P. 1
rasio

rasio

|Views: 267|Likes:
Published by keirencia

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: keirencia on May 09, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/17/2014

pdf

text

original

Likuiditas dan Kesehatan Bank

A. Pengertian Likuiditas
Secara umum, definisi likuiditas adalah kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dana (cash flow) dengan segera dan dengan biaya yang sesuai.

Beberapa penulis memberikan pengertian manajemen likuiditas bank antara lain sebagai berikut : a. Duane B.Graddy & Austin H.Spencer, William H.Brunsen ³ Liquidity management involves the estimation of the demand for funds by the public and the provisions of sufficient reserves to meet these needs ³ b. Oliver G.Wood, Jr dan Robert J. Porter : ³ Liquidity management involves the continuous of, and provision for, a bank¶s immediate, short term or seasonal, as well as long-term (cyclical and seculer) cash reqirements

Sedangkan pengertian likuiditas bank itu sendiri menurut : a. Joseph E. Burn ³ Bank liquidity refers to the ability of a bank to raise a certain a mount of funds at a certain cost within a certain a mount of time ³ Likuiditas bank menurut pengertian ini terdiri dari 3 unsur yauitu : jumlah dana, biaya danadan waktu yang dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan likuiditas bank. b. Oliver G. Wood, Jr dan Robert J. Porter ³ Liquidity is bank¶s ability to meet deposit withdrawals, maturing liabilities, and loan request without delay ³ c. William M. Glavin ³ Liquidity means having sufficient source of funds available to met all obligations ³

B. Ketentuan Likuiditas menurut BI

Kegiatan usaha bank umum di Indonesia pada prakteknya dapat dibedakan dalam dua jenis kategori yaitu Bank Devisa (Foreign Exchange Bank) dan Bank Non Devisa (Non Foreign Exchange Bank). Bank devisa adalah bank yang dalam kegiatan usahanya dapat memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran baik dalam mata uang rupiah maupun dalam valuta asing (valas). Hal tersebut berarti bahwa suatu bank devisa dapat melakukan kegiatan usahanya baik di sisi passiva maupun di sisi aktivanya dalam mata uang rupiah maupun dalam valas. Sedangkan Bank Non Devisa hanya dapat melakukan kegiatannya dalam rupiah saja.

Ketentuan likuiditas wajib minimum yang ditetapkan Bank Indonesia dapat dibedakan dalam dua jenis likuiditas wajib yaitu likuiditas dalam rupiah dan likuiditas dalam valas. Dengan demikian bagi Bank Devisa disamping likuiditas rupiah harus pula menghitung likuiditas dalam valas.

Ketentuan likuiditas wajib minimum sebelumnya adalah 15% dari jumlah kewajiban yang dapat dibayar yang ditetapkan sejak dari tahun 1997 sampai dengan kebijakan Pakto 27, 1988.

Ketentuan Likuiditas sebelum Pakto 27, 1988 Likuiditas wajib yang harus dipelihara oleh setiap Bank sebelum Pakto 27 adalah minimum sebesar 15% yang dihitung berdasarkan perbandingan antara jumlah alat-alat likuid dengan jumlah kewajiban yang dapat dibayar dalam satu masa laporan. Ketentuan perhitungan minimum adalah : Jumlah alat likuid dalam masa laporan x 100% = > 15 %

Jumlah kewajiban yng dapat dibayar dalam masa laporan

Komponen alat likuid terdiri atas : a. Kas (uang kartal + uang logam + commemorative coin)

b. Giro pada Bank Indonesia c. Setoran Jaminan Kliring

Dalam kaitannya dengan pemeliharaan likuiditas tersebut minimal 5% dari kewajiban yang dapat dibayar harus disimpan sebagai Giro pada bank Indonesia. Goro ini merupakan Rekening Giro Wajib bagi setiap bank pada bank Indonesia.

Komponen kewajiban yang dapat dibayar menurut ketentuan sebelum Pakto 27, 1988 terdiri atas : a. Giro b. Call Money c. Tabungan dan Deposito Berjangka dengan ketentuan: 1/3 bagi bank-bank swasta, BPD dan bank-bank asing 2/3 bagi bank-bank pemerintah

d. Kewajiban-kewajiban lainnya yang segera dapat dibayar

Ketentuan Likuiditas menurut Pakto 27, 1988 Dengan dikeluarkannya kebijakan 27 Oktober 1988, maka ketentuan likuiditas wajib minimum bagi bank yang berlaku sejak tahun 1977 diturunkan dari 15% menjadi 2%. Perubahan penghitungan likuiditas bank tersebut di samping angka persentasenya mengalami penurunan juga komponen alat likuid dan kewajiban bank lebih disederhanakan penghitungannya. Selanjutnya, kewajiban bank memiliki saldo giro wajib pada Bank Indonesia minimum sebesar 5% dari jumlah kewaibannya tidak lagi diberlakukan. Oleh karena itu, pengaturan likuiditas wajib 2% diserahkan kepada kebijakan manajemen likuiditas masing-masing bank dengan ketentuan total Kas dan Giro pada Bank Indonesia tidak boleh di bawah 2% dari dana pihak ketiga yang dihitung rata-rata harian dalam satu minggu.

Perhitungan Likuiditas Biaya Perhitungan likuiditas biaya wajib minimum bagi bank dilakukan dengan menggunakan formulir yang telah distandardisasi BI. Formulir tersebut diisi berdasarkan posisi masingmasing bank pada setiap masa pelaporan dan disampaikan kepada Bank Indonesia,

Urusan Pengawasan dan Pembinaan Bank-Bank. Selanjutnya, kesulitan bahi pihak-pihak yang tidak memiliki akses langsung untuk memperoleh data dan informasi mengenai keuangan suatu bank, tentunya sulit untuk melakukan penghitungan dan analisis posisi likuiditas suatu bank berdasarka data bank secara akurat. Satu-satunya cara untuk menghitung dan mengetahui keadaan likuiditas suatu bank bagi pihak luat dapat dilakukan dengan menggunakan data sekunder yaitu laporan keuangan bank yang telah dipublikasikan. Analisis ini barangkali tidaklah begitu akurat bila mengunakan data laporan keuangan yang diumumkan tersebut karena dalam neraca singkatnya tidak secara terinci dicantumkan pos-pos yang dibutuhkan untuk menghitung komponen-komponen dalam ketentuan perhitungan likuiditas menurut Bank Indonesia. Oleh karena itu, hasil yang diperoleh tidak menggambarkan keadaan likuiditas bank yang sesungguhnya atau dapat terjadi misleading karena antara alat-alat likuid yang wajib dipelihara dengan dana pihak ketiga bank berada pada posisi tangal yang sama.

1. Komponen alat Likuid a. Kas Pos kas terdiri atas: uang kertas, uang logam, dan commemorative coin yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia (menurut nilai nominal). b. Giro pada Bank Indonesia Yang dimasukkan ke dalam pos ini adalah giro kepunyaan bank pelapor pada BI. Jumlah tersebut tidak boleh dikurangi dengan kredit yang diberikan oleh BI kepada Bank bank pelapor dan tidak boleh ditambah dengan fasilitas kredit yang sudah disetujui BI dan belum digunakan.

2. Komponen pada Bank Indonesia Yang dimaksud ke dalam komponen dana pihak ke tiga adalah kewajiban-kewajiban yang tercatat ke dalam rupiah kepada pihak ke tiga bukan bank, baik kepada penduduk maupun bukan penduduk Indonesia yang terdiri atas : a. Giro. Yang dimasukkan kedalam pos ini adalah semua simpanan dalam rupiah yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan mengunakan cek, surat perintah pembayaran lainnya atau dengan cara pemindah bukuan. Giro yang bersaldo debet tidak dimasukkan dala pos ini melainkan pada pos

pinjamanyang diberikan, sebaliknya rekening pinjaman yang diberikan yang bersaldo kredit dimasukkan kedalam pos ini.

b. Deposito Berjangka Yang dimaksudkan ke dalam pos ini adalah deposito berjangka dan deposito asuransi dan deposito call, dalam rupiah yang penarikannya dapat dilakukan dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan perjanjian antara pihak ketiga dengan bank pelapor. Dengan deposito berjangka yang sudah jatuh waktu tetap dimaksukkan ke dalam pos ini.

c. Sertifikat Deposito Sertifikat deposito adalah simpanan berjangka atas pembawa yang dikeluarkan oleh bank sebagai bukti simpanan yang dapat diperjual belikan atau dipindah tangankan kepada pihak ketiga lainnya. Yang dimasukkan ke dalam pos ini adalah simpanan dalam rupiah yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat-syarat dan cara-cara tertentu, misalnya simpanan-simpanan yang penarikannya dilakukan dengan menggunakan buku tabungan atau kuitansi.

d. Kewajiban Jangka Pendek Lainnya Didalam pos ini dicatat semua kewajiban baik kepada pemerintah seperti Pph, Pbb dan pajak-pajak lainnya yang masih harus disetorkan ke kas Negara, maupun kewajiban kepada pihak ketiga bukan bank berupa hutang-hutang jangka pendek seperti titipan dari pihak ketiga lainnya dan kewajiban pembelian kembali Surat Berharga Pasar Uang (SBPU) yang dijual dengan syarat repurchase agreement dengan jangka waktu sampai dengan 15 hari.

C. Arti Pentingnya kesehatan Bank Pengertian kesehatan bank a. Kesehatan bank merupakan suatu batasan yang sangat l as, karena kesehatan u bank memang mencakup kesehatan suatu bank untuk melaksanakan seluruh kegiatan usaha perbankannya.

b. Kemampuan suatu bank untuk melakukan kegiatan operasional perbankan secara normal & mampu memenuhi semua kewajibannya dengan baik dan sesuai dengan peraturan perbankan yang berlaku.

Bank yang tidak sehat, bukan hanya membahayakan dirinya sendiri, akan tetapi pihak lain. Penilaian kesehatan bank amat penting disebabkan karena bank mengelola dana dari masyarakat yang dipercayakan kepada bank. Masyarakat pemilik dana dapat saja menarik dana yang dimilikinya setiap saat dan bank harus sanggup mengembalikan dana yang dipakainya jika ingin tetap dipercaya oleh nasabahnya. Untuk menilai suatu kesehatan bank dapat dilihat dari berbagai segi. Penil ian ini a bertujuan untuk menentukan apakah bank tersebut dalam kondisi yang sehat, cukup sehat, kurang sehat atau tidak sehat. Bagi bank yang sehat agar tetap mempertahankan kesehatannya, sedangkan bank yang sakit untuk segera mengobati penyakitnya. Bank Indonesia sebagai pengawas dan pembina bank-bank dapat memberikan arahan atau petunjuk bagaimana bank tersebut harus dijalankan atau bahkan kalau perlu dihentikan kegiatan operasinya. Standar untuk melakukan penilaian kesehatan bank telah ditentukan pemerintah melalui Bank Indonesia. Kepada bank-bank diharuskan membuat laporan baik yang bersifat rutin ataupun secara berkala mengenai seluruh aktivitasnya dalam suatu periode tertentu. Dari laporan ini dipelajari dan dianalisis, sehingga dapat diketahui kondisi kesehatannya akan memudahkan bank itu sendiri untuk memperbaiki kesehatannya. Penilaian kesehatan perbankan dilakukan setiap periode. Dalam setiap penilaian ditentukan kondisi suatu bank. Bagi bank yang sudah dinilai sebelumnya dapat pula dinilai apakah ada peningkatan atau penurunan kesehatannya. Bagi bank yang menurut penilaian sehat atau kesehatannya terus meningkat tidak jadi masalah, karena itulah yang diharapkan dan supaya tetap dipertahankan terus, akan tetapi bagi bank yang terus-menerus tidak sehat, maka harus mendapatkan pengarahan atau bahkan sangsi sesuai dengan peraturan yang berlaku

Bank Indonesia sebagai pengawas dan Pembina perbankan dapat saja menyarankan untuk melakukan berbagai perbaikan. Perbaikan-perbaikan yang akan dilakukan meliputi perubahan manajemen, melakukan penggabungan seperi merger, konsolidasi, akusisi atau malah dilikuidir (dibubarkan) keberadaannya jika memang sudah parah kondisi bank tersebut. Pertimbangan untuk hal ini sangat tergantung dari kondisi yang dialami bank yang bersangkutan. Jika kondisi bank sudah sedemikian parah, namun masih memiliki beberapa potensi, maka sebaiknya dicarikan jalan keluarnya dengan model penggabungan usaha dengan bank lainnya. Sedangkan langkah likuidasi merupakan jalan keluar terakhir dalam rangka menyelamatkan uang masyarakat. Kesehatan bank memang mencakup kesehatan bank untuk melaksanakan seluruh kegiatan usaha perbankannya kegiatan tersebut meliputi : 1. Kemampuan menghimpun dana masyarakat dari lembaga lain dan dari modal sendiri 2. Kemampuan mengolah dana 3. Kemampuan untuk menyalurkan dana ke masyarakat 4. Kemampuan memenuhi kewajiban kepada masyarakat, karyawan, pemilik modal dan pihak lain 5. Pemenuhan peraturan perbankan yang berlaku D. Beberapa penilaian kesehatan Bank Adapun manfaat penilaian kesehatan Bank yaitu :  Bank : salah satu sarana dalam menetapkan strategi usaha  BI : pengawas dan pembina perbankan untuk melakukan berbagai perbaikan. Faktor-faktor penilaian kesehatan bank dilihat dari beberapa rasio antara lain : a. Rasio Likuiditas Rasio likuiditas mengukur kemampuan likuiditas jangka pendek perusahaan dengan melihat aktiva lancar peruahaan relativ terhadap hutang lancarnya (hutang dalam hal ini merupakan kewajiban bank). Suatu bank dikatakan liquid apabila bank bersangkutan dapat memenuhi kewajiban utang-utangnya, dapat membayar kembali semua depositonya, serta dapat memenuhi permintaan kredit yang diajukan tanpa terjadi penangguhan. Oleh karena itu, bank dapat dikatakan liquid apabila : 

Bank tersebut memiliki cash assets sebesar kebutuhan yang digunakan untuk memenuhi likuiditasnya  Bank tersebut memiliki cash assets yang lebih kecil dari kebutuhan likuiditasnya, tetapi mempunyai aset atau aktiva lainnya (misal surat berharga) yang dapat dicairkan sewaktu-waktu tanpa mengalami penurunan nilai pasarnya.  Bank tersebut mempunyai kemampuan untuk menciptakan cash asset baru melalui berbagai bentuk hutang. Rasio yang rendah menunjukan resiko likuiditas yang tinggi, sedangkan rasio yang tinggi mennjukan adanya kelebihan aktiva lancar, yang akan mempunyai pengaruh yang tidak baik terhadap profitabilitas perusahaan. Dalam rasio likuiditas, rasio yang dapat diukur antara lain: quick ratio, banking ratio, dan loans to assets ratio.

y

Quick Ratio Rasio ini untuk mengetahui kemampuan dalam membiayai kembali kewajibannya kepada para nasabah yang menyimpan dananya dengan aktiva lancar yang lebih liquid yang dimilikinya. Rumus : CR = Alat likuid kewajiban yang harus segera dibayar

y

Banking Ratio/Loan to Deposit Ratio (LDR) Rasio ini untuk mengetahui kemampuan bank dalam membayar kembali kewajiban kepada para nasabah yang telah menanamkan dana dengan kredit kredit yang telah diberikan kepada para debiturnya. Semakin tinggi rasionya semakin tinggi tingkat likuiditasnya. Rumus : LDR = Juml. Kredit yang diberikan Total dana Pihak Ketiga + KLBI + Modal Inti

y

Loan to Assets Ratio Rasio ini untuk mengukur kemampuan bank dalam memenuhi permintaan para debitur dengan aset bank yang tersedia. Semakin tinggi rasionya semakin rendah tingkat likuiditasnya.

Rumus : LAR = Jumlah Kredit yang diberikan Jumlah Assets
y

Rasio Kewajiban Bersih Call Money Persentase dari rasio ini menunjukkan besarnya kewajiban bersih call money terhadap aktiva lancar atau aktiva yang paling likuid dari bank. Rumus : NCM = NET Call Money Aktiva Lancar Aktiva Lancar : Uang kas, Giro di BI, Sertifikat BI, SBPU Semakin kecil rasio ini, maka likuiditas bank ini semakin baik karena bank dapat menutup kewajiban antar bank dengan alat likuid yang dimilikinya.

b. Rasio Profitabilitas Rasio profitabilitas adalah rasio yang menunjukan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba selama periode tertentu. Di rasio ini bisa dikatakan sampai seberapa efektif seluruh manajemen dalam menghasilkan laba untuk perusahaan. Dilihat dari Profit Margin (PM) dan Return On Equity (ROE) adalah baik, menunjukkan adanya kinerja operasi yang efektif dalam menghasilkan laba karena nilai rasionya lebih besar daripada rata-rata industri. Sedangkan kinerja perusahaan dalam mengelola aset adalah buruk karena Return On Assets (ROA) memperlihatkan nilai rasio yang lebih kecil dibandingkan rata-rata industri. Hal ini menunjukkan ketidakefisiensian dalam mengelola aset untuk menghasilkan laba secara proportional meskipun dari Profit Margin (PM) dan Return On Equity (ROE) memperlihatkan hasil yang baik dibandingkan dengan rata-rata industri. Untuk itu, maka perusahaan harus meningkatkan kemampuan dalam mengelola asetnya untuk

meningkatkan laba secara proportional.
y

Return On Assets Untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam memperoleh keuntungan secara keseluruhan.

ROA =

Laba Bersih Total Assets

y

Return On Equity Untuk mengukur kemampuan bank dalam memperoleh keuntungan bersih dikaitkan dengan pembayaran dividen. ROE = Laba Bersih Modal Sendiri

y

Rasio Biaya Operasional Untuk mengukur tingkat efisiensi dan kemampuan bank melakukan kegiatan operasinya. OCR = Biaya Operasional Pendapatan Operasional

y

Net Profit Margin Ratio Rasio yang menggambarkan tingkat keuntungan yang diperoleh bank dibandingkan dengan pendapatan yang diterima dari kegiatan operasionalnya. NPM = La ba Bersih Pendapatan Operasional

c. Rasio Permodalan Rasio permodalan sering disebut juga rasio-rasio solvabilitas atau capital adequacy ratio. Analisis solvabilitas digunakan untuk: 1) ukuran kemampuan bank tersebut untuk menyerap kerugian-kerugian yang tidak dapat

dihindarkan, 2) sumber dana yang diperlukan untuk membiayai kegiatan usahanya sampai batas tertentu, karena sumber-sumber dana dapat juga berasal dari hutang penjualan aset yang tidak dipakai dan lain-lain, 3) alat pengukuran besar kecilnya kekayaan Bank tersebut yang dimiliki oleh para pemegang sahamnya, dan 4) dengan modal yang mencukupi, memungkinkan manajemen bank yang bersangkutan untuk bekerja dengan efisiensi yang tinggi, seperti yang dikehendaki oleh para pemilik modal pada bank tersebut.

Pada rasio permodalan, dapat diukur antara lain: capital adequacy ratio. i. Capital Adequacy Ratio (CAR)

Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan permodalan yang ada untuk menutup kemungkinan kerugian didalam kegiatan perkreditan dan

perdagangan surat-surat berharga. Rumus : CAR = Modal Bank Aktiva tertimbang menurut resiko ii. Capital to Debt Ratio Rasio ini digunakan untuk mengukur seberapa jauh dana disediakan oleh kreditor. Untuk mengukur kemampuan bank untuk menutup sebagian atau seluruh hutang-hutangnya dengan dana yang berasal dari modal sendiri. Rumus : DTE = Jumlah Hutang Jumlah Modal Sendiri x 100%

iii. Rasio Rentabilitas Rasio rentabilitas selain bertujuan untuk mengetahui kemempuan bank dalam laba selama periode tertentu, juga bertujuan untuk mengukur tingkat efektifitas manajemen dalam menjalankan operasional perusahaannya. Pada rasio rentabilitas (keuntungan), rasio yang dapat diukur antara lain: return on assets, biaya operasi/pendapatan operasi, gross profit margin, dan net profit margin.

1.

Return On Assets (ROA) Rasio ini mengukur kemampuan bank didalam memperoleh laba dan efisiensi secara keseluruhan.

2.

Biaya Operasional / Pendapat operasional (BO/PO) Rasio ini digunakan untuk mengukur perbandingan biaya operasi/biaya intermediasi terhadap pendapatan operasi yang diperoleh bank. Semakin kecil angka rasio BO/PO, maka semakin baik kondisi bank tersebut. Rasio ini digunakan untuk mengukur perbandingan biaya operasi/biaya intermediasi terhadap pendapatan operasi yang diperoleh

bank. Semakin kecil angka rasio BO/PO, maka semakin baik kondisi bank tersebut.

3.

Gross Profit Margin Rasio ini untuk mangetahui kemampuan bank dalam menghasilkan laba dari operasi usahanya yang murni. Semakin tinggi rasionya, semakin baik hasilnya. GPM = Pendapatan operasional ± biaya operasional Pendapatan Operasional

4.

Net Profit Margin Rasio ini untuk mengukur kemampuan bank dalam menghasilkan laba bersih sebelum pajak (net income) ditinjau dari sudut pendapatan operasinya. NPM = Laba bersih Pendapatan Operasional

d. Rasio Risiko Usaha Setiap jenis usaha selalu dihadapkan pada berbagai resiko, begitu pula didalam bisnis perbankan, banyak pula resiko yang dihadapinya. Rasio risiko usaha bank pada dasarnya merupakan teknik untuk mengukur risiko bank terutama yang berkaitan dengan kemungkinan timbulnya kerugian atas aktiva tertentu dalam risiko usaha lainnya seperti risiko likuiditas dan modal bank.
y

Risiko investment

=

Nilai pasar sekuritas Nilai buku sekuritas

Rasio ini menunjukkan kemungkinan timbulnya risiko kerugian akibat turunnya harga pasar portfolio sekuritas dibandingkan dengan harga bukunya.
y

Risiko kredit

=

Total kredit macet Total kredit

Risiko kredit akan terjadi bila nasabah debitur gagal mengembalikan sebagian atau seluruh kredit yang diterima dari bank dan pada gilirannya akan digolongkan sebagai kredit macet. Oleh karena itu rasio ini memberikan gambaran tingkat kegagalan kredit bank. Rasio yang tinggi menggambarkan portfolio kredit bank yang tidak sehat.
y

Risiko likuiditas

=

Alat likuid ± Simpanan Total simpanan

Risiko ini akan timbul apabila bank mengalami kegagalan memenuhi penarikan dana oleh deposan.
y

Risiko aktiva

=

Modal sendiri Total aktiva ± (Kas + Sekuritas)

Rasio ini mengukur kemungkinan tidak cukupnya modal untuk menyerap kemungkinan kerugian akibat turunnya nilai aktiva bank.
y

Risiko simpanan

=

Modal sendiri Total simpanan

Rasio modal sendiri terhadap simpanan memberi gambaran mengenai kemampuan bank memenuhi permintaan penarikan dana oleh deposan dengan menggunakan modal sendirinya.

e. Rasio Spread Sebuah strategi opsi di mana investor secara bersamaan memegang sejumlah posisi yang tidak setara panjang dan pendek. Sebuah rasio yang umum digunakan adalah dua pilihan pendek untuk setiap opsi yang dibeli. Rasio spread adalah pilihan strategi perdagangan yang melibatkan beberapa membeli sejumlah pilihan dan menjual sejumlah besar pilihan lain pasar dasar yang sama dan (biasanya) tanggal kedaluwarsa yang sama, tetapi dari strike price yang berbeda. Rumus yang bisa digunakan :

Rasio spread dapat digunakan untuk mengukur tingkat keuntungan atau laba bank atas aktiva produktifnya.
y

Interest income to earning assets =

Hasil bunga Aktiva produktif

y

Interest expenses to earning assets=

Biaya bunga Aktiva produktif

y

Interest margin atau

=

Hasil bunga ± Biaya bunga Aktiva produktif

y

Interest margin

=

Hasil bunga ± Biaya bunga Total kredit

f. Rasio efisiensi usaha Untuk mengukur kinerja manajemen suatu bank apakah telah menggunakan semua faktor produksinya dengan tepat guna dan hasil guna, maka melalui rasiorasio keuangan disini juga dapat diukur secara kuantitatif tingkat efisiensi yang telah dicapai oleh manajemen bank yang bersangkutan. Rasio-rasio yang digunakan antara lain: leverage multiplier ratio, assets utilazation ratio, dan operating ratio.  Leverage Multiplier Ratio Rasio ini untuk mengukur kemampuan manajemen suatu bank didalam mengelola aktiva yang dikuasainya, mengingat atas pengunan aktiva tetap tersebut bank harus mengeluarkan sejumlah biaya yang tetap. Semakin banyak/cepat bank mengelola aktivanya semakin efisien. Leverage multiplier = Total aktiva Modal sendiri Rasio ini berguna untuk mengukur kemampuan bank mengelola aktivanya dimana dalam penggunaan aktiva tersebut bank harus membayar biaya tetap.  Assets Utilazation Ratio Rasio ini untuk mengukur kemampuan manajemen suatu bank didalam memanfaatkan aktiva yang dikuasainya untuk memperoleh total income. Asset utilization = Total pendapatan

Total aktiva Rasio pendapatan dengan total aktiva bank menunjukkan kemampuan bank mengelola aktivanya untuk menghasilkan pendapatan yang terdiri dari pendapatan operasional dan non operasional.  Operating Ratio. Rasio ini untuk mengukur rata-rata biaya operasional dan biaya non operasional yang dikeluarkan bank untuk memperoleh pendapatan.
y

Cast of funds

=

Total biaya Total dana

Rasio ini untuk mengetahui jumlah biaya bunga rata-rata dana yang dapat dihimpun bank.
y

Cast of money

=

Biaya dana + Biaya overhead Total dana

Rasio ini dapat digunakan untuk mengetahui jumlah biaya rata-rata yang dikeluarkan bank untuk menghimpun dananya.
y

Cost of loanable funds

=

Total biaya dana

Total dana ± Unloanable funds Rasio ini dapat dijadikan sebagai indikator terhadap biaya variabel rata rata yang digunakan bank untuk memperoleh loanable funds.
y

Cost of borrowing funds =

Total biaya dana + biaya overhead

Total dana ± (Unloanable funds + Idle funds) Rasio ini untuk menilai besarnya jumlah biaya dana atas keseluruhan dana setelah dikurangi cadangan likuiditas dan dana yang belum disalurkan.

TUGAS BANK dan LEMBAGA KEUANGAN
´ LIKUIDITAS dan KESEHATAN BANK ´

Disusun oleh : IVONNY M. OKTAVITA B.P. DWI P. AUFRIDA V. AGNES A. WILDAN 08 . 30 . 0069 08 . 30 . 0082 08 . 30 . 0101 08 . 30 . 0160 08 . 30 . 0161 08 . 30 . 0169

JURUSAN MANAJEMEN UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA FAKULTAS EKONOMI 2010

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->