P. 1
Hutan Merupakan Sumber Daya Alam Yang Sangat Penting Keberadaannya

Hutan Merupakan Sumber Daya Alam Yang Sangat Penting Keberadaannya

|Views: 364|Likes:
Published by Oom Saepul Rohman

More info:

Published by: Oom Saepul Rohman on May 10, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/17/2013

pdf

text

original

Hutan merupakan sumber daya alam yang sangat penting keberadaannya.

Dahulu hutan di Indonesia menjadi paru-paru dunia. Selain itu, hasil hutan seperti rotan, dammar, dan kayu dapat dimanfaatkan manusia untuk memenuhi kebutuhan. Hutan dapat juga dijadikan sebagai tempat resapan air sehingga dapat mencegah terjadinya banjir. Namun sekarang keberadaannya sudah sangat mengkhawatirkan. Hal itu disebabkan banyak orang yang menebangi pohonpohon di hutan tanpa memperhatikan pelestariannya sehingga sekarang ini banyak hutan-hutan yang gundul. A. Konsep Hutan 1. Pengertian hutan atau definisi hutan Merujuk pada UU No. 41 tahun 1999 yang dimaksud dengan hutan adalah suatu pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannnya yang satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan. Pengertian hutan atau definisi hutan yang diberikan Dengler adalah suatu kumpulan atau asosiasi pohon-pohon yang cukup rapat dan menutup areal yang cukup luas sehingga akan dapat membentuk iklim mikro yang kondisi ekologis yang khas serta berbeda dengan areal luarnya (Anonimous 1997). Menurut Spurr (1973) hutan dianggap sebagai persekutuan antara tumbuhan dan binatang dalam suatu asosiasi biotis. Asosiasi ini bersama-sama dengan lingkungannya membentuk suatu sistem ekologis dimana organisme dan lingkungan saling berpengaruh di dalam suatu siklus energi yang kompleks. Pohon tidak dapat dipisahkan dari hutan, karena pepohonan adalah vegetasi utama penyusun hutan tersebut. Selama pertumbuhannya pohon melewati berbagai tingkat kehidupan sehubungan dengan ukuran tinggi dan diameternya. 2. Jenis Hutan Hutan merupakan sebuah areal luas yang ditumbuhi beraneka ragam pepohonan. Dilihat dari jenis pohonnya, hutan dapat dibagi menjadi dua, yaitu: 1. Hutan Homogen ialah hutan yang ditumbuhi oleh satu jenis pohon/tanaman, misal: hutan jati, hutan pinus, hutan cemara dll. 2. Hutan Heterogen ialah hutan yang ditumbuhi oleh berbagai jenis pohon/tanaman.

Dilihat dari arealnya, hutan dapat dibagi menjadi lima, yaitu sebagai berikut: 1. Hutan lindung ialah hutan yang berfungsi melindungi tanah dari erosi, banjir dan tanah longsor. 2. Hutan produksi ialah hutan yang berfungsi untuk menghasilkan berbagai produk industri dan bahan perlengkapan masyarakat, seperti kayu lapis, mebel, bahan bangunan dan kerajinan tangan. 3. Hutan wisata ialah hutan yang ditujukan khusus untuk menarik para wisatawan domestik (dalam negeri) maupun wisatawan mancanegara. 4. Hutan suaka alam ialah hutan yang berfungsi memelihara dan melindungi flora (tumbuhan) dan fauna (hewan). 5. Hutan Mangrove ialah hutan bakau di tepi pantai yang berfungsi untuk menghindari daratan dari abrasi. Hasil hutan yang dapat dimanfaatkan oleh kita yaitu: kayu (jati, pinus, cemara, cendana), damar, rotan, bambu dll. 3. Persebaran Hutan Sebagian dari hutan tropis terbesar di duniaterdapat di Indonesia. Dalam hal luasnya, hutan tropis Indonesia menempati urutan ketiga setelah Brasil dan Republik Demokrasi Kongo (dulunya Zaire) dan hutan-hutan ini memiliki kekayaan hayati yang unik. Tipe-tipe hutan utama di Indonesia berkisar dari hutan-hutan Dipterocarpaceae dataran rendah yang selalu hijau di Sumatera dan Kalimantan, sampai hutan-hutan monsun musiman dan padang savana di Nusa Tenggara, serta hutan-hutan non-Dipterocarpaceae dataran rendah dan kawasan alpin di Irian Jaya (kadang juga disebut Papua). Indonesia juga memiliki hutan mangrove yang terluas di dunia. Luasnya diperkirakan 4,25 juta hektar pada awal tahun 1990-an. Sebagian besar habitat ini menghadapi ancaman kritis. Saat ini Indonesia kehilangan sekitar 2 juta hektar hutan setiap tahun. Skala dan laju deforestasi sebesar ini belum pernah terjadi sebelumnya. Organisasi-organisasi lingkungan kadangkala dituduh melebih-lebihkan kekhawatiran mereka mengenai kerusakan yang akan segera terjadi. Dalam kasus Indonesia,

berbagai prediksi bencana akibat hilangnya habitat dan penurunan jumlah spesies tidak dibesarbesarkan. Survey terbaru dan yang paling diakui hasilnya mengenai tutupan hutan Indonesia memprediksikan bahwa hutan-hutan Dipterocarpaceae dataran rendah – habitat tropis yang paling kaya – akan lenyap dari Sumatera dan Kalimantan pada tahun 2010 jika kecenderungankecenderungan saat ini tetap tidak dicegah (Holmes, 2000). Dari keterangan di atas seharusnya kita patut berbangga diri atas potensi sumber daya hutan yang ada di Indonesia. Perhatikan tabel berikut Tabel III.2 : Luas Penutupan Lahan Pada Hutan Lindung Per Provinsi (Ribu Ha)
Penutupan Lahan No. PROPINSI Primer 1 2 3 4 5 6 7 8 9 N. Aceh Darussalam Sumatera Utara Riau Sumatera Barat Bengkulu Jambi Sumatera Selatan Bangka Belitung Lampung SUMATERA 10 Banten 11 DKI Jakarta 12 Jawa Barat 13 Jawa Tengah 960,0 330,0 34,6 223,6 164,5 43,2 165,7 14,5 12,4 Sekun der 599,8 360,1 204,9 325,8 10,1 52,7 60,9 48,3 42,8 HUTAN Tana man Jumlah % NON HUTAN Jumlah 158,9 % 8,6 Tidak Ada Data Jumlah 131,4 207,5 56,7 100,6 32,4 55,8 48,5 33,4 21,3 687,5 3,5 6,4 0,0 % 7,1 13,3 14,0 10,6 12,9 32,0 7,8 15,6 6,7 10,8 11,5 3, 0,0 Jumlah luas kawasan lindung 1.853,8 1.555,7 404,8 944,4 250,8 174,3 625,3 213,3 317, 6.340,1 30,2 0,1 210,8 74,6

3,7 1.563,5 84,3 34,4 3,5 0,1 41,7 10,2 8,8 8,6 725,4 46,6 243,0 60,0 549,4 58,2 174,6 69,6 96,0 55,0 226,7 36,3 62,8 29,5 55,1 17,4 3.696,4

622,9 40,0 105,1 26,0 294,5 31,2 43,8 17,5 22,6 12,9 350,1 56,0 117,1 54,9 241,3 76,0 30,9

1.949,2 1.705,5 2,2 23,8 3,2 77,8 44,3

58,3 1.956,2

15,6 51,6 -

11,1 36,9 0,1 100

110,4 52,4 52,9 70,9

94,0 46,3 21,7 29,1

14

D.I.Yogyakar ta

80,8

162,7

2,0 39,9 69,5 0,0

2,0 64,8 283,5 80,1 464,4 69,0 1.770,4 77,2 762,6 90,8

1,1 35,2 69,9 19,8 197,9 29,4 392,4 17,1 35,1 83,8 4,2 3,0

0,4 10,3 130,4 42,7 366,7 164,4 704,2 68,0 20,4 394,2 371,7 301,3

0,1 1,5 5,7 5,1 13,1 34,0 11,0 37,2 11,7 29,7 34,8 15,2 24,4 28,4 7,9 9,5 10,4 25,4 31,2 28,1 14,1

3,0 353,8 672,5 2.293,2 840,4 2.792,3 484,0 6.400,9 182,6 173,7 1.328,5 1.069,7 1.978,3 4.732,7 100,3 483,1 693,92 1.277,3 728,6 629,3 1.358,0 9.170,1 29.960,6

15 Jawa Timur JAWA Kalimantan Barat Kalimantan 17 Tengah Kalimantan 18 Timur Kalimantan 19 Selatan 16 KALIMANTAN 20 Sulawesi Utara

106,8 288,1 1.108,8 476,8 1.851, 7 25,7 661,6 285,8 490,1 175,3

0,0 2.341,8 83,9 9,4 9,4 210,4 43,5 5.085,2 79,3

109,2 22,6 620,5 9,7

3.463,0 1.612,8 49,9 90,6 351,6 407,3 303,3 21,3 45,8 514,3 218,4 970,4

71,2 39,0 136,4 78,5 865,9 65,2 625,7 58,5

43,5 23,8 16,9 68,4 72,3 9,8 5,1 6,8

21 Gorontalo Sulawesi Tengah Sulawesi 23 Tenggara Sulawesi 24 Selatan 22 SULAWESI 25 Bali 26 NTB 27 NTT BALI & NUSA TENGGARA Maluku 28 Utara 29 Maluku

- 1.273,7 64,4 0,6 0,6 0,5 2.972,9 62,8

403,3 20,4 604,3

1.202,7 1.770,2 42,5 272,5 48,6 6,6 94,4 176,0

12,8 1.155,5 28,5 38,4 65,6

49,1 49,0 366,9 75,9 224,6 32,4 640,6 50,2

22,7 22,6 77,8 504,2 45,2 6,1

403,7 58,2

363,6 277,0 288,8 181,5 209,9 147,6 357,5 238.5

39,5 132,5 6,2 184,8 196,2 381,0

498,6 68,4 329,7 52,4 828,3 7.164,8 61,0 78,1

103,5 16,4 148,6 716,7 4.748,4 10,9

MALUKU UTARA 470,25 & MALUKU 30 Papua INDONESIA 6.925,8

7,8 1.288,6

14.481, 6.249,6 121,7 20.852,6 69,6 4

15,8 4.359,6 14,6

Sumber: Data digital penutupan lahan skala 1:250.000 hasil penafsiran citra Landsat 7 ETM+ Liputan tahun 1999/2000

Tabel III.3 : Luas Penutupan Lahan Pada Hutan Konservasi Per Provinsi (Ribu Ha)
Penutupan Lahan No. PROPINSI Primer 1 HUTAN
Sekunde Tanam Jumlah r an

NON HUTAN % 88,6 67,1 65,3 77,9 Jumla h 22,7 19,0 30,7 64,1 % 2,8 7,0 8,5

Tidak Ada Data Jumla % h 71,2 69,7 94,5 8,7 25,8 26,2 13,8 4,7 24,8 26,7 2,2 16,5 9,2 7,0 10,2 1,9 4,7 4,0 6,3 19,6 9,7
11,5

Jumlah luas kawasan konservasi 823,0 270,2 361,5 774,3 461,3 713,7 735,2 392,9 4.532,2 80,5 0,2 108,8 8,7 0,8 229,7 428,6 1.430,7 632,7 1.769,2 129,4
3.962,1

N. Aceh 601,7 119,9 7,6 729,1 Darussalam Sumatera 2 91,6 89,6 0,2 181,5 Utara 3 Riau 79,9 153,6 2,8 236,3 Sumatera 4 354,9 248,3 603,1 Barat 5 Bengkulu 359,5 30,5 390,0 6 Jambi 265,4 83,7 349,1 Sumatera 7 164,5 74,6 239,1 Selatan Bangka 8 Belitung 9 Lampung 164,6 59,4 224,0 SUMATERA 2.082,0 859,5 10,6 2.952,2 10 Banten 51,9 2,3 11,7 66,0 11 DKI Jakarta 0,0 0,0 12 Jawa Barat 20,1 60,1 6,0 86,2 Jawa 13 0,0 2,9 0,2 3,1 Tengah D.I. 14 0,2 0,2 Yogyakarta 15 Jawa Timur 83,9 110,3 3,6 197,9 JAWA 155,9 175,7 21,8 353,4 Kalimantan 16 932,0 252,1 1.184,1 Barat Kalimantan 17 321,5 194,9 516,4 Tengah Kalimantan 1.183, 18 984,7 189,1 9,9 Timur 7 Kalimantan 19 68,8 2,4 71,2 Selatan 12,3 2.955,5 KALIMANTAN 2.238,1 705,0 Sulawesi 20 66,8 34,5 101,3 Utara 21 Gorontalo 88,8 65,1 153,8 Sulawesi 22 138,8 189,0 327,8 Tengah Sulawesi 23 102,4 58,9 161,3 Tenggara Sulawesi 24 14,9 48,5 63,4 Selatan

8,3 107,1 10,8 21,6 26,3 177,2 40,8 196,1 -

84,6 49,7 48,9 187,4 32,5 300,0 -

57,0 160,3 40,8 8,6 65,1 834,0 18,4 746,0 82,0 7,1 8,8 7,4 8,9 0,2 91,1 79,2 15,0 13,8 7,6 36,0 28,4 86,1 82,4 4,7 0,5 53,8 71,6 0,9 4,3 20,2 56,9 39,6

27,5 12,0 55,0 12,8 13,3 12,1

82,8 189,7 81,6 76,7

66,9 238,9 55,0 45,6

13,5 346,6 35,2 12,6

74,6 550,9

13,9 455,7

40,9 79,5 54,1 53,6 48,6

19,6 9,9 44,1 46,7 19,7

7,9 126,5 5,1 29,8

51,2 15,4 38,6 30,8 36,3

247,4 193,6 605,5 300,7 130,5

7,3 233,6 15,5 15,1 92,7 47,4

SULAWESI 411,7 396,0 25 Bali 5,0 6,9 26 NTB 33,9 32,2 27 NTT 66,3 72,1 BALI & NUSA 105,2 111,3 TENGGARA Maluku 28 2,1 18,1 Utara 29 Maluku 179,2 57,6 MALUKU & MALUKU 181,3 75,6 UTARA 5.184,8 198,6 30 Papua 10.359,0 2.521,6 INDONESIA

-

807,6 54,7 139,9 11,9 50,9 7,0 66,1 43,4 60,7 138,5 48,2 140,8

9,5 530,1 29,9 4,5 39,9 25,5 49,0 7,8 37,8 25,5

35,9 19,1 16,7 2,7 8,2 49,9 29,3 31,6
21,4 18,9

1.477,7 23,3 152,3 287,1 462,7 51,2 401,0 452,2 8.155,7 19.471,1

216,4 46,8 208,5 45,1 20,1 236,8 39,4 59,0 5,5 46,7 10,8

11,6 117,6

0,6 256,9 56,8
0,6 5.384,1 45,4 12.926,1

52,2 11,5 143,1
12,6 1.745,2 14,7 3.678,0

66,0 1.026,4 66,4 2.867,0

Sumber: Data digital penutupan lahan skala 1:250.000 hasil penafsiran citra Landsat 7 ETM+ Liputan tahun 1999/2000

B. Manfaat Hutan Banyak sekali masyarakat Indonesia, meskipun jumlahnya tidak diketahui secara pasti, yang tinggal di dalam atau di pinggir hutan atau hidupnya bergantung pada hutan. Angka estimasi yang dibuat selama beberapa dekade yang lalu sangat bervariasi – dari 1,5 sampai 65 juta orang – bergantung pada definisi mana yang digunakan dan agenda kebijakan mana yang diikuti a. Jasa-jasa non kayu Pada pertengahan tahun 2000, Departemen Kehutanan1 melaporkan bahwa 30 juta penduduk "secara langsung mengandalkan hidupnya pada sektor kehutanan" meskipun tingkat ketergantungannya tidak didefinisikan (Dephut, 2000). Sebagian besar masyarakat ini hidup dengan berbagai strategi ekonomi "portofolio" tradisional, yakni menggabungkan perladangan padi berpindah dan tanaman pangan lainnya dengan memancing, berburu, menebang dan menjual kayu, dan mengumpulkan hasil-hasil hutan nonkayu (NTFP) seperti rotan, madu, dan resin untuk digunakan dan dijual. Budidaya tanaman perkebunan seperti kopi dan karet juga merupakan sumber pendapatan yang penting (De Beer dan McDermott, 1996:74). Salah satu hasil hutan nonkayu yang paling berharga adalah rotan. Indonesia mendominasi perdagangan rotan dunia, dengan pasokan yang melimpah dari rotan liar dan hasil budidaya yang mencapai 80 sampai 90 persen dari pasokan rotan di seluruh dunia (FAO, 2001:4).

Jutaan orang juga menggunakan tumbuhtumbuhan hutan yang diketahui khasiatnya untuk pengobatan. Tanaman obat dan hasil hutan nonkayu lainnya belum begitu dihargai dan sulit untuk mendokumentasikannya, karena sebagian besar dari tumbuhan ini tidak muncul dalam transaksi di pasar resmi sehingga tidak dimasukkan kedalam statistik ekonomi. Menurut Departemen Kehutanan, nilai ekspor total "tumbuhan dan satwa liar" untuk tahun fiskal 1999/2000 lebih dari 1,5 miliar dolar, tetapi rincian dari nilai total ini tidak dijelaskan (Dephut, 2000). Manfaat nilai guna yang sifatnya bukan komersial kemungkinan juga tinggi: jika masing-masing dari 30 juta masyarakat yang hidupnya mengandalkan hutan diperkirakan memanfaatkan hasil-hasil hutan yang nilainya hanya 100 dolar setiap tahun, maka nilai totalnya akan menjadi 3 miliar dolar. b. Jasa-jasa Lingkungan Berbagai manfaat yang disediakan oleh hutan Indonesia jauh melebihi nilai yang didapatkan dari hasil-hasil hutan. Lima belas Daerah Aliran Sungai (DAS) terbesar di Indonesia merupakan sumber air bagi lebih dari 16 juta orang. Hutan di DAS ini membantu melindungi pasokan air dengan menstabilkan tanah di lereng-lereng bukit dan mengatur laju dan kecepatan aliran sungai. Namun, DAS ini kehilangan lebih dari 20 persen tutupan hutannya antara tahun 1985 dan 1997. Hutan-hutan Indonesia juga menyimpan jumlah karbon yang sangat besar. Menurut FAO, jumlah total vegetasi hutan di Indonesia menghasilkan lebih dari 14 miliar ton biomassa, jauh lebih tinggi daripada negara-negara lain di Asia, dan setara dengan sekitar 20 persen biomassa di seluruh hutan tropis di Afrika. Jumlah biomassa ini, secara kasar menyimpan sekitar 3,5miliar ton karbon.2 Mengingat penebangan hutan yang sudah berlangsung secara ekstensif di Indonesia, sementara hutan yang ditanami kembali sangat terbatas, kemungkinan besar perubahan tutupan lahan ini justru lebih banyak menghasilkan karbon daripada menyimpannya, sehingga memberikan andil terhadap pemanasan global. Jasa-jasa lingkungan seperti ini sulit untuk diukur. Banyak bukti dari laporan yang tidak diterbitkan, dan banyak lagi studi lokal yang menyatakan bahwa berbagai jasa lingkungan ini sudah semakin menurun dengan meningkatnya deforestasi. Sayangnya laporan pada skala nasional masih sangat

kurang. Semakin menurunnya jasa lingkungan ini sulit sekali dinilai dalam ukuran dolar. Para ahli sudah berusaha untuk memberikan nilai ekonomi bagi berbagai barang dan jasa lingkungan yang tidak dapat diperjualbelikan di pasar-pasar. Dengan menggunakan beragam asumsi dan pendekatan metodologi, berbagai penulis telah memberikan nilai bagi hutan-hutan tropis yang berkisar dari ratusan sampai ribuan dolar per hektar. Studi yang dilakukan oleh Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor menyimpulkan bahwa secara teori nilai ekonomi

keanekaragaman hayati dan simpanan karbon saat ini jauh melebihi pendapatan yang diperoleh dari produksi kayu bulat (Institut Pertanian Bogor, 1999). Memang hasil studi seperti ini tidak cukupkokoh untuk diartikan secara harfiah,3 tetapi merupakan peringatan yang bermanfaat bahwa berbagai pendekatan konvensional yang digunakan untuk menilai hutan, yaitu berdasarkan harga kayu, terlalu sempit dan mengabaikan kepentingan masyarakat lokal yang hidupnya mengandalkan hutan. Cara penilaian tersebut juga mengabaikan kepentingan dan perhatian masyarakat dunia yang peduli terhadap nasib hutan Indonesia. Banyak orang yang mengagumi hutan tropis dengan rasa bangga dan terpesona. Oleh karena itu bisa dikatakan bahwa berbagai teknik penilaian moneter tidak selalu relevan, dan nilai kualitas spiritual serta keindahan hutan Indonesia masih jauh dari jangkauan ilmu ekonomi dan bahkan ekonomi lingkungan untuk bias mengukurnya.

c. Sumber Daya Kayu Sebagai Sumber Pendapatan Pokok Nasional Indonesia adalah negara terpenting penghasil berbagai kayu bulat tropis dan kayu gergajian, kayu lapis dan hasil kayu lainnya, serta pulp untuk pembuatan kertas. Lebih dari setengah hutan di negara ini, sekitar 54 juta hektar, dialokasikan untuk produksi kayu (meskipun tidak semuanya aktif dibalak), dan ada 2 juta ha lagi hutan tanaman industri yang telah didirikan, yaitu untuk memasok kayu pulp. Volume dan nilai produksi kayu Indonesia sulit ditentukan secara persis: data yang disediakan oleh FAO, the International TropicalTimber Organization dan Pemerintah Indones ia masing-masing berbeda dan tidak bisa dibandingkan begitu saja. Sebagian besar produksikayu Indonesia digunakan untuk kepentingandomestik dan harganya umumnya jauh lebih rendah dibandingkan harga di pasar internasional. Namun jelas bahwa sektor kehutanan penting sekali bagi perekonomian Indonesia. Pada tahun 1997, sektor kehutanan dan pengolahan kayu menyumbang 3,9 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), dan ekspor kayu lapis, pulp dan kertas nilainya mencapai 5,5 miliar dolar. Jumlah ini nilainya hampir setengah dari nilai ekspor minyak dan gas, dan setara dengan hampir 10 persen pendapatan ekspor total. Sektor kehutanan mengalami pertumbuhan yang hebat dan menggerakkan ekspor bagi perekonomian tahun 1980-an dan 1990-an, tetapi ekspansi ini dicapai dengan mengorbankan hutan karena praktek kegiatan kehutanan yang tidak lestari sama sekali. Industri pengolahan kayu di Indonesia saat ini membutuhkan sekitar 80 juta meter kubik kayu tiap tahun untuk memasok industri penggergajian, kayu lapis, pulp dan kertas. Jumlah kayu yang dibutuhkan ini jauh lebih besar daripada yang dapat diproduksi secara legal dari hutan alam dan HTI. Akibatnya, lebih dari setengah pasokan kayu di Indonesia sekarang diperoleh dari pembalakan ilega. d. Habitat Keanekaragaman Hayati Sekitar 17.000 pulau di Indonesia terbentang antara kawasan Indomalaya dan Australasia; Kepulauan Indonesia memiliki tujuh kawasan biogeografi utama dan keanekaragaman tipe-tipe habitat yang luar biasa. Banyak pulau yang

terisolasi selama ribuan tahun, sehingga tingkat endemiknya tinggi. Sebagai contoh, dari 429 spesies burung endemik lokal, 251 di antaranya adalah spesies unik yang terdapat di suatu pulau tertentu saja. Sebagian besar serangga Indonesia juga tidak ditemukan di tempat lain, dan sebagian marga berada terbatas pada puncak-puncak pengunungan tertentu. Tiga lokasi utama yang merupakan pusat kekayaan spesies di Indonesia adalah Irian Jaya (tingkat kekayaan spesies dan endemisme tinggi), Kalimantan (tingkat kekayaan spesies tinggi, endemisme sedang), dan Sulawesi (tingkat kekayaan spesies sedang, endemismetinggi). Indonesia juga menjadi rumah bagi beberapa mamalia yang paling disayangi di dunia, yaitu orangutan, harimau, badak, dan gajah. Sejak awal tahun 1930, tiga subspesies harimau: Harimau Bali, Harimau Jawa, dan Harimau Sumatera; menyebar di beberapa wilayah negara. Dari ketiga subspesies ini, Harimau Bali (Panthera tigris balica) menjadi punah pada akhir tahun 1930-an dan Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) punah pada tahun 1970-an. Saat ini, yang masih tersisa hanya subspesies dari Sumatera. Karena pola hidup harimau yang soliter dan nokturnal, hampir mustahil untuk melakukan sensus yang akurat terhadap Harimau Sumatera. Subspesies ini diyakini berjumlah sekitar 400-500 ekor, sebagian besar hidup di lima taman nasional di Sumatera. Suatu sensus informal pada tahun 1978 memperkirakan jumlah harimau di pulau ini sekitar 1000 ekor. Meskipun harimau mampu hidup di berbagai habitat, fragmentasi hutan dan pembangunan pertanian di pulau ini dan juga permintaan pasar terhadap berbagai produk yang berasal dari harimau mempunyai andil terhadap penurunan populasi spesies ini (Tiger Information Center, 2001). Nasib spesies mamalia lainnya juga tidak jauh lebih baik. Badak Sumatera dan Badak Jawa keduanya termasuk spesies terancam punah dalam kategori kritis menurut Daftar Merah – IUCN. Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) adalah mamalia besar yang paling langka di dunia jumlahnya diperkirakan hanya 54-60 ekor pada tahun 1995, dan sebagian besar hidup di satu kawasan lindung, yaitu Taman Nasional Ujung Kulon. Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) diketahui terdapat di Semenanjung Malaysia, Sumatera, dan Kalimantan. Dari semua populasi yang ada, jumlah badak telah merosot lebih dari 50 persen selama dekade yang lalu. Hanya sekitar 400 badak diketahui terdapat di Indonesia.

Fragmentasi dan konversi habitat secara khusus juga telah menghancurkan spesies primata. The Primate Specialist Group dari IUCN baru-baru ini telah menetapkan dua spesies, yaitu Orangutan Sumatera (Pongo pygmaeus) dan Owa Jawa (Hylobates moloch), sebagai spesies yang menduduki peringkat tertinggi pada daftar 25 primata yang terancam punah. Owa Jawa yang berjumlah antara 300-400 ekor sekarang terpencar di hutan-hutan yang masih tersisa di Jawa. Di Sumatera, orangutan hanya terdapat di propinsipropinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Seperti kondisi mamalia yang paling terancam punah, kehilangan habitat dan fragmentasi merupakan penyebab utama penurunan populasi. Namun, perburuan untuk memperoleh makanan dan untuk tujuan olah raga, perdagangan binatang peliharaaan ilegal, dan pengelolaan yang tidak efektif di berbagai taman nasional juga telah memberikan andil terhadap penurunan populasi (IUCN, 2001). Perhatikan diagram Kekayaan Biotik: Persentase Spesies yang Terdapat di Indonesia berikut
Total

PERSE N

Tumbuhan tingkat tinggi

Amfibi Ikan air tawar

Reptilia Burung

Mamali a

D. Fungsi Sumber Daya Hutan

E. Nilai Sumber Daya Hutan

Hutan memiliki 3 nilai kontribusi dalam pembangunan di Indonesia, yaitu niai ekonomi, ekologi (lingkungan), dan nilai sosial. Berikut adalah pembahasan mengenai nilai kontribusi hutan dalam pembangunan nasional: a. Nilai Ekonomi Nilai ekonomi merupakan peranan hutan dalam memberikan sumbangan terhadap perekonomian negara. Hasil hutan yang dinilai secara ekonomis dan dimasukkan dalam Produk Domestik Bruto (PDB) hanya terbatas pada beberapa jenis hasil hutan yang memiliki nilai komersial, yaitu nilai ekonomi dalam arti sempit saja. Berdasarkan data statistik kehutanan dan perkebunan 1999/2000 dari Departemen Kehutanan diketahui bahwa macam-macam produksi hutan yang dianggap sebagai pendapatan adalah kayu (Kayu bulat, gergajian, dan lapis), bukan kayu, dan hasil penjualan tanda masuk pengunjung Taman Nasional dan Hutan Wisata. Manfaat hutan lainnya yang tidak memberikan nilai komersial tidak dimasukkan kedalam perhitungan walaupun itu sangat penting, misalnya manfaat hutan dalam menjegah terjadinya erosi dan banjir. Hutan tidak hanya menghasilkan nilai ekonomis tetapi juga memerlukan dana untuk pemeliharaannya, namun itu tidaklah banyak dan dapat di hitung secara rasional. Dana pemeliharaan tersebut hanya perlu dilakukan pada hutanhutan tertentu yang fungsinya untuk melindungi wilayah disekitarnya dari berbagai bentuk bencana alam yang sangat tinggi, yaitu hutan-hutan pada tempat yang curam, tanahnya peka terhadap erosi, hutan yang terletak pada tempat yang sangat tinggi dari permukaan air laut. Dengan terpeliharanya hutan tersebut maka keberadaan hutan akan dapat dipertahankan sehingga dapat dimanfaatkan untuk kepentingan penggunaan lain yang dapat memberikan pendapatan dengan cara tanpa harus merusak hutan. Selain memberikan nilai ekonomis hutan di tempat tersebut juga dapat memberikan perlindungan terhadap bencana alam. Sektor kehutanan telah membuktikan sebagai suatu sektor yang memberikan peran signifikan terhadap pembangunan ekonomi, seperti sebagai penghasil devisa, pendorong ekonomi wilayah, pendukung sektor-sektor ekonomi lain yang terkait, dan juga sebagai penyedia lapangan kerja. Selama krisis ekonomi di Indonesia sektor kehutanan masih mampu memberikan kontribusi yang relatif signifikan terhadap perekonomian Indonesia, hasil devisa yang

diperoleh dari ekspor hasil hutan pada tahun 1999/2000 antara lain adalah US$ 84,02 juta dari pulp dan US$ 93,99 juta dari paper, serta devisa dari ekspor kayu olahan selama lima tahun terakhir berjumlah sebesar US$ 28,12 juta untuk kayu gergajian, US$ 2.720,33 juta untuk kayu lapis (Pusat Rencana Kehutanan Departemen Kehutanan RI 2001). b. Nilai Sosial Nilai sosial merupakan nilai jasa yang diberikan hutan terhadap keberlangsungan hidup manusia (aktifitas manusia). Hubungan saling ketergantungan manusia dan hutan dalam suatu interaksi dalam sistem kehidupan tidak dapat disangkal lagi. Kurang lebih 50% penduduk Indonesia, baik langsung maupun tidak langsung, menggantungkan hidupnya kepada hutan. Hutan Indonesia tidak hanya memiliki nilai ekonomi saja yaitu sebagai perekonomian bangsa, sebab hutan juga telah berperan dalam menangani masalah sosial di Indonesia. Apabila tekanan terhadap hutan terus terjadi maka hutan akan semakin berkurang dan bencana berupa dampak ekologi akan berantai ke sektor-sektor lain, dan pada gilirannya akan berdampak pada kehidupan masyarakat luas. Berikut ini adalah beberapa contoh kontribusi nialai sosial terhadap pembangunan nasional: a) Tersedianya lapangan pekerjaan dalam kegiatan pengelolaan hutan dan industri kehutanan dalam arti luas b) Berbagai kegiatan usaha lain yang berhubungan dengan hasil hutan dan kegiatan pengelolaan hutan
c) Belum termasuk fungsi hutan dalam menyediakan berbagai bentuk jasa

untuk kepentingan kegiatan budaya, keagamaan dan aktivitas social. c. Nilai Ekologi (Lingkungan) Nilai Ekologi (Lingkungan) merupakan Kontribusi sektor kehutanan dalam bidang lingkungan hidup. Nilai ini meliputi jasa perlindungan terhadap pencegahan erosi dan pengendapan lumpur dalam wilayah DAS, Nilai jasa hutan untuk menyimpan karbon, Nilai perlindungan terhadap kenaekaragaman hayati berupa jasanya sebagai habitat bagi berbagai jenis flora dan fauna yang nilainya

sangat tinggi dan belum diketahui, serta nilai perlindungan terhadap hama dan penyakit tanaman. Nilai ekologis belum diperhitungkan secara ekonomi, hal tersebut dikarenakan tidak adanya besaran-besaran terukur yang bisa mengungkap peran hutan dan subsektor kehutanan secara utuh dan menyeluruh. Walaupun ada, baru hanya sebatas kajian akademik sehingga belum pada tahap implementasi kebijakan di lapangan. Oleh karena itu dibutuhkan cara pandang baru dengan melihat kontribusi hutan dan sektor kehutanan secara utuh dan holistik. F. Pengelolaan/Kelestarian Hutan a. Penyebab Berkurangnya Luas Hutan Hutan yang berfungsi sebagai paru-paru Indonesia, yang menjaga tersedianya oksigen di bumi, perlahan-lahan mulai lenyap. Hutan-hutan tropis yang tadinya banyak dijumpai di Indonesia, kini perlahan-lahan berubah menjadi ladang perkebunan sawit, coklat dan karet dan gedung-gedung bertingkat. Hal ini mengakibatkan berkurangnya luas hutan sehingga makhluk hidup yang biasa tinggal di hutan kehilangan tempat tinggal serta berkurangnya jumlah oksigen yang dihasilkan oleh hutan. Berkurangnya luas hutan juga mempercepat efek pemanasan global. a) Penyebab berkurangnya luas Hutan
1. Kebakaran hutan yang terjadi akibat manusia atau bencana alam

contohnya musim kemarau berkepanjangan. Perhatikan gambar propensi yag dilanda kebakaran dan persebaran pencemaran kabut asap pada tahun 1997/1998 di bawah ini.

Sumber: penyebaran kabut asap di peroleh dari Barber dan Schweithelm (2000). Tabel Perhitungan ADB untuk kawasan yag dilanda kebakaran tahun 1997/1998 (Ha)

2. Penebangan hutan untuk dijadikan lahan perkebunan Menurut data terakhir, laju deforestasi di Indonesia adalah laju deforestasi tercepat di dunia.10 Hal ini menempatkan Indonesia menjadi negara ketiga terbesar penghasil gas rumah kaca setelah Amerika Serikat dan Cina. Tingginya emisi tersebut memiliki dua alasan – pesatnya laju deforestasi dan degradasi serta pembakaran lahan gambut.

Deforestasi hutan tropis didorong oleh permintaan global akan produk kertas serta minyak kelapa sawit yang digunakan dalam pembuatan pasta gigi, coklat dan mentega serta biofuel. Sejak 1950, lebih dari 74 juta hektar hutan Indonesia telah sepenuhnya binasa, ditambah area sekitar yang juga mengalami kerusakan berat. Pemerintah Indonesia baru-baru ini mengidentifikasi industri kayu, minyak kelapa sawit, pertanian, serta pulp (bubur kertas) dan kertas sebagai penyebab utama kekeringan lahan gambut, deforestasi dan emisi yang dihasilkan Indonesia. Dalam laporan disebutkan bahwa bila tidak ada tindakan tegas yang dilakukan, diperkirakan kadar pelepasan emisi tersebut akan terus meningkat.16 Namun di sisi lain, pemerintah masih terus memberikan izin terhadap perusahaanperusahaan yang menghancurkan hutan tropis yang tersisa 3. Penebangan hutan untuk dijadikan lahan hunian mahal (real estate), dsb. b) Bahaya yang ditimbulkan 1. Berkurangnya jumlah oksigen yang dihasilkan ke udara 2. Makhluk hidup yang tinggal di hutan kehilangan tempat tinggal 3. Air hujan tidak dapat diserap oleh pohon ke dalam tanah sehingga menimbulkan banjir 4. Pohon yang berfungsi sebagai perekat tanah berkurang sehingga dapat menimbulkan tanah longsor. 5. Tidak ada lagi tempat untuk berteduh karena hutan sudah banyak yang gundul b. Usaha, cara dan Solusi Pelestarian Hutan a) Usaha/Cara Berikut di bawah ini adalah teknik dan cara yang dapat digunakan untuk menjaga hutan kita tetap terjaga dari tangan-tangan perusak jahat. Perambahan hutan tanpa perencanaan dan etika untuk mencari keuntungan

sebesar-besarnya sangatlah berbahaya karena dapat merusak alam dan habitat serta komunitas hewan yang ada di dalamnya. 1. Mencegah cara ladang berpindah / Perladangan Berpindah-pindah Terkadang para petani tidak mau pusing mengenai kesuburan tanah. Mereka akan mencari lahan pertanian baru ketika tanah yang ditanami sudah tidak subur lagi tanpa adanya tanggung jawab membiarkan ladang terbengkalai dan tandus. Sebaiknya lahan pertanian dibuat menetap dengan menggunakan pupuk untuk menyuburkan tanah yang sudah tidak produktif lagi. 2. Waspada-Waspadalah & Hati-Hati Terhadap Api Hindari membakar sampah, membuang puntung rokok, membuat api unggun, membakar semak, membuang obor, dan lain sebagainya yang dapat menyebabkan kebakaran hutan. Jika menyalakan api di dekat atau di dalam hutan harus diawasi dan dipantau agar tidak terjadi hal-hal yang lebih buruk. Kebakaran hutan dapat mengganggu kesehatan manusia dan hewan di sekitar lokasi kebakaran dan juga tempat yang jauh sekalipun jika asap terbawa angin kencang. 3. Reboisasi Lahan Gundul dan Metode Tebang Pilih Kombinasi kedua teknik adalah sesuatu yang wajib dilakukan oleh para pelilik sertifikan HPH atau Hak Pengelolaan Hutan. Para perusahaan penebang pohon harus memilih-milih pohon mana yang sudah cukup umur dan ukuran untuk ditebang. Setelah meneang satu pohon sebaiknya diikuti dengan penanaman kembali beberapa bibit pohon untuk menggantikan pohon yang ditebang tersebut. Lahan yang telah gundul dan rusak karena berbagai hal juga diusahakan dilaksanakan reboisasi untuk mengembalikan pepohonan dan tanaman yang telah hilang. 4. Menempatkan Penjaga Hutan / Polisi Kehutanan / Jagawana Dengan menempatkan satuan pengaman hutan yang jujur dan menggunakan teknologi dan persenjataan lengkap diharapkan mempu menekan maraknya aksi pengrusakan hutan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Bagi para pelaku kejahatan hutan diberikan sangsi yang tegas dan dihukum seberat-beratnya. Hutan adalah aset / harta suatu

bangsa yang sangat berharga yang harus dipertahankan keberadaannya demi anak cucu di masa yang akan datang. 5. 6. sekali 7. Mengajak orang lain untuk ikut peduli hutan dan menjaga kelestarian hutan. c. Solusi terhadap upaya pelestarian hutan diindonesia Hutan hujan mengalami degradasi dengan sangat cepat. Banyak orang dan organisasi sosial yang ingin menyelamatkan hutan hujan, namun menyelamatkan hutan hujan tidak akan mudah. Hal ini membutuhkan usaha banyak pihak yang bekerja bersama dalam rangka menjaga hutan hujan dan kehidupan alam liarnya sehingga dapat bertahan untuk kehidupan masa depan. Butler (2007), mengemukaan beberapa langkah untuk menyelamatkan hutan hujan dan termasuk ekosistem di seluruh dunia dengan fokus pada 4 hal yaitu: Pendidikan masyarakat, Rehabilitasi hutan hujan tropis, hidup dengan tidak merusak lingkungan, taman perlindungan. 1. Pendidikan masyarakat Di negara-negara hutan hujan termasuk Indonesia, penduduk lokal kadang kala tidak mengerti apa pentingnya hutan hujan. Dengan program pendidikan, mereka dapat belajar bahwa hutan memberikan sumber kunci (seperti air bersih) dan adalah rumah bagi hewan dan tumbuhan yang tak akan ditemukan di bagian lain manapun di dunia. Di Soroako misalnya, ketika anak-anak tahu beberapa spesies ikan di Danau Matano bersifat endemik dan tidak ditemukan di dunia manapun mereka tampak senang. 2. Rehabilitasi Hutan Dalam melindungi hutan, kita juga butuh melihat bagaimana hutan yang rusak dapat disehatkan kembali, terutama melalui penanaman pohon kembali. Di beberapa kasus, bisa juga menggunakan lahan hutan yang telah ditebangi untuk Menjaga hutan dari penebang liar, melapor kepada petugas dan dalam proses penebangan liar Mengubah lahan perkebunan kembali menjadi hutan setiap 5 tahun tidak ikut serta

dijadikan lahan pertanian, sehingga dapat menyediakan makanan bagi orangorang di sekitarnya. Saat mereka telah memiliki makanan, mereka tidak butuh untuk menebang lebih banyak hutan untuk menanam tanaman. 3. Hidup dengan tidak merusak Lingkungan Di negara-negara hutan hujan, banyak ilmuwan dan organisasi yang bekerja untuk menolong penduduk lokal hidup dengan cara yang tak terlalu merusak lingkungan. Beberapa orang menyebut ide ini dengan “sustainable development” (perkembangan yang berkepanjangan). Sustainable development memiliki tujuan untuk meningkatkan kehidupan dari masyarakat yang pada saat bersamaan juga melindungi lingkungan. Tanpa meningkatkan taraf hidup masyarakat yang tinggal di dan di sekitar hutan hujan, akan sangat sulit untuk melindungi taman dan alam liar. Agar taman-taman tersebut bisa berguna, masyarakat lokal harus tertarik pada konservasi. Saat ini Indonesia juga telah berupaya menggunakan sistem kredit karbon melalui penghindaran penggundulan hutan. 4. Taman Perlindungan Cara efektif untuk melindungi hutan hujan adalah melibatkan penduduk asli di manajemen taman. Para penduduk asli ini lebih tahu mengenai hutan dibandingkan dengan siapapun dan memiliki ketertarikan untuk menjaganya dengan aman sebagai ekosistem yang telah memberinya makanan, tempat berlindung, dan air bersih. Taman-taman ini juga dapat membantu perekonomian di negara-negara hutan hujan dengan cara ekoturism d. Manfaat Pelestarian Hutan Manfaat Menjaga Kelestarian Hutan 1. Makhluk hidup yang tinggal di hutan tidak akan kehilangan tempat tinggal 2. Meminimalkan terjadinya bencana alam seperti longsor, banjir dan lainlain 3. Bumi menjadi tempat yang lebih teduh dengan banyaknya hutan-hutan tropis yang ada 4. kita tidak akan kekurangan jumlah oksigen yang dilepas ke udara

5. Pohon juga dapat berfungsi untuk mencegah erosi dengan cara mengikat tanah dengan akar-akarnya

G. KERUSAKAN HUTAN (DEFORESTASI)

Kerusakan hutan (deforestasi) masih tetap menjadi ancaman di Indonesia. Menurut data laju deforestasi (kerusakan hutan) periode 2003-2006 yang dikeluarkan oleh Departemen Kehutanan, laju deforestasi di Indonesia mencapai 1,17 juta hektar pertahun. Bahkan kalau menilik data yang dikeluarkan oleh State of the World’s Forests 2007 yang dikeluarkan The UN Food & Agriculture Organization (FAO), angka deforestasi Indonesia pada periode 2000-2005 1,8 juta hektar/tahun. Laju deforestasi hutan di Indonesia ini membuat Guiness Book of The Record memberikan ‘gelar kehormatan’ bagi Indonesia sebagai negara dengan daya rusak hutan tercepat di dunia. Hingga saat ini Luas hutan di Indonesia menyusut setiap tahun. Kementrian Kehutanan mencatat kerusakan hutan hingga

2009 mencapai lebih dari 1,08 juta hektar per tahun. Menurun dari data kerusakan hutan tahun sebelumnya yang mencapai lebih dari 2 juta hektar pertahun.

Dari total luas hutan di Indonesia yang mencapai 180 juta hektar, menurut Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan (Menteri Kehutanan sebelumnya menyebutkan angka 135 juta hektar) sebanyak 21 persen atau setara dengan 26 juta hektar telah dijarah total sehingga tidak memiliki tegakan pohon lagi. Artinya, 26 juta hektar hutan di Indonesia telah musnah. Selain itu, 25 persen lainnya atau setara dengan 48 juta hektar juga mengalami deforestasi dan dalam kondisi rusak akibat bekas area HPH (hak penguasaan hutan). Dari total luas hutan di Indonesia hanya sekitar 23 persen atau setara dengan 43 juta hektar saja yang masih terbebas dari deforestasi (kerusakan hutan) sehingga masih terjaga dan berupa hutan primer.

Penyebab Deforestasi. Untuk saat ini, penyebab deforestasi hutan semakin kompleks. Kurangnya penegakan hukum yang terjadi saat ini memperparah kerusakan hutan dan berdampak langsung pada semakin berkurangnya habitat orangutan secara signifikan. Penyebab kerusakan tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut. 1. Hak Penguasaan Hutan Lebih dari setengah kawasan hutan Indonesia dialokasikan untuk produksi kayu berdasarkan sistem tebang pilih. Banyak perusahaan HPH yang melanggar pola-pola tradisional hak kepemilikan atau hak penggunaan lahan. Kurangnya pengawasan dan akuntabilitas perusahaan berarti pengawasan terhadap pengelolaan hutan sangat lemah dan, lama kelamaan, banyak hutan produksi yang telah dieksploitasi secara berlebihan. Menurut klasifikasi pemerintah, pada saat ini hampir 30 persen dari konsesi HPH yang telah disurvei, masuk dalam kategori "sudah terdegradasi". Areal

konsesi HPH yang mengalami degradasi memudahkan penurunan kualitasnya menjadi di bawah batas ambang produktivitas, yang memungkinkan para pengusaha perkebunan untuk mengajukan permohonan izin konversi hutan. Jika permohonan ini disetujui, maka hutan tersebut akan ditebang habis dan diubah menjadi hutan tanaman industri atau perkebunan. 2. Hutan tanaman industri Hutan tanaman industri telah dipromosikan secara besar-besaran dan diberi subsidi sebagai suatu cara untuk menyediakan pasokan kayu bagi industri pulp yang berkembang pesat di Indonesia, tetapi cara ini mendatangkan tekanan terhadap hutan alam. Hampir 9 juta ha lahan, sebagian besar adalah hutan alam, telah dialokasikan untuk pembangunan hutan tanaman industri. Lahan ini kemungkinan telah ditebang habis atau dalam waktu dekat akan ditebang habis. Namun hanya sekitar 2 juta ha yang telah ditanami, sedangkan sisanya seluas 7 juta ha menjadi lahan terbuka yang terlantar dan tidak produktif. 3. Perkebunan Lonjakan pembangunan perkebunan, terutama perkebunan kelapa sawit, merupakan penyebab lain dari deforestasi. Hampir 7 juta ha hutan sudah disetujui untuk dikonversi menjadi perkebunan sampai akhir tahun 1997 dan hutan ini hampir dapat dipastikan telah ditebang habis. Tetapi lahan yang benar-benar dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit sejak tahun 1985 hanya 2,6 juta ha, sementara perkebunan baru untuk tanaman keras lainnya kemungkinan luasnya mencapai 1-1,5 juta ha. Sisanya seluas 3 juta ha lahan yang sebelumnya hutan sekarang dalam keadaan terlantar. Banyak perusahaan yang sama, yang mengoperasikan konsesi HPH, juga memiliki perkebunan. Dan hubungan yang korup berkembang, dimana para pengusaha mengajukan permohonan izin membangun perkebunan, menebang habis hutan dan menggunakan kayu yang dihasilkan utamanya untuk pembuatan pulp, kemudian pindah lagi, sementara lahan yang sudah dibuka ditelantarkan. 4.llegal logging Illegal logging adalah merupakan praktek langsung pada penebangan pohon di kawasan hutan negara secara illegal. Dilihat dari jenis kegiatannya, ruang lingkup illegal logging terdiri dari : a)Rencana penebangan, meliputi semua atau sebagian kegiatan dari pembukaan akses ke dalam hutan negara,

membawa alat-alat sarana dan prasarana untuk melakukan penebangan pohon dengan tujuan eksploitasi kayu secara illegal. b)Penebangan pohon dalam makna sesunguhnya untuk tujuan eksploitasi kayu secara illegal. Produksi kayu yang berasal dari konsesi HPH, hutan tanaman industri dan konversi hutan secara keseluruhan menyediakan kurang dari setengah bahan baku kayu yang diperlukan oleh industri pengolahan kayu di Indonesia. Kayu yang diimpor relatif kecil, dan kekurangannya dipenuhi dari pembalaka ilegal. Pencurian kayu dalam skala yang sangat besar dan yang terorganisasi sekarang merajalela di Indonesia; setiap tahun antara 50-70 persen pasokan kayu untuk industri hasil hutan ditebang secara ilegal. Luas total hutan yang hilang karena pembalakan ilegal tidak diketahui, tetapi seorang mantan Direktur Jenderal Pengusahaan Hutan, Departemen Kehutanan, Titus Sarijanto, baru-baru ini menyatakan bahwa pencurian kayu dan pembalakan ilegal telah menghancurkan sekitar 10 juta ha hutan Indonesia. 4. Konvensi Lahan Peran pertanian tradisional skala kecil, dibandingkan dengan penyebab deforestasi yang lainnya, merupakan subyek kontroversi yang besar. Tidak ada perkiraan akurat yang tersedia mengenai luas hutan yang dibuka oleh para petani skala kecil sejak tahun 1985, tetapi suatu perkiraan yang dapat dipercaya pada tahun 1990 menyatakan bahwa para peladang berpindah mungkin bertanggung jawab atas sekitar 20 persen hilangnya hutan. Data ini dapat diterjemahkan sebagai pembukaan lahan sekitar 4 juta ha antara tahun 1985 sampai 1997. 6.Program Transmigrasi Transmigrasi yang berlangsung dari tahun 1960-an sampai 1999, yaitu memindahkan penduduk dari Pulau Jawa yang berpenduduk padat ke pulaupulau lainnya. Program ini diperkirakan oleh Departemen Kehutanan membuka lahan hutan hampir 2 juta ha selama keseluruhan periode tersebut. Disamping itu, para petani kecil dan para penanam modal skala kecil yang oportunis juga ikut andil sebagai penyebab deforestasi karena mereka membangun lahan tanaman perkebunan, khususnya kelapa sawit dan coklat, di hutan yang dibuka dengan operasi pembalakan dan perkebunan yang skalanya lebih besar. Belakangan ini, transmigrasi "spontan" meningkat,

karena penduduk pindah ke tempat yang baru untuk mencari peluang ekonomi yang lebih besar, atau untuk menghindari gangguan sosial dan kekerasan etnis. Estimasi yang dapat dipercaya mengenai luas lahan hutan yang dibuka oleh para migran dalam skala nasional belum pernah dibuat. 5. Kebakaran Hutan Pembakaran secara sengaja oleh pemilik perkebunan skala besar untuk membuka lahan, dan oleh masyarakat lokal untuk memprotes perkebunan atau kegiatan operasi HPH mengakibatkan kebakaran besar yang tidak terkendali, yang luas dan intensitasnyan belum pernah terjadi sebelumnya. Lebih dari 5 juta ha hutan terbakar pada tahun 1994 dan 4,6 juta ha hutan lainnya terbakar pada tahun 1997-98. Sebagian dari lahan ini tumbuh kembali menjadi semak belukar, sebagian digunakan oleh para petani skala kecil, tetapi sedikit sekali usaha sistematis yang dilakukan untuk memulihkan tutupan hutan atau mengembangkan pertanian yang produktif. Pada kondisi alami, lahan gambut tidak mudah terbakar karena sifatnya yang menyerupai spons, yakni menyerap dan menahan air secara maksimal sehingga pada musim hujan dan musim kemarau tidak ada perbedaan kondisi yang ekstrim. Namun, apabila kondisi lahan gambut tersebut sudah mulai tergangggu akibatnya adanya konversi lahan atau pembuatan kanal, maka keseimbangan ekologisnya akan terganggu. Pada musim kemarau, lahan gambut akan sangat kering sampai kedalaman tertentu dan mudah terbakar. Gambut mengandung bahan bakar (sisa tumbuhan) sampai di bawah permukaan, sehingga api di lahan gambut menjalar di bawah permukaan tanah secara lambat dan dan sulit dideteksi, dan menimbulkan asap tebal. Api di lahan gambut sulit dipadamkan sehingga bisa berlangsung lama (berbulan-bulan). Dan, baru bisa mati total setelah adanya hujan yang intensif. Dari beberapa penyebeb deforestasi di atas, Laju deforestasi hutan di Indonesia paling besar disumbang oleh kegiatan industri, terutama industri kayu, yang telah menyalahgunakan HPH yang diberikan sehingga mengarah pada pembalakan liar. Penebangan hutan di Indonesia mencapai 40 juta meter kubik setahun, sedangkan laju penebangan yang sustainable(lestari berkelanjutan)

sebagaimana direkomendasikan oleh Departemen Kehutanan menurut World Bank adalah 22 juta kubik meter setahun. Penyebab deforestasi terbesar kedua di Indonesia, disumbang oleh pengalihan fungsi hutan (konversi hutan) menjadi perkebunan. Konversi hutan menjadi area perkebunan (seperti kelapa sawit), telah merusak lebih dari 7 juta ha hutan sampai akhir 1997.

Dampak Deforestasi. Deforestasi (kerusakan hutan) memberikan dampak yang signifikan bagi masyarakat dan lingkungan alam di Indonesia. Kegiatan penebangan yang mengesampingkan konversi hutan mengakibatkan penurunan kualitas lingkungan yang pada akhirnya meningkatkan peristiwa bencana alam, seperti tanah longsor dan banjir. Dengan semakin berkurangnya tutupan hutan Indonesia, maka sebagian besar kawasan Indonesia telah menjadi kawasan yang rentan terhadap bencana, baik bencana kekeringan, banjir maupun tanah longsor. Sejak tahun 1998 hingga pertengahan 2003, tercatat telah terjadi 647 kejadian bencana di Indonesia dengan 2022 korban jiwa dan kerugian milyaran rupiah, dimana 85 persen dari bencana tersebut merupakan bencana banjir dan longsor yang diakibatkan kerusakan hutan [Bakornas Penanggulangan Bencana, 2003]. Dampak buruk lain akibat kerusakan hutan adalah terancamnya kelestarian satwa dan flora di Indonesia utamanya flora dan fauna endemik. Satwa-satwa endemik yang semakin terancam kepunahan akibat deforestasi hutan misalnya lutung jawa (Trachypithecus auratus), dan merak (Pavo muticus), owa jawa (Hylobates bartelsi), moloch), macan merpati hutan tutul(Panthera pardus), elang jawa (Spizaetus dan gajah perak (Columba argentina),

sumatera (Elephant maximus sumatranus). Sementara itu, hutan Indonesia selama ini merupakan sumber kehidupan bagi sebagian rakyat Indonesia. Hutan merupakan tempat penyedia makanan, penyedia obat-obatan serta menjadi tempat hidup bagi sebagian besar rakyat Indonesia. Dengan hilangnya hutan di Indonesia, menyebabkan mereka kehilangan sumber makanan dan obat-obatan. Seiring dengan meningkatnya kerusakan hutan Indonesia, menunjukkan semakin

tingginya tingkat kemiskinan rakyat Indonesia dan sebagian masyarakat miskin di Indonesia hidup berdampingan dengan hutan. Dampak lainnya yang juga kini mengancam manusia akibat laju kerusakan hutan adalah berkembangnya berbagai virus yang mematikan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Prof. Dr. Hadi S Alikodra, Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB Bogor. Menurutnya perkembangan virus flu burung yang telah merenggut puluhan jiwa Orang Indonesia sejak dua tahun belakangan ini tidak lepas dari deforestasi yang tinggi di negeri ini. Jumlah mikroba yang hidup di alam seimbang dengan ekosistemnya sehingga tidak sampai menyerang manusia. Tapi apa lacur! Manusialah yang merusak ekologi mikroba tersebut. Hasilnya: keseimbangan hidup mikroba pun berubah. Dan perubahan itu menyebabkan mikroba mengalami transformasi dalam kehidupannya. Mikroba transformatif itulah yang akhirnya menyerang manusia. Flu burung merupakan penyakit yang menular lewat pernafasan. Berdasarkan penelitiannya di Cina, penyebab kedua penyakit tersebut adalah polusi udara dan penebangan hutan yang sewenang-wenang. Polusi udara di Cina saat ini sudah mencapai tahap yang sangat berbahaya. Kondisi tersebut ditambah lagi dengan minimnya suplai oksigen (O2) yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Seperti diketahui, suplai oksigen terbesar berasal dari hutan. Jika hutan itu rusak, maka suplai oksigen pun berkurang. Dampaknya luar biasa: mikroba akan tumbuh subur dan perkembangbiakannya tak terkendali. Sebab, oksigen – yang bila terkena sinar ultraviolet dari matahari berubah menjadi ozon (O3) dan O nascend – adalah pembunuh mikroba dan virus yang amat efektif. Bila oksigen itu berkurang, pembunuh mikroba dan virus pun berkurang. Dampaknya, mikroba dan virus akan makin berkembang, hingga muncullah varian baru virus flu burung HxNy, dengan yang kini menyerang manusia merupakan farian H5N1. So, apakah kita akan birakan hutan hancur dan virus, bakteri dan mikroba lain yang selama ini hidup tenang dihabitatnya gentayangan dengan beragam varian dan siap menyerang manusia?

Siapakah yang bertanggung jawab atas deforestasi hutan di Indonesia yang semakin menggila ini?. Siapa pula yang wajib mencegah kerusakan hutan di Indonesia?. Jawabnya singkat, kita semua!

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->