategi yang dibagi ke dalam 2 (dua) kelompok besar, yaitu: (a) Pemulihan Ketertiban dan Pemulihan Keamanan; (b) Pelaksanaan Rekonsiliasi.

3.3. Strategi
Sebagaimana sudah diterangkan di atas, konsep ketertiban dan keamanan tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain. Sehubungan dengan itu, maka perlu diterapkan strategi di dalam mana pemerintah, khususnya aparat penegak hukum, dapat bersama-sama dengan masyarakat membangun suasana aman dan tertib di dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kaitannya dengan ini, langkah-langkah berikut ini dapat merupakan strategi ke arah tercapainya suasana tertib dan aman: • Pertemuan dengan kelompok-kelompok masyarakat pada tingkat kampong, dengan menggunakan strategi Focus Group Discussion (FGD), untuk mengetahui apa konsep masyarakat. “tertib” dan “aman” menurut pemahaman

221

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

• Pertemuan

dengan

kelompok-kelompok

masyarakat

untuk

mengidentifikasi strategi atau teknik menciptakan rasa aman dan tertib dengan partisipasi penuh masyarakat, dan sekaligus mengidentifikasi sumberdaya apa saja yang dibutuhkan untuk kegiatan tersebut. • Membangun kesadaran masyarakat tentang perlunya partisipasi

masyarakat untuk menciptakan rasa aman dan tertib melalui program Radio, TV, dan surat kabar. • Membentuk jaringan masyarakat sipil yang bertemu secara berkala untuk melakukan rukar pendapat mengenai isu-isu ketertiban dan keamanan dan mencari solusi terhadap masalah yang ada • Melaksanakan program “policying community.” Dalam kaitannya dengan rekonsiliasi, maka perlu ada kejelasan di dalam blue print tentang siapa yang akan terlibat dalam rekonsiliasi, atau rekonsiliasi antara siapa dengan siapa. Dari penjaringan pendapat, maka rekonsiliasi harus terjadi dalam poros sebagai berikut: • GAM-Pemerintah Indonesia (TNI/POLRI) • GAM-Masyarakat NAD • Pemerintah Indonesia-Masyarakat NAD Dalam kaitannya dengan rekonsiliasi antara GAM-Pemerintah Indonesia (TNI/POLRI) perlu dilakukan dengan dialog terlebih dahulu, dengan mediasi dari lembaga yang dipercayakan oleh kedua belah pihak. Beberapa catatan penting perlu diperhatikan dalam rekonsiliasi, khususnya dialog: • Membangun mekanisme implementasi yang dapat menjamin terwujudnya proses perdamaian yang berkelanjutan dengan melibatkan pihak ke tiga yang bersifat netral serta memiliki kewenangan penuh untuk menjaga perdamaian. • Civil Society perlu diakui sebagai pihak yang berpihak pada perdamaian dan kemanusiaan, dan oleh karena itu perlu diperkuat dan diberi ruang

222

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

partisipasi yang luas. • Proses rekonsiliasi di NAD harus berangkat dari kesatuan NAD sebagai satu unit administrasi. • Proses rekonsiliasi di NAD perlu dilakukan di berbagai tingkat dan menyangkut berbagai proses penanganan masalah-masalah mendasar. Ini mencakup antara lain rekonsiliasi pemerintah RI-GAM, rekonsiliasi pemerintah-masyarakat, dan implementasi peradilan HAM. Penerapan otonomi khusus dengan menyeluruh dan berkesinambungan dapat menjadi kerangka bagi proses rekonsiliasi tersebut. • Proses rekonsiliasi di NAD yang menyeluruh memerlukan upaya

menghilangkan kesenjangan pembangunan antar-wilayah dan antar-sektor yang selama ini terjadi di NAD. Upaya menghilangkan kesenjangan ini perlu dilakukan supaya Aceh yang utuh, bersatu, dan setara dapat terwujud.

Pengalaman Rekonsiliasi Afrika Selatan Salah satu negara yang telah menerapkan rekonsiliasi (dengan membentuk Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi—KKR) adalah Afrika Selatan, sekalipun terdapat berbagai kekurangan di dalam implementasinya, khususnya dalam hubungannya dengan ganti kerugian kepada para korban pelanggaran HAM. Pada level praktis, KKR di Afsel itu adalah “Confess your crime, apply for

amnesty and you will go free. If you don’t come forward, you will be prosecuted.” (Pelaku pelanggaran HAM harus mengakui perbuatannya di
hadapan KKR, dan minta pengampunan, yang jika diberikan maka mereka akan bebas. Jika mereka tidak datang ke KKR, maka mereka akan dihukum). KKR dianggap istimewa dalam hal ukuran dan cakupannya. KKR

dimaksudkan untuk

memberi arti kepada suara korban secara individu,

223

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

pelurusan sejarah berkaitan dengan peristiwa-peristiwa besar pelanggaran HAM, pendidikan dan pengetahuan publik, memeriksa pelanggaran HAM sistematis menuju reformasi kelembagaan, memberikan assesment tentang akibat pelanggaran HAM terhadap korban, dan pertanggungjawaban pelaku kejahatan. KKR juga erat kaitannya dengan konsep transitional justice (keadilan transisional). Tidak sebagaimana ketentuan amandemen kedua UUD 1945 yang tidak menganut asas retroaktif (berlaku surut), maka dalam konsep keadilan transisi ini asas retroaktif tersebut dimungkinkan untuk dilaksanakan guna menghindarkan terus terjadinya impunitas. Rejim otokratik, baik secara institusional maupun individual, harus bisa diminta pertanggungjawabannya secara terbuka atas pelanggaran-pelanggaran yang dilakukannya terhadap HAM pada waktu yang lalu. Sekalipun disadari bahwa upaya-upaya yang dilakukan atas dasar

transitional justice pada asasnya lebih cenderung ke arah penyelesaianpenyelesaian yang bersifat pragmatik untuk kepentingan jangka panjang, demi integrasi bangsa, namun ada dua hal yang cukup jelas:

keberpihakannya pada korban menjadi dasar penyelesaian utama, dan akuntabilitas para pelanggar tetap dituntut.

Khusus mengenai kompensasi kepada korban DOM di Aceh, pemerintah pusat dan pemerintah daerah sebenarnya telah menjanjikan bantuan misalnya membangun kembali rumah-rumah yang terbakar dan juga memberikan kesempatan kepada anak yatim korban DOM untuk sekolah dan atau mendapat pekerjaan. Namun harus diakui, bahwa realisasi bantuan tersebut sangat tidak memuaskan, baik karena kendala birokrasi maupun karena sesungguhnya program-program yang demikian itu lebih berlandaskan pada belas kasihan, bukan dalam kerangka mencapai keadilan. Para pelaku tetap tidak tersentuh, di samping juga adanya dugaan

224

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

penyelewengan dalam penyaluran bantuan dan dalam proses rekruitmen korban DOM menjadi pegawai negeri. Jika KKR dijadikan pilihan dalam penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM di Aceh, maka siapapun yang telah melakukan pelanggaran HAM baik semasa DOM maupun pascaDOM diminta untuk mengaku perbuatannya, kemudian minta amnesti atau pengampunan, dan selanjutnya dibicarakan kompensasi dan reparasi kepada para korban. Jika KKR telah disetujui, dan masih didapati orang-orang yang melanggar HAM yang tidak melaporkan diri dan atau tidak membuat pengakuan, maka orang tersebut kemudian ditahan dan selanjutnya diproses menurut ketentuan hukum yang berlaku

Prasyarat rekonsiliasi • Penyelesaian masalah keamanan dan pembangunan ketertiban

memerlukan efektifitas peran pemerintah, baikpusat maupun daerah, dengan tidak mengesampingkan pentingnya keterbukaan ruang publik bagi partisipasi masyarakat dalam menjalankan agenda-agenda kemanusiaan dan sosial. • Civil Society perlu diakui sebagai pihak yang berpihak pada perdamaian dan kemanusiaan, dan oleh karena itu perlu diperkuat dan diberi ruang partisipasi yang luas. • Peran TNI hendaknya difokuskan pada upaya menjalankan fungsi-fungsi pertahanan, sementara itu, peran POLRI difokuskan pada upaya menjalankan fungsi-fungsi keamanan. • Lembaga-lembaga masyarakat berpartisipasi dalam proses pemeliharaan keamanan dan ketertiban serta dalam upaya-upaya rekonsiliasi.

Strategi untuk program rekonsiliasi

225

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Dalam kaitannya dengan strategi, maka perlu ada kesadaran bahwa berbagai kelompok kerja yang lain memiliki pengaruh kepada lancar atau tidaknya proses rekonsiliasi. Namun secara umum, rekonsiliasi dilakukan dengan strategi sebagai berikut: • Memfasilitasi perundingan antara GAM-Pemerintah RI, dan membahas lebih lanjut penerapan otonomi khusus • Menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM, memberi pelatihan-pelatihan kepada aparat kepolisian dan TNI mengenai HAM • Melakukan pelatihan tentang prinsip-prinsip HAM dan toleransi sosial kepada pemuda

226

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

BAB IX POKJA – IX

AKUNTANBILITAS DAN GOVERNANCE
I. LATAR BELAKANG Bencana alam gempa dan tsunami pada tanggal 26 Desember 2005 pada pukul 07.58 WIB terjadi di wilayah pesisir Nanggroe Aceh Darussalam & Sumatera Utara telah menghancurkan Banda Aceh, Meulaboh, wilayah pantai Aceh Besar, Aceh Jaya, Nagan Raya, Simeuleue, Aceh Utara, dan Aceh Timur dan 8 kab/kota lainnya di NAD dan Kab Nias di Sumut. Wilayah yang rusak mencapai 10.000 km2 di 22 kab/kota. Gempa dan Tsunami tersebut merupakan yang terbesar keempat setelah yang terjadi pada tahun 1900 dan yang terbesar setelah Gempa di Prince William Sound, Alaska (1964) Jika ditinjau dari data inventarisasi kerusakan dan kerugian akibat musibah ini tercatat 1,3 juta rumah dan bangunan, 8 pelabuhan, 4 depot BBM, 85% sarana air bersih, 92% sarana sanitasi, 120 km jalan,18 jembatan, dan 20% jaringan distribusi listrik. Dari data yang dikemukakan di atas dapat diperkirakan bahwa total kerugian dan kerusakan adalah ± 4,5 Milyar Dollar (Rp 40 Trilyun). Angka ini menggambarkan 2,2% dari GNP dan 97% dari GDP Provinsi NAD. Ditinjau dari sektor yang terkena dampak musibah ini, berdasarkan data yang diperoleh dari Bank Dunia dapat diperinci sebagai adalah Lingkungan (11%), Sosial (termasuk perumahan) (34%), Infrastruktur lainnya (2%). (37%), dan

227

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Tabel 1. Ringkasan Kerugian dan Kerusakan (Dalam Milyar US) Kerusakan Ke rugia n Sektor Social 1,684 57 Perumahan 1,398 39 Pendidikan 119 9 Kesehatan 82 9 Agama dan 83 0 Budaya Infrastruktur 636 24 Transportasi 391 1 Komunikasi 19 14 Energi 68 5 Air dan Sanitasi 27 3 Flood control 132 0 3 89 Sektor Produksi 352 83 PErtanian 84 0 PErikanan 102 14 Indusatri dan 167 1 perdagangan 40 9 28 0 Lintas sektoral 252 40 Lingkungan 155 0 Governance dan 84 39 administrasi. 14 4 Perbankan dan 5 keuanngan 0 Pengeluaran 0 0 darurat TOTAL 2,924 1, 528

Total 1,741 1,437 128 92 83 877 536 22 68 30 221 1.182 225 511 447

652 549 89 14 0 4,452

Ditinjau dari besarnya komitment dan besarnya realisasi sampai dengan tanggal 18 Februari dapat dilihat pada Tabel 2.

228

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Tabel 2. Total Komitmen dan Realisasi Bantuan Asing

Jumlah Bantuan No. Negara Total Realiasi Komitmen Bantuan (juta) (juta) USD 500.00 USD 22.81 USD 350.00 AUS$ 385.00 AUS$ 23.00 CDN$ 80.00 US$ 7.20 US$ 75.00 US$ 50.00 US$ 15.00 US$ 20.00 RMB 107.17 EUR 0. 00 US$ 3.40

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11.

Jepang Amerika Serikat Australia Kanada Selandia Baru Swedia Korea Selatan Uni Emirat Arab Cina Spanyol Malaysia

Berdasarkan tabel 2 di atas dapat dilihat bahwa masih banyak komitmen negara donor yang belum terealisir. Oleh sebab itu upaya mewujudkan komitmen harus mulai dilakukan.

II. PERMASALAHAN Alokasi APBN dan APBD yang tidak banyak berubah akan berdampak pada minimnya dana untuk recovery dan reconstruction pembangunan Aceh. Sumber terbesar APBD Aceh berasal dari transfer Pemerintah Pusat, berupa dana migas dan DAU, juga tidak mampu meng-backup keperluan ini. Oleh sebab itu pemaksimalan bantuan asing (foreign finance) perlu mendapat perhatian serius, karena tingginya komitmen yang diberikan oleh negara asing melalui forum CGI. Perwujudan komitmen-komitmen yang telah dinyatakan oleh negara-negara donor perlu ditindaklanjuti dengan pemenuhan syarat-syarat bantuan dari negara donor.

229

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Informasi yang diekspose dari hasil pertemuan Paris Club (CGI Forum) menggambarkan estimasi komitmen dari donor berjumlah antara US$ 4 milyar sampai US$ 5 milyar. Pengalaman dari beberapa negara yang mengalami bencana alam dalam mencairkan komitmen berada pada tingkat 5% - 16% dari plafon, hal ini disebabkan antara lain oleh kendala perencanaan, prosedural dan ketidakmampuan memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh negara donor. Dari total komitmen donor tersebut, proporsi untuk penanggulangan bencana stunami untuk Aceh berada pada angka %0% sampai 60% (US$ 2 milyar sampai US$ 3 milyar) dan kemampuan memenuhi prasyarat untuk merealiasikan komitmen tersebut berada pada kemampuan, misalnya, 20% saja, maka dana yang dapat digunakan untuk rekonstruksi Aceh hanya US$ 0,4 milyar samapi US$ 0,6 milyar (Rp 3,6 Trilyun sampai Rp 5,4 Trilyun) dari taksiran kebutuhan dana awal untuk rekonstruksi Aceh sebesar Rp 40 Trilyun. Selain kendala ketidakmampuan negara penerima komitmen memenuhi prasyarat negara donor, kemungkinan gagalnya realisasi antara lain: 1. 2. 3. 4. Perubahan politik negara dan komitmen, jadi kita harus cepat Berakhirnya periode anggaran negara donor Terjadinya bencana berskala internasional di negara lain Terganggunya mekanisme akuntabilitas sehingga menurunkan merebutnya

kepercayaan dari negara donor. Oleh sebab itu usaha-usaha yang mengarah pada terealisasinya komitmen negara donor harus segera dilakukan, antara lain dengan membentuk special envoy (duta khusus) guna “me-remind” negara-negara donor akan janji mereka. Special envoy juga bertugas mensosialilasikan program-program kerja yang telah disusun oleh masing-masing kelompok kerja. Output yang didapat dari kelompok kerja akan memberikan hasil berupa: o Keandalan data penyusunan program

230

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

o

Keandalan daya penetapan angka yang dibutuhkan untuk pendanaan Matching antara perencanaan dan freferensi negara donor.

o

III. PRINSIP-PRINSIP POKOK YANG DIPERLUKAN BAGI UPAYA REKONSILIASI Untuk menjalankan recovery dan reconstruction pembangunan Aceh diperlukan prinsip-prinsip pokok, yaitu: • Prinsip Siddiq, Amanah, Tabligh, dan Fatanah Prinsip ini harus dijunjung tinggi oleh setiap individu, organisasi, pemerintah, dan semua pihak yang terlibat dalam pembangunan Aceh kembali yang bermartabat dan ber-Syariat Islam. Prinsip ini adalah prinsip dasar yang menjadi “roh” dalam upaya rekonsiliasi. • Prinsip Tranparansi dan Partisipasi Prinsip ini dimaksudkan agar data/informasi recovery dan reconstruction pembangunan aceh ini dapat dapat diakses oleh stakeholders, termasuk perumusan kebijakan dan pelaksanaan kerja organisasi. Sedangkan prinsip partisipasi dimaksudkan agar stakeholders baik secara langsung maupun melalui institusi yang mewakili kepentingannya dapat berpartisipasi aktif dan konstruktif dalam pengambilan keputusan. Penerapan prinsip transparansi dan partisipasi : • Sumber dana Organisasi, manajemen dan personil Pelaksanaan Pengadaan barang dan jasa Penyaluran danabantuan kemanusiaan Pelaporan hasil

Prinsip Akuntabilitas

231

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Prinsip ini adalah kjewajiban untuk mempertanggungjawabkan pelaksanaan program termasuk keberhasilan dan kegagalan program yang dijalankan. • Prinsip Penegakan Hukum Program ini harus dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku. Operasional terhadap prinsip-prinsip di atas dapat dilakukan dengan ketentuan: Kejelasan tentang entitas penyelenggara proses rekonstruksi (Badan Otorita Khusus vs Badan Pelaksana Pembangunan) Tersedianya cukup dana untuk di-manage. Adanya mekanisme penetapan prioritas Pengaturan (mekanisme) dana keluar: Procurement Disbursement Tersedianya system pengendalian yang efektif, melalui: Planning – participatory Accounting Monitoring – structural and social control Auditing – due diligence

IV. ARAH-ARAH KEBIJAKAN Kebijakan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Tingginya komitmen yang diberikan oleh negara asing bagi negara-negara yang terkena dampak tsunami mengharuskan kita untuk lebih serius menggarapnya. Hal ini disebabkan bahwa selain Indonesia terdapat negara lain yang terkena dampak tsunami yaitu antara lain, Thailand, Srilangka, Maladewa, Banglades. Oleh karena itu negara-negara yang terkena dampak tsunami tersebut merupakan saingan negara kita untuk mengekploitasi komitmet yang telah dijanjikan dalam sidang CGI tersebut. Memang diakui bahwa

232

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

negara yang paling besar terkena dampak tsunami adalah Indonesia, karena itu lada logicnya bantuan itu lebih banyak mengalir ke negara kita, tetapi kita musti kuatir bantuan asing tidak akan masuk kenegara kita karena lemahnya kepercayaan negara luar terhadap Indonesia. Untuk itu diperlukan upaya penyusunan suatu mekanisme pendanaan yang akuntable, sehingga akan dapat memperbaiki citra negara Indonesia sebagai salah satu yang kurang bersih. Mekanisme pendanaan yang disusun diharapkan akana memaksimumkan pencairan dana dari sejumlah komitmen yang telah disampaikan. Mekanisme ini juga akan merangsang bantuan baru dari negara donor. Mekanisme pendanaan tersebut melibatkan unsure dari negara donor, pemerintah dan masyarakat local (local community). V. MEKANISME DAN KELEMBAGAAN Ada dua sudut pandang untuk mendesain mekanisme dan kelembagaan dalam membangun kembali Aceh. Sudut pandang tersebut adalah sumber dana (source of fund) dan alokasi dana (allocation of fund). Sumber dana dapat dibagi dalam sumber dana dalam negeri dan sumber dana luar negeri. Sumber dana dalam negeri menggunakan mekanisme dan kelembagaan APBN dan APBD sebagaimana yanng tertuang dalam perundang-undangan, namun untuk penggunaan APBN/APBD lebih difokuskan untuk mempercepat proses recovery Sedangkan sumber dana yang berasal dari luar negeri yang berbentuk kas harus dibentuk dalam

trust fund.
Trust fund yang mungkin dibentuk terbagi dalam Multi Donors Trust Fund (MDTF) dan Aceh Trust Fund (ATF). MDTF adalah mekanisme yang telah dikembangkan World Bank yang merupakan konsensus beberapa negara untuk membentuk trust fund yang dilengkapi dengan steering committe, yang terdiri dari wakil negara donor, Pemerintah RI, dan masyarakat lokal. Mekanisme ini akan menjadikan MDTF sebagai

233

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

one stop center untuk mengakses dana multidonor. Namun perlu
diperhatikan bahwa MDTF memiliki keterbatasan, antara lain: • • • • • Adanya batasan masa operasi Adanya individu (people) yang ingin langsung memberikan bantuan tanpa melalui mekanisme MDTF.

Should we put all eggs in one basket
Perlu dikaji tentang bottleneck Perlu dikaji tentang kelemahan single authority Untuk mengatasi keterbatasan MDTF di atas perlu dipikirkan maka akan dibentuk Aceh Trust Fund

alternatif lain dalam trust fund,

(ATF) yang juga dilengkapi dengan steering committe yang terdiri dari masyarakat lokal. ATF dibentuk dengan alasan untuk menampung dana dari individu (people) yang ingin menyalurkan dananya bagi pembangunan Aceh. Individu (people) ini dapat berupa individu lokal, nasional, maupun internasional. Namun prasyarat utama dari dibentuknya trust fund adalah dibentuknya executing egency sebagai badan independen yang mengelola trust fund ini bekerja sama dengan steering committe. Badan ini mutlak harus ada untuk memangkas hambatan-hambatan birokrasi guna percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh. Badan ini harus dibentuk dengan ketentuan: o Badan o Dapat ini harus setingkat Menteri Menteri lain agar yang bisa langsung melakukan bertangngungjawab kepada Presiden mengkoordinasikan tugasnya dengan efektif. o Mempunyai masa tugas tertentu o Mampu memberdayakan seluruh sumber daya yang ada, termasuk Pemerintah Lokal, guna percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh.

234

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Mekanisme

dan

kelembagaan

pendanaan

yang

ditawarkan

oleh

Kelompok Kerja IX tentang Akuntabiltas dan Governance adalah seperti yang tergambar dalam flowcart berikut:

VI. AKUNTABILITAS PENDANAAN Akuntabilitas pendanaan sangat berkaitan erat dengan empat pertimbangan sebagai berikut: 1. Tumbuhnya kepercayaan dari negara-negara yang telah memberikan comitmennya dan atau lembaga yang akan memberikan comitmennya sehingga bantuan bantuan luar negeri dapat dimaksimalkan (maximization of foreign finance) 2. Terbentuknya dukungan pembiayaan sepenuhnya terhadap proyekproyek yang telah disepakati dalam program rekonstruksi aceh (full financing of the project).

235

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

3. Munculnya dorongan berbagai pihak yang terlibat dalam rekonstruksi aceh untuk menyusun proposal pendanaan yang benar, sehingga berperan sebagai alat komunikasi yang efektif dengan negara donor. Penyusunan perencanaan, monitoring pelaksanaan, dan evaluai kinerja perlu diefektifkan dengan cara: a. Due process prosedure b. Proses perencanaan diarahkan untuk menjadikan masyarakat Aceh sebagai “champion” , jangan menjadikan masyarakat yang terkena musibah menjadi objek. c. Menumbuhkan minat kontraktor untuk memulai pekerjaan proyek setelah mendapat approval (Proses building tuntas) 4. Memungkinkan masuknya unsur masyarakat (share holder) dalam pendanaan, dan pengakuan kepemilikan masyarakat dalam proyekproyek yang dapat menciptakan penghasilan dan mempunyai dampak jangka panjang. 5. Memberikan ruang akses untuk publik untuk mengakse informasi mengenai recovery aceh pasca tsunami melalui media masa (surat kabar, televisi, web, dan memasang display untuk informasi ditempat proyek yang dilaksanakan. Guna meningkatkan akuntabilitas dari entitas yang dibentuk melului trust fund, maka diperlukan adanya Lembaga Pengawas yang bersifat Public Keanggotaan dari Lembaga Pengawas terdiiri dari: - Wakil negara donor - Pemerintah - Tokoh Masyarakat - Akademisi - LSM Standar Prosedur Operasional badan pengawas adalah : Mengembangkan operating prosedure pengawasan Mengembangkan audit program untuk kinerja dan keuangan Menyusun laporan pengawasan untuk berbagai pihak yang terlibat. Pembentukan Badan Pengawas ini harus dilakukan melalui fit and profer test. Hambatan-hambatan akuntabilitas pendanaan dapat dihindari dengan melakukan hal-hal sebagai berikut: 1. Membentuk executing agency (entitas) dengan stuktur organisasi yang solid, kredibel, capable, dan acceptable. 2. Menciptakan suatu standar biaya yang baku. 3. Merumuskan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis (manual) guna memudahkan dalam pengevaluasian dan pertanggungjawaban. 4. Menghindari kebocoran akibat uji coba pekerjaan. 5. menetapkan standar gaji. 6. Memberi peluang sebesar-besarkan bagi prefernsi negara donor.

Oversight Boby.

236

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

BAB X POKJA – X

SISTEM DAN MEKANISME PENDANAAN
I. PENDAHULUAN Bencana alam gempa dan tsunami pada tanggal 26 Desember 2005 pada pukul 07.58 WIB terjadi di wilayah pesisir Nanggroe Aceh Darussalam & Sumatera Utara telah menghancurkan Banda Aceh, Meulaboh, wilayah pantai Aceh Besar, Aceh Jaya, Nagan Raya, Simeuleue, Aceh Utara, dan Aceh Timur dan 8 kab/kota lainnya di NAD dan Kab Nias di Sumut. Wilayah yang rusak mencapai 10.000 km2 di 22 kab/kota. Gempa dan Tsunami tersebut merupakan yang terbesar keempat setelah yang terjadi pada tahun 1900 dan yang terbesar setelah Gempa di Prince William Sound, Alaska (1964). Karena begitu dahsyatnya dampak tsunami ini sehingga merupakan tantangan terbesar bagi Bangsa Indonesia agar dapat membantu warganya yang kena musibah, baik bantuan moril maupun material. Hal ini tentu terkait pula dengan keperluan dana yang amat besar dalam upaya membantu warga Aceh yang terkena musibah ini. II. INVENTARISASI KERUSAKAN DAN KERUGIAN Jika ditinjau dari data inventarisasi kerusakan dan kerugian akibat musibah ini tercatat 1,3 juta rumah dan bangunan, 8 pelabuhan, 4 depot BBM, 85% sarana air bersih, 92% sarana sanitasi, 120 km jalan,18 jembatan, dan 20% jaringan distribusi listrik. Dari data yang dikemukakan di atas dapat diperkirakan bahwa total kerugian dan kerusakan adalah ± 4,5 Milyar Dollar (Rp 40 Trilyun). Angka ini menggambarkan 2,2% dari GNP dan 97% dari GDP Provinsi NAD.

237

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Tabel 1. Ringkasan Kerugian dan Kerusakan (Dalam Milyar US) Kerusakan Kerugian Total Sektor Sosial 1,684 57 1,741 Perumahan 1,398 39 1,437 Pendidikan 119 9 128 Kesehatan 82 9 92 Agama dan Budaya 83 0 83 Infrastruktur 636 241 877 Transportasi 391 145 536 Komunikasi 19 3 22 Energi 68 0 68 Air dan Sanitasi 27 3 30 Pengendalian banjir 132 89 221 Sektor Produksi 352 830 1.182 PErtanian 141 225 84 PErikanan 102 409 511 Indusatri dan perdagangan 167 280 447 Lintas sektoral 252 400 652 Lingkungan 155 394 549 Governance dan 84 5 89 administrasi. 14 0 14 Perbankan dan keuanngan Pengeluaran darurat 0 0 0 TOTAL 2,924 1,528 4,452

III. PENILAIAN KEBUTUHAN Ditinjau dari sektor yang terkena dampak musibah ini, berdasarkan data yang diperoleh dari Bank Dunia dapat diperinci sebagai adalah Lingkungan (11%), Sosial (termasuk perumahan) (34%), Infrastruktur (37%), dan lainnya (2%). Dengan demikian, kebutuhan dana kedepan tentu disesuaikan dengan sector yang terkena dampak.

238

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

IV. KOMITMEN DAN REALISASI BANTUAN ASING Ditinjau dari besarnya komitmen dan besarnya realisasi komitmen bantuan asing sampai dengan tanggal 18 Februari 2005 dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Total Komitmen dan Realisasi Bantuan Asing

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Negara Jepang Amerika Serikat Australia Kanada Selandia Baru Swedia Korea Selatan Uni Emirat Arab Cina Spanyol Malaysia

Total Komitmen (juta) USD 500 USD 350 AUS$ CDN$ US$ US$ US$ US$ US$ EUR US$ 385 80 7.2 75 50 20

Jumlah Bantuan Total Realisasi Sisa Komitment (juta) (juta) 22.81 477.19 350 362 80 7.2 75 35 20 107.17 50 3.4

23

15

107.17 50 3.4

Berdasarkan tabel 2 di atas dapat dilihat bahwa realisasi komitmen negara donor masih sangat rendah. Oleh sebab itu diperlukan upaya yang lebih serius dalam merealisasikan komitmen ini.

V. STRATEGI MEMAKSIMUMKAN REABILISASI KOMITMEN Alokasi APBN dan APBD yang tidak banyak berubah akan berdampak pada minimnya dana untuk recovery dan reconstruction pembangunan Aceh.

239

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Sumber terbesar APBD Aceh berasal dari transfer Pemerintah Pusat, berupa dana migas dan DAU, juga tidak mampu meng-backup keperluan ini. Oleh sebab itu pemaksimalan bantuan asing (foreign finance) perlu mendapat perhatian serius, apalagi dengan tingginya komitmen yang diberikan oleh negara asing melalui forum CGI. Perwujudan komitmen-komitmen yang telah dinyatakan oleh negara-negara donor perlu ditindaklanjuti dengan pemenuhan syarat-syarat bantuan dari negara donor. Disamping itu pengalaman terdahulu di negara lain bahwa komitmen untuk mencairkan dana hanya digunakan sebesar 20%. Ini berarti US$ 2 M – 3 M menjadi US$ 0,4 M – 0,6 M atau Rp. 24 Triliun menjadi menjadi Rp. 4,8 Trilliun dari kebutuhan Rp. 40 Trilliun. Pengeksploitasian komitmen mestilah dilakukan secara serius dan bersifat segera, jika tidak, maka dikuatirkan akan amat rendah realiasi komitmen tersebut. Karena, bagaimana pun galalnya komitmen bisa disebabkan oleh antara lain:1) Perubahan politik negara dan komitmen, jadi kita harus cepat merebutnya; 2) Berakhirnya periode anggaran negara donor; 3) Terjadinya bencana berskala internasional di negara lain; dan 4) Terganggunya mekanisme akuntabilitas sehingga menurunkan kepercayaan dari negara donor. Itu sebabnya, usaha-usaha yang mengarah pada terealisasinya komitmen negara donor harus segera dilakukan, antara lain dengan membentuk

special envoy (duta khusus) guna “me-remind” negara-negara donor akan
janji mereka. Special envoy juga bertugas mensosialilasikan programprogram kerja yang telah disusun oleh masing-masing kelompok kerja. Output yang didapat dari kelompok kerja akan memberikan hasil berupa: • Keandalan data penyusunan program • Keandalan pendanaan daya penetapan angka yang dibutuhkan untuk

240

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

• Matching antara perencanaan dan freferensi negara donor. Tingginya komitmen yang diberikan oleh negara asing bagi negaranegara yang terkena dampak tsunami mengharuskan kita untuk lebih serius menggarapnya. Hal ini disebabkan bahwa selain Indonesia terdapat negara lain yang terkena dampak tsunami yaitu antara lain, Thailand, Srilangka, Maladewa, Banglades. Oleh karena itu negara-negara yang terkena dampak tsunami tersebut merupakan saingan negara kita untuk mengekploitasi komitmet yang telah dijanjikan dalam sidang CGI tersebut. Memang diakui bahwa negara yang paling besar terkena dampak tsunami adalah Indonesia, karena itu lada logicnya bantuan itu lebih banyak mengalir ke negara kita, tetapi kita musti kuatir bantuan asing tidak akan masuk kenegara kita karena lemahnya kepercayaan negara luar terhadap Indonesia. Untuk itu diperlukan upaya penyusunan suatu mekanisme pendanaan yang akuntable, sehingga akan dapat memperbaiki citra negara Indonesia sebagai salah satu yang kurang bersih. Mekanisme pendanaan yang disusun diharapkan akana memaksimumkan pencairan dana dari sejumlah komitmen yang telah disampaikan. Mekanisme ini juga akan merangsang bantuan baru dari negara donor. Mekanisme pendanaan tersebut melibatkan unsure dari negara donor, pemerintah dan masyarakat local (local community). VI. MEKANISME DAN KELEMBAGAAN Ada dua sudut pandang untuk mendesain mekanisme dan kelembagaan dalam membangun kembali Aceh. Sudut pandang tersebut adalah sumber dana (source of fund) dan alokasi dana (allocation of fund). Sumber dana dapat dibagi dalam sumber dana dalam negeri dan sumber dana luar negeri. Sumber dana dalam negeri menggunakan mekanisme dan kelembagaan APBN dan APBD sebagaimana yanng tertuang dalam perundang-undangan, namun untuk penggunaan APBN/APBD lebih difokuskan untuk mempercepat proses recovery Sedangkan sumber dana

241

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

yang berasal dari luar negeri yang berbentuk kas harus dibentuk dalam

trust fund.
Trust fund yang mungkin dibentuk terbagi dalam Multi Donors Trust Fund (MDTF) dan Aceh Trust Fund (ATF). MDTF adalah mekanisme yang telah dikembangkan World Bank yang merupakan konsensus beberapa negara untuk membentuk trust fund yang dilengkapi dengan steering committe, yang terdiri dari wakil negara donor, Pemerintah RI, dan masyarakat lokal. Mekanisme ini akan menjadikan MDTF sebagai

one stop center untuk mengakses dana multidonor. Namun perlu
diperhatikan bahwa MDTF memiliki keterbatasan, antara lain: • Adanya individu (people) yang ingin langsung memberikan bantuan tanpa melalui mekanisme MDTF. • • •

Should we put all eggs in one basket
Perlu dikaji tentang bottleneck Perlu dikaji tentang kelemahan single authority Untuk mengatasi keterbatasan MDTF di atas perlu dipikirkan alternatif

lain dalam trust fund, maka akan dibentuk Aceh Trust Fund (ATF) yang juga dilengkapi dengan steering committe yang terdiri dari masyarakat lokal. ATF dibentuk dengan alasan untuk menampung dana dari individu (people) yang ingin menyalurkan dananya bagi pembangunan Aceh. Individu (people) ini dapat berupa individu lokal, nasional, maupun internasional. Namun prasyarat utama dari dibentuknya trust fund adalah dengan melibat para negara donatur, wakil pemerintah pusat, dan wakil kumuniti lokal. Kemudian diperlukan badan yang mengkoordinasikan bantuan, baik bersifat hibah baik uang maupun bersifat in-kind, loan, dan dana APBN/APBD yang ditujukan untuk rekontruksikan pembangunan di daerah yang terkena dampak tsunami. Badan ini mutlak harus ada untuk memangkas hambatanhambatan birokrasi guna percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh. Badan yang dibentuk ini, apapun namanya, apakah Badan Otoritas Khusus ataupun Badan Pelaksana Pembangunan ini harus dibentuk dengan ketentuan:

242

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

• • • •

Badan Dapat

ini

harus

setingkat Menteri

Menteri lain agar

yang bisa

langsung melakukan

bertangngungjawab kepada Presiden mengkoordinasikan tugasnya dengan efektif. Mempunyai masa tugas tertentu Mampu memberdayakan seluruh sumber daya yang ada, termasuk Pemerintah Lokal, guna percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh. Mekanisme dan kelembagaan pendanaan yang ditawarkan oleh Kelompok Kerja Sistem dan Mekanisme Pendanaan adalah seperti yang tergambar dalam flowcart berikut:

Lembaga Pengawas: (Public Oversight Body) .Wakil negara donor .Pemerintah .Tokoh Masyarakat .Akademisi .LSM

243

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

BAB XI POKJA – XI

SYARIAT ISLAM
I. LATAR BELAKANG Peristiwa Gempa dan Gelombang Tsunami pada tanggal 26 Desember 2005,telah menyebabkan kerusakan yang dahsyat bagi rakyat Aceh. Meninggal dan hilangnya jiwa melebihi 200.000,- jiwa, ditambah dengan kehancuran pada harta benda; hilang tempat tinggal, tempat berusaha dan sebagainya. Disamping itu, Sarana pendidikan, Masjid, sekolah, madrasah, pesantren, balai pengajian (Meunasah). Dan juga kantor-kantor yang melayani kehidupan keagamaan seperti KUA, Asrama haji, Kantor Dep. Agama Kab./Kota dan Provinsi. Kondisi di atas telah menyebabkan banyak kegiatan keagamaan menjadi porak poranda. Pelayanan terhadap masyarakat menjadi tidak berjalan. Dan ketenangan masyarakat dalam beribadah menjadi terganggu. Berkaitan dengan kondisi diatas dan Aceh secara umum maka diperlukan pembangunan kembali aceh dengan berbagai tahapan seperti Tanggap Darurat, Rehabilitasi dan Rekonstruksi. Untuk kondisi ini maka pembangunan kembali Aceh harus didasrkan kepada Perauturan Perundang-undangan yang berlaku sebagai yang telah berjalan yaitu UU No. 18 tahun 2001 ( Pasal 25 UU No. 18 tahun 2001) dan juga sebelumnya telah ada UU No. 44 tahun 1999 (Pasal 4 UU. No. 44/1999) Dengan demikian Pembangunan kembali Nanggroe Aceh Darussalam harus sesuai dengan semangat kedua UU tersebut diatas. Dan karena itu, pembanguann diarahkan untuk mencakup hal-hal seperti berikut ini: - Menjadikan Masjid sebagai pusat kota dan menjadikan meunasah Pusat Kegiatan Masyarakat (Lingkungan Gampong) yang keberadaannya mudah diakses oleh masyarakat. - Integrasi kurikulum pendidikan pada tingkat dasar (SD dan SLTP) serta penyediaan jam pelajaran yang memadai pada tingkat selanjutnya,

244

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

penyediaan tenaga guru, pembinaan lingkungan yang Islami

pada

sekolah, Madrasah dan Dayah seperti internalisasi nilai-nilai Islami melalui pakaian, ketekunan, disiplin, sportifitas, keterbukaan, shalat berjamaah dan doa. - Penyempurnaan kurikulum yang memadai untuk belajar Syariat Islam pada semua Fakultas Hukum di Nanggroe Aceh Darussalam dan Hukum Nasional (hukum Acara) pada Fakultas Syariah di Nanggroe Aceh Darussalam. - Memberikan fasilitas untuk berkembangnya pendidikan Ekonomi dan Keuangan Syariah pada Fakultas Ekonomi di Nanggroe Aceh Darussalam. - Mendukung berkembangnya sistem ekonomi dan keuangan. - Mendukung pemantapan program pelatihan bagi tenaga pelaksana Syariat Islam pada lembaga resmi seperti hakim Mahkamah Syariah, Jaksa, Polisi, Perasuransian, Pegadaian, Baitral Mal, dan sebagainya. Penulisan qanun-qanun tentang Syariat Islam, termasuk kodifikasi hukum materiil dan formilnya. - Pembimbingan pelaksanaan Syariat Islam - Penguatan lembaga pemerintahan Gampong dan penyediaan Mukim melalui panduan dan penyempurnaan peraturan, pelatihan, Lembaga Keuangan Syariah sehingga menjadi pendukung utama dalam internalisasi nilai-nilai Syariah dalam

pedoman tugas seperti peran dalam proses perdamaian adat. - Revitalisasi Kesenian Tradisional dengan penulisan ulang shalawat dalam bahasa Aceh, peneguhan - Menyediakan ruang khusus bagi perempuan ditempat-tempat umum dengan memudahkan bagi mereka untuk beristirahat, menyusui, ganti pakaian dan sebaginya.

245

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

1.1 Tujuan dan Sasaran Tujuan Membangun kembali kehidupan masyarakat berdasarkan nilai-nilai ke Islaman dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia, dalam semua aspek kehidupan dan pembangunan. Sasaran Penduduk Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Tantangan Kondisi umum di Nanggroe Aceh Darussalam adalah rusaknya tatanan kehidupan masyarakat akibat gempa dan tsunami. Bencana tersebut memberikan dampak psikologis yang cukup berat karena masyarakat kehilangan sanak saudara, harta benda dan tempat tinggal serta kesempatan untuk bekerja, dan ketenangan dalam beribadah. II. INVENTARISASI KERUSAKAN DAN KERUGIAN Kerusakan yang terjadi pada aspek keagamaan adalah berupa hancurnya Masjid/Meunasah/Mushalla 1.059 unit, Gedung berupa Kantor Kanwil Agama Nanggroe Aceh Darussalam, Kantor Dep. Agama Kab/Kota 4 buah, KUA 58 unit, Gedung MPU Provinsi dan MPU Kab./Kota 3 unit, Balai Observasi Hisab dan Rukyat 1 Unit, Gedung Asrama Haji Banda Aceh. Ditambah dengan Kantor Dinas Syariat Islam Provinsi, 2 Kantor Dinas Syariat Kabupaten/Kota Dan juga hilangnya ribuan tokoh agama seperti ulama, guru ngaji/guru agama, Imam Meunasah, Pendakwah dan Khatib Masjid. Bencana ini telah menimbulkan hilangnya ketenangan dan ketenteraman batin, hilang dan rusaknya simbol-simbol keagamaan, hilangnya kesempatan beribadah secara normal dan belajar agama secara baik.

246

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

III. RONA Masyarakat Aceh yang masih hidup dan menjadi korban tsunami mengungsi ke berbagai titik pengungsian dan rumah sanak saudara mereka. Kondisi kehidupan dipengungsian sangat memprihatinkan karena kurangnya fasilitas sebagai tempat penampungan. Di samping itu, kondisi kejiwaan mereka yang labil karena kehilangan tempat tinggal, sanak keluarga, harta benda dan kesempatan bekerja. Juga, terganggunya ketenangan beribadah secara normal.

IV. PENILAIAN KEBUTUHAN Untuk memenuhi keperluan masyarakat di Nanggroe Aceh

Darussalam, maka hal penting yang perlu disediakan adalah: 1-Perbaikan Sarana ibadah seperti Masjid dan Meunasah 2-Memfungsikan kembali Tokoh Fungsinal Kampung seperti Imam dan Tgk. Meunasah 3-Pelayanan keagamaan: nikah, ibadah sdan V. PERTIMBANGAN KELAYAKAN Disesuaikan dengan lingkungan dan kebutuhan penduduk VI. STRATEGI DAN USULAM PROGRAM Strategi: - Melibatkan masyarakat termasuk anak-anak dan perempuan Meningkatkan kualitas tokoh dan pimpinan masyarakat Pembinaan yang berkesinambungan

Usulan Program: Program yang akan dilaksanakan dalam pembangunan kembali Aceh meliputi empat aspek:

247

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

1. 2.

Rehabilitasi berupa pembangunan kembali sarana ibadah seperti Masjid dan Meunasah serta gedung-gedung perkantoran Pelayananan seperti: - Penggantian dokumen yang hilang berupa buku nikah dan akta wakaf - Peningkatan pelayanan peribadatan: - Peningkatan kualitas petugas Masjid dan Meunasah melalui pemberian insentif dan pelatihan - Penyediaan guru-grur agama dan peningkatan biaya operasional pengajian gampong - Sosialisasi dan Pengawasan pelaksanaan syariat Islam

3.

Pelatihan para : -Khatib Masjid -Ta’mir/Imam Masjid -Petugas Baital Mal/Wakaf/Zakat -KUA -Penataran Penguatan dan Perluasan wawasan keagamaan bagi tokoh/pimpinan ormas Islam

4.

Penguatan Lembaga Keagamaan/Ormas Islam berupa insentif untuk biaya operasional

VII. ESTIMASI PENDANAAN Pembiayaan akan dilakukan terhadap berbagai kegiatan dan jumlah dana yang diperlukan: Kegiatan Perbaikan Masjid dan Meunasah Kanwil Agama Kandepag KUA Satuan 1.059 x Rp. 200.000.000,1 4 58 x 300.000.000 Jumlah Rp. 211.800.000.000 . Rp. 2.000.000.000 Rp. 4.000.000.000 Rp. 17.400.000.000 Waktu 3 thn Ktr.

248

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

Observasi hisab rakyat Asrama Haji Gedung MPU: - Gedung MPU Nanggroe Aceh Darussalam - Gedung MPU Kab/kota Dinas Syari’at islam: NAD Kab/Kota Pelayanan: a. Penggantian Dokumen akta nikah dan wakaf 1000 Lbr Akta wakaf b. Peningkatan Kualitas petugas : - Masjid 3000 buah - Meunasah 6000 buah c. Iinsentif guru agama untuk 6000 desa d. Sosialisasi dan pengawasan pelaksanan syariat Islam Pelatihan: a. Khatib 3000 Masjid

1 1 1 3

Rp. 1.000.000.000 Rp.10.000.000.0 00. Rp. 5.000.000.000 Rp. 2.000.000.000 Rp. 2.000.000.000 Rp. 2.000.000.000 1 thn

-

1 2

25.000 x 2 x Rp.50.000 1000x50x20.00 0 3000 x 2 orang x Rp. 1.000.000,6000 x 1 orang x Rp. 1.000.000,6000 x 1 orang x Rp. 1.000.000,22 kab/kota x Rp.100.000.000

Rp. 250.000.000 1 thn 3 thn

Rp. 100.000.000 Rp. 6.000.000.000 Rp. 6.000.000.000

Rp. 6.000.000.000

1 thn

Rp. 2.200.000.000

3 thn

2 orang x3000x Rp. 1.000.000,-

Rp. 6.000.000.000

3 thn

249

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

b.Imam Masjid 3000 c.Imam Meunasah d. Petugas Baital Mal/Zakat/Wa kaf e. Penataran perluasan wawasan keagamaan bagi tokoh/pimpina n ormas Islam Penguatan Lembaga Keagamaan/O rmas Islam a. Biaya operasional

2 orang x 3000 x Rp. 1.000.000,6000 meunasah x 1 orang x Rp.1.000.000,22 Kab/Kota x 10 orang x Rp. 1.500.000,-

Rp. 6.000.000.000 Rp. 6.000.000.000 Rp. 330.000.000

3 thn 3 thn 3 thn

3 thn 22 Kab/kota x 12 orang x Rp. 1.000.000,Rp. 264.000.000

22 Kab/Kota x 7 0rmas x Rp. 5.000.000,/tahun

2 thn Rp. 770.000.000

250

Usulan Program Blue Print Aceh – Univ. Syiah Kuala

251

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->