P. 1
sanitasi

sanitasi

|Views: 42|Likes:
Published by Anjar Pra

More info:

Published by: Anjar Pra on May 10, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/10/2011

pdf

text

original

16

Edisi Mei 2008

Haba

Sanitasi
Total Berbasis Masyarakat
BASILIUS K. CAHYANTO | Staf UNICEF

aat ini hampir tiap tahunnya 100,000 anak-anak meninggal dunia karena penyakit diare, terutama anak-anak balita. Kerugian ekonomi akitat tidak tersedianya fasilitas air, sanitasi dan higenitas diperkirakan mencapai 2.4% dari GDP ( Gross Domestic Product ) pada tahun 2002. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan penyakit infeksi seperti diare (18%), pneumonia (14%) dan campak (5%) merupakan beberapa penyebab kematian 161,000 anak-anak usia balita di Indonesia sepanjang 2005. Menurut hasil JMP 2005 (Joint Monitoring Program) antara UNICEF dan WHO di Indonesia saat ini baru 77% dari total populasi penduduk di Indonesia yang mempunyai akses terhadap air bersih dan baru 55% total populasi yang mempunyai

S

akses terhadap fasilitas sanitasi dasar. Angka ini tidak memadai untuk mencapai target Millennium Development Goals No. 7, (MDGs/Tujuan Pembangunan Millennium) pada tahun 2015, yaitu mengurangi setengah dari populasi penduduk yang tidak terjangkau akses ke sanitasi yang baik pada tahun 2015. Menurut data dari Dinas Kesehatan Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) tahun 2006 mengenai kepemilikan sarana sanitasi dasar, sebanyak 64.99% keluarga di 21 kabupaten memiliki persediaan air bersih, sementara 68.54% keluarga memiliki toilet sendiri di rumah, 52.12% memiliki tempat sampah dan 38.36% keluarga mempunyai tempat pengelolaan air limbah keluarga. Sementara itu, dari total 2450 Kepala Keluarga di 14 desa di wilayah Aceh Tengah dan Bener Meriah, hanya 535 Kepala Keluarga yang mempunyai fasilitasi MCK di rumahnya pada 2007. Warga dimotivasi untuk membangun fasilitas MCK di rumah-rumah mereka. Warga secara mandiri bergotongroyong membangun jamban-jamban dekat tempat tinggalnya. Hasilnya? Kini, lebih dari 993 KK di 14 Desa memiliki fasilitas MCK di setiap rumah antar lain di Desa Gemboyah, Taman Firdaus, Bintang Berangun, Pakat Jeroh dan Kala Nempan di Kabupaten Aceh Tengah/Bener Meriah. Ya, hanya dalam waktu kurang dari 6 bulan, sejak dicanangkan upaya sadar akan sanitasi, telah terbangun 458 fasilitas sanitasi dasar. Project Concern International (PCI) melalui program kerja sama dengan UNICEF dan Dinas Kesehatan di Aceh Tengah dan Bener Meriah telah mengenalkan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dan menggalakkan perlunya Gerakan Sanitasi Total untuk menghentikan kebiasaan perilaku Buang Air Besar (BAB) Sembarangan. PCI memfasilitasi warga dengan memberikan dukungan

pengetahuan dalam bentuk pelatihan dan membuka ruang diskusi masyarakat dengan staff Puskesmas tentang pentingnya BAB dijamban. Masyarakat secara mandiri membangun jambannya tanpa subsidi apapun. Usaha mencapai Target Pembangunan Millenium (MDG) diperkirakan membutuhkan dana sebesar USD 600 juta untuk menyediakan investasi di sektor air dan sanitasi selama tahun 2005-2015. Jumlah uang sebesar ini tidak akan dapat dicapai oleh pemerintah mengingat setiap tahunnya rata-rata hanya USD 27 juta yang dianggarkan oleh Pemerintah selama 30 tahun terakhir. Anggaran pemerintah tersebut masih prioritas pembangunan di daerah perkotaan saja, belum menjangkau daerah-daerah pedesaan dan daerah terpencil lainnya. Dengan data-data seperti ini, terutama sekali untuk di bidang sanitasi Target Pembangunan Milenium (MDG) tidak akan dapat dicapai jika hanya mengandalkan investasi dari Pemerintah. Untuk itu diperlukan suatu pendekatan strategi khusus untuk dapat meningkatkan pencapaian di bidang sanitasi, terutama untuk penyediaan fasilitas sanitasi bagi masyarakat melalui peran masyarakat sendiri dan swasta. Belajar dari pengalaman masa lampau, pembangunan fasilitas air dan sanitasi di masyarakat pada umumnya menggunakan pendekatan proyek semata, dan hanya berfokus pada pembangunan jamban-jamban di masyarakat yang seringkali tidak menjangkau masyarakat miskin dan di daerah terpencil. Pendekatan ini seringkali tidak disertai dengan pendidikan akan perilaku hidup bersih dan sehat, sehingga seringkali jamban-jamban yang telah dibangun menjadi tidak dipakai, tidak dimanfaatkan dan dirawat sama sekali oleh masyarakat. Pendekatan tersebut gagal untuk dapat meningkatkan “kebutuhan” akan pentingnya sanitasi dan adanya perubahan

Kebijakan Pemerintah Republik Indonesia
emerintah Republik Indonesia telah mengadopsi Kebijakan mengenasi Sanitasi Total sebagai bagian dari Strategi Nasional mengenai sanitasi di pedesaan dan higenitas untuk dapat diterapkan didalam kegiatan sehari-hari. Tujuan dari Strategi nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat ini untuk memberi arahan dan mendukung Pemerintah Daerah dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan serta evaluasi program sanitasi total di daerah perdesaan dengan begitu akan dapat meningkatkan derajat kesehatan dan kualitas hidup masyarakat, terutama di pedesaan. Dalam rangka mempercepat peningkatan cakupan akses sanitasi pedesaan sesuai dengan target Millenium Development Goals (MDGs) melalui peningkatan perilaku masyarakat untuk hidup bersih dan sehat, maka disusunlah suatu strategi nasional gerakan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (Community Led Total Sanitation). Sanitasi Total dapat dicapai oleh masyarakat di pedesaan, kecamatan dan kabupaten apabila setiap Kepala Keluarga (KK) akan: a. Menghentikan BAB sembarangan b. Menggunakan WC yang dirawat dan bersih c. Mencuci tangan pakai sabun setelah BAB dan sebelum makan ataupun menyuapi bayi/Balita

P

d. Menjaga agar WC tetap bersih dan berfungsi dengan baik e. Menggunakan air minum yang aman dan mengelola makanan dengan baik f. Mengelola limbah dengan baik, termasuk di dalamnya limbah padat dan limbah cair. Setiap intervensi dari Sanitasi Total tersebut akan memberikan dampak dan persentase yang berbeda-beda. Menurut UNICEF, Badan Dunia PBB yang mengurusi anak-anak, perilaku cuci tangan pakai sabun dapat mengurangi resiko terkena diare hingga 44 % melalui pengelolaan air yang aman mencapai 39%, perbaikan kondisi sanitasi mencapai 32% dan dengan perilaku hidup bersih dan sehat bisa mengurangi resiko terkena penyakit diare hingga 28%. Kebijakan Pemerintah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Pemerintah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam memberikan perhatian yang besar di bidang Air Minum dan Penyehatan Lingkungan atau Sanitasi, dan memimpin koordinasi pembangunan di sektor air minum dan penyehatan lingkungan di Provinsi NAD. Pembangunan di Bidang Air Minum dan Penyehatan Lingkungan tidak bisa dilakukan oleh satu atau dua dinas pemerintah saja, karena permasalahan seputar Air Minum dan Penyehatan Lingkungan melibatkan banyak

sektor terkait dan dinas-dinas serta instansi pemerintah, oleh itu dibutuhkan koordinasi dan kerja sama yang baik di antara dinasdinas serta instansi pemerintah yang bertanggung jawab mengenai Air Minum dan Penyehatan Lingkungan. Terkait dengan masalah itu, Gubernur Provinsi NAD telah mengesahkan Surat Keputusan (SK) mengenai pembentukan Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan. SK Gubernur Provinsi NAD tersebut merupakan payung hukum pembangunan air minum dan penyehatan lingkungan di bawah koordinasi BAPPEDA Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan melibatkan berbagai Dinas dan instansi, seperti Dinas Bina Marga dan Cipta Karya, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, dan Dinas-dinas lainnya. Dengan adanya Tim koordinasi yang khusus menangani masalah Air Minum dan Penyehatan Lingkungan, diharapkan agar koordinasi di berbagai dinas pemerintah yang menangani masalah Air Minum dan Penyehatan Lingkungan semakin terkoordinasi dengan baik, rencana kerja tahunan dan pembangunan yang lebih terarah, sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah dan pelan namun pasti Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam bisa mencapai Target Pembangunan Milenium pada tahun 2015.

perilaku di masyarakat, serta gagal untuk memberdayakan peran masyarakat untuk dapat mempromosikan adanya inovasiinovasi serta pengembangan teknologi yang sesuai dengan budaya masyarakat setempat. Untuk itu strategi nasional pengembangan sanitasi pedesaan kemudian dirancang untuk dapat memberikan pemikiran-pemikiran baru dan memperbaharui pendekatan-pendekatan di sektor air dan sanitasi berdasarkan pengalamanpengalaman baru baik di Indonesia maupun di luar negeri yang sesuai dengan latar belakang berbagai macam budaya yang ada di Indonesia. Sanitasi Total Berbasis Masyarakat dan Tahun Sanitasi Internasional 2008 Tahun Sanitasi Internasional 2008 yang telah ditetapkan oleh Majelis Umum PBB sangat sejalan dan berhubungan erat dengan program pemerintah di sektor air dan penyehatan lingkungan. Sanitasi Total melibatkan perlunya kebersihan diri, toilet yang dipakai dan terawat, pengelolaan air dan air limbah serta promosi kesehatan yang semuanya bertujuan untuk memutus perpindahan bakteri yang bersumber dari limbah dan kotoran manusia. Ketika itu tidak dirawat dengan baik, tentu saja bakteri tersebut akan berpengaruh terhadap kesehatan, dan seringkali mengurangi kesempatan anak-anak untuk mendapatkan pendidikan yang baik, berpengaruh terhadap masalah social dan pertumbuhan ekonomi. Di Sekolah, kurangnya fasilitas sanitasi di sekolah berpengaruh terhadap ketidak hadiran dan rendahnya prestasi belajar mengajar di kelas karena murid yang sakit, dan tingkat kehadiran yang redah. Caroll Bellamy, Direktur UNICEF periode 19952005 menyebutkan “Ketersediaan air bersih, sanitasi yang layak dan pendidikan higenitas telah dibuktikan berdampak pada kesehatan anak, di dalam pembelajaran, lingkungan belajar-mengajar, dan pendidikan anak perempuan, hal ini termasuk di dalamnya fakta bahwa siswasiswi akan lebih efektif belajar di lingkungan yang bersih dan higenis, dan anak perempuan akan lebih tertarik untuk hadir di sekolah - ketika mereka merasakan adanya perlindungan dan dihargai” Air minum dan Penyehatan Lingkungan serta higenitas bukan hanya ditentukan oleh jumlah toilet yang dibangun atau saluran air yang telah terbangun, tetapi mengenai pengetahuan, sikap dan perilaku akan hidup bersih dan sehat. Fasilitas air, dan sanitasi di sekolah untuk dapat diakses dan dipergunakan oleh orang serta dirawat dan dimanfaatkan dengan baik. Untuk itu marilah di tahun 2008 bekerja sama dengan semua elemen dan kelompok masyarakat untuk turut mendukung program Tahun Sanitasi Internasional 2008 dan meningkatkan pembangunan sanitasi serta perilaku hidup bersih dan sehat. Diharapkan dengan Pelaksanaan Tahun Sanitasi Internasional 2008, secara terus menerus pemahaman masyarakat akan meningkat dan bisa mengubah perilaku hidup yang tidak sehat, terutama untuk meningkatkan kualitas hidup anak-anak dan generasi yang akan datang.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai Tahun Sanitasi Internasional 2008, dapat menghubungi Kris Cahyanto. WES Officer, UNICEF Banda Aceh Jl. Masdjid Sadaqah No. 2, Lamlagang. Banda Aceh 23243 Telp: (0651) 40004 pesawat 322. e-mail: bkriscahyanto@unicef.org

Penanggung Jawab Program: Edwin Shri Bimo, Hj.Rukaiyah Ibrahim Nain (Wk.Ketua PMI Bidang Pengembangan Citra dan Hub.Antar Lembaga) Pemimpin Redaksi: Helena Rea, Redaktur Pelaksana: Zulfikar, Penulis: Indra, Jaka, Yayan, Dini Gandini, Rahmad YD, Airlambang, Awee, Nursafri Kartunis/Ilustrator: Yudi/Cek Basri Layout: Fes Alamat:Jl.Ajuen Jeumpet No.18-B Desa Ajuen Jeumpet Kec. Darul Imarah Aceh Besar Nanggroe Aceh Darussalam, Email: rumohpmi@yahoo.com Percetakan: PT.Aceh Media Grafika (isi diluar tanggungjawab percetakan)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->