P. 1
Syarat Kepemimpinan Dalam Islam

Syarat Kepemimpinan Dalam Islam

|Views: 9|Likes:
Published by Ahmad Adien

More info:

Published by: Ahmad Adien on May 09, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/12/2013

pdf

text

original

Syarat Kepemimpinan Dalam Islam

OPINI | 14 November 2009 | 23:05 7471 2 Nihil

Dan jadikanlah kami sebagai imam (pemimpin) bagi orang-orang yang bertaqwa´ [QS Al-Furqan : 74] Dewasa ini Islam memiliki banyak pandangan atau pendapat mengenai Kepemimpinan. Wacana kepemimpinan yang berkembang ini, di awali setelah Rasulullah SAW wafat. Masyarakat Islam telah terbagi-bagi kedalam banyak kelompok atau golongan. Kelompokkelompok Islam ini terkadang satu sama lain saling menyalahkan atau bahkan mengkafirkan. Perihal mengenai kepemimpinan dalam Islam merupakan suatu wacana yang selalu menarik untuk didiskusikan. Wacana kepemimpinan dalam Islam ini sudah ada dan berkembang, tepatnya pasca Rasulullah SAW wafat. Wacana kepemimpinan ini timbul karena sudah tidak ada lagi Rasul atau nabi setelah Nabi Muhammad SAW wafat. Dalam firman Allah SWT dikatakan bahwa Al-qur¶an itu sudah bersifat final dan tidak dapat diubah-ubah lagi. Sehingga Rasulullah SAW adalah pembawa risalah terakhir dan penyempurna dari risalah-risalah sebelumnya. ³ Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-qur¶an) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya.´(Q.S Al-An¶am:115). Tidaklah mungkin akan ada seorang nabi baru setelah Rasulullah SAW. Karena ketika ada seorang nabi baru setelah Rasulullah SAW maka akan ada suatu risalah baru sebagai penyempurna dari risalah sebelumnya, sehingga artinya Al-qur¶an tidaklah sempurna dan Allah menjadi tidak konsisten terhadap pernyataannya yang ia sebutkan dalam ayat di atas. Ketika Rasulullah SAW wafat, berdasarkan fakta sejarah dalam Islam, Umat Islam terpecah belah akibat perdebatan mengenai kepemimpinan dalam Islam, khususnya mengenai proses pemilihan pemimpin dalam Islam dan siapa yang berhak atas kepemimpinan Islam. Sejarah mencatat bahwa kepemimpinan Islam setelah Rasulullah SAW wafat dipimpin oleh Abu Bakar, Umar Bin Khattab, Utsman Bin Affan, Ali Bin Abi Thalib, Muawiyah, dan Bani Abbas. Setelah dinasti Abbasyiah kepemimpinan Islam terpecah pecah ke dalam kesultankesultanan kecil. Permasalahan kepemimpinan ini membuat Islam menjadi terfragmentasi dalam kelompokkelompok, diantaranya yang terbesar adalah adanya kelompok Sunni dan Syiah. Kedua kelompok besar ini memiliki konsep dan pahaman kepemimpinan yang sangat jauh berbeda. Kedua kelompok ini memiliki dalil dan argumentasi yang sama-sama menggunakan sumber Islam yaitu Al-qur¶an dan Sunnah. Kedua kelompok ini terkadang saling berseteru satu sama lain, dan juga ada yang sampai mengkafirkan satu sama lain. Kondisi ini sangatlah tidak sehat bagi perkembangan kaum muslimin, harusnya mereka dapat berargumentasi secara rasional dan logis. Sehingga kaum muslim dapat melihat dan menilai apakah proposisi-proposisi yang dikeluarkan merupakan suatu kebenaran atau tidak. Pada dasarnya sejarah tak bersih dari peristiwa kelam. Sejarah setiap bangsa, dan pada dasarnya sejarah umat manusia, merupakan himpunan peristiwa menyenangkan dan tidak menyenangkan. Pasti begitu. Allah menciptakan manusia sedemikian sehingga manusia tidak bebas dari dosa. Perbedaan yang terjadi pada sejarah berbagai bangsa, komunitas dan agama terletak pada proporsi peristiwa menyenangkan dan tidak menyenangkan, bukan pada fakta

Pemimpin setelah Rasul harus memiliki kualitas spiritual yang sama dengan Rasul. Ia suatu jalan raya yang melayani semua orang dan setiap orang. maka pastilah Rasulullah SAW dan Imam Ali Bin Abi Thalib beserta keturunannya tadi terbebas dari segala bentuk dosa. Keuntungannya bersifat universal dan serba mencakup. maka kemungkinan melakukan dosa pada diri yang bersangkutan akan menjadi nol. Ketika pemimpin memiliki kualitas spiritual yang sama dengan rasul maka pastilah ia terbebas dari segala bentuk dosa.. yaitu : Pertama. dan juga harus siap menerima segala konsekuensi yang timbul setelah kita menelaah sejarah tersebut. Dimanakah Imam Mahdi tersebut? dan siapakah yang memimpin umat Islam di zaman ini? Untuk menjawab pertanyaan ini. budaya. yang disebut sebagai Imam akhir zaman. Oleh sebab itu ia haruslah mengetahui cita rasa spritual yang sesuai dengan realitasnya. agar ketika menyampaikan sesuatu pesan maka ia paham betul akan makna yang sesungguhnya dari realitas (cakupan) spiritual tersebut. Dengan demikian jelas bahwa setelah Rasulullah SAW wafat. Allah adalah hakim mutlak seluruh alam semesta dan segala isinya. karena alasan agama. maka pastilah ia tahu akan kualitas dari dunia ini yang sering menjebak manusia. Syarat-syarat Kepemimpinan Dalam Islam Kepemimpinan setelah Rasulullah SAW ini. Penerapan sifat keadilan oleh seorang pemimpin ini dapat dilihat dari cara ia membagi ruang-ruang ekonomi. Semakin kuat iman dan kesadaran mereka akan akibat dosa. pemilik kekuasaan. Kondisi ini juga akan berkonsekuensi pada pengetahuannya yang sesuai dengan realitas dari wujud atau pun suatu maujud. maka seluruh langit dan bumi ini ada. pemberi hukum. semakin kurang mereka untuk berbuat dosa. ´Karena keadilanlah. Proses memahami sejarah tidak boleh berlandaskan suka atau tidak suka. yakni Imam Ali Bin Abi Thalib. terbebas dari segala bentuk dosa.´ Imam Ali Bin Abi Thalib mendefiniskan keadilan sebagai menempatkan sesuatu pada tempatnya yang layak. politik. merupakan pemimpin yang memiliki kualitas spiritual yang sama dengan Rasul. ada 4 dasar falsafi kepemimpinan kelompok dalam Islam (syi¶ah). Allah adalah Malik al-Nas. Keadilan bak hukum umum yang dapat diterapkan kepada manajemen dari semua urusan masyarakat. yang mana akhir dari kepemimpinan tersebut adalah Imam Mahdi. Jika derajat keimanan telah mencapai intuitif (pengetahuan yang didapat tanpa melalui proses penalaran) dan pandangan bathin. Manusia harus dipimpin oleh kepemimpinan Ilahiyah. sehingga manusia mampu menghayati persamaan antara orang melakukan dosa dengan melemparkan diri dari puncak gunung atau meminum racun. Misalkan tidak ada diskriminasi dengan memberikan hak ekonomi (berdagang) pada yang beragama Islam. Dengan adanya kondisi telah merasakan cita rasa realitas spiritual. maka ummat Islam sebenarnya memiliki seorang pemimpin. Terkecuali memang dalam berdagang orang tersebut melakukan kecurangan maka ia diberikan hukuman. sementara yang beragama kristen tidak diberikan hak ekonomi. pemegang kedaulatan. ini berlaku bagi agama apapun.bahwa mereka. serta harus memiliki sifat adil. hanya memiliki peristiwa menyenangkan saja atau tidak menyenangkan saja. Sistem hidup yang bersumber pada sistem ini disebut . Akan tetapi sekarang ini.[14] Saya memahami apa yang dikatakan Muthahhari derajat keimanan telah mencapai intuitif dan pandangan bathin ini adalah sebagai telah merasakan cita rasa realitas spiritual. Ketika pemimpin tersebut mengetahui realitas dari seluruh alam. memiliki pengetahuan yang sesuai dengan realitas. Kemudian dilanjutkan oleh beberapa keturunannya. Kemudian seorang pemimpin haruslah juga memiliki sifat adil. Rasulullah SAW pernah berkata bahwa. umat manusia berbeda dalam hal keimanan dan kesadaran mereka akan akibat dari perbuatan dosa. dsb pada rakyat yang dipimpinnya. Menurut Murtadha Muthahhari. tidak terjebak dan menjauhi kenikmatan dunia. Karena pemimpin merupakan patokan atau rujukan umat Islam dalam beribadah setelah Rasul.

maka kepemimpinan Islam haruslah di pegang oleh seorang ulama (faqih) yang memenuhi syarat-syarat. matang secara kejiwaan dan ruhani. Kedua. al shalah. Oleh karena seorang faqih haruslah orang yang lebih tahu ten tang hukum Illahi. Supaya hukum dapat menjamin kebahagiaan dan kebaikan manusia. tetapi juga pelaksana qanun itu sendiri. diperlukan pelaksana. dan bersih dari watak buruk. Tidak sembarang manusia dapat menjadi faqih (ulama). menyebutkan bahwa secara terperinci seorang faqih harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : Faqahah. kepemimpinan ummat dilanjutkan oleh para imam yang diwasiatkan oleh Rasulullah SAW dan Ahlul Baitnya. Jalaluddin Rakhmat dalam buku Yamani yang berjudul. maka datanglah zaman Imam. dan tadayyun. Dengan ini terlihat bahwa seorang fuqaha itu tidaklah boleh untuk berbuat salah. kepemimpinan manusia yang mewujudkan hakimiah Allah dibumi adalah Nubuwwah. Insya Allah. . para faqih diberikan beban menjadi khalifah. dan mewakilkan kepemimpinannya kepada Nawab alImam (wakil Imam). mengetahui ilmu yang berkaitan dengan pengaturan masyarakat. garis Imamah melanjutkan garis Nubuwwah dalam memimpin ummat. yakni ketika dia bersembunyi didunia fisik. dan yang terakhir adalah Muhammad ibn Al-Hasan Al Mahdi Al Muntazhar. Nabi tidak saja menyampaikan Al-qanun Al-Ilahi dalam bentuk kitabullah. dan ghaibah kubra.´ menurut Khomeini. yaitu setelah Ali Ibn Muhammad wafat. menyelamatkan masyarakat manusia dari penindasan. Sebelum akhir zaman tiba. Setelah lewat zaman Nabi. Kepemimpinan Islam berdasarkan atas hukum Allah. Kafa¶ah : memiliki kemampuan untuk memimpin ummat. sampai kedatangannya kembali pada akhir zaman. Ketiga. Jumlah Imam ini ada 12 (dua belas). Keempat. Imam Mahdi mengalami dua ghaibah. Manusia harus melewati proses-proses pengujian baik secara intelektual maupun spiritual. filsafat Politik Islam. Para Nabi diutus untuk menegakkan keadilan.sistem Islam. sedangkan sistem yang tidak bersumber pada kepemimpinan Ilahiyah disebut kepemimpinan Jahiliyah. cerdas. selain persyaratan umum seperti kecerdasan dan kemampuan mengatur (mengorganisasi). yang sekarang dalam keadaan gaib. Hal ini ditunjukkan dengan sifat istiqamah. ´Seperangkat hukum saja tidak cukup untuk memperbaiki masyarakat. mencapai derajat mujtahid mutlak yang sanggup melakukan istinbath hukum dari sumber-sumbernya. Hanya ada dua pilihan kepemimpinan Allah atau kepemimpinan Thagut. Seorang fuqaha sebenarnya adalah wujud dari hukum Islam itu sendiri.[18] Menurut Khomeini. Nabi telah menegakkan pemerintahan Islam dan Imamah keagamaan sekaligus. pertama adalah Imam Ali Bin Abi Thalin. Pada ghaibah kubra inilah kepemimpinan dilanjutkan oleh para faqih. ada dua syarat mendasar lainnya bagi seorang fuqaha yaitu pengetahuan akan hukum dan keadilan. Mudah-mudahan kita selalu mendapatkan bimbingan dan hidayah-Nya. Setelah zaman Nabi berakhir dengan wafatnya Rasulullah SAW. hingga akhir zaman tiba. ¶adalah : memperlihatkan ketinggian kepribadian.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->