P. 1
Tugas Besar Pers. Dif.

Tugas Besar Pers. Dif.

|Views: 408|Likes:

More info:

Published by: Jevon Radytia Ginting on May 08, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/25/2013

pdf

text

original

APLIKASI PERSAMAAN DIFERENSIAL PARSIAL

PERCOBAAN MEKANIKA FLUIDA
Makalah ini Dibuat untuk Memenuhi Tugas Akhir Mata Kuliah Persamaan Differensial
Disusun oleh:
Denisefrian Noor (0706275504)
Fajar Steven (0706275580)
Jevon Raditya (0706275656)
Pramesti Andiani (0706275744)
Widya Larastika (0706275826)
Program Studi Teknik Lingkungan
Departemen Teknik Sipil
Fakultas Teknik
Universitas Indonesia
Depok 2009
KATA PENGANTAR
Pertama kami panjatkan puji syukur yang sebesar-besarnya kepada Tuhan Yang Maha
Esa, karena hanya dengan rahmatNya-lah makalah ini dapat terselesaikan dengan sebaik dan
semaksimal mungkin oleh kami.
Dalam makalah yang cukup singkat ini kami akan membahas tentang Aplikasi
Persamaan Deferensial Parsial, dimana kami mengambil contoh kasus untuk Percobaan
Mekanika Fluida.
Dengan Makalah ini semoga para pembaca dapat lebih memahami tentang Persamaan
Deferensial Parsial dan Aplikasinya.
Akhir kata kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua
pihak yang telah membantu penyelesaian makalah ini. Kami juga mengucapkan permohonan
maaf apabila terdapat kekurangan dan kesalahan yang tidak kami sadari dalam penulisan
makalah ini.
Depok, Mei 2009
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Banyak masalah aliran fluida yang tidak dapat diselesaikan secara matematik
karena rumitnya sifat persamaan yang tercakup dank arena batas-batas daerah aliran.
Masalah lainnya dapat diselesaikan hanya setelah penyederhanaan tertentu telah
dilakukan. Oleh karena itu, untuk membuktikan penyelesaian tersebut perlu melakukan
percobaan-percobaan. Tingkah laku fluida yang sesungguhnya pada sistem hanya dapat
diketahui dengan pasti setelah pengamatan diadakan di dalam sistem sewaktu sedang
dioperasikan. Masalah tersebut mungkin ditenui pada perencanaan, konstruksi, dan
pengoperasian bendungan, pelabuhan, pesawat terbang, kapal laut, hanya dijelaskan
sebagian. Stabilitas dari bangunan-bangunan ini dan daya gunanya tergantung dari sifat
aliran pada dan di sekeliling bangunan. Dengan adanya analisa matematik yang setepat-
tepatnya dan dapat diandalkan, perencana akan menemukan teknik model test, suatu
alat paling berguna. Ukuran model yang pantas dari bangunan tersebut dibuat dan
dicoba di bawah keadaan pengoperasian yang dapat diawasi dan hasilnya diharapkan
untuk memperkirakan apa yang akan terjadi pada bangunan yang sesungguhnya.
Penggunaan penyelidikan dengan model untuk keadaan bentuk asli (atau
lapangan) mengasumsikan bahwa apabila sifat tertentu kecepatan, debit, gaya, waktu,
temperatur, dan lain-lain) diketahui untuk model, maka perkalian dengan faktor yang
sesuai akan memberikan sifat yang sama dengan bentuk asli. Dengan kata lain,
percobaan yang sempurna dari sifat-sifat model dan bentuk asli (secara kualitas dan
kuantitas) dapat dicapai dengan menggunakan satu atau lebih fackor tetap pada salah
satu sistem. Faktor tersebut diperoleh dari hokum perbandingan spesifik. Teori model
mencoba membuktikan hukum perbandingan ini.
I.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan materi yang akan disajikan, penulis merumuskan masalah
“Bagaimana persamaan diferensial parsial diterapkan dalam percobaan mekanika fluida
khususnyamengenai kehilangan energi tekan?”
I.3 Tujuan
Penulisan daripada makalah ini bertujuan untuk:
• Mempelajari penggunaan persamaan diferensial, khususnya persamaan
diferensial parsial untuk pemecahan permasalahan sehari-hari
• Menyelidiki bagaimana timbulnya beberapa hukum perbandingan dan
kegunaannya yang relatif dalam kasus tertentu dari aliran fluida.
I.4 Metode Penulisan
Penulisan makalah ini menggunakan metode penulisan studi pustaka, dimana
permasalahan yang ada merupakan hasil daripada studi literatur dan juga studi dari
internet.
BAB II
TEORI DASAR
II.1 Persamaan Diferensial Parsial
Persamaan diferensial parsial (PDP) adalah persamaan yang di dalamnya
terdapat suku-suku diferensial parsial, yang dalam matematika diartikan sebagai suatu
hubungan yang mengaitkan suatu fungsi yang tidak diketahui, yang merupakan fungsi
dari beberapa variabel bebas, dengan turunan-turunannya melalui variabel-variabel
yang dimaksud. Persamaan diferensial parsial digunakan untuk melakukan formulasi
dan menyelesaikan permasalahan yang melibatkan fungsi-fungsi yang tidak diketahui,
yang merupakan dibentuk oleh beberapa variabel, seperti penjalaran suara dan panas,
elektrostatika, elektrodinamika, aliran fluida, elastisitas, atau lebih umum segala macam
proses yang terdistribusi dalam ruang, atau terdistribusi dalam ruang dan waktu.
Kadang beberapa permasalahan fisis yang amat berbeda memiliki formulasi matematika
yang mirip satu sama lain.
Persamaan diferensial parsial dijumpai dalam kaitan dengan berbagai masalah
fisik dan geometris bila fungsi yang terlibat tergantung pada dua atau lebih peubah
bebas. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa hanya sistem fisik yang paling sederhana
yang dapat dimodelkan dengan persamaan diferensial biasa mekanika fluida dan
mekanika padat, transfer panas, teori elektromagnetik dan berbagai bidang fisika
lainnya penuh dengan masalah-masalah yang harus dimodelkan dengan persamaan
differensial parsial. Sesungguhnya, kisaran penerapan persamaan diferensial parsial
sangatlah besar dibandingkan dengan kisaran penerapan persamaan diferensial biasa.
Peubah-peubah bebas dapat berupa waktu dan satu atau lebih koordinat di dalam ruang.
Suatu persamaan akan diturunkan sebagai model dari sistem fisik dan mengupas cara-
cara untuk memecahkan masalah nilai awal dan masalah nilai batas, dengan kata lain
metode untuk memperoleh solusi bagi persamaan yang berkaitan dengan masalah fisik
yang dihadapi.
Formulasi matematik kebanyakan permasalahan dalam ilmu pengetahuan dan
teknologi dapat dipresentasikan dalam bentuk persamaan diferensial parsial. Persamaan
tersebut merupakan laju perubahan terhadap dua atau lebih variabel bebas yang
biasanya adalah waktu dan jarak (ruang).
II.2 Kesamaan Dinamis
Persamaan dasar diferensial parsial yang menentukan aliran fluida tak dapat
dimampatkan dengan viskositas tetap yang sesuai adalah persamaan Navier-Stokes.
Derivasi dari persamaan tersebut merupakan teori yang mendasari pertimbangan model.
Pada sistem koordinatcartesian, hokum gerak Newton kedua yang digunakan pada
massa satuan elemen fluida, yang mempunyai komponen-komponen kecepatan u, v, dan
w dalam arah berturut-turut x, y, dan z, memberikan persamaan Navier-Stokes dalam
tiga arah utama.
(2.1)

,
`

.
|


+


+


+





− ·


+


+


+


2
2
2
2
2
2
1
z
u
y
u
x
u
x
p
x
h
g
z
u
w
y
u
v
x
u
u
t
u
ρ
µ
ρ

(2.2a)

,
`

.
|


+


+


+





− ·


+


+


+


2
2
2
2
2
2
1
z
u
y
u
x
u
y
p
y
h
g
z
v
w
y
v
v
x
v
u
t
v
ρ
µ
ρ
(2.2b)

,
`

.
|


+


+


+





− ·


+


+


+


2
2
2
2
2
2
1
z
u
y
u
x
u
z
p
z
h
g
z
w
w
y
w
v
x
w
u
t
w
ρ
µ
ρ
Faktor yang tedapat di sebelah kiri dari persamaan ini adalah percepatan atau
faktor inersia yang harus mengimbangi jumlah-jumlah gaya-gaya luar yang bekerja
pada elemen fluida, seperti yang diberikan di sebelah kanan. Percepatan dari partikel
fluida timbul dari dua sumber, perubahan setempat dari kecepatan karena sifat tak tetap
dari aliran dan kenyataan bahwa kecepatan dari partikel fluida berubah sewaktu
bergerak dari suatu lokasi ke lokasi yang lain dengan kecepatan yang berbeda. Dalam
istilah matematika, jumlah derivasi dari u karena ini adalah fungsi dari kedua waktu dan
jarak adalah
Percepatan
setempat
Percepatan Gaya gravitasi
(badan)
Gaya
tekan
Gaya lekat
t
z
z
u
t
y
y
u
t
x
x
u
t
u
dt
du
δ
δ
δ
δ
δ
δ


+


+


+


·
atau
z
u
w
y
u
v
x
u
u
t
u
dt
du


+


+


+


·
Gaya-gaya yang bekerja pada partikel fluida yang komponennya dalam berbagai
arah ditunjukkan di sebelah kanan persamaan (2.1) dan (2.2) adalah gravitasi
berdasarkan atas letak dari partikel fluida dengan jarak tegak h di atas titik duga
sementara, tekanan dan gaya-gaya geser atau lekat. Gravitasi menimbulkan gaya badan
sedangkan tekanan dan geseran menimbulkan berturut-turut gaya permukaan tegak
lurus dan miring. Gaya-gaya ini dijelaskan untuk partikel yang terdapat pada cairan
yang sedang mengalir di atas kemiringan yang curam pada saluran terbuka.
Konsep dasar dari kesamaan hidrodinamis adalah persyaratan bahwa dua sistem
dengan bentuk batas-batas yang sama mempunyai susunan aliran yang sama (keasaman
gerak) pada waktu yang ditentukan. Hal ini menyatakan secara tidak langsung bahwa
segibanyak dari gaya-gaya harus menjadi sama apabila suatu faktor tetap digunakan
dengan tepat pada salah satu dari gaya-gaya tersebut. Ini adalah kesamaan dinamik.
Kesamaan gerak pada dua sistem yang bentuknya sama tidak mungkin dicapai kecuali
kalau gaya-gaya yang diterapkan diatur sama. Keadaan ini dapat pula disimpulkan dari
kenyataan bahwa persamaan Navier-Stokes dapat digunakan dalam kedua sistem di
mana fluida adalah tak dapat dimampatkan, mempunyai viskositas tetap dan tegangan
permukaan tidaklah penting. Sehingga, dengan menetapkan keadaan batas adalah sama,
penyelesaian dari persamaan tersebut apabila terpengaruh, akan sama secara kualitatif.
Perbedaan jumlah hanya timbul melalui perbedaan dalam pengaturan jumlah jumlah
dari elemen-elemen fisik yang tercakup. Latihan tersebut adalah untuk menentukan
gabungan dari jumlah fisik yang akan dijalankan terhadap berbagai elemen gaya luar
dari persamaan diferensial parsial (2.1) dan (2.2) untuk membuat gaya inersia sama dan
dengan demikian menemukan suatu penyelesaian yang unik untuk semua kesamaan
sistem yang diatur dari bentuk yang sama.
Jumlah
Percepatan
Percepatan
setempat
Percepatan
aliran
Dengan memilih suatu jumlah bentuk yang tetap L (panjang) jumlah kinematik
tetap V
o
(kecepatan) dan jumlah dinamik tetap ρ
o
(berat jenis), kita dapat merumuskan
parameter-parameter tanpa dimensi seperti berikut:
(2.3) x

= x/L, y

= y/L, z

= z/L, h

= h/L
u

= u/V
o
, v

= v/V
o
, w

= w/V
o
,
p

= p/ρ
o
.V
o
2
, t

= t/(L/V
o
) ρ

= ρ /ρ
o
Dengan mensubsitusikan (2.3) ke dalam (2.1)
(2.4)
( ) ( ) ( ) ( )
( ) ( ) ( )
]
]
]
]



+


+


+





− ·
]
]
]
]



+


+


+

,
`

.
|


) ( ) ( ) (
1
) (
) (
1
) (
) (
) ( ) ( ) (
2
2
'
' 2
2
2
'
' 2
2
2
'
' 2
' '
2 '
' '
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
L z
u V
L y
u V
L x
u V
L x
V
L x
L h
g
L z
u V
w
L y
u V
v
L x
u V
u V
t V
L
u V
o o o
o
o o
o
o o o
o
o
o
ρ
ρ
µ
ρ ρ
ρ ρ
Dengan menghilangkan faktor tetap dari dalam kurang pendiferensiasian dari
persamaan (2.4) dan membagi keseluruhannya dengan V
o
2
/L
(2.5)
]
]
]
]



+


+


+





− ·


+


+


+


2
'
' 2
2
'
' 2
2
'
' 2
' '
'
' '
'
2
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
1 1
z
u
y
u
x
u
L V
x
p
x
h
V
gL
z
u
w
y
u
v
x
u
u
t
u
o o
o
ρ
ρ
µ
ρ
Persamaan gerak tersebut sekarang diubah menjadi suatu bentuk tanpa dimensi
(dimensionless form). Susunan yang sama dapat diperoleh dari (2.21) dan (2.2b) dan
kesimpulan yang dibuat di bawah ini adalah sama. Dari persamaan (2.5), diperlukan
kesamaan dinamik antara bentuk asli (akhiran p) dan model (akhiran m) bahwa
partikel-partikel fluida pada kedua sistem mepunyai kecepatan yang relative sama,
dinyatakan oleh sebelah kiri dari persamaan tersebut. Hal ini memerlukan bahwa relatif
dari persamaan yang di sebelah kanan secara identik harus sama, yaitu kedua gerak
fluida yang di bawah pertimbangan dapat menjadi sama hanya apabila penyelesaian
tersebut adalah identik, diuraikan dari segi masing-masing faktor tak tetap tanpa
dimensi. Hal ini membutuhkan bahwa untuk keduanya
p
o o
o
z
u
y
u
x
u
L V
x
p
x
h
V
gL
]
]
]
]

,
`

.
|


+


+


+






2
'
' 2
2
'
' 2
2
'
' 2
' '
'
' '
'
2
1 1
ρ
ρ
µ
ρ
m
o o
o
z
u
y
u
x
u
L V
x
p
x
h
V
gL
]
]
]
]

,
`

.
|


+


+


+






2
'
' 2
2
'
' 2
2
'
' 2
' '
'
' '
'
2
1 1
ρ
ρ
µ
ρ
Umumnya perbedaan temperatur fluida tidak menimbulkan perubahan berat
jenis yang berarti pada fluida tak dapat dimampatkan pada ρ
o
= ρ atau ρ

= 1. Untuk
memenuhi tanda-tanda tersebut
(2.6)
m
o o
p
o o
m
o
p
o
L V L V
V
gL
V
gL

,
`

.
|
·

,
`

.
|

,
`

.
|
·

,
`

.
|
ρ
µ
ρ
µ
dan
2 2
Dari pengembangan di atas, faktor V
o
2
/gL, dikenal sebagai bilangan Froude F,
menunjukkan arti dari gaya-gaya gravitasi relatif terhadap gaya-gaya inersia. Bilangan
Reynolds, R = ρ
o
V
o
L/µ menunjukkan arti dari gaya-gaya lekat (gesekan relative
terhadap gaya-gaya inersia.
Dengan demikian menetapkan bilangan Froude dan bilangan Reynolds adalah
sama pada setiap sistem yang sama bentuknya dari suatu aliran tak dapat dimampatkan
(kecuali gaya-gaya luar selain dari gravitasi, tekanan dan geser) dan dengan
menetapkan keadaan batas adalah sama, susunan aliran tersebut akan identik.
Penyelesaian persamaan (2.5) dan (2.2), disempurnakan dengan cara yang sama
(ditambah persamaan kesinambungan dan keadaannya) akan universal untuk semua
sistem yang demikian, dan hal ini hanya membutuhkan faktor-faltor bilangan tetap yang
dirumuskan pada persamaan (2.3) untuk memperoleh nilai kuantitatif untuk ukuran-
ukuran yang berbeda dan keadaan pengoperasian pada semua anggota dari sistem. Oleh
karena itu, penyajian tanpa dimensi dari data percobaan adalah suatu alat yang berguna
dalam korelasi dan penggunaan data percobaan pada teknik hidrolik dan cabang-cabang
teknik yang lain.
II.3 Arti Fisik dari Hukum Model
Pengembangan tersebut di atas telah menunjukkan dengan jelas bahwa untuk
mencapai kesamaan dinamik dalam dua sistem fluida yang bentuknya sama dengan
berat jenis dan viskositas yang tetap, bilangan Froude dan Reynolds harus mempunyai
nilai yang sama dalam kedua sistem apabila gravitasi dan gesekan adalah hanya gaya-
gaya luar yag bekerja. Dengan menunjukkan perbandingan (model ke bentuk asli) dari
setiap jumlah yang diinginkan dengan akhiran r, kesamaan dinamik memerlukan
bahwa:
1
2
· ·
r r
r v
r
L g
F
1 · ·
r
r r
r
L v
R
υ
Secara bersamaan dimana υ = µ /ρ
Dari hukkum Froude,
1
2
1
· ·
r r r
g for L v
Dan dari hukum Reynolds, v
r =
υ
r
/L
r
Sehingga untuk kedua criteria v
r
= L
r
3/2
Ambil sebagai contoh, suatu model dari sepanjang sungai (atau dari suatu
bendungan) yang akan dibangun dengan skala 1 : 25. Untuk memenuhi kesamaan
dinamik yang sempurna, persyaratan Froude dan Reynolds membutuhkan perbandingan
viskositas kinematik dari fluida model dengan bentuk asli adalah 1 : 25Tabel
3.1mencantumkan beberapa daftar dari fluida alam yang viskositasnya rendah. Tidak
diketahui fluida memenuhi keadaan tersebut. Oleh karena itu, perlu untuk mencari
pencapaian kesamaan dinamik melalui cara lain. Pendekatan yang paling logis adalah
mencari kesamaan sesuai dengan gaya yang lebih dominan (gesekan atau gravitasi), dan
memeriksa pengaruh yang lain melalui beberapa cara yang lain. Pertimbangan menurut
teori dan hipotesa yang menuntun pendekatan ini, akan dibahas dalam subpasal berikut
ini; gaya-gaya lain akan pula dipertimbangkan.
II.4 Model Reynolds
Tekanan pada suatu objek yang terletak pada fluida yang sdang mengalir dapat
dianggap mempunyai 2 komponen.. Bagian satu, tekanan hidrostatik ρs, yaitu tekanan
yang akan dialami oleh objek apabila fluida tidak sedang mengalir, dan yang lain
tekanan dinamik ρd adalah bertambahnya tekanan yang ditimbulkan sebagai akibat dari
gangguan aliran. Sehingga
ρ = ρs + ρd
Bayangkan suatu partikel P di dalam lapangan aliran dari suatu ruang fluida tak
terbatas. Jika partikel tersebut pada jarak tegak h di atas titik duga sementara (Gambar
2.1) tekanan hidrostatik pada P adalah ρ g(H – h), dimana H adalah ketinggian fluida di
atas titik duga sementara yang sama. Untuk keadaan aliran dimana perbedaan dari
Gambar 2.1
permukaan fluida tidak ada atau tidak penting, H akan menjadi bilangan tetap. Oleh
karena itu, jumlah tekanan dapat ditunjukkan dengan:
P= bilangan tetap-ρ gh+pd
Misalnya, dengan mensubstiusikan (2.8) ke dalam persamaan gerak (2.1), menghasilkan

,
`

.
|


+


+


+


− ·


+


+


+


2
2
2
2
2
2
1
z
u
y
u
x
u
x
p
z
u
w
y
u
v
x
u
u
t
u
d
ρ
µ
ρ
(2.9)
Persamaan 2.9 adalah terpisah sepenuhnya dari faktor gravitasi. Oleh karena itu
persamaan yang disempurnakannya tidak akan mengandung bilangan Froude. Sehingga
kesamaan dinamik untuk objek yang terbenam pada aliran tak dapat dimampatkan
didalam mana perbedaan fluida (misalnya gelombang-gelombang gravitasi) tidak
dihasilkan, hanya diperoleh dengan model sesuai dengan standar Reynolds. Sama
halnya dapat dibenarkan untuk aliran tak dapat dimampatkan dimana fluida secara
keseluruhannya terdapat di dalam batas-batas tetap dan tidak ada permukaan yang –
bebas (kena atmosfer). Contoh-contoh dari penelitian aliran di mana hokum Reynolds
adalah penting, adalah kehilangan gesek kulit (pipa), seretan lekat (viscous drag) pada
(H-h)
H
h
P
Titik
Duga
Permukaan
Fluida
objek-objek yang terbenam, tahanan terhadap objek yang bergerak melalui badan aliran
yang besar (misalnya kapal selam), pelumasan, aliran melalui mulut pipa dan lubang,
aliran pada media yang porus, dan lain-lain. Pada contoh-contoh ini gaya lekat
mempengaruhi gaya gravitasi. Beberapa dari contoh-contoh ini memerlukan
pertimbangan dari keadaaan dinamik yang lain seperti tegangan permukaan (surface
tension)
Untuk
1 · ·
r
r r
r
L v
R
υ
Perbandingan Kecepatan
r
r
r
L
v
υ
·
Perbandingan Waktu
r
r
r
r
r
L
v
L
t
υ
2
· ·
Perbandingan debit
r r
r
r
r r r r
L
L
L v A Q υ
υ
· · ·
2
Perbandingan Gaya
2 3
r r
r
r
r r r
t
v
L P υ ρ ρ · ·
Perbandingan Tekanan
2
2
r
r r
r
r
r
L
A
P
p
υ ρ
· ·
Kesulitan praktis yang pokok dengan model Reynold adalah bahwa kecepatan
yang lebih tinggi secara nyata diperlukan dalam model daripada dalam bentuk asli. Ini
dapat dilihat dari kenyataan bahwa pada banyak model perbandingan viskositas adalah
kira-kira satu, dan oleh karena itu, perbandingan kecepatan adalah kira-kira berbanding
terbalik dengan perbandingan linear. Dalam hal ini secara teknik dan ekonomi tidak
praktis untuk memperoleh kecepatan model untuk menghasilkan dinamik yang benar.
Pengembangan diatas menuju ke pembuktian standar Reynolds telah mengasumsikan
keadaan fluida Newtonian.
Contoh soal
Kehilangan tinggi tekan yang melewati suatu katup pintu, biasanya diuraikan dari segi
koefisien kehilangan C
L
, yang dirumuskan sebagai kehilangan tinggi tekan h
L
= C
L
(v
2
/2g) di mana v adalah kecepatan rat-rat pada pipa yang dipertimbangkan. Kolom 2
dan 3 dari tabel di bawah ini memberikan hasil percobaan dari serangkaian percobaan
pada 20 cm katup pintu di dalam jalur pipa 20 cm dengan menggunakan air pada 24
O
C.
Pada semua percobaan piringan katup adalah 7 cm dari dudukan.
Tentukan kehilangan tinggi tekan yang diharapkan apabila besarnya aliran adalah
28.31/detik pada jalur pipa yang sama dengan katup dan bukaan yang sama, apabila air
94
O
C mengalir melaluinya.
Penyelesaian
Kolom 5 dan 6 menunjukkan perbedaan koefisien kehilangan tinggi tekan dengan
bilangan Reynold berdasarkan kecepatan yang dipertimbangkan pada pipa dan ukuran
bukaan katup. Pada suatu bilangan Reynolds yang tinggi, C
L
adalah tetap dan terpisah
dari bilangan Reynolds. Perbedaan tersebut sama dengan f terhadap R untuk pipa. Pada
daerah turbulen penuh pusaran terbentuk penuh dan perpindahan momentum semata-
mata ditentukan oleh viskositas.
Apabila aliran adalah 28,31/det (24
0
C, υ = 0,32 x 10
-6
m
2
(
det)
R = 19,2 x 10
4
, sehingga C
L
= 3,0.
air cm 12
2
1
) 1 , 0 (
0 , 3
2
(3,0) diharapkan yang tekan tinggi Kehilangan
2
2
2
· ×

,
`

.
|
× · ·
g
Q
g
v
π
BAB IV
KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan dalam makalah ini, dapat disimpulkan bahwa persamaan
diferensial parsial dapat digunakan dalam aplikasi percobaan mekanika fluida khusunya
dalam perhitungan kehilangan tinggi tekan.
BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
J.M.K. Dake. 1983. Hidrolika Teknik Edisi Kedua. Jakarta: Erlangga.
Munson, Bruce R. Donald F. Young, Theodore H. Okishi. 2004. Mekanika Fluida Edisi
IV. Jakarta:Erlangga.

Depok.KATA PENGANTAR Pertama kami panjatkan puji syukur yang sebesar-besarnya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kami juga mengucapkan permohonan maaf apabila terdapat kekurangan dan kesalahan yang tidak kami sadari dalam penulisan makalah ini. Mei 2009 Penulis . Akhir kata kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu penyelesaian makalah ini. Dengan Makalah ini semoga para pembaca dapat lebih memahami tentang Persamaan Deferensial Parsial dan Aplikasinya. Dalam makalah yang cukup singkat ini kami akan membahas tentang Aplikasi Persamaan Deferensial Parsial. dimana kami mengambil contoh kasus untuk Percobaan Mekanika Fluida. karena hanya dengan rahmatNya-lah makalah ini dapat terselesaikan dengan sebaik dan semaksimal mungkin oleh kami.

I. maka perkalian dengan faktor yang sesuai akan memberikan sifat yang sama dengan bentuk asli. debit. temperatur. pesawat terbang. untuk membuktikan penyelesaian tersebut perlu melakukan percobaan-percobaan. Tingkah laku fluida yang sesungguhnya pada sistem hanya dapat diketahui dengan pasti setelah pengamatan diadakan di dalam sistem sewaktu sedang dioperasikan. gaya.2 Rumusan Masalah Berdasarkan materi yang akan disajikan. dan pengoperasian bendungan. dan lain-lain) diketahui untuk model. Dengan kata lain. Dengan adanya analisa matematik yang setepattepatnya dan dapat diandalkan. waktu. Masalah tersebut mungkin ditenui pada perencanaan. kapal laut. Faktor tersebut diperoleh dari hokum perbandingan spesifik. hanya dijelaskan sebagian. suatu alat paling berguna. Penggunaan penyelidikan dengan model untuk keadaan bentuk asli (atau lapangan) mengasumsikan bahwa apabila sifat tertentu kecepatan. Stabilitas dari bangunan-bangunan ini dan daya gunanya tergantung dari sifat aliran pada dan di sekeliling bangunan. Masalah lainnya dapat diselesaikan hanya setelah penyederhanaan tertentu telah dilakukan. Teori model mencoba membuktikan hukum perbandingan ini.1 Latar Belakang Banyak masalah aliran fluida yang tidak dapat diselesaikan secara matematik karena rumitnya sifat persamaan yang tercakup dank arena batas-batas daerah aliran. Oleh karena itu. perencana akan menemukan teknik model test. pelabuhan. penulis merumuskan masalah “Bagaimana persamaan diferensial parsial diterapkan dalam percobaan mekanika fluida khususnyamengenai kehilangan energi tekan?” . konstruksi.BAB I PENDAHULUAN I. Ukuran model yang pantas dari bangunan tersebut dibuat dan dicoba di bawah keadaan pengoperasian yang dapat diawasi dan hasilnya diharapkan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi pada bangunan yang sesungguhnya. percobaan yang sempurna dari sifat-sifat model dan bentuk asli (secara kualitas dan kuantitas) dapat dicapai dengan menggunakan satu atau lebih fackor tetap pada salah satu sistem.

3 Tujuan Penulisan daripada makalah ini bertujuan untuk: • Mempelajari penggunaan persamaan diferensial. khususnya persamaan diferensial parsial untuk pemecahan permasalahan sehari-hari • Menyelidiki bagaimana timbulnya beberapa hukum perbandingan dan kegunaannya yang relatif dalam kasus tertentu dari aliran fluida.4 Metode Penulisan Penulisan makalah ini menggunakan metode penulisan studi pustaka. . I.I. dimana permasalahan yang ada merupakan hasil daripada studi literatur dan juga studi dari internet.

Persamaan diferensial parsial digunakan untuk melakukan formulasi dan menyelesaikan permasalahan yang melibatkan fungsi-fungsi yang tidak diketahui. Kadang beberapa permasalahan fisis yang amat berbeda memiliki formulasi matematika yang mirip satu sama lain.BAB II TEORI DASAR II. elastisitas. elektrostatika. Persamaan diferensial parsial dijumpai dalam kaitan dengan berbagai masalah fisik dan geometris bila fungsi yang terlibat tergantung pada dua atau lebih peubah bebas. Peubah-peubah bebas dapat berupa waktu dan satu atau lebih koordinat di dalam ruang. dengan turunan-turunannya melalui variabel-variabel yang dimaksud. elektrodinamika. dengan kata lain metode untuk memperoleh solusi bagi persamaan yang berkaitan dengan masalah fisik yang dihadapi. kisaran penerapan persamaan diferensial parsial sangatlah besar dibandingkan dengan kisaran penerapan persamaan diferensial biasa. transfer panas. yang dalam matematika diartikan sebagai suatu hubungan yang mengaitkan suatu fungsi yang tidak diketahui. atau lebih umum segala macam proses yang terdistribusi dalam ruang. Suatu persamaan akan diturunkan sebagai model dari sistem fisik dan mengupas caracara untuk memecahkan masalah nilai awal dan masalah nilai batas. yang merupakan fungsi dari beberapa variabel bebas. Formulasi matematik kebanyakan permasalahan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi dapat dipresentasikan dalam bentuk persamaan diferensial parsial. aliran fluida. teori elektromagnetik dan berbagai bidang fisika lainnya penuh dengan masalah-masalah yang harus dimodelkan dengan persamaan differensial parsial. Sesungguhnya. . seperti penjalaran suara dan panas. atau terdistribusi dalam ruang dan waktu. Persamaan tersebut merupakan laju perubahan terhadap dua atau lebih variabel bebas yang biasanya adalah waktu dan jarak (ruang). Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa hanya sistem fisik yang paling sederhana yang dapat dimodelkan dengan persamaan diferensial biasa mekanika fluida dan mekanika padat.1 Persamaan Diferensial Parsial Persamaan diferensial parsial (PDP) adalah persamaan yang di dalamnya terdapat suku-suku diferensial parsial. yang merupakan dibentuk oleh beberapa variabel.

dan z.II. Pada sistem koordinatcartesian. perubahan setempat dari kecepatan karena sifat tak tetap dari aliran dan kenyataan bahwa kecepatan dari partikel fluida berubah sewaktu bergerak dari suatu lokasi ke lokasi yang lain dengan kecepatan yang berbeda. y. Percepatan dari partikel fluida timbul dari dua sumber.2b) ∂w ∂w ∂w ∂w +u +v +w = ∂t ∂x ∂y ∂z −g ∂h ∂z − 1 ∂p ρ ∂z + µ  ∂2u ∂2u ∂2u   + + 2 ρ  ∂x 2 ∂y 2 ∂z    Faktor yang tedapat di sebelah kiri dari persamaan ini adalah percepatan atau faktor inersia yang harus mengimbangi jumlah-jumlah gaya-gaya luar yang bekerja pada elemen fluida. memberikan persamaan Navier-Stokes dalam tiga arah utama. Dalam istilah matematika. hokum gerak Newton kedua yang digunakan pada massa satuan elemen fluida.2a) ∂v ∂v ∂v ∂ v +u +v +w = ∂t ∂x ∂y ∂ z −g ∂ h ∂ y − 1 ∂p ρ ∂y + µ  ∂2u ∂2u ∂2u    + + ρ  ∂x 2 ∂ 2 y ∂2 z   (2. v. jumlah derivasi dari u karena ini adalah fungsi dari kedua waktu dan jarak adalah .1) ∂u ∂u ∂u ∂u + uPercepatan +v +w = Percepatan ∂t ∂x ∂y ∂z setempat µ  ∂2 u ∂2 u ∂2 u  ∂h 1 ∂p  −Gaya gravitasi g − + Gaya +  2 + ∂x ρ ∂x ρ  ∂x Gaya lekat ∂z 2  ∂y 2   (badan) tekan (2. dan w dalam arah berturut-turut x. (2. seperti yang diberikan di sebelah kanan.2 Kesamaan Dinamis Persamaan dasar diferensial parsial yang menentukan aliran fluida tak dapat dimampatkan dengan viskositas tetap yang sesuai adalah persamaan Navier-Stokes. Derivasi dari persamaan tersebut merupakan teori yang mendasari pertimbangan model. yang mempunyai komponen-komponen kecepatan u.

akan sama secara kualitatif. Kesamaan gerak pada dua sistem yang bentuknya sama tidak mungkin dicapai kecuali kalau gaya-gaya yang diterapkan diatur sama. Gravitasi menimbulkan gaya badan sedangkan tekanan dan geseran menimbulkan berturut-turut gaya permukaan tegak lurus dan miring.2) adalah gravitasi berdasarkan atas letak dari partikel fluida dengan jarak tegak h di atas titik duga sementara. penyelesaian dari persamaan tersebut apabila terpengaruh.1) dan (2. Konsep dasar dari kesamaan hidrodinamis adalah persyaratan bahwa dua sistem dengan bentuk batas-batas yang sama mempunyai susunan aliran yang sama (keasaman gerak) pada waktu yang ditentukan. Keadaan ini dapat pula disimpulkan dari kenyataan bahwa persamaan Navier-Stokes dapat digunakan dalam kedua sistem di mana fluida adalah tak dapat dimampatkan.du ∂ u ∂ δ u x ∂ δ u y ∂ δ u z = + + + dt ∂ t ∂ δ x t ∂ δ y t ∂ δ z t atau du dt Jumlah Percepatan = ∂u ∂u ∂u ∂u + u +v + w ∂t ∂x ∂y ∂z Percepatan setempat Percepatan aliran Gaya-gaya yang bekerja pada partikel fluida yang komponennya dalam berbagai arah ditunjukkan di sebelah kanan persamaan (2. mempunyai viskositas tetap dan tegangan permukaan tidaklah penting. dengan menetapkan keadaan batas adalah sama. Gaya-gaya ini dijelaskan untuk partikel yang terdapat pada cairan yang sedang mengalir di atas kemiringan yang curam pada saluran terbuka.2) untuk membuat gaya inersia sama dan dengan demikian menemukan suatu penyelesaian yang unik untuk semua kesamaan sistem yang diatur dari bentuk yang sama. Sehingga. .1) dan (2. Latihan tersebut adalah untuk menentukan gabungan dari jumlah fisik yang akan dijalankan terhadap berbagai elemen gaya luar dari persamaan diferensial parsial (2. Perbedaan jumlah hanya timbul melalui perbedaan dalam pengaturan jumlah jumlah dari elemen-elemen fisik yang tercakup. Hal ini menyatakan secara tidak langsung bahwa segibanyak dari gaya-gaya harus menjadi sama apabila suatu faktor tetap digunakan dengan tepat pada salah satu dari gaya-gaya tersebut. tekanan dan gaya-gaya geser atau lekat. Ini adalah kesamaan dinamik.

Hal ini membutuhkan bahwa untuk keduanya  gL ∂h' 1 ∂p ' µ 1  ∂2u ' ∂2u ' ∂2u '  − − + + + ρo Vo L ρ'  ∂x'2  Vo 2 ∂x ' ρ' ∂x ' ∂ y '2 ∂z '2       p .21) dan (2. Dari persamaan (2. dinyatakan oleh sebelah kiri dari persamaan tersebut.5). yaitu kedua gerak fluida yang di bawah pertimbangan dapat menjadi sama hanya apabila penyelesaian tersebut adalah identik. Susunan yang sama dapat diperoleh dari (2. v’ = v/Vo. w’ = w/Vo.1)  L   ∂ V t'   o  =−g ( ) +V '  ∂ Vo u ' ∂ Vo u ' ∂ Vo u '   u'  + v' + w' o  ∂ ( x' L) ∂ ( y ' L) ∂ ( z ' L)    1 ∂( ρo ρ ' Vo 2 ) ' ( ) ( ) ( ) ∂( h' L) ∂( x L) − ρo ρ ∂( x L) ' + ∂ Vo u ∂ Vo u  µ 1  ∂ Vo u   + + ρo ρ '  ∂ ( x '2 L2 ) ∂ ( y '2 L2 ) ∂ ( z '2 L2 )    2 ' 2 ' 2 ' ( ) ( ) ( ) Dengan menghilangkan faktor tetap dari dalam kurang pendiferensiasian dari persamaan (2.2b) dan kesimpulan yang dibuat di bawah ini adalah sama.3) x’ = x/L.Vo2. p’ = p/ρ o. t’ = t/(L/Vo) z’ = z/L. diperlukan kesamaan dinamik antara bentuk asli (akhiran p) dan model (akhiran m) bahwa partikel-partikel fluida pada kedua sistem mepunyai kecepatan yang relative sama. u’ = u/Vo.5) ∂u ' ∂t ' =− +u' ∂u ' ∂x ' + v' ∂u ' ∂y ' + w' + ∂u ' ∂z ' gL ∂h ' Vo 2 ∂x ' − 1 ∂p ' ρ ' ∂x ' 1  ∂2 u ' ∂2 u ' ∂2 u '  + +   ρo Vo L ρ '  ∂x '2 ∂ y '2 ∂z '2    µ Persamaan gerak tersebut sekarang diubah menjadi suatu bentuk tanpa dimensi (dimensionless form).3) ke dalam (2.Dengan memilih suatu jumlah bentuk yang tetap L (panjang) jumlah kinematik tetap Vo (kecepatan) dan jumlah dinamik tetap ρ o (berat jenis). (2. ρ ’ = ρ /ρ o h’ = h/L Dengan mensubsitusikan (2.4) dan membagi keseluruhannya dengan Vo2/L (2. diuraikan dari segi masing-masing faktor tak tetap tanpa dimensi. kita dapat merumuskan parameter-parameter tanpa dimensi seperti berikut: (2.4) ∂ Vo u ' y’ = y/L. Hal ini memerlukan bahwa relatif dari persamaan yang di sebelah kanan secara identik harus sama.

disempurnakan dengan cara yang sama (ditambah persamaan kesinambungan dan keadaannya) akan universal untuk semua sistem yang demikian. dan hal ini hanya membutuhkan faktor-faltor bilangan tetap yang dirumuskan pada persamaan (2. tekanan dan geser) dan dengan menetapkan keadaan batas adalah sama.2). II.5) dan (2. penyajian tanpa dimensi dari data percobaan adalah suatu alat yang berguna dalam korelasi dan penggunaan data percobaan pada teknik hidrolik dan cabang-cabang teknik yang lain. menunjukkan arti dari gaya-gaya gravitasi relatif terhadap gaya-gaya inersia. R = ρ o Vo L/µ menunjukkan arti dari gaya-gaya lekat (gesekan relative terhadap gaya-gaya inersia. dikenal sebagai bilangan Froude F. Dengan menunjukkan perbandingan (model ke bentuk asli) dari . susunan aliran tersebut akan identik. Oleh karena itu. Untuk Dari pengembangan di atas. gL ∂h' 1 ∂p ' µ 1  ∂2u ' ∂2u ' ∂2u '    − − + + +  Vo 2 ∂x' ρ' ∂x ' ρo Vo L ρ'  ∂x'2 ∂ y '2 ∂ z '2   m  Umumnya perbedaan temperatur fluida tidak menimbulkan perubahan berat jenis yang berarti pada fluida tak dapat dimampatkan pada ρ memenuhi tanda-tanda tersebut (2. Penyelesaian persamaan (2.6)  gL      =  gL  V 2   2  o  p  Vo m dan   µ  µ    =   ρo Vo L   ρo Vo L   p  m o = ρ atau ρ ’ = 1.3 Arti Fisik dari Hukum Model Pengembangan tersebut di atas telah menunjukkan dengan jelas bahwa untuk mencapai kesamaan dinamik dalam dua sistem fluida yang bentuknya sama dengan berat jenis dan viskositas yang tetap. faktor Vo2/gL. bilangan Froude dan Reynolds harus mempunyai nilai yang sama dalam kedua sistem apabila gravitasi dan gesekan adalah hanya gayagaya luar yag bekerja. Dengan demikian menetapkan bilangan Froude dan bilangan Reynolds adalah sama pada setiap sistem yang sama bentuknya dari suatu aliran tak dapat dimampatkan (kecuali gaya-gaya luar selain dari gravitasi.3) untuk memperoleh nilai kuantitatif untuk ukuranukuran yang berbeda dan keadaan pengoperasian pada semua anggota dari sistem. Bilangan Reynolds.

Tidak diketahui fluida memenuhi keadaan tersebut. Pendekatan yang paling logis adalah mencari kesamaan sesuai dengan gaya yang lebih dominan (gesekan atau gravitasi). tekanan hidrostatik ρs.. suatu model dari sepanjang sungai (atau dari suatu bendungan) yang akan dibangun dengan skala 1 : 25. II. dan memeriksa pengaruh yang lain melalui beberapa cara yang lain. Oleh karena itu. Sehingga ρ = ρs + ρd . kesamaan dinamik memerlukan bahwa: Fr = vr 2 g r Lr =1 Rr = vr Lr υr =1 Secara bersamaan dimana υ = µ /ρ Dari hukkum Froude.4 Model Reynolds Tekanan pada suatu objek yang terletak pada fluida yang sdang mengalir dapat dianggap mempunyai 2 komponen.1mencantumkan beberapa daftar dari fluida alam yang viskositasnya rendah. Bagian satu.setiap jumlah yang diinginkan dengan akhiran r. persyaratan Froude dan Reynolds membutuhkan perbandingan viskositas kinematik dari fluida model dengan bentuk asli adalah 1 : 25Tabel 3. vr = υr/Lr Sehingga untuk kedua criteria vr = Lr3/2 Ambil sebagai contoh. yaitu tekanan yang akan dialami oleh objek apabila fluida tidak sedang mengalir. gaya-gaya lain akan pula dipertimbangkan. vr = Lr 2 1 for g r = 1 Dan dari hukum Reynolds. Untuk memenuhi kesamaan dinamik yang sempurna. dan yang lain tekanan dinamik ρd adalah bertambahnya tekanan yang ditimbulkan sebagai akibat dari gangguan aliran. perlu untuk mencari pencapaian kesamaan dinamik melalui cara lain. Pertimbangan menurut teori dan hipotesa yang menuntun pendekatan ini. akan dibahas dalam subpasal berikut ini.

Bayangkan suatu partikel P di dalam lapangan aliran dari suatu ruang fluida tak terbatas. seretan lekat (viscous drag) pada . Contoh-contoh dari penelitian aliran di mana hokum Reynolds adalah penting. H akan menjadi bilangan tetap.9) Persamaan 2.1) tekanan hidrostatik pada P adalah ρ g(H – h). Jika partikel tersebut pada jarak tegak h di atas titik duga sementara (Gambar 2. menghasilkan ∂ u ∂ u ∂ u ∂ u 1 ∂ d p +u +v +w =− ∂ t ∂ x ∂ y ∂ z ρ ∂x + µ  ∂2u ∂2u ∂2u    + + 2 2 ρ  ∂x ∂ y ∂2 z   (2.1 permukaan fluida tidak ada atau tidak penting. Sama halnya dapat dibenarkan untuk aliran tak dapat dimampatkan dimana fluida secara keseluruhannya terdapat di dalam batas-batas tetap dan tidak ada permukaan yang – bebas (kena atmosfer). Oleh karena itu persamaan yang disempurnakannya tidak akan mengandung bilangan Froude. jumlah tekanan dapat ditunjukkan dengan: P= bilangan tetap-ρ gh+pd Misalnya. dengan mensubstiusikan (2.8) ke dalam persamaan gerak (2. Sehingga kesamaan dinamik untuk objek yang terbenam pada aliran tak dapat dimampatkan didalam mana perbedaan fluida (misalnya gelombang-gelombang gravitasi) tidak dihasilkan.9 adalah terpisah sepenuhnya dari faktor gravitasi. adalah kehilangan gesek kulit (pipa). Untuk keadaan aliran dimana perbedaan dari Permukaan Fluida H P h (H-h) Titik Duga Gambar 2. hanya diperoleh dengan model sesuai dengan standar Reynolds. dimana H adalah ketinggian fluida di atas titik duga sementara yang sama. Oleh karena itu.1).

Pengembangan diatas menuju ke pembuktian standar Reynolds telah mengasumsikan keadaan fluida Newtonian. aliran pada media yang porus. perbandingan kecepatan adalah kira-kira berbanding terbalik dengan perbandingan linear. Beberapa dari contoh-contoh ini memerlukan pertimbangan dari keadaaan dinamik yang lain seperti tegangan permukaan (surface tension) Untuk Perbandingan Kecepatan Perbandingan Waktu Perbandingan debit Perbandingan Gaya Perbandingan Tekanan v L Rr = r r = 1 υr υ vr = r Lr tr = Lr L2 = r vr υr υ Qr = Ar vr = Lr 2 r = υ r Lr Lr v Pr = ρ r Lr 3 r = ρ rυ r 2 tr Pr ρ rυ r 2 pr = = Ar Lr 2 Kesulitan praktis yang pokok dengan model Reynold adalah bahwa kecepatan yang lebih tinggi secara nyata diperlukan dalam model daripada dalam bentuk asli. pelumasan. dan lain-lain. Ini dapat dilihat dari kenyataan bahwa pada banyak model perbandingan viskositas adalah kira-kira satu. . tahanan terhadap objek yang bergerak melalui badan aliran yang besar (misalnya kapal selam).objek-objek yang terbenam. dan oleh karena itu. Dalam hal ini secara teknik dan ekonomi tidak praktis untuk memperoleh kecepatan model untuk menghasilkan dinamik yang benar. aliran melalui mulut pipa dan lubang. Pada contoh-contoh ini gaya lekat mempengaruhi gaya gravitasi.

yang dirumuskan sebagai kehilangan tinggi tekan hL = CL (v2/2g) di mana v adalah kecepatan rat-rat pada pipa yang dipertimbangkan.32 x 10-6 m2 (det) R = 19. Kolom 2 dan 3 dari tabel di bawah ini memberikan hasil percobaan dari serangkaian percobaan pada 20 cm katup pintu di dalam jalur pipa 20 cm dengan menggunakan air pada 24OC.31/det (240C. Tentukan kehilangan tinggi tekan yang diharapkan apabila besarnya aliran adalah 28.1) 2 2g    × 1 =12 cm air  2g  2 . Apabila aliran adalah 28. biasanya diuraikan dari segi koefisien kehilangan CL. υ = 0.2 x 104. sehingga CL= 3. Pada semua percobaan piringan katup adalah 7 cm dari dudukan.0 ×  π(0. Penyelesaian Kolom 5 dan 6 menunjukkan perbedaan koefisien kehilangan tinggi tekan dengan bilangan Reynold berdasarkan kecepatan yang dipertimbangkan pada pipa dan ukuran bukaan katup. K ehilangan tinggi tekan yang diharapkan =(3.31/detik pada jalur pipa yang sama dengan katup dan bukaan yang sama.0)  Q v2 = 3. Perbedaan tersebut sama dengan f terhadap R untuk pipa. CL adalah tetap dan terpisah dari bilangan Reynolds. Pada daerah turbulen penuh pusaran terbentuk penuh dan perpindahan momentum sematamata ditentukan oleh viskositas. Pada suatu bilangan Reynolds yang tinggi.Contoh soal Kehilangan tinggi tekan yang melewati suatu katup pintu.0. apabila air 94OC mengalir melaluinya.

Jakarta:Erlangga. dapat disimpulkan bahwa persamaan diferensial parsial dapat digunakan dalam aplikasi percobaan mekanika fluida khusunya dalam perhitungan kehilangan tinggi tekan. 2004. Bruce R.M. Jakarta: Erlangga. Young. Munson. 1983. Theodore H.K. Dake. Donald F. Mekanika Fluida Edisi IV. Okishi. Hidrolika Teknik Edisi Kedua.BAB IV KESIMPULAN Berdasarkan pembahasan dalam makalah ini. BAB IV DAFTAR PUSTAKA J. .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->