P. 1
Listrik Statis Icux-Ma

Listrik Statis Icux-Ma

|Views: 1,085|Likes:
Published by Faizal

More info:

Published by: Faizal on May 07, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/24/2013

pdf

text

original

R G A A F IK IN K S N IS A S P K LA III M E S D I S U S U N O l e h

:

SUKMAYANTI
NIS. 03191 KELAS : III. D

SMP NEGERI 2 UNGGULAN MAROS 2006

R G A A F IK IN K S N IS A S P K LA III M E S D I S U S U N O l e h :

RISMA HANDAYANI
NIS. 03151 KELAS : III. D

SMP NEGERI 2 UNGGULAN MAROS 2006

R G A A F IK IN K S N IS A S P K LA III M E S D I S U S U N O l e h :

A. HASBI ASHARI
NIS KELAS : III. D

SMP NEGERI 2 UNGGULAN MAROS 2006

BAB I LISTRIK STATIS Pada tanggal 14 September beberapa tahun lalu, seorang pria dewasa yang tengah melintas Taman Finsbury, London tiba-tiba terpental ketika sebuah petir menyambarnya. Di Kongo tahun 1999, semua pemain sepakbola yang bermain ketika hujan lebat meninggal dunia akibat terkena petir. Apa penyebab timbulnya petir ? Bagaimana sikap dan tindakan kita bila terjadi petir ? A. Muatan Listrik Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat mendengarkan radio, menonton televisi, menggunakan kulkas, setrika listrik dan lain-lain. Penggunaan alat-alat tersebut memerlukan listrik. Arus listrik dibedakan menjadi listrik statis (listrik tak mengalir) dan listrik dinamis (listrik mengalir). Listrik statis atau elektrostatika merupakan bagian dari ilmu listrik yang mempelajari sifat-sifat muatan listrik. Muatan listrik berkaitan langsung dengan susunan zat suatu benda. Semua benda tersusun atas partikel-partikel yang sangat kecil yang disebut atom. Atom terdiri dari inti atom atau nukleus dan elektron. Inti atom terletak di tengah-tengah atom terdiri dari proton dan neutron. Elektron bergerak mengelilingi inti atom. Masa atom adalah jumlah seluruh massa proton, neutron, dan elektron. Proton dan elektron bermuatan listrik. Proton bermuatan listrik positif sedangkan elektron bermuatan listrik negatif. Neutron tidak bermuatan listrik (netral). Elektron bergerak mengelilingi inti atom dan dapat berpindah ke atom lain. Sedangkan proton sukar untuk berpindah. Apabila suatu atom kekurangan elektron maka atom tersebut bermuatan listrik positif dan sebaliknya apabila suatu atom kelebihan elektron karena menerima elektron dari atom lain, maka atom tersebut bermuatan listrik negatif. Atom netral apabila jumlah muatan positif (proton) sama dengan jumlah muatan negatif (elektron). Atom bermuatan positif apabila jumlah muatan positif (proton) lebih banyak dari jumlah muatan negatif (elektron). Atom bermuatan negatif apabila jumlah muatan positif (proton) lebih sedikit dari jumlah buatan negatif (elektron). Hasil eksperimen (pecobaan) sisir dapat menarik sobekan kertas karena telah bermuatan listrik akibat gosokan antara sisir dengan kain wol. Apabila tidak terjadi gosokan,

maka sisir tidak dapat menarik kertas tersebut, karena sisir tidak dapat menarik kertas tersebut, karena sisir tidak bermuatan listrik (netral). Cara lain adalah dengan menggosok sebuah batang kaca pada kain sutra sehingga batang kaca dapat menarik sobekan kecil kertas. Hal ini terjadi karena batang kaca telah bermuatan listrik. Dari pembahasan di atas, kita telah mengetahui bahwa ada dua jenis muatan listrik yaitu muatan listrik negatif dan muatan listrik positif. Satuan muatan listrik menurut SI adalah coulomb (C). semakin besar kekurangan atau kelebihan jumlah electron semakin besar pula muatan listriknya. Massa dan muatan proton, elektron, dan neutron dapat dilihat pada tabel 1.1 berikut. Tabel 1.1 Massa dan muatan proton, elektron dan neutron Proton Elektron Neutron Massa 1,67262 x 10-27 Kg 9,10939x 10-31 Kg Muatan + 1,602177 x 10-19 C – 1,602177 x 10-19 C

1,67493 x 10-27 Kg Sumber : Physics for scientists and engineers

B.

Interaksi Benda-Benda Bermuatan Listrik Mistar plastik yang bermuatan listrik negatif ketika didekatkan dengan batang kaca

yang bermuatan listrik positif, terjadi tarik-menarik antara kedua benda tersebut. Ketika mistar plastik atau sisir yang bermuatan listrik negatif didekatkan pada mistar plastik yang digantung, terjadi tolak-menolak antara kedua benda tersebut. Dari percobaan di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa antara dua benda yang bermuatan tidak sejenis (negatif dan positif) terjadi tarik-menarik dan antara dua benda yang sejenis (negatif dengan negatif atau positif dengan positif) maka terjadi tolak-menolak. Tabel 1.2 Muatan Listrik yang Dihasilkan beberapa Benda Benda Plastik Sisir Kaca Ebonite Keterangan Digosok dengan kain wol Digosok dengan rambut Digosok dengan kain sutra Digosok dengan kain wol Sumber : Physics A Course for ‘o’ Level Muatan Listrik yang Dihasilkan + 1,602177 x 10-19 C – 1,602177 x 10-19 C

Informasi mengenai muatan listrik yang dihasilkan apabila suatu benda digosokkan terhadap benda lain dapat dilihat pada Tabel 1.2. Pada Tabel 1.3 terdapat interaksi antara benda-benda yang bermuatan listrik apabila didekatkan. Tabel 1.3 Interaksi antara Dua Benda yang Bermuatan Listrik apabila Didekatkan Benda 1 Sisir (negatif) Sisir (negatif) Kaca (positif) Kaca (positif) 1. Hukum Coulomb Antara dua benda yang bermuatan listrik dapat terjadi interaksi tarik-menarik atau tolak-menolak. Apabila bola A dan bola B diberi muatan masing-masing qA dan qB dan didekatkan sehingga mempunyai jarak r, maka timbul gaya listrik sebesar F. Apabila besar muatan A dan B diperbesar dengan jarak r tetap, gaya yang timbul lebih besar dari F. Dan ketika r diperbesar dengan besar muatan qA dan qB tetap, maka gaya listrik yang timbul semakin kecil dari F. Dari hasil tersebut terdapat hubungan antara muatan dan jarak dengan gaya listrik yang dirumuskan oleh fisikawan Perancis Charles de Coulomb (1736 – 1806). Pernyataan Coulomb ini disebut dengan Hukum Coulomb. “Gaya listrik (tarik-menarik atau tolak-menolak) antara dua muatan listrik sebanding dengan besar muatan listrik masing-masing dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak pisah antara kedua muatan listrik”. F=kx Dengan : F r k 2. = gaya coulomb (gaya tarik-menarik atau tolak-menolak) (N) = jarak antara dua muatan ((m) = konstanta = 9 x 108 (Nm2/C2) Medan Listrik q1,q2 = besar muatan benda (C) Benda 2 Plastik (negatif) Kaca (positif) Ebonite (negarif) Kaca (positif) Yang Terjadi Tolak-menolak Tarik-menarik Tarik-menarik Tolak-menolak

q1 × q 2 r2

Medan listrik adalah ruang di sekitar suatu muatan listrik yang jika muatan listrik lain diletakkan dalam ruang ini akan mengalami gaya listrik. Kuat medan listrik adalah besaran vektor. Kuat medan listrik dapat dirumuskan sebagai berikut :
E= F q

dengan : E = kuat medan listrik (N/C) F = gaya coulomb (N) q = muatan listrik (C) 3. Potensial Listrik Jika sebuah muatan positif q dipindahkan dari suatu titik A ke titik B dalam sebuah medan listrik yang juga ditimbulkan oleh muatan positif Q dalam arah yang berlawanan dengan gaya listrik (tolak-menolak) antara muatan q dan Q) maka dilakukan usaha (energi). “Beda potensial antara dua titik dalam medan listrik adalah besarnya usaha yang harus dilakukan untuk menggerakkan muatan listrik positif sebesar 1 coulomb dari titik yang satu ke titik yang lain”. Besarnya potensial listrik dapat dirumuskan sebagai berikut :
W V = q

dengan : V = potensial listrik (volt) W = usaha yang dilakukan (joule) q = muatan listrik (Coulomb)

C. 1.

MUATAN LISTRIK SECARA INDUKSI Pengertian Induksi Pemberian muatan listrik secara induksi antara benda yang akan diberi muatan dan benda yang memberi muatan tidak saling bersentuhan dan muatannya berlawanan dengan muatan tidak saling bersentuhan dan muatannya berlawanan dengan muatan benda yang didekatkan kepada benda tersebut. Jadi induksi listrik adalah pemisahan muatan listrik di dalam suatu penghantar karena penghantar itu didekatkan oleh benda bermuatan listrik. 2. Elektroskop Secara umum elektroskop terdiri atas kepala elektroskop yang berupa tutup logam dan daun elektroskop yang berupa kertas aluminium yang sangat tipis atau kertas emas.

D. 1.

MANFAAT DAN BAHAYA LISTRIK STATIS Manfaat Listrik Statis Banyak sekali manfaat penggunaan listrik statis dalam kehidupan sehari-hari, contohnya sebagai berikut : a. Generator Van de Graaff Muatan listrik yang diperoleh melalui cara menggosok sangat kecil. Untuk memperoleh muatan listrik yang sangat besar digunakan generator Can de Graaff. b. Pengumpulan Asap Salah satu manfaat listrik statis adalah pengumpulan asal. Alat ini membersihkan partikel-partikel abu hasil pembakaran gas, sehingga mengurangi pencemaran udara. c. Cat Semprot Butiran car dari aerosol menjadi bermuatan ketika bergesekan dengan mulut pipa semprot dan udara. Bila benda yang akan dicat diberi muatan yang berlawanan, maka butiran cat akan tertarik ke badan benda. Hasil semprotan ini akan menjangkau seluruh benda. d. Mesin Foto Copy Mesin foto copy Xerox (1960) menggunakan daya tarik muatan listrik berbeda. Di bagian tengahnya terdapat sebuah pelat logam khusus berlapiskan zat yang disebut selenium. Suatu pola muatan positif pada pelat tadi, menceritakan bidang hitam yang

akan digandakan, menarik partikel bermuatan negatif dari bubuk hitam halus yang disebut toner. e. Printer Laser Bagian utama printer laser terdiri dari fuser, drum photoreceptor, corong wirem laser dan toner. Pada bagian fuser ini kertas akan mengalami pemanasan, hal ini yang menyebabkan kertas terasa panas pada saat keluar dari printer. 2. Bahaya Listrik Statis Selain bermanfaat, listrik statis juga berbahaya bagi kehidupan manusia. Bahaya listrik status antara lain sebagai berikut : a. Petir Petir disebabkan awan besar yang bermuatan listrik negatif sangat kuat. Apabila awan yang kelebihan electron berada di atas atap sebuah gedung menyebabkan gedung terinduksi menjadi bermuatan positif. Loncatan elektron terjadi dari awan ke atap gedung karena adanya gaya tarik menarik antara keduanya. Penangkal petir melindungi gedung dari sembaran petir melalui dua cara berikut : 1) Loncatan elektron dari awan mengalir melalui penangkal petir dan masuk ke dalam tanah. Ingat bumi dapat menampung elektron dalam jumlah tidak terbatas. 2) Jika molekul-molekul udara bermuatan listrik positif berkumpul di sekitar ujung runcing penangkal petir akan mengalir ke luar sehingga muatan listrik induksi pada atap berkurang dan sebagian muatan negatif pada awan menjadi netral, sehingga kemungkinan sembarang petir diperkecil. b. Percikan Api Percikan ini dapat membakar muatan mobil yang mudah terbakar seperti bensin. Untuk menghindari peristiwa tersebut, truk pengangkut bensin atau bahan yang mudah terbakar lainnya dilengkapi dengan sepotong logam di bagian belakang mobil yang menyentuh tanah.

BAB II SUMBER ARUS LISTRIK A. Gaya Gerak Listrik Suatu Sumber Arus Listrik Nilai yang ditunjukkan oleh jarum voltmeter ketika elemen / sumber listrik tidak mengalirkan arus listrik inilah yang disebut dengan gaya gerak listrik (GGL). Nilai yang ditunjukkan oleh jarum voltmeter saat elemen memberikan arus listrik ini disebut dengan tegangan jepit, dinyatakan dengan V. Jadi, dapat disimpulkan bahwa GGL elemen selalu memiliki nilai yang lebih besar dibandingkan nilai tegangan jepitnya ( E > V ). B. Elemen Listrik Primer Dan Sekunder Ada dua jenis sumber arus listrik, pertama sumber arus searah (dc) yaitu sumber arus
 + −   . Kedua, sumber arus bolak-balik. Beberapa | | yang mengalirkan ke satu arah saja     

contoh sumber arus searah adalah elemen volta, elemen leclanche, elemen kering (baterai) dan aki (akumulator). 1. Elemen Listrik Primer Elemen listrik primer adalah sumber arus listrik yang tidak dapat diisi ulang bila muatan listriknya habis. Hal ini disebabkan karena reaksi kimia yang terjadi di dalam elemen tersebut tidak dapat kembali menjadi bahan kimia semula. a. Elemen Volta Elemen volta terdiri dari dua lempeng (pelat) logam yang terbuat dari tembaga (Cu) dan seng (Zn). Lempeng tembaga akan bertindak sebagai electrode positif (katode) dan lempeng seng akan berfungsi sebagai electrode negarif (adone). Larutan asam sulfat (H2SO4) encer berfungsi sebagai larutan elektrolit (penghantar arus listrik). Peristiwa menempelnya gelembung-gelembung gas pada lempeng tembaga ini disebut dengan polarisasi. b. Elemen Lechlanche Elemen leclanche merupakan perbaikan dari elemen volta. Susunan elemen leclanche terdiri dari batang karbon (C)sebagai kutub atau electrode positif (katode)

dan batang seng (Zn) sebagai electrode negatifnya (anode). Larutan yang digunakan ialah larutan ammonium klorida (NH4Cl). Untuk menghindari terjadinya polarisasi maka digunakan mangan diosida (MnO2) yang dicampur dengan serbuk karbon. Campuran ini akan berfungsi sebagai depolarisator. c. Elemen Daniell Elemen daniell terdiri dari silinder tembaga sebagai electrode positif (anode) dalam larutan sulfat tembaga sebagai electrode (CuSO4) dan batang seng sebagai electrode negatif (katode) dalam larutan asam seng sulfat (ZnSO4) d. Elemen Kering (Batu Baterai) Elemen kering tidak lain adalah batu baterai. Dalam kehidupan sehari-hari, batu baterai banyak dipakai. Bagian luar batu baterai terbuat dari bahan seng (Zn) sekaligus berfungsi sebagai kutub negatif, sedangkan kutub positifnya tetap menggunakan karbon (C) yang biasanya ditutup dengan kuningan. Batu baterai ini disebut elemen primer, yaitu elemen yang menghasilkan muatan listrik, tetapi jika muatannya habis tidak bisa diisi lagi. 2. muatan listriknya habis. a. Aki (Akumulator) Seperti telah disebutkan sebelumnya, aki merupakan elemen yang bila habis muatan listriknya bisa diisi kembali. Elemen sementara ini disebut dengan elemen sekunder. Beberapa keunggulan aki dibandingkan dengan baterai antara lain sebagai berikut : 1) 2) 3) Waktu hidupnya lebih lama Dapat menghasilkan arus yang lebih besar/kuat Dapat dinormalkan kembali dengan cara mengisi / menyetrum bila Elemen Listrik Sekunder Elemen listrik sekunder merupakan sumber arus listrik yang dapat isi ulang bila

muatannya habis atau beda potensialnya turun. Pengisian ulang pada aki sering disebut dengan diestrum atau dicas.

Beberapa hal penting yang harus diperhatikan selama proses pengisian aki (sering kamu temui dalam praktik sehari-hari) ialah sebagai berikut : 1) Beda potensial baterai pengisi (Sumber arus DC) harus lebih tinggi dibandingkan dengan beda potensial yang dimiliki aki. 2) Pengisian aki seringkali membutuhkan waktu cukup lama, bisa sehari semalam. Hal ini dikarenakan saat pengisian aki lebih efektif menggunakan arus kecil dengan selang waktu lebih lama dibandingkan dengan menggunakan arus besar dalam selang waktu yang pendek. Nilai arus ini biasanya diatur dengan alat yang disebut rheostat (penghambat variabel). 3) Selama proses pengisian aki (perhatikan dalam praktik sehari-hari), konsentrasi asam sulfat akan bertambah sedangkan tinggi permukaan cairan akan turun. 4) Satuan kapasitas aki adalah ampere jam (ampere hour disingkat dengan AH). Jika kapasitas aki 60 AH itu berarti aki dapat bekerja selama 60 jam pada arus 1 A atau selama 30 jam pada arus 2 A. b. Baterai Isi Ulang Baterai ini sangat populer karena mempunyai kemampuan memberikan arus yang kuat dan setiap waktu dapat diisi ulang. Susunan baterai nikel – cadmium (Ni Cd) terdiri dari nikel hidrosida (Ni (OH2)) sebagai elektroda positif dan cadmium hidrosida (Cd (OH)2) sebagai elektroda negatif. 2) Baterai Nikel – Metal Hidrat (Ni MH) Baterai nikel – metal hidarat (Ni MH) digunakan untuk menggantikan baterai nikel – cadmium (Ni Cd). Kelebihan baterai nikel – metal hidrat (Ni MH) dibandingkan dengan nikel – cadmium (Ni Cd) adalah mempunyai tegangan keluaran yang lebih besar yaitu sekitar 1,4. 3) Baterai Lithium – Ion Baterai Lithium – ion terdiri dari lithium – metal oksida (LiMn2O4) sebagai elektroda positif (katode) dan Lithium (Li) sebagai electrode negatif (anode). Larutan yang digunakan adalah lithium perklorat (Li CLO4).

1) Baterai Nikel – Kadmium (Ni Cd)

C.

Mengatur Beda Potensial Sumber Arus Listrik dan Alat Listrik Tegangan berbagai sumber listrik dan tegangan di antara ujung-ujung suatu alat

listrik, misalnya bola lampu, dapat diukur dengan alat yang disebut voltmeter. Hasil pengukuran voltmeter pada percobaan 2.1 (a) disebut dengan gaya gerak listrik, sedangkan pada Percobaan 2.1 (b) disebut dengan tegangan jepit. Tegangan jepit dapat dirumuskan sebagai berikut :
V = E −ir

dengan :

V = tegangan jepit (volt) E = gaya gerak listrik (volt) i = arus listrik (ampere) r = hambatan dalam (ohm)

BAB III LISTRIK DINAMIS A. 1. Arus Listrik Pengertian Arus Listrik Pada saat belajar listrik statis, kalian telah mengetahui bahwa aliran muatan listrik positif berasal dari tempat yang potensialnya tinggi (mengandung muatan listrik positif lebih banyak) menuju tempat yang potensialnya lebih rendah (mengandung muatan) listrik positif lebih sedikit). Arus listrik adalah aliran muatan listrik positif dari kutub positif baterai ke kutub negate baterai. Arah arus listrik yang ditetapkan ini dikenal dengan arus listrik konvensional. 2. Kuat Arus Listrik Besar atau kuat arus listrik (I) didefinisikan sebagai muatan listrik positif (Q) yang mengalir melalui suatu penampang kawat konduktor tiap sekon (t). Satuan kuat arus listrik adalah ampere (A), diambil dari nama seorang ahli fisika Perancis, Andre Marie Ampere (1775 – 1836). Hubungan antara I, Q dan t adalah sebagai berikut : Kuat Arus Listrik (I) =
muatan listrik (Q) selang waktu (t)

Atau
I = Q atau Q = I × t t

dengan : Q = muatan listrik (coulomb, C) I = kuat arus listrik (ampere, A) t = selang waktu (sekon, s) 3. Beda Potensial Listrik Potensial listrik dapat juga disebut sebagai beda potensial listrik atau tegangan listrik. Satuan beda potensial listrik adalah volt, yang diambil dari nama seorang ilmuwan Allesandro Volta (1775 – 1827).

Kuat arus listrik dalam suatu rangkaian tertutup diukur dengan alat ukur yang disebut amperemeter atau ammeter. Secara umum rangkaian listrik adalah rangkaian yang terdiri dari alat-alat listrik, antara lain sebagai berikut : a. b. c. d. listrik dengan beban. e. arus listrik. B. 1. Sakelar Saklar adalah suatu alat listrik yang berfungsi untuk memutus dan mengalirkan arus listrik. 2. Pengaman Listrik atau Sekring Jika suatu ketika terjadi kerusakan kabel, misalnya isolasi kabel terkelupas, sehingga kawat di dalamnya bersentuhan, terjadilah hubungan pendek (korsleting). Akibatnya, kuat arus listrik bertambah besar karena hambatan listrik menjadi kecil. Ketika itu, sekring yang terpasang pada rangkaian segera terputus dan arus listrik berhenti mengalir sebelum kebakaran terjadi. Di sinilah sekring berfungsi sebagai alat pengaman. 3. Rangkaian Komponen Listrik Seri dan Paralel a. Rangkaian Seri Pada rangkaian listrik seri kuat arus yang mengalir pada setiap rangkaian adalah sama, sedangkan beda potensialnya berbeda. Beda potensial pada rangkaian Rangkaian Komponen Listrik Sakelar adalah alat listrik untuk memutus dan mengalirkan Sumber listrik adalah alat pembangkit arus listrik, beberapa Beban adalah alat yang memanfaatkan arus listrik, seperti Alat ukur listrik adalah peralatan untuk mengukur listrik, Kabel penghubung adalah penghubung antara sumber arus diantaranya adalah baterai, akumulator (aki), generator, dinamo dan sel matahari. resistor, radio, TV, solder, setrika, rice cooker, lampu penerangan, dan komputer. seperti ammeter, voltmeter, ohmmeter, avometer (multimeter), kWh-meter.

listrik yang disusun seri adalah sama dengan jumlah setiap beda potensial sumber arus listrik. b. Rangkaian Paralel Pada rangkaian paralel arus yang mengalir pada setiap cabang berbeda, sedangkan beda potensialnya sama. C. Hukum Ohm Semakin besar tegangan listrik, semakin besar pula arus yang mengalir dalam rangkaian. Pernyataan tersebut di kenal sebagai hukum ohm. Jika beda potensial atau tegangan dilambangkan dengan V, kuat arus dengan I, dan hambatan listrik diberi lambang R, maka secara matematis dapat dituliskan persamaan berikut ini :
R = V atau V = I × R I

dengan : R = hambatan listrik (ohm, Ω ) V = tegangan listrik (volt, V) I = kuat arus (ampere, A) Sehingga : 1 ohm = 1 am pere “Sebuah kawat penghantar mempunyai hambatan 1 ohm apabila beda potensial 1 volt pada ujung-ujung kawat penghantar itu menghasilkan kuat arus sebesar 1 ampere”. Komponen listrik yang khusus dibuat untuk menghasilkan hambatan listrik pada suatu rangkaian dinamakan penghambat atau resistor. 1. Pengukuran Hambatan Listrik Ada dua cara pengukuran untuk menentukan nilai hambatan suatu penghambat, yaitu sebagai berikut : a. Mengukur nilai tegangan dan kuat arusnya dengan menggunakan voltmeter dan amperemeter. b. Dengan mengukur langsung memakai multimeter. Multimeter dapat mengukut V, I, dan R secara langsung.
volt

2.

Hambatan Jenis

Pada suatu rangkaian listrik, penghantarnya selalu menggunakan kawat. Tabel 3.2 Data Pengukuran Tegangan dan Kuat Arus Untuk Nikelin dan Konstantan No 1. 2. 3. Jenis Logam Nikelin Nikelin Nikelin Nikelin Nikelin Konstantan
 (m)
V (ohm ) I

A (mm2) 0.35 0.35 0.35 0.70 0.35 0.35

V (volt) 6 6 6 6 6 6

I (ampere) 2.1 1.2 1.2 2.2 2.1 3.4

R=

0.2 0.4 0.4 0.4 0.2 0.2

2.9 5.0 5.0 2.8 2.9 1.8

Dari hasil pengukuran di atas diperoleh kesimpulan sebagai berikut a. Untuk jenis kawat yang sama, makin panjang kawat makin besar nilai hambatannya. b. Untuk jenis kawat yang sama, makin besar luas penampang kawat makin kecil hambatannya c. Nilai hambatan berbeda jika jenis logam tidak sama. Jadi, nilai hambatan listrik suatu kawat adalah : a. Sebanding dengan panjang kawat (I) b. Berbanding terbalik dengan luas penampang kawat (A) c. Sebanding dengan nilai hambatan jenis logamnya (ρ ), dengan : R = hambatan kawat (ohm, Ω )
 = panjang kawat (m)

A = luas penampang kawat (m2)

ρ

= hambatan jenis kawat (ohm, m)

Hambatan jenis suatu kawat penghantar adalah hambatan yang dimiliki kawat tersebut yang panjangnya 1 m dan luas penampangnya 1 m2. D. Konduktor, Semikonduktor dan Isolator Setiap jenis bahan memiliki hambatan jenis yang berbeda-beda. Makin besar hambatan jenis, makin besar pula hambatan listriknya.

1.

Konduktor

Bahan-bahan seperti perak, tembaga, atau aluminium yang dapat dialiri arus listrik atau mudah menghantarkan arus listrik disebut konduktor. 2. Isolator Isolator adalah bahan-bahan yang tidak dapat atau sulit dialiri arus listrik. Pada bahan isolator elektron-elektron relatif stabil, sehingga elektron sulit keluar dari inti atomya. 3. Semikonduktor Bahan-bahan yang memiliki daya hantar listrik di antara konduktor dan isolator disebut semikonduktor. Pada bahan semikonduktor jika suhu semakin tinggi maka hambat jenis bahan bertambah, sehingga sulit mengalirkan arus listrik. E. Hukum I Kirchhoff Terdapat tiga buah amperemeter dalam rangkaian tak bercabang. Ketiga amperemeter ini mengukur kuat arus pada titik-titik yang berbeda di dalam rangkaian, tetapi ketiga amperemeter tersebut menunjukkan pembacaan yang sama. 2. Kuat Arus Listrik dalam Rangkaian Bercabang Jumlah kuat arus yang masuk ke suatu titik cabang sama dengan jumlah kuat arus yang keluar dari titik cabang itu. Kesimpulan ini dikenal Hukum I Kirchhoff, yang secara matematis dinyatakan sebagai berikut :

1. Kuat Arus Listrik dalam Rangkaian Tak Bercabang

∑I
F.

masuk

= ∑I keluar

Resistor Besarnya hambatan di dalam resistor karbon dapat dilihat dari kode warnanya. Tiap kode warna memiliki nilai tertentu. Nilai kode warna dapat dilihat pada Tabel 3.4 berikut ini :

1. Resistor Tetap

Tabel 3.4 Kode Warna Resistor Karbon

Cincin Ke -1 Cincin Ke -2 Cincin Ke -3 (Angka pertama) (Angka kedua) (Penggali) Hitam 0 0 1 Coklat 1 1 101 Merah 2 2 102 Jingga 3 3 103 Kuning 4 4 104 Hijau 5 5 105 Biru 6 6 106 Ungu 7 7 107 Abu-abu 8 8 108 Putih 9 9 109 Emas Perak Tanpa warna Sumber : Physics for Scientists and Engineers Warna Perbedaan nilai hambatan ini disebut juga dengan toleransi 2. Resister Variabel

Cincin Ke -4 (Toleransi) 5% 10% 20%

Resistor yang memiliki nilai hambatan yang dapat diubah-ubah disebut resistor variabel. G. Rangkaian Hambatan Listrik Di dalam pemakaian rangkaian listrik tertutup, hambatan-hambatan dapat disusun dalam dua macam, yaitu secara seri dan paralel. a) Rangkaian Hambatan Listrik Seri Misalkan dua buah penghambat R1 dan R2 dirangkaikan seri (Gambar 3.27a). Ternyata, kuat arus listrik (I) yang melalui penghambat R1 dan R2 sama besar. Tegangan pada ujung-ujung R1 dan R2 masing-masing adalah Vab = IR1 dan Vbc = IR2. Tegangan antara titik a dan c adalah : Vac = Vab +V bc = IR1 + IR2 = I(R1 + R2) Jadi secara umum hambatan pengganti rangkaian seri adalah : Rs = R1 + R2 + R3 + ...

b)

Rangkaian Hambatan Listrik Paralel

I= R p I=V  
 1 1   +   R1 R2 

V

1  1 1   = + R Rp R2   1 

Secara umum, hambatan pengganti paralel dirumuskan sebagai berikut :
1 1 1 1 = + + + ... Rp R1 R2 R3 1 1 1 1 3 + 2 +1 6 = + + = = Rp 100 Ω 150 Ω 300 Ω 300 Ω 300 Ω

Rp =

300 Ω = 50 Ω 6

H.

Tegangan Jepit Voltmeter menunjukkan beda potensial antara kutub-kutub baterai / elemen yang

disebut gaya gerak listrik (GGL). Gaya gerak listrik biasanya diberi simbol E. Besarnya tegangan yang hilang (∆ V) adalah : ∆ V = I x r Sehingga, terdapat hubungan matematis antara GGL, tegangan jepit, dan tegangan yang hilang : E = V + ∆ V. Berdasarkan hukum Ohm : V = I x R maka E = I x R + I x r. E = I (R + r) atau I=
E E +r

I.

Rangkaian Baterai
+ -

1. Rangkaian Baterai Susunan Seri

Di dalam rangkaian, sebuah batu baterai digambarkan dengan ––| E, r |–– secara seri.

, E menyatakan

GGL dan r menyatakan hambatan dalamnya. Baterai atau elemen dapat dirangkai bersama

BAB IV ENERGI DAN DAYA LISTRIK A. Persamaan Energi Listrik Sesuai dengan hukum kekekalan energi bahwa energi dapat diubah dari satu bentuk energi ke bentuk energi yang lain. Setiap peralatan listrik dapat berfungsi bila dilalui arus listrik. Secara matematis hubungan tersebut ditulis sebagai berikut : W=VxIxt Dengan : W = energi listrik (joule, J) V = tegangan listrik (volta, V) I t = kuat arus listrik (ampere, A) = Selang waktu (Sekon atau detik, s) W = I1 x R x t Dengan R = hambatan listrik (ohm, Ω ) B. Daya Listrik 1. Pengertian Daya Listrik Daya listrik didefinisikan sebagai besar energi listrik yang dihasilkan setiap detik. Berdasarkan definisi di atas, maka daya listrik dapat dinyatakan secara matematis sebagai berikut :
P= W t V2 ×t R

atau

W=

Dengan : P = Daya listrik (Wat, W) W = energi listrik (joule, J) t = Selang waktu (Sekon atau detik, s)

C. Perubahan Bentuk Energi Listrik 1. Perubahan Energi Listrik Menjadi Energi Kalor Alat-alat pemanas listrik mengubah energi listrik menjadi energi kalor. Di dalamnya terdapat komponen yang disebut elemen pemanas yang terbuat dari logam dengan hambatan jenis besar, misalnya kawat nikelin atau kawat nikrom yang dililitkan pada lempeng isolator tahan panas. Kawat nikrom dipilih sebagai elemen pemanas karena bahan nikrom dapat tahan terhadap suhu tinggi. Beberapa contoh yang menggunakan elemen pemanas adalah setrika listrik, kompor listrik dan solder. a. Setrika Listrik Panas yang dihasilkan elemen pemanas akan menyebar rata pada setiap permukaan alas setrika yang terbuat dari bahan konduktor yang bagus seperti krom. b. Kompor Listrik Sebuah kompor listrik digunakan untuk memanaskan air. Energi listrik yang diberikan oleh elemen pemanas pada kompor listrik tersebut adalah : W=VxIxt Dengan : m = massa air (kg) c = kalor jenis air (J/(Kg0C) = kenaikan suhu air (0C) dengan satuan joule Persamaan energi kalor adalah : Q = m x c x ∆ T = m x c x (T2 – T1)

∆T

T2 = suhu akhir (0C) T1 = suhu awal (0C) Dengan menganggap bahwa seluruh energi listrik diubah menjadi energi kalor, maka berlaku hubungan matematis sebagai berikut : V x I x t = m x c x ∆ T. c. Solder Solder sering digunakan dalam merangkai rangkaian elektronika. Solder digunakan untuk melelehkan timah yang berfungsi untuk menghubungkan komponen elektronika ke dalam PCB (Printed – Circuit Boards). Solder listrik mempunyai daya 15 W sampai 100 W.

2.

Perubahan Energi Listrik Menjadi Energi Cahaya Lampu yang ada di rumahmu merupakan salah satu contoh perubahan bentuk

energi listrik menjadi energi cahaya. Beberapa contoh lampu yang sering kita jumpai adalah sebagai berikut : a. Lampu Pijar Kawat tungsten spiral ini dinamakan filament lampu. Ketika dilalui arus listrik, filament lampu, berpijar hingga berwarna putih. Agar filament lampu tidak terbakar, bola lampu biasanya diisi dengan gas argon dan gas nitrogen (gas-gas yang tidak bereaksi dengan logam panas). b. Lampu TL Keuntungan lampu TL (sering disebut lampu neon) adalah lebih banyak energi listrik yang diubah menjadi energi cahaya daripada diubah menjadi energi kalor. 3. Perubahan Energi Listrik Menjadi Energi Gerak

Alat yang mengubah energi listrik menjadi energi gerak adalah motor listrik. D. Penghematan Energi Sumber energi yang dapat diperbaharui adalah energi yang dapat digunakan berkalikali, atau setelah dipakai dapat dipulihkan atau tumbuh lagi dalam waktu yang terjangkau. Tanah, air, hutan, tumbuhan, ikan dan hewan lainnya adalah sumber energi yang dapat diperbaharui. Sumber energi yang tidak dapat diperbaharui adalah sumber energi yang bila dipakai akan habis, dan membutuhkan ribuan sampai jutaan tahun untuk memperoleh kembali sumber energi tersebut. 1. Penggunaan Lampu Gunakan lampu TL, daripada lampu pijar. Selain menghemat energi, lampu TL juga memberikan cahaya yang lebih terang daripada lampu pijar. 2. 3. Penggunaan Pemanas Air Penggunaan Lemari Es Pemanas air merupakan penyerap energi yang besar di dalam rumah Membuka pintu lemari es seperlunya, dan pada kondisi tertentu juga agar dapat tertutup rapat. Mengisi lemari es secukupnya (tidak melebihi kapasitas).

4. 5.

Penggunaan Mesin Cuci Penggunaan Setrika Listrik

Cucilah pakaian dengan menggunakan air dingin yang sudah diberi deterjen. Mengatur tingkat panas yang diperlukan sesuai dengan bahan pakaian yang akan disetrika. 6. Penggunaan Televisi, Radio, Tape Recorder Mematikan televisi, radio, tape recorder, serta peralatan audio visual lainnya bila tidak ditonton atau tidak didengarkan. 7. Penggunaan Kipas Angin Mematikan kipas angin bila tidak digunakan lagi, atau gunakan kipas angin yang dilengkapi alat pengukur waktu (timer) dan atau timer sesuai kebutuhan. Mengatur kecepatan kipas angin sesuai keperluan. 8. Penggunaan Pengatur Suhu Udara (AC) Memilih AC hemat energi dan daya yang sesuai dengan besarnya ruangan. Mematikan AC bila tidak digunakan.

BAB V KEMAGNETAN A. Pengertian Kemagnetan Kata magnet diambil dari Magnesia, nama suatu daerah di Asia Kecil, suatu tempat ketika orang-orang Yunani (diperkirakan tahun 600 SM) menemukan sifat magnetik dari mineral magnetik (Fe3O4) yang terdapat dalam batu-batuan dan mempunyai sifat dapat menarik partikel-partikel besi. 1. Sifat-Sifat Magnet Sebuah magnet terdiri dari magnet-magnet kecil yang mengarah ke arah yang sama.. kekuatan sifat kemagnetan yang paling besar berada pada kutub-kutub magnet. Memiliki sifat-sifat tertentu bila kutub magnet yang satu berdekatan dengan kutub magnet yang lain. a. b. Kutub-kutub magnet sejenis (kutub utara dengan kutub utara atau kutub Kutub-kutub magnet tidak sejenis (kutub utara dengan kutub selatan atau selatan dengan kutub selatan) akan tolak menolak kutub selatan dengan kutub utara) akan tarik-menarik. 2. Bahan Magnetik dan Bahan Non Magnetik Salah satu sifat magnet adalah memiliki gaya tarik. Lebih lanjut bahan magnetik diklasifikasikan sebagai berikut : a. b. c. Bahan ferromagnetic, bahan yang ditarik dengan kuat oleh magnet. Bahan Paramagnetic, bahan yang ditarik lemah oleh magnet. Contohnya Bahan diamagnetic, bahan yang sedikit menolak magnet. Contohnya Berdasarkan asalnya, magnet dibagi menjadi dua kelompok, yaitu : magnet alam, yakni magnet yang ditemukan di alam, dan magnet buatan, yakni magnet yang sengaja dibuat oleh manusia. Contohnya adalah nikel, besi, baja, dan kobalt. adalah aluminium dan platina. adalah seng, bismuth, dan natrium klorida.

Magnet dapat dibedakan menjadi empat tipe : a. Tipe Magnet Permanen Campuran Sifat magnet ini adalah keras dan memiliki gaya tarik sangat kuat. Magnet permanen campuran dibagi menjadi : 1) 2) 3) b. Magnet alcomax, dibuat dari campuran besi dengan aluminium. Magnet alnico, dibuat dari campuran besi dengan nikel Magnet ticonal, dibuat dari campuran besi dengan kobalt. Tipe Magnet Permanen Keramik

Tipe magnet ini disebut juga dengan magnadur, terbuat dari serbuk ferit dan bersifat keras serta memiliki gaya tarik kuat. c. d. Tipe Magnet Besi Lunak Tipe Magnet Pelindung Tipe magnet besi lunak disebut juga stalloy, terbuat dari 96% besi dan 4% silikon. Tipe magnet ini disebut juga mumetal, terbuat dari 74% nikel, 20% besi, 5% tembaga, dan 1% mangan. Magnet ini tidak keras dan bersifat sementara. 3. Membuat Magnet Ada tiga cara membuat magnet, yaitu menggunakan arus listrik, dengan cara menggunakan arus listrik, dengan cara menggosok, dan dengan cara induksi. a. Membuat Magnet dengan Menggunakan Arus Listrik Jika sebuah besi dililit kawat berarus listrik, maka besi akan menjadi magnetmagnet hanya selama arus listrik mengalir. b. Membuat Magnet dengan Cara Menggosok Jika kita menggosokkan ujung magnet batang permanen ke sepanjang permukaan batang besi atau baja dengan satu arah saja maka kutub magnet yang dihasilkan pada ujung terakhir penggosok selalu berlawanan dengan kutub ujung magnet penggosoknya. c. Membuat Magnet dengan Cara Induksi Sebatang magnet permanen yang kuat digantung pada tiang. Sepotong besi/baja didekatkan pada kutub utara magnet tersebut (tidak menyentuh). Jika di bawah batang besi/baja itu diletakkan paku-paku kecil/serbuk besi, maka pakupaku/serbuk besi itu ditarik oleh kedua batang tersebut.

Peristiwa batang besi/baja menjadi magnet akibat didekatkan pada magnet permanen yang kuat (tanpa menyentuh) disebut induksi magnet. 4. Menghilangkan Sifat Kemagnetan Magnet dapat rusak atau hilang sifat kemagnetannya. Penyebab hilangnya sifat kemagnetan antara lain adalah sebagai berikut dipukul-pukul dengan palu, dipanaskan atau dibakar, dan dialiri arus bolak-balik (AC) a. Dipukul dengan Palu Magnet yang dipukul dengan palu akan mengakibatkan magnet kehilangan sifat magnetnya. b. Dipanaskan atau dibakar Bila kita membakar magnet, maka akan cepat kehilangan sifat magnetnya. Hal ini disebabkan magnet kecil bertambah getarannya yang mengakibatkan magnet kecil tidak beraturan letaknya. c. Dialiri Arus Bolak-Balik (AC) Cara yang terbaik untuk menghilangkan sifat magnet suatu bahan adalah dengan menggunakan arus bolak-balik (AC). Dengan ,menempatkan magnet ke dalam solenoida yang dihubungkan dengan arus bolak-balik (AC), magnet secara perlahan akan berpindah mengikuti aliran listrik bolak-balik di dalam solenoida. B. Medan Gaya Magnet Daerah di sekitar magnet yang dipengaruhi oleh gaya magnet dinamakan medan gaya magnet atau medan magnet. Medan gaya magnet digambarkan sebagai garis lengkung yang disebut garis gaya magnet. Jika kita amati garis-garis gaya magnet, maka ada tiga hal yang dapat kita simpulkan tentang garis-garis gaya magnet tersebut : 1. 2. 3. Garis-garis gaya magnet tidak pernah saling berpotongan. garis-garis gaya magnet selalu keluar dari kutub utara magnet Tempat yang garis-garis gaya magnetnya rapat menunjukkan

masuk ke kutub selatan magnet. medan magnetnya kuat, sebaliknya tempat yang garis-garis gaya magnetnya renggang menunjukkan medan magnetnya lemah.

C.

Bumi Sebagai Magnet Sebuah magnet jarum / jarum kompas dalam keadaan bebas tanpa pengaruh gaya lain

akan selalu menunjuk ke arah utara dan selatan. Fakta ini menunjukkan bahwa bumi memiliki sifat magnet. Gejala ini dapat dijelaskan dengan menganggap bumi sebagai sebuah magnet yang sangat besar. 1. Diklinasi Letak kutub-kutub magnet bumi tidak tepat berimpit dengan letak kutub-kutub bumi. Oleh karena, jarum kompas membentuk sudut terhadap arah utara-selatan bumi. Sudut ini dinamakan sudut deklinasi. Deklinasi adalah penyimpangan arah jarum jam kompas dengan arah utara-selatan bumi yang sebenarnya. Besar sudut deklinasi di berbagai tempat di permukaan bumi tidak sama, bahkan di suatu tempat besarnya berbeda pula dari tahun ke tahun. 2. Inklinasi Sudut yang dibentuk oleh sumbu jarum kompas dengan arah horinzontal bumi dinamakan sudut inklinasi. Sudut inklinasi diukur dengan menggunakan alat ukur yang disebut lingkaran inklinasi. D. 1. Percobaan Oersted Pada bagian terdahulu telah dikemukakan bahwa batang besi yang bukan magnet dapat dijadikan magnet dengan mengalirkan arus listrik pada kawat yang dililitkan mengitari batang besi sebagai inti. Orang pertama yang menyelidiki bahwa di sekitar kawat yang dialiri arus listrik terdapat medan magnet adalah H. C. Oersted pada tahun 1820. Dari eksperimen Oersted dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. 2. Disekitar kawat penghantar yang dialiri arus listrik timbul medan magnet. Arah medan magnet ditentukan oleh arah arus listrik yang mengalir dalam Ternyata, besar medan magnet di sekitar kawat berarus listrik bergantung pada besar kuat arus listrik dan jaraknya terhadap kawat. Jika kuat arus listrik yang mengalir Medan Magnet di Sekitar Arus Listrik

kawat penghantar.

dalam kawat diperbesar dengan menambah baterai maka akan tampak bahwa sudut penyimpangan jarum kompas menjadi lebih besar. Hal ini membuktikan bahwa makin besar kuat arus listrik yang mengalir di dalam kawat, makin besar pula medan magnet yang ditimbulkannya. 2. Arah Garis Gaya Magnet di Sekitar Kawat Berarus Listrik Arah garis-garis magnet di sekitar kawat lurus yang dialiri arus listrik ditentukan dengan kaidah tangan kanan. Jika arah ditunjukkan ibu jari sesuai dengan arah arus listrik dalam kawat, maka arah lipatan keempat hari lain yang dirapatkan menunjukkan arah garis-garis gaya magnet. Medan magnet yang ditimbulkan oleh sebuah penghantar kawat saja adalah lemah untuk mendapatkan medan yang lebih kuat, kawat penghantar tersebut dapat digulung menjadi sebuah kumparan panjang yang dinamakan solenoida. 3. Elektromagnet Jika ke dalam kumparan (solenoida) dimasukkan inti besi, maka medan magnet yang ditimbulkannya menjadi jauh lebih besar. Hal ini disebabkan inti besi menjadi magnet sehingga memperkuat medan magnet yang dihasilkan oleh kumparan. Untuk menghasilkan medan magnet yang lebih kuat atau besar pada sebuah electromagnet, dapat dilakukan dengan cara : “mengganti inti electromagnet dengan bahan yang lebih bersifat magnet, memperbanyak jumlah lilitan, dan memperbesar kuat arus yang melalui kumparan. Beberapa penggunaan electromagnet dalam kehidupan sehari-hari, diantaranya bell listrik, relai, dan pesawat telepon. E. Magnet Untuk menentukan arah gaya yang dialami penghantar berarus listrik di dalam medan magnet adalah dengan menggunakan kaidah tangan kanan, yang berbunyi sebagai berikut : “Jika ibu jari menunjuk arah arus listrik (I) dan keempat jari yang dirapatkan menunjuk arah medan magnet (B), maka terbukanya tapak tangan menunjuk arah gaya magnet (F). Gaya Magnet Penghantar Berarus Listrik di Dalam Medan

Besarnya gaya lorentz yang dialami penghantar berarus listrik dalam medan magnet ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu : besar kuat arus listrik dalam penghantar, besar kuat medan magnet dan panjang kawat penghantar. Secara matematis dapat dituliskan sebagai berikut : F = I  B. Dengan : F = gaya lorentz (Newton) I = kuat arus listrik (ampere)
 = panjang kawat (meter)

B = kuat medan magnet (tesla) 1. Motor Listrik Motor listrik sederhana arus searah terdiri dari kumparan yang menempel pada as roda sehingga dapat berputar di antara kutub-kutub magnet berbentuk ladam. Ujung-ujung kumparan (koil) dihubungkan dengan cincin belah yang disebut komutator. Dua sikat pada komutator mengubah arah arus sehingga mengubah-ubah gaya lorentz pada keempat sisi kumparan. Akibatnya kumparan berputar di antara dua kutub magnet. 2. Alat Ukur Listrik Salah satu jenis alat ukur listrik yang banyak digunakan adalah alat ukur jenis kumparan berputar. Bagian utama dari alat ukur jenis kumparan berputar adalah inti besi lunak berbentuk silinder yang dililit kawat membentuk kumparan.

BAB VI INDUKSI ELEKTROMAGNETIK A. Gaya Gerak Listrik (GGL) Induksi Beda potensial yang menyebabkan adanya arus induksi dinamakan gaya gerak listrik induksi (GGL-Induksi). Disekitar magnet terdapat medan magnet yang digambarkan sebagai garis gaya magnet. Jadi, perubahan jumlah garis gaya magnet yang terkurung di dalam kumparan menyebabkan timbulnya GGL-Induksi pada ujung-ujung kumparan. Akibatnya, arus listrik mengalir di dalam kumparan sebagai gejala induksi elektromagnetik. Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya GGL-Induksi adalah : 1. 2. 3. B. Laju gerakan magnet, Jumlah lilitan kumparan, dan Kuat magnet (intensitas magnet) Generator dan Dinamo Generator adalah mesin yang mengubah enam gerak/kinetik menjadi energi listrik. Generator yang berukuran kecil dinamakan dinamo. Prinsip kerja generator adalah menghasilkan arus listrik induksi dengan cara memutar kumparan di antara celah kutub utaraselatan sebuah magnet. 1. Generator Arus Bolak-Balik (AC) Pada generator arus bolak-balik (AC), kumparan dibuat berputar di dalam medan magnet yang diam. Bila kumparan diputar, timbullah GGL induksi pada ujung-ujung kumparan yang digabungkan dengan cincin-cincin generator. 2. Generator Arus Searah (DC) Generator DC hanya memiliki satu cincin yang terbelah tengahnya sehingga dinamakan cincin belah atau komutator. Salah satu belahan komutator selalu berpolaritas dan belahan komutator yang lain berpolaritas negatif. 3. Dinamo Sepeda Dinamo sepeda menggunakan magnet yang berputar dekat kumparan. Magnet permanen berputar di dekat sebuah kumparan diam yang dililitkan pada inti besi. Akibat

perputaran magnet, garis-garis gaya magnet yang memotong kumparan berubah-ubah. Hal ini timbul GGL induksi pada ujung kumparan sehingga menghasilkan arus listrik induksi. C. Transformator Transformator ialah alat yang digunakan untuk mengubah tegangan bolak-balik (AC) dari suatu nilai tertentu menjadi nilai yang diinginkan. Transformator atau trafo terdiri dari pasangan kumparan primer berfungsi sebagai input dan kumparan sekunder berfungsi sebagai output yang terpisah dan dililitkan. Hubungan antara tegangan pada kumparan primer dan tegangan pada kumparan sekunder dengan jumlah lilitan pada masing-masing kumparan dinyatakan dengan persamaan berikut ini :
VP N = P VS NS

Dengan : VP = tegangan kumparan (volt) VS = tegangan kumparan sekunder (volt) NP = jumlah lilitan kumparan primer NS = jumlah lilitan kumparan sekunder Ada 2 jenis transformator, yaitu transformator step down adalah berfungsi untuk mengubah tegangan bolak-balik tinggi menjadi tegangan bolak-balok lebih rendah, jumlah lilitannya lebih banyak (NP > NS) akibatnya, tegangan pada kumparan sekunder menjadi lebih kecil dibandingkan tegangan kumparan sekunder (VS > VP). Dan transformator step up adalah berfungsi mengubah tegangan bolak-balik rendah menjadi tegangan lebih tinggi, jumlah lilitan lebih sedikit (NP < NS) akibatnya, tegangan yang dihasilkan menjadi lebih besar daripada tegangan primernya (VS > VP). D. Transmisi Daya Listrik Jarak Jauh
P ) V

Alasan penggunaan tegangan tinggi pada transmisi daya jarak jauh adalah karena : 1. Tegangan tinggi menyebabkan arus listrik yang mengalir menjadi kecil. (ingat, I =

2. Dengan arus listrik yang kecil, maka energi yang hilang diperjalanan menjadi kecil pula sehingga efisien penyaluran daya lebih kecil.

3. Arus listrik yang kecil menyebabkan ukuran penampang kawat dengan penghantar yang diperlukan menjadi lebih kecil, dan tentu saja harganya murah sehingga lebih ekonomis. Menyalurkan daya listrik jarak jauh dari pusat pembangkit rumah-rumah pelanggan dengan menggunakan transmisi tegangan tinggi memerlukan transformator peningkat (step up) transformator penurun (step down). Tegangan generator yang ada di pusat pembangkit bernilai 3.000 – 15.000 V. Tegangan ini dinaikkan oleh trafo pada jaringan transmisi menjadi 70 – 240 kV menuju kota. Sebelum sampai di kota, tegangan arus dialirkan ke gardu-gardu kecil menjadi 120-24-V atau 220 V – 360 V. Dari gardu-gardu ini baru disalurkan ke rumah-rumah atau ke pabrik-pabrik yang memerlukannya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->