P. 1
IPS_kelas_VIII_smt_1

IPS_kelas_VIII_smt_1

5.0

|Views: 103,749|Likes:
Published by 12ndhamster

More info:

Published by: 12ndhamster on May 11, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/17/2013

pdf

text

original

Dalam modul sebelumnya sudah dikatakan bahwa kedatangan Belanda kembali ke

Indonesia tidak disukai oleh rakyat Indonesia. Masih ingatkah Kamu apa sebabnya?

Ya, rakyat Indonesia merasa khawatir penderitaan yang pernah dialami pada jaman

VOC akan terulang kembali. Kekhawatiran itu ternyata benar. Pemerintah Belanda

kembali membebani penduduk dengan bermacam-macam pajak. Di samping itu

juga rakyat diperintahkan untuk melakukan berbagai kerja paksa.

Perlakuan sewenang-wenang pemerintah Belanda terhadap rakyat Indonesia

menyebabkan kemiskinan, penderitaan, perasaan tertekan dan tertindas. Tentu saja

hidup yang demikian tidak menyenangkan, bukan ?

Sementara itu Pemerintah Belanda juga selalu berusaha memperluas daerah

kekuasaannya, dan menanamkan pengaruhnya pada kerajaan-kerajaan yang ada di

Indonesia. Seperti di Kerajaan Mataram, kerajaan Palembang, Kerajaan Bali dan

sebagainya

Tindakan-tindakan pemerintah Belanda yang sewenang-wenang tersebut

menimbulkan perasaan tidak senang rakyat terhadap Belanda. Perasaan tidak

senang tersebut menimbulkan reaksi dari rakyat Indonesia. Bentuk reaksi rakyat

107

terhadap kesewenang-wenangan pemerintah kolonial Belanda antara lain muncul

dalam bentuk perlawanan bersenjata. Pada abad ke 19 perlawanan rakyat terhadap

Belanda terjadi di berbagai daerah. Perlawanan tersebut pada umumnya dipimpin

oleh para raja, bangsawan, ulama atau tokoh masyarakat.

Nah, di bawah ini akan diuraikan beberapa perlawanan rakyat tersebut

Pelajarilah dengan baik, agar Kamu dapat memahaminya.

1) Perang Patimura atau Perang Maluku (1817)

a) Sebab-sebab terjadinya Perang Patimura

Perang Patimura atau Perang Maluku terjadi pada rahun 1817. Penyebab

terjadinya perang tersebut adalah :

Pertama : Rakyat Maluku menentang kedatangan bangsa Belanda ke

Maluku, karena mereka khawatir akan terulangnya penderitaan yang pernah

dialami rakyat Maluku pada zaman VOC pada abad 16-18

Pada zaman VOC, Maluku merupakan daerah yang paling menderita. Coba

Kamu ingat kembali materi pelajaran di kelas I ! Masih ingatkah Kamu

bagaimana akibat dilaksanakan monopoli perdagangan rempah-rempah?

Ya, monopoli perdagangan rempah-rempah telah menimbulkan penderitaan

yang sangat berat bagi rakyat Maluku. Dengan monopoli perdagangan ,

rakyat tidak bisa menjual rempah-rempahnya secara bebas dengan harga

yang tinggi. Rakyat hanya boleh menjual rempah-rempah kepada VOC

dengan harga yang sudah ditentukan VOC. Selain itu VOC juga

memusnahkan tanaman rempah-rempah rakyat yang dianggap berlebihan.

Oleh karena itulah rakyat Maluku berusaha menentang kembalinya Belanda

ke Maluku.

Kedua : Pemerintah Hindia Belanda menindas rakyat Maluku dengan

mewajibkan rakyat Maluku melakukan kerja paksa, menyerahkan berbagai

barang kebutuhan seperti ikan asin, dendeng, dan kopi kepada pemerintah

Hindia Belanda.

b) Proses terjadinya Perang Maluku

Perlawanan rakyat Maluku terhadap Belanda

dipimpin oleh Thomas Matulesi yang terkenal

dengan nama Patimura. Pemimpin lainnya

antara lain : Anthonie Rhebok, Thomas

Pattiwael, Lucas Latumahina, Said, Perintah,

dan Ulupaha. Di samping itu juga terdapat

seorang pahlawan putri bernama Christina

Martha Tiahahu.

Perlawanan rakyat Maluku berpusat di Pulau

Saparua.

Tahukah Kamu dimanakah Pulau Saparua itu ?

Coba Kamu perhatikan gambar peta di bawah

ini.

Gambar 5.1 Pattimura

Pemimpin Perang

Maluku

108

Pada gambar diatas terdapat gambar sebuah pulau yang diarsir hitam, Nah

itulah pulau Saparua yang merupakan perlawanan rakyat Maluku pada

tahun 1817.

Bagaimanakah proses perlawanan rakyat Maluku tersebut ?

Pada malam harinya tanggal 15 Mei 1817 rakyat Maluku mulai bergerak.

Mereka membakar perahu-perahu Belanda yang ada di Pelabuhan. Setelah

itu pasukan Patimura mengepung Banteng Duursteed dan menyerang

pasukan Belanda yang ada di dalam benteng tersebut. Residen Van Den

Berg yang ada di dalam benteng ditembak mati. Keesokan harinya, tanggal

16 Mei 1817 Pasukan Patimura berhasil merebut dan menduduki Benteng

Duursteed.

Dari Saparua, perlawanan menjalar ke pulau-pulau lainnya. Seperti Pulau :

Haruku, Seram, Lorike, Uring, Asilulu dan Wakasihu.

Untuk menghadapi perlawanan rakyat tersebut, para pembesar Belanda di

Ambon melakukan persiapan. Pada tanggal 19 Mei 1817 mereka

mengirimkan bantuan pasukan yang diberangkatkan dari Ambon sebanyak

2000 orang menuju Haruku. Mereka bermarkas di Benteng Zeelandia.

Gambar 5.2 Kepulauan Maluku Selatan tempat

terjadinya Perang Maluku

Gambar 5.3 Penyerbuan Benteng Duursteed di Bawah Pimpinan Pattimura

109

Akan tetapi ternyata Raja dan rakyat Haruku serta daerah-daerah sekitarnya

telah siap menghadapi pasukan Belanda. Kemudian rakyat Haruku dan

daerah sekitarnya menyerang Benteng Zeelandia. Namun pasukan Belanda

berhasil menerobos pengepungan pasukan rakyat Maluku.

Pasukan Belanda kemudian melanjutkan perjalanannya menuju ke Saparua,

untuk merebut kembali Benteng Duursteed yang dikuasai pasukan

Patimura. Ketika pasukan Belanda sampai Saparua, maka pertempuran

antara pasukan Belanda dengan pasukan yang dipimpin oleh Patimura pun

berkobar.

Dalam pertempuran di Saparua, prajurit-prajurit Belanda banyak yang

tewas. Pihak Belanda mengalami kerugian besar karena banyak perwiranya

yang tewas. Tujuan pasukan Belanda untuk merebut Benteng Duursteed pun

gagal. Dengan demikian Benteng Duursteed tetap diduduki oleh pasukan

Patimura. Kemenangan Patimura di Saparua membakar semangat

perjuangan rakyat di daerah-daerah lain di Maluku. Hal itu mendorong

semakin berkobarnya perlawanan rakyat di seluruh Maluku.

Dalam upaya untuk merebut kembali Benteng Duursteed di Saparua,

Belanda mendatangkan pasukan bantuan ke Saparua, pada awal bulan Juli

1817. Pasukan tersebut menembaki Benteng Duurteed dengan meriam-

meriam dari kapal. Akan tetapi usaha ini ternyata tidak berhasil. Pasukan

Patimura tetap bertahan di Benteng tersebut. Selanjutnya Belanda mengajak

para pemimpin Maluku untuk berunding. Namun perundingan tersebut juga

tidak membawa hasil sehingga pertempuran pun berkobar lagi.

Pada akhir bulan Juli 1817, Belanda kembali mendatangkan pasukan

bantuan ke Saparua. Dalam penyerangan ini Belanda mengerahkan kapal-

kapalnya dan melepaskan tembakan dengan gencar ke arah benteng

Duursteed yang masih diduduki oleh pasukan Patimura. Benteng Duursteed

pun direbut oleh Belanda Setelah itu apakah pasukan Patimura menyerah

begitu saja? Tentu saja tidak.

Setelah Benteng Duursteed direbut oleh Belanda Pasukan Patimura

melanjutkan perlawanannya dengan cara bergerilya.

Untuk menangkap pemimpin perlawanan Maluku, para pembesar Belanda

mengumumkan bahwa siapa saja yang berhasil menangkap Patimura akan

diberi hadiah 1000 gulden. Bagaimanakah sikap rakyat Maluku terhadap

janji pemerintah Belanda tersebut? Adakah diantara mereka yang berani

menghianati perjuangan bangsanya karena tergiur oleh uang yang besar?

Ternyata semua rakyat tidak mau menghianati perjuangan bangsanya.

Mereka tidak mau mengorbankan pejuang bangsanya sendiri hanya karena

uang.

c) Akhir Perang Maluku

Pemerintah Belanda berusaha keras menyelesaikan perang dalam waktu

singkat. Mereka ingin segera menangkap para pemimpin perlawanan rakyat

Maluku agar perlawanan rakyat tersebut segera berakhir.

110

Pada bulan Oktober 1817, pasukan Belanda dikerahkan secara besar-

besaran. Dalam suatu pertempuran pada bulan November 1817. Belanda

dapat menangkap Patimura, Anthonie Rhebok, Thomas Patiwael dan Raja

Tiow. Beberapa hari kemudian para pemimpin lainnya tertangkap oleh

Belanda.

Setelah para pemimpin perlawanan tertangkap, perlawanan rakyat Maluku

pun padam. Pada tanggal 16 Desember 1817 Patimura dan para pemimpin

lain dijatuhi hukuman gantung.

Nah itulah proses terjadinya perang Maluku. Untuk mengetahui pemahamanmu

terhadap uraian di atas, coba Kamu jawab pertannyaan-pertanyaan berikut ini :

a) Mengapa rakyat Maluku menentang datangnya Belanda kembali ke

Maluku?

b) Dimanakah letak daerah pusat perlawanan Maluku ?

c) Bagaimana usaha Belanda untuk mengakhiri Perang Maluku ?

Coba Kamu cocokkan jawabanmu dengan jawaban di bawah ini.

a) Rakyat Maluku menentang kedatangan Belanda kembali ke Maluku, karena

mereka khawatir akan terulangnya penderitaan seperti pada zaman VOC.

b) Pusat perlawanan rakyat Maluku adalah di pulau Saparua.

c) Belanda mengerahkan pasukannya secara besar-besaran dan menangkap

para pemimpin perlawanan.

2) Perang Diponegoro (1825-1830)

a) Sebab-sebab terjadinya Perang Dipenogoro dapat dibagi menjadi dua yaitu :

Sebab-sebab umum:

• Pemerintah Hindia Belanda melarang para bangsawan untuk

menyewakan tanahnya kepada para pengusaha perkebunan swasta.

• Kaum ulama merasa kecewa, karena peradaban barat yang bertentangan

dengan Agama Islam telah masuk ke dalam kalangan istana. Peradaban

barat yang bertentangan dengan Agama Islam tersebut diantaranya

kebiasaan minum-minuman keras.

• Rakyat sangat menderita dan kecewa, sebab dibebani dengan

bermacam-macam pajak. Diantaranya pajak kelapa, pajak pasar, pajak

dagangan, pajak ternak, pajak menuai padi, dan pajak lalu lintas. Di

samping itu rakyat juga masih harus melakukan kerja paksa untuk

kepentingan para pembesar Belanda.

Semakin lama kebencian dan kekecewaan terhadap pemerintah Hindia

Belanda semakin memuncak. Rakyat telah menanti-nantikan seorang

pemimpin yang dapat menggerakkan rakyat melawan Belanda.

Akhirnya apa yang dinanti-nantikan oleh rakyat terlaksana. Pangeran

Diponegoro tampil memimpin rakyat menentang tindakan sewenang-

wenang pemerintah Belanda.

Sebab Khusus :

Sebab khusus terjadinya Perang Dipenogoro adalah, pada tahun 1825

Belanda merencanakan membuat jalan melintas tanah makam leluhur

Pangeran Diponegoro tanpa meminta izin terlebih dahulu.

111

Dengan sewenang-wenang pemerintah Belanda menancapkan tonggak-

tonggak di atas tanah makam leluhur Diponegoro tanpa minta izin terlebih

dahulu. Kemudian Pangeran Diponegoro menyuruh orang-orang untuk

mencabuti tonggak-tonggak tersebut. Hal ini diketahui oleh Residen AH.

Smissert. Kemudian Residen Smissert mintan kepada paman Dipenegoro

yaitu Pangeran Mangkubumi untuk memanggil Pengeran Diponegoro dan

menghadapkannya. Akan tetapi Pangeran Diponegoro menolak panggilan

tersebut. Bahkan Pangeran Mangkubumi kemudian memihak kepada

Pangeran Diponegoro. Akibat penolakan Pangeran Diponegoro terhadap

panggilan Residen Smissaert, maka pecahlah Perang Diponegoro. Bila

kamu telah memahami uraian di atas. Coba jawab pertanyaan-pertanyaan

dibawah ini!

- Apa yang menjadi sebab umum dan sebab khusus terjadinya perang

Diponegoro.

- Mengapa rakyat Jawa Tengah merasa benci dan kecewa terhadap

Belanda

Cocokkan jawabanmu dengan jawaban di bawah ini :

- Sebab umum : Bangsawan dan rakyat Jawa Tengah merasa gelisah dan

kecewa terhadap tindakan Pemerintah Belanda yang sewenang-wenang

- Sebab khusus : pada tahun 1825 Belanda merencanakan membuat jalan

melintasi makam leluhur Pangeran Diponegoro tanpa meminta izin

terlebih dahulu.

b) Proses terjadinya Perang Diponegoro

Pada tanggal 20 Juli 1825 jam lima sore, pasukan Belanda mulai

mendatangi rumah Pangeran Diponegoro. Tembakan-tembakan meriam

pun dilepaskan ke arah rumah Pangeran Diponegoro di Tegalrejo.

Pangeran Diponegoro mula-mula menyingkir ke daerah Selarong di sebelah

barat daya Yogyakarta. Daerah Selarong yang berbukit-bukit dijadikan

sebagai markas besar pasukan Diponegoro.

Perjuangan Pangeran diponegoro ternyata mendapat sambutan dari berbagai

pihak. Banyak bangsawan, ulama dan petani menggabungkan diri pada

pasukan Pangeran Diponegoro. Kyai Mojo seorang ulama besar dari

Surakarta menggabungkan diri bersama para santrinya. Sentot Alibasyah

Prawirodirjo seorang bangsawan muda belia juga mendukung perjuangan

Pangeran Diponegoro dan menjadi panglima utamanya. Dibawah ini adalah

gambar para pemimpin perang Diponogoro.

112

Perang Diponegoro tidak hanya berkobar di sekitar Yogyakarta tetapi meluas

hingga daerah Jawa Tengah dan beberapa daerah Jawa Timur untuk menghindari

sergapan dari pasukan Belanda, Pangeran Diponegoro memindah-mindahkan

markasnya yaitu ke Plered dan Pengasih.

Pada tahun 1825 sampai 1826 pasukan Diponegoro memperoleh banyak

kemenangan. Pasukan Diponegoro berhasil menguasai Pacitan dan Purwadadi.

Pertempuran besar antara pasukan Diponegoro dengan pasukan Belanda terjadi di

daerah-daerah Banyumas, Pekalongan, Semarang dan lain-lain. Agar kamu

mengetahui tempat tersebut , amatilah peta tempat terjadinya Perang Diponegoro di

Jawa Tengah berikut ini !

Gambar 05.4. Pangeran Diponegoro

Gambar 05.5. Kyai Mojo

Gambar 05.6.

Sentot Alibasyah Prawirodirjo

113

Siasat yang digunakan oleh Pangeran Diponegoro adalah siasat perang gerilya.

Dengan gerakan yang cepat pasukan-pasukan Diponegoro menggempur pasukan

Belanda yang jumlahnya jauh lebih besar. Belanda mendatangkan pasukan bantuan

sebanyak 3000 orang. Namun 200 orang diantaranya tewas dalam pertempuran.

Pada tahun 1827 Belanda mendatangkan pasukan dari daerah-daerah lain. Pasukan

Belanda yang ada di Sumatera Barat dan Sulawesi Selatan ditarik ke Pulau Jawa.

Kemudian untuk menghadapi siasat gerilya Pangeran Diponegoro, pemimpin

pasukan Belanda Jenderal De Kock menjalankan sistem Benteng stelsel, yaitu

dengan mendirikan benteng-benteng pertahanan di daerah-daerah yang telah di

kuasainya. Kemudian antara yang satu dengan yang lainnya dihubungkan dengan

jalan. Dengan demikian Pasukan Belanda dapat bergerak cepat dari satu benteng ke

benteng lainnya.

Bagaimanakah akibat sistem benteng stelsel ini bagi pasukan Diponegoro?

Dengan sistem Benteng Stelsel ini, pasukan Pangeran Diponegoro tidak dapat

bergerak dengan leluasa lagi. Maka akibatnya pasukan Pangeran Diponegoro

menjadi lemah. Mengapa demikian ? Hal ini karena :

- Daerah gerilya Pangeran Diponegoro menjadi sempit

- Daerah gerilya pasukan Diponegoro terpecah belah. Hubungan antara satu

kelompok pasukan dengan kelompok pasukan lainnya terputus. Setiap

kelompok pasukan hanya dapat bergerak di daerah masing-masing.

Nah, setelah Belanda mengetahui bahwa pasukan Pangeran Diponegoro mulai

lemah, maka Belanda berusaha mendekati para pemimpin pasukan Diponegoro.

Apa yang dilakukan oleh Belanda terhadap para pemimpin pasukan tersebut?

Gambar 5.7 . Peta Daerah pertempuran Perang Dipenogoro tahun 1825-

1830 ( Daerah yang diberi warna lebih terang)

114

Para pemimpin pasukan Diponegoro dibujuk agar mau diajak berunding dan

menghentikan perlawanan. Antara tahun 1828 sampai 1830 Pangeran Diponegoro

menhadapi banyak kesulitan. Hal ini karena :

1. Pada tahun 1828 Kyai Mojo mengadakan perundingan dengan Belanda. Ketika

perundingan gagal, Kyai Mojo pun ditangkap dan diasingkan ke Minahasa.

Beliau wafat pada tahun 1849 dan dimakamkan di Tondano.

2. Pada tahun 1829 Pangeran Mangkubumi terpaksa menyerah sebab telah lanjut

usia. Disamping itu keluarga pangeran Mangkubumi di sandera.

3. Pada tahun 1829, Sentot Alibasyah Prawirodirjo mengadakan perundingan

dengan Belanda. Ia bersedia menyerah asal diperbolehkan tetap memimpin

pasukannya. Sentot Prawirodirjo dengan pasukannya dikirim ke Sumatera Barat

untuk menghadapi kaum Paderi. Akan tetapi di Sumatera ia dituduh

bekerjasama dengan kaum Paderi. Oleh karena itu maka Sentot Alibasyah

Prawirodirjo ditangkap dan diasingkan ke Cianjur, kemudian dipindahkan ke

Bengkulu pada tahun 1855.

4. Pada tahun 1830 Putera Pangeran Diponegoro yaitu Pangeran Dipokusumah

menyerah.

Keempat peristiwa di atas sangat melemahkan pasukan Diponegoro. Sementara itu

Belanda berusaha keras untuk menangkap Pangeran Diponegoro. Kemudian

Belanda mengumumkan sayembara. Siapa yang dapat menangkap Pangeran

Diponegoro akan diberi hadiah sebesar 20.000 ringgit. Akan tetapi sayembara

tersebut tidak mendapat perhatian dari rakyat. Tak seorangpun diantara rakyat

Mataram yang mau menghianati Pangeran Diponegoro.

Nah itulah peristiwa Perang Diponegoro. Apakah kalian sudah memahaminya.

Untuk memantapkan pemahaman terhadap uraian di atas, coba kamu jawab

pertanyaan-pertanyaan di bawah ini!

1. Siasat apa yang dilaksankan oleh Pangeran Diponegoro dalam menghadapi

Belanda

2. Bagaimana akibat dilaksanakannya siasat Benteng Stelsel terhadap kedudukan

pasukan Diponegoro?

Jawabannya adalah :

Dalam mengadakan perlawanan terhadap Belanda, Pangeran Diponegoro

menggunakan siasat perang gerilya.

Akibat dilaksanakannya sistem Benteng Stelsel pasukan Diponegoro menjadi

lemah. Hal ini karena :

1. Daerah gerilya Pasukan Diponegoro menjadi sempit

2. Daerah gerilya pasukan Diponegoro terpecah belah.

c) Akhir Perang Diponegoro

Semakin lama kesulitan Pangeran Diponegoro makin bertambah, sementara itu

Belanda terus menerus membujuk agar Pangeran Diponegoro mau berdamai

dengan mengadakan perundingan. Akhirnya Pangeran Diponegoro meminta agar

115

pasukan boleh kembali ke markasnya. Belanda menyetujui syarat tersebut. Maka

dilaksanakanlah perundingan yang bertempat di Magelang.

Ternyata Belanda melakukan tindakan yang licik. Ia tidak menepati janjinya.

Setelah perundingan gagal, Jenderal De Kock memerintahkan agar Pangeran

Diponegoro ditangkap. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 28 maret 1830.

Rupanya pemerintah Belanda mengajak berunding Pangeran Diponegoro hanya

sekedar tipu muslihat belaka. Maksud sebenarnya ialah mereka ingin mencari

kesempatan untuk menangkap Pangeran Diponegoro.

Setelah Pangeran Diponegoro ditangkap, kemudian di bawa ke Semarang dan terus

ke Batavia. Akhirnya dengan menumpang kapal Pollux, Pangeran Diponegoro

diasingkan ke Menado. Pada tahun 1834, ia dipindahkan ke Makassar (Ujung

Pandang). Pangeran Diponegoro wafat di Makassar pada tanggal 8 Januari 1834

dan dimakamkan di Kampung Melayu, Makassar.

Nah, itulah uraian tentang perlawanan Pangeran Diponegoro. Sudah pahamkah

Kamu terhadap uraian di atas?

Agar Kamu lebih memahami uraian di atas, coba Kamu Jawab pertanyaan dibawah

ini!

- Mengapa Pangeran Diponegoro mau berunding dengan Belanda?

- Apa maksud Belanda yang sebenarnya mengajak berunding kepada Pangeran

Diponegoro?

Dapatkah Kamu menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas?

Coba Kamu cocokkan jawabanmu dengan jawaban di bawah ini!

- Pangeran Diponegoro mau berunding dengan Belanda karena pada waktu itu

pasukannya semakin terdesak. Di samping itu Belanda juga terus menerus

membujuk Pangeran Diponegoro agar mau berunding

- Maksud Belanda yang sebenarnya mengajak berunding kepada Pangeran

Diponegoro adalah sebagai siasat untuk menangkap Pangeran Diponegoro dan

mengakhiri perang.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->